Samita – Sepak Terjang Hui Sing Murid Perempuan Cheng Ho

New Picture (10)

Samita – Sepak Terjang Hui Sing Murid Perempuan Cheng Ho

Karya : Tosaro

Scan buku oleh : Ottoy

Convert, edit dan Pdf Ebook oleh : Dewi KZ

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Pengantar :

Hui Sing harus meninggalkan Tiongkok, mengikuti

gurunya, Laksamana Cheng Ho. Sampai di tanah Jawa, gadis

belia ini terjebak dalam perseteruan berdarah antara Majapahit

dan Blambangan. Cintanya jatuh kepada orang yang salah,

bahkan nyawanya terancam oleh pengkhianatan beruntun.

Dalam harapan yang hampir putus, napas nyaris mendekati

ujungnya. Hui Sing memutuskan untuk bangkit, melawan

takdir!

Novel berlatar belakang keruntuhan kejayaan Majapahit ini

menghamparkan perjuangan panjang seorang pendekar

Muslimah dalam menemukan jati dirinya. Terpisah ribuan mil

dari tanah kelahirannya. Hui Sing berjuang seorang diri

meredam pengkhianatan, menundukkan penguasa bodoh,

sekaligus menemukan cinta sejatinya.

Komentar :

Tasaro meramu cerita sejarah, jurus-jurus silat ala Kho

Ping Ho, dan kisah cinta … lebih berfantasi. —Koran Tempo

Tasaro adalah penulis muda yang mau berkeringat dan

berdialog dengan sejarah. Semoga Tasaro terus bersemangat

menggali warisan sejarah.—Taufiq ismail,sastrawan

Cheng Ho adalah seorang kasim Muslim yang menjadi

kepercayaan Kaisar Yongle dari Tiongkok (berkuasa 1403-

1424). kaisar ketiga dari Dinasti Ming. Nama aslinya adalah

Ma He, juga dikenal dengan sebutan Ma Sanbao, berasal dari

Provinsi Yunnan. Ketika pasukan Ming menaklukkan Yunnan,

Cheng Ho ditangkap yang kemudian dijadikan kasim. Dia

bersuku Hui. suku bangsa yang secara fisik mirip dengan suku

Han, tetap) beragama Islam.

Pada 1424. Kaisar Yongle wafat. Penggantinya. Kaisar

Hongxi (berkuasa 1424-1425). memutuskan untuk mengurangi

pengaruh kasim di lingkungan kerajaan. Cheng Ho melakukan

ekspedisi lagi pada masa kekuasaan Kaisar Xuande.

Cheng Ho memimpin tujuh ekspedisi ke Samudra Barat

(Samudra Indonesia). Dia membawa banyak hadiah dan lebih

dari 30 utusan kerajaan ke Cina. Catatan perjalanan Cheng Ho

pada dua pelayaran terakhir, yang diyakini sebagai pelayaran

terjauh, dihancurkan oleh Kaisar Dinasti Ming.—Wikipedia.org

 

Historical Fiction

SAMITA: Bintang Berpijar di Langit Majapahit Penulis:

Tasaro Ilustrator: Sinta Sari

Penyunting naskah: Salman Iskandar dan Yani Mulyani

Penyunting ilustrasi: Andi Yudha Asfandiyar Desain sampul

dan isi: Andi Yudha Asfandiyar Font judul (SAMITA): Andi

Yudha Asfandiyar Layout sampul dan seting isi: Tim kreatif

Pracetak MMU Hak cipta dilindungi undang-undang All rights

reserved

Cetakan I, Sya’ban 1425 H/Oktober 2004 Diterbitkan oleh

Penerbit DARI Mizan Anggota IKAPI PT Mizan Bunaya

Kreativa Jin. Yodkali No. 16, Bandung 40214 Telp. (022)

7200931-Faks. (022) 7207038 e-mail: mizandar@yahoo.com

<mailto:mizandar@yahoo.com>

<http://www.dar-mizan.com >

Perpustakaan Nasional: Katalog Dalam Terbitan (KDT)

Tasaro

Samita: bintang berpijar di langit kelam/Tasaro;

penyunting, Salman Iskandar dan Vani Mulyani. -Cet. 1. -

Bandung: DAR! Mizan, 2004.

208 him.; Mus.: 17 cm. (seri historical fiction).

ISBN 979-752-093-5 I. Judul. II. Iskandar, Salman. III.

Mulyani, Yani. IV. Seri. 813

Didistribusikan oleh: Mizan Media Utama (MMU) Jin.

Cinambo (Cisaranten Wetan) No. 146 Ujungberung, Bandung

40294 Telp. (022) 7815500-Faks. (022) 7802288 e-mail:

mizanmu@bdg.centrin.net.id

<mailto:mizanmu@bdg.centrin.net.id>

Dapat juga diperoleh di http://www.ekuator.com–Galeri

<http://www.ekuator.com–Galeri&gt; Buku Indonesia

 

Isi

Hanacaraka

1. Jawa Dwipa …

2. Tragedi Simongan ….

3. Kitab Kutub Beku …

4. Rajapati …

Datasawala

5. Si Topeng Pengkhianat …

6. Asmara Seruling …

7. Dasar Jurang Medangkamulan …

8. Bunga Bermarga Shi …

Padhajanya

9. Pewaris Blambangan …

10. Setan Kecapi Bisu …

11. Pertemuan Tak Sempurna …

12. Batas Sebuah Dendam …

13. Perginya Pendekar Sejati …

14. Kekasih Bisu …

Magabathanga

15. Kakek Sableng …

16. Perguruan Kesawa …

17. Serangan Srigala Putih …

18. Penantian Bintang …

19. Di Atas Geladak …

20. Bumi dan Bulan …

21. Anak Soma …

22. Takluknya Senja …

 

HANACARAKA

1. Jawa Dwipa

Tahun Yong Le keempat. Pertengahan pertama abad kelima belas Masehi.

Laut Jawa Dwipa hiruk pikuk. Ombak beriak santai, angin

tak sedang galak. Berembus kuat, namun tak mengundang

badai. Langit yang biru membuat nyaman batas pandangan

mata dengan misteri keindahan tak pernah habis. Lewat

tengah hari, ratusan kapal kayu membelah samudra yang

terbiasa dengan sunyi senyap. Layar-layar mengembang

jumawa.

Layaknya kelompok bangau yang terbang rapi menembus

angin. Berjajar teratur dalam barisan yang memanjang. Elok

betul bentuk kapal-kapal itu. Tampak kokoh dengan tiang-tiang

besar dan badan kapal yang kekar dan berukir.

Puluhan di antaranya berukuran besar, sedangkan yang

lain berukuran sedang. Di barisan depan rombongan itu, kapal

berukuran paling besar bergerak penuh wibawa. Panjangnya

44,4 zhangi dengan lebar delapan belas zhang (ukuran

panjang; satu zhang sekitar tiga meter).

Tiang-tiang kayu menjulang ke langit dengan sepuluh layar

yang membentang bagai sayap-sayap raksasa. Letak layarlayar

yang ukurannya beragam itu berurutan dari bagian

depan kapal terus ke belakang. Moncong kapal dilengkapi

sepasang mata buatan berbentuk bundar, seperti mata ikan.

Para awak kapal sibuk di geladak. Seorang lelaki bermata

sipit dan bertubuh gempal melepas pandangannya penuh

takjub ke garis hijau di ujung laut. Daratan Jawa Dwipa di

depan mata. Tangan kokohnya tak hendak lepas dari kemudi

yang dia gengam erat.

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Lelaki itu mengenakan pakaian seperti jubah dengan

lengan panjang dan lebar. Jubah itu hampir menyentuh

telapak kaki sehingga tak terlihat janggu (celana panjang)

yang dia kenakan, kecuali dari sisi kiri dan kanannya yang

dibiarkan tak dijahit mulai pinggang sam-pai mata kaki.

Di kepalanya bertengger ikat kepala dengan tanda khas di

bagian kening. Dia sibuk dengan kesendirian. Sementara itu,

orang-orang di sekeliling asyik dengan pekerjaan masingmasing.

Beberapa di antara mereka tampak mengepel lantai

kayu geladak kapal.

Ada juga yang mengemas barang sambil berbincang

dengan rekan-rekan awak kapal. Mereka menggunakan

bahasa Chung Kuoi (Mandarin). Sesekali terdengar siulan dan

gelak tawa di sela-sela percakapan akrab itu.

Angin masih ramah. Di puncak salah satu tiang kayu kapal

induk, terlihat bayangan yang berkibar. Sesosok semampai

bergelayut dengan kaki lurus menginjak tali jaring di tiang layar

berbentuk kayu gelondongan bulat. Lebar permukaan kayu itu

sama dengan panjang dua telapak kaki orang dewasa.

Sosok itu berdiri di ketinggian enam zhang. Dia seorang

perempuan. Tubuhnya tak limbung diterpa angin yang

menghantam tiang layar. Hanya rambut panjang dan jangsan

(Kebaya) sutra hijau lebarnya yang berkibar-kibar.

Bibirnya menyungging senyum menatap daratan yang

mulai tampak pada batas selatan penglihatannya. Mata yang

bulat cemerlang tambah berbinar. Bulu matanya yang lentik

sesekali mengerjap. Kulit wajah kuning langsat, tapi memerah

di daerah pipi. Serasi dengan hidung yang mungil dan

mancung. Rambutnya terurai, legam, dan halus berpendar

dicandai angin.

Dua kepang kecil yang bermula dari bagian atas telinga

ditarik ke belakang dan menyatu di kepala bagian belakang.

Kepang itu diikat pita merah jambu. Dia masih sangat muda.

Jejari lentik tangan kanannya yang menyembul dari lengan

baju yang lebar menggenggam sebuah kitab, sedangkan

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

tangan kirinya mencengkeram tali jaring menjaga

keseimbangan.

Telapak kakinya yang bersepatu seperti terhunjam di tali

jaring. Tak goyah, seperti itu sejak matahari menarik teriknya

yang menyengat.

Sesaat kemudian, sebuah bayangan melesat dari geladak

kapal ke arah puncak tiang. Tangga tali yang merapat di tiang

kapal bergetar. Rupanya, orang berkemampuan tinggi yang

melesat naik ini meniti salah satu tangga tali yang dipasang di

empat arah angin dan bertemu di ujung tiang layar.

“Hui Sing, Kakak Juen Sui ingin kita berkumpul di geladak!”

Bayangan itu berhenti bergerak satu lengan persis di

bawah kaki perempuan belia itu. Seorang laki-laki muda

berbadan tegap dan berwajah periang. Alis matanya tebal,

namun tak terkesan garang karena mengapit sepasang mata

yang Jenaka. Jernih dan mengundang simpati.

Bibirnya selalu menyungging senyum. Kulit putih bersih,

tampak rupawan dengan rambut panjang yang diikat rapi.

Seperti penghuni kapal yang lain, dia mengenakan i-fu

(pakaian) panjang dengan lubang lengan yang lebar serbabiru,

kecuali sabuk yang melingkar di pinggangnya. Warna sabuk

itu putih salju, sedangkan sepatu dan pita yang mengikat

rambut panjangnya berwarna hitam.

Sekarang, dia menggelantung dengan satu kaki menginjak

tangga tali dan tangan kanan menggenggam bagian tangga

tali yang lain.

Perempuan yang dipanggil adik itu bergeming. Tidak

langsung menjawab. Hanya dagunya yang runcing terangkat

ke atas, bergaya jumawa. Senyumnya melebar.

“Kakak Feng, tidakkah Kakak pikir Laut Jawa Dwipa begitu

indah? Aku merasa nyaman berlama-lama menikmatinya dari

atas sini.”

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Lelaki muda itu tampak penasaran. Kaki dan tangannya

berpindah posisi dengan lincah meniti tangga tali seukuran ibu

jari orang dewasa itu.

“Adik, kau masih punya banyak waktu untuk itu. Sekarang

turunlah dulu! Siapa tahu ada hal penting yang ingin

disampaikan Kakak Juen Sui.”

“Rasanya, sudah lama kita tak berlatih Thifan, Kakak

Feng.”

“Kukira ini bukan saat yang tepat, Hui Sing!”

Perempuan muda itu tertawa. Renyah sekali terdengar.

Lepas dan tanpa beban.

“Baik, aku mau turun, tapi ada syaratnya ….” Kalimat itu

terputus. Hui Sing kemudian mengangsurkan kitab di tangan

kanannya, tanpa terlebih dulu membalikkan badannya. Dia

tetap membelakangi Sien Feng, kakak seperguruannya yang

mulai tak sabar dengan sikap badungnya.

“Rebut dulu kitab di tanganku. Kalau Kakak bisa

melakukannya, aku akan menuruti apa pun perintahmu,”

ujarnya datar.

Sien Feng mengerutkan dahi. Dia memang sering dibuat

penasaran oleh kelakuan adik seperguruannya ini. Karena

usianya yang masih belia, sikap kekanak-kanakannya sering

muncul.

Wuuuttt!

Tangan kanan Sien Feng menyambar ke arah kitab di

tangan Hui Sing. Gagal. Tangan mungil Hui Sing bergerak kilat

ke atas. Menghindar. Masih dalam sikap berdiri yang sama.

Gerakan tangan itu sama sekali tidak mempengaruhi

keseimbangan tubuhnya. “Hup!”

Tubuh Sien Feng mencelat dari tempatnya bergelantung,

menerkam ke arah Hui Sing.

Sambil tersenyum, Hui Sing yang merasakan ada angin

serangan dari arah belakang tubuhnya langsung bersalto ke

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

belakang sambil melentingkan tubuhnya ke atas. Sien Feng

yang gagal menangkap tubuh Hui Sing meluncur ke bawah

seperti hendak terjungkal ke geladak. Namun, tangan kirinya

sigap menangkap salah satu tangga tali sehingga tubuhnya

kembali menggelantung.

Setelah bersalto dengan indah, Hui Sing menggelantung

dengan tangan kiri menggenggam tali, sedangkan kaki kirinya

berpijak pada bagian tangga tali yang lain.

“Mau adu ilmu peringan tubuh?”

“Seorang yang hebat mencapai tujuannya karena tidak

mempunyai pilihan lain. Tak perlu mempertahankan

keunggulannya.”

Hui Sing menghapus senyumnya. Bibirnya manyun, lalu

membuang muka. “Kitab Daos De Jing, Ajaran kelima, bab

peringatan terhadap kekerasan.”

Sien Feng melongo.

“Kapan kau mempelajari ajaran Dao (Tao)?”

Hui Sing tak menjawab. Senyumnya mengembang. Ia

merasa menang.

“Kakak Feng, hunus cien (pedang) -mu!”

Sien Feng menggelengkan kepala. Dia bertambah gemas

melihat senyum Hui Sing yang seperti bocah tak berdosa.

Namun, hanya sesaat karena dia langsung tersentak. Matanya

memicing ketika melihat sinar perak yang menyilaukan mata

meluncur deras ke arahnya.

Sien Feng bergulingan di jaring yang dipasang tegak lurus

itu. Tangan dan kakinya susah payah bergerak agar tubuhnya

segera berpindah tempat menghindari benda berkilau itu.

Wuuuttt! Tarrr!!!

“Tik sezint luq (Jurus Menjahit kain sutra)!”

Tubuh Hui Sing seperti terbang. Hanya sesekali tangan

kanannya yang kini tak lagi memegang kitab karena sudah

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

diselipkan di ikat pinggangnya, meraih tali jaring. Kakinya

lincah melompat ke sana kemari, sedangkan tangan kirinya

diselubungi sinar perak yang menyilaukan, memanjang, dan

terus memburu tubuh Sien Feng yang mati-matian

menghindar.

“Hunus cien-mu, Kakak Feng!”

Sien Feng masih tak mengindahkan teriakan Hui Sing. Dia

terus menghindar dengan berjumpalitan di udara dan bergerak

turun-naik. Namun, lama-lama dia terdesak hebat. Ruang

geraknya seperti habis terkurung oleh sinar perak yang

ternyata selembar tai-gu(sabuk) panjang terbuat dari benang

perak yang menyilaukan.

Setiap kali Hui Sing menyentakkan tangan kirinya, sabuk

itu seolah-olah hidup. Bergerak kencang menyerang lawan.

Sinarnya yang memantulkan sinar matahari, sudah sangat

merepotkan bagi Sien Feng.

Belum lagi kedahsyatan sabuk yang menyalurkan

dath(tenaga dalam) Hui Sing dengan sempurna. Jurus Tik

sezint luq yang dimainkan Hui Sing merupakan jurus yang

khusus diciptakan untuk perempuan dalam ilmu bela diri

Thifan Pokham (pecahan Tee Kumfu dan Kungfu, bela diri

berazaskan Islam).

Jurus ini memperhalus gerakan-gerakan Thifan agar

sesuai keinginan sejati setiap perempuan supaya tetap

cantik. Pendekar perempuan dapat mempertahankan kondisi

tubuhnya agar tetap lembut dengan jurus ini.

Sementara itu, di tangan ahlinya, sabuk bisa lebih

berbahaya dibandingkan pedang atau senjata logam lain.

Bentuknya yang lentur, sulit sekali dilawan dengan benda

keras.

Di China daratan, cukup banyak pendekar perempuan

yang menggunakan senjata seperti ini. Selain bisa

mempertahankan sifat alami perempuan yang lemah lembut,

senjata lentur bisa menjadi senjata lihai yang ampuh. Apalagi

sabuk milik Hui Sing dibuat dari benang khusus sekuat baja.

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Sreng!

“Fuke kotli ey (Jurus Panda memetik anggur)!”

Sambil bersalto, Sien Feng akhirnya mencabut pedangnya.

Bunyi logam bergesek terdengar nyaring ketika ia

mengeluarkan pedang baja berwarna hitam dari sarungnya.

“Ini baru seru!”

Hui Sing berteriak girang sembari terus menyerbu dengan

sabuk di tangan kirinya. Kali ini Sien Feng tak sekadar

menghindar. Dia mulai berani menyambut datangnya sabuk

Hui Sing yang sudah membentuk gulungan sinar perak

berkilau.

Meskipun pandangan matanya terganggu dengan sinar

dari sabuk itu, Sien Feng tak lantas mundur. Dia memutar

pedang hitamnya melakukan tangkisan, sekaligus menyerang

begitu gerakan sabuk Hui Sing mengendur.

Sesekali Sien Feng memutar tubuhnya menjadi pusaran

angin. Mencari-cari titik lemah pertahanan Hui Sing sambil

berusaha menangkap ujung sabuk Hui Sing dengan tangan

kirinya.

“Jangan mimpi!”

Hui Sing berseru lantang sambil menyentak sabuk di

tangan kirinya yang ditangkap oleh tangan kiri Sien Feng.

Gagal menangkap ujung sabuk Hui Sing, Sien Feng seperti

kehilangan keseimbangan tubuh karena kedua tangannya tak

lagi berpegang pada tali.

Sontak tubuhnya terguling ke bawah. Sien Feng bergerak

menggulung sehingga pergelangan kakinya terjerat pada

tangga tali.

Ia menggelantung dengan kepala di bawah. Sekedip mata

kemudian, Sien Feng kembali menghambur ke arah Hui Sing

setelah menyentakkan tubuhnya.

Hui Sing sempat kaget karena Sien Feng tak butuh waktu

lama untuk segera melakukan serangan susulan. Dia segera

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

menggerakkan sabuknya yang sempat terdiam membentuk

pusaran sinar perak untuk melindunginya dari serangan Sien

Feng.

Hui Sing tak bergerak menghindar. Tangan

kanannya tetap menggenggam erat tangga tali, sedangkan

kedua kakinya menginjak anak tangga tali itu. Sekarang,

sabuk peraknya berjuang sendiri untuk melawan serangan

Sien Feng.

“Nuruty Doty (Jurus putri malu-malu)!” Sien Feng berteriak

masygul.

Jurus itu memungkinkan Hui Sing mampu bertahan

meskipun dalam posisi yang tak menguntungkan seperti

sekarang. Tak mudah bagi Sien Feng untuk menembus

pertahanan Hui Sing. Malah, ujung sabuk Hui Sing beberapa

kali nyaris menghantam tubuh Sien Feng.

Meskipun sabuk itu sangat lembut, namun sangat

berbahaya jika disertai tenaga dalam.

“Cukup!!!”

Ada suara lain yang menggema dan membuat kedua orang

yang sedang adu kanuragan itu tersentak. Belum tampak

sosok pemilik suara itu, namun gemanya sudah membuat

peredaran darah terganggu. Sien Feng dan Hui Sing segera

menghentikan perkelahian mereka.

“Kakak Juen Sui!”

Keduanya hampir bersamaan menyebut nama itu. Mereka

kemudian terpaku di tempat masing-masing. Satu lagi

bayangan bergerak kilat dari bawah. Sekejap mata, bayangan

itu sudah berdiri tegap di puncak tiang layar kapal.

Pemuda berusia 25 tahun itu bernama Juen Sui. Berdiri

gagah dengan kedua tangan diangsurkan ke belakang.

Tatapannya tajam bak rajawali muda. Tubuhnya tinggi besar

terbungkus pakaian

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

berwarna cokelat muda sesuai dengan warna kulitnya yang

sawo matang.

Rahangnya kokoh, selaras dengan bentuk wajah yang

persegi dengan belulang yang kuat. Rambutnya digelung rapi.

Menambah sempurna penampilannya yang kesatria.

“Sakit Paman Wang Jing Hong semakin parah, kalian

malah bersenang-senang di sini.”

Kemudian angin yang berbicara. Tiga pasang telinga

hanya mendengar desau angin, tidak ada yang lain, untuk

beberapa saat.

“Hui Sing, sebentar lagi usiamu genap tujuh belas tahun.

Dewasalah!”

Bukan bentakan. Namun, nada suara yang keluar dari bibir

Juen Sui mengandung wibawa yang pekat. Membuat orang

yang mendengarnya berpikir tak berhak melakukan apa pun,

kecuali diam di tempatnya semula. Tapi tidak selalu begitu

bagi Hui Sing.

“Kami sedang berlatih Thifan, bukan bersuka ria,”

jawabnya dengan nada lirih. Membela diri tanpa nada

perlawanan. Bibirnya cemberut. Juen Sui sedikit

menggerakkan kepalanya ke samping. Matanya melirik tajam.

Bibirnya masih terkatup dengan kesan wajah yang tak mainmain.

Dia tak berminat untuk berdebat.

“Guru menyuruh kita untuk berkumpul di ruangannya. Ada

hal penting yang akan dibicarakan.”

Juen Sui tak menunggu persetujuan kedua adik

seperguruannya. Begitu menyelesaikan kalimatnya, tubuhnya

bergerak ringan menuruni tetali jaring kapal induk itu dan

melesat ke bawah.

Sien Feng yang sejak tadi diam, memasukkan pedang baja

kembali ke sarungnya. Dia melihat ke arah Hui Sing yang kini

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

sudah tersenyum lebar lagi. Sien Feng tak bisa menahan

gelinya.

“Hui Sing, sebentar lagi usiamu genap tujuh belas tahun.

Dewasalah!” ujarnya menirukan kata-kata Juen Sui. Sien Feng

mengubah suaranya yang sebenarnya renyah menjadi berat

agar mirip betul dengan suara Juen Sui. Hui Sing berhenti

tersenyum. Matanya membesar, bibirnya manyun.

Dia baru saja hendak menyentakkan kembali sabuk

mautnya untuk menyerang Sien Feng karena kesal, tapi Sieng

Feng sudah lebih dulu mencelat cepat menuruni tangga tali itu

sambil tergelak.

“Mau ke mana kau?!”

Hui Sing penasaran dan terus mengejar Sien Feng dengan

kelincahan yang tak kalah hebat dibandingkan kakak

seperguruannya itu. Mereka pun menjadi bayangan yang

cepat meluncur ke arah geladak kapal.

Begitu keduanya menginjakkan kaki di lantai geladak, baik

Sien Feng maupun Hui Sing terbengong-bengong. Belasan

awak kapal berdiri mematung sambil memandang takjub.

Rupanya, selama Hui Sing dan Sien Feng mengadu

kepandaian di atas tiang kapal, para awak kapal sengaja

menghentikan pekerjaan mereka dan menonton laga itu.

“Nona Hui Sing, Anda sungguh lihai,” ujar salah seorang

pemuda yang bertugas sebagai penyedia perlengkapan di

atas geladak kapal.

Hui Sing tersenyum, namun tak terkesan ramah. Dia

berlalu tanpa satu kata pun keluar dari bibir, lalu melangkah

santai menuju pintu di geladak yang menghubungkan dengan

lantai di bawahnya.

Di lantai tersebut, terdapat ruang-ruang tempat istirahat

dan ruang pertemuan. Sien Feng berjalan dengan langkah

tegap mengikuti langkah riang Hui Sing.

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Mereka yang hanya percaya kepada kemampuan sendiri

akan menghadapi hidup dengan segala akibatnya.”

Hui Sing menghentikan langkahnya yang hampir menuruni

tangga geladak.

“Bab manunggal dengan Dao, ajaran kesepuluh.”

Sien Feng mengerutkan dahi sambil tersenyum. Hui Sing

meneruskan langkahnya menuruni tangga kayu.

“Aku tahu kau sangat cerdas hingga mampu menghafal

banyak kitab dalam waktu singkat. Tapi, apakah ajaran-ajaran

suci hanya untuk dihafal?”

“Jadi Kakak pikir, aku ini seorang pembual yang

mengumbar kata-kata bijak untuk keuntungan pribadi?”

“Adik, aku ….”

“Katakanlah, aku berlindung kepada Thian yang

memelihara dan menguasai manusia. Raja manusia.

Sembahan manusia.”

Langkah kaki Hui Sing dan Sien Feng yang satu-satu

menjadi latar kata-kata puitis sekaligus asing dari bibir Hui

Sing.

“Dari kejahatan setan yang biasa bersembunyi. Yang

membisikkan kejahatan ke dalam dada manusia.”

Dahi Sien Feng semakin berkerut, tak mengerti.

“Dari golongan jin dan manusia.”

Kedua orang itu akhirnya sampai di lantai ruang bawah

kapal raksasa itu.

“Adik, aku tidak mengerti.” Hui Sing menghentikan

langkahnya. Ia lalu berbalik menghadap ke arah Sien Feng,

tapi kedua matanya tak langsung menatap kakak

seperguruannya itu.

“Itu bunyi enam ayat, surah ke-114 dari Kulan Cing (Al-

Quran).”

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Sien Feng menelan ludah.

“Tidak bijak jika kita membanding-bandingkan ajaran suci.”

“Membanding-bandingkan? Kakak, aku sedang membela

diri dari tuduhanmu yang keji itu. Lagi pula, bukankah kita

sedang membahas sikapku terhadap awak kapal yang

memujiku tadi?”

Sien Feng terdiam. Sebenarnya dia memang melafalkan

pepatah Lao Zi untuk mengkritik sikap Hui Sing yang terkesan

angkuh saat dipuji oleh anak buah kapal beberapa saat lalu.

“Benar. Bukankah tidak ada salahnya bersikap ramah?”

“Tentu saja tidak, tapi apakah Kakak Feng tahu lelaki

macam apa dia itu?”

Sien Feng mengangkat alisnya sambil menggelengkan

kepala.

Hui Sing tersenyum. Ia memainkan sebagian rambut

panjangnya yang kemilau dimanja seberkas sinar yang

menyelinap dari lubang pintu penghubung lantai bawah dan

geladak kapal.

“Dia pemuda yang terlalu bersemangat. Ingin tahu

segalanya tentang aku. Mengamati semua gerakanku dan

hampir selalu menguntitku!”

Mata Sien Feng membelalak. Wajahnya memucat. Merasa

bersalah.

“Bahkan, dia berani menyebarkan cerita di antara awak

kapal seolah-olah ada sesuatu antara dia dan aku.”

“A … aku ….”

Senyum Hui Sing melebar.

“Sudahlah. Sekarang kita temui guru.”

Ruang di bawah geladak kapal itu cukup lega. Semua

tertata rapi. Tak sekadar kamar untuk istirahat, ruangan itu

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

dilengkapi dengan meja kursi berbentuk bulat dan lemari yang

dipenuhi kitab-kitab.

Di dekat pembaringan, terdapat jendela yang tak terlalu

besar namun cukup untuk memandang pemandangan ke laut

lepas. Seorang lelaki gagah kini berdiri di balik jendela itu.

Tubuhnya tinggi dengan perawakan yang tegap.

Lingkar pinggangnya tak kurang dari sepuluh jengkal

telunjuk. Dahi lebar, telinganya agak besar, sedangkan

hidungnya agak kecil. Tatap matanya tidak loyo, namun juga

tak garang. Teduh berwibawa.

Ia mengenakan jubah yang panjang menutup pakaiannya

dengan apik. Di pertemuan jubah pada pangkal leher yang

kukuh, ujung kain terikat rapi.

Alisnya yang tebal menyerupai bentuk golok dan semakin

menambah wibawa. Kepalanya ditutup kain berwana hijau

yang dililitkan sedemikian rupa. Persis di dahinya terdapat

tanda berbentuk persegi yang bertuliskan huruf Chung-Kuo.

Dialah Laksamana Cheng Ho.

“Adik-adikmu belum datang juga, Juen Sui?”

Suara yang berat namun tenang keluar dari bibir lelaki

matang itu. Dia masih juga menatap garis cakrawala dihiasi

sinar nyala kemerahan.

Sementara itu, napas lain yang berembus di ruang itu

adalah milik seorang pemuda bertubuh tegap yang duduk rapi

di kursi bulat persis di tengah ruangan itu. Dadanya

membusung dengan sikap rahang yang gagah. Lelaki muda

itu, Juen Sui.

“Saat saya memberitahu mereka, Sien Feng dan Hui Sing

sedang berlatih Thifan, Guru!”

Sang laksamana berusia 35 tahun itu tersenyum. Melebar,

sehingga gigi-giginya yang berjajar rapi dan putih bersih

layaknya mutiara, terlihat jelas.

“Bagus. Pemuda memang harus selalu bersemangat!”

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Perbincangan itu terhenti. Pintu ruangan itu terdengar

diketuk dari luar.

“Guru, Sien Feng dan Hui Sing menghadap!” Suara dari

balik pintu itu terdengar jelas. “Masuklah.”

Cheng Ho membalikkan tubuhnya menatap pintu yang

pelan dibuka dari luar. Sien Feng dan Hui Sing masuk ke

ruangan itu, lalu mengatupkan kedua tangannya hingga jemari

kanan dan kiri saling menggenggam. Kepala mereka agak

ditundukkan, sementara tangannya diangkat ke depan wajah

mereka.

“Hormat kami, Guru!”

Cheng Ho membalas salam kedua muridnya itu. Dia lalu

menyuruh keduanya duduk. Satu-satunya kursi berbentuk

bulat yang masih tersisa ditarik oleh Cheng Ho. Sang

bahariawan itu lalu duduk dengan gagah.

“Bagaimana latihan kalian hari ini?”

Wajah Sien Feng memucat. Dia agak cemas jika

permainannya dengan Hui Sing di atas layar kapal tadi

dilaporkan kepada gurunya.

“Menyenangkan sekali guru. Ilmu meringankan tubuh

Kakak Feng sangat hebat. Permainan pedangnya pun sangat

lihai. Aku jadi tidak bisa berbuat apa-apa.”

Hui Sing menjawab pertanyaan gurunya dengan lugas.

Tidak terkesan sungkan sama sekali. Cheng Ho menganggukanggukkan

kepalanya sambil tersenyum.

“Hui Sing, aku sudah cukup lama tak menyimak hafalan

Surah Ku-fan Ching-mu. Kau masih tekun melakukannya

bukan?”

“Tentu saja, Guru!”

“Selama paman kalian, Wang Jing Hong, sakit aku tak

sempat lagi menemani kalian berlatih Thifan. Untunglah ada

kakak kalian Juen Sui yang sudah banyak menyerap ilmu yang

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

aku miliki. Tentunya kalian mendapat pelatihan yang baik dari

kakakmu.”

Mendengar namanya disebut, tak memancing perubahan

air muka di wajah Juen Sui. Tatapannya tenang tanpa luapan

kebanggaan. Dia tetap menyimak dengan tekun setiap kata

yang keluar dari bibir gurunya.

Selama hampir lima belas hari, Juen Sui memang

mengambil alih berbagai tugas Cheng Ho sebagai pemimpin

rombongan armada raksasa yang terdiri lebih dari dua ratus

kapal berisi 27.800 orang awak kapal itu.

Hanya sesekali sang laksamana keluar dari ruang

pengobatan untuk mengawasi kerja anak buahnya.

Selebihnya, dia kembali tekun merawat sakit Wang Jing Hong,

orang kedua dalam pelayaran tersebut, yang kini tengah

menderita sakit parah.

“Saudara Wang menderita sakit sui-teu (cacar air). Ini jenis

penyakit yang sangat peka. Paman kalian itu tidak boleh

terkena air karena penyakitnya akan semakin menjadi. Dia

juga mengalami nie-ci (demam) yang sangat tinggi. Seluruh

tubuhnya mulai ditumbuhi bisul yang sangat gatal.”

Hui Sing bergidik mendengarkan penjelasan gurunya.

Gadis ini cukup dekat dengan Wang Jing Hong karena dia

memang sejak bayi sudah diasuh oleh Cheng Ho. Karena

Wang Jing Hong merupakan orang kepercayaan Cheng Ho,

dia pun sering bertemu dengan Hui Sing.

“Sui-teu bukan penyakit yang mengancam jiwa. Namun,

siapa pun yang mengalaminya akan merasakan sakit luar

biasa. Badan panas dingin, kulit berbisul, dan sangat gatal.

Jika digaruk, luka itu bisa menjadi cacat seumur hidup.”

Sekarang Sien Feng yang wajahnya memucat. Dia pernah

mendengar keganasan penyakit yang bisa menjadi wabah ini.

“Sui-teu adalah penyakit menular. Dia bisa menjalar

dengan sangat cepat. Tetapi orang-orang yang belum pernah

terjangkit saja yang bisa tertular.”

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Semua diam. Cheng Ho menghela napas pelan.

“Karena itu, rencana kita pergi ke Majapahit tertunda.

Sebentar lagi kita merapat di Pelabuhan Simongan. Kita harus

mendarat untuk merawat saudara Wang sampai sembuh. Jika

tidak, aku khawatir sui-teu ini menjadi wabah di antara awak

kapal.”

Cheng Ho menuangkan teh dari dalam poci porselen di

atas meja mungil itu ke cangkir kecil di depannya. Ia lalu

meminumnya.

“Selama di darat, kepemimpinan rombongan akan aku

serahkan kepada Juen Sui dibantu oleh Sien Feng. Aku

bersama Hui Sing dan sepuluh orang ping-seu (tentara) akan

mencari tempat untuk merawat Saudara Wang.”

“Kenapa Adik Sing, Guru?”

Sien Feng bertanya penuh rasa khawatir. Cheng Ho

tersenyum.

“Hui Sing memang lebih muda daripada kalian. Tapi

sewaktu kecil dia sudah pernah mengalami sui-teu. Jadi, dia

tidak akan terkena lagi. Selain itu, Hui Sing menguasai bahasa

orang Majapahit dengan baik.”

Sien Feng menoleh ke arah Hui Sing, lalu menggelengkan

kepala dengan kesan wajah penuh kagum.

“Kira-kira berapa lama Guru dan Adik Sing ada di

Simongan?”

Juen Sui yang sedari tadi hanya tekun mendengarkan,

akhirnya angkat bicara.

“Semua bergantung perkembangan kesehatan Saudara

Wang. Semakin cepat dia sembuh, semakin cepat kita

meninggalkan Simongan dan meneruskan perjalanan ke

Mojokerto, ibu kota Majapahit.”

“Guru, apakah Simongan masih termasuk wilayah

Majapahit?”

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Cheng Ho menoleh ke arah Hui Sing. Pandangan matanya

cermat, sementara senyum kembali mengembang di bibirnya.

“Majapahit pernah menjadi negara yang sangat besar. Bala

tentaranya gagah berani. Pengaruhnya menyebar ke penjuru

samudra. Hanya, sekarang kerajaan itu didera pemberontakan

dan perang saudara yang terus bermunculan,”

Cheng Ho menghentikan sementara kalimat yang selalu ia

ucapkan dengan hati-hati.

“Simongan masih dalam kekuasaan Majapahit. Tapi dari

pusat pemerintahan kerajaan di Mojokerto, jarak Simongan

masih ratusan li (sekitar 500 meter).”

Cheng Ho lalu mengalihkan pandangannya ke arah Juen

Sui.

“Tanggung jawabmu sangat berat, Juen Sui. Perang

saudara antara raja Timur dan raja Barat yang

memperebutkan tahta Majapahit semakin sengit. Jangan

sampai kita yang tidak ada urusan dengan mereka jadi

terlibat.”

Juen Sui mengangguk-angguk.

“Siapa raja Barat dan raja Selatan itu, Guru?”

Hui Sing terus memburu gurunya dengan pertanyaanpertanyaan

baru.

“Majapahit pernah mengalami masa gemilang ketika Raja

Hayam Wuruk bertahta didampingi patihnya, Gajah Mada.

Sebelum Raja Hayam Wuruk mangkat, ia bertitah agar

menantunya, Wikrama-wardhana, meneruskan tampuk

pemerintahan. Sedangkan putra yang dilahirkan oleh selirnya

bernama Wirabumi menjadi penguasa di Blambangan, wilayah

Majapahit di bagian timur Pulau Jawa Dwipa.”

Hui Sing menyimpan setiap kata dari gurunya dengan rapi

di benaknya.

“Ketika Raja Hayam Wuruk dan Gajah Mada akhirnya

mangkat, Wirabumi memberontak. Perang besar berlangsung

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

sejak lima tahun lalu,” Hui Sing mengangguk-angguk. “Ada

yang masih ingin kalian tanyakan?” Tidak ada suara.

“Bagus kalau begitu. Juen Sui, segera siapkan sampan

yang cukup lega dan sepuluh orang ping-se. Sien Feng dan

Hui Sing, kalian persiapkan segala macam kebutuhan selama

berada di darat. Termasuk bendera putih, agar penduduk

pantai tidak menjadi panik dengan kedatangan kita. Aku bantu

Saudara Wang untuk berkemas.”

“Baik, Guru!”

Hampir bersamaan Juen Sui, Sien Feng, dan Hui Sing

mengiyakan perintah gurunya. Setelah memberi hormat,

mereka pun bergegas meninggalkan ruangan pribadi gurunya.

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

2. Tragedi Simongan

Pelabuhan Simongan uara ombak seperti bunyi bulir beras

yang sedang ditampi di atas tampah. Buih putih

bercengkerama dengan pasir pantai yang cemerlang diterpa

lembayung. Ombak tinggal riak-riak kecil berlapis-lapis. Irama

alam memanjakan gendang telinga. Senja segera turun.

Nuansa merah nyala rata di langit barat.

Auranya seperti menebar ancaman bagi jiwa-jiwa yang

kosong. Burung-burung laut terbang membelah angin. Menjadi

bayangan-bayangan hitam yang membuat sempurna wajah

langit senja itu.

Perahu-perahu nelayan berjajar rapi di bibir pantai yang tak

berujung. Mereka, para lelaki berkulit legam dengan otot-otot

yang menonjol dan tubuh berkeringat, berdiri tegap sambil

menunggu dengan cermat datangnya angin darat yang akan

membawa mereka ke laut, mencari pengharapan pada ikanikan

dan penghuni dasar samudra. “Lihat! Apa itu?”

Seorang nelayan muda buru-buru mengarahkan

telunjuknya ke arah laut lepas. Pada garis cakrawala,

bermunculan titik-titik yang tak terkira jumlahnya. Semakin

banyak dan membesar. Beberapa saat kemudian, bentuk itu

semakin nyata. Layar-layar kapal yang banyak semakin dekat.

Nelayan muda yang tadinya sudah bersiap untuk naik ke

perahu itu mengangkat caping lebarnya. Bahkan kemudian

dilemparkannya kuat-kuat.

“Itu angkatan perang. Pasukan Blambangan datang. Kita

diserang!”

Suaranya berubah nyaring penuh ketakutan. Nelayan

muda itu lalu lari terbirit-birit meninggalkan teman-teman

nelayannya menuju perkampungan nelayan yang tak jauh dari

pantai.

“Kartiwaaa, kamu mau apa? Tungguuu!”

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Para nelayan yang tadinya sudah bersiap untuk melaut tak

kalah panik. Mereka tak tahu apa yang harus dilakukan.

Beberapa di antara mereka bergegas berlari tak tentu arah.

“Aku harus beritahu Ki Lurah! Warga harus segera

mengungsi!”

Pemuda bernama Kartiwa itu menjawab lantang sambil

terus berlari terengah. Tak peduli lagi kakinya yang telanjang

beberapa kali tertembus batu pantai yang tajam. Berdarahdarah,

Kartiwa tetap melaju. Keringat membanjiri tubuhnya.

Napasnya mendesak-desak.

Sampai di batas kampung nelayan, Kartiwa tak

memperlambat langkahnya. Malah semakin terburu. Matanya

melotot panik. Tak peduli lagi dengan rasa lambungnya yang

meremas-remas karena sudah berlari puluhan tombak tanpa

henti.

“Kartiwaaa, ada apa kau berlari bak dikejar hantu?!”

Seorang lelaki tua yang duduk sambil mengunyah sirih di

depan rumahnya yang beratap jerami penasaran melihat

tingkah Kartiwa. Dia berteriak tanpa beranjak dari tempat

duduknya.

“Prajurit Blambangan datang! Kita diserang!”

Lelaki tua itu berhenti mengunyah. Kesan wajahnya mati.

Tak bergerak beberapa saat. Seperti sedang berpikir. Tiba-tiba

alis matanya terangkat. Seperti sadar dari lamunan panjang.

Bibirnya sontak menyemburkan daun sirih yang tadi ia kunyah.

Ia bangkit dengan tergesa dan masuk ke rumah gubuknya.

Kartiwa terus berkoar-koar kepada setiap orang yang ia

temui di jalan. Seperti itu terus, sampai dia berhenti di sebuah

rumah joglo bertiang jati di tengah perkampungan. Ia bergegas

masuk ke pendopo dan mengetuk pintu jati dengan nada yang

keras.

“Ki Lurah! Gawat, Ki!”

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Beberapa saat tak ada jawaban. Kartiwa semakin

bersemangat mengetuk pintu jati yang menghubungkan

pendopo dan ruang dalam rumah tersebut.

“Ki Lurah Legowo! Gawat, Ki!”

Sesaat kemudian, seorang laki-laki setengah baya keluar

dari ruang belakang. Tubuhnya tegap meskipun wajahnya

sudah memperlihatkan usia tua. Hampir seluruh rambutnya

memutih. Parasnya memperlihatkan pribadi yang keras. Garisgaris

wajah tegas dan berwibawa. Dia mengenakan surjan

(baju khas jawa) dan celana panjang hitam. Di belakangnya

muncul juga seorang perempuan muda di berusia belasan

tahun.

Wajahnya putih segar. Matanya agak lebar dengan dahi

yang juga lebar. Rambutnya dikonde rapi, lengkap dengan

sasak (model rambut disisr ke belakang) yang rajin. Tusuk

konde perak kelihatan berkilauan di atas gelung rambutnya.

Perempuan muda itu mengenakan kemben yang ditutup

dengan kebaya warna cokelat.

Dia juga mengenakan kain batik yang hampir menutupi

mata kakinya.

“Kartiwa, ada apa kau berteriak-teriak tanpa sobo sito

(sopan santun)?”

“Ki Legowo, Ni Ramya, mohon maaf saya tidak sopan. Tapi

ini benar-benar gawat, Ki, Ni!”

Ki Legowo menoleh ke anaknya, Ni Ramya, lalu kembali

melihat ke arah Kartiwa.

“Katakan ada apa?”

Kartiwa diam sejenak. Mengatur napas, sambil memilih

kata-kata yang pas untuk dikatakan kepada pemimpin

kampung nelayan itu.

“Ki, pasukan laut Blambangan sudah mendekati pantai.

Jumlahnya sangat banyak. Saya kira, Kampung Simongan

benar-benar dalam bahaya, Ki. Kita harus harus mengungsi!”

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Pengecut!!!”

Kartiwa kaget bukan main. Kalimatnya langsung putus.

Wajahnya pucat bak mayat. Matanya membelalak. Dia melihat

wajah Ki Legowo memerah menahan marah. Kartiwa tidak

paham sama sekali. Sebab, dia merasa tidak melakukan

kesalahan apa pun.

“Apa yang diajarkan orangtuamu tentang bela negara,

Kartiwa?!”

“Sa … saya ….”

“Putra negara macam apa yang takut mati dan memilih

mundur dari pertempuran?!”

Kartiwa tambah mengkeret. Tak satu kata pun keluar dari

bibirnya.

“Romo (ayah), Kartiwa hanya seorang nelayan, bukan

prajurit yang siap berperang.” Ramya berbisik pelan di dekat

telinga ayahnya.

“Bahkan bocah yang belum bisa mengangkat badik pun

wajib membela bangsa dan negaranya! Bukan lari terbirit-birit

seperti pengecut!”

Suara Ki Legowo tak surut. Dia masih berapi-api

melepaskan kemarahannya yang memuncak.

“Blambangan pengkhianat! Lancang dia menapak bumi

Simongan! Ramya, siapkan keris pusaka Romo. Lalu

kumpulkan seluruh pemuda yang ada di kampung ini untuk

menyambut pasukan Blambangan!”

“Baik, Romol”

Tak berpanjang kata lagi, pasangan ayah anak itu masuk

kembali ke rumah untuk bersiap, tanpa memedulikan Kartiwa

yang masih berdiri termangu. Pemuda itu kemudian bergegas

meninggalkan pendopo.

“Juen Sui, sudah kau lakukan tugasmu?”

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Laksamana Cheng Ho berdiri gagah di ujung geladak

Kapal Pusaka. Pandangannya lurus ke arah pantai. Beberapa

orang berdiri mengapit sang laksamana di kanan kirinya. Di

belakang kapal raksasa itu, berbaris ratusan kapal lain dengan

beraneka ukuran. Selain kapal penumpang, kapal-kapal itu

ada yang membawa muatan khusus. Ada kapal khusus

membawa kuda, bahan makanan, peralatan perang, dan

pembawa barang-barang lainnya.

Beberapa lie lagi mereka akan sampai di Pelabuhan

Simongan. Layar-layar diturunkan satu-satu. Bendera putih

berkibar di setiap kapal. Para awak kapal berdiri ramai di atas

geladak.

“Sudah, Guru. Perahu kecil untuk membawa Paman Wang

dan sepuluh orang ping-se sudah siap. Semua perbekalan

juga sudah disiapkan,” ujar Juen Sui.

“Bagus. Di mana Hui Sing?”

“Adik Sing bersama Paman Wang, Guru!”

“Hmmm. Juen Sui, selama Saudara Wang dirawat, para

awak kapal yang ingin turun ke darat harus diatur. Tidak boleh

seenaknya.”

“Baik, Guru!”

“Turunkan semua layar begitu sampai ke pantai. Aku

segera turun ke perahu!”

“Baik, Guru!”

Cheng Ho membalikkan tubuhnya. Jubah birunya berkibar

diterpa angin. Juen Sui kemudian memberi perintah kepada

anak buah kapal untuk melaksanakan keinginan gurunya.

Pelabuhan Simongan penuh orang. Jumlah mereka

ratusan. Hampir semuanya lelaki dengan senjata terhunus.

Mereka berdiri berjajar dengan sikap siap siaga. Mereka

adalah penduduk kampung Simongan yang mengira ada

serangan dari Blambangan. Ki Legowo berdiri gagah di

barisan terdepan.

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Tangan kirinya menggenggam keris yang masih diam

dalam sarungnya. Di samping kanannya, Ni Ramya berdiri

anggun. Putri tunggalnya kini menggenggam pedang pendek

di tangan kirinya.

“Itu bukan kapal-kapal Blambangan. Lihat saja bentuknya!”

Kulit dahi Ki Legowo berkerut. Orang-orang mulai teliti

menatap bentuk ratusan kapal yang semakin mendekat ke

pelabuhan.

“Mereka datang dari luar Nusantara, Romo”.

Ni Ramya yakin betul dengan penglihatannya. Kapal-kapal

gagah itu memang kelihatan asing. Berbeda sekali dengan

kapal-kapal nusantara umumnya, yang ukurannya tak akan

lebih besar dari kapal-kapal itu.

Bentuknya yang kukuh, dengan moncong layaknya naga

hidup, jelas sekali berbeda dengan kapal bahari Majapahit

ataupun Blambangan. Apalagi bendera yang berkibar di tiangtiang

kapal itu juga bertuliskan huruf asing. Bukan aksara

Palawa atau aksara Jawa.

“Mereka bahkan mengibarkan bendera putih, tanda

perdamaian!”

Ki Legowo mengusir jauh perasaan tegang yang ia bawa

dari rumah. Kabar yang dibawa Kartiwa tentang kedatangan

armada raksasa dari Blambangan membuatnya panik.

Meskipun dengan gagah berani, dia kemudian mengumpulkan

para pemuda kampung untuk melawan, mempertahankan

panji-panji Majapahit, toh dia tak bisa menghilangkan

perasaan tegangnya.

Setelah belasan tahun tak mengangkat senjata, kini ia

harus mengadu nyawa dengan lawan yang jumlahnya

mencapai sepuluh kali lipat. Belum lagi ketidaksiapan para

pemuda Simongan yang hampir semuanya tak menguasai

ilmu kanuragan. Namun, segala kekhawatiran itu langsung

mencair begitu melihat bendera putih berkibar ramai.

“Sarungkan senjata! Sambut tamu kita!”

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Ki Legowo berteriak lantang penuh gembira. Orang-orang

pun bersorak-sorai dengan perasaan lega. Mereka langsung

menyarungkan senjata masing-masing. Di antara mereka ada

yang menghambur ke arah laut, menyambut rombongan tamu

yang membawa kesan damai itu.

Sementara itu, yang lain berlarian ke segala arah untuk

melakukan penyambutan sederhana. Gubuk-gubuk tepi pantai

langsung dijejali butir-butir kelapa siap santap.

Beberapa saat kemudian, rombongan kapal yang sudah

menurunkan layar-layarnya itu berhenti belasan zhang dari

bibir pantai. Jangkar-jangkar raksasa diturunkan. Saking

besarnya, dibutuhkan ratusan orang untuk mengangkat

jangkar itu jika pelayaran dimulai kembali.

Sementara kesibukan awak kapal menurunkan jangkar

berlanjut, sebuah perahu kecil bergerak perlahan

meninggalkan kapal pusaka. Sepuluh orang ping-se

mendayung penuh semangat. Di bagian belakang perahu itu

terdapat penutup seperti atap rumah. Di dalamnya, Wang Jing

Hong tergeletak sakit tanpa banyak bergerak. Laksamana

Cheng Ho berdiri di bagian depan perahu didampingi Hui Sing.

Begitu sampai di bibir pantai, mereka disambut oleh

penduduk dengan penuh sukacita. Senyum lebar yang rata di

setiap wajah para penduduk tentu saja sangat menyenangkan

bagi tamu dari negeri tirai bambu itu.

“Selamat datang di Simongan. Alangkah bahagianya kami

menerima kunjungan agung ini.”

Ki Legowo dan Ni Ramya menyambut hangat kedatangan

Cheng Ho dan Hui Sing yang lebih dulu turun dari perahu dan

mendatangi kerumunan warga.

“Kamilah yang sangat tersanjung, Kisanak. Kami tidak

menyangka sambutan penduduk Simongan begini hangat dan

bersahabat.”

“Kisanak menguasai bahasa kami?”

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Wajah Ki Legowo sumringah. Dia tadinya tidak berharap

kalimatnya akan dimengerti oleh kedua tamunya itu. Ternyata,

laki-laki gagah bermata agak sipit di hadapannya paham apa

yang ia maksud. Malah dia mampu menjawabnya dengan

cukup fasih.

“Majapahit negeri yang sangat masyhur. Namanya dikenal

hingga ke pelosok dunia. Di negeri kami, Majapahit ramai

diperbincangkan. Bahkan, para perantau Tiongkok yang

pernah tinggal di Majapahit banyak yang pulang kemudian

membuat tulisan tentang Majapahit. Di antara mereka tidak

sedikit yang membuka perguruan bahasa Jawa Kawi dan

Sansekerta.”

Cheng Ho masih menggenggamkan kedua tangannya di

depan dada, memberi penghormatan, sedangkan wajahnya

masih demikian cerah menggambarkan perasaan gembira.

Senyum Ki Legowo melebar. Dia bahkan hampir tidak

percaya kejayaan Majapahit yang kini tinggal sisa-sisa, masih

demikian dihargai oleh negeri-negeri lain. Setelah saling

memperkenalkan diri dan mengurai keingintahuan masingmasing,

Ki Legowo mempersilakan tamunya berkunjung ke

perkampungan nelayan yang terletak tak terlalu jauh dari

pelabuhan.

“Ki Legowo, maafkan saya. Sebenarnya, salah satu tujuan

kami mengunjungi Simongan adalah karena salah seorang

saudara kami, Wang Jing Hong, mengalami sakit keras. Saya

ingin tahu, apakah di dekat pantai ini ada tempat yang cukup

nyaman untuk merawat orang yang sakit?”

Ki Legowo mengerutkan dahi. “Laksamana, apakah tidak

sebaiknya dia dirawat di perkampungan saja?”

“Maaf, Ki Legowo, Saudara Wang menderita sakit sui-teu.”

“Sui-teu? Penyakit macam apa itu?”

“Sui-teu penyakit yang hampir selalu terjadi pada setiap

orang. Panas tinggi, bisul yang rata di seluruh tubuh, dan

sangat gatal!”

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Cacar air! Kami menyebutnya cacar air, Tuan Ho!”

Cheng Ho mengangguk-angguk sambil menunggu kalimat

Ki Legowo selanjutnya.

“Memang benar penyakit itu sangat menular. Tuan Wang

harus dirawat secara teliti.”

“Romo, bukankah di hutan sebelah selatan pantai terdapat

gua besar bernama Gedong Batu?”

Ki Legowo menoleh ke arah Ni Ramya, putri tunggalnya.

“Kamu benar, Nduk (panggilan untuk anak perempuan di

Jawa). Tuan Ho, di sebelah selatan pantai ini ada sebuah gua

yang cukup besar dan nyaman. Saya kira Tuan Wang bisa

dirawat di sana hingga sembuh!”

“Benarkah demikian? Syukurlah kalau begitu. Maafkan

kami yang sangat merepotkan, Ki Legowo.”

“Sama sekali tidak, Tuan Ho. Kami sangat tersanjung

dengan kunjungan Tuan. Tamu sang Prabu

Wikramawardhana mampir ke perkampungan kecil Simongan.

Bukankah itu sebuah keajaiban?”

Semua yang ada di tempat itu lalu tertawa gembira. Ki

Legowo kemudian menyuruh beberapa orang pemuda

menyiapkan tandu untuk menggotong Wang Jing Hong. Hari

sudah hampir gelap ketika rombongan kecil yang dipimpin

Cheng Ho sampai di Gua Gedong Batu.

Gua yang mereka tuju ternyata memang lumayan besar.

Ruangan gua cukup lega dan dalam. Meskipun jarang

dikunjungi orang, namun keadaannya cukup bersih. Dibantu

penduduk setempat, atas perintah Ki Legowo, Cheng Ho

menyiapkan ruangan yang lebih nyaman untuk Wang Jing

Hong.

Api unggun yang tidak terlalu besar kini sudah menyala di

tengah ruangan. Wang Jing Hong yang berselimut meringkuk

di pinggir gua. Udara semakin dingin. Suara binatang malam

mulai rata di kanan-kiri gua. Beberapa penduduk yang tadi ikut

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

membantu membersihkan gua sudah kembali ke

perkampungan nelayan.

Beberapa ping-se tampak bersiap siaga di pintu gua.

“Kakak Ho, kenapa jadi merepotkan begini?”

“Saudara Wang, kenapa berbicara seperti itu? Lihat saja,

penduduk Simongan yang sama sekali tak mengenal kita pun,

sukarela memberi pertolongan begitu banyak. Kita

bersaudara, tapi kau masih begitu sungkan.”

Cheng Ho duduk di depan api unggun sambil sesekali

memasukkan kayu bakar supaya api tetap hangat. Sementara

Wang Jing Hong berbaring miring, menyandarkan

punggungnya pada dinding gua, dan matanya menatap ke

arah api.

Sejak tadi dia setengah mati menahan rasa gatal yang rata

di seluruh tubuhnya. Bisul-bisul yang bermunculan dari ujung

kaki sampai ke wajahnya terasa begitu gatal dan berat.

Bahkan, bubuk obat yang tadi dibalurkan Cheng Ho pun sama

sekali tidak menghilangkan rasa gatal itu.

“Aku ingin ikut sembahyang, Kakak Ho.”

“Saudara Wang, keadaanmu masih belum memungkinkan

untuk sembahyang dengan sempurna. Kau bisa mengerjakan

sembahyang senja dengan berbaring. Jangan membebani

tubuhmu dengan sesuatu yang terlalu berat.”

Tanpa canggung, Cheng Ho kemudian membetulkan letak

selimut Wang Jing Hong hingga rapat menutup seluruh

tubuhnya. Ia seperti melupakan kedudukannya sebagai

laksamana, pemimpin tertinggi armada bahari Kerajaan Ming

yang sedang mengemban misi perdamaian ke Samudra Barat.

“Kakak Ho, kenapa tidak kau suruh saja awak kapal

menemaniku di sini dan kau lanjutkan perjalanan ke

Majapahit?”

“Kita tidak sedang terburu-buru, Saudara Wang. Toh di

Simongan ini, kita bisa menanamkan persaudaraan dengan

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

para penduduk pribumi. Kita bisa berbagi ilmu dengan mereka

sambil mempelajari banyak hal baru.”

Wang Jing Hong menarik napas dalam-dalam.

Rasanya ingin terus berbicara untuk melupakan rasa gatal

yang meraja dan demam yang tak kunjung hilang.

“Sakitmu tak akan lama. Setelah meminum obat yang aku

ramu, kau akan segera bisa istirahat. Paling lama tujuh hari

lagi, kau akan kembali sehat.”

Cheng Ho tersenyum, lalu bangkit dari duduknya.

“Hui Sing mungkin sudah bersiap untuk sembahyang

bersama. Setelah selesai, aku kembali kemari. Istirahatlah.”

Wang Jing Hong menganggukkan kepala sambil

memperhatikan langkah sang laksamana yang bergerak

menuju pintu gua. Di sana, beberapa ping-se yang beragama

I-se-lan (Islam) sudah bersiap untuk mendirikan sembahyang

senja, sedangkan beberapa ping-se yang berkeyakinan lain

duduk berjaga di depan gua.

“Air sungai di sebelah gua ini cukup jernih, Guru. Kami

sudah bersuci di sana.”

Hui Sing berdiri membelakangi punggung gua. Dia

kelihatan berbeda dengan kain lebar yang dikenakan menutupi

kepalanya. Hanya wajahnya yang memerah tertimpa cahaya

api unggun yang terlihat. Rambut legamnya yang biasa terurai

panjang digelung, lalu ditutupi dengan kain hijau.

“Kalau begitu, salah satu dari kalian, kuman-dangkanlah

panggilan sembahyang.”

Cheng Ho menunjuk salah seorang ping-se untuk

mengumandangkan panggilan sembahyang.

Dia segera keluar dari gua menuju sungai yang disebutkan

Hui Sing. Sembahyang bersama segera mereka dirikan. Usai

itu, Cheng Ho memeriksa hafalan ayat Kuian-Ching Hui Sing.

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Kegiatan ini sudah biasa mereka lakukan sejak Hui Sing

masih kecil karena sejak bayi Hui Sing dirawat oleh Cheng Ho.

Keduanya sudah sangat dekat, layaknya ayah dan anak. Sejak

usia tujuh tahun, Cheng Ho mulai meggembleng Hui Sing

dengan berbagai keterampilan.

Selain memperkenalkan Ilmu I-se-ian yang dianutnya,

Cheng Ho juga melatih Hui Sing ilmu bela diri aliran Thifan.

Pada usia belasan, selain telah menguasai ilmu agama dan

hafal seluruh ayat Kuian-Ching, Hui Sing juga menguasai

Thifan dengan sangat baik.

Ketika Hui Sing berusia sebelas tahun, barulah Sien Feng

dan Juen Sui diangkat sebagai murid. Waktu itu, Juen Sui

sudah berusia sembilan belas tahun, sedangkan Sien Feng

berusia tiga belas tahun. Keduanya bukan kakak beradik. Juen

Sui adalah anak seorang pejabat Kerajaan Ming beragama

Budha yang sengaja dititipkan kepada Cheng Ho untuk dididik

ilmu kepemimpinan, sedangkan Sien Feng adalah anak

seorang pendekar beragama Dao, kawan lama Cheng Ho.

Ayah kandung Sien Feng tewas dalam pertempuran saat

Kaisar Zhu Di merebut Nanjing setelah menggulingkan

kekuasaan Kaisar Zhu Yunwen. Keluarga Sien Feng adalah

bawahan setia Kaisar Zhu Yunwen. Cheng Ho merupakan

orang terdekat

Kaisar Zhu Di yang berjasa besar saat sang Kaisar

merebut tahtanya.

“Besok pagi, kita bangun pondok kecil di depan gua. Kau

tinggal di sana selama kita berada di sini. Tidak patut di mata

adat dan tidak boleh di mata agama, kau yang beranjak

dewasa tinggal dalam ruang yang sama dengan begitu banyak

lelaki bukan saudaramu.”

“Baik, Guru.”

Hui Sing mendengarkan wejangan gurunya dengan

saksama.

Usai sembahyang, Cheng Ho duduk lesehan di depan Hui

Sing dan para ping-se lain. Dia banyak memberi wejangan

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

kepada Hui Sing dan para prajurit yang menyertai mereka.

Malam semakin larut. Hui Sing dibantu beberapa ping-se

kemudian sibuk menyiapkan hidangan malam untuk

semuanya.

Lima ekor ayam hutan yang disembelih kini sudah menjadi

ayam panggang yang harum dan memancing selera makan.

“Bagaimana rasanya melakukan perjalanan begitu jauh

dari kampung halaman?”

Ni Ramya menatap Hui Sing penuh kagum. Kedua gadis

belia itu kini tengah duduk di pondok kayu depan Gua Gedong

Batu yang sehari sebelumnya selesai dibangun oleh para

ping-se.

“Menyenangkan. Kami bisa bertemu dengan banyak

orang, kebudayaan yang beragam, dan pengalamanpengalaman

baru.” Hui Sing menjawab pertanyaan Ni Ramya

dengan wajah cerah. Pagi itu, Hui Sing tampak semakin

anggun dengan pakaian sutra biru muda. Rambutnya digelung

rapi dengan model Tiongkok yang ringkas.

“Seumur hidupku, aku belum pernah melakukan perjalanan

begitu jauh.”

Ramya tersenyum masam sambil mengalihkan

pandangannya keluar pondok.

“Bukankah ayahmu dulu adalah seorang prajurit

Majapahit?”

“Benar. Tapi setelah ibuku meninggal saat melahirkanku,

romo memilih tinggal di Simongan. Tak pernah kembali ke

Majapahit. Tidak pernah juga mengajakku berkunjung ke

sana.”

“Mengapa begitu?”

“Menurut romo, dunia kekuasaan itu kejam. Orang-orang

berebut kekuasaan. Saling sikut antar teman dan saudara.

Tidak ada kedamaian.”

“Tetapi Ki Legowo tetap setia pada Raja Majapahit.”

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Tidak ada yang bisa meluruhkan kesetiaan romo terhadap

Majapahit. Sejak kecil, dia mengajariku tentang cinta tanah air.

Tanah air kami adalah Majapahit. Apa pun yang terjadi.”

“Ayahmu dan kau adalah para kesatria sejati, Ramya.”

Ni Ramya tersenyum sambil membetulkan letak tusuk

kondenya yang agak bergeser.

“Bagaimana dengan dirimu, Hui Sing?”

“Aku?”

Hui Sing tersenyum, lalu mengangkat kendi dan

menuangkan isinya ke dalam cangkir porselen di depannya.

Setelah cangkir itu penuh dengan air segar dari dalam kendi,

Hui Sing mengisi cangkir di depan Ni Ramya.

“Aku sebatang kara yang sejak bayi diasuh oleh guruku,

Laksamana Cheng Ho. Hampir sepanjang hidupku habis untuk

berkelana di daratan Tiongkok, mengikuti guru. Tapi misi ke

Samudra Barat ini adalah perjalanan pertamaku meninggalkan

tanah Tiongkok.”

“Aku dengar, ilmu kanuragan Tuan Ho sangat tinggi.

Tentunya engkau sebagai murid mewarisi ilmunya.”

Senyum Hui Sing melebar. Ia lalu mengangsurkan cangkir

ke depan bibirnya. Setelah memberi tanda kepada Ramya, Hui

Sing meminum air segar di dalamnya. Rasa adem menjalar

ketika air kendi itu membasahi kerongkongannya.

“Sekadar untuk menjaga diri, memang aku bisa. Tapi tidak

sehebat guru. Guru menguasai Thifan dengan sempurna. Aku

tidak cukup berbakat untuk mewarisi semua ilmunya. Ramya,

aku dengar justru engkau yang begitu lihai memainkan pedang

pendekmu?”

“Sama denganmu, Hui Sing. Sekadar untuk menjaga diri.

Romo menggemblengku sejak kecil dengan ilmu kanuragan.

Sekarang pun romo masih sering menyuruhku untuk rajin

berlatih.”

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Keduanya tersenyum, lalu sama-sama menikmati segarnya

air di cangkir mereka.

“Hui Sing, sebenarnya apa tujuan kunjungan armada

Kerajaan Ming ke Nusantara?”

“Persahabatan. Kerajaan Ming ingin menjalin

persahabatan dengan kerajaan-kerajaan lain di seluruh dunia.”

“Bukankah dulu Tiongkok suka sekali berperang?”

“Yah, setiap pemimpin memiliki kebijakan sendiri-sendiri.

Kaisar Zhu Di yang kini berkuasa di Kerajaan Ming

menganggap seluruh kerajaan di muka bumi adalah keluarga.

Harus saling menghormati dan saling mendukung.”

“Tuan Ho mengajari penduduk Simongan cara bertani,

beternak, juga memelihara ikan. Apakah di tempat

persinggahan lain juga seperti itu?”

“Ya. Kami menamainya senjata budi. Ketika kedatangan

kami disambut hangat oleh penduduk sekitar, itu merupakan

penghargaan yang tidak ternilai. Karena itu, kami pun ingin

berbagi kebahagiaan dan ilmu kepada mereka.”

Ni Ramya mengangguk tanda mengerti. Keduanya lalu

keluar dari pondok, berjalan menikmati alam pagi yang

menyegarkan. Sesekali Hui Sing dan Ni Ramya menjawab

salam para ping-se yang sedang melakukan berbagai

pekerjaan di sekitar gua.

Ada yang sedang mengangkut air, mengumpulkan buahbuahan,

dan pekerjaan lainnya.

“Apakah Tuan Ho juga memiliki tujuan untuk menyebarkan

agama I-se-lan?”

Hui Sing menghentikan langkahnya. Ia lalu menatap Ni

Ramya lekat-lekat.

“Tidak ada paksaan dalam I-se-lan. Kami memang dengan

sukacita memperkenalkan ajaran I-se-lan yang agung, tapi

kami tidak pernah memaksakan seseorang untuk mengikuti

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

keyakinan kami.” Nada suara Hui Sing berwibawa. Tetap datar

namun berisi.

“Dalam rombongan bahari ini pun, para awak kapal

memiliki keyakinan yang beragam. Ada I-se-lan, Fu-ciau

(Budha), Gung ce-ciu (Kong-hu-cu), dan Dao. Bahkan dua

saudara seperguruanku, Juen Sui beragama Fu-ciau,

sedangkan Sien Feng berkeyakinan Dao.”

“Hui Sing, apakah di antara kalian tidak pernah bertikai?”

“Bertikai karena agama? Tidak pernah. Keyakinan

membuat kita nyaman. Jika keyakinan terlalu dipaksakan,

pastinya nanti menjadi tidak nyaman. Ramya, katakan

kepadaku tentang keyakinan Brahmamu?”

“Kenapa kau ingin tahu?”

“Meskipun aku berkeyakinan I-se-lan, sejak dulu aku

gemar mempelajari keyakinan lain. Kini aku sedang

mempelajari kitab Dao De Jing (kitab tentang sifat dasar

manusia tulisan Lao Zi), tulisan Lao Zi.”

“Apakah itu tidak akan merancukan keyakinan-mu sendiri,

Hui Sing?”

“I-se-lan mengajarkan umat manusia untuk selalu berpikir

tentang segala ciptaan Thian. Tidak ada salahnya mempelajari

keyakinan lain untuk perbandingan. Apakah itu dilarang dalam

keyakinanmu, Ramya?”

“Aku tidak tahu. Tapi jika kau ingin tahu tentang keyakinan

kami, dengan senang hati aku akan menjawab semua

pertanyaanmu.”

“Baiklah, lain kali saja kita bicarakan itu. Sekarang, aku

ingin melihat guru mengajari penduduk cara bercocok tanam.

Kau ingin ikut Ramya?”

“Tentu saja. Aku juga ingin menunjukkan kepadamu

daerah-daerah indah di Simongan.”

“Tapi aku harus menengok keadaan Paman Wang lebih

dahulu. Jika tidak ada yang mengkhawatirkan, kita berangkat.”

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Ramya mengangguk sambil tersenyum membiarkan Hui

Sing melangkah riang menuju gua, tempat Wang Jing Hong

dirawat. Ramya menunggu Hui Sing kembali sambil

memejamkan matanya, meresapi suasana pagi, suara burungburung,

dan desau angin yang sejuk.

Di balik gunung-gunung kecil di pinggir Pantai Simongan,

penduduk kampung nelayan itu banyak yang berkumpul di

lahan luas yang tadinya berupa kerumunan ilalang yang lebat.

Kini, lahan itu sudah dipugar menjadi lahan gundul yang

permukaannya telah dibolak-balik.

“Tuan Ho, Anda sungguh bijak. Penduduk Simongan

ratusan tahun menyandarkan hidupnya pada laut. Hasilnya

tidak seberapa. Paling hanya cukup untuk makan. Kami tidak

pernah berpikir untuk mencoba pekerjaan lain. Apa yang Tuan

Ho ajarkan sungguh membuka mata kami.”

Ki Legowo dan Laksamana Cheng Ho berdiri di tengah

kesibukan para lelaki Simongan yang sedang giat membolakbalik

tanah agar siap ditanami padi. Cheng Ho tersenyum puas

melihat semangat para lelaki Simongan yang tampak dari

kilatan keringat mereka saat tertimpa terik matahari.

“Sebenarnya, dari laut pun sangat banyak hasil yang bisa

diambil. Barangkali cara kita mengolahnya saja yang belum

baik, Ki Legowo.”

Ki Legowo mengerutkan dahi. Ia memindahkan tangannya

ke belakang pinggang.

“Maksud Tuan Ho, ikan-ikan itu bisa lebih bermanfaat

selain sekadar untuk ditukar dengan padi dan kebutuhan hidup

lainnya?”

Cheng Ho kembali tersenyum.

“Kenapa tidak coba untuk menjual ikan-ikan itu keluar

Simongan, Ki?”

Ki Legowo mengangguk-anggukan kepala.

“Kami benar-benar tidak pernah memikirkannya, Tuan Ho.”

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Bercocok tanam juga sangat baik. Selain bisa menyiapkan

kebutuhan untuk makan sehari-hari, bercocok tanam

mengajarkan kearifan dan kesabaran.”

Ki Legowo masih mengangguk-anggukan kepala.

“Tadinya saya pikir, tanah di pinggir pantai tak akan baik

untuk bercocok tanam. Rupanya, pengetahuan saya terlalu

dangkal.”

“Ki Legowo tidak perlu merasa demikian. Bukankah kita

hanya bertukar pengetahuan? Saya juga sangat terkagumkagum

dengan kelihaian para nelayan Simongan saat melaut.

Begitu juga dengan keahlian para empu membuat keris.”

Ki Legowo terkekeh. Terdengar sangat bijak.

“Nanti kalau Tuan Ho sudah sampai di Majapahit, Tuan

akan melihat karya para empu yang lebih indah dan digdaya.

Tuan pasti akan terkagum-kagum.”

Ki Legowo mengajak Cheng Ho mencari tempat berteduh.

Keduanya berjalan tegap dengan langkah-langkah yang

mantap menuju serumpun pohon nyiur. Di sana, seorang

pemuda kampung yang mengenakan ikat kepala, berdiri

canggung. Sambil membungkuk memberi hormat, pemuda itu

tersenyum dan mempersilakan keduanya duduk di atas

bangku yang sudah disiapkan.

Dua buah kelapa muda diletakkan di atas bangku kayu itu.

Kutub buah itu sudah dikupas, lengkap dengan lubang di

pusatnya.

“Bagaimana dengan pemerintahan Prabu Wikramawardhana,

Ki Legowo?”

Orang tua itu tak langsung menjawab. Dia menghela napas

panjang.

“Barangkali ini bagian yang sudah tertulis dalam takdir

Dewata. Majapahit yang dulu kekar dan masyhur, terusmenerus

dirundung perang saudara. Para penguasa saling

jegal untuk berebut kekuasaan.”

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Bagaimana bisa begitu, Ki?”

“Zaman terus berputar, Tuan Ho. Kini, rakyat seperti kami

tak lebih dari ilalang yang tak henti diinjak oleh penguasa.”

“Bukankah penguasa ada untuk melindungi rakyat jelata?”

Ki Legowo tersenyum lebar.

“Andaikan itu benar-benar terwujud, alangkah damainya.

Yang ada sekarang, para pejabat tak hentinya menumpuk

harta, merampas hak rakyat, dan menjilat atasannya.”

“Sang prabu tahu tentang hal ini?”

“Permasalahannya bukan tahu atau tidak tahu, tapi mau

tahu atau tidak mau tahu.”

Giliran Cheng Ho yang terdiam.

“Itu alasan Ki Legowo mengundurkan diri dari

Bhayangkari?”

“Salah satunya begitu. Zaman sudah begini terbalik.

Keburukan menjadi lumrah, kebenaran jadi hal asing.”

“Saya tidak mengerti, Raja Majapahit bisa berdiam diri

menghadapi keadaan seperti ini.”

“Saya tidak tahu apa yang dipikirkan sang prabu. Namun,

beliau seperti ada dan tiada. Ada karena memang beliau

masih duduk di singgasana kraton Majapahit. Namun tiada,

karena sabdanya tak kunjung menyentuh rakyat jelata yang

begitu merindukan kedamaian.”

“Tidak adakah yang memberi peringatan, Ki?”

“Seandainya saja orang-orang di sekeliling sang prabu

adalah orang-orang yang berbudi luhur dan memikirkan

rakyat, pastinya tak seperti ini jadinya.”

“Bagaimana mungkin rakyat Majapahit puas dengan

keadaan ini?”

“Hana catur mungkur. Sifat orang Jawa, ketika terjadi

pembicaraan yang menabur benih perpecahan, kami memilih

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

untuk menghindar dan mundur. Tapi ada juga pemimpinpemimpin

penuh ambisi yang membakar kebencian rakyat,

lalu memberontak. Akhirnya, kehancuran juga yang mereka

temui. Rakyat juga yang akhirnya sengsara.”

“Apakah sikap pasrah itu masih bisa dipertahankan jika kita

dihadapkan pada sebuah kekuasaan yang tak memihak

rakyat, Ki?”

“Permasalahannya tidak sesederhana itu, Tuan Ho.

Kesetiaan kepada raja sudah menjadi bagian dari napas kami.

Tak ada alasan apa pun yang bisa mengendurkan kecintaan

kami kepada raja. Terlebih, kami masih yakin bahwa raja kami

tidaklah lalim. Hanya orang-orang di sekelilingnya yang berhati

racun.”

“Jadi, menurut Ki Legowo, kini yang dibutuhkan rakyat

Majapahit adalah sekelompok orang yang bisa memberi

peringatan kepada raja?”

“Kira-kira demikian, Tuan Ho.”

Cheng Ho tersenyum, lalu menikmati kesibukan para

pekerja mengolah lahan yang akan dijadikan tanah

persawahan itu.

“Saya sangat kagum dengan cara orang Jawa dalam

memahami jalan hidup, Ki.”

“Benarkah? Tidak ada yang istimewa dari kami, Tuan Ho.”

“Mohon Ki Legowo tidak tersinggung. Saya memperhatikan

kehidupan di Simongan. Banyak nelayan yang hidup

seadanya. Namun, mereka tetap gembira dan tak pernah

terlihat sedih oleh kemiskinan.”

Ki Legowo tersenyum arif.

“Orang-orang yang Tuan lihat itu memiliki kejernihan jiwa.

Mereka berusaha memahami misteri hidup yang tak akan

tuntas diungkapkan oleh kata-kata.”

Cheng Ho terus menyimak setiap kata Ki Legowo.

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Kami menyebutnya sebagai pengalaman tan kena kinaya

apa atau sesuatu yang tak bisa dilukiskan dan digambarkan.

Cara itu membawa manusia memperoleh makna paling dalam

tentang asal dan tujuan segala yang ada atau sangkan

paraning dumadi.”

Ki Legowo menatap Cheng Ho lekat-lekat. Pandangan dua

orang mumpuni itu bertemu.

“Dari sanalah kami meyakini bahwa keberadaan hidup

manusia hanyalah sebagai perjalanan atau peziarahan. Urip

iku mung mampir ngombe, hidup itu hanyalah sebuah

persinggahan.”

Cheng Ho tak hendak menyela. “Melalui pemahaman ini,

seseorang bergulat sungguh-sungguh dengan hidupnya untuk

menemukan kesejatian diri dan mendapatkan kadigdayan atau

kesaktian, kawaskitan atau kewaspadaan, dan kasampurnan

atau kesempurnaan.”

Ki Legowo berhenti sejenak.

“Pemahaman itulah yang akhirnya berguna bagi

pemaknaan hidup dan pelayanan sesama serta semesta.

Kebahagiaan, kesempurnaan, keseimbangan batin.”

Cheng Ho mengangguk paham.

Pada saat yang sama, dua sosok semampai mendekati Ki

Legowo dan Cheng Ho yang sedang duduk sambil menyimak

kesibukan para pemuda Simongan di lahan yang akan

dijadikan sawah itu. Mereka adalah Hui Sing dan Ni Ramya

“Tuan Ho, lihatlah murid Tuan itu. Begitu lincah dan ceria.

Saya yakin, Tuan sudah menggemblengnya dengan ilmu

kanuragan yang tinggi.”

“Ki Legowo terlalu berlebihan. Ni Ramya juga terlihat

sangat tangkas. Tentunya Ki Legowo sudah membekalinya

dengan kemampuan bela diri yang mumpuni.”

“Guru! Ki Legowo!”

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Hui Sing dan Ni Ramya memberi hormat kepada dua orang

yang sangat mereka hormati itu. Ni Ramya lalu menghampiri

Ki Legowo dan berdiri di belakangnya. Hui Sing melakukan hal

yang sama. Dia berdiri di belakang gurunya, lalu menoleh ke

arah Ni Ramya. Keduanya tersenyum.

“Hui Sing, bagaimana dengan Paman Wang?”

“Keadaannya sudah membaik, Guru. Paman Wang sudah

tidak merasakan demam tinggi lagi. Pagi ini malah sudah mau

makan dengan lahap.”

“Bagus kalau begitu. Jika keadaannya sudah sembuh

benar, kita akan segera berangkat ke Majapahit.”

“Tuan Ho, sebenarnya kami sangat ingin agar Tuan lebih

lama lagi tinggal di Simongan. Saya kira, penduduk di sini

sangat membutuhkan bimbingan Tuan.”

“Ki Legowo, siapa yang tidak tergoda untuk tinggal di

daerah sesubur ini. Pemandangan pantai yang menakjubkan,

hutan-hutan yang basah, juga binatang dan tetumbuhan yang

beragam dan luar biasa. Tetapi, kami mengemban tugas dari

kaisar yang harus kami laksanakan.”

Ki Legowo terdiam. Tatapannya menerawang ke depan.

“Ki Legowo tidak perlu khawatir. Jika misi ke Majapahit

sudah selesai, kami pasti kembali ke Simongan.”

Keduanya lalu tersenyum lebar.

“Tuan Ho, tentu saja saya mengerti dengan tugas yang

Tuan emban. Tuan mau singgah ke Simongan saja sudah

merupakan kehormatan bagi kami. Jangan terlalu dipikirkan

omongan orang tua ini,” ujarnya sembari terkekeh

Mereka berempat kemudian berbincang-bincang dengan

akrab dan hangat. Mereka membicarakan banyak hal. Tentang

kebudayaan sampai ilmu silat. Juga mengenai alam Jawa

Dwipa dan Kerajaan Majapahit.

Siang semakin terik. Para pemuda Simongan yang penuh

semangat mengerjakan lahan itu, kemudian bergantian

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

dengan pemuda yang lain. Desah angin siang membelai kulit

ari. Angin beraroma laut menyebar.

Suara alam begitu harmonis. Desau daun nyiur yang manja

disapa angin, seirama dengan suara burung yang bersahutan.

Hui Sing memejamkan matanya. Dara itu duduk bersila di

atas batu hitam di bawah pohon waringin besar di tengah

hutan, agak jauh dari gua tempat rombongannya beristirahat.

Dua telapak tangannya menengadah dan diletakkan di atas

lutut. Ujung jari tengah dan ibu jarinya menyatu, sedangkan

tiga jari lainnya meregang.

Desah napasnya begitu jarang dan tertata. Hui Sing mulai

merasakan dath dingin menyebar di seluruh jalan darahnya.

Nyaman sekali. Senyum gadis itu merekah. Dalam kondisi

meditasi seperti ini, pancaindra Hui Sing sangat peka

menangkap segala gerak di sekelilingnya.

Suara gesekan daun yang terembus angin di pucuk dahan

pun bisa ia dengarkan. Terpisah dari hiruk pikuk satwa hutan

yang juga sibuk siang itu. Kelinci hutan, burung-burung,

sampai geliat ular pohon juga tak henti mengeluarkan getar

suara yang berbeda.

Tiba-tiba dua kelopak mata Hui Sing terbuka. Ia

mendengar gesekan angin yang berbeda tak jauh dari

tempatnya bersemedi. Gerakan tubuh seseorang berilmu

kanuragan yang tidak rendah. Hui Sing hanya punya waktu

sesaat untuk menduga-duga.

Dalam sekejap, ia merasakan angin mendesak sangat

keras dari arah belakang. Sontak Hui Sing menyentakkan

tubuhnya ke atas. Sesosok hitam bercadar muncul dan

memburu tubuh Hui Sing dengan sebilah golok. Gerakannya

luar biasa cepat. Beberapa kali Hui Sing harus berjumpalitan

di udara menghindari serangan maut yang dilancarkan nyaris

tanpa suara itu.

Bahkan, beberapa kali batang golok itu hanya sebatas jari

lewat dari leher Hui Sing. “Siapa kau?!”

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Tubuh Hui Sing terus melenting menghindar dari serangan

golok itu. Tapi rupanya sosok bercadar itu tak ingin

berkompromi. Dia terus mengurung ruang gerak Hui Sing

dengan goloknya yang haus darah.

Hui Sing lalu melompat ke dahan pohon, mencari posisi

yang lebih bagus. Si penyerang misterius itu pun tak hendak

mengendurkan serangannya. Jadilah keduanya bayangan

cepat, berlompatan di dahan-dahan raksasa bak dua ekor

tupai yang sedang berkejaran.

Hui Sing tak mau gegabah. Jurus-jurus yang digunakan

penyerangnya begitu asing. Gadis itu tak mau sembarangan

bertindak hingga merugikan diri sendiri. Makanya, dia memilih

terus menghindar. Mengandalkan gin kang (ilmu peringan

tubuh) untuk terus berlompatan di dahan-dahan pohon

raksasa itu.

Rambut legamnya pun berkibaran indah mengikuti gerakan

tubuhnya yang lebih mirip orang yang sedang menari. Hui

Sing sedang menerapkan jurus Tahan Bidadari yang tersohor

di daratan Tiongkok. Dia bergerak waspada, namun lemah

gemulai.

Beberapa kali lengannya menjadi tumpuan, bergelantung

di dahan-dahan pohon untuk menyelamatkan diri dari serbuan

golok si penyerang yang semakin dahsyat. Rupanya,

penyerang bercadar itu pun penasaran bukan main karena

sudah puluhan jurus, namun tak dapat menyentuh Hui Sing

satu helai rambut pun.

Beberapa kali bacokan golok di tangannya menebas ruang

kosong atau dahan-dahan kayu tua. Keruan saja, dahan

pohon berumur ratusan tahun itu hancur dalam satu kibas

saja.

Kini, gerakan golok itu semakin menggila. Berputar keras

mengincar ulu hati Hui Sing. Namun, murid utama Laksamana

Cheng Ho itu tahu benar bahwa lawan yang ia hadapi

mempunyai kemampuan mumpuni. Makanya, dia pun sangat

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

berhati-hati. Bahkan sekadar menggerakkan ujung jari sekali

pun, dipikir dengan penuh perhitungan.

Akan tetapi, kali ini Hui Sing bertemu dengan lawan yang

benar-benar tangguh sekaligus ulet. Langkah menghindarnya

tak cukup untuk melindungi diri. Setelah melewati empat puluh

jurus, si penyerang berhasil mendesaknya.

“Hiyaaa …!”

Tak ada pilihan. Ujung golok itu nyaris saja menyentuh kulit

leher Hui Sing. Tak mau mati konyol, Hui Sing menghentakkan

dath dingin lewat telapak tangannya yang mengangsur ke

depan.

“Aaaaaargh!”

Begitu kuat dath dingin yang keluar dari telapak tangan Hui

Sing. Tubuh si penyerang terpental ke belakang sampai

beberapa tombak.

Akan tetapi, si penyerang itu membuktikan bahwa dia

bukan pesilat kacangan. Meskipun terlempar ke belakang, dia

masih mampu memutar tubuhnya sedemikian rupa sehingga

tak terpelanting ke tanah. Tubuhnya mendarat dengan kaki

kanan berada di depan, melipat, sedangkan kaki kirinya lurus

ke belakang. Tangan kanannya memegang gagang golok

yang kini ujungnya menjadi tumpuan.

Sementara itu, Hui Sing berdiri termangu. Angin hutan

memainkan pakaian sutra dan rambutnya hingga berkibar.

Tatap matanya lekat ke arah sosok penyerang itu, menunggu

dengan waspada. Namun, kini ada senyum yang merekah di

bibirnya.

“Bagaimana? Masih ingin mencoba?” Penyerang bercadar

itu masih membisu. Rupanya, dia sedang mengatur napas dan

peredaran darahnya yang kacau-balau. Dadanya terlihat jelas

turun-naik oleh napas yang mendesak. Jika dia tak

berkemampuan tinggi dan bertenaga dalam cukup hebat, bisa

jadi tulang-belulangnya remuk dihantam dath yang

menghentak dari telapak tangan Hui Sing tadi.

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Sikap tubuhnya masih sama seperti ketika dia mendarat

setelah memutar tubuhnya tadi. Sesaat kemudian.

“Hiyaaa …!”

Tubuhnya kembali menjadi bayangan hitam yang bergerak

luar biasa cepat menyerang Hui Sing. Sementara Hui Sing

bergeming di tempatnya berdiri. Tidak memperlihatkan sikap

siap sama sekali. Kecuali tangan kanannya yang diletakkan

persis di dadanya seperti orang menyembah.

Wuuus …! Trannnggg!

Tubuh penyerang bercadar itu lagi-lagi terpental ke

belakang. Sementara golok di tangannya sudah patah menjadi

dua dan terlepas. Rupanya, ketika sudah begitu dekat dengan

tubuhnya, Hui Sing mengerahkan dath-nya secara penuh

lewat lengan tangannya.

Lengan tangan yang tampak ringkih itu sontak menjadi

sekuat baja, luar biasa. Sekali sepok, golok baja si penyerang

patah jadi dua. Bukan itu saja, tubuh si penyerang terpelanting

hebat ke belakang.

Kali ini, penyerang bercadar itu tak mampu lagi

mengendalikan tubuhnya. Dia gagal memutar tubuhnya agar

bisa mendarat dengan baik. Tubuhnya langsung terbanting ke

tanah dengan cukup keras.

Tiba-tiba terdengar suara tawa yang renyah. Si penyerang

itu perlahan bangkit setelah beberapa saat terbujur seperti

jasad mati.

“Sudah kuduga, ilmu kanuraganmu jauh di atasku, Hui

Sing.”

Hui Sing tak tampak terkejut. Dia langsung menghampiri si

penyerang itu dengan langkah santai.

“Aku juga sudah menduga bahwa si penyerang yang

begitu bernafsu untuk memenggal leherku ini adalah putri Ki

Lurah Legowo yang keras kepala.”

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Ah! Jadi, itu alasannya kenapa kau hanya menggunakan

sedikit sekali kekuatan tenaga dalammu?”

Hui Sing berjongkok di depan penyerangnya yang kini

duduk selonjor, bersandar di batang pohon. Sambil

menggeleng-gelengkan kepala, Hui Sing mengangsurkan

tangannya, membuka cadar hitam penyerangnya.

“Ramya, aku bisa saja mati oleh golokmu yang tidak punya

mata itu,” ujarnya sambil tersenyum.

“Hui Sing, aku yakin betul, kemampuanmu pasti sangat

tinggi. Kalau aku setengah hati menyerangmu, satu-dua jurus

kau pasti sudah bisa membuka cadarku.”

“Keras kepala! Kenapa kau ada di hutan siang hari begini?

Bukankah Ki Legowo memberimu tanggung jawab untuk

memimpin para kembang desa Simongan untuk menyiapkan

makanan para pekerja?”

“Tentu saja aku sudah menyelesaikan pekerjaanku, Tuan

Putri. Sekarang waktunya santai.”

Hui Sing bangkit sambil menggenggam sebatang kayu

berukuran seibu jari orang dewasa.

“Coba kau berdiri, Ramya!”

Penuh keheranan, Ramya mengikuti apa kata Hui Sing. Ia

pun berdiri dengan muka berkerut.

“Anggap kayu ini sebagai pedang.”

Ramya menerima kayu yang diangsurkan Hui Sing penuh

tanda tanya.

“Serang aku!”

Meskipun masih keheranan dengan apa yang

diperintahkan Hui Sing, Ramya tak menampiknya.

Kayu sepanjang lengan itu langsung meluncur deras ke

arah jantung Hui Sing. Tadinya Ramya mengira Hui Sing akan

melakukan hal yang sama ketika dia mematahkan goloknya.

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Namun itu tidak terjadi. Tubuh Hui Sing meliuk melakukan

gerakan kayang. Tentu saja serangan itu menerpa ruang

kosong. Penasaran, Ramya lalu memukulkan kayu di

tangannya ke arah bawah.

Tampak sangat mudah untuk menggebuk tubuh Hui Sing

dalam posisi itu. Tapi ternyata tidak. Tubuh Hui Sing tiba-tiba

berputar cepat dan menghindar ke arah kanan. Tak sampai

satu kedipan mata, ujung jari telunjuk Hui Sing menyentuh

permukaan tanah untuk sekadar menahan tubuhnya.

Sekejap kemudian, tubuh Hui Sing memantul ke atas,

masih dalam keadaan berputar. Tak dinyana, tangan kanan

Hui Sing menjulur menangkap ujung kayu yang dimainkan

Ramya yang kini sudah bergerak ke atas, begitu gagal

menggebuk tubuh Hui Sing.

Ramya tak sempat berpikir lagi. Begitu tenaga yang sangat

kuat menyentak melalui batang kayu yang masih ia genggam,

sontak tubuhnya terjorok ke depan. Sangat mudah bagi Hui

Sing untuk melakukan serangan susulan lewat tangan kirinya.

“Aaah …!””

Tubuh Ramya langsung berdiri kaku, tertotok oleh jari

tangan kiri Hui Sing. Sementara kayu yang tadi ia gunakan

untuk menyerang Hui Sing sudah berpindah tangan.

Wuuut!

Ujung batang kayu di tangan kanan Hui Sing bergerak lagi,

membebaskan totokan yang tadi membuat Ramya tak bisa

bergerak.

“Aku tak paham maksudmu, Hui Sing!”

“Ramya, kau terlalu mengandalkan tenaga luarmu.

Padahal, jika mau mengasah tenaga dalam dan kelincahan

tubuhmu, pasti ilmu kanuragan yang kau miliki akan lebih

ampuh.”

Ramya mengerutkan kening, tampak berpikir.

“Kau mau mengajariku, Hui Sing?”

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Hui Sing tersenyum. Tangan kanannya merentang. Batang

kayu yang ia genggam, kini terjulur lurus ke samping kanan

tubuhnya membentuk siku-siku.

“Mana kuda-kudamu, Ramya?”

Ramya langsung melakukan kuda-kuda yang kokoh.

Pertama, dia berdiri mengangkang dengan kedua tangannya

ditekuk, menempel di pinggang. Kemudian, dengan gesit dia

menjadikan kaki kanannya sebagai tumpuan tubuhnya,

dengan memutar tubuhnya setengah lingkaran berpusat di

pinggul.

Sementara kaki kanannya menghunjam kuat ke tanah, kaki

kirinya dibiarkan tanpa tenaga, menjorok ke depan.

Pok! Bruk!

Ramya kaget bukan main. Tubuhnya terbanting begitu saja

tanpa sempat melihat serangan Hui Sing yang begitu cepat.

Dia hanya sempat merasakan lipatan kakinya digebuk dengan

batang kayu itu, tanpa sempat menangkis.

Karena kaki kanan merupakan pertahanan sikap kudakudanya,

Ramya hanya bisa memekik ketika berusaha

menahan serangan kayu di tangan Hui Sing. Selebihnya,

tubuhnya ambruk begitu saja. Padahal, dalam sikap kudakuda

sempurna seperti itu, seharusnya Ramya berada dalam

kewaspadaaan yang sempurna.

Nyatanya, Hui Sing mampu menembus kuda-kudanya

dengan sangat mudah.

“Itu yang kumaksud, Ramya. Kau kurang memanfaatkan

kelincahan tubuhmu.”

Ramya masih terduduk di tanah sambil meringis.

Setelah membantunya berdiri, Hui Sing kembali menyuruh

Ramya melakukan kuda-kuda. Kali ini, Hui Sing tak langsung

menyerangnya. Dia memberi masukan-masukan kepada

Ramya agar sikap dasar kanuragannya itu lebih siap

menghadapi serangan dari segala arah. Tanpa mengubah

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

langkah-langkahnya, Hui Sing memberi tambahan-tambahan

gerakan susulan.

Seperti guru dan murid, dua dara itu menghabiskan waktu

seharian untuk melatih ilmu bela diri. Ramya termasuk

perempuan yang cerdas. Selain mau menerima masukan, dia

juga bisa dengan cepat menyerap apa-apa yang dikatakan Hui

Sing. Makanya, gerakannya pun semakin lihai setelah

menggabungkan ilmu silat yang diajarkan ayahnya dengan

gerakan-gerakan Thifan yang dianjurkan Hui Sing.

“Ramya, aku kira cukup untuk hari ini. Kau cepat sekali

menyerap ilmu baru.”

“Bukan aku yang pintar. Tapi guruku yang mumpuni.,”

“Jangan kau sebut aku guru. Kita hanyalah teman berlatih.”

Keduanya tersenyum. Sambil mengelap keringat yang

bercucuran, Hui Sing mengajak Ramya duduk bermeditasi.

Mengatur kembali aliran darah dan pernapasan mereka usai

berlatih.

Beberapa saat kemudian.

“Ramya, aku harus segera kembali ke gua. Aku khawatir

Paman Wang membutuhkan sesuatu.”

“Ya. Aku pun harus kembali ke desa.”

Kedua sahabat itu pun bangkit dan berjalan bersama

menuju Gua Gedong Batu. Tak lama, suasana hutan itu

kembali akrab dengan napas alam.

Sampai di depan Gua Gedong Batu, Hui Sing dan Ramya

terheran-heran melihat sepuluh orang ping-se yang menemani

Wang Jing Hong, tampak siap siaga di depan gua. Mereka

semua berdiri waspada dengan pedang terhunus.

“Hai, ada apa ini?”

Salah seorang ping-se itu langsung menghampiri Hui Sing

dengan wajah tegang.

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Nona, armada kita diserang oleh pasukan yang sangat

besar. Laksamana Ho bersama Ki Legowo sekarang sedang

berusaha menghentikan pertempuran.”

“Apa?!”

Wajah Hui Sing langsung memerah.

“Siapa berani menyerang armada Kerajaan Ming?!”

“Belum diketahui, Nona. Tapi ada dugaan, mereka adalah

pasukan Kadipaten Blambangan.”

Ramya sama sekali tidak memahami bahasa Chung-Kuo

yang dipergunakan Hui Sing dan ping-se itu saat bercakapcakap.

Namun, melihat air muka dan bahasa tubuh Hui Sing

yang terlihat gusar, tahulah Ramya ada yang tidak beres.

Apalagi dia mendengar kata Blambangan disebut oleh ping-se

itu.

“Hui Sing, apa yang terjadi?”

“Pasukan Blambangan menyerang armada kami!”

Ramya tersentak. Air mukanya pun berubah seketika.

“Lancang! Aku harus segera membantu Tuan Ho mengusir

mereka!”

“Kita berangkat bersama!”

Hui Sing baru saja hendak membalikkan tubuhnya ketika

ping-se itu kembali memanggil namanya.

“Laksamana Ho berpesan, jika Nona sudah kembali,

hendaknya berdiam di gua ini. Sebab, keselamatan Tuan

Wang juga bisa terancam.”

Ramya memandang Hui Sing, menunggu penjelasan.

“Guru memerintahkanku untuk tinggal di sini. Berjaga-jaga

kalau pasukan Blambangan juga menyerang tempat ini.”

“Tuan Ho benar, Hui Sing. Kau tinggallah di sini. Aku akan

menggantikanmu membantu Tuan Ho.”

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Setelah berpamitan, Ramya segera berlari cepat

meninggalkan Gua Gedong Batu. Sekejap saja, bayangannya

yang semampai sudah lenyap ditelan semak belukar. Hui Sing

lalu memberi isyarat agar para ping-se kembali berjaga-jaga.

Dia segera masuk ke gua untuk memeriksa keadaan Wang

Jing Hong.

Pantai Simongan bersimbah darah

Suara senjata tajam saling babat terdengar nyaring. Mayatmayat

bergelimpangan. Puluhan ping-se mati-matian

mempertahankan diri dari serangan ratusan prajurit bersenjata

tombak, pedang, dan panah. Para ping-se yang tengah

bersantai di perkampungan Simongan itu rupanya sama sekali

tidak siaga untuk menghadapi serangan ratusan prajurit

terlatih yang terus berdatangan bak gelombang laut itu.

Para ping-se itu hanyalah sebagian kecil dari armada laut

Kerajaan Ming yang berdiam di kapal-kapal besar di lepas

Pantai Simongan. Di antara mereka pun tak semua menguasai

ilmu kanuragan yang mencukupi. Sementara pertempuran

berlangsung sengit, dari kapal-kapal berbendera Ming itu

mulai turun berkelompok-kelompok ping-se dengan senjata

pedang berukuran besar.

Mereka menaiki perahu-perahu kecil yang membawanya

ke darat. Kapal-kapal raksasa itu memang tidak bisa terlalu

rapat ke pantai karena bagian bawah kapal bisa tersaruk batu

karang di pinggir pantai. Untuk bisa mencapai darat, para

ping-se harus menggunakan sampan yang bisa memuat

sepuluh orang.

Dengan didayung bersamaan, ratusan sampan segera

meluncur membelah air laut yang beriak kecil di pantai.

Mereka segera bergabung dengan para ping-se lain yang

mulai terdesak hebat dan terus berjatuhan.

Di antara jerit kematian para ping-se ataupun prajurit

penyerang, seorang lelaki setengah baya bergerak lincah

menghadang serangan para prajurit yang melengkapi diri

mereka dengan perisai kayu itu.

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Dengar, aku Ki Legowo! Bekas Bhayangkari Prabu Hayam

Wuruk! Kalian salah! Para tamu dari seberang lautan ini bukan

musuh!”

Teriakan Ki Legowo lantang bak halilintar. Namun, itu tak

cukup untuk menghentikan gelombang manusia berseragam

prajurit itu. Semakin lama, jumlah mereka semakin banyak.

Mencapai ribuan, sedangkan pasukan ping-se meskipun

jumlahnya juga mencapai ribuan, namun hampir semuanya

berdiam di kapal-kapal.

Mereka pun tak bisa sigap segera menyerbu ke pantai

karena perahu-perahu kecil yang ada hanya sedikit. Banyak

ping-se yang nekat terjun dari geladak kapal, kemudian sekuat

tenaga berenang ke pantai untuk membantu teman-temannya,

sedangkan yang lain, yang harus menunggu perahu-perahu

yang mengantar para ping-se ke daratan, kembali mendekati

kapal-kapal itu untuk menjemput para ping-se yang masih

berada di kapal.

Suasana semakin kacau-balau. Wajah Ki Legowo merah

padam. Matanya melotot penuh amarah. Sekali sentak,

tubuhnya bergerak cepat memburu ke arah depan sambil terus

berteriak lantang.

“Siapa pemimpin pasukan ini?! Aku Ki Legowo, orang

kepercayaan Mahapatih Gajahmada, mau bertemu!”

Beberapa kali keris di tangan Ki Legowo dikibaskan untuk

menghempaskan para prajurit yang mencoba menghalanginya.

Meskipun tak sampai membunuh, gerakan itu cukup

untuk merobohkan para prajurit yang berusaha menghalanginya.

“Turonggo Petak!”

Kini, Ki Legowo berdiri gagah di antara gelombang prajurit

yang masih terus beringas. Seorang laki-laki berusia tiga

puluhan duduk jumawa di atas kudanya yang berdiri kokoh.

Dia mengenakan pakaian senopati dengan gelang-gelang

emas di lengannya. Rambutnya digelung rapi dengan ikat

kepala kuningan berukir. Matanya tajam berkilat.

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Paman Legowo, apa yang Paman lakukan?! Melukai

prajurit Majapahit berarti sebuah pembangkangan!”

“Lancang mulutmu, bocah! Seumur hidupku, aku mengabdi

untuk Majapahit! Bahkan setelah orang-orang busuk sepertimu

menyingkirkan aku, kesetiaan seorang Legowo tak akan surut!

Sekarang, kau mengajariku tentang kesetiaan?!”

“Paman Legowo, apa artinya sepasukan besar dari

seberang lautan berada di daerah kekuasan Paman, kecuali

memang ada persengkongkolan?!”

“Cih! Mulutmu beracun, Petak! Armada Kerajaan Ming

adalah tamu agung Majapahit yang sedang mampir di

Simongan. Sama sekali bukan musuh yang berhak kau

bantai!”

Turonggo Petak tertawa terbahak-bahak. Matanya sampai

berair saking tergelaknya.

“Paman tersingkir dari lingkungan Bhayangkari. Lalu,

paman berkomplot dengan Blambangan dan mengundang

pasukan Tiongkok untuk menyerang Majapahit. Bukankah itu

cerita yang masuk akal?”

Wajah Ki Legowo semakin merah padam. Giginya

bergemurutuk. Namun, tiba-tiba saja dia tertawa keras.

Turonggo Petak sampai bergidik mendengarnya.

Bagaimanapun, Ki Legowo pernah begitu menakutkan dirinya.

Dulu, ketika lelaki itu masih menjadi anggota Bayangkari

Kerajaan Majapahit, orang-orang begitu segan padanya.

Apalagi Ki Legowo merupakan orang dekat Mahapatih

Gajah-mada sejak keduanya masih sama-sama menjadi

anggota bhayangkari kerajaan. Karena itulah, dengan

berbagai tipu daya, Turonggo menyingkirkan Ki Legowo dari

lingkungan dekat Prabu Wikramawardhana karena takut

kedudukannya sebagai senopati terancam.

Ki Legowo juga tahu benar hati busuk Turonggo Petak

yang mengincar jabatan patih.

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Kepada anakku dan rakyat Simongan, aku selalu

berpesan agar mereka punya kecintaan terhadap tanah air

hingga ke sumsum tulang. Bahkan jika nyawa ini tercerabut,

tidak ada yang menggantikan kesetiaan terhadap negara.

Rupanya, hari ini aku akan mengkhianati kata-kataku sendiri.”

Mata Ki Legowo berkaca-kaca menahan desakan

kesedihan di dadanya. Namun, kembali dia tergelak beberapa

saat.

“Orang-orang berhati ular sepertimulah yang merusak rasa

bela negara itu, Turonggo Petak! Catat aku sebagai

pemberontak Majapahit! Aku rela asalkan aku tak

memberontak terhadap hati nurani!”

Usai mengatakan kata-kata itu, Ki Legowo langsung

menghambur ke arah Turonggo Petak dengan keris yang

terhunus. Melihat gelagat buruk, Turonggo Petak segera

mencabut hulu kerisnya yang bertahta emas. Kemudian, dia

melompat dari kudanya menghindari serangan ganas Ki

Legowo.

“Prajurit, serang pengkhianat ini! Bunuh!”

Begitu mendengar perintah dari sang senopati, puluhan

prajurit langsung mengepung Ki Legowo dan menyerangnya

dari segala penjuru. Namun, sebagai bekas pengawal khusus

raja Majapahit, sudah pasti Ki Legowo memiliki ilmu

kanuragan yang mumpuni.

Datangnya berbagai senjata tajam yang menyerangnya,

tak membuat Ki Legowo keder. Kerisnya berkelebat cepat.

Sekali waktu terdengar pekikan prajurit yang badannya

tertembus keris bertuah itu. Turonggo Petak yang khawatir

keselamatan jiwanya terancam, memerintahkan pasukan

panah bersiap.

Sementara itu, bak banteng terluka, Ki Legowo mengamuk

dengan hebat. Beberapa prajurit sudah berhasil

dirobohkannya dengan dada bersimbah darah.

“Merunduk!”

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Teriakan Turonggo Petak sontak membuat para prajurit

menghentikan serangannya dan bergerak mundur sambil

merundukkan badannya. “Panah!”

Kali ini, teriakan Turonggo Petak disusul oleh hamburan

puluhan anak panah besi ke arah tubuh Ki Legowo. Lelaki

kesatria itu bukan tak paham taktik serangan berbahaya itu.

Tentu saja, pengalamannya di lingkungan bhayangkari

membuatnya hafal segala macam taktik perang.

Hanya karena usianya yang sudah tua membuat gerakan

Ki Legowo tak selincah waktu dia masih menjadi prajurit

gagah. Apalagi tenaganya sudah cukup terkuras untuk

melawan puluhan prajurit yang mengeroyoknya. Toh, Ki

Legowo masih mampu mengibaskan kerisnya untuk

menangkis datangnya serbuan anak panah itu.

Namun, kerisnya tak mampu menepis semua anak panah

yang terus berdatangan itu. Dalam sekejap, belasan anak

panah menghunjam di tubuh Ki Legowo. Meskipun demikian,

lelaki gagah itu tak menyerah. Dia masih terus berusaha

menyongsong datangnya maut dengan gagah berani.

Hingga suatu saat, sebuah bayangan berkelebat dan

langsung berdiri di depan Ki Legowo. Tubuh besarnya

menamengi Ki Legowo dari serbuan anak panah yang datang

bak air hujan itu.

Lelaki berjubah itu Laksamana Cheng Ho.

Ia hanya mengangsurkan kedua telapak tangannya untuk

menghalau serbuan anak panah. Akibatnya luar biasa. Seperti

dihempas angin topan kutub yang dahsyat, puluhan prajurit

yang secara bergantian melepas anak panah itu terjengkang

ke belakang tanpa kuasa melakukan apa pun.

Meskipun tak tewas, para prajurit itu bergulingan di tanah

berpasir dengan rasa sakit dan dingin yang mencekat. Saat itu

jugan serangan anak panah terhenti. Turonggo Petak melotot

tak percaya.

“Tuan Ho!”

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Seperti tersadar dari lamunan, Cheng Ho segera

membalikkan tubuhnya dan mendekati tubuh Ki Legowo yang

kini tergeletak di atas tanah. Cheng Ho mengangkat tubuh

lelaki sepuh itu dan memangku kepalanya.

“Ki Legowo, bertahanlah!”

“Hrn … saya sudah tua, Tuan Ho. Tidak ada yang saya

inginkan lagi di dunia ini. Saya minta maaf karena kehadiran

Tuan disambut dengan pertumpahan darah.”

“Ki Legowo!”

Ki Legowo mengangkat tangannya perlahan, memberi

tanda agar Cheng Ho menyimak kata-katanya.

“Tuan Ho, temuilah sang Prabu Wikramawardhana. Ini

sebuah kesalahpahaman!”

Baru saja akan memulai kalimat barunya, Ki Legowo

dikejutkan oleh sebuah jeritan perempuan.

“Romoooo”

Ki Legowo tersenyum, berusaha keras mengusir rasa sakit

di sekujur tubuhnya yang dihunjami belasan anak panah. Ia

melihat Ni Ramya, putri satu-satunya, bersimpuh sambil

berurai air mata.

“Nduk, perjalananmu masih panjang. Belajarlah pada

sejarah!”

“Romo!”

Ramya tak mampu menahan emosinya. Dia memegang

tangan ayahnya erat-erat karena tak mungkin bisa memeluk

tubuh ayahnya yang dipenuhi anak panah.

“Jaga diri baik-baik, Nduk …!”

“Romooo …!”

Ni Ramya menjerit sejadinya. Napas Ki Legowo terputus,

didahului erangan kecil di akhir napasnya. Sejenak, baik

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Cheng Ho ataupun Ramya tak berkata apa pun. Ramya masih

tergugu sambil mengelus rambut ayahnya.

Tiba-tiba, mata Ramya memicing. Tangannya bergerak

perlahan meraih keris ayahnya yang tergeletak di tanah.

“Prajurit Majapahit! Aku akan menghabisi kalian!” jeritnya

sambil menghambur ke arah Turonggo Petak yang masih

berdiri beberapa tombak dari tubuh kaku Ki Legowo.

Wuuus, trang!

Gerakan Ramya sangat cepat. Kelincahan tubuhnya

ditambah amarah yang memuncak, menjadi tenaga yang luar

biasa besar. Namun, serangannya gagal mengenai sasaran

ketika keris di tangannya terpental ke tanah. Cheng Ho

bergerak lebih cepat.

Dia menghadang laju keris Ramya dan mengempaskannya

ke tanah.

“Ramya, ini tak akan menyelesaikan masalah. Pikirkan

dirimu!”

Ramya tertegun dengan tatapan tak mengerti. Ia

menggelengkan kepala tanpa kata-kata.

“Ikuti caraku,” ujar Cheng Ho disusul suara pekikan di

belakangnya. Turonggo Petak roboh ke tanah tanpa sebab

yang jelas. Ia jatuh terduduk tanpa bisa bergerak sama sekali.

Rupanya, dengan gerakan yang sangat cepat, Cheng Ho

mengirimkan serangan tenaga dalam yang sangat kuat, tanpa

bergerak dari tempatnya berdiri.

Turonggo Petak hanya sesaat merasakan titik-titik

darahnya dihantam angin yang sangat keras dan dingin

sehingga membuatnya jatuh terduduk dan lemas, tak

bertenaga.

“Hentikan pasukanmu atau kau akan sangat menyesal!”

Cheng Ho masih membelakangi Turonggo Petak saat

mengeluarkan kata-kata bernada ancaman itu.

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Ramya memandang ke arah Turonggo Petak dengan

tatapan tak percaya. Dia tahu bahwa Cheng Ho memiliki ilmu

kanuragan tinggi. Namun, apa yang dilihatnya sama sekali

tidak ia duga. Dia tak pernah menyangka ada seseorang yang

menguasai ilmu seperti siluman. Melumpuhkan musuh tanpa

bergerak sama sekali.

Cheng Ho membalikkan badannya memandang lekat ke

arah Turonggo Petak yang menundukkan wajahnya.

“Jika penyerangan ini diketahui Kaisar Ming, kau tak akan

bisa membayangkan kesengsaraan apa yang akan terjadi

pada rakyat Majapahit!”

Turonggo Petak mengangkat kepalanya. Pucat pasi. Dia

hendak berkata-kata, namun tak sanggup melakukannya.

Cheng Ho menggerakkan tangan kanannya. Dalam sekejap,

Turonggo Petak merasakan aliran darahnya normal kembali.

Ia pun berusaha bangkit dibantu oleh beberapa orang prajurit.

“Perintahkan prajuritmu untuk mundur. Kami akan

menemui rajamu untuk membahas masalah ini.”

Turonggo Petak tak langsung menjawab. Ia memegangi

lehernya yang tadi sempat tercekat. Ia kelihatan ragu-ragu.

“Jadi, Tuan bukan sekutu Blambangan yang hendak

menyerang Majapahit?”

“Jangan bersandiwara! Enyahlah ebelum sabarku habis!”

Sekilas saja cukup bagi Cheng Ho untuk mengetahui orang

macam apa Turonggo Petak. Jelas, ia hendak cuci tangan

atas kesalahan membantai pasukan Ming dengan alasan

salah paham itu.

“Majapahit baru saja memenangkan pertempuran melawan

Blambangan. Kami sedang dalam tugas menyisir seluruh

kawasan Majapahit untuk mewaspadai kekuatan musuh yang

masih tersisa. Kami tak menyangka bahwa pasukan dari

seberang lautan ini adalah sahabat.”

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Cheng Ho tersenyum sinis. Ia memalingkan wajahnya dari

Turonggo Petak, seolah-olah jijik melihat lelaki itu. Tangannya

diangsurkan ke belakang, sedangkan pandangan matanya

tenang menyaksikan pertempuran yang masih berlangsung.

“Hentikan perang, atau kau ingin aku usir semua pasukanmu

dengan banjir darah! Apakah ini salah paham atau tidak,

aku akan berunding dengan rajamu.”

Tanpa banyak bicara lagi, Turonggo Petak beranjak dari

tempat itu. Lalu, ia memerintahkan bawahannya untuk menarik

pasukannya. Berduyun-duyun pasukan Majapahit mundur dari

pantai. Meninggalkan peperangan yang tadinya berlangsung

sengit.

Dengan mata berkilat, Ramya melihat ke arah Turonggo

Petak. Namun, ia segera beranjak dari tempatnya berdiri,

menghampiri jasad ayahnya yang tergeletak kaku. Ramya

kembali bersimpuh di samping jasad Ki Legowo dengan air

mata berlinangan.

“Tuan, ini sungguh salah paham. Mohon pengertian Tuan!”

Usai memerintahkan pasukannya mundur, Turonggo Petak

kembali menghampiri Cheng Ho yang masih berdiri di

tempatnya semula. Wajahnya terlihat pucat pasi.

“Kini kau jerih. Nyatakan penyesalanmu itu kepada setiap

ping-se yang darahnya engkau tumpahkan. Juga pada

orangtua arif itu,” ujar Cheng Ho sambil menoleh ke arah jasad

Ki Legowo.

Merasa tak bisa lagi membujuk Cheng Ho, Turonggo Petak

lalu memberi salam sambil membalikkan badannya kembali

menaiki kudanya dan berlalu bersama pasukannya.

Suasana Pantai Simongan menjadi miris. Mayat-mayat

ping-se bergelimpangan. Darah menjadikan pasir pantai

berwarna merah dan berbau amis menyengat. Penduduk

Simongan mulai berdatangan. Mereka langsung menangis pilu

begitu tahu lurah mereka, Ki Legowo, menjadi korban dalam

pertempuran itu.

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Para ping-se yang turun dari kapal-kapal Ming segera

merawat mayat-mayat rekan mereka yang keadaannya sangat

memprihatinkan. Kebanyakan para ping-se itu tewas dengan

luka tusukan yang menganga. Namun, tidak sedikit yang

mengalami luka sangat memilukan. Bagian-bagian tubuh

mereka terlepas akibat babatan pedang.

“Guru, lebih dari seratus ping-se tewas.”

Juen Sui dan Sien Feng kini sudah berdiri di dekat Cheng

Ho yang berdiri dengan raut muka muram.

“Kenapa kita tidak melakukan serangan balasan, Guru?”

Juen Sui melanjutkan kalimatnya.

Cheng Ho tak langsung menjawab. Dia menatap sekeliling

pantai yang kini penuh isak tangis warga Simongan yang

merasa prihatin dan suasana mendung di wajah-wajah para

ping-se.

“Kita berlayar membelah samudra untuk mengabarkan

perdamaian dari Kaisar Ming. Jika kita membalas serangan ini,

sia-sialah seluruh perjalanan ini.”

Juen Sui mengangguk-angguk. “Kalian segera kuburkan

para ping-se sesuai dengan cara keyakinannya masingmasing.

Mereka yang menganut I-se-lan mati syahid karena

bertempur mempertahankan diri. Tak perlu dikafani dan

disembahyangkan.”

Juen Sui dan Sien Feng segera beranjak dari tempat itu.

Mereka memerintahkan anak buahnya untuk mengurus mayatmayat

itu. Bersama dengan penduduk Simongan, mereka

bahu-membahu menguburkan mayat para ping-se secara

massal.

Sorenya, jasad Ki Legowo dikremasi dalam sebuah

upacara keagamaan Hindu. Jerit tangis tak tertahankan saat

upacara itu berlangsung. Penduduk Simongan sangat

mencintai Ki Legowo. Meninggalnya bekas bhayangkari

Majapahit itu menjadi sebuah kehilangan besar bagi penduduk

pesisir itu.

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

3. Kitab Kutub Beku

Siang yang meranggas …

Ni Ramya tepekur di pendopo rumahnya. Ia duduk

lesehan dengan tatapan kosong. Kepalanya bersender pada

tiang pendopo, seperti tak bertenaga. Beberapa lama dia

berdiam diri, nyaris tak bergerak. Kini, matanya mulai berkacakaca.

“Ramya!”

Hui Sing datang sambil membawa sebutir kelapa muda

yang kutub buahnya sudah dilubangi. Ramya menoleh lemah,

tanpa menjawab. Dia mencoba sedikit tersenyum sambil

menganggukkan kepala.

“Air kelapa ini sangat segar, Ramya. Pasti akan membuat

badanmu lebih bergairah!”

Hui Sing mengangsurkan kelapa muda itu. Begitu

menerimanya, Ramya tak langsung menenggak air kelapa

yang ditawarkan Hui Sing. Ia meletakkan kelapa muda itu di

sampingnya.

“Kau merasa lebih baik, Ramya?”

Ramya belum menjawab. Dia kembali mengalihkan

pandangannya keluar rumah. Menatap perkampungan

penduduk yang sederhana.

“Kau ke sini hendak berpamitan, Hui Sing?”

Sekarang, giliran Hui Sing yang terdiam. Dia lalu duduk di

samping Ramya dan mencoba merangkai kata-kata yang

paling tepat.

“Tuan Ho tadi pagi sudah kemari. Beliau mengatakan

bahwa rombongan kalian akan segera melanjutkan perjalanan

ke kota raja Majapahit.”

“Ramya, sebenarnya kami masih ingin tinggal di

Simongan. Apalagi Paman Wang juga belum sehat benar.

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Namun, peristiwa penyerangan terhadap armada Ming itu

mengubah segalanya.”

Ramya menoleh, menatap wajah Hui Sing lekat-lekat.

“Engkau tahu, Ramya, ratusan ping-se tewas dalam

serangan itu. Guru Ho harus mempertanggungjawabkannya

kepada Kaisar Ming. Selain mengirim utusan kembali ke

Tiongkok, guru juga harus bertemu dengan Prabu

Wikramawardhana untuk menyelesaikan masalah ini.”

“Turonggo Petak. Hidupku tidak akan pernah tenang

sebelum bisa membalas kematian romo kepada orang culas

itu.”

“Bukankah ini sebuah kesalahpahaman, Ramya?”

“Omong kosong! Turonggo Petak memang sudah

menyiapkan segalanya. Saat masih menjabat di Majapahit

pun, romo disingkirkan oleh orang itu. Sekarang, dia sengaja

datang ke Simongan untuk menuntaskan rasa tidak sukanya

kepada romo.”

“Apa rencanamu, Ramya?

“Sekarang, Simongan menjadi tanggung jawabku, Hui

Sing. Aku akan menggantikan ayah. Sementara ini, aku akan

menunggu kabar dari Majapahit. Namun, jika Raja Majapahit

tidak menghukum berat Turonggo Petak, aku akan datang ke

sana untuk memberinya hukuman yang setimpal.”

“Sepertinya, kau sudah tidak percaya lagi terhadap

pemerintah Majapahit, Ramya?”

“Romo meninggalkan ingar bingar Majapahit karena

sadar, tidak ada lagi rasa tepo sliro (saling menghargai) dan

kebersamaan di sana. Orang-orang saling sikut demi

kepentingan pribadi. Sekarang, kata-kata romo terbukti.”

Suasana hening. Hui Sing mencoba memahami porakporandanya

perasaan Ni Ramya. “Ramya, bagaimana jika kau

ikut kami ke Majapahit?”

Ramya tersenyum.

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Romo menitipkan Simongan kepadaku. Aku harus tinggal

di sini, Hui Sing!”

“Paling tidak, kau bisa bertemu dengan rajamu untuk

membicarakan hal ini.”

“Romo mengajariku untuk tidak menjadi penjilat.”

Hui Sing mengalihkan pandangannya. Ia lalu mengambil

sesuatu dari balik baju panjangnya. Sebuah patung burung

merak dari batu giok berwarna hijau seukuran genggaman

tangan.

“Armada sudah siap berangkat malam ini, Ramya. Kami

meninggalkan satu kapal untuk Paman Wang jika dia sudah

sembuh agar bisa menyusul ke Majapahit. Jika engkau

berubah pikiran, kau bisa berangkat bersama Paman Wang.”

Hui Sing lalu mengangsurkan patung burung merak itu

kepada Ni Ramya.

“Ini benda kesayanganku, Ramya. Simpanlah sebagai

tanda persahabatan kita.”

Ramya menerima benda pemberian Hui Sing tanpa

berkata-kata. Beberapa saat dia sibuk mengamati patung kecil

yang luar biasa cantik itu sambil terkagum-kagum. Karena

masih dalam suasana berkabung, Ramya tak memperlihatkan

kegembiraan yang berlebihan. Dia hanya menggengam

patung itu erat-erat.

“Aku berjanji akan menyimpannya baik-baik, Hui Sing. Aku

juga akan berdoa, semoga misi perdamaian kalian berjalan

lancar.”

Hui Sing langsung memeluk Ramya karena terharu.

Matanya berkaca-kaca menahan rasa sedih karena

perpisahan itu.

“Kami titip Paman Wang selama beliau masih tinggal di

Gua Gedong Batu untuk penyembuhan.”

Ramya mengangguk-anggukan kepala sambil mengusap

air matanya yang meleleh. Keduanya lalu bangkit.

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Tunggulah di pelabuhan. Aku segera menyusul ke sana

untuk melepas kepergian kalian.”

Hui Sing mengiyakan kalimat Ramya. Setelah itu, dia pamit

kembali ke pelabuhan, mempersiapkan diri melanjutkan

perjalanan ke Majapahit.

Pelabuhan Simongan kembali riuh. Kali ini, penduduk

Simongan berdiri berjajar di pinggir pantai dengan sedih.

Tamu dari seberang lautan, armada Kerajaan Ming yang

dipimpin Laksamana Cheng Ho segera meninggalkan

Simongan. Layar-layar kapal yang berjumlah ratusan sudah

berkembang. Dari jauh, terlihat para ping-se berdiri di atas

geladak kapal sambil melambaikan tangan mereka.

Laksamana Cheng Ho dan ketiga muridnya juga berada di

atas geladak sambil melambai-lambaikan tangan. Hari mulai

gelap. Malam mulai membentang dan mengubah kapal-kapal

raksasa itu menjadi bayangan-bayangan hitam yang mulai

bergerak menjauhi pantai.

Air laut tak banyak berombak. Angin berembus cukup kuat

menghantar kapal-kapal raksasa itu membelah samudra siang

dan malam. Serasa waktu bergerak teramat lamban. Dalam

kesedihan yang sangat, para awak kapal armada Kerajaan

Ming seolah kehilangan semangat untuk terus mengarungi

samudra, melanjutkan misi damai yang mereka emban dari

sang Kaisar.

Meskipun 170 ping-se yang tewas oleh serangan pasukan

Turonggo Petak adalah jumlah yang sedikit dibandingkan

ribuan ping-se yang ikut dalam pelayaran itu, ikatan

persaudaraan membuat mereka begitu kehilangan. Geladakgeladak

kapal menjadi sepi dari gurauan para ping-se atau

siulan Jenaka mereka.

Di kapal pusaka, suasana terlihat sama. Sepi. Meskipun

para awak kapal tetap bertugas seperti biasa, namun sedikit

sekali terdengar suara. Di ujung geladak kapal raksasa itu, Hui

Sing berdiri mematung. Menatap lepas ke samudra yang

tampak biru.

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Pelabuhan Gresik sudah jauh tertinggal. Seharusnya,

menepinya rombongan bahari Kerajaan Ming di Gresik juga

membawa gegap gempita seperti ketika mereka tiba di

Simongan. Namun, karena suasana berkabung yang belum

pudar, persinggahan itu pun terasa tak bernyawa.

Sekarang, armada yang dipimpin bahariawan besar,

Laksamana Cheng Ho, segera menuju Surabaya, pelabuhan

terakhir yang mereka tuju, sebelum melakukan perjalanan di

air tawar, menuju Cangkir. Dari Cangkir, perjalanan darat

selama satu setengah hari harus ditempuh untuk sampai di

Mojokerto, kota raja Majapahit.

“Hui Sing, guru menyuruh kita berkumpul. Beliau ingin

membicarakan sesuatu hal penting!”

Hui Sing menoleh ke arah datangnya suara. Pikirannya

yang tenggelam di alam lamunan membuatnya tak waspada

dan tak sadar bahwa seseorang sedang mendatanginya.

“Kakak Sieng Feng, hal apa yang ingin dibicarakan guru?”

“Aku tidak tahu. Sekarang, kakak Juen Sui sudah berada di

ruangan guru. Mereka menunggu kita.”

“Baiklah. Ayo, kita ke sana!” Hui Sing dan Sien Feng pun

bergegas beranjak dari geladak menuju ruangan Laksamana

Cheng Ho.

Sampai di sana, Cheng Ho dan Juen Sui sudah duduk di

kursi bulat di depan pembaringan. Hari ini, Cheng Ho tak

menebar senyum seperti biasa. Dia duduk tegap dan

mempersilakan kedua muridnya duduk dengan suara yang

datar.

“Aku ingin berbicara hal yang sangat penting kepada

kalian.”

Cheng Ho memandang ketiga muridnya dengan tatapan

penuh selidik. Ia lalu mendesah dengan napas yang terdengar

berat. Baik Juen Sui, Sien Feng, maupun Hui Sing tak berani

bersuara. Biasanya, gurunya memang tak pernah bersikap

seperti itu. Terkesan angker dan tak ramah.

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Kalian murid-murid kepercayaanku. Mengikutiku sejak

lama, dan aku anggap sebagai anakku sendiri. Rasanya,

sungkan untuk mengatakan hal ini. Tapi, aku tak punya pilihan

lain,”

Sien Feng menahan napas sejenak. Penasaran dengan

sikap gurunya yang penuh misteri. Hatinya berdebar-debar

menunggu kalimat-kalimat selanjutnya.

“Apa yang kalian tahu tentang jurus kutub beku?”

Tak satu pun di antara ketiga murid Cheng Ho yang segera

menjawab. “Hui Sing?”

“Setahu saya, jurus itu merupakan puncak thifan pokhan

yang melancarkan dath dingin. Guru telah mengajarkan dasardasarnya

kepada kami.”

Cheng Ho mengangguk-angguk.

” Juen Sui?”

“Saya tak lebih tahu dibandingkan adik Hui Sing, Guru.

Kutub Beku adalah jurus yang sangat hebat. Membuat siapa

pun yang terkena merasakan dingin yang luar biasa, tulang

ngilu, otak mencekat, bahkan darah menjadi beku.”

“Sieng Feng?”

“Saya kira, semua yang saya tahu sudah dikatakan Adik

Hui Sing dan Kakak Juen Sui, Guru!”

Tatapan mata Cheng Ho menajam. Ketiga muridnya

semakin salah tingkah. Mereka lalu menundukkan kepala

karena segan.

“Kitab Kutub Beku yang memuat 99 jurus inti

penyempurnaan dath dingin, merupakan kitab yang berumur

ratusan tahun. Lima belas tahun lalu, kitab itu diwariskan

kakek guru kalian kepadaku. Dan suatu saat nanti, kitab itu

harus aku wariskan kepada salah seorang muridku yang

memiliki dath yang sesuai.”

Cheng Ho menghentikan kalimatnya sejenak.

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Kitab itu selalu aku bawa, ke mana pun aku pergi,

termasuk dalam pelayaran ke Samudra Barat sekarang ini.

Aku menyimpannya di tempat yang sangat rahasia di ruangan

ini.”

Hui Sing mengangkat wajahnya, menduga-duga.

“Kau sudah tahu arah pembicaraanku, Hui Sing?”

“Saya tidak berani, Guru.”

“Tapi kau benar. Kitab itu hilang. Aku baru menyadarinya

hari ini.”

Meskipun sudah menduganya, tak urung Hui Sing

tersentak. Apalagi Juen Sui dan Sien Feng, yang sejak awal

terlihat tak menyangka bahwa gurunya akan menyampaikan

hal itu.

“Bagaimana mungkin? Sedangkan tak satu pun awak

kapal yang berani menyentuh tangga menuju ruangan ini,

Guru?”

Cheng Ho tersenyum. Ia berdiri, lalu menghampiri jendela

yang membawa pandangan lepas ke samudra tak berbatas.

“Juen Sui, kau lupa ada tiga orang yang bebas keluar

masuk ruangan ini?”

Juen Sui, Sien Feng, dan Hui Sing berpandangan dengan

mata terbelalak.

“Maksud Guru, salah satu di antara kami pencurinya?”

Cheng Ho tak langsung menjawab. Dia masih berdiri di

tempat yang sama sambil mengangsurkan kedua tangannya

ke belakang, seperti kebiasaannya.

“Sepuluh hari aku dan Hui Sing berada di daratan

Simongan, bagaimana keadaan ruangan ini?”

“Saya berani bersumpah, Guru, tak satu pun awak kapal

yang berani menginjak lantai ini. Saya dan Kakak Juen Sui

selalu melakukan pengawasan.”

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Jadi, bagaimana pencuri itu bisa masuk?”

“Apa tidak mungkin ketika terjadi serangan dari pasukan

Majapahit, pencuri itu masuk ke ruangan ini, Guru? Karena,

hampir semua awak kapal turun ke darat, termasuk saya dan

adik Sien Feng.”

Suara berat Juen Sui terdengar agak bergetar.

“Kalau begitu, pencuri itu begitu cerdas. Dia bisa langsung

tahu di mana aku menyimpan kitab itu, tanpa meninggalkan

jejak sama sekali.”

Juen Sui, Sien Feng, dan Hui Sing terdiam. Mereka sibuk

dengan pikiran masing-masing.

“Jika saja kita tidak sedang dalam urusan mendesak, pasti

aku akan menyelidiki siapa pencuri itu secepatnya. Namun,

karena kita sebentar lagi sampai di Pelabuhan Surabaya,

urusan bertemu dengan Raja Majapahit jauh lebih penting.

Begitu permasalahan dengan Majapahit menemui titik

penyelesaian, aku akan mencari tahu pengkhianat itu.”

Hui Sing merasakan wajahnya memanas karena

penasaran. Tapi, dia sama sekali tidak berani berkata apa pun.

“Setibanya di Pelabuhan Surabaya, hanya sedikit orang

yang bisa ikut ke kota raja Majapahit. Juen Sui, siapkan lima

puluh ping-se terbaik. Bawalah aneka cendera mata yang

sudah disiapkan untuk Raja Majapahit. Kalian bertiga juga

harus ikut. Kepemimpinan armada biarlah ada di tangan

perwira yang aku tunjuk, sambil menunggu Wang Jing Hong.

Jika saudara Wang sudah sembuh dan menyusul dari

Simongan, dialah yang akan bertanggung jawab terhadap

keseluruhan armada.” “Baik, Guru.”

Juen Sui tak banyak berkata. Setelah gurunya menyelesaikan

kalimat perintah itu, dia meminta diri untuk meninggalkan

ruangan. Demikian juga dengan Sien Feng dan Hui Sing yang

kemudian menyusul kakak seperguruannya itu keluar dari

ruangan gurunya.

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Cheng Ho masih berdiri di tempatnya semula. Matanya

sayu menahan sedih. Setelah terpukul dengan peristiwa

penyerangan armadanya yang menyebabkan 170 ping-se

tewas, kini dia dihadapkan pada peristiwa yang lebih

menggoncang. Sebuah pengkhianatan.

Meskipun belum bisa memastikan siapa yang mencuri

Kitab Kutub Beku itu, Cheng Ho yakin benar, pelakunya bukan

orang luar. Sebab, hanya ketiga muridnya yang paham seluk

beluk ruangan itu.

Mereka pula yang paham bahwa kitab yang berisi 99 jurus

penyempurnaan itu sangat berharga. Di luar itu, orang ini pasti

punya rencana susulan yang lebih berbahaya dibandingkan

sekadar mencuri Kitab Kutub Beku.

Mengingat ketiga muridnya adalah orang-orang yang

paling dekat dengannya, tentu saja Cheng Ho merasa sangat

terpukul. Otaknya pun mulai mereka-reka, mengumpulkan

kembali ingatan-ingatan untuk menduga-duga, siapa

sebenarnya pencuri itu. Cheng Ho masih berharap

menemukan satu nama di luar ketiga muridnya yang pantas

untuk dicurigai sebagai pelaku pencurian itu. Tapi dia gagal.

Semua serba terencana. Cheng Ho yakin itu. Lelaki gagah

itu menghela napas panjang, lalu menutup jendela kamarnya.

Dia mendekati pembaringan, lalu duduk di sana, sambil terus

berpikir.

Sementara itu, Hui Sing dan Sien Feng berdiri kikuk di atas

geladak.

“Aku hampir tidak percaya, pencuri itu adalah satu di

antara kita.”

“Hui Sing, kenapa kau begitu yakin? Masih banyak

kemungkinan. Aku sepakat dengan Kakak Juen Sui. Siapa

tahu ketika terjadi penyerangan oleh prajurit Majapahit, ada

seseorang berilmu tinggi yang masuk ke ruangan guru, lalu

mengambil kitab itu.”

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Aku punya keyakinan lain tentang siapa pencuri itu.

Pertama, orang itu harus orang dalam karena dia bisa masuk

ke dalam ruangan guru tanpa merusak apa pun. Dia juga bisa

mengetahui letak kitab itu tanpa harus mengobrak-abrik isi

ruangan.”

Sien Feng memicingkan mata. Angin laut memainkan

rambut panjangnya yang berkilau dikepang dengan kain hijau

muda.

“Kedua, dia harus orang yang bisa berbahasa Chung-Kuo.”

“Tapi, bisa saja dia hanya orang suruhan.”

“Lalu, bagaimana dia bisa memilih dengan jitu, satu di

antara sekian banyak kitab berbahasa Chung-Kuo yang

berada di ruangan guru?”

Sien Feng terdiam.

“Tapi jika dia orang dalam, bukankah dia bisa berpura-pura

mengobrak-abrik isi ruang guru untuk meninggalkan jejak,

seolah-olah pencurian itu dilakukan oleh orang luar?”

Ternyata, Juen Sui sudah berada di situ. Dari tadi, murid

tertua Laksamana Cheng Ho itu menyimak pembicaraan

kedua adik seperguruannya.

Begitu selesai dengan perintah gurunya menyiapkan lima

puluh ping-se, dia mendekati Sien Feng dan Hui Sing yang

asyik berbincang.

“Itu semakin membuktikan bahwa pelakunya adalah satu di

antara kita.”

Sien Feng dan Juen Sui mengerutkan dahi.

“Jika pencuri itu sengaja mengobrak-abrik kamar guru,

kakak berdualah yang pertama kali harus mempertanggungjawabkannya

kepada guru. Bukankah kalian yang diberi tugas

menjaga ruangan guru? Bagaimana bisa begitu ceroboh?

Hukuman yang akan ditimpakan guru pasti akan sangat berat.

Tidak akan ada yang bisa lolos. Karena itulah, si pencuri ini

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

sengaja tidak meninggalkan jejak seperti itu, agar guru raguragu

kepada kalian.”

“Hui Sing, kau menuduh kami?”

Hui Sing tak langsung menjawab. Tatapan matanya

menajam. Ia lalu membuang muka.

“Siapa pun pencuri itu, aku akan membuat perhitungan

dengannya. Mengkhianati guru adalah kesalahan yang tak

terampunkan.”

Wajah Sien Feng memerah. Wajah ramahnya lenyap

seketika. Matanya yang bening berubah menjadi merah

karena marah.

“Hui Sing, kau sungguh tega! Sepertinya kita bukan

saudara seperguruan yang telah bersama-sama selama

bertahun-tahun. Bagaimana dengan dirimu sendiri? Saat

pasukan Majapahit menyerang, bukankah kau tidak ada di

antara para ping-se yang bertempur?”

“Kau …!”

Wajah Hui Sing berubah menjadi merah menyala. Matanya

melebar dengan urat-urat berwarna merah, sedikit terlihat di

bagian putih bola matanya yang berkaca-kaca.

“Aku menjaga Paman Wang Jing Hong di Gua Gedong

Batu. Kau bisa tanyakan kepada sepuluh ping-se yang ada di

sana.”

“Hei, sudahlah! Kenapa begitu marah? Kenapa tidak

berpikir bahwa benar ada orang lain yang memanfaatkan

kelengahan kita untuk mencuri kitab itu?”

Juen Sui berusaha menengahi.

“Kakak Juen Sui, kenapa kau tiba-tiba menjadi peduli?

Bukankah biasanya kau menjaga jarak dengan kami?”

“Sien Feng, bicara apa kau?”

“Guru saja sudah begitu yakin bahwa pencuri kitab pusaka

itu adalah satu di antara kita, bagaimana aku bisa ragu?

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Karena aku yakin bahwa aku bukanlah pencurinya, sedangkan

Hui Sing berada di daratan selama guru tidak ada di

ruangannya, siapa lagi yang harus aku curigai?”

“Lancang!”

Tangan kiri Juen Sui bergerak menampar dengan tenaga

dalam yang berat. Sien Feng bergerak tanggap. Dia langsung

melengkungkan badannya dengan sikap kayang menghindari

serangan itu.

Gagal dengan serangan pertama, Juen Sui langsung

menggerakkan toya di tangan kanannya. Toya baja berwana

hitam legam itu adalah senjata andalan Juen Sui. Mirip

dengan orang-orang Shaolin, Juen Sui sangat lihai

menggunakan tongkat dengan dua ujung tumpul itu.

Wuuuttt!

Tongkat sepanjang dua lengan orang dewasa itu segera

menjadi bayangan yang bergerak kilat menyodok ke arah Sien

Feng. Tak mau mati konyol, Sien Feng segera menghunus

pedang hitamnya. Bunyi logam bertemu pun menjadi riuh.

Percikan api tampak setiap toya Juen Sui dan pedang hitam

Sien Feng bertemu.

Para awak kapal yang tadinya sibuk dengan pekerjaan

masing-masing, menghentikan kegiatannya. Mereka mengira,

Juen Sui dan Sien Feng sedang berlatih ilmu bela diri.

Hui Sing melihat gelagat yang berbahaya. Bagaimanapun,

sebelum gurunya menemukan bukti pelaku pencuri kitab itu,

tidak boleh bertindak gegabah.

Wuuus!

Suara angin bersuit terdengar bersamaan dengan

meluncurnya sinar perak yang pangkalnya ada di genggaman

tangan Hui Sing. Gadis itu telah melolos sabuk baja peraknya.

Gulungan sinar perak segera terlihat menyilaukan. Hui Sing

mengarahkan serangan sabuknya ke arah pertemuan toya dan

pedang milik Juen Sui dan Sien Feng.

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Trang!!!

Benturan keras antara pedang, toya, dan sabuk baja

menimbulkan suara yang nyaring. Namun, bagi tiga orang

seperguruan itu, tentu saja benturan tenaga dalam antara

ketiganya terasa begitu hebat. Ketiganya terpental ke

belakang. Namun, baik Juen Sui, Sien Feng, maupun Hui Sing

berhasil mendarat di lantai geladak dengan sangat baik.

“Kenapa jadi bodoh begini? Sudahlah. Aku bersalah

karena terlalu memojokkan kalian. Lebih baik kita menunggu

keputusan guru saja.”

Usai mengatakan hal itu, Hui Sing membalikkan tubuhnya

meninggalkan geladak, menuju ruang pribadinya di kabin

bawah. Sementara itu, Sien Feng dan Juen Sui masih berdiri

dengan wajah merah padam.

“Hui Sing benar, kita tak boleh gegabah. Masih banyak

kemungkinan lain. Sudahlah.”

Sien Feng lalu memasukkan pedang hitam ke sarungnya.

Pemuda itu lalu berjalan menuju ke arah yang sama dengan

Hui Sing. Ruang pribadinya memang berada di lantai kabin

yang sama dengan Hui Sing.

Juen Sui terdiam. Dia menatap laut lepas dengan

pandangan sayu. Menikmati belaian angin sepoi sambil

memejamkan mata.

Akhirnya, armada Kerajaan Ming tiba di Pelabuhan

Surabaya. Pelabuhan ini lebih besar dibandingkan Simongan

karena ramai oleh kapal-kapal pedagang dari berbagai

kerajaan, dari dalam dan luar Nusantara. Kehadiran

rombongan besar bahariawan asal Kerajaan Ming itu semakin

membuat pelabuhan riuh rendah.

Laksamana Cheng Ho, ketiga muridnya, beserta lima puluh

ping-se pilihan kemudian menggunakan kapal-kapal kecil

untuk mencapai daratan. Melewati jalur sungai yang terlalu

kecil untuk kapal-kapal raksasa mereka.

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Sepanjang perjalanan dengan kapal-kapal kecil itu,

rombongan Cheng Ho dibuat takjub oleh jajaran gunung yang

tinggi menjulang dan pemandangan yang indah permai.

Di lereng-lereng gunung, tumbuh subur pohon yanfu

(Chinese sumac) dan nanmu (phoeher nanmu). Pada gununggunung

tersebut terdapat goa-goa yang besar dan dalam.

Konon, saking besar dan dalamnya goa itu, dua puluh ribu

orang bisa masuk secara bersamaan.

Surabaya merupakan perkampungan dengan seribu

keluarga di pusat kota, berjarak dua puluh li dari pelabuhan.

Rumah-rumah penduduk tertata rapi dengan keakraban para

penduduk yang begitu khas.

Meskipun tergesa-gesa untuk segera tiba di Mojokerto,

rombongan Cheng Ho menyempatkan diri untuk mampir

sejenak di Surabaya. Di antara seribu keluarga di Surabaya,

tidak sedikit yang merupakan perantau dari berbagai daerah,

termasuk Tiongkok. Karena itu, Cheng Ho merasa perlu

bertemu dengan para perantau itu sekaligus dengan para

penduduk asli Surabaya. Udara yang terasa menyengat tak

menghambat rombongan Cheng Ho untuk menyampaikan

pesan perdamaian dari Kerajaan Ming.

“Tuan Ho, lebih lamalah tinggal di sini. Tentunya, Tuan

ingin lebih mengenal alam Surabaya dan para warganya.”

Cheng Ho tersenyum sambil berusaha menikmati pinang

dan kapur yang dibungkus dengan daun sirih di mulutnya.

Adat Jawa waktu itu mengharuskan seorang tuan rumah untuk

menyuguhkan sirih kepada para tamunya, bukan teh layaknya

orang Tiongkok.

Sambil masih mengunyah, Cheng Ho memandang Ki

Singo Ireng, Demang Surabaya yang menyambut hangat

rombongannya begitu tiba di pelabuhan.

Singo Ireng seorang laki-laki berusia empat puluh

tahunan dengan berewok yang rata di wajahnya. Kulitnya

legam, tubuhnya kekar, meskipun tak begitu tinggi. Ia

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

mengenakan surjan panjang dipadu dengan kain sampai batas

betis.

“Maafkan kami, Ki. Tentu saja kami juga sangat ingin

berlama-lama di sini. Hanya, janji bertemu dengan Prabu

Wikramawardhana tidak bisa kami ulur. Barangkali nanti,

sekembalinya kami dari Majapahit, kami akan mampir ke sini.”

Ki Singo Ireng mengangguk-angguk sambil tersenyum.

“Kapan saja Tuan berkehendak untuk singgah, kami

dengan senang hati menyambut.”

Keduanya tersenyum ramah. Sementara Juen Sui, Sien

Feng, dan Hui Sing berusaha keras mengatasi rasa tidak

nyaman di mulut mereka karena rasa aneh dari campuran

daun sirih, kapur, dan buah pinang yang mereka kunyah.

Hari itu tepat hari Jumat, menurut penanggalan Hijriah.

Sebelum beramah-tamah dengan Ki Singo Ireng dan warga

lainnya, Cheng Ho sempat memimpin shalat wajib Jumat di

masjid sederhana yang didirikan puluhan warga Surabaya

keturunan dan pribumi penganut I-se-lan.

Usai menyampaikan khotbah dan menjadi imam, Cheng

Ho berkeliling di Perkampungan Surabaya. Bersama para

ping-se, Cheng Ho menghadiri perjamuan yang digelar oleh Ki

Singo Ireng. Orang-orang duduk bersila di atas tikar pandan

membentuk lingkaran-lingkaran kecil.

Di depan mereka sudah tersedia piring-piring dari tanah liat

berisi nasi putih yang sangat lunak dan lezat. Nasi itu sudah

disiram dengan sup dan sayur mayur. Tentu saja bagi orang

Tiongkok yang terbiasa menggunakan sumpit setiap makan,

menikmati hidangan dengan tangan sangatlah canggung.

Namun, demi menghormati tuan rumah, Cheng Ho dan

rombongannya belajar untuk makan tanpa sumpit. Bagi Cheng

Ho dan Hui Sing, tentu saja hal itu tidak terlalu baru. Sebab,

sewaktu di Simongan, mereka pun makan tanpa

menggunakan sumpit. Meskipun kemudian, setelah

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

menemukan rumpun bambu di pinggir Hutan Gedong Batu,

Cheng Ho menyuruh para ping-se untuk membuat sumpit.

Sekarang, setelah hidangan nasi telah dilahap habis, tuan

rumah menyuguhkan daun sirih sebagai teman ngobrol di

antara mereka.

“Tuan Ho, saya mendengar tentang salah paham pasukan

Turonggo Petak yang mengorbankan ratusan tentara Tuan. Itu

benar-benar sebuah kesalahan besar!”

Air muka Cheng Ho langsung berubah. Dia cukup kaget

karena kabar itu demikian cepat tersebar.

“Ki Legowo sangat terkenal pada masa mudanya dulu. Dia

seorang abdi raja yang sangat setia dan berilmu tinggi,” lanjut

Singo Ireng.

“Saya juga berpendapat demikian. Karena itulah, kami

harus segera bertemu dengan sang prabu untuk

membicarakan hal ini.”

Lalu, Cheng Ho memutus pembicaraan tentang hal itu

karena tak mau permasalahan mengembang dan

menimbulkan perpecahan di kalangan rakyat Majapahit. Ia

mengalihkan pembicaraan pada berbagai hal yang

berhubungan dengan alam Surabaya. Tentang aneka hasil

bumi yang berlimpah, dan kekayaan alam Surabaya lainnya.

Esok harinya, Cheng Ho menegaskan keinginannya untuk

kembali melanjutkan perjalanan ke Mojokerto. Akhirnya, Ki

Singo Ireng tak bisa lagi mencegahnya. Rombongan Cheng

Ho pun kembali ke sungai, menaiki kapal-kapal kecil dan

melakukan perjalanan ke Cangkir, yang jaraknya tujuh puluh li

dari Surabaya.

Sepanjang perjalanan air itu, rombongan kembali dibuat

takjub oleh alam Jawa Dwipa yang elok. Aneka burung dengan

warna yang beragam berlompatan di dahan pohon.

Sesekali binatang hutan pun terlihat sedang minum air di

pinggir sungai. Air sungai jernih berkilau seperti perak

mengalir tenang. Hari hampir gelap ketika rombongan Cheng

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Ho tiba di daerah Cangkir. Para ping-se segera menyiapkan

diri untuk perjalanan darat.

Karena hari gelap, Cheng Ho memutuskan untuk

beristirahat, menunggu terang. Pagi harinya, barulah mereka

bersiap untuk melanjutkan perjalanan. Hanya tersedia empat

ekor kuda untuk ditunggangi Cheng Ho dan ketiga muridnya,

sedangkan para ping-se bersiap untuk berjalan kaki di

belakang keempat kuda yang berjalan perlahan.

Sesuai dengan petunjuk Ki Singo Ireng, Cheng Ho

memimpin rombongannya ke arah barat daya. Sepanjang

perjalanan, meskipun alam begitu menyenangkan untuk

dinikmati, namun suasana begitu suram. Cheng Ho seperti tak

berselera untuk memulai sebuah percakapan akrab,

sebagaimana biasa dia lakukan dengan ketiga muridnya.

Dia hanya berbicara sekadarnya. Bahkan, ketika

memerintahkan rombongan berhenti ketika matahari persis

berada di atas kepala, ia pun hanya bicara seperlunya.

“Waktunya untuk mendirikan sembahyang. Hui Sing,

siapkan dirimu. Dan kau, Juen Sui, perintahkan para ping-se

penganut I-se-ian untuk bersiap.”

“Baik, Guru!”

Juen Sui dan Hui Sing pun tak berani berbicara banyak.

Mereka hanya menjawab apa-apa yang ditanyakan gurunya.

Sama sekali tak berusaha mencairkan suasana dengan

gurauan di antara mereka.

Sien Feng tak jauh berbeda. Dia pun merasa canggung

dengan keadaan itu. Namun, tentu saja dia memaklumi sikap

gurunya yang kecewa dengan hilangnya Kitab Kutub Beku

miliknya.

Petang menjelang ketika rombongan itu memasuki

Mojokerto. Perumahan penduduk mulai tampak berjajar.

Permukiman penduduk di Mojokerto kebanyakan berupa

pondok-pondok sederhana dari kajang atau ilalang. Namun,

semakin masuk ke dalam kota raja, semakin terlihat

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

keberagaman penduduk dengan aneka jenis rumah, dari yang

paling sederhana hingga yang megah dengan tiang-tiang jati

dan genteng dari papan yang kokoh.

Penduduk Mojokerto saat itu terdiri dari beberapa

golongan. Penduduk asli yang menganut agama Hindu, orangorang

Islam yang datang dari barat dan memperoleh

penghidupan di ibu kota, dan orang-orang Tionghoa yang

banyak pula beragama Islam.

Semakin dekat, semakin nyata kesibukan kota raja. Orangorang

berlalu-lalang dengan aneka kegiatan. Lelaki dan

perempuan hampir semua mengenakan konde. Namun, tak

sedikit juga laki-laki Mojokerto yang membiarkan rambutnya

terurai. Rata-rata panjang rambut mereka sampai sebahu.

Mereka sibuk memikul berbagai barang dagangan,

berkuda, atau sekadar berjalan-jalan santai. Para laki-laki ini

banyak yang bertelanjang dada dan mengenakan kain yang

diikat di pinggang dan ujungnya jatuh hingga betis. Tapi, tak

sedikit dari para lelaki itu mengenakan baju panjang dengan

aneka gambar yang indah. Sementara para perempuan

mengenakan kemben yang menutup bagian dada mereka,

dipadu dengan kain panjang hingga mata kaki. Namun, ada

juga yang melengkapi kemben itu dengan ke-baya yang indah.

Kaum laki-laki di antara mereka semua membawa-bawa keris.

Senjata yang berlekuk-lekuk itu terbuat dari besi terbaik

dengan gagang dari emas, cula badak, atau gading gajah

yang diukir indah.

Ketika rombongan Cheng Ho mendekat, penduduk

Mojokerto langsung terkesima. Mereka menghentikan

kesibukannya, lalu berdiri dengan pandangan takjub.

Di tengah perjalanan, beberapa saat kemudian, Cheng Ho

menghentikan rombongannya ketika melihat barisan prajurit

Majapahit yang duduk di atas kuda gagah. Kini, rombongan

Cheng Ho berhadapan dengan prajurit Majapahit itu dalam

jarak beberapa tombak saja.

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Delapan orang bertubuh tegap berada di barisan paling

depan, tampak berbeda dari yang lain. Mereka semua

menebar senyum hangat, sambil menangkupkan kedua

tangannya di depan dada, seperti menyembah.

“Laksamana Cheng Ho, sungguh berbangga kami

berkesempatan menyambut tamu Majapahit yang agung.”

Sang Laksamana menyambut salam penghormatan para

penyambutnya dengan menjura dan menebarkan senyum.

“Kenapa jadi begini sungkan? Saya hanyalah utusan

Kaisar Ming yang ingin menyampaikan pesan perdamaian.”

Satu di antara delapan orang bertubuh tegap itu kemudian

menghela kudanya agar maju beberapa langkah. Dia adalah

pemuda berkulit sawo matang yang usianya belumlah genap

25 tahun. Tubuhnya sungguh tegap berisi. Baju lengan

panjang bergaris dipadu dengan kain sepanjang lutut yang

membungkus celana panjang hitam, membuatnya terlihat

rupawan.

Rahang lelaki muda itu tampak kokoh dengan wajah yang

tampak berwibawa. Matanya menyorot tajam, dengan alis

tebal, namun rapi. Hidungnya mancung dan kukuh. Dagunya

seperti terbelah. Bibirnya yang selalu tersenyum menimbulkan

lesung pipit di kedua pipinya.

Rambutnya panjang hingga ke bahu, halus, dan hitam

legam. Sama seperti tujuh orang di belakangnya, ia

mengenakan ikat kepala yang menjaga agar rambutnya tak

awut-awutan.

“Saya Sad Respati, kepala bhayangkari, pasukan khusus

Prabu Wikramawardhana. Tujuh orang yang berada di barisan

terdepan ini adalah pasukan inti bhayangkari. Mereka adalah

Danurdara, Danu-maya, Daniswara, Sasmaya, Harimurti,

Harsaya, dan Hartaka.”

Sad Respati memperkenalkan satu-satu para anggota

bhayangkari yang menemaninya. Setiap ia menyebutkan

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

nama, si empunya menganggukkan kepala sambil memberi

hormat.

“Alangkah berlebihan sambutan ini. Pasukan bhayangkari

bertanggung jawab penuh terhadap keselamatan raja.

Bagaimana bisa meninggalkan istana dan menyambut kami di

sini?”

“Bhayangkari utama terdiri dari lima belas orang. Selain

kami, masih ada tujuh orang yang kini menjaga Prabu

Wikramawardhana. Tuan Ho, raja kami justru ingin

menyambut rombongan Tuan langsung di Pelabuhan

Surabaya. Sayangnya, paduka tidak bisa melakukannya.

Karena itu, kami menggantikan prabu untuk melakukan

penyambutan ini,”

“Baiklah. Lalu, kapan kami bisa bertemu dengan sang

prabu?”

“Kami telah mempersiapkan tempat peristirahatan untuk

Tuan dan rombongan di dalam istana. Setelah beristirahat

cukup, tentu saja Tuan tak perlu berlama-lama untuk menemui

paduka raja.”

Cheng Ho mengangguk-anggukan kepala. Ia lalu

memerintahkan ketiga muridnya untuk mengikuti anjuran Sad

Respati. Lima puluh orang ping-se yang berjalan di belakang

mereka pun melangkah berderap ke arah yang dipandu Sad

Respati dan pasukannya.

“Tuan Respati, ini ketiga muridku, Juen Sui, Sien Feng,

dan Hui Sing. Di antara mereka bertiga, baru Hui Sing yang

mampu berbicara dalam bahasa Tuan dengan cukup fasih.”

“Oya? Sungguh pandai murid Tuan. Masih belia, namun

sudah memiliki kemampuan yang luar biasa.”

Hui Sing mengangguk tanpa bersuara.

“Hui Sing masih butuh banyak belajar, Tuan. Tentunya

selama di Mojokerto ini, kami bisa banyak belajar dari orangorang

di negeri Tuan.”

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Tentu saja, Tuan Ho. Dengan senang hati.”

Respati hanya sejenak menatap Hui Sing, lalu sibuk

berbincang dengan Cheng Ho sepanjang perjalanan menuju

gerbang istana. Selama itu pula, dia tak sekali pun bersikap

berlebihan, misalnya mencuri-curi pandang terhadap dara

jelita itu. Sementara itu, Hui Sing pun tampak tak peduli. Ia

sibuk menoleh ke kanan dan kiri, menyaksikan kesibukan di

kota raja Majapahit.

Namun, mereka tidak sadar, ada sepasang mata yang

mengamati setiap gerak tubuh keduanya. Dengan jantung

yang berdegup kencang penuh rasa khawatir, ia menatap

dengan sinar mata berkilat ketika Hui Sing tersenyum

menerima pujian dari Respati. Juga memandang tajam ke

arah orang nomor satu di jajaran bhayangkari itu. Menanti saat

ketika pemuda itu mencuri pandang ke arah Hui Sing. Namun,

apa yang diduganya tidak terjadi.

Tiba juga waktunya rombongan Cheng Ho bertemu dengan

Prabu Wikramawardhana. Setelah beristirahat semalam di

wisma tamu, Cheng Ho, ketiga muridnya, dan beberapa orang

kepercayaannya, diantar untuk bertemu dengan Raja

Majapahit itu.

Langkah yang tak tergesa mulai memasuki kawasan istana

raja yang megah dan asri. Istana sang raja tampak gagah

dikelilingi tembok batu-bata yang tingginya mencapai tiga

zhang dan lingkarannya lebih dari dua ratus kaki. Pintu masuk

ke bangunan utama dibatasi pintu gerbang yang besar dan

berat.

Beberapa prajurit harus beramai-ramai mendorong daun

pintu raksasa itu agar para tamu bisa masuk ke bangunan

utama istana raja. Bangunan utama istana itu tingginya tiga

sampai empat zhang. Di dalam istana, terpasang papan yang

di atasnya terbentang tikar rotan, tempat orang bersila.

Genteng istana terbuat dari papan kayu keras yang bercelahcelah.

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Kini, rombongan Cheng Ho telah masuk ke paseban agung

dan disambut oleh bhayangkari.

“Silakan Tuan Ho duduk. Sebentar lagi, sang prabu akan

menemui Tuan,” ujar Sad Respati sambil mengangsurkan

tangan kanannya dengan ibu jari yang menunjuk, sedangkan

empat jari lainnya dilipat.

Sambil tersenyum, Cheng Ho menuju salah satu kursi kayu

berukir dengan lapis warna kuning emas yang elok di pinggir

tikar rotan. Begitu juga dengan anggota rombongan lain yang

memilih tempat duduknya sendiri-sendiri.

“Gusti Prabu Wikramawardhana rawuh”

Seorang prajurit berteriak lantang dari pendopo istana.

Semua mata tertuju ke arah pintu istana yang menghubungkan

ruang pertemuan dengan kompleks keraton yang tertutup.

Sosok yang penuh wibawa berjalan tegap. Lelaki separuh

baya itu mengenakan mahkota berhias kembang emas di

kepalanya. Badan tegapnya dibungkus kain yang dijelujur

dengan benang sutra. Pada pinggangnya terselip dua bilah

keris.

Cheng Ho segera berdiri diikuti anggota rombongan lain

untuk memberi hormat, sedangkan anggota bhayangkari dan

para prajurit utama istana langsung berjongkok dan

menyembah.

“Laksamana Ho, sungguh kami memperoleh kehormatan

luar biasa karena kedatangan seorang utusan Kerajaan Ming

yang termasyhur,” ujar sang Prabu begitu ia duduk di atas

singgasananya yang gemerlap.

Di sisi kanannya, seorang lelaki setengah baya berdiri

dengan kepala tegak sedikit angker. Dialah Mahapatih

Sadana, orang kepercayaan sekaligus penasihat utama sang

Prabu Wikramawardhana.

Prabu Wirakramawardhana terlihat memaksakan diri

tersenyum. Menutup rasa gundah yang terlihat pada garisgaris

wajahnya.

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Justru kami yang merasa tersanjung dengan segala

penyambutan sang Prabu yang begitu mulia.” Cheng Ho

sudah kembali duduk di kursi seperti semula. Setelah berbasabasi

tentang kesannya seputar alam Majapahit dan

penduduknya, Cheng Ho mulai mengemukakan maksud

utamanya datang ke Majapahit.

“Sebenarnya, tanpa adanya tragedi berdarah di Simongan

pun, saya diutus oleh Kaisar Ming untuk menghadap sang

Prabu. Namun, setelah kejadian itu, sekarang saya memiliki

dua keperluan bertemu dengan sang Prabu,” ujar Cheng Ho

dengan nada suara yang sedang, tapi berwibawa.

Wikramawardhana mengerutkan dahi. Kini tangan

kanannya menopang dagu dan bersiap untuk mendengarkan

setiap kata-kata Cheng Ho dengan saksama.

“Baginda Prabu, mewakili Kerajaan Ming, saya ingin

menanyakan, bagaimana mungkin pasukan Majapahit yang

terkenal gagah berani dan teliti, membantai ratusan ping-se

Kerajaan Ming hanya karena sebuah kesalahpahaman?”

“Laksamana, saya pun sangat marah mendengar laporan

itu. Hubungan Majapahit dengan Tiongkok sudah terjalin

sangat baik sejak zaman Majapahit berdiri. Tentu saja,

kejadian itu sangat memalukan dan menyedihkan.”

Wikramawardhana tampak begitu murung. Dia diam

sejenak. Matanya menerawang.

“Kemenangan terhadap Blambangan pun sebenarnya

bukan sesuatu yang menyenangkan buat saya. Bagaimanapun,

Bre Wirabumi masih bagian dari Majapahit. Perang

saudara berkepanjangan telah membuat sinar Majapahit

semakin meredup.”

Suasana menjadi hening. Cheng Ho sengaja membiarkan

sang prabu menyelam dalam renungannya, sesaat. Dia

mencari celah waktu paling tepat untuk memecahkan

kekakuan.

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Laksamana, Turonggo Petak, pemimpin pasukan

Majapahit yang secara tidak sengaja menyerang pasukan

Tuan telah saya beri hukuman. Selain dicabut gelar

keprajuritannya, dia telah diasingkan. Apa lagi yang harus

kami lakukan untuk menebus kesalahan ini?”

Cheng Ho menghela napas. Sebenarnya, dia ingin

Turonggo Petak dihukum lebih dari itu. Namun, tentu saja, dia

merasa tak berhak ikut campur terlalu jauh terhadap

keputusan raja.

“Baginda, tentang kebijakan Kaisar Ming, tentu saja saya

tak berwenang memutuskannya. Karena itu, sebaiknya

Baginda mengirim utusan ke Tiongkok untuk memberitahukan

seluruh kejadian ini. Biarlah nanti Kaisar Ming yang akan

menentukan, ganti rugi apa yang harus dipenuhi oleh

Majapahit.”

Wikramawardhana tertegun. Meskipun tak berarti tunduk

terhadap kekuasaan Kaisar Tiongkok, sebagai negeri yang

bersahabat, tentu saja kesalahan yang terjadi dalam tragedi

Simongan harus ditebus. Ide Cheng Ho untuk mengirim utusan

ke Tingkok menjadi hal yang paling masuk akal.

Dia lalu menoleh ke arah Patih Sadana. Keduanya lalu

berbicara dengan nada suara yang rendah, merundingkan hal

tersebut. Air muka sang prabu beberapa kali berubah.

Beberapa saat kemudian.

“Baiklah, Laksamana, saya akan mengirimkan utusan ke

Kaisar Ming. Sambil menunggu keputusan dari kaisar, Tuan

dan rombongan tinggallah di Majapahit. Saya kira, jalinan

persahabatan antara Majapahit dan Kerajaan Ming bisa lebih

akrab jika Tuan mau tinggal beberapa waktu di Majapahit,

saling bertukar budaya dan pengetahuan.”

Cheng Ho mengangguk-angguk sambil melebarkan

senyumnya.

“Baiklah, jika Baginda menghendaki. Sejak awal,

kedatangan kami ke Jawa Dwipa memang mengemban tugas

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

untuk menyampaikan pesan perdamaian dari Kaisar Ming.

Dengan senang hati, kami akan tinggal di Majapahit untuk

beberapa waktu.”

Suasana ruang pertemuan itu menjadi cair. Sang prabu

kemudian bertitah, agar para dayang menyuguhkan aneka

hidangan istimewa. Obrolan santai pun mengalir tanpa

canggung. Cheng Ho merasa lega karena satu masalah besar

telah ditemukan jalan keluarnya. Keputusannya untuk tak

membabi buta, melakukan serangan balasan kepada

Majapahit, membuahkan hasil yang diinginkan.

Bahkan, Raja Majapahit rela menekan rasa, hingga mau

mengirimkan utusan ke Kerajaan Ming agar masalah ini tak

berujung pada pertumpahan darah.

Padahal, Cheng Ho sempat waswas, tragedi Singosari

bakal terulang. Ketika itu, utusan Tiongkok pulang dengan

telinga putus akibat ulah Jayanegara. Beberapa tahun

kemudian, ratusan ribu pasukan Tiongkok datang ke Jawa

Dwipa menghancurkan Singosari dibantu oleh Raden Wijaya,

yang kemudian mendirikan Majapahit.

Sekarang, Cheng Ho tinggal memikirkan masalah

pribadinya. Apalagi kalau bukan hilangnya Kitab Kutub Beku

yang tak ternilai itu.

Kompleks wisma tamu Keraton Majapahit lengang.

Puluhan tamu dari Kerajaan Ming seperti biasa, memilih keluar

kompleks Keraton untuk membaur dengan warga Majapahit.

Sepekan setelah kedatangan mereka diterima Raja

Wikramawardhana, rombongan Cheng Ho mulai menyebarkan

bibit persaudaraan dengan warga Majapahit.

Selain saling tukar cendera mata dan berdagang, mereka

juga asyik belajar banyak hal mengenai adat istiadat

masyarakat Majapahit. Tak sedikit para ahli yang dibawa

Cheng Ho mulai dari sejarawan, tabib, dan pemilik

kemampuan lain berbagi pengetahuan dengan warga

Majapahit. Tak heran jika siang itu, tinggal beberapa orang

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

ping-se yang terlihat sibuk membersihkan ruang tempat

mereka tinggal.

Sementara itu, di kursi taman yang dikelilingi kolam jernih

dengan puluhan ikan warna-warni, Hui Sing duduk anteng.

Pakaian serbasutra biru laut yang ia kenakan, sesekali

berkibar terkena angin sepoi yang menyejukkan. Tatapan

mata gadis belia itu tak berujung. Rambutnya yang disanggul

rapi kadangkala berkilau diterpa cahaya matahari yang tak

terlalu terik.

Setelah peristiwa terungkapnya pencurian kitab pusaka

gurunya, Hui Sing memang berubah menjadi gadis yang

pendiam. Dia juga tak bisa lagi akrab dengan kedua kakak

seperguruannya, Juen Sui dan Sien Feng. Dan, tentu saja itu

sangat mengganggunya.

“Nini Hui Sing, apakah tidak sayang, hari yang begini cerah

dihabiskan dengan melamun?”

Setengah tersentak, Hui Sing menoleh ke arah datangnya

suara berat dan agak serak yang menegurnya itu. Rupanya,

Sad Respati, kepala bhayangkari kepercayaan Prabu

Wikramawardhana, sudah berdiri tak jauh dari tempatnya

duduk.

Dia berdiri tegap dengan senyum akrab memperlihatkan

barisan giginya yang putih bersih. Lesung pipit di kedua pipi

mempertegas sikap ramah yang diperlihatkannya.

“Tuan Respati.”

Hui Sing tak segera menjawab pertanyaan Respati. Dia

hanya tersenyum sambil mencari-cari jawaban yang paling

masuk akal.

“Banyak hal yang bisa Nini lihat di Majapahit.

Saya dengar, Nini menyukai ilmu bela diri. Di Majapahit,

banyak padepokan silat yang bisa Nini kunjungi. Boleh saya

duduk, Nini?”

“Ah, tentu saja, Tuan. Saya hanya tamu di sini.”

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Hui Sing masih belum menjawab pertanyaan Respati.

Bahkan, setelah pemuda itu duduk di kursi taman, persis di

hadapannya, dan menatap lurus kepadanya.

“Tentang seni budaya tanah Jawa, siapa yang meragukan.

Saya pun sangat kagum dibuatnya, Tuan Respati.”

“Lalu, apa yang menahan Nini untuk mengisi hari yang

cerah dengan berkeliling keraton atau keluar istana?”

“Sebenarnya, beberapa hari ini saya mendampingi guru

untuk mengunjungi warga di luar kota raja. Guru bertukar ilmu

cocok tanam dengan mereka. Hanya hari ini, saya merasa

agak lelah.”

“O, rupanya saya yang kurang jeli.”

Keduanya tersenyum, tanpa saling menatap satu sama

lain.

“Jika Nini tidak keberatan, saya ingin menanyakan

sesuatu,”

“Kenapa mesti sungkan, Tuan? Silakan Tuan bertanya.”

Respati diam sejenak. Rupanya, pemuda itu berusaha

menyusun kata-kata paling tepat untuk menyampaikan isi

hatinya.

“Beberapa waktu lalu, saya pergi ke Tuban. Di sana, saya

bertemu dengan sekelompok pedagang asing yang selain

berniaga, juga membawa ajaran baru. Mereka mengajak untuk

menyembah Dewa lima kali sehari semalam dalam sebuah

ritual yang asing. Mengucapkan mantra-mantra berbahasa

asing yang tidak saya pahami. Setelah bertemu dengan

rombongan Laksamana Cheng Ho, saya melihat, ada

beberapa anggota rombongan yang melakukan ritual yang

sama.” Kening Respati berkerut. “Apakah anggota rombongan

Nini ada yang menganut keyakinan baru itu?”

Hui Sing tersenyum. Dia membiarkan Respati memeras

habis segala yang ingin ia ungkapkan mengenai dugaandugaan

itu.

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Dugaan Tuan tak salah. Kami penganut I-se-lan, ajaran

Thian yang dibawa utusan bernama Muhammad dari A-la pekuo

(arab).”

Respati mendengarkan dengan saksama.

“Ajaran itu diturunkan hampir seribu tahun lalu. Mengajak

manusia keluar dari kegelapan, menuju cahaya yang terang

benderang. Menyembah Thian, melatih diri dengan menahan

segala nafsu, dan menyantuni orang miskin

“Thian?”

Respati memotong kalimat Hui Sing.

“Penganut I-se-lan menyebutnya Allah, Thian penguasa

alam semesta. Seperti halnya Brahma dalam kepercayaan

yang Tuan anut.”

“Allah sama dengan Dewa?”

“Sang pencipta, penguasa segala-galanya.”

“Nini, seperti apa orang I-se-lan memahami Allah?”

“Allah adalah Thian yang Esa. Dia tempat bergantung

segala sesuatu yang ada di langit dan bumi. Dia tak berputra

dan tidak dilahirkan oleh sesuatu. Dan tidak ada yang setara

dengan-Nya.”

Respati mengalihkan pandangannya ke arah kolam taman

yang riuh oleh moncong-moncong ikan berebut udara. Diam

sejenak, berusaha keras memahami kata-kata Hui Sing.

“Saya selalu tertarik untuk mempelajari hal-hal baru. Saya

juga pernah berbincang dengan biksu untuk bertukar

pengetahuan. Tak disangka, di dalam keraton pun saya bisa

bertemu dengan orang yang berpengetahuan luas seperti

Nini.”

“Tuan terlalu berlebihan. Tapi, rupanya kita memiliki

kesamaan dalam hal ini. Saya juga sangat menyukai hal-hal

baru.”

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Respati dan Hui Sing tersenyum, lalu saling memuji

pengetahuan masing-masing.

“Jika Nini tak lagi merasa lelah, saya ingin memperlihatkan

sesuatu kepada Nini.”

“Hal menarik apakah itu?”

“Di keputren, tempat para putri istana Majapahit tinggal,

banyak sekali yang bisa Nini lihat. Nini pernah melihat orang

membatik?”

“Membatik?”

“Ya, menghiasi selembar kain dengan lukisan warna yang

khas dan bernilai tinggi. Saya yakin, Nini akan tertarik.”

“Bagaimana Tuan bisa begitu yakin, saya akan tertarik?”

“Bukankah Nini sendiri yang mengatakan bahwa kita

memiliki banyak kesamaan?”

Hui Sing merasa kehabisan akal. Senyumnya

mengembang. Ia lalu bangkit dari duduknya dan mengikuti

langkah Respati keluar dari wisma tamu. Mereka berjalan

beriringan meninggalkan gapura wisma tamu.

“Apa pendapat Tuan tentang seorang abdi yang

menghabiskan seluruh hidupnya untuk sebuah kesetiaan,

namun akhir hidupnya justru dihinakan oleh orang yang

diabdi? Tidakkah menurut Tuan itu sangat tidak adil?”

Hui Sing tak mau waktu menguap begitu saja. Sambil tak

melepas pandangan dari kesibukan para abdi di kompleks

keraton, dia mengajak Respati berbincang.

“Belum tentu. Bisa jadi itu adalah karma yang harus dipikul

orang tersebut.”

Respati memilih jeda. Ia menyempatkan diri untuk

menganggukkan kepala saat sekelompok prajurit yang

berjalan dari arah berlawanan berhenti sejenak, lalu memberi

hormat dengan menangkupkan telapak tangan mereka.

“Karma?”

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Hui Sing menunggu sampai prajurit-prajurit itu berlalu,

sebelum menggenapkan keingintahuannya tentang kata asing

yang baru pertama kali ia dengar itu.

“Kami percaya adanya suatu hukum sebab akibat yang

disebut Karma Pala. Hukum usaha dan hasil yang berlaku

untuk seluruh alam semesta.

Suatu kejadian adalah akibat dari suatu peristiwa yang

saling berkaitan. Setiap ada suatu peristiwa atau kejadian,

pasti melalui suatu tahapan.”

“Bukankah dengan demikian, orang beramal baik akan

mendapatkan balasan yang baik pula?”

Respati tersenyum lebar. Dua lesung pipitnya terlihat

nyata.

“Nini benar-benar selalu ingin tahu. Nini, kami yakin

kelahiran manusia adalah suatu punarbawa. Punar artinya

kembali dan bawa artinya lahir. Jadi, punarbawa adalah suatu

kelahiran yang berulang. Kelahiran yang biasa disebut dengan

penitisan atau samsara. Kalau ada kelahiran berulang-ulang,

berarti ada kematian yang berulang-ulang atau hidup yang

berulang-ulang,”

Respati menyatukan telapak tangannya ke belakang

pinggang sambil melanjutkan kata-katanya.

“Melalui atman sebagai percikan brahman, makhluk dapat

menikmati kehidupan. Akibat atman, maka ada kehidupan di

dunia ini dan atman dalam tahap menghidupkan akan

berpindah-pindah dan berulang-ulang dengan menggunakan

badan yang berbeda-beda melalui punarbawa, yaitu

penjelmaan kembali sebagai makhluk.”

Hui Sing mengerutkan kening. Tangannya asyik

memainkan ujung rambutnya yang terurai panjang.

“Saya tidak paham apa itu atman.”

“Hubungan antara atman dengan badan adalah seperti kita

memakai baju, kita adalah atman dan baju adalah badan kita.

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Apabila baju telah usang, baju tersebut akan dicampakkan dan

kita sebagai atman akan mencari pengganti baju baru ini. Ini

yang disebut dengan purnabawa.”

“Lalu, bagaimana hukum karma berlaku kepada abdi yang

saya sebut tadi?”

“Nini, sebenarnya saya hanya mengetahui sedikit

mengenai hal ini dari membaca kitab. Jika Nini ingin betulbetul

memahami keyakinan ini, saya bisa mempertemukan

Nini dengan seorang guru.”

Hui Sing tersenyum tanpa langsung menjawab. “Itu bisa

nanti saja. Menurut Tuan, apa yang tertulis dalam kitab yang

Tuan baca tentang abdi yang malang itu?”

“Di antara banyak karma, kami mengenal san-cita karma,

yaitu perbuatan yang dilakukan sekarang di dunia ini, yang

hasilnya akan diterima pada kelahiran yang akan datang di

dunia ini.”

Keasyikan obrolan antara Respati dan Hui Sing membuat

perjalanan mereka terasa sangat singkat. Gapura keputren

sudah di depan mata.

“Pada saat purnabawa, manusia akan membawa

karmanya terdahulu, apakah karmanya baik atau buruk.

Sebab, atman yang ada dalam kandungan dibungkus dengan

karma terdahulu masih melekat, dibawa sampai lahir, dan

selama hidup di dunia.”

“Sampai kapan itu akan berlangsung?”

“Purnabawa dan hukum karma saling berkaitan dan berhubungan.

Purnabawa pasti akan membawa hukum karma.

Selama hukum karma masih melekat pada atman, purnabawa

akan terus berulang. Kecuali bila hukum karma sudah habis,

atman akan menyatu dengan Brahman. Ini yang disebut

dengan moksa (menyatu dengan Tuhan).”

Hui Sing mengangguk tanda mengerti. Sebenarnya, ia

banyak bertanya tentang karma itu karena masih tak mengerti,

mengapa Ki Legowo mengalami nasib yang demikian naas.

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Seumur hidup mengabdi demi kepentingan Raja Majapahit,

namun akhir hidupnya begitu tragis, tewas dibantai oleh

prajurit Majapahit karena dianggap memberontak.

Bukan tak tanggap dengan keingintahuan Hui Sing,

Respati memang sengaja tak menanyakan alasan kenapa

tamunya itu menanyakan hal tersebut. Awal pertanyaan Hui

Sing pun sudah dipahami betul oleh Respati bahwa

perempuan cerdas itu memancingnya untuk membicarakan

kematian Ki Legowo, mantan bhayangkari kenamaan itu.

Hanya karena persoalan itu demikian rumit, dan

menyangkut Raja Majapahit, Respati enggan membicarakannya.

Sementara Hui Sing masih bergelayut dalam lamunannya,

Respati memberi tanda kepada prajurit penjaga gapura

agar diperbolehkan masuk ke keputren. Keduanya lalu

memasuki lingkungan keputren yang terlihat asri dan tertata

apik.

Kesan hijau mengental karena aneka tumbuhan sengaja

ditanam di setiap sudut. Semakin ke dalam, nuansa warna

semakin kaya. Aneka bunga dan tumbuhan berwarna-warni

membuat pandangan mata begitu nyaman dan takjub.

“Indah sekali, Tuan Respati.”

Sad Respati menjawab tanpa kata-kata. Dia hanya

mengangguk sambil tersenyum. Sesaat tidak ada obrolan di

antara mereka. Hui Sing begitu menikmati keberadaannya di

tempat itu. Beberapa kali dia menjawab salam sambil

tersenyum ketika para dayang berkemben berpapasan dengan

mereka.

Beberapa saat kemudian, denting bunyi-bunyian yang

asing namun terdengar nyaman menyelusup di gendang

telinga Hui Sing. Pasti bunyi-bunyian itu keluar dari berbagai

benda. Sebab, Hui Sing menangkap tak hanya dua atau tiga

jenis bunyi yang terdengar.

“Kami menyebutnya gamelan, Nini Hui Sing.”

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Hui Sing seperti terbangun dari keterpanaan-nya. Sambil

mengangguk, ia mengikuti langkah Respati menuju sebuah

bangunan luas tanpa dinding. Tiang-tiang kayu berukir

menyangga bangunan berlantai marmer itu. Atapnya berupa

papan-papan kayu yang tertata rapi.

Di dalam bangunan itu, belasan perempuan setengah baya

berkemben dan berkonde besar, duduk timpuh di belakang

alat-alat tetabuhan berupa lempengan logam yang ditata

memanjang. Lempengan-lempengan logam itu dikaitkan

dengan tali dan diletakkan pada kayu yang berbentuk seperti

meja berukir.

Para perempuan itu masing-masing memegang alat tabuh

di tangan kanan. Bentuknya seperti palu yang terbuat dari

kayu, sedangkan tangan kiri mereka memegang ujung

lempengan logam setiap kali tangan kanannya mengayun

memukul pelan lempengan itu.

Ada dua orang perempuan yang tidak menghadapi alat

tetabuhan seperti yang lain. Mereka hanya duduk timpuh

sambil bernyanyi dengan suara melengking merdu. Hui Sing

benar-benar terpana. Dia lalu mengalihkan pandangannya ke

barisan belakang. Di sana ada beberapa laki-laki yang cukup

tua memainkan kecapi. Ada juga yang duduk menghadap

benda logam besar yang hanya beberapa kali dipukul dengan

suara yang menggaung.

Sementara itu, di bagian tengah bangunan pendopo, lima

perempuan muda menari dengan lemah gemulai mengikuti

denting bebunyian itu. Satu orang yang ada di bagian paling

depan begitu menarik perhatian. Gerakannya gemulai.

Kelihatan betul larut dalam lakon tari yang ia bawakan.

Pandangan matanya sayu, tak jelas apa yang dipandang.

Perempuan belia itu betul-betul mewakili kecantikan

seorang putri keraton. Kulitnya kuning langsat dan bercahaya.

Wajahnya lembut sekaligus berwibawa. Rambut hitamnya

digelung bertabur melati. Ia mengenakan kemben yang ditutup

baju sutra cokelat polos, disambung dengan kain panjang

bergambar. Dia memimpin empat perempuan lain di

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

belakangnya melakukan gerakan tari yang gemulai dengan

serempak.

Gerakan tari yang pelan sambung-menyambung penuh

emosi, tertata, dan terjaga. Sampai suatu puncak yang

ditunggu, pukulan gong menggema bersama ujung gerakan

tari itu.

Hui Sing berdiri tertegun. Dia tak berkata apa-apa,

matanya pun tak menjelaskan apa pun. Seperti bocah yang

baru pertama kali melihat keramaian kota raja. “Cantik sekali

Respati tersenyum mendengar Hui Sing bergumam takjub.

“Namanya Dewi Anindita, putri Mahapatih Sadhana.”

“Pantas jika Tuan begitu kerasan berada di lingkungan

keputren. Para putri demikian jelita dan pandai menari.”

“Ikutlah dengan saya. Akan saya perkenalkan Nini dengan

mereka.”

Hui Sing tersenyum, lalu mengikuti langkah Respati ke

pendopo. Begitu sampai di bangunan berlantai marmer itu,

orang-orang yang berada di sana memberi hormat dengan

takjim. Begitu pula dengan para putri yang tadi menari.

“Kakang Respati, ada angin apa hingga Kakang berkenan

mengunjungi keputren?”

Suara halus setengah lirih keluar dari bibir Anindita,

perempuan gemulai yang oleh Respati disebut sebagai putri

Patih Sadhana itu.

“Nimas, Kakang ingin memperkenalkan Nimas dengan Nini

Hui Sing, murid Laksamana Cheng Ho, tamu agung Prabu

Wikramawardhana,”

Pandangan mata Anindita beralih ke Hui Sing. Ia

tersenyum tulus.

“Nini Hui Sing, sungguh sebuah kehormatan bagi saya

karena hari ini bertemu dengan Nini.”

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Hui Sing tersenyum pula sambil menangkupkan kedua

telapak tangannya.

“Sayalah yang merasa tersanjung, Putri. Bertemu dengan

putri keraton dan menyaksikan tahan yang demikian indah,

tentulah pengalaman yang tak dialami semua orang.” Anindita

tersipu.

“Nimas, Nini Hui Sing ingin mengetahui tata cara membatik.

Jika Nimas tidak sibuk, barangkali bisa menemani tamu

kita ini.”

“Tentu saja, Kakang. Nini Hui Sing, kapan pun Nini ingin

mempelajari seni batik, saya akan menemani Nini.”

Hui Sing terkesan dengan sikap ramah dan lemah lembut

perempuan di depannya. Untuk pertama kali, ia merasa tak

sebanding jika disejajarkan dengan perempuan seperti

Anindita. Setiap gerakannya seperti mewakili kesempurnaan

perempuan. Begitu tertata, penuh perhitungan, penuh tata

krama, dan gemulai.

“Tentunya akan sangat merepotkan Anda, Putri.”

“Panggil saja Anindita.” Hui Sing tersenyum sambil

mengangguk sepakat.

“Kalau demikian, kau pun cukup memanggilku Hui Sing.”

Respati tersenyum lega. Bahkan, pemuda itu tak tahu

alasan apa yang membuatnya harus merasa lega.

“Kalau begitu, saya kembali ke griya bhayangkari. Jika Nini

Hui Sing butuh sesuatu, silakan bicara dengan Anindita.”

“Terima kasih sekali, Tuan Respati.”

Respati kemudian membalikkan badannya dan berjalan

menuju gerbang keputren. Dia melangkah gagah tanpa

keraguan. Sebilah keris yang ia kenakan di punggung

menambah pekat wibawanya. Pusaka itu memang sangat

berbeda.

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Ukurannya saja sudah sangat berlainan dengan keris yang

dimiliki para prajurit Majapahit. Meskipun bentuknya serupa,

keris bergagang gading kokoh itu memiliki panjang nyaris satu

lengan orang dewasa. Beda dengan keris kebanyakan yang

rata-rata berpanjang tak sampai setengahnya.

Nama pusaka itu, Angga Cuwiri. Meskipun wujudnya masih

bersembunyi di balik warangka baja yang diukir indah, tapi

aura pusaka itu sudah menyebar dan membuat setiap orang

yang menatapnya langsung terpesona.

Setelah sosok Respati menghilang dari gerbang keputren,

Anindita mengajak Hui Sing masuk ke salah satu bangunan di

kompleks keputren. Di salah satu ruangan bangunan beratap

papan kokoh itu, Anindita mempersilakan Hui Sing duduk di

atas tikar pandan yang bersih.

Anindita yang sempat berpamitan, beberapa saat

kemudian kembali ke ruangan itu dengan membawa

selembar kain yang sangat indah. “Inilah yang dinamakan

batik, Hui Sing.”

Anindita membiarkan Hui Sing meraba lukisan di atas kain

elok itu. Dengan saksama, Hui Sing meneliti gambar yang

tampak hidup. Ada burung-burung berlompatan di atas dahandahan

pohon yang rindang. Juga ikan yang berenang di dalam

kolam. Hui Sing takjub dibuatnya.

“Kau pasti akan kesulitan menemukan kain seperti ini di

luar keraton, Hui Sing.”

Hui Sing sedikit mendongakkan kepalanya, ingin tahu.

“Di luar istana, orang masih menggunakan daun kajang

sebagai sarana untuk membuat gambar-gambar. Membatik di

atas kain baru dilakukan oleh sedikit orang di dalam keraton.”

“Sangat sulitkah?”

“Hanya ahli yang bisa melukisnya dengan baik. Lagi pula,

butuh waktu yang cukup lama untuk menyelesaikan selembar

kain batik.”

“Kau bisa melakukannya, Anindita? Bagaimana caranya?”

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Anindita tersenyum ayu.

“Aku sedikit bisa, tapi tak ahli. Akan kutunjukkan caranya

padamu.”

Anindita bangkit dari duduknya, lalu kembali menyelinap ke

balik pintu bangunan itu. Tak lama, dia kembali membawa kain

putih polos di tangan kanannya. Di belakangnya, seorang

perempuan abdi membawa seperangkat alat yang sama sekali

tak dikenal oleh Hui Sing.

“Kami menamakan alat ini canting. Alat ini digunakan untuk

menyimpan cairan tinta yang dipanaskan terlebih dulu.”

Hui Sing enggan berkomentar. Dia memperhatikan betul,

bagaimana luwesnya Anindita menjaga api di dalam tungku

mungil di sebelahnya agar menyala sedang. Sementara,

perem-puan abdi yang umurnya pasti sudah lebih dari lima

puluh tahun itu kemudian meletakkan sebuah benda dari besi

berbentuk cekung yang ukurannya pun begitu mungil, di atas

api yang menyala.

Di atas lempengan berbentuk cekung itu, Anindita

meletakkan gumpalan-gumpalan benda warna cokelat yang

cepat mencair begitu bersentuhan dengan besi yang telah

panas oleh api.

Masih dalam sikap duduk timpuh, Anindita menggerakkan

canting ke lempengan besi cekung. Benda yang disebut

canting, rupanya digunakan layaknya gayung. Dengan alat itu,

Anindita mengambil cairan mendidih di atas besi cekung tadi.

Setelah meniup-niupnya beberapa saat, Anindita mulai

membuat pola-pola di atas kain putih. Selain memiliki

cekungan untuk tempat cairan panas, canting juga memiliki

moncong kecil panjang yang digunakan membentuk pola-pola

yang rapi dan teliti.

Cairan tinta panas di dalam cekung canting pelan-pelan

digunakan untuk membuat pola dan lukisan di atas kain

melalui moncongnya. Sekali lagi Hui Sing takjub. Dia betulbetul

tak tertarik untuk berbicara.

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Matanya telaten memperhatikan setiap gerakan kecil yang

dilakukan Anindita saat melukis. Sambil menebak-nebak

gambar apa yang tengah dibuat oleh Anindita, Hui Sing tak

berhenti mengagumi keluwesan Anindita melakukan

pekerjaannya.

Hui Sing melihat aura ketenangan dan kesabaran dalam

setiap goresan tangan Anindita. Ketabahan yang demikian

tinggi pada sorot mata perempuan yang saksama menjaga

setiap coretan tangannya agar tak melenceng.

“Kira-kira seperti ini. Maaf, saya tak bisa melakukan

dengan lebih baik.”

Hui Sing sampai tak bisa berkata-kata. Dia masih terlalu

kagum untuk menjawab basa-basi Anindita. Dia serta-merta

menerima kain putih yang kini salah satu sudutnya sudah

dilukisi gambar kupu-kupu.

“Bicara apa kau, Anindita? Ini sungguh sudah luar biasa

bagiku.”

Hui Sing lalu meneliti setiap titik pada gambar sepasang

kupu-kupu yang sedang bercengkerama di atas tangkai

bunga.

“Jika ini adalah kamu, lalu siapakah kupu-kupu satunya?”

Anindita tersipu tanpa menjawab kalimat Hui Sing.

“Maaf kalau saya terlalu sembrono. Tapi lukisanmu

sungguh hidup, Anindita. Kalau kau tak berkeberatan, aku

ingin belajar darimu.”

“Dengan senang hati, Hui Sing.” Rentang waktu hingga

menjelang siang dimanfaatkan betul oleh Hui Sing untuk

belajar membatik. Darahnya berdesir ketika meyakini, melatih

kesabaran dalam membatik sama saja menempa setiap jurus

thifan pokhan. Sama-sama membutuhkan kesungguhan total

dan ketekunan.

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Meskipun tidak langsung bisa membuat pola-pola

sempurna, toh Hui Sing mampu membuat Anindita kagum oleh

kecepatannya belajar.

“Jika sudah jadi, digunakan untuk apa kain batik ini,

Anindita?”

“Di keraton, batik menjadi bagian dari tatanan busana yang

terkait erat dengan adat dan sopan santun.”

Hui Sing semakin tertarik. Dia memperbaiki sikap

duduknya sambil menajamkan pendengarannya.

“Pemakaian kain batik sebagai busana kebesaran harus

menaati segala peraturan yang berlaku. Misalnya, pemakaian

kain batik untuk kalangan perempuan harus menutupi mata

kaki. Kalau memakai kain batik jauh lebih tinggi dari mata kaki,

hal itu bisa diartikan bahwa wanita tersebut tidak paham adat,

serta kurang paham kesopanan.”

Anindita kagum dengan kesungguhan Hui Sing menyimak

setiap kata-katanya. Ia tersenyum.

“Untuk perempuan, pemakaian lembaran kain batik dimulai

dari ujungnya masuk ke sebelah kiri pinggang pemakainya,

dan ujung kain batik lainnya melingkari tubuh ke arah kanan.

Sehingga ujung kain batik yang di-wiru (lipatan pada kain)

berada paling atas dan ke arah kanan pinggang pemakainya.”

“Apa itu wiru?” Anindita sedikit mengangkat lipatan

bertumpuk pada ujung kain yang ia kenakan. Lipatan

bertumpuk itu mengunci kain batik yang ia kenakan.

“Inilah yang kami sebut wiru.”

“Indah sekali. Aku pikir, wiru inilah yang ketika engkau

menari menambah anggun gerakanmu. Tapi, kenapa seperti

ada perbedaan cara memakai kain batik antara kaum

perempuan dan kaum pria, Anindita? Waktu aku bertemu

dengan Prabu Wikramawardhana, beliau juga mengenakan

kain ber-wiru, hanya seingatku ada yang sedikit berbeda.”

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Kau sungguh jeli, Hui Sing. Memang ada kekhususan

pada cara pemakaian kain batik bagi kaum pria. Cara

pemakaiannya dengan memasukkan ujung kain batik ke

bagian kanan pinggang, lalu ditutupi kain batik yang melingkari

pinggang memutar ke kanan, lalu ke kiri sehingga ujung kain

batik yang di-wiru berada di tengah menghadap ke kiri.”

Anindita bangkit dari duduk. “Mbok, tolong ambilkan epek

dan beting.”

Setelah mengiyakan, perempuan abdi itu kemudian

menghilang di balik pintu yang menghubungkan ruang itu

dengan kamar pribadi Anindita. Tak mesti menunggu lama,

perempuan sepuh itu sudah muncul dengan barang yang

dipesan Anindita.

Sambil tersenyum dan berterima kasih, Anindita mulai

mengenakan kain batik setengah jadi yang tadi ia lukisi

sepasang kupu-kupu riang. Setelah melakukan tahap yang ia

katakan sebelumnya, ia lalu mengikat bagian atas kain batik

dengan ikat pinggang khusus yang ia sebut epek, serta kain

pengikat pinggang yang panjang.

Ia lalu menutup bagian itu dengan kain beting, ikat

pinggang panjang yang terbuat dari kain beludru

bergambar kembang-kembang.

“Untuk pria, biasanya pemakaian kain batik ini dilengkapi

dengan baju bernama beskap. Dengan mengenakan busana

Jawi lengkap termasuk sebilah keris yang terselip di lipatan

ikat pinggang dan kepala ditutup kuluk, terasalah kebesaran

jiwa.”

Hui Sing mengangguk-angguk. Rasanya, hari itu akan

habis oleh obrolan-obrolan tentang batik yang membuat

ketertarikan Hui Sing demikian tersedot. Namun, begitu sadar

matahari sudah bergeser dari garis lurus bayangan manusia,

Hui Sing bergegas pamit kembali ke wisma tamu dan berjanji

akan datang sewaktu-waktu untuk belajar lebih banyak lagi.

0oo0

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Sien Feng, apakah kedatanganku mengganggu?”

Sien Feng menggelengkan kepala, lalu menggeser

duduknya, memberi kesempatan kepada Juen Sui untuk ikut

menikmati suasana petang di taman wisma tamu keraton

Majapahit itu. Dia sedang melamun, ketika kakak

seperguruannya itu muncul.

Begitu duduk di bangku taman, Juen Sui melepas napas

panjang, sambil mengedarkan pandangannya ke pelosok

taman. Tak ada percakapan hingga beberapa saat.

“Tidakkah kau merindukan kebersamaan kita dulu, Adik

Feng? Bertiga dengan Hui Sing, kita terbiasa menghabiskan

waktu dengan bercengkerama dan berlatih thifan. Rasanya,

sudah lama sekali saat-saat menyenangkan itu berlalu.”

Sien Feng belum mengalihkan pandangannya dari serombongan

kupu-kupu yang terbang kagok di antara rumpun

bunga di taman itu. Gerakan mereka malu-malu.

“Kakak, sejak awal, aku sangat tidak ingin hal ini terjadi.

Tentang hilangnya Kitab Kutub Beku milik guru pun, aku yakin

orang lain yang mencurinya. Tapi keadaan ini sungguh tak

bisa dihindarkan.”

Sekarang Sien Feng menatap langsung Juen Sui,

menunggu komentar.

“Kau betul. Sejak awal, aku pun sangat yakin ada

seseorang yang memanfaatkan kelengahan kita untuk

memecah belah perguruan.”

Juen Sui memejamkan mata, menahan beban rasa yang

demikian berat.

“Aku memikirkan guru dan Hui Sing. Mereka begitu yakin

bahwa pencuri kitab itu adalah satu di antara kita. Bagaimana

mungkin sekeji itu?”

“Kakak, aku rasa kita harus berkepala dingin. Paling tidak,

sementara ini kita jangan memperkeruh suasana, sambil tetap

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

menyelidiki siapa yang bar-tanggung jawab terhadap kejadian

ini.”

“Aku setuju, Adik Feng. Kau sendiri kapan terakhir

berbicara dengan Hui Sing?”

“Waktu di kapal itu. Sudah sangat lama. Sekarang,

kelihatan sekali dia enggan berbicara kepadaku.”

“Aku merasakan hal yang sama, Adik Feng. Apalagi

sekarang Hui Sing telah punya teman baru.”

“Teman baru?”

“Apakah kau tak memperhatikan? Hui Sing demikian akrab

dengan Sad Respati, kepala bhayangkari Majapahit.”

“Ya, aku pun sering melihat mereka berdua. Tapi aku kira

itu wajar karena Hui Sing memahami bahasa orang Majapahit

dengan baik. Tentunya jika kita menguasainya, kita pun

melakukan hal yang sama.”

Juen Sui mengangguk-angguk.

Sementara Sien Feng merasa heran sekaligus lega. Kini,

justru Juen Sui bisa bicara demikian terbuka dengannya.

Sebab dulu, meskipun bersama-sama dalam setiap latihan

yang diberikan gurunya, Juen Sui jarang sekali berbicara

panjang lebar dengannya. Setiap peristiwa seburuk apa pun

itu, selalu meninggalkan perubahan yang baik, jika dipahami

dengan arif.

0oo0

Pagi yang cerah …

Kelopak mata Hui Sing sesekali mengerjap. Inginnya dia

terus menatap kelincahan Empu Prabaswara membakar lalu

memukul baja hitam yang akan dijadikan sebilah keris itu

secara bergantian.

“Empu Prabaswara adalah satu di antara sedikit empu

berkemampuan mumpuni di Mojokerto.”

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Respati memahami kekaguman Hui Sing dan berusaha

memberikan pengertian sejelas-jelasnya kepada perempuan

yang selalu ingin tahu itu.

Ruang pembuatan keris itu sebenarnya sangat jarang

menarik perhatian perempuan. Segala yang ada di ruangan itu

berbau kasar dan kotor. Besi-besi berserakan, warna legam di

mana-mana, dan percikan api yang membuat waswas tentu

tak membuat nyaman.

Tapi bagi Hui Sing yang selalu menggebu setiap melihat

hal-hal baru, kenyataan itu sama sekali tak mengganggu.

Meskipun demikian, Respati tak mau membiarkan Hui Sing

berlama-lama di ruangan itu hingga wajahnya yang mulus jadi

menghitam. Ia mengajak gadis itu keluar dari ruang

pembuatan keris. Respati lalu mengajaknya ke pendopo

padepokan Empu Prabaswara. Mereka duduk berhadapan.

“Banyak sekali hal baru yang saya temui di sini, Tuan

Respati. Cara pembuatan keris itu juga begitu mengagumkan.”

“Nini Hui Sing, Nini sudah tak sungkan lagi dengan

Anindita. Bisakah Nini bersikap sama terhadap saya? Saya

canggung dengan kata tuan yang Nini ucapkan.”

Hui Sing tersenyum sambil menebak-nebak arah bicara

Respati.

“Lalu, kenapa Tuan masih memanggil saya dengan

sebutan Nini?”

“Oh, baiklah. Kalau begitu, aku akan memanggilmu Hui

Sing, agar tak sungkan lagi.”

“Begitu lebih baik. Lalu, bagaimana aku harus

memanggilmu?”

“Karena kau jauh lebih muda dibandingkan aku, kenapa

tak kau panggil aku Kakang saja?”

“Kenapa tidak, Kakang Respati? Nah, sekarang aku ingin

menanyakan kebenaran tentang kedahsyatan pusaka Angga

Cuwiri milikmu, Kakang.”

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Dari mana kau mendengar hal yang terlalu dilebihlebihkan

itu, Hui Sing? Memang Angga Cuwiri adalah pusaka

warisan keluarga yang sangat aku jaga. Namun, kehebatan

yang banyak dibicarakan orang terlalu dilebih-lebihkan.”

“Tak akan ada asap tanpa api. Aku kira, tanpa ada

keagungan di belakang pusaka itu, mustahil orang-orang

demikian mengaguminya.”

Respati tersenyum. Dia merasa kalah dan terjebak. Tanpa

diminta, ia lalu melepaskan Angga Cuwiri dari simpul tali di

punggungnya. Hui Sing berdecak kagum melihat ukiran elok

dan halus pada warangka keris yang berukuran istimewa itu.

Menuntaskan rasa penasaran Hui Sing, Respati

mengeluarkan keris itu dari warangkanya dengan perlahan.

Bertambah takjublah Hui Sing sekarang. Baja hitam berpamor

biru kering menyebar aura yang pekat. Sembilan lekukan

mulai pangkal keris hingga ujung yang meruncing jelas

merupakan hasil dari tempaan seorang ahli yang mumpuni

dan paham betul akan keindahan.

“Keris ini usianya hampir satu abad. Pembuatnya adalah

Empu Angga Cuwiri yang sangat terkenal di Majapahit. Ini

karyanya yang terakhir.”

“Mengapa ukurannya begitu berbeda dengan keris yang

lain, Kakang?”

“Empu Angga Cuwiri sengaja membuat keris ini untuk

seorang sahabat karibnya bernama Pranawa. Ia ingin

membuat sesuatu yang berbeda dari biasanya. Untuk

menyelesaikan keris ini, ia membutuhkan waktu lima tahun.”

“Begitu lama?”

“Ya, karena Empu Angga ingin karyanya sempurna.

Bahkan untuk mendapatkan logam sebagai bahan dasar

kerisnya pun, dia rela menjelajah Nusantara selama bertahuntahun.”

“Orang bernama Pranawa itu demikian istimewa.”

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Persahabatan mereka lebih murni dibandingkan ketaatan

hamba kepada rajanya.”

“Lalu, bagaimana keris itu bisa berada di tangan Kakang?”

Respati kembali tersenyum sambil memasukkan kembali

keris Angga Cuwiri ke dalam warangkanya.

“Pranawa adalah seorang bhayangkari kerajaan Majapahit

pada zaman Ratu Tribuwanatung-gadewi. Dia kakek buyutku.”

Hui Sing mengangguk maklum.

“Aku sudah menunjukkan benda paling berharga yang

kumiliki. Bagaimana denganmu, Hui Sing? Aku dengar, kau

pun memiliki sebuah senjata yang sangat menakjubkan.”

“Ya, kata-kata. Apakah Kakang tak merasa kata-kataku

merupakan senjata yang mematikan?”

“Maksudku, senjata untuk melindungi diri. Senjata untuk

melumpuhkan musuh.”

Kini, Hui Sing tak bisa lagi bersilat lidah.

“Baiklah.”

Itu saja yang dikatakan Hui Sing. Ia lalu bangkit dan

berjalan menuju halaman padepokan. Respati masih belum

beranjak dari duduknya. Ia keheranan.

“Katanya, Kakang ingin melihat senjata andalanku. Apa

lagi yang ditunggu?”

Respati tersenyum masygul. Dia mulai menangkap jiwa

periang yang cenderung seenaknya dalam diri Hui Sing.

Sesuatu yang tabu dalam pandangan masyarakat Jawa yang

penuh tatanan, tapi justru mengundang rasa penasaran di

dada Respati.

“Aku sudah di sini, mana pusaka ampuhmu itu?” Respati

berdiri tegak lima tombak di depan Hui Sing yang masih berdiri

tenang. “Ini!”

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Respati buru-buru memalingkan wajah untuk

menyelamatkan pandangan matanya dari sinar menyilaukan

yang keluar dari lubang lengan Hui Sing. Tapi untuk tetap

berdiri tegak di sana jelas keputusan yang salah. Apalagi ia

merasakan desakan angin yang menderu ke arahnya.

Pemuda cakap itu langsung melakukan salto ke belakang,

tanpa tahu, sinar apa yang kini terus memburunya. Sementara

itu, Hui Sing terus memburu Respati dengan sabuk peraknya

yang istimewa itu. Sabuk lembek seperti beludru namun kuat

seperti baja itu, membentuk lingkaran-lingkaran maut yang

terus berubah-ubah.

Hui Sing terus mengubah-ubah serangannya sambil

bergerak lincah seperti putri yang sedang menari. Setelah

lewat lima jurus, Respati yang terus-menerus menghindar baru

menyadari bahwa sinar menyilaukan itu berasal dari sabuk

perak yang memantulkan cahaya matahari.

Pemuda itu masih mereka-reka arah serangan Hui Sing

sambil menunggu titik lemah jurus itu. Namun, ternyata hal itu

sama sekali tidak mudah. Hui Sing terus memburunya dengan

serangan yang jauh lebih berbahaya. Ujung sabuk itu kini

memburu kepala Respati sepenuh hati.

Respati kerepotan setengah mati menghindari ujung sabuk

yang diyakininya bisa menghancurkan benda sekeras batu

sekali pun. Beberapa kali ia mesti menjatuhkan diri ke tanah

dan berguling-guling.

“Aku akan memaksa kau mencabut kerismu, Kakang!”

Hui Sing berteriak lantang tanpa mengendurkan

serangannya yang kian gencar. Respati tahu betul Hui Sing

ingin tahu kehebatan Angga Cuwiri. Namun, ia pun bukan

pendekar kelas coro yang gampang terpancing. Dia akan

berusaha keras untuk menundukan serangan Hui Sing tanpa

harus menggunakan senjata andalannya.

“Hup!”

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Respati melompat ke udara sambil menangkap sabuk

perak. Tapi dia keheranan bukan main ketika dengan sangat

mudah, Hui Sing meloloskan sabuknya dari genggaman erat

tangannya. Sabuk itu selicin belut. Bahkan setelah Respati

mengerahkan tenaga dalam untuk menahannya dalam

genggaman, tak ada hasilnya sama sekali.

Dalam sekejap, justru ujung sabuk itu kembali menukik ke

arahnya. Sreng!

Tak ada pilihan. Respati akhirnya mencabut keris Angga

Cuwiri dari warangkanya. Hui Sing girang bukan main karena

bisa memaksa pemuda itu melakukan hal yang diinginkannya.

Dia seperti mendapat tambahan tenaga untuk menyerbu

Respati dengan jurus-jurus mautnya.

Kini, sinar perak menyilaukan dari sabuk Hui Sing

menggulung sinar biru yang keluar dari pamor keris Angga

Cuwiri di tangan Respati. Keduanya memutar otak untuk

mengakhiri adu kekuatan itu dengan kemenangan.

Tapi nyatanya, mereka sama-sama tak menemukan jalan

pintas. Apalagi, Hui Sing dan Respati sama-sama tak ingin

sungguh-sungguh melukai lawannya.

“Cukup, Hui Sing!”

Tubuh Respati melenting ke arah belakang, lalu mendarat

ke tanah dalam keadaan siap siaga. Sementara, Hui Sing

menyentakkan sabuknya kembali ke genggamannya.

“Kalau diteruskan, salah satu di antara kita pasti terluka.”

Hui Sing mengangguk sambil mengatur napasnya yang

sempat kacau.

“Angga Cuwiri benar-benar hebat, Kakang.”

Respati menghampiri Hui Sing setelah memasukkan

kembali Angga Cuwiri ke warangkanya.

“Senjatamu juga istimewa. Di tanah Jawa Dwipa, ada juga

perempuan pendekar yang menggunakan selendang sebagai

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

senjata. Namun, aku belum pernah bertemu senjata sejenis itu

yang memiliki kelenturan dan keistimewaan seperti sabukmu.”

“Sabukku ini terbuat dari benang istimewa. Guru

memesannya kepada seorang ahli di Tiongkok. Meskipun

bentuknya sabuk, namun kuatnya tak kalah dengan baja dan

kelembutannya tak kalah oleh beludru.”

“Sinarnya juga sangat menyilaukan. Apalagi tenaga

dalammu juga sudah begitu baik. Aku hampir kalah tadi.”

“Kurasa Kakang terlalu merendah. Lain kali mungkin kita

bisa berlatih lagi.”

Respati mengangguk sambil tersenyum. Ia lalu mengajak

Hui Sing kembali ke pendopo untuk menikmati hidangan yang

sudah dipersiapkan oleh pengurus padepokan.

“Malam ini purnama penuh. Aku dan dan calon istrimu

berjanji untuk berjalan-jalan keluar keraton dan meneruskan

pelajaran membatik.”

“Calon istriku?”

“Ya. Dewi Anindita. Apa Kakang lupa akan hal itu?”

“Rupanya sudah demikian jauh obrolan kalian, ya?”

“Kakang sangat beruntung bisa memperistri perempuan

seperti Anindita. Dia sosok perempuan sempurna.”

Respati memilih duduk di depan meja kecil di pendopo,

sedangkan Hui Sing bersila di hadapannya. “Sempurna?”

“Ya. Anindita begitu lembut, tahu segala hal. Mewarisi

darah biru, dan tentu saja jelita.”

“Itukah kesempurnaan seorang perempuan?”

Hu Sing mengerutkan dahi. “Memangnya, seperti apa

Kakang memahami seorang perempuan yang layak dicintai?”

“Tentu saja yang hatinya rupawan.”

“Anindita pun memilikinya, bukan?”

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Respati terdiam. Ia mengalihkan pandangannya sambil

sedikit tersenyum.

“Ya, tentu saja. Anindita memiliki hati yang rupawan,”

ujarnya lirih.

“Bagaimana rasanya memiliki hati yang berdebar-debar

menunggu pernikahan, Kakang?”

Respati tak menjawab. Sepertinya ia tak mendengar

karena pikirannya tenggelam dalam lamunan.

“Kakang Respati”

“Apa? Maaf, aku sedang memikirkan sesuatu.”

“Ah, tentunya tentang pernikahan kalian bulan depan, ya?”

Respati lagi-lagi tersenyum setengah tersipu.

“Ya, aku memikirkan pernikahan kami.”

“Prabu Wikramawardhana begitu mengistimewakanmu,

Kakang. Sampai putri terelok di keputren pun dipilihkannya

untuk menjadi istrimu.”

“Jadi, kau sudah tahu semuanya. Alangkah cepatnya.”

Hui Sing tergelak pendek melihat cara Respati

mengatakan kalimat itu. Seperti orang yang kebingungan

karena gagal memberikan kejutan.

“Jadi, Kakang belum sadar dengan siapa berhadapan?”

Keduanya pun tertawa kecil. Saling memahami kelucuan

yang bagi orang lain bisa jadi tak patut ditertawakan.

“Kalau kau lahir sebagai putri Jawa Dwipa, pasti namamu

Samita.”

Hui Sing mengerutkan dahi.

“Samita artinya bintang. Matamu bersinar seperti bintang.”

Hui Sing tak menjawab. Dia hanya mendehem kecil.

Kebetulan sekali, kata hui sing pun artinya bintang. Bintang

berekor.

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Kakang, aku sangat penasaran dengan jurus-jurus yang

engkau gunakan. Sulit menggambarkan. Tapi, aku

memahaminya lebih dari sekadar gerakan silat.”

Respati mulai terbiasa dengan sikap tak peduli Hui Sing.

Gadis itu seenaknya mengganti bahan pembicaraan.

“Seumur hidupku, aku hanya berlatih jurus Hanacaraka.

Tapi sampai saat ini, aku belum bisa memahaminya dengan

sempurna.”

“Bukankah itu nama huruf yang digunakan di Jawa

Dwipa?”

“Kau benar, Hui Sing. Bagi kami, ilmu kanuragan tak

sekadar ilmu luar yang mengabaikan rasa manusia dan

pencipta. Sebab, semua saling berkaitan.”

Hui Sing menggelengkan kepala sambil tersenyum tak

mengerti.

“Kau yakin ingin mendengarkannya?”

“Jika Kakang cukup punya waktu.”

Respati memperbaiki sikap duduknya. Dia tampak berhatihati

memulai pembicaraan itu.

“Jurus Hanacaraka terdiri dari dua puluh inti gerakan

tubuh, sesuai dengan jumlah huruf Jawa yang engkau kenal.

Setiap kata mengandung pemahaman tersendiri yang

menggerakkan jiwa dan raga pendekar.”

“Sepertinya aku butuh contoh, Kakang.”

“Baiklah. Lima kata pertama adalah tahap meditasi,

pengaturan napas untuk menghasilkan tenaga dalam murni.

Huruf ha, hana hurip wening suci, adanya hidup adalah

kehendak dari yang Mahasuci.”

Respati memejamkan mata, sementara kedua tangannya

terangkat ke atas.

“Huruf na, nur candra (bulan), pengharapan manusia

tersandar pada sinar Gusti Ingkang Murbheng Dumadi.”

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Kini, kedua telapak tangan Respati menyatu di depan

dada. Matanya masih terpejam rapat.

“Huruf ca, cipta wening, satu arah dan tujuan pada Yang

Mahatungal. Huruf ra, rasaingsun han-duiusih, rasa cinta sejati

muncul dari cinta kasih nurani.”

Pemuda itu menghirup udara begitu dalam. “Huruf ka,

karsaningsun memayuhayuning bawaria, hasrat diarahkan

untuk kesejahteraan alam.”

Respati membuka kelopak matanya perlahan sambil

mengembuskan napasnya khidmat.

“Jangan kau suruh aku berkomentar, Kakang. Kata-kataku

habis. Ini terlalu agung.”

“Belasan tahun aku mempelajari jurus andalan Mahapatih

Gajahmada ini. Tapi seujung kuku pun, aku tak bisa

dibandingkan dengannya.”

“Guruku sering sekali menyebut nama Mahapatih

Gajahmada. Diakah pemersatu Nusantara yang digdaya itu?”

“Kau tak salah, Hui Sing. Jika saja aku memiliki jiwa yang

murni, mungkin aku bisa menguasai ilmu ini dan panji-panji

Majapahit akan kembali berkibar di penjuru nusantara seperti

dulu.”

“Maksud Kakang, memahami Hanacaraka, tak cukup

menghafal gerakan silatnya saja?”

Respati mengangguk-angguk.

“Dari dua puluh huruf itu, setiap lima huruf, ketika

digabungkan menjadi satu memiliki pemahaman yang

mendalam. Hanacaraka berarti ada utusan. Utusan hidup,

berupa napas yang berkewajiban menyatukan jiwa dengan

jasad manusia. Artinya ada yang memercayakan, ada yang

dipercaya, dan ada yang dipercaya untuk bekerja. Ketiga

unsur itu adalah Gusti, manusia, dan kewajiban manusia

sebagai ciptaan.”

“Jadi, kunci semuanya adalah kesejatian hidup?”

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Respati terdiam. Dahinya berkerut.

“Berapa lama aku mengenalmu, Hui Sing?”

“Maksud Kakang?”

“Bagaimana mungkin kau demikian cepat memahami

setiap kata yang kuucapkan, melebihi le-satan anak panah?

Seolah-olah kita adalah teman lama yang sudah demikian

saling mengerti.”

Kulit pipi Hui Sing memerah. “Apa Kakang tidak sedang

memuji diri sendiri karena demikian mudah memberi

pemahaman kepada orang lain?”

Untuk kesekian kali, Respati kembali tersenyum. Ia

semakin paham, ada yang membuat mereka berdua saling

memahami. Sebab, tak ada yang kebetulan di jagad raya.

“Lalu, kenapa Kakang melafalkan rahasia jurus-jurus itu

kepadaku? Bukankah ini sama saja kakang membocorkan inti

ilmu kepada orang lain?”

“Jika saat ini kau ingin aku membeberkan semua kata dan

makna tersirat dalam jurus Hanacaraka, kau kira aku akan

berkeberatan, Hui Sing?”

Hui Sing sedikit menggerakkan kepalanya. Menatap

Respati dengan kesan heran. Ia lalu bertanya dengan nada

datar, “Kenapa begitu? Tidakkah itu sebuah tindakan

sembrono?”

“Seperti yang kau katakan, inti ilmu ini adalah kesejatian

hidup. Jika seseorang mampu menghafal semua mantra di

dalamnya dan melatih semua gerakannya, itu tak akan berarti

apa-apa. Kecuali dia benar-benar memahami makna hidup.”

“Tetapi tanpa kesempurnaan pemahaman itu pun, orang

bisa melatih jurus ini, Kakang. Bukankah Kakang juga merasa

tak sempurna memahami hakikat ilmunya? Tapi coba lihatlah.

Sekarang pun, Kakang sudah menjadi pendekar pilih tanding.

Bagaimana jika orang tak berwatak pendekar yang

memintamu melafalkan mantra itu?”

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Respati terdiam. Senyumnya masih tertahan. Ia menatap

Hui Sing dengan pandangan dalam.

“Kalaupun aku mengatakannya kepadamu, semua itu

karena aku percaya kepadamu, Hui Sing. Aku yakin kau

berwatak kesatria.”

Hui Sing merasakan wajahnya memanas. Dia pun sadar,

Respati dapat menangkap kesan itu dari kulit pipinya yang

memerah seketika. Gadis itu kemudian mengalihkan

pandangannya keluar pendopo.

“Sudah siang. Aku harus segera kembali ke wisma.”

“Begitu terburu-buru, Hui Sing. O, aku baru ingat. Ini

waktunya untuk sembahyang, bukan?”

Hui Sing mengangguk.

“Aku kagum melihat semangatmu menyembah sembahanmu,

Hui Sing.”

Kini, senyum Hui Sing mengembang. Warna merah di

pipinya telah pudar.

“Aku menikmati setiap pertemuanku dengan Thian.”

“Kau memaknainya demikian dalam?” Hui Sing berdiri.

“Manusia penuh noda. Setiap hari tak jemu membuat

kesalahan. Jika tak lagi hirau untuk mengadu kepada Sang

Pencipta, apalah jadinya?”

Respati menyusul bangkit dari duduknya.

“Kau benar. Aku sepakat dengan itu. Sebelum kembali ke

wisma, sebaiknya kita berpamitan lebih dulu dengan Empu

Prabaswara.”

Lagi-lagi, Hui Sing mengangguk lemah. Ia lalu mengikuti

langkah Respati masuk ke ruangan penampaan keris.

0oo0

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Menjelang petang, Laksamana Cheng Ho yang baru saja

kembali berkeliling dari beberapa desa di luar Kota Raja

memanggil tiga murid utamanya. Kini, Juen Sui, Sien Feng,

dan Hui Sing telah berkumpul di ruang peristirahatan gurunya

di bagian tengah wisma tamu Keraton Majapahit.

Cheng Ho berdiri sambil menatap ketiga muridnya tanpa

berkedip.

“Wang Jing Hong telah pulih. Sekarang ia memegang

tanggung jawab armada di Pelabuhan Surabaya.”

Tak ada yang menyela. Semua diam dan mendengarkan

dengan khidmat.

“Kita tak bisa terlalu lama tinggal di Majapahit. Sepekan

lagi, kita berangkat ke Pelabuhan Surabaya.”

Masih hening.

“Kalian tak ingin tahu kenapa kita harus segera

meninggalkan Majapahit?”

Ketiga murid Cheng Ho menggerakkan tubuh mereka

dengan canggung. Tetap tanpa kata-kata.

“Chen Zhuyi, bramacorah dari Chaozhou itu membuat ulah

di P’o-lin-pang (Palembang), bekas Kerajaan San-fo-chi

(Sriwijaya). Dia mengangkat diri sebagai gembong bajak laut

dan berbuat sewenang-wenang. Bahkan dia berani merompak

kapal-kapal pedagang yang melewati Kieu Kiang (Pelabuhan

Lama, nama lain Palembang).”

Cheng Ho bergerak ke jendela besar kamar yang

menghadap ke taman wisma itu.

“Liang Daoming, wakil Kaisar Ming yang melindungi ribuan

warga Tiongkok perantauan di P’o-lin-pang minta bantuan

kita untuk mengusir Chen Zhuyi.”

“Kapan kita berangkat, Guru?”

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Suara halus Hui Sing akhirnya terdengar juga. Dia tak

mendongakkan kepalanya yang tertunduk ketika menanyakan

hal itu.

“Siapkan diri kalian. Dalam beberapa hari ini, aku akan

memastikan perjanjian dengan raja Majapahit berjalan dengan

baik sehingga kita bisa meninggalkan Majapahit tanpa ragu.”

Ada yang berdesir dalam diri Hui Sing. Perasaan yang

bergejolak namun sulit terbaca. Dia juga merasakan matanya

memanas. Sore itu, Cheng Ho sama sekali tak menyinggung

perihal kitab Kutub Beku-nya yang raib. Entah karena begitu

banyak hal yang dipikirkan di benaknya atau orang

kepercayaan Kaisar Ming itu memiliki rencana lain.

“Jika tak ada pertanyaan lagi, kalian boleh keluar untuk

bersiap-siap.”

Suara Cheng Ho tak pekat emosi. Datar saja. Tapi itu

cukup membuat orang yang berhadapan dengannya tak

berkutik. Termasuk ketiga murid kesayangannya.

“Hui Sing!”

Begitu keluar dari ruang pribadi gurunya, Juen Sui, Sien

Feng, dan Hui Sing berjalan tanpa kata-kata. Mereka seperti

mayat hidup yang bergerak tanpa gairah.

Juen Sui mendekati Hui Sing dengan langkah hati-hati.

“Hui Sing, tidakkah kau punya sedikit waktu? Kami ingin

bicara.”

Hui Sing menghentikan langkahnya tanpa menoleh ke

belakang.

“Apa yang bisa aku lakukan untuk kalian?”

“Sekadar keramahan. Seperti dulu, kita duduk dan

berbicara.”

“Apakah kita pernah seperti itu? Aku hampir tak ingat.”

“Atau memang ingatanmu sudah tertutup oleh ketampanan

Sad Respati.”

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Hui Sing membalikkan tubuhnya. Matanya menajam. Sien

Feng berdiri di belakang Juen Sui tanpa suara.

“Itu saja yang hendak kalian sampaikan? Berarti aku

memang tak punya waktu untuk segala omong kosong ini.”

“Hui Sing, tunggu!”

Sien Feng mengejar langkah Hui Sing yang ter-gesa. Dulu

mereka sangat dekat. Jauh lebih dekat dibandingkan

hubungan mereka dengan Juen Sui. Mempertimbangkan itu,

Hui Sing kembali menghentikan langkahnya.

“Kami ingin engkau seperti dulu lagi, Hui Sing.”

Mata Hui Sing berkaca-kaca. Tapi tentu saja dia menahannya

agar tak terlihat dua orang yang dulu begitu dekat

dengannya, lalu demikian jauh jadinya.

“Aku tak ingin mengulang kesalahan yang sama ketika di

atas kapal. Tolong, biarkan aku sendiri.”

Selesai mengatakan itu, Hui Sing kembali melangkah

bergegas menuju ruang istirahatnya. Sementara Sien Feng

berdiri termangu, ketika Juen Sui berjalan mendekatinya.

“Dia sudah sangat berubah, Sien Feng.”

“Kakak benar. Biarkan saja dia seperti itu sampai dia

menyadari kekeliruannya menilai kita.”

Juen Sui mengangguk. Keduanya tersenyum masygul, lalu

beranjak dari tempat itu menuju kamar mereka masingmasing.

Pada saat yang sama, di Griya Bhayangkari, Sad

Respati tengah duduk dan berbicara dengan Danurdara, orang

nomor dua di jajaran bhayangkari Majapahit.

Griya Bhayangkari adalah kompleks khusus yang

menempel di sisi kanan Siti hinggih (tempat pertemuan raja

dan bawahannya) keraton. Di tempat tersebut, tinggal para

bhayangkari dan calon bhayangkari yang tengah menjalani

pendidikan. Setiap tahun, diadakan pertandingan untuk

menentukan lima belas orang yang pantas menjadi pengawal

utama raja.

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Mereka yang dikukuhkan sebagai bhayangkari inti berhak

menempati satu rumah besar di kompleks tersebut dengan

segala keistimewaan yang diberikan raja. Setiap bhayangkari

harus meletakkan raja di atas nyawanya sendiri, apa pun yang

terjadi.

Karena itu, ketika ada di antara mereka yang menikah,

biasanya bhayangkari tersebut mengundurkan diri. Jika

beruntung, justru diberi jabatan pengganti oleh raja.

“Kakang Respati, menurut Kakang, apa yang akan

dilakukan Raja Ming begitu mendengar tragedi Simongan itu?”

“Sebenarnya, aku masih tak yakin apa yang akan terjadi.

Hanya, jika melihat pribadi Laksamana Cheng Ho dan segala

yang ia lakukan di Majapahit, aku yakin Kerajaan Ming tak

akan gegabah memandang masalah ini.”

“Apakah benar laksamana itu memiliki ilmu kanuragan

yang sangat tinggi?”

“Tadinya aku masih ragu. Tapi kini aku sangat percaya.”

“Rupanya, kedekatan Kakang dengan murid Tuan Ho

penyebabnya.” Respati tersenyum.

“Barangkali demikian. Kami pernah menjajal ilmu

kanuragan dan dia berhasil memaksaku menghunus Angga

Cuwiri.”

Danurdara terhenyak meskipun tak begitu ketara.

“Begitu mumpunikah perempuan muda itu?”

“Jika melihat kemampuan Hui Sing, aku bisa membayangkan

sehebat apa kedua kakak seperguruannya itu. Apalagi

Tuan Ho sebagai gurunya.”

Hening sejenak. Danurdara tampak merenungkan sesuatu.

Pemuda itu sekitar satu atau dua tahun lebih muda dibandingkan

Respati. Sebagai orang nomor dua di pasukan

Bhayangkari, tentu saja Danurdara memiliki kecakapan yang

tinggi. Dalam ilmu bela diri pun dia tak kalah dibandingkan

Respati.

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Bahkan, dia biasa memainkan banyak senjata dibandingkan

Respati yang setia dengan Angga Cuwiri-nya. Danurdara

terkenal dengan kemampuan memanah yang tak ada duanya.

Dia juga pemain pedang yang sangat baik. Tak heran jika

banyak yang menduga, Danurdara akan menggantikan

Respati begitu Respati menikah dengan Dewi Anindita.

Dari parasnya pun, Danurdara tak kalah tampan dibandingkan

Respati. Otot-otot di tubuhnya mengeras karena latihan

berbagai senjata yang dilakukannya sejak anak-anak. Dia juga

memiliki paras yang ramah meskipun tak setegas garis wajah

Respati.

“Kakang yakin menilainya secara benar? Apakah karena

Kakang begitu dekat dengan murid Tuan Ho itu, lalu mengambil

kesimpulan yang terburu-buru?”

Mata elang Respati menajam. Mencengkeram Danurdara

yang kehilangan kesadarannya sendiri ketika mengucapkan

pertanyaan itu. Sontak Respati tertawa lantang tanpa ditahantahan.

Bahunya sampai tersentak-sentak olehnya. Bahkan,

ketika tertawa pun wibawa itu memancar. Karenanya,

Danurdara memilih menunggu.

“Danurdara, pikiranmu demikian jauh. Bulan depan aku

akan menikahi Anindita. Apakah kau pikir aku masih punya

cukup waktu untuk jatuh hati?”

“Kakang, kau salah mengerti, maksudku.”

Respati kembali tergelak, meskipun kini tawanya tak

selantang sebelumnya.

“Justru kau yang dalam bahaya, Danurdara. Ketika aku

meninggalkan Griya Bhayangkari, kaulah yang akan

menggantikan kedudukanku. Bagaimana jadinya jika

pikiranmu bercabang?”

“Kakang, aku tak mengerti maksudmu.”

Danurdara menelan ludah. Ia merasa berada di waktu dan

tempat yang salah.

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Sudahlah. Mungkin aku keterlaluan kepadamu. Agar kau

tahu, aku memang merasa sangat nyaman setiap bersamasama

Hui Sing, murid termuda Tuan Ho. Dia cerdas, akalnya

tak pernah mati, dan memiliki pemahaman hidup yang sangat

dalam. Padahal dia masih sangat muda.”

Danurdara tak mengeluarkan satu patah kata pun. Dia tak

ingin terjebak untuk kedua kalinya.

“Kau tak perlu khawatir, Danurdara. Bahkan, Anindita

berteman baik dengannya. Mereka cocok satu sama lain.

Mereka berteman dengan sangat baik.”

“Baiklah, aku kira tak perlu diperpanjang, Kakang.

Sekarang aku justru ingin tahu, apa rencana Kakang setelah

meninggalkan Griya Bhayangkari?”

“Aku belum tahu. Baginda pun belum memberikan tanda

apa pun. Aku cukup mengerti bahwa saat ini keadaan

demikian keruh. Tentu ini saat yang sulit bagi baginda prabu.”

“Aku kira jabatan rakryan rangga atau rakryan tumenggung

sudah ada di tanganmu, Kakang.”

“Kau pikir sang prabu akan menyingkirkan Abya-sa dan

Sadali?”

“Bukankah waktu satu windu sudah cukup lama bagi

keduanya untuk tetap dipertahankan? Lagi pula, kepiawaian

mereka pun semakin diragukan setelah berbagai

pemberontakan datang susul menyusul menghabiskan banyak

harta kerajaan.”

“Ngono ya ngono, ning aja ngono.”

“Maksud Kakang?”

“Sebagai pemuda, aku sama juga seperti kau, juga yang

lain. Terus ingin mendaki kejayaan. Tapi, aku berusaha untuk

selalu ingat kata-kata guru, untuk tidak berlebihan dalam

segala hal. Pandai-pandai mengendalikan diri dan tidak

memilih segala jalan untuk memenangkan diri sendiri.”

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Danurdara menatap Respati dengan sinar kagum. Inilah

yang selalu membuatnya merasa tertinggal oleh Respati.

Dalam hal ilmu kanuragan, dia berani bertanding. Begitu juga

dalam hal ketampanan, dia cukup percaya diri untuk bersaing.

Namun, sisi pemahaman hidup Respati yang begitu luas dan

dalam, membuatnya merasa bukan siapa-siapa.

0oo0

Hari Tumpak, Bulan Asadha. Purnama penuh bercahaya

sempurna.

Langit terang benderang. Penduduk bumi Majapahit

bergembira ria. Melupakan penderitaan batin usai Perang

Paregreg. Orang-orang keluar rumah dengan wajah cerah.

Sama cerahnya dengan selaksa bintang yang berkedip

menemani purnama.

Sekelompok perempuan berkemben berjumlah dua puluh

atau tiga puluh orang berjalan dalam baris yang rapi. Satu di

antara mereka ada di depan memberikan aba-aba. Dia

menyanyikan satu bait syair indah, lalu disambut kor para

perempuan yang ia pimpin dengan nyanyian pula.

Mereka kemudian berjalan serempak sambil bernyanyi.

Ketika melihat sebuah rumah besar di pinggir kota, mereka

berhenti di depannya. Dengan penuh semangat, mereka

kembali bernyanyi.

Tak berapa lama, pintu rumah megah itu terbuka. Para

penghuninya keluar dengan senyum mengembang. Mereka

menikmati nyanyian-nyanyian itu sambil menggerak-gerakkan

kepala mengikuti irama.

Selesai itu, salah seorang penghuni rumah menghampiri

pemimpin kelompok, lalu mengangsurkan uang kepingan dan

beberapa lembar kain. Nyanyian mereka semakin gembira.

Seperti api unggun ketika ditambahkan kayu bakar. Semua

senang.

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Setelah memberi hormat, rombongan perempuan itu

meninggalkan halaman rumah besar itu dan mencari rumahrumah

yang lain. Tak berapa lama, mereka sudah kembali

bernyanyi dengan harmoni di hadapan dua perempuan yang

mengenakan pakaian bagus dan kerudung penutup kepala.

Dua perempuan itu memakai kain kebaya mewah yang

tampaknya khusus didatangkan dari luar Jawa Dwipa. Kain

bawahnya pun begitu elok. Tidak polos seperti yang dikenakan

para perempuan yang bernyanyi itu. Keduanya memakai kain

dengan gambar-gambar yang elok dan lipatan yang rapi di

bagian depan.

Satu di antara perempuan itu kemudian memberikan uang

kepengan banyak sekali. Satu kantong penuh. Setengah

menjerit, pemimpin kelompok penyanyi itu gembira bukan

kepalang melihat uang kepengan begitu banyak. Ia lalu

memimpin para perempuan itu untuk membuat lingkaran

penuh, mengitari dua perempuan dermawan tadi.

Nyanyian bernada puji-pujian dilantunkan. Lengkap

dengan tarian-tarian serempak, nyaman untuk disimak.

Setelah puas meluapkan kegembiraan mereka, perempuanperempuan

tadi perlahan mundur dan kembali membuat

barisan yang rapi dan meninggalkan kedua perempuan

dermawan tadi masih dengan bernyanyi penuh gembira.

“Anindita, ternyata kau juga seorang dermawan.”

“Sekadar rasa syukur, Hui Sing. Aku jarang sekali melihat

keramaian di luar keraton. Sekali ini, aku merasa bebas dan

gembira.”

“Bukankah sepuluh orang prajurit ada di belakang kita

untuk mengawasi setiap gerak-gerikmu?”

“Ya. Tapi paling tidak, aku bisa menghirup udara di luar

keraton yang mulai terasa pengap.”

“Malam ini ramai sekali. Di setiap sudut ada kesibukan

orang-orang yang sedang bersenang-senang. Ada perayaan

apa?”

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Ini hari kelima belas bulan Ashada. Penduduk Majapahit

biasa menggelar pesta bersenang-senang di bawah bulan

purnama. Semua orang bergembira dengan ragam hiburan.”

Hui Sing menganggukkan kepala.

“Di depan sana ada pertunjukan wayang beber. Kau pasti

tertarik melihatnya, Hui Sing.”

Kedua dara itu lalu melangkah pelan menuju keramaian

lain di sudut Kota Raja. Mereka berhenti di antara kerumuman

orang yang duduk bersila. Tampaknya semua orang

berkumpul di sana. Orang tua sampai anak-anak duduk

khidmat ke arah sebuah gambar yang dipancang pada dua

tiang setinggi orang dewasa.

Gambar itu seperti bercerita. Ada manusia, burung,

binatang laut, dan gambar-gambar lain. Semua gambar itu

dilukis halus di atas selembar daun kajang. Seorang laki-laki

duduk membelakangi orang-orang, persis di depan gambar

pancang itu.

Dia membeberkan suatu kisah berdasarkan gambar yang

dipancang itu dengan suara lantang. Dia dibantu beberapa

orang yang mengganti daun kajang setiap alur ceritanya

berubah. Laki-laki itu pandai sekali berkisah. Orang-orang

yang menyimak setiap penuturannya kelihatan asyik dan

masuk ke dalam kisah yang ia paparkan.

Ketika melihat gambar lucu yang dipertegas dengan cara

bercerita yang pas dari lelaki itu, orang-orang tertawa geli.

Beberapa di antaranya bahkan tak sungkan hingga terbahakbahak.

Sebaliknya, giliran kisah sedih yang dipaparkan,

semua kepala ikut tertunduk. Bahkan beberapa perempuan

yang ikut menonton terisak karena haru.

“Di negeri kami, pertunjukan seperti ini disebut Ping Hua.”

Hui Sing tak begitu larut oleh cerita dalam pertunjukan itu.

Ia lebih tertarik melihat reaksi orang-orang yang

menyaksikannya dan mengagumi betapa halusnya lukisan

daun kajang yang menjadi pengantar kisah itu. Lagi pula,

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

bahasa pengantar pertunjukan itu tampak bercampur. Bahasa

orang Majapahit memiliki tingkatan yang sangat banyak,

sedangkan Hui Sing hanya mendalami bahasa keseharian.

“Benarkah? Jadi, memang kebiasaan masyarakat di

tempat kita memiliki banyak persamaan.” Hui Sing

mengiyakan.

“Hui Sing, aku perhatikan, sejak awal kita keluar keraton,

wajahmu tak memperlihatkan keceriaan. Adakah sesuatu yang

mengganggu hatimu?”

Suara Anindita terdengar begitu santun. Ditambah bahasa

yang memang sangat halus memancarkan kepribadian yang

berbudi dalam setiap kata yang terucap.

“Kau begitu teliti, Anindita. Benar, aku sedang memikirkan

keberangkatan kami ke P’o-lin-pang, bekas Kerajaan San-fochi.”

“Maksudmu Kang Lama, bekas kerajaan Sriwijaya di

Swarna Dwipai (Sumatra)?”

“Kau benar, Anindita. Kami harus segera berangkat ke

sana untuk mengusir bajak laut Hokkian yang membuat

kacau.”

Anindita terdiam. Kesan wajahnya sendu.

“Artinya, tak akan ada lagi pembicaraan mengenai batik?”

Hui Sing tak menjawab. Dia pun merasa nyaman berteman

dengan Anindita. Sebagaimana dia merasa cocok berbicara

tentang banyak hal bersama Sad Respati.

“Kami hanyalah duta, Anindita. Apa pun titah kaisar, kami

harus melaksanakannya dengan patuh.”

“Aku memahaminya, Hui Sing. Sudahlah, kalau memang

demikian, untuk apa kita membuang waktu dengan sendu

sedan. Lebih baik sebelum engkau berangkat, sebanyakbanyaknya

waktu kita pergunakan untuk berbincang. Toh,

bukankah esok pagi kau meninggalkan Majapahit?”

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Hui Sing tersenyum. Ia sepakat dengan cara Anindita

mengusir rasa gundah karena segera akan berpisah itu.

Keduanya pun kembali larut dalam kegembiraan pertunjukan

wayang beber. Malam belum terlalu larut ketika keduanya

memutuskan untuk kembali ke keraton.

Beda dari biasanya, Anindita mengajak Hui Sing

berkunjung ke keputren malam itu. Rupanya, dia mempunyai

sebuah rencana untuk Hui Sing. Lampu-lampu obor

kompleks keputren masih menyala terang benderang

ketika keduanya berjalan menuju bangunan pribadi tempat

tinggal Anindita.

Para prajurit yang mengawal mereka petang tadi sudah

kembali ke posnya. Kini Anindita dan Hui Sing duduk di ruang

depan bangunan pribadi Anindita.

“Aku yakin engkau akan menyukai kitab ini.” Anindita

menyodorkan lembar-lembar daun kajang yang disusun

bertumpuk.

“Kitab apa ini?”

“Bacalah!”

Hui Sing membuka lembar pertama kitab itu dengan

cermat. Dia lalu menggeser duduknya mendekati lampu obor

di pinggir meja.

Pada tahun Saka tautan dasa bulan, ada raja perwira yuda.

Putera Girinata, konon kabarnya, lahir di dunia tanpa ibu.

Semua orang tunduk, sujud menyembah kaki bagai tanda

bakti. Ranggah Rajasa nama beliau, penggempur musuh

pahlawan bijak.

Daerah luas sebelah timur Gunung Kawi terkenal subur

makmur Di situlah tempat putra sang Girinata menunaikan

darmanya. Menggirangkan budiman, menyirnakan penjahat,

meneguhkan negara. Ibu negara bernama Kutaraja,

penduduknya sangat terganggu.

Meskipun tahu arti kata dalam kalimat itu, Hui Sing belum

paham makna di dalamnya.

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Bukankah kau ingin tahu sejarah panjang Majapahit, Hui

Sing?”

“Tentu saja. Apakah kitab ini memuat sejarah Majapahit,

Anindita?”

“Namanya kitab Negara kertagama. Ini merupakan karya

sastra Jawa Kuno berbentuk kakawin karya Empu Prapanca.

Di dalamnya terungkap sejarah berdirinya Majapahit hingga

puncak kekuasaannya saat menyatukan nusantara.”

Wajah Hui Sing sontak cerah.

Sejak lama ia ingin tahu sejarah Majapahit yang selama ini

hanya ia dengar dari gurunya, Laksamana Cheng Ho.

“Sebenarnya, Negarakertagama merupakan catatan

perjalanan Raja Hayam Wuruk yang terkenal dengan sebutan

desawarnana atau cacah desa-desa. Kitab ini terdiri dari 98

pupuh (paragraf). Semua keingintahuanmu pasti terjawab

dengan membaca kitab ini.”

Mata Hui Sing berkaca-kaca.

“Lalu, apa yang harus aku berikan untukmu sebagai

kenang-kenangan, Anindita?”

Anindita tersenyum.

“Ketertarikanmu mempelajari sejarah Majapahit sudah

membuatku gembira. Tak usah berpikir macam-macam, Hui

Sing.”

Setelah mengungkapkan rasa terima kasihnya, Hui Sing

segera tenggelam dalam lembaran-lembaran

Negarakertagama di tangannya. Ia bahkan nyaris tak

memedulikan keberadaan Anindita di sana. Sesekali dia

bertanya arti beberapa kata yang tidak bisa ia pahami.

Usai itu, dia kembali asyik menikmati kebersamaannya

dengan ilmu. Purnama semakin menjauh. Angin dingin mulai

menelusup ke ruang-ruang bangunan keputren. Ketika terasa

di sunsum tulang rasa dingin yang mencekat, barulah Hui Sing

sadar, hari telah larut.

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Beberapa kali ia memastikan bahwa Anindita benar-benar

menghadiahkan kitab itu kepadanya. Setelah yakin, barulah

dia berpamitan dan kembali ke wisma tamu dengan

kegembiraan yang barangkali sulit dicerna oleh orang lain.

Begitu berartikah sebuah kitab?

0oo0

Sesosok bayangan hitam mengendap-endap di genteng

kompleks peristirahatan Rakryan Rangga Abyasa, pejabat

nomor dua setelah patih kepercayaan Raja

Wikramawardhana. Gerakan orang bercadar itu gesit. Cepat,

tanpa menimbulkan banyak suara. Para prajurit jaga tak satu

pun yang menyadari keberadaannya di atas wuwungan

(pertemuan atap).

Malam itu sunyi senyap. Ada rintik hujan. Angin mendesau

dingin. Saat yang nyaman untuk memejamkan mata di balik

selimut tebal. Saat yang nyaman juga bagi para penjahat

untuk melancarkan aksinya.

Sosok hitam itu melayang dengan gerakan sangat ringan

dari atap bangunan ke pintu masuk bangunan peristirahatan

sang rakryan rangga. Dua orang prajurit jaga belum sadar

benar apa yang terjadi ketika tubuh mereka berdebam ke

tanah dengan leher tergorok.

Tamu tak diundang itu tak lagi menemui kesulitan untuk

masuk ke dalam rumah. Langkahnya berjinjit menghapus

suara yang bisa timbul dari gesekan alas kaki dan lantai.

Sampai juga dia di pintu kamar sang rakryan rangga. Berderit

suara pintu yang tak dipalang dari dalam itu terbuka.

Di atas pembaringan, sang rakryan rangga kelihatan

tenteram dalam tidur. Matanya terpejam rapat. Di sebelahnya,

sang istri pendamping pun kelihatan menikmati betul tidurnya.

Nyenyak tanpa gelisah.

Aura pembunuh menyebar ke seluruh ruangan. Orang

bercadar itu mencabut sebilah badik dari pinggangnya. Ia lalu

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

maju beberapa langkah. Persis di samping pembaringan, dia

mengayunkan sekeras-kerasnya badik di tangan kirinya.

“Siapa kau?!”

Salah satu alasan Abyasa terpilih menjadi rakryan rangga

adalah pemahamannya tentang ilmu kenegaraan dan tentu

saja ilmu kanuragan yang memadai. Bagi seorang Abyasa

yang telah lama membasahi dirinya dengan pengalaman,

dalam tidur nyenyak pun dia waspada. Begitu merasa ada

angin serangan yang membidik jantungnya, Abyasa langsung

berguling menghindar. Toh, kecepatan badik itu sempat

menggores kulit lengannya.

Sementara itu, Tarasari, istri Abyasa yang terbangun oleh

teriakan lantang suaminya, langsung berteriak ketakutan.

Wajahnya mengerut saking takutnya. Dia berusaha bangkit

dari tidurnya sambil terus melihat ke arah penyerang bercadar

itu. Cuma sesaat. Badik yang gagal mereguk banyak darah itu

beralih arah dan memburu jantung Tarasari.

Crep!!!

Teriakan Tarasari terpotong untuk selama-lamanya. Mata

perempuan tiga puluhan itu terbelalak. Garis urat yang muncul

di bola matanya menggambarkan rasa sakit yang luar biasa.

“Bajingan kau!!!”

Abyasa tanggap menyelamatkan dirinya, namun tak cukup

sigap untuk menghindarkan istrinya dari maut. Begitu melihat

darah muncrat dari tubuh Tarasari, Abyasa meloncat,

menerkam ke arah penyerang itu.

Sebelumnya, dia sempat menghunus keris pusaka yang

diletakkan di meja samping pembaringan. Suara trang tring

pun menjadi riuh. Badik kecil dan keris pusaka bertemu dan

menimbulkan percikan api.

Abyasa tak sendirian. Dia ditemani dendam kesumat dan

amarah yang sampai ke ubun-ubun. Rasa kehilangan sang

istri membuat tenaganya berlipat-lipat. Ia terus memburu

orang bercadar itu dengan keris pusakanya.

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Si cadar hitam mulai keteteran meladeni permainan keris

lawan. Ternyata, dia tak cukup menguasai senjata yang ada di

genggaman tangannya.

Tranggg!

Sapuan tangan Abyasa berhasil membuat si penyerang

terpaksa melepaskan badiknya. Senjata kecil namun

berbahaya itu terlempar ke lantai. Abyasa tak mau membuang

kesempatan untuk menang. Dia langsung memburu dada

lawan dengan keris yang sudah berbau amis karena

mengendus darah itu.

Hegggh!

Tak seperti yang diduga sebelumnya. Orang bercadar itu

rupanya justru lebih berbahaya tanpa badik di tangannya.

Sekali hentak, tangan kanannya melepaskan tenaga dalam

yang sangat keras. Abyasa terlempar ke belakang dengan

dada yang sesak. Seperti tak ada udara yang tersisa di paruparu.

Dia juga merasakan dingin yang mencekat. Mematikan

rasa dan membekukan seluruh aliran darah, seperti dihunjam

ratusan pedang. Abyasa telentang dengan nyawa yang pelanpelan

tercabut. Sementara, keris pusaka itu masih ada di

genggaman tangan kanannya.

0oo0

Keraton Majapahit geger. Ratusan prajurit mondar-mandir

dengan wajah serius. Semua orang sibuk. Tidak ada senyum.

Justru duka yang pekat seperti langit yang hendak

mencurahkan hujan.

Berita rajapati (pembunuhan) Rakryan Rangga Abyasa dan

istrinya, Tarasari, seperti kilat menyebar ke setiap sudut

keraton. Tangis melengking anak-anak sang rakryan rangga

menjadi desah waktu hari itu.

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Prabu Wikramawadhana bahkan langsung memanggil

semua bawahannya untuk membahas masalah itu. Sementara

jasad kedua orang penting itu disemayamkan di Griya Rakryan

Rangga, sang prabu yang berwajah mendung berbicara di

hadapan para bawahannya.

Mahapatih Sadhana, Rakryan Tumenggung Sa-dali,

Kepala Bhayangkari Sad Respati, empat belas anggota

bhayangkari, dan para pejabat lain tertunduk lesu.

“Apa kalian semua sudah tak lagi memikirkan raja kalian?

Bahkan rajapati terjadi hanya beberapa tombak dari

kediamanku!”

Tak ada yang berani bersuara. Respati merasa dadanya

dibebani gunung batu yang menyesakkan. Bicara keselamatan

raja, tentu saja dirinya yang harus bertanggung jawab.

“Respati, apa kerja bhayangkari hingga seorang rakryan

rangga bisa dibantai di rumahnya sendiri?” Respati

menyembah, sebelum dia mengatur setiap kata yang hendak

dia ucapkan.

“Baginda, bhayangkari bertugas mengamankan seluruh

sudut kediaman raja. Namun, kami sama sekali tidak

melakukan penyisiran ke kediaman rakryan rangga sebab di

sana sudah ada prajurit jaga khusus.”

“Jarak antara kediaman raja dan rakryan rangga tak begitu

jauh. Apakah lima belas orang bhayangkari tak satu pun

melihat bayangan hitam yang menyebar maut itu?”

Respati tak menjawab.

“Ampun, Prabu, jika boleh saya hendak berbicara.”

“Sadali, apa yang hendak kau utarakan?”

“Prabu, saya melihat ada sesuatu di balik rajapati ini. Tak

sekadar pembunuhan biasa yang tanpa alasan di

belakangnya.”

Wikramawardhana tak bereaksi. Dia diam mendengarkan.

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Siapa yang diuntungkan dengan kematian Kakang

Abyasa?”

Semua orang di ruangan itu terhenyak. Seperti baru saja

dibangunkan dari mimpi indah. Mereka terlihat berpikir keras.

“Katakan pendapatmu, Sadali. Jangan berbelit-belit.”

“Ampun, Sang Prabu. Setahu saya, jabatan rakryan rangga

cukup menggiurkan bagi siapa saja yang tergoda untuk

memegangnya, sedangkan Sang Prabu sama sekali belum

berencana untuk menurunkan Kakang Abyasa dari jabatan

tersebut. Di sisi lain, banyak orang yang ingin menempati

jabatan itu. Bukankah di keraton Mahapahit ada beberapa

orang yang akan segera kehilangan jabatannya?”

“Siapa yang kau bicarakan, Sadali?!”

Suara Wikramawardhana yang menggelegar menyentakkan

Sadali. Sepertinya dia baru menyadari bahwa dia telah

melemparkan jebakan yang meringkusnya sendiri.

Sang Prabu membuang napasnya pelan.

“Masalah ini rumit. Jangan dulu berprasangka. Siapa pun

berkemungkinan menjadi orang di belakang rajapati ini. Aku

hanya ingin semua waspada. Respati, kau bertanggung jawab

penuh terhadap keamanan keraton. Tangkap pembunuh itu!

Aku tak mau rajapati ini berlanjut.”

Respati mengangguk sambil menyembah. Ketika melirik ke

arah Sadali, dia menangkap racun yang menebar maut

terpancar dari matanya. Pemuda itu sadar, ia harus sangat

berhati-hati.

0oo0

“Kau sudah mendengar tentang pembunuhan itu, Hui

Sing?”

“Ya, Guru. Saya mendengarnya dari Anindita tadi pagi.”

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Kuatkan hatimu. Kita harus segera menghadapi

penghianat itu.”

“Maksud Guru?”

Hari demikian terik siang itu ketika Cheng Ho memanggil

Hui Sing ke ruang pribadinya. Guru dan murid itu tengah

membicarakan kabar pembunuhan yang merenggut nyawa

orang penting Majapahit malam sebelumnya.

“Aku sempat melihat jasad Rakryan Rangga Abyasa. Luka

di dadanya jelas terkena pukulan Kutub Beku. Meskipun si

pembunuh hendak mengelabuiku dengan menancapkan badik

di dada Abyasa, aku takkan tertipu!”

Bibir Hui Sing terbuka saking terkejutnya. Bahkan, dia tak

mampu berkata apa-apa.

“Pencuri itu mulai menyebarkan racunnya. Jika orang

Majapahit tahu penyebab kematian Abyasa adalah pukulan

andalan aliran kita, kau bisa membayangkan apa yang akan

terjadi?”

Hui Sing mengangguk-angguk.

“Prabu Wikramawardha pagi tadi melakukan pertemuan

dengan bawahannya. Memang sama sekali tidak dibahas

mengenai penyebab kematian Abyasa. Sebab, mereka yakin

pejabat itu tewas karena tertusuk badik. Tapi, kita harus hatihati.”

Hui Sing masih belum bersuara.

“Orang-orang kini justru mulai menduga-duga orang dalam,

sebagai pembunuh itu. Salah satu orang yang dicurigai adalah

Sad Respati!”

“Kepala bhayangkari, Guru?”

“Ya. Bulan depan Respati akan menikahi Anindita dan

kehilangan jabatannya sebagai kepala bhayangkari,

sedangkan jabatan rakryan rangga adalah pilihan yang paling

memungkinkan baginya.”

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Hui Sing menajamkan pendengarannya.

“Jabatan rakryan tumenggung jadi mustahil karena Sadali

masih kerabat raja dan sangat dipercaya. Untuk menjadi

mahapatih, Respati masih butuh kematangan usia. Apalagi

jabatan mahapatih sekarang dipegang calon bapak

mertuanya.”

“Lalu, kenapa rakryan rangga, Guru?”

“Mereka beranggapan, Abyasa tak cukup kuat untuk

bertahan. Hanya karena dia pernah berjasa kepada raja

sehingga raja tak tega untuk menurunkannya.”

“Guru percaya hal itu?”

“Bagaimana denganmu, Hui Sing?”

“Secara pribadi, saya sedikit mengenal Respati. Saya

percaya hal ini mustahil dia lakukan. Kedua, alasan

pembunuhan itu terlalu sederhana. Respati sangat bodoh bila

benar dia yang melakukan.”

“Mengenai penilaian pribadi, tidakkah kau belajar dari

kedua kakakmu, Hui Sing? Bahkan, kita sudah saling

mengenal bertahun-tahun. Nyatanya, ada di antara mereka

yang berkhianat, meskipun aku belum yakin siapa dia.”

Hui Sing menelan ludah. Dia membenarkan kata-kata

gurunya.

“Tapi, alasan keduamu sangat masuk akal!”

Hui Sing lega.

“Bagaimanapun kita tetap harus segera pergi. Jika tidak,

pengkhianat itu akan semakin leluasa menyebar maut dan

merusak suasana. Hui Sing, katakan kepada kedua kakakmu,

kita akan berangkat ke Pelabuhan Surabaya dua hari lagi.

Sekarang, aku harus bertemu dengan sang prabu untuk

membicarakan hal itu.”

“Baik, Guru.”

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Setelah berpamitan Hui Sing pun keluar dari ruang pribadi

gurunya. Kali ini dia keluar dengan jasad yang terasa sangat

mati. Begitu bertumpuk. Segera meninggalkan Majapahit pun

sudah demikian menyesakkan dadanya. Bagaimanapun masih

banyak yang ingin ia kerjakan di negeri ini.

Kini, peristiwa pembunuhan di lingkungan keraton telah

menyeret nama Respati, teman barunya yang menyenangkan.

Hui Sing agak sempoyongan menapak jalan kerikil yang

menghubungkan ruang pribadi gurunya dengan taman tengah

wisma tamu. Tadinya dia berharap akan bertemu dengan

kedua kakak seperguruannya di sana.

Ternyata tidak. Juen Sui dan Sien Feng tak tampak di kursi

taman yang biasanya menjadi tempat mereka berbincang. Hui

Sing lalu menyeberang taman menuju ruang pribadi Juen Sui.

“Kakak Juen Sui, Hui Sing hendak bertemu!”

Tak ada jawaban dari dalam ruangan. Di sebelah kamar

itu, ruang istirahat Sien Feng, juga senyap. Tidak ada tandatanda

kesibukan di dalamnya. Hui Sing mengurungkan niatnya

untuk mengetuk pintu kamar Sien Feng. Ia lalu membalikkan

tubuhnya dan lagi-lagi menyeberang taman menuju pintu

gerbang wisma tamu.

0oo0

Malam sedang indah-indahnya. Bulan memang tak lagi

purnama. Namun, langit bersih tanpa mendung yang pekat

membuat wajah bulan demikian cantik dan bersinar. Malam

belum larut. Angin juga masih sepoi. Tak terlalu dingin. Suara

ikan-ikan yang berkecipak di permukaan air demikian syahdu.

Mereka bercanda dengan sukacita.

Danau Tirta Kusuma, begitu nama danau bening di pinggir

Kota Raja itu. Airnya jernih. Ketika hari terang, bahkan dasar

danau kelihatan jelas dilihat dari permukaan. Tenang dan

membuat adem perasaan. Di pinggir danau, bunga-bunga

bermekaran dengan warna-warna yang tak tertandingi oleh

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

akal manusia. Keindahan yang tak akan tersentuh oleh ilmu

manusia.

Di pinggir danau, sebuah bangunan kecil mirip dangau

terkesan lengang. Tiang-tiangnya dari bambu sederhana,

beratap daun kajang yang anyamannya rapi. Di sana, kini ada

dua sosok yang berdiri kaku. Tak saling menatap. Sama-sama

mencari sesuatu dengan pandangan mata yang jengah ke

seberang danau.

“Hu Sing, maaf malam-malam begini aku mengundangmu

kemari.”

Situasi kaku seperti itu membuat mereka sendiri menjadi

heran, mengapa bisa begitu.

“Aku dengar dari Anindita, besok pagi rombongan Tuan

Cheng Ho akan ke Pelabuhan Surabaya untuk berlayar ke

Kang Lama.”

Respati lalu menatap Hui Sing. Ia menangkap suasana hati

yang bingung dalam binar mata Hui Sing yang mulai berkacakaca.

Wajahnya seperti memantulkan cahaya bulan dengan

sempurna.

“Benar, Kakang. Kami hanyalah pengelana. Tak punya

kampung halaman untuk diam berlama-lama. Rumah kami

adalah angin. Ini takdir.”

Respati kembali melempar pandangannya ke seberang

danau.

“Setelah ini, aku akan kehilangan teman bicara yang

menyenangkan ketika membahas keris dan ilmu kanuragan.”

Hui Sing terdiam. Kata-katanya seperti tertahan di ujung

lidah.

“Juga teman berbagi cerita ketika duka menyer-gap.”

Hui Sing menoleh dengan wajah bersalah.

“Kakang, aku sudah mendengar omongan tidak benar

perihal pembunuhan Rakryan Rangga Abyasa.”

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Kau percaya cerita itu, Hui Sing?”

Hui Sing mengedarkan pandangannya ke sekeliling tempat

itu. Bukan menyelidik. Hanya membuang jauh rasa kakunya

malam itu.

“Kalau benar kau yang melakukannya, kau adalah

sebodoh-bodohnya manusia. Caramu kurang cerdik.

Tindakanmu gegabah.”

Respati menatap Hui Sing dengan sorot mata elang.

“Aku tak tahu kejadian sebenarnya. Aku hanya tahu bahwa

Kakang bukan orang bodoh.”

Respati melepas senyumnya. Sementara Hui Sing

merasakan debar jantungnya semakin cepat. Ia tahu benar, ini

berbahaya. Lebih berbahaya dibandingkan ancaman seratus

pedang sekalipun.

“Kakang, aku kira tak baik berlama-lama di tempat ini. Hari

semakin gelap. Aku rasa, sebaiknya aku kembali ke wisma

tamu.”

Respati kehilangan senyumnya. Mendung rata di

wajahnya. Ia menatap Hui Sing seperti bocah lima tahun yang

memohon kepada ibunya.

“Kau bahkan tak menyiapkan kata-kata perpisahan

untukku, Hui Sing?”

Hui Sing yang sudah hendak beranjak dari tempat itu

menghentikan langkahnya tanpa menoleh sempurna ke

belakang. Hanya lehernya sedikit dimiringkan hingga sedikit

wajahnya bisa terlihat dari tempat Respati berdiri.

“Kakang, bulan semakin jauh. Sinarnya tak lagi benderang.

Keceriaannya mau tak mau harus meninggalkan bumi.

Meskipun aku yakin, jika bulan bisa berbicara, pasti ia akan

berkata, betapa ia sangat menginginkan untuk menyinari

kegembiraan penduduk bumi selamanya dengan cahayanya

yang tak menyengat.”

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Respati terdiam. Bibirnya terkatup rapat. Dia seperti bukan

sang pemilik wibawa yang demikian kesohor. Dia juga bukan

kesatria yang pantang bersendu sedan.

“Hui Sing!”

Untuk kedua kali, Hui Sing menghentikan langkahnya. Ia

kini telah berada di luar saung. Sepatunya menginjak

rerumputan di pinggir danau.

“Aku juga yakin. Jika bumi bisa berbicara, dia pasti

mengatakan, betapa ingin ia selamanya dipeluk cahaya bulan

yang bijak dan keibuan.”

Suara Respati semakin serak. Bukan hanya karena suara

aslinya memang demikian. Ada beban berat pada setiap kata

yang ia ucapkan. Bahkan, tak seorang pun di jajaran

bhayangkari yang pernah melihat sang kesatria berada dalam

keadaan itu. Berdiri menyandar pada tiang saung dengan

mata yang berkaca-kaca.

Dia seperti orang linglung yang bahkan tak paham apa

yang sedang menimpa dirinya.

Hui Sing enggan membalikkan tubuhnya. Dia menyadari

bahwa dirinya pun sepenuhnya lemah.

“Kakang, maaf aku tak bisa menghadiri hari bahagiamu

bersama Anindita. Kakang sungguh beruntung mendapatkan

putri seperti Anindita.”

Setelah itu, Hui Sing tak lagi mendengarkan suara apa pun

dari bibir Respati. Entah karena pemuda itu memang tak lagi

berucap atau karena Hui Sing telah menguatkan hatinya untuk

menutup pendengarannya. Gadis itu berjalan bergegas

menuju Kota Raja. Hampir tengah malam. Hui Sing

mempercepat langkahnya. Di seputar istana raja masih

tampak keramaian.

Warung-warung makan masih dibuka. Orang-orang masih

ada yang bersantap meskipun tak banyak. Kelompokkelompok

orang juga ada yang berkerumun di beberapa sudut.

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Yang paling mencolok adalah kelompok-kelompok prajurit

yang mondar-mandir.

Tak butuh waktu lama, Hui Sing telah sampai di gerbang

wisma tamu. Ia baru saja hendak menembus gerbang wisma

setelah sebelumnya mengucap salam kepada dua prajurit

jaga, ketika pandangan matanya tertancap pada sesuatu.

Hui Sing menajamkan pandangannya ke atas gentenggenteng

wisma tamu.

“Tuan, cepat panggil teman-teman kalian. Ada seseorang

mencurigakan di atas atap wisma.”

Dua prajurit jaga wisma tamu terhenyak. Mereka segera

mencari tahu dengan menelisik wuwungan wisma yang terbuat

dari papan kayu jati kokoh.

“Anda tidak sedang bercanda, Nini?”

Tanpa menghiraukan teguran prajurit itu, Hui Sing berlari

secepatnya menuju bangunan wisma tamu tempat ia melihat

sesosok bayangan hitam bergerak ringan.

Hup!

Sekali lompat, Hui Sing telah hinggap di atas atap wisma.

Dia langsung berlari cepat di atas genteng tanpa khawatir

terpeleset. Gerakan gadis itu demikian lincah dan ringan.

Keyakinannya membuahkan hasil. Hui Sing menangkap

bayangan hitam itu lagi. Kini, bayangan misterius itu

melompati tembok yang mengepung wisma tamu.

Tubuhnya mencelat dari atap wisma keluar tembok. Hui

Sing melakukan hal yang sama. Semangatnya semakin

berkobar untuk mengetahui orang bercadar hitam yang

malam-malam mengendap-endap di genteng keraton itu.

Tak mungkin ke Wisma Rakryan Rangga.

Hui Sing berbincang dengan dirinya sendiri. Ia yakin jika

benar orang yang sedang dikejarnya adalah pembunuh

rakryan rangga, mustahil dia bergerak ke Wisma Rakryan

Rangga atau malah ke Wisma Raja.

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Setelah kejadian rajapati, pengamanan di kedua tempat itu

jadi berlapis. Jumlah prajurit jaga lebih banyak dari biasanya.

Dugaan Hui Sing benar.

Orang misterius itu berbelok ke arah keputren, bukan ke

Wisma Rakryan Rangga. Napas Hui Sing memburu.

Tapi dia merasa tenaganya jadi berlipat-lipat oleh

keingintahuannya tentang orang misterius itu. Sekuat tenaga

dia terus berlari di atas genteng itu tanpa kendor.

Sekarang!

Bunyi bersuit-suit terdengar nyaring. Setelah tinggal

beberapa tombak saja dari orang yang ia kejar, Hui Sing

langsung meluncurkan sabuk peraknya yang lihai itu.

Meskipun tak lagi memantulkan cahaya yang menyilaukan,

namun kelihaian sabuk baja itu tak berkurang.

Mendengar bunyi bersuit di belakang tubuhnya, orang

misterius itu langsung tanggap akan bahaya yang

mengancamnya. Dia segera bersalto menghindar dan terus

berusaha lari.

Mau lari? Jangan harap!

Hui Sing seperti mendapat tambahan tenaga yang

berlimpah. Meskipun tenaganya cukup banyak berkurang saat

kejar-kejaran, toh dia masih mampu melakukan serangan

maut dengan sabuknya.

Liukan-liukan sabuk yang berbahaya langsung menyerbu

sosok bercadar itu. Tapi rupanya, sosok itu memiliki ilmu

kanuragan yang tinggi. Dia tahu benar bagaimana

menghindari serangan sabuk maut Hui Sing. Hanya, dia sama

sekali tak berusaha membalas serangan gadis itu.

Dia hanya berusaha keras untuk menghindar dengan

bersalto, bergulingan di atas genteng, dan menunggu waktu

untuk kabur.

“Kenapa tak melawan? Kau takut aku mengenali

gerakanmu?!”

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Hui Sing sudah bisa membaca isi otak orang itu.

“Hayo, mana pukulan Kutub Beku yang membuatmu

mabuk dunia itu?”

Orang bercadar itu sempat terhenyak meskipun sesaat.

Reaksi inilah yang ditunggu Hui Sing. Ia sengaja mengatakan

kalimat itu dengan bahasa Chun Kuo untuk menjajagi

kebenaran dugaannya. Ketika dia melihat orang itu tersentak,

ia yakin bahwa buruannya memahami bahasa Chun Kuo.

Sekarang, sabuk perak Hui Sing terus menyerang ke arah

kepala buruannya. Rupanya, Hui Sing geregetan ingin segera

mencampakkan cadar yang dikenakan orang itu. Sementara

orang yang diserangnya kelabakan dan terus menghindar.

Hui Sing ada di atas angin karena orang yang ia serang

benar-benar tak mau melakukan serangan balik. Apa pun

alasannya, hal itu sangat menguntungkan Hui Sing. Gadis itu

semakin bersemangat mengincar lawannya dengan sabuk

sakti di tangannya.

Sabuk panjang itu terus menggulung-gulung dan

mengeluarkan bunyi lecutan beberapa kali. Beberapa kali Hui

Sing nyaris bisa menghantam lawannya dengan ujung sabuk.

Namun, orang bercadar itu mampu menghindar.

Hui Sing sangat yakin, sebentar lagi dia akan mampu

merobohkan lawannya. Bagaimanapun, menyerang adalah

pertahanan paling kokoh. Keyakinan itu semakin mengental

hingga pendengaran Hui Sing menangkap suara berdesing

yang menyerbu ke arahnya.

Serta merta Hui Sing bersalto sambil memutar sabuknya.

Trang!

Bunyi logam bertemu terdengar nyaring ketika sabuk Hui

Sing mengempaskan lempengan-lempengan besi tajam

sebesar dua jari yang nyaris menghunjam di tubuhnya.

Belum selesai. Hui Sing kembali harus berjumpalitan

sambil memutar-mutar sabuknya ketika bunyi berdesing itu

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

kembali menyerbunya. Ia sudah tak lagi memikirkan orang

yang susah payah diburunya.

Kini, Hui Sing dibuat marah besar oleh orang yang

menyerangnya dari belakang tadi. Satu lagi sosok manusia

bercadar berdiri di atap keputren, sementara orang bercadar

yang satunya lagi sudah hilang tak berbekas.

Hui Sing menatap tajam ke arah penyerangnya. Mereka

masih berdiri tegak dan saling menyelidik. Tanpa bergerak

sama sekali. Saling tatap setajam elang.

“Hyaaa …!”

Hui Sing mengambil keputusan lebih dulu. Dia menyerbu

penyerangnya dengan sepenuh hati, sedangkan penyerang

yang juga bercadar hitam itu menyambut Hui Sing dengan

gegap gempita yang sama. Di tangannya, tergenggam pedang

panjang dan langsing.

Pertarungan seru kembali berlangsung. Kali ini Hui Sing

tak bermain sendiri. Sebab, berbeda dengan orang bercadar

pertama yang enggan menyerangnya balik, si penyerang ini

sangat bersemangat melakukannya. Jurus-jurus yang ia

terapkan sungguh asing bagi Hui Sing.

Ada aura kejam. Caranya membacokan pedang seperti

setan haus darah. Tapi, Hui Sing menangkap keindahan

dalam gerak serangan lawannya. Keindahan yang dibalut

kekejaman. Hui Sing merasakan betul hal itu.

Setelah belasan jurus, baik Hui Sing maupun lawannya,

belum ada yang berhasil mendesak. Kekuatan masih

berimbang. Hui Sing pun kemudian mengubah arah

serangannya dengan membidik kedua kaki penyerangnya.

Ujung sabuknya yang sanggup menghancurkan batu

karang dalam satu hentakan itu terus-menerus memburu

kedua kaki penyerang bercadar itu. Menyadari jika bertahan

seperti itu akhirnya sangat merugikan, orang itu lalu

melentingkan tubuhnya dan menyerang Hui Sing dari udara.

“Kena kau!”

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Kejutan yang luar biasa. Rupanya, Hui Sing hanya

menjebak. Gadis itu sengaja membuka daerah serangan

udara bagi lawan, agar lawannya berpikir dia lengah. Begitu

orang bercadar itu melenting ke udara dan menghunjamkan

pedangnya lurus ke bawah, seolah siap menembus kepala Hui

Sing, gadis itu meluncurkan ujung sabuknya yang ada di balik

lengan bajunya. Hui Sing menerapkan jurus lingzho kawt

(naga kembar).

Ujung sabuk itu membuat pusaran angin yang deras

menyambut si penyerang. Kaget bukan main, si penyerang

mengurungkan niatnya melakukan bacokan dari udara. Ia lalu

bersalto ke belakang. Namun, Hui Sing sudah menduga

gerakan itu.

Dia pun menyerbu ke depan dengan dua ujung sabuk yang

kini siap melumpuhkan lawan. Menghadapi satu ujung sabuk

saja sudah begitu repot, si penyerang bercadar itu sekarang

mesti menghadapi dua tangan Hui Sing yang sama-sama

memainkan sabuk.

Seperti memiliki dua tangan yang panjang dan berbahaya,

Hui Sing segera merangsek ke depan begitu kaki orang itu

menginjak atap rumah. Ujung sabuk yang dimainkan tangan

kanan Hui Sing menyerang kaki, sedangkan ujung sabuk yang

lain memburu kepala.

Hui Sing tak lagi menemui kesulitan untuk mendesak

lawannya yang kini hanya bisa menghindar. Pedang panjang

di tangannya tak banyak membantu. Kelihatan dia serba raguragu

dengan seluruh gerakannya.

Tiba-tiba Hui Sing dipaksa terhenyak ketika orang itu

kembali menghujaninya dengan lempengan besi yang

berbahaya itu. Tak menyangka bakal diserang mendadak, Hui

Sing menjerit sambil memutar tubuhnya. Pada saat itu juga,

sabuk di tangannya bergerak cepat melindungi tubuhnya dari

serangan senjata rahasia. Gerakan ini merupakan bagian dari

jurus nuruty tsuten (putri berkemas) yang sangat tepat untuk

melindungi diri dari serangan mendadak.

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Aaah …!”

Hui Sing kaget mendengar suara erangan penyerangnya.

Rupanya, gerakan tiba-tiba yang ia lakukan dengan memutar

sabuk untuk melindungi tubuhnya, mampu mementalkan

lempengan besi itu dan berbalik ke pemiliknya. Sedikitnya, dua

lempengan besi menghunjam di bahu orang bertopeng itu.

Namun, yang membuat Hui Sing lebih terhenyak adalah

suara penyerangnya yang sepertinya ia kenal. Penasaran,

tanpa ampun, sabuk di tangan kiri Hui Sing meluncur ke arah

cadar si penyerang dan berhasil membukanya tanpa

perlawanan yang berarti.

Mata Hui Sing terbelalak. Dia menyentakkan sabuknya,

menghentikan serangan. Kakinya serasa terhunjam di atas

genteng. Hui Sing seperti tak pernah belajar berkata-kata. Dia

hanya termangu ketika orang yang baru saja berhasil ia lepas

cadarnya, bergegas meninggalkan tempat itu sambil

memegangi bahunya yang berdarah-darah.

Lama, Hui Sing seperti tersihir. Berdiri kaku tak menyadari

apa yang terjadi. Kalau saja teriakan para prajurit di bawahnya

tak terdengar lantang, pasti dia akan terus seperti itu. Hui Sing

lalu turun dari atap masih dengan tatapan mata bingung. Para

prajurit yang tadinya akan ikut membantu Hui Sing meringkus

orang misterius itu jadi tak mengerti.

“Hui Sing!”

Sad Respati tiba-tiba saja sudah ada di antara para prajurit

itu.

“Kau tidak apa-apa? Aku mendengar dari para prajurit

bahwa kau baru saja bertarung dengan dua orang bercadar.”

Hui Sing tak menjawab. Dia hanya memandang Respati

dengan tatapan bingung. Respati mengerutkan dahinya.

“Sebaiknya kau kuantar ke wisma tamu, Hui Sing. Mungkin

kau terlalu lelah.”

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Tanpa menggeleng ataupun mengiyakan, Hui Sing

menurut saja ketika Respati memberinya jalan di antara

kerumunan prajurit. Hui Sing memandangi orang-orang

dengan tatapan mata yang tak terbaca oleh siapa pun,

termasuk dirinya sendiri.

0oo0

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

DATASAWALA

5. Topeng Pengkhianat

Laksamana Cheng Ho duduk gagah di atas kuda.

Pancaran jiwa kesatria tampak sekali di garis wajahnya. Di

sebelah kanan, Hui Sing duduk di atas kuda lain dengan sikap

sempurna. Hanya, tak ada gurat keceriaan di matanya. Dingin,

seperti angin malam yang berembus sesudah hujan.

Di belakang mereka, Sien Feng dan Juen Sui juga sudah

bersiap untuk segera meninggalkan istana Majapahit. Di

hadapan mereka, Sad Respati dan sebagian bhayangkari

tampak tenang di atas kudanya masing-masing. Wibawa itu

telah kembali menaungi wajah Respati.

Sang Kepala Bhayangkari kini tampak tegar tanpa beban di

setiap garis wajahnya. Seperti halnya ketika dulu dia

menyambut rombongan Laksamana Cheng Ho datang ke

Majapahit. Senyumnya mengembang dengan lesung pipit

yang dalam.

“Laksamana, sungguh, kami sebenarnya sangat ingin Tuan

dan rombongan tinggal lebih lama di Majapahit. Maafkanlah

kami jika tak bisa menjadi tuan rumah yang baik.”

“Tuan Respati, sungguh bangga saya pernah datang ke

negeri yang begini kaya dan berpenduduk santun. Tapi, tentu

saja pertemuan selalu berurutan dengan perpisahan. Kami

berlayar kembali untuk menolong saudara-saudara kami di

Kang Lama.”

Respati mengangguk sambil tersenyum. Ia menangkupkan

kedua tangannya sambil membungkuk.

“Jika demikian, apalagi yang bisa saya katakan. Mewakili

Prabu Wikramawardhana, kami sungguh berterima kasih atas

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

kedatangan Tuan. Semoga segala rencana Kerajaan Ming

bisa berjalan lancar.”

Cheng Ho tersenyum sambil menjura diikuti oleh seluruh

anggota rombongan.

“Nona Hui Sing, saya yakin masa depan Nona begitu

cerah. Saya doakan Nona bisa meraih harapan Nona di masa

yang akan datang.”

Hui Sing mengangguk lemah tanpa menatap langsung ke

arah Respati.

Basa-basi itu tak berlangsung lama. Cheng Ho segera

menuntaskannya dengan berpamitan. Setelah sekali lagi

menjura, ia memerintahkan rombongan untuk balik kanan

menuju Pelabuhan Surabaya. Kini, semua ping-se yang turut

dalam rombongan itu menunggangi kuda pemberian Prabu

Wikramawardhana. Dengan begitu, perjalanan bisa

berlangsung lebih cepat.

Tak sampai setengah hari, rombongan Cheng Ho tiba di

Cangkir. Sama dengan perjalanan awal mereka saat datang

ke Mojokerto, kini mereka pun harus menaiki perahu-perahu

kecil untuk tiba di Surabaya.

“Bhayangkari Majapahit betul-betul lihai. Hanya lewat

semalam, pembunuh yang membuat onar keraton sudah

tertangkap.”

Bukan karena tak tertarik kalau Hui Sing tak memedulikan

ketika Juen Sui membuka obrolan dengan Sien Feng di atas

perahu. Rasa ingin tahu Hui Sing seperti sudah tercerabut

hingga ke akar-akarnya. Lagi pula, malam sebelum hari itu, dia

baru saja mengetahui satu kenyataan yang demikian

mengejutkan sekaligus membingungkan. Hingga dia sama

sekali enggan untuk bercerita.

Seperti benang kusut, sulit diurai, sulit diterka-terka. Hui

Sing memilih diam. Menatap permukaan air sungai yang

gemilang oleh cahaya siang.

“Kakak mengetahuinya? Dari mana Kakak tahu?”

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Sien Feng kelihatan begitu penasaran. Dia sengaja

berpindah tempat duduk mendekati Juen Sui untuk

mendengar langsung cerita penangkapan pembunuh itu.

Perahu yang membawa rombongan Cheng Ho berjumlah

puluhan. Sang laksamana memilih perahu paling depan, tanpa

ditemani siapa pun, kecuali tukang perahu yang sibuk

mendayung.

Rupanya, dia sedang bermeditasi dan tak ingin diganggu.

Juen Sui bersama Sien Feng dan Hui Sing duduk di perahu

kedua. Sejak naik perahu, Hui Sing kelihatan betul tak

berminat untuk terlibat perbincangan dengan kedua kakak

seperguruannya. Dia duduk merapat di pinggir perahu sambil

melepas pandangannya ke arah depan.

Kini, Juen Sui dan Sien Feng mengobrol di belakangnya.

“Setelah lolos dari Hui Sing, pembunuh itu hendak lari

keluar keraton, tapi langsung disergap oleh pasukan

bhayangkari. Aku mendengarnya dari cerita para prajurit pagi

tadi.”

“Siapa pembunuh itu, Kak?”

“Aku sendiri tak tahu. Tapi, aku yakin Raja

Wikramawardhana tak akan memberinya ampun.”

Sementara Sien Feng terus mencecar Juen Sui dengan

banyak pertanyaan, Hui Sing semakin tenggelam dalam

pemikirannya sendiri. Menghitung-hitung kemungkinan.

Penangkapan penjahat bertopeng oleh bhayangkari itu jelas

omong kosong. Tapi akalnya benar-benar buntu untuk

memecahkan teka-teki yang ia hadapi saat ini.

Akhirnya dia memilih untuk mengambil kitab

Negarakertagama pemberian Anindita dari buntalan

perbekalannya. Tapi, dia tak membukanya. Dia hanya

termangu menatap kitab tak ternilai harganya itu.

Sementara itu, perjalanan menuju Pelabuhan Surabaya

berakhir lebih cepat dari biasa. Perahu-perahu kecil yang

ditumpangi rombongan Cheng Ho segera menepi. Tanpa

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

membuang waktu, Cheng Ho memerintahkan rombongannya

untuk segera ke pelabuhan.

“Adik Wang Jing Hong!”

Air muka Cheng Ho cerah seketika. Dia bergegas ke arah

orang kepercayaannya, Wang Jing Hong, yang sempat ia

tinggalkan di Simongan.

Mereka berpelukan dengan penuh haru.

“Kau sudah pulih!”

“Berkat perawatan Kakak.”

Mereka tertawa penuh kegembiraan. Hui Sing yang

berjalan di belakang gurunya merasa lega bukan main.

Gurunya bisa kembali tertawa. Rasanya sudah lama sekali dia

tak melihat gurunya memperlihatkan deretan giginya yang

putih bagai manik-manik itu ketika tergelak.

“Hui Sing. Kau semakin cantik saja!”

“Paman Wang.”

Hui Sing menjura diikuti kedua kakak seperguruannya,

Juen Sui dan Sien Feng.

“Kenapa wajahmu seperti langit dipenuhi mendung?

Bukankah di belakangmu sudah ada dua orang gagah yang

selalu siap melayanimu?”

Hui Sing hanya tersenyum menanggapi gurauan Wang

Jing Hong.

Toh, dia tak bisa memaksakan diri untuk ceria. Meskipun

penasaran, Wang Jing Hong tak ingin memaksakan diri. Dia

mempersilakan Cheng Ho untuk naik ke perahu yang akan

membawa mereka ke kapal Pusaka.

Hari sudah menjelang gelap, tapi Cheng Ho tak mau

membuat jeda. Dia segera memerintahkan armadanya untuk

bersiap melakukan perjalanan jauh ke Kang Lama, malam itu

juga.

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Beberapa li setelah melewati Pelabuhan Gresik

Alam tak sedang cantik. Suara petir menggelegar setiap

beberapa saat. Hujan deras mengguyur badan-badan kapal

armada Laksamana Cheng Ho. Ombak keras menghantam

dinding-dinding kapal hingga bergetar.

Awak kapal sibuk mengatur pelayaran di atas geladak.

Memindahkan beberapa layar agar arah perjalanan tak lantas

kacau. Di antara para lelaki kekar itu, Hui Sing juga ikut

berlarian. Dia satu-satunya perempuan yang mondar-mandir di

geladak, sementara penumpang kapal lainnya duduk

mengkeret di kamarnya masing-masing.

Dia berteriak-teriak memberi perintah sambil tak

ketinggalan ikut menarik tali-tali layar. Seluruh pakaiannya

basah kuyup. Rambutnya yang terurai sampai ke pinggang

pun basah. Toh, dia tak peduli. Sesekali dia berlari ke ujung

geladak untuk melihat keadaan permukaan laut. Di saat yang

lain, dia sudah berlompatan di atas tangga tali yang ditali ke

atas tiang layar.

“Hui Sing, aku kira semua sudah tertangani. Kau

kembalilah ke ruanganmu. Jangan khawatir.”

Sien Feng baru saja keluar dari ruangannya. Dia cukup

kaget melihat Hui Sing ikut sibuk mengatur para awak kapal.

“Aku tak akan apa-apa. Kenapa harus khawatir?”

Hui Sing berlalu begitu saja dari hadapan Sien Feng yang

termangu. Dia lantas berjalan ke arah tangga yang

menghubungkan geladak ke ruangan di bawahnya. Tak

berapa lama, dia sudah duduk tepekur di kursi kamarnya

dengan pakaian yang kering. Kedua tangannya sibuk

mengeringkan rambutnya dengan kain.

“Hui Sing, kau ada di dalam?”

“Paman Wang, saya segera keluar.”

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Mendengar suara Wang Jing Hong, Hui Sing mempercepat

pekerjaannya. Dia lantas bergerak ke pintu kamar dan

membukakan pintu untuk Wang Jing Hong.

“Paman, tak biasanya Paman datang langsung ke ruangan

saya. Ada apa?”

“Gurumu memanggilmu ke ruangannya. Sepertinya sangat

mendesak.”

Kening Hui Sing berkerut. Ada apa? Pagi tadi, dia baru

saja bertemu dengan gurunya, ketika dia mengantar teh dan

sarapan pagi. Tidak ada pembicaraan yang sangat penting.

Tapi, kenapa kini dia memanggil dengan demikian tergesa ?

“Baik, Paman.”

Tanpa membuang waktu, Hui Sing segera menutup pintu

ruangannya dan mengikuti langkah Wang Jing Hong ke

ruangan gurunya.

Cheng Ho bersila di pembaringan. Wajahnya sangat pucat.

Keringat keluar hampir dari seluruh permukaan kulit mukanya.

Perlahan wajahnya menghitam.

“Guru!”

Hui Sing kaget melihat keadaan gurunya. Matanya

terbelalak dan bibirnya bergetar. Keningnya semakin berkerut

karena khawatir.

Wang Jing Hong mengingatkan agar Hui Sing tenang dan

duduk. Ia menyuruh agar Hui Sing menunggu sampai Cheng

Ho sadar.

Hoekh … hoekh!

“Guru!”

Wang Jing Hong tak bisa lagi menahan Hui Sing yang

menghambur ke arah Cheng Ho sambil memekik penuh waswas.

Justru Cheng Ho yang mengangkat tangan kanannya,

mencegah Hui Sing mendekat.

“Aku tak apa-apa!”

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Hui Sing terpaku di tempatnya berdiri. Menatap Cheng Ho

yang pelan mengelap darah hitam kental keluar dari mulutnya.

Ia memuntahkan banyak sekali darah berwarna hitam. Seperti

terkena racun.

“Guru terkena racun?”

“Racun yang sangat mematikan. Campuran tarantula

ratusan tahun dan kobra putih.”

Hui Sing makin tak bisa bicara.

“Bagaimana mungkin?”

“Siapa yang menyeduh teh untukku tadi pagi?”

Hui Sing tercekat. Napasnya tertahan.

“Saya sendiri, Guru.”

“Hm, lihai sekali dia.”

Hui Sing masih belum mengerti.

“Sepertinya, sekaranglah saatnya, Hui Sing.”

“Maksud Guru?”

“Aku masih butuh waktu untuk membuang semua racun

dalam tubuhku. Yang berhasil aku muntahkan baru

setengahnya saja. Paling tidak, aku butuh waktu hingga

malam nanti untuk memaksa semua racun keluar dari

tubuhku.”

Hui Sing masih berdiri diam.

“Selama itu, jagalah pintu kamar ini baik-baik. Jangan

biarkan satu orang pun masuk, termasuk Juen Sui dan Sien

Feng.”

Hui Sing menatap Wang Jing Hong.

“Tentu saja kecuali Saudara Wang!”

Cheng Ho menjawab pertanyaan di benak Hui Sing.

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Aku kira, inilah saat yang ditunggu-tunggu pengkhianat itu

untuk menyerang. Keadaanku sedang lemah. Dia pasti

memanfaatkannya. Sekarang kau boleh keluar.”

Masih dalam keadaan bingung, Hui Sing keluar dari

ruangan itu. Setelah menutup pintu kamar, dia berdiri kaku di

muka pintu kamar dengan tubuh bergetar. Bagaimana

mungkin dia begitu ceroboh, memberikan minuman beracun

kepada gurunya. Lalu, bagaimana bisa racun itu masuk ke

dalam teh yang ia bawa?

Pertanyaan-pertanyaan itu berputar-putar dalam benak Hui

Sing. Masih mengambang dan tak terjawab, sampai kemudian

dia mendengar derap langkah mendekat.

“Hui Sing, apa yang kau lakukan di sini?” Juen Sui berdiri

terheran-heran melihat Hui Sing berdiri seperti orang linglung.

Begitu juga dengan Sien Feng yang berdiri di belakangnya.

“Menjaga guru agar tak ada seorang pun masuk ke

ruangannya.”

Juen Sui tersenyum.

“Termasuk kami?”

“Ini perintah guru, aku tak berani menentang.”

“Hui Sing, tingkahmu semakin aneh saja belakangan ini.

Setelah menjaga jarak dengan kami, sekarang kau ingin

menyingkirkan kami dari guru!”

Hui Sing menatap Juen Sui dengan pandangan pedang,

tapi dia malas berdebat.

“Sudahlah, pergilah kalian! Guru benar-benar tak ingin

diganggu!”

“Hui Sing!”

Hui Sing cuma mengangkat dagu perlahan ketika suara

Juen Sui meninggi.

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Kau sudah keterlaluan! Kami tak peduli jika kau benci

kami! Tapi jangan berpikir untuk menyingkirkan kami dari sisi

guru.” Suaranya mulai merendah.

“Hui Sing, sadarlah. Kita sudah begitu lama bersamasama.”

“Tak akan sampai tengah malam, semua akan terungkap.

Guru sedang berunding dengan Paman Wang untuk meyakini,

siapa di antara kalian yang mencuri kitab Kutub Beku. Setelah

itu, baru kita bicara tentang masa lalu.”

Mata Juen Sui membelalak. Tanpa berkata-kata lagi, dia

lantas membalikkan badannya dan berjalan berderap ke arah

tangga menuju geladak, diikuti Sien Feng yang sejak tadi

memilih diam.

“Aku tak mengerti kenapa Hui Sing menjadi begitu kejam.”

Hujan masih deras mengguyur Laut Jawa, meskipun tanpa

badai. Ombak pun lebih rendah dibandingkan siang

sebelumnya. Juen Sui dan Sien Feng duduk di geladak

dipayungi atap mungil di atas tangga menuju lantai bawah.

Suasana geladak tak sesibuk sebelumnya.

“Benarkah guru sedang membahas siapa orang yang

mencuri kitab itu?”

Juen Sui menoleh ke arah Sien Feng. Adik seperguruannya

itu rupanya tak berminat menjawab keingintahuannya

tentang perubahan sikap Hui Sing. Dia justru mempersoalkan

perkataan Hui Sing beberapa saat lalu.

“Kenapa kau memikirkannya begitu dalam, Sien Feng?”

“Aku mulai percaya akan keyakinan guru dan Hui Sing.”

“Kau menuduhku, Sien Feng?”

“Semua serbagelap. Aku tak bisa berpikir lagi.”

“Kau baru saja menuduh tanpa bukti!”

“Kalau bukan Kakak yang melakukannya, kenapa harus

begini ribut?”

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Mata Juen Sui kembali terbelalak. Akhirnya, emosinya tak

terkendali sama sekali. Tanpa berkata lagi dia bangkit, lalu

berjalan menuju tengah geladak, tanpa peduli hujan. Ia berdiri

tegak sambil menatap tajam Sien Feng.

“Sien Feng, sejak lama kau memang sudah tak

mempercayaiku. Cabut pedangmu, kita bertarung sampai

mati!”

“Apakah ini tidak berlebihan, Kak?”

“Guru tak percaya lagi kepadaku. Kau dan Hui Sing pun

begitu. Jadi, apa alasanku untuk hidup? Cabut pedangmu!”

Sien Feng bangkit dari duduknya, lalu berjalan mendekati

Juen Sui.

“Kau yakin?”

Juen Sui tersenyum sinis.

“Aku tak pernah seyakin ini.”

Juen Sui memasang kuda-kuda terbaiknya. Ia

menggenggam bagian tengah tongkat besi dengan tangan

kanannya. Siap untuk menggebuk. Sreeeng!

Sien Feng pun bersiap.

“Jika itu kemauanmu. Aku tak berani menolak.”

Pedang hitam di tangan Sien Feng meluncur deras

langsung ke ulu hati Juen Sui. Angin serangan yang begitu

keras sulit sekali dibendung. Tapi karena yang ia hadapi

adalah Juen Sui, kakak seperguruannya sendiri, sudah pasti ia

tahu betul cara menyikapinya.

Trang!!!

Tongkat besi di tangan Juen Sui mengayun. Kecepatan

gerakannya membuat kabur pandangan mata lawan. Seolaholah

jumlahnya menjadi banyak.

“Tsude ne fit (jurus ungkitan seorang penjarah)!”

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Juen Sui memutar tongkatnya. Melepaskan diri dari

kepungan pedang Sien Feng dan berusaha mencari peluang

untuk melakukan sodokan keras. Sien Feng yang sudah

mengenal jurus itu sejak kecil tak terlalu disulitkan oleh

serangan itu. Sodokan Juen Sui menerpa ruang kosong, saat

tubuh Sien Feng meluncur ke bawah, hingga kedua kakinya

meregang lurus, menempel di lantai geladak.

Saat itulah, mata pedangnya kembali meluncur mengincar

jantung Juen Sui. Sebelumnya, dia melakukan gerakan

pusaran angin dengan memutar kakinya agar mudah bangkit.

“Fuke kotli ey (Panda memetik anggur)!”

Juen Sui terpaksa menggerakkan kakinya ke belakang

dengan tergesa agar lepas dari maut. Sementara tangannya

memutar tongkat andalannya, menghalau pedang maut Sien

Feng.

Sementara pertarungan seperguruan itu semakin sengit,

Cheng Ho kembali memanggil Hui Sing masuk ke ruangannya.

“Hui Sing, racun itu lebih berbahaya dari yang aku duga.

Cepat sekali menjalar ke urat darah menuju jantung. Aku

butuh waktu lebih lama dan harus menguras tenaga dalam

lebih hebat. Kau benar-benar harus membantuku untuk

menahan dua orang itu, jika mereka hendak masuk kemari.”

“Baik, Guru. Hanya saya betul-betul tidak paham,

bagaimana orang itu bisa memasukkan racun ke dalam

minuman teh yang saya seduh untuk Guru?”

“Itu yang masih aku pikirkan. Orang itu sangat lihai.

Apalagi kini dia sudah menguasai Ilmu Kutub Beku, meskipun

belum sempurna. Kau harus hati-hati!”

“Baik, Guru!”

Hui Sing membalikkan tubuhnya hendak keluar ruangan itu

untuk kembali berjaga.

“Hui Sing, tunggu!”

” Ya, Guru?”

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Siapa yang menyiapkan cangkir tempat air teh yang kau

hidangkan!”

Hui Sing tercekat. Kesan wajahnya menegang. Bibirnya

bergetar hebat.

“Dia orangnya …!”

0oo0

“Kakak Juen Sui, kenapa ragu menggunakan tapak Kutub

Beku. Apakah kau khawatir aku tak akan sanggup

menerimanya?”

“Kau!”

Emosi Juen Sui kian menggelagak. Dalam keadaan

tenang, ilmu tongkatnya nyaris sempurna. Selama ini pun dia

begitu pandai mengendalikan emosinya sehingga gurunya

percaya bahwa Juen Sui kelak bisa menguasai ilmu tongkat

dengan sempurna. Sebab, salah satu syarat untuk menguasai

ilmu tongkat aliran Thifan adalah kemampuan mengendalikan

rasa dan emosi. Tapi kali ini, Juen Sui benar-benar kalah oleh

dirinya sendiri.

“Hyaaa …!”

Tubuh Juen Sui berputar ganas. Tujuannya hanya satu,

melumatkan Sien Feng. Sementara Sien Feng yang sudah di

atas angin karena lebih bisa mengendalikan emosinya,

bersikap sangat hati-hati .

“Tumpuan anak angin!”

Sien Feng bersalto sambil memhunuskan pedangnya,

bukannya menghindar. Juen Sui yang tadinya mengira Sien

Feng akan menghindar, cukup kaget karenanya.

Namun, terlambat untuk menarik kembali tongkatnya. Dia

pun lalu membelokkan ujung tongkat itu, menyambut pedang

hitam Sien Feng.

Trang!!! Wuuut!

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Pedang hitam Sien Feng terlepas. Bagaimanapun, tenaga

dalam Juen Sui masih berada tipis di atas Sien Feng. Gelagat

tak menguntungkan itu memaksa Sien Feng membuang

tubuhnya ke kanan, berguling di atas lantai kayu.

Namun, tongkat buta Juen Sui terus memburu kepala Sien

Feng.

Wuuut!

Suara bersuit itu datang lagi. Sabuk perak penyebar maut

itu meluncur deras mementalkan tongkat Juen Sui yang nyaris

saja meremukkan kepala Sien Feng.

“Adik Hui Sing, kau datang pada saat yang tepat. Dia

hampir saja bisa mengelabui kita semua. Dialah pencuri kitab

itu!”

“Kau!”

Juen Sui tersentak. Seperti baru menyadari bahwa dia

nyaris saja berbuat bodoh.

“Jadi, kau yang malam itu bersama Anindita!”

Juen Sui dan Sien Feng menatap Hui Sing dengan

pandangan tak mengerti.

“Licik sekali!”

“Siapa yang kau maksud, Hui Sing? Siapa yang bersama

Anindita?” Juen Sui semakin penasaran dengan sikap Hui

Sing. Hui Sing menggulung perlahan sabuk peraknya.

Lalu, dia membuang pandangannya ke tengah laut.

Sementara seluruh tubuhnya mulai basah oleh air hujan. Ia

berbicara dengan suara lantang, mengalahkan suara hujan.

“Guru yakin, pembunuh rakryan rangga Majapahit adalah

orang yang sama dengan pencuri kitab Kutub Beku. Sebab, di

tubuh Rakryan Rangga Abyasa terdapat luka akibat tapak

Kutub Beku.”

Sien Feng bangkit, lalu berdiri tegak menunggu kalimat Hui

Sing selanjutnya.

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Aku mengejar seseorang yang mencurigakan pada malam

sebelum kita meninggalkan Majapahit. Sampai di atap

keputren, orang itu berhasil aku kejar. Hampir saja aku dapat

meringkusnya, sampai kemudian seorang bertopeng yang lain

datang menolong. Aku berhasil menyibak cadar yang dipakai

penolong busuk itu!”

Hui Sing tersenyum miris.

“Dia Anindita!”

“Hah?!”

Juen Sui dan Sien Feng terbelalak tampak tak percaya.

“Mustahil! Anindita tak menguasai ilmu kanuragan!”

“Kakak Sien Feng, dia tak cuma menguasai ilmu

kanuragan yang kejam, tapi juga tipu muslihat kelas satu.

Bahkan, aku sama sekali tak mengendus sifat culasnya.”

“Tapi, bukankah pembunuh Rakryan Rangga Abyasa

sudah tertangkap?”

Juen Sui memotong kalimat Hui Sing.

“Omong kosong! Itu hanya akal-akalan untuk

menghilangkan jejak!”

“Jadi, pembunuh Rakryan Rangga Abyasa sebenarnya

adalah Anindita. Sungguh tak pernah aku sangka!”

“Sien Feng!”

Suara Hui Sing melengking menabrak kalimat Sien Feng.

Ini pertama kalinya Juen Sui dan Sien Feng mendengarkan

Hui Sing berteriak begini kasar. Bahkan, melepaskan kata

“kakak” di depan nama Sien Feng.

Hui Sing menggeser tubuhnya hingga benar-benar

berhadapan dengan kedua kakak seperguruannya. Tapi kini,

tatapan matanya yang setajam pedang, yang baru saja diasah

itu, menghunjam ke mata Sien Feng.

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Setelah semua perbuatan keji ini, kau masih ingin

mengelak!”

“Adik Hui Sing, aku tak paham maksudmu?”

“Maksudku, kenapa kau melumuri cangkir teh guru dengan

racun tarantula?”

“Apa?!”

Juen Sui tersentak. Dia menatap Sien Feng dengan

pandangan tak percaya.

“Kau …!”

Itu saja yang keluar dari bibir Juen Sui. Tak ada kata-kata

setelahnya. Hanya tubuhnya yang bergetar hebat berusaha

menguasai emosi. Tiba-tiba tawa Sien Feng meledak. Sangat

keras dan sambung-menyambung. Matanya sampai berair

karenanya.

“Kau benar-benar pandai, Hui Sing. Ya, akulah yang

melakukan semuanya. Aku yang mencuri kitab Kutub Beku,

aku pula yang membunuh Rakryan Rangga Abyasa atas

permintaan Anindita, dan aku pula yang meracuni guru!”

Wuuut!

Tanpa bicara lagi, Juen Sui mengirimkan serangan

mematikan dengan tongkat besinya. Amarahnya sudah

sampai di ubun-ubun.

“Kau harus mati!”

Sien Feng tak menanggapi kata-kata Juen Sui. Dengan

santai, dia melepaskan diri dari serangan Juen Sui sambil

melangkah mundur, sedangkan kedua tangannya menyatu ke

belakang pinggang.

“Juen Sui, kau pikir siapa dirimu?”

Usai berkata seperti itu, lengan kanan Sien Feng

membabat ke depan, seperti gerakan pedang. Juen Sui kaget

bukan kepalang karena ketika lengan itu menghantam

tongkatnya, dia merasakan getaran yang luar biasa.

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Kau ingin tahu sehebat apakah tapak Kitab Beku, Juen

Sui?”

Sekali hentak, tongkat di tangan Juen Sui terpental.

Sekejap kemudian, tangan kiri Sien Feng menghambur ke

depan dengan sikap tapak sempurna. Juen Sui merasakan

dadanya sesak luar biasa. Tenaga yang terlontar dari tapak

Sien Feng menghentak seperti sebongkah batu besar.

Tubuh Juen Sui terlempar hingga ke pinggir geladak. Ia

memegangi dadanya yang terasa sangat sakit. Rasa dingin

yang menusuk-nusuk mencengkeram erat. Juen Sui muntah

darah.

“Sien Feng!”

Mata Sien Feng yang kini berubah liar, berbalik ke arah Hui

Sing. Gadis itu berdiri gagah dengan pedang hitam di tangan

kanan. Pedang itu milik Sien Feng.

“Aku akan mengadu nyawa denganmu!”

Tawa Sien Feng kembali meledak.

“Hui Sing, bukankah kau tak suka memakai pedang?”

“Aku tak suka pedang, bukan berarti tak mampu

menggunakannya. Bersiaplah!”

Hui Sing berlari kencang ke arah Sien Feng. Pedang di

tangannya langsung membabat ke arah kepala. Sien Feng

tersenyum dingin. Sama ketika melawan Juen Sui, dia pun

menghindari lawannya dengan menggerakkan kakinya ke

belakang.

“Ajalmu sudah sampai!”

Sambil berteriak, tangan kiri Hui Sing meluncurkan sabuk

perak andalannya. Rupanya, menghadapi Sien Feng yang kini

menguasai jurus Kutub Beku, memaksa Hui Sing untuk

mengerahkan semua kemampuannya. Karena selama ini, ilmu

sabuknya sudah demikian dihafal oleh Sien Feng dalam

berbagai latihan, dia berpikir untuk memberinya kejutan.

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Meskipun tak pernah serius, Hui Sing juga berlatih pedang

di bawah asuhan Cheng Ho. Walaupun bukan ilmu andalan,

kemampuan Hui Sing dalam memainkan pedang jelas tak bisa

dipandang enteng. Apalagi dia kini memainkan dua senjata

sekaligus.

Untuk bisa memainkan jurus pedang dan jurus sabuk

sekaligus dibutuhkan cara yang khusus. Saat di Tiongkok, Hui

Sing sempat mempelajari ilmu pemecah pikiran ciptaan Ciu

Pek Tong, pendekar sakti dari aliran Cuan Cing yang hidup

pada masa Dinasti Song.

Sekarang, ilmu langka itu benar-benar berguna. Dengan

cara ini, Sien Feng merasa sedang melawan dua orang

sekaligus. Satu menggunakan pedang, satunya lagi sabuk

berbahaya. Dia pun tak bisa lagi memandang remeh.

Sabuk perak Hui Sing beberapa kali melecut keras setiap

Sien Feng berusaha mengambil jarak dari Hui Sing,

sedangkan pada saat jarak tarung mereka tak begitu jauh, Hui

Sing bertumpu pada pedang untuk melawan Sien Feng.

Puluhan jurus dilepas, belum pasti siapa yang akan roboh.

Sien Feng kelihatan betul menahan pukulan mautnya.

Sebaliknya, Hui Sing semakin penasaran karena seluruh

serangannya menerpa angin. Lama-kelamaan, justru

tenaganya yang tersedot deras.

“Hyaaa …!”

Putus asa karena semua serangannya tak kunjung

menghasilkan, Hui Sing nekat mendorong pedang di

tangannya membidik tubuh Sien Feng sepenuh hati. Pada saat

bersamaan, dia menyiapkan dath-nya yang tersisa untuk adu

tenaga.

Reaksi Sien Feng luar biasa. Ia menyambut pedang yang

meluncur ke arahnya, lalu menyapukan tangan kirinya

menghadang pedang. Hasilnya, pedang sakti miliknya itu

patah menjadi dua.

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Serangan susulan Hui Sing lewat kepalan tangan

kanannya disambut oleh tapak tangan kiri Sien Feng yang

menyentak ke depan. Hui Sing terpental ke belakang dan

terguling-guling di lantai kapal. Tak menunggu lama, ia

berusaha bangkit lagi bertumpu pada tangan kanannya. Hui

Sing tak pernah begitu awut-awutan sebelum ini. Tubuhnya

basah kuyup. Rambutnya tergerai begitu saja.

Wajahnya pucat karena tenaga yang terkuras. Sien Feng

berjalan santai mendekati Hui Sing yang masih matian-matian

berusaha untuk bangkit.

“Katakan, kenapa kau lakukan ini?” Hui Sing berbicara lirih

dan patah-patah. Pandangan matanya masih tertumbuk pada

lantai kayu kapal.

“Alasanku yang mana, Hui Sing? Kenapa aku mencuri

kitab, atau kenapa aku membunuh Rakryan Rangga Abyasa?

Atau … kenapa aku meracuni Cheng Ho keparat itu?”

“Kau!”

Sien Feng terbahak dengan lantang seperti orang hilang

ingatan. Ada garis kepuasan yang sulit dipahami dalam gurat

wajahnya.

“Aku mencuri kitab Kutub Beku tentu saja karena aku

mengincar kitab itu. Aku tak mau kitab itu jatuh kepadamu atau

Juen Sui.”

Napas Hui Sing tersengal. Ujung-ujung rambutnya menjadi

jalan air hujan menetes ke lantai kapal.

“Aku membunuh Abyasa karena aku terikat perjanjian

dengan Anindita.”

Hui Sing menolehkan wajahnya sambil menyeringai.

Giginya bergemerutuk.

“Kau merusak Anindita yang demikian santun!”

Lagi-lagi, Sien Feng tergelak dengan suara yang tak kalah

keras dibandingkan sebelumnya.

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Anindita adalah perempuan lihai yang tidak ada duanya di

Majapahit. Dialah yang merencanakan pembunuhan terhadap

Abyasa agar Sad Respati bisa menduduki posisi rakryan

rangga.”

Napas Hui Sing semakin memburu menahan amarah. Dia

ingat perbincangan-perbincangan bersama Anindita yang

demikian syahdu dan penuh persahabatan.

“Dia minta aku membantunya membantai Abyasa dan

berjanji akan menjauhkanmu dari Respati.”

“Apa?!”

“Hui Sing, bertahun-tahun bersama, tidakkah kau sadar

perasaanku yang dalam terhadapmu?”

“Cih!”

Hui Sing beringsut menjauh karena tak punya cukup

tenaga untuk bangkit. Benaknya sudah dijejali gumpalan rasa

benci.

“Lalu, kenapa kau meracuni guru?”

Hui Sing berusaha mengulur waktu.

“Jadi, si bangsat itu tak pernah bercerita kepadamu, Hui

Sing? Aku anak orang kepercayaan Kaisar Zhu Yunwen yang

dikhianati oleh Zhu Di, Kaisar Ming yang kini berkuasa.

Ayahku dibunuh oleh Cheng Ho saat Zhu Di memberontak.

Sekarang kamu paham?”

Hui Sing tersenyum. Semakin lebar. Sampai gigi-giginya

yang tertata apik terlihat. Kemudian, dia tertawa.

“Semakin nyata bahwa kau sama sekali tak punya jiwa

kesatria, Sien Feng. Mati dalam pertempuran adalah sebuah

kehormatan. Mengapa kau ribu-ribut membalas dendam

kepada orang yang paling berjasa terhadap hidupmu?”

“Kau!”

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Tangan Sien Feng baru saja akan menampar wajah halus

Hui Sing, tapi urung. Dia malah tertawa kembali dengan suara

keras.

“Guru tak akan mengampunimu, pengkhianat!”

“Kau pikir, bisa apa kasim tak berguna itu setelah menelan

racunku? Sehebat apa pun ilmunya, tak akan mampu

melawan racun yang begitu ganas.”

Hui Sing melayangkan tangannya yang sudah tak

bertenaga dan langsung digenggam oleh Sien Feng.

“Tahukah kau, Hui Sing, kau semakin cantik ketika

wajahmu basah.”

“Sien Feng, terima ajalmu!”

Sien Feng membalikan badannya sambil mengangsurkan

tangannya melepas dath dingin dari jurus Kutub Beku. Saat

itu, Juen Sui yang nekat menyerang, langsung terpental lagi ke

belakang menuju laut. Pasti dia tercebur ke laut jika tidak

segera ditangkap oleh sebuah bayangan putih yang melayang

ringan.

Bayangan putih itu, Laksamana Cheng Ho. Dia langsung

membimbing Juen Sui untuk bersila di depannya dan mulai

mengalirkan dath pemulih untuk melawan luka dalam yang

dialaminya. Juen Sui beberapa kali muntah darah.

“Guru!”

Wajah Hui Sing berseri. Dia lega bukan main melihat

gurunya segar bugar kembali.

“Tidak mungkin! Tidak mungkin!”

Sien Feng berlari kencang ke arah Cheng Ho dan langsung

melancarkan serangan mautnya.

“Murid lancang, kau benar-benar tak sabaran!”

Tenaga penuh yang dilancarkan oleh tapak tangan kanan

Sien Feng disambut kepalan tangan kiri Cheng Ho. Sementara

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

tangan kanannya tetap menempel di punggung Juen Sui untuk

mengalirkan hawa murni.

Sien Feng tersentak. Dia merasakan daya tolak yang luar

biasa besar sehingga tubuhnya terpental ke belakang.

Meskipun tak mengalami luka dalam, Sien Feng marah besar

karena merasa rencananya gagal total.

“Tidak mungkin!”

Perasaan jerih mulai menjalar dalam diri Sien Feng.

Rencananya yang ia susun bertahun-tahun lamanya, bisa

buyar begitu saja jika Cheng Ho benar-benar pulih demikian

cepat.

“Mati kau!”

Sien Feng kembali mengerahkan tenaganya yang tersisa

untuk menyerang Cheng Ho sekeras-kerasnya. Pada saat

yang sama, Cheng Ho melepaskan telapak tangan kanannya

dari punggung Juen Sui dan melakukan putaran untuk bangkit

dan menyambut serangan Sien Feng.

“Aaagrh …!”

Sien Feng terpental jauh dengan mulut tak hentinya

mengeluarkan darah. Tubuhnya terbanting ke lantai kayu.

Berkelejat-kelejat sebentar, lalu diam. Wajahnya seputih salju.

Matanya merah. Urat darahnya pecah karena tercekat rasa

dingin yang luar biasa dari pukulan Kutub Beku.

“Guru!”

Juen Sui dan Hui Sing pelan mendekati gurunya yang kini

berdiri sambil tersenyum di samping jasad kaku Sien Feng.

Cheng Ho menggeledah baju Sien Feng beberapa saat dan

menemukan kitab Kutub Beku di sana.

“Kalian murid-muridku yang hebat.”

Cheng Ho menyambut datangnya Hui Sing dan Juen Sui

yang berjalan terhuyung ke arahnya.

“Guru sudah pulih?”

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Melihat gurunya segar bugar, menjadi kekuatan baru bagi

Hui Sing. Dia menguatkan dirinya untuk berjalan meskipun

merasa begitu lemas karena kehabisan tenaga. Cheng Ho

menahan senyumnya. Begitu sampai di hadapan gurunya, Hui

Sing menjatuhkan dirinya, bersimpuh di depan Ceng Ho.

“Guru, izinkan saya kembali ke Kota Raja Majapahit. Saya

harus menghentikan Anindita, Guru!”

Cheng Ho tak menjawab. Ia masih tersenyum ketika

tubuhnya limbung dan hendak jatuh terbanting. Dari mulutnya,

kembali merembes darah hitam kental. Juen Sui cepat

tanggap dan menangkap tubuh gurunya. Sementara itu, Wang

Jing Hong dan para ping-se yang baru saja keluar dari lantai

bawah, segera menolong mereka.

“Adik, lebih baik kita pulihkan dulu keadaan kita. Setelah

itu, kita bicarakan semuanya.”

Hui Sing mengiyakan kata-kata Juen Sui. Setelah sesaat

menatap jasad kaku Sien Feng, dia bangkit lalu berjalan

tertatih menuju ruangannya. Tiba-tiba rasa pedih menyeruak

dalam batin Hui Sing. Dia ingat masa lalu bersama Sien Feng

yang begitu ceria.

Mereka begitu dekat. Keceriaan Sien Feng yang tak

pernah habis. Lelucon-leluconnya yang menyegarkan. Hui

Sing berjalan sambil mengusap air matanya yang mulai deras

menetes. Sien Feng salah jalan. Meskipun Hui Sing yakin,

Sien Feng tak pernah menyesali apa yang ia perbuat.

Sebab baginya, balas dendam adalah sebuah bakti. Hui

Sing semakin dicengkeram haru. Begitu tiba di kamarnya dan

menutup pintu kamar rapat-rapat, dia menghambur ke

pembaringan dan menangis sepuasnya.

Pagi itu, wajah Hui Sing sudah segar seperti sediakala.

Dengan penuh semangat, dia berjalan di lorong dek menuju

ruangan gurunya. Sepagi itu, Cheng Ho sudah memanggil Hui

Sing. Bahkan, sarapan pun belum lagi selesai dibuat.

0oo0

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Hui Sing, berikan aku alasan yang kuat untuk

mengizinkanmu kembali ke Mojokerto.”

Setelah sedikit berbasa-basi, Cheng Ho akhirnya menanyai

Hui Sing mengenai permintaannya beberapa hari lalu.

“Anindita sangat lihai, Guru. Sejauh ini, baru saya yang

melihat langsung kejahatannya. Saya merasa berkewajiban

untuk menghentikannya.”

“Hanya itu?”

Hui Sing mengangguk. Cheng Ho tersenyum sambil

menggelengkan kepala.

“Satu lagi alasannya. Anindita akan menjadi orang penting

di Majapahit. Sebab, dia anak seorang patih dan calon istri

seorang rakryan rangga. Bukankah ini sebuah ancaman bagi

Majapahit?”

Cheng Ho kembali tersenyum dan menggeleng.

“Tidak biasanya kau menjawab tanpa berpikir panjang, Hui

Sing.”

Hui Sing merengut.

“Kau tak ingin kembali ke Mojokerto karena Respati?”

Wajah Hui Sing memerah. Pipinya juga begitu. Seperti

buah tomat merah yang hendak masak.

“Wajahmu mengatakan ‘ya’ Hui Sing!”

Cheng Ho bangkit dari pembaringan dan menuju jendela

kamar.

“Kau sudah dewasa sekarang. Aku tak bisa

mengekangmu. Hanya sebagai ayah, mana boleh aku

kehilangan rasa khawatir ketika anak gadisku hendak

meninggalkan aku.”

Hui Sing merasakan bola matanya memanas. Cheng Ho

memang sudah mencintainya seperti anak sendiri.

Mencurahkan kasih sayang dan dengan tulus menjaganya.

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Itulah yang membuat Hui Sing sebenarnya sedikit ragu ketika

memutuskan untuk pergi.

“Tapi ini sudah takdir. Barangkali kita akan terpisah selama

bertahun-tahun.”

“Bukankah dua tahun lagi, Guru akan kembali ke Majapahit

unuk mengambil ganti rugi penyerangan Prabu

Wikramawadhana?”

“Lalu, apa yang akan terjadi selama dua tahun perpisahan

itu?”

Hui Sing terdiam. Cheng Ho menatap Hui Sing sambil

tersenyum penuh kasih.

“Hui Sing, sebentar lagi kita sampai di Pelabuhan

Simongan. Jika tekadmu sudah bulat untuk pergi ke Majapahit,

kau bisa turun di sana dan melakukan perjalanan darat.”

Hui Sing mengangkat wajahnya dengan bibir bergetar.

Matanya berkaca-kaca.

“Guru mengizinkan saya pergi?”

“Dengan banyak syarat!”

Cheng Ho kembali menatap pemandangan laut dari balik

jendela.

“Pertama, belajarlah dari pengalaman Sien Feng. Bahwa

kau tidak boleh langsung percaya kepada siapa pun.”

Hui Sing mengangguk.

“Kedua, cinta Thian begitu agung, tidak ada alasan untuk

mengkhianatinya.”

“Maksud Guru?”

“Mencintai sesama manusia tentunya sangat wajar.

Namun, jangan sampai hal itu mengorbankan cinta kita

kepada Thian. Cintailah manusia sewajarnya.”

Hui Sing mendengarkan wejangan itu dengan khidmat.

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Kau memiliki pandangan hidup dan keyakinan akan Thian

yang tak ternilai oleh apa pun di dunia. Aku harap kau tak

pernah berpikir untuk menggadaikannya dengan apa pun

juga.”

“Saya berjanji, Guru. Saya tak akan pernah

melakukannya.”

“Bagus. Syarat ketiga, bawalah ini.”

Cheng Ho mengambil sebuah kitab dari lipatan bajunya.

“Kitab Kutub Beku? Guru, bukankah Kakak Juen Sui lebih

berhak menerimanya?”

“Juen Sui akan kulatih langsung. Sedangkan kau harus

mempelajarinya sendiri. Terimalah!”

Setengah tak percaya, Hui Sing menerima kitab pusaka itu.

“Dengan kecerdasan dan dasar ilmu yang sudah kau miliki,

tak akan sampai setahun kau akan menguasainya. Tapi

penyempurnaannya bergantung pada latihan dan kearifan

jiwamu.”

“Terima kasih, Guru.”

Hui Sing beberapa kali menjura.

“Sudahlah. Masih ada satu syarat lagi.”

Hui Sing kembali mengangkat wajahnya.

“Tengoklah kakakmu. Dia sudah lama tersiksa oleh

sikapmu.”

“Baik, Guru.”

Lagi-lagi Hui Sing menjura, sebelum akhirnya dia pamit

untuk menengok Juen Sui. Sepanjang jalan, Hui Sing

merasakan jantungnya berdebar keras. Kembali ke Majapahit,

petualangan baru, dan kitab Kutub Beku, alangkah

sempurnanya keberuntungan hari ini.

“Jadi, guru mengizinkanmu pergi, Hui Sing?”

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Setelah beberapa lama di kamar Juen Sui, Hui Sing mulai

menyinggung rencana keberangkatannya.

“Benar, Kakak.”

Juen Sui tersenyum. Dia masih terbaring lemah. Kalau

gurunya bisa cepat pulih, Juen Sui mengalami hal berbeda.

Dua kali gempuran Kutub Beku oleh Sien Feng menyebabkan

ia terluka dalam. Butuh waktu lama untuk menyembuhkannya.

“Memangnya, siapa yang bisa menghalangi si keras kepala

ini?”

Hui Sing tertawa kecil mendengar gurauan Juen Sui.

Meskipun dia tahu, ada nada perih dalam kata-kata itu. Sama

dengan yang ada di benaknya. Rasa sedih karena akan

berpisah. Bertahun-tahun ada dalam kebersamaan membuat

mereka merasa demikian dekat.

Mereka diam beberapa saat. Sama-sama menyelami

khayal masing-masing.

“Lalu, apa rencanamu begitu sampai di Majapahit, Hui

Sing?”

“Aku belum punya rencana, Kakak!”

Diam lagi.

“Hati-hati!”

Hui Sing menatap mata Juen Sui yang menatap

langit-langit kamar. Dia mengatakan kalimat itu seperti

orang mengigau saja. Tanpa tenaga. Hui Sing merasa

disergap rasa bersalah.

“Kakak, jika dua tahun lagi Kakak kembali ke Majapahit,

kita akan bertemu lagi.”

Juen Sui tersenyum lagi. Sangat tulus.

“Aku yakin kita akan bertemu lagi. Tapi tidak secepat itu.”

Hui Sing terdiam.

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Aku hanya ingin kau berhati-hati, Hui Sing.”

“Aku akan selalu mengingat itu, Kakak.”

“Baik. Kalau begitu, pergilah. Aku akan selalu

mendoakanmu.”

Hui Sing mengangguk. Dia tersenyum sambil menahan

kelopak matanya agar tak mengeluarkan tangis. Setelah

berpamitan, dia bangkit lalu bergerak ke arah pintu.

“Sebelum turun ke Simongan, aku pasti menjengukmu

untuk berpamitan, Kakak.”

Juen Sui mengangguk lemah. Begitu Hui Sing menghilang

di balik pintu. Juen Sui kembali menatap langit-langit

kamarnya. Dari dua sudut matanya, keluar air mata yang

sepertinya tak akan segera berhenti.

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

6. Asmara Seruling

Saatnya tiba

Pelabuhan Simongan di depan mata. Hui Sing turun dari

kapal Pusaka, menaiki perahu kecil untuk mencapai pantai.

Sebelumnya, sedu sedan yang nyaris membuatnya

mengurungkan niat untuk pergi ke Majapahit terjadi. Hanya

karena tekad yang sudah bulat, Hui Sing mengeraskan hatinya

untuk tetap berangkat.

Ia mencoba memikirkan hal-hal yang membuatnya gembira

agar hatinya tak terasa berat. Pertemuan dengan Ramya

menjadi salah satu pemicu semangat. Bukankah dulu, dia juga

merasa begitu berat untuk berpisah dengan Ramya?

Sekarang, dia akan segera menemuinya. Dan, pastilah akan

sangat menyenangkan. Dengan penuh semangat, Hui Sing

mengayuh dayung agar perahunya cepat sampai ke pantai.

Dia mulai melihat kapal-kapal nelayan yang berjejer di pinggir

pantai siap melaut malam nanti.

“Nini Hui Sing!”

Wajah Hui Sing sumringah mendengar namanya dipanggil.

Rupanya, orang-orang Simongan masih mengingatnya

dengan baik.

“Apa kabar?”

Hui Sing setengah berteriak agar suaranya tak tenggelam

oleh suara ombak. Dibantu oleh para nelayan, Hui Sing

merapatkan perahu kecilnya.

“Kalian tahu kabar Ramya?”

Penuh harap, Hui Sing langsung bertanya tentang

keberadaan putri Ki Legowo itu.

“Nini Ramya beberapa hari lalu meninggalkan Simongan,

Nini.”

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Salah seorang nelayan mewakili teman-temannya

menjawab pertanyaan Hui Sing. Dahi Hui Sing berkerut tak

mengerti.

“Pergi ke mana?”

Para pemuda nelayan itu diam sejenak dan saling

pandang.

“Setahu kami, Ni Ramya berangkat ke Kota Raja.”

Mata Hui Sing membelalak.

“Ke Majapahit? Untuk apa?”

“Jelasnya kami tidak tahu, Nini. Mungkin, Ki Carik lebih

tahu tentang hal ini. Nini bisa menemuinya. Kami akan antar!”

Hui Sing mengangguk tergesa karena ingin segera tahu

apa yang terjadi. Ditemani beberapa orang nelayan, Hui Sing

pun bergegas menuju perkampungan Simongan. Tak beda

dengan dulu, perkampungan nelayan itu masih demikian

damai dan tertata. Namun, ada luka tragedi Simongan yang

masih membekas. Bukan pada bangunan-bangunan roboh,

atau darah yang berceceran. Namun, pada garis-garis wajah

warga yang menyimpan kenangan pahit itu.

Hui Sing diantar oleh para nelayan ke rumah orang tua

yang kini memimpin warga Simongan, menggantikan Ki

Legowo.

“Benar, Nini. Ramya berangkat ke Kota Raja Majapahit

beberapa hari lalu. Kami tak bisa lagi mencegah tekadnya

untuk menuntut keadilan kepada Prabu Wikramawardhana.”

Hui Sing menyimak kata-kata lelaki setengah baya di

hadapannya dengan saksama.

“Bukankah masalah ini sudah diselesaikan, Ki Carik?”

“Kami tidak pernah diberitahu, Nini!”

“Memang, hukuman bagi Turonggo Petak sama sekali

tidak jelas.”

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Itulah yang membuat Ni Ramya berang, Nini. Dia merasa

disepelekan dan tidak dianggap.”

“Ki Carik, berapa jarak Simongan ke Kota Raja?”

“Dengan berkuda, tak sampai satu bulan pasti sampai.”

“Di mana saya bisa membeli seekor kuda yang sehat?

Saya akan menyusul Ramya.”

Ki Carik mengangguk-angguk. Lalu, dia memerintahkan

seorang pemuda untuk meluluskan permintaan Hui Sing.

0oo0

Sehari perjalanan dengan kuda ke arah timur Demak,

terdapat daerah ramai bernama Medang-kamulan. Meskipun

cukup jauh dari Kota Raja Majapahit, daerah ini menjadi

kawasan perdagangan yang cukup maju. Seorang rakryan

bernama Kesusra memimpin daerah ini dengan tangan besi.

Kesusra memiliki kekayaan melimpah dan pengawal yang

sangat banyak. Mereka adalah jago-jago kanuragan yang

dibayar khusus untuk melindungi segala kepentingan sang

rakryan. Konon, Kesusra adalah orang dekat Rakryan

Tumenggung Majapahit, Sadali. Tak heran, meskipun daerah

kekuasaannya hanya melingkupi Medangkamulan, namun

pengaruh Kesusra meluas sampai ke mana-mana.

“Apa benar daerah ini bernama Medangkamulan,

Kisanak?”

Seorang perempuan muda dengan pakaian prajurit

berhenti menuntun kudanya di depan sebuah rumah makan

yang ramai pengunjung. Sambil menggenggam tali kekang

kuda, dia menghampiri seorang lelaki setengah baya yang

habis bersantap di rumah makan itu.

“Nini benar. Ini Medangkamulan. Ke mana tujuan Nini?”

“Saya hendak ke Kota Raja.”

Lelaki itu tersenyum.

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Seorang diri Nini menempuh perjalanan yang begitu jauh.

Kota Raja masih sangat jauh dari Medangkamulan, Nini.

Dengan memacu kuda sekali pun, Nini butuh berhari-hari

untuk sampai ke Sumbergurit. Dari sana, Nini harus terus ke

timur sampai Ketemas. Baru setelah itu, Nini harus menempuh

perjalanan sehari semalam untuk sampai ke Kota Raja.”

Perempuan muda itu tersenyum sambil menganggukkan

kepala.

“Terima kasih, Kisanak. Apa yang kisanak katakan sangat

membantu.”

Setelah berpamitan, laki-laki itu berlalu. Perempuan muda

tadi lantas mengikat tali kekang kudanya di depan rumah

makan. Kemudian, dia masuk ke rumah makan itu untuk

mengisi perut. Perempuan muda itu tampak trengginas.

Rambut panjangnya diikat ringkas menyerupai ekor kuda.

Baju yang dikenakannya juga tak merepotkan. Tubuhnya

terlihat singset dengan ukuran baju yang pas betul dengan

bentuk tubuhnya yang semampai. Dia memakai celana

panjang hitam yang ditutupi kain sebatas lutut. Di pinggangnya

terselip sebilah keris.

“Nini mau makan apa? Kami punya banyak pilihan

makanan istimewa untuk Nini.”

Seorang pelayan rumah makan menghampiri perempuan

muda itu dengan senyum ramah. Dia seorang gadis remaja

berkemben yang bergerak luwes. Rambutnya dikonde ringkas

dan rapi.

“Ada nasi pecel?”

“Tentu saja, Nini. Pecel buatan kami sangat istimewa. Nini

pasti ketagihan.”

Pelayan itu langsung membalikkan badannya menuju

dapur untuk menyiapkan pesanan sang tamu. Perempuan

muda tadi mengedarkan pandangannya ke pelosok rumah

makan. Ramai betul. Hampir setiap meja terisi.

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Ini cuma satu di antara banyak rumah makan yang

tersebar di Medangkamulan. Sepanjang perjalanan tadi,

perempuan muda itu juga menyaksikan keramaian di setiap

rumah makan. Hatinya berteriak girang. Ini pertama kalinya dia

pergi sendirian dan menyaksikan keramaian.

Para pedagang menawarkan barang-barangnya penuh

semangat untuk merebut minat pembeli. Berbagai bentuk

hiburan juga terlihat ramai dikerumuni orang. Sungguh

pengalaman yang menyenangkan. Perempuan muda itu

tersenyum sendiri.

“Ini pesanan Nini.”

Setengah kaget, perempuan muda itu mengiyakan katakata

pelayan rumah makan tadi. Sesaat kemudian, dia sudah

sibuk menyantap menu makan perdananya hari itu. Ia

kelihatan begitu lahap. Hari sudah sore dan dia baru sekali itu

mengisi perut.

Sayur-mayur dengan sambal kacang yang mantap,

langsung memancing rasa laparnya. Tak lama kemudian,

piring dari tanah liat itu sudah bersih sama sekali. Sambil

tersenyum, perempuan muda itu membersihkan tangannya

dengan air di mangkuk tanah liat yang sudah disiapkan

pelayan tadi.

Dia lalu merogoh kantung perbekalannya. Beberapa uang

kepengan dia ambil. Setelah memanggil pelayan tadi, dia lalu

membayar makanannya.

‘”Di sini ada penginapan murah, Nini?”

Pelayan itu menerima uang kepengan tadi dengan senyum

yang mengembang.

“Tentu saja, Nini. Banyak rumah penginapan di

Medangkamulan. Dari yang paling mewah sampai yang biasa

saja, semua tersedia.”

“Berapa harga sewa kamar paling murah?”

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Pelayan tadi lagi-lagi tersenyum. Setiap tersenyum, bola

matanya seperti tenggelam dan hanya menyisakan garis mata

yang melengkung.

“Di ujung jalan ini ada penginapan murah, Nini. Hanya

perlu beberapa kepeng uang untuk menyewa kamarnya.”

Perempuan muda itu mengangguk-angguk.

“Sebentar.”

Dia mencegah pelayan rumah makan yang baru saja

hendak membalikkan badannya untuk kembali bekerja.

“Apakah di daerah pinggir Medangkamulan, ada candi

yang kosong?”

Pelayan tadi bengong sejenak. Tapi, ia lalu tersenyum.

Matanya kembali menghilang oleh lipatan kulit pipinya.

“Ada. Tentu saja ada. Di pinggir utara Medangkamulan,

ada sebuah candi kosong tempat para pengelana yang tak

punya uang untuk menyewa kamar. Pergilah ke sana.”

Tanpa beban, pelayan itu berkata dengan kasarnya. Ia

langsung membalikkan badannya dan kembali pada

pekerjaannya. Ia meninggalkan perempuan muda tadi berdiri

dengan muka merah padam menahan malu.

Tanpa berkata apa-apa lagi, perempuan muda tadi keluar

dari rumah makan. Tak berapa lama, dia sudah terlihat

berjalan perlahan sambil menuntun kudanya keluar dari pusat

kota Medangkamulan.

0oo0

Pelataran candi kecil tanpa nama itu lengang. Udara

malam yang mencekat, membuat batu-batu candi seolah-olah

mengerut kedinginan. Seorang perempuan duduk dengan

badan menggigil di depan api unggun yang menyala tak begitu

besar.

“Mudah-mudahan tak hujan.”

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Ia berbisik dengan bibir bergetar. Langit memang tak

begitu cerah. Meskipun gerimis belum turun, tak satu pun

bintang terlihat di langit kelam. Angin mendesau membawa

dingin yang semakin menggigit.

Perempuan itu kembali mengusap perutnya yang terasa

panas. Lapar. Seharian, dia baru sekali mengisi perutnya.

Sekarang, perutnya mulai memberontak dan beberapa kali

mengeluarkan suara tanda minta diisi.

Tangan perempuan muda itu bergerak gelisah merogoh

kantung uang yang tergantung di pinggangnya. Tinggal

beberapa kepeng lagi. Sayang jika dibuang untuk sekadar

makan. Perjalanan ke Kota Raja Majapahit masih jauh.

Sesaat, perempuan itu menghentikan pembicarannya

dengan diri sendiri. Ada suara berirama yang menelusup ke

telinganya. Suara seruling yang ditiup sungguh-sungguh oleh

pemiliknya.

Iramanya sungguh indah. Seperti berbicara tentang

keindahan yang tak pernah habis. Tanpa sadar, perempuan

muda itu memejamkan mata, menikmati alunan seruling itu.

Sontak matanya terbuka. Tangan kanannya lalu

menggenggam erat hulu keris di pinggang kirinya. Dia lalu

bangkit dan berlari cepat memburu suara seruling itu.

Melupakan dingin yang mencekat, kaki perempuan muda itu

bergerak cepat menuju hutan di seberang candi.

Tubuhnya melenting ringan ke sebuah dahan pohon besar.

Dia bersiap seperti kucing hutan yang menyongsong mangsa.

Matanya memicing melihat api unggun lumayan besar tak jauh

dari pohon tempatnya bersiap.

Sesosok laki-laki duduk santai di depan api unggun itu. Dia

memainkan seruling dengan sepenuh hati. Sementara

seonggok daging beraroma harum mulai tampak matang dan

menggiurkan.

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Tiba-tiba permainan seruling terhenti. Lelaki di depan api

unggun itu lalu membolak-balik daging siap santap di

depannya, agar matangnya rata.

“Ilalang menusuk bulan. Pada desau angin yang

memenjara, seorang pandir sempoyongan di ujung malam. “

Dahi perempuan itu berkerut.

“Di kepalanya ada seonggok mimpi yang membusuk.

Terpanah asmara yang lukanya tak kunjung mengering.”

Perempuan itu masih diam di tempatnya. Dia tertegun.

“O, di mana gerangan penyembuh luka? Pembawa

semangkuk nurani yang suci. Aku begitu rindu untuk

tersenyum.”

Sosok di atas pohon itu tak bergerak sama sekali. Tak tahu

harus berbuat apa. Sementara lelaki penyair yang sedang

memanggang ayam hutan itu terus sibuk dengan

pekerjaannya.

“Daging ayam hutan ini terlalu besar untuk saya sendiri.

Alangkah senangnya jika Nini berkenan bergabung untuk

menyantapnya.”

Raut muka perempuan itu memucat, tampak terkesiap.

Rupanya, lelaki peniup seruling itu tahu dia ada di sana sejak

tadi. Setengah sungkan, dia pun melompat dari dahan pohon

itu, lalu mendekat ke api unggun.

“Maaf, saya kira tadi Kisanak orang jahat!”

Lelaki itu membalikkan tubuhnya. Ternyata dia seorang

lelaki muda. Usianya belumlah lewat 25 tahun. Parasnya

bersih. Tidak ada garis kekerasan pada wajahnya. Justru ada

kesan Jenaka yang tebal. Matanya jernih, seperti mata anakanak.

Bibirnya tipis, seperti bibir perempuan. Namun, ada

kesan gagah di balik wajahnya yang menyimpan rahasia itu.

Ada kasih sayang yang tulus. Juga keinginan untuk melindungi

dan menghargai.

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Perkenalkan, saya Candra Windriya, pengelana tanpa

kampung halaman dan kampung tujuan.”

Pemuda itu tersenyum. Bahkan, senyumnya pun seperti

senyum anak-anak. Menggemaskan.

Tapi, di kedua matanya yang jernih, terlihat jelas aura

kedewasaan.

“Saya Ramya.”

Perempuan muda itu akhirnya tersenyum juga.

“Ni Ramya, udara yang begini dingin biasanya cepat

mengundang lapar. Saya akan gembira jika Nini mau

bersantap dengan saya.”

Dengan malu-malu, Ramya akhirnya menerima ajakan itu,

setelah sebelumnya sempat berbasa-basi. Keduanya pun

segera akrab dalam perbincangan antara dua pengelana.

Setelah daging ayam hutan itu ludes, Windriya kembali

memainkan serulingnya dengan khidmat.

Ramya menikmati alunan seruling itu sepenuh hati. Tak

sengaja beberapa kali ia menatap wajah Windriya yang hanya

tampak separuh karena Ramya duduk di samping kanannya.

Tapi itu saja sudah cukup. Lelaki muda itu tampak tak mainmain

saat memainkan tembang dengan serulingnya.

Seolah-olah seluruh dirinya hanyut dalam permainan

seruling yang melenakan. Wajahnya yang merah tertimpa

cahaya api unggun tampak syahdu. Ramya memperhatikan

dengan saksama saat jemari pemuda itu lincah berpindahpindah

dari satu lubang ke lubang lain pada seruling dari

bambu panjang itu.

“Kakang seorang penyair?”

Ramya menyela alunan seruling yang belum juga berhenti

itu.

“Bukan. Saya hanya menikmati kata-kata. Menularkan

perasaan pada kejujuran syair.”

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Kata-kata yang Kakang ciptakan sungguh indah.”

Windriya tersenyum. Wajahnya memantulkan cahaya

bulan sabit yang berbaur dengan pancaran api unggun.

“Hanya gumaman.”

“Kalau saya tidak salah, syair itu bercerita tentang orang

yang sedang patah hati?”

Windriya tak menjawab. Hanya tersenyum.

“Apa kata kupu-kupu ketika dia bertemu sekuntum

kembang? Ia terbang rendah, lalu berputar seraya merekareka.

Memuji eloknya, lalu hinggap padanya.”

Ramya terdiam. Dia tersenyum pula, lalu beralih pandang

ke lidah-lidah api yang memerah. Di luar kesan romantis,

Windriya ternyata suka sekali berseloroh. Sesuai sekali

dengan wajahnya yang menggemaskan. Dia punya cara

sendiri menyenangkan lawan bicaranya.

Beberapa kali Ramya harus menutup mulutnya karena

menahan tawa. Windriya punya 1001 simpanan cerita-cerita

lucu yang entah ia pungut dari mana. Ramya seperti melihat

dua orang dalam diri Windriya. Seorang yang romantis dan

berhati lembut, dan satunya lagi begitu suka bercanda dan tak

punya beban.

Setelah puas mendengarkan cerita-cerita konyol Windriya,

Ramya mencari-cari kayu kering atau apa saja di sekitarnya

yang bisa dibakar, untuk menahan nyala api lebih lama.

Sementara, Windriya kembali meraih serulingnya. Lalu

dengan mata yang berbinar, ia kembali hanyut dalam alunan

seruling. Setiap nada yang keluar seperti mewakili selaksa

kata. Lebih berarti mesti penuh misteri.

“Sudah larut, saya harus kembali ke candi.”

Permainan seruling Windriya terhenti.

“Maaf, setiap bermain seruling, saya lupa segala-galanya.”

Ramya tersenyum, lalu bangkit.

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Sebenarnya, saya pun sangat senang dengan permainan

seruling Kakang. Hanya karena malam sudah larut dan besok

pagi harus melanjutkan perjalanan, saya tak bisa berlamalama

di sini.”

Windriya tersenyum lagi.

“Ah, sampai tak sempat bertanya. Ke mana tujuan Nini

sebenarnya?”

“Saya hendak ke Majapahit.”

“Jauh sekali?”

Ramya tak menjawab. Dia hanya mengangguk sambil lagilagi

tersenyum.

“Nini hendaklah berhati-hati. Keadaan negeri sedang tidak

aman. Para pejabat semakin gila. Mereka menyewa para ahli

kanuragan untuk kepentingan mereka.”

“Saya baru tahu tentang hal itu.”

“Nini, yang penting Nini jangan sampai berurusan dengan

prajurit Majapahit. Akibatnya bisa berbahaya. Terutama di

Medangkamulan, para prajuritnya bertindak semena-mena.

Rakryan Kesusra yang menguasai Medangkamulan adalah

pemimpin yang lalim. Hati-hatilah!”

Ramya mengangguk sambil berterima kasih dan hendak

membalikkan tubuhnya untuk berlalu.

“Nini, hendaknya Nini ingat betul pesan saya. Kesusra

tengah menghimpun kekuatan sekarang ini. Banyak ahli

kanuragan yang berkumpul di kediamannya yang megah.

Kebanyakan tokoh golongan hitam. Bahkan saya dengar, Dua

Iblis Laut Kidul telah bergabung dengannya.”

“Iblis Laut Kidul?”

“Nini belum pernah mendengarnya?”

“Saya baru kali ini mengembara. Saya belum pernah

mendengar nama mereka.”

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Kesan wajah Windriya begitu bersungguh-sungguh.

“Keduanya adalah tokoh golongan hitam yang kejam dari

Selatan. Ilmu mereka sangat tinggi dan beracun. Lebih baik,

Nini sesegera mungkin meninggalkan Medangkamulan agar

terhindar dari bahaya!”

“Terima kasih sekali, Kakang. Saya akan ingat kata-kata

Kakang.”

Setelah beberapa kali mengucapkan terima kasih, Ramya

benar-benar meninggalkan tempat itu. Dia lalu berjalan cepat

menuju pelataran candi. Seperti ia duga sebelumnya, api

unggun yang tadi ia nyalakan sudah padam.

Tinggal kayu-kayu gosong yang hampir habis teronggok

hangat. Ramya kembali berusaha menghidupkan nyala api

dengan menggosok-gosokkan dua batu hitam di dekat kayukayu

itu.

Dia tersenyum puas begitu pekerjaannya membuahkan

hasil. Setelah api kembali menyala, Ramya segera bersiap

untuk tidur. Kali ini tak terlalu sulit. Meskipun rasa dingin tetap

menggigit, perasaannya nyaman karena perutnya kini penuh

terisi menjadi pengantar tidur yang jitu. Ramya cepat terlelap

malam itu. Sayup-sayup masih sempat menelusup irama

seruling yang mendayu dan melenakan.

Ramya memacu kudanya ke perbatasan. Sebentar lagi dia

sampai di gerbang Medangkamulan. Tadinya, Ramya berpikir

tak akan terjadi apa-apa. Namun, begitu melihat pintu gerbang

yang dijaga ketat oleh para prajurit, perasaan tidak enak

menyebar di hati Ramya.

Persoalan paling besar adalah menekan rasa bencinya

terhadap prajurit Majapahit. Tragedi Simongan yang

merenggut nyawa Ki Legowo membuatnya begitu benci

terhadap prajurit Majapahit. Ramya cukup khawatir akan

kehilangan kendali dirinya dan bertindak gegabah.

“Berhenti!”

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Ramya menghentikan kudanya. Sesuai permintaan prajurit

berwajah garang itu, Ramya turun perlahan dari kuda tanpa

bicara sepatah kata pun.

“Mau ke mana?!”

Jumlah prajurit di gerbang perbatasan itu tak kurang

sepuluh orang. Mereka masing-masing melengkapi diri

dengan berbagai senjata tajam mulai dari pedang, tombak,

dan golok. Mereka juga membawa tameng di tangan kiri.

“Kota Raja.”

Ramya menekan perasaannya yang bergejolak. Dia hanya

menjawab seperlunya sambil berusaha untuk tak

memperlihatkan perasaan benci dan muaknya.

“Apa tujuan Nini ke Kota Raja?”

“Apa ini menjadi urusan kalian?”

“Kurang ajar! Kami tanya, Nini! Jawab saja seperlunya!”

Ramya mengangkat dagunya. Sungguh, sesaat lagi

amarahnya meledak tanpa ampun. Tangan kanannya mulai

meraba hulu keris yang terselip di pinggang.

“Aku hanya ingin lewat. Kenapa urusannya begini repot?”

“Geledah perempuan ini!”

Beberapa orang prajurit segera menghampiri Ramya

dengan sikap yang tak simpati. Sesudah sekali mendengus,

akhirnya Ramya mencabut kerisnya dan langsung

menghambur ke arah para prajurit itu.

Sebagai prajurit terlatih, penjaga perbatasan itu cepat

sigap menentang serangan Ramya. Mereka mundur beberapa

langkah dan membentuk lingkaran mengepung dara itu.

Ramya berdiri tegak sambil tersenyum dingin.

“Kalian kira akan mampu menghentikanku. Jangan harap!”

Sekali sentak, tubuh Ramya bergerak kilat menyerang

segala penjuru. Jerit menyayat terdengar. Seorang prajurit

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

jatuh berdebam dengan darah mengucur. Ramya terus

bergerak ke kanan dengan ujung keris berdarah. Tubuhnya

berputar lincah, sedangkan kakinya menendang penuh

tenaga.

Satu lagi prajurit sempoyongan ketika tameng di tangan

kirinya pecah berantakan terkena tendangan kaki Ramya.

Pada saat bersamaan, satu orang prajurit meregang nyawa

ketika lambungnya memuncratkan darah tertembus keris

pusaka di tangan Ramya.

Para prajurit yang tersisa menyerang bersamaan dari

segala penjuru. Ramya bertindak cepat dengan melentingkan

tubuhnya ke atas, lalu mendarat beberapa langkah di

belakang mereka.

Rupanya, Ramya benar-benar berniat mengadu nyawa.

Tak terbersit dalam benaknya untuk melarikan diri. Jumlah

para prajurit yang jauh lebih banyak, tak membuatnya keder.

“Hyaaa …!”

Teriakan Ramya disusul jeritan para prajurit yang

kehilangan nyawanya. Satu per satu mereka roboh dengan

tubuh bersimbah darah. Pesta kematian yang dirayakan

Ramya terus berlangsung hingga dua buah bayangan

bergerak kilat ke tengah pertempuran dan menghalau keris

Ramya dengan sapuan tongkat.

Tranngggg!

Ramya merasakan tangannya bergetar hebat. Dia segera

menarik diri ke belakang. Sekarang, di hadapannya berdiri dua

orang lelaki berumur empat puluhan dengan tampang yang

menjemukan. Keduanya mengenakan pakaian serbahitam dan

dekil.

Satu orang di antaranya memegang tongkat berlekuk

seperti ular. Ujung tongkat kayu hitam itu memang berbentuk

seekor ular sendok, sedangkan seorang lagi juga mengenakan

pakaian serbahitam. Wajahnya kasar dengan mata menyorot

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

seram. Dia mengenakan pedang besar terhunus yang bagian

belakangnya disenderkan di bahu.

“Gadis cilik! Kau cari mati mengacau di Medangkamulan!”

Ramya tak menjawab. Dia malah sibuk berhitung

kemungkinan. Dia mereka-reka kekuatan musuh di depannya.

‘”Jadi, kalian dua iblis dari selatan itu?”

Kedua orang itu berpandangan, lalu sama-sama tertawa

keras sehingga deretan gigi berwana hitam tampak

menjijikkan.

“Ternyata kau tahu kami. Lalu, kenapa kau masih jual

lagak? Cepat sarungkan keris bututmu itu dan sembah kaki

kami!”

Ramya tak cepat menjawab. Dia memandang ke arah

kedua orang itu dengan tatapan selidik. Dia ingat kata-kata

Windriya tentang kesaktian dua orang sesat ini. Tentu saja

Ramya yang mentah pengalaman di dunia persilatan, belum

sadar betul dengan siapa dia berhadapan. Meskipun ada juga

rasa jerih, apalagi setelah merasakan sendiri getaran tenaga

dalam lawan, Ramya tak lantas keder.

“Kalian terlalu berlebihan menilai diri sendiri. Apa yang

harus aku takutkan dari kalian?”

Kedua iblis itu kembali ngakak. Mereka lalu saling pandang

dengan tatapan mata culas.

“Kakang, apa kau pikir Ki Kesusra akan senang bila gadis

ini kita serahkan padanya?”

“Kau benar, Adi. Ki Kesusra sangat suka daun muda

seperti gadis galak ini.”

Keduanya terbahak tanpa beban. Ramya merasakan

darahnya mendidih. Tanpa perhitungan lebih rumit lagi, dia

langsung menerjang ke arah dua orang itu. Gadis itu

menerapkan jurus macan luwe ( harimau lapar) yang diajarkan

ayahnya.

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Gerakan Ramya yang trengginas sempat mengejutkan dua

lelaki iblis itu. Tapi cuma sesaat. Satu orang yang lebih muda

maju ke depan sambil mengayunkan pedang besarnya. Cuma

sekali ayun dan begitu bertabrakan dengan keris Ramya,

benda pusaka warisan Ki Legowo itu langsung terpental ke

tanah.

Berikutnya, tangan kiri lelaki itu bergerak kilat menotok

jalan darah Ramya yang sontak limbung karenanya. Tiba-tiba,

terdengar suara ledakan disusul asap tebal yang mengepul

rata di seluruh tempat itu.

Dua iblis itu gelagapan mencari-cari tubuh Ramya yang

sudah terkena totok itu. Tapi gagal. Bahkan, ketika asap itu

lenyap, tubuh Ramya ikut raib.

“Setan alas! Ada yang ikut campur urusan kita, Kakang!”

“Jangan dilepas! Cepat kejar!”

Sementara itu, sesosok bayangan berlari kencang ke

tengah lebatnya hutan. Dia seperti tak terbebani dengan tubuh

berat yang ada di gendongannya. Beberapa saat kemudian,

dia sudah sampai di sebuah daerah yang cukup lapang di

pinggir hutan kecil.

“Rupanya kau!”

Ramya merasakan aliran darahnya kembali nyaman ketika

Windriya melepaskan totokan yang membuatnya tak berdaya.

Ia lalu menerima keris pusakanya kembali setelah sebelumnya

sempat kehilangan karena senjata itu terlepas dari tangannya

saat bertempur dengan dua iblis dari selatan itu.

“Kata-katamu benar, Kakang Windriya. Dua iblis itu sangat

tangguh. Aku sama sekali bukan lawan mereka.”

Windriya tak langsung menjawab. Dia malah sibuk

mengamati lingkungan itu seolah-olah takut ada seseorang

yang datang menyergap.

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Kita sama sekali belum aman, Nini. Kita harus segera

meninggalkan tempat ini, sebelum dua iblis itu menemukan

kita.”

Setelah mengiyakan, Ramya pun mengikuti langkah

Windriya yang tergesa-gesa. Keduanya menerobos lebatnya

tetumbuhan hutan dan terus masuk ke dalam belantara. Tak

peduli duri-duri pohon liar mengoyak pakaian dan kulit mereka,

keduanya terus bergerak hingga beberapa lama.

“Kita istirahat di sini.”

Windriya mengajak Ramya duduk di atas rumput hijau di

tengah hutan. Ia lalu mengangsurkan tempat air dari tanah liat

yang tadi tergantung di tali pinggangnya.

“Minumlah. Nini pasti sangat haus.”

Tanpa basa-basi, Ramya langsung menerima kendi itu dan

menenggak isinya.

“Kesusra benar-benar gila. Dia menjaga ketat semua jalan

keluar Medangkamulan.”

“Apakah tidak ada jalan lain keluar dari daerah ini kecuali

melalui pintu gerbang, Kakang?”

“Ada, tapi jalannya sangat jauh dan terjal!”

“Aku jadi merepotkanmu, Kakang.”

“Sudahlah. Cepat atau lambat aku juga pasti berurusan

dengan mereka. Hanya saat ini, kita tidak mungkin mampu

mengalahkan mereka.”

Keduanya terdiam.

“Nini, ketika Nini bertempur dengan prajurit tadi, saya

melihat Nini begitu ingin membunuh. Padahal saya yakin Nini

bukan seorang pembunuh berdarah dingin. Mengapa?”

Ramya tak langsung menjawab. Dia menghela napas

panjang, lalu mengedarkan pandangannya ke sekeliling.

“Nini tak perlu menjawabnya jika memang tak ingin.”

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Tidak, Kakang. Tidak ada yang perlu dirahasiakan.

Memang aku sangat membenci prajurit Majapahit. Mereka

membunuh ayahku.”

Windriya lumayan terhenyak. Namun, dia tak

memperlihatkannya dengan kentara. Lalu, Ramya mulai

mengurai cerita panjang bagaimana ia bisa sampai di

Medangkamulan. Berawal dari kunjungan rombongan bahari

dari Tiongkok sampai tragedi berdarah di Simongan ia

ceritakan semuanya. Windriya mengangguk-anggukan kepala.

Dia lalu tersenyum tulus.

“Nini sungguh berhati baja. Sulit menemukan perempuan

yang memiliki tekad dan keberanian seperti Nini.”

Belum sempat Ramya menjawab sanjungan Windriya,

gendang telinga keduanya dihentak oleh suara tawa yang

dilambari tenaga dalam tinggi. Ramya dan Windriya menutup

telinganya dengan kedua lengan mereka.

“Mau lari ke mana tikus-tikus kecil?”

Tiba-tiba dua sosok Dua Iblis Laut Kidul sudah berdiri

congkak di hadapan mereka, entah dari mana datangnya.

“Kakang Windriya, cepat pergi dari tempat ini! Mereka

mencariku. Kakang tak ada urusannya dengan ini.”

Windriya menoleh ke arah Ramya. Menatap mata gadis itu

dengan senyum yang tak sekilas pun memperlihatkan rasa

takut.

“Aku tak akan ke mana-mana. Kalau kita harus mati, kita

mati bersama.”

Setelah mengucapkan kata-kata itu, Windriya mencabut

pedang di pinggangnya dan memasang kuda-kuda.

“Oh, Kakang Kolo Ireng, aku jadi ingat masa muda dulu.

Alangkah manisnya cinta muda-mudi.”

Wajah Ramya memanas mendengar sindiran salah satu

iblis itu. Dia pun sudah bersiap dengan keris di tangannya

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

untuk mengadu nyawa. Sementara kedua iblis edan itu

kembali terbahak seperti orang gila.

“Sekarang!”

Ramya melompat dengan keris terhunus. Begitu juga

dengan Windriya yang menyerbu dengan pedang siap

menebas. Meskipun tahu mereka bukan tandingan dua iblis

itu, namun jati diri pendekar membuat keduanya tak lantas

menyerah begitu saja. Ramya dan Windriya sudah bertekad

mengadu nyawa.

Ternyata, seperti pertempuran perdana antara Ramya dan

Kolo Ireng, mudah saja bagi dua iblis itu untuk menang.

Namun, kali ini rupanya mereka ingin bermain-main sejenak.

Mereka sengaja memberi ruang bagi Ramya dan Windriya

untuk melawan. Pertarungan menjadi agak panjang. Meskipun

belum juga mampu menyentuh seujung kuku lawan, Ramya

tak patah arang. Dia terus menyerang musuh dengan

sergapan-sergapan berbahaya.

Beberapa kali dia menyerang pergelangan kaki Kolo Ireng

dengan sepakan kakinya, namun gagal. Keris mautnya pun tak

berhenti menderu ke arah ulu hati lawan, namun tak kunjung

menemui sasaran. Sebaliknya, Kolo Ireng tak sekali pun

membalas serangan Ramya. Dia seperti asyik bermain-main

melompat ke kanan dan ke kiri menguras tenaga Ramya yang

terbuang percuma.

Hal yang sama dialami Windriya. Meskipun pemuda itu

lebih berpengalaman dibandingkan Ramya, tetap saja hal itu

tak cukup untuk dijadikan modal melawan Lowo Ijo, iblis yang

lebih muda.

Windriya mencoba mengulur waktu dan memastikan

Ramya tidak dalam keadaan terdesak. Sementara waktu dia

bisa berlega hati. Namun, pemuda itu tahu benar, dia dan

Ramya masih bisa bertahan karena kedua iblis itu memang

belum ingin turun tangan. Dia berpikir keras mencari peluang

meloloskan diri.

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Sudah cukup bermain-main!”

Teriakan Kolo Ireng disambung jeritan Ramya yang

terhuyung dan roboh ke tanah. Gadis itu tak lagi mampu

bergerak sedikit pun. Keris di tangannya sudah terpental jatuh.

Kolo Ireng hanya butuh satu gebrakan dengan tangan kirinya

untuk mengunci pergelangan tangan Ramya dan memaksa

gadis itu melepaskan kerisnya.

Sesudah itu, iblis berilmu tinggi itu meyodokkan tapak

kirinya untuk menotok jalan darah Ramya. Windriya yang

begitu mengkhawatirkan keadaan Ramya tak lagi memikirkan

pertarungannya. Ia hendak meninggalkan Lowo Ijo dan

menolong Ramya. Namun, baru saja ia hendak mencelat,

sebuah angin serangan ke arah bahu membuatnya tersentak.

Serta merta dia mengayunkan pedang untuk mematahkan

serangan itu. Suara logam bertemu mengeluarkan suara

nyaring. Pedang di tangan Windriya patah jadi dua. Sekejap

kemudian, bahunya kena hajar tangan kiri Lowo Ijo.

Windriya terpelanting sambil memegangi tulang bahunya

yang jelas patah. Sebelumnya, terdengar bunyi tulang

berderak, bergeser dari tempatnya semula. Pemuda itu

bergulingan di tanah sambil mengerang.

“Kau tahu, aku masih berbelas kasihan kepadamu,

pemuda tengik! Bukan pedangku yang membabat bahumu.

Membunuh pemuda sepertimu hanya akan mengotori tangan

Lowo Ijo.”

Windriya tak lagi mendengarkan kata-kata itu. Dia hanya

berpikir bagaimana menghentikan rasa sakit karena tulangnya

yang patah. Namun, begitu mengingat Ramya, rasa sakit itu

bagai lenyap. Windriya segera sadar dan hendak kembali

menyerang dua iblis itu.

Tapi, begitu ia membalikkan tubuh, hanya ia sendiri di

tempat itu. Dua iblis itu sudah tak ada. Begitu juga Ramya.

Windriya bangkit, namun langsung roboh lagi karena sakit di

bahunya menjadi-jadi.

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Ramyaaa …!”

Dengan sekuat tenaga, Windriya meneriakkan nama

Ramya. Meskipun yakin gadis yang ia panggil tak bisa

mendengar, tetap saja ia melepas tenaga untuk

meneriakkannya. Hanya gaung yang kemudian menjawab

teriakan Windriya. Pemuda itu lalu roboh terdiam. Pingsan.

0oo0

Ramya merasakan seluruh tubuhnya lungkrah. Dia

perlahan membuka kelopak matanya. Dia kaget bukan

kepalang ketika sadar, dirinya tidak berada di hutan lembap di

tempat terakhir dia terlibat pertempuran dengan dua iblis itu.

Namun, dia terbaring di pembaringan empuk dalam sebuah

ruangan wangi dan tertata sangat rapi.

Kulit tubuhnya terasa nyaman bersentuhan dengan kain

sutra yang menjadi alas tempat tidur. Namun, Ramya segera

tahu kenyamanan itu tak berarti apa-apa ketika dia menyadari

kedua tangannya terikat kuat oleh tali yang dihubungkan

kedua tiang di samping pembaringan.

Mata gadis itu mencari-cari. Dia menggerakkan lehernya

ke kiri dan ke kanan untuk memahami suasana di

sekelilingnya. Tapi tetap saja dia tak mengerti penuh, kecuali

menduga-duga. Ramya lalu ingat dua iblis yang

melumpuhkannya, mereka-reka apakah kedua orang itu yang

membawanya kemari.

Suara daun pintu berderit. Ramya berusaha siaga,

meskipun tentu saja tak bisa sempurna karena kedua

pergelangan tangannya terikat kuat.

“Oh, ternyata nini cantik ini sudah siuman. Selamat datang

di tempat tinggal Kesusra, Nini!”

Mata Ramya memicing ketika seorang lelaki berumur tiga

puluhan muncul dari balik pintu kamar. Dia mengenakan

pakaian mewah dari penghias rambut sampai alas kaki.

Wajahnya sungguh menyiratkan kelicikan. Matanya culas dan

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

genit. Kumis tebal di atas bibirnya tak membangun wibawa.

Justru mengundang kekesalan yang sangat.

“Apa maumu?!”

“Oh, benar rupanya kata-kata kedua penga-walku bahwa

Nini ini sungguh galak dan tegas. Aku sangat suka perempuan

yang tegas dan galak.”

Kesusra terkekeh dengan nada suara yang dipaksakan.

“Nini, puluhan gadis di Medangkamulan ini berharap

menjadi pemuas hati Kesusra, namun tak satu pun menarik

hatiku. Kau tiba-tiba saja datang ke sini dan begitu menarik

hatiku. Bagaimana? Apakah kau bersedia menjadi istriku?”

“Pembicaraan macam apa ini?! Aku sekadar lewat, lalu

kedua iblis itu menangkapku dan membawaku kemari.

Sekarang, tiba-tiba saja kau memaksaku untuk menjadi

istrimu. Apakah kau sudah kehilangan akal pikiranmu?!”

Bukannya berang, Kesusra kembali terkekeh. Rupany, dia

semakin suka dengan Ramya yang tak mampu lagi

membendung emosinya.

“Aku sangat suka perempuan sepertimu, Nini. Sungguh

suka. Semakin galak, semakin suka.”

“Lepaskan ikatan tangan ini, lalu kita bertarung sampai

mati!”

“Bertarung? Siapa yang ingin bertarung? Nini, kau

sungguh keterlaluan. Kepada lelaki yang begitu memujamu,

kau berlaku kejam. Ayolah, jangan menolak cinta yang telah

ditanamkan Dewata ke dalam hatiku.”

“Cih! Tutup mulut busukmu! Berani kau menyentuh sehelai

rambutku, aku akan membunuhmu!”

“Ho-ho … aku takut. Aku sungguh takut. Tapi aku suka.”

Ramya berteriak tertahan, ketika sebuah hentakan kecil

mendarat di bahunya, membuatnya kaku tak berdaya. Kesusra

ternyata berilmu kanuragan cukup tinggi. Dia mampu menotok

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

jalan darah Ramya sehingga gadis itu sama sekali tak mampu

menentang kehendaknya.

Sementara itu, di luar sana, alam seperti marah. Hujan

besar datang tiba-tiba. Suara petir menggelegar sambungmenyambung.

Seperti memberi peringatan kepada manusia.

Jauhilah kejahatan karena kematian akan selalu mengintai.

Tapi, peringatan itu tak sampai ke bilik mewah milik Kesusra.

Di sana hanya tinggal setan-setan bertanduk yang tertawa dan

berpesta dengan mulut yang berdarah-darah.

Kesusra menjadi salah satu setan itu. Dan, Ramya

hanyalah patung mati yang bahkan tak mampu menggerakkan

ujung jarinya sekali pun. Yang ada hanya perihnya hati dan

jiwa yang semakin kosong. Dua bulir air mata menitik dari

sudut mata Ramya. Itu saja. Karena, gadis itu segera menutup

matanya, lalu mengasingkan diri dalam kegelapan dirinya

sendiri.

0oo0

Brakkk!

Jendela kamar mewah milik Kesusra terbuka paksa. Hari

sudah terang ketika sesosok bayangan melompat masuk ke

ruangan itu. Dia seorang pemuda yang langsung terpaku

dengan mata terbelalak menatap pemandangan di depannya.

Serta-merta pemuda yang tak lain adalah Windriya itu meraih

secarik kain dari pinggir pembaringan, lalu menghambur ke

tubuh Ramya yang mengenakan pakaian koyak di sana-sini.

Windriya bergerak cepat memutus dua tali yang mengikat

kuat pergelangan tangan Ramya. Dia lalu membebaskan

totokan di tubuh Ramya. Tadinya, Windriya mengira Ramya

akan berteriak sejadinya dan menghambur ke pelukannya

sambil tersedu.

Tapi ternyata tidak. Gadis itu tetap terdiam di atas

pembaringan dengan mata yang terbuka. Pancaran matanya

menatap kosong. Sementara kedua tangannya lunglai.

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Ramya, kita harus segera pergi dari tempat ini. Saat yang

paling berbahaya adalah saat paling aman. Semua penjaga

tak akan mengira aku datang pada siang hari. Kita pasti akan

lolos.”

Tak ada jawaban. Ramya tetap diam. Tak ingin membuang

waktu, Windriya lalu bergerak ke pembaringan hendak

memondong tubuh Ramya. Namun, tiba-tiba dia terhuyung ke

belakang ketika nyeri di bahu kanannya kembali menyergap.

Sebenarnya, ia merasa sakit bukan kepalang. Namun,

melihat keadaan Ramya, Windriya melupakan sakit itu. Ia lalu

perlahan mengangkat tubuh Ramya sambil meringis menahan

sakit yang luar biasa di bahunya. Bahkan, Windriya sendiri tak

begitu paham, bagaimana mungkin dia masih mampu

melakukannya.

Pemuda itu hanya mengikuti kata hati ketika ia

menggendong tubuh Ramya yang cukup berat untuk kembali

melompati jendela, lalu mengendap menuju dinding batu yang

melingkari kediaman Kesusra. Sekali lompat, Windriya

berhasil melewati rintangan itu, meskipun kemudian jatuh

berdebam di tanah berumput di luar dinding batu.

Meskipun jatuh, Windriya berhasil menahan tubuh Ramya

agar tak terguling. Sebagai gantinya, Windriya lagi-lagi harus

merasakan sakit yang luar biasa menggigit bahu kanannya.

Tanpa peduli, Windriya lalu mengangkat lagi tubuh Ramya dan

berjalan terhuyung menembus perkebunan di belakang rumah

Rakryan Kesusra.

Dia menjumpai seekor kuda yang memang sudah

dipersiapkan sebelumnya. Kuda itu ditambatkan pada sebuah

pohon jati. Dengan tergesa, Windriya menaikkan tubuh Ramya

yang setelah bersusah payah, akhirnya mau duduk tanpa

tenaga di atas kuda itu. Windriya lalu menyusul naik ke atas

kuda dan duduk di belakang Ramya.

Ia lalu menyentak tali kekang kuda dan memacunya

menuju hutan belantara Medangkamulan. Tanpa memedulikan

apa pun, Windriya terus memacu kudanya. Beruntung tak

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

seorang pun prajurit yang ia temui di sepanjang jalan.

Windriya menghentikan kudanya di pinggir hutan, lalu kembali

menggendong tubuh Ramya menelusup ke tengah hutan

dengan berjalan kaki.

Sudah tak terhitung berapa langkah mereka lewati.

Windriya terus menguras tenaganya yang masih tersisa. Rasa

sakit di bahu kanannya semakin mencekat. Tapi, pemuda itu

sudah bertekad untuk sejauh-jauhnya lari ke dalam hutan,

menghindari kejaran orang-orang Kesusra.

Hingga sore menjelang, Windriya benar-benar kehabisan

tenaga. Dia jatuh terduduk di pinggir hutan perbatasan

Medangkamulan dan Demak. Tubuh Ramya ia senderkan

pada sebatang pohon beringin yang rindang daunnya.

Ia sendiri lalu duduk bersila mengatur pernapasan dan

berusaha mengurangi rasa sakit pada bahu kanannya.

Beberapa saat kemudian, Windriya membuka matanya. Ia

menatap pilu ke arah Ramya yang belum juga mengubah

kesan wajahnya.

Gadis itu tetap saja membuka matanya dengan tatapan

yang tak jelas. Tak ada senyum. Bibirnya seolah mengambang

tanpa nyawa. Ramya benar-benar seperti mayat hidup. Tanpa

ada keinginan untuk melakukan apa pun. Kedua mata

Windriya mulai berkaca-kaca.

“Ramya, jangan khawatir. Aku tak akan meninggalkanmu.

Aku akan tetap di sini. Menjagamu.”

Tak ada jawaban. Windriya tersenyum, sementara air mata

hangat meluncur dari dua sudut matanya.

“Kau tetaplah di sini. Aku akan mencarikan buah-buahan

untukmu. Tenanglah.”

Windriya tersenyum, lalu mengelus rambut Ramya,

sebelum kemudian bangkit dan berjalan sempoyongan masuk

ke hutan. Hari segera sore. Hati Windriya bersorak girang

ketika dia menemukan pohon jambu batu berbuah lebat.

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Susah payah, pemuda itu memanjat pohon itu dan memetik

beberapa buahnya.

Sangat pelan, menjaga agar luka di bahunya tak kian

parah, Windriya menuruni batang pohon yang lumayan licin

itu. Dengan wajah berseri, dia lalu berjalan setengah

berjingkrak menuju ke tempat Ramya tadi.

Sontak Windriya kaget. Buah jambu batu di tangannya

jatuh menggelinding entah ke mana. Jantungnya berdetak

jauh lebih cepat dari biasanya. Keringat dingin merembes dari

dahinya. Wajah pemuda itu memucat. Ramya tidak ada!

“Ramya!!!”

Kalap, Windriya berteriak lantang sambil berlari. Dia

berusaha menemukan jejak Ramya. Tidak ada bekas

pertempuran, berarti Ramya tak sedang diculik. Windriya

mencari petunjuk lain dan mendapatkannya.

Jejak kaki Ramya bisa ditemukan di antara batang ilalang

yang patah terinjak. Itu pasti Ramya, pikir Windriya. Penuh

harap, pemuda itu mengikuti arah patahan batang ilalang itu

dengan saksama. Jejak itu membawa Windriya ke pinggir

sebuah tebing dengan jurang yang menganga dan tak terlihat

dasarnya.

“Ramyaaa! Apa yang akan kau lakukan?!”

Napas Windriya terasa terhenti. Matanya membelalak

melihat Ramya berdiri canggung di ujung tebing. Sosoknya

yang semampai terlihat ringkih dan kapan saja bisa terhempas

angin yang keras bergerak di tebing itu. Kain lebar yang tadi

dipakai Windriya untuk menutupi tubuh Ramya melambailambai

tertiup angin. Begitu juga dengan rambut panjangnya

yang kini tak lagi diikat tali.

“Ramya, ini bukan dirimu! Kau perempuan gagah yang tak

kenal kata menyerah!”

Tak ada jawaban. Windriya merasa berbicara dengan batu.

Perlahan dia berusaha mendekati Ramya tanpa membuat

gadis itu kaget. Perlahan sekali. Hingga suatu titik waktu,

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Windriya merasa kakinya tak lagi menapak bumi. Matanya

terbelalak sejadinya. Tubuhnya lemas tanpa tenaga. Saat

itulah, tubuh Ramya sedikit terangkat ke udara, sebelum

akhirnya melayang jatuh ke dalam jurang yang tak jelas

dasarnya itu.

“Ramyaaa …!”

Beberapa kali Windriya menguras sisa suaranya untuk

meneriakkan suara itu. Sekeras-kerasnya, hingga puaslah

hatinya. Windriya terus berteriak tanpa henti, hingga suaranya

betul-betul habis. Bahkan, tak tersisa untuk sekadar menjerit

kesakitan ketika rasa nyeri kembali menyergap bahu

kanannya.

Saat itulah, gendang telinga Windriya menangkap sebuah

suara. Sayup, tapi benar-benar ada. Suara kecapi yang dipetik

dengan nada yang tertata. Juga suara kidung yang

ditembangkan oleh seorang perempuan. Indah, tapi

menyakitkan. Nyatakah suara itu?

Windriya tak sempat lagi memastikannya. Sebab, tiba-tiba

saja ia merasakan tubuhnya melambung ke udara tanpa

kehendak hatinya. Dia hanya merasa tubuhnya seperti

ditarik oleh sesuatu.

Sekejap dia sempat merasakan benda semacam sabuk

yang mengikat perutnya. Lalu, tenaga yang hebat menariknya

ke belakang tanpa kuasa ia menolak.

Sesaat kemudian, dia merasakan ada seseorang yang

memaksanya duduk bersila. Orang itu berada di belakang

tubuhnya dan menempelkan kedua telapak tangannya di

punggung Windriya. Lalu, perlahan namun pasti, pemuda itu

merasakan aliran hawa murni bergerak ke dalam tubuhnya.

Krek!

Tak sempat lagi Windriya berteriak kesakitan ketika orang

di belakangnya membetulkan tulang bahunya yang patah

hanya dengan satu hentakan. Begitu yakin bahwa orang itu tak

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

bermaksud jahat, pemuda itu lalu memejamkan mata untuk

mengatur pernapasannya kembali.

“Seberat apa pun persoalan manusia di dunia, bunuh diri

bukanlah penyelesaian.”

Suara yang halus dan menyejukkan. Windriya tak

menyangka bahwa orang yang menariknya dari tebing, lalu

menyembuhkan letak tulangnya yang patah, sekaligus

mengalirkan hawa murni ke dalam tubuhnya adalah seorang

perempuan.

“Terima kasih Nini telah berbaik hati menolong saya. Tapi,

Nini salah mengerti jika menganggap saya hendak bunuh diri.”

Windriya membuka matanya dan langsung menatap sosok

seorang perempuan belia yang berdiri sambil menatap ke arah

tebing tempat Ramya melompat ke dalam jurang.

Perempuan penolong itu lalu menatap Windriya dengan

saksama. Dia tersenyum dengan kesan wajah bertanya-tanya.

“Benarkah? Rupanya saya kurang jeli. Tapi, apakah ini

sebuah kebetulan, ketika Kisanak meneriakkan nama Ramya

sambil berjalan ke arah pinggir jurang.”

Raut muka Windriya sontak berubah. Pemuda itu lantas

murung.

“Ramya seorang perempuan hebat. Dia teman saya yang

terlalu banyak menderita. Tapi, saya masih belum mengerti

mengapa dia memilih mengakhiri hidupnya dengan melompat

ke dalam jurang.”

“Kau …!””

Windriya merasakan napasnya nyaris putus. Lehernya kini

terbelit oleh selembar sabuk perak yang sangat kuat.

“Apakah yang kau maksud adalah Ni Ramya dari

Simongan?”

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Windriya tak lantas panik. Meskipun wajahnya memucat

karena pembuluh otaknya kehabisan udara, tak lantas dia

mengiba-iba memohon agar belitan di lehernya dilepaskan.

“Bagaimana aku menjelaskannya kepadamu, sementara

leherku tercekik?”

“Maaf!”

Sekali sentak, sabuk perak itu lolos dari leher Windriya dan

menyisakan penyesalan di garis wajah gadis belia itu.

“Nini pasti Hui Sing!”

“Bagaimana Kisanak tahu?”

“Ramya banyak bercerita kepada saya.”

“Jadi, benar Ramya yang kau kenal adalah sahabatku?”

Setengah tak percaya, Hui Sing berlari kencang ke ujung

tebing. Di sana, dia termangu berusaha melihat ke dasar

jurang yang memang tak kelihatan.

“Ramya tak akan mati!”

Hui Sing menoleh ke arah Windriya yang kini telah berdiri

di dekat tebing. Raut wajahnya memperlihatkan keyakinan.

“Bagaimana kau bisa yakin?”

“Saya tadi sempat mendengar suara kecapi dan

perempuan nembang (menyanyi dengan cengkok khusus khas

Jawa) dari dasar jurang. Beberapa puluh tahun lalu, pernah

ada seorang perempuan pendekar kenamaan di tanah Jawa

Dwipa yang memiliki kesaktian tinggi. Julukannya “Dewi

Kecapi Maut”. Dia telah lama mengundurkan diri dari dunia

persilatan. Saya yakin, suaranyalah yang tadi terdengar.”

“Kau coba menghiburku?”

Hui Sing menghampiri Windriya dengan mata berkacakaca.

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Aku sangat yakin, Nini. Jelas butuh kemampuan yang luar

biasa untuk bisa mengeluarkan suara dan bunyi kecapi dari

dasar jurang hingga bisa terdengar sampai di sini.”

“Apa hubungannya dengan Ramya?”

“Saya yakin, orang yang memainkan kecapi itu tak akan

tinggal diam melihat tubuh Ramya yang melayang jatuh ke

jurang.”

“Ramya adalah perempuan berhati teguh. Mana mungkin

dia bertindak sebodoh itu!”

Hui Sing mengalihkan pembicaraan. Ia masih tak

memercayai keyakinan Windriya. Windriya melepas napas

panjang memahami ketidakpercayaan gadis di hadapannya.

Dia mulai menceritakan awal kejadian yang kemudian

memukul batin Ramya sedemikian keras. Mulai pertemuan

mereka malam itu, hingga Windriya menemukan tubuh Ramya

tergeletak tak berdaya di bilik mewah milik Kesusra.

Mata Hui Sing memerah karena amarah. Dia

mendengarkan cerita Windriya dengan napas yang terburu.

Bibirnya bergetar, sementara matanya semakin berkaca-kaca.

“Ramya, aku akan membalaskan dendammu!”

Setelah mengatakan itu, Hui Sing menoleh sejenak ke arah

tebing, lalu membalikkan tubuhnya berjalan ke arah

Medangkamulan. Tapi baru beberapa langkah, dia berhenti.

“Kau tak ingin ikut, Windriya?”

“Aku akan menunggu Ramya di sini.”

Hui Sing membalikkan badan. Menatap Windriya dengan

pancaran mata tak mengerti.

“Jangan kau buat gila dirimu sendiri, Windriya. Kematian

Ramya akan tak berarti apa-apa jika kau yang ditinggalkan

menjadi begini bodoh dan putus asa.”

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Windriya tersenyum. Jelas ada kesan pedih yang

mendalam pada raut wajahnya. Tapi, pemuda itu tetap saja

tersenyum.

“Hui Sing, aku sama sekali tidak putus asa. Aku justru

punya harapan yang meluap-luap. Ramya tidak mati. Dia ada

di bawah jurang sana. Dia pasti akan kembali suatu saat. Dan

aku akan menunggunya sampai kapan pun. Tak peduli berapa

tahun.”

Hui Sing kehabisan kata-kata. Dia hanya menatap

Windriya dengan tatapan takjub sekaligus tak mengerti.

Hingga pemuda itu berjalan pelan ke arah pinggir tebing dan

duduk bersila di sana.

“Hati-hati, Hui Sing. Aku tahu kemampuanmu sangat tinggi.

Tapi, Dua Iblis Laut Kidul itu sangat licik. Kau harus berhatihati.”

Tanpa menunggu jawaban Hui Sing, Windriya lalu

membetulkan sikap duduknya, kemudian mengeluarkan

seruling dari balik baju kumalnya. Pemuda itu memejamkan

kedua matanya rapat-rapat ketika alunan seruling yang

mengantar lagu sendu mulai mendayu-dayu.

Hui Sing masih berdiri di tempatnya semula. Ia

mengangguk-angguk sambil mengeraskan hati supaya air

matanya tak jatuh.

“Ya, aku akan berhati-hati.”

Ia berujar lirih dan tak berharap akan didengar oleh

Windriya. Gadis itu lalu membalikkan tubuhnya dan berjalan

dengan langkah mantap ke arah Medangkamulan.

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

7. Dasar Jurang

Medangkamulan

Semua yang ada di pelataran candi tanpa nama itu seperti

gelisah. Angin berisik memindahkan daun-daun kering.

Binatang-binatang mungil bergerak cepat mencari tempat

sembunyi. Kupu-kupu terbang menjauh. Di undak-undakan

batu pertama candi itu, Hui Sing duduk bersila. Matanya

memejam.

Rambut panjangnya disentak-sentak angin yang tak

kerasan bergerak pelan. Hui Sing sedang menunggu. Rumah

kediaman Rakryan Kesusra baru saja dihantam huru-hara. Hui

Sing datang dan mengamuk menghancurkan semua benda

yang ada di hadapannya. Banyak prajurit yang terluka,

meskipun tak ada yang kehilangan nyawa.

Gadis itu berteman kemarahan yang menyembul di ubunubun,

memburu Kesusra yang tak ada di rumahnya ketika Hui

Sing ingin menantangnya bertarung. Juga Dua Iblis Laut Kidul,

seperti sengaja hengkang dari Griya Rakryan.

Karena itu, setelah membuat onar sejadi-jadinya, setelah

meninggalkan jejak kehancuran yang menyakitkan, Hui Sing

menantang duel Kesusra dan para pengawalnya di candi

tanpa nama itu.

Kini, Hui Sing tengah menunggu. Sontak membahana tawa

bersahut-sahutan. Suaranya sungguh mencabik-cabik

gendang telinga. Karena Hui Sing memahami ilmu pernapasan

yang benar, suara itu sama sekali tak mengganggunya.

“Macam bocah kecil saja! Hanya ini kemampuan kalian?

Kalau begitu, cepat bersujud meminta ampun. Barangkali aku

masih berbelas kasihan.”

Hui Sing bergeming dari tempat duduknya. Matanya pun

masih terpejam. Sedangkan suaranya terdengar nyaring

mengusik, padahal diucapkan dengan gerakan bibir yang lirih.

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Tiga bayangan berkelebat cepat. Dalam sekejap, mereka

sudah berdiri di hadapan Hui Sing. Dua lelaki kumal

berpakaian serbahitam dan seorang lelaki tiga puluhan

berpakaian necis.

“Inikah perempuan galak yang telah membikin onar tempat

tinggalku?”

Hui Sing membuka matanya perlahan. Dia menyisir satusatu

calon lawan duelnya yang berdiri congkak.

“Itu belum seberapa dibanding kehinaan yang ingin

kutumpahkan kepadamu, Kesusra!”

Lelaki cabul itu tersenyum. Ia lalu menyedekapkan kedua

belah tangannya.

“Lihatlah, Lowo Ijo dan kau, Kolo Ireng. Betapa

kondangnya aku ini. Bahkan, gadis secantik ini pun

mengenalku dengan baik.”

Hui Sing bangkit, lalu menatap ketiga orang itu tanpa

memperlihatkan rasa takutnya. Kedua tangannya menyatu ke

belakang.

“Jadi, siapa yang pertama di antara kalian yang ingin

kuberi pelajaran!”

Tawa dua iblis dari selatan meledak.

“Lihat, Kakang Kolo Ireng! Bocah ayu ini sungguh bermulut

besar. Lebih jumawa dibandingkan gadis yang kemarin.”

“Maksudmu Ramya?!”

Tatapan mata Hui Sing menyorot kedua iblis itu dengan

ketajaman pedang. Sekejap tanpa kata-kata, kebencian Hui

Sing yang meluap-luap terwakili oleh tatapan itu.

“Tak perlu bicara lagi. Siapa di antara kalian yang ingin

segera kutumpas. Atau kalian ingin maju bersama. Sama

sekali bukan masalah.”

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Kolo Ireng baru saja hendak melangkah maju, ketika

Kesusra mengangkat tangannya, mematikan langkah terakhir

iblis berpedang besar itu.

“Kolo Ireng, biarkan kali ini aku yang bersenang-senang.

Tampaknya, nini yang satu ini begitu mengasyikan untuk

diajak bermain.”

“Baik, Ki!”

“Sudah cukup basa-basinya.”

Hui Sing menyentak tanpa menunggu jawaban Kesusra.

Tubuhnya mencelat ringan menghambur ke arah Kesusra

dengan angin serangan yang ganas. Kesusra yang sudah

menyiapkan dirinya dengan baik, menyambut datangnya

serangan Hui Sing dengan memiringkan tubuhnya.

Tamparan tangan yang gagal mengenai sasaran tak

menghabiskan semangat Hui Sing. Tangan kirinya segera

menerjang ke arah tenggorokkan Kesusra dengan jari telunjuk

dan jari tengah yang menonjol. Diburu sedemikian rupa,

Kesusra mengambil langkah mundur tanpa membalikkan

tubuhnya.

Tangan kanannya bergerak menangkis, namun keburu

menebas ruang kosong karena lengan Hui Sing meliuk

mengikuti garis sikutnya, lalu berubah menyerang ulu hati.

Kesusra baru sadar bahwa gadis yang ia hadapi sama sekali

bukan pendekar kacangan yang bisa dianggap enteng.

Segera dia membantingkan tubuhnya ke kanan, berguling

di lantai candi, sambil menghunus keris. Dia lalu melompat

bangkit dengan gerakan katak.

“Kau yang memaksaku!”

Hui Sing merundukkan tubuhnya, membiarkan kaki kirinya

menekuk jadi tumpuan, sedangkan kaki kanannya lurus ke

samping. Saat itu seperti tak ada peluang buat Hui Sing untuk

menghindar. Kesusra sudah melayang di udara dan siap

menghujamkan kerisnya.

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Tapi, pertarungan tak selesai dengan semudah itu. Tibatiba

dari lengan Hui Sing meluncur sinar menyilaukan yang

menghentak menyerang kepala Kesusra. Kaget bukan main,

Kesusra mengurungkan serangannya dan membanting tubuh

ke kiri. Tapi, sinar itu terus memburunya.

Hui Sing sudah menggenggam sabuk peraknya yang

memantulkan cahaya siang dengan sempurna.

Segera sabuk panjang itu membentuk lingkaran-lingkaran

maut yang siap menjerat kaki Kesusra, mencekik lehernya,

menghantam kepalanya, atau menotok aliran darah rakryan

berhati bejat itu.

Segera setelah itu, keadaan berbalik sama sekali. Kesusra

hanya bisa terus-menerus menghindar tanpa mampu

membalas sekali pun. Terlalu malu untuk memanggil dua

pengawalnya, Kesusra masih mencoba bertahan.

Ruang gerak Kukesra semakin habis terkurung sabuk maut

yang terus mengepungnya. Ia hanya bisa mengibaskan

kerisnya, sesekali melompat mencari peluang, tapi lebih sering

berlari mundur.

Tempat pertarungan pun tak lagi di pelataran candi itu.

Sambil terus berkejar-kejaran, mereka makin menjauh dari

candi hingga nyaris ke ujung tebing yang beberapa tombak

saja jaraknya dari jurang yang menganga.

Shuuut… Tar.’

Sebongkah batu sebesar orang dewasa hancur berantakan

kena gempur ujung sabuk Hui Sing. Kini, dara itu seperti

tengah memegang cambuk untuk menjinakkan harimau liar.

Bunyi lecutan-lecutan terdengar semakin sering. Ini

menandakan bahwa sewaktu-waktu ujung sabuk itu bisa saja

menghantam salah satu bagian tubuh Kesusra. Hanya karena

si empunya yang belum berkehendak, Kesusra pun masih bisa

melanjutkan napasnya dan terus berjumpalitan menghindar.

“Ini untuk semua kepedihan Ramya!”

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Setelah berteriak, Hui Sing meluncurkan sabuknya hingga

demikian lurus seperti melesatnya anak panah dari busurnya.

“Lancang benar kau tak memandangku, Bocah!”

Sesosok bayangan melesat cepat menengahi pertarungan.

Sekejap kemudian, ujung sabuk Hui Sing yang seharusnya

sudah menghajar dada Kesusra membelit di ujung tongkat ular

Kolo Ireng.

Suara bersuit terdengar lagi. Hui Sing menghentakkan

sabuknya hingga lepas dari tongkat Kolo Ireng.

“Kau menyusul!”

Seperti enggan membuang waktu, Hui Sing kembali

menggerakkan sabuk mautnya. Kini, sabuk yang liat seperti

belut dan kuat layaknya baja itu meliuk seperti ular sendok

yang hendak mematok mangsanya.

Kolo Ireng tak kehilangan ketenangannya. Dia memutar

tongkat berkepala ular di tangan kanannya, menyongsong

serangan Hui Sing. Maklum bahwa lawannya adalah jago

kanuragan yang sudah lama malang melintang dalam

berbagai pertarungan, Hui Sing memilih untuk berhati-hati.

Meskipun tak ada persentuhan antara tongkat Kolo Ireng

dan sabuk Hui Sing, angin serangan keduanya saling

bertumbukan dan membuat desakan angin yang hebat. Kolo

Ireng menarik tongkatnya, sedangkan Hui Sing kembali

membuat lingkaran-lingkaran yang mengalihkan hentakan

udara yang bertumbukkan itu.

Ia bahkan melakukan gerakan kayang hingga rambutnya

nyaris menyentuh tanah, sementara tangan kanannya terus

mengendalikan sabuk yang tak henti bergerak, membuat

lingkaran indah di atas badannya.

Begitu kembali berdiri sempurna, Hui Sing kembali

melabrak lawannya dengan kekuatan penuh. Sementara Kolo

Ireng pun tak berdiri diam dan menunggu serangan. Dia

menyambut Hui Sing dengan gurat keyakinan yang rata di

wajahnya.

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Ujung sabuk Hui Sing kini mengincar ulu hati lawan. Dia

menerapkan jurus Noiht ze wa (Petik bunga anggrek) yang

memungkinkannya menyerang mantap meskipun ada dalam

jarak tempur yang tidak sangat dekat.

Namun, yang dihadapi Hui Sing kini adalah Kolo Ireng, iblis

tertua dari ‘”Sepasang Iblis Laut Kidul” yang masyhur dengan

kekejiannya. Meskipun Kolo Ireng juga masih menerka-nerka

arah gerakan Hui Sing yang sangat asing baginya, hal itu tak

lantas membuat serangan dan pertahanannya jadi tak bergigi.

Sebaliknya, Kolo Ireng cepat sekali mempelajari arah

gerakan Hui Sing dan mulai bisa masuk ke lingkar pertahanan

Hui Sing. Sadar lawannya begitu tangguh, Hui Sing pun

mengubah gaya bertarungnya dengan lebih sering menyerang

tanpa mengurangi kesigapannya mempertahankan diri.

Bagaimanapun, menyerang adalah pertahanan yang paling

kokoh.

Tapi lama-kelamaan, langkah ini pun terpatahkan oleh

gerakan Kolo Ireng yang makin menggila. Tongkat di

tangannya tak lagi sekadar berputar, namun juga menyodok

dengan ganas. Beberapa kali, nyaris saja Hui Sing dihantam

oleh kepala tongkat yang menyerupai kepala ular bersisik itu.

Tangan kiri Kolo Ireng yang menganggur mulai

mengeluarkan asap tipis. Ini tanda bahwa iblis itu tengah

merapal Ajian Segoro Wiso (Samudra Racun), ilmu andalan

Gua Jerangkong, tempat asal Kolo Ireng dan Lowo Ijo.

Hui Sing kini terdesak hebat, meskipun tak kelihatan bakal

roboh. Gadis itu memilih gerakan menangkis dan menyerang.

Bersalto lalu melepas Po Nyir menangkis serangan tongkat

dengan sabuk yang bergerak mematah.

Hui Sing memutar tubuhnya sedemikian rupa, lalu

menggerakkan Po Ung’r dengan tangan kirinya, menghalau

tapak kiri Kolo Ireng yang mulai mengancam. Lalu, ia

memiringkan tubuhnya dengan Po Khe, terus berputar

menangkis dan menyerang dengan Po’r re, kembali melompat

lalu, melakukan Po ets po, serangan mendadak yang cukup

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

mengagetkan Kolo Ireng sehingga kepala tongkat ularnya kini

terbelit sabuk Hui Sing.

Hui Sing sempat bernapas lega sekejap karena tadinya tak

yakin bisa melakukan hal itu. Segala gerakan menangkis dan

menyerang yang ia tahu, sudah dikerahkan. Namun, Kolo

Ireng justru terlihat semakin kuat.

Gerakan terakhir dengan memanfaatkan pantulan sinar

matahari pada sabuk itu membuat Kolo Ireng lengah sejenak,

hingga tongkatnya kena jerat. Tapi, kelegaan itu tak berarti

apa-apa karena

Hui Sing hanya bisa menjerat tanpa berhasil memaksa

Kolo Ireng melepaskan tongkatnya.

Padahal, jika itu bisa ia lakukan, sama saja dia telah

memenangkan pertarungan secara kesatria. Meskipun dalam

pertarungan hidup dan mati, aturan main seperti itu kadang tak

berlaku.

Kini, dua orang itu berdiri kaku mengerahkan tenaga dalam

masing-masing. Hui Sing habis-habisan berusaha

menyentakkan sabuknya. Inginnya membuat tongkat itu

terlepas dari tangan Kolo Ireng. Atau paling tidak, ia berhasil

menarik kembali sabuknya dan memulai pertarungan baru.

Namun, kini yang terjadi justru sebaliknya. Bahkan, untuk

menarik kembali sabuknya pun, Hui Sing harus berjuang matimatian.

Keringat mulai menetes dari kening gadis itu. Mukanya

memerah, sedangkan bibirnya bergetar. Sementara Kolo Ireng

seperti tak sedang melakukan pekerjaan berat apa pun.

Matanya menyorot tajam ke arah Hui Sing yang masih

berdiri tegap meskipun tak bisa dijamin berapa lama gadis

yang baru memiliki sepertiga usianya itu mampu bertahan.

“Aku bantu kau, Kolo Ireng!”

Sekonyong-konyong Kesusra menyergap Hui Sing dengan

keris terhunus. Lelaki beringas itu rupanya penasaran karena

sempat dibuat tak berdaya oleh Hui Sing. Kini, dia ada di atas

angin. Melihat serangan yang berbahaya itu, Hui Sing

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

langsung melompat ke samping tanpa melepas genggamannya

pada sabuk bajanya yang kini terbelit pada tongkat Kolo

Ireng.

Kesusra yang tak punya malu itu terus memburu Hui Sing

dengan serangan yang makin berbahaya. Tiba-tiba belitan

sabuk Hui Sing di tongkat Kolo Ireng lepas. Dengan sengaja,

Kolo Ireng mengempaskan sabuk itu sambil mendorong Hui

Sing dengan tenaganya sendiri. Tanpa harus mengeluarkan

keringat, Kolo Ireng pikir bisa membuat Hui Sing terpelanting

karena terdorong oleh tenaga dalamnya sendiri.

Tapi, nalar Hui Sing yang melaju cepat membuat gadis itu

tak gagap melakukan tindakan penyelamatan. Segera dia

memutar sabuknya hingga meliuk-liuk, lalu menyerbu Kesusra

dengan tenaga yang berlebih. Hui Sing melentingkan

tubuhnya agar tak terempas keras oleh desakan tenaga

dalamnya sendiri.

Kesusra yang tadinya mengira akan segera bisa

melumpuhkan Hui Sing, kaget bukan main. Gadis itu kembali

berubah menjadi dewi maut yang bersemangat sekali untuk

mencabut nyawanya. Kesusra melawan sebisanya. Namun,

kali ini Hui Sing betul-betul tak memberinya ampun.

Sabuk peraknya bergerak cepat dan menghempaskan

keris di tangan Kesusra.

“Segara Wisaaa!”

Pikiran Hui Sing bercabang. Dia urung menghabiskan

serangannya terhadap Kesusra dan memalingkan tubuhnya

menyambut serangan Kolo Ireng yang gila-gilaan. Hui Sing

merasakan betul hawa membunuh dan beracun dari tapak

kiri Kolo Ireng yang sesaat lagi menghantam tubuhnya.

Tak mungkin lagi menghindar, Hui Sing menyambut

serangnya itu dengan mengepalkan tinju kirinya, melepaskan

dath “Kutub Beku” yang baru seujung kuku dipelajarinya.

Tubuh Hui Sing sontak terpental ke belakang akibat

benturan tenaga dalam itu. Ia masih berhasil mendarat dengan

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

baik dan berdiri meskipun terhuyung-huyung. Hui Sing merasa

matanya berkunang-kunang.

“Segara Wisaaaa!”

Belum hilang pening di kepala Hui Sing, Lowo Ijo yang

sejak awal tak ikut berlaga, tiba-tiba saja sudah melayang di

udara dan segera mengirimkan serangan maut. Hui Sing sadar

betul posisinya demikian terdesak. Namun, jiwa kesatrianya

tak membolehkannya menyerah begitu saja.

Dia menyentakkan sabuk di tangannya dan membentuk

pusaran perak menyambut serangan Lowo Ijo. Tangan kanan

Lowo Ijo yang menggenggam pedang besar mengayun deras

menghalau pertahanan sabuk Hui Sing. Meskipun tak sanggup

memotong sabuk itu menjadi serpihan, tenaga dalam yang

menyertainya memaksa pusaran sabuk yang rapat itu

memudar.

Pertahanan Hui Sing terbuka, dan tapak kiri Lowo Ijo

menyeruak, menghantam dadanya. Hui Sing merasa

napasnya terhenti. Tubuhnya lalu melayang seringan kapas.

Dadanya sesak bukan main. Sementara, tak setitik tenaga pun

yang tersisa. Hui Sing seperti melihat tubuhnya sendiri

melayang ringan tanpa berat.

Hui Sing melambung dari tebing tempatnya bertempur

mati-matian lalu meluncur ke jurang yang entah ada apa di

dasarnya. Ia benar-benar mati rasa. Bayangan-bayangan

cepat sekali bergerak dalam benaknya. Semua wajah yang ia

kenal terpampang. Gurunya, kakak seperguruannya, Ramya,

Sad Respati, bahkan Windriya.

Suara yang sangat berisik. Hui Sing merasakan tubuhnya

menghantam sesuatu. Tapi entah apa. Sebab, yang tampak

kemudian adalah gelap. Sementara itu, jauh di atas tebing,

Lowo Ijo, Kolo Ireng, dan Kesusra berdiri termangu.

“Kenapa kalian turun tangan?! Aku pun masih sanggup

menaklukannya.”

Wajah Kolo Ireng bersungut-sungut.

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Apa kata orang persilatan ketika tahu kita harus turun

tangan bertiga hanya untuk membunuh seorang gadis

ingusan?”

“Sudahlah, aku yang terlalu bernafsu. Aku percaya kau

masih bisa mengalahkannya.”

Kesusra memandang ke arah jurang dengan wajah

menyesal.

“Gadis itu cantik sekali. Sayang, dia harus mati begitu

saja.”

Lowo Ijo memandang ke arah Kolo Ireng, lalu

mengedipkan matanya. Dia tahu benar apa yang ada di kepala

Kesusra. Seperti halnya ketika majikannya itu melihat Ramya

tempo hari.

Kolo Ireng membuang muka, tak menanggapi adik

seperguruannya itu. Rupanya, dia kecewa betul karena

pestanya diganggu.

0oo0

Napas Hui Sing tersentak. Ia terbatuk-batuk dengan wajah

membiru. Tubuh gadis itu tersangkut sulur tetumbuhan di

tebing tempatnya jatuh. Dadanya terasa sesak dan sakit yang

semakin menggila. Hui Sing mencoba menggerakkan

badannya. Gerakan kecil itu cukup membuat belitan sulur

yang tak begitu kencang lolos.

“Aaargh …!”

Tubuh Hui Sing merosot ke bawah, bergulingan, lalu

terjerembap di tanah liat yang basah. Di dasar jurang yang

menganga itu, tenyata ada sebuah sungai kecil. Hui Sing

tengkurap di pinggir sungai dengan belulang patah dan

pukulan beracun yang bersarang di dadanya. Gadis malang itu

pingsan lagi.

Ketika kelopak matanya terbuka, seluruh tubuh Hui Sing

basah kuyup oleh air hujan yang begitu ramai. Suara kodok

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

bersahut-sahutan menyambut pagi. Bibir Hui Sing bergetar

hebat. Begitu juga dengan seluruh tubuhnya. Ia mencoba

menggerakkan tubuhnya ketika rasa sakit menghunjam di

lengan kirinya yang patah.

Hui Sing menjerit sejadinya sambil mengangkat lehernya.

Menengadah ke langit menantang hujan. Matanya terpejam.

Aku tak boleh mati sekarang!

Gadis berhati baja itu lalu mengeraskan hati berusaha

keras untuk duduk bersila. Susah payah, dengan wajah yang

meringis menahan sakit di sekujur tubuhnya, Hui Sing

akhirnya berhasil duduk bersila di atas tanah yang sudah

demikian lembek oleh air hujan.

Pakaian serbasutra berwarna putih yang ia kenakan, nyaris

tak menyisakan warna aslinya. Hampir semuanya berlumur

lumpur. Hui Sing tak peduli. Ia lalu memejamkan mata dan

memusatkan pikirannya untuk mengolah dath dalam dirinya.

Lengan kirinya diangsurkan ke depan. Ia lalu menyibak

lengan baju kirinya. Ada yang menyembul di siku-siku

lengannya. Kembali memejam, Hui Sing lalu mengelus lengan

kirinya dengan tangan kanannya. Pelan, telapak tangan

kanannya bergeser ke pergelangan tangan kiri. Lalu, berhenti

di sana.

Kreeek.

“Aaargh …!”

Tonjolan tulang itu sudah tidak ada lagi. Hui Sing lalu

menggunakan sabuk perak untuk membalut lengan kirinya

agar tulang patah yang sudah diluruskan tak bergeser lagi.

Napas Hui Sing tersengal-sengal. Tidak teratur. Ia lalu

menyeret tubuhnya perlahan ke bibir sungai. Sesak di

dadanya menjadi-jadi, tapi gadis itu mengabaikannya. Hujan

masih deras mengguyur.

Begitu menyentuh air sungai yang tak begitu jernih, Hui

Sing mengulurkan lengan kanannya. Membasuh kedua

telapak tangannya dengan khidmat dan perlahan. Lalu, ia

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

mengambil air dengan telapak tangan kanannya yang

dirapatkan untuk berkumur. Dia melakukannya tiga kali.

Air matanya mulai meleleh. Rasa sakit di dada akibat

pukulan beracun berbaur dengan nelangsa yang pekat,

membuat badannya terguncang-guncang oleh tangis tanpa

suara. Tapi, gadis tabah itu meneruskan pekerjaannya. Ia

kembali mengambil air, lalu membasuh muka dan hidungnya

perlahan.

Napas Hui Sing kian tersendat ketika ia membasuh kedua

lengannya. Dan, tubuhnya semakin berguncang ketika

batuknya mulai menyentak-nyentak. Tapi, Hui Sing tak peduli.

Dia mengumpulkan sisa tenaganya, lalu membasuh kening

dan kedua kakinya.

Selesai itu, Hui Sing merogoh lipatan bajunya dan

mengeluarkan selembar kain hijau cukup lebar berbahan

sangat lunak. Gemetar tangannya makin hebat saat ia

menutupi kepalanya dengan kain itu. Sebelumnya, Hui Sing

merapikan rambutnya, lalu memasukkannya ke dalam lipatan

kain di lehernya. Ketika ia mengenakan kain itu, tak sehelai

rambut pun yang terlihat.

Kemudian, perempuan malang itu mengikatkan ujung

sabuk peraknya ke bahu, sehingga lengan kirinya yang dibalut

rapat menggantung sejajar dengan perut dan tak bergerak.

Usai menutupi kepalanya, Hui Sing duduk tim-puh dengan

sikap sangat khidmat. Mulutnya berkomat-kamit. Ia

mengangkat tangan kanannya sejajar dengan telinga, lalu

ditaruh perlahan di dadanya. Ia seperti merapal mantra. Untuk

beberapa waktu, tak sekali pun batuknya menyentak. Bahkan,

air matanya yang semakin deras, mengucur tanpa dibarengi

isak tangis. Hanya badannya yang bergetar hebat. Suatu saat,

Hui Sing merundukkan punggungnya hingga ujung hidung dan

keningnya menyentuh permukaan tanah becek di depannya. Ia

diam dalam keadaan seperti itu, cukup lama dan berkali-kali.

Semuanya tuntas setelah Hui Sing menggerakkan

lehernya ke kanan dan ke kiri. Hujan mereda, sinar awal hari

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

mulai rata di cakrawala. Hui Sing menatap haru ke luas langit

yang tersisa sebatas mulut jurang di atasnya.

Gadis itu kemudian menenangkan dirinya. Kembali

mengatur dath dan mengumpulkannya di dalam dada.

Matanya terpejam dengan air muka yang berubah-ubah.

Ketika jarum-jarum cahaya datang membarengi datangnya

pagi, Hui Sing menyentakkan dath-nya dan darah hitam kental

menyembur dari mulutnya berkali-kali.

Hui Sing menjatuhkan tubuhnya ke samping kanan, lemas.

Sebagian besar racun akibat pukulan “Segara Wisa” sudah ia

keluarkan. Namun, untuk itu, Hui Sing harus memeras

tenaganya yang tersisa. Kini, dia benar-benar kehabisan daya.

Berbaring miring di atas tanah lumpur dengan mata yang

semakin sayup. Tepat ketika hari benar-benar terang, Hui Sing

kembali pingsan.

0oo0

Nyanyian burung yang bercuit-cuit membuyarkan

ketidaksadaran Hui Sing. Ia siuman dengan tubuh yang panas

karena demam. Badannya masih tergeletak di tanah, dengan

kepala yang tetap tertutup kain hijau berbahan lunak itu. Hui

Sing lalu menempelkan punggung tangan kanan di pipinya.

Benar-benar panas. Panas itu kini rata di sekujur tubuhnya

hingga ke perut. Panas yang dibarengi rasa melilit.

Hui Sing mengingat-ingat kapan terakhir ia mengisi perut.

Kini, ia benar-benar lapar. Dengan badan bergetar, basah

kuyup, dan mata sayu, Hui Sing mencoba bangkit dengan

lengan kanannya sebagai penyangga. Setelah duduk

beberapa saat, ia mengerahkan segala dayanya untuk berdiri.

Dengan susah payah, ia berhasil juga melakukannya.

Beberapa saat kemudian, tubuhnya yang sempoyongan mulai

tertatih-tatih menuju dinding jurang. Hui Sing mencari-cari

sesuatu untuk mengisi perutnya. Tadinya dia berharap

menemukan buah-buahan sekadar pengganjal lapar.

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Namun, dasar jurang itu hanya diisi tetumbuhan menjalar

saja. Kalaupun ada pohon, buahnya tak enak untuk dimakan.

Hui Sing jatuh tersimpuh. Matanya kembali berkaca-kaca.

Nelangsa. Meskipun yatim piatu sejak lahir, namun berada di

sisi Laksamana Cheng Ho membuat Hui Sing tak pernah

kekurangan apa pun. Apalagi sekadar makanan.

Kini, tak sebiji anggur pun yang bisa ia telan. Hui Sing

menoleh ke arah sungai. Dia menggelengkan kepala. Sadar,

tak cukup tenaga yang ia miliki untuk bisa menangkap

binatang sungai. Hui Sing lalu menengadah ke atas. Betulbetul

hanya tetumbuhan menjalar yang memenuhi dinding

jurang.

Hui Sing merasakan perutnya kian panas dan beberapa

kali mengeluarkan bunyi. Gadis itu lalu mengulurkan

tangannya meraih beberapa helai daun tumbuhan menjalar itu.

Entah daun apa. Hui Sing mendekatkan permukaan daun itu

ke hidungnya. Tak tercium aroma racun.

Sambil memejamkan matanya rapat-rapat, Hui Sing

membuka mulutnya. Daun itu dikunyahnya. Hanya beberapa

kali, karena ia buru-buru menelannya. Tak ia nikmati seperti

apa rasanya. Dengan napas memburu, Hui Sing

mengulangnya beberapa kali. Ia mencabuti daun-daun

tumbuhan menjalar itu, lalu cepat-cepat mengunyah dan

menelannya.

Beberapa saat kemudian, tubuh Hui Sing merosot. Ia

menyandarkan punggungnya pada dinding jurang. Gadis itu

mengusap air matanya, lalu mengeraskan hati, sekeraskerasnya.

Ia tersenyum. Benar-benar tersenyum.

“Belumlah seseorang itu dikatakan tunduk dan mencintai

Thian, kecuali dia telah diuji.”

Hui Sing seperti mendengarkan suara gurunya menggema

di pelosok jurang.

“Thian tak akan menguji hambanya lebih dari kemampuan

yang diberikan-Nya kepada hambanya itu.”

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Benar-benar jelas. Hui Sing tersenyum, sementara

matanya kembali berkaca-kaca.

“Guru.”

Ingatan tentang gurunya mendorong tenaga baru yang

berlipat-lipat dalam diri Hui Sing. Matanya berbinar, ketika

mengingat sesuatu. Tergesa, Hui Sing lalu merogoh lipatan

bajunya. Jemarinya mencari-cari. Berdebar ia ketika perlahan

mengeluarkan sebuah kitab yang lembarannya terbuat dari

kulit kambing.

Hui Sing tersenyum sambil tergagap. Sejak kitab “Kutub

Beku” diserahkan, Hui Sing belum sekali pun membacanya.

Kini dengan jantung yang berdebar kencang, ia membuka

lembar demi lembar kitab tak ternilai itu.

Hui Sing mencari bab pengobatan luka dalam dan ia

segera menemukannya. Wajah gadis itu seperti berpijar. Dia

lalu membenarkan duduknya. Setelah menaruh kitab itu di

depannya, Hui Sing mulai mengatur napasnya sesuai petunjuk

dalam kitab itu. Wajahnya cerah, benar-benar cerah. Senyum

itu sudah kembali.

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

8. Bunga Bermarga Shi

Berlayar dengan angin buritan, P’o-lin-pang bisa ditempuh

selama delapan hari delapan malam dari Jawa Dwipa. Daerah

ini dulunya masuk wilayah Kerajaan Sriwijaya. Letaknya di

sebelah timur Malaka. Wilayahnya diapit gunung tinggi dan

laut luas di sebelah selatan dan utara.

Sebagian besar wilayah P’o-lin-pang adalah air. Tanahnya

sedikit. Orang-orang kaya tinggal di rumah-rumah besar di

daratan, sedangkan orang biasa tinggal di atas rakit yang

ditambat pada tonggak di pantai.

Dua kali, setiap pagi dan malam, permukaan air laut

pasang. Orang-orang rakit itu sudah terbiasa dengan keadaan

itu. Mereka tetap tinggal nyaman di rumah-rumah rakitnya.

Orang-orang itu masyhur karena pandai bertempur di dalam

air.

Di P’o-lin-pang, banyak tinggal perantau dari Provinsi

Guangdong dan Quanzhou, daerah Fujian Selatan, Tiongkok.

Tahun Masehi menunjuk angka 1377 ketika Hayam Wuruk,

Raja Majapahit menyerang Sriwijaya. Menjelang runtuhnya

kerajaan itu, ribuan keluarga perantauan dari Tiongkok yang

tinggal di sana mengangkat Liang Daoming sebagai kepala

daerah mereka.

Ke sanalah armada Laksamana Cheng Ho kini berlayar.

Ratusan kapal yang membawa puluhan ribu anggota

pelayaran Kerajaan Ming segera tiba di Pelabuhan P’o-linpang.

Para ping-se mulai bersiap. Pengalaman pahit di Pantai

Simongan tak ingin mereka ulangi. Kehilangan seratus ping-se

dalam pertempuran di Simongan sudah cukup meninggalkan

luka mendalam.

Meskipun belum pulih benar, Cheng Ho dan Juen Sui

berada di ujung geladak kapal pusaka untuk memimpin

langsung ketika kapal-kapal raksasa itu melabuh.

“Siapa sebenarnya Chen Zhuyi itu, Guru?”

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Wajah Juen Sui belum terlalu bugar. Matanya memancar

lemah, meskipun luka dalamnya sudah mulai sembuh. Namun,

demi menghitung bahaya yang harus dihadapi armada Ming,

ia memaksakan diri untuk tetap berada di baris depan.

“Dia seorang pelarian. Bramacorah yang melanggar aturan

kaisar, lalu lari minta perlindungan kepada Raja Sriwijaya.

Sebelum diruntuhkan Majapahit, Zhuyi bekerja untuk Raja

Sriwijaya. Setelah sang raja mangkat, dia mengangkat dirinya

sebagai gembong bajak laut dan berlaku sewenang-wenang

terhadap penduduk dan para pedagang.”

“Apakah kekuasaan Liang Daoming tak cukup untuk

meredamnya?”

“Komplotan Zhuyi jumlahnya sangat banyak dan

berperilaku keji. Liang tak memiliki kekuatan cukup.”

“Tapi, bukankah P’o-lin-pang masuk wilayah Majapahit?

Mengapa Raja Majapahit tidak mengirimkan pasukan

tempurnya untuk mengusir bajak laut itu?”

Kelompok camar terbang dengan suara mereka yang khas.

“Juen Sui, Majapahit sedang dirundung berbagai persoalan

gawat. Bahkan, sekadar mempertahankan kesatuan daerah

bawahannya pun sangat sukar. Perang saudara terjadi terusmenerus.

Sang prabu tak sempat lagi berpikir untuk

mengamankan wilayah kekuasaannya yang demikian jauh.”

Juen Sui merekam semua pembicaraan itu.

Memahaminya, lalu melepaskan napas perlahan.

“Apa yang akan kita lakukan terhadap para bajak laut itu,

Guru?”

“Sesuai titah kaisar, kita akan memaksa Zhuyi untuk

menyerah dan bertaubat.”

Juen Sui menatap lurus ke garis pantai. Beberapa burung

laut menukik cekatan, menculik ikan-ikan kecil yang sedang

sial. Paruh kokohnya menjepit licin tubuh ikan yang terus

berontak.

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Jika Zhuyi menolak, Guru?”

“Kita membawa puluhan ribu ping-se dan peralatan perang

yang memadai untuk menaklukan mereka dalam

pertempuran.”

Pandangan Juen Sui mengambang. Dia sudah terbiasa

dengan perubahan penekanan suara gurunya setiap

membahas permasalahan yang berbeda.

Cheng Ho bisa sangat lembut karena memang hatinya

demikian perasa. Namun di saat lain, dia bisa sangat tegas

sekeras batu ketika menghadapi musuh yang aniaya.

“Pada akhirnya, perang hanya meninggalkan kehancuran.”

Cheng Ho menatap lekat murid tertuanya. Dia tersenyum

arif.

“Perang harus dilakukan ketika memang sudah tidak ada

pilihan, Juen Sui.”

Kini, Juen Sui menatap wajah gurunya. Pandangan mereka

bertemu.

“Ketika dunia ini diisi oleh begitu banyak manusia berhati

bobrok, Thian akan menghancurleburkan mereka dan

menggantikannya dengan generasi yang lebih baik.”

Juen Sui mengangguk paham.

“Aku akan turun ke darat menemui Liang Daoming dan

Zhuyi untuk menawarkan jalan damai. Tapi, kau harus bersiap

bersama Saudara Wang untuk menjaga segala kemungkinan.

Kalian tetap berada di atas kapal, sampai ada perintah dariku.”

Juen Sui mengiyakan kalimat gurunya. Cheng Ho lalu

kembali ke ruangan pribadinya untuk bersiap. Menjelang

petang, sampai juga kapal-kapal Kerajaan Ming itu di lepas

pantai P’o-iin-pang. Jangkar-jangkar raksasa kembali

dilemparkan, agar kapal-kapal itu tertambat dan tak dibawa

ombak.

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Cheng Ho dan belasan ping-se kemudian turun ke kapalkapal

kecil menuju daratan. Pantai Po-lin-pang tak seriuh

ketika masih dalam kekuasaan

Sriwijaya dulu. Kawasan ini tadinya demikian ramai

sebelum gerombolan bajak laut Zhuyi merajalela. Kini, kapalkapal

dagang dari berbagai negeri berpikir dua kali untuk

mampir di kawasan yang juga terkenal dengan nama Kang

Lama itu.

Ketika kapal-kapal kecil rombongan Cheng Ho segera

sampai ke bibir pelabuhan, sedikit sekali kapal-kapal dagang

yang terlihat. Itu pun jelas berasal dari daerah-daerah dekat.

Bendera – bendera yang dikibarkan di kapal-kapal itu

menandakan mereka bukan berasal dari negeri yang jauh.

Di pelabuhan, penduduk setempat membangun banyak

sekali menara dari batu bata. Menara-menara itu digunakan

untuk menambatkan kapal-kapal dengan tali yang kokoh.

Rombongan Cheng Ho bergerak cepat. Setelah menambatkan

kapal-kapal itu, Cheng Ho segera memimpin para ping-se

mencari kediaman Liang Daoming.

0oo0

“Saya sudah tak bisa memikirkan jalan keluar lain,

Laksamana.”

Seorang lelaki berusia tiga puluhan duduk di depan Cheng

Ho. Badannya tak terlalu tinggi, lagi kurus. Matanya yang sipit

tampak tenang seperti danau. Dia kelihatan berwawasan luas

dan bijak. Tutur katanya santun dan berhati-hati. Dialah Shi

Jinqing, pengganti Liang Daoming, penguasa P’o-iin-pang

yang sedang dipanggil pulang oleh

Kaisar Ming ke Tiongkok.

Selama Liang tak ada, Shi dipercaya untuk memimpin

rakyat P’o-Lin-Pang. Cheng Ho yang tadinya hendak menemui

Liang Daoming, akhirnya membahas permasalahan bajak laut

itu dengan Shi Jinqing.

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Tuan Shi, apakah Tuan sudah berusaha untuk berunding

dengan gerombolan Zhuyi?”

Setengah ragu Shi Jinqing mengangkat mukanya.

“Sudah tak terhitung berapa kali, Laksamana. Dia

memang berkeinginan keji untuk menguasai Po-lin-pang

seorang diri. Menjadi penguasa tanpa terbagi.”

Cheng Ho tampak sedang berpikir. Dahinya berkerut. Ia

melirik keluar pintu ruang tamu rumah Shi Jinqing yang besar.

Di luar ruangan itu dibangun taman mungil yang asri.

Beberapa perempuan pelayan mondar-mandir melakukan

berbagai pekerjaan.

“Tunjukkan kepadaku tempat tinggal Zhuyi. Aku akan

mencoba berunding dengannya.”

Shi mengangguk. Ia lalu memanggil beberapa orang

pengawal untuk menemaninya mengantar Cheng Ho menuju

perkampungan bajak laut yang dibangun khusus oleh Zhuyi.

Letaknya tak jauh dari pelabuhan. Dengan mengendarai kuda,

rombongan Cheng Ho tak butuh waktu lama untuk sampai di

sana.

Cheng Ho meratakan pandangannya ke segala arah.

Perkampungan bajak laut itu nyatanya tak seseram yang

dibayangkan. Seperti perkampungan biasa, tempat itu terdiri

dari rumah-rumah penduduk yang tertata rapi. Kesibukan di

dalamnya pun tak banyak berbeda.

Para perempuan terlihat sibuk melakukan berbagai

kegiatan. Di antara mereka, ada yang sedang menjemur ikanikan

yang dikeringkan. Ada juga yang menampi beras atau

bersenda gurau dengan anak-anak kecil.

Perkampungan ini dilingkari pagar bambu yang tinggi.

Memang, di depan gerbang kampung, beberapa orang

bermuka seram berdiri congkak dengan golok di bahu. Mereka

sempat menanyakan keperluan rombongan Cheng Ho datang

ke perkampungan itu. Begitu tahu bahwa lelaki gagah itu

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

adalah pemimpin armada bahari Kerajaan Ming, para penjaga

gerbang itu mempersilakan mereka masuk.

“Kenapa begini sepi?”

Cheng Ho menjalankan kudanya dengan perlahan begitu

masuk ke perkampungan itu. Ketipak kaki kuda terdengar

ramai. Cheng Ho keheranan karena perkampungan ramai itu

lebih banyak dihuni oleh perempuan dan anak-anak.

“Tentu saja. Para lelaki sedang berada di laut, Tuan Ho.

Mereka tak setiap hari pulang ke perkampungan ini.”

Kuda yang ditunggangi Shi menjejeri langkah kuda Cheng

Ho. Ia lalu menerangkan seluk beluk perkampungan bajak laut

itu. Misalnya, bagaimana komplotan pembajak yang jumlahnya

ribuan bisa berhari-hari berada di laut tanpa menengok

keluarganya. Mereka baru pulang ketika membawa aneka

hasil jarahan.

“Lihatlah, bahkan para bajak laut pun sebenarnya punya

mimpi yang sama dengan kita. Menumpuk harta sebanyakbanyaknya

untuk membahagiakan anak dan istri mereka. Tapi,

mereka menempuh cara yang salah. Manusia sungguh

lemah.”

Shi hanya mengangguk tanpa menjawab. Beberapa saat

kemudian, dia mengacungkan jari telunjuknya. Memberi tahu

Cheng Ho letak rumah yang ditinggali Zhuyi, gembong bajak

laut yang namanya membuat gentar penduduk daratan dan

lautan.

Sebuah rumah dengan ukuran besar berdiri kokoh di

tengah perkampungan. Bentuknya masih kental dengan khas

bangunan Tiongkok. Warna merah di mana-mana dengan

patung naga di muka rumah. Belasan lelaki berwajah tak

menyenangkan duduk santai di kursi-kursi kecil yang

diletakkan di pekarangan rumah.

Wajah mereka tidak seram, namun tak enak dipandang.

Tidak ada senyum, tidak ada keramahan. Begitu melihat

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

rombongan Cheng Ho, mereka segera berdiri dengan

congkaknya.

“Ketua Zhuyi sedang bersiap, silakan Tuan menunggu.”

Seorang lelaki berbadan tinggi besar dengan ikat kepala

bergambar tengkorak maju ke hadapan Cheng Ho. Wajahnya

terbentuk oleh tulang-tulang yang menonjol. Kelopak matanya

cekung dan sipit.

“Kami akan tunggu.”

Cheng Ho memberi tanda kepada orang-orang di

belakangnya supaya turun dari kuda mereka. Setelah itu,

belasan orang ping-se ditambah pengawal Shi, duduk

berkelompok di depan pekarangan rumah itu.

“Tuan, lihat betapa tidak sopannya Zhuyi.”

Shi mendekatkan kepalanya dan berkata lirih kepada

Cheng Ho. Mereka duduk di depan meja yang sama.

“Setelah hari ini, dia tak berhak lagi untuk bersikap

sombong.”

Garis muka Cheng Ho begitu yakin. Sorot matanya

menajam. Seperti ada api yang ujung merah kuningnya

menjilat-jilat di bola mata sang laksamana. Para lelaki penjaga

rumah Zhuyi berdiri tegak seperti patung di muka pintu rumah

besar itu. Wajah-wajah mereka tak semua berkulit kuning dan

bermata sipit.

Ada juga yang berkulit sawo matang dan wajah seperti

orang-orang Malaka. Tak lama kemudian, dari dalam rumah,

keluar sesosok lelaki bertubuh pendek. Lebih pendek dari Shi.

Tidak ada kesan seram apalagi angker di wajahnya. Kumisnya

melintang, jarang-jarang. Begitu juga dengan jenggotnya yang

seolah-olah jumlahnya bisa dihitung dengan jari. Lelaki

berumur tiga puluhan itu tersenyum culas.

“Laksamana Cheng Ho, sungguh suatu kehormatan, Zhuyi

yang hina dina ini dikunjungi oleh duta utama Kaisar Ming.

Maaf jika penyambutan kami begini sederhana.”

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Cheng Ho mengangkat keduanya tangannya seraya

menjura, membalas apa yang dilakukan Zhuyi.

“Tuan Zhuyi, nama Anda demikian mashyur, namun baru

kali ini kita bertemu. Sungguh gambaran tentang Tuan begitu

berbeda daripada yang saya dengar.”

Zhuyi tertawa pendek. Ia lalu menyilakan Cheng Ho

kembali duduk. Suasana awal pertemuan itu tak setegang

yang dibayangkan sebelumnya.

“Kaisar Ming begitu perhatian hingga mengirimkan Tuan ke

P’o-lin-pang,”

Setelah Cheng Ho menerangkan ikhwal kedatangannya ke

Kang Lama, Zhuyi masih juga berbasa-basi menjawabnya.

“Tuan Ho, apakah Tuan tak melihat bagaimana damainya

kehidupan di perkampungan kami? Perkampungan yang

disebut sarang bajak laut ini?”

“Saya tak menampiknya.”

“Itulah alasan saya untuk mengumpulkan kekuatan besar

di P’o-lin-pang. Rakyat butuh kepemimpinan yang kuat untuk

mengayomi. Bagaimana rakyat bisa hidup tenang jika

pemimpinnya lemah tanpa wibawa?”

Zhuyi melirik ke arah Shi saat mengatakan hal itu. Shi

sengaja tak mau menumbukkan pandangannya dengan Zhuyi.

Dia menyimak perubahan air muka Cheng Ho dengan

saksama.

“Semulia apa pun tujuannya, jika ditempuh dengan cara

yang melanggar kebenaran, di manakah keadilan?”

Cheng Ho melekatkan pandangannya ke wajah Zhuyi.

Menjelajahi sejauh mana wibawa orang kerdil di hadapannya

itu. Beberapa saat, Zhuyi sempat kuat menentang sorot mata

Cheng Ho. Tapi tak berapa lama, dia mengalihkan

pandangannya.

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Saya justru berpikir sebaliknya, Tuan Ho. Demi

kesejahteraan rakyat, apa pun harus dilakukan. Cara apa pun

harus dicoba.”

“Termasuk merugikan banyak orang lain di luar lingkaran

rakyat yang Tuan maksud?”

Wajah Zhuyi memerah. Dia kembali menentang sorot mata

Cheng Ho.

“Kenapa tidak?”

“Atas nama rakyat yang mana Tuan melakukan semua

ini?”

Zhuyi tak bisa menjawab.

“Apakah rakyat yang Tuan maksud adalah orang-orang

yang mau tunduk di bawah telapak kaki Tuan, sedangkan

selain itu pantas untuk ditumpas?”

Gigi geligi Zhuyi bergemerutuk. Tapi, dia masih tak

melakukan apa pun. Hanya duduk diam dengan hati

bergemuruh. Cheng Ho lalu berdiri gagah. Dia berjalan ke

tengah pekarangan, memilih titik terbaik, lalu mengeluarkan

sesuatu dari kantong bajunya. Sebuah gulungan kain bercorak

mewah.

“Aku Laksamana Cheng Ho membawa titah Kaisar Ming!”

Suara Cheng Ho lantang menyerang. Tidak satu pun orang

yang ada di tempat itu tak bisa mendengarnya. Serentak

mereka bersimpuh di tanah tempat mereka duduk dengan

kepala tertunduk. Semuanya, kecuali Zhuyi dan orangorangnya.

“Chen Zhuyi, kau tak tunduk kepada titah kaisar?”

Mata Zhuyi membelalak. Beberapa saat dia tak melakukan

apa pun.

“ZHUYI!!!”

Suara Cheng Ho dua kali lipat lebih keras dari sebelumnya.

Zhuyi tersentak. Dengan badan bergetar antara marah dan

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

segan, dia menjatuhkan dirinya ke tanah. Kepalanya

menunduk dalam-dalam. Beberapa saat kemudian, seluruh

anak buahnya melakukan hal yang sama.

“Kaisar Ming, Zhu Di memerintahkan kepada Chen Zhuyi

untuk segera bertobat dan berhenti membajak kapal-kapal

yang berlabuh di P’o-lin-pang. Jika tunduk, segala kesalahan

di masa lalu dihapus. Jika memberontak, Zhuyi harus

diringkus dan dibawa ke hadapan kaisar untuk mendapatkan

hukuman.”

Selesai membaca isi titah itu, Cheng Ho menggulungnya

kembali dan memasukannya lagi ke kantong bajunya.

“Bagaimana, apakah kau menerima titah ini, Zhuyi?” “

Hening sejenak.

“Sa … sa … saya menerima. Saya bertobat dan tak akan

lagi melakukan pembajakan.”

Cheng Ho tersenyum.

“Bagus. Dengan begitu, tak perlu ada pertumpahan darah.

Aku akan segera membawa kabar ini kepada kaisar. Buatmu,

inilah saat untuk membuka lembaran hidup yang lebih baik.”

Zhuyi mengangguk dengan sungguh-sungguh. Keningnya

sampai terantuk-antuk ke tanah. Cheng Ho menghampiri, lalu

menepuk bahunya. Ia membimbing Zhuyi berdiri. Gembong

bajak laut itu seperti kehilangan wibawanya. Tak menjawab

apa pun dan tak berkata apa pun. Masih menunduk dengan

pandangan menghunjam ke bumi.

“Saudara Zhuyi, sudahlah. Setiap orang pasti sempat

melakukan kesalahan. Hal terpenting, kau telah

menyadarinya. Saatnya menebus kesalahan dengan

perbuatan berbudi.”

Zhuyi mengangkat wajahnya, lalu tersenyum. Cairlah

suasana. Zhuyi lalu memohon kepada Cheng Ho untuk mau

tinggal sejenak menikmati hidangan. Cheng Ho tak menolak.

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Bersama rombongannya, Cheng Ho berlama-lama di

perkampungan itu untuk beramah-tamah.

Setelah matahari sudah melewati garis lurus ke bumi,

Cheng Ho berpamitan untuk kembali ke kediaman Shi Jinqing.

Ia meninggalkan perkampungan penyamun itu dengan hati

yang tersenyum lega.

0oo0

“Guru, ada tamu yang hendak bertemu!”

Juen Sui mengetuk pelan pintu kamar Cheng Ho. Setelah

menyelesaikan perundingan dengan Chen Zhuyi, Ceng Ho

memang bergegas kembali ke kapal pusaka. Dia tak ingin

membuang waktu untuk segera melanjutkan pelayaran pulang

ke Tiongkok.

“Persilakan masuk. Aku tak mengunci pintu.”

Bunyi berderak terdengar ringan, ketika Juen Sui membuka

pintu kamar Cheng Ho penuh hati-hati. Di samping Juen Sui,

berdiri seorang pemuda berumur dua puluhan. Wajahnya putih

bersih tanpa noda. Tubuhnya sedikit lebih pendek

dibandingkan Juen Sui dan agak kurus. Matanya sipit dan

terkesan teduh.

“Guru, tuan ini bernama Shi Jisun, putra Shi Jinqing.”

Shi Jisun menjura, disambut hangat oleh Cheng Ho

dengan cara yang sama.

“Ada hal penting apa hingga Tuan Muda Shi berkenan

datang ke kapal ini?”

Setelah menyilakan keduanya duduk, Cheng Ho langsung

menanyakan keperluan Shi Jisun. Dia sudah mengendus ada

hal yang sangat penting dan harus segera dibahas.

“Ini tentang Chen Zhuyi, Tuan Ho.”

Dahi Cheng Ho berkerut. Matanya menatap saksama.

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Dia berulah lagi?”

“Tuan Ho, Chen Zhuyi orang yang sangat licik. Dia

sebenarnya menyimpan rencana lain saat menyatakan

menyerah kepada titah kaisar. Zhuyi ingin Tuan lengah, lalu

menyerang armada untuk merampas semua harta benda

armada.”

Cheng Ho tampak berpikir.

“Dari mana Tuan Shi yakin?”

“Orang kepercayaan ayah saya menelusup ke dalam

kelompok pembajak itu. Dia menyamar sebagai anak buah

Zhuyi untuk mengamati gerak-geriknya. Hari ini, mata-mata itu

melapor bahwa Zhuyi sedang menyiapkan gerombolannya

untuk menyerang armada Tuan.”

Cheng Ho tersenyum. Tak ada perubahan berarti di air

mukanya.

“Sejak awal, aku pun ragu terhadap kesungguhan Zhuyi.

Ternyata dugaanku benar. Tuan Shi tahu berapa kekuatan

mereka?”

“Paling tidak, Zhuyi memiliki lima ribu pengikut. Armada

lautnya terdiri dari tujuh belas kapal besar dan puluhan kapal

kecil.”

“Lancang. Dia terlalu meremehkan armada Ming. Juen Sui,

siapkan kapal meriam. Kita habisi bajak laut itu malam ini

juga.”

“Baik, Guru.”

Pembicaraan itu berlanjut dengan membahas taktik

penumpasan gerombolan Zhuyi. Juen Sui lalu keluar ruangan

untuk melaksanakan perintah gurunya. Sedangkan Shi Jisun

terus diajak berunding oleh Cheng Ho untuk menghitung

kekuatan lawan. Hingga siang, pembicaraan itu berlangsung

sungguh-sungguh. Lewat tengah hari, barulah Shi Jisun keluar

dari ruang pribadi Cheng Ho.

0oo0

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Alam sama sekali tak ramah

Tak satu pun benda langit yang muncul dari balik selimut

gelap angkasa malam itu. Angin begitu ribut. Mendung

menggulung, sepertinya sebentar lagi memuntahkan hujan

yang dahsyat. Kapal-kapal armada Kerajaan Ming mengapung

dengan pasrah. Gelap gulita. Tak satu pun lampu kapal yang

menyala.

Ratusan kapal itu tak lebih dari benda yang mengambang

dan mati. Bunyi berderak-derak dari gesekan tiang-tiang kapal

yang tak lagi mengibarkan layar. Tak satu orang ping-se pun

tampak berjaga-jaga. Ombak menghempas-hempas di dinding

kapal menimbulkan suara ngeri.

Pada saat yang sama, belasan kapal bergerak cepat ke

arah armada Ming. Bendera bergambar tengkorak berkibar

ribut.

“Ketua, apakah ini bukan perangkap?”

Chen Zhuyi berdiri sombong di lambung kapal terdepan. Di

sampingnya Ma Vi Dong, pengawal setia Zhuyi, membujuk

agar tuannya memikirkan kembali rencana penyerbuan

terhadap armada Ming.

“Ma Yi, tidakkah kau tahu, armada yang dibawa Cheng Ho

hanyalah para ping-se kelas rendah, tabib, sastrawan,

pedagang dan orang-orang tak berguna lainnya. Mereka tak

tahu cara bertempur. Kapal-kapal itu hanya membawa barangbarang

berharga. Tak ada senjata berbahaya.”

“Tapi, Ketua, suasana laut begini kacau-balau, sedangkan

para penghuni kapal itu justru tenang-tenang saja. Apakah itu

tidak mencurigakan?”

“Persetan! Kita membawa lima ribu orang yang siap

bertempur. Apakah kau masih takut dan tidak percaya diri, Ma

Yi?”

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Ma Yi terdiam. Dia tak mendebat lagi apa kata Zhuyi.

Kapal-kapal bajak laut itu meluncur semakin dekat ke armada

yang dipimpin Cheng Ho. Pada titik waktu tertentu, serta-merta

hening laut malam itu pecah berantakan.

Nyala api seperti ratusan bintang berekor meluncur ke arah

kapal-kapal bajak laut itu. Sebelumnya, meledak suara

berdentum-dentum dari kapal-kapal armada Ming. Rupanya,

puluhan kapal armada Ming yang dilengkapi dengan

perlengkapan perang meluncurkan peluru meriam mereka.

Zhuyi tersentak dan terpaku di tempatnya berdiri tanpa

berbuat apa pun. Sementara satu per satu kelompok kapal

yang ia pimpin, terbakar. Seperti kejatuhan batu sebesar

gunung, suara berdebam menghantam lambung kapal itu

hingga porak-poranda. Rasanya, seluruh permukaan laut ikut

bergetar. Seolah-olah bumi akan terbelah.

Menyusul kemudian, nyala api dari bubuk mesiu meriam

yang membakar badan kapal dan tiang-tiang penyangga,

sampai layar-layarnya. Lolongan awak kapal tak tergambarkan

lagi seperti apa ngerinya. Sahut-menyahut tanpa habis.

Mereka lari kocar-kacir tanpa arah.

Tak terkira lagi berapa yang mencebur ke laut menghindari

amukan api yang menggila. Dalam sekejap, tujuh kapal besar

bajak laut habis terbakar dan tenggelam. Awak kapal yang

jumlahnya ribuan tewas terpanggang. Mereka yang bernasib

baik mencebur ke laut.

Tapi, itu pun bukan kesempatan untuk meman-jangan

napas mereka. Sebab, perlahan kapal-kapal Armada Ming

merapat ke arah mereka dengan para ping-se siap tempur.

“Ketua, apa yang harus kita lakukan?”

Wajah Ma Yi pucat pasi. Dia berdiri gemetaran di samping

Zhuyi yang tak kalah takut. Keduanya menjadi bayangan hitam

dengan latar belakang nyala api yang terang benderang saat

melalap tujuh kapal besar milik bajak laut itu.

“Lawan sampai mati!”

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Zhuyi berteriak tanpa paham betul apa yang ia katakan.

Toh, Ma Yi cukup maklum dengan perintah itu. Ia lalu

memerintahkan anak buahnya untuk meniup terompet sebagai

tanda pertempuran habis-habisan.

Dimulailah pertumpahan darah itu. Kapal perang armada

Ming yang jumlahnya puluhan memisahkan diri dari kelompok

besar kapal-kapal pimpinan Laksamana Cheng Ho yang

jumlahnya ratusan.

Begitu kapal-kapal merapat, ratusan ping-se menyeberang

ke kapal-kapal bajak laut dengan pedang terhunus di tangan

kanan, dan obor terang benderang di tangan kiri. Suara

pedang beradu mulai rata, gegap gempita, meludeskan sunyi

malam sebelumnya. Huru-hara di tengah laut yang gulita.

Obor-obor yang jumlahnya ribuan seperti kunangkunang

yang sedang berpesta. Meliuk-liuk sangat semarak.

Pada saat yang sama, jeritan menyayat semakin membahana

saat para ping-se ataupun anggota bajak laut yang tersisa

ambruk bersimbah darah.

Di antara hiruk pikuk itu, sebuah bayangan ringan

berkelebat. Para bajak laut yang coba menahannya langsung

terjungkal dengan nyawa tak lagi terkandung badan. Seperti

pedang menyibak arus air. Para penentang berjungkalan.

Bayangan itu terus merangsek ke depan.

“Zhu Yi menyerahlah dan nyawamu akan tertahan hingga

ke hadapan kaisar!”

Bayangan yang tak lain Laksamana Cheng Ho itu seperti

harimau terluka. Setiap gerak tubuhnya mendatangkan maut

bagi siapa pun yang mencoba menghalangi. Zhuyi yang

mendengar teriakan itu semakin ketakutan saja.

Diam-diam, dia hendak menyelinap keluar pertempuran

ketika tubuhnya tiba-tiba melambung ringan dan terhempas

begitu saja ke lantai geladak. Tulang belulangnya terasa ngilu

tercekat dingin yang luar biasa. Seperti ditusuk ribuan pedang.

Dia menggeletak dengan mata membelalak dan tak berkutik.

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Bajak Laut Zhuyi! Ketua kalian telah kutawan! Hentikan

perlawanan atau kalian semua akan mati terbantai!”

Suara lantang Cheng Ho disambut sorak-sorai ribuan pingse

di kapal-kapal armada Ming. Gegap gempita membahana

di seluruh penjuru pantai. Bersamaan dengan itu, bunyi

berdenting senjata tajam para bajak laut berjatuhan di lantai

kapal tanda mereka telah menyerah. Para ping-se pun segera

meringkus mereka dan mengikatnya dengan tali.

Akhir yang melegakan. Cheng Ho menyuruh anak buahnya

untuk mengikat kuat Zhuyi yang tadi ditundukkannya dengan

sekali gebrak. Hampir pagi ketika semua anggota komplotan

bajak laut itu digiring ke dalam satu kapal yang dipilih sebagai

tempat tahanan. Sedangkan Chen Zhuyi dibawa ke daratan.

0oo0

Juen Sui merasakan ketenangan batin yang sangat dalam.

Dia duduk di atas salah satu rumah rakit yang mengapung,

berdesak-desakan dengan ratusan rumah rakit lain di pantai

P’o-lin-pang. Juen Sui merapatkan kelopak matanya, lalu

mengisi paru-paru dengan udara segar. Aroma laut terasa

benar. Sedikit amis, tapi menenangkan. Suara burung laut

yang bersahut-sahutan saling mengisi dengan deburan ombak

di bagian pantai yang lain.

Juen Sui mengedarkan pandangannya, melihat kesibukan

orang-orang rakit yang begitu penuh. Mereka saling bertukar

barang. Mulai dari sayur-mayur, ikan segar, dan barangbarang

lain. Ada juga yang sedang bersantai di beranda rakit.

Anak-anak bermain ceria di air. Berkecipak saling serang

dengan teman-temannya.

Kesibukan lain hampir sama di setiap rumah mengapung

itu. Ada beberapa perempuan yang sedang menjahit baju,

sedangkan suaminya sibuk mengasah golok untuk

memotong ikan. Tidak sedikit juga yang sedang memperbaiki

jala dengan saksama.

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Pandangan mata Juen Sui lalu tertumbuk pada sesosok

perempuan bergaun panjang warna merah yang tampak sibuk

dengan kotak di depannya. Rambutnya digelung ringkas. Ia

duduk di atas rakit yang terpisah tujuh sampai sepuluh rakit

dari tempat Juen Sui memandangnya.

Tangan gadis itu cekatan mengeluarkan beberapa benda

dari kotak itu. Di hadapannya, seorang bocah duduk lemas di

pangkuan seorang perempuan setengah baya. Mungkin

ibunya.

Perempuan muda yang usianya tak akan melebihi dua

puluh tahun itu memeriksa tangan mungil si bocah. Berbicara

kepada ibunya dengan kesan muka yang sungguh-sungguh,

lalu mengajak bocah itu berbincang dengan air muka yang

ceria. Juen Sui memandang takjub.

Gadis itu sepertinya seorang tabib. Seorang tabib yang

tahu benar dengan siapa dia berhadapan. Dia bisa mengubah

kesan wajahnya ketika berbicara dengan sang ibu, berbeda

ketika dia mengajak berbincang si bocah. Sementara,

tangannya sama sekali tak canggung mengambil berbagai

barang dari kotak itu. Sungguh lihai.

“Siapa gadis itu, Tuan?”

Juen Sui gagal menahan rasa ingin tahunya. Ia mendekati

pemilik rakit yang ia sewa. Si empunya rakit yang dilengkapi

dengan bangunan rumah sekadarnya itu adalah seorang lelaki

ceking berumur lima puluhan. Dia memakai tudung di

kepalanya untuk menghalau panas. Laki-laki itu lalu

mengalihkan pandangannya ke arah yang ditunjuk Juen Sui.

Dia lalu tersenyum.

“Dia tabib Shi Tay Nio. Sangat terkenal di Kampung Rakit.

Tiga kali dalam sepekan dia datang untuk memeriksa

kesehatan warga Kampung Rakit.”

Juen Sui tertegun sambil menganggukkan kepala.

“Hatinya sungguh mulia. Dia tidak pernah mengambil upah

untuk pekerjaannya itu.”

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Juen Sui makin takjub. Ia masih saja melihat jemari lentik

Shi Tay Nio yang masih sibuk memeriksa bocah itu. Wajah

gadis itu mulai tampak mengkilap oleh keringat.

Kulitnya yang putih bersih memerah terpanggang sinar

matahari dan udara laut. Beberapa helai rambut yang lepas

dari gelungannya menjatuhi mukanya hingga tampak betul

kesungguhannya saat bekerja. Sesekali ia mengusapkan

punggung tangannya untuk mengelap keringat di dahinya.

“Terima kasih.”

Juen Sui kembali ke tempat duduknya. Namun, ia masih

saja tak mampu mengalihkan pandangannya dari perempuan

muda itu. Beberapa lama kemudian, Shi Tay Nio sudah

menyelesaikan pekerjaannya. Setelah berpamitan dengan

membungkukkan badannya di depan perempuan setengah

baya tadi, perlahan dia menyeberang ke rakit yang lain.

Ia kemudian berbicara sejenak dengan seorang pemuda

yang tampaknya sangat menaruh hormat kepadanya.

Beberapa saat kemudian, pemuda itu masuk ke bilik di atas

rakit itu lalu keluar lagi sambil menggendong seorang

perempuan tua ke beranda rakit agar bisa diperiksa dengan

leluasa.

Shi Tay Nio segera tenggelam dengan kesibukan barunya.

Hingga lewat tengah hari, Juen Sui masih mengikuti gerakgerik

tabib muda itu dengan saksama. Semakin terpesona.

Lalu, dengan penuh hati-hati, dia mengikuti langkah Shi

Tay Nio yang kini tampak bergegas menyeberang dari satu

rakit ke rakit yang lain menuju daratan. Tangan kanannya

memeluk kotak yang rupanya berisi obat-obatan itu,

sedangkan tangan kirinya menjadi tumpuan untuk

memudahkan pergerakannya dari rakit ke rakit.

Gadis itu sampai juga ke daratan. Kakinya menginjak pasir

pantai yang putih bersih. Dia segera beranjak meninggalkan

pantai. Baru saja dia hendak berlalu dari kelompok pohon

kelapa yang tak jauh dari pantai, terdengar suara berisik dan

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

bergemuruh dari arah belakang. Dua orang lelaki muncul

dengan pedang terhunus.

Keduanya melompat tinggi dan langsung mengepung Shi

Tay Nio. Gadis itu tersentak, meskipun tak lantas kaget. Di

berdiri menghadapi dua orang itu dengan sorot mata yang

tegas. Sikap tubuhnya tenang.

“Apa yang kalian inginkan?”

Satu di antara dua orang itu memain-mainkan pedangnya

sambil menyeringai.

“Menghabisi semua orang bermarga Shi!”

Shi Tay Nio tersenyum tanpa beban.

“Apa keuntunganmu membunuhku?”

“Tentu saja kepuasan. Teman-teman kami yang terbunuh

karena ayahmu dan mereka yang ditahan pasti akan berterima

kasih kepada kami.”

“Membunuhku bagi kalian tak akan lebih sulit dibandingkan

membunuh semut. Tapi, apakah kalian sempat berpikir

tentang orang-orang yang akan membutuhkanku kelak?”

Dua orang itu tergelak dengan keras. Rupanya, dua orang

ini adalah anggota bajak laut Zhuyi yang berhasil lolos saat

kapal-kapal mereka dihancurkan oleh Cheng Ho.

“Maksudmu, orang-orang miskin yang tinggal di atas rakit

itu?”

Lagi-lagi mereka tertawa seperti orang gila.

“Mana kami peduli tentang hal itu? Lebih baik kau

menyerah saja. Agar kami bisa menyanderamu dan menukar

dengan ketua.”

“Aku tak pernah peduli dengan bajak laut atau siapa pun.

Aku seorang tabib yang akan menolong siapa saja yang

membutuhkan. Bahkan jika kalian yang terluka, aku akan tetap

turun tangan.”

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Kedua orang itu menyeringai. Gigi-gigi mereka terlihat

mengerikan. Apalagi keduanya memiliki jambang lebat dan tak

terawat. Dalam hati, Shi Tay Nio tetap saja merasakan waswas.

“Maaf, kami sama sekali tak tersentuh!”

Dua lelaki itu melompat ke arah Tay Nio dengan beringas.

Gadis itu memejamkan matanya pasrah. Dia memang memiliki

kekerasan hati, namun tak menguasai ilmu kanuragan sama

sekali.

Dalam sekejap, sudah pasti gadis itu berada dalam

genggaman dua penjahat itu, kalau saja tak ada sekelebat

sosok yang meloncat dan menghadang laju mereka. Dia Juen

Sui yang sejak tadi memang mengikuti langkah Tay Nio.

Sekali meloncat, dia sudah berdiri di muka Tay Nio dan

menghadang dua orang penjahat itu. Tubuhnya bergerak

cepat menyambut serangan pedang itu. Tangan kanannya

menepis pedang salah satu penyerang itu dan langsung

mematahkannya. Pergelangan tangannya lalu berputar

setengah lingkaran dan menyodok ke dada si penyerang

hingga terpental ke belakang.

Pada saat yang sama, tangan kirinya bergerak kilat

menghantam pergelangan tangan laki-laki satunya. Pedang itu

mental ke tanah, sedangkan pemiliknya terhuyung-huyung ke

belakang. Juen Sui tak memberi kesempatan keduanya untuk

bernapas. Dia menyerbu ke arah dua lelaki itu dan siap

melayangkan pukulan untuk memecahkan kepala dua

bramacorah itu.

“Jangan dibunuh!”

Gerakan tangan Juen Sui yang berbau maut itu terhenti. Ia

lalu menghunjamkan totokan kuat, agar mereka tak berkutik.

“Kenapa Nona masih mengampuninya, sedangkan mereka

hendak mencelakai Nona?”

Juen Sui membalikkan tubuhnya dan menatap Tay Nio.

Sebenarnya, dia pun tak hendak membunuh dua orang itu.

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Selain hatinya tak sekeji itu, ia memang bermaksud membawa

mereka kepada Shi Jinqing dan gurunya.

“Itulah kenapa saya tak suka ilmu kanuragan. Begitu

mudah mengambil nyawa seseorang. Padahal, untuk

menyelamatkan satu jiwa begitu sukar.”

Juen Sui tertegun sejenak. Dia menatap gadis itu dengan

pandangan kagum, kebaikan harus menumpas kejahatan?”

Tay Nio tersenyum. Dagunya tambah runcing karenanya.

“Apakah tidak lebih indah jika kejahatan itu diberi cahaya

agar berubah menjadi kebaikan?”

Juen Sui tak mampu menjawab lagi.

“Tuan, terima kasih atas pertolongan Tuan. Semoga Thian

membalas budi baik Tuan hari ini.”

Setelah mengucapkan itu, Tay Nio berbalik lalu bergegas

meninggalkan tempat itu. Juen Sui masih terpaku di

tempatnya. Sejenak kemudian, dia menghampiri dua orang

bramacorah tadi. Ia membebaskan totokannya, lalu

menggiring keduanya untuk berjalan menuju kediaman Shi

Jinqing.

“Tuan Shi, kemunculan dua anggota bajak laut itu

menunjukkan tak sedikit anggota mereka yang lolos.”

Cheng Ho terlibat pembicaraan serius dengan Shi Jinqing,

Juen Sui yang baru saja tiba dan Shi Jisun ada juga di

ruangan itu. Setelah berhasil menumpas gerombolan bajak

laut Chen Zhuyi, Cheng Ho memang memutuskan untuk

tinggal beberapa hari di P’o-iin-pang sebelum melanjutkan

perjalanan pulang ke Tiongkok. Ini dilakukan untuk menjaga

kemungkinan aksi balas dendam anak buah Zhuyi yang

berhasil meloloskan diri. Kini hal itu terbukti.

“Hari ini, saya berencana menyisir P’o-iin-pang dan

memastikan agar tak ada lagi anak buah Zhuyi yang membuat

onar, Tuan Ho.”

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Saya kira itu langkah sangat baik, Tuan Shi. Dengan

begitu, rakyat segera merasakan ketenteraman. Armada Ming

juga mesti segera melanjutkan perjalanan ke Tiongkok.”

Shi Jinqing melepas napasnya perlahan.

“Kapan Tuan Ho berencana kembali berlayar?”

“Secepat mungkin. Bahkan jika tak ada rintangan, dua-tiga

hari ini kami akan berangkat.”

“Begitu cepat?”

Cheng Ho tersenyum kalem.

“P’o-iin-pang sudah tenang. Tak ada yang mesti

dikhawatirkan. Apalagi Tuan Shi bersama putra Tuan cukup

punya wibawa di sini. Pihak Majapahit pun sangat percaya

kepada Tuan.”

Shi Jinqing kini tersenyum lebar sambil menganggukkan

kepala.

“Tuan Ho terlalu memuji. Tuan, sebenarnya saya juga ingin

mengenalkan putri pertama saya. Setiap Tuan datang ke sini,

dia selalu tidak ada. Hari ini kebetulan sekali dia pulang agak

cepat, jadi saya bisa memperkenalkannya kepada Tuan

berdua.”

“Oya? Maksud Tuan Shi, putri Tuan yang pandai dalam hal

obat-obatan itu?”

Shi Jinqing menyuruh Jisun untuk memanggil adik

perempuannya. Mereka lalu kembali mengobrol tentang halhal

ringan. Pembicaraan itu terhenti ketika Jisun kembali ke

ruangan itu.

“Tuan Ho, Tuan Juen Sui, inilah putri pertama saya. Adik Ji

Sun. Namanya Shi Tay Nio.”

Cheng Ho tersenyum sambil berdiri menjura. Gadis itu

melakukan hal yang sama.

“Saya sudah mendengar kehebatan Tuan Ho. Saya

sungguh ingin belajar dari Tuan!”

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Cheng Ho tersenyum.

“Jangan terlalu sungkan, Nona.”

Beda lagi dengan Juen Sui yang sangat terpana. Gadis di

depannya ini adalah tabib muda yang sempat ia tolong siang

tadi. Ternyata dia adalah putri pemimpin P’o-lin-pang yang

terkenal.

“Nona Shi, ternyata Anda!”

Shi Jinqing bergantian memandang ke arah Juen Sui dan

Tay Nio.

“Tuan Juen Sui sudah mengenal anak saya?”

“Pagi tadi, Tuan Shi. Nona Shi adalah perempuan yang

saya sebut saat menceritakan penangkapan dua anak buah

Zhuyi yang muncul di Kampung Rakit.”

“Oh, rupanya begitu. Saya kira ini jodoh. Kalau begitu, ini

benar-benar hari yang baik. Patut jika kita rayakan. Tay Nio

baru saja memasak hidangan istimewa hari ini. Bukankah

semua sudah siap, Nio?”

“Ya, Ayah. Semuanya sudah siap.”

Mereka lalu menuju ruang makan keluarga Shi dengan

wajah berseri-seri. Keluarga ini memang selalu hidup rukun.

Apalagi setelah istri Shi Jinqing meninggal, Tay Nio berusaha

mengganti perannya mendidik adik-adiknya dengan baik.

Selain Shi Jisun kakaknya, Tay Nio masih memiliki dua orang

adik yang masih kanak-kanak.

Siang itu, seluruh keluarga berkumpul menyantap

hidangan istimewa. Kelegaan setelah berhasil menumpas

gerombolan Zhuyi semakin lengkap.

0o0

“Sayang kita tak tak memiliki banyak waktu untuk saling

belajar, Nona Shi.”

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Sore itu, Juen Sui dan Shi Tay Nio berbincang berdua di

kebun belakang keluarga Shi. Halaman belakang itu begitu

luas. Sebagian ditanami aneka sayuran, sebagian lagi dipagari

anyaman bambu tinggi berkerangka kayu kokoh. Di dalamnya

terdapat banyak binatang piaraan. Tay Nio membawa

sekeranjang makanan untuk binatang piaraannya di tangan

kanan. Ia dan Juen Sui kini berada di depan kandang burung

buceros. Tangan Tay Nio sesekali melemparkan makanan

serupa bubuk itu ke dalam kandang.

“Tuan Juen Sui, terkadang pemahaman seseorang

terhadap sesuatu tak bergantung pada waktu, tapi

kesungguhan.”

Juen Sui mengalihkan pandangannya ke burung-burung

bucerus yang kini tengah berebut makanan. Burung itu

besarnya tak melebihi bebek, bulunya hitam, lehernya

panjang, dan paruhnya meruncing. Tengkoraknya terlihat

tebal. Bagian atas tengkoraknya berwarna merah di luar,

sedangkan bagian dalamnya berwarna kuning. Sedap betul

dipandang mata.

“Dulu saya pernah mengenal seorang teman yang mirip

Nona.”

Tay Nio menghentikan pekerjaannya.

“Itu alasan Tuan ingin tahu banyak tentang saya?”

“Bukan. Bukan begitu, Nona. Saya tak hendak

menyamakan Nona dengan teman saya tadi. Saya tiba-tiba

ingat begitu saja.”

Tay Nio lalu mengajak Juen Sui untuk meneruskan

langkah. Juen Sui terkagum-kagum oleh berbagai binatang

piaraan keluarga Shi yang kelihatan sangat terawat dan

gemuk-gemuk.

“Apa nama binatang serupa kalkun itu, Nona Shi?”

“Kasuari. Itu binatang kesayangan ayah.”

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Juen Sui mendekati kandang binatang ajaib itu. Besarnya

hampir sama dengan bangau. Badannya berbentuk bundar

dengan leher yang lebih panjang dibandingkan bangau. Ia

memiliki jengger berwarna merah yang terlihat lembut.

Bentuknya seperti topi merah yang dikenakan di kepala.

Paruhnya runcing dengan bulu agak jarang tapi panjang

seperti bulu domba. Hanya warnanya kebiru-biruan.

“Binatang ini bisa berbahaya, Tuan Juen Sui.”

Tay Nio meneburkan makanan tumbuk dari keranjang yang

langsung disambut dengan langkah berderap oleh tiga ekor

kasuari di kandang itu.

“Oya?”

“Cakarnya tajam sekali. Sekali sabet, usus seseorang bisa

berantakan kena tendang.”

Juen Sui mengangguk-angguk paham.

“Tuan belum selesai cerita tadi. Di mana teman Tuan yang

istimewa itu?”

“Barangkali sekarang dia ada di Majapahit.”

“Dia putri keraton?”

“Bukan. Dia orang hwa kiau (Orang-orang Tionghoa yang

hidup dalam perantauan) seperti kita. Dia juga menganut I-selan

seperti keluarga Nona.”

Tay Nio tersenyum. Sekarang ia paham apa maksud Juen

Sui mengait-ngaitkan dirinya dengan perempuan yang Juen

Sui kenang dengan sungguh-sungguh itu.

“Anda sedang membicarakan Nona Hui Sing, Tuan?”

Juen Sui terhenyak. Ia menatap Tay Nio dengan

pandangan heran.

“Saya banyak berbincang dengan Tuan Ho kemarin. Beliau

sempat bercerita tentang Nona Hui Sing. Saya semakin kagum

dengan guru Tuan. Pandangannya luas, ilmu agamanya

dalam.”

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Kungfunya juga hebat!” Juen Sui memotong kalimat Tay

Nio.

“Itu saja yang tak membuat saya tertarik. Sejak kecil, saya

tak suka melihat perkelahian.”

Tay Nio kembali meneburkan makanan tumbuk itu kuatkuat.

Ia sebar ke beberapa titik sehingga kasuari di dalam

kandang itu tak lagi berebutan.

“Bukankah Anda butuh sesuatu untuk melindungi diri,

Nona?”

“Thian melindungi saya, Tuan. Saya yakin itu. Semua yang

bergerak di langit dan bumi sudah demikian teratur. Tak akan

ada yang salah. Jika saya mati hari ini, itu pun sudah menjadi

rencana langit.”

Juen Sui tak ingin berdebat. Dia meminta izin ikut

menebarkan makanan itu ke dalam kandang kasuari. Tay Nio

mengiyakan. Obrolan itu mengalir deras. Juen Sui beberapa

kali menegaskan rasa sesalnya karena tak punya waktu lama

untuk tinggal di P’o-iin-pang. Kebersamaan mereka tak

berumur lama. Sehari kemudian, Cheng Ho benar-benar

mengajak seluruh armada untuk melanjutkan perjalanan

pulang ke Tiongkok.

Berangkatlah armada raksasa itu kembali membelah

samudra. Juen Sui semakin tak banyak bicara setelah mereka

meninggalkan P’o-iin-pang. Ingatannya kini terbagi habis.

Setengah di Majapahit, setengah lagi di Kampung Rakit,

tempat pertama ketika dia bertemu dengan Shi Tay Nio.

0oo0

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

PADHAJAYANYA

9. Pewaris Blambangan

P’o-lin-pang terang benderang. Setelah penghancuran

bajak laut pimpinan Chen Zhuyi, kehidupan rakyat kembali

damai. Shi Jinqing dianugerahi jabatan Duta Xuan Wei oleh

Kaisar Ming karena jasanya membantu Cheng Ho saat

menggulung komplotan bajak laut itu.

Bergelar Xuan Wei Shi, Shi Jinqing menjadi pemimpin hwa

kiauw yang sah di P’o-lin-pang. Meskipun demikian, Shi juga

tetap tunduk kepada Majapahit. Oleh Raja Wikramawardhana,

Shi dipercaya untuk mengurus keagamaan dan segala macam

urusan warga P’o-lin-pang.

Pada tahun Yong Le keenam atau 1408 penanggalan

Masehi, dua tahun setelah pelayaran megahnya yang

perdana, Laksamana Cheng Ho kembali mengunjungi

Majapahit untuk mengambil denda peristiwa Simongan dari

Raja Wikramawardhana.

Saat itu, Majapahit menyerahkan sepuluh ribu tail emas.

Masih jauh dari denda yang disepakati,

yaitu sebanyak enam puluh ribu tail emas. Tapi akhirnya,

Kaisar Ming yang baru, Cheng Zu, menghapus segala utang

itu untuk menjaga hubungan baik dengan Majapahit. Cheng

Ho kembali ke Tiongkok dengan hati gelisah.

Janji dengan Hui Sing untuk bertemu dua tahun setelah

perpisahan itu tak terkabul. Orang-orang Majapahit pun tak

pernah mendengar kabar tentang murid kesayangannya itu.

Sementara sepeninggalan Cheng Ho pada pelayarannya yang

perdana, peristiwa-peristiwa besar juga terjadi di Majapahit.

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Perkawinan megah Rakryan Rangga Sad Respati dan

Dewi Anindita menjadi kegembiraan seluruh negeri. Pesta

tujuh hari tujuh malam memeriahkan keraton Majapahit.

Rakyat pun ikut berpesta pora.

Pada saat yang sama, pemberontakan-pemberontakan

kecil terus berlangsung meskipun dapat segera ditumpas.

Kelompok-kelompok penentang Wikramawardhana terus

bergerak. Barisan paling berbahaya adalah kelompok pengikut

setia Bre Wirabumi dari Blambangan yang konon hendak

menuntut balas atas kehancuran kekuasaan Blambangan saat

digilas Majapahit.

Tersiar kabar, kelompok berbahaya yang mengancam

kekuasaan raja itu kini ada di Demak. Daerah itu memang

terus tumbuh menjadi pusat keramaian. Dalam jangka waktu

dua tahun, kawasan ini sudah bersaing dengan daerah

tetangganya, Medangkamulan. Para pengembara dari Barat

yang bermata biru dan berambut pirang tumpah ruah di sana.

Semakin banyak juga para hwa kiauw beragama I-se-ian

yang berdagang sekaligus menyebarkan kepercayaan baru

mereka di sana. Demak akan segera menjadi besar.

Siang itu, Demak dinaungi mendung. Raja siang tak

bersinar kejam. Suasana teduh dan menyenangkan. Orangorang

keluar rumah untuk melakukan berbagai hal. Para

wanita berbelanja di pasar-pasar yang ramai. Para lelaki

membawa hasil bumi mereka untuk ditukar dengan aneka

kebutuhan.

Anak-anak diapit orangtuanya berjalan-jalan melihat

keramaian. Rumah makan-rumah makan penuh orang.

Pertunjukan-pertunjukan di tengah jalan dijejali penonton. Ada

pertunjukan monyet menari, pertunjukan kekebalan tubuh,

sampai pertunjukan ilmu kanuragan, begitu ramai ditonton.

Orang-orang berdiri melingkar agar semua bisa

menyaksikannya.

Kebanyakan orang-orang memakai pakaian bagus. Tidak

sedikit di antara mereka memakai kain sutra yang dibawa

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

pedagang dari Tiongkok. Sepertinya, kehidupan demikian

menyenangkan.

Di sela kesibukan orang-orang dengan senyum lebar

mereka, sesosok kurus berjalan terhuyung-huyung di tengah

keramaian. Dia seorang perempuan muda dengan pakaian

lusuh. Seperti tak pernah ganti selama bertahun-tahun. Seperti

ada keremajaan yang tercerabut dari wajahnya yang tirus.

Bibirnya bergetar tertahan, sedangkan sorot matanya layu.

Rambut panjangnya tergerai. Kelihatan kering meskipun

tak awut-awutan. Beberapa kali ia mendekati para penjual

makanan. Berbicara sebentar, lalu beranjak pergi dengan

wajah muram.

“Kisanak, saya bisa bekerja apa saja. Kisanak tak perlu

memberi upah. Bisa makan sehari dua kali pun saya sudah

sangat berterima kasih.”

Perempuan muda itu kini berdiri di depan penjual

penganan keliling. Lelaki tua penjual penganan itu

menggelengkan kepala.

“Nini, untuk makan kami sekeluarga saja, saya harus

membanting tulang. Kalau Nini mau, Nini bisa makan

dagangan saya untuk sekadar mengganjal perut.”

Perempuan muda itu menggelengkan kepala. “Terima

kasih, saya tak ingin memberatkan Kisanak.”

Ia lalu membalikkan badannya dan kembali melangkah

terhuyung menembus kerumuman orang. Mendung di atas

Demak semakin gelap. Gerimis pun turun. Makin lama makin

deras.

Gadis itu menyeret langkah gontainya menuju sebuah

gubuk kosong di pinggir jalan besar pusat Kota Demak.

Sepertinya gubuk itu biasa dipakai untuk berjualan. Hanya hari

itu sedang kosong. Begitu gadis itu masuk ke gubuk dan

duduk di bilah-bilah bambu yang memang disiapkan untuk mengaso

(istirahat), halilintar membahana, hujan pun turun

dengan galak.

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Kerumunan-kerumunan orang tersebut akhirnya bubar.

Mereka kembali ke rumah masing-masing atau mencari

tempat berteduh sambil bersantap dirumah makan-rumah

makan yang banyak terdapat di pinggir jalan.

Gadis itu beberapa kali menggeser letak duduknya karena

atap kajang di atas gubuk itu tak mampu menahan hantaman

air hujan. Dia merapat di pinggir gubuk sambil melipat

lengannya menahan dingin.

Sekarang, gadis itu menatap hujan dengan sinar mata

nelangsa. Ia menikmati irama perutnya yang mulai bersuara.

Panas dan ribut. Sesekali dia membetulkan letak sebagian

rambut yang mengganggu pandangan matanya karena diterpa

angin.

Wajahnya yang tirus sebenarnya tidak mampu

menyembunyikan sinar cemerlang pada kedua bola matanya.

Seperti bintang. Berbinar-binar penuh keinginan untuk hidup.

Bibirnya yang mungil semakin bergetar. Menahan dingin dan

lapar yang semakin meraja. Gadis itu lupa kapan terakhir

memasukkan makanan yang layak ke dalam perutnya.

Mungkin tiga atau empat hari lalu. Saat itu dia sempat

makan besar ketika berhasil menangkap seekor ayam hutan

dan memanggangnya. Setelah itu, perutnya hampir tak pernah

puas meremas makanan yang ia telan. Paling hanya satu-dua

buah-buahan hutan yang rasanya pun tak lezat.

Ketika hujan belum juga memperlihatkan tanda-tanda

hendak berhenti, sesosok manusia berpayung patahan daun

pisang tergopoh-gopoh menuju gubuk tempat gadis itu

berlindung. Dia seorang perempuan tua berwajah tenang yang

mengenakan kebaya hitam dan kain bergambar.

Rambutnya yang digelung dipenuhi dengan uban. Ia

tersenyum begitu melihat gadis yang tadi duduk tepekur di

sudut gubuk itu.

“Nini, maaf saya ikut berteduh.”

“Tentu saja, Nyai. Gubuk ini bukan milik saya.”

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Gadis itu bangkit dari duduknya dan menyambut

perempuan tua tadi. Tanpa canggung, dia membantu

perempuan tua itu menurunkan bakul bawaannya. Si gadis

kembali duduk. Perempuan tua itu berjongkok, lalu membuka

kain penutup bakul dan menata lagi barang-barang di

dalamnya.

Rupanya, dia baru saja berbelanja. Bermacam sayuran

lengkap di dalam bakul yang ia bawa. Tomat yang merah

merona, mentimun yang terlihat segar, juga sayuran hijau

segar. Gadis itu menelan ludah. Perutnya lagi-lagi bersuara.

Kali ini cukup keras.

“Nini pasti belum makan. Saya tadi beli lemper (nasi

dikepal berbentuk bulat panjang), lumayan untuk mengganjal

perut.”

Sambil tersenyum, perempuan tua itu lalu membuka-buka

barang belanjaannya. Kemudian, ia mengambil lemper yang

cukup besar dari tumpukan belanjaannya.

“Makanlah, Nini.”

“Ah, Nyai tidak perlu repot. Saya tidak apa-apa.”

Perempuan tua itu tersenyum sambil menatap trenyuh.

Tangan kanannya masih mengangsurkan lemper itu.

“Tak perlu sungkan. Saya punya dua. Kita makan bersama,

ya.”

Dengan agak canggung, si gadis tak menolak tawaran itu

lagi. Dia mengulurkan tangannya menerima pemberian si nyai.

Sambil tersenyum, keduanya lalu membuka lipatan daun

pisang yang membungkus makanan dari beras berisi keratan

daging ayam itu.

Perempuan tua itu takjub melihat cara makan gadis di

depannya. Terlihat sekali dia sangat menikmatinya. Seperti

sudah sangat lama tak makan menu yang lezat. Kini, dia

malah tak lagi memedulikan lemper di tangannya. Dia

menatap gadis itu dengan penuh perasaan.

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Penantian panjang.”

Gadis itu berhenti makan, lalu menatap wanita tua di

hadapannya.

“Ya, Nyai?”

Wanita tua itu mengubah air mukanya yang sendu dengan

tersenyum.

“Ah, tidak. Saya hanya bergumam. Boleh saya tahu nama

Nini?”

Perempuan muda itu terdiam sesaat. Berpikir, seperti lupa

namanya sendiri.

“Samita. Nama saya Samita.”

Senyum perempuan tua itu semakin lebar. Keriput di

wajahnya menambah kesan bijak yang mendalam.

“Indah sekali. Samita artinya bintang. Mata Nini berbinar

seperti bintang.”

Samita. Nama itu muncul mendadak di benak gadis itu.

Sebuah nama yang pernah terucap oleh seseorang di masa

lalu. Kata-kata kesatria Majapahit, yang sempat tenggelam

oleh perjalanan waktu dan penderitaan yang bertubi-tubi.

Gadis ini seperti sengaja menutup masa lalunya rapat-rapat

dan melahirkan dirinya yang baru.

Perempuan muda bermata bintang ini tak lain Hui Sing,

murid kesayangan Laksamana Cheng Ho yang terkurung

selama dua tahun di dasar jurang perbatasan Medangkamulan

dan Demak. Niatnya masih sama ketika dia turun dari Kapal

Pusaka armada Ming, datang ke Majapahit untuk membongkar

kedok Dewi Anindita.

“Nama Nyai sendiri?”

Samita masih tersipu ketika balas bertanya kepada

perempuan tua itu.

“Rukmi. Nini panggil saja saya Mbok Rukmi.”

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Samita mengangguk lalu meneruskan makannya yang

sempat tertunda. Begitu juga dengan Rukmi. Perempuan tua

itu sedikit-sedikit mengunyah lemper. Tampak sedikit

dipaksakan.

“Nini ini mau ke mana?”

Samita tak langsung menjawab. Setelah beberapa kali

mengunyah dan menelan makanan di mulutnya, gadis itu

merapikan daun pisang pembungkus lemper, lalu

meletakkannya di pinggir tempat duduknya.

“Saya hendak ke Majapahit.”

Rukmi berhenti mengunyah. Ia kembali menatap Samita

dalam-dalam.

“Kota Raja jauh sekali dari Demak, Nini.”

“Saya tahu.”

“Jika Nini mengendarai kuda, mungkin akan jauh lebih

cepat sampai ke sana.”

Samita mengangguk tanpa suara.

“Begitu pentingkah urusan Nini di Kota Raja?”

“Saya tidak tahu. Dua tahun lalu barangkali masih sangat

penting. Entah apakah sekarang masih penting atau tidak.”

Rukmi menatap Samita dengan air muka heran.

“Nini, menurut saya, lebih baik Nini tinggal dulu di Demak.

Menyehatkan tubuh dan mengumpulkan uang untuk membeli

kuda.”

Samita mendengarkan kata-kata Rukmi dengan saksama.

“Keadaan sekarang sedang kacau-balau. Kejahatan di

mana-mana. Tanpa badan yang sehat dan kendaraan yang

baik, Nini akan sangat kesulitan untuk pergi ke Majapahit.”

“Tapi, tinggal di Demak pun saya tak tahu harus berbuat

apa.”

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Rukmi tersenyum. Dia menggeser letak duduknya

mendekati Samita.

“Saya bekerja di rumah makan milik seorang kaya

bernama Nyai Laksita. Sekarang kami sedang mencari

tambahan orang untuk membantu di dapur. Kalau Nini mau,

Nini bisa bekerja di tempat kami untuk mengumpulkan uang.”

Samita menatap Rukmi lekat-lekat.

“Simbok bersungguh-sungguh?”

Rukmi menganggukkan kepalanya berulang-ulang sambil

tersenyum tulus. Samita pun berkali-kali mengatakan terima

kasih atas ajakan itu. Hujan tak ramai lagi. Jalan-jalan masih

becek. Matahari mulai menusukkan jarum-jarum cahaya lagi.

Meskipun tak seterik siang karena hari mulai sore.

Rukmi dan Samita keluar dari gubuk, lalu berjalan penuh

hati-hati menyusuri jalan kota yang mulai riuh lagi oleh orangorang

yang berlalu-lalang.

0oo0

“Aku ini pedagang. Apa saja kulakukan asal memang

menguntungkan. Kalau sekarang kau ingin bekerja di

tempatku, keuntungan apa yang akan kuperoleh?”

Perempuan matang itu duduk di atas kursi dengan

melintangkan kaki kirinya santai. Secangkir teh hangat

mengeluarkan asap tipis menantang, diletakkan di atas meja,

persis di samping kanannya. Sekarang dia mengangkat

cangkir dari tanah berwarna cokelat itu ke pinggir bibirnya

yang bergincu merah menyala.

Matanya tetap menatap Samita yang duduk kikuk di

depannya. Ketika satu teguk teh menghangatkan

tenggorokannya, ada kesan genit di sudut matanya yang bulat.

“Samita bisa membantu saya di dapur, Nyai. Dia bisa

mencuci dan membersihkan ruang dapur.”

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Rukmi menggantikan Samita menjawab pertanyaan

Laksita. Dia berkata dengan sangat hati-hati. Tertata dan tidak

sembrono.

“Apakah gadis ini tidak bisa menjawab untuk dirinya

sendiri?”

Laksita menaruh kembali cangkir teh itu ke atas

tatakannya. Raut muka judes belum hilang dari wajahnya.

Sebenarnya dia tak cukup pantas dipanggil nyai. Selain

umurnya yang baru dua puluhan, dia pun belum menikah.

Hanya, majikan rumah makan Nawa Rawi yang teramai di

Demak itu memang menginginkan panggilan nyai. Dia pun

merias wajahnya sedemikian rupa agar kelihatan lebih matang

dibandingkan usia yang sebenarnya.

Pilihan warna pakaian yang ia kenakan juga serbatua. Tak

seperti pilihan gadis-gadis yang lebih suka dengan warnawarna

cerah.

“Saya bisa memasak makanan Tiongkok, Nyai. Saya juga

bisa memanggang ayam dengan bumbu khusus.”

Samita akhirnya angkat suara. Tanpa suara mengiba, dia

memperkenalkan dirinya sebagai seorang ahli.

“Itu baru namanya punya harga jual. Baik. Satu pekan ini,

kau bantu Mbok Rukmi di dapur. Membersihkan segala benda

di dapur dan bertanggung jawab menyediakan semua bahan

baku untuk memasak. Kau harus rajin belanja. Kau boleh

tinggal di ruangan belakang. Setelah satu pekan, baru aku

pikir lagi, apakah kau layak dipertahankan atau tidak.” ‘

Samita menganggukkan kepala sambil berterima kasih.

Laksita mengiyakannya lalu menyuruh gadis itu untuk segera

memulai pekerjaannya di dapur.

“Temui Sudarga. Dia yang nanti akan memberimu arahan.”

Samita lagi-lagi mengangguk, lalu ia bangkit dari duduknya

untuk pergi ke dapur. Rukmi pun lantas berdiri menyusul

Samita.

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Mbok, kau tetap di sini.”

Langkah Rukmi terhenti. Dia membalikkan tubuhnya, lalu

kembali duduk di tempat semula.

“Ya, Nyai?”

“Apa yang kau lihat dari mata Samita?”

“Ss … saya ….”

“Mbok, aku yakin kau melihat sesuatu yang lain pada diri

Samita. Seperti halnya ketika kau meramalkan masa depanku.

Apa yang kau lihat di masa depan Samita?”

Rukmi tak buru-buru menjawab. Dia malah kelihatan

bingung. Dua matanya mencari-cari. Sementara jemarinya

mengetuk-ngetuk meja. Bibirnya bergumam tak jelas.

“Mbok …?”

“Eh … anu, Nyai. Saya melihat Majapahit akan mengalami

peristiwa menggemparkan di masa depan. Samita ada di

sana.”

Laksita mengangkat dagunya.

“Itu saja?” ‘

“Ss … saya juga melihat Samita akan menjalani masa

penantian cinta yang sangat lama.”

“Penantian apa?”

“Tidak begitu jelas, Nyai.”

“Majapahit. Peristiwa yang menggemparkan. Menarik juga.

Baiklah, dia boleh tinggal bersama kita.”

Rukmi tersenyum lega. Setelah beberapa kali

mengucapkan terima kasih, dia lalu pamitan kepada

majikannya itu. Laksita menganggukkan kepalanya tanpa

kata-kata. Lalu, ia kembali menyeruput tehnya yang mulai

dingin. Tatapan matanya melambung tanpa batas. Ada ambisi

di sinar matanya.

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Samita makin asyik dengan pekerjaannya. Ini bilasan

terakhir sebelum piring-piring dari tanah liat itu dikeringkan dan

kemudian siap digunakan. Tak ada beban pada wajah dara itu.

Ini hari kelima Samita bekerja di rumah makan milik Laksita

dan dia masih melakukan pekerjannya dengan sungguhsungguh.

Sesekali dia menyeka keringat di dahinya.

Sejak pagi dia sibuk di depan sumur di belakang rumah

makan. Sebelum mencuci, dia mesti menimba air untuk

mengisi gentong besar yang diletakkan di dekat sumur. Wajah

gadis itu memang jauh lebih cerah dibandingkan saat pertama

bertemu dengan Rukmi beberapa hari lampau.

Dia mulai merawat tubuhnya kembali agar kelihatan segar

dan bertenaga. Dia membeli beberapa lembar kain dan

menjahitnya sendiri menjadi baju-baju berukuran longgar.

Tadinya memang dia mencoba memakai pakaian seperti

halnya yang dikenakan perempuan Jawa lainnya. Hanya

karena tak terbiasa dengan kebaya yang melekat pas

dengan tubuh, Samita tak nyaman berlama-lama

mengenakannya.

Makanya, dia lalu meminjam beberapa kepeng uang

kepada Rukmi untuk membeli kain murahan. Setiap ada waktu

luang, dia akan sibuk menjahit. Mengenakan pakaian yang

nyaman membuatnya bebas bergerak saat melakukan

berbagai kegiatan. Termasuk saban hari ketika dia mencuci

piring di sumur belakang rumah makan majikan barunya.

Sebentar kemudian, pekerjaan mencuci piring itu purna.

Samita lalu mengangkat tumpukan piring ke dapur. Kesibukan

di dapur semakin menjadi, ketika Samita pelan-pelan

meletakkan satu per satu piring itu ke atas meja untuk

dikeringkan.

Ia lalu mengambil kain lap dan mulai menghilangkan jejak

air pada piring-piring itu. Sementara pendengarannya

menangkap suara dag dug dari tempat pencacahan daging.

Beberapa hari ini, Samita merasa sangat tertarik dengan cara

Sudarga melakukan pekerjaannya.

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Dia orang kepercayaan Laksita yang bertugas mencacah

daging sapi dan daging kambing di dapur. Meskipun bukan

pekerjaan yang luar biasa, Samita yakin Sudarga bukan orang

sembarangan. Caranya menggerakkan golok saat menguliti

kambing atau ketika mencacah daging sapi sungguh lihai.

Setiap selesai dengan pekerjaannya, Samita lalu

mendekati meja tempat Sudarga bekerja. Meskipun bau tak

sedap daging sapi atau daging kambing menyeruak, Samita

tak lantas enggan. Biasanya sambil menebar senyum, Samita

mengajak Sudarga untuk membicarakan apa saja.

“Berapa lama waktu yang aku butuhkan agar bisa selihai

kau, Darga?”

Pemuda berotot itu malah tersenyum. Lengannya yang

besar masih terus mengayun, mencacah potongan daging

besar menjadi serpihan dalam sekejap mata. Paras pemuda

itu biasa saja. Hidungnya tak begitu mancung. Rahangnya

kokoh, membentuk wajah yang nyaris kotak.

Tapi ada yang istimewa dari pemuda ini. Kesungguhan dan

ketundukannya terhadap sang majikan begitu besar. Seperti

kesetiaan abdi terhadap raja.

“Ini kelima kalinya kau menanyakan hal itu, Samita.”

“Benar. Tapi jawabanmu tak pernah membuatku puas.”

Sudarga menyetop ayunan lengannya. Ia menatap Samita

dengan kesan wajah kalem dan bersahabat.

“Buat apa kau belajar pekerjaan kasar seperti ini? Kau

lebih pantas melakukan pekerjaan para putri keraton.”

“Jawaban itu lagi. Kenapa kau begitu yakin aku tak akan

pernah mampu melakukan pekerjaanmu?”

“Pekerjaan yang harus kau lakukan jauh lebih besar.”

Samita menatap Sudarga dengan kesan wajah heran.

“Apa maksudmu, Darga?”

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Sudarga tersenyum, lalu melanjutkan pekerjaannya.

Samita tambah penasaran namun tak meneruskan katakatanya.

“Hari sudah siang. Bukankah biasanya kau akan

melakukan sembahyang pada waktu seperti ini?”

Samita tersenyum tanpa berkata-kata. Dia mulai terbiasa

dengan Sudarga yang paling pandai mengubah inti

pembicaraan tanpa memberi peluang lawan bicaranya untuk

menjawab.

Setelah berterima kasih, Samita pun menuju sumur untuk

bersiap sebelum melakukan sembahyang. Tak berapa lama,

dia sudah duduk bertimpuh di lantai kamar kecil dekat dapur.

Setiap hari Samita tidur di ruangan itu, berbagi dengan Rukmi.

Sekarang Samita tampak khusyuk dengan bibir berkomatkamit.

Tak sehelai rambut pun tampak karena ia menutupinya

dengan kain lebar berwana hijau yang selalu ia bawa ke

mana-mana. Setiap berada dalam keadaan itu, Samita selalu

tampak lain. Dia terkesan sangat berhati-hati. Sikapnya

sempurna dan tertata. Setiap gerakannya tidak main-main.

Dia biasanya berbicara sendiri setiap usai melakukan

sembahyang. Mengeluhkan segala macam kesulitan dan

memaparkan harapan-harapan masa depan. Memuntahkan

rasa syukur, lalu menguras air mata meminta kebersamaan

dengan sesembahannya.

Orang-orang di sekitar Samita pun mulai terbiasa dengan

hal itu. Mereka bahkan sudah hafal dengan kebiasaan Samita

dari menjelang fajar hingga larut malam. Kadang, ketika

Samita tak juga bangun ketika ayam jantan mulai berkoarkoar,

Rukmi sengaja membangunkannya untuk segera

melakukan sembahyang fajar.

Segala hal ketika dinikmati memang akan selalu terasa

berjalan cepat. Seperti juga Samita yang tak lagi sempat

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

menghitung berapa lama keberadaannya di rumah makan itu.

Mungkin sudah satu atau dua bulan. Dia sudah terbiasa

dengan kesibukan setiap hari di dapur.

Sesekali dia pun membantu para pelayan membawakan

pesanan para tamu rumah makan. Ia juga mulai dipercaya

oleh sang majikan untuk membantu tukang masak meramu

menu-menu baru. Sungguh menyenangkan. Bahkan, Samita

mulai lupa dengan keinginannya untuk mengumpulkan uang

sebanyak-banyaknya, lalu secepatnya membeli kuda dan

melanjutkan perjalanan ke Kota Raja Majapahit.

Sebaliknya, kebersamaan dengan orang-orang di rumah

makan itu mengikatnya demikian kuat. Sudah seperti keluarga

sendiri. Meskipun sikap Nyai Laksita sang majikan tetap tak

berubah. Masih tetap angkuh dan tak ramah terhadap

pegawainya, namun Samita tak merasa terganggu.

Ia justru yakin bahwa sang majikan itu memiliki hati yang

mulia. Hanya memang ada sesuatu yang menyelimuti hatinya

hingga tak berbekas pada wajahnya segala kebaikan hatinya

itu.

Rukmi pun semakin memanjakan Samita seperti anaknya

sendiri. Meskipun sering heran dengan sikap Rukmi yang

kadang dianggapnya berlebihan, Samita pun tak lantas

menampik kebaikan orang tua itu.

Ia bahkan membalas kasih sayang Rukmi seperti layaknya

anak berbudi. Menerima kasih sayang yang begitu tulus acap

kali membuat Samita terharu. Tentu saja karena sejak lahir dia

tak pernah mendapatkannya, kecuali dari gurunya yang kini

sudah tak ada lagi di dekatnya.

Malam itu, Samita kembali mengulas keberadaannya di

tempat itu dalam benaknya sendiri. Menghitung kemungkinankemungkinan

sambil membayangkan kebaikan orang-orang di

sekitarnya. Rukmi belum juga kembali, sejak sore tadi

dipanggil Laksita. Pikiran Samita benar-benar bebas

mengembara sampai terdengar bunyi aneh dari genteng

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

bangunan rumah makan tepat di atas ruangan tempatnya

beristirahat.

Samita menajamkan pendengarannya. Jelas bukan satudua

orang. Sekelompok orang melangkah ringan di atap tanpa

menimbulkan suara ribut. Pasti orang-orang berkanuragan

tinggi. Samita bangkit dari dipan bambu sambil terus

menyimak jejak suara itu. Semakin menjauh, lalu hilang sama

sekali.

“Silakan, Tuan-tuan! Hari ini kami punya menu khusus

untuk Tuan-tuan.”

Dengan luwes, Laksita mempersilakan serombongan

prajurit Majapahit yang baru saja muncul dari pintu rumah

makan miliknya. Sebentar lagi ruangan yang cukup untuk

menampung ratusan orang itu pasti penuh. Sejak pagi orangorang

keluar masuk untuk mengisi perut mereka dengan

makanan khas rumah makan Nawa Rawi yang kondang lezat.

Kelompok prajurit itu lalu duduk lesehan di depan mejameja

pendek yang ditata rapi. Wajah mereka tak kelihatan

seram. Atau paling tidak, saat itu mereka enggan

memperlihatkan raut muka seram.

Sebaliknya, kedipan mata genit dan senda gurau bernada

tak senonoh terdengar keras setiap para pelayan Nawa Rawi

yang memang terkenal cantik-cantik keluar membawakan

pesanan para tamu.

Saking kerasnya gurauan prajurit-prajurit itu, beberapa

tamu memilih bergegas menyelesaikan makan siangnya, lalu

keluar dari rumah makan.

“Tuan-tuan, apa Tuan-tuan ini sengaja hendak membuat

nama Laksita jadi bahan ejekan orang-orang?”

Majikan Nawa Rawi itu sudah duduk dengan sikap manja

di dekat kelompok prajurit Majapahit yang terkenal angker dan

berlaku semena-mena itu.

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Para prajurit itu terbahak-bahak. Ada juga yang mencoba

merangkul Laksita, meskipun buru-buru ditepis dengan halus

oleh perempuan luwes itu.

“Kenapa, wong ayu? Kok datang-datang, kamu langsung

menyerbu kami dengan kata-kata ketus seperti itu?”

Salah seorang prajurit dengan berewok tebal menggeser

duduknya mendekati Laksita. Perempuan itu lagi-lagi bersikap

manja. Dia menegakkan lengan kanannya untuk menumpu

badannya yang berisi. Senyum genit rata di bibirnya. Tak

kurang matanya pun menyipit seperti kucing yang sedang

kasmaran.

“Kalau Tuan-tuan datang ke Nawa Rawi lalu menakutnakuti

para tamu lain, itu kan namanya mencoreng nama baik

Laksita. Apa nanti kata orang-orang? Dikiranya Laksita tak

berlaku adil kepada mereka.”

Tawa prajurit itu kembali membahana. Lebih keras dari

sebelumnya. Cara bicara Laksita yang manja membuat

mereka gemas. Apalagi ketika perempuan itu cemberut dan

berpura-pura merajuk.

“Baiklah, wong ayu. Kami akan menuruti permintaanmu.

Tapi kami minta kamu sendiri yang melayani kami.”

Laksita tersenyum lebar tanpa melepas sikap genitnya. Ia

lalu pamit untuk menyiapkan pesanan para prajurit itu.

Sementara para prajurit itu memenuhi janjinya. Mereka tak lagi

mengumbar tawa seperti sebelumnya. Mereka malah terlibat

pembicaraan serius dengan suara yang lirih, setengah

berbisik.

“Pekan depan, rakryan rangga tiba di Demak. Artinya, sang

prabu benar-benar gerah dengan para pengacau yang kini

bersembunyi di Demak.”

“Atau, sang prabu tak percaya lagi dengan kemampuan

kita.”

Prajurit lain yang berkumis tebal menimpali.

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Pastinya, kita tidak bisa bersantai lagi begitu rakryan

rangga tiba di Demak. Aku dengar ilmu kanuragannya sangat

tinggi.”

“Ya, aku juga mendengar hal itu. Dia memiliki keris pusaka

bernama Angga Cuwiri.”

Saking asyiknya para prajurit itu berbincang, hampir saja

mereka tak sadar Laksita sudah menghampiri mereka

ditemani dua orang pelayan yang membawakan pesanan para

prajurit itu.

“E, e … ternyata tidak cuma para perempuan yang suka

mengobrol. Prajurit-prajurit gagah pun gemar bicara gosip.”

Tanpa menunggu reaksi para prajurit itu, Laksita langsung

menyuruh dua pelayannya untuk menata aneka menu di atas

meja yang dikelilingi oleh para prajurit itu. Semua hidangan

begitu mengundang selera.

Pepes ikan mas yang besar-besar, ayam panggang yang

menggiurkan, juga cacahan daging kambing yang sudah

dioles dengan sambal tomat dan rempah-rempah. Para prajurit

itu langsung lupa dengan obrolan mereka sebelumnya.

Tangan dan mulut mereka sibuk menyuapkan nasi putih

hangat dan lauk pauk yang begitu menggoda.

“Tuan, maaf kalau Laksita lancang. Hanya ingin tahu.

Belakangan ini kok, semakin banyak prajurit Majapahit yang

berjaga-jaga.”

Laksita terkesan sekedarnya saat menanyakan hal itu.

Konsentrasinya justru ada pada cangkir-cangkir tanah liat

yang satu per satu ia isi dengan arak dari teko tanah liat.

“Memangnya kenapa, wong ayu? Bukankah rumah

makanmu ini akan semakin ramai karenanya?”

Prajurit berewok yang sejak awal memang bersemangat

menjawab pertanyaan Laksita, malah balik bertanya.

Beberapa kali kalimatnya terpotong karena mesti mengunyah

nasi di mulutnya.

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Saya ini kan pedagang bodoh, Tuan. Yang saya pikirkan,

ya cuma untung. Kalau Demak semakin ramai, kan saya bisa

mengembangkan usaha.”

Prajurit itu tertawa kecil tanpa menghentikan gumpalan

nasi di tangannya menjejali mulutnya.

“Kalau selalu berpikir tentang usaha dan untung, kapan

kamu kawin?”

Laksita sempat terhenyak meskipun cepat-cepat ia

sembunyikan dengan mencubit lengan prajurit itu.

“Siapa yang mau dengan perempuan bodoh ini, Tuan?”

Para prajurit itu mulai ribut lagi. Masing-masing

menawarkan diri untuk menjadi suami Laksita, meskipun

dengan nada bercanda.

“Kalau saya pilih satu di antara Tuan, saya nanti dikatakan

merusak pertemanan Tuan-tuan semua.”

Laksita kembali tersenyum manja sambil mengisi beberapa

cangkir yang sudah kosong dengan arak yang diramu dari

perasan ketela pohon.

“Saya dengar ada pejabat penting dari Majapahit yang

akan datang ke Demak, Tuan.”

“Dari mana kamu tahu?”

Kali ini, wajah prajurit berewok itu tak genit lagi.

Sebaliknya, di wajahnya ada garis ketersinggungan.

“Ah, Tuan, begitu saja marah. Saya ini kan, pedagang.

Teman-teman saya menyebar di setiap kota, mulai Demak

sampai Mojokerto. Masa kabar begitu penting bisa terlewat

dari telinga saya.”

Wajah prajurit itu sumringah lagi. Ia lalu membuang jauhjauh

kecurigaannya yang tiba-tiba menyeruak. Kabar

kedatangan Rakryan Rangga Majapahit setahu dia memang

baru beredar di kalangan prajurit saja. Tapi masuk akal jika

para pedagang di Medangkamulan, Sumbergurit, atau

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Ketemas telah mendengar adanya rombongan dari Majapahit

yang sedang menuju Demak.

“Ya. Mereka akan datang ke Demak untuk menumpas para

pemberontak yang menyusup di Demak.”

Wajah Laksita langsung cerah.

“Ah, bagus sekali kalau begitu. Saya juga waswas dengan

para pengacau itu. Setiap mengirim orang suruhan keluar kota

selalu khawatir. Takut mereka mencegat di tengah jalan.

Bagus sekali jika sang prabu mengirimkan pasukan untuk

menumpas mereka.”

Pembicaraan itu mencair. Tak ada lagi hal-hal serius yang

dibahas. Laksita mengerti betul hal-hal apa yang bisa

memancing kegembiraan para prajurit yang jauh dari

keluarganya itu. Sikap manja Laksita dan kemampuannya

bersilat lidah membuat para prajurit itu betah berlama-lama di

Nawa Rawi.

Bahkan setelah acara makan mereka selesai, obrolan itu

berlanjut cukup lama. Baru setelah salah satu prajurit

mengingatkan sebentar lagi giliran patroli berganti, mereka

lalu bergegas membayar tagihan, kemudian buru-buru

meninggalkan rumah makan paling tersohor di Demak itu.

0oo0

Hari sudah sore ketika Samita dan dua orang pegawai

lainnya sampai di Nawa Rawi setelah beberapa lama

berbelanja kebutuhan dapur di pasar Demak. Ia membawa

banyak belanjaan untuk persediaan hari selanjutnya dalam

tiga bakul besar. Setibanya di dapur, dia mengeluarkan isi

bakul-bakul itu satu per satu.

Buah-buahan, telur, dan sayur-mayur hijau dipisahkan.

Begitu juga dengan bumbu-bumbu yang dibungkus dengan

daun pisang. Jumlahnya banyak sekali. Tanpa kesulitan,

Samita dibantu dua perempuan itu memilah-milah bumbubumbu

itu agar tidak campur baur.

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Nini sudah pulang?”

Samita membalikkan badannya dan langsung tersenyum

melihat Rukmi berdiri di depannya. Tapi, dia langsung

menghapus senyum itu demi melihat raut muka perempuan

tua itu yang kelihatan menyimpan rasa was-was.

“Ya, Mbok. Kami baru saja datang.” Samita meninggalkan

pekerjaannya untuk sementara. Ia lalu menghampiri Rukmi

dan mengajaknya duduk di balai bambu di pojok dapur.

“Saya tahu, pasti ada sesuatu yang membuat Mbok Rukmi

was-was. Ada apa, Mbok?”

Perempuan tua itu menghela napas.

“Tidak ada yang terlalu mengkhawatirkan, Nini.”

“Jika tidak ada, kenapa Mbok Rukmi kelihatan begitu

khawatir?”

Rukmi diam sebentar. Dan lagi-lagi, ia menghela napas

panjang.

“Keadaan semakin tidak aman, Nini. Raja Majapahit

bahkan akan mengirim pasukan khusus ke Demak untuk

menangkap orang-orang yang mereka anggap pemberontak.”

“Maksud Simbok, sekelompok orang bercadar yang

menyerang prajurit Majapahit di perbatasan beberapa hari

lalu?”

Rukmi menganggukkan kepalanya, sementara matanya

memancarkan rasa was-was yang semakin pekat.

“Kenapa Simbok mengatakan bahwa orang-orang itu

hanya dianggap pemberontak? Bukankah dengan menyerang

prajurit Majapahit, mereka memang pemberontak yang

sesungguhnya?”

Rukmi menoleh ke arah Samita dengan kaget. Wajahnya

pucat. Kerut-kerut di kulit mukanya semakin menjadi.

“Maaf, Mbok. Saya tidak tahu apa-apa tentang hal ini. Saya

hanya asal bicara.”

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Rukmi memegang punggung tangan Samita yang ada di

pangkuan gadis ayu itu. Perempuan renta itu masih menatap

Samita dengan bibir bergetar.

“Saya sungguh melihatnya. Semakin jelas.”

Samita mengerutkan dahi sambil menggeleng pelan.

“Apa maksud Simbok?”

“Nini akan mempermalukan Raja Majapahit. Ninilah

orangnya.”

“Mbok, saya benar-benar tidak paham.”

Hening sejenak. Perempuan tua itu lalu mengalihkan

pandangannya sambil mengangkat tangannya yang keriput

dari telapak tangan Samita.

“Sudahlah, Nini. Mungkin saya terlalu terbawa perasaan.”

Tanpa peduli apa yang sedang berputar di benak

perempuan renta itu, Samita mengulurkan tangannya lalu

memeluk Rukmi erat-erat.

“Terima kasih, Mbok. Saya belum pernah bertemu dengan

orang yang begitu menyayangi saya seperti Simbok.”

Tanpa kalimat apa-apa, adegan itu berlanjut. Isak tertahan

terdengar pelan. Rukmi pun rupanya tak mampu menahan

harunya. Bahunya yang semakin kurus terguncang-guncang.

Ada lega yang terlepas. Seperti seorang pengembara yang

berjalan jauh dengan berbagai barang di sekujur tubuhnya,

lalu melepaskan segala beban itu begitu sampai di tempat

yang ia inginkan.

0oo0

Langkah Samita setengah berjinjit. Dia seperti sengaja

hendak mengagetkan Sudarga yang masih sibuk dengan sapi

cincangnya. Ada yang berbeda. Gerakan pemuda itu kali ini

tak sekencang biasanya.

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Ke mana perginya kecepatan tangan Sudarga yang aku

kenal?”

Samita berdiri kagok di muka meja tempat pemotongan

daging. Sudarga kelihatan tak peduli dengan kehadiran

Samita. Dia cuma tersenyum sambil meneruskan

pekerjaannya. Itu pun tampak betul dipaksakan.

“Boleh aku tanya sesuatu?”

Masih tak ada suara yang keluar dari bibir Sudarga. Hanya

kepalanya yang mengangguk-angguk.

“Aku sering mendengar Mbok Rukmi berkata-kata aneh.

Sangat tidak aku pahami. Dia seperti sedang meramalkan

sesuatu terjadi di masa depan.”

Kali ini, Sudarga menghentikan kesibukannya. Dia lalu

menoleh ke arah Samita.

“Orang tua itu punya daya Iinuwih (kemampuan istimewa).

Aku tak tahu persis. Hanya aku dengar, dia memang sering

mendapatkan gambaran tentang masa depan seseorang.”

Samita mengangkat alisnya tanpa berkata-kata. “Apa yang

ia ramalkan padamu, Samita?” Masih tak dijawab. Samita

seperti sedang berpikir.

“Itu alasan kenapa kau sering mengatakan bahwa aku

punya pekerjaan lebih besar dibandingkan mencacah daging,

Sudarga?”

Pemuda itu tampak terhenyak. Merasa tertangkap basah.

“Kau percaya ramalan, Samita?”

“Entahlah. Bagiku tak penting untuk mengetahui seperti

apa yang akan terjadi di masa depan. Aku hanya merasa wajib

melakukan yang terbaik bagi hidupku. Kalau besok pagi aku

mati, ya pasti mati. Tak ada yang kebetulan di muka bumi.

Bukan masalah kapan aku mati. Tapi, bagaimana aku mati.”

Sudarga tertegun. Seperti bocah kemarin sore yang

menyimak wejangan seorang tua. Padahal, Samita

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

mengucapkan kata-katanya tanpa penekanan di sana-sini.

Sekadar lepas dari nuraninya yang jujur. Bahkan, gadis itu tak

menatap Sudarga saat mengucapkan kalimat itu. Dia malah

melepas pandangannya ke langit-langit dapur.

“Apakah orang sepertimu punya pikiran yang sama,

Samita?”

“Sepertiku?”

“Maksudku, orang yang punya keyakinan yang sama

denganmu berpikir dengan cara yang sama denganmu?”

Samita tersenyum.

“Agamaku mengajarkan itu. Tapi bukan berarti semua

penganutnya mengamalkannya. Aku kira hal yang sama

berlaku pada kepercayaan selain agamaku. Nilai-nilai agama

tetaplah suci. Hanya orang yang meyakininya kadang

menjalaninya setengah-setengah. Celakanya, kadang suatu

agama dinilai dari penganutnya. Padahal, kadang hal itu tidak

tepat.”

Sudarga mengangguk-anggukkan kepalanya. Tiba-tiba

mukanya beranjak pucat. Seperti menahan sakit. Tapi, ia

buru-buru menyembunyikannya agar kesan itu tak tertangkap

oleh kejelian mata Samita.

“Sudarga, beberapa hari lalu Mbok Rukmi sempat

memberitahuku bahwa akan ada pejabat dari Majapahit yang

datang ke Demak. Menurutmu, apakah keadaan akan semakin

kacau?”

Sudarga tak menjawab. Dia mencoba sibuk dengan

pekerjaannya. Samita yang sejak tadi tak menatap langsung

wajah Sudarga menjadi penasaran. Merasa berbicara sendiri

dan tak diperhatikan, Samita menoleh dan melihat perubahan

raut muka Sudarga. Seperti sedang menahan sakit yang amat

sangat. Gerakan tangannya juga melemah.

“Sudarga!”

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Pemuda itu sontak melepaskan goloknya, lalu menekan

dadanya. Sejurus kemudian dia mengerang, tubuhnya

ambruk, berdebam ke lantai dapur dengan darah merembes

dari sela bibirnya.

Samita bergerak sigap. Dia langsung memaksa Sudarga

duduk. Mantap ia menghentak punggung Sudarga dengan dua

telapak tangannya untuk menyalurkan hawa murni.

“Pukulan Hanacaraka. Rupanya dia.”

Sudarga memejamkan matanya. Tak berpikir lagi tentang

kejutan di depannya, ternyata Samita memiliki kemampuan

kanuragan yang tinggi. Gadis itu tak perlu lama untuk tahu

jenis pukulan yang bersarang di dadanya.

Sudarga mengabaikannya. Dia hanya berkonsentrasi untuk

memudahkan hawa murni kiriman Samita cepat-cepat

membuka pembuluh darahnya yang tersumbat.

“Tiga tulang rusuk patah. Gumpalan darah beku

membahayakan jantung.”

Sudarga masih bisa mendengarkan kata-kata Samita

meskipun tak merasa perlu menjawabnya.

“Hoeeegh!”

Sudarga muntah darah. Segar dan cukup banyak. Pemuda

itu harus beberapa kali memaksakan diri untuk menguras

semua darah kotor itu. Mukanya yang pucat mulai merah

kembali. Matanya terbuka pelan.

‘”Asalkan kau hati-hati menjaganya, tulang rusuk patah itu

tak akan menganggumu. Di sana ada serabut otot yang

membuatnya aman. Gumpalan darah kotor itu pun sudah kau

muntahkan. Tak akan terjadi apa-apa.”

“Siapa kau sebenarnya?”

Sudarga masih duduk bersila ketika Samita bangkit dan

hendak beranjak ke ruangan pribadinya. Samita tersenyum.

Wajahnya seperti bercahaya.

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Bukankah kau sudah tahu banyak dari ramalan Mbok

Rukmi?”

Sudarga salah tingkah. Dia masih menekan dadanya.

“Sudahlah. Aku sedikit tahu tentang ilmu obat-obatan untuk

menyembuhkan luka dalam. Tunggu sebentar, aku akan

meraciknya untukmu.”

Sudarga tak menjawab lagi. Dia perlahan bangkit, lalu

mencari-cari kain tak terpakai untuk menghilangkan genangan

darah segar yang tadi ia muntahkan. Samita segera

membongkar bungkusan yang ia simpan di bawah dipan. Ia

mengambil beberapa helai daun yang pinggirnya bergigi. Daun

ini juga yang membuat ia cepat pulih ketika tulang belulangnya

patah kena pukulan dua iblis dari selatan dulu.

Dia ada di sini!

Samita menghentikan gerakannya ketika ingat sesuatu.

Pukulan Hanacaraka itu jelas milik Sad Respati, orang yang

paling ingin ia temui sejak turun dari Kapal Pusaka, armada

Ming, dua tahun lalu. Tapi sekarang, begitu tahu bahwa orang

yang ia cari ada di kota yang sama dengannya, Samita justru

ragu bukan main.

Rentang dua tahun, pasti sudah mengubah banyak hal.

Samita tertegun di atas dipan. Tapi, begitu ingat

kepentingannya untuk meracik obat buat Sudarga, ia bergegas

mengembalikan buntalan itu dan segera keluar kamar.

0oo0

Ruang pribadi Laksita hening. Padahal, ada beberapa

orang di sana. Laksita duduk di muka meja dengan raut muka

sangat serius. Wajahnya kini kelihatan jauh lebih muda. Tak

ada bedak tebal yang biasa menempel pada kulit mukanya

yang halus. Gincu merah menyala itu juga lenyap dari

bibirnya.

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Tatapan genit itu juga sudah tidak ada. Sekarang, justru

sepasang mata majikan Nawa Rawi itu menerawang. Seperti

menembus dinding-dinding kamar yang terbuat dari jati

terbaik.

Di hadapannya, duduk tiga orang kepercayaannya. Mbok

Rukmi yang kelihatan gelisah, Sudarga yang duduk dengan

dahi berkerut, dan Baskara, penanggung jawab keamanan

Nawa Rawi yang bersikap lebih tenang.

“Ini takdir.”

Penekanan suara Laksita benar-benar beda. Datar dan

berwibawa. Sama sekali berbeda dengan Laksita sehari-hari.

Pandangan matanya masih tak jelas. Sementara tangan

kanannya menggenggam daun lontar yang baru saja selesai ia

baca. Sebuah surat resmi berstempel pemerintah Majapahit.

“Sudarga, bagaimana lukamu?”

“Tak ada yang perlu dikhawatirkan, Putri. Setelah minum

obat, kondisi tubuh saya jauh lebih baik.”

“Samita tak boleh dilibatkan dalam urusan ini. Dia sudah

cukup baik mau menolongmu.”

Kalimat Laksita tertahan. Matanya menatap setajam mata

anak panah.

“Apakah kalian tetap setia kepadaku sampai titik darah

penghabisan?”

“Nyawa pun kami berikan, Putri.”

Hampir serempak Rukmi, Sudarga, dan Baskara menjawab

pertanyaan Laksita. Sang majikan menarik napas dalamdalam.

“Baskara dan kau, Sudarga, siapkan seluruh anak buah

kalian yang tersisa. Kita akan tetap bertahan di Nawa Rawi

sampai napas terakhir.”

“Putri, maaf saya menyela. Apakah tidak sebaiknya saya

dan Sudarga saja yang bertahan di sini? Putri dan Mbok

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Rukmi sebaiknya segera mencari tempat untuk menghindari

orang-orang Majapahit.”

“Bicara apa kau, Baskara?! Aku sudah lelah terus-menerus

lari. Ini saatnya untuk melawan terang-terangan.”

Tak ada yang berani bicara. Senyap lagi.

“Mbok Rukmi, kau ajaklah Samita pergi dari Nawa Rawi.

Sejauh-jauhnya. Jika nanti kau dengar kematianku,

berbahagialah karena itulah tujuanku.”

Rukmi tak sanggup berkata-kata. Air matanya keluar

sejadi-jadinya.

“Putri akan hidup bahagia. Saya sudah mengatakannya.”

“Aku tak peduli dengan ramalan. Aku hanya berpikir untuk

menuntut balas. Tidak peduli bahagia atau tidak.”

Rukmi tergugu di tempat duduknya. Beberapa kali ia

menyeka air mata.

“Sudahlah. Kalau ingin membangkang, tetaplah tergugu di

situ. Tapi jika kau patuh, segera pergi dari Nawa Rawi. Aku

sudah menyiapkan bekal untuk kalian.”

Pandang mata Laksita begitu tegas dan terkesan keji.

Namun, Rukmi mengabaikannya. Dia beranjak ke muka gadis

itu, lalu bersimpuh sambil menangkupkan kedua tangannya.

Dia kemudian bangkit dan keluar dari ruangan itu.

Sementara pandang mata Laksita tak lagi garang. Kini

justru ada air menggenang di kelopak matanya. Tak sampai

jatuh karena dia segera menghentakkan suaranya lagi

memberi perintah kepada dua orang anak buahnya untuk

bersiap.

Menjelang petang, Laksita duduk timpuh di lantai kamar. Di

depannya, abu dupa berkelok-kelok semakin tebal.

Perempuan itu duduk takzim. Di depannya, sebilah pedang

panjang tergeletak di lantai.

“Ayahanda, kuatkan Ananda.”

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Ia lalu memegang gagang pedang itu. Sinar berkilat

beberapa kali dari baja putih pedang itu. Laksita berdiri,

menyarungkan pedangnya, lalu keluar kamar.

0oo0

“Mbok, saya masih tak paham alasan Nyai Laksita

memecat kita.”

Rukmi tak tertarik untuk menjawab pertanyaan Samita. Dia

terus berjalan berderap meninggalkan pusat Kota Demak.

Samita menjejerinya sambil terus mencari tahu alasan Rukmi

mengajaknya meninggalkan Nawa Rawi dan mengatakan

bahwa mereka berdua telah dipecat.

“Bukankah Nini ingin pergi ke Majapahit?”

“Tapi tidak dengan cara ini.”

Rukmi masih terus berjalan. Bakul bambu di punggungnya

terguncang-guncang mengikuti irama kaki perempuan tua itu.

“Aku tak mau melanjutkan perjalanan ini kalau Simbok tak

mengatakan hal sesungguhnya padaku.”

Rukmi menghentikan langkahnya, lalu berbalik menghadap

Samita. Mereka kini ada di jalan besar di luar pusat Kota

Demak. Rumah penduduk mulai jarang. Tapi, beberapa

warung kecil masih buka dan lumayan ramai pengunjung.

Perempuan tua itu menatap sayu.

“Mbok, apakah pasukan Majapahit datang ke Demak untuk

menyerbu Nawa Rawi?”

Wajah perempuan itu semakin pucat saja.

“Kalau Simbok tak mau jujur, saya akan kembali ke Nawa

Rawi untuk mencari tahu.”

Samita berpura-pura hendak membalikkan tubuhnya

kembali ke Demak. Melihat itu, Rukmi buru-buru memanggil

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

namanya. Ia lalu mengajak gadis itu beristirahat di bawah

batang pohon rindang di pinggir jalan.

“Dari mana saya harus memulai, Nini?”

“Simbok bisa memberitahu saya, siapa sebenarnya Nyai

Laksita?”

Rukmi masih kelihatan ragu-ragu. Dia lalu melepaskan

kain yang mengikat bakul di punggungnya. Setelah

meletakkan bakul tempat segala macam bekal itu di tanah,

Rukmi menerawangkan pandangannya ke langit sore yang

cerah. Awan putih berarak pelan. Menjadi latar belakang yang

apik bagi serombongan burung yang mengepak membelah

angin.

“Sebenarnya, dia adalah Bre Mataram. Namanya Dewi

Suciatma. Ia putri Yang Mulia Bre Wirabumi dari Blambangan.”

Samita diam. Menyimak baik-baik setiap kata yang keluar

dari bibir perempuan tua itu. Ia mulai menduga-duga.

“Sejak dua tahun lalu, kami hidup berpindah-pindah untuk

menghindari kejaran prajurit Majapahit.”

Samita mendengar nada getir pada suara perempuan tua

di sampingnya.

“Putri bertekad untuk melawan Wikramawardhana seumur

hidup. Karena itu, di setiap persinggahan kami, ia memimpin

sekelompok sisa prajurit Blambangan untuk membuat kacau

prajurit Majapahit. Entah sudah berapa puluh kali ia terlibat

pertempuran. Hingga kami pindah ke Demak setahun lalu.”

“Lalu, bagaimana prajurit Majapahit mengetahui Nawa

Rawi adalah markas Putri Suciatma?”

“Rakryan rangga Majapahit turun tangan langsung ke

Demak. Luka Sudarga beberapa hari lalu karena kena pukulan

rakryan rangga itu. Dia sangat lihai. Saya kira, dialah yang

berhasil menemukan jejak sang putri.”

Samita makin diam.

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Hari ini, rakryan rangga itu mengirimi Putri Suciatma

sebuah surat dari Wikramawardhana. Raja memerintahkan

rakryan rangga untuk membawa putri kami ke Majapahit.”

“Putri Suciatma menampiknya?”

Rukmi menganggukkan kepalanya perlahan.

“Akan terjadi pertumpahan darah. Mbok, ikuti saranku.

Simbok akan kuantar ke salah satu rumah penduduk.

Tunggulah di sana. Aku akan kembali ke Nawa Rawi

membujuk agar Putri Suciatma mau pergi.”

“Nini, itu tak akan berhasil.”

“Paling tidak, aku akan mencegahnya agar tak terbunuh.”

Tak menunggu perdebatan itu menjadi panjang lebar,

Samita lalu membimbing Rukmi pergi ke salah satu rumah

penduduk. Tentu saja dia harus bersilat lidah, mengarang

cerita agar pemilik rumah tak berkeberatan Rukmi

menumpang semalam di tempat tinggalnya. Setelah itu, dia

meminjam seekor kuda dan segera memacunya ke arah kota.

Hari mulai gelap. Rumah Makan Nawa Rawi lengang.

Sejak pagi memang sudah diumumkan bahwa rumah makan

terbesar di Demak itu tutup. Meja-meja semua disingkirkan ke

pinggir. Sekarang, ruangan itu tak ubahnya tanah lapang yang

lega. Di tengah ruangan, Laksita duduk anteng di kursi dengan

senyum dingin. Dua orang pengawalnya, Sudarga dan

Baskara, berdiri dengan pedang terhunus.

Belasan anak buahnya yang lain berdiri gagah di belakang

mereka. Tak lama kemudian, suara berderap semakin

mendekat. Di muka pintu masuk rumah makan yang terbuka

lebar, berdiri seorang gagah dengan seragam prajurit. Di

belakangnya, puluhan prajurit bersenjata lengkap berjagajaga.

Orang gagah itu perlahan memasuki ruangan. Dia seorang

lelaki muda berusia lewat 25 tahun. Badannya kelihatan sekali

terlatih. Padat dan berisi. Wajahnya memancarkan wibawa.

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Dagunya seperti terbelah. Tanpa tersenyum pun, tampak dua

lesung pipit di kedua belah pipinya.

“Rakryan Rangga Sad Respati menghaturkan hormat

kepada Putri Suciatma.”

Ia menangkupkan kedua tangannya dengan gagah. Lalu,

menatap Suciatma tanpa berkedip. Sementara perempuan

yang diajaknya berbicara tak sekali pun memandangnya.

“Jadi ini orangnya, sang rakryan rangga Majapahit yang

demikian kesohor. Apa maumu?”

“Putri, saya membawa titah Prabu Wikramawardhana

untuk mempersilakan putri menghadap sang prabu di

Mojokerto.”

“Maksudmu meringkusku?”

Sad Respati tak langsung menjawab.

“Tanpa kekerasan, Putri.”

“Apa kata rajamu jika aku melawan?”

“Sang prabu ingin agar Putri berkenan datang ke Mojokerto

untuk membahas semua permasalahan ini dengan kepala

dingin.”

“Maksudmu, melupakan dendam ayahandaku dan tunduk

kepada Majapahit?”

Tak ada jawaban.

“Jangan harap!”

“Kami tak mungkin kembali ke Demak tanpa Putri.”

“Jangan banyak bicara!”

Sekonyong-konyong Suciatma menarik gagang pedangnya

yang mengeluarkan suara berdesing. Pada saat itu juga,

tubuhnya melenting ke atas dengan sikap membacok.

Gerakannya diikuti oleh Sudarga, Baskara, dan anak buahnya

yang lain. Mereka menyerbu ke arah para prajurit yang sudah

bersiap.

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Suciatma menyergap seperti banteng luka. Gerakannya

penuh tenaga dan amarah. Pedang di tangannya bergerak

kilat mengincar leher Respati. Jika saja sang rakryan rangga

adalah pesilat kacangan, serangan itu tentu sudah

membuatnya mati kutu.

Akan tetapi, Sad Respati adalah bekas kepala bhayangkari

Majapahit yang memiliki ilmu kanuragan sangat tinggi. Dengan

mudah ia memutar badannya, lalu bersalto menghindari

serangan pedang yang kian ganas itu. Dia tak membalas.

Tentu saja karena yang dihadapinya kali ini adalah Putri Bre

Wirabumi yang hendak dihadapkan kepada Prabu

Wikramawardhana. Ia bergerak dengan hati-hati. Mencari titik

lemah Suciatma untuk membuatnya roboh dalam sekali

gebrak. Namun, hal itu pun tak mudah.

Sementara itu, Sudarga dan Baskara mengamuk. Belasan

prajurit meregang nyawa dibacok pedang mereka. Sudarga

yang menggunakan pedang berukuran besar mengamuk

seperti harimau lapar. Dia menyerang tanpa ampun dan haus

darah. Pedang di tangannya sudah berlumuran darah para

prajurit Maajapahit

Baskara yang bersenjatakan pedang panjang juga tak

terkalahkan. Ia terus merangsek ke depan menumbangkan

satu demi satu prajurit yang ada di depannya.

Namun, kehebatan mereka berhadapan dengan jumlah

prajurit yang semakin banyak, membuat Sudarga maupun

Baskara merasakan tenaganya terus berkurang.

“Kau harus membayar lunas semua darah pengawalku,

Sad Respati!”

Sementara anak buahnya pun satu per satu roboh dengan

luka di sekujur tubuhnya, Suciatma semakin garang. Dia tak

lagi peduli kemungkinan lawan melakukan serangan balasan.

Pedang di tangannya terus berputar mencari sasaran.

Sementara setelah puluhan jurus, terasa tenaganya makin

tersedot dan segera habis.

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Respati mulai coba-coba meluncurkan serangan balasan

dengan kedua belah tangannya. Tetap dilakukan dengan hatihati

agar tidak melukai cucu Hayam Wuruk itu.

“Putri, segera pergi dari sini!”

Seorang bercadar hijau tiba-tiba berkelebat dan

menengahi pertempuran antara Respati dan Suciatma. Dia

bergerak sangat cepat dan langsung membebaskan Suciatma

dari arus serangan tangan kosong Respati.

Dengan mudah, orang bercadar itu menghalau serangan

tangan kanan Respati hanya dengan sentilan jari bertenaga

luar biasa. Sejenak Respati berdiri tertegun. Pandangan mata

mereka bertemu.

“Kau!”

Tak memberi waktu Respati untuk berpikir, orang bercadar

itu menyerang lagi. Tapak kanannya mengincar dada Respati.

Merasakan angin serangan yang begitu besar, Respati

memilih mundur selangkah, lalu memutar tubuhnya untuk

melakukan tendangan.

Orang bertopeng itu seola h tahu benar apa yang akan

dilakukan Respati. Dia langsung membatalkan serangan

tapaknya, lalu menyongsong serangan kaki itu dengan

sambaran kaki kirinya.

Pakkk!!!

Sejurus Respati gelagapan. Penyerangnya ini

berkemampuan jauh lebih tinggi dari dugaannya. Terasa sekali

dari getaran tenaga dalam yang menghantam pergelangan

kakinya. Ia pun tak mau main-main lagi. Memang tidak boleh

karena orang bertopeng itu segera menyusulkan serangan

tapak kirinya dengan kilat.

Respati memiringkan tubuhnya menghindar. Namun,

penyerang itu benar-benar seperti sudah hafal semua langkah

Respati. Ia menyusulkan serangan bawah berupa sergapan

kaki kanan untuk merobohkan kuda-kuda Respati.

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Putri, tinggalkan tempat ini! Saya mohon.”

Sudarga sudah berada di sisi Suciatma yang masih

tertegun melihat perkelahian Respati dan orang bercadar hijau

yang menyelamatkannya.

“Putri, tak ada waktu lagi.”

“Tidak mungkin!”

“Ampunkan saya, Putri!”

Sudarga meluncurkan tangan kanannya menotok jalan

darah Suciatma. Sekejap kemudian, dia menggendong tubuh

junjungannya itu menerobos barisan prajurit dan menghilang

di malam yang pekat. Di belakangnya, para prajurit berupaya

mengejar dengan suara-suara yang riuh.

Sudarga mengerahkan segenap tenaganya. Melentingkan

tubuhnya ke atas atap rumah dan mulai berlari kencang di atas

genteng-genteng penduduk. Sementara perkelahian Respati

dan orang bertopeng itu semakin menjadi.

Respati heran bukan main karena hampir seluruh

gerakannya ditebak dengan mudah oleh lawannya.

Sebaliknya, dia sama sekali tak paham dengan semua

gerakan orang bercadar itu. Semakin lama, Respati semakin

bingung.

Lewat puluhan jurus, si penyerang mulai melancarkan

gerakan mematikan. Titik serangan yang dituju adalah leher

dan ulu hati. Respati berusaha keras untuk melepaskan diri

dari kepungan serangan itu. Tapi gagal.

Wuuus!

Tangan kanan orang bertopeng itu kini menebas ganas

seperti pedang. Tak mungkin lagi menghindar, Respati

menghadangkan tangan kanannya untuk menangkis. Sebuah

hentakan tenaga yang luar biasa. Tangan kanan Respati

lunglai dan terasa kesemutan disergap hawa dingin.

Sekedipan mata, sang rakryan rangga itu berdiri kaku

dengan leher terkunci oleh dua jari tangan kiri si penyerang.

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Respati menatap penyerangnya. Meskipun kain hijau yang kini

tampak gelap itu menutupi wajah lawannya, namun sepasang

mata itu tetap kelihatan.

Respati memandangnya dalam-dalam. Tidak ada sinar

dendam. Kalau mau, leher Respati dengan sangat mudah

akan tertembus oleh dua jari lentik yang kini menempel di

batang lehernya. Tapi orang bercadar itu tidak melakukannya.

Mereka masih saja berdiri mematung. Sementara

pertempuran di kanan-kiri mereka mulai mereda. Sebentar lagi

seluruh pengawal Nawa Rawi tewas terbantai. Tinggal

Baskara yang masih mengamuk dengan luka-luka di

badannya.

Orang bertopeng itu lalu meliukkan jemarinya,

menghentikan serangan. Sekali sentak, tubuhnya sudah

melayang ke arah Baskara. Tangannya bergerak ringan untuk

merobohkan beberapa prajurit yang mengepung Baskara.

Kemudian, dia mengajak pengawal utama Putri Suciatma

itu menembus barisan prajurit di depan mereka untuk

meloloskan diri. Seperti halnya Sudarga, mereka berdua

memanfaatkan ilmu memperingan tubuh untuk melompat ke

atap-atap rumah penduduk. Sekejap saja, bayangan mereka

sudah lenyap ditelan gelap.

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

10. Setan Kecapi Bisu

Tengah malam, di hutan pinggir Demak.

Api unggun menyala. Samita tekun menata batang dan

ranting kering untuk menahan agar nyala api tetap besar.

Masih ada setumpuk lagi ranting dan batang kering di

sampingnya. Wajahnya memerah terkena terpaan cahaya api

unggun. Berubah-ubah sesuai dengan liukan api yang

bercanda dengan angin hutan.

Kain hijau menutupi kepalanya, hanya menyisakan

wajahnya yang bulat telur. Artinya, belum lama Samita

melakukan sembahyang seperti biasa. Sementara di bawah

pohon rindang tak jauh dari tempat Samita duduk, Rukmi

telaten merawat luka Baskara. Pemuda berbadan besar itu

melepas bajunya agar Rukmi leluasa membalurkan ramuan

obat pada luka yang rata di lengan dan punggungnya.

Ramuan obat itu dibuat oleh Samita. Hanya, untuk

membalurkannya, Samita minta agar Rukmi yang

melakukannya. Samita sendiri memilih asyik dengan api

unggun sambil membelakangi mereka berdua.

Beberapa kali Baskara menggigit bibir menahan rasa perih

ketika ramuan obat itu menyentuh luka goresan pedang di

tubuhnya. Setelah menguatkan diri beberapa lama, selesailah

proses pengobatan itu. Ia kembali mengenakan bajunya yang

sudah compang-camping akibat sabetan pedang para prajurit

Majapahit.

Begitu lolos dari kepungan prajurit Majapahit petang

sebelumnya, Samita meninggalkan Baskara di hutan pinggir

kota. Gadis itu lalu kembali ke rumah penduduk untuk

mengembalikan kuda yang ia pinjam dan menjemput Rukmi.

Keduanya lalu menelusup ke hutan itu menemui Baskara.

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Kau sudah tahu siapa kami. Tapi, kami sama sekali buta

tentang dirimu, Samita.”

Baskara beringsut ke api unggun mendekati Samita. Rukmi

menyusul. Bertiga kini mereka duduk berjajar di muka api

unggun.

“Benar, Nini. Kami yakin Nini bukan orang sembarangan.

Jangan sampai karena kami tidak tahu siapa Nini, kami jadi

salah bersikap.”

Rukmi yang sejak pertama kali bertemu dengan Samita

sudah penasaran dengan jati diri gadis itu menimpali ucapan

Baskara. Sementara orang yang mereka ributkan cuma

tersenyum.

Samita malah makin asyik memilih-milih kayu kering,

kemudian meletakannya di tumpukan kayu yang terbakar.

Sebentar kemudian, kayu-kayu itu menjadi bara. Senyap

sesaat. Suara kayu yang terbakar menggantikan perbincangan

tiga orang itu.

Sementara, suara-suara penghuni hutan semakin nyata.

Lolongan serigala, bunyi jangkrik yang mengusik, kepak

kelelawar dan suara-suara hewan melata silih berganti. Rukmi

dan Baskara masih sabar menunggu.

“Aku bukan siapa-siapa.”

“Samita, bagaimana mungkin seseorang yang bukan

siapa-siapa bisa menguasai ilmu siluman itu?”

Samita menoleh ke arah Baskara dengan kesan wajah tak

mengerti.

“Maksudku, ilmu yang sangat tinggi hingga tak terbayang

olehku bagaimana engkau mempelajarinya.”

“Semua ilmu ada karena dipelajari. Segala yang aku

mampu pun lebih dulu aku pelajari. Bukankah kita bisa bicara

juga, setelah semasa kecil belajar terbata-bata?”

“Samita, Sad Respati adalah pendekar berilmu sangat

tinggi. Tidak ada tandingannya di jajaran Bhayangkari

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Majapahit sekali pun. Tapi, kau berhasil membuatnya tak

berkutik hanya dalam beberapa gebrakan.”

Samita tersenyum. Lalu, kembali asyik memilih-milih kayu

kering yang akan ia letakkan di tumpukan paling atas pada api

unggun itu.

“Dua tahun lalu kami berteman. Aku sedikit tahu tentang

rahasia jurus Hanacaraka-nya. Tapi, itu bukan alasan aku bisa

mengalahkannya hari ini.”

Baskara dan Rukmi khusyuk mendengarkan.

“Sejak pertama aku menentang serangannya, dia sudah

menduga-duga siapa aku sebenarnya. Karena itu,

serangannya jadi penuh keraguan. Lagi pula, dia tak

menghunus keris Angga Cuwiri-nya yang begitu ampuh.”

Baskara mengangguk-angguk.

“Tetap saja aku kagum dengan ilmu kanuraganmu, Samita.

Tapi, bagaimana bisa engkau berteman dengan rakryan

rangga Majapahit?”

Samita merasa terjebak. Ia lalu tersenyum lebar.

“Baiklah, aku akan menceritakan siapa diriku.”

Kemudian, mengalir cerita panjang dari bibir Samita. Mulai

kunjungan armada Ming yang dipimpin gurunya ke Nusantara,

pertemanannya dengan Ramya di Simongan, kisah serangan

prajurit Majapahit yang membuat seratus lebih ping-se tewas

mengenaskan, perjalanan ke Majapahit, bertemu dengan

Wikramawardhana, pertemanannya dengan Sad Respati, dan

peristiwa-peristiwa penting lainnya. Hampir semuanya

diceritakan, kecuali pencurian kitab Kutub Beku yang berakhir

dengan tewasnya Sien Feng, kakak seperguruannya.

Selama mendengarkan cerita Samita, Baskara dan Rukmi

kelihatan takjub. Tanpa sadar mereka mengangguk-anggukan

kepalanya dengan air muka yang berubah-ubah.

“Saat prajurit Wikramawardhana menyerang armada Ming,

kami pikir akan terjadi pembalasan besar-besaran dari pihak

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Ming. Tadinya kami sangat berharap itu terjadi. Samita,

kenapa Laksamana Cheng Ho tak melakukan serangan

balasan ke Majapahit?”

Samita menoleh ke Baskara, tersenyum maklum.

“Kami diutus kaisar ke Samudra Barat untuk membina

hubungan baik dengan kerajaan-kerajaan sahabat. Jika kami

melakukan pembalasan, sudah pasti semua tujuan itu tak

akan tercapai. Sebaliknya, pertumpahan darah akan terjadi di

mana-mana.”

Baskara semakin terdiam. Sementara Rukmi tak banyak

bersuara. Ia hanya mendengarkan dengan tekun.

“Lalu, kenapa kau memisahkan diri dari armada Ming, dan

kembali ke Jawa Dwipa?”

Samita tak langsung menjawab. Air mukanya berubah

sama sekali.

“Kau tak perlu menjawab jika memang tak ingin.”

“Tak masalah. Aku pun tak yakin, apakah pergi ke

Majapahit masih penting.”

Baskara dan Rukmi tampak heran.

“Sudahlah. Kami pun tak berhak mengetahui segala

urusanmu, Samita. Pastinya, kami sudah cukup lega karena

kini tahu siapa dirimu. Ceritamu menjawab semua

keingintahuan kami selama ini.”

Bertiga mereka diam. Masing-masing berpikir tanpa jelas

ujung pangkalnya. Rukmi lalu mengotak-atik bakul bambu di

sampingnya, kemudian mengeluarkan beberapa bungkusan.

“Lebih baik kita isi perut meskipun sedikit, agar punya

cukup tenaga untuk esok hari.”

Ketiganya lalu kembali sibuk dengan angan masingmasing.

Di sela kunyahan mulut yang sibuk, tak ada

percakapan serius.

“Entah apakah putri bisa makan seperti kita sekarang.”

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Sontak Baskara berhenti mengunyah. Dia lalu meletakkan

sisa penganan di tangannya ke tanah. Seperti ada perasaan

bersalah yang membayang di wajahnya. Padahal, saat

mengatakan kalimat itu, Rukmi sekadar bergumam.

“Kau benar, Mbok. Mana boleh kita bersenang-senang di

sini, sedangkan nasib putri, kita tak tahu.”

Baskara lalu meraih pedang panjangnya yang sudah

bersarang pada warangkanya.

“Aku harus mencari putri.”

“Baskara, kenapa terburu-buru? Putri Suciatma tak akan

apa-apa. Bukankah Sudarga bersamanya.”

Samita bangkit dari duduknya karena heran dengan

ketergesa-gesaan Baskara.

“Samita, kewajibanku adalah menjaga putri. Aku harus

mencarinya.”

“Paling tidak, tunggulah sampai fajar.”

Sinar api unggun menerpa senyum Baskara yang sedikit

mengembang.

“Aku tak tahu kapan putri membutuhkan tenagaku. Karena

itu, aku harus segera pergi.”

“Baskara!”

Pemuda itu menghentikan langkahnya lalu menoleh ke

belakang, ketika suara Rukmi lantang terdengar.

“Jika bertemu putri, sampaikan permohonan maafku

karena tubuh renta ini tak bisa segera menghadap. Tapi, pasti

aku akan menyusul ke mana pun putri berada.”

Baskara mengangguk tanpa mengeluarkan kata-kata. Ia

lalu melangkah berderap menembus pekatnya hutan dan

hawa dingin. Satwa hutan kecil itu terdengar seperti sedang

berpesta. Suaranya sungguh kaya dan bersahut-sahutan.

Mencekam jiwa-jiwa yang jerih. Tapi juga membuat takjub hati

yang percaya cita rasa seni Sang Pencipta.

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Kediaman Rakryan Medangkamulan, Kesusra.

Bebunyian malam menembus tembok seputar kediaman

Kesusra yang raksasa. Tembok tinggi dari batu bata itu tetap

tak bisa mengubah kodrat alam bahwa malam adalah pekat.

Jangkrik menyanyi riang. Berlomba dengan kawanan kodok

yang berkecipak di atas air.

Di balik tembok itu, napas para prajurit jaga seperti dengus

kerbau yang hendak disembelih. Gelisah bukan main, tanpa

tahu benar apa penyebabnya. Udara dingin yang mencekat tak

seharusnya mendatangkan gerah. Namun, beberapa di antara

mereka sibuk mengelap keringat yang meluap dari pori-pori.

“Kangmas, kenapa hatiku terasa tidak enak.”

“Bicara apa, Nimas. Tidak ada apa-apa. Medangkamulan

begini aman. Prajurit-prajurit berjaga patuh. Kita pun punya

ahli kanuragan yang ilmunya setinggi langit. Buat apa

khawatir?”

Kesusra seperti tak paham kalimat apa yang ia ucapkan. Ia

minta Suminten, istrinya, untuk tidak gelisah, sedangkan dia

berjalan mondar-mandir di kamar mereka tanpa alasan pasti.

Suminten lalu duduk di pinggir pembaringan dengan wajah

was-was. Ia mengenakan kemben yang pinggirnya dihias

dengan benang emas. Kain bawahnya pun elok. Rambutnya

diurai panjang.

“Rasa hatiku benar-benar tak enak, Kangmas.”

Kesusra tak berkata apa-apa. Dia menghampiri jendela

kamar, lalu membukanya perlahan. Bulan tak tampak.

Suasana mencekam. Langit gelap sama sekali. Obor-obor

yang dipasang di tembok yang melingkari rumah besar

Kesusra, satu-satunya penerangan yang sedikit menepis rasa

takut akan gelap.

Setelah memastikan para prajurit masih berjaga, Kesusra

kembali menutup jendela itu dan beranjak ke pembaringan.

“Mari kita tidur, Nimas.”

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Suminten tersenyum setengah dipaksakan. Dia baru saja

hendak mengangkat kakinya ke atas pembaringan, ketika

sayup terdengar suara kecapi yang terus mendekat. Ia

menatap Kesusra dengan kesan wajah heran. Suaminya pun

menatapnya dengan cara yang sama.

“Malam-malam begini, siapa yang bermain kecapi dengan

nada begini seram.”

Wajah Suminten memucat. Bunyi kecapi itu memang

menyayat dan benar-benar nyata. Indah, tapi menebar rasa

tak enak. Seperti ancaman. Lambat laun suaranya

mengencang. Hingga terasa sangat dekat dengan bangunan

pribadi Kesusra.

Suminten memegang erat lengan suaminya. Ia begitu

ketakutan. Sementara suara kecapi itu semakin menjadi. Kini

denting dawainya tak sendirian. Ada kidung. Suara seorang

perempuan yang melengking menyanyikan tembang yang

menyedak-nyedak.

“Apa bedanya hidup dan mati, jika kehidupan yang kau

jalani tak iagi memberi napas. Seperti mayat hidup yang tak

punya hati. Menyerbu maiam, mengendus darah untuk

sebuah baias dendam. Bertahun-tahun memakan bangkai

masa iaiu yang membusuk. Mengubah setiap hentakan

jantung menjadi wajah sang durjana. Menggambarnya dalamdalam.

Menunggu waktunya baias dendam.”

Sungguh mengerikan. Kidung itu dilantunkan penuh

perasaan. Seperti tangisan hewan-hewan hutan. Lebih

menyakitkan dibandingkan suara anak ayam yang menusuk

gendang telinga. Ada nada sedih dan dendam. Suminten

semakin kencang memeluk lengan suaminya.

“Ke mana para pengawal?”

Baru saja Kesusra hendak bangkit dari pembaringan, suara

melengking bersahut-sahutan dari luar ruangan pribadinya.

Lolongan kematian. Nyawa prajurit jaga baru saja melayang.

“Nimas, kau tenang saja di sini. Aku akan keluar.”

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Kangmas, itu sangat berbahaya.”

Suminten melengkapi rasa takutnya dengan tangis yang

tertahan. Tapi Kesusra tak peduli. Setelah melepas pelukan

istrinya, dia mengambil keris pusaka yang diletakkan di atas

meja. Sementara petikan kecapi itu belum berhenti. Begitu

juga dengan kidung menyayat hati yang diulang-ulang oleh

pelantunnya.

“Turun kau dari sana, pengacau!”

Rembulan muncul sebagian. Memberi sedikit cahaya ke

bumi. Kesusra sudah berada di halaman dalam kompleks

kediamannya. Dia melihat bayangan di atas genteng

bangunan pribadinya. Sesosok bayangan dengan rambut

berkibar. Jelas seorang perempuan. Dia mengenakan jubah

yang melambai-lambai diempas angin.

Rambutnya yang panjang memberi kesan angker.

Wajahnya! Kesusra sempat terhenyak ketika melihat wajah

orang itu. Sangat kasar dan buruk. Rupanya, ia mengenakan

topeng kayu yang tak dibuat dengan cita rasa seni. Seperti

asal jadi.

Orang misterius itu seperti sengaja tak mengabaikan

teguran Kesusra. Dia tetap memainkan kecapinya dengan

santai. Sementara Kesusra menoleh ke kanan-kiri. Beberapa

prajurit terlihat sudah menghunus senjata mereka. Di atas

rumput, belasan prajurit bergelimpangan bersimbah darah.

Takut juga hati Kesusra.

“Kau panggil Lowo Ijo dan Kolo Ireng!”

Seorang prajurit yang menerima perintah majikannya

langsung menganggukkan kepala dan segera berlari

meninggalkan tempat itu. Tapi beberapa langkah saja,

tubuhnya keburu limbung dan ambruk ke atas rumput tanpa

erangan.

Kesusra terbelalak. Dia melotot ke arah pemain kecapi di

atas genteng yang masih memetik senar kecapi itu tanpa jeda,

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

meskipun sekejap. Mungkinkah dia yang menyerang

prajuritnya hingga tewas tanpa suara?

“Dia bukan manusia.”

Kesusra berbisik tanpa bisa berbuat apa-apa. Tubuhnya

bergetar saking takutnya. Tiba-tiba gerakan kecapi itu terhenti

sama sekali. Sosok misterius di atas genteng itu menoleh

perlahan ke arah Kesusra dengan gerakan yang sangat

angker. Sekali sentak, tubuhnya melayang ke arah Kesusra.

Sang rakryan Medangkamulan itu merasa tanggung untuk

melarikan diri. Dengan gerakan sea-danya, dia mengacungkan

kerisnya menyambut datangnya serangan. Cuma itu saja yang

ia lakukan. Dalam sekedip mata, pemain kecapi yang keji itu

sudah melompat lagi ke arah jendela ruang pribadi Kesusra

yang di dalamnya kini tinggal Suminten seorang diri.

Sesaat, tubuh Kesusra berdiri kaku. Para prajurit yang

masih tersisa membelalakkan mata mereka dengan tubuh

bergetar. Tubuh Kesusra berdiri tanpa kepala. Sesaat

kemudian, tubuh mati itu roboh telentang dengan darah

berceceran.

Hampir bersamaan, dari ruang pribadi Kesusra, suara

jeritan perempuan terdengar melolong melebihi keributan

pasar Medangkamulan sekali pun. Itu suara Suminten. Istri

rakryan Medangkamulan itu berdiri kaku dengan kedua

tangannya mengatup mulut. Dua bola matanya seperti hendak

keluar dari ceruknya.

Sekejap kemudian, ia ambruk ke lantai, pingsan. Di

hadapannya, persis benda bulat yang mencecerkan cairan

merah menggelinding. Itu kepala Kesusra, suaminya.

0oo0

“Setelah melewati hutan kecil di depan itu, kita akan

sampai di wilayah Medangkamulan.”

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Rukmi melangkah mantap. Samita yang men-jejerinya

menikmati betul perjalanan itu. Sesekali ia menoleh ke sana

kemari. Menikmati cuit-cuit suara burung yang begitu ramai.

Serbahijau di kanan-kiri jalan setapak itu menyedapkan mata.

Samita seperti kehilangan beban hidup. Udara adem yang

menelusup ke dadanya menjadi anugerah paling

menggembirakan pagi itu.

“Mbok, apa Simbok tak ingin istirahat sebentar?”

“Nini lelah?”

Samita menggeleng dengan senyum yang cerah. “Badan

ini memang sudah renta. Tapi, masih ada sisa tenaga untuk

melanjutkan perjalanan.”

Samita meraih bahu Rukmi. Mereka berjalan dengan

obrolan akrab diselingi tawa kecil. Samita menikmati betul

perjalanan pagi itu. Wajahnya kelihatan segar setelah subuh

sebelumnya mandi di sungai pinggir hutan Demak.

Seperti terlahir kembali. Kehadiran Rukmi bagi Samita

memunculkan keceriaan yang menggebu. Samita merasa

punya ibu. Sosok yang melimpahkan kasih sayang dan

perlindungan. Menawarkan pangkuannya setiap waktu untuk

menyender. Juga siap setiap saat mendengarkan keluh kesah

dan menemani setiap air mata yang jatuh.

Kini, mereka masih saja telaten menyusuri jalan setapak

yang menembus hutan perbatasan Demak dan

Medangkamulan itu. Menjelang siang, ketika keringat mulai

meleleh di dahi dua perempuan itu, Samita lagi-lagi

menawarkan kepada Rukmi untuk istirahat. Kali ini,

perempuan itu tak menolak. Mereka pun memilih duduk di

bawah pohon rindang dan membuka perbekalan.

Sambil berbincang, keduanya menenangkan perut yang

mulai keroncongan dengan menelan pisang besar berkulit

kuning. Angin sepoi-sepoi siang itu, membuat nyaman tubuh

dan mengundang rasa kantuk. Samita menyenderkan

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

punggungnya di batang pohon besar itu sambil memejamkan

mata.

Bersama angin yang berhembus dari timur, terdengar

alunan seruling yang merayu. Menambah rasa kantuk yang

sudah bertumpuk. Samita membuka matanya, lalu menoleh

ke arah suara seruling tadi.

“Diakah? Tidak mungkin. Ini sudah dua tahun.”

“Siapa, Nini?”

“Mbok, peniup seruling itu membuatku penasaran. Kita

temui dia.”

Tanpa membantah, Rukmi segera berkemas. Keduanya

lalu berjalan setengah tergesa mengikuti perasaan, menebaknebak

arah suara seruling yang mengundang rasa penasaran.

Tak berapa lama, keduanya berada di pinggir hutan dekat

sebuah tebing yang sebelahnya menganga jurang tanpa

dasar. Sebuah pemandangan yang hampir tak masuk akal.

Tepat di bibir tebing itu berdiri sebuah pondok sederhana.

Kayu-kayu penyangganya tak halus dan terkesan seadanya.

Hanya berupa batang-batang pohon yang besar dan

panjangnya sama.

Atapnya kajang yang sudah berumur. Dinding pondok itu

terbuat dari anyaman bambu yang juga sudah kelihatan tua.

Pandangan Samita lalu menyergap sesosok laki-laki yang

duduk santai di atas batu di pinggir jurang. Dia memainkan

seruling dengan mata terpejam. Seorang pemuda dengan

rambut terikat seperti ekor kuda. Beberapa helai dibiarkan

melambai di atas telinganya, membangun kesan romantis

yang pekat.

Kulit wajahnya halus, tampak timpang dengan pakaian

lusuh yang ia kenakan. Memainkan seruling seperti

melepaskan napas. Begitu penuh perasaan.

“Kau memenuhi janjimu untuk menunggunya?”

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Samita menghampiri pemuda itu. Sementara Rukmi

dimintanya untuk tetap di tempat karena tebing itu cukup

berbahaya. Rukmi menatap Samita keheranan. Perempuan

tua itu memilih untuk mengikuti saja apa yang terjadi tanpa

bertanya apa pun.

Permainan seruling itu berhenti. Si pemuda menoleh.

Wajahnya sontak berubah kesan. Matanya melebar,

sementara mulutnya meluaskan senyum hingga gigi-giginya

yang putih terlihat jelas.

“Berapa nyawa yang kau punya, Hui Sing?”

“Tidakkah itu pertanyaan yang tak sopan, Windriya?”

Windriya terbahak memamerkan keceriaan bocah pada

wajahnya yang polos. Ia bangkit lalu menjura di depan Samita.

“Kabar yang tersiar, kau dipukul jatuh ke jurang oleh Dua

Iblis Laut Kidul, Hui Sing.”

“Tapi, jiwaku ada di tangan Thian, bukan ditentukan oleh

dua iblis itu.”

Keduanya tersenyum. Samita lalu memanggil Rukmi yang

masih termangu di bawah pohon jati. Mereka lalu beranjak ke

pondok sederhana milik Windriya. Tuan rumah lalu

menyuguhkan air kelapa muda, langsung dari buahnya.

“Jadi, namamu kini Samita. Indah sekali.”

Samita sedikit saja bereaksi. Dia memang selalu begitu

setiap menerima pujian dari siapa pun. Sebelumnya, Samita

menceritakan perjalanan panjangnya setelah terjatuh ke

jurang karena dikeroyok Dua Iblis Laut Kidul dan Kesusra.

Lengkap ia kisahkan pengalamannya terkurung selama

dua tahun di tempat itu hingga berhasil menemukan jalan

keluar dengan mengikuti aliran sungai menuju Demak.

Samita juga menceritakan kisah pertemuannya dengan

Rukmi dan keterlibatannya di rumah makan Nawa Rawi.

Hanya, dia tak menyebut cerita Dewi Suciatma dengan

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

lengkap. Apalagi kenyataan bahwa perempuan itu adalah Putri

Bre Wirabumi.

“Lalu, bagaimana dengan penantianmu?”

Air muka Windriya sedikit berubah. Tak lantas menjadi

muram. Hanya dua alisnya sedikit terangkat.

“Aku masih menunggunya dan rasa-rasanya dia sudah

muncul.”

Windriya mengatakannya tanpa beban. Seperti itulah

Windriya sebenarnya. Sedikit tak peduli dan seenaknya.

Seperti anak-anak. Hanya karena tersandung asmara hingga

kepribadiannya sedikit berubah. Lebih romantis dan doyan

bermuram durja.

“Rasa-rasanya?” Samita tak puas dengan jawaban

Windriya.

“Ya. Aku merasa dia sudah muncul, tapi tidak yakin.”

“Bagaimana bisa begitu?”

Windriya seperti sedang berpikir. Diam lalu mengangkat

dagu.

“Kau tahu kabar Kesusra?”

Samita menggelengkan kepala.

“Dua hari lalu, pria bejat itu tewas dengan kepala putus.”

Mata Samita melebar tak percaya.

“Seseorang bertopeng datang seperti dewa pencabut

nyawa. Kediaman Kesusra diobrak-abrik. Banyak prajurit

tewas mengerikan. Kesusra menemui ajalnya dengan kepala

menggelinding.”

“Keji sekali!” Windriya menggaruk-garuk kepalanya.

“Bukankah dulu kau pun ingin menghukumnya, Samita?”

“Ya, tapi tidak dengan cara itu.”

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Orang bertopeng yang mengobrak-abrik kediaman

Kesusra itu adalah orang sakti yang suka memetik kecapi

maut.”

Samita mereka-reka.

“Kau hendak menghubungkannya dengan suara kecapi

yang kau dengar dari dasar jurang dua tahun lalu, Windriya?”

Pemuda itu menganggukkan kepala.

“Kau pikir, orang yang membunuh Kesusra itu Ramya?”

“Karena itulah, aku katakan bahwa aku tak yakin.”

Samita diam. Dia lalu mengedarkan pandangannya ke

sekeliling.

“Apa yang kau alami selama dua tahun berada di tempat

ini, Windriya. Apakah kau pernah mendengar suara kecapi

itu?”

“Hanya sekali, ketika Ramya terjun ke jurang. Tidak pernah

setelah itu.”

“Lalu, bagaimana kau tetap yakin bahwa pendengaranmu

tak salah?”

Windriya menggerakkan lehernya sedikit sambil tersenyum

badung.

“Aku selalu yakin dengan diriku. Kalau tidak, untuk apa aku

diam saja di tempat ini menunggu Ramya tanpa pergi ke

mana-mana.”

Samita seperti baru saja disadarkan dari lamunan. Dia

kembali mengagumi keteguhan hati Windriya menunggu

Ramya. Pemuda ini begini Jenaka dan masih sangat muda.

Pasti keinginannya untuk melanglang buana begitu kuat. Tapi

demi sebuah penantian yang sangat ia yakini, Windriya rela

memupus semua keinginan itu.

“Lalu, apa rencanamu sekarang, Windriya?”

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Pemuda itu menyentak dua tempurung lututnya yang

terlipat sambil nyengir.

“Aku masih punya waktu puluhan tahun untuk

menunggunya. Tidak ada masalah. Asalkan aku merasa dekat

dengannya, waktu akan bergerak begitu cepat.”

“Itulah keluarbiasaan cinta.”

Rukmi yang sejak awal tak banyak bicara, tiba-tiba

nyeletuk. Kontan Samita dan Windriya menoleh ke arahnya

sambil tersenyum. Rukmi mengangkat bahu sambil

menenggak sisa air kelapa muda dari bulir kelapa yang

disungguhkan Windriya. Ikut-ikutan sableng.

Obrolan akrab terus mengalir. Kini mereka melepaskan

beban hidup dengan membahas hal-hal lucu. Windriya

seperti menemukan dirinya yang sempat hilang. Cerita-cerita

konyol kembali mengalir dari bibirnya.

Rukmi dan Samita beberapa kali terpingkal-pingkal

karenanya. Selama dua tahun, Windriya menghabiskan waktu

dengan kesendirian. Tidak ada teman untuk berbagi cerita

lucu dan banyolan-banyolan segar yang sudah menumpuk

dan ingin segera dimuntahkan.

Malam itu, Samita dan Rukmi memutuskan untuk

menginap di pondok sederhana Windriya. Selain memang

tubuh mereka terasa penat oleh perjalanan jauh, bertemu

dengan Windriya memunculkan keceriaan yang menyenangkan.

Bahkan, Rukmi bisa sejenak melupakan rasa waswasnya

memikirkan Putri Suciatma yang kini entah di mana.

Pagi harinya, ketika penat tubuh menguap tanpa bekas,

Samita dan Rukmi pamitan. Tanpa raut muka muram durja,

Windriya melepas kepergian mereka berdua.

“Setelah aku menemukan Ramya, pasti kami akan

mencarimu ke Majapahit.”

Samita mengangguk tanpa suara. Dalam hatinya

menggores perih. Tapi, dia tak ingin memperlihatkannya.

Semua orang punya cara sendiri menyikapi kecenderungan

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

hatinya. Windriya termasuk orang yang tak suka mengiba-iba.

Ia tetap yakin meskipun kemungkinan yang ada hanya

sebesar lubang jarum.

Sinar matahari rata menembus dedaunan pohon-pohon

hutan yang saling berhimpit ketika Samita dan Rukmi

meneruskan perjalanan mereka. Setelah mendengar kabar

bahwa Kesusra sudah tewas, keinginan Samita untuk

mendatangi Kesusra dan membalas sakit hati Ramya

sekaligus menantang Dua Iblis Laut Kidul menjadi urung.

Tapi, tetap saja mereka harus memasuki Kota

Medangkamulan karena tak ada jalan lain yang bisa ditempuh

dengan mudah untuk sampai ke Sumber-gurit. Menjelang

sore, setelah sempat lebih dulu beristirahat untuk mengisi

perut dan melakukan sembahyang, Samita dan Rukmi sampai

juga di perbatasan Kota Medangkamulan.

Setelah melalui pemeriksaan prajurit jaga perbatasan,

keduanya lalu meninggalkan batas kota. Pemeriksaan di

perbatasan sungguh ketat. Rupanya, setelah kematian

Rakryan Medangkamulan Kesusra, pengamanan dilakukan

dua kali lipat lebih ketat dari biasanya.

Samita harus meyakinkan para prajurit jaga itu agar bisa

diperbolehkan lewat. Rukmi pun ikut menambah-nambahkan

cerita yang memperkuat bualan mereka. Begitu diizinkan

lewat, Samita dan Rukmi segera meninggalkan tempat itu

tanpa menoleh ke belakang.

0oo0

Beberapa saat sebelum Samita dan Rukmi sampai di pintu

gerbang Medangkamulan, dua ekor kuda dipacu gila-gilaan

oleh pengendaranya menjauh dari tempat itu. Suara lecutan

terdengar keji. Ringkikan dua kuda bernasib sial itu bisa saja

berupa tangisan. Hanya karena bahasanya yang tak bisa

dipahami manusia, dua orang yang duduk terguncangguncang

di atas punggungnya tak akan mengerti.

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Tapi kali ini, kalau pun bahasa dua binatang malang itu

bisa dimengerti, tetap saja kedua penunggang kuda itu tak

peduli. Sebab, mereka adalah saudara seperguruan yang

terkenal keji, Kolo Ireng dan Lowo Ijo. Pesilat golongan hitam

yang dijuluki Dua Iblis Laut Kidul itu rupanya ingin secepatnya

meninggalkan Medangkamulan.

“Kau masih yakin orang bertopeng itu adalah Dewi Kecapi

Maut, Adi Lowo Ijo?”

“Siapa lagi yang menguasai ilmu kecapi dan jurus Cakar

Siluman di kolong langit ini kecuali iblis betina itu, Kakang?”

Suara tapal kuda yang beradu dengan permukaan tanah

terdengar begitu ribut. Berderap dan meninggalkan debu yang

mengepul pekat.

“Tapi, bukankah iblis betina itu seangkatan dengan guru?

Harusnya dia sudah menjadi nenek renta yang tak punya

tenaga.”

“Kakang, apakah guru kita yang usianya sudah hampir

satu abad itu kurang tenaga untuk menghabisi kita dalam satu

gebrakan?”

Kolo Ireng yang memang tak sepintar adik seperguruannya

itu mengangguk-angguk. Hari itu, keduanya hendak

secepatnya meninggalkan Medangkamulan untuk menghindari

maut. Kedatangan orang misterius bersenjata kecapi itu

membuat mereka ngeri.

Meskipun ilmu keduanya sangat tinggi dan beracun,

munculnya nama Dewi Kecapi Maut membuat hati mereka

keder juga. Kolo Ireng memang sangat yakin bahwa orang

yang melabrak kediaman Kesusra, membunuh banyak

prajurit, sekaligus mencabut nyawa Kesusra adalah Dewi

Kecapi Maut.

Dari gurunya, Kolo Ireng sempat mendengar cerita bahwa

di masa mudanya dulu, ada seorang perempuan berilmu setan

yang merajai dunia persilatan. Julukannya Dewi Kecapi Maut.

Meskipun sama-sama berhati iblis dan masuk golongan pesilat

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

sesat, namun antara majikan Gua Tengkorak dan Dewi Kecapi

Maut tak pernah ada pertemanan.

Sebaliknya, mereka selalu bertemu dalam pertarungan

maut. Beberapa kali Siluman Laut Kidul, guru Lowo Ijo dan

Kolo Ireng, kalah oleh perempuan berhati keji itu. Masuk akal

kalau kemudian Lowo Ijo bersegera mengajak kakak

seperguruannya untuk hengkang dari Medangkamulan. Kalau

guru mereka saja tak mampu berbuat banyak menghadapi

Dewi Kecapi Maut, bagaimana dengan mereka berdua?

“Lalu, mengapa nenek renta itu membuat kacau

Medangkamulan? Apa hubungannya dengan Kesusra?”

Kolo Ireng masih penasaran. Ia menoleh sungguh-sungguh

ke arah Lowo Ijo tanpa kehilangan keseimbangan ketika

kudanya berlari kesetanan.

“Itu yang aku masih belum paham. Tapi, apa pun

alasannya, kita tetap harus segera menghadap guru.”

Setelah mengangguk mantap, Kolo Ireng meluruskan

pandangannya ke depan. Keduanya benar-benar tak ingin

membuang waktu meskipun sekejap. Mereka hanya butuh

beberapa saat untuk melesat jauh dari garis perbatasan

Medangkamulan.

Tiba-tiba kedua kuda yang mereka tunggangi mengangkat

kaki setinggi-tingginya sambil meringkik dengan suara yang

melengking. Sebatang pohon yang tak terlalu besar merintangi

jalan setapak yang hendak mereka lalui.

Setelah berhasil menenangkan kudanya masing-masing,

Kolo Ireng dan Lowo Ijo saling pandang. Suasana mendadak

sepi. Ringkikan kuda terdengar sesekali. Kolo Ireng dan Lowo

Ijo melihat ke sekitar dengan pandangan menyelidik. Mata

mereka memicing.

Beberapa saat kemudian, terdengar suara khas yang

membuat bulu kuduk mereka berdiri. Suara kecapi yang

dipetik penuh perasaan. Kuda kedua orang itu mulai gelisah

ketika petikan kecapi semakin menusuk perasaan.

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Tertawalah dunia ketika manusia mencoba lari dari

kematian. Sedangkan tembok setebal apa pun, mustahil

mampu menahan maut.

Menangislah manusia jika dia tahu kepengecutan adalah

sebenar-benarnya kematian. Apa arti hidup dalam seribu rasa

takut.

“Keluar kau, nenek tua! Kau kira ilmumu yang cetek itu

akan mampu melukai kami?!”

Lowo Ijo menutupi ketakutannya dengan sumpah serapah.

Suaranya menggema oleh tenaga dalam yang tinggi,

membalas suara kecapi dan kidung yang juga melengking

mengerikan.

Kolo Ireng pun bersiap. Dia menggenggam erat tongkat

ular sendoknya. Sama seperti Lowo Ijo yang buru-buru

menghunus pedang besarnya. Mengagetkan, dari balik

rerimbunan pohon hutan meluncur sesosok serbahitam yang

langsung menyerang ke arah Kolo Ireng dan Lowo Ijo.

Dua Iblis Laut kidul itu langsung menyentakkan tubuhnya,

melompat dari kuda menghindari serangan kilat itu. Ringkikan

kuda memecah udara sejadi-jadinya disusul suara berdebam

karena dua binatang naas itu roboh ke tanah. Di perut mereka

menancap helaian dawai baja dari kecapi penyerang itu.

Penyerang misterius yang mengenakan jubah serba hitam

itu kini berdiri tegak di hadapan Dua Iblis Laut Kidul. Tangan

kanannya menenteng kecapi yang sebagian dawainya

menusuk perut kuda-kuda tunggangan Kolo Ireng dan Lowo

Ijo. Saat melakukan serangan sambil melompat dari atas

pohon, si jubah hitam bertopeng kayu itu langsung melesatkan

dawai-dawai sekecil jarum ke arah Dua Iblis Laut Kidul.

Hanya, karena dua orang itu buru-buru melompat, dua

kuda itu yang jadi sasaran. Kini, orang bertopeng kayu itu

belum juga menghentakkan kecapinya untuk mencabut dawaidawai

yang telah melayangkan nyawa dua kuda tunggangan

itu.

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Sepertinya, dia sedang menunggu sesuatu. Lowo Ijo dan

Kolo Ireng masih berjaga-jaga tanpa mau lebih dulu

menyerang.

“Kau bukan Dewi Kecapi Maut!”

Teriakan lantang Lowo Ijo tak membuat orang bertopeng

itu bergerak sedikit pun. Dia masih saja menatap dua orang di

depannya dengan tatapan angker.

“Kalau dia bukan Dewi Kecapi Maut, apa yang kita

takutkan?”

Tanpa menunggu lagi, Kolo Ireng melompat dengan penuh

percaya diri. Tongkat ular beracun di tangannya seolah-olah

sudah mencium bau darah. Melihat lawannya mulai

menyerang, orang bertopeng itu akhirnya menyentakkan

kecapinya. Sekejap dawai-dawai panjang dan sangat halus itu

menyambut Kolo Ijo.

“Kakang Kolo, hati-hati!”

Meskipun sudah yakin bahwa penyerangnya bukanlah

Dewi Kecapi Maut, Lowo Ijo tetap tak mau gegabah.

Bagaimanapun, orang bertopeng yang jelas seorang

perempuan ini berilmu tinggi. Sekilas, meskipun wajahnya tak

kelihatan, hampir bisa dipastikan usianya masih belia.

Badannya yang tegak dan kulitnya yang sesekali terlihat

ketika kain lengannya tersingkap, membuktikan bahwa dia

masih muda. Sedangkan Dewi Kecapi Maut pastilah jika masih

hidup usianya sudah hampir seratus tahun. Tentunya selain

bungkuk, kulit tubuhnya juga keriput.

Kini, Lowo Ijo mengira-ngira bahwa perempuan bertopeng

kayu di hadapannya adalah murid Dewi Kecapi.

Sementara Lowo Ijo berpikir keras, Kolo Ireng terus

berupaya menembus pertahanan lawannya. Ia menggerakkan

tongkat ularnya ke segala arah. Namun, tanpa harus bergerak

dari tempatnya berdiri, perempuan bertopeng itu dengan

mudah menghalau semua serangan Kolo Ireng.

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Tanpa suara sama sekali, dia menggerakkan kecapinya

menutup semua ruang serangan yang bisa dimanfaatkan Kolo

Ireng. Sementara dawai-dawai kecapi yang lepas dari

kuncinya terus memburu tubuh Kolo Ireng dan sewaktu-waktu

bisa menembus kulitnya.

Melihat perkembangan yang tak menyenangkan, Lowo Ijo

memutuskan untuk masuk ke gelanggang. Dia melompat ke

sebelah kiri lawan mencoba membelah pikiran perempuan

bertopeng itu. Benar saja, kini perempuan bertopeng itu mulai

menggerakkan kakinya yang dari tadi menghunjam bumi.

Ia memutar kecapi di tangannya sehingga dawai-dawai itu

pun meliuk seperti belasan ular yang hendak mematuk siapa

saja yang hendak mengganggunya. Karena wujudnya yang

sangat halus, sekilas tak bisa tertangkap oleh pandangan

mata. Karena tingkat ilmu kanuragan Kolo Ireng dan Lowo Ijo

sudah demikian tinggi, tak sulit bagi mereka untuk melihat

pergerakan dawai-dawai penyebar maut itu.

Namun, bisa melihat wujud dawai itu pun tak cukup karena

kini seseorang berilmu seperti siluman tengah memainkannya.

Perempuan bertopeng itu tampak sangat teguh menjaga jarak

tempurnya sehingga tak mudah bagi Lowo Ijo ataupun Kolo

Ireng untuk mendekat dan memperlihatkan keunggulan

senjata mereka.

Sekarang, gerakan perempuan itu semakin kilat, beberapa

kali dia bersalto sambil menggerakkan dawai-dawai kecapinya

ke segala arah. Pada titik waktu tertentu, dia seperti sengaja

membuang kecapi itu dan mendorongnya dengan tenaga

besar ke arah Kolo Ireng.

Kecapi itu berputar membentuk pusaran angin dan terus

memburu tubuh Kolo Ireng. Pada saat yang sama, dawaidawainya

juga ikut berputar dan benar-benar sangat

berbahaya. Selagi kecapi itu menyerbu Kolo Ireng, perempuan

bertopeng itu melompat ke arah Lowo Ijo dengan dua telapak

tangan membentuk cakar.

“Kau benar murid Dewi Kecapi Maut!”

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Tanpa menjawab pertanyaan Lowo Ijo, perempuan itu

menyorongkan cakar kanannya. Menganggap gerakan itu

terlalu gegabah, Lowo Ijo membabatkan pedangnya dan

membentur pergelangan tangan perempuan itu. Tapi aneh,

justru Lowo Ijo merasakan tangannya kesemutan.

Ternyata, pergelangan tangan perempuan aneh itu

dilindungi semacam gelang besar yang menahan pedangnya.

Rasa kaget itu membuat Lowo Ijo lengah, cakar kiri

perempuan itu sontak mengincar lehernya. Lowo Ijo segera

memutar tubuhnya menghindar. Tak urung, kain lengannya

sobek terkena cakar berbisa itu.

Kali ini lawannya tak meneruskan serangan. Sebaliknya, ia

bergerak mundur mengejar kecapinya yang segera berhenti

berputar dan jatuh ke tanah. Terlambat sekejap saja, kecapi itu

tentu jatuh ke tanah dan robohlah wibawanya.

Pada saat yang tepat, perempuan bertopeng itu

menangkap kecapinya sambil melancarkan serangan cakar ke

arah Kolo Ireng. Menyambut serangan itu, Kolo Ireng langsung

mendorong tongkatnya.

“Segara Wisa!”

Lowo Ijo tak mau membuang kesempatan. Selagi

perempuan itu menghadapi tongkat Kolo Ireng, dia melompat

dengan sepenuh tenaga pada kedua tapaknya. Dia tak lagi

memegang pedang.

Sadar posisinya sangat tak menguntungkan, perempuan

itu memutar tubuhnya. Bersamaan dengan kecapi yang

menghunjam ke tanah, kedua tapaknya menyambut serangan

Kolo Ireng dan Lowo Ijo,

Waktu seperti berhenti. Ketiga orang yang tengah

mengadu nyawa itu berdiri ngotot dalam posisi masingmasing.

Dua tangan perempuan bertopeng itu merentang.

Tangan kanannya menahan kepala tongkat Kolo Ireng,

sedangkan tapak kirinya menahan tapak Lowo Ijo.

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Wajah Kolo Ireng dan Lowo Ijo tampak tegang. Bulir-bulir

keringat berjatuhan. Rupanya mereka sedang mengerahkan

tenaga dalamnya habis-habisan. Tiba-tiba perempuan

bertopeng itu menarik tangannya, hingga Kolo Ireng dan Lowo

Ijo terdorong ke depan. Tapi sesaat saja, karena perempuan

berilmu siluman itu kembali menghentakkan tapaknya dengan

kekuatan penuh.

Sontak Kolo Ireng dan Lowo Ijo terjungkal beberapa

tombak. Mereka bergulingan di tanah, kalah adu tenaga

dengan perempuan bertopeng itu.

Sementara orang yang mereka keroyok berdiri santai

dengan dua tangan menyatu di belakang pinggangnya.

Perlahan, ia jongkok dan meraih kecapinya. Sikapnya sangat

teliti ketika satu-satu dawai-dawai yang tadi sengaja dilepas

dari kuncinya, ia kembalikan ke tempatnya semula.

Tak satu pun dawai yang lepas lagi. Kini, benar-benar

kecapi sempurna. Setenang danau mati, perempuan itu lalu

melangkah pelan mencari batu hitam di pinggir jalan. Duduk di

sana, lalu mulai memetik dawai kecapinya lagi.

Kali ini, Kolo Ireng dan Lowo Ijo yang masih berusaha

mengendalikan aliran darahnya yang menggejolak semakin

keder. Bunyi kecapi itu kini dilambari tenaga dalam yang keji.

Mereka kemudian bergerak seperti hewan melata berusaha

duduk dan bermeditasi.

Bunyi petikan kecapi itu semakin menjadi-jadi. Melengking

menembus udara. Orang biasa bisa langsung kehilangan

pendengarannya jika berada di tempat itu. Kolo Ireng dan

Lowo Ijo saja harus mengerahkan seluruh kekuatannya untuk

menahan serangan tenaga dalam itu.

Entah apa yang ada di kepala Kolo Ireng. Dia

menuntaskan diamnya, lalu melompat dengan muka pucat,

menyerang perempuan bertopeng itu. Sementara tanpa

mengubah sikapnya, perempuan bertopeng pemetik kecapi itu

seolah tak peduli terhadap bahaya yang mengancam.

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Hingga titik waktu terakhir, baru dia menancapkan

kecapinya ke tanah dan menyambut serangan Kolo Ireng

dengan jemari membentuk cakar sempurna. Seperti mendapat

limpahan tenaga baru, Kolo Ireng menyerang sepenuh tenaga.

Jurus Segara Wisa dia terapkan sungguh-sungguh.

Pertempuran semakin sengit. Perempuan bertopeng itu

juga tak bisa serta-merta merobohkan murid tertua Majikan

Gua Tengkorak itu. Beberapa kali cakarnya menerpa ruang

kosong. Begitu juga dengan tapak Kolo Ireng yang juga belum

mampu mengenai sasaran.

Lewat belasan jurus, belum diketahui siapa yang akan

menang. Perempuan bertopeng itu sengaja mengulur waktu.

Menikmati pancaran mata takut lawannya. Dalam adu tenaga

dalam tadi sudah ketahuan bahwa dia unggul. Sekarang, dia

terkesan sekadar ingin bermain-main.

“Suatu saat, aku akan membalaskan dendammu, Kakang!”

Suara Lowo Ijo sudah pasti tak terdengar oleh Kolo Ireng.

Dia mengatakannya tanpa tenaga. Setengah berbisik malah.

Lalu, perlahan dia beringsut bangkit dan melangkah pelan

penuh hati-hati meninggalkan tempat itu. Setelah itu, dia lari

sekencang-kencangnya.

Sementara Kolo Ireng mulai merasakan tenaganya

merosot. Dia semakin tak mampu menembus pertahanan

tangan lawannya yang kini seolah punya puluhan lengan.

Setiap serangannya mampu dipatahkan lawan dengan mudah.

Perempuan bertopeng yang sudah sadar bahwa Lowo Ijo

melarikan diri, mempercepat gerakannya.

Seperti harimau mengamuk, dua lengannya mengincar

perut Kolo Ireng. Sementara kakinya pun tak diam, terus

menyerang kaki Kolo Ireng yang semakin meninggalkan kudakuda

sempurna.

“Aaaarrrrgh!”

Sebuah gerakan kilat menuntaskan perlawanan Kolo Ireng.

Cakar kiri perempuan bertopeng itu tiba-tiba menyeruak ke

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

atas dan menancap di dahi Kolo Ireng. Berikutnya, kuku-kuku

tajam itu diseret terus ke bawah meninggalkan lima garis luka

di wajah Kolo Ireng hingga ke leher.

Murid utama Majikan Gua Tengkorang itu langsung roboh

ke tanah dengan darah hitam muncrat dari mulutnya. Cakar

Siluman telah menebarkan racun dengan kilat ke seluruh

tubuhnya dan mencabut nyawanya.

Kini, perempuan bertopeng itu berdiri kaku di dekat mayat

Kolo Ireng. Beberapa saat ia tertegun, seperti menikmati

wajah rusak Kolo Ireng yang nyaris tak berwujud. Ia lalu

berjalan santai ke arah kecapinya. Setelah memungutnya

kembali, dia langsung melompat ke arah yang sama dengan

arah lari Lowo Ijo.

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

11. Pertemuan Tak sempurna

Tak terlalu jauh dari tempat pertempuran Dua Iblis Laut

Kidul dengan perempuan aneh pemetik kecapi maut, di atas

padang rumput yang luas dan hijau, puluhan kemah

berbendera Majapahit berdiri tegak.

Ratusan prajurit berseragam lengkap siap siaga

membentuk lingkaran pelindung. Kuda-kuda yang jumlahnya

tak lagi terhitung ditambat berjejer di bagian belakang

perkemahan.

Di bagian depan lingkaran prajurit itu, tiba-tiba muncul

keributan. Para prajurit menghunus pedangnya seperti

kedatangan orang berbahaya.

“Saya abdi Rakryan Kesusra. Izinkan saya bertemu

dengan Rakryan Rangga. Saya harus bertemu dengan Gusti

Respati!”

Rupanya, Lowo Ijo yang membuat onar. Begitu

meninggalkan Kolo Ireng yang sedang mengadu nyawa

dengan pewaris Dewi Kecapi Maut itu, Lowo Ijo berlari

kesetanan ke arah Timur. Tak disangka, dia menemukan

rombongan Rakryan Rangga Respati yang tengah beristirahat

di padang rumput di luar Kota Medangkamulan. Ia yakin

bahwa pasukan besar itu dipimpin oleh Sad Respati setelah

mendengar kabar keberangkatan pasukan Rakryan Rangga

dari Demak.

Begitu melihat jumlah pasukan yang begitu besar dan

berkibarnya panji-panji kebesaran Majapahit di antara

perkemahan itu, yakinlah Lowo Ijo bahwa pemimpin pasukan

besar ini adalah Rakryan Rangga Sad Respati yang kondang

sakti mandraguna.

Dia pun berbesar harapan untuk bisa benar-benar selamat

dari kejaran perempuan iblis itu. Jika Respati mau

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

memandang bahwa Lowo Ijo pernah mengabdi pada Kesusra,

pastilah masalah itu selesai. Kesaktian Sad Respati sudah

begitu masyhur. Ditambah dengan jumlah prajurit yang

ratusan menjadi jaminan keselamatan jiwanya.

Sesakti-saktinya perempuan bertopeng itu, ia pasti berpikir

dua kaii untuk melawan pasukan yang begitu banyak, begitu

pikirnya. Tak heran jika Lowo Ijo nekat menerobos pasukan

dan bersikeras untuk bertemu dengan Respati.

“Biarkan dia!”

Sesosok gagah keluar dari salah satu kemah yang

berukuran paling besar. Dia mengenakan perlengkapan

prajurit yang menambah dahsyat wibawa yang memancar dari

matanya. Tubuhnya tegap dengan otot yang mencolok pada

lengan dan kakinya.

“Gusti Respati, saya Lowo Ijo, pengawal setia mendiang

Rakryan Kesusra. Mohon perlindungan Gusti!”

Respati tak langsung bereaksi. Dua tangannya menyatu di

belakang pinggang. Tatap matanya menghunjam pada Lowo

Ijo yang kini tersungkur sambil menyembah.

“Bukankah kau salah satu dari Dua Iblis Laut Kidul?”

Perlahan, Lowo Ijo mengangkat mukanya yang sedari tadi

menunduk. Hanya sesaat dia berani bertatapan dengan sorot

mata Respati. Segera setelah itu, dia menundukkan kembali

kepalanya sambil mengangguk.

“Bukankah murid Majikan Gua Tengkorak terkenal berilmu

kanuragan tinggi?”

“Gusti, orang yang membunuh Rakryan Kesusra adalah

penerus Dewi Kecapi Maut yang sangat sakti. Dia terus

mengejar hamba dan kakak seperguruan hamba hingga keluar

Medangkamulan.”

“Lalu, kau lari terbirit-birit seperti pengecut? Apa kau tak

khawatir tindakanmu ini akan menginjak-injak nama besar

gurumu?”

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Lowo Ijo tak menjawab. Tubuhnya bergetar menahan malu

dan rasa terhina. Tapi saat ini, ia benar-benar tak punya

pilihan sehingga memilih untuk tetap diam. Beberapa saat

kemudian, terdengar bunyi petikan kecapi dari kejauhan.

“Itu dia, Gusti! Pasti dia sudah membunuh kakak

seperguruan saya.”

Tanpa diingatkan oleh Lowo Ijo pun, Respati langsung

menoleh ke arah datangnya suara kecapi itu. Pandangannya

memicing. Suara kecapi itu semakin nyata dan nyaring.

Kini, para prajurit yang membentuk benteng melingkar di

seputar perkemahan, mulai terganggu dengan suara itu.

Mereka menutup telinga, mengurangi rasa menyayat yang

timbul dari suara kecapi itu. Melihat gelagat yang pasti akan

semakin memburuk, Respati memutuskan untuk memburu

asal suara itu, setelah memaksa Lowo Ijo menyertainya.

Respati dan Lowo Ijo harus berlompatan di dahan-dahan

pohon sebelum akhirnya menemukan perempuan bertopeng

itu. Orang misterius itu tengah santai memetik dawai kecapi di

salah satu dahan pohon besar di pinggir hutan yang

berbatasan langsung dengan padang rumput tempat

rombongan prajurit Majapahit beristirahat. Kini, Sad Respati

berdiri gagah di bawah pohon tempat perempuan itu memetik

kecapi. Di belakangnya, Lowo Ijo berdiri dengan was-was.

“Maaf jika tak sopan. Saya Sad Respati. Mohon kepada

Pendekar untuk menghentikan suara kecapi. Sebagian besar

anggota rombongan yang saya pimpin berkemampuan

sekadarnya. Tak akan mampu menahan suara kecapi

Pendekar.”

Tidak ada jawaban.

Tinggg!

Itu bunyi terakhir kecapi yang dipetik perempuan aneh itu.

Ia meluluskan permintaan Respati. Perlahan kepalanya

bergerak. Bola matanya yang tampak aneh, menyorot dari

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

balik lubang topeng kayu buruk itu menatap tajam ke arah

Lowo Ijo. Penuh dendam.

“Jika ada masalah, alangkah lebih baik kita bicarakan.”

Respati menganggap keputusan perempuan itu

menghentikan permainan kecapinya sebagai permulaan yang

baik. Ia pun menawarkan sebuah pembicaraan untuk

berdamai. Tapi, Respati salah sangka kali ini. Ternyata,

perempuan itu menghentikan permainan kecapinya karena

memang dia punya rencana lain.

Ia akan menyergap Lowo Ijo. Serta-merta tubuhnya

melayang, bersalto di udara hendak melewati Respati untuk

memburu Lowo Ijo.

“Sangat menyesal, Lowo Ijo ada dalam perlindungan saya,

Pendekar!”

Sambil mengatakan itu, Respati mencabut keris Angga

Cuwiri dan mendorong tubuh Lowo Ijo ke pinggir. Keris unik

dengan panjang bilahnya tak kalah dengan pedang itu, kini

menyambut serangan perempuan berilmu siluman itu. Tanda

bahwa Respati benar-benar tak memandang enteng

lawannya.

Meskipun awalnya tak peduli dengan kehadiran Respati,

perempuan bertopeng itu akhirnya mau tak mau harus

menghadapinya. Dia pun meluncurkan kecapi kayunya

menghadang keris Angga Cuwiri. Dibuat dari logam khusus

yang konon jatuh dari langit, keris Angga Cuwiri sangatlah

dahsyat. Batu karang pun hancur dengan sekali tebas. Namun

kali ini, ketika menghantam badan kecapi kayu itu, keris itu

seperti tak mampu mengeluarkan seluruh dayanya.

Merasa penasaran, Respati memutar kerisnya dan mulai

menyerang bagian bawah lawannya. Dia kini sadar betul

tenaga dalam lawannya benar-benar luar biasa dan sangat

berbisa sehingga dia memilih sangat berhati-hati.

“Datasawala!”

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Respati salto ke belakang menghindari cakar perempuan

aneh itu yang sekonyong-konyong menyergapnya. Gerakan itu

mengawali inti kedua dari empat jurus inti Hanacaraka.

“Da. Dumadining dzat kang tanpa winangenan, menerima

hidup apa adanya!” Sontak tubuh Respati berputar, lalu

melompat dengan arah serangan yang tak terduga.

Lengannya seolah menjadi banyak. Keris Angga Cuwiri di

tangannya menjadi benteng yang tak tertembus oleh cakar

beracun itu. Pamor birunya berkelebat ke segala penjuru.

“Ta. Tatas, tutus, titis, titi ian wibawa. Mendasar, sekuat

tenaga, satu pikiran, teliti memandang hidup!”

Kini, ujung keris Angga Cuwiri merangsek ke depan.

Perempuan bertopeng itu buru-buru menghindar ke belakang

dengan langkah mundur yang sangat cepat. Sementara waktu,

dia dibuat linglung oleh jurus Hanacaraka yang susah ditebak

dan tiba-tiba. Lowo Ijo yang menyaksikan pertarungan itu dari

pinggir, lega bukan main. Ternyata, kabar bahwa rakryan

rangga Majapahit itu memiliki kemampuan tinggi, bukan kabar

bohong. Lowo Ijo merasa tak perlu khawatir lagi.

“Sa. Sifat ingsun handuiu sifat Gusti. Membentuk kasih

sayang seperti kasih Gusti!”

Jurus yang diterapkan Respati sama sekali bukan jurus

yang kejam. Sebaliknya, sama dengan makna rapalannya

yang begitu welas asih, jurus itu pun penuh budi pekerti dan

tak sekadar memburu lawan hingga mati.

“Wa. Wujud hana tan kena kinira. Ilmu manusia sangat

terbatas, penerapannya sungguh tanpa batas!”

Setelah terus-menerus terdesak mundur, perempuan

bertopeng itu akhirnya bisa lolos dari kepungan jurus

Hanacaraka. Sementara tangan kanannya menyorongkan

kecapi ke sana kemari menghadang keris Angga Cuwiri,

lengan kiri perempuan itu bergerak liar menyebar maut lewat

cakaran.

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

” La. Lir handaya paseban jati. MengaIirkan hidup semata

pada tuntunan Gusti!”

Ini jurus pelepas tenaga dalam yang sangat dahsyat.

Respati melakukan gerakan menebas sambil melepaskan

tenaga dalamnya yang hebat. Kekuatan besar seperti angin

ribut menerpa perempuan bertopeng itu. Tubuhnya terdorong

ke belakang dengan hebat. Begitu juga dengan segala yang

ada di sekitar tempat itu.

Dahan-dahan patah. Dedaunan ikut terhempas. Bahkan,

satu pohon yang tak terlalu besar, tumbang berdebam.

Namun, Respati harus menarik keyakinannya bahwa jurus itu

cukup ampuh untuk membuat lawannya roboh. Setelah

sempat terdorong ke belakang, perempuan bertopeng itu

kembali melompat menyerang.

Meskipun terbelalak, Respati bersiap untuk menahan

serangan lanjutan perempuan iblis itu, yang kali ini pasti lebih

dahsyat.

Wuuut!

Suara bersuit disusul angin dingin yang berdesing,

memapak jarak tempur antara Respati dan perempuan berilmu

tinggi itu. Benda menyilaukan yang meliuk laksana ular ikut

campur dan langsung menahan serangan perempuan

bertopeng.

Benda berkilau perak itu adalah sabuk perak, senjata

andalan Samita yang sudah lama tak beraksi. Tubuh Samita

bergerak tak kalah cepat. Tangannya segera menyentak ujung

sabuk hingga membentuk pusaran.

Benturan tenaga dalam yang dahsyat. Kali ini, sebatang

pohon besar tumbang dengan suara yang sangat berisik. Tak

terhitung dahan-dahan pohon yang patah. Dua orang

perempuan berkemampuan luar biasa itu kini berdiri saling

berhadapan. Meskipun akibat benturan tenaga dalam itu

demikian dahsyat, keduanya seperti tak terpengaruh sama

sekali.

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Dari balik topengnya yang buruk, perempuan misterius itu

menatap Samita dengan saksama. Seperti terpana tanpa

suara. Samita pun mulai menduga-duga dengan membaca

bahasa tubuh perempuan di depannya. Namun, tak satu kata

pun yang ia keluarkan.

Tanpa basa-basi dan alasan pasti, perempuan aneh itu

langsung balik kanan dan melompat cepat, menghilang di

balik pepohonan. Seperti enggan berhadapan dengan Samita.

Atau, justru tidak ingin sama sekali bertemu dengan murid

Laksamana Cheng Ho itu.

“Hui Sing! Apa kabar?”

Perlahan, Samita membalikkan badannya dengan jantung

berdebar. Rasanya, seluruh darahnya bergejolak. Bahkan, dia

merasa tubuhnya lemas tak bertenaga. Namun, ia segera

memupus kecenderungan hati yang melemahkan itu. Dia

menatap Respati dengan senyum lebar.

“Hormat saya, Rakryan Rangga Sad Respati!”

“Mengapa begitu sungkan? Bukankah kita ini teman?”

Samita mengangguk pelan tanpa membuang senyumnya.

Sejenak Respati seperti tersihir. Dua tahun waktu yang cukup

lama rupanya. Dia melihat sosok Hui Sing menjelma menjadi

seorang perempuan yang sangat matang. Tatapan matanya

masih berbinar bak bintang, seperti dulu. Namun, kini ada

sinar kedewasaan pada sinar cemerlang itu.

Begitu juga dengan bahasa tubuhnya yang lebih teratur.

Tak lagi seenaknya setengah manja seperti gadis remaja yang

dulu sempat ia kenal. Kecantikan gadis cerdas itu juga makin

sempurna. Pipinya masih merah seperti dulu. Rambutnya pun

terurai indah dan halus berkilau.

“Ilmu kanuraganmu semakin sempurna, Hui Sing!”

“Jurus Hanacaraka Kakang juga semakin hebat!” Dua

orang sahabat lama itu saling memberikan senyum terbaik

mereka. Respati mempersilakan Samita untuk datang ke

perkemahannya. Namun, gadis itu justru minta izin untuk lebih

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

dulu menjemput Rukmi, perempuan tua yang oleh Samita

dilukiskan sebagai teman perjalanan yang menyenangkan.

Samita memang meninggalkan Rukmi di belakang begitu

mendengar suara kecapi yang sangat membuatnya

penasaran. Tentu saja keterangan Windriya beberapa hari lalu

membuatnya penasaran, ingin tahu siapa pemetik kecapi itu.

Apalagi setelah dia menemukan mayat Kolo Ireng dan tempat

yang porak-poranda bekas pertempuran dahsyat.

Karena Rukmi tak memiliki kemampuan untuk berlari

cepat, akhirnya Samita meninggalkannya untuk mengejar

suara kecapi itu. Setelah menyimak cerita Samita, Respati

menyuruh salah seorang prajuritnya untuk meminjami Samita

seekor kuda, agar bisa lebih cepat menjemput Rukmi dan

segera kembali ke perkemahan.

Sementara itu, Lowo Ijo yang mengenali senjata khas

Samita langsung kabur karena yakin keadaan sama sekali

tidak akan menguntungkannya. Dia masih ingat bagaimana

bersama Kolo Ireng dan Kesusra, dia mengeroyok Samita

hingga jatuh ke jurang, dua tahun lalu.

Karena itu, di saat Samita bertempur dengan perempuan

pemetik kecapi itu, Lowo Ijo kabur.

0o0

“Bukankah dia pemimpin prajurit yang hendak menangkap

putri, Nini?”

“Yah. Dia juga teman baikku, Mbok. Percayalah, dia bukan

orang jahat. Aku sedikit penasaran, kenapa dia memimpin

pasukannya kembali ke Majapahit, seolah-olah tugasnya

sudah selesai!”

“Maksud Nini, Putri Suciatma tertangkap?”

“Itulah kenapa kita harus ke sana untuk mencari tahu.”

Rukmi tak membantah lagi ketika Samita mengajaknya

menaiki kuda pinjaman prajurit Majapahit itu. Kuda itu segera

berlari kencang menuju perkemahan prajurit Majapahit.

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Sampai di padang rumput itu, suasana hangat menyambut

Samita dan Rukmi. Para prajurit mempersilakan mereka

memasuki wilayah perkemahan. Respati menyambut langsung

kedatangan mereka dengan senyum yang mengembang.

“Jadi, ini teman perjalanan yang sangat menyenangkan

itu?”

Respati memberi hormat kepada Rukmi. Tentu saja wanita

tua itu menjadi kikuk. Selain merasa berderajat jauh di bawah

Respati, dia tetap ingat bahwa sebagai abdi Blambangan,

prajurit Majapahit adalah lawan sehingga dia bingung harus

bersikap bagaimana.

Untungnya, kekakuan itu tak berumur panjang. Samita dan

Rukmi segera dipersilakan menuju salah satu kemah utama

yang ada di bagian paling depan barisan kemah-kemah dari

kulit kambing yang dijahit itu. Berbagai hidangan lezat segera

terhampar di atas meja. Siap disantap.

“Samita. Nama yang sangat cantik!”

Samita pura-pura tak memperhatikan kesan wajah Respati.

Gadis itu mengambil sepotong daging ayam dan mulai

melahapnya. Sebelumnya, dia memang menerangkan bahwa

namanya kini sudah berganti menjadi Samita. Sementara

wajah Respati sejenak seperti berubah warna. Mana mungkin

dia lupa bahwa gadis itu mendengar kata Samita pertama kali

dari mulutnya.

“Belum ada sebulan lalu, Tuan Ho datang ke Majapahit.”

“Guru.”

Samita menghentikan makan besarnya. Rasa trenyuh

setiap mendengar nama gurunya, mengusir rasa lapar yang

tadi sempat menghebat. Sementara Rukmi yang cuma makan

sedikit-sedikit tak berani menyela.

“Tuan Ho menanyakan dirimu. Beliau mengatakan bahwa

dua tahun lalu kau memisahkan diri dari armada Ming dan

kembali ke Majapahit.”

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Dua pipi Samita memerah. Tentu Respati mulai mendugaduga

alasan kenapa dia nekat turun dari kapal pusaka dan

bersikeras untuk kembali ke Majapahit.

“Kami semua khawatir tentang dirimu, Samita. Ajaib, hari

ini aku justru bertemu denganmu di sini.”

Samita tak menjawab. Kesan sendu masih ada di

wajahnya.

“Apakah guru baik-baik saja?”

“Terus terang, ketika mendengar bahwa tidak ada kabar

tentangmu di Majapahit, Tuan Ho terlihat sangat khawatir.

Bahkan, dia menyuruh beberapa anak buahnya untuk

mencarimu.”

Tak ada suara. Samita merasa kehilangan tenaga.

“Dua tahun lagi, Tuan Ho berjanji untuk kembali ke

Majapahit. Sebelum kembali ke Pelabuhan Surabaya, Tuan

Ho sempat berpesan kepadaku agar menyimpan kabar apa

saja tentangmu.”

Samita masih tak bersuara.

“Sudahlah. Kau pasti akan menemui gurumu dua tahun

lagi!”

“Yah, Kakang benar. Banyak hal yang akan aku lakukan di

Jawa Dwipa. Pasti waktu akan berlalu tanpa terasa.”

Samita mencoba menghibur diri. Dia lalu mengajak Rukmi

dan Respati untuk meneruskan makan. Namun, pandangan

mata Respati sempat menangkap setitik air mata yang jatuh

dari kelopak mata Samita. Gadis di hadapannya seolah

sedang menahan beban duka yang sangat mendalam.

“Bagaimana dengan Anindita, Kakang? Kalian sudah

mempunyai anak berapa?”

Wajah Respati langsung sumringah. Dia menceritakan

bahwa setelah kepergian Samita dua tahun lalu, ia dan

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Anindita melangsungkan pernikahan. Meskipun belum juga

dikarunai putra, keduanya hidup tenang tanpa gejolak.

Samita tersenyum. Setelah mengucapkan selamat, ia tak

banyak mengucap kata. Ada aura lain pada matanya. Respati

paling pandai mengetahui isi hati seseorang lewat pandangan

matanya. Ia menangkap kesan itu di mata Samita. Kini, ia pun

menebak-nebak apa yang terjadi dengan hati gadis itu.

Hari menjelang petang ketika terdengar keributan di antara

prajurit jaga. Bunyi pedang beradu begitu ribut. Samita dan

Rukmi segera terbangun. Setelah berbicara banyak hal

dengan Respati, keduanya dipersilakan beristirahat oleh

rakryan rangga itu.

Sementara Respati keluar kemah, Samita dan Rukmi mengaso

di dalam kemah. Namun, begitu ada suara ribut-ribut,

keduanya langsung terjaga dan bergegas keluar kemah untuk

melihat keadaan.

Di luar, bunyi pertempuran sudah reda. Seorang pemuda

berbadan besar dengan pakaian compang-camping

tersungkur bertumpu pada dua tempurung siku kakinya. Ia

bersikeras mengangkat wajahnya, meskipun beberapa kali

para prajurit menginjakkan kaki mereka agar pemuda itu

menundukkan kepala.

Mulutnya menyeringai dengan mata merah menyala.

Respati berdiri gagah di depannya. Ia memandang lelaki itu

dengan tatapan menghunjam.

“Berani sekali mengacau di sini! Di Nawa Rawi, kau kuberi

kesempatan hidup. Tapi kini berani berulah.”

Pemuda itu tak menjawab. Dia malah membuang ludah

dengan garang. Sontak beberapa prajurit menyorongkan

pedang dan tombak ke lehernya. “Baskara!”

Samita berlari mendekat sambil menatap tak percaya.

“Mohon rakryan rangga berbuat bijak. Pemuda ini teman

hamba. Dia mungkin kurang sopan, tapi dia tidak bermaksud

jahat!”

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Memandang Samita, Respati menyuruh para prajurit untuk

melepaskan Baskara. Pemuda itu langsung bangkit tanpa

mengubah kesan wajahnya. Samita menghampirinya, disusul

Rukmi yang tak mau ketinggalan.

“Kenapa kau berbuat begini nekat, Baskara?”

Samita memandang cemas. Rukmi lebih-lebih. Perempuan

tua itu memeriksa luka goresan pedang yang rata di tubuh

pemuda itu.

“Untuk menyelamatkan putri, apa pun akan kulakukan!”

Mata Samita melebar. Dia lalu memandang Respati

dengan tatapan selidik.

“Maksudmu, Putri Suciatma ada di tempat ini?”

Giliran Baskara yang menatap Samita dengan heran.

“Kau tidak tahu, Samita?”

Samita menggeleng, lalu menatap Rukmi yang wajahnya

kini sudah pucat pasi.

“Kau sudah berjanji untuk tak melukai orang-orangku!”

Teriakan lantang dari pinggir laga, memaksa semua orang

menoleh. Di sana, berdiri seorang perempuan muda yang

memiliki aura ningrat sangat pekat di wajahnya. Rukmi yang

berdiri di sebelah Samita menatap tak percaya. Matanya

membelalak, tubuhnya bergetar. “Putri ….”

Respati langsung menghormat, lalu memberi ruang untuk

Suciatma yang berjalan dengan agung mendekati kericuhan

itu.

“Aku sudah mengikuti keinginanmu, kenapa kau ingkar

janji?”

“Sama sekali tidak, Putri. Pemuda ini tiba-tiba datang dan

mengamuk. Tentu saja para prajurit harus mengamankan

keadaan.”

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Respati mencoba memberikan pemahaman kepada

Suciatma yang menatapnya dingin. Putri Wirabumi itu lalu

menatap Baskara, Rukmi, dan Samita bergantian. Ada haru di

matanya. Apalagi ketika pandangannya bertemu dengan mata

Rukmi yang berkaca-kaca.

Tapi, ia langsung menepis rasa hatinya yang haru biru.

“Mbok Rukmi dan kau, Baskara, kita berpisah di sini. Aku

akan menemui Raja Majapahit. Kalian mulailah kehidupan

yang baru.”

“Putri ….”

Tak ada kata-kata lain keluar dari bibir Rukmi. Hanya air

matanya yang membanjir menggantikan seluruh kata-kata

yang ia punya. Sementara Baskara masih tak percaya dengan

apa yang ia dengar. Dia menatap Suciatma dengan penuh

tanda tanya.

“Putri menyerah?”

“Demi membelaku, begitu banyak nyawa orang tak

bersalah melayang. Jika aku masih mementingkan diriku

sendiri, entah berapa banyak lagi orang yang mati.”

“Putri!”

“Kau berani menentangku, Baskara?”

Baskara langsung terdiam. Kepalanya menunduk.

“Bahkan Sudarga tewas dan aku tak bisa berbuat apaapa.”

Baskara kembali mengangkat kepalanya. Matanya

membelalak.

“Siapa yang membunuhnya? Izinkan saya membalas

dendam, Putri!”

Suciatma tersenyum dingin. Pandangan matanya pun

sama sekali tak menyiratkan kehangatan.

“Aku yang membunuhnya.”

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Baskara, Rukmi, dan Samita kaget bukan main.

“Kalau saja aku tak memaksanya ikut dalam

pemberontakan ini, dia tak akan terbunuh!”

“Putri, saya mohon jangan berkata seperti itu.”

Rukmi akhirnya membuka mulutnya, berbicara lantang.

Ada isak dalam kalimat yang ia ucapkan.

“Aku tak mau berdebat lagi. Cepat tinggalkan tempat ini.

Mulailah hidup yang lebih baik.”

Seolah tak peduli, Suciatma lalu membalikkan tubuhnya

dan berlalu dari tempat itu. Respati menyuruh para prajurit

untuk membuka ruang supaya Baskara bisa leluasa pergi dari

tempat itu. Tanpa berkata lagi, Baskara langsung

membalikkan badannya dan berjalan tegap menjauh dari

padang rumput itu. Bahkan, dia tak sempat lagi berbasa-basi

dengan Rukmi atau pun Samita.

“Saya ambil perbekalan dulu. Saya juga pergi.”

Tanpa menunggu persetujuan Samita, Rukmi berlari kecil

menuju kemah tempat ia meninggalkan bakul perbekalan.

Samita sekilas menatap Respati, sebelum ia juga bergegas

menyusul langkah Rukmi.

“Kau hendak meninggalkan perkemahan, Samita?”

Respati sudah berdiri di depan kemah tempat Samita tadi

sempat beristirahat. Samita dan Rukmi baru saja keluar dari

kemah dan tampak sudah siap untuk meneruskan perjalanan.

“Bukankah sudah aku katakan, Mbok Rukmi adalah teman

perjalanan yang menyenangkan. Jika harus memilih, tentu

saja aku memilih Mbok Rukmi.”

Samita tersenyum seperti tak terjadi apa-apa. Sementara

Rukmi sibuk mengikat bakul perbekalannya dengan kain

panjang dan memasangnya di punggung rentanya yang mulai

bungkuk.

“Tapi, bukankah kau juga akan ke Majapahit?”

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Yah, tapi aku lebih menikmati perjalanan yang membuatku

senang.”

“Berjanjilah, sesampainya di Majapahit, kau akan bertamu

ke griya rakryan rangga!”

“Akan aku usahakan, Kakang.”

“Paling tidak, ambillah dua ekor kuda agar perjalanan

kalian lebih cepat.”

Samita menggeleng sambil tersenyum. Setelah

menghormat, Samita dan Rukmi lantas berjalan menuju

kerumunan prajurit jaga. Tak butuh waktu lama, mereka sudah

meninggalkan perkemahan, berjalan menuju jalan setapak ke

arah Sumbergurit.

Respati tak melepas pandangannya dari sosok Samita

hingga bayangan gadis itu semakin mengecil dan menghilang

di belokan bukit yang hijau.

Sementara itu, dalam perjalanan kali ini, Rukmi merasa

kurang bersemangat. Langkahnya tak semantap sebelumnya.

Samita yang mengerti beban batin perempuan itu berusaha

mengimbanginya.

“Kenapa sedih, Mbok? Bukankah Mbok Rukmi yakin, Putri

Suciatma akan hidup bahagia? Barangkali kejadian hari ini

menjadi jalan baginya menuju kebahagiaan itu.”

Samita dan Rukmi tengah beristirahat di sebuah dangau

pinggir sawah yang tak lagi diolah. Lepas petang, Samita

masih mengenakan penutup kepala sehabis melakukan

sembahyang. Kini, dua perempuan berbeda generasi itu

duduk santai menikmati suara alam.

“Saya masih yakin bahwa Putri Suciatma tengah

menjemput kebahagiaannya. Hanya, rasanya sangat sulit

untuk menerima kenyataan harus berpisah dengannya. Sejak

kecil, saya mengasuhnya. Seluruh hidup saya abdikan kepada

putri.”

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Samita mengulurkan lengannya. Ia peluk perempuan tua

yang mulai menangis itu. Meskipun tergolong perempuan

berhati baja dan tahan menderita, Rukmi tak sanggup

menahan rasa sedihnya setiap mengingat Suciatma. Kini,

tubuhnya terguncang-guncang di pelukan Samita. Sementara

suara alam semakin meraja. Kelepak kelelawar, nyanyian

kodok, dan jangkrik bersahut-sahutan.

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

12. Batas Sebuah Dendam

Keraton Majapahit gebyar. Sisa-sisa kebesaran masa lalu

masih terlihat pada bangunan megah kompleks keluarga raja.

Tembok tinggi yang mengelilingi keraton menandakan

keteguhan dan kehebatan sejarah.

Pepohonan rindang menelan kesan angkuh patung-patung

batu yang tersebar di penjuru keraton. Serba hijau,

membangun suasana teduh dan tenteram. Kelompokkelompok

dayang acap kali berseliweran menjinjing aneka

barang. Prajurit-prajurit terbaik berjaga-jaga penuh waspada.

Sungguh pagi yang cerah. Di kamar raja, Wikramawardhana

tengah menatap penuh rasa ke arah Permaisuri

Kusumawardhani yang duduk anggun di depan cermin besar.

Perempuan agung itu pelan menyisir rambut panjangnya yang

dihias melati. Pakaian serbagemerlap membungkus tubuhnya

yang mewarisi darah ningrat dan kebesaran Raja Hayam

Wuruk.

Kusumawardhani sebenarnya paling berhak meneruskan

tampuk pimpinan Kerajaan Majapahit setelah ayahandanya

mangkat. Namun, kesederhanaan jiwanya yang tak pekat

ambisi membuat Kusumawardhani menyerahkan tahta kepada

sang suami. Apalagi Raja Hayam Wuruk juga begitu bangga

dan percaya kepada Wikramawardhana.

Kini, setelah perjalanan panjang kepemimpinan sang

suami masih juga dikoyak oleh berbagai pemberontakan,

memaksa Kusumawardhani turun tangan memberi masukanmasukan

berharga untuk suaminya.

“Dinda, Sad Respati sudah kembali bersama Suciatma.”

Senyum agung mengembang. Wikramawardhana

menyaksikan keayuan Kusumawardhani terpantul dari cermin

di hadapannya. Bukan kecantikan yang sembarangan. Darah

biru yang mengalir dalam diri perempuan itu memendarkan

aura wibawa dan harga diri yang sulit dikatakan.

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Keponakanku itu sungguh malang. Berkelana dan

menderita. Menghabiskan waktu mudanya dengan hati yang

terjajah.”

“Menurut Dinda, apa yang harus Kanda lakukan

sekarang?”

Wikramawardhana bergerak ke pembaringan. Ia lalu duduk

di pinggir pembaringan megah dengan kain mewah yang

menutup permukaannya.

“Kanda lupa dengan pembicaraan kita beberapa waktu

lalu?”

Kusumawardhani menggeser duduknya, menghadap

suaminya. Pandangan matanya yang teduh menularkan

ketenteraman pada jiwa Raja Majapahit itu. Wikramawardhana

melukiskan rasa kasihnya dengan menatap sang permaisuri

penuh syahdu.

“Apakah Kanda tak akan melukai hati Dinda?”

Kusumawardhani tersenyum, lalu meraih telapak tangan

suaminya. Mengelusnya penuh kasih, lalu membelai

punggung tangan sang raja dengan pipinya yang sehalus

beludru.

“Menyelamatkan negara adalah bentuk cinta terbesar

Dinda untuk Kanda.”

Wikramawardhana merasa hatinya babak belur dihajar

rasa kasih yang semakin dalam. Ia memandang

Kusumawardhani dengan rasa bangga yang meluap-luap.

“Sekarang biarkan Dinda menemui Suciatma untuk

membicarakan rencana kita, Kanda. Semoga dia

menerimanya demi rakyat Blambangan.”

Wikramawardhana mengangguk lemah. Dia lalu

membimbing sang permaisuri bangkit dari duduknya.

Perempuan agung itu lalu menyempurnakan penampilannya

sebelum melangkah penuh keindahan ke keputren, menemui

Suciatma.

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Ketika Kusumawardhani sampai di gerbang keputren,

seluruh prajurit jaga langsung memberikan hormat. Sang

permaisuri lalu melangkah penuh anggun diiringi sepuluh

orang dayang di belakangnya.

“Suciatma memberi hormat kepada Rajapadni!”

Kusumardhani segera menghampiri Suciatma yang

bersimpuh di hadapannya, ketika sang permaisuri sampai di

ruangan yang didiami putri Blambangan itu.

“Aku bibimu, Suciatma. Kenapa mesti sungkan?”

Suciatma disergap rasa haru yang pekat. Meskipun ia

sangat memusuhi Majapahit, menghadapi sang permaisuri

membuat hatinya takluk. Perempuan agung ini adalah kakak

tiri ayahandanya. Sewaktu kecil, Suciatma cukup dekat

dengan Kusumawardhani. Wirabumi pun sangat menghormati

kakak perempuannya itu.

“Apa kabarmu, Nduk?”

Tanpa ragu, Kusumawardhani memeluk keponakannya

dengan hangat. Suciatma semakin tak bisa berkata apa-apa.

Dia mengikuti arus saja.

“Bibi selalu menunggu kabar tentangmu, Suciatma.”

Dua perempuan ningrat itu lalu duduk di kursi jati berukir

yang ada di ruangan itu. Kusumar-wadhani lantas menyimak

cerita panjang Suciatma selama dia ada di pelarian. Meskipun

agak canggung karena selama ini Suciatma mendendam

terhadap Majapahit, cerita tentang hidupnya yang terluntalunta,

termasuk ketika berhadapan dengan prajurit Majapahit

mengalir sampai habis.

Beberapa kali Kusumawardhani mengangguk penuh

perhatian. Senyumnya sesekali mengembang tulus. Tak

jarang, keningnya berkerut mencoba merasakan duka yang

dialami keponakannya selama di pelarian.

“Kau sungguh tabah, Suciatma. Pantas mewarisi darah

Hayam Wuruk.”

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Suciatma menatap bibinya dengan sinar mata takjub.

Matanya berkaca-kaca. Sambutan yang begini hangat

melunturkan rasa bencinya yang selama ini menumpuk tanpa

jelas arahnya. Seperti sia-sia semua perjalanan selama

bertahun-tahun bergerilya, membunuhi prajurit Majapahit, dan

menyemai rasa benci terhadap raja.

Selama ini, Suciatma merasa menjadi anak yang dibuang

dari garis keturunan yang agung. Kenyataan bahwa ayahnya

seorang anak dari seorang selir membuatnya tak begitu

percaya diri untuk menyebut Hayam Wuruk sebagai kakeknya.

Tapi kini, semua perasaan itu luluh. Tinggal rasa sesal yang

menimbun. Rasa bersalah kepada para pengikutnya yang rela

kehilangan nyawa untuk membela dendam kesumatnya.

“Putri, bibimu ini belum juga dikaruniai putra sampai kini.

Sepertinya, Dewata punya rencana lain untuk Majapahit. “

Suciatma mencoba menebak-nebak arah pembicaraan

bibinya.

“Rakyat kini tengah menderita. Rasa benci menyulut di

mana-mana. Padahal mereka memiliki kesetiaan yang sama

hebat terhadap junjungannya masing-masing. Karena itu,

mereka rela melakukan apa saja untuk membuktikan

kesetiaan mereka.”

Kusumawardhani menghentikan kalimatnya sesaat.

Bahkan, saat menarik napas pun, perempuan ini terlihat begitu

anggun dan agung.

“Kalau saja para pemimpin negeri ini mau mengorbankan

kepentingannya sendiri dan mau merasakan kepedihan rakyat,

alangkah damainya.”

Kusumawardhani seperti berbicara kepada dirinya

sendiri. Pandangannya menerawang tak jelas ke mana

mengembara. Suciatma tak berani menyela. Dia tekun

mendengarkan setiap kata-kata sang permaisuri.

“Putri, maukah kau menjadi juru damai negeri ini?”

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Saya … saya selalu memimpikan hal itu, Bibi. Hanya saya

tak tahu caranya.”

Kusumawardhani tersenyum.

“Jadilah ibu negeri ini. Lahirkan raja-raja pemberani.”

Suciatma menatap Kusumawardhani dengan pandangan

tak percaya. Bibirnya bergetar tanpa mampu berkata-kata.

Samita dan Rukmi terlihat di antara kerumunan warga Kota

Raja. Hari itu tampaknya sungguh istimewa. Wajah orangorang

di jalan-jalan utama Kota Raja berseri-seri. Kemeriahan

pun rata di setiap sudut. Rumbai-rumbai janur kuning

menambah semarak wajah kota.

“Kita cari penginapan dulu, Mbok!”

Langkah renta Rukmi berusaha menjejeri Samita.

Sepanjang jalan menuju penginapan, keduanya sibuk menoleh

ke kanan-kiri penuh heran. Tak banyak yang berubah

sebenarnya di Majapahit. Dibandingkan dua tahun lalu, hanya

sedikit bangunan-bangunan baru yang berdiri.

Berbeda dengan Demak yang memperlihatkan

perkembangan kota yang sangat cepat selama dua tahun

terakhir, Majapahit seperti jalan di tempat. Namun, kemeriahan

kota ini sungguh terasa dari kesibukan orang-orang yang

berlalu-lalang. Seperti ada yang sesuatu terjadi.

Begitu sampai ke penginapan, Samita langsung

menanyakannya kepada pelayan jaga.

“Nini pasti baru datang dari luar kota, ya? Seluruh kota

sedang gembira karena Prabu Wikrama-wardhan hendak

menikahi Putri Blambangan.”

Bola mata Samita berbinar. Wajahnya sumringah

meskipun masih menyisakan rasa kaget dan heran yang

sangat. Terlebih lagi Rukmi yang langsung terpaku di

tempatnya, berdiri tanpa suara. Telapak tangannya menutupi

mulut saking kagetnya.

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Maksud Kisanak, Putri Suciatma keturunan Bre

Wirabumi?”

Lelaki pelayan itu mengangguk-angguk. Masih dengan

perasaan campur aduk, Samita lalu menuntaskan pesanan

kamarnya. Bersama Rukmi, ia pun segera mencari kamar

yang mereka pesan.

“Apakah ini bukan lelucon, Nini?”

Rukmi duduk di amben penginapan tanpa lebih dulu

menurunkan bakul tempat perbekalan. Ada rasa heran yang

belum berujung.

Samita tersenyum sambil meletakkan buntalan kain bekal

perjalanannya. Dia lalu duduk di sebelah Rukmi.

“Bukankah ini menegaskan bahwa ramalan Simbok benar

terjadi? Putri Suciatma akan bahagia menjadi pendamping

raja. Melupakan dendam dan membuat rakyat kembali hidup

tenteram.”

Rukmi mengangguk-anggukan kepala. Dia lalu

menurunkan bakul bambu dari punggung, kemudian mengurut

kakinya yang terbungkus kulit keriput untuk mengusir rasa

pegal usai perjalanan panjang mereka.

Perubahan besar mengiringi peristiwa ajaib, menikahnya

Raja Wikramawardhanda dengan Putri Suciatma. Dua orang

yang selalu berhadapan sebagai lawan justru dipersatukan

oleh takdir. Suciatma mengubur dendam lamanya dan

menerima pernikahan itu sebagai sebuah perjuangan baru

untuk menegakkan kedamaian di tanah Blambangan.

Bagi Prabu Wikramawardhana, menikahi Suciatma sama

saja melampaui dua-tiga pulau dengan sekali merengkuh

dayung. Selain menuntaskan dendam Blambangan, dia juga

hendak membayar semua utangnya atas segala penderitaan

yang dialami Suciatma.

Bumi Blambangan pun damai. Untuk sementara, tak ada

riak pemberontakan. Meskipun begitu, di jajaran pengikut

Suciatma, tak sedikit pula yang menganggap sang putri telah

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

berkhianat terhadap Blambangan. Mereka lalu keluar dari

keramaian, menyepi di gunung-gunung untuk mengendapkan

perasaan dendam.

Pesta pernikahan Wikramawardhana dan Suciatma

berlangsung sederhana, tidak terlalu megah. Tidak ada

kemeriahan tujuh hari tujuh malam perayaan hari besar yang

serbagebyar. Tapi, pilihan kesederhanaan itu justru membuat

rakyat semakin paham niat baik raja untuk membangun

suasana nyaman.

Segala sesuatu segera diperbaiki. Pelayanan kepada

rakyat Majapahit ditingkatkan. Hanya sikap tak tegas raja

terhadap prajurit yang melenceng dari nilai-nilai kesatria

menjadi titik lemah. Keti-daktegasan ini dimanfaatkan oleh

orang-orang yang pemikirannya berseberangan dengan

Wikramawardhana untuk menggoyang kepemimpinannya.

Rakyat Majapahit pun banyak terkotak-kotak karenanya.

Sebagian tetap menjunjung tinggi nilai warisan leluhur dengan

menempatkan raja sebagai wakil Dewa. Kepatuhan menjadi

hal utama. Kecintaan kepada raja menjadi napas hidup.

Sementara rakyat dari kalangan terdidik mulai bersikap tak

mau tahu.

Mereka menganggap kepemimpinan Wikramawardhana

tak lebih dari sekadar pemerintahan yang berjalan apa

adanya. Tak ada pemikiran-pemikiran cerdas yang

mengiringinya. Sang Raja sekadar boneka orang-orang culas

di sekelilingnya. Tak memiliki keputusan yang mandiri.

Orang-orang yang suka mengkritik ini lalu mendirikan

perkumpulan-perkumpulan khusus untuk membahas

permasalahan-permasalahan negara. Nasib mereka memang

tak selalu bagus. Bahkan lebih sering apes. Selain suara

mereka yang tak pernah sampai ke telinga sang raja, tindakan

mereka memicu bahaya. Mereka ditangkapi layaknya

kelompok maling kacangan. Diseret, dipermalukan, dan dicap

sebagai pengkhianat negara yang hendak merongrong

kekuasaan raja.

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Kota Raja semakin ramai oleh para pengkritik.

Penangkapan terhadap sebagian dari mereka tak lantas

menghentikan arus penentangan lewat akal pikiran itu.

Bahkan, para pengkritik baru terus bermunculan. Hilang satu

datang selaksa.

“Nini, kapan kita memberi pelajaran perempuan culas itu?”

Samita menatap Rukmi dalam-dalam Seperti hendak

memastikan, apa benar kalimat galak itu dikatakan perempuan

renta yang kini menjadi bagian penting hidupnya.

“Kenapa Simbok berpikir seperti itu?”

Rukmi tersenyum memamerkan keriput-keriput di

wajahnya.

“Dulu yang membuat saya selalu gelisah adalah nasib Putri

Suciatma. Tapi sekarang beliau sudah bahagia menjadi

pendamping raja. Tak perlu lagi saya khawatirkan.”

Samita makin saksama mendengarkan kalimat Rukmi.

“Setelah lega dengan jalan hidup Putri Suciatma, saya

sekarang selalu berpikir tentang masa depan Nini.”

“Maksud simbok apa?”

Rukmi diam sejenak.

“Saya tahu kini Nini ragu untuk membongkar misteri

kematian Rakryan Rangga Abyasa dua tahun lalu. Tapi

menurut saya, hal itu akan menyiksa Nini jika tidak segera

dilakukan.”

“Memang saya ragu, Mbok. Kakang Respati begitu

mencintai Anindita. Mbok pasti ingat betapa dia sangat

bersemangat saat menceritakan perihal rumah tangganya.”

“Tapi matanya jauh lebih berbinar ketika mengharap Nini

untuk berkunjung ke kediamannya.”

Samita terdiam. Dia mengalihkan pandangan dari Rukmi

untuk berpikir. Sudah lebih dari satu pekan ia dan Rukmi

tinggal di penginapan itu tanpa tahu harus melakukan apa.

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Jika dulu Samita begitu menggebu untuk mendatangi Respati

dan membe-ritahu tentang culasnya hati Dewi Anindita

istrinya, sekarang tidak lagi.

Samita merasa tak tega menghancurkan kebahagiaan

Respati. Namun di sisi lain, dia merasa wajib untuk membongkar

misteri pembunuhan itu. Sebab, dialah satu-satunya

orang yang bisa membuktikan keterlibatan Anindita di

belakang kematian Abyasa.

“Paling tidak, jika Nini tak ingin dianggap memperjuangkan

perasaan hati, lakukan itu semua demi Majapahit. Nini bisa

bayangkan kerusakan apa yang akan terjadi di Majapahit jika

orang seperti Anindita itu tetap dibiarkan.”

Samita belum menjawab. Selama ini, dia memang lebih

banyak mengungkapkan permasalahan itu dengan bercerita

kepada Rukmi. Sedangkan semua rencana untuk membuka

kedok Anindita sama sekali tak terlaksana.

“Baiklah. Hari ini kita bertamu ke Kakang Respati. Setelah

itu, baru kita bicara lagi mengenai rencana selanjutnya.”

Samita membalas senyum Rukmi dengan tulus. Keduanya

lalu segera bersiap-siap meninggalkan penginapan murah

yang mereka tinggali. Lepas siang, mereka telah berdiri di

depan kediaman Rakryan Rangga Respati.

“Oh, Nini ini Nini Samita? Silakan masuk, Nini! Sejak

beberapa pekan lalu, rakryan rangga sudah menunggu

kedatangan Nini.”

Alis mata Samita sedikit terangkat. Ia memandang dua

prajurit di hadapannya dengan tatapan tak percaya. Harusnya

tak semudah ini masuk ke kediaman seorang pejabat di

Majapahit. Namun, rupanya dia salah sangka. Bahkan Respati

telah berpesan kepada seluruh prajuritnya untuk melayani

dirinya jika sewaktu-waktu datang.

Setelah mengucapkan terima kasih, Samita dan Rukmi

diantar oleh seorang prajurit untuk menunggu di pendopo.

Mereka berdua lalu duduk lesehan sambil menikmati suasana

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

nyaman di sekelilingnya. Samita mengedarkan pandangannya

ke tembok-tembok pelindung bangunan itu.

Ia tersenyum ketika ingat, dulu dia pernah berlompatan di

atas tembok istana saat mengejar orang bertopeng pembunuh

Abyasa. Senyumnya langsung sirna begitu ingat bahwa orang

itu adalah Sien Feng, kakak seperguruannya.

“Kenapa baru sekarang engkau datang, Samita?”

Lamunan Samita buyar. Pandangannya lalu menyergap

pemilik suara serak basah yang menyapanya. Sad Respati

berdiri gagah di muka pendopo. Lelaki berwibawa itu lalu

masuk ke pendopo dengan senyumnya yang khas. Entah

untuk ke berapa kali, Samita harus memalingkan pandangan

matanya menghindari sorot mata elang Respati.

Gadis itu benar-benar menjaga diri.

“Di mana Anindita, Kakang?”

“Oya, dia rupanya tak ingin mengecewakanmu, Samita.

Dia tengah berdandan agar tampil cantik di depanmu.”

Samita tersenyum masygul. Respati lalu menyapa Rukmi

dan menanyakan kesehatannya.

“Harusnya kalian berangkat bersama rombongan kami

sehingga bisa lebih cepat tiba di Majapahit. Dengan begitu,

kalian bisa menjadi saksi pernikahan Prabu Wikramawardhanda

dengan Putri Suciatma.”

“Kami telah mendengar kabar gembira itu, Kakang.

Tampaknya seluruh rakyat Majapahit bersukacita karenanya.”

Seorang dayang datang membawakan minuman dan

aneka buah-buahan segar. Segera setelah menatanya di atas

meja, dayang itu berlalu dari pendopo.

“Hui Sing!”

Samita menoleh ke arah suara lembut itu. Pandangannya

tertumbuk pada sosok cantik yang berdiri anggun. Anindita.

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Dia masih seorang putri penuh santun seperti yang ia kenal

dulu.

Samita berdiri untuk menghormati kehadiran Anindita. Tak

disangka, perempuan itu menghambur ke arah Samita dan

memeluknya sangat erat disertai isak haru. Sesaat Samita

sama sekali tak bisa bersikap. Dia seperti patung kayu yang

berdiri kaku. Tapi begitu sadar, dia membalas pelukan

Anindita meskipun terasa sekadarnya bagi Anindita.

Mereka berbasa-basi sebentar sebelum akhirnya Anindita

duduk mendampingi suaminya dengan mata yang masih

berair.

“Ketika Tuan Ho mengatakan bahwa kau turun di

Pelabuhan Simongan dua tahun lalu, aku selalu mengkhawatirkan

keselamatanmu, Hui Sing.”

Seperti tak terjadi apa-apa, Anindita bertutur layaknya

seorang kawan akrab yang sudah lama tak bersua. Seperti tak

ada rahasia besar yang dipendamnya.

Sementara Anindita terus mengurai cerita, Samita tertegun

dan tak menjawab apa-apa. Hanya memperhatikan bahasa

tubuh Anindita dan gerak bibirnya agar dia bisa menemukan

sebuah kepura-puraan. Tapi Samita gagal. Anindita benarbenar

lihai dalam hal ini.

Justru Rukmi yang tak bisa menyembunyikan gejolak

hatinya. Matanya menatap tajam penuh benci ke arah

Anindita. Untungnya, hal itu tak sempat tertangkap basah oleh

Respati hingga tak menimbulkan kecurigaan.

“Anindita yang aku kenal tak terlalu banyak bicara. Tapi

lihatlah, begitu kau datang, Samita, dia menjadi begini ceria.”

Anindita tersipu malu.

“Kami sudah lama tak bertemu. Wajar kalau aku sangat

gembira. Ah, aku lupa kau telah berganti nama menjadi

Samita. Nama cantik. Kau pun semakin cantik, Samita.”

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Samita hanya tersenyum. Justru dia yang kini tak banyak

bicara. Lebih banyak menyimak cerita-cerita Anindita dan

Respati. Juga kemesraan keduanya yang tak berusaha

ditutup-tutupi.

Samita merasa terjebak di tempat dan suasana yang salah.

Dia seperti dipaksa ada di tempat itu sekadar untuk melihat

pameran keceriaan sepasang suami istri muda. Meskipun

mampu menutupinya dengan kesan wajah yang dipaksa

gembira, Samita tak ingin berlama-lama.

Sebentar kemudian dia pamit kepada Respati dan Anindita

untuk kembali ke penginapan. Dia bahkan tak bisa menjawab

dengan pasti ketika Anindita menanyakan rencananya ke

depan. Tak mau berlama-lama, Samita lalu bergegas

mengajak Rukmi keluar dari kediaman Respati.

Malam seolah berkabung. Bintang-bintang yang penuh

sesak di langit hitam tak mampu mendatangkan keceriaan di

hati Samita. Gadis itu duduk di dekat jendela kamar

penginapan sambil memandang langit.

Sepertinya, keceriaan alam hanya untuk orang lain, bukan

buat dirinya.

“Nini, waktunya kian dekat.”

Samita menoleh. Ia mendapati Rukmi berdiri dengan raut

muka muram. Perempuan tua itu lalu duduk di samping Samita

dan membelai punggung tangan halus gadis itu.

“Sepanjang hidup, saya tak menginginkan hal-hal muluk.

Dulu saya hanya berpikir tentang kebahagiaan Putri Suciatma.

Sekarang hal itu sudah terwujud. Tugas saya sudah selesai.”

Samita mereka-reka maksud hati Rukmi tanpa kata apa

pun keluar dari bibirnya.

“Saya hanya ingin Nini yakin kepada kebenaran yang Nini

junjung tinggi. Jangan ragu.”

Mata Rukmi berkaca-kaca. Tapi dia tersenyum. Samita

merasakan aura yang sangat sedih. Tanpa alasan yang jelas,

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

gadis itu merengkuh Rukmi ke dalam pelukannya. Dia

menumpahkan sedih hatinya. Pertentangan dalam dirinya.

Masih tanpa kata-kata. Hanya debur jantungnya seolah

membahasakan semua jerit hatinya. Ia beruntung karena

Rukmi mema- haminya. Sangat paham.

Menjelang fajar, Samita tak menemukan Rukmi di

pembaringan yang biasa mereka gunakan untuk beristirahat.

Tidak biasa-biasanya Rukmi pergi tanpa pamit. Tapi Samita

tak terlalu memikirkannya. Dia segera melaksanakan

kebiasaannya melakukan sembahyang fajar. Lalu setelah

membersihkan diri, dia menunggu pagi sambil melakukan

latihan ringan.

Bermeditasi untuk mengatur aliran darah dan membuat

badan bugar.

Hingga hari terang, Rukmi belum juga kembali. Samita

mulai gelisah, lalu keluar kamar menanyakan hal itu kepada

pelayan penginapan. Pelayan itu mengaku memang melihat

Rukmi yang keluar penginapan saat hari masih gelap. Tapi

perempuan tua itu tak mengatakan hendak ke mana.

Mencoba untuk tak panik, Samita lalu menenangkan

pikirannya, bersabar menunggu hingga petang. Tapi tak ada

kabar dari Rukmi. Samita keluar dari penginapan dan mulai

mencari-cari. Kepada orang-orang yang tak dikenalnya,

Samita menanyakan perihal Rukmi. Para pedagang di pinggir

jalan, prajurit yang sedang berpatroli, bahkan sekadar orang

lewat pun ditanyainya. Tetap tak ada informasi.

Malam harinya, Samita kembali ke penginapan dengan

wajah pucat penuh khawatir. Ia gelisah bukan main. Tak

tenang melakukan apa pun. Terlebih untuk memejamkan

mata. Setelah sembahyang malam, air mata Samita mengalir

deras. Dia tersedu-sedu mohon perlindungan untuk Rukmi.

Tengah malam, Samita benar-benar tak sanggup

memejamkan mata. Dia sibuk berpikir tentang kemungkinan.

Hingga terpikir olehnya untuk mendatangi Respati, minta

pertolongan.

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Pikirannya yang mengembara dihentikan oleh suara

langkah di atap kamar tempatnya berandai-andai. Samita

segera mendekat ke jendela. Sekali lompat, tubuhnya

melompat ke atap bangunan dan mengejar bayangan hitam

yang tadi mengendap-endap.

Mereka terus berkejar-kejaran hingga ke pinggir kota.

Sebuah danau tenang yang permukaan airnya berkilau

tertimpa cahaya bulan. Samita sesaat tertegun. Di tempat itu,

dua tahun lalu, dia berbicara dengan Respati, malam sebelum

rombongan Laksamana Cheng Ho meninggalkan Majapahit.

Samita langsung membuyarkan lamunannya dan

memandang sosok bercadar di depannya. Orang itu lalu

melepaskan cadarnya perlahan.

“Danurdara!”

“Hui Sing, apa kabar?”

Samita memandang heran ke arah lelaki gagah di

hadapannya. Dia orang terdekat Respati yang kini menjabat

sebagai kepala bhayangkari menggantikan Respati. Dulu,

meskipun tak dekat, Samita sempat pula berteman dengan

Danurdara.

“Baik. Sangat baik. Ada apa rupanya hingga seorang

kepala bhayangkari mengendap-endap di penginapan pinggir

kota malam-malam begini?”

Danurdara mengajak Samita untuk masuk ke dangau di

pinggir danau. Bangunan sederhana itu masih seperti dua

tahun lalu. Kaki-kaki bambunya menancap ke dalam air

danau. Meskipun tak terlihat kokoh, namun waktu

membuktikan bahwa bangunan ini cukup kuat.

“Aku tahu kau telah datang ke Majapahit sepekan lalu.

Hanya aku ragu untuk menemuimu.”

Samita mengangkat dagunya.

“Selama ini kau dekat dengan Respati. Tak terlalu

mengenaliku. Apa alasanku untuk mengunjungimu.”

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Danurdara, maaf. Aku sangat senang kau mau

menemuiku. Bagaimanapun kita teman lama. Tapi malam

selarut ini, rasanya tak tepat untuk melakukan pertemuan.”

“Maaf. Aku terlalu berbasa-basi, Samita. Aku juga tahu kau

telah mengganti namamu menjadi Samita. Ada hal penting

yang ingin kusampaikan kepadamu.”

Dahi Samita berkerut. Ia menunggu.

“Ini tentang perempuan tua yang selalu bersamamu.”

“Mbok Rukmi. Kau tahu kabar tentang Mbok Rukmi?”

Danurdara mengangguk.

“Dia kini ditahan di kediaman rakryan rangga.” “Apa?!”

“Pagi tadi, orang tua itu datang ke kediaman Kakang

Respati. Dia ngotot ingin bertemu dengannya karena ingin

menyampaikan berita.”

Jantung Samita berdegup kencang. Dia mulai mendugaduga.

“Ketika itu, dia bertemu dengan Anindita dan langsung

menyemprotnya dengan kata-kata pedas.”

“Dia mengatakan bahwa Anindita bertanggung jawab atas

pembunuhan Rakryan Rangga Abyasa, dua tahun lalu.

Mendengar hal itu, Anindita langsung memerintahkan kepada

prajurit untuk menangkap Mbok Rukmi.”

“Apakah Kakang Respati sudah mengetahuinya?”

Napas Samita memburu karena amarah. Dadanya penuh

sesak oleh kesal.

“Dua hari ini, Kakang Respati dipanggil oleh Prabu

Wikramawardhana untuk membahas suatu masalah. Besok

baru kembali.”

“Aku akan menjemput Mbok Rukmi sekarang juga.”

Tanpa memedulikan Danurdara yang berteriak

melarangnya, Samita segera beranjak dari dangau itu. Tapi,

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

tiba-tiba dia menghentikan langkah, lalu membalikkan

badannya.

“Kenapa kau mengatakan semua ini padaku, Danurdara?”

Ada curiga yang menyeruak dari balik kata-kata itu.

Danurdara tercekat tanpa sanggup mengeluarkan suara. Tapi

dia segera tersenyum.

“Aku hanya tak ingin melihatmu menderita, Samita.”

Samita melihat ada yang lain di mata Danurdara. Hampir

sama dengan yang selama ini ia temukan pada pancaran mata

Respati. Namun, Samita tak ingin berlama-lama terpaku pada

titik waktu itu. Dia mengucapkan terima kasih, lalu melanjutkan

langkahnya kembali ke penginapan.

Sampai di kamarnya, Samita menimbang-nimbang. Jika

menuruti rasa hatinya, dia ingin segera melabrak kediaman

rakryan rangga untuk membebaskan Rukmi. Namun, karena

dia masih memandang Respati dan menghitung kemungkinan

lain, termasuk ketidakmengertiannya kenapa Danurdara

mendatanginya, Samita mengurungkan ketergesaannya.

Ia memilih menunggu pagi sambil terus berdoa demi

keselamatan Rukmi. Dia lalu mengenakan kain hijau beludru

di kepala dan kembali melakukan sembahyang untuk minta

ketetapan hati dan ketenteraman pikiran.

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

13. Perginya Pendekar Sejati

Gerbang kediaman Rakryan Rangga Majapahit dijaga lebih

ketat daripada biasa. Sedikitnya dua puluh prajurit berjagajaga

di gerbang depan. Sedangkan di dalam, belasan prajurit

lain berseliweran. Seperti tengah berwaspada. Pagi masih

sangat muda. Sinar matahari belum lagi menerpa. Udara

masih dingin menggigit tulang. Embun-embun bergoyanggoyang

di atas dedaunan, menunggu kesempatan untuk

menyatu dengan bumi. “Aku ingin bertemu dengan rakryan

rangga.” “Maaf, Nini. Rakryan Rangga Respati sedang

menghadap sang prabu.”

“Kalau begitu, pertemukan aku dengan Dewi Anindita!”

“Tanpa izin dari rakryan rangga, kami tak berani ceroboh,

Nini.”

Samita berdiri gagah. Hari ini istimewa rupanya. Dia

mengenakan setelan gaun panjang berwarna putih. Kain

bawahannya pun putih. Samita memilih warna yang sama

untuk tali rambutnya. Pagi itu, dia menjadi yang tercantik di

antara segala yang muncul di pagi hari.

Meskipun tak ada senyum yang menghias bibirnya, wajah

itu demikian segar. Matanya berbinar dan pipinya merah

menahan marah. Rambut panjangnya terurai panjang, tampak

bertolak belakang dengan warna bajunya. Hitam mengkilat

dan jatuh.

Ia memilih helaian rambut paling pinggir di depan kedua

daun telinganya untuk ditarik ke belakang. Rambut itu

menyatu di sana oleh kain putih.

“Apa benar kalian menangkap perempuan tua bernama

Rukmi?”

“Mulutnya lancang. Pantas untuk dihukum!” Kalimat itu

telanjur keluar dari mulut prajurit muda di depan Samita.

Meskipun dia tampak sangat menyesal mengatakannya, tapi

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

kelopak mata Samita telanjur membesar tanda dia paham

dengan apa yang harus dilakukan.

“Tunjukkan di mana majikan kalian menyekapnya.”

“Nini jangan memaksa. Kami hanya menjalankan perintah.

Kami sangat bisa berbuat kasar.”

Tangan Samita bergerak kilat. Tahu-tahu dua ujung jarinya

telah bersarang di leher prajurit muda itu.

“Aku tak menjamin keselamatan nyawamu jika tak mau

mengatakan di mana kalian menyekap Mbok Rukmi!”

“Seraaang!”

Samita memutar tubuhnya menghindar ke belakang.

Ternyata dia tak setega itu. Membunuh hanya karena

pertanyaannya tak terjawab sungguh bukan sikap kesatria.

Sedangkan para pajurit itu hampir tak peduli dengan nasib

temannya yang sempat disandera Samita.

Satu hal yang mereka pikir, yakni menyelesaikan

permasalahan yang merusak suasana pagi itu. Permasalahan

itu tentu saja kehadiran Samita. Kini, dua puluh prajurit lebih

menghunus senjata mereka masing-masing. Keris, pedang,

dan tombak diangsurkan ke arah Samita.

“Kalian tak mau menunjukkan di mana Mbok Rukmi. Aku

akan mencarinya sendiri.”

Setelah mengatakan itu, Samita berjalan dengan langkahlangkah

lebar tanpa gentar sedikit pun. Tak ada tawarmenawar

lagi, para prajurit itu langsung menghadang Samita.

Saat itulah, kedua lengan Samita menghentak ke bawah,

keluar asap tipis putih dari gerakannya itu. Tanpa sebab yang

bisa dipahami, setiap prajurit yang menghadangnya langsung

terpental dan tak bisa bangkit dalam sekejap.

Samita memang tak bermaksud membunuh. Hanya

melumpuhkan. Hal itu terjadi beberapa kali. Sementara Samita

terus berjalan dengan langkah penuh keyakinan, para prajurit

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

berusaha mengepung dan menghadangnya. Tapi kejadian

yang sama terulang.

Tubuh-tubuh mereka terpental tanpa tahu sebabnya.

Sebab, Samita pun tak kelihatan bersusah payah menghalau

serangan mereka. Dia hanya menggerakkan kedua lengannya

ke arah bawah, sedangkan tapaknya mengarah kepada para

penyerang.

“Samita, kau telah menentang Majapahit. Apakah kau tak

memikirkan hukuman raja?”

Samita menghentikan langkahnya. Dia kini tersenyum,

meskipun terkesan sinis. Di hadapannya, Anindita berdiri

dengan sinar mata memusuhi.

“Apakah kau datang untuk merusak kebahagiaanku,

Samita? Kau tak memandang persahabatan kita di masa

lalu?”

Samita kehabisan kata-kata. Ketika semua perkataan

buruk dan caci maki telah ada di ujung lidah, justru tak mudah

untuk memuntahkannya.

“Minggirlah, Anindita. Atau tunjukkan tempat kau

menyekap Rukmi agar aku tak perlu menghancurkan setiap

bangunan di tempat ini untuk mencari tahu.”

“Apa salahku padamu, Samita? Kemarin, kau suruh

perempuan tua itu untuk menyebar racun tudingan palsu itu.

Kini, kau datang membuat onar.”

“Oya? Begitukah?”

Sambil tersenyum mengejek, tubuh Samita bergerak

sangat cepat. Kini, dua ujung jarinya sudah menempel di leher

Anindita, siap menembus hingga ke tenggorokan.

“Kau lihat, Anindita. Dengan atau tanpa sandiwaramu yang

memuakkan ini, bagiku sangat mudah untuk mengakhiri

hidupmu.”

Anindita tak menyangka Samita mengalami kemajuan ilmu

kanuragan yang begini pesat. Bahkan, dia tak sempat

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

menghindar ketika tubuhnya tertotok begitu saja. Kini, malah

nyawanya ada di ujung tanduk.

“Aku pikir kau tak akan melawanku sekarang, Anindita.

Bukankah itu akan membuka kedok bahwa kau sebenarnya

adalah pesilat keji yang memiliki ilmu beracun?”

Anindita tak menjawab. Dagunya terangkat karena ujung

jemari Samita menyodok tenggorokannya. Sementara para

prajurit membentuk lingkaran untuk memastikan Samita tak

akan bisa keluar dari tempat itu.

“Sudahlah. Kau tahu aku bukan pembunuh. Sekarang,

tunjukan saja di mana kau sembunyikan Rukmi.” “

Anindita membisu.

“Apakah kalian tidak tahu Mbok Rukmi adalah orang

kepercayaan Putri Suciatma, istri sang prabu? Jadi, siapa

sebenarnya yang akan diganjar hukuman berat?”

Anindita terkesiap mendengar kata-kata Samita. Ia

akhirnya menyerah. Ia lalu menunjuk ke salah satu bangunan

di bagian pinggir kompleks kediaman rakryan rangga itu.

Bangunan gudang. Samita sempat tersedak emosi melihatnya.

Jemarinya pun sempat menyodok tenggorokan Anindita lebih

dalam sehingga membuat perempuan itu berkeringat dingin.

Samita tak bisa menerima perlakuan Anindita terhadap Rukmi.

Perempuan renta itu ditangkap layaknya maling dan kini

disekap di dalam gudang.

Tanpa memedulikan Anindita lagi, Samita lalu mendatangi

bangunan gudang itu. Sementara Anindita mengangkat tangan

kirinya, menahan gerakan para prajurit, sementara tangan

kanannya mengelus-elus batang lehernya. Samita

menyentakkan tangannya. Seketika itu juga, pintu gudang

porak-poranda. Hari ini, kesannya Samita benar-benar ingin

pamer kekuatan.

Kemudian, dia memasuki bangunan yang agak berdebu itu

dengan hati-hati. Masih terpikir oleh Samita untuk tak

gegabah. Tak ada jaminan Anindita mengatakan hal

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

sesungguhnya. Ia lalu mengedarkan pandangan ke seluruh

ruang gudang. Matanya langsung membelalak ketika melihat

sosok Rukmi tergeletak di lantai dengan tangan terikat.

Ia langsung menghambur ke tubuh perempuan renta itu

dan memeluknya erat-erat. Air matanya menjadi hujan.

Melelehi pipinya yang sehalus pualam.

“Mbok Rukmi

Tak ada kata-kata lain. Samita lalu memeriksa denyut nadi

Rukmi. Sudah tak ada, seperti dugaannya. Air mata itu

semakin menjadi. Isaknya terta-han-tahan. Samita membelai

rambut Rukmi dengan kasih sayang penuh. Dia menciumi

kening keriput itu dengan kesungguhan.

Di benaknya, waktu berputar ke belakang. Malam itu,

Rukmi seolah-olah telah berpamitan kepadanya. Kata-kata

perempuan tua itu terngiang lagi. Ingatan-ingatan

kebersamaan mereka seperti nyata terpampang di depan

mata. Samita semakin hanyut dalam dukanya. Betapa

sebelumnya dia hanya punya Rukmi. Sekarang, perempuan

welas asih itu sudah pergi.

Masih dengan wajah yang basah air mata, Samita lalu

memeriksa tubuh Rukmi dengan saksama. Lalu, membuka

perlahan kelopak matanya. Dugaannya terjawab. Rukmi

dibunuh, bukan mati wajar. Samita lalu kembali memeluk

Rukmi erat-erat.

“Tenanglah, Mbok. Tak akan ada lagi perjalanan yang

melelahkan. Kau akan merasa nyaman di sana.”

Bibir Samita terus berkomat-kamit dengan suara lirih. Dia

mengajak bicara jasad mati Rukmi dengan sepenuh hati.

Kadang-kadang dia tersenyum ketika bicara tentang hal-hal

lucu yang mereka alami. Di waktu lain, matanya beranjak sayu

ketika menyinggung hal-hal yang membuat trenyuh.

“Samita!”

Tak ada jawaban. Samita masih memeluk tubuh Rukmi

dengan tatapan kosong. Sementara di pintu gudang, Sad

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Respati berdiri gagah dan siap siaga. Di belakangnya, puluhan

prajurit berbaris penuh waspada.

“Samita, apa tujuanmu sebenarnya datang ke Majapahit?”

Tetap tak ada jawaban.

“Apakah benar kau menyuruh Mbok Rukmi untuk

menyebarkan kabar bohong itu?”

Bulu-bulu mata Samita bergerak-gerak, tapi dia tetap

membisu.

“Samita, apakah kau sudah memperhitungkan hukuman

yang akan dijatuhkan raja atas hal ini?”

Respati mencengkeram Samita dengan pandangan ragu.

Di satu sisi, dia tak tega menekan Samita yang sedang

berkabung. Di sisi lain, dia pun harus berbuat tegas

menegakkan hukum.

“Siapa yang membunuh Rukmi?”

Suara Samita terdengar datar tanpa emosi.

“Dia datang ke sini dengan menyebar berita yang

menghasut. Sangat wajar jika Anindita memerintahkan prajurit

untuk menangkapnya. Tapi tentang kematiannya, itu masih

harus diselidiki. Bisa jadi dia tak kuat, lalu kehabisan tenaga.”

Samita tersenyum. Perlahan dia bangkit. Lengan kirinya

ditelusupkan ke belakang lutut kaki Rukmi, sedangkan lengan

satunya menahan leher perempuan malang itu.

Dia membopong jasad Rukmi, lalu berjalan menuju pintu

gudang. Respati terpana melihat pemandangan itu.

“Samita, kau tahu aku tak mungkin melepaskanmu begitu

saja!”

Samita tak menjawab. Dia terus berjalan menuju Respati

dan para prajurit jaga.

“Turunkan jasad Rukmi dan biarkan kami menguburnya.

Sedangkan kau harus ditahan untuk pemeriksaan!”

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Kata-kata Respati tersapu angin. Lenyap tanpa bekas.

Melihat tak ada celah untuk berbicara, Respati mengulurkan

tangannya untuk menotok Samita. Namun, perempuan berhati

baja itu dengan mudah mengelak. Senyum dingin menghiasi

bibirnya. Sontak ia memutar tubuhnya, melancarkan

tendangan dengan kaki kanan. Respati hendak menangkis

tendangan memutar itu. Namun, begitu merasakan angin

serangan yang begitu dahsyat dia langsung bersalto

menghindar dan keluar dari gudang.

Samita terus maju. Kini, dia yang membopong jasad Rukmi

berhadapan dengan puluhan prajurit bersenjata lengkap.

Tanpa bicara lagi, tubuh Samita melesat disambut berbagai

senjata tajam para prajurit.

Tanpa kedua lengannya yang kini menjaga agar tubuh

Rukmi tak jatuh, Samita lebih banyak melakukan gerakan

menghindar. Hanya sesekali kakinya menendang ke sana

kemari dengan tenaga penuh. Itu saja sudah cukup membuat

prajurit yang ada di dekatnya terjungkal dengan senjata lepas

dari tangan.

“Hentikan serangan!”

Respati melompat dan langsung menyerbu Samita dengan

serangan tangan kosong. Baginya, lebih baik dia turun tangan

daripada puluhan prajurit menyergap tanpa perhitungan.

Menghadapi Respati dua kali lipat lebih sulit dibandingkan

merobohkan belasan prajurit. Karena itu, Samita benar-benar

berhati-hati. Beban membopong jasad Rukmi saja sudah

membuatnya repot. Kini, dia dihadapkan dengan serangan

jurus Hana-caraka yang membuatnya semakin terdesak.

Srennnnnnggg!

Sinar biru membelah udara. Dalam sekejap, keris Angga

Cuwiri telah menawan Samita yang kini tak bisa berkutik lagi.

Tapi, gadis itu sama sekali tak gentar. Ia menatap Respati

dengan pandangan yang mencengkeram. Untuk pertama kali

sepanjang mereka kenal, Samita berani menantang sinar mata

Respati dengan kilat amarah.

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Jadi, ini pertempuran yang kau anggap adil, Kakang?”

“Turunkan jasad itu! Lalu, serahkan dirimu agar semua

permasalahan ini bisa selesai!”

Ujung keris yang panjangnya sama dengan pedang itu

mengarah ke leher Samita. Respati tampaknya tak main-main.

Meskipun tak ada amarah dalam sinar matanya, namun

lantang suaranya tak ragu sama sekali. Menghentak dan

membuat ngeri.

“Pendekar macam apa jika orang bersalah justru dibela,

sedangkan si lemah malah ditindas!”

Mata Respati melebar. Dia coba membaca arti kalimat

Samita dengan saksama. Dia tahu benar, Samita perempuan

cerdas yang teliti. Tak mungkin mengeluarkan kata sia-sia.

“Beri aku kalimat yang membuatku berpikir dua kali tentang

tudingan kejimu itu?”

Samita tersenyum dingin.

“Dua tahun lalu, saat bertempur dengan orang bertopeng

di atas keputren, aku berhasil melukainya. Dua atau tiga

lempengan besi senjatanya justru melukainya sendiri. Waktu

dua tahun, kukira belum bisa menghilangkan bekas luka di

bawah bahunya!”

Respati tampak berpikir. Kesan wajahnya berangsur

berubah sama sekali. Sedikit pucat. Lalu, perlahan keris yang

ditodongkan ke leher Samita ia turunkan.

“Pergilah. Aku akan datang kepadamu untuk meminta

maaf setelah kuselesaikan urusan ini.”

Para prajurit yang mengepung arena laga itu terbengongbengong.

Bagaimana mungkin junjungannya begitu saja

melepaskan lawan yang sudah ada di genggaman tangan

hanya karena kalimat yang kedengarannya tak berarti apaapa.

Tapi, mereka tak berani menentang. Begitu Respati

memberikan tanda, mereka langsung membelah barisan, agar

Samita bisa keluar dari tempat itu.

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Dengan tenang, Samita pun berjalan dengan langkah

kemenangan. Matanya memperlihatkan rasa lega yang dalam.

Sementara Respati berdiri dengan kesan wajah yang sulit

ditebak. Matanya menerawang tak percaya. Perlahan dia

memasukkan kembali Angga Cuwiri ke dalam warangkanya.

“Bagaimana mungkin Samita tahu ada bekas luka di

bawah bahumu, Anindita?”

“Jika kakang lebih percaya terhadap orang lain dan

meragukan istri sendiri, buat apa aku menjawab omong

kosong ini?”

“Jawab saja pertanyaanku!”

Anindita tersentak. Ini pertama kali sejak mengenal Respati

hingga menjadi istrinya, ia dibentak dengan suara yang

demikian galak. Wajahnya memucat. Matanya berkaca-kaca.

“Kami dulu begitu dekat. Mungkin saja suatu kali tanpa

sepengetahuanku dia melihat luka itu, lalu menjadikannya

sebagai alasan untuk bicara bohong.”

“Seberapa dekat kalian hingga Samita bisa melihat bagian

pribadimu?”

Anindita tak menjawab. Dia tergagap-gagap.

“Jawab yang benar. Sebenarnya, luka apa yang

menembus tubuhmu hingga membekas begini lama?”

Anindita semakin bisu. Ia hanya memainkan ujung kain

bajunya dengan gemas.

“Ketika Samita tinggal di Majapahit, aku sempat belajar

beberapa gerakan silat. Dia melukaiku dengan pedang.”

“Pembohong!”

Suara Respati menjadi halilintar. Seolah-olah seluruh

ruangan itu hendak roboh. Sementara Anindita beringsut ke

arah dinding kamar karena takut. Respati mendekatinya, lalu

meraih rahangnya.

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Apa yang terjadi selama dua tahun ini? Aku menikahi

perempuan yang sama sekali tidak aku kenal.”

“Kakang percaya bahwa aku yang mendalangi

pembunuhan Paman Abyasa?”

“Soal itu butuh sebuah pembuktian. Tapi, apa yang bisa

kupercaya dari seorang istri yang membohongi suaminya

selama dua tahun?”

Anindita kehabisan kata-kata. Air matanya terkuras.

Sementara Sad Respati tak peduli dengan hal itu. Ia bangkit

dari pembaringan, lalu beranjak ke pintu kamar.

“Aku akan menghadap Ayahanda Sadhana.”

Mata Anindita membelalak. Ia mencoba memanggil

suaminya, namun tak dipedulikan. Anindita kehabisan akal,

lalu membanting tubuhnya ke pembaringan. Menangis

sejadinya.

Hati yang meranggas. Permukaan danau itu masih damai.

Suasana juga adem, meskipun matahari sedang terik-teriknya.

Pepohonan yang berjajar rapat di sekeliling danau mengusir

rasa gerah. Namun bagi hati Samita yang demikian gersang,

semua itu tak bisa mengusir gundah dan nuansa berkabung.

Ia berdiri takzim di depan pusara yang masih basah. Di

pinggir Danau Tirta Kusuma, ia kuburkan jasad Rukmi dengan

baik. Kini, dia menatap gundukan tanah di depannya dengan

nelangsa.

“Cukup sandiwaramu, Samita. Aku akan mencabut

nyawamu!”

Sebuah bayangan melesat kencang dengan pedang

terhunus. Tanpa memberi kesempatan kepada Samita untuk

bersiap, dia langsung memba-batkan pedangnya. Sementara

Samita yang sadar akan bahaya mencelat ke udara, lalu

melakukan salto ke belakang.

“Kebenaran akan selalu terkuak, Anindita!”

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Tubuh Samita berputar membuat pusaran. Serta-merta dari

lengan bajunya meluncur sabuk perak yang menyilaukan.

Anindita pernah sekali berhadapan dengan sabuk ampuh itu

dua tahun lalu dan kalah. Sekarang, dia membabi buta

membinasakan Samita dengan jurus-jurus beracun yang ia

latih keras selama dua tahun terakhir.

Tapi, permainan sabuk Samita pun semakin matang

setelah gadis itu mendalami kitab Kutub Beku di dasar jurang

Medangkamulan. Serangan pedang Anindita yang ganas dan

menebar racun justru terkepung oleh pusaran sinar perak dari

sabuk Samita.

Lingkaran-lingkaran menyilaukan terus menyerbu Anindita

dari berbagai arah. Sementara Anindita memainkan jurus

pedang kejam. Selain batang pedang yang sudah dilumuri

racun, tebasan pedang itu terasa betul tanpa ampun.

Membacok untuk membunuh.

Samita yang sudah berpengalaman menghadapi jurus keji

itu, sengaja tak memberi kesempatan ujung pedang Anindita

untuk mendekati tubuhnya. Dia memutar tubuhnya hingga

pakaian bawahnya mekar seperti cendawan. Pada saat yang

sama, ujung sabuknya terus mengincar dua kaki Anindita.

Suara berdesing begitu ramai. Anindita me-lucurkan

senjata rahasianya berupa lempengan-lempengan besi

beracun. Samita bersalto, mengelak. Saat selanjutnya, sabuk

di tangannya kembali meluncur deras menyerbu Anindita.

Istri Rakryan Rangga Majapahit itu mulai kehabisan

kesabaran karena serangannya belum juga berhasil

menyentuh tubuh Samita. Ia lalu melompat sambil

menodongkan pedangnya. Sementara kedua kakinya

terangkat untuk menyentak. Serta-merta pedangnya

ditebaskan ke udara, melepas tenaga dalam.

Samita yang menyadari datangnya serangan berbahaya,

segera melindungi dirinya dengan jurus nuruty doty. Sabuk

peraknya membentuk pusaran yang melindungi tubuhnya. Dua

tenaga dalam beda kutub bertemu. Tubuh Anindita terlempar

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

ke belakang. Pedangnya terlempar dan menancap di tanah

dengan gagang bergetar. Samita menggeser kakinya

beberapa langkah menjaga keseimbangan tubuhnya.

Anindita merasakan seluruh tubuhnya lungkrah. Sendisendi

tubuhnya seperti terlepas dan tercekat hawa yang

dingin. Dia tak akan sanggup lagi meskipun sekadar untuk

mendarat dengan tegak. Untunglah ada sepasang lengan

kokoh yang menyambut tubuh Anindita sebelum terbanting ke

tanah.

“Samita, tunggulah di sini. Setelah kuselesaikan masalah

ini, aku akan mendatangimu!”

Begitu mendapati tubuh istrinya terkulai dalam pelukannya,

Respati berlari meninggalkan tempat itu dengan kilat. Samita

tertegun di tempatnya berdiri. Beberapa saat kemudian, dia

menghampiri gundukan tanah kuburan jasad Rukmi. Terpekur

lagi di sana tanpa suara.

“Kakang mau menemui perempuan itu?”

Anindita bersandar di pinggir pembaringan dengan dahi

berkerut melihat suaminya sibuk memilih-milih pakaian dan

beberapa barang yang kemudian ia masukkan ke dalam

buntalan kain.

“Kakang hendak meninggalkan aku dan menemui Samita?”

“Aku baru saja menghadap sang prabu dan mengundurkan

diri dari jabatan rakryan rangga.” Mata Anindita membelalak.

“Aku akan pergi ke Tuban dan mungkin tak akan kembali

ke Majapahit.”

“Lalu, kau anggap apa pertalian suci suami istri di antara

kita, Kakang?”

Respati menghentikan gerakannya. Menatap Anindita

tanpa senyum.

“Apanya yang suci? Kau membohongiku sejak awal

perkawinan kita.”

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Anindita merasa napasnya tercekat di tenggorokan.

Sementara Respati melanjutkan kesibukannya.

“Aku sudah menemui ayahanda Sadhana. Aku akan

meninggalkan Majapahit dan mungkin menjadi pendeta.”

Anindita yang kehabisan tenaga setelah bertempur dengan

Samita, tak bisa banyak bergerak. Dia hanya menggeliat

sesekali, memperlihatkan protes diri. Masih untung Samita

memang tidak mengeluarkan seluruh tenaganya, hingga dia

tidak terluka dalam.

“Menjadi pendeta? Bagaimana denganku, Kakang?”

“Hubungan kita tak mungkin diteruskan lagi, Anindita. Jika

dipaksakan pun pasti akan menyakitkan. Sudahlah. Kita cari

jalan hidup kita masing-masing.”

Anindita terpaku di tempatnya. Bibirnya bergetar hebat.

Bahkan, dia tak kuat untuk mengeluarkan sumpah serapah

sekali pun. Anindita menatap Respati dengan sinar mata

berkilat. Ia masih tak bisa berbuat apa pun dan tak berusaha

melakukan apa pun ketika Respati kemudian bergegas

meninggalkan ruangan kamar mereka.

“Terima kasih. Bagaimanapun, kita pernah saling

mencintai. Aku sangat menghargai caramu mencintaiku.

Hanya ini semua tak akan berhasil.”

Respati segera berlalu setelah mengatakan kalimat itu.

Sementara Anindita mulai menguras air matanya tanpa suara.

Hatinya mengeraskan kebencian yang amat sangat.

“Ke Tuban?”

Respati mengangguk. Dia sekilas menatap paras Samita

yang masih berkabung. Keduanya kini berdiri di dangau

pinggir Danau Tirta Kusuma yang dulu menjadi tempat

keduanya mengucapkan selamat tinggal. Kini, saat-saat itu

terulang kembali.

“Aku pernah bertemu dengan seorang arif di sana.

Barangkali beliau mau mengangkatku menjadi murid. Mungkin

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

setelah itu, aku tak akan pernah peduli terhadap masalah

dunia lagi.”

Samita tak bersuara. Hanya bola matanya beberapa kali

bergerak gelisah. Hari semakin sore.

“Samita, terima kasih.”

Samita menoleh, lalu menatap Respati dengan pandangan

tak paham.

“Aku tahu perjalanan sulit yang engkau tempuh dua tahun

ini untuk mengingatkanku siapa Anindita sebenarnya.

Sungguh aku sudah merepotkanmu.”

Samita mengalihkan pandangannya, menumbuk

permukaan air danau yang datar dan diam.

“Danurdara menceritakan semuanya kepadaku.”

Samita kembali menoleh ke arah Respati dengan alis mata

yang hampir bertaut.

“Danurdara?”

Respati mengangguk.

“Saat Mbok Rukmi mendatangi kediamanku, Danurdara

ada di sana karena ingin menemuiku. Begitu Anindita

memerintahkan prajurit untuk menyekap Rukmi, dia sempat

menemuinya di gudang karena didorong rasa penasaran. Saat

itulah, Rukmi berpesan kepada Danurdara untuk

menyampaikan semua yang ia ingin katakan kepadaku.”

“Pesan? Pesan apa?”

“Mbok Rukmi menceritakan dari awal kau turun dari kapal

pusaka, jatuh ke jurang Medangkamulan, bekerja di rumah

makan Nawa Rawi, hingga perjalanan ke Majapahit.”

Pipi Samita memerah. Wajah Rukmi segera berkelebat

dalam benaknya. Perempuan terkasih itu masih melakukan

sesuatu untuk dirinya pada saat terakhir kehidupannya.

Sebenarnya, Samita memang ingin mengisahkan semua

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

kesulitan hidup yang ia jalani untuk bisa kembali ke Majapahit

dan menyadarkan Respati siapa sebenarnya Anindita.

Hanya, semangat itu serta-merta menguap ketika melihat

kebahagiaan Respati bersama Anindita, hingga dia tak tega

mengatakannya.

“Mbok ….”

Nada lirih keluar dari bibir Samita. Dia kembali melempar

pandangannya ke gundukan tanah yang tak jauh dari tempat

ia dan Respati berdiri. Di sana, jasad perempuan mulia itu

terbaring untuk selamanya.

“Aku sungguh minta maaf karena telah banyak

menyusahkanmu, Samita!”

Samita mengangguk tanpa menjawab apa pun. Ia pun tak

sanggup menatap sepasang mata Respati yang menyimak

setiap perubahan kesan pada wajahnya dengan saksama.

“Aku pamit.”

Respati tersenyum pada Samita yang perlahan menoleh ke

arahnya. Senyum itu begitu menghunjam dan menghabiskan

nalar. Samita menatap Respati dengan bola mata berkacakaca.

Senyum itu belum pudar. Respati seperti menikmati

saat-saat tersulit itu.

Di kedua pipinya, terbentuk jurang kecil yang menambah

terjajah rasa hati Samita.

Buru-buru gadis itu mengalihkan pandangannya dari

Respati.

“Aku berharap Kakang menemukan kesejatian hidup yang

Kakang cari.”

Respati mengangguk. Ia beberapa kali mengucapkan

terima kasih, sebelum perlahan meninggalkan dangau itu,

menaiki kudanya, lalu memacunya menjauh. Bahkan, Respati

tak sempat menanyakan rencana hidup Samita selanjutnya.

Padahal, gadis itu benar-benar hitam menatap masa depan.

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Setelah Rukmi tiada dan tujuannya ke Majapahit telah

tercapai, apa lagi yang hendak ia lakukan?

“Apa yang salah dari caraku mendidikmu, Anindita?”

Sadhana termangu. Ia berdiri menghadap jendela kamar,

membelakangi Anindita yang masih terbaring di dipan

pribadinya. Lelaki setengah tua itu tak mendapat jawaban.

Tapi, dia pun rupanya tidak begitu mengharapkan jawaban

dari bibir Anindita. Dia justru tenggelam dalam lamunan yang

ia bangun.

Tangannya menyatu di belakang pinggang. Mahapatih

Majapahit itu masih tampak agung meskipun seluruh

rambutnya sudah memutih. Tapin sekarang matanya berkacakaca.

“Apa yang harus aku katakan kepada ibumu di alam baka,

Nduk?

Anindita masih juga diam. Dia malah sibuk memainkan

ujung kain selimut yang menutup tubuhnya nyaris sampai ke

leher. Pandangan perempuan itu kosong.

“Apa alasanmu memilih semua ini?”

Kali ini Sadhana betul-betul butuh sebuah jawaban. Dia

membalikkan tubuhnya, menghadap putri semata wayangnya

itu.

“Aku melakukan semuanya untuk Ayah.”

Suara serak Anindita terdengar pelan. Kata demi kata

diselingi isak yang tertahan. Matanya mulai mengalirkan air

mata.

“Apa katamu?”

“Paman Abyasa jelas mengincar jabatan mahapatih, Ayah.

Selama hidupnya pun, dia selalu iri terhadap ayah dan berpikir

untuk menyingkirkan Ayah.”

“Itu alasanmu membunuh?” Anindita membisu.

“Katakan Anindita!”

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Membunuh atau dibunuh.”

Sadhana terkesiap. Bibirnya bergetar. Matanya

membelalak. Tangannya mengayun, nyaris menghajar pipi

halus Anindita. Nyaris, karena telapak tangan itu tertahan, lalu

lemas.

“Kepada siapa kau belajar cara hidup hewani itu, Nduk?”

Anindita tak menjawab. Air matanya sudah kering. Kini,

terpancar kebengisan di sana.

“Siapa gurumu yang engkau sembunyikan bertahun-tahun

itu?”

Masih diam. Sadhana menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Baiklah, ini takdir. Sia-sia semuanya. Bagaimanapun,

engkau darah dagingku, Anindita.”

Sadhana kembali membalikkan tubuhnya, menghampiri

jendela kamar. Sikap berdirinya persis seperti semula.

“Ayah tak sanggup membodohi diri sendiri. Ayah akan

mengundurkan diri dari jabatan Mahapatih.”

Giliran Anindita terkesiap. Tapi, tetap tak satu kata pun

keluar dari bibirnya.

“Kau. Kau pergilah jauh-jauh dari Majapahit. Ayah bisa

melindungimu, tapi tak bisa membohongi raja. Ayah akan

menceritakan semuanya. Pergilah jauh-jauh. Ayah akan

memohon agar sang prabu berkenan menjatuhkan hukuman

kepada ayah, menggantikanmu.”

“Ayah!”

Sadhana tersenyum.

“Ayah tak ingin kau terluka, tapi Ayah juga tak ingin

mengkhianati sang Prabu.”

Anindita tergugu di tempatnya berbaring.

“Lekaslah berkemas. Jika tak ada lagi pertemuan antara

kita, Ayah harap kau bisa mengambil sisi baik dari kejadian ini.

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Pikirkanlah! Sebab Ayah pun tak paham, apa sisi baik dari

semua hal yang kau lakukan.”

Setelah mengatakan itu, Sadhana menoleh ke arah

Anindita. Matanya sungguh berkaca-kaca. Tapi, keteguhan

hati lelaki gagah itu menang. Dia melangkah penuh keyakinan

menuju pintu kamar. Meninggalkan Anindita yang masih tak

percaya dengan apa yang ia dengar. Beberapa saat

kemudian, ketika kesadaran telah terkumpul penuh pada

benaknya, Anindita segera bangkit. Secepat-cepatnya dia

harus pergi. Sejauh-jauhnya dia harus berlari. Membawa

dendam, berbekal benci yang menjadi-jadi.

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

14. Kekasih Bisu

Siang itu, di Bukit Medangkamulan, maut menari. Mayatmayat

prajurit Majapahit bergelimpangan. Darah berceceran,

menyinggung batang-batang ilalang dan pucuk-pucuk rumput

yang menghijau. Suara erangan rata di padang yang tak

terlalu luas itu. Masih ada yang hidup. Satu-dua orang yang

menyeret tubuhnya untuk menghindari maut.

“Ampun, Nini. Saya hanya prajurit. Hanya melaksanakan

perintah. Ampuni saya, Nini.”

Bunyi angin menderu. Bersamaan dengan itu, tubuh si

prajurit langsung lunglai dengan suara tercekik di lehernya,

melepas nyawa. Barangkali bibir perempuan bertopeng itu

menyeringai. Tak tampak memang karena topeng kayu buruk

yang ia kenakan mematikan kesan apa pun di permukaan

wajahnya.

Ia lalu melangkah penuh kesombongan di antara mayatmayat

prajurit Majapahit yang saling tindih. Mencari-cari

rintihan dan tanda-tanda kehidupan. Lalu, segera

mematikannya dengan sekali kibas.

Kecapi di tangan kanannya mengeluarkan suara tipis saat

diterpa angin.

Kenyamanannya bercumbu dengan kematian terhenti

ketika angin menderu memendarkan rambutnya yang panjang

terurai. Begitu juga dengan jubah hitam yang ia kenakan.

Sesaat kemudian, meledak tawa dari segala arah. Menggema

oleh tenaga dalam yang menyedak gendang telinga.

“Dewi Kecapi Maut. Nama yang terlalu hebat untuk ilmu

yang begini cetek.”

Gerakan perempuan bertopeng itu benar-benar mandek.

Dia mengumpulkan kemampuannya untuk tahu di mana

lawannya kini berada. Tapi tak semudah itu. Ia memilih diam

menunggu.

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Lehernya menoleh ke samping dan menemukan dua lelaki

bertampang kucel berdiri dengan tangan berkacak pinggang.

Satu di antaranya sudah ia kenal. Lowo Ijo, lelaki pengecut

yang kabur dari kejarannya berbulan-bulan lalu, kini telah

berdiri dengan wajah mengejek.

Di sampingnya, seorang lelaki yang lebih tua juga berdiri

jumawa. Seluruh rambutnya sudah putih. Menjemukan sekali

wajah lelaki itu. Matanya memancarkan sinar licik. Bibirnya

selalu menyeringai. Rambutnya panjang gimbal.

“Jadi, ini penerus Dewi Kecapi Maut. Cepat kau pulang ke

gurumu. Suruh dia datang ke sini agar bisa kuberi pelajaran.”

Sejak muncul pertama kali di kediaman Rakryan Kesusra,

perempuan aneh ini tak pernah mengeluarkan sepatah kata

pun. Kecuali saat ia melengking menembangkan syair

bernada satir dan mencekam. Sejak itu, dia dikenal dengan

julukan Setan Kecapi Bisu yang menggegerkan dunia

persilatan.

Dia pembunuh berdarah dingin yang tanpa ampun

mencabut nyawa seseorang tanpa alasan yang jelas. Tak

terhitung berapa prajurit Majapahit yang tewas di tangannya.

Ia seperti mendendam terhadap setiap prajurit yang belum

tentu berdosa itu.

Kini, di hadapannya berdiri guru dan murid yang merajai

dunia hitam. Siluman Laut Kidul dan salah seorang muridnya,

Lowo Ijo.

“Pantas julukanmu setan bisu. Barangkali gurumu telah

memenggal lidahmu, Bocah!”

Tetap tak ada jawaban. Lowo Ijo yang sejak tadi berdiri

diam dan merasa aman di samping gurunya, maju ke depan.

Kali ini tanpa bicara apa-apa, dia langsung menghunus

pedang besarnya dan memburu tubuh perempuan bertopeng

buruk itu.

Suara ribut pecah ketika pedang besar dan beracun itu

menabrak udara dan terus meluncur. Tadinya, Setan Kecapi

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

itu tak bergerak sedikit pun. Seperti sedang mereka-reka

kapan dia harus bertindak. Pada titik waktu yang pas,

tubuhnya berputar dan menyambut pedang Lowo Ijo dengan

badan kecapi kayunya.

Nada bising berdengung ketika dawai-dawai pada kecapi

maut itu terhantam pedang. Namun, tak satu pun putus.

Padahal, Lowo Ijo telah mengerahkan tenaga yang cukup

kuat.

“Ini untuk nyawa Kakang Kolo Ireng.”

Lowo Ijo kesetanan. Dia memutar pedangnya dan

membabat ke seluruh titik mati Setan Kecapi. Lowo Ijo seperti

lupa, berbulan-bulan lalu, dia dan Kolo Ireng dibuat malu

karena tak sanggup melakukan apa pun untuk merobohkan

Setan Kecapi itu.

Kini, begitu gurunya ada di tempat itu, Lowo Ijo seperti

mendapatkan tambahan tenaga. Namun, semangat saja tak

cukup. Setan Kecapi menggerakkan badan kecapinya ke

segala arah, menghalau pedang Lowo Ijo. Sementara, tangan

kirinya memainkan jurus Cakar Siluman yang pernah

membuat gempar para pendekar puluhan tahun lalu. Lowo Ijo

tak menyerah. Dia mempertaruhkan semua jurus yang ia

kuasai dan nama angkernya sebagai Iblis Laut Kidul yang

sangat ditakuti. Seolah ingin membayar rasa malunya, Lowo

Ijo bertarung habis-habisan.

“Segara Wisa!”

Lowo Ijo menghentakkan tangan kirinya, mencuri

kelengahan Setan Kecapi. Namun, dia terlalu menganggap

enteng kelihaian perempuan itu. Sekali meliukan tangan,

Setan Kecapi sudah mampu mengubah posisi tangannya dan

menyambut tapak berbisa dari jurus keji itu.

Tenaga dalam yang dibenturkan itu membuat kedua orang

yang sedang berhadapan itu terpental. Jika Setan Kecapi

langsung bisa berdiri tegak, setelah beberapa kali menggeser

kakinya ke belakang, Lowo Ijo tak begitu. Lelaki itu terpental

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

jauh ke belakang dan terbanting ke tanah sambil memegangi

dadanya.

“Kau pantas menjadi penerus Dewi Kecapi Maut.”

Siluman Laut Kidul berdiri dengan tangan menyatu di

belakang pinggang. Dia mengamati perubahan gerak Setan

Kecapi yang sangat halus. Langsung mengingatkannya pada

sosok Dewi Kecapi Maut yang sempat membuatnya jatuh hati

sekaligus benci setengah mati, puluhan tahun lalu.

Meskipun sama-sama menjadi tokoh golongan hitam,

keduanya tak pernah rukun. Sejak muda, mereka selalu

bertikai. Bertemu untuk saling menjajal ilmu. Hingga samasama

renta, keduanya tetap tak mau berdamai. Hingga dua

puluh tahun lalu, Dewi Kecapi menghilang dari dunia

persilatan. Kini, Siluman Laut Kidul berhadapan dengan

penerus Dewi Kecapi Maut yang tak kalah aneh dibandingkan

gurunya. Bahkan lebih aneh.

Kedua tangan majikan Gua Tengkorak itu mengangsur ke

depan. Langsung menghentak dengan kekuatan penuh. Angin

besar menerjang Setan Kecapi yang masih berdiri tenang.

Begitu sadar kekuatan lawan, perempuan itu langsung

menancapkan kecapinya ke tanah, lalu menyusul lawannya

menyentakkan tangannya ke depan, melepas tenaga dalam

terhebat.

Lagi-lagi tumbukan tenaga dalam hebat terjadi. Kali ini,

tubuh Setan Kecapi yang terlontar. Dia terseret tenaga dalam

lawan hingga beberapa tombak ke belakang. Tubuhnya

bahkan langsung ambruk ke tanah tanpa langsung bisa

berdiri. Saat itu pula, terjadi beberapa kali ledakan

memekakkan telinga, disusul asap tebal yang menutup

pandangan mata.

Lowo Ijo dan gurunya mengibas-ibaskan tangan untuk

menghalau asap tanpa racun itu. Perlahan, asap itu menipis

dan menghilang sama sekali. Setan Kecapi telah lenyap.

“Tak perlu dikejar!”

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Lowo Ijo menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah

gurunya.

“Kita tak tahu siapa yang menolongnya. Jika kesaktiannya

sama dengan Setan Kecapi, kita akan kalah.”

Lowo Ijo menatap gurunya tanpa berkedip.

“Tenagaku terkuras. Pukulannya sedikit meninggalkan luka

dalam di dadaku. Tak perlu dikejar. Yang penting, utang malu

kita terbalas.”

Lowo Ijo mengangguk paham. Ia menghampiri gurunya,

lalu mereka berjalan meninggalkan padang penuh mayat itu

dengan hati puas.

Windriya mengangsurkan potongan batang bambu yang

sudah diisi dengan air segar. Di depannya, Setan Kecapi

tengah bersila sambil mengatupkan kedua tangannya. Ia

sedang berusaha mengurangi rasa sakit akibat luka dalam

terkena pukulan berbisa Siluman Laut Kidul.

“Ini kecapimu!”

Windriya memang tak mengharapkan jawaban.

Dia langsung beringsut agak menjauh, lalu du- duk

membelakangi Setan Kecapi. Mereka berdua kini ada di depan

pondok tua Windriya.

Pemuda itu seperti tak ambil pusing dengan keadaan

perempuan keji yang baru saja ia tolong itu. Peledak asap

merupakan senjata rahasia Windriya yang digunakan untuk

menyelamatkan diri saat terjepit keadaan genting. Nyatanya,

beberapa kali senjata itu bisa menyelamatkan nyawanya.

Windriya baru saja hendak menempelkan bibirnya di

lubang seruling bambu kesayangannya, ketika gerakan

tangannya terhenti.

“Tidakkah kau lelah membunuh begitu banyak orang?”

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Tak ada jawaban. Windriya nyengir, lalu belagak

membersihkan serulingnya dengan ujung bajunya yang

semakin ketara usang.

“Jika dendam bisa memanggil nyawa yang telanjur

melayang, aku akan menyebar bibitnya di ladang yang luas.

Jika kesumat mampu mengembalikan waktu yang tertinggal,

akan kuperas seluruh darahku untuk membenci.”

Windriya mulai bersyair. Itulah teman hidupnya. Kata-kata

yang mengalir lewat lidahnya, mewakili hati, menghibur

kesendirian yang ramai. Itu pula yang ia lakukan dua tahun

terakhir. Setelah memutuskan untuk tinggal di bibir jurang

Medangkamulan, Windriya seorang diri saja menghabiskan

waktu dari pagi kembali ke pagi.

Selain serulingnya yang mendayu-dayu, pemuda itu gemar

betul bersyair, meskipun tak ada yang mendengarkan atau

menikmati. Dia nyaman seorang diri. Menunggu seseorang

yang ia yakini pasti datang.

Windriya lagi-lagi mengusap permukaan seruling

bambunya. Setelah puas, ia kemudian mulai meniup-niup

lubang seruling itu, bergantian memunculkan irama syahdu

dan memanjakan pendengaran. Kedua mata pemuda itu

memejam. Seperti penikmat masakan yang mencium aroma

hidangan yang lezat dan istimewa.

Sampai beberapa lama, Windriya terus-menerus seperti

itu. Hingga ia benar-benar puas.

“Kau suka mendengarkan seruling?”

Windriya menghentikan permainannya. Dia lalu menoleh

ke arah Setan Kecapi tadi bermeditasi. Kosong. Perempuan

bertopeng itu sudah lenyap. Tanpa suara, tanpa kata pamit.

Bahkan, batang bambu tempat air yang disediakan Windriya

pun tak pindah dari tempat semula. Mata Windriya sayu. Ia

harus menunggu lagi.

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

BAB MAGABATHANGA

15. Kakek Sableng

Perbatasan Canggu.

Tanah-tanah berdebu. Siang yang terik rasanya

menguapkan semua air yang ada di dalam tubuh.

Kerongkongan tercekik rasa haus yang menghebat. Musim

panas rasanya tak berujung. Dedaunan hijau tak cukup sakti

untuk mengusir panas penyengat kulit.

Seorang penunggang kuda menghela tunggangannya

perlahan. Tak seperti sebelumnya, ketika ia menarik kekang

kuda seolah mengajak binatang itu untuk terbang tanpa

menginjak bumi. Secepat-cepatnya sampai ke tujuan. Kini,

kuda itu berjalan pelan seolah ingin menikmati suasana di

kanan-kirinya.

Sad Respati, penunggang kuda itu, membiarkan dirinya

mengikuti irama kaki tunggangannya. Ter-sentak-sentak

dengan jeda waktu yang demikian teratur. Ringkik kuda

sesekali memecahkan suasana yang bisu. Respati

mengedarkan pandangannya. Baru sampai Canggu.

Perjalanan masih sangat jauh untuk ke Tuban, kota yang

dipilihnya sebagai tempat mencari kesejatian hidup.

Pengalaman sesaat ketika dia bertemu dengan seorang

arif di kota pelabuhan itu, membuat tekadnya selalu

menghentak-hentak untuk membawanya kembali ke sana.

Padahal, pertemuan itu sudah dua atau tiga tahun lalu.

Nyatanya, Respati tidak kehilangan rasa itu.

Bahkan, sekarang dia rela meninggalkan gemerlapnya

kehidupan seorang rakryan rangga Majapahit yang kesohor.

Dia mengundurkan diri dengan menanggung segala akibat

yang ia tak mau pusing memikirkannya. Pengunduran diri

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

sang rakryan rangga yang baru saja menyelesaikan tugas

besar, menghadapkan Putri Suciatma ke hadapan raja sudah

pasti mengundang pertanyaan besar.

Bahkan, Prabu Wikramawardhana penasaran dengan

alasan Respati yang sekadar ingin mengasingkan diri ketika

berpamitan di hadapan para pejabat Majapahit. Ditambah lagi

dengan menghilangnya Anindita tanpa sebab pasti dari

keraton.

Respati hanya mengatakan beban batinnya kepada

Mahapatih Sadhana, ayah mertuanya. Tak heran jika orang

nomor dua di Majapahit itu tak ikut sibuk mencari tahu alasan

Respati mengundurkan diri. Namun, tetap saja dia menyuruh

orang-orang kepercayaannya untuk mengikuti jejak Respati

dan mencari tahu ke mana perginya Anindita, sebelum

akhirnya dia pun mengundurkan diri dari jabatan Mahapatih

Majapahit.

Respati pun bukan tak paham pengunduran dirinya bakal

mendatangkan banyak masalah. Namun, rasa sakitnya karena

merasa gagal memimpin keluarga telah membuat

kepercayaan dirinya menggelepar dan sekarat. Ia kini tak lebih

dari seorang laki-laki yang menyiksa diri dengan perasaan

kesal dan sesal yang menggunung.

“Nora kurang wuiang wuruk Tumrape. Wong tanah Jawi

Laku-lakune ngagesang. Lamun gelem angiakoni. Tegese

aksara Jawa Iku guru kang sejati.”

Respati betul-betul menghentikan laju kudanya. Ia dibuat

penasaran oleh tembang yang dinyanyikan oleh suara lelaki

tua di pinggir jalan setapak itu. Tidak terlalu merdu. Hanya

syairnya yang sarat makna membuat hati terhenyak.

“Tak kurang piwulang dan ajaran. Bagi orang tanah Jawa

perilaku dalam kehidupan. Jika mau menjalaninya. Makna

aksara Jawa itu guru yang sejati.”

Alangkah dalamnya. Respati meresapi setiap kata dalam

syair itu. Ia merasa perlu untuk turun dari punggung kuda dan

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

menghampiri seorang lelaki tua yang duduk menyender pada

batang pohon di pinggir jalan berdebu itu.

Dia benar-benar kumal. Wajahnya keriput dengan rambut

putih yang tak teratur. Matanya cekung, parasnya tirus.

Pakaian yang ia kenakan pun demikian kucel. Sepertinya

sudah berbulan-bulan tak dicuci. Ada tambalan di sana-sini.

Tapi, kesan di matanya seperti tak pernah menerima siksaan

hidup. Seperti danau yang menaungi berbagai kehidupan di

dalamnya.

“Kisanak, bolehkah saya mengganggu keasyikan

Kisanak?”

Lelaki tua itu memandang lekat-lekat ke arah Respati. Dia

tersenyum. Semakin lebar. Gigi-giginya yang kekuningan

mulai kelihatan. Semakin lebar. Dia pun kemudian tertawa

terbahak-bahak.

“Dunia ini sudah gila. Para pemimpin tak memikirkan

rakyatnya.”

Respati bengong. Dia terus saja mencermati setiap

perubahan kesan wajah lelaki tua aneh yang masih saja

tertawa itu. Matanya sampai berkaca-kaca karenanya. Respati

membiarkannya sampai puas tertawa.

“Saya tertarik dengan syair yang Kisanak tembangkan

tadi.”

Respati masih berusaha santun. Padahal, hatinya mulai

berpikir lain. Bisa jadi orang tua ini memang tak sempurna

pikirannya. Melantunkan syair begitu sarat makna tanpa

kesadaran yang penuh. Sekadar menggumamkan kata-kata

yang pernah ia dengar dari orang lain.

“Semakin banyak orang tak mengenal dirinya sendiri. Kau

pun begitu!”

Respati setengah tersentak. Lelaki tua itu seperti sengaja

hendak mengagetkannya.

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Tak sadar mana cinta mana benci. Mana baik mana

buruk. Ragu-ragu dalam bersikap. Membiarkan diri jadi

pengecut. Cih!”

Respati merasa ditelanjangi. Lelaki tua itu menyudahi katakatanya

dengan membuang ludah ke samping kanannya.

Masih untung tak ke mukanya. Gigi-gigi Respati beradu. Dia

menahan emosi yang hebat. Orang tua ini bahkan sama sekali

tak mengenal siapa dirinya. Bagaimana mungkin dia berani

mengumbar caci maki yang demikian rendah.

Tapi, hati Respati benar-benar merasa ditelanjangi. Sebab,

semua yang dikatakan lelaki tua asing itu benar. Dia coba

memimpin hatinya dengan bijak. Meredamkan emosi yang

menggelegak. Lalu tersenyum. Semakin tulus. Hingga benarbenar

tulus.

“Saya Sad Respati dari Majapahit. Saya hendak ke Tuban

untuk mencari seorang guru.”

Lelaki tua itu kembali tertawa sepuas-puasnya. Seakan

kata-kata yang keluar dari bibir Respati sampah adanya.

Bahunya yang terlihat ringkih terguncang-guncang. Respati

semakin tak mengerti. Tapi, dia membiarkan saja pak tua di

depannya menyelesaikan kesenangannya itu. Kata hati

Respati merasakan ada yang istimewa pada diri lelaki tua itu.

“Zaman sudah edan. Bahkan orang bertindak saja tidak

bisa jujur. Harus berpura-pura. Mengasihani diri sendiri.”

Lagi-lagi Respati dibuat tersentak. Orang aneh di

depannya seperti tahu betul seluk beluk otak dan semua isi

hatinya. Alis mata Respati terangkat. Sontak tangannya

bergerak cepat. Meluncur ke ulu hati lelaki di depannya.

Gerakan itu tertahan pada jarak setebal kuku dari dada kakek

tua itu. Tak ada reaksi.

“Maaf.”

Respati menarik tangannya ketika melihat kakek tua itu tak

lantas menangkis serangannya. Berarti dia bukan orang jahat

berkemampuan tinggi seperti yang direka-reka Respati

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

sebelumnya. Atau benar, bisa jadi dia memang orang gila.

Sepakat dengan dugaannya, Respati lalu bangkit sambil

memberi hormat. Dia tersenyum sendiri karena merasa bodoh

telah melayani pembicaraan orang gila itu.

Ia lalu menghampiri kudanya, naik di punggungnya, dan

mulai memacu kudanya ke arah utara. Pusat keramaian di

Canggu tak sehebat Demak atau Medangkamulan yang kini

sedang giat membangun. Canggu hanyalah sebuah wilayah

pedesaan berpenduduk ratusan keluarga yang bekerja

sebagai petani dan nelayan. Dulunya, ketika Majapahit

dipimpin Raja Hayam Wuruk, Pelabuhan Canggu menjadi

salah satu titik kekuatan niaga. Namun, perang saudara yang

berlarut-larut membuat tempat itu tak seramai sebelumnya.

Penduduk pun banyak yang berpindah ke perbukitan.

Mereka hidup nyaman di punggung-punggung bukit dan

dataran rendah di bawahnya. Hidup sederhana tanpa banyak

tuntutan. Apa yang ada di hadapan mereka, itulah

kebahagiaan hidup. Tahap-tahap hidup berputar apa adanya

dan tetap seperti itu. Bayi-bayi lahir, belajar berjalan, lalu

tumbuh dewasa. Mereka menjadi tenaga-tenaga baru yang

menambah subur tanah Canggu dengan ayunan cangkul yang

kuat.

Mereka kemudian berpasang-pasangan, melahirkan

keturunan, lalu terulanglah lingkaran hidup yang tetap itu.

Respati tak menemukan alasan yang bisa menahannya untuk

berlama-lama tinggal di Canggu. Setelah beristirahat sejenak,

membersihkan diri, dan mengisi perbekalan, dia kembali

memacu kudanya menuju Gresik.

Berhari-hari perjalanan dengan kuda terasa singkat.

Respati tak mau berleha-leha. Ia ingin secepatnya sampai ke

Tuban dan memulai hidup baru. Keseharian yang jauh dari

hiruk pikuk kepentingan di lingkar kekuasaan. Sambil

terguncang-guncang di atas kuda, Respati semakin dalam

merenungkan apa-apa yang telah ia jalani sepanjang 26 tahun

kehidupannya.

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Ketidakjelasan asal-usul sudah lama ia kubur dan tak

membuatnya menjadi resah. Ditemani Angga Cuwiri, keris

pusaka pemberian gurunya yang konon warisan kakek

buyutnya sendiri, Respati melanjutkan hidup penuh semangat.

Latihan keprajuritan sejak umur belasan mengusir semua

kerinduan terhadap kebersamaan keluarga. Semakin tajam

keinginannya untuk menangis, semakin keras Respati melatih

diri.

Hingga akhirnya dia terpilih sebagai anggota bhayangkari

pada usia tujuh belas tahun. Bertahun-tahun ditempa segala

ilmu dan kepiawaian, Respati menikmati hidupnya. Meskipun

acap kali hati nuraninya bertumbukan dengan tugas yang ia

emban. Hati nuraninya yang basah oleh welas asih hampir

selalu bertabrakan dengan tugas kerajaan yang tertanggung di

pundaknya.

Seperti ketika dia harus sampai hati membabat pemberontakan

di daerah-daerah ketika menjabat sebagai rakryan

rangga. Batinnya begitu tersiksa setiap melihat mayat-mayat

bergelimpangan. Pedang dan tombak tak punya mata.

Perempuan dan anak-anak ikut bersimbah darah dan

kehilangan nyawa.

Dua tahun menjabat rakryan rangga nyaris merenggut

perasaan halus yang menjadi kepribadian Respati. Karena itu,

di sela kekaguman orang-orang terhadap reputasinya, Respati

justru merasa tersiksa. Ia ingin segera berhenti menghirup

udara. Mati terpuji.

Tapi, takdir itu tak kunjung menyapanya. Terbongkarnya

kebohongan Anindita menjadi puncak segala kekecewaan

Respati kepada dirinya sendiri. Selain memang sudah muak

dengan keseharian di lingkungan keraton, kenyataan itu

benar-benar memukul kepercayaan dirinya.

Tak berlebihan kalau kemudian Respati bertekad bulat

mengundurkan diri dari jabatan penting itu. Apalagi ia juga

semakin tertekan dengan kegilaan Rakryan Tumenggung

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Sadali. Kebencian dan rasa iri yang pekat di kepala panglima

perang itu membuat Respati semakin tak nyaman.

Puncak segala gejolak itu benar-benar terjadi. Meskipun

sadar bahwa akibat keputusan itu akan mengganggu masa

depannya, Respati tak lagi berpikir panjang. Kini dia merasa

menjadi anak panah yang meluncur dari busurnya. Terus

melesat mencari sasaran untuk menancap. Tak lagi peduli

dengan masa lalu. Dia hanya berpikir tentang masa depan.

Siang menjelang, ketika derap kaki kuda yang ditunggangi

Respati masuk ke Kota Pelabuhan Gresik yang tak jauh dari

pelabuhan besar Surabaya. Ciri khas kota-kota yang tengah

berkembang terlihat juga di sana. Orang-orang yang berlalu

lalang tak hanya pribumi berkulit sawo matang.

Orang-orang Tiongkok dan mereka yang berkulit putih

sesekali terlihat sibuk melakukan berbagai pekerjaan. Seperti

halnya kota pelabuhan lain, kesibukan mereka berhubungan

dengan laut. Respati terus menghela kudanya perlahan

memasuki pusat kota.

Rasa perut yang melilit memaksa Respati untuk

menghentikan langkah kudanya di depan sebuah rumah

makan agak besar. Dia segera menyerahkan kudanya kepada

seorang penerima tamu untuk dikandangkan. Lalu, dia segera

masuk ke rumah makan itu dengan langkah gagah.

Suasana rumah makan lumayan ramai. Orang-orang

duduk melingkar di depan meja-meja kecil yang menyajikan

menu-menu istimewa. Kebanyakan menyantap ikan laut yang

telah dimasak dengan berbagai cara.

Respati menghampiri sebuah meja kosong. Dia duduk

tenang di sana, menunggu pelayan datang.

“Pesan apa, Kisanak?”

Seorang laki-laki pelayan mendatangi Respati dengan

wajah sumringah dan bersahabat. Sebuah awal yang baik

untuk memancing kenyamanan tamu.

“Apa saja yang istimewa dari tempat ini?”

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Pelayan itu mengangguk sambil tersenyum, lalu segera

kembali ke dapur untuk menyiapkan pesanan Respati. Sambil

menunggu pesanannya datang, Respati menebar pandangannya

ke seluruh ruangan rumah makan yang tampak sangat

terawat itu.

Lingkungannya cukup bersih dengan segala peralatan

yang terlihat rapi dan tertata. Respati merasa nyaman duduk di

sana sambil sesekali menoleh ke arah jalanan yang tampak

semakin sibuk. Dari jendela yang persis ada di belakang

punggungnya, Respati bisa menyaksikan lalu-lalang orangorang

dan kesibukan para pedagang yang menggelar aneka

barang di pinggir jalan.

Tepat ketika pelayan datang membawakan menu ikan laut

panggang yang mengundang selera, dari pintu masuk rumah

makan itu muncul lima orang laki-laki dan seorang perempuan

yang sontak menjadi pusat perhatian orang-orang yang ada di

rumah makan. Mereka yang datang terlihat menarik karena

sama-sama mengenakan pakaian serba putih.

Jubah panjang putih pucat dipadu dengan celana panjang

longgar berwarna sama. Keriuhan rumah makan yang tadinya

rata, tiba-tiba terhenti. Semua orang seperti kehilangan hak

untuk berbicara.

Sementara pelayan mengatur nasi dan lauk pauk di atas

meja, Respati malah sibuk melihat sekeliling. Dia heran bukan

main melihat orang-orang yang tiba-tiba bisu. Mereka terlihat

ingin cepat-cepat menyelesaikan makan siangnya.

“Siapa mereka?”

Pelayan yang ditanya Respati tak menjawab. Justru

wajahnya memucat dan tampak ketakutan. Respati

mengangkat alisnya menunggu jawaban. Pelayan itu

menggelengkan kepala, lalu buru-buru meninggalkan Respati.

Tak mendapat jawaban memuaskan, Respati lalu mulai

menyantap hidangan di hadapannya. Ia sesaat tak peduli

dengan keadaan sekeliling. Mulutnya terus mengunyah.

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Lidahnya dimanjakan oleh bumbu-bumbu yang sungguh

nikmat.

Para tamu rumah makan satu per satu menyelesaikan

makan siangnya. Mereka kemudian beranjak dari tempat

bersantap dan keluar rumah makan setelah sebelumnya

membayar tagihan.

Respati melihat mereka yang keluar dengan saksama.

Kebanyakan para pengembara. Mereka membawa buntalan

yang pasti berisi perbekalan di punggung mereka. Sementara

orang-orang berpakaian serba putih tadi mulai menyantap

hidangan yang mereka pesan sebelumnya.

Respati tak lagi peduli. Ia melenyapkan perasaan ingin

tahunya tentang orang-orang aneh itu. Perjalanan masih jauh.

Jadi, ia tidak mau ambil pusing dengan segala hal yang bukan

urusannya. Setelah membayar tagihan, ia pun bersegera

meninggalkan rumah makan itu.

Respati menyempatkan diri berputar-putar kota sekadar

melihat-lihat suasana. Setelah lama tak mengunjungi Gresik,

segala perkembangan di kota ini membuat Respati berdecak

kagum. Kota pelabuhan itu tampaknya akan semakin maju.

Semakin banyak kapal-kapal dari berbagai negeri yang

datang. Para pedagang dari negeri-negeri yang jauh berniaga

dengan tenang.

Orang-orang pribumi pun banyak belajar dan mulai

mengembangkan diri. Menjelang sore, Respati menghela

kudanya keluar dari Gresik. Di tepi sebuah danau yang

tenang, Respati menghentikan laju kudanya dan memutuskan

untuk beristirahat sejenak.

Sambil menikmati suasana alam yang menyegarkan

pikiran, Respati membuka buntalan perbekalannya. Dan, ia

merasakan kesegaran ketika air dingin kendi membasahi

kerongkongan. Lalu, ia memejamkan mata, menikmati desau

angin.

Tapi sesaat saja. Matanya langsung terbuka ketika

pendengarannya menangkap suara gaduh tak jauh dari

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

tempatnya berleha-leha. Naluri keprajuritan pemuda ini

sungguh tajam. Ia langsung bangkit dan mereka-reka sumber

suara yang mencurigakan itu.

Setelah mencari-cari beberapa saat, Respati segera

menemukan kegilaan di padang kecil yang tak terlalu jauh dari

pinggir danau tempat ia beristirahat. Orang-orang sedang

bertempur hebat. Rasa heran Respati ketika di rumah makan

tadi terjawab.

Orang-orang berpakaian serbaputih yang ia jumpai di sana

ternyata adalah kelompok pembantai sadis tanpa otak. Orangorang

pengembara yang tadi juga bersantap di rumah makan

yang sama dengan Respati kini telah menjadi mayat

bergelimpangan dengan darah berceceran.

Orang-orang berjubah putih dengan pedang terhunus itu

lalu mulai menggeledah buntalan-buntalan perbekalan para

pengembara itu. Di antara para korban itu masih ada yang

hidup. Tapi tak berlangsung lama. Tangan keji orang-orang

berjubah putih itu langsung beraksi, membabat leher mereka

hingga putus.

“Manusia sungguh aneh. Membunuh tanpa alasan.

Padahal setiap hal pasti punya alasan.”

Masih ada yang tersisa. Dia seorang lelaki muda

bertampang lugu yang tengkurap di tanah dengan leher

diangkat ke atas. Dia tak kelihatan takut. Matanya yang bening

mencerminkan keyakinan.

Sementara itu, meskipun terlambat, Respati merasa

bersalah jika mendiamkan aksi itu. Sekali sentak, ia melompat

lalu berdiri menantang di hadapan enam orang pencabut

nyawa itu.

“Katakan satu alasan saja, kenapa aku harus melepaskan

kalian pergi tanpa lebih dulu kuhukum kalian atas perbuatan

keji ini!”

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Enam orang berjubah putih itu menoleh ke arah Respati

yang tersenyum dingin. Sama sekali tak memperlihatkan rasa

takut.

“Enyahlah dari tempat ini dan kami sementara akan

mengampuni nyawamu.”

Respati tak menjawab. Dia malah perlahan menggenggam

gagang keris Angga Cuwiri, lalu serta-merta menghunusnya

dengan kecepatan kilat. Pamor biru berkilat.

Enam orang berjubah putih itu sempat terpana. Namun,

mereka segera menepis kekagetan itu dengan menyiapkan

pedang masing-masing. Tak mau menunda waktu, Respati

langsung menyerbu dengan gerakan kilat. Enam orang

lawannya berlompatan dan membuat lingkaran mengepung

Respati.

Mantan rakryan rangga Majapahit itu lantas memutar

kerisnya yang panjang dan elok, menyerang segala arah.

Jurus Hanacaraka yang masyhur itu langsung menampakkan

kesaktiannya. Enam orang lawannya kelihatan sangat berhatihati.

Mereka tak meremehkan Respati, meskipun dia seorang

diri.

“Menjala Ikan, Menebar Racun!”

Kepungan enam orang lawan tangguh itu terasa makin

rapat. Teriakan salah seorang di antara mereka rupanya

memberi komando perubahan gerak. Respati menyadari, dia

tak mengenal cara berkelahi itu. Jadi, dia memutuskan untuk

tak setengah-setengah bertempur. Akhirnya, dia bergerak

cepat, berusaha lepas dari kepungan enam pedang yang terus

memburunya.

Tiba-tiba dari segala penjuru meluncur jala-jala yang

dilepaskan oleh enam orang aneh itu. Tak beda dengan jala

yang biasa digunakan para nelayan. Senjata unik itu meluncur

deras hendak meringkus tubuh Respati.

Sadar tak mungkin menghindari jurus muslihat ini, Respati

menguatkan hati untuk melepaskan tenaga dalam sekuatScan

buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

kuatnya. Ia langsung memutar tubuhnya sambil berteriak dan

melepas kekuatan bawah sadarnya ke segala arah.

Sontak enam orang yang hendak meringkusnya itu

terpental ke belakang. Pedang-pedang mereka terlontar entah

ke mana. Begitu juga dengan jala-jala itu. Kini, keenamenamnya

bergulingan di tanah sambil memegangi dada

mereka yang terasa sesak.

Dahi Respati berkerut. Dia tak yakin telah mengalahkan

enam orang itu dengan begitu mudah. Tadinya dia mengira

akan ada ledakan tenaga dalam yang hebat. Kalau pun

menang, Respati mengira dia akan mengalami luka dalam

yang hebat. Tapi ternyata tidak. Tenaga dalamnya jauh di atas

enam orang pembunuh itu.

Setelah pikirannya kembali jernih dan keyakinan dirinya

kembali. Respati lalu menghampiri salah seorang dari enam

pembunuh berjubah putih itu.

“Kalian bukan sekadar perampok. Katakan, dari kelompok

mana kalian berasal!”

Ujung keris berpamor biru di tangan Respati itu kini

mengancam leher salah satu anggota komplotan berjubah

putih itu. Dia seorang lelaki berumur tak beda jauh dari

Respati. Hanya mukanya terkesan dingin, tak bersahabat.

Garis wajahnya kasar dan kejam.

Dia tak menggubris kata-kata Respati.

“Kau kejam! Sungguh kejam!”

Gendang telinga Respati terdesak. Dia mendengar suara

perempuan dari sisi kanan tempat ia berdiri. Kedengarannya

sangat lain. Sepertinya suara itu mencengkeram pikirannya.

Respati menoleh. Ternyata satu-satunya perempuan di

antara kelompok penjahat berbaju putih itu yang berteriak

kencang dan membuyarkan pikiran Respati. Pemuda itu

memicingkan matanya. Melihat lekat-lekat, sementara hatinya

kacau-balau.

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Kau bunuh keluargaku semua. Lihat! Kau habisi mereka

semua dengan kejam!”

Respati tersentak. Seperti baru sadar dari lamunan

panjang. Dia keheranan melihat tubuh-tubuh yang bergelimpangan

bersimbah darah. Respati seperti orang linglung.

Diakah yang membunuh orang-orang itu? Respati kembali

menatap perempuan berjubah putih yang duduk di atas tanah

sambil menekan dadanya yang tampaknya terluka.

“Kau tak percaya padaku? Lihat saja, seluruh tubuhmu

bersimbah darah orang-orang yang kau bunuh!”

Respati tersentak. Matanya melotot ketika melihat seluruh

pakaiannya bersimbah darah merah segar. Begitu juga

dengan kerisnya. Semua serba darah.

“Harusnya kau menyesali perbuatanmu dan bunuh diri!”

Mata Respati berkaca-kaca. Hatinya tiba-tiba dicengkeram

sesal dan sedih yang luar biasa. Ia merasa menjadi manusia

paling berdosa di muka bumi. Sekali lagi, ia menatap

perempuan muda yang masih duduk di atas tanah itu.

Lalu, perlahan-lahan tangan kirinya bergabung dengan

tangan kanannya, menggenggam gagang keris dan

diacungkan ke arah dadanya sendiri.

Otaknya terasa kosong. Cuma ada rasa sesal yang

menggunung. Rasa bersalah yang tak termaafkan. Tangan

Respati bergetar hebat.

Tanpa ragu, ia lalu menghunjamkan keris berbilah panjang

itu ke dadanya. Namun, pada saat yang sangat kritis itu,

punggungnya disentak oleh pukulan seseorang dari belakang,

yang membuat tubuh Respati terdorong ke depan. Keris

pusaka itu jatuh ke tanah.

Respati terhenyak. Meskipun tak sampai jatuh, dia sempat

sempoyongan akibat pukulan dari belakang itu. Dia lalu

membalikkan tubuhnya, penasaran dengan orang yang

medorongnya.

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Orang tua sinting itu! Lelaki kumal yang ditemui Respati di

perbatasan Canggu berdiri dengan dagu terangkat dan tangan

bersedekap. Seolah tak peduli dengan keterperangahan

Respati.

“Kisanak, kenapa Anda menyerang saya?”

“Lihat dirimu, keledai bodoh!”

Respati bertambah heran. Lelaki itu tak lagi tertawa seperti

ketika keduanya bertemu pertama kali. Sekarang dia malah

mengatai Respati sebagai keledai bodoh tanpa beban sama

sekali.

“Maksud Kisanak?”

“Tanya saja pada pemuda dungu itu.”

Respati menoleh ke arah pemuda bertampang lugu yang

berdiri tak jauh darinya. Dia pemuda pengembara yang tadi

nyaris dibunuh oleh komplotan berjubah putih kalau saja

Respati tak datang.

Yah, di mana komplotan jubah putih berdarah dingin itu?

Ke mana puia perempuan yang menuding Respati sebagai

pembunuh? Respati semakin bingung. Dia menatap pemuda

di depannya dengan tatapan tak mengerti.

“Kisanak hampir bunuh diri jika kakek itu tak menepuk

punggung Kisanak.”

Respati tambah melongo. Dia menggelengkan kepala tak

percaya. Bunuh diri? Atas dasar apa? Bahkan, tindakan itu

sama sekali tak pernah terlintas dalam pikiran Respati.

“Namanya Ilmu Jala Sukma. Siapa pun yang menguasai

ilmu itu bisa menguasai pikiran orang lain.”

Respati menoleh lagi pada lelaki tua itu. Dia masih tak

bersuara.

“Kau ini bagaimana? Namamu terkenal di mana-mana, tapi

menghadapi ilmu picisan seperti itu saja tak becus.”

“Saya ….”

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Percuma kau mewarisi Ilmu Hanacaraka. Melawan ilmu

cetek mereka, kau tak bisa apa-apa.”

Respati bengong tanpa kata-kata. Dia mulai bisa

memahami mengapa ia merasa ada yang terputus dalam

pikirannya. Seingatnya, dia telah mengalahkan enam penjahat

berjubah putih itu. Tapi tiba-tiba saja, dia seperti terperangkap

dalam keadaan yang memusingkan.

Emosinya kacau-balau dan tak berpijak pada pikiran yang

jernih.

“Saya Sad Respati memang bodoh. Mohon petunjuk dari

Kakek yang berilmu mumpuni.”

Respati mengatupkan kedua tapak tangannya.

Dia lalu menundukkan kepalanya khidmat.

“Aaah! Aku paling benci kelakuan seperti ini. Sudah-sudah!

Kau bangkitlah. Lalu bantu aku menguburkan mayat-mayat

ini.”

Respati tak banyak bicara. Ia menganggukkan kepala dan

mengikuti apa kata kakek tua aneh itu. Dibantu oleh Martaka,

pengembara berwajah lugu yang ia selamatkan, Respati mulai

membuat galian di lahan itu. Kakek tua aneh itu duduk timpuh

sambil berkomat-kamit di depan jasad-jasad mati para

pengembara malang itu.

Tidak ada kesan seenaknya di raut wajahnya. Benar-benar

khusyuk. Sangat menghormati jasad-jasad mati itu. Setelah

beberapa lubang besar selesai digali, mayat-mayat itu mulai

dimasukkan ke liang tanah. Beberapa lubang mesti diisi dua

sampai tiga mayat. Menjelang sore, barulah semua selesai.

Tanpa bicara apa-apa, lelaki tua itu sudah berjalan dengan

sesekali berjinjit meninggalkan tempat itu. Betul-betul orang

aneh. Respati menoleh ke arah Martaka. Seolah mendapat

kesepakatan, keduanya lalu bangkit dan menyusul lelaki tua

itu.

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Respati merasa otaknya semakin ruwet. Rasa penasaran

terhadap lelaki tua itu semakin menjadi. Dia dengan santainya

berjalan menuju tepi danau tempat Respati menambatkan

kudanya. Rupanya, dia tahu benar mana tempat paling

nyaman untuk beristirahat.

“Apa yang kau siapkan untuk menjamuku?”

Setelah ketiganya duduk di bawah pohon pinggir danau itu,

si kakek aneh mulai membuka percakapan. Sambil tersenyum,

Respati lalu membuka buntalan perbekalannya. Ia

mengeluarkan beberapa penganan, lalu disodorkan kepada

kakek misterius itu. Baru setelah itu, dia menawari Martaka.

Ketiganya menyantap makanan tanpa kata-kata. Kecuali

bunyi mulut kakek gila itu yang terdengar lumayan keras saat

mengunyah. Betul-betul seenaknya.

“Jadi pemimpin itu harus seperti surya (matahari),

memancarkan sinar terang sebagai sumber kehidupan.

Menumbuhkan daya hidup rakyatnya untuk membangun

negerinya.”

Kata-kata aneh itu lagi. Keluar di sela bunyi decak setiap

kakek gila itu mengunyah penganan dalam mulutnya.

Terdengar bijak. Hanya karena yang mengucapkannya adalah

lelaki tua kumal dan tak tampak berpendidikan, kalimat itu

seperti kata-kata tak berarti.

Toh Respati tetap mendengarkan dan tak bermaksud

mendebat. Dia memperhatikan gerak-gerik lelaki tua aneh itu

sambil sedikit-sedikit mencicipi penganan di tangannya.

Sementara Martaka tak begitu peduli terhadap dua orang

teman barunya itu. Pemuda lugu yang umurnya belum genap

dua puluh tahun itu bersemangat sekali mengisi perutnya yang

sudah keroncongan setelah seharian menguras tenaga

menguburkan mayat-mayat itu.

“Seorang pemimpin juga harus menjadi candra (rembulan).

Memancarkan sinar di tengah gelap malam. Dia harus mampu

memberi semangat kepada rakyatnya di tengah suasana suka

ataupun duka.”

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Lelaki aneh itu selesai menghabiskan penganan di

tangannya. Tanpa sungkan, dia meraih kendi milik Respati

dan menenggak isinya.

“Orang-orang merindukan pemimpin berjiwa kartika

(bintang), memancarkan sinar kemilauan, berada di tempat

tinggi hingga dapat dijadikan pedoman arah. Dia harus

menjadi teladan perbuatan yang baik.”

Dahi Respati berkerut. Ia semakin tak mengerti apa

maksud lelaki renta itu. Dia datang seperti orang gila, berharihari

mengikutinya, menyelamatkan nyawanya, dan kini

memberi wejangan panjang lebar, seolah-olah seorang guru

yang tengah memberikan nasihat kepada muridnya

Kakek aneh itu lalu menggeleng-gelengkan kepala.

Menatap permukaan danau dengan mata syahdu.

“Negeri ini kehilangan pemimpin berhati angkasa, luas tak

terbatas. Mampu menampung apa saja yang datang padanya.

Punya ketulusan batin dan kemampuan mengendalikan diri,

menampung pendapat rakyatnya.”

Respati tersenyum. Dia meraih kendi bekas kakek tua itu,

lalu menenggak air sisa di dalamnya.

“Yah, sejak lama rakyat mendambakan pemimpin berjiwa

maruta (angin). Ada di mana-mana tanpa membedakan

tempat. Selalu mengisi semua ruang yang kosong. Dekat

dengan rakyat, tanpa membedakan derajat dan martabatnya.”

Serta-merta kakek aneh itu menoleh ke arah Respati.

Memandanginya dengan saksama tanpa berkedip. Kata-kata

pemuda di hadapannya adalah lanjutan yang pas dari lima

kalimat yang ia katakan lebih dulu. Ia tampak seperti menahan

marah.

“Pemimpin juga harus bersemangat samudra (laut/air),

betapa pun luasnya, permukaannya selalu datar dan bersifat

sejuk menyegarkan. Bersifat kasih sayang terhadap

rakyatnya.”

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Respati menaruh kembali kendi wadah air yang tadi ia

tenggak isinya. Ia sempat menawarkan air segar itu kepada

Martaka yang menggelengkan kepala karena memang masih

sibuk mengunyah.

“Tapi, seorang pemimpin sejati juga harus memiliki sifat

dahana (api). Punya kemampuan membakar semua yang

bersentuhan dengannya. Berwibawa dan berani menegakkan

kebenaran secara tegas tanpa pandang bulu.”

Tatapan dua orang laki-laki beda generasi itu

bertumbukan. Sama-sama memicing. Kesan seenaknya yang

biasanya rata pada wajah lelaki renta itu, lenyap sama sekali.

Sebaliknya, dia menatap Respati seperti elang lapar.

“Tapi kau tak boleh lupa. Pemimpin sejati juga harus

berhati nurani bhumi (bumi/tanah). Kuat dan murah hati.

Selalu memberi hasil kepada yang merawatnya. Bermurah

dan tidak mengecewakan kepercayaan rakyatnya.”

Lelaki tua itu menyeringai sinis penuh kemenangan.

Sebab, dia memperoleh giliran mengucapkan kata terakhir dari

delapan sifat pemimpin sejati tanpa bisa dilanjutkan oleh

Respati. Sementara pemuda di depannya itu memutar otak

agar tak terjebak dalam kekalahan.

“Apakah kalian sedang membincangkan Hasta Brata?

Kakek tua dan Respati langsung memandang Martaka

dengan kesan wajah yang sulit ditebak maknanya. Mereka lalu

berpandangan. Diam sejenak. Sontak keduanya tertawa lepas

sangat keras. Sejadi-jadinya.

“Jangan pernah menilai orang dari penampilannya.”

Kalimat itu sempat juga keluar dari bibir kakek tua itu,

meskipun kemudian tenggelam oleh tawa yang menjadi-jadi.

Kedua matanya mengeluarkan air mata. Sementara tawa

Respati mulai melemah.

Dia kembali menguasai diri, lalu menatap Martaka

saksama. Salah satu alis pemuda tanggung itu terangkat.

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Kelihatan sekali dia masih seorang bocah yang menjelang

dewasa. Masih mentah.

“Dari mana kau belajar tentang Hasta Brata, Martaka?”

Rupanya, hal inilah yang membuat kakek aneh dan

Respati tepingkal-pingkal. Hasta Brata merupakan bagian dari

ajaran kepemimpinan yang hanya diketahui oleh kalangan

terbatas. Mengetahui bahwa kakek misterius itu tahu benar

tentang

Hasta Brata sudah cukup membuat Respati kaget.

Makanya, ia lantas menjajaki seberapa jauh lelaki tua itu

memahami hakikat Hasta Brata. Setelah saling bersahutan,

sadarlah Respati bahwa lelaki tua itu benar-benar bukan orang

sembarangan.

Selain tahu makna tersirat Ilmu Hanacaraka, mementahkan

Ilmu Jala Sukma, tahu benar siapa Respati, kini kakek itu

mengartikan dengan sangat tepat setiap kata dalam Hasta

Brata. Tapi, kesadaran baru itu langsung disentakkan oleh

kesadaran lain yang lebih segar. Kesadaran untuk tak

meremehkan orang lain. Kesadaran itu muncul ketika Martaka

dengan santainya menebak bahwa kedua orang di depannya

sedang saling sahut melafalkan inti Hasta Brata.

Bukankah itu sebuah keluarbiasaan? Ketika Respati dan

kakek itu berupaya menang satu sama lain, justru Martaka

yang menjadi pemenang. Dia seperti jurus pamungkas yang

hanya muncul satu kali, namun demikian menentukan. Kalimat

yang dikatakan pemuda tanggung itu merupakan simpul mati

yang meringkus keakuan Respati dan si Kakek yang saling tak

mau mengalah.

“Bocah, dari siapa kau tahu tentang Hasta Brata?”

Martaka tetap tak menjawab. Dia meraih kendi dan

menenggak sisa air di dalamnya. Ia sengaja membuat si kakek

aneh dan Respati menunggu.

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Apa hebatnya tahu rapalan Hasta Brata? Banyak orang

pintar yang hafal bertumpuk-tumpuk kitab, namun tak satu

kalimat pun yang digunakan untuk menolong orang lain.”

Martaka tak merasakan beban apa pun saat mengatakannya.

Dia tak peduli pada Respati dan kakek gila yang kini

terbengong-bengong menatapnya. Sontak meledaklah tawa

lelaki tua itu untuk kesekian kalinya. Sekeras sebelumnya.

“Kau benar. Otakmu ternyata tak sedungu wajahmu.”

Lelaki renta itu terus tertawa. Sementara Respati

menggelengkan kepalanya. Setelah tawa itu reda dan si lelaki

tua itu tak punya lagi alasan untuk tertawa, Respati mencoba

berbicara sungguh-sungguh.

“Kakek, bahkan kami belum mengetahui nama Kakek.

Rasanya tidak sopan bagi kami yang lebih muda berbicara

tanpa menyebut nama Kakek.”

“Buat apa kau pusing memikirkan namaku? Pikirkan saja

nama besarmu yang cuma omong kosong itu.”

Wajah Respati memerah.

“Kakek sungguh-sungguh mengenal saya?”

“Siapa tak kenal nama Sad Respati, Rakryan Rangga

Majapahit yang ternyata tak sehebat namanya?”

Respati merasa malu sendiri. Sementara Martaka

mengangkat alisnya hingga bertaut.

“Jadi, Kakang adalah rakryan rangga Majapahit?”

“Bekas. Sekarang tidak lagi.” Respati merasa terjebak dan

merasa kehabisan kalimat untuk berdebat. Dia melepaskan

pandangan ke air danau yang tenang memantulkan cahaya

sore.

“Orang di seluruh negeri membicarakanmu, Respati.”

Respati kembali menoleh ke arah lelaki tua itu.

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Orang-orang heran kenapa kau tinggalkan segala

kemasyhuranmu dan memilih menjadi gelandangan tak jelas

seperti sekarang.”

Respati tersenyum. Akhirnya, dia bisa mendengarkan katakata

si kakek tua itu dalam kalimat yang tak main-main.

“Banyak alasan. Tapi yang paling utama, aku sudah sangat

capek melawan hati nuraniku sendiri.”

“Bukankah enak menjadi seorang rakryan rangga,

Kakang?”

Respati berganti menatap Martaka. Kepalanya

menggeleng.

“Bagaimana kau tahu, Martaka?”

“Nama terkenal, harta berlimpah, perempuan-perempuan

cantik. Apa lagi yang dicari?”

“Aku menikmati jabatan itu sebagai salah satu warna

dalam hidupku. Sekarang, aku merasa harus bergerak

menyambut warna lain dalam perjalanan umurku.”

“Tampaknya kau sama sekali tak tertarik

membicarakannya, Respati?”

Respati tersenyum dan menatap kakek tua di hadapannya.

“Kenapa tidak kita bicarakan tentang kelompok perampok

berjubah putih yang hampir saja membunuh Martaka, Kakek?”

“Cih! Mereka cuma bramacorah kelas rendah. Buat apa

pusing memikirkannya.”

“Aku sependapat denganmu, Kek. Tenaga dalam mereka

biasa saja. Bahkan, aku bisa mengalahkan mereka semua

dalam satu gebrak. Tapi, ilmu aneh yang digunakan salah satu

anggota kelompok itu sungguh hebat.”

“Apanya yang hebat? Itu cuma ilmu tipu muslihat untuk

membohongi lawan.”

“Bagaimana melawannya, Kek?”

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Kau ini bagaimana, Respati? Seingatku, gurumu tak

sebodoh ini.”

“Kakek mengenal guruku?”

Respati tersentak. Matanya melebar setengah tak percaya.

Senyumnya mengembang penuh harap. Sudah belasan tahun

dia tak bertemu dengan gurunya.

“Sudarpa itu orang gila. Lebih sinting dibandingkan aku.

Tapi dia tak terlalu bodoh. Tidak seperti-mu.”

Respati tak peduli dengan caci maki lelaki tua itu. Dia terus

menatapnya dengan penuh harap.

“Kakek salah seorang temannya?”

“Kata siapa gurumu itu punya teman? Dia itu orang yang

sangat bangga dengan dirinya. Tak merasa perlu teman.”

Senyum Respati semakin mengembang. Dia yakin kakek

aneh itu tak sedang berbohong. Sebab, sosok gurunya

memang sama persis dengan gambaran yang dikatakan kakek

renta itu. Ki Sudarpa, gurunya, adalah pendekar pilih tanding

yang memiliki sifat sedikit angkuh meskipun hatinya baik.

“Kapan Kakek bertemu dengannya? Di mana dia

sekarang?”

“Kau ini seperti bocah saja. Siapa peduli di mana gurumu

sekarang. Aku hanya ingin mengatakan, dia tak sebodoh

dirimu. Karena dengan pemahaman Hanacaraka yang ia

miliki, ilmu picisan seperti Jala Sukma itu tak akan bisa

berbuat apa-apa.”

Respati menghentikan rengekannya. Dia mendengarkan

kata-kata kakek aneh itu dengan sungguh-sungguh.

“Apa yang kau pahami dari huruf ca, Respati?”

“Cipta wening, cipta manduiu, cipta dadi. Satu arah dan

tujuan kepada Gusti pencipta alam raya.”

“Lalu, kenapa kau masih bingung ke mana kau harus

menyandarkan jiwa ragamu?”

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Respati terdiam.

“Melawan ilmu pengacau pikiran sejenis Jala Sukma hanya

perlu meyakinkan hati terhadap kekuasaan Gusti. Jika kau

yakin kekuatan Gusti mengalahkan segala-galanya, tipu

muslihat itu tak akan bisa membuat otakmu rancu.”

Respati makin diam. Dia merasa menjadi murid bodoh

yang tengah mendengarkan wejangan gurunya. Nyatanya dia

merasa masih mentah memahami hakikat jurus Hanacaraka

warisan gurunya.

“Aku jadi tak paham bagaimana Sudarpa melatihmu.”

Kakek bermulut pisau itu membuang muka. Seperti

seorang guru yang sebal karena muridnya tak kunjung paham

dengan pelajaran yang ia berikan.

“Sayalah yang bodoh.”

“Kau memang bodoh. Bahkan, kalah oleh perempuan belia

yang baru sehari belajar hakikat Hanacaraka.”

Kening Respati berkerut hebat. Sementara kakek aneh itu

menutup rapat mulutnya, seperti bocah yang menyesal karena

keceplosan mengatakan sebuah rahasia.

“Perempuan muda siapa?”

“Ah, bicara apa kau ini. Setiap kata-kataku kau anggap

sungguh-sungguh. Aku hanya ingin kau tahu bahwa kau

kurang bertekad belajar Ilmu Hanacaraka.”

Respati melepas napas panjang. Menekan rasa harga

dirinya agar tak terbawa amarah karena merasa direndahkan.

“Respati mohon petunjuk kepada Kakek.”

Tak ada kalimat yang menyahut. Lelaki tua itu malah

celingukan, seperti tak peduli terhadap Respati. Sedangkan

Martaka menyenderkan punggungnya di batang pohon tanpa

bermaksud menyela perdebatan dua orang hebat di depannya.

“Ah, kau tidak bodoh. Siapa bilang kau bodoh. Dulu kau

pun sangat hebat. Hanya kau terlalu sibuk dengan

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

pekerjaanmu. Sekarang, kau sebebas burung. Kau punya

banyak waktu untuk memaknai Hanacaraka.”

Respati melongo. Kepalanya menggeleng. Orang tua ini

benar-benar bebal, kadang menyebalkan. Bicara seenak perut

sendiri. Meskipun begitu, Respati tetap bersikap hormat

karena yakin orang tua itu bukan orang sembarangan.

Hari mulai gelap. Ketiganya mulai sibuk membuat api

unggun untuk menghangatkan badan. Hingga larut malam,

perbincangan tentang keadaan negara yang carut-marut

mengalir deras. Ketiganya semakin akrab meskipun tetap saja

sifat-sifat dasar yang saling bertentangan sesekali membuat

letupan-letupan. Si kakek setengah gila yang gemar mencaci,

Martaka yang cuek tapi cerdas tak seperti wajahnya yang lugu,

dan Respati yang kalem dan sedikit menjaga wibawa, menjadi

pertemuan yang sungguh unik.

Berbeda satu sama lain dan tak saling mencampur. Seperti

air dan minyak. Membentuk garis batas yang tak saling

membaur. Hampir fajar ketika ketiganya tertidur sambil

bersedekap. Mata terpejam, tapi indra waspada. Hari benarbenar

terang ketika Respati menggoyang tubuh Martaka.

Membangunkannya dengan paksa. Keduanya lalu celingukan,

mencari-cari. Si kakek aneh itu sudah tak terlihat. Pergi tanpa

pamit. Respati terlalu lelap hingga tak sadar orang tua itu

meninggalkan tempat itu ketika hari hampir terang.

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

16. Perguruan Kesawa

Kuda yang dinaiki Respati dan Martaka berketipak pelan

ketika masuk Kota Tuban. Dari Gresik, keduanya sepakat

untuk melanjutkan perjalanan ke kota pelabuhan itu bersamasama.

Setelah memastikan bahwa kakek aneh itu tak bakal

kembali, keduanya lalu berboncengan dengan satu kuda

melaju ke Tuban.

Hari menjelang siang ketika mereka sampai di gerbang

Kota Tuban. Mereka lalu turun dari kuda dan menuntunnya

perlahan menyusuri jalan kota yang padat. Kota pelabuhan ini

semakin ramai saja. Respati mengunjunginya dua tahun lalu.

Kelihatan sekali ada banyak kemajuan yang dicapai oleh para

penduduk.

Bangunan-bangunan baru rata di kanan-kiri jalan. Semakin

banyak orang asing yang berlalu-lalang atau berdagang.

Wajah-wajah mereka menunjukkan asal usul beragam. Ada

orang-orang berkulit putih dan bermata biru, tidak sedikit juga

perantau Tiongkok bermata sipit dengan kulit kuning langsat.

Selain itu, perantau asal Gujarat yang berkulit cokelat juga

mulai terlihat banyak.

Mereka berjualan aneka barang yang selalu dikerumuni

oleh para pembeli yang kebanyakan warga pribumi. Berbagai

perhiasan dan kain-kain indah mereka bawa dari negeri jauh.

Barang-barang itu begitu diminati. Terbukti semakin siang,

justru banyak orang-orang yang mengerumuni para penjual itu

dan mulai menawar harga barang.

“Aku minta angin berembus kuat, biar ayahku bisa mencari

ikan sampai ke tengah laut dan memperoleh hasil tangkapan

yang banyak.”

Seorang gadis belia berdiri anggun di depan seorang lelaki

yang duduk bersila dengan tumpukan daun lontar di

depannya. Nada suaranya tegas namun terkesan badung.

Umurnya sekitar delapan belas tahun. Kulitnya cokelat,

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

kelihatan bersih. Dia mengenakan pakaian sebagaimana

perempuan pribumi berdandan. Hanya di bahunya tergantung

kain lebar yang terjuntai. Warnanya merah mencolok. Seperti

milik gadis-gadis Gujarat. Rambutnya ikal terurai kemerahan.

Kelihatan sangat terawat. Warna merah pada rambutnya tak

kering, seperti ketika rambut biasa terpanggang sinar

matahari. Rambut indah itu sepertinya sengaja diwarnai

dengan cairan khusus hingga kemilau indah.

Wajahnya bulat telur berkulit cokelat halus. Matanya bulat

lebar dengan bulu mata lentik. Hidungnya mungil mancung.

Selain gadis itu, beberapa orang ikut berdiri mengerubung

lelaki setengah tua yang bertingkah layaknya dukun itu.

“Nini jangan khawatir. Dengan mantra-mantra saya, Dewa

akan mendengarkan setiap permintaan Nini.”

Si gadis menaruh uang kepengan di depan lelaki yang

bersila itu. Dia seorang lelaki pribumi dengan kepala diikat

kain berwarna hitam. Mulutnya komat-kamit.

“Tunggu. Pamanku satu lagi adalah seorang petani. Kalau

angin bertiup terlalu kencang, bisa-bisa padi yang ditanamnya

akan hancur semua!”

Gadis itu terlihat bersungguh-sungguh saat mengucapkan

kalimat yang memotong mantra dukun itu. Dia betul-betul

seperti sedang mengkhawatirkan seseorang. Sementara si

dukun tampak setengah kesal.

“Nini jangan khawatir, dengan mantra-mantra saya, paman

Nini yang petani itu akan selamat dari musibah angin besar.”

Gadis belia itu tersenyum tertahan. Ia lalu mengangkat

dagunya.

“Hebat sekali mantra Bapak ini. Di satu tempat angin bisa

mempunyai dua sifat. Setengah besar, setengah kecil.”

Gadis itu seperti sedang berbicara dengan dirinya sendiri.

Kesan mukanya seperti tengah berpikir keras untuk

memahami kalimat itu. Sementara orang-orang yang ikut

mengerumuni dukun itu juga ikut berpikir.

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Wah, kau dukun palsu. Kau cuma ingin cari keuntungan!”

Orang-orang mulai berteriak-teriak. Satu-dua mulai

meninggalkan tempat itu dengan gerutu. Sebagian lagi

menyusul kemudian.

“Tunggu, Tuan-tuan. Saya bukan pembual. Mantra-mantra

saya benar-benar bisa jadi perantara Dewa.”

Tak ada yang mendengarkan. Mereka sudah bubar.

Tinggal gadis berambut ombak itu yang masih berdiri di depan

dukun itu. Si gadis lalu membungkukkan badannya, memungut

lagi uang kepeng yang tadi ia berikan kepada dukun itu.

“Hei, apa yang kau lakukan, Bocah gemblung (gila/edan)?”

Si gadis pura-pura tak paham. Dia tetap memungut uang

kepeng itu, lalu hendak membalikkan tubuhnya dan berlalu.

Sementara laki-laki dukun itu bangkit dan meraih bahunya.

“Kau kira bisa seenaknya mempermainkan aku, heh?!”

“Kau hendak berbuat kasar pada perempuan?”

Tangan si dukun semakin kuat mencengkeram bahu gadis

itu. Bahkan ketika si gadis mengancam hendak berteriak,

lelaki dukun itu bergeming.

“Aku akan memberimu pelajaran dulu, baru kau bisa pergi.”

Gadis itu mulai meronta, tapi tak berhasil melepaskan

cengkeraman tangan lelaki dukun itu. Malah kemudian lengan

dukun itu melingkar di lehernya. Tentu saja si gadis mulai

panik. Lehernya yang ramping tergencet oleh lengan si dukun

yang cukup berotot. Ia terus meronta. Kedua tangannya

bergerak sekenanya. Tapi tetap saja tak mengubah apa pun.

“Kau akan menyesal!”

Itu saja kalimat yang keluar dari bibir gadis belia itu. Sebab,

ia lantas sibuk menggerakkan tangan dan kakinya berusaha

melepaskan diri. Sementara lengan yang melingkar di

lehernya semakin erat mencekik. Orang-orang yang telanjur

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

berlalu dari tempat itu tak seorang pun berminat menolehkan

kepalanya.

Sementara yang lain cuma celingukan. Ragu-ragu, antara

hendak menolong atau menyingkir jauh-jauh karena tak ingin

ikut repot sebab lelaki dukun itu mulai memperlihatkan wajah

aslinya. Tampangnya berubah garang dan mengancam. Pisau

besar yang menggelantung di bahunya sewaktu-waktu siap

dicabut dan dihunjamkan.

Gadis belia itu pun sudah kehabisan akal. Dia hampir putus

asa karena merasa napasnya semakin sesak. Namun

kemudian, tiba-tiba desakan di lehernya mengendur. Cepat

sekali mengendur. Tubuh lelaki dukun yang memeluknya dari

belakang pun secepat kilat melorot dan ambruk ke tanah

begitu saja. Dia lantas tak bergerak sama sekali. Cuma

matanya yang masih melirik ke sana kemari.

Si gadis menoleh ke kanan dan ke kiri karena yakin ada

orang lain yang telah menolongnya. Dukun gila yang

menyerangnya tadi jelas terkena totokan yang ampuh. Sebab,

dia sama sekali tak mendengar suara apa pun sebelum dukun

sableng itu ambruk ke tanah.

“Berbuat baik tak akan pernah berujung penyesalan.

Laksmi berterima kasih atas pertolongan Kakang berdua.”

Dari arah kanan gadis itu, Respati dan Martaka berjalan

pelan menghampirinya. Respati tegap melangkah sambil

memegangi tali kekang kudanya. Sementara Martaka berjalan

di samping kuda dengan langkah patah-patah.

“Hmmm, jadi gadis pemberani dan cerdas ini bernama

Laksmi?”

Gadis itu tersenyum sambil mengangguk.

“Ah, tak enak rasanya berutang budi. Katakan saja apa

yang bisa Laksmi berikan kepada Kakang berdua sebagai

balas budi.”

Respati tersenyum lebar. Dia terdiam sesaat. Matanya

mendapati kebingungan di wajah Laksmi, gadis belia itu.

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Respati menggelengkan kepala tanpa alasan. Sosok Laksmi

mengingatkannya kepada seseorang, sebuah nama.

“Mengapa berpikir tentang balas budi? Bukankah manusia

ada untuk saling membutuhkan?”

Gadis itu menautkan kedua alisnya seperti sedang berpikir

keras. Tangannya bergerak luwes membetulkan letak

sebagian rambutnya yang dikibarkan angin hingga

mengganggu pandangannya.

“Ah, mana boleh begitu. Baiklah, aku akan mengisahkan

suatu cerita lucu kepada Kakang berdua. Kalau kalian tertawa,

berarti utangku lunas. Bagaimana?”

Respati terpana, sedangkan Martaka tak bereaksi.

Keduanya sama-sama dibuat takjub oleh perilaku gadis belia

itu yang lain daripada yang lain.

Respati dan Martaka saling pandang dan tersenyum lebar.

Keduanya lalu mengangguk tanpa beban. Sementara

Respati semakin tertarik dengan kepribadian Laksmi yang

dianggapnya tak lazim bagi seseorang yang baru saja saling

kenal.

Laksmi mulai berjalan bolak-balik. Setiap kakinya membuat

tiga-empat langkah. Dua tangannya sibuk mengelus sebagian

rambutnya yang ada di depan bahu.

“Seorang buta berjalan membawa gentong di atas

pundaknya sambil menenteng obor. Ia berjalan menuju sungai

untuk mengambil air. Seseorang yang melihatnya

menghampiri sambil terheran-heran. Dia berkata, ‘Wahai

orang buta, malam hari dan siang hari sama saja bagimu.

Apakah guna obor itu?” Orang buta itu menjawab, ‘Hai orang

yang suka mencampuri urusan orang lain, lampu ini

kuperuntukkan bagi orang-orang yang buta hati agar ia tidak

terpeleset atau menabrakku hingga aku terjatuh dan

gentongku pecah.'”

Laksmi berhenti bergerak. Menolehkan kepalanya

menunggu reaksi dua pemuda di depannya. Tak ada suara.

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Tapi beberapa saat kemudian, senyum Respati mengembang.

Semakin lebar, hingga gigi-giginya yang putih dan rapi terlihat

begitu jelas. Martaka yang tadinya membisu, sontak terbahak.

Keras sekali hingga beberapa lama. Matanya berkaca-kaca,

sedangkan kedua tangannya memegangi perut.

“Sungguh lelucon yang sarat makna. Nini pandai sekali

bercerita.”

Gadis itu tersenyum puas menyambut sanjungan Respati.

“Baiklah. Utangku sudah lunas. Terima kasih karena

Kakang berdua sudah bermurah hati. Semoga takdir

mempertemukan kita dalam kebaikan.”

Setelah mengatakan itu, Laksmi membalikkan badannya

dan hendak pergi begitu saja.

“Nini Laksmi, boleh saya bertanya sesuatu?”

Langkah kaki Laksmi terhenti ketika mendengar suara

Respati memanggilnya. Ia membalikkan tubuhnya lagi

menghadap ke arah Respati dan Martaka. Matanya yang

sudah besar itu semakin membulat.

“Apa yang bisa aku bantu, Kakang?”

“Melihat perawakan Nini, saya mengira Nini berasal dari

Gujarat.”

Laksmi tak menjawab. Dia hanya mengangkat dagu dan

menunggu kalimat Respati selanjutnya. Sebab dia tahu, lelaki

muda itu bukan tak punya maksud ketika menyebut tenang

asal-usulnya.

“Saya datang ke Tuban karena mencari seorang arif

bernama Ki Kesawa. Dia berasal dari Gujarat. Apakah Nini

mengetahui di mana tempat tinggalnya?”

Laksmi melebarkan senyumnya. Lalu diam sejenak seperti

sedang berpikir.

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Ki Kesawa tinggal di ujung timur Kota Tuban. Kakang tak

akan kesulitan mencarinya. Setiap orang di timur kota tahu

tempat kediamannya.”

Respati mengangguk sambil mengucapkan terima kasih.

Sementara Laksmi tak lagi menunggu kalimat lanjutan dari

Respati. Setelah berpamitan, ia langsung balik kanan dan

berjalan cepat ke arah barat. Sosoknya segera hilang ditelan

kerumunan orang yang berlalu-lalang.

Respati tertegun. Dia masih kagum dengan kepribadian

gadis itu. Selain penampilannya yang menyedapkan mata,

kekayaan hatinya sungguh melimpah ruah. Caranya bicara

membuat orang kerasan berlama-lama ada di dekatnya. Tapi

di balik sikapnya yang cepat akrab, dia juga sangat menjaga

diri.

Sosoknya semakin menyenangkan karena pandai sekali

menyisipkan pesan tatanan sikap mulia dalam sebuah lelucon

yang menggelikan.

“Kakang!”

Respati menoleh ke arah Martaka. Dia baru sadar bahwa

banyak orang berdiri termangu menyaksikan mereka. Orangorang

itu berdiri sejak tadi ketika dia melumpuhkan dukun gila

yang nyaris melukai Laksmi.

Mereka berbisik-bisik, di antaranya tak sedikit yang

berdecak kagum. Sadar akan hal itu, Respati lalu menghampiri

dukun sableng yang masih menggeletak tak berdaya itu, lalu

membebaskan toto-kannya.

“Ampun, Kisanak. Saya tak akan mengulangi perbuatan

gila ini!”

Dukun itu buru-buru membungkuk sambil mengiba-iba.

Jika Respati tak segera menghindar, sudah pasti dia telah

mencium ujung kaki Respati. Namun, karena sifat bekas

rakryan rangga Majapahit itu memang tak gila hormat, dia

menepisnya.

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Jika sekali lagi aku mendapatimu melakukan hal yang

sama, aku tak akan mengampunimu. Enyahlah!”

Tanpa berkata-kata lagi, lelaki dukun itu langsung

beringsut dan lari terbirit-birit meninggalkan tempat tersebut.

Sementara Respati dan Martaka lantas melanjutkan

perjalanannya ke arah timur, mencari kediaman Kesawa, lelaki

asal Gujarat yang oleh Respati dinilai memiliki kearifan yang

mumpuni.

0o0

“Bagus sekali peruntungan saya hari ini, Tuan Respati.

Seorang rakryan rangga Majapahit berkunjung ke rumah saya

yang sederhana.”

“Ki Kesawa terlalu merendah. Lagi pula, saya bukan lagi

seorang rakryan ranggan. Sekarang saya hanyalah seorang

pengembara.”

Ki Kesawa terdiam, menyimak kata-kata Respati. Lelaki

asal Gujarat ini memang begitu santun. Siapa pun yang bicara

dengannya pasti akan merasa nyaman. Tutur katanya lembut

dan pembawaannya demikian tenang. Setiap orang lain

berbicara selalu didengarkan dengan baik-baik dan tak pernah

ia sela.

Lelaki berumur empat puluh tahunan itu selalu terlihat

sumringah dengan senyum mengembang. Air mukanya jernih,

wajahnya tampak bersih. Setiap kata yang ia keluarkan terasa

sangat mengena. Dia seperti telah berpikir masak-masak,

apakah kalimat yang keluar dari bibirnya akan berpengaruh

kepada orang yang diajak bicara.

Kesawa seorang guru. Kediamannya adalah tempat tinggal

yang berbentuk seperti padepokan. Setiap hari siswa-siswa

datang untuk belajar. Berbagai kelas digelar. Ilmu hitung, baca

tulis, obat-obatan, hingga agama semua diajarkan pada kelaskelas

khusus.

Pengajarnya adalah murid-murid utama Kesawa. Tidak

mengherankan, sebagai seorang guru, Kesawa memiliki

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

pengetahuan yang sangat luas dan kedalaman pribadi yang

terlihat nyata. Begitu sampai di kediaman Kesawa, Respati

dan Martaka disambut hangat.

Bak tamu istimewa, mereka pun dilayani dengan baik.

Setelah beramah-tamah dan mengisi perut, Respati dan

Martaka dipersilakan beristirahat. Begitu lelah lepas dari

tubuh, setelah semalaman menikmati mimpi, pagi ini Respati

dan Martaka ada di ruang tamu, berbincang dengan Kesawa.

“Setelah mengundurkan diri dari jabatan rakryan rangga,

saya berkeinginan menuntut ilmu di sini, Ki!”

Kesawa mengangguk-angguk. Masih menunggu kalimat

Respati selanjutnya.

“Teman saya ini kebetulan juga punya keinginan yang

sama. Karena itu, saya mengajaknya kemari.”

Kesawa tersenyum arif. Jubah putih dilengkapi serban

yang mengikat kepalanya tambah mengentalkan karisma dari

dalam dirinya. Setelah yakin Respati telah menyelesaikan

kalimatnya, barulah Kesawa bicara.

“Semua wadah di dunia ini memang akan selalu penuh,

kecuali wadah ilmu. Saya senang sekali mendengar bahwa

Tuan berdua begitu ingin menambah ilmu. Kalau boleh tahu,

ilmu apa yang membuat Tuan begitu tertarik?”

Suara Kesawa sungguh membuat adem. Datar, meresap

ke hati, dan seperti memiliki senyum. Respati semakin yakin

dia tidak mendatangi orang yang salah.

“Saya ingin belajar hakikat hidup, Ki. Selama ini saya

seperti kehilangan pegangan. Menjalani waktu tanpa tujuan

pasti. Mengalir seperti air.”

Kesawa menganggukkan kepala. Ia menoleh ke arah

Martaka. Pemuda tanggung itu tersenyum. Wajahnya yang

polos lugu, memerah seperti orang tertangkap basah.

“Ss … saya ikut saja dengan Kakang Respati.”

Senyum Kesawa melebar.

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Di tempat kami memang ada kelas agama. Kami

mengenalkan agama Islam kepada orang-orang yang

berminat mempelajarinya. Tapi saya kira, karena Tuan berdua

bukan penganut Islam, tak bijak kalau saya menganjurkan

Tuan berdua untuk mengikuti kelas tersebut.”

Respati mendengarkan setiap kata yang diucapkan

Kesawa dengan saksama. Seperti menikmati alunan musik

yang menggetarkan kalbu.

“Mungkin lebih tepat kalau saya sendiri yang akan

menemani Tuan berdua untuk membicarakan apa saja. Tak

perlu memakai aturan. Seperti sahabat yang tengah

berbincang.”

Respati semakin takjub dengan lelaki di hadapannya.

Seperti padi, semakin berisi semakin merunduk.

“Saya tidak berkeberatan, Ki.”

Respati menoleh ke arah Martaka. Pemuda tanggung itu

mengangguk sepakat.

“Saya juga tak berkeberatan.”

Kesawa menatap Martaka dengan sungguh-sungguh. Ia

tersenyum tulus.

“Orang yang sempurna akalnya memang sedikit

bicaranya.”

Martaka pura-pura tak paham dengan kata-kata Kesawa.

Kepalanya malah tertunduk malu.

“Baiklah. Sekarang kita jalan-jalan. Tuan berdua akan saya

antar untuk berkeliling di padepokan ini. Melihat kesibukan

para murid yang tengah rajin menimba ilmu.”

“Ki Kesawa, bisakah kita mulai hari-hari penuh ilmu ini

dengan menyingkirkan hal-hal yang membuat sungkan? Saya

kira, tak perlu lagi Ki Kesawa memanggil kami dengan sebutan

tuan.”

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Kesawa tersenyum. Ia lalu bangkit diikuti Respati dan

Martaka.

“Baiklah. Begitu lebih nyaman.”

“Dan kami harus memanggil guru!”

Ki Kesawa mengerutkan dahinya. Seperti ragu-ragu.

“Kami mohon Guru tak menolak.” Akhirnya, lelaki arif itu

tersenyum dan mengangguk.

“Untuk satu urusan, saya guru kalian. Untuk urusan lain,

barangkali kalianlah guru saya.”

Ketiganya tersenyum tulus dan saling memberi hormat.

Kemudian mereka keluar dari ruang tamu, berjalan di lorong

panjang di bagian tengah bangunan. Beberapa saat

kemudian, kesibukan di perguruan itu terlihat jelas. Para

pemuda asyik duduk melingkar beralaskan rumput taman. Ada

juga yang melakukan hal sama di ruangan-ruangan.

Mereka mengelilingi seorang guru yang tengah

menerangkan berbagai hal. Taman yang cukup luas di tengah

bangunan disulap menjadi ruang kelas raksasa. Ada belasan

kelompok belajar yang tengah tekun mendengarkan

penjelasan guru-guru mereka.

Respati memandang takjub. Ini pertama kalinya melihat

kesibukan orang-orang yang begitu giat menimba ilmu,

mengisi tempurung otak dengan pengetahuan. Tak ada

kekerasan, tak ada ambisi. Semua saling memberi dan

menerima dengan kecintaan yang nyata.

Rombongan kecil itu lalu melangkah ke bangunan besar

yang ada di bagian tengah kompleks kediaman Kesawa.

Seperti joglo yang ditutup rapat oleh dinding kayu. Setelah

melewati pintu, ketiganya masuk ke dalam bangunan dan

menyaksikan sekelompok bocah tengah belajar membaca.

Pandangan Respati langsung menancap pada sosok

perempuan muda yang giat bergerak dari satu bocah ke bocah

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

lain. Suaranya lantang membetulkan bacaan para bocah

bersuara cadel itu.

“Itu Laksmi, anak tunggal saya.”

Respati dan Martaka melongo. Kebetulan yang luar biasa.

Gadis cerdas bermata besar, berambut ikal panjang

kemerahan itu ternyata putri Ki Kesawa, lelaki arif yang kini

menjadi guru mereka.

“Kami pernah bertemu dengan putri Guru.”

Kesawa menoleh ke arah Respati.

“Bocah itu semakin badung saja. Dia pasti tengah sibuk

mencampuri urusan orang lain ketika bertemu kalian.”

“Buah jatuh tak akan jauh dari pohonnya. Laksmi sungguh

mewarisi kearifan dan kecerdasan Guru.”

Kesawa tersenyum. Dia manggut-manggut sambil

mengalihkan pandangannya ke arah Laksmi. Sadar sedang

diperhatikan, gadis ceria itu lalu menghentikan kegiatannya.

Lantas ia berjalan berjingkat menghampiri ayahnya dan dua

orang tamu yang sebelumnya sudah sempat ia kenal.

“Rupanya, dua orang berbudi ini sedang bertamu di

perguruan kami.”

“Nini tak pernah memberi tahu bahwa Ki Kesawa adalah

ayah Nini.”

“Kakang berdua pernah menanyakannya kepadaku?”

Respati tak berkutik. Dia merasa serbasalah. Pemuda ini

benar-benar telah menghapus segala kegagahannya sebagai

seorang rakryan rangga yang pantang tunduk terhadap orang

lain. Dia malah kebingungan harus berkata apa.

“Maafkan kami karena tak awas sehingga bersikap kurang

sopan terhadap putri Guru Kesawa.”

Kalimat Martaka melumerkan suasana yang beku. Pemuda

itu mengatupkan tangan, memberi hormat.

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Kali ini, giliran Laksmi yang salah tingkah. Tentu saja

penghormatan Martaka terlalu berlebihan. Ia sampai merasa

tak enak hati terhadap ayahnya sendiri. Sementara Kesawa

tersenyum memandang Martaka.

“Lidah orang berakal ada di belakang hatinya. Hati orang

dungu ada di belakang lidahnya.”

Martaka menundukkan kepalanya tersipu. Laksmi merasa

salah dengan semua gerak tubuhnya, sementara Respati

masih menduga-duga maksud kata-kata gurunya.

“Kalian akan segera menjadi saudara seperguruan. Pasti

nanti akan lebih banyak perdebatan yang menyenangkan.”

Kesawa tersenyum lagi, lalu menghampiri kerumunan

bocah yang tengah belajar itu. Seperti Laksmi, dia pun lalu

sibuk memeriksa bacaan bocah-bocah itu satu per satu.

Wajahnya kian berseri, berubah-ubah mengikuti keceriaan

bocah-bocah itu.

“Kakang berdua ingin belajar di perguruan ini?”

“Sudah. Kami sudah memulainya.”

Respati mengamati perubahan kesan di wajah Laksmi.

Gadis itu menepukan kedua telapak tangannya, mewakili rasa

sukacitanya.

“Bagus. Bagus sekali. Perguruan ini akan semakin ramai

saja. Baiklah. Aku punya hadiah selamat datang untuk kalian

berdua.”

Respati dan Martaka tertegun.

“Hadiah apa?”

Laksmi tersenyum lalu mengangkat dagu. “Sebuah cerita

lucu.”

“Lagi?”

“Kalian tidak suka?”

“Ah … tentu saja kami suka. Kami sangat suka.”

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Respati buru-buru memperbaiki kalimatnya ketika melihat

Laksmi yang mulai cemberut. Kini, rona gembira kembali

tampak pada wajah gadis itu.

“Seorang badui berwajah buruk kawin dengan seorang

wanita berparas cantik. Pada suatu hari, si istri berkata, ‘Aku

berharap engkau dan aku akan masuk nirwana.’ Suaminya lalu

bertanya, ‘Bagaimana engkau dapat menetapkan hal itu?’ Si

istri lalu menjawab, ‘Sebab, engkau diberi istri seperti aku, lalu

engkau bersyukur, sedangkan aku diberi suami seperti

engkau, lalu aku bersabar. Orang yang bersabar dan

bersyukur pasti masuk nirwana.'”

Cerita itu seperti belum selesai di telinga Respati. Dia

belum merasa ada yang lucu. Belum cukup alasan, bahkan

untuk sekadar tersenyum. Ia mengerutkan dahi, berpikir.

Menyambungkan setiap kalimat yang diucapkan Laksmi

dengan saksama. Barulah perlahan bibirnya mengembang.

Pada saat itulah, tawa Martaka meledak sejadi-jadinya.

Respati menoleh dan menemukan Martaka sibuk memegangi

perutnya. Dia menggelengkan kepalanya. Kedua kalinya,

Martaka lebih dulu memahami lelucon ala Laksmi. Jelas

Respati bukan seorang pandir. Hanya dia belum terbiasa

dengan guyonan ala Laksmi yang tak sembarangan lelucon.

Sementara Martaka dan Respati mulai berbincang akrab

dengan Laksmi, Kesawa berdiri mematung di antara para

bocah yang tengah giat berlatih. Senyum arifnya mengembang

ketika melihat keakraban putri tunggalnya dan dua murid

barunya itu.

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

17. Serangan Serigala Putih

Jalarnya waktu menjadi kilat, ketika seseorang melakukan

pekerjaan yang menyenangkan. Sebulan lebih Respati dan

Martaka tinggal di perguruan milik Kesawa, orang arif asal

Gujarat itu. Mereka melatih diri didampingi Kesawa. Setiap

sehabis fajar, Respati dan Martaka dipanggil gurunya untuk

berkumpul di ruang belajar. Membicarakan dan membahas

apa saja. Begitu hingga siang.

Lepas siang, mereka membantu beberapa murid Kesawa

yang lain melakukan banyak pekerjaan rumah. Mulai dari

bersih-bersih seluruh ruangan perguruan, menimba air, hingga

sibuk di tambak merawat ikan yang menjadi salah satu sumber

uang untuk menjalankan perguruan yang tak memungut

bayaran terhadap murid-muridnya itu.

Kesawa memang seorang dermawan. Puluhan tahun lalu

ia datang ke Tuban sebagai seorang saudagar dari Gujarat.

Waktu itu, dia adalah seorang pemuda tampan berusia sekitar

26 tahun. Sebagai seorang pedagang yang berhasil, kekayaan

Kesawa cukup untuk mendirikan sebuah pusat belajar bagi

warga Tuban yang punya keinginan untuk menimba ilmu.

Selain pintar berdagang, Kesawa juga seorang cerdik

pandai yang menguasai banyak ilmu. Ia lalu membuka

perguruan yang dinamai sama dengan namanya, “Kesawa”.

Mulailah dia mengajak pemuda-pemuda yang ingin menimba

ilmu. Sedikit demi sedikit terkumpul juga pemuda-pemudi

pribumi yang benar-benar ingin menempa ilmu di perguruan

yang didirikan di pinggir kota, terpisah dari rumah-rumah

penduduk itu.

Perlahan-lahan bangunan perguruan diperbesar hingga

menjadi sebuah kompleks yang lengkap. Kini, bangunan itu

terdiri dari sebuah bangunan besar, lima bangunan sedang,

dan belasan bangunan kecil yang mengelompok. Seluruh

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

kompleks perguruan itu dikelilingi pagar sederhana dari kayu

yang tingginya tak melebihi pinggang orang dewasa.

Bangunan besar yang ada di tengah kompleks menjadi

kelas raksasa apabila semua murid berkumpul. Ruangan

sedang adalah kelas-kelas kecil yang digunakan untuk tempat

belajar berbagai macam ilmu, sedangkan bangunan-bangunan

kecil yang mengelilinginya adalah pondok-pondok sederhana

tempat para murid menginap.

Berbagai ilmu diajarkan di perguruan yang kian

berkembang itu. Dari mulai membaca dan menulis, berhitung,

bercocok tanam, berdagang, ilmu agama, dan lainnya. Kalau

sebelumnya Kesawa mengajar sendiri semua muridnya, lamakelamaan,

dia mengangkat guru-guru baru. Mereka adalah

murid- murid pendahulu yang dirasa sudah cukup mampu

untuk mengajar di kelas-kelas pemula.

Meskipun begitu, guru-guru baru itu tetap ditempa dalam

kelas khusus oleh Kesawa. Pada perkembangannya, tak

sedikit para murid Kesawa yang pindah ke agama baru yang

dibawa oleh Kesawa. Agama Islam yang mengajarkan

Keesaan Sang Penguasa Jagad. Namun, masih banyak yang

tetap memegang keyakinan lama mereka.

Kesawa sendiri tak pernah memaksa murid-muridnya

untuk mengikuti ajaran baru yang ia bawa. Itulah alasan

perguruan yang ia pimpin terus berkembang. Jumlah muridnya

kini mencapai ratusan. Setiap hari perguruan itu begitu ramai.

Selain belajar di kelas, para murid juga dikenalkan dengan

dunia nyata. Diajarkan bagaimana bertahan hidup dengan

membuka usaha atau mengolah lahan. Keseharian yang

begitu menyenangkan.

“Respati, apa makna kehidupan bagimu?”

Suara jangkrik mulai bersahut-sahutan. Malam itu, Respati

dan Martaka menghadap gurunya di ruang belajar. Setelah

sebulan lebih mengikuti cara belajar seperti ini, dua pemuda

itu mulai terbiasa mengakhiri kegiatan pada larut malam dan

memulainya kembali sebelum fajar.

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Kehidupan merupakan peluang bagi manusia berbuat

sebaik-baiknya untuk kepentingan orang lain.”

Kesawa tersenyum sambil mengangguk-anggukkan

kepala. Bertiga mereka duduk bersila dan saling berhadapan.

“Bagaimana menurutmu, Martaka?”

“Kehidupan ini ibarat papan permainan bagi Penguasa

Jagad. Manusia adalah bidak-bidak yang tak mampu

melakukan apa pun, kecuali menuruti keinginan Sang

Pencipta.”

Kesawa menatap tajam Martaka. Matanya memicing.

Jawaban pemuda itu bernada satir dan penuh keingintahuan.

Kesawa kembali tersenyum.

“Aku tak ingin memaksakan sebuah pemahaman kepada

kalian. Jalanilah hidup kalian. Pada suatu titik, pastilah nanti

kalian paham untuk apa kita diciptakan dan untuk apa

kehidupan ini diadakan.”

Kesawa mendehem, lalu membetulkan caranya bersila.

“Mengapa hanya manusia yang bisa berbicara, bisa

melakukan apa saja? Mengapa gunung diam? Mengapa surya

tak bersinar pada malam hari? Mengapa daun berwarna

hijau?”

Kesawa menangkap bahasa tubuh Respati yang seolaholah

ingin menyela kalimatnya.

“Apa yang ingin kau katakan, Respati?”

“Guru, sejak lama saya berpikir mengenai hal itu. Jika

diperhatikan, seluruh isi bumi ini ada sebuah garis yang saling

berhubungan. Seolah-olah semuanya ada untuk kepentingan

manusia.”

Kesawa tersenyum penuh makna.

“Penguasa Jagad ini begitu memanjakan manusia.

Menundukkan semuanya untuk manusia.”

Kesawa bertambah takjub.

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Lalu, apa yang bisa kau pahami dari kenyataan itu,

Respati?”

“Mohon petunjuk Guru, jika murid salah memahaminya.

Tapi menurut akal saya yang bodoh ini, ada kesan bahwa

seluruh alam diciptakan untuk kepentingan manusia. Kuda

bisa dinaiki hanya oleh manusia. Laut bisa diarungi, juga

hanya oleh manusia. Api bisa dinyalakan juga oleh tangan

manusia.”

Mulut Respati seperti dipenuhi oleh kata-kata yang tak

hendak berhenti keluar. Segala yang berdesak-desakan di

otaknya bersikeras ingin segera dimuntahkan. Martaka yang

sejak tadi hanya mendengarkan, tampak gelisah.

“Tapi, Kakang, bagaimana dengan banjir, kebakaran,

gempa bumi?”

Respati menoleh ke arah Martaka.

“Bisa jadi itu merupakan bahasa Sang Penguasa Jagad.

Itu cara-Nya bercakap-cakap dengan manusia. Memberi

peringatan kepada manusia.”

Kesawa semakin asyik menyimak perdebatan kedua murid

istimewanya itu. Ketika pembicaraan itu mulai meledak-ledak,

ia kembali mendehem.

“Itulah beda antara manusia dan ciptaan lain yang ada di

muka bumi. Kita diberi akal. Anugerah yang tidak diberikan

kepada tumbuh-tumbuhan dan binatang ketika mereka

diciptakan.”

Respati dan Martaka kembali tenang dan mendengarkan

wejangan gurunya.

“Manusia dengan akalnya bisa memiliki rasa malu,

sedangkan binatang tidak. Manusia dengan akalnya bisa

menciptakan sesuatu, sedangkan ciptaan lain tidak.”

Respati dan Martaka semakin khusyuk menyimak setiap

kata yang keluar dari bibir gurunya.

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Manusia diciptakan dengan bekal yang demikian mulia.

Akal merupakan kelebihan manusia yang tak boleh disiasiakan.

Jika akal manusia diasah dengan baik, dia akan bisa

menjadi pemimpin bagi seisi bumi. Sebaliknya, jika akal

manusia tak dihargai, dia hanya akan menjadi budak manusia

lain.”

“Guru, lalu bagaimana akal kita bisa memahami, bahwa

benar kita sebagai manusia memiliki hubungan dengan

sesuatu yang kita anggap sebagai Sang Pencipta?”

Kesawa melepas napas perlahan. Sejak awal dia sadar

betul, Martaka bukan pemuda sembarangan. Meskipun

penampilannya sangat bersahaja, bahkan wajahnya terlihat

demikian lugu, namun cara berpikirnya sangat tidak biasa.

“Semua keyakinan di muka bumi meyakini Sang Pencipta

memiliki utusan-utusan di kalangan manusia. Utusan-utusan

itu dibekali dengan ilmu yang cukup untuk membahasakan

kehendak-Nya terhadap manusia.”

“Maaf, Guru, bagaimana jika sang utusan itu sudah mati.

Apakah berarti, perbincangan Sang Pencipta dan ciptaan-Nya

terhenti?”

Kesawa tersenyum. Terkesan tulus sekali.

“Martaka, setiap keyakinan di atas bumi selalu dilengkapi

dengan kitab-kitab. Kitab-kitab itu menjadi pedoman hidup

yang kekal. Tetap digunakan, meskipun para utusan sudah tak

hidup lagi.”

“Maaf jika murid lancang. Pertanyaan inilah yang selalu

mengganggu pikiran saya. Bagaimana kita yakin bahwa kitabkitab

itu tak diubah oleh manusia?”

“Martaka, sebelum kemari, di mana engkau belajar tentang

ini semua?”

Martaka terdiam. Dia tak langsung menjawab. Bibirnya

bergetar. Wajah lugunya kembali nyata. Dia seperti hendak

menangis saja.

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Kau tak perlu menjawab. Hanya kau harus tahu,

membincangkan kitab suci tidaklah mudah. Karena keyakinan

berhubungan dengan hati, tak selalu dengan akal. Namun,

untuk memahami keberadaan Sang Pencipta, bisa juga

dicapai dengan akal. Sebab, seluruh isi alam ini membuktikan

kebe-radaan-Nya.”

Martaka berusaha keras menerima kata-kata gurunya.

“Aku punya sebuah cerita. Pahamilah oleh kalian berdua.”

Respati dan Martaka bersiap.

“Ini sebuah dongeng kuno tentang seseorang yang sakit

lalu didatangi oleh malaikat pencabut nyawa. Orang sakit itu

lalu bertanya. ‘Kau datang kepadaku sekadar ingin berkunjung

atau kau ingin mencabut nyawaku?’ Malaikat itu menjawab

bahwa dia datang sekadar berkunjung.'”

Respati mengerutkan dahi. Satu lagi sebuah kisah yang

diceritakan dengan gaya yang asing. Meskipun mulai terbiasa

dengan cerita-cerita lucu yang disampaikan oleh Laksmi, tetap

saja dahinya berkerut setiap mendengarkan kisah-kisah dari

negeri asing itu. Kesawa meneruskan ceritanya.

“Orang itu lalu berkata lagi, ‘Demi persahabatan kita, jika

waktu matiku kelak sudah dekat, tolong kirimkan utusan agar

aku bisa bersiap-siap menghadapi maut.’ Sang malaikat

menyanggupi. Setelah beberapa lama berselang, malaikat itu

kembali mendatangi orang yang sakit itu dan mengatakan

bahwa dia hendak mencabut nyawanya.'”

Kesawa menarik napas. Sengaja hendak membuat kedua

muridnya penasaran.

“Orang itu berontak. Dia berkata, ‘Bukankah kau berjanji

hendak mengirim utusan kalau waktu matiku sudah dekat?’

Malaikat itu menjawab, ‘Sudah … sudah. Bahkan, utusanku

sudah beberapa kali datang kepadamu.'”

Kesawa kembali menjeda kalimatnya. Respati menahan

napas. Sementara Martaka bertanya-tanya dalam hati,

penasaran.

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Malaikat itu berkata lagi, ‘Bukankah tulang punggungmu

bungkuk, padahal sebelumnya lurus? Bukankah rambutmu

mulai memutih, padahal sebelumnya hitam legam? Suaramu

pun kini gemetaran, sedangkan dulu lantang? Bahkan akhirakhir

ini tubuhmu melemah, sedangkan dulu kau gagah

perkasa? Pandanganmu semakin rabun, padahal dulu begitu

jeli? Kau hanya minta satu utusan, sedangkan aku

mengirimkan begitu banyak. Lalu, mengapa kau masih juga

menganggapku tak menepati janji?'”

Kesawa mengakhiri ceritanya. Ruang belajar itu berubah

hening. Suara jangkrik di taman tambah menguat. Suarasuara

lain dari luar juga menyerbu masuk ke gendang telinga

tiga orang itu. Desir angin yang tak terperhatikan pun seolaholah

menjadi nyata.

“Pahamilah, betapa Sang Pencipta demikian memanjakan

manusia. Begitu berkasih sayang. Dia tak pernah menyianyiakan

ciptaan-Nya, bahkan yang menentang-Nya sekalipun.”

Respati semakin tenggelam dalam alam pikirnya yang

berkecamuk. Dia seperti dihadapkan pada gambarangambaran

yang mewakili setiap perubahan waktu selama

masa hidup yang ia jalani.

Begitu juga dengan Martaka yang lebih hening

dibandingkan malam itu sendiri. Pemuda bertampang lugu,

namun memiliki pemahaman yang dalam itu diam. Kepalanya

menunduk, sedangkan matanya berkaca-kaca tanpa sebab.

‘”Malam sudah larut. Kalian kembalilah ke kamar.

Renungkanlah apa yang kita bicarakan dan apa yang kalian

alami sepanjang hari ini. Besok, menjelang fajar, kalian harus

bangun untuk memulai hari baru.”

Kesawa menuntaskan hening di ruangan itu. Ia lalu bangkit

dari duduk, diikuti kedua muridnya itu. Setelah bersalaman,

ketiganya keluar dari ruang belajar. Kesawa kembali ke ruang

pribadinya, demikian juga Respati dan Martaka. Mereka

berdua berjalan beriringan menuju ruang tempat mereka

tinggal.

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

0o0

“Aku punya satu cerita lucu.”

Respati menatap sejenak paras Laksmi yang tanpa dosa.

Gadis itu kelihatan tak pernah bersedih. Selalu ceria seperti

burung-burung. Tak pernah diam dan terus berkicau. Petang

itu ketika Respati sedang beristirahat di taman, Laksmi

menghampirinya dengan langkah seperti kidang.

Lalu, tanpa peduli dengan apa yang sedang berputar di

benak Respati, dia mulai mengajaknya bicara tentang banyak

hal. Bahkan, ketika Respati tampak tak terlalu tertarik dan

kelihatan sedikit terganggu dengan kehadirannya, Laksmi

tetap tak mau beranjak.

“Kakang tak mau mendengarnya dan ingin aku pergi?”

“Tentu saja tidak, Laksmi.”

“Kalau begitu, usir tampang sedih itu dari wajahmu sebab

aku akan mengisahkan cerita lucu untukmu.”

Respati tersenyum. Ia berusaha tulus melakukannya. Lalu,

ia menunggu cerita Laksmi dimulai.

“Suatu hari, ada seorang lelaki naik perahu kecil bersama

ibu, istri, dan anaknya. Ketika sampai di tengah sungai, perahu

itu dihempas oleh arus yang besar hingga terbalik. Lelaki itu

berpikir keras, siapa dulu yang hendak ia selamatkan,

sementara ibu, istri, dan anaknya berteriak-teriak minta tolong.

Serta-merta dia memeluk tubuh ibunya, dan berusaha

menyelamatkannya sambil berteriak-teriak, ‘Ibuku, ibuku.

Mustahil aku bisa mendapatkan gantinya.'”

Laksmi tersenyum puas. Ia lalu menoleh ke arah Respati.

Senyumnya kabur entah ke mana, ketika ia melihat Respati

tetap murung. Pemuda itu berusaha tersenyum, tapi kelihatan

sekali dipaksakan.

“Tidak lucu, ya?”

“Bukan begitu, Laksmi. Ceritamu sungguh segar. Caramu

bercerita pun menyenangkan.”

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Lalu?”

“Lelaki dalam ceritamu itu masih beruntung. Sebab, aku

tak pernah tahu siapa dan di mana ibuku. Aku tak punya

kesempatan untuk mengabdi.”

Laksmi tercenung.

“Aku juga tak mengenal ibuku.”

Giliran Respati yang merasa tak enak. Dia menoleh pada

Laksmi dengan kening berkerut.

“Maaf.”

Laksmi tersenyum tanpa beban. Seperti biasa.

“Ibuku meninggal ketika melahirkan aku. Aku hanya tahu

tentang ibu dari cerita ayah.”

“Kita bernasib sama, Laksmi.”

“Tentu saja beda. Kalau aku menerima kenyataan itu tanpa

menyiksa diri.”

“Apakah aku menyiksa diri, Laksmi?”

“Apa yang disembunyikan hati seseorang akan dibeberkan

oleh wajahnya sendiri.”

Respati tersenyum lagi. Ia semakin merasa dekat dengan

Laksmi. Pada diri gadis itu dia menemukan keceriaan yang

abadi. Seperti warna langit saat tak ada mendung.

“Kakang sedang memikirkan seseorang?”

“Aku tak yakin.”

“Berarti jawabannya iya.” Respati tak menjawab.

“Kakang memikirkan istri Kakang?”

“Bekas. Bekas istri.”

“Jadi, benar Kakang masih memikirkannya.”

“Aku menikahinya dua tahun lamanya, Laksmi. Kami telah

melampaui banyak peristiwa.”

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Lalu, kenapa Kakang tetap meninggalkannya?”

“Barangkali Anindita adalah kesalahan terbesar dalam

hidupku.”

“Kakang tidak sedang membicarakan perempuan lain,

bukan?”

Respati terdiam. Dia membuang pandangannya ke langit

lepas. Awan putih seperti kapas mengambang tenang.

Bergerak bagai siput menuju arah yang bebas.

“Berarti jawabannya iya.”

“Laksmi. Ini tak semudah yang kau kira.”

“Aku mengatakan begitu?”

“Sulit sekali untuk diurai. Demikian bertumpuk. Aku miskin

kata-kata.”

“Kakang bisa membaginya dengan Laksmi.”

Respati tersenyum. Dia menatap Laksmi dengan saksama.

“Kau gadis baik.”

“Hanya itu saja yang aku dapatkan, Kakang?”

Respati nyaris tak bisa menahan tawanya melihat cara

Laksmi mengatakan kalimat itu. Seperti bocah yang memohon

penganan kepada ibunya. Gadis ini begitu istimewa. Jeda

waktu hingga petang mereka habiskan dengan bercanda.

Respati menjadi pendengar yang baik untuk cerita-cerita lucu

yang mengalir deras dari bibir Laksmi.

Beberapa kali Respati pura-pura tak geli dengan cerita itu.

Dia menggeleng-gelengkan kepalanya sambil membuat bulan

sabit terbalik dengan bibirnya. Setiap itu terjadi, Laksmi pasti

cemberut penuh kesal dan tertantang untuk memikirkan cerita

lain yang lebih lucu. Begitu ia berhasil membuat Respati

terpingkal-pingkal, puaslah dia.

“Di sini rupanya putri Ayah.”

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Respati dan Laksmi segera menghentikan candaan

mereka ketika melihat Kesawa datang menghampiri. Lelaki arif

itu masih juga memiliki senyum yang kalem dan menenangkan.

Ia mengenakan jubah hijau lumut dengan serban sewarna

di kepala.

Di tangannya tergenggam gulungan daun lontar. Seperti

sebuah surat.

“Respati, aku ingin bicara denganmu.”

“Kenapa begitu rahasia, Ayah?”

“Ini bukan soal apa yang dibicarakan, tapi dengan siapa

membicarakannya, Laksmi.”

Laksmi tak menjawab lagi. Setelah berpamitan kepada

keduanya, ia lalu meninggalkan tempat itu menuju ruang

pribadinya. Meskipun sempat merasa kesal, ia maklum bahwa

ayahnya pasti punya alasan untuk tak melibatkannya dalam

urusan itu.

“Respati, bacalah ini. Aku menerimanya pagi tadi.”

Respati menerima gulungan daun lontar yang diangsurkan

gurunya tanpa berkata-kata. Ia membaca setiap kalimat di

dalamnya dengan saksama.

Dahinya berkerut.

“Aliran Serigala Putih

“Kau mengenalnya, Respati?”

“Tidak, Guru. Bahkan, baru sekarang saya mendengar

nama aliran ini.”

“Aliran ini memang belum lama muncul. Konon, mereka

datang dari belahan barat Swarna Bumi. Kini, mereka

menyebar hingga ke Gresik. Tapi beberapa waktu terakhir,

anggota mereka memang mulai bermunculan di Tuban.”

“Gresik ….”

Respati tampak tengah berpikir. Mengingat-ingat sesuatu.

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Apakah mereka kelompok orang dengan jubah putih dan

bertampang dingin, Guru?”

“Kau pernah bertemu mereka?”

“Saya dan Martaka sempat bertemu mereka di Gresik,

Guru. Bahkan, saya sempat bertarung dengan mereka.”

Kepala Kesawa mengangguk-angguk.

“Lalu, apa alasan mereka memaksaku untuk menyerahkanmu,

Respati?”

“Saya tak tahu, Guru. Hanya waktu itu, saya memang

hampir mengalahkan mereka, sebelum ….”

Kesawa menatap Respati yang tiba-tiba menghentikan

kalimatnya.

“Ah, ilmu mereka sebenarnya tak terlalu tinggi, Guru.

Hanya, mereka menguasai ilmu aneh.”

“Maksudmu Jala Sukma?”

“Guru mengetahuinya?”

“Ilmu itu memang tak banyak dikenal di tanah

Jawa Dwipa. Namun, di Gujarat dan Tiongkok, banyak

pendekar yang menguasai ilmu semacam itu.”

“Kalau memang mereka menginginkan saya, Guru tak

perlu khawatir. Biar saya saja yang menghadapi mereka.”

Kesawa tersenyum. Ia mengalihkan pandangannya ke

taman di tengah kompleks perguruan.

“Kita tidak tahu kelompok mana yang kau taklukan ketika

mereka bertemu denganmu di Gresik. Jangan anggap remeh

mereka, Respati. Kita belum tahu kekuatan mereka yang

sebenarnya.”

“Maaf jika saya terlalu jumawa, Guru.”

“Tidak. Ilmu kanuraganmu memang mumpuni. Tak ada

salahnya percaya kepada diri sendiri. Hanya kita tetap harus

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

selalu waspada. Serigala Putih mengancam akan menyerang

kita malam ini, jika aku tak menyerahkanmu.”

Respati menyimak kalimat gurunya dengan saksama.

“Kau tahu bahwa sebagian murid perguruan ini sama

sekali tak menguasai ilmu kanuragan. Bahkan, apa yang

kukuasai pun tak ada seujung kuku jika dibandingkan dengan

kelihaianmu. Karena itu, jika mengandalkan kekuatan tubuh,

pasti kita akan kalah.”

Respati tetap tak memotong kata-kata gurunya.

“Tapi, aku pun yakin Serigala Putih tak akan gegabah.

Bagaimanapun, perguruan ini memiliki nama baik yang

dihargai orang-orang mulai Tuban hingga Mojokerto. Mereka

akan berpikir dua kali untuk menyerang kita terang-terangan.”

“Kenapa rakryan penguasa Tuban tak turun tangan,

Guru?”

“Hukum ibarat rumah laba-laba yang hanya menjerat

serangga-serangga kecil, Respati. Sedangkan, binatang yang

lebih besar merobek-robek-nya dengan mudah.”

“Sekuat itukah mereka sekarang, Guru?”

“Serigala putih sangat licin. Kejahatan mereka susah

dibuktikan. Mereka pun sangat dekat dengan kekuasaan di

Gresik. Entahlah, apa yang akan terjadi dengan Tuban kelak.”

“Saya telah membuat perguruan ini jadi susah.”

Kesawa tersenyum lagi, lalu memegang pundak Respati.

“Bukan seperti itu. Serigala putih hanya menjadikanmu

sebagai alasan. Mereka memang berambisi untuk

melenyapkan perguruan ini dan menjadi kekuatan

berpengaruh di Tuban.”

“Licik sekali. Lalu, apa yang harus kita lakukan, Guru?”

“Menunggu. Tak ada yang akan keluar dari perguruan

malam ini. Kita tetap bertahan seperti tidak ada apa-apa. Aku

pun ingin tahu apa yang akan mereka lakukan.”

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Bagaimana jika mereka membabi buta, Guru?”

Kesawa menurunkan tangannya dari pundak Respati.

“Tidakkah aku bisa mengandalkanmu jika itu terjadi?”

Respati tersipu. Ia lalu mengangguk pelan. Tak banyak

yang mereka obrolkan kemudian. Kesawa menyuruh Respati

untuk mencari Martaka dan melanjutkan pelajaran mereka hari

itu. Seperti tak terjadi apa-apa. Semua berlangsung apa

adanya. Entah apa alasannya, Kesawa memang tak

memberitahu semua muridnya tentang surat ancaman

Serigala Putih yang ia terima.

Hanya Respati dan beberapa murid utama yang diberitahu.

Bahkan, Martaka pun tidak. Tak heran jika suasana belajar di

perguruan itu berlangsung biasa. Tidak ada kepanikan.

Sesudah penghuni perguruan itu melakukan sembahyang

malam bersama-sama, Kesawa memanggil Respati dan

Martaka ke ruangannya untuk melanjutkan pelajaran mereka.

“Guru, di setiap hati seseorang selalu terbersit pikiran

buruk walaupun sedikit. Bagaimana caranya untuk membuat

pikiran buruk itu menjadi kerdil dan tak merusak hidup kita?”

Martaka tampak bersungguh-sungguh melontarkan

pertanyaan itu. Dia tidak tahu bahwa dua orang yang kini

duduk satu ruangan dengannya itu tengah menunggu sesuatu.

Wajar saja, sebab Kesawa memang tak memperlihatkan

kecemasan sama sekali di wajahnya. Sedangkan Respati

selalu mengikuti apa yang dilakukan gurunya.

“Martaka, pertanyaanmu sangat dalam. Memang, hidup

setiap orang adalah rentang waktu panjang yang

membentrokkan kebaikan dan keburukan. Keduanya samasama

ingin menjadi pemenang. Seperti apa akhir hidup

manusia, seperti itulah dia akan memulai kehidupannya yang

abadi kelak.”

Martaka mendengarkan dengan khidmat. Malam bergerak

lamban. Hawa semakin mencekat, sementara bebunyian

hewan semakin ramai. Respati menajamkan pancaindranya,

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

berjaga-jaga. Ia hampir tidak mendengarkan kalimat-kalimat

gurunya lagi.

“Seorang bijak berkata, jika pada hati manusia berdetak

bisikan, pemiliknya harus berusaha agar bisikan itu tetap di

hatinya. Jika tidak, hal itu akan berubah menjadi buah pikiran.

Tapi jika telanjur menjadi buah pikiran, hendaklah orang itu

mendiamkannya dalam benak. Jika tidak, ia akan berubah

menjadi nafsu berahi.”

Telinga Respati semakin lebur dengan desau angin. Tak

lagi jeli mendengar kata-kata gurunya.

“Jika kecenderungan itu telanjur menjadi nafsu berahi,

orang tadi harus bisa meredamnya. Sebab jika tidak, ia akan

menjadi rencana buruk dalam bentuk kehendak. Ini pun harus

dihentikan. Sebab jika tidak, ia akan mewujud menjadi

perbuatan jahat.”

Dahi Respati berkerut. Bukan memikirkan kalimat gurunya.

Ada bunyi angin yang mendesak-desak. Tapi jaraknya tak

terlalu dekat, juga tak semakin dekat.

“Jika perbuatan jahat itu tak bisa dicegah, ia akan

menemani manusia sebagai sebuah kebiasaan. Sedangkan

bagi manusia, alangkah sukarnya meninggalkan sebuah

kebiasaan.”

Martaka mengangguk-angguk paham. Dia masih tak

bersuara. Memikirkan setiap kata gurunya dan

melumerkannya dalam sebuah pemahaman yang utuh.

Sedangkan Respati tak bergerak. Tetap seperti itu, ketika

Kesawa menatapnya dengan pandangan heran.

“Respati, kau mendengar sesuatu?”

“Sempat guru. Seperti ada pertempuran. Tapi tak terlalu

dekat.”

Kesawa tampak berpikir. Dia lalu bangkit menghampiri

jendela, dan membukanya perlahan. Angin basah menyeruak

masuk. Malam sudah tertinggal di belakang.

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

‘”Sebentar lagi fajar. Kalian istirahatlah. Aku harus bersiap

untuk sembahyang fajar.”

Respati dan Martaka menyusul bangkit, lalu berpamitan

kepada gurunya. Baru saja mereka hendak keluar dari

ruangan itu, terdengar ribut-ribut dari halaman.

“Guru, kami hendak melapor.”

Respati dan Martaka urung membuka pintu ruangan itu.

Mereka menunggu gurunya bertindak. Kesawa yang tadinya

asyik menatap langit yang masih gulita, menghampiri pintu. Ia

mendahului kedua muridnya membuka pintu itu.

“Ada apa, Seta?”

Beberapa murid Kesawa yang bertugas ronda malam

tampak berdiri dengan napas memburu di depan ruangan

gurunya. Wajah mereka pucat. Setapati, salah seorang murid

kepercayaan Kesawa, berdiri paling depan sambil memegangi

obor.

“Perguruan ini sudah dikepung mayat, Guru!”

Kesawa tak menjawab. Dia meneliti wajah Setapati seperti

hendak memastikan apakah muridnya itu betul-betul dalam

keadaan sadar. Melihat kesungguhan di garis wajah Setapati,

Kesawa lalu mendehem.

“Kita lihat ke sana.”

Tanpa menunggu persetujuan, Kesawa segera melangkah

dengan tegap keluar dari kompleks perguruan, diikuti seluruh

muridnya. Murid-murid lain yang ikut terjaga akibat berisik

yang ditimbulkan para murid peronda itu keluar dari pondok

mereka masing-masing, lalu menyusul gurunya.

Beberapa di antara mereka melengkapi diri dengan obor

dan senjata sekadarnya. Jadilah rombongan guru murid yang

jumlahnya tak kurang dari dua puluh orang itu berjalan

menderap keluar kompleks perguruan.

Apa yang dikatakan Setapati akhirnya dipahami Kesawa.

Puluhan tubuh berjubah putih tergeletak kaku begitu saja di

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

luar kompleks perguruan. Mereka betul-betul mirip jasad-jasad

tanpa nyawa yang menunggu dikuburkan. Tubuh-tubuh

mereka tidak berkumpul di satu tempat.

Bergelimpangan dalam barisan seperti bentuk busur

panah. Ketika Kesawa, Respati, dan anggota rombongan itu

memeriksa, ternyata tubuh-tubuh itu masih bernyawa.

“Serigala Putih. Siapa yang mampu merobohkan mereka

tanpa suara.”

Respati terheran-heran. Lengannya meraba nadi salah

seorang anggota Serigala Putih yang tergeletak meringkuk di

depannya, seperti kedinginan.

“Guru, ada seseorang berilmu tinggi yang mencegah

orang-orang Serigala Putih menyerang perguruan kita.”

“Aku tahu. Bahkan tak satu pun dari mereka dibunuh.

Orang sakti itu hanya melumpuhkan.”

Respati memandang ke arah gurunya masih dengan kesan

heran di wajahnya.

“Ilmu apa ini? Totokan yang luar biasa.”

Kini, Respati menoleh ke arah Martaka yang ada di

sampingnya. Matanya membesar.

“Kakang pikir, kakek aneh itu pelakunya?” Martaka segera

bisa menebak isi benak Respati. Dia pun berpikiran sama.

“Sudahlah, kita bawa dulu orang-orang ini ke perguruan.

Perlakukan dengan baik.”

“Tapi, Guru..”

Sorot mata Kesawa memutus kalimat Setapati yang

tadinya hendak memprotes keputusan gurunya.

“Jangan kau benci musuhmu melampaui batas. Tak ada

yang tahu, suatu saat bisa saja dia menjadi sahabatmu yang

paling setia.”

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Tak ada lagi perbincangan. Kesawa memerintahkan muridmuridnya

untuk bergegas. Dia sendiri tak ketinggalan

menggendong salah seorang anggota Serigala putih yang

tertotok itu menuju perguruan.

Fajar segera sampai, ketika seluruh orang berjubah putih

itu sudah berada di ruang besar di tengah-tengah kompleks

perguruan. Mereka diikat dengan tali yang kukuh. Pagi

harinya, para murid membagikan ransum makanan. Karena

anggota Serigala Putih yang jumlahnya sekitar tiga puluh

orang itu tertotok, terpaksa para murid menyuapinya satu per

satu.

Kebanyakan dari mereka menolak untuk disuapi.

Sedangkan mereka yang mau memakan ransum itu tak

menghilangkan kesan dingin dari wajah mereka.

“Menurutmu, apa yang akan terjadi pagi ini, Respati?”

Kesawa, Respati, dan Martaka bicara serius di luar ruang

utama perguruan. Mereka berdiri di sana, seperti tengah

menunggu kedatangan seseorang.

“Kalau benar kakek aneh itu yang menghalau orang-orang

Serigala Putih kemari, kenapa dia tak menampakkan diri?”

Respati tak menjawab pertanyaan gurunya. Justru dia

mengambangkan pertanyaan lain yang tak jelas apa

jawabannya.

“Siapa kakek aneh yang kau sebut-sebut itu, Respati?”

“Saya pun tak mengenalnya, Guru. Dia datang tiba-tiba,

ketika saya dan Martaka dalam keadaan terjepit dikeroyok

orang-orang Serigala Putih.”

“Ehrn. Siapa pun dia, pastilah dia berkepentingan

denganmu atau perguruan ini.”

“Guru, jika saja penolong itu tidak turun tangan, bukankah

orang-orang Serigala Putih telah menyerang perguruan?”

Kesawa terdiam. Memikirkan betul kata-kata apa yang

hendak ia ucapkan.

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Artinya, Serigala Putih benar-benar tak lagi memandang

kita. Mereka semakin berani.”

“Guru, izinkan saya pergi ke Gresik untuk menghancurkan

pusat aliran Serigala Putih.”

“Jangan. Kita harus memikirkan cara terbaik untuk

menyelamatkan perguruan tanpa mengorbankan siapa pun.”

Pembicaraan ketiga orang itu terhenti ketika dari arah

muka perguruan, Laksmi dan beberapa murid berjalan

menghampiri mereka.

“Ayah, ada utusan aliran Serigala Putih yang ingin bertemu

dengan Ayah.”

“Oya? Kalau begitu, kenapa tidak kau antar tuan-tuan ini

ke ruang tamu, Laksmi?”

Laksmi menoleh ke arah lelaki berjubah putih di

sampingnya. Dia seorang lelaki bertampang dingin yang

usianya tak akan melebihi empat puluh tahun. Perawakannya

gempal dengan rambut yang diurai memaksakan kesan

angker.

“Ki Kesawa, saya Lembu Peteng, Ketua Serigala Putih

wilayah Tuban. Saya datang untuk membebaskan anggota

kami.”

Kesawa tak langsung menjawab. Dia meneliti orang di

depannya dengan pandangan saksama.

“Apakah tidak lebih baik kita bicarakan hal ini sambil

menikmati daun sirih, Tuan Lembu Peteng?”

“Kami akan menganggap tak pernah ada masalah di

antara aliran Serigala Putih dan Perguruan Kesawa, jika

anggota kami dibebaskan sekarang juga.”

“Bukankah selama ini pun tidak pernah ada masalah di

antara kita, Tuan?”

Lembu Peteng menoleh ke arah Respati. Tatapan matanya

menajam. Seperti hendak melumat pemuda itu mentahScan

buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

mentah. Sementara Respati menantang tatapan mata Lembu

Peteng tanpa ragu. Dia merasa sama sekali tak berurusan

dengan lelaki berwajah dingin itu. Dia pun bukan satu di antara

gerombolan Serigala Putih yang nyaris mencelakai Respati

dan Martaka di Gresik beberapa bulan sebelumnya.

“Baiklah. Saya kira, tak seorang pun ingin membuat

masalah. Anggota Serigala Putih ada di ruang utama. Tak satu

pun yang terluka. Tuan bisa mengambil mereka dengan

syarat.”

Lembu Peteng mendongakkan kepalanya menunggu

lanjutan kalimat Kesawa.

“Tidak pernah ada masalah antara perguruan kami dan

Serigala Putih. Saya ingin pada waktu selanjutnya pun, kita tak

akan saling mengganggu.”

Lembu Peteng tampak sedang berpikir. Dia terdiam

beberapa saat.

“Baik. Saya sepakat.”

Tak menunggu lama, puluhan anggota Serigala Putih

benar-benar bebas dari sekapan Perguruan Kesawa.

Meskipun bisa saja orang-orang itu melanjutkan rencana

mereka menyerang Perguruan Kesawa, tapi hal itu tidak

terjadi. Rupanya, Lembu Peteng memegang janjinya.

Pagi itu juga, ruang utama Perguruan Kesawa kembali

senyap, tanpa para tawanan. Para murid Perguruan Kesawa

banyak yang bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi.

Sebagian besar dari mereka memang tak tahu pasti alasan

berdatangannya orang-orang sesat itu ke perguruan mereka.

Tiba-tiba saja setelah sempat disekap, orang-orang asing

itu angkat kaki tanpa banyak kata.

“Untuk sementara, kita bisa tenang. Serigala Putih tak

akan sembarangan melanggar janji.”

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Kesawa, Respati, Martaka, dan Laksmi berkumpul di ruang

pribadi Kesawa. Berempat mereka tengah membicarakan

peristiwa dua hari terakhir yang begitu mengagetkan.

“Ayah, apa yang sebenarnya dicari oleh orang-orang

Serigala Putih?”

Laksmi yang tak mengikuti sejak awal sebab musabab

kedatangan gerombolan sesat itu begitu penasaran.

“Tak ada yang tahu. Gerakan mereka begitu halus. Sulit

ditebak apa yang mereka inginkan. Tapi dari gerakan Serigala

Putih yang begitu tertata, jelas mereka bukanlah perguruan

silat biasa.”

“Guru, apakah mereka ingin menggoyahkan kekuasaan

Majapahit?”

“Sulit dipastikan. Sebab mereka pun sangat dekat dengan

penguasa. Di Gresik, mereka berteman baik dengan penguasa

di sana. Yang jelas kita benar-benar harus waspada.”

“Negeri ini kian hari kian kacau saja.” Laksmi bergumam

lirih, menghempaskan kegelisahannya.

“Apa yang bisa kita perbuat jika penguasa sudah tak punya

jati diri?”

Respati menoleh ke arah Martaka. Dia masih saja sering

merasa tersindir setiap ada yang menilai langkah penguasa

Majapahit. Bagaimanapun, dia pernah memegang jabatan

wakil panglima perang Majapahit yang berpengaruh. Toh

pemuda itu segera menekan perasaannya. Selain karena dia

bukan lagi bagian dari penguasa, kata-kata Martaka memang

benar adanya.

“Kenyataannya memang demikian. Kita tak lagi menjadi

tuan rumah di negeri sendiri. Sejarah tak lagi berarti apa-apa.”

Respati tampak murung. Dia menyudahi kalimatnya

dengan tatapan yang tak pasti. Sejak dulu memang dia selalu

menyemangati diri sendiri dengan sejarah keunggulan

Majapahit di masa lalu. Kekuasaan yang membentang di

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

seluruh Nusantara. Kini, kekuasaan Majapahit terus menyusut,

pengaruhnya pun tak lagi meraksasa.

“Respati, semua yang ada di dunia memiliki masa. Tak

akan selamanya. Saling menggantikan satu sama lain. Kita

sekarang berbicara di sini. Belum tentu dua puluh tahun lagi,

atau sepuluh tahun lagi, atau bahkan esok hari kita bisa

mengulanginya. Majapahit pernah besar. Seperti halnya

Sriwijaya di Swarna Dwipa. Tapi, adakah yang kekal di dunia

ini?”

Respati cukup terhibur dengan kalimat gurunya. Dia

mengangguk pelan. Pikirannya bisa sumeleh (pasrah)

karenanya. Tak lagi menyalahkan pemimpin-pemimpin negeri

secara membabi buta. Keteledoran pemimpin tentu saja

menjadi penyebab goyahnya suatu bangsa. Namun, di atas itu

semua, pada sebuah tataran yang ada di luar jangkauan akal,

ada aturan gaib yang memang telah menentukan semuanya.

Barangkali memang Majapahit tinggal punya sedikit waktu.

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

18. Penantian Bintang

Penyerangan yang gagal oleh orang-orang Serigala Putih

telah lewat berbulan-bulan. Tak terasa Respati dan Martaka

telah melewati masa setahun lebih di Perguruan Kesawa. Jika

digenapkan beberapa bulan lagi, mereka telah dua tahun

tinggal berguru di sana.

Jika seseorang pernah mengenal Respati dua tahun

sebelumnya, lalu bertemu lagi dengannya sekarang, pastilah

dia akan terheran-heran. Mantan rakyran rangga Majapahit itu

seperti menjadi manusia baru. Sikapnya yang kalem

bertambah-tambah. Segala langkah dan kata-kata begitu ia

pikirkan. Perilakunya yang santun bertambah matang. Sama

dengan Martaka, dia pun semakin merasa nyaman tenggelam

dalam keseharian mencari ilmu yang tak pernah habis

bersama Kesawa, guru mereka.

Hanya, sebuah keyakinan adalah sebuah keajaiban yang

sama sekali tak bisa teraba. Meskipun sudah hampir dua

tahun tinggal dan bergaul dengan orang-orang Islam taat di

Perguruan Kesawa, baik Respati maupun Martaka masih

bertahan pada keyakinan lamanya. Sejak lama Respati

memang cenderung melumuri pikirannya dengan nilai-nilai

luhur nenek moyang dibandingkan melakukan upacaraupacara

keagamaan yang biasa dilakukan orang-orang di

sekitarnya.

Dia merasa cukup dengan kebersihan hati dan

keteladanan laku dibandingkan upacara-upacara yang acap

kali dipahaminya sebagai topeng semata. Sama saja dengan

bekas istrinya, Anindita. Rasanya, tak pernah lepas

perempuan itu melakukan upacara-upacara keagamaan

dengan begitu khusyuk. Tapi, apa yang kemudian terbongkar

setelah dua tahun pernikahan mereka benar-benar

membelalakkan mata.

Seperti ada dinding pemisah antara ajaran-ajaran suci dan

perilaku manusia yang sebenarnya. Orang-orang menjadi

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

begitu tunduk kepada Sang Pencipta dan berperilaku alim

ketika mengucapkan mantra suci, tapi berubah menjadi

Serigala ketika kembali kepada kehidupan nyata.

Respati sendiri bukan bocah ingusan yang buru-buru

menyimpulkan sesuatu dengan gegabah. Sebab,

kecenderungan keterpisahan antara ajaran agama yang suci

dan penganutnya yang taat pun terjadi pada setiap agama.

Karenanya, Respati masih merasa nyaman dengan

keteraturan hatinya yang paling dalam, dibandingkan topengtopeng

yang ia anggap menyesatkan itu.

Toh, Respati terkagum-kagum dengan tata cara dan

ajaran-ajaran agama baru yang dibawa Kesawa. Sama

dengan kekagumannya ketika melihat kesempurnaan hati para

biksu yang rela meninggalkan hiruk pikuk kehidupan dan

menyepi, mendekatkan diri kepada Sang Pencipta.

Makna tersembunyi dan luas dalam aturan nyata ketika

orang-orang seperti Kesawa hendak bersembahyang sudah

cukup mengundang penasaran bagi Respati. Kenapa harus

membasuh diri, kenapa harus berpakaian bersih, dan seribu

satu kata kenapa yang pelan-pelan ia peroleh jawabannya dari

Kesawa.

Sementara itu, Kota Tuban semakin ramai saja. Kapalkapal

asing berdatangan membangun perniagaan yang

semakin berjaya. Hampir tak ada gangguan yang membuat

warga gelisah. Kecuali orang-orang Serigala Putih yang mulai

bermunculan lagi. Namun, mereka tak terang-terangan

membuat onar. Mereka sering tampak bersama-sama dengan

prajurit Majapahit dan hadir dalam pertemuan orang-orang

penting di jajaran penguasa Tuban. Waktu itu, tahun Masehi

segera genap pada angka 1410.

“Respati, ada sesuatu yang mengganggu pikiranku.

Apakah kau mau mendengarkannya?”

Pagi itu, Kesawa dan Respati sedang berjalan di antara

kesibukan Kota Tuban. Sekadar jalan-jalan melepaskan penat

di otak.

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Kenapa Guru menjadi sungkan? Tentu saja saya tak

berkeberatan.”

“Sebaiknya, kita mampir di kedai itu agar perbincangan kita

terasa lebih nyaman.”

Guru dan murid itu lalu memasuki sebuah kedai sederhana

yang tak begitu ramai pengunjung. Setelah memesan

minuman dan sedikit penganan, keduanya duduk berhadapan.

Kesawa menatap Respati dengan saksama. Pemuda itu kian

berwibawa saja. Umurnya kini sekitar 28 tahun. Usia matang

bagi seorang lelaki. Garis wajahnya pun menyiratkan

pemahaman yang sangat baik terhadap kehidupan.

Di luar ketampanan yang tampak mencolok, sekilas pun

orang bisa menduga betapa kuatnya kepribadian lelaki muda

itu. Bahkan untuk mengganti kesan wajahnya pun, Respati

tampak demikian berhati-hati. Kesawa seperti melihat dirinya

sendiri sewaktu muda dulu.

“Ini tentang Laksmi, anak tunggalku.”

Air muka Respati tetap tak berubah. Hatinya menangkap

kalimat Kesawa dengan tak tergesa-gesa. Bibirnya yang

seolah-olah selalu tersenyum itu masih diam.

“Usianya sudah hampir sembilan belas tahun. Seharusnya

dia sudah memiliki pelindung.”

Kata hati Respati mulai menebak-nebak. Tapi bahasa

tubuhnya begitu pandai menyembunyikan kegelisahan. Dia

masih tetap tenang. Sementara Kesawa tampak sangat

berhati-hati memilih kata-kata.

“Sebelumnya aku ingin tahu, apa kesanmu tentang Laksmi,

Respati?”

“Sejak awal bertemu, saya tahu Laksmi adalah gadis yang

istimewa, pintar, dan berbudi luhur.” Kesawa tersenyum lega.

“Adakah yang menahan seorang lelaki untuk jatuh cinta

kepadanya, Respati?”

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Menurut saya, setiap lelaki memiliki kecenderungan yang

berbeda dalam mengagumi sosok perempuan, Guru. Hanya,

menurut saya, Laksmi mewakili semua hal yang diinginkan

laki-laki.”

Senyum Kesawa semakin lebar. Seperti ada gunung es

yang melumer dari dadanya.

“Lalu, apa yang menahanmu untuk meminangnya,

Respati?”

Kali ini Respati tak menjawab. Bayangan Laksmi

berkelebat di benaknya. Keceriaan yang begitu indah. Rambut

ikal, merah, dan bercahaya itu demikian memesona.

Wajahnya yang berbinar oleh kedua mata yang jernih tentu

saja memancing simpati.

“Tapi, Guru….”

“Apakah yang membuatmu ragu adalah keyakinan kalian

yang berbeda?”

Respati mengangguk lemah. Sementara Kesawa meraih

cangkir tanah liat berisi air kelapa, lalu menenggaknya

perlahan.

“Respati, kapan kau usaikan pencarianmu?”

“Saya tidak begitu yakin, Guru.”

“Apakah kau kini telah merasa nyaman?”

Respati lagi-lagi menganggukkan kepala.

“Lalu, kau merasakan lingkungan di sekitarmu dan

keseharian yang ada membuatmu tenang dan tenteram?”

“Ya, Guru.”

“Itu bukan sebuah akhir pencarian bagimu?”

Respati tak langsung menjawab. Pikirannya menerawang

dan enggan kembali ke bumi. Pandangan matanya ragu.

“Mohon Guru memberi saya waktu untuk berpikir.”

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Kesawa tersenyum tulus. “Berapa lama?”

Respati tak buru-buru menjawab.

“Baiklah, Respati. Aku tahu ini bukan masalah enteng. Aku

sangat menghargai dan tak ingin menekanmu. Ini hidupmu.

Karenanya, aku tak memberi batasan waktu untukmu berpikir.”

Respati mengiyakan. Dia tak lagi bisa bersikap biasa

setelah itu. Setelah menghabiskan minuman mereka, guru dan

murid itu lalu kembali ke perguruan. Hari-hari terlewati apa

adanya. Namun, sesekali Respati menemui Kesawa secara

khusus untuk membahas lebih dalam mengenai keyakinan

baru yang diamalkan orang-orang Islam.

Seperti melupakan persoalan intinya, yakni usulan

pernikahan dengan Laksmi, Respati begitu bersemangat untuk

mempelajari agama baru itu. Dia tak memikirkan pendalaman

pengetahuannya tentang Islam merupakan langkah awal yang

sangat berpengaruh terhadap keputusan diterima atau

tidaknya tawaran Kesawa.

Sayangnya, kehidupan di perguruan itu demikian rapat.

Keseharian yang begitu dekat antar penghuninya membuat

sebuah rahasia sulit disembunyikan.

Meskipun tak pernah membicarakannya dengan orang lain,

namun tawaran Kesawa untuk mengangkat Respati sebagai

menantu segera tersebar di antara para murid.

Rupanya, ketika sedang berbicara empat mata, ada salah

seorang murid yang mendengar isi pembicaraan antara

Kesawa dan Respati. Seperti biasa, inti berita beranak pinak

ketika menyebar dari satu orang ke orang lain. Dalam waktu

sekejap, tersiar kabar Kesawa sudah pasti akan menikahkan

Respati dengan Laksmi, putrinya.

Tak sekadar di antara murid, berita itu mulai didengar oleh

warga Tuban. Karena Perguruan Kesawa demikian tersohor

dan banyak pemuda Tuban yang belajar di sana, kabar itu pun

segera tersiar dari satu keluarga ke keluarga lain. Ini menjadi

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

berita besar, karena Laksmi adalah gadis pujaan yang

membuat banyak sekali pemuda Tuban jatuh hati.

Malah tidak sedikit dari mereka yang menjadi murid di

perguruan itu sengaja mendaftar karena ingin mengenal

Laksmi. Makanya, begitu tersiar kabar bahwa Kesawa hendak

mengangkat Respati sebagai menantu, banyak hati yang

remuk redam.

“Kakang, kabar rencana pernikahanmu dengan Laksmi

sudah demikian tersebar. Jika kau menampik kabar itu, lalu

bagaimana mungkin hal ini bisa terjadi?”

Martaka mencecar Respati dengan pertanyaan bernada

cemas. Pemuda yang dulu pernah diselamatkan Respati saat

hendak dibantai orang-orang

Serigala Putih itu sudah banyak berubah. Meskipun kesan

lugu masih tampak pada matanya, namun kelihatan benar

bahwa dia sudah jauh lebih dewasa. Dua tahun belajar di

Perguruan Kesawa membentuk pribadinya yang baru.

“Martaka, ini benar-benar di luar kuasaku. Memang benar

Guru pernah membahas hal ini. Tapi belum sejauh itu. Aku

pun tak paham bagaimana bisa seisi kota tiba-tiba

membicarakan hal ini.”

“Kakang, guru adalah orang yang sangat dihormati di kota

ini. Tentu saja kabar tentang rencana pernikahan putrinya

menjadi perbincangan hangat orang-orang.”

Respati tampak berpikir. Meskipun hatinya kacau balau,

tapi hal itu tak tampak pada air mukanya. Segalanya menjadi

begini rumit. Sementara dia belum memutuskan apa pun

tentang tawaran Kesawa, kabar tak benar itu sudah menyebar

ke mana-mana.

“Aku harus menemui guru.”

Setelah berpamitan kepada Martaka, Respati

meninggalkan sahabat kentalnya itu di ruang belajar mereka.

Ia lalu bergegas menuju ruang pribadi gurunya yang

terpisahkan oleh beberapa bangunan pondok mungil.

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Bocah sableng! Aku pikir kau itu anak bodoh. Tak

kusangka, ternyata kau bodoooh sekali!”

Respati menghentikan langkahnya. Tak langsung menoleh.

Dia seperti hendak mencerna arti kata-kata orang asing yang

menelusup di telinganya tanpa basa-basi.

“Kenapa? Kau malu untuk bertemu denganku, Bocah?

Benar-benar tak tahu diuntung!”

Lidah pisau itu, siapa yang bisa melupakannya. “Kakek

aneh!”

Respati membalikkan tubuhnya dengan wajah sumringah.

Tebakannya benar. Kakek berperilaku aneh yang bertemu

dengannya sekitar dua tahun lalu di Gresik kini bertengger di

atap salah satu pondok.

“Sembarangan! Siapa yang menyuruhmu memanggilku

kakek aneh? Aku punya nama, Bocah gendeng!”

Senyum Respati semakin melebar. Nyatanya, nama itu

terlontar begitu saja dari bibirnya tanpa maksud apa pun. Dia

memang tak tahu siapa nama lelaki tua nyeleneh yang tetap

kelihatan kumal setelah lama menghilang itu.

“Kakek tak pernah berkenan saya mengenal nama Kakek.”

“Gombal. Jangan pura-pura sopan kepadaku. Kau

memang tak pantas tahu namaku.”

Respati tak lantas mengubah sikapnya. Dia tahu benar hati

kakek aneh itu demikian baik. Hanya penampakan luarnya

yang kasar. Begitu lelaki tua itu melompat turun dari atap

pondokan, dia langsung menghampirinya dan memberi

hormat.

Dengan angkuhnya, lelaki tua itu bersedekap sambil

mendongakkan kepalanya.

“Kau sungguh tak tahu diri.”

“Apa tidak sebaiknya Kakek mampir lebih dahulu ke

pondokan saya agar lebih tenang berbicara?”

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Kakek tua itu menoleh dengan mata melotot. “Sudah

kubilang jangan berlagak sopan terhadapku! Aku ke sini hanya

ingin memperingatkanmu.”

Respati tak ingin berdebat. Dia lalu menunggu lelaki tua di

depannya berkata-kata lagi.

“Sejak dua tahun lalu, ada seseorang yang mengikuti ke

mana pun kau pergi dan menyimak setiap tindak tandukmu.

Aku sempat bertemu dengan dia dan kami pun menjadi teman.

Dia sangat cerdas dan berbudi baik.”

Respati masih belum tahu ke mana arah pembicaraan

orang tua itu.

“Aku benci harus berbicara seperti ini. Huh! Tapi aku tak

punya pilihan.”

Kakek aneh itu seperti mendebat dirinya sendiri.

“Dia mengikutimu dari Mojokerto sampai ke Tuban ini. Tapi

sekarang dia pergi karena kau menyakitinya.”

“Kakek, maaf saya benar-benar tak paham.”

Kakek tua itu kelihatan sangat geregetan.

“Huh, kau memang bodoh! Gadis itu sangat mencintaimu,

sedangkan kau menyia-nyiakannya!”

“Gadis siapa?”

“Muridku, Bodoh!”

“Saya bahkan tak tahu nama Kakek, bagaimana mungkin

saya mengenal murid Kakek?”

“Berani-beraninya kau katakan tak mengenal Samita?!”

Respati merasa degup jantungnya bertambah keras. Nama

itu sudah sangat lama tak disebut lagi. Sekejap, bayangan

wajah Samita berkelebat dalam benaknya. Respati tak

sanggup berkata-kata.

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Anak bodoh! Dua tahun lalu, aku mengangkat Samita

sebagai muridku. Dia jauh lebih pandai darimu. Dia cepat

menguasai jurus Hanacaraka yang kuajarkan.”

“Jurus Hanacaraka?”

“Kenapa? Kau pikir hanya kau yang mewarisi jurus itu?”

Respati terdiam. Sebenarnya, nama Samita-lah yang

masih membuatnya terbengong-bengong, bukan kata-kata

setajam pisau yang dilontarkan kakek itu. Dia bahkan tak

peduli siapa kakek aneh yang menguasai Ilmu Hanacaraka itu.

“Boleh saya tahu di mana Samita sekarang, Kek?”

“Enak saja! Dua tahun dia menunggumu di pinggiran

Tuban, kau tak peduli. Sekarang, kau pura-pura

menanyakannya?”

Respati heran dengan dirinya sendiri. Bagaimana

mungkin tiba-tiba dia disergap rasa haru? Matanya

bahkan berkaca-kaca. “Dia menunggu saya?”

“Bodoh! Kau kira, siapa yang menyuruhku

menyelamatkanmu ketika nyaris dibantai oleh orang-orang

Serigala Putih dua tahun lalu?”

“Diakah?”

Respati semakin tak bisa banyak berkata-kata. “Kau purapura

bodoh, Bocah. Jangan-jangan, kau juga tak tahu siapa

orang yang melumpuhkan orang-orang Serigala Putih yang

hendak menyerbu perguruan ini beberapa bulan lalu?”

Mata Respati membesar. Ketenangannya tetap terjaga,

hanya kesan di matanya benar-benar tak bisa berbohong. Dia

sedang gelisah.

“Saya kira, kakeklah yang melumpuhkan orang-orang itu.”

“Cih! Benar dugaanku, kau memang bodoh. Buat apa aku

menolongmu? Samita mengadu nyawa untuk menyelamatkan

perguruan ini karena di sini ada kau.”

‘”Di mana dia sekarang, Kek?”

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Kakek aneh itu tak bergerak. Dagunya terangkat semakin

tinggi.

“Satu lagi, kau tahu kenapa dia mengubah namanya

menjadi Samita?”

Respati menggelengkan kepala.

“Sebab, itu satu-satunya hal yang pernah kau tinggalkan

padanya.”

Bibir Respati bergetar. Sebenarnya, sejak bertemu di batas

Kota Medangkamulan bertahun-tahun lalu, Respati sudah

menyadari hal itu. Namun, dia sengaja menghapus dugaandugaan

itu karena ia sendiri masih menjadi suami Anindita.

Lagi pula, dia tak pernah berpikir jika Samita menyimpan

perasaan demikian dalam.

“Kakek, saya mohon. Di manakah Samita sekarang?”

“Dua tahun ini dia tinggal di sebuah pondok di pinggir barat

Tuban. Tapi entahlah. Setelah mendengar kabar bahwa kau

akan menikahi putri Kesawa, sepertinya dia bersiap-siap untuk

meninggalkan Tuban.”

“Pergi? Pergi kemana?”

“Tahun ini, armada Ming akan kembali datang ke Majapahit

untuk menemui Wikramawardhana. Tentu saja Samita akan

pergi ke Pelabuhan Surabaya menyambut Laksamana Cheng

Ho, gurunya. Barangkali, dia akan ikut kembali ke Tiongkok!”

Napas Respati tercekat. Dia tak sanggup lagi berkata-kata.

Dia bahkan tak berpikir lagi untuk berteriak mencegah, ketika

kakek aneh itu melompat dan lenyap di balik atap pondokan.

Satu hal yang terpikir di benak Respati kini adalah mencari

Samita. Ia lalu mengurungkan niatnya menemui Kesawa.

Langkahnya berderap menuju kandang kuda di samping

bangunan utama, lalu menuntun satu di antara belasan kuda

yang ada di sana. Beberapa saat kemudian, dia sudah ada di

atas punggung kuda gagah berwarna cokelat yang

membawanya ke arah barat.

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

0o0

Respati berdiri ragu di depan sebuah pondok sangat

sederhana di punggung bukit sebelah barat pusat Kota Tuban.

Pondok itu kelihatan sekali dibangun sekadarnya. Atap jerami

disokong oleh tiang-tiang berupa potongan batang-batang

pohon kering. Lingkungan di sekitarnya memang asri dan

bersih.

Udaranya terhirup segar dan hijaunya tetumbuhan

merambah kulit dengan nyaman. Dari penduduk di bawah

bukit, Respati mendapat keterangan bahwa seorang gadis

cantik bernama Samita tinggal di pondok itu selama hampir

dua tahun. Penduduk cukup mengenalnya karena Samita

bekerja sebagai juru masak di salah satu rumah makan di

pinggir kota.

Makanya, tak sulit bagi Respati untuk menemukan pondok

itu. Kini, dia berdiri sambil menghardik dirinya sendiri berkalikali.

Bagaimana bisa dia tak menyadari dan mengetahui

bahwa Samita tinggal di kota yang sama dengannya selama

dua tahun.

Meskipun perasaan itu tak pernah terungkapkan, Respati

sadar, dia merasa saat-saat terbaiknya adalah ketika bersama

Samita. Meskipun sesaat, namun begitu berarti. Dia

membodoh-bodohkan dirinya sendiri karena dua tahun lalu, ia

begitu saja meninggalkan Samita. Padahal dia tahu, untuk

bisa sampai ke Mojokerto, gadis itu telah melewati perjalanan

panjang dan berat.

Sebuah perjalanan yang hampir merenggut nyawanya.

Tapi begitu akhir perjalanan itu tercapai, bahkan Respati tak

berusaha memahami maknanya. Ia hanya memberikan

ucapan terima kasih mengakhiri pertemuan di pinggir Telaga

Tirta Kusuma, lalu ia meninggalkan Samita begitu saja.

Toh, itu semua tak mengubah keteguhan gadis itu. Dia

bahkan menyusul Respati ke Tuban dan mengikuti setiap

kabar tentangnya tanpa sekali pun menyorongkan rasa keScan

buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

aku-annya dengan menemui Respati dan menuntut bayar atas

semua yang telah ia lakukan.

“Dia sudah pergi.”

Respati masih termangu di depan pondok yang pintunya

tertutup itu, ketika kakek aneh yang sebelumnya

menyatroninya di Perguruan Kesawa tiba-tiba keluar dari

pondok. Respati tak berkomentar. Tatapannya sendu,

sementara kedua kakinya seperti terhunjam ke tanah tanpa

mau bergerak.

“Kau tunggu apa lagi, Bocah sableng?”

Respati mendongakkan kepalanya.

“Percuma kau berguru pada orang arif itu jika kata hatimu

pun tak kau mengerti.”

“Respati mohon petunjuk kepada Kakek.”

Lelaki tua nyeleneh itu diam sejenak. Berbeda dari

biasanya yang terkesan ceplas-ceplos. Tatapan matanya

meredup, tak lagi melotot kejam.

“Apa yang dikatakan hatimu, Respati?”

Pemuda itu tak langsung menjawab. Matanya bergerakgerak

perlahan.

“Saya ingin bertemu dengan Samita, Kek.”

“Lalu, apa yang menahanmu untuk menyusulnya ke

Surabaya?”

“Bagaimana dengan Perguruan Kesawa? Kabar

pertunangan saya dengan Laksmi sudah begitu menyebar.

Bisa menjadi aib besar, jika tiba-tiba saya pergi begitu saja.”

“Kau memikirkan perasaan orang-orang Kesawa,

sedangkan perasaan Samita sengaja kau abaikan.”

“Ini saat paling sulit untuk saya, Kek.”

“Kau minta pendapatku atau hanya sekadar basa-basi?”

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Respati tak berani bersikap kurang ajar kepada Kakek.”

“Kalau begitu, temui Kesawa dan anaknya. Terangkan apa

yang terjadi, lalu susul Samita.”

Respati merasakan kepalanya mulai berdenyut-denyut.

Sungguh sulit apa yang sedang ia hadapi. Pilihan-pilihan yang

tak bisa dianggap remeh.

“Boleh saya masuk ke pondok Samita, Kek?”

Tanpa menjawab, kakek aneh itu lalu menjauhi pintu.

Tanpa memedulikan Respati, dia lalu menghampiri salah satu

pohon rindang di dekat pondok, kemudian duduk

menyandarkan punggungnya pada batang pohon.

Merasa sudah diberi izin, Respati menghampiri pintu

pondok. Perlahan, dia membuka pintu dengan jantung

berdegup. Tak ada apa-apa dalam pondokan itu, kecuali

tempat berbaring dari beberapa batang bambu yang

dirapatkan. Lantai tanah yang lembap tak meninggalkan bekas

apa pun.

Respati menghampiri pembaringan sederhana itu dan

duduk di atasnya. Tangannya perlahan meraba pembaringan

penuh perasaan. Pandangannya merata ke seluruh ruangan.

Pada dinding gedhek (dinding dari anyaman bambu) terlihat

guratan-guratan unik. Tak tampak jelas karena jaraknya dari

tempat Respati duduk cukup jauh.

Pemuda itu lantas menghampiri dinding gedhek dan

mencermati guratan-guratan yang ternyata membentuk

huruf-huruf Jawa itu. Respati tersenyum sendiri. Jadi benar

bahwa selama dua tahun di tempat itu, Samita mempelajari

Ilmu Hanacaraka dari kakek aneh itu.

Kini, Respati mulai mereka-reka siapa sebenarnya kakek

nyeleneh yang menguasai jurus Hanacaraka itu. Tapi, dia

buru-buru mengusir pikiran itu mengingat tujuan awalnya

masuk ke gubuk itu, memastikan ada sesuatu yang

ditinggalkan Samita. Ternyata tak ada apa-apa. Ia pun

akhirnya keluar gubuk itu menemui si kakek aneh. Respati

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

tersenyum masygul ketika dia tak menemukan lelaki tua

nyeleneh itu di bawah pohon tempatnya bersender

sebelumnya. Ia lalu melangkah gontai meniti punggung bukit,

mengambil kuda yang sebelumnya ia titipkan kepada

penduduk desa di bawah bukit.

0o0

“Bagus sekali. Tentu saja aku mendukung. Kalau Kakang

bisa menemuinya, pasti mendung di wajah Kakang akan

lenyap sama sekali.”

Respati nyaris tak percaya dengan reaksi Laksmi. Gadis itu

seperti kegirangan ketika dia mengutarakan maksudnya untuk

menyusul Samita ke Pelabuhan Surabaya. Sebelumnya,

Respati menceritakan siapa Samita dan apa yang telah ia

lakukan pada hidupnya.

Tadinya, pemuda itu berpikir, Laksmi akan terpukul

mendengar maksud hati Respati. Kabar burung tentang

rencana pernikahan mereka tentu sudah sampai ke telinga

Laksmi. Kini, tiba-tiba Respati mengatakan bahwa ia hendak

meninggalkan Perguruan Kesawa dan tak pasti apakah akan

kembali atau tidak.

Tapi, apa yang dikatakan Laksmi betul-betul di luar

dugaan. Mata gadis itu melebar dengan kesan wajah yang

ceria. Bahkan, ia menepukkan kedua telapak tangannya

menyempurnakan kesan gembira dalam hatinya.

“Kau yakin, Laksmi?”

“Maksud Kakang?”

“Kabar burung itu tak mengganggumu sama sekali?”

“Apa peduliku dengan omongan orang?”

Respati tersenyum sementara hatinya masih merasa tak

percaya. Sebelumnya, dia pun dibuat terharu ketika gurunya,

Ki Kesawa sama sekali tak menahan niatnya untuk

meninggalkan perguruan. Malah, lelaki arif itu membekali

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Respati dengan wejangan-wejangan hebat. Dia pun tak

mewajibkan Respati untuk berpamitan kepada Laksmi.

Hanya karena Respati sudah merasa dekat dengan gadis

itu, dia tetap saja mendatangi Laksmi untuk membicarakan

rencananya. Ternyata, semuanya terasa jauh lebih mudah

dibandingkan dengan apa yang dibayangkan Respati

sebelumnya.

“Baiklah, aku punya sebuah cerita buat Kakang. Cerita ini

menjadi kenang-kenangan agar Kakang tak lupa padaku. Aku

akan marah kalau sampai Kakang melupakan cerita ini.”

Respati manggut-manggut tanpa suara. Sebenarnya, dia

memang sudah tak tahu harus berkata apa lagi.

“Di Gujarat banyak dibangun tempat ibadah yang memiliki

menara tinggi. Suatu hari, ada dua orang dungu yang

memandang menara dengan penuh kekaguman. Salah satu di

antara mereka berkata, .Alangkah tingginya badan orangorang

dulu, hingga mereka bisa membangun menara setinggi

itu.Kawannya menjawab, ‘Bodohnya kamu! Mana ada di dunia

ini manusia yang badannya setinggi menara itu? Mereka

membuat menara itu di bawah, baru kemudian ditegakkan.'”

Respati memperhatikan betul cara Laksmi bercerita.

Seperti biasanya, gadis itu menjadi pencerita yang baik. Dia

mampu membuat perhatian lawan bicaranya terpaku beku.

Begitu cerita itu berakhir, Respati tersenyum simpul.

“Tidak cukup lucu, ya?”

“Kata siapa. Ini sangat lucu.”

Laksmi tersenyum puas. Ia banyak bertanya tentang

Samita. Beberapa kali dia manggut-manggut, ketika Respati

menceritakan sosok tegar Samita dan kemampuan luar biasa

yang dimiliki gadis itu. Laksmi semakin tertarik mendengarkan

kisah Respati. Dia terus saja bertanya.

“Jadi, kapan Kakang berangkat?”

“Besok pagi.”

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Baik. Aku akan menyiapkan perbekalan untuk Kakang.

Sekarang, aku harus kembali ke pondok untuk memasak.”

Respati mengangguk pelan. Perasaannya lega bukan

main. Segala yang menghimpit dadanya lolos lepas tak

berbekas. Ia lalu berjalan pelan menuju ruang pribadinya

untuk mempersiapkan keberangkatannya esok harinya.

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

19. Di Atas Geladak

Ada mendung di atas Perguruan Kesawa. Wajah-wajah

sedih melepas keberangkatan Respati seorang diri menuju

Pelabuhan Surabaya. Para murid yang sudah terbiasa dengan

Respati tentu saja merasa sangat kehilangan karena pemuda

itu sudah menjadi bagian dari keluarga besar perguruan.

Satu-satunya orang yang justru kelihatan ceria adalah

Laksmi. Dia terus mengumbar senyum, seolah ingin

menggerus keraguan Respati untuk meninggalkan tempat itu.

Ia membekali Respati dengan ransum untuk beberapa hari

dan beberapa kitab untuk teman perjalanan.

Ki Kesawa juga membekali Respati dengan wejanganwejangan

berharga, sebelum akhirnya melepas kepergian

pemuda itu. Puluhan murid menemani Respati hingga gerbang

perguruan. Tangan mereka melambai-lambai ketika kuda

Respati mulai berketipak melangkah semakin cepat

meninggalkan perguruan.

“Laksmi, boleh aku menemanimu?”

Martaka menghampiri Laksmi yang dari tadi kelihatan

melamun di kursi taman. Siang hari setelah Respati

meninggalkan perguruan, kegiatan di tempat itu kembali

seperti biasa. Martaka pun tadinya hendak membantu muridmurid

lain merawat hewan ternak mereka, ketika ia merasa

heran melihat Laksmi duduk tepekur di kursi taman.

Gadis itu menatap kosong. Kitab di depannya dibiarkan

begitu saja tanpa sungguh-sungguh ia baca.

“Tentu saja, Kakang Martaka. Kenapa mesti sungkan?”

Setelah dipersilakan, Martaka duduk di depan Laksmi.

Bangku tempat mereka duduk saling berhadapan.

“Aku lihat kau sedang memikirkan sesuatu.”

“Biasa saja. Tidak ada yang istimewa.”

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Martaka meneliti kesan wajah Laksmi dengan saksama.

Ada perubahan warna yang bias di sana.

“Kau memikirkan Kakang Respati?”

Laksmi sedikit tersentak. Tapi, dia buru-buru berusaha

bersikap wajar.

“Tentu saja. Aku berpikir, apakah dia akan baik-baik saja.”

“Dia seorang pendekar tangguh, Laksmi. Kau tak perlu

khawatir.”

“Ya, tentu saja.”

Martaka tersenyum tanpa disadari Laksmi. Jawaban gadis

itu jelas sekenanya. Ada sesuatu yang telah terjadi.

Sementara Laksmi mencari kesibukan dengan membolak-balik

lembaran daun lontar di depannya.

“Aku punya sebuah cerita, Kakang mau mendengarnya?”

Martaka tak menjawab. Dia malah menatap Laksmi dalamdalam.

“Rupanya jawabannya tidak. Baiklah, belajarku sudah

selesai. Aku harus kembali ke kamarku sekarang.”

“Seorang perempuan dapat menyimpan cintanya sampai

empat puluh tahun. Tapi, tak bisa menyimpan rasa bencinya

barang sesaat.”

Laksmi menghentikan kesibukan tangannya yang hendak

berkemas. Ia menatap Martaka.

“Apa maksud Kakang?”

Sorot mata Laksmi menajam. Nada suaranya datar namun

penuh makna. Martaka terdiam. Dia kelihatan menyesal

dengan apa yang ia ucapkan. Pemuda bersorot mata lugu itu

menggelengkan kepala tanpa berkata-kata.

Laksmi lalu bergegas mengambil tumpukan daun lontar di

atas meja taman dan buru-buru meninggalkan tempat itu. Tapi

gerakannya sontak berhenti. Tanpa menoleh pada Martaka,

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

dia diam berdiri membelakangi pemuda itu. Pandangannya

menerawang sendu. Matanya berkaca-kaca.

“Cinta asmara adalah suatu kelelahan yang kebetulan

bertemu dengan hati yang kosong. Aku akan segera mengisi

hati itu. Pastilah nanti rasa lelahnya akan sirna.”

Tanpa menunggu jawaban Martaka, Laksmi

meninggalkan taman dengan langkah buru-buru dan kepala

menunduk. Sementara Martaka menggelengkan kepala. Ia

masih termangu di kursi taman itu beberapa saat, sebelum

kemudian dia bangkit dan berjalan menyusul murid-murid lain

yang tengah sibuk mengurus hewan ternak mereka di halaman

belakang perguruan.

0o0

Berhari-hari memacu kuda ke arah selatan, rasanya seperti

terbang. Respati tak mau disapa rasa lelah. Keinginannya

sudah bulat, bertemu dengan Samita. Meskipun ia tak yakin

apa yang akan ia lakukan jika bertemu dengan Samita, namun

semangat untuk melihat sepasang mata cemerlang milik

Samita demikian menggebu.

Berhari-hari terguncang di atas punggung kuda, Respati

tak ingin berhenti. Sesekali saja dia menepi untuk memberi

makan kudanya sekaligus mengisi perut dengan ransum yang

dibekalkan Laksmi. Seperti itu terus hingga ia tiba di Gresik.

Ingatannya kembali ke masa beberapa tahun lalu.

Di tempat yang sama, dia bertemu dengan Martaka dan

kakek aneh yang hingga kini tetap tak jelas, siapa dia

sebenarnya. Ia pun tak lupa, di tempat ini dia pertama kali

bertemu dengan orang-orang Serigala Putih yang hampir

membuat Perguruan Kesawa rata dengan tanah.

Hari segera sore ketika Respati masuk ke sebuah rumah

makan di tengah kota Gresik. Rumah makan yang sama

dengan yang ia datangi dua tahun lalu. Respati sengaja ke

sana, sekadar ingin tahu. Ternyata memang tak banyak

perubahan. Rumah makan tempat Respati pertama kali

melihat orang-orang Serigala Putih itu tetap seperti dulu.

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Bersih, tertata rapi, dan ramai pengunjung. Setelah

memesan makanan, Respati langsung memilih tempat di pojok

ruangan dan duduk di sana.

“Sayangnya, aku tak melihat secara langsung waktu

perempuan pendekar itu mengamuk.”

“Yah, sayang sekali. Aku sungguh beruntung karena waktu

perempuan digdaya itu melabrak markas Serigala Putih, aku

melihatnya langsung.”

Mata Respati segera melirik ke arah dua orang lelaki yang

berbincang tak jauh dari tempatnya duduk. Kedua lelaki

berpakaian bagus itu rupanya baru saja selesai bersantap.

Sambil menunggu perutnya nyaman, keduanya lalu

mengobrol.

“Bayangkan, Serigala Putih yang begitu berkuasa, ia

obrak-abrik seorang diri.”

“Aku pun nyaris tak percaya.”

“Seluruh kota juga hampir tak percaya.”

Dua laki-laki itu kelihatan sangat bersemangat

membincangkan kejadian luar biasa beberapa hari lalu.

Markas kelompok Serigala Putih di Gresik memang baru saja

diratakan dengan tanah oleh seorang perempuan pendekar

yang misterius. Penduduk Gresik meyakininya sebagai utusan

dewa.

Jika tidak, mana mungkin seorang gadis anggun dan

berparas jelita itu mengalahkan puluhan jago-jago Serigala

Putih yang dikenal memiliki kedigdayaan sangat tinggi.

“Tapi aku dengar, saat pendekar itu menyatroni markas

Serigala Putih, dedengkot kelompok itu sedang ada di

Tuban?”

“Aku dengar juga begitu. Tapi, tetap saja pendekar

perempuan itu sangat hebat.”

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Laki-laki yang mengenakan ikat kepala memberi tanda

agar temannya tak terlalu keras membicarakan hal itu. Ia

lantas celingukan sesaat.

“Bukan itu maksudku. Kau bisa bayangkan jika Ketua

Serigala Putih dan puluhan pengikutnya pulang dari Tuban

dan menemukan markas mereka sudah rata dengan tanah.

Kau kira apa yang akan terjadi?”

Lelaki satunya lagi langsung pucat bukan main. Dia juga

celingukan, takut kalau-kalau perbincangan itu didengarkan

orang lain. Pandangan mereka pun tertumbuk pada Respati.

Pemuda itu mengangkat alis sambil tersenyum.

“Hei, apa yang kau lihat?”

“Kenapa begitu gusar, Kisanak? Saya tak bermaksud apaapa.”

Meskipun sambil menggerutu, dua orang itu kemudian

mengalihkan pandangannya dari Respati yang kemudian sibuk

menyantap makanan di depannya. Beberapa saat kemudian,

suasana menjadi senyap. Padahal masih banyak orang di

sana, termasuk dua lelaki yang tadi sibuk berbicara tentang

Serigala Putih.

Respati langsung paham jawabannya, ketika dia melihat

sekelompok orang-orang berjubah putih masuk ke rumah

makan itu. Senyum pemuda itu mengambang karena di antara

orang-orang itu, dia menemukan wajah-wajah yang pernah ia

lihat sebelumnya. Seorang pemuda berwajah dingin dan

perempuan berwajah judes. Dua orang ini pernah bertempur

dengannya di pinggiran Gresik dua tahun lalu.

Mereka berdiri mengapit seorang lelaki berjambang

dengan rambut digelung dan kumis melintang. Bisa jadi dialah

pemimpin Serigala Putih. Kali ini, rupanya rombongan itu

sama sekali tak hendak bersantap. Mata angker mereka

menyebarkan pandangan ke seluruh ruangan tanpa bicara apa

pun.

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Serta-merta pandangan mereka berhenti pada sosok

Respati yang duduk tenang sambil menenggak air dari gelas

bambu.

“Rupanya kau di sini! Setelah mengobrak-abrik markas

Serigala Putih, kau masih berani muncul!”

Respati menatap lelaki berjambang dan berkumis tebal itu

tanpa berkedip. Air mukanya biasa saja. Tak menampakkan

kekagetan, apalagi rasa takut.

“Aku tak mengerti bagaimana mungkin kau menudingku

sebagai orang yang menghancurkan markasmu. Tapi

sebenarnya, aku pun ingin melakukan hal yang sama dengan

orang itu.”

Mata lelaki setengah tua itu melotot mendengar jawaban

Respati.

“Kau cari mati! Jangan harap aku akan sungkan hanya

karena kau pernah menjadi rakryan rangga Majapahit!”

“Bagus kalau begitu. Aku pun tak akan sungkan untuk

menghukum kalian. Tentukan saja di mana kita akan

bertarung. Aku akan menyusul kalian.”

Tanpa kehilangan kesan santainya, Respati menghabiskan

sisa air di gelas bambu itu. Ia lalu menyenderkan

punggungnya ke dinding kayu, ketika lelaki setengah tua itu

mendengus sambil memerintahkan anak buahnya keluar dari

tempat itu.

“Padang rumput pinggir utara Kota Gresik. Kau pasti sudah

tahu tempatnya. Jika kau tak muncul hingga senja ini, kau

sudah tak punya muka lagi di dunia persilatan.”

Respati tersenyum menjawab tantangan Ketua Serigala

Putih itu. Setelah orang-orang itu berlalu, barulah dia

memanggil pelayan untuk membayar tagihan, kemudian

bersiap-siap pergi ke padang rumput tempat ia akan bertarung

dengan orang-orang Serigala Putih.

0o0

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Padang rumput di pinggir Kota Gresik itu masih senyap.

Padahal, di sana ada puluhan orang berjubah putih yang

berbaris membentuk lingkaran besar. Di tengah lingkaran,

seorang lelaki berjambang lebat dan berkumis tebal berdiri

kaku. Sorot matanya kejam mengancam.

Dialah Yudayana, ketua kelompok Serigala Putih yang

beberapa tahun ke belakang semakin ditakuti penduduk mulai

Gresik hingga Tuban. Setelah membangun kelompoknya

empat tahun lalu, anggota Serigala Putih kini berjumlah

ratusan, tersebar di kota-kota di Jawa Dwipa belahan timur.

Tak heran jika pengaruh kelompok ini semakin mengakar

dan terus menyebar. Apalagi mereka sangat lihai menjalin

hubungan baik dengan para penguasa kepanjangan tangan

Raja Majapahit di daerah-daerah. Para rakryan di daerah

sengaja memanfaatkan tenaga Serigala Putih untuk

mengamankan kekuasaan mereka.

Orang-orang ini dipelihara untuk menjaga kepatuhan

rakyat, agar tak memberontak. Makanya, kebencian rakyat

Majapahit kepada Serigala Putih dan pemerintah Majapahit

kian menjadi-jadi.

Ini pula yang membuat Yudayana dan orang-orangnya

semakin besar kepala. Mereka semakin terang-terangan

memperlihatkan kegilaannya. Menampakkan kekuasaan agar

rakyat ketakutan dan tak berani menentang. Kejadian

beberapa hari lalu ketika markas utama Serigala Putih

diobrak-abrik seorang pendekar menjadi aib yang mencoreng

nama Yudayana.

Ia marah bukan main. Apalagi markas di Gresik merupakan

markas terbesar dibandingkan markas di kota-kota lain.

Karena di kota inilah pusat kekuatan Serigala Putih. Si

penyerang misterius itu tahu benar cara menampar harga diri

Yudayana. Dengan hancurnya kekuatan di pusat, tentu saja

membuat keyakinan anggota di daerah jadi berkurang.

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Inilah yang membuat Yudayana bertekad membalas

kekalahan anak buahnya. Paling tidak, rasa malu karena aib

itu bisa sedikit berkurang.

“Jadi, kalian akan maju satu-satu atau bersamaan?”

Sebuah bayangan berkelebat, melenting di atas kepala

orang-orang berjubah itu, lalu mendarat di tengah lingkaran,

berhadapan langsung dengan Yudayana.

“Sombong sekali kau!”

Respati tersenyum, menganggap kalimat Yudayana

sebagai angin lalu.

“Aku tak punya alasan untuk takut kepada orang-orang

berhati keji seperti kalian. Lebih-lebih, tak ada yang istimewa

dari ilmu kasar kalian.”

“Pongah! Kau cari mati!”

“Salah satu wujud sikap rendah hati adalah bersikap

pongah kepada orang pongah!”

Yudayana tak sanggup lagi menguasai amarahnya. Dia

langsung mencabut pedang yang tadi ia sarungkan di

pinggang lalu mencelat ke arah Respati. Tanpa panik, Respati

menyambut serangan Yudayana dengan gerakan berputar. Ia

lebih sering menghindar dari serangan pedang Yudayana

sambil mencari titik lemah jurus Ketua Serigala Putih itu.

Lewat beberapa jurus, Respati maklum bahwa

kemampuan Yudayana jauh di atas murid-muridnya yang

pernah ia kalahkan di tempat yang sama dua tahun lalu. Ia pun

bergerak lebih hati-hati. Pada titik waktu paling pas, Respati

mencabut keris Angga Cuwiri secepat kilat.

Sinar biru segera terpancar dari logam keris istimewa itu.

Yudayana yang pernah mendengar tentang kesaktian keris itu

tetap saja takjub melihat keelokan pamornya. Namun, dia tak

punya banyak waktu. Segera sinar biru itu mengurung ruang

geraknya dan menebar maut yang mencengangkan.

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Yudayana beberapa kali bersalto dengan pedang berputar

cepat. Tenaga dalamnya mengantarkan hawa panas

menyengat. Sadar lawannya bukan orang sembarangan,

Respati tak mau tanggung-tanggung. Jurus Hanacaraka

tingkat tinggi ia kerahkan. Pertempuran semakin seru. Sinar

biru dari keris Angga Cuwiri berkelebat-kelebat bukan main.

Pedang di tangan Yudayana pun tak mau menyerah.

Bacokan-bacokan berbahaya meluncur deras ke arah seluruh

titik berbahaya di tubuh Respati. Namun, dengan penuh

percaya diri, Respati memutar kerisnya agar bisa bertumbukan

langsung dengan pedang itu.

Tranggg!

Kedahsyatan keris Angga Cuwiri kini terbukti. Pedang di

tangan Yudayana patah jadi dua, ketika Respati mengadunya

dengan bilah keris pusaka itu. Yudayana melompat mundur

sambil mencampakkan potongan pedangnya. Ia lantas

membuat kuda-kuda kokoh sebelum menghambur lagi ke arah

Respati dengan teriakan lantang.

Respati yang sejak awal sudah siap bertempur habishabisan

sama sekali tak merasa takut. Menyambut serangan

terakhir Yudayana, dia langsung membabat ruang kosong

sambil melepas tenaga dalamnya.

Benturan tenaga dalam dahsyat terjadi. Yudayana

terlempar ke belakang sambil menekan dadanya. Sementara

Respati terhuyung ke belakang beberapa langkah.

“Seraaaaaang!”

Melihat ketuanya terluka, orang-orang Serigala Putih tak

tinggal diam. Mereka serempak menyerbu Respati dengan

senjata terhunus. Respati bereaksi cepat, segera menyambut

serangan mereka. Bunyi logam beradu terdengar nyaring.

Jantung-jantung berdegup kencang menyaksikan patahanpatahan

pedang yang terlempar ke udara.

Tubuh-tubuh ambruk berdebam dengan luka menganga.

Darah berceceran, menjadi noda merah mencolok pada

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

pakaian serbaputih yang dikenakan orang-orang Serigala

Putih. Satu per satu mereka ambruk dan meregang nyawa.

Respati tak berhenti bergerak. Dia habis-habisan menyerang

ke segala arah, membabat siapa saja yang ada di dekatnya.

Namun, datangnya serangan dari segala penjuru seperti

ombak yang tak mengenal habis. Puluhan anggota Serigala

Putih terus merangsek ke depan. Melayangnya nyawa rekanrekan

mereka tak membuat kendur semangat untuk meringkus

Respati. Telanjur basah. Nama besar Serigala Putih sudah

babak belur ketika markas utama mereka disatroni pendekar

misterius dua hari sebelumnya.

Kelompok ini tak akan punya wibawa lagi di dunia

persilatan jika hari ini tak bisa melumpuhkan Respati yang jadi

kambing hitam penyerangan hebat yang meruntuhkan

ketakutan orang-orang terhadap kelompok Serigala Putih.

Suara ribut kian menjadi-jadi. Sebagian dari orang-orang

Serigala Putih itu melemparkan jaring-jaring aneh yang

menyerbu Respati dari segala arah. Pemuda itu menyadari

bahaya yang mengintainya jika ia membiarkan jala-jala yang

beracun itu meringkus tubuhnya.

Respati langsung memutar kerisnya sambil

menghempaskan tenaga dalam yang tersisa di tubuhnya.

Serta-merta, orang-orang Serigala Putih yang tadinya

mengepung Respati terlempar ke belakang. Namun, lontaran

tenaga dalam Respati kali ini tak sedahsyat sebelumnya

sehingga hanya beberapa orang yang ambruk dan tak bisa

bangkit lagi. Orang-orang Serigala Putih yang lain langsung

melancarkan serangan susulan bersama-sama. Meskipun tak

gugup, Respati sadar sepenuhnya, melawan sedemikian

banyak orang, kecil kemungkinan menang.

Dia pun cepat memutar otak mencari peluang untuk

menuntaskan pertempuran itu dengan kemenangan. Sertamerta,

tubuh Respati melenting ke belakang. Bergerak cepat

memburu Yudayana yang kini duduk bersila, mengendapkan

rasa sakit yang menghantam dadanya akibat adu tenaga

dalam dengan Respati beberapa saat sebelumnya.

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Gerakan kilat keris Angga Cuwiri tak lagi bisa ia tepis.

Ujung keris sakti itu menyentuh kulit lehernya.

“Aku paling tak suka cara ini. Tapi menghadapi orangorang

seperti kalian, rasanya semua menjadi sah-sah saja.”

Orang-orang Serigala Putih yang tadinya hendak

menyerbu langsung menghentikan langkahnya. Sedikit saja

mereka teledor, ujung keris itu bisa menembus leher

Yudayana yang sekarang kelihatan tak peduli dengan

keadaan di sekitarnya. Matanya terpejam, bibirnya bergetar

menahan sakit.

“Aku tak punya alasan lagi untuk bertempur. Markas kalian

sudah hancur, ketua kalian juga sudah kutaklukkan. Aku tak

harus membunuh kalian satu per satu untuk menamatkan

riwayat Serigala Putih.”

“Tutup mulutmu!”

Gendang telinga Respati seperti bergetar. Suara itu lagi.

Suara perempuan yang sangat mengganggu. Respati segera

menemukan wajah perempuan sebaya dengannya yang kini

berdiri dengan pandangan mata tajam. Wajahnya tak

menampakkan kejahatan sebenarnya. Kulitnya bagus, garis

wajahnya sama sekali tak kejam. Hanya matanya yang

setajam golok demikian mengganggu.

“Apalagi yang akan kau lakukan?! Tak puas kau bunuh

semua saudaraku?!”

Pandangan mata Respati beradu dengan sinar mata

perempuan bergelung rambut itu.

“Harusnya kau malu kepada dunia dengan perbuatanmu

ini!”

Respati masih diam.

“Tunggu apalagi?!”

“Aku menunggu kau habiskan kata-katamu.” Dua mata

perempuan itu membelalak. Dia tak menyangka Ilmu Jala

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Sukma yang ia lancarkan sama sekali tak mempan. Seperti

membentur tembok.

“Sudah selesai. Ilmu itu hanya bisa kau gunakan untuk

menakut-nakuti anak kecil. Justru jika aku jadi kau, pasti aku

sudah bunuh diri karena malu!”

Perempuan itu tak lagi punya kata-kata untuk diucapkan.

Dia berdiri kaku dengan alis mata bertaut. Tak tahu lagi apa

yang harus dilakukan. Begitu juga dengan puluhan anggota

Serigala Putih lainnya yang mematung.

Respati lantas memasukkan keris Angga Cuwiri ke

warangkanya, perlahan. Tanpa khawatir akan diserang dari

belakang, dia membalikkan tubuhnya dan berjalan santai

meninggalkan tempat itu. Orang-orang Serigala Putih seperti

kehilangan semangat untuk mengejarnya. Mereka lalu

menghampiri Yudayana dengan harap-harap cemas.

0o0

Pelabuhan Surabaya, ketika sore dikepung langit emas.

Bagi hati yang sendiri, warna alam sore itu pasti

menyempurnakan rasa terjajah. Kekuatan hilang, tinggal

nelangsa yang menjadi-jadi. Langit dilukisi alam dengan warna

emas dan merah yang mencolok. Sisa sinar matahari hanya

cukup untuk memastikan pandangan mata agar tak ada

sesuatu yang tertukar.

Burung-burung laut menukik ke permukaan laut,

menjemput rezekinya pada tubuh molek ikan-ikan yang

bernasib sial sore itu. Permukaan laut membentuk lembahlembah

air yang senantiasa bergerak dan berubah-ubah.

Riuh rendah suasana pantai yang semarak. Kapal-kapal

dari negeri seberang tertambat rapi, berjajar seperti kawanan

kuda yang siap bersantap. Respati menatap nanar pada

sekelompok kapal-kapal besar yang ditambat lumayan jauh

dari pantai. Lelaki muda itu seolah menyaksikan keajaiban

yang belum pernah ia saksikan seumur hidupnya.

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Ia kini berdiri di atas perahu kecil yang mengantarnya

berlayar dari pantai menuju kapal induk, terbesar di antara

kendaraan-kendaraan laut yang luar biasa itu.

“Kisanak, berapa lama kapal-kapal Tiongkok itu ada di

sini?”

“Sudah sebulan lebih, Tuan. Saya dengar mereka akan

segera kembali ke negeri asalnya.”

Respati mengangguk sambil tersenyum, mewakili ucapan

terima kasihnya kepada pemuda pemilik perahu yang sibuk

mendayung. Hatinya tak habis bersyukur karena masih punya

harapan untuk bisa bertemu dengan Samita. Terlambat

beberapa hari saja, mungkin mereka sudah mengangkat

jangkar, kembali ke tanah Tiongkok.

“Apakah mereka tak berkeberatan kita datang?”

“Sama sekali tidak, Tuan. Orang-orang dari seberang itu

ramah-ramah. Mereka kan, tamu Prabu Wikramawardhana

yang terkenal baik budi.”

Respati manggut-manggut. Dia sama sekali tak ragu lagi.

Orang-orang di atas kapal itu benar utusan Kerajaan Ming dari

Tiongkok. Jantung Respati berdegup semakin cepat ketika

sebentar lagi perahu yang ia tumpangi merapat di kapal

raksasa, salah satu dari puluhan kapal armada Ming.

Beberapa orang ping-se menyambut kedatangan Respati

dengan senyum mengembang. Mereka lantas mempersilakan

Respati naik ke kapal, bergabung dengan belasan orang

pribumi yang sedang asyik beramah tamah dengan penghuni

kapal.

“Saya hendak bertemu dengan Laksamana Cheng Ho.”

Ping-se berperawakan ramping itu mengernyitkan dahinya.

Rupanya, kehendak tamunya kali ini berbeda dengan tamutamu

sebelumnya. Jika biasanya para penduduk pribumi

datang ke kapal-kapal itu sekadar ingin merasakan berada di

atas kapal raksasa Kerajaan Ming, kali ini ada yang

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

menanyakan perihal bahariawan agung pemimpin armada

Ming itu.

“Boleh saya tahu siapa Tuan dan apa keperluan bertemu

dengan Laksamana Ho?”

“Nama saya Sad Respati dari Majapahit. Saya sekadar

ingin bertemu dengan Tuan Ho.”

Wajah Ping-se itu sedikit berubah. Dia seperti tengah

memikirkan sesuatu.

“Apakah Tuan ini rakryan rangga Majapahit yang

termasyhur itu?”

“Tak perlu berlebihan, Tuan. Saya memang pernah

menjabat sebagai rakryan rangga. Tapi sekarang tidak lagi.”

“Ah, tentu Laksamana Ho sangat berkenan menemui Tuan.

Ikutlah dengan saya. Akan saya antar Tuan bertemu dengan

Laksamana Ho.”

Respati tersenyum sambil menganggukkan kepala. Ia

lantas mengikuti langkah tegap ping-se itu menuju pintu

masuk ke ruangan dalam. Mereka lalu berjalan di loronglorong

kapal berlantai kayu yang kokoh. Setelah melewati

beberapa penjagaan ping-se yang ketat, mereka berdua

sampai di depan ruangan dalam kapal yang pintunya tertutup

rapat. Di muka pintu itu, ada dua ping-se berdiri dengan siap

siaga.

“Tuan tunggulah sebentar. Saya akan memberitahukan

kedatangan Tuan kepada Laksamana Ho.”

Setelah diiyakan oleh Respati, ping-se itu lalu meminta izin

kepada dua ping-se jaga untuk masuk ke ruangan. Setelah

berbicara beberapa saat menggunakan bahasa Chung Kuo,

salah seorang ping-se jaga itu lalu masuk ke dalam ruangan.

Tak harus menunggu lama, dia keluar dengan wajah

sumringah.

“Laksamana Ho menunggu Anda di dalam, Tuan.”

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Jantung Respati berdetak lebih cepat lagi. Saat-saat

mendebarkan yang jarang ia alami selama hidup. Rasanya,

semua benda dan orang yang berhubungan dengan Samita

membuatnya gugup. Sekarang, ia harus bertemu dengan

orang paling berpengaruh dalam kehidupan Samita.

Sesaat setelah berhasil menenangkan hatinya,

Respati lalu masuk ke ruangan itu ditemani salah seorang

ping-se jaga. Tentu saja, sebelumnya dia sudah berterima

kasih kepada ping-se yang mengantarnya dari geladak ke

kabin itu.

Respati menangkap aura agung itu lagi. Seorang lelaki

hebat yang sudah ia kenal sejak empat tahun lalu. Bertemu

dalam perbincangan-perbincangan tak panjang lebar, namun

membuat hatinya takluk. Laksamana Cheng Ho berdiri

menatapnya dengan sinar mata berbinar dan senyum lebar.

Ia kini adalah seorang lelaki matang yang usianya

mendekati empat puluh tahun. Tetap tegap seperti dulu.

Hanya kini dagunya dihiasi jenggot panjang hitam mengkilap

menambah wibawa

“Tuan Respati, apa yang telah saya lakukan hingga begini

beruntung? Sore yang istimewa, Tuan mau bertamu ke kapal

kami.”

Respati buru-buru menjura membalas penghormatan

Cheng Ho yang ia rasa berlebihan.

“Tuan Ho, sedikit sekali penduduk Jawa Dwipa yang

beruntung pernah mengenal Tuan. Saya merasa tersanjung

karena termasuk di antara sedikit orang itu.”

Tanpa melepas senyumnya, Cheng Ho mempersilakan

Respati duduk di bangku bulat di tengah ruangan. Bahariawan

itu lalu mengisi cangkir kecil yang sudah disiapkan di atas

meja kecil dengan ramuan ginseng dan mempersilakan

Respati untuk mencobanya.

“Sudah lebih dari dua tahun. Pasti banyak hal hebat yang

Tuan alami.”

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Respati membiarkan tenggorokannya dimanjakan rasa

hangat dari ramuan gingseng yang ia tenggak. Setelah itu, ia

kembali meletakkan cangkir itu di atas meja.

“Jika Tuan Ho baru saja bertemu dengan sang Prabu,

tentunya sudah mendengar berita pengunduran diri saya.”

“Ya, Tuan benar. Tapi, itu bukan hal terhebat yang Tuan

alami bukan?”

Respati diam sejenak. Berusaha mencerna maksud katakata

Cheng Ho. Ia sadar orang di depannya memiliki

pandangan luas dan mumpuni. Tak boleh sembarangan

bicara.

“Saya berkelana beberapa lama, lalu menetap di Tuban.

Memang banyak hal hebat saya alami di sana.”

Cheng Ho manggut-manggut dengan senyum penuh

makna. Respati menebak-nebak. Tapi dia memilih berhati-hati.

Akhirnya, hingga langit benar-benar gelap, perbincangan itu

menghangat oleh pembicaraan mengenai situasi negara

beberapa waktu terakhir. Pemberontakan yang belum juga

mati dan perkembangan daerah-daerah pesisir yang semakin

ramai ketika para pendatang dari negeri jauh berdatangan.

Cheng Ho minta izin kepada Respati untuk

bersembahyang petang, ketika malam segera matang.

Beberapa lama, Respati dibiarkan menunggu di ruang pribadi

Cheng Ho sambil menikmati berbagai hidangan yang

disiapkan pelayan. Setelah beberapa lama, barulah Cheng Ho

kembali.

“Saya kagum kepada ketaatan orang-orang Islam.

Bersembahyang lima kali sehari semalam bukanlah hal yang

ringan.”

Cheng Ho tersenyum, lalu menuangkan ramuan ginseng

ke dalam cangkir porselen di depannya.

“Tuan Respati belum merasakannya, bagaimana bisa

menilainya?”

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Selama dua tahun di Tuban, saya tinggal di lingkungan

orang-orang Islam yang taat menjalankan ibadah mereka.”

“Sembahyang akan menjadi hal yang berat jika dimaknai

sebagai kewajiban. Sebaliknya, akan menjadi hal ringan dan

membuat tenang jika dinikmati sebagai sebuah kebutuhan.”

Respati langsung teringat gurunya, Kesawa. Seperti ini

juga ketika gurunya itu memberikan wejangan tentang hakikat

sembahyang.

“Tuan Ho, sebenarnya ada hal lain yang ingin saya

bicarakan dengan Tuan.”

“Oya? Katakan saja, Tuan Respati. Tak perlu sungkan.”

Respati diam sesaat. Menimbang-nimbang. “Ini tentang

Samita.” Dahi Cheng Ho berkerut.

“Maksud saya … ini tentang Hui Sing, Tuan Ho.”

Cheng Ho masih menunggu. “Kalau boleh, saya ingin

bertemu dengan murid Tuan.”

“Hui Sing ada di kapal ini, Tuan Respati?”

Respati tak segera menjawab. Dia malah melongo karena

bingung harus berkata apa. Ia tatap kesan wajah Cheng Ho

yang kelihatan tak sedang bergurau.

“Jadi, Tuan Ho belum bertemu dengan Hui Sing?”

Cheng Ho masih diam. Tatapannya berubah sendu.

Perlahan lelaki matang itu memindahkan pandangannya ke

atas meja.

“Tuan Ho, saya mohon maaf. Saya kira Hui Sing telah

sampai di kapal ini dan bertemu dengan Tuan.”

“Apakah Tuan Respati pernah bertemu dengannya?”

“Sekitar dua tahun lalu di Majapahit.”

“Dia baik-baik saja?”

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Cheng Ho menatap lekat ke arah Respati. Pemuda itu jadi

serbasalah. Merasa telah mengatakan hal yang tak tepat.

“Waktu itu dia kelihatan segar bugar, Tuan Ho.”

“Tuan tak pernah lagi mendengar kabar tentang Hui Sing

setelah itu?”

Respati semakin merasa tak enak hati.

“Sekitar sebulan lalu, saya mendengar kabar bahwa Hui

Sing pergi ke Pelabuhan Surabaya ini untuk menemui Tuan

Ho.”

Pandangan Cheng Ho menerawang. Dia kelihatan sangat

berduka. Respati memandanginya trenyuh.

“Maafkan saya, Tuan Ho.”

“Jika Tuan bertemu dengan Hui Sing, apa yang hendak

Tuan katakan?”

Kali ini, Respati benar-benar tak mampu menggerakkan

lidahnya untuk berkata-kata. Sebab, dia memang tak memiliki

jawabannya. Benar juga. Apa yang hendak ia katakan jika

bertemu dengan Hui Sing? Sejauh ini, Respati sama sekali tak

pernah memikirkan hal itu.

“Ss … saya ….”

Cheng Ho kembali menatap Respati dengan tajamnya.

Pandangannya seperti anak panah runcing yang menghunjam

jantung.

“Saya ….”

Semakin nyata rasa gugup di dada Respati. Dia seperti

kehilangan jati dirinya yang begitu tenang dan penuh

perhitungan. Di depan Cheng Ho, Respati seperti bocah yang

bingung dengan dirinya sendiri.

“Saya hendak melamarnya menjadi istri saya.”

Dua alis mata Cheng Ho terangkat. Ia cukup kaget.

“Bukankah Tuan Respati sudah beristri?”

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Kami sudah berpisah, Tuan Ho.”

Cheng Ho masih terheran-heran.

“Tuan sadar betul dengan apa yang Tuan katakan?”

“Sekarang saya yakin benar, Tuan Ho. Untuk itulah, saya

datang kemari menemui Tuan sebagai wali Hui Sing.”

“Tapi, ada perbedaan yang tak bisa dipandang remeh

antara kalian.”

“Jika yang Tuan Ho maksudnya adalah soal keyakinan,

saya telah memutuskan untuk memeluk Islam.”

“Tuan Respati, ini bukan masalah sepele.”

“Tuan Ho, bertahun-tahun saya mengagumi Islam tanpa

sebab yang saya pahami. Namun, setelah saya tinggal di

Tuban dan selama dua tahun mempelajarinya, saya merasa

nyaman dengan agama ini.”

Cheng Ho menentang sorot mata Respati yang kian yakin.

Tak ada yang menang. Keduanya bertahan.

“Tuan Respati yakin dengan keputusan ini?”

“Saya tak pernah seyakin ini sebelumnya, Tuan Ho.”

Sang laksamana berpikir tekun.

“Pada akhirnya, orang yang bersangkutan yang akan

menentukan. Tanyakan kepada Samita. Dia yang akan

menerima atau menolak Tuan.”

“Samita. Tuan tahu nama Samita?”

“Empunya nama memberitahukannya kepada saya.”

“Samita ada di sini?”

“Saya tadi menanyakan hal itu kepada Tuan, bukan berarti

saya menampik bahwa Samita ada di sini bukan?”

Senyum Respati melebar. Dia seperti tak lagi berpijak di

bumi. Jantungnya berdegup keras. Matanya berkaca-kaca.

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Ini sudah larut. Tak baik lelaki dan perempuan bertemu.

Datanglah lagi besok petang. Samita akan menemui Tuan di

geladak kapal.”

Respati masih tak percaya dengan apa yang ia alami.

Bibirnya bergetar, tapi ia tak mengeluarkan kata apa pun. Ia

memandangi wajah Cheng Ho yang seperti tengah bersinar. Ia

segera menyadarkan diri, lalu bangkit dan memberi hormat

kepada sang laksamana. Tanpa banyak berkata, ia

berpamitan dan keluar dengan langkah mantap.

Ada kelegaan luar biasa dalam dadanya. Seperti air bah

yang menjebol dinding tanggul. Bibirnya tak pernah sepi dari

senyum. Ia segera kembali ke atas geladak, lalu menatap

langit gelap yang dijejali bintang-bintang. Benaknya sudah

membayangkan sebuah pertemuan yang syahdu di atas

geladak kapal itu esok petang.

Respati segera menepis angan-angan itu dan menghardik

dirinya sendiri. Alangkah lugunya ia diperlakukan oleh asmara.

Ia lalu turun dari kapal raksasa itu dan kembali menaiki perahu

kecil yang disewanya sejak sore. Pemilik perahu, seorang

pemuda setempat memang tetap menunggu selama Respati

bertamu, karena ia dibayar untuk itu.

Ribuan lampion pada kapal-kapal raksasa armada Ming

menjadi latar belakang yang cantik, ketika perlahan perahu

kecil yang ditumpangi Respati bergerak ke pantai.

0o0

“Tak lelahkah kau terus-menerus membunuh?”

Sosok berjubah hitam dan bertopeng kayu dengan rambut

terurai itu berdiri kaku. Tangan kanannya menjinjing kecapi,

sedangkan tangan lainnya ia angsurkan ke belakang. Di

sekitarnya, bergelimpangan mayat-mayat prajurit Majapahit

bersimbah darah. Kini, ia seperti kehabisan tenaga untuk

bergerak. Atau sengaja memanjakan diri mendengarkan katakata

Windiriya yang begitu santun dan lemah lembut.

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Toh, dia tetap tak menjawab sepatah kata pun dan tetap

berdiri membelakangi pemuda berwajah tak berdosa itu.

“Nini, dendam tak akan pernah membawa kebahagiaan.”

Hening. Suara angin menabrak ranting-ranting pohon

begitu ribut. Jubah panjang yang dikenakan Setan Kecapi Bisu

juga berbunyi berisik saat diterpa udara yang bergerak.

“Tidakkah Nini rindu kampung halaman?”

Kepala Kecapi Bisu sedikit menyentak. Seperti orang yang

sadar dari lamunan. Sesaat kemudian dia menyentakkan

tubuhnya, berlari sekuat-kuatnya meninggalkan tempat itu dan

menghilang di antara pepohonan hutan Medangkamulan.

Windriya menatap trenyuh. Hatinya perih bukan main.

Entah kali ke berapa ia melakukan ini. Mencari tahu ke mana

jejak Setan Kecapi Bisu, pembunuh berdarah dingin yang

beberapa tahun terakhir mencekam dunia persilatan. Nama

Setan Kecapi Bisu menjadi mimpi buruk bagi siapa saja yang

berurusan dengannya.

Entah sudah berapa ratus prajurit Majapahit yang

nyawanya melayang di tangan iblis satu ini tanpa alasan jelas.

Setiap itu terjadi, Windriya hampir selalu ada di tempat yang

sama. Pemuda itu seperti hafal kapan iblis itu akan muncul

dan mengumbar maut. Maka, dia akan berusaha mencegah

agar peristiwa itu tak terulang.

Namun, dia tak pernah berhasil. Pembantaian besarbesaran

acap kali terjadi di depan matanya. Kalau sudah

begitu, yang ia lakukan adalah mengubur satu per satu tubuh

prajurit yang menjadi korban keganasan Setan Kecapi.

Jumlahnya yang kadang belasan sampai puluhan membuat

Windriya harus bekerja keras. Tapi tetap saja dia

melakukannya. Ia seperti hendak membayar kekejaman Setan

Kecapi Bisu dengan memperlakukan jasad-jasad mati itu

sebaik-baiknya.

Hari itu, Windriya mengulangi pekerjaannya. Satu demi

satu, ia membuat liang kubur ukuran besar untuk menampung

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

beberapa mayat sekaligus. Untuk menguburkan mereka satu

per satu jelas butuh waktu lama. Sedangkan dengan cara ini

pun dia harus bekerja tanpa henti dari sore hingga fajar

menyingsing.

0o0

Pemandangan sore yang sempurna.

Warna emas itu lagi. Selimut langit berwarna merah bara

diseling kuning yang membuat jiwa tercekam. Namun bagi hati

yang sedang dirundung asmara, pemandangan itu begitu

indahnya. Bayangan hitam serombongan burung yang

bergerak menembus angin memastikan bahwa pemandangan

itu nyata, bukan lukisan.

Respati berdiri di pinggir geladak kapal pusaka armada

Ming dengan hati berdebar. Seperti lidah-lidah ombak yang

menampar lambung kapal. Ia sabar menunggu dengan hati

yang sibuk merangkai-rangkai kata.

“Tuan Respati!”

Suara Cheng Ho memecah sunyi pikiran Respati. Pemuda

itu membalikkan tubuhnya dan merasa napasnya berhenti

terembus. Laksamana Cheng Ho berdiri gagah dengan jubah

hijau. Namun, bukan segala atribut penambah kewibawaan

sang laksamana yang membuat Resapati kehilangan katakata.

Sosok semampai yang ada di samping sang laksamanalah

yang membuatnya terpaku. Samita, gadis itu berdiri

dengan anggun. Sementara pandangannya tunduk menatap

lantai kapal. Ia mengenakan gaun sutra biru yang berkibarkibar

diterpa angin sore.

Saat perlahan dia angkat wajahnya, seperti ada sinar yang

memancar. Respati semakin tak mampu mengeluarkan

sepatah kata pun.

“Kakang Respati, apa kabar?”

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Respati tak segera menjawab. Dia tertegun menatap

Samita. Rasa terpesona yang sama ketika pertama kali ia

bertemu dengan gadis itu. Juga ketika ia menemuinya di

pinggir hutan Medangkamulan. Namun, kali ini ada getaran

lebih dahsyat yang menghantam dadanya. Samita mendadak

berubah menjadi dewi, di mata dan di hatinya.

Senyumnya yang mengembang diapit dua pipi merona

menahan malu saja, sudah membuat Respati gelagapan.

Suara halus yang keluar dari bibir mungil Samita seperti

mengusir akal sehat di otaknya.

“Jauh-jauh datang dari Tuban, bukankah Tuan ingin

menemui Samita?”

Kalimat Cheng Ho segera menyadarkan Respati.

“Eh, benar. Saya kemari untuk menemuimu Samita.”

Samita mengangkat kedua alisnya yang rapi dan

meruncing pada ujung-ujungnya.

“Bukankah Kakang Respati tengah sibuk mempersiapkan

pernikahan dengan putri Ketua Perguruan Kesawa di Tuban?”

“Eh, tidak. Kau salah paham. Kami tak akan menikah.”

“Kabar yang beredar seperti itu.”

“Yah. Itu sebuah kesalahpahaman.”

“Kesalahpahaman yang menjadi pembicaraan di seluruh

kota. Alangkah malangnya gadis itu jika ia sampai tahu.”

“Namanya Laksmi. Dia sudah kuanggap sebagai adikku

sendiri. Dia pun tak mempermasalahkan berita tak benar itu.”

Hening sejenak. Laksamana Cheng Ho tersenyum.

Sengaja dia tak ikut campur ketika muda-mudi di depannya

mengurai kesalahpahaman di antara mereka.

“Hari segera gelap, apakah Tuan Respati tak ingin segera

mengutarakan maksud hati Tuan?”

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Lagi-lagi Respati merasa salah tingkah. Semua kata-kata

yang ia siapkan buyar entah pergi ke mana. Dia kelihatan

gugup. Barangkali ini pertama kali sepanjang hidupnya.

Namun, beberapa saat kemudian dia sanggup menenangkan

diri dan berdehem untuk mengurangi rasa gugupnya.

“Saya datang untuk meminangmu, Samita.”

Giliran Samita yang kini tersentak. Matanya melebar.

Pipinya memerah semakin nyata. Bibirnya bergetar. Dia tak

tahu harus menjawab apa.

Cheng Ho tahu kegundahan hati murid sekaligus putri

angkatnya itu. Ia lalu mengajak Samita dan Respati duduk di

bangku-bangku mungil yang memang disiapkan untuk

bersantai di atas geladak. Setelah ketiganya duduk tenang,

Cheng Ho membuka percakapan.

“Samita, kau dengar sendiri keinginan hati Tuan Respati.

Apa jawabanmu?”

Samita sama sekali tak menjawab. Dia menundukkan

kepalanya dengan berbagai perasaan yang campur aduk.

Kedatangan Respati saja sudah di luar dugaannya. Kini, ia

mengutarakan maksud hati yang sama sekali tak pernah

terbayangkan oleh Samita.

“Diamnya seorang gadis berarti setuju.”

Kalimat Cheng Ho semakin membuat Samita merasa tak

punya hak melakukan apa pun. Dia masih diam tanpa katakata.

Sementara Cheng Ho tersenyum lebar.

“Besok pagi, datanglah lagi kemari, Respati. Jika Samita

tak ragu lagi untuk menerimamu sebagai suami, ia akan

mengatakan mas kawin yang harus kau penuhi.”

Respati mengangguk pelan. Untuk melakukan gerakan

lemah itu saja, sudah menjadi pekerjaan berat baginya saat

itu. Dia berada dalam sebuah puncak perasaan yang susah

diungkapkan dengan bahasa manusia. Karenanya, ketika

Cheng Ho bangkit lalu membimbingnya untuk berdiri, dia

menurut saja tanpa kalimat apa pun.

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Begitu pula ketika sang laksamana yang akan menjadi

ayah mertuanya itu mengantarnya ke ujung geladak,

meninggalkan Samita yang masih duduk gelisah di bangku

geladak, dia masih tak berani berkata-kata.

“Respati, kau akan segera menjadi menantuku. Ada hal-hal

yang mesti kau penuhi jika benar Samita menerima

pinanganmu.”

“Apa pun akan saya lakukan, Tuan.”

“Apa pun?”

Respati berusaha menentang sorot mata Cheng Ho.

“Apa pun, asal tak menentang kebenaran.”

“Bagus. Itu baru menantuku.”

Keduanya tersenyum lebar. Respati segera melompat ke

atas perahu kecil yang ia sewa. Pelan, perahu itu bergerak

menjauhi kapal pusaka. Sementara Respati berusaha

menangkap sosok Samita dengan pandangannya. Tapi tentu

saja gagal. Toh, dia tetap tersenyum penuh kebahagiaan.

“Aku bangga padamu, Samita. Jika saja kau tak menjaga

diri dari amukan cinta, belum tentu nasib baik ini yang akan

kau raih.”

Selepas kepergian Respati, Cheng Ho mengajak Samita

berbincang di ruang pribadinya. Samita masih belum banyak

bicara. Hal ini keluar dari kepribadiannya yang dulu dikenal

Cheng Ho. Bagaimanapun, Samita kini memang seorang

gadis matang berusia 21 tahun.

Selain usianya yang memang sudah cukup dewasa,

pengalaman hidup yang ia alami sendiri empat tahun terakhir

telah menempa kepribadiannya.

“Saya tak akan pernah melupakan nasihat Guru.”

“Kenapa kau tak juga memanggil aku ayah, Samita.”

Samita tersipu, masih dengan kepala tertunduk.

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Aku yakin, selama berada di Tuban, kau pun tahu

perkembangan pengetahuan Respati tentang tata cara dalam

agama kita.”

“Guru, eh, Ayah, setahu saya, Kakang Respati menjadi

salah seorang murid dekat Ki Kesawa. Saya kira, ia sudah

mengenal betul tata cara dan inti ajaran agama kita.”

“Artinya, Respati tahu benar syarat sah sebuah pernikahan

dalam agama kita?”

“Insya Allah, Ayah.”

“Termasuk kewajiban bersunat?”

Samita kembali tersipu. Dia tak menyangka Cheng Ho

menanyakan hal yang ia anggap tabu itu.

“Ah, aku salah. Seharusnya, aku menanyakannya kepada

Respati.”

Cheng Ho pura-pura keseleo lidah untuk mengurangi rasa

malu Samita.

“Lalu, apa mas kawin yang kau inginkan, Samita?”

Samita berpikir sejenak.

“Cukup keislaman Kakang Respati, Ayah.”

Cheng Ho tersenyum lagi.

“Beruntungnya aku, punya anak dan menantu yang begini

baik akhlaknya. Baiklah. Sebelum aku berangkat kembali ke

Tiongkok, kalian akan menikah di kapal ini. Dengan begitu,

aku akan pulang dengan hati tenang. Aku percaya Respati

bisa membahagiakanmu, Samita.”

Samita mengangguk dan berterima kasih. Perbincangan itu

terhenti ketika salah seorang ping-se mengumandangkan

ajakan sembahyang petang. Cheng Ho dan Samita lantas

bergegas keluar ruangan untuk bergabung dengan awak kapal

lain mendirikan kewajiban agama mereka.

0o0

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Samita, angin laut, dan langit fajar

Perasaan gila apakah ini? Samita berdiri termangu di

pinggir geladak. Rambutnya bergerak mengikuti kehendak

angin. Tatapan mata gadis itu mengapung pada permukaan air

laut yang berbukit-bukit. Seperti itu juga hatinya. Terapung.

Tak paham lagi apakah warnanya.

Bahagiakah? Berdebar-debar dan tak sabar menunggu.

Kadang ia tersenyum sendiri. Pertemuan dengan Respati

kemarin adalah segala-galanya. Titik waktu yang demikian ia

puja. Bertahun-tahun menunggu, akhirnya tiba juga. Respati

berdiri di hadapannya dengan tatapan mata dan kalimat malumalu.

Menikah! Menyatukan yang dua menjadi satu. Samita telah

menempuh rintangan yang sudah tak terhitung jumlahnya dan

kini dia masih tak percaya. Semua yang dia inginkan betulbetul

di depan mata. Semua! Sebab, jiwanya yang sederhana

memang hanya memuja seorang Respati.

Satu sosok yang telah mengalahkan semua keinginan

duniawi. Samita tersipu. Ia menitipkan khayalan-khayalan

masa depannya pada buih-buih di permukaan air yang terus

bergerak.

Selesai semua luka. Samita mendongakkan kepalanya

kini. Menantang sinar fajar menuju benderang, lalu berbisik

sangat pelan, “Aku pantas bahagia.”

0o0

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

20. Bumi dan bulan

Pernikahan syandu di atas kapal pusaka armada Ming

menyatukan Respati dan Samita berlangsung sepekan

kemudian. Kegembiraan rata di antara para awak kapal. Tak

ada pesta berlebihan. Semua berlangsung sederhana

meskipun kemeriahan tetap terasa. Seperti sebuah perjalanan

panjang yang sampai pada tujuan.

Respati sadar betul bahwa ia tengah menjelang berbagai

keberuntungan hidup. Pernikahan ini begitu ia inginkan sejak

lama. Hanya, takdir seperti sengaja mematangkan jiwanya

terlebih dahulu dalam perjalanan waktu yang demikian lama

agar tak ada penyesalan.

Kini, dia merasa sangat siap untuk memiliki dan menaungi

Samita. Tak seperti empat tahun lalu, atau dua tahun lalu.

Begitu pula dengan Samita, dia menerima kehadiran Respati

tanpa rasa bersalah. Tak akan seperti ini jika dia memaksakan

hati empat tahun lalu atau dua tahun lalu.

Semua seperti sudah direncanakan. Keduanyapun yakin,

memang ada yang merencanakannya.

“Samita lihat, bulan purnama sedang penuh.”

Malam pengantin yang mendayu-dayu. Respati dan Samita

berdiri di belakang jendela kamar pengantin menatap suasana

malam di tengah laut yang hidup. Bulan sebesar tampah bulat

sempurna dan bercahaya penuh. Permukaan laut berubah

warna jadi keperakan.

“Aku sudah pernah mengatakannya kepada Kakang. Bulan

memang selalu ingin datang menyinari penduduk bumi.”

Respati tersenyum. Semakin erat ia dekap tubuh Samita

dan membiarkan kepala istrinya menyandar di dadanya yang

kokoh. Ingatannya kembali ke masa empat tahun lalu. Di

sebuah dangau pinggir Danau Tirta Kusuma, kata-kata serupa

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

pernah mereka ucapkan, ketika perpisahan sudah di depan

mata.

“Kau ingat, Samita? Waktu itu Kakang juga mengatakan

bahwa bumi akan selalu mengharapkan kehadiran bulan.

Selalu dan selamanya.”

Keduanya tersenyum ikhlas. Hati mereka juga ikhlas.

Sementara kehidupan laut berjalan seperti apa adanya.

Rombongan ikan berkecipak dengan suara yang riuh. Angin

darat menyentak-nyentak tubuh kapal, ketika malam semakin

larut dan diam.

Jauh dari Pantai Surabaya, di pinggir hutan Ketemas,

Windriya tengah berbincang dengan beberapa orang prajurit

Majapahit mengelilingi api unggun yang nyalanya kian

meredup.

Sejak tadi, cerita-cerita lucu yang keluar dari mulut

Windriya membuat para prajurit itu terpingkal-pingkal

dibuatnya.

“Ada sepasang suami istri tinggal di pinggir

Medangkamulan. Sang suami buta, sedangkan si istri buruk

rupa. Suatu malam, sang istri berkata kepada suaminya,

‘Suamiku, kalau saja kau bisa melihat, tentunya kau akan

bangga memiliki istri secantik aku.’ Mendengar kata-kata

istrinya itu, si suami menjawab, ‘Kalau benar kau cantik jelita,

mana mungkin lelaki di desa ini membiarkanku

mengawinimu.'”

Para prajurit itu sontak terbahak-bahak. Mendengarkan

cerita lucu di saat malam yang mencekat seperti itu tentu saja

sangat menguntungkan. Selain bisa mengusir rasa kantuk,

juga mengurangi dingin yang menusuk.

“Kau masih punya cerita lucu, Windriya? Ayo keluarkan

semuanya.”

“Ah, nanti dulu. Masa dari tadi aku saja yang bercerita.

Bukankah Tuan-tuan ini juga sangat menguasai ilmu

bercerita?”

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Cerita seram aku punya. Kau mau mendengarkannya?”

Salah seorang prajurit berkumis tebal nyeletuk. Tiba-tiba

semua diam. Para prajurit yang berkumpul di depan api

unggun itu jumlahnya sepuluh orang. Mereka adalah sebagian

kecil dari puluhan prajurit Majapahit yang tengah melakukan

perjalanan menuju Demak.

Windriya bertemu dengan mereka di pinggir hutan

Ketemas. Pemuda itu sengaja bergabung dengan mereka dan

menemani mereka beristirahat di pinggir hutan. Bahkan, ketika

sebagian besar prajurit sudah terlelap, dia menemani para

prajurit jaga bergadang.

“Ih, belum-belum bulu kudukku sudah berdiri. Apa tak ada

cerita lain kecuali cerita seram?”

Prajurit jaga yang lain menimpali kalimat rekannya. Dia

seorang prajurit muda dengan garis wajah halus, tak seperti

seorang prajurit kasar. Ia duduk memeluk kakinya yang dilipat

untuk mengusir rasa dingin. Pada saat bersamaan, Windriya

merasakan sesuatu.

Pandangan matanya menajam. Pendengarannya disiapkan

baik-baik. Wajah berserinya lenyap. Matanya bergerak-gerak.

“Sebaiknya Tuan-tuan bersiap. Prajurit lain juga harus

dibangunkan.”

“Bicara apa kau, Windriya?”

“Sejak siang tadi, saya sudah berusaha mengingatkan,

kawasan ini tidak aman bagi prajurit Majapahit.”

“Kau membicarakan Setan Kecapi Bisu, Windriya?”

Pemuda itu mengangguk.

“Saya akan coba menghadapinya untuk mengulur waktu.

Tuan-tuan sebaiknya segera meninggalkan tempat ini.”

“Omong kosong. Kau anggap kami prajurit pengecut?”

“Bukan begitu, Tuan. Sudah terlalu banyak prajurit

Majapahit yang dibantai di Medangkamulan dan Ketemas.”

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Kalau begitu, kami akan menuntut balas atas kematian

saudara-saudara kami!”

Kalimat si prajurit berkumis tebal itu terputus oleh denting

kecapi yang menyanyat. Asal suaranya dari dalam hutan.

Irama kecapi itu benar-benar membuat jerih hati. Para prajurit

segera bersiap. Mereka mencabut senjata masing-masing

dengan dada berdegup. Beberapa di antara mereka lantas

menyerbu ke tenda-tenda prajurit untuk membangunkan

rekan-rekan mereka.

Windriya bangkit. Dia melepaskan seruling dari ikat

pinggangnya, lalu menempelkan lubang paling ujung dari

batang seruling itu ke bibirnya. Mengalunlah tembang sendu

dengan cengkok yang khas lewat bunyi seruling itu.

Bunyi kecapi mengawini irama seruling. Menyatu dalam

keharuan yang tak terkatakan. Para prajurit yang sudah siap

dengan pedang di tangan tertegun. Mereka berdiri tak

mengerti, mengapa Setan Kecapi Bisu tak segera datang

menyerang.

Sementara percintaan alunan kecapi dan seruling itu terus

berlangsung. Tambah menyayat. Windriya memejamkan

matanya, menyimak benar denting kecapi yang menelusup ke

gendang telinganya, tanpa kemudian membuat permainan

serulingnya kacau-balau.

Beberapa lama dalam keadaan seperti itu, tiba-tiba bunyi

kecapi terhenti. Windriya sendiri mengembarakan nada

serulingnya ke sudut-sudut hutan Ketemas. Begitu sadar,

pecintaan nada itu telah terputus. Windriya membuka

matanya. Tanpa kata pamit, dia melompat ke arah hutan,

meninggalkan para prajurit yang kini diam terbengongbengong.

Windriya berlari sekencang-kencangnya. Pastilah duri

semak-semak telah tak terhitung berapa kali menusuk telapak

kakinya. Rasa perih di kaki tak lagi merisaukannya. Di

kepalanya hanya terisi kerinduan.

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Sampai di tengah hutan, langkahnya terhenti di depan

pohon besar dengan cabang-cabang raksasa. Sosok gelap

berdiri mematung di atas salah satu batang itu. Windriya

menatapnya dengan pandangan syahdu. Sisa sinar bulan

yang mengintip dari sela dedaunan menerpa wajahnya.

“Jangan ikuti aku lagi!”

Mata Windriya membelalak. Setengah tak percaya. Iblis

pembunuh itu mengeluarkan kata-kata. Ini pertama kalinya

setelah bertahun-tahun orang-orang dunia persilatan

menamainya sebagai Setan Kecapi Bisu.

“Ramya, tidakkah kau merindukan saat-saat dulu?”

Tak ada jawaban. Setan itu kembali bisu.

“Semua orang merindukanmu. Hui Sing mencarimu ke

mana-mana. Begitu juga aku.”

Setan itu tambah diam. Bahkan, hatinya pun tak bicara.

Sementara Windriya masih memohon, tubuh Setan Bisu

melenting dan lenyap begitu saja. Windriya berdiri kaku.

Jiwanya terguncang. Matanya berkaca-kaca, lalu mulai

melelehkan air mata.

Setengah putus asa, ia pun jatuh terduduk di tanah dengan

perasaan tak keruan. Sementara rasa sakit di kaki dan bagian

tubuh lain yang tertusuk duri-duri semak mulai meraja.

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

21. Anak Soma

Satu tahun berlalu secepat anak panah yang meluncur dari

busurnya. Kehidupan rakyat Majapahit mulai tenang.

Pemerintahan Wikramawardhana tetap mengundang sikap

menentang di daerah-daerah. Namun, kali ini sang prabu

bersikap sangat hati-hati agar kehendak berseberangan itu tak

berubah menjadi pemberontakan yang berbahaya

Sikap sangat hati-hati ini pula yang mengundang

ketidaknyamanan kelompok rakyat tertentu. Mereka merasa

dikebiri karena kerajaan selalu membatasi ruang geraknya.

Rakyat sepertinya hanya disuruh untuk hidup membosankan

tanpa semangat untuk maju. Kegiatan peribadatan dibiarkan,

tapi ketika perbincangan antarpenganut menyentuh soal

keadilan hidup, mereka langsung digerus.

Dianggap menentang kerajaan dan membahayakan

keyakinan rakyat, tokoh-tokoh agama yang tak mau alam

pikirannya terpasung itu ditangkapi dan tak jelas lagi seperti

apa nasibnya kini. Perguruan-perguruan silat pun harus punya

hubungan baik dengan kerajaan jika ingin tetap bertahan dan

diakui.

Jika tidak, mereka akan diserbu berbagai tudingan palsu.

Salah satunya menghimpun kekuatan untuk menyerang

Majapahit. Kini, salah satu perguruan yang sedang banyak

diperbincangkan adalah Perguruan Hanacaraka di pesisir

Surabaya. Hanya dalam waktu satu tahun, murid perguruan itu

jumlahnya sudah mencapai ratusan.

Perguruan mereka tak hanya mengajarkan ilmu

kanuragan, tapi juga berbagai pengetahuan yang sangat

lengkap. Mulai dari ilmu berhitung, perbintangan, falsafah,

sastra, sampai ilmu pertanian diajarkan di sana.

Bentuknya mirip dengan Perguruan Kesawa di Tuban.

Hanya di Perguruan Hanacaraka, ilmu bela diri cukup

diutamakan. Dalam waktu sebentar saja, sudah tercetak

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

murid-murid berkemampuan lumayan tinggi. Pendiri sekaligus

ketua perguruan hebat itu adalah Sad Respati, mantan rakryan

rangga Majapahit yang telah meninggalkan dunia kekuasaan.

Bersama istrinya, Samita, Respati bahu membahu

membangun perguruan yang mengamalkan sikap hidup welas

asih Hanacaraka, selain juga memperkenalkan Islam kepada

masyarakat Surabaya. Pemahaman Respati yang mumpuni,

ditambah kemampuan luar biasa Samita yang menguasai ilmu

Islam dan hakikat Hanacaraka sekaligus, membuat perguruan

itu berkembang pesat.

Nama pasangan pendekar berilmu tinggi itu dikenal luas di

Surabaya dan daerah-daerah lain. Kenyataan bahwa Respati

adalah seorang bekas rakyran rangga dan Samita sebagai

putri Laksamana Cheng Ho, utusan agung kerajaan Ming

membuat orang maklum bahwa kemampuan mereka berdua

sungguh sulit dicari tandingannya.

Hari itu, hari Soma Bulan Caitra. Para penganut Islam

biasa berpuasa pada bulan istimewa itu. Termasuk juga para

penghuni Perguruan Hanacaraka yang memeluk Islam.

“Kakang, sayang aku tak bisa menemani Kakang untuk

poso.”

“Justru Kakang akan khawatir kalau kau bersikeras poso,

Samita. Kita pikirkan calon jabang bayi dulu. Bukankah kau

bisa mengganti amalan poso di luar Bulan Caitra?

Samita mengangguk sambil mengelus perutnya yang

membesar. Usia kandungannya sudah lewat sembilan bulan.

Tak akan lama lagi, buah cintanya dengan Respati lahir ke

dunia. Perempuan itu justru bertambah cantik dalam keadaan

berbadan dua.

Paling tidak, Respati merasakan betul hal itu. Dia lalu

mendekati istrinya yang duduk di pinggir pembaringan, lalu

berjongkok di depannya. Perlahan, dia menempelkan daun

telinganya ke perut Samita.

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Anakku, kau jangan menyusahkan ibumu. Cepatlah lahir

dan menjadi pendekar berbudi.”

Samita tersenyum. Ia mengelus kepala suaminya dengan

penuh kasih.

“Jika dia lelaki, aku ingin kau menamainya Soma.”

Kepala Respati sedikit mendongak dengan kesan wajah

memohon.

“Hari ini hari Soma. Kenapa begitu istimewa bagi Kakang?

Lagi pula, Kakanglah yang nanti akan memberi nama anak

kita. Kenapa mesti aku?”

Respati tak menjawab. Dia kembali menempelkan

telinganya di perut istrinya. Menunggu si jabang bayi bergerakgerak.

Akhirnya Respati tersenyum puas, ketika keinginannya

terwujud. Ia merasakan degup jantung di dalam perut Samita.

Juga gerakan-gerakan kecil yang mengundang keingintahuan.

Respati lalu duduk menjejeri Samita. Ia memandang takjub

istrinya, seperti baru pertama kali bertemu. Samita yang hari

itu menggelung rambutnya memang kelihatan sangat anggun

dan keibuan. Tanpa berkata-kata, Respati lantas mencium

kening Samita penuh perasaan.

“Kakang harus pergi ke pesisir, Samita. Seorang pemuka

masyarakat di sana mengundang Kakang untuk

membicarakan rencana melatih pemuda kampung ilmu

pertanian. Barangkali Kakang baru pulang malam nanti.”

“Jauhkah?”

“Kau tahu Desa Tumpak, di sisi Selatan Surabaya?”

“Tak terlalu jauh.”

Respati mengangguk pelan. Setelah mendapat

persetujuan dari istrinya, Respati segera bangkit dan hendak

berjalan ke arah pintu kamar, ketika Samita memanggil

namanya.

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Kakang, aku dengar Majapahit semakin membabi buta

menangkapi orang-orang yang dianggap menentang. Apakah

Kakang pikir, perguruan kita juga diincarnya?”

Respati tersenyum. Ia tidak jadi melangkah ke pintu, tapi

kembali menghampiri istrinya, lalu berjongkok di depannya.

“Kita mengajarkan kebaikan dan tak menentang siapa pun.

Kenapa mesti khawatir?”

Samita menganggukkan kepalanya dan tersenyum ikhlas,

ketika suaminya benar-benar pergi. Beberapa saat kemudian,

dia sibuk menulis sesuatu di atas daun lontar dengan ujung

pisau kecil sebagai alat tulis. Selama menunggu masa

kelahiran, Samita memang banyak menghabiskan waktu

dengan menulis apa saja. Kadang dia menumpahkan

perasaan hatinya yang berbunga-bunga dengan syair-syair

indah.

Di saat lain, dia menulis tentang hakikat hidup dan

penjabaran ilmu-ilmu agama. Seperti itu, hingga pergantian

hari sungguh berlalu cepat dan tak terasa berat.

0o0

Malam sudah hampir sampai di ujung perjalanan. Samita

merasa rahimnya terdesak rasa sakit yang kian menghebat.

Dia sadar, si jabang bayi akan segera lahir. Keringat dingin

mulai merembes dari keningnya. Rasa mulas yang luar biasa.

Perlahan, Samita bangkit dari pembaringan. Satu hal yang ia

inginkan, tak ingin sendiri.

Dengan tertatih, ia mendekati pintu ruang pribadinya.

“Mbok Usrek!”

Tangan kanan Samita memegangi perut, sedangkan

tangan lainnya mulai meraih daun pintu kamar itu. Sebentar

kemudian, palang pintu kayu berhasil ia angkat. Bunyi berderit

cukup keras terdengar ketika pelan Samita membuka pintu

kamar untuk kemudian melangkah keluar.

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Pada saat yang sama, dari arah pintu luar kamar, seorang

perempuan setengah baya tergopoh-gopoh datang.

“Aduh, Nyai … ini sudah waktunya. Nyai mau ke mana?”

Usrek lantas membimbing Samita kembali ke

pembaringan. Perlahan dia membantu Samita kembali

berbaring terlentang.

“Saya akan mencari bantuan. Nyai jangan ke mana-mana.

Saya tak akan lama.”

Meskipun mengiyakan, tak urung Samita berpesan agar

perempuan tua itu tak terlalu lama meninggalkannya. Sehebathebatnya

ilmu kanuragan yang dimilikinya, Samita tetap saja

perempuan biasa yang tengah menghadapi persalinan

pertama seumur hidupnya. Rasa sakit yang menjadi-jadi

membuat wajahnya pucat pasi.

Napas Samita semakin tak teratur. Bahkan, ketika dia

memusatkan pikiran untuk mengerahkan tenaga dalam, tak

lantas rasa sakit di perutnya lenyap. Sebaliknya, dia semakin

bingung harus berbuat apa. Untungnya, beberapa saat

kemudian Usrek datang bersama dua orang perempuan lain

yang membawa air panas dan beberapa ramuan dalam botol.

Mereka bergerak sigap berjaga-jaga. Usrek lalu merabaraba

perut Samita untuk memastikan bahwa bayi dalam

kandungan Samita benar-benar hendak lahir. Setelah yakin, ia

pun lantas membimbing Samita untuk mengikuti setiap

perintahnya.

“Kakang Respati!”

Suara Samita lebih mirip jeritan. Dia mencoba tenang tapi

tak sempurna. Sakit yang menghantam perutnya jauh lebih

luar biasa dibandingkan ketika tulang belulangnya patah saat

jatuh di jurang Medangkamulan lima tahun lalu.

“Saya sudah menyuruh salah seorang murid untuk

menjemput suami Nyai. Jangan khawatir, dia akan segera

datang.”

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Samita memusatkan tenaga dalamnya di dada. Mengatur

napas dengan saksama dan mulai mendorong si jabang bayi

ke mulut rahim. Toh, wajahnya yang putih kian pucat. Seperti

tak ada darah yang mengalir di sana. Perempuan hebat itu

membentangkan kedua tangannya, lantas mencengkeramkan

kedua telapak tangan, hingga sepuluh jari tangannya

menghunjam di pinggir-pinggir pembaringan.

Gigi-giginya beradu menahan sakit. Bulir-bulir keringat

menghambur dari seluruh pori-pori yang ada di permukaan

kulitnya. Tiba-tiba Samita merasakan amarah yang luar biasa.

Amarah manusiawi ketika dia merasa kesal harus menjalani

rasa sakit yang begitu hebat. Dia dengan kesendiriannya,

tanpa satu pun orang untuk berbagi.

Kebencian pada suatu hal yang tak jelas. Kebencian yang

kemudian dihentakkan oleh Samita hingga berujung pada

tangisan bayi yang melengking sejadi-jadinya. Samita merasa

tubuhnya langsung lemas. Semua tenaga seakan tercerabut

dari tubuhnya. Ia masih telentang dengan tubuh tanpa

kekuatan.

“Tampan sekali. Pasti dia akan menjadi pendekar ternama

suatu saat kelak.”

Usrek, dukun beranak yang satu bulan terakhir tinggal di

Perguruan Hanacaraka itu berkata setengah teriak. Wajahnya

sumringah, hingga kerut-kerut di wajahnya demikian kentara.

Ia buru-buru menyuruh dua orang perempuan di dekatnya

untuk menyiapkan air hangat. Dengan telaten dan saksama, ia

lantas membersihkan tubuh si jabang bayi hingga benar-benar

tak bersisa noda pada kulitnya. Ia lalu melilitkan kain di tubuh

bayi merah itu agar terasa hangat.

“Lihat Nyai. Putra Nyai sungguh tak sabar untuk minum air

susu ibunya.”

Samita tersenyum dalam kebingungan. Dia sendiri belum

paham bagaimana menghadapi bayi mungil yang kelihatan

begitu lemah itu. Dengan dibimbing Usrek, Samita pun

melakukan tugas termulianya, menyusui buah hatinya dengan

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

cinta kasih. Sementara kesan di mata Samita masih penuh

ketidakpercayaan.

Sembilan bulan lebih menunggu, tapi begitu si jabang bayi

lahir, dia masih belum percaya bahwa dirinya telah menjadi

seorang ibu. Tak urung air matanya meleleh melihat si jabang

bayi yang kini terdiam. Wajah damainya seperti telaga.

Matanya memejam, sementara mulutnya sibuk meminum susu

dari ibunya.

“Pantas Kakang Respati ingin kau bernama Soma, Nak.”

Samita memejamkan matanya penuh syukur. Beberapa

lama bayi mungil itu akhirnya terlelap. Dibantu Usrek, Samita

lalu membaringkan bayi itu di amben khusus di samping

pembaringan orangtuanya.

Samita duduk di pinggir pembaringannya tanpa melepas

pandangan matanya dari sosok suci itu. Rasa sakit selepas

melahirkan tak dirasakannya lagi. Dia berkomat-kamit

mengucap syukur dengan nada lirih.

“Nyai!”

Samita dan tiga perempuan renta di ruangan itu menoleh

ke arah pintu yang diketuk dari luar. Usrek lalu bangkit menuju

pintu kamar dan membukanya perlahan.

“Kau kenapa?”

Wajah Usrek langsung berkerut melihat pemuda tanggung

yang tadi ia suruh untuk menjemput Respati berdiri di depan

pintu dengan wajah pucat pasi. Kakinya menggigil, giginya

bergemerutuk.

“Sa … saya ….”

“Apa yang terjadi?”

“Murid-murid perguruan diserang oleh orang-orang

bertopeng. Warga Desa Tumpak juga banyak yang tewas

dibunuh.”

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Sepasang mata tua itu membelalak. Bibirnya bergetar

hebat. Kini, dia celingukan bingung harus bagaimana. Berdiri

di depan pintu sambil bergantian menoleh ke arah dalam dan

luar ruangan.

“Ada ada Mbok?”

“Ah tidak, Nyai. Hanya urusan kecil.”

“Urusan kecil?”

Usrek kaget untuk kedua kalinya karena ternyata Samita

sudah berdiri di belakangnya. Wajah perempuan ayu itu masih

kelihatan pucat.

“Apa yang terjadi dengan gurumu?”

Nada suara Samita datar dan tenang. Ia paham telah

terjadi sesuatu di luar pengetahuannya. Dia kini memaksa

murid muda Hanacaraka itu untuk bicara.

“Orang-orang jahat menyerang Desa Tumpak, Nyai.”

Samita mengangguk-angguk. “Dan. murid-murid

Hanacaraka tak bisa mengusirnya?”

“Kemampuan mereka sungguh sangat tinggi, Nyai. Para

murid kewalahan, penduduk desa banyak yang tewas.

Sekarang guru tengah dikeroyok oleh mereka.”

Samita berusaha tetap tenang. Padahal, hatinya jelas

gundah gulana. Pasti orang-orang yang menyerang Desa

Tumpak bukan kelompok semba-rangan. Murid-murid

Perguruan Hanacaraka tak mungkin begitu saja lumpuh oleh

serangan bramacorah mana pun. Kalau kelompok bertopeng

itu mampu mempecundangi mereka, berarti orang-orang itu

memang berilmu tinggi.

Tersirat dalam benaknya untuk menyusul Respati, tapi

hatinya langsung ragu mengingat bayi merah yang baru saja ia

lahirkan. Selain itu, terlalu berbahaya memaksakan diri

bertarung usai melahirkan. Tenaganya belum pulih. Luka

bekas melahirkan juga masih terasa menggigit.

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Mbok Usrek, jaga anakku baik-baik. Dan kau, Anak muda,

beritahu semua saudara seperguruan untuk berjaga-jaga di

luar. Bukan tak mungkin, orang-orang itu akan menyerang

kemari.”

“Nyai mau ke mana?”

Usrek menatap Samita penuh cemas.

“Kakang Respati butuh bantuanku, Mbok.”

“Tapi keadaan Nyai masih sangat lemah. Terlalu

berbahaya untuk bertarung.”

Samita tersenyum. Ia menggenggam telapak tangan

perempuan tua itu.

“Nyawa bukan berada di tangan kita, Mbok. Percayalah,

aku akan baik-baik saja.”

Setelah mengatakan itu, Samita menghampiri

pembaringan. Mengambil secarik kain lalu membebatkannya

melingkari perut. Dia menghampiri amben kecil tempat

putranya pulas tertidur. Ia ciumi bayi mungil itu beberapa saat.

Napasnya terhela perlahan.

Beberapa saat kemudian, Samita telah berdiri di pelataran

perguruan dengan pakaian siap tarung.

Seperti ketika dia masih gadis dulu. Hanya rambutnya yang

elok kini digelung memberi kesan dewasa. Sambil menekan

rasa sakit di perutnya, Samita menaiki kuda yang telah

disiapkan muridnya.

Para murid yang berdiri melepas kepergiannya tampak

cemas.

“Ingat, tak ada yang boleh keluar perguruan. Apa pun yang

terjadi di perguruan, semua adalah tanggung jawab kalian.”

Tak menunggu lama, Samita lalu memacu kudanya ke

Desa Tumpak. Terguncang-guncang di atas kuda tentu saja

membuat luka sehabis melahirkan tambah terasa sakit. Tapi

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Samita bertahan. Kepalanya mulai pening, tapi dia tak

mengurungkan niat.

Satu hal yang berputar di benaknya hanyalah bertempur

melawan musuh di samping suaminya tercinta. Kuda terbaik

yang ia naiki melesat cepat memasuki kawasan Desa Tumpak.

Desa ini dihuni oleh orang-orang yang gemar bekerja keras.

Mereka tak pernah diam, selalu berpikir untuk maju.

Sampai kemudian terpikir untuk membekali para pemuda

setempat dengan ilmu pertanian. Karena Perguruan

Hanacaraka juga mengajarkan ilmu pertanian, hari itu Kepala

Desa Tumpak mengundang Respati untuk melatih pemuda

setempat cara bertani yang baik.

Tak disangka malah hal itu menjadi awal malapetaka.

Samita tak membiarkan dugaan-dugaan buruk berputar di

kepalanya. Ia ingin segera sampai ke tujuan untuk melihat

keadaan suaminya. Hingga akhirnya, ia benar-benar masuk ke

pintu gerbang Desa Tumpak dengan dada berdegup kencang.

Terdengar bunyi pertempuran. Samita memacu kudanya

hingga tampak jelas orang-orang berjumpalitan dalam

pertempuran yang dahsyat. Samita mencari-cari sosok

suaminya. Dia sedikit lega ketika melihat Respati masih matimatian

menentang serangan belasan orang bercadar hitam

dengan keris Angga Cuwiri-nya.

Sekali sentak, tubuh Samita melayang, menerobos

kepungan orang-orang itu.

“Kakang!”

“Samita! Bagaimana anak kita?”

Samita tak sempat menjawab pertanyaan Respati. Ia

langsung disibukkan oleh serangan orang-orang bertopeng itu.

Kini, belasan orang bertopeng itu terbagi dua. Sebagian

mengeroyok Respati, sebagian lagi memburu Samita.

Perempuan pendekar itu lantas melolos sabuk peraknya

yang kesohor. Sekali sentak, sabuk panjang itu meliuk

menyebarkan maut. Tapi baru beberapa jurus, gerakan sabuk

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

yang biasanya sangat berbahaya itu melemah. Samita

merasakan tenaganya merosot tajam.

Keringat dingin menghambur keluar, sementara rasa sakit

di perut Samita kembali meraja. Beberapa kali Samita

menghentikan serangannya untuk mengatur napas.

“Yaaah!”

Samita memaksakan diri mengeluarkan Ilmu Kutub Beku.

Memang di antara para pengeroyok itu ada yang terpental ke

belakang. Namun, Samita sendiri langsung roboh. Jatuh

terduduk dengan lengan menyangga tubuh.

“Samita!”

Melihat istrinya roboh, Respati jadi panik. Gerakan keris

Angga Cuwiri-nya membabi buta ke segala arah. Ia ingin

segera menghampiri istrinya dan menghalau orang-orang

yang hendak melukainya.

Tapi, serangan para pengeroyok justru tambah hebat.

Mereka merangsek ke depan dan mengurung Respati dari

segala arah dengan berbagai senjata. Luka-luka di tubuh

Respati menjadi bukti betapa pendekar mumpuni itu telah

berjuang mati-matian untuk bertahan.

Samita mencoba bangkit, namun gagal. Seluruh tubuhnya

lemas bukan main. Dia hanya bisa menyaksikan suaminya

terus terdesak hebat. Sementara orang-orang yang tadinya

mengeroyok Samita seperti tak tertarik lagi untuk melukai

perempuan digdaya itu. Mereka malah bergabung dengan

belasan pengeroyok lain yang mengepung Respati.

Jadilah bekas rakyran rangga Majapahit itu berjuang

sendiri menghadapi serangan maut belasan orang bertopeng.

Samita lagi-lagi memaksakan tubuhnya untuk bangkit.

Setiap kali berusaha bangkit, saat itulah dia gagal. Samita

berusaha keras menahan tangis. Ia tahu itu tak akan berarti

apa-apa.

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Ia kemudian berusaha mengatur tenaga dalamnya

perlahan sambil terus menyaksikan perkembangan

pertempuran. Sementara Respati tengah merapal jurus

pamungkas Hanacaraka yang sebenarnya belum sempurna ia

kuasai. Rapalan Ma Ga Ba Ta Nga yang menuntaskan

keseluruhan jurus Hanacaraka belum sepenuhnya ia pahami.

Tapi, dalam keadaan genting seperti sekarang, apa pun

harus dilakukan.

“Magabatanga!”

Ledakan dahsyat terdengar. Tubuh-tubuh terlontar ke

udara. Para pengeroyok itu menyebar ke segala arah dengan

luka yang rupa-rupa. Tapi, mereka segera bisa bangkit dan

bersiap untuk kembali bertempur.

Sementara Respati berdiri dengan ujung keris Angga

Cuwiri menghunjam ke tanah, menopang tubuhnya. Beberapa

saat kemudian, tubuhnya luruh, bersamaan dengan darah

muncrat dari bibirnya. Tapi, dia tak membiarkan dirinya roboh

begitu saja. Kaki kanannya ditekuk, sedangkan kaki kirinya

lunglai ke belakang.

Tangan kanan Respati masih menggenggam gagang keris

yang ujungnya menghunjam ke bumi.

Samita menyaksikan itu dengan mata berkaca-kaca. Ia

lantas menyeret tubuhnya perlahan. Sangat pelan karena

tubuhnya pun dirajam rasa sakit yang hebat. Sementara para

pengeroyok bertopeng itu tak meneruskan serangannya.

Mereka berdiri tertegun menyaksikan adegan mengharukan

itu.

Sekuat tenaga Samita terus menyeret tubuhnya, sekaligus

menekan rasa pedih yang berujung pada air mata. Dia tak

mau menangis saat itu. Ketika akhirnya ia bisa meraih tubuh

suaminya, pertama kali yang ia lakukan pun bukan tersedusedu.

Ia menangkap tubuh gagah suaminya yang langsung

roboh begitu ia sentuh.

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Kepala pendekar perkasa itu lunglai di pangkuan istrinya.

Samita menyeka darah kental dari bibir Respati. Perlahan

kemudian ia tempelkan bibirnya di kening suaminya.

“Anak kita laki-laki, Kakang. Namanya Soma. Soma

Tanaya.”

Respati tersenyum. Perlahan, kelopak matanya terbuka.

“Jaga anak kita, Samita.”

“Pasti, Kakang.”

“Ce … ceritakan padanya, tentang kisah kita.”

“Tak akan luput satu kalimat pun.”

Respati terbatuk-batuk. “Kapan terakhir aku katakan cinta,

Samita?”

“Kakang tak pernah mengungkapkannya dengan katakata.”

Samita nyaris tak sanggup menahan air matanya. Sebentar

lagi pasti meledak tangis yang menyayat.

“Bodohnya aku.”

“Kakang tak perlu mengatakannya. Semua yang Kakang

lakukan adalah cinta yang sesungguhnya.”

Respati terdiam sesaat. Seperti tengah menahan rasa sakit

yang luar biasa.

“Aku mencintaimu, Samita.”

“Aku tak pernah meragukannya, Kakang.”

“Allah!”

Air mata Samita tumpah sudah. Menetesi wajah

Respati yang kian memutih.

“Allah!”

Samita betul-betul kehabisan kata-kata.

“Allah!”

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Tanpa suara, air mata Samita bercucuran. Perlahan, ia

tutup kelopak mata Respati yang tak lagi bergerak-gerak.

Lantas ia ciumi wajahnya yang masih menyisakan hangat.

Sebelum kemudian ia peluk erat tubuh Respati. Ia seperti ingin

menyatu dengan suaminya tercinta.

Para pengeroyok bercadar masih ada di tempat itu. Mereka

berdiri kaku. Bahkan, seperti tak sedang bernapas. Salah

seorang yang berdiri paling depan tampak memperhatikan

betul adegan di depannya.

Samita perlahan mengangkat kepalanya.

“Katakan kepada rajamu, satu bulan lagi, aku akan datang

menemuinya. Jika dia kesatria, tunggu kedatanganku. Tapi

jika dia pengecut, segeralah pergi dari Majapahit.”

Orang bercadar yang berdiri paling depan tampak

tersentak. Matanya mendelik kaget. Ia bahkan buru-buru

membuang muka ketika sorot mata Samita menghunjam bak

pedang ke arahnya. Ia lalu mengangkat tangannya, memberi

perintah kepada teman-temannya untuk meninggalkan tempat

itu.

Sementara Samita masih duduk timpuh di tanah,

memangku kepala suaminya yang lunglai dan mulai terasa

dingin. Orang kampung yang tadinya pilih bersembunyi mulai

berdatangan. Jerit tangis melengking. Banyak mayat

bergelimpangan, meninggalkan tangis dan rasa sedih

mendalam pada keluarganya.

Dibantu beberapa murid yang masih selamat, Samita lalu

mengangkat tubuh suaminya ke beranda salah satu rumah

terdekat. Hanya beberapa saat. Samita lalu mengutarakan

keinginannya untuk membawa pulang jasad suami dan muridmurid

Perguruan Hanacaraka. Akhirnya, dibantu oleh

beberapa orang penduduk, tubuh mati Respati ditandu menuju

Perguruan Hanacaraka. Perjalanan tak lantas terhenti

meskipun malam semakin larut.

Dicengkeram warna gelap dan suasana sunyi senyap,

rombongan membawa jasad Respati dan para murid yang

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

tewas dalam pertempuran di Desa Tumpak. Alam yang sepi

dan perjalanan yang tanpa bicara. Rombongan itu sampai di

depan Perguruan Hanacaraka dengan pandangan lusuh.

Membayangkan betapa kagetnya para penghuni perguruan

ketika tahu guru mereka telah tewas.

Tapi yang terjadi kemudian justru sebaliknya. Rombongan

pembawa jasad-jasad mati itu justru yang kaget bukan

kepalang. Pemandangan di pelataran perguruan membuat

kaki-kaki mereka terasa tak lagi menginjak tanah. Samita yang

tadinya duduk tenang di atas kuda segera meluncur turun dan

berlari ke arah pelataran.

Mayat-mayat juga bergelimpangan di sana. Samita

menutup mulutnya dengan tangan. Bibirnya bergetar hebat.

Tubuhnya terhuyung-huyung. Mayat-mayat para murid

perguruan terbiar begitu saja dengan keadaan mengenaskan.

Kepala pecah, tangan buntung, dada jebol, dan luka-luka

kejam lainnya.

“Anakku!”

Samita berlari sekencang-kencangnya menuju ruang

pribadinya. Sekali lagi matanya membelalak. Isi kamarnya

menjadi merah oleh darah yang muncrat ke mana-mana.

“Mbok Usrek!”

Samita memburu tubuh renta yang tergeletak di lantai

kamar dengan kepala pecah. Darah segar itu segera

membasahi pakaian Samita. Penerangan obor yang remangremang

membuat suasana bertambah seram.

Samita lalu menghambur ke arah amben kecil tempat ia

meletakkan bayi yang belum lama ia lahirkan. Kosong! Samita

nyaris menjerit. Tapi, suaranya tersumbat di kerongkongan.

Ia menoleh ke kanan dan kiri. Harap-harap cemas,

mengitari kamar dan berharap anaknya ada di sana. Tapi

harapannya mesti menguap. Dia hanya mendapati tubuhtubuh

bergelimpangan tanpa nyawa. Tiga perempuan renta

yang membantunya bersalin, tewas dengan luka mengerikan.

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Samita merasa rohnya tercabut saat itu. Dia berjalan

mengambang tanpa tenaga dan suara. Rasa hatinya mati. Ia

seperti mendengar suara tangis bayi. Samita menghambur ke

arah amben. Dia yakin anaknya ada di sana.

“Soma!”

Samita tak menemukan apa-apa, kecuali segulung daun

lontar asing yang menggeletak di atas pembaringan.

Meskipun dengan suasana hati kacau-balau, Samita masih

bisa berpikir bahwa gulungan lontar itu bisa jadi sebuah

petunjuk. Perlahan dia membukanya dengan tangan bergetar.

“Dua puluh tahun lagi, aku akan mengirim anakmu untuk

menentangmu. Saat itu dendamku akan terbayar. Dewi

Anindita.”

Samita langsung lemas. Daun lontar itu terjatuh dari

tangannya, berbarengan dengan tubuhnya sendiri yang

terempas ke pembaringan. Matanya sudah kering, tanpa air

mata. Hanya bibirnya yang bergerak-gerak tanpa suara jelas.

Matanya menerawang tanpa berkedip.

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

22. Takluknya Senja

Udara berkabut, juga hati orang-orang yang kini duduk

timpuh di depan gundukan tanah di pesisir Surabaya. Samita

menghela napas tanpa suara. Ia mengenakan pakaian

serbaputih, tanda berkabung. Sementara wajah-wajah lain

yang ada di tempat itu juga diliputi mendung.

Perlahan Samita meraih tusuk konde yang menjaga gelung

rambutnya tetap rapi. Ia mencabut tusuk konde bertahta

mutiara itu, hing-ga terurai rambut hitamnya.

“Kakang, tusuk konde ini akan menemani Kakang. Aku

akan membiarkan rambutku tergerai hingga raja pandir itu

kuberi pelajaran. Aku juga berjanji akan menghabiskan

umurku untuk mencari anak kita, Kakang. Tak akan kubiarkan

Anindita merusak jati diri pendekar yang engkau wariskan

kepadanya. Tak akan.”

Bibir Samita lalu terkatup. Tak ada air mata. Sepertinya,

seluruh kepedihan yang ia alami sudah cukup membuat mati

rasa. Puncak kepedihan ketika dia tak lagi sanggup untuk

mengeluarkan air mata.

Sementara hari beranjak terang. Matahari segera

menyebar panasnya. Orang-orang mulai beranjak dari tanah

pekuburan. Sementara Samita tetap duduk timpuh di depan

pusara Sad Respati, suaminya.

Jauh dari pesisir Surabaya, di balik tembok-tembok keraton

yang kokoh, Wikramawardhana duduk di atas kursi indah di

ruang kamarnya yang mewah. Di sampingnya sang istri

tercinta, Dewi Suciatma, duduk kikuk menunggu kalimat sang

raja.

“Respati adalah putra terbaik Majapahit. Kenapa semua

jadi tak terkendali?”

“Kangmas, apakah memang Kangmas memerintahkan

pembunuhan atas bekas rakryan rangga itu?”

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Wikramawardhana menggelengkan kepala.

“Aku hanya ingin ia diselidiki. Respati melatih pemuda

pesisir berlatih ilmu kanuragan. Aku tak mau akhirnya dia

menghimpun kekuatan untuk menentang Majapahit.”

“Tapi itu masih dugaan, sedangkan tindakan bhayangkari

sudah begitu berani.”

“Sadali yang kupercaya untuk menyelesaikan masalah ini.”

“Kangmas, Sadali pula yang sejak dulu menyimpan rasa

tak suka terhadap Respati!”

Wikramawardhana terdiam. Kejadian kali ini

mengingatkannya atas tragedi Blambangan ketika Pangeran

Gajah memenggal kepala Bre Wirabumi tanpa perintah

langsung darinya. Api dendam Blambangan berhasil ia redam

setelah Suciatma, putri Wirabumi, ia nikahi. Lalu, apa yang kini

harus ia lakukan untuk memadamkan api dendam rakyat

pesisir Surabaya?

“Samita berhati baja, Kangmas. Dia pasti membuktikan

janjinya.”

“Aku tahu, Nimas. Dia putri Laksamana Cheng Ho yang

sekian lama bersahabat dengan Majapahit. Aku tak bisa

membayangkan jika masalah ini meluas nantinya. Apa yang

akan dilakukan Kerajaan Ming jika putri Laksamana Ho

disakiti?”

“Saya berharap masalah ini tak akan mengembang sejauh

itu, Kangmas. Samita sangat dewasa. Menurut saya, lebih baik

Kangmas meluluskan keinginannya untuk bertemu. Samita tak

akan melakukan hal bodoh.”

“Tapi, ilmu kanuragan perempuan itu sangat tinggi. Siapa

bisa menjamin dia tak akan membahayakan jiwaku, Nimas?”

“Saya yang akan menjamin keselamatan Kangmas. Nyawa

saya sebagai taruhannya.”

Wikramawardhana tertegun. Istri termudanya ini sungguh

penuh semangat. Membuatnya berapi-api untuk meneruskan

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

hidup. Darah mudanya masih demikian kental dan meletupletup.

Itulah yang senantiasa membuat Wikramawardhana

bersemangat untuk menata ulang Majapahit menjadi kerajaan

yang dicintai rakyatnya.

0o0

Bulan Waisyaka, Hari Soma

Gerbang keraton Majapahit riuh. Para prajurit bersenjata

lengkap berdiri dengan sikap siap siaga. Tombak, pedang, dan

pasukan pemanah siap tempur. Mereka rupanya siap

menukarkan nyawa, agar tak ada seorang pun yang bisa

memasuki pintu gerbang istana.

Di depan mereka, sesosok perempuan dengan pakaian

serbaputih berdiri mematung. Tak ada senyum di wajahnya.

Kesan muka yang berduka. Tapi, itu tak bisa menghapus

kejelitaan yang sulit dicari tandingannya. Dialah Samita, murid

utama Laksamana Cheng Ho sekaligus istri pendekar

termasyhur Sad Respati.

Dia berdiri kaku dengan rambut terurai tanpa tali. Angin

yang mendesau membuat helaian rambutnya berpendarpendar.

Di punggungnya terpanggul sebilah keris berukuran

tak wajar yang warangkanya saja sudah menyebarkan aura

kedigdayaan. Itulah keris Angga Cuwiri. Keris pusaka

mendiang suaminya, Sad Respati, yang sempat

menggegerkan dunia persilatan.

Kini dengan wajah tanpa takut, Samita berdiri di muka pintu

gerbang Majapahit untuk membuat perhitungan. Dia tahu

benar bahwa belasan orang bertopeng yang mengeroyok

suaminya hingga tewas adalah lima belas bhayangkari utama

Majapahit. Samita meyakininya setelah melihat cara

bertempur mereka yang begitu khas.

Formasi bhayangkari sudah dihafal luar kepala oleh

Samita. Tentu saja sebagai istri Sad Respati yang pernah

memegang jabatan kepala Bhayangkari, Samita paham bahwa

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

formasi serangan itu hanya mungkin dilakukan oleh

bhayangkari Majapahit.

Tapi, untuk bisa menemui sang raja jelas bukan perkara

sepele. Bahkan, sebagian besar rakyat Majapahit belum

pernah melihat wajah raja mereka selama berabad-abad. Tapi

Samita telah berketetapan hati. Dia tak akan membalikkan

langkah, sebelum bertemu muka dengan sang raja.

“Sebulan lalu aku telah membuat janji dengan raja kalian.

Apakah sang prabu begitu takut hingga tak berani

menemuiku?”

“Lancang! Kau kira siapa dirimu?”

Samita tersenyum dingin. Dia seperti tak hirau terhadap

kalimat pedas salah seorang prajurit itu. Kini, rambutnya

benar-benar dicandai angin. Beberapa kali pandangan

matanya terganggu helaian rambut yang berkibar-kibar di

depan wajahnya.

“Aku adalah seorang istri yang menuntut hak untuk tahu,

kenapa raja kalian berbuat sewenang-wenang membunuh

suamiku tanpa alasan?”

Para prajurit yang jumlahnya puluhan itu bukan tak tahu

bahwa sosok yang kini mereka kepung adalah pendekar

perempuan pilih tanding dari pesisir Surabaya. Hanya, sejak

awal mereka memang sudah bersiap untuk menghadang

Samita agar tak mengusik ketenteraman sang raja.

“Apa kau tahu di dalam keraton ada ribuan prajurit yang

akan melumatkan tubuhmu dalam satu gebrakan?”

“Pantas saja Majapahit semakin mundur. Bahkan,

prajuritnya hanya pandai bicara muluk.”

“Kau!”

Tanpa hendak berunding lagi, Samita berlari cepat

menyongsong para prajurit yang segera menggerakkan

senjata mereka masing-masing menyambut kedatangan

Samita. Sementara begitu jarak dengan para prajurit itu sudah

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

sangat dekat, Samita memutar tubuhnya sedemikian rupa,

sambil mendaratkan tendangannya ke salah seorang prajurit

di depannya.

Si prajurit langsung terjengkang tanpa daya. Selanjutnya,

Samita melolos sabuk peraknya yang langsung mengeluarkan

sinar menyilaukan. Sinar matahari yang terang benderang

dipantulkan sempurna oleh sabuk istimewa itu sehingga

sangat mengganggu pandangan mata siapa pun yang

menatapnya.

Gerakan Samita semakin cepat. Hampir setiap pergerakan

kaki atau tangannya disusul oleh suara berdebam atau jerit

kesakitan para prajurit yang roboh. Samita terus mengamuk.

Sabuk di tangannya meliuk-liuk seperti ular yang memburu

mangsa. Tak jarang senjata-senjata para prajurit yang

disorongkan berbarengan bisa terbelit oleh sabuk itu kemudian

dibetot oleh Samita dengan tenaga penuh.

Sontak para pemilik senjata itu terdorong ke depan ketika

senjata-senjata mereka terampas oleh sabuk sakti itu. Saat

berikutnya, berbagai senjata itu sudah meluncur balik

menyerang kerumunan prajurit itu. Akibatnya bisa ditebak,

beberapa prajurit segera roboh bersimbah darah ketika

senjata-senjata temannya menghunjam dalam ke dada

mereka.

Jumlah prajurit yang puluhan itu seperti tak pernah habis.

Teman-teman mereka yang ada di balik pintu gerbang

berhamburan keluar hendak membantu teman-temannya

meringkus ‘harimau betina’ dari pesisir Surabaya yang kini

tengah mengamuk. Jumlah prajurit yang berlipat-lipat tak

membuat Samita takut.

Dia malah bertambah semangat memutar sabuknya.

Gerakan tubuhnya sudah sulit ditangkap oleh pandangan mata

biasa. Begitu cepat dan trengginas. Tahu-tahu, sekelompok

prajurit roboh dengan mulut berdarah.

“Hentikan!”

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Samita bersalto sebelum akhirnya mendaratkan kakinya di

atas tanah, ketika mendengar teriakan lantang yang

mengandung tenaga dalam hebat. Sontak pertempuran

terhenti.

“Kepala bhayangkari, sungguh tersanjung saya dengan

kedatangan Tuan.”

Danurdara berdiri di depan Samita dengan pandangan

mata ragu. Pemuda gagah itu lebih kelihatan matang.

Bertahun-tahun tak bertemu, Samita masih sangat mengenal

dirinya dengan baik.

“Bertahun-tahun tak bertemu, apa kabarmu, Samita?”

“Danurdara, entah bagaimana caramu berhitung. Kau

merasa bertahun-tahun kita tak jumpa, sedangkan aku

melihatmu dengan jelas sebulan lalu.”

“Samita, apa maksudmu membuat onar keraton

Majapahit?”

“Bukankah satu bulan lalu aku sudah katakan kepadamu,

bahwa hari ini aku akan mendatangi rajamu untuk minta

pertanggungjawaban atas kematian suamiku, belasan murid

Perguruan Hanacaraka, dan puluhan warga Desa Tumpak

yang tak berdosa?”

Danurdara tak menjawab. Bahkan, dia tak berani

menentang pandangan mata Samita.

“Danurdara, dari mulut suamiku, hanya hal-hal baik saja

yang ia katakan ketika bercerita tentang dirimu. Mana pernah

ia menyangka, akhir hidupnya justru ada di tanganmu.”

“Samita, kumohon. Hal itu sulit sekali untuk dijelaskan.”

“Maksudmu, kau melakukannya dengan alasan tugas

prajurit, Danurdara?”

Tak ada jawaban. Danurdara merasa salah dengan segala

gerak-geriknya.

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Lalu kau kira, kenapa Kakang Respati meninggalkan

Majapahit kecuali untuk menghindari hal yang justru engkau

banggakan itu.”

“Kami sama sekali tidak sama, Samita.”

“Kalau begitu, bersiaplah. Apa pun alasanmu, aku datang

hari ini untuk membuat perhitungan dengan seluruh

bhayangkari.”

“Samita, kumohon. Ini tindakan bodoh. Jiwamu akan

terancam.”

“Apa yang kau pedulikan sebenarnya, Danurdara?”

“Tentu saja kelangsungan hidupmu, Samita.”

“Jika kau benar-benar peduli, kenapa kau membunuh

orang yang paling kucintai dan menyebabkan buah hati kami

terpisah dari orangtuanya?”

Danurdara terkesiap. Kedua alisnya bertaut.

“Soma, bayi merah yang baru aku lahirkan dibawa lari oleh

Anindita. Kau kira itu akan terjadi kalau kau tidak membantai

orang-orang Desa Tumpak?”

“Samita, aku tak tahu harus bicara apa.”

“Cabut pedangmu!”

“Melawanmu, Samita? Lebih baik kau membunuhku

sekarang juga.”

Samita tertegun. Dia tak segera bergerak. Batinnya

menduga-duga. Satu lagi kebodohan di atas bumi disebabkan

oleh cinta.

“Kau ingin aku iba dengan kecengenganmu, Danurdara?”

“Terserah padamu, Samita.”

Samita belum juga bertindak. Ia semakin erat

menggenggam sabuk perak yang setiap saat siap untuk

dihentakkan. Niat itu benar-benar urung ketika dari dalam

gerbang, seorang prajurit datang dengan langkah tegap penuh

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

wibawa. Di belakangnya, sepasukan prajurit bersenjata

lengkap mengimbanginya dengan langkah berderap.

“Sabda Raja Wikramawardhana!”

Semua orang langsung merunduk, memberi hormat.

Kecuali Samita.

Danurdara meliriknya penuh khawatir.

“Nyai Samita dari pesisir Surabaya diperkenankan

menemui sang prabu jika mampu melewati rintangan

bhayangkari. Jika menampik, Nyai Samita diperbolehkan

meninggalkan keraton tanpa hukuman.”

Senyap. Prajurit pembawa perintah raja itu lalu mendekati

Samita. Sementara prajurit lain mendongakkan kepalanya.

“Bagaimana, Nyai Samita?”

“Di mana bhayangkari menungguku?”

Semua mata membelalak. Siapa pun maklum bahwa ilmu

kanuragan Samita sangat tinggi. Namun, menghadapi lima

belas bhayangkari Majapahit sekaligus sama juga bunuh diri.

Bahkan, Sad Respati yang dulunya merupakan kepala

bhayangkari tewas saat menghadapi mereka. Sungguh tak

ada orang di tempat itu yang menyangka Samita akan

menerima tantangan raja.

“Samita, masih ada waktu untuk membatalkannya.”

Danurdara minta perhatian Samita, namun ia tak

mendapatkannya. Samita berjalan menuju pintu gerbang

tanpa memedulikan Danurdara.

“Jangan khawatirkan aku. Siapkan saja dirimu untuk

pertempuran nanti.”

Samita melangkah yakin ke arah yang ditunjukkan prajurit

pembaca perintah raja itu. Kali ini, ratusan prajurit yang

tadinya menghadang Samita membuat jalan agar Samita bisa

melewatinya.

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Siapa pun bakal keder sekaligus trenyuh melihat kesan

wajah Samita yang demikian dingin. Sepertinya, segala

kejadian beberapa waktu terakhir membuat hatinya beku. Di

benaknya, hanya ada keharusan untuk memberi pelajaran

kepada Raja Majapahit yang ia anggap bertindak terlalu

gegabah.

Ratusan pasang mata para prajurit memandang takjub

dengan sikap gagah Samita yang tanpa risau berjalan terus

penuh keyakinan ke arah siti hinggii. Di pelataran muka tempat

pertemuan para pejabat kerajaan dengan sang raja itu, kini

telah berdiri bhayangkari utama Majapahit dalam formasi yang

kukuh.

Mereka semua berjumlah empat belas orang. Kurang satu.

Tapi segera lengkap ketika Danurdara muncul dan mengisi

kekosongan itu. Di antara wajah-wajah itu, ada beberapa

orang yang dikenal Samita. Mereka adalah Danumaya,

Daniswara, Sasmaya, Harimurti, Harsaya, dan Hartaka.

Keenamnya bhayangkari seangkatan dengan Respati dan

Danurdara.

“Sad Respati datang untuk menghukum kalian yang tak

tahu makna persaudaraan!”

Para bhayangkari tak langsung paham maksud omongan

Samita. Mereka tetap berdiri di tempatnya masing-masing

tanpa bicara. Demikian juga dengan ratusan prajurit yang kini

membentuk barisan menyerupai busur, berawal dan berakhir

di bangunan siti hinggii.

Samita segera menjawab tanda tanya itu. Ia meraih

gagang Angga Cuwiri dan mencabutnya dengan kilat. Sinar

biru berkelebat. Semua orang terkesima. Mereka seperti

melihat Sad Respati berdiri di sana dan siap untuk menuntut

balas.

“Nyai Samita, Angga Cuwiri adalah keris yang hanya bisa

dimainkan sempurna dengan Jurus Hanacaraka. Nyai bisa

terluka jika nekat menggunakannya.”

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Danurdara masih tak bisa tega. Dia memandang penuh

khawatir.

“Bersiaplah kalian!”

Pandangan Samita menyelidik. Seperti tengah memilahmilah,

lawan mana yang harus ia hadapi pertama kali. Formasi

rajawali yang diterapkan barisan bhayangkari itu memang

terlalu kokoh. Bagian kepala dikomandoi Danurdara. Dua

sayap dijaga Danumaya dan Daniswara.

Bagian tubuhnya tak lepas dari kewaspadaan Sasmaya

dan Harimurti. Sedangkan di bagian ekornya dipimpin Harsaya

dan Hartaka. Pilihan Samita, sayap kanan. Tubuh Samita

bergerak diikuti sinar biru yang menakjubkan, memburu

Danumaya dan tiga orang bhayangkari yang menjaga sayap

kanan rajawali.

“Da! Dumadining dzat kang tanpa winangenan! Menerima

hidup apa adanya!”

Samita berteriak lantang membuat dada orang-orang

bergetar. Perempuan pendekar itu menerapkan tingkat dua

jurus Hanacaraka. Bahkan, Danurdara terkesiap begitu tahu

Samita memahami jurus sakti itu.

Sekali hentak, keris Angga Cuwiri mematahkan senjata

tangan seorang bhayangkari di sayap kanan yang dipimpin

Danumaya. Ia roboh oleh hantaman tangan kiri Samita.

“Ta! Tatas, tutus, titis, titi lan wibawa! Mendasar, sepenuh

hati, satu pandangan, ketelitian dalam memandang hidup!”

Keris sakti di tangan Samita berputar deras menghadang

laju pedang Danumaya, lalu berputar cepat mengancam ke

arah dadanya. Begitu Danumaya bersalto menghindar, kaki

kanan Samita meluncur deras, menghantam perut

bhayangkari di belakangnya. Suara berdebam menyertai

erangan. Sudah dua bhayangkari di sayap kanan roboh.

Tinggal dua lagi.

“Rajawali mengoyak angin!”

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Teriakan lantang Danurdara segera disambut suara

berderap, ketika tiga belas bhayangkari yang tersisa

mengubah posisi. Bagian kepala rajawali yang paruhnya diisi

Danurdara meluncur ke arah Samita. Sedangkan sayap kanan

yang telanjur diobrak-abrik Samita segera menyingkir ke

samping.

“Kata siapa aku ingin buru-buru menghadapimu,

Danurdara?”

Tubuh Samita melambung menghindari paruh rajawali, lalu

bergerak cepat ke arah ekor.

“Sa! Sifat ingsun handuiu sifat Gusti! Membentuk kasih

sayang seperti kasih Tuhan!”

Serangan Samita datang bak angin topan. Cepat, galak,

dan sulit dibendung. Ia langsung mengincar Harsaya. Pada

saat yang sama, Harsaya yang bersenjata tombak sama sekali

tak menyangka Samita menyerang bagian ekor dengan begitu

gencar. Bagaimanapun, dia adalah anggota bhayangkari

berilmu tinggi.

Segera saja ia songsongkan mata tombaknya menyambut

datangnya keris Angga Cuwiri. Samita menghindar ke

samping, tanpa menghentikan gerakannya. Segera saja

Angga Cuwiri di tangannya mengincar dada Haryasa yang

juga tak mau mati konyol. Pemuda itu menggerakkan

tombaknya ke arah belakang dengan maksud menghalau laju

keris, namun gagal.

Tangan kiri Samita menghadang laju tombak. Sekali tebas,

patahlah tombak itu. Sementara keris Angga Cuwiri kembali

meluncur. Kini ke arah leher Haryasa. Begitu hendak

menembus kerongkongan Haryasa, Samita menarik gagang

kerisnya. Gantian telapak tangan kirinya yang menghantam

bahu Haryasa sehingga pemuda itu terpental dan bergulingan

di tanah. Tulang bahunya pasti patah.

“Wa! Wujud hana tan kena kinira! Ilmu manusia hanya

terbatas, namun penerapannya tanpa batas!”

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Tanpa jeda waktu, Samita membalikkan tubuhnya dan

menghadapi Hartaka. Kali ini jauh lebih mudah. Keris Angga

Cuwiri meluncur cepat tanpa bisa dibendung oleh pedang

besar milik Hartaka. Pedang baja itu berkeping-keping, nyawa

Hartaka di ujung tanduk.

Lagi-lagi Samita menarik kerisnya, lantas mendaratkan

tendangan di perut Hartaka, hingga anggota bhayangkari itu

terjungkal kesakitan.

“Rajawali memburu naga!”

Danurdara mulai panik karena sayap kanan dan ekor

formasi rajawali sudah porak-poranda. Bahkan, empat orang

bhayangkari telah roboh. Bagaimanapun, dia harus tetap

mempertahankan formasi dan tak bisa bertempur

sembarangan. Kecuali dia mau kehilangan wibawanya

sebagai kepala bhayangkari.

Kini, formasi kembali bergerak. Bagian kepala lebih bebas

bergerak dibandingkan sebelumnya. Danurdara rupanya

benar-benar ingin segera menuntaskan pertempuran itu. Ia

berpikir keras agar Samita segera bisa ditundukkan.

“Aku kabulkan permintaanmu, Danurdara.”

Samita tak lagi menghindar. Ketika paruh rajawali

menyongsongnya, ia langsung menghadang dengan kekuatan

penuh.

“La! Lir handaya paseban jati! Mengalirkan hidup semata

pada tuntunan Tuhan!”

Danurdara berlatih lama dengan Respati, ketika mereka

sama-sama tinggal di Griya Bhayangkari. Makanya, jurus-jurus

Hanacaraka sama sekali tak asing buatnya. Namun, apa yang

dimainkan Samita terasa beda. Serupa tapi tak sama. Lebih

berkekuatan dan mematikan.

Tak heran jika Danurdara benar-benar gelagapan. Pedang

panjang di tangannya membuat pusaran angin untuk

menghadang keris sakti di tangan Samita. Setengah hati

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

memang. Sebab, Danurdara tak ingin melukai Samita. Ini

sangat menguntungkan buat lawan.

Samita menyerbu dengan keris berkelebat kilat. Bahkan,

Samita tak menyangka akan semudah ini. Pedang di tangan

Danurdara terpental kena sepak kaki Samita. Tahu lawannya

tak sedang sungguh-sungguh, Samita tak bersemangat untuk

melumpuhkannya, Dia lantas melentingkan tubuhnya

menyerang bagian tubuh rajawali.

“Pa! Papan kang tanpa kiblat! Kekuasaan Gusti yang ada

di segala arah!”

Seorang bhayangkari roboh.

“Dha! Dhuwur wekasane endek wiwitane! Mendaki puncak

dimulai dari dasar!”

Sasmaya tersungkur.

“Ja! Jumbuhing kawula lan Gusti! Berusaha memahami

kehendak Gusti!” Harimurti menyusul.

Ratusan orang yang berjejal menyaksikan pertempuran itu

membelalak tak percaya. Bahkan, barisan Bhayangkari tak

kuasa membendung kedahsyatan jurus Hanacaraka di tangan

Samita.

“Rajawali terbang ke nirwana!”

Danurdara lebih kacau lagi. Dia sudah kehilangan

kepercayaan diri sama sekali. Bagian tubuh, sayap kanan, dan

ekor sudah penuh luka. Bahkan, bagian kepala pun tak lagi

memiliki paruh yang mengoyak.

“Ya! Yakin marang samubarang tumindak kang dumadi!

Yakin atas titah Gusti!”

Samita tak melayani tantangan Harimurti. Dia malah

melompat ke arah sayap kiri.

“Nya! Nyata tanpa mata, ngerti tanpa diuruki! Memahami

kodrat kehidupan!”

Daniswara terpelanting dengan mulut berdarah.

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Ma! Madep mantep manembah mring Gusti! Yakin,

mantap dalam menyembah Gusti!”

Seorang bhayangkari menyusul.

“Ga! Guru sejati sing muruki! Belajar pada guru nurani!”

Samita kini tak perlu berpikir menundukkan formasi itu.

Sebab, memang sudah tak ada formasi. Kepala, sayap, ekor,

dan tubuh sudah koyak. Kini, tinggal lima orang bhayangkari

yang menyerangnya bersamaan. Tapi sebentar saja. Karena,

jumlahnya segera berkurang menjadi empat. Satu di antara

mereka roboh dengan belulang patah.

“Ba! Bayu sejati kang andalani! Menyelaraskan diri pada

gerak alam!”

Dua orang sekaligus terpelanting dengan gigi rompal dan

kaki patah.

“Tha! Tukul saka niat! Segala sesuatu tumbuh dari niat!”

Samita mendaratkan kakinya dengan santai di pelataran

Siti hinggil. Ada senyum dingin di bibirnya. Suasana hening,

kecuali desau angin. Bahkan, empat belas anggota

bhayangkari menahan sakit tanpa suara. Tak satu pun di

antara mereka yang tewas. Tapi, luka dalam yang mereka

dapati juga tak bisa disepelekan.

Semua orang di pelataran siti hinggil menahan napas.

Tinggal satu orang bhayangkari yang masih berdiri. Itu pun

tanpa semangat untuk menang. Danurdara berdiri limbung

dengan tatapan mata kosong. Segalanya telah tercerabut dari

dirinya. Kebanggaan sebagai kepala bhayangkari, cinta tak

terkatakan, dan kepercayaan raja yang disembah.

“Nga! Ngracut busananing manungso! Melepaskan

keakuan manusia!”

Danurdara hanya bergerak sekenanya. Dia segera jatuh

terduduk dengan ujung keris Angga Cuwiri menempel di kulit

lehernya.

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Danurdara, alasan apa sebenarnya yang membuatmu

mempertahankan hidup? Sahabat kau khianati! Diri sendiri tak

kau bela!”

“Kau, Samita. Alasanku untuk tetap hidup hanyalah kau.”

Samita tertegun. Dia tersenyum dingin, lalu menarik

kerisnya perlahan. Gagah, dia lalu membalikkan tubuhnya dan

berjalan tanpa sungkan menuju siti hinggii. Samita tak peduli,

meskipun para prajurit bersamaan mencabut senjata mereka.

Dia menyarungkan kembali Angga Cuwiri, lantas berjalan

tegap menyongsong janji raja.

Ratusan prajurit merangsek ke depan dengan senjata

terhunus. Tak satu orang pun yang berani mendahului

menyerang. Mereka hanya berjaga-jaga. Langkah Samita tak

terhenti. Telapak kakinya yang bersepatu segera menaiki

tangga siti hinggii satu demi satu.

Dia segera mendapati Raja Majapahit yang duduk tenang

di kursi kebesaran. Di samping kanannya, sang permaisuri,

Kusumawardhani, tak kelihatan panik. Senyumnya adem dan

menyejukkan. Sedangkan di samping kanan sang raja,

Suciatma duduk takzim dengan kesan muka datar. Di jajaran

pejabat, tampak Rakryan Tumenggung Sadali bersikap

pongah.

“Saya telah merobohkan seluruh penjaga Sang Prabu.

Saatnya menagih janji,”

Wikramawardhana bergeming. Sebenarnya dia masih

kaget dengan kenyataan bahwa lima belas bhayangkari

terbaik Majapahit bahkan tak bisa menghentikan perempuan

pendekar itu. Di hatinya tentu ada rasa was-was. Tapi sabda

telanjur keluar, tak mungkin raja menjilat ludahnya sendiri.

“Apa yang kau inginkan, putri Laksamana Cheng Ho?”

Tanpa bicara, tangan Samita bergerak cepat, sabuk

peraknya yang sangat lihai meluncur deras ke arah kepala

Wikramawardhana. Semua orang di ruangan itu sama sekali

Scan buku : Ottoy,—-ebook oleh : Dewi KangZusi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

tak menyangka ini bakal terjadi. Tak seorang pun sempat

mencegahnya.

Wikramawardhana menahan napas. Pasrah ketika ujung

sabuk beberapa saat lagi akan menghancurkan kepalanya.

Bahkan, ia sempat merasakan ujung sabuk itu menyentuh

keningnya. Tapi sekejap saja. Karena Samita kembali

menyentakkan sabuknya, hingga sang raja terbebas dari

maut.

Wikramawardhana tertegun. Keringat dingin keluar dari

keningnya. Tapi dia masih seorang raja yang berwibawa. Tak

lantas dia bereaksi berlebihan. Justru ia kini diam, berpikir

keras, apa maksud Samita melakukan hal ganjil itu. Dia

bertambah heran ketika tanpa berkata apa pun, Samita

membalikkan tubuhnya dan berjalan dengan langkah gontai

keluar bangunan siti hinggii.

“Prabu, ini penghinaan terhadap kerajaan. Mohon Prabu

izinkan saya menghukum perempuan itu.”

Wikramawardhana bergeming. Dia masih tertegun. Ucapan

Rakryan Tumenggung Sadali tak diindahkannya.

“Sadali, kau sudah cukup membuat masalah. Sekarang

diamlah!”

Suara Wikramawardhana tak terlalu kencang, namun

sangat tegas. Seluruh orang di ruangan itu mendengarnya.

Merah muka Sadali karenanya. Ia tertunduk lesu dengan gigi

bergemerutuk.

“Biarkan dia!”

Titah sang raja segera dipatuhi. Tak satu pun prajurit yang

berusaha menghadang langkah Samita. Perempuan pendekar

itu berjalan perlahan namun pasti. Tak lagi berderap. Seperti

ingin menikmati pergantian gerak kakinya dan mereguk

nikmatnya kemenangan.

Rambutnya dimainkan angin. Begitu juga dengan pakaian

yang berkibar-kibar. Seperti ada pesta dalam batin Samita.

Pesta kemenangan tanpa darah dan hilangnya nyawa. Dia

rasakan kedua kakinya tak lagi menapak bumi. Berjalan

dengan angin, ringan dan nyaman.

Langit mulai kaya warna. Di garis cakrawala, surya menjadi

benda bulat utuh kemerahan. Samita menuju ke sana.

Sosoknya menjadi bayangan hitam yang menabrak merahnya

matahari. Semakin kecil dan jauh, mengejar matahari. Burungburung

menjadi bayangan hitam yang menyemarakkan langit

sore. Ikut berpesta dalam kesyahduan. Seperti itu, seolah

untuk selamanya.

0o0

Pustaka Pendukung

Buku:

1. Basyaramil, A. Aziz Salim. Hikmah daiam Humor, Kisah

dan Pepatah. Jil. 1-6. Jakarta:

2. Gema Insani Press.

3. Yuanzhi, Prof. Kong. Muslim Tionghoa Cheng Ho,

Jakarta: Pustaka Populer Obor. Pepatah Lao Zi.

Situs:

1. joewono.tripod.com

2. http://www.jawapalace.org (sumber hanacaraka)

3. thifanpokhan.tripod.com

4. students.ukdw.acid

Tasaro

adalah nama pena Taufiq Saptoto Rohadi yang lahir di

Gunung Kidul, 1 September 1980, putra dari Bapak Muryadi

dan Ibu Umi Daridjah. Tasaro menjalani pendidikan dasarnya

di SDN Trowono I lulus pada 1992, kemudian melanjutkan ke

SMPN 4 Yogyakarta lulus pada 1995, dan menamatkan

sekolah menengah atasnya di SMA Mataram Yogyakarta pada

1998.

Tasaro pun pernah merasakan bangku perkuliahan pada

Jurusan Jurnalistik, PPKP Universitas Negeri Yogyakarta

(lulus 2000), dan pada Jurusan Syariah, Sekolah Tinggi

Agama Islam (STAI) Al-Hidayah, Bogor (keluar 2003/karena

pindah lokasi kerja).

Penulis berbakat ini meniti karier di dunia jurnalistik dan

media, mulai calon reporter harian pagi Radar Bogor (Agustus

September 2000), lalu dipercaya sebagai reporter harian pagi

Radar Bogor (September 2000 Agustus 2001), penanggung

jawab ha-laman Radar Bogor (Agustus 2002-Januari 2003),

redaktur Radar Bogor (Januari-April 2003), redaktur Radar

Bandung (April 2003-April 2004), koordi-nator liputan Radar

Bandung (April-Juni 2004), dan redaktur pelaksana Radar

Bandung (Juni 2004-sekarang).

Dalam menjalani hidup, Tasaro begitu optimis. Hal ini

tecermin dari moto hidupnya; “Terdepan, Terbaik, dan

Terbeda!” Luaaar biasa!

Novel Historical Fiction SAMITA: Bintang Berpijar di Langit

Majapahit (DAR! Mizan, 2004) ini adalah karya perdana

Tasaro yang diterbitkan DAR! Mizan di bawah Lini Sahabat

Remaja Muslim. Buku-buku lainnya, kita tunggu saja karya

terbaik penulis potensial ini!

Saat ini, Tasaro berdomisili di Dago, Bandung (rencananya

mau pindah ke kampung pendidikan; Jatinangor). Ia ingin

menikmati masa kebersamaannya dengan istri tercinta, Alit Tuti.

About these ads