Naga Bumi – Jurus Tanpa Bentuk (Kitab I)

New Picture

Naga Bumi

KITAB I:

Jurus Tanpa Bentuk

(Karya: Seno Gumira Ajidarma)

Kisahnya berpusat dari Pendekar Tanpa Nama yang terpaksa harus turun gunung dari pertapaanya lantaran sepasukan rajya-pariraksa atau pengawal kotaraja memburu dan hendak membunuhnya di dalam gua pertapaan. Bahkan pendekar-pendekar top dari sungai telaga dunia persilatan turut mengejarnya dengan maksud sama. Rajya-Pariraksa dengan mudah dilumpuhkannya cuma dengan ludahnya yang semprotkan ke mata mereka.

Dalam buku pertama ini belum terungkap apa sebenarnya yang melatarbelakangi para pendekar dan pasukan khusus istana memburunya. Bahkan asal usul Pendekar Tanpa Nama pun masih gelap. Selain bahwa ia diselamatkan oleh pasangan pendekar bernama Sepasang Naga dari Celah Kledung dalam gendongan perempuan yang diduga bukan orang tuanya yang dirampok di tengah perjalanan menggunakan pedati.

Melalui perjalanan menyusuri ingatan di masa muda sang Pendekar Tanpa Nama itu pula kita mengetahui karut marut perpolitikan masa itu yang penuh intrik, perebutan pengaruh dan kekuasaan yang mengatasnamakan agama. Kedatangan kepercayaan baru yang menyisihkan kepercayaan lama.

1. Aku Sudah Mengundurkan Diri dari Dunia Persilatan

AKU sudah mengundurkan diri dari dunia persilatan -tapi mereka masih terus memburuku bahkan sampai ke dalam mimpi. Apakah yang belum kulakukan untuk menghukum diriku sendiri, atas nama masa laluku yang jumawa, dan penuh semangat penaklukan, setelah mengasingkan diri begitu lama, dan memang begitu lama sehingga sepantasnyalah kini tiada seorang manusia pun mengenal diriku lagi?

Aku menghilang dari rimba hijau dan sungai telaga dunia persilatan pada puncak masa kejayaanku, setelah kukalahkan seratus pendekar yang sengaja kutantang untuk mengadu ilmu di atas bukit karang yang terjal dan berbatu tajam, pada suatu malam bulan purnama yang bergelimang dengan darah. Seratus pendekar dari golongan hitam, golongan putih, maupun golongan merdeka yang tidak pernah berpihak, kulumpuhkan satu persatu seperti elang perkasa memangsa tikus. Nyaris secara harfiah dalam cahaya bulan aku melayang dari batu ke batu dan setiap kali melayang turun, bahkan ketika kakiku belum menapak bumi nyawa setiap pendekar itu melayang. Kepada pendekar golongan putih kuberikan kematian tanpa penderitaan, kepada pendekar golongan hitam kuberikan kesakitan setimpal dengan kejahatan yang mereka lakukan, dan kepada pendekar golongan merdeka kubiarkan ilmu mereka menangkal ilmuku semampu dayanya.

Sebagai pendekar, kuberikan mereka kematian yang terhormat, yakni kematian dalam pertarungan. Pengeroyokan memang bukan sikap yang terpuji, tetapi akulah yang telah mengundang mereka datang, sekaligus dan semuanya, di luar itu tiada lagi pendekar kelas atas di dunia persilatan -yang tersisa hanyalah centeng-centeng

pasar, tukang kepruk, dan penjahat kampung takberharga. Kutantang mereka semua karena aku sudah bosan melayani tantangan bertarung satu persatu. Mereka sungguh-sungguh sudah mengganggu tidurku!

Pendidikan yang salah telah membuat setiap pendekar belum merasa menjadi pendekar jika belum mengalahkan pendekar takterkalahkan seperti aku. Di atas langit ada langit -tetapi falsafah dunia persilatan ini rupanya tidak pernah mereka hayati sepenuhnya. Seratus pendekar ternama dunia persilatan, mulai dari yang tua sampai yang muda, termasuk para mahaguru yang sebelumnya kukira mulia, tanpa tahu malu datang untuk menghabisi aku. Mereka semua ingin menjadi langit di atasku dengan cara menamatkan riwayatku.

Jika kukatakan telah kuberikan kepada mereka kematian yang terhormat, maka itu bukan berarti hanya dengan memberikan kepada mereka kematian dalam pertarungan, tetapi bahwa meskipun aku mengundang mereka semua sekaligus, pada dasarnya seratus pendekar itu kukalahkan satu persatu. Dengan demikian tidak kuberikan kesempatan kepada diriku sendiri untuk bersombong telah mengalahkan seratus orang sekaligus. Mereka semua belum sempat mengeroyokku, jarak antara mereka satu sama lain di bukit karang itu tidaklah begitu dekat, sehingga tidaklah bisa dikatakan aku mengalahkan seratus pendekar sendirian saja.

Memang aku telah mengalahkan seratus pendekar pada malam bulan purnama di bukit karang yang terjal di tepi samudera yang gelombangnya begitu dahsyat menghantam dinding karang, tetapi aku sungguh mengalahkannya satu persatu. Tidakkah aku telah melakukan sesuatu yang baik, demi kehormatan mereka maupun kerendahan hatiku sendiri? Hehehehehe…

Kini aku tahu betapa pembenaranku saat itu hanyalah suatu cara lain untuk jumawa dan kini aku menerima akibatnya. Peristiwa yang berlangsung 50 tahun lalu itu disebut sebagai peristiwa Pembantaian Seratus Pendekar.

Tidak ada seorang pun menyaksikan peristiwa itu, seratus pendekar yang datang semuanya tewas, dan hanya para pencari sarang burung yang menemukan seratus mayat di bukit karang. Bersama para nelayan, dengan susah payah, mereka menggunakan tali-tali kerekan untuk menurunkan seratus jenazah tersebut. Berita segera tersebar dengan bumbu cerita yang tidak bisa kubayangkan lagi di dunia awam. Tentu sebagian besar dari mereka tidaklah dikenal. Para pendekar adalah orang-orang yang terasing dan sengaja mengasingkan diri dari kehidupan sehari-hari dalam pencarian ilmu untuk mencapai pengetahuan sempurna. Siapa pun dia yang telah

memilih dunia persilatan sebagai jalan hidupnya, tidak keberatan atas kematian dalam pertarungan yang akan dialaminya.

Ternyata masih terdapat dendam membara. Bara yang panasnya masih harus kualami dalam usiaku yang uzur ini. Peristiwa yang disebut Pembantaian Seratus Pendekar itu berlangsung ketika usiaku 50 tahun – terlalu tua memang untuk masih mempunyai sikap jumawa seperti remaja; kini usiaku 100 tahun, jauh lebih tua, dan rasanya terlalu tua untuk tetap mengalami kehidupan. Namun, dengan segala hormat, aku menolak untuk terbunuh tanpa perlawanan.

***

KINI dalam perburuan oleh lawan-lawan yang tidak kelihatan, melalui sisa-sisa ingatan kadang terbayang kembali Pembantaian Seratus Pendekar yang telah menentukan nasibku sendiri. Keberhasilanku memenangkan pertarungan itu sebenarnya tidaklah mutlak karena ilmu silatku, melainkan karena aku telah pula menggunakan akalku. Medan pertarungan yang berupa bukit karang berbatu-batu tajam yang serba terjal itu telah menjadi sangat menyulitkan bagi siapapun untuk mengembangkan ilmunya. Setiap pendekar memang bisa merayapi dinding curam di tepi pantai dengan ilmu cicak, atau berlari miring dan melompat dari batu ke batu dengan

ilmu meringankan tubuh yang jamak dimiliki para pendekar kelas atas, tetapi semua itu bukanlah kegiatan yang tidak menguras tenaga.

Adapun aku sudah mempersiapkan diri sejak berminggu-minggu sebelumnya di puncak bukit karang itu, antara lain dengan melayang dari batu ke batu dengan mata tertutup. Dalam kegelapan, aku bisa menentukan letak batu dengan tepat berdasarkan suara angin yang terbelah ketika menerpanya, bahkan terus terang aku telah menundukkan seratus pendekar itu dengan mata yang juga tertutup. Dari kitab-kitab yang mengajarkan ilmu para pendekar buta, kuketahui bahwa pemandangan yang tertatap oleh mata bisa sangat mengecoh pemikiran dalam kepala: bahwa kita merasa menatap sesuatu yang benar, padahal kebenaran itu terbatas kepada sudut pandang dan kemampuan mata kita sendiri. Menutup mata dan menajamkan telinga, memberikan pengetahuan atas dunia yang sangat berbeda-dan karena aku sebenarnya tidak buta, maka gabungan pemanfaatan kedua indera itu menjadi daya ampuh tak terkira.

Dalam cahaya bulan purnama yang menyapu batu-batu tajam menjadi penuh pesona, para pendekar itu setidaknya akan kehilangan seperseribu detik dari kewaspadaannya. Melompat dari batu karang tajam ke batu karang tajam lain, meski bisa dilakukan dengan ilmu meringankan tubuh yang sempurna, masih menuntut kewaspadaan tambahan bagi yang belum terbiasa, sementara itu perjalanan mendaki bukit sebenarnyalah telah membuat tenaga mereka tinggal sisa. Orang-orang awam suka melebih-lebihkan kesaktian para pendekar, kini kusampaikan kenyataannya. Satu lagi kecerobohan para pendekar itu, ialah memaksakan diri membawa bermacammacam senjata. Senjata mereka yang terkadang asal aneh telah menyulitkan diri mereka sendiri, belum lagi yang

Dengan keadaan semacam itu aku yang sudah melatih diriku bergerak dengan mata terpejam berminggu-minggu sangatlah mungkin menembus pertahanan mereka. Tidaklah kuingkari bahwa di antara para pendekar ini ada juga yang cukup licik dan jika tidak mengirim mata-mata, maka mereka datang sendiri jauh hari sebelumnya untuk memeriksa keadaan. Tentu saja itu semua tidak lepas dari pengamatanku, dan tentunya juga tidak terlalu mengherankan betapa siapa pun yang menginjak bukit batu karang berbatu tajam ini sebelum bulan purnama tiba kukirim kembali ke perguruannya sebagai mayat bergulung tikar dalam gerobak.

Ilmuku disebut Jurus Tanpa Bentuk, kuciptakan sendiri setelah mempelajari segala macam bentuk ilmu persilatan dari para mahaguru utama. Intinya jurus-jurus itu melepaskan dan menjauhkan diri dari seluruh bangunan ilmu persilatan yang telah terbentuk dalam sejarah. Jurus-jurus itu tak berbentuk, tak dikenal, dan sulit ditanggapi dengan jurus-jurus ilmu persilatan yang telah dikenal. Kadang seperti menari, kadang seperti mematung, tetapi lebih sering tidak kelihatan, karena yang dikacaunya adalah pemikiran. Jurus seperti ini memang harus diciptakan sendiri, karena jika diterima dari seorang guru atau diturunkan kepada seorang murid, akan menjadikannya sebuah bentuk. Jurus Tanpa Bentuk juga sebetulnya bukanlah nama pemberianku, karena dari sifatnya yang tanpa bentuk seharusnya tidak bisa diberi nama, tetapi nama itu datang begitu saja entah dari mana di sungai telaga dunia persilatan. Mungkin berdasarkan cerita para pendekar yang telah kukalahkan dan cukup beruntung masih menggenggam nyawanya di dalam badan.

Demikianlah dalam deru angin kencang dan debur ombak mengempas dinding tebing karang kuhabisi lawanku satu persatu. Aku menyatukan diriku dengan angin, menyembunyikan diri dalam bayang-bayang, dan berkelebat cepat tiada terlihat untuk menotok jalan darah mereka di tempat yang mematikan. Namun ini hanya

kulakukan kepada para pendekar golongan putih. Orang-orang golongan hitam -kukira istilah pendekar tidak layak bagi mereka- kuselesaikan riwayatnya dengan senjata mereka sendiri, karena kutahu dengan senjata itulah mereka telah membawa penderitaan dalam kehidupan. Biarlah mereka rasakan bagaimana senjata-senjata itu menyakiti tubuh manusia dan itu berarti aku harus memberi mereka kesempatan untuk mengeluarkan dan menggunakan senjatanya.

Mereka akan segera menyerangku begitu aku menampakkan diri, dan dengan mata terpejam aku cukup menggeser tubuh, melambaikan tangan, atau mengibaskan rambut panjangku untuk mengembalikan senjata-senjata itu ke tubuh pemiliknya. Maka Bumerang Sakti pun tewas oleh senjatanya sendiri setelah siulanku menambah kecepatan putar balik senjata yang tidak bisa ditangkapnya lagi; Naga Sembilan mati tersedak oleh semburan uap beracunnya sendiri setelah angin yang kudorong membuat uap itu tidak keluar bahkan terhisap ke dalam paru-parunya; Golok Kembar kepalanya terpenggal oleh sepasang pedang yang berputar kembali ke lehernya setelah aku berkelebat ke balik punggungnya dan menotok urat saraf tertentu dari belakang; dan kedua lengan Si Tangan Besi kupatahkan tanpa membunuhnya untuk memberi hukuman atas kekejamannya selama ini tetapi ia ternyata justru menjadi tewas karena daya hidupnya memang berada di lengannya itu. Aku telah mematungkan diri agar dipukul dengan jurus andalannya yang mematikan.

Dengan totokan di berbagai urat tertentu pula kebanyakan dari mereka kubiarkan menjadi pekak telinganya oleh suara angin dan ombak, yang dalam telinga mereka menjadi sejuta kali lebih keras sehingga merusak saraf dalam otaknya. Diriku terkadang tampak begitu lemah dan begitu mudah diserang, tetapi yang dengan begitu telah mengurangi kewaspadaan sehingga aku bahkan bisa membunuhnya hanya dengan cara meludah ke tanah. Hampir semua hal bisa menjadi senjataku, kerikil, daun, angin, suara-suara sekitar, bahkan juga makhluk-makhluk di sekitarku.

Pernah kumanfaatkan laron-laron yang beterbangan untuk membingungkan lawanku, sehingga aku bisa menyelesaikan pertarungan cukup dengan meniup titik-titik gerimis. Sudah kukatakan tadi Jurus Tanpa Bentuk menyerang pemikiran dan bukan badan, dan kehancuran pikiran membuat badan sangat mudah dilumpuhkan.

Kusadari aku telah berlaku sebagai Tuhan yang menghakimi dengan kekuasaan tak terlawan, suatu kegiatan yang sungguh mati tidak menjadi tujuanku. Namun orang-orang golongan hitam yang sakti ini tidak mungkin diserahkan begitu saja kepada pengadilan negara, karena dalam kenyataannya mereka terlalu mudah meloloskan diri. Apalah artinya borgol dan terali besi bagi mereka yang menguasai tenaga dalam bukan? Mereka sangat sulit tertangkap dan jika pun karena kelengahannya sendiri akhirnya tertangkap, sangat mudah meloloskan dari dengan segala cara. Jika mereka berhasil menjebol langit-langit, naik ke atas genting, melompat ringan dan melayang dari atap ke atap, siapakah kiranya

Namun dalam Pembantaian Seratus Pendekar, bukan hanya orang-orang golongan hitam, juga para pendekar golongan putih dan golongan merdeka, yang sebetulnya sangat dibutuhkan untuk membasmi kejahatan, tewas sebagai korban kejumawaanku seorang. Keangkuhanku telah mengganggu keseimbangan peradaban. Aku merasa bersalah. Aku mengundurkan diri dari dunia persilatan, tetapi para pembalas dendam memburuku sampai ke dalam mimpi.

***

DALAM usia 100 tahun, aku bukanlah pendekar yang dulu lagi. Aku sudah menjadi uzur dan pelupa, bahkan aku ragu apakah semua yang kuceritakan tadi memang sesuai dengan kenyataannya. Lima puluh tahun sudah aku menghilang dari dunia persilatan. Mula-mula aku melenyapkan diri dalam kehidupan sehari-hari dengan menjalani berbagai macam pekerjaan awam, tetapi bahkan sebagai pengemis hina kelana keberadaanku ternyata tidak mudah disembunyikan.

Aku telah menjadi tukang roti, pembuat tahu, pemancing ikan, pendorong gerobak, tukang kayu, pengamen, guru sekolah dasar, tabib, kuli pelabuhan, pedagang kelontong, tukang rakit, penyalin kitab, pemilik kedai, penari topeng, petugas perpustakaan, juru cerita, jagal, petani, penjual bunga, sipir penjara, dalang teater boneka, dan segala macam bentuk pekerjaan yang membuatku mengira akan bisa melenyapkan diri dari dunia persilatan. Namun selalu ada saja yang mengenali siapakah diriku itu, berusaha membunuhku sehingga aku terpaksa membunuhnya.

Maka aku pun menghilang dari kehidupan ramai, menjauhkan diri dari masyarakat banyak, menghindari pertemuan dengan manusia. Dua puluh lima tahun sudah aku bagaikan hanya hidup dengan diriku sendiri di sebuah lorong gua yang gelap dalam rimba raya pekat yang belum pernah dirambah. Namun dalam samadiku yang telah berlangsung empat puluh hari empat puluh malam kudengar dengan jelas langkah-langkah halus yang mengendap-endap mendekatiku.

Kuhitung jumlah mereka, lebih dari dua puluh orang. Luar biasa. Setelah dua puluh lima tahun, bagaimana caranya siapa pun dia menemukan diriku? Namun, meski sudah berusia 100 tahun, uzur, dan lemah tanpa daya, aku tidak akan pernah membiarkan siapa pun dia membunuhku dengan mudah. Hmm. Kukira ini memang regu pembunuh yang luar biasa. Mereka melangkah bukan hanya di atas bumi. Sebagian melangkah miring di dinding, dan sebagian lagi bahkan melangkah terbalik dengan kaki menapak langit-langit gua.

Aku melakukan samadi di bagian gua yang terluas tetapi juga yang paling gelap dan paling lembab, tempat ribuan kelelawar bergantung di atasnya dan membuat ruang berbau pesing luar biasa. Meskipun memejamkan mata, aku tahu mereka menggunakan penutup wajah yang juga menutup hidungnya berdasarkan napas mereka yang tertahan. Aku pikir mereka dikirimkan dengan penuh perhitungan. Siapa pun yang mengirim mereka tentunya sudah mempertimbangkan kemampuanku, mencari kelemahanku, dan memperhitungkan segalanya agar bisa melumpuhkan aku. Hmm…

Betapapun aku sudah uzur dan tua, aku tetap saja manusia yang dibesarkan dalam dunia persilatan, semenjak kusaksikan ayah dan ibuku pergi

meninggalkan rumah dengan menyoren pedang di punggungnya untuk memenuhi sebuah tantangan, dan tidak pernah kembali.

Kudengar suara pedang tercabut dari sarungnya.

2. Maut Berkelebat di Balik Kelam

PEDANG itu belum tercabut dari sarungnya ketika terdengar jeritan memecah kesunyian. Sesosok bayangan terdengar jatuh terbanting dan menjerit berguling-guling di dasar gua.

“Aaaaaahhh! Mataku! Mataku!”

Sekejap kemudian terdengar kepak sayap ribuan kelelawar dengan cericitnya yang sangat dikenal. Mataku masih terpejam dalam sikap bersamadi, tetapi samadiku sebenarnya sudah selesai. Aku tetap mematung dalam sikap dhyana-mudra ketika tanpa suara aku meludah ke mata penyerbu yang sedang menarik pedangnya di atasku. Ludah itu mengandung rasa buah yang tajam dan bagi kelelawar rasa semacam itu tak boleh mereka lewatkan. Mereka mencaplok mata yang mereka kira semacam buah yang kini berdarah. Jeritan itu belum selesai ketika hampir semua mata di balik kerudung hitam itu telah kuludahi dengan cepat sekali. Regu pembunuh ini memang menyamarkan tubuhnya begitu rupa sehingga hanya matanya yang sekilas memantulkan cahaya terlemah dan tetap saja bernama cahaya. Segenap rasa buah kuciptakan dalam ludahku. Rasa mangga, rasa manggis, rasa papaya, rasa durian, dan rasa kesemek. Cericit kelelawar kini diseling dengan jeritan manusia yang semuanya bergulingguling sambil memegangi matanya.

“Tolong! Mataku! Mataku! Tolong!”

Pertolongan apa yang diharapkan oleh mereka yang datang dengan niat membunuh? Kepak ribuan kelelawar yang terus menerus mencericit berselang-seling dengan suara jeritan putus asa. Mereka semua akan binasa di dalam gua ini, tetapi aku tidak perlu menyaksikannya karena telah melesat keluar memburu pemimpinnya yang pasti berada di luar gua. Umurku memang sudah 100 tahun, mengapa mereka begitu tak sabar menanti

kematianku yang pasti tak akan terlalu lama lagi?

Meskipun sudah uzur dan kenyang bersamadi, darahku tetaplah naik ke kepala -di luar gua aku segera disambut ribuan anak panah yang

seharusnyalah mencabik tubuhku, tinggal menyisakan gumpalan daging berdarah di setiap mata anak panah itu. Panah-panah yang dilepaskan dari balik setiap batang pohon di dalam hutan itu menembus tubuhku tetapi tidak membawa sepotong daging pun, karena aku telah menggunakan Jurus Tanpa Bentuk yang telah mempermainkan pikiran mereka.

Para pembokong itu bersembunyi di balik batangbatang pohon. Satu pasukan tentara agaknya telah dikerahkan untuk menangkapku. Siapa gerangan yang telah memerintahkan dan apakah kiranya yang telah terjadi di dunia? Sudah 50 tahun aku menghilang dari dunia persilatan dan 25 tahun terakhir aku tak berjumpa manusia, apakah yang masih mungkin menjadi urusanku dengan para pengepung yang usia tertingginya hanyalah 25?

Aku berkelebat seperti bayangan sepanjang hutan. Mencabuti nyawa mereka seperti malaikat maut menjalankan pekerjaan. Kesalahan terbesar siapa pun yang berusaha mengatasi Jurus Tanpa Bentuk adalah menghadapinya tetap sebagai bentuk. Siapa pun mereka berusaha mengingat, mencatat, dan membahas segala gerakanku, segalanya sebagai suatu bentuk dan berdasarkan bentuk itu mencari kelemahan ilmuku. Mereka membahas bentuk dan mempertimbangkan urutan gerakannya, agar dengan begitu dapat menciptakan ilmu silat yang baru hanya untuk menghadapiku. Tentu saja pendekatan semacam itu hanya akan menjadi sia-sia, karena Jurus Tanpa Bentuk akan selalu menyesuaikan dirinya dengan jurus-jurus yang dihadapinya. Jurus Tanpa Bentuk adalah jurus yang tidak terdapat dalam dirinya sendiri, melainkan selalu sudah ada dalam jurus-jurus yang dihadapinya. Ibarat kata jurus ilmu silat adalah suatu isi, maka Jurus Tanpa Bentuk akan menjadi

kekosongan -ini membuat setiap serangan maut bagaikan membuka kelemahan dirinya sendiri.

Aku tampak berkelebat cepat seperti bayangan, tetapi aku merasa diriku melayang ringan selambat cabikan kapas diterbangkan angin. Dalam waktu singkat seratus pemanah di balik pohon itu kutancapkan ke batang pohon dengan anak-anak panah mereka sendiri. Ada yang tertancap memeluk pohon, ada yang tertancap menghadapi kekelaman rimba. Mereka tidak akan langsung mati. Mereka merintih-rintih. Tiada seorang pun mempunyai cukup tenaga untuk mencabut panah itu lagi. Tubuh mereka tertancap begitu tinggi.

Jika panah itu berhasil mereka cabut, tetap saja tubuh para serdadu yang barangkali tidak seorang pun mengenalku itu akan melayang jatuh dan tetap saja mati.

Kulihat lima pemimpin mereka berada di luar gua dan dari caranya berbusana aku tahu mereka menyandang jabatan militer dari suatu negara. Hmm. Kerajaan manakah kiranya di Yawabumi ini yang telah mengerahkan pasukannya untuk membunuh atau menangkapku. Aku hidup di dunia persilatan, tidak berurusan dengan kehidupan sehari-hari. Dunia persilatan memang hidup di bumi yang sama dengan dunia awam para pencari keselamatan diri, tetapi dunia persilatan memiliki kehidupannya sendiri yang tidak akan pernah diterima sebagai sesuatu yang nyata oleh masyarakat awam -karena bagi orang awam, dunia persilatan hanyalah suatu dongeng, suatu sastra.

Baiklah, itu berarti aku hidup di dalam sastra, atau tepatnya di dalam bahasa. Apakah yang telah menjadi begitu keliru dan begitu salah sehingga suatu negara di dunia nyata ingin membunuh seorang pelaku dari sebuah dongeng? Bagaimanakah dongeng bisa menjadi sangat berbahaya? Hmmm. Kelima pemimpin pasukan itu mengeluarkan senjata mereka masing-masing. Aneh, bukannya takut, perasaanku malah menjadi riang. Sudah begitu lama aku tenggelam dalam samadi karena memang

tidak ada yang bisa kulakukan lagi. Aku begitu siap untuk mati. Namun kini aku seperti dilahirkan kembali. Mereka bergerak mengepung tanpa kata-kata dan aku membiarkan diriku diserang begitu rupa seolah-olah akan begitu mudah mereka bisa membunuhku. Dalam gebrakan pertama saja kedua orang dari mereka sudah saling menikam dengan kelewang.

Tinggal tiga orang sekarang. Mestinya aku bisa mengatasi mereka dengan mudah, tetapi bukankah aku membutuhkan penjelasan? Mereka menyerangku dengan kecepatan tinggi. Seorang di antaranya bersenjata cambuk yang meledak-ledak memekakkan telinga. Ini mungkin penemuan terbaru kelompok-kelompok yang bermaksud memecahkan rahasia Jurus Tanpa Bentuk. Mungkin mereka mencatat bahwa aku sering bertarung dengan mata terpejam dan itu berarti aku mengandalkan indera pendengaran. Mungkin mereka berpikir karena itu aku harus dilawan dengan mencari kelemahan atas pengandalan indera pendengaran itu. Maka meledakledaklah

cambuk itu sampai burung-burung hutan beterbangan ke udara dan monyet-monyet melayang dari ranting ke ranting sambil menjerit-jerit menambah gaduh suasana. Begitu gaduh rupanya sehingga ledakan cambuk itu hanya menjadi salah satu di antaranya. Ia melenting dari batang pohon satu ke batang pohon lain dengan ilmu meringankan tubuh yang nyaris sempurna, tampaknya berupaya membingungkan aku dengan suara ledakan cambuknya, tetapi aku segera mengikuti seluruh gerakannya dengan kecepatan yang lebih tinggi. Aku selalu mendahuluinya, sehingga terlalu mudah bagiku, bahkan tanpa harus menggunakan Jurus Tanpa Bentuk untuk menepuk kepalanya sehingga kesadarannya hilang dan tidak akan pernah kembali lagi.

Kini tinggal dua orang berdiri menghadapi dengan napas tersengal. Ilmu mereka tampaknya berada di bawah orang yang memegang cambuk tadi, dan pangkat mereka pun barangkali lebih rendah. Keduanya melepaskan

senjatanya ke tanah tanda menyerah. Sebuah pedang besar bergerigi dan sebuah kapak dua sisi. Wajah mereka pucat pasi.

“Katakan siapa nama kalian, dari mana kalian berasal, dan mengapa kalian memburuku jauh-jauh ke dalam rimba raya ini untuk membunuhku.”

Mereka tidak menjawab. Mereka saling berpandangan. Lantas tangan mereka bergerak cepat memasukkan sesuatu ke dalam mulut mereka.

Sejenak kemudian mereka menggelepar dengan mulut berbusa.

***

JIKA mereka hanya berniat menangkapku, aku akan membiarkan diriku tertangkap agar bisa membongkar misteri ini. Namun mereka berniat membunuhku-dan meskipun bagi orang berumur 100 tahun jarak dengan kematian hanyalah selangkah ke kuburan, aku bukanlah pendeta yang akan membiarkan diriku terbunuh tanpa bayaran.

Aku melayang ke atas pohon, meloncat ke dinding tebing di atas gua, dan melenting dari ujung batu yang satu ke ujung batu yang lain untuk mencapai puncaknya. Di atas sana terdapat suatu dataran luas tempat aku bisa memandang ke mana-mana. Sudah 25 tahun aku bersembunyi di tempat ini dan aku tahu betapa tidak akan ada tempat yang lebih baik lagi untuk menghindari dunia ramai selain di sini. Di dinding karang, kadang terdapat sarang burung elang. Hanya anak-anaknya yang baru menetas tinggal di

sana sementara induknya melayang terbang mencari mangsa di atas bumi. Sering kulihat mereka datang mencengkeram tupai atau ikan untuk memberi makan anak-anaknya itu. Betapa kelanjutan hidup makhluk yang satu harus dibayar dengan kematian makhluk yang lain!

Aku masih terus melayang dengan ringan melalui jejakan di ujung batu yang bertonjolan di sana-sini. Angin

bertiup kencang dalam cahaya sore.

Menjelang puncak, terdapatlah suatu gua yang dulu juga pernah kumasuki. Letaknya cukup dekat puncak yang berupa dataran itu, sehingga siapa pun dapat merayapi dinding dan menyusuri dinding untuk mencapainya -dan itu pula sebabnya aku tidak memilih untuk tetap tinggal di sana. Memang terlihat bekas-bekas kehidupan di sana. Tengkorak manusia, kapak batu, dan batu pipih yang digunakan manusia purba tampak bergeletakan. Apakah mereka bersilat?

Pernah kutemukan sejumlah gambar manusia bergerak di dinding gua. Namun kukira itu hanya gambaran orang-orang menari. Batu-batu pun tersusun begitu rupa menunjukkan sentuhan tangan manusia. Gua itu tersembunyi dan barangkali saja mereka menghindari sesuatu, sama saja seperti aku. Pemikiran itulah dulu yang membuat aku enggan menempatinya dan mencari tempat yang jauh lebih curam di bawah sana. Siapa nyana dua puluh lima tahun kemudian tempat persembunyianku ditemukan juga, justru dari bawah oleh pasukan pembunuh yang berani menyabung nyawa merambah hutan?

Tidak kumasuki lagi gua itu dan aku terus melayang ke atas. Udara sangat dingin di atas ini dan aku harus melenting-lenting menembus kabut. Angin bertiup menggigilkan, suaranya terdengar seperti siulan maut. Begitulah, meskipun aku sendirian saja, sebenarnyalah aku tidak pernah kesepian, karena segala sesuatunya dalam pandanganku bisa hadir sebagai suatu makna. Bahkan aku bisa belajar banyak dari dedaunan yang tampak basah, untuk ilmu silat maupun demi suatu filsafat pemahaman tentang dunia, karena bagiku hanya mereka yang mampu memberi makna keberadaan dunia akan mampu selamat dari keterserapan hidup yang semu. Bukankah sehari dan semalam hanyalah perputaran bola bumi? Namun terlalu sering kita lupa untuk menyadarinya, bersama kehidupan semu yang menyeret

kita untuk betul-betul menjadi tua. Dalam kehidupanku sebagai pengembara di dunia ramai, aku menyadari bagaimana manusia telah ditelan oleh kehidupannya sehari-hari demi kebutuhan perutnya yang tidak pernah berhenti meminta diisi. Hidup tanpa kesadaran, bagaimanakah caranya kita masih tetap jadi manusia?

Demikianlah aku si tua ini berkelebat di antara kabut mencari jalan ke atas sana, hanya untuk mendapat sambutan jarum-jarum beracun. Kudengar desingannya yang tajam menembus kabut, memaksaku bersalto tiga kali ke udara, karena serangan jarum-jarum beracun itu tidak kunjung berhenti jua.

Waktu mendarat kembali ke bumi aku masih tersekap kabut. Kaki bisa merasakan batu cadas yang datar di puncak itu, tetapi aku tidak bisa melihat apa pun, sekelilingku hanyalah kabut yang berjalan dalam embusan angin kencang dari seberang benua.

Kudengar suara tawa terkekeh-kekeh.

“Heheheheheheh! Sudah menjadi tua bangka dikau rupanya! Kenapa kamu tidak mati-mati juga?”

Kabut tiada juga tersibak, tetapi dari baliknya tiba-tiba terjulur sebatang pedang pipih dengan ketajaman pada dua sisi yang tampak ringan dan jelas sangat tajam langsung terarah ke leherku! Aku berkelebat dan sesosok bayangan juga berkelebat. Telapak tanganku bergerak cepat menampar-nampar sisi pedang untuk membelokkan arahnya. Namun gerakan pedang itu memang luar biasa cepat. Aku bergerak lebih cepat agar mendahului gerakannya, tetapi tanggapan itu agaknya sudah diduga. Hmm. Lawanku kali ini berilmu tinggi.

Kami bergerak sangat cepat di tengah kabut yang ternyata semakin lama semakin pekat. Aku hanya melihat sosok itu berbusana serbaputih. Bergerak cepat sekali menjadi hanya kelebat bayangan serbamemutih. Suara pedangnya bersiut-siut menjanjikan datangnya maut. Aku tidak menggunakan Jurus Tanpa Bentuk karena ingin melemaskan otot-ototku.

“Tua bangka! Engkau masih cepat juga!”

Siapakah dia? Kalimatnya menunjukkan betapa ia mengenalku. Kalaupun tidak berhadapan sebagai lawan bertarung, setidaknya ia pernah menyaksikan aku menghadapi lawan-lawanku. Pada masa mudaku aku adalah seorang petarung yang selalu mencari lawan, termasuk dengan

menantangnya di tempat terbuka, karena kepongahan masa mudaku selalu membuat aku ingin ditonton saat menundukkan siapa pun yang menjadi lawanku.

Aku melakukan beberapa gebrakan untuk melumpuhkannya. Terasa tanganku menghajar dadanya. Ah! Seorang perempuan! Kenapa aku tidak bisa mengenali dari suaranya ketika ia berbicara? Aku melompat mundur dan berusaha menjauh. Sekarang aku mengerti kenapa aku selalu merasa berada di tengah keharuman. Ia seorang perempuan pendekar yang selalu berparfum! Samar-samar kuingat dari kenanganku, nama seorang perempuan pendekar yang terkenal karena wewangiannya itu, Pendekar Melati. Dulu dia cantik sekali. Apakah kini dia sama berkeriputnya seperti aku?

Kudengar suara. Tentu saja ia muntah darah. Ia telah terkena pukulan Telapak Darah -jika ia masih bertahan hidup berarti tenaga dalamnya tergolong tinggi. Selama ini belum pernah ada lawanku yang bisa melanjutkan hidupnya lebih dari 24 jam, bahkan meski hanya terkena anginnya saja dari pukulan Telapak Darah tersebut.

Kabut belum juga berpendar. Ia pergi meninggalkan aroma melati. Aku bahkan tidak pernah melihat dengan tegas sosok dan wajahnya. Apa yang membuat perempuan pendekar yang ternama itu juga berniat membunuhku?

Ia termasuk pendekar golongan merdeka. Tidak akan memburu seseorang jika tidak dianggapnya mempunyai kesalahan yang berat. Berbeda dengan golongan putih yang akan menumpas

orang-orang golongan hitam tanpa pandang bulu, para pendekar golongan merdeka tidak terlalu peduli dengan baik dan buruk, benar dan salah, atau apakah seseorang itu termasuk golongan hitam atau putih.

Mereka hidup lebih untuk diri mereka sendiri, mengabdikan hidupnya untuk mencari dan meningkatkan ilmu, serta membela keadilan hanya jika para pendekar golongan putih sudah tidak bisa mengatasinya -itu pun lebih sering dengan cara tidak memperlihatkan diri.

Di tengah kabut yang dingin, aku terpaku merenungkan perkembangan yang mendadak dan berlangsung cepat sekali. Setelah dua puluh lima tahun hidup di dalam gua, aku harus memutuskan, apakah akan tetap meninggalkan dunia ramai dan diam-diam mati di suatu tempat; ataukah kembali

memasukinya untuk mencari jawab: Mengapa begitu banyak orang mengejar dan memburu diriku?

Ketika kabut pergi, malam telah tiba. Tidak ada yang bisa kulakukan lagi selain memasuki gua para manusia purba di bawah tadi untuk mencari sekadar kehangatan. Aku ini sudah uzur dan tua, meskipun aku seorang pendekar, musim kemarau yang dingin selalu membuat aku sangat tersiksa.

3 Rumah Ketiadaan

DI DALAM gua, aku mengambil tempat dan mengolah pernapasan, mengikuti Yogacara aliran Dignaga, yang mengatakan bahwa pengetahuan hakiki hanya dimungkinkan melalui yoga. Kuingat sebuah pelajaran dari Kitab Sang Hyang Kamahayanikan.

Jika dikau berada di gunung,

di gua,

di tepi samudera,

di dalam rumah atau wihara,

pertapaan,

bahkan kuburan,

hutan

dan semacamnya

dirikanlah rumah sunya

rumah ketiadaan …

Lantas kujelajahi duniaku, ruang dan waktuku, semampu daya usia uzurku. Apakah aku akan bisa mendapat jawaban dari masa lalu?

Bagaikan masih tersisa aroma yang ditinggalkan Pendekar Melati, membuat aku sulit memusatkan pikiran dan mencapai anatman-keadaan tanpa diri dan tanpa jiwa, maupun sabhava -keadaan yang hakiki; tetapi masih bisa kugapai bhavana- meditasi yang mengembangkan pikiran.

Apakah mereka yang masih mencariku setelah 50 tahun berlalu datang karena peristiwa Pembantaian Seratus Pendekar? Semula aku mengira mereka yang datang adalah keluarga, keturunan, ataupun murid-murid mereka yang terbunuh. Dalam dunia persilatan, kisah dendam membara bukanlah perkara yang aneh.

Namun dalam Pembantaian Seratus Pendekar setiap orang datang tanpa paksaan dan pertarungan berlangsung dengan adil. Meski terkalahkan, setiap orang pralaya dengan terhormat sebagai pendekar. Bahkan orang-orang

golongan hitam, yang tidak pernah dihormati meskipun ditakuti, seperti disucikan kembali jiwanya karena tewas dalam pertarungan tanpa kelicikan seperti yang selalu mereka lakukan.

Aku baru sadar. Peristiwa yang kualami sekarang ini barangkali tidak ada hubungannya sama sekali dengan Pembantaian Seratus Pendekar. Namun juga sangat mungkin bahwa peristiwa itu dimanfaatkan demi suatu kepentingan. Aku sudah terlalu lama meninggalkan dunia ramai, tidak tahu menahu keadaan apakah kiranya yang paling mungkin berhubungan dengan perburuan diriku. Lagi pula dunia ramai orang-orang awam tidaklah pernah menjadi kepentinganku.

Masalahnya, orang-orang yang mengepung dan menghujaniku dengan anak panah berseragam tentara, orang-orang militer; dan meskipun regu pembunuh yang memasuki gua hanya berseragam hitam tanpa penanda kesatuan tertentu, aku tahu mereka adalah pasukan khusus yang dilatih untuk melaksanakan tugas-tugas menentukan.

Kelima pemimpinnya pun jelas para perwira yang membawa pasukan tersebut. Apakah mereka masih berasal dari sebuah kerajaan yang dipimpin Dinasti Syailendra?

Ketika aku meninggalkan dunia persilatan dan meleburkan diri dalam dunia ramai selama 25 tahun, sedang berlangsung pergolakan di Yawabumi, yang membuat saudara muda raja Samarattungga, Balaputradewa, menyingkir ke Suwarnadwipa dan akhirnya menjadi salah satu raja di kerajaan Sriwijaya.

Sampai aku meninggalkan dunia ramai dan menghilang ke dalam hutan, Yawabumi sebelah timur dikuasai oleh Jatiningrat, menantu Samarattungga yang kemudian akan disebut Rakai Pikatan.

Aku tidak terlalu yakin apa yang sebenarnya telah terjadi, apakah mereka bersengketa karena masalah perkawinan, bahwa Jatiningrat yang memeluk Siwa

menikahi putri Samarattunga yang beragama Buddha, dan apakah perbedaan agama itu menjadi perkara sengketa.

Aku menganggap perbedaan agama antara Balaputradewa yang memeluk Buddha Mahayana dan Jatiningrat sebagai pemeluk Siwa seharusnya tidak menjadi masalah, karena bagi rakyat jelata kedua agama itu tidak lebih sebagai kepercayaan asing yang datang bersama orang-orang asing. Jika kemudian raja-raja mereka memeluk agama asing, dan mewajibkan rakyatnya melakukan upacara-upacara keagamaan seperti agamaagama asing itu, rakyat jelata yang cinta damai tidaklah berkeberatan melakukannya demi keselamatan dan ketenangan. Dalam kehidupan sehari-hari rakyat jelata, perbedaan agama bukanlah suatu masalah -tetapi bagi para pemimpin dunia awam, agama dimanfaatkan sebagai penanda untuk membedakan golongannya sendiri dengan golongan lainnya. Bagiku, sengketa di antara para pemimpin hanyalah sengketa masalah kekuasaan. Agama hanyalah alasan untuk mendapatkan pengikut sebanyakbanyaknya. Hal semacam itu bagiku adalah kelicikan yang memuakkan.

Aku menghilang tahun 846. Saat itu Balaputradewa telah pergi, tetapi agama Buddha tetap bertahan, bahkan berkembang, karena rakyat jelata memang tidak menolaknya. Bukankah Pramodawardhani, putri Samarattungga yang Buddha, permaisuri Jatiningrat yang Siwa, tahun 824 telah meresmikan candi jinalaya Kamulan Bhumisambhara yang mempunyai makna sepuluh tahap menuju Buddha? Itulah sebabnya aku juga selalu berpendapat, para pimpinan negara pun lebih sering menjadi korban permainan perebutan kekuasaan para pelaku di balik layar, yang saling bertarung dan beradu pengaruh atas nama agama. Ketika menyamar sebagai tukang batu, aku pernah bekerja untuk membangun candi Siwa maupun candi Buddha Mahayana, dan meskipun letaknya berdekatan, tiada pertentangan di antara para jemaatnya. Bahkan aku sering terperangah dengan

pengarahan para acarya yang mampu memadukan citra keindahan Siwa maupun Buddha dalam pembentukan candi.

Saat aku menghilang, candi jinalaya Kamulan Bhumisambhara telah berdiri, candi raksasa bertingkat sepuluh itu dipenuhi dengan patung dan ukiran kisahkisah ajaran Buddha. Ketika baru mulai dibangun, sekitar tahun 820 aku mengajukan diri sebagai salah satu dari beratus-ratus pengrajin yang bertugas menatah dinding dengan kisah-kisah tersebut dan dengan begitu aku menghayatinya kembali secara lebih mendalam, yang tidak kusangka

ternyata berhubungan dengan ilmu silatku. Dari bawah sampai ke atas, Candi Kamulan Bhumisambhara menerjemahkan pencarian manusia atas hakikat kehidupan-betapa pergulatan nafsu dalam ketubuhan mesti di atasi dalam kesadaran untuk mencapai pencerahan, dan bahwa dalam pencerahan tiada lagi bentuk, tiada lagi diri, hanyalah alam awang-uwung yang tiada terterjemahkan dalam kebahasaan.

Tiadalah mengherankan jika Jurus Tanpa Bentuk dianggap sebagai pencapaian yang paripurna dalam dunia persilatan. Segalanya terukir indah di Kamulan Bhumisambhara, dari segala macam bentuk kehidupan duniawi di tingkat terbawah sebagai pemenuhan indera, sampai kepada bentuk-bentuk penuh perlambangan atas peningkatan hidup dari tingkat demi tingkat di atasnya, menuju kepada stupa yang lurus menunjuk ke langit kosong tak bertepi. Jurus Tanpa Bentuk bagaikan langit bagi segala bentuk dalam semesta dunia persilatan -hanya mereka yang mampu melepaskan segala bentuk akan menguasai Jurus Tanpa Bentuk.

Aku membuka mata. Belum kutemukan titik terang. Namun kini aku merasa tenang. Setidaknya telah kutemukan tempatku kembali di tengah alam setelah menutup diri 25 tahun di dalam gua. Jika perhitunganku tepat, aku sekarang berada di Yawabumi tahun 871. Aku menarik napas dalam-dalam, dan mengembuskannya

kembali dengan sangat amat perlahan. Mestikah aku kembali memasuki dunia persilatan? Terlalu banyak hal masih menjadi teka-teki yang menuntut penuntasan.

***

BEBERAPA lama aku tenggelam dalam meditasi tidaklah kuketahui. Samadi melepaskan kita dari ruang dan waktu manusia-tetapi jelas tubuhku masih di dalam gua yang pernah dihuni manusia purba. Gua yang masih begitu bersih, seolah-olah baru kemarin mereka meninggalkannya. Kulihat gambar-gambar orang bergerak di dinding gua itu. Aku sudah sangat berpengalaman membaca berbagai gambar dalam kitab-kitab ilmu persilatan dan dengan mudah gerakan-gerakan itu segera bisa kubayangkan seutuhnya. Aku tidak akan mengatakannya sebagai gerakan tanpa bentuk, tetapi itulah gerakan-gerakan yang belum terbentuk. Apakah gerakan itu untuk menari? Aku

taktahu pasti. Namun gerakan-gerakan itu dilahirkan oleh naluri terdalam, yang mewakili gerakan sukma sebelum manusia berbahasa.

Aku memperhatikan lagi gambar-gambar dalam gua temaram itu. Kuangkat obor yang menyala pada ranting kering karena batu api untuk meneranginya, dan goyangan api membuat gambar-gambar itu bergerak. Hmm. Para manusia purba yang dahulu kala menghuni gua ini sebenarnya telah memahami dasar gerak dengan sempurna. Dengan dasar gerak itu seseorang bisa menari, bisa melakukan bela diri, bahkan juga bersamadi, hanya dengan memahami gerakan inti. Apakah gerakan inti itu? Tiada lain kediaman dalam gerak dan gerak dalam kediaman. Seperti Jurus Tanpa Bentuk, masalahnya berada dalam pemikiran. Dengan cepat kusapu seluruh gerakan yang tergambar pada dinding gua itu dan segera menguasainya.

Lantas aku keluar dengan cepat, melompat dan melesat ke udara terbuka. Ternyata aku tidak langsung meluncur ke bawah, karena aku menjadi sangat ringan, jauh lebih

ringan dibanding jika aku menggunakan ilmu meringankan tubuh. Tanganku terulur lurus ke kiri dan ke kanan dengan jari-jari yang kurapatkan, kedua kakiku rapat dan tegak lurus -aku bagaikan sebuah patung dengan tangan terbentang, tetapi aku tidak meluncur ke bawah dengan cepat, bahkan serasa aku berada di luar hukum alam di bumi. Aku meluncur ke bawah dengan sangat pelan dan dengan perlahan aku berputar, berputar, dan berputar. Seperti berada di luar bumi, tetapi menjadi bagian pergerakan semesta.

Aku mendengar gumam nyanyian puja para pendeta di telingaku, seperti irama yang menentukan kecepatan meluncurku. Seperti bergerak, tetapi diam; seperti diam, tetapi bergerak juga-karena memang bukan keduanya. Memang, aku menjelajah dalam Rumah Ketiadaan, sembari mengingat Samvarodaya-tantra.

dalam rumahnya sendiri

di tempat yang tersembunyi

nyaman di pegunungan,

gua, hutan, pantai lautan

atau kuburan

di candi Devi Ibu

tempat dua sungai bertemu

hasil tertinggi menjadi pencapaian

mandala dalam perputaran1

Begitulah aku bagaikan mandala yang berputar karena pertemuan dua sungai dalam semesta batinku. Perputaran yang memberikan kepadaku kediaman gerak abadi. Sepanjang malam aku berputar tanpa merasa berputar dan meluncur ke bawah dengan ringan sampai mendarat kembali di atas bumi tepat pada saat fajar menyingsing.

Langit di ufuk timur masih ungu ketika aku sudah

melenting kembali dari batu ke batu kembali menuju dataran cadas di atas sana. Kabut berpendar dalam cahaya pagi dan seluruh dinding batu yang curam itu lambat laun bagaikan disepuh cahaya keemasan. Kutinggalkan kicau burung-burung hutan dan dari atas kusaksikan kerimbunan rimba raya yang telah menyembunyikan diriku selama 25 tahun. Rimba raya yang kutinggalkan untuk menghirup kembali rimba hijau dunia persilatan. Sebelum mencapai puncak, aku berbelok dan berlari miring sepanjang dinding untuk kembali menuju peradaban. Sungai telaga persilatan berada di ruang dan waktu yang sama dengan dunia orang awam meskipun dunianya begitu berbeda, sehingga dunia persilatan hanya tampak kepada orang awam sebagai suatu dongeng.

Aku berlari cepat sekali, berkelebat tak terlihat seperti bayangan, yang membuat orang-orang awam hanya akan mampu merasa sesuatu berkelebat melaluinya tetapi tidak pernah berhasil menegaskannya. Begitulah aku mulai bertemu dengan para pencari kayu, pemetik buah, penjerat binatang, dan para pemburu, tetapi aku melewatinya saja, agar kehidupan mereka tidak terganggu. Dunia persilatan, meski menyenangkan didengar sebagai cerita pengisi waktu luang, nyaris selalu membawa persoalan sebagai kenyataan. Aku tidak ingin melibatkan orang-orang awam dalam persoalanku yang bahkan bagiku masih penuh dengan pertanyaan. Setelah melesat dan berkelebat dalam lindungan bayang-bayang yang serbamemanjang tibalah aku di sebuah jalan di pegunungan. Ini sebuah jalan raya antarkota, kukira inilah pintu masukku kembali ke dunia. Aku harus mendengar suatu percakapan agar mengenali kembali dunia yang telah kutinggalkan 25 tahun lamanya.

Di tepi jalan itulah aku duduk bersila bagaikan seorang pengemis tua, sambil membawa tongkat dan kulit buah waluh yang keras sebagai mangkok, siap menerima apapun yang diberikan sebagai sedekah dan memakannya. Memang para pendeta Buddha juga melakukannya sebagai ketentuan yang telah mereka terima, seperti pernah

kubaca dalam Siksassamuccaya, catatan yang ditulis Santideva saat aku dilahirkan seratus tahun lalu.

pakailah sarung dan perangkat Buddha

yang hidup dari derma

bawalah waluh dan tongkat peminta-minta

kepala gundul, pakaian berwarna

dan mangkok peminta-minta

untuk menghilangkan keangkuhan

agar bebas dari keangkuhan

seseorang harus menjadi candala

orang hina yang meminta-minta

menerima apa saja yang dibuang

menghormati gurunya

berlaku baik agar pendeta lain suka2

Aku bukanlah pendeta Buddha dan kepalaku tidaklah gundul, sebaliknya bahkan awut-awutan seperti gelandangan yang menjijikkan dan aku tidak mengenakan sarung melainkan sekadar kancut seperti orang sadhu, itu pun warnanya tidak jelas bisa disebutkan seperti apa. Aku hanya menjalankan peran seorang pengemis, seperti pernah kulakukan ketika meleburkan diri dalam kehidupan sehari-hari, dan itulah saat kuhayati kehidupan seorang candala yang hina dina. Orang-orang menghindar untuk memandangiku, setiap kali memandang kubaca tatapan penghinaan, anak-anak meludahiku, dan ibu-ibu tua bersikap mulia tidak lebih karena rasa kasihan.

Ketiadaan penghargaan adalah makna hidup dalam kehinaan-dan bagi seorang pendeta yang mengolah akal kebijaksanaan, segera terbentang kelemahan perilaku manusia yang tidak perlu mereka ulang.

Dari balik kelokan muncul seekor kuda yang dipacu laju. Kuda yang tegap dan perkasa itu berwarna hitam, tetapi penunggangnya mengenakan busana

serba kuning, ikat rambut pita kuning, bahkan sarung pedang di punggungnya pun berwarna kuning keemasan.

Meski kudanya dipacu laju, dari jauh aku tahu ia waspada atas kehadiranku. Kepalaku tunduk ke bawah seperti siap menerima nasib apa saja, tetapi aku sungguhsungguh siaga. Sudah jelas penunggang kuda ini berasal dari sungai telaga dunia persilatan, dan sesama orang-orang persilatan sudah jamak bila akan saling mengenal dalam sekali pandang.

Aku memang sudah menghilang dua puluh lima tahun, tetapi di dunia persilatan kisah-kisah menggemparkan seperti Pembantaian Seratus Pendekar terkadang memberikan rincian yang cermat tentang para tokohnya, sehingga ciri-ciri mereka menjadi sangat terkenal.

Pengalamanku menyamar dan melebur dalam kehidupan awam menunjukkan betapa tidak begitu saja seseorang yang telah menapakkan jejak dan mendapat nama di rimba hijau bisa dengan mudah menghilang.

Ketika menjadi pengemis aku mengira tiada seorang jua akan sudi memperhatikan aku. Hidup menggelandang dan tidur di sembarang tempat kukira merupakan cara yang terbaik untuk memghindari pandangan. Namun sebaliknya justru di sinilah keberadaanku di mana pun selalu dipergoki orang-orang Partai Pengemis.

Kuda yang melaju itu semakin dekat. Aku segera menandai bahwa penunggangnya bukan penduduk Yawabumi, dan tidak juga Suwarnadwipa, karena ia mengenakan pembungkus kaki yang oleh orang-orang asing disebut sebagai sepatu. Dari sarung pedangnya yang keemasan itu pun aku tahu pemiliknya bukan sembarang

pendekar. Sarung pedang itu berukiran gambar naga-dan aku tahu akan begitu juga sisi-sisi pipih pedangnya. Hmm. Penunggang kuda itu tentunya seorang pendekar yang mewarisi Pedang Naga Emas!

4 Naga Emas

KUDA itu melaju meninggalkan debu melewatiku. Kuperhatikan sekali lagi sarung pedangnya yang berlapis emas, masih jelas bagiku ukiran gambar naga yang sangat kukenal. Pegangan pedangnya terbuat dari gading yang juga terukir dengan indah.

Bila pedang itu dicabut akan terlihat ukiran tipis naga keemasan. Pedang itu sangat tipis, digerakkan sedikit saja langsung bergoyang, menandakan pedang itu akan selalu dipegang seorang pendekar bertenaga dalam-karena jika tidak begitu, pedang ini hanya akan menjadi hiasan dinding. Dengan saluran tenaga dalam, bahkan pedang yang berasal dari batu meteor pun akan dengan mudah ditebasnya seperti pohon pisang.

Aku sangat mengenal pedang itu, karena pernah berhadapan dengan pemiliknya, yakni Naga Emas dari Negeri Tiongkok. Mengingat ketajaman luar biasa pedang itu, aku mempersenjatai diriku dengan sarung pedang tersebut yang kusambar dari punggungnya sembari bersalto di atas kepalanya.

Kami bertarung jurus demi jurus sepanjang malam dan selama itu aku menggunakan ilmu pedang Cahaya Naga untuk menghadapinya. Memang, tidak setiap saat aku memanfaatkan Jurus Tanpa Bentuk, karena jurus ini selalu membuat aku menang terlalu cepat dan itu berarti aku tidak bisa mempelajari ilmu silat lawan-lawanku. Kegagalan mempelajari ilmu lawan bagiku adalah suatu kekalahan.

Salah satu jurus dalam ilmu silat yang gunanya menyerap ilmu silat lawan disebut Jurus Bayangan Cermin. Dengan jurus ini, selama bertarung lawan tidak akan sadar bahwa setiap kali suatu jurus dikeluarkan, saat itu pula lawan akan menguasai jurus tersebut, dan kemungkinan besar akan berbalik menyerang dirinya

sendiri-tetapi tidak selalu dalam bentuk yang dikenalnya.

Dalam keadaan seperti ini kedudukan seseorang yang terserap ilmu silatnya menjadi sangat berat, sebagian besar lantas bisa dikalahkan dengan jurus-jurus andalannya sendiri, yang sudah tidak dikenalnya sama sekali. Dengan cara itu pula aku bukan hanya dapat mengimbangi Naga Emas, tetapi juga menyerap ilmu silatnya, yakni ilmu pedang Aliran Naga yang luar biasa indah, cepat, dan sangat mematikan.

Dalam sekilas, terlintas kembali pertarunganku melawan Naga Emas yang juga selalu mengenakan busana kuning keemasan seperti penunggang kuda itu. Ilmu pedang Aliran Naga yang diperagakan Naga Emas itu memang gerakan-gerakannya indah seperti tarian burung elang, yang mengepak dan

meluncur dengan segenap pesona, hanya untuk menukik dan membuat lawannya binasa.

Busana sutra kuning keemasan dan pedangnya yang keemas-emasan itu pun menjadi bagian dari jurusjurusnya yang seperti memanfaatkan berbagai macam pantulan cahaya berkilauan.

Ilmu pedang Aliran Naga sungguh mewakili kewibawaan naga emas yang anggun dan keindahan geraknya yang sangat mengecoh itu sungguh bagaikan keindahan maut yang tiada mengenal ampun.

Begitulah dengan ilmu pedang Cahaya Naga aku mengimbangi kecepatannya yang tidak bisa diikuti mata, dengan Jurus Bayangan Cermin kuserap ilmu pedang Aliran Naga yang telah dikerahkan Naga Emas. Sepanjang siang aku bertahan dalam gempuran cahaya berkilatan, tetapi memasuki malam segenap jurus ilmu pedang Aliran Naga telah bisa kumainkan dengan penafsiran baru yang membingungkan Naga Emas sendiri.

Putaran pedang yang telah menjadi baling-baling cahaya keemasan dan memburu bagian-bagian tubuh mematikan, selalu tertahan oleh sarung pedang yang juga keemasan dan bergerak sama cepatnya dengan pedangnya.

Pedang Naga Emas, sudah berumur ratusan tahun semenjak dihadiahkan kaisar Negeri Atap Langit kepada Naga Emas sebagai kepala pengawal rombongan rohaniwan I-t’sing, yang menjelajahi negeri-negeri di seberang lautan, untuk mempelajari agama Buddha di Suwarnadwipa maupun Nalanda di India.

Rohaniwan I-t’sing tiba di kerajaan Sriwijaya pada tahun 671 dan mempelajari Sabdavidya, yakni tata bahasa Sansekerta, selama enam bulan, sebelum berangkat ke Nalanda untuk mempelajari kitab-kitab Buddha yang semuanya tertulis dalam bahasa tersebut.

Ketika I-t’sing berangkat ke Nalanda, ditinggalkannya kepala pengawal yang bergelar Naga Emas itu di Suwarnadwipa, untuk menjaga kelompok kecil masyarakat asal Tiongkok yang bermaksud menetap untuk selamalamanya. Suatu tugas yang akan diemban Naga Emas dan keturunannya selama 200 tahun lebih, karena memang akan selalu ada Pendekar Naga Emas yang bersenjatakan Pedang Naga Emas dan berilmu pedang Aliran Naga yang

bertugas menjaga keselamatan masyarakat pendatang dari Negeri Atap Langit.

Keturunan Naga Emas bisa berarti anak cucunya, bisa pula berarti murid yang mewarisi ilmu pedang Aliran Naga lengkap bersama Pedang Naga Emas, yang tentu saja akan berasal dari masyarakat yang sama, mengingat tujuan ditinggalkannya Naga Emas di Suwarnadwipa dahulu kala memang untuk melindungi mereka.

Orang-orang yang datang mencari kehidupan baru dari Tiongkok, datang sedikit demi sedikit menempuh jalur perjalanan I-t’sing, maupun para rohaniwan lain seperti Hui-ning dan Yun-k’I yang menyeberang ke Yawabumi untuk mempelajari dan menerjemahkan naskah-naskah Sansekerta, bersama rohaniwan setempat yang terkenal sebagai Jnanabhadra. Dalam catatan I-t’sing yang pernah kubaca, Nan-hai-chi-kuei-nai-fap-ch’uan (Catatan tentang Agama Buddha seperti yang Dijalankan di India dan Kepulauan Melayu), masih ada Fa-lang, Hoai-ye, dan dua

rohaniwan lagi yang tidak disebut namanya dalam catatan tersebut.

Para rohaniwan yang berangkat atas restu penguasa tidak akan begitu saja berangkat sendiri ke negeri asing di seberang lautan. Mereka seperti rombongan kecil yang terdiri dari para rohaniwan yang merangkap sebagai ilmuwan berbagai bidang, mata-mata militer, termasuk juga di dalamnya para pengawal yang berilmu silat tinggi. Mereka menempuh jalur para pendahulu, seperti rohaniwan Fa-chien yang pertama kali berziarah ke India, tanah asal Buddha, selama 15 tahun dari tahun 399 sampai 414…)

Namun selain melacak jejak, mereka memperluas wilayah pengembaraannya, antara lain karena Suwarnadwipa dan Yawabumi sebagai bagian dari kerajaan Sriwijaya sejak 200 tahun lalu itu juga merupakan pusat ilmu pengetahuan tentang agama Buddha yang pentingterutama ajaran Buddha murni upadesa tentang bodhicitta…)

***

PERTARUNGANKU dengan Naga Emas berhenti menjelang fajar menyingsing. Aku tidak bisa memastikan Naga Emas yang kuhadapi adalah cucu-murid dari Naga Emas pertama yang keberapa, tetapi harus kuakui jika aku tidak memanfaatkan Jurus Bayangan Cermin, maka ilmu pedang Cahaya

Naga hanya akan bisa mengimbangi ilmu pedang Aliran Naga dan pertarungan tidak akan pernah ada habisnya.

Kami berada di sebuah padang rumput yang basah karena embun. Aku masih memegang sarung pedangnya. Hanya sarung pedangnya itulah yang bisa menangkis ketajaman pedang Naga Emas.

“Dengan ilmu silat seperti yang Anda miliki, siapakah yang bisa mengalahkan Anda selain waktu?”

Aku mengangguk penuh hormat dan bersoja sesuai adat mereka.

“Ilmu pedang Aliran Naga terbukti sebagai ilmu pedang yang indah, penuh pesona, anggun tetapi sangat mematikan, saya berterimakasih atas pelajaran yang saya dapatkan dari pendekar Naga Emas yang ternama.”

Naga Emas membalas bersoja.

“Sayalah yang telah mendapat pelajaran berharga, ilmu pedang Aliran Naga tiada artinya di depan Jurus Bayangan Cermin.”

Hmm. Ia tidak menyebutkan Ilmu pedang Cahaya Naga, tanda ia masih merasa Aliran Naga adalah ilmu pedang terunggul. Namun ini sudah bukan masanya ilmu silat mempertahankan kemurnian ajaran, dalam pertarungan sesungguhnya yang menjadi pertaruhan adalah kemenangan, bukan kemurnian atau keindahan, karena dalam dunia persilatan tidak ada pendekar yang terkalahkan-yang ada hanyalah pendekar yang menang dan yang mati.

Kuanggap diriku tidak bertarung melawan Naga Emas, kami hanya saling menguji kepandaian. Kulemparkan sarung pedangnya karena ia akan terlalu tinggi hati untuk meminta-dan akan sulit menyimpan pedang berkilauan tanpa sarung pedang yang sengaja dibuat bersamaan itu.

Ia mengulurkan pedangnya dan sarung pedang itu menancap dengan tepat, untuk segera disandangkan kembali ke punggungnya. Sarung pedang lain akan pecah atau hancur bersentuhan dengan Pedang Naga Emas.

“Hari ini Naga Emas telah mendapatkan pelajaran berharga, meski yang dibayangkannya adalah pelajaran yang lain dari penemu Jurus Tanpa Bentuk. Selamat berpisah-semoga tidak pernah akan terjadi anak-cucumurid saya bentrok dengan pendekar yang hanya bisa dikalahkan oleh waktu, karena saat itu akan berarti kekalahan bagi ilmu pedang Aliran Naga.”

Ia bersoja kembali, lantas menghilang sebelum cahaya pertama melesat dari balik bukit. Peristiwa itu terjadi sebelum Pembantaian Seratus Pendekar dan aku masih sangat bernafsu menguasai segenap ilmu silat yang ada di

dunia ini.

Keingintahuanku yang besar kuolah dalam perenungan dan pemikiran yang sangat keras, sampai aku menemukan Jurus Bayangan Cermin yang membuat aku bisa mempelajari suatu ilmu silat tanpa harus berguru bertahun-tahun lamanya. Sebaliknya, aku cukup menempur siapa pun yang kupikir layak kupelajari ilmu silatnya. Semakin tinggi ilmu silatnya, setinggi itu pula ilmu silat yang kudapat, bahkan setelah kuolah kembali tidak pernah mampu diatasi oleh pemiliknya semula. Menguasai Jurus Bayangan Cermin, yang mampu menyerap dan mengolah ilmu silat dari aliran mana pun di rimba hijau, adalah langkah pertama ke arah penguasaan Jurus Tanpa Bentuk.

Sudah kukatakan, aku tidak pernah mempelajari jurusjurus sebagai gerakan dengan bentuk yang baku; yang kupelajari adalah pemikiran yang menyebabkan jurusjurus tersebut berbentuk seperti itu -yang tentu saja harus melalui penguasaan atas jurus-jurusnya juga, dari langkah ke langkah, dari gerak tipu ke gerak tipu, dari seni gerak satu ke seni gerak yang lain. Hanya kali ini dengan seketika saat pertarungan berlangsung, meski tetap untuk menguasai pemikiran di baliknya. Lantas aku akan membalik-balik pemikiran untuk mengubah jurus-jurus yang kuserap menjadi berbentuk baru. Penguasaan ini membuat aku bisa membuat lawan terperangah oleh jurus yang sangat mereka kenal karena mereka kuasai, tetapi yang ternyata tidak bisa mereka atasi dengan jurus-jurus yang mereka kuasai tersebut, karena telah kukuasai dan kuolah kembali ke tingkat yang lebih tinggi.

Hanya dengan penguasaan atas Jurus Bayangan Cermin, aku mampu melangkah ke penemuan Jurus Tanpa Bentuk, karena keberadaan Jurus Tanpa Bentuk sangat tergantung kepada keberadaan bentuk-bentuk itu sendiri –sedangkan Jurus Bayangan Cermin memberi aku peluang menyerap segala bentuk ilmu persilatan tanpa kecuali.

***

JADI siapakah penunggang kuda hitam berbaju kuning keemasan yang melaju meninggalkan kepulan debu? Dia membawa pedang Naga Emas. Kemungkinan besar dia pewaris terakhir ilmu pedang Aliran Naga. Namun

kenapa ia mesti tergopoh-gopoh menunggang kuda? Naga Emas yang bertarung denganku memiliki ilmu meringankan tubuh sempurna. Kami bertarung seperti dua bayangan yang saling berkelebat tak bisa dilihat mata biasa. Hanya desir angin gerakan kami dan kilau pedang yang sesekali melentikkan bunga api setiap kali sarung pedang yang kupegang berpapasan dengan pedang Naga Emas itu. Maksudku, seorang pendekar kelas atas tidak membutuhkan kuda untuk berkendara. Ia bergerak secepat angin, meluncur secepat cahaya, dan melesat lebih cepat dari pikiran.

Maka aku bertanya-tanya apakah yang telah terjadi di sungai telaga dunia persilatan setelah kutinggalkan selama 25 tahun? Apakah yang telah terjadi semenjak kutinggalkan dunia ramai maupun dunia persilatan yang sunyi tapi penuh dengan percikan darah selama kukubur diriku dalam meditasi tanpa ujung selama 25 tahun? Aku masih terbungkuk-bungkuk sambil bersila dalam penyamaranku sebagai pengemis, mengacung-acungkan mangkok waluh dengan penuh hiba seperti aku ini memang begitu hina dan amat sangat terlalu dina.

Kuda hitam itu menghilang, tetapi dari getaran tanah tempat aku bersila kuhitung sekitar duapuluh penunggang akan muncul dari balik kelokan mengejar Naga Emas, yang entah kenapa tidak menghabisi saja orang-orang berkuda itu.

Dengan cepat aku memikirkan sesuatu.

Begitu rombongan itu muncul, aku sudah tengkurap di tengah jalan, mencoba menghalangi pengejaran mereka. Namun pimpinan mereka berteriak.

“Jangan berhenti!”

Kuda-kuda itu dipacu melewati diriku. Hampir

semuanya melindas tubuhku -meski bagiku tiada artinya sama sekali.

Dalam sekejap semuanya lenyap meninggalkan kepulan debu yang jauh lebih banyak lagi. Aku bangkit dan membersihkan tubuhku. Orang-orang ini tidak mempunyai perikemanusiaan sama sekali. Apa yang terjadi jika aku memang seorang pengemis tua yang sedang sekarat di tengah jalan? Aku pasti sudah mati dilindas kaki-kaki kuda yang menggebu seperti roda-roda maut itu.

Aku melesat dengan cepat ke arah hilangnya rombongan berkuda itu. Jika mereka berhasil mengejar Naga Emas yang masih membutuhkan seekor kuda untuk menghindarkan diri dari pengejaran musuh-musuhnya, kukira ia

juga tidak akan mampu melawannya. Suatu hal yang tidak bisa kubayangkan dari seorang pewaris Pedang Naga Emas!

Namun apa yang kutemukan di luar dugaanku sama sekali. Bukan saja aku merasa telah melesat cepat dan berkelebat seperti bayangan, tetapi juga bahwa dalam waktu singkat keadaannya sudah berubah sama sekali.

Di ujung jalan kedua puluh penunggang kuda itu sudah terkapar sebagai mayat. Salah seorang bahkan masih mengerang oleh senjata rahasia yang bidikannya tidak terlalu tepat sehingga tidak langsung mematikan. Aku mendekatinya. Ia tampak terkejut melihat diriku. Tangannya terulur menunjuk wajahku. Ia seperti ingin mengucapkan sesuatu, tetapi keburu tewas karena jarumjarum beracun telah membekukan aliran darahnya.

Aku melihat sekeliling, dan terkesiap melihat lelaki berbaju serbakuning itu juga telah tewas oleh jarum-jarum beracun. Melihatnya selintas, aku sudah tahu, Pedang Naga Emas sudah lenyap!

Aku mencoba menyusun kembali urutan kejadiannya. Pendekar Naga Emas tewas oleh serangan gelap. Orang-orang yang menyusulnya berhenti karena melihat Naga Emas sudah tewas, dan juga mereka semua tewas oleh penyerang gelap yang sama. Aku memeriksa tanah dan

jejak-jejak kaki kuda. Kuperkirakan Naga Emas kehilangan kewaspadaannya ketika kaki-kaki kudanya tersandung tali yang tiba-tiba terpentang setinggi lutut kaki kuda itu, sehingga terpelanting dan barangkali bahkan jatuh menindih tubuhnya. Orang-orang yang menyusulnya berhenti dan tanpa kewaspadaan segera mengerumuni jenazah Naga Emas. Sangat mudah bagi para penyerang gelap dengan senjata-senjata rahasia untuk menghukum kelengahan seperti itu.

Aku menghela napas. Di sungai telaga dunia persilatan, ternyata kita tidak bisa mengharap semua orang jadi pendekar.

5 Para Pendekar Merdeka dan Pertarungan Melawan Suara Seruling

DALAM dunia persilatan terdapat berbacai macam falsafah dan cara berpikir, yang kemudian dilaksanakan sebagai suatu sikap dalam percaturan politik dan perwujudan berbagai jurus ilmu persilatan. Orang-orang awam yang belum pernah melihat atau menyadari kehadiran seorang pendekar pun dalam hidupnya, misalnya, setidaknya pernah mendengar terdapatnya dua

golongan besar, yakni golongan hitam dan golongan putih. Keduanya memang selalu berhadapan, karena masing-masing saling menganggap musuh satu sama lain, tanpa harus ada masalah yang menjadi sebab pertentangan.

Golongan hitam memang menempuh jalan kehidupan yang kelam. Bagi mereka, mencuri, merampok, membunuh, dan memperkosa sama sekali bukanlah suatu kesalahan. Penipuan, kecurangan, dan kelicikan adalah jalan yang dianggap sahih untuk mencapai kemenangan. Bagi mereka, apa yang dipercaya sebagai salah dan benar nyaris menjadi kebalikan dari kepercayaan golongan putih. Ini bisa dilacak dari ilmu silat maupun bentuk persenjataan golongan hitam yang seperti diciptakan hanya untuk menyiksa dan menyakiti. Begitu pula dengan jurusjurus ilmu silatnya yang licik, kejam, langsung, dan mematikan, seperti tidak mengenal seni gerak sama sekali. Dalam persenjataannya pun mereka tidak sungkan untuk menggunakan senjata-senjata rahasia yang licik seperti uap dan bubuk beracun, maupun berbagai jebakan maut yang tidak bisa diduga.

Tentu ini sangat berbeda dengan sikap golongan putih, yang menjunjung tinggi segala sesuatu yang mereka anggap luhur dan agung, tetapi yang terhadap golongan hitam suatu pertimbangan kembali tidak pernah dimungkinkan. Bagi golongan putih, dengan atau tanpa

masalah, golongan hitam harus dibasmi sampai ke akarakarnya. Persenjataan dan ilmu silat golongan putih selalu lugas. Senjata mereka adalah senjata yang juga dikenal dalam kehidupan sehari-hari seperti pedang, dan kebanyakan memang pedang, tombak, atau yang agak berbeda sedikit adalah trisula. Sangat berbeda dari golongan hitam yang berbagai bentuk senjatanya seperti karya seni, tetapi mewakili pemikiran untuk membunuh dengan kejam-senjata dan segala jurus ilmu silat golongan putih dikembangkan untuk melumpuhkan, dan hanya jika terpaksa mereka terpaksa menewaskan. Namun perkembangan zaman memperlihatkan bahwa para pendekar golongan putih ini lebih sering membinasakan lawan mereka, daripada melumpuhkannya dan menyerahkan kaum penjahat kepada pengadilan.

Telah kusebutkan betapa orang-orang golongan hitam tidak begitu saja bisa dilumpuhkan, apalagi jika mereka kemudian diserahkan kepada orang-orang

awam yang ilmu silatnya tidak mengenal tenaga dalam. Munculnya para pendekar di sungai telaga dunia persilatan justru karena ketinggian ilmu silat orang-orang golongan hitam yang semakin sulit diatasi. Demikianlah para pendekar golongan putih mengabdikan dirinya kepada kemanusiaan, membela orang-orang awam yang lemah dan tertindas oleh kezaliman golongan hitam.

Namun ternyata dunia persilatan tidaklah begitu hitam dan putih saja adanya, yang ditandai oleh kehadiran para pendekar yang disebut sebagai golongan merdeka. Sebetulnya para pendekar ini tidak akan pernah bisa digolongkan oleh suatu persamaan, karena masing-masing mempunyai sikap yang bebas dan merdeka, sehingga masing-masingnya menjadi begitu berbeda, tidak terikat kepada suatu kebijakan dan kebajikan yang dianut banyak orang. Misalnya saja mereka tidak berasal maupun bergabung dalam suatu perguruan tertentu. Jika sebuah perguruan silat bisa mempunyai murid mulai dari seratus sampai lima ratus orang, maka guru-guru para pendekar

merdeka ini lebih sering hanya menerima murid antara satu sampai dua orang-bisa juga sampai tiga orang, tetapi tidak akan lebih dari itu.

Kemudian jika murid-muridnya ini kelak mengangkat murid, juga sangat jarang yang akan mengembangkannya menjadi sebuah perguruan silat. Mereka juga hanya akan menerima satu atau dua orang murid, atau kadang-kadang mereka pilih sendiri-tak jarang melalui suatu pengajaran rahasia. Sehingga sangat mungkin bahwa di antara para pendekar golongan merdeka, banyak yang belum pernah bertemu muka dengan gurunya sama sekali-entah karena sang guru memang menghindar untuk bertemu langsung, atau memang sudah mati dan hanya meninggalkan kitab atau gambar-gambar orang bersilat di dinding batu, yang bisa ditemukan dan dipelajari siapa saja yang berminat dan mampu.

Seperti yang sering terdengar kisahnya di dunia awam, para pendekar memang sangat mungkin menemukan kitab-kitab ilmu silat yang sengaja tidak diwariskan kepada murid tertentu, karena para pendekar ini memang mengerahkan segenap daya hidup untuk mencarinya. Seorang pendekar berkelana, mengembara dari gunung ke gunung, naik turun bukit, lembah, dan jurang untuk mencari ilmu-terutama demi peningkatan ilmu silatnya itu sendiri. Ini membedakan falsafah para pendekar merdeka dari falsafah

golongan putih, yang sudah menjadikan pembasmian golongan hitam sebagai pengabdian hidupnya. Aku adalah salah seorang dari mereka yang dahulu mencari ilmu seperti itu, dan karena itu aku tahu betapa sebagian besar dari para pendekar yang disebut merdeka tersebut adalah orang-orang yang sangat mementingkan dirinya sendiri. Merdeka berarti bebas dari segala kewajiban, termasuk kewajiban membasmi kejahatan.

Memang ada kalanya mereka menggasak habis orang-orang golongan hitam yang sedang melakukan kejahatan, tetapi berbeda dari para pendekar golongan putih, mereka

lebih suka menjauh dari keramaian, mengembara menuruti langkah kaki dan kata hatinya, tidak ingin mencampuri urusan banyak orang. Sebagian besar dari mereka hanya peduli kepada diri mereka sendiri, dan pada umumnya mereka berpendapat semakin tinggi ilmu silat yang mereka miliki, semakin tinggi pula pencapaian mereka akan kesempurnaan dalam hidup. Begitulah, ilmu silat dianggap sebagai ilmu kesempurnaan hidup.

Di samping, ketiga golongan yang telah kuceritakan, masih ada satu golongan lagi yang harus kuceritakan, yakni golongan para pendekar bayaran. Namun ini akan kusampaikan nanti, karena aku baru menyadari keberadaanku di tengah mayat-mayat bergelimpangan.

***

Siapa yang telah mencuri Pedang Naga Emas? Aku masih tertegun. Menjauhkan diri dari peradaban selama 25 tahun membuat aku kehilangan pedoman untuk menimbang. Siapakah kini para pemeran utama dunia persilatan? Mengapa orang-orang militer terlibat dalam perburuan diriku sampai ke dalam gua? Bagaimana caranya mereka menemukan aku? Siapakah yang kini berkuasa di Yawabumi? Masih adakah kerajaan Sriwijaya yang ketika kutinggalkan telah menampung dan merajakan Balaputradewa di Suwarnadwipa? Bagaimanakah saling berebut pengaruh antara para pendeta Siwa dan Buddha telah mempengaruhi kehidupan awam maupun dunia persilatan? Waktu 25 tahun seperti telah membuat aku kehilangan kekinianku. Aku seperti manusia salah tempat. Bahkan Pendekar Melati yang selalu membuatku terpesona berniat membunuhku.

Di antara mayat-mayat bergelimpangan aku menggeleng-gelengkan kepalaku. Adakah pengaruh umurku yang 100 tahun kepada kerja kepalaku?

Aku sangat takut diriku telah menjadi pikun dan kehilangan hubungan dengan dunia nyata sama sekali.

Lantas terdengar suara seruling.

Hmm.

Aku merasa bagaikan ikan yang masuk ke dalam air kembali. Bahaya telah membuat aku berumah, seperti yang semestinya kuhayati di rimba hijau dunia persilatan yang telah lama kutinggalkan.

Aku melesat ke atas pohon dan segera terlibat suatu pertarungan dalam pikiran. Ada jurus yang menyerang tubuh, ada jurus yang mempermainkan pikiran, dan ada pula jurus yang mengguncangkan jiwa. Seruling itu mencoba menyerap pikiranku, membuat aku tenggelam dalam nada-nadanya yang penuh kesenduan. Aku pernah mendengar tentang ilmu ini, suatu kemampuan untuk membuat suara bernada untuk menggoncangkan jiwa, dan pada gilirannya mampu membuat nada-nada bagaikan zat padat yang menggasak jasmani manusia-sehingga lawan akan rebah berbuncah darah bagai terpapas senjata tajam ketika lagu seruling itu merambati udara.

Ini berarti aku harus bergerak lebih cepat dari suara, masalahnya suara itu sendiri sangat memengaruhi jiwa. Aku harus bergerak lebih cepat menuju ke asal suara, tetapi siapa sudi dikejar untuk dilumpuhkan pula? Ia melesat berkelebat dari pohon ke pohon sembari meniup serulingnya. Seperti menghindar, tetapi suara seruling itu selama masih terdengar adalah serangan melumpuhkan. Aku melesat dan melompat-lompat seperti menghindari empasan ombak di pantai setiap kali gelombang suara itu mengepungku. Meminjam udara sebagai penyampai suara, membuat aku harus menandai bagian mana yang tersibak oleh suara seruling itu-suara yang mempunyai ketajaman sebuah pedang mustika.

“Huaaahhhh!”

Aku berteriak dengan tenaga dalam untuk memukul kembali suara seruling itu. Peniup seruling itu berhasil menghindar, tetapi sebagian pohon-pohon tumbang dan membuat burung-burung beterbangan. Suatu bayangan berkelebat mendekat. Astaga, kini ia langsung menyerangku!

Aku bersalto ke atas tiga kali untuk membuat jarak, tetapi ia menjejak pohon dan mengejarku. Aku menggerakkan tangan ke depan, mengeluarkan Jurus Mendorong Angin yang jarang sekali kugunakan. Ia terlontar kembali ke

bawah, kulihat sebatang seruling bambu melayang pelan di udara. Aku menarik nafas, tubuhku menjadi sangat ringan dan tidak segera kembali turun ke bumi, sehingga bisa kuraih seruling itu dan meniupnya sembari turun perlahan-lahan.

Kutiupkan lagu sendu yang sama dan peniup seruling yang terkapar itu kini berurai airmata. Senjata makan tuan! Dengan Jurus Bayangan Cermin aku akan selalu membuat setiap ilmu yang digunakan untuk menyerangku berbalik ke arah pemiliknya sendiri. Aku turun seperti dewa dari langit yang meniup seruling. Airmatanya berderai dan mulutnya bersimbah darah. Aku telah mengenainya dengan telak. Ia akan menambah jumlah mayat yang bergelimpangan. Masih kupegang serulingnya ketika aku mendekatinya.

“Engkau akan segera mati,” kataku, “katakanlah sesuatu untuk mengurangi dosa-dosamu.”

Napasnya tinggal satu-satu. Ia menggeleng dengan lemah. Apakah maksudnya dia tidak beragama? Atau agamanya tiada mengenal pengertian dosa? Di Yawabumi pada masaku, terlalu banyak orang menerima ajaran Siwa maupun Buddha Mahayana secara bersama. Jika dilepaskannya Siwa dan diterimanya Buddha belum tentu ia meninggalkan Siwa sama sekali. Apalagi jika terlanjur diterimanya pemahaman tentang kekuasaan Siwa yang matanya seluas langit yang membungkus dunia. Di Yawabumi, agama-agama yang datang diterima sebagai tamu yang dihormati. Diterima dengan penghargaan, tetapi dimanfaatkan hanya sejauh iman mereka semula memberikan tempatnya. Sehingga tidak pernah bisa dikatakan, orang-orang Yawabumi sebetulnya beragama apa.

“Katakanlah sesuatu yang menjelaskan kenapa aku

diburu!”

Umurku memang 100 tahun, tetapi aku bukan seorang pendeta yang bijak dan sabar, lagipula meski berumur 100 tahun, semangat perlawananku akan tersulut dalam penindasan.

Matanya menatapku dengan kosong. Ia sudah tidak bernyawa lagi. Kuperhatikan dandanannya yang mewah. Ia tampak kaya dan hidup berkecukupan. Busana memang busana persilatan yang disiapkan untuk bertarung, tetapi bahan kain dan tenunannya yang halus menyatakan cita rasa tinggi.

Ia mengenakan gelang manik-manik, kalung perak, cincin emas, dan di balik bajunya terdapat kantong berisi banyak uang logam. Rambutnya yang panjang terikat dengan ikat-rambut yang disulam dengan indah.

Perutnya kulihat penuh lemak, tanda makanan yang memasukinya selalu mewah dan banyak. Bahkan kantong serulingnya dari kulit ular yang disamak dengan mutu tinggi. Mengapa seseorang yang berharta menempuh bahaya untuk memburuku?

Aku tidak punya uang sepeser pun, jadi kuambil kantong uangnya. Dia bermaksud membunuhku bukan? Aku memerlukan uang itu jika aku memasuki peradabankarena roda peradaban, termasuk diriku di dalamnya, tidak pernah akan bisa berjalan tanpa kehadiram uang.

Waktu aku mengambil pundi-pundi kulit itu, sebuah lembaran daun tal ikut tertarik keluar. Mungkinkah bisa kuketahui sesuatu dari daun tal yang disebut karas setelah siap menjadi bahan untuk ditulisi ini?

Aku terperanjat ketika menengoknya. Terdapat gambar diriku di situ. Lengkap dari kepala sampai ujung kaki. Aku tampak seperti orang sadhu, hanya berkancut dan berambut gimbal.

Gambar itu sangat kasar dalam goresan pengutik yang disebut tanah, tetapi sangat mirip. Di bawahnya terdapat tulisan dengan huruf dan bahasa Kawi.

Pendekar Tanpa Nama

Pengkhianat Negara

10.000 keping emas Jika berhasil membunuhnya

Dadaku bergetar karena menahan amarah, tetapi kepalaku berdenyut karena pusing dengan ketidak jelasan yang mengharubiru. Jadi yang tewas ditanganku ini adalah seorang tikshna, seorang pembunuh bayaran-yang kali ini memburu hadiah besar. Dengan 1.000 keping emas saja dengan ukuran Yawabumi yang sederhana, seseorang bisa hidup mewah semewah-mewahnya selama satu tahun, apalagi dengan 10.000 keping emas. Siapa kiranya yang tidak akan tertarik mendapatkannya?

Kuingat serangan Pendekar Melati. Apakah ia juga memburuku karena uang? Di antara para pendekar merdeka, Pendekar Melati sangat akrab dan dihormati golongan putih, artinya pemikiran perempuan pendekar itu akan sama: tidak akan menggunakan ilmu silatnya demi uang. Lebih tepat jika ia memburuku karena percaya aku memang seorang pengkhianat negara.

Semua peristiwa ini berhubungan dengan apa? Adakah hubungannya dengan hilangnya Pedang Naga Emas?

Secara keseluruhan aku menghilang dari dunia persilatan selama 50 tahun. Pada 25 tahun pertama aku menghilang dengan cara melebur dalam kehidupan seharihari, dan itu berarti aku berada dalam sebuah wilayah bernama negara.

Aku tidak bisa mengingat sesuatu pun dari masa itu yang bersangkut paut dengan negara, juga tidak dari masa sebelumnya, ketika aku masih malang melintang di dunia persilatan. Ataukah hubungannya terletak pada 25 tahun yang kedua, ketika aku mengundurkan diri sama sekali dari peradaban, dan tidak mengetahui perkembangan apa pun tentang negara?

Dua puluh lima tahun bukanlah masa yang singkat. Umurku sudah 100 tahun tetapi pengetahuanku tentang negara pada masa 25 tahun terakhir seperti bayi yang baru lahir. Aku memulainya dari kekosongan. Mengisinya

dengan pengetahuan. Tidak akan mudah bagiku dengan daya tangkap usia 100 tahun.

Kuambil pundi-pundi kulit dan gambarku itu. Namun lantas kebingungan untuk menyimpannya, karena bukankah aku hanya mengenakan kancut?

Aku melihat ke sekeliling. Mayat-mayat bergelimpangan. Kuda-kuda juga bergelimpangan sebagian dan sebagian lagi mencari rumput. Mereka tidak memerlukan pakaian lagi. Jika gambarku sebagai orang sadhu sudah beredar ke mana-mana, aku harus mengubah penampilanku. Aku harus menyamar.

Maka aku pun mengambil berbagai potong pakaian itu dari sana-sini di antara mayat-mayat bergelimpangan itu dan memilih seekor kuda. Betapapun aku harus menghindar untuk dikenali sebagai diriku maupun sebagai orang lain. Aku pernah gagal dalam penyamaran dalam 25 tahun pertama pengunduran diriku. Kini hal itu tidak boleh terjadi lagi.

6 Menggugat Pembebasan Tanah; Menguping Perbincangan; dan Membuntuti Pelempar Pisau Terbang

AKU belum memutuskan akan menyamar sebagai apa, tetapi penampilanku sudah berubah ketika berada dalam sebuah kedai di jalan raya yang menuju ke kotaraja. Orang tidak akan melihat aku sebagai orang sadhu yang hanya berkancut dan berambut gimbal. Rambutku yang sudah memutih kucuci

bersih dengan perasan daun lidah buaya di bawah sebuah air terjun, lantas setelah kusemir menjadi hitam mengkilat berkat ramuan berbagai tumbuhan tertentu, kemudian kugelung dengan sangat rapi. Aku akan tampak sama dan tersamar, karena tidak akan pernah terlihat mencolok-aku tampak sama saja seperti semua orang lain. Memang aku sudah berumur 100 tahun dan hidup dalam gua selama 25 tahun terakhir, tetapi itu tidak berarti aku terlihat begitu kurus kering dan tanpa daya. Tentu saja aku tetap tampak seperti orang tua, tetapi tidaklah terlalu tua dan renta sehingga akan menjadi aneh jika terlihat menunggang kuda.

Kedai itu menjadi tempat persinggahan orang-orang yang melakukan perjalanan ke luar maupun menuju ke dalam kota. Aku datang seolah-olah akan menuju kota dan singgah untuk makan dan minum. Di luar banyak kuda, berarti banyak pula yang sudah ada di dalam. Kedai itu berada di dekat sebuah pemukiman yang hanya terdiri dari beberapa gubuk. Aku tahu itulah gubuk tempat berjudi maupun pelacuran.

Tidak seorang pun memperhatikan aku masuk, karena perhatian mereka tertuju kepada seseorang yang sedang berbicara dalam kerumunan.

“Berpihak kepada siapakah Rakai Kayuwangi sekarang? Samarattungga telah membangun candi Mahayana termegah di seantero jagad, Kamulan Bhumisambhara,

yang berdiri di atas pembebasan tanah nenek moyang kami di desa Tepusan, Mantyasih, dan Pamandayan. Bukan hanya tiga desa yang dibebaskan, melainkan 24 desa, lengkap dengan sawahnya, demi pemenuhan lingkungan berkiblat delapan. ‘‘Tapi bagaimana nasib mereka kemudian? Semenjak Jatiningrat menikmati kekayaan Pramodawardhani, bukan hanya kaum Brahmana menguasai jaringan istana kembali, tetapi juga fitnah dilancarkan kepada segenap ajaran Tantrayana, yang dituduh sebagai aliran sesat! Bukankah Rakai Kayuwangi itu Dyah Lokapala yang beribu Pramodawardhani dan berkakek Samarattungga yang telah menirwanakan bumi bagi para pendeta Buddha? Mengapa dia biarkan kami semua tertindas oleh para penjahat Siwa?”

Terdengar gumam panjang. Kemudian seseorang berkata.

“Hati-hati bicara, yang menganut Siwa tiada kurang yang berbudaya.”

“Apakah kamu sendiri memeluk Siwa?”

“Bukan, aku pengikut Wisnu, tetapi keluargaku dahulu semuanya memeluk Siwa, dan telah merelakan tanahnya demi candi Buddha bertingkat sepuluh itu.”

“Dan bukankah tanahmu tidak diganti?”

“Memang tidak, tetapi kami semua tercatat sebagai saksi dalam prasasti, dan penghargaan semacam itu lebih dari cukup bagi kami.”

“Lantas kalian semua tinggal di mana?”

“Keluarga kami boleh membuka hutan di mana saja yang berada di bawah kekuasaan wangsa Syailendra, tetapi orang tuaku mengikuti Balaputradewa ke Suwarnadwipa.”

“Itu berarti kalian menjadi orang-orang terusir! Mengapa kalian terima saja Brahmana Jatiningrat itu menginjak kepala kalian?”

“Jangan berkata seperti itu, Jatiningrat telah membela kepentingan Pramodawardhani dari nafsu berkuasa

Balaputradewa. Putri raja lebih berhak atas singgasana

daripada saudara muda raja bukan?” “Ya, tetapi siapa kemudian yang bercokol di istana?” “Itu sudah lama berlalu. Kini Lokapala yang Buddha

berkuasa, apa salahnya?” “Ia masih penguasa wilayah yang sama. Tanah kami

harus diganti!” “Tidakkah rakyat itu bahkan nyawanya milik raja?” “Kalau cara berpikir kamu seperti itu, jangan pernah

mengaku Buddha, bahkan jangan mengaku beragama!”

Perdebatan masih berlangsung, tetapi orang-orang mulai bosan, atau kelaparan, dan kembali ke mejanya masing-masing untuk memesan makanan. Arak mulai diedarkan. Perjudian masih berlangsung seru. Rombongan penari topeng yang baru tiba di luar kedai menandaknandak. Seorang perempuan pelayan yang kukira merangkap pelacur datang ke mejaku dengan secawan arak. Ia tersenyum menggoda, tetapi kepalaku masih memikirkan perdebatan tadi.

Aku juga pernah membaca prasasti Sri Kahulunan yang merupakan gelar permaisuri, dan diresmikan tahun 842 tersebut. Dalam prasasti itu tertulis persumpahan perihal pembebasan tanah. Malah aku masih ingat terletak di baris 26-33.

seperti halnya dengan telur, jika telah dirusak tidak lagi dapat menetas, demikian pula siapa merusak batu ini. ia akan musnah. jika masuk hutan, semoga ditelan harimau jika berjalan di ladang, semoga digigit ular jika ke sungai, semoga dimakan buaya demikianlah, semoga musnah barang siapa yang berani merusak tanah Sri Kahulunan

Setiap kiblat dari kiblat delapan itu terdiri dari tiga desa, maka jumlah seluruh desa yang dibebaskan memang

jadi 24, yang terbagi menjadi tiga lapis. Di pusat lapisan itulah terdapat desa Mantyasih. Berdasarkan lapisan ini bisa diurutkan ke arah selatan terdapatnya desa Pamandayan, Tepusan, yang berakhir di Teru. Semuanya di daerah Kedu. Dengan persumpahan ini, semuanya menjadi tanah perdikan Sri Kahulunan yang disebut Kamulan. Tepatnya menjadi sima atau tanah perdikan candi, karena memang untuk mendirikan candi jinalaya, candi untuk memuliakan nenek moyang-dalam hal ini menuju kebuddhaan.

Melihat kepentingannya, yakni demi keluarga raja, sebenarnya adalah rakyat yang dianggap memberikan hadiah tanah kepada raja. Atas pemahaman ini, sesusai dengan tatatertib, rakyat yang tanahnya terbebaskan itu akan hadir sebagai saksi peresmian prasasti.

Ada kalanya bahkan nama-nama mereka disebutkan dalam prasasti tersebut. Dalam prasasti Sri Kahulunan juga banyak nama rakyat, di antaranya pembesar desa, Mudra, dan istrinya yang bernama Widya. Namun pembebasan tanah juga bukanlah sekadar pemberian hadiah dari rakyat, melainkan juga pengorbanan, karena tanah ini sangat mungkin sudah menjadi sawah kanayakan, sawah wikenas atau sawah para petugas, maupun ladang para kawula. Disebutkan bahwa mereka menerima hadiah yang berbeda-beda. Artinya bisa juga ada yang mendapatkan ganti tanah dan ada yang tidak. Sehingga masih menimbulkan masalah puluhan tahun kemudian, seperti yang baru saja kudengar di kedai ini.

Benarkah karena perbedaan agama? Aku selalu berpendapat perbedaan agama bukan alasan timbulnya perpecahan. Adalah persaingan kekuasaan, yang memanfaatkan segala perbedaan, termasuk agama, yang justru menghendaki perpecahan tersebut. Dengan terdapatnya perpecahan, suatu bangsa menjadi rapuh, dan mereka yang berkepentingan dengan keadaan ini akan mudah merebut kekuasaan.

Aku menengok sekeliling. Mereka yang singgah untuk

minum tampak seperti rombongan pedagang. Di luar memang tampak sejumlah gerobak sapi yang berisi barangbarang dagangan yang diturunkan kapal-kapal dari pantai utara Yawabumi. Selain pedagang, tampak pula para pengawal bersenjata yang memang selalu mengiringi konvoi gerobak pengangkut barang. Di berbagai sudut, duduk sendirian, tampak seperti pengantar surat, peziarah, atau juga yang tidak jelas pekerjaannya seperti aku. Kusapu mereka sekilas dengan pertanyaan dalam kepala: Seberapa jauh mereka semua berpikir tentang agama?

Bahkan sebelum aku menghilang dari dunia ramai, agama Siwa dan Buddha hidup berdampingan. Meskipun agama Buddha terlahirkan dalam ketidak puasan Siddharta Gotama terhadap agama Hindu di India, kesepakatan Sang Buddha terhadap Hindu itu sendiri jauh lebih banyak daripada ketidak sepakatannya. Di Yawabumi pada zamanku, pedanda Siwa maupun pedanda Buddha bahkan bisa menghadiri upacara yang sama, karena keduanya mendapat tempat dalam pengaturan kepangkatan istana di berbagai kerajaan.3

Maka mengatasnamakan agama sebagai pembenaran atas perpecahan membuat darahku naik karena mencium kejahatan yang dilahirkan oleh kebodohan.

Dengan ketajaman pendengaran, kuikuti percakapan serombongan orang di seberang mejaku yang sejak tadi kucurigai karena selalu berbisik-bisik.

“Sulit sekali melacak jejak Pendekar Tanpa Nama itu sekarang! Itulah akibatnya kalau tidak langsung bisa membunuhnya! Semua orang tidak percaya kalau dia begitu sakti! ‘Orang berumur seratus tahun mana bisa bertarung’, kata mereka. Sekarang mereka rasakan akibatnya…”

Aku terkesiap mendengar diriku disebut-sebut.

“Aku tidak mengerti, kenapa penguasaan Jurus Tanpa Bentuk itu yang harus membuat Pendekar Tanpa Nama itu dicurigai…”

Kutajamkan pendengaranku. Dicurigai?

“Dicurigai? Sudah pasti dia yang menyebarkan ajaran rahasia itu!”

Ajaran rahasia?

“Gambarnya sudah disebarkan di antara para pembunuh bayaran, setelah pasukan pengawal istana gagal membunuhnya. Pendekar Melati bahkan

terbujuk untuk mencarinya setelah mendengar berita bahwa Pendekar Tanpa Nama membunuh putrinya. Padahal Pendekar Tanpa Nama itu sudah menghilang selama 25 tahun, sebetulnya bahkan sudah 50 tahun ia mengundurkan dari dunia persilatan.”

“Menghilang? Itu bisa berarti dia selalu bergerak secara tersembunyi!”

“Hmm. Itu memang bukan tidak mungkin. Tapi… Aaaakkh!”

Sebilah pisau terbang telah menembus tengkuknya. Ia ambruk ke depan dan wajahnya masuk ke mangkok bubur sumsum yang sedang disantapnya. Bubur sumsum yang putih itu langsung berubah merah karena darah.

Aku sebetulnya melihat pisau itu meluncur, tetapi aku merasa sebaiknya tidak melibatkan diri jika ingin melihat peta masalahnya terangkat ke permukaan. Tentu aku juga seharusnya memaksa salah seorang dari antara yang berbisik-bisik itu untuk bicara-tetapi aku khawatir apa yang dikatakannya justru akan menyesatkan, karena ruparupanya semua orang tidak tahu semua hal.

Orang-orang di meja seberang itu segera melejit ke atas, tetapi pelempar pisau terbang itu menyambutnya dengan selusin lagi pisau terbang yang melesat sangat cepat. Mereka semua tiba kembali di bumi sebagai mayat, masing-masing dengan dua pisau di tubuhnya.

Kejadian itu berlangsung sangat cepat. Bagi orang-orang yang berada di kedai bahkan tidak bisa diikuti oleh mata.

Hanya angin berkesiur dan kelebat bayangan yang mereka rasakan.

Hanya bubur sumsum yang telah menjadi merah, dan mayat bergelimpangan. Para perempuan pelayan yang sudah jelas merangkap pelacur menjerit-jerit.

Aku merasa tidak ada gunanya berlama-lama di tempat itu.

***

Kubuntuti pelempar pisau terbang yang sejak aku masuk kedai sudah kuketahui menempel di langit-langit dengan ilmu cicak. Berbeda dengan ilmu cicak yang sudah kukenal, yang menempel kali ini adalah punggungnya, sehingga ia bebas melempar pisau terbang yang memenuhi pinggangnya. Ketika melayang turun ia mengulang lagi pelemparan pisaunya. Jadi setiap orang mendapatkan dua pisau berlambang bunga keemasan pada gagangnya.

Ia sangat lincah. Kudanya berderap melaju di antara pohon-pohon dalam hutan menuju ke arah Mantyasih. Aku mengikutinya sembari melompat dari pohon ke pohon. Beberapa kali ia berbalik menoleh ke arahku, tetapi ia hanya akan merasa seperti melihat sesuatu. Hanya seperti. Sementara bagiku membunuhnya pun seperti membalik telapak tangan. Sembari membuntutinya aku berpikir tentang diriku yang hampir terus menerus jadi sasaran pembunuhan.

Apa hubungan Jurus Tanpa Bentuk dengan semua ini? Apa hubungannya dengan ajaran rahasia? Teringat sebuah kutipan dari Sang Hyang Kamahayanan Mantranaya.

janganlah mengajarkan Sang Hyang Vajra,

Gantra, dan Mudra ini kepada

mereka yang belum melihat mandala

kepada mereka

yang belum mengalami pembayatan

ajaran ini harus dirahasiakan4

Inilah kesulitannya dengan Buddha, yang ajarannya semula penuh dengan kesederhanaan, karena setelah Buddha meninggal ternyata mengalami perumitan kembali. Tantrayana, misalnya, segenap ajarannya tergantung dari keberadaan seorang guru. Jika tidak, ayat apa pun akan menjadi membingungkan, dan mudah ditafsirkan dengan sangat keliru. Aku pernah mendengar, sebelum meninggal, di ranjangnya Buddha bersabda, “Sama sekali tidak ada yang kurahasiakan.”5

Kini Buddha tersebar dengan begitu banyak aliran, tetapi adalah ke Yawabumi para rohaniwan dari Tiongkok mempelajari Buddha yang disebut murni kepada Jnanabhadra. Itu terjadi pada tahun 665. Hmm. Apakah yang masih bisa murni di dunia ini sebenarnya?

Aku melesat di balik dedaunan membuntutinya. Ketika ia keluar dari hutan dan melaju di jalan masuk ke kota, aku berlindung sebagai bayangan di balik bayangan kudanya, yang memanjang dalam sorotan cahaya matahari dari sisi barat.

Siapakah pelempar pisau terbang ini? Sudah jelas ia berkepentingan agar perbincangan orang-orang yang dibunuhnya berhenti. Perbincangan itu harus berhenti karena di dalamnya mungkin terdapat penjelasan yang terlarang

untuk dibicarakan bersama maupun diketahui orang lain. Masalahnya, apakah penjelasan itu sudah terkatakan atau masih akan dikatakannya sehingga sebilah pisau terbang harus membungkamnya?

Dalam hubungannya dengan diriku, Jurus Tanpa Bentuk dihubungkan dengan suatu ajaran rahasia. Mungkin ini disebabkan karena tiada seorang pun di dunia ini bisa mempelajarinya melalui cara-cara yang biasa. Apakah itu sebuah kitab, maupun seorang guru. Aku pun mendapatkannya melalui olah pemikiran, seperti tidak ada hubungannya dengan persilatan, tetapi dengan mendalami

pemikiran, kita bisa membongkar dan menyusun jurusjurus baru-bukan hanya dalam persilatan, melainkan dalam segala hal, termasuk ketatanegaraan.

Jadi ada yang berpikir tentang Jurus Tanpa Bentuk dalam rangka keterhubungan, tetapi dengan suatu perkiraan yang keliru. Jurus Tanpa Bentuk tidak bisa dipelajari bukan karena dirahasiakan, tetapi karena harus ditemukan dalam olah pemikiran, bukan persilatan. Adapun ajaran rahasia memang suatu ajaran yang harus dipelajari melalui suatu bimbingan, karena hanya para guru yang mengetahui kunci pembuka rahasia-rahasia itu.

Aku masih berpikir tentang kenapa suatu ajaran harus dirahasiakan, ketika kuda itu mendekati gerbang kota yang bergaya candi bentar. Burung-burung sriti memenuhi langit bagaikan mata-mata yang mengawasi. Langit mendadak mendung dan angin menderu-deru menerbangkan segala daun yang tadinya berserakan ke udara. Di luar perbentengan kulihat gajah-gajah kerajaan dimandikan.

Kupinjam tenaga angin untuk melayang ke atas tembok, turun menjejak punggung gajah, dan tibalah aku di dalam kota lebih dahulu dari pelempar pisau terbang itu. Gajah itu meluruskan belalainya dan mengeluarkan suara, taktahu ke mana harus mencari penyebab kesakitannya.

Orang yang kubuntuti berputar-putar di dalam kota. Barangkali ia menghindari kemungkinan seseorang akan mengikutinya. Aku berjalan kaki saja mengikutinya secara tersembunyi. Setiap kali ia menoleh ke belakang, aku menyelinap ke balik tembok, atau ke balik punggung orang-orang lain yang berjalan.

Dari lorong ke lorong, tembus ke jalan besar, masuk lorong lagi, akhirnya ia berhenti di sebuah kedai dan menambatkan kudanya. Ia tidak memasuki

kedai itu, melainkan berjalan kaki ke pintu belakang kedai melalui lorong di sampingnya. Lorong itu sepi dan ia masih terus sesekali menoleh ke belakang.

Bagaimana caranya aku bisa mengikuti sampai masuk

ke dalam kedai?

7 Diculik Gerombolan Tangan Besi; Mengamati Kota Perbentengan; dan Ilmu Pedang Suksmabhuta

Aku masih berpikir ketika dari dua ujung lorong sempit itu muncul sejumlah orang mengepungku. Lima orang di utara dan lima orang di selatan. Tubuh mereka dibalut selempang kain seperti para rahib, tetapi kepala mereka tidak gundul. Rambut mereka semua digelung ke atas seperti aku sekarang dan tidak seperti pendeta yang selempangnya sudah mempunyai warna tertentu, selempang mereka warnanya berbeda dan masing-masing tidak sama. Ada yang abu-abu, hijau, biru, merah, dan hitam, bermacam-macam, tetapi rata-rata warnanya sudah kusam-karena jenis kain dan cara pewarnaan yang tampaknya sengaja dibuat kusam.

Apa yang harus kulakukan? Apakah aku harus meloncat ke atas genting, melenting, dan menghilang? Apakah mereka semua harus kulumpuhkan? Namun dengan kedua cara ini aku tidak akan mencapai maksudku, yakni menyelidiki segala sesuatu yang ada hubungannya dengan pelempar pisau terbang tersebut. Juga, kurasa dengan datangnya kepungan ini, tentunya entah siapa pun yang berada di bagian belakang kedai yang ditemui oleh pelempar pisau terbang itu sudah mengetahui keberadaanku. Ini bisa berarti orang yang kubuntuti tahu betapa aku telah mengikuti sejak tadi, tetapi aku lebih percaya kepada kemungkinan lain, yakni bahwa ada orang lain yang juga membuntutinya. Namun aku belum tahu apakah yang membuntutinya itu kawankawannya atau justru lawan-lawannya!

Kembali ke dunia ramai setelah 25 tahun menghilang, dalam usia 100 tahun pula, mengakibatkan aku bergerak dengan serba meraba-raba. Ilmu silatku tinggi, tetapi pengetahuanku tentang dunia awam yang sangat tertinggal

telah mempengaruhi segenap keputusanku.

Kubiarkan diriku terkepung. Seseorang berkata.

“Orang tua! Jangan melawan, jika tidak ingin merugikan dirimu sendiri!”

Maka aku pun tidak melawan, bukan karena merasa akan terkalahkan, melainkan karena kata-katanya kutangkap mengandung pesan: Mereka mengetahui kelebihanku, tetapi jika aku ingin mendapatkan lebih banyak kejelasan, sebaiknya tidak menjadikan mereka lawan.

“Ikutlah kami dan berlakulah seperti kami!”

Ternyata mereka mengatupkan tangan seperti orang memuja dan mulutnya komat-kamit berdoa. Mata orang yang berbicara kepadaku memberi tanda agar aku mengikuti sikap dan langkah mereka. Aku mengikuti sikap mereka yang melangkah keluar dari lorong seperti sedang memuja dan berdoa. Begitu banyaknya aliran kepercayaan yang berkembang di antara berbagai aliran di dalam agama Hindu dan Buddha itu sendiri, membuat aku tidak bisa mengerti yang mereka ucapkan adalah doa yang terhubungkan ke mana, karena aku sama sekali tidak mengerti bahasanya. Aku rasa ini memang sebenarnyalah merupakan sikap pura-pura berdoa, dan tiada yang akan mencurigainya karena begitu banyaknya aliran kepercayaan tersebar di seantero Yawabumi.

Sembari ikut berpura-pura kuamati Mantyasih yang penuh dengan manusia. Jalan raya yang tanahnya telah diratakan dan dikeraskan dengan injakan kaki gajah di atas lempengan batu. Kerumunan manusia menyibak ketika rombongan ini lewat, tanpa perhatian seperti kepada sesuatu yang tidak biasa. Di beberapa bagian kota yang lain, kulihat juga rombongan yang memuja dan berdoa dengan cara yang sama maupun cara yang lain. Rombongan yang mengepung dan menggiringku ini menggumamkan entah apa, seperti doa, tetapi aku tidak mengenalnya. Apakah selama aku menghilang dalam 25 tahun telah muncul agama baru?

Sejauh yang kuketahui selama hidupku, aliran kepercayaan apapun yang muncul selalu bisa dikaitkan dengan agama Hindu atau Buddha, atau kedua-duanya, tepatnya dengan Siwa-Mahayana. Dalam setiap agama terdapat aliran dan dari setiap aliran terlahirkan sektesekte yang diakui maupun tidak diakui, yang masingmasingnya sangat mungkin melebur sebagai aliran baru. Adapun aliran baru kadang mengandung unsur yang masih bisa dikenali dari agama dan aliran sumbernya, bahwa ada lebih dari satu agama dan seribu satu aliran yang diacunya; tetapi ada pula yang sudah tidak bisa dikenali lagi

atas nama usaha memurnikannya. Namun dalam hal perilaku rombongan ini, aku tidak bisa mengatakan apa-apa.

Karena perjalanan ini nyaris menjelajahi kota, aku bisa mengenali tata kotanya yang mengacu kepada tata kota perbentengan. Tiga jalan raya kerajaan dari barat ke timur dan tiga dari selatan ke utara sekaligus menjadi cara membagi daerah permukiman. Terdapat dua belas gerbang yang diberi tempat saluran air, kolam, dan jalan di bawah tanah. Setiap jalan itu lebarnya paling tidak empat danda dan jalan raya kerajaan sampai delapan danda. Seingatku ini juga berlaku untuk jalan di pedesaan, daerah gembala, pelabuhan, maupun daerah pembakaran mayat. Jalan kecil di desa, di tempat saluran air untuk sawah dan hutan dibuat empat danda, sementara jalan untuk gajah dan sepanjang ladang cukup dua danda. Di dalam kota ini juga ada jalan untuk kereta, lebarnya lima aratni, jalan ternak yang empat aratni, sedangkan untuk manusia dan hewan piaraannya paling tidak dua aratni.

Kuperhatikan istana raja didirikan di bagian kesembilan di sebelah utara jantung daerah pemukiman, menghadap ke timur; dari timur ke utara terdapat kediaman para guru dan pendeta, termasuk tempat-tempat untuk korban suci maupun sumber air, dan kediaman para penasihatnya. Dari bagian timur ke selatan, terlihat kandang gajah maupun gudang penyimpanan mesiu. Masih di bagian

timur terdapat permukiman kasta ksatria, dan agak di luarnya adalah permukiman para penjaja parfum, bunga dan ramuan cair, maupun pembuat barang-barang untuk mandi. Orang-orang lalu lalang, tetapi aku harus memperhatikan tata kota yang kurasa akan berguna jika aku harus bergerak sendiri di kota ini suatu hari.

Melintasi bagian timur ke selatan itu kulihat gudang untuk barang-barang, gedung penyimpanan catatan negara, kantor pemeriksaan keuangan, kediaman para pekerja. Dari selatan ke barat mulai terlihat gudanggudang hasil hutan dan penyimpanan senjata; di luarnya, para pedagang beras dari kota, pejabat pabrik, perwira militer, pedagang makanan masak seperti arak dan daging, para penghibur dan penari, mereka yang dari kasta waisya ditempatkan di bagian selatan. Juga di bagian selatan terlihat kandang-kandang kuda, sapi, kereta, kendaraan apa pun, dan bengkel-bengkel para pandai besi. Di luarnya lagi, di ujung barat, para penenun, pemintal benang,

penyamak kulit, pengrajin bambu, pakar perlengkapan perang, senjata, dan perisai; kaum berkasta sudra juga ditempatkan di sana.

Aku berusaha keras merekam semua hal yang kulihat ke dalam kepalaku, yang selama 25 tahun hanya berurusan dengan kegelapan gua. Tentu saja pengalamanku 25 tahun sebelumnya, ketika mengundurkan diri dari dunia persilatan dengan cara melebur ke dunia orang awam masih sangat membantu; bahwa bangunan penyimpanan obat-obatan biasa terletak antara bagian barat-utara dan ternak serta kuda selalu di bagian timur-utara. Patung-patung para dewa pengawas, patung raja, berdekatan dengan pemukiman tukang logam dan perhiasan, maupun juga mereka yang tergolong kasta brahmana, semuanya ditempatkan di utara.

Semua ini sesuai dengan Arthasastra, kitab tentang tata negara, yang ditulis Kautilya di India lebih dari seribu tahun dari masa hidupku sekarang. Bahkan penempatan serikat pekerja dan orang asing terletak di dalam tanah

berpagar di daerah bukan permukiman, juga sesuai anjuran Arthasastra tersebut mengenai sebuah kota perbentengan. Jadi berkembang pesatnya Buddha Mahayana di Yawabumi tidak berarti kemunduran Hindu sama sekali. Maka begitulah di dalam kota terdapat kuilkuil Aparajita, Apratihata, Jayanta, maupun candi-candi Siwa, Waisrawana, Aswin, Sri, dan Madira. Di setiap sudut juga terdapat dewa-dewa penjaga sesuai daerahnya. Asap dupa dan kemenyan campur aduk tercium di mana-mana.

Kuperhatikan toko-toko, hampir semuanya menjual bahan yang tahan lama, mulai dari gula, garam, obatobatan, parfum, sayuran kering, makanan ternak, daging kering, rumput kering, kayu, logam, kulit, arang, urat daging, racun, tanduk lembu, kulit kayu, kayu yang kuat, senjata, perisai, dan batu. Karena kami nyaris berkeliling, semua gerbang kota kuketahui sesuai dengan nama Dewa Brahma, Indra, Yama, dan Senapati. Di luar kota, pada jarak seratus dhanuse dari parit, terlihat pertapaan, tempat-tempat suci, belukar dan bangunan air, dengan patung para dewa penjaga. Aku terus melangkah sambil mengamati. Di bagian utara dan timur rupanya tempat pembakaran mayat disediakan kepada yang terbaik di antara varna, sementara di bagian selatan untuk varna yang lebih rendah. Seingatku, pelanggaran atas pembedaan ini akan didenda dengan kekerasan. Artinya para brahmana sungguh masih berkuasa.

Namun yang menarik perhatianku adalah kediaman para candala dan kaum bid’ah yang ditempatkan di pinggiran wilayah pembakaran mayat6. Dari jauh terlihat anak-anak kecil berlarian di antara rumah-rumah gubuk yang usang. Beberapa anak bahkan saling bersilat. Hmm. Apakah yang membuat seseorang menjadi brahmacari dan candala?7

Kemudian aku tergiring masuk ke sebuah lorong yang panjang. Di kiri kananku tembok yang dibuat dari tumpukan batu-batu persegi. Aku masih sibuk dengan kepalaku sendiri ketika dari balik tembok itu, dari kiri maupun kanan, muncul sejumlah orang berpakaian serba putih yang langsung menyerbu para penggiringku ini.

Para penyerbu ini semuanya bersenjatakan pedang putih lurus panjang yang berkilauan seperti perak. Pertarungan berlangsung begitu cepat sehingga sulit diikuti mata telanjang. Jumlah mereka seimbang, sehingga pertarungan berlangsung satu lawan satu, yang di lorong sesempit ini berlangsung dengan sangat tidak leluasa. Hidungku segera mencium bau harum yang mengingatkan aku kepada Pendekar Melati. Melihat jurus-jurusnya kukenali ilmu pedang mereka sama dengan ilmu pedang pendekar perempuan tersebut. Tangkas, lugas, tetapi tidak kehilangan kehalusan ilmu pedang yang hanya bisa dimainkan perempuan, karena diciptakan sesuai dengan daya ketubuhan perempuan itu sendiri, yang dikenal sebagai ilmu pedang Suksmabhuta yang sudah tua sekali umurnya -meskipun tentu Pendekar Melati telah mengembangkannya.

Ciri ilmu pedang ini adalah kehalusan dan kecepatan luar biasa yang membuat lawan bahkan tidak sadar betapa nyawanya sudah melayang. Makanya semakin tinggi ilmu yang melawannya justru akan semakin tersiksalah oleh tekanan Suksmabhuta yang nyaris tiada tandingannya. Dalam dunia persilatan di Yawabumi memang hanya ada tiga ilmu pedang yang kedahsyatannya setara, yakni ilmu pedang Cahaya Naga yang menjadi andalanku sebelum menemukan Jurus Bayangan Cermin dan Jurus Tanpa Bentuk; ilmu pedang Aliran Naga yang hanya dikuasai oleh para pewaris Naga Emas dari Tiongkok; dan ilmu pedang Suksmabhuta yang hanya bisa dikuasai oleh perempuan, warisan para leluhur di Yawabumi yang berusaha

Candala: orang buangan.

melindungi kaum perempuan dari segala bentuk kekerasan kaum pria.

Aku pernah merasakan kehebatan ilmu pedang Suksmabhuta ketika Pendekar Melati menempurku. Kini ilmu pedang itu tersesuaikan oleh bentuk pertarungan berbanyak orang, sehingga dimainkan secara berbeda oleh penggunanya sebagai suatu regu. Orang-orang yang menggiringku melawan dengan ilmu Tangan Besi. Tangkisan tangan mereka atas sambaran pedang-pedang itu di antara cahaya berkilatan terdengar berdentangdentang. Namun mereka segera dibingungkan oleh pergantian lawan yang saling bertukar dengan sangat cepatnya. Setiap lawan baru menggunakan jurus baru yang mengejutkan dengan cara yang sangat tidak biasa di ruang sempit ini. Para penyerbu ini kakinya tidak pernah menginjak tanah, mereka menggunakan tembok sebagai pijakan, agar bisa melenting-lenting dengan secepat kilat, maupun tetap menempel di tempat seperti cicak tetapi pedangnya berputar bagaikan perisai cahaya dan menusuk begitu rupa sehingga pucuknya bagaikan selaksa.

Umurku memang sudah 100 tahun, tetapi mataku sangat terlatih dalam pertarungan dunia persilatan, sehingga meskipun mata manusia biasa tidak akan mampu mengikutinya aku bahkan bisa menikmatinya seolah-olah mereka bergerak dengan sangat lambatnya. Maka kulihat bagaimana para pemegang ilmu pedang Suksmabhuta itu mempermainkan lawan-lawannya. Ketika kaki masih menempel di tembok seseorang menepuknepuk kedua pipi lawan dengan sisi datar pedang, tapi kemudian ujung pedang segera menembus jantungnya untuk dicabut lagi dengan seketika. Dalam pertarungan lain sesosok bayangan putih melompat terbalik di atas ubun-ubun lawannya dan ketika melenting kembali ubunubun itu sudah berlubang setipis pedang. Demikianlah hampir setiap cara mengakhiri pertarungan dilakukan dengan cara yang sangat mematikan untuk meniadakan penderitaan.

Meskipun mereka berkelebat seperti bayangan, karena ilmu silatnya belum setinggi Pendekar Melati maka aku bisa mengamati mereka dengan jelas. Mereka semua adalah perempuan muda yang cantik jelita. Mata mereka serbatajam dengan alis serbatebal, dan hanya mata dan alis itulah yang bisa dilihat dengan tegas, karena nyaris seluruh tubuh mereka terbalut kain serbaputih. Meskipun begitu kain putih yang mereka kenakan tidak membalut tubuh dengan ketat, sebaliknya cukup longgar sehingga memungkinkan

mereka bersilat dengan sebat, dan karena itu juga memperlihatkan beberapa bagian tubuh yang kadang tertutup dan kadang terbuka. Namun seorang awam dalam persilatan tentu tidak akan melihat apapun jua. Suksmabhuta mempunyai makna jiwa yang tiada tampak, dengan pencapaian itulah ilmu pedang ini mendapat namanya. Ilmu pedang yang dikuasai para perempuan itu pun akan segera bekerja, seandainya ada mata yang terbuka lebih lebar dari seharusnya, karena menyaksikan sesuatu yang tidak biasa.

Aku masih berdiri di lorong itu ketika sosok terakhir melorot pada tembok. Sepuluh perempuan perkasa menyarungkan pedang mereka kembali setelah membersihkan darahnya dengan kain busana korbankorban mereka. Pemimpinnya menundukkan kepala dengan takzim.

“Kami pengawal rahasia istana, pengawal pribadi raja, memohon maaf atas gangguan kenyamanan yang telah diterima. Kami tidak mengetahui sama sekali Bapak ini siapa, tetapi kami mendapat tugas untuk melindungi siapa pun yang mendapat ancaman gerombolan Tangan Besi. Sudah lama mereka menjual tenaganya demi kepingkeping emas, kepada para menteri culas yang berusaha merongrong kewibawaan negara. Sekarang Bapak harus ikut kami, untuk dihadapkan kepada para petugas dinas rahasia.”

Mendengarkan kalimat itu aku merasa lega. Penyamaranku tidak terbongkar. Jika bersembunyi dalam

gua selama 25 tahun masih dipergoki dan sudah menyamar masih terbongkar pula, apakah aku masih memiliki diriku sendiri? Kurasa aku tidak akan bisa hidup dengan tenang dalam sisa usia yang tinggal sedikit ini, jika aku tidak bisa membongkar apa yang terjadi di balik serbuan para pembunuh ke gua itu. Gua yang kukira akan menjadi tempat tinggalku selama-lamanya sampai aku meninggalkan dunia ini, tetapi yang kenyataannya harus kutinggalkan karena banyak orang tidak terlalu sabar menunggu aku mati sebentar lagi.

“Baik,” kataku dengan memendam hasrat penyelidikan.

Aku harus berhati-hati, karena ilmu silat setinggi langit belum tentu berguna menghadapi kelicikan siasat dalam permainan kekuasaan.

8 Tipu Daya dan Tipu Muslihat; Dunia yang Membingungkan

AKU dibawa menghadap Kepala Dinas Rahasia? Hmm. Aku lagi-lagi teringat nasehat Kautilya dalam Arthasastra, pada Bab 11 Bagian 7, tentang Pengangkatan Orang Dalam Dinas Rahasia.

Pasal 1 Ayat 1 adalah perihal “Membangun Mata-Mata”.

dengan dewan menteri-menteri

yang terbukti jujur melalui ujian rahasia,

raja hendaknya mengangkat

orang-orang dalam dinas rahasia

kapatika chatra (murid yang cerdas)

udhasita (pendeta yang ingkar)

grihapatika (yang menyamar

sebagai pengurus rumahtangga)

vaidehaka (yang menyamar

sebagai pedagang)

tapasa (pertapa suci)

satri (agen rahasia)

tikshna (pembunuh bayaran)

rasada (pemberi racun)

bhiksuki (pertapa wanita)8

Pada bagian lain juga jelas disebutkan: Dilengkapi banyak uang dan pembantu-pembantunya, ia harus menyelesaikan pekerjaan di tempat yang ditentukan baginya, untuk menjalankan suatu tugas. Mereka yang menjadi pegawai negara tentu diajarkan ketata negaraan melalui Arthasastra, tetapi aku pernah membahasnya bersama seorang mahaguru tata negara, yang hanya memberi aku kesempatan satu malam untuk mempelajari

kitab tebal itu. Karena bukan kitab ilmu silat, aku tidak terlalu bersemangat membacanya pada masa mudaku dahulu, meskipun kuakui ada juga pasal-pasal yang menyita perhatian seperti pada Bab 8 Bagian 83 tentang “Penyelidikan Melalui Interogasi dan Melalui Penyiksaan”. Pada Ayat 22 tertulis:

dalam hal pelanggaran yang sangat berat

sembilan pukulan dengan tongkat, dua belas cambuk,

dua pelingkaran paha, duapuluh pukulan

dengan tongkat naktamala, tigapuluhdua tamparan,

dua ikatan kalajengking, dan dua penggantungan,

jarum di tangan,

membakar sendiri jari orang yang mabuk,

membakar di matahari selama sehari

orang yang minum lemak,

dan ranjang ujung balbaja

pada malam musim dingin9

MENURUT guruku saat itu, Kautilya yang juga bernama Wisnugupta adalah seorang brahmana yang menjadi ahli politik dan menteri negara, tetapi di India sana, sehingga disebutkan perkara musim dingin segala -barangkali para pedagang membawa kitabnya ke Yawabumi. Mungkin yang membawanya adalah salah satu anggota rombongan rohaniwan Vajrabodhi yang datang dari Sri Lanka pada 711, ketika ia terpaksa tinggal lima bulan di kerajaan Sriwijaya untuk menunggu angin, dalam perjalanan menuju Tiongkok. Bukan tidak mungkin ada anggota rombongan yang tetap tinggal di Suwarnadwipa, dan suatu hari menumpang kapal dagang Sriwijaya ke Yawabumi.

Kemungkinan besar gagasan-gagasan seperti dalam Arthasastra itulah yang menjadi pedoman para raja Yawabumi, dan karena itu guruku merasa aku harus mempelajarinya juga. “Tentu saja di Yawabumi banyak

isinya disesuaikan, atau ditafsirkan sesuai keinginan yang mempunyai kepentingan,” kata guruku.

Aku tidak tahu apa yang diinginkan Kepala Dinas Rahasia, tetapi kewaspadaanku sungguh bertambah. Tidak berlebihan jika aku menganggap perempuan-perempuan jelita berambut panjang beralis tebal dengan mata tajam menyala-nyala yang berbusana bagaikan bhiksuki ini adalah juga para tikshna dan rasada- dan itu jauh lebih berbahaya daripada menghadapi mereka dalam pertarungan terbuka.

Aku dibawa ke sebuah candi-bukur, paviliun di atas bukit yang sekaligus merupakan candi-bagajing atau rumah bertiang delapan. Bangunan berbubungan tanah bakar itu secara keseluruhan berwarna kuning, memiliki waruga, serambi yang ditinggikan baik di tengah maupun bagian belakang. Kulihat sekeliling, kain benanten terlihat di beberapa bagian rumah, sebagai tirai dan rumbairumbai di bagian atas. Tentu ada witana atau pendapa di

sana, dan sudah menunggu seseorang yang dari caranya berbusana tentu seorang pejabat tinggi negara.

Kain yang dipakainya halus, berprada emas dan berpola bunga teratai, hiasan rambutnya juga terbuat dari emas. Ia duduk di bangku kayu. Pada kedua tiang di belakangnya terdapat payung kuning tanda kebesaran. Di dekat bangku terdapat meja kecil tempat seperangkat peralatan makan sirih. Waktu kami tiba ia sedang mengunyah sirih-dan ketika melihatku ia langsung meludah, begitu merah, melayang langsung ke jambangan tempat ludah yang terbuat dari perak berukir.

“Kami bermaksud membayar tikshna yang diperintahkan mengakhiri tugas para satri. Tetapi ia cukup bodoh untuk bisa dibuntuti orang tua ini sampai kemari. Kami tidak tahu siapa dia, gerombolan Tangan Besi bermaksud menculiknya, kami sudah selesaikan riwayat mereka.”

Jadi mereka tidak tahu siapa aku. Namun mereka sempat melihat aku membuntuti pembunuh bayaran

berpisau terbang itu. Mereka tentu melihatku hanya ketika mendekati kedai melalui lorong sempit, saat gerombolan Tangan Besi yang malang itu muncul hanya untuk menghilang lagi selama-lamanya. Kuingat guru mereka yang tangan besinya patah setelah memukulku sebagai patung. Jurus Tanpa Bentuk telah menerbitkan kecemburuan banyak orang. Mereka mengira aku mempelajarinya dari sebuah kitab ilmu silat. Padahal aku menemukannya berdasarkan suatu olah pemikiran.

“Siapa dikau orang tua, katakanlah dikau ini parivrajaka atau candala tak berharga. Berkatalah terus terang. Tapi jangan kami temukan bahwa dikau adalah mata-mata pengundang bala.”

Aku tertegun tidak menjawab. Wajahku pasti tampak tolol. Kulihat mereka semua memandangku dengan curiga. Parivrajaka berarti pendeta kelana, agaknya aku masih tampak lusuh juga. Hanya menyangka aku pendeta kelana ataukah gelandangan yang lusuh tiada terkira, dan seorang gelandangan tanpa kejelasan kasta tentu saja dianggap candala.

Mata-mata? Pertentangan di antara para raja Mataram di Yawabumi memang hampir selalu ruwet, karena di dalam setiap pihak yang bertentangan masih terdapat berbagai pihak yang saling bertentangan lagi dengan alasannya masing-masing.

Aku mulai mengembara di sungai telaga dunia persilatan pada usia 25 pada tahun 796, saat itu Rakai Panunggalan sudah berkuasa 12 tahun dari pemerintahan yang berusia 19 tahun. Ketika aku meleburkan diri dengan dunia ramai pada usia 50, pada tahun 821 itu penggantinya, Rakai Warak, telah bercokol 18 tahun. Ia akan turun enam tahun kemudian. Digantikan Dyah Gula yang hanya berada di singgasana setahun, antara 827-828. Ketika aku menghilang tahun 846, Rakai Garung yang lebih dikenal sebagai Samarattungga, penggantinya, setahun kemudian turun dan Rakai Pikatan naik tahta. Aku tahu kisah perseteruannya dengan Balaputradewa,

yang menyeberang ke Suwarnadwipa dan secara tidak langsung mencoba minta bantuan Raja Dewapaladewa dari India untuk merebut tahta di Yawabumi; tetapi masa setelah itu bagiku ibarat kegelapan. Aku hanya tahu sekarang ini yang berkuasa adalah Lokapala yang bergelar Rakai Kayuwangi, sejauh kudengar adalah anak Pramodawardhani, permaisuri Rakai Pikatan yang dulu bernama Jatiningrat.

Raja-raja Mataram ada yang memerintah lebih dari 20 tahun, tetapi ada juga yang berkuasa kurang dari satu tahun. Namun masa pemerintahan yang panjang tidak selalu menunjukkan kekuasaannya mantap, sedangkan masa pemerintahan yang pendek tidak juga berarti sama dengan kekacauan. Pendiri kerajaan Mataram yang pertama, Sanjaya, hanya bisa bertakhta selama 24 tahun, setelah berperang dengan banyak kerajaan kecil di sekitarnya. Itu juga yang berlangsung selama 38 tahun masa pemerintahan Rakai Panamkaran agar meraih puncak kedaulatan. Apakah masa pemerintahan Rakai Kayuwangi tergolong pemerintahan yang tenang di atas kekacauan ataukah yang akan berubah dan berganti dalam ketenangan belum dapat kupikirkan.

Lagipula aku tidak bisa membicarakannya kepada Kepala Dinas Rahasia ini.

Ia meludah langsung ke wajahku.

“Bikin dia bicara!”

Apakah aku sebaiknya pergi? Atau sudah seharusnya aku bersandiwara agar mendapat kejelasan yang menenangkan hati? Sepucuk pedang putih mendadak sudah berada di bawah daguku. Salah satu pengawal rahasia istana itu mendekat. Harum tubuhnya nyaris membuat aku tidak bisa berpikir.

“Orang tua, dikau masih bisa hidup agak lebih lama jika bicara.”

Aku memilih yang terakhir.

“Sahaya… Sahaya….”

“Bicaralah terus terang! Cepat!”

“Sahaya hanya menurut perintah…”

Perempuan-perempuan itu maju lebih dekat.

“Perintah siapa?”

Aku benar-benar harus bersandiwara.

“Sahaya tidak bisa mengatakannya….”

Ugh!

Sebuah tendangan bersarang di ulu hatiku, dan kepalaku yang tertunduk maju disambut lutut sekeras besi. Aku menerima semua ini dengan Jurus Pasir Menyerap Air, sehingga pukulan dan tendangan yang seperti apa pun kerasnya sama sekali tidak terasa. Aku menjatuhkan diri dan menggelinding di lantai batu. Punggawa berbaju mewah itu menginjak-injak dan menendang diriku.

“Katakan! Siapa! Siapa! Siapa!”

Aku harus bersandiwara.

“Ampun, Tuanku! Ampunilah sahaya! Ampun! Sahaya hanya rakyat jelata!”

Dia terus menendang dan menginjak-injak, sementara aku berusaha terus tengkurap agar kepura-puraan tidak terbaca dari wajahku.

“Dikau sudah tua dan siap masuk neraka! Kurangilah dosamu dengan pengakuan sejujujurnya! Kecuali dikau ingin merasakan neraka hari ini juga! Katakan dikau bekerja untuk siapa!”

Entah dari mana Kepala Dinas Rahasia ini sudah memegang cambuk berduri yang akan merajam kulit manusia dengan sangat menyakitkan, sebelum akhirnya disiram air garam.

Aku berpikir keras. Jika aku tidak membiarkan kulitku terajam karena Jurus Pasir Menyerap Air, pasti akan sangat mengundang kecurigaan. Namun membiarkan cambuk itu merajamku juga akan menimbulkan persoalan.

Selain akan sangat menyakitkan, kulitku tidak akan terlalu mudah melakukan pemulihan karena umurku sudah 100 tahun. Rasa sakit bisa diatasi oleh tenaga dalam, tetapi waktu yang telah mengauskan kulitku tidak

bisa kulawan.

Apakah aku harus mengorbankan diri begitu rupa demi penyamaran?

Punggawa itu mencambuk punggungku. Breeett! Kain busanaku robek dan duri-duri cambuk itu menembus kulitku. Sulit dibayangkan manusia akan mampu menahan kesakitan dan kepedihan seperti ini.

Saat itu aku mendapat akal.

“Ampun!”

Aku berteriak seolah-olah sangat kesakitan, dan tentu seolah-olah tidak tahu bahwa gendang telinga punggawa itu bergetar karena gelombang suara sangat tinggi yang kukirimkan bersama teriakanku.

“Ampun!”

Demikianlah setiap kali cambuk itu menyambar, teriakanku mungkin terdengar wajar, tetapi berkat tenaga dalamku dapat kutiup gendang telinganya dengan gelombang suara tinggi yang membuat kepalanya sakit. Aku tahu punggungku bersimbah darah karena tercacah. Kepala Dinas Rahasia ini akan mengiranya sebagai penyebab teriakanku.

Baru lima cambukan ia sudah berhenti.

“Orang tua, dikau telah berkata hanya mendapat perintah. Katakanlah siapa yang memerintahmu agar dikau tidak lebih menderita lagi!”

Aku sudah tahu apa yang akan kukatakan sejak tadi. Namun jika aku mengatakannya dengan terlalu mudah, tentu sangat mencurigakan. Aku harus mengulur waktu. Lagipula aku masih ingin mendapat lebih banyak kejelasan.

“Sahaya tidak berani mengatakannya Paduka, karena sahaya pasti akan mati jika mengatakannya.”

Punggawa itu memilin kumisnya. Aku mencoba bangkit dan bersimpuh.

“Sama saja! Dikau juga akan mati jika tidak mengatakannya!”

“Ampuni sahaya Paduka!”

“Dikau harus mengatakannya! Ataukah dikau menginginkan imbalan?”

Kepalaku kuangkat, sempat kulihat ia memberikan isyarat kepada para pengawal rahasia istana. Kuingat kembali nasihat Kautilya alias Canakya dalam Arthasastra tentang “Mengawasi Pihak-Pihak yang Dapat Dibujuk dan Tidak Terbujuk dalam Daerah Sendiri” yang merupakan Bab 13 di Bagian 9 dari kitab tersebut. Aku teringat Ayat 17 dan 25.

ia hendaknya mengambil hati mereka

dengan hadiah-hadiah dan perdamaian

kepada mereka yang tidak puas

supaya mereka menjadi puas

ia hendaknya menangani

mereka yang tidak puas

dengan cara perdamaian (sama)

hadiah (dana), perselisihan (beda),

atau kekerasan (danda)10

Kiranya penting untuk memahami jalan pikiran mereka ini, supaya dapat mengambil sikap yang tepat. Dengan cara apa pun yang mereka gunakan, aku akan bersikap seolah-olah merupakan mata-mata yang membuka rahasia. Namun sebaiknya aku mengetahui lebih banyak hal lebih dahulu sebelum melakukan tipu daya yang satu tersebut.

Punggawa itu meninggalkan ruangan. Tinggal para pengawal rahasia, pengawal pribadi raja, yang telah membuatku penasaran karena menguasai ilmu pedang Suksmabhuta. Mereka bersikap ramah.

“Bapak, maafkanlah Kepala Dinas Rahasia itu, ia tidak mengerti bahaya yang mengancam Bapak -sekarang Bapak boleh pergi dengan bebas…”

Pergi dengan bebas? Padahal aku belum mendapatkan apa pun yang dapat menjelaskan keadaanku!

“Sekarang luka Bapak akan kami obati.”

Salah seorang perempuan itu menggamitku.

“Mari Bapak, bajunya dibuka dulu.”

Ah! Mereka mau mengobati lukaku-jika mereka membuka bajuku, akan terlihat pundi-pundi uang maupun gambarku sebagai Pendekar Tanpa Nama dalam lembaran lontar itu! Aku belum tahu apa yang bisa kulakukan jika itu menjadi masalah baru.

“Maafkanlah sahaya, Puan, biarkanlah saya pergi sahaja. Maafkanlah, sahaya sudah tidak tahan lebih lama lagi berada di sini. Biarkanlah sahaya pergi…”

Mungkin aku berhasil memainkan peran sebagai orang yang sangat layak dikasihani. Namun aku lebih percaya mereka mempunyai siasat lain, ketika dengan mudahnya begitu saja mengizinkan aku pergi. Aku cepat menangkap, mereka saling berpandangan dengan ilmu angavidya, yakni ilmu menafsirkan sentuhan tubuh.11

“Baiklah Bapak, jika Bapak memang sudah tidak mampu menanggung penderitaan, kami tidak akan menahan Bapak lebih lama lagi, tetapi bawalah ramuan obat ini, oleskan pada luka Bapak, semoga akan segera pulih kembali.”

Aku diantarkan sampai ke depan gerbang, mereka membiarkan aku melangkah dengan terseok-seok dan pergi. Aneh sekali. Seharusnya mereka tetap menahan aku dengan penuh kecurigaan. Mereka sudah mengetahui aku membuntuti pembunuh bayaran mereka di lorong sempit. Aku sudah memancing rasa ingin tahu mereka dengan berbuat seolah-olah memang ada yang memerintahkan aku berbuat seperti itu-dan bahwa yang memerintah itu tampaknya berkuasa sekali.

Seharusnya mereka masih menahanku, terus menerus bertanya dengan penasaran, kalau perlu dengan siksaan,

karena hal itu memang dibenarkan oleh Arthasastra. Namun mereka melepaskan aku yang memang tidak siap mendapat pertanyaan tentang Pendekar Tanpa Nama dengan terlalu cepat. Aku memang ingin lepas karena lembar pengumuman tentang perburuan Pendekar Tanpa Nama itu, tetapi bahwa mereka melepaskan aku dengan terlalu mudah, sangat menimbulkan kecurigaanku.

Aku masih melangkah dan berpikir. Apakah Arthasastra masih bisa memberikan jawaban? Karena aku mempelajarinya ketika masih muda, masih cukup banyaklah yang bisa kuingat.

bila ia telah mempunyai mata-mata

untuk para pejabat tinggi

hendaknya ia menetapkan mata-mata

untuk para warga negara dan orang desa

agen-agen rahasia, yang saling berlawanan

hendaknya mengadakan perdebatan

di tempat-tempat suci, tempat rapat,

perkumpulan masyarakat

dan pada kelompok-kelompok lain12

Aku melangkah tertatih-tatih memasuki tempat keramaian. Orang-orang lalu lalang di jalan. Kurasa dunia makin sesak-dan bagiku berarti makin

membingungkan. Apakah yang masih diberikan ilmu silat dalam keadaan seperti itu?

Aku melangkah, melenyapkan diri di antara banyak orang. Aku tidak sekalipun menoleh ke belakang.

Namun aku tahu betapa aku dibuntuti orang.

9 Menengok Pasar, Ramuan Sihir, dan Impian Naga Hitam

AKU melangkah dengan gontai di tengah kerumunan orang-orang yang lalu lalang di jalanan. Inilah kesempatanku untuk mengamati apakah ada yang berubah dan tidak berubah dalam 25 tahun terakhir. Rakyat jelata, orang-orang awam berkulit coklat yang lalu lalang masih berbusana seperti dulu, kain tanpa hiasan yang kusam, dililitkan sekitar pinggang, dengan tubuh bagian atas tanpa penutup dan tanpa hiasan apapun jua. Lelaki perempuan sama saja. Hanya rambut mereka masih berbeda gaya sanggulnya. Lelaki tersanggul ketat, seperti asal tidak mengganggu gerakan, sedangkan perempuan ada yang lebih memperhatikan keindahan, dengan menjatuhkan rambutnya ke pundak, menghiasinya dengan bunga, dan kadang-kadang berkalung dan bergelang pula, dari kulit, akar bahar, atau cetakan perunggu.

Namun di antara mereka, terdapat juga yang berbusana lebih mewah, dan tampak lebih kaya, atau mempunyai kedudukan tinggi, sehingga berhak mengenakan jenis busana tertentu untuk menunjukkan martabatnya tersebut. Maka tampaklah olehku mereka yang mengenakan ringring bananten (kain halus), patarana benanten, kain berwarna emas, pola patah, ajon berpola belalang, berpola kembang, warna kuning, bunga teratai, berpola biji, kain awali, dulang pangdarahan, dodot dengan motif bunga teratai hijau, sadangan warna kunyit, kain nawagraha, kain pasilih galuh-bahkan ada juga yang ditandu, dengan iringan budak belian dan hamba sahaya, berpayung kutlimo maupun payung lain yang bertingkat.

Aku teringat, hak untuk mengenakan kain yang bergambar emas bahkan tertulis dalam sebuah prasasti, seperti juga dengan hak memiliki perangkat makan sirih. Para pejabat tinggi akan tertandai bukan saja dari payung

yang mengiringinya, tetapi juga dari perhiasan gelang, sisir, dan ikat pinggang emas dengan perhiasan intan. Hak memasang payung putih atau payung kuning di depan rumah juga ditentukan berdasarkan kedudukan penggunanya

dalam masyarakat13. Aku melewati pasar yang terletak di dekat sungai14. Kulihat tumpukan bawang, beras, garam, gula, lnga (minyak), jahe, pja (ikan laut asin), buah-buahan terutama pinang di bagian makanan.

Kuhirup bau rempah-rempah seperti sirih dan kapulaga, kutatap warna-warni tumpukan durian, rambutan, manggis, jeruk, kecapi, sukun, langsat, jamblang, salak, nangka, jambu bol, wuni, mangga, pisang, dan kelapa. Aku menyuruk makin jauh ke dalam pasar besar di lapangan ini, sembari meyakinkan diri bahwa agen rahasia yang membuntuti aku masih menjalankan tugasnya. Ternyata memang begitu. Kadang-kadang aku berbuat seperti tidak sengaja menoleh ke arahnya, dan sosok yang membuntuti itu segera menyembunyikan diri.

Namun ada kalanya ia mendekat ke sampingku, seperti ketika aku memasuki bagian sandang dan berhenti di tempat amahang (bahan pewarna). Kemudian kulihat ia mendahuluiku di tempat wasana (pakaian), dan di belakangku lagi ketika aku menyusuri kios-kios para penjual kapas dan lawe (benang). Aku berjalan terus, sama sekali tidak berusaha menghindarinya, menyusuri pasar di bagian perlengkapan umum, tempat dijualnya galuhan (batu permata), gangsa (perunggu), anganam (keranjang), labeh (kulit penyu), makacapuri (kotak sirih), tamwaga

(peralatan tembaga), tambra (lempeng tembaga), timah, wsi (besi), maupun mangawari (permata).15

Di sini juga terdapat barang-barang yang dibuat para undhahagi atau tukang kayu, berikut alat-alat kerja para tukang seperti kapak, kapak perimbas, beliung, tampilan, linggis, tatah, parang, keris, pisau, sekop kecil, ketam, kampit, bor, tombak pendek, alat pemotong kuku, sikusiku, jarum, dan pemukul besi16, tempat aku melangkah dan menyelinap di antara deretan pedati, gerobak, dan kuda-kuda pengangkut, tetapi kubiarkan agen rahasia itu tetap berhasil melihatku dan aku sengaja mencari jalan ke sana kemari supaya ia tetap mencurigaiku. Di seberang jalan dari tempat sarana pengangkutan terdapat pasar hewan. Aku tidak masuk, tetapi hanya mengitarinya saja. Masih sama, dulu orang juga berjual beli kerbau, sapi, kambing, babi, dan unggas, terutama bebek.

Kuingat apa saja makanan hewani yang masih dimasak rakyat jelata sejak 25 tahun lalu, celeng (babi ternak), wok (babi hutan), kbo (kerbau), kidang

(kijang), wdus (kambing), sapi, wrai (kera), andah (bebek), angsa, ayam, kaluang (kalong), alap-alap (sejenis burung), sampai hewan-hewan air tawar seperti hayuyu (kepiting sungai), hurang (udang sungai), wagalan, kawan-kawan, dan dlag (ikan-ikan di sungai); hewan-hewan air laut seperti getam (kepiting laut), hnus (cumi), iwak knas (kerang), kadiwas, layar-layar, prang, tangiri, rumahan, slar (ikan-ikan di laut).

Kepala tuaku sudah tidak bisa mengingat, apakah ikanikan seperti bijanjian, bilunglung, harang, halahala, kandari termasuk ikan laut atau air tawar, tetapi beberapa jenis daging dan ikan juga diawetkan sebagai deng (dendeng) dan asin-asin (ikan asin), dan baunya sampai ke hidungku. Kura (kura-kura) juga mereka makan, tetapi tentu tidak selazim kerbau, kambing, dan itik yang memang

diternakkan.17

Aku berhenti, kurasakan sesuatu di punggungku. Rupanya darah dari luka-luka cambuk berduri itu lengket dengan bajuku. Aku memang tidak merasakan kesakitan yang mestinya dialami seseorang yang dicambuk, tetapi luka-luka itu tidak dengan sendirinya sembuh hanya karena aku memiliki tenaga dalam. Aku harus memanfaatkan obat yang diberikan para pengawal rahasia istana. Itupun aku tidak tahu bagaimana cara mengoleskannya ke punggungku. Aku harus mencari seorang tabib.

“Bapak, tunjukkanlah kepada sahaya rumah tabib,” ujarku kepada salah seorang yang lewat, ia juga sudah tua, hanya mengenakan kancut dan kepalanya bertutup serban. Kumis dan jenggotnya putih menutupi wajah.

Ia menunjuk sebuah umbul-umbul di seberang jalan, dan terkejut melihat lukaku.

“Datanglah ke sana orang tua! Lukamu sangat mengerikan! Apakah kesalahanmu sampai mendapat cambukan begini rupa?”

Aku sudah membuka mulut, mau mengatakan hanya perlu minta tolong seseorang yang sudi membubuhkan obat ke punggungku. Namun ia menukas.

“Cepat pergilah ke sana orang tua. Anakku sendiri yang menjadi tabib di sana.”

Aku siap melangkah ke arah umbul-umbul warna ungu yang berkibar di seberang jalan, tetapi dari belokan jalan muncul rombongan pejabat tinggi

sehingga semua orang harus bersujud ke tanah. Pejabat tinggi itu dari busananya tampak sebagai hakim, mungkin hakim tertinggi, karena ia berkendaraan seekor gajah. Ada tandu dengan tirai sutra keemasan yang tersibak di atas punggung gajah itu, dan di tengkuk gajah itu terlihat sais berkulit hitam legam yang masih muda sekali.

“Orang tua! Bersujudlah!”

Seorang pengawal yang menyisir tepi jalanan menekan pundakku agar aku bersujud ke tanah. Aku pun bersujud.

Kurasakan debum kaki gajah yang melangkah menuju ke gedung pengadilan, tempat orang-orang yang melanggar hukum diadili. Aku tidak habis pikir betapa peradaban tidak pernah menghapuskan kejahatan sama sekali. Seseorang bahkan tidak perlu bergabung dengan golongan hitam untuk melakukan kejahatan. Orang-orang awam yang tidak berilmu melakukan kejahatan dengan nekat mungkinkah karena segala bidang pekerjaan telah dikuasai orang-orang berilmu? Kalau orang awam tidak mampu menjadi pandai besi, pandai emas, pandai kayu, ataupun tukang jagal, mengapa mereka tidak mencari ikan, membajak di sawah, atau menjadi kuli?

Ketika menyamar sebagai tukang batu yang membangun candi jinalaya Kamulan Bhumisambhara aku pernah ditugaskan untuk memasang bagian-bagian gambar adegan perampokan. Tergambarkan dalam gambar di dinding itu seorang penjahat berwajah seram menyerang tiga orang sambil memegang pisau. Satu orang digambarkan jatuh dan kedua orang lain menghindar ketakutan sambil membela diri dari serangan. Digambarkan pula betapa barang-barangnya sebagian terbawa dan sebagian lagi jatuh ke tanah18. Memang banyak perampokan di jalur perdagangan, sedangkan peradaban tidak akan hidup tanpa jalur perdagangan tersebut, dan di jalur itulah perampok menanti di daerah terpencil, daerah perbukitan, daerah perhutanan, dan di daerah muara sungai yang berdelta19.

Kuingat pula ketika menyamar sebagai sais pedati pengangkut barang, di antara dua desa aku pernah dicegat para perampok yang tiba-tiba muncul dari balik pohon

beringin. Mereka menyerang serabutan ke arahku yang sedang mengangkut berkarung-karung beras. Segera kuraup segenggam beras dari salah satu karung yang terbuka dan kulemparkan ke arah mereka. Bulir-bulir beras itu

menotok berbagai jalan darah tertentu pada tubuh, sehingga para perampok yang kurang makan itu langsung lemas tanpa daya dan terpuruk seperti karung yang kosong.

“Orang tua! Untuk apa bersujud terus, rombongan rakryan mapatih20 itu sudah lewat!”

Aku beranjak. Orang-orang tersenyum.

“Orang tua pikun! Kenapa bisa dicambuk seperti itu?”

Waktu aku bersujud tentu saja seluruh punggungku yang bersimbah darah dan melengketkan kain baju koyak moyak itu pada kulit terlihat jelas. Namun aku segera ditinggalkan sendirian lagi, karena keberadaan seseorang yang dihukum rupa-rupanya bukan sesuatu yang harus membuat seseorang berhenti di jalan.

Di depan umbul-umbul aku menengok ke sana kemari. Di manakah rumah tabib? Kutanyakan kepada seorang perempuan tua yang kepalanya berserban dan dadanya bergelayutan.

“Tabib? Dukun maksudmu? Masuk saja ke dalam pura itu.”

Aku melangkah masuk. Seorang perempuan tua lain, yang kali ini kepalanya tidak berserban, tetapi dadanya juga bergelayutan, menyambutku.

“Orang tua, dikau mau berobat? Masuklah ke pintu itu.”

Aku melewati halaman tempat anak-anak dengan hidung ingusan bermain-main telanjang bulat. Banyak sekali anjing berkeliaran di mana-mana. Bahkan ada yang sedang berkelahi memperebutkan sepotong dendeng yang jatuh dari jemuran di atas atap.

Kusingkap tirainya. Tidak ada orang. Namun dari balik

dinding terdengar suara perempuan mengerang-erang

kesakitan, disambut suara lelaki membentak-bentak.

“Bacakan! Bacakan!”

Terdengar suara perempuan lain, membaca dengan terbata-bata.

“Setelah menekan dalam bejana berbentuk onta, janin abortus dari semua varna atau bayi mati di kuburan-lemak yang dihasilkan dari itu memungkinkan berjalan tanpa lelah sejauh seratus yojana.”21

Mendengar itu aku langsung menghilang. Berkelebat ke atas genting dan turun lagi di lorong bertembok bata merah di luar pura. Meski aku mampu menghilang dengan cepat, aku tidak mau pengawal rahasia istana yang

bertugas membuntuti kehilangan jejakku. Kulihat ia baru mau masuk ke dalam pura.

Kulempar pecahan genting agar dia menoleh. Sebelum dia menoleh aku sudah melangkah gontai ke arah sebaliknya dengan penuh makian dalam hati. Sudah makan asam garam kehidupan begini, hampir saja aku terjerumus ke dalam dunia mengerikan tersebut. Padahal aku hanya perlu seseorang untuk mengoleskan obat ke punggungku.

Tentu aku masih ingat nasihat-nasihat Kautilya untuk menipu musuh-musuh negara melalui ilmu gaib yang tidak pernah bisa diperiksa benar tidaknya! Seperti terdapat dalam Buku Keempatbelas : Mengenai Cara-cara Rahasia pada Bab 2 Bagian 177, yakni “Praktik-praktik Rahasia untuk Menghancurkan Pasukan Musuh”. Dalam campuran racun untuk membunuh musuh misalnya terdapat ramuan seperti ini: Bubuk kodok bertutul, serangga kaudinyaka dan krkana, pancakustha dan kelabang, bubuk uccidinga, kambali, satakanda, dihma dan kadal, bubuk cicak, reptil buta, karakntaka, serangga bau, dan gomarika, yang bercampur dengan air bhallataka dan

avalguja, menyebabkan mati secara langsung, atau disebabkan oleh asapnya.

Dari ramuan seperti ini, aku tidak menolak kemungkinannya membuat orang mati. Namun aku tidak akan pernah bisa mengerti kenapa reptil yang disebutkan itu harus buta matanya dan serangganya pun bau? Kukira itulah khayalan para dukun.

Perhatikan ini juga misalnya: Campuran kadal dan cicak menimbulkan lepra, yang sama dicampur dengan isi perut kodok berbintik dan madu menimbulkan sakit kandung kencing, dicampur dengan darah manusia menimbulkan sakit paru-paru.

Hmm.

Juga ini: Minyak biji mostar putih, digodok dengan butir gandum yang diambil dari tahi keledai putih yang diberi makan susu mentega dan gandum, setelah tujuh malam, adalah cara untuk membuat cacat.22

Benarkah ini juga dilakukan orang di India seribu tahun lalu?

Sedangkan yang bagiku sangat ajaib adalah dua ramuan ilmu halimunan berikut ini:

(1) setelah berpuasa selama tiga hari dan malam seseorang harus menyiapkan pada hari pusya, sebuah peniti dan tempat salep (yang) mengandung tulang paha seorang pembunuh kemudian, dengan mata dibubuhi bubuk dari salah satu mata, orang bisa bergerak tanpa tampak bayangan dan bentuknya

(2) setelah berpuasa selama tiga hari dan malam, seseorang harus menyiapkan pada hari pusya, sebuah tempat salep dan sebuah peniti dengan mengisi tengkorak salah satu makhluk

yang mengembara waktu malam

dengan salep mata,

lalu harus dimasukkan ke dalam vagina

wanita yang sudah meninggal

dan membakarnya

mengeluarkan salep itu pada hari pusya

harus disimpan dalam tempat salep itu

dengan mata dibubuhi (salep) itu

seseorang bergerak

tanpa kelihatan bayangan dan bentuknya23

Ilmu sihir, ilmu hitam, ilmu gaib, aku tidak pernah mengerti dan tidak merasa perlu mengerti cara bekerjanya. Bukan karena ilmu itu bersifat jahat dan hanya bertujuan mencelakakan orang, melainkan karena terlalu mirip dongeng yang memualkan perut, meski dalam kehidupan awam sangat dipercaya. Adalah kepercayaan ini yang membenarkan keberadaan para dukun, yang dengan bersemangat akan mengembangkan khayalan dalam dongengan berbahasa meyakinkan.

Mendadak di hadapanku muncul orang tua berjenggot putih, yang mengenakan kancut dan serban putih tadi.

“Sudah berjumpakah dikau dengan anakku, wahai orang tua?”

Aku terperangah. Teringat janin yang akan menjadi korban.

“Ah! Dikau pasti salah masuk ke rumah dukun sihir yang tolol itu! Hahahaha! Ikutilah aku!”

Begitulah aku sampai di rumah sebelahnya, yang hanya berdinding bambu dan beratap rumbia. Kunikmati diriku tidur tengkurap di sebuah dipan kayu

berkasur jerami dalam kain lurik. Aku berada dalam perawatan seorang tabib muda yang mengerti apa artinya menyembuhkan seseorang dengan ramuan obat, bukan dengan ilmu gaib yang menolak dipahami.

Obat pemberian orang-orang yang menyiksaku memang

bagaikan pemunah terbaik dari akibat siksaannya. Tabib muda itu mengoleskannya dengan hati-hati sepanjang luka-luka cambukan berduri di punggungku. Bajuku yang koyak tergantung di dinding. Di dalam kantung sebelah dalam terdapat pundi-pundi uang dan lembaran lontar dengan gambarku.

“Orang tua, minumlah ramuan ini, akan mempercepat sembuhnya luka-lukamu.”

Aku meminumnya dengan penuh kepercayaan. Apalah yang lebih bisa dipercaya daripada seorang tabib, dalam negara yang penuh ilmu sihir ini? Jika bahkan prasasti yang resmi berisi kutukan untuk menakut-nakuti, apakah yang masih bisa diharapkan dari seorang awam di Yawabumi yang jiwanya harus dilindungi, selain kepastian sebuah cara berpikir yang memang mengandalkan akal dan budi?

Sembari terbaring dengan perasaan sejuk dan nyaman, kubayangkan Yawabumi telah menjadi gelap dalam dekapan naga raksasa yang hitam, kejam, dan sangat menakutkan. Kulihat mata Naga Hitam ini berkedip-kedip karena silau, oleh cahaya terang yang datang dari puncak sebuah stupa. Naga Hitam ini mengaum takrela melepas Yawabumi dalam dekapannya, tetapi cahaya yang amat sangat menyilaukan telah menggelisahkannya. Ia mengaum dan menggeliat-geliat, tetapi akhirnya terbang mengangkasa, membuat Yawabumi yang semula gelap kembali terang. Sayup-sayup seolah terdengar bisikan Pembuka Mata.

bayangkanlah

Sri Bhatara Vajrasattva

di dalam matamu

ia akan membuka matamu

berbesar hatilah

terbuka matamu

terlihat

Sang Hyang Mandala24

Angin dari sebuah kipas besar membelai diriku pelahanmembawaku makin jauh ke alam mimpi.

10 Kisah Rakit dan Perbincangan yang Kudengar

KUSAKSIKAN pemandangan sebuah sungai. Permukaan sungai itu berkilauan memantulkan cahaya. Kemudian dari balik lembah sungai muncul sebuah rakit. Apakah dalam mimpi ini aku bermaksud menyeberang? Rakit itu datang bersama arus dengan seorang tukang rakit di atasnya. Namun aku merasa tidak dapat menatapnya dengan jelas karena cahaya berkilauan di atas sungai itu kemudian menjadi sangat menyilaukan.

Berapakah rakit yang datang ke arahku itu? Satu atau dua? Apakah ini karena permainan cahaya? Tentu aku bisa menyeberang tanpa rakit sebetulnya, cukup asal telapak kakiku bisa menyentuh benda-benda yang terapung di sungai. Aku pernah menyeberangi sebuah sungai deras dengan jembatan udara, yakni setiap kali melemparkan potongan lontar ke depan untuk kujadikan pijakan, dan begitu seterusnya sampai ke seberang. Namun lontar berisi kisah Mahabharata itu langsung hilang di sungai begitu aku menginjaknya. Tentu saja aku sangat sedih, tetapi saat itu aku harus memburu lawan yang tidak mungkin kubiarkan hidup.

Rakit-rakit ini datang dalam mimpiku dan aku tidak bisa bergerak. Kalau mau menyeberang, aku harus menggunakan salah satu rakit itu, tetapi yang mana? Tadi sepertinya rakit itu satu, tetapi sekarang menjadi dua. Tukang rakitnya, yang menghela rakit dengan bambu panjang untuk menekan dasar sungai, juga menjadi dua.

“Mau menyeberang Bapak? Naiklah ke rakit sahaya.”

“Naik ke rakit sahaya saja Bapak, lebih nyaman dan lebih cepat mencapai tujuan.”

Aku tahu, menumpang rakit yang manapun akan sama saja rasanya dan juga sama saja cepatnya untuk sampai ke seberang. Namun aku tetap harus menentukan pilihan. Bagiku, ini cukup membingungkan, karena menentukan

pilihan harus mempunyai suatu dasar dan alasan.

Kutatap lagi, ternyata salah satu rakit itu memecah diri lagi, sehingga semuanya menjadi tiga rakit dengan tukang rakitnya masing-masing.

“Naik ke rakit sahaya saja, Bapak,” ujar tukang rakit yang ketiga, seperti sengaja menambah kebingunganku.

Jika ingin sampai ke seberang, aku harus memilih salah satu dari ketiga rakit itu, padahal tiada perbedaan apa pun di antara ketiga rakit, yang membuat aku setidaknya memiliki alasan untuk memilih salah satu.

Ternyata rakit yang satunya juga membelah diri, bahkan menjadi tiga, sehingga kini terdapat lima rakit menuju ke arahku.

“Naiklah rakit sahaya Bapak, naiklah rakit sahaya saja!”

Lima rakit dengan tukang rakitnya masing-masing menuju ke arahku, dalam silau cahaya mereka tampak timbul dan tenggelam bagai sosok bayang-bayang. Permukaan sungai bercahaya menyilaukan.

Banyak pilihan tidak selalu membuat segalanya lebih mudah-tidak ada pilihan lain jauh lebih mudah, meski ketiadaan pilihan bagaikan suatu nasib yang memaksa kita untuk pasrah.

Namun, bagaimana kalau kita tidak usah memilih saja? Meski hanya ada satu pilihan di depan kita?

Kemudian muncul rakit yang keenam. Rakit ini kecil sekali. Justru karena itu tukang rakitnya mampu membawa rakit itu melaju lebih cepat, menyalip kelima rakit yang lain, dengan segera menuju tempatku berdiri. Hmm. Aku memang tidak punya pilihan lain kali ini, tetapi aku juga mempunyai alasan yang kuat.

Aku tidak menunggu rakit itu mendekati tepi sungai. Aku telah menjejakkan kaki dan melayang. Dengan sekadar menyentuhkan kaki pada daun-daun yang terapung pada permukaan sungai aku segera tiba di atas rakit itu.

“Bapak, mau menyeberang?” Tukang rakitnya bertanya.

“Tentu saja menyeberang, kamu pikir apa

pekerjaanmu?”

“Sahaya tidak hanya memberi jasa pelayanan agar penumpang bisa sampai ke seberang, sahaya juga membawa penumpang ke hulu maupun ke hilir, ke mana pun penumpang menghendakinya.”

“Kamu bisa membawaku ke mana saja?”

“Ya, sahaya bisa membawa Bapak ke mana sahaja.”

“Kalau begitu bawa aku ke suatu tempat di mana aku bisa melihat dunia.”

Tukang rakit itu tersenyum.

“Melihat dunia? Bukankah kita berada di dalam dunia ini Bapak?”

“Bukankah kamu bisa membawa penumpang ke mana saja dia menghendakinya?”

“Benar Bapak, sahaya sanggup membawa Bapak ke tempat Bapak dapat melihat dunia.”

“Kalau begitu bawalah aku ke sana segera.”

“Baik Bapak, tetapi itu berarti kita harus ke luar dari dunia.”

Aku tertegun.

“Tidak mungkin kita melihat dunia dari dalam dunia bukan? Kita hanya bisa melihat dunia dari luar dunia.”

“Apakah itu mungkin?”

“Sahaya sanggup membawa Bapak ke sana, masalahnya apakah Bapak masih bersedia pergi ke sana?”

“Pertanyaanku, apakah masih mungkin ada sebuah tempat di luar dunia? Bukankah tiada yang ada di luar dunia?”

“Itulah menariknya dunia ini Bapak, bagaimana yang tidak mungkin menjadi mungkin! Nah, kita jadi pergi ke sana atau tidak?”

Hanya itulah tujuan hidupku di dunia ini. Tidak lebih dan tidak kurang, memahami segala sesuatu tentang dunia. Itulah sebabnya aku selalu mencari tempat yang memungkinkan aku melihat dunia. Pertanyaan tukang rakit itu sungguh benar adanya: Bagaimana mungkin kita bisa melihat dunia dari dalam dunia? Namun meski kami

tidak mungkin keluar dari dunia supaya bisa melihat dunia, tukang rakit dari rakit yang terkecil ini sanggup membawaku ke tempat semacam itu. Mungkinkah? Aku tentu saja penasaran.

“Jadi, mari kita berangkat.”

SEPERTI masih terdengar desisan sungai ketika aku menyadari diriku masih tidur tengkurap di ruangan tabib muda itu, dan mendengar bisik-bisik percakapan mereka. Maka meski masih tengkurap, aku tetap mengatur nafas seperti orang tidur dan tetap memejamkan mataku.

“…Ayah, orang tua ini menyimpan banyak uang di kantongnya, dan ia juga menyimpan selebaran tentang perburuan Pendekar Tanpa Nama.”

“Apa yang aneh dengan itu, semua pemburu hadiah memegang selebaran semacam itu, dan kenapa seseorang mesti tidak punya banyak uang jika bekerja…”

“Entahlah, aku tidak merasa dia seperti seorang pemburu hadiah, dan juga bukan orang yang tampak selalu bekerja keras. Lagipula cambukan yang di dapatnya mengandaikan dia seorang musuh negara…”

“Musuh negara? Hmm. Apa salahnya dengan itu?” “Dia bisa membahayakan kita. Mungkin dia dimata

matai.”

“Hmm.”

“Juga aku menemukan perkara lain.”

“Apa itu?”

“Rambutnya…”

“Kenapa rambutnya?”

“Tadi aku tidak sengaja, tanganku masih beroles minyak penghilang warna sehabis membersihkan patung, lihat…”

Mungkin ia menunjukkan rambut pada bagian kepala yang dipijat.

“Aaahhhh…?”

Mereka bercakap begitu pelahan, tetapi aku mendengar desisan bernada khawatir.

“Siapa dia kiranya?”

“Dia jauh lebih tua dari tampaknya, mungkin lebih tua dari Ayah…”

“Apa yang harus kita lakukan?”

Dalam pura-pura tidurku, aku juga belum tahu apa yang harus kulakukan. Segalanya bagaikan menggelinding begitu cepat setelah penyerbuan para pembunuh ke gua tempatku bersembunyi selama 25 tahun. Setelah seperempat abad tenggelam dalam samadi, tidak terlalu mudah bagiku kembali ke dunia ramai dengan segala muslihat yang menutupi segenap kepentingan. Namun aku tidak mungkin meninggalkan dunia ramai ini sekali lagi sebelum misteri terpecahkan. Meskipun aku telah menjadi sangat terlatih dalam olah tubuh dan pernapasan seperti yang dijalankan para ahli yoga, jiwaku bukanlah jiwa seorang brahmana atau bhiksu yang menjadikan nirwana sebagai tujuannya. Aku hanyalah seorang pengembara di sungai telaga dunia persilatan, yang mencari ilmu sebanyak-banyaknya sekadar

demi kesenangan, bahkan tidak merasa terlalu wajib mengabdikan diri untuk membela kebenaran dan keadilan.

“Apakah dia bisa menjadi masalah bagi kita?”

“Kita belum tahu Ayah, tetapi Pendekar Tanpa Nama dianggap sebagai musuh negara paling berbahaya saat ini, dan kita belum tahu apakah dia teman atau lawan pendekar yang sudah lama menghilang itu.”

Aku masih memejamkan mata. Aku sudah menghilang 50 tahun semenjak peristiwa Pembantaian Seratus Pendekar. Seharusnya lebih dari cukup untuk membuat siapapun di dunia persilatan, apalagi orang-orang awam, untuk melupakan diriku. Namun dalam kenyataannya justru berkembang sebuah cerita baru tentang diriku, yang tidak pernah kuketahui sama sekali! Bagaimana caranya aku telah menjadi musuh negara yang paling berbahaya

saat ini pula? Ingin sekali aku bertanya!

Kudengar ayahnya mendesah.

“Hhhhhh! Pembantaian Seratus Pendekar… Bahkan pahawuhawu dan atapukan telah membuat wayang topeng tentang peristiwa itu.”25

“Ayah tahu peristiwa itu?”

“Aku masih berumur 20 tahun ketika peristiwa itu terjadi, orang membicarakannya di kedai dan di pasarpasar.”

“Apa sebetulnya yang terjadi, sampai Pendekar Tanpa Nama harus membantai seratus pendekar itu?”

“Ah, itu bukan seratus pendekar, lebih dari separonya golongan hitam. Tetapi tewasnya para pendekar golongan putih dan golongan merdeka dalam jumlah yang lumayan banyak dengan seketika itu mempunyai akibat, karena kejahatan yang tumbuh di mana-mana lantas menjadi sulit dibasmi.”

“Apakah itu dianggap sebagai dosa Pendekar Tanpa Nama?”

“Mungkin. Aku tidak tahu. Bagiku bukanlah tugas para pendekar untuk saling bertarung seperti itu.”

“Aku juga tidak mengerti Ayah, orang-orang dunia persilatan itu, kenapa kedudukan sebagai pendekar nomor satu menjadi terlalu penting?”

“Itulah kalau orang hanya diajarkan untuk berkelahi, tanpa ada yang lain lagi, mereka pikir kalau sudah tidak pernah kalah maka hidupnya menjadi sempurna.”

Hmm. Pendapat ayahnya itu sebagian benar, dan sebagian lagi tidak, karena ilmu silat yang paling dangkal pun dilandasi suatu falsafah. Jadi orang belajar silat tentu

tidak hanya belajar berkelahi. Namun memang benar banyak orang belajar ilmu silat hanya dengan maksud belajar berkelahi, meskipun itu membela diri, dan tidak mampu menangkap ilmu yang tersirat dari ilmu silat itu.

SELAMA aku menjelajahi rimba hijau dunia persilatan, kupelajari betapa ilmu silat hanya dapat menjadi ilmu jika segenap gerak, jurus, siasat, dan tipu dayanya, dipertimbangkan sebagai bentuk suatu cara berpikir. Hanya dengan begitu ilmu silat itu akan menjadi milik siapa pun yang mempelajarinya, menjadi ilmu yang dimiliki dan mewakili pemikirannya sendiri.

Pendapat orang tua berjenggot dan berkumis putih itu juga benar, ketika ia menggugat kemenangan sebagai bentuk kesempurnaan. Menurut pendapatku, dalam ilmu silat, mengalami kemenangan dan kekalahan jauh lebih sempurna sebagai pengalaman daripada selalu menang tanpa pernah terkalahkan.

Itu berarti ilmu silatku belum mencapai kesempurnaan, karena aku belum pernah mengalami kekalahan.

***

“AYAH, jadi siapakah kiranya orang tua ini? Dia dicambuk seperti itu. Hanya mungkin dilakukan dinas rahasia yang memiliki dan menguasai segala jenis alat maupun cara menyiksa.”

“Aku juga tidak tahu bagaimana mesti menghubungkan luka-lukanya itu dengan Pendekar Tanpa Nama, tetapi kita wajib menolongnya.”

“Tentang ajaran rahasia itu, benarkah Ayah?”

“Kenapa dengan ajaran rahasia?”

“Bukankah Pendekar Tanpa Nama dianggap bermasalah dengan ajaran rahasia yang tidak boleh diajarkannya?”

Telingaku menegang.

“Aku tidak pernah tahu soal itu. Tidak ada penjelasan dalam selebaran itu bukan?”

“Itu yang kudengar dibicarakan semenjak selebaran itu ada di mana-mana.”

“Apa masalahnya?”

Rasanya aku ingin berbalik dan ikut membicarakannya, karena barangkali aku bisa menggiring perbincangan ke arah yang kukehendaki. Namun aku masih menunggu.

“Pendekar Tanpa Nama dianggap menyebarkan ajaran sesat dengan sengaja untuk menghina agama.”

Bagaimana mungkin! Seseorang telah mengisi hilangnya diriku dengan omong kosong! Dalam sekejap seluruh riwayat hidupku berkelebat dalam benakku. Bagian manakah dari riwayat hidupku yang begitu keliru sehingga barangkali saja benar kiranya yang dikatakan orang-orang itu? Aku mencoba berprasangka baik bahwa mungkin saja memang ada sesuatu yang ditanggapi secara keliru.

Namun tak bisa pula kusangkal dugaanku sendiri, betapa menghilangnya diriku yang begitu lama dari dunia persilatan telah dimanfaatkan demi suatu kepentingan tertentu. “Menghina agama? Sejauh yang kudengar Pendekar Tanpa Nama itu tidak terlalu peduli dengan agama. Bagi para pendekar golongan merdeka seperti Pendekar Tanpa Nama, tidakkah ilmu silat itu sendiri bagi mereka sudah berlaku sebagai agama?”

“Itulah yang kudengar dalam perbincangan di kedai, Ayah…”

“Kukira sebenarnya tidak ada yang peduli apakah Pendekar Tanpa Nama itu bersalah atau tidak. Mereka hanya peduli dengan hadiah sepuluh ribu keping emas.”

“Aku juga berpikir seperti itu Ayah, lagipula menurut aku apa salahnya menyebarkan suatu ajaran rahasia? Bukankah pengetahuan itu seharusnya menjadi milik semua orang?”

“Itulah persoalannya anakku, dengan memiliki pengetahuan seseorang memiliki kekuasaan.”

Orang tua berjenggot putih itu benar, tetapi kebenaran diriku belum juga terungkap, bahkan ketidak benarannya bisa diterima sebagai kebenaran baru. Betapa kebenaran itu ternyata seperti ruang kosong yang akan diperebutkan

siapapun yang berkehendak mengisinya.

Ajaran rahasia apakah yang mereka maksudkan itu? Kuingat perbincangan di kedai yang menghubungkan Jurus Tanpa Bentuk dengan pengetahuanku atas suatu ajaran rahasia. Dunia persilatan ternyata tidak begitu terasing dari dunia awam seperti yang kusangka. Orang-orang awam yang tidak pernah

bersilat satu jurus pun berbicara tentang ilmu silat dengan lebih fasih daripada para pendekar itu sendiri. Orang-orang di rimba hijau telah meremehkan kemampuan orang-orang awam untuk memanfaatkan dunia persilatan demi kepentingan mereka.

Persoalannya, masih mungkinkah aku melacak sumber segala cerita tentang diriku ini? Masih mungkinkah membongkar dongeng dan menemukan sumbernya yang pertama? Namun jika terdapat lebih dari satu sumber yang saling tidak mengenal tetapi saling menambahi arti, masih mungkinkah aku menemukan seseorang yang bisa kuanggap sebagai bersalah?

Aku belum mendapatkan kisah tentang Pendekar Tanpa Nama yang sudah beredar itu dengan selengkapnya, tetapi sudah jelas itu merupakan riwayat yang terbangun bukan atas nama diri yang kuhayati detik ini. Aku tidak pernah menceritakan riwayat hidupku kepada siapapun, tiada seorang pun, siapapun tidak, dan kukira tidak akan pernah, karena kuanggap diriku tidak perlu ada sebagai seseorang yang pernah ada.

Aku telah menghilang untuk menghilangkan diriku. Siapa nyana diriku terhadirkan begitu rupa di luar kehendakku? Apakah yang tidak lebih berlawanan dari diriku selain dinyatakan sebagai orang yang paling berbahaya untuk negara karena menghina agama?

Aku telah menjadi bukan diriku. Tiada kenyataan yang lebih menyakitkan bagi seorang pengembara di sungai telaga dunia persilatan, yang menempuh jalan pertarungan antara hidup dan mati untuk mencari nama, selain mendapatkan nama yang bermakna sebaliknya! Aku memang disebut sebagai Pendekar Tanpa Nama, karena

tiada pernah seorang pun kuberi kesempatan untuk mengetahui diriku ini siapa -tetapi itu tidak berarti maknanya bisa ditafsirkan seenak perut mereka!

Kuputuskan untuk membuka mata.

11 Rajamangsa; Agen Rahasia Ganda; Kepada Siapakah Kita Harus Percaya?

AKU membuka mata. Mereka tidak berada di ruangan ini. Aku masih tengkurap. Kudengar mereka masih berbisikbisik di ruangan sebelah.

“Ayah, nanti malam mereka akan memainkan Pembantaian Seratus Pendekar itu…”

“Hhhh… Salah satu korban pembantaian itu adalah kakekmu.”

“Ya, ayah pernah bercerita tentang itu, dan ilmu pengobatan ini adalah warisan beliau.”

“Ia juga berpesan agar kita tidak menaruh dendam, karena kematian dalam pertarungan adalah jalan seorang pendekar.”

Mereka terdiam. Aku menahan nafasku. Itulah yang tidak pernah terpikir pada masa lalu oleh kepalaku. Mereka yang tewas mungkin punya keluarga, yang meskipun rela, tidak akan pernah melupakannya.

Siapakah kakek dan ayah dari bapak-anak yang telah merawatku ini? Bukankah tidak terlalu mudah menerima kebaikan dari keturunan seseorang yang tewas di tanganku, betapapun melalui tata nilai yang tersahihkan dalam rimba hijau? Aku tak berusaha mengingatnya karena merasa akan sia-sia. Barangkali aku mengingat seratus lawanku malam itu, tetapi jelas sulit menentukan siapa kiranya yang ilmu pengobatannya tergunakan kepada diriku sekarang ini. Lima puluh tahun telah berlalu. Peristiwa itu tidak dilupakan, bahkan mengilhami pertunjukan wayang topeng. Bagaimanakah pandangan banyak orang atas peristiwa itu? Seberapa jauh orang-orang awam memahami dunia orang-orang sungai telaga dunia persilatan?

Aku menggerakkan tubuh, balai-balai kayu itu berbunyi, dan mereka bergegas datang dari ruang sebelah.

“Sudah bangun Bapak? Minumlah dan silakan makan. Bagaimana rasa punggungnya?”

Aku tidak segera menjawab, tetapi kurasakan seperti sudah hilang luka-luka karena cambuk berduri itu. Kalau memang sudah sembuh, obat mereka sungguh-sungguh mujarab!

“Maafkan kami tidak dapat menghilangkan bekas luka itu Bapak, bekas itu tidak bisa hilang…”

Maksud mereka jelas, banyak orang akan mengetahui aku pernah dicambuk oleh alat negara, selama aku tampak di jalanan tanpa jubah yang menutupi seluruh tubuh. Aku jadi teringat baju berkantung dan isinya.

“Baju Bapak sudah sobek, bahkan hancur punggungnya, kami terpaksa membuangnya. Sebagai gantinya kami sediakan kain yang bisa dipakai sebagai jubah. Ini milik Bapak yang terdapat dalam kantung baju Bapak…”

Aku beranjak bangkit. Ingin sekali melihat punggungku, tetapi tidak semua orang memiliki cermin sebagai bagian rumahnya. Bahkan aku sudah terlalu lama tidak tahu bentuk rupa wajahku sendiri. Tabib muda itu mengulurkan pundi-pundi kulit dan lembaran lontar dengan gambar diriku sendiri.

Kami saling berpandangan, tetapi kurasa ia tidak mengenaliku. Meski ia mengetahui rambutku hitam karena disemir, aku telah mencukur kumis dan jenggot, dan aku tahu itu akan sangat menyamarkan siapa diriku sebenarnya.

“Bapak membawa gambar Pendekar Tanpa Nama yang diburu negara? Apakah Bapak seorang pendekar yang sedang memburunya?”

Memalukan sekali tentunya, jika mengaku pendekar tetapi memburu hadiah dari pencelakaan orang lain pula.

“Ah, sahaya bukan seorang pendekar, sahaya hanya menemukannya tergeletak di jalanan. Sahaya hanya seorang paria pengembara, candala tiada berharga yang tidak memiliki kepandaian apa pun jua. Terima kasih

banyak dan maaf telah menyibukkan Bapak berdua.”

Wajah mereka jelas tak percaya, tetapi mereka tampaknya percaya aku bukan orang yang jahat. Dari dalam muncul seorang perempuan muda, mungkin istri tabib muda ini. Ia membawa talam berisi piring dan gelas tanah liat, yang langsung diletakkan di balai-balai tempatku tidur. Ia mengenakan kain yang dicelup warna merah, dikenakan dari pinggang ke bawah. Rambutnya yang panjang tampak diminyaki sehingga berkilat. Dadanya bidang dan buah dadanya membusung. Seorang anak ingusan usia dua tahun tampak memegangi kainnya itu.

“Silakan dimakan Bapak, maaf tidak ada makanan lain di sini.”

Aku makan dan mereka semua duduk di bawah memandangiku.

“Kakek sahaya, orang tua ayah sahaya juga tewas di tangan Pendekar Tanpa Nama dalam peristiwa Pembantaian Seratus Pendekar. Apakah Bapak pernah melihat Pendekar Tanpa Nama itu? Karena tampaknya usia Bapak sudah sangat lanjut, meski Bapak memang sehat sekali.”

Dia seorang tabib yang baik, aku tidak bisa berpurapura jadi gelandangan dengan sakit paru-paru di hadapannya. Namun kurasa ia hanya ingin menunjukkan betapa ia tahu masalah disemirnya rambutku.

“Pendekar Tanpa Nama? Bagaimana mungkin sahaya melihatnya, bukankah siapa pun yang pernah melihatnya pasti akan mati?”

Mereka menghela nafas.

“Memang cerita semacam itulah yang kami dengar. Bahkan ia mendapat nama Pendekar Tanpa Nama karena kesempatan untuk mengenali apa pun darinya hanya berakhir dengan kematian.”

Cerita ini tentu tidak sepenuhnya benar. Bukankah Pendekar Naga Emas masih hidup ketika meninggalkan aku? Begitu juga dengan Pendekar Melati. Namun aku

tiba-tiba seperti menemukan jalan masuk ke dalam penyelidikanku.

“Tapi jika memang begitu, bagaimana kiranya gambar Pendekar Tanpa Nama terdapat pada lembaran lontar seperti itu dan tersebar di antara para pemburu hadiah dan pembunuh bayaran?”

Mereka saling berpandangan. Adakah kata-kataku yang salah? Aku merasa terlalu fasih bicara jika mengaku sebagai candala hina dina. Tabib muda itu menjawab.

“Itulah yang kami tidak mengerti dan tidak seorang pun mengerti. Namun karena ini datang dari istana, sebagai pengumuman negara, banyak orang percaya saja, dan bagi pemburu hadiah hanyalah janji hadiah uang itu yang mereka pikirkan.”

Ayahnya menambahkan.

“Kenyataan bahwa Pendekar Tanpa Nama itu tidak terkalahkan dengan Jurus Tanpa Bentuk yang dikuasainya seperti sudah dilupakan. Bahkan mereka mengira jika Pendekar Tanpa Nama kini sudah berusia 100 tahun tentu lebih mudah mengalahkannya.”

Hmm. Setelah 50 tahun berlalu, pengetahuan yang agak mendekati kenyataan tentang diriku memudar, tetapi sebaliknya beredar cerita ibarat dongeng justru karena tidak mengenali kenyataannya tersebut.

Aku makan dengan lahap. Ternyata aku kelaparan. Kuperhatikan, makanan ini merupakan rajamangsa atau makanan yang biasa dimakan raja. Dalam prasasti bahkan makanan yang hanya berhak disantap bangsawan itu dipahatkan, seperti kambing yang belum keluar ekornya, penyu badawang, babi liar pulih, babi liar matinggantungan, taluwah, anjing yang dikebiri26, dan sebagainya- tapi yang kumakan ini tak jelas bagiku, karena sudah dimasak dan diberi bumbu.

“Itu penyu badawang masak kari, Bapak, istri saya adalah juru masak istana, jadi bisa membawa pulang

rajamangsa,” ujar tabib muda itu, seperti bisa membaca apa yang sedang kupikirkan.

Aku mengangguk-angguk sambil menelan makanan. Sudah lama aku hanya makan daun-daunan mentah dan lebih mengandalkan zat asam dan air yang begitu penting bagi tubuh untuk bertahan hidup. Sekarang aku makan nasi hangat berkepul-kepul.27 Hmm. Apa yang dicari seorang pendekar dengan segala tapabratanya, jika hanya dengan menjadi orang awam saja kita bisa bahagia? Nun di suatu tempat yang sunyi dan sepi, barangkali dua orang pendekar sedang bertarung mengadu jiwa-apakah yang mereka cari sebenarnya, setelah ilmu silat salah seorangnya terbukti unggul dan pendekar yang lain terkapar tinggal nama? Kehormatan dalam jalan pertarungan, itulah pertaruhan filsafat seorang pendekar. Sampai setua ini, aku belum mampu menjawab, seberapa jauh kehormatan itu begitu tingginya sehingga nyawa yang melayang seolah tiada artinya. Nasi yang hangat dengan lauk rajamangsa ini membuatku berpikir bahwa kehidupan ini sungguh layak dijalani. Namun seberapa lama seseorang yang berumur seratus tahun masih bisa terus hidup?

Aku teringat agen rahasia yang membuntutiku, apakah dia masih di luar? Aku tahu dia akan terus membuntuti aku selama kecurigaannya belum terpuaskan, dan aku membutuhkan kecurigaannya itu agar aku dapat membongkar segala sesuatu yang direncanakan istana terhadap Pendekar Tanpa Nama.

Di luar, seseorang mengucapkan salam, dan tabib itu keluar. Agen rahasia itu sudah muncul di depan pintu.

“Bisakah mengurutkan pinggang saya Bapak? Rasanya sakit sekali.”

Dia berpura-pura sakit pinggang. Sama sekali tidak melirikku. Sebaliknya aku punya banyak alasan untuk

menatapnya dengan jelas. Ia bukan salah seorang perempuan pengawal rahasia istana yang menguasai ilmu pedang Suksmabhuta itu. Mungkinkah ia tidak berasal dari tempat yang sama?

Inilah intrik kalangan awam yang kubenci. Permusuhan tidak berlangsung terus terang. Betapa sulitnya memastikan dari pihak mana orang ini

membuntutiku. Memang ia membuntuti aku setelah keluar dari rumah kepala dinas rahasia, tetapi apa jaminannya ia berasal dari sana atau bekerja untuk mereka juga? Aku jadi teringat ketentuan Arthasastra lagi, pada Bab 3 Bagian 173 tentang “Mempekerjakan Para Agen Rahasia”, terutama Pasal 1, 2, dan 5:

ia hendaknya membuat

seorang kepala gerombolan yang dapat dipercaya

(berpura-pura) membelot

dengan berlindung pada musuh,

ia hendaknya membawa teman

dan rekan dari negerinya

dengan dalih

keberadaan mereka adalah

dari kelompoknya sendiri

setelah mendapat kepercayaan musuh

ia hendaknya mengirim berita

kepada majikannya28

Ingatan ini membuat aku mempertimbangkan kemungkinan terdapatnya agen rahasia ganda. Mereka bisa berbuat sangat banyak, seperti tertulis dalam Pasal 3:

atau dengan membawa masuk para agen rahasia

setelah mendapat persetujuan musuh

ia hendaknya menghancurkan

kota majikannya yang berkhianat

atau tentara tanpa gajah dan kuda

yang berkhianat di belakang majikannya

dan hendaknya memberi tahu musuh29

Agen rahasia ganda sebetulnya paling berbahaya, karena kedua majikannya tidak pernah akan tahu dia bekerja untuk siapa. Bisa juga dia tak berpihak dan bekerja untuk dirinya sendiri saja. Tentu pada saat yang genting dia harus memilih-tetapi pilihan dan kesetiaannya sangat sulit diduga. Dalam Bab 6 Bagian 144 tentang “Berbagai Bahaya yang Berkaitan dengan Pengkhianat dan Musuh”, dalam Pasal 8 dan 11 Kautilya berkata:

karena yang berkhianat dan tidak berkhianat

bergandengan tangan

maka itu adalah bahaya campuran

karena sekutu dan musuh menjadi satu

itulah bahaya campuran dengan musuh30

Seorang agen rahasia memang harus cerdas. Salah satu syarat pengangkatan adalah mereka yang tergolong kapatika chatra atau murid yang cerdas.31 Persyaratan ini dapat dipahami jika membaca nasihat-nasihat Kautilya bagi pengelola negara, bahwa penguasa selalu berada dalam bahaya pengkhianatan dan bahwa pengkhianatan itu harus segera diketahui. Persoalanku adalah, kepada penguasa macam apakah kiranya kecerdasan itu mengabdi?

Lamunanku tentang agen rahasia ganda itu belum selesai, ketika makananku ternyata sudah habis. Istri tabib yang dadanya padat membusung itu segera menyodorkan minuman. Aku minum dan merasa agak asing dengan rasanya. Baru seteguk aku sudah merasa pusing. Hmm. Ramuan apa pula ini? Mendadak dari dalam kamar sebelah, tempat orang yang semula kuduga pengawal

rahasia istana itu dibawa untuk pijat, terdengar jeritan. Aku tahu itu jeritan si tabib muda.

Pada pintu muncul tabib muda itu. Orang yang membuntuti aku telah melepas serban yang tadinya juga menutup seluruh wajah kecuali matanya, sehingga rambutnya yang panjang bergelombang jatuh ke pundak. Ia juga telah melepas jubahnya, hanya berkain putih dari pinggang ke bawah. Dadanya kecil, padat seperti buah manggis. Ia berkulit sangat putih dan ternyata sangat cantik, tetapi aku tidak bisa mengagumi keindahannya kalau ia sedang memegang tengkuk dengan cekalan mematikan seperti itu.

“Mengaku!” Ia membentak tabib muda itu.

Tabib muda itu membuka mulut, tetapi tidak ada suara yang keluar. Perempuan itu mengeraskan cekalannya.

“Ahck!”

“Mengaku!”

“Ya, ya, sahaya mengaku…”

“Mengaku apa?!”

‘‘Bermaksud mencuri pundi-pundi itu…”

Hah? Sebegitu lengahnya aku? Tapi?

“Hanya itu?”

Cekalan mengeras lagi.

“Ahhhhcccckkk!”

“Bicara!”

“Sebenarnya sahaya diperintahkan memberikan minuman itu…”

Ah! Aku sudah menduga! Kewaspadaanku meningkat seketika.

“Untuk apa minuman itu?! Atas perintah siapa?!”

“Itu minuman untuk menghapus ingatan…”

“Kenapa?”

“Karena ingatan beliau sangat berbahaya…”

Ingatan yang mana? Ingatan bahwa aku disiksa? Ataukah ingatanku sebagai Pendekar Tanpa Nama? Tapi benarkah mereka mengenaliku tanpa berusaha menangkapku?

“Atas perintah siapa, wahai tabib muda yang budiman?”

Aku masih berkutat dengan samaranku. Untunglah hal itu kulakukan, karena aku ternyata masih mampu memergoki, betapa perempuan tersebut telah membunuh tabib muda yang malang itu melalui tekanan tertentu pada tengkuknya. Ia pura-pura terkejut ketika tabib muda itu roboh dalam keadaan tidak bernyawa.

Ia menempelkan telinganya ke dada.

“Jantungnya lemah sekali,” katanya.

Aku mengangguk seolah sedih dan takut, meskipun aku belum tahu bagaimana aku bisa mengambil keuntungan dalam dunia tipu muslihat ini. Dunia persilatan telah membuatku bahagia dengan keterus-terangan dalam sikap jantan para pendekar. Jelas ini bukan duniaku. Namun, seperti sudah kukatakan, aku tidak akan puas mati tanpa memecahkan teka-teki. Padahal bagi seorang tua berumur 100 tahun, seberapa lama lagi waktu tersisa untuk memecahkannya?

Ia memandangku. Jantungku berdetak karena kecantikannya. Namun aku belum lupa bacaanku dari Arthasastra, bahwa tiada yang lebih berbahaya daripada seorang agen rahasia ganda. Ia seperti berpihak kepadaku, tetapi tiada jaminan ia tidak bermaksud menjebakku. Akulah yang harus bisa menjebaknya!

Aku tidak boleh lupa. Perburuan diriku digalang oleh negara-meski aku tidak tahu dengan tepat siapa. Seorang pendekar boleh berilmu setinggi langit. Namun bukan saja di atas langit ada langit, tetapi negara yang menerjemahkan dirinya dalam sabda raja, pada zamanku ini bagaikan titisan dewa yang menguasai seluruh langit. Bilamana perlu seluruh rakyat dapat digerakkannya. Seperti ketika mereka membangun Kamulan Bhumisambhara. Aku tidak berpendapat bahwa seorang raja diraja kerajaan Mataram akan begitu peduli dengan seseorang yang baginya hanya seorang pesilat, tetapi siapa pun mereka yang terlibat dalam perburuan yang belum dapat kupahami ini, boleh kupastikan telah melibatkan

dan memanfaatkan peranan negara.

Perempuan itu menatap orang-orang di dalam rumah, lantas berkata kepadaku.

‘‘Rumah ini sudah lama diawasi kegiatannya. Mereka suka melebih-lebihkan sakitnya seseorang untuk menipunya, memberi ramuan penghapus ingatan agar para korban lupa semua perlakuan mereka kepadanya.”

Aku sudah telanjur menelan ramuan itu seteguk. Adakah sesuatu yang hilang dari ingatanku? Aku tidak keberatan untuk lupa perlakuan mereka kepadaku, yang kurasa baik-baik saja- ataukah ini bukti aku telah menjadi lupa? Atau mungkinkah perempuan ini telah menggunakan tipu daya agar aku merasa seolah-olah ingatanku ada yang terhapus? Namun jelas aku tidak bisa membayangkan seandainya ingatanku yang hilang adalah riwayat hidupku sendiri!

“Ampuni kami Puan!”

Istri tabib muda itu menyembah dengan kepala menempel ke tanah.

“Kami tidak bermaksud jahat terhadap orang tua ini,” katanya lagi, “kami hanya menuruti perintah!”

Aku berpikir keras. Tiada pernah kusangka satu hari ini bisa terasa begitu lama.

Aku menarik napas dalam-dalam, mengalirkannya ke seluruh tubuh, dan mengembuskannya dengan sangat pelahan. Aku harus tenang, setenang Buddha, yang merupakan setengah cahaya dan setengah bayangan.32

12 Wayang Topeng; Tarian Kematian; dan Siapa Jadi Buronan

Malam telah turun. Bulan sabit di antara bintang. Aku berada di antara para penonton yang menyaksikan wayang topeng Pembantaian Seratus Pendekar. Setelah limapuluh tahun, peristiwa itu telah menjadi sebuah dongeng. Konon seorang kawi takdikenal telah menuliskan ceritanya dalam pupuh-pupuh di atas lontar. Aku tidak dapat membayangkan apakah yang tertulis pada lembaranlembaran lontar yang langka itu, tetapi kini aku berada di depan pertunjukannya. Penonton menanti dengan tertib di sekitar tanah kosong di dalam puri. Rumah tabib hanya beberapa langkah dari situ. Seseorang muncul membawa gong kecil dan menabuhnya. Setelah penonton terdiam, ia pun berbicara.

“Para penonton yang terhormat, malam ini kami akan membawakan cerita Pembantaian Seratus Pendekar yang sampai hari ini tidak diketahui siapa penulisnya. Cerita ini mulai beredar secara lisan hanya beberapa hari setelah berlangsung peristiwa yang sebenarnya lima puluh tahun lalu, tetapi baru dituliskan dua puluh lima tahun sesudahnya, ketika Pendekar Tanpa Nama menghilang dari dunia ramai, dan penjaga perpustakaan menemukannya sebagai naskah tanpa kejelasan nama penulisnya. Terdapat dugaan, naskahnya ditulis oleh Pendekar Tanpa Nama itu sendiri yang selama duapuluhlima tahun sebelumnya melebur dalam penyamaran di dunia ramai untuk menghindari musuh-musuhnya, tetapi dugaan ini belum bisa dibuktikan. Kini Pendekar Tanpa Nama menjadi musuh negara, tersedia hadiah sepuluhribu keping emas bagi mereka yang berhasil membunuhnya. Cerita ini dipertunjukkan bagi khalayak, agar kita semua mengenal riwayat Pendekar Tanpa Nama.”

Aku tertegun dengan keajaiban dunia. Apa saja yang

telah terjadi selama aku tenggelam dari samadi ke samadi dua puluh lima tahun lamanya? Betapa mungkin aku yang selalu berusaha menghilang dan menyendiri, telah mengada dengan suatu cara tanpa aku sendiri berniat dan menghendakinya? Aku tidak habis pikir, betapa mumgkin terdapat banyak orang yang merasa tahu tentang diri dan kehidupanku yang selalu menghindar untuk dikenal ini? Begitu bodohkah aku sehingga begitu yakin merasa tiada seorang pun akan mengetahui siapa diriku? Ataukah begitu keterlaluan seseorang dan siapa pun mereka yang merasa begitu yakin mengetahui siapa diriku sehingga berani menuliskan dan mementaskannya

sebagai pertunjukan keliling dari desa ke desa? Ataukah aku saja yang begitu naif, tidak mengakui hak seorang penulis untuk mengguratkan apa saja yang pernah dia dengar maupun apa saja yang dipikirkannya?

“Selamat menyaksikan!”

Di sekeliling tanah kosong itu telah menyala obor. Sekelompok penonton berdesak-desakan di bawah pohon, ada yang berdiri dan ada yang duduk. Paling depan anakanak kecil duduk dengan usil, di belakangnya orang-orang dewasa berdiri dan ada juga yang memanggul anak33, muda-mudi saling menempel dan bercubit-cubitan. Lelaki dengan perempuan, lelaki dengan lelaki, perempuan dengan perempuan. Mereka berbagi berbagai macam minuman seperti tuak, arak, waragan, badyag, dan budur.34 Aku menghela napas. Apakah aku sudah keliru memilih jalan hidup di dunia persilatan? Namun benarkah aku sendiri yang telah memilih dengan sadar jalan hidupku, dan bukannya berbagai macam ketentuan telah membentuk dan menetapkan riwayat hidupku?

Kemudian manapal atau manrakat atau matapukan35

tampak dimainkan. Tiga araketan36 perempuan terkenal menari-nari dengan mengenakan topeng.

“Itulah Karigna, Dharini, dan Rumpug,”37 kudengar gunjingan penonton.

Mereka bergerak melonjak-lonjak diiringi tetabuhan yang dipukul dua pemain lain sembari berkeliling.

“Jaway dan Baryyut!”38

Rupa-rupanya rombongan teledek ini memang terkenal, tetapi kali ini mereka disewa oleh negara untuk memainkan wayang topeng Pembantaian Seratus Pendekar. Mereka benar-benar pemain topeng, karena hanya dengan tiga orang, dapat memainkan kepribadian seratus orang melalui seratus topeng, tetapi yang sepanjang pertunjukan tidak memperlihatkan diriku.

Karigna, Dharini, dan Rumpug secara berganti-ganti memainkan seratus ilmu silat dari seratus perguruan dengan indah. Namun setiap kali para pesilat yang mereka perankan itu berjatuhan bagai disambar dewa pencabut nyawa yang tidak kelihatan. Jaway dan Baryyut sembari memukul tabuhan juga bergantian menjadi juru cerita.

“Demikianlah Pendekar Tanpa Nama berkelebat begitu cepat sampai tiada dapat diikuti mata orang biasa! Seratus pendekar ditewaskannya seperti membalik telapak tangan! Lihatlah nyawa mereka terbang, terbang, terbang, dan menari-nari! Ooooo..!”

Lantas ketiga penari topeng itu menarikan apa yang disebut nyawa terbang. Topeng mereka kali ini hanya putih, tanpa mata tanpa mulut dan tanpa hidung, meski tentu ada lubang nafas pada topeng itu. Kedua

pengiringnya menabuh sambil menari juga dengan gaya melayang-layang. Kukenal semua itu sebagai jenis Tarian Kematian. Mereka mengenakan kalung tengkorak kecilkecil dan berkain sulaman perak dari pinggang ke bawah. Rambut mereka, yang perempuan lelaki terurai panjang, dan mereka jadikan rambutnya sebagai bagian dari tarian mereka.

Kedua penabuh terus berkisah.

“Maka Pendekar Tanpa Nama semakin merajalela mencabut nyawa dalam dunia persilatan. Pendekar Tanpa Nama yang tiada pernah ingin dikenal akan membunuh siapa pun yang mengenalinya. Dia membunuh secepat kilat selembut bayangan dengan Jurus Tanpa Bentuk yang tiada terkalahkan. Jurus Tanpa Bentuk, jurus yang tidak bisa diajarkan dan tidak bisa diturunkan, karena harus diciptakan dalam pemikiran, untuk mencapai kesempurnaan. Ooooo, dengan ilmu apakah dia bisa dikalahkan kiranya, jika Jurus Bayangan Cermin pun dimilikinya? Jurus penyerap ilmu, jurus pengubah ilmu, yang akan kembali kepada lawan dengan membingungkan! Oooo!”

Demikianlah para penari itu menarikan silat yang mencoba membayangkan Jurus Bayangan Cermin. Gerak indah penari pertama ditirukan gerak indah penari kedua untuk dikembangkan penari ketiga yang telah menjadi sangat berbeda-tarian berlapis yang susul menyusul itu sangat mengesankan, dan sebetulnya dapat kubaca sebagai jurus ilmu silat tersendiri yang hanya terdapat naskah-naskah tua dengan nama yang sama, yakni Tarian Kematian.

Mungkinkah ada seseorang yang pernah melihatku menggunakan Jurus Bayangan Cermin ketika menghadapi lawan yang memiliki Jurus Tarian Kematian? Karena dengan cara begitulah Jurus Bayangan Cermin akan dikira seperti Jurus Tarian Kematian. Barangkali kuhadapi lawan seperti itu dalam pertarungan terbuka yang disaksikan banyak orang, termasuk orang-orang awam, karena

terbukti ada yang mengira Jurus Bayangan Cermin seperti Jurus Tarian Kematian dan kemudian menjiplaknya. Padahal Jurus Bayangan Cermin akan menyerap bentuk ilmu silat seperti apa pun yang dihadapinya, untuk dipertunjukkan kembali secara berbeda, sehingga akan sangat membingungkan lawan, yang merasa mengenal jurus-jurus tersebut tetapi tidak mampu mengatasinya.

Bagi mereka yang ilmu silatnya masih rendah, juga tidak akan mampu memahami hubungan antara Jurus Bayangan Cermin dan Jurus Tanpa Bentuk. Kukira ini menambah kekacauan dalam perbincangan orang-orang tanpa diriku, baik di dunia persilatan, apalagi di antara orang-orang awam.

Siapakah yang kuhadapi waktu itu? Kukira jauh sebelum peristiwa Pembantaian Seratus Pendekar, ketika aku masih senang menghadapi lawan ditonton orang banyak, dan kukira pendekar golongan merdeka yang kuhadapi adalah seorang pria. Tentu saja tidak ada urusan apa pun di antara kami kecuali mengadu ilmu dan siapa pun yang kalah harus berjiwa besar menerimanya. Seingatku ia menamakan diri Wrehatnala, mengambil nama samaran Arjuna dalam Mahabharata ketika menyamar sebagai wanita bertubuh pria di kerajaan Wirata.

Dalam kenyataannya Wrehatnala adalah lelaki terindah yang pernah kutemui, karena ia memang begitu cantik dan jelita. Ia berbusana seperti kaum wanita Jambudwipa, yakni berkain sari melibat seluruh tubuh kecuali perut dan kelihatan pusarnya yang berhiaskan anting-anting permata. Bahwa suaranya yang lembut merayu adalah suara seorang pria, tidak menutupi kenyataan betapa aku terpesona oleh kecantikannya. Namun aku tahu itulah kecantikan maut yang membunuh dan telah menjadi bagian dari andalan Jurus Tarian Kematian.

“Hari ini aku mendapat kehormatan bertarung dengan Pendekar Tanpa Nama,” ujarnya.

“Wrehatnala yang besar namanya di Jambudwipa

terlalu merendah, sahaya sungguh merasa kecil berhadapan dengannya.”

“Dikau tiada terkalahkan, dan barangkali aku akan mati, tapi memperkenalkan Tarian Kematian kepada Pendekar Tanpa Nama adalah kesempatan langka.”

Wrehatnala memang berasal dari Jambhudwipa, tetapi aku tak tahu apakah dari Goda, Kancipuri, atau Karnataka. Namun setidaknya karena kulitnya

kuning langsat, bisa kupastikan dia bukan orang kling drawida yang juga berasal dari Jambhudwipa, tetapi hitam legam kulitnya.39

“Wrehatnala yang ternama tidak usah sungkan, silakan mempertunjukkan Tarian Kematian.”

Kemudian orang-orang yang menonton tidak akan melihat lagi Wrehatnala kecuali bayangan merah muda dari sari-nya yang berkelebat terlalu cepat bagi mata orang biasa. Aku sangat menikmati pertarungan dengan Wrehatnala, karena aku mampu bergerak lebih cepat, dan karena itu dapat menikmatinya sebagai gerak tarian yang sangat diperlambat, tanpa kehilangan pesona mautnya yang sangat berbahaya.

Giring-giring di kakinya berbunyi dan biasanya tentu mengalihkan perhatian. Jadi hanya itulah yang tercerap pancaindera mereka yang bermaksud menonton-bayangan merah muda berkelebatan diiring bunyi giring-giring. Karena itu tentu bukanlah sembarang penonton yang akan mampu melihatku ketika menyerap Jurus Tarian Kematian dengan Jurus Bayangan Cermin, meski masih keliru mengira Jurus Tarian Kematian yang berhasil kuserap itulah sebagai Jurus Bayangan Cermin itu sendiri.

Aku bergerak di antara kelebat ujung kain sari

Wrehatnala yang menyabet seperti selendang tetapi mempunyai ketajaman pedang mustika. Pernah kusaksikan korban-korban sabetan selendang itu terkoyak tubuhnya dengan luka merekah yang sangat mengerikan. Memang benar betapa keindahan geraknya merupakan tarian kematian. Wrehatnala dengan segenap kelembutan tutur katanya sempat merajalela di Yawabumi, meninggalkan mayat berkaparan di berbagai pelosok negeri, dan tiada seorang pun punya nyali menghadapi, sampai akhirnya dia menantangku pula. Aku tidak usah merasa terlalu bersalah untuk menamatkan riwayatnya.

Di antara kelebat bayangan merah muda dan suara giring-giring terdengar suara seperti orang tersedak. Sebelum banyak orang menyadari apa yang terjadi, aku sudah lenyap dari pandangan mereka, meninggalkan Wrehatnala yang sudah tengkurap tanpa nyawa. Dari mulutnya mengalir darah membasahi tanah.

Kini kusaksikan Tarian Kematian diperagakan sebagai Jurus Bayangan Cermin. Seseorang telah menonton lebih cermat dengan kesalahan duga, tetapi kecermatannya tetaplah harus kupujikan juga. Mereka tidak

mengenakan sari, bahkan dadanya terbuka, tetapi dari bagian pinggang dari kain bersulam perak yang dikenakannya terdapat kain selendang yang dimainkannya seperti ketika aku melawan Wrehatnala. Sebagai tarian, pesonanya tidak dimanfaatkan untuk mencari kelengahan seperti dalam pertarungan silat. Kulihat semua orang ternganga. Aku begitu juga. Topeng mereka yang putih dan dingin memberiku perasaan aneh. Para penabuh bercerita lagi silih berganti.

“Dari lawan satu ke lawan lainnya, tiada satu pun yang dapat mengatasi Jurus Tanpa Bentuk. Pendekar Tanpa Nama tiada terlawan, Pendekar Tanpa Nama menjadi ukuran, siapa ingin mencapai kesempurnaan harus mengalahkan Pendekar Tanpa Nama, dan siapapun yang menantang Pendekar Tanpa Nama selalu mencapai kesempurnaan hidupnya dalam kematian.”

“Namun setelah Pembantaian Seratus Pendekar dia

menghilang, melebur duapuluhlima tahun dalam dunia

awam….”

“Menjadi mapadahi menjadi widu mangidung….”

“Menjadi pamanikan menjadi limus galuh…. “

“Menjadi payungan menjadi tuhan judi…”

“Menjadi tuhan jalir menjadi padam apuy….”

“Menjadi walyan menjadi wli hapu…”

“Menjadi wli hareng menjadi tuha dagang…”40

“Dan banyak lagi! O!”

“Dan banyak lagi! O!”

“Setelah dua puluh lima tahun menyamar dalam kehidupan awam, dan selalu kepergok karena selalu punya urusan, ia menghilang dari peradaban, O!”

“Apakah yang dilakukannya?! O!”

“Apakah yang dilakukannya?! O!”

“Dia merongrong kewibawaan negara! O!”

“Dia merongrong kewibawaan negara! O!”

“Jadi…”

“Jadi…”

“Siapa pun melihat dia…”

“Tangkaplah dia!”

“Bunuhlah dia!”

Seseorang berbicara.

“Pendekar Tanpa Nama! Hanya Tuan kiranya yang akan mampu membela dan membebaskan kami semua!”

Di puncak pohon beringin, aku bagaikan seorang dewa yang tiada mampu mereka tatap, karena dari belakang kepalaku cahaya matahari tentunya menyilaukan mata. Orang-orang awam sering lupa ini hanyalah peristiwa alam. Mereka pikir dirikulah yang datang membawa cahaya.

Aku tidak suka mereka mengenaliku, tetapi aku tidak mungkin membunuh mereka semua.

“Seharusnya aku membunuh kalian yang telah menggganggu jalanku, tetapi kuampuni kalian jika kalian katakan siapa yang memberi tahu kalian bahwa aku bisa kalian temukan di sini!”

“Ampuni sahaya Tuan Pendekar, nama saya Widya, dan inilah istri sahaya yang bernama Mutra. Kami semua, duapuluh orang berasal dari desa yang sama, yakni desa Budur, bagian dari negeri Mantyasih. Kami telah menyerahkan tanah dengan janji akan diganti oleh kerajaan, tetapi selain janji itu belum pernah dipenuhi, kami telah dipaksa untuk bekerja demi pembangunan sebuah candi yang tidak merupakan kuil kepercayaan kami.”

“Apakah kalian menyembah Siwa?”

“Tidak, Tuanku.”

“Kalau bukan Siwa dan bukan Mahayana, mungkin kalian penganut bid’ah.”

“Tidak, Tuanku.”

“Apakah kalian menolak agama-agama baru?”

“Tidak tuanku, kami para penyembah leluhur, penyembah arwah nenek moyang.,”

Aku masih berdiri di atas puncak pohon beringin. Para penganut kepercayaan ini biasa melakukan upacaranya di bawah pohon beringin.

“Baiklah, sebelum kamu lanjutkan, katakan siapa yang memberitahu kalian bahwa aku akan melewati tempat ini.”

“Ampuni sahaya Tuan, mohon agar dibiarkan sahaya bercerita, karena akan sampai juga nanti ke sana, ya Tuanku Sang Mahapendekar Tanpa Nama yang perkasa.”

Hmm. Aku tahu zamanku, dan dari caranya bersikap aku tahu bahwa mereka adalah orang-orang yang berani.

“Baik kudengarkan kalian, tetapi kuharap kalian hentikan sujud kalian yang konyol itu.”

Orang-orang Desa Budur itu, lelaki maupun perempuan, lantas bangkit dari sembah sujudnya. Aku melayang turun dengan ringan dari atas pohon beringin itu. Memang enak jadi orang sakti.

“Teruskan,” kataku.

“Nenek moyang kami telah melakukan upacara penyembahan leluhur jauh sebelum orang-orang Jambhudwipa tiba di Yawabumi dan sambil berdagang memperkenakan igamanya. Ketika beberapa saudara kami datang dari pantai utara membawa penyebar igama, mulamula kaum pedanda Siwa yang brahmana, kemudian para pendeta Mahayana, harus kami akui ajaran mereka sangat menarik, bijak, dan kami menyukainya-tetapi orang seperti sahaya tidak merasa perlu melepaskan kepercayaan kami sendiri.

“Telah kami berikan tanah yang sudah kami garap secara turun temurun demi pembangunan Kamulan Bhumisambhara, telah kami abaikan janji ganti rugi yang tak juga kunjung dipenuhi, tetapi masih mereka paksa kami bekerja tanpa bayaran karena candi raksasa itu pembangunannya membutuhkan puluhan ribu tenaga. Kami akui candi ini akan menjadi candi termegah dan sangat indah di tengah semesta, tetapi apakah artinya mengajarkan kebajikan melalui candi yang dibangun oleh orang-orang yang terpaksa karena keluarganya disandera?”

“Disandera?”

“Setelah tanah kami diambil, putera-puteri kami menjadi budak di pura para pejabat tinggi negara dan istana penguasa, wahai Pendekar Tanpa Nama yang perkasa.”

“Menjadi budak?”

“Begitulah Tuanku, katanya itu dibenarkan oleh hukum negara, tetapi itulah pemaksaan agar kami terpaksa

bekerja. Sudah tidak terhitung lagi berapa yang telah mengorbankan nyawa karenanya Tuanku, dan tiada jelas pula kemudian nasib anak mereka.”

Cerita tentang para pekerja yang memberontak bukan sesuatu yang baru bagiku. Ketika aku melayang dari pohon ke pohon itu sebetulnya aku baru

saja mengakhiri penyamaranku sebagai tukang batu di Kamulan Bhumisambhara. Berarti itu sekitar tahun 820-an, karena ketika candi jinalaya itu diresmikan pada 824, aku sudah jauh dari sana.

Sebagai pekerja, telah kudorong siapapun yang seharusnya tidak berada di sana untuk mogok. Kuracuni mereka dengan pikiran-pikiran baru yang tidak terbayangkan sebelumnya, bahwa hidup mereka adalah kedaulatan mereka sendiri. Apalah artinya sebuah candi, yang dibangun atas nama ajaran yang mencerahkan, jika nantinya akan berdiri, ternyata dibangun di atas pemerkosaan hak asasi mereka yang memiliki kepercayaan berbeda?

“Apa yang kalian pikir bisa mereka lakukan jika kalian menolak bekerja? Apakah mereka akan mengiris batu sendiri, mengukir batu sendiri, dan terutama mengangkat batu sendiri sampai di puncak bukit ini? Mereka yang menguasai kalian sebetulnya sangat tergantung kepada kalian, tetapi mereka menciptakan alam pikiran yang membuat kalian percaya memang merupakan hak mereka untuk menguasai hidup kalian. Sadarlah! Bangkitlah! Maka kita semua akan duduk bersama dalam kesetaraan!”

“Bagaimana dengan semua peraturan negara? “

Apa maksud mereka? Rupanya mereka semua juga ditindas dengan pemutarbalikan Arthasastra yang tidak dapat mereka baca, tentu saja karena memang buta huruf namanya -sayangnya, kalaupun Arthasastra itu dapat mereka baca, seberapa jauh mereka akan menyadari betapa kitab tata negara itu sangat berpihak kepada golongan yang berkuasa? Dalam Bab 13 Bagian 65 tentang “Hukum tentang Budak dan Pekerja” misalnya, pada Pasal

1 sampai 4 disebutkan:

Bagi seseorang yang menjual dan memelihara seorang Arya di bawah umur sebagai janji kecuali budak untuk mata pencaharian, dendanya adalah duabelas pana bagi suatu kerabat jika Sudra, dua kali lipat jika Vaisya, tiga kali lipat jika Ksatriya, empat kali lipat jika Brahmana. Bagi orang asing, denda terendah, menengah dan tertinggi serta mati adalah (masing-masing) hukuman juga bagi para pembeli dan saksi Bukan pelanggaran bagi Mleccha untuk menjual keturunan atau memelihara sebagai janji Tapi tidak boleh ada perbudakan bagi Arya dalam keadaan apa pun41 Seluruhnya terdapat 25 pasal dalam Arthasastra

mengenai perbudakan itu, dan terbaca bahwa hanya dengan termasuk sebagai golongan Arya, maka seseorang boleh dianggap merdeka-sedangkan jika tidak, seseorang sejak lahirnya telah tertakdirkan oleh segala macam peraturan yang dibuat manusia untuk mengamankan kedudukan golongan yang berkuasa. Adapun golongan yang berhasil memperjuangkan diri untuk dianggap boleh berkuasa itu adalah golongan Arya. Namun kitab tata negara yang ditulis dan berlaku di Jambhudwipa itu ketika diterapkan di Yawabumi tentu menghadapi susunan masyarakat yang berbeda, sedangkan yang boleh disebut sebagai golongan Arya hanyalah para bangsawan dari Jambhudwipa, yakni mereka yang melepaskan diri dari Dinasti Chandella di Jambhudwipa dan berlayar ke selatan sekitar tiga ratus tahun lalu. Tidak terbukti bahwa mereka

yang mendirikan Dinasti Syailendra di Yawabumi42 -tetapi jika saja benar, sampai masaku kini tentu kemurnian darahnya telah bercampur, begitu juga dengan kebudayaannya. Apalah yang masih bisa disebut murni di dunia ini bukan?

Mereka yang terlibat dalam kepentingan untuk berkuasa, dengan begitu berusaha menyesuaikan diri dan memanfaatkan paham kekuasaan yang datang bersama para pendatang dari Jambhudwipa, dengan sedapat-dapatnya. Maka susunan masyarakat yang terdapat di Yawabumi menjadi serbabertumpang tindih, dan yang tidak dapat dikatakan adil adalah terdapatnya golongan masyarakat yang harus dikorbankan-yakni yang ditempatkan di bawah, diperbudak, dan dikuasai.

Mereka yang rela akan menjadi golongan bawah, sejak dari sudra sampai paria. Mereka yang melawan akan dianggap bid’ah dan disebut candala.43 Seperti yang akan

Masih dihadapi mereka yang anak-anaknya disandera ini.

“Peraturan yang membenarkan penguasa memperbudak kita harus dilawan,” kataku, “Itulah yang sedang kalian lakukan.’’

Orang yang bernama Widya menyembah.

“Pendekar Tanpa Nama, tunjukkanlah jalan!”

Aku tidak ingin dan tidak suka berada dalam kedudukan disembah.

“Bagaimana mungkin kalian ingin melawan dan memberontak, jika kalian masih sudi menyembah?”

Namun tidaklah mudah membuang adat istiadat yang telah mendarah daging begitu rupa. Sikap seperti itu tentu berada di luar jangkauan pemikirannya.

“Ampuni sahaya Tuan Pendekar!”

Jadi siapa kiranya yang telah mencegat dan seolah-olah menugaskan diriku untuk menangani masalah orang-orang yang malang ini?

“Aku telah mendengar semua keluhanmu dan akan berusaha membantu kalian. Sekarang katakan siapa yang menunjukkan tempat ini untuk menemuiku.”

Orang-orang itu saling berpandangan.

“Maaf Tuanku, beliau seorang tua gemuk yang berkulit sangat putih dan berjambul, beliau tidak menyebutkan namanya.”

“Begitu? Bagaimana kalian bisa percaya?”

“Beliau tampak berwibawa sekali Tuan, beliau selalu diiringi seekor macan putih.”

Sudah sekian lama aku malang melintang di sungai telaga dunia persilatan, belum pernah kudengar apalagi kujumpai tokoh seperti ini. Aku akan mencarinya-tetapi jika ternyata dialah yang menemuiku dengan cara seperti

ditambah dengan terdapatnya sistem pelapisan sosial dalam tradisi Jawa sebelum masuknya agama Hindu. Rahardjo juga menyebutkan, dalam konteks tradisi Hindu, mengutip Pigeaud yang mengacu Nagarakrtagama, “Ada kecenderungan untuk menciptakan pelapisan tambahan yang khusus dibuat bagi anggota masyarakat dari golongan yang dinilai lebih rendah (kujanmatraya) yang dikenal dengan sebutan kaum chandala, mleccha, dan tuccha.”, dalam Rahardjo, op. cit., h. 384, 432-3.

ini, mampukah aku mencarinya?

Gong bertalu-talu. Aku masih di tengah tontonan. Jaway dan Bayyrut berceloteh berganti-ganti. Karigna, Dharini, dan Rumpug memutar tubuhnya seperti gangsingan yang berkilat keperakan.

“Pembangunan Kamulan Bhumisambhara terhenti beberapa saat lamanya karena pemogokan yang digalang Pendekar Tanpa Nama! Ia meracuni para pekerja dengan pikiran-pikiran yang berbahaya! Demi tujuan jahatnya ia telah menyamar sebagai tukang batu, mempelajari segenap kemungkinan untuk mengacau agama dan negara, lantas menghilang untuk kembali bersama para candala!”

Mereka meneruskan kisahku, tetapi dengan pembelokan demi kepentingan mereka. Sebenarnya aku telah mengusahakan agar pembangunan candi raksasa itu bisa diteruskan kembali. Hanya saja aku telah meminta kepada acarya yang merancang ragam bangun candinya, yang barangkali tidak tahu menahu darimana para tukang batu itu berasal, agar pembangunan tidak diberlangsungkan secara paksa-karena hanya akan menodai kesuciannya.44 Kepadanya kuingatkan sebuah kutipan dari Sang Hyang Kamahayanan Mantranaya:

tidak ada ajaran lain yang lebih mendalam

dari Sang Hyang Mahayana

Cara yang Agung

yang lebih dalam dari yang terdalam

tidak dapat (hanya) dipikir

salahlah yang demikian itu

tanpa dosa

tanpa terlibat khayalan

terkena pencemaran

seperti kemabukan, kepalsuan, kerakusan,

kedunguan, kecintaan, kebodohan

hendaknya Anda ketahui semua itu

sesungguhnya semua itu takberwujud

karena nafsu, kebencian, kedunguan

khayalan itu muncul

sebagai kebenaran45

Kepada para pekerja, kusampaikan gagasan bahwa manusia itu lahir sebagai makhluk merdeka, dan tidak ditakdirkan untuk menjadi milik siapapun jua kecuali dirinya sendiri merelakannya, yang telah disambut para tukang batu dengan cara berhenti bekerja. Pada suatu pagi, para pekerja bakti itu sudah menghilang, kembali ke wilayah wanua atau thani, yang maksudnya adalah pinggiran46, ketika merasa pembangunan candi itu bukanlah kewajiban mereka. Mereka menghilang pada malam hari dan keesokan harinya diburu oleh pasukan berkuda kerajaan yang pasti akan mudah menyusul

mereka, dan barangkali akan membakar desanya pula. Di sanalah tenagaku yang sebenarnya diperlukan.

Kucegat salah satu rombongan pasukan berkuda itu di tengah jalanan. Baru melayang turun dari atas pohon saja, kuda mereka sudah meringkik-ringkik dan sulit dikendalikan. Belum sempat para prajurit bersenjata tombak itu mengangkat senjatanya, aku berkelebat menotok jalan darah mereka. Maka mereka jatuh tertidur di atas kudanya. Lantas kutepuk setiap pantat kuda tunggangan ini agar kembali ke arah darimana mereka datang. Ini merupakan pekerjaan mudah, yang lebih susah adalah menyusul setiap regu pasukan berkuda ini di delapan penjuru angin, bahkan mungkin lebih tidak jelas lagi di mana, karena tidak setiap pekerja yang berpuluhribu itu mempunyai arah kepulangan yang jelas.

Begitulah aku melesat dari satu tempat ke tempat lain secepat mungkin. Aku memilih untuk melesat secepatnya, melayang dari puncak pohon yang satu ke puncak pohon lain, agar segera dapat melihatnya dari kejauhan. Ada kalanya pasukan pemburu ini sudah sangat dekat dengan mangsanya. Tinggal mengangkat tombak dan menghunjamkannya kepada para pekerja yang berlari. Maka aku harus melebur dalam angin agar segera dapat melumpuhkan mereka, melalui totokan-totokan penidur yang akan membuat mereka bermimpi di atas kudanya, yang berderap kembali ke asalnya. Lain kali para pekerja itu taktahu menahu bahaya apa yang sedang mengancam, karena aku telah melumpuhkan para pengejarnya jauh sebelum mereka mendengar derap pasukan kuda yang menyerbu.

Pasukan berkuda yang mengejar dalam regu yang terdiri dari duabelas orang itu sebetulnyalah luar biasa cepat. Rombongan terakhir yang kuselamatkan bahkan telah diobrak-abrik dan tinggal dibantai saja ketika aku tiba pada detik yang menentukan. Pasukan ini hanya akan mendengar kesiur angin dan tidak akan bisa menatapku, meski hanya bayangan maupun bayang-bayangku, karena

aku memang tidak akan mengizinkan kemewahan seperti itu. Mungkin hanya akan terdengar suara tepukan, itu pun karena aku membiarkannya terdengar, dan ambruklah mereka tiba-tiba di atas kudanya masing-masing. Setelah itu baru aku memperlihatkan diri, karena beberapa orang telah tergores senjata tajam.

Aku mengobati mereka dengan daun-daunan yang berada di sekelilingku. Para pekerja itu memperhatikan aku. Mereka tentu melihat aku sama saja

seperti mereka, karena aku memang baru usai menyamar menjadi tukang batu. Mengangkat dan memasang batu lantai terbawah, yang akan mendukung seluruh candi sepuluh tingkat itu.

Aku hanya berkain melilit pinggang, sama seperti semua orang dari varna atau kasta sudra, yang hanya mempunyai tenaga dan tiada mempunyai keahlian sedikit jua. Justru persoalan Kamulan Bhumisambhara muncul di sana, jika agama Buddha yang dibawakannya memang tidak mengenal, bahkan menghapuskan kasta, mengapa harus ada orang yang wajib bekerja padahal dia tidak menghendakinya?

Candi pemujaan harus dibangun dengan semangat pemujaan, bukan pemaksaan, tetapi selama aku menjadi tukang batu hanya keluhan demi keluhan itulah yang selalu kudengar. Berkali-kali aku mengajukan gugatan kepada juru/tuha nin mawuat haji47 untuk menyampaikan keluhan mereka yang merasa tidak seharusnya berada di sana, tetapi tidak pernah digubris.

Bahkan ia bertanya.

“Siapakah kamu, yang terlalu lancar bicara masalah berbahaya? Tidakkah kau sadari betapa kamu seperti bermaksud menentang raja? Apakah kamu seorang candala?

14 Kesadaran Tukang Batu; Pertarungan Makna; dan Aroma Sebuah Patung

AKU sudah lupa apa jawabanku, tetapi percakapanku dengan punggawa itu terdengar oleh orang-orang yang bekerja di dekat kami, dan dengan cepat tersebar ke seputar bukit tempat candi itu dibangun. Percakapan itu membuat para pekerja berpikir. Memang benar pembangunan Kamulan Bhumisambhara ini memberi tempat bagi pengukir batu, pematung, maupun ahli-ahli bangunan, dan pembangunan candi ini memang mempunyai makna yang besar bagi mereka. Namun bagi mereka yang hanya dibutuhkan tenaganya, bukan sebagai budak yang memang tidak punya hak, tetapi sebagai penduduk yang wajib bekerja bakti, pembangunan candi jinalaya ini adalah suatu beban luar biasa jika tidak ingin mengatakannya suatu bencana.

Kutinggalkan orang-orang thani ini setelah kuberi pengobatan secukupnya. Mereka segera melanjutkan perjalanannya. Aku tahu kini Bhumisambhara kosong tanpa pekerja. Mungkinkah ini yang dianggap sebagai dosa karena menyebarkan pikiran berbahaya, karena menolak ketentuan penguasa?

Namun itu sudah lama sekali. Kamulan Bhumisambhara sudah direncanakan tata letaknya ketika aku masih bocah ingusan umur empat tahun48. Itu adalah tahun 775, dan Yawabumi bagian

tengah ini sudah dipenuhi oleh bangunan-bangunan Hindu, ketika kerajaan Mataram dikuasai oleh Rakai Panamkaran sejak tahun 746 selama 38 tahun49.

Sering disebutkan Bhumisambara mulai dibangun tahun 780-an, bersama dengan pembangunan sebuah candi dengan ratusan arca di Mataram wilayah selatan, tetapi memerlukan waktu lima tahun untuk mengangkut batu-batu dari seluruh penjuru negeri ke Mantyasih itu. Pada saat yang bersamaan, agama Buddha Mahayana telah menjadi lebih kokoh di wilayah utara. Kuperhatikan, tampaknya Kamulan Bhumisambhara merupakan limas berundak yang dimaksudkan untuk agama Hindu, tapi kemudian diubah menjadi bangunan Buddha50.

Ketika bekerja di sana, aku melihat pelipit51 atas dinding dalam lorong pertama terlalu besar dibandingkan dengan tinggi dinding itu, dan pada awalnya tidak direncanakan pelipit bawah sama sekali-seingatku pelipit bawah baru ditambahkan sesudah batu-batu persegi selesai dipahat. Dalam pengalamanku yang seadanya sebagai tukang batu, kedua ciri perbingkaian itu bertujuan supaya dinding itu kelihatan lebih tinggi, dan mestinya begitu pula dengan tahap pertama dinding lorong kedua. Namun petunjuk tentang ketinggian semula sudah sengaja dihilangkan52.

Kenapa? Karena untuk bentuk bangunannya sendiri, rancang bangun agama Buddha tidak membenarkan pemakaian kesan kedalaman untuk membetulkan bentuk yang tidak dilihat seadanya oleh mata manusia, atau demi pembesaran kerangka bangunan, terutama dalam hal

stupa, mengingat bentuknya yang kurang lebih seperti belahan bola-dalam rancang bangun Hindu, sebaliknya cara ini sangat lazim.

Dari para guru di masa kecilku, aku mendapat pengetahuan bahwa agama Buddha di bagian tengah Yawabumi berkembang di bagian selatan, bahkan diresmikan sebuah prasasti pada tahun 778 di wilayah selatan tentang pembangunan candi untuk Tara. Ketika agama Buddha menjadi semakin kokoh pada tahun-tahun berikutnya, sehingga candi luas dengan ratusan arca dapat mulai dibangun di selatan, candi jinalaya Kamulan Bhumisambhara

juga mulai dibangun di utara. Namun sekitar tahun 790, ketika pembangunan kedua candi ini belum selesai, Yawabumi bagian tengah terlanda gelombang perubahan besar dalam bidang rancang bangun dan perlambangan, sehingga segenap pendekatan dalam bentuk pembermaknaan di daerah itu dirombak.

Gelombang perubahan ini adalah bagian dari pertarungan kekuasaan dan perebutan pengaruh antarkerajaan yang membawa pula pengaruh agama, karena bentuk-bentuk baru itu diterapkan juga di berbagai candi, termasuk Kamulan Bhumisambhara yang belum usai pembangunannya. Perubahan ini tentu menghentikan pekerjaan untuk sementara, dan para pekerja tentu tidak termangu-mangu saja di sana-karena perubahan budaya tentu menyangkut manusia yang memperjuangkan kepentingannya dalam negara.

Ketika pekerjaan dilanjutkan, tempat-tempat masuk diubah. Seingatku, perubahan tempat-tempat masuk ini berlangsung lama, karena mulainya saja sekitar tahun 800 dan ketika aku mengundurkan diri dari dunia ramai pada tahun 846 sebetulnya belum selesai. Saat itu pintu-pintu lorong pertama belum diubah. Tahun 840 ditemukan cara baru dalam pembuatan dinding, yakni diisi dengan urukan, yang kemudian ternyata digunakan untuk bangunan Hindu maupun Buddha. Namun sebelum hal ini terjadi, pembagian wilayah budaya Yawabumi bagian

tengah ini telah berubah, agama Buddha yang semula berkembang hanya di selatan sampai tahun 790, telah mencapai utara di dekat Kamulan Bhumisambhara pada tahun 832.

Dengan pengetahuanku yang terlalu sederhana sebagai tukang batu, dapat kukenali bahwa dalam tahap pembangunan Bhumisambhara yang pertama, pemasangan batu di atas bangunan diletakkan tanpa pengait, sehingga sambungannya hanya terjamin oleh bobot batu itu sendiri; tetapi sejak lapisan batu yang ke65, yakni selama pembangunan tahap kedua, dibuat takuk sejajar dengan sisi luar bangunan. Sekarang ini, tahun 871, apabila semakin sering terlihat kemiripan, tetapi yang tidak pernah berarti sama, dalam berbagai ungkapan keagamaan Hindu dan Buddha, termasuk bangunan, tentulah ada sesuatu yang terlewatkan olehku selama menghilang 25 tahun dalam sebuah gua -karena selama 50 tahun lebih, dari tahun 780 sampai 832 itu, terpisah secara jelas terdapatnya dua kerajaan yang berbeda agama, sebagai akibat persaingan antara wangsa Sanjaya dan Syailendra.

Aku masih berada di tengah kerumunan penonton, yang masih terus menikmati wayang topeng tentang Pendekar Tanpa Nama. Jika memang yang dimaksudkan betapa tokoh Pendekar Tanpa Nama itu adalah diriku, maka harus kukatakan betapa berbahaya mempercayai kesan selintas, yang barangkali hanya terdengar dari sana-sini, sebagai bukti tersahih atas kenyataan.

Wayang topeng yang berkisah tentang Pendekar Tanpa Nama adalah suatu cerita yang dibangun untuk menyudutkan diriku, atas suatu sebab yang aku belum mengerti. Mereka yang menyebutkan bahwa aku menyebarkan ajaran rahasia untuk menghina agama pasti sangat memahami betapa aku tidak melakukannya-aku berpikir bahwa kehilanganku dari dunia ramai itulah yang dimanfaatkan, bagaikan sebuah ruang kosong yang bisa diisi apa saja untuk mengalihkan perhatian dari tujuan

yang sebenarnya. Namun meski diriku telah menghilang begitu, kehilanganku harus tetap dipastikan-mungkin tadinya aku disangka tentunya sudah mati, mengingat usia yang sudah waktunya mati, tetapi pengiriman regu pembunuh itu tentunya menandai kepastian bahwa aku ternyata masih hidup dan karena itu perlu dibunuh.

Masalahnya, kenapa baru sehari aku keluar gua sudah kutemukan selebaran lontar tentang hadiah 10.000 keping emas bagi yang berhasil membunuhku? Mungkinkah ada ketakutan betapa penguasa Jurus Tanpa Bentuk memang tidak akan bisa dikalahkan, kecuali oleh waktu? Namun aku juga berpikir betapa bukan kematian diriku benar yang penting dalam tujuan itu, melainkan bahwa namaku bisa dipersalahkan demi suatu tujuan yang aku belum tahu-yang berusaha dibunuh adalah namaku. Jika aku mati, baik karena terbunuh maupun karena usia, seluruh rahasia di balik kabut ini akan ikut tenggelam dalam kegelapan-sedangkan jika aku takdapat dibunuh dan mampu melawan, maka semakin sahihlah keberadaan diriku sebagai orang berbahaya yang pantas diburu, demi pengesahan suatu tujuan tertentu yang mengorbankan diriku, baik nama maupun nyawaku.

Barangkali tidak cukup memeriksa apa yang hilang dalam 25 tahun terakhir, masa ketika aku barangkali saja tidak pernah dianggap hilang sama sekali, karena selama malang melintang di rimba hijau pun aku jarang memperlihatkan diri. Apalah yang bisa dilakukan seorang pendekar silat di

dunia awam? Seorang pendekar silat biasanya hanya tahu bersilat. Sejak kecil ia dilatih bersilat, setelah remaja ia bercita-cita menjadi pendekar silat, setelah dewasa ia mengembara di dunia persilatan, belajar silat dari guru yang satu ke guru yang lain, dan mungkin ia akan mati atau berjaya dan mendapat nama di dunia persilatan-bahkan mereka yang tewas terkapar setelah pertarungan usai tiada jarang adalah juga mereka yang mempunyai nama besar. Dalam sungai telaga dunia persilatan berlaku pepatah, di atas langit ada langit,

seberapa pun tinggi ilmu silat yang dikuasai seorang pendekar, akan tiba saat seorang pendekar lain mengalahkannya-tetapi saat itu belum pernah tiba kepadaku.

Seperti kata Naga Emas, aku hanya bisa dikalahkan oleh waktu, ini berarti pepatah dunia persilatan yang berlaku bagiku adalah: gelombang yang di depan digantikan oleh gelombang yang di belakang -betapapun hebatnya seorang pendekar, suatu ketika ia akan memudar dan raib, atau dikalahkan juga akhirnya, untuk digantikan seorang pendekar yang bukan hanya lebih tinggi ilmunya, tetapi juga lebih muda. Namun bukan saja pendekar tua maupun pendekar belum mampu mengalahkan ilmu silatku, tetapi yang disebut waktu pun belum kunjung memudarkan ilmu silatku, apalagi mengakhiri hidupku.

Umurku sudah seratus tahun, aku tidak merasa daya hidupku mengendur sama sekali-hanya memang ingatanku, jika mengingat sesuatu tidak terlalu kuyakini akan selalu tepat seperti yang telah kualami setiap kali mengingatnya. Bahkan aku sangat khawatir bahwa ingatanku akan sesuatu hal itu berubah-ubah. Jika memang ini yang terjadi atas diriku, ini tentu sangat mengerikan. Betapa aku selalu bisa menyelamatkan nyawaku dari perburuan para pembunuh bayaran, tetapi aku tidak dapat menyelamatkan diri dari diriku sendiri, yang akan mengikis daya ingatku dari waktu ke waktu seperti layaknya setiap manusia uzur yang akan jadi pelupa.

Tiga penari yang tadi berputar seperti gasing itu mendadak berhenti mematung, lantas bergerak begitu lambat, sangat lambat, lebih lambat dari pergerakan bumi. Mereka membawakan Tarian Kematian seperti aku telah menyerap dan mengulangnya sebagai cara kerja Jurus Bayangan Cermin.

Namun mereka telah mengira mampu menyerap Jurus Bayangan Cermin yang mereka bawakan untuk menarikan diriku. Kulihat diriku di sana, diriku

yang menjadi tiga, dalam pembawaan tiga penari wayang topeng yang topeng putihnya begitu pucat, dingin, bahkan sama sekali tiada berwajah. Begitukah aku telah dikenal? Barangkali bukan salah mereka untuk tidak mengenalku. Bukankah aku tidak ingin dikenal maupun mengenal?

Jadi teringat lanjutan Upacara Pembuka Mata:

legakanlah pikiranmu

telah hilang ketiada-pengetahuam

yang menyelimuti hatimu

disapu bersih Bhatara Sri Vajradhara

seperti penyakit mata

yang membuat rabun

menjadi sembuh

dan bening kembali

demikian pula

ketiada-pengetahuan

sebagai penghambat

telah dibabad oleh Bhatara

enakkanlah perasaanmu

janganlah ragu-ragu53

***

KUTINGGALKAN tempat itu dan aku melangkah di dalam kota. Jalanan gelap dan sepi. Hanya obor di sana-sini. Itu pun bagian dari penerangan gapura atau gerbang memasuki puri. Tidak semua puri memasang penerangan. Begitu malam turun penduduk sebagian besar tidurkecuali ada upacara agama, yang dalam agama Hindu berlangsung hampir setiap hari, tetapi tidak malam ini. Dewa-dewa bagaikan turun ke bumi dan minta disembah serta diberi sesajian tiap hari. Tanpa dewa, hidup ini bagaikan tiada artinya-dewa harus selalu ada untuk melindungi manusia dari anasir-anasir jahat entah darimana datangnya. Namun para dewa tidak bisa hidup

sendiri. Berbeda dengan para bhiksu, para dewa tidak mampu berselibat, mereka harus didampingi pasangan yang berdaya, dan daya para dewi yang mendampingi ini sangat sering begitu luar biasa tanpa dapat diduga. Daya itu

membuat mereka disebut sakti. Jika bagi Siwa saktinya adalah Devi, maka bagi Wisnu sakti itu adalah Laksmi. Kotaraja Mantyasih ini jelas sangat dipengaruhi budaya agama Siwa, meski doa puja Mahayana terdengar di lorong-lorongnya. Di tengah kota terlihat patung Durga Mahisasuramardini yang bertangan delapan, perwujudan kroda atau kedahsyatan sakti Siwa tersebut.54

Patung tinggi besar yang terbuat dari batu berpori-pori besar ini tubuhnya bersikap tribhangga, empat tangan kanan masing-masing memegang cakra berapi, sara, dan sara lagi, serta ekor kerbau; empat tangan kiri masing-masing memegang sangkha, pasa, dan pasa lagi, serta rambut asura. Matanya melotot, tubuhnya kecil, langsing dan anggun. Jata-mukuta-nya tinggi, rambut tergerai di atas bahu, pita seolah-olah menempel kepada sirascakra di kiri dan kanan kepala. Pilinan upavita besar. Uncal hampir mencapai ujung kain, selendang menyilang kain sebatas lutut, dan panjangnya kain sampai pergelangan kaki. Asura atau anasir jahatnya baru keluar dari kepala kerbau, kakinya masih terlihat lentur; sedangkan mahisa menghadap ke kiri.55

Itulah Bhatari Durga. Jika terdapat patung sebesar ini di tengah kota. Tentu berarti penguasa mengharapkan perlindungannya. Devi juga mempunyai daya santa atau saumya yang berarti ketenangan, itulah sakti yang akan menjelma pesona kecantikan menghanyutkan; tetapi yang kutatap adalah kroda atau kedahsyatannya sebagai pembantai asura, yang bahkan telah ia kelupas rambut kepalanya. Kutatap matanya dan kurasakan sesuatu yang

aneh, karena mata patung yang seperti sedang menatap dengan hidup itu bagaikan pernah kukenal dan mengenalku. Siapakah yang pernah menjadi begitu dekat kepadaku sehingga mengenal dan kukenal? Jelas bukan Bhatari Durga, tetapi seorang perempuan yang dibayangkan, atau bahkan berdiri di dekat para pematung, yang diandaikan sebagai Durga.

Di depan patung itu terdapat sesaji yang berasap dan berbau. Terlihat juga sebuah jambangan penuh air, di dalamnya terlihat mengambang beberapa jenis daun; tujuh periuk tembaga tidak diisi air, tetapi satu di antaranya diisi jenis daun-daun tertentu; sebuah lampu terbuat dari tepung beras, salah satunya berbentuk wajah manusia; dan sebuah tombak yang ditancapkan di

tanah56. Aku tidak mengerti kenapa seperti tercium olehku bau yang sangat kukenal.

Tiba-tiba saja dari ujung jalan yang gelap muncul serombongan orang menuju patung ini. Terdengar suara tangis. Aku tertegun. Paling depan seorang lelaki yang membawa bocah lelaki yang tampak sangat lemas. Seorang perempuan yang mungkin isterinya mengikuti di belakang dengan kepala tertunduk, diikuti dua lelaki dan dan dua perempuan muda yang kuduga merupakan saudara-saudara mereka. Wajah mereka semua tertunduk dan tampak sangat berduka. Kain yang mereka kenakan semuanya berwarna hitam pekat. Kaum perempuannya menutup pula bagian atas tubuh mereka dengan kain yang hitam itu, sehingga berbeda dengan semua perempuan lain, buah dada mereka hanya tampak sebelah.

Aku menghindar dari pandangan mereka, bersembunyi di bagian yang tergelap dari kekelaman malam.

15 Pertarungan di Bawah Pohon Beringin yang Terbakar

Lelaki yang membawa bocah mati itu meludah ke arah pohon dan berucap dengan nada tinggi.

“Lihatlah anak ini Bhatari, lihatlah! Seseorang telah berusaha mengambil nyawanya untuk dipersembahkan kepadamu! Berapa banyak lagi darah yang harus mengalir untuk memuja dan meminta perlindunganmu Bhatari? Berapa banyak lagi? Jika seseorang ingin mengorbankan nyawa bocah takbersalah demi santapanmu, mengapa tidak dia korbankan bocah dari darah dagingnya sendiri, keluarganya sendiri, kelompoknya sendiri, atau dari sesama pemujamu sendiri? Mengapa harus mereka korbankan seorang bocah takbersalah dari keluarga lain yang menganut kepercayaan berbeda? Aku dulu memang memang menyembahmu Bhatari, tetapi sekarang tidak lagi! Itukah sebabnya mereka mengorbankan anakku? Apakah dikau akan menelannya Bhatari, Dewi Durga Mahisasuramardini? Tidakkah engkau seharusnya melindungi siapapun dari mereka yang hanya mengatas namakan dirimu Bhatari? Kini kubawa anak yang belum mati ini ke hadapanmu, kuminta kepadamu Bhatari, pertahankanlah nyawanya! Biarkanlah nyawanya tetap berada di tubuhnya dan hancurkanlah mereka yang telah berusaha membunuhnya atas namamu!”

Kemudian suaranya merendah, yang sebentar-sebentar disela dengan bunyi tanda setuju oleh orang-orang yang datang bersamanya.

“Harap ia kau bunuh oh Bhatari! Dewi Durga Mahisasuramardini! Bunuhlah ia tanpa sempat menoleh ke belakang, tanpa akan melihat bagian belakang, terjang tubuhnya, tempeleng sebelah sisi, pukul punggungnya, belah kepalanya, sobek perutnya, tarik ususnya, keluarkan isi perutnya, tarik keluar hatinya, makan dagingnya,

minum darahnya, sempurnakan dengan kematiannya.”57

Lantas istrinya mengeluarkan sebutir telur dan maju untuk memecahkannya di atas batu kulumpang58, seseorang yang lain rupanya membawa ayam di balik jubah dan segera memotong lehernya di atas batu itu. Sementara ayah bocah itu meneruskan kata-katanya.

“Biarkanlah orang jahat itu akan bernasib seperti ayam ini, putus kepalanya, tidak akan kembali bersatu, seperti telur hancur lebur tidak dapat pulih kembali!”59

Di balik kegelapan malam, aku tertegun menyaksikan perilaku orang-orang berbusana hitam itu. Sejauh yang pernah kupelajari, Durga menerima persembahan korban manusia dan jenis binatang tertentu. Berbagai cerita yang pernah kubaca dalam kitab-kitab lontar menyebutkan betapa sang dewi gemar minum darah kerbau, menyukai daging mentah dan minuman keras. Itu semua tertulis dalam kitab Mahabharata karangan Vyasa, Kadambari karangan Banabhatta, Harsa-carita karangan Bhana, Vasavadatta karangan Subandhu, Malatimadhawa karangan Bhavabhuti, maupun Kathasaritsagara karangan Somadeva.

Masih kuingat dalam Kadambari disebutkan tentang upacara pemujaan kepada Durga oleh suku Sabara di daerah pegunungan Vindhya di Jambhudwipa. Disebutkan betapa dengan seringnya berlangsung upacara korban manusia, maka pundak kepala pendetanya sangat kasar, karena dipakai memanggul kapak dan seringnya tergores oleh kapak ketika memenggal kepala korban. Dalam kitab Yasatilaka bahkan terdapat cerita tentang orang-orang Kapalika yang telah menjual daging dari hasil sayatan tubuh sendiri sebagai sesajian kepada Durga. Salah

seorang guruku pernah menyampaikan kisah Devimahatmya, yang bercerita tentang raja Suratha dan pedagang dari Samadhi secara bersama memuja

Durga selama tiga tahun. Di antara persembahannya adalah darah dari tubuh mereka sendiri.60

Maka sangat bisa dimaklumi jika bekas penyembah Durga dari aliran sakta ini yang juga datang dari Jambhudwipa itu menjadi sangat marah, ketika ada seseorang atas nama Durga mencari korban dari pemeluk lain agama untuk persembahannya. Sejauh kubaca sendiri maupun kudengar dalam perbincangan dengan guruguruku yang telah mengembara sampai Jambhudwipa, terdapat juga Durga yang telah dibaurkan dengan Mahakali dalam aliran Tantra, yang dianggap menguasai kehidupan semesta, terutama dalam penghancuran segala makhluk. Korban binatang yang disebut pasubali maupun manusia dipersembahkan di kuil-kuil tertentu bagi dewi, yang begitu banyak tersebar di Jambhudwipa. Dalam kitab Kalika-Purana disebutkan tentang betapa jumlah korban manusia itu akan menentukan jangka waktu kepuasan Durga. Satu korban manusia akan memuaskannya selama seribu tahun, jika tiga manusia yang dikorbankan, kepuasannya berlipat menjadi seratus ribu tahun.61

Lelaki itu masih menyampaikan daftar kutukan, ketika kudengar suara embusan nafas penghabisan. Aku tercekat. Lelaki itu terhenti kata-katanya. Perempuan itu mendekat dan menjerit.

“Ooohh! Anakkuuuu!”

Suara jerit dan tangisnya segera memecah malam. Perempuan itu menjerit begitu rupa sehingga pada malam yang begitu sepi dan begitu kelam itu terdengar begitu keras begitu pedih dan amat sangat menyayat.

“Holooooongngng..”

Rupanya Holong adalah nama anak itu. Jeritan

perempuan tersebut segera disusul raungan amarah para lelaki yang semuanya berbaju. Jeritan dan raungan itu bagiku terdengar ganjil, karena lebih mirip lolongan anjing liar dalam cahaya bulan purnama. Mengerikan tetapi bernada pilu dan kepiluan itulah yang membuat perasaanku menjadi was-was.

Ketika ia berbicara ke arah patung itu lagi, suaranya sudah menjadi serak.

“Oh Bhatari khianat, tega dikau menyantap nyawa yang bukan menjadi hakmu!”

Kulihat dari sudut bibir anak itu mengalir darah hitam yang sangat kental. Kukira ia mati karena diracuni. Ia diletakkan oleh ayahnya di atas batu datar untuk meletakkan sesajian, bukan untuk memberi makan Durga yang dipikirnya telah membunuh anak itu, melainkan agar ia bisa bergerak bebas. Lantas diobrak-abriknya segenap perangkat sesajian yang ada di sana. Jambangan pecah, periuk bergelimpangan, lampu terguling, apinya membakar daun-daun kering. Bahkan kemudian menjalar ke sulursulur pohon beringin yang menaungi patung itu.

Pohon beringin itu langsung menyala. Keenam orang pemberang ini, termasuk yang perempuan, sudah kehilangan kata-kata selain melolong ke langit dengan suara memilukan. Orang-orang terbangun dan menyadari betapa altar pemujaan mereka telah menjadi berantakan. Mereka mendatangi tempat itu sambil berusaha memadamkan api, tetapi sungai terlalu jauh, dan agaknya kebakaran bukanlah peristiwa yang telah dipikirkan cara memadamkannya dengan segera. Barangkali kebakaran diterima sebagai penjelmaan dewa. Namun kali ini mereka tahu orang-orang berbaju hitam ini menjadi penyebabnya. Aku berkelebat dan melenting ke atas atap, karena bayangan gelap tempatku berlindung telah menjadi terang akibat kebakaran itu. Kusaksikan mata pada patung Durga itu seperti berkedip, wajahnya mempunyai perasaan, dan kobaran api itu bagaikan membuat delapan tangannya bergerak.

Aku seorang pesilat, segala sesuatu kupandang sebagai pencari ilmu dalam dunia persilatan, dengan cepat sekali aku merekam delapan tangan patung yang bergerak karena pembayang-bayangan dari kobaran api, dan kutemukan suatu jurus yang mampu membuat sepasang tangan tergandakan kemampuannya seperti delapan tangan. Namun suasana membuat aku harus menunda dulu ketertarikanku kepada penemuan jurus baru, karena dari segala sudut muncul begitu banyak orang yang berusaha mengeroyok keenam orang berkain serba hitam yang mengamuk itu.

“Penganut bid’ah! Candala tidak tahu diri! Apa yang kamu lakukan di sini? Kamu mencari mati!”

Orang-orang datang dengan segala macam senjata yang segera bisa dipegang, sehingga yang bukan senjata seperti alu, arit, maupun cambuk sapi pun tampak di tangan mereka. Namun rupanya kelima lelaki dan seorang

perempuan yang semuanya berbusana kain hitam itu bukanlah sekadar orang awam. Mereka segera membentuk lingkaran dan saling memunggungi, sementara di tangan mereka masing sudah tergenggam golok yang tidak berkilat karena tajam, karena sekujur badan golok itu berwarna hitam. Orang banyak tidak sadar dengan kuda-kuda kokoh keenam orang itu. Dalam kelam malam yang diwarnai cahaya api mereka menyerbu seperti gelombang pasang. Mula-mula belasan, kemudian puluhan, lantas ratusan orang sudah berada di perempatan tempat bernaungnya patung Bhatari Durga di bawah pohon beringin itu berada. Cahaya api yang bergoyang-goyang dari pohon beringin yang menyala membuat ratusan orang itu bagaikan makhluk-makhluk berwarna tembaga, yang bergerak serentak ingin melumat keenam manusia itu.

Namun apa yang terjadi? Keenam orang itu secara bersama bergerak memutar ke arah kanan seperti melakukan pradaksina, tetapi dengan sangat cepat sembari menggerakkan golok hitam di tangan mereka seperti baling-baling. Dengan segera korban jatuh

bergelimpangan bersimbah darah. Orang-orang awam ini tidak mengerti. Ilmu silat harus dihadapi dengan ilmu silat. Ilmu perang dengan ilmu perang. Ilmu kekuasaan dengan ilmu kekuasaan. Dari atap rumah seperti ini, dalam cahaya api yang berkobar karena beringin menyala, sangat jelas bagiku betapa keenam orang ini telah menyerap gelar pertempuran Cakrabyuha, yang berlaku untuk pertempuran yang melibatkan puluhan ribu sampai ratusan ribu orang, untuk sebuah pertarungan ketika menghadapi lawan yang jauh lebih banyak seperti sekarang. Cakrabyuha artinya susunan cakram, mahir sekali keenam orang ini membentuk cakram berputar dan menggunakan golok mereka sebagai ujung tombak dari cakram berputar menghajar itu. Orang-orang yang menyerbu tanpa akal tentu saja hanyalah ibarat mengantarkan nyawa.

Golok hitam dalam kegelapan dan digerakkan dengan sangat cepat itu tidak dapat ditangkap mata awam. Aku sangat prihatin dan ingin mengurangi jatuhnya korban yang tidak perlu, tetapi aku juga muak dengan sifat pengeroyokan yang sangat pengecut itu. Ada pikiran mensyukuri mereka yang mati karena menyerbu tanpa akal dan pikiran, tetapi ada juga kesadaran betapa para penyerbu yang bodoh ini sungguh-sungguh awam. Kelemahan

mereka tidak sepatutnya dimanfaatkan mereka yang lebih dari paham ilmu persilatan. Keenam orang ini menguasai ilmu perang yang diterapkan kepada ilmu golok berpasangan. Meskipun jumlah mereka lebih sedikit, sangatlah berbahaya membiarkan mereka menumpahkan darah seperti itu.

Aku sudah nyaris ikut campur untuk mencegah pembantaian ini ketika muncul duabelas anggota pengawal rahasia istana, yang langsung memasuki gelanggang dan mencegah rakyat jelata itu meneruskan amukannya. Pemimpinnya, seorang perempuan paruh baya berjubah dan terurai rambutnya yang sebagian telah berwarna keperakan, segera memberi perintah di sana-sini.

“Padamkan api! Padamkan api! Biar kami hadapi para candala ini!”

Ia membagi anak buahnya, sebagian memimpin pemadaman api, sebagian menghadapi para pemegang golok hitam. Mereka berhadapan. Perempuan paruh baya yang dadanya tertutup jubah putih dengan sepasang pedang di punggungnya itu bicara.

“Apa yang kalian pikir sudah lakukan? Membakar tempat pemujaan dan lolos dari hukuman?”

“Hukuman apa yang harus ditimpakan bagi korban penindasan?”

“Penindasan? Siapa menindas siapa? Jelaskan!”

Lelaki yang murka dan berduka itu menunjuk anak yang tergeletak di batu.

“Kau lihat anak itu? Seorang penyembah Durga telah menculik dan meracuninya, agar bisa dibawa kemari untuk mengalirkan darahnya di atas batu. Siapakah anak ini? Dia anakku, anak orang merdeka, bukan budak yang sudah dibeli dan bukan pula pemuja Durga itu sendiri. Mengapa korban persembahan harus mengorbankan orang lain yang tidak sudi jadi korban? Kami dulu memang penyembah Durga, tapi kini tidak lagi-bahkan kami juga tidak lagi memuja Siwa. Kami merdeka dari kewajiban sebagai pemeluk Hindu. Jadi kami berhak melawan dan membela diri kami!”

‘‘Kalian pengikut Mahayana?”

Lelaki itu menggeleng.

“Tantrayana?”

Lelaki itu tidak menjawab.

“Tidak penting siapa kami. Apa urusan dan kepentinganmu atas kepercayaan kami?”

“Karena tiada tempat bagi aliran sesat di kerajaan ini!”

“Aliran sesat! Siapakah dia yang begitu benar sehingga berhak mengatakan kepercayaan lain sesat!”

“Katakan itu di depan para samget62, sekarang kalian

harus ditangkap karena membuat kekacauan!”

“Kekacauan? Apa yang akan kalian lakukan dengan penculikan?”

“Penculiknya sudah kalian bunuh bukan? Ada lima mayat terbantai di tepi sungai, kami ikuti jejak kalian kemari! Ternyata pembunuhan itu tidak cukup bagi kalian!”

“Kami membela diri!”

Perempuan paruh baya itu mendadak sudah memegang sepasang pedang. Ia melangkah maju dan memberi isyarat kepada anak buahnya untuk mengepung.

“Kalian tahu hukuman untuk perusakan tempat pemujaan agama?”

Aku mencoba mengingat Arthasastra. Aku tidak bisa mengingat apapun-apakah karena Arthasastra memang tidak menyebutkan apa-apa? Betapapun negara dapat menambahkan apapun ke dalam undang-undangnya. Namun pertanyaan itu dijawab.

“Siapa mempertanyakan agama jika harus mengorbankan darah manusia tak bersalah? Agama itu ada untuk kebahagiaan atau penderitaan?”

“Katakan semuanya dalam sidang pengadilan! Kini serahkan dirimu atau kalian temukan kematian!”

Para pengawal rahasia istana segera menyerbu dengan Ilmu Pedang Suksmabhuta mereka yang juga telah dikembangkan untuk pertarungan antarkelompok yang berpasangan seperti sekarang. Di antara kobaran api yang tiada juga padam kusaksikan bentrok seru Ilmu Pedang Suksmabhuta yang dikuasai kaum perempuan serba jelita dengan pedang keperakan berkilat-kilat yang membentuk perisai cahaya melawan ancaman golok-golok hitam yang

menetak tanpa ampun dengan tikaman kejam.

Apa perbedaan golok dengan pedang? Tidakkah keduanya sama saja? Keduanya tidak dibedakan oleh bentuk, melainkan tujuannya. Golok memang bisa dimainkan seperti pedang, tetapi golok dibuat untuk segala keperluan, mulai dari memotong kayu, membabat semak, atau membelah buah kelapa-

suatu peralatan rumahtangga yang terdapat dalam setiap gubuk rakyat. Ini berarti dari tujuannya golok berbeda dengan pedang, yang memang dibuat sebagai senjata tajam, baik digunakan sekadar oleh seorang prajurit dalam suatu pasukan untuk bertempur, maupun dimainkan oleh seorang pendekar dengan ilmu pedang yang tinggi. Maka jika golok bisa dibuat oleh sembarang tukang besi, maka pedang dibuat oleh para ahli senjata; itu pun harus dibedakan antara pedang yang dibuat dan dicetak sekaligus dalam jumlah ribuan di pabrik senjata, dengan pedang yang dibuat seorang empu pembuat pedang, demi ilmu pedang tertentu.

Meski begitu, pada awal dan akhirnya, adalah siapa pemegang senjata itu yang akan menunjukkan kegunaaannya dalam pertarungan. Dalam dunia persilatan, dengan ilmu silatnya yang tinggi, seorang pendekar bisa tetap unggul meski hanya bersenjatakan sebatang lidi atau selembar daun. Bahkan tak jarang seorang pendekar menjadi harum namanya karena ilmu silat tangan kosong. Ilmu-ilmu silat tanpa senjata tidak kurang berbahaya dari ilmu-ilmu silat bersenjata. Namun itu tidak berarti ilmu-ilmu silat bersenjata tidak diperlukan lagi, karena ilmu silat yang manapun, termasuk pembuatan senjata itu sendiri, telah disikapi sebagai suatu seni. Para empu masih selalu tertarik menempa pedang yang terbaik untuk ilmu pedang yang masih terus diperdalam dan dikembangkan oleh para pendekar. Dari gunung ke gunung dari lembah ke lembah para pendekar masih terus mengembara di rimba hijau dan sungai telaga dunia persilatan mencari kesempurnaan.

16 Ilmu Halimunan, Ilmu Penyamaran, Bayangan Hitam Peradaban

PERTARUNGAN di bawah sana masih berlangsung dengan seru. Sekarang aku tidak menonton peristiwa ini sendirian. Sejumlah bayangan hitam yang bagaikan muncul begitu saja dari balik malam telah berkelebat mendekat dan mengamatinya tanpa terlihat. Mereka semua menguasai ilmu halimunan, yakni ilmu yang berhubungan dengan penyusupan ke wilayah musuh, yang penuh dengan tindak penyamaran dan pengelabuan. Bukan dalam arti menyamar sebagai mata-mata yang merupakan agen rahasia, melainkan penyamaran dalam arti betapa seluruh kegiatan mereka diusahakan tiada tercerap oleh pancaindera manusia. Maka wajarlah jika mereka membungkus tubuhnya dengan ketat dalam warna serba hitam, sehingga bukan hanya

kehitaman busana itu akan menyamarkan pandangan dalam kegelapan malam, melainkan juga suaranya tiada akan terdengar sepelan apapun jua, karena cara berbusana itu memang merupakan bagian dari ilmu-ilmu halimunan atau ilmu penyusupan.

Mereka itulah yang telah datang ke dalam gua dengan tugas membunuhku, tentulah karena kepercayaan yang tinggi atas kemampuan mereka dalam tugas-tugas pembunuhan. Semula kelompok macam ini merupakan bagian dari gugus-gugus tugas yang terdapat dalam militer, terutama ketika diperlukan penyusupan rahasia ke wilayah musuh, seperti mencuri peta siasat, naskah rahasia, senjata pusaka, atau bahkan sampai membunuh panglima atau raja. Menghadapi kemungkinan macam ini, maka terdapatlah pengawal rahasia istana, yang tugasnya bukanlah berbaris di samping gajah dalam upacara kenegaraan, melainkan memiliki kebebasan untuk melakukan apapun yang dianggap perlu untuk dilakukan

demi keselamatan raja-karena raja dianggap sebagai penjelmaan dewa yang kepadanyalah kesejahteraan negara dan rakyatnya tergantung sepanjang masa. Kepercayaan macam ini tidak berubah ketika agama Buddha makin besar pengaruhnya, apalagi ketika para raja yang memeluk Hindu kembali berkuasa.

Dengan demikian antara gugus tugas halimunan yang sengaja tidak pernah diberi nama, bahkan keberadaannya juga sedapat mungkin dirahasiakan, dengan para pengawal rahasia istana itu merupakan musuh bebuyutan, selama masing-masing berada di pihak yang berlawanan. Seringkali terdapat pengawal rahasia istana yang semula merupakan anggota gugus tugas halimunan tersebut, karena menguasai ilmu yang sama dengan pihak yang berusaha melakukan penyusupan dianggap adalah cara terbaik sebagai pertahanan menghadapinya.

Memang terdapat perbedaan besar antara ilmu halimunan sebagai ilmu penyusupan ke wilayah musuh, dengan ilmu para mata-mata yang wajib dikuasai dalam penyamaran; dalam ilmu halimunan penguasaan ilmu silat adalah mutlak, karena tugasnya sudah jelas menunjukkan risikonya-tetapi meskipun risiko seorang mata-mata juga sama berbahayanya, ilmu silat bukanlah merupakan syarat mutlak, karena tugasnya itu sendiri tidak selalu berada di tengah bahaya.

Dalam Arthasastra Bab 12 Bagian 8 Pasal 6 disebutkan :

Raja hendaknya mempekerjakan mereka

dengan penyamaran yang meyakinkan

dalam hal asalnegara, pakaian, jabatan,

bahasa dan kelahiran,

untuk memata-matai,

sesuai dengan kesetiaan dan kemampuan mereka,

terhadap para tirtha (pejabat tinggi), penasehat,

mantripurohita (pendeta), panglima tertinggi,

putera mahkota, kepala pelayan istana,

kepala penjaga istana, para kepala bagian,

penata harian, sanndhatri (bendaharawan),

prasastri (hakim), nayaka (kepala jagabaya),

paura (kepala daerah), karmantika (kepala pabrik),

mantriparisadha (dewan menteri), adhyaksa (pengawas),

dandapala (kepala angkatan perang),

durgapala (pemimpin benteng),

antapala (pemimpin wilayah perbatasan),

dan atavika (kepala kehutanan) di daerahnya sendiri.63

Meskipun begitu, bukan tidak mungkin ilmu halimunan dan ilmu penyamaran itu terdapat dalam diri satu orang, sehingga segala tugas yang berhubungan dengan kedua ilmu itu dapat dirangkapnya. Demi kepentingan negara, kemampuan seperti ini membuat yang memilikinya menjadi penyusup maupun mata-mata unggulan.

Namun kemampuan istimewa yang semula dipersembahkan kepada negara dan raja, bisa terbelokkan oleh kemilau harta, pesona tahta, dan daya tarik cinta membara. Maka bukanlah pengkhianatan yang terjadi ketika kedua ilmu penting bagi negara itu justru tidak lagi secara mutlak dikuasai negara, melainkan betapa semangat perdagangan telah menjadikan penguasaan atas ilmu-ilmu tersebut sebagai modal untuk memperjualbelikannya. Ini berarti siapapun bisa membayar untuk mendapatkan jasa ilmu halimunan maupun ilmu penyamaran, dengan bayaran yang dapat lebih mencengangkan dari 10.000 keping emas yang telah ditawarkan untuk memburuku. Perseteruan dalam kekuasaan dan cinta sudah lama melibatkan segala daya ilmu

halimunan dan ilmu penyamaran tersebut-dan aku tidak bisa menduga apa tujuan maupun apa yang akan dilakukan sosok-sosok berbalut busana hitam yang memenuhi atap-atap rumah di sekeliling tempat pertarungan.

Aku teringat kelanjutan Arthasastra perihal “Peraturan untuk Petugas Rahasia” tadi, mulai dari Pasal 7 sampai

Pasal 12.

pembunuh bayaran yang bekerja sebagai pembawa payung, tempat air, kipas, sepatu, kursi, kereta dan hewan tunggangan, hendaknya memata-matai dan mengawasi kegiatan luar para opsir agen rahasia hendaknya menyampaikan kepada pusat mata-mata pemberi racun yang bekerja sebagai tukang masak, pelayan, pelayan pemandian, pencuci rambut, penyiap ranjang, pencukur, pelayan berpakaian dan pelayan air, mereka yang tampil sebagai orang bongkok, orang kerdil, kirata, tunawicara, tunarungu, tunapirsa64, pemain wayang, penari, penyanyi, pemusik, juru cerita, dan penghibur maupun para wanita hendaknya memata-matai dan mengamati para petugas di dalam rumah mata-mata pertapa wanita hendaknya menyampaikan itu kepada penguasa mata-mata para pembantu tempat itu hendaknya melaksanakan penyampaian berita mata-mata itu dengan menggunakan samjnalipbhi (sandi) dan antara penguasa itu maupun pembantu (mata-mata) ini hendaknya tidak saling mengenal65

Bukankah dunia penuh dengan permainan rahasia? Di bawah sana, api tidak bisa diatasi, tetapi lama kelamaan menyurut dengan sendirinya. Pertarungan berlangsung dalam temaram sisa-sisa nyala api, membuat setiap gerakan golok dan pedang itu menjadi ancaman maut yang semakin nyata.

“Aaaaaahhhhhhh!”

Perempuan yang anaknya mati itu menjerit keras, ketika pedang tipis lawannya menusuk perutnya, tembus sampai ke punggungnya.

Namun jerit kesakitan lain menyusul, ketika seorang pengawal rahasia istana terpapas lambungnya ketika sedang berputar menghindar di udara. Satu persatu jatuh korban di kedua belah pihak, karena setiap kali berhasil menjatuhkan lawan masing-masing segera mendapat lawan baru-dan tidak ada pertarungan yang tidak memakan korban. Lima dari kelompok orang-orang yang disebut sebagai penganut aliran sesat dan lima dari para pengawal rahasia istana telah bergelimpangan tanpa nyawa. Busana para

pengawal rahasia istana yang putih tidak kelihatan ujudnya lagi karena bersimbah darah. Tinggal kedua pemukanya berhadapan, lelaki itu masih memegang golok hitam legam yang nyaris tiada kelihatan, perempuan paruh baya berambut keperakan dengan sepasang pedang di tangan.

“Menyerahlah jika ingin mendapat keadilan, barangkali nyawamu bisa diselamatkan!”

“Dikau telah menuduh kami beraliran sesat, apakah masih sesat jika aku tahu bahwa mati dalam pertarungan adalah kehormatan?”

Perempuan itu menggeleng-gelengkan kepala.

“Mengapa kaum bid’ah selalu pandai berbicara? Mungkinkah kepandaiannya itu yang menyesatkan mereka?”66

Lelaki itu tersenyum pahit.

“Aku sudah kehilangan segalanya. Anak, istri, saudarasaudara. Tapi aku akan bahagia mati tanpa kehilangan keyakinanku. Apakah kalian bisa seperti itu? Masih bahagiakah kalian tanpa kekuasaan, tanpa kekayaan, tanpa keunggulan apapun juga, masihkah?”

Perempuan itu menunjuk dengan pedang di tangan kanannya.

“Hmmmh! Bicaramu seperti orang golongan putih! Padahal yang kalian pelajari adalah ilmu hitam!”

Kini lelaki itu tertawa terbahak-bahak.

“Ilmu hitam? Aku rasa pikiran kalianlah yang tersesat! Sayang sekali, sayang sekali untuk perempuan berilmu tinggi seperti kamu-kukira seorang pengawal rahasia istana seharusnya lebih pintar dari itu!”

“Apa yang bisa diminta dari seorang tertuduh yang tidak sudi menyerahkan diri. Jika dikau menganggap dirimu seorang warganegara, percayakanlah nasibmu kepada peradilan. Hanya atas nama keadilan aku wajib menangkapmu!”

Tawa lelaki itu mendadak berhenti.

“Aku seorang merdeka, aku tidak mengakui peradilanmu!”

Suasana tegang. Aku tahu sudah tidak ada lagi titik temu.

“Setidaknya dikau merusak tempat peribadatan, jika dikau mengakuinya sebagai bukan agamamu, itu kejahatan yang lebih tidak terampunkan! Ataukah aliran sesatmu justru membenarkan?”

Lelaki itu tampak tidak tertarik lagi untuk menjawab. Wajahnya tampak pasrah dan mantap. Hanya sepotong kain melilit pinggang dan golok hitam di tangan. Apalagi yang diinginkannya dari dunia ini, jika keluarga mati, tanah dirampas, dan keyakinan pun tertindas?

“Lakukanlah apa yang harus kamu lakukan,” katanya.

***

PEREMPUAN itu mengangkat kedua pedangnya, yang kiri menunjuk ke depan, yang kanan terangkat ke atas, sementara kaki kanannya ditarik merendah dan menekuk ke belakang, yang kukenal sebagai jurus pembuka Ilmu Pedang Suksmabhuta Tingkat Kedua. Ilmu silat memang bisa dikembangkan bertingkat-tingkat, sejauh pemilik ilmu

silat memang ingin mengembangkannya. Seorang penemu meletakkan dasar dan mengembangkannya. Namun seorang murid yang mempelajari ilmu silat, dengan dasar yang sama dapat mengembangkannya secara berbeda. Murid yang cerdas bahkan akan mampu mengembangkan dasar-dasar itu menjadi pengembangan yang lebih hebat dari ilmu silat gurunya.

Jika disebutkan terdapatnya tingkat dalam pengembangan itu, maka dimaksudkan bahwa semakin tinggi tingkatnya semakin canggihlah ilmu silat pada tingkat itu, dan karenanya tenaga pendukung pada tingkat itu mesti lebih besar pula dayanya. Jika terlihat seorang pendekar tampak bergerak sangat cepat seperti bayangan melesat, meski gerakannya tampak ringan tanpa suara, maka sebenarnyalah betapa daya pendukungnya berasal dari tenaga yang luar biasa besar, sehingga hanya kemampuan tenaga dalamlah yang akan mampu mendukungnya. Maka melihat jurus pembukaan itu, aku tahulah sudah apa yang akan terjadi.

Dengan segera pendekar perempuan itu bergerak sangat cepat, sampai tidak terlihat, dan lelaki bergolok hitam itu menjadi tampak berada dalam kesulitan. Rakyat tidak pernah mempunyai waktu semewah para pendekar silat, yang memang hidup hanya demi ilmu silat, mengorbankan segenap tuntutan bermasyarakat, mulai dari berkeluarga sampai membela negara, karena para pendekar memang hidup hanya untuk dirinya sendiri saja, dalam apa yang mereka kira sebagai perjalanan mencari kesempurnaan. Rakyat belajar silat hanya untuk membela diri dan tidak untuk menguasainya sebagai seni,

sehingga ilmu silat rakyat jelata memang disesuaikan dengan keterbatasan waktu maupun minat mereka.

Akibatnya segera tampak dalam pertarungan ini. Jika semula tampak bayangan hitam dan bayangan putih keperakan saling melesat di antara dentang benturan golok dan pedang, sebentar kemudian tampaklah betapa bayangan hitam itu makin lama makin jelas sosoknya,

sementara bayangan putih dengan leluasa menyerangnya dari segala penjuru sembari mengitari bayangan hitam yang telah semakin lambat geraknya. Agak mengherankan bahwa sabetan dan tusukan pedang tipis keperakan itu masih saja tertangkis oleh golok hitam, yang masih berputar seperti baling-baling sebisanya melindungi tubuh dari dua pedang sekaligus yang selalu datang dari dua arah!

Sejak tadi aku mengamati para pemegang golok hitam, karena sangat penasaran tidak bisa mengenali ilmu pedang kerakyatan yang mereka andalkan-jelas ini bukan perkara tinggi rendahnya ilmu, melainkan bahwa mereka ini pada dasarnya bukan pesilat. Ilmu pedang rakyat jelata yang purba memang sudah tidak dapat diketahui asal-usul penemu dan penyebarnya, tetapi sejak mereka peragakan ilmu pedang sebagai cakram berputar bagaikan gelar perang Cakrabyuha, kuduga seorang pendekar yang memahami ilmu perang telah melakukan pembaruan. Aku bertanya-tanya dalam kepala, apakah karena keenam orang tadi sekadar bekas tentara, ataukah ilmu pedang yang digabungkan ilmu perang, dan diterapkan kepada golok pembelah kayu ini, sebenarnya telah dikuasai banyak orang?

“Matilah kamu yang telah menghina Durga!”

Saat itu golok hitam tampak terpental ke langit dan sepasang pedang dalam sepersekian detik sudah akan memenggal leher lawannya dari kiri dan kanan, ketika mendadak saja puluhan pisau terbang berdesau mengancam berbagai titik mematikan pada tubuhnya. Pendekar perempuan itu rupanya bukanlah pendekar sembarangan, ia mengubah arah kedua pedangnya dan melenting ke udara-sejumlah pisau terbang berhasil ditangkisnya, tetapi betapapun puluhan pisau terbang itu meluncur dari segala arah!

Jap! Jap! Jap! Jap! Jap!

Tak urung lima pisau terbang menancap di tubuhnya, tetapi karena dengan melenting ke udara itu berarti

sebagai sasaran ia sudah berpindah, lima pisau terbang itu tidak tertancap di tempat mematikan. Sebaliknya, karena lompatannya ke udara yang tiba-tiba itu, lebih dari selusin pisau terbang justru menancap di tubuh lawannya. Bahkan sebelum jatuh menyentuh tanah, nyawa orang itu telah lepas dari tubuhnya-sebilah pisau terbang menancap pada jantungnya.

Aku terkesiap dan melesat. Golok hitam yang masih melayang jatuh itu kusambar di udara-dan sebelum siapapun menyadarinya, aku telah menghabisi orang-orang berbalut busana hitam pekat yang hanya tampak matanya itu. Sebetulnya aku tidak ingin turut campur, dan dalam tujuan penyelidikanku seharusnya aku memang tidak melibatkan diri. Namun usia seratus tahunku tiada mampu menahan luapan marah serentak yang datang tiba-tiba, ketika menyaksikan pelemparan puluhan pisau terbang dari kegelapan. Pengecut! Aku sangat muak setiap kali berhadapan dengan orang-orang seperti ini. Aku lebih menghargai pengecut yang dengan jujur melarikan diri, dibanding penyergap malam yang licik seperti ini.

Kusadari betapa kelicikan ini telah menjadi suatu aliran dalam dunia persilatan, atas nama segenap siasat dalam perang antarkerajaan-tetapi meskipun belum jelas bagiku keberadaan para pelempar pisau terbang ini, memanfaatkan kelemahan seperti itu membuat aku tidak bisa hanya menonton di luar lingkaran. Saat turun dari menyambar golok hitam di udara, tanganku menyambar kepingan-kepingan emas dari balik baju. Begitu mendarat di tanah, limabelas orang menggelinding jatuh dengan kepingan emas menancap dalam-dalam di antara kedua matanya. Tujuh orang segera disergap tujuh pengawal rahasia istana yang melejit ke atas atap, termasuk perempuan paruh baya yang belum mencabut lima pisau dari tubuhnya-sebaliknya delapan orang sisanya melarikan diri ke delapan penjuru. Aku bergerak cepat memburu salah satu agar bisa mengorek keterangannya.

Dari atap ke atap kubuntuti dia yang tidak mengetahui

aku mengejar di belakangnya. Aku harus waspada karena membuntuti orang secara diam-diam adalah bagian dari ilmu halimunan. Mereka akan sangat mengerti sedang dibuntuti atau tidak dibuntuti di mana pun mereka berada. Maka ketika ia selalu mewaspadai arah belakangnya, aku dengan segera sudah berada jauh di depannya, dan selalu berusaha mendahuluinya ke manapun dia pergi. Tentu saja aku harus memastikan bahwa dia juga tidak

akan memergoki dan dapat menangkap kelebat bayangan di depannya itu. Tinggi rendahnya ilmu seseorang tidaklah begitu mudah untuk gampang kita tebak-seperti ketika aku telah selalu mengelabui orang dalam masa dua puluh lima tahun penyamaranku.

Semakin jauh dari wilayah kebakaran, kotaraja semakin gelap dan hanya gelap, menyisakan titik-titik lentera di balik dinding bambu yang tiada berarti. Kegelapan yang sangat menolongku. Aku ingin tahu ke mana dia akan kembali. Meskipun tampaknya mereka melemparkan pisau-pisau terbangnya ke arah pengawal rahasia istana, aku mempertimbangkan kemungkinan bahwa lelaki bergolok hitam itu juga menjadi tujuan pembunuhan mereka-karena begitu tepat sasaran pisau-pisau terbang itu menancap di tubuhnya.

Ia mendekati sebuah dinding di dekat pura. Ketika dia semakin dekat, aku sudah berada di balik dinding, menempel pada dinding dengan ilmu cicak. Kupejamkan mataku karena pandanganku memang terhalangi dinding bata merah. Kuandalkan pendengaranku untuk menembus kegelapan.

Sebentar kemudian tujuh temannya yang lain tiba. Mereka berpencar sebagai cara untuk mengelabui jika ada yang mengejarnya. Tentu mereka merasa aman, sehingga berani berkumpul kembali. Aku merasa lega telah mengambil keputusan dengan tepat, karena mereka yang hidup dalam pekerjaan penyusupan bahkan tega membunuh dirinya, demi menjaga kerahasiaan

pekerjaannya itu. Mereka berbicara dengan berbisik-bisik. Kutajamkan pendengaranku.

“Siapa orang tua yang muncul tiba-tiba itu? Gerakannya terlalu cepat untuk diikuti mata, bahkan ia terlalu cepat menghilang sebelum kita bisa mengingatnya -apakah kalian yakin tidak seorang pun telah diikutinya?”

“Teman-teman kita yang tertinggal mati terbunuh semua oleh para pengawal rahasia istana, yang belum mati dibantai rakyat di bawah patung Durga.”

Aku menahan napas. Tidak bisa kubayangkan apa yang telah terjadi di sana. Rakyat yang marah ibarat gelombang pasang, bahkan kerajaan bila perlu dapat mereka runtuhkan.

“Jawab dulu pertanyaanku! Apakah kalian yakin orang tua dengan ilmu setinggi itu akan bisa kalian pergoki jika membuntuti kalian?”

Tidak ada jawaban.

“Periksa dulu sebelum kita lanjutkan percakapan!”

Hhhhh! Memang mereka sangat terlatih dalam tugas rahasia. Mereka menyebar ke delapan penjuru dan berputar searah ke kanan. Jika mereka melakukannya berulang-ulang dan semakin mendekat karena mengecilkan lingkarannya, tidak satu manusia pun dapat lolos dari ketajaman mata mereka. Aku menahan napas. Apa yang harus kulakukan jika mereka memergoki persembunyianku?

17 Kalapasa atawa Jerat Maut, Kaum Penyusup yang Menolak Dikhianati

MALAM sungguh-sungguh kelam, bagaikan tiada lagi yang lebih kelam dari kekelaman yang sedang kuhayati sekarang. Rembulan memang tertutup awan, tetapi sampai berapa lama? Jika mega-mega yang menganga bagaikan mulut Batara Kala melepaskan rembulan itu kembali, tempat ini akan menjadi terang, dan jika mereka berhasil memergoki aku, maka aku akan mengalami kegagalan untuk mendapat keterangan. Aku menempel di tembok seperti cicak yang sama sekali tidak bergerak, tetapi telinga yang terlatih dengan ilmu penyusupan mestinya mampu mendengar napasku.

Jarak antara mereka makin dekat, dan makin dekat pula mereka semua ke tempat persembunyianku. Napasku akan segera mereka dengar, dan apabila mega-mega meninggalkan rembulan yang memang tidak akan pernah dimakannya, jelas terlalu mudah untuk segera mereka pergoki keberadaanku.

Kudengar langkah-langkah mereka yang bersijingkat telinga awam tidak akan bisa menangkap suara sehalus itu, tetapi aku dapat melacak bunyi tergesernya debu di antara suara-suara malam. Kuhentikan napasku. Bukan masalah besar untuk menundukkan delapan orang ini, tetapi aku ingin mendengar sesuatu dari percakapan mereka.

Kulirik ke atas, aku mencoba menduga lamanya rembulan tertutup awan dan seberapa lama orang yang memeriksa berada di dekatku. Di balik tembok, tujuh orang telah berkumpul, berarti satu orang lagi masih berada di sekitarku, karena sejak tadi kutunggu belum juga tampak melewatiku. Namun ketujuh orang di balik tembok itu mulai bercakap.

“Siapa orang tua yang gerakannya sangat cepat itu? Aku

belum pernah melihat gerakan secepat itu.”

“Lima belas teman kita tewas dalam sekejap, kalau dia mau tampaknya bisa saja orang tua itu menghabisi kita semua.”

“Justru itulah yang kupikirkan. Kenapa dia tidak melakukannya jika lima belas orang terlatih dilumpuhkannya dengan terlalu mudah.”

Mereka terdiam sejenak. Namun aku menjadi curiga. Apakah mereka menduga dengan tepat bahwa aku mungkin saja telah mengikutinya, tanpa mampu mereka ketahui aku berada di mana?

Mereka masih diam. Apakah mereka meneruskan percakapan dengan bahasa isyarat? Dalam Arthasastra Bab 12 Bagian 8 tentang “Peraturan untuk Petugas Rahasia” tertulis:

mereka yang tidak memiliki sanak keluarga

dan harus dipertahankan,

ketika mereka mempelajari

laksanam (ilmu penafsiran tanda-tanda),

angavidya (ilmu sentuhan tubuh),

mayagata (ilmu sihir),

yang menyangkut

penciptaan jambhakavidya (khayalan),

tugas-tugas asrama,

antara-chakra (ilmu pertanda),

“roda dengan ruang”,

dan lain sebagainya

adalah petugas rahasia,

jika mereka mempelajari

seni berhubungan dengan manusia67

Jika mereka memanfaatkan semua ilmu yang jelas mereka kuasai tersebut, tentu saja aku tidak akan mampu mengetahui sesuatu pun, karena kunci bahasa sandi selalu diubah dari waktu ke waktu. Hanya mata-mata yang telah lama berkecimpung di dalamnya akan mengetahui

perkembangan kunci bahasa sandi tersebut, itu pun masih harus dibongkarnya makna kalimat-kalimat di dalamnya.

Jika seorang pembongkar kunci bahasa sandi mampu menemukan kalimat “Orang suci itu mampu menjamin kesejahteraan setiap orang” misalnya, maka ini sudah jelas menunjuk kepada suatu maksud lain. Betapa sulitnya membongkar rahasia yang diemban para petugas rahasia ini, juga karena seorang petugas rahasia tidak akan pernah mengetahui seluruh rahasia,

mereka hanya akan mengetahui sepotong rahasia -tidak akan pernah lebih, bahkan bisa kurang. Itulah sebabnya banyak rahasia hanya bisa terbongkar jika terdapat pengkhianatan-yang dengan sengaja akan selalu diusahakan, melalui pesona harta, kekuasaan, dan pemerasan cinta…

Apakah mereka sedang bertukar tanda dengan gerak tangan atau isyarat pandangan dan gerak tubuh di balik tembok itu? Jika begitu, maka seluruh usahaku tentu saja akan sia-sia. Namun kenapa mereka harus melakukannya jika berkumpul antara mereka sendiri? Aku harus merayap sepelan mungkin dan melihat sendiri mereka yang sedang berkumpul itu, tetapi aku tidak mungkin merayap naik sebelum memastikan keberadaan orang kedelapan. Ia bisa saja sedang menunggu gerakanku, karena tidak dapat menduga diriku berada di mana.

Waktu berjalan sangat lambat dalam keadaan seperti ini, karena memang tidak ada yang bisa kulakukan selain menunggu agar orang kedelapan itulah justru yang akan melakukan kesalahan.

Malam makin larut. Aku tidak bergerak. Menunggu dan menunggu.

***

SAAT-SAAT seperti ini rasanya lama sekali-tetapi kesabaran dalam hal seperti ini sangat menentukan hidup dan mati.

Orang kedelapan itu akhirnya muncul di antara mereka, tetapi hanya setelah melewatiku! Dia sempat berhenti lama

dalam jarak yang sangat dekat denganku, mencoba mendengar sesuatu dalam kegelapan pekat seperti itu, tetapi ia tak akan pernah mendengar nafasku. Begitu dia pergi kutirukan bunyi serangga malam hari, yang tidak mungkin berbunyi jika terdapat manusia di situ, agar dia lebih yakin tak ada siapa pun di tempatku sekarang.

Ia segera bergabung dengan tujuh orang lainnya.

“Tidak ada petak yang tidak terlewati oleh penyisiran kita. Aku juga sudah menunggu gerakannya. Seandainya ia memang terdapat di sini kita sudah mengetahuinya. Kita bisa merundingkan masalah kita dengan bebas.”

Dengan pengertian memahami artinya tidak ada yang ajaib dalam pembelajaran Jurus Tanpa Bentuk -justru karena memang tidak berbentuk.

Orang-orang berbaju hitam yang menggugat Bhatari Durga itu juga telah disebut sebagai aliran sesat, meski mereka sendiri tidak merasa begitu. Adapun orang-orang berbaju hitam yang sedang kumata-matai ini memanfaatkan kesamaan busana hitam-hitam mereka untuk memberi kesan tertentu atas orang-orang berbaju hitam itu –yakni, seperti telah kudengar, agar terdapat kesan betapa aliran sesat yang dimaksud merupakan ancaman berbahaya bagi negara. Bukan karena ajaran itu sendiri barangkali, tetapi karena mereka memiliki pasukan pembunuh yang tangguh dan kejam mematikan bukan buatan.

Namun begitu mudahkah kiranya mengelabui orang? Orang-orang yang dianggap pengikut aliran sesat itu memang berbaju hitam, tetapi baju hitam rakyat kebanyakan -taklebih dan tak kurang hanyalah kain hitam melilit pinggang, yang sebenarnya juga sudah tidak terlalu berwarna hitam. Semua warna adalah hasil celupan, dan jika kain yang sama terus menerus dicuci dan dipakai,

hanya akan luntur jua jadinya. Penanda betapa mereka hanyalah rakyat jelata yang miskin adanya. Berbeda dari busana serbahitam yang diandalkan dalam ilmu penyusupan, yang begitu pekat seperti malam yang tergelap, dan dibuat oleh para penjahit yang mengetahui maksud dan tujuan dari potongan baju seperti itu: membungkus seluruh tubuh, ringan tak bersuara, hanya menampakkan sepasang mata, dengan berbagai kantong dan ikat pinggang penyandang senjata.

Meski sama-sama hitam busananya, sebenarnyalah tiada sesuatu pun yang harus menghubungkan keduanya kecuali memang tidak diperlukan terlalu banyak alasan untuk membantai siapa pun yang dianggap berbeda, seperti golongan yang dianggap sesat.

Apakah yang telah terjadi? Apakah yang sedang berlangsung? Aku memikirkan kemungkinan bahwa aliran sesat dalam pengertian memang sesat pikirannya dan apalagi berbahaya itu sebenarnya tidak ada. Namun tampaknya segala usaha telah dikerahkan untuk membuat orang banyak yakin bahwa aliran sesat itu ada. Demi kepentingan apa? Demi kepentingan siapa? Aku belum bisa mengatakan apa-apa, karena setelah dua puluh lima tahun mengundurkan diri dari dunia ramai, tiada kesahihanku menyebutkan sembarang dugaan. Namun aku tahu betapa keberadaan aliran yang disebut

sesat ini sangat dibutuhkan, dan untuk itu diperlukan sejumlah kambing hitam yang meyakinkan.

Maka bukanlah Jurus Tanpa Bentuk, melainkan ketidakhadiranku, telah sangat membantu penyusunan cerita yang dihadirkan sebagai kenyataan itu. Telah kusebutkan betapa perburuan diriku menjadi penting, justru karena tertangkap maupun tidak tertangkapnya aku, terbunuh maupun tidak terbunuhnya diriku, tetap saja akan menguntungkan bagi yang menyebarkan cerita tentang aliran sesat itu. Aku tertangkap atau terbunuh, seluruh cerita yang dibangun atas namaku akan tetap berlaku; aku tidak kunjung tertangkap dan tidak dapat

terbunuh, justru akan membuktikan betapa memang berbahayanya diriku. Memang cerdik sekali. Bagaimanakah cara melawannya? Namun aku sungguh tidak mengetahui apa pun yang kiranya dapat membenarkan dugaan-dugaanku.

Kini kusadari betapa bukan aku sendirian yang menjadi korban. Orang-orang berbusana serba hitam itu telah terpancing untuk mengamuk, dan dibunuh atas nama kepercayaan yang sampai mati tidak pernah mereka lepaskan. Perbincangan orang-orang yang sedang kucuri dengar ini semakin meyakinkan aku akan terdapatnya sebuah siasat; bahwa mereka memanfaatkan kesamaan warna hitam baju mereka, agar orang banyak mengira mereka adalah bagian dari kekuatan suatu pasukan, dari yang disebut aliran sesat.

Apakah cerita ini dibangun suatu kelompok yang bermaksud merongrong kewibawaan negara dan merebut kekuasaan? Ataukah cerita semacam itu dibangun oleh pihak penguasa sebagai pembenaran atas pembasmian mereka kepada suatu golongan yang ingin mereka hapus dari muka bumi?

Mereka masih berada di balik tembok ketika sekali lagi terdengar suara burung kulik. Kali ini bahkan dua kali. Aku terkesiap. Memang seperti suara burung, tetapi kusadari bahwa suara itu berasal dari manusia. Itu suatu tanda! Meniru suara binatang adalah bagian dari ciri-ciri ilmu penyusupan. Bagaimana mungkin orang-orang yang sedang berbicara itu tidak mengenalnya?

—Missing: NagaBumi (57)—

18 Mengolah Rontal Menjadi Lontar

SUDAH tiga bulan aku menenggelamkan diri. Menikmati kehidupan sebagai orang awam yang menjual kepandaian sebagai pembuat lontar. Kekosongan pengetahuan karena menghilang dua puluh lima tahun dari dunia, tidak bisa ditebus dalam semalam sahaja -sebaliknya pengalaman sehari semalam bagi seseorang yang telah menghilang dua puluh lima tahun dari dunia, begitu penuh sesak serasa, bagai terpadatkannya dunia.

Semenjak malam ketika kucuri dengar perbincangan orang-orang Kalapasa itu, aku menghilang kembali ke dalam kota. Pada malam pertama aku bergabung dengan orang-orang yang tidur di pasar. Ada orang gila, ada gelandangan, dan juga candala yang terbuang dari kelompok sesama candala.

Kuandaikan bahwa meskipun Arthasastra menganjurkan penyelidikan dan penyamaran di semua tempat, pasar pengap seperti yang kudatangi adalah tempat yang paling dijauhi para mata-mata, karena terlalu mudahnya orang luar ditandai. Aku memang orang asing bagi mereka, tetapi siapa yang akan mengira betapa seorang tua renta yang seratus tahun umurnya akan bisa berbahaya bagi mereka? Sebaliknya justru akulah yang harus menghindari perkara dengan mereka. Bukankah aku membawa keping-keping emas? Menyuruk di tempat gelandangan, aku hanya harus mewaspadai orang-orang Partai Pengemis. Karena mereka seperti mempunyai kemampuan istimewa untuk mengetahui pengemis sesungguhnya atau pengemis pura-pura-karena mereka sendiri memanglah bukan pengemis, melainkan orang-orang persilatan yang memilih jalan hidup sebagai pengemis.

Maka aku pun tidak terlalu lama menyuruk dalam kegelapan bersama kaum candala dan orang-orang yang tersingkir dari masyarakatnya itu. Persembunyian terbaik

sesungguhnyalah bukan menjauhi keramaian, melainkan justru melebur bersamanya.

Maka, begitulah suatu ketika aku menyewa sebuah ruang di penginapan yang berdinding bambu dan beratap rumbia, memulai langkah-langkah pengamatanku sedikit demi sedikit dengan pelan dan sabar. Ini bukanlah sekadar soal siapakah manusianya yang memerintahkan pembunuhan dan

perburuan atas diriku, tetapi keadaan macam apakah yang membuat keputusan itu diambil.

Aku ingin mempelajari semuanya dan baru setelah itu melakukan perhitungan: Benarkah aku harus mencari dan mengadili mereka yang melakukan fitnah dan merancang perburuan diriku, seperti yang berlaku dalam dunia persilatan; ataukah terdapat suatu cara lain untuk mengatakan kepada dunia betapa aku tidak bersalah, sebagai cara yang barangkali akan dianggap lebih berbudaya.

Setidaknya aku ingin menenangkan diriku dahulu. Tentulah terlalu banyak hal yang telah kualami dalam waktu singkat bagi seseorang yang telah mengurung dirinya dalam sebuah gua di rimba raya.

Seorang pendekar boleh memiliki ketahanan jiwa yang hebat, misalnya ketika mengalami pengeroyokan dalam pertarungan. Seringkali terdapat seorang pendekar dikeroyok oleh seratus orang dan bisa memenangkannya, sebetulnya hanya karena ia telah berlaku tenang maka ia bisa menundukkannya satu persatu, seperti yang kulakukan dalam Pembantaian Seratus Pendekar.

Namun jika seorang pendekar harus tinggal bersama dirinya sendiri selama duapuluhlima tahun, itu berarti ia harus melawan banyak masalah yang timbul dari dirinya sendiri, itulah tantangan yang sungguh-sungguh menguji ketahanan jiwanya. Di dalam hutan, di dalam gua, tak berjumpa manusia selama duapuluhlima tahun lamanya, aku harus membangun duniaku sendiri, agar aku tetap merasa menjalani kehidupan dengan sewajarnya.

Itulah yang kulakukan di dalam hutan dahulu, yang

antara lain harus kuatasi dengan melakukan hal-hal lain, misalnya seperti membuat lontar tersebut. Pada lontar itu aku bisa menuliskan apa pun yang ingin kutuliskan -apa pun, sejauh pemikiran apapun melewati kepalaku. Tentu saja aku tidak dengan sendirinya langsung mampu membuat lontar itu. Aku mempelajarinya sedikit demi sedikit pada masa ketika aku harus menyamar dan melebur ke dalam kehidupan awam sehari-hari.

Kata lontar adalah kesalahan ucap dari rontal -helai daun yang dimanfaatkan untuk menulis. Pohon lontar juga disebut pohon siwalan, yang termasuk jenis pohon palem. Daunnya memang lebar seperti kipas dan tumbuh secara liar

dengan sangat lambat-tetapi di dalam hutan dulu, aku mempunyai cukup waktu.

Daun lontar yang untuk menulis adalah yang masih muda, artinya yang masih berwarna hijau, tetapi ujungnya mulai berubah menjadi cokelat. Cara memetiknya juga tidak sembarangan, yakni tidak boleh dijatuhkan dan harus dibawa turun. Maka sering terjadi aku melompat ke atas dengan ilmu meringankan tubuh, sekadar untuk memetik daun itu lantas turun perlahan-lahan seperti tubuhku tidak mempunyai bobot.

Setelah dipetik, maka daun itu disayat dari batang daunnya, lantas dijemur selama dua sampai tiga hari sampai kering. Setelah itu, daun-daun ini direndam lagi dalam air selama tiga hari, lalu lagi-lagi dijemur. Barulah setelah kering yang kali ini, lidinya dibuang dan dipotong menurut ukuran-ukuran tertentu. Kemudian direbus dalam dandang, dengan air yang diberi campuran rempahrempah, dengan bahan seperti babakan pohon intaran, babakan pohon book, umbi pohon sikapa, putik kelapa, temu tis, dan jagung tua. Bayangkanlah bagaimana di dalam hutan aku harus mempersiapkan semua itu sendirian. Campuran rempah ini berguna, supaya lontar itu tahan lama dan tidak dimakan rayap. Lama juga lontar itu akan direbus, dibatasi sampai jagung menjadi bubur dan daun lontar menjadi lemas, baru setelah itu diangkat

dari dandang, untuk dicuci dengan air dingin sampai bersih.

Ini belum berakhir, karena setelah lontar dijemur sampai kering, sore hari lontar itu dijajarkan selama beberapa saat68 di atas tanah yang disiram dulu dengan air dingin, agar mendapatkan hawa lembab. Ini dilakukan supaya lontar yang tadinya mengerut, melebar kembali seperti asalnya. Esoknya, baru daun lontar dibersihkan dengan kain dan ditekan lama, setidak-tidaknya empatbelas hari. Pada waktu itu, daun lontar diukur panjang dan lebarnya, menyesuaikan diri dengan kebutuhannya, lantas diberi tiga lubang; dua buah pada tepi dan satu buah di tengahnya. Setelah selesai, ketiga lubang itu dipasak dengan lidi dari bambu, supaya terikat erat. Lantas tepi lontarnya diserut supaya licin dan rata, kemudian digosok dengan batu apung, supaya selain lemas juga jadi kuat. Setelah ini baru dicat dengan pewarna merah dan dijadikan berkilat.69

Hanya untuk membuat lontar saja aku mengalami puluhan kali kegagalan, bukan saja karena bahanbahannya mesti kutanam dan tumbuhkan lebih dahulu, tetapi juga karena cara pembuatannya hanya bisa kuingatingat saja. Dari para guruku, aku memang mendapatkan banyak sekali ilmu, tetapi hanya kepada ilmu silat perhatianku tertuju. Namun setelah mengalami banyak kegagalan, akhirnya aku bisa menghasilkan lembaranlembaran lontar yang siap ditulisi, dan begitulah dari saat ke saat aku menuliskan kitab-kitab ilmu silat yang kuandaikan dapat mewakili keberadaanku di bumi jika aku mati.

Jadi aku memang meninggalkan banyak naskah di gua itu, tersembunyi di tempat yang aman dan terjamin keawetannya, tiada seorangpun akan bisa menemukannya

jika mencarinya tanpa petunjuk dariku. Kecuali, tentu, jika ada seseorang yang menemukannya secara kebetulan, dan alangkah celakanya jika ia taktahu apa yang telah ditemukannya. Betapapun orang Yawabumi telah menemukan hurufnya sendiri, sebagai imbangan bahasa dan huruf Sansekerta yang berasal dari Jambhudwipa, kepandaian membaca dan menulis masih sangat langka. Kemampuan membaca dan menulis hanya dikuasai mereka yang mempunyai kewajiban memimpin upacara agama dan menjalankan hukum-hukum tatanegara. Itu pun tidak selalu mereka semua menguasainya. Kadangkadang mereka hanya mengandalkan kemampuan para juru tulis, untuk menyampaikan isi suatu naskah, ataupun mencatat apa yang perlu dimasukkan pada naskah. Maka, apapun yang tertulis dan dituliskan mempunyai nilai tinggi dan dianggap sebagai pusaka. Tempat penyimpanannya pun dijaga oleh bukan sembarang pengawal, karena siapapun yang terlibat dalam penulisan naskah sangat menyadari betapa naskahnaskah ini sangat penting artinya sebagai catatan masa kini bagi anak cucu mereka pada masa yang akan datang.

Namun, seperti yang telah kualami, kusadari betapa segenap penulisan naskah-naskah itu penuh diselimuti dengan kepentingan. Itulah kepentingan mereka yang memberi perintah untuk menuliskannya, dan itulah yang lebih sering terjadi: dunia naskah, tulisan, dan pembacaan tulisan itu adalah dunia para penguasa. Penulisan naskah itu hidup dan beredar di kalangan penguasa sebagai suatu usaha pembenaran. Nah, apakah yang bisa lebih mengerikan dari ini?

Dengan huruf-huruf yang tertera pada naskah dan bertahan menembus waktu dari abad ke abad, para penguasa masih dapat melakukan penjajahan pikiran, atau mengabarkan kebohongan, sampai masa yang mereka sendiri tidak akan pernah bisa menduganya. Itulah, menguasai ruang saja tidak cukup, menguasai waktu juga dianggap perlu-maka hal itu dipastikan dengan penulisan

naskah yang isinya akan selalu berpihak kepada kepentingan penguasa.

Aku mulai memikirkan hal ini ketika mendengar keluhan orang-orang yang tanahnya harus diserahkan untuk bangunan keagamaan. Dalam prasasti kedudukan mereka selalu terhormat, yakni dipersilakan menghadiri upacara peresmian prasasti, dengan pendapat bahwa penyerahan tanah itu dilakukan secara suka rela demi negara dan agama.

Di luar dari yang tertulis pada prasasti, tidak ada yang tahu nasib mereka selanjutnya-dan aku mengetahuinya. Jika aku menuliskan segala cerita tentang dunia semasa aku hidup, dari sudut pandang rakyat jelata, dan bukan penguasa, apakah masih akan banyak berguna sebagai perlawanan terhadap penjajahan pikiran para penguasa?

Di dalam bilik bambu aku masih berpikir, ketika di luar pondok terdengar olehku orang berlalu lalang. Umurku sudah seratus tahun lebih dan barangkali tidak banyak lagi waktu untuk menuliskan segalanya dari sudut pandang rakyat jelata. Namun pemahaman betapa para kawi dengan kemampuan berbahasa terindah hanya mengabdikan dirinya kepada para penguasa, membuat aku merasa telah berlangsung semacam persekongkolankarena di sana hanya raja, dan bukan rakyat yang telah bekerja keras menjadi penting. Bukankah bukan hanya raja, tetapi juga rakyat, yang membuat kebudayaan berjalan? Namun para kawi selalu membuka tulisannya dengan suatu manggala, bahwa tulisan itu dipersembahkan kepada sang raja sebagai titisan dewa, dan hanya karena kesempatan yang diberikan oleh raja itulah, sebagai pelindung dan pengayom mereka, maka mereka dapat menghasilkan karya tersebut.

Aku bertanya kepada diriku sendiri, apakah keadaannya akan berubah jika semua orang bisa membaca, menulis, dan mengemukakan pendapatnya sendiri? Dunia ini harus dibikin seimbang, pikirku, setidaknya harus ditunjukkan terdapatnya perlawanan

dan itu semua tentunya harus dituliskan. Kadang-kadang menyesal juga aku, bahwa selama duapuluhlima tahun pengasinganku di rimba raya, waktuku habis untuk menuliskan kitab-kitab ilmu silat-tetapi itulah memang duniaku sejak dulu, dunia persilatan. Memang benar aku telah mempelajari banyak hal duapuluhlima tahun sebelumnya, ketika meleburkan diri dengan kehidupan orang awam, tetapi itu semua masih dalam rangka penyamaran, dan dalam sudut pandang seorang pendekar silat yang bersembunyi. Kini, mungkin karena umur, keadaannya agak berbeda. Dalam hari-hari tenang di penginapan, aku menyadari bahwa umurku menuntut aku berpikir masak-masak: Apakah yang masih bisa kulakukan dalam sisa hidupku, yang tentunya tidak akan lama lagi?

***

DI MANTYASIH, rempah-rempah untuk pembuatan lontar bisa kudapatkan di pasar. Aku melamar pekerjaan kepada pembuat lontar yang selalu menerima pesanan dari para penulis istana. Sebagai orang yang tampak tua, meski rambutku tetap kupertahankan dengan semir hitamnya, pengakuanku pernah bekerja pada masa Rakai Pikatan, yang berkuasa antara tahun 847 sampai 855 cukup meyakinkan. Sebetulnya sejak tahun 846 aku sudah menghilang dari dunia ramai. Kini, dalam masa pemerintahan Rakai Kayuwangi yang sudah berada di singgasana kekuasaan selama 16 tahun, kebutuhannya untuk mengukuhkan keberadaan diri tentu juga ada. Setidaknya tiga prasasti telah memuat namanya, dan tentu saja selama ia masih berkuasa tidaklah akan berhenti. Memang, tidak selalu namanya termuat dalam prasasti yang dibuat pemerintahnya sendiri, seperti prasasti tahun 856 yang terdapat di Nalanda, perguruan agama Buddha di Jambhudwipa, dan pernah kubaca ringkasannya dalam catatan seorang pelaut baru-baru ini.

Seorang raja yang bernama Jatiningrat, pemeluk agama Siwa, kawin dengan seorang permaisuri yang memeluk agama lain. Balauputra menimbun ratusan batu untuk dijadikan benteng pertahanan dan tempat bersembunyi dalam perang melawan Jatiningrat. Raja mengambil nama Brahmana Jatiningrat mendirikan kraton Medang di daerah Mamrati. Sesudah itu beliau mengundurkan diri sebagai raja menyerahkan kuasa kepada Dyah Lokapala. Rakyat terbagi empat asrama, masing-masing dikuasai seorang brahmana. Sang raja bersiap mengadakan upacara kematian. Rakai Mamrati

menyerahkan tanah Wantil. Beliau merasa malu, dusun Iwung pernah menjadi gelanggang pertempuran. Setelah beliau mencapai kekuasaan dan kejayaan, beliau mendirikan candi makam, menghimpun pengetahuan dharma dan adharma. Tidak ada orang yang berani melawan beliau. Sang raja mendirikan halu70 , Semua orang turut menyumbang Pembangunan lingga yang indah. Di gapura terdapat arca penjaga yang gagah berani menjaga keselamatan bangunan. Di pintu masuk, didirikan dua bangunan yang berbeda bentuknya Halaman lingga ditanami pohon tanjung dan didirikan rumah-rumah kecil untuk para pertapa pokoknya indah sekali Ruang bangunan terindah bagi yang diperdewa

Para pengunjung dan penyembah berdiri

dalam deretan dengan hormat dan tenang

Semua orang diminta datang bersembah

Peresmian berlangsung tahun Saka 778

hari ke sebelas bulan terang Selasa Wage

setelah bangunan selesai

sungai dipindahkan

tanah menjadi wilayah candi

tanah merdeka pameger Wantil

tanah merdeka milik candi

semua orang bertugas menjaga

dan melakukan persembahan

harap tekun dan tabah

tidak mengalami lahir-mati tanpa henti71

Bagi banyak orang pada masaku sekarang ini, tulisan pada batu dianggap setara dengan mantra, dan itulah yang membuat orang lebih suka menjauhinya-meski tiada kutukan dalam prasasti ini. Namun bagaimanakah orang-orang di masa mendatang menafsirkan tulisan pada prasasti itu? Aku tidak bisa menduganya, tetapi aku merasa bahwa akan lebih baik orang di masa mendatang itu juga membaca tulisan-tulisan yang lain, terutama yang tidak ditulis oleh penguasa. Betapa aku merasa pengetahuan semacam ini datang dengan sangat terlambat.

Masih kudengar suara orang-orang berlalu lalang di luar dinding bambu. Penginapan sederhana ini terletak di perempatan. Di mana pun agaknya

perempatan menjadi pusat pertumbuhan. Aku tak tahu apakah mesti pindah, untuk menghindari pertemuan dengan banyak orang, ataukah tetap di sini, agar lebih cepat mendapatkan kejelasan tentang duniaku sekarang ini.

Aku keluar ruangan dan menuju ke tepi sungai. Di sinilah semua orang mandi dan mencuci. Namun di tepi

sungai, sepagi ini ternyata sedang terjadi kegemparan, karena seseorang telah terkapar menjadi mayat, dengan sebilah pisau menancap pada jantungnya.

19 Cakrawarti, Nagasena, Dharmacakra

MELIHAT mayat terkapar di tepi sungai dengan belati di jantungnya -apakah yang harus kulakukan? Hari baru terang tanah, jadi penemunya tentu orang-orang pertama yang turun ke kali, orang-orang tua yang mau buang air, ibu-ibu yang mengambil air untuk masak, karena baru agak siang nanti gadis-gadis akan turun untuk mandi dan mencuci.

Dengan menjadi gempar artinya mereka menjauhi mayat itu sambil berteriak-teriak. Untuk sejenak aku raguragu, apakah aku harus melibatkan diri atau tidak? Di satu pihak aku membutuhkan ketenangan untuk memahami dunia secara lebih meyakinkan, di lain pihak aku merasa peristiwa apa pun dapat menjadi penanda bagi kepentinganku untuk memahami dunia di sekitarku.

Aku mengambil keputusan dengan cepat dan berkelebat mendekati mayat itu. Aku harus melakukan pengamatan segera, sebelum orang-orang itu kembali bersama para gramanam atau para petugas kampung. Ia tak berbaju. Hanya berkain, pergelangan kaki dan tangannya bergelang. Ini masih seperti pencuri biasa. Namun yang menarik adalah rajah di dada kanannya, karena itulah rajah cakra yang menjadi tanda perkumpulan Cakrawarti, kelompok golongan hitam yang jaringannya telah menembus segala lapisan. Semula mereka hanya dikenal di dunia persilatan, tetapi menyadari bahwa kekerasan saja tidak cukup untuk menguasai dunia, karena para pendekar golongan putih maupun golongan merdeka selalu bisa mengimbangi bahkan menundukkan mereka, maka jaringan diperluas dan merasuk ke segala lapisan.

Maka bukan hanya dalam dunia persilatan akan dijumpai para anggota jaringan Cakrawarti, melainkan juga di dunia awam para petani, pedagang, perajin, seniman, bahkan sampai ke lingkungan istana, termasuk

di kalangan pejabat agama-sesuai dengan arti cakrawarti, yakni roda-roda kereta yang menggelinding tanpa halangan. Adapun makna kereta di sini, tentu kereta kekuasaan.

Aku tertegun. Ternyata mereka memang masih ada. Jaringan ini sudah mengakar ratusan tahun lamanya, seorang guruku bercerita kelompok Cakrawarti terdengar sejak masa kekuasaan Sanjaya antara tahun 732 dan 746. Aku sendiri pernah bentrok beberapa kali dengan tokohtokoh mereka pada masa mudaku, yang mengesahkan keberadaan diriku sebagai musuh mereka dari masa ke masa. Apalah artinya umur sepanjang seratus tahun melawan tugas turun temurun sebuah kelompok besar untuk membunuh dan menghancurkan namaku? Kelompok Cakrawarti menggunakan segala jalan untuk mencengkeramkan kuku kekuasaan, dan telah kukatakan bahwa tidak ada lapisan masyarakat yang tidak akan diselusupinya. Dari lingkaran brahmana, pendeta-pendeta Buddha, para bangsawan, tentara, pedagang, para pekerja sampai kaum candala tak luput dirasukinya. Keempat varna, bahkan yang terendah di antara paria, seperti mleccha, bukanlah tabu pula untuk diakrabi demi kekuatan jaringan mereka.

Sikap kerahasiaan mereka begitu terjaga, sehingga antarmereka tak saling mengenal, dan pada masa awal pergerakan mereka hanya mungkin saling mengenali melalui tanda rajah cakra tersebut, yang bisa terdapat di sembarang tempat, dengan ukuran yang berbeda. Rajah itu bukan sekadar tanda anggota, melainkan tanda telah diterima melalui pelantikan resmi, yang juga dilakukan secara rahasia. Hanya beberapa mahaguru tertentu yang mengetahui keberadaan jaringan Cakrawarti, seperti yang pernah kuterima dalam berbagai pengajaran mereka, itu pun dengan pengetahuan yang sangat terbatas. Cakrawarti adalah golongan hitam yang telah merembes dari dunia persilatan ke dunia orang-orang biasa, karena bukan lagi kesempurnaan dalam ilmu silat yang dianggap bernilai

bagi mereka, melainkan kekuasaan duniawi secara nyata: harta, takhta, dan syahwat asmara.

Maka terdapatnya rajah cakra di dada kanan mayat lelaki ini menjadi tanda tanya bagiku, karena penampakannya yang begitu kentara. Dalam berbagai peristiwa pada masa lalu, kerahasiaan anggota jaringan ini terbongkar karena terdapatnya rajah cakra tersebut -dan ini membuat kewajiban memberi tanda

rajah cakra pada tubuh anggotanya dihapus, meskipun sebuah upacara konon tetap dilangsungkan bagi pelantikan anggotanya.

Di puncak tebing, orang-orang mulai berdatangan, aku sempat memeriksa pisau yang menancap itu, dan sekali lagi tertegun. Ini bukan sembarang pisau yang bisa dibeli dari seorang pandai besi. Ini jelas pisau yang dibuat atas pesanan, tepatnya dibuat untuk seseorang yang tertentu, bahkan juga untuk suatu cara penggunaan tertentu.

Aku harus segera pergi. Tak tahu mesti merasa menyesal atau tidak telah mengalami kejadian ini. Aku merasa tugasku bahkan sama sekali belum dimulai, yakni mencatat segala sesuatu yang memperjelas keadaan, sehingga aku mengetahui kenapa negara sampai menawarkan hadiah 10.000 keping emas untuk memburuku.

Segala sesuatunya terselubung kabut. Segala sesuatu yang kujumpai semenjak keluar dari gua berhubungan dengan kerahasiaan. Semula aku menduga yang memburuku ke dalam gua adalah Kalapasa-tetapi perpecahan di dalamnya membuat aku tak bisa memastikan apapun juga. Pengamatanku atas sikap pengawal rahasia istana yang telah menahan dan melepasku, lantas membuntuti aku, juga tidak memberi peluang bahkan sekadar untuk menduga apapun juga, karena pengetahuanku tentang agen rahasia ganda dari Arthasastra membuat aku harus menunda setiap kesimpulan yang tampaknya meyakinkan. Sementara para pembunuh bayaran, yang semuanya tak ada yang terlalu tua, belum kuketahui caranya mendapatkan selebaran

lontar bergambar diriku, tapi jelas hanya mengenalku sebagai penyebar ajaran rahasia dari aliran sesat yang tidak pernah jelas adanya.

Kemudian pagi ini kutemukan rajah penanda Cakrawarti, jaringan rahasia golongan hitam yang telah mengakar bersama dengan pasang surutnya berbagai kerajaan di Yawabumi bagian tengah maupun timur. Aku tidak mempertanyakan apakah kehadiran Cakrawarti ada hubungannya dengan diriku-yang menarik bagiku adalah kenapa justru anggota Cakrawarti yang terkenal cermat dan hati-hati itu, yang berhasil dipergoki dan dibunuh pada malam buta? Dari suhu tubuh dan keringnya darah kuperkirakan ia sudah tewas sejak lama. Tak ada lagi orang ke sungai setelah matahari terbenam.

Namun kurasa aku harus menahan diri untuk tidak terjebak dalam lingkaran setan penyidikan.

Satu hal bisa kupastikan. Zaman telah berubah, Cakrawarti, Kalapasa, pengawal rahasia istana, agen rahasia ganda, para pembunuh bayaran, semuanya bagaikan bisa digerakkan oleh pesona kekuasaan dan harta, berikut segala pernik yang mengikutinya, dan itulah bedanya dengan para pendekar dunia persilatan-di sungai telaga para pendekar hanya peduli kepada pencapaian kesempurnaan ilmu sahaja. Hidup boleh melarat, tak berumah ibarat pengembara hina dina, takberkeluarga dan takberkekasih, hanya demi pemahaman yang lebih baik tentang dunia melalui ilmu silatnya.

Tentu adalah para pendekar silat itu juga yang telah menjadi murtad, menjual kepandaian demi kemewahan dunia yang seolah akan bisa mereka dapatkan dengan begitu mudahnya, meski ternyata persaingan, tak lebih dan takkurang, juga takjarang mengakibatkan tercerabutnya nyawa mereka. Maka, manakah yang lebih baik kiranya, mati demi sebuah tujuan mulia ataukah karena gagal dalam perebutan kuasa?

Aku berkelebat menjauh, untuk kembali lagi bersama kerumunan orang-orang. Setelah para gramanam

menggeledah, ternyata ia juga membawa lembar lontar bergambar diriku sebelum aku menyamar dengan tulisan yang sama: hadiah 10.000 keping emas bagi yang berhasil membunuh Pendekar Tanpa Nama.

***

AKU merasa cukup tenang sebagai pembuat lontar. Setidaknya aku tidak harus selalu memanfaatkan ilmu silatku, karena dalam dunia persilatan hampir setiap kali aku bergerak saat itu juga berarti nyawa terbuang tanpa manfaat yang jelas. Bagi yang tewas barangkali itulah kematian yang bermakna, tapi bagiku kemenangan telah kehilangan artinya sama sekali-meski aku belum putus asa: Sebenarnyalah lawan yang tangguh masih kutunggu.

Namun tidakkah siapa pun mereka yang memanfaatkan dan mengorbankan namaku, bagaikan membunuh jiwaku tanpa harus membunuhku, merupakan lawan yang seharusnyalah kuanggap lumayan tangguh, bukan hanya karena sulit dicari, melainkan karena caranya bertempur yang kemungkinannya tidak pernah kusadari?

Itulah sebabnya aku merasa harus lebih sering menahan diri. Dalam dunia persilatan kami memang juga dilatih untuk menahan diri, tetapi demi kepentingan yang berbeda sama sekali, yakni menungggu kesempatan terbukanya kelemahan lawan.

Dalam pertempuran penuh tipu daya seperti yang kualami ini, ketika diriku bagaikan diciptakan kembali sebagai manusia penyebar aliran sesat, dengan nama dan gambar tertera pada selebaran lontar yang pasti banyak sekali jumlahnya, serta beredar sebagai cerita dari mulut ke mulut karena dipicu dongeng wayang topeng, aku sungguh takterlatih sama sekali untuk menghadapinya. Aku pun yakin, pembunuhan namaku juga disebarkan dengan giat dari kedai yang satu ke kedai yang lain, cara terbaik untuk dengan sengaja menyebarkan pengetahuan yang salah.

Begitulah setelah menyelam sebentar ke sungai, dan

meloncat ke atas setinggi pohon kelapa sembari memutar tubuh seperti baling-baling, selesailah sudah mandikutubuh yang basah langsung kering berikut pakaian yang kukenakan. Tentu takseorangpun boleh mengetahui cara mandi seperti itu.

Seperti juga tak seorang pun boleh mengetahui bagaimana aku melatih ilmu meringankan tubuhku di atas sungai, dengan berlompatan dari batu ke batu, dari daun mengambang yang satu ke daun mengambang yang lain, sampai apapun yang mengapung dan bisa diselancari bagaikan aku bisa berjalan di atas air. Meski sudah berilmu setinggi langit, seorang pendekar harus selalu menjaga kemampuannya, karena lawan hanya perlu kelengahan sejenak saja untuk melesatkan jarum beracun, agar menancap di lehernya.

Makanya aku selalu mengambil waktu sepagi mungkin. Hari ini termasuk kesiangan, karena aku telah bekerja sampai larut, yakni menuliskan di atas lontar yang kubuat sendiri itu. Dari setiap seratus lontar yang kubuat, selalu kuambil sepuluh lembar untuk diriku sendiri, karena aku merasa perlu menulis untuk menguraikan segala sesuatu yang kupikirkan. Kusadari bahwa usia seratus tahun bukan tidak berpengaruh kepada ingatanku -jadi aku merasa perlu mencatat apa pun yang kurasa penting untuk diingat dan berkemungkinan untuk kulupakan dalam perjalanan waktu. Selain itu, entah kenapa juga muncul suatu keinginan memberitahukan sesuatu kepada siapa pun, meski jika hanya kebetulan membacanya.

Sebagai orang yang merasa telah difitnah dan diperburuk namanya aku mempunyai perasaan ingin membela diri, bukan dengan cara kekerasan seperti yang biasa berlaku dalam dunia persilatan, yang akan membuat tuduhan apa pun seperti mendapat pembenaran, tetapi dengan cara yang tidak bisa dibantah lagi dalam zamanku, yakni ditulis dengan huruf dan kata-kata yang jelas. Bahkan aku berharap bahwa yang kutuliskan itu akan menjadi saksi seterusnya dari zaman ke zaman, betapa

tulisan para empu dalam naskah dan catatan resmi negara dalam prasasti bukanlah satu-satunya kebenaran yang menentukan segala acuan.

Tentu aku juga bertanya kepada diriku sendiri, begitu perlukah keberadaan dan apapun yang kuanggap sebagai ketidak bersalahan diriku itu kutonjolkan, bahkan tertuliskan dan bertahan dari zaman ke zaman? Tidakkah Buddha mengajarkan segala sesuatu tentang tidak mementingkan diri sendiri dan juga terutama tentang kemampuan menahan diri? Tepatnya, tentu, apakah yang akan menjadi kurang dari diriku jika kulupakan saja semua ini, pergi jauh ke sebuah tempat yang lebih tersembunyi lagi, dan tenggelam saja dalam meditasi? Bagaimana jika diriku ini tidak usah kuanggap terlalu penting? Nah, jadi apakah yang boleh dianggap penting di dunia ini?

Ketika menciptakan Jurus Tanpa Bentuk, aku teringat Nagasena72, salah seorang murid Buddha yang pertama, ketika ditanya tentang bentuk rupa Nirwana. Demikianlah dikisahkan betapa ia kembali bertanya.

“Apakah angin itu ada, wahai Bapak.”

“Tentu ada, wahai Nagasena yang terhormat.”

“Kalau begitu tolong Bapak tunjukkan, seperti apakah warna dan bentuk angin itu, tipiskah, tebalkah, panjangkah, atau pendekkah?”

“Tidak mungkin saya menunjukkan angin itu, Nagasena yang terhormat, tetapi angin itu pasti ada.”

Maka Nagasena pun berkata lagi.

“Begitu pula dengan Nirwana.”73

Aku tidak menyamakan Jurus Tanpa Bentuk dengan Nirwana -selain menyampaikan betapa pandangan dan falsafah dalam perbincangan keagamaan sebetulnya

mungkin mengembangkan ilmu persilatan. Namun lebih dari itu, juga ingin kutunjukkan kesadaran bahwa segala sesuatu yang bersifat jasmani memang

merupakan belenggu. Aku tidak sependapat dengan banyak guru agamaku, bahwa tubuh tidaklah penting, tetapi aku mengakui kebenaran Buddha, yang berkata:

kebahagiaanlah

ya kebahagiaanlah

Nirwana itu

wahai para sahabatku74

Tidakkah itu berarti bahwa aku harus melampaui keterbatasan pikiran, akal, perasaan, dan kehendak, untuk mencapai tujuan -yang bahkan juga tiada dapat dibayangkan sekarang juga. Kebahagiaan adalah pelampauan dari segala keterikatan dan keterbatasan.

Namun apalah artinya Upacara Pembuka Mata, jika tidak untuk mencerahkan dunia? Dari masa mudaku, dari salah satu guruku yang banyak itu, yang kudatangi satu persatu dari kuil ke kuil, dari gua ke gua, seperti Arjuna yang dibimbing Wisnu, ada yang mengutip Sang Hyang Kamahayanan Mantrayana :

kerjakanlah dari saat ini

pemutaran

dharmacakra

dari Bhatara Sri Vajradara

ke arah segala makhluk

buatlah ajaran itu tanpa habisnya

mengisi, membanjiri, memenuhi

sepuluh penjuru dunia

sampai terisi suara terompet dharma

yang terbuat dari sangkha

jangan ragu-ragu

hilangkan risau dari pikiranmu

Dharmacakra adalah roda dharma yang sering dipahami sebagai roda ajaran, karena dianggap ada pemutaran ajaran-ajaran Buddha, yang ditafsirkan secara berbeda. Mulai dari turunnya ajaran yang tiga kali, sampai peringkat ajaran itu sendiri dalam pencapaian kebuddhaan -tetapi aku telah selalu memanfaatkan penafsiran yang manapun untuk menyusun rangkaian jurus-

jurus persilatan. Kenapa? Karena seperti orang-orang persilatan lain aku mempercayai ilmu silat sebagai cara mencapai kesempurnaan hidup, yang hanya dapat diuji dengan mengadunya kepada ilmu silat yang lain.

Dalam hal dharmacakra aku telah mendengar setidaknya dua penafsiran dari beberapa guru -dan dari dua penafsiran itu telah kukembangkan sejumlah jurus indah yang telah mengundang decak kagum bila kuperagakan tanpa sengaja dalam pertarungan.

Jurus-jurus itu telah kugambar urutannya semua di atas lembar-lembar lontar selama tinggal di dalam gua, dan sekarang menumpuk di sana pada judul Jurus-Jurus Dharmacakra, tetapi aku merasa perlu juga menuliskan bagaimana aku telah menafsirkan ajaran tentang kehidupan menjadi jurus-jurus ilmu silat. Adapun dua penafsiran tentang ajaran itu sebagai berikut. Inilah yang pertama.

Pemutaran pertama (parivarta) kebenaran tertinggi adalah melalui penglihatan (darsanamarga) yang terbagi dalam empat akara

(1) penderitaan (idam dukhkham);

(2) penyebabnya (ayam samudayah);

(3) penanggulangannya (ayam nirodhah);

(4) cara penanggulangannya (iyam duhkhanirodhagami– nipratipat).

(1) kebenaran tertinggi akan penderitaan harus disadari (duhkham aryasatyam parijneyam);

(2) penyebab penderitaan harus diakhiri (duhkhasamu– dayah-prahatavyah);

(3) penderitaan harus diakhiri (duhkhanirodhah saksat– kartavyah);

(4) cara untuk mengakhiri penderitaan harus dilaksana– kan (duhkhanirodhagamini pratipad bhavitavya).

Pemutaran ketiga dari Arhat (asaiksamarga) yang ter– bagi empat akara

(1) penderitaan telah diketahui

(2) sebabnya telah dihancurkan (samudayah prahinah);

(3) penghancuran telah dilaksanakan (nirodhah saksat rtah);

(4) cara penghancuran telah dilaksanakan (duhkhaniro– dhagamini pratipad bhavita).

Pemutaran kedua melalui meditasi (bhavanamarga) yang terbagi empat akara

Kemudian inilah penafsiran tentang Dharmacakra yang kedua. Jika yang pertama tadi ketiga pemutaran dihubungkan dengan Sang Buddha yang tiga kali menurunkan ajarannya, yang kedua berhubungan dengan pencapaian Kebuddhaan, seperti dilaksanakan (yana) oleh Sravaka, Pratyekabuddha, dan Bodhisattva.76 Seluruh kitab suci Buddha aliran Utara terdiri atas naskah-naskah dari tiga masa berbeda, yang disebut tiga kali pemutaran Roda Pengajaran atau dharma cakra-parvatana. Adapun pemutarannya, seperti tertera dalam catatanku dahulu:

Pemutaran pertama (prathama cakra)

ajaran tentang Empat Kebenaran Utama (catur satyadharmacakra).

Pemutaran kedua (madhya-cakra)

ajaran tentang hapusnya

hakikat pemisahan

unsur-unsur keberadaan

(alaksanatva dharmacakra)

atau ketiada-benarannya.

Pemutaran ketiga (antya-cakra) ajaran yang memperbedakan unsur-unsur keberadaan yang mencerminkan Kebenaran Tertinggi dari unsur-unsur yang tidak mencerminkannya (paramartha-viniscayadharmacakra).

Pemutaran pertama terwujud dalam naskah-naskah Theravada, yang kedua dalam Prajnaparamita-sutra, dan yang ketiga termasuk dalam jenis Samdhinirmocana, Lankavatara, dan Ghanavyuha. Kusampaikan pula penafsiran ketiga, meski tidak kumanfaatkan untuk Jurus-Jurus Dharmacakra yang ampuh itu. Penafsiran ini menghubungkan pemutaran Roda Dharma dengan phala77 yang diperoleh seorang Bodhisattva-bahwa yang telah mencapai tingkat yang kesembilan, yakni kesadaran yang luhur (sadhumati), mendapatkan sepuluh kekuatan (bala). Adapun kekuatan memutar dharmacakra adalah kekuatan kesembilan.78

Mempelajari kitab-kitab tentang dharmacakra itu, dari guru-guru yang bermaksud membimbing para bhiksu, aku memanfaatkannya hanya untuk mengembangkan ilmu silatku. Bagaimanakah aku menafsir dan memindahkan suatu ajaran rohani demi suatu ilmu jasmani? Tentu saja ini merupakan cerita tersendiri.

Sementara itu, apakah boleh kujawab, bahwa yang penting dalam kehidupan ini adalah mengikuti hati nurani?

20 Jurus-Jurus Dharmacakra, Kunci Penalaran, dan Pendekar Huruf Berdarah

BAGAIMANAKAH memindahkan ilmu rohani menjadi ilmu jasmani? Tentu sebuah pembayangan harus bekerja. Pembayangan adalah penafsiran berdasarkan pemahaman, karenanya kemampuan pembacaan, yakni membaca, menafsir, dan memberi makna, menjadi mutlak dalam pemindahan tersebut. Dalam pengolahan Jurus-Jurus Dharmacakra, aku telah memanfaatkan penafsirannya yang pertama sebagai gagasan tentang gerak, atau susunan gerak, yang berlapis-lapis.

Perhatikanlah misalnya empat akara tentang mencapai kebenaran tertinggi melalui penglihatan; bahwa pertama kali mesti mampu menemukan dan menentukan penderitaan, disusul berturut-turut penyebab dari penderitaan itu, mengetahui apa yang dapat menanggulanginya, kemudian mengetahui cara melakukan penanggulangan itu; bukankah dari akara pertama sampai yang keempat terdapat empat gagasan yang berlapis-lapis dan sangat dekat jaraknya, sehingga penanggulangan harus dibedakan dengan cara penanggulangan misalnya? Ibarat kata dari gagasan penderitaan menuju cara penanggulangan penderitaan belum terdapat lompatan berarti, meskipun keempatnya merupakan pengertian yang terpilah dengan tegas.

Membaca pemutaran-pemutaran berikutnya, yakni bhavanamarga dan asaiksamarga, masing-masing juga terbagi ke dalam empat akara yang perkembangan gagasannya juga sama tipis lapisan-lapisannya. Dengan pemahaman atas seluruh kerangka berpikirnya, aku mendapatkan suatu susunan bahwa terdapat tiga rangkaian gagasan yang berkelanjutan, yang setiap rangkaiannya terdiri dari empat lapisan. Aku tinggal memindahkan kerangka gagasan ini menjadi suatu

kerangka susunan jurus; bahwa suatu rangkaian serangan misalnya akan terdiri dari empat lapis pukulan mematikan, yang seperti berulang tetapi sebetulnya berbeda sasaran, yang seluruhnya terdiri dari tiga rangkaian. Namun karena dari tiga penafsiran Dharmacakra yang kubaca, dua di antaranya telah kumanfaatkan penafsirannya sebagai jurus silat, maka Jurus-

Jurus Dharmacakra yang kuolah terdiri dua gugus susunan, adapun untuk gugus yang pertama telah kujelaskan bagaimana aku menafsirkannya.

Gugus kedua terdiri atas tiga pemutaran, yakni prathama cakra yang merupakan ajaran Empat Kebenaran Utama; madhya-cakra tentang hapusnya hakikat pemisahan unsur-unsur keberadaan atau ketiada-benaran; dan antya-cakra yang ajarannya membedakan unsurunsur yang mencerminkan dan tidak mencerminkan Kebenaran Tertinggi. Telah diketahui bahwa Empat Kebenaran Utama merupakan dalil ajaran Buddha yang dilanjutkan dengan apa yang disebut Delapan Jalan?dari pemahaman ini gugus kedua dari Jurus-Jurus Dharmacakra hanyalah melanjutkan pencapaian rangkaian jurus yang tersusun dalam gugus pertama; yakni bahwa kuolah suatu rangkaian empat jurus dengan delapan pengembangan pada masing-masing jurusnya, yang semuanya merupakan gerak tipu untuk mengecoh dan mengelabui lawan.

Namun apabila pertarungan berlangsung lama dan memasuki jurus selanjutnya, apa yang kutemukan dari madhya-cakra dan antya-cakra akan membingungkan dan pada gilirannya menghabisi lawan.

Perhatikan kalimat hapusnya hakikat pemisahan unsurunsur keberadaan atau ketiada-benarannya. Apa maksud kalimat ini? Pertama ternyatakan adanya unsur-unsur keberadaan, jadi kita tidak mengetahui ada, yang kita bisa lakukan hanya menyepakati keberadaan unsur-unsur yang diandaikan sebagai adanya ada. Namun unsur-unsur keberadaan tadi berpasangan atau terlawankan, bahkan disamakan, karena disebut atau, yakni dengan ketiada

benaran. Tentu maksudnya ketiada-benaran tentang ada. Dengan kata hapusnya maka pemisahannya itulah yang dihilangkan, karena unsur-unsur ada dan tiada benar sebetulnya sama -dan karena ada tidak ketahui, apalagi tiada benar yang boleh juga ditafsir sebagai tiada karena berlawanan dengan ada. Bukan berarti ada dan tiada dihapuskan, meski keduanya tidak diketahui, melainkan ada dan tiada tidak dipisahkan.

Dalam pemindahannya menjadi jurus silat, kurangkai suatu susunan tempat jurus yang satu menafikan jurus yang lain, bahkan menafikan jurusnya sendiri?dan tentu saja jurus seperti ini akan sangat membingungkan, tetapi adalah kebingungan itu yang ditunggu dan dinantikan, karena memang akan membuka semua kelemahan.

—Missing: NagaBumi (68)—

Seorang pelajar yang menyerap ilmu dengan kuncikunci penalaran akan memberi perhatian besar kepada kerangka suatu ilmu secara keseluruhan, dan yang lebih penting adalah menemukan apakah terdapat suatu pemikiran tertentu di baliknya, yang berhubungan langsung dengan pembentukan ilmu silat tersebut. Pemikiran di balik ilmu silat menentukan bentuk ilmu silatnya, dan suatu pemikiran sangat ditentukan oleh lingkungan tempat pemikiran itu dilahirkan. Kunci-kunci penalaran akan mampu menyerap ilmu silat yang sama tanpa harus mengulang pengalaman seorang penemu, melepaskannya dari lingkungan asal-usul lahirnya suatu ilmu. Tidak berarti bahwa suatu pengalaman dalam pelajaran ilmu silat dapat dilupakan, justru pengalaman itu sendiri tetap perlu, untuk menghayati yang pada mulanya masih diserap melalui penalaranónamun pengalaman dan penghayatannya bukanlah secara alamiah, melainkan pengalaman dan penghayatan yang mendasarkan diri kepada kunci-kunci penalaran.

Pendekatan kepada ilmu silat yang semacam ini membuka jalan kepadaku untuk mengolah gagasan tentang Ilmu Bayangan Cerminóyakni bahwa aku dapat menyerap dan menguasai suatu ilmu silat ketika menghadapinya dalam suatu pertarungan, bahkan kemudian dapat langsung menggunakannya untuk menghadapi lawan tersebut dalam bentuk yang telah kukembangkan dan tidak akan mampu diatasinya. Namun kemampuan semacam itu tidak kucapai dalam semalamóaku hanya ingin menunjukkan sementara ini, betapa kunci-kunci penalaran berperan menentukan dalam percepatan pembelajaran, meski tidak berarti telah mencakup segalanya. Ilmu silat adalah suatu seni, yang memang dapat menjadi indah dalam peragaan, tetapi hanya akan teruji keunggulannya dalam pertarungan. Sedangkan dalam pertarungan silat tingkat tinggi, ruang dan waktu tak cukup lagi bagi penalaran. Itulah sebabnya kunci-kunci penalaran hanyalah suatu awal dari tindak peleburan seorang pendekar dengan ilmu silat yang dipelajarinyaódan peleburan hanya akan berlangsung ketika olah penalaran dalam kepala terjelmakan dalam gerakan.

Semua ini terhela oleh pembayangan. Ibarat jalan kehidupan terhela oleh impian dan cita-cita, demikian pula gagasan dan pemikiran terjelma sebagai ilmu silat karena terhela oleh suatu pembayangan.

***

NAMUN pembayangan yang berada di dalam kepalaku sekarang bukanlah kerangka suatu ilmu silat, bahkan, masih bisakah aku menyebutnya sebagai pembayangan, jika kepalaku belakangan ini hanya terisi oleh bayangan yang datang dari masa lalu? Aku sudah hidup selama seratus tahun dan itu berarti aku memiliki setidaknya seratus tahun pengalaman yang menjelma sebagai bayangan nan berhingga-hingga banyaknya. Apakah yang harus kulakukan dengan bayangan-bayangan masa lalu

itu? Kubiarkan lewat percuma, ataukah membuatnya jadi agak berguna? Meskipun sebagai orang persilatan hidupku selalu disibukkan oleh pembelajaran ilmu silat dan pertarungan, sudah lama aku menyimpan kekaguman terhadap kemampuan penulisan.

Bahkan setelah Yawabumi memiliki huruf-hurufnya sendiri, sejak aku mengenal dunia tidak kulihat terlalu banyak orang mampu membaca dan menulis, apakah itu menulis untuk menyalin, apalagi menuliskan pikiran-pikirannya sendiri. Namun dalam pengembaraanku pernah kujumpai seorang pendekar tak terkalahkan yang disebut sebagai Pendekar Huruf Berdarah, tak lain karena seluruh jurus-jurusnya sebetulnya adalah penulisan huruf-huruf yang dilakukan dengan pedang. Tentu saja jurus-jurus semacam itu sama sekali tidak dikenal dan tidak dapat diduga gerakannya, sehingga memang telah memakan banyak sekali korban. Siapa pun yang ingin melawan dan melumpuhkannya haruslah mampu membaca dan juga menulis, dan karena itu akan mengenal gerakan pedangnya.

Namun para pendekar banyak sekali yang buta huruf, bahkan ilmu persilatan jarang mereka pelajari dari kitab, melainkan selalu langsung dari seorang guru. Hanya mereka yang benar-benar tekun dan sungguh-sungguh ingin mendalami ilmu silat, dan tidak sekadar gemar bertarung, akan menekuni gerakan silat juga dari sebuah kitab selain dari seorang guru, bahkan juga belajar membaca agar mampu melacak pemikiran di balik lahirnya sebuah ilmu silat, tetapi memang tidak terlalu banyak pendekar seperti ini, bahkan jumlahnya bisa dihitung dengan jari. Tidak aneh jika Pendekar Huruf Berdarah tidak terkalahkan. Aku pernah menyaksikan pertarungannya yang memang terbuka untuk disaksikan orang banyak, karena penantangnya menyebar

pengumuman dari mulut ke mulut bahwa kali ini Pendekar Huruf Berdarah akan dikalahkan.

Penantang itu bergelar Mahasabdika yang artinya

memang orang berilmu, bahkan juga berarti berpengetahuan tentang kata-kata -dan ia mengaku telah menemukan apa yang disebutnya sebagai “kunci kematian”. Pendekar Huruf Berdarah. Adapun Mahasabdika pantas mendapatkan gelarnya, selain karena dirinya sendiri belum terkalahkan, pendekar ini juga dikenal sebagai penulis kitab-kitab ilmu silat, apakah itu ilmu silat yang diakuinya sebagai ciptaan sendiri, maupun salinan dari ilmu-ilmu silat yang lain. Layaklah tentu ia mendapatkan gelar itu, terutama pada masa ketika kemampuan membaca dan menulis sangatlah langka, dan kitab-kitab ilmu silat bukan sesuatu yang bisa didapatkan dengan terlalu mudah. Bagi banyak perguruan, kitab-kitab ilmu silat bahkan dianggap sebagai pusaka yang harus dijaga kerahasiaannya, dan hanya melalui seorang guru kandungan ilmunya bisa diajarkan, itu pun kepada murid-murid pilihan, yang untuk diterima sebagai pewaris ilmu harus melalui berbagai macam ujian berat yang tidak selalu tertahankan.

Bukankah tiada mengherankan jika Mahasabdika menjadi kaya karena kitab-kitab ilmu silat yang diperjual belikannya? Memang menjadi pertanyaan banyak orang di sungai telaga dunia persilatan, bagaimana Mahasabdika seolah-olah memiliki kitab-kitab ilmu silat yang manapun untuk disalin dan dijualnya. Memang benar pernah terjadi seorang pendekar yang sangat miskin telah menjual kitab ilmu silat warisan perguruannya yang sudah tutup kepadanya, tetapi peristiwa seperti ini jarang sekali karena kitab-kitab ilmu silat diperlakukan sebagai pusaka. Pernah kudengar desas-desus yang beredar bahwa Mahasabdika bukan hanya sanggup membayar mahal kitab-kitab ilmu silat terbaik yang ditawarkan kepadanya, melainkan telah pula mendorong usaha mendapatkannya dengan segala cara, termasuk dengan membayar siapapun yang berhasil mencurinya! Maka, kunci kematian macam apakah kiranya yang diandalkan Mahasabdika untuk mengalahkan Pendekar Huruf Berdarah?

Mereka telah berhadapan di sana. Mahasabdika berbusana mewah. Kain yang menutupi tubuhnya jelas sutra yang bahkan tidak terdapat di pasar. Ia tinggal di Yawabumi, tetapi busananya kemudian akan kuketahui sejenis

dengan busana Naga Emas, busana para pendekar Negeri Atap Langit yang disebut Tiongkok. Mahasabdika bahkan juga mengenakan apa yang disebut sebagai sepatu. Hanya saja jika busana Naga Emas terbuat atas kain sutra keemas-emasan, maka busana Mahasabdika adalah keperak-perakan – seperti busana sutra pada umumnya, bahkan ikat kepala pada gulungan rambut di kepalanya pun dari bahan kain yang sama.

Hawa sangat panas dan kulihat Mahasabdika kegerahan. Di Negeri Tiongkok terdapat musim dingin, tetapi di Yawabumi busana sutra dalam pertarungan di alam terbuka akan membuat pemakainya berkeringat kepanasan. Puteri-puteri kerajaan memang mengenakannya, tetapi dengan punggung, bahu, dan dada terbuka. Sebagai pendekar ia telah melakukan kesalahan karena lebih mementingkan keindahan dalam pemilihan busana, bukan demi kemudahannya jika terlibat pertarungan. Mungkinkah ia terlalu yakin akan memenangi pertarungan untuk disaksikan banyak orang karena telah memegang kunci kematian Pendekar Huruf Berdarah?

Ia telah siap di sana, dengan sebilah pedang lurus panjang yang putih berkilat keperak-perakan. Ia tampak gagah dalam usia 40 tahun, tubuhnya langsing dan wajahnya tampan, dengan janggut kelimis dan kumis tipis di atas bibirnya, tersenyum-senyum tenang dan tampak siap untuk mendapatkan pengakuan.

Sebaliknya Pendekar Huruf Berdarah tampak sangat sederhana, hanya mengenakan kain lusuh sebatas pinggang, kaki tak beralas, dan memegang sebilah kelewang berkarat, yang konon hanya dipinjamnya dari seorang pemilik kedai di tempat ini, hanya beberapa saat sebelum memasuki gelanggang.

“Kalau aku mati, kelewang ini tentu tidak akan diambil oleh Mahasabdika,” katanya, “sebelumnya terima kasih banyak telah meminjami aku.”

Ia sengaja memilih kelewang yang sudah berkarat, karena kelewang itulah yang sudah tidak dipakai.

Kuduga ia berusia 60 tahun. Tubuhnya pendek dan gempal, seluruh rambutnya sudah memutih, begitu pula kumis dan janggutnya yang melambai-lambai tak teratur. Rambutnya yang sudah jarang dibiarkannya terurai, yang juga melambai-lambai tertiup angin. Ia memasuki gelanggang dengan tenang. Orang-orang tampak tegang. Namun saat itu seekor ayam

jantan memasuki gelanggang dan seorang anak perempuan berlari-lari mengejarnya, tak tahu menahu peristiwa yang sedang berlangsung di gelanggang ini.

“Blirik! Blirik! Mau ke mana? Jangan lari!”

Orang-orang terkesiap. Mahasabdika tampak terganggu dan kesal, ia menggerakkan pedangnya seperti akan melakukan sesuatu, apakah membunuh ayam atau anak perempuan itu. Namun Pendekar Huruf Berdarah berkata dengan tegas.

“Biarkan anak itu, kita telah menggunakan tempat bermainnya….”

Mahasabdika menelan ludah seperti menelan kemarahannya sendiri, mengelus sisi datar pedangnya seperti menjanjikan darah untuk hari ini. Tanpa menunggu waktu lagi, begitu ayam dan anak perempuan itu keluar gelanggang, Mahasabdika segera melesat ke arah Pendekar Huruf Berdarah. Tubuhnya segera lenyap menjadi bayangan keperakan dan ujung pedangnya bagaikan menjadi selaksa, menghunjam ke arah Pendekar Huruf Berdarah dari segala jurusan.

“Aku telah mempelajari semua huruf untuk mengunci jurus-jurusmu, wahai Pendekar Huruf Berdarah,” ujar Mahasabdika.

Mendengar kalimat itu Pendekar Huruf Berdarah hanya tertawa terkekeh-kekeh. Ia segera ikut lenyap menjadi

bayangan dan mulailah bisa disaksikan oleh yang mampu mengikuti kecepatannya keistimewaan Pendekar Huruf Berdarah, yakni bahwa terlihat kelebat huruf-huruf yang dibuat oleh kelewang, huruf-huruf yang biasanya telah membelah tubuh lawan-lawannya.

Segera terlihat huruf-huruf ta, pa, ma, ra, dan sa79 menggulung bayangan keperakan Mahasabdika. Namun inilah yang dimaksud Mahasabdika sebagai kunci-kunci untuk menutup jurus-jurus ampuh Pendekar Huruf Berdarah, yakni memainkan pedangnya membentuk huruf-huruf yang sama!

Maka di antara kelebat gulungan dua bayangan terlihat bentukan huruf ta yang dipapas huruf ta, bentukan huruf pa yang dibentur huruf pa, bentukan huruf ma yang digasak huruf ma, bentukan huruf ra yang disambar huruf ra, dan bentukan huruf sa yang kelebatnya terbentengi huruf sa. Di antara kelebat huruf-huruf dan udara mendesau itu terdengar suara-suara benturan pedang dan kelewang yang berdentang-dentang cepat sekali disusul oleh

kilatan lentik-lentik api. “Hahahaha! Keluarkan semua hurufmu Pendekar Huruf Berdarah!”

Kuperhatikan sejak tadi Pendekar Huruf Berdarah memainkan jurusnya yang serupa huruf-huruf Pallawa baku, dan kini mengulanginya dalam corak huruf Pallawa yang mengalami perkembangan di Yawabumi. Tampaklah Mahasabdika menjadi kerepotan karena meski huruf-huruf itu tampaknya sama selalu ada saja perbedaannya dan tangkisannya menjadi tidak terlalu tepat lagi.

Terdengar bunyi kain robek dan terlihat darah muncrat di udara, gerakan Mahasabdika menjadi pelan dan terlihat ia dikepung kelebat bayangan huruf-huruf dengan busana sutra yang telah bersimbah darah. Meski begitu pengenalannya atas huruf-huruf yang selalu dimainkan

berurutan dan diulang-ulang oleh Pendekar Huruf Berdarah membuat ia masih bisa menangkis serangan, dan tampaknya pertarungan masih akan berlangsung lama.

Terdengar tawa Pendekar Huruf Berdarah terkekehkekeh.

“Kunci kematian? Wahai Pendekar Mahasabdika?”

Lantas ia berkelebat lebih cepat mengitari Mahasabdika sambil memainkan kelewangnya, ia telah mengganti huruf Pallawa dengan huruf yang agaknya tidak dikenal Mahasabdika! Kuperhatikan itulah huruf-huruf seperti yang dituliskan I-t’sing dan pernah kupelajari juga. Sebisa mungkin kuikuti susunan huruf-hurufnya yang ternyata berbunyi:

seperti bayangan bambu

menyapu tangga batu

tanpa menggeser debu

Setelah itu terkaparlah Mahasabdika dengan tubuh nyaris telanjang. Segenap huruf yang membentuk puisi itu meninggalkan luka-luka panjang di sekujur tubuhnya, huruf satu dengan huruf yang lain saling bertumpuk, membuat luka-lukanya semakin dalam. Sebuah kelewang menancap tegak lurus pada jantung pendekar itu, menancap dalam-dalam sampai menembus tanah dan hanya terlihat gagangnya.

Tidak terlihat lagi Pendekar Huruf Berdarah, dan sampai hari ini pun kabarnya tidak ada lagi.

Namun dari peristiwa ini aku telah mendapat pelajaran: Mahasabdika memang mempelajari huruf-huruf, tapi ia tidak mempelajari kalimatnya. Pendekar Huruf Berdarah semula memainkan jurus-jurus hurufnya secara lepas, tetapi ketika Mahasabdika ternyata mampu menangkisnya, ia mengeluarkan huruf yang lain, itu pun dalam suatu rangkaian kalimat yang tentu telah dilatih dan dikuasainya lebih dulu. Meskipun seandainya Mahasabdika menguasai huruf seperti yang digunakan I-t’sing itu, ia belum tentu mengenal kalimatnya.

Peristiwa inilah yang membuat aku berpikir bahwa penguasaan terbaik ilmu silat tidak akan dimungkinkan tanpa mempelajari pemikiran di baliknya. Pendekar Huruf Berdarah telah meminjam kalimat ajaran Dao80, yang memang berasal dari tempat yang sama dengan hurufhuruf yang telah diolahnya menjadi jurus silat.

Mahasabdika tidak mengenal jurus maupun kalimat itu, sehingga meskipun ia telah mempelajari hampir semua kitab ilmu silat, perlawanannya tidak cukup untuk melawan ilmu silat yang diolah Pendekar Huruf Berdarah sendiri.

Tidak pernah kupikirkan betapa ketidakmampuan mengenal huruf dapat berakibat kematian, bahkan bagi seorang pendekar berpengetahuan kata-kata seperti Mahasabdika…

***

PERISTIWA itu terjadi tahun 796, pada masa kekuasaan Rakai Panunggalan yang akan berakhir tahun 803. Usiaku masih 25 tahun, belum setahun melakukan pengembaraan, dan belum memiliki Ilmu Bayangan Cermin. Aku akan mengembara di rimba hijau selama dua puluh lima tahun sebelum mengakhirinya dengan Pembantaian Seratus Pendekar.

Aku meninggalkan dunia persilatan pada usia 50 tahun dan meleburkan diri dalam kehidupan sehari-hari selama

dua puluh lima tahun berikutnya. Pada usia 75 tahun kutinggalkan dunia ramai dan tenggelam dalam renungan dan meditasi. Dua puluh lima tahun kemudian, dalam usia 100 tahun suatu regu pembunuh memasuki gua dan bermaksud mengakhiri riwayatku, meninggalkan teka-teki yang jawabannya hanya dapat kuduga-duga saja.

Aku berusaha mengerti dan untuk itu aku harus menguraikan segala sesuatunya satu persatu. Apakah aku harus menyelusuri kembali segenap

masa laluku? Apakah aku harus menuliskan riwayat hidupku? Aku tidak tahu bagaimana tulisanku itu nanti akan mampu menjawab persoalanku, aku hanya berpikir, jika penulisan itu tidak akan langsung berguna untukku, mungkinkah dengan suatu cara seseorang akan dapat memanfaatkannya, dan secara tidak langsung memecahkan persoalannya?

Masalahnya, apakah aku mampu? Dalam hubungannya dengan ilmu silat aku memang mampu membaca, bahkan mengenal beberapa macam huruf dan bahasa, tidak asing pula dengan pekerjaan menyalinnya. Namun menjadi seorang penulis dengan gagasan yang berasal dari diri sendiri adalah perkara lain, setidaknya aku belum pernah melakukannya. Aku ragu-ragu, betapapun aku bukan seorang penulis dan tidak pernah membayangkan diriku akan menulis sesuatu dengan kesadaran akan dibaca. Apakah umur 100 tahun tidak terlalu tua untuk memulai sesuatu yang baru?

Di depanku masih tergeletak sebuah pengutik, semacam pisau kecil untuk menulis di atas lontar. Aku telah lebih dulu memberi garis-garis pada lontar itu dengan penggaris, yang terbuat dari benang yang terikat pada dua batang bambu. Setelah diberi garis, baru kemudian lontar siap menerima tulisan, yang digoreskan oleh pengutik itu.81 Aku masih termangu. Darimana aku akan mulai menulis?

Kulihat sekeliling, sebentar kemudian aku mulai menggoreskan pengutik itu.

KITAB 2:

NAGA BUMI

CATATAN SEORANG PENDEKAR

(Karya: Seno Gumira Ajidarma)

SEBERAPA jauh seseorang mampu mengingat kembali masa lalunya? Bagaikan melayang dan meluncur dalam sebuah lorong waktu yang kelam tetapi memberikan gambar-gambar masa lalu yang berkelebatan aku berusaha menggapai masa laluku yang terjauh sangat jauh dan tidak bisa lagi lebih jauh-tetapi bagaimanakah bisa dipastikan bahwa kenanganku merupakan kenyataan yang boleh dianggap dan diandaikan setidak-tidaknya mendekati kebenarannya jika kebenaran itu disepakati memang ada?

Seperti apakah masa laluku yang telah seratus tahun berlalu? Ketika melayang dan meluncur di dalam lorong waktu itu aku merasa setiap kali harus menghindari sambaran golok, tusukan tombak, gebukan toya, dan lecutan cambuk berduri. Masa lalu macam apakah kiranya yang penuh dengan desingan pisau terbang, desisan jarum-jarum beracun, dan bunyi logam beradu yang berasal dari benturan dua pedang? Ini masih terlalu sering ditambah suara-suara jeritan manusia yang terluka, jeritan terakhir yang mengantarkan mereka ke gerbang kematian. Itukah masa laluku, itukah jumlah keseluruhan dari hidupku? Mungkinkah aku telah mengarungi lorong waktu yang keliru? Namun tiada lorong waktu lain yang terdapat dalam urat syaraf kenanganku selain kehidupan yang kualami sendiri bukan? Dari kelam ke kelam aku meluncur dan memburu masa laluku, sampai dimuntahkan oleh lorong waktu itu ke dalam sebuah gerobak yang dilarikan seekor kuda.

Aku hanya mengingat suara hiruk-pikuk dan guncangan dahsyat karena gerobak itu dilarikan di atas jalanan berlubang dan berbatu-batu. Aku merasa tidak berdaya. Dunia bagaikan suatu guncangan yang dahsyat itukah sebabnya peristiwa ini menjadi tonggak kenangan terjauhku? Guncangan dahsyat berlangsung dalam kegelapan dan teriakan-teriakan membahana. Sayupsayup kudengar jeritan seorang perempuan. Demikianlah, dunia yang berguncang, jeritan dalam kegelapan, dan teriakan keras menakutkan telah menjadi awal kenanganku -dan meski tentunya aku telah dilahirkan lebih dulu, aku merasakan peristiwa itulah yang sebetulnya melahirkan aku, yakni aku yang menyadari dunia di sekelilingku.

Apakah aku masih bayi? Namun pasti aku belum bisa berjalan apalagi berlari. Barangkali aku berada dalam dekapan seorang perempuan sebelum gerobak itu melaju cepat dan berguncang di atas jalan yang berlubang dan berbatu-batu. Gerobak itu tentunya terguncang miring bolak balik dari kiri ke kanan dan terlempar naik ketika melindas tonjolan batu dan terjerembab turun ketika melewati lubang, sungguh dunia berguncang-guncang karena kuda yang berlari ketakutan tidak mau berhenti. Apakah yang telah terjadi?

Kenangan sering merupakan keajaiban, bukan karena kita sering teringat, bahkan teringat sesuatu terus menerus, melainkan karena peristiwa yang tidak pernah teringat seumur hidup suatu ketika menyeruak dalam kenangan setelah lama sekali berlalu, bahkan begitu lamanya sampai tidak dapat kita kenali lagi-benarkah ini sebuah peristiwa yang kualami? Aku berada dalam dekapan seorang perempuan, sebelum kemudian aku terlepas terguncang-guncang terlempar ke sana kemari. Apakah perempuan itu sedang menyusuiku? Apakah dia ibuku? Kurasakan hangat pada wajahku, yang kelak tampaknya selalu diceritakan kepadaku sebagai cipratan darah yang membuat wajahku menjadi merah. Selalu kuingat kalimat itu.

“Waktu aku masuk ke dalam gerobak, wajahnya sudah bersimbah darah.”

Siapakah yang mengatakan itu? Aku sudah pernah mendengarnya. Kemudian aku merasa berpindah dari

gerobak itu dan tersapu dingin angin malam-agaknya seseorang telah menyambar dan mendekapku, membiarkan kuda tetap berlari membawa gerobak itu entah ke mana, yang kemudian ternyata meluncur ke dalam jurang. Dalam dekapan aku masih terguncangguncang, tetapi merasa aman dan

terlindung, meski terus menerus terdengar suara berdentang-dentang dari golok yang beradu.

“Ketika kami tiba, gerobak itu sudah berlari kencang sekali di atas jalan yang berlubang dan berbatu-batu. Kami dengar tangis bayi dan kami lihat sejumlah orang melompat dari kuda ke dalamnya-orang itu terlempar keluar dengan belati di dadanya. Namun seorang yang lain telah membunuh sais gerobak itu, yang kemudian jatuh ke tepi jalan, dan ia kemudian juga masuk ke gerobak itu. Dialah tentunya yang membacok perempuan pembawa bayi itu, karena tidak ada orang lain lagi di dalam gerobak…

“Rasanya muak sekali melihat peristiwa itu, dari atas tebing aku langsung melompat dari kuda dan mendarat dengan ringan di atas gerobak, begitu juga suamiku, ia langsung menyerang orang-orang berkuda di luar gerobak. Kutarik dan kulempar keluar orang yang berada di dalam gerobak, ia telah memapas leher perempuan itu dan darahnya itulah yang membasahi wajah si bayi.

“Aku melompat keluar gerobak yang terus melaju, orang yang tadi terlempar keluar berusaha membacokku dengan golok hitam, tetapi aku membalikkan punggungku ke samping badannya sehingga bacokannya luput, dan aku menusukkan pedangku ke lambungnya tanpa menoleh lagi, dan pedang itu harus segera kucabut untuk menangkis serangan beberapa orang sekaligus-menimbulkan suara berdentang-denting yang selalu diiringi lentik api.

“Dengan bayi di tangan kiriku yang terus menerus menangis aku tidak bisa bergerak bebas. Orang-orang ini ternyata perampok, tetapi bukan sembarang perampok,

karena mereka rupanya orang-orang mursal, yakni bekas tentara, pengawal, ataupun orang-orang yang setia kepada raja-raja kecil yang telah diperangi Rakai Panamkaran mereka tidak sudi menjadi mendukung kemaharajaan Panamkaran, dan karenanya membuat kekacauan di mana-mana. Kadang-kadang karena memang harus menyamun dan membegal untuk bertahan, tetapi yang terpenting adalah membuat kekacauan untuk meruntuhkan wibawa Mataram.1

“Itu sebabnya bekas-bekas tentara kerajaan kecil yang kalah ini juga tidak mudah ditundukkan. Mereka semua mahir dalam olah senjata, apalagi jika bergerak bersama sebagai pasukan, karena terlatih dalam berbagai pertempuran. Maka aku dan suamiku bergerak cepat mengurangi jumlah mereka dengan memojokkannya satu persatu. Sebaliknya aku dan suamiku yang mendapat gelar Sepasang Naga dari Celah Kledung2 kembali bisa bergerak

berpasangan dan segera menghabisi mereka dengan pedang kami.

“Sementara kami bertarung, aku berpikir apakah keluarga pengendara gerobak adalah korban kejahatan seperti biasa, seperti mereka yang berkemungkinan jadi korban jika melalui jalur perdagangan dalam perjalanannya, ataukah mereka memang dianggap musuh oleh orang-orang yang memursalkan diri mereka sendiri itu. Orang-orang mursal ini disatu pihak mengganggu, tetapi di lain pihak kehadirannya disyukuri pihak penguasa tersebut, karena sangat mungkin untuk dipersalahkan bagi segala masalah di dalam kerajaan sendiri.

“Sekitar tiga puluh orang yang mengepung dan memburu gerobak itu kami tamatkan riwayatnya satu persatu. Kami mengandalkan Jurus Naga Kembar yang terbukti menyelesaikan pertarungan dengan cepat. Meski tangan kiriku menggendong bayi, tangan kananku masih mampu memainkan pedang dengan unggul, yang bersama pedang suamiku telah berlaku bagaikan dua pasang taring naga dalam Jurus Naga Kembar itu. Seharusnya masingmasing dari kami memegang dua pedang pada kedua tangan untuk kesempurnaan jurus tersebut. Namun meski jauh lebih besar jumlahnya, orang-orang mursal ini tidak memiliki jurus-jurus yang merupakan penemuan baru, sehingga cara mengatasinya pun tidak terlalu sulit. Hanya karena membawa bayi, dan setiap orang bagaikan hanya berpikir untuk membunuh bayi itu tanpa memikirkan

keselamatannya sendiri, maka kadang-kadang kami menemui kesulitan menghadapi jurus-jurus yang sama sekali bukan-jurus melainkan sekadar pembacokan bertubi-tubi yang asal-asalan…

“Betapapun mereka semua akhirnya tumbang. Tiga puluh mayat bergeletakan. Tiga puluh satu sebetulnya, karena jenazah sais gerobak itu juga terdapat di antara mereka. Ke manakah kuda berlari membawa gerobak itu? Sambil menaiki

kuda kami yang telah turun sendiri dari atas tebing, kami mengikuti jejaknya dan ternyata gerobak itu telah meluncur memasuki jurang. Dalam kegelapan kami tetap turun ke bawah perlahan-lahan karena mengkhawatirkan nasib perempuan di dalam gerobak itu.

“Kami mendapatkan gerobak itu telah menjadi berantakan di dasar jurang, tertutup dan nyaris tak dapat kami temukan di balik semak-semak terlebat yang tak pernah tersentuh tangan manusia. Kami menemukan perempuan yang semula kami kira ibu dari bayi tersebut, ia sudah tidak bernafas dan keadaannya sangat mengenaskan-suamiku mengangkatnya ke atas dengan susah payah, bayinya masih berada dalam dekapanku.

“Sesampainya di atas, di tepi jalan, kami menjajarkan kedua jenazah penumpang gerobak tersebut. Hanya mereka berdua yang jenazahnya nanti kami perabukan dengan khusyuk. Busana mereka sangat sederhana dibanding kain sutra bersulam benang emas yang membungkus bayi itu, tetapi yang kemudian terkotori oleh cipratan darah. Kedua orang itu, lelaki dan perempuan yang tidak kami ketahui merupakan suami istri atau bukan, mengenakan pakaian dari bahan kain katun yang menutupi dada sampai ke bawah lutut, serta membiarkan rambutnya terurai.3

Pada pinggang perempuan itu melingkar sebuah tali tempat gantungan kantung kulit, dari dalamnya tersembul selembar lontar yang kami baca tulisannya: Tolong selamatkan putra kami. Dari cara penulisannya kami ketahui bahwa surat ini ditulis dalam keadaan tergesagesa.

“Melihat gambar kura-kura di atas teratai pada kantung kulit, kami kira kantung dan tali itu juga merupakan bagian dari perlengkapan bayi tersebut, yang barangkali sebetulnya masih banyak lagi di dalam gerobak, jika kemudian tidak menjadi hancur dan tercerai berai ketika menggelinding masuk jurang. Kuda yang kami temukan masih hidup telah dibunuh oleh suamiku untuk mengakhiri penderitaannya. Bayi itu masih menangis, sebagian wajahnya yang terciprat darah kuseka dengan kain setelah mencelupkannya ke dalam genangan air hujan di atas daun talas dari semak-semak di tepi jalan.

“Siapakah bayi ini? Jika yang membawanya ternyata bukan orangtuanya, bahkan bukan suami istri pula, bagaimanakah caranya melacak asal usulnya? Kain sutra bersulam benang emas maupun kantung kulit jelas menunjukkan betapa varna bayi tersebut berbeda dari perempuan dan lelaki yang telah berusaha menyelamatkannya itu. Bayi ini jelas berasal dari keluarga bangsawan, hidungnya mancung, matanya tajam dan dalam, kulitnya putih, tulang-tulangnya pun bagus sekali,

Meskipun peristiwa yang sedang diceritakan berlangsung satu dan dua abad lebih awal dari tahun-tahun terbahas, data yang sama diandaikan oleh penulis sebagai mungkin, karena peradaban yang tercatat mungkin saja telah berlangsung lama, dan perubahan dari abad ke abad masih cukup lamban.

pertanda lahir dari keluarga yang sangat sehat makanannya-tetapi melacaknya akan sulit, mengingat terlalu banyaknya keluarga istana kerajaan-kerajaan kecil yang tercerai berai setelah ditempur oleh Rakai Panamkaran, bahkan jika diketahui bayi ini asal-usulnya mengarah kepada suatu kejelasan atas darah kebangsawanannya, tidakkah ini justru sangat berbahaya bagi keselamatannya?

“Meskipun begitu, peristiwa ini menimbulkan pertanyaan besar. Jika orang-orang mursal yang kini berperan sebagai rampok dan begal yang mengepung negeri memang memburu bayi ini, tidak mungkin keluarganya berada di pihak yang dimusuhi Panamkaran. Mungkinkah bayi ini justru berasal dari keluarga bangsawan yang memegang kekuasaan sekarang? Inilah pertanyaan yang sulit dijawab, apakah perampokan berlangsung karena mereka menganggap terdapat barangbarang dagangan di dalam gerobak? Ataukah berbau pembunuhan dalam suasana permusuhan yang berlangsung demi berbagai kepentingan di seantero Yawabumi bagian tengah ini?”

***

BEGITULAH kenangan terjauh yang kukenal hanya sebagai dunia kegelapan yang berguncang dan penuh dengan teriak bentakan serta bunyi logam berdentang-dentang yang berasal dari perbenturan pedang kemudian terkukuhkan.

Ibuku, perempuan yang kusebut ibuku, tidak menunggu waktu terlalu lama untuk menceritakan peristiwa yang dialaminya tersebut kepadaku. Tidak lama artinya sampai umurku mencapai 15 tahun, ketika pasangan suami istri yang selama ini bersikap, berlaku, dan memang selalu kukira sebagai ayah dan ibuku membuka selubung rahasia hidupku yang tetap saja masih saja penuh ketidakjelasan itu.

Namun kukira mereka bukannya menunggu, melainkan

karena saat itu mereka berpamitan kepadaku untuk memenuhi tantangan untuk bertarung menghadapi lawan yang tentunya mereka anggap jauh lebih unggul. Tampaknya mereka berdua merasa tak akan pernah dapat kembali lagi kali ini, dan karena itu merasa perlu menceritakan peristiwa tersebut kepadaku.

Saat itu, aku tidak terlalu peduli dengan cerita tersebut. Hatiku tercekat dan hancur karena mereka menyatakan betapa kepergian mereka kali ini tidaklah untuk kembali.

“Biarlah aku ikut dengan kalian, Bapak, Ibu, biarkan aku ikut agar aku bisa membelamu atau ikut mati dalam pertarungan itu.”

“Dikau tidak perlu melakukannya Nak, tidak perlu, karena inilah bagian kehidupan seorang pendekar. Itulah sebabnya kami juga sengaja tidak ingin memiliki anak, karena sadar betapa jalan kehidupan seorang pendekar sebetulnyalah adalah jalan kematian-tetapi kami tidak dapat menolak jalan hidupmu yang berpapasan dengan jalan hidup kami, jadilah kamu anak kami yang telah sangat membahagiakan kami. Masa lima belas tahun terakhir ini adalah masa yang paling membahagiakan hidup kami.’’

Aku tertunduk. Airmataku menitik. Ayahku berbicara.

“Janganlah bersedih anakku, perlihatkanlah dirimu sebagai anak pasangan pendekar. Dalam perjalanan hidupmu untuk selanjutnya, sampai kelak dikau menjadi seorang pendekar yang ternama dan gagah perkasa, janganlah melupakan kenyataan bahwa dikau telah tumbuh dan dibesarkan oleh kami, Sepasang Naga dari Celah Kledung. Seorang pendekar tidak takut mati, pertarungan adalah bagian dari kewajiban hidupnya seorang pendekar yang menolak bertarung akan mendapatkan nama buruk dan hidup terhina, sungguh nasib yang lebih buruk dari kematian. Teguhkanlah hatimu anakku, jadilah anak

seorang pendekar, karena jika dunia persilatan memang akan menjadi pilihan hidupmu, dikau akan sangat mengerti makna perpisahan

ini.”

Aku mengerti, sangat mengerti, dan tidak akan bisa lebih mengerti lagi-tetapi ini bukan soal mengerti atau tidak mengerti, ini soal perpisahan dengan orang-orang yang kita cintai. Perpisahan yang seperti sudah dipastikan akan berlangsung untuk selama-lamanya. Aku memang telah dilatih dengan segala cara untuk menjadi tabah dalam penderitaan, tetapi inilah peristiwa yang sungguh berat kutanggungkan.

Air mataku mengalir deras membasahi pipi. Kenyataan betapa keduanya telah memungutku, dari nasib yang lebih jauh lagi dari pasti, telah membuat kepedihanku semakin tajam dan dalam. Namun sebelum mereka berangkat kutanyakan sesuatu.

“Siapakah sebenarnya namaku, Ibu?”

Ibuku tampak menahan air mata ketika telah duduk di atas punggung kuda.

“Kami tidak mengetahuinya anakku, kami tidak tahu namamu ketika menemukanmu dan kami membiarkannya tetap seperti itu. Kami tidak ingin mengubah jalan hidupmu meski kami wajib menurunkan ilmu silat agar dikau bisa membela diri dari bahaya yang mengancam hidupmu itu, tetapi selebihnya kami biarkan dirimu tumbuh sebagai dirimu, kami hanya harus selalu memupuk pertumbuhanmu itu.”

“BAPAK, Ibu, jangan pergi!”

Namun mereka menarik tali kekang kudanya dan pergi. Ibuku masih menoleh dengan airmata berlinang yang tampak sangat ditahannya agar tidak menetes sama sekali. Mereka masih melangkah pelahan di antara celah ketika aku berlari-lari di belakang mereka.

“Bapak, Ibu, katakan siapa lawanmu, agar bisa kubalas kematianmu!”

Ayahku memperlambat langkah kudanya dan mengusap-usap kepalaku.

“Itu sama sekali tidak perlu, Anakku, sama sekali tidak perlu…”

Ayahku masih terus melangkah ketika ibuku melompat turun dan memelukku keras sekali. Seperti masih terasa olehku betapa lembut usapannya dan betapa

merasa tenang aku dalam dekapannya, meski ternyata itu tidak berlangsung lama. Dari balik punggungnya kulihat ayahku tampak berhenti dan memandang kami.

Ibuku berbisik lembut.

“Hati-hatilah anakku sayang, sepanjang hidupmu…”

Lantas ia melompat ke punggung kudanya dan melaju tanpa menoleh-noleh lagi. Aku memandang mereka berdua menjauh dari balik tirai air mata sampai mereka lenyap keluar celah tebing dan tidak kelihatan lagi. Aku telah dilatih untuk tidak bersikap kekanak-kanakan dan karena itu aku tidak berlari-lari sambil berteriak-teriak menyusulnya, tetapi dalam dadaku terasa kedukaan yang teramat sangat dan tidak tertahankan.

Itulah kenangan terakhirku tentang kedua orang tuaku, sejauh kualami kebersamaanku dengan mereka sebagai ayah dan ibuku, kenangan tentang sepasang pendekar yang menjauh dan pergi, sepasang pendekar di atas kuda yang menyoren pedang di punggungnya…

LIMA belas tahun yang berbahagia hapus oleh peristiwa satu hari. Bukan, bukan karena aku hanyalah anak pungut mereka, sama sekali bukan, tetapi perpisahan yang bagiku terasa mendadak itulah, perpisahan untuk selamalamanya, yang telah mencerabutku dari suasana keceriaan seorang remaja. Semenjak mereka pergi dan menghilang di balik celah itu, mereka memang tidak pernah kembali lagi. Peristiwa ini terjadi tahun 786, ketika Rakai Panunggalan baru bertakhta dua tahun dalam masa pemerintahannya yang hanya akan berlangsung sembilan tahun.

Aku menjadi seorang pemurung. Setiap hari aku hanya duduk di depan pintu pondok, terus memandang ke arah celah, seolah-olah mereka setiap saat akan muncul di sana, duduk dengan gagah di atas kuda mereka yang tegap, seperti biasanya apabila mereka pulang dari perjalanan yang jauh.

Pondok itu memang terletak di sebuah lembah yang subur. Di depan pondok itu terdapatlah lahan tempat ayah dan ibuku bercocok tanam. Lahan itulah yang telah membesarkan aku, di sana terdapat segala macam pohon dan tanaman

rambat yang kami masak setiap hari. Ayah dan ibuku tentu juga mengajari aku berburu, tetapi bukan berburu seperti seorang pemburu, melainkan sebagai seorang pendekar silat yang mampu bergerak cepat tanpa suara dari dahan ke dahan. Jadi kami tidak memasang jerat atau membawa senjata, melainkan terbang dari pohon ke pohon di dalam hutan sebelum menukik dan membunuh binatang buruan kami.

Seringkali perburuan itu dilakukan dengan tangan kosong, karena menurut ayah dan ibuku ini merupakan

salah satu cara melatih ilmu silat, misalnya bahwa binatang buruan itu harus dilumpuhkan tanpa menyakitinya. Demikianlah aku mendapat pengertian betapa berburu demi kesenangan layak dikutuk, tetapi berburu untuk mendapatkan daging untuk dimakan dan melanjutkan kehidupan serta membangun kebudayaan adalah suatu pilihan yang harus dipertanggung jawabkanyakni bahwa hidup kita itu memang berguna bagi banyak orang.

Sebagai bayi yang diasuh pasangan pendekar, tiadalah terhindarkan betapa ilmu silat mereka itu seolah-olah wajib diturunkan kepadaku.

“Apabila kami melatihmu ilmu silat, wahai anakku, bukanlah berarti bahwa dikau harus mengikuti jejak kami untuk mengarungi rimba hijau dan melayari sungai telaga dunia persilatan, karena dengan begitu seolah-olah kehidupanmu sudah ditentukan. Melainkan agar kamu mempunyai kemampuan membela diri dan tidak mudah dicelakakan orang.

“Menjadi berguna bagi banyak orang tidak berarti kita harus menjadi seorang pendekar silat, karena kita dapat mengabdi kepada kemanusiaan melalui segala jalan. Jika dikau seorang tukang masak dan mendirikan kedai anakku, itu berarti dikau peduli kepada mereka yang kelaparan dalam perjalanan; jika dikau seorang petani dan menghasilkan banyak padi yang dipanen, dikau telah membantu tersedianya bahan makanan di negeri ini; dan jika dikau seorang guru yang mengajarkan kepandaian membaca kepada murid-muridmu, berarti dikau telah membukakan sebuah dunia untuk mereka anakku.

“Dikau tak harus menjadi seorang pendekar dan mengikuti jejak kami, bukan karena dunia persilatan adalah jalan yang pasti menuju kematian dalam

pertarungan, melainkan karena melalui jenis pekerjaan yang mana pun, dengan ilmu dalam bidang apa pun, siapa pun dia akan mengetahui suatu untuk membuatnya berguna bagi kehidupan banyak orang.”

Harus kuakui betapa dalam lima belas tahun kehidupanku itu, kehidupanku bersama ayah dan ibuku, pasangan pendekar yang mengasuhku itu, adalah kehidupan yang sampai hari ini pun masih sangat berkesan bagiku.

Aku bisa mulai dengan keadaan sekitarku. Telah kuceritakan tentang terdapatnya sebuah pondok. Itulah pondok yang menjadi rumah kami. Atap rumah kami berbentuk limas, yang melebar di bagian bawahnya, sebagaimana rumah-rumah pedesaan yang lain. Bahan bangunan untuk rumah di pedesaan bisa sangat beragam, mulai dari batu, kayu, bahkan logam, tetapi ayah dan ibuku telah memilih untuk membangun rumah dari kayu. Adapun atapnya merupakan atap ijuk pohon enau. Karena bahan rumah kami adalah kayu, terdapat tiang yang memiliki rongga mirip jendela; berbeda dari bangunan dengan tiang logam, yang bentuk tiangnya tergambar sangat tipis pada pahatan dinding Kamulan Bhumisambhara; berbeda juga dari bangunan batu, yang tergambar berbentuk pejal.

Seperti orang-orang yang hidup di pedesaan, dalam membuat rumah kami selalu menyesuaikan diri terhadap keadaan alam dan iklim Yawabumi. Melebarnya atap rumah di bagian bawah, sebetulnya untuk menaungi penghuni dari hujan yang turun hampir sepanjang tahun, terik matahari musim panas dan kelembaban tanah yang tinggi. Meskipun kehidupan pasangan pendekar yang mengasuhku tidak disamakan dengan kehidupan orang desa yang awam, rumah ini sama saja dengan rumah yang dibangun dengan penyesuaian terhadap kehidupan orang desa itu, bahwa lelaki lebih sering melakukan kegiatan di luar atau di sekitar halaman rumah, sedangkan kaum perempuannya lebih banyak berada di belakang rumah. Mengikuti banyak bangunan di pedesaan, rumah kami lantainya juga ditinggikan dan disangga tiang, sehingga

terdapat ruang antara lantai rumah dengan tanah.4

Sebagai pasangan pendekar silat yang menyadari bahwa cara hidupnya akan sangat berbeda dari orang-orang awam di desa, ayah dan ibuku memang

membangun rumah dan bermukim agak terpisah dari mereka. Namun itu tidak berarti kami terputus sama sekali dari kehidupan orang-orang desa. Jika aku keluar dari celah dan berjalan kaki menyeberangi hutan sepenanak nasi lamanya, akan terhamparlah pemandangan rakyat yang sibuk membajak sawah dan menanam; anak-anak menggembalakan kerbau-kerbau yang akan tiba-tiba lari jika terkejut oleh pemandangan luar biasa serta bunyi kuda-kuda dan gajah. Jika hal itu terjadi, yang lewatnya rombongan petinggi kerajaan, rakyat untuk sementara meninggalkan pekerjaan, jongkok di pinggir jalan sementara pawai itu lewat dan minta sedekah berupa sirih.5

Apabila aku terus melangkah ke arah timur laut, ke desa-desa yang lebih makmur, akan kulihat tempat jurangjurang memaparkan suatu pemandangan yang indah sekali bila kita melihat ke bawah; taman-taman pesanggrahan-pesanggrahan yang melingkar, candi-candi dan pertapaan seseorang, itu semua menimbulkan rasa kagumku. Ladang-ladang luas terhampar, tersebar pada lereng gunung; sebatang sungai besar turun dari bukit dan mengairi tanaman itu.

Adapun sebuah dusun yang kupandang dari atas, terletak di bawah, dalam sebuah lembah di tengah-tengah punggung-punggung bukit. Bangunannya indah sekali, atapnya yang dibuat dari lalang terselubung oleh hujan gerimis. Gumpalan-gumpalan asap melayang jauh, meninggalkan bekasnya di langit. Balai desa terlindung

oleh sebatang pohon banyan, atapnya terbuat dari gelagah; tempat di bawahnya sering diadakan musyawarah.

Di sebelah barat terdapat punggung-punggung bukit yang penuh dengan sawah-sawah, pematangnya kelihatan jelas dan tajam. Halaman-halaman saling berdekatan, rapi berderet, pohon-pohon nyiur semuanya diselimuti kabut. Sayap-sayap burung kuntul berkilauan ketika mereka terbang di atas, samar-samar kelihatan dari jauh di tengah-tengah awan-awan, kemudian mereka lenyap, terlebur dalam kabut dan tidak kelihatan lagi.

Di sampingnya terdapat sebuah padepokan dekat sebuah sungai besar yang airnya dalam sekali. Gapuranya menjulang putih bersih, temboknya dibuat dari tanah dan melingkar tinggi, tanpa sela. Pohon tanjung, cempaka, bana, dan

nagakusuma menyebarkan keharuman karena bunganya semua mekar; pohon-pohon itu teratur baris demi baris mengelilingi biara bersama dengan tembok; dengan tak hentinya kumbang-kumbang berdengung.

Di dalam tembok biara itu terdapat gardu-gardu ramping, beratapkan ijuk enau bagaikan sebuah lukisan. Tunas kembang jangga terkulai jatuh dari paga-paganya yang sarat, sulur-sulurnya berjalinan sedangkan harum bunganya lembut mewangi. Daun-daun katangga terserak di atas atap-atap terbawa oleh angina. Atap-atap itu laksana gadis-gadis yang menghiasi rambutnya dengan bunga-bunga, indah untuk dipandang.

Di sebelah utara terdapat tempat-tempat persembahan yang rapi bersih, di tengah lapangan yang gundul kelihatan cerah dan hijau. Kuil-kuil itu kelihatan mulia, diselubungi oleh kabut pagi. Suasana sunyi senyap, hanya terdengar tangisnya para heping6; bunyi suara mereka yang melengking sungguh mengharukan hati. Suara keong yang ditiup terdengar keras dan terus menerus, serasi dengan suara lonceng-lonceng yang mengajak manusia

untuk berdoa.7

Dengan begitu aku memang dibesarkan dalam suasana terpencil, karena pondok kami memang terasing di balik hutan dan hanya dapat dicapai setelah memasuki celah sempit yang panjang itu, tetapi itu tidak berarti aku terasing dari masyarakat di sekitarku. Bahkan sebenarnyalah ayah dan ibuku selalu mendorong aku agar tidak tenggelam dalam latihan ilmu silat dan pembacaan kitab-kitab yang bertumpuk di dalam pondok.

“Mengenal manusia adalah bagian dari pengenalan atas dunia,” kata ibuku, “karena manusialah yang memberi makna dunia.”

Jika kemudian aku melangkahkan kaki dan berjalan dari desa ke desa, takjarang terlihat betapa di daerah pegunungan terdapat desa yang miskin, yang lumbung-lumbungnya kecil dan lembu-lembu demikian kurus di bawah ukuran wajar, sehingga lebih menyerupai dombadomba. Namun apabila kemudian aku sampai pula ke dusun yang makmur, terutama yang berada di dekat pertapaan, maka ada kalanya aku tidak dapat tidur karena dusun itu sudah bangun meski hari masih gelap. Penduduk menyalakan lampu dan mulai bekerja di tempat

pencucian serta pembuatan periuk yang keduanya terletak di dekat sungai. Bunyi alat-alat yang berketak-ketok terdengar jauh di waktu malam.8

Para penjual mulai mengatur barang dagangannya; mereka tidak mempedulikan bahwa hari masih begitu dini demi keuntungan yang nanti akan dipetik. Lauk-lauk yang sudah dimasak siap untuk dibawa ke pasar; dan bahan makanan yang sedang digoreng memperdengarkan suara

mendesis, seolah-olah mengundang orang untuk membelinya9.

—Missing: NagaBumi (80)—

Suatu ketika saat mengikuti ayah dan ibuku dalam suatu perjalanan mengunjungi seorang guru, kami memergoki sejumlah begal sedang mengepung rombongan pedagang yang membawa ikan asin, dendeng ikan, dan garam dari daerah pesisir untuk diedarkan ke pedesaan. Mereka mengangkutnya dengan gerobak yang ditarik oleh kerbau. Mereka telah membayar pajak kepada setiap hulu wwatan10 di jembatan, dan untuk menghindari pemerasan tengkulak yang disebut pengepul, mereka telah berusaha mengangkut sendiri barang-barang dagangan ini. Dari daerah pesisir ke wilayah pegunungan ini, alangkah jauhnya! Melewati hutan, begal-begal bermunculan dari balik pepohonan.11

Waktu kami tiba di sana, belum jatuh korban, tetapi begal ini banyak sekali. Umurku masih enam tahun waktu itu dan aku sudah dilatih Ilmu Pedang Naga Kembar, meskipun aku hanya mampu memainkannya dengan pedang kayu yang ringan. Tentu saja pasangan pendekar yang telah berlaku sebagai orang tuaku itu melarang aku bertempur.

“Tidak baik anak enam tahun menumpahkan darah,” kata ibuku, “melihat pembunuhan pun sebetulnya tidak bisa dibenarkan, tetapi kamu dibesarkan oleh kami, tidak boleh kamu menjadi orang yang lemah.” Untuk kali pertama aku melihat kedua orang yang membesarkan aku bagai menunjukkan siapa diri mereka. Begal-begal itu langsung pucat melihat orang tuaku datang menyerbu di atas punggung kuda.

“Sepasang Naga dari Celah Kledung!” Mereka berteriak nyaris bersamaan.

Kedua pedang di tangan pasangan pendekar itu sudah berubah menjadi baling-baling yang menyambar setiap begal bertenaga kasar itu. Para pedagang yang

juga memegang pedang, tapi memainkannya dengan jurusjurus yang terlalu sederhana, tampak mengambil nafas lega. Nama Sepasang Naga dari Celah Kledung sudah terkenal sebagai pembasmi begal. Pasangan itu tidak peduli, apakah seseorang menjadi begal karena tersingkir dari gelanggang kekuasaan dan menjadi mursal, ataukah tidak tahu jalan hidup lain selain menjadi begal. Bagi mereka, penindasan dengan kekerasan terhadap orang-orang yang lemah adalah suatu kejahatan dan ketidakadilan, yang menuntut campur tangan mereka sebagai orang yang berilmu dengan banyak kelebihan.

“Kalau dikau memilih jalan hidup sebagai pendekar anakku, dikau harus selalu membela mereka yang tidak berdaya,” ujar ibuku, setiap kali usai menceritakan dongeng sebelum tidur.

Dengan cepat begal-begal itu ditewaskan tanpa ampun. Ternyata aku menyaksikannya dengan mata kepala sendiri tanpa bergidik sama sekali. Apakah ini karena suara pertama yang kuingat adalah suara benturan golok dan jeritan kematian? Aku masih ingat dengan jelas bagaimana dua pasang pedang yang dimainkan dengan Ilmu Pedang Naga Kembar berkelebat dengan tegas membelah dada, menusuk perut, memapas leher, dan menebas punggung. Sepintas lalu gerakan keempat pedang itu memang seperti geliat sepasang naga yang menganga dan memagut dari segala arah.

Jerit kematian berkali-kali membelah langit dan dalam sekejap lima belas mayat berdada telanjang bergelimpangan dengan tubuh menganga karena luka lebar bersimbah darah.

Sampai matahari turun dan langit menjadi gelap aku masih duduk termenung di depan pondok, menatap celah tebing bagaikan keduanya setiap saat akan kembali.

Aku teringat mereka berdua. Sedih sekali. Memandang ke arah celah, aku teringat segala peristiwa yang telah kualami bersama mereka.

CELAH itu menggelap karena langit memang menggelap. Tidak ada yang bisa kulihat lagi selain kekelaman yang membenam, semakin lama semakin mengelam dan semakin mengesahkan kehadiran malam. Apakah aku harus

hidup sendiri sekarang, betul-betul sendiri dan selamanya hanya sendiri? Kepergian kedua orangtuaku, yang telah menyatakan diri mereka tidak akan pernah kembali lagi, bagaikan suatu isyarat bahwa kehidupanku sudah waktunya menjadi mandiri. Memang benar aku nyaris menguasai segala kepandaian yang kubutuhkan agar tidak mati kelaparan, mampu membela diri, bahkan mendapat penghasilan; dalam hal itu pengetahuan dan keterampilan yang mereka perkenalkan kepadaku tidak perlu diragukan lagiótetapi kasih sayang tiada tergantikan yang mereka limpahkan telah membuat jiwaku mendadak kosong hanya dalam semalam.

Dalam kegelapan malam dadaku terasa hampa dan kehampaan ini mengingatkanku kepada hari-hari pertamaku bersama mereka. Bukankah aku bayi yang terenggut dari pelukan seseorang yang kemungkinan besar bukan ibuku? Berapa lamakah perempuan yang melahirkan aku sempat merawatku dan jika aku memang bayi yang telah berpindah tangan dari perempuan yang melahirkanku, seberapa lamakah seseorang yang merawat dan menyusuiku telah memberi perasaan terdapatnya seorang ibu kepada diriku? Betapapun perasaan hampa karena kehilangan itulah yang kurasakan setiap kali berusaha menggapai masa terawal dari kesadaranku, kesadaran yang hanya bisa dirasa-rasakan!

Namun dengan terbaliknya keropak-keropak kenangan, merasuklah aliran lembut kebahagiaan dari lengan-lengan kukuh tetapi penuh dengan kasih sayang tiada

terbahasakan. Siapakah orangtuaku sesungguhnya? Sungguh aku tidak, tidak pernah, dan bagaikan tidak akan pernah mengetahuinya, tetapi aku sungguh merasa mempunyai orangtua, ayah dan ibu yang sangat mencintaiku, aku tidak merasa kekurangan dan kehilangan sesuatu pun, karena kekurangan dan kehilangan memang adalah milikku.

Di antara lengan kukuh itulah akan selalu kudengar senandung. Apakah ibuku akan menidurkan aku, atau memberitahuku akan sesuatu? Aku tidak merasa mampu menuliskan kembali senandung dalam nyanyian itu, karena aku merasa kata-kata dalam syairnya seperti akan berubah maknanya tanpa nada-nada yang

terdengar disenandungkannya. Aku hanya merasa seperti terhanyutkan di sebuah sungai riwayat, betapa seorang anak mungkin saja tak akan pernah mengetahui asalusulnya, dan betapa juga orangtuanya tidak akan pernah mengetahui nasib anak yang telah dengan terpaksa dititipkannya kepada seseorang itu.

Kupandang langit malam, bintang-bintang berserak di tempat yang bisa dipastikan. Namun percaturan nasib antarmanusia siapakah yang bisa memastikannya? Seseorang lahir di suatu tempat, seseorang yang lain lahir di tempat lain, dan apabila mereka dipertemukan ternyata hanya untuk saling berbunuhan. Siapakah ayahku yang sebenarnya? Siapakah ayah dari ayahku dan siapakah kakek dari kakekku? Siapakah ibu dari ibuku dan siapakah nenek dari nenekku? Manusia makin lama makin banyak memenuhi Yawabumi, manusia pertama yang menginjak Yawabumi entah pula darimana datangnya, tetapi kemudian semua orang datang beramai-ramai ke Yawabumi.

Siapakah kedua orangtuaku sesungguhnya? Mungkinkah mereka tidak berasal dari Yawabumi? Ibuku meninggalkan kantung kulit bergambar kura-kura di atas bunga teratai. Tidakkah kura-kura melambangkan harapan untuk berumur panjang dan teratai yang merekah

dimaksudkan sebagai pencerahan? Jika umurku ternyata mencapai 100 tahun sampai hari ini dan ternyata tidak mati-mati juga, bagaimanakah bisa dihubungkan dengan gambar kura-kura pada kantung kulit tersebut? Aku sudah lupa dan memang berusaha dengan berhasil melupakan pesan yang tertulis pada keping lontar di dalam kantung kulit tersebut: Tolong selamatkan putra kami. Namun kini aku terpaksa menjadi teringat kembali.

Meski begitu, perasaan yang kualami sekarang tidaklah seperti ketika aku termenung menatap Celah Kledung sampai ditelan kegelapan tersebut. Ketika itu aku hanya teringat orangtuaku seperti yang telah kualami dan kuhayati sebagai orangtuaku meskipun mereka bukanlah orangtuaku yang sebenarnya. Tantangan siapakah yang akan mereka penuhi dan siapakah kiranya yang akan mampu mengalahkan Sepasang Naga dari Celah Kledung yang begitu sakti? Meskipun sejak kecil sudah kudengar pepatah itu, di atas langit ada langit, aku

selalu menganggap pasangan pendekar yang mengasuhku bagai takakan pernah terkalahkan. Betapa tidak jika aku telah menyaksikan latihan-latihan mereka sejak kecil, bahkan ikut berlatih bersama mereka, sehingga pendapatku itu sungguh ada dasarnya.

Dalam pertarungan latihan mereka berdua terlalu sering membuatku terpesona dengan gerak mereka yang mengingatkan kepada terbangnya elang, lompatan harimau, dan sentakan naga. Apabila mereka kemudian menguji Ilmu Pedang Naga Kembar maka dalam kelebat cahaya pedang mereka yang berkilatan akan tampaklah gambaran naga kencana yang mengibas dengan anggun dan penuh pesona, dengan gagah tetapi juga mematikan. Ilmu Pedang Naga Kembar adalah ilmu pedang berpasangan, gunanya agar sepasang pendekar ini berada di satu pihak ketika menghadapi lawan, apakah itu hanya satu orang ataukah satu pasukan. Namun menghadapi lawan yang hanya satu orang itu harus dengan catatan bahwa lawannya tersebut memang betul-betul digdaya.

Entah bagaimana caranya melatih ilmu berpasangan tersebut dengan saling berhadapan. Meskipun ketika tibatiba saatnya mereka memang berpasangan seperti menghadapi lawan, maka gerak yang kusaksikan tiada lain selain keindahan.

Mungkin karena itulah sebagai anak kecil kemudian aku selalu mencoba-coba menirunya. Mencoba gerak ini dan mencoba gerak itu, sampai akhirnya jatuh karena takmampu. Maka kemudian pasangan pendekar ini akan terhenti latihannya.

Tertawa dan menyambarku, menimang-nimang dan lantas membawaku terbang setinggi pohon kelapa, membopongku sambil melayang dan melenting dari puncak pohon yang satu ke puncak pohon yang lain.

Demikianlah mata, pergerakan, dan kesetimbangan ragaku menjadi terbiasa dengan kedudukan dalam ketinggian, percepatan dalam perkelebatan, dan keheningan dalam pemusatan pikiran di tengah pertarungan. Ada kalanya pasangan pendekar ini bertarung sambil berganti-ganti melemparkan aku, sebagai latihan pertarungan sambil membawa beban.

Pada malam hari mereka berbincang sembari menghadapi sebuah kitab, artinya gulungan keropak lontar yang dibuka, dan perbincangan itu bisa berlangsung sampai larut sekali. Sebagai anak kecil, aku tentu tiada terlalu paham, dan lebih sering jatuh tertidur di pangkuan salah satu dari mereka, ketika berusaha sekuat bisa menangkap persoalan dan mengikutinya.

Namun ada kalanya yang terbaca itu disenandungkan dengan lirih dan perlahan, sehingga meskipun masih tetap tiada dapat menangkap maknanya dan tetaplah kemudian tertidur dalam keterbuaian, tetapi kata dalam nada-nada itu terhapalkan bagaikan lagu dalam perbendaharaan kenangan.

Kemudian, kelak, pada masa mendatang, aku akan terheran-heran dengan pengenalan atas suatu pengetahuan yang tiada pernah kusadari ternyata

memilikinya, karena terpendam dalam-dalam di dalam endapan kenangan. Pengetahuan yang bagaikan begitu saja muncul padahal telah lama bermukim dalam bawah sadar dan menyeruak ketika terpanggil oleh pengalaman yang mengingatkan.

Menyadari apa yang telah kumiliki melalui keberadaan mereka, aku tidak dengan segera dapat memaklumi, kenapa sepasang pendekar yang sangat berbudaya memilih bertarung sampai mati, daripada menghindari pertarungan untuk mempertahankan kehidupan.

Aku percaya, keberadaanku telah mereka perhitungkan untuk menerima sebuah tantangan, jika kemudian mereka memutuskan untuk berangkat dan meninggalkan aku, itu berarti mereka percaya aku akan mampu hidup dalam kemandirian.

***

DALAM gelap, aku memang merasa sendiri, terlalu sendiri, dan terandaikan akan selalu sendiri. Memang benar aku akan mampu hidup mandiri, tetapi aku merasa lebih suka bersedih dan merana daripada bersikap seolah-olah tiada perubahan apapun dalam hidupku.

Kukira aku memang tiada mempunyai maksud lain selain meneruskan kehidupan di Celah Kledung. Namun hidup tidak selalu berlangsung seperti yang kita angankan.

Terdengar suara ranting kering yang terinjak. Meski tidak kulihat sosoknya aku tahu dia berada di mana. Di dalam rumah tak ada lampu menyala. Barangkali orang yang datang mengendap-endap itu juga tidak tahu di mana aku berada.

Mestikah aku melumpuhkannya dengan pisau terbang yang terdapat di balik dinding rumah? Dalam usia 15 tahun, jika aku berkata melumpuhkannya sudah pasti berarti membunuhnya, karena ilmu totok jalan darah yang rumit belum kukuasai sepenuhnya. Lebih mudah bagiku untuk membunuhnya. Namun benarkah aku harus membunuhnya?

Aku menggulingkan diriku ke dalam rumah. Lantas mengendap-endap keluar dari pintu belakang. Di belakang rumah terdapat sepetak ladang jagung. Aku menyelinap dan bersembunyi di sana tanpa suara. Lantas, masuklah sosok berbalut busana serba hitam itu ke dalam rumah.

Aku menahan nafas. Bukanlah sekadar apa yang diinginkannya jadi pertanyaanku, melainkan bagaimana aku harus menghadapinya. Terbetik dalam kepalaku bahwa kedatangannya berhubungan dengan kepergian ayah dan ibuku. Namun bukan takmungkin ini hanya seorang penantang lain yang kadang-kadang memang tanpa aturan datang mengajak beradu.

Ia datang pada malam buta dan mengendap-endap pula. Mengingatkanku kepada suatu kejadian serupa.

Aku masih tidur nyenyak ketika ayahku membangunkan aku perlahan-lahan sembari membekap mulutku. Ketika mataku terbuka kulihat telunjuknya di depan mulut. Aku segera mengerti. Kulirik ke samping, ibuku yang rambutnya masih terurai dan hanya mengenakan selembar kain yang terikat di atas dada, tampak merapat ke dinding dan memegang pedang. Aku dan ayahku tidak beranjak. Ditunjuknya arah atap daun enau, dan tampak telapak tangan meraba-raba dari luar, berusaha mencari celah untuk diangkat.

Ayahku meraup butiran kacang tanah di lantai sambil memberi isyarat kepada ibuku. Mereka tampak siap. Lantas ayahku sekali lagi memberi isyarat agar aku diam. Kemudian dijentikkannya kacang itu, yang melesat ke arah tangan yang meraba-raba tersebut. Ibuku menunggu.

Ketika kacang mengenai telapak tangan tersebut, ternyata melesak masuk, bahkan menembusnya! Terlihat tangan itu ditarik dan terdengar teriak kesakitan memecah malam, saat itu ibuku sudah berkelebat keluar dan melayang ke atas atap. Rupa-rupanya ia mengayunkan pedang dan tubuh itu terdengar menggelinding ke bawah. Berdebam jatuh di atas tanah.

Ayahku keluar dengan pandangan bertanya. Ibuku yang

melayang turun ternyata sudah memegang pisau terbang yang dilemparkan kepadanya. Ia tunjukkan pisau itu kepada ayahku.

“Siapa kau dan siapa yang menyuruhmu?”

Ayahku bertanya kepada orang itu. Segenap busananya hitam menutup tubuh meski agak kusam.

“Ampun!”

Orang itu terkapar dengan dada terbelah karena ayunan pedang ibuku, yang ketika melesat tangan kirinya sempat menangkap pisau terbang yang dilemparkan orang itu. Dadanya bergaris luka memerah darah, tetapi ia belum mati.

“Kamu akan segera mati,” kata ibuku, “lakukanlah kebaikan dalam akhir hidupmu. Katakan siapa yang menyuruhmu.”

Ia tampak kesakitan, tetapi masih bisa tersenyum.

“Kebaikan…,” desahnya, “kebaikan?”

Lantas ia pun mati.

Ayahku menyingkap kain yang ikut terobek oleh pedang ibuku, dan mendekatkan lampu yang baru dinyalakannya. Ternyata pada dadanya terdapat rajah bergambar cakra. Kuingat ayah dan ibuku saling berpandangan. Mereka tidak mengatakan apa-apa. Dalam cahaya api dari lampu kulihat ibuku yang hanya berbalut selembar kain, rambutnya terurai, dan memegang pedang bersimbah darah. Aku masih ingat kain batiknya yang bergambar bunga-bungaan.

Ibuku lantas mendekatiku. Mungkin aku masih berumur sekitar 6 tahun waktu itu. Ayahku yang rambutnya juga masih terurai menaikkan orang yang sudah mati itu ke atas punggung kuda, lantas membawanya pergi setelah merapikan diri.

“Tidurlah kembali anakku,” kata ibuku, sembari mengusap wajahku. Ingatan selanjutnya hanyalah kegelapan.

Kegelapan itulah agaknya yang telah mengembalikan ingatanku, ketika pada usia 15 tahun dalam keadaan baru

saja ditinggalkan kedua orangtuaku seseorang mengendapendap di dalam rumahku. Mungkin peristiwa itulah yang membuat aku bertanya-tanya, perlukah aku membunuhnya? Namun untuk tingkat ilmu silatku saat itu tidaklah terlalu mudah untuk melumpuhkan tanpa membunuhnya. Meskipun begitu aku tetap merasa penasaran, karena berharap terdapat sesuatu yang menghubungkan aku dengan kepergian orangtuaku, yang seperti telah memastikan tiada akan pernah kembali lagi. Bahkan menutup kemungkinan balas dendam jika mereka terkalahkan dalam pertarungan.

“Balas dendam adalah lingkaran setan yang harus dihancurkan,” ujar ayahku suatu ketika, “seorang pendekar yang bijaksana tidak selayaknya terlibat dalam pembalasan dendam atas suatu pertarungan yang sah dan adil, meskipun orangtuanya sendiri yang tewas dalam pertarungan.”

Di dalam pondok, orang itu menyalakan lampu, tetapi ia membelakangiku dan aku tidak bisa melihat wajahnya. Aku mengendap-endap mendekat. Jika ia ingin mencuri salah satu apalagi seluruh tumpukan kitab yang ada di dekat tempat ia berdiri, aku harus menempurnya, meskipun untuk itu aku harus mati.

Namun berlangsung peristiwa yang lebih cepat dari kata-kata. Mendadak saja orang tersebut meniup api sampai padam, lantas terdengar pedang beradu dan lentik api sesaat, yang diakhiri desah tertahan menahan sakit. Lantas malam kembali sunyi.

Aku tak bergerak sama sekali. Bagiku keadaan seperti ini menegangkan sekali. Aku bahkan menunggu sampai fajar menyingsing, sebelum berani keluar dari persembunyian di ladang jagung itu.

Aneh sekali rasanya memasuki pondok sendiri dengan sangat hati-hati seperti ini. Di dalam masih remang, tetapi segala sesuatu telah menampakkan dirinya bersama merayapnya matahari.

Dua mayat tergeletak bagaikan muncul pelahan dari

pendar keremangan. Keduanya mati bersama dalam pertarungan singkat di tengah malam. Pedang masingmasing tertancap di tubuh yang lain. Masihkah ini suatu kebetulan jika keduanya datang berurutan setelah ayah dan ibuku pergi? Apakah nasib kedua orangtuaku sudah dipastikan, sehingga rumahku bagaikan tempat yang terbuka bagi penjarahan yang mungkin akan berlangsung dari hari ke hari?

Hatiku sedih dan kacau, tetapi ibuku telah lama melatihku dengan segala cara untuk mampu mengambil keputusan pada saat yang menentukan. Aku mencoba meredam kegelisahan atas nasib yang menimpa pasangan pendekar yang telah berlaku sebagai orangtuaku itu. Bahkan aku sama sekali tidak memeriksa mayat-mayat itu kembali. Cukup bagiku, dengan melihat jenis pedangnya yang jelas bukan golok pembelah kayu bakar, bahwa keduanya adalah orang-orang sungai telaga dunia persilatan.

Aku harus segera meninggalkan pondok yang telah menjadi tempat aku dibesarkan ini dengan mendadak dan tanpa persiapan sama sekali. Baru kemarin pasangan pendekar yang telah mengasuh dan berlaku sebagai orangtuaku itu berpamitan untuk pergi selama-lamanya, sedangkan hari ini dengan segera dan terpaksa meski atas keputusan sendiri, aku akan meninggalkan tempat ini, juga tanpa kejelasan apakah suatu ketika akan kembali lagi. Aku harus menyelamatkan harta warisan pasangan pendekar itu, yakni kitab-kitab ilmu silat dan kitab-kitab ilmu pengetahuan, yang berwujud gulungan keropak lontar bertumpuk-tumpuk rapi di dalam sebuah peti kayu.

Adapun peti kayu itu sudah terbuka ketika aku memasuki pondok. Orang yang memasuki rumah telah membukanya sebelum mati bersama dalam pertarungan singkat di kegelapan. Ini berarti orang-orang rimba hijau yang haus ilmu silat maupun ilmu kesempurnaan akan berduyun-duyun memperebutkan kitab-kitab ini kemari.

Dengan segenap kemampuanku aku harus

menyelamatkan kitab-kitab warisan orangtuaku itu, pasangan pendekar yang telah mengasuh dan membesarkan aku, yang dikenal di sungai telaga dunia persilatan sebagai Sepasang Naga Celah Kledung.

Itu adalah sebuah pagi yang indah. Sama indahnya seperti setiap pagi dalam limabelas tahun selama aku menghuni lembah yang subur itu. Cahaya pagi yang lembut, kicau berbagai jenis burung, dan bunga-bunga yang merekah, memekar dengan begitu cerah. Namun kedua mayat dalam pondok kami telah merusak keindahan itu, mayat orang-orang yang bermaksud menjarah Kitab Ilmu Pedang Naga Kembar.

SAAT itu tahun 786. Umurku baru 15 tahun dan Rakai Panunggalan baru berkuasa. Kekuasaannya tidak akan terlalu lama, hanya sembilan tahun, dibanding pendahulunya, Rakai Panamkaran, yang berkuasa 38 tahun, dan Sanjaya yang berkuasa 24 tahun. Sanjaya disebut pendiri kerajaan Mataram, tetapi bahkan sejak kekuasaan pendahulunya, yakni Sanna, wilayah kekuasaan yang disebut kerajaan hanya mungkin diakui melalui penaklukan raja-raja di sekitarnya. Namun meski penaklukan tersebut tidak selalu melalui suatu pendudukan, melainkan pengakuan atas kedaulatan oleh para penguasa yang takluk12, bukan berarti tidak berlangsung gerakan perlawanan. Tiada kekuasaan raja tanpa perlawanan, bahkan sang raja harus mempertimbangkan dan menawar setiap gerakan perlawanan tersebut, yang akan membuatnya tetap bertahan. Kiranya itulah yang membuat kehadiran Siwa dan Mahayana tidak menimbulkan perpecahan di Yawabumi.

Agama tidak akan menimbulkan perpecahan, tetapi mereka yang berkepentingan untuk mengambil bagian dalam perebutan kekuasaan, tidak akan melupakan keberadaan agama untuk dimanfaatkan. Keadaan semacam itulah yang sedang berlangsung di Yawabumi bagian tengah, ketika aku mengawali pengembaraanku yang akan menjadi panjang.

Usiaku masih 15 tahun, Aku menyoren pedang di punggungku dan aku membawa sejumlah besar kitab di dalam sebuah peti kayu. Kuletakkan peti kayu itu di dalam pedati yang ditarik seekor kerbau. Aku duduk di atas punggung kuda, kebingungan akan pergi ke mana dengan beban peti kayu itu. Sudah jelas orang-orang dunia persilatan berkepentingan dengan isi peti kayu tersebut, kitab-

kitab ilmu persilatan dan ilmu pengetahuanbarangkali mereka tidak menghendaki semuanya, terutama tentu Kitab Ilmu Pedang Naga Kembar, yang telah membuat pasangan pendekar yang mengasuhku menjadi jaya dan takterkalahkan. Namun aku merasa harus tetap menyelamatkan semuanya. Kusadari betapa pengetahuanku belum memadai untuk menentukan kitab mana yang lebih baik dari yang lain.

Kitab Ilmu Pedang Naga Kembar kusimpan dalam kantung kulit bertali kain yang melilit tubuhku, siapapun yang bermaksud merampasnya harus melangkahi mayatku lebih dahulu. Namun aku tidak menganggap kitab-kitab lain yang berada di dalam peti kurang penting dibandingkan Kitab Ilmu Pedang Naga Kembar. Kuingat ayahku pernah berkata, kedudukan segenap pengetahuan dalam dunia ilmu adalah setara. Apalah artinya ilmu persilatan tanpa ilmu pengobatan? Apalah artinya ilmu pengobatan tanpa ilmu tumbuh-tumbuhan? Apalah artinya ilmu tumbuh-tumbuhan tanpa ilmu pengetahuan tentang tanah, iklim, dan musim?

“Keberadaan ilmu yang satu ditentukan oleh keberadaan ilmu yang lain, anakku,” ujar ayahku, “pengetahuan yang satu berkaitan dengan pengetahuan yang lain, ilmu pengetahuan adalah susunan pengetahuan-pengetahuan itu sendiri, yang satu tidak bisa dilepaskan dari yang lain.”

Makanya semua kitab ini menjadi penting bukan? Kurasakan betapa beratnya tanggungjawab untuk menyelamatkan kitab-kitab ini. Bukan karena ingin menguasai pengetahuan sendirian, melainkan karena jika jatuh ke tangan yang haus kekuasaan, ilmu pengetahuan akan menjadi alat penindasan yang mengerikan.

“Kalau suatu hari dikau mewarisi kitab-kitab ini anakku,” ujar ibuku, “jangan pernah dikau biarkan jatuh

ke tangan orang-orang jahat. Terutama jangan sampai direbut dan dikuasai ilmunya oleh orang-orang golongan hitam.”

Meskipun orang-orang golongan hitam mampu mempelajari ilmu-ilmu yang berat dan membuat mereka menjadi orang berilmu tinggi, ibuku tidak pernah sudi menyebut mereka sebagai pendekar.

“Alangkah berbahayanya ilmu pengetahuan yang mengabdi kejahatan,” katanya selalu, “jangan pernah lupa bahwa ilmu pengetahuan harus dipersembahkan bagi kemanusiaan.”

Dalam perjalanan tiba-tiba aku menjadi sedih mengingat hari-hariku bersama pasangan pendekar itu. Tidak kupedulikan lagi siapa sebenarnya diriku. Bagiku merekalah orangtuaku dan hanya itulah yang bagiku akan selalu berlaku. Meskipun aku masih berusia 15 tahun, aku tidaklah begitu naif untuk melihat diriku sendiri sebagai remaja, karena sejak aku mulai menyadari keberadaanku di dunia, aku selalu mengamati dan meresapi dunia di sekelilingku dengan perhatian sepenuhnya.

Begitulah aku berjalan dari hari ke hari tanpa tujuan, tetapi dengan kepala yang penuh berisi dengan renungan. Aku berhenti hanya untuk memberi kesempatan kuda dan kerbau itu untuk makan rumput, minum, dan terutama bagi kerbau itu untuk mandi di kali. Sembari mereka beristirahat, aku akan tidur-tiduran di bawah pohon yang rindang. Terus menerus membaca kitab-kitab itu satu persatu. Aku merasa bersyukur kedua orangtuaku mengajarkan aku membaca dan menulis, dan meskipun aku saat itu belum mampu menulis untuk mengungkapkan pikiran dan perasaanku, setidaknya aku mampu menyalin sembari membaca baik-baik kitab yang disalin.

Kedua orangtuaku memberi aku tugas menyalin kitabkitab yang keropaknya mulai usang dimakan waktu. Ada yang bahkan sudah merupakan hasil salinan semenjak abad-abad yang telah silam. Betapa manusia

mempertahankan pengetahuan yang sudah didapatnya itu dari zaman ke zaman. Ketika aku menyalin itu, meskipun bagi orangtuaku tujuannya adalah latihan menggoreskan pengutik di atas keping-keping rontal yang telah menjadi lontar, tetapi dengan begitu aku menjadi pembaca yang mau tidak mau menjadi cermat.

Orangtuaku yang tinggi budi juga selalu membicarakan isi kitab-kitab itu sebatas wawasan pengetahuanku. Namun meski takpaham dan takmengerti seperti telah kuceritakan tadi, aku akan tetap selalu mendengar perbincangan mereka sendiri, yang selalu teringat ibarat tulisan pada keropak yang setiap saat bisa kubaca kembali. Begitu pula dengan Kitab Ilmu Pedang Naga Kembar yang sedang

kubaca. Aku membaca kembali sembari mencari kemungkinan, bagaimanakah caranya ilmu pedang berpasangan itu akan bisa dibawakan oleh satu orang, bahkan hanya dengan satu pedang.

Aku mengingat bagaimana orangtuaku membicarakannya.

“Apakah ilmu pedang ini bisa dimainkan tanpa pasangan?”

“Tentu sulit, karena dalam pengertian pasangan terkandung serangan serentak dengan empat pedang, ini tidak mungkin dilakukan satu orang. KecualiÖ”

“Kecuali ia bisa memecah diri jadi dua orang.”

“Artinya mempunyai kemampuan bergerak sangat cepat, sehingga mampu berada di segala tempat dengan seketika.”

“Tapi tidak mungkin seseorang mempunyai kemampuan macam itu kan?”

“Mungkin saja.”

“Tidak mungkin, karena kecepatan seseorang terbatas dan tidak juga mungkin menggandakan tubuhnya.”

“Bukan tubuhnya yang harus digandakan, tetapi bayangan tentang dirinya itu yang dapat mengelabui lawan sebagai dua orang yang menyerang bersamaan dengan empat pedang di tangan kiri dan kanan masing-masing.”

Aku membaca Kitab Ilmu Pedang Naga Kembar sambil tiduran di bawah pohon yang rindang. Di samping pohon itu terdapat sungai kecil tempat kerbau berendam. Kudaku merumput di dekatku sembari menggerak-gerakkan ekornya. Aku membaca sambil mengisi perut dengan jambu mete. Di seberang sungai kecil itu terdapat hamparan sawah menguning yang mengundang burungburung pipit. Anak-anak yang menjaga sawah memainkan orang-orangan dengan tali untuk menakuti burung-burung pipit itu. Ke manakah orang-orang dewasanya?

Aku masih asyik membaca ketika kusadari sejumlah orang mendatangiku dari kejauhan. Orang-orang desa yang berikat kepala dan bertelanjang dada. Segala macam alat pertanian mereka bawa, seperti siap menggunakannya sebagai senjata. Apakah mereka membawa persoalan? Meskipun ilmu meringankan tubuhku masih berada pada tingkat yang paling dasar, aku masih bisa menghilang dari hadapan mereka dengan mudah, tapi bagaimana dengan kuda, kerbau, dan tumpukan keropak dalam peti kayu di atas gerobak itu? Aku pergi

meninggalkan pondok di Celah Kledung yang telah kutempati selama limabelas tahun untuk menyelamatkan kitab-kitab ini dari penjarahan. Aku tidak mungkin meninggalkannya begitu saja. Namun aku memang belum tahu apa yang harus kulakukan.

Setidaknya aku bisa melompat berdiri dan menyimpan kembali Kitab Imu Pedang Naga Kembar di dalam kantung kulit yang selalu melekat di tubuhku. Orang-orang desa ini menghentikan langkahnya. Mereka mengitari aku dan kudaku. Seseorang tampak mendekati peti itu dan seperti berniat membukanya.

“He! Jangan sentuh peti itu!”

Anak muda itu berhenti. Ia hanya beberapa tahun lebih tua dariku tampaknya. Keadaan menjadi tegang.

“Buka!”

Seseorang berkumis tebal melintang, tetapi sebagian sudah beruban, memberi perintah. Ia tampak berwibawa dan disegani di antara orang-orang ini.

Dengan segera tanganku sudah memegang dan aku melesat meloncati ubun-ubun mereka untuk mendarat di depan peti. Ujung pedangku sudah menempel pada dagu pemuda itu.

“Selangkah lagi kalian maju, leher anak ini tembus sampai ke belakang”

Mereka tertegun.

“Jaluk!”

Seorang yang lebih berumur lagi menyeruak, rambutnya sudah putih semua, meskipun tubuhnya masih sangat tegap. Kurasa mereka semua orang baik-baik dan anak muda yang kujadikan sandera ini adalah anaknya.

“Jangan bergerak!” Aku menggertak dan mendorong pedang itu sedikit.

“Bapak!”

Anak muda itu takut sekali rupanya. Tak seorangpun melakukan sesuatu. Ini saatku bicara.

“Apa yang kalian mau dari aku? Aku tidak mempunyai kesalahan apapun kepada kalian. Aku hanya seorang pengembara yang kebetulan lewat dan menumpang berteduh di bawah pohon ini. Jika itu merupakan kesalahan aku minta maaf dan meminta izin, juga untuk kudaku yang memakan rumput di desa ini dan kerbauku

yang mandi di sungai kecil itu. Maafkan aku! Aku akan segera pergi jika dianggap mengganggu, tapi jangan sentuh peti ini, karena aku akan membunuh anak muda ini sebelum kalian mengeroyok dan membunuhku.”

Orang-orang desa ini saling berpandangan. Mereka telah melihat bagaimana aku melayang dengan mudah di atas ubun-ubun mereka. Artinya aku juga bisa menghabisi nyawa mereka jika menghendakinya, dan memang hanya itulah yang bisa kulakukan jika terpaksa bentrok dengan mereka, karena ilmu silatku masih sangat terbatas.

Tidaklah terlalu mudah melumpuhkan seseorang tanpa membunuhnya dalam pertempuran keroyokan, seperti yang akan mereka berlakukan kepadaku, kecuali memiliki ilmu silat tingkat tinggi.

“Anak! Sabarlah!” Orang tua berambut putih itu mengangkat kedua tangannya, “Biarkan Bapak bicara, dan marilah kita bicara baik-baik!”

Aku melihat peluang menghindari bentrokan. Namun aku juga harus tetap hati-harti.

“Baik jika begitu! Mundurlah tiga langkah dan mari kita duduk di atas rumput setelah menyarungkan senjata kita masing-masing.”

Aku bisa menyarungkan pedangku. Namun alat-alat pertanian yang dibawa orang-orang desa itu bukanlah senjata, jadi tidak ada sarungnya, mereka letakkan saja di atas rumput setelah mendengar kata-kataku. Anak muda yang kusandera tadi kuminta tetap duduk di dekatku.

“Silakan bicara Bapak, jika sahaya memang belum diizinkan pergi…”

“Anak! Begini ceritanya…”

***

SEMALAM di Desa Balinawan, desa yang kulewati ini, tergeletak sesosok mayat dengan darah berceceran di tegalan Gurubhakti. Mayat itu tergeletak begitu saja, tak jelas siapa meletakkannya, bahkan bukan penduduk Balinawan pula. Barangkali seseorang telah membunuhnya di tempat lain dan meletakkannya di sana, karena penduduk desa saling mengenal dengan baik dan semua orang jelas berada di balai desa menonton wayang topeng. Karena tegalan Gurubhakti termasuk wilayah desa Balinawan, maka penduduk Balinawan yang akan

menanggung denda sesuai peraturan kerajaan saat itu.13 Kejadian itu bukanlah yang pertama, bahkan cukup sering, sehingga dana bersama penduduk akhirnya habis

untuk membayar denda. Mereka menjadi miskin dan menaruh dendam kepada orang-orang yang tidak mereka ketahui siapa, karena meskipun telah didatangkan tiga orang patih dari istana, tetap saja rah kasawur in dalan dan wipati wankay kabunan terjadi.14

Tanah mereka kini sebenarnya telah menjadi sima, bebas dari denda, tetapi keamanan yang belum terjamin mengganggu perasaan mereka. Karena mereka hanya merelakan tanahnya jika bisa hidup tenang dan tenteram. Semestinyalah sima adalah suatu anugerah, tetapi dalam kenyataannya penduduk desa bagaikan tidak memiliki tanah mereka dengan bebas, meski ibarat telah membeli keamanan dengan tanah itu. Siapakah yang mengacaukannya?15

“Anak! Bapak melihat Anak memiliki kelebihan. Mohon sudilah tinggal sejenak di Balinawan ini untuk membantu pemulihan keamanan desa kami. Mohon! Sudilah!”

Aku tertegun dan bukan tidak menyadari perilaku orang desa yang naif itu. Aku percaya ia meminta dengan tulus, tetapi apakah orang tua itu tidak meminta kepada orang yang salah? Aku baru berumur 15 tahun! Tidak sepantasnya diberi tanggung jawab memelihara keamanan desa seperti ini. Apalagi dari suatu keadaan yang membutuhkan perhatian seksama dan sangat berbeda dari sekadar masalah kekerasan dalam dunia persilatan. Adapun dunia persilatan saja belum kugeluti sepenuhnya. Apalah yang bisa dilakukan seseorang yang berumur 15 tahun di Yawabumi abad VIII meski bisa menulis dan membaca? Sampai sekarang pun aku tidak terlalu yakin para raja dalam sejarah Yawabumi bisa membaca. Para

kawi selalu merendahkan diri mereka dalam manggala karya-karyanya bahwa seluruh kepandaiannya diabdikan kepada sang raja yang kedudukannya seperti dewa. Namun kurasa mereka tahu benar, betapa mereka menggenggam dunia sebagai pemilik sabda yang telah disucikan oleh segala mantra.

“Bapak! Sahaya hanyalah seorang anak ingusan, pengembara miskin tanpa kekayaan, yatim piatu yang merana tanpa bekal kemampuan! Sahaya seorang bodoh tanpa pengalaman!”

“Anak! Mohon bantulah kami Anak! Kepadamulah kupasrahkan segala nasib desa ini!”

Aku tertegun. Orang tua itu bersujud dan menyembahnyembah sampai wajahnya terbenam di tanah. Apakah yang bisa kulakukan sebenarnya dalam membela sebuah desa dari tangan-tangan ulah sahasa?16

“Bapak! Sahaya hanya seorang bocah ingusan! Ampunilah sahaya!”

“Anak! Nasib kami di tangan Anak! Ampunilah kami!”

Ini pasti karena aku telah melompat jungkir balik dengan ringan di atas ubun-ubun mereka. Kuduga mereka belum pernah melihat seorang pendekar yang sebenarnya, barangkali juga tidak menyadari kalau dunia persilatan itu ada. Perbendaharaan wacana penduduk desa adalah kisah-kisah kepahlawanan penuh percintaan yang dibacakan dari keropak.

Dalam kisah-kisah itu para pahlawan memiliki kesaktian yang ajaib, karena para pahlawan adalah para ksatria penjelmaan dewa. Apabila kemudian mereka dalam dunia nyata lantas menyaksikan peristiwa di luar dugaan seperti yang telah kuperagakan, tidakkah terdapat bahaya betapa mereka telah menganggapku sebagai penjelmaan dewa? Alangkah berbahaya!

Namun aku tidak melihat suatu jalan untuk melepaskan diri dari keadaan ini. Setidaknya hidupku kini mempunyai suatu tujuan, meski hanya untuk sementara, yakni mengembalikan keamanan Desa Balinawan. Dalam usia 15 tahun, gairahku untuk membasmi kejahatan terasa meluap-luap dan menggebu sekali. Meski aku tahu untuk itu aku harus mulai lebih bersungguh-sungguh mempelajari ilmu persilatan.

Aku menoleh ke arah kerbauku yang sedang mandi, dan kudaku yang makan rumput, lantas kepada peti kayu di atas pedati. Memikirkan isinya, aku seperti tiba-tiba mendapatkan cara untuk memanfaatkannya bagi kepentingan banyak orang.

Kini, dalam usia 100 tahun ketika mengingat kembali pemikiranku waktu itu, aku tersenyum sendiri menyadari betapa naifnya diriku saat itu.

DESA Balinawan terletak jauh dari kadatwan atau pusat pemerintahan, tempat bermukimnya aji atau sang pemimpin. Dalam kedudukannya yang jauh dari pusat pemerintahan, penduduk desa menyelenggarakan tata kemasyarakatan mereka sendiri, sehingga terdapat kelompok pemimpin satuan pemukiman yang disebut rama. Mereka didampingi oleh para juru yang bertanggung jawab atas jenis pekerjaan tertentu. Tatanan seperti ini, meskipun akan selalu berubah mengikuti pertambahan lapis-lapis jabatan di atasnya sampai pemimpin tertinggi, tetap akan dimiliki oleh sebuah desa secara mandiri. Tidak tergantung kepemimpinan pusat pemerintahan.

Bahkan antara desa satu dengan desa yang lain, yang letak wilayahnya berdekatan, sangat mungkin membentuk kesatuan wilayah adat tersendiri, juga dengan semacam ibu kota sendiri.17

Balinawan adalah tempat seperti itu, disebut wisaya18, dan karena itu agak lebih ramai daripada desa-desa di sekitarnya, meski yang disebut ramai untuk sebuah desa tidaklah sebanding dengan keramaian pusat pemerintahan tempat seorang raja bermukim.

Desa itu memunggungi sebuah tebing dengan dinding batu yang curam. Di hadapannya tergelar sawah menguning, sedang di balik tebing itu terdapatlah suatu pertapaan. Di balik sawah terdapat sungai yang telah

dimanfaatkan airnya untuk mengaliri sawah-sawah tersebut. Pertapaan itu mendapatkan bahan makanan seperti beras dari penduduk desa, tetapi para rahib juga memiliki ladang sendiri di dekat pertapaan itu, tempat mereka dapat menanam ubi jalar dan pohon buah-buahan seperti jambu durian poh manggis kacapi limo limus kapundung langseb duwet.19

Di sekitar pertapaan juga terdapat pohon asana yang bunganya kuning dan kalau gugur menyerupai hujan emas.20 Warnanya yang indah serta harumnya yang semerbak sangat menarik kawanan lebah21, dan karena pohon asana menjulang di atas pohon-pohon lainnya, pada akhir musim kering bila di

kejauhan guntur telah terdengar, maka pohon ini paling dahulu menyiapkan bunganya yang sedang mekar untuk menerima tetes-tetes air hujan yang merintik-rintik.22 Dan bila bunganya sudah layu dan gugur dan dihanyutkan oleh sungai, maka lebahlebah pun menangisinya seolah-olah seorang tercinta meninggal.23

Tentu bukan hanya pohon asana menjadi penguasa keindahan dengan hujan emasnya, karena juga tersebar, baik yang liar maupun sengaja ditanam di sekitar pertapaan, pohon-pohon andul, wungu, asoka, dan campaka. Disebutkan betapa pohon andul akan mundur dengan penuh rasa malu ketika melihat gusi seorang perempuan, karena meski bunga pohon ini berwarna merah, tidaklah semerah gusi perempuan yang cantik jelita.24 Pohon wungu yang bunganya berumpun-rumpun juga merah warnanya, menjulang dan meruncing ke pucuk, menyerupai sebuah candi atau meru.25 Bunga asoka yang juga merah tangkainya lemah lembut bagaikan pinggang seorang perempuan yang langsing.26

Dunia desa adalah juga dunia bambu. Berbagai jenis bambu seperti pring, petung dan wuluh dipakai dalam kehidupan sehari-hari. Batangnya dipakai membuat saluran air yang melintasi jurang-jurang27, sedangkan ruas-ruas jenis bambu yang besar untuk membawa air atau menanak nasi.28 Pemandangan desa penuh dengan daun calumpring yang menutup ruas-ruas bermata ketika pohon bambu masih muda, yang lepas bertebaran ketika bambu tumbuh dewasa.29 Bambu wuluh memperdengarkan suara menciut bila diayun-ayunkan angin yang mirip rintihan dan keluhan, seperti keluh kesah perempuan yang kehilangan pakaiannya.30 Bila angin bertiup melalui lobang-lobang batang pring bungbang,

orkes hutan bagaikan dilengkapi sejumlah seruling.31

Pohon-pohon camara yang terus menerus digoyangkan bagaikan suara keluh kesah, ratap tangis, yang kadang berubah jadi sorak sorai. Bambu, cemara, dan macammacam pohon kelapa, mulai dari nyu danta atau kelapa gading sampai lirang dan pucang memang tidak akan memikat warna-warnanya, tetapi kekurangan ini diimbangi tetumbuhan yang menjalari batangnya, seperti katirah

yang merah dan gadung atau jangga yang kuning; bunganya bergantungan menghiasi punjung-punjung tempat dua orang kekasih diam-diam saling berjumpa, sekaligus menyediakan bunga-bunga yang mereka pakai untuk saling mempercantik.

Bunga menur lentik mungil seperti juga melati, membuatnya bagaikan bangau-bangau terbang di awan gelap bila terletak di sanggul seorang perempuan yang seperti gulungan tunas-tunas muda pohon pakis.32 Daundaun mimba seperti alis perempuan yang dikerutkan dan bunga pisang yang jatuh ke tanah sepintas lalu bagaikan pecahan kuku tangan.33 Hmm. Tiada kukira betapa di desa yang semerbak dengan harum bunga seperti ini aku bertugas melindunginya dari usaha penumpahan darah.

Semula kurasakan hal itu sebagai tugas yang tidak semestinya, karena bukanlah tugas seorang anak 15 tahun untuk melindungi penduduk sebuah desa dari ancaman para pembunuh yang selalu tersembunyi di balik malam. Namun ketika kucoba mencari alasan kenapa aku harus bersedia menerimanya, tentu bukanlah lompatan jungkir balik di atas ubun-ubun itu yang bisa kuandalkan, melainkan teringat kata orangtuaku, pasangan pendekar itu, sekadar bahwa orang yang punya kelebihan harus mengabdikan kelebihannya itu kepada mereka yang membutuhkannya.

“Apalah yang kami harus lakukan, Anak?,” ujar orang tua itu.

“Kita akan bergiliran meronda desa ini,” kataku, “setiap malam harus ada setidaknya satu regu peronda.”

“Apakah para peronda ini tidak akan dibunuh, Anak?”

Aku menghela napas. Kematian tentu saja adalah sebuah kemungkinan. Jika desa terancam bahaya, tidakkah setiap orang mesti rela memberikan dirinya? Namun tentang hal ini, bukankah aku seharusnya tidak lebih tahu dari mereka? Aku dibesarkan oleh pasangan pendekar yang menyendiri, jauh dari kehidupan ramai, tidak pernah mengalami masalah seperti banyak orang yang hidup bersama-sama seperti di desa. Aku terbiasa hidup dengan bebas, bahkan agak liar dalam pemikiran, karena tidak terikat oleh kuasa peradaban dan adat istiadat yang berlaku pada masa itu.

Memang benar bahwa latihan ilmu silat sangat tertib dan sangat teratur, sementara perbincangan pasangan pendekar yang mengasuhku tentang berbagai pemikiran yang berkembang di dunia ini, hanya bisa kupahami jika aku menguasai berbagai istilah kunci dari kitab-kitab di dalam peti kayu. Membaca kitab-kitab dalam peti kayu juga tidak mudah, karena pemikiran yang diuraikannya terkadang cukup rumit bahkan terkadang seperti menolak dimengerti. Belajar membaca bagiku bukan hanya mengenal huruf dan bagaimana bunyinya, melainkan melalui istilah-istilah kunci berusaha membuka jendela dunia dan mendapatkan pengetahuan.

Namun tiada kata-kata akan menjelma pengetahuan tanpa pendalaman, dan pendalaman adalah usaha keras yang menuntut ketekunan. Dalam usia 15 tahun, tentu belum terlalu banyak yang kubaca, tetapi telah tertanam dalam diriku suatu kebiasaan untuk selalu mendalami segala sesuatu sampai ke akar-akarnya, dan sebegitu jauh kualami betapa tuntutan untuk menggauli peradaban

hanya akan mengganggu ketekunanku saja. Penolakanku terhadap peradaban itulah yang berpeluang membuatku liar, bukan dalam perilaku, melainkan dalam pemikiran. Diriku dibesarkan dan dibentuk oleh sepasang pendekar yang mengasingkan diri dari pergaulan masyarakat. Tiada cara hidup lain yang kukenal sebagai bekal hidupku.

Di desa ini, kali ini, aku harus merelakan diriku untuk menghayati peradaban, jika ingin mendorong mereka untuk berdaya menghadapi gangguan dari luar. Lagipula aku membutuhkan mereka agar menyelamatkan segala kitab di dalam peti. Aku tidak mungkin membawanya ke mana-mana seumur hidupku. Padahal, diam-diam telah kubulatkan keputusanku untuk menjadi seorang pengembara. Aku telah bermukim selama limabelas tahun bersama Naga Kembar dari Celah Kledung karena kecintaanku terhadap pasangan pendekar itu. Dengan kepergian mereka untuk selama-lamanya, tiada lagi yang mengikatku untuk tetap tinggal di suatu tempat sampai aku mati…

***

AKU meronda setiap malam sendirian mengelilingi Desa Balinawan. Para pemuda desa yang telah kulatih ilmu beladiri seadanya, kutempatkan secara

berkelompok di berbagai gardu jaga. Kami juga telah berlatih untuk menghadapi serangan banyak orang sebagai suatu kelompok. Kusadari tingkat ilmu silat mereka masingmasing yang tidak seberapa, maka suatu pertahanan sebagai kelompok akan menutupi kelemahan mereka masing-masing.

Namun berkeliling dari gardu yang satu menuju gardu yang lain kulakukan sendirian, karena dengan begitu aku bisa bergerak lebih bebas di balik kelam. Meski begitu, antara gardu satu dengan gardu yang lain selalu dilakukan saling tukar penjaga, sehingga tidak sejengkal tanah pun tidak terawasi sepanjang perbatasan desa itu. Kuperkirakan bahwa siapapun yang berusaha meletakkan

sembarang mayat di desa itu akan dipergoki oleh para peronda desa ini.

Itulah yang memang kemudian terjadi pada suatu malam yang gelap sekali. Para peronda memergoki sebuah sosok sedang berjalan mengendap-endap sambil membawa beban di antara pepohonan.

“He! Berhenti! Siapa kamu?!”

Sosok itu tidak berhenti, bahkan berlari menghilang sembari membuang bebannya.

“Hoooi! Penyusup! Tangkap! Tangkap!” Kentong titir segera dibunyikan dan para peronda segera berdatangan mengepung, sementara penduduk pun semuanya terbangun.

Beban yang dibuangnya ditemukan. Ternyata memang sesosok mayat. Orangnya menghilang. Akulah yang mengejarnya.

Aku berdebar. Bila aku bentrok dengannya, ini akan menjadi pertarunganku yang pertama. Aku merasa percaya diri. Meskipun ilmuku belum terlalu tinggi. Aku diasuh pasangan pendekar. Mereka tak akan meninggalkan aku tanpa bekal hidup yang memadai dalam ukuran mereka. Bila bekal hidup yang dimaksud adalah ilmu silat, maka tentulah ilmu silat yang lebih dari cukup untuk sekadar membela diri.

Aku melesat ke arah sosok yang berkelebat ke utara. Ia tampak menguasai ilmu meringankan tubuh. Aku juga menggunakan ilmu meringankan tubuh. Namun ilmu meringankan tubuh itu banyak percabangannya, mulai dari yang hanya untuk meloncat naik ke atap, yang untuk melompat dari atap ke atap, sampai

yang hanya untuk berlari saja-sedangkan ilmu berlari itu juga banyak jenisnya, mulai dari Ilmu Berlari di Atas Rumput, Ilmu Berlari di Atas Air, sampai Ilmu Berlari di Atas Laut. Orang itu berlari seperti terbang. Tampaknya ia menggunakan Ilmu Berlari di Atas Awan. Maka aku menggunakan Jurus Naga Berlari di Atas Langit. Keduanya seimbang dalam kecepatan, tetapi Jurus Naga Berlari di Atas Langit adalah

bagian saja dari Ilmu Pedang Naga Kembar, dan karena itu kedua tangan tetap bebas memainkan pedang, bahkan senjata apapun yang mungkin tercapai tangan.

Namun meski hanya menggunakan Ilmu Berlari di Atas Awan, seseorang bisa saja tetap melatih dirinya untuk berlari sambil tangannya mempergunakan senjata, yang ternyata dikuasai oleh orang yang kukejar itu. Ia memang berlari cepat sekali. Sebetulnya aku pun tidak betul-betul melihatnya dalam kepekatan malam yang kali ini bagaikan tidak memperlihatkan sesuatupun dalam kegelapan. Aku hanya mendengar teriakan para penjaga, lantas mengikuti suara-suara yang berlanjut setelahnya. Kupisahkan suara bergedebukan orang-orang desa yang berlari dari suarasuara lebih lembut semak dan ranting yang terlanggar dalam pelarian sosok hitam itu.

Jelas sosoknya hitam karena memang tidak terlihat sama sekali, maka lebih baik mengandalkan pendengaran. “Telinga adalah mata dalam kegelapan,” kata ayahku, “bahkan mata dapat menipu kita dalam cahaya terang, karena cahaya bukan bagian dari sesuatu yang diteranginya.” Maka bagian dari ilmu silat yang kupelajari adalah bertarung dalam kegelapan. “Jangan hanya mengandalkan mata dalam pencerapan,” katanya pula, “karena terlalu banyak jurus diciptakan untuk menipu pandangan mata itu.” Maka memang kudengar gesekan bajunya yang mengenai ranting-ranting. Kukejar ke arah suara-suara itu dan ia pun lari lebih cepat lagi.

Demikianlah kami berkejaran pada tengah malam. Kenapa ia berlari ke arah utara? Tidakkah diketahuinya di sana terdapat dinding batu curam menjulang yang mungkin saja menghentikan laju kecepatan pelariannya? Bahkan di sana terdapat rumah-rumah para penduduk Desa Balinawan juga. Namun tentu saja

ia memiliki ilmu meringankan tubuh dan akal yang sangat berguna. Bukankah semua orang keluar karena kentongan dan tentu mengerumuni mayat yang darahnya tersiram di jalanan itu? Para peronda memburu ke selatan, karena

memang tiada jalan lari lain selain menyeberang sungai, untuk menyelam muncul di seberangnya.

Ia berlari ke utara dan tiada yang mengejarnya selain diriku seorang. Ia tentu yakin akan mampu mengatasiku dengan ilmu yang dimilikinya. Aku berlari memburu suarasuara kakinya yang bergerak bagaikan bayangan dengan Ilmu Berlari di Atas Awan. Memang seperti terbang bagaikan nyaris tiada menyentuh tanah, meski tetap saja menyentuh tanah, tetapi dengan sangat cepatnya, tak akan terlihat mata bahkan juga takterdengar telinga orang biasa. Telah kukatakan tadi aku hanya mengandalkan pendengaran atas semak dan ranting yang tersentuh olehnya. Jika ia mampu melayang ke atas dinding dan berlari di atas dataran tinggi itu, aku tidak akan mempunyai jejak pendengaran yang bisa kuikuti pada malam yang buta.

Kupercepat lariku, bagaikan aku yang diburu oleh sesuatu, dan kurasa memang makin dekat diriku dengan sosok kehitaman yang berlari itu. Kudengar makin jelas telapak alas kakinya yang menyentuh pucuk-pucuk rumput, bahkan dengus nafasnya yang tampak mulai kelelahan. Lantas kudengar desingan-desingan senjata rahasia…

Secepat kilat kucabut pedang dari sarungnya di punggungku. Kuputar bagaikan baling-baling di hadapanku dan terdengarlah suara-suara benturan yang ternyata tiada habisnya. Berapa banyakkah senjata rahasia yang dibawanya? Ia melempar terus menerus bagaikan tinggal meraup senjata-senjata rahasia itu dari udara, sambil terus berlari ke arah utara. Kuputar terus pedangku tanpa celah sedikit pun sehingga tiada satu pun dari ratusan jarum beracun yang meluncur itu mengenaiku.

Pasangan pendekar yang mengasuhku telah melatihku dengan keras untuk menghadapi serangan-serangan tersembunyi, karena serangan semacam inilah yang biasanya mengakhiri riwayat para pendekar, jika

menghadapi lawan-lawan dari golongan hitam. Bahkan sebenarnya setiap pendekar golongan putih dan golongan merdeka juga melatih diri menghadapi serangan gelap yang mana pun, tetapi mereka yang mempelajari dan mengandalkan cara hidup dalam dunia persilatan yang semacam ini memang terus berusaha meningkatkan kemampuannya. Di atas langit ada langit. Pepatah ini juga berlaku bagi golongan hitam. Setiap kali suatu racun ditemukan penawarnya, setiap kali ditemukan juga jenis racun pembunuh yang baru. Tidak seorang pun akan tahu sekarang apakah setiap racun itu pasti ada obatnya.

Ketika serangan jarum-jarum beracunnya berhenti, kami telah sampai di padang terbuka yang membatasi tegalan dengan pemukiman. Kini aku bisa melihatnya. Ia berlari cepat, begitu cepat bagaikan terbang di atas tanah, sebelum akhirnya berkelebat ke atas atap, dan melayang dengan indah dari atap yang satu ke atap yang lainnya, menuju dinding batu yang menjulang di utara. Aku terus memburunya, karena setelah pemukiman ini hanya terdapat dinding batu, dan kubayangkan akan bisa memojokkannya di situ. Kami berloncatan saling berkejaran dari atap ke atap. Ia melenting dari atap ke atap itu hanya dengan sekali jejak. Ringan seperti lompatan bangau, berkelebat cepat seperti kelelawar.

Ia melihatku makin dekat dan melemparkan sebuah pisau terbang. Aku menangkap pisau terbang itu, dan menyelipkannya pada ikat pinggangku. Ia langsung menuju dinding batu. Apakah yang akan dilakukannya? Ternyata ia meluncur dari sebuah atap dengan kedua kaki di depan seperti bermaksud menjejak dinding itu. Begitu kakinya menjejak dinding dirinya berbalik meluncur dengan cepat sekali menuju ke arahku! Sembari meluncur dilemparkannya beberapa pisau terbang ke arah berbagai tempat mematikan pada tubuhku. Sementara itu aku sedang melesat dengan cepat ke depan memburunya, bagaikan menyambut pisau-pisau terbang yang mendesis dan membelah udara dengan kecepatan luar biasa.

Sungguh aku tidak siap menepisnya!

ENAM pisau terbang melaju ke enam titik mematikan pada tubuhku yang sedang begitu cepatnya melesat ke depan. Enam pisau terbang ini bisa kutangkis atau

kutangkap, tetapi tidak bisa kuhindarkan karena aku tak akan sempat mengubah arah meluncurnya diriku sendiri. Itu berarti apapun yang kulakukan maka pukulannya akan tetap mengenaiku, dengan tenaga hasil jejakan kakinya pada dinding batu menjulang yang kokoh kuat itu.

Maka berlangsunglah kejadian yang sangat cepat dan begitu cepat sehingga tidak bisa diikuti oleh mata. Kuusahakan tangkisan yang mengembalikan pisau-pisau itu ke arahnya, tetapi terpaksa kuterima pukulannya pada tubuhku sampai pedangku terlepas.

“Uuughhh!”

Suara ini keluar dari mulut kami berdua. Kami bertumbukan di udara. Aku berusaha meminjam tenaga pukulannnya di dadaku untuk melenting dan berputar tiga kali ke atas, tetapi karena ilmuku masih berada pada tingkat dasar, pukulannya membuatku sesak nafas. Sementara itu enam pisau yang sebisa mungkin kutangkis balik, ternyata hanya satu yang mengenainya, itu pun bukan di tempat yang mematikan.

Akibat tumbukan itu ia jatuh berguling-guling di tanah dengan pisau tertancap di bahunya. Ia segera meloncat berdiri dan menyerangku yang sedang melayang turun. Kami bertukar pukulan dengan sangat cepat ketika bertemu di udara. Tiga pukulanku mengenai dadanya dan tiga pukulannya mengenaiku pula. Namun ketika mendarat di tanah ia jatuh terguling sekali lagi sementara aku masih tetap berdiri. Ilmu silat kami rupanya samasama masih rendah, karena dalam pertarungan silat tingkat tinggi, jangankan sebuah pukulan, bahkan

sentuhan jari pun sudah cukup untuk memuntahkan darah.

Ia cepat berdiri. Bahkan mencabut pisau yang tertancap pada bahunya. Dalam keremangan malam kulihat wajahnya yang sengaja disamarkan dengan lumpur. Aku tidak dapat melakukan dugaan apa pun dengan samaran seperti itu, hanya matanya yang serasa menyelidik dengan tajam. Mungkin karena tidak menduga ada seseorang di Balinawan yang dapat mengimbanginya. Diakah yang selama ini menaruh mayat-mayat bergelimpangan di Balinawan? Napasnya terengah, begitu pula aku. Kulihat pedangku tergeletak di tanah.

“Bocah ingusan…,” desisnya. Aku tidak menjawab, karena memang tidak tahu harus menjawab apa.

Ia mencabut pisau yang menancap di bahunya itu pelan-pelan sambil menyeringai. Namun tiba-tiba dilemparkannya padaku. Untunglah aku sudah sangat sering dilatih oleh pasangan pendekar yang mengasuhku untuk mengatasi berbagai serangan gelap.

“Dunia persilatan adalah dunia para pendekar yang penuh dengan gagasan tentang keberanian dan kejujuran, tetapi banyak orang mempelajari ilmu silat hanya untuk mengabdi kemenangan melalui kelicikan. Itulah yang akan lebih sering kau hadapi jika dikau hidup dalam dunia persilatan, anakku..,” ujar ibuku, seperti tahu bahwa dunia persilatan jualah yang akan menjadi duniaku.

Maka menghadapi serangan macam itu aku cukup memiringkan tubuh dan menjatuhkan diri untuk meraih pedangku, karena kutahu ia akan melanjutkannya dengan serangan bertubi-tubi. Meskipun dugaanku ternyata salah karena ia lantas melesat cepat ke arah dinding batu yang penuh tetumbuhan rambat yang menjalar ke sana kemari. Ia telah kembali mengerahkan Ilmu Berlari di Atas Awan yang membuatnya melesat dengan cepat ke arah dinding batu yang curam dan penuh tonjolan serta cuatan batangbatang pohon yang tumbuh di sela-sela batu.

Aku mengejarnya dengan Jurus Naga Berlari di Atas

Langit. Dengan cepat aku telah berada di belakangnya dan hanya sesak napas karena pukulannya di dadaku tadi yang menghalangiku berlari lebih cepat lagi. Aku tinggal mengayunkan pedang dan membelah punggungnya ketika tiba-tiba ia melenting ke atas, dan mulai meloncat dengan pijakan seadanya terus menerus semakin ke atas. Aku segera menyusulnya dengan mencari pijakan lain untuk mencegatnya. Ia mencabut pedangnya dan menyerangku.

“Bocah ingusan, mengapa dikau sudi diperalat orang-orang desa bodoh ini? Dikau berilmu tinggi, tetapi dikau telah diperalat mereka demi kepentingannya. Dikau telah membuang tenaga sia-sia!”

“Mengapa kamu buang mayat-mayat di Desa Balinawan? Mengapa tidak kamu buang di desamu sendiri?”

“Dasar bocah ingusan, kamu tidak tahu apa-apa tentang permainan kekuasaan.”

Begitulah kami bertarung seperti dua burung elang yang saling menyambar di udara. Setiap kali kedua pedang kami beradu terlihatlah lentik api dan bunyi dentang yang dipantulkan dinding sampai ke tepi kali. Kami bertarung sembari melenting ke sana kemari dengan hanya menjejak tonjolan batu, cuatan batang pohon, dan bila terjatuh karena sepak segera berpegangan pada akar-akar pohon merambat yang ada di mana-mana. Demikianlah kami bertarung dengan mengandalkan tenaga dalam demi keringanan tubuh, tetapi masih bercampur tenaga kasar ketika saling mengayunkan pedang, yang membuat kami segera bermandi keringat di udara pagi yang dingin.

Kami bertarung sambar menyambar makin lama makin ke atas. Kulihat di bawah orang-orang desa membawa obor mencoba melihat kami, tetapi tentunya hanya suara pedang berdentang-dentang yang terdengar beradu dan mengeluarkan lentik api, yang makin lama makin tinggi.

Di ufuk timur warna langit mulai berubah.

“Mereka mendekati pertapaan!” ujar mereka, dan mulai mencari jalan ke atas dengan panik.

Jika mayat sembarang orang yang tergeletak begitu saja di desa mereka telah membuat mereka didenda, maka apalah lagi yang akan menimpa mereka jika terjadi sesuatu dengan para pertapa itu, yang keselamatannya akan dianggap merupakan tanggungjawab Desa Balinawan? Namun mendaki jalan terjal dan memutar seperti itu, kapan pula mereka akan sampai kemari? Adapun aku sembari bertarung dalam ketinggian ini saja bisa menyaksikan laut di balik bukit nun di kejauhan sana.

Matahari memang sudah muncul. Dataran di atas tebing sudah terlihat tepiannya. Para biarawan, para pertapa itu, tentu sudah bangun dan menjalankan upacara keagamaan mereka. Kami masih bertarung, melenting dari dahan ke dahan dan saling menyerang bagai tanpa kesudahan.

Sepintas lalu kuperhatikan, ilmu pedangnya kukira adalah Ilmu Pedang Naga Hitam yang termasyhur, tetapi dalam tingkat yang masih awal sekali, dan tidak

didukung oleh tenaga dalam yang memadai, sehingga menjadi tidak terlalu berbahaya bagi mereka yang tingkat ilmu silatnya masih sederhana seperti aku.

“Menyerahlah,” kataku, “nyawamu akan selamat jika dikau menyerah!”

Ia tertawa mendengar usahaku menggertak.

“Aku tidak begitu bodoh untuk menyerah, diadili, dan menerima hukuman mati,” katanya, “sebaiknya kita berdamai dan kau lepaskan aku.”

“Kenapa aku harus melepaskan kamu, jika jelas dikau meninggalkan mayat orang-orang yang dikau bunuh entah di mana di desa kami?”

“Eh, bocah ingusan! Tidak tahukah kamu bahwa mayatmayat itu adalah mayat para penjahat yang selalu membegal di jalan keluar dari Desa Balinawan ini? Aku sebenarnya telah membantu keamanan desa ini!”

“Bagaimana itu kamu sebut membantu, jika karena mayat-mayat itu maka tanah desa ini justru menjadi sima, dan secara halus menjadi milik negara, yang hanya berarti

milik raja?”

Kami nyaris mencapai dataran di atas tebing, ketika para penghuni pertapaan bermunculan dan menengok ke bawah karena mendengar dentang pedang kami yang beradu. Mereka tentu juga telah mendengar percakapan kami.

“Dengar bocah ingusan! Begal-begal itu adalah begundal para raja kecil yang ditundukkan Rakai Panamkaran! Mereka dibiarkan mengganggu desa ini supaya orang-orang desa tetap tergantung kepada perlindungan istana!”

“Tapi setelah tanah mereka dijadikan sima, kenapa keamanan tidak kunjung tiba?”

“Karena begal-begal itu rupanya kuat juga! Aku diperintahkan raja untuk membasminya!”

“Kalau begitu, kenapa mayat-mayat harus dibuang begitu rupa?”

“Dasar ingusan! Tentu supaya orang desa tergantung kepada perlindungan istana selama-lamanya!”

“Aku tidak percaya! Kukira dikau ada di pihak begal, karena yang mati selalu penduduk desa tetangga, sampai kedua desa nyaris tawuran karenanya. Lain kali dikau akan membunuh penduduk desa ini dan meletakkannya di desa

tetangga, dikau seorang pengadu domba. Lebih buruk dari begal, meski dirimu bukan begal. Siapa dikau? Katakan sebelum kubuka kedokmu!”

“Hahahahahaha!”

Saat itu ia sudah berada di atas dan dalam waktu yang bersamaan aku juga sudah berada di hadapannya. Aku segera menggulungnya dengan Ilmu Pedang Naga Kembar yang telah kukuasai dengan seadanya. Bertarung di tanah datar jauh lebih memungkinkan bagiku yang ilmu silatnya belum terlalu tinggi untuk mengembangkan kemampuan, selain aku lebih percaya diri mengingat ilmu silat lawanku yang juga belum terlalu tinggi.

Ia tidak tinggal diam dan mengeluarkan Ilmu Pedang Naga Hitam. Demikianlah kami terus bertarung ketika matahari merambat naik dan para biarawan dengan jubah

mereka yang serba kuning mengelilingi dan menonton kami. Karena ilmu silat kami belum terlalu tinggi, mata mereka masih mampu mengikuti setiap gerakan kami, dan tampaknya menjadi selingan yang mengasyikkan dalam kehidupan mereka yang sunyi.

Ilmu Pedang Naga Hitam diciptakan oleh Pendekar Naga Hitam, seorang penguasa wilayah persilatan Kubu Utara yang sangat dihormati, tetapi yang kemudian diketahui melakukan persekutuan dengan berbagai kelompok yang berkepentingan dengan kekuasaan. Ayahku pernah bercerita tentang Pendekar Naga Hitam, yang semula merupakan seorang pendekar golongan merdeka, yang memang menjadi termasyhur oleh penemuan Ilmu Pedang Naga Hitam. Dengan ilmu pedang itulah lambat laun ia menguasai Kubu Utara. Menurut ayahku, dunia persilatan Yawabumi masa itu terbagi dalam lima wilayah kekuasaan.

Jika Naga Hitam menguasai Kubu Utara, maka Naga Kuning menguasai Kubu Barat, Naga Putih menguasai Kubu Timur, Naga Merah menguasai Kubu Selatan, dan Kubu Tengah menjadi arena perebutan segala macam pendekar yang akan mendapat julukan, atau menamakan diri mereka sendiri, dengan sebutan naga atas berbagai macam warna.34

Naga adalah lambang kemegahan dan kekuasaan, tetapi lebih dari itu naga adalah lambang kewibawaan. Maka gelar dengan nama naga biasanya diberikan oleh kalangan persilatan sebagai pengakuan dan pengukuhan atas wibawa yang didapat oleh keunggulan ilmu silatnya; atau jika seseorang menamakan dirinya sendiri dengan naga maka ia harus merebut dan meminta pengakuan sampai dunia persilatan mengakuinya. Dengan cara itulah Naga Hitam mendapatkan gelarnya, pertanda ia bukanlah seorang pendekar yang rendah hati, meski tetap diakui tidak terkalahkan di wilayah Kubu Utara. Perimbangan kekuasaan yang tidak resmi ini akan diperhatikan oleh para penguasa yang resmi, yang akan memanfaatkan perimbangan tersebut demi kepentingan mereka sendiri. Naga Hitam adalah pihak yang tergoda dan terbujuk untuk berpihak kepada mereka yang ingin menggulingkan kekuasaan, dan masih selalu mempertahankan cita-citanya meski penguasa yang semula dimusuhinya telah berganti. Dulu ia memusuhi Sanjaya, dan rupanya masih menyimpan impiannya setelah Rakai Panamkaran berkuasa.

Sementara itu, perimbangan kekuasaan dalam perebutan gelar naga di dunia persilatan juga berkembang, karena muncul pula empat naga baru di wilayah baru pula yang merebut wibawa wilayah-wilayah lama. Mereka adalah Naga Hijau yang menyatakan diri menguasai Kubu Barat Laut, Naga Biru sebagai penguasa yang mendapat pengakuan di Kubu Timur Laut, Naga Jingga yang dalam kenyataannya dipuja-puja Kubu Barat Daya, dan Naga Dadu, lelaki pendekar yang sangat termasyhur kecantikannya, diakui dunia persilatan Kubu Tenggara.35 Waktu aku mendengar semua cerita ini tentu aku tidak mengira suatu ketika akan bentrok dengan seseorang yang memainkan Ilmu Pedang Naga Hitam.

Tentu saja ilmu pedang itu sangat hebat, tetapi Ilmu Pedang Naga Kembar diciptakan untuk menghadapi ilmu pedang semua kubu, yang telah dilatihkan kepadaku agar bisa memainkannya seperti terdapatnya dua pendekar berpasangan, dengan jumlah keseluruhan sebagai permainan empat pedang. Dalam usia 15 tahun, kuakui ilmu silatku masih sangat dangkal, tetapi ternyata dengan baru mengenal saja, dan belum menguasai sepenuhnya Ilmu Pedang

Naga Kembar, aku mampu menahan kedahsyatan Ilmu Pedang Naga Hitam. Bahkan sedikit demi sedikit aku mulai menekan dan mendesaknya.

Ciri Ilmu Pedang Naga Hitam adalah gerak tipunya yang menyesatkan. Ibarat kita merasa terancam oleh mulut naga yang menganga dan memusatkan perhatian kepada kepala naga itu, ternyata adalah ekornya yang menggasak dan melumpuhkan kita dari arah yang tidak terduga. Namun berhadapan dengan Ilmu Pedang Naga Kembar yang diciptakan untuk menghadapi ilmu pedang para naga maka Ilmu Pedang Naga Hitam itu hanya bisa bertahan. Ibarat menghadapi empat pedang, hanya mampu mampu menahan serangan satu pedang, tetapi takkuasa menangkis serbuan angin putting beliung tiga pedang yang lain. Aku mendesaknya terus sampai ia terguling-guling.

“Cepat katakan siapa yang menyuruhmu! Katakan! Katakan! Katakan!”

“Diam kau bocah ingusan! Diam ka…. Agh!”

Telah kulumpuhkan dia sebelum usai kata-katanya. Seluruh tubuhnya tersayat luka goresan. Ia terbanting karena pukulanku pada tengkuknya. Kini terkapar kuinjak dadanya. Kuangkat pedangku.

“Katakan sekarang atau kubunuh dikau sekarang!”

Ia memandangku dengan bergeming. Tersenyum di antara nafasnya yang memburu. Pukulanku terlalu keras. Itulah akibat ilmuku yang belum terlalu tinggi. Tengkuknya patah. Luar biasa bahwa ia belum binasa.

“Guruku akan mencarimu”

“Gurumu? Naga Hitam?”

Ia hanya tersenyum sebelum nyawanya pergi. Kuangkat kakiku yang menginjak dadanya. Kupandang pedangku yang bersimbah darah. Ia memang mati bukan karena pedangku, melainkan karena pukulan tanganku. Sama saja.

Jika tak karena pukulan tangan itu, berapa lama lagi ia masih bisa hidup dengan segala luka itu. Aku menghela napas. Inilah pertarunganku yang pertama dan untuk yang pertama ini telah kulenyapkan sebuah nyawa.

Benarkah jiwa manusia tiada artinya dibandingkan kematian? Para pendekar dalam dunia persilatan selalu merasa lebih terhormat mati dalam pertarungan

daripada hidup menanggung malu karena pernah dikalahkan. Kekalahan harus selalu berarti kematian dan itulah kematian yang penuh dengan kehormatan.

Benarkah demikian? Benarkah begitu tiada artinya kehidupan dibandingkan kehormatan dalam kematian? Aku memandang pedangku, mengusapkan darahnya ke kain baju orang yang terbunuh itu.

Ia seorang yang menjalankan tugas. Jadi aku berhadapan dengan suatu tatanan yang menjadikan pembunuhan sebagai bagian dari tujuannya. Aku mencoba berkepala dingin menyadari keterlibatanku dalam suatu persoalan besar.

Aku menoleh ke sekelilingku. Cahaya matahari menyemarakkan tanaman bunga. Para pertapa menggumamkan puja sambil menangkupkan tangannya. Mereka memandangiku dengan pandangan mata yang sangat amat berduka.

SETELAH kejadian itu, tiada lagi peristiwa yang terlalu berarti di Desa Balinawan. Dari sebuah kitab ilmu silat tingkat dasar yang juga terdapat dalam peti kayu, kulatih para pemuda desa, termasuk gadis-gadisnya, terutama mereka yang berbakat menjadi guru silat. Selain itu dari sebuah kitab lain, kami pelajari bersama-sama tata cara terbaik pertahanan sebuah desa.

Dengan umurku yang masih 15 tahun, aku tidak membayangkan diriku dapat mengajari mereka. Namun dalam kenyataannya tidak terlalu banyak orang yang lancar membaca, apalagi menulis pula. Hanya terdapat seorang tua yang menguasai baca tulis dengan, dan anaknya, seorang gadis yang jelita, mungkin sekitar 20 tahun umurnya.

Cantik jelita artinya ia bermata cemerlang, tinggi tegap tetapi langsing tubuhnya, setiap hari mengenakan kain batik yang menutup dada, bahu dan punggungnya selalu terbuka. Pada suatu hari kudengar ia mengeja bacaannya:36

Pohon wudi besar di timur itu, merpati burungnya;

di bawah airnya jernih, telaga namanya;

ditanami teratai putih, dikelilingi perak.

Air jernih mengalir.

Di sanalah orang terlepas dari…

Ia berhenti. Melihatku mendekat.

‘‘Jangan berhenti…’’

‘‘Daku tidak berhenti, guratan hurufnya tak jelas, keropaknya sudah terlalu tua, daku memang mau menyalinnya.’’

‘‘Selanjutnya masih dibaca bukan?’’

Ia tersenyum manis sekali dan meneruskan bacaannya. Suaranya merdu. Hanya dengan adanya Harini, nama perempuan itu, hari bagi siapa pun yang menemuinya telah menjadi suatu berkah.

—Missing: NagaBumi (99)—

“Dikau lihatkah arti kitab ini padaku?”

Harini, perempuan yang merangkaikan bunga tanjung kecil-kecil dan memakainya di belakang telinga itu,37 lebih dari seorang pembaca yang begitu langka, melainkan seorang terpelajar yang menyusun kembali pengetahuan dari berbagai pengetahuan.

“Apa artinya?”

“Bahwa warna-warna melambangkan mata angin rupanya,” ujarnya.

Dengan cepat aku teringat sesuatu.

“Namun warna para naga tidak sesuai dengan kubu yang mereka kuasai.”

Harini tersenyum memandangku. Ada perasaan kecewa padaku karena barangkali ia menganggapku sebagai remaja berusia 15 tahun sahaja.

“Oh, itu karena kitab yang dijadikan rujukan berbeda. Para naga ingin mandiri dalam penegakan wibawa, jadi mereka menggunakan naskah bukan-Buddha yang dilahirkan di Yawabumi. Mereka juga tidak merujuk satu naskah saja. Jika empat mata angin dan yang berada di antaranya diambil dari suatu naskah, maka mata angin kelima sampai kedelapan sangat mungkin diambil dari yang lain. Dalam hal para naga, jelas naskah Yawabumi dilengkapi naskah Sanskerta untuk empat mata angin tambahannya.”

Sementara Harini bicara kutatap matanya yang cemerlang dengan penuh kekaguman. Sudah lama kuperhatikan dia, rambut panjangnya yang selalu berhias bunga dan berganti setiap hari. Mulai dari bunga tanjung sebagai hiasan dalam sanggul,38 bunga asoka yang merah,39 bunga asana dan bunga campaka yang putih atau kuning muda, yang memang cocok dengan kulitnya40,

maupun bunga-bunga menur.41 Harus kukatakan betapa aku takut untuk jatuh cinta padanya. Teringat ucapan ibuku.

“Seorang pendekar sebaiknya tidak mengikatkan diri kepada apa pun yang menghalangi kebebasannya,” ujar ibuku suatu ketika, “seperti ikatan perkawinan, kecuali jika dikau juga menikahi seorang pendekar, anakku, karena hanya pendekar yang memahami jalan kehidupan seorang pendekar dalam dunia persilatan, jalan menuju kematian dalam pertarungan.”

Aku tentu harus mereka-reka sendiri, tetapi rekaan yang tidak akan terlalu keliru, bahwa ketika pasangan pendekar itu bertemu, saling jatuh cinta, dan memutuskan untuk hidup bersama, suatu kesepakatan untuk menghindari ikatan telah dijalankan, yakni dengan tidak mempunyai anak. Namun mereka tidak menolak kehadiranku dengan peristiwa semacam itu, karena kejadiannya memang menuntut tanggung jawab seorang pendekar, bahwa mereka harus merawat aku, dan memberikan kepadaku kemampuan seorang pendekar.

“Janganlah semua ini menjadi beban, anakku,” kata ayahku, “dikau bisa meninggalkan dunia persilatan ini kapan saja selama dikau menghendakinya, karena hidup menjadi seorang pendekar hanya bisa membahagiakan jika menjadi pilihan.”

Aku merasa belum memutuskan untuk menjalani kehidupan di sungai telaga dunia persilatan, tetapi aku sudah sangat peka terhadap setiap kemungkinan yang sekiranya akan mengikat diriku. Maka aku pun merasa takut untuk jatuh cinta, meski aku tidak bisa melepaskan diri dari keterpesonaan diriku kepada Harini.

“Apa yang dikau pikirkan, wahai lelaki tanpa nama?”

Aku memang tidak mempunyai nama bukan? Setidaknya tidak ada yang tahu namaku, dan pasangan pendekar itu pun tidak merasa terlalu berhak atau terlalu perlu memberi nama kepadaku. Aku sendiri tidak merasa kurang suatu apa meski tidak pernah dipanggil dan disebut dengan sebuah nama. “Anakku,” kata orangtuaku selalu dan itu sudah lebih dari cukup bagiku.

“Daku sedang berpikir untuk mencari Naga Hitam itu lebih dulu daripada ia datang kemari dan mencelakakan kita semua.”

“Akan ke mana dikau mencarinya, lelaki tanpa nama?”

“Naga Hitam adalah penguasa dunia persilatan Kubu Utara, tidak ada seorang pun dari kita akan bisa melawannya jika ia berminat membasmi kita.”

Mata yang cemerlang itu mendadak jadi redup dan meneteskan air mata.

“Dikau ke sana menghantarkan nyawa, dan dikau meninggalkan Harini sendiri di sini tanpa sahabat yang mampu membaca!”

Harini menyebut diriku sahabatnya. Aku tidak tahu apakah harus menyesal atau bersyukur mendengar dia mengatakannya, karena jika Harini menghendaki diriku lebih dari apa yang diucapkannya, belum tentu aku berdaya menolaknya. Kami memang sering membaca berdua, jika segala tugasku di desa ini telah kuselesaikan siang harinya. Kami membaca sampai jauh malam, memecahkan berbagai masalah dalam pembacaan berdua, kadang-kadang dengan bimbingan ayahnya yang cendekia.

Namun bila ayahnya itu berangkat tidur, dan segera terdengar dengkurnya, Harini akan memegang tanganku, dan perbuatannya itu sungguh menggetarkan diriku, meski yang kami berdua lakukan seterusnya memang hanya membaca. Entahlah apa yang diketahui Harini tentang diriku, jika kami tiba kepada naskah-naskah tentang perilaku asmara, karena aku telah terpaksa membacanya tanpa mengerti harus bersikap bagaimana, seperti ketika membaca Kama Sutra karya Vatsyayana. Kata-kata tentang berbagai cara hubungan asmara antara seorang lelaki dan perempuan dalam kitab yang ditulis empat abad sebelum masaku itu begitu terus terang dan begitu jelas, sehingga aku merasa sangat malu dan tidak berani memandang Harini meski ia terus mengejanya.

Menurut ukuran alat kelaminnya, seorang lelaki disebut

shasa (kelinci), vrisha (banteng), atau ashya (kuda jantan).

Perempuan, menurut jenisnya, disebut mrigi (kijang betina),

vadava (kuda betina), atau hastini (sapi-gajah).

Mereka yang setara akan membentuk tiga pasangan seimbang.

Sedangkan hubungan tak setara akan berjumlah enam.

Hubungan setara adalah mungkin

antara yang alat kelaminnya besar dengan yang kecil.

Terdapat sembilan jenis hubungan sanggama

menurut ukuran kelaminnya.42

“Apakah kita tidak bisa membaca yang lain saja?” kataku.

Harini, aku tak berani menatapnya, dalam keremangan lampu malam hari, kulitnya yang kuning bagaikan tetap bercahaya menembus kelam. Ia sungguh halus, tetapi sungguh berani menatap dengan mata yang bagaikan siap melayani setiap tantangan asmara. Inilah yang akan membuat dadaku berdebar. Lebih mendebarkan daripada keadaan menghadapi pertarungan.

Ia tertawa kecil. “Kenapa, wahai lelaki tanpa nama, kenapa? Apa yang

dikau takutkan dengan Kama Sutra?

“Ayahmu sudah tidur, nanti kita membangunkannya…”

Tanganku yang telah dipegangnya ia tarik dengan keras sampai aku nyaris terjerembab. Namun Harini menahan kedua bahuku, menatapku seperti menatap bola mainan.

“Janganlah takut kepada Harini, wahai lelaki tanpa nama, kita hanya memeriksa dan menguji segala petunjuk Kama Sutra…”

Balinawan. Di luar desa, selain sungai, sawah, dan pertapaan di atas tebing, terdapat juga hutan yang rimbun.

Ada wilayah dangkal di sungai yang menjadi pemandian warak, sementara hutan itu kadang menjadi daerah perburuan harimau.43 Di dalam hutan itu suara kera-kera

berkerisik di tengah-tengah semak belukar, seolah-olah mencari kayu bakar, sedangkan suara seolah-olah ada seseorang menebang kayu sesungguhnya datang dari bunyi burung pelatuk.44

Kijang dan kancil, bila mendekati pertapaan jeritnya memperingatkan para penghuni bahwa ada seorang tamu yang datang; penuh nafsu ingin tahu ia mengintai dari balik sebatang pohon dengan matanya yang manis kekanak-kanakan.45 Hutan tentu saja juga merupakan surga bagi burung-burung.

Kalau kuingat tulisan para kawi, tiada habisnya mereka menggali kata-kata dan tiruan bunyi guna menerjemahkan kicauan burung-burung ke dalam percakapan

dan perselisihan rumah tangga yang tidak selalu mudah dimengerti, apalagi menceritakannya kembali.46 Suara burung cataka dan cucur yang sedih dijadikan bahan perumpamaan:

Burung cataka menghentikan tangisnya karena hujan lembut yang membasahi daun pohon wungu.47 Burung cataka yang hidup dari tetes-tetes hujan, pernah dilambangkan sebagai seseorang yang terpanah asmara, yang begitu merana karena ingin berjumpa kekasihnya.48

Begitulah, memasuki hutan bagiku seperti kembali ke dunia bacaan bersama Harini. Burung kalangkyang dan hujan adalah lambang pertemuan dua kekasih.49 Tinggi di langit burung helang berputar-putar, menangis -ia menderita karena hawa panas dan mendambakan turunnya hujan lebat.50 Para kawi telah mengamati, setiap kali burung helang atau kalangkyang turun ke sungai untuk minum, dia selalu diserang dan diusir oleh burungburung kecil, sehingga mereka berputar-putar di langit dan dengan jeritannya memanggil-manggil hujan, satu-satunya minuman yang masih tersedia bagi mereka.51 Burung cucur digambarkan begitu mencintai rembulan, sehingga ia merana bila bulan mengecil, bahkan hampir mati pada saat tilem, ketika bulan sama sekali tidak kelihatan.52 Suara burung-burung sangat mengharukan di ujung malam, seperti cucur dan tadah-asih yang menangisi susutnya rembulan.53

Namun mengingat burung tadah-asih ternyata sangat menyedihkan aku, karena dalam sebuah bacaan disebutkan:

Anakku,

kau ibarat telur tadah-asih,

yang diasuh dan dirawat orang lain.54

Burung tadah-asih memang tidak mengerami telurnya sendiri. Siapakah ibu kandungku? Siapakah ibu kandungku? Siapakah ibu kandungku? Siapakah sebenarnya diriku?

“Lelaki tanpa nama! Jangan melamun kalau berjalan bersama Harini, nanti dia terbuang dan merana!”

Kami bergandengan tangan di dalam hutan. Harini mengutip sebuah perumpamaan, “Aku bagaikan burung walik pada saat tilem, merana karena ingin berjumpa dengan dikau, hai rembulan.”55

Aku tidak tahu bagaimana harus menanggapi meski senang mendengarnya. Burung merak bertengger pada cabang sebatang pohon di hutan, sambil memamerkan ekornya yang berwarna-warni?sungguh pemandangan yang menawan hati. Namun yang mengherankan bagiku, kenapa suaranya yang parau disebut para kawi sebagai indah?56 Bila burung ini mendengar deru guruh di kejauhan yang meramalkan hujan yang akan datang serta mekarnya bunga-bunga, maka ia mulai menari dan berteriak-teriak kegirangan.57 Hutan merupakan perpaduan berbagai-bagai suara. Burung paksi gending bunyinya mirip gong kecil,58 suara eping tangisnya melengking59 meski terkadang juga bermain seruling.60 Ketika malam tiba, ketika suara burung menghilang terdengarlah terus menerus dengungan aneka macam serangga, jengkerik, belalang, cunggeret dan walang krik melengking, sementara sundari mendengung-dengung antara menjerit dan menangis.61

Bukan hanya telinga dimanjakan oleh berbagai suara, juga mata akan mengerjap bahagia menyaksikan dadali atau burung sriti yang bersarang dalam sela-sela batu karang di tepi sungai. Gerak-geriknya tangkas dan cepat, dapat ganti arah dengan mendadak bila menyambar di permukaan air, siluet sayapnya melengkung tajam, sering dipakai untuk melukiskan alis perempuan.62 Dari tepi hutan, sawah-sawah kelihatan dan di sanalah burungburung kuntul terlihat di antara gelagah-gelagah di sepanjang tepian sungai.63 Jika burung ini terbang tinggi, putih bagaikan serangkaian bunga melati, atau lenyap dalam segumpal kabut kemudian muncul kembali…64

Harini tidak pernah menyatakan cinta, aku bahkan tidak menyadari apakah cinta harus dinyatakan secara pasti, tetapi kami saling mengutip kitab agar dapat menyatakan perasaan itu sendiri.

“Lihatlah kumbang itu,” katanya, “terbang dari bunga yang satu ke bunga yang lain, mengisap madu dan tak pernah kenyang.”

“Ia menangisi bunga-bunga yang layu dan jatuh dari pohon,” kataku, “atau dari sanggul perempuan dan hanyut di sungai bagaikan mayat-mayat. Namun segera berseri melihat pipi seorang perempuan cantik, yang dikiranya sekuntum bunga padma, atau hinggap di betisnya yang dikira sekuntum pudak.”65

“Dalam kelahiran kembali nanti,” sahut Harini lagi, “bila kau menjelma menjadi seekor kumbang, aku akan menjadi bunga asana yang kau cium di taman.

Lantas Harini akan menyeretku ke balik pohon besar yang sangat rindang, sembari tangannya menarik-narik kain busanaku agar terlepas. Bibirnya begitu merah dan merekah, lidahnya keluar membasahi bibirnya, dan matanya jelas mengundang diriku untuk menciumnya. Kainku terlepas sudah. Kulepaskan pula kainnya. Kami segera saling memagut dengan ganas dan saling membelit seperti sepasang naga yang saling berlilitan. Semalam hujan, dedaunan di bawah pohon basah dan dingin, sehingga kami tidak bisa merebahkan diri. Dia terus membelitku dan aku balas membelitnya, dalam iringan suara ayam alas atawa cigeger.67

MURID Naga Hitam yang tewas ditanganku ternyata adalah Si Nalu, artinya seorang pendekar yang belum punya gelar. Telah kukatakan bahwa gelar didapatkan seorang pendekar dari dunia persilatan berdasarkan pesona yang diberikannya dalam berbagai pertarungan; atau menamakan dirinya sendiri dengan suatu gelar dan menuntut pengakuan melalui pertarungan demi pertarungan. Melalui yang terakhir inilah kudengar Naga Hitam mendapatkan gelarnya.

“Aku ingin menguasai dunia persilatan Kubu Utara dan karena itu kunamakan diriku Naga Hitam. Jika kalian tidak sependapat tempurlah aku dan jika kalian sependapat bunuhlah diri kalian, karena hidup dengan kekalahan dalam dunia persilatan adalah kenistaan yang tidak perlu ditanggungkan.”

Dengan cara seperti ini ia membantai begitu banyak pendekar dari golongan putih, golongan merdeka, maupun orang-orang golongan hitam. Sebaiknya pendekar manapun tidak usah terjebak dengan kata-kata seperti itu, tetapi tidak semua orang yang mengarungi sungai telaga dunia persilatan menyadari

terdapat unsur jebakan di dalamnya. Mendengar kata-kata seperti itu, meski ilmu silat mereka belum cukup, mereka layani juga pancingan Naga Hitam dan hanya kematian yang kemudian mereka temukan.

Telah kuhadapi murid Naga Hitam yang bernama Si Nalu itu, yang rupanya belum mendapat izin gurunya untuk turun gunung dan mengembara, tetapi tetap nekat karena ingin segera mendapat nama. Sejauh yang kuketahui, tingkat kepandaian seorang guru bisa sepuluh kali lipat kepandaian muridnya. Jika muridnya banyak, mungkin muridnya yang tertua hanyalah satu atau dua

tingkat di bawahnya, tetapi mengingat Si Nalu tergolong murid yang belum mendapat izin, yang tentunya karena ilmu silatnya dianggap belum memadai, mungkin saja kepandaiannya belum sepersepuluh kepandaian gurunya. Karena itu aku lebih suka memperkirakan tingkat ilmu silat Naga Hitam adalah dua puluh kali lipat dari ilmu muridnya yang pernah kuhadapi itu.

Adapun menghadapi Si Nalu saja aku sempat terjengkang sesak napas seperti itu, sudah barang tentu Naga Hitam akan membunuhku dengan mudah jika sekarang tiba-tiba ia berada di hadapanku. Aku dibesarkan oleh pasangan pendekar dan

karena itu menjadi tidak terlalu takut mati, tetapi aku tidak mau mati terlalu cepat sebelum menjelajahi seluruh negeri, karena meskipun aku tidak mempunyai cita-cita menjadi seorang pendekar ternama aku tetap sangat berminat untuk mengembara. Namun meningkatkan tingkat ilmu silat sampai duapuluh kali lipat dengan cepat adalah mustahil, apalagi untuk seseorang berumur 15 tahun yang harus melakukannya tanpa bimbingan seorang guru. Aku harus mencari akal.

Aku dilepaskan untuk mandiri oleh pasangan pendekar itu tentu bukan tanpa alasan sama sekali.

“Dikau mempunyai tubuh, bakat, dan otak yang cukup untuk mengembangkan dirimu dalam ilmu persilatan, anakku,” kata ibuku, “dikau hanya tinggal melatih diri dengan keteraturan tertentu agar mampu menjadikannya ilmu di dalam dirimu. Segala kitab dalam peti kayu itu kami kumpulkan dalam waktu yang panjang, tidak semuanya sempat kami pelajari dan kembangkan, tentu kami

punya harapan suatu kali dikau akan memanfaatkannya, setidaknya membaca dan membuatnya berguna untuk orang banyak.”

“Segala kitab dalam peti kayu itu, Anakku,” kata ayahku, “mampu memecahkan setiap persoalan dalam ilmu silat, tetapi hanya jika dikau mampu membongkar penanda-penanda dan mampu menemukan makna di

baliknya, berdasarkan pembermaknaanmu terhadap bacaan itu.”

Maka pada suatu malam, pada sebuah pondok yang disediakan untukku, kubongkar peti kayu itu dan kucaricari sesuatu yang barangkali saja dapat mengatasi masalahku. Aku menganggap setidaknya terdapat tiga masalah yang harus kuatasi, pertama, tenaga dalam yang masih rendah tingkatannya; kedua, kepandaian ilmu silat yang masih berada di bawah Naga Hitam; ketiga, bahwa aku harus melakukan peningkatan atas keduanya dalam waktu yang singkat. Adakah jalan pintas yang dapat mengatasinya? Karena dalam ilmu silat, istilah jalan pintas tidak dikenal. Ilmu hanya dapat menjadi milik kita jika kita menjalankan ilmu itu, melakukannya, menghayatinya, menjadikannya bagian dari diri kita, dan itulah yang membuat ilmu berbeda dengan pengetahuan. Ilmu baru menjadi ilmu jika menjadi bagian diri kita, sedangkan pengetahuan ibarat kekayaan yang dapat hilang, dan karena itu ilmu harus mampu menjadikan pengetahuan sebagai ilmu pengetahuan yang mampu diserap melalui pembelajaran.

Naga Hitam sangat dikenal melalui Ilmu Pedang Naga Hitam yang telah kukenal ketika menghadapi Si Nalu. Cirinya penuh gerak tipu yang menyesatkan, tetapi Ilmu Pedang Naga Kembar sengaja digubah untuk mengatasinya, dan aku telah membuktikannya. Masalahnya, Ilmu Pedang Naga Hitam ini tidak akan mampu kuimbangi kecepatannya jika dimainkan dengan tenaga dalam yang duapuluh tingkat di atasku. Selain itu sebetulnya Ilmu Pedang Naga Kembar kukuasai dengan seadanya saja, karena memang tidak pernah berminat menjadi pendekar dalam arti sesungguhnya. Mungkinkah ada jurus yang memungkinkan seseorang dengan tenaga dalam seadanya mengalahkan seseorang dengan tenaga dalam yang lebih unggul, sampai duapuluh tingkat di atasnya?

Ayahku pernah bercerita bahwa lebih dari segalanya,

akal sangat penting dalam mencapai kemenangan dalam pertarungan.

“Tenaga dalam dan kecepatan memang menentukan, tetapi bagaimana menggunakannya secara tepat sangat tergantung kepada siasat dalam persiapan kita menghadapi lawan,” katanya.

Bahwa tenaga dalam Naga Hitam sudah sangat tinggi dan kecepatan geraknya tidak terukur memang tidak usah diragukan. Betapapun ia telah diakui sebagai bergelar Naga Hitam seperti yang diinginkannya, dan pengakuan itu didapatkan hanya setelah mengalahkan setiap pendekar yang menolak kehendaknya untuk menguasai dunia persilatan Kubu Utara. Berpuluh-puluh pendekar terkenal maupun tidak terkenal telah ditundukkannya, bahkan katanya ia telah membantai sebuah perguruan sampai habis tanpa sisa. Naga Hitam semula merupakan pendekar golongan merdeka, tetapi cita-cita keduniawiannya untuk berkuasa membuatnya lebih mirip dengan orang-orang golongan hitam.

Para pendekar golongan merdeka terbebaskan dari segala ikatan, baik itu ikatan masyarakat maupun agama, karena perhatian mereka selalu hanyalah kepada kesempurnaan ilmu silatnya sendiri sahaja. Namun Naga Hitam telah bersekutu dengan orang-orang mursal yang menyimpan cita-cita merebut kekuasaan, yang sementara ini hanya mampu memberi gangguan atas ketenteraman. Rakyat tidak berdosa, yang hidup sehari-harinya jauh dari persengkataan di dalam istana, dan tidak selalu menyadari terdapatnya perseteruan antara para penguasa, menjadi sangat menderita.

Bukan sekadar rombongan pedagang dirampok, bendungan dijebol, jembatan diruntuhkan, tetapi perkampungan mereka juga kadang-kadang dibakar. Ini terutama sering terjadi di daerah pinggiran yang jauh dari pusat kekuasaan, karena para pengacau berharap rakyat yang ketakutan akan melepaskan ikatan dengan penguasa dan berpihak kepada mereka demi keamanan. Namun bila

hal itu dilakukan, pasukan kerajaan akan segera tiba untuk melakukan hal yang sama, yakni pembakaran, bahkan pembunuhan serta pemerkosaan.

—Missing: NagaBumi (106 & 107)—

Tersentak aku melihat seorang pendeta di belakangku. Benarkah ia seorang pendeta? Jika aku tidak mendengar langkah maupun nafasnya, itu berarti ia mempunyai langkah ringan dan begitu ringannya seperti para pendekar ternama. Padahal yang dikerjakannya dari hari ke hari seperti hanya berdoa dan berpuasa.

Kelak aku akan tahu bahwa pemikiranku ini sangat bodoh.

“Ilmu silat bisa dipelajari semua orang Anakku, seperti dikau mempelajarinya meski tidak ingin menjadi pendekar yang mencari nama.”

Siapakah pendeta tua ini? Ia bahkan bisa membaca pikiran di dalam kepala!

elihat busananya, ia memang bukan sembarang pendeta. Dalam sebuah kitab keagamaan pernah kubaca:

Apabila Anda memilih

kedudukan seorang resi Agama Buddha,

berpakaianlah busana

yang terbuat dari kulit kayu selengkapnya

mengunyah kayu cendana

memegang tasbih

dan perlengkapan lainnya yang sesuai68

Jadi ia seorang resi. Betapa alimnya! Namun segera terbukti kesanku tidak tepat sepenuhnya.

Aku sedang berada di tepi tebing saat itu. Sejenak menikmati pemandangan senja seusai melatih diri, dan berarti membelakanginya ketika terpaksa menoleh kepadanya. Saat itulah ia mengajukan tangan ke depan

seperti gerakan mereka jika berdoa, tetapi kurasakan sebuah tenaga raksasa mendesak dan mendorong sehingga aku kehilangan keseimbangan. Aku melayang jatuh dari atas tebing tanpa bisa berbuat apa-apa!

KURASAKAN angin yang berdesau kencang begitu aku jatuh meluncur ke bawah. Aku memang telah menguasai ilmu meringankan tubuh, tetapi hanya dalam hubungannya dengan kebutuhan untuk berlari secepat angin, bahkan bila perlu lebih cepat dari angin itu sendiri. Selain berlari, aku juga telah sangat

terlatih memanfaatkannya untuk melompat ke atas, ibarat melawan daya tarik bumi yang berputar karena tarikan matahari. Tentu bersama dengan itu aku harus menguasai pula ilmu melompat turun dengan ringan seperti kapas. Apalah artinya melompat dari genting ke genting tanpa suara tetapi mendarat di tanah dengan suara bergedebuk?

Namun setinggi-tinggi lompatan dengan ilmu meringankan tubuh, tidaklah akan setinggi tebing ini. Dalam pertarungan melawan murid Naga Hitam yang bernama Si Nalu, kami juga melompat dari batu ke batu dan dari dahan ke dahan sebelum kami berdua mencapai dataran di atas tebing ini, tempat sebuah pertapaan telah dibangun untuk memencilkan diri. Ini berarti aku juga tidak akan mampu meringankan tubuhku ketika melompat ke bawah, jika jaraknya melebihi jarak yang mampu dicapai oleh lompatanku ke atas. Sedangkan jarak antara dataran di atas tebing itu dengan tanah di bawahnya ratusan kali lipat jarak antara tanah dan puncak pohon kelapa, kemampuanku melompat ke atas saat itu. Ini berarti tubuhku akan hancur ketika jatuh terbanting. Meluncur dan meluncur ke bawah seperti batu tanpa mampu meringankan tubuh sama sekali. Apakah riwayatku akan tamat sampai di sini?

Kenapa aku bisa begitu lengah? Namun siapa akan menduga betapa seorang pendeta yang tampak begitu alim dan cendekia akan mendorong dengan tenaga dalam luar

biasa? Betapa tiada akan luar biasa pula jika bahkan hanya anginnya saja, dan bukan sentuhan tangannya yang mendorong ke depan, telah membuatku terpelanting melewati tepi tebing dan kini meluncur ke bawah seperti batu dengan cepat sekali?

Meski meluncur dengan sangat cepat aku masih bisa berpikir, dan itulah sebabnya aku bisa mengambil kesimpulan betapa aku tidak akan tertolong lagi. Bagaimanakah caranya seseorang atau sesuatu bisa menolongku dalam keadaan seperti ini? Tak ada ranting yang dapat sekadar kuraih dan tiada pula sesuatu di bawah sana akan dapat menampung kejatuhan diriku tanpa luka yang berarti.

Kubuka mataku dalam kejatuhanku dan tiba-tiba muncullah sosok berbusana kulit kayu yang meluncur cepat sekali dari atas, dengan kepala di bawah dan kedua tangan lurus merapat ke samping tubuh seperti berusaha menembus udara, tetapi yang mendadak lambat ketika setelah menyalipku kakinya maju ke depan dan tangannya meraih tubuhku untuk dibopongnya. Begitulah ia mendarat dengan ilmu meringankan tubuh yang sempurna sambil membopongku, meski kemudian aku dilemparnya begitu saja ke atas tanah, karena memang dengan hanya berguling sekali aku lantas melompat berdiri.

Aku langsung menjura kepada sang pendeta yang telah menjatuhkan, tetapi juga sekaligus menyusul dan menangkap tubuhku itu, untuk menyatakan terima kasihku kepadanya. Namun apa yang terjadi? Ternyata ia mendorongkan lagi tangannya ke depan, dan sekali lagi tubuhku terlontar ke udara begitu rupa, Di udara aku berjungkir balik untuk memunahkan pengaruh dorongan angin pukulannya yang sangat bertenaga itu. Belum lagi mendarat sosok berbusana kulit kayu itu sudah berada di depanku untuk sekadar menyentuh dadaku dengan ujung jari-jarinya, tetapi akibatnya membuat aku terpelanting menggelosor di tanah meninggalkan jejak seretan tubuh yang panjang di tanah.

Aku segera melenting berdiri dan pasang kuda-kuda. Namun ke manakah sosok berbusana kulit kayu itu? Tibatiba saja aku terjatih dengan wajah terjerembab ke tanah, karena sebuah dorongan ringan dari belakang pada punggungku. Aku segera melompat jungkir balik ke belakang, tetapi rupa-rupanya aku memang sedang dipermainkan oleh seseorang yang tingkat kepandaian ilmu silatnya bagaikan seratus kali di atasku. Jangankan untuk membalas, bahkan untuk menghindari serangan tanpa membalas pun tidaklah dimungkinkan. Ia selalu mendorong dan menyentuh tanpa melukaiku, yang tidak kurasakan sebagai keberuntungan, melainkan penghinaan, karena dengan begitu aku akan mengalami kekalahan tanpa kematian. Suatu tabu dalam dunia persilatan.

Aku sudah membuka mulut untuk meminta penjelasan, tetapi pikiranku terbaca dengan cepat.

“Jangan bicara,” katanya dengan suaranya yang lemah, “awas kepala!”

Aku menyerang ke arah suara itu, tetapi hanya menyapu angin. Di sekelilingku berkelebat terus menerus bayangan kuning tanpa bisa kulihat sosoknya dengan jelas. Ilmu silat pendeta yang kurus kering ini tentu tinggi sekali. Seberapa cepat pun aku bergerak dan seberapa banyak tenaga dalam telah kukerahkan, bahkan untuk melihatnya secara tegas pun aku tidak mampu. Ia akan tampak hanya jika ia ingin aku melihatnya.

“Aku di sini,” katanya selalu. Namun ketika aku menoleh dan menyerangnya setelah terlihat ia berada di mana, segera ia akan menghilang kembali.

Apa maksudnya ia mempermainkan aku seperti itu? Suatu ketika ia menyerang dari arah tertentu, dan seperti memberi kesempatan aku menangkisnya, tetapi ia mengulang jurus yang sama dari arah yang sama secara terus menerus, yang tidak memberi peluang kepadaku untuk menangkis secara lain. Pengulangan itu dilakukannya setiap kali dengan kecepatan yang bertambah tinggi dan tenaga yang makin berisi. Tidak

hanya dalam bentuk pukulan satu jurus, tetapi jurusjurus dalam suatu rangkaian, yang karena begitu seringnya diulang-ulang tanpa memberiku kesempatan menangkis secara lain, tanpa kukehandaki lantas aku menguasai rangkaian jurus-jurus tertentu.

Apakah yang sedang dilakukannya dengan terus menyerang tanpa membunuhku seperti itu? Aku telah mengerahkan seluruh kemampuanku, tetapi ia bergerak sangat cepat tanpa bisa kulihat. Seharusnya dari tadi ia membunuhku. Ia selalu mampu menembus pertahananku dengan sentuhan-sentuhan ringan, Aku merasa sangat tidak enak, seperti dipermainkan, tetapi tidak mendapat peluang apapun kecuali untuk menangkis, menangkis, dan menangkis, dan ia tidak akan berhenti menyerang demi jurus tangkisan tertentu sebelum aku berhasil menangkisnya. Namun begitu aku berhasil menangkis dengan segera ia menyerang dengan jurus lain yang menghendaki tangkisan lain, yang tentu saja mula-mula selalu menembus pertahananku.

Kami bertarung sampai jauh malam, sampai akhirnya ia berkelebat menghilang di balik kelam.

Aku terengah-engah sendirian dalam kegelapan. Siapakah pendeta ini? Benarkah ia salah satu dari pendeta yang selalu bertapa, berdoa mengelilingi pertapaan sambil memegang tasbih, dan hanya makan dari hasil bercocok tanam?

—Missing: NagaBumi (110, 111, 112, 113)—

Maka para tetua itu berangkat ke Sagala, mencerahkan kota dengan jubah-jubah kuning cemerlang mereka yang bercahaya, dan menghirup udara segar pegunungan suci. Yang Mulia Nagasena bermukim di pertapaan Sankheyya bersama 80.000 pendeta. Raja Milinda diiringi rombongan 500 cerdik pandai Yunani, naik ke sana dan memberi salam persahabatan serta duduk di samping Nagasena, yang telah membalas salam, dan basa-basinya telah menyenangkan hati raja.

Maka Raja Milinda bertanya kepadanya.

“Bagaimanakah nama penghormatan Anda disebutkan dan siapakah nama

Anda, wahai Tuan?”

“Daku dikenal sebagai Nagasena, wahai Raja Besar, dan sebagai

Nagasena jua rekan-rekan agamawan biasa menyebutku. Namun seandainya orangtuaku

memberi nama seperti Nagasena, atau Surasena, atau Virasena, atau Sihasena,

betapapun, kata Nagasena ini hanyalah suatu satuan, penandaan, istilah

bagi suatu pengertian, sebutan untuk sekarang, hanya sebuah nama. Tiada

pribadi yang nyata di sini bisa terlihat.”

Raja Milinda pun berkata.

“Dengarkanlah wahai 500 orang Yunani dan 80.000 pendeta, Nagasena

ini telah berkata, beliau bukan pribadi yang nyata ada! Bagaimanakah daku

mesti bersetuju dengan itu!”

Kepada Nagasena, ia pun berkata.

“Apabila, wahai Yang Termulia Nagasena, tiada pribadi bisa tampak

dalam kenyataan, maka siapakah, daku tanyakan kepada Tuan, yang telah memberikan

kepada Tuan sesuatu yang membuat Tuan seperti adanya Tuan sekarang melalui

jubah, makanan, penginapan, dan obat-obatan? Siapakah dia yang menjaga

akhlak dan budi pekerti, laku samadhi, dan menyadari Empat Jalan dan Cabang-cabangnya,

dan setelah itu Nirwana? Siapakah yang telah membunuh makhluk hidup, mengambil

yang tidak diberikan, melakukan penyimpangan syahwat, menceritakan kebohongan,

dan meminum racun? Siapakah yang melakukan Lima

Karma Takberampun?69 Jika di sana tiada pribadi, tiada akan ada guna dan nirguna; kegunaan dan ketiadagunaan, dan tiada penghubung di antara mereka; tiada hasil perbuatan baik atau buruk, dan tiada penghargaan maupun hukuman bagi mereka. Jika seseorang harus membunuhmu, wahai Yang Mulia Nagasena, tidaklah akan berupa guru, penyuluh, atau pendeta yang telah ditahbiskan! Dikau baru saja mengatakan kepadaku betapa rekan sejawat agamawan biasa menyebutmu ‘Nagasena’. Maka, apakah ‘Nagasena’ ini? Mungkinkah hanya rambut dari kepala ‘Nagasena’ ?”

“Bukan, wahai Raja Besar!”

“Ataukah mungkin kuku, gigi, kulit, otot, urat, tulang, sungsum, ginjal, hati, selaput gendang, limpa, paru-paru, usus besar, usus kecil, perut, kotoran badan, empedu, tenggorokan, nanah, darah, lemak, airmata, keringat, ludah, ingus, lendir, kencing, atau otak dalam kepala, apakah mereka ini ‘Nagasena’?”

“Bukan, wahai Raja Besar!”

“Atau apakah ‘Nagasena’ suatu bentuk, atau rasa, atau pandangan, atau kehendak taksadar, ataukah kesadaran?”

“Bukan, wahai Raja Besar!”

“Lantas apakah merupakan perpaduan bentuk, rasa, pandangan, kehendak taksadar, dan kesadaran?”

“Bukan, wahai Raja Besar!”

“Kalau begitu, seperti telah kutanyakan, daku takdapat menemukan Nagasena sama sekali. ‘Nagasena’ ini hanyalah suara belaka, tetapi siapakah Nagasena yang sebenarnya? Junjungan kalian ini telah menyatakan kebohongan, berbicara dusta! Sebenarnya tiada Nagasena!”

Maka Yang Mulia Nagasena berkata kepada Raja Milinda.

“Sebagai raja, Paduka telah dibesarkan dalam kehalusan budi bahasa maupun ketinggian budi pekerti dan Paduka menghindari segala jenis perilaku kasar. Jikalau Paduka berjalan pada tengah hari dalam terik, panas, di tanah berpasir ini, maka kaki Paduka akan mengarah ke tanah berkerikil, dan itu akan melukai Paduka, tubuh Paduka akan menjadi letih, pikiran Paduka terganggu, dan kewaspadaan tubuh Paduka akan terhubungkan dengan kesakitan.

Lantas bagaimanakah Paduka akan datang, dengan berjalan kaki ataukah dengan kuda tunggangan?”

“Daku tidak datang berjalan kaki, Tuan, tetapi dengan kereta.”

“Jikalau Paduka datang dengan kereta, maka mohon dijelaskan kepada sahaya, apakah kereta itu. Apakah tiangnya itu kereta?”

“Bukan, Yang Mulia!”

“Kalau begitu gandarnya itulah kereta?”

“Bukan, Yang Mulia!”

“Jadi adalah roda-rodanya, ataukah kerangkanya, atau gagang benderanya, atau kuknya, atau tali kekangnya, atau tongkat pemacunya?”

“Bukan, Yang Mulia!”

“Kalau begitu perpaduan antara gandar, roda, kerangka, gagang bendera, kuk, tali kekang, dan tongkat pemacu, yang merupakan kereta?”

“Bukan, Yang Mulia!”

“Maka, seperti yang ingin sahaya tanyakan, apakah sahaya dapat menemukan sebuah kereta sama sekali. ‘Kereta’ ini hanyalah suatu bunyi. Namun apakah kereta yang sebenarnya? Paduka telah menceritakan kebohongan, telah berdusta! Sebenarnya tidak ada kereta! Paduka adalah raja terbesar di seluruh India. Lantas kepada siapakah Paduka merasa takut untuk menyatakan kebenaran?”

Lantas Nagasena menyatakan.

“Kini dengarlah kalian 500 orang Yunani dan 80.000 pendeta, Raja Milinda ini mengatakan kepadaku telah datang menunggang kereta. Namun ketika diminta menjelaskan kepadaku apakah sebuah kereta itu, ia tidak dapat meyakinkan keberadaannya. Bagaimana seseorang mungkin bersetuju dengan itu?”

Limaratus orang Yunani itu kemudian memberi tepuk tangan kepada Yang Mulia Nagasena dan berkata kepada Raja Milinda.

“Sekarang cobalah Paduka keluar dari masalah ini jika mampu!”

Namun Raja Milinda berkata kepada Nagasena.

“Nagasena, aku tidaklah berdusta. Atas ketergantungannya kepada kuk, roda-roda, kerangka, gander, gagang bendera, dan lain-lainnya, di sanalah terletak satuan ‘kereta’, penandaan, istilah bagi suatu pengertian, sebutan umum, dan sebuah nama.”

“Paduka telah berbicara dengan baik perihal kereta. Begitu juga dengan sahaya. Dalam ketergantungannya kepada 32 bagian tubuh dan lima Skandha70 terdapatlah satuan ‘Nagasena’, penandaan ini, istilah bagi suatu pengertian, sebutan umum dan hanya sebuah nama. Dalam kenyataan yang paling dimungkinkan, betapapun, pribadi ini tidak dapat terlihat. Dan inilah yang telah dikatakan Vajira, saudara perempuan kita, ketika bermuka-muka dengan Sang Buddha: ‘Pada tempat unsurunsur pokok ini hadir, kata sebuah kereta diterapkan. Jadi, begitu pula, pada tempat skandha berada, istilah badan pada umumnya digunakan.’“

“Bagus sekali, wahai Nagasena, mengherankan! Dengan sangat cerdas pertanyaan-pertanyaan ini telah Tuanku jawab! Jika Sang Buddha sendiri berada di sini, akan

disetujuinya pula apa yang telah Tuanku katakan. Tuan telah membicarakannya dengan cakap, wahai Nagasena! Perbincangan yang cakap!”71

***

AKU memang terbangun pada hari ketiga. Ketika membuka mata kulihat Harini menatapku sambil berurai airmata, meski pada saat mataku terbuka airmata itu memang sedang dihapusnya. Dalam pandanganku yang masih kabur terlihat

wajah Harini yang bahagia dan aku taktahu betapa memang tiga hari lamanya aku terkapar dan tidak bergerak seperti orang mati. Aku merasa sangat lemas dan takbisa menggerakkan tubuhku.

“Jangan bergerak dulu, telan dulu ramuan ini,” kata Harini.

Menggunakan daun yang ujungnya terlipat dan dikunci dengan lidi, Harini menyuapiku. Waktu kutelan ramuan itu aku hampir muntah karena pahitnya luar biasa. Namun Harini segera membuka mulutku agar ramuan itu tetap masuk. Ini seribu kali lebih pahit dari daun papaya, pikirku, siapa bisa menjamin ini semua bukannya racun?

—Missing: NagaBumi (116)—

HARINI membaca sebuah kitab, untukku atau untuk dirinya aku tak tahu lagi karena kami sudah begitu saling mengerti tentang apa yang berguna dan takberguna untuk hidup kami. Entah kenapa yang dibacanya adalah Riwayat Pendekar Satu Jurus yang selama ini kitabnya kupelajari. Namun kitab itu tidak jelas siapa penulisnya. Hanya saja memang jelas, bahwa kitab ini tentang Pendekar Satu Jurus yang ditulis oleh orang lain, dan bukan oleh Pendekar Satu Jurus itu sendiri. Adapun penulisnya seperti menghindar, bukan saja untuk diketahui namanya, tetapi juga menghindarkan kesan yang akan membuat pembacanya memikirkan siapa yang menulis.

Ini berbeda dengan kebanyakan kitab yang ditulis pada masa itu, yang akan selalu memperkenalkan diri penulisnya, di awal dan akhir kitabnya, meski dengan cara tidak langsung, atau dengan nama samaran, bahkan kemudian merendah-rendah pula. Aku memang pernah memikirkan kebiasaan para penulis merendah-rendahkan diri semacam itu. Aku percaya sepenuhnya para penulis ini tidaklah rendah diri sama sekali.

Meskipun biasanya mereka sambil merendahrendahkan diri juga memuja-muja riwayat raja yang mereka tulis sebagai dewa, kurasakan betapa sebetulnya mereka ingin menunjukkan kepada pembacanya betapa kemuliaan sang raja sangat tergantung kepada kemampuan penulisan mereka.

Ini terlihat dari cara mereka merendah-rendah yang begitu penuh dengan kepiawaian, yang secara terselubung kadang-kadang seperti ingin menunjukkan, setidaknya mengundang pertanyaan, apakah rajanya sendiri yang begitu mulia, memiliki tingkat pengetahuan dan kebijakan yang setara dengan penulis riwayat hidupnya.

Dalam kitab ini, tidak tertulis sesuatu pun tentang penulisnya, kecuali suatu candrasengkala yang menyatakan waktu penulisan, bahwa kitab ini ditulis setelah Pendekar Satu Jurus meninggal dunia. Jadi, hanya menunjukkan bahwa memang bukan Pendekar Satu Jurus yang menulis kitab tersebut.

***

IA mendapatkan namanya karena selalu mengalahkan lawannya dalam sekejap mata dan hanya dalam satu gerakan. Namun siapapun lawannya, satu jurus yang akan mematikan itu selalu hanya keluar setelah lawannya bergerak. Berapapun lamanya, ia akan selalu menunggu lawannya bergerak, dan baru setelah itu, dalam waktu tersingkat di dunia dalam kecepatan takterukur, ia juga akan bergerak, dan gerakannya selalu merupakan jurus mematikan yang menyelesaikan riwayat lawannya. Siapapun lawannya, apapun ilmunya, berapapun jumlahnya, selalu dikalahkan dan dibunuhnya semua hanya dalam satu gebrakan saja.

“Pendekar Satu Jurus, ayo seranglah aku!”

Begitulah seorang lawannya pernah memancingnya, tetapi Pendekar Satu Jurus tidak bergerak, bahkan juga tidak berbicara sama sekali. Ia tidak bisu dan ia bukannya tiada pandai berkata-kata, tetapi ketika menghadapi pertarungan ia tidak akan bersuara sama sekali. Setelah berhadapan dengan lawannya ketika sebuah pertarungan tiba waktunya, ia akan memasang kuda-kuda dan menanti serangan. Selalu hanya menanti, dan tiada lain selain menanti, meskipun itu bisa sampai sehari semalam lamanya.

Apabila lawannya membuka serangan untuk memancing gerakan, maka saat itu pula nyawanya melayang ke alam baka. Sejumlah pendekar tingkat tinggi, ketika mengetahui bahwa Pendekar Satu Jurus hanya akan menyerang, dan serangan itu akan mematikan, setelah dirinya diserang, meski belum mengetahui kunci

penalaran dari jurusnya itu, mencoba tidak menyerang selama mungkin.

Namun bagaimana mungkin sebuah pertarungan ilmu silat akan berlangsung tanpa serangan sama sekali? Lawan yang telah meminta Pendekar Satu Jurus menyerangnya itu juga tidak pernah membuka serangan. Demikian rupa mereka saling menunggu serangan, sehingga mereka berdua hanya berdiri saja dengan sikap sangat amat waspada, sampai sehari semalam lamanya.

Pada pagi berikutnya mereka masih berhadapan tanpa bergeser sama sekali. Apakah ini bukan suatu pertarungan? Tentu saja ini suatu pertarungan yang berat sekali, suatu ujian kesabaran yang nyaris tidak tertahankan, karena dalam riwayat dari mulut ke mulut dunia persilatan di Yawabumi, tidak pernah disebutkan Pendejar Satu Jurus terkalahkan dalam pertarungan. Betapa tidak akan menguji kesabaran, jika disadari betapapun Pendekar Satu Jurus juga mampu menyerang lawannya dengan mematikan, tanpa harus menunggu serangan lawannya itu.

Ia memang tidak pernah melakukannya, sejauh diketahui dan diingat orang, sekalipun tidak pernah menyerang lebih dahulu, tetapi itu bukan jaminan ia tidak akan pernah menyerang terlebih dahulu sama sekali, jika keadaan menuntutnya begitu. Memang belum pernah, tapi siapa berani menjamin tidak akan bukan? Apalagi dengan akibat kematian.

Ini berarti tiada pendekar yang berani melepaskan kewaspadaan meskipun Pendekar Satu Jurus tidak pernah menyerang. Pertarungan seperti ini sangat menuntut ketahanan urat syaraf. Jika menyerang, belum pernah diketahui Pendekar Satu Jurus takberhasil dalam serangan satu jurusnya yang kecepatannya tiada terukukur; jika tidak menyerang, tidak pernah diketahui sampai berapa lama mereka akan diam mematung dengan penuh kewaspadaan menegangkan seperti. Kebanyakan pendekar menjadi kehilangan kewaspadaan setelah begitu

banyak waktu berlalu, lantas menyerang, dan seketika itu juga tewas bermandi darah. Serangan Pendekar Satu Jurus selalu telak, dan mengenai sasaran hanya dalam ratusan belahan kejap setelah lawannya menyerang.

Demikianlah terceritera betapa seorang lawan yang disebut Pendekar Lautan Tombak telah mengadu kekuatan urat syarafnya dari pagi sampai malam dan sampai pagi lagi. Selama waktu itu para penonton adu ilmu silat tersebut telah menanti pertarungan sejak malam sebelumnya, di sebuah tempat bernama Telaga Darah, yang diberi nama demikian karena para pendekar sering menggunakannya sebagai tempat bertarung sampai salah satu tewas karena dikalahkan.

Tiada telaga sama sekali di tempat itu, hanya sebuah dataran luas di puncak bukit, yang memang tampak sesuai untuk sebuah pertarungan yang tidak terganggu oleh keadaan alam, sehingga ilmu silat masing-masing bisa dikeluarkan seluruhnya sampai habis tanpa sisa. Pada saat semua jurus telah dikerahkan sampai habis, akan tibalah saat penentuan yang berakhir dengan kematian. Tidak jarang para pendekar itu mati bersama di sana, sampyuh, jika kekuatan mereka memang sungguh berimbang.

Pertarungan itu juga mempunyai kebiasaan berlangsung di malam bulan purnama, saat rembulan tampak begitu penuh, indah, dan sangat memesona di balik pucuk-pucuk cemara, entah kenapa. Tidak selalu demikian memang. Ada yang lebih suka memilih pertarungan pada dini hari sebelum matahari terbit, ada yang begitu suka bertarung dalam keremangan senja ketika langit menjadi merah, tetapi pertarungan pada malam bulan purnama merupakan peristiwa yang dianggap penting.

Seolah-olah menang atau mati pada malam bulan purnama jauh lebih terhormat dibanding dengan jika berlangsung pada saat-saat lain. Namun satu hal pasti, bulan purnama yang cahaya keperakannya menyapu

bumi, membuat pertarungan silat yang terindah menjadi sangat menarik ditonton, tentu jika mereka yang bersemangat datang dari berbagai penjuru Yawabumi untuk menyaksikannya dapat mengikuti gerakan para pendekar itu.

Seperti telah diketahui, gerakan para pendekar silat tingkat tinggi sangat sulit diikuti mata orang biasa, dan ini berarti bahwa pertarungan silat tingkat tinggi hanya dapat diikuti oleh mereka yang sedikit banyak memahami seluk beluk ilmu silat, yakni para pendekar itu juga. Dalam pertarungan ilmu silat tingkat tinggi,

para pendekar tidak sekadar bergerak ketika bersilat, melainkan berkelebat, dan tidak sekadar berkelebat, melainkan berkelebat seperti bayangan.

Sehingga kemampuan untuk mengamati pertarungan memang sangat ditentukan oleh kemampuan penontonnya. Makin berilmu penontonnya sebagai pendekar, makin banyak yang dapat dinikmatinya dalam pertarungan ilmu silat tingkat tinggi.

—Missing: NagaBumi (119 to 125)—

PADA tahun 786 pemerintahan Rakai Panunggalan baru berjalan dua tahun. Untuk mengukuhkan kekuasaan dan menghimpun dana, pemerintahannya itu dengan rajin menarik pajak. Setiap bulan, para petugas pengambil uang pajak datang ke Desa Balinawan. Di pusat pemerintahan, terdapat tiga pejabat yang selalu muncul bersama-sama, sang mana katrini, yang terdiri dari pangkur, tawan, dan tirip. Ketiganya akan melakukan tugas atas nama rakai. Namun di bawah ketiga pejabat ini terdapat nama sejumlah jabatan seperti wadwa, parujar, pangurang, pihujung, dan kalang.

Di antara para pejabat di istana, terdapat istilah rakai kanuruhan yang harus menguasai semua bahasa, karena ia mengurus pedagang-pedagang asing, dan memungut uang dari pedagang-pedagang asing itu. Disebutkan, ia tidak ragu-ragu kehilangan uang untuk mendapat uang. Namun rakai kanuruhan dianggap penting bukan dalam urusannya dengan uang, melainkan karena menjadi pejabat yang bertugas menyelenggarakan tata upacara di istana. Kemudian, ia juga menjadi pejabat yang memberikan sima, tanah yang dibebaskan dari pajak oleh berbagai alasan, terutama karena jasa para penduduknya.

Namun ternyata masih ada lagi mangilala drawya haji, yang bertugas mengambil “milik raja”alias petugas pajak pula adanya.72 Aku sendiri tidak terlalu mengerti, kenapa petugas yang mengurusi pajak bukan hanya banyak, tetapi juga sangat bertumpang tindih, yang kuduga karena mewakili berbagai kepentingan. Jadi memang ada yang bertugas demi raja, tetapi ada juga yang demi para pejabat tinggi lain di dalam istana yang penuh dengan permainan kekuasaan. Pada dasarnya semua orang ingin mengambil keuntungan untuk dirinya sendiri,

dengan berlindung di balik wibawa raja atau istana. Penduduk desa Balinawan tidak mengetahui silang sengketa istana, mereka hanya tahu meski desa telah menjadi sima, tetap saja berlalu lalang para petugas kerajaan yang meminta apa saja sesuka mereka.

Demikianlah pada suatu hari, ketika Harini turun dari pondok sambil membawa baju dan peralatan makan yang akan dicuci di kali, lewatlah di depan pondok serombongan penunggang kuda. Mereka sekitar duabelas orang, seorang punggawa istana dengan para pengawalnya, dan di antara para pengawal itu tersisipkan pula beberapa orang pengawal rahasia istana.

Harini muncul dengan pembawaannya yang biasa. Bunga-bunga di rambut dan kain dari dada sampai ke bawah lutut, dengan perhiasan leher yang mempertegas kejenjangan lehernya.73 Rombongan itu sampai terhenti ketika melihat Harini turun tangga. Siapakah yang bisa menolak untuk menyaksikan betis Harini yang begitu indah sehingga tiada mungkin diungkapkan? Bahunya yang terbuka dan kedua tangannya juga hanyalah indah, begtu indah, terlalu indah, sehingga juga tiada mungkin lagi disampaikan seperti apakah kiranya keindahannya. Mulut mereka ternganga. Bahkan di istana tiada

perempuan yang begitu memesona ketika melangkah seperti Harini. Maka mereka mengikuti ke mana Harini pergi.

Mengetahui rombongan berkuda itu melangkah pelahan di belakangnya, Harini menoleh. Ia melangkah ke tepi, mengira rombongan itu akan mendahuluinya. Namun rombongan itu ikut berhenti. Punggawa itu berbicara.

“Perempuan, siapakah namamu?”

Harini tidak menjawab dan balik bertanya.

“Perempuan ini bertanya, siapakah dia yang bertanya tanpa memperkenalkan dirinya?”

Punggawa itu terkejut.

“Perempuan desa! Dikau tidak mengenal kepada siapa dikau berbicara!”

Namun Harini tenang-tenang saja. Menjawab tanpa perubahan dalam suaranya.

“Tiada bedanya bicara kepada siapapun jua, hanya penghormatan yang membedakannya.”

Punggawa itu naik pitam. Menunjuk kepada Harini.

“Dikau berkata tidak perlu menghormati aku?!”

Harini menggeleng dan menundukkan kepala, merasa tidak sudi melayani percakapan mereka. Ia melangkah pergi.

“He! Budak perempuan! Katakan kepada siapa kami bisa membeli kamu! Atau mungkinkah desa ini mesti membayar pajak dengan dirimu?”

Harini tidak menghentikan langkahnya. Seperti merasa dirinya tidak layak melayani pembicaraan seperti itu. Punggawa itu memberi tanda kepada salah seorang pengawal, yang segera mendekati Harini, menyambar pinggangnya, lantas rombongan itu memacu kudanya dan pergi. Kepada para petani yang berpapasan, punggawa itu berkata, “Kalian tidak usah membayar pajak bulan ini, tapi perempuan ini kami bawa pergi!”

Cerita ini kususun berdasarkan apa yang diberitahukan kepadaku kemudian, melalui Harini dan para petani itu. Tanpa membuang waktu aku berkelebat keluar pondok,

memburu jejak yang masih jelas mereka tinggalkan di jalan keluar desa. Orang-orang desa, para pemuda yang selama ini kuberi pelajaran bela diri sekadarnya, ikut menyusul keluar desa, tetapi tentu saja aku lebih cepat dari mereka. Dengan Jurus Naga Berlari di Atas Langit aku berlari melalui pucuk-pucuk pepohonan untuk mengejar mereka. Sebelum mereka terlalu jauh aku telah melayang turun di hadapan mereka. Aku membawa dua bilah pedang di punggungku dan tanpa bertanya lagi kucabut keduaduanya, langsung menyerang mereka dengan Ilmu Pedang Naga Kembar. Setiap orang yang kuserang merasa menghadapi 44 pedang yang bergerak dari segala jurusan. Enam orang pengawal langsung tewas ketika berusaha melindungi punggawa itu. Mereka semua tewas dengan kepala nyaris terputus. Kuda-kuda meringkik panik. Kaki depan mereka terangkat ke udara dan menjatuhkan para penunggangnya.

Mereka bermaksud lari dari arah mereka datang, tetapi dari arah itu orang-orang desa datang berlarian, dan nasib mereka tidak bisa lebih parah lagi. Sisa enam orang itu tewas dirajam tanpa ampun. Memang dua di antaranya adalah pengawal rahasia istana yang semula telah meloncat ringan ke udara, tetapi saat

itu kujentikkan dua butir kerikil yang menotok jalan darah keduanya, sehingga mereka tidak bisa bangkit lagi ketika tubuhnya jatuh di tanah. Tidak seorang pun dari keenamnya masih utuh tubuhnya karena tiada seorang jua dari orang-orang desa itu yang tidak menyumbangkan tusukan kepada tubuhtubuh malang itu. Bahkan aku tidak mengira nasib orang-orang dari kotaraja yang jumawa itu bisa begitu buruknya. Namun siapa akan mengira desa yang selama ini lemah dan menjadi bulan-bulanan penghisapan dan penindasan akan kehilangan ketakutannya dan melawan. Jika desa mereka menjadi sima, sudah semestinyalah tiada pajak apapun yang mesti mereka berikan, bahkan sebaliknya kepada penduduk yang tanahnya teranugerahi sebagai sima selayaknya mendapat perlindungan adanya.

Harini tersadar dari pingsannya setelah semua ini selesai.

“Jangan lihat,” kataku.

Namun ia terlanjur sempat melihat mayat-mayat bergelimpangan tanpa wujud itu. Ia tak berkata-kata, dan akan menjadi pendiam selama-lamanya.

Rakai Panunggalan barangkali tidak mendengar apapun, tetapi diberitahu betapa orang-orangnya terbantai. Tentu ia tidak diberitahu sebabnya, sehingga menyiapkan pasukan duaratus orang untuk membakar habis Desa Balinawan dan membunuh orang-orangnya sampai tidak ada yang tersisa. Sekitar sepuluh hari kemudian duaratus orang yang dikirim untuk menghukum itu sudah berada di luar desa. Seorang utusan dikirim untuk bicara.

“Orang-orang Balinawan, di luar desa ini berkumpul duaratus prajurit berkuda terlatih yang sudah biasa berperang, mereka siap membumi hanguskan desa ini dan percayalah perlawanan seperti apapun akan dipatahkan. Namun kalian dapat menghindarkan pertumpahan darah jika yang bertanggungjawab diserahkan untuk mendapat hukuman. Rakai Panunggalan masih bermurah hati kepada penduduk Desa Balinawan yang telah dianugerahi sima, beliau tidak bermaksud menulis riwayat pemerintahannya dengan darah rakyatnya sendiri.”

Akulah yang maju menyerahkan diri. Penduduk desa semula tidak menyetujui ini. Peristiwa yang dialami Harini mereka terima sebagai penghinaan takterperi, kematian demi kehormatan bukan masalah bagi mereka yang telah mengalami

banyak perubahan. Tidak dapat kuingkari, kehadiranku dengan segenap kitab dalam peti kayu telah mengubah kesadaran mereka akan nasib. Dari malam ke malam satu orang yang bisa membaca dari mereka telah membacakan kitab-kitab itu untuk semua orang. Tidak selalu habis kitab itu dibaca dalam semalam dan tidak selalu semua orang akan memahami isinya setelah habis dibacakan, tetapi kini mereka telah terbiasa untuk menilai sesuatu dengan pemikiran berkesadaran. Mereka telah

terbebaskan dari ketertindasan pikiran. Maka tiada dapat mereka terima kedudukan mereka sebagai budak kerajaan yang tidak memiliki dirinya sendiri, seperti yang akan ditimpakan kepada Harini.

Namun mereka setuju bahwa darah takperlu ditumpahkan sia-sia. Kuserahkan diriku untuk menghindari pertumpahan darah dengan janji bahwa diriku akan mampu meloloskan diri dengan mudah.

***

MEREKA membawaku ke arah kotaraja. Waktu itu kotaraja belum terletak di Mantyasih, melainkan sebuah tempat bernama Kelurak. Aku didudukkan membelakang di atas seekor kuda dan kedua tanganku diikat ke belakang. Berada di antara duaratus prajurit yang terlatih akan membuat siapapun mengira tidaklah mungkin kiranya seorang tawanan bakal lolos. Perkiraan itu tidak keliru, kecuali jika tawanan itu berasal dari sungai telaga dunia persilatan.

Sepanjang jalan telah kucoba untuk meyakinkan pemimpin pasukan ini, bahwa kesalahan terletak pada perilaku kilalan yang dikirim kerajaan itu sendiri, karena tidak sesuai dengan ajaran agama.

“Agama apa yang dipeluk orang-orang Balinawan?”

“Mahayana.”

“Itu juga yang kudengar, tetapi kami di istana memeluk Siwa.”

“Kalau itu alasannya kalian salah juga, karena ayah Harini berkasta Brahmana, kalian telah berdosa memperlakukannya seperti itu. Lagipula agama yang berbeda juga harus dihormati penganut agama apapun.”

Tentang ayah Harini, sebetulnya aku hanya menduga, tetapi kelak akan terbukti bahwa dugaanku tidak keliru. Namun kepala pasukan itu agaknya lebih tertarik kepadaku.

“Bocah, kamu masih terlalu anak-anak untuk mampu membuat kekacauan begini rupa. Kudengar kamu bukan

orang Balinawan, memang takmungkin orang Balinawan yang pengecut itu mampu melawan tanpa pengaruh dari luar. Siapakah kamu?”

Aku terperangah. Aku memang sulit menjelaskan siapa diriku, karena memang tidak tahu.

“Kamu taktahu siapa dirimu bocah? Siapa namamu?”

Pertanyaan ini lebih mudah kujawab, meski jawabanku bukanlah jawaban pertanyaan itu.

“Aku… aku… tak bernama…”

“Bocah, kamu tak bernama?”

“Ya, aku tidak punya nama…”

“Hahahahaha! Ada bocah takbernama! Hahahahaha! Lantas bagaimana orang-orang memanggilmu?”

Kuingat bagaimana Harini memanggilku. Aku merasa sedih. Sedangkan orang-orang ini menertawakan aku. Kutegaskan sesuatu.

“Kepala Pasukan! Aku menghormati tugasmu untuk menangkapku, aku telah menjelaskan bahwa orang-orang Balinawan tidak bersalah, dan dikau menyetujuinya sehingga kini membawaku ke kotaraja. Kini ingin kutegaskan kepadamu, jika aku meloloskan diri dari tangkapanmu, apakah dikau akan menghukum orang-orang Balinawan? Kuingin mendengar jawaban seorang perwira!”

Ia masih tertawa-tawa.

“Huahahahaha! Bocah kecil pintar bicara! Seorang perwira tak akan menghukum seseorang yang tidak bersalah, wahai bocah! Namun jangan mimpi kamu bisa meloloskan diri wahai bocah takbernama! Hahahahahaha! Bagaimana mungkin kamu bisa tidak mempunyai nama! Huahahahahaha!”

“Baiklah Kepala Pasukan! Kupegang kata-katamu!”

Maka akupun menjejakkan kaki pada sanggurdi, melayang ke atas, dengan mudah menarikkan kedua tangan ke arah berlawanan sampai talinya putus, dan turun lagi dalam keadaan bebas. Aku hanya mengenakan kain melingkari pinggang, tetapi di dalam kain terdapat

kancut yang terikat ketat. Kubuka kainku. Menghadapi duaratus orang yang sebaiknya tidak kubunuh, aku memerlukan kebebasan bergerak, karena dengan cepat mereka memang segera mengepungku.

Mereka merangsek dan aku melawan dengan tangan kosong. Setiap kali diserang dengan tombak, kelewang, maupun sabit berantai yang terikat pada suatu gagang, aku berusaha menepis dan menampelnya sampai terlepas. Kuingat dahulu kedua orangtuaku melatihku untuk menghadapi kepungan ratusan orang seperti ini, dengan memanfaatkan Ilmu Pedang Naga Kembar, ketika kedua pedang yang masing-masing mereka pegang bergerak menutup semua jalan keluar. Menghadapi pasukan duaratus orang ini menjadi tidak terlalu sulit bagiku, bahkan aku terkejut dengan kemampuanku sendiri, karena Jurus Penjerat Naga yang kulatih, ternyata bisa kumanfaatkan lebih dari yang kuduga bisa melakukannya.

Gerakan yang harus kulakukan berulang-ulang ketika menghadapi resi pertapa kurus kering dari pertapaan di atas tebing itu, rupa-rupanya telah membuat Jurus Penjerat Naga kukuasai seperti yang seharusnya. Hampir segenap serangan dari setiap anggota pasukan menjadi kelengahan yang melumpuhkan diri mereka sendiri. Aku bergerak sangat cepat, dalam waktu singkat seratus orang bergelimpangan membuka ruang. Aku masih terkepung, tetapi tiada seorangpun berani mendekatiku.

“Tahan!”

Kepala Pasukan itu mencegah anak buahnya. Ia turun dari kuda dan memeriksa orang-orang yang bergelimpangan. Memang tak setetes pun darah tertumpah. Lantas ia berkata kepadaku.

“Bocah takbernama! Pergilah jika kau takbersalah! Akan kusampaikan perbincangan kita kepada Rakai Panunggalan dan jika beliau menganggap dirimu bersalah, ia pasti akan mengerahkan para naga untuk memburumu!”

Para naga ?

Aku melesat pergi, dan menyadari betapa semakin terlibat dalam dunia persilatan. Aku tahu yang dimaksudnya adalah para pendekar bergelar Naga dari delapan kubu yang teracu kepada mata angin. Naga Putih, Naga Kuning, Naga Merah, Naga Biru, Naga Hijau, Naga Dadu, Naga Jingga, dan Naga Hitam! Para pendekar penguasa delapan kubu mata angin bersama penguasa Mataram yang manapun dianggap berperan penting bagi ketenteraman Yawabumi. Di sanalah titik temu dunia persilatan dan dunia awam dari kehidupan sehari-hari, agar tiada satupun unsur kejahatan yang lolos dan mengacaukan dunia.

Namun tahukah Rakai Panunggalan bahwa Naga Hitam bermaksud menguasai dunia pula?

Aku melesat pergi, tetapi tidak terlalu jauh, karena aku harus meyakinkan diriku bahwa mereka tidak akan kembali ke Balinawan, dan mereka memang tidak melakukannya. Seratus orang harus mengurusi seratus orang yang pingsan. Mereka benar-benar pulang dengan kekalahan.

Aku termangu sendirian menyaksikan mereka pergi ketika hari telah semakin sore. Apakah aku sebaiknya kembali ke Balinawan, atau melanjutkan perjalanan? Aku teringat segenap kitab dalam peti kayu itu. Hampir semuanya telah kubaca meskipun tidak semuanya kumengerti. Mengenal huruf saja takcukup untuk membaca rupanya, yang juga dibutuhkan adalah kematangan hati dan otak dalam pembacaan, dan diriku yang masih berumur 15 tahun tentu masih jauh dari kematangan itu. Namun siapakah kiranya yang berumur 15 tahun telah menyadarinya? Apalagi setelah seorang perempuan seperti Harini memperkenalkan segenap cara bermain cinta dalam Kama Sutra…

Hari semakin gelap ketika dari arah para pasukan itu lenyap muncul rombongan pedagang yang membawa lima pedati bermuatan barang-barang. Menyadari diriku hanya berkancut, aku bermaksud membeli kain untuk melingkari

pinggang dan badanku, tetapi aku baru sadar tidak membawa alat pembeli bernama uang sama sekali. Kepingan emasku ada di pondokku dan hanya Harini yang tahu di mana tempatnya.

Namun aku sudah terlanjur muncul di tengah jalan. Mereka sekitar limabelas orang, termasuk para pengawal perjalanan. Dua orang dari mereka maju ke depan sambil mencabut goloknya.

“Bocah, apa maksudmu berdiri di tengah jalan? Kalau tidak ada perlunya minggirlah!”

Anak-anak kecil memang hanya berkancut jika mengenakan busana. Lebih sering bertelanjang bulat saja berlarian ke sana ke mari. Sekarang aku mengerti kenapa cenderung dipanggil bocah jika hanya berkancut seperti ini.

“Kulihat kalian membawa barang dagangan. Bolehkah aku membelinya? Tapi pembayarannya nanti di Desa Balinawan. Mintalah kepada Harini harga yang kau berikan.”

“Bocah, belajarlah lebih pandai jika mau menipu! Sekarang minggirlah kalau tak mau diterjang Si Kemplang!”

Rupanya nama kuda hitam yang perkasa itu adalah Si Kemplang. Aku menepi karena memang tidak mencari keributan. Namun salah seorang pedagang itu maju ke depan. Berbeda dengan pengawal berkuda yang berkumis baplang dan menyeramkan, wajah pedagang ini tampak baik hati dan penuh kesabaran.

“Bocah, kami tidak akan melewati Balinawan, tapi kamu bisa mendapatkan yang kamu inginkan jika membayarnya dengan tenagamu.”

“Maksud Bapak?”

“Ambil yang kamu inginkan, bayarlah dengan tenagamu sampai mencapai tujuan.”

“Dan untuk apakah tenagaku ini nantinya, Bapak?”

“Kerbau-kerbau ini akan kepayahan mendaki. Kami tidak membayangkan perjalanan begini ketika memuatkan

barang-barang ke atas pedati.”

Aku berpikir sejenak.

“Baiklah Bapak, sekarang berilah aku kain penutup tubuhku, maka aku akan mengikuti rombonganmu, dan memberikan tenagaku saat pedati-pedati ini harus mendaki perbukitan.”

Demikianlah aku mengikuti rombongan itu. Pada jalan yang bercabang, rombongan tidak memilih arah ke Balinawan. Dalam kegelapan, kulihat kerlap-kerlip api penerangan dari kejauhan. Aku tidak akan kembali, tetapi hatiku bagaikan tertinggal di desa Balinawan.

APAKAH Naga Hitam memang mencariku? Namun ia sudah mengirimkan seorang muridnya, berarti ia sudah mengetahui keberadaanku. Apabila kemudian akan didengarnya bahwa muridnya itu perlaya, maka keberadaanku tentu akan semakin mengganggunya. Jika diperkirakannnya betapa murid yang dikirimkannya itu kurang sakti, maka tentulah akan ditugaskannya murid lain yang lebih tinggi kepandaiannya untuk membunuhku. Aku menduga Naga Hitam sudah mendengar bahwa aku hanya seorang remaja 15 tahun yang tidak punya nama dalam dunia persilatan. Tidak jelas bagiku apakah ia telah mengetahui bahwa aku bahkan memang tidak punya nama, meskipun hal itu tidak akan mengubah apa-apa. Belum punya nama maupun tidak bernama, tetaplah aku harus dilenyapkannya, karena tewasnya murid, bahkan dua murid pula, jika tidak ditebus dengan pembunuhan balasan merupakan suatu noda bagi namanya.

Begitulah, dalam dunia persilatan tidak hanya berlaku nilai kehormatan yang terletak pada kematian dalam pertarungan, tetapi juga kemenangan dalam pembunuhan. Tiada jalan lain bagiku, kecuali meyakinkan diriku bahwa aku akan siap menghadapi serangan yang manapun, baik murid-muridnya, baik Naga Hitam sendiri, maupun serangan dan tantangan siapapun jua. Apalah artinya hidup dalam dunia persilatan tanpa pertarungan bukan? Meskipun aku tidak mempunyai minat untuk mencari nama dalam dunia persilatan, sekali terlibat pertarungan dengan orang-orang persilatan, bahkan menewaskannya pula, tak akan dengan mudah melepaskan diri dari matarantai dendam yang berkepanjangan. Justru matarantai dendam itulah agaknya yang telah membentuk riwayat panjang dunia persilatan dari zaman ke zaman.

Ini berarti aku tidak dapat menunda diriku untuk menimba ilmu, dengan sasaran harus mampu menghadapi Naga Hitam. Aku merasa bahwa segala ilmu silat yang kukenal dan kukuasai, mulai dari Ilmu Pedang Naga Kembar sampai Jurus

Penjerat Naga seharusnya sangat cukup menghadapi Ilmu Pedang Naga Hitam. Bahkan aku telah menggabung dan meleburkan keduanya, sehingga menurut perhitunganku, seandainya saja kecepatan dan tenaga dalamku setingkat dengan Naga Hitam, maka tak ada kemungkinan lain betapa ia bisa kukalahkan. Namun itulah masalahnya. Tenaga dalam dan kecepatan Naga Hitam masih terlalu jauh di atasku, dan dalam hal itu tiada jalan pintas dalam ilmu persilatan. Itulah sebabnya aku merasa perlu menghilang, bukan karena takut mati, tetapi karena tidak mau mati konyol karena kekurangan ilmu. Kalaupun aku harus mati di tangan Naga Hitam, aku ingin mati setelah memberi perlawanan yang sepadan.

“Bocah, hati-hatilah, jalan di depanmu berbatu-batu.”

Teguran mabhasana atau penjual pakaian74 itu menyadarkan aku dari lamunan. Aku mendorong pedati yang mendaki itu dengan tenaga kasar, karena jika aku menggunakan tenaga dalam, akan tampak terlalu ringan, dan tentu saja mengundang kecurigaan. Sehingga aku pun tampak betul-betul berkeringat dan kelelahan. Jalan mendaki ini bukanlah jalan yang sebenarnya, hanyalah semacam jalan yang barangkali dibuat beberapa tahun lalu menggunakan pekerja paksa, yang sekarang sudah hancur, berlubang-lubang dan berbatu-batu. Hujan sepanjang musim telah menghancurkannya dan setelah kemarau tiba tiada pula yang berusaha membetulkan.

Perjalanan menjadi sangat lambat. Kadang aku bukan sekadar mendorong, melainkan mengangkat pedati itu. Roda mereka terkadang rusak atau bahkan kerbau mereka bermasalah, tak mau berjalan maju. Entah kenapa mereka tidak menggunakan sapi saja. Namun tenaga kerbau memang besar, apalagi untuk jalanan yang berat bagi pedati. Untung semua orang mau bekerja sama, begitu yang sebetulnya hanya bertugas mengawal saja.

Beban pedati itu terlalu berat jika dianggap hanya berisi kain. Kemudian akupun tahu, bahwa kelengkapan busana tidak hanya berurusan dengan kain, melainkan juga perhiasannya seperti cincin emas, anting-anting, kalung, gelang tangan dan kaki, maupun kelat bahu. Tentu saja siapa yang memakai akan menentukan apa yang dipakainya. Adapun yang kami angkut ke wilayah Ratawun ini adalah

ratusan pasang wdihan atau pakaian untuk laki-laki75 maupun kain atau ken, atau juga tapih, pakaian untuk perempuan.76

Begitu banyak pakaian ini, ratusan yugala banyaknya, karena akan digunakan bagi upacara penyerahan lahan menjadi sima, wilayah yang dibebaskan dari pajak. Kainkain ini diletakkan dalam keranjang pakaian, sehingga aku bisa mengukur bahwa jumlah yugala-nya tidak sesuai dengan brat-nya. Rupanya mereka juga mengangkut

Dalam sumber prasasti abad IX-X Masehi kita menjumpai kata wdihan, sebutan umum bagi pakaian laki-laki. Selalu diberikan kepada pejabat laki-laki sebagai pasek-pasek atau hadiah pada waktu upacara penetapan suatu daerah perdikan atau sima. inmas, uang emas pengganti wdihan. Tentu ini upacara yang akan dihadiri banyak pejabat, karena hanya orang-orang penting yang mungkin tak terdapat wdihan baginya, sehingga harus diganti inmas.77

Wdihan membuat laki-laki Yawabumi tidak kalah semarak berbusana dibanding kaum perempuan, karena selain wdihan putih atau kain dengan dasar putih, terdapat juga wdihan kalyaga atau kain dengan dasar merah; wdihan sulasih atau kain dengan gambar bunga pohon sulasih; wdihan ambay-ambay atau kain dengan gambar bunga-bungaan; wdihan rangga atau kain dengan gambar bunga lili; wdihan ganjar patra sisi atau kain dengan gambar sulur-suluran di bagian tepinya; wdihan ronparibu atau kain dengan gambar hiasan daun-daunan; wdihan ayami himi himi atau kain dengan hiasan bunga kapuk dan kerang-kerangan. Tentu saja siapa memakai apa ini tergantung juga kepada siapakah dia dalam catur warna atau kasta, dan juga apakah kedudukannya dalam pemerintahan, yakni apakah dia pejabat tinggi, pejabat menengah, pejabat rendahan, atau rakyat biasa. Adapun rakyat biasa di luar kasta, biasanya mengenakan wdihan maupun kain lusuh tanpa gambar apa pun.78

Tentu terdapat pula kain atau ken bagi perempuan seperti kain jaro, kain kalyaga, kain pinilai, ken bwat wetan, ken bwat lor, kain pangkat, kain buat ingulu, kain halangpakan, ken Atmaraksa, kain laki, ken putih, kain rangga dan tidak ketinggalan ken kalamwatan. Tidak kurang beragam warna dan hiasan kain-kain ini, sehingga mengingatkan aku kepada Harini. Kuteringat Harini, yang

akan menyanggul atau membiarkan rambutnya terurai, tergantung dari kain yang dipakainya, yang kadang menutupi tubuhnya dari dada, tetapi takjarang juga hanya dikenakannya dari pinggang ke bawah, sehingga dadanya terbuka. Aku menghela napas teringat Balinawan. Suatu ketika kelak aku harus kembali ke sana.

Namun adalah perhiasan yang kami angkut dalam banyak karung yang kurasa telah membuat pedati kami menjadi berat. Cincin emas, gelang tangan dan kaki, dan juga inmas, uang emas itu, tidak dapat kuduga berapa masa nilainya, kukira mencapai ribuan masa banyaknya. Sembari mendorong dan mengangkat pedati, aku terus berpikir, barang-barang yang diangkut ini semestinya dikawal oleh makuda atau pasukan berkuda, setidaknya lebih dari sekadar dua pengawal bersenjata sewaan seperti sekarang. Angkutan mereka terlalu berharga. Lagipula upacara peresmian sima merupakan bagian dari kegiatan pemerintahan negara. Pengadaan dan pengangkutan bisa diserahkan kepada usaha jasa, tetapi muatan barang senilai yang diangkut pedati tersebut layak dijaga pasukan bersenjata kerajaan.

Bagaimana jika rombongan ini dibegal kelompok bersenjata yang memusuhi Rakai Panunggalan? Kuperhatikan dua pengawal bersenjata pedang itu. Seberapa jauh mereka dapat diandalkan? Aku mempertimbangkan kemungkinan, bahwa kemampuan keduanya diandalkan sebagai pengganti satu pasukan bersenjata. Satu pasukan, bukan sekadar satu regu, mengingat yang kami bawa ini menurutku sungguh merupakan harta karun yang sesungguhnya. Sungguh terlalu banyak bagi peresmian sima biasa.

Jalanan kini kembali rata. Di kiri dan kanan persawahan menguning. Namun hari telah mendekati malam. Tampaknya kepala rombongan yang telah menawarkan kepadaku pekerjaan ini ingin bermalam di desa tempat para pemilik sawah ini.

“Kita akan bermalam di sana,” katanya, “bocah, sampai di desa itu, kuanggap utangmu sudah lunas, dan dikau boleh pergi dengan pakaianmu itu.”

Aku mengangguk.

“Aku juga akan bermalam dulu di sini, Bapak, terima

kasih telah memberi aku busana kebesaran ini.”

Aku mengatakannya begitu, karena wdihan yang kukenakan tampaknya memang mahal, karena tidak ada busana untuk rakyat biasa dalam pengangkutan ini.

Tentu ada suatu peristiwa besar. Kalau peresmian sima yang biasa, tidaklah perlu membagi hadiah sebanyak ini. Aku telah salah menduga, mengira para mabhasana ini akan menjual barang dagangan dari kota ke desa. Adapun yang terjadi, seluruh barang ini sudah dibeli negara, dan kini mereka harus membawanya ke Ratawun, tempat akan berlangsungnya peresmian sima. Betapapun, aku tetap merasa pengawalannya tidak sepadan, mengingat ribuan inmas, mata uang emas, yang juga diangkut mereka. Dalam upacara peresmian sima, mata uang emas adalah pengganti wdihan bagi pejabat, tetapi jika kulihat sendiri wdihan yang dibawa tak kurang banyaknya dalam keranjang-keranjang yang disebut kban79, seperti memang akan diperdagangkan, untuk apa lagi uang emas itu?

***

KAMI semua tidur di balai desa yang luas dan berlantai kayu. Dengan segera kami semua tertidur karena perjalanan yang memang sangat melelahkan. Menjelang dini hari, aku merasakan lantai kayu bergoyang pelahan dan segera membuka mata. Sebuah sosok sedang mengendap-endap melangkahi kami, menuju keluar, ke arah pedati-pedati berisi keranjang itu.

Dalam kegelapan aku mengawasinya. Salah seorang pengawal itu mengambil sebuah keranjang dan berjingkatjingkat pergi. Aku beranjak dan berkelebat mengikutinya. Kulihat ia membawa keranjang itu ke sebuah pondok tempat seseorang telah menunggunya. Ternyata pengawal yang lain telah berada di sana dan segera menerima serta menyembunyikannya. Tentu ini sangat mudah. Pengawal mencuri barang-barang yang harus dikawalnya sendiri.

Mereka terus mengambil barang-barang dari dalam pedati, keranjang demi keranjang, sampai pedati itu kosong sama sekali dan pondok itu kini penuh dengan harta karun. Aku terus mengawasinya sembari bertanyatanya dalam hati. Apakah yang akan mereka lakukan selanjutnya? Aku ditelan kebimbangan antara memberi tahu pedagang yang telah memintaku ikut rombongan ini,

ataukah mengikuti terus masalah ini untuk mengetahui bagaimana akan berakhir. Namun kusadari aku sendiri mempunyai banyak persoalan, sementara masalah ini pasti juga akan berkembang tanpa kuketahui bagaimana akan selesai. Jika melibatkan diri, tidakkah hidupku akan menjadi lebih rumit? Padahal aku taktahu menahu persoalan di balik barang-barang berharga ini. Dengan kesadaran atas segala kerumitan, masihkah aku harus bersikap mengikuti saja arus ke mana pun sungai kehidupan membawaku? Tidak bisakah kiranya aku bersikap untuk membiarkan mereka dengan segala urusannya?

Mereka berdua tidak saling berkata-kata. Bahkan berbisik pun tidak sama sekali. Tentu saling pengertian antara mereka sudah sangat kuat, atau rencana mereka memang sudah begitu matang. Aku tidak tahu seberapa jauh diriku harus terlibat, karena aku tidak apa yang sedang terjadi. Siapa yang kiranya boleh dianggap benar dan siapa kiranya boleh dianggap salah? Setidaknya aku harus mengenali persoalan dan tahu bagaimana menempatkan diriku di dalamnya.

Mereka kemudian mengendap-endap kembali ke balai desa. Apa yang akan mereka pikir jika melihatku tak ada? Aku segera berkelebat ke belakang balai desa itu tanpa mereka ketahui. Apabila besok terjadi kegemparan karena barang itu hilang, dan kedua pengawal itu tahu betapa aku berkemungkinan mengetahui kosongnya tikar mereka, nyawaku berada dalam bahaya.

Meski memejamkan mata, aku tahu mereka mengawasi semua yang tidur satu persatu. Setelah mereka yakin tiada

seorang pun yang mengetahui perbuatan mereka, maka mereka pun merebahkan diri pada tikar masing-masing. Sebentar kemudian mereka pun tidur mendengkur. Agaknya mereka belum tidur sama sekali dan sepanjang malam hanya pura-pura tidur agar dapat menjalankan rencananya.

Mendadak aku mendapat gagasan. Maka aku pun bangkit dan keluar lagi tanpa seorang pun menyadarinya. Tidak juga kedua pengawal yang telah mencuri itu. Di luar, kulihat pedati yang kosong. Tidak bisa kubayangkan penderitaan yang akan dialami para pedagang ini, jika mereka tiba di tempat upacara tanpa barang-barang ini. Aku merasa para mabhasana ini adalah orang-orang yang baik. Jika pedagang lain, melihatku berdiri di tengah jalan hanya untuk berutang

pakaian, pastilah sudah menyuruh para pengawal itu mengusirku. Namun ia memberiku kesempatan untuk berbusana layak tanpa harus berutang. Aku menghargainya meski mendorong pedati di jalan yang berlubang-lubang dan mendaki juga bukan pekerjaan ringan. Betapapun ia seorang pedagang.

Aku melangkah cepat ke arah pondok tempat barangbarang mahal itu disembunyikan. Aku baru mengetahui belakangan bahwa terdapat juga gerabah, peralatan masak dan makan, seperti mangkuk dan bejana, yang dilapisi jerami supaya tidak pecah. Mangkuk-mangkuk porselin berwarna putih yang dihiasi gambar-gambar belum bisa dibuat di Yawabumi. Barang-barang ini datang dari negeri yang jauh, diangkut dengan kapal yang belum pernah kulihat. Kukira aku harus melihatnya suatu ketika, dan kenapa tidak menaiki kapal itu atau kapal yang mana pun menuju negeri-negeri yang jauh? Jika begitu jauhnya aku mengembara, sehingga bahkan tidak mungkin lagi untuk kembali, aku pun tidak keberatan pula. Bukankah hanya satu tujuan hidup yang telah kutetapkan dan itu hanyalah menjadi seorang pengembara?

Kumasuki pondok, kudorong pintunya, tiada seorang pun menjaganya. Namun siapakah yang telah

menyediakannya dengan begitu kebetulan di depan balai desa? Kulihat keranjang-keranjang bertumpuk sampai nyaris mengenai atap. Segera kuambil satu persatu dan dengan mengerahkan tenaga dalam sedikit saja kupindahkan semuanya kembali ke dalam pedati. Dengan tenaga dalam artinya segala beban dari barang-barang itu menjadi tiada artinya dan aku dapat memindahkannya dengan cepat tanpa suara. Bahkan jejak kakiku di tanah pun tiada karena aku telah menggunakan ilmu meringankan tubuh juga. Keranjang-keranjang berisi wdihan, inmas, dan gerabah langka dari negeri manca80 itu akhirnya kembali ke tempatnya semula, bagaikan tiada seorang pun yang sempat memindahkannya. Hanya para kerbau menjadi saksi semua kejadian ini. Namun apalah yang bisa dikatakan para kerbau?

Aku tersenyum membayangkan apa yang akan terjadi. Langit mulai menyembunyikan rembulan. Di dalam balai desa mereka pasti masih tertidur, semuanya karena kelelahan, begitu juga kedua orang yang seharusnya

mengawal tetapi mencuri itu, yang masih mendengkur karena baru saja tidur. Aku masuk dan mencoba tidur. Namun aku tidak bisa berhenti berpikir. Siapakah kiranya yang telah menyediakan pondok di depan balai desa itu? Kubayangkan terdapatnya suatu jaringan yang mampu menggerogoti perbendaharaan istana dengan perhitungan yang cermat. Aku terkejut sendiri ketika membayangkan kemungkinan, bahwa mungkin saja upacara penyerahan

80 Barang-barang berkategori impor di Yawabumi abad VIII-XI dalam prasasti antara lain kain buatan Utara (kain bwat lor), kain buatan Timur (kain bwat waitan), wdihan buatan Kalingga, India (wdihan bwat klin putih); menurut berita Cina ada juga yang diimpor untuk dikonsumsi sendiri maupun diekspor kembali seperti kain sutra, payung sutera Cina, pedang dari Timur Tengah dan India, nila dan lilin batik, belanga besi berkaki tiga, piring dan mangkuk bervernis, keramik Cina terutama biruputih, warangan, tikar pandan, gading, emas, perak, tembaga, dan berbagai jenis rempah-rempah. Sementara komoditi ekspor yang disebut berita Cina di luar rempah-rempah adalah gading gajah, kulit penyu, tikar pandan, kain sutra, dan kain katun. Melalui lahan menjadi sima itu ternyata sekadar cerita, yang memperdayakan Rakai Panunggalan di istana! Jika benar, tentu ini merupakan penipuan yang canggih!

AKU masih tidur ketika seseorang menggoyang kakiku.

“Bocah, jika dikau bermaksud memisahkan diri di sini, kami berangkat dahulu,” katanya.

Pemimpin rombongan itulah yang telah membangunkan aku. Dengan cepat kulirik apa yang terjadi di luar. Mereka semua sudah siap berangkat, seperti tidak terjadi sesuatu yang genting seperti semalam itu. Sembari beranjak, sebelum menjawab, aku berpikir. Aku telah menyelamatkan barang-barang berharga itu. Jika aku memisahkan diri, tidak ada jaminan barang-barang berharga itu akan tetap selamat. Maka aku harus selalu berada bersama rombongan ini, jika memang berkepentingan untuk menjaganya. Namun jika aku meneruskan perjalanan bersama rombongan ini, aku merasa khawatir akan semakin terlibat dengan persoalan mereka, yang hanya secara kebetulan saja melibatkan diriku.

Masalahnya, aku tidak merasa dapat berdiam diri jika terjadi sesuatu dengan mereka. Aku merasa, setidaknya untuk sementara, sebaiknya tetap menjaga mereka, bukan demi barang-barangnya, melainkan terutama demi keselamatan mereka.

“Pergilah, Bapak, dewa-dewa akan menjaga keselamatanku,” kataku, lantas berpura-pura tidur kembali.

Meski memejamkan mata, kudengar desah nafas panjangnya, dan barangkali ia menggeleng-gelengkan kepala. Ia melangkah keluar. Kudengar derak roda-roda pedati yang makin lama semakin jauh. Aku memikirkan kedua pengawal yang curang itu, dan seseorang yang telah menyediakan pondok di depan balai desa untuk menyembunyikan barang curian.

Aku pun segera melesat untuk mengikuti rombongan

itu tanpa mereka ketahui.

Karena jalan sudah rata, perjalanan bisa lebih cepat. Namun akan menjadi seberapa cepatkah perjalanan dengan pedati? Apabila mereka bergerak maju perlahanlahan di jalanan, aku bergerak tanpa suara di balik rimbunnya pepohonan di tepi jalan. Harus kuakui mengikuti rombongan dengan cara seperti itu sangat membosankan. Aku hampir saja meninggalkan mereka karena kebosanan yang teramat sangat karena dalam kelambanan itu tidak terjadi sesuatu pun jua. Namun aku juga merasa betapa aku harus selalu waspada. Aku yakin bahwa jaringan pencuri ini tidak hanya terdiri atas dua orang pengawal dan seorang penyedia pondok penyimpan barang. Bahkan mereka bertiga kemungkinan besar juga hanyalah orang-orang suruhan. Pikiranku terus bekerja, tetapi pengetahuanku sebagai remaja 15 tahun tentu saja sangat membatasi segala pertimbangan. Pertarungan kekuasaan di dalam istana misalnya, hanya bisa kuduga dengan perbendaharaan pengetahuan yang sangat terbatas.

Aku hanya berpikir bahwa pencurian barang-barang demi kepentingan upacara seperti itu, bukanlah pemikiran seorang pencuri biasa yang ingin memiliki barang-barang tersebut. Barang-barang itu berusaha dicuri bukanlah untuk dimiliki, melainkan demi suatu kepentingan tertentu. Kepentingan apa? Dalam batas pemikiranku, setidaknya itu adalah gagalnya upacara peresmian sima.

Kenapa upacara peresmian harus digagalkan? Sampai di sini kemiskinan pengetahuanku berbicara. Aku hanya tahu betapa untuk sementara aku harus terus mengikuti rombongan ini, karena para mabhasana ini hanyalah orang-orang yang akan dikorbankan. Dugaan mengenai adanya kejahatan semacam ini saja sudah membuatku geram, kelicikan semacam itu memang memualkan.

Ketika aku menyambar buah jambu air untuk menawarkan dahagaku, di bawahku berkelebatlah sesosok bayangan yang mengikuti rombongan itu. Aku terkesiap.

Ternyata Kepala Desa dari desa tempat kami menginap semalam. Desa apakah namanya? Bahkan aku juga tidak mengetahuinya. Jika seorang kepala desa seperti itu terlibat dalam pencurian semalam, aku semakin yakin betapa ini bukan sekadar pencurian biasa. Ia menirukan suara burung, sebagai tanda bagi kedua pengawal yang menunggang kuda di depan dan bekakang rombongan. Kulihat kedua pengawal itu memegang gagang pedangnya masing-masing yang masih berada di dalam sarungnya. Kulihat juga Kepala Desa itu bahkan telah mencabut pedang. Mereka akan segera menggunakannya!

Kutelan jambu airku dan melayang turun dan tentu saja tidak ada yang mengetahuinya. Jika hanya terdapat lima orang yang barang-barangnya dikawal, maka mudah saja membunuh mereka dengan kecepatan kilat, apalagi yang tidak pernah mereka duga akan dilakukan para pengawal mereka sendiri. Apa yang harus kulakukan? Pertama-tama aku melayang turun ke belakang kepala desa itu. Ia mengangkat pedangnya ke belakang, seperti siap berlari menyerbu. Namun aku dengan kecepatan kilat mengambil pedang tersebut, dan tentu saja takbisa dibayangkan betapa bukan alang kepalang ia terkejutnya ketika membalikkan badan.

“Haahhh?”

Namun tidak kuberi kesempatan ia berteriak lebih keras lagi. Sekali sentuh ia sudah jatuh pingsan. Aku memang tidak ingin kedua pengawal itu mengetahui apa yang telah terjadi. Aku ingin menghukum mereka dengan caraku sendiri. Kedua pengawal itu menyerbu orang-orang yang seharusnya mereka jaga keselamatannya. Kelima orang yang lain terkejut. Namun mereka dengan cepat

mencabut pedangnya masing-masing pula, bahkan dengan kemarahan membara.

Kuperhatikan dari balik semak-semak, pertarungan berlangsung seimbang. Dalam arti, satu pengawal melawan dua orang, dan satu pengawal lain melawan tiga orang. Pertarungan ini berlangsung diiringi maki-makian kasar

yang tidak sepatutnya diungkap di sini. Cara bertarung mereka pun tidak beraturan. Karena meskipun kedua pengawal ini tampak mengerti ilmu silat, kelima orang yang melawan dengan membabi buta itu tidaklah mengerti ilmu silat sama sekali. Tidaklah lantas menjadi mudah bagi orang yang mengerti ilmu silat untuk menghadapi orang-orang awam yang bertarung tanpa aturan, karena ilmu silat digubah dalam kerangka ilmu silat juga, bukan gerak orang awam yang tanpa jurus, bahkan tanpa aturan. Dengan kata lain, ilmu silat tidak akan mengenal bahasa gerakan bukan silat. Jurus silat digubah untuk menghadapi jurus silat, bukan sembarang gerakan. Sehingga menyaksikan pertarungan semacam ini memberikan sejumlah gagasan untukku, bahwa jurusjurus yang seperti bukan jurus-jurus ilmu silat, akan sangat sulit dihadapi jurus-jurus ilmu silat itu sendiri. Saat itu aku tentu saja tidak pernah menduga, bahwa pemikiran semacam ini kelak akan membawaku kepada penemuan Jurus Tanpa Bentuk.

Mereka ternyata bahkan menemui kesulitan dengan bertempur di atas kuda seperti itu. Tentu ini juga disebabkan oleh ilmu silat mereka yang sama sekali tidak tinggi. Sembari bertempur mereka sebentar-sebentar melihat ke arahku, tentu mengharap bantuan kepala desa yang juga culas itu. Aku tertawa dalam hati melihat kebingungan mereka, tetapi tidak terbersit sedikit pun dalam pikiranku untuk mengampuni orang-orang yang menyalahgunakan kepercayaan semacam ini. Kulihat kuda yang bernama Si Kemplang itu memang perkasa, bukan hanya ketegapan tubuhnya, tetapi juga karena tampak terlatih ikut menyerang lawan majikannya dalam pertempuran. Suatu hal yang hanya dikuasai kuda dalam makuda atau pasukan berkuda. Kedua orang ini pastilah setidaknya pernah menjadi anggota suatu pasukan berkuda. Artinya bukan orang yang mencuri karena kelaparan!

Dengan sebutir kerikil kutotok jalan darah Si Kemplang,

yang tidak membuat kuda hitam perkasa itu menjadi lemas tanpa daya, sebaliknya bahkan melonjak-lonjak sambil meringkik-ringkik tak terkendali. Kuda temannya pun kuperlakukan seperti itu, sehingga kini kedua pengawal tersebut lebih sibuk mengurusi kudanya daripada lawan-lawannya. Pertarungan menjadi berat sebelah dan nasib kedua pengawal itu sudah ditentukan. Sedikit demi sedikit anggota badan mereka terbacok senjata tajam. Begitu rupa sehingga tak lama kemudian seluruh tubuh mereka telah menjadi merah oleh darah mereka sendiri, meskipun ternyata mereka tidak kunjung mati.

Kemudian tiba saatnya mereka terjatuh ke tanah. Para pembuat pakaian yang telah gelap mata ini nyaris mencacah-cacah tubuh keduanya jika kepala rombongan yang bijak itu tidak mencegahnya.

“Jika mereka bisa terus hidup, mungkin mereka akan jadi orang baik,” katanya.

“Biarlah dia jadi orang baik waktu lahir kembali saja kelak, setelah sebelumnya menjadi monyet terjelek di dunia,” kata salah satunya.

“Biarlah dia jadi orang baik sekarang,” ujar kepala rombongan itu dengan tegas, “aku ingin tahu apakah dia juga pendapat yang sama atau tidak.”

Mereka mengerumuni kedua orang itu, sementara kepala desa yang kutepuk dan pingsan telah sadar kembali. Kuberdirikan kepalanya agar mampu melihat nasib kedua komplotannya. Ia menjadi sangat ketakutan.

“Ampuni saya Tuan, saya mempunyai anak dan istri di rumah,” katanya sembari menyembah-nyembah.

Dalam keadaan yang lain, mana mungkin ia memanggilku Tuan?

“Kuserahkan kepada mereka kalau Bapak tidak berterus terang tentang segalanya.”

Ia menelan ludah dan merasa tak berdaya. Lantas begitu saja bercerita.

Seseorang dari istana dengan gelar mangilala drawya

haji atau pemungut pajak telah datang dan menyatakan bahwa sejumlah pejabat akan dikirim dari kotaraja. Adapun maksudnya adalah menyatakan desa mereka sebagai sima, dibebaskan dari pajak, karena jasa yang telah diberikan tanah tersebut kepada negara.

“Kami semua tidak mengerti,” katanya, “apakah yang disebut sebagai jasa tanah kami kepada negara.”

Di desa mereka tersebut, sawah justru memberi penghasilan besar kepada negara, dan penduduk masih menerima banyak keuntungan dari penjualan beras, meski setelah dipotong oleh pajak. Maka tentu saja pesan yang dibawa pejabat pajak itu ditolak.81

“Di desa kami, bahkan para rakai atau pamegat82 akan selalu kalah wibawanya dibandingkan para rama.83 Namun kali ini mereka tampaknya memaksakan kehendak dengan senjata.”

Ternyata bukan tanah desa mereka saja yang ingin dikuasai oleh istana, tetapi juga tanah desa-desa lain, karena agaknya sedang berlangsung persaingan dalam kepemilikan tanah, agar di atas tanah itu bisa didirikan candi, baik dari kelompok Siwa maupun Mahayana. Penduduk desa tidak terpengaruh untuk memilih salah satu dari kedua agama besar yang menguasai istana, karena kepercayaan yang mereka warisi dari nenek moyang sudah memuaskan kebutuhan beragama mereka, yakni bahwa sesuatu yang luar biasa memang menguasai kehidupan mereka.

“Kami tidak peduli dengan persaingan diam-diam kedua agama ini,” katanya, lagi, “tetapi kedua agama ini membutuhkan tanah-tanah kami untuk mendirikan candi.”

Aku teringat, tidak sembarang tanah kosong bisa menjadi lahan tempat didirikannya candi. Para sthapaka (arsitek pendeta) dan stahapati (arsitek perencana) dalam tindak bhumisamgraha (pemelihan tempat) dan bhupariksa (pengujian tanah pada calon lahan bangunan) telah mengacu kepada kitab-kitab dari Jambhudwipa perihal aturan pembuatan bangunan seperti Manasara- Silpasastra maupun Silpaprakasa. Menurut kitab-kitab ini, lahan tempat pendirian bangunan kuil dinilai tinggi, bahkan lebih penting dari bangunan suci itu sendiri.84 Ini membuat lahan yang memenuhi syarat, di mana pun, diincar untuk diambil alih bagi pembangunan kuil-kuil pemujaan yang disebut candi itu. Ketika agama tidak dapat dilepaskan dari kekuasaan, maka berperilakulah para

pemimpin keagamaan bagaikan sekadar pemimpin di wilayah dunia fana, yang tampak dalam persaingan perebutan lahan bagi candi di Yawabumi.

“Apa hubungannya semua itu dengan pencurian ini?”

“Persaingan di antara para pejabat agama di istana telah

membuat mereka saling berusaha menggagalkan upacara peresmian sima, dan kami sekarang ini membantu usaha penggagalan upacara di Ratawun, karena lahan yang akan dikuasai sangat besar sekali. Jika lahan tersebut diubah menjadi tempat pendirian candi, kami semua akan mati karena sekarang ini merupakan sumber penghasilan kami.”85

“Kenapa harus tanah kalian dan bukan yang lain?”

“Karena tanah kami adalah tanah Brahmana.”

Aku mengerti, tanah Brahmana merupakan tanah terbaik seperti yang dirumuskan Silpaprakasa. Tanah Brahmana mengandung lempung, kenampakannya bercahaya seperti debu mutiara dan harum baunya.

Tanah lain yang dianggap sama mutunya adalah tanah Ksatrya, yang berwarna kemerahan, bercahaya seperti darah segar, dan berbau keasaman.86 “Jika semua tanah Brahmana dan Ksatrya diambil demi kuil, apakah manusia hanya boleh menempati tanah Waisya dan Sudra?”87 Begitulah kepala desa itu mempertanyakan. Hmm.

“Siapakah kedua prajurit itu?” Tanyaku.

“Oh, mereka adalah orang-orang yang berasal dari desa kami, berhasil diterima ketika melamar jadi anggota pasukan berkuda, dan mereka merasa perlu menyelamatkan penduduk dari kemalangan jika segenap lahan diambil secara paksa.”

Kulihat di tengah jalan, kelima mabhasana seperti siap membacok kedua pengawal yang malang itu. Aku harus segera mencegahnya jika tidak ingin mereka mati, meskipun aku bingung juga jika harus bertemu muka lagi dengan rombongan ini.

“Jangaaaaann!”

Tangan mereka terhenti di udara. Jika tangan-tangan yang memegang golok itu turun, tamatlah riwayat kedua pengawal celaka. Aku bersyukur tidak mengambil

keputusan untuk membunuh ketiga-tiganya secepatcepatnya, seperti yang kupikirkan ketika untuk pertama kalinya membaca hubungan mereka sebagai komplotan. Kini, sebaliknya, aku merasa kasihan terhadap mereka yang tanahnya dirampas, meski untuk keperluan bangunan suci. Artinya, bagiku, bukan hanya persyaratan keadaan tanah yang diperlukan untuk membangun tempat ibadah, melainkan juga kerelaan dan kepasrahan sang pemilik tanah untuk menyerahkannya yang menjadi syarat mutlak. Jika tidak, tanah itu bermasalah, dan bagi pembangunan sebuah kuil, tidakkah itu menghalangi dan menghancurkan segenap tujuan pemujaan dalam upacara agama?

Lagipula, siapa bilang segalanya ini murni demi kepentingan agama? Penduduk Yawabumi setahuku tidak terlalu peduli dengan agama manapun yang mereka peluk, selama peraturan agama yang berlangsung tidak mengganggu kehidupan mereka. Bahkan bila perlu berbagai macam ketentuan dalam agama manapun justru disesuaikan dengan kepercayaan semula mereka, dan tidak seorang penyebar atau pemuka agama pun bisa memaksakan kehendaknya. Maka mereka tahu belaka jika agama disebut-sebut hanya sebagai alasan, ketika kepentingan kekuasaan berada di baliknya.

Kedua orang itu tidak jadi mati. Namun tubuh mereka yang merah oleh darah memberikan pemandangan yang mengerikan. Para mabhasana terbelalak melihat aku

datang bersama Kepala Desa.

“Bapak, ceritakanlah semua,” kataku.

Kami berada di tengah jalan yang membelah hutan. Burung-burung berkicau dengan riuh, tetapi bagiku hal itu masih terlalu sepi dibandingkan ketegangan dalam permainan kekuasaan di istana, yang mengorbankan penduduk desa demi segala kepentingan mereka. Kepentingan yang tidak ada hubungannya dengan kehidupan desa, tetapi yang sedikit demi sedikit mulai merusaknya.

“Jadi apakah yang sekarang harus kita lakukan, wahai bocah takbernama?”

Aku senang mereka masih memanggilku bocah, meski memang tetap tanpa namaku. Hmm. Namaku adalah Tanpa Nama. Benarkah itu sebuah na-ma? Kita

takbisa menghindar untuk tetap bernama, sebagai pemberian makna siapapun kepada kita.

SESUAI kepala desa itu bercerita, aku baru sadar betapa memang tidak mungkin menghindari aliran sungai kehidupan yang membentuk riwayat hidupku. Ketika berusaha menghindari urusan rombongan tersebut dengan cara memisahkan diri, kupikir itulah cara terbaik untuk mengelak. Namun karena khawatir dengan keselamatan mereka, aku tetap mengikuti mereka tanpa mereka ketahui, tetapi yang ternyata membuat aku terlibat semakin dalam. Seusai kepala desa itu bercerita, pandangan mereka kepadaku kini berubah. Mereka tidak mungkin lagi menyebutku sebagai bocah dan kupikir masa kebocahanku memang telah berakhir, terutama setelah didewasakan oleh Harini dengan segala percobaan Kama Sutra yang dibacanya itu kepada diriku.

“Pendekar inilah yang telah mengagalkan rencana kami, dengan mengembalikan lagi segala barang ke dalam pedati. Jika tidak, kami tentu tidak akan tahu lagi nasib kalian.”

Para mabhasana itu menoleh kepadaku, lantas bersujud sampai dahinya menyentuh tanah.

“Tuan Pendekar! Maafkan kami!”

Aku merasa sangat sungkan dan sangat malu. Aku tidak ingin melibatkan diriku, tetapi mungkinkah kini aku melepaskan diri?

“Bapak! Berdirilah!”

“Maafkan kebodohan kami Tuan Pendekar! Kini kami tidak dapat membayangkan, ancaman apa lagi yang menanti di depan kami!”

Mabhasana artinya penjual pakaian. Mereka bisa hanya menjual, dan tidak membuat sendiri baju-baju bersulam emas ini, tetapi bisa juga menjual dan membuatnya sendiri. Namun jika membuatnya, jelas ia memerlukan bantuan pewdihan (tukang jahit), menglakha (tukang celup

kain warna merah), manila (tukang celup kain warna biru), mawungkudu (tukang celup kain warna merah yang lain). Bahkan jaringan pengadaan sandang ini juga melibatkan para penjual kapas dan tukang tenun. Lebih jauh lagi, jika bagi para

pejabat dibutuhkan wdihan dengan mutu yang istimewa, maka jaringan ini diperluas oleh keberadaan para pedagang yang datang dari seberang lautan.88 Artinya kegagalan memenuhi janji akan berarti petaka bagi mereka semua, karena barang dagangan sebanyak itu kemungkinan juga merupakan piutang.

Melihat barang-barang yang kupindahkan kembali semalam, berarti mereka berutang juga kepada mandyun (pembuat benda-benda tanah liat), pandai mas (tukang emas), pandai wsi (tukang besi), manapus (pembuat benang), manubar (pembuat bahan cat warna merah), magawai payun wlu (pembuat payung wlu), maupun mananyamanam (pembuat barang-barang anyaman). Jumlah dan tuntutan akan mutunya tidak membuat mereka mungkin untuk membayar lunas lebih dahulu, meski tentunya mereka tetap memberikan uang muka. Kesempatan seperti ini memang diberikan oleh negara, demi berputarnya roda perdagangan, seperti yang mereka rujuk dari Arthasastra.

pertanian, peternakan, perdagangan

membentuk varta (ekonomi) yang bermanfaat

karena menghasilkan padi-padian, ternak,

hasil hutan dan lapangan pekerjaan

raja dapat mengendalikan

pihaknya sendiri maupun pihak lawan

dengan menggunakan

keuangan dan tentara89

Adapun tentang utang piutang, Arthasastra mengatakan:

Satu seperempat pana

adalah sukubunga sebulan menurut hukum

bagi seratus pana

lima pana bagi perdagangan

sepuluh pana bagi yang melewati hutan

duapuluh pana untuk melewati lautan

bagi yang meminta

atau menetapkan sukubunga di atas itu

hukumannya adalah denda terendah untuk kekerasan

bagi para saksi, masing-masing separuh denda

tetapi jika raja tidak menjamin perlindungan

hakim harus mempertimbangkan

pekerjaan umum bagi para pemberi pinjaman

dan para peminjam

bunga untuk gandum sampai separuh waktu panen

setelah itu bisa bertambah

karena berubah menjadi modal

bunga modal akan berjumlah separuh keuntungan

dibayar dalam setahun

dipisahkan dalam toko

orang yang pergi jauh

atau bandel membayar

akan membayar

dua kali modal

bagi orang yang menarik bunga

tanpa menentukannya

atau menaikkan sukubunga

atau menuntut melalui saksi

modal dengan tambahan bunga

dendanya empat kali 1/5 atau 1/10 bagian

jika menuntut melalui saksi jumlah kecil

(yang tidak pernah dipinjamkan)

denda akan empat (jumlah) yang tidak ada

untuk itu penerima akan membayar sepertiga

sisanya bagi orang yang telah membantunya90

Masih banyak perkara utang piutang yang telah diatur secara hukum. Masalahnya, seberapa jauh hakim dalam peradilan dapat diandalkan? Memang benar hakim yang bijak dan berani karena benar selalu ada, tetapi sebagian

besar lebih suka mempermainkan hukum demi kepentingan para penguasa, dan tentu saja demi keselamatannya sendiri.

“Bapak! Aku mohon! Berdirilah!”

Mereka semua berdiri dengan pandangan menyerahkan segala persoalan kepadaku. Adapun aku sendiri tidak tahu apa yang harus kulakukan. Aku tidak mempunyai cukup pengalaman dan pengetahuan mengenai permainan kekuasaan untuk dapat mengambil keputusan dengan penuh keyakinan.

“Ketahuilah Bapak! Aku akan selalu membantu Bapak! Namun dalam hubungannya dengan seluk-beluk permainan kekuasaan di istana, akulah orang yang membutuhkan pertolongan!”

Lantas aku membungkuk dalam-dalam.

“Tolonglah saya, Bapak!”

Ia terdiam. Aku juga terdiam. Kedua pengawal yang mandi darah itu memandang kami, masih dengan wajah yang ketakutan. Kepala desa itu diam seribu bahasa. Namun jiwa ketiganya jelas telah lolos dari lubang jarum, mengingat betapa niat mereka semula sebenarnyalah untuk membunuh kami. Betapapun sekarang aku tidak merasa ketiganya terlalu jahat, karena dapat kubayangkan terdapatnya suatu ancaman, suatu tekanan yang membuat mereka justru akan lebih celaka jika tidak melakukannya.

Peristiwa ini bagaikan buah simalakama bagi sesama pelengkap penderita. Jika barang-barang dalam pedati itu hilang, para mabhasana bukan sekadar terjerat utang, tetapi juga bisa mendapat hukuman yang tidak perlu.

Sebaliknya jika barang-barang itu tidak berhasil dicuri, kepala desa dan dua pengawal itu kiranya akan mengalami nasib yang lebih buruk lagi. Pantaslah mereka berjuang begitu rupa sampai berusaha mengorbankan nyawa. Kini jelas nyawa mereka terancam, dan hanya kepada kami mereka bisa berlindung. Namun bagaimana kami, aku dan para mabhasana ini bisa melindungi mereka?

Dalam kegalauan seperti inilah kemudian terdengar sebuah tawa lirih. Aku terkesiap, karena tawa ini bukanlah sembarang tawa. Inilah suara tawa yang akan membunuh. Tawa ini sangat getir, tidak menimbulkan perasaan gembira, sebaliknya kesedihan yang terasa pedih dan menyayat-nyayat. Namun karena

ini bukanlah tawa sembarang tawa, melainkan suara tawa sebagai ilmu kesaktian dalam dunia persilatan yang tujuannya membunuh, setidaknya melumpuhkan, tetapi lebih sering menyiksa, apa yang semula berarti kepedihan batin, kini menjadi kepedihan tubuh yang menyimpan perasaan pedih tersebut.

Maka seketika tampak menggeleparlah kedua pengawal yang sebelum itu juga sudah bermandi darah. Mereka menggelepar, karena perasaan getir yang mendera hati dan perasaan mereka itu seolah berubah menjadi benda keras serta tajam, yang tentu saja tidak kelihatan. Keras dan tajam artinya berkemampuan merobek tubuh dari dalam, karena yang disebut perasaan telah berubah menjadi senjata tajam takkasat mata! Itu berarti setelah menggelepar mereka pun tewas. Kepala desa pun terjatuh bersama kelima mabhasana dan segera menggelepar pula.

“Tutup telinga kalian! Tutup telinga kalian!”

Aku pernah mendengar dari pasangan pendekar yang mengasuhku perihal ilmu-ilmu suara dalam dunia persilatan. Artinya bagaimana suara dan bunyi apapun dimanfaatkan sebagai penggoyah sukma, sehingga cabang ilmu suara disebut juga Ilmu-Ilmu Penggoyah Sukma. Pada umumnya penguasaan ilmu ini dianggap sudah sempurna, jika sudah mampu memeras perasaan, dan karena itu

menjadi pengalih perhatian terbaik dalam pertarungan. Siapapun yang menjadi sedih dan menangis karena mendengar lagu sedih itu, akan terobek tubuhnya pada tempat perasaannya bergetar. Betul-betul terobek dan mengeluarkan darah, dan karena sayatannya dari dalam maka darahnya menjadi berbuncah-buncah. Mengerikan.

Tawa ini juga mengerikan. Lirih tetapi bergema, bagaikan terdengar dari dalam sebuah gua. Aku mengerahkan tenaga dalam untuk mematikan perasaanku. Lantas melihat ke sekeliling. Lantas dengan segera aku menyambar dua pedang dan melesat. Pasangan pendekar itu pernah bercerita kepadaku tentang seorang pendekar, yang semula berasal dari golongan merdeka, tetapi kini menjadi orang bayaran, apalagi jika bukan bayaran untuk melakukan pembunuhan. Pendekar itu mengandalkan ilmu silatnya kepada Ilmu-Ilmu Penggoyah Sukma, dan yang

paling dikenal adalah tawa lirihnya yang getir serta mematikan. Sedangkan gelarnya adalah Pendekar Topeng Tertawa.

Ia memang selalu mengenakan topeng orang tertawa yang bukan main menggelikan bagi yang melihatnya. Suatu topeng jenaka yang sungguh menggugah rasa gembira. Maka lawan-lawannya sering sulit bersikap menghadapinya. Di satu pihak topeng lucunya membuat orang tersenyum geli, tetapi pada saat tersenyum dan merasa geli berada dalam ancaman bahaya, karena pedang panjang Pendekar Topeng Tertawa akan menyambarnyambar seperti angin menyapu padang rumput. Bukankah sulit diterima jika kita terbunuh sembari terbelalak memandang topeng tertawa?

Kujumpai ia berjuntai di atas pohon dan segera kuserang. Seperti cerita kedua orang tuaku, ia mengenakan busana longgar yang menutup seluruh tubuhnya dari pergelangan tangan sampai mata kaki. Busananya itu berwarna putih bersih, nyaris menyilaukan dalam terpaan cahaya matahari, dan jika ia bergerak cepat akan berkibar-kibar karena sangat longgar. Suara kibaran

kain juga menjadi bagian dari pengalihan perhatian di samping suara tawa yang lirih dan getir. Belum ada seorangpun yang mengalahkannya, tetapi kini jika aku tidak ingin mati dalam umur 15 tahun, aku harus membunuhnya! Dalam sekejap mata kulihat topeng tertawanya, sangat lucu, tetapi sudah kumatikan seluruh perasaanku.

Aku menyerang dan menggempurnya dengan jurusjurus Ilmu Pedang Naga Kembar yang paling mematikan. Ia tampak sangat terkejut dan berkelebat menghindar.

“Jika dikau suatu ketika berhadapan dengan Pendekar Topeng Tertawa, wahai anakku, seranglah terus tanpa memberinya waktu bernapas. Hanya dengan cara itu dikau akan mampu melumpuhkannya,” kata ibuku.

Kukepung Pendekar Topeng Tertawa itu dengan dua pedang yang telah berubah menjadi empat puluh empat cahaya pedang menyambar-nyambar. Aku harus membunuhnya dengan secepat-cepatnya, karena Ilmu-Ilmu Penggoyah Sukma yang dimilikinya terlalu berbahaya. Bukankah sangat mengerikan ketika kita ikut tertawa misalnya, lantas dada kita tersobek oleh sayatan pedang yang tidak

kelihatan wujudnya, dari dalam tubuh kita sendiri? Seperti sihir, tetapi bukan sihir, hanya ilmu pengalih zat yang sempurna.

Ia tentu tidak diam saja. Busana putihnya yang amat bersih dan amat longgar berkibar-kibar dalam kelebatnya yang luar biasa cepat dan tidak dapat diikuti oleh mata. Ia masih tertawa, tetapi bagiku sudah tiada artinya, meski topeng tertawanya kusadari memang bisa membingungkan. Lucu, tetapi yang memakainya sangat mengancam nyawa. Pedangnya yang panjang tak jarang nyaris membelah tubuhku menjadi dua, jika aku tidak segera melompat berputar tujuh kali ke udara. Maka aku terus menyerangnya sembari mengitarinya dengan Jurus Naga Berlari di Atas Langit. Pedang yang beradu mengeluarkan suara berdentang-dentang diiringi lelatu api. Sudah barang tentu gerakan kami tak terlihat lagi oleh

para mabhasana yang syukurlah sudah terselamatkan. Namun kepala desa itu dadanya sudah tersayat dari dalam sehingga mengalirkan darah segar.

Pendekar Topeng Tertawa tak bisa tertawa lagi karena sepasang pedang yang kumainkan bagaikan menyerangnya dari segala arah. Ia pun mengggerakkan pedang panjangnya dengan Jurus Pedang Panjang Menyapu Rumput, suatu jurus yang selalu berhasil memenggal kepala lawan dari batang lehernya, karena senjata apapun yang menangkisnya hanya akan terpotong seperti rumput berhadapan dengan sabit. Maka aku pun tidak menangkisnya, dan memainkan Jurus Penjerat Naga, yang akan membuat setiap serangan hebat menjadi kelengahan terbuka. Aku tidak menunda sampai rangkaian Jurus Penjerat Naga itu habis ketika pertahanannya sudah terbuka. Bukankah Pendekar Satu Jurus bahkan selalu menggebrak pada kelengahan pertama? Tanpa ampun kubabat kedua lengannya sampai putus. Sebelah lengannya yang masih memegang pedang panjang terpental ke udara. Ia meraung di balik topeng tertawanya. Ini sangat berbahaya! Maka kedua pedangku bergerak menggunting. Kepala bertopeng itu pun menyusul ke dua lengannya.

Waktu aku mendarat kembali ke tanah, rerumputan sudah licin karena darah. Bajuku lengket karena semburan darah Pendekar Topeng Tertawa. Kulihat topeng itu masih terpasang di kepalanya. Jika raungan tadi kubiarkan menyentuh

perasaan, jantung dan paru-paruku bisa keluar menyeruak dari balik dadaku. Topengnya memang lucu, tetapi ilmunya terlalu kejam untuk dibiarkan hidup. Itulah pilihan seorang pendekar. Aku baru menyadarinya kemudian, bahwa seorang pendekar harus menjadi hakim bagi nasib musuh yang bisa diatasinya, apakah akan dibunuhnya, atau dibiarkan hidup. Tidak akan ada kesempatan untuk menyerahkannya kepada hakim yang sebenarnya. Bagaimana mungkin jika pertarungannya saja tidak bisa

diikuti mata?

Seperti pertarunganku dengan Pendekar Topeng Tertawa. Menuliskannya jauh lebih lama dari kejadian sesungguhnya, karena berlangsung lebih cepat dari pikiran. Dalam kecepatan seperti itu pun seorang pendekar harus penuh pertimbangan sebelum melakukan penghakiman, apakah membuat musuhnya tewas atau membiarkannya tetap hidup. Memang benar dalam dunia persilatan dikenal suatu nilai betapa kematian dalam pertarungan adalah kehormatan. Namun sungguh mati, tidak semua orang yang bertarung dalam dunia persilatan adalah pendekar, dan karena itu tidak juga layak mendapat kehormatan seperti itu. Akan halnya Pendekar Topeng Tertawa, keputusan membunuhnya dengan seketika kuambil di tengah pertarungan, karena kesan yang kudapat dari perkenalanku dengan ilmu silatnya sangat mengerikan. Aku tidak ingin membiarkannya menyiksa orang-orang takberdaya dengan Ilmu-Ilmu Penggoyah Sukma yang kejam dan sukar dilawan siapapun juga.

Topeng itu masih melekat di sana. Seorang mabhasana melangkah, seperti akan membukanya.

“Biarkan,” kataku, “biarkan saja begitu.”

Bahkan ketika segala mayat kami bakar, topeng itu pun ikut dibakar dengan tetap menempel pada wajahya. Seperti keinginan pemilik topeng itu, untuk dikenal sebagai pribadi dengan topeng seperti itu pada wajahnya, yakni topeng tertawa.

Hanya itulah sisa rasa hormatku kepadanya.

Tamat sudah riwayat Pendekar Topeng Tertawa. Memang tak bisa lain. Hanya kuperhatikan rambutnya yang putih dan panjang. Tentunya ia sudah berumur.

Apalagi jika pasangan pendekar yang mengasuhku itu pun mengenal namanya, sehingga bisa membedah Ilmu Penggoyah Sukma itu dengan segala cirinya.

Sayang bahwa pendekar tak terkalahkan itu telah menjadi orang bayaran, tidak lagi membela mereka yang

lemah dan tertindas, sehingga sebetulnya tak layak disebut pendekar lagi.

Dalam usia yang sudah berumur, apakah lagi yang masih bisa menggodanya? Jika pun bukan bayaran penyebabnya, apakah sesuatu yang lebih penting baginya sehingga sudi terlibat urusan duniawi ini, tetapi telah menjebaknya ke dalam Jurus Penjerat Naga?

Aku sendiri heran dengan pertarunganku ini. Rasanya ilmuku naik beberapa puluh tingkat. Semula aku hanya nekat karena tidak tahan melihat penderitaan para korban, tetapi aku ternyata dapat mengimbangi, dan kemudian mengatasi Pendekar Topeng Tertawa itu. Padahal tidak ada jalan pintas dalam ilmu silat, karena segalanya harus dipelajari dan dilatih dengan ketat. Apakah yang telah terjadi?

Asap dari pancaka91 telah membubung ke udara. Matahari menjelang terbenam. Suara-suara serangga kembali menguasai hutan. Kulihat para mabhasana itu. Jalan hidupku saat ini sedang berjalin dengan jalan hidup mereka. Aku terlibat justru pada saat menghindarinya. Apa boleh buat? Meski malam kemudian turun, kami tetap meneruskan perjalanan, karena benda-benda upacara dalam pedati ini sudah ditunggu.

KETIKA umurku memasuki empat tahun, yakni tahun 775, seorang pendekar mendatangi pondok kami di Celah Kledung. Tidak jelas bagiku saat itu siapa dia dan apakah kiranya yang dibicarakan dengan kedua orangtuaku, tetapi sekarang aku mulai meraba betapa kedatangannya tentu berhubungan dengan pembebasan tanah. Tahun itu memang saat pembangunan Kamulan Bhumisambhara tahap pertama, tentu di atas tanah yang dalam prasasti telah menjadi sima. Namun dalam kenyataan, ceritanya berbeda. Pendekar itu telah datang dengan cerita seperti berikut, seperti yang kemudian diceritakan pasangan pendekar itu kepadaku.

“Mereka mendatangkan orang-orang golongan hitam untuk mengusir penduduk yang bertahan di atas tanahnya untuk pergi, yang jika tidak dituruti tentu berakhir dengan kematian, atau petaka mengerikan yang lebih menakutkan daripada kematian. Penduduk semula melawan, tetapi apa yang dapat dilakukan orang awam terhadap golongan hitam? Tentara Rakai Panamkaran yang seharusnya membela mereka bagaikan lenyap ditelan bumi ketika dibutuhkan. ‘Apakah para pendekar akan tetap berdiam terhadap nasib sesama dalam penderitaan?’, demikianlah pendekar itu membawa kabar tentang kemalangan dan ketidakadilan yang berlangsung.

“‘Sepasang Naga dari Celah Kledung telah lama dikenal bersikap tanpa ampun kepada golongan hitam. Mengapakah kini keduanya berdiam diri dan berpangku tangan terhadap ketidak adilan di sekitarnya?’ Begitulah pendekar itu terus menggugah rasa keadilan kami, dan tentu saja kami menjadi geram, terutama setelah pendekar itu menceritakan, bahwa dalam suatu bentrokan, apa yang semula dikiranya sebagai golongan hitam ternyata adalah

tentara Rakai Panamkaran itu sendiri! Begitulah ia menyampaikan persoalan ini kepada kami, karena jumlah tentara itu terlalu banyak untuk dihadapinya sendirian; pun ia mempunyai gagasan bahwa ibarat ular mengapa bukan kepalanya saja yang dipukul untuk menyelesaikan persoalan.

“Masalahnya ini bukanlah sekadar perkara terdapatnya seekor ular, tetapi ular dengan banyak kepala yang tidak kita ketahui keberadaannya, karena berada di balik topeng kehidupan sehari-hari. Jadi, hanya para perusuh yang mengusir penduduk itu sajalah, yang mengaku sebagai golongan hitam padahal tentara, yang untuk sementara jelas keberadaannya.”

Sambil berjalan aku teringat lanjutan kisah itu. Bahwa pasangan pendekar itu berangkat menuju tempat yang kemudian disebut Kamulan Bhumisambhara, dan membantai para golongan hitam gadungan yang bercokol di sana. Tidak usah diceritakan lagi betapa ganasnya Sepasang Naga dari Celah Kledung itu menghapus segenap pasukan yang menyaru tersebut dari muka bumi, menyisakan genangan darah yang bau amisnya belum akan hilang setelah berhari-hari. Cerita yang lebih seru adalah betapa ketika pasangan pendekar itu

kembali ke Celah Kledung, pendekar yang telah mereka minta menjagaku selama mereka pergi, ternyata telah raib bersama diriku!

“Sulit kami ceritakan kembali perasaan yang kami alami anakku, kami telah empat tahun merawatmu dan kini lenyap bersama pendekar yang kami kenal sebagai Pendekar Serigala Putih itu. Dalam empat tahun itu, tidak pernah secara bersama-sama kami meninggalkanmu. Kini sekali dititipkan, terjadi peristiwa seperti ini. Namun kami tidak saling mengeluarkan sesal berkepanjangan. Tak sampai sehari kami pergi dan bertarung, karena mengerahkan kecepatan Jurus Naga Berlari di Atas Langit, tetapi tentu lebih dari cukup baginya untuk segera melarikan kamu! Masih ingatkah dikau akan peristiwa itu

anakku?”

Dalam kacamata seorang anak berusia empat tahun yang periang, aku hanya teringat betapa senangnya berada di atas bahunya, sementara Serigala Putih itu berkelebat dari pohon ke pohon. Aku merasa bagaikan terbang, seperti jika aku berada di bahu ayah atau ibuku. Aku tertawa-tawa riang gembira, tiada sadar sedang berada dalam penculikan. Aku hanya teringat bahwa di sebuah kedai, aku boleh memilih makanan apa saja yang tersedia di meja. Lantas setelah itu pada sebuah kota kami terbang dari atap ke atap, sebelum akhirnya melesat masuk ke sebuah tandu yang berada di atas seekor gajah. Kalau tidak salah Serigala Putih membunuh seseorang yang berada di dalam tandu itu, meski aku tidak menyadarinya, sehingga ketika aku tertidur karena punggung gajah yang berayun-ayun itu, sebetulnya di sebelahku tergolek manusia dengan leher yang patah. Ketika aku terbangun, aku hanya tahu sudah berada dalam gendongan ibuku dan tandu itu sudah hancur. Kami berada di atas punggung gajah dan di kejauhan kulihat ayahku sedang mendesak Serigala Putih ke tepi sebuah jurang.

“Serigala busuk! Alangkah beraninya dikau menipu dan menculik anak Sepasang Naga. Dikau tentu mengerti apa yang selayaknya dikau lakukan sekarang, mati karena pedangku atau kau bunuh dirimu dengan senjatamu sendiri!”

“Salah alamat membunuhku, wahai Naga, lagipula anak ini bukan di sana tempatnya!”

Saat itu toya Serigala Putih sudah terpental, dan aku hanya teringat pedang ayahku meluncur ke lehernya. Ibuku membalikkan tubuh supaya aku tidak melihatnya. Tak ada yang kuingat lagi sebagai anak berumur empat tahun setelah itu. Hanya ibuku yang mempersoalkannya kemudian setelah aku lebih dewasa.

“Kami tidak pernah tahu apa hubungan antara pembebasan tanah yang tiada semena-mena itu dengan penculikanmu oleh Serigala Putih. Apakah itu sekadar cara

mengalihkan karena berencana menculikmu, ataukah memang berkepentingan dengan kedua-duanya. Kami hanya tahu bahwa suatu garis lurus memanjang yang menyeberangi dua sungai dan satu bukit sedang dibebaskan tanahnya, demi pembangunan tiga kuil Mahayana dalam satu garis lurus agar memungkinkan perziarahan dalam upacara Waisak. Memang banyak tanah kosong, tetapi tanah yang memenuhi syarat Manasara-Silpasastra dan Silpaprakasa kebetulan selalu menjadi tempat pemukiman. Tidak semua desa yang dilewati garis ini penduduknya memeluk Siwa atau Mahayana, sehingga kepentingan agama negara itu tidak selalu mereka rasakan wajib untuk dimaklumi. Tidak kusangka Serigala Putih itu, yang sebetulnya sudah kita kenal lama sekali. Aku berprasangka baik bahwa ada suatu kekuasaan yang menekannya, tetapi tentu ia sudah tahu kemungkinannya. Menculik anak Sepasang Naga dari Celah Kledung sama dengan mencari kematian.”

Waktu itu ibuku belum mengungkap riwayatku yang sebenarnya, sehingga sampai sekarang aku tidak mempunyai nama. Namun kalimat Serigala Putih, “Anak ini bukan di sana tempatnya,” sempat kudengar meski tiada pernah kutanyakan pula.

Kini ketika, aku menulis catatan ini dalam umur 100 tahun, aku tahu betapa tidak semua pertanyaan akan mendapatkan jawab. Kita hanya bisa menjalani kehidupan kita, suka maupun tidak suka, tanpa kepastian mendapat jawaban paling benar atas pertanyaan-pertanyaan kecil maupun besar. Pertanyaan kecil, misalnya anak siapakah aku sebenarnya; pertanyaan besar, misalnya kenapa pula dunia dan kita semua harus ada. Kita memang dapat menggali dan

memperbincangkan jawaban-jawaban mana yang paling dapat diterima dan siapa tahu benar. Namun agaknya kebenaran bukanlah sesuatu yang bisa dipertanyakan, dengan jawaban yang menjamin kepastian.

Kudorong terus pedatiku dalam gelombang jalanan melewati malam. Kuseret hatiku yang letih dengan begitu

banyak pertanyaan.

***

PARA pendekar seperti Serigala Putih itu bisa bertukar peran menjadi seorang petualang. Mereka menjual gagasan kepada penguasa dan melaksanakannya. Atau mereka bergabung dengan pasukan kerajaan, atau menjadi pengawal istana, yang rahasia maupun terbuka, sehingga dengan ilmu silat di atas rata-rata mereka mempunyai kemungkinan lebih besar untuk mencapai kedudukan yang tinggi. Mereka yang tidak memiliki jaringan di sekitar istana kemungkinan besar bergabung dengan kelompok perlawanan, dan juga mereguk keuntungan. Kedudukan tinggi, gemerincing inmas, dan daya pikat asmara mewarnai permainan kekuasaan, tempat siapa pun, termasuk para pendekar, berminat memainkan peran di dalamnya. Namun para pendekar yang tergiur kemapanan duniawi seperti ini, lebih banyak perannya dipermainkan daripada memainkan peran. Ilmu silat mereka yang tinggi kurang berguna dalam permainan licin di sekitar kekuasaan, bahkan ilmu silat itu kemudian hanya menjadi semacam alat bagi tukang pukul dan tidak lagi memberi sumbangan dalam perburuan kesempurnaan.

Pendekar Serigala Putih tidak berasal dari Yawabumi, ia datang dari negeri tempat banyak serigala menguasai hutan, gunung, dan padang rumputnya. Ia disebut Serigala Putih karena selalu mengenakan rompi kulit serigala berwarna putih yang kebal senjata tajam. Ia datang bersama rombongan kapal dagang yang berlabuh di pantai utara. Mula-mula sebagai pengawal, tetapi kemudian memisahkan diri. Wajahnya tampan, selalu tersenyum, dan penguasaan bahasanya pun cepat sekali. Rambutnya yang hitam berkilat dan panjang sampai menutupi punggung sering mengundang kekaguman perempuan. Setidaknya itulah cerita ibuku.

“Siapa yang tidak akan percaya kepada Serigala Putih itu,” katanya, “perbincangannya selalu menarik dan

kepribadiannya sangat mandiri. Pasti terdapat pengaruh yang luar biasa kepadanya, sampai tega menjadi seorang penculik anak.”

Seorang pendekar yang memisahkan diri biasanya mempunyai tujuan untuk belajar ilmu silat dari para mahaguru terkemuka. Seperti Naga Emas yang datang bersama I-t’sing, tingkat ilmu silat Serigala Putih tentu juga sudah tinggi sekali. Namun bagi seorang pendekar yang melalui ilmu silat berusaha menggapai kesempurnaan hidup, tiada ilmu silat yang terlalu rendah untuk dipelajari. Apalagi ilmu silat dari Yawabumi. Adapun para pendeta dari negerinya yang besar, yang dikenal sebagai Negeri Atap Langit saja datang belajar ilmu-ilmu persiapan ke Sriwijaya sebelum berangkat ke Nalanda; mengapa pula para pendekarnya tidak harus belajar ilmu-ilmu silat dari para mahaguru silat ternama di Yawabumi?92

Dalam perbincangan di sebuah kedai jauh di kemudian, cerita tentang Serigala Putih mencuri anak kecil dan mati terbunuh oleh ayah dari anak kecil itu, salah seorang dari Sepasang Naga dari Celah Kledung, rupanya telah menjadi dongeng.

Alkisah, dalam perburuannya mencari ilmu dari guru ke guru, sampailah Serigala Putih ke hadapan Naga Dadu, penguasa dunia persilatan Kubu Tenggara, seorang lelaki pendekar yang sangat termasyhur kecantikannya dan seolah-olah tidak pernah bertambah tua. Apakah kecantikan Naga Dadu adalah kecantikan seorang perempuan? Sama sekali tidak. Kecantikannya adalah kecantikan seorang lelaki, tetapi yang sungguh-sungguh cantik jelita tiada tara. Sebaliknya, memang naga yang hebat ini seorang pendekar silat sakti mandraguna, tetapi segala jurus silat untuk senjata Kipas Kencana yang dimilikinya ternyata lemah gemulai seperti tarian halus wanita.

Serigala Putih segera menempur Naga Dadu, karena untuk menyerahkan diri sebagai murid, biasanya ia menempur pendekar terkenal yang telah ia dengar kedahsyatannya. Dari pertarungan itulah akan dinilainya apakah ia perlu belajar ilmu silat atau tidak kepada lawannya tersebut. Jika keputusannya tidak, tentu

karena ia sudah mampu membunuhnya. Jika ia merasa perlu belajar karena lawan tak bisa dikalahkannya, maka ia akan membungkuk dalam-dalam, kalau perlu bersujud dengan dahi menyentuh tanah, untuk segera menjura dan memohon kepada lawannya agar sudi menerima dirinya sebagai murid. Biasanya pula lawannya tersebut akan sangat tersanjung dan tidak ragu-ragu menurunkan rahasia ilmunya kepada murid baru yang tangguh tersebut. Namun desas-desus mengatakan bahwa kemudian Serigala Putih akan membunuh gurunya tersebut jika rahasia ilmu silatnya sudah dia kuasai. Maka, nama Serigala Putih memang berembus di sungai telaga dunia persilatan Yawabumi, tetapi dengan tidak terlalu harum.

Senjata toya putih milik Serigala Putih terbuat dari campuran logam yang dilebur jadi satu dan tidak terpatahkan. Kerasnya luar biasa, batu pun remuk meski hanya terserempet, di samping tenaga dalamnya yang

memang sangat tinggi. Barangsiapa lengah dan tergebuk oleh toya itu niscaya remuk redam tulang-tulangnya dan tewas dengan kesakitan luar biasa. Gaya bertempur Serigala Putih pun mencengangkan. Toya putihnya bagaikan baling-baling tempat ia beterbangan kian kemari. Maka apabila toyanya itu sudah berputar, tiada seorang lawan pun dengan senjata apa pun dapat menembus dan menyentuhnya. Namun jika ia pun ta kmampu menyentuh apalagi melumpuhkan lawan, saat itulah ia akan merendahkan diri begitu rupa agar diterima menjadi muridnya.

Naga Dadu, naga dunia persilatan Kubu Tenggara yang ditantang bertarung di hadapan murid-muridnya ketika sedang bercengkerama sembari menikmati petikan kecapi tampak sangat terganggu, meski keanggunannya membuat ia berusaha keras tidak memperlihatkan itu. Naga Dadu terkenal karena dandanan busananya yang luar biasa. Meski ia seorang lelaki, ia mengenakan ken berbungabunga untuk perempuan yang menutupi seluruh tubuhnya. Lengan baju sutranya sangatlah lebar, bersambung tanpa potongan yang jatuhnya terhampar lebar dan longgar sampai mata kaki. Kakinya beralas sandal yang menutupi seluruh jari kakinya, sedikit kulitnya yang terlihat tampak putih dan halus seperti kaki perempuan.

Wajah cantik jelitanya yang terkenal, bahkan melebihi kecantikan seorang perempuan, nyaris seperti bidadari meski jelas seorang lelaki. Rias wajahnya begitu halus, tetapi tegas dan meyakinkan dengan lengkungan alis, celak mata, dan pemerah pipi yang membuatnya bagaikan sebuah topeng, tetapi topeng yang jelita dan penuh pesona. Seperti juga Serigala Putih, rambut Naga Dadu sangat hitam dan panjang, tetapi jauh lebih terawat dan berkilat. Terpotong rapi ujung-ujungnya, melingkar rata di sekitar bahunya.

Dengan senjata Kipas Kencana berwarna emas, Naga Dadu bertarung seperti penari yang gerakannya pelan

sekali. Tentu saja itulah Jurus Kipas Maut yang tak terkalahkan itu, bahwa kelambanannya lebih cepat dari yang tercepat. Maka mesti gerakannya seperti terlalu lamban, sangatlah bisa mengimbangi, bahkan kemudian mendesak toya Serigala Putih. Sangatlah aneh pemandangan itu, bahwa meski Naga Dadu menari dengan sangat lamban, toya putih yang berputar seperti baling-baling itu tidak pernah mengenainya.

Kemudian terdengar tampelan mendadak kipas itu pada toya putih yang mengepung seperti baling-baling dan mendadak saja Serigala Putih sudah jatuh terkapar dengan kaki bersendal Naga Dadu yang telah menginjak dada. Toya putihnya yang terpental menancap pada sebuah pohon besar.

Naga Dadu menggunakan Kipas Kencana berwarna emas itu untuk mengipasi dirinya.

“Serigala Putih namamu, dan tantanganmu sangat mengganggu. Sudah selayaknyalah membunuhmu.”

“Aku menantangmu untuk jadi muridmu. Terimalah aku.”

“Serigala Putih, jangan kau sangka aku tidak pernah mendengar kabar tentang seorang pendekar bangsa Tartar yang selalu membunuh gurunya setelah mewarisi rahasia ilmunya.”93

Serigala Putih mencoba bangun, tetapi kaki Naga Dadu terus menekannya.

“Guru! Itu hanyalah bualan kosong para pemimpi! Percayalah kata-kataku!”

Naga Dadu membentak, tetapi dengan nada yang sangat tertata, sesuai dengan rias wajahnya sebagai topeng yang sempurna.

“Guru! Guru! Jangan panggil aku guru sebelum dikau penuhi syaratku!”

Naga Dadu mengangkat kakinya dari dada Serigala Putih, lantas berbalik memunggungi Serigala Putih yang segera bangkit.

“Apakah syarat itu Guru!”

Naga Dadu mengerutkan dahi.

“Dikau masih memanggilku Guru?”

“Maafkan diriku Yang Mulia Naga Dadu, mohon katakanlah persyaratanmu, aku pasti akan memenuhinya!”

Naga Dadu tersenyum tanpa diketahui Serigala Putih.

“Menculik anak Sepasang Naga dari Celah Kledung.”

Serigala Putih tersentak.

“Ah! Mereka adalah sahabatku!”

Naga Dadu melenggang pergi sembari mengipas-ipas.

“Itu bukan urusanku. Tapi itulah persyaratanku.”

MENJADI pertanyaan besar bagi dunia persilatan, mengapa Serigala Putih bersedia menuruti kehendak Naga Dadu untuk menculikku, anak Sepasang Naga dari Celah Kledung. Memang benar seorang pendekar akan mengorbankan segalanya untuk mendapatkan ilmu, tetapi seorang pendekar juga tidak akan melanggar keutamaan apapun yang menjadi kehormatan seorang pendekar. Sejauh dikenal dunia persilatan Serigala Putih bukanlah jenis pendekar yang akan menjual jiwanya kepada iblis meski ilmu silatnya akan bertambah ratusan tingkat. Maka, meskipun Jurus Kipas Maut yang dikuasai Naga Dadu memang akan sangat memikat bagi pendekar manapun untuk mempelajarinya, mereka tidak percaya Serigala Putih memenuhi persyaratan Naga Dadu, hanya untuk kehilangan nyawa, benar-benar karena ingin menguasai Jurus Kipas Maut.

Aku mendengar semua ini dalam suatu perbincangan di kedai. Bukan hanya satu kedai, melainkan dari kedai ke kedai dengan pembicara yang tidak pernah sama. Dunia persilatan memang dipenuhi banyak pendekar yang terkenal sebagai pendiam. Di antara para pendekar yang pendiam itu bahkan beberapa di

antaranya bagaikan tidak pernah berbicara sama sekali. Namun kepandaian berbicara dan bercerita pada dasarnya bukanlah tabu di dunia persilatan. Mereka yang suka bercerita akan memesan arak dan dikerumuni para pendengarnya. Para pendengar itu bisa dari kalangan sungai telaga dunia persilatan, tetapi bisa juga orang-orang awam yang sangat menikmati cerita dan di antara cara memaknai kenikmatan itu adalah menceritakannya kembali, juga dari kedai ke

kedai, dengan segenap penafsiran mereka tentunya, sehingga tentulah sudah tidak terlacak lagi bagaimanakah peristiwa yang sebenarnya sungguh-sungguh telah terjadi.

Namun tentu saja aku merasa berkepentingan mendengarnya, ketika suatu saat mendengarnya, kelak setelah aku benar-benar menjadi seorang pengembara, karena bukankah secara tidak langsung itu juga menyangkut diriku? Demikianlah disebutkan betapa Serigala Putih itu sebenarnya telah jatuh cinta kepada Naga Dadu, berkat pesona kecantikan wajah dengan segala riasannya yang bagaikan mengungguli kecantikan seorang wanita. Memang kecantikan Naga Dadu adalah kecantikan riasan, karena meskipun tanpa riasan wajahnya tetap halus dan tampan, bukankah betapapun ia berkelamin pria? Dengan gerak ilmu silatnya yang lemah gemulai, kecantikan Naga Dadu makin nyata dan memesona, seolah-olah ilmu silatnya adalah suatu gerak tari yang ditujukan untuk memperlihatkan pesona keindahannya. Karena memang bukan hanya wajah, melainkan segenap kediriannya adalah pesona belaka.

Pernah kudengar kata pepatah, kecantikan seorang perempuan adalah sumber kemalangannya. Meski aku tidak percaya dengan kepastian kalimat itu, aku mendengar bahwa memang kecantikan Naga Dadu, meski ia bukan seorang perempuan, juga menjadi sumber perkara, terutama bagi lawan-lawannya. Dalam hal Serigala Putih misalnya, berkembang cerita bahwa ia sengaja mengalah bukan sekadar untuk mempelajari Jurus Kipas Maut, tetapi juga agar dapat selalu berada di dekat Sang Naga Dadu, penguasa dunia persilatan Kubu Tenggara yang untuk mencapai kedudukannya telah menumpahkan darah yang tak terhitung jumlahnya. Seorang pendekar yang datang dari seberang lautan

seperti Serigala Putih, niscaya tidak akan terlalu dangkal ilmunya. Berangkat sebagai seorang pendekar, tentu saja Serigala Putih akan mempersiapkan segalanya untuk menghadapi para pendekar di setiap tempat yang disinggahinya.

Bahkan mereka yang pernah menyaksikan pertarungan Serigala Putih sebelum berhadapan dengan Naga Dadu pernah bercerita seperti berikut.

Seorang pendekar yang hanya bisa bersilat dalam keadaan mabuk, sehingga kalau bersilat harus sambil meminum arak dari dalam kendi, dan karena itu digelari Sang Peminum, pernah mati kutu berhadapan dengan Serigala Putih.

“Bagaimana dia tak akan mati kutu,” ujar sang pencerita, juga sambil menenggak arak, “jika ketika mulutnya sudah terbuka dan arak dari dalam kendi mengucur keluar, maka Serigala Putih menggerakkan tangannya ke depan, dan mendadak cairan arak itu menjadi beku dan dingin sekali. Baik yang sudah keluar kendi maupun yang masih berada di dalam kendi.”

Mengubah udara menjadi sangat dingin sehingga membuat arak membeku tentu membutuhkan tenaga dalam yang sangat tinggi. Tidak ada alasan kenapa Serigala Putih tidak dapat membekukan aliran darah dengan kemampuan seperti itu. Namun dalam kenyataannya ia terkalahkan oleh gerak lamban Naga Dadu dan akhirnya bahkan terbunuh di ujung pedang ayahku.

Tak urung cerita itu sampai ke telinga Naga Dadu, dan siapakah yang begitu suka mendengar cerita tentang kemenangan karena lawan yang mengalah seperti itu?

“Jadi bagaimana lagi aku harus membuktikan keunggulanku atas Serigala Putih itu? Sayang sekali ia tak kubunuh saja waktu itu. Atau apakah aku harus menantang Sepasang Naga dari Celah Kledung yang telah membunuhnya?”

Saat aku mendengar cerita itu, aku teringat bahwa Serigala Putih menyatakan betapa tempatku bukanlah bersama orangtuaku. Apakah ia mendengarnya dari Naga Dadu? Kemudian, apakah kiranya yang membuat persyaratan Naga Dadu agar Serigala Putih dapat diterima sebagai murid adalah menculik anak Sepasang Naga dari

Celah Kledung, yang adalah diriku?

Kami semua masih mendorong pedati berisi peralatan upacara sima itu. Berbagai peristiwa yang dialami rombongan ini, telah membuat perjalanan terhambat, dan karena itu harus ditukar dengan meneruskan perjalanan tanpa istirahat. Sebuah upacara yang dianggap suci memperhitungkan waktu dan tidak ingin menjadi bagian yang mengacaukannya.

Pada malam hari kami tetap melangkah di bawah cahaya rembulan, kusaksikan tanduk kerbau penghela pedati-pedati ini bercahaya keperak-perakan bagaikan suatu hiasan. Kulihat jalan lurus ke depan yang tampak terang meskipun malam dengan sawah di kiri-kanan yang juga keperak-perakan. Sunyi sekali rasanya malam. Dalam keheningan ditingkah derak-derik roda pedati di jalan tanah, aku teringat segala ajaran dari kitab Sang Hyang Kamahayanan Mantranaya:

Bhatara Hyang Buddha dari masa lalu,

yang telah mencapai Kebuddhaan

dengan sempurna pada masa dahulu

seperti Bhatara Vipasyi, Visvabhu, Krakucchanda,

Kanakamuni, Kasyapa,

mereka itu adalah para Buddha dari masa lalu.94

Bhatara Buddha yang akan datang,

akan dimulai dengan Buddha Maitreya,

diakhiri dengan Bhatara Samantabhadra.

Mereka para Buddha dari masa yang akan datang

Akan mencapai tingkat Kebuddhaan di masa mendatang.

Buddha masa sekarang

adalah Sri Bhatara Sakyamuni,

Buddha yang harus kamu anggap

Sebagai yang Tertinggi (Hyang),

yang ajarannya harus kamu ikuti

dengan sepenuh hati

Mereka adalah Tiga Hyang Buddha

dari masa lalu, sekarang, dan mendatang.95

Dalam usia 15 tahun, aku bukan orang yang boleh dianggap paham ilmu-ilmu agama, tetapi sejak kecil aku sering mendengar perbincangan ayah dan ibuku, yang meski bagiku tidak pernah jelas memeluk Mahayana atau Siwa, atau aliran kepercayaan apapun yang telah menjadi tertekan, sering mengundang pendeta maupun pedanda ke pondok kami. Mereka diundang tidak untuk mengajari, melainkan untuk berbincang kian kemari, sementara aku terkantuk-kantuk di pangkuan mereka, tetapi yang dalam kenyataannya sering teringat kembali kalimat-kalimat mereka.

Tidak ada jalan (marga) lain

yang dapat menuntun

ke arah pencapaian Kebuddhaan.

Jalan yang paling baik

yaitu Mahayana

jika diikuti dapat menjadi jalan

untuk dapat tiba di Nirvana.96

Sang Hyang Mahayana ini,

sebagai jalan yang paling baik,

akan saya ajarkan kepada Anda.

Sebaiknya dengarkanlah baik-baik,

karena inilah cara yang benar

untuk mencapai sorga,

juga yang dapat memberikan

kebahagiaan yang agung

(kamahodayan).

Mahodaya berarti kebahagiaan lahir dan batin

(wahyadhyatmikasuka).97

Kebahagiaan lahir ialah

kesucian, kekayaan, keperwiraan,

kehormatan, keningratan.

Kebahagiaan batin ialah

Kebahagiaan di dunia

tanpa penderitaan,

terbebas dari kesakitan,

ketuaan, kematian,

kebahagiaan atas kesempurnaan

pengetahuan yang tertinggi

(anuttara wara samyaksambo-dhisuka),

dan atas tercapainya kelepasan (moksa).

Demikianlah inti

kebahagiaan lahir dan batin

jika mengikuti

dan melaksanakan

ajaran yang agung Mahayana.

Karena Ananda sedang berusaha

untuk memantapkan pengertian

terhadap Kamahayanan,

bulatkanlah tekad Ananda

dalam mencapai Kebuddhaan.98

Para rohaniwan yang diundang datang ke pondok kami di Celah Kledung itu barangkali mengira betapa orangtuaku

itu ingin belajar agama dan barangkali memang itu ada benarnya; yang tidak akan pernah mereka duga adalah betapa kedua orangtuaku itu berusaha menggali sesuatu dari ilmu-ilmu agama demi kesempurnaan ilmu silat. Dalam usia 15 tahun, aku belum terlalu menyadarinya. Namun dalam usia 100 tahun, merenungkan kembali semua itu, ternyata kecenderunganku untuk memanfaatkan ilmu-ilmu agama demi ilmu silat telah kukenal dari orangtuaku.

Pengertian seperti lahir dan batin, yang dalam kenyataannya tidak terpisahkan sebagai Mahodaya, telah dimanfaatkan pasangan pendekar itu untuk mengembangkan Ilmu Pedang Naga Kembar yang tiada duanya. Apa yang lahir menyembunyikan yang batin, tetapi menebak suatu kepastian batin dari yang tampak adalah kesia-siaan. Dengan caranya sendiri pasangan pendekar itu telah menafsirkan kerangka berpikir keagamaan ke dalam pencapaian ilmu persilatan.

Jurusjurus Ilmu Pedang Naga Kembar yang penuh dengan jebakan dikembangkan berdasarkan kerangka gagasan lahir-batin golongan Mahayana; ibarat berhadapan dengan Naga Kembar, lawan tak akan pernah mampu memastikan, manakah naga yang sedang mengancam dan manakah naga yang hanya bayangan. Namun kedua orangtuaku mampu menjadikan pula naga kembar itu kedua-duanya sebagai bayangan maupun kenyataan yang mengancam. Dengan demikian gerakan mereka selalu luput dari penafsiran, sehingga sebagai pasangan pendekar mereka tak terkalahkan.

Menjelang fajar merekah, kami berhenti di tepi sebuah sungai untuk beristirahat sebentar. Di samping kami memang harus menunggu tukang perahu yang akan menyeberangkan pedati-pedati ini ke seberang.

Pagi masih dingin. Para mabhasana melepaskan kerbau-kerbau agar mereka dapat berkubang dan mandi di tepi sungai yang besar itu. Ke tepi sungai itu banyak orang menantikan tukang perahu untuk membawa barang

barang maupun diri mereka sendiri untuk menyeberang, sehingga tempat penyeberangan itu menjadi tempat yang ramai. Dengan kata ramai, artinya terdapat sebuah kedai, penginapan, dan sebuah pasar kecil. Terdapat juga gardu tempat perahu yang lalu lalang ataupun bersandar harus membayar pajak kepada hulu wuattan atau pengawas jembatan dan jalan. Meski sungai ini karena luasnya tak berjembatan, peranan tukang perahu sebagai pengganti jembatan dan penghubung jalan yang mendapat upah tak luput dari sasaran petugas pajak kerajaan.

Berikut ini adalah sebagian peraturan menyangkut tugas Pengawas Perkapalan seperti tertulis dalam Arthasastra sejauh yang bisa kuingat:

Pengawas Perkapalan harus memperhatikan

kegiatan mengenai perjalanan laut

dan penyeberangan pada mulut sungai,

maupun penyeberangan pada danau alam,

danau buatan dan sungai,

dalam sthaniya dan kota-kota lain

Desa di tepi dan sisi

harus membayar pajak yang ditentukan

Nelayan harus membayar

seperenam tangkapan mereka

sebagai sewa kapal

Pedagang harus membayar sebagian barang

sebagai pajak menurut apa yang berlaku di pelabuhan,

mereka yang naik kapal raja

harus membayar sewa untuk perjalanan itu

Mereka yang memancing kulit keong besar

dan mutiara harus membayar sewa untuk kapal,

atau berlayar dengan kapalnya sendiri

dan tugas pengawas ini sudah dijelaskan

pada tugas Pengatur Tambang99

Seperti telah kuceritakan, aku pernah mempelajari Arthasastra dari seorang guru, sebagai salah satu pelajaran yang kudapatkan dalam pengembaraanku mempelajari segala macam ilmu dari guru ke guru. Namun sebenarnya orangtuaku memiliki juga Arthasastra, bertumpuk dengan kitab-kitab lain dalam peti kayu. Semenjak belajar membaca aku sering diam-diam mengejanya, karena gambaran dunia yang diberikan Arthasastra itu bagiku yang masih kecil menarik sekali. Meskipun isinya peraturan-peraturan wajib dalam tata negara, tetapi setiap kata yang tertulis bagiku menjadi sumber pengetahuan tentang dunia. Peraturan tentang Pengawas Perkapalan itu misalnya, menuntut aku untuk mengenal segala kata di sana dengan cara mengetahui maksudnya. Maka, meskipun belum pernah menyaksikannya sendiri, setelah bertanya dan mendapat jawaban atas arti setiap kata, terbayangkanlah sebuah dunia tempat kapal berlalu lalang, tempat jual beli berlangsung, dan kehidupan menjelma. Sebuah kitab tentang peraturan sama menariknya bagiku dengan berbagai kitab lain yang bercerita tentang kepahlawanan dan cinta seperti yang dibacakan ibuku.

Hari masih pagi, suasana masih sepi, tetapi kedai di tepi sungai ini tidak pernah tutup, karena tempat penyeberangan ini agaknya merupakan jalur lalu lintas

yang ramai. Aku yang selama ini hanya hidup di sekitar Celah Kledung, dan jika diajak dalam perjalanan hampir selalu menghindari kota, untuk kali pertama melihat sebuah tempat seperti ini.

Dari dalam kedai terdengar suara riuh orang tertawatawa, dan kudengar pula suara perempuan. Waktu kutengok ke arah suara-suara itu, kulihat di depan pintu seorang lelaki tinggi besar yang berotot berdiri tegak, membopong seorang perempuan yang masih juga tertawatawa. Perempuan itu tidak terlalu cantik, tetapi rias dan dandanannya membuat ia menarik perhatian. Ia

mengenakan ken merah tua berenda emas dari pinggang ke bawah, dengan rambut panjang yang menutupi dadanya. Pipinya disapu warna merah dan bibirnya tampak bergincu pula. Mata perempuan itu sangat tajam dan jalang, aku bergetar ketika diliriknya sampai tertegun tak bergerak menatapnya.

Mataku terus mengikutinya ketika lelaki tinggi besar yang setengah mabuk itu membopongnya ke rumah penginapan yang berdinding bambu. Mungkin aku telah mengenal Harini dan juga telah mengalami betapa cinta dapat menggairahkan jiwa dan raga, tetapi aku sungguh tidak mengerti betapa cinta juga dapat diperjualbelikan. Pemimpin rombongan yang telah menerima aku bekerja itu menepuk punggungku dari belakang.

“Apakah yang dikau pandangi itu, Bocah?”

Aku telah dipanggil Tuan Pendekar sebagai ganti Bocah, tetapi kali ini aku dengan tegas disebutnya Bocah kembali. Apakah caraku memandang perempuan itu yang membuatku dipanggil Bocah?

“Bocah Tanpa Nama, dikau belum pernah melihat seorang pelacur?”

Aku lantas mengalihkan pandang. Tidak tahu harus menjawab apa kepada penjual pakaian itu. Tentu saja aku juga pernah membaca peraturan tentang pelacuran dalam Arthasastra tanpa mampu membayangkan dunia yang digambarkannya, karena setiap kali aku bertanya mengenai arti pelacur pada masa kecilku, pasangan pendekar yang mengasuhku itu hanya dapat saling memandang sambil tersenyum. Aku tidak pernah dapat memahami arti senyuman itu.

Ketika aku masih mendesak juga, ibuku menjawab.

“Pelacur itu, anakku, perempuan yang bekerja sebagai penghibur.”

“Menghibur siapa? Orang-orang yang sedih?”

Ibuku tersenyum lagi.

‘‘Bukan orang yang sedih, anakku, tetapi orang yang ingin bersenang-senang.”

“Jadi kalau Ibu ingin bersenang-senang, Ibu juga mencari seorang pelacur?”

Aku teringat pasangan pendekar itu tertawa terbahakbahak. Ayahku kemudian berkata.

“Bacalah bagian itu lagi, nanti jika dikau sudah dewasa, anakku, maka dikau nanti akan mengerti sendiri.”

Saat kulihat sendiri seorang pelacur dibopong seorang pria dari kedai menuju penginapan, yang sebetulnya juga rumah pelacuran, belum bisa kupastikan apakah diriku yang berusia 15 tahun sudah bisa disebut dewasa.

Namun dari dalam rumah penginapan itu tiba-tiba terdengar jeritan.

JERITAN itu membuat semua orang pada pagi yang dingin itu tertegun. Para penjaga yang berada di gardu pajak segera berlompatan ke sana, dan terlihatlah lelaki yang tinggi besar itu telah terkapar bergelimang darah. Perempuan yang disebut pelacur itu telah membunuhnya dengan sebilah pisau yang masih terus dihunjamkannya.

“Matilah dikau pengkhianat durjana! Telah kau bunuh suamiku dari belakang dalam pertempuran meski berada di pihak yang sama! Matilah dikau! Matilah dikau! Matilah dikau!”

Para penjaga di gardu pajak berlompatan ke sana dan segera meringkus perempuan itu. Ia terus meronta ketika mereka berusaha mengikatnya.

“Dibunuhnya suamiku karena menghendaki diriku! Bebaskan aku! Sudah menjadi hakku untuk membunuhnya!”

Para penjaga membawanya ke gardu. Para mabhasana yang melihat kejadian itu menggeleng-gelengkan kepala. Mereka yang keluar dari kedai segera membicarakannya.

“Mereka baru saja keluar dari sini, tak sangka perempuan itu berniat membunuhnya.”

“Kalau memang benar apa yang dikatakannya, ia harus dibebaskan dari hukuman.”

“Sebaiknya, apa yang dikatakannya sulit dibuktikan di pengadilan. Ia akan mati terbakar!”

“Atau mati tenggelam.”

“Ayo kita bertaruh! Dia akan ditenggelamkan atau dibakar?”

Para penjudi itu lantas ramai-ramai bertaruh. Mereka telah berjudi semalaman dan masih saja bertaruh setelah

terang tanah. Aku teringat hukuman bagi pelacur jika membunuh seorang lelaki, menurut Arthasastra hukuman akan berupa pembakaran di atas api penguburan atau ditenggelamkan ke dalam air. Jadi, ketika lelaki itu dibakar, maka perempuan itu sebagai pembunuhnya akan dibakar bersamanya. Namun ditenggelamkan ke dalam air juga tidak akan kurang tersiksa.

Aku merasa pembelaan diri perempuan itu harus didengar, tetapi siapakah yang akan mendengarkannya? Tempat ini jauh terpencil dari kotaraja, hukum terlalu sering berjalan tidak semena-mena. Dengan memeriksa Arthasastra, sebenarnya bisa dibayangkan perjalanan hidup seorang pelacur.

Pengarah Para Pelacur harus mengangkat sebagai pelacur

dengan seribu pana

seorang gadis dari keluarga pelacur

atau dari keluarga bukan pelacur,

yang sangat cantik, muda, dan seniwati

dan seorang wakil pelacur

untuk separo usaha keluarga

bila seorang pelacur lari atau meninggal

puterinya atau saudara perempuannya

harus menjalankan usaha keluarga

atau ibunya harus menyediakan

seorang wakil pelacur

bila tidak ada, raja harus menghapus usaha itu

sesuai kelebihan dalam hal kecantikan dan perhiasan

ia harus dengan seribu pana mengangkat giliran

terendah, menengah, atau tertinggi (untuk kehadiran)

agar menambah hormat

dengan payung, pembawa air, kipas,

tandu, kursi, dan kereta

bila kehilangan kecantikan

ia harus mengangkat sebagai Ibu

harga tebusan adalah 24.000 pana

untuk seorang pelacur

12.000 pana untuk putera pelacur sejak umur delapan tahun yang terakhir harus bekerja sebagai pengamen raja budak perempuan seorang pelacur yang sudah lewat masa kerjanya harus bekerja di gudang atau dapur seseorang yang tidak dapat mengerjakannya harus dikekang harus membayar upah bulanan 1,25 pana ia harus mencatat pembayaran para tamu, hadiah, penghasilan, pengeluaran, dan keuntungan seorang pelacur dan harus melarang tindakan pengeluaran berlebihan memberikan perhiasan untuk disimpan orang lain selain ibunya denda 4,25 pana menjual atau menjanjikan miliknya denda 50,25 pana cedera yang terlihat denda 24 pana cedera badan dua kali lipat denda 50,25 pana memotong telinga denda 1,5 pana dalam hal kekerasan untuk gadis yang enggan denda tertinggi ditentukan (jika ia bersedia) adalah dana terendah untuk kekerasan jika seorang pria mengekang pelacur yang tidak bersedia atau membantunya melarikan diri

atau merusak kecantikannya dengan melukai denda 1.000 pana atau denda ditambahkan sesuai pentingnya kedudukan sampai dua kali lipat uang tebusan bila seorang pria melukai pelacur yang diangkat denda akan tiga kali uang tebusan untuk membunuh seorang ibu, puterinya, atau budak perempuan yang hidup dari kecantikannya akan dikenakan denda tertinggi untuk kekerasan dalam semua hal, denda pelanggaran pertama dua kali lipat untuk pelanggaran kedua

tiga kali lipat untuk pelanggaran ketiga dan apapun bisa dilakukan untuk pelanggaran keempat seorang pelacur yang tidak mendekati lelaki atas perintah raja akan mendapat seribu pukulan dengan cambuk atau denda 5.000 pana seorang pelacur yang setelah menerima bayaran memperlihatkan ketidak sukaannya akan didenda dua kali pembayarannya bila menipu dalam hal kehadirannya kepada para tamu yang menginap harus membayar delapan kali jumlah pembayaran kecuali bila sakit atau ada kekurangan pada pria bila pelacur itu membunuh seorang pria hukuman berupa pembakaran di atas api penguburan atau ditenggelamkan di dalam air bila seorang pria merampas perhiasan barang atau pembayaran yang diwajibkan bagi seorang pelacur

pria itu akan didenda delapan kali jumlah itu pelacur akan menyampaikan kepada Pengarah pembayaran, keuntungan, dan nama pria itu dengan ini dijelaskan aturan untuk para wanita pemain seni peran, penyanyi, penari, pemusik, pendongeng, penyanyi sajak, penari tali, pemain pertunjukan dan pengamen pengembara yang berurusan dengan wanita dan wanita yang mempunyai profesi rahasia alat musiknya, bila datang dari negeri asing akan dikenakan beaya setiap pertunjukan sebanyak 5 pana pelacur yang hidup dari kecantikannya akan membayar setiap bulan pajak dua kali beaya yang biasa ia harus menyediakan penghasilan dari bendahara raja kepada guru yang mengajar para pelacur dan budak perempuan yang hidup di panggung, pengetahuan akan seni menyeni, memainkan alat musik, membacakan dongeng, seni peran, menulis, melukis, memainkan kecapi, suling, dan kendang, membaca pikiran orang lain, menyiapkan parfum dan kalung bunga, menghibur dalam percakapan, mencuci rambut, dan seni pelacuran dan para guru harus melatih putera-putera para pelacur untuk menjadi kepala mereka yang hidup di panggung dan juga semua jenis penari dan wanita mereka yang tahu berbagai jenis tanda dan bahasa harus dipekerjakan, dipimpin kerabatnya melawan orang jahat, mata-mata,

pembunuh, dan para pelanggar hukum100

Pagi yang dingin menjadi tak terlalu dingin lagi bagiku. Seorang perempuan yang tertindas akan dihukum bakar atau ditenggelamkan sampai mati, karena

menuntut bela atas kematian suaminya yang dibunuh secara licik dari belakang. Lelaki yang dibunuhnya itu mempunyai kesalahan besar, tetapi para petugas pajak itu hanya paham masalah denda dan bukan seluk beluk yang bisa menghindarkan perempuan tersebut dari hukuman bakar atau penenggelaman yang mengerikan. Apa yang harus kulakukan?

Aku mendekati pemimpin rombongan yang bernama Naru dan menceritakan apa yang kuketahui, bahwa jika perempuan itu berkata benar, sebetulnya ia telah menunaikan tugas yang diatur Arthasastra pasal 30, bahwa yang dibunuhnya dapat dianggap musuh negara, artinya sama dengan mata-mata, karena telah membunuh anggota pasukan di pihaknya sendiri. Masalahnya, umurku yang waktu itu masih 15 tahun tidak akan dianggap sahih untuk bicara hukum. Apalagi aku tidak mempunyai nama, dan itu tentu akan menyulitkan pula.

“Bapak akan lebih didengar daripada sahaya, biarlah perempuan malang itu kita selamatkan jiwanya.”

Naru, demikianlah nama pemimpin rombongan itu, manggut-manggut. Namun aku taktahu pasti apa yang dipikirkannya.

“Ini daerah terpencil, Bocah Tanpa Nama, dan perempuan itu tidak mempunyai saksi, sehingga harus membunuh sendiri lelaki itu. Tapi kita sedang bekerja untuk kepentingan istana, Bocah, barangkali hal itu akan berbunyi di tempat sunyi ini.”

Ia beranjak ke arah gardu, tempat perempuan itu ditahan dan kerumunan sudah dibubarkan. Suasana mungkin sepi, tetapi kurasa ini bukanlah tempat yang sunyi. Kami menyandarkan seluruh pedati di tempat penitipan dan bermaksud istirahat sebentar di penginapan sebelum menyeberang, sambil menunggu hasil kerja Naru itu. Kulihat tadi ia mengambil pundi-pundi dari dalam pedati, sehingga takbisa kuhindarkan kesan betapa ia akan menyuap para petugas itu.

Kutatap sekitarku, inilah salah satu dari tempat penyeberangan yang banyak terdapat di Yawabumi Tengah bagian selatan, salah satu dari 47 naditirapradesa yang artinya tempat-tempat di tepi sungai.101 Istilah itu berhubungan dengan dua pengertian, yakni tempat penyeberangan maupun pelabuhan sungai.102 Adalah pelabuhan sungai yang jauh lebih ramai, meski tempat penyeberangan

ini tidak bisa dianggap sunyi. Aku segera mandi di tepi sungai dan memasuki penginapan, artinya sebuah rumah panjang berdinding bambu yang menyediakan tikar.

Rasanya lelah sekali badanku dan aku langsung jatuh tertidur begitu menyentuh tikar.

***

WAKTU aku terbangun, hari sudah sangat siang dan tubuhku rasanya sangat penat. Baru kemudian kusadari pelacur yang hampir saja dihukum mati itu sudah bersimpuh di sampingku. Lantas muncul Naru, yang tampaknya juga seperti baru bangun dari tidur.

“Aku hanya bisa membebaskan dia jika membelinya, Bocah, tidak ada pengadilan di sini, kecuali jika mau kembali ke kotaraja.”

Aku mengerti, rombongan ini dinanti di Ratawun, arah sebaliknya. Perempuan ini telah dibebaskan dari hukuman, tetapi ia kini menjadi seorang budak. Apakah ia masih ingin menjadi seorang pelacur? Jika mampu, ia bisa membeli dirinya sendiri dengan uang hasil pekerjaannya nanti.

Seperti bisa membaca pikiranku, Naru berkata.

“Perempuan ini tidak ingin menjadi pelacur lagi. Ia merasa jalan hidupnya mengikuti dirimu.”

Mengikuti diriku? Bagaimana mungkin? Namun Naru sudah menyahutku.

“Biarlah perempuan ini mengikuti perjalanan kita,” katanya, “biarlah dialaminya sendiri bahwa mengikuti dirimu tidaklah mungkin.”

Maka, perempuan yang sebelumnya bekerja sebagai pelacur itu akhirnya sudah berada bersama kami ketika semuanya, dengan segala pedati, muatan, dan kerbaukerbaunya, telah berada di atas perahu tambang penyeberangan berjenis akirim agong. Dua penambang bertubuh tinggi kekar berdiri di depan dan belakang, mengarahkan perahu ke seberang yang tempatnya tidak tepat berada di seberangnya, melainkan agak menyerong.

Kupandangi sungai itu, begitu luas dan bergerak malas, meski kutahu ketenangan permukaan ini sangat mengecoh. Air sungai ini berwarna cokelat, menyilaukan karena pantulan cahaya matahari. Dari seberang datang

berpapasan perahu pengangkut akirim agong yang lain. Memang sepanjang bengawan ini terdapat pasar-pasar di tepi sungai, yang menyatu atau berada di dekat pelabuhan

sungai.103 Kemudian terlihat sebuah delta. Nanti setelah melewati delta tersebut baru akan terlihat pangkalan tambang di seberang sungai tempat kami diturunkan.

Delta itu cukup besar, bahkan terdapat semak-semak dan pepohonan. Jika malam pastilah menyeramkan sekali. Entah kenapa perasaanku mengatakan sesuatu akan terjadi. Perahu mengikuti arus yang semula tampak pelan, tetapi kemudian bertambah lama bertambah cepat. Sudah bukan rahasia lagi bahwa sungai yang menjadi lalu lintas perdagangan juga memancing kehadiran para perompak sungai. Tukang tambang juga mengenali para perompak dan itulah sebabnya mereka dibayar mahal, karena selain bertugas menyeberangkan para pedagang dan barangbarangnya, juga berkewajiban melindunginya pula.

Maka menjadi tukang tambang berarti harus mempunyai ilmu silat yang tinggi. Bukan sembarang ilmu silat biasa, karena ancaman bahaya yang mereka hadapi datang dari para perompak sungai yang sangat menguasai

cara bertarung di atas perahu maupun di dalam air.

Kemudian apa yang kukhawatirkan terjadilah.

“Tuan, waspadalah dan siapkan senjata-senjata Tuan. Kita kedatangan tamu,” ujar tukang tambang yang di depan.

Lantas ia berkata kepada temannya di belakang.

“Radri, bersiaplah! Kawan-kawan lama itu tidak kapok juga dengan gebukan kita!”

Radri menyahut dari belakang.

“Biarkan gerombolan astacandala104 itu datang Sonta! Sudah lama kita tidak main-main dengan mereka!”

Aku melihat sekeliling dan baru sadar betapa kami sedang diserbu dari segala jurusan oleh sekitar limapuluh orang, yang berenang sangat cepat ke arah kami dengan pisau di mulutnya. Kecepatannya membuktikan bahwa mereka adalah para perenang andalan, dan bahwa mereka tiba-tiba muncul agaknya karena

sebelum itu mereka datang entah dari mana dengan cara menyelam. Betapapun, aku harus menghindari pertarungan di dalam air.

Namun apakah mungkin? Limapuluh manusia yang menggigit sebilah pisau menyilang di mulutnya melaju dengan cepat seperti ikan lumba-lumba. Dengan hanya berdiri semuanya di atas perahu ini saja, kami semua akan tercebur ke sungai. Aku ingin tahu apa yang dilakukan Sonta dan Radri, kedua tukang tambang yang bertanggung jawab atas keselamatan barang maupun jiwa kami. Perempuan yang mengikuti kami itu kulihat mengambil sebilah golok milik entah siapa yang tergeletak di situ. Kulihat pegangannya kuat dan mantap. Rasanya tidak mungkin ia tidak mengenal ilmu silat.

“Siaga semuanya! Siaga! Siaga! Siaga!”

Sonta dan Radri memberi aba-aba. Para mabhasana juga telah memegang golok. Kulirik Sonta dan Radri hanya akan menggunakan dayungnya. Mereka tampak gagah dan perkasa. Namun laju kelimapuluh perompak yang datang meluncur sambil membawa pisau di mulutnya itu sungguh mendebarkan hati.

“Siaga! Siaga! Siaga! Bacok saja setiap orang yang mendekat!”

Dalam jarak beberapa depa dari perahu, para perompak yang terdepan melejit ke atas dan ke depan seperti ikan lumba-lumba, di udara mereka mengambil pisau dari mulutnya, lantas sembari melayang turun ke atas perahu berusaha membacok setiap orang dari kami. Namun para mabhasana menyambut mereka dengan sambaran golok. Seorang perompak ambruk di perahu dengan isi perut berhamburan, seorang yang lain terpental kembali ke sungai dengan lengan putus dan segera dihanyutkan arus, sementara yang lain berhasil mendarat di perahu dan memburu kami dengan penuh nafsu pembunuhan. Para perompak ini hanya berkancut seperti orang sadhu, tetapi tubuh mereka dirajah dengan gambar kalajengking tanda gerombolan mereka.

Suasana di perahu hiruk pikuk karena para perompak berkelahi sambil berteriak-teriak dan menjerit-jerit seperti kera. Perempuan itu menguasai ilmu beladiri dengan sangat baik, meski tampaknya tidak memiliki tenaga dalam. Setiap kali seorang perompak menusukkan pisau, perempuan itu selalu berhasil mengelak, bahkan melesakkan goloknya ke arah belakang yang langsung bersarang dalam

perut lawannya, yang tentu saja akan meraung kesakitan. Di atas perahu yang kini sudah dipenuhi perompak, ia mengelak dan mengelak sembari menusukkan goloknya ke depan dan ke belakang tanpa melihat lagi, dan selalu menelan korban yang akan meraung keras sekali dengan darah bercipratan.

Para perompak tak hanya melompat ke atas seperti ikan lumba-lumba, tetapi juga hilang menyelam ke dalam air

sebelum akhir muncul di tepi perahu untuk meloncat naik dengan sebat sembari mengambil pisau di mulutnya. Para mabhasana bergerak ke sana kemari membacoki perompak yang melejit dari bawah, yang tentu saja tidak membiarkan dirinya agar bisa dibacok dengan mudah. Suara golok beradu pisau terdengar berdentang-dentang ditingkah suara jerit dan raungan kera, yang menjadi teriakan panjang ketika sambaran golok mengoyak tubuh mereka.

Sonta dan Radri memutar dayungnya seperti angin puting beliung. Setiap kali mengenai badan pasti meretakkan tulang dan setiap kali mengenai kepala pastilah yang terkena kehilangan nyawa. Suara anginnya terdengar gemuruh mengerikan.

“Majulah kalian tikus-tikus sungai! Majulah! Serahkan nyawamu supaya lahir kembali sebagai musang! Hahahahahaha!”

“Jangan terlalu cepat Sonta! Biarkan mereka sadar sebelum meninggalkan dunia! Hohohohoho!”

Namun sebanyak perompak yang dilumpuhkan, sebanyak itu pula perompak yang datang meluncur di sungai seperti ikan lumba-lumba mengepung dari segala arah. Sebagian dari mereka bahkan menyelam ke bawah perahu dan mulai menggoyang-goyangnya pula!

PEMBACA yang Budiman, izinkan diriku yang tua ini beristirahat sebentar. Dalam usia seratus tahun, meskipun aku masih mampu bertarung tiga hari tiga malam tanpa makan dan minum, kalaulah ada lawan yang bisa bertahan selama itu, menuliskan riwayat hidupku ini ternyata tak kalah memakan tenaga. Terasa benar sekarang bahwa aku ini memiliki pinggang dan tulang belakang. Aku telah

duduk dan menulis terus menerus menggoreskan pengutik pada keping-keping lontar itu lebih dari satu bulan di teras rumah, sampai tetangga-tetangga mengira aku seorang kawi. Selama itu aku harus menjaga samaranku dengan terus-menerus menyemir rambutku yang seluruhnya sudah memutih agar tetap tampak hitam. Begitupun, aku tetaplah terlihat sebagai orang tua, dan pemandangan orang tua menulis tidaklah terdapat di kalangan rakyat jelata.

Orang tua yang menulis menjadi warga istana, rumahnya pun tidak akan terlalu jauh dari sana. Rakyat hampir semuanya tidak bisa membaca dan menulis. Hanya mereka yang mempunyai tekad kuat ingin membaca dan menulis akan menghabiskan waktunya untuk belajar dari seorang guru, dan pada saatnya akan mengabdikan hidupnya kepada pekerjaan membaca dan menulis tersebut. Sedangkan tekad tersebut hanya dapat dimiliki seseorang yang bukan saja merasa membaca dan menulis adalah baik, tetapi juga merasa dan yakin akan mampu melakukannya dengan baik. Berbeda denganku, yang hanya mengikuti saja kebiasaan pasangan pendekar yang mengasuhku, yang selalu menghubungkan segala pengalaman kepada pemikiran dalam kitab-kitab, sehingga aku terbiasa melihat orang membaca dan membicarakan isinya, di kalangan rakyat biasa kemampuan membaca dan

menulis berada di luar jangkauan pemikiran.

Kitab-kitab sampai kepada rakyat dengan suatu cara, yakni lewat seorang juru dongeng yang akan menceritakan kembali isi kitab-kitab sebagai hiburan, seorang guru agama yang menjadikan kitab-kitab itu sebagai pedoman, atau melalui seorang pembaca yang akan membacakannya di depan orang banyak, sebagai hiburan maupun pendidikan. Dengan cara itulah isi kitab-kitab dikenal dan dapat digambarkan kembali dalam bentuk wayang topeng, tarian, maupun patung dan gambaran cerita yang ditatahkan pada batu. Memang, dari antara mereka yang menyukai dan senang membicarakan isi kitab itu jugalah akan muncul seseorang yang dianggap berbakat dan layak dilatih untuk menulis. Dari sanalah para kawi yang bekerja untuk kepentingan istana akan mencari penggantinya, tetapi yang memang akan lebih sering ditemukan di keluarganya sendiri.

Ini membuat mereka yang menguasai kemampuan membaca dan menulis memiliki kekuasaan, karena mengetahui lebih banyak, bahkan menguasai pengetahuan itu untuk diri mereka saja, sehingga menggenggam kesahihan untuk mengatur dunia. Bukankah telah kuceritakan tentang terdapatnya prasasti yang berisi kutukan? Aku yakin sepenuhnya, betapa penggubah kalimat maupun pengukir kalimat kutukan pada batu atau lempengan logam tersebut juga tidak percaya, bahwa yang dibuatnya itu akan benar-benar berakibat dengan terkutuknya para pelanggar maklumat. Mereka hanya tahu betapa aksara yang tertuliskan itu, karena makna yang diungkapnya, memungkinkan dianggap sebagai sakti dan bertuah. Kemungkinan inilah yang mereka manfaatkan untuk menguasai. Mereka yang mengetahui akan menguasai mereka yang tidak mengetahui, karena bagi yang tidak mengetahui, dunia ini memang penuh dengan daya kuasa yang menentukan atas dunia dan kehidupan mereka.

Telah kuceritakan betapa para penulis sebagian besar

menjual jiwanya kepada penguasa, demi keselamatan dan kesejahteraan hidup mereka, karena dalam ketidak mampuannya menguasai pengetahuan, para penguasa sering merasa kurang terancam jika para penulis yang menguasai pengetahuan itu disingkirkan. Ini terjadi jika dirasakan betapa seorang penulis tampaknya tidak akan terlalu setia kepadanya, dan menulis apapun tanpa bisa diatur dan diperiksanya karena tidak mampu membaca. Maka penawaran atas kenyamanan dan keamanan pribadi adalah cara terbaik bagi penguasa istana untuk mengukuhkan dan mengabadikan kekuasaannya. Jika tidak, seorang penulis layak disingkirkan, apakah itu diasingkan, atau dibunuh beserta seluruh keluarganya. Kemungkinan terakhir inilah yang sangat mungkin membuat seorang penulis memilih untuk bekerja di bawah perlindungan istana.

Namun aku tetap menjalankan perananku sebagai pembuat lontar. Dengan itu kuharap pemandangan bahwa aku selalu menulis jika sedang tidak membuat lontar menjadi wajar, meski sebetulnya pembuat lempengan lontar dari lembar-lembar daun rontal bukanlah dari golongan yang bisa menulis. Tidak ada lagi yang bisa kulakukan selain itu, karena telah kuputuskan untuk terus menuliskan apapun yang bisa kuingat. Dalam umur seratus tahun, setiap orang pantas

memperhitungkan betapa maut akan menjemputnya setiap saat, sedangkan aku tidak ingin mati penasaran tanpa mengetahui sebab musabab yang pasti, kenapa aku diburu dan dilombakan untuk mati dengan hadiah 10.000 keping inamas seperti itu.

Aku memang harus tetap waspada, karena di negeri ini, siapapun yang buta huruf tetap tahu nilai mata uang. Meskipun tidak hidup sebagai pembaca dan penulis, para tikshna atau pembunuh bayaran setidaknya mampu membaca pengumuman tentang seseorang yang diburu dengan hadiah uang. Padahal para tikshna ini sungguh terlatih mencari seseorang yang menghilang. Maka sembari

menulis, aku tidak pernah melepaskan kewaspadaan.

Tulisanku sendiri tidak memuaskan. Aku ingin mengurutkan riwayat hidupku satu persatu, mengulang kembali hari ke hari tanpa ada yang luput, tetapi bukan saja ingatanku yang sangat terbatas, melainkan juga kemampuanku bercerita secara runtut itulah yang juga menjadi masalah.

Bukan saja urutan waktunya tidak berjalan dalam suatu garis lurus, melainkan terlalu sering setiap kali meloncat ke belakang, karena setiap kali harus menceritakan sesuatu yang berada di masa lalu dalam catatan atau ingatan seseorang, bahkan bisa saja terjadi merupakan ingatan atas ingatan lagi. Cerita yang hanya kudengar dari ingatan seseorang atas ingatan seseorang pula, tetap harus kuceritakan sebisa-bisanya secara utuh bukan? Karena aku ingin menuliskan segala sesuatu yang dapat dituliskan, bukan sekadar karena akan selalu ada gunanya, tetapi juga karena semakin banyak yang terungkap dari masa laluku, semakin terbuka kemungkinan untuk membongkar teka-teki keberadaanku sekarang ini sebagai manusia yang diburu untuk dimusnahkan. Memang benar aku telah menyusun sejumlah dugaan seperti yang telah kuceritakan, tetapi tanpa bukti bahwa dugaanku tidak keliru.

Namun usaha menuliskan kembali segala sesuatu selengkap-lengkapnya juga membuatku khawatir atas panjang tulisan dan lamanya waktu penulisanku. Jika aku mengawali cerita sejak umur 15 tahun, ketika pasangan pendekar yang mengasuhku itu pergi meninggalkan aku, takberarti aku tidak mempunyai ingatan

atas tahun-tahun sebelumnya. Masalahnya, jika dari masa selama aku berumur 15 tahun itu saja masih sedikit sekali yang kuceritakan dari ingatanku, lantas akan berapa lama lagikah aku masih akan menuliskan seluruh riwayat hidupku? Sudah kukatakan tadi, duduk menulis terusmenerus bagi orang tua seperti aku ini ternyata bukan tanpa akibat.

Kadangkala anak-anak tetangga datang menggangguku.

“Kakek tua! Kakek tua! Kenapa selalu duduk menulis tanpa pernah bekerja?”

Rupanya mereka terbiasa melihat orang tuanya berangkat keluar rumah untuk bekerja. Pemandangan bahwa seseorang hanya duduk dan menulis terus-menerus setiap hari tampaknya mengherankan.

Namun di antara anak-anak yang selalu ingin tahu itu terdapat salah satu yang cerdas dan berani. Ia tidak ingusan, ia tidak telanjang, ia tidak menggigit jari, dan ia tidak pernah lari kalau ditakut-takuti. Matanya sungguh tajam dan ia dengan berani mendekat begitu saja kepadaku, memperhatikan aku mengguratkan aksara yang membentuk kalimat di atas lembaran lontar. Ia suka berdiri lama sekali, memperhatikan aku, lantas memperhatikan tulisanku.

“Kakek melakukan apa?”

Begitulah akhirnya suatu hari ia bertanya.

“Kakek sedang menulis,” jawabku sekenanya.

Karena, bukankah aku sedang menulis dan sedang berjuang keras mengingat segala hal dari masa lalu

“Apakah menulis itu?”

Pertanyaan seperti ini membuat aku berhenti menulis, karena memang tidak bisa dijawab dengan mudah, apalagi jika yang bertanya adalah seorang anak kecil umur enam tahun. Bahkan kukira aku sungguh tidak berdaya menjawabnya, dalam pengertian bahwa aku memang tidak tahu, apakah sebenarnya menulis itu. Memang, seperti kupelajari dari pasangan pendekar yang mengasuhku, aku telah belajar membaca, dan karena itu bisa juga menulis, tetapi aku dan juga kedua orang tua asuhku itu banyak membaca bukan dalam rangka menulis, melainkan untuk belajar ilmu silat. Menurut orang tua asuhku itu, kitab bisa

menjadi pengganti guru, sehingga jika seorang guru tidak bisa ditemukan, kitab ilmu silat bisa memberikan segalanya sebagai pengganti seorang guru.

Maka apakah sebenarnya menulis itu sama sekali tidak

pernah kupikirkan. Meskipun aku telah mampu membaca semenjak usia kanak-kanak karena mengikuti kehidupan kedua pendekar itu, yang kemudian kupikirkan hanyalah ilmu persilatan dan bukan tentang penulisan itu sendiri. Bahkan kurasa aku tidak menyadari sepenuhnya, bahwa dalam kehidupan di Yawabumi ini, selain terdapat raja, abhiseka, rakai, mapatih, mahamantri, haji, senapati, samget, nayaka, rama, wiku, pedagang, perajin, pemungut pajak, pekerja seni, tukang celup warna, dan pembuat gula, terdapatlah para penulis.

Aku hanya senang membaca dan menghargai keberadaan kitab-kitab sebagaimana orangtuaku telah mengumpulkannya dalam sebuah peti kayu. Namun tiada terpikir olehku bahwa segala kitab itu mulai tertulis sejak aksara pertama, menjadi kata, membentuk kalimat, menjelma susunan pengertian yang mendorong perbincangan dalam kepala pembacanya. Betapa benda mati berwujud lempengan lontar tergurat-gurat itu mampu menghidupkan jiwa dan pemikiran pembaca, dan semua itu diberikan oleh seorang penulis.

Aku nyaris tidak pernah terlalu memikirkan soal itu, karena aku membaca untuk mencari kebahagiaan, bukan menambah beban pikiran, meski kitab yang baik memang selalu berhasil merangsang pemikiran. Jadi, aku memang tidak tahu apakah sebenarnya menulis itu, tetapi aku juga tahu bahwa pertanyaan anak kecil yang seperti itu tidak boleh dijawab dengan seadanya, karena jawaban apapun akan dibawanya seumur hidup.

“Siapa namamu Nak,” kataku.

“Namaku Nawa,” katanya.

Maka kuambil lembaran lontar yang belum ada tulisannya, dan kugoreskan pengutikku untuk membentuk aksara na.

“Coba lihat, aksara ini berbunyi na.”

Nawa mengulang pelan, terbata-bata, sembari menunjuk huruf tersebut.

“Ak-sa-ra i-ni ber-bu-nyi na.”

Kemudian kutuliskan aksara wa di sampingnya.

“Kalau ini bunyinya wa.”

Mulutnya menirukan.

“Wa…”

Kemudian kutunjuk na, kemudian wa, sementara mulutku menirukan.

‘‘Na-wa….”

Lantas anak itu mengulanginya dengan mantap.

“Nawa!”

Ia tertawa-tawa sendiri sambil mengulang-ulang kata itu, sambil menunjuk dirinya sendiri.

“Na-wa! Na-wa! Na-wa!”

Aku tersenyum. Bukankah anak kecil memang selalu menyenangkan? Tentu saja asal ia tidak telanjang dan kotor, tidak ingusan sampai bibir, yang sebentar-sebentar diserap hidungnya ke atas, tidak memasukkan jari ke dalam mulut, dan tidak meledak tangisnya setiap kali seseorang mendelikkan mata kepadanya.

Kuambil tangannya agar memegang pengutik itu. Kubimbing untuk menggurat lembaran lontar yang masih kosong.

“Sekarang tulislah namamu sendiri…”

Kuguratkan, melalui tangannya yang memegang pengutik, aksara na.

“Nah, ini berbunyi Na….”

Disusul aksara wa.

“Dan ini Wa…. Coba baca sekarang….”

Ia melirikku sebelum mengejanya.

“Na….Wa….”

Kemudian ia menatapku lagi.

“Nawa mau menulis banyak-banyak.”

Kutatap anak lelaki itu. Matanya bening. Rambutnya hitam legam. Apakah berarti aku harus mengajarinya? Aku tidak pernah mengangkat seorang murid pun dan tidak pernah merasa membutuhkannya, tetapi itu dalam ilmu persilatan, karena aku tidak pernah yakin apakah seseorang tidak akan memanfaatkannya untuk

kepentingan dirinya sendiri, jika tidak untuk suatu tindak kejahatan. Terlalu sering kudengar cerita tentang bagaimana murid mengkhianati cita-cita perguruannya

begitu rupa, sehingga sang guru harus turun gunung sendiri untuk membunuh murid yang sudah dididiknya dengan susah payah. Kita tidak pernah tahu untuk apa sebuah ilmu diturunkan. Dalam dunia persilatan, ada ilmu yang hanya dimiliki satu orang saja, ada yang dimiliki oleh sedikit orang seperti seorang guru dengan dua atau tiga murid, dan ada yang sengaja diajarkan dalam suatu perguruan. Kadang begitu luasnya ilmu silat yang disebarkan ini, sehingga perguruan itu menamakan dirinya partai, dan seperti semua partai tentunya mempunyai tujuan untuk berkuasa. Dalam hal ini tentu menguasai dunia persilatan.

Namun anak ini tidak ingin belajar ilmu silat, ia ingin belajar menulis. Tentu saja ia tidak tahu siapakah diriku sebenarnya. Baginya aku hanyalah seorang tua pembuat lontar yang di sela-sela pekerjaannya, yakni saat daun direndam dan dikeringkan, selalu duduk dan menulis. Apakah aku harus menolaknya pula? Berbeda dengan ilmu silat yang merupakan pilihan bagi mereka yang ingin hidup di jalan seorang pendekar, maka ilmu surat, begitulah istilah bagi dunia tulis menulis ini, kurasa merupakan hak setiap orang. Sama seperti hak setiap orang untuk melihat dunia dengan matanya.

Maka, kepadaku, anak berusia enam tahun yang menyebut dirinya Nawa ini belajar menulis. Aku merasa sedih menyadari diriku bukanlah seorang penulis yang menguasai seluk-beluk dunia penulisan dengan baik. Dalam dunia persilatan, Pendekar Tanpa Nama adalah nama yang telah menjadi dongeng; dalam dunia penulisan siapalah diriku ini? Kupersalahkan diriku sendiri kini, kenapa aku tidak pernah belajar menulis dengan sungguhsungguh kepada para kawi ternama maupun tidak ternama karena menyembunyikan diri, ketika kesempatan untuk itu masih terbuka.

NAGA BUMI

KESEMPURNAAN DAN KEMATIAN

AKU belajar membaca hanya untuk memperdalam ilmu silatku. Hidupku penuh dengan gelimang darah para pendekar yang tewas dalam pertarungan melawanku. Memang, sebagian besar merupakan pertarungan yang adil, dan untuk sebagian yang lain adalah diriku yang mengalami ketidakadilan pertarungan, misalnya dikeroyok oleh ratusan orang; sebegitu jauh akulah yang selalu keluar sebagai pemenang. Namun dengan semua itu tidakkah dunia persilatan ini menjadi dunia yang sia-sia? Tidakkah sia-sia jika seseorang belajar ilmu silat bertahun-tahun bahkan berpuluh-puluh tahun hanya untuk terbunuh dalam pertarungan demi kehormatan, yang sama sekali bukan merupakan keadaan tak terhindarkan? Tidak seperti mati ketika membela diri, kematian dalam dunia persilatan adalah kematian yang dipilih sendiri, sebagai akibat jalan seorang pendekar yang memburu pemenuhan hidup dalam kemenangan atau kematian.

Aku yang setelah berumur seratus tahun hanya tahu bagaimana membunuh kini harus mengajari seorang anak tanpa dosa agar bisa membaca dan menulis? Layakkah aku? Namun anak itu terus bertanya dan aku tidak punya waktu untuk berpikir apakah akan terus mengajari atau menghindarinya.

“Langit! Bagaimanakah menulis langit?”

Maka aku mengajarinya bukan saja menulis langit, tetapi bagaimana cara memanfaatkan aksara yang dikenalnya, agar bisa menuliskan kata apa pun tanpa harus bertanya kepadaku lagi. Aku sadar, aku belum pernah dan belum mampu menjawab pertanyaan Nawa sebelum bisa membaca dan menulis: Apakah menulis itu? Namun setidaknya kuharap dengan belajar membaca dan menulis itu sendiri, setidaknya ia memahami pengertian paling sederhana yang selama ini kuhayati tentang menulis, yakni mencatat dan menyampaikan.

Mencatat, karena kita memindahkan segala sesuatu ke dalam tulisan; menyampaikan, karena tulisan adalah sesuatu yang dibaca, siapa pun pembacanya, meskipun itu penulisnya sendiri.

41: Gerombolan Kera Gila

PERAHU tambang berjenis akirim agong ini sebetulnya lebih mirip rakit daripada perahu, karena memang hanya digunakan untuk penyeberangan. Namun memang ini rakit yang besar sekali, karena bisa memuat lima pedati, lima kerbau, dan para mabhasana, masih ditambah diriku, perempuan itu, dan kedua tukang tambang itu sendiri. Terbuat dari balok-balok kayu besar yang dirapatkan dengan ikatan sulur rotan, dengan lantai balok-balok kecil yang tersusun melebar di atasnya, yang meskipun sama sekali tidak rata, cukup memadai bagi roda-roda pedati dengan segala muatannya itu.

Rakit sebesar ini tampak kecil di sungai yang luas dengan berbagai jenis arus yang berbeda-beda kecepatannya di berbagai bagian sungai. Mereka yang tidak mengenal berbagai jenis arus yang tidak terlalu tampak dari permukaan ini, jika sembarang berperahu begitu saja tanpa bertanya-tanya, bisa terputar-putar mendadak tanpa tahu sebabnya. Permukaan air sungai tampaknya tenang, tetapi arus di bawahnya menghanyutkan. Sangat menghanyutkan. Begitu menghanyutkan. Sehingga jika seseorang terjatuh pada arusnya yang deras, maka ia akan segera langsung tenggelam dan menghilang. Tak peduli ia bisa berenang atau tidak bisa berenang. Maka tentunya para perompak sudah sangat mengenal letak berbagai arus sungai besar ini, sehingga mereka dapat datang meluncur seperti ikan lumba-lumba dari segala arah.

Sebagian orang telah tiba di perahu dan menyerang sembari berteriak-teriak seperti kera, membuat suasana gaduh, rusuh, dan menimbulkan kepanikan. Namun para anggota rombongan tampaknya tenang, aku bersyukur para mabhasana yang nyaris tidak menguasai ilmu silat itu mampu memusatkan pikiran dan membela diri dengan jurus apa adanya, yang betapapun berguna menyelamatkan diri mereka dari kematian. Sebagian dari para perompak itu bahkan sudah tewas di tangan perempuan yang sebelumnya bekerja sebagai pelacur itu, yang entah darimana kini telah memegang dua golok. Tak ada seorang perompak pun berhasil menyentuhnya.

Namun tidak berarti keadaan sudah aman, karena bukan saja para perompak masih berdatangan seperti ikan lunba-lumba, melainkan mereka telah menggoyang perahu tambang ini dari bawah pula. Dalam kemiringan tertentu roda-roda pedati ini bisa

menggelinding turun dan kerbau-kerbaunya bisa terseret masuk ke sungai dan tentu ini sangat berbahaya. Sementara itu yang menyerbu dari air telah melompat ke udara

seperti ikan lumba-lumba, tangan mereka bergerak mengambil pisau yang digigitnya, lantas turun dengan gerak membacok ke segala sasaran. Aku bergerak cepat, berkelebat menyabet mereka sekaligus dengan kecepatan yang tidak bisa diikuti oleh mata, dan mereka mendarat di atas perahu tanpa bernyawa lagi.

“BUANG mayatnya ke sungai! Buang mayatnya!”

Tanpa disadari siapa pun aku sudah berada kembali di atas perahu itu. Kubantu mereka membuang mayat-mayat bergelimpangan, karena yang harus dilakukan adalah melemparkan mayat-mayat itu ke arah kawan-kawannya yang masih datang menyerbu. Mereka yang masih meluncur di air seperti ikan lumba-lumba itu biarlah berpikir dua kali ketika mayat kawan-kawannya yang bersimbah darah menimpa mereka. Selain itu, mayat-mayat itu memang harus dibuang untuk memperluas ruang gerak di atas perahu. Namun kini mereka yang menggoyang semakin berdaya. Aku tak tahu bagaimana cara mengatasinya, karena meskipun aku telah dilatih kedua orangtuaku bertarung di dalam air, kuduga para perompak ini mempunyai kelebihan karena sangat mengenal sungai ini. Terbukti mereka tetap di bawah ketika perahu tambang ini mendadak makin cepat meluncur karena arus yang tiba-tiba menderas, bahkan perahu tambang ini telah berputar-putar pula. Mereka manfaatkan kesibukan Radri dan Sonta yang sibuk menghadapi serangan dari udara.

Maka sekali lagi aku berkelebat, kali ini menghadang mereka yang melayang seperti ikan terbang itu di udara, kugerakkan dua pedang dengan Jurus Dua Pedang Menulis Kematian untuk memastikan hasilnya, dan dengan menjejak mayat terakhir yang masih melayang turun aku mendarat di perahu. Kedua tukang tambang itu mengerti maksudku, karena adalah tugas mereka menyelamatkan perahu. Sonta segera menyelam dari belakang dan Radri dari depan, sementara para mabhasana dan perempuan itu menusuk-nusukkan senjata di antara celah-celah balok mencari sasaran.

Sebentar kemudian darah menyembur dari balik celah-celah itu. Kemudian dengan masih berteriak kesakitan, tampak satu persatu para perompak lepas dan terapung-apung tanpa daya, sementara perahu meluncur cepat meninggalkan mereka.

Kecepatan perahu ini taktersusul lagi oleh mereka yang belum mencapai perahu, kini perahu sudah bersih dari perompak, hanya darah mereka berceceran di mana-mana. Namun perahu berputar semakin cepat, sementara Sonta dan Radri agaknya masih bergulat di bawah perahu. Dengan setengah nekad aku masuk ke dalam air, menuju ke balik perahu, tentu tanpa pernah melepaskan pegangan tangan kiri pada tali rotan di antara balok. Sonta dan Radri masih saling mencekik dengan lawan masing-masing di dalam air, sementara tangan kiri masing-masing juga berpegangan pada tali rotan. Aku mengerahkan tenaga dalam sepenuhnya, agar pedang di tangan kananku bisa bergerak dengan kecepatan yang sama seperti jika tidak berada di dalam air. Sekali putar selesailah sudah, kedua perompak yang terlepas cekikannya itu tenggelam diserap kedalaman. Darahnya yang berhamburan segera menyatu dengan air sungai.

Ketika kami bertiga naik ke atas perahu tambang, di sisi sebelah kanan sudah terlihat delta, dan perahu meluncur di antara jeram dengan kecepatan tinggi. Namun Radri dan Sonta, kedua penambang kami yang luar biasa itu, sudah siap di tempat masing-masing dengan dayung yang mampu diandalkan untuk mengarahkan perahu tambang ini. Aku terkesiap, karena justru delta itulah yang disebut-sebut sebagai sarang para perompak sungai. Benar juga, pada dahan-dahan pohon besar yang menjorok sampai ke atas sungai, sehingga perahu kami takbisa menghindar untuk tidak lewat di bawahnya, tampaklah para perompak bergelantungan dan berlari-lari di atasnya seperti kera.

“Waspadalah Tuan! Gerombolan Kera Gila masih menghadang!”

Jadi nama gerombolan perompak sungai itu adalah Gerombolan Kera Gila. Sejak tadi telah kuceritakan cara mereka bertempur yang selalu sambil berteriak-teriak seperti kera. Namun mengapa harus disebut Kera Gila? Itu baru akan kuketahui nanti. Sekarang gerombolan perompak sungai itu sudah berada di atas perahu karena mereka telah meloncat turun dari dahan-dahan tempat kami lewat di bawahnya. Aku berloncatan ke sana kemari di atas perahu karena banyaknya para perompak itu. Pada setiap dahan yang rimbun di atas selalu ada perompak yang meloncat turun dan langsung menyerang dengan belati yang mereka ambil dari mulutnya. Teriakan mereka gegap gempita sepanjang dahan-dahan yang masih akan lama terlewati maupun di atas perahu ini sendiri. Mereka semua mengenakan serban hitam di kepalanya, hanya berkancut, yang juga hitam warnanya, tetapi belati mereka berkilat-kilat di bawah cahaya matahari.

Aku sangat khawatir dengan keselamatan para mabhasana yang harus menghadapi keadaan berat seperti ini. Mereka memang telah membela diri dengan baik menghadapi serangan satu persatu di ruang sempit perahu. Namun telah kulirik di atas itu para perompak juga memegang panah, sumpit, dan tombak yang siap dilemparkan.

MESKIPUN tidak menggunakan tenaga dalam, serangan rahasia dari tempat yang tidak diketahui bagi orang awam sangatlah berbahaya. Sedangkan bagi seorang pendekar saja, jika ia lengah sedikit pasti akan terlambat menangkisnya, padahal senjata semacam itu biasanya beracun. Maka aku pun berkelebat ke atas, dengan Jurus Dua Pedang Menulis Kematian kubabat semua perompak itu tanpa kecuali seperti menebas rerumputan. Aku meloncat dari dahan ke dahan sementara perahu tambang itu mengalir di bawahnya, sehingga kadang-kadang ada perompak yang jatuh ke atasnya. Para mabhasana itu hanya perlu membuangnya karena tentu sudah tidak bernyawa.

Namun ternyata bahwa perompak itu cukup banyak, sehingga dari dahan pun aku harus melesat ke perahu untuk menangkiskan serangan panah, sumpit, dan tombak itu. Demikianlah aku meloncat dari perahu ke dahan untuk membantai dan kembali ke perahu lagi, dan aku belum bisa berhenti sebelum delta ini terlewati. Suasana sungguh riuh rendah karena angin bertiup kencang, sementara daun-daun berbunyi karena angin maupun perkelahian. Di antara dedaunan yang berkerosak itulah aku melesat dan setiap kali kedua pedangku bergerak, siapapun yang terjangkau di sekitarku pastilah nyawanya tercabut seketika. Seperti buah-buahan yang rontok mereka berjatuhan, ke sungai, ke perahu, atau tergelantung begitu saja terjepit dahan-dahan.

Lantas, seperti tiba-tiba saja, delta itu sudah terlewati dan sungai itu menjadi lebar kembali. Tampaklah pelabuhan di seberang, tempat kami harus merapat nanti. Kudengar Radri berteriak kepada Sonta.

“Sonta, katakanlah kepadaku Sonta, siapakah mereka dan apakah kiranya yang telah dibawa oleh Tuan-tuan kita ini? Sudah terlalu sering kita berhadapan dengan astacandala Gerombolan Kera Gila itu, tetapi belum pernah para pengecut itu berani mati seperti sekarang ini.”

“Bagaimana aku akan mengetahuinya Radri? Bukankah kita belum pernah terpisah semenjak terpaksa menambang karena tanah kita diambil demi kuil pemujaan? Mereka tampaknya datang dari kota dan tampaknya membawa barang-barang penting, bagaimana mungkin aku mengetahuinya Radri?”

Semula aku tidak mengerti cara mereka berbicara, tetapi perempuan yang menentukan dirinya sendiri harus mengikuti diriku ke mana pun aku pergi itu, kemudian berkata.

“Mereka bukan penduduk daerah ini Tuan, bagi mereka mungkin tidak sopan menanyakan sesuatu yang seharusnya tidak menjadi urusan mereka, tetapi kali ini tindakan Gerombolan Kera Gila itu memang lebih dari biasa, sehingga mencurigakan mereka. Apalagi Tuan tampaknya telah membantai mereka, hampir semua, kecuali pemimpinnya.”

Aku terdiam. Aku tanpa sengaja telah mengamankan daerah ini, atau telah menambah kesulitan mereka?

“Gerombolan ini punya pemimpin? Siapa namanya?”

“Dialah yang disebut Kera Gila itu Tuan, murid tokoh persilatan yang disebut Naga Hitam.”

Dadaku berdegup. Naga Hitam lagi. Jejaknya bagaikan ada di mana-mana. Namun usaha para perompak ini tidak berhubungan dengan diriku, melainkan dengan barangbarang wdihan dan berbagai alat upacara ini. Kami harus menjelaskan semuanya karena aku merasa kami masih akan membutuhkan pertolongan kedua tukang tambang itu. Aku memperkirakan pemimpin perompak yang disebut Kera Gila itu masih akan berusaha menggagalkan pengiriman barang-barang ini. Bukanlah karena barangbarang ini mesti dirampok, melainkan karena upacara peresmian sima yang menggunakan barang-barang ini harus digagalkan. Mereka telah mengetahui jalur

perjalanan dari kotaraja ke Ratawun, jadi kupikir lebih baik mengubah jalur perjalanan itu. Namun karena dengan itu perjalanan menjadi lebih lama, harus dikirim seseorang untuk memberitahukan berita keterlambatan tersebut.

Kuungkapkan gagasanku kepada Ranu dan juga kami ceritakan segalanya kepada kedua penambang tersebut.

“Ah, Tuan, sebaiknya kita turun di pelabuhan yang lebih jauh di selatan, perjalanan bisa sampai sehari semalam, tetapi jalan darat ke Ratawun menjadi lebih singkat,” ujar Radri setelah mengetahui persoalannya.

Namun karena tetap akan terlambat, maka sebaiknya tetap dikirim seseorang yang memacu kuda untuk sampai ke sana. Siapa? Jelas diriku diandalkan Ranu untuk tetap bersama pedati-pedati dengan segala muatannya ini, dan bagiku memang tidak ada pilihan lain.

“Siapa di antara kalian yang berani menuju Ratawun?”

Suara arus sampai terdengar jelas karena semua orang terdiam.

“Kukira bisa dua orang, meskipun kita harus membeli budak di jalan untuk mendorong pedati.”

MASALAHNYA bukan perjalanan, melainkan kemungkinan tetap dicegat sisa Gerombolan Kera Gila, jika bukan Si Kera Gila sendiri. Konon ia diberi nama Kera Gila karena Ilmu Silat Kera Gila yang dikuasainya. Dengan kedua tangannya ia biasa merobek-robek tubuh dan wajah lawan. Aku tidak bisa membayangkan perbendaharaan ilmu silat Naga Hitam, hampir setiap murid memiliki ilmu silat berlainan.

“Biar sahaya yang berangkat Tuan,” tiba-tiba terdengar suara di luar lingkaran.

Perempuan itu memang tidak disertakan dalam perundingan. Namun kami semua masih teringat kegagahannya dengan dua golok. Meskipun tidak mempunyai tenaga dalam, ketangkasan seperti yang kusaksikan itu sangat bisa diandalkan.

Aku terharu dengan perjalanan nasib perempuan itu, yang kini bersimpangan dengan urusan kami.

“Perempuan gagah, siapakah namamu?”

Perempuan itu tetap menunduk. Aku masih teringat, ketika ia dibopong sebagai pelacur oleh lelaki tinggi besar yang dibunuhnya, pandangan matanya yang jalang telah membuat dadaku berdebar-debar. Agaknya itu hanyalah pandangan sebuah peran. Sejak mengikuti rombongan kami, karena telah dibebaskan Ranu dengan pembayaran kepada para pejabat yang mewakili kerajaan, terlihat betapa menjadi pelacur baginya hanyalah sebuah pekerjaan, yang telah dijalaninya demi sebuah pembalasan dendam. Kini ia menyerahkan hidupnya kepada orang yang telah menyelamatkannya dari pembakaran. Namun bukan berarti aku siap mengorbankannya jika tawaran itu kupenuhi. Betapapun perempuan ini merupakan pilihan terbaik dalam keadaan seperti sekarang.

Karena ia masih diam, aku bertanya lagi.

“Perempuan gagah, apalah salahnya kami mengetahui dikau punya nama? Adakah sesuatu yang melanggar peraturan?”

Ia menghela nafas panjang, tetapi tidak mengangkat kepala ketika menyebutkan namanya dengan perlahan.

“Campaka….”

Kami saling berpandangan.

“Campaka, tahukah dikau kemungkinan yang akan dikau hadapi dalam perjalanan?”

“Sahaya mengetahui sepenuhnya Tuan, karena telah memikirkannya.”

Ia bukan saja gagah, tapi juga cerdas. Ia memang lebih tua dariku, jauh lebih tua bahkan. Mungkin usianya 25 tahun. Namun kukira pengalaman telah membuatnya jauh lebih matang. Tentu baru setelah berumur 100 tahun ini aku mampu menilai, bahwa dalam hal cinta ia sangat kurang perhitungan. Tentu, apakah masih bernama cinta jika

segala sesuatunya diperhitungkan bukan? Namun dalam umur 15 tahun ketika itu, yang kurasakan hanyalah kekaguman.

“Bahwa dikau akan dicegat sisa Gerombolan Kera Gila, jika bukan Si Kera Gila sendiri? Apa yang akan dikau lakukan?”

“Percayalah kepada diri sahaya Tuan. Sahaya seorang pelacur dan Si Kera Gila adalah langganan sahaya, pasti sahaya akan bisa menghadapinya.”

“Si Kera Gila langgananmu? Bagaimana caranya?”

“Ia selalu datang menyamar, hanya sahaya yang mengetahui dirinya adalah Kera Gila.”

Aku tidak bertanya lebih lanjut, meski masih ada pertanyaan tersisa, yakni apakah selama ini Kera Gila tahu bahwa Campaka ini mengenalnya, atau tidak mengetahui sama sekali, karena hal semacam ini akan ikut memengaruhi nasibnya jika bersua. Aku percaya dia tahu apa yang sedang dilakukannya. Namun kutanyakan juga sesuatu yang lain,

“Campaka, dikau tidak harus berangkat jika merasakannya sebagai sesuatu yang berat. Bagaimana jika dikau alami sesuatu yang mengerikan?”

“Sahaya hanya seorang pelacur, Tuan. Jika sahaya mati, siapa pun di dunia ini tidak perlu merasa kehilangan. Berilah sahaya kuda yang segar, semoga tugas ini akan dapat sahaya jalankan.”

Aku merasa berat melepaskannya, dan merasa tidak pantas. Namun keterampilannya bermain golok yang telah kusaksikan hari ini memberikan kepadaku keyakinan, bukan karena dengan itu dapat diimbanginya Kera Gila yang ternama, tetapi karena keberanian dan kecerdasannya pasti akan menyelamatkannya. Tentu saja ini pertimbangan yang juga terdorong oleh perasaan seorang remaja, yang sangat terkesan dan terpesona oleh seorang perempuan yang baginya tampak begitu dewasa. Dadanya yang ketika kulihat pertama kali tertutup oleh rambutnya yang panjang, telah ditutup dengan ikatan selembar kain ke punggungnya. Rambutnya yang panjang pun telah dimasukkannya ke dalam kain serban yang melingkari kepalanya, sehingga

sepintas lalu ia akan tampak sebagai lelaki. Dua golok kini tersoren di punggungnya, sungguh bagaikan seorang pendekar.

Selama percakapan Campaka selalu menundukkan kepala, tetapi kurasa ia tahu bagaimana aku telah memandanginya.

42: Pertarungan Malam

PERAHU tambang mengikuti arus di sungai yang besar. Radri di depan dan Sonta di belakang tampak bisa mengendalikannya tanpa kesulitan berarti. Hari menjelang senja, tetapi langit masih terang, di tepi sungai kulihat orang mandi, memasang bubu, dan mencuci. Mereka melihat ke arah kami dan kami melihat ke arah mereka.

Mereka tentu melihat pedati-pedati lengkap dengan kerbaunya di atas perahu tambang ini, tetapi aku tidak tahu apa yang mereka pikirkan. Kusaksikan anak-anak gembala menunggangi kerbaunya. Ada kerbau, ada sapi, banyak anjing tampak berkeliaran. Kadang terdengar sayup-sayup celoteh mereka yang berada di tepi sungai, ditingkah suara tertawa-tawa para petani yang kembali dari sawah. Di belakang mereka hutan bambu yang rimbun dan pohon-pohon kelapa menghalangi pandangan langsung ke desa mereka. Dari arah perahu, pemandangan seperti itu menimbulkan berbagai pertanyaan padaku: Siapakah mereka, datang darimana, sejak kapan berada di sana?

Yawabumi belakangan ini menyaksikan kedatangan orang-orang asing di sepanjang pantai utara. Sebagian di antaranya mungkin saja menyusuri sungai ini. Orang-orang keling yang tegap dan hitam, orang-orang negeri atap langit yang kecil, putih, dan berkuncir rambutnya, serta orang berkulit putih tegap perkasa dan melintang kumisnya. Mereka membawa barang-barang yang semula tidak dikenal di Yawabumi 1), untuk dipertukarkan dengan hasil bumi. Tanaman memang tidak tumbuh di semua tempat, tetapi yang tumbuh di Yawabumi rupa-rupanya berguna untuk obat-obatan, pewangi, dan banyak hal yang belum terlalu dikenal. Sebaliknya penduduk Yawabumi tidak sepenuhnya mengerti pengolahan bahan-bahan hasil buminya sendiri, kecuali yang bisa dimakan-maka semula kain sutera harus dibayar mahal sebelum mampu meniru dan membuatnya sendiri. Namun dalam hal meniru, penduduk Yawabumi dapat

melakukannya dengan cepat sekali, dengan hasil yang mencengangkan, sehingga untuk keperluan sehari-hari kemudian tidak tergantung pedagang negeri asing lagi. Banyak desa kemudian dikenal dengan keterampilan tertentu yang berbeda dengan desa-desa lain yang telah memiliki keterampilannya masing-masing, yang hasilnya beredar ke seluruh negeri. 2)

Pada usia 15 tahun, kenyataan semacam itu kukenali sedikit demi sedikit, bersama dengan terserapnya aku dalam kenyataan hidup sehari-hari. Memang benar selama diasuh Sepasang Naga dari Celah Kledung aku kadang-kadang diajak keluar, bahkan cukup sering diajak beranjangsana ke desa-desa di sekitar Celah Kledung itu. Tentu kedua orangtua asuhku itu selalu berkata, “Tidak perlu mereka tahu bahwa kita adalah orang-orang persilatan, kita menyamar sebagai pengelana yang

mencari ilmu kesempurnaan hidup.” Maka, aku pun sedikit banyak mengenal kehidupan orang-orang awam. Di setiap desa itu selalu ada guru yang dituakan, dan mereka itu memiliki kitabkitab yang bisa dibaca, sehingga orangtuaku merasa ada gunanya mempelajari pengetahuan yang mereka kuasai. Namun sebegitu jauh, betapapun kehidupanku bersama kedua orangtuaku itu adalah kehidupan para pendekar yang ingin mencapai kesempurnaan hidup melalui ilmu persilatan. Kehidupan orang awam tidaklah menjadi perhatian utama, meski mereka tidak melupakannya.

“TIDAK ada jalan hidup yang lebih mulia dibanding jalan hidup yang lain,” kata ibuku, “jalan hidup seorang pendeta tidaklah lebih tinggi dari jalan hidup tukang emas. Ukuran kesempurnaan pendeta tidaklah lebih tinggi dari ukuran kesempurnaan tukang emas, begitu pula ukuran kesempurnaan pendekar silat tidaklah lebih tinggi dari ukuran kesempurnaan petani bawang, karena dalam setiap jalan, kesempurnaan menunjukkan pencerahan. Ingatlah itu selalu Anakku.”

“Lantas apakah ukuran tinggi dan rendah untuk membandingkannya, Ibu?”

“Tidak ada ukuran untuk membandingkannya, Anakku, bahkan sesama pendekar silat sebetulnya takmungkin saling membandingkan kesempurnaannya, karena kesempurnaan adalah ukuran masing-masing.”

“Jadi kenapa para pendekar harus saling bertarung Ibu, jika kesempurnaan adalah ukuran masing-masing?”

“Pertarungan hanyalah sekadar cara untuk merayakan kesempurnaan itu Anakku, bukan siapa kalah dan siapa menang ukuran kesempurnaannya, karena yang kalah dapat menjadi sempurna dalam kematiannya, tetapi yang menang belum tentu sempurna dalam kemenangannya.”

“Jadi apakah kesempurnaan itu Ibu?”

“Kesempurnaan adalah pencapaian dari segala kemampuan, Anakku, masalahnya kita tidak pernah tahu apa yang dapat kita capai sebelum mencapainya.”

“Jadi apakah artinya pencapaian dalam kematian itu Ibu?”

Aku teringat Ibu tersenyum dan mengusap kepalaku.

“Itulah rahasia kesempurnaan, wahai Anakku sayangÖ”

Perahu tambang masih melaju sementara langit mulai meremang. Hari ini beberapa pekan sudah memasuki bulan Asuji 3) , pertanda setiap saat hujan akan mulai turun.

Kudengar bisikan sungai yang seperti selalu menceritakan sesuatu, sementara aku termenung-menung teringat orangtuaku. Ke manakah mereka pergi? Mengapa dikatakannya pergi untuk tidak kembali? Apakah mereka bertarung dengan seorang pendekar mahasakti sehingga kematiannya adalah pasti? Ataukah mereka berhadapan dengan sebuah partai besar yang akan mengeroyoknya, ataukah dengan pasukan kerajaan yang besar sehingga kematiannya bukanlah sesuatu yang mustahil? Aku tidak yakin betapa Sepasang Naga dari Celah Kledung itu bisa dikalahkan, tetapi aku juga percaya mereka tidak akan pernah muncul kembali, karena mereka tidak akan pernah menyatakan sesuatu yang tidak pasti. Aku sendiri, setelah mereka beritahukan betapa aku bukanlah anak mereka sendiri, lantas merasa tidak berhak menuntut apapun. Bukankah mereka telah limabelas tahun merawat seorang anak yang tidak pernah diinginkannya?

Tanpa tersadar air mataku mengambang. Kuhapus sebelum semua orang di atas perahu melihatnya, tetapi Naru memandangku seperti orang yang mengerti meski sama sekali tidak bertanya. Sungai besar ini berkelak-kelok bagaikan takberujung, meski aku tahu ini akan berakhir di lautan yang belum pernah kusaksikan. Kini kusadari betapa masih miskin pengalamanku dan betapa menjadi pengembara adalah keinginan yang paling memenuhi cita-citaku, yakni melihat semua tempat yang belum pernah kulihat. Namun dengan sendirinya, demi jaminan keselamatanku di dunia yang belum sepenuhnya kukenal, aku harus menguasai ilmu silat yang tidak sekadar cukup untuk membela diri, melainkan juga takterkalahkan. Aku belum ingin mati dalam

kesempurnaan seorang pendekar, aku tidak ingin mati terlalu dini karena aku masih ingin melihat dunia.

Kami telah meninggalkan Campaka di pelabuhan sungai yang berada di dekat delta

DEMIKIANLAH aku belajar ilmu silat dengan cara yang aneh, yang kutemukan secara tak sengaja ketika tak sadarkan diri di tepi sungai itu. Ataukah seseorang telah sengaja

memberikannya untukku? Jika dia seorang guru, jasanya terlalu besar untukku; dan jika dia seorang guru, bagaimana caraku mengucapkan terimakasih kepadanya? Karena agaknya dia telah mengikuti perjalananku. Bahkan tanpa kuketahui mungkin sering menyelamatkanku. Pertanyaanku tentu: Mengapa dia berbuat begitu?

Masalahnya, apakah masih penting ditanyakan kenapa? Jika harus selalu ada sebab dari perbuatan baik seseorang, apakah masih ada tempat bagi kebaikan itu sendiri? Betapapun, siapapun dia, aku harus menghormatinya. Tentang guru, kuingat dari bacaan:

di tempat tanpa guru

satu kali pun nama Buddha

takkan terdengar

para Buddha dari ribuan tahun

Pencapaian Kebuddhaan

tergantung kepada guru 4)

Seorang murid harus mengabdi kepada guru. Aku juga ingin mengabdi kepada hidup yang telah memberi banyak pelajaran bagiku. Namun kini seseorang jelas telah mengarahkan aku, bukan sekadar agar selamat dari ancaman Naga Hitam, melainkan juga memberi pencerahan. Apakah yang bisa lebih mencerahkan ketimbang kemampuan untuk mengatasi ruang waktu? Tubuhku memang tidak mungkin berada di luarnya, tetapi pengolahan nafasku telah membuat pikiranku terbebaskan dari ruang waktu itu-ukuran ruang dan waktu manapun takberlaku lagi bagiku. Luas sempit lama sebentar hanyalah kupahami sebagai kesepakatan orang banyak, tapi tidak untuk diriku. Sepuluh tahun memang tetap sepuluh tahun waktu bumi, tetapi dalam samadhi aku takterikat waktu bumi tersebut. Ruang berada dalam diriku, bukan aku berada dalam ruang; dan dengan keberadaan ruang dalam diriku maka aku pun memiliki waktuku seperti yang kumau.

Guruku itu, entah siapa dia, tidak pernah mengajari dan hanya mengarahkan. Pada hari ketika aku pingsan, dengan jernih kuhayati ilmu silatku sendiri dalam bayangan di balik cahaya kemilau. Untuk selanjutnya, aku belajar dengan cara yang sama, meski kemudian mengolahnya. Semuanya mengarahkan aku kepada pendapatku sekarang, betapa mempelajari ilmu silat sebetulnya harus juga berarti mempelajari pemikiran yang telah melahirkannya. Tanpa hal itu, ilmu silat hanya menjadi kekerasan tanpa keanggunan dan kecanggihan tanpa pesona. Tanpa seni, tanpa sastra, dan tanpa filsafat.

Dengan hanya mengemban kekerasan, ilmu silat menjadi kasar dan tanpa cinta, menjadi sampah kebudayaan.

Dalam sepuluh tahun waktu bumi telah kutempa diriku dengan kemampuan pembayangan dalam pertarungan. Makin lama makin terbiasa, sehingga aku mampu mengolah cikal bakal Ilmu Bayangan Cermin. Bukan hanya mampu membaca dan lantas melakukan pembayangan, tetapi dari kemampuan pembayangan atas jurus apa yang mesti kuberikan sebagai tanggapan, karena kecermatan dalam menyerap jurus lawan, bisa kukembalikan jurus yang sama, yang agar tidak hanya bertabrakan, dan sebaliknya terjamin menembus pertahanan, harus dikembalikan secara terbalik. Sama, tetapi seperti kesamaan sebuah cermin, yakni serba terbalik.

Sebetulnya aku memang telah menguasainya dengan baik, berdasarkan olah pembayangan dalam samadhi, tempat diriku bisa bertarung melawan pembayangan suatu ilmu, tetapi tentu saja aku belum puas jika belum mengujinya dalam pertarungan sejati. Bukan sekadar karena keinginan mengujinya, melainkan juga karena dengan pertarungan sebenarnya aku akan menyerap ilmu silat lawan, suatu hal yang harus dilakukan demi pembalikan jurus-jurusnya sendiri secara mematikan dalam ketepatan terbalik bayangan cermin. Sementara, olah pernafasan dalam samadhiku, dalam sepuluh tahun dengan sendirinya telah meningkatkan ilmu meringankan tubuh dan tenaga dalamku. Memang benar pesan tertulis pada batu di dasar sungai itu: Perlu waktu sepuluh tahun bagiku untuk siap menghadapi Naga Hitam. Sekarang aku sudah tidak sabar lagi ingin segera menghadapinya.

***

APABILA kemudian aku turun gunung tahun 786, ternyata kekuasaan Mataram sudah berada di tangan Rakai Panunggalan. Kekuasaan Rakai Panamkaran berakhir tahun

784. Berarti perubahan ini belum berlangsung lama. Apa yang terjadi? Sejak dulu aku kurang peduli dengan pertarungan kekuasaan di kalangan istana, apalagi sekarang ketika tanpa terasa sepuluh tahun telah berlalu.

Pergantian kekuasaan itu baru kuketahui kemudian melalui kedai, tempat terbaik untuk memasukkan diriku kembali ke dalam peradaban. Ini berarti aku harus kembali memakan daging, karena selama terpencil di puncak gunung aku hanya makan tetumbuhan, apakah itu buah, daun, atau juga akar tanaman, sedangkan sebuah kedai tak akan dikunjungi orang kalau hanya menyediakan makanan dari bahan tetumbuhan. Sebegitu jauh, aku tidak melihat alasan kenapa diriku harus berpantang

makan daging. Aku bukan seorang rahib, bukan pula pedanda, meski bagiku hanya makan tetumbuhan selama sepuluh tahun tidaklah bermasalah pula.

Begitu masuk, aku baru sadar keadaan diriku.

“Hai pengemis! Berani-beraninya kau masuk kedaiku! Keluar!”

Hmm. Inikah peradaban?

“Aku punya uang,” kataku, mengambil mata uang upahku sepuluh tahun lalu. Dalam pundi-pundi kulitku yang sudah usang, terdapat mata uang campur aduk, dari emas, perak, perunggu, tembaga, dan besi. Kuambil yang emas, kulempar ke atas meja. 5)

“Bagaimana kalau pengemis itu bisa membayar dengan emas,” kataku tanpa nada tanya, karena kutahu daya pesona emas yang takpernah terpadamkan.

Cepat sekali tukang kedai itu menyambar mata uang yang bentuknya gepeng seperti dadu dengan sudut-sudut membulat itu. 6) Wajah yang semula angkuh itu menjadi ramah.

“Segalanya bisa dibeli dengan emas,” katanya, “mau makan apa?”

“Apa pun yang bisa dimakan Bubukshah,” kataku.

Itu berarti aku mau makan sesuatu dari daging.

“Hmm,” pemilik kedai itu mengamatiku, “tapi sosokmu lebih mirip Gagang Aking, dikau baru usai bertapa, atau barangkali gagal bertapa?”

Baru kusadari juga penampilanku yang hancur, karena busanaku yang hancur dalam dua tahun telah kuganti dengan kulit kayu, dan dari kulit kayu ke kulit kayu itulah busanaku sampai hari itu. Untunglah busana ini tidak terlalu asing, setidaknya para rahib ada yang memakainya. Tepatnya rahib dan orang-orang yang hidup di hutan.

Aku harus menghindari percakapan berkepanjangan.

“Berikanlah saja yang kuminta Bapak, atau emas itu harus kuminta kembali?”

“Dengan emas ini dikau bisa makan banyak,” ujarnya sembari menyiapkannya untukku, menciduknya dari deretan kuali tanah liat di belakang dia berdiri.

Lantas tibalah dia di depan meja dengan sejumlah mangkuk tanah liat yang padat berisi.

“INILAH rajamangsa, habiskanlah semua.”

Saat itu aku belum pernah memakan rajamangsa yang berarti santapan raja. Mengikuti peraturan, rakyat biasa dilarang memakan santapan raja itu, karena

memang tidak boleh menyamai apa pun yang dilakukan raja. Kemungkinan besar bahkan rakyat mana pun belum pernah melihat dengan mata kepala sendiri santapan raja tersebut. Maka para juru masak atau tukang kedai mencoba mereka-reka sendiri apa yang disebut rajamangsa, sejauh seperti yang mereka pernah dengar, dan tentu hanya mengira-ira saja rasanya. Itulah yang kumakan: Kambing yang belum keluar ekornya, dan satu lagi kusuruh ambil kembali, karena belum tega memakannya, yakni anjing yang dikebiri. 7) Betapa tidak, karena aku sangat menyayangi anjing, binatang yang paling setia, dan paling bisa saling mengerti dengan manusia.

Orang-orang melihatku dengan pandangan bertanya-tanya. Kali ini kurasa bukan karena busana kulit kayuku, melainkan rambut dan wajahku yang sungguh tidak jelas

ini. Aku makan dengan rakus dan tidak peduli. Bunyi makanan masuk mulut mungkin terdengar keras karena kuhirup tanpa mengunyahnya. Kulepas daging dari tulang di dalam mulutku, dan tulang-tulangnya berloncatan keluar dari mulutku itu. Memang sengaja. Biarlah mereka mengira diriku seorang astacandala 8) , daripada terus mengira-ira dan menyibukkan aku dengan pertanyaan mereka.

Benar juga.

“Astacandala, bagaimana mungkin martabatnya naik jika makannya tak beradab begitu rupa. Tak adalah gunanya uang emas bagi mereka, karena adab tetap sulit diangkatnya.”

Aku pura-pura tidak mendengar, dan terus menghirup dari dalam mangkuk dengan bunyi yang semakin sengaja kukeraskan.

“Sudahlah,” kata kawannya, “mengapa lebih peduli kepada astacandala takberguna, pikirkanlah dahulu urusan kita.”

Orang tadi tampaknya belum rela berhenti menghinaku, tetapi ia terpaksa kembali kepada perbincangan bersama kawan-kawannya, yang rupanya dilakukan dengan berbisik-bisik agar tidak diketahui orang lain.

Aku tetap menghirup makanan dengan bunyi keras, tetapi segera kugunakan ilmu pendengaran Mendengar Semut Berbisik di Dalam Liang untuk mengetahui apa yang mereka perbincangkan.

45: Aturan untuk Raja

Meskipun mereka berbicara dengan perlahan dan nyaris berbisik-bisik, dengan ilmu pendengaran Mendengar Semut Berbisik di Dalam Liang, segalanya begitu jelas seperti aku berada di antara mereka. Dengan penyempurnaan melalui olah pernafasan selama sepuluh tahun, sebetulnya ilmu pendengaranku ibarat kata bukan hanya mampu mendengar semut berbisik di dalam liang, melainkan juga ikan berbisik di dalam air. Kendala semula bahwa ilmu pendengaran ini hanya membaca gelombang bunyi di udara, kini mampu pula menembus segala gerak di bawah permukaan air.

Tidak semua hal bisa kumengerti dari perbincangan itu, terutama apabila mereka membicarakan masalah-masalah yang hanya mereka sendiri yang tahu. Namun baiklah kucoba mengambil kesimpulan dalam ketertinggalanku sepuluh tahun terakhir mengenai berbagai perkembangan belakangan ini.

RUPA-RUPANYA mereka juga sedang mencoba merumuskan sesuatu, sebagai suatu tugas dari istana. Mereka terutama sedang mencatat jumlah penduduk yang bertani, dan bukannya berburu, atau hidup dari menangkap ikan. Mereka mempermasalahkan

tentang pembuatan sendiri benda-benda yang semula hanya bisa mereka nantikan datangnya di pelabuhan.

Mereka bicara tentang usaha menenun bahan pakaian sendiri, maupun juga membuat sendiri secara besar-besaran alat dari logam seperti kapak besi, mata tombak, pedang, sabit, dan bajak; dan tidak mengandalkan barang-barang sudah jadi yang selama ini datang dari wilayah utara. 1)

Mereka juga membicarakan perkembangan yang terjadi di pantai utara Yawabumi, bahwa terdapat hubungan dengan pusat-pusat peradaban baru di wilayah utara, seperti tampak dari barang-barang dan berbagai pengetahuan baru yang datang bersama kapal-kapalnya. Mereka juga mencatat bahwa di pedalaman, terdapat perluasan pemukiman para petani, yakni bahwa mereka menetap dan tidak berpindah-pindah seperti seratus tahun sebelumnya. 2) Pertanian tanaman dilakukan secara tetap, meskipun penyaluran air berkembang terbatas hanya di sekitar pemukiman mereka. Artinya negara belum menanganinya secara menyeluruh dengan menyatukan penyaluran air di seluruh wilayah kekuasaannya.

Namun ini mungkin disebabkan karena bersama dengan itu terdapatlah keadaan yang tidak terlalu tenang, akibat perebutan kekuasaan antara para penguasa wilayah yang masing-masing mengukuhkan dirinya dengan gelar rakai. 3)

Pajak, yang semula hanya terdengar dalam istilah drawya haji, yakni sedikit kelebihan bahan pangan yang diberikan setiap desa, kini didampingi istilah gawai haji, tenaga kerja untuk kepentingan penguasa. Ini menyangkut jenis pekerjaan seperti kerajinan gerabah, logam, termasuk emas, dan juga pekerjaan seni seperti arca dari batu maupun logam, yang juga diperlukan sebagai alat-alat upacara.

Aku mulai mendapat gambaran, ternyata menghilang sepuluh tahun tidak membuat aku terlalu ketinggalan, karena berbagai cita-cita kebudayaan, terutama cita-cita kenegaraan dan keagamaan pada dasarnya telah menjadi perjuangan sejak sepuluh tahun lalu. Adapun antara cita-cita kenegaraan dan keagamaan itu dapat berlangsung sejalan maupun kadang-kadang bertentangan, karena setiap penguasa meskipun tidak akan menindas agama yang berbeda dengan agamanya sendiri, akan tetap mendahulukan

kepentingan agama yang dipeluknya. 4) Keadaannya sekarang, meskipun agama Siwa masuk lebih dahulu, kini perkembangan agama Mahayana, terutama dari aliran Tantrayana, pesat sekali.

Namun ini tidak berarti agama Siwa pudar, seperti terlihat dari persaingan pembangunan candi-candi. Di antara banyak candi Mahayana, akan menyeruak candi Siwa, yang usaha penggalangannya dapat berlangsung berpuluh-puluh tahun. Itulah yang telah kukatakan, sepuluh tahun bisa lama, bisa pula tidak berarti apa-apa. Berarti masih banyak perkara di sekitar urusan sima, makin tegas tuntutan pajak berupa tenaga terampil di segala bidang untuk membangun tempat pemujaan, dan makin jelas betapa segalanya mewakili kepentingan kekuasaan. Itu perkembangan dunia awam. Bagaimana dengan perkembangan dunia persilatan? Rupanya aku memang beruntung memasuki kedai pada saat yang tepat, karena dengan segera bagaikan bisa mengejar segala ketertinggalan.

“Semua ini hanya bisa berjalan karena peranan Naga Hitam,” ujar seseorang.

“Apakah Naga Hitam yang menjadi penyebab keruntuhan Panamkaran?”

“Naga Hitam telah membangun jaringan dengan bantuan kelompok Cakrawarti, yang hanya diketahui setelah para pengawal rahasia istana berhasil membongkarnya.”

“Tapi terlambat?”

“Terlambat, karena Panunggalan sudah naik takhta dan meski Naga Hitam telah membantunya, Panunggalan tak sudi mengenalnya. Makanya Naga Hitam tidak mendapat kedudukan apa-apa, termasuk dalam pasukan kerajaan.”

“Karena itu sekarang ia merongrong wibawa Rakai Panunggalan.”

“Sebetulnya bukan Panunggalan yang meminta bantuan Naga Hitam, melainkan kelompok Cakrawarti.”

“Ah, Panunggalan dibantu Cakrawarti untuk menggulingkan Panamkaran, dan Cakrawarti telah berhasil menggarap Naga Hitam!”

“Memang, tetapi bagi Panunggalan orang seperti Naga Hitam, betapapun ditakuti dalam dunia persilatan, adalah seorang candalaÖ”

Saat itu mereka semakin merendahkan suaranya sambil melirikku. Aku tetap makan dengan bunyi keras dan bersendawa pula keras-keras seperti orang kurang beradab.

“Hoooiiiikkk…” Kepala mereka tersentak mendengar bunyi sendawaku, tetapi tetap meneruskan perbincangannya.

“Hmm. Caturwarnna ini menyulitkan orang-orang dengan tingkat keterampilan tinggi,

tetapi berasal dari kasta yang rendah.” “Itulah yang berlangsung di istana, tetapi di pedalaman seperti ini, agama saja tidak jelas bagi penduduk untuk memilih yang mana. Kadang mereka peluk kedua-duanya begitu saja. Namun untuk permainan kekuasaan di istana, syarat-syarat itu penting. Hanya kasta Ksatriya sahih bermain, sedangkan kasta Brahmana dianggap tabu mempunyai minat untuk kekuasaan itu.”

“Datangnya Mahayana membuat para Brahmana harus mempertahankan sesuatu.” “Karena Buddha menghapus kasta!” “Itulah! Anehnya, di kalangan pemeluk Buddha pun kasta Siwa dari masa sebelumnya

kadang masih berlaku, meski sejak dulu pun tidak diikuti dengan setia.” “Padahal Naga Hitam bukankah candala tanpa kasta!” “Hah? Siapa dia?” “Dia keturunan wangsa Sanjaya yang terusir semenjak wangsa Syailendra berkuasa!” “Bukankah wangsa Syailendra keturunan wangsa Sanjaya juga?” “Itu yang kudengar, tetapi apa buktinya? Betapapun agama keduanya berbeda.” “Naga Hitam seorang pemuja Durga?”

“Naga Hitam? Dikau yakin orang-orang persilatan, dari golongan hitam pula, memeluk kepercayaan tertentu? Aku lebih percaya Naga Hitam itu setia kepada kepercayaan asli Yawabumi.”

“Bukankah Sanjaya pemuja Siwa?”

“Naga Hitam merongrong siapapun yang berkuasa, dan tidak ada penguasa yang mengutamakan kepercayaan asli dengan candi-candinya yang membebani rakyat itu!”

“Kurasa kita tidak pernah tahu apa yang berada di dalam kepala Naga Hitam, tetapi jelas ia mempunyai minat terhadap kekuasaan, dan kali ini merasa tertipu oleh jaringan Cakrawarti.”

“Sedangkan kelompok itu sekali menghilang susah dicari!”

Mereka masih bicara sementara aku menyimpulkan sendiri. Naga Hitam boleh takterkalahkan di dunia persilatan, tetapi seluk beluk tipu daya dalam perebutan kekuasaan tampaknya bukan sesuatu yang dikuasainya. Ia bermaksud memanfaatkan jaringan Cakrawarti untuk menembus jalan ke istana, sebaliknya kelompok itulah yang justru telah memanfaatkannya. Panamkaran terguling, Panunggalan naik tahta, Naga Hitam tidak diperhitungkan dalam pembagian kekuasaan.

Apakah jasa yang dibutuhkan dari seorang Naga Hitam? Ia dibutuhkan untuk menjauhkan dunia persilatan, terutama para naga, dari lingkaran dunia kekuasaan. Telah diketahui bagaimana para naga ini sangat saling menghormati, sehingga jika Naga Hitam menampakkan isyarat betapa permainan kekuasaan dunia awam tidak perlu dicampuri, maka para naga memang tidak akan mencampurinya. Bukan karena para naga ini takut kepada Naga Hitam, tetapi sekadar karena tidak merasa perlu bersengketa atas sesuatu yang tidak menyangkut kepentingan mereka. Kepentingan para pendekar hanyalah ilmu silat, kesempurnaan ilmu silat sebagai jalan mencapai kesempurnaan dalam kehidupan, meski jalan yang ditempuh itu menuju kematian. Hanya pendekar yang takterkalahkan belum menemui kematian, padahal kematian dalam dunia persilatan adalah penanda kesempurnaan. Maka seorang pendekar akan

terus menempuh pertarungan untuk mencapai kesempurnaan dalam persilatan, apabila kemudian ia menemui kematian dalam pertarungan, di sanalah hidupnya tersempurnakan.

Tentang Naga Hitam, jika memang pembelaannya terhadap kepercayaan asli menjadi pendorong perjuangannya menentang penguasa yang merestui penyebaran, bahkan memeluk, agama Siwa dan Mahayana, maka aku tentu sangat menghormatinya. Namun sungguh terlalu banyak masalah sulit dijelaskan, antara lain karena memang bercampur baur, dalam permainan kekuasaan, apalagi karena segalanya memang tergantung kepada perbincangan, yang bagaikan selalu menghindari ketepatan dugaan.

“Apakah yang harus kita lakukan?”

Mereka semua untuk sejenak terdiam. Siapakah mereka?

Aku merasa mereka adalah orang-orang yang terpelajar, dan barangkali pula bekerja untuk istana, karena kepada siapa pula pekerjaan menghitung dan mengkaji dunia ini akan mereka persembahkan?

Namun jelas mereka sendiri bukan bagian dari lingkaran istana, meski keangkuhan sebagai warga kotaraja masih terbawa-bawa pula. Mereka jelas bukan petani, tetapi cara berbusananya menurut aku cukup sederhana, meski bahan busananya adalah pilihan, bukan berdasarkan kemewahan melainkan kemungkinannya agar tahan lama. Wajah-wajah mereka tampak seperti keturunan ningrat yang halus, tampan, dan kuning langsat kulitnya, tetapi busananya bukan ringring bananten dan bukan pula patarana bananten, kain berwarna emas. Rambut mereka yang panjang di antaranya disanggul dengan sisir kulit penyu. Namun selain itu mereka tidak mengenakan perhiasan apapun. Kain yang mereka kenakan tidak bergambar apapun. 6)

“Kita mengetahui segala hal yang tidak mereka ketahui, itu berarti kita sebetulnya memiliki sebagian syarat kekuasaan, tetapi kita tidak dikenal dan tidak mempunyai pengikut, dan juga kita tidak menguasai ilmu keprajuritan maupun ilmu persilatan.”

“Tapi Naga Hitam juga tidak menguasai ilmu keprajuritan.”

“Makanya seorang Naga Hitam saja tidak cukup, perlu seorang panglima yang mampu memimpin pasukan perang.”

“Coba kita periksa Arthasastra dulu. Pertama adalah Aturan untuk Raja.” Mereka semua masih muda tetapi tampak dewasa, mungkin antara usia 30 sampai 35. Kuperhatikan lagi, perawakan mereka memang serba mulus, seperti tidak pernah bekerja di ladang atau apapun yang membutuhkan tenaga tubuh. Gulungan rontal salinan Arthasastra terbuka di meja. Mereka semua jelas bisa membaca, karena bukan hanya mampu, tetapi juga nyaris hafal di luar kepala segenap isi Arthasastra melebihi yang telah kukenali selama ini. Berikut adalah bagian yang mereka perbincangkan.

bila raja giat pengikutnya menjadi giat mengikuti keteladanannya bila ia lengah mereka ikut lengah bersamanya dan mereka akan menghabiskan pekerjaannya raja yang lemah akan jatuh ke tangan musuh-musuhnya karena itu ia sendiri harus berdaya membagi waktu siang hari menjadi delapan nalika atau bagian begitu pula dengan waktu malam hari melalui ukuran bayangan yang ditimbulkan matahari 7) suatu bayangan mengukur paurusa, satu paurusa dan empat angula dan sore hari ketika bayangan menghilang inilah empat seperdelapan bagian awal dari hari pembagian dijelaskan seperti berikut seperdelapan pertama dari hari hendaknya mendengarkan tindakan yang diambil untuk kegiatan pertahanan serta penghitungan penghasilan dan pengeluaran seperdelapan kedua dari hari hendaknya memperhatikan masalah warga negara dan orang desa selama yang ketiga hendaknya mandi, makan, serta belajar selama yang keempat

hendaknya menerima pembayaran tunai dan memberi tugas kepada para kepala bagian selama yang kelima hendaknya berujuk-kata dengan dewan menteri melalui surat dan menerima keterangan rahasia yang disampaikan para mata-mata selama yang keenam dipersilakan tamasya atau bersukaria sekehendaknya atau berujuk-kata dengan siapapun yang dikehendakinya selama yang ketujuh hendaknya memeriksa gajah-gajah, kuda, kendaraan, dan pasukan selama yang kedelapan hendaknya membicarakan rencana ketentaraan bersama panglima angkatan bersenjata bila hari selesai hendaknya melakukan sandhya (bersembahyang memuja Tuhan)

pada saat matahari tenggelam selama seperdelapan bagian pertama malam hari hendaknya ia menanyai para petugas rahasia selama yang kedua hendaknya ia mandi, makan, dan belajar selama yang ketiga hendaknya pergi tidur sambil

mendengarkan susunan bunyi yang indah baik nyanyian maupun keindahan suara-bunyi tanpa kata

selama yang keempat dan kelima harap terus tidur sahaja selama yang keenam hendaknya ia bangun karena suara-bunyi keindahan dan merenungi ajaran ilmu tentang kekuasaan maupun tugas yang telah dilakukan selama yang ketujuh

hendaknya berujuk-kata dengan para penasehat dan mengirimkan para petugas rahasia selama yang kedelapan ia hendaknya menerima restu dari para pendeta, penasehat, para guru, bertemu dengan tabib, kepala masak, dan juru ramal perbintangan setelah menghormati sapi dengan mengitari seekor sapi betina, anak sapinya, dan sapi jantan hendaknya ia menuju ke ruang pertemuan atau hendaknya ia membagi siang dan malam dalam bagian yang berbeda sesuai dengan kemampuan dan penyelesaian tugas-tugasnya sampai di ruang pertemuan hendaknya ia mengizinkan tanpa batas mereka yang ingin menemuinya berkaitan dengan masalah mereka karena seorang raja yang sulit dihubungi

akan melakukan kebalikan dari apa yang harus dilakukan dan tidak harus dilakukan oleh mereka yang dekat kepadanya sebagai akibatnya ia mungkin terpaksa menghadapi pemberontakan atau ditundukkan musuh-musuhnya karena ia harus memperhatikan dewata, pertapaan, vidharma 8) , brahmana ahli Veda, ternak dan tempat-tempat suci, kanak-kanak, orang tua yang sakit, yang sedih, yang takberdaya, dan para wanita menurut urutan ini atau sesuai dengan pentingnya masalah ia hendaknya mendengarkan setiap hal yang mendesak dan tidak menundanya karena yang ditunda menjadi sulit ditangani bahkan tidak mungkin diselesaikan ia hendaknya memperhatikan

masalah orang-orang yang pakar dalam Veda dan para pertapa setelah pergi ke api pemujaan bersama para pendeta dan penasehat setelah bangkit dari duduknya dan memberi salam kepada para pelamar ia hendaknya memutuskan tentang para pertapa dan para pakar dalam kerja sihir setelah berujuk-kata dengan pakar ketiga Veda bukan seorang diri sahaja karena mereka mungkin marah pula bagi seorang raja sumpah sucinya adalah kesediaan bekerja pengorbanan dalam urusan pemerintahan adalah pengorbanan sucinya

imbalan dari pengorbanannya adalah sikap yang adil dan upacara pendewasaan dalam pengorbanan baginya adalah penasbihannya kebahagiaan rakyatnya adalah

letak kebahagiaan raja apa yang berguna bagi rakyat juga berguna bagi dirinya sendiri apa yang berharga bagi dirinya sendiri belum tentu bagi negara apa yang berharga bagi rakyatnya adalah berguna bagi dirinya maka hendaknya raja giat memajukan kesejahteraan akar kesejahteraan adalah bekerja sedangkan malapetaka adalah kebalikannya tiadanya kerja menghancurkan yang telah didapat maupun yang belum diterima melalui kerja diperoleh imbalan dan ia akan mendapat limpahan kekayaan 9) Mereka berdebat. Mereka seperti para pemikir, tetapi bukan jenis yang mengabdikan

seluruh hidupnya kepada raja. Sebaliknya mereka seperti menggugat dan dengan

pemikirannya membongkar segala sesuatu yang selama ini terlanjur dianggap sebagai

kebenaran, yang ternyata hanyalah bangunan nilai yang terlanjur disepakati sebagai kebenaran. Pemikiran mereka menarik, meski berprasangka baik terhadap Naga Hitam menurut pendapatku jika tidak didasari pengetahuan mendalam atas tokoh tersebut dapat berbahaya. Perkiraanku semula bahwa mereka seperti mendapat tugas dari istana jadi meragukan. Namun jika memang demikian, kurasa mereka terpaksa menyimpan banyak hasil kerja mereka untuk diri mereka, terutama tidak memberikan pendapat mereka sendiri, jika masih ingin kepala mereka tidak lepas dari badannya.

Aku ingin sekali bergabung. Namun mereka telah mengatakan diriku ini seorang astacandala. Aku tertawa dalam hati, tetapi juga sedih, merana, dan merasa sendiri, meski kuingat kata pasangan pendekar yang mengasuhku, bahwa jalan hidup seorang pendekar adalah jalan kesunyian, tempat seseorang hanya ditemani dirinya sendiri.

Isi perdebatan mereka tentang persyaratan seorang raja memerintah atau tidak, sudah bukan urusan penting lagi bagiku, karena kupikirkan tentang Naga Hitam. Apakah dia masih mencari dan mengirimkan orang-orangnya untuk memburu aku? Sebelum mencari dan menantangnya bertarung, aku harus mengetahui dahulu segala sesuatu tentang Naga Hitam itu, yang akan kuanggap sebagai jalan masukku ke dalam dunia persilatan.

Namun kepada siapakah aku harus bertanya? Aku tidak dapat mempercayai para juru cerita, karena demi kepentingan mereka sendiri biasanya cerita itu sudah

dilebihlebihkan sebagai bagian dari pertunjukan. Jika bertanya kepada seseorang yang dianggap mengerti, tidak ada jaminan betapa kisah yang disampaikannya itu mendekati kenyataaan. Apakah itu berarti aku harus memata-matainya sendiri? Bagaimana caranya? Apakah itu harus berarti menyatroni perguruannya atau menguntitnya ke mana pun dia pergi? Ataukah aku harus berpura-pura menjadi muridnya saja?

Kedai makin ramai, ketika dari luar datang lagi orang-orang lain.

46: Pembunuhan dan Perselingkuhan

ROMBONGAN yang masuk itu segera saling berpandang-pandangan dengan kelompok yang sedang kucuri dengar pembicaraannya. Kutatap sekilas, tampaknya mereka saling mengenal, setidaknya saling mengetahui diri mereka masing-masing. Namun kenapa mereka tidak saling bertegur sapa? Kulihat kuda mereka di luar berdampingan dengan kuda dari rombongan yang datang sebelumnya. Pengurus kuda yang disediakan kedai langsung memberinya makan. Dengan kelelahan kuda yang seperti itu, kuperkirakan mereka datang dari kotaraja.

Waktu mereka memandangku, masih kuperagakan perilaku yang seperti tidak mengenal peradaban. Aku bersendawa keras, lantas kumur-kumur dengan arak yang tadi telah diantarkan, lantas menyemburkannya di situ juga.

“Astacandala…”

Kudengar seseorang berkata.

“Kalau Buddha memang mau menghapus kasta, orang seperti itu bisa jadi raja memimpin kita…”

Hmm. Jadi mereka mungkin pemuja Siwa, yang di Yawabumi tidak juga berlaku tepat kekastaannya.

“Bapak,” kata salah seorang di antara mereka yang baru datang itu, kepada pemilik kedai, “bagaimana orang seperti ini bisa masuk kemari?”

Pemilik kedai itu menjawab, aku suka karena jawabannya tegas.

“Kedai ini terletak di luar kota, terlalu jauh dari kotaraja, hukum kota tidak harus berlaku di sini. Siapapun berhak makan, minum, duduk, dan bercengkerama di kedaiku, selama dia sangup membayar.”

Saat itu aku meletakkan sekeping mata uang emas di atas meja.

“Beri aku arak lagi,” kataku keras, agar juga menjadi jelas bagi mereka, bahwa orang yang mereka anggap tidak berharga mungkin saja lebih kaya dari mereka.

Lantas aku menggeletakkan diri di atas bangku, pura-pura tertidur karena mabuk maupun kekenyangan, mendengkur dengan mulut terbuka.

Ssstt! Jangan cari perkara dengan sembarang orang,” kata kawannya, “yang disebut orang-orang persilatan itu bertebaran di luar kota, dan mereka senang dengan keributan, sehingga bisa mencoba ilmu silatnya. Mereka sangat mahir memainkan senjata.”

“Tidak ada yang mencari keributan, hanya taktahan karena terganggunya pemandangan,” sahut yang diperingatkan itu.

Rupanya taktahan mulutnya untuk tidak menghina. Sejauh yang kuketahui, itulah sumber kejatuhan orang-orang yang merasa dirinya pandai, dalam ilmu persilatan maupun ilmu pengetahuan. Ini bukan sekadar masalah budi pekerti, melainkan syarat mutlak pemahaman atas akal budi, yang sebenarnyalah tercakrawalakan oleh wacana pengetahuan semasa, yang dalam pemahaman setiap orang hanya akan membentuk dan dibentuk ke-sudut-pandang-annya sendiri. Ini berarti tidak ada ilmu pengetahuan yang paling sahih, selain kesahihan dalam kesepakatan tertentu, misalnya kesepakatan antara para ilmuwan. Suatu hal yang terutama justru harus dipahami oleh mereka yang menempuh jalan kecendekiawanan di Yawabumi.

Mereka segera memojokkan diri di sebuah sudut, bukan sekadar menjauhi suara dengkurku, tetapi juga ingin membicarakan sesuatu secara lebih bebas. Bukan aku yang mereka hindari, melainkan kelompok yang telah lebih dulu berada di kedai. Mereka berbisik-bisik juga, tetapi tiada yang bisa lebih jelas lagi bagi ilmu pendengaran Mendengar Semut Berbisik di Dalam Lubang.

“Masalah kasta dikau kemukakan pula! Sementara dikau pahami betapa Arthasastra pun masih harus ditafsirkan sebagai hukum yang berlaku di Yawabumi. Apalagi sumbersumber hukum kita bukan hanya Arthasastra, melainkan juga Dharmasastra,

Sarasamuccaya, Svayambhu, Sivasasana, Purvadhigama, Devagama, dan Kutara-manava.” 1)

Kawannya yang lain menimpali.

“Memang, dan kita jangan terlalu percaya keaslian segenap sumber itu. Perhatikanlah bahwa Svayambhu berasal dari Svara Jambu, taklebih takkurang

terjemahan dari delapan kitab Manava-dharmasastra. Hanya bagian terakhir jelas berbeda dengan aslinya.”

“Ya, seperti Purvadhigama yang pada bagian akhir disebut Sivasasana-saroddhrta, mungkin maksudnya cara penulisan berbeda saja dari Sivasasana.”

“DAN Kutara-manava sebagian besar terpengaruh Manava-dharmasastra.” 2)

Mereka lantas tenggelam dalam perdebatan masalah hukum, bahwa tidak semua hal yang berlaku bagi pemeluk Siwa di tanah asalnya, yakni Jambhudvipa 3), harus berlaku pula dalam penerapannya di wilayah Suvarnadvipa atau Suvarnabhumi, termasuk dalam hal ini Yawabumi. 4) Sebelum gelombang kepercayaan kepada Siwa maupun Mahayana menyapu pulau ini, sudah terdapat hukum adat dan kebiasaan yang berlaku bagi penduduknya. Dalam penerapan hukum, dan kemudian penulisannya, hukum penduduk setempat yang berlaku tidak hanya takbisa begitu saja dihapus, sebaliknya bahkan berpengaruh dalam penyesuaian sebagian besar peraturan-peraturan hukum yang datang dari luar tersebut.

Dalam Kutara-manava-sastra sendiri, 5) demikian kudengar perbincangan mereka, perbedaan ini malah dijelaskan di dalamnya dengan terdapatnya suatu perbandingan, yang tertulis seperti berikut:

“Seekor kerbau atau sapi, dalam suatu perjanjian, ditebuskan kepada pemberi utang, jika tidak ditebus dalam tiga tahun. Ini yang berlaku dalam Kutaragama. Menurut Manavagama, lamanya adalah lima tahun. Salah satu di antara yang dua ini harus diikuti. Adalah keliru untuk menyangka, betapapun, bahwa kitab-kitab hukum ini salah satunya lebih baik dari yang lain, kedua-duanya sah. Manava-sastra disampaikan oleh Maharaja Manu yang bagaikan dewa Wisnu. Kutara-sastra disampaikan oleh Bhrgu dalam Tetrayuga; ia (juga) bagaikan dewa Wisnu; Kutara-sastra diikuti oleh Parasurama dan seluruh dunia, bukan buatan masa sekarang, tetapi…6)

Perbandingan antara Manava-sastra dan Kutara-sastra di berbagai tempat, menjelaskan judulnya yang menjadi Kutara-manava-sastra, yang jika memang keduanya bersumber dari negeri-negeri tempat igama Hindu bermula, yakni Jambhudvipa, justru di tempat asalnya judul semacam itu tiada. Memang rujukan kepada Manava-sastra karya Manu lebih sering, dan jika Kutara-sastra dicari

sumbernya ternyata sulit ditemukan. Penyebutan Parasurama membuatnya mungkin untuk menghubungkannya dengan Kuthara, tetapi ini juga tidak menghubungkannya kepada suatu karya asli manapun. Sementara Manava-sastra terhubungkan dengan Manava-dharmasastra atau Manu-samhita yang terkenal, dan berbagai bagian mengacu kitab-kitab hukum lain dari Jasmbhdvipa, mulai dari Svara Jambu sampai Manusasana, Brhaspati-samhita, Pancasadarana, Jivadana, dan Devagama, yang sebagian juga beredar di Yawabumi. Kitab-kitab hukum lain yang beredar di Yawabumi seperti Devadanda dan Sara-Samuccaya, juga menjadi acuan Kutara-manava-sastra.

Sementara aku pura-pura mendengkur, tetap kuikuti perbincangan mereka tentang hukum, yang entah kenapa memberikan kepadaku suatu pembayangan untuk mengolah ilmu persilatan. Kata kuncinya adalah perubahan dan penyesuaian. Jika kepastian hukum pun demi keadilan dapat diubah dan disesuaikan, mengapa hal yang sama tidak dapat dilakukan dengan ilmu persilatan yang harus membayar kesalahan terkecil dengan kematian? Tentu dalam pendalaman selama sepuluh tahun telah kukembangkan segala kemungkinan, sehingga jurus yang satu dapat kubelah menjadi seribu; tetapi kemungkinan penyesuaian dalam hukum bagai membuat percobaanpercobaanku dalam persilatan lebih tersahihkan. Sesuatu yang baru memang tidak langsung akan bisa diterima.

Namun aku dapat belajar dari persoalan hukum. Dalam perbincangan mengenai Kutaramanava-sastra oleh orang-orang yang mampir di kedai ini, dapat kuikuti bagaimana mereka membahas peraturan-peraturan secara rinci. Kitab itu membagi peraturanperaturan menjadi dua bagian besar, Hukum Perdata dan Hukum Pidana. Adapun yang

terutama segera terdapat dalam kitab dan dibahas adalah perumusan tentang pembunuh:

(1) Ia yang membunuh orang takbersalah;

(2) Ia yang menghasut orang lain untuk membunuh orang yang takbersalah;

(3) Ia yang melukai orang takbersalah;

(4) Ia yang makan dengan pembunuh;

(5) Ia yang tetap berteman dengan seorang pembunuh;

(6) Ia yang berbuat baik kepada seorang pembunuh;

(7) Ia yang memberi naungan bagi seorang pembunuh;

(8) Ia yang menawarkan bantuan kepada seorang pembunuh.

Dalam hal ini, hukum yang berlaku di Jambhudvipa, disetujui pula berlangsung di Yawabumi. Seperti juga hukum yang berlaku untuk pencuri, yang juga dibagi delapan, dan di antaranya terdapat yang dianggap aneh bagi orang-orang yang sedang kucuri dengar perbincangannya itu, yakni bahwa isteri dan anak-anaknya harus ikut menanggung ia punya kesalahan. Disebutkan misalnya, orang yang melakukan pencurian bukan saja mungkin dihukum mati, tetapi isteri dan anak-anaknya bersama dengan seluruh hartanya menjadi milik raja. Namun seorang pencuri dapat membeli hidupnya dengan membayar 40.000 kepada raja, dan membayar ganti rugi kepada pemilik barang-barang yang dicurinya itu sebanyak dua kali harga barang-barang tersebut. Ia yang menghasut orang lain untuk mencuri juga layak dihukum mati. Isteri dan anak-anaknya dapat lolos dengan denda yang besar, tetapi jika mereka juga bersalah karena ikut menghasut, mereka dimungkinkan untuk dihukum mati.

“Hukum semacam ini tidak masuk akal, seperti juga banyak terjadi dengan ayat-ayat yang lain,” kata seseorang, “barangkali kita harus mengusulkan untuk dirombak secepatnya. Ini masih hukum yang berlaku di Jambhudvipa!”

“Tapi tidak semuanya berlaku di sini, sebagian juga sudah disesuaikan dengan kehidupan di Javadvipa!”

“Kurang! Kurang! Pengaruh agama terlalu kuat sekarang! Kubayangkan hukum yang membumi! Perhatikan hukum untuk pembunuhan antar kasta ini. Jelas sulit berlaku

bagi mereka yang tidak memeluk Siwa, mau dianggap apa mereka yang berada di luar kasta?”

“Candala!”

“Candala bagi Siwa! Bagaimana kalau pelakunya bukan pemeluk Siwa, tetapi kepercayaan mereka sebelum Siwa tiba?”

“Mahayana nyatanya juga berkasta di Javadvipa!”

“Ya, tetapi kasta di sini tidak terlalu sama dengan Jambhudvipa!”

“Jangan terlalu cepat bicara, hukum kita sekarang, meski bersumber dari Jambhudvipa, telah diubah seperlunya. Perhatikan saja!”

Hmm. Siwa dan Mahayana, bagaimana mereka bisa saling melepaskan diri, jika kelahiran Pangeran Siddhartha di Taman Lumbini, tempat Ratu Maya berdiri di bawah pohon plaksa sembari tangan kanannya berpegangan ke salah satu cabang ketika melahirkan puteranya itu, ternyata ditampung lengan Indra dan Brahma, dewa-dewa dari igama Hindu sendiri? Lagipula tidakkah Maheswara, Dewa Siwa itu sendiri, yang dikawal ribuan dewa menyatakan penghormatannya, ketika meminta Raja Suddhodana membawa Sang Boddhisattva ke kuil pemujaannya? Bahkan dikisahkan betapa patungpatung dewa meretak, meremuk, dan menghancurkan diri mereka sendiri agar bisa bersujud ke kaki Boddhisatva. 7)

Meski kutulis kalimat-kalimat mereka dengan tanda seru, sesungguhnyalah mereka berbisik-bisik sahaja. Kuikuti terus bagaimana dengan cermat mereka mengeja segala sesuatu yang tertulis dalam lontar yang mereka gelar. Mereka sedang membahas hukum yang berlaku bagi penistaan atau penyerangan antarkasta, yang mengacu kepada Vakparusya dan Dandaparusya. Segera bisa terbaca apa yang dianggap sebagai ketidak adilan tersebut, karena rujukan kepada adat yang diturunkan dari igama Hindu.

Jika penyerang dan yang diserang berada di kasta yang sama, denda hanyalah 250, tetapi yang berikutnya tersusun seperti ini: Penyerang Diserang Hukuman Denda Brahmana Ksatriya 1.000 Brahmana Waisya 500 Brahmana Sudra 250 Ksatriya Brahmana 2.000 Ksatriya Waisya 1.000 Waisya Brahmana 5.000 Waisya Ksatriya 2.000 Waisya Sudra 1.000 Sudra Brahmana Mati Sudra Ksatriya 5.000

Sudra Waisya 2.000 Peraturan ini mengikuti Manu-samhita Pasal VIII Ayat 267-269. Ketika dibandingkan dengan hukum yang berlaku di Yawabumi selama ini, yakni

Kutara-manava-sastra, ternyata diikuti sama persis, kecuali bahwa terdapat penambahan, yakni bahwa candala

yang menistai Brahmana hukumannya adalah juga Mati. Mereka mengamati bahwa peraturan di sekitar hukum pidana akibat penyerangan, mencederai, pencurian, perampokan, penjarahan, pencurian ternak, perusakan atau penghancuran harta benda, dan perselingkuhan diambil langsung dari Manu-samhita dengan sangat sedikit perubahan. Hukum pidana ternyata juga diberlakukan bagi penyihiran dan perdukunan. Sabda Manu yang terkenal, “Dengan anggota tubuh mana pun seseorang dari kasta rendah melukai seseorang dari kasta di atasnya, bahkan anggota tubuh itu harus dipotong”, telah dikutip dan diterjemahkan dari bahasa Sansekerta ke bahasa Kawi dengan penjelasan mengenai jenis anggota-anggota tubuh tersebut.

Setelah membahas seluruhnya, kelompok ini membuat sejumlah catatan tentang hukum di Yawabumi, dalam perbandingan dengan sumbernya di Jambhudvipa.

Pertama, bahwa peraturan tentang pembunuhan dan pencurian jauh lebih lengkap dari yang bisa ditemukan dalam kitab-kitab hukum Jambhudvipa. Bahkan para pakar hukum Javadvipa memperkenalkan dua ketentuan baru, yakni (1) bahwa kejahatan terbagi antara sekutu dan kawan-kawan sang penjahat; dan (2) bahkan anggota keluarga penjahat, dalam masalah pencurian, dan orang yang menghasut atau mengarahkan seseorang kepada kejahatan, juga mungkin mendapat hukuman.

Kedua, hukum pidana di Yawabumi memperlihatkan, gagasan lama bahwa penyerangan lebih merupakan kesalahan daripada kejahatan, ternyata belum sepenuhnya mati. Maka dibandingkan dengan hukum yang berlaku di Jambhudvipa, hukuman denda lebih sering diberlakukan di Yawabumi, sebagai ganti hukuman mati atas kejahatan yang sama di Jambhudvipa.

Mereka lantas membahas sejumlah contoh. Dalam Manu-samhita Pasal VIII Ayat 295296, kematian yang disebabkan oleh ketergesaan dalam berkendaraan dianggap sebagai kejahatan murni, tetapi yang dalam kitab hukum di Yawabumi atau Javadvipa mendapat tambahan: Bahwa suatu ganti rugi harus dibayarkan kepada yang berhubungan darah dengan korban tewas, jika ia seorang yang bebas; dan kepada pemiliknya, jika ia seorang budak.

Simpulan yang sama berlangsung dari hukum-hukum tentang perkara perselingkuhan, ketika denda terutama merupakan ganti rugi bagi suami yang dilukai hatinya dalam hukum Manu, sedangkan bagi hukum yang berlaku di Javadvipa yang belakangan ini berhak membunuh yang bersalah jika memang menangkap basah. Seperti dalam kasus pencurian yang bisa diganti denda sebesar nilai benda yang dicuri, tapi dilipat duakan oleh para pakar hukum Yawabumi, begitulah rupanya yang telah berlangsung dalam perkara ini.

KETIGA , meskipun hukum di Jambhudvipa maupun Yawabumi membuat pembedaan berdasarkan kasta, pemberian hukuman bagi berbagai penyerangan dalam hukum Yawabumi terdapat perkecualian di sekitar pembunuhan dan pencurian. Dengan kata lain, segenap penjahat di Yawabumi, ketika dituduh membunuh atau mencuri, diperlakukan sama tanpa memandang kastanya; sedang di Jambhudvipa, pertimbangan kasta berlaku sebelumnya, meski untuk kedua jenis kejahatan ini. 8)

Sementara mereka masih terus berdebat bahwa segenap perkecualian ini kurang memuaskan, aku merasakan terdapatnya suatu pertarungan dalam diam yang tidak kalah serunya dengan pertarungan dalam dunia persilatan. Mereka yang datang menyeberangi samudera dengan kapal-kapal besar membawa kebudayaan, tetapi mereka yang telah lama bermukim di pulau ini berabad-abad lamanya juga telah memiliki kebudayaan. Dalam pergulatan antarwacana dalam perjumpaan kebudayaan, gagasan-gagasan terbaik saling berjuang untuk membebankan maknanya masingmasing, yang berlangsung terus menerus tanpa putus dalam perjalanan waktu. Sehingga tiada gagasan yang akan tetap tinggal tetap dan menjadi kuasa, karena keberadaannya hanya dapat dipertahankan jika menerima tawaran gagasan mereka yang terbawahkan.

Aku masih berlagak mendengkur, tetapi suatu gagasan melentik dalam kepalaku. Apakah aku masih penasaran untuk menantang Naga Hitam? Barangkali. Karena aku memang tidak sudi dikejar dan diburu seperti seekor tikus yang melarikan diri dari

incaran burung elang. Namun suatu keinginan, suatu kehendak, suatu gagasan meruyak dan menguak bagaikan kawah menggelegak.

Bayangan tentang kapal-kapal telah memberikan kepadaku khayalan tentang negerinegeri yang jauh dari mana kapal-kapal itu mungkin berasal. Aku harus segera menuju pantai utara! Aku harus melihat kapal-kapal besar dengan orang-orang mancanegara yang datang bersamanya! Aku ingin melihat kapal! Aku ingin melihat laut! Aku ingin menyeberangi samudera! Menuju tanah-tanah di seberangnya!

Aku masih memejamkan mata. Kuingat-ingat kembali tujuanku memasuki kedai ini. Hmm. Aku masih harus bersabar sebelum berkelebat pergi. Aku tidak hanya ingin mengenal hukum yang berlaku pada masa kiniku, tetapi juga segalanya yang terjadi dalam sepuluh tahun ini. Betapapun, meski telah dinista dan dihina sebagai candala tanpa kasta, biarlah, aku merasa beruntung telah memasuki warung ini. Kuikuti terus perbincangan mereka, yang kini telah memasuki masalah hukum tentang perempuan dan perbudakan.

47: Hukum Manusia, Hukum Kehidupan

Perkawinan seorang perempuan didahului oleh pembayaran sulka atau mahar oleh pengantin lelaki. Penerimaan harga ini oleh pihak perempuan, membuatnya menjadi wajib dan sahih untuk menikahkannya kepada pengantin lelaki. Jika ayahnya menikahkan perempuan tersebut kepada yang lain, atau tidak memberi tahu bahwa perempuan itu menikah dengan orang lain, ia takhanya harus mengembalikan mahar yang telah diterimanya sebanyak dua kali lipat, tetapi juga didenda 40.000 oleh raja. Perempuan itu dan suaminya masing-masing didenda dengan jumlah yang sama. Jika pengantin lelaki, setelah pembayaran, menolak atau gagal menikahi pengantin perempuan dalam lima bulan, bayaran itu tetap menjadi hak pengantin perempuan sebagai miliknya yang sah. Di pihak lain, jika ia menjamah perempuan itu sebelum hari yang ditentukan, ia tidak hanya kehilangan mahar, tetapi juga didenda 40.000. Jika pengantin perempuan meninggal setelah pembayaran, adik lelakinya, jika menghendaki, dapat mengakui pengantin perempuan sebagai miliknya.

Namun seorang perempuan disebut sah untuk menolak pernikahan dengan orang cacat tubuh, sakit jiwa, lemah syahwat, atau sakit ayan. Dalam hal ini, ia cukup hanya mengembalikan mahar itu. Hukum tidak menyebutkan pembatasan

sehubungan dengan derajat larangan dalam perkawinan, kecuali bahwa seseorang akan dihukum jika menikahi anak tiri perempuannya.

“MENURUT Vratisasana, lebih banyak lagi hubungan-hubungan yang terlarang untuk perkawinan,” seorang di antaranya menekankan.

“Makanya, nah coba perhatikan ini: Agar menjadi resmi, pencatatan oleh kepala desa harus dianggap penting.”

“Maksudnya kepala desa itu dianggap mengenal warga desanya, siapa saling terkait dengan siapa, begitukah?”

“Mungkin saja, setidaknya tidak akan terjadi pernikahan antara mereka yang tidak diketahui asal-usulnya.”

“Bagian mana tambahan adat Yawabumi kepada hukum Jambhudvipa?”

Mereka tenggelam dalam perbincangan hukum, dan aku berenang dalam lautan pengetahuan yang jarang kudengar. Apalah yang akan diketahui seseorang yang hidup dalam dunia persilatan bukan?

Pendasaran atas hak seorang dara untuk menolak pernikahan dengan seorang lelaki, juga membuat dia berhak untuk menuntut perceraian meski setelah perkawinan dijalani dengan hubungan badan, bahkan meskipun sekadar hanya karena perempuan itu tidak suka kepada yang lelaki. Begitu pula ayah dari gadis itu dapat membatalkan perkawinan jika ia tidak suka kepada menantunya, tetapi dalam kedua perkara ini segenap mahar

dikembalikan kepadanya, dan sejumlah upacara harus dijalani sebelum perkawinan secara sah dibubarkan.

Bunyi peraturannya seperti berikut.

Untuk perceraian dibutuhkan empat hal: (1) pengumuman tentang perceraian; (2) pematahan mata uang ketika suami melakukan pengumuman; (3) pemberian air untuk cuci muka; (4) pemberian beras.

Ini dianggap sebagai bukti-bukti berlangsungnya perceraian. Keempat hal tersebut menunjukkan bahwa perkawinan dianggap bubar secara sah, tetapi tidak jika sebaliknya. Jika seorang perempuan menikah lagi tanpa pernah melalui upacara tersebut, maka suami barunya akan didenda 40.000. Lebih jauh, seorang perempuan dapat menceraikan suaminya, sebelum perkawinan dijalani dengan

hubungan badan, hanya dengan cara membayar dua kali harga mahar, tanpa harus menjalani upacara pembuktian resmi.

“Coba lihat! Ini tak ada dalam hukum Jambhudvipa manapun! Ini hukum adat Yawabumi!”

“Malah berlawanan dengan semangat dan ketentuan hukum Hindu!”

“Ya, tapi tetap saja pengaruhnya besar!”

Lantas mereka perbincangkan sejumlah peraturan, seperti hukuman berat bagi lelaki yang mengawini perempuan sudah bersuami, sementara suaminya masih hidup. Suami yang isterinya disambar ini berhak membunuh pasangan baru tersebut, atau menerima denda 40.000. Dalam hal ini, bahkan saksi-saksi pernikahan yang belakangan pun wajib dihukum. Namun dalam sejumlah kemungkinan, perempuan yang sudah bersuami bahkan dapat mengambil suami lain, setelah menunggu suami sendiri yang pergi untuk waktu yang tercatat seperti berikut:

Keadaan Suami Masa Menunggu

1.Pergi ke luar negeri demi

pertunjukan suci atau tugas agama, penebusan dosa, atau kerja baik yang lain. 8 tahun 2.Pergi ke luar negeri untuk belajar hukum. 6 tahun 3.Pergi ke luar negeri untuk berdagang, penjelajahan laut, atau mencari kekayaan 10 tahun 4.Pergi ke luar negeri untuk menikahi seorang isteri kedua 3 tahun 5.Melakukan perjalanan ke negeri-negeri yang jauh. 4 tahun 6.Jika suaminya pergi, tetapi tidak termasuk ketentuan 2, 3, dan 5 di atas. 4 tahun 7.Jika suaminya gila, ayan, lemah syahwat, atau tidak memiliki kemampuan seorang lelaki. 3 tahun 8.Jika suaminya hilang, meninggal dalam perjalanan, menjadi rahib, atau lemah syahwat. 0 tahun

HAMPIR semua peraturan ini berdasarkan ketentuan resmi Hindu seperti ternyatakan dalam Manu Pasal IX Ayat 76-78 dan Narada Pasal XII Ayat 97, yang langsung mengikutinya. Ini disusul segera oleh peraturan tunggal yang memberi kuasa kepada suami untuk melepaskan seorang isteri.

“Jika seorang istri tidak menyukai suaminya, suami tersebut mesti menunggu satu tahun. Setelah itu, jika ketidak sukaan berlanjut, istrinya harus mengembalikan mahar dua kali lipat. Ini disebut penolakan hubungan sanggama.”

Peraturan semacam ini jelas berdasarkan Manu Pasal IX Ayat 77, tetapi harus dicatat bahwa ketika peraturan ini dan kitab hukum Jambhudvipa lain memberi kuasa suami untuk mendepak istrinya, kitab-kitab hukum Yawabumi mengabaikan semuanya, kecuali yang di atas tersebut, berdasarkan ketidaksukaan. Namun di antara orang-orang yang berdebat dengan cara berbisik-bisik itu, ada yang menekankan bahwa kitab-kitab hukum yang berlaku di Yawabumi memberi hak yang sama kepada istri. Mereka akhirnya sepakat, peraturan bahwa seorang istri dapat menikah lagi jika suaminya gila, ayan, atau tak memiliki kekuatan seorang laki-laki; atau bahwa anak perawan di Yawabumi boleh menolak untuk kawin atau cerai dari seorang suami yang terserang penyakit, cacat tubuh, dan berbagai ketidak mampuan lain, tak ada kesamaannya dengan kitab-kitab hukum Jambhudvipa.

Sambil masih pura-pura tidur mendengkur, aku mendapat suatu gambaran, bahwa meskipun kitab-kitab hukum Yawabumi tampak mengikuti secara hampir serupa kitabkitab hukum Jambhudvipa seperti Manu-samhita, sebenarnya para penyalin ini telah memberi sentuhan hukum adat Yawabumi sendiri sehingga tidak bisa diragukan lagi betapa perempuan Yawabumi menikmati kedudukan lebih tinggi daripada perempuan di Jambhudvipa pada masa Manu. Mereka yang sedang berbincang menyebut peraturan berikut untuk mendukung pendapat ini:

Seorang lelaki harus didenda 20.000 jika ia bertengkar dengan seorang perempuan, dan jumlahnya bertambah, serta diberikan kepada suaminya, jika perempuan itu bersuami.

Namun meski hukum Yawabumi memberi peluang bagi perempuan untuk merebut kemerdekaannya, para suami tampak memiliki kekuasaan penuh atas diri mereka selama tetap dalam keluarga. Kepala keluarga menjaga kewaspadaan atas perempuan, budak, dan kanak-kanak, bahkan boleh menghukum jika mereka dianggap berbuat salah, yakni memukulnya dengan rotan atau tongkat kayu. Meskipun begitu, jika pukulan itu sengaja atau tak sengaja mengenai kepala, justru sang kepala keluarga inilah yang akan didenda atas nama raja.

“Ini jelas diambil dari kitab Manu!”

Salah seorang lantas mengutip dari kitab di sebelahnya.

“Hanya ayah saja yang mengawasi kanak-kanak, bukan ibunya. Jika seorang ibu mengatur pernikahan anak perempuannya tanpa persetujuan ayahnya, sang ayah

boleh membubarkan pernikahan dan mahar harus dikembalikan kepada pelamar yang tertolak oleh ibu dan anak perempuannya.”

Hukum ternyata juga mengizinkan seorang suami menjual isterinya kepada pihak lain. Namun juga dapat diketahui bahwa seorang lelaki juga mungkin dihukum jika membeli seorang perempuan tanpa izin suaminya dan memeliharanya sebagai budak. Namun jika ia membeli dari suaminya dan mengawininya sendiri, maka ia bebas dari segala kesalahan.

“Orang Yawabumi menghargai tinggi perempuan, tapi memberikan kekuasaan terlalu besar kepada suami.”

“Itu adalah kata-katamu, sobat!”

“Kata-kataku? Periksalah aturan-aturan tentang perselingkuhan ini!”

Maka mereka menekuni peraturan apabila terjadi perselingkuhan itu, yang menunjukkan beberapa keganjilan dalam cara berpikir orang-orang Yawabumi. Seperti telah dinyatakan sebelumnya, sebagian besar dari hukum ini diambil dari Manu, dan secara keseluruhan hukum Yawabumi mengingatkan kepada hukum Jambhudvipa dalam memerhatikan perselingkuhan sebagai masalah berat, yang menghukum bukan hanya

pelaku dan kakitangan kejahatannya, tetapi juga tindakan yang mengarah kepada perbuatan selingkuh tersebut; seperti berbicara kepada seorang perempuan yang berada dalam kesendirian, menawarkan kepadanya hadiah-hadiah, menggodanya dengan uang, dan lain-lain. Ini berarti mengenali betapa gairah manusia sulit untuk dijaga, dan karenanya mesti dilarang semua tindakan dan gerakan yang mengarah ke hubungan gelap.

NAMUN hukuman yang telah dijelaskan dianggap tidak terlalu berat. Hukuman mati atau pemotongan tangan, diiringi dengan penunjukan nama buruk dan pembuangan, disimpan hanya untuk lelaki pelanggar. Pengarahan Manu, bahwa raja harus membuat perempuan pelanggar digigiti anjing di tempat umum, seperti tertulis dalam Pasal VIII Ayat 371, tidak ada padanannya dalam hukum yang berlaku di Yawabumi, yang lebih sering memberlakukan denda sesuai dengan kesalahannya. Namun yang harus dibayarkan kepada suami dari perempuan yang dilecehkan, bukan kepada raja. Dengan kata lain, pelanggaran dimaknai sebagai kesalahan pribadi kepada suami, daripada suatu kejahatan kepada negara. Buktinya, jika pelanggar tertangkap

basah melakukan perselingkuhan, suami diberi hak untuk membunuh pasangan penyelingkuh tersebut.

Sebelum menutup perbincangan tentang hukum bagi perempuan, mereka simpulkan bahwa meskipun peraturan-peraturan mengenai pernikahan kembali seorang perempuan dan pembayaran mahar didasarkan kepada kitab-kitab hukum Jambhudvipa, yang terakhir ini juga berisi peraturan dengan sifat berlawanan, yakni menakutkan bagi keduanya. Hal seperti ini tidak ada dalam kitab hukum Yawabumi, memperlihatkan keberadaannya sebagai bagian dari adat yang semula berjalan tapi kemudian luntur juga di Jambhudvipa. Dalam kitab Manu, hak isteri untuk bercerai bahkan tidak dikenal, dan juga asing bagi semangat dan pelaksanaan hukum di Jambhudvipa, meski Narada mengizinkannya dalam hal suami mempunyai berbagai masalah cacat tubuh. Akhirnya, setelah menunjuk berbagai pasal lagi tentang kemungkinan seorang perempuan memiliki harta kekayaan sendiri, dan tidak hanya bisa dimiliki, merupakan perbedaan dengan hukum-hukum Jambhudvipa, yang membuktikan penghargaan tinggi orang Yawabumi terhadap perempuan.

Sampai di sini mereka beristirahat dan memesan arak. Aku pura-pura bangun, tetapi kembali menelungkup di atas meja. Waktu mereka mulai bicara, aku terheran-heran karena arak itu tidak berpengaruh kepada kesungguhan mereka dalam berbincang.

Kini mereka membuka lembaran yang mengatur perbudakan di Yawabumi. Terdapat sejumlah ketentuan yang membuat seseorang sahih dianggap sebagai budak.

(1)Dhraja-hrta : Tawanan dalam perang.

(2)Grhaja : Lahir dari orangtua yang keduanya budak.

(3)Danda-dasa : Sebagai ganti pembayaran denda.

(4)Bhakta-dasa : Secara sukarela menerima kedudukan budak demi makanan dan tempat bernaung.

Seorang budak dapat berganti majikan, karena dibeli atau dijual, sebagai hadiah, dan sebagai warisan.

Ketentuan di atas mengikuti Manu Pasal VIII Ayat 415, tetapi berbeda dari Narada yang jumlah ketentuannya sampai limabelas, termasuk empat ketentuan tersebut. Menurut hukum Yawabumi, semua budak bisa mendapat kebebasannya melalui suatu pembayaran wajib kepada majikannya. Manu tak bicara apa-apa soal ini, tetapi Narada menyatakan dengan jelas:

Budak karena kelahiran atau dimiliki karena pembelian, hadiah, atau warisan, tidak dapat dibebaskan dari perbudakan, kecuali atas kebaikan pemiliknya.

Dalam hal ini, hukum Yawabumi tampak lebih bebas; tetapi kecuali dalam perkara budak yang tergolong ketentuan pertama dan keempat, tidak dijelaskan secara rinci peraturan tentang cara mendapat kebebasan. Budak dari dua golongan ini dapat membebaskan dirinya sendiri dengan membayar sejumlah 8000. Hukuman diberikan jika memaksa budak yang sudah terbebaskan bekerja bagi majikannya yang lama.

Budak tidak dianggap sebagai milik majikan sepenuhnya. Bukan hanya karena mereka hidup dan bekerja menurut penawarannya, tetapi ia juga berhak atas hartabendanya

dan bahkan hasil dari budak-budak lelaki dan perempuannya itu. Jika lelaki budak menikahi perempuan budak dari majikan lain, maka anak-anaknya, jika ada, dibagi antara dua pemilik; anak lelaki untuk pemilik lelaki budak, anak perempuan untuk pemilik perempuan budak. Budak yang melarikan diri maupun yang menolongnya mendapat hukuman berat. Membunuh budak harus ditebus dengan ganti rugi kepada pemiliknya. Seorang budak bisa diberikan sebagai suatu jaminan, dan budak semacam itu juga mungkin dihukum jika ia mencuri senilai lebih dari 100 dari pemilik yang diberi jaminan.

NAMUN, betapapun, seorang budak dilindungi hukum dengan berbagai cara. Ia boleh dihukum, bahkan dikurung, oleh majikannya, tetapi tak pernah diizinkan untuk dipukul kepalanya oleh majikan tersebut.

Jika seorang majikan berlaku kejam dalam kesederhanaan seorang perempuan budak, dia diizinkan lari, dan dengan sendirinya bebas. Begitu pula budak seseorang yang mencuri dengan sendirinya bebas. Siapapun yang menculik seorang budak dapat dihukum mati. Seorang majikan bisa mengawini budaknya, dan dalam perkara ini anak mereka berhak mewarisi kekayaannya, dan jika tidak punya anak maka harta benda jatuh ke tangan para istri dengan derajat kelahiran yang setara. Jika seseorang mengawini budak orang lain, anak-anaknya akan mewarisi seperempat harta bendanya, atau seluruhnya jika ia tidak punya anak dari perempuan yang sejak lahirnya bebas. 1)

Hari kemudian menggelap. Lampu minyak kelapa dinyalakan. Mereka telah berbicara sehari penuh dan sekarang masih juga bicara. Kelompok yang datang

pertama kali sudah pergi. Bahkan semua orang juga sudah pergi. Mereka berpesan kepada pemilik kedai akan menginap di sini. Namun bagiku mereka seperti masih akan berbincang dan membahas persoalan-persoalan hukum sepanjang malam, bahkan kemungkinan besar sampai pagi. Aku akan pergi, karena merasa telah mendapatkan sesuatu, meskipun yang kuharapkan berbeda. Betapapun perbincangan tentang pasal-pasal dan ayat-ayat yang berlaku dalam hukum di Yawabumi, dan bersumber dari Jambhudvipa, telah

melengkapi gambaran yang selama ini kusaksikan dengan kepala kosong, karena kekurangan pengetahuanku tentang hukum.

Aku dibesarkan oleh Sepasang Naga dari Celah Kledung di sebuah lembah terpencil. Memang benar kedua orangtua asuhku itu tidak membiarkan aku terkucil, sehingga sering diajaknya aku dalam perjalanan mereka, bahkan dalam kenyataannya aku digaulkan pula dengan penduduk kampung di luar lembah yang bercelah sempit itu. Namun betapapun aku dibesarkan dalam dunia para pendekar yang segenap tujuan hidupnya adalah kesempurnaan ilmu persilatan. Meskipun aku juga diperkenalkan kepada kitab-kitab di luar kitab ilmu silat, seperti kitab agama dan kitab filsafat, semua itu dipelajari hanya dengan tujuan mencerahkan ilmu silat yang sedang kami pelajari.

Setelah mendengarkan perbincangan mereka, banyak gambaran yang kusaksikan dengan kepala kosong kini terisi. Telah kulihat seorang budak yang dipotong tangannya tanpa aku tahu persoalannya. Telah kusaksikan para tawanan perang yang diikat kaki dan tangannya, diseret kuda-kuda kerajaan, tanpa kusadari perubahan nasib luar biasa yang lebih menyiksa dari luka-luka goresan senjata. Kini kukagumi perempuan pengembara di atas kuda yang melarikan diri dari majikannya. Kini kuhayati degup jantung kehidupan rumah tangga di desa maupun di kota, yang menjadi lebih mengesankan dan bermakna setelah kudengar segala masalah hukum yang termungkinkan daripadanya. Aku juga pernah melihat upacara perceraian, ketika wajah dicuci dan mata uang dipatahkan, tetapi baru sekarang kuingat kembali peristiwa itu sebagai kegetiran.

Mereka masih berbicara tentang hukum mengenai bunga uang, perjanjian dagang, dan warisan. Dalam hubungannya dengan warisan, aku terkesan dengan dua belas golongan anak yang tertulis dalam Manu-samhita sebagai berikut:

1. Anak dari seorang perempuan, yang terikat dengan seorang lelaki sejak kecil, dan setelah itu dinikahkan kepada lelaki itu oleh orangtuanya.

2. Anak seorang perempuan yang menikah kembali, jika wataknya murni dan jika perkawinannya diizinkan orangtua.

3. Anak yang diberikan oleh sanak saudara.

4. Anak yang didapatkan dari orang lain.

5. Anak yang diperanakkan seorang istri dari orang lain dengan izin suami.

6. Anak yang dibuang oleh ayahnya.

7. Anak dari perempuan yang tidak kawin dan ayahnya tidak diketahui.

8. Anak dari perempuan yang hamil saat pernikahannya.

9. Anak dari seorang perempuan yang menceraikan suaminya, kawin lagi dengan suami lain yang segera meninggal, dan kembali kepada suami pertama.

10. Anak yang dibeli.

11. Anak yang menawarkan dirinya sendiri seperti itu.

12. Anak perempuan budak dari kasta rendah, dan diterima seperti itu.

Enam golongan pertama berhak mendapat warisan harta ayahnya, tetapi enam yang terakhir tidak dianggap sebagai ahli waris.2)

Entah kenapa mataku kemudian terasa panas. Dalam sekejap aku sudah lenyap dari kedai itu.

HARI sudah malam. Aku berkelebat dengan kecepatan kilat. Rembulan ditelan Batara Kala. Dunia rasanya gelap sekali. Meski tetap juga kudengar gesekan kain dengan udara. Seseorang telah membuntuti aku dengan kecepatan yang sama!

Di tengah jalan antardesa aku berhenti. Sawah penuh dengan kunang-kunang. Suara gesekan kain dengan udara juga berhenti. Aku memang berhenti, tetapi tidak membalikkan badan. Meski begitu aku mendengar suara nafasnya. Ia telah menjaga agar suara nafasnya tidak terdengar, tetapi apapun yang dilakukannya aku akan tetap mendengarnya, karena aku bahkan mendengar degup jantungnya, sehingga aku tahu betapa kepandaiannya memang sangat tinggi. Ia telah berhasil membuntuti aku dengan kecepatan setinggi itu tanpa perubahan degup jantung sama sekali. Aku menghela nafas, pendalaman ilmu silat selama sepuluh tahun tidak dengan sendirinya membuat kita jadi pendekar tanpa tanding.

Aku membisu, menunggu dia bicara. Namun dia tidak mengucapkan apapun. Aku tetap menunggu, tetapi kali ini tidak menunggu dia bicara, melainkan menunggu serangannya. Apalah artinya bertukar kata-kata jika tujuannya adalah pertarungan, yang hanya bisa dihentikan oleh kematian?

Terdengar denting logam beradu. Aku terkesiap. Dari dentingnya aku tahu itulah dentingan dari dua pedang yang sangat tipis tetapi juga sangat amat tajam, begitu tajam sehingga bahkan benang yang jatuh akan terputus ketika menyentuh mata pedang itu. Aku memusatkan perhatian tanpa berbalik. Kudengar dengusan nafas. Apakah dia tersinggung karena aku tidak berbalik sama sekali? Kupusatkan perhatian kepada gerakan pedang yang berada di kedua tangannya. Aku tahu kedua pedang itu akan sangat berbahaya. Sedangkan malam begitu kelam. Aku takdapat mengandalkan pandangan.

Aku menunggu dia bergerak, tetapi ia takjuga bergerak.

“Kulihat dikau bergerak seperti kilat dalam kegelapan. Kukenal hampir semua pendekar yang berilmu tinggi di Yawabumi, dan semua yang telah kukenal kukalahkan dalam pertarungan, tetapi semuanya tidak mampu bergerak secepat dirimu. Aneh sekali bahwa aku belum mengenal namamu. Siapakah dikau Tuan Pendekar?”

Sejenak aku termangu. Mengikuti adab dunia persilatan, seharusnya aku membalikkan badan dan menghadapinya, tetapi entah kenapa aku tidak merasa aman melakukannya, karena pendekar ini tentunya memiliki kemampuan bergerak cepat yang luar biasa.

Saat aku menoleh akan menjadi kesempatan besar baginya untuk meniup nyawa, karena untuk menancapkan pedangnya di leherku memang hanya perlu kelengahan sekedipan mata.

“Maafkan aku, aku tidak mempunyai nama,” kataku.

“Tanpa nama? Hmmhh. Apakah aku harus bertarung dengan seorang pendekar tanpa nama? Hmm….”

Aku tidak menjawab, meski hatiku bertanya-tanya siapakah dia yang telah mengalahkan setiap pendekar yang ditemuinya?

Kuperhatikan selaksa kunang-kunang sejauh mataku dapat melihatnya di malam yang begitu gelap, tetapi yang justru membuat pijar cahaya kunang-kunang itu

terlihat semakin terang. Dari pergerakan kunang-kunang itu kuketahui ia mengangkat kedua pedangnya. Aku memusatkan pikiran.

Ketika ia berkelebat, aku sudah melayang jungkir balik di atasnya. Segera kulihat betapa kedua tangannya yang buntung dari siku telah digantikan sepasang pedang. Ujung kedua pedangnya yang runcing bergerak sangat cepat, terlalu cepat, begitu cepat, bagaikan lebih cepat dari cepat dan terus menerus mengejar leherku. Namun aku segera menarik nafas, mengolahnya, dan memanfaatkan pendalamanku atas maya deha atau badan bayangan, sehingga seluruh gerakannya yang cepat tiada tara bukan saja dapat kuhindari, tetapi bahkan kemudian bisa kutirukan.

Inilah percobaanku yang pertama, dengan apa yang kelak akan kusebut Jurus Bayangan Cermin, dan karena aku terbiasa melatihnya dengan bayang-bayangku sendiri yang tidak bisa kulebihi kecepatannya, berhadapan dengan lawan sesungguhnya seperti ini tidak akan menjadi lebih sulit. Masalahnya, dua pedang yang menempel pada tangan buntung tidaklah sama dengan pedang yang dipegang tangan tanpa cacat. Terdapatnya pergelangan pada tangan tanpa cacat, dan tiadanya pergelangan pada tangan buntung berpedang, membuat perbedaan ilmu pedang yang besar.

“Akulah Pendekar Tangan Pedang,” katanya, “supaya dikau tidak mati dengan penasaran.”

GERAKAN Pendekar Tangan Pedang tidaklah bisa diperkirakan sebagai ilmu pedang, melainkan ilmu tangan kosong, tetapi yang setajam-tajamnya pedang. Aneh sekali rasanya, seperti menghadapi tangan, tetapi sebetulnya pedang; sehingga aku ragu mesti menghadapinya dengan jurus ilmu pedang atau ilmu tangan kosong. Sementara berpikir, aku hanya bisa menghindar dari ketajaman pedangnya yang bergerak takterlihat mata telanjang dalam kekelaman malam. Semula aku kebingungan, tetapi maya deha segera memberi jawaban, aku yang bertangan kosong memperlakukan tanganku itu juga sebagai pedang. Tenaga dalam membuat tanganku lebih keras dari batu. Maka selain kecepatannya sejak awal memang bisa kuimbangi, ketajaman pedangnya bisa kuatasi dengan dua tangan yang tidak mempan senjata tajam.

Dalam suatu kesempatan seluruh jurus serangannya kutangkis dengan tangan. Terdengar suara berdenting-denting penuh lentik api dari pedang yang seolah

menimpa logam, sampai mata pedangnya menjadi rusak dan hilang keanggunan. Belum usai ia terkejut karena mengira tanganku seharusnya menjadi buntung, segera kuserang ia dengan rangkaian jurus yang telah berhasil kuserap dan kumainkan sedemikian rupa sehingga meskipun segalanya mirip tetapi terbalik bagaikan bayangan cermin.

“Ah! Jurus apa ini?!”

Tak sadar ia berteriak, memperlihatkan keterkejutannya.

Dalam kekelaman malam ia berkelebat mencoba menghindari jurus yang sepertinya sangat dikenal tetapi takkuasa dihadapinya. Namun aku berkelebat lebih cepat mencegatnya di semua jurusan. Ia mengerahkan segenap kecepatannya, tetapi seperti apapun gerakannya, aku selalu mengikutinya seperti bayangan, yang terbalik seperti cermin, sehingga akan selalu mematikannya.

Pendekar Tangan Pedang, kini aku tahu bagaimana ia mengalahkan lawan-lawannya. Jurus-jurusnya tercipta bagi tangan buntung berpedang seperti dirinya. Jurus yang

dilahirkan dalam pemahaman seperti inilah yang merupakan sumbangan ilmu bagi dunia persilatan. Sayang sekali ia berhadapan denganku, yang telah memanfaatkan pendekatan samadhi badan bayangan ke dalam ilmu silat, yang mustahil disadari para petarung yang tidak pernah membaca, atau hanya peduli kepada ilmu silat sebagai ilmu silat sahaja.

Aku ibarat telah menjadi bayang-bayangnya, tetapi bayang-bayang yang takbisa dikuasainya. Bayang-bayang yang setiap saat bisa melepaskan diri dari tubuh, bahkan kemudian menyerang tubuh itu sendiri dengan pukulan mematikan.

“Siapakah namamu pendekar,” katanya di tengah pertarungan, “katakan supaya aku tidak mati penasaran.”

“Sudah kukatakan aku tidak mempunyai nama,” kataku.

Saat itu kuselesaikan perlawanannya dengan dorongan pukulan Telapak Darah. Aku takperlu mengenainya, karena anginnya saja telah membuat ia terlontar ke belakang sampai terbentur ke sebuah pohon.

Malam kelam. Namun kulihat jejak telapak yang merah di dadanya. Ia hanya berkain selingkar pinggang, kain yang kibarannya kudengar ketika ia memburuku. Sungguh ia seorang pendekar berilmu tinggi, bukan sekadar karena ilmu meringankan

tubuhnya yang sangat tinggi, tetapi karena tangan pedangnya telah melahirkan ilmu pedang yang tiada duanya, yang telah mengalahkan segenap ilmu pedang bagi tangan sempurna. Kuambil sebuah pelajaran dari pertemuan ini: Cacat tubuh bukanlah suatu kekurangan, cacat tubuh dalam dirinya bahkan merupakan suatu kesempurnaan, seperti telah dibuktikan Pendekar Tangan Pedang.

“Terima kasih atas pelajaranmu,” kukatakan kepadanya sambil menjura.

“Terimakasih,” katanya dengan mulut bersimbah darah, akibat yang selalu dialami korban pukulan Telapak Darah, “terimakasih, Pendekar Tanpa Nama..”

Lantas hidupnya menjadi sempurna dalam kematian.

***

AKU membayar petani pertama yang lewat agar menyempurnakan jenazah Pendekar Tangan Pedang. Sebelum ayam jantan terdengar berkokok untuk pertama kalinya, aku memandang dan merenungkan kehidupan seorang pendekar seperti Pendekar Tangan Pedang itu.

Apakah tangannya buntung sejak lahir, ataukah korban pemapasan dalam pertarungan? Jika buntung sejak lahir, maka ia memilikinya sebagai tangan sempurna, karena memang seperti itulah hidupnya bermula. Jika tangannya buntung sebagai korban pemapasan dalam pertarungan, tentu ia membutuhkan masa penyesuaian, dan tentu saja ia hebat karena dapat mengubah kekurangannya menjadi kekuatan. Aku bisa membayangkan, dan memang telah merasakan sendiri kedahsyatan Ilmu Silat Tangan Pedang itu, yang akan menimbulkan kesulitan besar jika dilayani sebagai ilmu pedang untuk dimainkan oleh sepasang tangan yang utuh.

SETIAP ilmu silat memiliki kelebihan, sebenarnyalah kalah dan menang bukan ukuran bagi ilmu silat yang dimainkan, melainkan ukuran bagi pendekar yang memperagakannya. Apakah ia memperagakannya dengan sempurna ataukah apa adanya, apakah ia telah memanfaatkan segenap kemungkinan pengembangan ataukah secara lugas mengikuti petunjuk yang dipelajarinya. Dengan begitu ukurannya memang tidak terlalu pasti, karena seorang pendekar ternama dapat dikalahkan seseorang yang baru saja berguru, tetapi telah memanfaatkan peluang yang tidak bisa lebih tepat lagi. Pertarungan adalah perkara bagaimana menempatkan diri dalam ruang dan waktu. Pendekar yang terhebat bisa saja suatu

ketika lengah, ketika pertahanan terbuka satu depa dan dalam waktu yang sekejap itu telah dimanfaatkan lawannya yang baru belajar dengan satu-satunya jurus yang diketahuinya. Maka, meskipun menang dalam pertarungan, aku sangat mengagumi Ilmu Silat Tangan Pedang, yang meskipun telah kuserap melalui Jurus Bayangan Cermin dan kukembalikan untuk mengalahkannya pula, tidaklah terjamin bisa kumainkan lebih baik dari penemunya.

Kuperhatikan pendekar yang telah tewas itu. Tubuhnya tidak terlalu tinggi, tidak terlalu tegap, dan usianya pun tidak terlalu muda lagi. Sebagian rambutnya telah memutih.

Kurasa aku beruntung bertemu dengannya setelah mendalami maya deha bagi persilatan. Jika tidak, aku pun tentu akan menemui kesulitan seperti para pendekar yang telah dikalahkannya.

Kubayangkan kehidupannya mencari lawan dengan tangan berpedang seperti itu. Karena kedua tangannya tidak ditutupi apapun, tentu ia tidak pernah memperlihatkan diri di dunia orang awam; sebab jika orang-orang awam melihatnya dengan tangan berpedang seperti itu, ia pasti akan menjadi tontonan. Bagaimanakah caranya ia memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari dengan tangan berpedang seperti itu? Samar-samar aku teringat cerita ibuku tentang seorang pendekar yang menarik perhatian di sebuah kedai, karena mengiris daging bakar di atas meja, dan membawa potongannya ke mulut, dengan dua pedang tipis panjang yang mengganti lengan seperti itu. Apakah yang diceritakannya Pendekar Tangan Pedang? Mungkin aku masih terlalu kecil waktu ibuku bercerita, tetapi kuingat kembali sekarang lanjutan cerita itu, bahwa ketika orang-orang di dalam kedai menertawakan caranya makan, ia menantang mereka semua dan ketika mereka berloncatan mengeroyok dengan senjata terhunus, ia membunuhnya di tempat itu juga, sembari tetap duduk untuk mengiris dan memakan daging bakar.

Para pendekar dengan jatidiri yang mandiri, terasing dari masyarakat karena keberbedaan mereka. Pendekar Tangan Pedang karena kebuntungannya. Darimanakah datangnya kebuntungan itu? Jika terpapas karena pertarungan, dalam pertarungan macam apa? Apakah pertarungan satu lawan satu di puncak bukit di bawah sinar rembulan, pertempuran hebat antara dua pasukan dalam perang antarkerajaan, ataukah sekadar hukuman karena mencuri atau sebagai prajurit

tertawan lawan? Segalanya mungkin, termasuk bahwa tangannya buntung sejak lahir, dan apapun cerita yang mengawalinya pada akhirnya ia harus hidup dengan kedua tangan berpedang itu.

Orang-orang awam selalu melain-lainkan mereka yang hadir dengan perbedaan. Bagi para pendekar, orang awam ini tidak mengerti hakikat kehidupan, bahwa manusia harus menjadi dirinya sendiri, yang merupakan suatu perbincangan penting dalam dunia persilatan. Mereka yang belajar kepada perguruan silat yang besar, tidak akan pernah

mendapat nama sebesar mereka yang menggali ilmu silat berdasarkan pendalamannya sendiri. Maka para pendekar silat golongan merdeka memang menjadi pribadi yang lebih menarik daripada murid-murid perguruan silat terkenal, yang selalu bersilat sesuai dengan aturan perguruan. Bukan hanya pribadinya tentu, melainkan takkalah memukau adalah ilmu silatnya. Gerakan-gerakan yang paling aneh dan paling indah dari berbagai jurus dengan nama-nama ajaib datang dari para pendekar golongan merdeka, dan bukan dari anggota partai-partai persilatan tersohor.

Kecenderungan ini disebabkan suatu pilihan, apakah ilmu silat itu akan diamalkan dengan cara mengajarkannya kepada sebanyak mungkin orang; ataukah kepada murid-murid tertentu saja yang akan membawanya kepada kesempurnaan, yang pada saat dibutuhkan mampu menundukkan dan membasmi para dedengkot golongan hitam. Ketika ilmu silat diajarkan kepada sebanyak mungkin orang, artinya berlangsung penyederhanaan terhadap ilmu silat tersebut, agar dapat dipelajari semua orang dengan mudah, demi berbagai macam kepentingan dalam masyarakat: Apakah untuk rakyat yang dibutuhkan sebagai prajurit untuk maju berperang; ataukah untuk membentuk partai persilatan yang memang membutuhkan banyak orang.

PILIHAN membawa ilmu silat kepada suatu kesempurnaan, artinya kesempurnaan pribadi dalam kesempurnaan ilmu silat itu sendiri, adalah pilihan mereka yang kemudian disebut para pendekar. Suatu pilihan yang merupakan jalan sunyi, karena dalam pembelajarannya seorang pendekar hanya berbicara dengan dirinya sendiri, dan akan mencapai kesempurnaanya dalam kematian.

Sangat bisa dimaklumi betapa tidak terlalu banyak orang menempuh jalan ini. Suatu jalan yang bagi orang awam bagaikan hanya terdengar dalam dongeng dan kitab-kitab. Suatu jalan yang tidak mereka kenal. Sehingga mereka tidak bisa menghargai seorang pendekar yang tangan buntungnya berpedang, bahkan melihatnya sebagai tontonan, lantas mengejeknya.

Siapakah yang harus dikasihani dalam hal ini? Pendekar yang mengiris daging bakar dengan tangan pedangnya? Atau orang-orang awam tak berpengetahuan yang naif dan malang?

Masih kuperhatikan jenazah Pendekar Tangan Pedang yang seperti duduk melorot di bawah pohon. Mungkin usianya sudah 60 tahun. Siapakah dia? Dari mana asalnya? Seperti apakah riwayat hidupnya? Darah di mulutnya telah mengering. Sayang sekali aku harus mengakhiri hidupnya. Namun dengan itulah ia mencapai kesempurnaan hidupnya. Aku yang belum pernah dikalahkan dan terbunuh, belum mencapai kesempurnaan itu. Seperti mereka akupun akan mencari kesempurnaan dalam ilmu persilatan, mencari lawan tangguh yang sekiranya mungkin membunuhku, sebagai bagian yang terwajibkan dalam pembelajaran ilmu persilatan. Sebagai suatu pilihan dalam kemerdekaan.

Kutengok ke selatan, punggung-punggung bukit tampak bergaris cahaya keemasan. Fajar segera menyingsing. Aku harus menyingkir dari pandangan para petani yang akan melalui jalan ini untuk mengolah sawahnya. Meski dari mereka pun sebetulnya masih banyak yang ingin kuketahui.

Aku berkelebat pergi.

49: Iblis Pemakan Daging

AKU merasa tidak seorang pun menyaksikan pertarunganku melawan Pendekar Tangan Pedang, tetapi mengapa semenjak peristiwa itu selalu ada saja pendekar yang mencariku untuk mengadu kepandaian dalam ilmu silat?

Kematian Pendekar Tangan Pedang agaknya telah menggegerkan dunia persilatan, karena sebelumnya Pendekar Tangan Pedang bagaikan tidak menemui tandingan. Kini setelah diketahui seseorang akhirnya mengalahkan Pendekar Tangan Pedang, mereka yang ingin menguji kemampuan dan mendapatkan nama sebagai pendekar berkeliaran mencariku.

Aku sebetulnya tidak mudah dicari, apalagi jika aku sengaja menghindar untuk ditemukan, tetapi sebaliknya aku sendiri pun sedang mencari-cari lawan, sehingga kuhadapi setiap tantangan dengan riang.

Demikianlah aku menikmati kehidupanku sebagai seorang pendekar. Bertarung dari tempat yang satu ke tempat yang lain, dari lawan satu ke lawan yang lain, sampai takbisa kuhitung lagi berapa banyak pendekar lawanku tersempurnakan hidupnya melalui diriku.

Sepintas lalu aku tampak mengembara ke sana dan kemari tanpa tujuan kecuali mencari dan melayani tantangan, tetapi langkahku mengarah ke satu arah yang jelas, yakni ke utara, dengan dua tujuan: pertama, mengacak-acak wilayah dan memancing Naga Hitam keluar mencariku; kedua, aku ingin melihat laut dan menyeberanginya menuju negeri-negeri yang jauh. Telah kudengar tentang kapal-kapal asing yang mendarat di berbagai pelabuhan di pantai utara Yawabumi dan telah kusaksikan orang-orang asing segala rupa dari berbagai penjuru menyusuri sungai-sungai ke pedalaman. Jika mereka semua dapat merantau sampai kemari, mengapa aku takdapat mengembara ke negeri mereka?

Tentu saja aku masih penasaran, siapakah kiranya yang mengetahui diriku menewaskan Pendekar Tangan Pedang, dan bagaimanakah caranya berita itu tersebar? Memang benar aku telah membayar seorang petani untuk membakar jenazahnya di atas pancaka, meski aku taktahu apakah Pendekar Tangan Pedang itu memeluk Siwa, Mahayana, atau penyembah nenekmoyang di kuburan-kuburan batu, tetapi aku tak yakin petani itu mengerti siapa lelaki bertangan buntung yang kedua lengannya diganti pedang tersebut. Orang-orang awam taktahu menahu dunia persilatan, mereka hanya mendengar sedikit-sedikit tentang dunia persilatan dari orang-orang menyoren pedang yang bahkan tidak memiliki tenaga dalam. Dari orang-orang seperti ini, dunia persilatan hadir sebagai dongeng.

TAK tahulah aku berapa lama waktu sudah berjalan dan berapa orang sudah tewas di tanganku dalam pertarungan antarpendekar di dunia persilatan. Setidaknya setiap

putaran hari pasar takkurang dari dua atau tiga orang menantangku bertarung dan selalu kulayani sampai mereka menemukan kematian yang telah mereka ketahui akan menimpa.

Dalam setiap pertemuan selalu terjadi percakapan seperti berikut.

“Benarkah dikau yang bergelar Pendekar Tanpa Nama?”

“Aku tidak pernah menyatakan suatu gelar tetapi aku memang tidak mempunyai nama.”

“Itulah nama dikau sekarang, dan nama itu sudah terdengar di mana-mana sebagai pendekar tanpa tanding, berilah aku kesempatan mengenal ilmu dikau yang tinggi.”

“Ilmu silatku tidaklah tinggi dan aku masih juga ingin belajar dari dikau, wahai pendekar yang gagah berani.”

Setelah itu biasanya kami bertarung sampai salah satu dari kami mati, meski dalam hal diriku maka lawanku itulah yang akan mati. Tidak semuanya mati dengan gagah berani, ada juga yang melarikan diri dan selalu kubiarkan saja meskipun aku mampu mengejar dan tetap membunuhnya. Mereka yang melarikan diri ini memang tidak dapat disebut pendekar karena ilmu silat bagi mereka hanyalah alat untuk mencapai kekuasaan dalam kemenangan dan bukan jalan menuju kesempurnaan. Mereka biasanya berasal dari golongan hitam, atau juga golongan merdeka tetapi yang begitu mementingkan dirinya sendiri sehingga tidak pernah siap untuk menerima kekalahan.

Seperti perjumpaanku dengan Pendekar Tangan Pedang, maka perjumpaan dengan para pendekar ini selalu merupakan pengalaman tersendiri. Ada yang berkelebat dari balik kelam tiba-tiba di tengah jalan dan langsung melibatkan aku dalam pertarungan; ada yang menggebrak mendadak di dalam kedai ketika aku sedang enak-enak makan; ada yang menyerang diam-diam dari jarak jauh ketika aku sedang tidur-tiduran di pasar desa yang sepi; ada yang mengirimkan bisikan lewat angin ketika aku beristirahat dan mengasingkan diri di sebuah candi yang sudah rubuh dan ditinggalkan; ada juga yang mengirimkan surat resmi, tertulis dengan huruf indah di atas lempengan logam; dan pernah pula ada yang menyebarkan pemberitaan lisan maupun tertulis bahwa dirinya

menantangku bertarung pada saat tertentu, memang karena tidak dapat mencari untuk menemuiku.

Sebegitu jauh, perjumpaanku dengan Pendekar Tangan Pedang itulah yang lebih sering kudengar kembali, seperti terjadi ketika aku masuk dan makan di sebuah kedai.

“Pertarungan antara Pendekar Tangan Pedang dan Pendekar Tanpa Nama itu berlangsung pada malam yang gelap gulita saat bulan ditelan Batara Kala tetapi sawah di penuhi berlaksa kunang-kunang. Saat itu Pendekar Tangan Pedang sedang bersamadhi di tepi sungai ketika dilihatnya sesosok bayangan berkelebat cepat, nyaris takbisa diikuti oleh matanya, melenting di atas sungai dan lenyap di balik gerumbul pepohonan bambu. Kelebatnya yang sangat cepat dan keringanan tubuhnya menunjukkan betapa tinggi ilmu silat yang dikuasainya, dan karena Pendekar Tangan Pedang merasa belum pernah menjumpai seseorang dengan ilmu setinggi itu maka dia pun mengejarnya.”

Benarkah begitu kejadiannya? Aku heran, bagaimanakah cara pencerita tersebut, atau siapa pun yang ia dengar ceritanya, telah melihatnya?

Aku memang berkelebat cepat saat itu dengan perasaan rawan dan galau, dan barangkali karena itu aku sejenak lengah dan hilang kewaspadaan. Benarkah Pendekar Tangan Pedang sedang bersamadhi di tepi sungai pada malam gelap gulita, ketika aku berkelebat keluar dari kedai dan melenting di atas permukaan sungai? Pertanyaanku, bagaimanakah caranya seseorang dapat mengetahuinya tanpa kami ketahui kehadirannya sama sekali? Cerita ini tidak terlalu seperti dongeng, itulah sebabnya mengherankan sekali bahwa seseorang telah dapat mengetahuinya, meski tentu saja orang-orang awam di dalam kedai tersebut kurang memiliki kesadaran untuk mempertanyakannya. Mungkinkah mereka tidak mempertanyakan apapun karena memang menerima dan menikmatimya sebagai dongeng sahaja? Betapa tidak akan menganggapnya dongeng jika dunia persilatan memang penuh dengan kejadian luar biasa yang sulit dipercaya?

“Pendekar Tangan Pedang berkelebat, tetapi Pendekar Tanpa Nama mengetahuinya, dan akhirnya menunggu di tengah jalan desa di antara sawah-sawah. Pertarungan mereka tidak bisa diikuti oleh mata.”

AKU tidak ingin mengulang cerita ini, ia memang bercerita tepat seperti kejadiannya, yang membuat aku terheran-heran karena bagaikan terdapat saksi mata atas seluruh peristiwa itu. Bukankah ia sudah menyebut diriku sebagai Pendekar Tanpa Nama? Artinya orang pertama yang menyebarkan cerita ini mendengar percakapanku dengan Pendekar Tangan Pedang pada malam buta itu. Aneh sekali!

Tidak sembarang orang dapat menjadi saksi mata tanpa kami ketahui keberadaannya, jika ilmunya tidak sangat tinggi.

Jika memang ada seseorang yang telah menyaksikan selengkapnya, semenjak aku berkelebat keluar dari kedai, dibuntuti Pendekar Tangan Pedang, dan menewaskannya dengan pukulan Telapak Darah, pastilah kepandaiannya tidak rendah dan aku harus mengetahui siapa orangnya. Perasaan diawasi bukanlah perasaan yang nyaman.

Ini berarti aku harus mencari dan menemukan orangnya, lantas menantangnya bertarung sampai salah seorang di antara kami perlaya!

Namun pikiran ini mengejutkan diriku sendiri. Bukankah selama ini aku juga diawasi dalam pengertian yang agak mirip dengan dilindungi?

Aku belum melupakan betapa di Desa Balinawan aku telah didorong jatuh melayang dari puncak tebing yang curam, hanya untuk disambut kembali sebelum menyentuh tanah, dan dipaksa untuk menguasai jurus-jurus tertentu melalui serangan-serangan tajam yang mengarahkan; aku juga tentu masih sangat teringat betapa seseorang telah menolongku ketika pingsan karena racun Kera Gila, mengarahkan aku kepada pendalaman ilmu silat berdasarkan penemuanku sendiri, bahkan jelas menuliskan pesan tertulis di atas batu besar di bawah permukaan sungai yang jernih, bahwa aku perlu waktu sepuluh tahun untuk mampu mengalahkan Naga Hitam.

Apakah mereka orang yang sama, yakni pendeta dari biara terpencil di atas tebing itu? Siapakah dia sebenarnya? Masih hidupkah dia sekarang, dan terutama apa maunya? Jika aku pernah merasa seseorang mungkin menolongku diam-diam dalam berbagai peristiwa sepuluh tahun yang lalu, masihkah seseorang yang sama itu mengikuti seluruh tindakanku?

Bagaimanakah kiranya jika seseorang itu ternyata adalah juga seseorang yang kuduga mengawasiku? Jika tidak, mungkinkah sebenarnya aku sekarang ini diawasi oleh dua orang? Apakah mereka saling mengenal ataukah saling berseteru?

Perasaan betapa diriku mungkin diawasi oleh dua orang tanpa kuketahui membuat aku marah kepada diriku sendiri. Bagaimana mungkin setelah meningkatkan ilmu pendengaran Mendengar Semut Berbisik di Dalam Liang sampai berpuluh kali lipat aku masih dapat diawasi tanpa mengetahui keberadaan mereka? Aku merasa masih harus meningkatkan tenaga dalam dan kecepatan bergerakku, agar mampu

mengejar dan menangkap siapapun yang berhasil kupergoki sedang mengawasi diriku!

***

AKU keluar dari kedai. Di luar, seseorang ternyata telah menantiku. Ia bercaping begitu lebar, sehingga bayangannya menutupi seluruh wajah dan tak bisa kulihat. Kain yang melapisi caping dari daun pandan itu sudah compang-camping dan warnanya tak jelas lagi, begitu pula busananya yang sudah tak berbentuk sama sekali, hanya seperti kain tak berwarna yang menutup tubuh. Kain itu lebar seperti jubah, tetapi berlengan begitu lebar sehingga pergerakannya tetap bebas, menutupi pula sebagian pahanya, diikat dengan kulit ular pada pinggangnya. Takpernah kulihat orang berbusana seperti itu di Yawabumi. Aku menghentikan langkah sekitar duapuluh langkah di hadapannya. Jelas ia menghendaki pertarungan denganku.

Di balik punggungnya tampak menonjol gagang sebuah senjata yang belum kutahu apa. Ia tampak tegap dan tinggi. Dari balik caping rambut panjangnya yang merah dan gimbal tampak lengket satu sama lain. Angin yang bertiup melambai-lambaikan rambutnya itu, tetapi ketika aku berhenti melangkah, ia mengangkat tangan kanan, dan angin ternyata berhenti bertiup.

Siang mendadak panas sekali. Aku diam dan menunggu.

Ketika ia menurunkan tangannya itu, angin bertiup kembali seolah diperintahkannya. Lantas seluruh, sekali lagi seluruh, dedaunan di sekeliling kedai itu berguguran, bertumpuk rapi di atas bumi seperti sengaja dipertunjukkan untukku.

Kulihat sekeliling. Pepohonan hanya tersisa ranting-rantingnya yang meranggas. Bumi bagaikan baru saja terbakar.

INI sebuah siang yang panas. Saat yang sangat tidak enak untuk bertarung. Namun kita tidak selalu bisa memilih waktu pertarungan, seperti tidak dapat menentukan waktu kematian. Seorang pendekar melayani tantangan setiap saat, kapan pun datangnya, di mana pun tempatnya, siapa pun orangnya, demi kehormatan sebuah pertarungan dalam pencarian kesempurnaan.

Namun aku tidak peduli kepada semua keajaiban itu. Hanya memperhatikan baik-baik seluruh gerakan tubuhnya dengan cermat.

Ia mengibaskan tangan kirinya. Kurasakan gelombang udara yang dahsyat mengempas dan siap menggulung ke arahku. Kugeser tubuhku ke samping. Maka kedai di belakangku mendadak pecah berhamburan ke segala arah tanpa ujud lagi.

Tiada lagi kedai itu. Orang-orang yang berada di dalamnya ketika aku keluar tadi tampaknya juga berhamburan tanpa bentuk lagi. Kulihat selintas, darah dan daging terciprat dan menempel di batang-batang pohon. Orang ini pasti kejam sekali. Ia tertawa terbahak-bahak.

”Huahahahahahaha! Iblis Pemakan Daging mengirimkan salam Naga Hitam padamu!”

Ah! Naga Hitam!

Kemarahanku kepada diriku sendiri karena takmampu mengungkap siapa yang barangkali telah selalu mengawasiku mendadak saja seperti tertumpah kepada orang ini. Namun ia telah melemparkan capingnya yang berputar seperti senjata cakra ke

arahku. Lantas ia sendiri berkelebat ke arahku sembari mencabut senjata di punggungnya.

Ini serangan yang sulit. Menangkis serangan caping berarti pertahanan terbuka terhadap serangan Iblis Pemakan Daging, sedangkan menghindarinya juga tetap disambut serangan yang sama tanpa kesiapan menghadapinya. Serangan ini hanya dapat dihindari dengan masuk ke dalam bumi, tetapi aku belum pernah melakukannya. Berbeda dari masuk dan bertarung di dalam air. Padahal serangan ini berlangsung lebih cepat dari pikiran!

Kujejak bumi di bawahku sehingga lebur jadi debu yang lebih lembut dari abu, membentuk lubang besar seketika, merekah dan dengan sendirinya menelan tubuhku. Caping itu melesat di atas kepalaku, begitu juga senjata yang disabetkan Iblis Pemakan Daging, yang ternyata merupakan sebilah ruyung. Dengan ruyung yang bergerigi tajam itu dia menggebuk, yang dengan tenaga dalam sematang itu akan membuat tubuh yang digebuknya langsung menjadi daging cacah. Namun kenapakah ia disebut Iblis Pemakan Daging? Nanti baru akan kuketahui bahwa Iblis Pemakan Daging selain mengandalkan ilmu memainkan ruyung, ternyata juga memainkan ilmu sihir, yang antara lain menuntut agar ia memakan daging manusia sebagai syarat penguasaan ilmunya!

Sudah kukatakan tadi ia seorang yang kejam, baginya nyawa manusia tak ada harganya, kecuali sebagai kebutuhan memenuhi santapannya! Saat itu aku memang belum mengenal kecenderungannya tersebut, tetapi apa yang dilakukannya terhadap kedai dan orang-orang yang masih berada di dalamnya itu telah membuatku merasa wajib menamatkan riwayat hidupnya. Ini bukan pertarungan antara pendekar demi kesempurnaan ilmu silat dan kesempurnaan hidupnya, melainkan antara penjahat berjiwa iblis dan seseorang yang sedang begitu muak dengan keberadaan kejahatan itu sendiri. Ini bukan pertarungan untuk merayakan kehidupan pendekar, dengan saling mengantarkan lawan menuju kesempurnaan, melainkan pertarungan wajib seorang pendekar untuk membasmi kejahatan.

Dari dalam lubang, di antara kepulan debu selembut abu, aku melesat sangat amat tinggi ke atas, dan melihat kedudukan Iblis Pemakan Daging yang berbalik siap menyerang kembali ke dalam lubang. Aku meluncur turun dengan kepala di bawah lebih cepat dari naiknya. Kupanggil dia.

”Pemakan Daging!”

Ia menolah ke atas, tapi saat itu secepat kilat begitu mendarat aku telah mengirimkan totokan dengan dua jari yang membutakan kedua matanya. Ia sabetkan ruyungnya ke kiri ke kanan tanpa jurus lagi. Aku melompat jungkir balik sembari menendang punggungnya tanpa tenaga dalam sama sekali. Lebih dari cukup untuk menjerumuskannya masuk ke dalam lubang.

Ia jatuh terjerembab. Lubang itu cukup dalam untuk membuatnya takbisa naik lagi. Kurasa keadaannya sekarang sangat mengenaskan, kebalikan dari sikapnya semula yang anggun dan begitu yakin akan kemenangan. Namun mengingat kekejamannya yang pasti telah berlangsung lama sebagai anak buah Naga Hitam, aku merasa tidak perlu berbelas kasihan kepadanya sama sekali.

“Pendekar Tanpa Nama!”

Kini ia berteriak ketakutan.

“Bunuhlah aku! Sempurnakanlah aku! Sebelum penduduk desa merajamku!”

Aku baru sadar betapa orang-orang sudah berkerumun di sekitar lubang besar hasil jejakanku. Orang-orang desa membawa golok, arit, kapak, tombak, atau sekadar

batang kayu bakar. Mereka mendekat dengan wajah kuyu, sembari satu persatu menggumam perlahan.

“Iblis itu sudah tidak berdaya sekarang, lebih baik kita membantainya sekarang, agar dia merasakan hukuman.”

“Hukuman apa yang pantas bagi iblis pemakan manusia ini?”

“Pemakan saudara-saudara kita, pemakan anak-anak kita…”

Rupanya ia telah merajalela di daerah tak bertuan yang sedang kulewati ini. Namun ia terlalu sakti untuk ditundukkan, lagipula ia bersekutu dengan Naga Hitam.

Aku melangkah pergi, menyerahkan nasib iblis tersebut kepada mereka yang selama ini telah ditindasnya.

50: Daerah Tak Bertuan

DI daerah tak bertuan, kejahatan merajalela tanpa hambatan. Ini sering terjadi pada tahun-tahun pertama pergantian kekuasaan. Penguasa lama, betapapun berkuasa dan berwibawanya dia, akan selalu menghadapi sejumlah penguasa daerah terpencil yang tidak terlalu mudah dikuasai, bukan saja karena jarak yang jauh dan sulit, melainkan juga karena jarak yang jauh membuat lingkaran wibawa seorang penguasa tidak terlalu berdenyar. Daerah terpencil harus dikuasai dengan penempatan para pejabat dari pusat pemerintahan. Namun kebijakan semacam ini bukan tanpa akibat. Di satu pihak mengukuhkan kekuasaan pusat pemerintahan, di lain pihak bercokolnya orang asing sebagai penguasa daerah mengundang semangat perlawanan. Pada saat pergantian kekuasaan, para pewaris kekuasaan di daerah terpencil yang sudah lama merasa tertindas di bawah kekuasaan Rakai Panamkaran, memanfaatkan peluang untuk merebut kekuasaan di daerah tersebut ketika kedudukan Rakai Panunggalan yang kini menjadi penguasa Mataram belum terlalu kokoh.

Namun di daerah tak bertuan, terlalu banyak orang merasa layak berkuasa dengan berbagai alasan yang berbeda-beda. Ada golongan yang merasa berhak sebagai keturunan penguasa lama yang ditundukkan, jika tidak dibantai habis seluruh keluarganya, semasa pemerintahan Rakai Panamkaran; ada golongan yang merasa berhak karena memang telah menghimpun kekuatan dan merasa mampu merebut kekuasaan dengan dukungan banyak orang; ada golongan yang sebetulnya mewakili pemerintahan pusat semasa kekuasaan Rakai Panamkaran, dan kini

berpikir untuk melepaskan diri dari kekuasaan Rakai Panunggalan yang baru saja naik tahta dan dianggapnya belum mendapat terlalu banyak dukungan dari para penguasa daerah yang lain.

Di antara berbagai golongan yang berebut kekuasaan di daerah terpencil itu, pada awal goyahnya kekuasaan pusat tidak akan ada yang terlalu berkuasa; kedudukan yang satu dirongrong kedudukan yang lain, dan karena tidak satu golongan pun mempunyai pasukan yang cukup kuat untuk mengukuhkan kekuasaan, mereka saling mengirim pembunuh bayaran, para tikshna, yang akan membunuh siapa pun secara diam-diam tanpa meninggalkan jejak, atas pesanan siapapun yang membayarnya. Keadaan ini akan berhenti ketika pusat pemerintahan mengirimkan pasukan yang kuat, membantai, menindas, dan menghukum siapapun yang tidak mengakui kekuasaan dari pusat, lantas bercokol di sana dengan perwakilan yang akan selalu waspada terhadap setiap gejala perlawanan dan pemberontakan. Namun orang-orang daerah terpencil ini agaknya tidak pernah belajar, dan memelihara minat untuk juga berkuasa di daerah itu setiap kali kesempatan terbuka.

Itulah sebabnya daerah tak bertuan tak hanya menunjuk kekosongan kekuasaan, melainkan juga kekacauan akibat pertikaian berbagai golongan yang dapat membingungkan, apalagi bagi orang asing yang hanya kebetulan melewati daerah tak bertuan tersebut seperti diriku. Keadaan semacam itu bukan tidak merasuk ke dunia persilatan. Para pendekar dengan kemampuan bersilat yang tinggi sehingga bisa membantai satu pasukan seperti membalik tangan, sering tergoda dan memang digoda untuk mendukung salah satu golongan. Bila harta benda dunia tak cukup menggoda, kepada mereka ditawarkan sebagian dari kekuasaan, tanpa pernah mengetahui betapa setelah kekuasaan didapatkan mereka akan dianggap duri dalam daging yang harus dilenyapkan. Pada tahap inilah para ahli racun akan mendapatkan pekerjaan!

KECENDERUNGAN semacam ini, jika kita banyak membaca, sebenarnyalah merupakan cerita yang selalu berulang. Namun di Yawabumi tahun 786, berapa banyakkah manusia membaca, dan apa pula yang mau dibaca? Kitab-kitab disalin dan disebarkan dengan amat sangat terbatas, selain hanya dibaca dan dimiliki kasta tertentu. Sebaliknya, cerita lisan beredar begitu rupa dengan keragaman dan

pengembangan berganda yang tak mungkin dilacak lagi sumbernya. Menambah kebingungan siapa pun bagi mereka yang ingin mencari apapun yang dapat dipercaya sebagai kebenaran. Sesuatu yang sudah telanjur mustahil!

Daerah tak bertuan adalah ladang yang subur bagi golongan hitam, karena daerah tak bertuan juga berarti daerah tanpa hukum, dan di daerah tanpa hukum berlakulah hukum rimba, yakni betapa siapa pun yang paling mampu memaksakan kekuasaannya, maka dialah yang akan berkuasa.

Dalam ketidakpastian perlindungan di bumi, apakah yang dapat dilakukan rakyat jelata? Mereka mengharapkan perlindungan para penguasa langit! Demikianlah, maka pada suatu malam bulan Asvina 1) saat rembulan terang di daerah takbertuan itu kusaksikan suatu upacara keagamaan yang khusyuk. Kulihat penduduk sebuah desa berkumpul di depan patung Durga Mahisasuramardini.

Kuperhatikan patung itu, memperlihatkan Durga bertangan delapan yang berdiri dengan sikap tenang, kedua kakinya berada di atas punggung kerbau dalam sikap abhangga, yakni berdiri tegak, kepala dan tubuh terletak pada satu garis yang disebut madhyasutra , kaki kanan sedikit bengkok karena dilipat. Wajah Durga tampak cantik tapi bertaring. Kudengar kata-kata pemuka desa yang memimpin upacara ini.

saya mencari Dewi Durga sebagai pelindungku

yang warnanya seperti api

yang membakar dengan panasnya yang dahsyat

dialah puteri matahari

yang dipuja agar memberi hasil

pada setiap upacara korban

hormat kepada kekuatanmu

o dewi yang hebat 2)

Puja pembuka itu kemudian diteruskan dengan cara pemujaan Durga seperti pernah kubaca dari Mahabharata, yakni parva keempat Bhisma-parva, yang diucapkan oleh Arjuna, dan parva keenam Virata-parva, yang diucapkan oleh Yudhistira.

saya menghormat tuan, kepala para yogin

tuan adalah sama dengan Brahman

tinggal di hutan Mandara

Kumari, Kali, isteri Kapala atawa Siva

hitam warnanya

hormat kepadamu o Mahakali

Candi, Canda

hormat kepadamu

Tarini

yang dilengkapi keberuntungan

yang berasal dari suku Kata atawa Katyayani

sangatlah dihormati

menakutkan Karali sang pemberi kemenangan

dan tuan adalah kemenangan itu sendiri

tuan yang memiliki bendera bulu merak

dihiasi segala jenis permata

memiliki tombak yang hebat

pedang dan perisau kulit

adik wanita Kresna ketua gembala lembu

Jyestha yang lahir dalam keluarga gembala Nanda gemar akan darah Mahisa Kausiki yang berbusana kuning dengan senyum menawan mulutnya menelan segenap asura hormat kepadamu yang bahagia di medan perang Uma pemberi Shaka tuan berwarna putih dan hitam penghancur asura Kaithaba bermata keemasan bermata setengah terbuka berwarna mata abu-abu tuan adalah Veda dan sruti yang sangat suci tuan sangat berguna bagi brahmana yang melakukan upacara korban tuan adalah Jataveda dan tuan selalu hadir di kuil-kuil yang suci di kota-kota penting Jambhudvipa di antara ilmu pengetahuan tuan adalah pengetahuan bagi Brahman tuan adalah kelepasan

dari makhluk yang bertubuh

o Ibu Skanda

o Bhagavati Durga! tuan berada dalam darah yang sulit dicapai Svaha, Svadha, Kalaa, Kastha Sarasvati, Savitri ibu dari Veda dan tuan disebut Vedanta saya menghormati tuan dengan sepenuh hati dengan kehendakmu berilah kemenangan perang kepada kami tuan yang tinggal di tempat terpencil yang menakutkan dan

sukar dicapai di dalam rumah para pemujamu di Patala dalam perang tuan menaklukkan Danava tuan adalah kantuk Mohini dan tidur Nidra

DALAM pertarungan yang berlangsung sangat cepat, kami bertukar pukulan beberapa kali, tetapi semua pukulannya tertahan oleh telapak tanganku sedangkan seluruh pukulan Telapak Darah masuk dengan telak. Ia terjengkang dengan mulut memuntahkan darah tetapi sempat melemparkan sesuatu ke arahku, yang segera kutangkis karena tak sempat kuhindari.

Akibatnya sama sekali tak terduga, benda itu meledak tanpa suara dan dengan cahaya sangat terang mengagetkan serta mengeluarkan asap, sedangkan baunya terasa aneh dan memabukkan.

Kutatap sepintas apa yang terjadi dengan orang-orang di depan arca, untuk sejenak mereka bagaikan orang yang tersihir, tetapi lantas bergelimpangan. Aku pun hampir mengalami nasib yang sama jika tidak segera menahan napas. Bau yang aneh itu membuat orang-orang menjadi lemas tanpa daya, dan dalam keadaan seperti itu ledakan cahaya tersebut membuat segala benda tak bergerak terlihat bergerak. Terutama arca Durga bertangan delapan tersebut!

Apa yang menjadi firasatku terbukti. Penduduk desa yang memuja Durga itu dalam kesadaran terbius akan mengira sesembahan mereka itu telah melemparkan bola-bola berasap tersebut, dan bukan seseorang yang tidak pernah mereka ketahui bersembunyi di belakangnya.

Kudorong kedua tangan agar angin pukulan mengembuskan asap yang membius itu, tetapi pengaruhnya telanjur berakibat ke dalam urat syaraf di dalam otak mereka.

“Durga! Durga! Kami selalu memuja dirimu dan memberi persembahan korban, apa salah kami!”

Aku mendekati pelempar bola asap bercahaya itu. Ia mengenakan busana serba hitam agar tak mudah dipergoki dalam penyusupan malam. Di dadanya banyak jejak Telapak

Darah yang membuat kematiannya terpastikan. Siapakah dia? Ia mengenakan kain ikat kepala yang juga hitam. Segera kusingkap pula kain hitam yang melingkari bagian atas tubuhnya, dan terlihat rajah cakra di dada kanannya.

“CakrawartiÖ” desisku.

Entah rencana besar apa yang sedang berlangsung di Yawabumi, tetapi ada sejumlah persoalan yang kurasa berhubungan, yang telah membuat aku sempat mengira betapa upacara memuja Durga itu memang telah berakhir dengan kekacauan.

Kubongkar kain yang melingkari pinggangnya, selain terdapat banyak bungkusan racun dan senjata rahasia, seperti paku, lempengan logam berbentuk bintang dan cakra, jarum-jarum beracun, ternyata terdapat pula sebuah surat.

Tertulis di atas lontar kalimat seperti berikut:

Cakrawarti kini bekerja untuk Naga Hitam

Tugas pertama menghancurkan kepercayaan

Lenyapkan segera setelah dibaca

Agaknya ini sejenis surat edaran, bersifat rahasia, dan anggota Cakrawarti yang satu ini telah melakukan keteledoran. Seharusnya surat ini tak ada lagi pada dirinya karena telah dimusnahkan. Kuambil surat itu dan segera menolong orang-orang yang terkapar bergelimpangan dengan impian buruk dalam kepalanya yang berada di luar kesadaran. Dengan penyaluran tenaga dalamku mereka dapat disadarkan, tetapi kenangan atas peristiwa yang baru saja terjadi tidak bisa dihapus lagi. Bagi mereka, Durga yang mereka puja telah menyakiti pengabdian dan kepercayaan. Luka di badan mudah disembuhkan, luka dalam hati tak jelas obatnya.

Dengan surat dan mayat anggota Cakrawarti itu, aku ingin meyakinkan mereka, bahwa bukan arca Durga Mahisasuramardini yang berdiri di atas kerbau itu yang telah membuat mereka terkapar tanpa kesadaran. Namun kulihat mereka sudah tidak peduli kepada arca itu lagi. Mereka saling menolong setelah bangkit, lantas melangkah

terseok-seok kembali ke desa, tanpa sekalipun menoleh kepada arca itu lagi. Juga tidak peduli kepadaku sama sekali.

Malam masih kelam. Hanya tersisa lampu minyak kelapa di antara sesaji di bawah arca. Angin menggoyangkan api, membuat delapan tangan Durga bagaikan bergerak-gerak, dan kepalanya menggeleng-geleng takbisa mengerti.

ku menghela napas, segalanya mungkin terjadi di daerah tak bertuan.

51: Hutan Mayat

SUATU ketika dalam perjalananku tibalah aku di Hutan Mayat. Barangkali aku tersesat, tetapi barangkali juga aku sedang tidak peduli berjalan ke mana selama itu menjauhi jalanan umum, karena di tempat seperti itu akan selalu terdapat seseorang yang mencegat dan melibatkan aku ke dalam pertarungan. Padahal, bagi seseorang yang hidup dalam dunia persilatan, setiap tantangan harus dilayani, karena diandaikan sebagai jalan menuju kesempurnaan.

Maka kuhindari jalanan, kuhindari keramaian, kuhindari keadaan apa pun yang sekiranya akan melibatkan aku ke dalam pertarungan. Bukan karena aku takut dikalahkan, sebaliknya karena aku terlalu yakin akan mendapatkan kemenangan, yang juga berarti lawanku akan kutewaskan. Tentu aku sangat menghormati keberanian lawan-lawanku dan melayaninya dengan sebuah pertarungan adalah cara terbaik untuk menunjukkan penghormatan tersebut, tetapi jika lawan yang kuhadapi tidak seimbang, dalam arti jauh berada di bawah kemampuan, kuanggap pertarungan adalah kesiasiaan, karena kematian sudah dipastikan.

Pertarungan yang terbaik bagiku adalah pertarungan dengan lawan yang begitu tinggi ilmu silatnya, sehingga kita tidak dapat menduga kemampuannya begitu saja kecuali mengujinya dalam suatu pertarungan. Namun meski kesempurnaan ilmu silat hanya dapat diuji dalam pertarungan, adalah suatu kesia-siaan jika suatu pertarungan yang tidak seimbang dipaksakan, dan tetap dilakukan juga ketika siapa yang tewas sudah dapat dipastikan. Makna ujian atas kesempurnaan dalam ilmu persilatan adalah

terdapatnya penemuan tak terduga dalam pertarungan. Dari pertarungan satu ke pertarungan lain dengan kematian sebagai kemungkinan, para pendekar terus menerus menyempurnakan diri dengan berbagai penemuan dari setiap pertarungan. Dari penemuan demi penemuan itu seorang pendekar mendalami dan mengembangkan ilmu silatnya untuk mencapai kesempurnaan.

Dalam pertarungan setiap pendekar mengerahkan segenap kemampuannya, dalam arti mengerahkan ilmu silatnya dalam pencapaian yang paling sempurna, sehingga jika ia tertewaskan maka ia akan tewas dalam pencapaian kesempurnaan; sedangkan yang mengalahkannya masih harus mempelajari penemuan dalam pertarungan itu untuk menuju kesempurnaan. Suatu penemuan hanya akan terdapat dalam pertarungan yang penuh dengan ketakterdugaan; itulah sebabnya dalam

pertarungan yang tak seimbang tidak akan terdapat suatu penemuan, karena dalam pertarungan yang tidak seimbang segalanya sudah terpastikan, dan pertarungan menjadi suatu kesia-siaan, karena tidak menyumbangkan apa pun dalam pencapaian kesempurnaan. Ini berarti pertarungan yang tidak seimbang harus dihindarkan.

Maka bukan hanya jalan yang dilalui banyak orang yang kuhindari, dalam kenyataannya aku bahkan menghindari jalanan itu sendiri. Berkelebat secepat kilat dari tempat ke tempat tanpa harus terlihat telah menjadi cara hidup seorang pendekar dari saat ke saat. Dengan Jurus Naga Berlari di Atas Langit aku melangkah ringan ketika berlari dengan kecepatan yang tidak bisa diikuti mata di atas pucuk-pucuk padi. Anak-anak yang menjaga padi menguning dari serangan burung-burung pipit dengan menggerakkan tali hantu sawah, hanya akan merasakan adanya bayangan berkelebat tanpa menyadari bahwa seseorang telah berlari di atas pucuk-pucuk padi.

Dengan cara melakukan perjalanan seperti itu, memang hanya para pendekar dengan tingkat ilmu silat yang tinggi bisa melihatnya dan ada kalanya mereka memutuskan untuk segera menyerang saat itu juga. Demikianlah suatu ketika saat sedang berlari di atas pucuk-pucuk padi seperti itu, karena menjelang musim panen pedesaaan Yawabumi adalah bentangan padi menguning yang bagaikan tanpa tepi, di sampingku tiba-tiba terdapat seseorang yang berlari dengan kecepatan sama tinggi dan langsung menyerangku.

Aku tidak memperlambat lariku, bahkan mempercepatnya, dan karena itu ia menyerangku terus sembari tetap sama-sama berlari. Tidak mudah untuk menyerang dan bertarung dalam keadaan lari berdampingan dengan kecepatan tinggi seperti itu, tetapi bagi para pendekar yang sudah sangat tinggi ilmunya, segala keadaan harus bisa diatasi.

Pendekar ini sangat gagah dan busananya sangat mewah, bahkan ia mengenakan alas kaki yang disebut sepatu. Ia mengenakan wdihan ganjar patra sisi atau kain bergambar sulur-suluran di bagian tepinya dari pinggang ke bawah, dari pinggang ke atas ia tak berbaju, tetapi kedua lengannya yang kekar bergelang tembaga. Rambutnya yang hitam berkilat digulung ketat sehingga tampak kalung kulitnya yang

berkantung jimat. Ia tampak sangat tampan dengan kumis tipis melintang. Sembari berlari kencang mendampingiku, ia memutar pedang yang tajam di kedua sisinya itu seperti baling-baling. Dari pergeseran pedang dengan udara, aku segera tahu ketajaman pedang itu memang luar biasa. Inilah jenis pedang yang dapat membelah ketebalan benang (ingat, ketebalannya, dan bukan panjangnya) menjadi dua. Diputar seperti baling-baling di sampingku tanpa menoleh sambil berlari dengan kecepatan tinggi seperti itu, aku bisa mendadak kehilangan lengan.

Aku menggeser lariku ke kanan menjauhinya, tetapi ia terus memburuku tanpa memberi kesempatan sama sekali. Serangan tanpa tantangan adalah suatu hal yang belakangan lebih sering kualami, yang kuperkirakan berasal dari dua hal: pertama, barangkali basabasi memang dianggap tak perlu lagi dalam pertarungan menuju kematian; kedua, kenyataan bahwa aku belum pernah terkalahkan betapapun membuat penantangku waswas dan ingin mendapat peluang untuk menang dengan serangan mengejutkan.

Karena aku terus bergeser ke kanan dan ia terus memburuku, maka kami terus berputar-putar dalam suatu lingkaran besar. Dari pucuk padi aku mengendap ke bawah sehingga pada sawah tersebut terbentuk lingkaran dari pucuk-pucuk padi yang terpotong berputar seperti baling-baling itu. Aku memang tidak membawa senjata, tidak pernah lagi membawa senjata, karena bahkan ketika belajar Ilmu Pedang Naga Kembar

pun kedua pendekar yang mengasuhku berkata bahwa kesempurnaan ilmu silat tidak boleh tergantung kepada senjata. Kesempurnaan ilmu silat tidak tergantung kepada ada atau tidak adanya senjata, dan tentu juga sangat tidak tergantung kepada senjata macam apa yang dipakainya, karena diandaikan seorang pendekar dengan tingkat ilmu sempurna harus mampu menggunakan apa pun yang mungkin diraihnya sebagai senjata, di samping tentu harus tetap mampu bertarung tanpa senjata. Kuingat katakata pasangan pendekar yang telah menyelamatkan aku dari nasib tak jelas itu, betapa senjata pusaka dan senjata mustika macam apa pun tidak menjadi penentu kesempurnaan ilmu dalam dunia persilatan.

Masalahnya dengan pertarungan ini, di tengah lingkaran yang terbentuk oleh pengejaran diriku oleh pendekar bersepatu dan berbusana mewah itu terdapatlah seorang anak yang sedang menarik-narik tali untuk menggerak-gerakkan hantu

sawah. Burung-burung pipit, yang tentu lebih peka daripada manusia telah beterbangan pergi. Anak berumur sepuluh tahun yang hanya berkancut ini berdendang sendiri sembari menggerak-gerakkan tali, tidak menyadari dirinya berada di tengah suatu pertarungan antara hidup dan mati. Padahal aku tidak ingin anak ini melihat mayat dengan kepala terpenggal dalam usia terlalu dini. Maka kuberikan tambahan tenaga dalam kepada Jurus Naga Berlari di Atas Langit dan meninggalkan pendekar itu dengan kecepatan yang melebihi kilat. Pendekar yang hanya mampu bergerak secepat kilat itu menjadi tertinggal, tetapi dengan penasaran tetap memburuku yang sengaja menantikannya di tepi hutan yang sunyi.

Saat kulihat pendekar itu mendatang dengan kecepatan tinggi, aku menyambut kedatangannya masih dengan kecepatan melebihi kilat, sehingga bagiku ia tampak bergerak amat lamban. Dengan sangat mudah aku kemudian mengambil pedang yang kutahu ketajamannya luar biasa itu dari tangannya, nyaris tanpa sempat disadarinya, lantas kubabatkan pedang itu ke tengkuknya.

Untuk sesaat tubuhnya yang sudah tanpa kepala itu masih seperti berlari, sebelum akhirnya meluncur jatuh menyelusup ke balik semak-semak. Kuperhatikan dua sisi mata pedang itu, tiada bercak darah sama sekali. Setidaknya pendekar itu harus bersyukur

memiliki pedang seperti ini, yang telah membuat kematiannya dia alami tanpa penderitaan sama sekali.

MEMANDANG pedang yang ternyata pada kedua sisinya berukir itu, ukiran bergambar kilat menyambar, aku teringat sebuah nama yang terhubungkan dengan ukiran tersebut, yakni Pendekar Pedang Kilat. Dari cerita yang pada sebuah kedai, kudengar kemampuan pedang itu untuk membelah ketebalan sebuah benang menjadi dua, bukan membelah kepanjangannya, pertanda ketajaman yang sungguh luar biasa.

Sayang sekali, kemampuan bergerak secepat kilat jauh dari cukup untuk mengimbangi kecepatan bergerak melebihi kilat seperti yang telah kuperagakan tadi. Namun ia boleh lega atas pertarungan yang dilakukannya, karena menemui ajal dalam pencapaian tertinggi ilmu silatnya, sehingga kematiannya menjadi titik kesempurnaan hidupnya.

***

KUTANCAPKAN pedang itu ke tanah, karena aku tidak tertarik menggunakannya, lantas melihat ke sekeliling hutan. Barulah kusadari sekarang, ternyata aku berada di Hutan Mayat. Ini sebuah hutan yang tidak terlalu lebat, tetapi nyaris pada setiap pohon, di antara cabang dan ranting-rantingnya tergeletaklah sesosok mayat! Ada mayat yang masih baru, ada mayat yang sudah tak berbentuk, dan ada pula yang sudah tinggal kerangka. Tak terhitung mayat-mayat itu, bagaikan terdapat pada setiap cabang dan rantingÖ

Aku sudah lama mendengar tentang Hutan Mayat. Ini bukan sebuah nama, melainkan suatu istilah, bagi masyarakat yang tidak menganut jalan Mahayana maupun memuja Siwa, karena sebelum agama-agama itu datang bersama kapal-kapal dagang di pantai utara, mereka adalah pemuja arwah para leluhur, bahkan sejak masa yang jauh lebih silam juga memuja pohon besar, batu besar, sungai besar, halilintar, rembulan dan matahari, dan apapun yang mereka andaikan sebagai sesuatu yang dahsyat, yang tidak pernah cukup mereka percaya hanya sebagai gejala-gejala alam. Adapun bagi mereka ini, apabila ada orang mati, mereka percaya nyawanya masih berada di tubuhnya, dan

hanya akan melayang secara sempurna ke sebuah dunia secara utuh setelah menjadi kerangka. Mereka letakkan mayat-mayat ini di atas pohon, agar membusuk dan mencair dengan sendirinya, atau agar dimakan binatangÖ

Hari masih siang, tapi hutan ini terasa lembab dan kelam. Rupa-rupanya pertarungan sambil berlari dengan kecepatan sangat tinggi itu telah membawa kami ke tempat terpencil yang jauh sekali. Aku pernah mendengar cerita tentang peradaban nenekmoyang sebelum dewa-dewa Hindu dikenal di Yawabumi, dan cara memperlakukan orang mati seperti ini jauh lebih tua jika dibandingkan dengan cara-cara masyarakat penyembah leluhur lain yang juga pernah kudengar di Yawabumi. Bahkan cara-cara meletakkan mayat di atas pohon itu belum pernah kudengar terdapat di Yawabumi. Sebegitu jauh kudengar memang berlangsung pada masa sebelum dewadewa turun ke bumi, tetapi bukan di Yawabumi, melainkan di Jambhudwipa. Namun kini aku berada di Hutan Mayat, dan sudah jelas kini aku berada di Yawabumi. Berarti masih banyak hal yang belum kuketahui dengan pasti perihal masa lalu Yawabumi, dan untuk mengetahui seluk beluk nenek moyang

pemuja leluhur ini tentu lebih sulit lagi, karena para nenekmoyang tidak mengenal dan dengan sendirinya tidak meninggalkan tulisan apa punÖ

Namun itu tidak berarti mereka tidak meninggalkan apa pun. Sebaliknya, dari perjalanan yang kulakukan bersama ayah ibuku pada masa lalu ketika aku masih kecil, samarsamar kuingat kami menemukan tempat masyarakat purba melaksanakan upacara keagamaannya. Seperti kubur batu besar yang panjang, dengan gambar-gambar purba pada dinding dalamnya, seperti garis-garis lurus dan lengkung, maupun gambar-gambar sederhana tetapi indah tentang lingkungan hidup mereka, seperti gambar manusia dan binatang. Pernah juga kami memasuki gua yang dindingnya terpoles dan tampak terbentuk oleh sentuhan tangan manusia. Kadang kami temukan batu-batu besar yang tampak seperti kotak persegi panjang, dalam keadaan berdiri, ditidurkan, atau saling bertumpu. Semua itu sebetulnya dapat dibaca sebagai bahasa yang ingin disampaikan kepada setiap orang. Nenek moyang orang-orang Yawabumi barangkali tidak punya aksara, tetapi mereka memang berbahasa dan menulis dengan cara berbeda.

DARI keadaan semacam itu ayah dan ibuku menimba gagasan bagi penyempurnaan ilmu bagi dunia persilatan, tetapi apa yang kutemukan di Hutan Mayat sekarang ini membuat aku berpikir tentang suatu keadaan sebelum Hindu dan Buddha tiba di Yawabumi dari Jambhudwipa. 1)

Aku belum sempat mengolah gagasan apa pun, ketika sesosok bayangan berkelebat cepat, kali ini melebihi kilat, sehingga aku harus mengerahkan segenap tenaga dalamku untuk menambah kecepatan kepada ilmu meringankan tubuhku, agar terhindar dari jurus-jurus serangannya yang membingungkan. Namun setiap kali aku bergerak lebih cepat, dengan mudahnya ia juga menambah kecepatan, sehingga di dalam hutan itu hanya angin dari gerakan kami berkesiur dahsyat menerbangkan daun-daun dan menggoyangkan pepohonan.

Gerakannya aneh sekali, tetapi jelas sangat mampu mengimbangiku. Sangat berbahaya, karena aku tak dapat menegaskan sosoknya! Berarti ia memang memiliki tenaga dalam dan daya kecepatan yang tinggi sekali! Sebegitu jauh aku memang dapat mengimbanginya, tetapi untuk pertama kalinya aku tidak merasa terlalu pasti, apakah akan bisa mengalahkannya, terutama karena gerakannya yang

aneh, tetapi juga lugas dan tanpa pernik kerincian gerak yang sering diperagakan dalam ilmu silat. Pernah kuceritakan tentang berbagai aliran ilmu silat yang menimba gagasan dari gerak-gerik binatang dalam pertarungan. Sosok yang menerjangku kali ini tampak jelas memanfaatkan berbagai gerakan binatang, tetapi gerakannya sama sekali berbeda dari berbagai aliran dalam ilmu silat yang meniru gerak binatang. Bahkan aku berani mengatakan sebetulnya boleh dikatakan bukan ilmu silat sama sekali.

Ia menanduk seperti banteng, memagut seperti ular, mencakar seperti macan, mematil seperti lele, melayang seperti kupu-kupu, menyeruduk seperti badak, menggasak seperti gajah, menyengat seperti lebah, menyambar seperti elang, bertahan seperti kura-kura, menjepit seperti kalajengking, mengganggu seperti nyamuk, mengelak seperti cicak, menjerat seperti laba-laba, menerkam seperti kucing, memperdaya seperti bunglon, dan bahkan menggigit seperti buaya! Semua itu dilakukannya dengan tenaga dalam dan kecepatan sangat tinggi, seperti yang sudah kukatakan tadi, kecepatan yang

bahkan melebihi kilat. Jika setidaknya aku takmampu bergerak dengan sama cepatnya, mungkin sudah sejak tadi nyawaku melayang dengan tubuh hancur lebur.

Bayangan yang bergerak sangat cepat ini sulit ditundukkan justru karena tampaknya ia tidak mengenal jurus-jurus silat sama sekali. Sebaliknya, sedikit demi sedikit ia bahkan telah mengulang kembali jurus-jurus yang sempat kukeluarkan untuk menyerangku! Aku bagaikan berhadapan dengan seseorang yang menggunakan Jurus Bayangan Cermin! Bedanya, ia tidak menggunakan Jurus Bayangan Cermin yang memang merupakan jurus untuk menyerap dan mengembalikan jurus-jurus, melainkan betul-betul seperti sedang mempelajari sesuatu untuk dimanfaatkan sebaik-baiknya. Begitulah dalam kecepatan yang sangat tinggi jurus-jurus yang kukeluarkan berbalik kembali menyerang diriku. Memang mudah menghindarinya, tetapi keadaan ini sangat memusingkan, apalagi ketika ia segera mahir menggunakannya berselang-seling dengan gerak-gerik binatang yang tidak seperti jurus-jurus silat itu.

DALAM pertarungan dengan kecepatan melebihi kilat ini, setelah pukulan-pukulan Telapak Darah selalu berhasil dihindarkannya, aku memaksa diriku berpikir keras.

Bayangan yang bergerak begitu cepat sehingga tak juga dapat kutegaskan sosoknya ini tidak mungkin disiasati dengan suatu jurus dari ilmu silat, karena ia ternyata tidak mengenal ilmu silat apa pun. Ia telah menyerangku dengan suatu ilmu pertarungan, katakanlah begitu, yang tidak ada hubungannya dengan ilmu silat sama sekali. Maka jika aku pun tak akan dapat menerapkan jurus semacam Jurus Penjerat Naga kepada lawan seperti ini, tepatnya jurus apa pun selama itu masih merupakan jurus ilmu silat, memang kiranya jurus apa pun takkan mempan menundukkannya.

Dalam keadaan seperti ini lawan harus ditundukkan tanpa ilmu silat. Adapun untuk menundukkan siapa pun tanpa ilmu silat, artinya harus digunakan suatu akal, dan akal apa pun yang akan digunakan haruslah berdasarkan pengenalan atas orangnya. Masalahnya, jangankan mengenal orangnya, sedangkan untuk menegaskan sosoknya saja tidak kunjung bisa kulakukan! Kecepatan kami bertarung melebihi kecepatan kilat. Sebetulnya tidak ada waktu untuk berpikir lagi. Namun dalam sepuluh tahun ini aku telah belajar membuka ruang seluas-luasnya dalam celah waktu sesempit apa pun. Adapun ketika ruang telah menjadi begitu luas, sebegitu leluasa pula waktu dapat memenuhi ruangnya.

Satu hal penting telah kupikirkan dalam keluasan ruang yang kudapatkan di antara celah waktu. Jika ia tidak mengenal satu pun jurus ilmu silat, maka pastilah ia bukan seorang pendekar, dan jika ia bukan seorang pendekar maka tentunya ia menyerang bukan karena sedang menguji kemampuan untuk menuju kesempurnaan. Karena itu, meskipun tingkat pertarungan ini sangat tinggi nilainya, tidak harus menjadi pertarungan antara hidup dan mati. Aku tidak harus membunuhnya dan dia tidak harus membunuhku.

Menjelang senja tiba, di Hutan Mayat itu, kami masih terus bertarung.

52: Penjaga Peradaban

Kulirik di antara celah kerimbunan hutan, langit telah menjadi merah. Jika gelap telah menjadi lengkap, kurasa aku akan menemui kesulitan besar menghadapi lawan yang bukan hanya belum terlihat sosoknya, dengan kecepatannya yang melebihi kilat itu, melainkan karena tentunya ia sangat mengenal hutan ini. Meski dengan ilmu pendengaran Mendengar Semut Berbisik di Dalam Liang aku dapat

mengetahui kedudukan setiap batang pohon, tetapi dalam kecepatan melebihi kilat, dengan lawan yang sangat mengenal lingkungan ini, aku merasa lebih baik bertarung di luar hutan. Maka sembari bertarung aku pun menggeser terus kedudukanku, mungkin tanpa disadarinya, sampai keluar dari Hutan Mayat itu.

Namun begitu aku berada di luar batas terakhir pohon-pohon besar, ia tidak mengejarku. Bahkan ia tiba-tiba menghilang. Ia ternyata hanya menjaga Hutan Mayat itu, atau lebih tepat mayat-mayat yang sebelum berubah menjadi kerangka diandaikan masih menyimpan suatu jiwa. Mayat itu boleh membusuk dan mencair, bahkan boleh disantap binatang hutan, selama tidak merusak keutuhan kerangkanya, karena jika terjadi jiwa yang masih tersimpan itu tidak dapat lahir kembali di alam abadi dalam wujud yang sama.

Pertarungan berhenti, tetapi aku tahu penjaga Hutan Mayat itu masih di sana. Mengawasi diriku di balik keremangan. Jika aku masuk lagi meski hanya selangkah, kukira aku mendapat serangan dahsyat lagi, yang belum tentu lebih ringan dari sebelumnya, apakah itu dari orang yang sama, ataukah dari orang lain lagi. Hutan Mayat ini adalah suatu tempat keramat, dan itu berarti bahwa tempat ini dijaga. Telah berkembang cerita bahwa Hutan Mayat adalah tempat yang sangat angker, bahwa para pencari kayu atau pemburu hilang, tidak jarang pula kembali dari hutan itu dengan pikiran yang sudah terganggu. Sebagai akibatnya, baru kuperhatikan kemudian, ternyata memang terdapat berbagai macam sesajen, mulai dari buah-buah sampai kepala kerbau, yang tampak berderet di luar hutan, mulai dari yang sudah membusuk tak tersentuh, sampai yang seperti baru diletakkan tadi pagi.

Kupertajam lagi Mendengar Semut Berbisik di Dalam Liang, dan aku terkesiap; di balik kekelaman itu tidak hanya satu, tetapi berpuluh-puluh sosok tampaknya berdiri mengawasiku, karena memang dapat kudengar dengus nafasnya! Datang dari manakah mereka? Apakah jauh di dalam Hutan Mayat ini terdapat pemukiman? Ini tentu suatu pemukiman yang dijaga dengan segala cara, agar tidak sesuatu pun yang asing dan tak dikenal menerobos masuk dan mengguncangkan kehidupan mereka. Sebegitu jauh, memang tiada seorang pun pernah masuk terlalu jauh ke dalam Hutan Mayat itu tanpa menjadi gila atau tak kembali sama sekali.

SEMULA aku merasa penasaran, tetapi kemudian kuputuskan untuk tidak mengganggu mereka. Ketika para penyembah Siwa menyebar kepercayaan mereka

dengan segala daya pikat dalam seni kata-kata maupun berbagai bentuk kesenian dalam hubungannya dengan upacara agama, tidaklah semua orang di Yawabumi menerimanya; bahkan bagi mereka yang tampak seperti menerima dan mengakui keberadaan dewa-dewa, seperti hanya memanfaatkan kebudayaan yang datang dari Jambhudwipa itu bagi kepentingan pemujaan mereka sendiri sahaja. Sebagian orang menerima dan memanfaatkan kebudayaan baru tersebut, apakah itu kebudayaan yang membawa serta Siwa, maupun kemudian Mahayana; tetapi sebagian yang lain menolaknya sama sekali, dan mengasingkan diri ke tempat-tempat terpencil, apakah itu ke puncak gunung, ke guagua di tempat yang sulit dicapai, ke pulau-pulau lain di seberang Yawabumi, ataupun masuk jauh ke dalam hutan seperti ini.

Ini semua kudengar dahulu kala dalam perbincangan ayah dan ibuku, ketika kami menemukan tempat-tempat penduduk asli Yawabumi, keturunan langsung para penghuni gua tersebut. Mereka membuat patung-patung yang nanti akan mereka beri nama dan puja sendiri, dengan bahasa yang kami sama sekali tidak mengerti. Kadangkadang bahkan kurasakan bahasa mereka hanya terdengar seperti burung berkicau atau kera mencerecek. Namun kedua orangtuaku mengingatkan aku untuk tidak memandang mereka sebelah mata, karena mereka adalah orang-orang pemberani, yang telah menyeberangi lautan lepas dengan keahlian berlayar yang tinggi, yang tentu saja tak mungkin berlangsung tanpa ilmu perbintangan memadai.

”Mereka memiliki peradaban,” kata ibuku.

”Peradaban macam apa Ibu?” kataku waktu itu, yang masih mengira membaca dan menulis sebagai ukuran tinggi dan rendah peradaban.

”Apakah bukan peradaban namanya jika mereka menanam pisang, tebu, ketimun, dan juga memanfaatkan pohon kelapa serta pohon bambu? Mereka memasak kepiting, udang, dan penyu, yang dicari di laut, selain dengan sengaja memelihara kerbau dan babi, kemungkinan besar juga sapi, yang memberi mereka daging dan susu; bukankah itu peradaban juga, anakku? Berburu dan mencari ikan sangat mereka sukai, dan mereka melengkapi diri mereka dengan senjata-senjata besi. Pakaian mereka terbuat dari kulit kayu dan mengerti seni menganyam; mereka membuat rumah-rumah dari bambu, kayu, dan rotan; bagaimanakah dikau takkan mengatakannya sebagai peradaban, anakku? Di Jambhudvipa sebelum Siwa,

Wisnu, dan Brahma dikenal, mereka letakkan mayat di pohon; di Yawabumi, jauh sebelum orang-orang Jambhudwipa penyembah Siwa tiba, mereka telah memotong batu-batu besar menjadi kotak empat persegi panjang dengan sangat halus dan rapi. Bayangkanlah, anakku, memotong batu sebesar itu, dengan peralatan yang tentu jauh lebih sederhana dari sekarang ini, dan menjadikannya sebagai kuburan. Bagaimana caranya mengangkat dan meletakkan batu sebesar itu untuk menutupi kotak yang juga terbuat dari batu? Perhatikanlah bahwa mereka menggunakan akal, wahai, anakku sayang….”

”Kenapa orang-orang Jambhudvipa datang sampai kemari Ibu, dan apa yang mereka lakukan di sini?”

”Anakku, anakku, pertanyaanmu banyak sekali, tetapi baiklah kujawab seperti yang kuketahui: Tanah Yawabumi sangatlah subur bagi padi, kemungkinan besar para pedagang Hindu itu tiba di sini dengan kapal-kapalnya karena alasan tersebut, untuk menambah perbekalan makanan, dalam perjalanan ke Negeri Atap Langit. Adalah mereka yang menyebut pulau kita ini Yavadvipa, anakku, atawa Tanah Padi 1). Dari sanalah lambat laun penduduk Yawabumi mengenal peradaban yang dibawa orang Jambhudvipa, sehingga bukan hanya lantas dapat kita temukan dari masa lalu barang

barang hiasan dari gading, kulit kura-kura, dan emas, sebagai pertukaran dagang,2) tetapi juga agama mereka yang penuh berisi dewa-dewa itu.”

“JADI, Siwa datang dari negeri lain Ibu? Dan juga Mahayana?”

“Begitulah, anakku, tetapi penduduk Yawabumi menghayati Siwa dan Mahayana menurut kebutuhan mereka sendiri…”

Aku tertegun mengingat percakapanku dengan ibuku itu, di tengah gua dengan dinding luas bergambar telapak tangan yang merah, serta orang-orang memburu makhluk bertanduk yang tentunya banteng atau kerbau liar. Di gua itu pula kami menemukan dan mempelajari senjata-senjata mereka seperti batu-batu pipih yang dapat mengiris, memotong, dan juga membunuh…

Dari gambar telapak tangan yang sangat banyak itulah Sepasang Naga dari Celah Kledung tersebut mengembangkan ilmu pukulan Telapak Darah, yang akan mereka gunakan manakala bertarung tanpa senjata. Tidak aneh bagiku sekarang jika

penjaga Hutan Mayat yang sakti itu selalu bisa menghindarinya dengan mudah, bahkan meniru dan menggunakannya untuk menyerangku juga dengan sangat mudah.

Sekarang mereka semua ada di sana, di depanku dengan napas yang jelas tertangkap telingaku, tanpa bisa kulihat.

***

SEMENJAK itu aku masih sering mendengar dengus dan helaan napas mereka, seperti berada di dekat-dekat telingaku, meskipun diriku sedang berada entah di mana. Tidak pernah bisa kuduga seperti apa sosok mereka, tetapi sejauh kuingat dari pemukiman yang pernah kami singgahi, memang terdapat bentuk tubuh, wajah, dan warna kulit yang tidak terlalu sama. 3) Mereka itukah penduduk asli Yawabumi, ataukah berabadabad sebelumnya juga datang entah darimana dan ada lagi jenis penduduk asli lain yang sebelumnya sudah bermukim pula, semua itu menjadi kemungkinan untuk menduga-duga. Mengingat cara melakukan perjalanan adalah berjalan kaki, adalah wajar untuk menduga betapa mereka baru tiba di Yawabumi setelah berabad-abad lamanya pula. Dengan begitu, siapakah kami? Keturunan pendatang ataukah campuran pendatang dengan penduduk asli yang sudah bermukim di Yawabumi sejak keberadaannya pertama kali di bumi? 4)

Mungkinkah terdapat berbagai gelombang kedatangan dalam jarak ribuan tahun ini, dan mungkinkah juga masih terdapat suatu gelombang perpindahan sebelum orang-orang Jambhudvipa membawa Siwa dan Mahayana ke Yawabumi?

MUNGKINKAH kami keturunan orang-orang yang terakhir ini? 5)

Aku melangkah pergi dengan suatu keharuan mengingat usaha manusia untuk mempertahankan keberadaan jiwa mereka, yang lebih tenang bersama pemujaan leluhur mereka itu, tetapi mempunyai akibat yang jelas kepada keberadaan tubuh mereka, yakni hidup terasing, jauh dari pergaulan dengan manusia lainnya. Masih terhirup olehku bau asap kemenyan, ketika aku pergi dengan kepala penuh tanda tanya: Sampai kapan mereka akan bertahan? Masih kukagumi kedahsyatan gerak dan tenaga dalam penjaga peradaban yang tidak kelihatan itu; jika semua orang yang kudengar helaan napasnya memiliki ilmu setinggi itu, barangkali ketika aku memasuki batas hutan itu lagi akan langsung mati. Sungguh di setiap pojok hutan

yang gelap, bagaikan terdapat seorang pendekar yang mahasakti. Dengan kenyataan semacam itu, kadang aku takmengerti, kenapa diriku belum juga terkalahkan dan mati.

Begitulah aku masih melakukan perjalanan di daerah tak bertuan. Aku masih mengarah ke utara dengan harapan mencapai pantai, sembari berpikir juga tentang Naga Hitam. Kapankah terakhir kali aku mendengar namanya? Kukira ketika Iblis Pemakan Daging mengaku dirinya membawa salam Naga Hitam. Hmm. Dulu aku ingin segera menempurnya dan sekarang pun masih juga, tetapi dahulu aku berpikir seperti itu barangkali untuk mengatasi ketakutanku, karena pembayangan diriku atas Naga Hitam sebagai tokoh besar persilatan. Para naga memang selalu terbayangkan sebagai tokoh besar dengan segenap dongeng yang melingkupi dirinya, tetapi di antara mereka hanya Naga Hitam yang semakin lama semakin ditakuti sebagai tokoh penyebar kejahatan.

Dahulu aku ingin segera berhadapan dengannya, mungkin karena tidak ingin merasakan ketakutan lebih lama; tetapi sekarang ketakutan itu hilang sama sekali. Mungkin karena sekarang aku jauh lebih percaya diri atas ilmu silat yang kukuasai. Apalagi setiap kali menghadapi lawan dengan Jurus Bayangan Cermin, dengan semakin sempurnanya jurus ini, maka bukan hanya aku mampu mengembalikan serangan lawan dengan jurus yang sama meski serba kebalikannya, melainkan semakin berarti menyerapnya pula. Meski sekarang aku cenderung lebih suka menghindari lawan, karena kemenangan yang terlalu mudah dipastikan telah membuat aku bosan, sebelumnya aku begitu bersemangat untuk menghadapi setiap tantangan, karena dengan menyerap ilmu lawan aku mendapat banyak keuntungan. Bukan sekadar menambah jumlah ilmu atau jurus tertentu dalam ilmu persilatan, melainkan karena kemungkinan untuk mengolahnya sebagai pembelajaran dan penggubahan ilmu baru dalam dunia persilatan itu.

Maka kepada lawan yang ilmu silatnya menarik, sering kulayani dalam pertarungan yang berlama-lama, karena semakin lama kami bertarung semakin keluar semua jurusnya, dan semakin terserap segalanya ke dalam perbendaharaan jurus-jurusku. Bukanlah mengulangnya kembali secara persis dan terbalik itu yang menarik bagiku, melainkan kemungkinan penggabungan berbagai jurus tersebut yang kemudian melebur menjadi sesuatu yang baru sehingga bisa kumainkan jurus tombak untuk

ilmu pedang, jurus cambuk berduri untuk ilmu tangan kosong, dan jurus pisau terbang untuk ilmu toya dan ilmu kipas yang dimainkan berselang-seling atau dijadikan satu. Jurus trisula bisa kumainkan dengan dua golok, jurus-jurus senjata rantai untuk ilmu jala.

PADAHAL setiap orang selalu memberi makna kebenaran sesuai dengan kepentingannya sendiri. Dalam kemelut berbagai kepentingan inilah kehidupan telah tergerakkan. Di sini, di puncak bukit yang kelak akan menjadi puncak candi terbesar ini, kulihat punggung-punggung tembaga yang berkilat dalam cahaya matahari. Di puncak bukit aku berpikir, jika agama apa pun membebaskan jiwa manusia, seberapa besar manusia-manusia yang mengangkut batu-batu itu, dan setengah mati meratakannya sampai dianggap sempurna, memiliki kemerdekaannya sendiri?

Para pembangun kuil raksasa, seberapa jauh mereka pelajari agama? Kutatap langit di atasku. Cahaya putih berkilauan menggulung diriku.

dalam jantungnya sendiri

orang harus membayangkan

matahari dalam bentuk piring

di atasnya

tempatkan benih

dalam bentuk aksara

orang harus memusatkan perhatian

kepada pikirannya sendiri

yang telah disempurnakan hakekatnya

dilambangkan sebagai dewa pelindungnya

ista devata

yang muncul dari benih-aksara

yang terletak di atas piring-matahari

di dalam jantungnya 2)

Di sekitar bukit terdengar gemerisik daun-daun kelapa tertiup angin, kulihat tupai melompat dari daun ke daun. Di bawah pohon-pohon kelapa itu terlihat atap-atap gubuk sementara yang dibangun oleh para pekerja dan di antara gubuk-gubuk kadang terlihat para bhiksu dengan kepala tanpa rambut dan berjubah kuning,

berjalan membawa tongkat dan batok kelapa. Pada sebagian besar gubuk yang tanpa dinding itu bergelimpangan para pekerja yang sakit, sementara di luar gubuk, terik matahari menyapu punggung-punggung dengan keringat berkilat memantul bagaikan lesatan cahaya. Kadang-kadang di antara mereka yang sakit melemparkan sisa nasi, tetapi seperti dengan sengaja supaya tidak masuk ke mangkuk melainkan ke arah badan, bahkan kepala para bhiksu. Namun para bhiksu itu tampaknya memang memiliki kesabaran luar biasa.

Terdapat celah suatu lembah di antara perbukitan dan di sanalah terlihat anak sungai yang suara gemericiknya bergema dibawa angin sampai kemari. Angin itulah yang membawa suara berdentang-dentang seperti logam menyentuh batu. Aku mengamati

lagi, tidak semua mengangkut batu, melainkan sebagian sudah mulai menatah pada dinding teras paling bawah. Sekitar 160 orang menatah di hadapan batu-batu yang sudah halus di hadapan mereka. Aku melesat ke bawah, dan bergerak sangat cepat tanpa mereka ketahui betapa aku berada di sekitar mereka.

Kulihat petunjuk tentang apa yang harus digambarkan pada dinding teras tersebut. Sebagian gambar memang belum terpahat dengan baik, tetapi bisa kuikuti sedikit gerak-gerak gambar-gambar tersebut. Misalnya terlihat orang-orang sibuk bergunjing, seperti dalam kehidupan sehari-hari. . Orang-orang menari, seperti tarian orang-orang Jambhudvipa yang pernah kulihat suatu kali. Orang-orang yang menikmati kehidupan dengan bercakap-cakap sembari makan dan minum. Seseorang yang memainkan seruling, dan seorang lelaki berkumis yang sedang memeluk pinggang seorang perempuan, dan perempuan itu seperti bergerak-gerak antara menolak dan pura-pura menolak. Di belakang perempuan itu, seorang pelayan dengan telinga berlubang besar tampak menawarkan kendi arak dan dua orang di belakangnya lagi memperhatikan, seperti ikut menikmati bagaimana lelaki berkumis tersebut bermain-main dengan perempuan itu.

”BUKANKAH semuanya sudah diperhitungkan dengan matang, sematang-matangnya?”

”Tentu mereka menggunakan Kitab Manasara-Silpasastra dan Silpaprakasa, tetapi kita juga tahu para pembangun stupa dan kuil-kuil tidak selalu setia dan sering

menyimpang dari ketentuannya. Masalahnya, belum pernah ada bangunan sebesar ini sebelumnya.”

”Aku tidak mengerti satu hal, bagaimana rancang bangun suatu bentuk harus diikatkan dengan igama tertentu. Tahu kan isi prasasti di selatan itu?” 4)

”Yah, itu sangat menyusahkan, untung kita tidak harus membongkar dasar yang sudah dibangun.”

Mereka berbincang di tengah suara pemahatan yang berdentang-dentang. Pecahan batu bertebaran di bawah dan debunya membuat kulit mereka bagaikan dilumuri serbuk. Berbagai gambaran terbentuk menjadi nyata, selain ketiga penari dan pemain seruling tadi, terlihat pula seseorang memukul tetabuhan, seperti kendang, sembari menandak-nandak. Cerita gambar ini belum selesai, bagaimana jadinya nanti jika gambar-gambar sudah selesai dan melingkari seluruh bukit ini?

Tentang Maha Karmawibhangga, belum pernah kubaca kitabnya, tetapi pernah kudengar tentang isinya sebagai ajaran Mahayana tentang alur atau gelombang kehidupan manusia, bahwa baik buruknya nasib ditentukan oleh perbuatan atau karma. Karena wibhangga berarti gelombang, dan hukum karma berarti hukum sebab akibat, maka ditunjukkan betapa gelombang kehidupan manusia sebagai gelombang sebab dan akibat perbuatan manusia sendiri. Jika candi ini telah berdiri nanti, maka seluruh cerita bergambar ini tidak akan berkesinambungan, melainkan terputus-putus di sekeliling candi, dan hanya bisa diurutkan melalui pradaksina, pemutaran ke kanan, yang berawal dari sudut tenggara, berputar ke sudut barat daya, barat laut, dan berakhir ke timur laut dan sisi timur. Tiada terbayangkan olehku akan seberapa besarnya bangunan ini nanti!

Cerita gambar adalah kehidupan sehari-hari manusia. Dari lima bingkai yang sedang dikerjakan di sudut tenggara itu telah kutafsirkan sesuatu, tetapi dari susunan keseluruhan 160 bingkainya nanti harus diperhatikan bahwa dalam menggambarkan hukum karma, bagian kanan bingkai merupakan sebab, dan bagian kiri adalah akibatnya. Maka bingkai pertama sampai ke 117 nanti menggambarkan satu macam perbuatan dengan akibatnya; lantas bingkai ke 118 sampai ke 160 nanti bercerita tentang berbagai akibat yang timbul karena satu macam perbuatan. 5) Kukira dalam penggambaran kehidupan sehari-hari inilah, para pemahat Yawabumi akan mendapat peluang untuk menawarkan tafsiran mereka sendiri terhadap segala cerita

yang datang dari Jambhudvipa, karena kehidupan sehari-hari yang mereka kenal tentu adalah kehidupan sehari-hari di Yawabumi.

Maka telah kudengar para pemahat ini berbincang tentang gambar petak sawah padi, ladang yang harus jelas terlihat ditanami padi gaga, dan betapa tikus adalah musuh

para petani. Begitu pula gambar mata pencarian penduduk Yawabumi yang lain, seperti menangkap ikan, berburu, beternak, berjualan buah, yang akan diwujudkan melalui penggambaran orang menjala, menggotong ikan tambra, pemburu mengikat dan membunuh babi hutan, orang memelihara ayam dan babi, maupun beternak ikan di kolam. Dalam kehidupan sehari-hari itu tentu tidak ketinggalan adanya para penari, dari istana maupun jalanan dengan para pengiringnya, pengemis, dukun beranak, dan perampok. Mereka berbicara betapa harus tergambarkan kehidupan Yawabumi sampai kepada orang menyalakan tungku, memasak di kuali, merawat orang sakit, cara mengurus jenazah, bahkan juga cara duduk yang tidak resmi dengan kedua kaki di atas tempat duduk. 6)

Begitu pula busana tokoh maupun orang-orang biasa. Mulai dari busana lengkap dengan perhiasannya, seperti perempuan berdada terbuka yang mengenakan kain panjang sebatas mata kaki, ikat pinggang susun dan ikat pinggul berhias permata yang tentu harus tampak serasi dengan uncal.

BEGITU juga dengan gelang kaki dan tangan, kelat bahu polos atau berhias, tali penanda kasta yang disebut upawita, selendang, subang dan berbagai perhiasan yang melengkapi busananya. Rambut tentu harus diperlihatkan yang dihiasi jamang dan mahkota, yakni jata-makuta atawa rambut yang dipintal bersusun ke atas, atau mahkota berbentuk bakul yang disebut karanda-makuta, yang selama ini menandai golongan raja, bangsawan, dan orang-orang kaya. 7)

Aku mengikuti terus perbincangan mereka, karena memang sangat menarik. Mereka perbincangkan bahwa betapapun sulit tugas mereka sebagai pemahat yang tidak dibayar, tetap harus terlihat bagaimana lelaki Yawabumi selain mengenakan ikat dada, memakai busana yang sama dengan perempuan, hanya kainnya kadang sebatas lutut, dan perhiasan rambutnya tidak jauh berbeda. Adapun rambutnya dapat berhiaskan kirita-makuta, yakni mahkota tinggi seperti kerucut dipenggal. Para

bangsawan menurut mereka nanti akan tampak duduk ditempat yang ditinggikan, tentu saja dalam bangunan yang tampak megah, tampak dihormati mereka yang lebih rendah kedudukannya, seperti dayang-dayang yang menyembah. Begitu rinci pembicaraannya, sampai kepada bagaimana membedakan orang kaya, bangsawan, dan raja, yang busananya sama saja, melalui sikap ketika orang kaya tersebut menghadap raja.

Perbedaan tingkat berbagai golongan masyarakat, lelaki maupun perempuan, menurut mereka juga harus diperlihatkan dengan jelas. Perempuan dari kalangan jelata akan digambarkan berbusana kain sebatas lutut dibelit di pinggang, lelakinya mengenakan kain pendek yang dilipat, dipahatkan ketika sedang masak, mengobati orang sakit, berjualan, atau duduk. Busana pendeta tentunya jubah panjang, dengan membiarkan pundak kanan terbuka. Berkepala gundul, berambut pendek, dan tanpa jenggot, jika dimaksudkan sebagai bhiksu; dan tentu bersanggul dan berjenggot jika maksudnya adalah pertapa yang disebut sramana. 8)

”Bagaimana dengan peristiwa keagamaan?”

Terdengar salah seorang bertanya, dan dijawab dengan sebuah rancangan seperti berikut.

”Kita akan menggambarkan adegan berguru dan adegan bertukar pikiran, baik dengan bhiksu maupun sramana, misalnya gambaran seorang pendeta memberi wejangan tentang isi pustaka.”

”Bagaimana dengan caitya?”

”Tentu itu juga!”

Caitya adalah upacara pemujaan di muka candi. Pemahat yang ditanya tadi menyambung.

”Kita akan menggambarkan orang memuja arca di suatu bangunan suci, adegan orang mempersembahkan benda persajian, orang duduk bersila dengan tangan memuja…”

”Dan itu disambung ke sini kukira.”

Kulihat ia hampir selesai memahat adegan empat orang membawa panji-panji, dengan perintah tertulis pataka di atasnya. Dalam Maha Karmavibhangga memang disebutkan, seperti yang pernah kudengar, jika seseorang mempersembahkan pataka, maka ia akan mencapai parinirwana. 9)

Aku tercenung mendengar perbincangan dan semangat orang-orang yang bagi dunia persilatan hanya orang-orang awam. Aku merasa sangat miskin dan ketinggalan. Aku memang masih muda, baru berumur 25, tetapi mendadak saja telah membuang waktu begitu banyak. Sepuluh tahun aku tenggelam menekuni ilmu persilatan yang tak pernah kurasakan sebagai lama, dalam kenyataannya kini aku merasa terasing dari dunia.

”He, siapa kamu!”

Seorang pengawas tiba-tiba menegurku. Ia bertelanjang dada dan hanya mengenakan kain putih melibat pinggangnya.

”Berdiri melamun tidak bekerja! Kamu orang mana?”

54: S-a-s-t-i…

DENGAN ilmu meringankan tubuh yang mendekati sempurna, aku memang dapat bergerak melebihi kilat, dan dengan cara seperti itu maka gerakanku tidak dapat diikuti mata orang awam. Dengan begitu, selama aku bergerak dengan ilmu meringankan tubuh, tidak satu makhluk pun akan mampu melihat pergerakanku, kecuali jika ilmu meringankan tubuhnya pun mendekati sempurna. Namun jika aku tidak bergerak sama sekali, tentu saja siapa pun akan dapat melihat diriku. Apalagi ketika perhatianku terserap oleh gambaran kehidupan sehari-hari yang sedang dipahatkan pada dinding itu.

Pengawas tersebut tidak menunggu jawabanku dan langsung menyerang dengan sebuah pukulan tenaga kasar, tetapi bahkan jika ia menggunakan tenaga dalam, tentu saja terlalu mudah bagiku untuk menghindarinya. Aku berkelebat melesat ke atas dan menghilang, meskipun masih berada di sana juga. Aku berkeliling sebentar dengan kecepatan kilat menengok setiap sudut yang sedang dikerjakan itu. Mereka bekerja serempak di tenggara, barat daya, barat laut, timur laut, maupun sisi timur tempat awal dan akhir penggambaran Karmawibhangga atau gelombang sebab akibat dari baik dan buruknya kehidupan manusia itu. Aku terkesan dengan kepekaan para pemahat itu terhadap berbagai macam hal, makhluk hidup maupun benda mati, benda alam maupun karya manusia, yang berada di sekitarnya. Penggambaran itu membuat yang tergambar maupun yang digambarkannya penuh dengan makna.

Jika segala penggambaran yang terpahat pada batu-batu keras ini tak lekang dimakan zaman, betapa luar biasa sumbangan para pemahat, para perancang bangunan, raja-raja, maupun rakyat yang telah memberikan kehidupannya untuk mendirikan stupa prasada ini,1) bagi kehidupan dunia pada masa yang akan datang. Kekagumanku

terhadap rencana besar itu membuat aku nyaris melupakan penderitaan yang kuduga telah diakibatkannya.

“Dia di sana! Kejar! Kejar! Kejar!”

Kini para pengawal yang memiliki ilmu berusaha mengejarku. Betapapun pembangunan candi sebesar ini tidak luput dari beban pertentangan kepentingan. Kehadiran diriku yang tak dikenal tampaknya telah mengakibatkan bermacam-macam penafsiran yang satu sama lain tidak kuketahui hubungannya.

Dari delapan penjuru angin, sekitar dua puluh pengawas pekerjaan yang sebetulnya merupakan pengawal rahasia istana, melesat secepat kilat. Aku tidak melihat mereka tadi, apakah itu berarti mereka berada di antara para pekerja, menyamar sebagai pemahat atau tukang batu?

Itulah yang membuat aku bertanya-tanya sekarang: Mengapa hal itu harus dilakukan?

Aku berada di puncak bukit, merasakan angin sejuk bertiup dari arah gunung, tetapi matahari tetap saja berkilau menyilaukan. Para pengawal rahasia istana dengan pedang mereka yang berwarna perak, tampak sangat bernafsu untuk segera menangkap diriku. Mereka berkelebat di antara cahaya, pedang keperakan mereka memantulkan cahaya, dan mereka pun bergerak secepat cahaya, patutlah dikatakan mereka memang bergerak secepat kilat. Namun bagi siapa pun yang mampu bergerak melebihi kilat, kecepatan duapuluh pengawal rahasia istana itu bagaikan suatu gerak yang amat lamban, selamban-lambannya lamban, sehingga aku setiap kali dapat menjepit pedang mereka dengan dua jari saja, menjepit dan membuangnya, atau kadang-kadang memakainya untuk meladeni mereka sampai pedang-pedang mereka itu terpental.

Ketika tiada lagi seorang pun di antara mereka yang memegang pedang, aku masih memegang dua pedang di tangan kiri dan kanan, dan mendadak saja aku dirasuki kerinduan memainkan pedang.

54: S-a-s-t-i…

DENGAN ilmu meringankan tubuh yang mendekati sempurna, aku memang dapat bergerak melebihi kilat, dan dengan cara seperti itu maka gerakanku tidak dapat diikuti mata orang awam. Dengan begitu, selama aku bergerak dengan ilmu meringankan tubuh, tidak satu makhluk pun akan mampu melihat pergerakanku, kecuali jika ilmu meringankan tubuhnya pun mendekati sempurna. Namun jika aku tidak bergerak sama sekali, tentu saja siapa pun akan dapat melihat diriku. Apalagi ketika perhatianku terserap oleh gambaran kehidupan sehari-hari yang sedang dipahatkan pada dinding itu.

Pengawas tersebut tidak menunggu jawabanku dan langsung menyerang dengan sebuah pukulan tenaga kasar, tetapi bahkan jika ia menggunakan tenaga dalam, tentu saja terlalu mudah bagiku untuk menghindarinya. Aku berkelebat melesat ke atas dan menghilang, meskipun masih berada di sana juga. Aku berkeliling sebentar dengan kecepatan kilat menengok setiap sudut yang sedang dikerjakan itu. Mereka bekerja serempak di tenggara, barat daya, barat laut, timur laut, maupun sisi timur tempat awal dan akhir penggambaran Karmawibhangga atau gelombang sebab akibat dari baik dan

buruknya kehidupan manusia itu. Aku terkesan dengan kepekaan para pemahat itu terhadap berbagai macam hal, makhluk hidup maupun benda mati, benda alam maupun karya manusia, yang berada di sekitarnya. Penggambaran itu membuat yang tergambar maupun yang digambarkannya penuh dengan makna.

Jika segala penggambaran yang terpahat pada batu-batu keras ini tak lekang dimakan zaman, betapa luar biasa sumbangan para pemahat, para perancang bangunan, raja-raja, maupun rakyat yang telah memberikan kehidupannya untuk mendirikan stupa prasada ini,1) bagi kehidupan dunia pada masa yang akan datang. Kekagumanku terhadap rencana besar itu membuat aku nyaris melupakan penderitaan yang kuduga telah diakibatkannya.

“Dia di sana! Kejar! Kejar! Kejar!”

Kini para pengawal yang memiliki ilmu berusaha mengejarku. Betapapun pembangunan candi sebesar ini tidak luput dari beban pertentangan kepentingan. Kehadiran diriku yang tak dikenal tampaknya telah mengakibatkan bermacam-macam penafsiran yang satu sama lain tidak kuketahui hubungannya.

Dari delapan penjuru angin, sekitar dua puluh pengawas pekerjaan yang sebetulnya merupakan pengawal rahasia istana, melesat secepat kilat. Aku tidak melihat mereka tadi, apakah itu berarti mereka berada di antara para pekerja, menyamar sebagai pemahat atau tukang batu?

Itulah yang membuat aku bertanya-tanya sekarang: Mengapa hal itu harus dilakukan?

Aku berada di puncak bukit, merasakan angin sejuk bertiup dari arah gunung, tetapi matahari tetap saja berkilau menyilaukan. Para pengawal rahasia istana dengan pedang mereka yang berwarna perak, tampak sangat bernafsu untuk segera menangkap diriku. Mereka berkelebat di antara cahaya, pedang keperakan mereka memantulkan cahaya, dan mereka pun bergerak secepat cahaya, patutlah dikatakan mereka memang bergerak secepat kilat. Namun bagi siapa pun yang mampu bergerak melebihi kilat, kecepatan duapuluh pengawal rahasia istana itu bagaikan suatu gerak yang amat lamban, selamban-lambannya lamban, sehingga aku setiap kali dapat menjepit pedang

mereka dengan dua jari saja, menjepit dan membuangnya, atau kadang-kadang memakainya untuk meladeni mereka sampai pedang-pedang mereka itu terpental.

Ketika tiada lagi seorang pun di antara mereka yang memegang pedang, aku masih memegang dua pedang di tangan kiri dan kanan, dan mendadak saja aku dirasuki kerinduan memainkan pedang.

Kutancapkan kedua pedangku di tanah.

”Kubiarkan kalian hidup jika sudi menjawab semua pertanyaanku.”

Kulihat wajah-wajah mereka seperti berharap-harap cemas. Sadarkah mereka betapa nyawa mereka ibarat telur di ujung tanduk? Mereka yang tidak mendalami dunia persilatan sangat sering kurang mengerti ukuran tinggi rendahnya ilmu. Para pengawal rahasia istana seharusnya terdiri dari orang-orang berilmu tinggi, tetapi aku kini melihat mereka sebagai orang-orang yang tidak berpengalaman. Kalaupun di antara mereka

ada yang berilmu tinggi, terdapat kemungkinan mereka tidak mengenal dunia persilatan sama sekali.

Namun kini mereka mengenalku. Aku tidak merasa terlalu berminat mencabut nyawa hari ini. Jadi kuberi mereka kesempatan mempertahankan hidupnya tanpa melalui pertarungan.

”Apakah kiranya yang ingin ditanyakan oleh Tuan Pendekar?”

Aku masih terdiam. Mungkin dalam dunia persilatan aku memang telah mengalahkan para pendekar ternama yang tinggi ilmu silatnya, tetapi pengetahuanku tentang kehidupan sehari-hari, karena dibesarkan dalam keterasingan bersama Sepasang Naga dari Celah Kledung, kusadari tidak seimbang dengan ilmu silatku. Padahal aku menginginkan pengetahuan yang memadai untuk mempertimbangkan segenap keputusanku. Jika seorang pendekar harus membasmi kejahatan, maka aku merasa harus yakin bahwa para tokoh golongan hitam yang kubunuh memang adalah orang-orang jahat, dan bukan sekadar diresmikan sebagai jahat oleh orang banyak maupun kerajaan. Pertarungan kepentingan dalam dunia kekuasaan, begitulah pemikiranku, sangat mungkin melahirkan fitnah, yang dalam kurun waktu tertentu akan diterima sebagai kebenaran. Aku ingat kata-kata ibuku.

”Jika dikau mengembara sebagai pendekar di dunia persilatan, anakku, dikau akan terpaksa juga menjelajahi berbagai wilayah yang dihuni banyak orang. Itulah yang disebut masyarakat, tempat berbagai kepentingan ibarat roh yang mencari tubuhnya. Jangan sampai dikau dapat dimanfaatkan oleh mereka Anakku, mereka tidak memang tidak memiliki ilmu silat, tetapi lembing kata-katanya sangat berbahaya dan mempengaruhi orang banyak. Hati-hatilah Anakku. Hanya dengan pengetahuan yang cukup atas kehidupan di sekitarmu, dikau akan dapat membuat keputusan yang tidak akan terlalu mengecewakan dirimu sendiri.”

Apakah yang ingin kuketahui? Aku tidak boleh malu mengajukan pertanyaan-pertanyaan bodoh.

”Orang-orang yang bekerja ini, dari mana datangnya mereka?”

Mereka saling berpandangan.

”Orang-orang ini abdi Yang Mulia Samarattungga, penguasa kami dari Wangsa Sailendra, wahai Tuan Pendekar, mereka penduduk di sekitar bukit ini.”

”Apakah mereka pemeluk Mahayana?”

”Sebagian saja Tuan, sebagian lagi pemeluk Siwa.”

Aku kurang mengerti, barangkali mereka melihatku mengernyitkan dahi.

”Bahkan tanah ini disumbangkan oleh Wangsa Sanjaya, Tuan.” 3)

”Disumbangkan?”

Nada suaraku jelas meragukannya. Namun mereka terus berbicara.

”Kenapa mereka tiba-tiba pergi? Itu yang penting bagi kami.”

”Orang-orang kita di kedai dan rumah pelacuran itu berkata, mereka boleh libur karena keadaan sudah aman. Makanya tak seorang pun menjaga tempat itu.”

”Apakah itu tidak aneh? Setidaknya mereka bisa libur bergantian. Apakah kamu yakin ini bukan jebakan?”

”Aku mengawasi sejak sore, memang tidak seorang pun dari duapuluh pengawal rahasia istana ada di sana.”

”Apakah mereka tidak menyamar dan menghindari pengawasan?”

”Kita sudah mendapat daftar yang bertugas di sini maupun di istana, kalau salah seorang di antara mereka berjaga sekarang, kita pasti mengetahuinya.”

”Hmm. Keadaan ini sangat baik untuk kita, tapi kita lanjutkan pekerjaan kita besok malam saja.”

Aku bersembunyi di balik gundukan batu kali yang besar, dan memang ada sungai kecil di sana, tempat kuda mereka bisa minum. Perbincangan mereka dapat kudengar dengan jelas.

”Apakah kita akan memotong-motongnya lagi?”

”Tidak, kita akan menggantungnya di pohon-pohon, atau pada tiang yang akan kita pasang di depan gubuk-gubuk itu.”

”Bagaimana kalau para pengawal itu sudah kembali besok? Mengapa tidak kita lakukan saja malam ini? Untuk apa menunggu lama-lama?”

”Kita harus hati-hati, ini baru malam pertama. Kalau mereka sudah kembali besok, berarti tugas kita pun sudah mencapai maksudnya.”

Orang-orang di sekitarnya mengangguk-angguk tanda setuju. Mereka terus bercakap, tetapi sudah tidak terlalu penting lagi bagiku. Di sekitar api unggun, mereka tampak menyantap daging bakar yang disiram arak. Kukira mereka tidak akan menyerang malam ini.

Kuingat apa yang kudengar tadi, mereka tidak akan memotong-motong korban pembantaian mereka itu, melainkan akan menggantungnya. Seperti bermaksud menyebarkan ketakutan.

Mengapa di dunia ini ada orang-orang yang seperti bermaksud menyebarkan ketakutan?

Tiba kembali di rumah-rumah gubuk di kaki bukit, kuperhatikan orang-orang yang lelap tertidur. Tidak semuanya tidur. Beberapa terbangun dan mengunyah sirih sembari memandang rembulan.

”Mengapa tidak tidur, Bapak? Bukankah besok masih ada pekerjaan berat menanti?”

”Susah tidur, Anak, teringat keluarga di tempat asal…”

Aku menghela napas. Orang-orang desa jarang berpisah dari keluarganya. Mereka pergi ke sawah atau berburu di hutan, tetapi tidak akan lebih jauh dari itu. Mungkin saja berhari-hari pergi bertapa di gua-gua, tetapi jangkauan wilayah dan lama kepergiannya jelas. Satu atau dua orang memang pergi mengembara, dan satu atau dua orang mungkin mengembara dalam dunia persilatan, tetapi mereka ini adalah orang-orang yang sudah tidak diharapkan kembali.

Kurebahkan diriku pada balai-balai bambu di antara para pekerja yang tidur mendengkur. Dari tempatku menggeletak terlihat garis tepi sebagian dinding bangunan paling dasar itu menjadi garis putih karena cahaya bulan. Kubayangkan berapa lama akan mencapai kelengkapannya sampai ke puncak. Katanya pada setiap tingkat akan terdapat lorong-lorong berdinding luar dan juga berpintu, lengkap dengan stupa menjulang, arca-arca Buddha, dan segala cerita sepanjang dinding yang bukan sekadar berasal dari kehidupan sehari-hari seperti Karmawibhangga, melainkan juga sebagian riwayat hidup Sang Buddha dalam Lalitavistara, kisah-kisah Jatakamala dan Avadana, serta akhirnya kisah Gandavyuha.

Aku teringat seorang pengawas bangunan yang mewakili pejabat agama di istana, yang kuingat karena tampak begitu tua dan renta, berkata, ”Bangunan suci ini akan mengikuti petunjuk Sang Buddha sendiri, ketika ia menentukan bentuk dan tatanan stupa, dengan cara melipat jubahnya, lalu meletakkan pinggan yang biasa dipakainya mengemis, kemudian di atasnya ia lengkapi dengan tongkatnya sebagai

mahkota,” 2) ujarnya di antara pemahatan Karmawibhangga di dinding tenggara kemarin.

Disebutnya, dengan penjelasan itu telah tertunjukkan ketiga ciri utama stupa, yakni sebuah dasar persegi, tutup setengah bundar, dan puncak berbentuk bulan panjang.

Ketiganya mewujudkan perlambangan alam semesta yang dibagi menjadi tiga unsur, yakni Kamadhatu atau unsur Nafsu, Rupadhatu atau unsur Wujud, dan Arupadhatu atau unsur Takberwujud. Ketiganya lebur dalam suatu bangunan yang akan menjadi indah dan megah.3)

”Sebagai persembahan bangsa kita kepada dunia,” katanya.

Dari balai-balai ini aku memandang bukit yang disiram cahaya bulan tersebut. Belum dapat kubayangkan bagaimana candi setinggi bukit itu akan berwujud.

***

MALAM kedua setelah para pengawal rahasia istana tidak lagi berjaga, aku meronda di luar lingkungan gubuk-gubuk tempat para pekerja tidur, sementara para pekerja itu, ratusan pemahat dan ribuan tukang batu, telah kuminta untuk waspada. Barangkali mereka tidak percaya kepadaku, dan memang mereka tidak punya alasan untuk percaya, karena bukankah pertarunganku dengan duapuluh pengawal rahasia istana saat itu tidak terlihat oleh mata orang awam? Demikian juga percakapanku dengan para pengawal di atas puncak bukit, bahwa mereka harus pergi selama tiga hari, hanyalah didengar angin yang berlalu. Lagipula aku hanyalah seseorang yang tidak dikenal dan tiba-tiba saja telah berada di antara mereka.

Namun, meski mereka tidak percaya, aku berusaha mempengaruhi mereka.

”Para pengawal sedang pergi dari tempat ini. Kudengar mereka berpesta pora dan mabuk-mabukan di rumah pelacuran. Mengapa kalian begitu yakin pembunuh yang telah memotong-motong tubuh saudara-saudara kita tidak akan datang lagi ke mari? Kalian boleh tidak percaya kepadaku, tetapi semestinyalah kalian waspada malam ini. Bertanyalah kalian kepada diri kalian sendiri, jika gerombolan pembunuh itu datang lagi kemari, mampukah kalian membela diri?î

Maka ternyata ada juga yang tidak bisa tidur meski kelelahan memaksanya merebahkan diri. Cahaya rembulan dengan segera menyiram permukaan bumi. Kupandang sekilas ribuan tubuh yang bergeletakan, dengan latar belakang

tumpukan batu-batu, yang sudah berbentuk empat persegi panjang maupun yang belum disentuh sama sekali. Memang perlu pengabdian luar biasa dari orang banyak untuk membangun sebuah candi raksasa, tetapi jika pun pengabdian takbisa terlalu luar biasa, suatu cara untuk membuat orang dengan suka atau taksuka terpaksa mengabdi, kiranya telah dilakukan pula. Itulah yang sedang kucari jawabannya malam ini.

Kemudian, siraman cahaya keperakan rembulan yang lembut itu bagaikan tersibak-sibak oleh sejumlah bayangan yang berkelebat. Disusul oleh sejumlah bayangan lain dan sejumlah bayangan lain lagi. Mereka bergerak menyebar dengan cepat. Betapa lincah mereka bergerak di balik bayang-bayang kehitaman, mereka tampak terlatih dalam penyusupan malam. Mereka hanya berkancut dan berikat kepala, tetapi wajah mereka tertutup kain yang melibat kepala mereka, sehingga hanya kelihatan matanya. Itulah mata harimau kumbang di tengah malam yang menembus kegelapan, siap menerkam mangsanya dalam sekejap tanpa peringatan.

Mereka mengendap-endap dengan pisau di tangan. Apakah mereka masih hanya berminat menggantung para korban seperti kudengar kemarin malam, ataukah tetap melakukan pemotongan? Mereka semua sudah memegang pisau di tangannya dan tidak terlihat membawa senjata yang lain. Semua ini sudah direncanakan! Maka harus bertindak, sebelum terjebak dalam perangkap, yang sama sekali belum dapat ditebak! Seseorang telah berhenti di depan salah satu pekerja yang tertidur nyenyak, dan mengangkat pisau panjangnya yang berkilat, untuk segera menikam!

Aku segera berteriak dengan tenaga dalam, terdengar keras untuk membangunkan setiap orang.

”Awas! Pembunuhan! Banguuuun! Banguuuuun! Pembunuhan!”

Sekitar lima ribu orang tergeletak di sana, masih ditambah hampir seribu pemahat, dan ratusan penyelenggara segala keperluan, mulai dari makanan, obat-obatan, dan banyak hal lagi kebutuhan hidup sehari-hari; mereka semua terbangun, dan meski sebetulnya

belum terlalu sadar, telah membuat para pembunuh itu sangat terperanjat. Namun sebagian tetap mengayunkan pisaunya. Inilah saatnya aku bergerak!

Dalam sekejap aku telah berada pada lima belas tempat. Pisau mereka kutampel hingga terlepas dan tubuh mereka kudorong ke tengah orang banyak, seperti menjatuhkan seseorang ke jurang.

55: Permainan Kekuasaan

KUTATAP mata mereka. Aku merasa khawatir mereka tidak akan bicara. Para penyusup dalam kegelapan malam tidak hanya menguasai seni membunuh, tetapi juga terlatih untuk menerima siksaan jika tertangkap, dan jika perlu mengakhiri hidup mereka sendiri agar membuka rahasia. Adapun jika mereka telah memutuskan untuk bunuh diri, sangatlah sulit untuk menghalanginya, karena tentu saja mereka juga sudah dilatih untuk itu, kecuali mereka sendiri tidak menghendakinya.

Jadi kuminta keduapuluh orang itu dipisahkan ke duapuluh tempat, dan aku tidak terlalu tergesa-gesa untuk segera meminta penjelasan dari mereka. Hanya kuminta untuk meletakkan mayat para korban dari pihak pekerja yang tidak bersalah itu di hadapan mereka, dan kami semua menjauh, meski tetap kuminta pengawasan dari kejauhan.

Pada tubuh mereka tidak terdapat tanda rajah apa pun, sehingga aku tidak dapat memastikan mereka terhubungkan dengan suatu kelompok tertentu. Tidak dengan Cakrawarti, dan belakangan juga tidak dengan Kalapasa. Cakrawarti sebagai jaringan rahasia yang telah disebut kehadirannya sejak masa Wangsa Sanjaya telah merasuk begitu rupa ke segala lapisan masyarakat, sehingga menunjukkan keberadaan dirinya tidak dengan tanda-tanda pada tubuh lagi, melainkan bahasa sandi yang setiap kali berganti. Adapun Kalapasa sebagai kelompok penyusup yang muncul lebih kemudian sangat terkenal kerahasiaannya yang takterendus, sehingga sebuah keluarga dapat menjadi anggotanya secara turun temurun tanpa dikenali sedikitpun oleh tetangganya juga secara turun temurun.

Maka, jika penyamaran Cakrawarti dan penyusupan Kalapasa bukanlah dari tingkat yang mudah terbongkar, siapakah orang-orang ini? Aku teringat pengacau di balik patung Durga di daerah tak bertuan yang membawa lembaran lontar dengan tulisan bahwa Cakrawarti bekerja untuk Naga Hitam. Apakah peristiwa ini menjelaskan sesuatu?

Seorang di antara para pembunuh ini mengenali aku, padahal aku selalu membunuh siapapun mereka yang terlanjur mengenalku, karena mereka memang harus terbunuh dalam pertarungan untuk menguji kesempurnaan. Namun selama ini memang ada orang-orang yang mengetahui keberadaan diriku dengan tugas membunuhku. Itulah orang-orang suruhan Naga Hitam yang jaringan kejahatannya hampir selalu membayangi kehidupanku. Apakah orang-orang ini anggota jaringan Naga Hitam?

Itulah pertanyaanku sekarang: Jika Naga Hitam menggunakan jaringan Cakrawarti untuk menjalankan tujuannya, apakah kiranya tujuan tersebut?

Aku memikirkan beberapa hal.

Pertama adalah isi surat untuk menghancurkan kepercayaan.

Bukankah saat itu para petani yang memuja Durga telah berbalik mengutuk Durga ketika anggota Cakrawarti tersebut melemparkan bola cahaya yang asapnya mematikan, sementara getaran cahayanya memberi kesan delapan tangan Durga itulah yang telah melemparkannya?

Jika hal semacam itu dilakukan secara serempak di mana-mana, tidakkah begitu banyak orang akan melepaskan kepercayaan yang selama ini telah membuat jiwanya tenteram, bahkan berganti memeluk kepercayaan lain yang sedang tumbuh dan berkembang dengan pesat di seluruh Yawabumi?

Kulihat sebuah perjuangan, kulihat suatu pertarungan. Namun igama-igama tidak bertarung bukan? Manusia bertarung memperebutkan kekuasaan atas nama igama dan bukan sebaliknya. Igama manapun tidak membenarkan pertarungan antar igama dan tidak akan pernah ada kecuali manusia yang begitu bodoh sehingga menafsirkan yang sebaliknya. Jika Panamkaran mampu memberikan tanah kepada igama berbeda,

Panunggalan hanya dapat melawan dengan tidak mengikutinya, malah berbuat sebaliknya. Setidaknya para penasihat igama masing-masing memiliki kepentingannya pula. Bukankah sudah kuceritakan betapa seorang raja ternyata tidak menguasai dunia dan sebaliknya hanya dapat duduk di singgasana kekuasaan dengan persyaratan yang tidak mungkin disanggupinya.

Barangkali ia sanggup melawan musuh yang menyerang dari luar, tapi bagaimana caranya ia mencegah gunung meletus dan mengusir wabah penyakit yang tidak

dikenalnya? Maka seorang raja yang ingin tetap berkuasa harus membeli kekuasaannya dengan banyak cara, antara lain dengan sedapat mungkin memenuhi keinginan rakyatnya itu, selama itu bukan menahan banjir atau gempa bumi, misalnya dengan memenuhi kehendak rakyat yang menginginkan keseragaman igama. Itulah sebabnya ia turuti keinginan rakyat yang tidak senonoh itu, dengan menindas pemeluk igama yang lebih sedikit di wilayah kekuasaannya, meski pemeluk igama tersebut di luar wilayahnya jauh lebih besar.

KEDUA, dan karena itu, ia harus membuat rakyatnya membutuhkan dirinya, membutuhkan kerajaannya, dan membutuhkan kekuasaannya. Bagaimana caranya rakyat membutuhkan perlindungannya? Seorang raja memikirkan cara yang paling menjamin kepentingannya untuk berkuasa: Sebarkan ketakutan yang hanya membuat rakyat membutuhkan perlindungan negara; jika rakyat memilih untuk pindah, maka ketakutan juga harus disebarkan di luar wilayah kekuasaannya, yakni di daerah takbertuanÖ

Bagaimana caranya menyebarkan ketakutan? Aku telah melihatnya sendiri betapa bisa mengerikan penyebaran ketakutan demi kepentingan kekuasaan. Betapa kejam, betapa dingin, dan betapa tidak berhati.

Aku teringat kalimat yang kudengar malam itu: Tugas kita sudah mencapai maksudnya. Dihubungkan dengan kehadiran para pengawal rahasia istana, yang membuat para pekerja lebih tenang karena tiada lagi mayat terpotong-potong, kalimat itu meyakinkan sebagai bagian dari suatu rencana yang cermat. Gawat. Untuk membuat rakyat

menyadari keberadaan negara, diperlukan suatu penyebaran ketakutan agar rakyat membutuhkan kehadiran para pengawal rahasia istana yang merupakan petugas negara. Dengan kata lain, terdapat suatu permainan sandiwara yang membutuhkan korban, yakni mereka yang dikorbankan menjadi mayat terpotong-potong!

Ketiga, supaya sandiwara ini lebih meyakinkan, para pengawal rahasia istana tidak mendapat pemberitahuan sama sekali atas kebijakan tersebut. Selain karena ini akan membuat sikap mereka untuk melindungi rakyat terlihat sungguh-sungguh, juga karena jika mereka diberi tahu belum tentu akan setuju. Para pengawal rahasia istana bukanlsh sembarang prajurit atawa sembarang pengawal istana. Kata rahasia

dalam sebutan itu berarti mereka adalah orang-orang pilihan, yang akan menjaga raja, pejabat tinggi, dan anggota keluarga istana dengan tingkat kewaspadaan tertinggi, tanpa diketahui seorangpun yang sekiranya mempunyai maksud buruk.

Pernah terjadi dalam suatu iring-iringan, dan raja berada di dalam tandu di atas punggung gajah, sesosok bayangan mendadak berkelebat melayang ke atas dengan tombak pendek yang siap dilempar di tangannya. Pada titik tertentu ia akan melempar tombak itu dan tampaknya tidak akan ada sesuatupun yang menghalangi betapa sang raja akan menemui ajalnya hari itu.

Namun sesosok bayangan putih berkelebat menggagalkan kemungkinan itu. Tepat pada saat sosok yang melayang ke atas terhenti pada garis yang sejajar dengan raja dan tombak sudah terangkat ke belakang siap dilemparkan, bayangan putih itu tiba-tiba saja berada di hadapan calon pembunuh tersebut. Kejadian itu berlangsung begitu cepat dan tidak bisa diiikuti mata orang awam. Orang-orang yang berada di tepi jalan dan menyaksikan iring-iringan itu dengan lirikan, karena mereka semua bersujud, hanya

melihat cahaya putih berkilatan ketika sebuah pedang dikeluarkan dari sarungnya. Bayangan yang membawa tombak tadi melayang turun kembali dengan dada terbelah. Ambruk ke bawah bersimbah darah. Sedangkan sosok bayangan putih tadi tetap berada di atas, berdiri di depan tandu, yang ternyata seorang peremuan berkain putih dengan pedang terhunus siap menghadapi segala kemungkinan.

Sebenarnyalah para pengawal rahasia istana adalah orang-orang pilihan dengan ilmu silat yang tinggi.

KEBERADAANNYA sudah dikenal meski hanya dalam peristiwa yang sangat dibutuhkan seperti itu mereka terlihat melaksanakan tugasnya. Maka ketika pembunuhan yang tampak sengaja dilakukan untuk menakut-nakuti itu merajalela, kehadiran mereka yang seperti telah mengusirnya sangat terasa sebagai perlindungan negara. Mereka sendiri tidak mengira tentunya, sandiwara macam apa yang telah meminta banyak korban demi tersebarnya ketakutan. Kehadiran para pengawal rahasia istana membuat orang-orang menjadi tenang, tenang dan tergantung kepada negara, sesuai dengan kehendak di balik sandiwara kejam tersebut.

Kedatanganku tentu saja telah mengacaukan rencana besar tersebut, dan ini menghadapkan aku langsung kepada para pembunuh. Sebetulnya aku ingin membangkitkan kepercayaan diri rakyat, dengan muncul seolah-olah dari tengah mereka sebagai salah satu pekerja, meski tidaklah terlalu mudah membuat orang banyak percaya betapa terdapat seorang pendekar di antara mereka.

Betapapun, aku masih harus memeriksa satu perkara lagi, yang setelah beberapa saat kuakui takmungkin kudapatkan dengan pengakuan terbuka. Takseorangpun memperlihatkan perubahan perasaan kudekatkan dengan korban-korban pembunuhan mereka. Siapapun mereka, pemaksaan pengakuan akan membuat mereka bunuh diri dengan cara menekuk lidah mereka, dan aku tidak akan mendapat keterrangan apaapa.

”Bawa mereka semuanya kemari,” kataku, ”sudah tiba waktunya memberi mereka hukuman.”

Langit berubah warna. Aku ingin menyelesaikan persoalan ini sebelum hari terang, sebelum para pejabat istana datang dan menerapkan hukum mereka sendiri. Apa yang akan kulakukan, memang hanya dapat dilakukan dengan mengenal dunia persilatan.

Mereka sudah dikumpulkan di hadapanku.

”Buka ikatan mereka,” kataku.

Tangan mereka diikat dengan tali rotan, sakitnya tentu bukan buatan. Mereka telah dilatih untuk melepaskan diri dari ikatan seperti itu dengan mudah, tetapi dengan cara mengikat seperti itu, aku taktahu siapakah kiranya ia yang akan mampu melepaskan diri.

Setelah ikatan mereka dibuka, di wajah mereka terlihat harapan. Dengan ini saja kutahu mereka bukan anggota Kalapasa. Aku hanya harus melakukan sesuatu untuk membuktikan dugaanku.

”Kuberi kalian kesempatan hidup,” kataku, ”dengan cara kalian semua bertarung melawanku.”

Mereka saling memandang, harapan makin terang di mata mereka. Tentu saja mereka adalah orang-orang yang belum sempat kulumpuhkan dalam penyergapan mereka yang secara keseluruhan harus dianggap gagal.

”Apakah perjanjiannya?” Salah seorang di antaranya bertanya.

”Jika aku tewas, siapa pun yang masih hidup berhak untuk pergi dengan bebas.”

Seorang di antara mereka berteriak keras.

”Apakah pernyataan ini disaksikan?”

Terdengar jawaban serentak ribuan orang.

”Disaksikan!”

Maka kami pergi ke tempat yang lapang tanpa pepohonan. Senjata yang semula mereka bawa, sebuah pisau belati panjang, telah mereka pegang kembali. Seorang di antaranya telah mengenali aku, kini giliranku mengenal siapa mereka sebenarnya. Jika mereka anggota jaringan rahasia, kuragukan kemampuanku mengorek keterangan dari mulut mereka yang telah dilatih untuk bungkam dan menyimpan rahasia; tetapi dari pertarungan ini, aku akan mengetahui asal usul mereka dari jurus-jurus ilmu silatnya, dan kukira mereka juga tidak akan pernah menyangka!

Mereka berduapuluh orang mengepungku dalam lingkaran. Setelah saling memandang sejenak segera bergerak dalam suatu jurus yang rupanya memang dibuat untuk dimainkan suatu kelompok. Mereka ternyata sangat terlatih, mereka bergerak memutariku sembari terus menyerang dan aku merasa seolah berhadapan dengan empatpuluh pedang secara bersamaan. Sembarang lawan akan segera terpotongpotong menghadapi jurus ajaib seperti itu. Mereka mengandalkan gelombang serangan yang berlekuk liku bagaikan liukan seekor naga. Meskipun dimainkan secara bersamaan, aku mengenal jurus yang sama ketika dimainkan satu orang, meskipun setiap orang itu pun telah membawakannya secara berlain-lainan. Sebagai pemegang Jurus Bayangan Cermin, aku memiliki kemampuan mempelajari suatu jurus dengan seketika saat itu juga, termasuk kemampuan mengenali asalnya. Begitulah serangan bergelombang itu dapat kukenali sebagai pengembangan Ilmu Pedang Naga Hitam.

AKU melenting dalam serangan dahsyat Ilmu Pedang Naga Hitam yang mengambil gagasan dari gerak seekor naga mengamuk dengan menyabetkan ekornya. Pada saat kita mengira berhadapan dengan suatu kepala, sabetan ekor yang mematikan akan menyambar dari belakang. Aku melenting ke sana kemari dengan senang hati, seolaholah memberikan tontonan, padahal aku memang sedang sangat beriang hati

karena telah menemukan jawab persoalan: Naga Hitam telah bekerjasama dengan jaringan rahasia Cakrawarti agar mendapat peran kekuasaan.

Namun betapapun sakti dan besar pengaruh Naga Hitam sebagai tokoh dunia persilatan, dia bukanlah seorang negarawan. Untuk menggapai cita-citanya ia memanfaatkan jaringan rahasia Cakrawarti yang memang merembes ke mana-mana bahkan sampai ke dalam istana, untuk menjual jasa dan pengaruhnya di dunia persilatan. Kini taklagi uang yang diinginkannya, melainkan suatu peran dalam kekuasaan. Baginya menjadi penguasa wilayah Kubu Utara dalam dunia persilatan rupanya takcukup lagi. Astaga, benarkah pada akhirnya ia juga ingin menjadi raja? Itulah pertanyaanku: Mengapa seseorang ingin berkuasa?

Adapun mereka yang begitu pandai bermain dengan kekuasaan di istana, memanfaatkan cita-cita Naga Hitam untuk memperkuat kedudukannya sendiri. Naga Hitam tidak pernah menyadari betapa jaringan rahasia seperti Cakrawarti sangat mungkin bermain dengan dua muka; di satu pihak ia melayani jasa untuk menghubungkan Naga Hitam dengan istana, di lain pihak ia melayani kepentingan istana untuk memhuat Naga Hitam tetap berjarak dengan kekuasaan, sementara Cakrawarti itu sendiri menjadi sangat penting peranannya dalam permainan kekuasaan. Jadi, Cakrawarti seolah-olah memberi jalan dan membantu Naga Hitam, seperti yang terjadi ketika anggotanya menghancurkan kepercayaan terhadap Durga di daerah takbertuan; tetapi setiap saat Naga Hitam bisa ditinggalkannya menjadi musuh negara sendirian.

Bagiku ini sungguh suatu permainan kekuasaan. Istana hanya akan memanfaatkan pengaruh Naga Hitam selama diperlukan. Pada saat jasanya untuk menyebarkan ketakutan tidak dibutuhkan lagi, para pengawal rahasia istana akan membasmi mereka dengan segala kekuatan. Istana dan raja menyebarkan ketakutan kepada rakyatnya sendiri melalui Naga Hitan, tanpa pernah bisa dibuktikan, karena tidak pernah berlangsung tatap muka manapun kecuali melalui jaringan Cakrawarti dengan cara yang sangat penuh dengan kerahasiaan.

Kekuasaan hanya sahih jika didukung oleh rakyatnya, tetapi rakyat Mataram yang dipekerjakan secara bergiliran membangun candi raksasa takbisa pergi. Rakyat terpaksa tinggal di tempat, karena sangat membutuhkan perlindungan kerajaan atas ancaman bahaya kejahatan yang sebenarnya disebarkan oleh kerajaan itu sendiri.

Aku masih melenting-lenting, takpernah menapak tanah sama sekali karena setiap kali pisau panjang mereka menyambar dapat kupakai sebagai pijakan. Kadangkala aku terlihat, kadangkala juga tidak, sekadar usaha untuk membingungkan para pengepung. Mereka membentuk kesatuan gerak seperti naga yang melingkar-lingkarkan tubuhnya, menjepit yang di tengah dengan seketika. Pisau panjang mereka ibarat sisi tajam di atas punggung naga, siap mematikan siapapun di tengahnya sampai terpotong-potong dengan seketika.

Harus kuakui Ilmu Pedang Naga Hitam, dimainkan oleh satu orang maupun secara berkelompok seperti ini, memang ganas dan kejam; jika aku belum menguasai Ilmu Pedang Naga Kembar maupun Jurus Penjerat Naga, niscaya riwayatku sudah tamat sejak lama. Kini sudah kuketahui asal usul mereka. Aku sudah menemukan bukti bahwa Naga Hitam terlibat erat dalam penyebaran ketakutan dengan cara yang sangat kejam. Aku telah memberi mereka kesempatan untuk bisa tetap hidup, tetapi sudah saatnya riwayat mereka itulah yang kutamatkan.

Dengan Jurus Bayangan Cermin kuserap segenap jurus dalam Ilmu Pedang Naga Hitam yang sudah mereka keluarkan, kukembalikan kepada mereka dengan kecepatan takterbayangkan. Diriku bagaikan menjadi empatpuluh orang yang bergerak bagaikan bayangan, setiap orang merasa dirinya menghadapi dua orang dari segala jurusan. Pada saat langit menjadi terang, duapuluh orang telah menjadi mayat bergelimpangan.

Orang banyak bergerak seperti bermaksud memotong-motongnya, tetapi aku tentu saja menghalanginya.

”Mereka telah melawan dengan segala kemampuan,” kataku, ”hormatilah mereka sebagai orang-orang yang telah berjuang.”

57: Kebudayaan dan Darah

AKU berjalan dalam hujan. Sudah beberapa hari kutinggalkan bukit yang kelak akan menjelma candi raksasa itu. Tidak bisa kubayangkan kapan pekerjaan besar itu akan selesai. Mengumpulkan batu dan menjadikannya kotak-kotak persegi panjang dalam ukuran-ukuran tertentu saja sudah memakan waktu lima tahun, dan itu baru dapat digunakan untuk mulai membangun dasar bangunan. Dari dasar itu akan terbentuk dinding, pada dinding itulah sedang dipahatkan cerita Maha

Karmawibhangga yang bagiku terasa sangat mengesankan, karena bagiku adalah luar biasa bahwa batu-batu yang dingin dapat menggambarkan hangatnya kehidupan.

Namun semua itu harus kutinggalkan, karena aku memang ingin melanjutkan perjalanan. Para pengawal rahasia istana telah kembali hari itu juga karena berita

datangnya pembunuh segera tersebar ke mana-mana. Begitu kulihat mereka datang, aku segera menghilang. Telah kutinggalkan lembaran lontar dengan tulisan di atasnya:

carilah petinggi istana

yang berhubungan dengan Cakrawarti

dan membuat perjanjian

dengan Naga Hitam

agar anak buahnya menyebarkan kematian

Mereka tidak akan segera mengerti permainan kekuasaan yang berlangsung, tetapi tentu akan mampu menyelidikinya sendiri. Aku tidak ingin berperan lebih jauh di luar batas ini. Aku hanyalah seorang pengembara, berusaha memperdalam ilmu silat dalam perjalanan, dan tidak tertarik sama sekali untuk mengabdi kerajaan. Kutinggalkan pemberitahuan itu bukan karena bermaksud ikut campur dalam permainan, melainkan karena kurasakan ketidakadilan. Para pembunuh berkepandaian tinggi merajalela tanpa lawan adalah keadaan yang mengenaskan. Biarlah para pengawal rahasia istana kini mendapat pekerjaan dan mengerahkan segala kemampuan. Mereka harus memburu dan mengobrak-abrik jaringan kejahatan Naga Hitam!

Aku berjalan dalam hujan. Kubiarkan tetes-tetes hujan dari langit membasah kuyupi seluruh badan. Aku berjalan lurus ke utara karena aku ingin segera mencapai lautan. Namun aku sengaja tidak berlari kencang menggunakan Jurus Naga Berlari di Atas Langit karena ingin menikmati perjalanan. Penggambaran Maha Karmawibhangga pada dinding batu telah membuat aku tertarik untuk melakukan pengamatan terhadap lingkungan. Apakah yang telah diperhatikan oleh para jurupahat itu sehingga kehidupan sehari-hari yang juga kukenal dapat tergambarkan kembali dengan cara takterbayangkan?

Kuperhatikan saat mereka bekerja, sebetulnya memang telah terdapat suatu rancangan keseluruhan yang menjamin keseragaman bentuk penggambaran, dengan cara menempatkan seorang pengawas pada setiap kelompok pemahat yang mengerjakan

sepotong cerita. Setiap pengawas ini harus menjamin agar pengerjaan bagiannya akan menjamin ketepatannya sebagian bagian dari rancangan keseluruhan, begitu terus berlapis-lapis ke atas, sampai tinggal satu orang yang bertanggungjawab atas keutuhan rancangan; yang terkecil adalah bagian yang terbesar, tetapi yang terbesar adalah paduan segala hal sampai yang terkecil. Candi raksasa ini nanti akan menjadi sebuah pesan tentang kebesaran.

Namun aku sekarang tertarik kepada yang terkecil. Begitulah sepanjang jalan kuperhatikan segala sesuatu yang telah dipahatkan sampai kepada yang sekecil-kecilnya. Apabila aku berjalan melewati pemukiman, segera kucari sesuatu yang juga telah dipahatkan, misalnya bentuk sebuah jembatan yang digunakan untuk menyeberangi sungai.

Pada sebuah desa kulihat sebuah jembatan terbuat dari bambu dengan susun-bentuk yang sederhana, tetapi terlihat ramping, kuat, dan indah. Hanya terdapat satu bentuk jembatan nanti yang terdapat pada pahatan di dinding candi 1), yakni pada lantai keempat.

JEMBATAN itu terikat kepada pancangan tiang bambu yang saling bertemu ujungnya sehingga berbentuk segitiga di kiri dan kanan jembatan, tempat jembatan itu tergantung. Ini sebuah jembatan gantung yang biasa terdapat di berbagai pemukiman dalam perjalananku, tetapi menyadarinya sebagai yang satu-satunya dalam pahatan di seluruh candi, membuat aku bertanya-tanya: Bagaimanakah kelak jembatan itu akan berbicara?

Bahkan pagar-pagar halaman bagiku tampak menarik hanya setelah melihatnya sebagai pahatan, dan memang hanya setelah melihat pahatan itulah aku kini mengamati pagar halaman yang sudah terlalu sering kulihat, tetapi tanpa makna seperti sekarang. Pagar yang dimaksud sebagai pembatas suatu halaman dengan halaman lain itu diungkapkan pada candi sebagai balok-balok batu atau kayu, yang ditanam atau disusun berjajar sepanjang batas halaman. 2) Banyak sekali bentuk

balok atau tiang pagar yang berencana mereka pahatkan pada dinding candi, hanya sebagian kecil yang sudah kulihat. Semuanya terbagi dalam berbagai jenis yang berhubungan dengan macam halaman tempat pagar itu ditancapkan. 3)

Kemudian tentu juga terdapat berbagai bangunan, yang dalam rancangan keseluruhan bahkan telah dihitung bahwa akan terdapat 147 gambar pahatan bangunan batu, 254 gambar pahatan bangunan kayu, enam gambar pahatan bangunan yang menggunakan logam, dan seperti telah diungkap, satu gambar pahatan jembatan bambu, selain juga 463 bangunan bentuk hiasan. 4) Sebetulnya terdapat juga bangunan stupa, jumlahnya 31 gambar pahatan, tetapi aku sedang tertarik dengan berbagai bangunan dalam kehidupan sehari-hari, sesuatu yang begitu jauh bagiku yang dibesarkan dalam keterasingan, baik selama 15 tahun di Celah Kledung maupun sepuluh tahun dalam pengasingan diri di tempat terpencil ketika mendalami ilmu persilatan.

Kuperhatikan bahwa bangunan kayu mempunyai susunan utama berupa rangka dari bahan kayu, tempat atap dan dinding-dindingnya diselesaikan dengan bahan kayu atau bambu, berdiri langsung di atas tanah atau di atas sebuah batur dari bahan batu. Bangunan yang pada rencana candi terdapat 248 buah ini, 5) merupakan susunan rangka yang mempunyai kolong atap miring dengan teritisan yang lebar, suatu bentuk

bangunan yang menanggapi kelembaban. 6) Bangunan-bangunan kayu ini terbedakan dalam pengelompokan berdasarkan atapnya, ada yang beratap pelana, ada yang beratap limasan, ada yang beratap limasan lengkung, ada yang beratap tajuk, ada pula yang beratap susun.7) Demikianlah sambil berjalan aku memperhatikan, mengamati, menghitung, dan mengelompokkan, dan terutama membayangkan bagaimana manusia memikirkan untuk akhirnya mendirikan semua itu sebagai bagian kehidupan mereka, lantas para pemahat memindahkannya. Mengetahui semua itu membuat diriku merasa penuh dengan semangat. Perjalanan menuju pengetahuan ternyata adalah perjalanan yang sangat membahagiakan!

Atas dasar apakah para perancang gambar pahatan yang akan melingkari candi sampai empat tingkat ini menentukan isi penggambaran di dalamnya?

APAKAH mereka membicarakannya bersama menghadapi gambaran keseluruhan rancangan, dan berkata, ”Masukkan rumah-rumah itu!”, ataukah seseorang telah menggambarkannya begitu saja dari dalam hati dan benaknya, dan baru kemudian dipertimbangkan bersama? Tentu ini bukan pekerjaan satu orang, tetapi tentu ada seseorang yang mempunyai peran menentukan, jika memang keadaannya demikian. Aku tidak cukup lama berada di sana untuk dapat mengetahui semuanya, tetapi aku masih dapat menggali pengetahuan dengan caraku sendiri.

Maka kini aku memperhatikan bangunan yang menggunakan bahan logam. Bangunan berbahan logam adalah bangunan yang susunan utamanya rangka terbuat dari bahan logam, tempat bagian atapnya diselesaikan dengan bahan kayu. Pada gambar pahatan, bangunan bahan logam ini ditunjukkan dengan penyelesaian tiang-tiang kecil, yang bila dibandingkan dengan bagian yang disangganya, hanya dapat dibuat dengan rangka yang menggunakan bahan logam atau bambu. Kelompok ini bangunannya kecil-kecil, biasanya hanya memiliki empat tiang penyangga dengan atap pelana atau limasan. Bagian kaki dari bangunan ini diselesaikan dengan berbeda-beda. Ada bangunan yang berdiri di atas sebuah batur dari batu,8) ada pula bangunan-bangunan yang lantainya tidak langsung di atas tanah atau batur, tempat penyelesaian bagian kakinya merupakan panggung.9) Pada gambar pahatan, bangunan-bangunan ini semuanya diungkapkan dengan terdapatnya orang-orang yang sedang duduk di sekitarnya. 10)

Gambar-gambar pahatan itu terbayangkan kembali olehku pada saat melihat pemandangan yang digambarkannya, yakni orang-orang yang sedang duduk di sekitarnya itu. Dalam gambar pahatan batu, tentu kita tidak tahu apa yang mereka bicarakan, tetapi sekarang aku dapat bergabung dengan orang-orang yang sedang duduk ini.

Hujan telah lama berhenti, tetapi aku basah kuyup. Semula aku ragu-ragu bergabung karena merasa asing, tetapi seseorang dengan ramah mengajak aku duduk di dekatnya.

”Pengembara sunyi, istirahatlah di sini, dengarkanlah cerita Bapak Tua ini, sambil makan pisang,” katanya.

Aku pun mendekat, tetapi hanya berdiri di belakang, mengambil sesisir pisang, karena kainku yang masih basah kuyup. Tentu bisa kukeringkan segera dengan

tenaga dalam yang kupancarkan dari tubuhku, tetapi itu akan terlalu menarik perhatian, meski perhatian semua orang sedang tertuju kepada orang yang bercerita.

”Ya, aku ikut dalam serangan seribu kapal kita tahun 767 ke negeri Champa yang mengerikan itu.11) Seribu kapal mengarungi lautan selama duapuluh hari. Hujan angin dan badai gemuruh kami tembus dengan bernyali, meski banyak di antara kami yang baru pertama kali berlayar dan mabuk laut dengan muntahan yang takbisa ditahan lagi. Kami memasuki sebuah teluk dan melayari sungai masuk ke pedalaman, langsung menyerbu istana ketika rajanya taksadar sama sekali akan terdapat suatu serangan. Di sana kita telah menjadi orang-orang yang ganas. Penduduk setempat menyebut orang-orang Yawabhumipala sebagai orang-orang berkulit gelap yang lebih menakutkan dari kelelawar penghisap darah, yang kejam dan buas seperti Yama, datang dengan kapalkapal, membawa pergi Mukhalingga dari Dewa, dan membakar kediaman Dewa bagaikan pasukan bersenjata Daitya melakukannya di surga. 12)

”BERIBU-RIBU pemakan daging manusia datang dari negeri-negeri jauh dengan kapalkapal dan menghancurkan arca serta gambar-gambar pahatan. Kita menyerang mereka lagi pada tahun 787 dan membakar kuil Bhadradhipsatisvara.13) Jangan heran jika siapapun dari kita yang pergi ke sana akan menerima sikap bermusuhan.”

”Apakah mereka akan menunjukkannya?”

”Mereka akan menunjukkannya bila sudah merasa kuat, dan kurasa mereka sedang menggalang kekuatan untuk itu. Namun lebih berbahaya tentu sikap bermusuhan yang tidak ditunjukkan, karena saat itulah kita akan ditusuk dari belakang. Jadi kulepaskan kalian jika ingin mencari pengalaman maupun berdagang, tetapi hati-hatilah. Ketahuilah bahwa setiap bangsa juga ingin merdeka, bebas dari penjajahan bangsa manapun jua.”

Aku tertegun dan mendadak kembali merasa rendah diri dengan sempitnya wawasanku. Banyak orang telah berlayar dan berperang menyerbu negeri-negeri yang jauh 14), tetapi aku masih sibuk berkecimpung dalam dunia persilatan sahaja. Rasanya rela aku melepaskan segenap ilmu silatku, tetapi digantikan dengan

kesempatan mengembara sejauh-jauhnya, nun jauh ke balik cakrawala, yang tidak dapat kulakukan karena riwayat hidupku bagai selalu terlibat dengan urusan Naga Hitam. Itulah yang selalu membuat aku ragu, tidakkah sebaiknya aku menyelesaikan urusanku dengan Naga Hitam dan menantangnya bertarung untuk suatu penentuan siapa akan terus hidup dan siapa sebaiknya mati? Ataukah kubiarkan saja Naga Hitam terhukum oleh pengkhianatan atas kependekarannya sendiri, dengan membuat jaringannya dimusnahkan para pengawal rahasia istana seperti yang telah kulakukan?

Aku mencoba mengatasi rasa rendah diri itu dengan sikap rendah hati. Siapakah aku sebenarnya yang harus mengetahui dan mengalami segala hal bagaikan seorang prajurit utama sekaligus orang terpelajar, sehingga harus merasa begitu bodoh karena tidak mengetahui segala sesuatu yang dianggap penting di dunia ini? Kiranya aku harus

merasa tidak ada pusat dunia, supaya aku yang berada jauh darinya tidak merasa berada jauh dari segalanya. Sebaliknya mungkin lebih baik aku merasa, bahwa di mana pun tempat aku berdiri, di situlah pusat dunia berada. Kenapa tidak? Bukankah adanya dunia ini bagi kita dapat dan memang telah ditentukan oleh sudut pandang kita? Aku tidak harus meminjam mata orang lain untuk memandang dunia, dan akupun tidak harus meminjam kata-kata siapapun jua di dunia ini untuk merumuskan dunia.

”Kita harus menjadi diri kita sendiri,” ujar orang yang disebut Bapak Tua itu yang terasa tiba-tiba, tentu saja karena sementara tenggelam dalam pemikiranku sendiri tidak kuikuti perbincangannya.

***

AKU melanjutkan perjalananku dan suatu ketika melewati bangunan-bangunan batu. Banyak sekali bangunan batu yang sudah ambruk dan tidak dipergunakan lagi, begitu juga bangunan batu yang masih dapat dipergunakan tetapi ditinggalkan dan tidak dihuni. Kuperhatikan bangunan-bangunan batu itu juga banyak terdapat dalam gambar pahatan. Mulai dari yang bisa kita sebut sebagai bangunan satu bilik, yang terbagi lagi menjadi yang tanpa bilik pintu dan yang dengan bilik pintu; bangunan satu bilik dengan bilik pintu tanpa pelipit bawah, bangunan satu bilik dengan tiga relung kecil dan bilik pintu, bangunan satu bilik dengan tiga relung besar dan bilik

pintu, bangunan satu bilik dengan tiga relung besar dan bilik pintu dengan emper tertutup, bangunan satu bilik dengan pelipit yang disangga oleh tiang tanpa bilik pintu; sampai bangunan tiga bilik yang terbagi sebagai bangunan tiga bilik tanpa bilik pintu dan bangunan tiga bilik dengan bilik-bilik tambahan pada kedua samping bangunannya tanpa bilik pintu.15)

INI belum semua, masih terdapat bangunan bertingkat dua dengan enam bilik, yang jenisnya terbagi masing-masing bangunan bertingkat dua dengan enam bilik tanpa bilik pintu, bangunan bertingkat dua dengan enam bilik dan bilik pintu bertingkat yang terbuka, bangunan bertingkat dua dengan enam bilik dan bilik pintu yang bertingkat, maupun juga bangunan yang tidak berbilik. Terakhir, terdapat juga bangunan satu bilik dengan denah segi enam tanpa bilik pintu.

Semakin jauh aku berjalan, semakin banyak yang kutemukan dan kuendapkan, semakin penuh kepalaku dengan gagasan berkelebatan. Apakah aku harus berhenti berjalan, tekun dalam pembacaan, dan meninggalkan dunia persilatan? Namun aku sudah terlanjur dibesarkan dalam asuhan sepasang pendekar, yang meskipun sangat menghargai ilmu pengetahuan yang manapun, dan selalu mempelajarinya dalam setiap kesempatan, seperti mereka ingin memberi contoh padaku, tetaplah jalan kependekaran yang mereka tempuh sebagai jalan kehidupannya. Semua manusia harus mati dan seorang pendekar mendapatkan kesempurnaan dalam kematian melalui pertarungan. Inikah yang membuat aku menjadi jauh dari ilmu pengetahuan? Sempat kukenal bahwa dunia ilmu pengetahuan adalah dunia yang dingin dan sepi, dalam usaha keras perenungan manusia demi penemuan dan penjelajahan bagi peningkatan kemanusiaan.

Aku berada di depan sebuah bangunan tanpa bilik, dan sedang berpikir untuk berhenti dan merenung, ketika sebuah angin pukulan dahsyat menyerang dari belakang.

58: Kematian dan Kehormatan

AKU melesat jungkir balik ke atas, langsung ke belakang manusia yang mengirim angin pukulan dahsyat itu. Melihat arah pukulannya, tampaknya ia bermaksud membunuhku dengan seketika. Seperti juga dirinya, dalam ilmu silat tangan kosong

dipelajari titik-titik terlemah pada tubuh manusia, yakni 36 titik yang menyebabkan kelumpuhan sementara, 18 titik yang menyebabkan kelumpuhan selamanya, dan sembilan titik yang langsung menyebabkan kematian.1)

Adapun angin pukulan ini tampak terarah, mengarah langsung kepada sebagian dari titik-titik kematian tersebut.

Berarti kepadanya pun aku tidak perlu memberi ampun. Kudorongkan pukulan Telapak Darah ke depan. Namun rupanya iapun mampu melesat jungkir balik ke atas dan langsung berada di belakangku dan lagi-lagi mengirimkan pukulan mematikan, tetapi kini dengan kedua tangan. Aku tak mau menghindar seperti tadi, karena tentu lagi-lagi nanti ia akan berada di belakangku lagi, maka aku pun berbalik untuk mengadu tenaga!

Rrrrrrrrtt!

Kedua telapak tanganku merekat dengan kedua telapak tangannya, dan akupun terhenyak. Maksud hati mengadu tenaga, yang terjadi adalah tenagaku bagaikan diserap! Itu kejutan pertama. Kejutan kedua, yang kuhadapi adalah seorang perempuan! Aku memang masih baru mengembara di rimba hijau dan sungai telaga dunia persilatan, tetapi jika terdapat seorang perempuan pendekar dengan tingkat ilmu setinggi ini, setidak-tidaknya aku seharusnya sudah pernah mendengar ia punya nama.

Tangan yang menyerap itu membuat aku terkesiap. Apakah itu berarti tenaga dalamku terserap olehnya, seperti aku mampu menyerap ilmu silat lawan dengan Jurus Bayangan Cermin? Jika memang demikian, takterbayangkan betapa dahsyat tenaga dalam yang telah dimilikinya! Mengetahui kemungkinan semacam ini, seharusnya aku melepaskan tenaga dalamku, sehingga tak ada sesuatu pun yang dapat diserapnya, dan apalagi dikembalikan kepadaku dengan tambahan tenaga dalam yang dimilikinya pula! Akibatnya akan sangat berbahaya bagi diriku, aku bisa terjengkang muntah darah.

Namun jika tenaga dalamku kulepaskan, itu juga berarti pertahanan diriku terbuka, dan tanpa tenaga dalam apalah artinya nyawa dalam pertarungan tingkat tinggi seperti ini?

Aku harus bergerak secepat pikiran. Jika pikiranku lambat, itulah saat sang maut akan membabat.

MAKA memang kulepaskan tenaga dalamku, tetapi sebelum perempuan pendekar tersebut memanfaatkan peluang atas kekosonganku, aku telah bergerak lebih cepat dari kilat, mengirimkan lima jenis pukulan yang serentak berkembang menjadi 55 pukulan. Namun perempuan pendekar ini memang hebat. Bukan saja seluruh seranganku dapat dihindarinya, tetapi ia mampu menyerangku pula. Aku meningkatkan kecepatan sampai kepada taraf yang belum pernah kulakukan, ibarat mata yang ketika berkedip hanya akan melihat bayangan sosok ketika sosoknya telah berkelebat, aku dapat kembali kepada bayangan sosok itu sebelum menghilang, dan tetap meninggalkan sosok bayangan baru, yang semuanya terjadi tak sampai satu kedipan.

Namun perempuan pendekar ini dapat mengimbangiku. Sungguh lawan yang sepadan denganku, meski satu kunci permainan telah kupegang: Jangan mengadu tenaga dalam! Kukira kemampuannya menyerap tenaga dalam telah menewaskan banyak lawan tangguh, jika ia memang menyerang semua orang seperti ke-tika menyerangku sekarang ini. Aku mengembangkan kecepatan pada taraf yang sangat tinggi, sehingga tak ada satu pun pukulan mematikannya mengenaiku; tetapi pukulan-pukulanku pun tak ada yang mengenainya, meski kuakui tak ada satu pun seranganku yang mematikan. Namun aku pun harus mengakui, jika kukirimkan pukulan yang dapat mene-waskannya seketika, pada salah satu dari sembilan titik kematian di tubuhnya, kukira belum tentu pula aku akan dapat mengenainya.

Tiba-tiba aku mendapat akal untuk memancingnya, dengan berlari memutari bangunan batu tanpa bilik itu. Jika ia mengikutiku, maka aku akan berbalik menyerangnya dengan

mendadak, dan saat itu kukira aku akan mendapat peluang yang tak sampai sekedipan mata untuk menotok titik di tubuhnya yang akan membuat ia lumpuh untuk sementara; tetapi yang terjadi justru sebaliknya, pada saat aku melesat dan menoleh ke belakang, ia muncul di depanku dengan serangan yang kecepatannya melebihi cahaya. Dengan sisa waktu yang kumiliki, aku memiringkan tubuhku, meluncur tepat di bawah tubuhnya yang kini menjadi lewat di atasku.

Pada saat itu, seketika waktu serasa begitu lambat, bagai tiada lagi yang lebih lambat dari kelambatan ini, karena dalam kecepatan seperti itu aku ternyata mampu membuka ruang pikiran di dalam kepalaku.

Begitu dekat tubuhnya berpapasan dengan diriku, sehingga terhirup olehku bau tubuhnya yang semerbak dengan harum melati. Kukatakan bau tubuh dan bukan bau bunga, karena memang tubuhlah yang serasa terbaui oleh indera penciumanku, dan bukan bunga melati. Hanya tubuh, yang dilibat kain putih, dan hanya putih, semerbak tubuh yang dibalut kain yang seperti telah diasapi pewangi, suatu wewangian yang tidak tajam, tetapi mengendap meyakinkan memberikan kesan suatu keanggunan…

Bagaikan aku dapat meraba tubuhnya itu, tubuh yang dibalut kain putih longgar di pinggang, perut terbuka dan terlihat anting-anting di pusarnya, tetapi kembali berkain ketat membelit pada payudara. Supaya tidak bergerak-gerak naik turun tentunya dalam pertarungan, menyisakan pemandangan lembah maut memutih yang sangat mendebarkan. Siapalah yang akan tega memusnahkan keindahan seperti ini dari muka bumi?

Hanya ancaman mautlah yang membuat siapa pun akan tersadar, betapa keindahan yang tersaksikan dalam pertarungan antara hidup dan mati itu adalah keindahan maut adanya…

Namun tidakkah maut itu sendiri barangkali sesuatu yang indah? Jika tidak, mengapa banyak orang begitu tertarik untuk bermain-main dengan maut?

Tubuh berbalut kain putih itu mengalir di udara dengan lambat. Serasa ingin dan serasa bisa kusentuh kulitnya yang kecokelatan karena terbakar matahari. Jika ia tinggal di

istana, ia lebih dari layak menjadi seorang putri raja, tetapi ia seorang pendekar, tentunya pendekar pengembara yang telah meninggalkan gua pertapaan dan kenyamanan atap perguruannya. Pinggangnya yang ramping tampak semakin ramping oleh tali kulit yang mengikatnya. Punggungnya terbuka, tetapi tertutupi rambut lurus panjang lebat hitam yang pada samping kiri dan kanannya dijepit sisir kulit penyu. Baru kusadari ternyata di atas pusarnya yang beranting-anting terdapat rajah seekor kalajengking. Sempat kuembus kulit perutnya dalam perpapasan itu.

Waktu kembali berkelebat cepat. Siapa yang bisa menghalangi waktu? Tentu saja ia tahu telah kutiup perutnya dengan embusan dari mulut yang hangat dan ini memancing kemarahan jika tidak ingin mengatakannya naik pitam. Kini ia tak bergerak. Akupun tak bergerak. Kami mendadak terpaku. Ia menatapku dan aku menatapnya.

IA berusaha menguasai diriku, jadi aku pun harus menguasai dirinya. Ia menggunakan tatapan mata ular yang dingin, menyihir, dan siap memagut dalam setiap kelengahan. Patukan berbisa, apakah yang dapat menjadi lawan? Kutatap ia dalam tatapan mata elang, tatapan yang dapat melihat ikan berenang di dalam air dari atas gunung. Tatapan tanpa sihir, tatapan untuk melihat dengan nyata, untuk mencakar dan menerkam.

Kami bertatapan dengan mata tajam. Siapa pun yang memiliki mata batin untuk melihat pertarungan ini akan dapat menyaksikan betapa seekor ular berbisa tanpa ampun telah tersambar oleh cengkeraman elang. Betapa elang itu akhirnya terbang tinggi dengan seekor ular meronta-ronta dalam cengkeraman cakarnya.

“Bah!!!!!”

Ia berteriak agar pemusatan pikiranku buyar, lantas menerjang dengan jurus-jurus pagutan ular yang mematikan. Tiada lagi yang bisa kulakukan selain mengimbanginya dengan Jurus Tarian Elang Emas yang sangat jarang kugunakan, bahkan inilah kurasa untuk kali pertama aku memainkannya. Dalam ilmu persilatan terdapat dua bentuk pembelajaran yang disampaikan bersamaan: pertama, mempelajari jurus-jurus mulai yang paling dasar sebagaimana murid mana pun dalam setiap perguruan; kedua,

mempersiapkan seorang murid agar dapat menerima tenaga bantuan secara gaib dalam keadaan terdesak, bahkan terdapat pula kemungkinan tenaga gaib ini akan datang sendiri tanpa harus dipanggil, jika keadaan memang membutuhkannya. 2) Kiranya jiwa ular telah dipanggil atau dengan sendirinya merasuk ke dalam tubuh perempuan pendekar yang luar biasa ini, yang tidak bisa diatasi tanpa mengundang tenaga gaib juga.

Aku memang dipersiapkan oleh Sepasang Naga dari Celah Kledung agar mampu melakukannya jika menghadapi lawan yang juga menggunakannya. Pada setiap hari

pasar tertentu selama tujuh kali berturut-turut, mataku diolesi dan ditetesi cairan ramuan tertentu dari tumbuh-tumbuhan yang sepintas lalu dapat mengakibatkan kebutaan, meski yang terjadi justru kemampuan melihat sesuatu yang berada di luar jangkauan pandangan orang awam. Jika semula mata kami bertatapan, tetapi hanya bertarung di dalam pikiran; maka kini tubuh kami bertarung, tetapi mata kami terpejam, karena dalam keterpejaman terlihat sosok yang mengajak kami memainkan segenap jurus yang kami keluarkan. Maka kini bukan kami lagi yang bertarung, melainkan tubuh kami yang mewakili jiwa ular berbisa dan jiwa elang emas.

Dalam keterpejaman, kusaksikan Elang Emas itu menari, mengangkat kedua sayap dan menerjang dengan cakar; dalam keterpejaman tubuhku bergerak seperti menari tetapi menghajar. Di antara sesama tenaga bantuan yang gaib, siapakah yang akan menang? Pasangan pendekar yang mengasuhku berkata, setidaknya terdapat lima jiwa yang berhubungan dengan ilmu silatku yang dapat kupanggil, yakni jiwa ular, jiwa harimau, jiwa kera, dan jiwa buaya, dengan jiwa elang emas sebagai tenaga gaib utama. 3) Benarkah terdapat suatu jiwa semacam itu di dalam dunia ini yang dapat dipanggil? Adapun yang kualami hanyalah, aku melihat elang emas yang mengajakku bermain silat dan menirukannya –bahkan aku tidak melihat lawanku sama sekali!

Maka tiada yang dapat kuceritakan selain kesaksian atas gerakan Elang Emas yang pada dasarnya tidak pernah kulihat maupun kupelajari, tetapi yang telah disiapkan oleh pasangan pendekar yang mengasuhku agar dapat dipergunakan bilamana perlu. Jurus Tarian Elang Emas yang dibawakan jiwa elang emas kini kusaksikan tanpa dapat kuterjemahkan secara tepat dalam penceritaan; aku tak dapat mengatakan jurus-jurus

itu dibawakan oleh seekor elang ataupun manusia, tetapi dapat kusampaikan bahwa jurus-jurus dibawakan oleh manusia elang.

IA tak bersayap tetapi bertangan, ia tak bercakar tetapi berkaki; tangannya tak menjadi sayap tetapi mencakar, kakinya tak menjadi cakar tetapi menerbangkan tubuhnya dengan jejakan dan lentingan seekor burung elang yang menyambar dari udara tanpa suara dan tanpa peringatan. Tidakkah maut ternyata penuh keindahan?

Tiada heran para pendekar suka berdekat-dekat dengan kematian, kiranya keindahan maut telah menjadi pesona tak terbayangkan.

Kemudian kurasakan terjadinya suatu benturan dahsyat. Aku membuka mata seperti orang yang bangun tidur. Rupanya keadaan yang sama juga terjadi dengan diri perempuan pendekar itu. Namun kini terdapat orang ketiga. Rupanya dialah yang telah memisahkan kami, dengan menahan benturan dengan kedua tangan dari samping kanan dan kiri. Tentu saja tingkat tenaga dalamnya tidak terbayangkan.

Ia seorang tua dengan jenggot melambai-lambai. Ia mengenakan caping dan wajahnya seperti seorang petani. Ia membuka caping dan mengipas-ngipas seolah kepanasan, padahal hari telah semakin sore dan udara sejuk. Ia berbusana seperti orang

kebanyakan, tetapi ibuku pernah berkata untuk berhati-hati terhadap siapa pun yang berusaha menyembunyikan dirinya dari kejelasan kepribadian.

”Lawan yang paling sulit dikalahkan adalah lawan yang paling sulit diduga,” katanya.

Maka aku pun mempersiapkan diri untuk keadaan yang paling buruk, karena kini aku berhadapan dengan dua lawan. Namun agaknya justru orang tua berjenggot melambai itulah yang menetapkan kami sebagai dua lawan.

”Heheheheheh! Dewa yang Agung memberikan aku berkah untuk bertemu lawan seperti kalian! Sampai setua ini aku malang melintang dalam dunia persilatan, tak seorang pun kuanggap pantas sebagai lawan. Namun aku telah mengawasi pertarungan kalian dari tadi, dan dapat kuketahui siapa kalian. Berhadapan satu lawan satu, kalian tak punya harapan, tetapi jika kutantang kalian sekaligus berdua, kuharapkan kalian dapat membunuhku.”

Perempuan pendekar itu mendengus dan meludah.

”Cuih! Tua bangka tidak tahu diri! Siapa sudi membunuh orang tua seperti kamu! Tidak ada hakmu menyuruh aku membunuhmu! Lagipula aku tidak punya keuntungan apaapa dengan membunuh jiwa lapukmu itu!”

Orang tua itu terbatuk-batuk dan juga meludah, tetapi ini bukan sebagai penghinaan, melainkan tampaknya karena memang sakit paru-paru yang parah, sebab kuperhatikan yang diludahkannya adalah darah.

”Para pendekar, tolonglah aku, lawanlah aku dan bunuhlah aku, agar aku mati sebagai seorang pendekar…”

Suaranya sekarang serak, mungkin karena sakit, mungkin juga karena menahan tangis.

”Telah bertahun-tahun aku mencari lawan yang bisa membunuhku, karena aku benarbenar ingin mati, tetapi tiada satu pun dapat mengalahkan aku dan dapat membunuhku, sedangkan seorang pendekar sejati tak dibenarkan mengalah sekadar supaya dirinya terbunuh. Jadi kucari pertarungan terhormat untuk kematianku. Aku sudah tidak tahan dengan sakitku, tetapi aku tidak juga mati. Para pendekar muda yang terhormat, telah

kudengar nama Pendekar Tanpa Nama dan Pendekar Melati dibawakan angin lembah sepanjang sungai telaga dunia persilatan. Lawanlah aku, bunuhlah aku, agar kudapatkan kematian dalam kesempurnaan.”

Ah! Itulah rupanya Pendekar Melati! Aku telah mendengar bagaimana namanya menjadi perbincangan dari kedai ke kedai sebagai perempuan pendekar takterkalahkan. Namun keberadaannya sebagai perempuan telah membuat ia selalu menyerang, karena tidak seorangpun lelaki pendekar merasa pantas menantangnya.

Demikianlah kudengar perbincangan dari kedai ke kedai.

”Bertarung melawan perempuan? Jika menang dianggap tidak tahu malu, jika kalah lebih memalukan lagi! Menantang perempuan sesakti apa pun belum pernah dilakukan dalam dunia persilatan!”

Sebaliknya, jika Pendekar Melati menantang, juga tidak seorang pun bersedia melayaninya. Adapun sebagai pendekar yang menempuh jalan persilatan untuk mencapai kesempurnaan, ia membutuhkan pertarungan agar mendapat pengakuan. Maka suatu cara telah dilakukannya untuk memaksakan pertarungan, yakni selalu menyerang lawan yang telah ditentukannya. Begitu rupa mematikan serangannya, sehingga siapa pun lawannya harus mengeluarkan seluruh ilmu silatnya jika tidak ingin menemui kematian. Itulah rupanya yang telah dilakukannya kepadaku, sampai kami mencapai tingkat pertarungan yang tak pernah terbayangkan.

”Aku menentukan lawanku sendiri, tidak seorang pun menentukan siapa yang akan kutantang.”

”TAPI dikau kutantang, wahai perempuan pendekar, bukankah selama ini tidak seorang pendekar pun sudi menantangmu? Aku memohon kehormatan, tetapi akupun memberimu kehormatan. Tolong, kalian berdua, lawanlah aku.”

Pendekar Melati meludah lagi. Matanya yang tajam berapi-api.

”Kehormatan apa yang akan didapatkan dengan membunuh seorang tua bangka penyakitan? Dan dikau meminta aku membunuhmu dalam pengeroyokan! Jika dikau seorang pendekar yang sudah makan asam garam sungai telaga dunia persilatan wahai orang tua, maka dikau tahu itulah suatu penghinaan! Aku lebih suka dikau berdua yang melawan diriku seorang! Minggirlah orang tua! Aku masih harus melanjutkan pertarungan!”

Lantas ia menghadap ke arahku, seperti bersiap melakukan serangan. Aku meningkatkan kewaspadaan, karena siapa pun orang tua itu, jelas ilmunya tinggi sekali. Jika yang terjadi adalah diriku yang terpaksa menghadapi serangan, dari orang tua itu maupun dari Pendekar Melati, sungguh aku harus mengerahkan segenap kemampuan.

Namun orang tua itu membanting capingnya ke tanah, lantas menjejakkan kakinya dengan akibat yang tidak pernah terbayangkan. Suaranya berdentam dalam dan mendebarkan, bahkan bumi pun serasa bergoyang. Ia menggeram dan tampak menjadi amat kejam.

”Hmmmmmhh! Pendekar Melati! Dikau telah menghina seorang tua! Aku akan memaksamu menghindari kematian hanya dengan pertarungan!’

Lantas ia menegakkan tubuhnya, memasang kuda-kuda dengan hentakan kaki yang lagi-lagi mendebarkan jantung dan membuat bumi bergoyang. Hentakan yang sangat mungkin meruntuhkan nyali!

”Pendekar Tanpa Nama dan Pendekar Melati! Bersiaplah menghadapi Raja Pembantai dari Selatan!”

Nama itu membuat bulu kudukku meremang, dan kulihat juga Pendekar Melati matanya terbelalak. Orang tua yang kini tampak seperti algojo itu menyentakkan kedua tangannya ke depan, maka dari dalam tangannya, betul-betul dari dalam tangannya, muncul sepasang pedang hitam.

Nama itu sudah lama sekali tidak terdengar, tetapi nama itu memang nama yang sangat mengerikan, karena berkaitan dengan pembunuhan beribu-ribu orang!

Sepasang pedang hitam itu digenggamnya erat-erat. Warna hitam pedang itu terbentuk karena racun bercampur darah. Lantas ia sekali lagi menggeram.

”Janganlah sekedip mata pun kalian kehilangan kewaspadaan, karena kalian dapat mati dengan kesakitan takterbayangkan!”

59: Wabah Kencana

SEPASANG pedang hitam yang muncul dari dalam tangan itu mendadak berputar bagai angin puting beliung. Bukanlah betapa kehitamannya merupakan campuran darah dan racun, melainkan bahwa hawa racun yang dikeluarkan pedang yang lebih berbisa dari segala bisa itu dapat membunuh bahkan tanpa lawannya itu harus tergores. Udara berbau amis, bukan amis ikan, tetapi amis racun binatang yang tidak mudah dijelaskan seperti apa baunya, yang jelas baunya sangat memualkan. Aku yang baru saja bertempur melawan Pendekar Melati dengan segenap keharuman melatinya, bagaikan berpindah mendadak dari taman bunga ke tempat penimbunan mayat-mayat yang sudah membusuk.

”Huuuuueeeeeeeekkkk!”

Pendekar Melati yang perkasa dan dalam kenyataannya belum dapat kutundukkan itu ternyata tidak tahan dengan baunya. Ia terpental keluar lingkaran dan muntah-muntah, sama sekali bukan karena kalah tenaga karena benturan senjata, melainkan melulu karena bau amis tersebut. Lebih berbahaya lagi karena keamisan tersebut menunjukkan tingginya tingkat racun. Bagi Pendekar Melati yang tenaga dalamnya tinggi, bukan masalah besar baginya untuk menahan resapan racun yang terhirup agar tidak memasuki paru-parunya, tetapi itu tidak berarti ia juga akan tahan terhadap baunya!

Raja Pembantai dari Selatan yang mencari kematian itu sebenarnya menyerang kami berdua bukan tanpa alasan. Seperti dikatakannya, berhadapan satu lawan satu, menurut perhitungannya ia pasti akan mampu mengalahkan kami; sebaliknya, berhadapan dengan kami berdua sekaligus, gabungan ilmu kami akan mampu menundukkan dirinya, yang berarti juga menewaskannya, dan memang itulah yang dicarinya. Maka sangat berbahaya bagi Pendekar Melati jika dalam keadaan muntah

muntah itu Raja Pembantai dari Selatan itu masih merangseknya pula. Pendekar Melati nyaris hanya bertahan, berkelit ke sana dan kemari dengan ilmu meringankan

tubuhnya yang tinggi, tetapi bau amis telah membuyarkan pertahanannya. Kedudukannya sangat berbahaya.

MAKA segera kusambar dua batang bambu kuning yang sembarang tergeletak dan segera kudesak Raja Pembantai dari Selatan itu dengan Jurus Dua Pedang Menulis Kematian. Ia terpaksa melepaskan perhatiannya dari Pendekar Melati dan menghadapiku. Dalam keadaan biasa, apalah artinya batang bambu kuning menghadapi dua pedang hitam yang keluar dari tangan Raja Pembantai dari Selatan, tetapi kali ini kedua batang bambu ini telah berisi tenaga dalam, yang dengannya kumainkan Jurus Dua Pedang Menulis Kematian yang telah kukembangkan, yakni memainkannya dengan pernafasan pranayama yang bukan hanyamampu membuatku berjaya mengarahkan pukulan, tetapi juga memunahkan hawa racun dari serbuk pedang yang bertaburan setiap kali beradu.

Setiap kali kedua pedang itu beradu dengan senjata lawan, serbuk hitam selembut tepung berhamburan dan bertaburan di gelanggang pertarungan, dan meracuni seluruh lingkungannya, sehingga dapat kubayangkan bagaimana segala cerita tentang Raja Pembantai dari Selatan ini ternyata merupakan kebenaran.

Demikianlah cerita itu kudengar dari masa kecilku maupun kudengar dari kedai ke kedai, bahwa apabila Raja Pembantai ini bertarung, maka bukan saja musuhnya yang akan tewas dengan tubuh mencair atau menghitam atau melepuh atau terjulur lidahnya dan terloncat bola matanya karena kejahatan ia punya bisa racun, tetapi juga penonton. Seluruh penonton di tempat itu akan ikut mati karena segenap udara ikut beracun. Dapat dibayangkan kekejaman Raja Pembantasi ini, karena dengan sengaja ia takhanya membunuh manusia, tetapi juga seluruh makhluk hidup di tempat ia datang meminta korban. Konon ia mempelajari ilmu gaib yang memerlukan korban. Konon pula gurunya yang gaib itu, seorang tua bungkuk yang bisa tiba-tiba tampak dan tiba-tiba menghilang, memberi syarat persembahan korban manusia, binatang, dan tumbuh

tumbuhan yang dibunuh dengan sekejam-kejamnya, jika ingin selalu menang dalam pertarungan.

Maka dengan selesainya pertarungan Raja Pembantai bukan hanya lawan dan para penonton yang tewas, tetapi segenap lingkungan hidup hancur musnah. Mayat-

mayat ratusan manusia seisi desa, lelaki perempuan, tua muda, besar kecil, orang sehat atau orang sakit, orang waras atau orang gila, nenek bungkuk maupun ibu muda yang masih menyusui bayi, berikut bayi-bayinya, bergelimpangan begitu saja seperti tumpukan sabut kelapa; bangkai-bangkai hewan piaraan maupun binatang liar mulai dari ayam, bebek, sapi, kerbau, kambing, babi, anjing, sampai ular, kadal, bajing, burung-burung, serangga, dan bekicot merata di mana-mana, monyet jatuh dari pohon, kelelawar jatuh dari udara, dan ikan di sungai meloncat keluar hanya untuk menggelepar takseorang pun akan memakannya. Tanah menjadi tandus dan mati, pepohonan yang manapun, pohon maupun semak-semak, buah-buahan maupun bunga-bungaan, layu dan meranggas, atau juga menjadi putih mencair dan lengket menjadi racun jua adanya. Jadi ia memang seorang mahadiraja pembantaian terkejam yang pernah kudengar.

Pernah suatu ketika pasukan kerajaan memburu dan berhasil mengepungnya di sebuah desa yang sudah mati, tinggal gubuk-gubuk kosong yang reyot dan miring. Tidak kurang dari seribu prajurit yang datang dari empat penjuru mengepungnya di situ. Sejak pagi ia takkeluar juga semenjak terdesak pada malam harinya, tetapi pasukan itu pun takberani maju karena tahu bahwa racun akan membunuh mereka dengan siksaan yang sakitnya taktertahankan. Jika ia disebut Raja Pembantai dari Selatan, itu karena ia menguasai daerah yang paling selatan, yakni suatu daerah pantai di Yavabhumipala. Suatu daerah yang nyaris hanya dihuni olehnya seorang, karena segala sesuatunya sudah mati, bahkan tanah juga sudah mati.

Memang benar Raja Pembantai dari Selatan ini memiliki banyak murid yang tersebar sebagai ahli racun, dukun klenik, tukang santet, dan bromocorah. Bahkan dulu terkenal barisan pengawalnya yang dijuluki Barisan Setan Iblis sebanyak duapuluh orang. Namun Barisan Setan Iblis ini telah dibasmi oleh para pendekar golongan putih. Meski taksatupun dari para pendekar golongan putih itu bertahan hidup karena juga dibantai, taklebih dan takkurang hanya mengukuhkan kedahsyatan Sang Raja Pembantai.

KERAJAAN pun akhirnya turun tangan, karena Raja Pembantai ini terus menerus membunuh orang awam yang tidak bersalah. Dunia persilatan dan dunia kerajaan sebetulnya merupakan dua dunia yang tidak pernah terhubungkan secara langsung.

Makanya, berapapun banyaknya pendekar yang terbunuh, kerajaan tidak merasa kehilangan. Namun orang awam adalah hamba kerajaan. Tanpa hamba, di manakah letaknya raja? Seorang raja tidak bertahta di atas kekosongan, kekuasaannya adalah kekuasaan atas sesuatu, dan sesuatu itu bukankah juga tanah-tanah kosong tanpa penghuni. Tanah-tanah itu harus ada penduduknya, tetapi penduduk manakah dapat hidup tenang di suatu wilayah tempat seorang pembunuh dapat merajalela mencari mangsa tanpa perlawanan?

Jika kerajaan tidak berbuat sesuatu terhadap Raja Pembantai dari Selatan, maka yang akan menjadi raja bukanlah Rakai Panamkaran waktu itu, melainkan Raja Pembantai itu sendiri meski memang akan menduduki daerah yang kosong dan begitu kosongnya, bukan sekadar karena seluruh penduduknya sudah mati dan sisanya berpindah sejauhjauhnya, tetapi karena seluruh makhluk hidup dan tetumbuhannya bahkan tanahnya sudah mati. Tiada seorang raja pun patut menyerahkan kekuasaannya kepada seorang penyebar ketakutan.

Maka terkepunglah Raja Pembantai dari Selatan di wilayahnya sendiri. Seribu pasukan berkuda kerajaan bergerak maju dari empat penjuru. Mereka harus bergerak sekarang, karena jika hari menjadi gelap, para penguasa ilmu hitam akan terlalu mudah menghilang. Namun pada saat pasukan bergerak, dari tengah perkampungan mati yang penuh tulang belulang segala makhluk hidup itu mengangkasalah selaksa lebah yang segera berubah menjadi suatu cahaya, menjadi cendawan cahaya di langit, bergabung dengan langit sore yang juga keemasan. Pemandangan bagaikan sesuatu yang indah, tetapi keindahan maut yang mengancam. Maka cendawan cahaya yang kini telah memayungi pasukan kerajaan itu segera berkelebat turun dan menyambar.

”Aaaaaaaaahhhhhhhhhh!”

”Aaaaaaaaahhhhhhhhhh!”

”Aaaaaaaaahhhhhhhhhh!”

Cendawan cahaya yang berkelebat menyambar pasukan itu ternyata merupakan hawa panas, begitu panas, bagaikan tiada lagi yang lebih panas, sehingga kulit mengelupas, darah menggelegak bagaikan air dimasak, rambut terbakar, tetapi tidak langsung mematikan. Manusia dan kuda meleleh meskipun tidak langsung mati, ketika akhirnya seribu prajurit itu tewas hampir seluruhnya, kecuali beberapa orang

yang kebetulan berada di luar sapuan cendawan. Betapapun kulit tubuh dan rambut mereka tetap menjadi kuning dan segenap cairan di dalam tubuh mereka serasa menguap, menerbitkan rasa kekeringan dan kehausan yang luar biasa.

Tak berhenti di sana, cendawan ini bagai mengembang melingkupi desa-desa di sekitarnya. Jika orang-orang tidak segera lari, niscaya mereka pun akan mengalami nasib serupa. Maka dengan sekuat tenaga siapapun orangnya segera lari menghindari cendawan yang terus menerus melebarkan dirinya, dengan lambat tapi pasti dan mengerikan sekali. Tidak dapat kubayangkan bagaimana orang-orang berlari ketakutan dalam kejaran cendawan kekuningan yang sangat membinasakan.

Cendawan ini begitu indah dipandang mata seperti langit yang keemas-emasan, tetapi memiliki daya memunahkan yang bagaikan tanpa batasan, maka kemudian disebut sebagai Wabah Kencana.

Namun semenjak saat itu Raja Pembantai dari Selatan bagaikan lenyap ditelan bumi. Tidak jelas benar apa yang sudah terjadi. Pernah kudengar bahwa ia mengundurkan diri dunia persilatan berdasarkan ketentuan dalam Musyawarah Para Naga. Dalam pertemuan tahunan ini diceritakan bahwa Naga Hitam telah berhasil mempengaruhi tujuh naga yang lain, yakni Naga Putih, Naga Kuning, Naga Merah, Naga Biru, Naga Hijau, Naga Jingga, dan Naga Dadu agar memberikan ancaman kepada Raja Pembantai dari Selatan, bahwa seluruh dunia persilatan akan mengepung dan memusuhinya jika ia tidak mengundurkan diri.

Bahwa seorang Raja Pembantai yang memiliki kemampuan menyebarkan Wabah Kencana dengan kekejamannya yang tiada tara bersedia menuruti perintah yang diputuskan dalam Musyawarah Para Naga, bagiku menunjukkan wibawa para naga di

dunia persilatan; tetapi bagiku cerita ini tidak terlalu meyakinkan, aku lebih percaya Raja Pembantai dari Selatan itu mengundurkan diri dari dunia persilatan, lebih karena kehilangan lawan yang mampu menundukkannya. Begitulah berbagai jenis cerita beredar di dunia persilatan maupun di dunia awam berdasarkan kepentingan masingmasing. Di dunia awam, pertempuran dalam pengepungan terhadap Raja Pembantai tersebut tidak pernah terjadi, meski mereka juga menyebut wabah kematian tersebut sebagai Wabah Kencana.

DI tengah pertarungan, mendadak terlintas dalam benakku, cerita tentang Musyawarah Para Naga itu, benar atau tidak keberadaannya, seperti menghubungkan dunia persilatan dengan istana. Mungkinkah semua ini hanya lamunanku saja atau merupakan tanda perubahan belumlah kuketahui. Tidakkah aku dapat menanyakannya kelak pada suatu hari kepada para naga saja, ketika bertarung melawan mereka dalam jalan kependekaran untuk mencapai kesempurnaan? Namun tentu saja hal itu tidak dimungkinkan jika hari ini aku tewas dalam pertarungan melawan Raja Pembantai dari Selatan.

Wuuuuuuuuuuuzzzzzzzzzzz!

Pedang hitamnya nyaris membelah leherku. Aku menahan nafas ketika pedang itu lewat mendesing di bawah hidungku. Kedua pedangnya menyebarkan hawa racun yang amis, bacin, dan memuakkan. Itulah sulitnya bertempur melawan golongan hitam, karena mereka selalu menggunakan segala cara untuk menang. Jika mereka yang menempuh jalan kependekaran bersedia menempuh pertempuran untuk mencapai kesempurnaan, meski dapat berakibat kematian; bagi golongan hitam kemenangan adalah segalanya dan boleh ditempuh dengan segala cara, meskipun sangat licik dan penuh kecurangan dalam siasat pertempurannya. Jadi dalam pertarungan yang seharusnya menjadi pertarungan ilmu pedang seperti ini, yang tidak kalah menyita perhatian adalah cara menghadapi racun dan daya sihir yang sangat menipu pandangan.

Wabah Kencana tampak sebagai langit yang indah dalam senja yang sungguh keemasan, tetapi siapakah yang akan mengira betapa akan meninggalkan bencana

yang begitu menyiksa? Dalam pertarungan ini kuhayati cara bertempur golongan hitam yang licik, tidak tahu malu, dan bukannya berarti takberketrampilan. Seluruh jurus Raja Pembantai ini sangat mengerikan, karena bukan sekadar membunuh yang jadi tujuan, melainkan sedapat mungkin membunuh dengan menyakitkan. Meskipun aku dapat menerapkan Jurus Bayangan Cermin untuk menghadapinya, kutahu itu bukannya tanpa akibat, karena begitu seluruh ilmunya terserap ke dalam diriku, terserap pula segenap ilmu racun dan sihir Raja Pembantai dari Selatan itu ke dalam tubuhku!

Pedang hitam itu menari-nari seperti tanduk iblis, seolah-olah pedang itu memiliki matanya sendiri. Pedang yang keluar dari dalam tangan, apalah yang tidak dapat

dilakukannya? Namun Jurus Dua Pedang Menulis Kematian ternyatalah bisa lebih dari mengimbanginya meski yang kugunakan hanyalah dua batang bambu kuning. Suatu kali nyaris leher Raja Pembantai dari Selatan itu terbabat putus jika ia tidak segera melesakkan dirinya ke dalam tanah.

Saat itulah, ketika ia meloncat ke udara untuk memulai serangannya lagi, lima daun bambu yang telah menjadi keras dan tajam seperti pisau terbang meluncur ke dadanya.

Kejadiannya berlangsung cepat sekali. Siapapun orangnya tidaklah mungkin untuk terhindar dalam keadaan seperti itu. Lima daun bambu yang telah mengeras seperti pisau terbang akan segera tertancap di dada Raja Pembantai dari Selatan. Namun kejadian selanjutnya sungguh aneh, manusia yang sejak tadi terus menerus mengelak dan menangkis pukulan senjata bambuku itu memang kemudian tampak jelas tertembus tubuhnya, bagaikan tubuhnya tidak terdiri dari darah dan daging, melainkan dari asap!

“Huh?”

Pendekar Melati, yang agaknya telah melemparkan daun-daun bambu itu, tertegun. Aku juga tertegun. Tinggal bangunan batu tanpa bilik itu, yang tegak kehitaman di balik kelam. Aku terkesiap. Kekelamanm selalu mampu dimanfaatkan dengan baik oleh ilmu hitam, yang tidak pernah sudi berurusan dengan kejujuran. Akupun berteriak.

“Dikau mencari kematian, tetapi dikau terus menerus menghindari kematian! Dari tadi sebetulnya dikau hanya bisa hidup terus karena ilmu sihirmu yang hitam, bukan ilmu pedang atau ilmu persilatan, dikau tidak akan mendapat kehormatan seorang pendekar, wahai Raja Pembantai dari Selatan!”

Aku berkata demikian untuk memancingnya. Agar iblis itu melepaskan ilmu sihirnya dan bertanding merebut kehormatan melalui pertarungan yang dapat dimenangkan sebagai seorang pendekar, bukan kemenangan seseorang dari golongan hitam. Tindakanku itu juga merupakan siasat, karena jika Wabah Kencana yang bagaikan tiada terlawan itu dikeluarkannya, aku belum tahu bagaimana mengatasinya. Namun bukan diriku sendiri yang kupikirkan, melainkan Pendekar Melati, meskipun kehadiran perempuan pendekar itu di tempat ini, taklebih dan takkurang hanyalah untuk membunuh diriku!

HARI belum lagi malam, tetapi saat-saat seperti itulah yang kurasakan sebagai penuh dengan bahaya, karena kesamaran menjelang malam merupakan suasana yang sangat menipu pandangan. Bukankah senja merupakan peristiwa perubahan yang sangat cepat? Siang dan malam memberikan ketetapan suasana yang panjang, tetapi pergantian suasana dari terang menuju gelap, tepat pada batasnya, merupakan keadaan yang paling rawan dalam pertarungan. Aku sering memanfaatkan keadaan seperti ini, tetapi kini adalah Raja Pembantai dari Selatan itu yang tampak bermaksud menggunakannya kepada diri kami berdua!

Seperti telah lama bekerja sama, aku dan Pendekar Melati saling beradu punggung untuk menghadapi segala kemungkinan. Aku masih dengan senjata bambuku, perempuan pendekar itu ternyata telah memegang sebuah toya. Entah bagaimana pula toya sepanjang itu telah disimpan dan kini dikeluarkannya, apakah ia telah menyimpan senjatanya secara gaib pula?

Mendadak kudengar desingan senjata-senjata rahasia, dan bersama dengan itu sejumlah bayangan berkelebat dari balik kelam.

60. Rehat dan Filsafat

Pembaca yang Budiman, sekali lagi izinkanlah diriku yang tua ini beristirahat sebentar. Usiaku boleh seratus tahun dan aku memiliki tenaga dalam, tetapi pengalamanku menulis masih sangat singkat, apalagi untuk menulis sesuatu yang belum dapat kuketahui kapan berakhir.

Ada kalanya aku menulis sangat lambat. Hanya beberapa kalimat, di atas lembaran lontar yang baru saja mengering, dengan guratan pengutik yang membentuk aksara Kawi. Kupilih menulis dalam aksara dan bahasa ini, karena aku memang membayangkan bahwa orang akan membacanya dalam bahasa ini. Lagipula, di seluruh Javadvipa, bukankan semua orang berbicara bahasa ini? Tentu aku taktahu nasib tulisanku, jika pada suatu kali tiada lagi bahasa Kawi ini di muka bumi.

Kadang kala aku menulis dengan lambat, karena tidak semuanya teringat olehku secara tepat. Pertarungan yang berlangsung secara cepat misalnya, tidak selalu dapat kuingat dengan rinci bagaimana gerakan itu telah berlangsung. Memang bisa terjadi karena lupa dan tidak sedikitpun dapat kuingat lagi, dapat pula karena

memang tidak mungkin dituliskan meski aku mengingat sampai yang sekecil-kecilnya, karena jika dituliskan dengan tetap rinci, selain akan menjadi takterhitung lagi berapa ratus lembar lontar diperlukan untuk sebuah pertarungan yang hanya singkat, justru akan terasa berlebihan dan tidak meyakinkan sebagai kenyataan yang sungguh kualami.

Ini berarti sambil menulis, sebetulnya aku masih memikirkan cara untuk menulis dengan sebaik-baiknya. Sangat menggelisahkan bagiku, jika suatu peristiwa kualami sebagai sesuatu yang dahsyat, tetapi ketika kutuliskan dan kubaca kembali tampaknya tidak menjadi sesuatu yang luar biasa. Apakah rahasia orang menulis?

Nah!

Aku memang telah berusaha menulis dengan sejujur-jujurnya, tetapi seberapa jauh tulisanku akan terbaca dan meyakinkan sebagai kenyataan? Dapatkah tulisanku dipercaya jika telah kuceritakan peristiwa yang bisa diakibatkan oleh Wabah Kencana, Jurus Bayangan Cermin, dan apalagi nanti Jurus Tanpa Bentuk?

Jika aku menuliskan sesosok bayangan berkelebat bagaimanakah Pembaca yang Budiman akan menerimanya juga sebagai sesosok bayangan berkelebat ? Mungkinkah Pembaca yang Budiman menerima suatu penggambaran sebagaimana aku menggambarkannya? Jika dalam hal gambar pahatan pada batu kesamaan antara penggambaran dan penerimaan masih mungkin dijamin, meski kemudian penafsiran akan menghancurkan kembali kesamaan itu, seberapa mungkinkah kesamaan itu masih mungkin berlangsung dalam penggambaran dengan kata-kata?

Aku berusaha menggambarkan kembali segenap pengalamanku seperti aku telah mengalaminya, tetapi selain daya dan kemampuan penggambaranku terbatas, di samping ingatanku yang juga amat sangat terbatas, penerimaan siapapun yang membaca catatanku ini juga akan sangat menentukan. Aku sendiri tidak dapat berbuat apa-apa dalam mengarahkan ketentuan atas penerimaan para pembaca. Hidup pada masa apakah Pembaca yang Budiman sekarang ini? Jika pembaca hidup dalam masa yang sama denganku sekarang ini, yakni tahun 871, itu pun belum dapat dipastikan bahwa penggambaranku akan diterima seperti yang kuinginkan, bahkan boleh dipastikan siapapun di zamanku tetap akan membacanya dengan ia punya sudut pandang dan bukan pandanganku. Apalagi pembaca catatan

ini seratus tahun kemudian pada 971, atau seribuseratus tahun kemudian pada 1971 bukan?

SAAT itu aku sudah tidak tahu lagi di mana diriku. Menjadi zat yang lebur dalam zat semesta raya, tiada lagi diri, hanya zat, melebur dalam udara tanpa kesadaran, yang telah kutinggalkan sebagai catatan.

Begitulah aku telah menuliskan catatan ini selama berhari-hari dan berminggu-minggu nyaris tanpa henti, kecuali tentu saja ketika aku harus menjalankan pekerjaanku sebagai pembuat lontar.

“Orang tua, dikau selalu mengambil sepuluh lembar dari setiap seratus lontar yang dikau buat. Ada apa sebenarnya, orang tua? Dikau menulis tanpa beranjak dari tempatmu duduk bagaikan seorang empu, karya tulis apakah yang kau buat wahai orang tua?”

Demikianlah pengusaha lembaran lontar yang mempekerjakan aku akhirnya bertanya. “Maafkanlah sahaya, Tuan, sungguh-sungguh maafkanlah sahaya, adapun sepuluh

lembar lontar yang sahaya ambil dari tiap seratus lembar itu sahaya gunakan hanyalah untuk belajar menulis sahaja.” “Belajar menulis? Hmm. Coba lihat.” Ia memperhatikan caraku mengguratkan aksara dari sebuah lembaran. “Apa lagi yang dikau pelajari, tulisanmu ini tulisan orang yang sudah biasa menulis.” “Ya, sahaya dahulu kala bekerja pada seorang guru silat, Tuan, yang mengejakan kata

kata untuk sahaya guratkan, tetapi itu pun lebih banyak gambar-gambar Tuan, gambar jurus-jurus ilmu silat.” Lantas ia tatap tubuhku yang takberbaju.

“Apakah dikau juga seorang pesilat, wahai orang tua?” Harus kuakui tubuhku tidaklah terlalu kurus dan kering sebagai manusia berusia seratus tahun, tetapi bukankah aku sedang menyamar sebagai orang berumur 60 tahun?

“Setiap pemuda di kampung kami memang belajar silat, Tuan, tetapi hanya beberapa jurus sahaja, sebagai bagian pertahanan desa.” “Ah, begitu,” ia mengangguk-angguk, “di manakah kampungmu itu orang tua?” Tak kusangka tentu, pertanyaan itu.

“Sahaya hanyalah orang kampung, Tuan, sahaya berasal dari wilayah Kledung.” “Kledung? Hmm. Aku ingat orangtuaku bercerita tentang Sepasang Naga dari Celah Kledung.”

Aku tercekat. Sudah seratus tahun umurku, tetapi ingatan kepada pasangan pendekar yang mengasuhku dengan penuh kasih sayang itu masih membuat mataku berlinanglinang. Namun kali ini aku tidak memperlihatkannya.

“Bagus sekali dongeng tentang mereka itu,” katanya lagi, “kurasa memang luar biasa untuk mendapatkan kematian yang sempurna sebagai seorang pendekar, bukan kematian karena terlalu banyak makan.”

Ia melangkah pergi, tapi berhenti sebentar untuk bertanya.

“Jadi apakah yang sedang kau tulis, orang tua?”

Apalagi yang bisa kujawab?

“Kenang-kenangan saya sahaja Tuan, sekadar mengisi waktu luang, sebelum nyawa kita melayangÖ.”

Ia meneruskan langkahnya dan hilang ditelan pintu bilik rumahnya. Di depan pondokku anak-anak kecil masih bermain dakon. Aku masih tertegun. Riwayat Sepasang Naga dari Celah Kledung diterima sebagai dongeng. Tentu tidak ada salahnya. Aku mengaku telah menjadi juru tulis bagi seorang guru silat, karena hanya pengalaman menulis kitab ilmu silat itulah yang pernah kulakukan sebagai seorang penulis, dan seperti telah kuakui, lebih banyak gambar daripada kata-kata yang terdapat dalam kitab ilmu silat.

Tentu bukanlah kitab ilmu silat seperti yang telah kutulis itulah yang terbayang di kepala pembuat lembaran lontar untuk istana tersebut. Telah kuceritakan betapa dunia persilatan hanya terdengar bagaikan dongeng di telinga orang-orang awam, tetapi memang terdapat juga ilmu silat yang merupakan bagian dari kebudayaan orang-orang awam tersebut. Di dunia orang awam, ilmu silat adalah pelajaran wajib setiap orang sebagai kelengkapan hidupnya, karena kejahatan seperti pencurian, pembunuhan, pemerkosaan, perampokan, dan penjarahan adalah bagian dari kehidupan sehari-hari.

Namun selain sebagai cara untuk membela diri, ilmu silat juga hadir sebagai seni, yang biasa dipertunjukkan dalam pesta dan upacara, mulai dari pesta pernikahan sampai upacara panen. Ini berarti memang terdapat guru-guru yang mengajarkan

ilmu silat, tetapi tidak terdapat pekerjaan guru silat, karena dalam kehidupan sehari-hari mereka memiliki pekerjaan masing-masing, apakah sebagai petani, tukang besi, pengantar surat, atau juga seorang pejabat desa. Mereka yang memiliki kepandaian ilmu silat tanpa pekerjaan, malah dapat dicurigai sebagai sekadar tukang pukul atau pembunuh

rahasia, dan tentu saja ini akan sangat menggelisahkan. Mereka yang menjual ilmu silatnya kepada siapapun yang bersedia membayarnya, termasuk melakukan pembunuhan, akan menenggelamkan diri dalam kehidupan rahasia. Memang dunia penuh kerahasiaan inilah yang justru akan menghubungkannya dengan dunia persilatan sebenarnya, seperti yang telah kutuliskan dan kualami sendiri.

DENGAN ini juga semoga Pembaca yang Budiman menjadi lebih jelas, bagaimana menempatkan ilmu silat dunia awam dalam perbandingannya dengan ilmu silat sungai telaga dunia persilatan. Apa yang bagi orang awam merupakan dongeng, bagiku merupakan suatu kenyataan yang dapat kutuliskan, aku mengenalnya sebagai bagian diriku, sebagai dunia yang telah selalu kuhidupi dan menghidupkan diriku. Maka jika aku menuliskan betapa suatu pertarungan telah berlangsung dalam kecepatan cahaya sehingga takdapat diikuti mata orang biasa, maka pertarungan tersebut memang telah berlangsung seperti itu, setidaknya seperti yang kurasakan ketika mengalaminya. Masalahnya, seberapa mungkin aku berdaya membahasakannya? Mula-mula ini tentu masalah kemampuanku sebagai penulis, tetapi kemudian juga seberapa berdaya bahasa menerjemahkan dan mencerminkan kenyataan dunia persilatan itu. Mungkinkah ada sesuatu yang takterbahasakan di dunia ini? Ataukah harus dikatakan bahwa dunia persilatan dan dunia bahasa adalah sesuatu yang ternyata tidak berhubungan antara yang satu dengan lainnya? Kalau begitu caranya, dunia persilatan yang terbaca bukanlah persilatan jua adanya, melainkan dunia sastra, karena jurus-jurus silat tidak tampil sebagaimana adanya, melainkan melalui kata-kata.

Pembaca yang Budiman, izinkanlah diriku yang tua ini mengelantur ke sana kemari lebih dahulu, karena menulis berpanjang-panjang dengan liar tidaklah membuatku bahagia tanpa sekadar usaha merenungkannya. Bukankah pernah kukatakan, dengan suatu cara, bahwa dunia persilatan bukanlah seperti melainkan adalah

kesusastraan? Dalam penulisan dan pembacaan, sungai telaga dunia persilatan hidup dalam kata-kata, dan bukan permainan pedang. Memang kata-kata menjadi lebih tajam daripada pedang, bahkan kata-kata juga telah mempertajam pedang itu sendiri. Bukankah pernah kuceritakan tentang ketajaman sebuah pedang yang mampu membelah ketebalan

sehelai rambut dan bukan kepanjangannya? Harus kukatakan sekarang bahwa akupun masih dapat bercerita tentang ketajaman sebuah pedang yang dapat membelah ketebalan sehelai rambut bahkan menjadi tujuh bagian. Manakah kiranya yang lebih hebat kemudian, ilmu persilatan ataukah ilmu penulisan? Jika hanya lewat tulisan dunia persilatan mendapatkan keberadaannya, maka dapat dibayangkan betapa tanpa katakata sungai telaga persilatan merupakan dunia yang terlalu sunyi.

Penemuan tentang peranan kata-kataku sendiri dalam dunia persilatan agak mengejutkan bagiku. Menemukan diriku sendiri sebagai seorang pesilat kata-kata tidaklah menyenangkan diriku. Tidakkah dalam usahaku membuat pembaca tersenangkan dan percaya, aku tentu akan menuliskan sesuatu dengan cara yang mengecoh mereka? Tidakkah aku akan cenderung membuat pembaca yang manapun berpihak kepadaku, menyetujui pendapatku, dengan cara menggiringnya ke arah itu? Mampukah kiranya aku menahan diriku sendiri untuk tidak berlaku seperti itu?

Hmm. Kejujuran adalah perkara yang rumit. Kiranya ilmu penulisan memberikan tuntutan yang tidak kalah besar tanggungjawabnya dibanding ilmu persilatan. Apabila dalam ilmu persilatan kita harus bertanggungjawab atas setiap kematian yang kita sebabkan, maka dalam ilmu penulisan kita harus bertanggungjawab agar setiap kalimat tidak merupakan penipuan; karena setiap kali seorang pembaca terkecoh pandangannya atas kenyataan, dosa seorang penulis sama besar dengan pembunuhan yang tidak dapat dipertanggungjawabkan. Padahal seorang pendekar hanya dapat menewaskan seorang lawan satu kali; sedangkan kalimat demi kalimat yang tersusun menjadi pesan tersampaikan, bukan hanya mungkin dibaca seseorang berkali-kali, tetapi terutama mungkin saja dibaca berbagai orang dari zaman ke zaman bergantiganti; belum lagi jika akan sering dibacakan di depan para

pendengar dari kampung ke kampung, sehingga jumlahnya sungguh takterhitung banyak sekali.

Aku menghela nafas. Itu berarti seorang penulis berpeluang mengumpulkan dosa sebuah pembunuhan banyak sekali tanpa disadari. Padahal, dalam penulisanku ini, aku hanya ingin menemukan suatu penyebab dalam riwayat hidupku, yang telah membuat para pembunuh bayaran memburu diriku, dan seseorang menginginkan aku mati.

Mengapa seseorang menghendaki aku mati? Atau mungkinkah sejumlah orang bersepakat menentukan bahwa sebaiknya aku mati? Mungkinkah bukan sejumlah pribadi, melainkan negara itu sendiri, seperti yang dapat kutafsirkan dari selebaran perburuanku yang resmi, yang memutuskan aku harus mati?

MENGAPA seseorang menghendaki aku mati? Atau mungkinkah sejumlah orang bersepakat menentukan bahwa sebaiknya aku mati? Mungkinkah bukan sejumlah pribadi, melainkan negara itu sendiri, seperti yang dapat kutafsirkan dari selebaran perburuanku yang resmi, yang memutuskan aku harus mati?

Benarkah suatu ajaran rahasia yang menjadi sumber masalah ini? Kuakui dengan jujur, betapa aku sungguh tidak mengerti. Jika suatu ajaran rahasia telah disebut sebagai vidharma atau apatha atau vipatha atau juga mithyadusti karena kerahasiaan itu sendiri, maka apakah yang tidak rahasia dalam segala ajaran di atas bumi Javadvipa ini? Tidakkah setiap ajaran memang memiliki rahasianya sendiri?

***

AKU masih menulis ketika dunia seperti membuka diri kepadaku, mengeluarkan diriku dari dunia di dalam batok kepalaku sendiri. Kulihat bajing melompat naik turun pohon kelapa, menyeberang dari daun ke daun yang jadi bergoyang dan meneteskan sisa-sisa air hujan. Orang-orang kampung menyeberangi halaman puri untuk menyingkat jalan. Anak kecil berlari-lari di sekitar ibu yang menggendong adik bayinya. Segala sesuatu dari kehidupan sehari-hari, kenapa kini menjadi indah sekali, meski segala sesuatunya hanyalah sama, sama, dan sama saja sama sekali.

Lantas kusadari betapa cara memandang itulah yang sudah berubah. Segala sesuatu dari kehidupan sehari-hari yang tampaknya memang akan selalu sama dapat saja menjadi lebih dari biasa jika kita memandangnya sebagai sesuatu yang

luar biasa. Jadi mengapa aku tidak memandang segala sesuatu sebagai luar biasa sahaja? Mengapa aku tidak harus memandang segala sesuatu sebagai istimewa bukan?

Maka kulihat orang-orang yang melangkah di halaman bukan sebagai orang-orang yang melangkah di halaman, melainkan sebagai penari yang bergerak penuh keanggunan, meski mereka hanya melangkah dan berjalan sebagaimana biasanya mereka melangkah dan berjalan. Namun segalanya kemudian memang berubah apabila kemudian aku dapat menyaksikan pantulan matahari pada rambut lurus panjang baru saja diminyaki, wajah ceria dalam canda dan tawa yang menoleh kepadaku antara terlihat dan tidak terlihat karena semburat cahaya di belakang kepala mereka, serta suara-suara riang anak-anak bermain dakon sebagai latar belakang segala pemandangan. Gadis-gadis dengan kain di pinggang dan dada mereka yang terbuka, para jejaka dengan destar di kepalaÖ

Begitu sederhana, begitu biasa, tetapi dalam pandanganku kini penuh dengan pesona.

Lantas muncullah Nawa, anak yang sangat bersemangat untuk belajar membaca dan menulis itu.

“Kakek, lihatlah tulisanku.”

Ia membawa sejumlah lembaran lontar. Aksara telah diguratkannya dengan cukup rapi, meski terkadang masih berlari ke sana kemari,

“Apakah yang kamu tulis itu Nawa? Marilah kubaca.”

Maka aku pun membacanya.

“Salinan ya?”

“Ya, dari Arthasastra di dalam sana, apakah tulisanku dapat dibaca?”

Aku terkejut, bukan karena apa yang dituliskannya sebagai salinan, melainkan yang telah dibacanya sebagai pengetahuan. Anak sekecil ini telah menyalin bagian tentang Daftar Ilmu-Ilmu, bagaimana kelak ia jadinya?

Anvikshaki, ketiga Veda, Varta dan Dandaniti

inilah ilmu-ilmu Vidya

ketiga Veda, Varta, dan Dandaniti inilah ketiga ilmu kata para pengikut Maha Rsi Manu sedangkan Anvishaki hanyalah cabang tersendiri dari Veda hanya Varta dan Dandaniti yang termasuk ilmu kata para pengikut Maha Rsi Brhaspati karena

pengetahuan Veda hanyalah suatu selubung bagi seseorang yang memahami cara-cara di dunia Dandaniti adalah satu-satunya ilmu kata para pengikut Maha Rsi Usana padanya terikat usaha-usaha yang berhubungan dengan semua ilmu empatlah sesungguhnya jumlah ilmu-ilmu itu kata Kautilya karena dengan bantuan semua ilmu itu seseorang dapat belajar

tentang kebenaran dan kesejahteraan karenanya semua disebut Vidya Samkhya, Yoga, dan Lokayata inilah yang membentuk Anvikshaki kebenaran dan kebatilan tindakan dipelajari dari Veda kesejahteraan dan kemiskinan dipelajari dari Varta kebijakan baik dan buruk dipelajari dari Dandaniti begitu pula kemampuan dan kelemahan ketiga ilmu Anvikshaki memberikan manfaat kepada orang-orang dengan tetap teguh di dalam kemalangan dan kemenangan akan meningkatkan kemahiran di dalam pikiran, ucapan, dan tindakan Anvikshaki atau Filsafat cahaya segala ilmu alat bagi segala penunjang hukum dan kewajiban

NAWA baru enam tahun umurnya. Bagaimana jadinya jika ia bertahan pada jalan

pengetahuan seperti sekarang selama hidupnya? Ia akan beranjak dari jalan

pengetahuan menuju jalan ilmu pengetahuan. Kuingat kehidupanku sendiri pada masa

kecilku, bagaimana caranya aku mengenal pengetahuan dan persilatan. Nawa masih

belajar menuliskan aksara, tetapi telah dapat kubayangkan pintu dunia yang terbuka untuknya. “Aksaramu sudah tertulis dengan bagus Nawa, tetapi kata dan kalimat mestinya ditulis

rata, tidak meloncat-loncat dan jadinya miring seperti ini.” Mata Nawa berbinar dan penuh cahaya. “Tapi aku sudah dapat mengejanya Kakek!” Lantas katanya: “Anvikshaki atau Filsafat adalah cahaya segala ilmu, benarkah itu

Kakek?” Aku hanya tersenyum, mengusap kepalanya, sembari berdoa di dalam hati, semoga ia

tidak mengenal dan menghendaki juga untuk menguasai ilmu persilatan. Aku tidak dapat membayangkan, jika jiwa semurni ini kelak harus menumpahkan darahÖ Namun tiba-tiba ia berkata. “Kakek, benarkah Kakek seorang pendekar?”

NAGA BUMI

DUA PEDANG MENULIS KEMATIAN

61: Bagaikan Ruang Angkasa

Pembaca yang Budiman, izinkanlah aku untuk menunda jawaban atas pertanyaaan Nawa, yang bertanya apakah benar aku seorang pendekar itu, sampai waktu rehat berikutnya, karena aku takut jadi terlalu melantur. Bukankah aku sedang menceritakan diriku yang berusia 25 tahun, bertemu dengan Pendekar Melati, dan bertarung antara

hidup dan mati melawan Raja Pembantai dari Selatan? Aku harus segera menceritakannya kembali sebelum semuanya terlupakan dalam waktu.

Senjata-senjata rahasia itu berdatangan dari segala penjuru. Aku memejamkan mata, menancap ilmu pendengaran Mendengar Semut Berbisik di Dalam Liang, agar semuanya menjadi jelas tergambar dan takhanya sekadar terdengar sebagai suara desingan. Udara ditembusi jarum-jarum beracun yang meluncur dengan kecepatan takterbayangkan. Serangan macam ini hanya dapat di atasi dengan naluri yang terlatih, karena kecepatannya memang memang melampaui kecepatan pikiran. Namun dengan ilmu pendengaran Mendengar Semut Berbisik di Dalam Liang, kecepatannya bagai terlambatkan meski dalam kenyataannya tidak sama sekali. Tetap meluncur dan siap merajam tubuhku maupun tubuh Pendekar Melati.

Dalam keremangan masih dapat kutangkap bias cahaya redup hijau kekuningan penanda tingginya tingkat racun yang dibawanya, sehingga jangankan terajam, hanya tergores pada kulit saja sudah lebih dari cukup untuk mengantar korban ke jalan kematian mengerikan. Pernah kusaksikan seorang pendekar terkena jarum beracun semacam itu di tengah pertarungan dan langsung menggelepar dengan lidah terjulur dan bola mata nyaris terlompat keluar. Mengerikan sekali! Kini ribuan jarum mendesing dari segala penjuru mengancam diriku! Keadaan menjadi jauh lebih berbahaya, karena di belakang jarum-jarum itu sejumlah sosok menyerbu dengan kecepatan yang sama!

Ilmu pendengaran Mendengar Semut Berbisik di Dalam Liang menjabarkan semuanya sebelum aku dapat bertindak dengan kecepatan melebihi kilat. Pertama, bahwa jarumjarum beracun yang meluncur itu berjumlah 200.000 sehingga

pantaslah bias cahaya dan gesekannya pada udara lebih mudah dibaca daripada jika jarum yang dilepaskan hanya satu saja adanya; kedua, 200.000 jarum itu dilepaskan oleh 20 sosok bayangan yang berkelebat begitu cepat ke arah kami dengan berbagai senjata terhunus.

Berarti setiap orang melepas 10.000 jarum beracun, bukan dari sebuah kantung, melainkan dari dalam tangannya! Mereka pasti duapuluh anggota Barisan Setan Iblis yang telah dibangun kembali oleh Raja Pembantai dari Selatan.

KECEPATAN jarum-jarum itu menunjukkan darimana ia berasal, karena hanya dengan daya gaib maka 200.000 jarum beracun itu dapat meluncur serentak dan tidak berturutturut. Perbedaannya juga sangat jelas, berapa banyakpun jarum yang diluncurkan berturut-turut, akan memakan ruang yang lebih sempit daripada yang terluncur serentak dari segala arah. Itu berarti tidak hanya keluar dari telapak tangan seperti ketika Raja Pembantai dari Selatan mengeluarkan pedangnya, melainkan dari segenap pori-pori kulit di lengannya dengan cara dikebutkan seperti menyentakkan selendang, tentu saja dengan lambaran tenaga dalam. Dengan ilmu Mendengar Semut Berbisik di Dalam Liang, dalam hembusan maut yang datang mengancam, kucari celah untuk membuka peluang. Namun aku takdapat memikirkan diriku sendiri, aku juga harus memikirkan Pendekar Melati, meski perempuan pendekar itu telah berusaha membunuhku!

Persoalannya, dalam beradu punggung seperti ini setiap gerakan haruslah berpadanan, sementara kami bukan hanya takpernah berlatih bersama, melainkan ilmu kami sendiri belum tentu sesuai dipadu padankan, apalagi dalam keadaan yang begini mendesak. Aku memegang dua batang bambu kuning dan ia memegang sebuah toya. Akankah Pendekar Melati memahami isyaratku jika kulakukan gagasanku? Aku telah melihat kecepatannya dan betapapun waktu untuk berpikir tiada lagi.

”Ikuti daku!” kataku.

Kubungkukkan badanku dan punggungnya mengikuti punggungku, kutiarapkan tubuhku ke tanah dan punggungnya tetap menempel di punggungku, tetapi saat itulah ia memutar toyanya seperti baling-baling berkecepatan sangat tinggi, begitu cepatnya sampai tidak kelihatan lagi.

”Tahan!” Kataku lagi.

Artinya ketika aku berguling melepaskan diri dari tindihan punggungnya, punggungnya itu tidak perlu terus menempel ke tanah, melainkan tetap mengambang, karena jarumjarum itu ada yang meluncur hanya sehasta di atas tanah. Saat itu aku telah berkelebat di balik jarum-jarum tersebut dan menghadapi Barisan Setan Iblis. Kejadiannya sangat cepat dan tidak bisa diikuti mata. Namun karena mengalami sendiri dapat kujelaskan seperti berikut: Karena serangan jarum itu serentak, maka dapat dimentahkan dengan

satu kali putaran toya, tentu dengan syarat tiada celah selubang jarumpun untuk menembusnya, yang berarti toya itu harus berputar dengan kecepatan yang lebih tinggi dari jarum-jarum beracun tersebut.

Maka ketika Barisan Setan Iblis itu tiba, serangan jarum-jarum yang mendesis itu sudah dimentahkan. Pendekar Melati telah berdiri di atas kakinya dan kami membagi ruang agar masing-masing menghadapi sepuluh orang, karena aku masih juga belum terlalu yakin ilmu kami berdua cocok untuk dipadankan menghadapi duapuluh lawan. Jadi setelah bekerjasama sementara, kami bekerja sendiri-sendiri lagi. Aku berkelebat memojokkan sepuluh orang agar menghadapiku saja dengan Jurus Dua Pedang Menulis Kematian. Aku yakin Pendekar Melati pun akan mampu menghadapi sepuluh orang sisanya.

Menghadapi sepuluh anggota Barisan Setan Iblis, meskipun sepintas lalu seperti pertarungan dalam dunia persilatan pada lazimnya, sebetulnya sama sekali tidak seperti itu. Bahwa ilmu silat mereka tinggi telah dijamin oleh nama dan pengalaman gurunya, Raja Pembantai dari Selatan itu. Namun bahwa di samping ilmu silat mereka yang tinggi itu selalu dimainkan secara licik dan licin, kenyataan bahwa selalu terdapat unsur racun dan sihir dalam ilmu mereka itu membuat pertarungan tidak menjadi mudah. Aku berkelebat dengan cepat, tetapi sepuluh orang itu pun berkelebat tidak kalah cepat. Hanya angin berkesiur di sekitar tempat pertarungan. Senja yang semakin remang bagi mereka tentu semakin menguntungkan, karena mereka sangat pandai menghindar ke balik kelam. Sungguh seperti memiliki ilmu siluman.

Senjata mereka semua serba aneh. Ada yang seperti tombak berbentuk cakar, ada yang seperti pisau saja tetapi bertali panjang, ada yang menggunakan sepasang arit

besar bergerigi, ada yang bersenjata gada mahaberat tetapi dimainkan dengan ringan, ada yang menggunakan senjata jala, ada yang bersenjata ruyung besi, ada yang memainkan toya tetapi terbagi tiga, ada yang pisau terbangnya bagaikan tiada habisnya, ada yang bersenjatakan limpung, ada yang bersenjatakan tombak tetapi ujungnya adalah kapak dua sisi. Masing-masing senjata itu memiliki keistimewaan yang jarang diungkap dalam kitab-kitab ilmu silat, sehingga melayani permainannya, apalagi secara bersama-sama menjadi sangat berat.

BARISAN Setan Iblis ini tubuhnya dibalut kain serba hitam. Dalam senja yang semakin lama semakin kelam mereka bagaikan menyatu dalam kegelapan. Tinggal topeng tengkoraknya yang karena kesamaannya kadang-kadang membingungkan, karena aku bagaikan menghadapi satu lawan tetapi dengan sepuluh gerakan. Maka kuputuskan untuk menyerang dan melumpuhkannya satu persatu, karena secara bersama mereka terlalu licik untuk dikalahkan. Seperti mereka, akupun mampu berkelebat ke balik kelam, dan segera mendesak salah satunya dengan Jurus Dua Pedang Menulis Kematian.

Aku tidak tertarik kali ini untuk menggunakan Jurus Bayangan Cermin, karena aku tidak ingin sama sekali mengenal apalagi memiliki ilmu Barisan Setan Iblis ini. Apalagi, seperti yang kujaga dari ilmu gurunya, tiada jaminan aku tidak akan menyerap pula segenap racun yang telah menyatu dengan ilmu itu ke dalam tubuhku. Selain itu aku belum lupa dengan segala upacara dalam pelajaran ilmu setan yang sangat menjijikkan, sampai aku tidak tega dan tidak kuat pula menceritakannya kembali karena dapat menimbulkan kemualan.

Begitulah aku melenting ke atas dan menjungkirkan kepalaku ke bawah, merentangkan kedua tangan yang memegang bambu kuning dan takturun lagi. Dengan cara itulah, dengan kaki di atas dan kepala di bawah, kuhadapi setiap orang yang wajahnya bertopeng tengkorak itu. Jurus untuk dua pedang ini sungguh kugunakan untuk menulis kematian mereka. Kepada setiap orang kuberikan jurus mematikan berupa aksara Kawi yang membentuk tulisan, yang jika dikumpulkan akan membentuk kata-kata berikut.

Bagaikan ruang angkasa

Taktercela

Takbersifat

Takberwujud

Takterlukiskan

Takterukur

Takberwarna

Serba luas

Merasuk

Ke sepuluh bagian

Berhadapan satu persatu, senjata mereka kehilangan keampuhan dalam keterpecahan. Sepuluh orang itu tanpa ampun segera tewas tanpa kepala. Batang bambu kuningku merah karena darah. Tak kusangka ilmu pedangku telah berkembang sedemikian rupa sampai kepada kecepatan pikiran. Seolah-olah aku hanya perlu berpikir untuk mengalahkan lawan dan tidak perlu menggerakkan apapun. Rupanya tanpa sadar itu kulakukan agar mereka tidak sempat menggunakan ilmu sihirnya, karena betapapun ilmu sihir hampir selalu berhasil menipu dan mengalihkan perhatian dari masalah yang sebenarnya, sehingga mendapatkan hasil yang tampak nyata, seperti sastra. Makanya, seperti kupelajari dari pasangan pendekar yang mengasuhku, ilmu pikiran itu harus dilawan dengan tindakan dalam pikiran, artinya juga suatu ilmu pikiran juga. Begitulah akhirnya Jurus Dua Pedang Menulis Kematian yang kumainkan bergerak secepat dan sesaat yang sama ketika aku memikirkannya.

Dalam keremangan yang nyaris mendekati kegelapan aku lebih baik memejamkan mata untuk menghindari pengaruh sihir mereka, karena aku tahu jika kubuka mataku yang semula sepuluh orang bisa menjadi seratus jumlahnya tanpa kita ketahui mana yang perlu ditangkis dan mana yang tidak, dan tiba-tiba kita bisa kehilangan kedua lengan kita, meski lebih sering tentu kepala kita.

Lawan-lawanku sudah tewas, ketika kubuka kembali mataku, kusaksikan Pendekar Melati memainkan toya bagaikan suatu seni pertunjukan. Dengan menancapkan toya pada tanah, ia bisa berputar-putar berpegangan pada toya itu sampai tidak terlihat oleh mata dan tahu-tahu tendangan kakinya telah memecahkan kepala salah satu anggota Barisan Setan Iblis. Ketika tampak kembali, ia sudah berdiri di atas toya yang tertancap di atas tanah itu dengan satu kaki, sementara kaki lainnya yang

semula tertekuk membuka dan meluruskan diri dengan indah, lantas sembari merendahkan tubuh ke

depan berputar perlahan dengan dua tangan terentang. Seperti patung yang berputar dengan lamban, tetapi apabila diserang, maka begitu saja senjata lawan telah bersarang pada tubuh pemiliknya sendiri. Kadang ditinggalkannya toya itu untuk menangkap lawannya dengan tangan dan menancapkannya kepada toya yang masih juga berdiri itu, yang tentu saja membuat nyawa lawannya segera terbang ke alam baka.

Toya itu sudah penuh darah ketika lawannya tinggal satu. Ia cabut toya yang ternyata tidak tertancap, melainkan berdiri begitu saja di atas tanah. Pendekar Melati maju perlahan seperti siap melontarkan toya menembus tubuh lawannya, tetapi lawannya itu mundur terus sampai menabrak dinding bangunan batu tanpa bilik itu. Namun ketika ia mengangkat toyanya, anggota terakhir Barisan Setan Iblis bertopeng tengkorak itu tubuhnya menembus masuk ke balik dinding batu!

“Sihir setanÖ.” Pendekar Melati mendesis.

KE manakah lawannya itu menghilang? Mungkinkah ia berada di dalam bangunan tanpa bilik? Kukelilingi bangunan penuh hiasan itu, dan memang tidak kelihatan lagi batang hidungnya. Apakah ia berada di dalam rongga dan apakah yang akan terjadi jika ia memang berada di dalamnya tetapi tidak dapat keluar lagi?

Aku baru menyelesaikan satu lingkaran ketika lagi-lagi Pendekar Melati menyerangku dengan bernafsu.

”Pendekar Melati! Apa salahku padamu? Mengapa dikau ingin membunuhku?”

”Diamlah! Pertahankan saja dirimu, atau kusempurnakan hidupmu!”

Jadi Raja Pembantai itu benar. Perempuan pendekar yang dirinya sendiri memburu kesempurnaan hidup melalui jalan persilatan itu memang harus menyerang untuk memenuhi harapannya. Jika tidak, tak seorang pendekar pun akan melayani apalagi menantangnya bertarung, karena bertarung dan mengalahkan seorang perempuan, meskipun ia seorang pendekar perkasa, masihlah sulit diterima. Sementara itu, tentu saja kalah dari seorang perempuan, meski itu perempuan pendekar yang paling perkasa, tetap saja memalukan. Kukira memang itu sebabnya ia selalu menyerang dengan jurus mematikan, selain karena perbincangan apapun tidak akan mengarah

kepada kesepakatan bertarung, hanya dengan begitu lawannya akan mengerahkan segenap kemampuan, termasuk balas menyerang. Pendekar Melati selalu berhasil memaksakan pengertian, bahwa selama dirinya masih hidup, lawannya pasti binasa, dan memang itulah yang selama ini terjadi.

Ia merangsekku dengan toya yang memainkan Jurus Kera Sakti Bermain Toya. Telah kudengar betapa jurus itu memang merupakan puncak permainan toya dan kini kualami sebagai jurus yang menyerangku. Kedua ujung toya itu berubah jadi selaksa memburu titiktitik mematikan di tubuhku. Aku berguling-guling di tanah menghindari serangan, lantas melenting ke udara untuk turun lagi dengan Jurus Elang Emas Mengepakkan Sayap. Kedua batang bambu kuningku juga berubah menjadi selaksa. Tidak satupun sambaran toya itu yang tidak tertangkis dan memang sebaiknya begitu, karena jika tidak, aku akan segera menjadi seonggok tubuh yang lumpuh, yang setiap saat akan menjadi takbernyawa.

Pertarungan kami seimbang, tetapi Pendekar Melati tidak menggunakan kembali ilmu menyerap tenaganya yang belum dapat kuatasi; sebaliknya aku pun belum menggunakan Jurus Bayangan Cermin karena aku seperti mempunyai perasaan tidak ingin mengalahkannya.

”Pendekar Melati! Raja Pembantai dari Selatan itu belum mati! Bagaimana kalau ia tiba-tiba menyerang kita?”

”Pendekar Tanpa Nama! Sejak kapan dikau takut menghadapi lawan sendirian? Siapapun yang masih hidup di antara kita, dialah yang akan menghadapinya!”

Namun keadaan berkembang tidak seperti diduganya, karena tepat pada saat dia terperangkap Jurus Penjerat Naga yang kumainkan secara tersembunyi di balik Jurus Dua Pedang Menulis Kematian, dan toyanya berhasil kujepit kedua batang bambu kuningku, sesosok bayangan hitam muncul dari dalam tanah mengirimkan pukulan ke dadaku sehingga aku terlempar seratus langkah, sedangkan Pendekar Melati telah dihembusnya dengan racun penidur dari mulutnya dan langsung ambruk ke tanah taksadarkan diri.

Dadaku sesak dan panas, tetapi darahku naik ke kepala mengalami kelicikan ini.