Kisah Para Naga di Pusaran Badai (Seri II)

 New Picture (3)

Kisah Para Naga di Pusaran Badai (Seri II)

Oleh : Marshall

Source : Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Episode I: Mengawal Tokoh-Tokoh Dunia Persilat (1)

Sepuluh hari telah lewat setelah meninggalnya salah seorang Tokoh Ajaib Rimba Persilatan, Kian Ti Hosiang. Bahkan jasadnyapun sudah diperabukan melalui upacara keagamaan yang sangat khusyuk dan diiringi sejumlah tokoh besar rimba persilatan jaman itu. Dan malam itu, memasuki malam pada hari kesebelas, ataupun 3 hari setelah perdebatan masalah bengcu rimba persilatan yang berujung pada pengembalian mandat bengcu oleh Kiang Ceng Liong.

Malam yang sungguh-sungguh kelam. Dan kesenyapan juga melingkupi gunung Siong San, bahkan juga lingkungan sekitar Kuil Siauw Lim Sie di Gunung terkenal itu. Bahkan mereka yang berjaga-jaga di seputar gunung Siong San, yakni para pendeta kelas rendahan di Kuil itu, juga berdiri dengan disiplin tinggi, nyaris seperti orang mati.

Suasana senyap itu, bahkan juga menjalari Kuil Siauw Lim Sie, yang nampak lengang, kendatipun masih banyak tokoh besar rimba persilatan yang masih tetap tinggal.

Sebetulnya, tinggalnya para tokoh tersebut, bukan semata masih kangen dan berat meninggalkan Siong San. Bukan juga karena kerasan alias betah dan terkesan dengan keindahan pemandangan si Gunung Siong San yang memang sangat terkenal itu. Tetapi, lebih karena tiba-tiba mereka menjadi sadar, bahwa pertikaian 3 hari beselang, bakal meninggalkan banyak kerumitan bagi rimba persilatan yang sedang dalam ancaman terror pembunuhan yang mengerikan.

Bahkan, banyak dan sebagian besar tokoh persilatan tersebut, mulai menyesalkan beberapa orang dari antara mereka yang memicu dan menimbulkan huru hara. Huru-hara yang pada akhirnya membuat dan mendorong Ceng Liong menanggalkan kewajibannya sebagai bengcu. Meskipun juga secara jantan Ceng Liong menyatakan tetap akan memanggul tugas untuk mengamankan rimba persilatan bukan sebagai bengcu, tetapi sebagai tanggungjawab insan persilatan, dan tanggungjawab Lembah Pualam Hijau bersama Siauw Lim Sie, Bu Tong dan Kay Pang.

Selain itu juga, lebih banyak lagi yang merasa seram dan menjadi sangat ketakutan karena Siong San barusan diganggu oleh tokoh-tokoh hitam yang sangat menakutkan. Siapa yang berani menjamin, bahwa gerombolan pembunuh Thian Liong Pang tidak akan mencegat mereka di perjalanan dan kemudian membasmi mereka satu persatu? Bukankah merupakan kesempatan besar bagi Thian Liong Pang untuk mengurangi kekuatan kelompok Pendekar? Dan bukankah itu sangat mungkin dalam perjalanan turun dari Kuil Siauw Lim Sie?

Beralasan apabila kemudian banyak diantara tokoh rimba persilatan yang merasa ngeri untuk melakukan perjalanan terpisah dari rombongan para pendekar turun dari Siong San. Siapa pula yang bersedia kehilangan nyawa cuma-cuma, terlebih setelah melihat dan

mendengar kehebatan para penyerang, yang bukan tidak mungkin adalah Kim-i-Mo Ong dan Koai Tung Sin Kay.

Dan, siapa pula Pendekar jaman ini yang tidak merasa seram dengan kedua maha iblis yang pernah mengganas 40 tahun sebelumnya, dan hanya dengan turun tangannya tokoh sekelas Kiong Siang Han dan Kiang Sin Liong sajalah yang sanggup mengikat mereka puluhan tahun. Dan, mereka sadar betul, bahwa mereka belum nempil melawan kedua maha iblis itu, bahkan mungkin mendekati sajapun masih belum, apalagi nempil menandingi keduanya.

Begitulah gambaran pada tokoh yang masih berada di Siuw Lim Sie, meskipun waktu untuk turun gunung sudah tiba. Tetapi, masih belum ada yang memiliki keberanian untuk mengambil insiatif turun gunung dengan alasan yang tentu berbeda-beda. Ciangbunjin Siauw Lim Sie sebagai salah seorang sesepuh dunia persilatan sungguh mengerti keadaan ini, dan karena itu, orang tua saleh ini sedang berdaya upaya keras untuk memikirkan bagaimana cara mengatasi keadaan terakhir ini.

Bersama dengan beberapa sesepuh atau yang dituakan di dunia persilatan dewasa ini, seperti Ciangbunjin Bu Tong Pay, Ciangbunjin Kun Lun Pay dan Hu Pangcu Kay Pang serta juga Jin Sim Todjin, Sian Eng Cu, utusan Thian San Pay dan Wakil Ciangbunjin Siauw Lim Sie, mereka merundingkan sesuatu di sebuah ruangan khusus yang tersedia bagi mereka. Karena itu, percakapan mereka sama sekali tidak menarik perhatian dan tidak ketahuan siapapun. Siapa lagi pulakah yang nekad untuk mengintip percakapan tokoh-tokoh besar dunia persilatan beraliran putih itu?

Sementara itu, ke-enam tokoh muda, Kiang Ceng Liong, Liang Mei Lan, Liang Tek Hoat, Siangkoan Giok Lian dan Pendekar kembar Siauw Lim Sie, Souw Kwi Beng dan Souw Kwi Song, juga mengadakan pertemuan sejenis. Sebetulnya, topik dan keprihatinan merekapun tidak berbeda jauh dengan topik para sesepuh dunia persilatan.

Jikapun ada bedanya, maka percakapan para anak muda ini adalah membicarakan bagaimana melaksanakan tugas yang dititipkan suhu mereka masing-masing terkait dengan masa depan Rimba Persilatan Tionggoan. Serta juga, mereka masing-masing merasa agak kaget dan terkejut dengan pengunduran diri Ceng Liong, justru pada saat-saat menentukan untuk melakukan perlawanan dan pembasmian atas para pengacau Thian Liong Pang. Karena itu, para pendekar muda ini, bercakap dengan tindak lanjut dan bagaimana mereka akan berupaya untuk melakukan tugas mereka terkait dengan masalah di Tionggoan.

Karena tingginya kepandaian para pemuda ini, maka percakapan mereka nyaris tidak diketahui siapapun. Sama juga dengan percakapan para sesepuh yang sedang menganalisis kejadian-kejadian terakhir dengan penuh keprihatinan. Percakapan yang tidak saja sangat serius, tetapi terkesan sangat genting karena sejumlah besar persoalan dunia persilatan sangat penting untuk sesegera mungkin dipecahkan dan ditangani.

Percakapan para sesepuh yang terpisah dari percakapan para pendekar muda itu, dibuka oleh suara Ciangbunjin Siauw Lim Sie yang nampaknya berbicara dengan mimik sangat serius dan penuh dengan keprihatinan itu:

“Saudara-saudara, punco sangat terkejut dengan perkembangan terakhir. Pengunduran diri Kiang Bengcu yang masih muda sungguh

akan mengakibatkan banyak persoalan dan banyak kerumitan. Kita paham bersama, bahwa bahkan jalan turun dari bukit inipun masih rahasia, dan belum tahu ada perkembangan apa nantinya. Memang, setelah penyerangan waktu lalu, tidak nampak lagi aktifitas Thian Liong Pang disekitar Siong San, tetapi keadaan ini justru semakin mengkhawatirkan punco. Sangat mungkin mereka akan mengurangi kekuatan kaum pendekar dengan menyergap satu persatu dalam perjalanan dari Siong San ini. Bagaimana pendapat saudara saudara, siancai-siancai”

“Kekhawatiran Ciangbunjin sangat beralasan. Pikiran serupa juga sudah lohu pikirkan sejak beberapa hari terakhir. Terlalu mencurigakan tingkah dan pola Thian Liong Pang, dan tidak mungkin mereka tidak menyiapkan langkah lebih jauh. Karena itu, dibutuhkan kesiagaan tinggi dari para pendekar, baik sejak turun dari Siong San, maupun untuk keadaan selanjutnya. Tapi sayangnya, kenyataan bahwa Kiang Ceng Liong dipaksa oleh keadaan dan darah mudanya untuk mengundurkan diri sebagai Bengcu, justru tambah membuat kacau keadaan kita. Lohu melihat, lebih banyak ruginya ketimbang untungnya bagi kita” Pengemis Tawa Gila, Kay Pang Hu Pangcu berkomentar juga dengan nada yang sangat serius. Betapapun, rasa terima kasih dan hormatnya kepada Ceng Liong tidak bisa disembunyikan.

“Benar, benar sekali saudara Hu Pangcu. Dari kita semua, nampaknya lohu dan Pengemis Gila Tawa yang paling sering melihat sepak terjang bekas Bengcu muda itu. Kepandaiannya sungguh mengagumkan, bahkan sudah jauh melampaui lohu, sudah mendekati para guru besar kita. Tetapi kepahlawanan dan pribudinya sungguh mengagumkan. Caranya mengalahkan Bouw Lim Couwsu yang sangat sakti itu dan bahkan kemudian mengampuni nyawa orang tua sesat itu,

sungguh sangat mengesankan. Karena itu, sungguh kerugian besar menciptakan kondisi yang memaksa Ceng Liong mengundurkan diri. Lohu melihat, dibutuhkan saran dan masukan dari para sesepuh, Ciangbunjin sekalian untuk menjernihkan masalah ini. Baik kepada Kiang Ceng Liong, maupun terhadap para pendekar” Sian Eng Cu angkat bicara, yang dibenarkan dengan anggukan kepala oleh Hu Pangcu Kay Pang yang langsung berkata singkat;

“Lohu sangat sependapat, usulan Tong Hengte sangat masuk akal. Hanya kekuatan dan pengaruh para sesepuh yang mungkin bisa mengatasi masalah ini secepatnya”

“Bila Ji Suheng sampai memuji anak itu, maka bisa dimengerti bahwa Kiang Ceng Liong bukan orang sembarangan. Artinya, sangat dibutuhkan tokoh muda semacam dia, disamping anak muda lainnya yang sudah sanggup memperlihatkan kemampuan mereka menghadapi para perusuh. Murid locianpwe Kiong Siang Han, Liang tek Hoat dan adiknya, Sumoy kami, juga nampak sudah bisa diandalkan. Dan jangan lupa, juga kedua murid kembar Siauw Lim Sie didikan dari Kian Ti Suhu, serta nona dari Bengkauw. Hanya, sebelum tercipta suasana kebersamaan, rasanya sangat sulit mencapai hasil yang baik” Jin Sim Todjin Menambahkan segera setelah Pengemis Tawa Gila menyetujui usulan Sian Eng Cu.

Suasana sejenak berubah menjadi lebih hening, ketika para sesepuh tersebut merenungkan semua yang disampaikan tokoh-tokoh yang sangat mengenal keadaan rimba persilatan, yakni Sian Eng Cu, Tong Li Koan dan Pengemis Tawa Gila. Beberapa dari mereka menjadi teperanjat mendengar Ceng Liong sanggup mengalahkan Bouwl Lim Couwsu. Dalam usia mudanya dan kemampuannya mengalahkan

Bouw Lim Couwsu, sungguh membayangkan betapa hebat dan dahsyatnya anak muda itu.

Fakta bahwa dia dari Lembah Pualam Hijau memang hebat, tetapi fakta dia mengalahkan Bouw Lim Couwsu, sungguh berita yang terlampau besar. Tetapi, semua juga sadar, bahwa melakukan tugas menjernihkan persoalan benar-benar membutuhkan energi yang besar. Terutama menjelaskan dan membuat mengerti para tokoh rimba persilatan di satu sisi, dan setelah itu, masih belum tentu Kiang Ceng Liong akan menerima begitu saja meskipun para jago telah dibuat paham. Karena itu, para sesepuh yang berkumpul ini menjadi serba salah, memikirkan langkah terbaik apa yang bisa ditempuh dalam suasana yang sangat tidak menyenngkan ini.

Tidak mungkin menampung semua jago di Siong San, tapi juga tidak mungkin membiarkan mereka semua turun gunung dengan resiko terbunuh satu persatu. Apalagi, nyaris semua perguruan tinggi ternama, memiliki utusan khusus di Siong San saat itu, dan bila dihitung jumlah tamu masih cukup banyak, sekitar 150-an orang dari demikian banyak perguruan silat dan pendekar pengelana. Keheningan para jago kemudian ditingkahi dan dipecahkan keheningannya oleh Ciangbunjin Bu Tong Pay;

“Menurutku begini saja, melihat posisi dewasa ini, paling benar Ciangbunjin Siauw Lim Sie didampingi Ciangbunjin Kun Lun Pay, Hu Pangcu Kay Pang dan nantinya Lohu sendiri untuk menjelaskan posisi yang serba sulit dewasa ini. Sangat dibutuhkan perjuangan bersama, bukannya saling curiga seperti saat ini dan saling tidak percaya. Paling utama, kita yakinkan dulu para jago saat ini, kemudian urusan dengan Kiang Ceng Liong, nanti kita pikirkan menyusul” sarannya.

“Benar, lohupun setuju dengan usulan Ciangbunjin Bu Tong Pay. Sebaiknya segera kita percakapkan hal dan upaya meyakinkan para jago tersebut, baru setelah itu kita menjumpai para jago muda untuk kelak menjadi tokoh utama dalam pertarungan melawan Thian Liong Pang” Ciangbunjin Kun Lun Pay menimpali dan nampaknya sangat setuju dan mendukung apa yang telah menjadi usulan Ciangbunjin Bu Tong Pay. Dan tak lama kemudian terdengar Ciangbunjin Siauw Lim Sie menarik nafas panjang, dan beberapa saat kemudian pada akhirnya berkata:

“Baiklah, kita tetapkan demikian. Biarlah kita bersama menghadapi para pendekar yang masih ada, tetapi punco mengusulkan agar Sian Eng Cu Tayhiap bersama yang lainnya yang lebih mengenal Kiang Ceng Liong untuk menjajaki pikiran anak muda itu, juga para pendekar muda lainnya untuk menghadapi situasi yang sangat rumit ini”

Beberapa kepala nampak mengangguk-angguk menyetujui pembagian tugas tersebut. Bahkan Sian Eng Cu Tayhiap juga nampaknya mendukung penugasan atas dirinya serta sesepuh lainnya untuk bercakap dengan para pendekar muda. Dan selanjutnya para sesepuh tersebut nampaknya melanjutkan tukar pikiran dan strategi yang akan mereka lakukan terhadap tugas yang mesti segera mereka laksanakan.

Percakapan para sesepuh ini sendiri terasa agak tegang dan panas, meski udara sekitar Siong San agak dingin menusuk dan ditengah kesenyapan malam yang terasa mencekam. Percakapan mereka berlangsung sampai jauh malam, sampai tiba saat mereka beristirahat dan saling berjanji melakukan tugas masing-masing besok harinya.

Sementara itu para pendekar muda, di ruangan yang lain nampak juga sedang melakukan perundingan atas prakarsa Ceng Liong dan Tek Hoat dan dengan dibantu fasilitas oleh Souw Kwi Beng dan Souw Kwi Song. Kepedulian anak-anak muda ini, sebetulnya tidak jauh berbeda dengan para sesepuh, meski mengambil jalan yang berbeda untuk menanganinya. Bahkan mereka sudah berpikir lebih maju dari ketimbang membicarakan persoalan mundurnya Ceng Liong dan keributan dalam pertemuan para jagi sebelumnya.

Anak-anak muda ini, sudah menganggap hal tersebut lewat meski merasa masih sangat penasaran dengan kejadian tersebut. Terlebih Tek Hoat dan Mei Lan yang sangat dekat dengan Ceng Liong. Pertemuan para anak muda itu, memperlihat kepemimpinan dan wibawa Ceng Liong dan kecerdasan Tek Hoat dan Kwi Song, serta ketelitian Mei Lan serta kesabaran Kwi Beng. Menariknya, kehadiran Giok Lian diantara mereka, sama sekali tidak menimbulkan pesoalan, malah sebaliknya.

Terlebih bagi Kwi Song yang semakin hari semakin jelas nampaknya menaruh hati terhadap Giok Lian, juga Tek Hoat yang juga memiliki perasaan yang sama terhadap gadis itu. Dan, Giok Lian juga menunjukkan tingkat pemahaman atas situasi dan ketelitian yang tidak di bawah Mei Lan. Seperti itulah kondisi para pendekar muda yang bertemu di sebuah ruangan dalam kuil Siauw Lim Sie atas bantuan kedua pendekar kembar asal Siauw Lim Sie itu. Dan seperti telah bersepakat sebelumnya, Ceng Liong yang kemudian membuka pertemuan itu dan mengarahkan percakapan mereka:

“Kawan-kawan, kita sedang menyaksikan suasana yang berkembang menjadi tidak menyenangkan dan lama-kelamaan akan menyulitkan Siauw Lim Sie. Bahkan, juga lama-kelamaan

menyebabkan suasana disini dan suasana rimba persilatan menjadi semakin runyam. Masalah pertemuan dengan para jago dan mundurnya aku dari jabatan Bengcu, tidak usah kita persoalkan lebih jauh. Lebih baik kita segera membicarakan tugas yang diembankan para guru kita dalam melawan Thian Liong Pang. Menurut perkiraanku, tugas tersebut harus segera kita mulai bersama sejak dari Siauw Lim Sie ini. Bagaimana pemikiran kawan-kawan sekalian, baik atas suasana terakhir dan bagaimana cara kita memulai perlawanan terhadap perusuh Thian Liong Pang?”

“Saudara Ceng Liong, sebetulnya, akupun sangat kesal dengan tingkah para jago yang seakan-akan merasa sangat jago itu. Tapi, mempersoalkannya tidaklah mungkin lagi dewasa ini. Lawan-lawan kita, terbukti bukan olah-olah kehebatannya, dan kita semua sudah menyaksikan dan mengalaminya masing-masing. Ketimbang membicarakan persoalan siapa memimpin siapa, adalah lebih baik kita membicarakan bagaimana kita melakukan tugas guru kita masing-masing. Dalam hal ini, apabila saudara Ceng Liong memimpin kita dan mengkoordinasikan bagaimana kita melakukan tugas itu, dan masing-masing kita membagi tugas dalam keseluruhan perlawanan kita itu. Misalnya, Saudara Tek Hoat menggunakan keunggulan Kay Pang dalam mengendus informasi dan lawan, Hong Moi juga melakukan hal yang sama dengan kawan-kawan Beng Kauw, Lan Moi juga melakukan yang sama dengan jaringan Bu Tong Pay, sementara kami dengan jaringan Siauw Lim Sie. Rasanya kemungkinan kita melaksanakan tugas dengan baik cukup besar” Kwi Song memaparkan secara cemerlang apa yang dipikirkannya, dan dengan semangat yang sangat terekspresikan di wajahnya.

“Usulan Kwi Song Heng rasanya sangat masuk akal. Hanya, tugas bukannya menanti jauh disana, tetapi justru didepan mata sekarang. Bahkan untuk keluar dan turun dari Kuil Siauw Lim Sie, sangat mungkin dan bahkan nyaris pasti sangat berbahaya. Saya mengkhawatirkan nasib para jago yang bukan tidak mungkin terbantai satu demi satu dalam perjalanan turun gunung. Karena itu, selain membicarakan tugas kedepan, mengkoordinasikannya, kita juga harus membicarakan bagaimana mengawal para jago keluar dari Siauw Lim Sie. Dalam tugas ini, sepakat dengan Song heng, maka sudah seharusnya yang memimpin kita adalah engkau Liong-Ko. Biarlah kita semua bersama keluar mengawal para jago untuk turun gunung, dan kemudian dalam perjalanan turun gunung kita kali ini, sekaligus menjalankan rencana melawan pengaruh Thian Liong Pang, jika mungkin langsung dengan pentolannya” Tek Hoat menunjukkan tingkat kematangan dan kecerdikan yang tidak disebelah Kwi Song. Gaya dan ucapannya yang simpatik membuat semua orang mau tidak mau mengaguminya. Dan Giok Lian nampaknya semakin lama semakin condong menyukai pemuda ini. Tapi, sudah tentu dipendamnya jauh-jauh di lubuk hatinya. Apalagi, dia sadar betul, disudut lain pandang mata Kwi Song bersinar dengan nada yang sama kearahnya.

“Pikiran-pikiran Saudara Kwi Song dan Tek Hoat tidaklah salah. Tapi, apakah para jago itu tidak tersinggung di bawah pengawalan kita yang muda-muda ini? Giok Lian mengajukan pertanyaan yang cukup menyentak. Dan mebuat semua nampak berpikri cermat atas suasana itu.

“Benar Hong Moi, keadaan ini hampir pasti menimbulkan salah sangka diantara para jago. Bagaimana sebaiknya menurut saudara Kwi Beng atau Lian Moi? Ceng Liong yang secara langsung sudah

merasakan penolakan para jago beberapa hari sebelumnya nampak memang terpengaruh oleh pertanyaan Giok Lian.

“Liong Ko, rasanya kita boleh melakukan tugas kita berterang ataupun dengan tidak berterang. Maksudku, kita berterang mengatakan bahwa mulai besok kita akan turun gunung melawan Thian Liong Pang. Kita lihat nanti bagaimana reaksi para jago. Atau, kita mengawal mereka secara diam-diam, dan turun tangan pada saat dan waktu yang tepat” Mei Lan mengusulkan sebuah saran yang pantas dipertimbangkan.

“Benar saudara Ceng Liong, usulan Lian Moi rasanya sangat masuk akal. Kita tinggal memilih salah satu dari kedua saran tersebut, atau bisa juga keduanya kita lakukan” Kwi Song menyarankan sambil memandang Tek Hoat yang mengangguk-angguk dan kemudian menambahkan:

“Benar, kita bisa mencoba keduanya sekaligus. Ada saat kita berterang dan ada saat kita melakuan secara diam-diam”

“Mungkin sebaiknya kita meminta bantuan atau pertolongan para sesepuh kita untuk beberapa hal. Pertama, menyangkut dukungan partai dan golongan kita masing-masing. Kedua, untuk melakukan tugas pengawalan agar tidak menyinggung orang lain. Ini perlu karena saudara Ceng Liong sudah meletakkan jabatan bengcunya. Ketiga, untuk membangun perlawanan secara menyeluruh sejak kita turun dari Siong San ini. Bila secara menyeluruh kaum pendekar Tionggoan bergerak, maka kemungkinan suksesnya sangatlah besar” Kwi Beng yang sebelumnya banyak berdiam diri dan menyimak, menyampaikan pikirannya yang nampak sangat matang dan terukur.

“Tapi, apakah para sesepuh itu mau membantu kita koko”? Kwi Song bertanya ragu

“Mereka, mau tidak mau membantu kita adikku. Karena masing-masing guru besar 4 perkumpulan besar sudah jelas menunjuk siapa yang mewakili dalam pertarungan dengan Thian Liong Pang”

“Jika demikian, bagaimana bila kita menghubungi para sesepuh itu sesegera mungkin, karena tidak mungkin kita membuat keadaan ini berlarut-larut dan lebih tidak mungkin lagi memberi banyak ketika bagi Thian Liong Pang untuk mengganas dan kemudian membantai banyak pesilat yang tidak berdosa”? Tek Hoat bertanya sambil mengusulkan.

“Ya, memang sebaiknya begitu Liong Ko, lebih cepat lebih baik. Karena waktu terus berjalan, dan tidak mungkin selamanya kita membiarkan kesusahan ini banyak mengganggu para pendeta di Siauw Lim Sie. Kebetulan lagi, hampir semua perguruan dan perkumpulan besar memiliki utusan dan anak murid di sini. Dengan demikian memudahkan kita untuk menggalang persatuan ketimbang mengunjungi perguruan itu satu demi satu” Mei Lan menambahkan.

Ceng Liong dan anak-anak muda itu nampak terdiam sejenak sebelum kemudian akhirnya Ceng Liong memecahkan keheningan itu dengan sebuah kesimpulan bagi mereka semua untuk segera mereka lakukan.

“Hm, baiklah kawan-kawan. Satu hal yang pasti, jabatan bengcu sudah kutanggalkan. Dan tidak pernah lagi akan kupertimbangkan menjabatnya sebelum Thian Liong Pang dihancurkan. Untuk tugas melawan Thian Liong Pang, tugas memimpin kita, para anak murid 4 guru besar Tionggoan, sanggup kulaksanakan dengan bantuan dan

kerjasama kita semua. Terlebih, leluhur perguruan kita masing-masing, sudah sering melakukan kerjasama seperti ini. Seharusnya kitapun mampu dan bisa melakukannya dengan baik. Tugas untuk berbicara dengan para sesepuh, kuminta dilakukan bersama dengan saudara Kwi Beng dan Hong Moi, sementara yang lainnya melakukan kontak dengan perguruan masing-masing untuk memberitahu rencana kita. Paling tidak, kita butuh persiapan 1-2 hari sebelum turun dari Siong San. Bukan cuma mengawal para jago, tetapi melawan Thian Liong Pang, jika mungkin sampai menghancurkan pusat kekuatan mereka. Karena kepergian kita, waktunya atau lamanya belum bisa dipastikan, maka kita harus menyiapkan diri kita selama 1-2 hari terakhir. Nampaknya, lawan terakhir yang datang, sudah merupakan bagian dari inti kekuatan Thian Liong Pang. Jika tidak salah, maka Kim-i-Mo Ong yang kemarin menjadi lawanku, dan kemungkinan Koai Tung Sin Kai yang menyerang Lan Moi. Musuh kita sangat kuat, maka kita perlu meningkatkan kemampuan kita setiap ada saat dan ketika, karena itu akan menentukan kesuksesan kita kelak. Baiklah, malam ini kita beristirahat dan melakukan latihan-latihan terakhir, dan besok kita mulai dengan tugas masing-masing. Malamnya, kita kembali bertemu disini, dan 2-3 hari kemudian kita mulai bergerak”

Mengawal Tokoh-Tokoh Dunia Persilatan (2)

Demikianlah, 2 pertemuan terpisah itu kemudian ditutup dan selanjutnya para tokoh itu kemudian beristirahat. Tetapi, semangat dibenak dan dada anak-anak muda itu, membuat mereka selanjutnya melakukan latihan di tempat istirahat masing-masing. Terutama latihan tenaga dalam mereka. Dan setelah melakukan perkelahian terakhir, masing-masing secara perlahan kembali mengalami peningkatan

kemampuan, terutama kematangan dalam pemahaman gerak silat dan kematangan penguasaan tenaga dalam mereka.

Benarlah, semakin lama mereka semakin matang dan semakin hebat, akibat tempaan ajaib yang dilakukan guru mereka masing-masing. Hasil yang mereka capai, sungguh sulit dipercaya, padahal mereka berlatih paling lebih kurang 15 tahun lamanya. Tetapi capaian mereka, baik pemahaman atas gerak silat, maupun kematangan penguasaan tenaga dalam sudah sangat tinggi.

===================

Hari itu, genap 2 pekan sejak kematian Kian Ti Hosiang, atau 14 hari selang berpulangnya bekas ketua biara Siauw Lim Sie. Masih pagi-pagi benar di depan pintu ruangan tempat Ceng Liong beristirahat nampak telah berdiri Barisan 6 Pedang Lembah Pualam Hijau yang terkenal ampuh di dunia persilatan tersebut.

Dimanakah Ceng Liong? Meskipun masih pagi benar, Ceng Liong sudah kedatangan 3 orang tamu, yaitu Ciangbunjin Siauw Lim Sie, Hu Pangcu Kaypang dan Sian Eng Cu Tayhiap. Sudah tentu Ceng Liong tergopoh menyambut ketiga tamu agungnya pagi-pagi benar, di hari yang telah ditentukannya sebagai hari mereka memulai gerakan perlawanan terhadap Thian Liong Pang dengan mengawal para jago turun gunung.

“Ach, sungguh kehormatan besar ketiga locianpwe datang mengunjungi tecu pagi-pagi benar” Ceng Liong menyambut ketiga tetua itu sambil membungkukkan badan memberi hormat. Tetapi dengan cepat Ciangbunjin Siauw Lim Sie sudah menahan tubuhnya untuk menghormat sambil berucap:

“Siancai, siancai. Kiang Ceng Liong, punco bertiga dengan Kaypang Hu Pangcu dan Sian Eng Cu Tayhiap datang mengunjungimu untuk menyatakan bahwa kami semua mendukung upaya dan keputusanmu. Masa depan dunia persilatan memang ditentukan oleh gebrakan kalian sejak hari ini, karena itu Siauw Lim Sie, Bu Tong Pay, Kay Pang, Thian San Pay, Kun Lun Pay dan sejumlah besar Perguruan Silat lainnya telah memberi restu untuk perjuangan kalian para anak muda. Setelah kalian mengawal para pendekar turun gunung, masing-masing Perguruan akan mengirimkan jago-jago mereka masing-masing untuk membantu kalian menempur Thian Liong Pang. Tetapi, perintisnya tetaplah kalian sebagai inti perjuangan tersebut. Maka, kami mewakili para tetuah datang memberi restu atas apa yang akan kalian lakukan, Amitabha”

“Dan mengenai persoalan Bengcu, biarlah seperti yang telah engkau katakana dan putuskan Ceng Liong. Kita tetapkan setelah perjuangan ini selesai. Dan lohu sangat yakin bahwa engkau akan berhasil melakukannya” Ucap Pengemis Tawa Gila sambil menepuk-nepuk pundak Ceng Liong.

“Terima kasih para locianpwe, tecu merasa beban bagi terasa berat, tetapi tetap harus kami kerjakan. Tentu restu para tetua akan menambah semangat juang kami” Ceng Liong menyambut sambil merendah.

“Hahahaha, anak muda, untuk saat ini nampaknya memang engkaulah yang paling tepat merintisnya. Bahkan suhu, pek Sim Siansu sendiripun tidak segan mengeluarkan pujiannya untukmu. Bila sudah demikian, maka masakan harus kuragukan pandangan guruku”? Sian Eng Cu berucap dengan penuh optimisme sekaligus membangkitkan rasa percaya diri dan optimisme bagi Ceng Liong.

Terlebih, karena orang tua itupun memang mengagumi dan menyukai anak muda perkasa itu.

“Terima kasih locianpwe, semoga kami berlima sanggup mengerjakannya”

“Baiklah anak muda, kami sudah menyampaikan restu dan rencana kedepan. Untuk itu, mulailah dengan merintis perlawanan itu. Siang ini, para jago sudah siap untuk turun gunung. Kawal mereka hingga ketempat aman dan lanjutkan perjuangan kalian setelah itu, kami memberkati kalian semua. Siancai, siancai”, Ciangbunjin Siauw Lim Sie menegaskan dukungan dan restu mereka bagi para anak muda yang akan memulai perjuangannya pada siang hari tersebut.

Setelah menyampaikan pesan-pesannya, maka ketiga tetua atau sesepuh itu kemudian meninggalkan ruangan kamar Ceng Liong. Sementara anak muda itu sendiri nampak tercenung dan merasa tersanjung atas kepercayaan dan optimisme serta dukungan para sesepuh tersebut.

Beberapa saat kemudian, Ceng Liong kemudian kembali bersemadhi mengumpulkan semangatnya dan juga melatih kembali kepandaiannya. Selain melakukan percakapan dengan para tetua dan juga anak muda lainnya, 2 hari terakhir Ceng Liong secara khusus kembali melatih kemampuan individu Barisan 6 Pedang Lembahnya, sementara malam harinya digunakannya untuk melatih dirinya sendiri. Bagi Barisan 6 Pedang, terutama ditekankannya penggunaan latihan ginkang yang sebelumnya dikhususkan bagi Duta Perdamaian 1 dan 6, serta juga pematangan jurus gabungan Toa Hong Kiam Sut dan Soan Hong Kiam Sut dalam permainan Barisan mereka.

Menjelang siang, tiba-tiba pintu kamarnya diketuk orang dan menyadarkan Ceng Liong dari latihan dan samadhinya. Tubuhnya terasa semakin segar dan ringan ketika meloncat untuk kemudian membuka pintu kamarnya. Ternyata yang dating adalah …… Liang Mei Lan. Dengan sedikit kaget, Ceng Liong kemudian menyapa Mei Lan dengan lembut:

“Lan Moi, engkau rupanya. Ada apakah gerangan”?

“Liong Ko, aku khawatir saja, semakin siang engkau malah belum kelihatan. Apakah engkau baik-baik saja”?

Ceng Liong terharu dengan perhatian yang tidak tersembunyikan dari nada suara dan pandangan Mei Lan. Sungguh dia terharu dan sangat gembira, tetapi sekaligus terasa sakit dan pahit didadanya. Tapi dengan menindas perasaan itu dia menjawab Mei Lan:

“Tidak apa-apa Lan Moi, mungkin aku rada tegang saja. Apakah engkau tidak merasakannya Lan Moi? Dan apakah teman-teman lain sudah siap”? tanpa sadar Ceng Liong juga menyambut dengan sama lembut dan penuh perhatiannya terhadap Mei Lan.

“Semua sudah siap Liong Ko, termasuk Barisan 6 Pedang yang sejak pagi sudah menunggui pintu kamarmu. Marilah, kita sebentar lagi akan memulainya” Ajak Mei Lan dengan manis, semanis rasa hati nona itu menerima perlakuan Ceng Liong.

“Baik Lan Moi, akupun sudah siap” Ceng Liong kemudian bergegas masuk sebentar dan tidak lama kemudian berjalan keluar melalui pintu dan berjalan berendeng dengan Mei Lan untuk menjumpai kawan-kawan lainnya. Tidak terpancar lagi ketegangan dari wajah Ceng Liong, terlebih karena disampingnya ada Mei Lan, meski rasa getir masih atau

bahkan sangat sering menghinggapi dadanya menyadari bahwa dia mencintai Mei Lan. Tetapi sepertinya rasa itu terhalang sebuah tembok tebal. Sangat tebal. Dan hanya seringai pahit yang bisa muncul dari bibirnya mengenangkan itu.

Nampaknya semua persiapan sudah hampir beres. Liang Mei Lan sudah bersiap dengan sebuah pedang yang tersoren dipunggungnya, sama halnya dengan Siangkoan Giok Lian yang juga sudah membekal secara terbuka Pedang bawaannya yang selalu tersembunyi. Keduanya nampak sangat cantik, Mei Lan dalam kemungilannya nampak sangat rupawan, dan sulit menduga bahwa dalam diri gadis cantik nan mungil ini tersembunyi kepandaian sakti yang sangat digdaya.

Demikian juga Siangkoan Giok Lian, diapun seramping dan secantik Mei Lan, bahkan sedikit lebih tinggi dibandingkan dengan Mei Lan. Sungguh dua gadis cantik yang sangat cantik dan rupawan. Tidak heran bila Ceng Liong bangga berjalan bersama Mei Lan dan mata Kwi Song dan Tek Hoat tak ada puas puasnya memandangi Giok Lian.

Sementara Liang Tek Hoat sendiri nampak hanya membekal sebuah tongkat yang nampaknya mulai dibekalnya sejak memasuki Kuil Siauw Lim Sie. Sebuah tongkat kayu yang nampak biasa, serupa dengan tongkat hijau pemukul anjing ketua Kaypang. Tetapi tiruannya ini, merupakan dahan sebuah pohon yang tumbuh ratusan tahun di Thian San dan pernah digunakan dulu bahkan oleh guru Kiong Siang Han dan sekarang diwariskan kepada Liang Tek Hoat. Tongkat Kayu biasa yang sekilas tidak memberi kesan hebat, tetapi sebetulnya tahan diadu dengan pedang dan golok tajam sekalipun.

Sementara kedua pendekar kembar Siauw Lim Sie, nampak sama sekali tidak membekal senjata tajam, sama seperti Ceng Liong. Kedua pendekar kembar ini memang dilatih khusus bertangan kosong oleh guru mereka. Tetapi mereka berpakaian persis Pendekar Kelana Siauw Lim Sie dan membayangkan kegagahan yang luar biasa dari penampilan dan wajah mereka.

Sementara itu, Ceng Liong, seperti biasanya kembali tampil dengan jubah hijaunya, membayangkan dan melambangkan Lembah Pualam Hijau darimana dan dimana kini dia menjadi penanggungjawabnya. Tiba-tiba dia menjadi bangga dengan keadaan kini, bahwa diapun akan seperti leluhurnya, membela kalangan persilatan Tionggoan. Semangat merasuki dadanya.

Dan, pada akhirnya waktunya tiba. Tiba-tiba terdengar Ceng Liong bersuara dengan wibawanya:

“kawan-kawan, nampaknya waktunya sudah tiba” Dia berhenti sejenak dan menatap kawan-kawannya satu persatu yang rata rata mengangguk-angguk, dan kemudian melanjutkan:

“Barisan 6 Pedang” “Siap Duta Agung” “Kalian membuka jalan dan dilarang terpisah seorang dengan yang lain, sedapat mungkin tidak terpisah jauh dengan Liang Tek Hoat dan ketiga orang dari Cap it Hohan Kay Pang” “Siap Duta Agung” dan dengan tertib kemudian ke-6 orang itu berjalan menuju pintu keluar Kuil Siauw Lim Sie. “Tek Hoat, karena kemampuanmu yang kebal akan racun, maka sebaiknya pasukan perintis di depan berada dalam pengawasanmu bersama dengan ketiga orang dari Kay Pang Cap It Hohan” Ceng

Liong dengan tepat menugaskan Tek Hoat yang diketahuinya dari Gurunya dan Kakek Kiong Siang Han, sudah kebal terhadap racun, dan tentu dia tidak takut terhadap kemungkinan penggunaan racun oleh Thian Liong Pang. Dan Tek Hoat nampaknya juga memiliki perasaan yang sama. Selain itu, dia juga paham betul bahwa Kaypang Cap It Hohan adalah didikan langsung Kiong Siang Han, sehingga kepandaian mereka tidaklah cetek.

“Baik Liong Ko, mari kita berangkat” Tek Hoat dengan segera menyahut dan menggapai kearah 3 orang dari Cap It Hohan didikan Kiong Siang Han. Dan merekapun segera berangkat. Mendahului rombongan pendekar.

“Pendekar Kembar, Saudara Kwi Beng dan Kwi Song, kalian menjelajahi sisi kanan dari jalur jalan keluar bersama-sama dan terus menjaga hubungan satu dengan yang lain”

“Baik, kami berangkat” Kwi Beng dengan segera menyahut sebelum adiknya yang dia tahu lebih ingin bergabung dengan Giok Lian. Dan keduanya dengan segera berangkat dan keluar dari pintu keluar kuil.

“Lan Moi dan Lian Moi, kalian berdua membuntuti sisi kiri rombongan para jago dan keluar setelah semua jago keluar dari pintu kuil. Bersiaplah karena isyarat itu akan segera kukeluarkan” Setelah berkata demikian, sebagaimana disepakati dengan Ciangbunjin Siauw Lim Sie bertiga dengan Sian Eng Cu Tayhiap dan Pengemis Tawa Gila, Ceng Liong segera mengeluarkan lengkingan rendah. Dan tidak lama kemudian, rombongan para jago mulai bergerak keluar dari Kuil Siauw Lim Sie. Tidak lama kemudian setelah orang terakhir keluar, nampak melesat 2 bayangan membayangi rombongan tersebut, tetapi bergerak tanpa ketahuan rombongan besar para pendekar.

Sementara itu, Kiang Ceng Liong nampak kemudian melesat kearah para sesepuh, memberi hormat dan kemudian mohon diri. Kepergiannya diiringi oleh tatapan penuh arti dan keprihatinan dari para jago yang masih tersisa, yakni Siauw Lim Sie Ciangbunjin dan Ciangbunjin Bu Tong Pay, Sian Eng Cu serta Jin Sim Todjin dan beberapa anak murid Bu Tong Pay yang akan bergerak menyusul kemudian bersama dengan 18 Arhad atau Lo Han Tin Siauw Lim Sie.

Malam sebelum keberangkatan mereka mendiskusikan bahwa perlu untuk berjaga jaga atas keselamatan para jago. Karena itu, sementara di rombongan para jago yang lebih kurang berjumlah 150an orang, disepakati dipimpin oleh Pengemis Tawa Gila dan Ciangbunjin Kun Lun Pay serta Hu Pangcu Thian San Pay. Dan rombongan lain akan menyusul secara diam-diam. Malam terakhir, para sesepuh akhirnya bersepakat untuk akhirnya melakukan perang dan pertandingan terbuka dengan Thian Liong Pang. Dan waktunya adalah, ketika para jago turun dari Siong San. Gendang perang akhirnya ditabuh.

Tidak diduga, setelah berjalan lebih dari 3 jam, ternyata tiada satupun penyerangan dilakukan oleh Thian Liong Pang. Sebagaimana disepakati, titik aman pertama akan dicapai setelah mencapai sebuah dusun kecil di kaki gunung Siong San dengan jarak tempuh sekitar 6 jam dari kuil Siauw Lim Sie karena berjalan dalam rombongan. Meskipun demikian, Tek Hoat yang memimpin pasukan pelopor tidak pernah mengurangi kewaspadaannya bersama dengan Barisan 6 Pedang disisi kiri jalan dan dia bersama 3 orang saudara perguruannya di sisi kanan jalan.

Hal yang sama juga dialami dan disikapi dengan sangat awas dan waspada oleh Kwi Beng dan Kwi Song yang berjalan sedikit didepan para jago. Juga dialami oleh kedua nona berkepandaian tinggi di

belakang barisan para jago. Bahkan Pengemis Tawa Gila dan Ciangbunjin Kun Lun Pay, juga merasa heran sampai sejauh ini tiada satupun gangguan dialami oleh para jago. Demikian juga Ceng Liong yang berjalan agak kebelakang dan mengawasi perjalanan para jago dengan sebentar-sebentar melampaui barisan itu dan berada di depan dan kadang di belakang.

Bahkan ketika matahari semakin condong ke Barat dan memasuki jam ke-4 perjalanan, masih tetap tidak ada tanda-tanda akan terjadi pencegatan dan penyerangan. Bahkan beberapa orang jago mulai merasa tidak sabar dan beranggapan bahwa Thian Liong Pang merasa takut untuk menyerang mereka. Tetapi, para jago yang memiliki intuisi tinggi, justru semakin tercekam dan kagum akan permainan mental yang dilakukan oleh Thian Liong Pang.

Sudah jelas, bahwa mereka membiarkan barisan perjalanan ini seakan tidak terganggu, dan bisa sewaktu-waktu menyerang ketika kelengahan dan awas diri berkurang jauh. Itu sebabnya banyak jago tanggung yang menjagi lengah, sementara mereka yang berpengalaman justru merasa semakin gelisah dan merasa diteror habis-habisan oleh Thian Liong Pang.

Semakin mendekati titik aman pertama, masih tetap tidak ada gangguan. Tetapi tiba-tiba terdengar bentakan jauh di depan dari rombongan tersebut:

“Berhenti semua” bentakan yang berasal dari mulut Tek Hoat membuat Barisan 6 Pedang langkahnya tertahan, juga 3 orang dari Kay Pang Cap it Hohan: “Mundur, dan menjauh dari tempatku berdiri” tambah Tek Hoat yang dengan segera dituruti oleh ke 9 orang pendekar itu. Perlahan-lahan

mereka membentuk barisan dan siap bertempur, sementara itu, nampak Tek Hoat seperti sedang memusatkan perhatian melawan sesuatu. Dan tidak lama kemudian dia melompat ke belakang sambil berguman:

“Sungguh berbahaya. Untung Liong Ko sempat memikirkan cara seperti ini, kalau tidak, semua jago sangat mungkin tewas secara mengerikan. Racun ini cukup kuat, dan untungnya suhu sudah pernah melatihku menawarkan racun dengan pengerahan tenagaku”

Tidak berapa lama kemudian, rombongan para jago mulai mencapai tempat itu, sementara Tek masih belum mengerti bagaimana memunahkan racun yang nampaknya dioleskan di dedaunan dan rerumputan yang akan dilalui oleh para jago. Untungnya, karena berjalan paling depan, maka Tek Hoat yang dengan cepat mendeteksi adanya racun karena tubuhnya bereaksi hebat menawarkan racun. Dan dia mampu menahan langkah kawan-kawannya. Jika tidak, sungguh sulit untuk diperkirakan apakah kiranya sebab yang akan ditimbulkan bila racun itu tidak terdeteksi.

Pengemis Tawa Gila yang duluan tiba, dengan cepat berdiskusi dengan Tek Hoat dan mendapati bahwa jenis racun yang dioleskan di dedaunan adalah jenis campuran racun ular, mungkin 3-5 jenis racun ular dan kalajengking yang cukup kuat dan mematikan. Dan jika terkena, maka tidak butuh waktu lama bagi korban untuk menderita dan bahkan kemudian akan dengan cepat juga meregang nyawa begitu racunnya mencapai jalan darah penting.

“Racun jenis seperti ini, biasanya bisa ditawarkan dengan api atau panas membara Hoat Ji. Jika kita mengerahkan kekuatan Pek Lek Sin Jiu dan mengarahkannya ke lokasi yang diolesi daunan, maka racun

tersebut akan bisa tawar atau ditawarkan oleh panas membara itu. Kelihatannya hanya engkau dan Ceng Liong yang bisa melakukannya Hoat Ji, dengan pengerahan kekuatan panas atau api menyengat”.

“Baiklah Hu Pangcu, biarlah tecu mencobanya, siapa tahu bisa membantu menawarkan dan menghilangkan racun di deaunan tersebut” Tek Hoat berkata sambil mempersiapkan dirinya diiringi tatapan tidak mengerti banyak jago yang tidak mengerti apa kejadiannya.

Mereka hanya sempat melihat seorang Liang Tek Hoat mempersiapkan kuda-kudanya dan kemudian tak lama, rasa panas yang luar biasa membara menyebar dari tubuh anak muda itu. Membuat mereka pada mundur dari tempat dan menjauhi Tek Hoat dan dengan mata terbelalak menyaksikan betapa dedaunan dan rumput seputar Tek Hoat tidak lama layu seperti terbakar, bahkan juga termasuk tanah yang dipijak Tek Hoat.

Tidak berapa lama, nampaknya Tek Hoat melompat kedepan dan terdengar suara desisan, seperti sesuatu sedang terbakar, dan beberapa desisan kembali terdengar begitu Tek Hoat melompat lagi dan begitu seterusnya sampai desisan itu tidak terdengar lagi.

“Cukup Hoat Ji, sudah cukup. Nampaknya daerah yang dilumuri racun hanya sekitar 20 meteran, tetapi lebih dari cukup untuk membunuh seluruh rombongan” Pengemis Tawa Gila menghentikan Tek Hoat yang kemudian menghentikan pengerahan tenaga panas dari tubuhnya. Bahkan kemudian sebuah jurus Pek lek Sin Jiu dilepaskan Tek Hoat untuk melihat apakah jalanan di depan terlumuri racun atau tidak.

Dan ternyata, setelah 20 meteran, tidak ada lagi racun di rerumputan dan dedaunan di sisi kiri dan kanan jalan. Para jago memandang Tek Hoat dengan penuh rasa terima kasih dan juga kekaguman yang sangat kentara. Tidak salah, anak ini memang jago muda yang telah angkat nama dengan julukan Sie yang sie Cao, tunas muda Kay Pang yang bersinar terang dan yang kini mereka saksikan kehebatannya. Kebal racun dan bertenaga panas yang luar biasa.

“Tek Hoat dan Hu Pangcu, nampaknya tiada kawanan Thian Liong Pang sekitar tempat ini lagi. Radius 100 meteran sudah keteliti dan tiada ditemui seorangpun. Nampaknya mereka yakin kalau kita akan terjebak disini. Untung ada engkau Tek Hoat. Perjalanan boleh dilanjutkan lagi” terdengar suara mendenging di telinga Tek Hoat dan Pengemis Tawa Gila, dan juga setelah itu Ceng Liong memberi tahu kawan-kawannya yang lain.

Pada akhirnya perjalanan menegangkan selama 6 jampun boleh dilalui, dengan hanya satu insiden berbahaya yang mereka lalui, yakni penyerangan gelap melalui penggunaan racun yang bisa digagalkan Tek Hoat. Tidak pelak lagi, Tek Hoat dengan segera memperoleh keharuman nama yang semakin cemerlang dan menjadi buah bibir para jago ketika mereka memutuskan beristirahat di luar dusun karena hari telah menjelang malam.

Mengawal Tokoh-Tokoh Dunia Persilatan (3)

Dusun Bun Cou sebetulnya hanyalah sebuah dusun kecil. Tetapi menjadi penting, karena dusun ini adalah tempat pemukiman terakhir untuk mencapai kuil Siauw Lim Sie di Gunung Siong San. Dusun ini terletak di kaki Gunung Siong San dan berjarak kurang lebih 6 jam berjalan kaki disisi sebelah timur Gunung.

Dari dusun ini, berjalan kaki selama kurang lebih 5 jam lagi akan bertemu sebuah kota kecil lain lagi yang sedikit lebih ramai dan baru dari kota kecil itu, berjalan sejauh 2 jam akan bertemu jalan bersimpang 5 menuju ke 5 arah dan tempat berbeda. Dusun Bun Cou sendiri masih berhawa dingin dan jumlah penduduknya yang rata-rata petani tidaklah banyak. Bahkan penginapan di dusun tersebut terbilang sangat sederhana dan hanya memiliki kamar atau ruang istirahat yang sangat terbatas.

Itulah sebabnya para jago kemudian memilih untuk beristirahat di luar dusun dengan jarak yang cukup jauh dengan hutan yang rimbun, dan kurang lebih berjarak 500 meter dari gerbang dusun.

Karena bergerombol dalam jumlah besar, maka cara istirahat para jago inipun terkesan seadanya. Ada yang duduk bersemadhi, ada yang memutuskan memanaskan diri dengan membuat api unggun, ada yang menghabiskan malam dengan bercakap-cakap dan sejumlah aktivitas lainnya untuk mengatasi ketegangan dan kepenatan.

Sementara itu, di sudut yang berbatasan dengan hutan berjaga Tek Hoat dengan 3 orang dari Kaypang Cap it Hohan, dan disebelah belakang berjaga barisan 6 pedang, disisi kiri dan kanan berjaga sepasang pendekar kembar dan sepasang gadis cantik rupawan, para pendekar muda itu. Sementara Ceng Liong memiliki kebebasan untuk mengadakan peninjauan dari sudut kesudut untuk memastikan keamanan para jago.

Terutama dengan mengunjungi kawan-kawannya untuk tukar menukar informasi dan sambil mengingatkan agar tetap waspada. Dan dengan formasi ini, maka hingga tengah malam rombongan sama sekali tidak mengalami gangguan. Bahkan sebagian besar mulai ayal

dan sesekali meninggalkan rombongan besar untuk buang hajat tanpa memberitahu Pengemis Tawa Gila maupun Kun Lun Ciangbunjin.

Hari sudah melewati atau lepas tengah malam. Keadaan masih belum menunjukkan tanda-tanda mencurigakan hingga waktu kembali bergeser kurang lebih 2 jam. Tetapi, beberapa suara normal diwaktu malam, tiba-tiba hilang dan hanya telinga terlatih yang sanggup membedakan hilangnya beberapa suara khas waktu malam.

Orang-orang dan pesilat terkemuka diantara para jago, yakni Ceng Liong, Tek Hoat, Mei Lan, Giok Lian, Kwi beng, Kwi Song, Pengemis Tawa Gila dan Kun Lun Ciangbunjin bersama sedikit pendekar mampu menangkap ketidakwajaran tersebut. Kesenyapan yang kemudian timbul merupakan kesenyapan yang tidak wajar.

Dan kali ini, seperti juga yang terjadi di Kuil Siauw Lim Sie, bahkan dengan tataran yang lebih kuat, tiba-tiba sebuah kekuatan yang luar biasa memaksa orang untuk merindukan “tidur”. Para pendekar kelas rendahan, dengan cepat tertidur pulas dan tidak ingat dirinya sama sekali.

Sementara itu, para jago utama, menyadari bahwa mereka sedang terserang sebuah kekuatan tak berujud. Bahkan Ceng Liong yang pernah mengalami hal yang sama dan memunahkannya di kuil Siauw Lim Sie, menyadari bahwa kali ini kekuatan penyerang masih 2 kali lipat dari yang dialaminya di Siauw Lim Sie. Karena itu, dia segera menghimpun kekuatan batinnya sama seperti yang biasa dilakukannya dengan ilmu hipnotisnya.

Hanya, kali ini, tenaga batinnya disalurkan melalui udara dan tak lama kemudian sebuah suara yang mendengung berkumandang di lingkungan para jago:

“Cuwi sekalian, bersiaplah. Pusatkan kekuatan dalam masing-masing dan jaga kesadaran. Kita kemungkinan menghadapi serangan musuh. Tek Hoat, Mei Lan, Giok Lian, Kwi Song dan Kwi Beng, Barisan 6 Pedang, Cap it Hohan lawan kekuatan itu dan siaga di tempat masing-masing, jaga pintu masuk”

Suara Ceng Liong tersebut sangat membantu memecut dan menyadarkan banyak orang atas serangan tak berwujud tersebut. Bahkan banyak para jago yang kemudian bisa menemukan kesadarannya dengan dengungan suara Ceng Liong yang menelusup diantara sanubari dan kesadaran mereka yang dirusak oleh sebuah kekuatan hitam.

Sebuah kekuatan sihir yang mempengaruhi orang dari jarak tertentu dengan menghilangkan kesadaran orang hingga mirip orang tidur dalam jangka waktu tertentu. Meskipun hanya pertandingan melalui ilmu tidak lumrah dan tidak kelihatan oleh mata, tetapi pertarungan tadi sebetulnya sangat menentukan nasib banyak orang.

Dan nampaknya, penyerang dengan kekuatan hitam tadi menyadari bahwa memang ada seorang jago dari kelompok yang diserangnya yang sanggup menawarkan kekuatan hitam yang dilancarkannya tadi. Hal yang tentunya sangat mengagetkan hatinya dan tidak menyangka ada yang bisa meladeninya di tempat itu.

“Hm, tidak disangka ada seorang sahabat yang sanggup menahan kekuatan ilmu pengendali tidur orang di daerah Tionggoan. Hebat-

hebat, mudah-mudahan kita bertemu dilain waktu dan kesempatan. Anggaplah ini salam perkenalan kita” sebuah suara mendengung mirip suara Ceng Liong bergema dan dengan jelas tertangkap semua terlinga para jago yang sudah siuman karena bantuan suara Ceng Liong tadi.

Mereka menjadi kagum atas kekuatan pengendali dari penyerang dan bertanya-tanya, siapa gerangan yang telah membantu mereka. Tidak ada seorangpun yang mengetahui kalau suara yang membantu mereka adalah suara Ceng Liong, karena memang dalam getaran mujijat semacam itu, maka wibawa suara berubah menjadi sangat dominant, bahkan mengetuk sampai kesanubari orang.

Setelah beberapa saat ternyata tidak ada lagi gangguan, nampak kemudian Pengemis Tawa Gila mengumumkan:

“Cuwi enghiong, nampaknya bahaya telah lewat. Sebaiknya kita kembali mengendorkan syaraf. Kita mengucapkan terima kasih kepada Kiang Ceng Liong yang membuyarkan kekuatan hitam tadi dan menyadarkan banyak dari kita akan akibat tidur kita yang tidak bisa kita kuasai. Lebih baik kita beristirahat sampai pagi”

Apa yang disampaikan Pengemis Tawa Gila tentu saja mengagetkan banyak orang. Terutama mereka yang pernah mendesak Ceng Liong meletakkan jabatan bengcu. Tidak mereka sangka bila Ceng Liong ternyata begitu ampuh, bahkan bisa melawan pengaruh hitam dan membebaskan mereka dari cengkeraman Ilmu Hitam itu.

Tapi, tidak sedikit juga yang beranggapan itu hanyalah strategi Pengemis Tawa Gila untuk meningkatkan kualitas seorang Ceng Liong. Karena itu, kekaguman dan keraguan terhadap Ceng Liong tetap

berkecamuk diantara sebegitu banyak orang itu. Terlebih, karena Ceng Liong sendiri tidak pernah tampil menonjolkan diri. Atau mempertunjukkan kepandaiannya ditengah banyak orang itu.

Sementara itu, para jago muda sama sekali tidak melonggarkan kesiagaan mereka bahkan sampai dengan fajar menyingsing menyongsong pagi hari. Mereka dalam keadaan berwaspada sambil bersamadhi dan mengontrol sekeliling peristirahatan para jago untuk memastikan keamanan.

Sementara Ceng Liong bergantian dengan Tek Hoat dan terutama Mei Lan berkali-kali melakukan penyelidikan sekeliling lokasi tersebut untuk memastikan tiadanya serangan gelap lawan. Memasuki pagi hari mereka kemudian melakukan percakapan dengan Pengemis Tawa Gila dan Kun Lun Ciangbunjin atas perkembangan terakhir dan meminta kesiagaan penuh untuk melanjutkan perjalanan.

Terutama hal ini disebabkan medan yang akan dilalui relatif jauh lebih memudahkan penyerang untuk melakukan penyerangan secara bergelap. Dan dengan tiadanya gangguan pada tahap pertama perjalanan, kemungkinan besar karena dipusatkan dalam perjalanan tahap kedua. Hal itu bisa dipastikan, karena sejauh ini, serangan yang dialami dilakukan secara enteng dan tidak begitu membahayakan.

Menjelang perjalanan dilanjutkan kembali, bergabung Bu Tong Ciangbunjin dan Jin Sim Todjin yang berjalan bersama 18 Pendeta Siauw Lim Sie yang tergabung dalam Lo Han Tin. Kedatangan mereka semakin memperbesar kekuatan dan keyakinan para jago yang merasa semakin bisa melakukan perlawanan.

Sementara itu, atas persetujuan Ceng Liong, Liang Mei Lan dengan didampingi oleh Kakaknya Liang Tek Hoat telah melakukan perjalanan mendahului rombongan. Dan tidak lama kemudian, Ceng Liong dengan mengajak tiga jago dari Cap it Hohan menyusul setelah memberi atau membagi tugas dengan Pendekar kembar agar mendampingi rombongan bersama dengan barisan 6 Pedang.

Ceng Liong percaya penuh atas kemampuan Mei Lan dan Tek Hoat, tetapi tugas penghubung kali ini diperankannya sendiri. Karena dengan berada di tengah, memudahkannya untuk melakukan pengawasan atas rombongan di belakang dengan tugas perintis dan pengintaian yang dikerjakan kedua kakak beradik itu.

Pada mulanya Mei Lan ingin melakukan pengintaian sendirian dan disetujui Ceng Liong yang mengenal kehebatan ginkang Mei Lan yang bahkan mengatasi mereka semua. Boleh dibilang ginkang tertinggi sekarang dikuasai Liong-i-Sinni berdua dengan muridnya ini, murid bersama dengan Pek Sim Siansu.

Tetapi, Tek Hoat yang mengkhawatirkan adiknya juga meminta ijin melakukan hal yang sama, tetapi titik berat ke perintisan. Ceng Liong menyetujuinya karena takut akan racun, selain juga dalam dasar hatinya terdapat kekhawatiran atas keselamatan Mei Lan. Gadis yang semakin menjerat hatinya, oleh cinta dan oleh rasa bersalah atas gadis lain yang belum ditemukannya.

Semakin mencintai Mei Lan, semakin sakit hatinya karena menyadari bahwa hal tersebut nyaris mustahil terjadi. Dan karena itu pula dia memilih berada di tengah untuk mengetahui perkembangan di depan dan di rombongan.

Tek Hoat yang mendampingi adiknya, sebetulnya bukan hanya ingin menjaga adiknya, tetapi juga ingin melewatkan waktu berdua dengan adiknya untuk beberapa hal. Terutama, dia ingin memastikan apa benar dugaannya bahwa adiknya nampaknya menaruh hati kepada Ceng Liong dan ingin meminta bantuan adiknya untuk menjalin hubungannya dengan Giok Lian.

Tetapi karena malu memulai menanyakan prihal Giok Lian, maka dia memulai dengan menanyakan persoalan Mei Lan sendiri. Tetapi, gaya khas dan pengenalan akan adiknya membuat dia membawa suasana percakapan menjadi ringan dan seperti lelucon:

“Hahahaha, Lan Moi, nampaknya kokomu ini menangkap ada sinyal aneh antara engkau berdua dengan Liong Ko. Hayo, kamu mesti mengakui dulu kepada kakakmu ini, biar kakakmu bisa membantu”

Tidak diduga, Mei Lan malah menanggapi dengan serius, dan bukannya marah. Hal yang membuat Tek Hoat sadar bahwa yang dihadapinya bukan lagi Mei Lan 15 tahun lalu, yang selain sangat menyayanginya, juga tergantung padanya.

Seperti saat ini, Mei Lan ternyata menanggapi serius, dan memang hatinya sedang gundah ingin membagi rasa pepat dan masalahnya dengan orang terdekat. Siapa lagi jika bukan kakaknya, Tek Hoat.

“Koko, apakah aku salah jika mencintainya”?

Pertanyaan yang mengagetkan Tek Hoat. Dan dia yakin akhirnya, kalau memang benar adiknya menaruh hati kepada Ceng Liong. Dia bahagia dan bangga mendengarnya. Mengapa pula itu dikatakan salah?

“Lan Moi, kokomu akan heran bila engkau tidak mengakuinya. Dan, kokomu ini juga bahagia, karena pasti tidak salah melihat bahwa Ceng Liong juga menaruh perasaan yang sama terhadapmu”

“Ach, tapi, dia lebih sering kelihatan serius dan seperti tidak balas mencintaku koko, makanya sering aku bingung”

“Tidak usah bingung Lan Moi, kakakmu tidak akan keliru mengatakan bahwa Ceng Liong juga memiliki perasaan yang sama”

“Kadang aku memang yakin dia juga demikian koko, tetapi sering dia terlihat misterius dan seperti menyembunyikan sesuatu”

“Apapun yang disembunyikannya, dia tak sanggup menyembunyikan perasaannya atas kamu Lan Moi. Soal itu, kamu tenang saja, kokomu juga akan membantumu”

“Apa betul begitu koko” suara Mei Lan terdengar sedikit antusias dengan tawaran bantuan kakaknya.

“Mengapa tidak, Ceng Liong juga manusia yang punya perasaan, termasuk cinta”

“Tapi, koko, jangan bikin adikmu ini malu nantinya ya”

“Bagaimana mungkin seorang kakak mempermalukan adiknya”? Lagipula, bagi kita Ceng Liong bukanlah orang lain lagi Lan Moi”

“Iya koko, tapi masalah percintaan kan tidak boleh kalau dipaksakan” desis Mei Lan.

Mendadak Tek Hoat yang memiliki pendengaran dan perasaan yang tajam berhenti. Mei Lan yang sedang terpecah konsentrasinya akibat percakapan masalah cintanya berkurang jauh kewapadaannya.

“Perlahan Lan Moi, nampaknya ada gerakan-gerakan yang terasa agak berat langkah atau hmmm, malah larinya menuju kearah kita”

“Benar koko, dan nampaknya sebentar lagi akan tiba di tempat ini” jawab Mei Lan setelah menemukan kembali kewaspadaannya.

“Biarlah kita menunggu ditempat ini, entah siapakah mereka gerangan”

Tidak berapa lama kemudian benar, dari kejauhan nampak 2 bayangan tubuh manusia bergerak pesat mendekat kearah mereka. Tapi langkah lari mereka nampaknya tidak leluasa, sepertinya keduanya sedang terluka.

Dan luka mereka yang membuat lari mereka semakin lama nampak semakin melamban. Tetapi, yang membuat Mei Lan kaget, ketika semakin dekat dia mengenali kedua orang itu sebagai Beng San Siang Eng atau Sepasang Pendekar dari Beng San. Keduanya adalah Pouw Kui Siang dan Li Bin Ham, sepasang Pendekar budiman dari golongan putih yang sangat terkenal keramahan dan kesaktiannya.

Sangat mengagetkan mendapati keduanya dalam keadaan terluka dan nampaknya sedang berusaha menghindari kejaran orang tertentu. Begitu tiba di dekat kedua anak muda itu, langkah kaki keduanya otomatis melambat dan memandang penuh curiga. Tetapi, begitu mengenali meski sangat sepintas Liang Mei Lan, keduanya saling pandang ragu. Belum lagi mereka bicara, Mei Lan sudah menyapa mereka ramah:

“Lupa lagikah jiwi locianpwe terhadap tecu Liang Mei Lan”?

“Ach, orang sendiri. Tapi, kita tetap harus menyingkir” Li Bin Ham yang lebih muda berusaha mengajak Tek Hoat dan Mei Lan menyingkir dan nampaknya diiyakan oleh saudaranya yang lebih tua, Pouw Kui Siang.

“Jiwi locianpwe lebih baik beristirahat. Jika berkenan, ceritakan apa yang sedang terjadi kepada tecu” Mei Lan membujuk, selain melihat keadaan Beng San Siang Eng memang nampak terluka dan butuh istirahat banyak.

“Waktunya tidak banyak. Tapi sebaiknya begini, Li Sute ceritakan kejadiannya dan informasinya kepada kedua anak muda ini, biar disampaikan kepada para jago. Biar kita menghambat para perusuh itu” Pouw Kui Siang berkata penuh semangat.

“Jiwi locianpwe, apa sebenarnya yang terjadi”? Mei Lan menjadi semakin curiga denga keadaan kedua orang ini

“Nona Mei Lan, sampaikan kabar kepada para jago yang kabarnya sedang turun dari Siauw Lim Sie. Perjalanan kedepan sangat banyak jebakannya, baik serangan gelap maupun jenis serbuan lain yang disiapkan Thian Liong Pang.

Bahkan kabarnya, sebagian besar kekuatan mereka diturunkan guna menghadang dan menghabisi para jago yang turun dari Siauw Lim Sie. Dan sepanjang perjalanan hari ini dan seterusnya, mereka menyiapkan sejumlah serangan terhadap para jago. Kekuatan inti mereka bahkan ditumplekkan di sekitar sini, terutama 2-3 jam perjalanan kedepan” Li Bin Ham menjelaskan dengan terburu-buru, sementara Pouw Kui Siang dengan berhati-hati selalu memandang kebelakang. Seakan dia sedang menunggu sesuatu.

Mengawal Tokoh-Tokoh Dunia Persilatan (4)

Kemudian terdengar dia bicara:

“Nona Mei Lan, itulah garis besar informasi yang kami bawa. Nah, karena nona lebih segar, sebaiknya nona segera membawa informasi itu ke para jago. Biarkan kami merintangi para pengejar kami yang berusaha menghambat kami menjumpai para jago”

Begitu selesai Pouw Kui Siang bicara, terdengar sebuah suara lirih dari jauh, tetapi seakan sangat dekat dengan mereka. Terdengar lirih namun dingin dan penuh ancaman.

“Hm, jangan harap ada yang akan mampu meninggalkan tempat ini”

“Ach, mereka akan segera tiba. Kedua anak muda, segeralah pergi. Kami mempertaruhkan keselamatan kami untuk informasi ini” Pouw Kui Siang mendesak.

“Hm, jiwi Locianpwe, sebaiknya beristirahat, biarkan kami menunggu mereka. Memang kami sedang memburu para perusuh itu” Tek Hoat yang biasanya ramah, sudah menjadi marah melihat keadaan luka kedua pendekar budiman yang namanya sudah kesohor dan dia kenal itu.

“Anak muda, tapi kami mempertaruhkan nyawa kami agar informasi itu sampai ke para jago. Bukan saatnya kita unjuk kekuatan dan info itu kemudian raib”

“Locianpwe, jangan khawatir. Kami sudah memutuskan untuk memburu balik para perusuh itu, dan kami sudah lebih dari siap. Kami berdua adalah barisan perintis yang mendahului rombongan besar”

bisik Tek Hoat dengan suara lrih kepada kedua pendekar budiman tersebut.

Beng San Siang Eng memandang terbelalak kearah Tek Hoat dan Mei Lan. Dan keduanya heran melihat sepasang muda-mudi yang rada mirip wajahnya itu bersikap sangat tenang, penuh percaya diri dan nampaknya berisi.

Tetapi, mereka masih tetap belum yakin akan kemampuan mereka melawan para pengejar yang rata-rata sakti mandraguna itu. Tapi, sebuah ingatan melayang dan cepat Pouw Kui Siang sudah memaklumi siapa anak muda berpakaian biru, bersikap tenang dengan wajah ramah itu:

“Anak muda, jika tak salah engkau adalah murid yang tehormat locianpwe Kiong Siang Han, dan merupakan anak kedua dari Pangeran Liang di Kota Raja. Hm, Li Sute, mata kita sudah nyaris buta. Baiklah, mari kita songsong mereka” Pouw Kui Siang bangkit semangatnya. Dan nampaknya Li Bin Ham juga terbangkit semangatnya oleh suhengnya yang dengan tepat mengenali Tek Hoat.

Tapi terdengar Tek Hoat berkata:

“Jiwi Locianpwe sebaiknya beristirahat sejenak. Kumpulkan semangat dan pusatkan kembali kekuatan dalam. Akan sangat bermanfaat untuk mengembalikan dan memusatkan tenaga dalam, meski belum menyembuhkan luka dalam secara keseluruhan. Biarkan kami berdua melawan orang-orang yang datang itu” Tek Hoat berbisik.

“Koko, mereka datang berenam nampaknya” bisik Mei Lan. Dan benar saja, sekejap kemudian dihadapan mereka telah berdiri 6 orang dengan siap sangat menyeramkan. Nampaknya seorang yang

berpakaian dan berkerudung putih yang memimpin para pendatang yang dengan sangat pesat tiba dihadapan Mei Lan berempat.

“Ya, mereka berenam, dan nampaknya bersikap buas-buas. Mereka lebih mirip disebut binatang daripada manusia Lan Moi” Tek Hoat sudah menyambut kedatangan mereka dengan ejekan yang disambut dengan jengekan dingin oleh para pendatang. Nampaknya mereka irit bicara.

“Hm, kami butuh dua orang itu” Si kerudung putih berbicara lirih, dan nampaknya dia yang mengeluarkan suara lirih tadi meski masih di kejauhan. Dari sini, Tek Hoat dan Mei Lan sudah bisa mengukur, betapa hebat lawan kali ini.

“Sayangnya, kalianpun butuh kami berdua. Karena semua informasi sudah kami pegang, hahahahahaha” Tek Hoat masih sempat-sempatnya tertawa.

“Atau lebih tepat lagi, kamipun jadi butuh kalian” timpal Mei Lan

“Hm, benar. Kalian berduapun harus kami bawa. Kalian bersiaplah” Si kerudung putih kemudian mengibaskan tangannya, dan dengan segera kelima pendatang yang menyertainya bergerak mengurung Tek Hoat dan Mei Lan. Apabila kelima orang berwajah dingin dan garang itu memandang enteng muda-mudi yang mereka kurung, maka si kerudung putih nampak lebih awas. Ketenangan Tek Hoat dan Mei Lan menggugah kewaspadaannya.

Karena itu dia berkata: “Hati-hati, nampaknya kedua orang ini malah lebih berisi” Serentak kemudian kelima manusia garang itu menggerang dan membuka serangan kearah Mei Lan. Tetapi semua tamparan, totokan

dan sodokan mereka terlampau gampang dihindarkan Mei Lan. Bahkan beberapa kali tendangan dan pukulan dari pengeroyoknya dengan mudah dikelit atau sesekali disampoknya. Dan beberapa gerakan kemudian yang nampak mudah, membuat kelima pengeroyoknya menjadi semakin garang dan murka.

Tetapi, kemurkaan mereka malah membuat Mei Lan menjadi semakin santai mempermainkan mereka. Gerakannya menghindar dan berkelit benar-benar membuat frustasi kelima penyerang itu, selain terlalu licin, juga terlalu gesit dan tak terimbangi. Keadaan perimbangan perkelahian itu membuat si kerudung putih sangat terkejut.

Dia tahu betul taraf kepandaian kelima orangnya bila maju bersama. Bahkan mereka berlimapun hanya sedikit dibawah kemampuan Beng San Siang Eng yang tersohor itu. Tapi sekarang, menghadapi si anak gadis yang mungil itu, kelima orang itu malah seperti anak-anak yang sedang berlari-lari mengejar orang dewasa yang memegang permen mempermainkan mereka.

Wajah Mei Lan malah terlihat santai dan sesekali memperlihatkan wajah yang meremehkan dan terasa unsur kasihan darinya karena kelima penyerangnya tak mampu mendekatinya. Menjadi lebih kaget lagi, baik kelima penyerang maupun si kerudung putih, karena ketika terpaksa menangkis, Mei Lan membuat dorongan tenaga yang keluar dari tangannya sanggup bahkan mengimbangi gabungan tenaga kelima lelaki berangasan itu.

Melihat kedigdayaan Mei Lan, si kerudung putih merasa bahwa tugasnya mengenyahkan Beng San Siang Eng mendapatkan

hambatan serius. Karena itu, tiba-tiba dia bersiut nyaring yang melahirkan gelombang suara yang melengking.

Dan sejurus dengan itu, dia berkata kepada kelima kawannya, “gunakan pedang dan habisi gadis itu”. Sementara dia sendiri kemudian tanpa melirik Tek Hoat kemudian melakukan sebuah serangan cepat, bukan kearah Tek Hoat tetapi kearah Beng San Siang Eng yang telah memasuki tahapan akhir dari proses penyembuhan mereka.

Tetapi, secepatnya si kerudung putih menyerang, secepat itu pula Tek Hoat mengulurkan tangannya, dan meluncurlah serangkum angin serangan yang sangat tajam mencicit kearah si kerudung putih. Tek Hoat menyadari bahwa si kerudung putih bukan tokoh sembarangan, karena itu, sudah langsung dikerahkannya tenaganya mengikuti jurus Toa Hong Kiam Sut yang menyemburkan tenaga sejenis Kiam Ciang (Tangan Pedang) kearah si kerudung putih.

Mendapat serangan tersebut, si kerudung putih terkejut, gusar dan penasaran. Karena itu dengan sangat terpaksa si kerudung putih menunda serangannya kearah Beng San Siang Eng dan kemudian menyambut serangan Tek Hoat:

“Cussssss, sret – sret” benturan tenaga mereka bagaikan bertemunya dua tenaga dengan daya iris yang tajam. Karena tenaga Kiam Ciang (tangan pedang atau hawa pedang) Toa Hong Kiam Sut sudah dipapak oleh tenaga dalam lawan. Tetapi, si kerudung putih jadi terperanjat, tidak pernah disangkanya anak muda yang masih belia itu sanggup menahan terjangan tenaganya dan bahkan mampu membuatnya terdorong mundur 2 langkah.

Sementara Tek Hoat masih berdiri tenang-tenang saja seakan tiada sesuatu yang terjadi. Lebih menyebalkan, karena dibibirnya tersungging senyuman. Bahkan kemudian terdengar Tek Hoat berkata:

“Maaf, bila terpaksa kami yang akan berusaha menahan kalian disini. Ada banyak hal yang perlu kami tahu dari kalian” jengek Tek Hoat.

“Meski kamu hebat, tetapi masih belum memadai merendengi pemimpin kami. Bahkan dengankupun, belum tentu engkau bisa memenangkan dengan mudah” dan seusai bercakap demikian, si kerudung putih kali ini malah maju menyerang Tek Hoat. Serangannya kali ini jauh lebih dalam dan lebih tajam dibandingkan sebelumnya.

Dari kedua tangannya mendesis-desis serangan yang mengarah ke sekujur tubuh Tek Hoat. Diam-diam Tek Hoat sendiri mengagumi kesaktian lawannya, sambil gegetun karena ternyata demikian banyak pesilat tangguh di Thian Liong Pang.

Dengan tenang Tek Hoat menyambut setiap terjangan si kerudung putih yang seperti membadai. Tetapi, gerakan kaki Tek Hoat cukup lincah untuk menghindari serangan-serangan berbahaya tersebut, atau terkadang menyentil serangan si kerudung putih.

Dari gerakan yang matang, nampak sederhana namun efektif, bisa ditebak jika Tek Hoat kali ini sudah jauh berbeda dengan Tek Hoat yang tampil ketika membersihkan Kay Pang. Tempaan Kiong Siang Han menjelang kematian, serta penyempurnaan Kiang Sin Liong, dua tokoh ajaib masa kini, telah mematangkan anak muda ini.

Karena itu, dengan gerakan-gerakan sederhana dari perbendaharaan ilmu Kay Pang, dengan mudah dia mengelit dan

menyentil pergi setiap pukulan dan tendangan yang mengarah ke tubuhnya.

Sementara itu, Mei Lan juga sudah berada di atas angin. Dan perkelahiannya dengan kelima pengeroyoknya nampak berlangsung santai bagi Mei Lan. Perbedaan tingkat penguasaan ilmu masih sangat jauh, meskipun kelima orang itu sudah sanggup menahan dan sedikit mengimbangi Beng San Siang Eng, tetapi menghadapi Mei Lan mereka mati kutu.

Bahkan ketika mereka menggunakan pedang sekalipun dan menyerang habis-habisan, Mei Lan justru tetap dengan sabar dan tenang menghadapi mereka. Bahkan, sesekali dengan berani dia menyentil pergi ujung pedang lawan dengan mengandalkan kekuatan jemari tangannya. Hal itu mengakibatkan kelima lawannya menjadi ngeri dan takjub.

Masakan bocah semacam ini memiliki kemampuan yang tidak lumrah? Sungguh heran dan ngeri karena baru sekali ini mereka berjumpa lawan yang demikian tangguh yang sanggup mempermainkan mereka dengan demikian mudahnya.

Di lain tempat, setelah beristirahat beberpa ketika, Beng San Siang Eng menjadi lebih bugar dan merasa mulai mampu menyembuhkan luka mereka. Karena itu, mereka menyudahi upaya penyembuhan dan tinggal butuh istirahat lebih banyak semata. Ketika mereka kemudian siuman dan bermaksud untuk membantu muda-mudi yang melindungi mereka, justru membuat mereka sangat terkejut.

Mereka menyaksikan ketenangan, kegesitan dan ketangguhan kedua anak muda putra teman mereka Pangeran Liang. Awalnya

mereka mengira, Mei Lan hanya hebat ginkangnya saja. Tetapi, ketika melihat anak gadis itu berani menyampok dan menyentil ujung pedang lawan, tiba-tiba mereka menjadi sadar dan malu sendiri.

Demikian juga ketika melihat Tek Hoat yang melawan si kerudung putih yang lebih lihay, tetapi melayaninya dengan tidak kekurangan satu apapun, malah nampak sangat mendominasi perkelahian.

Ketika kedua orang pendekar budiman ini masih ternganga heran melihat kedua muda-mudi ini mempermankan lawannya, tanpa sepengetahuan mereka berdua, di belakang mereka telah berdiri seorang anak muda lain. Berpakaian hijau dan nampak sangat kokoh dan berwibawa. Bahkan tak lama kemudian terdengar suaranya yang mengagetkan Kui Siang dan Bin Ham:

“Lan Moi, Tek Hoat, sudah saatnya menghentikan pertempuran. Di depan sana kelompok yang jauh lebih besar dengan jumlah tokoh lihay yang banyak sedang menanti kita. Tapi kita membutuhkan informasi dan keterangan mereka”

“Baik Koko” Mei Lan yang dengan cepat menyadari siapa yang bicara sudah dengan cepat merubah Ilmu silatnya. Kali ini, tidak lagi menghindar, tetapi justru menyerang dan mencecar kelima lawannya dengan menggunakan Thai Kek Sin Kun.

Tetapi tenaga pukulan terkandung Pik Lek Ciang, yang dengan cepat merubah suasana pertempuran. Bahkan tidak beberapa lama kemudian, 2 orang lawannya sudah terkena sambaran tenaga dalamnya dan terpental jatuh sulit bangun lagi, terluka. Dan sejurus kemudian, terdengar dentingan kecil diikuti melayangnya sebuah

Pedang dan salah seorang kembali terjatuh, tapi kali ini dalam keadaan tertotok.

Setelah 3 lawannya dikuasai, seorang tertotok, dua lawan sisanya berusaha keras untuk menggempur dan membuka jalan lari. Tetapi kemanapun mereka bergerak, kecepatan Mei Lan tidak sanggup mereka tandingi. Dalam keadaan terdesak seperti itu, sebelum mereka kena dipukul Mel Lan, tiba-tiba tubuh mereka merosot jatuh, dan dengan sangat cepat wajah mereka berubah menghijau, dan sekejap kemudian tewas.

Nampaknya seperti biasa mereka membunuh diri karena gagal dengan menggunakan racun yang telah berada di mulut mereka.

Sementara itu, setelah melihat Mei Lan berhasil menotok salah seorang lawan, Ceng Liong berpaling kearah Beng San Siang Eng dan kemudian berkata:

“Mohon bantuan jiwi locianpwe untuk menginformasikan kekuatan lawan yang berada di depan. Biarlah siauwte yang berada disini membantu kedua kakak beradik yang mendapat tugas sebagai pelopor dan pembuka jalan. Dari sini, kurang lebih sejam berjalan kaki, jiwi locianpwe akan bertemu dengan rombongan yang dipimpin Hu Pangcu Kay Pang dan Kun Lun Ciangbunjin. Siauwte sendiri sudah menyaksikan kekuatan di depan itu”

“Siapakah anda, anak muda”? Pouw Kui Siang bertanya heran melihat anak muda yang kedatangannya tidak mereka ketahui, tetapi yang pasti memiliki hubungan baik dengan Mei Lan dan Tek Hoat.

“Dia adalah Kiang Ceng Liong, Bengcu yang baru dipaksa para jago meletakkan jabatan. Jangan khawatir jiwi locianpwe, dia bahkan masih

lebih hebat lagi” Mei Lan memperkenalkan Ceng Liong sambil tersenyum memandang Beng San Siang Eng dan Ceng Liong yang menjadi risih diperkenalkan dengan cara demikian.

“Ach, penghuni Lembah Pualam Hijau rupanya. Maaf, jika kami pangling”

“Bukan sekedar penghuni, sekarang dia adalah Duta Agung Lembah, pemilik Lembah itu” tambah Mei Lan dengan kandungan rasa bangga dalam suaranya.

“Maaf, jika demikian kami sedang berhadapan dengan bengcu Tionggoan” suara Li Bin Ham terhenti

“Ach, sudahlah jiwi locianpwe. Memang tecu adalah Duta Agung Lembah kami, tetapi sebagai Bengcu, sebagaimana ucapan nona Mei Lan, sudah tecu tanggalkan”

“Tepatnya, dipaksa para jago yang merasa hebat itu untuk meletakkan jabatan” Mei Lan yang masih penasaran bagi Ceng Liong menegaskan.

“Bagaimana ini, bagaimana ceritanya Bengcu”? Kui Siang bertanya heran dengan kening berkerut

“Sudahlah jiwi locianpwe, nanti Pengemis Tawa Gila akan menjelaskan semuanya, Kita perlu bergerak cepat” Ceng Liong memotong yang kemudian dianggukkan Kui Siang.

“Baiklah, jika demikian kami akan menemui dan berbicara dengan mereka. Kami berangkat” Kui Siang dan Bin Ham kemudian berangkat menemui para jago.

Mengawal Tokoh-Tokoh Dunia Persilatan (5)

Sementara itu, Tek Hoat sendiri sudah mendesak habis lawannya. Dia telah menggunakan salah satu ilmu kebanggaan perguruannya, yakni Sin Liong Cap Pik Ciang – Pukulan Naga sakti, yang telah mendesak lawannya.

Sebetulnya kepandaian si kerudung putih tidak berada di bawah See Thian Coa Ong ataupun Pek Bin Houw Ong, para datuk sesat itu. Tetapi, dengan kemajuan yang dicapai Tek Hoat akhir-akhir ini, kelihayannya yang sudah berlipat itu tak sanggup diimbangi si kerudung putih.

Melihat jalan keluarnya semakin menipis, tiba-tiba si kerudung putih menjadi nekat. Dengan segenap kekuatannya diterjangnya Tek Hoat, tetapi tidak sangugp memberi sedikit peluang dan angin baginya untuk kabur. Apalagi dia melihat Ceng Liong telah menutup jalan kaburnya. Dalam keputus asaannya dia bekakakan dan berteriak:

“hahahaha, tidak ada yang bisa kalian dapatkan dariku”

Dan sejurus kemudian, orang itupun kemudian menghembuskan nafas pesis seperti anak buahnya dengan jalan minum racun. Ceng Liong memburu kedepan, tetapi tetap tak sanggup mengembalikan nyawa si kerudung putih:

“Ah sayang, padahal orang ini nampaknya banyak mengetahui organisasi Thian Liong Pang. Kita terlambat” Ceng Liong mengeluh

“Maaf, Liong ko, aku tidak menduga dia akan bunuh diri” Tek Hoat menyesali

“Tidak apa-apa, betapapun kita masih punya tawanan yang lain”

================

Ceng Liong nampak menarik nafas panjang. Tidak ada yang didapatkannya dari tawanan mereka melebihi dari yang sudah disaksikannya. Bahkan dia sudah mengerahkan I Hun To Hoat untuk mempengaruhi kesadaran sang tawanan, tapi memang tak ada yang rahasia yang dketahuinya.

Kecuali bahwa di kalangan Thian Liong Pang si kerudung putih merupakan 1 diantara 12 Utusan Kerudung Putih dan berendeng dengan 12 Utusan Kerudung Hitam. Masing-masing, Utusan Kerudung Putih dan Hitam memiliki majikan dan meurpakan tokoh yang masih misterius dan bahkan tidak dikenal anggota Thian Liong Pang.

Semua anggota Thian Liong Pang membekal racun di mulutnya, tetapi anggota taklukan dari perguruan silat lain, rata-rata tidak membekalnya karena tidak memiliki rahasia yang perlu diketahui orang.

Jikapun ada keuntungan dari tawanan itu, hanya informasi yang menjadi semakin jelas soal struktur Thian Liong Pang. Yakni mereka memiliki 4 Pelindung Hukum yang sudah dikenal, dan kepandaiannya sungguh menggiriskan hati: Bouw Lim Couwsu, Bouw Lek Couwsu, Kim-i-Mo Ong dan Koai Tung Sin Kay – ke empat maha iblis yang sangat ditakuti.

Selain itu, rupanya mereka memiliki 3 Hu Hoat, yang dua diantaranya sudah dikenali, yakni Tibet Sin Mo Ong, dan Hu Hoat Pertama yang sudah dua kali bertanding melawan Mei Lan. Kekuatan ke-enam orang ini saja sudah sangat luar biasa, belum lagi mereka

ditopang oleh 12 Utusan kerudung hitam dan 12 Utusan kerudung putih yang memiliki kepandaian rata-rata selihat See Thian Coa Ong.

Dan di atas 12 Utusan itu, bahkan berdiri Majikan Kerudung Putih dan Majikan kerdudung hitam sebagai pendamping kiri dan kanan Pangcu Thian Liong Pang yang masih tetap misterius. Sampai dimana kesaktian Pangcu Thian Liong Pang dan kedua pengiringnya, sungguh sulit untuk diperkirakan.

“Tek Hoat, Lan Moi, sungguh riskan untuk menembus hadangan di depan sana. Kekhawatiran soal serangan gelap, serangan racun, dan serangan keji lainnya sungguh sulit diperkirakan. Belum lagi, sulit bagi kita untuk memperhitungkan jumlah kekuatan lawan. Aku berpikir, kita berjalan lebih dahulu dan menyuruh mundur atau berhenti para jago, dan menakar kemampuan pihak lawan. Artinya kita mencoba untuk menyusup ke daerah musuh. Bagaimana pertimbangan kalian?

“Liong Ko, usul itu layak kita pertimbangkan. Karena jika tidak, korban di pihak kita akan sangat banyak. Mereka bergerak di tempat gelap sedang kita di tempat berterang” Sambut Tek Hoat

“Bagaimana Lan Moi, apakah engkau juga setuju”? Ceng Liong mengerling Mei Lan yang juga sedang memandangnya untuk meminta persetujuan atas usulnya menyusup ke daerah lawan guna menjajaki kemampuan Thian Liong Pang yang disiapkan untuk melawan mereka.

“Aku setuju saja Koko” Mei Lan tiba-tiba kehilangan banyak kata-kata.

“Baiklah, biarlah kita bertiga mencoba untuk menyatroni sarang musuh, dan ketiga Cap It Hohan menyampaikan kabar agar para pendekar jangan bergerak dulu lebih jauh. Tek Hoat, engkau sebaiknya

memberi tahu ini kepada mereka bertiga, dan setelahnya kita berangkat”

Setelah ketiga orang dari Kay Pang Cap It Hohan kembali ke rombongan, akhirnya Mei Lan, Tek Hoat dan Ceng Liong kemudian merundingkan strategi dan cara untuk menyusup kedaerah musuh. Mereka bercakap-cakap sebentar dengan suara lirih dan tidak berapa lama mereka nampak membelah hutan sebelah kiri yang sangat lebat dan tidak mengikuti jalan umum yang sudah disiapkan penghadangannya oleh anak buah Thian Liong Pang.

Tapi, tidak berapa lama setelah ketiga orang itu berlalu, di balik belukar yang lain, sepasang manusia nampak menarik nafas panjang. Nafas keprihatinan. Terdengar keduanya saling berbisik:

“Koko, sebaiknya engkau mengawasi mereka bertiga, dan biarkan pinni yang mengawasi rombongan para pendekar”.

“Baiklah, kita bertemu malam nanti di lingkaran seputar rombongan pendekar itu” Dan setelah itu, kemudian merekapun berlalu. Berlalu seperti terbang saja layaknya, ringan, pesat dan bukan main hebatnya kemampuan mereka. Yang seorang nampak menyusul ketiga pendekar muda dan yang seorang lagi, laksana terbang layaknya menyusul Ketiga orang dari Kay pang Cap It Hohan.

Sementara itu, setelah membelah hutan selama sekitar setengah jam, ketiga Pendekar Muda itu nampak kemudian mengambil jalan sejajar kearah jalan yang mereka tinggalkan tadi. Mereka berusaha untuk memutar dan menyelidiki keadaan para penghadang.

Tetapi, baru saja mereka berbelok kearah kanan, firasat mereka merasakan ada sesuatu yang aneh, tidak jauh dari tempat mereka berbelok arah tadi. Ceng Liong adalah yang duluan menyadari adanya “sesuatu” itu, dan karenanya tiba-tiba dia behenti melangkah.

Dan tiba-tiba dia memalingkan wajahnya kembali kearah dimana mereka berbelok tadi, dan …….. sanubarinya berdetak aneh. Disana ….. tepat di bawah sebatang pohon yang luar biasa besarnya, sosok mahluk aneh dengan potongan yang juga aneh sedang berdiri. Tidak salah lagi, orang itu pastinya sudah tua sekali, atau sudah sangat tua malah.

Semakin memandangi orang aneh itu, semakin tidak tentram hati Ceng Liong. Meskipun ketidaktentraman itu bukan karena sesuatu yang berbahaya baginya dan kedua kawannya. Tetapi, seperti ada sesuatu yang sulit untuk diterjemahkan. Kharisma dan wibawa orang tua aneh itu, bagaikan tak tertahankan bagi mereka bertiga, entah bagaimana.

Orang tua itu, nampak sama rentanya dengan guru-guru mereka bertiga. Cuma, orang tua yang satu ini nampak berbeda dan sangat aneh. Rambutnya yang juga sudah memutih, nampak bergelombag-gelombang aneh dan cenderung keriting dengan kulit agak kehitaman. Bisa dipastikan, dia asli bukan orang Tionggoan, besar kemungkinan dari India.

Tetapi, ketiga anak muda itu sama sekali tidak bisa menebak dan tidak bisa menerka darimana asal orang tua yang sama sekali tidak memandangi mereka bertiga. Kepalanya dengan rambut aneh yang semua sudah memutih nampak diikat oleh sejenis kain berwarna merah, sebuah destar merah yang menghiasi kepalanya, tetapi tidak

mampu menyembunyikan warna putih warna rambutnya saking tuanya orang itu.

Keheningan melanda keempatnya. Ketiga anak muda itu memandangi orang tua aneh di bawah sebatang pohon besar, tetapi orang tua itu, sama sekali tidak memandangi mereka. Ikat kepala merahnya melambai-lambai mengikuti tiupan angin.

Semua tanpa kata, dan anehnya, ketiga anak muda itu, seperti terpaku ditempatnya. Diam dalam renungan dan khayalan masing-masing. Tetapi ….. dalam kediaman mereka, entah bagaimana bersama-sama mereka seperti mendengar dengungan sebuah suara …. entah darimana datangnya, dan datang serta berlalu bagaikan semilir angin …. “Kecepatan memang perlu ….. sangat perlu …… “Bergerak secepat mungkin memang hebat …. sangat hebat malah “Bergerak secepat angin lebih hebat lagi ….. kemanapun arahnya “Terhebat adalah bergerak lambat tapi cepat, cepat tapi lambat …. “Bergerak dengan hati, bukan dengan pikiran ….. “Mengetahui darimana asal angin dan kemana dia berhembus ….. “Mengerti lebih baik dari tahu, mengalami lebih baik dari mengerti …. ”Selamat tinggal …. datang bagai angin, pergi seperti semilirnya …. “Ada saat angin datang, ada saat angin berlalu ….

Firasat Ceng Liong yang tajam segera membuatnya menyadari sesuatu. Tetapi sayang, dia masih tetap terlambat. Karena orang tua aneh di bawah pohon itu, dengan ikat kepala merahnya yang khas, entah sejak kapan sudah menghilang dari hadapannya.

Dia yakin, orang tua itu yang berbicara kepadanya, meski dia tidak melihat bibir orang tua itu bergerak sedikitpun. Tetapi sesaat kemudian suara itu seperti kembali mendenging di sanubarinya, bukan ditelinganya dan tampaknya juga Tek Hoat mengetahui dan mendengarnya:

“Ada saat bertemu, ada saat berpisah. Memukul tidak dengan benci, menyerang bukan dengan amarah. Bukan untuk melukai, tapi untuk melindungi dan menghidupkan. Pergilah, bila berjodoh pasti bertemu kembali”

Ceng Liong juga Tek Hoat tercenung dan berdiri menjublak, persis seperti Mei Lan yang merasa bahwa suara yang didengarnya tadi pasti adalah pesan untuknya. Pesan soal kecepatan, pasti ditujukan kearahnya, karena memang dia memiliki spesialisasi dan keunggulan dalam bergerak.

Tetapi, pesan soal “bergerak cepat tapi lambat, lambat tapi cepat” membuatnya menjadi bingung. Apalagi ditambah dengan “bergerak dengan hati, bukan dengan pikiran” dan “mengetahui darimana asal angin dan kemana dia berhembus”. Dia memang mengerti sebagiannya, tetapi selebihnya masih sangat gelap. Setidaknya dia tahu, bahwa bergerak cepat tapi lambat, lambat tapi cepat, adalah soal ketepatan atas kebutuhan.

Tidak perlu bergerak secepat petir bila yang dilawan bergerak secepat lesatan seekor burung. Tapi, mengaitkan cepat tapi lambat, lambat tapi cepat dengan kalimat sesudahnya, membuatnya pening.

Sementara itu, Tek Hoat dan Ceng Liong yang juga mendengar pesan soal kecepatan dan gerakan, lebih berkonsentrasi pada pesan

terkahir yang nampaknya ditujukan buat mereka masing-masing. “Memukul tidak dengan benci, menyerang bukan dengan amarah. Bukan untuk melukai, tapi untuk melindungi dan menghidupkan”

adalah alimat membingungkan. Meskipun bagi orang biasa itu sebuah kerumitan tak berujung, tapi bagi Tek Hoat dan Ceng Liong yang cerdas, mereka seperti memperoleh pesan penting, meskipun hanya atau baru setengah bagian yang mampu mereka pahami. Mereka terbiasa dengan pesan-pesan tersamar dari guru mereka.

Mereka terbiasa dengan filsafat yang tinggi dan dalam ajaran guru masing-masing, dan karenanya, sebagian dari pesan si orang aneh bisa mereka mengerti. Apalagi, setelah keduanya pernah mengalami dan melewati proses “memasak” tenaganya mengikuti puisi dalam lembar kertas di gelang Ceng Liong. M

ereka berdua sadar betul, bahwa puisi pertama pasti berkaitan dengan puisi kedua. Memukul, juga bukan soal pikiran mengarahkan kemana, tetapi sama dengan gerakan, seharusnya datang dari hati, dan bukan untuk mematikan, tetapi menghidupkan. Tetapi, pemahaman itu, masih belum sanggup mereka kaitkan dengan Ilmu Silat mereka. Baru dipahami dan dimengerti, tetapi belum tahu bagaimana gunanya bagi tata gerak Silat mereka.

Setelah kurang lebih 10 menit tenggelam dalam lamunan dan berusaha mengurai pesan dari orang aneh yang mereka temui, akhirnya perlahan ketiganya mulai menemukan dirinya masing-masing. Adalah Mei Lan yang belakangan sadar, karena perlahan namun pasti, dia mulai mencerna makna dibalik kalimat bermakna dalam yang diterimanya.

Dia sadar betul, bahwa pesan itu pasti berkaitan dengan kekuatan dan kecepatan ginkangnya. Dan selama ini, dia cenderung menggunakan ginkangnya dengan kecepatan yang kadang jauh melampaui kebutuhan dari seharusnya dia bergerak.

Artinya, sejauh ini, keinginan pamer kekuatan dan kecepatan geraknya mendominasi tata gerak ginkangnya. Pesan tadi, dianggapnya sebagai kritik dan dia sekali lagi mengalami kemajuan dalam pemahaman dan pendalamannya mengenai gerakan ginkangnya.

Padahal, masih ada setengah bagian lainnya yang justru semakin memperdalam ginkangnya, tetapi Mei Lan sendiri belum sampai memecahkannya. Tetapi, setengah bagian saja sudah membuatnya sadar akan banyak hal dan membuatnya sangat gembira. Dan senyum itu ditanggapi Ceng Liong yang segera tahu Mei Lan sudah menemukan kembali kesadarannya:

“Bagaimana Lan Moi, ada sesuatu yang kau pahami”?

“Benar Liong ko, sepertinya ada suara yang menuntunku memahami sesuatu mengenai ilmuku dari nenekmu”

“Baik jika begitu. Apakah engkau juga menerima pesan sejenis Tek Hoat?

“Benar Ceng Liong, tetapi baru setengah bagiannya yang kupahami. Selebihnya masih belum mampu kemengerti”

“Nampaknya kita bertiga mengalami hal yang sama. Nampaknya orang tua aneh itu bermaksud baik bagi kita. Tapi sudahlah, waktunya kita untuk segera kembali bergerak”

“Baik” Tek Hoat dan Mei Lan menyahut berbareng. Dan tidak lama kemudian tiga bayangan orang muda itu, kembali melesat kedepan.

Diiringi tatapan penuh makna dari si orang tua aneh yang kini nampak ditemani seorang tua lainnya, meskipun nampaknya usianya masih lebih muda dibanding si orang tua aneh berikat kepala merah. Ada beberapa saat keduanya nampak terlibat perbincangan serius dan dalam. Tetapi, tidak lama kemudian keduanya berpisah. Si orang tua aneh dengan cepat menghilang dari hadapan orang tua yang satu lagi. Dan setelah menghela nafas kagum, ornag itupun kemudian melanjutkan perjalanannya.

Sementara itu, Ceng Liong bertiga semakin meningkatkan kehati-hatian mereka setelah menempuh perjalanan sekitar setengah jam. Karena menggunakan kecepatan gerak, maka jarak tempuh mereka jadi lebih cepat dibanding kawanan pendekar yang menunggu kabar mereka.

“Ceng Liong, firasatku menyebutkan tidak jauh dari tempat ini adalah basis penyerangan mereka” Tek Hoat berbisik lirih

“Benar, akupun sudah merasakannya sejak tadi. Hanya, kita tidak tahu kekuatan mereka. Mungkin kita harus berpencar sebentar untuk mengamati keadaan dari 3 tempat berbeda. Bagaimana?

“Sebaiknya begitu Liong ko. Tapi harus ada isyaratnya untuk bagaimana kita betemu dan dimana”

“Sebaiknya kita tetapkan bertemu ditempat ini lagi setengah jam kedepan”

“Baik, jika begitu”

“Tapi, jika kita bertemu bahaya, maka isyarat siulan kita gunakan untuk saling memberi tahu”

Maka bergeraklah ketiga anak muda itu dengan gesitnya. Mei Lan mengambil arah yang agak memutar, sementara Tek Hoat langsung menusuk ke depan, dan Ceng Liong bergerak mendekati jalan yang akan ditempuh para pendekar. Karena menyadari keadaan yang berbahaya yang sedang dihadapi dan daerah musuh sudah sangat terasa dengan firasat mereka, maka gerakan mereka sungguh sangat berhati-hati.

Tiga arah yang mereka tempuh memang dilakukan dengan berbagai pertimbangan. Jika memang kekuatan mereka besar, maka seharusnya ada basis penumpukan kekuatan itu. Dan itu bisa saja di seberang atau sisi jalan yang satunya lagi, atau, bisa juga disisi jalan yang mereka selidiki saat itu.

Episode 2: Pertempuran2 Di kaki Gunung Siong San

Tapi, pertempuran pertama justru terjadi di dekat lokasi peristirahatan para pendekar Tionggoan. Diluar dugaan Ceng Liong, pengintaian juga dilakukan oleh pihak Thian Liong Pang. Hanya, pengintaian mereka dilakukan untuk memastikan apakah para pendekar akan melakukan perjalanan normal atau tidak.

Jadi bukanlah misi pengintaian. Tetapi, karena kawanan pendekar memilih beristirahat menunggu informasi dari Ceng Liong bertiga, akhirnya utusan Thian Liong Pang yang mengawasi perjalanan para jago, jadi ingin melakukan pengintaian.

Utusan yang terpilih adalah Ciu Lam Hok, pemuda murid Liok te Sam Kwi yang telah mengalami kemajuan pesat setelah dididik keras guru-

gurunya, dan bahkan 2 tahun terakhir menjadi murid kesayangan Kim-i-Mo Ong.

Ciu Lam Hok diutus berdua dengan Gan Bi Kim, salah seorang dari Kelompok Kerudung Putih yang diangkat menjadi murid terakhir Koai Tung Sin Kay 3 tahun terakhir ini.

Ciu Lam Hok sejak kemunculan kembali Kim-i-Mo Ong menjadi beruntung karena merasa suka melihat bakatnya dan terutama kelicikannya. Karena itu, sejak 2-3 tahun belakangan, dia justru dididik secara serius oleh Kim-i-Mo Ong yang tidak lagi menerima murid sejak dikalahkan puluhan tahun lalu.

Sementara Gan Bi Kim, juga memperoleh perhatian dari Koai Tung Sin Kay dan memilihnya jadi murid, meski masih tetap bertugas dalam kelompok Kerudung Putih. Nona ini menjadi andalan utama Majikan Kerudung Putih yang adalah salah satu pelindung Pangcu Thian Liong Pang.

Bahkan di kalangan Kelompok Kerudung Putih, Gan Bi Kim telah menjadi seorang tokoh dengan kepandaian tertinggi, meski masih di bawah majikan Keurudung Putih yang tidak dikenal siapapun. Meskipun baru dididik selama 3 tahun, tetapi karena dasar kemampuan mereka sudah tinggi, membuat kemampuan keduanya dengan cepat melambung cukup tinggi dewasa ini. Bahkan Ciu Lam Hok sudah jauh melampaui 3 orang bekas gurunya yang mendidik dan membesarkannya, Liok te Sam Kwi.

Sayangnya, karena telah merasa berkemampuan tinggi, Ciu Lam Hok menjadi pongah. Justru Gan Bi Kim yang lebih awas, karena lama

dan berpengalaman. sebagai anggota kelompok Kerudung Putih, dia biasa bekerja cermat dan senantiasa bertindak awas.

Adalah Ciu Lam Hok yang sudah merasa hebat yang membuat tugas keduanya bisa terendus orang. Dan adalah Pendekar Kembar dari Siauw Lim Sie yang memergoki kedua orang itu ketika Ciu Lam Hok memaksa untuk mendekati rombongan pendekar dalam jarak lebih dekat. Padahal, sebetulnya sudah lama kedua pendekar muda Siauw Lim Sie menyadari adanya 2 orang pengintai berkepandaian tinggi memasuki area yang bisa mereka pantau.

Sebagaimana kesepakatan dengan Ceng Liong, kedua pendekar muda ini, memang mengawasi sisi kanan dan kiri jalanan dan terpisah tidak terlampau jauh dari rombongan pendekar. Dan adalah Souw Kwi Song yang mampu melacak dan mengetahui upaya mengintai kedua orang ini, tetapi membiarkan mereka terus mendekat sambil mengirim isyarat ke kakaknya dan Giok Lian yang berada di sisi yang sama hanya agak ke belakang.

Benar saja, tidak lama kemudian, kedua orang pengintai, Gan Bi Kim dan Ciu Lam Hok akhirnya melewati tempatnya berjaga tanpa diketahui kedua anak muda utusan yang ingin mengintai itu.

“Jiwi hengte, ada apakah gerangan berjalan-jalan mengendap-endap mencurigakan di hutan ini?”

Suara Kwi Song mengagetkan Ciu Lam Hok dan Gan Bi Kim yang jadi salah tingkah karena tidak tahu disekitar situ ada orang.

“Hahahaha, ataukah kalian sedang pacaran sembunyi-sembunyi takut ketahuan orang tua kalian”?

“Kurang ajar, mengagetkan saja. Apa juga urusanmu disini” Ciu Lam Hok menjadi murka. Tetapi Gan Bi Kim sudah menyadari bahwa ada bahaya mengancam mereka. Fakta bahwa dia tak sanggup mencium keberadaan Kwi Song adalah sinyal bahaya. Sayang Ciu Lam Hok yang masih muda, cetek pengalaman sudah murka duluan.

“Hm, engkau seperti orang pacaran gelap-gelapan yang ketahuan orang. Siapakah engkau”? Kwi Song masih bernada main-main.

“Hm, sombong engkau. Akulah Ciu Lam Hok, orang yang akan memberi hajaran setimpal kepadamu”

“Oooh, setelah ketahuan mau mengintai, kini engkau ingin membungkamku juga”?

“Mengapa tidak, sebaiknya engkau bersiap”

Dan sudah dengan segera Lam Hok bersiap dan mengirim serangan kearah Kwi Song. Karena belum saling mengenal, keduanya menggunakan tenaga secara terbatas dan akibatnya keduanya sama kaget menemui kehebatan lawannya.

Kwi Song memang hanya tergetar karena hanya sekedar mencoba kekuatan lawan, tapi getaran tenaga lawan membuatnya paham bahwa anak muda didepannya itu sangat lihay. Sementara Lam Hok yang tergetar mundur menjadi murka karena lawannya ternyata hebat.

“Hm, jangan sombong, aku belum kalah, Lihat serangan”

Dan meluncurlah serangan Lam Hok dengan menggunakan Kiam Ciang, ajaran khas gurunya 3 Setan Bumi. Hanya, ditangan Lam Hok, ilmu itu seperti berlipat-lipat kali kehebatannya. Belum lagi mengenai sasaran, hawa pedang yang diciptakannya seperti telah mengenai

tubuh lawan, dan sanggup mengoyakkan jubah, bahkan sanggup memotong benda keras sekalipun.

Tapi sayang, lawannya kali ini adalah pemuda gemblengan Kian Ti Hosiang. Digembleng habis-habisan untuk menghadapi tokoh sekelas Kim-i-Mo Ong, sehingga bukan masalah serangan seperti Kiam Ciang.

Tanpa mengerahkan Ilmu mujijat Siauw Lim Sie yang terakhir mereka kuasai, yakni Kim kong pu huay che sen (Ilmu Badan/Baju Emas Yang Tidak Bisa Rusak), dia masih sanggup bertahan. Dengan sebat dia bergerak cepat sambil menyentil Kiam Ciang dengan menggunakan Tam Ci Sin Thong dan menyebabkan Kiam Ciang Lam Hok kehilangan ketajamannya.

Bukan benturan tajam yang terjadi, tapi suara seperti beradunya dua benda tajam yang terdengar, berturut-turut sampai tiga kali adu ketajaman jari tangan dan tangan pedang: cuuuus, cuuuu, cuuuus …..

Dan akibatnya kebali Lam Hok harus mendapati, bahwa anak muda seusianya yang berada dihadapannya sanggup memunahkan serangannya. Bukan, bukan Cuma memunahkan serangannya. Malah memberinya pelajaran, bahwa di kalangan anak muda, dia masih memiliki saingan yang bahkan melebihinya.

Kenyataan ini memukul kesombongan dan tinggi hatinya yang sudah merasa tak terkalahkan di kalangan generasi muda. Maka dengan cepat dikerahkannya Kiam Ciang disertai dengan hembusan hawa beracun Siang Tok Swa. Sementara Kwi Song yang menyadari bahwa anak muda lawannya cukup berisi, segera setelah mencium serangkum angin harum, segera sadar bahwa pukulan lawan beracun.

Sambil mengerahkan kemampuan sinkangnya lebih tinggi guna melindungi tubuhnya dengan Kim kong pu huay che sen (Ilmu ini, dalam tataran tinggi akan membuat orang kebal racun), dan selanjutnya diapun meladeni Lam Hok dengan tenang. Begitu kokoh dan bervariasi gerakan Kwi Song, sampai Lam Hok kehabisan akal dan celah untuk memukul Kwi Song.

Bahkan, Siang Tok Swa juga tidak menghasilkan apa-apa, dan seperti terbentur hawa tak kelihatan yang keluar dari tubuh Kwi Song. Sebaliknya, Tam Ci Sin Thong yang dikeluarkan Kwi Son berkali-kali mengancam Lam Hok dari banyak penjuru. Sungguh sakit rasanya bagi Lam Hok, dia yang sudah kepalang merasa tinggi ilmunya, mendapati kenyataan sangat berat, didesak oleh anak muda yang lain.

Tidak terima, kini dia mengganti ilmunya, memadukan Kiam Ciang dengan Ha Mo Kang. Ilmu ampuh lainnya yang diperoleh dari 3 Setan bumi. Hebatnya tidak main-main, karena kemampuannya bahkan sudah jauh melampaui 3 guru pertamanya itu.

Sambil berkaok-kaok bagaikan katak betulan, dia mulai menyerang dengan pengerahan tenaga besar. Tetapi, keanehan Lam Hok dibanding ketiga gurunya adalah: Apabila kedua dorongan tangan gurunya berisi tenaga Ha Mo Kang yang beracun, maka Lam Hok menggubahnya menjadi lain.

Dorongan tangan yang satu tetap berisi hawa Katak Buduk, sementara yang satu lagi berisi hawa Ha Mo Kang tetapi dengan daya serang Kiam Ciang. Dan karena itu, Lam Hok malah menjadi jauh lebih berbahaya. Ketika membenturnya, Kwi Song yang untungnya terlindung dengan hawa Kim kong pu huay che sen, memang tidak terluka, tetapi dia terpental ke belakang. Tidak terluka.

Tetapi kejadian itu membuatnya menjadi lebih serius. Bicara soal serangan berat, dia bisa melawannya dengan Tay Lo Kim Kong Ciang dan mengimbangi Kiam Ciang dengan ilmu jari lainnya yang lebih berbahaya lagi, Kim Kong Ci. Tapi, Lam Hok sudah kembali menyerangnya.

Kwi Song kembali meningkatkan kekuatan iweekangnya, dan sambil bergerak lincah dia kemudian memapaki dorongan kedua tangan berisi hawa Ha Mo Kang dan Kiam Ciang tidak berhadapan, tetapi dari samping.

Kelemahan Ha Mo Kang adalah, kurang gesit dan terlampau mengandalkan hawa murni yang besar. Dan itu dimanfaatkan Kwi Song untuk mengundurkan Lam Hok melalui sentilan kim kong ci, sambil kemudian mempersiapkan diri menghadapi Ha Mo Kang Lam Hok. Begitu tersentil dan tertahan langkahnya, Lam Hok sudah langsung kembali bergeser dan menyerang kwi Song yang kali ini sudah bersiap.

Sekali ini, dia tidak main-main lagi. Serangan hawa Ha Mo Kang disambutnya dengan kekuatan pukulan Tay Lo Kim Kong Sin Ciang yang dibarengi dengan pengerahan kim kong ci. Dan kembali terdengar benturan-benturan baik benturan pukulan maupun antar serangan tajam jari dan tangan.

Tapi benturan itu segera nyata lebih menguntungkan Kwi Song yang tenaga dan kematangannya mengatasi Lam Hok. Tay Lo Kim Kong Sin Ciang masih menang mutu menghadapi Ha Mo Kang, dan lebih murni. Lagipula masih lebih fleksibel dan lebih lincah ketimbang Ha Mo Kang yang bergerak lamban bagaikan katak buduk melompat lompat.

Setelah beberapa kali terjadi benturan, sebuah sapuan tangan kanan Kwi Song melontarkan Lam Hok dengan singgah dan hinggap di pundaknya, melontarkannya jauh ke belakang. Tetapi masih tidak mampu menembus hawa Ha Mo Kang dan melukai Lam Hok. Hanya, sudah cukup memberi sinyal bagi Lam Hok bahwa lawannya tidak terkalahkan olehnya.

Tapi, mana Lam Hok mau memahaminya? Tidak, dia masih membekal ilmu lain, ilmu yang diyakininya lebih hebat dari sekedar Ha Mo Kang. Dan, kini, disiapkannya ilmu itu.

Nampak Lam Hok berdiri tegak, dan samara-samar dari tubuhnya mengeluarkan sinar yang agak kemilau, menyilaukan mata. Kemudian sepasang tangannya menyatu, sinar matanya mengeluarkan cahaya berkilat bagaikan nyala api.

Itulah pengerahan sinking khas Kim-i-Mo Ong yang disebut Kim-i-Sin Kang atau Tenaga Jubah Emas dengan pasangan ilmunya Kim-i-Sin Kun (Silat Jubah Emas). Dalam puncak penguasaan ilmu itu, seorang Kim-i-Mo Ong akan menjadi kebal segala senjata tajam, bahkan kebal racun, dan dengan latihan sesat, cahaya yang dikeluarkannya malah juga beracun.

Karena itu, Kim-i-Sin kang sebetulnya sudah berubah menjadi Ilmu sesat, dan sinar emasnya redup karena dibarengi dengan penggunaan dan sisipan racun. Kwi Song sudah pernah mendengarkan jenis ilmu ini dari gurunya, dan karena itu dia sadar dengan siapa dia berhadapan. Bahkan menjadi lebih yakin ketika terdengar suara kakaknya:

“Song te, hati-hati, nampaknya dia murid Kim-i-Mo Ong”

Dan tanpa peringatan kakaknya, Kwi Song sudah tahu apa yang harus dilakukannya. Dia meningkatkan kemampuan Kim kong pu huay che sen dengan pengerahan iweekang sampai 7 bagian, dan juga menyiapkan Ban Hud Ciang untuk meladeni lawan muda yang juga ternyata sangat digdaya ini.

Tetapi, setelah mengenal lawannya sebagai murid Kim-i-Mo Ong, rasa sungkan dan kasihan di hati Kwi Song mulai tawar. Mereka adalah lawan yang saling intai kemampuan masing-masing, dan demi keselamatan banyak orang, Kwi Song harus segera bertindak. Kali ini dia tidak main-main lagi, menjadi serius dan mulai berpikir untuk melukai lawan. Terutama setelah tahu, bahwa tidak mungkin murid Kim-i-Mo Ong hanya sekedar tersesat dengan seorang gadis di dekat peristirahatan para pendekar Tionggoan.

Sementara itu, sebuah suara lain tiba-tiba terdengar:

“Beng koko, nampaknya kita memerlukan keterangan mereka. Biarkan aku mencoba gadis temannya, mereka pasti datang bukan untuk sengaja tersesat. Pasti ada maunya” Dan tanpa menunggu pesetujuan, Giok Lian yang sudah lama berada didekat pertempuran itu sudah mendekati Gan Bi Kim. Mereka tidak saling kenal, dan belum saling menjajaki kemampuan.

Tetapi, sekali pandang, masing-masing juga tahu, bahwa lawannya bukan gadis biasa. Apalagi, Gan Bi Kim yang sudah jauh lebih matang di usianya yang ke-25, dia sudah malang melintang di dunia Kang Ouw. Dia dididik secara ketat oleh seorang tokoh seberang lautan dan bahkan kemudian, karena bakat dan tubuhnya yang menggiurkan, dididik lagi oleh tokoh sehebat Koai Tung Sin Kai.

Bisa dibayangkan seberapa hebat gadis itu. Tapi, lawannya, Giok Lian, juga bukan gadis sembarangan, meksi lebih kurang berpengalaman, tetapi bekal ilmunya, juga bukan sembarangan. Gemblengan sesepuh Bengkauw lagi.

Gebrakan awal mereka terkesan biasa-biasa saja, dan karena sudah tahu bahwa lawan masing-masing berisi, keduanya tidak terkejut ketika lengan masing-masing tergetar. Giok Lian yang kemudian berinisiatif lebih dahulu, menyerang lawan dengan Kang See Ciang dan mencecar hebat lawannya.

Tetapi, Gan Bi Kim juga tidak tinggal diam, dia mewarisi Hai Liong Kiang Sin Ciang (Ilmu Silat Tangan Sakti Menaklukan Naga Laut), ilmu dari Lam Hay Bun. Dan karena itu, dia mampu menghadapi serbuan Giok Lian, dan semakin lama keduanya semakin mengagumi lawannya. Gan Bi Kim dalam kematangannya, tidak menunjukkan watak sebagai seorang tokoh aliran hitam, justru dia bergerak gemulai dan terang-terangan.

Itulah sebabnya, Giok Lian masih pikir panjang untuk menyerang gadis itu dengan dahsyat. Karena, setelah mengalami gemblengan terakhir kakek buyutnya, gadis ini bahkan sudah berada dalam tataran tertinggi ilmu-ilmu Bengkauw, nyaris merendengi tokoh terlihay saat ini, ayahnya sendiri. Tapi karena kalah taktik dan pengalaman, dia tidak mendesak Gan Bi Kim secara keras.

Kedua ilmu hebat yang biasanya bekerja sama, kali ini diadu di arena pertempuran oleh kedua gadis nan cantik ini. Gan Bi Kim menang pengalaman, tetapi Giok Lian menang tenaga dan keuletan. Beberapa kali tangan mereka beradu, dan Gan Bi Kim menyadari, bahwa tenaganya tidak ungkulan melawan gadis Bengkauw ini.

Tapi karena tidak ada rasa penasaran diantara keduanya, tidaklah perkelahian itu berkembang sebrutal dan seseru pertandingan lainnya antara kedua anak muda sebaya yang mempertaruhkan gengsi dan nama baik. Selain mempertaruhkan keselamatan pendekar Tionggoan bagi Kwi Song.

Dan tanpa disadari mereka yang bertarung, disekitar tempat itu sudah bertambah beberapa orang. Kaypang Hu Pangcu, Jin Sim Todjin dan Sian Eng Cu sudah berada disana, bersama beberapa pendekar lainnya termasuk Beng San Siang Eng.

Para tokoh itu terkesima menyaksikan 2 pertarungan yang luar biasa, terutama antara Kwi Song melawan Lam Hok. Cahaya keemasan yang buram nampak berkali-kali saling bentur dengan cahaya emas yang gemilang dari tubuh Kwi Song. Dan beberapa kali terdengar suara mendesis disekitar tubuh keduanya, yakni saat racun yang mau disusupkan Lam Hok ditawarkan oleh kekuatan Kim kong pu huay che sen yang sudah sanggup menawarkan racun.

Hal terakhir yang disempurnakan Kian Ti Hosiang bagi kedua muridnya sebelum menutup mata. Dan akibatnya, bau busuk menyebar kemana-mana, bau yang dihasikan dari ditawarkannya racun jubah emas oleh Sinkang Tenaga emas lainnya.

Lam Hok yang bersilat dengan ilmu barunya yang dahsyat yakni Kim-i-Sin Kun memang lebih dahsyat dari sebelumnya, tetapi lebih dahsyat lagi Kwi Song yang menghantam lawan dengan menggunakan Selaksa Tapak Budha. Bahkan sesekali tangannya mengikuti taktik Thai kek Sin Kiam dengan hawa Kim Kong Ci yang dileburnya.

Tidak heran bila kemudian Lam Hok kembali terjerumus dalam kesulitan. Sayang, dia dipesan gurunya untuk tidak main-main dengan Kim-i-Hoatsut, terlebih bila ditengah banyak orang, selain mubazir, juga bakal banyak menguras tenaga. Tetapi, dengan semua kepandaian sudah dikerahkannya, Lam Hok melihat bahwa jalan larinyapun bahkan sudah tertutup.

Baru dia merasakan kekhawatiran yang diutarakan rekannya tadi, bahwa mereka terlalu gegabah mendekati kelompok para pendekar. Tapi karena nasi sudah menjadi bubur, akhirnya dia menguatkan hatinya untuk bertahan sekuat mungkin.

Sementara pertempuran di lain arena, meskipun Giok Lian jelas unggul tenaga dan ragam Ilmunya, terlebih ketika sesekali dia menggunakan ilmu sesat semisal Toat beng Ci, tapi karena tidak merasa bermusuhan dengan Gan Bi Kim yang simpatik, maka dia tidak berniat menjatuhkan lawannya.

Karenanya, pertarungan mereka terkesan seimbang. Dengan pintar, Gan Bi Kim tidak mengeluarkan ilmu silat yang diterimanya dari Koai Tung Sin Kai, sehingga tidak dicurigai banyak orang. Sebaliknya, dia bersilat dengan ilmu lamanya, yakni dari perguruan Lam Hay, yang meski bermusuhan dengan para Pendekar Tionggoan, tetapi dalam permusuhan terhormat.

Hanya saling jajal ilmu, bukan untuk saling membunuh, sehingga tidak ada ikatan dendam berdarah. Karenanya, keduanya tampak seperti sedang berlatih saja. Giok Lianpun tidak terlampau mendesak Gan Bi Kim dan beberapa kali memberi jalan keluar dan kesempatan bernafas bagi lawannya.

Hal yang bukan saja disyukuri oleh Gan Bi Kim, tetapi juga membuatnya bisa bertahan lama dan tidak menerima serangan serangan berbahaya dan mematikan dari Giok Lian, yang pada akhirnya diketahuinya sudah tuntas menguasai Ilmu-ilmu rahasia dari Bengkauw. Bahkan dengan menggunakan ilmu guru barunya, dia masih belum yakin untuk bertahan lama dari Giok Lian.

Tapi bagi Lam Hok, semakin lama dia semakin tersudut. Gempuran Kwi Song semakin menyudutkannya. Untungnya Kwi Song tidak berniat menurunkan tangan kejam terhadapnya dan hanya berusaha menangkapnya hidup hidup. Itu jugalah sebabnya mengapa Kwi Song sekian lama belum mampu memenangkan pertempuran meski lawan sudah empot-empotan dan kesulitan menghadapinya.

Menyadari bahaya, Lam Hok yang betapapun mudanya tapi punya kecerdikan, berupaya untuk mencari jalan melarikan diri. Dia mengirim bisikan ke arah Gan Bi Kim dengan ilmu mengirim suara jarak jauh, sambil kemudian dia merapal jurus pamungkas dari Kim-i-Sin Kun. Setekah melihat-lihat sejenak dengan resiko kembali jatuh dalam desakan Kwi Song, tiba-tiba Lam Hok menghentakkan tenaganya.

Dari kedua tangannya mengalir cahaya emas meredup seram, dan kemudian diarahkan kepada Kwi Song yang sudah siap sedia. Meski tahu serangan berbahaya, Kwi Song tidak takut memapaknya dengan kekerasan. Dan benturan kedua tangan tidaklah terhidarkan. Akibatnya, tubuh Lam Hok terjengkang hebat ke belakang dan dibibirnya mengalir darah merah. Tapi sambil terjengkang, dia kemudian mengatur langkahnya terus mundur kebelakang.

Melihat lawannya berupaya melarikan diri, yang juga saat bersamaan Gan Bi Kim melakukan gaya yang sama dengan Lam Hok

dan mundur ke arah lebatnya hutan, Kwi Song berusaha untuk memburu dan mengejar mereka.

Tetapi, tiba-tiba selarik sinar emas lainnya dengan daya yang jauh lebih hebat terlontar kearahnya. Celakanya, Kwi Song tidak menduga akan datangnya serangan bokongan yang sangat berbahaya dan nampaknya tidak dibawahnya kekuatan itu. Dalam saat yang berbahaya bagi Kwi Song itu, terdengar sebuah seruan halus …..

“Amitabha” ….. dan sebuah jalur pukulan lain nampak telah membentur pukulan bersinar emas redup yang hebat itu. Dan kemudian sebuah suara bening yang mengambang terdengar mencegah Kwi Song:

“Anak muda, biarkan mereka pergi, jagan dikejar”

Tidak ada seorangpun yang mengenal suara yang mengaung dengan nada tinggi tersebut. Tetapi, beberapa tokoh utama nampaknya saling pandang dan maklum. Pemilik suara itu, pastilah seorang wanita.

Dan, wanita yang mampu menandingi kemampuan yang hebat tadi, bila bukan Liong-i-Sinni siapa lagikah? Orang-orang seperti Sian Eng Cu, Pengemis Tawa Gila, dan beberapa sesepuh lain sudah menduga tokoh wanita hebat ini yang menyelamatkan Kwi Song. Sementara itu, Kwi Song nampak menghormat ke sebuah tempat yang dia tahu betul darisana penolongnya membentur pukulan yang mengarah kepadanya.

“Terima kasih atas pertolongan locianpwe” seru Kwi Song kearah yang diyakininya benar, bersembunyi seorang tokoh kosen.

Tapi tiada reaksi dan suara sama sekali. Karena, jika betul orang itu Liong-i-Sinni, siapa lagikah yang mampu mengejar dan menyandaknya jika memang dia tidak mau bertemu orang?

Meski demikian, tokoh-tokoh besar Tionggoan itu sama-sama mulai merasa gembira, sebab bila tokoh sekelas Liong-i-Sinni juga membantu, maka akan banyak kesulitan yang bisa diselesaikan. Mereka tahu betul kemampuan dan kelas dari pendekar wanita nomor satu Tionggoan pada masa itu

Pertempuran2 Di Kaki Gunung Siong San (2)

Sementara itu, dikalangan pendekar Tionggoan yang merasa mulai tidak betah menunggu, beberapa suara sumbang mulai terdengar. Salah satunya adalah Wakil Ciangbunjin Tiam Jong Pay dan Seorang sute dari Ciangbunjin Thian San Pay. Mereka berdua merasa seperti disepelekan dan tidak disertakan dalam keputusan mengenai rombongan itu.

Selain, memang sifat mereka berangasan serta sangat muda tersinggung, meskipun masih memegang adat istiadat dan watak kegagahan. Hanya, karena tidak dilibatkan atau terlibatkan dalam pengambilan keputusan penting, keduanya sering saling berkeluh kesah dan merasa disepelekan.

Padahal, masing-masing mereka membawa sedikitnya 7 anak buah dari Tiam Jong Pay dan 5 pendekar pedang dari Thian San Pay. Selain keduanya, ada seorang pendekar kelana lainnya bernama Yo Cat berjuluk Tiat-pi-ang-wan (Lutung Merah Berlengan Besi), yang juga berkepandaian tinggi tetapi rada angkuh dan tinggi hati.

Orang inipun termasuk salah satu yang memanas-manasi beberapa orang untuk lantang menegur Ceng Liong. Dan orang ini pula yang memulai perdebatan lebih jauh dengan berkata:

“Saudara Kwi Song, sudah seharusnya sejak tadi orang Thian Liong Pang itu ditundukkan. Kita sangat membutuhkan keterangan mereka”

“Paling tidak untuk tahu, seberapa besar memang kekuatan penyerang itu” sambung Tang Hauw Sek yang berjuluk It Kiam Tang Sam Hai (Pedang Tunggal Menggetarkan 3 Samudra), Sute dari Ciangbunjin Thian San Pay.

“Ya, supaya jangan kita seperti kura-kura ketakutan menghadapi mereka dengan berdiam diri di tengah hutan seperti ini” kembali Yo Cat menambahkan dan membuat banyak muka para tokoh menjadi tidak sedap dipandang. Bahkan Kwi Song dan Giok Lian nampak seperti menjadi salah tingkah. Tapi Kaypang Hu Pangcu dengan segera berkata sambil tertawa:

“Hahahaha, Yo heng dan Tang heng, kalian pasti tahu bahwa mereka bergerak dikegelapan dan kita di daerah terang. Pikirkanlah akibatnya”

“Tapi, cara kita ini nampak seperti pengecut” Yo Cat berkeras

“Karena mereka lebih pengecut dengan menyerang dari kegelapan” tegas Pengemis Tawa Gila.

“Saudara-saudara, bersabarlah sedikit sambil menunggu mereka yang sedang melakukan pengintaian” Sian Eng Cu Tayhiap menyela dengan suaranya yang tenang.

“Tong Tayhiap, menunggu tanpa waktu yang jelas membuat siapapun kehilangan ketabahan dan kesabaran” Tang Hauw Sek menyela dengan suara yang tidak enak didengar.

“Keadaan kita menuntut ketabahan, kesabaran dan ulet untuk menghadapi perang mental yang dilancarkan Thian Liong Pang. Tang heng pasti mengetahuinya. Dan kita sudah sama tahu, seberapa hebat kemampuan Thian Liong Pang yang sudah berani menyerang banyak perguruan silat Tionggoan”

“Ach, nampaknya dari kita sudah banyak yang mengkeret ketakutan” ujar Yo Cat menyebalkan dan kemudian meninggalkan tempat menuju kembali kearah rombongan pendekar. Giok Lian yang sudah beberapa kali bertemu Sian Eng Cu dan tahu orang tua itu adalah pengasuh dan suheng Mei Lan menjadi naik pitam dan mendengus:

“Hm, Bila memang merasa berani dan bisa, mengapa harus menegur Kwi Song? Kenapa tidak berusaha langsung menangkap anak muda sesat tadi”?

Yo Cat yang tadinya mulai melangkah, mendadak kembali membalikkan tubuhnya dan memandang tajam kearah Giok Lian. Tapi, Giok Lian yang bila sedang marah, malah menjadi sangat menggemaskan, karena dibibirnya tersungging senyuman …… senyum simpul tapi mengandung ejekan.

“Hm, kau, Nona muda, lain kali belajarlah sopan santun berbicara dengan kaum tua. Apa yang kau andalkan mengajari kaum yang lebih tua”?

“Tidak ada, tidak mengandalkan apa-apa” masih tetap dengan senyuman di bibirnya. Yo Cat semakin terbakar memandang senyum di bibir Giok Lian, tetapi dia sadar bahwa jika dia memaksakan diri, lebih banyak kerugian dipihaknya. Karena itu sebelum ngeloyor dia berkata:

“Lain kali jaga mulutmu Nona muda, dan belajarlah mengeluarkan kalimat yang layak”

“Terima kasih. Belajar mengeluarkan kalimat yang layak, harus dilakukan siapapun, baik anak kecil, anak besar ataupun orang tua”

“Apa maksudmu yang sebenarnya Nona muda” Yo Cat kembali berbalik dan tambah murka.

“Tidak ada, hanya mengatakan hal-hal biasa dan wajar”

Tapi sebekum Yo Cat mengumbar amarahnya, terdengar Sian Eng Cu yang menarik nafas dan kemudian berkata:

“Sebaiknya kita anggap selesai kejadian disini. Semua kembali ketempatnya masing-masing” Ujarnya sambil melirik dan memberi tanda kepada Giok Lian yang segera paham dan berkelabat lenyap, kembali ke posisinya semua. Demikian juga dengan Kwi Song dan Kwi Beng. Tempat itu kembali senyap.

=================

Sementara itu, pada waktu yang hampir bersamaan, 3 pendekar muda lainnya sudah mulai memasuki area musuh yang berbahaya. Untungnya, daerah itu termasuk daerah dengan hutan yang cukup lebat, sehingga memudahkan mereka untuk melakukan penigntaian.

Yang cukup repot adalah Mei Lan, dan memang dialah yang pertama kali bentrok dengan musuh.

Tapi berbeda dengan Tek Hoat dan Ceng Liong, Mei Lan bentrok dengan 2 pendekar samurai dari Jepang. Ke-2 Samurai Jepang ini diturunkan dalam misi kali ini sebagai pendukung, dan akan bertugas untuk melakukan pembantaian ketika kelompok pendekar mulai tersebar.

Kelompok pemukul utama, berada di kedalaman hutan yang dekat dengan jalanan, sementara kedua samurai ini, justru beristirahat jauh kedalam hutan untuk menunggu isyarat mulai bertugas. Mereka duduk diam dan bersamadhi di bawah sebatang pohon rindang, yang rupanya mereka jadikan sebagai tempat istirahat mereka.

Mei Lan yang mendekati daerah itu, sebetulnya sudah jauh-jauh menyadari, bahwa ada semacam hawa aneh yang berada disekitarnya. Dan dia memastikan, bahwa itu pasti adalah kawanan Thian Liong Pang. Tapi, karena begitu kuatnya hawa pancaran dari musuh, dia tertegun, dan firasatnya membisikkan adanya lawan yang kuat disekitar tempat itu.

Dan tidak berapa lama kemudian dia sadar, bahwa lawannya juga pasti sudah mencium kehadirannya. Dan dugaannya memang tidak keliru. Kedua samurai Jepang itupun sudah bersiap sedia, dan keduanya juga sadar bahwa pendatang pastilah seorang yang hebat.

Hanya, diluar dugaan mereka jika kemudian yang datang ternyata seorang nona muda yang sangat mungil dan cantik jelita. Keduanya sampai tidak bisa berbicara apa-apa ketika akhirnya saling bertemu dan memandang Mei Lan yang kini berdiri dihadapan mereka.

Mei Lan juga berdiri menjublak memandangi 2 orang dihadapannya berpakaian hitam menutupi seluruh tubuh dan menggondol pedang panjang. Tetapi yang membuatnya terperangah adalah hawa tajam menusuk yang menebar dari kedua orang yang sedang duduk dihadapannya.

Sampai lama kedua pihak hanya saling pandang mengukur kehebatan masing-masing. Bahkan juga kedua Ninja/Samurai Jepang itu, para pembunuh Thian Liong Pang, merasakan hawa yang sangat kuat memancar dari tubuh dara mungil didepan mereka. Meski masih duduk bersamadhi, tapi keduanya sudah dalam kesiagaan yang sangat tinggi. Dan tidak lama kemudian perlahan-lahan keduanya berdiri dan berhadap-hadapan tanpa kata-kata dengan Mei Lan.

“Siapa kalian” kalimat pendek itu saja yang keluar dari mulut Mei Lan Tidak ada jawaban, selain kata-kata pendek dalam logat dan dialek yang asing bagi Mei Lan:

“Bunuh, bunuh”

Karena nampaknya kedua ninja/samurai pembunuh ini memang hanya mengenal kata-kata Tionggoan secara terbatas. Dan kata-kata “bunuh” yang keluar dari mulut keduanya mempertinggi kesiagaan. Dan benarlah dugaannya.

Salah seorang dari keduanya, tiba-tiba dengan kecepatan yang luar biasa telah menggetar keluar samurainya, pedang panjangnya dan dengan kecepatan geledek telah menyerang kearah Mei Lan. Mei Lan sungguh tercekat, kecepatan itu bukan kecepatan rata-rata. Tetapi sebuah kecepatan yang bagaikan kilat menyambar.

Untungnya dia sudah waspada, dan lebih dari itu, diapun memilih kelincahan dan ginkang yang maha hebat. Tapi itupun, tubuhnya nyaris dicoblos dan ditabas pedang panjang itu. Tapi, sebatang pohon besar dibelakangnya tumbang dengan bekas irisan yang sangat tipis bagaikan tahu yang diiris oleh sebatang pisau tajam.

Dan, kini, kedua ninja itu bersama berdiri dan menghunus pedang panjang mereka. Mei Lan sendiripun kemudian meningkatkan kewaspadaan dan kemampuannya. Sementara kedua samurai jepang itu, berdiri dan mengawasi dengan tajam cara berdiri dan sikap Mei Lan.

Mei Lan sendiri, sudah sejak serangan pertama segera sadar, inilah para pembunuh sadis yang membunuh dengan satu sabetan dan sudah makan banyak jiwa pendekar pedang Tionggoan. Sungguh, kecepatan tadi, memang terlampau cepat bagi gerakan pendekar pedang utama di Tionggoan, dia mengakuinya.

Dan sekarang, dia menghadapi sekaligus, 2 samurai Jepang yang berdiri menatapnya. Mei Lan tidak berani ayal, tidak berani untuk tidak berkonsentrasi, karena ayal sedikit saja, dia bisa menjadi korban sabetan pedang panjang kedua lawannya. Tapi, anehnya, kedua samurai Jepang itupun, masih tidak berani menyerang.

Terjadilah pertarungan yang aneh dan menegangkan. Meski tidak bergerak, tetapi pertempuran sebenarnya sedang terjadi. Sebuah pertarungan mental yang sangat melelahkan. Dan Mei Lan menyadarinya. Meski dia yakin akan kekuatan dan kehebatan ginkangnya, tapi dia tidak berani bergerak sembrono dan dicecar oleh ketajaman dan kecepatan pedang panjang kedua lawannya.

Dan pada saat seluruh konsentrasinya terpusatkan itulah dia menjajaki dan mengawasi kedua lawannya dengan ketenangan. Sementara kedua samurai itu, baru kali ini menghadapi lawan dengan kecepatan yang sama, mungkin lebih, dan akan sangat berbahaya bagi keduanya apabila menyerang dan gagal lagi.

Pertarungan mereka kali ini, bukan pertarungan dengan gerak, tetapi pertarungan yang memancing siapa yang akan melakukan gerakan terlebih dahulu. Kedua samurai Jepang yang lihay itu, tahu belaka, bahwa sekali mereka bergerak, sekali harus berhasil. Tapi, mereka tidak akan pernah menyabetkan pedang panjang mereka sembarangan, tanpa keyakinan akan memenangkan pertempuran.

Karena itu, mereka perlu melihat celah dan lowongan di tubuh lawan, sebelum kemudian bergerak dengan kecepatan kilat dan selesai …. tubuh lawan terbelah, atau kepala lawan terpisah dari badannya. Dan itulah yang mereka kerjakan selama ini di Tionggoan, memenggal kepala lawan atau memisahkan tubuh lawan menjadi dua ….. alias mati.

Tapi kini, keduanya mulai berkeringat dingin. Tidak mereka lihat ada celah dan lowongan di tubuh Mei Lan. Tubuh kecil ramping tapi jelita itu, tetap berdiri kokoh dan memancarkan kekuatan luar biasa. Dan bahkan tanpa disadari kedua samurai jepang itu, keduanya seperti sedang melatih kembali dan mematangkan gadis mungil itu.

Konsentrasi tinggi dan berhadapan dengan kecepatan mengerikan dari lawannya, membuat Mei Lan semakin menyadari apa makna dari pesan orang tua aneh berikat kepala merah baginya:

“Terhebat adalah bergerak lambat tapi cepat, cepat tapi lambat …. “Bergerak dengan hati, bukan dengan pikiran ….. “Mengetahui darimana asal angin dan kemana dia berhembus ….. “Mengerti lebih baik dari tahu, mengalami lebih baik dari mengerti ….

Kalimat pertama sudah dipahaminya, sebuah pergerakan yang tepat dan efektif. Tidak asal cepat dan menjadi terlalu cepat sehingga enak buat tontonan, tapi seperti sedang menjadi orang yang mau mempertontonkan kehebatan. Tetapi, kalimat kedua barusan mulai dimengertinya, “bergerak dengan hati, bukan dengan pikiran”.

Gerakan pertamanya tadi adalah gerakan dengan pikiran, karena dia tahu diserang dari depan, pikirannya memerintahkan bergerak kebelakang dan merunduk untuk menghindar. Padahal, bila dia bergerak dengan hati, maka maka tanpa mengetahui darimana arah seranganpun, dia tahu kemana dia akan bergerak.

Bergerak dengan hati, bebas semau hati, berbeda dan bahkan lebih tajam dari intuisi. Artinya, menjadikan bergerak sebagai sesuatu yang otomatis, sesuatu yang dilakukan karena tubuh dan hati menyatu mengetahui bahwa ada sesuatu yang sedang mengancam. Persoalannya adalah, bagaimana menyatukan tubuh, pikiran dan hati, sehingga lebih tajam dari intuisi dan tahu kapan harus bergerak.

Pikiran dan hati menyatu dan tubuh bergerak secara otomatis. “Hm, terima kasih orang tua” desis Mei Lan dalam hati. Dan detik itulah kedua pedang panjang terayun kearahnya.

Tapi Mei Lan yang tiba-tiba menyadari dan memahamkan sesuatu pada detik yang sangat menegangkan, tidaklah menjadi kalut dan gugup. Benar, dia kehilangan ketika yang lumayan dan membuat

kedua penyerangnya memperoleh peluang meyakinkan menjatuhkannya. Tetapi, dengan sebat dan seperti tidak masuk akal, dia menyelinap dan menghentak tubuhnya sehingga kedua pedang panjang itu hanya sanggup memapas lengan bajunya, dan memotong beberapa helai rambutnya hingga jatuh.

Dan dengan cepat dia membalikkan tubuhnya menunggu serangan kedua samurai lebih jauh, tetapi kedua tubuh itu nampak tidak bergerak di belakangnya. Bahkan keduanya berbicara dalam bahasa yang tidak dimengertinya. Dan beberapa saat kemudian, keduanya berlutut, dipandangi Mei Lan dengan wajah heran, dan beberapa saat kemudian …. crot-crot, kedua tubuh itu meregang nyawa dan mati ketika mereka melakukan “bunuh diri”.

Meskipun pakaiannya terpapas dan rambutnya beberapa helai terpapas putus, tetapi Mei Lan lebih menyesali mengapa kedua samurai itu bunuh diri. Betapapun, ketegangan dan konsentrasi tinggi yang mereka paksakan tadi, membuatnya bisa memahami beberapa hal yang sulit dan penting bagi dirinya.

Karena itu dia menghela nafas panjang, dan bahkan kemudian dengan menggunakan tenaga dalamnya dia membuatkan kuburan bagi kedua samurai jepang itu, dan kemudian meninggalkan tempat itu dengan masygul dan sedikit ada kegembiraan. Betapapun dia merasa masygul karena telah menyebabkan kedua samurai Jepang yang luar biasa itu harus melakukan bunuh diri.

Tetapi, terdapat atau terselip rasa gembira karena para pengganas yang membunuhi para pendekar pedang Tionggoan boleh terbasmi 2 diantaranya. Lebih dari itu, dia bahkan terilhami kematangan ilmu

ginkangnya dibawah desakan yang luar biasa berat dari kedua pendekar pedang samurai Jepang itu.

Di tempat lain, Tek Hoat yang tidak menemui lawan-lawan tangguh, sanggup memperoleh banyak informasi yang dibutuhkan. Tek Hoat menemukan jalan menyusup melalui pohon-pohon yang tinggi dan lebat, dengan melumpuhkan beberapa penjaga tak berarti yang ditinggalkan di pepohonan itu oleh kelompok Thian Liong Pang.

Hanya sekali dia sempat dipergoki seorang penjaga yang dengan cepat dilumpuhkannya, dan kemudian melanjutkan usahanya untuk mengenali dan mengetahui medan tempat penyerangan dan jumlah penyerang serta jenis serangan gelap yang disiapkan. Cukup lama dia melihat-lihat, memperoleh informasi yang jelas dan mengetahui kelompok-kelompok tertentu yang ditempatkan untuk menyerang.

Dan setelah merasa cukup memperoleh informasi di area yang menjadi tugasnya, akhirnya Tek Hoat memutuskan untuk kembali ketempat yang mereka janjikan untuk bertemu. Karena rasanya waktu yang mereka sepakati untuk mengintai tidaklah lama.

Adalah Ceng Liong yang bertemu dengan lawan yang jauh lebih berat. Setelah berlari-lari dan menyusup beberapa saat, tanpa disengaja Ceng Liong malah kesasar ketempat dimana Kim-i-Mo Ong dan Koai Tung Sin Kay beristirahat.

Tempat itu adalah sebuah jorokan kecil di tebing dan menyerupai sebuah Gua, dan ditempat itulah kedua orang tua sakti itu tinggal untuk sementara dengan kadang-kadang dilayani kedua murid masing-masing. Penyerbuan Thian Liong Pang kali ini, nampaknya tidak main-main dengan terlibatnya Koai Tung Sin Kay dan Kim-i-Mo Ong.

Bisa dipastikan, selain kedua Pelindung Thian Liong Pang ini, pasti masih ada tokoh lihay lain lagi, hanya entah dimana adanya. Dan secara kebetulan, Ceng Liong berjalan mendekati tempat istirahat Koai Tung Sin Kay. Bisa ditebak, keberadaan Ceng Liong sudah terdeteksi jauh sebelumnya oleh tokoh tua yang sangat sakti ini.

Ceng Liong baru menyadari sesuatu yang aneh ketika firasatnya mulai menunjukkan gejala keanehan, meski sehalus apapun keanehan itu. Tapi, pada saat dia mulai merasakan keanehan itu, tiba-tiba seberkas angin halus berkibas disekitarnya.

Dan mendadak disampingnya telah duduk seorang tua, sudah sangat tua, dengan sepasang tangan memegang atau tepatnya memeluk sebatang toya. Panjang toya yang diselipkan diantara sepasang tangan yang bersedekab itu, paling panjang hanya ada 1 meteran, dan nampaknya terbuat dari sebatang kayu.

Tiada istimewanya, tetapi, sebuah benda ditangan orang tua sekosen Koai Tung Sin Kay, pasti bukan benda sembarangan. Bila benda biasapun, sanggup dijadikannya benda luar biasa.

Ceng Liong dan juga Koai Tung Sin Kay sebetulnya belum pernah saling bertemu. Karena itu, keduanya tidak saling tahu. Tapi sebagai orang muda, Ceng Liong yang mengenal tata karma telah mengambil inisiatif untuk mendahului menyapa:

“Locianpwe, maafkan siauwtee yang telah mengganggu ketenteramanmu. Perkenankan siauwtee untuk melanjutkan perjalanan”

“Siapakah engkau anak muda”? luar biasa, Ceng tidak melihat orang tua itu menggerakkan bibirnya berbicara.

“Siauwtee Ceng Liong, sedang melakukan sebuah pekerjaan disekitar tempat ini”

“Pekerjaan mengintai dan mengintip maksudmu”? terasa dingin suara kakek ini. Ceng Liong tercekat, tetapi tidak berusaha untuk mengatakan tidak, karena maksudnya memang sudah tertebak.

“Tidak salah locianpwe, siauwtee mengemban tugas demi keselamatan umat persilatan Tionggoan. Mohon perkenan dan bantuan locianpwee”

“Hm, baiklah anak muda. Biarlah aku membantumu untuk mengetahui lebih lengkap keadaan para penyerbu dengan mengirimmu langsung bertemu dengan pimpinan penyerbu ini” kakek itu, yang adalah Koai Tung Sin Kay berkata sambil sebuah jari telunjuknya mengarah ke Ceng Liong. Dan sebuah alur serangan yang sangat tajam mengarah ke Ceng Liong …. dan hebatnya, tanpa suara lagi.

Tapi, Ceng Liong yang sekarang sudah tidak gampang dikelabui dengan serangan semacam itu. Selain firasat dan indra keenamnya sudah sangat tajam, penilaiannya atas lawan, juga sudah jarang meleset. Dia tahu benar, bahwa kakek ini sangat hebat, tetapi dia ingin menjajal sejauh mana kehebatan kakek yang mengejutkannya ini.

Diapun mengerahkan tenaga Giok Ceng Sinkang dalam gerakan Toa Hong Kiam Sut di tangannya dan mengibas kearah jalur serangan Koai Tung Sin Kay yang menyerang dengan jarinya.

“cussss, trang” suara bagai benturan pedang berdenting diudara dan mengakibatkan kekagetan bagi kedua belah pihak. Lengan Ceng Liong serasa kena tohok oleh sebuah benda tajam, tetapi tidak sanggup melukainya.

Tetapi, orang tua yang dihadapannya kini, juga merasa serangkum angin tajam membentu alur serangannya dan membuat tangannya tergetar. Luar biasa, belum pernah ditemuinya lawan yang sanggup menggetarkan tangannya dalam sekali kibasan, kecuali ketika bertarung puluhan tahun lalu. Dalam pertarungan yang tak hentinya disesalinya seumur hidupnya.

Dan kini, tak disangkanya, kejutan serupa itu, kembali dialaminya. Hanya saja, kali ini dialaminya dari seorang bocah yang masih sangat mudah. Benar-benar mengejutkan. Dan untuk meyakinkan hatinya, perlahan dibukanya matanya, dan memandangi Ceng Liong dengan tatapan yang sangat dingin dan menyeramkan.

“Hm, Giok Ceng Sinkang dari Lembah Pualam Hijau. Anak muda, engkau membangkitkan niatku untuk bermain-main dan mengenal kehebatanmu lebih jauh. Apakah sama dengan leluhurmu tau tidak” dan kembali jemarinya menunjuk kearah Ceng Liong.

Tapi kali ini Ceng Liong yang merasa tergetar tadi dan tahu bahwa kakek ini sangat hebat, tidak lagi berlaku ayal. Ditingkatkannya tenaga Giok Ceng Sinkangnya dan kemudian kembali terdengar benturan serupa “cusssss, trang”, dan akibatnya sama dengan tadi. Hanya, kali ini Ceng Liong tergetar mundur selangkah, sementara kakek itu tubuhnya bergoyang-goyang dan sedikit doyong kebelakang.

“Hm, hebat anak muda. Engkaulah anak muda terhebat yang pernah menyentak dan mengagetkanku. Tapi, kita baru mulai” Seiring dengan selesainya kalimat kakek tua itu, sepasang tangannya kembali bekerja melakukan serangan-serangan jarak jauh yang berasal dari jari-jemarinya.

Dan serangan-serangan dengan jari itu, mengingatkan Ceng Liong akan seorang tua renta yang menurut gurunya memiliki kehabatan dalam menyerang dengan ilmu jari yang disebut Pek-tok-ci (Jari Tangan Beracun Putih). Untungnya tenaga sinkangnya mampu mengusir hawa beracun itu dan tidak mampu mengapa-apakannya, tetapi sejurus kemudian dia bergumam:

“Koai Tung Sin Kay”

“Benar anak muda, apakah engkau mulai ketakutan”? jengek kakek itu dingin.

“Bukan, cuma penasaran saja”

“Penasaran akan apa”?

“Locianpwe sudah tua, tetapi bersikap masih seperti anak-anak”

“Hm, tidak ada hakmu menegurku anak muda” Koai Tung Sinkay menjadi murka bukan kepalang. “Semua orang berhak menegur mereka yang menyimpang dan melakukan kejahatan bagi sesamanya”

“Lancang engkau” dan Kakek itu kembali menyerang dan sekali ini, bukan hanya dengan jurus Pek-tok-ci (Jari Tangan Beracun Putih), tetapi segera setelah menyerang dengan jemarinya, tangannya kemudian memegang sebuah tongkat sambil berseru:

“Cabut senjatamu anak muda”

“Tidak perlu, aku siap melayanimu dengan tanganku locianpwe” Tapi Koai Tung Sin Kay yang marah sudah mencecar Ceng Liong dengan jurus-jurs maut dari ilmu tongkatnya yang aneh. Dia mencecar

Ceng Liong dengan menggunakan jurus Koai tung kwi eng (tongkat aneh bayangan hantu), dan sesekali jarinya mengirim serangan Pek tok ci.

Boleh dikata, ilmu tongkat Koai Tung Sin Kay ini adalah yang paling rumit, hebat dan ajaib saat ini di dunia persilatan. Tidak heran bila karenanya Ceng Liong menjadi kerepotan, bahkan masih ditambahi dengan sentilan-sentilan Pek tok ci yang membuatnya tambah kerepotan.

Tapi, meskipun kerepotan Ceng Liong tetap bertahan dan berusaha mati-matian meladeni orang tua itu. Dia bergerak pesat, langkah kakinya memainkan Ilmu Jouw-sang-hui-teng (Terbang Di Atas Rumput), sementara tangan kanannya memainkan Toa Hong Kiam Sut dan penuh dengan hawa pedang, sedangkan tangan kirinya bergerak dengan jurus Soan Hong Sin Ciang.

Meski nampak sedikit terdesak, tetapi keadaan Ceng Liong tidaklah berbahaya. Terlebih, karena dia merasa bahwa tenaganya masih sanggup menahan kekuatan tenaga kakek tua itu, meski dia merasa semakin lama semakin berat. Di lain pihak, Koai Tung Sin kay menjadi semakin kagum berbareng marah.

Kagum karena anak muda ini sanggup menahannya, bahkan mengimbanginya. Gerakannya malah masih lebih ringan dan gesit, maklum masih muda. Dan itu yang menyelamatkan si anak muda dari gempuran tenaga dalamnya yang dahsyat. Gerakan kaki jouw sang hui teng benar-benar ampuh dan mujarab dan membuat Ceng Liong sanggup menahan Koai Tung Sin Kay sampai lebih dari 50 jurus.

Bahkan serangan-serangan Toa Hong Kiam Sut dan Soan Hong Sin Ciang, juga beberapa kali merepotkan si kakek tua yang berkali-kali memaki-maki tidak karuan.

Pertempuran2 Di kaki Gunung Siong San (3)

Dalam pengerahan tenaga yang semakin memuncak, dari tubuh Ceng Liong mulai memancar hawa panas menyengat. Tetapi hawa pedangnya menjadi semakin dingin. Hawa panas yang dilatihkan mendiang Kiong Siang Han baginya mulai terasa manfaatnya, terlebih karena dia sudah sangat sering melatihnya dan mempergunakannya dalam pertempuran.

Tanpa disadarinya, hawa khikang yang memancar dari tubuhnya, juga semakin kuat. Sementara Koai Tung Sin Kay juga semakin meningkatkan penggunaan tenaganya, hanya dia semakin heran, karena anak ini seperti tiada batas kekuatan tenaga dalamnya. Sampai pada penggunaan enam bagian tenaganya, dia masih tertangkis oleh tangan anak muda itu yang bertenaga penuh dan bahkan tajam menusuk.

Tongkatnya yang bergerak-gerak aneh, memang sering memusingkan Ceng Liong, tetapi arah yang diserang bisa dijaganya dengan baik. Bahkan suatu ketika, ketika menyodok pinggangnya, anak muda itu malah membiarkannya ketika tidak sanggup menangkis lagi. Tapi tongkat itu terpental, dan sadarlah kakek itu, lawannya bukan lawan main-main, bahkan sudah sanggup menguasai hawa khikang pelindung badan.

Kakek itu nampak berhenti sebentar dan bergumam lirih:

“Aku tidak keliru, kalau kamu adalah seorang anak muda yang sakti. Hanya, tidak kusangka jika kehebatanmu ternyata melampaui yang kubayangkan. Hahahaha, anak muda, bersiaplah, engkau akan menghadapi serangan dari seorang tua bernama Koai Tung Sin Kay ini”

Dan meluncurlah kembali serangan-serangan maut dari tongkat dan jari tangan kakek sakti ini. Kali ini, penuh tenaga dan tidak main-main lagi. Letupan dari jari tangannya sungguh menimbulkan alur serangan yang semakin memuakkan karena kandungan racun atau hawa racun putih yang sangat berbahaya. Sementara tangan satunya lagi, memainkan ilmu tongkat Koai tung kwi eng (tongkat aneh bayangan hantu) yang seakan-akan menyerangnya dari seluruh penjuru mata angin.

Ceng Liong tidak mau berayal, dia tahu kini bahwa benar dia berhadapan dengan Koai Tung Sin Kay yang sakti mandraguna. Kali ini dia menggunakan kekuatan yang semakin ditingkatkan dengan mulai memainkan Soan Hong Sin Ciang dalam gubahan Tek Hoat dan membuat hawa panas semakin membakar dari dirinya.

Demikian juga gubahan Toa Hong Kiam Sut yang membuat hawa dingin menusuk semakin menyebar dari hawa pedang di tangannya. Tetapi, harus diakui, pengalaman tempur Koai Tung Sin Kay memang luar biasa. Dia kini mengepung dan menghujani Ceng Liong dengan jurus-jurus maut dari ilmu tongkatnya. Setiap 3 kali serangannya hanya sanggup dibalas sekali oleh Ceng Liong, dan semakin menyudutkan Ceng Liong dalam pertempuran itu.

Untungnya hawa khikangnya mampu menutupi dan mengusir hawa beracun dari ilmu jari si kakek sakti itu. Jika tidak, maka akan semakin

runyam posisi Ceng Liong. Karena selain dicecar tongkat si kakek, masih harus berhadapan dengan setilan jari beracun yang membawa hawa racun kearahnya.

Tidak terasa 100 jurus sudah berlalu. Ceng Liong mulai mampu mengusir kengeriannya berhadapan dengan maha iblis masa lalu yang kembali hadir di rimba persilatan Tionggoan ini. Meski lebih sering didesak, tetapi dia sanggup bertahan dengan hawa khikang dan kombinasi Soan hong Sin Ciang dan Toa Hong Sin Ciang yang sudah didalaminya bersama Tek Hoat.

Dengan kedua jurus itu, bayangan-bayangan samaran yang dihadirkan ilmu tongkat si kakek tidak sanggup menerobos pertahanannya. Bahkan lama kelamaan, seiring dengan meningkatnya pengerahan kekuatan sinkangnya, bayangan tongkat yang tadinya nampak banyak berseliweran, kini tidak lagi sanggup membingungkannya.

Hal ini membuat si kakek mencak-mencak, dan tiba-tiba dia merubah gerakan tongkatnya dan merubah jurus menjadi Koai tung cim-jip-liong-hiat (Tongkat aneh Serbu Masuk Guha Naga) :

“Hm anak muda, tidak kusangka masih ada orang selain 4 dewa Tionggoan yang membuatku terpaksa menggerakkan jurus mautku ini”

Dan kembali si kakek menyerang, kini bahkan nampak lebih cepat, lebih mengerikan dibandingkan jurus tongkat semula. Karena memang, inilah ilmu tongkat ciptaannya yang terakhir. Diciptakan untuk mengalahkan musuh-musuh besarnya, dan sekarang yang terpaksa digunakan untuk melawan seorang anak muda. Tiba-tiba

“haiiiiiiit, kena ….. hahahahahaahha, kali ini kena anak muda”

Pundak Ceng Liong memang terkena sodokan tongkat si kakek yang tiba-tiba memanjang hampir setengahnya, menjadi sekitar 1,5 meter dari panjang semula. Ceng Liong yang tidak menyangkanya hanya memasrahkan pada perlindungan hawa khikangnya, dan memang dia tidak terluka dalam. Hanya, sodokan dipundaknya membuatnya meringis menahan sakit.

Karena betapapun tenaga kakek itu tidak dibawahnya, bahkan mungkin masih sedikit diatasnya.

“Hm, orang tua, engkau lumayan licik dengan menipu soal panjang pendeknya senjatamu”

“Anak muda, tutup mulutmu. Siapapun tahu, senjataku bisa molor dari panjang normalnya …. Hahahahaha”

“Baik, kita lanjutkan” Ceng Liong memutuskan untuk menggempur dengan ilmu yang baru …. Pek Lek Sin Jiu. Ilmu Kong Siang Han yang akhir-akhir ini ditekuninya dan semakin diperdalamnya. Bahkan terakhir, di Siauw Lim Sie dia “memasak” kembali sinkangnya guna memperkuat ilmu ini dan juga ilmu mujijat gurunya Pek Hong Cao-yang-sut Sin Ciang (Tangan Sakti Awan Putih Memanggil Matahari).

Matanya menyiratkan kepenasaran, dan dia menyiapkan jurus-jurus hebat dari Pek Lek Sin Jiu untuk melawan kakek hebat ini. Dia kemudian menggerak-gerakkan tangannya dan meluncurlah hawa panas yang lebih hebat dari tubuhnya. Luar biasa panasnya karena kini dia memainkan Pek Lek Sin Jiu – Pukulan Halilintar.

Telapak tangannya seperti berubah menjadi putih, berkilau, dan jurus pertama Halilintar Membelah Angkasa dikembangkan dan dikerahkan kearah Koai Tung Sin Kay. Ornag tua itu dnegan segera merasakan

menyebarnya hawa panas yang laur biasa dari tubuh anak muda sakti lawannya itu.

“Hm, Pek Lek Sin Jiu, hebat-hebat anak muda. Rupanya si pengemis tua itu mengajarimu juga ya. Mari, mari biar kita saling uji ilmu siapa yang lebih ungkulan bila diadu”

Kembali udara sekitar mereka berdua dirusak oleh kedua jenis suara berbeda. Hanya, kali ini, suara yang lahir dari ilmu-ilmu itu sungguh menggelegar dan tidak ditahan-tahan. Pukulan-pukulan Ceng Liong membelah angkasa dan menggetarkan udara serta dengan suara memekakkan.

Pukulan-pukulan itu tertahan dan diimbangi oleh jurus tongkat yang luar biasa aneh dan lihay dari Koai Tung Sin Kay. Dan tidak lama kemudian, nampak pukulan Ceng Liong seperti diarahkan untuk memburu tongkat lawan, itulah jurus kedua Pek lek Sin Jiu Halilintar Menerjang Angin. Lengannya tidak takut diadu dengan tongkat, bahkan mencecar tongkat itu dari semua arah dengan ledakan-ledakan petir yang memekakkan telinga.

Tetapi pada saat itu, manakala dengan cepat Ceng Liong menukar jurus loncat ke jurus keempat Halilintar Bartalu-talu di Udara, tiba-tiba telinganya menangkap sebuah suara yang dikirimkan dengan lembut dan menyentuh sanubarinya:

“Long jie, sudah cukup. Sudah cukup engkau menempurnya, saatnya sekarang engkau pergi. Pentolan-pentolan mereka sedang memburu kemari, sudahi dan cepat pergi sebelum mereka tiba ditempat ini”

Sadarlah Ceng Liong, bahwa penggunaan Pek Lek Sin Jiu akan mengundang banyak orang. Karena itu, dengan tiba-tiba dia melontarkan jurus ketujuh yang maha hebat, Sejuta Halilitar Merontokkan Mega, dan menekan kekuatan geledeknya tetapi menyerang mata batin orang.

Dugaannya tepat, Koai Tung Sin Kay seperti gelagapan sejenak, tetapi yang sejenak itu sudah cukup bagi Ceng Liong untuk melesat mundur ke belakang sambil berkata:

“Locianpwe, sudah cukup untuk hari ini” Dan melayanglah dia menjauh. Koai Tung Sin kay yang penasaran ikut melesat untuk mengejar, tetapi sebuah suara tiba-tiba menegurnya, bahkan serangkum angin serangan juga mengarah ke tubuhnya:

“Biarkan dia pergi” suaranya sangat halus dan lembut, tetapi serangan yang mengarah ke tubuhnya sungguh dengan kekuatan yang tidak main-main. Dengan terpaksa langkahnya di tahan, dan dipapaknya serangan itu:

“duaaaaaar”

Akibatnya langkahnya terhenti, bahkan dia terhuyung 2 langkah, dan lawannya nampak sudah melayang menjauh setelah sanggup melontarkannya ke belakang. Dan dia mendengar suara:

“Lain waktu kita bertemu kembali”

Dan penyerang itupun berlalu laksana angin. Tinggallah Koai Tung Sin Kay yang tercenung kebingungan, siapa gerangan yang menyerang dan menahan langkahnya? Sungguh hebat orang itu, nampaknya bahkan tidak berada disebelah bawah kesaktiannya. Dan,

anak muda tadi, juga bahkan tidak akan sanggup dikalahkannya dalam 100-200 jurus.

Bahkan mungkin sudah akan menyamai kesaktiannya. Sungguh sulit diterimanya, bahwa begitu banyak tokoh sakti yang merendenginya, padahal 40 tahun sebelumnya, selain 4 tokoh utama Tionggoan, dia membanggakan diri sebagai tokoh utama pula.

“Sin Kay, apa yang terjadi” sebuah suara tiba-tiba terdengar didekatnya dan dibelakangnya sudah berdiri seorang tua, Lhama Tibet, siapa lagi jika bukan Bouw Lek Couwsu.

“Aku bertemu hantu” sembarangan Sin Kay menjawab. Mana mau dia mengaku telah bertemu lawan muda yang mampu mengimbanginya dan tokoh lain, yang seorang lagi bahkan mampu membuatnya terhuyung-huyung?

Tapi, kepongahan Koai Tung Sin Kay inilah yang menyelamatkan informasi yang dimilikinya untuk tidak disampaikan kepada yang lain. Karena itu, banyak yang masih beranggapan bahwa, persiapan mereka sudah matang dan siap menyergap para pendekar Tionggoan.

Sayang, kesombongan Koai Tung Sin kay untuk mengakui apa yang terjadi membuat mereka kehilangan pengamatan lain. Sesuatu yang harusnya menguntungkan mereka, malah terlewatkan begitu saja.

Dan, seandainya Koai Tung Sin Kay memberi tahu apa yang terjadi dan kemudian mengejar bersama Bouw Lek Couwsu dan ketiga Hu Pangcu Thian Liong Pang yang datang bersamanya, maka mungkin cerita akan menjadi lain.

Tapi, untunglah semua itu tidak terjadi. Padahal, seandainya dilakukan, mereka akan menemui Ceng Liong dan anak muda lain dan keseimbangan pasti akan bergeser dan akan sangat merugikan pihak anak anak muda tersebut.

Sementara itu Ceng Liong yang berlari menjauh tiba-tiba merasa ada sesuatu yang tidak wajar dalam pernafasannya. Bahkan kepalanya seperti berkunang kunang dan nyaris pingsan. Menyadari keadaan tersebut, dia tiba-tiba sadar, bahwa nampaknya ada hawa beracun yang sempat terhirup masuk olehnya.

Karena itu, dengan menguatkan dirinya, dia mencari daerah yang dirasanya cukup aman. Untungnya, daerah seputarnya rata-rata adalah hutan yang sangat lebat, sehingga mudah mencari tempat yang cukup aman baginya untuk memusatkan konsentrasinya. Ditemukannya sebatang pohon yang sangat besar, rindang lagi, dan kemudian dia bersamadhi dibawahnya. Ada beberapa kali putaran hawa murni dilakukannya dan beberapa kali berusaha mendesak hawa beracun keluar dari tubuhnya.

Sedang dia berusaha sekuat tenaga, tiba-tiba sebuah tangan menempel di belakangnya, dan anehnya segulung tenaga Giok Ceng Sinkang yang sangat kuat membantunya.

Segera dia menyambut bantuan tenaga tersebut, bahkan kemudian membuatnya semakin lama semakin kuat dan mendesak racun keluar dari tubuhnya. Setelah racun itu keluar, sebuah suara bening terdengar memasuki keheningan konsentrasi dan samadhinya:

“Liong jie, mengapa tidak mencoba meresapi makna

“Memukul tidak dengan benci, menyerang bukan dengan amarah. Bukan untuk melukai, tapi untuk melindungi dan menghidupkan”

Ceng Liong bukan orang bodoh, sudah berusaha dipecahkannya intisari dari kalimat itu, tapi belum juga terpecahkannya. Dan kini, dalam konsentrasi penuh, kembali dia diingatkan akan makna yang sebaiknya dicari dari kalimat penuh makna itu.

Maka kembali dia tenggelam dalam sebuah upaya pencarian. Pencarian makna sebuah kalimat. Nampak kalimat tersebut sederhana saja, tetapi sebetulnya bermakna sangat dalam. Dan kedalaman itu yang coba untuk dijenguknya lebik jauh.

Kiang Ceng Liong, Liang Mei Lan, Liang Tek Hoat, adalah anak muda didikan tiga tokoh utama golongan putih. Ilmu mereka sebetulnya dibangun di atas dasar “menumbuhkan” bukan “membinasakan”. Atau dibangun diatas kepentingan “membangun” dan bukan “merusak”. Ilmu-ilmu golongan putih, biasanya dibangun di atas kepentingan untuk kesehatan badan, terutama aliran utama Siauw Lim Sie dan juga tentunya Bu Tong Pay. Ilmu Pualam Hijau, juga sebetulnya ada dalam falsafah tersebut.

Menumbuhkan, membangun dan bukan merusak dan membinasakan. Jika falsafah dan substansi utama ilmu tersebut bergeser ke upaya merusak dan membinasakan, maka ilmu-ilmu golongan putih, bukan cuma kehilangan “saripatinya”, tapi juga kehilangan kemurniannya. Dan kesempatan menemukan dan mencapai kematangan dan kesempurnaan, justru akan menguap.

Ibaratnya, rumah yang dibangun untuk menjadi tempat tinggal. Tapi bila rumah tinggal itu kemudian dalam pengerjaannya melenceng dan

menjadi sangat mewah sejenis hotel atau rumah penginapan, maka meskipun bentuknya rumah, tetapi bukan lagi sebuah rumah tempat tinggal. Karena falsafahnya sudah bergeser dan ada tambahan-tambahan yang sebenarnya melencengkan nilai dasar dari tujuan membuat sebuah rumah tinggal.

Ilmu-ilmu golongan putih, apabila dirasuki oleh kekuatan mematikan dan merusak, justru akan kehilangan sentuhan kesempurnaannya. Pada tataran tertingginya, maka sulit menyempurnakan ilmu-ilmu murni golongan putih, apabila falsafah itu sudah bergeser.

Dan, orang tua aneh yang membisikkan falsafah ini ke Ceng Liong, sebetulnya melihat, bahwa baik Ceng Liong maupun Tek Hoat, dalam usia yang sangat mudah, sudah di persimpangan untuk “menyempurnakan ilmu mereka” atau justru akan melenceng dan sulit menemukan kesempurnaan itu. Mengapa? Karena kekuatan dan tingkat Ilmu mereka sudah berbentuk, sudah menemukan bangunan yang pas, dan tinggal menentukan apakah bentuk akhirnya “rumah tinggal” atau “hotel”.

Dengan demikian, orang aneh itu, ingin memberi pesan bagi mereka akan falsafah dasar keilmuan ketiga anak muda itu. Dan dengan cara itu, orang tua itu menginginkan agar ketiganya secara benar menemukan bentuk akhir dari ilmu ilmu yang mereka dalami. Menemukan kedalaman dan kesempurnaan sejati dari ilmu silat mereka.

“Liong jie, ingatlah apa yang membuatmu ingin memukul jatuh Koai Tung Sin Kay? Apa yang membuatmu ingin memenangkan pertarungan? Apakah dengan benci dan amarah, apakah dengan nafsu ingin menang, ingin pamer kehebatan? Atau bukan untuk melukai,

tetapi untuk melindungi, menghidupkan dan mengasihi”? kembali sebuah bisikan tenang dan teduh memasuki sanubari Ceng Liong. “Ingatlah, apa alasan kakekmu dan kong chow untuk memperdalam ilmumu. Untuk melindungi umat persilatan Tionggoan, untuk kehidupan, bukan untuk kebinasaan, membunuh, pamer atau sok menang”

Nampak Ceng Liong yang dalam perenungan mendalamnya seperti mendapati seberkas cahaya yang menerangi apa yang selama ini gelap baginya. Benar, bukan hanya sekedar karena dia menyerang dengan amarah, bukan. Sama sekali bukan.

Tetapi, yang terutama, adalah membangun dan memupuk kekuatan dan kesempurnaan dengan jauh dari pamrih ingin menjadi yang terutama, ingin menjadi yang terhebat. Ingin menguasai dunia, ingin menjadi nomor satu, atau ingin membunuh orang sebanyak-banyaknya. Pisahkan nafsu untuk merusak dengan nafsu untuk membangun, maka bukan kemenangan dalam perkelahian yang terutama, tetapi kemenangan karena menemukan bentuk ilmu yang sebenarnya.

Dan akhirnya bibir itu tersenyum. Badannya melemas dan konsentrasi kemudian perlahan dibuyarkan. “Kong-kong, terima kasih”, tapi orang tua itu sudah tidak lagi berada ditempatnya. Siapa lagi, kalau bukan Kiang Cun Le?

Ceng Liong yang menemukan makna dari kalimat yang disampaikan orang tua aneh, tiba-tiba memejamkan mata dan kemudian berkonsentrasi sejenak. Tidak lama kemudian, dengan gerakan-gerakan sederhana, seadanya, dia bersilat dan mempraktekkan kembali semua yang diketahuinya.

Aneh, sungguh ringan rasanya, dan sungguh tanpa rasa takut kalah, takut kena pukul, tanpa khawatir kena tusuk, kena tendang, tetapi geletar-geletar pembuluh darah dan indra lainnya sungguh meningkat tajam. Sungguh hebat, dalam waktu sehari, Ceng Liong menemukan sesuatu yang sangat menentukan dalam perjalanan pembentukan ilmu silatnya.

Bahkan diapun menjadi sadar, beberapa gerakan sederhana akan bisa sangat berbahaya dan bermanfaat, sejauh untuk apa manfaat gerakan tersebut. Apalagi, bila sanggup memahamkan makna terdalam dari ilmu-ilmu dahsyat yang selama ini telah dilatih dan bersarang dalam tubuhnya.

Dia membayangkan, seandainya tanpa amarah dia menyerang Koai Tung Sin Kay, maka tiada rasa takut, ngeri dan jeri dalam hatinya. Dan akan bisa dia memainkan ilmunya dalam tataran tertingginya, tanpa khawatir apakah dia akan terpukul atau tidak. Seluruh mekanisme tubuh dan geraknya sudah bisa dikuasainya, bahkan termasuk kekuatan sinkangnya. Pengamatan yang tepat atas kemampuan diri, bergerak cepat tapi lambat, lambat tapi cepat, dengan sendirinya dipahaminya dengan lebih muda.

Tapi heran, dia sangat ingin membagi pemahamannya dengan Mei Lan dan Tek Hoat, karena bertiga mereka memperoleh pesan itu. Seharusnya, bertiga mereka memperdalam dan memahaminya.

Sementara Ceng Liong memahamkan substansi dan dasar pembentukan ilmunya, dia tidak tahu bahwa sudah lebih dari sejam dia berkonsentrasi dan menemukan makna itu, Artinya, sudah sejam dia terlambat.

Dan dia tidak tahu, bahwa Tek Hoat juga menemukan lawan yang tidak kurang lihay dari yang ditemukannya. Dan selama hampir sejam Tek Hoat mempertaruhkan jiwanya untuk melawan Iblis lain yang maha dahsyat ….. Kim-i-Mo Ong.

Episode 3: Menghadapi Penghadangan

Sebagaimana diketahui, Tek Hoat menyelesaikan missinya dalam waktu singkat. Berbeda dengan Mei Lan dan Ceng Liong yang justru melakukan pertarungan mati-matian, dan dalam pertarungan itu, justru menemukan sari dari pertanyaan yang membingungkan mereka.

Tek Hoat, setelah melaksanakan misinya, kemudian menunggu dan beristirahat di bawah sebatang pohon di tempat perjanjian mereka untuk bertemu setelah tugas selesai. Tetapi sayang, setelah beberapa saat menunggu, bukannya Ceng Liong yang datang, tetapi Lam Hok dan Gan Bi Kim. Keduanya baru saja melarikan diri dari pertarungan, terutama Lam Hok yang baru saja dikalahkan oleh Kwi Song.

Sementara Gan Bi Kim sendiri tidak terluka, karena dengan cerdik dia tidak melawan mati-matian. Dia tahu diri, Giok Lian lebih matang , jauh lebih matang penguasaan ilmunya, meskipun masih kalah pengalaman.

Pada saat itu, Tek Hoat sebetulnya sedang dalam konsentrasi untuk mencernakan kembali pesan yang disusupkan ke sanubarinya oleh orang tua aneh yang ditemukan bertiga dengan Ceng Liong dan Mei Lan. Tapi, dia tidak kehilangan kewaspadaan. Dia tahu ada langkah kaki pria dan wanita yang mendatangi. Dan disangkanya Ceng Liong dan Mei Lan.

Dugaannya meleset, karena yang datang adalah Lam Hok dan Bi Kim. Lam Hok yang sedang kesal karena terpukul terluka ditangan Kwi Song, ketika melihat ada seorang anak muda lain di bawah pohon dan nampaknya sedang samadhi, dan wajahnya bersinar cerah dan cakap, menjadi cemburu dan kesal. Tanpa ba bi bu, dilayangkannya sebuah pukulan dengan Kiam Ciang yang berbahaya ke arah Tek Hoat.

Sudah tentu Tek Hoat terperanjat, tetapi tidak gugup. Dengan cepat dia mengerahkan tenaganya dan disambutnya serangan Kiam Ciang itu dengan tenaga kerasnya yang tersalur melalui penggunaan hawa pedang Toa Hong Kiam Sut dari gurunya terakhir, Kiang Sin Liong. Akibatnya:

“duaaaaar, bresss” Lam Hok yang tidak menyangka akan mendapatkan sambutan keras karena pandang enteng, selain memang kondisi tubuhnya yang terluka, terpental jatuh. Dan dari mulutnya kembali mengalir darah segar, meskipun lukanya tidaklah separah dihajar Kwi Song sebelumnya. Tetapi, jatuhnya Lam Hok, membuat murka orang yang membayangi kedua anak muda itu.

Orang itu, justru adalah guru Lam Hok, seorang maha iblis pada masa lalu yang sangat ditakuti. Dan orang itu yang biasanya tidak mau tahu aturan menjadi murka melihat muridnya kembali muntah darah dihadapannya. Bagaimana tidak orang tua itu tidak menjadi marah? Barusan muridnya kalah dan terpukul, ketika hendak memberi pukulan balasan, justru seorang nikouw sakti membuatnya terpental pergi, meski dia tahu dia tidak di bawah kesaktian nikouw itu yang juga terdorong kebelakang dalam adu kesaktian tadi.

Tapi bahwa nikouw itu sangat sakti, belakangan harus dia akui, karena tidak banyak orang yang sanggup memapas serangannya dan

membuatnya goyah pula. Dan sekarang, mana sanggup dia mendiamkan muridnya kembali dipermalukan dihadapannya?

“Anak muda tak tahu diri, bersiaplah. Aku harus menghajar adat kepadamu” Kim-i-Mo Ong yang sedang gusar, masih merasa malu untuk langsung menyerang orang muda.

“Maafkan locianpwe, siauwtee tidak tahu kalau dia sedang terluka”

“Tidak, dengan sembarangan engkau menyerangnya”

“Tapi, dia yang membokongku locianpwe. Aku hanya menangkis saja”

“Menangkis”? ingin kulihat mengapa engkau sanggup melukainya orang muda. Bersiaplah”

“Ach, locianpwe bagaimana mungkin”

Tapi suaranya hilang, karena tiba-tiba berkeredepan sinar keemasan dari jari jari kakek tua itu, mengarah ketubuhnya. Mau tidak mau Tek Hoat menyambutnya, karena menghindar nampaknya agak susah dan bisa dicecar dengan serangan jari yang sama. Tek Hoat menyambutnya dengan pengerahan hawa pedang Toa Hong Kiam Sut dan memapak serangan kakek tua berjubah emas itu.

“bresss, cussss” benturan hawa tajam dari kedua tangan orang berbeda jauh usianya itu sungguh bagaikan benturan dua benda tajam.

“Hm, tidak heran kamu pongah anak muda. Bahkan Kim Coan Kut Ci (Jari emas penembus tulang) pun bisa kamu tangkis dengan baik. Hahahahaha, mari, mari kita bermain main sebentar anak muda”

Tek Hoat meringis, karena meskipun tidak terluka, tetapi tangannya tergetar kuat oleh sentilan jari penembus tulang kakek tinggi besar berjubah emas itu. Tapi mendengar ilmu kakek itu, dia segera sadar, kalau saat itu dia sedang berhadapan dengan Kim-i-Mo Ong. Mau tak mau dia menyiapkan dirinya untuk menandingi kakek tua yang dia tahu lihay bukan main itu.

Dan Tek Hoat tidak menunggu lama, kembali kakek berjubah emas itu menyentilkan tangannya dan mencecarnya dengan sentilan-sentilan jarak jauh. Tetapi karena sudah siap, Tek Hoat menyambutnya dengan sebat. Tangannya bergerak cepat menghalau setiap serangan tajam yang dilakukan Kim-i-Mo Ong. Dan tidak berapa lama kemudian, kakek jubah emas itu mulai menambah serangan dengan mengembangkan ilmu lainnya.

Kini dia mengembangkan ilmu lainnya, Kim-i-Sin Kun, Silat Sakti Jubah Emas yang biasanya dibarengi dengan pengerahan Sinkang Baju Emas (Kim-i-Sinkang). Akibatnya sungguh luar biasa, dia berkelabat-kelabat menyerang Tek Hoat yang dengan cepat memapaknya dengan ilmu kebanggaan gurunya, Hang Liong Sip Pat Ciang.

Diapun dengan cepat mengimbangi gerakan kakek itu dan menyerang dengan sama beratnya, bahkan dari mulutnya terdengar erangan-erangan Naga yang mengimbangi kecepatan gerak si Kakek jubah emas. Melihat gerakan Tek Hoat, sadarlah Kim-i-Mo Ong dengan siapa dia berhadapan. Murid Kiong Siang Han, tidak salah lagi.

Mengerti bahwa lawannya mewarisi ilmu dari musuh besarnya, Kim-i-Mo Ong jadi tidak berayal, dengan segera dia meningkatkan penggunaan singkang jubah emasnya. Dan dengan memainkan jurus

“jubah emas menggulung angin”, tubuhnya berkelabat cepat dan seakan-akan mengelilingi tubuh Tek Hoat dengan selimut keemasan.

Sadar akan bahaya, Tek Hoat mengembangkan jurus “Naga Emas Meliuk-liuk menyibakkan air” – tubuhnya dengan lemas meliuk-liuk dan kedua tangannya melemparkan beberapa pukulan tajam kearah “selimut” yang berusaha menggulungnya. Pukulan-pukulan berat Tek Hoat memang berhasil menyibak selimut itu, tapi dia segera sadar bahwa tenaganya masih kalah seusap dengan Kakek tua yang sangat hebat itu.

Dia sadar mengapa gurunya sangat mengingatkan dia untuk waspada dengan kakek tua ini, terbukti Kim-i-Mo Ong memang hebat. Meski sudah dilatih habis-habisan oleh gurunya dan oleh Kiang Sin Liong, tenaganya masih belum memadai, kalah tipis saja. Tapi, kalah tenaga tidak berarti dia kalah ulet, kalah cepat dan kalah segalanya. Meskipun sedikit terdesak, tetapi posisi Tek Hoat tidaklah berbahaya.

Dia masih menang pesat dalam bergerak. Tapi pengalaman kakek jubah emas itu membuat dia di atas angin, meski tidak sangat mendesak Tek Hoat.

Menyadari bahwa sulit membekuk Tek Hoat, Kim-i-Mo Ong mencoba dengan Ilmu lainnya Kim Liong Sin Ciang (Tangan Sakti Naga Emas) dan kembali menyerang dalam jurus “Naga Emas Mencakar Bumi”. Cakar-cakar naga emas seperti menghunjam kearah Tek Hoat, yang dengan segera kembali memapak dengan jurus ke-17 dari ilmu pusaka gurunya “Menaklukkan Naga menggetarkan mega”.

Baik kedua kaki maupun kedua tangan bergerak-gerak indah dan mementalkan semua cakar naga yang dibentuk oleh Kim-i-Mo Ong.

Berkali-kali juga kedua belah tangan mereka bertemu dan adu tenaga. Dan akibatnya, meski tidak terluka dalam, tetapi Tek Hoat merasakan kesakitan di kedua belah tangannya. Tapi dengan mengerahkan tenaganya, dia mengeraskan hati dan tetap bertempur penuh semangat. Mau tak mau Kim-i-Mo Ong memuji keuletan dan kecerdikan pemuda lawannya ini.

Menyadari dia harus menghemat tenaga dan menghindari benturan tenaga sambil menguras kekuatan fisik lawan, Tek Hoat tiba-tiba menghentakkan Tongkat wasiat gurunya. Tongkat itu jarang dia gerakkan sebagai senjata, saking sayang dan cintanya akan barang peninggalan gurunya itu.

Tapi, mendadak dia ingat, bahwa tidak harus dia beradu tenaga langsung bila menggunakan senjata tersebut. Lagipula dia bisa menggunakannya dengan Toa Hong Kiam Sut atau bahkan salah satu ilmu wasiat Kay Pang, Tah Kauw Pang Hoat. Maka mendengunglah tongkat tersebut ketika dipergunakannya dengan Ilmu Toa Hong Kiam Sut. Dengan penuh kepercayaan diri, dia menyerang dan membalas serangan-serangan Kim-i-Mo Ong yang dengan berani memapak tongkat tersebut. Nampak sama sekali Kim-i-Mo Ong tidak keder dengan tongkat itu, karena memang sinkang jubah emas memberinya kekebalan fisik dan berani memapak senjata tajam seperti pedang ataupun golok.

Jubah yang dikenakannyapun, terutama bagian belakang, adalah jubah wasiat. Jubah yang tidak mempan senjata, senjata apapun tidak sanggup memapasnya. Dan jubah itu juga yang membantunya meningkatkan kekuatan sinkangnya sejak muda, Karena memang jubah itu adalah Jubah Emas Wasiat, salah satu benda pusaka rimba persilatan.

Dengan menggunakan Tongkat Pusakanya, Tek Hoat berhasil mengurangi desakan dan tekanan atas dirinya. Apalagi, kemudian dia mengkombinasikan Tah kauw Pang Hoat dengan Sin Liong Cap Pik Ciang (Delapan Belas Pukulan Naga Sakti).

Dengan tangan kanan memainkan tongkat gurunya, tangan kirinya bergerak dengan ilmu pukulan Sin liong Cap Pik Ciang. Akibatnya sungguh hebat, dia kemudian berhasil menghadiahkan sebuah pukulan tongkat ke punggung Kim-i-Mo Ong, tetapi yang sama sekali tidak memberinya keuntungan. Karena Kim-i-Mo Ong malah tertawa sambil berkata:

”pukul lebih kuat anak muda, hahahahaha“

”ayo, pukul terus, pukul terus“

Tapi Tek Hoat yang tahu akan kehebatan jubah wasiat tersebut tidak terpengaruh untuk terus memukul daerah punggungnya. Apalagi, tiba-tiba dia mencium bau amis, ketika Kim-i-Mo Ong menggunakan Ngo-tok-kim ciang (Tangan Emas Panca Racun) menyerangnya. Untungnya, dia memiliki kekebalan hebat atas racun.

Karena itu, dia sama sekali tidak takut dengan jurus-jurus beracun yang dikembangkan lawannya. Tetapi, kehebatan jubah wasiat dan serangan-serangan beracun, apalagi ketika dilakukan dengan kehebatan dari Kim Coan Kut Ci, membuat Tek Hoat tetap menjadi sibuk.

Menghadapi serangan-serangan beracun itu, Tek Hoat memutuskan menggunakan ilmu kerasnya, Pek Lek Sin Jiu. Dan, benar saja, ledakan pertama sempat membuat Kim-i-Mo Ong tersentak, tetapi malah senang karena sudah lama belum lagi berhadapan dengan

Pukulan Petir itu. Tek Hoat mengumbar jurus-jurus berat itu untuk menahan desakan tajam dari Kim Coan Kut Ci dan hawa Ngo Tok Ciang yang berbahaya itu.

Sampai 100 jurus lebih, Tek Hoat masih tetap seusap kalah dibawah Kim-i-Mo Ong, meski kondisinya tidaklah membahayakan. Betapapun, mutu ilmunya tidak di bawah lawan, hanya kalah pengalaman saja. Karena itu, sampai jurus ketujuh Pek Lek Sin Jiu dia sama sekali tidak di bawah angin, meski juga sulit berbuat banyak terhadap raja iblis itu.

Sejak jurus kelima Pek lek Sin jiu, Kim-i-Mo Ong yang tahu kehebatan ilmu itu, mulai meliuk-liuk dengan ginkangbarunya, Kim coa ong hoan sin (raja ular emas membalikkan tubuh). Tubuhnya yang lincah meliuk-liuk persis ular, dan membuat Tek Hoat sulit untuk menyerangnya dengan ilmu puncak pek lek Sin Jiu pada jurus ke delapan.

Akibatnya, susah bagi Tek Hoat untuk menjaga momentum menyerang dengan jurus mautnya. Karena Kim-i-Mo Ong bergerak lemas dan meliuk-liuk lincah. Pengerahan Pek lek Sin Jiu yang berlebihan agak berbahaya, dan Tek Hoat tahu benar soal itu.

Karenanya, dia memilih melepas kesempatan menyerang dengan jurus pamungkas dan memilih untuk kembali memainkan Sin Liong Cap Pik Ciang (Delapan Belas Pukulan Naga Sakti) dengan ditopang oleh kelincahan gerak Tian-liong-kia-ka’ (naga langit menggerakkan kakinya). Kali ini dia mengandalkan kecepatan dan daya tahan tubuh untuk menguras stamina Kim-i-Mo Ong.

Si Raja Iblis Jubah Emas itu, benar terpancing untuk kembali menyerang dalam gabungan jurus Kim Coan Kut Ci dan Kim -i-Sin

Kun. Serangan jarinya menyebar kesana kemari, tetapi jurus pukulan yang memadukan hang Liong Sip Pat Ciang dan ledakan pek lek Sin Jiu cukup ampuh menandinginya, meskipun dia jatuh dibawah angin.

Lama kelamaan Kim-i-Mo Ong sadar, bahwa dia bisa susah bertahan lama. Jika pertempuran terus berlanjut, maka posisi dia akan berbahaya. Usianya betapapun sudah sangat tua. Dan menyadari keterbatasannya itu, akhirnya Kim-i-Mo Ong bertekad untuk menyelesaikan pertempuran.

Tenaganya ditingkatkan sampai 8 bagian dalam pengerahan kim-i-Sinkang dengan mengerahkan Kim liong sinciang dan kim coan kut ci. Suara serangannya mencicit-cicit mengerikan diiringi oleh hentakan-hentakan yang juga datang bertalu-talu. Sementara tek Hoat memainkan jurus-jurus ampuh dan pamungkas dari Sin Liong Cap Pik Ciang dan gerakan kaki Tian liong kia ka.

Tapi, betapapun dia tetap kalah seurat, apalagi karena benturan demi benturan mulai medatangkan rasa sakit ditangannya. Sementara kelenturan dan kecepatannya tertutup oleh hawa pukulan yang menyebar kesana-kemari. Meskipun tidak akan jatuh dan kalah, tetapi kondisi Tek Hoat memang mengkhawatirkan.

Pada saat yang tepat itulah, dia berpikir untuk mengerahkan jurus terakhirnya dari Kiong Siang Han Sin-kun Hoat-lek (Ilmu Sihir Silat Sakti). Dan memang tiada jalan lain, dengan cepat dia mengerahkan kekuatan sinkangnya sampai batas kemampuannya. Dan dengan cepat dia menggunakan jurus-jurus awal yang sampai menghentakkan dan mendorong Kim-i-Mo Ong mundur kebelakang dan terbelalak melihat bagaimana wibawa yang dihasilkan Tek Hoat karena pengerahan ilmu mujijat itu.

Dari kedua tangannya menyambar-nyambar hawa yang luar biasa panasnya, tetapi nyaris tidak besuara. Dan wajahnya seperti sangat berwibawa dan susah dipandang. Kim-i-Mo Ong sadar apa artinya. Segera dia menghimpun kekuatan mengerahkan Kim – i – Hoatsut (Sihir Jubah Emas), membentengi diri dan kembali menyerang. Terdengar benturan beberapa kali antar ilmu-ilmu dahsyat dan ampuh yang mereka kerahkan.

Pada saat-saat menentukan itulah tiba-tiba terdengar seruan:

”Koko, bertahanlah, biar aku membantumu melawan setan tua jahat itu“ Seruan yang keluar dari bibir Mei Lan ini sungguh sangat berpengaruh. Sekali dengar, Kim-i-Mo Ong sadar, lawan yang datang tidak kurang tangguh dibanding Tek Hoat, karena getaran suaranya mampu menembus perisai sihir yang dipasangnya. Tidak, mereka atau dia akan kalah bila dikerubuti dua orang sekelas Tek Hoat.

Karena itu, tiba-tiba dia mengerahkan serangan kearah Tek Hoat dalam ilmu Kim Coan Kut Ci yang dahsyat dan penuh tenaga. Tek Hoat memapaknya dan akibatnya dia terdorong sampai 4 langkah, sementara Kim-i-Mo Ong terdorong hanya satu langkah kebelakang. Dan setelah itu Kim-i-Mo Ong berujar:

“Cukup anak muda, lain kali kita lanjutkan“, dan setelah itu bayangan emas itu berkelabat pergi bersama Gan Bi Kim dengan memondong tubuh muridnya yang sedang terluka.

”Koko, baik-baikkah engkau“? Mei Lan berjalan mendekat dengan khawatir

”Lumayan moi-moi. Paling tidak hanya kecapekan saja“ watak main-main Tek Hoat kambuh lagi. Tapi memang selain sakit-sakit fisik, dia tidak mengalami luka dalam.

”Tapi, apakah kakek berjubah emas itu adalah Kim-i-Mo Ong, hem nampaknya dia memang hebat koko“

”Benar moi-moi, tapi setidaknya kita masih sanggup menandinginya. Jika kalahpun tidak terpaut jauh“

”Baguslah jika begitu. Tapi, kemana gerangan Liong ko“?

”Ach, kau lebih mengkhawatirkan orang lain ketimbang kokomu ya” goda Tek Hoat

“Ach koko, bukan begitu. Waktu terus berlalu, dan kita dikejar waktu untuk bertemu dengan rombongan pendekar“ Mei Lan beralasan.

”Betul juga, kita tunggu sebentar lagi“ Tek Hoat menyarankan. Tapi mereka tidak menunggu lama, karena sejenak kemudian Ceng Liong menghampiri kedua kakak beradik itu, dengan senyum dan sinar mata yang nampak lebih tenang.

==================

”Baiklah, jika demikian, kita akan menerobos hadangan mereka hari ini juga. Persoalan serangan beracun, semoga Pangcu akan segera bergabung sore atau menjelang malam. Kekuatan kita memang tidak sebanding dengan mereka, tetapi para pendekar rata-rata memiliki kemampuan memadai untuk bertempur“ Pengemis Tawa Gila berkata dihadapan Ceng Liong, Tek Hoat, Mei Lan, Sian Eng Cu dan Ciangbunjin Kun Lun Pay.

“Hu Pangcu, bagaimana dengan kesiapan para pendekar“ bertanya Tek Hoat

”Jika menunggu lebih lama, justru akan semakin buruk“ jawab si pengemis

”Artinya, saat ini juga kita harus berjalan“?

”Tepat, kami sudah membicarakannya sebelum kalian datang. Oh, ya, selain itu, kekuatan kita juga akan bertambah. Sebaiknya kalianpun tahu, kekuatan-kekuatan dari Bu Tong Pay, Kay Pang, Siauw Lim Sie, Kun Lun Pay, dan banyak pendekar lain sudah dalam perjalanan untuk bergabung. Pertempuran ini akan berlangsung sampai Thian Liong Pang tumpas dari Tionggoan“ tegas Pengemis Tawa Gila yang diiyakan oleh tokoh lain ditempat itu.

”Baiklah, sekarang kita perlu berunding dengan para tokoh yang lain. Sebaiknya melibatkan banyak pihak biar merekapun tahu rencana keseluruhannya“ Pengemis Tawa Gila menyambung.

”Benar, dan saatnya sudah tiba“ ujar Sian Eng Cu, yang kemudian disetujui tokoh yang lain. Selanjutnya pertemuan mereka dilanjutkan dengan membahas rencana menembus hadangan Thian Liong Pang.

Tetapi, sementara pertemuan para pendekar dilanjutkan, Ceng Liong, Tek Hoat dan Mei Lan memilih untuk menemui kawan-kawan mereka. Dan diijinkan oleh Pengemis Gila Tawa dan Sian Eng Cu. Mereka berbagi cerita dan informasi soal penghadangan dan kekuatan Thian Liong Pang serta bagaimana usaha mereka untuk membantu para pendekar.

Seperti biasanya Ceng Liong yang mengatur percakapan mereka, dan juga strategi yang mereka jalankan. Setelah mengetahui bahwa Tek Hoat juga sempat bentrok dengan Kim-i-Mo Ong, maka Ceng Liong memperhitungkan ada banyak lawan tangguh di pihak lawan. Karena bila Kim-i-Mo Ong, Koai Tung Sin Kay dan Bouw Lek Couwsu hadir, maka harus ada yang menandingi mereka. Untunglah, pendekar samurai Jepang sudah bisa dituntaskan Mei Lan, sehingga bisa mengurangi ancaman pembantaian di pihak kelompok pendekar.

Sementara dalam hitungan Ceng Liong, di pihak pendekar masih ada Barisan 6 Pedang, Lo Han Tin Siauw Lim Sie, kemudian juga ada Sian Eng Cu, Ciangbunjin Kun Lun Pay, Hu Pangcu Kaypang, Jin Sim Todjin dan Ciangbunjin Bu Tong Pay, serta masih ada beberapa tokoh besar lainnya.

Tapi, di pihak lawan, juga masih ada Ketiga Hu Pangcu, dan masih ada barisan para datuk sesat yang tersisa, terutama See Thian Coa Ong, Liok te Sam Kwi dan Thian-te Tok-ong (Raja Racun Langit Bumi) yang masih misterius dan ahli racun. Belum lagi bila mengingat adanya tokoh-tokoh muda mereka semisal Lam Hok dan Bi Kim, serta ratusan pasukan penghadang yang menurut Tek Hoat bisa mencapai angka lebih dari 500an.

Pertempuran berdarah, nampaknya tidak akan terhindarkan lagi. Sangat mengerikan membayangkan ratusan nyawa akan melayang. Tapi, nampaknya jalan untuk menghindarinya, juga sudah sulit untuk ditemukan.

”Sungguh sulit dan merisaukan membayangkan ratusan orang akan terbunuh melewati hadangan itu“ Ceng Liong mengeluh

”Tapi, takkan mungkin lagi dihindari saudara Ceng Liong“ Kwi Song menyahut

”Justru karena tak mungkin dihindari maka aku menjadi sedih“

“Selain itu, masa depan dan ketentraman Tionggoan juga dipertaruhkan“ Tek Hoat menyambung

”Karena itulah kita terpaksa harus menerima kenyataan wajib membantai banyak orang di arena pertempuran itu“ Ceng Liong menjawab sambil memandang satu persatu kawan-kawannya.

“Aku kagum denganmu Ceng Liong, kita benar-benar dipaksa dan terpaksa harus membuka jalan darah. Semoga Budha mengampuni” Kwi Beng yang pendiam diam-diam mengagumi Ceng Liong dengan pandangannya yang tak ingin membunuh orang itu.

”Baiklah, karena kita harus membuka jalan, dan berada dibaris terdepan, mau tidak mau kita harus berjalan di depan. Dan kita juga yang harus membunuh atau terbunuh lebih dahulu“

“Benar, maka sudah saatnya kita tetapkan bagaimana melakukannya, dengan tugas yang jelas diantara kita masing-masing. Sebaiknya kita berjalan berkelompok sesuai dengan bagaimana kita mengawal para tokoh pendekar Tionggoan“

Menghadapi Penghadangan (2)

Rombongan pertama yang berjalan justru adalah ke-6 anak muda itu. Berjalan seperti tidak tahu akan ada penghadangan, baru sedikit di belakang mereka berjalan Barisan 6 Pedang bersama dengan 3 orang dari Kay Pang Cap It Hohan.

Dan beberapa menit di belakang mereka baru menyusul rombongan para pendekar Tionggoan. Di belakang rombongan pendekar terdapat Siauw Lim Sie Lo Han Tin, sementara di depan berdiri para tokoh: Pengemis Tawa Gila, Kay Pang Hu Pangcu, Bu Tong Ciangbunjin, Kun Lun Ciangbunjin, Wkl Ciangbunjin Thian San Pay, Sian Eng Cu, Jin Sim Todjin, dll.

Perjalanan dilakukan dengan cepat, karena hari sudah melewati siang dan matahari mulai condong ke barat. Bila sampai kemalaman, maka persoalan baru akan mengintai dan tingkat kerumitan akan bertambah.

Begitu mendekati daerah yang sudah diketahui sebagai areal penghadangan Thian Liong Pang, Ceng Liong bersama dengan Kedua Pendekar Kembar dan Siangkoan Giok Lian berkelabat meninggalkan rombongan.

Mereka meninggalkan jalanan dan membiarkan Kakak beradik Liang Tek Hoat dan Liang Mei Lan yang kemudian disusul Kay Pang Cap t Hohan dan Barisan 6 Pedang untuk mengamankan jalanan. Kedua pendekar kembar menyerang ke sisi kiri, sedangkan Ceng Liong bersama Siangkoan Giok Lian menyerang kesisi kanan. Perhitungan mereka tepat untuk membuyarkan konsentrasi lawan dan memberi kesempatan Tek Hoat untuk memeriksa apakah ada lumuran racun di sepanjang jalan atau tepatnya di area yang bakal menjadi tempat penghadangan atau tidak.

Tidak berapa lama, suara pertempuran segera terjadi ketika Pendekar Kembar disisi kiri dan Ceng Liong serta Giok Lian bertemu dengan barisan penghadang yang bersembunyi disemak dan pepohonan.

Dugaan merekapun benar, penghadang di barisan depan rata-rata bukan barisan inti Thian Liong Pang dan karena itu tidak berbahaya meski hanya digebrak oleh dua orang saja. Ceng Liong dan Giok Lian bergerak cepat dan berpindah pindah tempat melayani keroyokan banyak orang, sama dengan yang dialami kedua pendekar kembar disisi lainnya.

Tapi karena lawan belum menurunkan inti kekuatannya, dan bahkan para tokoh utamanya masih belum menduga aksi lawan, akibatnya cukup banyak barisan penghadang yang terluka dan tertotok dibawah serbuan mendadak barisan pendekar muda itu. Terlebih ditangan Giok Lian yang tidak segan-segan menurunkan tangan kejam dengan melukai dan bukannya menotok jalan darah lawan seperti Ceng Liong.

Belum lagi barisan itu melakukan penyerangan, mereka malah sudah diserang lebih dahulu dan membuyarkan rencana penghadangan yang diharapkan akan dilakukan setelah barisan para pendekar buyar.

Tetapi, semakin lama semakin banyak barisan pengeroyok Ceng Liong dan Giok Lian, demikian juga Pendekar kembar disisi lain. Hal ini terutama karena segera setelah tersentak, barisan penghadang itu kemudian perlahan namun pasti mulai bisa mengkoordinasikan diri. Dan perlahan mereka mulai melakukan pengeroyokan terhadap para penyerbu mereka.

Bahkan sebagian mulai menyerang Tek Hoat yang dilindungi Mei Lan dan Barisan 6 Pedang serta Kay Pang Cap It Ho Han. Perlahan namun pasti, pertempuran berkobar dan semakin lama semakin sengit. Yang pasti, rencana awal Thian Liong Pang sudah gagal, dan yang tertinggal adalah pertempuran mengandalkan Ilmu Silat antara gerombolan Thian Liong Pang melawan kelompokpendekar.

Menyadari hal tersebut, Ceng Liong dengan cepat merubah cara bertempurnya, dengan cepat dia berkelabat kesana kemari dan merobohkan lawan dengan melukainya untuk tidak mampu melakukan penyerangan lagi. Hal yang sama, juga mulai dilakukan kedua Pendekar Kembar, meniru apa yang dilakukan Siangkoan Giok Lian. Karena itu, banyaklah korban diantara anak buah Thian Liong Pang yang berhasil dijatuhkan dalam serangan dadakan oleh para pendekar muda ini.

Sementara itu, dibawah kawalan Mei Lan dan Barisan 6 Pedang, Tek Hoat memastikan bahwa area penghadangan rupanya bebas dari racun. Daerah tempatnya berdiri sejak dari penghadangan ada sekitar 100 meter, dan mulai darisanalah dia kemudian terjun ikut menghajar para penghadang.

Tetapi, sampai sejauh itu, masih belum terlihat tanda-tanda bahwa Thian Liong Pang mengerahkan kekuatan intinya. Para tokohnya belum satupun yang unjuk diri, baik para pemimpin utama yaitu ketiga Hu Pangcu maupun Hu Hoat mereka yang terkenal ampuh dan dahsyat itu. Tapi, justru keadaan itu menguntungkan para pendekar muda. Apalagi, tidak lama kemudian barisan para pendekar juga kemudian bergabung.

Dan akibatnya terjadi pertarungan satu lawan satu, dan membebaskan Ceng Liong berenam, para pendekar muda itu untuk melakukan terobosan lebih jauh. Sesuai perjanjian, setelah terjadi pertempuran antara kaum pendekar melawan Thian Liong Pang di area yang dibebaskan, maka Ceng Liong berenam dengan kawalan Barisan 6 pedang dan Kay Pang Cap it Ho Han akan bergerak lebih jauh sampai menembus batas hutan.

Padahal, batas hutan masih cukup jauh, masih berkisar 1 km untuk sampai ke daerah yang lebih luas dan jarang pepohonan untuk kemudian melanjutkan sisa perjalanan 2 jam ke daerah aman kedua.

Pertarungan antara anak buah Thian Liong Pang melawan para pendekar berlangsung dengan murni mengandalkan kepandaian masing-masing. Sudah pasti, banyaklah yang menjadi korban dari pertempuran ini, di kedua belah pihak. Tetapi, karena banyaknya tokoh utama Pendekar Tionggoan yang terlibat, maka korban di pihak Thian Liong Pang berjatuhan dari waktu ke waktu.

Sementara itu, kelompok pendekar muda yang terus merangsek kedepan, juga semakin mendapat perlawanan hebat. Terutama Tek Hoat yang dilindungi secara ketat oleh Mei Lan dan Ceng Liong sedikit kebelakangnya, di sebelah kanan dan kiri. Keenam anak muda itu, bersama dengan Barisan 6 Pedang dan Kay Pang Cap it Hohan memang diposisikan untuk membuka jalan dan dibarisan terdepan untuk bertarung dengan musuh.

Untunglah Barisan 6 Pedang yang memiliki gaya kerjasama yang sangat tinggi, juga memiliki kemampuan yang luar biasa. Sama juga dengan Kay Pang Cap it Hohan, yang bila maju bersama 11 orang akan menjadi lawan berat. Tapi, karena hanya bertiga, maka ketiganya lebih banyak bekerjasama satu dengan yang lain.

Pertempuran telah bergeser melewati 300 meteran dari jarak yang dibuka Tek Hoat sebelumnya. Di pihak lawan sudah tak terhitung korban yang jatuh, demikian juga di pihak kelompok pendekar, sudah berkurang hampir 20an orang banyaknya. Padahal matahari bergeser semakin ke barat, paling lama 3-4 jam lagi matahari akan berhenti memberikan sinarnya bagi bumi, alias gelap.

Hal ini sudah diperhitungkan kedua pihak nampaknya. Bila kelompok pendekar, terutama para anak muda itu, berpikir akan mampu menerobos hutan itu hingga ketepiannya sebelum malam, maka kelompok penyerang menyiapkan serangan untuk menahan mereka sampai hari gelap. Dan bila itu terjadi, maka lebih banyak bahayanya daripada untungnya bagi kelompok pendekar. Dan, setelah bisa menerobos sejauh setengahnya, akhirnya kelompok dan barisan utama Thian Liong Pang mulai unjuk kekuatannya.

Saat serbuan kelompok utama itu, untungnya nyaris bersamaan dengan menjelang selesainya pertempuran di arena pertama. Kelompok penyerang dan penghadang pertama sudah banyak yang mundur dan melarikan diri, sehingga tidak lama kemudian kelompok pendekar akhirnya bisa menggabungkan kekuatannya.

Termasuk Lo Han Tin Siauw Lim Sie yang bertarung gagah berani mengawal para pendekar di bagian belakangnya. Pada saat kelompok pendekar mulai menggabungkan diri, Ceng Liong sedang berhadapan dengan Hu Pangcu Pertama yang sudah unjuk diri. Dan dibelakangnya berdiri 3 Hu Hoat, masing-masing Koai Tung Sin Kay, Hek-i-Mo Ong, dan Bouw Lek Couwsu.

Berdiri bersama Hu Pangcu Pertama adalah Hu Pangcu Ketiga, Tibet Sin Mo Ong dan Hu Pangcu Kedua yang berdandan agak aneh. Nampaknya, inilah hu Pangcu Kedua yang berasal dari Jepang, seorang samurai Jepang yang menakutkan dan memimpin 5 samurai Jepang lainnya yang banyak mengganas dan membantai pendekar pedang Tionggoan.

Inilah inti kekuatan Thian Liong Pang yang menghadang kelompok pendekar. Nampaknya mereka ringan-ringan saja mengorbankan anak

buah mereka yang hampir seratus orang terluka berat dan meninggal karena menghadang para pendekar.

Sisanya yang lain lagi selain terluka, sudah menggabungkan diri dengan kelompok utama yang kini di bawah pimpinan langsung Hu Pangcu Pertama. Hu Pangcu yang identitasnya masih belum diketahui siapapun, karena selalu menutupi wajahnya dan identitasnya. Bahkan nampaknya, dikalangan Thian Liong Pang sendiri, status itupun agak misterius. Satu hal yang pasti, dia adalah salah satu tokoh kuat di Lam Hay Bun, karena ilmu intinya adalah ilmu ilmu Lam Hay Bun. Tapi, siapa gerangan tokoh selihay itu dikalangan Lam Hay Bun? Sungguh sulit ditebak.

“Hm, jadi inilah Bengcu baru pendekar-pendekar Tionggoan, sungguh hebat, sungguh hebat“ dengus Hu Pangcu yang jelas-jelas agak jeri memandang Ceng Liong.

”Jadi, lagi-lagi tuan yang memimpin gerombolan pengganas Thian Liong Pang. Bahkan sekarang sudah lebih kurang ajar dan terang-terangan memusuhi kelompok pendekar Tionggoan“ Ceng Liong menjawab tegas dan kini di belakangnya berdiri seluruh pendekar muda yang bertekad melawan Thian Liong Pang.

”Hahahahaha, siapapun yang melawan Thian Liong Pang berarti lawan. Dan lawan harus dimusnahkan, siapapun. Hm, anak muda, apa engkau masih cukup punya keyakinan melawan Thian Liong Pang dengan tampilnya sebagian besar kekuatan kami“?

”Bahkan tanpa kami berenampun, pendekar-pekdekar Tionggoan masih sanggup membasmi pengganas seperti Thian Liong Pang. Apalagi, sejak hari ini, pendekar-pendekar Tionggoan sudah bertekad

bertempur dan membasmi kalian. Dari belakang kalian sudah menanti kelompok Kay Pang dan ratusan anak muridnya, dan ada ratusan pendekar Tionggoan lain yang sedang berhadapan denganmu Hu Pangcu. Apa yang kau banggakan lagi“ Ceng Liong menjawab tegas.

”Hm, kalau bicara yang bener aja anak muda“ Suaranya masih garang, tapi tidak seangkuh sebelumnya.

”Kay Pang memiliki ribuan anak murid, Siauw Lim Sie, Bu Tong Pay, Kun Lun Pay, Thian San Pay, Hoa San Pay, Tiam Jong Pay, dan perguruan lainnya. Sekarang semua bangkit melawan Thian Liong Pang. Entah mau ditaruh dimana lagi kaki kalian“ Ceng Liong menjawab tegas.

”Tidak mungkin, engkau ngibul anak muda“

”Mudah2an benar aku ngibul“

Sementara perdebatan itu berlangsung, para pendekar Tionggoan yang tersisa, baik yang masih bugar maupun yang terluka, kini berbaris di belakang ke-enam pendekar muda itu. Dan kemudian para sesepuhnya, terutama Kay Pang Hu Pangcu yang diminta memimpin pergerakan itu, bersama dengan Sian Eng Cu tampil merendengi Ceng Liong. Dan dengan segera Pengemis Tawa Gila memperdengarkan tawa khasnya:

“Hahahahahaha, jadi inikah pemimpin dedengkot pengganas di dunia Kang Ouw itu. Pantas, pantas, selalu menyembunyikan diri, gaya dan cara orang-orang pengecut“

”Hm, lancang“ Terdengar dengusan dari deretan Hu Hoat Hian Liong Pang disertai selarik sinar keemasan mengarah ke Pengemis Tawa

Gila. Tetapi bersamaan dengan itu, Tek Hoat yang sejak tadi mengawasi kakek berjubah emas itu sudah dengan sebat mendorongkan tangannya penuh dengan kekuatan sinkangnya.

”Dessssss“ Pengemis Tawa Gila, terdorong satu langkah karena pukulan itu belum tiba ke sasaran, tetapi Tek Hoat terdorong sampai dua langkah, sementara si Kakek Jubah Emas hanya tergetar dan bergoyang-goyang tubuhnya. Disertai dengusan dingin yang keluar dari mulutnya“

”Huh“ …..

“Nah, kan, terbukti lagi kalau tokoh-tokoh Thian Liong Pang gemar membokong. Bahkan tokoh-tokoh sepuh dan terhormat merekapun, suka menyerang tanpa memberitahu orang“ Terdengar Tek Hoat berseru memanasi lawan.

”Hm, anak muda, bila memang engkau berkeinginan melanjutkan pertempuran kita sebelumnya, mari …. mari, aku Kim-i-Mo Ong bersedia menuntaskanmu“ berkata orang tua berjubah emas itu sambil melangkah maju kedepan.

Hu Pangcu Pertama yang menginginkan waktu berlarut-larut agar malam menjelang datang, membiarkan saja kakek berjubah emas, Kim-i-Mo Ong untuk melakukan aksinya. Karena memang dia menghendaki waktu berlarut dan malam menjelang datang. Tapi, Ceng Liong yang meski bukan ahli strategi, tetapi berwatak kepemimpinan yang kuat dan memikirkan para pendekar yang kelelahan dan berjumlah jauh lebih sedikit, tiba-tiba maju bicara:

”Hm, apakah cara ini ingin Hu Pangcu gunakan untuk menahan kami sampai malam ditempat ini“? tegas Ceng Liong bicara, dan

mengagetkan para pendekar bahwa kemalaman di hutan akan sangat merugikan mereka.

”Apakah kalian takut dengan pertarungan itu anak muda“? Hu Pangcu menjawab sinis

”Takut. Hm, Hu Pangcu, tidak ada rasa takut melawan kebengisan kalian. Tapi adalah bodoh membiarkan kami semua berada di kegelapan menunggu serangan gelap kalian”

”Baiklah, bila kalian mampu memenangkan babakan pertarungan melawan Para Hu Hoat kami, dan ditambah dengan Ketiga Hu Pangcu Thian Liong Pang, maka kami akan membiarkan kalian bebas berlalu dari hutan ini. Tapi kami tidak berjanji untuk memburu kalian selepas dari hutan ini. Bila kalian kalah, maka kalian harus bermalam disini dengan segala resikonya. Bagaimana anak muda, berani?“ Suara Hu Pangcu bernada mengejek dan menghina, terutama karena yakin akan kemampuan Hu Hoat mereka, dan belum mengetahui bahwa selain Ceng Liong, Tek Hoat dan Mei Lan serta Giok Lian, masih terdapat sepasang Pendekar Kembar yang tidak kurang lihaynya.

Disisi lain, Ceng Liong yang telah memahamkan kembali satu pengertian yang memperdalam kemampuannya, merasa yakin sanggup menahan Koai Tung Sin Kay. Dan semoga Tek Hoat yang dengannya sudah berbagi apa yang dipahamkannya, mampu menarik manfaat besar, meski belum sempat berlatih lebih jauh.

Demikian juga Mei Lan, dia yakin akan sanggup menahan baik Bouw Lek Couwsu ataupun Kim-i-Mo Ong setelah pengalaman mereka yang terakhir. Sedangkan ketiga Hu Hoat pasti bisa diimbangi Pendekar

Kembar dan Giok Lian. Karena itu, akhirnya dengan berani Ceng Liong berkata:

”Baik, atas nama perjuangan kami bereenam melawan para pengganas Thian Liong Pang, kami menerima tantangan ini“ Ceng Liong cerdik mengatas namakan mereka berenam dan bukannya semua pendekar.

”Tidak, kalian berenam mewakili semua pendekar Tionggoan, sejauh ucapan Hu Pangcu bisa dipegang“ tegas Pengemis Tawa Gila yang disetujui oleh Sian Eng Cu dengan anggukan.

“Tapi, apakah ucapan Thian Liong Pang bisa dipegang“? Berseru Sian Eng Cu

”Kurang ajar, akulah jaminannya. Apa kata-kataku tidak bisa dipegang“? Kim-i-Mo Ong yang sudah terlanjur maju, menjadi marah dan mendelik kearah Sian Eng Cu dan Pengemis Tawa Gila.

”Baik, jika jaminannya adalah Kim-i-Mo Ong dan Koai Tung Sin Kay, maka kami sangat percaya“ Sian Eng Cu sangat yakin dengan ucapan dan kata-kata maha iblis yang pernah karena janji mereka mengeram 40 tahun dalam pengasingan.

”Nah, jika demikian, pertarungan sudah boleh dimulai bukan. Anak muda, mari kita lanjutkan permainan kita. Ingin kulihat sampai berapa lama engkau bisa bertahan melawanku“

”Sebentar locianpwe, apakah tidak sebaiknya pertarungan dibatasi sampai 100 atau 200 jurus“? bertanya Ceng Liong memancing.

”Tidak, harus sampai ada yang kalah” dengus Koai Tung Sin Kay dan memang justru ini yang diinginkan Ceng Liong. Dengan tiada

membatasi jurus, memang pertarungan menjadi lebih lama, tetapi anak-anak muda itu bisa memanfaatkan keuletan dan nafas mereka untuk bertahan menguras daya tahan orang tua lawan mereka.

”Baik Tek Hoat, majulah“ Berkata Ceng Liong sambil kemudian mengingatkan melalui ilmu penyampai suara “Ingatlah, memukul bukan dengan amarah, bukan dengan benci, tetapi dengan kasih yang menghidupkan“.

”Baik“ Tek Hoat melangkah dengan semangat dan keyakinan baru, dan menjawab Ceng Liong atas 2 kalimat yang diterimanya dengan indra berbeda.

“Silahkan memulai orang muda, engkau bebas menggunakan apa saja, termasuk senjata kayumu itu“ Kim-i-Mo Ong dengan penuh keyakinan. Dan Tek Hoat memang tidak akan terikat dengan aturan apapun dengan kalimat orang tua itu. Tapi, Tek Hoat maju dengan keyakinan yang baru, meski dia masih belum sempat berlatih dengan pemahaman yang membaharui kesanggupan dan pemahaman barunya itu.

Karena itu, dengan keyakinan barunya itu dia merasa bebas untuk menggunakan ilmunya yang manapun, baik bersenjata maupun dengan tangan kosong. Dengan didahului ucapan ”awas serangan“ diapun menyerang Kim-i-Mo Ong disertai pandangan penuh kekhawatiran dari kalangan para pendekar.

Meski tahu Tek Hoat sangat sakti, tetapi, mereka masih belum yakin kemampuannya untuk mengimbangi Kim-i-Mo Ong. Beberapa dari mereka, bahkan mulai bersungut-sungut dan sangat khawatir. Bahkan ada seorang dua orang yang mulai berpikir untuk lari dari rombongan.

Sementara itu, hasil serangan Tek Hoat yang menyerang tidak dengan emosi ”benci“ ataupun ”marah“, telah membentur kekuatan Kim-i-Mo Ong. Tetapi kali ini, beda dengan pertarungan sebelumnya dia tidak merasa kesakitan. Meksipun tangannya memang tergetar.

Fakta ini mengagetkan Tek Hoat, tetapi tidak disadari Kim-i-Mo Ong, karena dia memang sadar akan kemampuan Tek Hoat. Otomatis, semangat bertempur Tek Hoat meningkat dengan moral yang luar biasa kuatnya. Dengan lancar dia memainkan Tah Kauw Pang Hoat dan menghasilkan tutukan, sodokan dan serangan yang justru jauh lebih tajam dari sebelumnya.

Bahkan, dari pancaran muka Tek Hoatpun, sama sekali tidak kelihatan rasa jeri maupun rasa marah. Dia memang membiarkan semua mengalir, sebagaimana berkali-kali gurunya dulu memintanya melakukan pergerakan dan pertarungan secara santai tanpa rasa amarah. Kali ini, malah dengan keyakinan bahwa kemenangannya akan membebaskan Kim-i-Mo Ong dari kesesatan, membuatnya mampu mengeluarkan kemampuan terbaiknya.

Mampu mengimbangi Kim-i-Mo Ong. Adalah justru Mei Lan yang nampak lebih kaget dan khawatir bagi Tek Hoat, karena sempat menyaksikan bahwa Tek Hoat masih berada disebelah bawah kemampuan Kim-i-Mo Ong pada pertempuran siang tadi.

”Liong ko, mengapa engkau membiarkan Hoat ko yang maju? Aku melihatnya masih belum mampu mengimbangi Mo Ong tadi siang“ bisiknya khawatir kepada Ceng Liong.

”Tenanglah Lan Moi, dan tunggulah. Minimal, Tek Hoat akan sanggup mengimbangi kakek sakti itu”

”Engkau yakin sekali koko”?

”Apakah engkau sudah meyakinkan pesan yang dibisikkan ke telinga kita“?

”Sudah koko, bahkan berhasil mengalahkan kedua samurai itu”

”Nah, pesan buatku dan Tek Hoat sudah kupahamkan, dan sudah kudiskusikan dengan Tek Hoat“

“Engkau yakin koko“?

”Dibutuhkan keuletan dan kerja keras nantinya. Kita lihat nanti. Engkau harus bersiap menghadapi Bouw Lek Couwsu Lan Moi“

”Baik jika demikian koko“

”Satu lagi Lan Moi, apakah engkau sudah berbicara dengan Giok Lian“?

”Soal apa apa koko“?

”Pengalaman menghadapi samurai Jepang … dan soal kecepatan itu“

”Sudah koko, dan sepertinya enci Giok Lian sudah memahaminya. Tapi seperti Koko Tek Hoat, juga belum sempat mempraktekkannya”

”Sebaiknya engkau membimbingnya sebentar. Pertempuran Tek Hoat akan makan waktu panjang“

“Baiklah koko“ Dan Mei Lanpun beranjak kearah Giok Lian.

Sementara itu, Kim-i-Mo Ong sendiripun mengalami kekagetan. Meskipun dia tidak jatuh di bawah angin, tetapi dia seperti menghadapi

Tek Hoat yang mengalami kemajuan hebat hanya dalam waktu beberapa jam. Bila dalam pertarungan sebelumnya Tek Hoat sering meringis kalah tenaga, dan kerepotan menghadapi serangannya, kali ini beda. Tek Hoat seperti mengerti apa yang akan dilakukannya, bahkan juga kemampuan mengeluarkan tenaga yang pas untuk menangkis dan memukul jauh berbeda.

Karena itu, Kim-i-Mo Ong, justru menjadi penasaran sekaligus senang. Dia benar-benar menghadapi lawan yang memancing semua kemampuannya untuk bisa dikeluarkan. Dan lawannya sungguh sanggup meladeninya.

Menghadapi Penghadangan (3)

Hal yang sama dirasakan oleh para penonton. Bahkan Kaypang Hu Pangcu yang sebelumnya ikut merasa khawatir, kini merasa terharu melihat tunas perguruannya bertarung hebat. Dia merasa sangat terharu mengingat bakti pangcu sebelumnya, guru besar Kiong Siang Han yang telah meninggal dan melahirkan tokoh sehebat Tek Hoat.

Sungguh dia bangga dan terharu. Demikian juga para sesepuh pendekar Tionggoan, seperti menyaksikan kembali si pengemis sakti Kiong Siang Han beraksi dalam diri murid penutupnya. Dan sebersit kepercayaan dan harapan perlahan namun pasti tumbuh dalam benak dan sanubari mereka. Bahkan yang meragukan keputusan Ceng Liong sebelumnya mulai berpikir-pikir kembali melihat bagaimana Tek Hoat melakukan perlawanan yang luar biasa.

Tanpa terasa 50 jurus sudah berlalu, sementara pertarungan masih berjalan imbang. Saling pukul dan tangkis dengan sebat dan cepat.

Jikapun ada keunggulan Kim-i-Mo Ong hanyalah pada matang dan menangnya dia dalam pengalaman bertempur. Tetapi, menghadapi ketenangan dan keuletan Tek Hoat, kemenangan itu jadi tidak bermakna banyak.

Dengan menggunakan Kim i Sin Kun Hoat, Mo Ong terus menerus menyerang Tek Hoat yang bersilat dengan Tah Kauw Pang Hoat. Toya pendeknya berkelabat-kelabat mengejar pukulan Mo Ong dan beberapa kali menahan serangan itu justru ditengah jalan. Karena ketenangannya, maka Tek Hoat bisa melihat bagaimana dan akan kemana jurus Mo Ong, dan dengan cepat dia mencegat ditengahnya dengan tutukan dan sodokan toya kayunya yang ulet dan mujijat.

Mendapati bahwa sangat sulit mendesak Tek Hoat, Kim-i-Mo Ong mulai menggunakan kembali jurus mujijatnya Kim Coan Kut Ci (Jari Emas Penembus Tulang). Dari tangannya keluar suara mencicit-cicit yang sangat mengerikan, disertai kelabatan sinar keemasan menyambar kesana kemari.

Untuk mengimbanginya, Tek Hoat memainkan Hang Liong Sip Pat Ciang, sambil toyanya bergerak dalam jurus Toa Hong Kiam Sut. Dan kembali Kim-i-Mo Ong tidak dapat mendesak dan mengambil keuntungan dari penggunaan jurusnya tersebut. Sementara itu, Tek Hoat semakin menemukan keyakinan akan diri dan ilmunya. Dengan tenang dan penuh keyakinan dia memainkan ilmunya yang nampak malah semakin lama semakin matang.

Dia sanggup mengunci kehebatan Kim Coan Kut Ci dengan Hawa pedang Toa Hong Kaim Sut yang dimainkan dengan Toya. Sementara dia bergerak dengan kuat dan kokoh dan memukul lengan dan jemari lawan dalam ilmu Hang Liong Sip Pat Ciang.

Bahkan memasuki jurus ke-150-an pun, Kim-i-Mo Ong tetap tidak memperoleh keuntungan apapun, dan semakin lama semakin heran dengan kemampuan Tek Hoat yang kini bahkan sanggup mengimbanginya. Dia memang tidak pernah terdesak, tetapi sesekali mampu mendesak lawan, tetapi tidak sanggup mendesak lebih jauh.

Hanya dengan pengalamannya dan kematangannya sajalah yang membuat sesekali dia mendesak Tek Hoat. Tapi, Tek Hoat kini dengan cepat bisa menemukan diri dan melanjutkan perlawanan untuk menciptakan kondisi yang lebih seimbang. Tek Hoat sempat keteteran sebentar ketika Mo Ong memadukan Kim Coan Kut Ci dengan hawa racun dari Ilmu Ngo Tok Kim Ciang (Tangan Emas Panca Racun).

Tetapi, tidak lama kemudian dengan memainkan Pek lek Sin Jiu dia bisa membakar hawa beracun yang mendekatinya. Dalam hal hawa keras atau yang kang dari pek Lek Sin Jiu, bahkan Tek Hoat masih lebih matang ketimbang Ceng Liong. Karena itu, disekeliling tubuhnya berdesis-desis hawa Kim Coan Kut Ci serta hawa beracun yang ditawarkan oleh hawa keras dari Pek lek Sin Jiu.

Bahkan lebih dari suara mendesis dan mencicit itu, Tek Hoat kemudian mulai meledakkan pukulan tangannya menggunakan jurus-jurus awal dari Pek Lek Sin Jiu. Ilmu pukulan warisan gurunya, Kiong Siang Han, yang sangat tinggi daya rusak dan daya ledaknya. Sesuai dengan namanya Pukulan Petir.

Penasaran, Kim i Mo Ong memainkan tata gerak mujijatnya yang diberi nama olehnya Kim Coa Ong Hoan Sin (Raja Ular Emas Membalikkan Tubuh). Tubuhnya bagaikan ular yang membalik-balikkan tubuh dan sedikit berbau “sihir“. Karena memang ilmu gerak ini

mencampurkan kemampuan sihirnya dengan tata gerak yang melahirkan hawa mujijat.

Tetapi, ketenangan Tek Hoat serta pengerahan Sinkang yang semakin meningkat membuatnya sanggup mengatasi ilmu mujijat Kim i Mo Ong. Meski Mo Ong tetap bergerak-gerak menggeliat dan meluncurkan serangan berbahaya dengan ilmu jari penembus tulangnya, tetapi masih sanggup ditahan Tek Hoat.

Apalagi karena dia mulai memasuki penggunaan jurus Pek lek Sin Jiu pada jurus kelima yang hebat membahana. Udara sekitar benar-benar tercekam oleh geledek yang bertalu-talu serta kilatan cahaya emas yang tajam menusuk.

Para penonton sampai lupa memberi tepuk tangan atau menyemangati jago mereka. Semua terpaku pada betapa hebat dan betapa luar biasanya pertarungan tersebut. Pertarungan yang masih belum menunjukkan tanda-tanda akan berakhirnya pertarungan meski sudah melampaui 25 jurus. Tek Hoat masih dan makin kokoh.

Mo Ong juga masih tetap bersemangat dan penasaran untuk mendesak lawan yang jauh lebih muda. Sayang, bahwa hal itu ternyata sangat sulit dilakukan. Dan lama kelamaan diapun sadar, bahwa jika pertarungan ini dilanjutkan terus, daya tahannya yang akan terganggu. Dan nampaknya lawan mudanya itu, memang sengaja mempertahankan diri secara ketat dan tidak bernafsu untuk mendesaknya dengan serangan-serangan telak, karena sadar bahwa pertrarungan itu akan lama.

Menyadari taktik ini, maka Kim i Mo Ong akhirnya mempertimbangkan untuk mulai meningkat pada penggunaan ilmu ilmu

pamungkasnya. Yaitu penggunaan Kim i Hoatsut (Sihir Baju Emas) yang dipadukan dengan Kim Liong Hiat Ciu Leng, yakni ilmu yang memadukan Kim Coan Kut Ci dengan hawa racun Ngo Tok Kim Ciang.

Ilmu Sinkang Baju Emas, sebetulnya merupakan sebuah Ilmu aliran lurus, yang sayangnya sudah dilatih secara menyimpang oleh Kim i Mo Ong. Ditangannya Ilmu ini dikembangkan secara menyimpang dan bahkan kemudian dicampur dengan hawa beracun. Karena itu, sinar gemilang Ilmu Jubah Emas justru kehilangan cahaya gemilangnya, berganti cahaya emas redup karena kandungan racun.

Tapi meskipun demikian, Kim i Mo Ong mampu memadukan sinkang itu dengan ilmu-ilmu lainnya yang meningkatkan daya mujijat sinkang hebatnya itu. Dalam Ilmu Kim Liong Hiat Ciu Leng, maka Tangan dan jari Mo Ong akan berubah menjadi layaknya tangan emas berdarah yang mengandung maut. Baik ketajamannya maupun hawa beracunnya. Dan dalam pengaruh kekuatan sihir, maka jari dan tangan itu akan berubah menjadi demikian banyak dan mengancam lawan yang terpengaruh sihir tersebut.

Semakin lama pertarungan menjadi semakin berimbang. Tek Hoat sudah menemukan kepercayaan dirinya, bahkan sudah sangat tebal. Diapun memainkan strategi menguras tenaga lawan. Karena itu, dia tidak pernah mendesak Mo Ong, selain memang dia kesulitan untuk mendesak. Kehebatan pemahaman barunya berada pada titik maksimalisasi kemampuan ilmu-ilmunya, tetapi dalam daya serang tidak berpengaruh banyak.

Pada saat Mo Ong berpikir-pikir untuk menggunakan Ilmu-ilmu pamungkasnya, Tek Hoat berada dalam persiapan memuntahkan jurus ke-7 dari Pek lek Sin Jiu Sejuta Halilitar Merontokkan Mega.

Persiapannya menggunakan jurus pamungkas sedikit terhambat ketika ledakan bertalu-talu seakan mengejarnya kemanapun dia pergi.

Untuk pertama kalinya dia terdesak oleh hebatnya serangan lawan. Kemanapun dia bergerak, tubuhnya seakan dibayangi oleh telapak tangan yang mengejarnya dengan dentuman halilintar yang bertubi-tubi. Bahkan penontonpun harus melangkah mundur dari arena itu untuk mengurangi daya ledak di telinga mereka. Sementara Mo Ong baru bisa terhindar dari kejaran telapak mau itu setelah melangkah dalam jurus gerak mujijatnya Raja Ular Emas Membalikkan Badan.

Tetapi, itu membuatnya merasa bergidik, karena kejaran jurus ke-7 ini sungguh-sungguh pernah dilihatnya dimainkan oleh Kioong Siang Han. Dan kali ini, kembali dia menyaksikan jurus ampuh itu ditujukan atasnya dan membuatnya pontang panting menyelamatkan diri.

Maka, ketika Tek Hoat mempersiapkan jurus ke-8 Halilintar Meledak Bumi Melepuh, Mo Ong tidak lagi mau berayal. Sebelum jurus ke-8 itu menjelang datang, dia sudah mengeluarkan bentakan dengan suara penuh wibawa:

“pandang aku anak muda …. Aku adalah Naga emas yang akan menelanmu”

Untunglah Tek Hoat sedang dalam konsentrasi penuh menggunakan jurus ke-8, sehingga pengaruh sihir tidak bermakna banyak. Tetapi, betapapun telah mengguncang kepercayaan dirinya, dan sedikit membawanya pada tingkat konsentrasi semula. Menyerang dan memukul karena “terkejut” atau karena “emosi yang lain”.

Tapi itupun masih beruntung, karena dia terbebas dari kehilangan ketika dan waktu diserang lawan dengan ilmu pamungkas yang berbau

sihir. Karena itu, meski jurus ke-8 Pek Lek Sin Jiu terlontar tidak dengan kekuatan maksimal, tetapi masih sanggup melepaskannya dari jerat sihir. Dan terjadilah benturan menggila, ketika keduanya mengadu pukulan:

“duuuuuuaaaaar ….. plak …. Plak, desss” keduanya terdorong mundur oleh benturan tenaga mujijat kedua pihak. Hanya kali ini, Tek Hoat mundur dengan 5 langkah kebelakang, sementara lawannya hanya mundur 4 langkah. Terutama akibat pecahnya konsentrasi Tek Hoat pada saat-saat terakhir.

Tapi, setelah terlontar mundur, Tek Hoat akhirnya mampu menyadari apa yang terjadi. Lawan nampaknya berusaha mempengaruhinya dengan kekuatan mujijat yang dia tahu cirinya menurut penjelasan gurunya. Ilmu sihir. Dan, hanya ada satu cara melawannya, cara yang sudah dikuasainya: Sin-kun Hoat-lek (Ilmu Sihir Silat Sakti).

Ilmu mujijat terakhir yang diciptakan gurunya berdasarkan kekuatan Yang Kang yang kemudian dikombinasikan dengan kekuatan Im Kang, dan berkekuatan mujijat menolak serangan daya sihir. Bahkan, bisa menjerumuskan lawan dalam penguasaan sihir oleh ilmu tersebut. Terjebak dalam kekuatan mujijat yang hadir dalam penggunaan ilmu itu.

Dan, kali ini, Tek Hoat akan kembali menggunakannya. Pertama kali setelah dia dinyatakan sanggup menggunakannya secara baik menurut gurunya. Tidak ada cara lain lagi untuk melawan si Iblis Jubah Emas, karena sang iblis mulai menggunakan Ilmu-ilmu berperbawa sihir dengan kekuatan luar biasa yang melambarinya.

Maka dengan menekan emosinya, kini Tek Hoat berkonsentrasi penuh pada penguasaan diri dan penguasaan ilmunya. Dihadapannya, kembali dia melihat Kim i Mo Ong yang asli, bukannya Naga Emas yang barusan dipukulnya dan terpental kebelakang bersama dengannya. Setelah melihat kembali kondisi normal Kim i Mo Ong, dan menenangkan dirinya dan menemukan konsentrasinya, Tek Hoat kembali bersiap menyerang dan diserang.

Tapi, kali ini dia tidak menunggu diserang, tetapi mendahului menyerang dalam Ilmu pamungkasnya …… dan dihadapi dengan jurus dan ilmu pamungkas yang tidak kurang hebatnya.

Hanya beberapa orang saja yang masih sanggup mengikuti perkelahian selanjutnya. Karena bagi banyak penonton, yang bertarung sudah bukan bebentuk manusia. Banyak dari mereka melihat Kim i Mo Ong berubah menjadi Naga Emas, sementara Tek Hoat menjadi tidak kurang besarnya melawan Naga Emas itu.

Bahkan tubuhnya diselimuti awan putih panas, hawa khikang tingkat tinggi dan mampu menepis semua serangan tajam besinar keemasan diseputar tubuhnya. Geletar-geletar panas dari tubuhnya semakin menyebar dalam diameter yang lebih luas, dan yang tidak tahan dengan terpaksa kembali mundur dari arena. Benar-benar pertarungan tingkat tinggi yang jarang ada.

Dari langkah perlahan sampai pesat, diperagakan Tek Hoat yang sudah bersembunyi dibalik hawa khikangnya dan menghancurkan dan menawarkan hawa beracun yang berkelabat mengitarinya.

Bahkan Ceng Liong yang sudah tidak mengkhawatirkan pertarungan itupun sampai menahan nafas menyaksikan kehebatan kedua orang

itu. Serangan mereka dilakukan dengan gaya yang sederhana, saling tuding dan saling tangkis dengan gerakan sederhana. Tetapi, tidak lagi sembarang mata yang sanggup mengikutinya akibat tebalnya sinar putih panas dan sinar emas tajam yang menyelubungi kedua tubuh yang terus bergerak cepat kadang, lambat kadang.

Dan kembali Kim i Mo Ong kecele dan mulai panik, karena lawan ternyata membekal ilmu mujijat yang sanggup menahannya dan sanggup mendesak dia. Untungnya dia masih unggul pengalaman dan kematangan, jika tidak, menunggu 2 tahun lagi, lawan muda ini akan mampu mengalahkannya. Karena itu, dia harus berusaha membinasakannya. Tapi, apakah mungkin?

Dalam kondisi saling serang dengan kekuatan tenaga dalam dan kekuatan batin yang berlebihan itu, Tek Hoat maupun Mo Ong semakin kehilangan banyak tenaga. Tetapi mereka masih tetap berkeras, walaupun pertempuran sudah berjalan 500 jurus lebih.

Kedua tubuh itu masih saling belit dan masih saling kait untuk saling bertahan dan menyerang. Sudah cukup jelas bagi mata ahli, bahwa keduanya dalam keadaan seimbang. Tapi, karena daya tahan Tek Hoat lebih dari Mo Ong, terutama karena perbedaan usia, maka bila dilanjutkan, sudah jelas bahwa Mo ong bakal menemui kekalahan tragis.

Tapi, itupun hanya mungkin didapat dengan kondisi luka dalam Tek Hoat yang bisa dipastikan tidaklah ringan. Dan sudah tentu Ceng Liong tidak menginginkan hal itu terjadi. Dan karenanya, setelah berpikir sejenak, maka dengan nada bijak kemudian Ceng Liong berseru:

“Hu Pangcu, nampaknya kita harus menghitung pertandingan pertama ini dengan seimbang. Bagaimana pemikiranmu“?

”Hm, anak muda, nampaknya memang demikian“

Para tokoh sepuh banyak yang sebenarnya menyayangkan mengapa Ceng Liong mengambil langkah memutuskan pertarungan seimbang. Tetapi beberapa dari merekapun merasa keputusan Ceng Liong cukup tepat. Apalagi, seorang Tek Hoat sanggup menahan imbang Kim-i-Mo Ong, merupakan sebuah prestasi yang sangat luar biasa. Dengan segera nama Tek Hoat membubung ke angkasa, semakin menambah harum nama Sie yang Sie cao yang sudah berkibar sebelumnya.

Nama dan nilai Tek Hoat dengan sendirinya semakin menjadi jaminan kualitas, terlebih setelah pertarungan di kaki gunung Siong San ini. Pengemis Tawa Gila yang sebelumnya meragukan keputusan Ceng Liong dan memandang anak muda itu dengan aneh, akhirnya mesti bisa menerima fakta itu.

Akhirnya dia merasa sangat bangga, karena dengan hasil draw itu, nama Kay Pang tidaklah tercoreng. Bahkan nama Tek Hoat semakin mentereng dengan kemampuannya mengangkat nama Kay Pang dan dirinya sendiri untuk meladeni salah satu iblis yang luar biasa lihaynya pada masa itu. Disamping itupun, kekagumannya atas kepemimpinan Ceng Liong semakin lama semakin menebal.

Berbanding terbalik dengan pada umumnya kelompok pendekar yang masih belum pernah melihat Ceng Liong bergebrak. Pada umumnya mereka masih meragukan kehebatan dan kepemimpinan

Ceng Liong. Apalagi mereka merasa keputusan terakhirnya rada-rada lunak.

Sementara itu, pertempuran antara Tek Hoat melawan Kim-i-Mo Ong nampak semakin melamban. Meskipun terlihat keduanya masih tetap bertahan dan tidak mau saling mengalah. Tetapi sambil berpikir kedepan dan kepentingan keseluruhan Ceng Liong merasa sudah cukup, dan karena itu beberapa saat kemudian akhirnya Ceng Liong setelah saling memberi isyarat dengan Hu Pangcu pertama Thian Liong Pang berkata kepada Tek Hoat yang disaksikannya juga sudah mulai terkuras tenaganya:

”Tek Hoat, sudah cukup usahamu. Mundurlah“ Suara Ceng disampaikan dalam pengerahan tenaga yang tinggi, sehingga terdengar sangat susah untuk ditolak. Dan pada saat yang bersamaan, Hu Pangcu Thian Liong Pang, yang melihat keadaan pihaknya yang semakin tidak menguntungkan, juga berkata kepada Kim-i-Mo Ong:

”Kim-i- Hu Hoat, cukuplah dan mundurlah. Pertandingan kali ini, sudah disepakati imbang“

Kim-i-Mo Ong yang sebenarnya masih ingin berkeras, menyadari bahwa usia tuanya sudah sulit memungkinkannya untuk memenangkan pertarungan. Apalagi, jurus pamungkasnya sudah dikerahkan, dan ternyata masih sanggup ditahan oleh anak muda itu. Karena itu, pada akhirnya dia memutuskan untuk menghentikan pertempuran.

Tapi, untuk menjaga gengsi dan harga dirinya, akhirnya dia berkata dengan suara angkuh:

”Sayang anak muda, pertarungan kita sudah diakhiri orang lain. Tapi lain kali berjagalah, karena aku tidak akan mengampunimu lagi“ sambil kemudian orang tua itu mengundurkan diri.

”Terima kasih atas kemurahan locianpwe“ Tek Hoat dengan wajah manis dan menggodanya malah tidak murka. Karena diapun sebenanrya masih kaget atas kemampuannya yang meningkat jauh luar biasa itu.

”Kionghi Tek Hoat, engkau mampu menterjemahkan pemahaman kita yang paling akhir, dan engkau sanggup memisahkan gejolak perasaanmu dari penggunaan ilmumu“ Ceng Liong menyambut Tek Hoat dengan senyuman dan pujian. Dan dengan segera kawan-kawan mereka yang lain, terutama Mei Lan menyambut Tek Hoat dengan senyuman dan puja-puji.

Bahkan para sesepuh kelompok pendekar juga tidak pelit untuk menyambangi dan menyampaikan ucapan selamat kepada anak muda luar biasa itu. Tapi di tengah kemeriahan itu, terdengar suara Ceng Liong:

”Tek Hoat, saat yang tepat untuk memulihkan dirimu dan apa yang kita percakapkan. Pertempuran sesungguhnya baru akan dimulai nanti“

”Baik Ceng Liong“ dan Tek Hoatpun kemudian mencari tempat yang agak rindang dengan dilindungi ketiga orang dari Cap it Hohan. Dia sadar betul apa yang dimaksudkan oleh Ceng Liong, dan diam-diam dia menjadi semakin kagum atas kewibawaan dan kepemimpinan Ceng Liong.

Pada saat itu, nampak Ceng Liong sedang berunding sebentar dengan Pengemis Tawa Gila dan Sian Eng Cu. Ketiganya nampak

mengangguk-angguk dan saling menyetujui. Tapi tidak lama kemudian Hu Pangcu telah berkata:

”Siapa jago yang akan mewakili kalian anak muda“?

Nampak Ceng Liong berpikir sejenak. Tapi akhirnya dia menemukan kalimat cerdik:

”Karena tantangannya dari Thian Liong Pang, maka kami persilahkan Hu Pangcu menetapkan jago kedua. Kami pasti akan mengiringinya“ jawaban yang membuat kubu Pendekar agak lega. Nampak Koai Tung Sin Kay berkeinginan maju, tapi Hu Pangcu Pertama nampaknya berpikiran lain. Dia menoleh kearah Tibet Sin Mo Ong dan kemudian dia berkata:

”Hu Pangcu ketiga akan maju untuk pertempuran selanjutnya“

“Baik“ dan Tibet Sin Mo Ong berjalan maju kedepan. Diantara ketiga Hu Pangcu Thian Liong Pang, sebetulnya Tibet Sin Mo Ong ini yang berkepandaian paling rendah. Tapi itu sebelum dia bertemu tanding dalam beberapa pertempuran yang berujung pada kegagalan misinya.

Terlebih setelah kekalahan Ji Suhengnya yang malah kemudian mengundurkan diri, Tibet Sin Mo Ong ini kemudian berlatih bersama Toa Suhengnya menyempurnakan kepandaiannya. Dan untuk saat ini, kepandaian ketiga Hu Pangcu, hanya tinggal seusap dibawah Keempat Hu Hoat (tertinggal 3 setelah Bouw Lim Couwsu mengundurkan diri setelah dikalahkan Ceng Liong).

Setelah Tibet Sin Mo Ong berada di arena, Ceng Liong kemudian menatap Kedua Pendekar Kembar meminta persetujuan mereka. Dan

adalah Kwi Song yang kemudian mengajukan dirinya melawan Tibet Sin Mo Ong:

”Baik, Souw Kwi Song akan melayani Hu Pangcu ketiga Thian Liong Pang“

Kedua orang itu, Tibet Sin mo Ong dan Souw Kwi Song, salah seorang dari Sepasang Pendekar Kembar Siauw Lim Sie kini saling berhadapan di tengah arena. Sementara di luar arena sendiri, ketegangan meningkat bukan hanya karena pertarungan yang akan kembali terjadi, tetapi atas pertanyaan apa yang akan terjadi diwaktu malam.

Karena itu, kesibukan segera terjadi. Pertempuran pertama makan waktu dua jam lebih, bahkan hampir tiga jam, dan sebentar lagi malam akan menjelang datang. Matahari sudah condong ke Barat dan sinarnya semakin pudar. Tetapi ketegangan di arena masih sangat tinggi dan bahkan sangat panas. Terlihat Pengemis Tawa Gila sedang mengatur kesana kemari, demikian juga Sian Eng Cu.

Bahkan Pengemis Tawa Gila seperti sedang melakukan sesuatu yang tidak biasa, entah apa itu. Ceng Liong sendiri telah memanggil salah seorang dari Barisan 6 Pedang dan memberinya instruksi. Dan setelah itu, dia melirik Mei Lan dan mengirimkan suara:

”Lan Moi, sudah selesaikah engkau dengan Giok Lian“

”Sudah koko“

”Datang dan lihatlah Tek Hoat, jika perlu dengarkan apa yang dikerjakannya dalam pertempuran“

”Maksud koko“?

“Mungkin ada yang penting dari pertempuran itu. Selain itu, dengan bantuanmu dia akan lebih cepat pulih. Kita mungkin akan mengalami pertempuran sesungguhnya malam ini” Suara Ceng Liong dalam keadaan terdesak begini sungguh sulit ditolak, penuh wibawa yang tak tertolak.

”Baik, jika demikian koko“

Sementara itu, pertarungan antara Kwi Song melawan Tibet Sin Mo Ong nampaknya sudah siap untuk dilangsungkan. Dan tanpa menunggu lama, Tibet Sin Mo Ong akhirnya dengan mengeluarkan suara mirip erangan, menyerang Souw Kwi Song yang sudah bersiap, sangat siap malah di tengah arena.

Episode 4: Perang Tanding

Tibet Sin Mo Ong yang sekarang, sudah berbeda dengan yang bertempur melawan Giok Lian beberapa bulan berselang. Kekalahan Bouw Lim Couwsu atas Ceng Liong beberapa waktu lalu, serta bertemu tandingnya Tibet Sin Mo Ong dengan seorang anak gadis Bengkauw, telah melecut semangatnya untuk meningkatkan ilmunya.

Bouw Lek Couwsu yang kecewa ditinggal sutenya yang sangat dipercayainya, Bouw Lim Couwsu, akhirnya menerima permintaan Tibet Sin Mo Ong untuk menekuni dan menyempurnakan ilmunya kembali. Terutama ilmu mereka terakhir di Tibet, Pukulan Udara Kosong dan Thian cik-sian Kun Hoat (Silat sakti dewa menggetarkan langit).

Beberapa bulan terakhir, mereka bertiga, sebelum Bouw Lim Couwsu mengundurkan diri, mematangkan penguasaan atas ilmu-ilmu andalan mereka. Karena itu, Tibet Sin Mo Ong yang tampil di arena kali ini, berbeda dengan yang dihadapi Giok Lian sebelumnya.

Tetapi, baik Giok Lian, maupun Souw Kwi Song, juga sudah mengalami kemajuan yang luar biasa setelah ditempa habis-habisan oleh guru-guru mereka. Kwi Song yang maju melayani Tibet Sin Mo Ong, juga sudah mengalami kemajuan yang luar biasa dalam memainkan ilmu-ilmu pusaka Siauw Lim Sie.

Terutama setelah dimatangkan oleh Kian Ti Hosiang gurunya, menjelang hari-hari terakhir kematian guru besar Siauw Lim Sie tersebut. Karena itu, pertarungan Tibet Sin Mo Ong dengan Kwi Song, justru berlangsung ramai dan relatif seimbang. Berbeda dengan Tek Hoat yang menghadapi Kim-i-Mo Ong, meski seimbang tetapi Tek Hoat cenderung bertahan karena memanfaatkan usia mudanya untuk menyusutkan tenaga kakek maha iblis tersebut.

Pertarungan Kwi Song melawan Tibet Sin Mo Ong berlangsung sebaliknya. Ramai, seru dan benar-benar mengandalkan kelincahan, tenaga sakti, kematangan dan pengalaman bertempur. Dilihat dari kemurnian Ilmu Silat dan tenaga Sinkang, maka Kwi Song mengungguli Tibet Sin Mo Ong yang sudah banyak variasi dan penyimpangannya.

Tetapi, kematangan penguasaan ilmu serta pengalaman masih dipihak Tibet Sin Mo Ong. Karena itu, pertarungan kedua tokoh tersebut benar-benar luar biasa. Perbedaan penguasaan ilmu silat nampak ketika keduanya memainkan ilmu yang sama, sama-sama ilmu Budha, yakni Tam Ci Sin Thong. Keduanya memainkannya seperti

sedang latihan saja, padahal hawa sakti disekitar mereka, sanggup menutul tembus sebatang pohon besar sekalipun.

Kwi Song nampak lebih variatif dan kreatif serta dinamis dalam bergerak, penuh tipu dan gaya baru. Sementara Tibet Sin Mo Ong lebih mampu mengantisipasi keadaan dan lebih matang menguasai jurus-jurus dari ilmu sentilan sakti Budha tersebut.

Setelah bertempur menghabiskan jurus jurus Tam Ci Sin Thong, keduanya sadar bahwa tingkat penguasaan Ilmu Silat keduanya nampak tidak jauh berbeda. Hanya, Tibet Sin Mo Ong yang lebih tua, masih menang pengalaman dan antisipasi atas keadaan pertarungan.

Sementara Kwi Song lebih bersemangat dan lebih gesit. Keduanya, nampak menyadari kelebihan dan kekurangan masing-masing. Karena itu, Tibet Sin Mo Ong bergerak sebat dan efektif dalam memukul dan menangis serangan Kwi Song, sementara Kwi Song bergerak pesat untuk mencari celah menyerang.

Ketika keduanya menyerang dengan jurus yang sama dari perbendaharaan jurus Tam Ci Sin Thong, Jari sakti menerjang mega, terdengar benturan-benturan yang mengerikan, dan sontak keduanya terdorong mundur. Setelah saling tatap beberapa saat, keduanya segera kembali mengembangkan jurus-jurus baru untuk saling mendesak.

Kali ini, Tibet Sin Mo Ong memainkan Hong Ping Ciang dan tubuhnya berkelabat-kelabat menghadiahkan puluhan pukulan tapak tangan membadai kearah Kwi Song. Tapi Kwi Song tidak menjadi gugup menghadapi puluhan atau mungkin ratusan pukulan yang mengancamnya dari segala penjuru.

Bahkan terasa hawa iweekang lawan telah menutup jalan lari atau jalan keluarnya. Karena itu, Kwi Song memutuskan mengeluarkan ilmunya Tay Lo Kim Kong Sin Ciang berbareng dengan sentilan-sentilan Kim Kong Ci kearah lengan Tibet Sin Mo Ong. Sudah tentu lengannya tidak mungkin dibiarkan tertusuk oleh tajamnya hawa Kim kong Ci, karena itu beberapa pukulan telapak Hong Ping Ciang tidak bisa jalan sempurna.

Kedua tangan Tibet Sin Mo Ong nampak bergerak-gerak cepat dalam mengirim dan menarik pukulan yang diantisipasi oleh Kwi Song. Penggunaan ilmu-ilmu ampuh yang sejenis, dari jalur perbendaharaan ilmu Budha (Siauw Lim Sie dan Lhama Tibet), menghadirkan ketegangan bukan hanya bagi yang bertempur. Bahkan juga para penonton, termasuk para murid Siauw Lim Sie yang merasa bangga melihat murid couwsu mereka bertarung membela kehormatan pendekar-pendekar Tionggoan.

Bahkan para tokoh di kedua belah pihak, juga sama mengagumi mereka yang sedang bertarung. Bouw Lek Couwsu, juga nampak bangga sekaligus khawatir. Bangga akan kemajuan sute termudanya, yang bahkan sudah sangat mendekati kemampuannya. Bahkan nampaknya sudah sedikit melampaui kemampuan Bouw Lim Couwsu, ji sutenya yang sudah mengundurkan diri.

Sementara itu, nampak perubahan kembali terjadi. Setelah menyerang bertubi-tubi dengan pengerahan kecepatan dan kekuatan yang lebih, Tibet Sin Mo Ong kembali merubah ilmunya. Kali ini dia menyerang dengan menggunakan ilmu Kong-jiu cam-liong (Dengan Tangan Kosong Membunuh Naga).

Ilmu ini memungkinkannya untuk bertarung dengan lawan yang memiliki kekuatan lebih besar darinya. Karena keuletan, kelemasan dan kekuatan, digabungkan untuk menolak ataupun membuat pukulan lawan terpeleset atau menyamping. Kehebatan Ilmu pukulan ini memang terletak pada kemampuannya untuk, baik bertahan melawan musuh yang lebih kuat tenaga dalamnya, serta mampu menghemat nafas, juga bisa dengan cepat menjadi sangat ampuh bila digunakan untuk menyerang.

Tetapi, melihat gerak-geriknya, nampaknya Tibet Sin Mo Ong sedang menghemat tenaganya. Karena nampaknya dia menyadari, bahwa menggunakan Hong Ping Ciang, dia banyak menghamburkan tenaganya, dan karena itu, kali ini dia menggunakan kehebatan ilmunya Kong Jiu Cam Liong dengan menampar pukulan lawan dari samping.

Sayang Kwi Song yang masih minim pengalaman, kurang menyadari hal ini. Sebaliknya, dia mengumbar kekuatannya dalam pukulan-pukulan Tay Lo Kim Kong Ciang dan mencecar lawannya. Nampaknya memang Tibet Sin Mo Ong tercecer dengan pukulan-pukulan Kwi Song, tetapi mata ahli sanggup melihat bahwa bukan karena terdesak Tibet Sin mo Ong memilih strategi ini.

Jelas dia akan terkuras lebih dulu dibandingkan Kwi Song, belajar dari pertempuran sebelumnya antara Tek Hoat melawan Kim-i-Mo Ong. Sayangnya, Kwi Song masih terus dan terus menggempur lawan yang memilih benturan tidak langsung dengan hanya menggunakan sedikit bagian tenaga dalamnya.

Setelah melewati puluhan jurus, baru Kwi Song yang cerdik jadi sadar, bahwa dia terpancing mengikuti strategi pertempuran lawannya.

Dia keburu nafsu menyerang, padahal dia sadar lawan tidaklah benar-benar terdesak. Karena itu, menandingi ilmu baru lawannya, dia kemudian memilih ilmu yang agak lemas yang juga tidak banyak menguras tenaga, yaitu ilmu warisan Wie Tiong Lan, Thai Kek Sin Kun.

Ilmu yag juga bisa dimainkan dengan hawa tajam menggunakan Thai Kek Sin Kiam, atau dengan gaya halus dalam ilmu pukulan dengan Thai Kek Sin Kun. Bahkan, untuk membuat lawannya kalut, Kwi Song memadukannya dengan Pek In Ciang, yang membuat tubuh dan lengannya mengeluarkan asap putih yang merusak daya lihat lawan.

Mau tidak mau Tibet Sin Mo Ong kagum atas kemampuan Kwi Song untuk kembali memaksanya masuk dalam pertarungan sungguhan. Keras lawan keras, lembut dilawan dengan lembut. Kali ini, pilihannya menyerang dari samping atas serangan lawan menjadi tidak mungkin berjalan sempurna, karena Thai Kek Sin Kun juga adalah sebuah ilmu lemas yang sangat ampuh. Terlebih, kini pandangan matanya bisa terhalangi dengan asap putih yang mengepul dari penggunaan Pek In Ciang oleh Tek Hoat.

Dan terbukti, menggunakan lemas melawan lemas, kembali harus memaksanya meningkatkan kekuatan. Karena dengan Pek In Ciang, dia menjadi sulit menduga dan sulit memperkirakan akan darimana serangan Kwi Song.

Menimbang keadaan tersebut, Tibet Sin Mo Ong akhirnya memainkan secara serentak kekuatan dan keunggulan ilmu silatnya itu. Yakni unsur lemas dan unsur keras dari Kong-jiu cam-liong (Dengan Tangan Kosong Membunuh Naga). Dengan cara itulah akhirnya dia

kembali bisa mengimbangi dan memaksakan keadaan pertarungan yang berimbang, dan kembali membuat pertempuran menjadi ramai.

Cepatnya Tibet Sin mo Ong mengganti strategi dan taktik bertempurnya, merupakan tanda dari betapa matang dan berpengalamannya orang tersebut dalam sebuah pertempuran. Dia tidak menunggu lama untuk kembali secara perlahan menekan Kwi Song, meskipun tidak mampu mendesak jauh karena kombinasi Pek In Ciang dan Thai Kek Sin Kun juga sangatlah dahsyat.

Tapi, lama kelamaan, Kwi Song juga mulai sanggup menghitung keadaan dan memperhitungkan lebih teliti cara bertempur lawannya. Dari menyerang keras berganti lemas, dari lemas berganti keras dan kemudian mengkombinasikan kedua unsur tersebut.

Menyadari perubahan tersebut, tiba-tiba Kwi Song kembali mengembangkan ilmunya yang lain, Selaksa Tapak Budha. Ilmu tersebut bakal banyak menguras kemampuan tenaganya, tetapi Kwi Song sadar, bahwa memang harus dilakukannya karena lawannya terasa sangat ulet dan lihay.

Bila sebelumnya Tibet Sin Mo Ong mencecar Kwi Song dengan kelabatan Telapak Tangannya, maka kali ini Kwi Song yang menghujani lawannya dengan Telapak Tangan Budha yang sangat ampuh. Kakinya bergerak lincah dan berkelabat cepat mengurung Tibet Sin Mo Ong yang terpaksa harus bertahan dari serangan ilmu mujijat Siauw Lim Sie, Selaksa Tapak Budha.

Kali ini agak sulit dia melayani Kwi Song dengan memukul menyamping tapak serangan Kwi Song, karena telapak serangan tersebut sungguh istimewa. Berkelabat bagaikan ratusan atau mungkin

ribuan tapak Budha mengerubuti Tibet Sin mo Ong. Sementara Tibet Sin Mo Ong kurang paham, tapak sakti yang mana yang sesungguhnya merupakan serangan yang asli.

Karena terdesak oleh pukulan2 mujijat lawannya, Tibet Sin Mo Ong akhirnya memutuskan ikut main “keras”. Keras dilawan keras, dan dia memilih menggunakan Hong Ping Ciang dikombinasikan dengan Pukulan Udara Kosong yang diyakininya beberapa bulan terakhir.

Dan akibatnya hebat, beberapa kali benturan hebat terjadi dan mengguncang kedua orang itu. Keduanya sama-sama terpental sampai 5-6 langkah kebelakang, dan kemudian kembali mendekat untuk saling tukar pukulan. Pertarungan semakin memanas dan semakin keras, Kwi Song menggerakkan tangannya dan melepas kekuatan mujijat Selaksa Tapak Budha dalam jurus ke delapan, Tapak Budha Mendorong Awan.

Dari tangannya berhembus kekuatan yang luar biasa dan menyapu semua yang dihadapannya, tetapi pada saat bersamaan, Tibet Sin Mo Ong, juga mengulurkan kedua tangannya dan mengelabatkannya sedemikian rupa, sehingga kekuatan yang tidak nampak bertemu dengan dorongan Tapak Budha Kwi Song. Dan keduanya kembali terpental kebelakang.

Ketika terpental itulah, nampak Tibet Sin Mo Ong melakukan gerakan yang agak aneh, dia memutuskan untuk menggunakan ilmu pamungkas perguruannya, yakni Thian cik-sian Kun Hoat (Silat sakti dewa menggetarkan langit). Dari sepasang telapak tangannya yang dirapalkan, nampak mengeluarkan sinar berkilat.

Dan dengan sepasang kaki yang berdiri melebar, dan kemudian ditekuk, posisinya nampak sangat angker. Meskipun baru mematangkannya belakangan, tetapi kemajuan Tibet Sin Mo Ong sudah luar biasa hebatnya. Dan Kwi Song yang melihat keadaan lawannya memutuskan menggunakan salah satu dari 2 jurus pamungkas Selaksa Tapak Budha, yakni jurus ke-10, Telapak Budha Merangkul Pelangi.

Kedua belah tangannya kembali bagaikan baling-baling yang kemudian memancarkan berkas-berkas cahaya yang menyilaukan mata, sementara kilatan cahaya di kedua telapak tangan Tibet Sin Mo Ong, juga semakin menusuk mata karena dia telah menggunakan Ilmu pamungkasnya dalam jurus ”Dewa Sakti Menggugurkan Gunung“. Secara bersamaan, kembali kedua orang itu merapat dengan jurus-jurus mujijat yang kini dipersiapkan.

Adalah Tibet Sin Mo Ong yang berkelabat ke atas dan kemudian menghujani Kwi Song dengan pukulan-pukulan berat bercahaya menyilaukan mata. Tetapi, disekujur tubuh Kwi Song yang juga sudah mengerahkan ilmunya pada tataran tinggi, dikepung oleh sinar pelangi, hasil dari berkas-berkas sinar pukulan Telapak tangannya.

Dan pertemuan kilatan cahaya yang terlontar keluar dari penggunaan ilmu-ilmu mujijat tersebut, bukan hanya berakibat kepada keduanya, tetapi penonton yang agak dekatpun merasakan tolakan daya tenaga yang luar biasa hebatnya. Dan kembali keduanya terpental mundur, kali ini nampaknya keduanya sama-sama terluka. Tetapi, keduanya masih belum mengurungkan niat untuk melanjutkan.

Bahkan dengan sigap, keduanya kembali menyiapkan jurus andalan pada tataran tertingginya: Kwi Song nampaknya menyiapkan jurus

terkahir dari Ilmu Selaksa Tapak Budha, Budha Merangkul Langit dan Bumi – rangkaian Ilmu Telapan Tangan Budha yang mengkombinasikan jurus pertama hingga jurus terakhir. Dan dari tubuhnya mengalir kekuatan tak terduga bersama dengan suara-suara pujian keagungan Budha yang menggoncangkan iman.

Tetapi, selaku juga pemeluk Budha meski yang tersesat, Tibet Sin Mo Ong bisa bertahan. Bahkan menyiapkan perlawanan yang tidak kurang kuatnya, Ilmu mujijat dari tataran ketiga Thian cik-sian Kun Hoat (Silat sakti dewa menggetarkan langit).

Sementara itu, Ceng Liong yang melihat Kwi Song sedikit di atas angin, tetapi sama dengan kasus Tek Hoat, bisa memenangkan pertandingan, tetapi pastilah dengan luka yang sangat parah. Hal yang tidak diinginkannya, karena pertarungan masih akan terus berlangsung. Dia telah menetapkan keputusan yang akan ditawarkan kepihak lawan.

Sementara itu, Kwi Song telah bergerak, nampak cepat tapi lambat, nampak lambat tapi cepat, sementara disekujur tubuhnya nampak berkelabatan sinar pukulan yang berwarna-warni disertai bunyi-bunyian yang juga beragam. Sementara Tibet Sin Mo Ong, telah mengembangkan kedua tangannya lebar-lebar dan seakan menerima cahaya dan menyerap semua yang mungkin disekitarnya.

Mereka saling seling dan saling serang dengan kemampuan yang sudah ditataran tertinggi masing-masing. Efeknya bagi yang berilmu rendah, bukan saja tak sanggup mengikuti jalannya pertarungan, tetapi nampak bahwa pertarungan sepertinya dilakukan oleh orang-orang yang susah dilihat. Susah diindra, bahkan jika terlihat, seperti “dewa-dewa“ yang sedang melakukan pertarungan.

Karena wibawa besar terpancar dari wajah kedua orang yang mengiringi pertarungan itu dengan kekuatan batin masing-masing. Benturan kembali terjadi, yang bagi orang biasa sangat memekakkan telinga, tetapi yang terhantam justru adalah pengindraan mereka yang menjadi tidak normal.

Tetapi, benturan terakhir yang justru jauh lebih berat dibandingkan benturan sebelumnya, telah membuat kedua pihak yang bertarung terluka dalam. Dan, kemurnian Ilmu Silat dan Tenaga Dalam Kwi Song menempatkannya dalam posisi lebih baik. Tetapi, keuntungannya tidaklah cukup berarti, masih belum bisa dianggap memenangkan pertarungan. Mereka memang masih bisa melanjutkan pertandingan, tetapi hasilnya tidak akan menguntungkan keduanya.

Pada saat keduanya terpental kebelakang, Ceng Liong telah membuka suara:

”Hu Pangcu, setujukah bila pertarungan inipun kita hitung seri“?

Nampak Hu Pangcu pertama mengerutkan kening, tetapi sebentar kemudian seperti sedang berkomunikasi dengan orang lain, dan tidak lama kemudian diapun tertawa:

“Hahahahaha, benar-benar. Nampaknya tiada faedahnya keduanya melanjutkan pertempuran, karena tiada yang bisa memenangkannya. Baik, kita anggap pertempuran kedua juga berakhir seri“

Pada saat sebelum Hu Pangcu berkomentar, Ceng Liong juga sudah mengirimkan suara ke arah Kwi Song:

“Kwi Song, pertempuran sesungguhnya belum dimulai. Mundurlah, dan beristirahatlah, sembuhkan luka secepatnya. Biarlah kakakmu dan Tek Hoat akan menjaga dan membantumu“

Sementara itu suasana di arena sudah benar-benar gelap. Karena pertarungan Kwi Song dan Tibet Sin Mo Ong berlangsung lebih dari 2 jam, dan pada saat pertempuran kedua terhenti dan dinyatakan draw setelah Hu Pangcu memerintahkan Tibet Sin Mo Ong mundur, dari kalangan Pendekar tiba-tiba menyala sejumlah obor yang tadi disiapkan oleh Sian Eng Cu.

Sementara pada setiap sudut, telah berjaga Barisan 6 Pedang dan Siauw Lim Sie Lo Han Tin serta Kay Pang Cap It Hohan. Sementara itu, dipihak Thian Liong Pang, juga sudah menyala puluhan bahkan ratusan obor, yang beberapa obor kemudian dibawah kearena pertempuran. Sedangkan Ceng Liong mendapati bahwa Pengemis Tawa Gila sudah senyum-senyum dan mengagguk-anggukan kepala kearahnya, sementara Sian Eng Cu juga sudah tidak menampakkan ketegangannya lagi.

Artinya, baik Pengemis Tawa Gila maupun Sian Eng Cu telah mengerjakan tugas mereka, dan nampaknya bahaya bagi mereka sudah banyak berkurang. Ceng Liong paham maksudnya.

Ceng Liong juga dengan cepat meminta Tek Hoat untuk membantu Kwi Song, yang segera dimaklumi apa maksud bantuan tersebut. Karena itu, dia bersama Kwi Beng akhirnya menemani Kwi Song untuk memulihkan tenaganya dan sekaligus membicarakan ”pesan“ yang diketahuinya diinginkan Ceng Liong untuk dibagi dengan teman-teman lainnya.

Sementara itu, Hu Pangcu telah meminta Hu Pangcu Kedua, si Ketua dari 5 Samurai Jepang untuk maju dalam babakan pertarungan selanjutnya. Dan dengan wajah yang sangat dingin, penuh percaya diri, Hu Pangcu Kedua kemudian berjalan maju ketengah arena. Cara jalan dan wajahnya yang sangat dingin memancarkan hawa membunuh yang sangat tebal dan membuat banyak orang merinding memandang manusia ini.

Berbeda dengan Samurai Jepang atau Ninja yang dihadapi Mei Lan sebelumnya yang nampak berasal dari Jepang, tokoh yang hanya dikenal sebagai Hu Pangcu Kedua ini, nampaknya asli berasal dari Tionggoan. Tetapi perbawanya, diakui Mei Lan masih lebih di atas dua orang yang bunuh diri dihadapannya karena gagal membunuhnya.

Tetapi, setelah dia mendiskusikan kecepatan dan efektifitas bergerak dengan Giok Lian, dia paham bahwa Giok Lian masih akan sanggup menandingi tokoh misterius yang jarang dikenal orang itu. Sementara itu, Ceng Liong telah mengirimkan suara kepada Giok Lian, apakah bersedia melawan Hu Pangcu ini atau tidak. Dan dengan tegas Giok Lian menjawab “bersedia“.

“Apakah engkau telah memahami rahasia kecepatan yang dipesankan kepada kami dan kuminta disampaikan kepadamu oleh Mei Lan, Lian Moi“? Ceng Liong bertanya melalui Ilmu Menyampaikan Suara.

”Sudah, sangat jelas Liong Ko, jangan khawatir“

Mendengar keyakinan Giok Lian, Ceng Liong segera berkata:

”Babak ketiga ini, kami diwakili oleh Nona Siangkoan Giok Lian. Lian Moi, silahkan maju“

Suara dan keputusan Ceng Liong sungguh mengagetkan banyak pihak, terutama di pihak para pendekar. Banyak yang belum mengenal keampuhan nona ini, kecuali ketika melawan Gan Bi Kim. Tetapi, waktu itu, nona tersebut biasa-biasa saja, tidaklah istimewa. Mengapa Ceng Liong mengajukannya untuk melawan pimpinan pengganas dan pembunuh pendekar pedang di Tionggoan? Beberapa, terutama kawan-kawan Yo Cat dan Wakil Ciangbunjin Thian San Pay kembali menggerutu atas keputusan Ceng Liong.

”Benar-benar konyol“, bisik-bisik mereka, meskipun mereka tidak berani lagi gegabah di tengah ancaman pertempuran hidup mati didepan mereka. Beberapa yang telah mengenal Giok Lian seperti Sian Eng Cu dan Pengemis Tawa Gila, manggut-manggut saja.

Sementara tokoh lain seperti Jin Sim Tojin, Ciangbunjin Bu Tong Pay dan Kun Lun Pay, meski juga rada khawatir, tetapi kepercayaan mereka terhadap Ceng Liong semakin tebal. Mereka melihat anak muda itu tetap tenang dan stabil, dan dengan kepercayaan diri yang tinggi dalam menetapkan lawan bagi tokoh-tokoh ampuh dari Thian Liong Pang.

Sementara di arena, begitu melihat lawannya adalah seorang gadis cantik, wajah sang Hu Pangcu Kedua nampak sedikit menegang. Tetapi, setelah celingak celinguk sebentar, nampaknya seperti sedang menerima perintah dari Hu Pangcu Pertama, sang Hu Pangcu kedua kemudian menatap Giok Lian tajam-tajam.

”Kouwnio, apakah engkau yakin ingin dan mampu bertarung denganku“?

”Hm, kalau tidak ingin dan tidak mampu, aku tidak akan berdiri didepanmu“ Jengek Giok Lian dengan senyum menggemaskan dibibirnya. Seperti biasa, bila Giok Lian sedang merasa gemas dan jengkel.

”Aku akan sangat sayang menurunkan tangan kejam atas dirimu Kouwnio, sebelum terlambat, masih ada kesempatan bagi pihakmu untuk mengganti jagoan kalian, dan aku akan sangat bersedia untuk menunggu siapa yang akan menggantikan Kouwnio“

”Sayang sekali, aku sudah siap mengalahkanmu“ Senyum di bibir Giok Lian tambah menggemaskan, sementara sinar matanya mulai bernada mengejek. Dan pada akhirnya membuat si Samurai Jepang, Hu Pangcu Kedua jadi naik pitam.

”Baiklah Kouwnio, cabut pedangmu, dan maaf sebelumnya karena pedangku panjang dan tidak bermata“ dan dengan satu gerakan yang nyaris tak terlihat, Hu Pangcu Kedua menghunus pedang panjangnya dan menggenggamnya dengan kedua tangannya, dengan tubuh agak doyong kedepan. Gaya khas Samurai Jepang yang telah sempat disaksikan oleh Mei Lan.

”Baiklah, karena kalian senang membantai pendekar pedang Tionggoan, biarlah kali ini aku bersenjata pedang melayanimu“ dan seiring dengan itu, di tangan Giok Lian telah tergenggam sebuah Pedang tipis, Pedang yang biasanya dibawah oleh kakeknya dan sekarang diwarisinya, Pedang Sabuk Naga.

Sebuah Pedang yang sangat tipis, berwarna putih keperakan dan biasanya dikenakan sebagai ”sabuk“ oleh Giok Lian. Belum pernah selama ini, baik Mei Lian maupun Ceng Liong melihat Giok Lian

melolos pedangnya. Bahkan merekapun tidak tahu, jika Giok Lian kemana-mana membawa senjata istimewa yang masuk dalam kategori senjata ampuh dunia persilatan itu.

Senjata bekas Kauwcu Bengkauw ini, masuk dalam kategori senjata ampuh dan mujijat, dalam level yang sama dengan Kiok Hwa Kiam Bu Tong Pay, Tongkat Hijau Kiong Siang Han dan Pedang Pualam Hijau dari Lembah Pualam Hijau.

Ditangannya, Giok Lian sanggup membuat ”Sabuk Naga“ itu menjadi mengeras selayaknya sebuah pedang. Tingkat kesaktian Giok Lian dewasa ini, memang sudah berada di tataran tertinggi Bengkauw, bahkan sudah merendengi Kauwcu Bengkau yang adalah ayahnya sendiri, setelah dilatih keras oleh kakeknya.

Mereka yang sanggup memegang dan membawa Pedang Sabuk Naga, berarti sanggup menggunakannya sebagai Pedang. Dan dengan Pedang Sabuk Naga itulah kemudian Giok Lian berdiri dan menghadapi Hu Pangcu Kedua yang sangat menyeramkan itu. Tetapi, Hu Pangcu Kedua ini, nampaknya tidak hanya membekal Ilmu Samurai Jepang, karena ketika membuka serangan, Mei Lan merasa bahwa bukan kecepatan dan serangan mematikan yang dirasakannya sebelumnya.

Nampaknya Hu Pangcu Kedua ini, sedang menjajaki Ilmu Pedang Giok Lian, dan karena itu ketika keduanya bentrok, masing-masing sudah bisa memiliki pandangan awal atas kemampuan lawan.

Hu Pangcu Kedua bukan cuma kaget atas kehebatan pedang sabuk lawan, tetapi juga kaget karena tenaga lawannya tidak berada disebelah bawahnya. Lawannya yang adalah gadis muda ini, ternyata

bukan lawan main-main. Dan Hu Pangcu Kedua dan ketiga sudah mengingatkannya.

Bila sebelumnya dia masih kurang percaya, kali ini dia harus menerima kenyataan betapa kesombongannya itu bisa sangat membahayakan. Lawannya tadi bergerak ringan, dan dari kecepatanpun nampaknya gadis muda ini bukan lawan ringan baginya, bahkan bagi jurus pamungkasnya dari Negri Jepang. Dia harus sangat berhati-hati menemukan lawannya adalah gadis muda yang tangguh.

Dan sebagaimana diterka Mei Lan, adalah benar, Hu Pangcu ini tidak sekedar menguasai Ilmu Samurai Jepang. Diapun nampak hebat dengan Ilmu pedang Daerah Tionggoan, meski sudah sangat becampur dengan kecepatan dan efektifitas menyerang ala Samurai Jepang.

Serangan-serangan pedang Hu Pangcu Kedua tidak banyak kembangan dan variasinya, selalu menerjang tepat kearah sasaran dengan kecepatan yang luar biasa. Dan nampaknya, bila Giok Lian tidak menerima nasehat dan masukan Mei Lan soal efektifitas kecepatan dan kesanggupan mental dalam mengoptimalkan kemampuan, akan sulit bagi Giok Lan mengatasi Hu Pangcu Kedua ini. Kecepatannya sungguh luar biasa, meskipun ilmu pedang yang dimainkannya tidaklah istimewa.

Tetapi nampaknya, tipu-tipu ilmu pedang Tionggoan, sudah dimasukkannya dalam khasanah kecepatan ilmu pedang Samurai Jepang. Itulah sebabnya Ilmu pedangnya sangat efektif dan menyerang langsung kesasaran dengan kecepatan yang luar biasa.

Perang Tanding (2)

Akibat cecaran ilmu pedang Hu Pangcu Kedua, Giok Lian jadi lebih banyak menggerakkan pedangnya untuk menjaga diri dan masih belum banyak menyerang. Maklum, ilmu pedang lawan, selain cepat dan sangat tajam menusuk, juga relatif aneh bagi Giok Lian yang lebih banyak melihat dan melawan ilmu pedang Tionggoan.

Tetapi setelah lama kelamaan mengalami serangan dengan kecepatan tinggi, Giok Lian akhirnya mulai lebih bisa menyesuaikan dengan pertarungan dan gaya pertempur Hu Pangcu Kedua. Meskipun tidak akan sembarangan orang yang lolos dari sergapan Hu Pangcu kedua dengan ilmu pedangnya, bahkan baru Giok Lian yang mampu bertahan tanpa banyak menyerang dengan pedangnya melewati 20 jurus.

Merasa bahwa kedudukannya jadi lebih banyak terserang, maka Giok Lian mulai mempersiapkan dirinya. Jika sebelumnya dia bertahan dengan melindungi dirinya dengan Jit Goat Kiam Sut, sesekali dia mulai memainkan In Liong Kiam Sut (Ilmu pedang Naga awan). Tetapi, serangan-serangan gencarnya, juga tidak sulit dipatahkan Hu Pangcu Kedua, karena nampaknya dia sangat memahami gaya-gaya bertempur ilmu pedang Tionggoan.

Pertempuran dengan kecepatan tinggi tersebut terjadi semakin lama semakin menegangkan. Nampaknya pengalaman dan kematangan Hu pangcu Kedua yang membuatnya sanggup mengendalikan keadaan, meskipun semakin lama Giok Lian semakin menyadari makna kecepatan yang didiskusikan Mei Lan dengannya.

Memasuki jurus ke-100an, dia mulai merasa mampu mengefektifitaskan gerakannya dan sanggup mengantisipasi serangan lawan. Karena itu, perlahan namun pasti, pertempuran mulai memasuki

tahapan keseimbangan, dengan hanya pengalaman sajalah yang membuat Hu Pangcu Kedua masih tetap sanggup mengendalikan keadaan.

Tetapi, rasa percaya diri Giok Lian yang tumbuh semakin menebal, mulai juga menumbuhkan keberaniannya untuk menggunakan ilmu silat lainnya. Hanya, dia tetap tidak memiliki keberanian untuk memapak pedang lawan dengan menggunakan Kang See Ciang, karena paham bahwa pedang panjang lawannya mampu bergerak sangat cepat dan sanggup memilih daerah serangan ganda dalam waktu sekejap.

Sebaliknya dari menggunakan Kang See Ciang, Giok Lian mulai memilih melontarkan serangan jari saktinya dari ilmu Toat Beng Ci, salah satu ilmu sesat yang dipelajarinya dari neneknya.

Dan terbukti, dengan menyelingi serangan dan tangkisannya dengan sentilan jari maut tersebut, perlahan dia mampu melepaskan diri dari tekanan berat lawannya. Dan Hu Pangcu Kedua, perlahan harus mengakui, bahwa lawan mudanya itu bukanlah lawan empuk seperti yang ditemuinya selama ini.

Lawan mudanya itu sanggup melawan kecepatan pedangnya dan juga sekarang sanggup mengirimkan serangan sentilan jari yang snagat berbahaya. Bahkan bukan hanya Hu Pangcu yang terkesima, para Pendekar yang sebelumnya sangat mengkhawatirkan Giok Lian dan meragukan keputusan Ceng Liong, perlahan mulai melihat kehebatan gadis cantik itu.

Meskipun rasa seram mereka melihat pedang panjang yang menyebar maut itu berkelabat-kelabat bagaikan malaekat el-maut,

tetapi nona muda itu, yang awalnya sangat mergaukan, perlahan sanggup mengimbangi. Bahkan sekarang sudah sanggup membuat pertandingan menjadi imbang, dengan kelabatan jari saktinya bersama dengan papasan pedang sabuk naganya.

Setelah melihat kondisi pertarungan yang sudah berimbang, Ceng Liong menarik nafas panjang. Dan beberapa saat kemudian, dia melihat Tek Hoat dan Kwi Song sudah kembali berada di posisi mereka masing-masing dan terbelalak melihat gadis yang mereka cintai bergebrak dalam kecepatan mengagumkan.

Bukan cuma itu, meskipun mereka percaya dengan kemampuan sang gadis, tetapi melihat kelabatan pedang panjang yang menyeramkan itu, mau tidak mau mereka merasa sangat berkhawatir dengan Giok Lian. Ceng Liong memaklumi keadaan, tetapi dia membutuhkan bantuan Tek Hoat. Karena itu dengan menggamit Tek Hoat dia berbisik:

”Tek Hoat, bagaimana dengan Lan Moi, apakah diapun sudah sanggup memahamkan pesan yang disampaikan kepada kita“?

”Dia masih tetap belum yakin, tetapi menurut Lan Moi, dalam soal pesan pertama, dia bahkan sudah sangat paham. Tetapi dia terus mencoba untuk memahami dan mencerna dalam dirinya arti pesan lewat kita“

”Baguslah, karena dia harus berhadapan dengan Bouw Lim Couwsu. Mungkin sebentar lagi“

”Mudah-mudahan dia sanggup“ Tek Hoat bergumam, tetapi tanpa kesanggupan untuk mengalihkan perhatiannya dari pertarungan Giok Lian. Ceng Liong tersenyum maklum, dan kembali megalihkan

perhatiannya kearena pertempuran yang telah memasuki jurus ke250-an. Dan keadaan masih tetap seperti semua, diselingi kini dengan serangan-serangan tajam dari jemari Giok Lian yang menyerang tajam kearah hu pangcu Kedua.

Dengan mengganti-ganti serangan tangannya dengan Toat Beng Ci dan juga melepas pukulan Hun-kin-swee-kut-ciang (Pukulan Memutuskan Otot Menghancurkan Tulang) yang maha ampuh dan sadis itu, Giok Lian nampak tidak lagi kerepotan melayani Hu Pangcu Kedua. Sementara itu, Hu Pangcu Kedua, semakin lama semakin heran dengan keuletan dan daya tahan si gadis, yang bahkan semakin lama semakin mampu balik dan balas menekannya.

Memang, pemahamannya atas Ilmu pedang Tionggoan sudah sangat matang, dan dari pemahamannya itu dia menyederhanakan gerakannya dengan memberi tekanan atas kecepatannya. Terutama setelah dia melatih jurus ampuh dan mengerikan dari Samurai Jepang yang terkenal dengan “Sekali tebas nyawa melayang“.

Jurus pedang ampuh itu, selama ini baru dikeluarkannya sebanyak 2 kali, dan dengan sekali bergerak, dia sanggup memisahkan badan dan kepala orang, setangguh apapun lawan yang penah ditemuinya selama ini. Sebetulnya, Hu Pangcu ini, tidak berselera untuk membunuh Giok Lian, tetapi setelah keadaan menjadi demikian kalut dan sulit baginya untuk tidak melakukan pembunuhan, maka Hu Pangcu Kedua memutuskan untuk menggunakannya meski dengan berat hati.

Dia merasa sayang untuk memisahkan kepala dan badan gadis cantik yang mendatangkan rasa sayang dihatinya. Tapi kehormatan dan harga dirinya terlalu tinggi untuk membuatnya mengalah kepada sekedar seorang gadis cantik.

Dan, tiba-tiba sang Hu Pangcu meloncat ke belakang. Dan kemudian bersikap atau besiap sebagaimana posisi awalnya sebelum pertarungan. Dia berkonsentrasi bahkan dengan tidak memandang Giok Lian. Sangat dimaklumi, karena Hu Pangcu ini sebelumnya dan sebetulnya tidak punya niat untuk membunuh Giok Lian.

Tapi perkembangan keadaan membuatnya harus melakukan hal tersebut. Karena itu dia menundukkan wajahnya dan dengan serius memegang pedangnya, sementara Giok Lian menjadi heran mengapa lawan mundur dan kemudian bersiap atau bersikap untuk menyerang, tetapi tetap diam tidak menyerang, malah menundukkan wajahnya dengan sikap yang sangat serius.

Giok Lian tidak menunggu lama untuk menyadari keadaan yang sangat berbahaya, karena dia teringat bahwa Mei Lan sempat menceritakan kepadanya bagaimana dia mengalami serangan maha cepat yang belum pernah dialaminya sebelumnya. Dan, kali ini, Giok Lian akan mengalaminya pula dengan menantikan serangan yang bahkan lebih hebat dari kedua penyerang Mei Lan.

Menyadari bahaya, dan juga merasakan betapa hawa tajam pedang menusuk dari lawannya bahkan sudah menerjang memasuki areanya, dengan cepat Giok Lian berkonsentrasi. Dikerahkannya tenaga Jit Goat Sinkang ketataran tertinggi untuk menambah kewaspadaannya, dan diapun kemudian memejamkan mata, dan berkonsentrasi dengan kemampuan batinnya memandangi dan mengantisipasi gerakan Hu Pangcu Kedua.

Para penonton menjadi terhenyak melihat pertarungan yang menjadi aneh tersebut. Hu Pangcu Kedua diam tak berkutik dengan kepala tertunduk dan tidak memandangi lawannya. Pedang panjangnya sudah

lebih dari siap disabetkan, sekali sabetan meregang nyawa. Banyak orang melihat suasana menjadi sangat menyeramkan.

Perang tanding ini sungguh seru dan aneh. Tetapi, bagi para pentolan pendekar tingkat tinggi, mereka tahu semata, bahwa posisi kedua orang tersebut sangatlah berbahaya. Siapa yang rusak konesntrasinya dan lengah sedikit saja, akan menimbulkan akibat yang tidak terduga. Para pendekar pedang sadar, bahwa sekali Hu Pangcu bergerak, maka akan menentukan siapa menang dan siapa yang akan kalah.

Karena itu, meskipun ada ratusan orang yang mengelilingi arena, tetapi keheningan yang menyeramkan justru lahir dari posisi dan kondisi kedua orang yang sedang mengadu konsentrasi dan ketenangan tersebut. Boleh dibilang, siapa yang memulai gerakan terdahulu secara gegabah, akan menciptakan peluang diserang terlebih dahulu.

Dan posisi Giok Lian dalam hal ini sangat rawan. Untung dia menyadari, bahwa pertarungan seperti ini adalah pertarungan adu mental dan adu daya tahan. Pertarungan seperti ini, juga menguras tenaga dan pikiran yang bukannya sedikit. Karena taruhannya adalah nyawa, maka wajar bila konsentrasi harus terpusat.

Di pihak lain, Hu Pangcu keduapun sadar, bahwa sekali dia melepas jurusnya dan dia gagal, maka dia akan terhitung kalah. Justru karena itu, maka dia menantikan saat yang tepat dimana lowongan tercipta dan arah itu yang akan dituju untuk memenangkan pertandingan. Tetapi celakanya, Giok Lian juga sudah mencium rencana tersebut.

Masih-masing menantikan saat yang tepat untuk melepaskan jurus mematikan pada ketika yang dirasa bahwa kemungkinan untuk menang terbuka. Bila Hu pangcu menyiapkan jurus pamungkas yang berlandaskan kecepatan kilat, maka Giok Lianpun menyiapkan untuk melepas jurus pamugkasnya dari ilmu Sam Koai Sian Sin Ciang. Dengan ilmu tersebut, dia tidak takut tanpa harus melihat lawannya, karena kesiagaan melalui kesiapan batin justru jauh lebih tajam bagi ahli-ahli semacam mereka.

Kondisi yang tercipta, baik keheningan maupun keseramannya mencengkeram semua orang. Semua menantikan ketika terakhir, atau bentrokan terkahir yang akan menentukan siapa yang keluar sebagai pemenang. Terlebih, karena menang kalah akan menentukan seperti apa pertempuran terbuka nantinya, apakah terjadi di hutan itu juga, atau bisa menunggu sampai esok harinya.

Ketegangan penonton, justru bertolak belakang dengan mereka yang berhadapan secara langsung, karena ketenangan menentukan tingkat ketelitian. Dan dalam hal ini, keduanya sudah tenggelam dalam upaya mencari peluang menyerang dan ketenangan yang menentukan kesanggupan menghindar dan melepas serangan balasan yang mematikan.

Tetapi, waktu yang dibutuhkan ternyata sungguh meletihkan dan membuat penonton yang tadinya tegang mulai kendor. Sementara, kedua orang yang bertahan dalam posisinya justru mengkhawatirkan gangguan kecil ketika keributan disekitarnya mengganggu konsentrasi. Dan nampaknya, siapa yang terganggu duluan akan menderita serangan maut lawan.

Karena itu, keduanya tetap dalam posisi siap menyerang dan siap diserang dengan merapal jurus jurus mematikan yang tersiapkan sejak semula. Dan, adalah kemudaan Giok Lian yang akhirnya membuatnya kurang tahan terhadap tekanan pertarungan mental yang sangat menentukan tersebut.

Meskipun hanya sepersekian detik yang dianggap cukup bagi Hu Pangcu Kedua, tetapi kesempatan yang ada tersebut langsung dimanfaatkannya. Yang untung adalah, Giok Lian sudah siap dengan jurus pamungkasnya yang dilambari kekuatan batin, dan kedua, dia sudah mendengar kejadian serupa yang dialami Mei Lan.

Karena itu, meski kehilangan sepersekian detik dan menghadapi jurus mematikan dari Jepang, Giok Lian tidak kehilangan keseimbangan. Tidak menjadi panik dan ketakutan menghadapi serangan itu. Dan dasarnya, Giok Lian memang seorang anak gadis yang tabah.

”Hyaaaaaaaaat“ diiringi dengan teriakan membahana, meluncurlah serangan pedang panjang Hu Pangcu Kedua, bahkan mendahului runcingnya ujung pedang yang digunakan, meluncur selarik sinar maha tajam kearah leher Giok Lian. Pada saat bersamaan, ratusan orang menahan nafas, baik tegang maupun ngeri dengan apa yang akan terjadi setelah samurai itu menabas dengan kecepatan kilat.

Bahkan tokoh-tokoh utamapun termasuk Mei Lan yang sudah menduga, nampak menahas nafas dan khawatir bagi Giok Lian. Ngeri membayangkan kepala gadis yang cantik itu akan terpisah dari tubuhnya bila gagal mengantisipasi kecepatan dan ketajaman pedang lawan. Tetapi, serangan dan kekhawatiran yang terjadi pada saat bersamaan dalam hitungan hanya sekian detik, berubah menjadi

keheningan dan orang orang yang menahan nafas ketika Giok Lian bukannya mundur, malah dengan kecepatan yang nyaris sama, justru melangkah maju memapak pedang mengerikan itu, dan dengan pesat, lemas dan tepat, dia menggerakkan pedangnya dan tubuhnya di lingkaran serangan maut Hu Pangcu Kedua. Dan setelah itu sepi.

Di sudut arena yang satu, Hu pangcu kedua nampak terdiam dengan pedang samurai yang terjulur keatas. Di ujung pedangnya, nampak secarik kain yang nampaknya merupakan pita pengikat rambut Giok Lian yang mampu dipapasnya kutung. Tetapi, sikapnya masih tetap sangat serius, sehingga membuat banyak orang berpikir bahwa pertandingan masih belum selesai.

Tetapi, hal itu tidak berlangsung lama, karena kemudian Hu Pangcu Kedua menarik nafas panjang dan perlahan-lahan menurunkan Pedang panjangnya. Dan kembali dalam posisi normal, tidak lagi dalam sikap bersiap untuk menyerang. Dan gerak-geriknya sudah tentu mengagetkan banyak orang, yang dengan segera mengalihkan perhatian mereka kearah Giok Lian. Apa gerangan yang terjadi dengan nona itu? Semua bertanya-tanya

Dan, sementara itu, disisi lainnya, Mei Lan nampak berdiri dengan sama tegangnya untuk sesaat. Sebetulnya dia masih belum percaya, bahwa tindakan spekulasinya memapak serangan pedang lawan adalah tindakan yang tepat. Cepat di lawan cepat yang efektif, dan kelemahan pedang cepat, justru ada disekitarnya pedang itu sendiri, karena arahnya yang pasti dan dengan jumlah tebasan yang terbatas.

Menyadari bahwa kepala adalah arah utama pedang panjang Jepang itu, maka Mei Lan bergerak dengan melindungi tubuhnya dibawah ketajaman pandangan batinnya dan perlindungan pedang

mujijatnya. Dan akhirnya, hanya pita rambutnya yang terpotong atau terpapas putus, tetapi selebihnya tiada satupun yang terganggu darinya.

Tapi sekian lama dia terpesona dan mematung, dibawah pandangan tatapan banya tokoh rimba persilatan yang tertegun memandangi pertarungan aneh yang barusan berlangsung tersebut. Dan, nafas-nafas lega terdengar dibanyak sudut, ketika kemudians etelah sekian lama termenung, Giok Lian memutar tubuhnya menghadap ke sisi kelompok Thian Liong Pang.

”Hm, nampaknya pertandingan kali ini berada di pihak kami“ berkata Hu pangcu Pertama setelah melihat bahwa diujung pedang panjang Hu pangcu kedua terdapat pita pengikat rambut kepala Giok Lian yang mampu dipapas putus oleh pedang panjang itu.

”Pita pengikat rambut kepala gadis itu menjadi saksinya“ tambah Hu Pangcu Pertama yang disambut dengan sorak sorai oleh kelompok Thian Liong Pang dan dengan kebat-kebit oleh kelompok pendekar karena maklum bahwa pernyataan tadi benar belaka. Tapi, sorak sorai pihak lawan dan keterkesimaan kelompok pendekar tidak menggoyahkan Ceng Liong. Setelah riuh rendah dan sorak sorai kemenangan kelompok Thian Liong Pang mereda, terdengar suara Ceng Liong:

”Tanyakan kepada Hu Pangcu Kedua, apakah dia merasa memenangkan pertarungan itu“? Ceng Liong bertanya, dan pertanyaannya itu cukup untuk membuat banyak orang tersentak. Semua orang sontak memandang Hu Pangcu Kedua yang masih belum pulih sepenuhnya dari keterkejutan. Keheningan kembali melanda, dan smeua sorot mata diarahkan kepada Hu Pangcu Kedua.

Butuh waktu beberapa lama bagi Hu Pangcu Kedua dans etelah menarik nafas beberapa kali dan ketika Hu Pangcu pertama bertanya kepadanya, baru kemudian dia menoleh:

”Hm, Hu Pangcu, jelaskan bahwa engkau telah memenangkan pertempuran itu dan bagaimana engkau melakukannya“

Setelah melihat kesekelilingnya dan juga melirik sekilas kearah Giok Lian yang juga kini memandangnya dengan sinar mata yang aneh baginya, Hu Pangcu Kedua akhirnya membuka suara:

”Bagiku, menggunakan jurus tadi harus dianggap menang ketika tubuh lawan terpisah. Tetapi dalam pertarungan tadi, hanya pita rambut dan sejumput rambut lawan yang sanggup kupapas. Nampaknya merupakan kemenangan bagiku, tetapi yang tepat adalah, lawan menemukan cara yang tepat untuk menghindari pedang panjangku dan malah menyerangku. Pertandingan itu lebih tepat dinyatakan seri. Karena selain menghindar, lawan masih memberi perlawanan dengan serangan balasan“ Hu Pangcu Kedua berkata tegas dan kemudian mundur ketempatnya semula. Diiringi tatapan kagum Ceng Liong dan Mei Lan yang mengetahui detail ceritanya dan Giok Lian yang kagum atas kejujurannya.

”Hu Pangcu Pertama sudah cukup jelas mendengarnya bukan“? Bahkan semua orang telah mendengarkannya. Pertarungan ketigapun dinyatakan draw. Atau adakah pertimbangan lain Hu Pangcu Pertama“? Ceng Liong bertanya

”Koko, Giok Lian memenangkan pertarungan“ Mei Lan mendesak kearah Ceng Liong sambil berbisik. Tapi Ceng Liong menahannya untuk bicara lebih jauh, karena diarena itu, selain dirinya, hanya Mei

Lan dan Giok Lian sendiri yang tahu, bahwa sebuah pukulan aneh dari Giok Lian sempat menutul lengan Hu Pangcu Kedua. Tapi, nampaknya Giok Lian juga tidak menganggap itu sebuah kemenangan, dia lebih memilih untuk tutup mulut.

Ðan dengan wajah memerah akhirnya Hu pangcu pertama berujar:

”Baiklah, pertempuran ketigapun kita anggap seri. Dan kali ini, perkenankan aku mengajukan diri untuk memasuki babakan keempat“ Sambil berkata demikian, Hu pangcu pertama sudah maju ketengah arena untuk menghadapi jago keempat dari kalangan pendekar. Mulanya dia berpikir akan melawan Mei Lan yang sudah dua kali menempurnya dan dia menderita kerugian. Setelah kerugian pertarungan dengan Mei Lan, dia sudah maju lebih jauh lagi dengan ilmu-ilmu ciptaan terakhir yang sudah dimatangkannya. Dia bahkan sudah sanggup merendengi Bouw Lim Couwsu saat mengundurkan diri, dan dia yakin akan mampu menangkan Mei Lan. Tetapi, dia menjadi bingung ketika kemudian Ceng Liong berkata:

”Saudara Souw Kwi Beng, nampaknya Hu Pangcu Thian Liong Pang sudah menunggumu“

”Baik, saudara Ceng Liong. Biarlah aku mencoba kehebatan Hu Pangcu Thian Liog Pang ini“ sambil berujar demikian, Souw Kwi Beng dengan gagah dan kokoh berjalan maju ketengah arena. Dia sudah menduga, bahwa Ceng Liong akan memintanya untuk melawan tokoh satu ini. Dan dia sudah lebih dari siap untuk memasuki tahapan pertempuran itu.

Sementara itu, Hu Pangcu Pertama yang berharap bertempur melawan Mei Lan menjadi sedikit kecewa. Tetapi dengan mendapatkan

lawan Kwi Beng, dia berpikir lawannya kali ini masih lebih lunak, dan kesempatan menang dipihaknya malah terbuka lebar. Apalagi, beberapa bukan terakhir dia sudah mampu mematangkan 2 ilmu pukulan terakhir yang diciptakan bersama tokoh lainnya.

Bahkan, diapun sudah sanggup meningkatkan penguasaannya atas Sinkang Bu Kek Hoat Keng seiring dengan semakin matangnya dia menggunakan Pek Pou Sin Kun (Pukulan Sakti Ratusan Langkah). Ilmu yang sanggup memukul orang tanpa kesiur angin pukulan, dan sanggup menjatuhkan lawan dari ratusan langkah sekalipun. Selain itu ilmu lainnya Thian-ki-te-ling Sin Ciang (Pukulan bumi sakti rahasia alam) akhirnya bisa disempurnakannya, meskipun belum matang betul.

Tapi dia memiliki keyakinan, dengan kedua ilmunya yang sudah disempurnakan bersama tokoh lain yang bersamanya mereka menciptakan ilmu tersebut, dia yakin sanggup mengatasi Mei Lan. Tapi yang maju melawannya kali ini, justru bukannya Mei Lan, tetapi Souw Kwi Beng. Pendekar muda binaan Kian Ti Hosiang yang juga lihay luar biasa, meskipun belum pernah dihadapinya. Tetapi, tetap dia memiliki keyakinan untuk memenangkan pertandingannya kali ini.

Perang Tanding (3)

Menyadari bawah lawan masing-masing bukan tokoh sembarangan, maka ketika bergebrak keduanya sudah langsung menggunakan ilmu-ilmu berat dari pintu perguruan masing-masing. Hu Pangcu Pertama sudah memainkan ilmunya Hai Liong Kiang Sin Ciang (Ilmu Silat Tangan Sakti Menaklukan Naga Laut) yang diimbangi dengan kokoh oleh Kwi Beng yang memainkan Tay Lo Kim Kong Sin Ciang.

Kedua ilmu inipun sudah sejak dulu saling bertemu, ketika Lam Hay bertemu tokoh Siauw lim Sie, dan sekali lagi malam itu digunakan oleh dua tokoh utama dari pintu perguruan itu yang menguasainya secara baik. Berbeda dengan Kwi Song yang lebih kaya variasi dan tipuan, maka Kwi Beng ibaratnya seorang yang sangat taat pada kaidah. Karena itu, Kwi Beng lebih kokoh sementara Kwi Song lebih gagah dan lebih sebat bergerak. Gaya bertarung Kwi Beng juga menggambarkan kekokohannya, kuat dalam iweekang dan bertarung sesuai dengan teori.

Benturan-benturan hebat terjadi ketika kedua ilmu tersebut terbenturkan secara sengaja. Kwi Beng yang lebih kokoh dalam tenaga dalam namun kurang gesit dibandingkan dengan Kwi Song menyambut keras lawan keras ketika Hu Pangcu Thian Liong Pang menyerangnya dengan penuh kecepatan. Tak pelak terjadi benturan beberapa kali:

”plak-plak-plak“

Tetapi keduanya dengan cepat menguasai diri dari getaran yang timbul akibat benturan tersebut. Keduanya paham bahwa tenaga dalam masing-masing saling berimbang. Terasa dari getaran yang timbul dari benturan tersebut. Dan itu berarti, keuletan, ketabahan dan daya tahan akan sangat menentukan pertarungan tersebut.

Hanya, Kwi Beng adalah seorang yang teliti dan sabar, karena itu dia tidak gampang terpancing masuk dalam strategi bertarung yang dikembangkan lawannya. Dengan tipu daya dan pancingan yang bagaimanapun, sulit memaksa Kwi Beng bertarung diluar kebiasaannya, kokoh, tenang dan sesuai dengan kaidah-kaidah teori dan praktek yang dipelajarinya.

Berkelabatnya tangan-tangan dan tendangan Hu Pangcu dihadapi dengan tenang dan kokoh oleh Kwi Beng. Dia tidak takut menghadapi baik keras lawan keras ataupun dengan melawan tipuan dalam kekokohan gerak-gerak silatnya. Kondisi seperti ini membuat Hu Pangcu yang merasa ilmunya sudah meningkat tajam tetap tidak mampu menarik keuntungan dari serangan serangan kerasnya menghadapi Kwi Beng.

Apalagi, karena Kwi Beng juga dengan kokoh memainkan jurus-jurus Tay Lo Kim Kong Ciang dan bukan hanya sanggup membendung serangan Hu Pangcu, tetapi bahkan juga sanggup mengirimkan serangan balasan dengan tidak kalah berbahayanya. Dan karena itu, pertarungan mereka menjadi sangat seru, saling serang dan saling bertahan dengan sama kuatnya. Ilmu-ilmu yang digunakan, juga mengesankan penggunaan oleh orang yang lihay dan mahir benar dalam menggunakan ilmu itu sesuai kebutuhan.

Pertarungan berjalan semakin seru ketika kemudian keduanya perlahan namun pasti meningkatkan penggunaan tenaga dalam masing-masing. Terlebih ketika pukulan-pukulan Hu pangcu mulai menyebarkan hawa busuk yang juga membuat pukulan-pukulannya menjadi lebih sadis.

Merasa bahwa keseimbangan masih tetap tidak berubah, Hu Pangcu mengerahkan kekuatan beracunnya dengan mencampurkan kekuatan Tok-hiat-coh-kut (Pukulan Meracuni Darah Melepaskan Tulang) dalam serangan-serangannya. Tetapi, Kwi Beng juga memiliki bekal yang memadai untuk melawan pukulan berhawa beracun lawannya. Dengan meningkatkan kekuatan iweekangnya dan mengeluarkan Kim kong pu huay che sen (Ilmu Badan/Baju Emas Yang Tidak Bisa Rusak).

Dengan hawa khikang khas perguruannya itu semua hawa beracun yang mencoba menyusup, berubah menjadi awan berbau busuk disekitar arena pertarungan. Dan sementara itu, menghadapi serangan-serangan sadis dan menyeramkan dari kandungan ilmu sesat yang dimainkan Hu Pangcu, Kwi Beng juga mengerahkan Pek In Ciang di lengannya.

Kombinasi ilmu tersebut membuat pertahanan Kwi Beng menjadi aman dan berlapis. Baik menghadapi serangan mengerikan dari lawannya melalui telapak tangan dan tendangan kaki yang bisa dipelesetkan dengan awan putih dari tangannya, maupun dari serangan hawa beracun yang dilawan dengan ilmu khikangnya.

Perubahan perubahan yang dilakukan Hu Pangcu tetap tidak mampu merubah keseimbangan pertempuran, tidak mampu memberikan keuntungan bagi keduanya. Dan seperti pertempuran-pertempuran sebelumnya, nampaknya pertempuran merekapun akan berjalan lama dan memakan waktu berjam-jam.

Karena sampai mencapai hampir 100 jurus, keduanya masih nampak berimbang dan tiada tanda-tanda salah seorang dari mereka mampu memaksakan kemenangan atau sekedar mendesak mundur lawannya. Hu pangcu yang merasa memiliki keyakinan pada awalnya, mulai merasa heran dan kaget, karena kemajuan lawan-lawan muda mereka sungguh di luar perhitungan perkumpulan mereka.

Baru menghadapi Kwi Beng dan anak muda lainnya, tiada seorangpun dari petinggi partaynya yang mampu memetik kemenangan. Bahkan salah seorang Hu Hoat merekapun sanggup diimbangi Tek Hoat, sesuatu yang diluar perkiraannya dan perkiraan para tokoh utama Thian Liong Pang.

Tetapi, ada satu hal yang berbeda dari tokoh-tokoh utama Thian Liong Pang yang telah bertarung sebelumnya. Dibandingkan dengan Hu Pangcu kedua dan ketiga, bahkan dengan Kim-i-Mo Ong, Hu pangcu ini terkenal cerdik serta juga sangat licik. Kecerdikan dan kelicikannya sudah teruji melalui serangan serangan gelap yang memporak porandakan keamanan dunia persilatan.

Boleh dibilang, perancang semua aktifitas teror di dunia persilatan adalah tokoh yang satu ini. Tokoh yang sangat dekat dengan Pangcu Thian Liong Pang dan yang juga memiliki kesaktian yang luar biasa. Gabungan kesaktian, kecerdikan dan kelicikannya membuat Thian Liong Pang sanggup merajalela selama ini, meskipun mulai menghadapi jalan terjal dengan bangkitnya gabungan kekuatan dunia persilatan melawan mereka. Hal yang sebetulnya sudah diantisipasinya, tetapi untuk memperoleh hasil besar, memang harus bertaruh dengan taruhan besar.

Hu Pangcu paham belaka, jika dia memenangkan pertarungan dengan Kwi Beng, maka posisinya akan semakin terangkat dalam Partainya, dan karena itu dia mulai memikirkan berbagai macam cara untuk memenangkan pertarungan tersebut. Tentu, dia memulai dengan ilmu silatnya. Tetapi, dia sungguh mendapat lawan yang sepadan dalam kesaktian dan kelihayan ilmu silatnya.

Lawan kuatnya ini nampak sangat kokoh dan ulet, meskipun dalam pengalaman bertempur masih belum sanggup memadai dan merendenginya. Tetapi kelemahan tersebut tertutupi oleh kegagahan dan kekokohan lawannya yang sanggup melayani semua jurus mautnya. Bahkan dengan menyisipkan tenaga beracunnya, masih tetap belum sanggup mendesak anak muda sakti tersebut.

Sebaliknya, dengan Pek In Ciang, semua serangannya jadi bisa dipelesetkan dan dipatahkan anak muda itu, sementara serangan balasannya tidak kurang berbahayanya. Terlebih ketika jari jemari Kwi Beng juga mulai melakukan serangan melalui sentilan jarinya menggunakan Kim Kong Ci. Dan Hu Pangcu paham, bahwa terkena sentilan dari ilmu mujijat Siauw Lim Sie akan sangat membahayakan dirinya.

Pada akhirnya, Hu Pangcu kembali melakukan perubahan dan mempersiapkan ilmu sakti berikutnya Siang Ciang Hoan Thian (Sepasang Tangan Membalik Langit). Ilmu tangan kosong lain yang ampuh yang dikuasainya dengan baik. Dan dengan ilmu itulah dia sanggup menggetarkan dan sanggup menahan serbuan berbahaya yang dilakukan Kwi Beng.

Bahkan dia sanggup kembali mengambil alih inisiatif menyerang, karena Kwi Beng sempat tesentak dengan kecepatan dan keampuhan ilmu baru yang dikembangkan Hu Pangcu. Beberapa kali Kwi Beng nyaris termakan telapak tangan lawannya, hanya dengan kekuatan Pek In Ciang sajalah dia bisa terhindar dari pukulan lawan yang mampu dipelesetkannya. Tetapi, bertahan saja, lama kelamaan akan tidak menguntungkannya.

Karena itu, dengan segera dia merubah ilmunya, dan kali ini menggunakan ilmu telapak Budha lainnya, yang malah lebih ampuh, Selaksa Tapak Budha (Ban Hud Ciang). Dan begitu ilmu itu digunakannya, arena pertempuran bagaikan dipenuhi telapak tangan yang saling berkutat untuk digunakan memukul lawan. Kedua tubuh mereka yang bergerak kokoh, dikelilingi oleh telapak tangan, saking cepatnya keduanya bergerak mengikuti jurus demi jurus dari ilmu sakti yang dikembangkan masing-masing.

Dengan menggunakan ilmu-ilmu andalan masing-masing, akhirnya pertempuran kembali menemukan keseimbangannya. Kwi Bengpun dengan penuh keyakinan menyerang dan bertahan dengan perlahan-lahan meningkatkan penggunaan jurus Ban Hud Ciang. Perlahan lahan, jurus demi jurus digunakannya melawan musuhnya.

Akibatnya, perlahan namun pasti Hu Pangcu juga merasakan tekanan yang semakin meningkat dari lawannya. Bisa dipastikan, karena Ban Hud Ciang pada dasarnya adalah ilmu berat yang khasiat dan keampuhannya menanjak dari jurus ke jurus. Seperti juga kali ini, jurus demi jurus akan semakin menghebat dan menggila, sementara itu Ilmu Hai Liong Kian Sin Ciang sudah hampir habis dimainkan Hu Pangcu.

Kondisi ini membuat dengan cepat Hu Pangcu mengambil keputusan memainkan jurus baru yang ditekuninya bulan-bulan terakhir ini, Thian-ki-te-ling Sin Ciang (Pukulan bumi sakti rahasia alam). Pukulan inipun berhawa keras dan berat, dan dengan dikembangkannya jurus yang sudah sempurna dikuasainya itu, membuatnya sanggup menahan dan meningkatkan serangannya.

Hu Pangcupun merasa sedikit lega, terutama karena serangan-serangan Ban Hud Ciang sanggup tertahan oleh ilmunya yang terakhir. Diapun merasa bersyukur, karena dengan penguasaan yang lebih sempurna atas ilmu tersebut, dia bisa bertahan dan bahkan menandingi ilmu mujijat dari Siauw Lim Sie tersebut.

Bahkan hingga jurus ke-10 pun, Hu Pangcu masih sanggup bertahan dan bahkan sanggup balas menyarang dengan sama kerasnya dan sama beratnya. Keduanyapun telah meningkatkan penggunaan tenaga sinkangnya sampai pada bagian ke-8, dan mengakibatkan angin

serangan mereka dengan tajam menerpa siapapun disekitar arena pertempuran.

Bahkan kilatan cahaya warna-warni di jurus ke-10 dari Kwi Beng dibayangi oleh kilatan-kilatan pukulan mematikan lawannya. Dan penontonpun sekali lagi merasa diterjang hawa yang tidak kelihatan dan membuat mereka sangat kagum atas kehebatan kedua orang yang sedang adu kekuatan tersebut. Sungguh sebuah pertarungan langka, sayangnya pertempuran itu bukan sekedar adu silat, tetapi mempertaruhkan nyawa banyak orang.

Sebagaimana pertempuran terdahulu, pihak-pihak yang terkait dengan mereka yang bertempurpun mengagumi tokohnya. Sekali lagi, tokoh Siauw Lim Pay ikut berjuang menyelamatkan para pendekar, dan tokoh muda Siauw Lim Sie ini tidak kurang hebatnya dengan Hu pangcu Thian Liong Pang yang gagah dan garang itu. Karena itu, wajar bila nama Kwi Beng juga berkibar karena kehabatannya menahan dan mengimbangi salah satu tokoh utama Thian Liong Pang.

Murid-murid Siauw Lim Sie merasa sangat bangga kepadanya. Sementara para pendekar juga memuji-muji namanya, termasuk para sesepuh yang semakin kagum atas penempaan dan binaan yang dilakukan Kian Ti Hosiang higga sanggup mendidik dua naga muda di kuil Siauw Lim Sie. Dan kedua naga muda itu, sekarang, atau hari ini telah membuktikan bahwa upaya guru mereka sama sekali tidaklah sia-sia.

Sementara itu, pertarungan sudah memasuki tahap-tahap yang semakin menentukan. Dengan penggunaan tenaga yang berat dan ilmu-ilmu yang meningkat pada puncak-puncak kehebatannya. Bahkan nampaknya Hu Pangcu sudah mempersiapkan diri menerima jurus

terakhir dari Ban Hud Ciang yang sudah terkenal kehebatan dan kemujijatannya itu.

Tetapi, Hu Pangcu, juga sudah sangat mengerti akan kehebatan ilmu yang baru disempurnakannya itu, Thian-ki-te-ling Sin Ciang (Pukulan bumi sakti rahasia alam), yaitu ilmu pukulan sakti yang mengandalkan kecepatan angin, kekuatan halilintar dan daya tahan bumi dan tanah, serta rembesan air.

Dengan unsur-unsur rahasia bumi tersebut, dilahirkan dan diciptakanlah sebuah ilmu pukulan yang sangat luar biasa. Dan sejauh ini, Ilmu tersebut ternyata sanggup menahan kehebatan ban Hud Ciang yang jarang dapat ditahan orang. Dan pada akhirnya, benturan hebat terjadi dengan nyaris tiada ornag yang tahu apa dan bagaimana benturan tersebut terjadi.

Yang pasti, orang-orang masih sempat memperhatikan bagaimana Hu Pangcu mempersiapkan dirinya dalam puncak penggunaan ilmu Thian-ki-te-ling Sin Ciang (Pukulan bumi sakti rahasia alam). Seperti juga mereka masih menyaksikan bagaimana Kwi Beng mempersiapkan jurus pamungkas dari Ban Hud Ciang, Buhda Merangkul Langit dan Bumi, dimana dimainkan semua kelihayan dari Ban Hud Ciang jurus pertama hingga ke sepuluh.

Beberapa kali terdengar benturan mirip ledakan berat, dan hanya beberapa pasang mata yang sanggup mengikuti bagaimana dua tubuh tersebut saling libat, kemudian pukulan demi pukulan terlontar dan bagaimana saling tangkis itu kemudian menghasilkan bunyi-bunyi menggelegar. Dan akibatnya, kedua tubuh tersebut berpisah, tetapi nampaknya mereka terpental mundur masing-masing dengan jarak yang sama.

Kembali membuktikan bahwa keduanya memang memiliki kesepadanan dan keseimbangan dalam enguasaan ilmu silat dan tenaga dalam. Mau tidak mau keduanya jadi slaing mengagumi. Tetapi, pada saat mundur tersebut Hu Pangcu yang licik, sebetulnya sudah mulai memperhitungkan bagaimana menyelesaikan pertandingan dengan prinsip “yang penting menang”.

Sudah sejak mengganti jurus, dia yang mengerti dan semakin mengenal Kwi Beng sebagai orang yang gagah, jujur dan nampaknya gampang ditipu itu, sudah menyiapkan tipu licik untuk mengakali lawannya. Hal yang sebenarnya sudah dirancangkan dan dipikirkannya sejak jurus ke-200 dimana keseimbangan masih tetap berpindah-pindah, alias serang menyerang terjadi dengan seru dan tiada kepastian siapa yang akan memenangkan pertandingan.

Dalam keadan harus menang, dan harga dirinya dipertaruhkan, maka Hu Pangcu mulai merancang siasat untuk menaklukkan lawannya dengan cara yang licik. Dan untuk itu, dia memang beruntung, karena memiliki sebuah ilmu pamungkas lain yang disebut Pek Pou Sin Kun (Pukulan Sakti Ratusan Langkah). Ilmu yang juga barusan kembali disempurnakannya meskipun belum matang betul, tetapi akan sangat berbahaya bagi mereka yang kurang menyadarinya.

Pukulan ini sejenis Pukulan udara Kosong, tetapi lebih berbahaya karena daya jangkaunya lebih panjang, selain pukulan tersebut tidak membawa angin pukulan sehingga tidak atau sulit untuk terdeteksi oleh lawan.

Dan nampaknya semakin lama, semakin pertarungan merambat naik ke penggunaan ilmu-ilmu pamungkas, Hu Pangcu ini sudah juga menetakan keputusan akan apa yang harus dilakukannya untuk

menang. Dan ketika benturan antara dua kekuatan yang dilakukan dengan pengerahan jurus pamungkas masing-masing, maka terpentallah kedua tubuh kebelakang. Dan pada saat kedua tubuh tersebut melayang mundur, dengan cepat Hu pangcu melolos sesuatu dengan gaya dan cara yang tidak terikuti pandang mata siapapun.

Dan ketika kemudian keduanya berdiri kembali dalam keadaan terluka masing-masing, meski tidak mengganggu, terucaplah sesuatu dari mulut Hu Pangcu:

”Engkau hebat anak muda, aku sungguh kagum”

Kwi Beng yang jujur dan polos, otomatis mengira bahwa lawan mengeluarkan pujian tulus baginya, dan karenanya dia menjawab:

”Engkau juga hebat Hu Pangcu” dan disinilah kelengahan orang gagah yang satu ini. Persis pada saat dia mengucapkan kalimat itu, dia sedikit lengah dan mengendorkan tubuhnya, tetapi pada saat dia berbicara, Hu Pangcu sudah mengibaskan lengannya dalam jurus Pek Pou Sin Kun yang berbahaya.

Dan begitu Kwi Beng menyelesaikan kalimatnya, tiba-tiba dia sadar, intuisinya berbicara bahwa sesuatu sedang terjadi, dan untunglah dia masih mengerahkan ilmu mujijatnya Kim kong pu huay che sen (Ilmu Badan/Baju Emas Yang Tidak Bisa Rusak). Sebab jika tidak, maka dia akan terluka parah oleh serangan bokongan lawan yang dilakukan dengan kekuatan Sinkang Bu kek Hoat Keng.

Tetapi, bukan serangan pertama itu yang berbahaya, tetapi serangan kedua ketika Kwi Beng masih sibuk menangkis dengan kekuatan yang seadanya. Persis pada waktu dia mundur akibat benturan pertama, kembali Hu pangcu kali ini bukan sekedar mengibas, tetapi

mendorongkan lengannya dengan kekuatan sinkang penuh kearah Kwi Beng.

”Hm sungguh licik dan curang” terdengar banyak orang menggerutu.

Orang-orang berseru murka melihat kelicikan Hu pangcu, tetapi Hu Pangcu tidak memperdulikannya. Sementara Kwi Beng yang belum sempat tegak sudah harus menerima pukulan lawan yang penuh dengan tenaga, terpaksa meningkatkan khikangnya Ilmu Badan Emas dan dengan seadanya juga mendorong dengan Ilmu mujijat lainnya Pek-in Tai-hong-ciang (Tangan Angin Taufan Awan Putih).

Tetapi, kedua Ilmu itu, hanya sanggup mencegahnya dari terluka parah didalam tubuhnya, tetapi tidak sanggup menahan tubuhnya untuk terlempar kebelakang. Kwi Beng bisa saja menahan tubuhnya untuk tidak terlempar jauh dan roboh bergulingan, tetapi resikonya tubuh bagian dalamnya akan mengalami luka yang sangat parah, dan bukan tidak mungkin bercacat. Bahkan, bukan tidak mungkin dia akan menerima serangan lebih lanjut dari lawannya, dan kemungkinan terserang itu akan semakin membahayakan kondisinya.

Kwi Beng tentunya tidak mau menempuh resiko berbahaya itu, yang dia sesalkan adalah kebaikan hatinya dan kelengahannya yang demikian mudah ditipu orang. Dan itu terjadi pada saat-saat atau pada detik-detik orang sedang memusatkan perhatian dan ilmunya. Dia merasa kesal dan murka, tetapi tidak sanggup menahan tubuhnya untuk akhirnya roboh kebelakang. Dan robohnya Kwi Beng kemudian disusul dengan tertawa bekakakan Hu pangcu yang merasa sangat bangga akan kemenangannya. Dan terdengar dia berkata:

”Hahahahaha, jika tidak salah, kali ini pihak kami memenangkan pertarungan”

”Hm, seandainya engkau tidak bermain curang Hu pangcu, maka pertarungan tidak akan berakhir demikian” dengus Ceng Liong ringan.

”Tidak Ceng Liong, aku belum kalah” Kwi Beng berkeras

”Engkau telah berusaha keras saudara Kwi Beng, kekalahanmu cuma karena engkau tidak berani dan berkeinginan bermain licik seperti lawanmu. Sudahlah, biarkanlah dia merasa senang dengan kemenangan semunya”

“Kemenangan tetap kemenangan, betapapun dan bagaimanapun cara kemenangan itu diraih. Hahahahahaha” kembali Hu Pangcu tertawa diringi pandangan muak beberapa tokoh kalangan pendekar. Sementara itu, Kwi Beng yang memang tahu dia lalai dan terkecoh tipuan licik lawan akhirnya berguman:

”Baiklah Ceng Liong, biarkanlah dia menikmati kemenangan curangnya itu. Lagipula, aku memang bodoh bisa ditipu tokoh sehebat dia”

”Baiklah, anggap pertempuran keempat kalian menangkan. Siapa yang akan maju kemudian Hu pangcu”? Ceng Liong nampak masih tetap tenang. Tenang karena dia memiliki keyakinan atas dirinya, lebih dari yang kemaren-kemaren. Pertarungannya dengan Koai Tung Sin Kay sebelumnya, pesan yang dicernakan dengan bantuan kakeknya dan hasil yang diperlihatkan Tek Hoat membuatnya yakin bahwa dia akan sanggup meladeni siapapun dari kedua Hu Hoat Thian Liong Pang.

Sementara keyakinannya atas Mei Lan juga sangatlah tebal, melebihi keyakinannya atas Tek Hoat dan yang lainnya. Dan dia juga memperkirakan dan bahkan yakin, Mei Lan akan sanggup menghadapi dan mengimbangi Bouw Lek Couwsu. Jadi, mengapa pula harus tidak tenang dan gugup?

”Hm, mudah-mudahan kalian tidak menyesali pilihan perang tanding ini, karena nampaknya kemenangan akan berada di pihak Thian Liong Pang” dengus Hu pangcu yang kesombongannya memuncak setelah kemenangannya yang kontroversial.

”Masih ada dua pertandingan yang menentukan Hu Pangcu” Ceng Liong mengingatkan

”Hahahaha, benar. Tapi entah adakah yang sanggup mengalahkan Koai Tung Sin Kay dan Bouw Lim Couwsu diantara kalian” dan ketika nama-nama itu disebutkan Hu pangcu pertama, dari kalangan pendekar terdnegar jeritan dan keluhan. Mereka menyadari betul, siapa kedua ornag yang barusan disebutkan namanya itu.

Nama nama mentereng didunia hitam, dan selama ini hanya tokoh sekelas 4 Dewa Persilatan Tionggoan yang sanggup menahan mereka. Jadi, apa nasib mereka nantinya? Dan apakah anak muda bernama ceng Liong itu memiliki kemampuan yang cukup? Bukankah yang akan dihadapi adalah dua tokoh hitam yang sangat sakti?

”Ada atau tidak tetap masih harus dibuktikan Hu pangcu. Kami sudah siap, silahkan siapa yang akan mewakili Thian Liong Pang dalam pertandingan kelima nanti”

”Baiklah” Hu pangcu kemudian berpaling kearah kedua Hu Hoat Thian Liong Pang yang belum maju bertempur. Dan nampaknya Bouw

Lek Couwsu yang memilih bertempur pada pertempuran kelima. Dan setelahnya terdengar Hu pangcu berkata:

“Bouw Lek Couwsu, Hu Hoat Thian Liong Pang akan meladeni jago kalian di pertempuran kelima”

Ceng Liong memandang kearah Mei Lan, dan kebetulan pada saat yang sama Mei Lan juga sedang memandang kearahnya. Dan dari kedipan mata tersebut, keduanya sudah paham siapa yang akan maju menandingi Hu Hoat Thian Liong Pang yang sakti itu.

Episode 5: Pertandingan Puncak

Dan kali ini Bouw Lek Couwsu yang terperangah. Dia akan dihadapi seorang pendekar muda, masih sangat muda malah, dan repotnya seorang perempuan lagi. Wajah Bouw Lek Couwsu bahkan masih lebih mengenaskan ketimbang Hu Pangcu Kedua yang menghadapi Giok Lian sebelumnya.

Maklum, karena dibandingkan Giok Lian, Mei Lan malah masih lebih mungil. Karena itu, Bouw Lek Couwsu sungguh-sungguh sangat repot bersikap. Meskipun dia telah mendengar bahwa anak gadis yang akan dilawannya, sudah dua kali mempecundangi Hu Pangcu Pertama. Tapi, dengan kedudukannya yang sangat tinggi di dunia persilatan, sungguh dianggapnya keterlaluan mengajukan seorang gadis muda sebagai lawannya.

Meskipun pertarungan itu merupakan pertarungan yang akan menentukan nasib pertarungan selanjutnya, tetapi Bouw Lek Couwsu sungguh-sungguh merasa sangat tidak layak.

Bouw Lek Couwsu sudah akan mengeluarkan kalimat-kalimat yang menggambarkan unek-uneknya seandainya dia tidak menyaksikan bagaimana si gadis mungil lawannya itu melayang ke tengah arena. Cara Mei Lan melayang kearena sungguh atraktif, meski dia sebetulnya tidak bermaksud untuk pamer.

Tanpa menekuk kakinya, dia melayang ke tengah arena meski tidak dengan kecepatan yang luar biasa. Tetapi justru, caranya melayang dan kecepatannya yang tidak seberapa itu yang sulit ditandingi dan diikuti banyak orang. Dan dengan anggunnya dia berdiri beberapa langkah dihadapan Bouw Lek Couwsu yang juga ikut merasa kagum atas peragaan ginkang luar biasa dari Mei Lan.

Dia sadar, bahwa ternyata gadis muda lawannya menyimpan sesuatu yang diandalkannya untuk menjadi lawan tokoh sekelas dia. Karena itu, untuk beberapa lama, Bouw Lek Couwsu malah memandangi Mei Lan dengan takjub tanpa mengeluarkan kata-kata sedikitpun. Dan keadaan itu baru bisa cair ketika kemudian Mei Lan menegurnya:

”Locianpwe, akankah pertandingan kelima ini dilanjutkan”?

Dan pertanyaan itu menyadarkan Bouw Lek Couwsu bahwa dia sedang berada di tengah arena pertandingan. Meskipun agak segan melawan seorang gadis muda, tetapi mau tidak mau, karena sudah berada di tengah arena, tetap harus dilaksanakannya juga. “Baiklah gadis kecil, semoga benar Wie Tiong Lan telah cukup mendidik dirimu untuk menghadapiku” dan seusai kalimat itu, Bouw Lek Couwsu kemudian membuka serangan dengan jurus-jurus sederhana. Tentu dia bermaksud untuk menjajaki kemampuan lawannya yang masih sangat muda itu.

Dia masih belum berusaha untuk menyerang dengan jurus jurus dan ilmu andalannya, setidaknya sampai yakin bahwa lawannya memang perlu dilayani dengan ilmu ilmu andalannya.

Tetapi, seperti yang disangkanya, gadis muda itu memang bukan lawan enteng. Dengan mudah semua serangan-serangannya dielakkan dan bahkan ditepis oleh Mei Lan. Bahkan, sebagaiman sudah disaksikannya, gadis itu bergerak masih lebih cepat dan gesit dibandingkan Giok Lian.

Lebih mencengangkan lagi, karena semakin cepat dia bergerak, semakin cepat juga gadis itu berkelit atau menata langkahnya sehingga setiap pukulannya menjadi mubasir. Dengan jurus-jurus yang biasa, bukan saja dia tidak sanggup mencecar Mei Lan, sebaliknya Mei Lan seperti dengan sangat mudah dan tanpa kesulitan mengelakkan semua serangannya. Bahkan beberapa kali, juga melakukan serangan balasan yang sangat cepat dan cukup membuatnya tergesa-gesa melakukan tangkisan atas serangan balasan tersebut.

Bouw Lek Couwsu menjadi semakin tercengang ketika dia meningkatkan kekuatan tenaga dalamnya, Mei Lan pun melakukan hal yang sama, yakni mengimbangi pengerahan tenaganya. Bahkan nampaknya juga tidak khawatir beradu tenaga dengannya, terbukti dengan beberapa kali dia menangkis serangan Bouw Lek Couwsu dengan keras lawan keras.

Dan bilapun dia tidak menangkis serangan tersebut, kelitannya juga sangat ringan, seringan kapas dan bergerak kearah dan sisi yang membuat pukulan lawan menjadi mubasir. Sampai sepuluh jurus lebih, Bouw Lek Couwsu masih berusaha untuk menyerang dengan jurus-jurus umum dalam perkelahian. Tetapi, tak ada untung sedikitpun yang

diraihnya, sebaliknya lama kelamaan dia sadar bahwa gadis itu memang bukannya tanpa bekal berani menghadapinya.

Gadis itu, ternyata bukan hanya mengandalkan kecepatan, tetapi juga membekal kekuatan yang memadai untuk melawannya. Bahkan dengan beraninya, Mei Lan sudah mengambil insiatif menyerang dengan menggunakan jurus-jurus Bu Tong Pay dari pelajaran Kun Lun Kun Hoat. Ditangan ahli semacam Mei Lan, jurus tersebut tiba-tiba menjadi indah dan handal, dan mampu dipergunakan untuk menempur tokoh sekelas Bouw Lek Couwsu.

Dengan kecepatan dan dengan tenaga dalamnya, Bu Tong Kun Hoat menjadi cukup ampuh untuk menyerang. Terlebih, karena ditunjang dengan kecepatan dan dasar ginkang yang membuat Mei Lan mampu meliuk-liuk dan bergerak cepat, bahkan terkadang dengan gerakan yang tidak terduga.

Dan karena itu, Bouw Lek Couwsu akhirnya terpaksa mulai meningkatkan ilmunya dan menutul-nutulkan jarinya dengan ilmu Tam Ci Sin Thong. Mei Lan sadar, bahwa dalam hal tenaga dalam, meski tidak kalah, tetapi kakek lawannya itu pastilah lebih matang, juga bahkan jauh lebih berpengalaman. Karena itu, dia tidak mau gegabah menyambut dan menempur ilmu jari sakti yang perbawanya menciut-ciut tajam mengerikan itu.

Dengan cepat, diapun kemudian memainkan Thai Kek Sin Kun dan memaksakan kakek itu untuk ikut begerak cepat guna mengejar bayangannya yang bergerak cepat dan lemas. Gerakan-gerakan kaki dan tangannya mampu membuat jurus-jurus serangan Tam Ci Sin Thong yang mengarah ke kaki maupun tangannya serta bagian tubuh lainnya menjadi tak berguna alias mubasir.

Lama kelamaan Bouw Lek Cowsu jadi yakin, bahwa gadis itu membekal ginkang yang sulit dilawan, bakan olehnya sekalipun. Gerakan-gerakan pada waktu yang tepat dan dengan gaya yang tidak masuk akal, bahkan mampu melayang tanpa ancang-ancang membuatnya semakin sadar akan keampuhan gadis kecil yang dipandangnya ringan sebelumnya.

Akibatnya, tiada lagi pertimbangan lain yang membuatnya menahan-nahan hati untuk menyerang. Betapapun, kehormatannya kini ikut dipertaruhkan dalam melawan gadis kecil itu. Kalah akan benar benar membuatnya kehilangan pamor, dan hal itu tentu bukan tidak hanya tidak menyenangkan, tetapi memalukan.

Karena itu, serangan-serangan dengan Tam Ci Sin Thong menyambar-nyambar semakin mengerikan. Tetapi, semakin gencar dan semakin mengerikan serangannya mencecar Mei Lan, semakin indah dan semakin cepat Mei Lan bergerak, baik menghindar ataupun pada saat yang tepat memukul lengan lawan dari arah samping. Bukan sekali dua kali mereka adu kecepatan dalam melibas lengan lawan.

Mei Lan yang berupaya memukul dari samping, dikelit secara cepat oleh Bouw Lek Couwsu dan kembali ditotok oleh Mei Lan – dan seterusnya, dan semua berlangsung hanya dalam hitungan kurang dari sedetik.

Bouw Lek Couwsu sadar, dengan meladeni kecepatan Mei Lan akan merepotkannya. Apalagi, gadis yang bersilat dengan Thai kek Sin kun itu, bukan cuma cepat bergerak, tetapi juga sanggup dalam kelemasannya meladeni setiap serangan-serangannya. Dan Tam Ci Sin Thong pada akhirnya kembali tidak membawa keuntungan apa-apa baginya.

Karena itu, Bouw Lek Couwsu mulai mengandalkan kekuatan tenaganya dalam Ilmu Hong Ping Ciang untuk mencecar Mei Lan. Kehebatan pukulan itu, selain membawa perbawa yang luar biasa dalam rangkaian pukulan yang bertenaga berat, juga mampu menutup semua pintu keluar lawan. Karena itu, Ilmu ini biasanya harus dilawan dengan kekuatan juga dan memaksa lawan untuk adu tenaga.

Mei Lan menyadarinya. Tetapi, justru dalam kondisi seperti itu Mei Lan memperlihatkan pemahamannya atas gerakan-gerakan yang cepat dan efektif. Meskipun lama-kelamaan dia sadar, bahwa keadaannya akan semakin repot bila terus mengandalkan ginkangnya. Tapi, kesebatan dan kegesitannya dalam meladeni Hong Ping Ciang dari tokoh yang paling sempurna menguasainya saat itu, sangat mengagumkan.

Bahkan Bouw Lek Couwsu sendiri nyaris tidak percaya, ketika Mei Lan berkelabat-kelabat di kisaran jangkauan pukulannya dan tidak menjauh. Meskipun terdesak, tetapi Mei Lan tetap tidak terjangkau oleh pukulan tersebut. Tapi, Mei Lan sadar, kondisinya tertekan bila terus menerus seperti itu keadaanya.

Karena itu, sambil mencari ketika yang tepat, Mei Lan kemudian mempersiapkan ilmunya Sian Eng Sin Kun, ilmu yang dilatihkan suhengnya Sian Eng Cu Tayhiap sejak masih kecil. Penguasaan Mei Lan atas ilmu tersebut rasanya tidak lagi di bawah Sian Eng Cu, suheng merangkap suhunya, bahkan sudah dianggap sebagai orang tuanya sendiri.

Bahkan dengan landasan ginkang yang lebih sempurna, Mei Lan mampu berubah menjadi bayangan yang sanggup memberi “persen”

pukulan kekiri dan kekanan. Dan dengan ilmu tersebut, Mei Lan kembali mampu menyeimbangkan posisinya.

Sian Eng Cu yang memandang sumoy terkecilnya, yang juga disayangnya sebagai anaknya sendiri itu, nampak tersenyum bangga ketika ilmu ciptaannya yang sudah disempurnakan gurunya dimainkan dengan baiknya. Bahkan dengan ilmu itu, Hong Ping Ciang dibuat mati kutu dan tidak sanggup menerobos benteng pertahanan dan kecepatan lawan.

Lebih dari itu, dengan kecepatannya Mei Lan bahkan sanggup mengirim dan melakukan serangan lebih banyak daripada Bouw Lek Couwsu yang semakin lama semakin kietar-ketir menghadapinya. Tapi, Bouw Lek Couwsu sama sekali bukan petarung kemaren sore. Bukan. Dia bukan hanya menguasai ilmunya secara baik dan sempurna, tetapi juga sudah melalui jumlah pertarungan yang sangat banyak.

Dia sadar betul, bahwa mutu ilmu gadis lawannya tidak dibawahnya. Bahkan dia masih ketingalan dalam hal ginkang, tetapi dia menang dari segi pengalaman. Selain, dia masih menyimpan sejumlah Ilmu ampuh yang siap untuk dipergunakannya bila waktunya sudah tepat.

Karena itu, Bouw Lek Couwsu tidaklah berkecil hati, tetapi malah mulai tabah dan bersiap untuk bertarung layaknya melawan tokoh seangkatan dirinya. Dia seperti sedang berhadapan dengan Wie Tiong Lan muda yang melawannya dengan variasi ilmu yang sangat kaya. Dan juga dengan tingkat kematangan yang luar biasa.

Kesadaran itu membuat Bouw Lek Couwsu tidak lagi berusaha memaksakan kemenangan singkat, tetapi mulai menyiapkan diri dengan strategi jangka panjang, belajar dari apa yang dilakukan Hu

Pangcu Pertama. Hanya saja, meskipun terbilang tokoh sesat, tapi Bouw Lek Couwsu, sama seperti Kim-i-Mo Ong maupun Koai Tung Sin Kay, sangat alergi dengan kelicikan dalam pertempuran.

Karena mereka memiliki ambisi bukan dalam harta dan kekuasaan utamanya, tetapi dalam penguasaan dan kesempurnaan ilmu silat. Karena itu, justru pertandingan melawan Mei Lan membuat Bouw Lek Couwsu menjadi bersemangat dan girang karena mendapat lawan kuat. Hal yang juga menarik perhatian tokoh-tokoh besar, seperti Koai Tung Sin Kay dan Kim-i-Mo Ong.

Mereka sangat heran dengan kehadiran tokoh-tokoh muda yang kini bahkan sanggup merendengi mereka dalam waktu-waktu terakhir ini. Kim-i-Mo Ong merenungkan pertarungannya melawan Tek Hoat yang meski berakhir imbang, tetapi diakuinya dia terlampau gegabah mengumbar kemarahan dan nafsunya, tidak bertarung tenang seperti Bouw Lek Couwsu.

Dan kewaspadaan, juga mulai merambati hati Koai Tung Sin Kay, meski dia masih memiliki keyakinan karena baru beberapa jam sebelumnya dia sanggup mendesak hebat lawannya yang nampaknya akan kembali dihadapinya, Ceng Liong.

Sementara itu, pertarungan Mei Lan melawan Bouw Lek Couwsu sudah mengalami perubahan kembali. Kali ini Bouw Lek Couwsu mulai memainkan Kong-jiu cam-liong (Dengan Tangan Kosong Membunuh Naga), sebuah ilmu tangan kosong yang sangat ampuh. Terutama karena gerakan tangannya berisi baik keampuhan Tam Ci Sin Thong maupun telapak tangan yang bahkan berani menyambut serangan senjata tajam lawan.

Dan getaran kuat ketika menerima benturan telapak tangan membuat Mei Lan sadar, lawan semakin meningkatkan kemahirannya. Juga ketika dari jemari Bouw Lek yang satunya lagi mencicit cicit dan bahkan mengeluarkan sinar tajam mengerikan, membuat Mei Lan berpikir mengganti ilmunya. Setelah bergerak menghindar beberapa saat, tiba-tiba lengannya juga mengeluarkan sinar berkilat dan tidak takut menghadapi telapak tangan dan jemari Bouw lek Couwsu.

Pik Lek Ciang, salah satu ilmu ampuh dari Bu Tong Pay kini mulai dimainkan Mei Lan, bahkan masih ditunjang dengan permainan hawa Thai kek Sin Kiam di tangan kirinya dan dengan landasan ginkang Bu Tong Pay, Sian Eng Coan in.

Akibatnya pertarungan kembali menjadi sangat ramai, sekaligus menjadi lebih berbahaya. Baik letupan-letupan benturan antara telapak tangan maupun akibat kesiuran angin tajam yang lahir dari serangan-serangan jari dan tangan masing-masing. Akibat pertarungan mereka, para jago yang menonton dan memang telah mundur menjauh sejak pertandingan babak kedua, menyaksikan betapa tanah ataupun kerikil yang terkena kesiuran angin itu ada yang terbelah, ada yang hancur menjadi tepung.

Sungguh sebuah pemandangan yang mengerikan, dan bisa dibayangkan bila manusia yang berada didekat radius 3-5 meter dari pertarungan kedua orang itu. Dan kesiuran serta cicit pukulan dan sentilan yang dilakukan kedua orang itu, masih tetap terjadi, dengan kemampuan hanya sedikit orang saja yang masih sanggup menangkap dengan jelas dan detil pertarungan hebat itu. Ketika para jago melihat betapa Ceng Liong masih tetap tenang menatap pertarungan itu, banyak dari mereka yang mau tidak mau merasa kagum dengannya.

Diantara para jago, Sian Eng Cu yang nampak meski memiliki ketabahan, tetapi karena memiliki ikatan khusus dengan Mei Lan yang menjadi tidak sabaran. Tetapi, melihat Ceng Liong memiliki keyakinan atas sumoynya, perlahan diapun mengkonsentrasikan diri menyaksikan pertempuran luar biasa yang sedang melibatkan sumoynya itu.

Masih seperti biasa, sumoynya yang menang ginkang, berkelabat-kelabat bagaikan bayangan dan mengitari tubuh Bouw Lek Couwsu. Tetapi, karena lingkaran pertaruangan tertutup jalan keluar dan dikunci oleh tenaga yang hebat dari Bouw Lek Couwsu, dia melihat berkali-kali Mei Lan dengan berani dan tabah membentur ataupun menutuk lengan Bouw Lek Couwsu.

Dan proses itulah yang melahirkan letupan sinar kilat ataupun benturan kekuatan yang menggelegar diantara keduanya. Betapapun, Sian Eng Cu melihat, bahwa kepandaian sumoynya memang sudah sangat luar biasa, bahkan sudah melampauinya. Meskipun harus diakui, bahwa dalam hal pertarungan sumoynya memang masih kurang dibandingkan lawannya.

Tetapi, kekuatan sinkang sumoynya, juga bukan olah-olah hebatnya, hanya karena lawannya seorang sekelas Bouw Lek Couwsu saja yang membuat pertarungan itu menjadi sangat luar biasa. Penglihatan tersebut, perlahan namun pasti melahirkan keyakinan dan kepercayaan dalam hatinya terhadap kemampuan sumoynya dalam pertempuran itu.

Bouw Lek Couwsu yang telah mengerahkan salah satu ilmu hebatnya dan membuat pagar bagi pertarungan mereka dengan kematangan sinkangnya, tetap masih tidak bisa berbuat banyak dan tidak mampu menarik keuntungan dari Mei Lan yang bertempur seru

dan mati-matian. Yang membuat Bouw lek Couwsu bingung adalah, ternyata dalam hal sinkangpun, anak gadis itu tidaklah kalah darinya.

Jikapun dia menang seusap, itu tidaklah berarti banyak, terutama karena sinkang gadis itu yang lebih murni dibanding dengan dirinya, dan bila diadupun tidak sanggup melukai gadis itu. Tetapi, nampaknya Bouw Lek Couwsu sadar, hanya dengan mengadu tenaga sajalah yang memberinya kesempatan lebih besar untuk menang. Tapi, masalahnya, Mei Lan bisa bergerak demikian cepat dan pesatnya.

Meskipun sekali-kali Mei Lan hanyut dalam alur dan strategi bertempur Bouw Lek Couwsu, tetapi tidak dalam waktu lama dia bisa menyadari kelebihan lawan dan kelebihannya sendiri. Dan karena itu, dengan cepat dia bersilat dan menyesuaikan diri dengan kondisi pertempuran.

Memang nampak aneh bagi banyak orang, seorang seperti Mei Lan dan kawan-kawannya ternyata sanggup menandingi tokoh-tokoh tua yang sudah dianggap tanpa tanding. Padahal, waktu dan tenaga yang dicurahkan tokoh-tokoh gaib rimba persilatan Tionggoan untuk mendidik anak-muda anak muda itu juga tidaklah kecil.

Dan faktanya, kembali seorang dedengkot tokoh hitam mampu diimbangi dengan baik oleh Mei Lan. Bukan hanya ilmunya, tetapi juga bahkan sinkang dan ginkangnya tidak sanggup menempatkan Mei Lan di bawah angin, dan terus mampu menandinginya. Bouw Lek Couwsu yang menyadari keadaan, setelah mencapai 200an jurus tidak mampu berbuat apa-apa, padahal ilmu-ilmu andalannya sudah dikeluarkan, akhirnya memutuskan untuk menanjak pada penggunaan ilmu-ilmu pamungkasnya.

Bouw Lek Couwsu yang akhir-akhir ini melatih ilmunya yakni Pukulan Udara Kosong, sebuah ilmu yang memampukannya meminimalisasi atau bahkan menghilangkan unsur “angin” ataupun pertanda datangnya sebuah pukulan, menjadi andalannya.

Pukulan itu, bahkan baru-baru ini dilatihnya kembali bersama sam sutenya, Tibet Sin Mo Ong, dan mengalami kemajuan berarti. Dan ilmu itulah yang kini mulai disiapkannya untuk digunakan dalam babakan selanjutnya, menghidari kekalahan atau kondisi seimbang yang akan membuatnya malu.

Kehebatan ilmu pamungkasnya itu adalah, bila dengan penggunaan iweekang tataran tertingginya, maka ilmu pukulannya, terutama tangan kososng Hong Ping Ciang dan Kong Jiu Cam Liong, bisa digunakan tanpa mengakibatkan kesiuran angin. Dan akan sangat sulit diantisipasi lawan, apakah dia sedang diserang ataukah tidak.

Hanya Tam Ci Sin thong yang sukar diatur dan dikerahkan dengan ilmu ini. Bahkan, selain menggunakan Hong Ping Ciang dan Kong Jiu Cam Liong, Bouw Lek Couwsu bahkan masih menciptakan dorongan pamungkas ilmu ini, yang tidak berbau dan tidak bersuara. Dengan menumpuk tenaga dalam dalam dorongan ilmu ini, maka lawan masih belum siap, dan ilmu pukulan sudah menerjang datang.

Dan sungguh jarang Bouw Lek Couwsu memanfaatkan ilmu pamungkas yang memang berbahaya ini, selain juga dia masih memiliki ilmu silat lain yang malah tidak kurang ampuhnya Thian cik-sian Kun Hoat (Silat sakti dewa menggetarkan langit). Sebuah ilmu silat lain yang berisi hawa sihir yang sangat kuat dan didorong oleh penggunaan hawa iweekang tingkat tertinggi.

Dan saat ini, Bouw Lek sedang menyiapkan penggunaan Pukulan Udara Kosong dan membuatnya meningkatkan kemampuan pengerahan tenaga dalamnya hingga tataran yang sangat tinggi. Dibutuhkan setidaknya kekuatan tenaga 8 bagian untuk mampu mengirimkan pukulan kearah lawan dengan meniadakan angin pukulan yang diontarkan.

Kurang dari itu, pukulan tidak akan mampu terlontar dengan mengurangi atau meniadakan angin pukulan tersebut. Dan kali ini, Bouw Lek Couwsu sudah memutuskan untuk menggunakannya. Dan nampaknya harus menggunakan secara bersungguh-sungguh bila tidak mau kehilangan nama besarnya dan gengsinya turun di tangan seorang gadis muda. Nampak Bouw Lek Couwsu memusatkan perhatian dan konsentrasinya, meningkatkan kekuatannya dan kemudian perlahan-lahan mulai membuka serangan.

Mei Lan terperanjat ketika tanpa didahului angin pukulan, tahu tahu pukulan lawan sudah menerpanya, dan bahkan kandungan tenaganya juga meningkat luar biasa kuatnya. Untungnya kewaspadaannya tidak pernah surut dan terutama pengerahan tenaganya juga tidak pernah kendur. Karena itu, dia masih sanggup menahan serangan tersebut, meskipun kemudian dia terhuyung sampai 3-4 langkah kebelakang karena kalah tenaga.

Melihat hasil pukulannya, Bouw Lek Couwsu kemudian mencecar Mei Lan yang masih belum siap karena sempat terhuyung kebelakang. Sebuah pukulan kembali dilontarkan, dan Mei Lan yang kembali belum menyangka apa yang sebenarnya terjadi, mulai paham apa yang sedang dihadapinya.

Dan belum lagi pukulan berikut datang, dengan kegesitan yang luar biasa, meski sedang tergempur mundur, Mei Lan sudah melenting dengan mengerahkan ginkang guru keduanya, Te Hun Thian. Luar biasa, meskipun sedang tergempur dia masih sanggup tidak sampai sepersekian detik sudah melenting keatas, bahkan kemudian seperti melawan gaya tarik bumi, dia mampu membuat belokan yang luar biasa di atas dan hinggap dengan keadaan siaga.

Tidak menunggu sampai sebuah pukulan kembali dilontarkan lawan, Mei Lan mendahului dengan kembali melenting keatas sambil melepaskan pukulan andalannya yang baru Ban Hud Ciang dalam jurus pertama ”Laksaan Tapak Budha Menerjang Bumi“.

Dan begitu terbentur pukulan lawan yang menangkisnya, kembali Mei Lan terlontar keudara, yang memang nampaknya disengajanya dan dari udara kembali dia meluncur dengan jurus yang sama tetapi dengan pengerahan tenaga yang lebih besar. Dan kembali terjadi benturan, kali ini dengan gelegar suara yang memekakkan:

Pertandingan Puncak (2)

”Blaaaaar“ dan tubuh Mei Lan kembali terlontar keatas, sementara Bouw Lek Couwsu juga tergetar oleh benturan dahsyat tersebut. Nampaknya, Mei Lan juga sudah meningkatkan kekuatannya sampai ke 8 bagian tenaganya. Dan masih melayang dia sudah menyiapkan kembali jurus kedua ”Laksaan Tapak Budha Membayangi Udara”.

Udara sekitar Bouw Lek Couwsu bagaikan dipenuhi telapak tangan Mei Lan yang mengejarnya untuk memukulnya. Tapi ketajaman mata Bouw Lek Couwsu dan ketabahannya memampukannya untuk mengikuti telapak tangan Mei Lan yang asli sedang mencecarnya.

Tetapi Mei Lan tidak bodoh untuk terus menerus membentur Bouw Lek, tetapi mengandalkan ginkangnya Te Hun Thian untuk terus mencecar Bouw Lek dari udara.

Bahkan terus menggetarkan pukulannya dengan jurus ketiga “Laksaan Tapak Budha laksana halilintar”. Sebagaimana diketahui, semakin meningkat, semakin berbahaya Ban Hud Ciang, karena semakin kuat perbawanya dan semakin keras efeknya.

Berbeda dengan Kwi Song dan Kwi Beng, Mei Lan terbantu oleh ginkangnya yang istimewa, karena itu penggunaan ilmu ini dalam kecepatan tinggi, sungguh menghasilkan efek ganda. Baik beratnya pukulan, maupun kecepatan untuk mengantisipasi arah dan pukulan asli yang sedang mengancam.

Untungnya, Bouw Lek Couwsu juga bukan orang bodoh, menghadapi hujan telapak tangan yang luar biasa banyaknya, dia tetap menggetarkan pukulannya dan membentur telapak tangan Mei Lan. Dan kembali terdengar dentuman keras “blaaaaar” dan diikuti oleh terpukul mundurnya kedua orang itu.

Tetapi, Mei Lan tidak berlama-lama, kembali dikembangkannya pukulan ampuhnya itu, dan nampaknya Bouw Lek Couwsu mulai keteteran dalam menghadapi jurus ke 4 sampai ketujuh yang dikembangkan susul menyusul dengan kehebatan yang semakin meningkat. Beberapa kali terjadi benturan, tetapi benturan itu tidak mengurangi kecepatan Mei Lan dalam menekan Bouw Lek Couwsu dengan Ban Hud Ciang, bahkan mulai memasuki jurus ke-8 “Tapak Budha Mendorong Awan”.

Sebetulnya yang membuat Bouw Lek Couwsu terdesak bukanlah laksaan telapak tangan yang mengancamnya, tetapi kecepatan perubahan jurus yang sulit diantisipasinya. Serta perubahan dan perpindahan telapak tangan yang langsung mengancamnya.

Keadaan itulah yang membuatnya terus terdesak dan sulit membalas menyerang hingga memasuki jurus ke 9 “Laksaan Tapak Budha Menggoyang Mayapada”. Bouw Lek Couwsu tergopoh-gopoh untuk menghindar dan melontarkan sejumlah pukulan untuk membatasi ancaman atas dirinya, sekaligus menyiapkan jurus dan ilmu barunya.

Tepat, karena memang Bouw lek Couwsu sadar bahwa jurus ke-10 dan terutama ke-11 Ban Hud Ciang adalah jurus dengan perbawa yang menakutkan. Karena itu, tiada pilihan lain baginya dengan menyiapkan Ilmu Thian cik-sian Kun Hoat (Silat sakti dewa menggetarkan langit). Ilmu pamungkasnya yang sangat berbahaya dan didorong dengan kekuatan batin dan kekuatan sihir.

Dan pengerahannya tepat pada saat Mei Lan sedang menyiapkan jurus ke-10 : Laksaan Tapak Budha Bagaikan Pelangi. Pengerahan kekuatan sihirnya mampu mempengaruhi Mei Lan sekejap, dan akibatnya jurus ke-10 yang dilontarkannya banyak terpengaruh oleh perbawa Bouw Lek Couwsu. Dan karenanya dengan mudah Bouw Lek Couwsu menghindar dan bahkan mulai menyerangnya dengan jurus “Dewa Sakti Menggempur Thian San”.

Mei Lan yang dalam puncak pengerahan jurus terakhir Ban Hud Ciang, kembali terpengaruh oleh perbawa Bouw Lek Couwsu dan seakan-akan melihat guguran gunung sedang menuju kearahnya. Untungnya jurus ke-11 Ban Hud Ciang sudah dipersiapkannya, sehingga pukulan berat Bouw Lek Couwsu tidak mampu melukainya,

hanya sanggup melontarkannya kebelakang, sama jauhnya dengan terlontarnya Bouw Lek Couwsu kebelakang.

Mei Lan segera sadar, lawan sedang menggunakan ilmu batin, ilmu sihirnya. Tiada jalan lain, Ban Sian Twi Eng Sin Ciang (Pukulan Sakti Selaksa Dewa Mendorong Bayangan), Ilmu terakhir ciptaan gurunya segera disiapkannya. Dengan mengerahkan jurus tersebut, tiba-tiba bayangan tubuhnya nampak bagaikan laksaan orang didepan mata penonton, sementara Bouw lek Couwsu bagaikan manusia raksasa yang sedang mendorong gunung untuk menggugurkannya.

Pertarungan yang unik, karena didorong oleh penggunaan tenaga batin yang hebat. Laksaaan bayangan tubuh Mei Lan berkelabat memutari Bouw Lek Couwsu yang menghambur-hamburkan pukulan saktinya kesegala arah dan mengejar bayangan tubuh Mei Lan. Benturan-benturan berat kembali terdengar, tetapi keduanya seperti tidak memperdulikannya. Dorongan-dorongan hebat dengan kecepatan berbeda kembali terjadi. Tetapi, kali ini kecepatan dan kekuatan pukulan nampaknya akan menentukan.

Setiap pukulan dan gerakan mengandung kekuatan iweekang dan kekuatan batin yang luar biasa. Dan pada posisi ketika kekuatan sihir dan kekuatan batin yang berimbang inilah kemudian Mei Lan melengking keras, dan mendorong dengan kekuatan sepenuhnya kearah Bouw lek Couwsu. Begitu benturan terjadi, Mei Lan sudah kembali dengan cepat memunahkan daya dorong kearah tubuhnya dan melenting sambil mengeluarkan serangan lainnya.

Bouw Lek Couwsu sadar akan bahaya, selain sudah semakin lamban gerakannya, penggunaan tenaga berlebihan menghadapi Ban Hud Ciang sungguh mempengaruhinya. Dalam kondisi seperti itu, Mei

Lan memanfaatkan keunggulan ginkangnya dengan menyerang sambil melepaskan pukulan sepenuh tenaga sambil berjaga atas pukulan balasan, dan ketika berbenturan dengan cepat memunahkan tenaga yang mementalkannya dan kembali menyerang lawan.

Keadaan ini benar-benar merepotkan Bouw Lek Couwsu, dan dia sadar bahwa ilmu gadis kecil yang terakhir ini benar-benar merupakan tandingan ilmu pamungkasnya. Sayang, dia banyak menghamburkan tenaga sebelumnya.

Dan ketika benturan sekali lagi terjadi dan keduanya terpental kebelakang, dengan cepat Mei Lan sudah kembali melenting dan menyerangnya pada saat Bouw Lek Couwsu masih terhuyung kebelakang. Dan kembali sebuah benturan keras terjadi, dan kali ini diakhiri dengan merenggangnya jarak antara keduanya. Dan tidak terlihat Mei Lan kembali berusaha menyerang, sementara Bouw Lek nampak sedang tertunduk, merenung.

Nyaris tiada orang yang mengetahui benturan terakhir yang nampaknya menentukan siapa menang dan siapa kalah. Keadaan hening, sangat hening malah untuk beberapa saat. Sampai kemudian keheningan tersebut dipecahkan oleh tarikan nafas berat dari Bouw Lek Couwsu yang kemudian terdengar berujar:

”Hm, nampaknya gelombang di belakang benar mendorong gelombang didepannya. Tidak kusangka hari ini meski hanya dengan setengah jurus saja kebanggaanku lenyap direnggut orang. Hu Pangcu, babak ini aku memang kalah, kalah setengah jurus”

“Terima kasih locianpwe, hanya secara kebetulan aku bisa melakukannya” Mei Lan merendah, terutama karena mendengar

betapa getir suara orang tua sakti yang baru saja bisa ditaklukkannya. Benar, meski hanya setengah jurus dan dengan memanfaatkan kelebihannya yang memang sangat luar biasa itu, ilmu ginkangnya.

Dan setelah melihat dengan penuh rasa kasihan langkah gontai Bouw Lek Couwsu yang kembali ke barisan para Hu Hoat Thian Liong Pang, Mei Lan kemudian juga beranjak mundur ke barisannya. Di telinganya mengingang sebuah suara:

”Lan Moi, kionghi atas kemenanganmu. Sungguh hebat. Tapi sekarang saatnya engkau memulihkan kekuatanmu” Sebuah suara, siapa lagi jika bukan Ceng Liong. Suara yang seakan mempercepat proses penyembuhannya. Dia melihat, Ceng Liong beberapa saat sedang bercakap-cakap dengan Tek Hoat, dan tidak berapa lama kemudian nampak Tek Hoat mengundurkan diri, diikuti Kwi Song. Tetapi Mei Lan sudah cukup letih dan selanjutnya tidak tahu apa yang terjadi karena dia berkonsentrasi untuk memulihkan tenaga dan semangatnya.

Sementara itu Ceng Liong sudah membuka suara:

“Hu Pangcu, kedudukan sekarang sudah satu sama, apakah masih akan dilanjutkan atau menunggu sampai hari esok”? tentu sebuah pancingan, karena Ceng Liong sadar bahwa memang lawan menunggu hari gelap.

”Hm, sekarang adalah saat penentuannya. Babak terakhir, kami mengajukan Koai Tung Sin Kay mewakili Thian Liong Pan. Terserah pihakmu anak muda, siapa yang diajukan untuk melawan locianpwe Koai Tung Sin Kay” Hu Pangcu nampak sangat yakin dengan kemampuan Sin Kay.

”Baiklah, kami akan menyiapkan lawan bagi locianpwe Koai Tung Sin Kay” Ceng Liong kemudian nampak berpaling dan bercakap sejenak dengan Sian Eng Cu dan Pengemis Tawa Gila serta beberapa sesepuh. Tetapi sebelum Sian Eng Cu dan beberapa tokoh pendekar memberi pendapat, tiba-tiba terdengar suara:

”Saudara Ceng Liong, saat ini adalah tugasmu untuk melawannya. Dan aku yakin, engkau sanggup mengerjakannya” Suara Kwi Beng terdengar sangat kokoh dan meyakinkan. Akibatnya banyak orang yang memandangnya, heran dan kaget akan keyakinan tokoh muda Siauw lim Sie tersebut.

”Terima kasih saudara Kwi Beng, taruhannya sangat mahal”

”Anak muda, jangan bertindak tanggung dan setengah-setengah. Lohu tahu, engkau telah disiapkan suhumu dan juga Kiong Siang Han Locianpwe, bahkan suhuku juga yakin engkau sanggup memikul tugas ini. Lakukanlah” Sian Eng Cu meyakinkannya.

”Tidak ada lagikah jago dari kalian yang berani meladeni Koai Tung Sin Kay”? terdnegar suara Hu Pangcu yang agak arogan

”Hahahahaha, sebentar Hu Pangcu, seseorang sudah lebih dari siap menempurnya” Pengemis Tawa Gila berseru menjawab.

“Ðan yang akan melawan Hu Hoat thian Liong Pang adalah Kiang Ceng Liong, majikan baru Lembah Pualam Hijau” sambung Pengemis Tawa Gila yang membuat Ceng Liong tidak punya pilihan lagi. Mau tidak mau dia menetapkan hati untuk memikul tanggungjawab besar yang sangat menentukan itu. Meskipun diiringi tatapan keraguan dari beberapa orang yang selama ini meragukan kemampuannya. Tetapi

ucapan pengemis Tawa Gila yang selanjutnya membuatnya berketetapan hati untuk maju:

”Anak muda, bersamamu setidaknya ada Siauw Lim Sie, Bu Tong Pay dan restu guru besar kami Kiong Siang Han dan nama Lembah Pualam Hijau. Tidak sepantasnya engkau ragu”

”Baik Hu Kauwcu, smeoga tecu berhasil”

Dan dengan tenang kemudian Ceng Liong melangkah maju, bahkan langsung menghadapi Koai Tung Sin Kay dan memberi salam:

“Locianpwe, kita bertemu kembali. Baik-baikkah keadaanmu orang tua”?

”Hm, anak muda, tadi engkau masih bisa lolos. Tapi kali ini, lohu harus meringkusmu untuk memudahkan urusan kami di Tionggoan ini” Koai Tung Sin Kay berkata seram, meski bibirnya tidak kelihatan mengucapkan satu kalimatnya. Tetapi suaranya yang seakan memberitahukan bahwa dia sebelumnya mengalahkan Ceng Liong membuat banyak orang kebat-kebit. Tapi Ceng Liong yang sudah memiliki perhitungan sendiri sudah berkata:

”Mudah-mudahan tecu sanggup menahan seranganmu locianpwe”

”Baiklah, silahkan memulai anak muda. Jangan dianggap aku kurang sopan mulai menyerang generasi yang lebih muda”

“Baik, maafkan aku locianpwe” dan dengan suara itu, Ceng Liong kemudian membuka serangan kearah Koai Tung Sin Kay.

Sadar sedang berhadapan dengan tokoh sakti, Ceng Liong langsung membuka serangan dengan menggunakan jurus-jurus Giok Ceng Chap

Ca Sin Kun. Bahkan tidak tanggung-tanggung Giok Ceng Sinkang juga langsung dikerahkan sampai setengah bagian. Dan, demikian juga dengan Koai Tung Sin Kay, yang sudah mengenal Ceng Liong, sudah tidak memakai basa-basi lagi untuk menandingi dengan menggunakan tongkatnya.

Bahkan tidak menunggu lama, selain mencecar dengan tongkatnya, sesekali juga dia menyerang dengan menggunakan Jari Tangan Beracun Putih. Hanya, kali ini Ceng Liong sudah lebih dari cukup memperoleh pengalaman menghadapi datuk maha lihay ini. Dia tidak membiarkan dirinya diserang sedemikian rupa, dan berani berbalik menyerang dengan menggunakan Giok Ceng Chap Ca Sin Kun.

Serangan dengan ilmu kebanggaan keluarganya mau tidak mau membuat orang merasa kagum, karena sudah lama tidak lagi nongol dan kelihatan di rimba persilatan. Kali ini, mereka kembali menikmati salah seorang ahlinya memainkan ilmu itu dengan sangat hebatnya. Gesit, kokoh dan tajam dalam menyerang, dan bahkan tidak takut diadu dengan Koai Tung Sin Kay yang memakai tongkat dalam ilmu tongkat yang ampuh Koai tung kwi eng (tongkat aneh bayangan hantu) yang juga diselingi dengan totokan totokan pek tok ci.

Akan sangat memalukan keluarga dan Lembah Pualam Hijau jika Ceng Liong tidak mampu menghadapi tongkat dan totokan-totokan itu. Apalagi, dia sudah menggunakan ilmu kebanggaan keluarganya, yang mengangkat derajat keluarganya tinggi-tinggi di dunia persilatan Tionggoan.

Dan memang, sekali ini, terutama setelah mematangkan pemahamannya atas dirinya dan penggunaan ilmu-ilmunya berdasarkan petunjuk gaib yang diperoleh lewat pesan orang tua aneh

yang ditemui sebelumnya, Ceng Liong menarik keuntungan besar. Dia bahkan kini mampu memaksimalkan kehebatan ilmu keluarganya, dan berani menempur Koai Tung Sin Kay dengan penuh ketabahan.

Hal yang semakin lama membuat Koai Tung Sin Kay menjadi sangat heran, karena Ceng Liong yang dihadapinya kali ini mengapa menjadi jauh lebih cepat dan lebih alot. Jika ada orang sanggup membedakan atau menilai tingkat kehebatan Ceng Liong saat ini, maka pastilah Koai Tung Sin Kay orangnya. Baru beberapa jam sebelumnya, pagi menjelang siang mereka bertempur seru.

Meskipun mampu memberi perlawanan seru dank eras, tetapi Ceng Liong lebih banyak terdesak dalam pertempuran tersebut. Tetapi kini, anak muda itu nampak sangat kokoh, percaya diri dan memberi perlawanan yang luar biasa kuatnya terhadapnya. Hal yang menimbulkan rasa kagum dan penasaran di dadanya.

Karena sebagaimana jago silat lainnya, Koai Tung Sin Kay sangat penasaran dan tertarik jika mendapat lawan yang mampu membuatnya bekerja keras. Dan kali ini, seorang anak muda bernama Ceng Liong yang beberapa jam sebelumnya bisa ditaklukkannya dengan susah payah, kali ini sanggup mengimbanginya.

Dan herannya, kali ini, anak muda lawannya itu, dengan berani dan tidak takut-takut lagi, menangkis dan mendorong tongkatnya. Bahkan tidak takut berbenturan karena tangan itu sudah dipenuhi hawa Giok Ceng Sinkang yang luar biasa kuatnya. Kondisi ini menambah rasa penasaran Koai Tung Sin Kay, dan karenanya dimainkannya semua jurus “Tongkat Aneh Bayangan Hantu” secara tuntas, bahkan diselingi dengan totokan-totokan beracun dari Pek Tok Ci.

Tapi itupun tidak membuat Ceng Liong bergeming dan ketakutan, sebaliknya diapun bersilat dan memainkan Giok Ceng Chap Ca Sin Kun dengan bersemangat. Bahkan untuk mengimbangi ilmu tongkat ampuh itu, langkah kaki Ceng Liong juga dilandasi oleh ginkang Lembah Pualam Hijau, Jouw Sang Hui Teng yang membuat keringanan tubuhnya juga meningkat pesat. Terutama setelah Mei Lan membuka rahasia pesan yang ditujukan kepada Gadis manis itu. Karena itu, dalam hal kegesitanpun, meski belum sehebat Mei Lan, tetapi sudah sangat cepat dibandingkan pertarungan dengan datuk iblis ini sebelumnya.

Singkatnya, baikkecepatan, keberanian, ketabahan dan kekokohan Ceng Liong dirasakan meningkat pesat oleh sang datuk iblis tersebut. Tetapi, justru keadaan itu menggembirakan Koai Tung Sin Kay yang selama beberapa tahun sejak keluar dari hukuman penjara atas “janji” pertarungan mereka puluhan tahun lalu, belum lagi mendapatkan lawan yang menggembirakan dalam sebuah pertarungan.

Semakin lama bertarung, Koai Tung Sin Kay sendiri semakin bersemangat, karena dipaksa untuk mengeluarkan jurus jurus dan ilmu-ilmu yang dimatangkan dan dilatihnya untuk membalas dendam terhadap generasi guru Ceng Liong, 4 Dewa Tionggoan. Sementara Ceng Liong, juga semakin kokoh dan tabah begitu mengetahui kali ini dia bisa mengimbangi kehebatan Koai Tung Sin Kay, dan bahkan racun Pek Tok Ci, juga tidak lagi menjadi ganjalan yang berbahaya baginya.

Secara otomatis, kekuatan khikangnya juga menanjak hebat, dan karena itu disekitar tubuhnya racun-racun pek tok ci sudah bisa ditawarkan. Sementara kekuatan tangannya, juga semakin meyakinkan karena sanggup menghadapi dan menangkis tongkat Koai Tung Sin

Kay tanpa takut terluka. Keduanya bersilat dan menghabiskan jurus demi jurus dari ilmu andalan masing-masing sambil mengintip lawan melakukan kesalahan untuk dicecar dengan serangan-serangan berbahaya.

Tetapi sampai keduanya menghabiskan jurus-jurus dari ilmu yang mereka mainkan, tetap tidak ada perubahan keseimbangan pertarungan. Saling serang dan bertahan terus terjadi silih berganti, dan membuat Koai Tung Sin Kay semakin bersemangat dan semakin senang.

Adalah Ceng Liong yang kemudian berganti jurus serangan dengan mulai menyerang dengan kecepatan tinggi menggunakan Soan Hong Sin Ciang. Pukulan-pukulannya menjadi secepat Tongkat Bayangan Hantu lawan dan mencecar Koai Tung Sin Kay dengan pukulan-pukulan cepat ditunjang ilmu ginkangnya.

Bahkan tidak lama kemudian Ceng Liong juga memadukan Soan hong Sin Ciang dengan hawa pedang pasangannya, Toa Hong Kiam Sut yang memenuhi tangannya. Jika dalam pertempuran sebelumnya Ceng Liong terdesak ketika mengadu ilmu dengan menggunakan ilmunya ini, kali ini dia sanggup bertahan dan meladeni kecepatan tongkat lawan dan bahkan berkali-kali mendesak lawan yang keripuhan oleh serangan-serangan tajam yang kini berani menerima dan beradu dengan totokannya Pek Tok Ci.

Bahkan, kakek itu menjadi heran, karena anak muda itu, Ceng Liong, kini mampu mendesaknya dengan menggunakan ilmu tersebut. Bukan hanya berani menerima tongkat dan totokannya, bahkan terus menerus menyerang tak hentinya dan membuat permainan tongkatnya sedikit

goyah dan memberi kesempatan Ceng Liong untuk melakukan desakan yang lebih berbahaya.

Tidak mau jatuh di bawah angin, Koai Tung Sin Kay mengganti ilmunya dan kini memainkan Koai tung cim-jip-liong-hiat (Tongkat aneh Serbu Masuk Guha Naga). Ilmu yang disempurnakan dan ditekuni akhir-akhir ini, kembali diumbar dan dianggapnya cocok menghadapi serangan Ceng Liong yang membahana dan datangnya sangat cepat.

Ilmu tongkatnya mengibaratkannya sebagai seorang sakti yang berani menerobos Goa Naga yang berbahaya, dan tongkatnya memang dengan cepat mampu membendung serangan-serangan cepat dan membadai dari Ceng Liong. Tetapi, seiring dengan itu, perlahan, hawa panas membakar yang dihasilkan oleh pengerahan tenaga dalam Ceng Liong mulai ikut berperan. Dan karena itu, mau tidak mau Koai Tung Sin Kay harus meningkatkan penggunaan tenaga dalamnya, dan perlahan dia sadar, bahwa entah bagaimana, Ceng Liong yang dihadapinya pagi tadi, berbeda dengan yang bertarung dengannya kali ini.

Entah, mungkin orang yang sama, mungkin juga berbeda. Yang pasti, Ceng Liong kali ini seperti mengalami peningkatan hebat dalam bersilat, dan yang sanggup membuatnya kelabakan, padahal pagi tadi, dia masih sanggup mendesak anak muda ini. Tapi sekarang, beberapa kali dia bahkan yang didesak dan terdesak oleh anak muda yang hebat ini.

Karena itu, dengan terpaksa, diapun mulai menguras ilmu-ilmu hebat yang disempurnakan dan diciptakannya selama beberapa tahun terakhir sebagai bekal untuk melakukan pembalasan. Tapi ilmu tersebut nampaknya sudah harus digunakan saat ini.

Serang menyerang dengan menggunakan ilmu andalan baik Ceng Liong dan Koai Tung Sin Kay semaki tajam, semakin cepat dan semakin menggiriskan. Bahkan mereka yang meragukan Ceng Liong awalnya, mulai terbuka matanya menyaksikan bagaimana anak muda itu menandingi dan bahkan beberapa kali mendesak si Maha Iblis Koai Tung Sin Kay.

Diam-diam mereka menjadi malu sendiri, dan mulai tumbuh rasa percaya mereka dan kekaguman mereka. “Pantas anak itu sejak awal selalu tenang dan percaya diri, rupanya memang membekal ilmu yang tidak lumrah di usianya” gumam orang-orang yang tadinya sirik. Sementara Ceng Liong terus berusaha mendesak lawan, tetapi sebagaimana pelajaran yang diterimanya, dia berusaha untuk menghapus dan meniadakan “dendam”, “sakit hati” atau “emosi” lainnya dalam mencecar lawan.

Sedapat mungkin, dia menempatkan lawan dalam posisi “orang yang perlu diperbaiki” atau “orang yang perlu dibantu” untuk mengetahui dan mengenal makna kehidupan. Karena kesadaran itu, maka Ceng Liong seperti dalam motivasi membantu Koai Tung Sin Kay untuk menemukan makna kehidupannya, dan bukannya menyerang untuk memusnahkannya. Dan dengan kesadaran itu, maka Ceng Liong justru sanggup menemukan intisari ilmu-ilmunya dan menemukan penggunaannya secara tepat dan efisien.

Apakah Ceng Liong akan memukul roboh Koai Tung Sin Kay jika kesempatan itu datang? Hal juga yang dipikirkan Ceng Liong dalam mengatasi kebuntuan pemahamannya atas pesan gaib itu. Tidak, pukulan itu bukan dengan maksud membunuh, melukai atau merusak. Tetapi untuk menghidupkan, untuk menunjukkan adanya jalan lain, jalan kehidupan, bukan jalan yang merusak ciptaan sang “pengasih”.

Biarkan hati yang menuntun jenis pukulan dan kekuatannya, karena hati yang “mengerti” akan mengetahui jenis pukulan seberat apa yang tepat bagi orang yang tepat. Dan disinilah kebingungan dan kebuntuan Ceng Liong dan juga tek Hoat dalam memaknai dan memahamkan pesan rahasia itu.

Padahal, memukul tanpa maksud membunuh, menyerang tanpa maksud merusak, tetapi mebentuk, membangun dan memperbaiki bahkan menghidupkan, sama dengan membiarkan hati menentukan jenis pukulan atau kekuatan pukulan yang bagaimana yang memampukan orang untuk mengenali bahwa pukulan itu atau jeweran itu adalah untuk kebaikan.

Bukan tidak mungkin pukulan itu akan merupakan pukulan mematikan, tetapi tidak semua orang jahat layak dihukum dengan hukuman mati, terlebih bila mereka menyediakan dan menyisakan nurani dan pikiran menyesal untuk berbalik.

Pertandingan Puncak (3)

Orang-orang dan penonton pastilah tidak peduli dengan apa yang dipahami dan dipikirkan Ceng Liong. Yang jelas, mereka membutuhkan kemenangan dan jika perlu kemampuan Ceng Liong untuk menundukkan dan meniadakan iblis yang mengerikan itu. Itu pandangan umum yang berlaku di kalangan kelompok pendekar.

Bahwa seseorang akan dihargai sebagai pahlawan bila sanggup membatasi, membunuh dan menumpas penjahat yang hebat. Tapi, tidaklah semua pandangan umum adalah kebenaran universal. Siapa yang mengetahui bahwa seorang penjahat juga memiliki keluarga, keturunan dan bukan tidak mungkin sisi baik.

Jika memungkinkan sisi baik itu ditonjolkan, mengapa pula harus membinasakan? Bukankah semua manusia memiliki kandungan sisi baik dan buruk? Dan bukankah pendekar dan penjahat hanya soal takaran berbeda sisi baik dan sisi buruk dalam hidupnya? Jadi, adalah hak siapa sebenarnya untuk menentukan bahwa benar si penjahat harus dibunuh dan si pendekar harus umur panjang.

Sementara itu, pertarungan meningkat semakin seru lagi. Ketika Koai Tung Sin Kay memutuskan untuk menggunakan Ilmu Tongkat yang diciptakannya belakangan, Lui-tai-hong-tung (Tongkat Kilat dan Badai). Tongkatnya bergerak-gerak dan penyaluran hawa tenaga dalamnya yang membuat keluar hawa bagaikan kilat dan badai yang menyerbu Ceng Liong.

Tetapi, pada saat bersamaan, panas yang keluar dari tubuh Ceng Liong juga semakin menyengat bersamaan dengan penyaluran hawa pedang ditangannya. Bahkan gerakan-gerakan keduanya yang menggunakan pukulan Kilat dan Badai seakan akan saling beradu ”keributan” dan membuat para penonton menjadi terkejut menemukan kenyataan betapa menakutkannya kedua orang tersebut dalam puncak penggunaan kedua ilmu masing-masing.

Tetapi, harus diakui, perbawa tongkat memang lebih menentukan, karena lebih panjang, sehingga dalam jangkauan yang sama, pengguna tongkat akan lebih diuntungkan. Karena itu, Ceng Liong menjadi kehilangan kesempatannya dalam menggunakan atau penggunaan Soan Hong Sin Ciang, dan sering jadi pihak terserang.

Lama kelamaan Ceng Liong menyadarinya, meskipun hawa pedang ditangannya masih sanggup membuat tongkat terpeleset, tetapi kesempatannya dalam menyerang jadi menyusut. Karena itu Ceng

Liong kemudian merubah ilmunya, dan kini menggunakan ilmu warisan Kiong Siang Han, Pek Lek Sin Jiu yang malah disempurnakannya dan memiliki kehebatan yang berbeda dengan Kiong Siang Han ataupun Tek Hoat jika memainkannya.

Terutama pada jurus terakhir, yang bahkan Kiong Siang Han sendiri dilarang pencipta ilmu itu untuk melatihnya. Baru pada generasi Tek Hoat dan Ceng Liong jurus kedelapan diijinkan untuk dilatih dan dipergunakan. Dan keduanya, meski saling mengetahui kehebatan masing-masing, juga mencapai hasil yang berbeda dalam hal peyakinan mereka terhadap ilmu mujijat tersebut.

Hawa panas yang menyengat menjadi semakin bertambah ketika kemudian Ceng Liong memainkan Pek Lek Sin Jiu. Karena hawa yang dilatihkan dan malah diperkuat Kiong Siang Han semakin kuat dalam tubuhnya, dan sekarang mendorong dan memperkuat hawa panas yang mengalir dari tubuhnya.

Karena itu, ketika Ceng Liong memainkan jurus pertama ”Halilintar Membelah Angkasa”, sebuah ledakan yang sama memekakkannya dengan ketika Tek Hoat memainkannya membuat orang-orang tersentak. Tetapi Koai Tung Sin Kay yang sudah menduganya, sudah mempersiapkan diri dan mampu menangkal ledakan memekakkan itu, meski jurus serangannya melenceng ketika dentuman-dentuman keras itu memapas dan menangkis jurus serangannya.

Dan Ceng Liong tidak menunggu diserang, sebaliknya malah mengambil inisiatif menyerang dengan membuka jurus kedua “Halilintar Menerjang Angin” dan mengejar Koai Tung Sin Kay yang juga sudah menyerang dengan jurus ketujuh “Tongkat Sakti Menjinakkan Badai”. Kembali benturan hebat terjadi dan akibatnya

keduanya terdorong mundur, tetapi dengan cepat kembali bersiap ditengah hawa panas membara yang melingkupi arena pertarungan tersebut.

Kiang Ceng Long yang kembali sanggup mendesak Koai Tung Sin Kay sudah membuka serangan dengan jurus “Halilintar Menghujam Bumi”, dan otomatis meningkatkan hawa panas dalam penggunaan ilmu tersebut. Tetapi, Koai Tung Sin Kay kembali membuktikan bahwa namanya bukanlah pepesan kosong.

Meskipun ikut tersiksa dan terpaksa meningkatkan kekuatan sinkangnya dalam mengatasi rasa panas, dia tetap sanggup bertahan dan meningkatkan kemampuannya dan mempersiapkan jurus-jurus pamungkas dalam ilmunya Tongkat Kilat dan Badai. Ilmu itupun membuktikan kehebatannya dengan sanggup menahan kemampuan dan kehebatan Pek Lek Sin Jiu bahkan sampai jurus kelima “Halilintar Membelah Awan Menghajar Mentari”, dengan tetap bertarung ketat.

Hentakan dan dentuman Pek lek Sin jiu kembali mewarnai pertarungan malam hari yang seharusnya hening di huhan itu. Dan kedua orang yang bertempur masih saling tukar pukulan dan saling berkelit karena pukulan masing-masing, kini penuh terisi hawa sinkang yang sangat mematikan. Baik pukulan pek lek Sin jiu Ceng Liong, maupun Tongkat kilat dan Badai Koai Tung Sin Kay.

Hanya, Koai Tung Sin Kay sangat paham, bahwa inti ilmu Pek lek Sin jiu ada di jurus ketujuh, dan dia menyiapkan diri untuk menyambut jurus tersebut dengan jurus pamungkas yang juga diciptakannya. Yakni jurus kesepuluh, jurus terakhir dari Tongkat kilat Badai, yakni “Tongkat Sakti Mendorong Badai Menggugurkan Gunung”.

Jurus ini sangatlah ampuh, dan radius 10-15 meter masih sanggup mempengaruhi orang yang memiliki kepandaian tanggung. Dan justru jurus itu dipersiapkan untuk menghentak dan menandingi jurus ketujuh Pek lek Sin Jiu “Sejuta Halilitar Merontokkan Mega”. Baru menyiapkannya, suara bagaikan guguran gunung sudah mengaung-ngaung ketika tongkat sakti Koai Tung Sin Kay dibolang-balingkan dan menghasilkan deru angin.

Keadaan itu juga mempengaruhi para penonton yang dengan terpaksa kembali meluaskan arena pertarungan karena hembusan dan deru angina bukan cuma menyerang telinga, tetapi juga menyakiti kulit mereka. Bahkan tokoh-tokoh utamapun pada mengundurkan langkah mereka, karena paham bahwa jarak tertentu cukup berbahaya bagi mereka.

Pengenalan mereka atas jurus ketujuh Pek lek Sin jiu yang nampak disiapkan Ceng Liong tambah membuat mereka waspada. Jurus ketujuh bila dikombinasikan dengan badai dari tongkat koai tung Sin Kay pasti akan sangat merusak. Itulah sebabnya bahkan para penonton sudah menyiapkan diri lebih dahulu dengan mencipatakan dan menjaga jarak aman dari efek pukulan dan jurus sakti yang sednag disiapkan oleh kedua orang yang sedang bertempur.

Pengerahan tenaga Ceng Liong memang semakin memperluas sengatan hawa panas dari tubuhnya, tetapi berbeda dengan Koai Tung Sin Kay, Ceng Liong tidak meledakkan halilintar dari tangannya. Sebaliknya, hawa panas dan kesiuran hawa panas tersebut, nyaris tidak mengeluarkan suara yang berarti, namun telinga dan mata batin Koai Tung Sin Kay tergetar.

Dan Koai Tung Sin Kay paham apa artinya. Karena itu, diapun membentengi dirinya dengan kekuatan batin dan dengan mengeluarkan suara gerangan bagai Naga Sakti, dia kemudian mendahului Ceng Liong melayangkan serangan dengan jurus pamungkasnya itu. Saat yang sama, nampak Ceng Liong menjulurkan kedua tangannya yang berkilat dan diselimuti oleh cahaya menyilaukan mata.

Tidak takut dia menghadapi kilatan cahaya yang juga keluar dari tongkat sakti Koai Tung Sin Kay. Dan akibatnya sungguh luar biasa, ledakan petir dan halilintar dari tangan Ceng Liong memang tidak memekakkan telinga, tetapi menyerang telinga dan mata batin Koai tung Sin kay, bahkan menyentakkan banyak orang yang berada disekitar pertempuran tersebut.

Dan akibatnya, banyak orang yang berdiri termangu-mangu oleh efek mengerikan yang dikeluarkan oleh kedua orang yang sedang bertempur. Sementara itu, Koai tung Sin kay yang sempat gembira karena nyaris tidak merasakan kerugian berarti, kecuali sengatan panas dan gangguan pada telinga dan mata batinnya, namun bisa cepat diatasinya, menjadi tercekat ketika melihat Ceng Liong menyiapkan jurus kedelapan.

Bukankah tidak ada jurus kedelapan? Mengapa pula Ceng Liong nampak masih dalam posisi menyiapkan jurus selanjutnya? Padahal jurus pamungkas yang dikeluarkannya tadi diciptakan untuk menandingi ilmu semacam Pek Lek Sin jiu yang sangat merusak itu. Tapi, tentu tidak ada waktu memadai bagi Koai Tung Sin Kay untuk memahami benar tidaknya ada jurus kedelapan.

Yang jelas, jurus itu sedang disiapkan untuk menyerangnya, dan bisa dipastikan jurus ituakan lebih mematikan dan lebih berbahaya dibandingkan jurus ketujuh. Apa boleh buat, jurus pamungkasnya yang terakhirpun disiapkan “Mo-jin-hoan-eng Hoatsut (Sihir Iblis menukar bayangan)”.

Ilmu mematikan yang dilandasi Ilmu Sihir ini, juga merupakan salah satu ciptaan Koai Tung Sin Kay untuk mengalahkan musuh-musuh utamanya, 4 Dewa Persilatan Tionggoan. Tidak disangka, hari ini harus dipertunjukkan ke khalayak karena desakan yang sangat mengganggu dan sangat berbahaya dari Ceng Liong.

Dengan terpaksa, Koai Tung Sin Kay memusatkan perhatiannya dan pada saat dia sanggup memusatkan perhatian dan pikirannya dalam jurus pamungkas berlandaskan sihir itu, bagi orang banyak dan juga sesaat bagi Ceng Liong, Koai Tung Sin Kay bagaikan berubah menjadi pengemis raksasa. Tetapi, hanya sesaat bagi Ceng Liong untuk tahu apa yang terjadi, dan pada saat peralihan tersebut, Koai Tung Sin Kay telah mendahului untuk menyerang.

Dan disitulah letak keuntungan Koai Tung Sin Kay, sebab meskipun hanya sedetik, tetapi penyaluran kekuatan sinkang Ceng Liong mengalami penurunan, tetapi masih tetap sangat berbahaya. Dan karena konsentrasi buyar sejenak itulah, maka keampuhan Pek lek Sin jiu di jurus ke delapan justru berkurang dan membuat Koai tung Sin Kay mampu menjajarinya.

Tetapi meskipun berkurang, efeknya tetap lebih dahsyat daripada jurus ketujuh, dan Koai tung Sin Kay sampai merinding memikirkan bila anak muda ini berlatih 2-3 tahun lagi dengan kekuatan seperti sekarang. Benturan yang terjadi memang tidak mengeluarkan suara

memekakkan, tetapi menampar dan memukul langsung pendengaran batin orang-orang.

Bahkan tokoh sekelas Sian Eng Cu dan pengemis Tawa Gilapun masih sempat goyah oleh terjangan bunyi yang dihasilkan pertarungan itu. Dan akibatnya, Koai Tung Sin Kay terdorong hanya 1 langkah kebelakang, sementara Ceng Liong sendiri bergoyang-goyang dan sempat doyong ke belakang.

Dan kini, dalam puncak pengerahan kekuatan masing-masing, Koai Tung Sin Kay menatap tajam Ceng Liong. Dia masih belum tahu, apakah anak muda itu masih akan menyerangnya, sementara dia sendiri sudah bersiap dalam jurus kedua dari Ilmu pamungkasnya. Hanya, dia merasa heran, karena nampaknya Ceng Liong sama sekali tidak tersentak dan tidak terpengaruh oleh kekuatan sihirnya.

Bahkan sesaat nampak Ceng Liong bergerak singkat dan untuk pertama kalinya dia mempesiapkan penggunaan jurus Pek Hong Cao-yang-sut Sin Ciang (Tangan Sakti Awan Putih Memanggil Matahari). Dengan cepat dikedua tangannya mengepul asap putih, dan dengan asap putih yang pekat tersebut, kekuatan sihir lawan dengan mudah dipecahkannya.

Dia tidak melihat Koai Tung dalam profil raksasa dan dengan wibawa besar, tetapi melihatnya sebagaimana biasanya. Hal ini membuat Koai Tung tercekat, bagaimana tidak? Benarkah anak muda ini kebal sihir? Atau sudah demikian matangkah anak ini hingga sihirpun tidak sanggup menguasainya atau mempengaruhinya? Bahkan jurus yang disiapkanpun nampaknya tidak kurang berbahaya dibandingkan dengan pek lek Sin jiu.

Dan, kembali keduanya bergebrak, tidak dengan kecepatan tinggi, tetapi mata penonton tidak lagi sanggup menangkap jalannya pertarungan. Mereka nampak bergerak lambat, tetapi juga terasa cepat, karena mata fisik mereka memang terpengaruh oleh kekuatan sihir yang saling mempengaruhi dalam penggunaan kedua ilmu mujijat tersebut.

Dan dalam benturan yang terjadi kemudian, Koai tung Sin Kay sadar, bahwa kekuatannya sudah berkurang banyak, sementara Ceng Liong justru semakin menyebarkan hawa panas yang sangat menyengat. Dan perlahan mulai menembus batas kekebalan ilmu dan tenaga dalam Koai tung Sin Kay. Dan dalam kondisi ini, Ceng Liong tiba-tiba teringat sebuah ilmu pamungkas yang belum pernah digunakannya.

Kali ini, dia berkeinginan menjajalnya untuk menghentikan pertarungan mereka, sebab bila dilanjutkan, bisa dipastikan Koai Tung akan menderita besar karena semakin terkuras dan mulai tertembus hawa panas Ceng Liong. Berpikir soal itu, maka Ceng Liong tiba-tiba kembali memusatkan perhatiannya dengan tidak mengendurkan persiapan melontarkan jurus kedua dari Ilmu pamungkasnya.

Karena betapapun dia mengerti, bahwa orang seperti Koai Tung Sin Kay pasti menjaga gengsi dan nama baiknya, dan Ceng Liong tidak ingin menghancurkan nama orang dan tidak mau mempermalukan orang tua itu didepan banyak orang. Kendatipun keduanya berhadap hadapan sebagai lawan saat itu.

Dan ketika Ceng Liong menyaksikan betapa Koai tung Sin Kay bersiap melontarkan serangan perlawanan, tiba-tiba dia mengerahkan ilmu mujijat lainnya ”Tatapan Naga Sakti”, sebuah totokan melalui tatapan mata. Dan celaka bagi lawan, karena tidak terantisipasi oleh

Koai Tung Sin Kay. Tiba-tiba saja, lengan Kakek Tua sakti itu terasa kesemutan, dan belum sadar apa yang terjadi, Ceng Liong sudah menyerangnya dengan jurus saktinya.

Koai Tung Sin Kay tersentak, dia tidak sanggup mengangkat tangan kanan yang harusnya menjadi alat penyalur kekuatan penangkis. Akhirnya dengan terpaksa dia bergerak mundur dengan mengajukan tangan kiri dengan kekuatan seadanya. Tapi, aneh, serangan Ceng Liong ternyata berkurang banyak tenaganya, dan ketika berbenturan dia tidak mengalami luka yang berarti, bahkan hanya terdorong satu langkah ke belakang.

Dia menatap anak muda itu dengan mata yang aneh, padahal dia sudah pasrah untuk terluka parah dan malah bersedia mati ketika Ceng Liong melontarkan pukulan. Tapi, pukulan penuh tenaga sakti itu, tiba-tiba berubah melunak ketika berbenturan dengan tangannya, dan bahkan ikut terhuyung ke belakang meski hanya satu langkah.

Keduanya kemudian saling tatap, sekian lama sampai kemudian Ceng Liong berkata:

”Locianpwe, terima kasih sudah mengalah kepadaku yang muda meskipun hanya dengan setengah jurus”

Sementara itu, Koai Tung Sin Kay yang masih heran mengapa tangannya tiba-tiba terserang totokan dan sampai sekarang masih susah bergerak seperti tersadar dari mimpi buruk. Jika menghendaki, dia sebenarnya sudah lumat dalam pertempuran tadi oleh sebuah jurus pamungkas Ceng Liong.

Tapi anak muda itu, justru mengampuninya, bahkan masih melindungi muka dan gengsinya dari malu yang lebih besar dengan

hanya mengatakan dia kalah setengah jurus. Padahal, sebetulnya dia kalah mutlak, karena bila menghendaki anak muda itu malah sanggup menjatuhkannya, menjatuhkan dirinya dan juga nama besarnya.

Tapi, justru tidak dilakukan anak muda itu. Hanya kepenasarannya membuatnya bertanya, meski tanpa nada kemarahan selain nada kepenasaran:

”Anak muda, dengan jurus apa engkau menyerangku”?

”Locianpwe, hanya kebetulan saja. Biarlah suatu saat tecu akan menjelaskan kepada engkau orang tua”

”Baik, kuingat janjimu memberitahuku suatu saat”

Dan setelah menghela nafas sesaat, orangtua sakti itu kemudian berpaling kearah Hu Pangcu Pertama sambil berkata:

”Lohu tidak sanggup menangkan anak muda itu. Bahkan dia sanggup mengalahkanku”

Hanya kalimat singkat itu yang dikeluarkan Koai Tung Sin Kay yang kemudian ngeloyor mundur ketempat Kim-i-Mo Ong dan Bouw Lek Couwsu yang juga masih bingung dengan cara dan proses kekalahan yang diderita Koai tung Sin Kay. Tetapi, melihat wajah yang kusam dan penuh penasaran dari Koai Tung Sin Kay, tiada seorangpun dari keduanya yang punya keberanian untuk menyapa dan bertanya apa yang terjadi dengan kakek sakti itu.

Sementara itu, mendengar bahwa Kiang Ceng Liong memenangkan pertempuran meskipun caranya mereka tidak sanggup ikuti, tetap menghadirkan kegembiraan diantara kelompok pendekar. Terdengar sorakan-sorakan gembira diantara mereka dan sebagian besar

pendekar mulai semakin meyakini keampuhan lembah pualam hijau yang tokohnya sanggup mengalahkan Koai Tung Sin Kay yang merupakan Hu Hoat paling tangguh dari Thian Liong Pang.

Mereka yang awalnya sirik dan memandangnya remeh, menjadi sangat malu dan mulai mengakui bahwa anak muda itu memang memiliki isi yang sangat lebih dari cukup untuk dibanggakan. Tetapi, tokoh-tokoh sekelas Sian Eng Cu, Pengemis Tawa Gila, Ciangbunjin Bu Tong Pay, Kun Lun Pay dan tokoh utama lainnya, juga sungguh tak menyangka bila Ceng Liong sudah demikian saktinya.

Sian Eng Cu hanya meramalkan pertarungan seimbang antara Ceng Liong dengan Koai Tung Si Kay yang dilihatnya masih seusap diatas Kim-I-Mo Ong dan Bouw Lek Couwsu. Tapi luar biasa, anak muda itu bahkan dilihatnya sanggup mengalahkan telak Koai tung Sin Kay, tetapi berbelas kasihan pada jurus terakhir. Dia sudah mengenal Ceng Liong yang pernah mengampuni dan melepaskan Bouw Lim Couwsu, dan sadar bahwa sekali ini, Ceng Liong melakukannya lagi.

Dan ini semakin melahirkan rasa suka dan bangga serta hormatnya kepada anak muda itu. Cuma saja, dia sama sekali tidak mengerti, bagaimana caranya anak muda itu mengalahkan Koai tung Sin Kay. Tapi, dia memuji pengamatan gurunya yang tidak salah menilai anak muda itu.

Di tempat lain, setelah menenangkan diri dengan mengerahkan Sinkang Giok Ceng Sinkang yang memang memiliki kegunaan salah satunya mengobati sendiri luka dalam dan menyegarkan semangat, Ceng Liong nampak menghadapi Hu Pangcu. Dan beberapa saat kemudian, dia direndengi oleh Kaypang Hu Pangcu dan Sian Eng Cu. Setelah saling tatap sejenak, terdengar Ceng Liong berkata:

”Hu pangcu, sudah cukup jelas hasil akhir dari pertandingan kita. Apakah perjanjian kita tetap dipertahankan dan dipegang”?

”Sudah tentu, Thian Liong Pang akan memegang janji. Malam ini, kita tidak akan bergebrak, dan besok kami akan persilahkan rombongan kalian untuk keluar dari hutan ini. Tetapi setelah itu, kami tidak menjanjikan apa-apa, sebagaimana perjanjian, pertandingan ini hanya untuk membiarkan rombongan kalian keluar dari hutan. Selewatnya, kami tidak menjamin tidak akan menyerang”

”Hm, baik. Terima kasih, karena kalian masih berkemampuan memegang janji Hu Pangcu, mudah2an benar kalian taat sampai besok dengan janji itu”

”Sebab jika tidak, belum tentu siapa memburu siapa malam ini” Hu Kawcu Kay Pang Pengemis Tawa Gila mendengus.

”Hm, tidak usah memperkarakan masalah itu. Yang jelas Thian Liong Pang memegang janji untuk tidak menyerang malam ini hingga esok di batas keluar dari hutan ini. Seterusnya kami tidak dapat menjanjikan apa-apa, karena memang kami kalah dalam pertandingan tadi”

”Bagus Hu pangcu, kami sudah tahu jika engkau memang tidak menggerakkan apa-apa untuk mengganggu rombongan kami sejauh ini. Masalah besok, kita lihat dan hitung besok saja. Hanya, rombongan pendekar ini, juga memiliki keberanian bukan hanya untuk melintasi hutan ini, tetapi juga untuk balik mengejar Thian Liong Pang pada saatnya” Sian Eng Cu ikut bicara.

”Hm, kita lihat besok saja Tong Tayhiap” dengus Hu Pangcu pertama.

”Satu hal lagi Hu Pangcu” Ceng Liong menukas

”Apa lagi yang ingin kau katakan Kiang Ceng Liong”?

”Perjanjian menyebutkan kami bebas berjalan sampai keluar dari hutan ini, dan setelah itu kita tidak terikat perjanjian apa lagi. Benarkah demikian”?

”Benar, tepat sekali”

”Jika demikian, bolehkah tidak ada yang bergerak dari tempat ini sampai pada esok pagi dan kemudian kita sama bergerak”?

”Apakah permintaan itu tidaklah berlebihan”?

”Rasanya tidak” Ceng Liong menukas

”Baiklah, kami menghormati kemenangan kalian. Kita bergerak bersama besok pagi-pagi benar dari tempat ini. Selamat malam semua” dan setelah itu Hu Pangcu Pertama ngeloyor pergi dan kembali bergabung dengan rombongan Thian Liong Pang.

Sementara itu, dengan dipimpin Hu Pangcu Kaypang dan Sian Eng Cu dan juga Ceng Liong yang kini akhirnya bisa diterima semua pihak dan memandangnya penuh kekaguman, dilangsungkan pertemuan. Sekian lama pertemuan tersebut memperbincangkan banyak hal serta strategi buat besok pagi, dan setelah itu akhirnya semua beristirahat.

Tetapi, ke-6 pendekar muda, yang menjadi tulang punggung para pendekar masih melanjutkan pertemuan. Terutama mendengar apa yang dilakukan Tek Hoat dan Kwi Song yang menjejaki apa yang dikerjakan Thian Liong Pang pada akhir-akhir pertempuran adu tanding

tadi. Dan ternyata Thian Liong Pang menepati janjinya, tidak menyerang selama pertandingan berlangsung.

Episode 6: Diburu, Memburu

Rombongan para pendekar yang kini semakin susut, dari mendekati sekitar lebih 150 an orang kini jumlahnya susut lebih 100an orang saja. Yang sehat paling banyak berjumlah 100 orang, selebihnya terluka dalam pertempuran sehari sebelumnya.

Tetapi setelah beristirahat sepanjang malam, rombongan tersebut bergerak kembali, dan nampak lebih bugar. Tetapi, ketegangan masih tetap melingkupi, karena di belakang, semua sudah tahu bahwa kekuatan besar yang lebih 5 kali kekuatan mereka sedang mengejar. Tetapi, bila sehari sebelumnya mereka khawatir, hari ini nampak mereka lebih optimist. Terutama ketika melangkah keluar dari hutan lebat tersebut dan keluar ke lembah, semakin mendekati titik aman kedua.

Dan, anehnya, ketika berjalan bergegas selama lebih kurang lebih setengah jam dengan dikejar gerombolan Thian Liong Pang, rombongan para pendekar kini bahkan menunggu lawannya. Tempat dimana mereka menunggu tepat di mulut keluar lembah karena areanya cukup luas, dan di samping kiri berjarak 200 meteran dari tempat berdiri para pendekar berdiri terdapat sebuah hutan.

Tapi hutan tersebut tidak cukup lebat. Di belakang para pendekar adalah jalan terusan menuju ke sebuah kota yang sudah lumayan ramai, karena menjadi daerah perhubungan beberapa kota dan desa di seputaran Gunung Siong San, masih berjarak kurang lebih 1 jam berjalan kaki.

Dan, tidak menunggu berapa lama, rombongan pengejar tiba. Dan Hu Pangcu Pertama bersama dan diapit kedua Hu Pangcu lainnya sudah tiba lebih dahulu, langsung berhadapan dengan Hu Pangcu Kaypang dan Sian Eng Cu. Adalah Hu Pangcu Kay Pang yang menyambutnya dengan tawa khasnya:

“Hahahahaha, Samwi Hu Pangcu Thian Liong Pang, rupanya kalian sudah tidak sabar mendapat gebukan kami”

“Benar, kami tidak sabar untuk membasmi kalian” Hu Pangcu Ketiga yang lebih berangasan, Tibet Sin mo Ong, yang duluan mendengus.

“Agar Samwi ketahui, hari ini adalah keputusan Para pendekar Tionggoan untuk mulai bergerak membasmi Thian Liong Pang sampai ke akar-akarnya” Pengemis Tawa Gila kembali berkata.

Dan kali ini, Hu Pangcu Pertama berdetak hatinya. Sejak awal, dia sudah curiga, untuk apa kawanan Pendekar Tionggoan ini menunggu mereka di lembah ini, kendati mereka tahu sedang dikejar. Apa pula andalan dan keyakinan mereka? Hal ini membuatnya berhati-hati.

Hu Pangcu ini memamng memiliki kecerdikan lebih. Dan fakta bahwa lawan yang dikejar menunggu mereka, membuatnya curiga dan mulai memperhitungkan hal lain yang mungkin tidak diduganya.

“Hm, jangan membual Pengemis Tawa Gila, memangnya apa yang kalian andalkan melawan Thian Liong Pang”? Apa engkau tidak menyaksikan jumlah dan kekuatan kami”? Hu Pangcu Pertama sambil memalingkan wajahnya kearah jumlah kawanan Thian Liong Pang yang sudah menghampiri.

Jumlahnya nampaknya lebih dari 500an, bahkan mungkin 600 an orang, jauh melampaui jumlah para pendekar yang hanya berkisar 100an orang lebih. Tetapi, Hu Pangcu Pertama menjadi makin heran, karena tidak terbersit ketegangan di wajah Pengemis Tawa Gila dan Sian Eng Cu memandang jumlah kawanan mereka yang 6 kali lebih besar. Bahkan terdengar Sian Eng Cu berkata:

“Hu Pangcu, sekali lagi kami tegaskan. Hari ini adalah titik kebangkitan Pendekar Tionggoan untuk membasmi Thian Liong Pang. Menghadapi jumlah berapa banyakpun bukan soal, karena itu bagian dari perjuangan. Hanya, ingin lohu sarankan dan ingatkan kepada Hu Pangcu, tidak ada dimanapun, kejahatan akan mengalahkan kebenaran. Maka, kami menyarankan agar Thian Liong Pang bertobat dan melepas ambisinya menguasai Rimba Persilatan Tionggoan”

“Hahahaha, Sian Eng Cu, khotbahmu makin mirip dengan orang-orang yang sudah siap untuk meninggalkan dunia ini. Terdengar manis, tapi di telinga kami menjadi lelucon” terdengar Tibet Sin Mo Ong

“Khotbah seperti itu memang layak ditujukan bukan ke anak buah kalian, tetapi ke pentolan Thian Liong Pang macam kalian. Tapi, lohu juga yakin, kalian tidak akan sanggup mengambil keputusan”

“Karena keputusannya hanya satu, membasmi penentang Thian Liong Pang” Hu Pangcu Pertama berkata singkat.

“Baik, kalian sudah boleh menyerang” Tukas Sian Eng Cu ringan dan kembali membuat Hu Pangcu Pertama Thian Liong Pang kaget dan makin heran, apa yang diandalkan kaum pendekar ini? Dan semakin heran, karena dia tidak menemukan 3 anak muda pendekar lainnya selain Kwi Song, Kwi Beng dan Giok Lian di rombongan pendekar.

Tapi, betapapun, pertarungan memang harus dilakukan, ketika tangan kanannya diangkat ke atas, jarak antara rombongan Thian Liong Pang yang tadinya berjarak sekitar 200 meteran, dengan cepat susut, semakin lama semakin susut sampai kemudian benturanpun terjadi.

Tepat menjelang benturan terjadi, terdengar siulan keras dari mulut Hu Pangcu Kay Pang, Pengemis Tawa Gila. Dan, Hu Pangcu Pertama yang sejak awal mulai merasa was-was, menjadi sedikit tersentak ketika terdengar sorak sorai di belakang dan juga samping barisannya, tepatnya dari arah hutan.

Tetapi, tiada satupun yang bisa dilakukannya lagi, karena benturan antara kedua barisan sudah terjadi. Dan, terlebih, lawannya sehari sebelumnya, Souw Kwi beng sudah memapaknya dan segera melibatnya dalam pertempuran seru di tengah-tengah medan pertempuran.

Hal yang sama juga dialami oleh kedua Hu Pangcu Thian Liong Pang yang diladeni lawan mereka malam sebelumnya dan melibas mereka dalam sebuah pertarungan seru diantara ratusan anak buah masing-masing pihak. Tetapi, di barisan terdepan kelompok para pendekar, adalah Barisan 6 Pedang Lembah Pualam Hijau yang sangat ampuh, serta juga 18 Arhad Siauw Lim Sie yang membentuk barisan ampuh Lo Han Tin Siauw Lim Sie.

Akibatnya banyak pasukan lawan yang terjebak dalam keampuhan kedua barisan tersebut, dan bahkan menjadi korban dalamnya. Sementara sisa-sisa lawan yang berhasil menembus, menjadi lawan dari para pendekar yang menjadi bersemangat melihat munculnya kawan-kawan mereka yang lain.

Kelompok pendekar yang menyerang dari belakang dan samping sebetulnya adalah hasil kerja keras Sian Eng Cu dan Pengemis Tawa Gila. Jauh hari mereka menyadari, bahwa bukan tidak mungkin perjalanan turun dari Siauw Lim Sie akan menjadi bencana. Tetapi, menyadari bahwa penghadangan lawan bisa dirubah menjadi keuntungan, membuat mereka menggunakan ketika yang tepat untuk meminta bantuan Kay Pang, Bu Tong Pay, Kun Lun Pay dan sejumlah besar perguruan lain untuk bekerja membasmi Thian Liong Pang.

Kecepatan mengirim informasi ala Kaypang cukup dimengerti dunia persilatan. Mimpipun, pihak Thian Liong Pang tidak menduga, bahwa lawan sudah juga menyiapkan diri, dan mereka tertipu alias memperlama waktu ketika perang tanding kemarin. Padahal, Ceng Liongpun baru diberitahu di pertengahan perang tanding dan karenanya tampil sangat percaya diri. Terutama karena sadar, bahwa saat untuk melawan Thian Liong Pang secara terbuka sudah tiba.

Pasukan penyerang terdiri dari hampir 250 pendekar, yang lebih setengahnya merupakan anak buah Kay Pang yang datang dengan dipimpin Pangcu Kaypang secara langsung. Bahkan bersamanya juga turut serta 8 orang lain dari Cap It Ho Han yang kemudian bergabung dengan 3 orang lainnya yang mengawal Tek Hoat dan kemudian secara bersama menyerbu dari barisan samping.

Kemudian juga Kun Lun Pay, Bu Tong Pay, Tiam Jong Pay, dan perguruan lain, serta tokoh silat lain yang mengerahkan tenaga sampai pasukan bantuan mencapai lebih 250 orang. Jumlah yang sangat berarti, karena semua menyadari sewaktu waktu perguruannya bisa diterjang dan diserang oleh Thian Liong Pang yang nampaknya berambisi kelewat besar.

Bila dihitung, sebenarnya lawan masih memiliki keunggulan jumlah. Tetapi, lebih setengah dari pasukan Thian Liong Pang adalah perampok dan tokoh silat rendahan. Sementara 7-8 bagian kelompok pendekar adalah orang-orang yang terlatih dalam Ilmu Silat secara lebih baik. Baik dari kalangan Pendekar yang turun dari Siong San maupun yang menyusul datang, semuanya adalah tokoh-tokoh pilihan di perguruannya.

Ditambah lagi, baik Cap it hohan, Barisan 6 Pedang, Siauw Lim Sie Lo Han tin, sanggup menahan terjangan musuh dalam jumlah besar. Sementara sebaliknya, tokoh-tokoh besar Thian Liong Pang mampu dihadapi da ditandingi oleh tokoh-tokoh dari kalangan pendekar. Ketiga Hu Pangcu kembali berhadapan seru dengan tiga anak muda sakti yang mereka hadapi pada hari sebelumnya.

Sementara Ketiga Hu Hoat Thian Liong Pang juga ditandingi oleh tiga anak muda lainnya dan tidak mampu berbuat apa-apa untuk mencederai banyak orang. Karena itu, keunggulan Thian Liong Pang hanya terletak pada keunggulan jumlah, namun secara kualitas, mereka jelas kalah jauh, kalah unggul. Apalagi, karena Cap It Hohan dan Barisan 6 Pedang tidak segan-segan membunuh dan mengurangi jumlah lawan.

Datuk-datuk lainnya dari Thian Liong Pang seperti See Thian Coa Ong, Liok te Sam Kwi dan kawanan mereka lainnya ditandingi oleh tokoh-tokoh utama pendekar. Disana ada Sian Eng Cu, Pengemis Tawa Gila, Ciangbunjin Kun Lun Pay, Bu Tong Pay, Jin Sim Todjin, Wakil Ciangbunjin Thian San Pay, Tiam Jong Pay, dan masih banyak pendekar lainnya yang bertempur bersama.

Jumlah penyerbu Thian Liong Pang dengan cepat menyusut, sementara di kalangan pendekar korban yang jatuh kurang begitu banyak, kecuali karena keroyokan dan pembokongan. Tetapi pertarungan berdepan membuat banyak korban di pihak Thian Liong Pang, karena lawan-lawan mereka, kecuali Pendeta Siauw Lim Sie dan Bu Tong Pay, tidak pantang melakukan pembunuhan. Bahkan di pihak Barisan 6 Pedang yang menggiriskan dan Cap It Hohan, sudah puluhan musuh yang menjadi korban, sampai kemudian kedua barisan itu ditandingi oleh Barisan Warna Warni Thian Liong Pang.

Tetapi akibatnya, banyak anggota Thian Liong Pang yang berkepandaian tinggi yang tersedot memperkuat barisan tersebut. Kondisi ini celakanya, tidak dapat cepat dikenali Hu Pangcu Pertama, karena dia dilibat secara ketat oleh Kwi Beng yang memang khusus diminta membuat Hu Pangcu Pertama terlibat dalam pertarungan ketat dengannya.

Di arena yang lain, nampak pertarungan kembali berulang. Antara Tek Hoat melawan Kim I Mo Ong, antara Mei Lan melawan Bouw Lim Couwsu dan antara Ceng Liong melawan Koai Tung Sin Kay. Hanya, kali ini, Koai Tung Sin Kay anehnya tidak lagi menunjukkan wajah jumawa, tetapi nampak mereka seperti berlatih saja. Dan lebih aneh lagi ketika kemudian Ceng Liong mendengar lawannya berbicara kepadanya:

“Anak muda, aku tahu engkau bermaksud menyelamatkan mukaku kemaren. Padahal jelas engkau memenangkan pertempuran itu. Tapi, tolong engkau jelaskan, dengan Ilmu apa engkau menotokku. Setahuku, baik kakekmu, maupun Kakek buyutmu, tidak memiliki ilmu yang mampu menotokku tanpa aku mengetahuinya”

“Ach, maafkan locianpwe. Kelihatannya karena locianpwe tidak bersiap secara cukup saja maka siauwtee bisa memasukkan totokan itu”

“Engkau tidak usah merendah anak muda. Betapapun, caramu menjaga mukaku telah membuatku banyak berubah dalam menilaimu. Aku tahu, engkau memiliki ilmu lain yang luar biasa” Ceng Liong termenung sejenak. Terjadi perang batin dalam hatinya untuk memutuskan apakah harus membuka rahasia itu atau tidak.

Terlebih, karena dia sendiri belum sanggup menguasai ilmu mujijat dan sangat aneh itu secara penuh. Kadang sanggup dikeluarkannya, tetapi lebih sering gagal. Tengah dia termenung terdengar kakek itu berkata lagi:

”Anak muda, aku tidak ingin memaksamu. Tapi, tolonglah orang tua sepertiku untuk memuaskan keingintahuan atas penyebab kekalahanku. Tiada lagi nafsuku untuk mengalahkanmu. Jika tidak sangat terpaksa, akupun tidak akan berada dalam barisan Thian Liong Pang” dan suara kakek itu terdengar memohon, membuat Ceng Liong semakin tidak enak hati.

”Tapi locianpwe, siauwtee pun sebenarnya belum mampu menguasainya secara sempurna. Hanya kebetulan” Ceng Liong meragu, tapi membuat Koai Tung semakin penasaran atas Ilmu tersebut yang bahkan belum terkuasai secara sempurna. Belum sempurnapun sudah sanggup mengalahkannya, apalagi bila dikuasai secara sempurna.

“Tidak apa anak muda, aku hanya ingin tahu dengan apa dan bagaimana engkau mengalahkanku”

“Locianpwe, tapi bersediakah engkau orang tua untuk tidak menyebarkan berita mengenai ilmu itu kesiapapun”?

”Aku berjanji anak muda, bahkan engkau akan beroleh keuntungan lain setelah memberitahuku soal itu” Koai Tung berjanji.

“Baiklah locianpwe, siauwtee sebenarnya menyerangmu dengan ilmu “Tatapan Naga Sakti”, ilmu dorongan tenaga dan tutukan melalui sinar mata. Sayangnya siauwtee belum mampu menguasainya secara sempurna”

“Anak muda, apakah engkau sedang tidak berdusta”? Koai Tung sampai terkesiap dan berhenti menyerang Ceng Liong. Ditatapnya Ceng Liong dengan wajah keheranan, takjub dan susah meyakini bahwa anak muda didepannya adalah mahluk biasa.

Betapa tidak, sudah 20 tahun terakhir dia mendapat firasat akan hadirnya ilmu luar biasa semacam ini. Karena terutama, sebagai tokoh besar, dia pernah mendengar jejak ilmu ini dari para pengikutnya dan murid utamanya yang menerima informasi dari banyak penjuru dunia. Ilmu itu menurut sepengetahuannya teramat sulit dan susah dikuasai siapapun.

Bahkan ilmu sejenis di Siauw Lim Sie, tidak pernah kedengaran ada yang mampu menguasainya. Bahkan tidak juga Kian Ti Hosiang. Bisa berguna bagi ilmu sihir, tetapi kehebatannya adalah mengeluarkan serangan dan tutukan yang tidak akan diduga siapapun, karena berasal dari sinar mata. Dan, dia sudah mengalami dan merasakannya dan bahkan mungkin korban pertama di Tionggoan.

“Anak muda, jadi benarkah bahwa ilmu itu memang ada”? tanyanya meragu

”Benar locianpwe, cuma aku belum sempurna melatih dan menguasainya” jawab Ceng Liong ragu.

”Dan, apa namanya tadi, Tatapan Naga Sakti. Hm, luar biasa. Tidak kecewa aku kalah ditanganmu” Koai Tung menggumam perlahan, tapi tiada nafsu kepenasaran dimatanya. Dan kemudian terdengar dia berkata lagi:

”Anak muda, terima kasih atas informasimu. Jangan takut, tidak akan ada siapapun yang mendengarnya dari mulutku. Tapi, kuminta engkau berhati-hati. Di balik organisasi ini, masih ada tokoh-tokoh yang lebih hebat lagi, setingkat gurumu, 4 Dewa Tionggoan. Mereka menaklukanku dan Kim-I Mo Ong untuk bekerja berterang, sementara mereka bergelap.

Betapapun aku masih terikat perjanjian sampai 2 tahun kedepan membantu mereka sampai aku lepas dari janji pertarungan. Semakin jelas bagiku, masa kini sudah menjadi milik kalian, bukan kami lagi. Terima kasih atas informasimu, dan berjaga-jagalah, badai ini masih akan panjang” setelah berbicara sambil berbisik seperti itu, Koai Tung Sin Kay kemudian berkelabat berlalu. Ceng Liong memandangi kepergian orang tua sakti itu dengan pikiran berkecamuk.

Luar biasa, mulanya dia berpikir untuk menghadapi orang-orang semisal Koai Tung Sin Kay inilah dia bersama 4 kawan lainnya disiapkan guru-guru mereka masing-masing. Ternyata, malahan, masih ada tokoh lebih gila lagi yang berdiri dibalik temaram Thian Liong Pang.

Mungkin adalah sutradara dan pemain utama yang membuat Tionggoan kisruh dalam badai berdarah. Dan, lawan mereka di Thian

Liong Pang, malah nyaris sejajar dengan kemampuan gurunya. Bukankah ini berita yang sangat luar biasa?

Sementara itu di arena lain, baik Tek Hoat maupun Mei Lan, juga bertarung tetapi tidak seseru dan sengotot dalam pertempuran mereka sebelumnya. Pertempuran mereka kurang serius dan terkesan yang penting terlibat dalam pertempuran itu dan bukannya menganggur. Serangan-serangan mereka yang sudah saling kenal sebelumnya, cenderung nampak seperti latihan saja.

Kim I Mo Ong dan Bouw Lek Couwsu, betapapun mereka sangat penasaran dengan pertarungan sehari sebelumnya, tapi tidak punya semangat hari ini. Karena disamping mereka, ratusan orang juga ikut bertempur dan menghilangkan selera bertarung mereka lebih jauh. Karena itu, Mei Lan dan Tek Hoat, juga lebih banyak bertarung santai dan lebih tepat berlatih dengan orang setingkat. Ketika Ceng Liong memandangi arena pertarungan itu, diapun paham apa yang terjadi dan tidak mengkhawatirkan.

Dan ketika memandangi keseluruhan medan, hatinya tertusuk melihat ratusan orang rebah dengan jiwa melayang, puluhan lainnya terbaring merintih karena menderita luka. Sementara angkara pertempuran terus menerus terjadi. Teriakan, bentakan dan jeritan kesakitan terjadi susul menyusul dari semua sudut arena.

Sementara itu, Hu Pangcu Pertama yang dilibas oleh Kwi Beng lama kelamaan menjadi geram dan gusar. Betapa tidak, ketika sempat melihat arena, ternyata lebih banyak, jauh lebih banyak anak buahnya terbantai, dan jumlah mereka sudah susut banyak. Sungguh, dia kembali menghadapi kenyataan betapa misi kali ini mendekati kegagalan.

Terlebih, kedua Hu Pangcu lainnya juga terlibat perkelahian yang seru dan tidak mampu keluar dari pertarungan itu dengan santai. Dan yang membuat semangatnya nyaris runtuh, dia melihat anak buahnya tinggal setengahnya, atau mungkin bahkan kurang dari setengahnya. Kegarangan Barisan 6 Pedang dan Kay Pang Cap it ho han sungguh membuatnya murka.

Belum lagi Siauw Lim Sie Lo Han Tin yang meski tidak membunuh, tetapi mampu menghadapi semua serangan lawan. Barisan-barisan itu memang dihadapi Barisan Warna Warni, tetapi barisan itu menyedot banyak tenaga, dan akibatnya banyak anak buah mereka yang menjadi korban sia-sia. Dan, tiba-tiba Hu Pangcu Pertama menyadari, nampaknya misi mereka akan segera berubah: dari misi memburu lawan, kini misi mereka harusnya adalah menyelamatkan diri.

Tapi, sungguh banyak kehilangan dan kekalahan kali ini, dan belum tentu lawan akan membiarkan mereka mengundurkan diri dengan nyaman. Otaknya yang cerdik mulai memikirkan bagaimana menonggalkan arena tersebut. Sungguh mengesalkan.

Tiba-tiba Hu Pangcu Pertama bersuit, nampaknya sebuah isyarat bagi kawanan Thian Liong Pang. Dan, memang demikianlah adanya. Meskipun jumlah mereka sudah susut, tetapi jumlah mereka masih tetap banyak. Setidaknya masih mendekati 300an orang, sementara di pihak pendekar lebih sedikit jumlahnya, tapi kemampuan mereka jelas jauh lebih kuat.

Karena itu, sambil mengundurkan diri kearah hutan, pertempuran tetap terus terjadi. Bahkan terus terjadi dengan korban yang bertambah banyak dari saat kesaat di kedua belah pihak. Dan kemudian dengan berlindung dibalik kerumunan anak buahnya, ketiga Hu pangcu

akhirnya meloloskan dirinya bersama beberapa pentolan Thian Liong Pang lainnya.

Mereka meninggalkan arena dan melarikan diri dengan jumlah yang kurang dari 150-an orang saja. Dan sebagaimana diduga oleh Hu Pangcu Pertama, kawanan pendekar pasti akan memburu mereka. Dan siang hari itu, benarlah terjadi demikian. Dari keadaan diburu lawan, kondisi para Pendekar berbalik memburu Thian Liong Pang. D

an nampaknya lonceng kematian bagi Thian Liong Pang sudah dibunyikan. Lebih 200an orang kaum pendekar dari puluhan perguruan bergabung untuk bertekat membasmi Thian Liong Pang dari ambisi mereka menguasai Rimba Persilatan Tionggoan.

Diburu, Memburu (2)

“Liong Ko, tunggu sebentar”, suara seorang gadis menghentikan langkah Ceng Liong, dan membuatnya menunggu sang gadis yang dari suaranya sudah dikenalnya. Siangkoan Giok Lian. Dan tidak lama kemudian, sang gadis sudah berdiri berhadapan dengannya.

“Ada apa Lian Moi, setahuku engkau bergabung dengan Lan Moi, kemanakah dia”?

“Yang kau cemaskan nampaknya hanya dia seorang Liong Ko?” Giok Lian berkata dengan mata menggoda

“Ach, jangan berlebihan Lian Moi” Ceng Liong sedikit tersipu. Dia memang berbeda dengan Kwi Song dan Tek Hoat dalam berhadapan dengan anak gadis, cenderung pemalu dan pendiam. Lebih mirip dengan Kwi Beng, kakak kembar Kwi Song.

“Sudahlah Liong Ko, aku sekedar bercanda ….. hahaha, coba lihat, mukamu sampai memerah begitu. Aku tanggung, Lan Moimu juga pasti sedang merindukanmu” Giok Lian enak saja mempermainkan Ceng Liong karena dia sudah paham benar adanya “rasa” antara Ceng Liong dan Mei Lan. Pasangan yang cocok, pikirnya. Bahkan pasangan yang akan menjadi sahabat sejatinya pada masa depan. Tetapi, Giok Lian menjadi sedikit tersentak ketika melihat, meski hanya sekilas, lintasan kesedihan di mata Ceng Liong.

“Liong Ko, sudahlah, jangan dimasukkan dihati. Aku sudah pamitan dengan Lan Moi untuk segera menuju ke markas Bengkauw. Ada baiknya Ayah dan Bengkauw melibatkan diri dalam menumpas Thian Liong Pang. Sekaligus melaporkan kejadian-kejadian terakhir kepada ayah. Bagaimana pendapatmu Liong Ko”?

Sejenak Ceng Liong pulih kembali, dan dengan segera berkata:

“Baik sekali maksudmu Lian Moi. Aku mendukungmu sepenuhnya. Alangkah baiknya bagi dunia persilatan bila Bengkauw bahu membahu memberantas para perusuh itu”

“Lan Moi juga setuju Liong Ko. Dan karena itu aku memisahkan diri dengan Lan Moi untuk menuju ke Heng San. Tapi sekaligus, aku ingin menagih satu janjimu Liong Ko”? Degh …. Sekejap wajah Ceng Liong menegang. Hanya sekejap, karena dia tahu belaka apa yang dimaksudkan oleh Giok Lian dengan janji itu.

“Jika bisa, malah bukan cuma 1, yaitu janjimu Liong Ko, tetapi, juga urusan lain” Giok Lian menegaskan sambil tersenyum melihat Ceng Liong yang “menegang” dan sebentar “kikuk”.

“Hm, baiklah Lian Moi. Apa yang ingin kamu ketahui sebetulnya, dan yang mana kedua hal yang ingin kamu ketahui dariku” tukas Ceng Liong setelah menenangkan diri dari debaran jantungnya yang berdetak lebih cepat.

“Liong Ko, engkau menjanjikan menceritakan sesuatu mengenai keadaan enci Giok Hong. Menjelang aku kembali ke Bengkauw, aku mencarimu untuk berita itu, sebelum kusampaikan kepada Ayahku”

Ceng Liong menarik nafas sejenak. Dan kemudian, sambil menatap Giok Lian dia berkata: “Baiklah Lian Moi. Tapi sebaiknya kita mencari tempat yang agak baik untuk bercakap-cakap”

Keduanya kemudian berkelabat meninggalkan tempat itu, dan menemukan sebuah tempat lain di luar hutan tempat mereka bertemu. Di bawah sebuah pohon yang agak rindang, kemudian Ceng Liong berhenti dan mempersilahkan Giok Lian untuk duduk dan mempercakapkan hal yang dianggap “sangat serius” oleh Ceng Liong.

“Baiklah Lian Moi, kita boleh bercakap disini” Ujar Ceng Liong setelah mereka dalam posisi yang enak untuk berbicara.

“Tetapi, sebelum aku menceritakan apa yang kutahu mengenai kakakmu, bolehkah aku tahu hal kedua yang ingin engkau ketahui dariku”?

Giok Lian nampak menimbang nimbang sejenak. Nampak sedikit ragu, tapi akhirnya dia mengangguk:

“Baik, tidak mengapa Liong Ko. Tapi …….”, kembali Giok Lian sedikit meragu

“Tidak mengapa Lian Moi, katakanlah”

“Apa engkau tidak akan marah Liong Ko, karena masalah ini sebenarnya menyangkut masalah pribadimu”

“Sejauh masih dalam batas kewajaran, tidak ada yang perlu dijadikan alasan buat marah Lian Moi”

Nampak sesaat kembali Giok Lian tenggelam dalam kebimbangan, sampai kemudian dia menetapkan keputusannya dan berkata:

“Liong Ko, maafkan bila aku mencampuri urusan pribadimu. Tapi, terus terang, sebagai sahabat dekat Lan Moi, aku …. aku … aku harus menyatakannya kepadamu”

“Hm, apa maksudmu Lian Moi” Ceng Liong mau tidak mau menjadi tegang juga

“Aku harus mengatakan bahwa sebagai sesama wanita, aku sangat mengerti kegalauan Lan Moi” Giok Lian tidak sanggup melanjutkan kalimatnya.

”Maafkan, kalau aku kurang paham Lian Moi” Ceng Liongpun jadi keki

“Begini Liong Ko, aku juga kan seorang gadis, seorang wanita. Jadi, aku …. aku mengerti dengan keadaan Lan Moi itu” Giok Lian berharap Ceng Liong mengerti dengan sendirinya. Padahal, dia kurang tahu, jika Ceng Liong sendiri setengah mati menebak-nebak, apa dan kearah mana percakapannya.

Meskipun setengahnya dia sudah menebak, tetapi, tentunya tidak akan semudah itu dia berkeberanian mengutarakan tebakannya.

Karena dia sendiri sesungguhnya dalam keadaan bingung, selain tidak pasti akan Mei Lan, juga masih terkendala dengan urusan sendiri bersama Giok Hong.

“Aduuuh, Liong Ko, masakan engkau tidak mengerti juga”? Giok Lian menjadi gemas sendiri

“Maafkan aku Lian Moi, apa yang seharusnya kumengerti”?

“Sehari-harinya engkau begitu tegas dan berwibawa Liong Ko, tapi masakan dalam urusan segini engkau jadi linglung begitu”?

“Lian Moi, apa benar aku nampak sebegitu linglungnya dengan apa yang engkau maksudkan”? Giok Lian sampai berdiri dan menghentakkan kakinya saking gemasnya.

“Ach, Liong Ko, masakan harus kukatakan terus terang. Betapapun Mei Lan itu sudah kuanggap adikku, dan tidak akan aku mempermalukannya”? Ceng Liong jadi bertambah kikuk. Disuruh menebak, padahal dia hanya paham setengahnya, dan malah takut jangan-jangan tebakannya salah. Nanti disangka gede rasa pula.

“Apa maksudmu Lian Moi, sungguh aku kurang paham”

Giok Lian memandangi Ceng Liong lama. Dan lama kelamaan, dia jadi sadar bahwa Ceng Liong sama bingungnya dengan dirinya.

“Aduh, atau apa mungkin aku yang tolol ya” Giok Lian jadi menggumam sendiri.

“Apa maksudmu Lian Moi”?

“Begini Liong Ko ….. “ Giok Lian menenangkan dirinya yang ikut-ikutan jadi tegang.

“Engkau dan Lan Moi itu …… engkau mengerti kan?” sambil memandangi Ceng Liong dan menunjuk-nunjuk Ceng Liong, dan wajahnya sungguh lucu menggemaskan.

“Mengerti apa”? Ceng Liong justru tambah keki malah

“Sebenarnya engkau sayang sama Lan Moi atau tidak “? Plong, akhirnya dalam ketidaksadarannya, kalimat yang susah dikeluarkannya, justru menerobos keluar dalam kegemasannya atas “ketololan” Ceng Liong. Dan dipandanginya wajah Ceng Liong dengan harap-harap cemas.

Betapa dia selalu menjadi tempat pelampiasan kepenasaran Mei Lan, dan betapa kasihnya dia atas Mei Lan sehingga berusaha sendiri untuk menjajaki kemungkinan menyatukan hati kedua sahabat yang sangat dikasihinya itu. Padahal, diapun awalnya begitu menyukai Ceng Liong, hanya ketika melihat Mei Lan yang sudah keduluan menunjukkan perasaannya, akhirnya dia mundur. Dan perlahan dia mulai menilai Tek Hoat dan Kwi Song yang perlahan mulai mengisi kemesraan dalam hatinya itu.

Sejenak wajah Ceng Liong menegang, dan Giok Lian yang memandangnya menjadi cemas. Tetapi, bagaimana mungkin Ceng Liong memiliki keberanian memarahi Giok Lian. Selain wajah polosnya yang cemas memandanginya dengan harap-harap cemas, kejadian dirinya dengan kakak gadis itu, terlebih mengenaskan lagi, dan membuatnya tidak mungkin memarahi Giok Lian. Karena itu, akhirnya

keduanya saling memandangi dalam situasi yang sungguh-sungguh aneh dan menggemaskan.

Kedua orang muda yang dalam ukuran umum sudah selayaknya menikah, membicarakan masalah perasaan orang lain dan menanggapinya dalam kepolosan masing-masing. Akibatnya keadaan mereka menjadi tegang-tegang lucu, dan keduanya jadi terdiam dalam seribu kata sambil menimbang cermat, kalimat apa yang pantas untuk dikemukakan. Dan kediaman mereka akhirnya dipecahkan oleh tarikan nafas berat dari Ceng Liong.

“Maafkan aku Liong Ko jika masalah ini membuatmu tidak senang” Giok Lian merasa sedikit bersalah.

“Tidak Lian Moi, sama sekali tidak. Engkau tidak salah, tapi masalahnya tidak semudah yang engkau bayangkan. Betapa aku menyayangi Lan Moi, tidak kuragukan. Tapi, aaaaach, ada sesuatu yang lain yang membuatku susah dan serba salah untuk bertindak” wajah Ceng Liong menjadi sangat mengenaskan. Dimatanya kembali terbayang kemungkinan apa yang terjadi antara dirinya dengan Giok Hong. Dan masih pantaskah dia memimpikan hidup berbahagia dengan Mei Lan?

“Jadi, apakah dengan demikian Lan Moi akan terus terombang-ambing dalam impiannya itu Liong Ko”? Giok Lian menuntut.

“Lian Moi, engkau tidak tahu …… engkau tidak tahu, betapa beratnya aku menanggung masalah ini. Seandainya …….” Suara dan ucapan Ceng Liong mengambang

“Liong Ko, apa maksudmu”? atau, apakah memang sudah ada orang lain dalam hidupmu”?

“Aku tidak jelas, aku tidak tahu. Ini sungguh membingungkan dan membuatku serba salah Lian Moi” tegas Ceng Liong yang semakin kebingungan.

“Maafkan, tapi aku juga menjadi bingung Liong Ko. Harus bagaimana aku menjelaskannya kepada Lan Moi”

Kembali keduanya tenggelam dalam lamunan dan pikiran masing-masing. Ceng Liong sebentar sebentar menarik nafas panjang, sampai kemudian dia memandang Giok Lian dan akhirnya berkata:

“Baiklah Lian Moi, engkau memang perlu tahu. Karena semuanya terkait dengan pertanyaan kedua yang ingin engkau tanyakan”

Sontak Giok Lian terkejut, dan dengan segera bertanya dengan muka terkejut:

“Apa maksudmu Liong Ko”? apa engkau ingin berkata bahwa semuanya ada kaitan dengan enci Giok Hong”?

“Benar sekali”

“Liong Ko, apa engkau bersedia menjelaskannya secara lebih rinci”? Ada hubungan apa engkau dengan enci Giok Hong”? Giok Lian bertanya dengan harap-harap cemas. Bahkan dengan keterkejutan yang jelas sangat sulit disembunyikan lagi.

“Ya, engkau harus tahu Lian Moi. Sikapku memang terkait dengan keberadaan encimu yang sedang engkau cari-cari itu”

“Tapi, bagaimana pula keterkaitannya. Aku sungguh tidak mengerti Liong Ko”

“Untuk mengerti, engkau harus mendengarkan ceritaku Lian Moi, dan kuharap engkau bisa mengerti ceritaku secara keseluruhannya”.

Pada akhirnya Ceng Liong menceritakan bagaimana dia bersama Giok Hong membantu Tek Hoat dan Kay Pang menempur See Thian Coa Ong. Bagaimana mereka membebaskan Kim Ciam Sin Kay, Pangcu Kay Pang dan melawan kawanan pengemis yang memberontak. Bagaimana mereka memancing dan menempur See Thian Coa Ong dan berkelahi bahu-membahu, dan bagaimana kemudian mereka berdua terluka oleh pukulan See Thian Coa Ong (Diceritakan di Bagian I Kisah Para Naga ini).

Dan juga Ceng Liong menceritakan bagaimana ketika dia siuman, dia tidak mengetahui lagi keberadaan Giok Hong sejak itu. Dan bahkan mencari-carinya hingga saat ini, tetapi tetap saja jejaknya tidak ditemukan.

“Jadi, sejak terluka di tangan See Thian Coa Ong, kemudian enci Giok Hong terluka dan menghilang. Begitu maksudmu Liong Ko”?

“Benar Lian Moi, bahkan pihak Kay Pang yang merasa berhutang budi, juga telah mengerahkan seluruh kekuatannya untuk mencari encimu. Tapi hingga sekarang masih belum ketemu juga”

“Apakah benar-benar enci tidak meninggalkan jejak sedikitpun di goa itu Liong Ko”?

“Aku sudah bolak-balik puluhan kali menyusuri goa itu, tetapi tidak ada sedikitpun jejak dan petunjuk keberadaan encimu itu”

“Ach, enci, apa gerangan yang terjadi atas dirimu”? Giok Lian nampak terguncang dan bersedih untuk keberadaan encinya yang

hilang tanpa jejak itu. Cukup lama dia terisak, tanpa Ceng Liong sanggup berbuat apapun, termasuk membujuk gadis yang sedang sedih itu.

Cukup lama keadaan mereka seperti itu, sampai kemudian Giok Lian akhirnya menyadari dirinya, mengeraskan hati dan pada akhirnya kemudian memandang kearah Ceng Liong dan berkata:

“Liong Ko, masih ada satu hal yang membebaniku. Jika engkau tidak keberatan, apa kaitannya kehilangan kakakku dengan Mei Lan”?

Ceng Liong tidak kaget lagi, karena dia merasa Giok Lian juga berhak mengetahui keberadaan kakaknya dan kaitannya dengan sikapnya yang nampak “plin plan” terhadap Mei Lan. Dan bahkan pertanyaan itu memang sudah ditunggunya, karena pasti Giok Lian akan menanyakannya.

“Lian Moi, justru ceritaku mengenai kakakmu belum sampai pada titik yang lebih mengejutkan lagi. Bahkanpun untuk diriku sendiri”, jawab Ceng Liong dengan nada bergetar.

“Liong Ko, apa maksudmu”?

“Lian Moi, ketika aku bersama encimu terpukul dan terlontar kearah goa itu, kami terpukul oleh pukulan beracun yang mengandung hawa “racun dewa asmara”. Racun khas See Thian Coa Ong yang sangat berbahaya itu. Pernahkah engkau mendengar prihal racun itu”?

“Rasanya, baru sekali ini aku mendengarnya Liong Ko”

“Barangsiapa yang terkena dan teracuni oleh racun dewa asmara, maka hanya ada dua cara untuk terlepas dari racun tersebut. Tanpa kedua cara itu, maka korban dipastikan meninggal kurang dari 24 jam”

“Apa dan bagaimana caranya Liong Ko”?

“Pertama, mendapatkan obat pemunah racun dari See Thian Coa Ong sendiri, sebagai satu-satunya pemilik racun dan tentu saja pemunahnya”

“Dan yang kedua”?

“Ini ….. ini, rada sulit Lian Moi ….. tapi, ya begitulah”

“Begitulah bagaimana”?

“Menurut Kim Ciam Sin Kay, cara kedua adalah dengan …… dengan” Sungguh sulit Ceng Liong menyebutkannya

“Dengan cara apa Liong Ko” Giok Lian yang penasaran menjadi geregetan melihat keadaan Ceng Liong

“Yaaaa…. Menurut Kim Ciam Sin Kay, dengan,…. Dengan…. menyalurkan hasrat “asmara” itu”.

“Tapi, apa maksud dari hasrat asmara itu Liong Ko? Giok Lian bertanya bingung. Dan kebingungannnya membuat Ceng Liong juga tambah bingung. Tapi dicobanya juga menjelaskannya:

“Maksudnya antara laki-laki dan perempuan Lian Moi”

“Ya ….. antara laki-laki dan perempuan, kenapa memang”?

“Berhubungan, laki-laki dan perempuan”

“Berhubungan apa”?

“Ya begitu ….. ada hubungannya Lian Moi” Ceng Liong tambah keki dan gagap menjelaskannya. Karena memang sulit baginya untuk menjelaskannya.

“Aduh Liong Ko, kamu ini gimana sich? Ya memang ada hubungannya, tapi hubungan yang bagaimana maksudku”?

“Begini Lian Moi, racun itu membuat orang yang terkena menjadi terangsang nafsunya”

“Jadi”?

“Yaaaa, begitulah menurut Pangcu Kaypang, cara kedua adalah menyalurkan nafsu asmara itu, baru bisa terlepas dari ancaman racun mematikan itu”.

“Artinya, engkau dan enci ….. engkau dan enci ….. sudah, sudah ….. melakukannya. Melakukan itu”? Giok Lian nampak risih, kaget dan malu melanjutkan kalimatnya.

“Menurut Kim Ciam Sin Kay, nampaknya demikian adanya”

“Menurut Pangcu Kaypang memang begitu. Menurutmu sendiri bagaimana”?

“Aku sembuh jelas bukan oleh See Thian Coa Ong Lian Moi, karena dia juga terpental jauh oleh gabungan pukulanku dengan Giok Hong. Jadi rasanya memang kami, aku dan kakakmu itu, sudah …. sudah …. melakukannya” Ceng Liong terbata-bata dan melanjutkan

“Selebihnya aku tidak tahu lagi Lian Moi,karena begitu aku sadar, aku sendirian dalam goa. Aku baru tahu keracunan racun itu ketika

Pangcu Kaypang menyembuhkanku dan menemukan sisa dan jejak racun itu dalam darahku”

“Hm, aku percaya padamu Liong Ko. Tapi, akupun bingung harus berprihatin untuk siapa. Buat enciku atau buat Lan Moi ….. kasihan” wajah Giok Lian nampak seperti berbeban berat. Sungguh sulit dia menyalahkan Ceng Liong, apalagi kakaknya. keduanya menjadi korban kelicikan orang. Karenanya dia sungguh bingung, bagaimana menangani masalah semacam ini.

Disatu sisi, dia ingin menjodohkan Mei Lan dengan Ceng Liong, dan tahu keduanya saling mencinta. Tetapi, disisi lain, nampaknya encinya telah melakukan hubungan yang membuat keduanya mau tidak mau harus terangkap sebagai suami-istri.

“Lian Moi, sekarang engkau paham kiranya mengapa aku nyaris tidak mungkin memikirkan masalah percintaan dan perjodohan. Karena, apabila benar analisa Pangcu Kaypang, berarti aku sudah tidak bebas lagi. Meskipun aku sadar mencintai Lan Moi, tapi sungguh tidak layak itu kulakukan sebelum bertemu dengan encimu dan mendapat kejelasan mengenai semua kekisruhan yang kuhadapi ini”

“Ach, kasihan engkau Liong Ko. Kasihan enci dan kasihan Lan Moi. Nasib sungguh sungguh sedang mempermainkan kalian” keluh Giok Lian. Dan kemudian disambungnya kembali,

“Tapi, sudah berapa lama enci Hong tidak munculkan dirinya lagi? Kuhitung-hitung sudah lebih dari 3 tahun. Dan selama ini, tidak setitikpun kabar yang kudapatkan mengenai keberadaannya. Dan bila enci Hong tidak pernah muncul selamanya, apakah engkau juga akan seperti ini selamanya”?

“Selama tidak ada kejelasan mengenai masalah ini, bagaimana mungkin aku punya muka dan punya hak untuk menjadi pasangan Lan Moi? Suatu hal yang takkan mungkin kulakukan Lian Moi. Aku harus menemukan kakakmu dulu baru bisa memutuskan semuanya. Kuharap engkau mengerti dengan posisiku ini Lian Moi”

“Tentu Liong Ko, aku sangat mengerti. Aku prihatin untukmu dan untuk Lan Moi. Sejujurnya, akupun tidak tahu harus melakukan apa menghadapi persoalan kalian. Bahkan untuk menjelaskan masalah ini kepada Lan Moi, akupun tidak tahu bagaimana caranya”.

“Lian Moi, perkenankan aku menunggu waktu yang tepat untuk menjelaskan kepada Lan Moi dan bahkan Tek Hoat. Betapapun, kepada mereka aku berhutang nyawa sejak kecil. Tanpa keduanya, tidak tahu apakah aku masih berada di dunia ini atau tidak. Selebihnya, keduanya sudah merupakan adik angkat bagiku, dan karena itu, aku harus menjelaskan posisiku kepada mereka berdua”

“Engkau benar Liong Ko. Hal itu memang sangat bijaksana. Biarlah kepada ayah dan Bengkauw, untuk sementara belum mengetahui masalah ini sampai semuanya jelas pada saatnya. Dan biarlah kita membicarakan masalah ini kelak, dikemudian hari”

“Oh ya, sebelum kita berpisah, apakah tidak salah bila kukatakan bahwa adikku yang satunya lagi, sedang memperhatikanmu lebih dari biasanya Lian Moi”? Ceng Liong berkata untuk memastikan sesuatu.

“Entahlah koko, tapi biarlah waktu yang akan menjawabnya” Giok Lian menjawab dengan wajah tersipu-sipu. Tapi sudah cukup jawaban itu bagi Ceng Liong.

“Baiklah Liong Ko, sudah waktunya kita berpisah. Aku harus segera menuju Bengkauw Pusat, banyak hal perlu kulaporkan. Jagalah dirimu baik-baik, dan tolong tetap berusaha menemukan enciku”, Giok Lian akhirnya menjura kearah Ceng Liong dan sekejap kemudian telah berkelabat menghilang kearah hutan.

“Hati-hati Lian Moi, sampaikan salamku untuk orangtuamu”

Diburu, Memburu (3)

Ceng Liong melangkahkan kakinya dengan pikiran penuh. Penuh tanda tanya. Ketidak mengertian, pertimbangan, dan jelas kebingungan. Dan bahkan juga dengan penuh kegetiran. Dibenaknya penuh dengan rasa heran betapa cepatnya para tokoh Thian Liong Pang menghilang, padahal selama 2 hari ini dia membuntuti terus menerus, tetapi mengapa bisa secara tiba-tiba mereka kemudian menghilang.

Benar beberapa kali dia dihadang sekelompok orang, yang memang nampaknya sengaja dikorbankan. Tetapi, hanya dalam waktu singkat dia mampu melumpuhkan mereka. Dan waktu singkat yang terbuang itu, masakan mampu dimanfaatkan para pentoalan Thian Liong Pang untuk menyingkir darinya?

Belum lagi bila dia menimbang, dari arah yang lain ada kawan-kawannya yang juga melakukan pengintaian dan perburuan yang sama untuk mengetahui rahasia markas utama Thian Liong Pang. Entahkan Lan Moi sanggup tuntas melakukan tugas pengintaian ini? Ceng Liong berpikir dan menduga-duga dalam hatinya.

Tugas mengalahkan Thian Liong Pang dan membasminya harus dilakukan tuntas. Karena jika tidak, bisa dipastikan korban-korban akan

kembali berjatuhan. Dan Thian Liong Pang akan melakukan pembalasan yang bisa saja secara acak dan meminta korban lebih banyak. Apalagi setelah mereka belajar dari kekalahan terakhir mereka sejak di bawah kaki gunung Siong San dan kemudian diburu para pendekar.

Ceng Liong sulit membayangkan apa yang akan terjadi jika tugas mereka ini tidak segera dituntaskan. Meskipun, disisi lain, Ceng Liong juga rada gelisah, karena ternyata di pihak lawan masih ada jago lain yang misterius dan tersembunyi. Benar-benar ampuh Thian Liong Pang ini.

Tetapi, selain persoalan Thian Liong Pang, anak muda berjubah hijau ini, juga sedang mumet dengan beberapa persoalan pribadi lainnya. Dia masih penasaran dan sedih mengingat dimana keberadaan dan bahkan keselamatan ayah dan ibunya. Dan diam-diam anak muda ini menarik nafas panjang, merasa betapa masa kanak-kanaknya terkorbankan oleh gejolak rimba persilatan.

Dan bahkan orang tuanya direnggutkan dari sisinya. Dan hingga sebesar ini, dalam waktu yang sangat lama, dia tidak mengetahui dimana dan bagaimana keadaan orang tuanya. Bukan cuma itu, adiknya, kakeknya, dan pamannyapun, entah bagaimana keadaannya. “Betapapun semua itu harus diselesaikan” desis Ceng Liong. Tapi, bagaimana mungkin? Dengan tumpukan persoalan Thian Liong Pang yang baru setengah beres, apakah dia punya waktu dan kesempatan menyelesaikannya?

Benar-benar sangat memusingkan, dan benar-benar menguras tenaga dan emosi. Belum lagi mengingat bisikan orang tua di Siauw Lim Sie, yang nampaknya masih kerabat Lembah Pualam Hijau, bahwa

keluarganya terlibat dalam kekisruhan dunia persilatan. “benarkah”? apakah mungkin? Siapa dan bagaimana?. Wajah Ceng Liong tambah suram dan berkerut.

Dan disamping itu, dibenaknya juga berganti-ganti wajah dua orang nona, Siangkoan Giok Hong dan Liang Mei Lan, menari-nari dan meminta perhatian ekstra darinya. Wajah Giok Hong yang cantik manis namun misterius dan tidak jelas nasib dan keberadaannya dan wajah Liang Mei Lan yang tidak kalah cantiknya dan menanti keputusannya.

Tapi mungkinkah dia sanggup memutuskan apa yang tepat untuk dilakukannya bagi urusan pribadinya? Tidak, bukan, urusan Giok Hong malah bukan urusan pribadi lagi. Urusannya jauh lebih besar dan melebar, karena menuntut pertanggungjawabannya. Tapi, bagaimana menyelesaikan dan menanganinya sementara gadis itu bahkan tidak diketahuinya berada dimana?

Bagaimana dia akan bertindak dan bersikap sementara nasib gadis itupun malah dia sama sekali tidak tahu dan tidak mengerti? Dan bagaimana pula pertanggungjawabannya terhadap Mei Lan yang jelas-jelas mencintainya namun sulit diladeninya dewasa ini? Sungguh, diapun jelas merasa yakin, bahwa cintanya jatuh atas Mei Lan.

Tapi, apakah itu mungkin? Adilkah perasaannya itu seandainya benar dugaan Kim Ciam Sin Kay bahwa dia telah menjadi suami Giok Hong? Dan bahkan dugaan Sin Kay itu, hampir 100% juga dipercayainya. Seorang sehebat Pangcu Kay Pang terlalu mengada-ada untuk mendustainya.

Sungguh sebuah pergumulan yang sangat berat. Bahkan masih juga ditambah dengan urusan Lembah Pualam Hijau. Lembah yang kini

dipimpinnya, diwarisi dari leluhurnya dan telah kehilangan kejayaannya setelah dengan lapang dada dia melepaskan jabatan Bengcu di Siauw Lim Sie. Lembah yang juga menuntut perhatiannya, tangungjawabnya, sementara dia sendiri terlilit begitu banyak persoalan yang berskala besar, berskala rumit.

Baik bagi dirinya pribadi, maupun bagi orang banyak. Dan ketika terlepas dari tanggungjawab membantu keluarga neneknya dan kemudian di Siauw Lim Sie dan menghadapi Thian Liong Pang, kini dia berkesempatan memikirkan semua pesoalannya. Dan tanpa disadarinya dia merasa dirinya begitu kesepian, begitu merana dan merasa begitu menumpuk apa yang mesti dikerjakannya.

Bahkan untuk sekedar menikmati indahnya rasa cintapun, masih harus dengan disusupi rasa bersalah atas orang lain. Entah nasibnya yang jelek, atau nasib sedang mempermainkannya. Dan dalam kegalauan, tenggelam dalam pemikiran kusut mengenai nasib dirinya, keluarganya dan tanggungajwabnya atas dunia persilatan itu, Ceng Liong berjalan perlahan. Berjalan dalam kegalauan.

=======================

“Plak, plak” pagi yang cerah dibuka dengan benturan-benturan pukulan dan jeritan-jeritan tanda sebuah perkelahian sedang terjadi. Dari jeritan-jeritan tadi bisa dibedakan, atau diketahui bahwa yang sedang berkelahi adalah seorang wanita dengan seorang pria. Hanya saja, perkelahian yang nampak sangat cepat dan benturan yang juga sangat berat tadi, dilakukan tidak dengan maksud melukai dan membunuh lawan.

Keduanya, pastilah sedang berlatih, dan disudut Lian Bu Thia, nampak seorang lelaki lainnya, sepertinya lebih matang dan dewasa dari kedua orang yang sedang berlatih, menonton dengan mata tak berkedip. Maklum, sebagai insan persilatan, melihat orang berlatih dan berkelahi adalah kesenangan yang tak terhindarkan. Terutama mencermati ilmu ilmu yang terlontar dan dipergunakan orang.

Bila dicermati lebih jauh lagi, pertempuran yang merupakan latihan tersebut, meskipun hanya berupa latihan, tetapi ilmu, tenaga dan ginkang yang dikerahkan, bukanlah kelas kacangan. Bahkan bukan cuma kelas tinggi semata, tetapi kelas yang sangat tinggi dan luar biasa. Bagi mata ahli, permainan silat kedua orang itu adalah pemandangan luar biasa.

Dimainkan dengan pesat, tepat dan ukuran-ukuran yang membuktikan bahwa kedua anak muda tersebut sudah dan telah menguasai ilmu-ilmu mereka dengan matang. Terbukti keduanya mampu mengontrol penggunaan kekuatan sesuka hatinya dan perbenturan yang tidak melukai lawan.

Tetapi, dari penggunaan jurus-jurus, cara berkelit dan selanjutnya gerakan-gerakan silat lainnya, membuktikan keduanya adalah pesilat kelas kakap. Meskipun ilmu keduanya nampaknya berbeda, bahkan sang wanita nampak memiliki gerakan-gerakan yang terasa asing bagi persilatan Tionggoan. Tak pelak lagi, mereka akan termasuk kategori kelas utama seandainya keduanya terjun ke rimba persilatan Tionggoan.

Jurus-jurus si Pemuda bukanlah jurus-jurus biasa. Tetapi, bila menggunakan jurus biasapun, nampak menjadi sangat hebat

perbawanya, dan membuktikan bahwa anak muda itu sudah bukan orang sembarangan.

Sama ampuhnya dengan sang wanita yang bersilat dengan gaya dan jurus-jurus asing, meski jejak dasar silat Tionggoan masih terasa. Gerakan-gerakannya termasuk kokoh dan aneh, gerakannya yang gesit terkadang licin seperti ular, terkadang mengembang seperti seekor burung. Kadang dia menggunakan varian gerakan yang dikenal di Tionggoan, tetapi, kadang juga terkesan sangat aneh dan bukan seperti dari Tionggoan.

Bahkan, belakangan terkesan berbau “sihir” yang kental, meskipun tidak mampu mengecoh si pemuda. Dalam hal tenaga dalam, si anak gadis juga tidak bisa dikatakan kalah, meski kurang ulet, tetapi dalam hal variasi gerakan dan tipuan, dia lebih kaya dan variatif. Demikianlah perkelahian itu berlangsung terus, sampai kemudian terdengar si anak gadis berkata:

“Toa suheng, engkau juga kelihatannya harus ikut berlatih. Ayo, kita berlatih bersama” dan seiring dengan itu serangkum angin serangan sudah mengarah ke si pemuda yang dipanggil Toa Suheng yang sebelumnya hanya menonton pertempuran latihan tersebut. Dan secara otomatis si pemuda itu juga mengelak, sambil kemudian berkata:

“Baik sumoy” dan bergeraklah si pemuda dan ikut terjun dalam latihan bertiga. Saling serang dan saling desak antara mereka, tanpa ada yang berkawan. Yang paling dekat akan menerima serangan dari lawannya. Dan ternyata, pemuda itupun bukanlah orang sembarangan.

Meskipun belum sehebat si anak muda satu lagi dan belum secepat si anak gadis, tetapi kematangan dan perhitungannya nampak sudah sangat tinggi. Karena itu, diapun sanggup bertahan dan berada dalam pusaran pertempuran itu dengan tidak terlampau kerepotan. Apalagi, kedua lawannya, sering membantunya seandainya dia terlampau didesak oleh salah satu lawan.

Akhirnya, pertempuran itu menjadi sangat seru, dengan kesiur angin pukulan yang berkibar disekitar mereka. Ruang latihan itupun menjadi ribut dengan suara teriakan dan benturan pukulan mereka bertiga, sebuah pertempuran yang ramai dan seru. Karena ilmu-ilmu yang digunakan kemudian adalah ilmu-ilmu langka dan terpilih, dan herannya dilakukan dalam tingkat kemahiran yang luar biasa.

Meski demikian, perkelahian itu bisa dipastikan tidak akan melukai siapapun, karena nampak dimanfaatkan untuk mematangkan penguasaan ilmu masing-masing. Karena itu, dari sebaliknya tegang, ketiganya justru saling mengagumi, dan pancaran kegembiraan membayang dari mata masing-masing.

Sementara itu, sepasang mata yang nampak juga “ahli”, mengintai pertempuran tersebut. Beberapa kali dia tersenyum puas untuk kemajuan ketiga anak muda itu. Dan setelah sekian lama, dan dia melihat ketiga anak muda itu sudah cukup dalam menjalankan latihan hari itu setelah menyelesaikan proses akhir berguru selama 2 tahun terakhir, maka orang tua itu kemudian berbisik. Nampaknya saja seperti berbisik, tetapi tujuannya, yakni ketiga anak muda yang sedang bertarung terkenyak. Di telinga mereka mengiang sebuah suara:

“Latihan hari ini sudah cukup. Selamat, kalian bertiga mengalami kemajuan setelah bertekun selama 2 tahun terakhir ini. Bersiaplah, kalian menghadapku di ruangan pertemuan segera”

Suara itu lenyap …… tetapi ketiganya dengan segera menjura kearah yang mereka anggap arah datangnya suara itu dan berucap:

“Baik pangcu”

Tidak berapa lama kemudian, ketiga orang yang tadinya sedang berlatih silat itu, sudah memasuki ruangan pertemuan dengan pakaiannya masing-masing. Dan begitu menghormati pangcu dan kemudian dipersilahkan duduk, terdengar suara sang Pangcu:

“Posisi kita semakin lama semakin terjepit. Cukup banyak korban jatuh di kalangan anak buah kita. Kita harus mempertahankan dan setidaknya menahan serbuan mereka sebelum mendekati markas kita di luar kota Kwi Cu, sebab bila sampai markas disana bisa dicium musuh, maka jalan masuk ke markas utama bakal susah dipertahankan” Demikian ucap seorang tua, paling banyak berumur 65 tahunan nampak gagah namun sedang galau memikirkan sesuatu.

Dihadapannya sudah berdiri 3 orang yang dipanggilnya menghadap tadi, yang nampaknya adalah anak buahnya. Yang pertama, seorang yang seperti biasa nampak terus berdiam diri, bahkan bergerakpun terkesan susah. Tetapi, dari pandang matanya mudah ditebak, orang ini sangatlah berisi. Anak muda ini paling banyak berumur 35 tahun, bernama Thio Su Kiat, dan telah menjadi muridnya selama lebih dari 20 tahunan.

Bahkan sejak mulai mengenal derasnya dunia, anak muda ini hanya mengenal guru dan ibu gurunya sebagai pengganti orang tuanya. Itulah

sebabnya rasa hormat terhadap guru dan ibu gurunya, sama dengan baktinya kepada orang tuanya. Dan dari gerak-gerik pemuda matang ini, sangatlah terasa bahwa dirinya adalah seorang anak muda yang berisi.

Sementara kedua orang lainnya, adalah seorang pemuda yang belum mencapai usia 30 tahun. Tetapi, meskipun demikian, anak muda ini mengesankan dirinya sebagai seorang yang jago dan mahir ilmu silatnya. Bahkan dalam latihan tadi, dia masih mengatasi anak muda yang satunya lagi, yang usianya bahkan melebihinya.

Langkah kaki yang sangat ringan, mantap dan keteguhan membayang dari sinar matanya. Bahkan sinar matanya malah masih lebih tajam dibandingkan dengan Thio Su Kiat, murid dari si orang tua yang tadi berbicara. Dan anak muda inilah yang juga pertama kali menimpali ucapan orang tua tadi:

“Ucapan pangcu sangat masuk akal. Meskipun, sangat sulit dipercaya, kekuatan yang dikerahkan sudah sedemikian besar, tetapi masih juga gagal dalam melaksanakan misi tersebut” Kesan angkuh sungguh sulit disembunyikan dari nada suara tersebut.

“Hm, dugaanmu benar. Lebih tidak masuk di akal, berdasarkan laporan, para pemimpin barisan kita, dikalahkan oleh pihak musuh”

“Maksud pangcu”? si kerudung hitam mengejar

“Mereka, dikalahkan dalam adu kepandaian secara jantan dan jujur”

“pangcu, apa benar begitu”? si kerudung putih yang dari suaranya adalah seorang anak gadis juga ikut mengejar, penasaran.

“Laporannya benar demikian. Tidak diragukan. Dan justru karena itu, maka saatnya kalian kuutus turun ke gelanggang. Kalian berdua harus membuktikan bahwa didikan guru kalian lebih 10 tahun terakhir ini tidaklah sia-sia. Terutama 2 tahun terakhir kalian meninggalkan markas besar ini”

“Baik pangcu” kedua orang yang berkerudung itu serentak menjawab.

“Nah kalian dengarkan tugas kalian masing-masing. Sebagaimana kalian ketahui, markas di Luar Kota Kwi Cu, seperti gambaran tadi adalah tempat vital yang tidak boleh diketahui siapapun. Kutugaskan engkau untuk melindungi markas itu atas namaku” Sambil menunjuk si anak muda

“Jika mendesak, buat kamuflase, seakan-akan tempat itu bukan markas kita. Semua tokoh utama Partai kita, sebaiknya diperintahkan masuk ke markas utama dan menyusun lagi rencana dari awal. Apakah ada pertanyaan terhadap tugasmu”?

“Pangcu, apakah kita juga harus mempersiapkan perlawanan terhadap serbuan seandainya para penyerbu datang meluruk markas di Kwi Cu”?

“Sebetulnya, di Kwi Cu kita tidak memiliki cukup banyak anak buah. Karena markas di Kwi Cu terutama berfungsi untuk menghubungkan semua informasi dari luar ke markas utama. Jika memang terjadi serbuan itu, usahakan untuk mempertahankannya, bila tidak mampu lagi, sebaiknya dimusnahkan saja. Kabar terakhir, sudah 4 markas di Selatan dihancurkan, dan nampaknya gerakan mereka bergeser

kearah markas di Kwi Cu. Tetapi, sejauh ini, mereka belum mencium keberadaan markas tersebut. Apakah cukup jelas”?

“Jelas Pangcu, dipertahankan jika mungkin. Jika tidak, dimusnahkan”

“Baik, rasanya sudah cukup waktunya untukmu. Sebaiknya engkau segera menyiapkan dirimu dan segera bertolak menuju Kwi Cu. Dan ingat, semua tokoh utama diharuskan untuk segera berkumpul di markas besar kita ini. Sampaikan hal ini sebagai perintah langsung dariku”

“Baik Pangcu, hamba mohon diri bertugas”

“Pergilah”

Dan tidak berapa lama kemudian si Pemuda sudah berlalu dari ruangan tersebut. Wibawa dan kepemimpinan si orang tua sungguh hebat, susah terbantahkan. Bahkan analisis dan kesimpulan serta keputusannya juga sangat hebat. Dia paham belaka, bahwa kedudukan mereka sudah sangat rawan. Hal ini jelas sangat tidak menguntungkan

Sepeninggal Kerudung Hitam, Pangcu Thian Liong Pang nampak memandang kearah sang wanita untuk beberapa saat. Sampai kemudian terdengar dia berkata:

“Engkau”

“Siap Pangcu”

“Engkau kutugaskan untuk sedapat mungkin mengalihkan perhatian para pendekar dari arah Kwi Cu kearah lain. Aku menugaskanmu untuk pekerjaan ini, karena kecepatanmu masih lebih baik. Dan selain itu,

kepandaianmu juga tidak berada di bawah kakakmu. Sedapat mungkin engkau menghalangi perjalanan mereka menemukan markas kita di Kwi Cu, dan untuk itu terserah engkau memilih apa dan bagaimana tindakanmu yang terbaik. Jika mungkin, engkau juga bisa menjajal kepandaian tokoh utama mereka. Terutama tokoh dari Lembah Pualam Hijau yang kabarnya memiliki kesaktian hebat dan memimpin penyerangan. Tapi diatas semuanya, perhatikan tugas utamamu, bukan menambah permusuhan dan membunuh lawanmu, tetapi sekedar mengalihkan perhatian mereka. Engkau paham dengan tugasmu”?

“Paham pangcu”

“Ada hal lain yang ingin engkau tanyakan”?

“Pangcu, apa maksud pangcu menyuruh hamba untuk tidak menambah permusuhan dan membunuh orang lagi”?

Wajah sang Pangcu nampak agak gelap dan wajahnya sedikit sayu mendengar pertanyaan itu. Sang wanita sempat menangkapnya dan merasa sangat bersalah. Karena itu segera dia berkata:

“Maaf bila pertanyaanku kurang berkenan pangcu”

“Tidak, pertanyaanmu tidak salah. Tapi, engkau kutugaskan sekaligus kuperintahkan untuk tidak melakukan pembunuhan, kecuali sangat terpaksa untuk membela dirimu. Ingat baik-baik pesanku itu”

“Baik pangcu”

“Nach, engkau sudah boleh berangkat. Ingatkan anak buahmu untuk tidak sembarangan melakukan perkelahian atau terutama pembunuhan atas pihak lawan”

“Baik pangcu, akan kuingatkan mereka nantinya”

Dan dengan kalimat itu, si wanita kemudian meninggalkan tempat pertemuan untuk selanjutnya melakukan tugas sebagaimana yang diperintahkan Pangcu Thian Liong Pang. Sebetulnya, dia sendiri kurang mengerti mengapa kali ini ada perintah tambahan untuk tidak melakukan pembunuhan, padahal biasanya tidak ada perintah tambahan seperti itu. Lebih mengherankan lagi ketika melihat sinar mata Pangcu yang agak sayu ketika dia menanyakan hal tersebut. Ada apakah gerangan? Sungguh sebuah pertanyaan yang sulit untuk dijawab, setidaknya saat ini.

Ruangan tersebut kembali berkurang satu orang. Dan hening untuk beberapa saat, sampai kemudian sang pangcu memanggil:

“Kiat Ji”

“Ada apa suhu”

“Kali ini aku ingin menugaskanmu untuk urusan yang menurutku sangat penting. Penting bagi suhumu ini”

“Apa yang harus tecu lakukan untuk suhu, silahkan suhu ungkapkan. Sedapat mungkin tecu akan melakukannya”

Beberapa saat sang Pangcu terdiam. Cukup lama bahkan dia berdiam diri, dan sepertinya sedang memikirkan sesuatu yang sangat berat untuk diungkapkan keluar. Tapi tiba-tiba dia seperti menyadari sesuatu:

“Ach, Kiat Ji, lebih baik kita bicara di tempat lain. Toch itu bukan urusan Pang ini, tetapi lebih merupakan urusan keluarga. Ayolah, kita bicara di tempat lain saja. Engkau ikuti aku”

“Baik suhu”

Thio Su Kiat kemudian mengikuti gurunya keluar dari ruang pertemuan, ruangan yang biasanya digunakan Gurunya, untuk memberikan perintah, berdiskusi strategi Pang mereka ataupun menemui tokoh-tokoh utama Thian Liong Pang. Gurunya nampak berkelabat cepat tetapi masih bisa diikutinya, dan dari jalanan, bisa diketahuinya jika gurunya menuju ke tempat rahasia, dimana selama ini gurunya berdiam.

Mereka melalui beberapa tempat yang agak tersembunyi dan bahkan terkesan rahasia dan memang tidak dijaga atau tidak terjaga, dan kemudian tiba di bawah sebuah pohon yang sangat besar. Dan di belakang pohon besar yang melindungi sebuah pintu masuk Gua, terdapatlah tempat suhunya biasa mengaso ataupun melatih diri.

Selama ini dia sudah beberapa kali datang ketempat ini, bahkan beberapa kali melatih dirinya di bawah bimbingan gurunya di tempat itu. Bahkan bila subonya berada di tempat itu, maka dia juga berlatih ditempat itu bersama keduanya.

Tidak berapa lama kemudian, mereka memasuki gua yang pintunya sulit ditemukan karena terhalang oleh pohon besar itu. Suasana dan keadaan dalam Gua sungguh tidak bedanya dengan sebuah ruangan pribadi lainnya, lengkap dengan perabotannya. Bahkan di beberapa tempat nampak beberapa buku bacaan yang cukup tebal, menandakan bahwa sang Pangcu ini sebenarnya memang adalah seorang yang terpelajar.

Dan disudut lain, terdapat sebuah tempat khusus untuk meditasi, tempat yang biasanya digunakan Pangcu ini untuk melalukan siulian.

Tempat yang sekaligus juga digunakan untuk melatih dan memperdalam kekuatan sinkangnya. Apalagi, karena keadaan dan suasana dalam Gua itu, entah dengan cara apa, justru terasa sangat dingin.

Su Kiat sendiri tidak pernah memahami, mengapa Goa tersebut terasa sangat dingin, apakah yang menyebabkannya, dia sendiripun tidak pernah tahu. Apalagi karena gurunya memang tidak pernah memberitahunya. Keadaan tersebut menurut gurunya sangat tepat untuk melatih kekuatan sinkang.

“Kiat Ji, duduklah”

“Baik suhu”

“Kiat Ji, sudah berapa lama engkau mengikutiku dan ibu gurumu, engkau tahu sendiri. Bahkan, engkau tahu banyak hal, yang justru dengan sengaja aku dan kami rahasiakan dari banyak orang. Aku memanggilmu kali ini, karena firasatku agak kurang enak”

“Apa maksudmu suhu”?

“Kiat Ji, tiba-tiba suhumu sadar, bahwa keadaan dan keruntuhan Pang ini ada didepan mata”

“Tapi suhu, bukankah masih bisa kita upayakan jalan lain”?

“Kiat Ji, engkaupun tahu kalau suhumu sendiri tidak memiliki ambisi sebesar itu. Tapi, sudah tentu, tidak ada jalan mundur dan menghianati rekan-rekan di benak gurumu ini. Meskipun demikian, dampaknya tidaklah boleh merembet ke keturunan gurumu ini”

“Benar suhu, pikiran itu sungguh bijaksana”

“Akupun tahu, bila sejak lama engkau bahkan tidak begitu setuju dengan pendirian dan ambisi Pang ini. Engkau bahkan lebih dekat pendirianmu dengan leluhur gurumu ketimbang gurumu sendiri”

“Ach, suhu bukan maksud tecu demikian”

“Kiat Ji, bagiku engkau sudah tidak lebih dari anak sendiri. Tidaklah mungkin aku tidak mengenalmu luar dan dalam. Bahkan pengenalanku atas dirimu, masih lebih dalam dibandingkan kedua anakku itu”

“Budi suhu dan sunio sungguh sedalam lautan”

“Maksudku tidak melibatkanmu dalam semua urusan luar Pang dan menjadi pengawal pribadiku, dalam maksud agar engkau tidak telribat dalam kekisruhan ini kelak”

“Tecu mengerti maksud suhu sejak lama” Su Kiat terharu, meskipun dia tahu dan mengerti hal ini sejak lama.

Nampak sang Pangcu kembali memandangi muridnya dengan sangat haru. Bukan apa-apa, anak yang dipungutnya sejak berusia 5 tahun ini, memang sangat dekat dan sangat disayanginya. Terlebih karena sebab tertentu, kedua anaknya justru kemudian diangkat murid oleh tokoh-tokoh hebat tertentu dan lebih banyak berada jauh darinya.

Bahkan, terkadang dia merasa, dipisahkannya dia dengan anak-anaknya seperti oleh sebuah unsur kesengajaan. Tetapi, entahlah. Apalagi, dengan aturan Pang yang nyelimet dan ambisius, urusan keluarga disisihkan, dan struktur hubungan harus sesuai dengan aturan, tanpa mengenal hubungan keluarga. Itulah sebabnya, dia memutuskan muridnya menjadi pengawal pribadinya dan tidak

dilibatkan dalam urusan dan aturan Pang. Dan putusannya sejak dulu itu, baru sekarang dirasakannya manfaatnya.

Saat-saat ketika firasatnya menyatakan, bahwa sesuatu yang buruk sangat mungkin akan terjadi. Dia sadar betul, bahwa keluarga leluhurnya yang digdaya itu tidak akan tinggal diam, bahkan diapun sadar, akan banyak tokoh hebat yang akan terlibat. Dia telah membiarkan dirinya main-main dengan api, dan sangat mungkin api itu akan membakar. Padahal, memang api itu, disengaja untuk dikobarkan untuk keuntungan beberapa orang tertentu. Sang pangcu nampak menarik nafas panjang, dan kemudian terdengar dia kembali berkata:

“Kiat Ji, waktu pertempuran para jago gaib sudah kurang dari 2 tahun lagi. Apa yang disiapkan tokoh-tokoh tertentu nampaknya sulit diatasi, dan Pang ini sangat mungkin dikorbankan. Tapi, aku tidak ingin engkau sebagai pewarisku, dan kedua anakku menjadi korban dari pertarungan mengerikan itu. Karena itu, aku ingin menyampaikan banyak hal penting untuk engkau kerjakan malam ini. Hal-hal yang harus engkau kerjakan, yang utama saat ini adalah engkau membawa pesanku kepada anakku di markas Kwi Cu itu, dan beritahu dia untuk tidak membunuh lawan. Dan setelah menyampaikan pesanku itu, engkau membayangi adiknya dan membantunya secara diam-diam. Hal lain kita bicarakan malam hari nanti, dan setelah itu, engkau harus menyempurnakan dirimu dan berdiam disini selama semalaman, dan hari ketiga engkau harus segera turun gunung melakukan tugasmu itu. Pahamkah engkau”?

“Tecu paham suhu”

Episode 7: Majikan Kerudung Putih

Sampai memasuki kota Ye Ceng, yang mengarah ke Kwi Cu, rombongan pendekar sudah terbagi-bagi dalam beberapa kelompok. Meskipun komunikasi cepat antar kelompok itu dapat dilakukan dengan bantuan anak murid Kaypang yang memang tersebar di hampir semua kota di Tionggoan.

Tetapi, setelah melakukan pengejaran sampai ke kota Ye Ceng dan membasmi 3 markas Thian Liong Pang di 3 kota yang mereka lewati, akhir-akhir ini semangat kelompok pendekar mulai menurun. Terutama karena selama 2 minggu terakhir tiada terdengar kabar pasti, dimana markas utama Thian Liong Pang.

Kabar yang ada semua tidak mengandung kepastian, dan juga kemana para tokoh yang hilang bersama Kiang Hong beberapa tahun berselang, masih tetap sangat kabur dan tidak ada kejelasan.

Malam itu, Sian Eng Cu dan Pengemis Tawa Gila sedang melakukan pertemuan dengan beberapa tokoh pendekar. Termasuk dalamnya Beng San Siang Eng, dan juga nampak si Maling Sakti, tokoh yang membantu pengintaian lawan dan memberi tahu letak 3 markas Thian Liong Pang yang sudah dibasmi kawanan pendekar.

Sian Eng Cu memimpin kelompok pendekar gabungan Kun Lun Pay, Bu Tong Pay, dan kawanan pendekar lain dari Cin ling Pay. Sementara Pengemis Tawa Gila memimpin kawanan murid Kay Pang, dan kelompok lainnya dipimpin oleh Wakil Ciangbunjin Thian San Pay dan Tiam Jong Pay. Sementara Beng San Siang Eng bersama Yo Cat memimpin kawanan pendekar yang biasa berkelana menjadi satu kelompok tersendiri.

Sedangkan Ciangbunjin Siauw Lim Sie, Ciangbunjin Bu Tong Pay dan Kun Lun Pay sudah kembali ke gunung masing-masing. Mereka menunggu berita untuk bergabung apabila markas Thian Liong Pang sudah bisa ditemukan, sambil mengurus urusan keseharian di Partai masing-masing.

Di salah satu penginapan terbesar di kota Ye Ceng, nampak sedang berbicara dengan serius lima orang, yakni Sian Eng Cu, Pengemis Tawa Gila, Beng San Siang Eng dan Maling Sakti. Seperti biasanya, mereka menganalisis kondisi terakhir dari pengejaran dan pelacakan yang dilakukan kawanan pendekar dengan pencarian jejak dipercayakan kepada anak murid Kay Pang:

“Temuanku menunjuk ke arah Kwi Cu, kota yang sangat mungkin menjadi markas besar kawanan Thian Liong Pang. Tetapi, informasi ini masih sangat dini untuk diyakini” Maling Sakti memulai pembicaraan diantara kelima tokoh pendekar itu.

“Memang sangat aneh. Bila benar mereka di Kwi Cu, maka termasuk hebat mereka bisa menyembunyikan jejak. Terlebih, karena memang arah larinya tokoh Thian Liong Pang memang kearah Kwi Cu. Tetapi, menjelang kota Ye Ceng ini, tiba-tiba kita kehilangan jejak. Tokoh-tokoh utama mereka tiba-tiba menghilang. Bahkan para pendekar muda kita, juga ikut kehilangan jejak mereka sampai sekarang” Sian Eng Cu bergumam.

“Sangat mungkin memang ini adalah usaha mereka menghilangkan jejak, dengan mengaburkan pandangan kita untuk tidak ke Kwi Cu” Pengemis Tawa Gila menyela.

“Benar, hal itu sangat mungkin” Sian Eng Cu kembali berkata.

“Tapi, bisa juga terjadi, mereka sengaja menggiring kita ke Kwi Cu, untuk mengaburkan arah sebenarnya dari markas utama mereka” Pouw Kui Siang ikut angkat bicara.

“Hal itu juga sangat mungkin, dan menjadi hal yang perlu segera kita teliti. Karena moral para pendekar semakin menyusut setelah kita tidak menemui titik terang dalam 2-3 minggu terakhir ini” Sian Eng Cu nampak berpikir keras, sementara Pengemis Tawa Gila juga tidak memperdengarkan tawa khasnya.

Maklum, keadaan mereka memang semakin ruwet. Bila Thian Liong Pang diberi waktu cukup untuk mengkonsolidasikan kekuatan mereka, maka gelombang serbuan mereka bisa semakin berbahaya kelak.

Tetapi sementara itu, di luar gedung penginapan tempat mereka bercakap-cakap, nampak sesosok bayangan berkelabat susah diikuti pandangan mata. Dan, nampaknya arahnya sangat pasti, mendekati ruangan dimana para pemimpin pendekar itu sedang bercakap-cakap.

Dan ketika semakin mendekat, di dalam ruangan, orang pertama yang menyadari kehadirannya yang nampak tidak disembunyikan adalah Sian Eng Cu dan kemudian Pengemis Tawa Gila. Dengan cepat Sian Eng Cu memberi isyarat untuk tutup mulut kepada semua kawan-kawannya, dan kemudian berkata:

“Saudara yang di luar, bila memang berkepentingan silahkan masuk. Jika tidak, maafkan bila kami mengejar keluar”

Untuk beberapa lama sepi, tetapi semua yang dalam ruangan menjadi berdebar-debar. Apalagi karena semua sudah berkonsentrasi penuh dan sadar, bahwa pendatang yang berada di luar belum melakukan gerakan apa-apa. Tetapi setelah senyap beberapa saat,

tiba-tiba terdengar sebuah suara yang sangat jelas dan didorong oleh kekuatan yang luar biasa. Sian Eng Cu sendiri sampai tercekat, karena maklum bahwa orang yang datang tidak berada di bawah kemampuannya.

“Cuwi enghiong, maafkan bila kedatanganku mengganggu. Tapi ada hal penting yang perlu kusampaikan. Maafkan keadaanku, dengan terpaksa harus dalam keadaan sulit dikenal, meskipun Tong Locianpwe bisa menjamin keberadaanku” Dan begitu suara tersebut selesai, dalam ruangan tersebut sudah bertambah dengan seorang tokoh berpakaian serba hitam dan bahkan topeng kain hitam menutupi wajahnya.

Kedatangannya sungguh luar biasa, dan dari cara datangnya mudah ditebak, tokoh ini adalah seorang tokoh luar biasa. Dan seperti ucapannya, dia memang dengan cepat bisa dikenali keberadaannya dan statusnya oleh Sian Eng Cu.

“Hahahaha, kita kedatangan seorang tokoh Lembah Pualam Hijau, masakan kami masih harus meragukan itikad baik saudara”? Sian Eng Cu menyambut dengan sangat gembira. Karena sudah beberapa kali dia bersentuhan dengan tokoh misterius ini, baik ketika menyelamatkan Ceng Liong, maupun ketika bertarung bersama di Siau Yau Kok.

“Maafkan aku masih belum bisa melepaskan topeng ini, karena memiliki kesulitanku sendiri. Pengemis Tawa Gila, Beng San Siang Eng dan Maling Sakti, mohon dimengerti keadaanku” si Topeng Hitam yang beberapa kali memanggil Ceng Liong dengan panggilan Liong Jie ini, sudah dengan mudah diterima setelah Sian Eng Cu menyebutnya tokoh dari Pualam Hijau.

Sian Eng Cu sendiri 4-5 bagian seperti mengenal tokoh ini, tetapi tidak berani memastikannya. Dia mengenal semua anggota keluarga Lembah Pualam Hijau sebagai murid dari suhunya Wie Tiong Lan yang mempunyai hubungan dekat dengan lembah terkenal itu.

Setahunya, diangkatan Topeng Hitam yang diketahuinya masih lebih muda darinya, hanya ada Kiang Hong dan Kiang Liong. Dia bingung, siapa gerangan Topeng Hitam yang kesaktiannya dirasakannya malah masih diatasnya? Jika Kiang Hong, masakan bertopeng dan kemana pula istrinya dan Pedang Pualam Hijau? Jika Kiang Liong yang diketahuinya menjadi gila beberapa tahun sebelumnya, mengapa pula bertopeng? Hal yang membingungkan.

Tapi, Sian Eng Cu nyaris yakin, kalau tokoh ini adalah Kiang Liong yang nampaknya memiliki kesulitan sendiri untuk tampil didepan umum saat ini.

“Baiklah, apakah ada sesuatu yang penting yang ingin saudara sampaikan”? Sian Eng Cu bertanya

“Benar Tong Locianpwe. Dalam pengamatan kami, nampaknya kunci dari upaya mengetahui keberadaan markas Thian Liong Pang berada di Kwi Cu”

“Kami, apa maksud saudara dengan kami”?

“Karena kesulitan untuk menyelesaikan masalah ini, beberapa tokoh Lembah Kami terpaksa bekerja secara tertutup. Tapi, aku diberitahu, bahwa Sian Eng Cu dan pengemis Tawa Gila, pasti tahu dan bisa menjamin bahwa apa yang kukatakan benar”

Kembali debar jantung Sian Eng Cu berdetak lebih cepat, meski hanya sesaat. Tiba-tiba dia sadar, bahwa tokoh seangkatannya yang malah lebih lihay darinya, yakni Kiang Cun Le dan adik perempuannya Kiang In Hong atau si Pertapa Sakti Dari Timur pasti ikut turun tangan.

Dia memiliki hubungan baik dengan kedua orang itu, bahkan “rasa” yang lain dengan si Pertapa Sakti yang membuatnya membujang seumur hidupnya. Mungkinkah dia meragukan orang-orang yang integritasnya sangat dikenalnya? Suatu hal yang mustahil tentu saja, dan artinya sebetulnya kekuatan mereka akan sangat terbantu dengan turun tangannya kedua tokoh puncak dari Lembah Pualam Hijau itu.

Hal dan urusan lain, apalagi urusan pribadi sudah tentu bisa diabaikan dan bukan sesuatu yang penting untuk diurusi dewasa ini.

Hal yang sama juga melanda Pengemis Tawa Gila. Dengan cepat, sebagai tokoh kawakan Kay Pang dia bisa menduga, bahwa dari Lembah Pualam Hijau nampaknya telah turun tokoh-tokoh utamanya. Dia bersyukur, karena rombongan Pangcunya, tokoh utama Kay Pang juga sudah turun tangan.

Bahkan sedang berada di markas Kay Pang kota Ye Ceng bersama dengan Cap It Ho Han. Dan sangat tidak mungkin untuk tidak meyakini hasil penyelidikan tokoh-tokoh sehaluan yang sudah sangat lama bekerjasama menghadapi kemelut dunia persilatan ini. Bahkan sejak jaman para guru besar yang mereka banggakan masing-masing. Karena itu, Pengemis Tawa Gila nampak mengangguk-anggukkan kepala atas informasi dari si Topeng Hitam tersebut. Yang bila benar, maka sangat penting bagi pergerakan mereka.

“Hm, adakah indikasi atau petunjuk yang kalian temukan diseputar kota Kwi Cu tersebut”? Pengemis Tawa Gila bertanya

“Beberapa tokoh dengan kepandaian luar biasa telah datang dan pergi dalam sekejap di Kwi Cu. Bahkan, 2 hari sebelumnya, seorang tokoh yang juga sangat luar biasa terlihat mendatangi Kwi Cu dan tidak pernah lagi kelihatan keluar dari kota itu setelahnya”

“Seberapa hebat kira-kira mereka yang datang dan pergi itu”? Sian Eng Cu bertanya penasaran

“Yang datang mendahului dan pergi lagi, masih bisa beberapa kuimbangi. Tapi, menurut salah seorang tokoh kami, yang datang terakhir, bahkan lebih hebat lagi. Mungkin bisa menjejeri tokoh utama kami tersebut, masih sedikit mengatasiku”

“Sebegitu hebatnya”? Sian Eng Cu dan Pengemis Tawa Gila sama terperanjat dengan informasi tersebut.

“Kami menduga, begitu banyak tokoh luar biasa dan terpendam yang bekerja bagi Thian Liong Pang. Bahkan, pekerjaan Thian Liong Pang nampak bukan sekedar mengobrak-abrik dunia persilatan, seperti ada agenda tersembunyi bagi mereka. Cuma, kami belum bisa menjajakinya”

Kali ini Sian Eng Cu dan Pengemis Tawa Gila, terlebih Beng San Siang Eng dan Maling Sakti menjadi lebih terperanjat lagi. Sebab, bahkan tokoh utama Lembah Pualam Hijau sudah bisa menebak kehebatan lawan, dan mengakui kehebatan mereka, sungguh susah membayangkan, tokoh macam mana lagi yang akan tampil dari Thian Liong Pang.

Meskipun nampaknya, Lembah Pualam Hijau sudah mengerahkan hingga ke tokoh-tokoh utamanya untuk membantu, tetapi lawan tetap nampak sangat mengerikan. Dan tengah mereka termenung dan tenggelam dalam perenungan masing-masing, tiba-tiba berkelabat sesosok bayangan putih, sedikit mendekati jendela dan melayanglah sebuah piauw berbentuk ular kecil kedalam dan menancap di meja.

Di ujungnya nampak sehelai kertas, seperti sebuah surat. Tetapi tidak diperhatikan oleh keenam orang itu yang sudah dengan cepat melesat keluar jendela melakukan pengejaran. Bagaimana mungkin mencermati kertas itu? Karena jelas lebih penting mengejar si pelempar piauw yang nampaknya memangs engaja tidak mengarah ke tubuh manusia.

Sementara itu si Topeng Hitam sudah mengeluarkan suitan khas, sambil ikut melesat kedepan menjejeri Sian Eng Cu. Tetapi, keenam orang itu, hanya sempat melihat sosok bayangan berwarna putih menghilang dikejauhan dengan kecepatan yang susah mereka ikuti. Dan tidak berapa lama kemudian, disekitar mereka juga bertambah 6 orang lain.

Dan keenam orang itu adalah Barisan 6 Pedang Lembah Pualam Hijau yang nampak juga sangat menghormati si Topeng Hitam. Hal yang semakin menambah keyakinan para tokoh akan keaslian si Topeng Hitam dari lembah Pualam Hijau. Karena, Barisan 6 Pedang hanya bisa menerima perintah dari Pemilik Lembah atau mereka yang memakai marga “Kiang” dari Lembah itu. Karena itu, bisa dipastikan si Topeng Hitam adalah salah seorang keturunan Lembah Pualam Hijau bermarga Kiang.

Terdengar si Topeng Hitam bersuara:

“Selama Duta Agung bekerja, harap kalian Barisan 6 Pedang menjaga semua sisi dari ruangan tempat kami bercakap. Jangan biarkan siapapun mendekat, terutama mereka yang gerak-geriknya mencurigakan”

“Baik, kami siap” dan ke-6 orang itupun segera menyebar untuk menjaga setiap pelosok penginapan, terutama mengawasi gedung atau kamar tempat pertemuan itu dilakukan. Secara kebetulan, Barisan 6 Pedang memang dititipkan Ceng Liong untuk membantu barisan para pendekar, dan mereka bekerja di bawah perintah Sian Eng Cu.

Tetapi, tentu si Topeng Hitam yang identitasnya diketahui ke 6 orang itu, akan sangat siap menerima perintah, meski bukan perintah bertugas jauh dari orang atau tokoh lain Lembah yang bermarga Kiang.

Setelah Barisan 6 Pedang pergi, terdengar Sian Eng Cu berkata:

“Ginkang si baju putih nampaknya sangat luar biasa. Setahu lohu, hanya Liong-i-Sinni yang akan sanggup mengejarnya. Nampaknya dengan sumoyku mereka berimbang”

“Benar Tong Locianpwe, nampaknya hanya Liong-i-Sinni yang akan sanggup mengejarnya. Entahkah kemampuannya sama hebat dengan ginkangnya”? si Topeng Hitam bersuara.

“Kemampuannya menyusup kemari dan pergi dengan bebas nampaknya menggambarkan bukan hanya kehebatan ginkangnya, tapi juga nyali dan ilmunya. Lohu yakin, ilmunya tidak jauh beda dengan ginkangnya” Pengemis Tawa Gila berujar.

“Bila dibandingkan dengan si jubah hitam di Kwi Cu, maka ginkang si jubah putih ini malah masih melebihinya” Topeng Hitam berkata.

“Hm, mungkin kita bisa memeriksa sesuatu yang disambitkan tokoh itu dalam kamar” Li Bin Ham menimpali, yang disetujui meeka semua. Dan bergegaslah mereka memasuki ruangan yang tadi sempat mereka tinggalkan.

Tapi begitu melihat senjata rahasia yang terbuat berbentuk ular tetapi setipis dan seringan jarum, semua orang merasa terperanjat. Apalagi, karena ketika memasuki jendela, senjata tersebut masih belum mengeluarkan suara. Membuat mereka terperanjat dengan cara melempar dan tenaga lemparan senjata rahasia tersebut:

“Bagaimana menurut pandanganmu Sian Eng Cu”? Pengemis Tawa Gila tertegun menyaksikan senjata aneh tersebut. Senjata aneh yang dilemparkan atau dilontarkan dengan kekuatan yang tentu tidaklah biasa.

Sian Eng Cu nampak mendekati jarum tersebut, tetapi ragu-ragu untuk mencabutnya dari meja. Tetapi terdengar si Topeng Hitam bersuara:

“Jika tidak salah, jarum ular itu tidak beracun”

“Apakah engkau yakin”? Pengemis Tawa Gila berpaling memandang si topeng Hitam.

“Menurut Ayahku, senjata seperti ini dimainkan oleh seorang tokoh wanita sakti dari India. Tapi tokoh ini bukan tokoh beracun” setelah berkata demikian, si Topeng Hitam menepuk pinggiran meja dan menggetarkan tenaganya. Serentak dengan itu, jarum tersebut melesak mundur dari tancapannya dan dengan tenangnya disambut oleh si Topeng Hitam. Dilepaskannya surat dari senjata jarum ular itu dan diserahkan kepada Sian Eng Cu yang menerimanya dengan

tenang. Tapi Pengemis Tawa Gila yang memperhatikan meja bekas tancapan jarum itu tercengang:

“Luar biasa. Tokoh tadi nampaknya tidak di bawah para pendekar muda kita. Lihatlah, bekas tusukan searah, dan benar-benari menunjukkan betapa matang dan mahirnya tanaga dalamnya. Mungkin bila dia mau, salah seorang dari kita bisa ditancapi jarum itu”

Semua orang akhirnya mengerubuti meja itu. Dan benar, bekas tancapannya sangat halus dan menusuk kedalam tanpa miring sedikitpun, sementara jarum tipi situ sendiri tidak bengkok. Artinya, senjata rahasia itu, dilemparkan dengan kekuatan sinkang yang mampu membelokkan arah jarum dari menyamping kearah sasaran dan kemudian berbelok menusuk ke bawah.

Menancap dengan sudut 90%, bukannya menancap dengan menyamping. Kemampuan seperti ini, jelas masih belum sanggup dilakukan baik oleh Sian Eng Cu dan pengemis Tawa Gila. Bahkan nampak si Topeng Hitampun berpikir keras dan berkata:

“Betul, bahkan akupun masih sangsi apakah sanggup melakukan hal seperti itu dengan lebih baik”

“Kematangan penggunaan tenaga semacam ini, baru bisa dilakukan pada tataran para pendekar muda kita. Bahkan mungkin, baru Kiang Ceng Liong yang bisa melakukannya atau juga mungkin Mei Lan. Tokoh ini, bahkan lebih sangar dan berbahaya dibandingkan dengan Hu Hoat Thian Liong Pang” Sian Eng Cu melanjutkan analisis kehebatan tokoh tadi.

Kembali semua tercekat. Luar biasa. Setelah tokoh jubah hitam di Kwi Cu, kembali muncul tokoh lain dengan kehebatan tidak main-main,

bahkan baru saja berada didekat mereka tanpa mereka sadari keberadaannya. Dan kemudian malah bisa berlalu tanpa gangguan dan tanpa bisa mereka mampu mencegahnya.

Sementara itu, mengatasi ketegangan hatinya, Sian Eng Cu membuka surat yang diberikan si Topeng Hitam, sementara Senjata Jarumnya sendiri dikantongi si Topeng Hitam. Tidak ada seorangpun yang mempertanyakan atau bahkan memprotesnya. Dan tidak lama kemudian terdengar suara Sian Eng Cu membacakan surat yang sudah dipegangnya dengan lantang:

“Thian Liong Pang tidak terlawan. Kalian akan membuktikannya” Majikan Kerudung Putih

“Jelas-jelas ini sebuah tantangan. Dan kita harus cepat membalas dan menjawab tantangan ini” terdengar Li Bin Ham bergumam penasaran setelah Sian Eng Cu membacakan surat pendek tersebut.

“Seandainya kelompok pendekar lain mendengar hal ini, maka moral bertarung mereka bisa sangat merosot” terdengar Pouw Kui Siang ikut bergumam mendukung pendapat saudaranya.

“Tetapi kita tidak boleh gegabah bertindak. Ditinjau dari keadaan saat ini, nampaknya mereka kembali berada ditempat gelap, sementara kita berterang” Pengemis Tawa Gila mengingatkan.

“Tepat, meskipun kita diuntungkan dengan kekuatan lain yang bisa sewaktu-waktu dikerahkan. Selain kekuatan Kay Pang yang sekarang banyak terpendam dimana-mana” Sian Eng Cu menguatkan keyakinan atas diri sendiri. Tetapi tetap tidak mengurangi kepenasaran semua orang.

“Justru karena itu, menurut pendapatku, lebih cepat kita menuju Kwi Cu lebih baik. Apapun pilihan kita, menggebrak langsung ke Kwi Cu jauh lebih baik daripada mereka melakukan konsolidasi kekuatan ulang” Topeng Hitam akhirnya bersuara.

“Benar, tetapi tanpa kepastian tempat mana yang kita tuju dan sasar, tidaklah mungkin kita mengundang para tetua perguruan dan partay. Padahal, kekuatan kita saat ini, sudah banyak berkurang dibandingkan beberapa waktu yang lalu” Sian Eng Cu mengemukakan pendapatnya.

“Dan rasanya tidaklah mungkin kita berjudi dengan mengundang para tetua partay tanpa ada kepastian dimana markas yang hendak kita serbu itu” Pengemis Tawa Gila menguatkan pendapat Sian Eng Cu.

Saat itu, tiba-tiba Maling Sakti yang biasanya tidak banyak bicara karena berada di hadapan tokoh-tokoh utama akhirnya membuka suara:

“Jika diperkenankan, biarlah aku akan mendahului ke Kwi Cu untuk kembali melakukan penyelidikan lebih teliti”

Suara Maling Sakti membuat orang-orang menimbang-nimbang. Tetapi, tidak ada yang meragukan kemampuan Maling Sakti melakukan pengintaian dan pencurian. Karena itu, rata-rata mereka mengambil keputusan mendukung. Dan memang, semua nampak mengangguk-angguk tanpa bicara, sampai kemudian terdengar Sian Eng Cu berkata:

“Baik, usulmu baik sekali Maling Sakti. Biarlah Pengemis Tawa Gila mengatur pengawasan dan penjagaanmu melalui orang-orang Kay Pang”

“Benar sekali, tetapi berjaga atas banyak hal, biarlah beberapa hari kedepan kitapun segera menuju Kwi Cu, meski belum semua. Biarlah anak-anak muda itu, juga kita minta mengarah ke Kwi Cu” Pengemis Tawa Gila menambahkan yang dianggukkan oleh orang-orang lain.

Majikan Kerudung Putih (2)

Perjalanan dari Kota Ye Ceng ke Kota Kwi Cu memakan waktu hampir setengah harian lebih dengan menggunakan atau mengendarai kuda. Atau, hampir 1 hari jika ditempuh dengan berjalan kaki. Dengan berjalan terus kearah utara dan melalui sebuah perbukitan dan hutan, maka akan dicapai kota Kwi Cu.

Jalur antara kedua kota relatif sudah cukup ramai dan banyak ditempuh oleh kaum pedagang. Juga sering digunakan oleh mereka yang berkepentingan atas kedua kota tersebut, termasuk oleh pejabat kerajaan ataupun petugas militer. Karena itu, bisa dimaklumi jika kota Kwi CU berkembang cukup baik dan juga tingkat kemakmurannya cukup merata.

Tetapi, belum lagi perjalanan ke Kwi Cu oleh Sian Eng Cu dan rombongannya diberitahukan ke semua rombongan, pagi-pagi sudah datang berita mengejutkan:

“Lapor Hu Pangcu dan Tayhiap, di beberapa tempat kita mengalami penyerangan. Pelakunya adalah kelompok yang sama, setelah melukai kawanan pendekar, mereka terus melarikan diri kearah selatan. Semua penyerang itu berpakaian putih”

“Apakah ada kawan kita yang binasa oleh serangan itu”? Sian Eng Cu bertanya

“Tidak ada Tayhiap, tetapi semua dilukai dengan senjata rahasia. Para penyerang nampaknya memiliki ginkang tinggi, dengan cepat menghilang dan rata-rata mengambil arah ke selatan” lapor seorang pengemis anggota Kay Pang

“Ada berapa kawan kita yang terluka”? Sian Eng Cu kembali bertanya

“Ada 7 orang Tayhiap, dari 4 kasus penyerangan di empat tempat berbeda”

“Hm, hal ini tidak bisa dibiarkan” Pengemis Tawa Gila bergumam marah

“Benar, dan pastinya bukan sesuatu yang kebetulan. Keinginan lohu ke Kwi Cu justru semakin kuat, meskipun kawanan pengganggu itu nampaknya terus berusaha mengalihkan perhatian kita” Sian Eng Cu menegaskan.

“Benar Tong Locianpwe, kita akan mendapatkan gambaran jelas memasuki Kwi Cu nantinya” Topeng Hitam menyela, entah sejak kapan sudah berada disekitar ruangan tersebut.

“Tapi, bagaimanapun kasus penyerangan ini perlu diperjelas. Maksud penyerangan dan siapa dibalik penyerangan yang nampaknya meski dari Thian Liong Pang tetapi dengan kekuatan lain yang sangat hebat” Pengemis Tawa Gila menyela.

“Benar Hu Pangcu, karena penyerangan ini adalah tantangan terbuka. Mungkin kita harus menunda sehari dua hari ke Kwi Cu sambil mengupayakan penyelidikan tuntas atas penyerang berbaju putih ini. Jika memungkinkan sekaligus menangkap mereka serta mencari tahu

apa motif mereka, meskipun hampir bisa dipastikan mereka adalah orang-orang dari Thian Liong Pang belaka” Sian Eng Cu berkata dengan alis berkerut. Nampak kalau dia sendiri cukup terguncang dengan kejadian yang sama sekali tidak terduga dan bahkan belum terungkapkan itu.

“Nampaknya jika demikian, kita membutuhkan penyelidikan kawan-kawan Kay Pang dan jika perlu kitapun terjun langsung mengingat kemampuan penyerang yang cukup tinggi” Topeng Hitam menyarankan.

“Benar, lebih baik lagi seandainya anak-anak muda itu berada disini. Tugas seperti ini lebih baik dibebankan kepada mereka. Tetapi, dengan kekuatan yang adapun, kita harus menyelesaikan urusan disini” Ucapan Sian Eng Cu tertahan, seperti menemukan sesuatu yang sulit diucapkannya. Kemudian ia memandang si Topeng Hitam sejenak dan kemudian menambahkan:

“Jika saudara tidak keberatan, tugas melacak penyerang berpakaian putih ini akan kami serahkan kepada saudara”

Topeng Hitam sadar, bahwa SIan Eng Cu sedang memikirkan sesuatu. Tetapi susah ditebaknya. Tetapi untuk urusan melacak penyerang berbaju putih, dia memang sudah mempersiapkan dirinya untuk melakukan itu. Karena itu, hanya anggukan yang dilakukannya untuk menyanggupi penugasan itu, meski dengan tanda Tanya atas apa yang ditemukan Sian Eng Cu tadi.

“Baik, jika demikian, perkenankan lohu mempersiapkan penugasan bagi anak buah Kay Pang. Kita butuh beberapa hari sebelum melakukan perjalanan memasuki Kwi Cu” Hu Pangcu Kay Pang

kemudian berjalan meninggalkan tempat itu dan meninggalkan Sian Eng Cu berdua dengan Topeng Hitam.

Beberapa saat kemudian hening, sampai kemudian si Topeng Hitam membuka keheningan itu dengan ucapan yang menggambarkan kegalauan hati kedua orang itu:

“Jika tidak salah, Tong Locianpwee sedang memikirkan sesuatu yang mungkin terasa sangat mengganjal dan sangat penting”?

Nampak Sian Eng Cu sedikit terpana, tetapi dengan cepat menguasai diri dan perasaannya. Betapapun kematangan dan pengalamannya di dunia Kang Ouw telah menempanya menjadi tidak mudah menunjukkan rasa marah, girang ataupun perasaan lainnya lewat ekspresi wajah. Setelah menarik nafas beberapa saat dia kemudian berujar:

“Kejadian-kejadian beberapa tahun terakhir ini, sungguh sangat sulit dicerna, meskipun sedikit demi sedikit mulai terkuak dan bahkan terbuka dengan sendirinya”

“Maksud Tong locianpwee”?

“Seperti misalnya jati dirimu sesungguhnya. Sebagian besar bisa lohu tebak, tetapi lohu sadar, ada kesulitanmu sendiri untuk saat ini. Apalagi dengan keterlibatan Kiang Cun Le dan Kiang In Hong secara dia-diam, membuat tiada alasan bagi lohu mencurigaimu”

“Tecu paham, dan sangat mengerti dengan kebijaksanaan dan pengertian locianpwee. Bahkan juga dengan ketajaman mata dan perasaan locianpwee”

“Jangan mengumpakku Topeng Hitam, setidaknya begitulah saat ini lohu memangilmu. Hanya, cara keluarga kalian dengan hanya membiarkan seorang Kiang Ceng Liong bekerja secara berterang dan tokoh utama lainnya dengan bersembunyi, membuat lohu kebingungan. Benar-benar sangat membingungkan, dan sulit kutebak arahnya”, Sian Eng Cu berkata dengan tetap memandang kearah Topeng Hitam.

“Lociapnwee, suatu saat Ayah sendiri yang akan meminta maaf kepada locianpwee, atau bahkan Duta Agung sendiri yang akan melakukannya. Saat ini, keluarga kami memiliki kesulitan tersendiri untuk mengungkapkannya, karena bahkan bagi kami sendiri masalah utamanya masih belum terang benar”

“Topeng Hitam, apakah ini berkaitan dengan kenyataan bahwa salah satu pukulan andalan Lembah Pualam Hijau muncul di Siauw Lim Sie pada beberapa tahun berselang saat Thian Liong Pang baru mulai unjuk diri”? Sian Eng Cu berdiam diri sebentar, berjalan mondar-mandir dan kemudian melanjutkan:

“Dan kekagetan lohu melihat betapa mahirnya si penyerang berkerudung dan berjubah putih bergerak dengan dasar gerakan yang sangat kental dari Lembah Pualam Hijau”? Ucapan Sian Eng Cu sebetulnya cukup telak, tetapi Topeng Hitam nampak tidak terpengaruh dan tidak sangat kaget. Bahkan dengan tenang dia berkata:

“Locianpwee, sebagaimana sudah kukatakan tadi, ayah atau bahkan Duta Agung pada saatnya akan meminta maaf kepada locianpwee atau bahkan dunia persilatan. Hanya, untuk saat ini, karena masalahnya belum terang benar, makanya hanya Ceng Liong yang bekerja

berterang. Bahkan kami belum menemukan jejak Kiang Hong dan istrinya, Duta Agung Lembah kami sebelumnya”.

“Secara tidak langsung, nampaknya misteri ini melibatkan Lembah Pualam Hijau. Lohu mengerti mengapa sahabat-sahabatku Kiang Cun Le dan Kiang In Hong memilih langkah misterius dalam menangani masalah ini. Topeng Hitam, percakapan ini tidak berarti lohu mencurgaimu dan Lembah Pualam Hijau, tetapi lebih mengungkapkan beberapa rasa penasaran lohu semata. Harap dimengerti”

“Jangan khawatir locianpwee, menurut ayah, dan menurut penelitianku, misteri ini masih akan berekor sangat panjang. Nampaknya banyak sekali tokoh sakti nan misterius yang sedang dan akan melibatkan diri, cepat atau lambat”

“Masalah ini sudah lama lohu timbang. Jika hanya karena kekuasaan, maka Thian Liong Pang sudah melakukannya besar besaran sejak 5 tahun sebelumnya. Entah apa penyebab sebenarnya, biarlah kita menunggu bagaimana misteri itu terbuka atau membuka dengan sendirinya”

=================

Saat yang sama, ketika para tokoh pendekar sedang berdiskusi di kota Ye Ceng, seorang anak muda berbadan tegap dan gagah sedang mengarah ke Ye Ceng. Nampaknya, anak muda tersebut memang menunggu terang tanah untuk kemudian memutuskan memasuki kota tersebut.

Tetapi, bukan hanya karena maksud tersebut, tetapi karena sepanjang malam anak muda itu menjejaki sebuah bayangan putih yang dilihatnya berkelabat pesat dari arah Ye Ceng. Karena curiga,

anak muda tersebut kemudian bermaksud untuk mengintil bayangan putih tersebut. Tetapi, betapa terperanjatnya anak muda itu, karena bayangan putih itu sungguh-sungguh tak sanggup didekatinya.

Bahkan setelah mengejar selama lebih setengah jam, tiba-tiba bayangan putih tersebut berkelabat lebih pesat dan bahkan kemudian lenyap dari pandangan matanya. Ada cukup lama waktu yang digunakan anak muda itu untuk mencari bayangan putih tersebut, tetapi hasilnya nihil.

“Siapakah gerangan bayangan putih tersebut”? “lawan ataukah kawan”? “Bagaimana kemampuan ginkangnya dibandingkan Mei Lan”? “adakah hubungan bayangan itu dengan kawanan pendekar di Ye Ceng”? pikiran-pikiran tersebut berkesiuran di beak anak muda gagah tersebut. Yang jika didekati ternyata adalah Souw Kwi Beng, pendekar muda dari Siauw Lim Sie, binaan salah satu tokoh ajaib Siauw Lim Sie, Kian Ti Hosiang.

Sebagaimana 4 anak muda lainnya, Kwi Beng juga bertugas mengejar pada tokoh Thian Liong Pang ang mengundurkan diri untuk mengintai markas besar Thian Liong Pang. Rencananya, bila markas mereka ketahuan, maka penyerbuan terakhir akan dilakukan. Tetapi, meskipun bahkan Kwi Beng telah memisahkan diri dari saudara kembarnya Kwi Song untuk melakukan pengintaian, tetap saja usaha mereka sia-sia.

Tak ada seorangpun dari mereka nampaknya yang mampu mengikuti para tokoh Thian Liong Pang sampai ke markas utama organisasi gelap tersebut. Itulah sebabnya para tokoh pendekar banyak menghabiskan waktu untuk menunggu mereka dan tiada

seorangpun yang membawa kabar berita yang tepat, dimana markas Thian Liong Pang berada.

Dengan sejumlah rasa penasaran yang tidak terjawab, dan juga kepenasaran akibat tidak menemukan jejak si Kerudung Putih, akhirnya Kwi Beng memutuskan untuk memasuki kota Ye Ceng. “Mungkin di Ye Ceng akan ada beberapa penjelasan mengenai si bayangan putih” pikir Kwi Beng.

Dan hal tersebut memantapkan hatinya untuk berjalan kearah Ye Ceng, dan berjalan keluar dari hutan tempat dimana dia melewatkan malam dengan rasa penasarannya. Setelah beberapa saat dia berjalan, nalurinya yang sudah demikian tajam membisikinya bahwa ada seseorang atau bahkan beberapa orang yang sedang membayanginya.

Tetapi yang membuatnya tercekat adalah nampaknya orang atau orang-orang yang membayanginya bukanlah orang biasa. “mungkin ada kaitannya dengan bayangan putih semalam” batin Kwi Beng. Dan kesadaran tersebut membuatnya meningkatkan kehati-hatiannya dan bersiap menghadapi segala kemungkinan.

Betapapun, Kwi Beng adalah anak muda gemblengan, dan keadaan tersebut tidaklah membuatnya gagap dan gugup, sebaliknya malah membuatnya sangat waspada. Dan belakangan membuatnya berkeinginan memancing pengintipnya untup bertemu muka.

Tetapi setelah beberapa saat kemudian, suara-suara dan langkah yang membayanginya seakan lenyap. Tetapi, keadaan itu tidaklah mengendorkan kewaspadaan Kwi Beng, sebaliknya malah membuatnya semakin meningkatkan kewaspadaannya. Dia paham

benar, apabila lawan masih bisa dideteksi keberadaannya, maka keadaan tersebut masih belum cukup berbahaya.

Tetapi, semakin kabur dan semakin sulit lawan dideteksi keberadaannya, semakin berbahayalah keadaannya. Ibaratnya, dia berada di tempat berterang, sementara lawannya dengan leluasa mengawasinya. Keadaan yang tentu tidaklah menguntungkannya. Tetapi, toch tidak membuatnya berkecil hati dan menadi ketakutan.

Dia tetap melangkah penuh kewaspadaan, sama sekali tidak mengendorkan perhatiannya akan keadaan sekelilingnya. Sampai akhirnya, di tempat yang agak luas, dia menemukan jawaban atas kepenasarannya.

Di kejauhan arah langkah yang ditempuhnya, nampak enam sosok bayangan dengan semuanya berpakaian putih. Selain ke enam bayangan berpakaian putih, nampak juga sebuah tandu, yang nampaknya bisa dipastikan seseorang berada didalamnya. Sementara keenam bayangan, yang ternyata semuanya adalah gadis-gadis berparas cantik, berdiri disamping tandu tersebut, masing-masing 3 orang di sebelah kiri dan kanan tandu tersebut.

Semakin dekat semakin jelas bagi Kwi Beng, bahwa ke tujuh orang tersebut, termasuk orang didalam tandu yang belum diketahuinya bentuk jelasnya, memang sengaja menghadang perjalanannya. Tetapi, sengaja atau tidak, tentunya tidaklah membuat Kwi Beng menjadi takut. Sebaliknya, malah dipercepatnya langkahnya untuk bisa berhadapan dengan para penghadangnya yang dirasanya rada unik kali ini.

Dan tidak butuh waktu lama, Kwi Beng telah berdiri berhadapan dengan para penghadangnya, dan ketika ditegaskannya pandangan

matanya, dia heran dan kaget, karena semua penghadangnya, kecuali orang dalam tandu adalah gadis-gadis muda yang sangat rupawan. Tetapi tak ada seorangpun yang bergerak dan menyapanya, meskipun semuanya memandang kearahnya.

Melihat keadaan ke-enam gadis cantik pengiring tandu itu, Kwi Beng saar, bahwa betapapun tiada seorangpun dari mereka yang akan berani berbicara. Karena itu dengan sopan, dia malah memulai percakapan:

“Ada apa gerangan para nona menghadang perjalananku”? dan jika boleh tahu, ada maksud apakah gerangan locianpwe yang mulia dalam tandu dengan menghadang jalanku”?

“Apakah engkau bagian dari para pendekar di Ye Ceng”? sebuah suara yang sangat dingin, tapi dipastikan keluar dari bibir seorang wanita terdengar lirih, tetapi nyaring di telinga Kwi Beng

“Benar, locianpwe, ada petunjuk apakah gerangan”?

“Hm, bagus. Apakah engkau anak muda yang berasal dari Lembah Pualam Hijau”? Kwi Beng tercekat, ternyata penghadangnya sedang mencari Ceng Liong. Tapi dia tidaklah keder dan menjawab:

“Ada apakah locianpwe mencari sahabatku Ceng Liong”?

“Locianpwe, locianpwe, umur kita paling berbeda 2-3 tahun. Seenaknya memanggilku locianpwe. Jadi engkau bukan anak muda dari Lembah Pualam Hijau itu”?

“Bukan, tetapi anak muda dari Lembah Pualam Hijau adalah sahabat baikku” jawab Souw Kwi Beng masih tetap sabar, karena memang seperti itu jugalah karakternya, selalu tenang, tabah dan awas.

“Sahabatnya ….. hm, tapi engkau boleh juga. Bisa mengejarku beberapa waktu tanpa kuketahui. Dan engkau adalah bagian dari rombongan manusia sombong di Ye Ceng itu. Baiklah, apa engkau bisa menyampaikan beberapa perkataanku kepada mereka di Ye Ceng agar mereka cukup tahu diri dan tidak memaksakan diri memusuhi kami”?

“Bila layak kusampaikan akan kusampaikan. Bila tidak layak, tidak akan nanti aku menyampaikannya” tegas Kwi Beng.

“Hm, bagus, sungguh gagah. Tapi, aku ingin melihat, apakah kegagahanmu sepadan dengan kemampuanmu”.

“Tapi, apa cukup sanggup engkau mencobaiku, dan apakah karena engkau tidak berkemampuan menyampaikan sendiri pesanmu ke para pendekar di Ye Ceng”? Kwi Beng mulai yakin bahwa dihadapannya adalah lawan.

“hahahahahaha, aku sudah berkali-kali menimbulkan kekalutan di Ye Ceng dan engkau menganggapku takut menghadapi mereka”? seandainya aku tidak dilarang seserang, maka bukan hanya melukai orang, tapi bahkan aku sanggup meniadakan nyawa banyak orang didalam sana” Sebuah tertawa yang rada sinis tetapi dengan suara merdu terdengar dari dalam tandu. Jelas bagi Kwi Beng, bahwa pemilik suara itu adalah seorang nona.

“Hm, tidak salah, kalian pastilah bagian dari kawanan Thian Liong Pang yang sedang kami kejar itu”

“Hm, tidak salah. Ling, kalian coba apalah anak muda ini cukup pantas menyampaikan pesan kita ke Ye Ceng”, terdengar Nona dalam tandu tersebut mengeluarkan perintah. “Baik”, terdengar gadis yang dipanggil Ling kemudian bersiap. Dengan gaya khas mereka, ke-6 gadis tersebut nampak bersiap, mengatur rambut mereka dan dengan gerakan yang sangat cepat telah mengurung Kwi Beng ditengah arena.

Bukan cuma itu, dengan cara yang tidak kalah cepatnya, ke enam gadis cantik itu telah menyerang Kwi Beng dari 6 penjuru. Bergerak cepat karena nampaknya kecepatan adalah andalan mereka.

Tetapi yang mereka serang adalah murid kesayangan salah seorang manusia ajaib di Tionggoan, Souw Kwi Beng. Seorang anak muda yang bahkan sudah kenyang dengan pengalaman tempur menghadapi tokoh-tokoh utama di Tionggoan meskipun usianya masih sangat muda. Karena itu, dengan gampang Kwi Beng mementahkan semua serangan ke 6 dayang di manusia berjubah putih dalam tandu itu.

Tapi, memang ada keistimewaan ke enam penyerangnya itu. Mereka bergerak dan nampaknya memiliki kemampuan ginkang yang sangat tinggi, meskipun kekuatan tenaga sinkang mereka nampaknya tidak sehebat ginkangnya. Tetapi, kelemahan itu bisa mereka tutupi dengan saling jaga dan saling bantu bila seorang diantara mereka mendapat serangan.

Yang pasti, kerubutan 6 gadis rupawan, yang tambah rupawan dengan pakaian putih bersih dan juga ikat rambut putih bersih, akan sanggup menghadapi dan mengalahkan tokoh kelas satu Tionggoan.

Cuma, untuk menghadapi seorang Kwi Beng, kerubutan itu nampaknya masih belum cukup memadai. Kwi Beng bisa mengimbangi gerak cepat keenam gadis rupawan itu, dan bahkan sanggup menghadapi kerubutan mereka meskipun mereka saling Bantu dan saling melindung. Untungnya, keenam gadis itu berhadapan dengan Kwi Beng yang berhati sabar dan berhati lembut.

Sama sekali tiada keinginannya untuk menjatuhkan dan melukai keenam pengeroyoknya, meski mereka menyerangnya dengan cepat dan ganas. Dengan tenaga yang terukur dan dibatasinya, Kwi Beng menghadapi kerubutan tersebut. Sesekali jemarinya memainkan ilmu Tam Ci Sin Thong yang membuat keenam gadis itu kewalahan dan tidak berani membentur tangan dan jarinya.

Perkelahian atau kerubutan ke enam gadis itu, sampai sekian lama tidak mampu menghadirkan bahaya bagi Kwi Beng, Karena kecuali gaya dan kecepatan gerak mereka yang memang termasuk luar biasa, ilmu kepandaian mereka masih jauh dan belum nempil melawan Kwi Beng.

“Kita coba dengan barisan ular” terdengar Ling yang menjadi pemimpin mereka bersuara, diikuti dengan gerakannya yang semakin cepat dan gaya bergerak selicin ular. Gerakan keenam gadis itu kini menjadi selain cepat, juga licin diikuti dan diimbangi dengan gaya tubuh mereka yang kini mirip ular.

Barisan itupun menjadi segaris, dan menyerang Kwi Beng, baik dengan ancaman gigitan kepala maupun kibasan ekor mirip ular. Gaya yang aneh dan belum pernah disaksikan Kwi Beng ini untuk beberapa saat membuatnya kebingungan dan membuat posisinya jatuh dibawah

tekanan barisan 6 gadis cantik itu. Terlebih ketika desisan dari mulut gadis gadis cantik itu, perlahan mulai mempengaruhi pikiran Kwi Beng.

Dan justru kondisi itulah yang menyadarkannya, bahwa posisinya mulai berbahaya dan bahwa lawannya ternyata memiliki kemampuan melakukan penyerangan dengan menyertakan kekuatan sihirnya. Dan kekuatan itu yang membuat posisinya semakin lama semakin keteteran dan lama kelamaan keadaannya akan tambah berbahaya.

Menyadari keadaan tersebut, Kwi Beng kemudian mengembangkan ilmunya yang juga memiliki pengaruh mujijat, Pek In Ciang (tangan awan putih). Dengan ilmunya tersebut hawa sihir yang dikerahkan kawanan gadis cantik itu menjadi punah dengan sendirinya. Menjadi tidak punya arti untuk mempengaruhi kesadaran Kwi Beng, bahkan awan putih yang muncul dari lengan Kwi Beng sanggup mementalkan semua hawa pukulan dan serangan gadis-gadis tersebut.

Dan perlahan namun pasti, Kwi beng kembali menguasai keadaan, sementara kerubutan itu dengan sendirinya kembali jatuh di bawah angin. Karena pukulan dan desisan mereka tidak lagi sanggup menembus benteng pertahanan Kwi Beng yang kini mengerahkan ilmu mujijat dari seorang guru besar Siauw Lim Sie di Poh Thian.

Sementara itu, di balik tandu, sepasang mata yang jernih nampak memandang penuh perhatian dan sangat tertarik ke arena pertempuran. Tak disangkanya kalau anak muda yang mengejarnya semalam, ternyata memiliki kemampuan yang luar biasa. Tadinya, sebuah senyum mengejek sempat berkembang dibibirnya melihat Kwi Beng gelagapan menerima serangan barisan ular 6 gadis cantik ciptaannya bersama gurunya.

Tetapi, melihat kemampuan Kwi Beng menanggulanginya dan bahkan memunahkan dan membuat serangan barisan itu menjadi tidak berguna, benar-benar merangsang rasa kepenasarannya. “Anak muda ini hebat juga, dan sepertinya bukan lawan enteng bagiku” pikir orang itu.

“Dan nampaknya barisan itu sebentar lagi akan mengalami kesulitan dan bukan tidak mungkin kekalahan mutlak jika dibiarkan” batis orang dalam tandu itu yang mulai menguatirkan anak buahnya tidak sanggup menahan dan menandingi Kwi beng, apalagi mengalahkannya.

Majikan Kerudung Putih (3)

Pikirannya memang benar, sayangnya dia belum mengenal Kwi Beng. Seorang anak muda yang gagah dan lembut hati, tidak akan sanggup dia menjatuhkan tangan keras kepada para pengeroyoknya. Itulah sebabnya, meskipun barisan ular 6 gadis cantik itu sudah kehilangan kesanggupannya untuk membahayakan Kwi Beng, tetapi tidak terbersit di hati Kwi Beng untuk menurunkan tangan kejam.

Lama kelamaan, hal ini terasa juga di hati kawanan 6 gadis cantik ini. Mereka menjadi kagum, ketika berkali-kali Kwi Beng menahan tangan dan angin pukulannya yang seharusnya sudah melukai lawannya. Dan, keadaan ini membuat ke enam gadis cantik ini berbalik menjadi simpati terhadap si anak muda.

Tetapi, mereka tidak akan pernah berani berhenti berkelahi sebelum perintah mundur meluncur dari mulut orang dalam tandu. Dan hal tersebut membuat mereka tidak mengendurkan serangan, meski mereka menaruh hati dan kasihan kepada pemuda yang tidak berani melukai mereka meski kemungkinan itu sangat terbuka.

Pada akhirnya, Kwi Beng yang menjadi tidak tahan. Disatu sisi, dia tidak sampai hati melukai kawanan gadis rupawan itu, tetapi disisi lain, juga sulit jika tidak menghentikan mereka. Sementara, tidak nampak tanda-tanda bahwa keenam gadis itu akan berhenti menyerangnya.

Dan lama kelamaan dia sadar, bahwa tanpa perintah dari orang dalam tandu, keenam gadis itu tidak akan berhenti. Karena itu dia berkata:

“Sudah cukup permainan ini. Sudah jelas, mereka tidak akan sanggup melukaiku. Apa belum cukup bagimu untuk mengerti bahwa aku cukup layak menerima apa pesan kalian? Atau, engkau sendiri yang harus turun tangan menghadapiku”?

“Hm, apakah engkau sanggup”? suara dingin tetapi cukup merdu itu terdengar dari balik tandu

“Bila belum dicoba, mengapa berkesimpulan aku sanggup atau tidak”?

“Baik, mari kita coba” belum selesai kalimat itu didengar Kwi Beng angin pukulan orang dalam tandu sudah menderu tiba, dan terdengar suara:

“Kalian menyingkir” diikuti dengan mundurnya 6 gadis cantik berpakaian putih itu. Dan segera terdengar benturan hebat antara Kwi Beng dengan si orang dalam tandu yang ternyata pakaiannya sama dengan pengiringnya, semua berwarna putih. Bahkan, dikepalanyapun masih ada pelindung muka, sebuah cadar, yang juga berwarna putih, menyembunyikan wajah asli pemiliknya.

“Blarrrrr”, akibatnya kedua orang tersebut sungguh terkejut. Kwi Beng terperanjat, dia memang sudah yakin bahwa lawannya pasti sangat hebat, meski dia tahu lawannya tu seorang wanita. Tapi, tak disangkanya bila kekuatan tenaga dalamnyapun, bahwa tidak berada disebelah bawahnya, bahkan mungkin mengatasinya. Sementara lawannyapun mencelat ke belakang setelah benturan tersebut.

Tak disangkanya bila anak muda dihadapannya demikian digdaya dan hebat. Sudah jelas, meski benturan itu baru sekali, tetapi bahwa anak muda itu sanggup menahannya jelas luar biasa. Tidak sembarang orang sanggup menahan pukulannya, bahkan kekuata tadi sudah sanggup menghalau semua anak buahnya tunggang langgang. Tapi, anak muda didepannya sanggup menahannya, luar biasa.

“Engkau hebat anak muda. Engkau bahkan sanggup menahan pukulan Majikan Kerudung Putih” desis orang itu yang ternyata adalah Majikan Kerudung Putih, yang bahkan masih setingkat di atas Kim I Mo Ong dan Koai Tung Sin Kay. “Pantas dia begitu hebat, karena menurut Ceng Liong, Majikan Kerudung Putih dan Hitam masih di atas kesanggupan Hu Hoat Thian Liong Pang” pikir Kwi Beng.

Dan kesadaran itu telah membangkitkan semangat Kwi Beng untuk bertarung dengan kesanggupan tertingginya. Bahkan dia kemudian menyiapkan diri menghadapi lawan yang dia tahu sangat berat ini. Tapi, dia sedikit heran melihat Majikan Kerudung Putih menatapnya tak berkedip. Entah apa maksudnya, tapi tidak membuatnya mengendorkan kewaspadaannya. Benar saja, beberapa saat kemudian terdengar Majikan Kerudung Putih mendesis:

“jaga serangan” dan sama seperti sebelumnya, belum selesai ucapan itu, angin pukulan Majikan Keudung Putih sudah mencecarnya.

Dan dengan segala kemampuannya Kwi Beng bergerak memapak serangan tersebut, dan sekali lagi terdengar benturan yang malah lebih keras dibandingkan benturan mereka sebelumnya:

“Blarrrrrrr”

Tetapi benturan yang lebih hebat tersebut tidak menghentikan serang menyerang antara keduanya. Kwi Bengpun tidak kalah sebat, dengan pengerahan kekuatan secukupnya, jari jemarinya melancarkan sejumlah totokan maut kearah Majikan Kerudung Putih. Totokan-totokannyapun bahkan diiringi dengan desisan tajam, bagaikan pisau atau pedang yang sedang mengincar sejumlah titik jalan darah ditubuh lawan.

Tetapi totokan-totokan itupun tidak banyak berpengaruh terhadap Majikan Kerudung Putih. Beberapa mampu ditepisnya dan beberapa sanggup dielakkannya dengan gampang. Bahkan tangannya dengan lenggang-lenggok seperti ular, mampu menyusupkan serangan balasan yang tidak kurang berbahayanya.

Benturan-benturan awal sungguh membingungkan Kwi Beng. Hanya karena memang semua ilmu dan dasar kekuatannya adalah murni Siauw Lim Sie yang membuatnya tidak jatuh terlampau jauh. Gaya bersilat Majikan Kerudung Putih memang rada berbeda. Kelihatannya dasar-dasar ilmu pukulan dan ilmu geraknya agak asing dan terkadang rada mujijat bagi Kwi Beng.

Sementara bagi Majikan Kerudung Putih, gaya bersilat Tionggoan nampaknya tidak begitu mengganggunya dan seperti sudah cukup memahaminya. Buruk bagi Kwi Beng, karena gaya bertarung lawannya relatif baru dan asing buatnya. Terlebih, setelah bertarung sekian lama,

semakin jelas bagi Kwi Beng bahwa ginkangnya masih di bawah kemampuan lawan. “Mungkin ginkang manusia aneh ini nempil dengan Mei Lan” batin Kwi Beng.

Sementara kekuatan sinkangnya, bahkan juga sedikit mengatasinya, meski kemurnian dan keuletannya masih lebih bagi Kwi Beng. Hal yang juga disadari oleh Majikan Kerudung Putih setelah sekian lama mereka saling jajal ilmu masing-masing.

“Hm, tidak heran engkau begitu pongah anak muda, karena memang kemampuanmu memang sanggup menghadapi Hu Hoat kami. Tapi nampaknya masih belum memadai menghadapi Majikan Kerudung Putih dan Majikan Kerudung Hitam dari Thian Liong Pang” Majikan Kerudung Putih masih sanggup bicara meski dalam pertempuran ketat dengan Kwi Beng.

“Masih harus dibuktikan” Kwi Beng bersuara dengan masih tetap mantap.

Sambil berbicara keduanya terus terlibat dalam perkelahian dengan meningkatkan kemampuan masing-masing guna menekan lawan. Bahkan Kwi Beng sudah mengerahkan Ilmu Mujijatnya Ban Hud Ciang dan secara otomatis ilmu mujijat lainnya Kim kong pu huay che sen (Ilmu Badan/Baju Emas Yang Tidak Bisa Rusak) mulai terkerahkan melindungi tubuhnya. Tetapi, dengan kecepatan dan juga kekatan iweekangnya, Majikan Kerudung Putih masih tetap sedikit diatas angin. Hanya, angin pukulannya tidak lagi terlampau menyulitkan dan menyakitkan bagi Kwi Beng setelah dia mengerahkan khikang mujijat Siauw Lim Sie.

Cuma, bagi Kwi Beng, kecepatan bergerak Majikan Kerudung Putih memang menyulitkannya, dan itu sebabnya dia sulit merebut inisiatif menyerang dari Majikan Kerudung Putih. Untungnya, pikirannya mampu tetap jernih setelah memainkan ilmu mujijat dan melindungi dirinya dari sambaran-sambaran pukulan Majikan Kerudung Putih.

Perlahan namun pasti, kecepatan bergerak dan sedikit kelebihan dalam kekuatan sinkang membuat Majikan Kerudung Putih mendesak Kwi Beng. Meskipun, bukan hal mudah bagi Majikan Kerudung Putih mengalahkan Kwi Beng yang sedikit lebih baik dalam hal kemurnian penguasaan tenaga dalam.

Deru pukulan Majikan Kerudung Putih yang sangat tajam menusukpun, masih belum sanggup mendatangkan rasa sakit bagi Kwi Beng. Hanya, memang frekwensi serangan dan inisiatif menyerang sejak awal dipegang oleh Majikan Kerudung Putih yang sangat digdaya itu. Pukulan dan ilmu sakti dari Siauw Lim Sie nampaknya bukan sesuatu yang sangat menyulitkan bagi si Majikan.

Karena baik Ban Hud Ciang, Tay Lo Kim Kong CI, Thai Kek Sin Kun dan Pek In Ciang yang berhawa sihir mujijat yang dimainkan Kwi Beng sanggup diimbanginya dengan baik. Bahkan sanggup melakukan serangan balasan dengan kualitas ilmu yang asing bagi Kwi Beng namun tidak kalah ampuh dan tidak kalah bermutunya.

Lama kelamaan nampak Majikan Kerudung Putih menjadi lebih penasaran, karena sekian lama mendesak Kwi Beng tetapi tidak mampu mendesak dan melukai Kwi Beng. Memang Kwi Beng sedikit terdesak, namun bukan berarti bisa dikalahkannya dengan mudah dalam waktu singkat.

Dibutuhkan waktu yang panjang dan pengorbanan yang tidak sedikit untuk menaklukkan anak muda itu. Karena memang tidak memngecewakan Kwi Beng menjadi murid terkasih mendiang Kian Ti Hosiang. Dan menghadapi salah satu tokoh puncak Thian Liong Pang ini, Kwi Beng kembali memperlihatkan kesaktian dan keperwiraannya.

Dia tidak kehilangan kewaspadaan dan putus asa menghadapi lawan beratnya itu, meski sadar sulit sekali meraih inisatif penyerangan untuk sebuah kemenangan. Hanya karena khikang istimewa dan pengaruh yang mengusir hawa sihir sajalah dia tidak terperosok lebih jauh.

Tiba-tiba terdengar suara seperti suara mendesis dari mulut si Majikan Kerudung Putih, dan secara tiba tiba terjadi perubahan cara berkelahinya. Tubuh yang berbalut pakaian serba putih itu, seperti melayang mendatar berjarak tidak jauh dari perut bumi dan mencecar bagan bawah Kwi Beng dengan kecepatan yang luar biasa.

Akibatnya, serangkum hawa dan angin pukulan yang luar biasa bagai prahara menghantam Kw Beng, sementara totokan dan juluran tangn Majikan Kerudung Putih mencecar bagian bawah Kwi Beng. Kembali kecepatan gerak tangan dan ginkang yang dikembangkan Majikan kerudung Putih mencecar Kwi Beng dan membuat anak muda itu mundur teratur ke belakang. Bahkan pundaknya sempat terserempet jentikan tangan Majikan Kerudung Putih, namun tetap tidak sanggup melukai anak muda tersebut.

Tetapi jelas Kwi Beng terjerumus dalam kesulitan untuk menandingi Majikan Kerudung Putih yang terus bersilat semakin lama semakin garang. Bahkan tubuhnya yang seperti ular melata tetapi melayang sedikit di atas bumi seperti sanggup bergerak seperti ular meliuk-liuk dan menyerang bagian bawah Kwi Beng dan bisa secara cepat

mematuk dan menyerang keatas. Gaya seperti ini dan gerakan-gerakan asing nan aneh membuat Kwi Beng kesulitan beradaptasi. Untungnya dia memiliki kemurnian Ilmu silat dan tenaga memadai untuk tidak membuatnya lebih kesulitan lagi.

Tetapi, harus diakui, menerima beberapa kali jentikan dan pukulan Majikan Kerudung Putih membuat Kwi Beng kesakitan juga. Meskipun tidak sampai melukai tubuh bagian dalamnya. Tetapi meskipun demikian, perlawanannya masih tetap alot dan tidak membuat Majikan Kerudung Putih merasa sudah menang.

Karena kekuatan Kwi Beng masih belum berkurang dan pukulannya yang bersarang di tubuh Kwi Beng terpental dan nampaknya tidak melukai anak muda itu. Diam diam Majikan Kerudung Putih ini menjadi sangat kagum juga terhadap anak muda itu. Mengagumi keuletannya dan mengagumi kematangan permainan ilmu silat anak muda itu, yang menurut taksirannya memang sudah sulit menemukan tandingan. Akan sulit mengalahkan anak muda ini setelah 2-3 tahun lagi kedepan, batin si Majikan Kerudung Putih.

Sementara itu, dengan mengerahkan Pek In Ciang dan Tay Lo Kim Kong Ciang, Kwi Beng akhirnya bisa bernafas sedikit lega meski badai serangan masih tetap menerpanya. Tetapi setidaknya, secara perlahan dia mulai memahami bahwa lawannya bergerak berdasarkan gerak seekor ular. Hanya kecepatannya itu yang sangat memusingkannya. Itulah sebabnya Kwi Beng akhirnya memilih memainkan Thai Kek Sin Kun dan Tay Lo Kim Kong Ciang untuk mempertahankan dirinya.

Keadaannya kembali sedikit membaik dan Kwi Beng mulai memikirkan untuk melepaskan ilmu andalan perguruannya seandainya lawannya mencecarnya lebih jauh. Dan memang, nampaknya

lawanpun belum sampai pada tingkat permainan ilmu tertingginya. Dia masih tetap memegang kendali meski tidak berkemampuan untuk merontokan perlawanan Kwi Beng untuk meraih kemenangan.

Bahkan terkesan, Majikan Kerudung Putih mengagumi lawannya dan membiarkan pertarungan menjadi panjang karena ingin mengenali lebih jauh ilmu dan kesanggupan lawan. Sebuah ciri khas dan penyakit dari pesilat yang sudah mencapai puncak kemampuannya. Selalu senang dan sangat menikmati bertempur melawan lawan yang memiliki kemampuan sepadan dan menemukan jurus dan trik ilmu silat baru untuk meningkatkan kemampuan sendiri.

Dan melawan Kwi Beng, meski penasaran tidak bisa mendesak lawan hingga tunggang langgang dan bahkan tidak mampu melukainya meski memegang inisiatif penyerangan, malah membuat nafsu bertarung Majikan Kerudung Putih semakin membara.

Nampaknya, diapun kemudian terpancing meningkatkan kemampuan ilmunya dan membuatnya seperti mengurung Kwi Beng di arena namun tidak sangup melukainya. Luar biasa pertarungan keduanya. Ilmu dari aliran dan gaya berbeda nampak diperbenturkan oleh kedua orang yang menguasainya dengan sangat mahir.

Dan tingkat penguasaan keduanyapun nampaknya tidaklah jauh berbeda, sehingga benturan benturan hebat terdengar memekakkan telinga. Selebihnya, bahkan anak buah si Majikan Kerudung Putih nampak sudah berkali kali melangkah mundur untuk menghindari angin pukulan yang semakin tajam menusuk dan kuat menerpa mereka. Mau tidak mau mereka mengagumi kedua orang yang sedang bertempur tersebut, meskipun mereka tentu berharap majikannya yang memenangkan pertarungan tersebut.

Tetap, setelah sekian lama, merekapun menjadi gugup karena meski terus mendesak, tetapi posisi Kwi Beng tidaklah menjadi lebih parah meski pertarungan sudah makan waktu lama. Bahkan tendangan dan pukulan serta sentilan jari Kwi Beng masih sangat tajam menusuk bahkan meninggalkan lubang yang mengerikan di batu sekalipun.

Hanya Kwi Beng dan Majikan Kerudung Putih yang mengerti bahwa sebetulnya memang inisiatif menyerang selalu dipegang sang Majikan, tetapi belum cukup sanggup menjatuhkan Kwi Beng yang bersilat dengan ulet. Bahwa serangan dipegang oleh Majikan Kerudung Putih memang nampak jelas. Dari 4 atau 5 kali serangannya, hanya bisa Kwi Beng melakukan satu kali serangan balasan. Karena itu nampak jelas bahwa Kwi Beng lebih banyak mempertahankan dirinya untuk tidak terkena pukulan mematikan lawan. Keadaan tersebut berlangsung cukup lama, sampai kemudian tiba-tiba terdengar sebuah suara:

“Koko, jangan takut, aku membantumu”

Dan seiring dengan terdengarnya suara tersebut sebuah bayangan biru yang sangat pesat dan diiringi angin pukulan yang juga sangat kuat sudah menerjang datang. Tapi Majikan Kerudung Putih tidak kehilangan kewaspadaan dan kehebatannya. Dengan tenang dia memapak serangan yang mengarah kedirinya dan kesudahannya membuatnya sangat terkejut.

“duk”

Benturan hebat terjadi dan akibatnya untuk menjaga dirinya Majikan Kerudung Putih membiarkan dirinya terental ke belakang untuk menjaga diri dari serangan Kwi Beng akibat dia kehilangan tempo

seketika. Tetapi, untungnya Kwi Beng bukanlah orang yang gemar menarik keuntungan dari kondisi buruk lawan.

Apalagi akibat serangan orang lain. Karena itu, Majikan Kerudung Putih kemudian memiliki waktu cukup untuk memandangi anak muda yang datang dan membuatnya terperanjat karena betapa miripnya lawan yang dicecarnya dengan penyerang yang baru datang kemudian. Selain kemiripan itu, yang juga sangat mengagetkannya adalah kemampuan si penyerang yang bahkan tidak berada di bawah lawan yang dicecarnya. Sungguh luar biasa, dia kini berhadapan dengan dua orang yang memiliki kemampuan nyaris menyamai dirinya.

Dan sulit baginya untuk mampu menghadapi kedua orang itu jika mereka maju berbareng. Karena itu dengan suara dingin dia membentak:

“Hm, kalian ingin mengeroyokku”?

Kwi Beng nampak memerah sejenak wajahnya tetapi kemudian dia menarik nafas panjang dan berkata:

“Engkau sungguh lihay, aku sendirian nampaknya akan sulit menandingimu. Tetapi, tidak ada niat kami untuk mengeroyokmu, asal engkau juga tidak mengotori tanganmu dengan menjatuhkan banyak darah para pendekar Tionggoan”

“Koko, maksudmu”? Kwi Song menatap kakaknya dan dalam pandangan seketika kedua saudara kembar itu sudah saling mengerti. Terutama ketika Kwi Song melihat anggukan kepala kakaknya yang dia tahu selalu jujur dan pantang berdusta.

“Dialah yang dimaksudkan oleh saudara Ceng Liong sebagai tokoh-tokoh Thian Liong Pang yang bahkan melebihi Hu Hoat mereka” tambah Kwi Beng. Dan penjelasan itu membuat Kwi Song mengerti mengapa kakaknya bisa jatuh dibawah angin menghadapi si Kerudung Putih.

“Hm, kita berdiri berhadap-hadapan sebagai lawan, tiada salahnya kalian maju mengeroyokku. Lagipula, aku masih memiliki para pengiringku yang sangup membantuku melawan kalian” terdengar jengekan si Majikan Kerudung Putih

“Rasanya sudah cukup Majikan Kerudung Putih. Mohon sampaikan pesan kami kepada Pangcu Kalian agar menarik diri dari ambisi besarnya yang mengakibatkan jatuhnya banyak korban, atau menghadapi ancaman serbuan kami” Kwi Beng berkata.

“Apakah kalian berkemampuan”? tantang Majikan Kerudung Putih

“Kami sudah membuktikannya, dan akan melanjutkannya bila Pangcu kalian tetap memaksakan diri” Kwi Song menyambut dan memasuki arena perdebatan itu. Nampak kemudian Majikan Kerudung Putih memandang kedua anak muda itu bergantian, tersirat rona kagum di matanya dan tidak lama berselang dia berkelabat mundur. Dan sulit dikuti pandangan mata, Majikan Kerudung Putih meninggalkan tempat tersebut bersama pengiringnya. Diikuti pandangan sama, kagum, dari Kwi Beng.

Suasana cukup lengang beberapa saat, sampai kemudian dipecahkan oleh rasa penasaran yang terkandung dalam suara Kwi Song:

“Koko, kenapa mereka dibarkan berlalu”?

“Song te, Majikan Kerudung Putih memiliki tingkat ilmu di atasku. Bahkan keampuan ginkangnya, mungkin menyamai Mei Lan. Kita takkan sanggup mengejarnya” Kwi Beng bergumam dengan suara mengambang

“Tetapi, masakan kita berdua tidak sanggup menahannya”? Kwi Song tetap penasaran dengan sikap kakaknya. Sudah tentu dia merasa aneh dengan keputusan kakaknya membiarkan lawan berlalu dan melarangnya untuk menghadang dan mengejar.

“Karena belum saatnya adikku. Lagipula, jika tidak salah, Majikan Kerudung Putih adalah seorang wanita. Selain itu, dia tidaklah jahat kelihatannya. Entahlah. Dan para pengiringnya, juga bukanlah orang lemah”

“Hm, tidak disangka jika dalam Thian Liong Pang masih terdapat jago lain yang malah lebih lihay lagi koko. Nampaknya perjuangan melawan mereka bakal berlangsung alot dan lama”

“Benar adikku”

“Tapi, apakah engkau mampu menjajaki kira-kira asal dan jenis ilmu silat orang itu koko”? Nampak Kwi Beng mengerutkan alis, dia sepertinya sedang berpikir keras untuk mengingat-ingat. Tetapi akhirnya nampak dia menghela nafas panjang, dan kemudian berkata:

“Semuanya gelap Song te. Ilmu silat dan dasar ilmunya terasa sangat asing, seperti bukan dari Tionggoan, selain itu hawa pukulannya mengalirkan hawa mujijat yang membingungkan. Kakakmu ini tidak sanggup mengenali dasar ilmunya, kecuali kenyataan bahwa dasar gerakannya nampaknya dari gerakan-gerakan ular”

“Sungguh penasaran ….. sungguh penasaran, kita bahkan tidak banyak beroleh info dari pertempuran koko dengan tokoh itu”

“Kecuali bahwa dia seorang perempuan dan nampaknya belum tua benar. Bahkan bukan tidak mungkin seorang nona”

“Seorang nona? Apakah engkau yakin koko? Kwi Song mengejar dan mencecar kakaknya dengan kepenasarannya

“Aku bakal tidak salah dengan yang satu itu adikku” Kwi Beng nampak masih penuh penasaran dan banyak pertanyaan yang tak terjawab dibenaknya. Tetapi, anehnya, Kwi Beng juga seperti gelisah.

Keadaan kembali hening sejenak, kedua kakak beradik kembar tersebut seperti memikirkan hal yang sama, kepenasaran yang sama dan hasrat yang sama atas penyelesaian masalah Thian Liong Pang. Dan kepenasaran serta pertanyaan mereka bahkan berlanjut hinga mereka sepakat melangkah bersama, kearah yang sama memasuki Ye Cheng.

Kota dimana para pendekar dilanda kepenasaran yang sama atas sergapan para penyergap berpakaian putih, melukai sjeumlah pendekar tetapi tidak membunuh mereka. Betapapun penasarannya para tokoh itu, tapi baru Kwi Beng dan Kwi Song yang secara langsung bisa berhadapan dengan tokoh itu. Bahkan ketika kemudian Mei Lan dan Tek Hoat bergabung, keduanya, seperti juga pendekar kembar dari Siauw Lim Sie, tidak membawa kabar yang lebih seputar markas utama Thian Liong Pang.

Karena itu, sebelum menemukan markas utama itu, para pendekar kini berkonsentrasi menghadapi Majikan Kerudung Putih yang menurut Kwi Beng, adalah seorang wanita yang bahkan masih diatas

kemampuan para Hu Hoat Thian Liong Pang. Kabar yang sangat mengejutkan.

Tetapi, yang juga membuat para pendekar berdegup murka dan gemas adalah, masih ada sekali dua kali para penyerang gelap berbaju putih itu mengganggu, tetapi seperti biasa denga cepat menghilang. Dan setelah itu, ada beberapa hari penyerang itu menghentikan upaya mereka. Agaknya seperti mengetahui bahwa di Ye Cheng, kini telah berkumpul beberapa jago muda lain yang sangat hebat.

Tapi begitupun, kepenasaran para jago tetap merupakan sebuah teka-teki karena belum sanggup membuka tabir dibalik penyerangan kelompok berjubah putih yang rata-rata semua adalah gadis muda dengan ginkang istimewa.

Episode 8: Kemelut di Thai San Pay dan Tiam Jong Pay

Hari ketujuh setelah membatalkan memasuki Kwi Cu akibat gangguan para penyerang berbaju putih, seharusnya kondisi para pendekar menjadi lebih baik. Apalagi, karena kemudian pada hari kedua Souw Kwi Beng dan Souw Kwi Song membawa kabar telah mampu mengetahui identitas, meski belum sepenuhnya, dari para penyerang berjubah putih tersebut.

Dan kemudian dua hari menyusul, Liang Tek Hoat menyusul tiba di Ye Cheng dan pada hari berikutnya menyusul tiba Liang Mei Lan adiknya. Meski keduanya tidak membawa kabar yang lebih baik soal keberadaan markas besar Thian Liong Pang, tetap harapan menjejaki para penyerang berbaju putih akan semakin besar kemungkinannya.

Jikapun ada yang masih dipikirkan meski tidak serius sekali adalah, belum munculnya Kiang Ceng Liong, dan belum diketahui kabar apa

kiranya yang ditemukan anak muda tersebut. Bisa dimaklumi, karena memang kelima anak muda sakti itulah yang menjadi sandaran utama para pendekar dalam upaya menggulung Thian Liong Pang kali ini.

Seperti diketahui, semua anak muda sakti itu, ditugaskan untuk mengintil kekuatan utama Thian Liong Pang yang mengundurkan diri. Diharapkan, dari mereka bisa ditemukan markas utama Thian Liong Pang untuk kemudian diselesaikan tuntas teror yang ditimbulkan Thian Liong Pang tersebut.

Tetapi, sayangnya, sebagaimana dilaporkan Souw Kwi Beng dan adiknya, serta juga Tek Hoat dan adiknya, sama sekali mereka kehilangan jejak. Bahkan jauh sebelum memaskui Ye Cheng. Nampaknya ada satu lokasi rahasia mereka, yang membuat para tokoh yang mengundurkan diri itu bisa menghilangkan diri dari pengawasan dan kuntilan para anak muda tersebut.

Selain, memang para tokoh tersebut bukan anak kemaren sore yang bisa dikibuli atau diakali dengan pengintaian semacam itu. Mereka tahu belaka, bahwa jejak mereka sangat pasti konangan, dan karena itu mereka jelas sudah mempersiapkan diri untuk menghilangkan jejak dari pantauan lawan. Sebagai tokoh-tokoh kawakan, jelas mereka punya banyak cara untuk menghindari pengintaian orang terhadap jejak mereka yang mengundurkan diri.

Kehilangan jejak dan ketidaktahuan bagaimana menemukan jejak markas utama Thian Liong Pang ini jelas membuat moral kelompok pendekar merosot. Semakin lama keadaannya akan semakin buruk. Hal itu disadari oleh para pemimpinnya, Sian Eng Cu Tayhiap dan Pengemis Tawa Gila. Sebagai tokoh kawakan, mereka sadar benar

resiko yang dihadapi apabila markas besar yang akan diserang dengan kekuatan penuh itu tidak ditemukan.

Tetapi, merekapun tidak mungkin sembrono, karena kekuatan utama sekarang terbagi dua setelah para sesepuh Partai besar pamit mengurusi urusan perguruan masing-masing dan menunggu berita panggilan untuk serangan pamungkas. Tapi, setelah sebulan lebih lewat, ternyata serangan pamungkas itu tidaklah pernah bisa dilakukan akibat markas utama Thian Liong Pan tidak bisa diendus.

Bahkan pengendus berita terhebat jaman itu, yakni Kay Pang dan juga Maling Sakti, yang sudah mengerahlan tenaganya, masih tetap tidak sanggup menemukan dan mencium keberadaan markas tersebut.

Sementara itu, dipihak lain, terpaan atas kesatuan moral dan semangat para pendekar kian hari kian tergerus. Selain waktu yang terus berlangsung dan bahkan semakin lama, juga serangan gerilya dari pasukan berbaju putih, meski tidak mengorbankan nyawa para pendekar, tetapi juga ikut menggerus semangat.

Karena hingga hari ketujuhpun, masih belum sanggup menemukan dan menangkap pelakunya. Padahal, ke-4 anak muda sakti itu, sudah melakukan pengejaran dan perondaan setiap malamnya. Selain jatuhnya korban tersebut, kejenuhan juga mulai menerpa para pendekar. Terutama para pendekar kelana, yang memang tidak terbiasa hidup dalam ikatan yang ketat.

Meskipun mereka sadar akan ancaman dan bahaya membiarkan Thian Liong Pang, tetapi hidup dalam ketidakentuan dan terikat, membuat mereka sangat sengsara. Sejumlah benturan kian hari kian banyak terjadi, termasuk juga perbedaan pendapat. Untungnya,

wibawa Sian Eng Cu dan Pengemis Tawa Gila yang sangat kawakan, masih sanggup mengekang dan mengatasi keadaan.

Tetapi, dapat dipastikan bila dibiarkan lebih lama lagi, maka rombongan para pendekar ini jelas akan buyar dengan sendirinya. Buktinya, sudah ada 1-2 pendekar kelana yang minta diri karena urusan pribadi kepada Sian Eng Cu dan Pengemis Tawa Gila, meskipun mereka tetap memberi komitmen untuk membantu bila saat penyerangan sudah tiba.

Karena itu, maka pada hari ketujuh, Sian Eng Cu dan Pengemis Tawa Gila memutuskan untuk meneruskan perjalanan ke Kwi Cu, dan akan diputuskan disana, apakah rombongan itu dipertahankan ataukah tidak. Keputusan ke Kwi Cu diambil setelah masuk laporan dari Maling Sakti, bahwa bukan tidak mungkin dan indikasinya kuat bahwa markas utama Thian Liong Pang nampaknya berada di seputar Kwi Cu, meski lokasi utamanya masih belum ditemukan. Karena itu, maka pada hari ketujuh, malam dikelarkan perintah bahwa rombongan pendekar yang terbagi dalam beberapa kelompok akan melakukan perjalanan menuju Kwi Cu.

Tetapi, pada hari keberangkatan, lagi-lagi terjadi peristiwa yang nampaknya seperti normal-normal saja, meski sangat mengganggu dan bahkan membatalkan perjalanan para pendekar. Pada pagi hari, tepat saat keberangkatan ke Kwi Cu akan dilakukan, rombongan dari Thai San Pay dan Tiam Jong Pay tiba-tiba menarik diri.

Bahkan pada hari itu juga, rombongan dari Thai San Pay dan Tiam Jong Pay memutuskan untuk kembali ke Gunung masing-masing. Lebih kurang 20 orang dari rombongan tersebut akhirnya memutuskan pulang ke perguruan masing-masing, dan secara otomatis mengurangi

jumlah dan kekuatan kelompok pendekar. Tetapi, bukan berkurangnya jumlah itu yang mengkhawatirkan bagi Sian Eng Cu dan Pengemis Tawa Gila serta Topeng Hitam yang selalu berada di Ye Cheng.

Tetapi percakapan dengan Tang Hauw Sek, sute dari Thian San Pay Ciangbunjin dan Gui San Bu, Wkl Ciangbunjin Tiam Jong Pay yang berjulukan Coat-ceng-kiam (si pedang tanpa kenal ampun). Percakapan yang mendatangkan kecemasan yang lain bagi Sian Eng Cu dan Pengemis Tawa Gila dan bahkan si Topeng Hitam;

“Tong tayhiap dan cuwi sekalian, sebetulnya kami tidak berkehendak meninggalkan arena ini sedini ini. Dan bahkan kami tidak ingin membicarakan hal-hal lain seputar perguruan kami. Tetapi secara tidak sengaja, kami telah membicarakan urusan perguruan masing-masing, dan menemukan kesamaan yang sangat aneh dan mencurigakan” Tang Hauw Sek yang biasanya tinggi hati, angkuh namun bersifat dan bersikap gagah, nampak melirik sekilas kearah Gui San Bu.

Meskipun lebih tua, tetapi Gui San Bu memang terkenal susah berbicara, namun sama dengan Tang Hauw Sek, orang inipun terkenal tinggi hati, tetapi tetap mengutamakan sikap dan sifat kependekaran. Kedua orang ini, beberapa waktu terakhir menjadi dekat karena merasa disepelekan dan tidak ditempatkan sebagai pihak yang dimintai nasehat dalam urusan perlawanan terhadap Thian Liong Pang.

Karena itu, keduanya justru menjadi dekat, dan baru merasa sedikit terhargai ketika diminta memimpin 1 dari 3 kelompok utama pendekar yang akan mengarah ke Kwi Cu. Setelah berhenti sejenak, kemudian Tang Hauw Sek melanjutkan:

“Sebetulnya, tiada kecurigaan ketika terjadi percakapan antara lohu dengan Gui heng, dan hanya keluh kesah lohu belaka sekitar kekisruhan di perguruan kami, Thian San Pai. Tetapi ternyata, pola yang hampir sama ternyata juga terjadi di Tiam Jong Pay, dan juga menghadirkan rasa penasaran bagi Gui heng. Belakangan kami berdua menjadi penasaran, tetapi sekaligus juga menjadi bercuriga”

Sampai disini, baik Sian Eng Cu maupun Pengemis Tawa Gila dan Topeng Hitam masih belum begitu tertarik, meskipun nampak heran. Tetapi, karena tampang yang tegang dan serius dari Tang Hauw Sek dan Gui San Bu, mau tidak mau merekapun jadi ingin mengetahui, masalah apa sebetulnya yang sedang mau diutarakan oleh kedua tokoh dari perguruan pedang termasyur itu.

Dan terdengar Tang Hauw Sek yang menjadi juru bicara kembali melanjutkan:

“Awalnya, lohu hanya mempertanyakan mengapa surat perintah menarik diri dari persekutuan pendekar menyerang Thian Liong Pang ditandatangani oleh Tee Kong, orang yang baru sekitar 11 tahun lalu bergabung dengan Partay kami tetapi kemudian sangat dipercaya oleh ciangbunjin kami. Tetapi, ketika bercakap dengan Gui Hu Ciangbunjin Tiam Jong Pay, dia juga heran, karena surat penarikan hanya ditandatangani oleh Kwan Bok Hoan yang juga baru menjadi anggota di Tiam Jong Pay kira-kira 12 tahun sebelumnya. Kami berdua awalnya menduga ini hanya sebuah kebetulan, yakni seorang tokoh perguruan kami menyurat atas nama ciangbunjin kami” Hauw Sek nampak kembali berhenti sejenak. Sementara Gui San Bu nampak menatap menerawang, tetapi yang lain-lainnya nampak mulai sedikit tertarik.

Dan Tang Hauw Sek kemudian melanjutkan:

“Tetapi, ketika lohu pada akhirnya menceritakan bagaimana caranya Tee Kong bergabung dengan partay kami yang awalnya tidak cukup lihay, tetapi dalam 6-7 tahun kemudian mampu mengatasi murid-murid terlihay kami, bahkan termasuk bisa melampaui lohu, Gui heng menjadi terhenyak, karena hal yang sama terjadi dengan Kwan Bok Hoan di Tiam Jong Pay. Dan herannya, waktu mengabungkan diri kedua orang itu dengan perguruan kami, hampir bersamaan. Dan lebih mengherankan lagi, atas kecurigaan seperti ini, kami menjumpai sisa-sisa orang Cin Ling Pay dan juga Kun Lun Pay, ternyata merekapun mengalami pengalaman yang sama pada belasan tahun silam. Dan rata-rata, kami mencatat, bahwa orang yang masuk belasan tahun silam tersebut, sanggup mengambil hati pimpinan dan kepandaiannya melonjak pesat hinga melampaui tokoh-tokoh utama sebelumnya. Hal ini yang membuat kami berdua jadi bercuriga, jangan-jangan sesuatu sedang terjadi, baik di perguruan kami maupun di perguruan lain” Hauw Sek menutup uraiannya dan disambung oleh Gui San Bu yang meski susah berbicara, tetapi tidak sanggup menahan mulutnya untuk mengatakan:

“Kami berdua hampir yakin, bahwa ini pasti ulah Thian Liong Pang, karena kedua orang tadi, berusaha menghalang-halangi Ciangbunjin kami untuk mengirim utusan bergabung dengan kelompok pendekar”

“Celaka …..” tiba-tiba mulut Topeng Hitam mendesis

“Ada apa gerangan Kiang heng”? Sian Eng Cu yang sudah bisa menebak asal usul Topeng Hitam bertanya, meski hatinya juga sedikit mencelos. Di pihak lain, paras muka Pengemis Tawa Gila juga sudah mulai kelam. Dia bukan tertarik lagi dengan cerita Tang Hauw Sek dan Gui San Bu, tetapi sudah sangat tegang malahan.

“Jika benar dugaan jiwi, maka hampir bisa dipastikan Ciangbunjin Thian San Pay dan Tiam Jong Pay sedang mengalami masalah besar” Topeng Hitam menegaskan dengan suara perlahan.

“Bukan itu saja” Sian Eng Cu menambahkan

“Bahkan beberapa perguruan lagi, seperti Kun Lun Pay juga, mungkin sedang dalam ancaman masalah yang sama besarnya. Dan bukan tidak mungkin perguruan besar lainnya”

“Benar, Tong Tayhiap, hal-hal tersebut telah kami percakapkan tadi malam. Dan karena itu, kami meminta waktu khusus pagi ini, sebelum kembali ke perguruan kami, untuk membicarakannya dengan cuwi sekalian”

“Hm, nampaknya Thian Liong Pang memainkan kartu terakhirnya, dan ini sangat berbahaya” Topeng Hitam kembali bergumam.

“Benar, dan kita memiliki perkerjaan yang lebih berat lagi untuk menangani masalah-masalah yang kita hadapi. Terlampau beresiko untuk membiarkan masalah di banyak perguruan seperti ini. Dan nampaknya, perjalanan ke Kwi Cu untuk sementara harus kita tunda, ada tugas lain yang lebih penting” Sian Eng Cu memastikan.

“Baiklah, kami sudah mengutarakan apa yang sedang terjadi kepada cuwi sekalian. Sekarang, perkenankan kami kembali ke perguruan kami masing-masing, semoga masih belum terlambat” Tang Hauw Sek berujar dan mau mohon diri. Juga Gui San Bu.

Tetapi, sebelum keduanya pamitan, sebuah suara yang halus terdengar di luar tempat percakapan mereka:

“Apa yang engkau lakukan disitu” suara seorang perempuan, nampaknya Mei Lan. Dan tidak terdengar langkah kaki atau suara apapun menjauh dari tempat percakapan para tokoh itu, tetapi tak lama kemudian terdengar suara seorang laki-laki berkata:

“Maaf nona, saya sedang menunggu sahabat saya yang sedang berbicara dengan para pemimpin pendekar” dan setelah menjura kepada Mei Lan, kemudian orang itu berjalan menjauh. Mei Lan yang tidak mengerti apa yang sedang terjadi sudah tentu tidak menghalangi. Tetapi, di dalam pondok tempat percakapan itu berlangsung, Sian Eng Cu, Topeng Hitam dan Pengemis Tawa Gila saling pandang. Dengan cepat San Eng Cu bertanya:

“Apakah diantara cuwi ada yang membawa sahabat dan meninggalkannya di luar untuk menunggui”?

Tang Hauw Sek dan Gui San Bu nampak bingung dan keduanya mengeleng. Dan secepat gelengan itu hilang, segera Sian Eng Cu berseru:

“Sumoy, tangkap dan jangan sampai orang itu meloloskan diri. Cepat”

Mei Lan cepat tanggap, dan masih sempat dia melihat bayangan pria itu menjauh, tetapi masih lebih cepat lagi Mei Lan bergerak mengejar pria itu. Dan tepat saat Mei Lan mengejar, adalah ketika pria itu juga bergerak dengan ilmu ginkangnya, dan langsung kearah luar kota.

Sementara itu, dalam ruangan Sian Eng Cu berkata:

“Kita harapkan sumoy bisa menangkap pengintai itu, tetapi kemampuannya untuk tidak tertangkap oleh pengindraan kita sangat

hebat. Kiang heng, jika bisa memberi bantuan kepada sumoy, biarlah hal lain yang perlu dikerjakan di Thian San Pay dan Tiam Jong Pay kami selesaikan disini. Siang nanti, kita memanggil kawan-kawan lain untuk membicarakan langkah secepatnya”

“Baik” dan dengan cepat Topeng Hitam berkelabat keluar. Sementara itu, percakapan dengan Tiam Jong Pay dan Thian San Pay terus dilanjutkan:

“Akan sangat berbahaya bila orang itu lolos” Gui San Bu bergumam khawatir

“Kita harapkan sumoy dan Topeng Hitam bisa menyelesaikan urusan ini sebelum berita yang dibawanya menyebar” Sian Eng Cu menghibur

“Benar, sebab jika tidak, banyak persoalan besar yang lain yang mungkin terjadi” Pengemis Tawa Gila juga berbicara.

“Dan sebaiknya kamipun segera mohon diri Tong Tayhiap dan Pengemis Tawa Gila, sudah saatnya kami kembali ke perguruan kami” Tang Hauw Sek akhirnya minta diri.

“Baiklah, bila menilik keadaan, nampaknya suasana dan situasi di Thian San Pay dan Tiam Jong Pay sangat riskan dan berbahaya. Jika jiwi tidak keberatan, maka kami akan membantu meski secara diam-diam untuk tidak mengusik mereka yang sedang merencanakan kebusukan ini. Dan jika jiwi sepakat, maka dari tempat ini kami akan mengirimkan bantuan ke perguruan jiwi dan juga mengirimkan kabar rahasia ke beberapa perguruan agar mengetahui adanya penyusupan semacam ini”

“Terima kasih Tong Tayhiap, tentu, kami akan berterima kasih untuk bantuannya” Tang Hauw Sek mengiyakan, seperti juga Gui San Bu. Keduanya paham benar dan berfirasat, sesuatu yang tidak menyenangkan sedang terjadi di Perguruan mereka. Dan nampaknya, bantuan orang gagah se Tionggoan akan sangat mereka butuhkan. Keduanya kemudian berpamitan dan siang itu juga melakukan perjalanan pulang ke perguruan masing-masing.

Tang Hauw Sek dengan rombongannya kembali ke Thian San Pay dan Gui San Bu dengan anak buahnya kembali ke Tiam Jong Pay. Kedua tokoh dari perguruan berbeda itu berjalan pulang dengan hati penuh rasa cemas dan khawatir, tetapi menjadi sedikit besar karena ada jaminan bahwa Sian Eng Cu dan Pengemis Tawa Gila akan mengupayakan bantuan, seandainya benar terjadi sesuatu yang luar biasa di perguruan mereka.

============================

“Perlahan dulu sobat, kita perlu bicara” Mei Lan dengan cepat melakukan pengejaran, tetapi dengan cepat juga dia menjadi kaget karena lawan yang dikejar juga bergerak dengan cepat. Dalam waktu singkat Mei Lan memang dapat memperpendek jarak antara mereka, tetapi lawan yang dikejarpun sudah mampu mencapai pinggiran kota, dan bahkan nampaknya segera akan mengarah ke hutan di luar kota Ye Cheng yang memang cukup lebat.

Dan Mei Lan sadar, dia tidak boleh membiarkan lawannya mencapai hutan di luar kota sebelah utara tersebut, karena resikonya akan semakin besar. Tetapi yang ditakutkannya adalah, kaburnya lawan dengan memanfaatkan lebatnya hutan, dan berarti informasi yang

diserap lawan akan menjadi konsumsi musuh dan sudah pasti akan sangat merugikan mereka.

Kesadaran tersebut membuat Mei Lan mengempos semangat dan akibatnya sungguh luar biasa, bagaikan terbang layaknya Mei Lan bergerak dan tepat di sisi utara Kota Ye Cheng, sebelum memasuki areal hutan, Mei Lan melayang dan kemudian melampaui lawannya serta berhenti persis di depannya.

“Sudah kukatakan kita perlu bicara. Tolong jelaskan, untuk maksud apa saudara mengintil pembicaraan para tokoh pendekar, dan mengapa ketika bertemu aku saudara kemudian lantas bergegas pergi. Dan eh ….., bukankah, bukankah engkau? Mei Lan yang berbicara sambil perlahan membalikkan tubuh terkejut menemukan siapa lawan yang dikejarnya.

Tang Cun, salah seorang dari barisan para pendekar dan terkenal sebagai salah seorang pendekar yang berkelana. Dan bahkan masih terhitung berasal dari satu desa dengan tokoh Thian San Pay, Tang Hauw Sek, dan karena itu dia bisa bergabung dengan rombongan pendekar. Dan secara kebetulan, Mei Lan secara samar bisa mengenali Tang Cun dari satu episode yang tidak bisa dilupakan Mei Lan dan membuatnya bisa mengenali lawan ini.

“Benar, engkau pasti yang bernama Tang Cun, dan engkau jugalah yang memanas-manasi para pendekar dengan menjelek-jelekkan Liong ko di Siauw Lim Sie. Apa maksudmu sebenarnya, dan siapa engkau sesungguhnya Tang Cun”? Benar, tokoh inilah salah satu yang menjelek-jelekkan Ceng Liong dalam pertemuan di Siauw Lim Sie dan membuat Ceng Liong kemudian mengundurkan diri selaku Bengcu.

Mei Lan merasa sangat sebal dengan orang ini yang sangat pintar bersilat lidah dan membakar banyak orang hingga kemudian cukup banyak yang memojokkan Ceng Liong. Dan wajah orang yang “mencederai” kekasih hati, sudah jelas akan sangat sulit untuk dilupakan, termasuk juga bagi Liang Mei Lan.

“Ach nona, aku hanya kebetulan berada di dekat pemondokan tersebut, sekaligus menantikan saudaraku yang masih berasal dari desa yang sama, tokoh Thian San Pay itu, Tang Hauw Sek”, Lihay juga Tang Cun ini, dia masih sanggup menentramkan hatinya meskipun posisi dan keadaannya jelas sudah diujung tanduk. Apalagi, Tang Cun kenal betul kelihayan Liang Mei Lan yang menjadi buah bibir dan kebanggaan para pendekar, karena selain cantik dan manis, nona ini ini juga teramat lihay, murid salah seorang kenamaan, Wie Tiong Lan dari Bu Tung Pay yang sejajar dengan 3 manusia dewa lainya.

Dan gadis cantik ini bahkan mampu mengalahkan salah satu maha iblis yang sangat ditakuti sejak puluhan tahun silam.

“Hm, begitu yaa, dan mengapa pula engkau bergegas pergi ketika aku memergokimu berada di sekitar ruangan yang digunakan para pemimpin pendekar untuk melakukan percakapan-percakapan yang biasanya bersifat rahasia itu”? Mei Lan bukannya orang bodoh, bukan. Dia cukup cerdik untuk mencecar lawannya dengan pertanyaan yang menyudutkan Tang Cun.

“Ach nona, aku sebenarnya menunggui saudaraku Tang Hauw Sek, sekaligus berjaga di luar ruangan tersebut” pintar Tang Cun berkelit.

“Dan, ketika aku memintamu kembali, engkau justru melarikan diri. Benar-benarkah engkau sedang menunggui locianpwe Tang Hauw Sek

dan berjaga di pintu kamar yang sebenarnya terlarang bagi siapapun”? Mei Lan mendesak

“Ach, nona engkau terlalu memaksaku. Aku menjadi khawatir”

“Tang Cun, tidak ada yang menekanmu. Sebaiknya engkau ikut aku dan kita berbicara dengan para pemimpin pendekar, biar apa yang engkau lakukan menjadi jelas bagi semua, termasuk menghilangkan kecurigaan para pemimpin itu yang memerintahkan aku membawa engkau kembali” “Tapi, aku tidak ingin kembali lagi nona”

“Jika begitu, aku harus membawamu kembali dengan paksa, aku minta maaf sebelumnya”

“Maaf, jika aku harus mempertahankan diri nona” Tang Cun berkeras dan bertahan untuk tidak kembali. Dan Mei Lanpun tidak menunggu lama untuk memaksa orang itu kembali. Dengan segera Mei Lan menyerang Tang Cun dengan totokan-totokan untuk membawa Tang Cun kembali ke Ye Cheng karena lakunya yang mencurigakan.

Tetapi, Mei Lan dengan segera menjadi tambah curiga, karena kepandaian Tang Cun, ternyata bukan ginkangnya saja yang diluar dugaannya. Kepandaian lainnya, termasuk iweekang dan jurus-jurus yang digunakan, termasuk jurus-jurus yang berbahaya.

Bahkan Mei Lan menjadi kaget, karena dasar-dasar ilmu pukulannya bebeda dengan dasar ilmu Tiongoan, meski nampak Tang Cun tidak asing dengan gaya ilmu Tionggoan. Gaya ilmu pukulan dan dasar ilmu Tang Cun sedikit asing, tetapi tidak kurang ampuhnya. Dan semua totokan Mei Lan yang menyerangnya dapat dipunahkannya dengan baik.

“Aku sudah salah menilai orang, dan nampaknya orang ini memang menyembunyikan diri dnegan baik di kalangan pendekar” gumam Mei Lan. Dan dengan segera Mei Lan kemudian meningkatkan serangan-serangan dan bahkan kecepatannya bergerak juga ditingkatkan, baru setelah itu nampaknya Tang Cun mulai kerepotan mengimbangi Mei Lan.

Kemelut di Thian San Pay dan Tiam Jong Pay (2)

“Hm, engkau semakin mencurigakan Tang Cun. Kepandaianmu jelas sudah di tingkat kelas satu di Tionggoan dan engkau bisa menyembunyikan diri sedemikian rapih. Kepada dan untuk siapa engkau bekerja sebenarnya”? Sambil mencecar lawan, Mei Lan juga awas dengan keadaan sekelilingnya.

Dia cukup berpengalaman bagaimana lawan dengan kejamnya menghabisi orang mereka yang sangat mungkin membuka rahasisa perkumpulan dengan membunuhnya atau membunuh diri. Mei Lan tidak ingin kehilangan Tang Cun, karena beanggapan orang ini nampaknya bisa menjadi titik berangkat mengetahui keadaan Thian Liong Pang lebih jauh.

Meskipun Tang Cun juga meningkatkan perlawanannya, tetapi tetap saja kian lama dia semakin jatuh dibawah angin, bahkan kemudian hanya berusaha mempertahankan dirinya saja. Ketika Mei Lan semakin bersungguh-sungguh mencecarnya, maka pada akhirnya Tang Cun yang memang sudah tahu diri bukan lawan bagi Mei Lan hanya bisa mengeluh dalam hati.

Dia membawa informasi yang sangat penting, tetapi lebih dahulu dia harus menyelamatkan nyawanya. Dan hal itu menjadi semakin lama

semakin sulit. Untungnya Mei Lan hanya berusaha menawannya. Seandainya Mei Lan tahu apa yang diserap Tang Cun, sudah sejak dini Mei Lan melumpuhkannya. Terlebih karena Mei Lan hanya mendengar perintah untuk menghentikan Tang Cun, dan dia paham hanya sebagian dari perintah itu.

Dan itu juga yang membuat Tang Cun sanggup bertahan sekian lama. Dan itu juga yang nyaris membahayakan nyawa banyak orang di Thian San Pay dan Tiam Jong Pay. Dalam kondisi Tang Cun yang sudah patah arang dan rasanya tidak akan lebih dari 3-5 jurus dia akan jatuh, tiba-tiba terdengar suara dan desiran orang mendekat yang langsung menyerang Mei Lan:

“Engkau hebat nona, tapi biarkan orang itu berlalu” belum hilang suara itu, Mei Lan sudah merasakan serangan yang mengarah ke punggungnya. Meskipun tidak dengan kekuatan yang berbahaya, tetapi cukup ampuh untuk menghalangi Mei Lan melanjutkan serangannya kepada Tang Cun yang dengan cepat kemudian berdiri di pinggir arena.

Sementara itu, Mei Lan dengan sebat menghindari serangan si pendatang dengan gerakan yang manis dan membuat si penyerang mau tidak mau ikut menjadi kagum.

“Engkau ………!!???? Mei Lan kaget bercampur gembira melhat di hadapannya tampil seorang yang berpakaian dan berkerudung putih menutupi semua bagian tubuhnya. Tetapi, perawakan orang itu, tidak diragukan lagi adalah seorang wanita. Dan perasaan peka Mei Lan segera menebak, wanita dihadapannya, belum tua benar, bahkan nampaknya juga masih seorang gadis. Sementara itu, Majikan

Kerudung Putih, sudah dengan cepat berkata meski masih tetap berhadap-hadapan dengan Mei Lan:

“Mau apa engkau berdiri disitu. Tidak cepat pergi”?

Tang Cun segera sadar akan keadaan tersebut. Dengan cepat dia bermaksud masuk hutan dan pergi menyelamatkan diri. Dia sadar, bahwa barusan dia diselamatkan. Seandainya dia tertangkap oleh Mei Lan, dia sadar nyawanya terancam bahaya, bukan hanya oleh kawanan pendekar, tetapi bahkan juga yang lebih ditakutinya adalah ancaman kematian dari pihak Thian Liong Pang.

Karena itu, dia merasa bersyukur dan dengan cepat berniat berlalu dari arena pertempuran itu. Toch Mei Lan sudah ada yang mengurusi, dan dia tahu dan yakin benar dengan kemampuan Majikan Kerudung Putih yang pasti akan sanggup meladeni LIang Mei Lan, nona sakti yang selain dikaguminya kesaktiannya, juga kecantikannya.

Tetapi, pada saat bersamaan, pada saat Tang Cun baru mulai melangkah, sosok bayangan lain berkelabat mendekatinya. Bayangan hitam itu langsung meluncur kearah Tang Cun yang mengendorkan kewaspadaannya, dan juga berada di luar perkiraan Majikan Kerudung Putih. Dan ketika Majikan Kerudung Putih dan Mei Lan sadar, bayangan hitam itu sudah berada di belakang Tang Cun dan berkata:

“Maaf sobat, engkau tidak boleh berlalu begitu saja” dan Tang Cun yang terperanjat dengan kedatangan tokoh baru itu segera bermaksud menyerang. Untungnya bayangan hitam itu, yang ternyata adalah si Topeng Hitam, memberi ketika Tang Cun bersiap dan bahkan mendahuluinya menyerang. Dan pada saat itulah, hanya dalam hitungan detik, saat Majikan Kerudung Putih belum sadar sepenuhnya,

juga Mei Lan belum sadar sepenuhnya, benturan hebat terjadi antara Tang Cun dan Topeng Hitam.

“Baaaaaaar” dan bagaikan layangan putus, tubuh Tang Cun melayang ke belakang dan kemudian terhempas ke tanah dengan suara keras. Perlahan tubuh itu menggeliat dan menunjuk kearah Topeng Hitam dengan suara terputus-putus:

“engkau …. engkau …..” dan setelah itu suara Tang Cun putus bersamaan dengan melayangnya nyawanya. Ada beberapa saat semua yang berdiri di arena terkesima, tidak tahu mau berbuat apa, sampai kemudian Topeng Hitam berpaling kearah Mei Lan dan berkata tegas:

“Engkau terlampau baik nona, bila orang ini lepas, maka ada ratusan nyawa manusia yang bisa melayang”

“Separah itukah? Dan sepenting itukah informasi yan diserap dan akan dibawahnya ke pihak lawan”?

“Sangat serius dan sangat berbahaya. Itulah sebabnya suhengmu menugaskan aku membantumu dan menghentikan langkah si penghianat yang sudah terbeli lawan ini”

“Maafkan aku, untungnya engkau cepat datang membantu paman. Aku benar-benar lalai dan nyaris membahayakan banyak orang” Mei Lan menyatakan penyesalannya akibat nyaris membiarkan informasi yang sangat penting jatuh ke tangan lawan.

“Sudahlah, nampaknya ada tugas lain yang sama pentingnya yang harus engkau kerjakan”

“Maksud paman”?

Topeng Hitam berhenti berbicara dan mengalihkan pandangannya kearah Majikan Kerudung Putih. Sementara yang dipandangi masih terkesima dan murka karena didepan matanya dia kecolongan menyelamatkan orang yang ditugaskan oleh Thian Liong Pang menyerap informasi dari dalam kelompok pendekar.

Dia menjadi lebih murka lagi karena kedua lawannya dengan seenaknya bercakap cakap didepannya seperti tidak menghiraukannya sama sekali. Bercakap cakap seenaknya dan seperti menganggap dia tidak ada diarena tersebut, sungguh keterlaluan. Dan pada saat Topeng Hitam beralih memandangnya, pada saat yang sama dia juga memandang si Topeng Hitam. Empat bola mata saling pandang, tapi entahlah, justru pada saat itu bukan kobaran amarah yang memuncak yang terjadi.

Tetapi entah perasan apa. Baik bagi Topeng Hitam maupun bagi Majikan Kerudung Putih. Keduanya seperti terpaku pada mata masing-masing, dan justru bukan amarah dan rasa ingin membunuh yang menguasai keduanya. Entah rasa semacam apa yang membuat mereka seperti itu. Sampai kemudian pada akhirnya Topeng Hitam mau tidak mau harus mengeluarkan kalimat:

“Nona Mei Lan, sebaiknya engkau yang menghadapi Majikan Kerudung Putih ini, dan mintakan pertanggungjawaban atas ulah mereka menyerang banyak kaum pendekar”

“Baik paman” Mei Lan kemudian juga berpaling dan kini berdiri berhadap-hadapan dengan Majikan Kerudung Putih yang juga kini akhirnya berpaling menghadapi Mei Lan. Dia sendiri belum mengerti mengapa tidak ada rasa marahnya terhadap Topeng Hitam, padahal

seharusnya dia membalaskan dendam anak buahnya. “Tapi sudahlah, lawan sudah berdiri berhadapan di arena” pikirnya.

Dan kini, kedua jago wanita itu berdiri saling berhadap-hadapan. Meski baru sekali bergebrak dan masih belum tahu kemampuan masing-masing, tetapi setelah saling tatap beberapa ketika, keduanya sadar sedang menghadapi lawan yang tidak ringan. Apalagi bagi Mei Lan, dan telah mendengar keberadaan lawannya ini dari Ceng Liong dan terutama Kwi Beng yang bahkan barusan dikalahkan tokoh ini.

Hal yang membuat Mei Lan menjadi memandang lawannya sangat tinggi, meski tidaklah takut bertempur dengannya. Sebaliknya, Majikan Kerudung Putih juga sudah menakar kemampuan Mei Lan ketika melihatnya mencecar Tang Cun dengan kecepatan yang luar biasa. “Sunguh seorang nona yang lihay” pikir Majikan Kerudung Putih. Dan keduanya kini saling berhadapan dan dalam posisi siap bertempur.

Dan karena keduanya sudah bisa menilai kekuatan lawan, maka secara otomatis keduanya langsung bersiap dalam kesiagaan dengan ilmu-ilmu tingkat tinggi masing-masing. Dan benar saja, dalam ketika bersamaan, dan hampir sulit diikuti pandang mata, keduanya bergerak bersamaan saling cecar dan saling serang.

Dalam waktu sepersekian detik, keduanya telah saling serang dan saling cecar dengan kecepatan luar biasa. Dengan gemulai Majikan Kerudung Putih mematuk lengan Mei Lan tepat di jalan darah kematian yang sangat berbahaya, tetapi dengan lemas dan cepat, dari terancam jemari Mei Lan yang terisi hawa Liang Gie bergerak menyamping dan menotok pangkal lengan lawan, dan kembali dengan menggerakkan lengannya Majikan Kerudung Putih menampari jemari Mei Lan dari samping.

Begitu terus menerus dan terjadi hanya dalam hitungan detik dan sudah banyak gebrakan dan saling serang terjadi antara keduanya. Dan ketika beberapa kali benturan kekuatan antara keduanya tak terhindarkan, ternyata kekuatan sinkang keduanyapun tidaklah berbeda jauh. Hanya, dalam hal ginkang, ternyata Mei Lan masih memilki sedikit keunggulan, dalam kecepatan dan dalam keringanannya bergerak dengan nyaris menyalahi hukum gravitasi, sementara Majikan Kerudung Putih unggul dalam kelemasan bergerak karena dia bergerak mengikuti dasar dan tipe gaya seekor ular.

Tetapi, apalah artinya keungulan tpis dalam hal ginkang itu, karena kedua orang tersebut nampaknya memiliki kekuatan Sinkang yang sepadan. Majikan Kerudung Putih nampaknya menang matang, tetapi Mei Lan unggul dalam kemurnian tenaganya yang didasarkan atas Sinkang Bu Tong Pay yang sealiran dengan aliran murni Siauw Lim Sie.

Sebagai seorang ahli, dalam beberapa saat saja, Topeng Hitam sudah bisa menebak bahwa akhir pertempuran ini pastilah sampyuh. Tidak akan ada yang mampu memenangkan pertempuran tanpa kerugian luar biasa dari salah satunya.

Keunggulan Mei Lan dalam ginkang, tidak bisa membuatnya diatas angin, karena betapapun nampak bahwa Mei Lan masih asing dengan tata gerak dan jurus serangan lawan yang sangat asing. Sementara bagi Majikan Kerudung Putih, silat gaya Tiongoan bukan hal baru. Perimbangan ini jelas membuat keduanya sukar untuk saling mengalahkan. Bahkan memprediksi siapa pemenangnyapun, sangatlah sulit.

Karena itu, Topeng Hitam meramalkan pertempuran ini bakal memakan waktu lama. Rumitnya, meskipun membela Thian Liong Pang, adalah bertentangan dengan jiwa kependekaran untuk mengerubuti Majikan Kerudung Putih. Sangat memungkinkan, dengan rasa aneh dalam tatapan mati tadi, sangat sulit bagi si Topeng Hitam berkeberanian untuk melontarkan pukulan andalan keluarganya.

“Hyaaaaaaaat” tba-tiba lamunan Topen Hitam dirobek oleh jeritan dari kedua Naga betina yang sedang bertarung. Dan sejenak Topeng Hitam menyaksikan betapa Mei Lan sedikit keteteran dengan kombinasi serangan Majikan Kerudung Putih yang mengeluarkan sinar kilat di tangannya. Tetapi, dengan beberapa geakan yang sulit dipercaya, Mei Lan kembali bisa memaksakan keseimbangan pertempuran.

Terutama setelah dia melihat Mei Lan memainkan Pik Lek Ciang dengan Sian Eng Sin Kun dan ditopang oleh ginkang nomor wahid Te hun thian. Tetapi episode itu berarti banyak bagi semua pihak. Baik bagi Majikan Kerudung Putih, Topeng Hitam maupun bagi Mei Lan. Majikan Kerudung Putih yang menyerang dengan tangan berkilat, nampaknya memainkan salah satu ilmu ampuh kebanggaannya.

Tetapi, dia sangat kaget karena Mei Lan kemudian sanggup memapaknya dengan sebuah pukulan berkilat yang nyaris sejenis dan bergerak nyaris mustahil dengan gaya-gaya yang sulit dipercaya. Barulah dia sadar bawa dalam hal ginkang, lawannya masih mengatasinya. Sementara bagi Mei Lan, dia sungguh sadar, bahwa meski ginkangnya unggul sedikit, tetapi kurang cukup emadai untuk memetik kemenangan. Lawannya juga ahli ginkang lemas dan sangup mengimbanginya.

Selain itu, Mei Lan sadar, bahwa lawan ini memang benar-benar luar biasa, bahkan masih lebih sulit dibandingkan melawan para Hu Hoat Thian Liong Pang. “orang ini masih lebih lihay dan ulet, padahal bersama Liong ko, akupun sudah meningkatkan kemampuanku” desis Mei Lan. Sungguh dia tidak mengira, bahwa benar didalam Thian Liong Pang, masih ada juga jago sekelas dan selihay Majikan Kerudung Putih ini.

Jago yang bahkan masih mengalahkan para Hu Hoat yang sudah pernah bertempur dnegannya beberapa waktu belakangan ini. Dan bahkan masih sanggup merendengi kemampuan ginkangnya. Sungguh luar biasa.

Sementara itu, disudut arena, Topeng Hitam nampak mengeleng-gelengkan kepalanya sambil berdesis: “bagaimana mungkin, ach tidak mungkin”. Entah apa yang berada dipikiran tokoh aneh ini, tetapi terang tokoh ini sedang sangat kebingungan. Matanya jelas masih terarah ke pertempuran maut itu, tetapi cahaya matanya terliputi kebingungan yang sangat. Dia seperti sedang merenungkan dan membayangkan sesuatu meskipun matanya terus menerus mengikuti pertempuran tersebut.

Kembali ke arena, lama kelamaan pertempuran tersebut seperti menjadi arena latihan saja bagi keduanya. Rasa kagum dan hormat justru tumbuh dalam hati keduanya. Bagi Mei Lan, meskipun lawannya adalah pihak Thian Liong Pang, tetapi kekasaran dan kelicikan dalam bertarung justru tidak terpancar dari serangan-serangan Majikan Kerudung Putih.

Memang, hawa menyesatkan pikiran, sejenis sihir, sangat kuat terpancar dari kandungan hawa pukulan dan hawa sakti Majikan

Kerudung Putih. Tetapi, nampaknya, hawa tersebut datang bersamaan dengan pengembangan jurus dan peningkatan kemampuan tenaga dalamnya. Karena itu, sudah sejak dini Mei Lan juga mengerahkan kekuatan hawa batin dan khikang pelindung badannya. Kekuatan luar biasa lawannya, mengatasi lawan-lawan sebelumnya telah menghadirkan rasa hormatnya kepada lawan yang lihay ini.

Hal yang sama, juga bertumbuh di benak Majikan Kerudung Putih. Selain memang dia dipesan untuk jangan membunuh lawan-lawannya, diapun sangat kagum dengan daya dan gaya gerak lawannya yang menurutnya sangat luar biasa. Baru sekarang selain gurunya dia bertemu lawan dengan ginkang yang sangat luar biasa. Hal tersebut menumbuhkan rasa hormat di hatinya. Apalagi, sejauh ini, semua Ilmu yang dikerahkannya bisa direndengi dan diimbangi lawannya. Hebat, pikirnya.

Tetapi, bukan berarti tidak tumbuh rasa ingin menang diantara keduanya. Bagi mereka yang mempelajari Ilmu Silat, kemampuan lawan yang semakin tinggi, akan semakin mengasyikkan untuk dijajal dan dilawan. Dan hukum inipun berlaku bagi Mei Lan dan Majikan Kerudung Putih.

Meski saling menghormati, tetapi keinginan menunjukkan kemampuan masing-masing, juga masih sangat kental dan kuat merasuki keduanya. Karena itu, sambil menjaga untuk tidak saling melukai, keduanya terus meningkatkan kemampuan mereka dalam ilmu-ilmu pamungkas yang dibanggakan perguruan mereka. Bahkan kini Mei Lan menyerang lawan dengan ilmu pamungkasnya Ban Hud Ciang (selaksa telapak budha), sebuah ilmu mujijat dari pintu kuil Siauw Lim Sie.

Ilmu yang diwariskan oleh manusia gaib terakhir dari Siauw Lim Sie, yakni Kian Ti Hosiang. Di sekitar tubuhnya seakan-akan berkelabat-kelabat laksaan telapak tangan, baik yang menjaga dirinya, maupun yang menyerang lawannya. Merasa dikejar-kejar laksaan telapak tangan itu, tiba-tiba tubuh Majikan Kerudung Putih berputar-putar bagaikan gasing, dan tiba-tiba tubuhnya kembali bergerak-gerak luar biasa cepat dan meliuk-liuk aneh.

Kali ini, Majikan Kerudung Putih memainkan ilmu pamungkasnya Tarian Sihir Selaksa Ular Sakti, yang memaksakan pertarungan kembali berlangsung dalam keseimbangan. Bila Mei Lan bergerak dalam kekokohan dan mengandalkan pukulan-pukulan, maka Majikan Kerudung Putih, membentengi diri dalam gerak yang menghadirkan lawan bagi laksaan telapak tangan dengan laksaan ular menerjang telapak tangan. Bagi lawan yang berkekuatan batin lemah, sudah pasti akan temakan tarian sihir laksaan ular yang membuat Majikan Kerudung Putih akan nampak bagaikan ular putih besar yang memerintahkan laksaan ular lain ntuk menyerang lawan.

Tetapi Mei Lan yang dalam lindungan ilmu mujijat Ban Hud Ciang, tidak terpengaruh oleh tarian sihir tersebut dan tetap memandang dan menempur lawan dalam ukuran normalnya. Tetapi tak pelak, peluh mulai mengucur dari dahinya, dan masih sedikit lebih banyak dibandingkan lawannya.

Tetapi, tidaklah berarti dia terdesak, apalagi dia mampu menciptakan keseimbangan dengan lebih mengandalkan tata geraknya. Meskipun demikian, lama kelamaan, Majikan Kerudung Putih yang juga bergerak dengan pengerahan sinkang dan kekuatan batin, menjadi semakin letih juga. Bahkan pada jurus ke 9 Ban Hud Ciang, sebuah benturan keras

terdengar memekakan telinga, ketika keduanya mau tidak mau harus mengadu tenaga dan lengan karena kebuntuan saling cecar pukulan.

Dan akibatnya sunguh luar biaa, hawa mujijat terpancar keluar dari tubuh keduanya dan keduanyapun terdorong mundur kebelakang, dan kesudahannya keduanya saling senyum dan saling kagum:

“Luar biasa, engkaulah lawan terberat selama aku berkecimpung di dunia persilatan. Pantas Hu Hoat kami gagal menaklukkan kalian”

“Engkau juga hebat Majikan Kerudung Putih, lawan terberatku setelah Ceng Liong koko dan Hu Hoat kalian”

“Apakah engkaupun ingin menangkapku nona kecil”? Majikan Kerudung Putih bertanya dengan sinar mata yang nampak bersahabat.

“Seandainya boleh memilih, aku tidak ingin menangkapmu. Tapi kita berdiri pada pijakan yang berbeda” Mei Lan nampak meragu.

“Benar nona kecil, kadang pilihan kita berbeda dengan keinginan dan kata hati kita. Tetapi, belum tentu engkau bisa menangkapku nona kecil, meskipun belum juga tentu aku bisa mengalahkanku. Apalagi, masih ada tokoh lain yang lebih hebat di Thian Liong Pang”

“Apa …. Apa maksudmu”? Mei Lan bertanya

“Artinya, aku bukanlah tokoh terhebat di Thian Liong Pang” Majikan Kerudung Putih berkata. Dan akibatnya, baik Mei Lan maupun Topeng Hitam jadi terperanjat. Di pihak pendekar, selain Ceng Liong, adalah Mei Lan ini yang berkepandaian puncak. Jika masih ada tokoh lain yang lebih hebat, maka betapa Thian Liong Pang ini memang ancaman bahaya yang tidak kecil.

“Marilah nona kecil, aku tahu engkau masih menyimpan 2 jurus utama Ilmu Pamungkasmu, Ban Hud Ciang, dan mungkin ilmumu yang lain. Akupun masih tertarik mencoba ilmuku yang lain ….. atau kita sudahi sampai disini”?

“Baiklah Majikan Kerudung Putih, biarlah keinginanmu kupenuhi. Syukur aku sanggup mengalahkanmu dan menangkapmu, bilapun tidak, rasanya tidak akan ada yang menyalahkanku”

Keduanya kembali bersiap melakukan pertempuran. Dan kali ini, Mei Lan yang melanjutkan 2 jurus tersisa dari Ban Hud Ciang, Laksaan Tapak Budha Merangkul Pelangi dan Budha Merangkul Langit dan Bumi dihadapi dengan jurus Ular Sakti Menyihir dan Mematuk Langit, dari ilmu Tarian Sihir Selaksa Ular Sakti.

Kesudahannya hebat, terutama ketika Jurus terakhir Laksaan Telapak Budha di mainkan dilawan oleh bagian terakhir Tarian Sihir Laksaan Ular Sakti. Suasana seperti berubah, terang dan temaram berganti-ganti, sementara alunan suara Budha diiringi oleh desis ular sakti, berlomba untuk saling menekan dan saling mengalahkan. Bahkan seorang Topeng Hitam sekalipun menyaksikan hanya secara samar dan kabur bagaimana benturan dan perkelahian seru dua Naga betina ini berlangsung.

Dan ketika kemudian keduanya terlontar mundur berbarengan, dari bibir keduanya meleleh setitik darah dan menandakan bahwa keduanya terluka, meskipun nampaknya tidak cukup berat akibat benturan Ilmu pamungkas keduanya. Rupanya, pada bagian akhir pengerahan jurus dari ilmu pamungkas tersebut, keduanya tidak sanggup menghindari lontaran kekuatan tenaga yang menyertainya. Dan keduanya terpukul mundur dengan menderita sedikit luka didalam

tubuhnya. Tetapi begitu terlontar mundur, dengan masih tetap berdiri berhadapan keduanya nampak saling mengagumi.

“Engkau hebat adik kecil, engkau mampu melukaiku. Inilah luka bertempur yang pertama selama 5 tahun terakhir. Setahuku, hanya guru, paman guru, ayahku dan kakakku yang sanggup melukaiku seperti ini. Dan engkau adalah orang yang kesekian” Majikan Kerudung Putih berkata.

“Engkau juga hebat Majikan Kerudung Putih. AKu menyesal kita berdiri di pihak yang bersebarangan. Paman bagaimana pendapatmu” Mei Lan memandang kearah Topeng Hitam. Tetapi Topeng Hitam sendiri masih dalam permenungan yang belum selesai.

Belum selesai menerka siapa Majikan Kerudung Putih dan masih takjub dengan pameran kekuatan yang sangat menggoncangkannya barusan. Dan ada lagi sesuatu yang terselib sebagai rahasia besar yang tidak mampu diterka dan dijawabnya saat ini. Karena itu dia bertanya gagap:

“Apa maksudmu Mei Lan”?

“Bagaimana menurut paman kita menyelesaikan urusan disini”?

“Ach, memang rumit. Tapi kita harus berusaha untuk membawa Majikan Kerudung Putih ke Ye Cheng. Siapa tahu ada banyak informasi yang bisa disampaikannya”

“Hm, tapi sayang sekali, kalian tidak akan bisa membawaku kesana” Majikan Kerudung Putih berkata sambil tersenyum.

Kemelut di Thian San Pay dan Tiam Jong Pay (3)

“Karena meskipun aku tidak atau belum mampu mengalahkan adik kecil ini, tapi diapun tidak akan mampu melakukanhal yang sama terhadapku”

“Hm, tetapi aku akan sanggup membantu nona ini menghadapimu Majikan Kerudung Putih” Topeng Hitam menyela.

“Aku tahu, tapi akupun tahu engkau tidak memiliki nyali sebesar itu untuk mengeroyok orang. Apalagi menyeroyok seorang wanita seperti diriku ini. Benarkah demikian Topeng Hitam”?

“Engkau benar. Tapi, kawan-kawan dunia persilatan tidak akan menegurkan jika kulakukan demi keselamatan dunia persilatan” Topeng Hitam berkeras, meski tidak yakin dengan perkataannya.

“Baiklah lakukanlah bila engkau merasa harus melakukannya” tantang Majikan Kerudung Putih.

Tetapi, belum lagi Topeng Hitam memutuskan melakukan sesuatu, tiba-tiba sesosok tubuh berpakaian kelabu melesat tiba disamping Majikan Kerudung Putih. Dari langkah dan lesatannya, baik Mei Lan maupun Topeng Hitam sadar, bahwa orang ini bukan orang sembarangan. Dan orang tersebut langsung mendekat Majikan Kerudung Putih dan langsung berkata:

“Hm sumoy, engkau terluka agaknya. Sudahlah, mari kita pergi” si pendatang langsung mengajak Majikan Kerudung Putih untuk pergi. Tetapi tiba-tiuba terdengar suara dibelakannya:

“Hm, nampaknya engkau sebagai suhengnya juga perlu ditahan. Maaf, aku menyerang saudara” dan begitu si pendatang menghadap kearahnya, Topeng Hitam sudah menyerangnya, terutama setelah

melihat si pendatang sudah siap. Tapi, seperti dugaan semula, si pendatang ini, rupanya bukan orang sembarangan. Dia tidak takut dengan serangan Topeng Hitam, sebaliknya dengan ringan dan tangkas dia menangkis dan balas memukul kearah Topeng Hitam. Dan terdengar benturan keras:

“Bressssss” dan keduanya terdorong mundur ke belakang, sama-sama hampir atau nyaris 3 langkah akibat benturan hebat tu. Dan kesudahannya keduanya bersuara:

“kau ….”?

“kau…..”? Kekagetan jelas terdengar dari suara mereka berdua. Bahkan Majikan Kerudung Putihpun nampak kaget. Dan dengan segera kemudian dia melirik kearah Mei Lan dan berkata: “Sampai bertemu lagi nona kecil”

“Mari suheng”, dan keduanyapun melesat meninggalkan tempat itu. Meninggalkan arena dengan hanya dipandangi Mei Lan yang juga merasakan keanehan atas kedatangan, keberadaan dan kepergian kedua tokoh tadi. Tetapi, bagi Topeng Hitam, bukan sekedar keanehan, tetapi sesuatu yang membuatnya pusing tujuh keliling. “Mungkinkah”? pikirnya.

======================

Di Ye Cheng, menjelang tengah hari Sian Eng Cu dan Pengemis Tawa Gila memutuskan memanggil semua pimpinan kelompok dan tokoh pendekar untuk mendiskusikan dan memutuskan langkah terakhir. Untuk antisipasi atas penyusupan, maka hanya tokoh utama saja yang dipanggil, pimpinan 4 kelompok pendekar, kecuali Tang

Hauw Sek yang telah langsung kembali ke Thai San dan Gui San Bu yang sedang melakukan persiapan pulang.

Dalam ruangan tersebut akhirnya yang berkumpul selain Sian Eng Cu dan Pengemis Tawa Gila, juga nampak Liang Tek Hoat, Souw Kwi Beng dan Souw Kwi Song, Beng San Siang Eng yang memimpin kelompok pendekar kelana, serta Yo Cat yang memimpin kelompok pendekar lainnya. Selain itu, nampak juga Maling Sakti yang baru datang dari Kwi Cu dan beberapa orang tokoh Kay Pang lainnya. Sementara Barisan 6 Pedang dari Lembah Pualam Hijau mengamankan ruangan pertemuan dari pengintaian orang lain.

Percakapan mereka diawali oleh Sian Eng Cu yang memaparkan perkembangan terakhir. Yakni diawali dengan kesempatan mereka memasuki Kwi Cu hingga kekisruhan yang terjadi di Thian San Pay dan Tiam Jong Pay, bahkan juga kenyataan betapan percakapan mereka ternyata diintip orang lain. Kejadian-kejadian terakhir, termasuk penyerangan Majikan Kerudung Putih, masuk dalam pertimbangan untuk menyimpulkan apa yang harus dilakukan.

Setelah menguraikan apa yang terjadi pada saat-saat terakhir, pada bagian akhir Sian Eng Cu menyampaikan:

“Cuwi enghiong, kita pada dasarnya sudah di penghujung kesimpulan memasuki Kwi Cu. Tetapi nampaknya selalu dihalangi oleh pihak Thian Liong Pang. Tapi anehnya, tokoh-tokoh utama mereka selain Majikan Kerudung Putih seperti sedang bersembunyi. Dan pada saat bersamaan terjadi kekisruhan di Thian San Pay dan Tiam Jong Pay, dan nampaknya juga dibeberapa perguruan silat lainnya. Kita perlu sangat awas menetapkan memasuki Kwi Cu dan menyelesaikan persoalan di beberapa perguruan. Hal yang menurut hemat lohu, harus

dikerjakan secara saksama. Dan karena itu, kami mengundang cuwi sekalian untuk merundingkan dan memutuskan yang sebaiknya kita lakukan dalam waktu dekat ini. Namun, sebelumnya, sebaiknya kita mendengarkan beberapa keterangan yang diperoleh Maling Sakti dan Kaypang yang memasuki Kwi Cu secara rahasia beberapa waktu lalu”

Sian Eng Cu kemudian memandang kepada Maling Sakti yang segera tanggap dan melaporkan:

“Pada dasarnya, nyaris tiada gerakan berarti dari Thian Liong Pang di Kwi Cu, terutama pada siang hari. Tetapi, gelombang keluar masuk tokoh yang tak dikenal, nyaris selalu terjadi pada malam hari, tetapi tokoh tersebut tidak pernah menunjukkan dirinya diwaktu siang. Selama 4 hari berturut-turut kami mengamati dan mengintai bersama beberapa murid Kaypang, selalu kejadiannya seperti itu. Tokoh yang keluar masuk, rata-rata berkepandaian tinggi, dan tidak dikenal. Karena itu, kami semakin yakin, bahwa di Kwi Cu, pasti ada markas Thian Liong Pang dan bukan tidak mungkin juga markas besar mereka”

Setelah itu Pengemis Tawa Gila langsung melanjutkan:

“Dan menurut temuan anak murid Kaypang, arus keluar masuk tokoh tersebut selalu mengarah ke Sungai Yang Ce, dan di area lain kota Kwi Cu diwaktu malam, nyaris tidak ada aktivitas sebagaimana di arah yang disebutkan di atas. Dan ini memang semakin menguatkan dugaan bahwa ada Markas Thian Liong Pang disana, bahkan mungkin markas besar merekapun berada di sana”

Setelah itu, semua terdiam sejenak, sampai Sian Eng Cu kemudian bersuara:

“Nah, cuwi enghiong, nampaknya kita berada pada pilihan yang sulit. Antara secepatnya memasuki Kwi Cu untuk memastikan markas Thian Liong Pang berada disana untuk kemudian disusul memanggil tokoh-tokoh utama Perguruan Besar, dan menunggu sejenak dan mengirim bantuan bagi Thian San Pay dan Tiam Jong Pay yang sepertinya sedang dirundung bahaya”

“Menurut pendapatku yang bodoh, keduanya bisa kita kerjakan secara bersamaan Tong tayhiap. Kita bisa mengirim bantuan dan juga mengingatkan agar waspada perguruan silat lainnya atas penyusupan, dan yang lain memasuki kota Kwi Cu. Dengan cara demikian, kita memberi tekanan dan jawaban atas semua kemungkinan yang diambil oleh Thian Liong Pang” Yo Cat bersuara, dan memang orang ini meski rada tinggi hati, tetapi memiliki pandangan yang cukup tajam atas situasi yang terjadi.

Beberapa tokoh nampak mengangguk-angguk membenarkan saran Yo Cat tersebut, bahkan juga termasuk Sian Eg Cu dan Pengemis Tawa Gila.

“Usulan Yo heng memang beralasan. Tiada cukup alasan bagi kita bertahan di Ye Cheng, karena toch kota ini seperti telah dibiarkan oleh Thian Liong Pang, dan mereka leluasa mengganggu kita. Bila kita memasuki Kwi Cu, maka bisa dipastikan mereka akan melakukan tindakan baru dan kita bisa memulai pertarungan yang lain dengan pihak mereka” Pouw Kui Siang, salah seorang dari Beng San Siang Eng mendukung usulan orang she Yo.

“Bagaimana menurut cuwi sekalian, cara kita membantu kawan-kawan di Thian San Pay, Tiam Jong Pay dan mengingatkan perguruan silat lain”? terdengar Pengemis Tawa Gila bersuara.

“Hm, menurut hematku, kawan-kawan penyampai informasi dari Kay Pang bisa melakukannya” Yo Cat kembali bersuara.

“Benar”, kembali Pouw Kui Siang mendukung saran Yo Cat

“Baik sekali, karena kita masih belum tahu kondisi masing-masing perguruan tersebut. Jadi, mengingatkan ciangbunjin masing-masing perguruan adalah penting, dan sebaiknya dengan surat pengantar dari Sian Eng Cu Tayhiap” tambahnya.

“Ya, ya, bisa diterima, bisa diterima” Pengemis Tawa Gila bergumam menyatakan rasa setujunya.

Pada saat Sian Eng Cu ingin memberikan beberapa saran dan pemikirannya, tiba-tiba dari luar terdengar suara-suara berisik dan tidak lama kemudian disusul dengan masuknya Topeng Hitam bersama Lang Mei Lan ke dalam ruangan tersebut. Semua mata terbelalak, terutama karena menyaksikan betapa Liang Mei Lan nampaknya agak sedikit berhalangan, meski tidak terlampau berat. Adalah Tek Hoat yang tidak bisa menahan diri melihat adik kesayangannya seperti terluka. Dengan cepat dia mendekati Mei Lan dan menyapanya:

“Lan moi, engkau tidak apa-apa”?

“Sudahlah koko, aku sudah agak baikan. Sebentar lagi beristirahat sudah bisa pulih kembali” Mei Lan menjawab, betapapun malu dilhat begitu banyak orang. Sementara itu, Topeng Hitam yang nampaknya tidak ada halangan dan sehat saja telah diserbu sejumlah pertanyaan. Dan dengan singkat, Topeng Hitam menceritakan bagaimana Mei Lan mengejar Tang Cun, menempur Majikan Kerudung Putih dan ternyata keduanya setingkat, dan kemudian terbunuhnya Tang Cun.

“Hm, syukurlah bila informasi itu belum menyebar ke Thian Liong Pang. Kalian berdua berjasa besar bagi Thian San Pay dan Tiam Jong Pay. Dan bila Thian Liong Pang menganggap sangat berharga informasi itu, maka berarti apa yang terjadi di Thia San Pay dan Tiam Jong Pay bukan masalah ringan. Lohu merasa, kita perlu mengirim bantuan yang memadai ke Thian San Pay dan Tiam Jong Pay, bahkan juga Kun Lun Pay. Bagaimana pikiran cuwi sekalian”? Sian Eng Cu dengan cepat menyimpulkan setelah membaca keadaan.

“Benar, kami setuju” beberapa orang menyatakan persetujuannya atas ide Sian Eng Cu. Dan dengan dasar itu, akhirnya Sian Eng berkata:

“Berhubung Ceng Liong masih belum tiba, maka biarlah urusan membantu Thian San Pay dan Tiam Jong Pay kalian rembukkan berempat” Sian Eng Cu memandang ke-4 pendekar muda yang dengan cepat mengangguk anggukan kepala tanda setuju.

“Dan urusan memberitahukan ke Kun Lun Pay dan perguruan lain, biarlah diatur oleh Kay Pang dengan membawa surat yang ditandatangani oleh lohu dan Pengemis Tawa Gila. Bagaimana, menurut pandangan saudara-saudara, apakah bisa kita tetapkan demikan”? Pertanyaan Sian Eng diikuti oleh anggukan semua orang yang berada dalam ruangan. Betapapun apa yang disimpulkan Sian Eng Cu memang masuk akal untuk segera dikerjakan. Dengan demikian, maka tugas membantu Perguruan-perguruan yang dalam bahaya akan dikerjakan oleh Pendekar Kembar kakak beradik, Souw Kwi Beng dan Souw Kwi Song dan Liang Tek Hoat serta adiknya, Liang Mei Lan, terutama ke Tiam Jong Pay dan Thian San Pay.

“Sementara itu” lanjut Sian Eng Cu

“Kita semua bersiap memasuki Kwi Cu dengan cara yang akan diatur oleh Maling Sakti dan Kay Pang. Selambatnya dua hari kedepan, proses keberangkatan kita akan dimulai”. Demikian Sian Eng Cu kemudian mengatur strategi dan perjalanan ke Kwi Cu, yang dua hari kemudian langsung dikerjakan. Tetapi, mendahului semua orang, kakak beradik Liang Tek Hoat dan Liang Mei Lan yang kebagian bertugas ke Thian San Pay sudah melakukan perjalanan cepat keesokan harinya. Sementara Kakak beradik She Souw menyusul meninggalkan Ye Cheng bersamaan waktunya dengan rombongan pertama yang akan menuju Kwi Cu. Karena memang jarak ke Tiam Jong Pay relative lebih dekat dibandingkan perjalanan ke Thian San Pay.

=====================

Seperti juga kakak beradik she Liang, kedua kakak beradik she Souw, nyaris jarang bisa berbicara serius karena masalah susul menyusul yang perlu segera mereka tangani. Seperti hari ini, kedua kakak beradik kembar tersebut sudah dalam perjalanan meninggalkan Ye Cheng dan berjalan kearah barat, menuju ke Perguruan Tiam Jong Pay. Setelah lama berpisah dan selalu dirundung ketegangan, kedua kakak beradik itu akhirnya memiliki banyak waktu kembali bercakap banyak hal.

Bahkan sudah sejak sebelum berangkat, keduanya sudah banyak bercakap soal-soal yang mereka hadapi, dan termasuk juga bagaimana mereka akan menghadapi urusan di Tiam Jong Pay. Karena perjalanan cukup jauh, kedua kakak beradik itu, seperti juga Liang Tek Hoat dan adiknya menyewa kuda untuk mengejar rombongan Gui San Bu yang sudah 2 hari sebelumnya berangkat. Sudah tentu mereka ingin mencapai Tiam Jong Pay setidaknya

bersamaan dengan tibanya rombongan Gui San Bu yang melakukan perjalanan juga dengan tergesa.

Tetapi, begitu keluar dari pintu barat Kota, baik Kwi Beng maupun Kwi Song segera sadar bahwa perjalanan mereka nampaknya dikuntit orang. Keduanya dengan kepekaan yan tinggi segera sadar, bahwa ada orang yang dengan kemampuan ginkang yan tinggi mengawasi mereka. Apalagi memang, karena medan yang mendekati hutan, membuat kuda mereka tidak bisa lari dengan kecepatan penuh.

Keduanya dengan saling lirik segera tahu apa yang harus mereka lakukan. Mencari tempat yang cukup luas untuk kemudian menjebak dan mengetahui siapa gerangan yang melakukan pengintilan atas perjalanan mereka tersebut. Dan tempat yang cukup luas itupun mereka temukan kira-kira setelah setengah jam lepas dari gerbang kota dan berada tidak terlalu jauh dari hutan.

Keduanya segera berhenti dan dengan cepat Kwi Song, seperti biasanya menegur kearah rimbunan hutan tersebut:

“Sahabat yang mengikuti perjalanan kami berdua kakak beradik, silahkan mengunjukkan diri. Mungkin kita perlu berkenalan”

Tetapi, tidak ada sedikitpun gerakan dari arah hutan tersebut. Keduanya menunggu sebentar, tetapi tetap tiada sedikitpun gerakan dalam rimbunan dedaunan tersebut. Bahkan sampai bosanpun, keduanya tidak mendapatkan jawaban atas maksud baik mereka bercakap baik2 dengan yang menguntit mereka berdua.

“Maafkan, kami berdua diburu waktu dan harus melanjutkan perjalanan kami. Silahkan menguntit jika memang kalian merasa itu sangat perlu” setelah bicara demikian, Kwi Song yang memang sedikit

nakal segera naik kekudanya. Dan kemudian terus memacu kudanya. Tetapi, persis dibelokan ujung jalanan dan bertemu dengan rimbunan hutan yang lain, jalanan mereka sudah terhadang oleh rombongan berbaju putih.

Siapa lagi kalau bukan MAJIKAN KERUDUNG PUTIH? Dan bersama dnegan dia, sudah tentu adalah barisan pengawalnya, para nona cantik yang juga berpakaian serba putih, hanya tidaklah mengenakan kerudung putih sebagaimana majikan mereka.

“Hm, Majikan Kerudung Putih, jika tak salah demikian engkau dipanggil. Apakah maksudmu menghadang perjalanan kami”? seperti biasa, Kwi Song akan bertindak selaku juru bicara bila bersama kakaknya.

Hening sejenak, tetapi tak lama kemudian terdengar jawaban dari balik tandu dimana snag Majikan Kerudung Putih berada:

“Hm, hanya ingin bertanya, hendak kemanakah tuan-tuan”?

“Apakah menurutmu kami wajib melaporkannya kepada kalian, hendak kemana, ingin berbuat apa, dan apa maksud tujuan kami keluar dari Ye Cheng? Dan jika ya, sejak kapan aturan itu diberlakukan”? Hebat kata-kata Kwi Song. Tetapi, masih lebih matang lagi jawaban Majikan Kerudung Putih.

“Kami hanya ingin bertanya. Apakah engkau takut menjawabnya”? Sebuah pernyataan yang memancing sekaligus menantang.

“Sayangnya kita berdiri dalam posisi berlawanan, jadi basa-basi seperti itu tidaklah dibutuhkan. Lebih baik anda melakukan cara lain untuk mencari tahu jawaban kami”

“Hebat, hebat. Bear-benar tunas muda Siauw Lim Sie yang berisi. Sayang engkau terlampau ceriwis menjadi laki-laki” terdengar jengekan Majikan Kerudung Putih.

“Tetapi, bukankah yang ceriwis demikian yang engkau sukai”? kenakalan dan kebandelan Kwi Song kembali nampak. Tapi untungnya Kwi Beng menengahi dan berkata:

“Song te sudahlah. Tidak baik mendebat orang yang kita belum tahu maunya”

“Koko, masakan kita tidak bisa menebak mau mereka? Sudah jelas mereka menghadang kita, tidak perlu ditebak dan dicari tahu lagi”.

“Sudahlah, coba engkau diam dahulu.” Kwi Beng menyabarkan adiknya dan kemudian menghadap Majikan Kerudung Putih dan bertanya:

“ada maksud apakah gerangan engkau menghadang perjalanan kami”?

“Sudah kukatakan tadi, hendak kemana dan ingin melakukan apa kalian”?

“Tapi, rasanya terlalu sederhana jika hanya itu kehendak kalian” Kwi Beng menegaskan.

“Hihihi, engkau pintar. Aku memang ditugaskan untuk menghadang dan menangkap kalian ditempat ini”

“Tapi untuk maksud apakah”? Kwi Beng bertanya

“Mengurangi jumlah musuh yang ingin menyerang” tegas Majikan Kerudung Putih dengan suara dinginnya.

“Tapi sayang tidak akan segampang itu, Majikan Kerudung Putih” Kwi Song yang penasaran menegaskan.

“Baik, kita lihat saja nanti”, sambil berkata demikian Majikan Kerudung Putih sudah menyerang Kwi Beng. Sementara Kwi Song yag ingin membela kakaknya dengan cepat sudah dikeroyok 7 Gadis cantik berpakaian putih.

Barisan dayang Majikan Kerudung Putih sebetulnya ada 7 orang, dengan ketua yang kepandaiannya paling lihay adalah Gan Bi Kim. Tanpa Gan Bi Kim sebagai kepala, barisan ke 6 Dayang Baju Putih yang bergerak seperti ular ini tidak selihay bila kepalanya ada.

Karena itu, barisan yang kini menyerang Kwi Song, jauh lebih lihay ketimbang mereka pertama kali menyerang Kwi Beng. Kali ini, mereka bahkan mampu mengimbangi Kwi Song, padahal sebelumnya meski sempat merepotkan Kwi Beng, tetapi barisan ini tidak sanggup bertahan lama.

Kwi Beng yang diserang oleh Majikan Kerudung Putih bersilat seperti biasa, dan kali ini setelah belajar dari pertempuran pertama, dia relative bisa mempertahankan diri dengan baik. Dia telah mempelajari dan merenungkan pertempuran mereka yang pertama, dan sadar bahwa dalam hal kecepatan dia masih tidak mampu merendengi lawan.

Karena itu, dia bersilat dengan gaya yang kokoh, bersilat mengikuti gaya Thai Kek Sin Kun dan behasil memberi perlawanan yang memadai atas serangan khas Majikan Kerudung Putih. Diserang sebagaimana cepat dan kuatpun, Kwi Beng yang bersilat dengan gaya yang banyak mempertahankan diri dan mengembangkan sinkang mujijat yang melindungi tubuhnya, sanggup bertahan. Hal ini terutama

karena pilihan ilmu yang tepat dank arena Kwi Beng dengan cerdik mempelajari gaya bertarung laan dan memberi balasan imu yang tepat.

Dengan cara tersebut, Kwi Beng mampu bertahan tanpa terlampau terdesak oleh lawan. Bahkan sesekali dia mampu memberi serangan balasan yang cukup merepotkan Majikan Kerudung Putih yang juga merasa heran, mengapa dalam waktu beberapa hari saja, Kwi Beng sepertinya mengalami kemajuan dalam bertempur dengannya.

Sementara itu dipihak Kwi Song, meskipun barisan 7 Gadis Berjubah Putih itu memang tambah lihay dengan kehadran Gan Bi Kim, tetapi masih belum cukup sanggup untuk menahan serbuan Kwi Song. Seperti diketahui Kwi Song ini lebih lincah dan lebih variatif dalam bertahan maupun menyerang.

Karena itu, setelah sekian lama mempelajari kemampuan dan pergerakan 7 gadis ini, dia mendapati kenyataan bahwa Gan Bi Kim yang pernah ditemuinya dahulu, adalah pusat pergerakan dan perintah bagi barisan tersebut. Itu sebabnya beberapa kali Kwi Song mececar Bi Kim, dan sesuai dugaannya serangan kearah Bi Kim akan mengundang serbuan deras kearahnya.

Untuk maksud menggempur barisan ini, maka Kwi Song kemudian memilh untuk mencecar lawannya secara bergantian, dengan berusaha mencari ketika yang tepat menyerang Bi Kim. Dan demikianlah strategi bertempur yang kemudian dikembangkannya, yakni mengurangis erangan ke kepala barisan itu, Gan Bi Kim, tetapi berkonsentrasi menyerang barisannya.

Otak dan tipu serta variasi gerakan Kwi Song memang temasuk telah matang. Sama seperti kekokohan kakaknya dalam bertarung yang

mengalami pematangan dari waktu kewaktu. Karena itu, Kwi Song mencoba peruntungan dan perhitungannya dengan sedikit membiarkan Bi Kim di luar jangkauan pukulan dan cecarannya.

Dia sudah menghitung, bahwa suatu saat Bi Kim akan terlena dan kurang awas, dan menghitung saat itu akan tiba dimana dia mencecar BiKim untuk membongkar barisan yang menyerangnya dengan teratur itu. Demikianlah perlahan-lahan Kwi Song memancing barisan itu menyerangnya, sementara dia sendiri membirrkan diri di serang dan jikapun menyerang membatasi penyerangannya untuk tidak terlampau sering mengarah ke Bi Kim.

Dan perhitungannya benar, dari waktu ke waktu Bi Kim merasa serangan kearahnya semakin mengendor. Dan secara otomatis perlahan-lahan dia kehilangan keawasan atau kewaspadaannya menghadapi Kwi Song. Disangkanya, Kwi Song telah kehabisan akal untuk menyerangnya dengan sebat, meskipun langkah kaki lawannya dan gerakannya masih sangat sebat dan gesit. Gadis itu tidak pernah menyangka bahwa Kwi Song memang mengincarnya dan mempersiapkan diri dengan sabar untuk menyerangnya hingga mati kutu.

Episode 9: Kolomoto Ti Lou – Bintang Selatan Nan Sakti

Perhitungan Kwi Song benar. Semakin lama, barisan itu semakin terlena dalam menyerang Kwi Song. Mereka kurang menyadari bahwa Kwi Song memang membiarkan diri diserang untuk menanti ketika yang tepat untuk melancarkan serangan ke pusat pergerakan barisan itu.

Dan ketika kemudian akhirnya saat yang ditunggu-tunggu Kwi Song tiba, dengan menggunakan ilmu saktinya dari Tay Lo Kim Kong Ciang, Kwi Song merangsek dan menerjang. Awalnya sasarannya seperti mengarah ke badan barisan itu yang dikawal oleh 2 orang gadis berbaju putih, tetapi ketika kemudian barisan itu bergerak merespons, tiba-tiba dengan kecepatan kilat serangannya beralih kearah Bi Kim.

Dan Bi Kim yang tidak siap sedia karena sedang mencoba membantu kawannya tidak cukup siap menerima serangan cepat dan keras dari Kwi Song. Untuk mengurangi efek pukulan Kwi Song, dengan terpaksa Bi Kim mengerahkan ilmunya sendiri dan keluar dari pakem barisan. Tapi, memang hanya dengan cara itu dia bisa mengurangi resiko pukulan Kwi Song.

Dia memapak pukulan Kwi Song dengan kedua telapak tangannya dan mengadu kekuatan. Untungnya Kwi Song bukan seorang pemuda kejam, hingga saat-saat terakhir dia mengurangi tenaganya membentur pertahanan Bi Kim. Tapi toch, itupun sudah cukup membuyarkan barisan para gadis berbaju putih dan melontarkan Bi Kim keluar barisan.

“Bresss” bersamaan dengan benturan itu, Bi Kim terlontar melayang keluar barisan. Untungnya luka dalamnya ringan saja, dan tidak membuatnya terkapar di tanah karena saat terakhir Kwi Song mengendorkan kekuatannya. Tapi, dari luar barisan dia melihat anak buahnya dipermainkan seenaknya oleh Kwi Song.

Hatinya miris, tetapi dia sadar dia tidak akan cukup sanggup berbuat apa, bahkan untuk merapatkan barisan mereka sekalipun. Karena itu dengan gemas dia melihat bagaimana barisan itu diobrak abrik Kwi Song, dan bahkan mempermainkan anak buahnya. Tetapi, hal tersebut

tidak berlangsung lama. Karena secara tiba-tiba, terdengar sebuah suara:

“Laki-laki ceriwis, berani benar mempermainkan perempuan lemah”

Bersamaan dengan suara itu, tiba-tiba sebuah bayangan mengejar kearah Kwi Song dan menghadiahkannya satu pukulan yang cukup kuat. Cukup kuat untuk membuat Kwi Song membatalkan serangannya dan menoleh serta menangkis penyerangnya yang ternyata adalah seorang perempuan pula.

Dan, seorang gadis manis lagi. Tapi tak ada waktu untuk mengagumi kecantikan dan keindahan si pendatang baru ini.

“Duk” benturan antara keduanya tidak terhindarkan. Tetap nampaknya Kwi Song masih lebih kuat. Terbukti dari benturan itu si gadis terdorong kebelakang sementara Kw Song hanya sedikit merasakan getaran di tangannya. Tetapi, harus dikatakan bahwa tergetarnya tangannya menandakan lawan bukan orang lemah.

Justru sebaliknya. Jika lawan baru ini membantu lawan yang lain, maka kedudukan mereka kakak beradik sungguh dalam bahaya. Apalagi ketika melirik keadaan kakaknya, posisinya masih berimbang, malah kakaknya dalam posisi selalu terserang. Meski tidak dalam posisi berbahaya.

“Hm, sungguh seorang laki-laki ceriwis, beraninya menghadapi anak-anak gadis. Jika berani lawan aku” si Gadis ternyata datang berdua dengan seorang pemuda yang kini berdiri di pinggir arena dan memandangi Kwi Song dengan tajam. Dari wajah, nampaknya mereka kakak beradik, karena keduanya rada rada mirip.

Tapi Kwi Song tidak memiliki waktu yang cukup meladeni keduanya, karena sang gadis sudah kembali menyerangnya. Kelihatannya dia masih penasaran karena kesudahan benturan tadi lebih merugikannya, dan terbersit sedikit kekaguman dalam hatinya karena Kwi Song mampu mendorongnya kebelakang. Sesuatu yang baru sekali dialaminya selama dalam pengembarannya. Dan sebagai seornag gadis yang terlatih, menemukan seorang pria muda yang sanggup menandingi bahkan mengatasinya, sungguh berarti banyak.

“Hyaaaaaat” dengan cepat dan tanpa ba bi bu lagi, si gadis kembali mencecar Kwi Song. Nampaknya bukan sekedar karena keceriwisan Kwi Song menurut bahasanya tadi, tapi karena rasa penasaran dan rasa tidak ingin kalah. Karena itu, gadis itu kembali menyerang Kwi Song dengan segenap kepandaiannya. Tetapi, meskipun dengan mengerahkan segenap kekuatannya, gadis itu tetap tidak sanggup mendesak Kwi Song.

Sementara Kwi Song sendiri sejak melihat wajah kakak beradik itu merasa seperti pernah melihat dan mengenal wajah mereka. Tetapi dia sama sekali tidak mampu mengingat dimana pernah bertemu dan dimana pernah melihat mereka, kedua kakak beradik itu. Karena itu, Kwi Song tidak gegabah menyerang, tetapi lebih banyak mempertahankan diri dari serangan gadis itu yang dating bagaikan hujan.

Tetapi betapapun, gadis itu memang sudah cukup tinggi tingkat kepandaiannya, meskipun masih belum mampu menandingi tingkat kepandaian Kwi Song saat itu. Yang pasti, tidaklah mungkin menghadapinya dengan berkelit saja. Justru karena itu, perlahan Kwi Song jatuh dalam kesulitan dan mulai berpikir untuk balas menyerang,

meskipun sebatas untuk memperingan beban serangan yang dilontarkan lawannya.

Tapi entah bagaimana, Kwi Song selalu rada lemah hati melihat paras si Nona yang menggebu-gebu menyerangnya dan menjadi semakin penasaran karena lawan yang hanya mengelak dan berkelit itu tidak dapat disentuhnya dengan pukulan tangannya. Bahkan, bila dengan terpaksa tangan mereka bertemu, gadis itu merasa benar, bahwa memang lawannya sangat menyulitkannya. Bahkan, lama kelamaan, meski dia mendesak hebat, tetapi dirasakannya lawannya memberinya sedikit peluang dan angin.

Meskipun merasa penasaran karenanya, tetapi gadis itu mau tidak mau merasa kagum juga terhadap Kwi Song. Tetapi, kepenasarannya menutupi rasa kagumnya. Mereka yang belajar silat, secara otomatis mengidap penyakit tidak bisa terima kekalahan. Dan itu jugalah yang membuat gadis itu terus menyerang Kwi Song kalang kabut.

Di arena lainnya, meskipun mampu memperbaiki posisinya dalam pertarungan melawan Majikan Kerudung Putih, tetapi Kwi Beng sebetulnya masih sulit untuk menarik keuntungan dari pertempuran itu. Memang pertahanan dan daya tahannya menjadi jauh lebih baik dibandingkan pertempuran pertama.

Bahkan Kwi Beng telah menguras pengetahuannya dan menganalisis perkelahiannya yang sebelumnya. Dari sana, dia beroleh pengetahuan dan kemajuan baru dalam sebuah pertempuran. Tetapi, tetap saja ketika menghadapi Majikan Kerudung Putih yang menang dalam hal ginkang dan bahkan dalam hal iweekang setidaknya mereka imbang atau bahkan sang Majikan sedikit lebih asor, dan hanya kemurnian Sinkang saja yang menguntungkannya.

Karena itu, tetap saja Kwi Beng mengalami sedikit kesulitan dalam mengimbangi Majikan Kerudung Putih yang dahsyat itu. Keadaannya sunggu bertolak belakang dengan keadaan Kwi Song, yang meski terdesak, tetapi lebih karena tidak sampai hati harus menyerang lawannya.

Di sisi lain, Majikan Kerudung Putih sendiripun sempat merasa kaget dengan kemajuan lawan yang dihadapinya. Baru beberapa hari sebelumnya mereka berpisah, dan sekarang Kwi Beng sudah sanggup memberi perlawanan yang lebih menyulitkannya. Meskipun dia sendiri sudah menguras pemahamanya untuk menarik keuntungan dari pertempuran terdahulu.

Tetapi, tetap saja dia mengalami sedikit lebih sulit dalam mendesak dan menyerang Kwi Beng yang kini mempertahankan dirinya dengan lebih baik. Berkali-kali Majikan Kerudung Putih mengerahkan kemampuan ginkangnya dan ilmu-ilmunya untuk mendesak dan memojokkan Kwi Beng.

Tetapi, dalam keadaan terdesakpun, bahkan ketika harus menerima pukulannya, Kwi Beng tetap bisa berdiri dan tidak nampak terluka. Hal ini dimungkinkan karena Kwi Beng memang sudah meningkatkan kemampuannya dan melindungi diri dengan Khikang ajaib Siauw Lim Sie. Benar, dia merasa sedikit kesakitan, apalagi bila terus menerus ditembus oleh Iweekang ataupun tenaga dalam yang seimbang dengannya.

Tetap akan terasa menyakitkan memang. Tetapi, dengan kemampuannya sekarang, sungguh sedikit saja tokoh yang sanggup menembus khikang Kwi Beng dan menggoyahkannya.

Keadaan Kwi Beng yang sedikit sulit bertambah sulit ketika kemudian dia menengok keadaan adiknya, kwi Song yang kini juga mulai jatuh dalam kesulitan. Bukan karena serangan si gadis yang penasaran terhadapnya, tetapi karena kakak si gadis, juga pada akhirnya menerjunkan diri menyerangnya. Dan gabungan serangan kedua anak muda kakak beradik itu, jauh lebih berat lagi. Bagaimana ceritanya sampai jadi demikian?

Dalam keadaan yang selalu terserang, tiba-tiba Kwi Song mendapati kembali ingatannya mengenai kedua kakak beradik ini. “Benar, aku pernah bertemu keduanya” demikian pikir Kwi Song. Tetapi, ketika mendapati bahwa dia sudah mulai mengenali kedua kakak beradik itu, Kwi Song yang sedikit lengah, menghadapi ancaman bahaya di bawah serangan si gadis yang menggunakan ilmu yang juga mujijat.

Hawa serangan bergulung-gulung mengurungnya, dan segera Kwi Song sadar, bahwa sulit baginya untuk menghindar. Belum sempat dia bicara, pukulan sudah menerpa datang, dan dengan terpaksa, karena tidak mau melukai dan terluka, akhirnya Kwi Song memapak serangan si gadis dengan sedikit meningkatkan kekuatan iweekangnya. Dan kesudahannya adalah kerugian bagi si anak gadis yang kemampuannya memang masih berada di bawah Kwi Song:

“Plak, plak …….. ihhhhhh” terjadi dua kali benturan dan akibatnya tubuh si nona terdorong sampai tiga langkah ke belakang. Dan bersamaan dengan itu, bayangan biru sudah berkelabat menyerang Kwi Song, inilah dia, kakaknya si nona yang menyerangnya. Dan, Kwi Song mendapati bahwa sang kakak ternyata masih lebih lihay dari sang adik. Lebih kokoh dan lebih berbahaya dibanding si Nona. Dan lebih repot lagi, karena begitu menemukan kesadaran kembali, si gadis

ikut menjadi murka karena terdorong keras ke belakang tanda kalah tenaga melawan Kwi Song.

Jadilah akhirnya Kwi Song mau tidak mau meladeni kedua kakak beradik itu tanpa punya tempo untuk menjelaskan kesalahpahaman dan bahwa dia mengenal kedua kakak beradik itu. Serangan-serangan keduanya yang sudah dikenali Kwi Song sebagai kakak beradik dari Lam Hay, Lamkiong Tiong Hong dan adiknya Lamkiong Sian Li, si nona manis yang tadi menyerangnya kalang kabut, betapapun sangat merepotkannya.

Menghadapi mereka berdua, Kwi Song betapapun mengalami kesulitan, apalagi melawan kedua orang ini yang pernah membantu mereka di Siauw Lim Sie cabang Poh Thian. Bahkan dengan bantuan kedua kakak beradik inilah, musuh bisa dienyahkan. Dan, bagaimana mungkin menghadapi mereka yang pernah membantu Siauw Lim Sie sebagai musuh? Kwi Song jadi serba salah.

Karena itu, dengan cepat Kwi Song benar-benar terjebak dalam kesulitan sendiri. Melawan Lamkiong Tiong Hong, dia masih bisa menang, karena tingkatannya memang masih lebih tinggi. Tetapi, menghadapi kerubutan kedua kakak beradik ini, dengan rasa hati yang galau, membuatnya benar-benar dalam kesulitan besar. Dia akhirnya benar-benar dicecar kedua kakak beradik yang juga amat sakti ini, dan hanya sekali-sekali membalas untuk membuyarkan serangan keduanya.

Keadaan Kwi Song yang runyam itulah yang tertangkap oleh Kwi Beng yang juga sedang dalam posisi yang kurang menguntungkan. Meskipun bermental baja, sabar dan kokoh, mau tidak mau, Kwi Beng goyah juga. Dia hanya memiliki Kwi Song sebagai orang yang terdekat

dengannya, keluarganya sudah hancur entah kemana diterjang banjir bandang.

Mana bisa sebagai kakak, meski kakak kembar, dia membiarkan adiknya dalam kesulitan? Perlahan rona perlawanan mulai menguasai dirinya, dan bahkan semangatnya mulai terbangun untuk meningkatkan perlawanannya. Dia masih belum pernah lagi mencoba menggunakan ilmu ciptaan gurunya yang hebat, Pek-in Tai-hong-ciang (Tangan Angin Taufan Awan Putih).

Dia memang telah mengadu ilmu, termasuk ilmu mujijat Kim kong pu huay che sen (Ilmu Badan/Baju Emas Yang Tidak Bisa Rusak) dan Ban Hud Ciang dalam pertempuran mereka terdahulu. Tetapi, dia masih belum mencoba menggunakan ilmu pamungkas yang menurut gurunya sudah hampir sempurna dikuasainya.

Padahal, menurut gurunya, ilmu itu harus digunakan secara berhati-hati, dan dalam konsentrasi tinggi, karena mengandung perbawa sihir yang sangat kuat dan pengerahan tenaga dalam yang juga sangat tinggi. Itulah sebabnya, gurunya mewanti-wanti untuk hati-hati menggunakan ilmu itu, sama dengan menggunakan jurus ke 11 dari Ban Hud Ciang (Selaksa Tapak Budha) yang juga sangat mujijat itu.

Kali ini, dalam kondisi yang terdesak, Kwi Beng mulai memikirkan opsi itu. Terlebih, karena selain lawan juga sangat digdaya, diarena lain, dia melihat adiknya sedang dalam kesulitan menghadapi dua lawannya yang juga masih muda.

Dengan tiba-tiba, Kwi Beng menghentakkan kedua tangannya, dan dengan segera kedua tangannya bergulung-gulung asap putih tebal yang menyilaukan pandangan mata. Bahkan kemudian dari gulungan

awan atau asap putih tebal itu, mengalir aliran tenaga mujijat yang mampu merontokkan semangat orang atau lawan.

Melihat posisi dan pergerakan Kwi Beng, Majikan Kerudung Putih sedikit tercekat, tetapi dengan segera, dia juga melakukan pergerakan yang luar biasa. Bergerak-gerak lincah dan ringan, dan membuat tubuhnya seperti bayangan hijau yang juga menyakitkan bagi pandangan mata. Tetapi, dari gerak dan pancaran sinar tubuhnya, mengalir seleret sinar kuat yang sangat kuat mempengaruhi kesadaran orang.

Tak pelak lagi, keduanya sudah mengerahkan ilmu-ilmu pamungkas dari perguruan masing-masing. Dan nampaknya keduanya sudah siap dan dalam konsentrasi tinggi untuk melanjutkan pertempuran. Terlebih bagi Kwi Beng yang semangatnya terbangun dan ingin menyelesaikan pertarungan, jika perlu dengan melukai lawan.

Dan, dengan tidak menunggu lama, kedua pusaran berbalur cahaya berbeda, awan putih dan seleret sinar gemerlapan, berkeredep berwarna hijau gemilang nampak saling silang dan saling bentur. Anehnya, tidak terdengar suara apapun, bahkan sepeti tanpa angin pukulan yang memancar dari keduanya.

Tetapi, wajah Kwi Beng nampak semakin serius. Dalam benturan mereka yang pertama, hanya dengan kekuatan Kim kong pu huay che sen (Ilmu Badan/Baju Emas Yang Tidak Bisa Rusak) sajalah dia tidak terluka dalam. Lawannyapun, nampaknya memiliki khikang yang tidak kurang ajaib yang membuatnya tahan dalam benturan pukulan-pukulan berat antara keduanya.

Tetapi, jelas terlihat, bahwa Kwi Beng terdorong hampir selangkah mundur ke belakang dalam pertarungan puncak itu. Paduan cahaya putih dan hijau yang berbenturan sungguh menyakitkan mata, dan mata orang biasa dipastikan rusak dari jarak 10 meteran. Bahkan jilatan cahaya entah putih entah hijau, bila menyengat batu di pusaran perkelahian, mampu membuat batu dengan segera menjadi bubuk-bubuk debu, dan membuat rumput sekitar mereka mengering seketika.

Tetapi, sama sekali tiada angin pukulan atau suara-suara beradunya pukulan berat. Padahal, kedua orang yang berada di balik cahaya putih dan hijau itu, nampak semakin serius. Terutama, Kwi Beng yang mulai sedikit berkeringat, meskipun masih belum terluka, hanya sesekali tersurut setengah langkah ke belakang akibat benturan antara keduanya.

Pertempuran antara keduanya semakin lama semakin berat, dan sebentar lagi akan memasuki babakan yang sangat berbahaya. Tidak disangsikan, keduanya pasti akan terluka sangat berat apabila melanjutkan pertarungan itu.

Meskipun memiliki khikang tinggi, tetapi bila benturan antara tenaga dalam setingkat dilakukan berkali-kali, tetap akan menyelinap dan melukai tubuh bagian dalam keduanya. Dan, nampaknya, memang Kwi Beng mulai sedikit meringis menahan sakit, sementara hal yang sama meski masih samar mulai dirasakan oleh Majikan kerudung Putih. Kedudukan masing-masing semakin jelas.

Tetapi, Majikan Kerudung Putihpun tidak akan keluar sebagai pemenang dengan keadaan yang baik. Keduanya nampak menyadari hal tersebut, tetapi posisi keduanya setelah mengerahkan ilmu pamungkas, sudah dalam keadaan yang tiada jalan mundur. Karena

siapa yang duluan mengendorkan serangannya akan mengalami tolakan balik yang dahsyat yang akan mengakhiri hidup mereka. Dan keduanya sadar dengan kondisi tersebut.

Dalam posisi yang sangat berbahaya bagi keduanya, tiba-tiba di telinga Kwi Beng mendenging sebuah suara:

“Saudara Kwi Beng, arahkan pukulanmu menyamping, biar aku menyambut pukulan orang itu. Cepat lakukan dan jangan ragu”

Hanya orang yang luar biasa yang mampu menembus batas pengerahan tenaga Kwi Beng, dan kebetulan suara orang yang memasukinya adalah orang yang dikaguminya. Dan terlebih, Kwi Beng mengenali siapa pemilik suara yang sanggup menembus perisai kekuatan batinnya. Dan kepercayaan itulah yang menguntungkan, karena dengan segera tenaga yang disalurkan menyerang, diselewengkan menyamping.

Dan pada saat yang sama, sebuah bayangan hijau memasuki arena dan memapak pukulan Majikan Kerudung Putih. Akibatnya sungguh luar biasa, terdengar suara-suara mendesis yang hanya terasa oleh telinga batin, tetapi berdampak sangat luar biasa di lingkungan arena pertarungan:

“desssss, dessss, cusssss”

Suara-suara tersebut adalah akibat pukulan Kwi Beng yang membentur tanah kosong berumput. Tanah yang segera tergali demikian rapih, tetapi rumput-rumputnya nampak gosong seperti baru saja terbakar sesuatu. Tetapi, anehnya, lobang yang diciptakan oleh pukulan tersebut, seperti baru saja ditimpa sebuah benda dengan kekuatan dingin yang luar biasa. Di lobang galian akibat pukulan itu

nampak air yang seperti baru saja mencair dari es-es membeku, kontras dengan rerumputan yang terbakar habis, gosong seperti terpanggang sesuatu yang sangat panas.

Sementara suara lainya adalah benturan antara pukulan bayangan hijau yang bukan lain adalah Kiang Ceng Liong yang menggunakan jurus terakhir dari Pek Lek Sin Jiu untuk memapak pukulan Majikan Kerudung Putih. Benturannyapun tidak mengeluarkan suara memekakkan telnga, tetapi guncangan diantara Majikan Kerudung Putih dengan Cen Liong sungguh luar biasa.

Majikan Kerudung Putih sampai terdorong dua langkah ke belakang, sementara Ceng Liong menapak mundur ke belakang 1 langkah atau mungkin lebih sedikit. Keadaan yang membuat mau tidak mau Majikan kerudung Putih mengernyitkan keningnya. Pendatang baru yang mengenakan baju dan jubah berwarna Hijau ini, tidak jauh berbeda usianya dengan Kwi Beng. Sama kokoh dan sama pendiam, tetapi nampaknya sedikit lebih berisi, karena sanggup mendorongnya ke belakang.

Majikan Kerudung Putih tidak bisa terima dengan keadaan tersebut, dalam keadaan penasaran dan murka dia menerjang pendatang berjubah hijau itu. Tetapi, berbeda dengan Kwi Beng yang bertahan saja, Ceng Liong yang mengenal lawan ampuh, tidak membiarkan dirinya diserang. Dan dengan cepat dia bersilat mengikuti alur dan jurus-jurus dari Lembah Pualam Hijau. Dan akibatnya terdengar seruan:

“Hm engkau nampaknya yang disebut anak muda dari Lembah Pualam Hijau, Ceng-i-Koai Hiap”, jelas suara kagum dan penasaran dari Majikan Kerudung Putih menghadapi Ceng Liong.

“Ada uruan apakah engkau denganku Nona”? Ceng Liong sudah bisa menangkap dia berhadapan dengan seorang gadis

“Ada, urusannya adalah menangkapmu”

“Cobalah, jika engkau mampu” Sambil berkata demikian, Ceng Liong kemudian berkata kepada Kwi Beng

“Beng te, cobalah engkau melihat keadaan adikmu, siapa tahu dia butuh bantuanmu”

“”Baiklah saudara Ceng Liong” Kwi Beng mengalihkan perhatiannya kearah Kwi Song yang asih menghadapi kerubutan dua lawan mudanya itu. Dia cukup yakin dan maklum akan kepandaian Ceng Liong dan percaya bahwa sahabatnya itu akan sanggup menandingi Majikan Kerudung Putih.

Sementara itu, dengan cepat Majikan Kerudung Putih telah menyerang Ceng Liong mengunakan ilmu-ilmu tingkat tingginya. Sebagaimana juga Kwi Beng, Ceng Liong segera sadar bahwa lawannya memiliki gerakan ginkang yang bahkan masih sedikit melebihinya.

“Mungkin hanya sedikit di bawah Lan Moi” pikir Ceng Liong kagum. Tetapi, dalam benturan tenaga dalam, Ceng Liong nampaknya masih sedikit lebih unggul dibanding lawannya. Karena itu, Ceng Liong sendiripun tidak berayal untuk menyambut serangan lawannya dengan ilmu-ilmu keluarganya.

Tetapi, Ceng Liong dengan segera menemukan keanehan, betapa semua serangannya menggunakan ilmu Lembah Pualam Hijau dengan mudah diatasi dan dihadapi lawannya. Bahkan, ada beberapa unsur

dasar serangan lawan yang rada mirip dengan ilmu-ilmu keluarganya dari Lembah Pualam Hijau. Karena itu, posisi Ceng Liong malah sedikit lebih banyak menerima serangan lawannya. Tetapi, betapapun kematangan Ceng Liong dalam penguasaan ilmu keluarganya memang sudah mengagumkan.

Meskipun lawannya bisa menebak arah serangan Ceng Liong dalam penggunaan Giok Ceng Chap Ca Sin Kun, tetapi variasi-variasi baru kembangan Ceng Liong berdasarkan pengalaman tempurnya tetap merepotkan Majikan Kerudung Putih.

“Hm, memang tidak bernama kosong” gumam Majikan Kerudung Putih, masih sempat-sempatnya dia bicara ditengah serunya pertempuran mereka. Dan nampaknya dia berani berlaku demikian karena juga cukup memahami arah gerak dan serangan ilmu-ilmu keluarga Lembah Pualam Hijau.

Bahkan ketika mengubah ilmu silatnya dengan menggunakan Soan Hong Sin Ciang dan Toa Hong Kiam Sut sekalipun, tetap masih tidak mampu mendesak lawan karena memang daya gerak dan ginkang Majikan Kerudung Putih sungguh pesat dan luar biasa. Meskipun, nampak sekali bahwa Majikan Kerudung Putihpun sangat kesulitan untuk mendesak dan memojokkan Ceng Liong yang bertempur dengan penuh semangat.

Memang si Majikan kerudung Putih sanggup menebak arah serangan Ceng Liong, namun tetap sulit bagi Majikan Kerudung Putih mendesak dan menyerang Ceng Liong. Hal ini dikarenakan Ceng Liong masih sanggup menekannya dengan alur pukulan dan lontaran sinkang yang memang luar biasa. Hanya karena pemahaman akan ilmu yang dimainkan Ceng Liong dan kehebatan ginkangnya sajalah yang

membuat Majikan Kerudung Putih nampak membuat pertempuran menjadi seru dan seimbang.

Saling serang dan bertahan dengan cepat dilakukan keduanya dan dalam hitungan beberapa detik saja, sejumlah pukulan telah mereka pertukarkan. Dan lama-kelamaan Majikan Kerudung Putih sadar bahwa dalam hal Sinkang lawannya memang masih melebihinya, sementara dalam ginkang dia masih sanggup mengatasi lawan

Kolomoto Ti Lou – Bintang Selatan Nan Sakti (2)

Sementara itu, di tempat lain Kwi Beng yang datang mendekati arena pertempuran kedua antara Kwi Song melawan sepasang anak muda, menjadi heran karena melihat adiknya ternyata memang sengaja mengalah. Tetapi, kecepatan perkelahian membuatnya tidak sempat memperhatikan siapa lawan adiknya Kwi Song.

Yang pasti, dan hal ini yang membuatnya sangat heran adalah adiknya yang berkelahi seperti setengah-setengah dan karenanya nampak jatuh di bawah angin. Padahal, jika Kwi Song berkelahi sungguh-sungguh, keadaannya pastilah tidak akan sangat kesulitan, meskipun lawannya juga masih akan bisa mengimbangi. Karena itu, Kwi Beng kemudian berkata:

“Song te, tidak ada gunanya engkau mengalah. Mereka mengejar dan menyerangmu demikian sengit”

Kwi Song yang mendengar suara kakaknya, meskipun masih ragu tetapi menangkap kebenaran perkataan kakaknya itu. Meskipun rada jahil dan nakal, tetapi terhadap kakaknya yang pendiam dan halus itu, Kwi Song benar-benar takluk dan menghormat. Serta tentu sayang.

Karena itu, mendengar suara kakaknya, semangatnya terbangun, meski masih membatasi tenaganya.

Tetapi kali ini Kwi Song mengembangkan perlawanan dengan lebih ketat dan lebih seru lagi, serta balas menyerang kedua kakak beradik yang tetap terus mencecarnya dengan serangan-serangan tajam. Dia tidak lagi ragu harus menyentil serangan lawan dengan menggunakan Kim Kong Ci ataupun dengan menggunakan Tam Ci Sin Tong dan membuat serangan lawannya terpental kebelakang.

Bahkan dia juga tidak rau lagi membalas serangan dengan keras kearah si Nona yang sebelumnya membuatnya ragu untuk membalas. Tetapi, memang lebih sering serangan berat diarahkan dan ditujukannya kearah si lelaki, kakaknya sang nona yang nampak sangat bersemangat dalam mendesaknya.

Pertempuran merekapun menjadi semakin menarik. Karena betapapun, permainan ilmu silat kakak beradik itu tidaklah lemah, apalagi mereka berdua nampaknya sering berlatih bersama, dan kepandaian merekapun tidak terpaut jauh dari Kwi Song. Akibatnya, gabungan serangan keduanya membuat perlawanan mereka menjadi cukup untuk menahan serbuan dan serangan Kwi Song yang kini bertempur dengan bersungguh-sungguh.

Beberapa kali bahkan Kwi Song mendesak dan memojokan kakak beradik itu, tetapi kerjasama dan saling tolong keduanya yang berilmu sama, membuat pertarungan bisa kembali menemukan keseimbangannya. Tetapi, keadaan Kwi Song tidaklah lagi membahayakan, malah dia sudah mampu mengimbangi dan memberi serangan balasan yang berbahaya kearah kedua penyerangnya. Kwi Song nampaknya sudah bisa menghitung bahwa gabungan tenaga

kedua kakak beradik ini, meskipun memang berbahaya, tetap masih sanggup ditahannya dengan khikang perguruannya. Karena itu, watak jahil dan nakal Kwi Song akhirnya mulai kambuh juga.

Beberapa kali dia menyerang dan mencecar si lelaki muda habis-habisan, untuk kemudian mengganti arah serangan kearah si nona, dan begitu seterusnya dia mencecar kedua lawannya dengan serangan-serangan ilmu dari pintu perguruan Siauw Lim Sie.

Sementara itu, Ceng Liong yang merasakan keanehan bahwa ilmunya seperti bisa ditebak arahnya oleh Majikan Kerudung Putih, pada akhirnya memutuskan menggunakan Pek Lek Sin Jiu ajaran Kiong Siang Han. Dan benar saja, ketika menggunakan ilmu berat tersebut, Majikan Kerudung Putih yang sudah mengalami pertempuran berat sebelumnya mulai tertekan.

Benar, dia masih bisa menghindar dengan kehebatan ginkangnya, tetapi setiap pertukaran tahapan penggunaan Pek Lek Sin Jiu, angin pukulan Ceng Liong selalu menutup pintu keluar Majikan Kerudung Putih. Dan akibatnya, beberapa kali terdengar ledakan keras yang diikuti letupan-letupan akibat benturan ilmu pukulan yang maha hebat. Apalagi, karena kemudian Pek Lek Sin Jiu ditandingi dengan ilmu ampuh Majikan Kerudung Putih bernama “Tarian Sihir Selaksa Ular Sakti” yang masih di timpali dengan ginkang istimewa “Ular Sakti Terbang Kelangit”.

Berbeda dengan Kwi Beng, Ceng Liong mewarisi tenaga dalam tidak lumrah dari kakeknya dan bahkan kemudian juga menerima hawa sakti See Thian Coa Ong yang diolahnya dengan “ilmu pernafasan” berdasarkan robekan kitab sakti dari Jawadwipa. Belum lagi, dasar tenaganya Giok Ceng Sinkang memiliki kemampuan penyembuhan

dan pemulihan tenaga dalam bila sudah mencapai tingkatan tertingginya.

Dengan bekalnya tersebut, benturan-benturan yang terjadi, semakin membuat Majikan Kerudung Putih tertekan. Tambahan, tokoh ini, juga telah mengalami kelelahan setelah bertempur dengan Kwi Beng yang juga kepandaiannya tidak berselisih jauh dengan mereka berdua. Dan lagi, Ceng Liong, seperti juga Kwi Beng, tidak bisa dipengaruhi oleh kekuatan sihir dari ilmunya.

Hal ini membuat Majikan Kerudung Putih semakin lama semakin tertekan dan bahkan kemudian semakin merasa kelelahan. Sesuatu yang sulit diterimanya. Belum pernah dia mengalami keadaan seperti ini dalam sebuah arena pertempuran. Mengalami keadaan tertekan akibat cecaran serangan lawan hanya dialaminya dalam pertempuran dengan gurunya ataupun dengan ayahnya.

Sementara itu, Ceng Liong sendiri sudah memasuki penggunaan jurus ke-6 dari rangkaian Pek Lek Sin Jiu – “Badai Petir Membelah Langit” – sebuah rangkaian yang semakin tinggi dan semakin berbahaya. Menyadari keadaannya semakin melemah karena benturan-benturan tenaga yang merugikannya, sementara ginkangnya tertutup oleh halangan tenaga yang terpancar panas dari Ceng Liong, membuat Majikan Kerudung Putih memutuskan menggunakan kekuatan utamanya dalam jurus pamungkasnya “Ular Hijau Menerjang Mayapada”.

Lentikan cahaya kehijau-hijauan membungkus tubuhnya yang bergerak cepat dan memapas dengan berani lontaran Pek Lek Sin Jiu pada jurus ke 6 dan kemudian jurus ke-7 dari Ceng Liong. Akibatnya

terdengar bunyi menggelegar dan menyakitkan telinga dari benturan tersebut:

“Blarrrrrrr” dan akibatnya tubuh Majikan kerudung Putih terdorong sampai 5 langkah ke belakang, sementara Ceng Liong hanya susut 2 langkah ke belakang. Hal ini semakin membuktikan, bukan bahwa tenaga Majikan kerudung Putih yang kalah telak, tetapi setepatnya adalah kelelahan yang telah menguras tenaganya dan membuatnya sulit mengimbangi Ceng Liong.

Sementara itu, setelah melepas jurus ke-7, Ceng Liong sebenarnya merasa sangat ngeri bila harus mengerahkan jurus ke-8, jurus pamungkas, dari ilmunya Pek Lek Sin Jiu. Sebuah jurus yang bahkan hanya dia dengan Tek Hoat yang menguasainya, karena guru mereka Kiong Siang Han dilarang melatih tingkatan ini.

Bahkan ketika menguji jurus ke-8 ini, Kiong Siang Han harus menerimanya berbarengan dengan Kiang Sin Liong dan baru mereka berani menerimanya. Sekarang, haruskah jurus itu dilepas untuk menyerang tokoh bernama Majikan Kerudung Putih ini? Ceng Liong meragu sejenak. Bukan apa-apa, dia sadar benar bahwa lawannya ini adalah seorang wanita, meskipun juga adalah pentolan dari Thian Liong Pang yang sangat menjengkelkannya. Haruskahdia mengerahkan kekuatan dahsyat dari ilmunya tersebut? Tetapi, pada saat itu, nampaknya Majikan Kerudung Putih sudah nekad dan mengerahkan segenap kekuatannya pada jurus terakhir dari ilmu pamungkasnya itu.

Tubuhnya semakin terbungkus cahaya kemilau yang kehijau-hijauan, dan tubuhnya condong kedepan. Bagi mata biasa, Majikan kerudung Putih telah berubah menjadi seekor Ular Hijau yang sangat ganas, dan

disekujur tubuhnya adalah lentikan sinar kehijauan yang menusuk mata. Sementara Ceng Liong, meski sedikit terlambat, tetapi karena sudah lama siaga, akhirnya memutuskan memapak serangan lawan dengan jurus terakhir yang maha ampuh tersebut. Tetapi, karena mengerti bahwa lawan sudah terkuras tenaganya, Ceng Liong masih ingat untuk membatasi kekuatan tenaganya dengan tidak melepas segenap kekuatannya.

Dan sekali lagi terjadi benturan yang cukup keras, hal ini terutama karena Ceng Liong tidak menggunakan kekuatan dalamnya untuk meredam kekuatan lontaran pukulannya. Ceng Liong sadar akibatnya bila dia memukul sebagaimana dia menyerang Kiang Sin Liong dan Kiong Siang Han untuk mengujinya tempo hari. Tetapi akibat dari benturan tersebut masih tetap mengejutkannya:

“Blarrrr, bressssss” dan kemudian diiringi terpentalnya tubuh Majikan Kerudung Putih ke belakang. Kali ini tubuh itu, meskipun masih tetap mampu berdiri tegak setelah beberapa saat sempoyongan, tetapi di bibirnya telah meleleh darah merah yang kemudian merembes mewarnai kerudung dan jubah putihnya.

Sebetulnya, bukan karena Majikan Kerudung Putih kalah jauh melawan Ceng Liong, tetapi karena dia telah menguras tenaganya terlebih dahulu melawan Kwi Beng sehingga keadaannya menjadi lebih payah. Sekilas nampak Majikan Kerudung Putih menahan sakit, tetapi sesaat kemudian, dia kembali tegak dan bersiap melanjutkan pertempuran.

Dan dengan cepat, kembali dia menyiapkan diri dalam ilmu puncaknya, dan kembali siap menyerang Ceng Liong. Sementara itu, Ceng Liong sendiri kebingungan, bagaimana mengakhiri benturan

mereka, karena dengan ilmu biasa, sulitlah baginya untuk menundukkan Majikan Kerudung Putih ini. Karena itu, kembali dia menyiapkan diri dengan jurus Pek Lek Sin Jiu tingkat ke-8, sambil mulai berpikir menotok Majikan kerudung Putih ini dengan ilmu “Tatapan Naga Sakti” yang mulai bisa dikendalikannya.

Tetapi, keragu-raguannya membuatnya kalah langkah dibandingkan Majikan kerudung Putih yang memang sudah bersiap untuk melepaskan serangan terakhir sebagai penentuan pertempuran antara mereka. Tetapi untunglah, pada saat yang gawat bagi kedua orang tersebut, tiba-tiba selapis angin pukulan yang maha lembut telah menahan tenaga kedua orang itu.

Adalah Ceng Liong yang dengan cepat menyadari bahwa dia harus segera menahan pukulannya bila tidak mau celaka, tetapi Majikan Kerudung Putih tidak lagi sanggup menahan pukulannya. Akibatnya, dia menghadapi ancaman pukulannya yang membalik dan efeknya bisa sangat gawat baginya.

Tetapi, orang yang menolong keduanya, nampaknya bukan orang biasa. Tenaga pantulan kearah Majikan kerudung Putih, masih sempat bisa ditahan sebagian besar daya pantul, sehingga ketika kembali memukul Majikan Kerudung Putih, pukulan tersebut sudah berkurang banyak efeknya. Tetapi, bagi Majikan Kerudung Putih yang tidak memiliki daya pelindung yang mapan, membuat pukulan tersebut tetap melukainya, bahkan membuatnya terpental roboh ke belakang.

Dan begitu melihat lawannya roboh ke belakang, Ceng Liong dengan cepat berpikir harus menotok roboh lawan untuk ditanyai. Tetapi, ketika tubuhnya berkelabat hendak menotok lawan, tiba-tiba Kwi Beng

memapas totokannya tersebut dan kemudian memandang Ceng Liong sambil berkata:

“Saudara Ceng Liong, orang ini pernah membebaskan aku sekali. Biarlah kali ini kumintakan maaf dan ampun baginya, agar hutangku lunas atasnya”, suara Kwi Beng nampak tegas dan kokoh. Dan Ceng Liong maklum serta mengenal orang ini, dan jika meminta demikian, sulit baginya untuk menolak. Dia melirik sekejap kearah Majikan Kerudung Putih yang kini berusaha duduk untuk kemudian bersila berusaha memulihkan keadaannya. Beberapa kali dia memandang Kwi Beng tanpa berkata-kata, dan kemudian juga melirik kearah Majikan Kerudung Putih. Sambil menarik nafas panjang, akhirnya Ceng Liong kemudian melirik kearah Kwi Beng dan kemudian berkata:

“Beng te, baiklah. Memandang diatas mukamu, biarlah kali ini kita membebaskan Majikan kerudung Putih”. Belum habis Ceng Liong berkata, tiba-tiba sebuah bayangan kecoklatan berkelabat mendekati Majikan Kerudung Putih dan kemudian berkata:

“Sumoy, engkau terluka”?

Disamping Majikan Kerudung Putih telah berdiri seorang laki-laki, usianya nampaknya mendekati atau sekitar 30-an, bersikap gagah dan ternyata adalah suheng dari Majikan Kerudung Putih. Tetapi, Majikan Kerudung Putih, setelah mendengar persetujuan Ceng Liong untuk melepaskannya, telah memusatkan perhatiannya untuk memulihkan tenaganya dan lukanya. Sementara sang suheng, setelah melihat keadaan sumoynya tidak terlampau parah, kemudian memandang kearah Kwi Beng dan Ceng Liong, baru kemudian berkata atau tepatnya bertanya:

“Siapakah dari kalian berdua yang melukai sumoyku”?

Untuk sejenak baik Kwi Beng maupun Ceng Liong saling pandang. Nampaknya pertempuran baru akan terjadi, dan bila orang ini adalah suheng dari Majikan Kerudung Putih, berarti dia akan sama atau lebih hebat lagi, dan sudah pasti adalah musuh, alias orang Thian Liong Pang. Padahal, jika keduanya mengetahui keadaan yang sebenarnya, mungkin keduanya tidak akan setegang itu keadaannya.

Tetapi, betapapun, Ceng Liong bukan seorang pengecut. Meskipun baru saja bertempur dan menguras tenaga, tetapi dengan Sinkang istimewa lembah mereka, dia sudah merasa bugar kembali. Jikapun tidak, adalah tanggungjawabnya untuk memikul itu. Karena itu dia berkata:

“Akulah orangnya yang baru saja bertempur dengan sumoy saudara”

“Baiklah, jika ada kesalahan sumoyku, harap kalian berdua memaafkannya” suara orang ini malah membuat Kwi Ben dan Ceng Liong melengak heran dan bahkan kebingungan. Sampai-sampai Kwi Beng yang biasanya tenang malah menjadi gagap dan bertanya:

“ma …. maksud saudara”?

“Jika sumoyku melakukan kesalahan terhadap kalian berdua, sebagai suhengnya saya mohonkan maaf”

“Saudara bukan dari Thian Liong Pang”? Ceng Liong bertanya dalam keheranan dan kebingungannya.

“Bukan, meski sumoy adalah tokoh Thian Liong Pang, tapi aku bukanlah orang Thian Liong Pang, hanya suheng dari sumoyku ini”, si pemuda matang yang menjadi suheng Majikan Kerudung Putih berkata

menegaskan siapa dirinya dan hubungannya dengan Thian Liong Pang dan Majikan Kerudung Putih.

“Benarkah saudara bukan anggota Thian Liong Pang”? Ceng Liong menegaskan

“Suhu dan sumoyku memang ornag Thian Liong Pang, tetapi Suhu melarangku menggabungkan diri dengan Thian Liong Pang sebagai syarat menjadi muridnya.

“Siapa suhu dan sumoymu jika demikian”? Ceng Liong mengejar

“Maaf, aku tidak dapat menjelaskannya. Yang hanya bisa kujelaskan adalah, namaku, yaitu Thio Su Kiat” si pendatang yang ternyata bernama Thio Su Kiat ini memperkenalkan dirinya, tetapi menolak menjelaskan siapa guru dan adik perguruannya yang menjadi Majikan Kerudung Putih tersebut. Benar-benar sangat memusingkan Kwi Beng dan Ceng Liong.

“Maafkan, jika demikian, jika engkau menolak untuk memberitahu nama guru dan sumoymu, kami terpaksa harus membuka kerudung orang itu” Ceng Liong berkata sambil menunjuk kearah Majikan Kerudung Putih.

“Saudara, aku sudah mintakan maaf baginya, tolonglah jangan mempersulit lagi kami kakak beradik seperguruan” Thio Su Kiat berkeras menolak permintaan Ceng Liong. Akhirnya Ceng Liongpun kehabisan kesabaran dan berkata:

“Beng te, kita perlu mengidentifikasi siapa tokoh utama mereka. Harap engkau membuka kerudungnya dan mencoba mengenalinya”

Ceng Liong berkata sambil kemudian menghalangi Thio Su Kiat untuk membantu sumoynya.

“Engkau berani?” Su Kiat dengan cepat melangkah kedepan dan mencoba kembali mendekati sumoynya, tetapi dengan cepat langkahnya sudah dihalangi oleh Ceng Liong. Karena itu, dengan cepat Su Kiat kemudian menyerang Ceng Liong untuk menolong sumoynya. Tetapi, serangannya dengan cepat juga ditangkis oleh Ceng Liong, dan sebagai akibatnya keduanya sama terpental kebelakang dan saling pandang, terutama Ceng Liong memandangi Su Kiat seperti memandangi seorang yang sangat aneh.

Ceng Liong benar-benar heran dan merasa sangat terkejut, karena mendapati betapa serangan lawan dilakukan dengan kekuatan yang tidak di sebelah bawah kehebatan Majikan Kerudung Putih, hanya saja lebih lambat. Tetapi bukan kekuatan lawan yang mengagetkannya. Tidak, sama sekali bukan. Yang mengagetkannya adalah, dia mengenal ilmu pukulan lawan. Sangat mengenalnya malah. Dan dua kali mereka adu tenaga, menggunkan ilmu yang sungguh-sungguh dikenalnya, dan hal itu membuatnya menjublak tidak percaya.

Sementara itu, Kwi Beng mendapat tugas mencopot kerudung si Majikan Kerudung Putih sudah mendekati dan persis dihadapan Majikan Kerudung Putih. Tetapi, tiada keberaniannya untuk mencopot kerudungnya, bahkan kemudian dia terpekur di depan Majikan kerudung Putih sambil berbisik:

“Aku tahu engkau seorang nona, dan sangat tidak sopan bagiku untuk merenggut kerudungmu. Bahkan engkau pernah sekali mengampuniku. Sebenarnya kita sudah lunas tadi, tetapi tetap tidak tega rasanya membuka kerudung nona. Maafkan ….. maafkan aku

nona” Tetapi, setelah berbicara demikian, kembali Kwi Beng meragu, apakah akan membuka kerudung itu atau bukan. Benar, Kwi Beng sungguh-sungguh gugup dan kebingungan mengenai tindakan apa yang harus diambil. Soal kepantasan, dia merasa sungguh tidak pantas membuka kerudung seorang wanita. Dan lagi, di hati kecilnya, sungguh tidak merasa keberanian dan kepantasan untuk membuka kerudung orang didepannya.

Karena itu, sementara Ceng Liong bergebrak dan terkesima memandangi lawannya, Kwi Beng juga terkesima memandangi orang didepannya. Meskipun tertutup kerudung putih, tetapi Kwi Beng dari dekat sudah bisa melihat wajah seorang gadis yang sudah masak, pasti sudah sekitar 25-27 tahunan, dan wajah itu sungguh-sungguh cantik mempesona. Kwi Beng yang kokoh dan tahan ujipun sampai terkesima dan makin tidak tega untuk membuka kerudung gadis itu secara paksa. Terlebih karena gadis itu sedang bersila menyembuhkan luka dalam akibat pertempuran tadi.

Dan, memang untung bagi Kwi Beng untuk tidak melakukannya. Karena sebetulnya, gadis itu sudah mulai siuman sejak tadi, bahkan sejak sebelum Kwi Beng mendekatinya untuk membuka kerudungnya. Seandainya Kwi Beng langsung main paksa dan tidak bengong serta tidak merasa pantas membuka keudung, maka dia menghadapi acaman serangan mematikan yang sulit ditangkis.

Tetapi, kesopanan dan keraguan serta rasa tak pantas Kwi Beng, telah menolong dirinya sendiri dari ancaman bahaya yang mematikan. Biarpun hebat, tetapi sulit bagi Kwi Beng untuk menghindari bokongan tokoh sekaliber Majikan Kerudung Putih dari jarak kurang 1 meteran.

Tetapi, keraguan dan rasa tidak sopan Kwi Beng untuk membuka kerudung, bahkan bergumam di hadapan Majikan Kerudung Putih, justru telah mengetuk sanubari dan rasa lembut sang dara. Tenaga pukulan yang disiapkannya langsung kendor, dan dinikmatinya keraguan dan kesopanan Kwi Beng yang nampak gagah dan kokoh dimatanya. Dan justru episode yang nampak santai dan enteng ini, bukan hanya menyelamatkan Kwi Beng seorang, tetapi bahkan menyelamatkan banyak tokoh persilatan kelak.

Majikan kerudung Putih, justru tersanjung oleh Kwi Beng dan batal menyerang dan membunuh Kwi Beng. Sebaliknya, justru rasa simpati terhadap tokoh muda Siauw Lim Sie yang begitu sopan, tahu diri dan menyimpan rasa iba baginya. Sungguh ketukan alami yang sulit, teramat sulit malah untuk dihindari. Dan, sayangnya rasa dan panah itu tertancap pada sasarannya dengan tepat, dalam waktu yang tak seorangpun mampu memperhitungkannya. Jika sudah demikian, apalagi yang bisa dilakukan selain menikmatinya? Bahkan sekalipun terlarang norma.

Sebelum Kwi Beng sempat normal kembali dari lamunannya atas Majikan Kerudung Putih, tiba-tiba Majikan Kerudung Putih sendiri yang menyingkap kerudungnya. Memperlihatkan wajahnya kepada Kwi Beng, bahkan tersenyum kepadanya dan berkata:

“Aku menghargai kejantananmu, dan terima kasih atas bantuanmu” Majikan Kerudung Putih yang ternyata berwajah sangat cantik dan manis itu, kemudian membentuk sebuah senyum di kedua belah bibir basahnya. Bahkan memandangi Kwi Beng dengan kekaguman yang tak tersembunyikan, dan sesaat dia berkata:

“Semoga diwaktu yang lebih tepat kita bisa berjumpa dan dalam keadaan yang lebih baik” Dan itulah momen yang sungguh-sungguh takkan pernah, tidak akan, dilupakan oleh seorang pemuda perkasa bernama Souw Kwi Beng. Sebuah momentum yang merenggut sukmanya untuk menyadari bahwa sesosok wajah cantik manis tu, menyedot seluruh rasa dan perhatiannya. Wajah yang membuatnya selalu membayangkannya, memimpikannya dan pertama kali mengetuk pintu cinta kasihnya untuk membuka. Souw Kwi Beng, bahkan masih belum sadar betul sampai kemudian terdengar suara:

“Suheng, mari kita pergi”

“Sumoy, engkau tidak berhalangan lagi”? Su Kiat bertanya, sementara didepannya Ceng Liong masih tetap diam terkejut, heran dan menjublak diam.

“Tidak lagi suheng, ayo”

“Baik Sumoy ..” ujar Su Kiat, tetapi sebelum pergi dia masih memandang Ceng Liong sambil kemudian berkata:

“Saudara, semoga suatu saat kita bertemu kembali, dan nampaknya memang kita pasti bertemu” sambil kemudian melompat berlalu. Tetapi, Ceng Liong cepat menemukan dirinya, dan dengan cepat dia mengejar hendak mencegah kepergian suheng-sumoy berdua itu. Dia melontarkan pukulan kearah kaburnya kedua orang itu, tetapi belum sempat mengenai kedua orang itu, pukulannya sudah tersampok menyamping dan tak sanggup mencegah kepergian kedua orang yang ingin dicegahnya.

“Siapa”? Ceng Liong yang sadar sejak tadi bahwa disekeliling mereka ada tokoh sakti yang sempat membantu mereka termasuk menghalanginya untuk mencegah keberangkatan lawannya tadi bertanya sambil memandang kesekelilingnya.

“Sudahlah Liong jie, ada waktu engkau bertemu mereka kembali. Tenanglah dan sabarkan dirimu, perlahan mereka juga akan menghampirimu dan semoga semua keruwetan ini cepat terselesaikan” sebuah suara yang seperti dikenalnya berkumandang memasuki telinganya. Dan entah sejak kapan, di belakang mereka berdua, sudah bertambah 3 sosok tubuh yang nampak sudah sangat tua.

Tetapi, cara datang mereka sudah menunjukkan betapa hebatnya ketiga orang ini, datang tanpa terendus dan hebatnya lagi tanpa mampu ditangkap oleh indra kedua anak muda sakti ini. Ceng Liong cepat membalikkan badan ketika merasa ada seorang atau berapa orang yang di posisi belakang tubuhnya. Tetapi, dengam cepat mulutnya ternganga keheranan, tetapi secepat itu pula dia mengenali seorang yang sangat dikenal dan disayangnya diantara ketiganya:

“Kong-kong, engkaukah itu”? ach, locianpwe engkau juga datang bersama kong-kong”? Ceng Liong segera mengenali kakeknya, Kiang Cun Le bersama orang tua aneh yang ditemuinya bersama kakeknya beberapa minggu sebelumnya. Bahkan kakek tua berdestar merah itu, memberinya beberapa petunjuk penting dan sulit dilupakannya. Petunjuk itulah yang membuat mereka, para pendekar muda sanggup menaklukkan tokoh-tokoh utama dari Thian Liong Pang.

Kolomoto Ti Lou – Bintang Selatan Nan Sakti (3)

“Hm, Liong Jie, engkau tidak memberi hormat kepada Bibi nenekmu ini”? nampak Kiang Cun Le menegur Ceng Liong sambil menunjuk kepada tokoh ketiga yang datang, seorang Pertapa Perempuan berwajah sejuk dan teduh dan sedang memandanginya dengan kasih yang tak tersembunyikan.

“Bibi Nenek …. astaga, jangan-jangan inilah Bibi Nenek Kiang In Hong, Pertapa Sakti dari Timur”? Ceng Liong nampak berseru terkejut, sama terkejutnya dengan Kwi Beng yang memandang terngangah kearah tokoh-tokoh hebat rimba persilatan dari Lembah Pualam Hijau dan masih jauh lebih muda dibandingkan suhunya sendiri.

“Siancai ….. siancai, demikian orang-orang menyebut masa laluku cucuku” demikian Pendeta Wanita yang dikenal berkemampuan ginkang tertinggi pada masa itu memandangi cucunya Ceng Liong yang memberi hormat kepadanya. Kemudian terdengar suara Cun Le,

“Nampaknya perkelahian mereka disana sudah harus segera diselesaikan. Salah paham begini harus segera diselesaikan, sedih melihat anak perguruan Siauw Lim Sie dan Lam Hay Bun bertempur tanpa alasan jelas”

Kwi Beng menjadi kaget bukan main, dan teringatlah dia akan bantuan kedua kakak beradik ini sewaktu mereka menghadapi kesulitan di Poh Thian. Karena itu dengan cepat dia mendekati arena pertempuran yang sudah sangat panas itu dan segera berseru:

“Song te, tahan …… saudara-saudara dari Lam Hay, kita orang-orang sendiri, tidak seharusnya bertempur”

Suara Kwi Beng tepat waktunya. Karena saat itu, ketiga anak muda itu sudah sangat terkuras tenaganya dan masih belum menunjukkan

tanda-tanda akan cepat berakhir. Mendengar Kwi Beng menyebut mereka orang-orang sendiri, akhirnya ketiganya, terutama Kwi Song yang memang sudah mengenal kedua kakak beradik itu segera menghentikan pertempuran.

Wajahnya penuh berkeringat, tetapi hal yang sama juga dialami kedua kakak beradik dari Lam Hay itu. Malah nafas mereka sedikit lebih memburu dibandingkan Kwi Song. Dan setelah keadaan menjadi sedikit reda, Kwi Song kemudian yang membuka suara lebih dahulu:

“Maafkan, sejak tadi aku ingin mengenalkan diri, tapi kesempatan berbicara sangat sedikit. Kita pernah bertemu di Poh Thian, dan kalian berdua adalah bintang penolong kami ketika membantu melawan Thian Liong Pang di Siauw Lim Sie Cabang Poh Thian”

“Ach, benar koko. Aku ingat sekarang, kita pernah membantu Pendekar kembar ini dan Siauw Lim Sie di Poh Thian beberapa tahun lalu. Kalau begitu, kita benar orang-orang sendiri” si Gadis yang bernama Lamkiong Sian Li memandang kearah kakaknya yang bernama Lamkiong Tiong Hong. Keduanya adalah anak dari Ketua Lam Hay Bun saat ini, dan secara otomatis keduanya dilatih silat tingkat tinggi.

Hanya, meski sudah mereda, Lamkiong Tiong Hong masih agak penasaran karena nampaknya kepandaiannya masih belum setinggi Kwi Song dari Siauw Lim Sie, padahal mereka seangkatan. Tetapi, betapapun demi sopan santun, dan sebagai anak keluarga persilatan yang termasyur dan gagah, dia akhirnya bicara juga:

“Ach benar, aku ingat sekarang. Jika demikian, biarlah kesalah-pahaman ini kita habiskan sampai disini” Keangkuhannya menahannya

untuk meminta maaf, padahal jelas mereka telah melakukan penyerangan dan pengeroyokan berdua kakak beradik atas Kwi Song.

“Benar, benar, buat apa kita bertengkar sendiri. Banyak hal lain yang harus segera kita kerjakan” Kwi Song yang berwatak terbuka tidak mempersoalkan masalah itu. Apalagi, karena selama beberapa waktu belakangan ini, Kwi Song tergembleng benar dengan keadaan-keadaan yang menegangkan urat syaraf dan perlahan namun pasti telah mematangkannya dan membuatnya lebih mampu menguasai diri dari hari kehari. Dan sikapnya itu pulalah yang rupanya menarik hari salah seorang dari kedua kakak beradik Lam Hay itu.

Pertempuran-pertempuran di tepi hutan itu, akhirnya berhenti dengan sendirinya. Bahkan kemudian dilanjutkan dengan percakapan ringan antara mereka semua, sampai akhirnya Lamkiong Tiong Hong dan Lamkiong Sian Li duluan minta diri karena sedang mengerjakan tugas dari ayah mereka untuk berkelana di Tionggoan.

Tetapi semakin lama semakin jelas, bahwa setelah pertempuran antara mereka, Lamkiong Sian Li jadi banyak memandang dengan kagum dan mesra kearah Kwi Song. Orang yang dipandang, sebenarnya juga terpesona atas kecantikan Sian Li. Karena itu dengan segera mereka menjadi akrab. Berbeda dengan Tiong Hong yang nampak cenderung menjaga jarak dalam pergaulannya dengan Kwi Song bahkan juga dengan Kwi Beng serta Ceng Liong.

Tetapi, untuk bersikap memusuhi, Tiong Hong juga merasa tidak pada tempatnya. Tetapi khusus terhadap Kwi Song, rasa penasarannya nampak sulit untuk ditutup-tutupi, karena berkaitan langsung dengan kepandaian. Karena itu, bibit dengki dan penasaran sebetulnya sudah bertumbuh didadanya, melihat dan merasa Kwi Song

sungguh merupakan saingan beratnya dalam hal kepandaian. Padahal, dia masih belum tahu, bahwa bahkan Kwi Beng dan terlebih Ceng Liong, bukannya berada disebelah bawah kepandaian Kwi Song jika bicara soal Ilmu Silat belaka.

==========================

Keenam orang itu duduk berhadap-hadapan ………. Sedikit agak masuk ke hutan, dan disuatu tempat yang agak sepi. Keenamnya duduk berhadapan. Dan ditempat yang sedikit agak tinggi, adalah 3 orang yang sudah sangat tua namun berwajah lembut dan teduh. Yang satu adalah seorang Pertapa Wanita dengan hudtim khasnya, nampak berwajah penuh welas asih dan dengan gerak-gerik yang sangat lembut.

Tetapi, jangan salah sangka, jika Pendeta Perempuan ini bergerak, maka nyaris tiada seorangpun tokoh persilatan yang akan sanggup menyandaknya. Dia dikenal dan terkenal sebagai tokoh wanita nomor satu dewasa ini, dan juga sebagai pemilik ilmu gerak atau ginkang nomor wahid. Dia adalah Liong-i-Sinni, yang dulunya bernama Kiang In Hong, adik dari bekas Duta Agung Lembah Pualam Hijau kenamaan dan yang memang sudah sakti sejak pada masa mudanya.

Orang kedua, adalah salah satu tokoh pendekar legendaris yang angkat nama bersama Kiang In Hong. Siapa lagi jika bukan Kiang Cun Le, tokoh yang melanjutkan nama harum Lembah Pualam Hijau hingga turun temurun dikagumi dan dimalui serta ditakuti dunia persilatan Tionggoan.

Kiang Cun Le yang kini sudah tua, dengan rambut dan alis memutih adalah tokoh pertama yang membentuk Kiang Ceng Liong, dan telah

memiliki wawasan kedepan yang cukup tinggi. Rabaannya akan masa depan, membuatnya mengambil langkah berani untuk menyelamatkan Lembahnya dan juga dunia persilatan.

Dan karena itu juga, badai berdarah dunia persilatan dapat dihadapi dengan mengedepankan selumlah pendekar muda yang memang disiapkan untuk memikul tugas dan tanggung jawab itu. Kiang Cun Le, pada masa mudanya adalah seorang pendekar muda yang sakti, melanjutkan harumnya nama kakeknya Kiang Sin Liong, dan melanjutkan pibu melawan tokoh-tokoh sakti dari Thian Tok, Lam Hay dan Bengkauw. Bahkan sampai kini, bekas-bekas kesaktiannya masih terasa, tetapi wajahnya sudah demikian teduh dan penuh kematangan.

Tokoh ketiga, dibarisan para tetua, adalah tokoh yang sebetulnya sangat misterius. Potongannya rada beda dengan potongan atau tipe biasanya pendekar Tionggoan. Kulitnya lebih mirip tokoh dari Thian Tok, tetapi rambutnya agak ikal kehitaman.

Meskipun demikian, diapun tidak mirip-mirip sangat dengan orang-orang dari Thian Tok (India), ada perbedaan yang sedikit membedakan dan agak khas. Yang pasti, tokoh ini berbeda secara fisik dengan pendekar Tionggoan umumnya, sedikit lebih hitam kulitnya dan rambutnya agak ikal. Ciri lainnya adalah rambut ikalnya itu, juga sudah memutih semuanya, termasuk alisnya.

Tatapan matanya lebih teduh namun sanggup mengaduk sampai kekedalaman hati seseorang. Kepalanya diikat oleh sehelai kain berwarna merah, sebuah destar berwarna merah. Mungkin, itu salah satu sebab dia disebut Si Destar Merah, karena memang dia selalu mengenakan Destar Merah bahkan sejak masa mudanya.

Tokoh seberang dan asing ini, memang bernama atau dipanggil si Destar Merah, dan hanya itu nama yang diketahui Cun Le, selain julukan lain yang terkenal juga di Thian Tok dan Tionggoan, yakni Kolomoto Ti Lou atau Bintang Selatan Nan Sakti. Dia, sangat dikenal kalangan tua dan sepuh di India dan Tionggoan, karena kegemarannya berkelana dan kehebatan Ilmu Silatnya. Bahkan, dia dikenal dekat oleh 4 Manusia Dewa Tionggoan, dan bergaul akrab.

Dihadapan ketiga tokoh tua itu, duduk berendeng ketiga tokoh muda, penerus mereka. Yakni Kiang Ceng Liong dan pendekar kembar dari Siauw Lim Sie, masing-masing Souw Kwi Beng dan Souw Kwi Song. Sudah sejak awal, kedua kakak beradik kembar ini memandang penuh takjub dan kagum kearah Liong-i-Sinni dan Kiang Cun Le, kedua Naga Sakti dari Lembah Pualam Hijau yang memiliki nama yang menjulang tinggi.

Bertemu kedua tokoh yang sering diceritakan guru mereka sebagai tokoh aliran pendekar terkemuka dan memiliki kemampuan silat yang digdaya sungguh menggetarkan dada kakak beradik itu. Berbeda dengan Ceng Liong, yang takjub memandang tokoh ketiga, karena memang bisikan dari Destar Merah inilah yang membantunya memenangkan pertempuran dengan para tokoh Thian Liong Pang.

Suasana hening, seperti membantu ketiga anak muda ini untuk tidak habis-habisnya memandangi ketiga tokoh tua gaib itu dan mengagumi mereka. Ketiganya tenggelam dalam angan yang didasarkan atas kekaguman terhadap ketiga tokoh tua nan sakti yang kini duduk bersimpuh menghadap mereka bertiga. Sampai kemudian kekaguman mereka diputuskan atau dipecahkan oleh sebuah suara yang nampaknya berasal dari Kiang Cun Le:

“Anak-anak, kalian sungguh beruntung boleh berjumpa dengan salah satu tokoh gaib yang terkenal bukan cuma di Tionggoan, tetapi juga bahkan di Thian Tok dan bahkan daerah sebrang dan beberapa daerah lain” Kiang Cun Le berhenti sebentar memandang wajah takjub ketiga anak muda yang duduk didepannya. Padahal, ketiga anak muda itu, memang juga sedang bertanya-tanya, siapa gerangan tokoh tua aneh dengan potongan fisik yang lain dari lain itu? Terlebih Ceng Liong yang sangat penasaran dengan orang tua itu.

“Bahkan, tokoh ini masih lebih sepuh dibandingkan guru kalian sekalipun, yakni Kian Ti Hosiang dan Kakek Kiang Sin Liong, dan telah berkeliling jagad dalam pengabdian sebagai seorang pendekar. Dia berasal dari sebrang lautan, dari sebuah Negeri bernama Jawadwipa, terkenal sebagai Kolomoto Ti Lou, atau Bintang Selatan Nan Sakti, dan memiliki kesaktian yang tidak lumrah. Beliau ini bersahabat erat dengan guru-guru kalian, meski bahkan lebih tua dari mereka” Kembali Kiang Cun Le berhenti sebentar, melirik si Destar Merah yang diperkenalkan. Sementara orangnya sendiri senyam-senyum saja, seperti Kiang Cun Le seakan bukan sedang membicarakannya.

“Sebetulnya locianpwe Kolomoto Ti Lou ini berkeliaran lagi di Tionggoan karena beberapa sebab yang penting. Yang pertama, dia rindu menemui, untuk terakhir kali menurut perkiraannya, sahabat-sahabat kekalnya di Tionggoan, yakni 4 Manusia Gaib dari Tionggoan: Kiong Siang Han, Kian Ti Hosiang, Pek Sim Siansu Wie Tiong Lan dan Kakek Kiang Sin Liong. Dan itu sudah dilakukannya. Bahkan dia sempat bertukar pikiran dengan Kiong Siang Han dan Kian Ti Hosiang locianpwe sesaat sebelum mereka masing-masing menutup mata. Ada beberapa percakapan yang harus disampaikan kepada kalian masing-masing, tetapi kalian akan mengerti dengan sendirinya kelak”

“Locianpwe sempat bertemu suhu”? Kwi Song bertanya penasaran sambil memandang si Destar Merah. Yang dipandangi hanya melebarkan senyum, dan itu sudah cukup sebagai jawaban.

“Tapi, kami bersama dengan suhu sepanjang hari, terutama 2 bulan sebelum dia orang tua menutup mata” Kwi Song berkata penasaran.

“Hahahaha, Song jie, locianpwe Kolomoto Ti Lou, jika tidak berkenan memperlihatkan dirinya kepada seseorang lain, maka jangan berharap orang tersebut akan pernah melihatnya, meskipun mati-matian mencari dan memburunya. Maka, beruntunglah kalian berkesempatan bertemu dengan tokoh yang sangat aneh ini saat ini, yang bahkan oleh guru kalian sendiri juga sangat segan dan menghormatinya. Dan lebih beruntung lagi, karena hubungan baik antara suhu kalian dnegan locianpwe ini, maka ada pesanan dari suhu kalian yang akan kalian dapatkan suatu saat nanti” Kiang Cun Le berkata dengan setengah misterius.

“Locianpwe, apakah benar suhu meninggalkan sesuatu melalui locianpwe”? Kwi Song kembali bertanya. Nampak si Destar Merah hanya mengangguk, tetapi tetap tidak mengeluarkan sepatah katapun.

“Hm, tecu ingat. Sebelum menutup mata suhu memang sempat berkata bahwa akan ada orang yang membantu kami, dan kami harus percaya bahwa itu berasal dari suhu sendiri” Kwi Beng merenung sejenak, mengingat-ingat sesuatu baru kemudian berani berkata. Kemudian, kembali terdengar Kakek Kiang Cun Le berkata:

“Benar, suhu kalian meminta Locianpwe Kolomoto Ti Lou untuk membantunya menyempurnakan kalian. Karena kesempurnaan ilmu suhu kalian yang memampukannya melihat batas usianya, dan melhat

kalian maih perlu menyempurnakan diri. Dan suhu kalian meminta kepada orang yang tepat, karena terlebih tidak ada rahasia antara suhu kalian dengan locianpwe Kolomoto Ti Lou ini, seperti juga dengan Manusia Gaib Tionggoan lainnya”

“Locianpwe, apa memang benar demikian”? Kwi Song mengejar dengan sedikit penasaran, jelas sekali perbedaannya dengan Kwi Beng yang lebih tenang. Dan kembali Kolomoto Ti Lou hanya tersenyum mengiyakan, dan yang berbicara kemudian adalah Kiang Cun Le seperti biasanya:

“Benar sekali anakku. Karena apa yang dipesankan dan dimintai tolong oleh suhu kalian, akan sangat erat hubungan dan kaitannya dengan tugas kedua yang memaksa locianpwe Kolomoto Ti Lou untuk menghabiskan banyak waktunya di Tionggoan ini”

“Maksud kong-kong”? Ceng Liong yang biasanya sama dengan Kwi Beng pendiam dan tidak banyak bicara, terpancing juga rasa penasarannya. Sementara Kwi Song merasa berterima kasih karena memang pertanyaan sejenis sudah menggantung di bibirnya.

“Perjalanan teramat jauh yang di tempuh locianpwe Kolomoto Ti Lou ini, kemungkinan besar sangat erat terkait dengan pergolakan dahsyat yang terjadi di Tionggoan. Dan pergolakan hingga saat ini, menurut beliau masih belum merupakan puncak dari misteri yang terjadi selama ini. Bahkan tokoh-tokoh utama dari pergolakan ini belum pada mengunjukkan dirinya, dan karena itu menjadi kesempatan bagi kalian untuk terus mengembangkan diri dan kemampuan kalian”.

“Anak-anakku” terdengar suara lain, yang kali ini datangnya dari Liong-i-Sinni, si Pertapa Wanita

“Sepanjang perjalanan pinni ke Tionggoan ini, nampak seperti terjadi sentakan yang berdaya luar biasa. Beberapa tokoh seangkatan kong-kong, Kiong Siang Han locianpwe yang sudah sangat sepuh, bahkan seperti menunjukkan tanda-tanda mengunjukkan diri kembali. Kita bisa membayangkan bagaimana kekuatan semacam itu, baik dari Thian Tok, bahkan konon orang kedua Dalai Lama dari Tibet dan para sesepuh lainnya dari Tionggoan ini tertarik untuk menceburkan diri dalam pertikaian besar kelak”

“Locianpwe, sedahsyat itukah yang akan terjadi”? dan apa pula penyebab utamanya? Mustahil kalau hanya sekedar adu kepandaian yang selama ini terjadi antara dua kutub kekuatan di Tionggoan yang menyebabkannya. Adakah satu misteri lain dari semua rangkaian kejadian yang susul menyusul dan nampak berada pada titik siap untuk meledak ini”? Kwi Beng bertanya karena juga menjadi sangat penasaran, atau malah sangat penasaran karena ternyata dugaan mereka bahwa Thian Liong Pang adalah kunci pertikaian, hanya semacam pemantik dari pertikaian itu. Sementara biang utamanya, malah masih belum unjuk diri. Jika benar demikian, bukankah justru kekisruhan yang lebih hebat justru sangat mungkin akan terjadi?

“Jika sampai kong-kong Kiang Sin Liong turun tangan sendiri menyiapkan Liong Jie, Wie Tiong Lan Locianpwe, Kian Ti Hosiang dan Kiong Siang Han melakukan hal yang sama terhadap muridnya, dengan memaksakan diri, maka mereka melihat kedepan, sama seperti yang dilihat dan dirasakan oleh locianpwe Kolomoto Ti Lou” tegas Kiang Cun Le sambil memandangi anak-anak muda itu dengan wajah dan mimik yang sangat serius.

“Dan bisa dipastikan, bahwa urusannya lebih dari sekedar adu gengsi antara Lam Hay Bun, Bengkauw dan jago Thian Tok melawan

Siauw Li Sie, Kay Pang, Bu Tong Pay dan Lembah Pualam Hijau” tambah Liong-i-Sinni.

“Jika demikian, bahkan malah jauh lebih rumit dari sekedar melawan Thian Liong Pang. Apakah memang benar demikian adanya kong-kong”? Ceng Liong bertanya cerdik.

“Benar cucuku. Tetapi, bukan tidak mungkin menelanjangi Thian Liong Pang akan membuka jalan bagi terbukanya banyak tokoh dan persekongkolan yang menumpang dibalik ambisi Thian Liong Pang” jawab Kiang Cun Le.

“Sebetulnya, turunnya dan munculnya tokoh-tokoh sakti mandraguna lainnya bisa dipastikan bukan secara kebetulan. Beberapa mengunjukkan diri di himalaya meski sudah lama mengasingkan diri. Bahkan tokoh besar Kay Pang lainnya, yang hampir semasa atau sejaman dengan Kiong locianpwe juga menunjukkan jejaknya. Tidaklah mungkin tokoh-tokoh besar semacam mereka bermunculan tanpa maksud tertentu. Dan memang, bukan semata karena persoalan Thian Liong Pang” Liong-i-Sinni menambahkan.

“Locianpwe, jika demikian, jika demikian hebatnya tokoh-tokoh maha sakti yang kembali bermunculan, apa yang mampu dan sanggup kami lakukan”? Kwi Song bertanya saking penasaran dengan informasi yang sungguh sangat mengejutkan itu. Teramat mengejutkan dan menyentakkan.

“Anakku, suhu kalian menyiapkan kalian dan meminta bantuan locianpwe Kolomoto Ti Lou, karena memang kalian yang wajib tampil kedepan. Kami yang sudah tua ini, biarlah menyelesaikan urusan-urusan masa lalu supaya tidak merusak keadaan pada masa kini.

Urusan Thian Liong Pang, urusan pertandingan persahabatan antara Pendekar Tionggoan melawan Lam Hay, Beng Kauw dan tokoh Thian Tok, akan mempercayakan kalian yang muda menanganinya. Tapi konflik besar yang ditelisik locianpwe Kolomoto Ti Lou, juga akan meminta perhatian lebih kalian semua. Meskipun kami yang tua-tua, tetap akan terlibat suka ataupun tidak suka”

Ketiga anak muda itu nampak kemudian tenggelam dalam lamunan masing-masing. Mencoba mencerna apa yang disampaikan oleh para tetuah didepan mereka, yang juga nampaknya berdiam diri untuk memberi kesempatan ketiga anak muda itu untuk berpikir dan meresapkan apa yang disampaikan barusan.

Suasana hening itu berlangsung cukup lama, sama lamanya dengan bagaimana ketiga anak muda itu mencerna, menerka, menerawang dan mencari posisi mereka dalam kekisruhan dunia persilatan yang sekali lagi, dimintakan kepada mereka untuk memikul tugas mengamankannya. Bahkan ternyata, yang mengagetkan, mereka masih memiliki tugas lain yang tidak kurang beratnya.

Dan terlebih, konflik serta teror Thian Liong Pang, yang sudah sedemikian menakutkan, hanya sebagian dari konflik besar, jika benar, apa yang disampaikan kakek Kiang Cun Le kepada mereka. Dan merekapun berpikir-pikir, siapa gerangan kakek berjuluk Kolomoto Ti Lou yang bahkan juga dihormati guru-guru mereka, dan sehebat apa sebenarnya kakek berpotongan aneh dan berkulit kehitaman ini dengan sebuah Destar Merah yang dikenakan dikepalanya dan berkibar-kibar tertiup angin.

Serta apa pula kira-kira yang akan dilakukan kakek itu buat mereka? Dan memang layakkah dia mendapat titipan dari guru mereka?

Demikianlah sejumlah pertanyaan yang silih berganti mengisi benak ketiga anak muda itu. Cukup lama mereka dibiarkan dalam keheningan, meresapkan perkataan para tetuah mereka, sampai akhirnya Kiang Cun Le kemudian memecahkan keheningan dengan berkata:

“Anakku, jika tidak salah kalian berdua sedang melakukan sebuah pekerjaan. Benarkah demikian”? ucapnya lembut sambil memandang kedua Pendekar Kembar itu. Kwi Song dan Kwi Beng yang ditanya mendongak dan siuman dari lamunan mereka, dan Kwi Songlah seperti biasanya yang menyahut duluan:

“Benar locianpwe, kami ditugaskan untuk menuju ke Tiam Jong Pay, menyelidiki dan sekaligus membantu keadaan disana jika yang diperkirakan para tokoh pendekar benar”

“Hm, jika perhitunganku tidak salah, maka kalian akan menemukan keadaan yang memang luar biasa. Kalian harus berhati-hati disana anakku” Liong-i-Sinni nampak berkata, tetapi tidak menyebutkan secara rinci apa yang dimaksudkannya. Sementara Kwi Beng dan Kwi Song hanya menangkap sekilas, tetapi tidak bertanya lebih jauh makna ucapan pertapa wanita sakti itu buat mereka.

“Nach, karena memang tugas kalian memang sangat penting, usahakan untuk tidak terlambat tiba di sana, tenaga kalian pasti akan sangat diperlukan. Mengenai kesediaan locianpwe Kolomoto Ti Lou, pasti akan dilakukannya pada waktu yang tepat. Kita akan bertemu lagi anak-anakku” Kiang Cun Le akhirnya menutup percakapannya dengan mengingatkan sambil mempersilahkan Pendekar Kembar itu untuk melanjutkan perjalanan mereka.

Bahkan sekilas mengingatkan untuk tidak terlambat, dan membuat kedua Kakak beradik itu terhenyak, karena tugas mereka memang sangat penting dan tidak boleh terlambat dikerjakan.

“Baiklah locianpwe, perkenankan kami melanjutkan perjalaan” Keduanya segera bangkit, memberi hormat kepada ketiga tetuah itu, dan kemudian berpaling kepada Ceng Liong sambil berkata:

“Saudara Ceng Liong, sampai bertemu kembali” dan selanjutnya keduanya berjalan meninggalkan tempat tersebut. Keduanya melanjutkan perjalanan ke Tiam Jong San, tetapi keduanya tidak pernah menyadari, bahwa perjalanan mereka kemudian, diikuti oleh salah seorang dari 3 tetuah yang bercakap bersama mereka sebelumnya. Ada apa di Tiam Jong San?

Episode 10: Kemelut di Shih Li Fo Shih

Ketiga orang itu nampak menikmati cemerlangnya sinar mentari, meski mulai lewat tengah hari. Tetapi, bukan hanya kemilau sang mentari dengan sinarnya yang menyengat mata yang membuat ketiganya nampak betah, duduk berdiam diri dibawah sebuah pohon rindang, dan yang membuat mereka terhalang dari sengatan sinar matahari.

Tetapi, karena dari ketinggian bukit itu, tempat yang mereka pilih, ketiganya bisa menyaksikan bentangan alam nun jauh di bawah sana. Barisan pohon-pohon yang membentuk barisan-barisan teratur dan memanjakan mata dengan kehijauannya. Belum lagi, lika-liku jalanan di bawah, yang kadang menghilang dibalik balutan pepohonan, dan terus mencuat lebih jauh lagi disana, ketika pepohonan menjadi lebih jarang.

Dan, terus lagi kearah matahari biasanya terbit, nampak menghalang sebuah bukit lain yang cukup tinggi, bahkan kemudian berbalur dengan barisan bukit-bukit lainnya yang memanjang dan kemudian menyatu terus kebelakang dengan sebuah gunung yang cukup tinggi. Dari kejauhan, gunung itu hanya kelihatan warna birunya belaka, dan hanya sebagian dari badan gunung hingga kepuncaknya yang nampak dimata.

Sementara, disisi kiri tempat mereka memandang kebawah, nampak sebuah sungai yang lumayan lebar, tetapi hanya kelihatan sebagiannya, untuk kemudian terus mengalir menurun kebawah. Nampaknya sungai itu menyusuri bagian bawah lembah dari gunung dihadapan mereka. Lingkaran sugai itu tidak cukup panjang untuk disaksikan, karena segera melingkar dan menghilang dikejauhan.

Tetapi, di areal sepanjang sungai itu, ada beberapa pemukiman yang nampak kecil dan jarang saja dari puncak bukit itu, dan bahkan sebelum lekuk sungai itu menghilang, dikejauhan sana, nampak bersama dengan kelompok pemukiman yang kelihatannya menyandarkan kehidupan mereka dari alur dan arus sungai tersebut.

Baru kemudian hamparan hijau dibawah, dekat dengan pemukiman-pemukiman tersebut menambah aroma alam yang masih sangat alami, karena sepanjang hamparan di lembah bawah, relatif masih sangat sedikit penghuninya dan masih sangat jarang tersentuh ataupun terolah tangan manusia. Begitu indah dan alaminya pemandangan dibawah mereka, bagaikan sebuah demonstrasi keindahan alam yang juga berpadu dengan cerlangnya sinar mentari. Membuat semuanya terasa sangat indah dipandang mata, dan mendatangkan kesegaran batin yang alami.

Apalagi, panorama indah yang mereka nikmati, masih diiringi oleh sajian musikal alami yang sangat menawan. Kicauan burung yang memecah kesunyian, saling sahut dan seakan menampilkan melodi alam tak tertandingi. Semua masih diikuti oleh semilir angin yang dengan lembut membelai wajah dan pakaian mereka.

Desis lembut angin dan lagi dari kicau burung di hutan, sungguh merupakan musik pengantar atau pengiring yang melengkapi keindahan panorama yang sedang dinikmati ketiga orang itu. Kesunyian dan kesenyapan dipecahkan oleh pameran musikal alami dan menghantarkan mereka menikmati panorama alam yang demikian hijau menawan.

Sungguh, tiada akan pernah kebosanan hinggap, bila batin dan jiwa menyatu dengan alam, menyelami rahasia alam, menikmati keindahannya dengan tidak merusaknya. Karena jika demikian, maka alam menyediakan sejuta rahasia keindahan yang sebenarnya tidak akan pernah habis terpakai atau habis dinikmati manusia.

Tapi, jika diimbuhi dengan kerakusan,ketamakan dan nafsu merusak, maka alampun menjadi cukup pelit bagi manusia. Keindahannya akan tergerus, melodinya akan menjadi gersang, dan bukan tidak mungkin berubah menjadi bala dan bencana. Karena alampun sanggup menyediakan murka tak tertahan bagi kebengisan manusia dalam mengolah atau bahkan merusaknya. Dan alam memiliki caranya sendiri untuk memberi hadiah setimpal bagi upaya menyakiti dan mencederai alam semesta.

Dan ketiganya, seperti memang sengaja sedang berusaha untuk menyatu dengan alam, menikmati keindahannya, menyatu dengan semilir angin, menikmati indahnya melodi kicauan burung, meresapi

keresekan pepohonan dan dedaunan dan menempatkan diri mereka dalam rangkaian melodi alam tersebut. Tiada perlawanan, yang ada kepasrahan dan kemanunggalan dengan alam.

Ketiganya nampak menutup mata, membiarkan rambut mereka tergerai oleh hembusan angin, dan membiarkan jubah mereka bergelombang oleh terpaan angin di puncak bukit itu. Aneh, ketiganya dalam keadaan seperti itu dalam waktu yang cukup lama, agak lama, atau malah terlalu lama malahan. Akan tetapi, bukan kejenuhan dan capek yang tergambar diseri wajah mereka. Tetapi, justru rona teduh, gembira dan sangat natural.

Sebuah gambaran unik, bagaimana menyatunya manusia dengan alam, manunggalnya manusia dengan alam, dan melahirkan keharmonisan dan kegembiraan yang luar biasa. Nampaknya harmonisasi kicau burung, desir angin, desir dedaunan yang saling bergesekan dan terkadang juga pepohonan menimpal dengan bunyi keresekan, membuat ketiganya hanyut dalam dekapan alam.

Cukup lama keadaan mereka bertiga seperti itu, sampai kemudian matahari mulai kurang terasa sengatannya, tanda benda alam itu mulai condong ke barat dan memasuki masa sore. Dan, dalam keadaan seperti itu, nampak salah seorang dari ketiga orang yang dalam samadhi menghadap bentangan keindahan alam itu seperti sedang mengerjakan sesuatu. Apakah itu dan terlebih siapakah tokoh itu? Pertanyaan yang tentu menggelitik bagi siapa saja yang menemui atau menemukan ketiganya dalam keadaan yang aneh semacam itu. Ya benar, siapakah mereka?

Sebagaimana diceritakan di depan, setelah memberitahu beberapa hal kepada sepasang Pendekar Kembar dari Siauw Lim Sie dan

kemudian mempersilahkan kedua pendekar muda itu melanjutkan perjalanan, tertinggal Kiang Cun Le, Kiang In Hong, Kiang Ceng Liong dan seorang tokoh aneh, si Destar Merah atau Kolomoto Ti Lou (Bintang Sakti dari Selatan). Seorang dari seberang lautan yang bahkan berdiri sejajar dengan 4 Dewa Persilatan Tionggoan, bahkan masih dihormati dan dimalui oleh 4 tokoh besar tersebut.

Tetapi, beberapa lama setelah kedua pendekar Siauw Lim Sie melanjutkan perjalanan, tiba-tiba Kiang Cun Le seperti mendapatkan bisikan. Dan, seperti biasanya, memang dengan cara itulah dia berkomunikasi dengan kakek aneh, si Destar Merah, tokoh seberang lautan itu. Yakni, komunikasi melalui getaran batin.

Dan, bukan sembarang orang yang sanggup melakukannya, bahkan Kiang Cun Le sendiri, baru sanggup melakukannya beberapa tahun terakhir ini setelah selamat dari kecelakaan ketika melakukan “penggodokan” terhadap Kiang Ceng Liong. Dan kebetulan, orang tua aneh inilah yang menyelamatkannya dan kemudian bahkan mampu membuatnya mencapai tahapan yang lebih tinggi lagi.

“Sudah saatnya engkau berangkat, dan biarlah tugas untuk menyempurnakan kedua anak itu, sebagaimana amanat Kian Ti Hosiang, kuwakilkan kepadamu. Engkau sudah tahu bagaimana caranya menyempurnakan mereka” seperti itulah desisan yang terdengar terang di telinga dan batin Kiang Cun Le. Tetapi, baik Kiang Cun Le maupun si Destar Merah, masih tetap nampak tenang, seperti tidak ada sesuatu yang terjadi antara mereka berdua.

Dan memang, hanya mereka berdua yang mengerti dan tahu apa yang mereka percakapkan. Karena itu, jawaban Kiang Cun Le sendiripun hanya diketahui oleh si Destar Merah. Dan beberapa saat

kemudian, terdengar suara normal Kiang Cun Le ditujukan kepada Kiang In Hong dan Kiang Ceng Liong:

“Liong Jie, kakekmu ini harus mengerjakan sesuatu yang teramat penting. Dan biarlah engkau bersama bibi nenekmu untuk sejenak menemani Kolomoto Ti Lou locianpwe dan kalian berdua masing-masing harus mengerjakan sesuatu yang juga sangat penting”

“Baik kong-kong” singkat jawaban Ceng Liong, tetapi Kiang Cun Le tahu, ada banyak pertanyaan di mata cucunya itu. Karena itu dengan segera dia berkata:

“Ada banyak pertanyaan yang akan terjawab dengan sendirinya. Tetapi, ada kepentingan besar bagimu untuk tinggal, dan beberapa waktu kedepan kita semua akan berkumpul lagi. Apakah engkau bisa memahaminya Liong Jie”?

Nampak Ceng Liong sedikit terdiam dan tentu sedang berusaha keras untuk mengerti ucapan kakeknya. Tetapi, teramat banyak hal yang asing dan belum diketahuinya, belum lagi persoalan yang dihadapinya. Dan semua itu, masih belum ada titik terang yang bisa membuatnya tentram. Bagaimana mungkin dia mengerti maksud kakeknya?

“Beberapa hal, akan engkau mengerti sebentar lagi cucuku. Karena itu, biarlah kutinggalkan engkau sejenak dengan Kolomoto Ti Lou locianpwe, dan ketika bertemu semua yang ingin kamu tanyakan, sebagiannya pasti sudah ada jawabannya”

“Baiklah kong-kong” akhirnya dengan berat dan sedikit masygul Ceng Liong menjawab kakeknya. Dan dengan jawaban itu, tiba-tiba dia melihat kakeknya menjura sebentar kearah si tokoh aneh, Destar

Merah, berkedip dan mengangguk kearah Liong-i-Sinni dan sebentar kemudian tubuhnya melayang pergi bagaikan asap.

Dan tinggalah ketiga orang itu, si Destar Merah atau Kolomoto Ti Lou, Kiang In Hong Liong-i-Sinni dan Kiang Ceng Liong. Dan kesenyapan sejenak melingkupi ketiganya, terlebih karena nampaknya si Kakek Aneh itu, sangat jarang berkomunikasi secara oral, atau berkomunikasi lewat mulut. Sayangnya, Ceng Liong belum memahami keadaan ini, hanya Liong-i-Sinni yang sudah mengetahuinya, bahkan juga sudah dalam tahapan mampu berkomunikasi dengan cara itu.

Beberapa saat kemudian, nampak dimata Ceng Liong, baik Liong-i-Sinni maupun Kolomoto Ti Lou sudah dalam keadaan berdiam diri. Sama sekali dia tidak mengerti mengapa dia seperti dibiarkan atau ditelantarkan, tiada instruksi apapun baik dari orang tua aneh itu maupun dari neneknya apa yang sebaiknya dikerjakannya.

Tetapi, sebagai seorang muda pilihan, Ceng Liong akhirnya memusatkan pikirannya dan tidak lama kemudian dia mulai tenggelam dalam semedinya. Tetapi, justru dalam semedinya itu, tiba-tiba dia merasa seperti sedang dihubungi seseorang. Tetapi, nampaknya dia masih merasa sangat sulit untuk membuka komunikasi dengan orang itu. Tetapi, yang pasti, dia merasa bahwa orang itu adalah Kolomoto Ti Lou.

Dan karena itu, dia tidak bercuriga dan membiarkan semedinya berlangsung dan bahkan membiarkan angan dan pikirannya tentang tokoh aneh itu ikut “bermain” dalam alam pikirannya. Anehnya, semakin dia membiarkan tokoh itu dalam angannya, semakin sanggup dia melihat semacam “wujud maya” tokoh aneh itu seperti sedang berhadapan dengannya.

Semakin lama “wujud maya” itu menjadi semakin jelas di mata dan telinga batinnya, sampai kemudian lama-kelamaan “wujud maya” itu mulai membentuk senyum, tawa dan gerak geriknya sudah bisa tertangkap indra batin Ceng Liong. Setelah menunggu sekian lama lagi, pada akhirnya, Ceng Liong seakan-akan merasa bahwa mereka berdua sedang berhadap-hadapan seperti di alam nyata, dengan menggunakan indra-indra kemanusiaannya, seperti mata, telinga dan kulit untuk merasakan.

Semua gerak-gerik Kolomoto Ti Lou sudah semakin jelas baginya, tidak lagi samar, bahkan tatap mata dan gerak kecil lain dari tokoh itu sudah jelas bagi Ceng Liong meskipun dalam wujud maya semata. Sampai kemudian Ceng Liong sanggup menerima dan mencerna apa yang sedang disampaikan oleh orang tua itu:

“Anakku ….” Demikian Ceng Liong mendengar lewat kontak batin apa yang disampaikan tokoh tersebut ….. Tapi, Ceng Liong masih belum berkeyakinan sanggup mengeluarkan kata-kata dan kalimat dalam percakapan dengan kontak batins emacam itu. Karena itu, kembali terdengar tokoh tua itu melanjutkan kalimatnya:

“Aku tahu bahwa engkau masih kaget dan belum mampu melanjutkan kontak dan percakapan seperti ini. Dalam alam fisik, kita sulit berkomunikasi karena bahasa kita berbeda, tetapi dengan kontak batin seperti ini, kendala bahasa bukan menjadi persoalan. Aku tahu, engkau pernah dididik kakekmu dengan tenaga yang luar biasa, bahkan engkau memiliki kekuatan batin dengan cara yang aneh. Tetapi, engkau tidak akan mampu menggunakannya secara optimal, dan belum mampu berkomunikasi secara batin seperti ini, karena belum terlatih dan belum terbiasa. Meskipun bukan sekedar latihan dan kebiasaan yang akan membuatmu mampu, tetapi kedalaman

penguasaan tenaga dalam dan tenaga atau kekuatan batin. Dalam keadaan sekarang, engkau sudah memasuki tahap awal untuk berkemampuan melakukan komunikasi jenis ini”

Ceng Liong semakin kaget, tetapi tidak mengendurkan konsentrasi dan semedinya, meski kekagetannya sempat membuat bayangan maya kakek aneh itu memudar. Tetapi, dengan cepat Ceng Liong menyadari kekeliruannya dan kembali berkonsentrasi terhadap bayangan Kolomoto Ti Lou yang kemudian melanjutkan kembali:

“Anakku, aku tahu engkaupun berkeinginan mengungkapkan pikiranmu, perkataanmu untuk disampaikan kepadaku. Engkau sudah berkemampuan melakukannya sebetulnya, tetapi masih belum cukup melatih dan memperdalam kemampuan itu dalam sebuah kontak batin. Yang engkau butuhkan adalah mempertegas pengenalanmu akan orang yang engkau ajak berbicara dan mempertegas keyakinanmu sendiri bahwa engkau sanggup melakukannya. Berkonsentrasi terhadap apa yang ingin engkau sampaikan melalui kalimat bukan dengan isyarat mata, bibir ataupun mimik wajahmu, tetapi menjelaskannya melalui ketetapan hatimu dan menghubungkannya dengan orang yang ingin engkau sampaikan kalimatmu itu. Tidak semua orang sanggup melakukannya, dan dibutuhkan 2 orang yang berkemampuan seperti itu untuk melakukan kontak batin semacam itu. Bila kemampuanmu sudah meningkat, maka engkau bahkan bisa memasukan pikiran dan kalimatmu kepada orang yang tidak dalam kondisi semedi. Kemampuan itu sudah lama dimiliki gurumu dan ketiga Dewa Tionggoan, sementara kakek dan nenekmu sedang mengarah kekemampuan itu”

Kakek itu, Kolomoto Ti Lou, nampak berdiam diri sejenak, seperti memberi ketika bagi Ceng Liong untuk meresapkan penyampaiannya.

Dan ketika waktunya sudah dirasa cukup, maka kembali orang tua itu melanjutkan kalimatnya yang disampaikan melalui percakapan batinnya dengan Ceng Liong:

“Cobalah engkau berlatih sejenak. Pertama, engkau mengolah kembali kekuatan tenaga dalammu, mematangkannya sekali lagi sesuai dengan apa yang kamu dapatkan dari sobekan kertas yang diperebutkan itu. Bahkan, dalam pematangan itu, engkaupun bisa mengolah kembali dengan mengkombinasikan juga kemampuan dan cara melatih iweekang lembah kalian. Kelihatannya kurang masuk di akal, tetapi melatihnya dalam sikap semedi dan mencari kemungkinan pematangannya secara bersama, justru tidak akan melukaimu dalam kondisi seperti ini. Tetapi, harus diingat, jangan mencoba untuk mengerahkan tenagamu dalam mencari kemungkinan-kemungkinan tersebut. Bila nanti kemudian engkau menemukannya, maka selesaikan semedimu baru mencoba melatihnya. Bila engkau berhasil nanti, baru langkah selanjutnya akan kuberitahukan kepadamu. Jika aku tidak salah, jika engkau berhasil melatihnya nanti, maka percakapanku dengan Nenekmu nanti sudah akan bisa engkau ikuti, atau dengan kata lain, jika nenekmu dan aku menginginkan engkau terlibat dalam percakapan itu, maka engkau sudah sanggup menangkap percakapan kami. Nach, baiklah, engkau boleh memulai menjajaki kombinasi itu dan kemudian mencari kemungkinan mematangkannya kembali. Hasilnya akan sangat luar biasa bagi peningkatan tenagamu dan juga kekuatan batinmu. Lakukanlah anakku” Dan kemudian kakek itu berdiam diri, tenggelam dalam kemenyatuan dengan alam semesta.

Dan keadaan mereka bertiga yang sepi, senyap dan tenggelam dalam manunggalnya mereka dengan alam itulah yang nampak di atas

sebuah bukit, tepat di bawah sebuah pohon besar yang rindang. Tempat yang mereka temukan setelah Kiang Cun Le meninggalkan mereka bertiga.

Keadaan mereka yang sepi dan senyap itu, perlahan mulai tergugah. Terutama ketika Ceng Liong pertama-tama membuka matanya, dan nampak keningnya kemudian mengernyit, seperti sedang mengingat-ingat sesuatu yang secara perlahan dipahaminya. Cukup lama sikapnya seperti demikian, yang bila orang yang tidak mengetahui keadaannya akan menganggapnya seperti orang gila karena sikapnya yang aneh seperti itu.

Tetapi, Ceng Liong memang sedang mengingat kembali apa yang ditemukannya dalam penelusurannya selama hampir 2 jam tanpa sedikitpun dia merasakan kelaparan. Senyumnya semakin lama semakin mengembang, sampai kemudian sinar matanya nampak berseri-seri. Dia pasti telah menemukan sesuatu, dan karena itu dia memutuskan melatihnya sebagaimana yang diingatnya dan terpatri dalam hatinya dan juga sesuai perintah atau petunjuk kakek aneh yang masih terpekur dalam semedi disampingnya itu.

Maka dengan cepat Ceng Liong mencoba melatih sesuai dengan tehnik melebur tenaga dalamnya. Bedanya, jika dahulu dia kelebihan hawa dan tenaga sebagai benturan antara tenaga kakeknya dengan hawa yang masuk melalui hawa See Thian Coa Ong dan Siangkoan Giok Hong, maka kali ini dia mencoba mematangkan kekuatannya berangkat dari sebuah pemahaman baru.

Pada tahap pertama dahulu, dia masih ingat betul, dasar tenaga Lembah Pualam Hijau menjadi landasannya, dan tetap meletakkan hawa lemas tersebut sebagai patokan dan dasar utamanya. Bila

formasi kekuatan tenaganya itu, masih tetap akan menjadi landasan, maka sudah teramat sulit untuk meningkatkan kemampuannya. Cara satu-satunya adalah memupuknya melalui latihan waktu demi waktu, dan kekuatan tersebut secara otomatis akan bertambah seiring dengan latihannya.

Ceng Liongpun cukup lama mencoba mengamati kemungkinan mengembangkan lebih lanjut berdasarkan pemahaman sebelumnya, yakni landasan hawa lemas “im” dari Lembah Pualam Hijau sebagai “patron” atau landasan utama, dan tetap harus sedikit lebih kuat. Dengan cara dan corak demikian, Ceng Liong tidak melihat kemungkinan lain dari apa yang mungkin dilakukannya.

Tetapi, pesan khusus Kakek aneh itu, yakni dengan petunjuk pematangannya dengan mengkombinasikan dengan cara melatih hawa Giok Ceng Sin Kang keluarganya, Ceng Liong mendapat perspektif atau paham baru. Hawa keluarganya adalah lemas dari tenaga “IM”, dan setelah mengikuti arus melatih hawa berdasarkan coretan dalam sehelai kertas yang diperebutkan itu, hawa “Im” masih tetap dominant, karena memang sumber hawa tandingannya dari See Thian Coa Ong dan Siangkoan Giok Hong belum sebanding dengan tenaga yang berasal dari “operan” Kiang Cun Le.

Bolak balik Ceng Liong memeriksa kondisi tersebut selama hampir dua jam, untuk kemudian mencoba meninjau kemungkinan yang lain. Terlebih karena menurut kakek itu, dan juga dituruti Ceng Liong, dalam kondisi semedi dan tidak mengerahkan kekuatan iweekang, maka penelusuran justru tidak akan melukainya. Tetapi justru membuka banyak kemungkinan baru yang belum terpikirkan sebelumnya selama ini.

Selama hampir 2 jam, Ceng Liong mencoba menemukan kombinasi melatih tenaganya. Petunjuk dalam bentuk puisi melatih hawa dahulu menjelaskan bahwa sebetulnya, dalam kepasrahan dan menampung semua, ibarat bumi yang sanggup menerima semua hawa, angin, tenaga lontaran gunung, badai, dan semua fenomena alam sehingga mampu tenang kembali dan tersimpan kembali dalam bumi.

Bagaimana mencapai dan menemukan titik seimbang seperti bumi? Manakah kekuatan dominant di bumi? “IM” atau “YANG”? jika ada yang dominant, maka seharusnya bumi atau alam, sangat panas atau sangat dingin. Tetapi, mengapa alam dan bumi ini memiliki daerah dan masa yang ekstrem. Ada dingin ektrem (sangat dingin di daerah utara) dan ekstrem panas (sangat panas di selatan atau bahkan di Gunung Berapi), dan semua bisa berada dan tersedia dalam alam.

Apakah, dan mungkinkah manusiapun memiliki posisi dan komposisi sama dalam kepemilikan sumber “im” dan “yang” bahkan dalam ketersediaannya yang “ekstrem” sekalipun dengan tidak mengganggu keseimbangannya? Pertanyaan inilah yang membimbing Ceng Liong untuk melihat, bahwa masih ada celah untuk meleburkan kekuatan tenaganya kembali.

Bagaimana bila kondisi tenaganya benar-benar seimbang, tidak lagi ada yang dominant, dan karenanya sewaktu-waktu dia bisa menggunakan kekuatan panas ataupun dingin dan mengurainya kembali menjadi kekuatan yang biasa saja, tanpa panas dan tanpa dingin. Dan itulah yang kemudian dicobanya kembali, dilatihnya kembali sesuai dengan apa yang pernah dilakukannya dahulu.

Hanya, kali ini, berbeda dengan keadaan dulu, diamana dia mencoba-coba, kali ini dia membangkitkan kekuatan “IM” dan “YANG”

termasuk latihannya dan tenaga operan kakeknya, untuk kemudian digodok dengan tenaga Pek Lek Sin Ciang dan warisan tenaga “Yang” dari Kiong Siang Han. Dan kali ini, tenaga yang sebetulnya telah melebur ini, coba dipadukannya untuk mencapai “KESEIMBANGAN”, tidak lagi berat pada pondasi “IM” ataupun “YANG”.

Tetapi baik “im” maupun “yang” memiliki kadar yang sama dan seimbang dalam tubuhnya. Bagi Ceng Liong, mencapai titik ini, berarti mencapai keseimbangan kedua kekuatan itu, dan seharusnya tubuh manusia mampu menerima dan menggodoknya sehingga seimbang, seumpama dan serupa dengan alam. Dan dengan demikian, maka dia akan sanggup mengeluarkan tenaga “im” baik lemas maupun dingin ekstrem maupun panas atau keras secara ekstrem seperti gambaran bumi.

Sekali ini, Ceng Liong justru jauh lebih lama berupaya meningkatkan kekuatan “YANG”, karena memang kekuatannya masih didominasi kekuatan “IM” sebagai landasan iweekangnya. Melepas dominasi “IM” inilah yang menjadi titik krusial bagi Ceng Liong. Dan karena itu, tubuhnya lebih lama dalam kondisi bagai terbakar, untuk kemudian beberapa lama menjadi bagai es, dan berkali-kali terjadi perpaduan demikian, sampai kemudian beberapa lama fenomena itu tidak lagi tumbuh dan timbul secara fisik di tubuhnya.

Hanya saja, kadang angin panas bergantian dengan angin dingin berhembus dari tubuhnya, begitu bergantian. Dan pada akhirnya, angin yang berhembus dari tubuhnya terasa normal, tidak panas dan tidak dingin. Tetapi, efeknya bagi Ceng Liong adalah, dia merasa bahwa dia sanggup mengirim dan menciptakan angin panas ataupun dingin dengan kadar yang sama. Dia sanggup menciptakan badai panas ataupun badai es sesuai dengan takaran yang diinginkannya.

Tetapi, sampai saat dia kembali siuman dan normal, masih belum Ceng Liong merasakannya, menyadarinya dan mengetahui apa yang sudah mampu dilakukannya. Bahkan diapun masih belum tahu, bahwa setelah siuman, kekuatan tenaganya sudah kembali meningkat tanpa disadarinya. Meningkat cukup drastis, dan sudah dalam tahap menggunakannya sesuai dengan keinginan hatinya.

Bahkan, tanpa disadari Ceng Liong, kekuatan dan keampuhan iweekang Lembah Pualam Hijau justru sanggup disempurnakannya, dalam bentuk kemampuan mengobati luka dalam, hanya melalui penyaluran sinkang istimewa keluarganya yang malah sudah lebih sempurna lagi.

Sebagaimana diketahui, ada khasiat khusus Sinkang Giok Ceng bila dikuasai secara sempurna. Yakni sanggup mengobati luka dalam dalam sekali putaran pengerahan tenaga, dan Ceng Liong yang sebelumnya memang sudah sanggup melakukannya, kini bahkan sanggup melakukannya dengan lebih cepat lagi.

Meskipun pada saat ini, Ceng Liong masih belum menyadarinya. Kemampuan sinkang “Im” yang sempurna dari dari Giok Ceng Sin Kang memang merupakan kemampuan “membangun” atau “membentuk” dan bukannya dalam bentuk “mengurai” ataupun “merusak”. Pada titik ini, Ceng Liong baru sanggup melakukan kesanggupan “membentuk” atau “membangun”, tapi belum menyadari bahwa bibit melakukan “menghancurkan” atau “merusak” dalam kondisi kesmepurnaan tenaga “Yang” juga sudah dimilikinya.

Bahkan dia akan sanggup membuyarkan tenaga lawannya dan menguraikannya menjadi “apes” dan bahkan “habis” hanya dengan penggunaan tenaga tersebut. Bisa dibayangkan apabila tokoh sesat

menguasai keampuhan tenaga semacam ini. Potensi ini, sayangnya masih belum disadari oleh Ceng Liong, terlebih, karena memang dengan penguasaan Ilmu-Ilmu Mujijat, kemampuan merusak itu bisa dilakukan dengan gerakan-gerakan jurus menyalurkan kekuatan tenaga istimewanya itu

Kemelut di Shih Li Fo Shih (2)

Setelah Ceng Liong menyelesaikan latihannya, dia tersenyum puas. Dia tahu, dia berhasil dengan pikiran dan celah yang diperiksanya dalam semedinya. Yang dia tidak tahu, sampai sejauh mana kemajuan yang dicapainya. Dia bahkan tidak tahu, bahwa neneknya dan orang tua aneh itu, berdecak kagum tanpa diketahuinya.

Karena bahkan kekuatan sinkang Ceng Liong meningkat begitu jauh dan secara otomatis kekuatan lainnya seperti kekuatan khikangnya, bahkan kekuatan batinnya juga menjadi berlipat. Setelah berhasil melatih tenaganya, Ceng Liong kemudian melakukan pemulihan kondisinya, dan dengan heran dia temukan kebugarannya kembali hanya dengan satu kali upayanya menyalurkan kekuatannya, artinya hanya dalam sekali putaran.

Bahkan, dia merasa tubuhnya menjadi lebih segar dan bahkan lebih bugar, dan dia bergembira untuk hal tersebut. Dan ketika menemukan manfaat dari tuntunan dan petunjuk kakek aneh didepannya itu, maka Ceng Liong kemudian kembali melakukan semedi dan berusaha mencapai kondisi seperti bagaimana awalnya dia berkomunikasi dengan kakek itu. Tetapi, alangkah kagetnya, ketika kemudian dia mampu mendengarkan apa yang sedang dipercakapkan oleh kedua orang sakti dihadapannya:

“Baiklah Sinni, rasanya sudah cukup. Dan sudah saatnya engkau melakukan tugas yang sama dengan kakakmu, yakni mewakiliku untuk melaksanakan pesan dan harapan dari kawan-kawanku Kiong Siang Han dan Wie Tiong Lan. Rasanya engkau sudah mencapai tahapan yang sama dengan kakakmu, bahkan untuk kematangan kekuatan batin engkau masih mengunggulinya. Dan rasanya bencana di Tionggoan sudah setengah selesai, apa yang akan engkau lakukan adalah bagian lain yang sama dengan yang akan dilakukan kakakmu”

“Siancai ….. siancai, terima kasih locianpwe. Apa yang harus pinni lakukan ternyata juga banyak bermanfaat bagi pinni sendiri, sungguh malu …. sungguh malu, seperti berpamrih saja. Bahkan termasuk juga cucu kami, juga beroleh sesuatu yang luar biasa. Biarlah untuk melengkapi tugas kita bersama, pinni akan melakukannya karena salah satunya juga adalah murid pinni”

“Sinni, semua ini adalah bagian dari tugas kita masing-masing. Tidak ada budi dan tidak ada pamrih”

“Siancai …. Engkau benar locianpwe. Pinni memang terkadang masih terikat dengan ikatan budi seperti itu. Baiklah, jika demikian pinni akan mohon diri. Mudah-mudahan masih ada pertemuan sebelum pinni mengundurkan diri dari keramaian dunia ini. Liong Jie, engkau tuntaskan apa yang harus engkau kerjakan dan lakukan. Karena lebih banyak dan lebih berat bebanmu dibandingkan kami yang tua-tua ini. Nenekmu mohon diri” dan sambil bicara demikian, dengan cara yang lebih luar biasa lagi, bagai menghilang saja Liong-i-Sinni sudah lenyap dari tempat tersebut.

“Hm, melulu ilmu ginkang saja, engkau memang sudah tidak akan bertemu tandingan lagi dewasa ini Sinni” puji si orang tua aneh.

“Siancai, engkau terlalu memuji locianpwe. Titip cucu kami” suara itu datangnya dari jauh, tapi terdengar seperti didepan mata saja bagi Ceng Liong yang bergidik melihat kehebatan bibi neneknya yang mendemonstrasikan ginkang yang sulit dipercaya tersebut. Dalam keadaan bersila, neneknya bisa melayang, atau tepatnya menghilang dari pandangan matanya.

Keadaan kembali sepi dan senyap untuk beberapa saat. Sampai kemudian, dalam kondisi kontak batin dengan wujud maya, kembali telinga batin Ceng Liong menangkap ucapan si orang tua:

“Anakku, setelah latihan, kemampuanmu menangkap komunikasi batin sudah meningkat tajam. Untuk menyampaikan pikiran, kalimat dan perkataanmu, engkau perlu berlatih lebih jauh, termasuk melatih menyampaikan kalimat dan pikiranmu kepada orang yang belum mampu berkomunikasi dengan cara kita ini.

Pertama, engkau perlu berkonsentrasi memasuki wilayah fisik dan batin orang yang dengannya engkau mau menyampaikan sesuatu perkataan atau kalimat. Kemudian, berkonsentrasi dengan ide atau pesan apa yang ingin disampaikan, dan sampaikan ketika usaha memasuki batin orang bersebut berhasil. Hal ini bagimu untuk saat ini, tinggal melatihnya saja.

Sambil engkau melatihnya, dan bila ada yang ingin engkau tanyakan, boleh langsung engkau tanyakan, jangan khawatir untuk menyela. Dan sambil engkau berlatih, biarlah kuceritakan kepadamu hal hal penting yang perlu engkau ketahui agar pekerjaan dan tugasmu kelak bisa engkau pahami dan kerjakan dengan baik. Beginilah ceritanya:

==============================

Sriwijaya atau dengan lidah orang Tionggoan menyebutnya Shih li fo shih, merupakan sebuah Kerajaan Maritim yang menguasai daerah perdagangan Laut antara China dan India. Bahkan pada umumnya jalur perdagangan di daerah Selatan hingga ke selat Malaka. Kerajaan yang didirikan pada kira-kira tahun 400-an ini, memanfaatkan betul jalur perdagangan laut, menguasainya dan menarik keuntungan atas penguasaan jalur perdagangan itu.

Kerajaan ini mengalami dan dipengaruhi secara kuat oleh 2 agama besar, yakni Hindu dan Budha. Kedua agama besar yang berasal dari India dan jejaknya sangat terasa di wilayah kekuasaan Sriwijaya. Bahkan tradisi dan penamaan orang di wilayah kekuasaan Sriwijaya memang sangat kental dengan khas India, dan hubungan dengan India Selatan juga memang sangat akrab, selain dengan hubungan agama.

Tetapi, belakangan agama Budhalah yang banyak dianut oleh sebagian besar penduduk kerajaan ini. Dan bersamaan dengan itu, interaksi dan hubungan Kerajaan Sriwijaya dengan India dan China menjadi sangat intens, baik melalui jalur perdagangan, maupun diplomatik. Bahkan, terutama dalam urusan agama pun, Sriwijaya menjalin hubungan yang erat dengan kedua Negara tersebut di atas, terutama dengan India Selatan dan menghasilkan kemajuan yang cukup berarti bagi kerajaan penguasa maritime waktu itu.

Pada masa Kerajaan Sriwijayalah agama Budha mengalami kemajuan sangat pesat, bahkan pada masa keemasan Kerajaan inilah, sebuah Candi Budha yang sangat terkenal, yakni Candi Borobudur di Jawadwipa didirikan. Kerajaan ini sendiri berpusat di sebuah sungai

yang sangat besar, yang menghubungkan pusat kerajaan itu dengan lautan.

Dan sungai itu jugalah yang menjadi akses Kerajaan itu memasuki perdagangan lewat laut pada masa itu. Sungai besar itu bernama Sungai Musi, dan pelabuhan buat perdagangan terletak tepat di pusat Kerajaan Sriwijaya itu, di tepi sungai besar itu. Dan kelebihan Kerajaan Sriwijaya, memang justru terletak dalam kekuatan Laut mereka yang membuat cakupan atau luas kerajaannya membentang jauh hingga ke Semenanjung melayu (Thailand, Kambodja, dan bahkan terus hingga sebagian Phillipina modern).

Para penguasa Sriwijaya sangat memahami, bahwa kondisi geografis mereka dan keunggulan mereka berada di Laut, dan bukannya darat. Karena itulah, kekuatan utama mereka justru terletak di Laut, penguasaan Lautan melalui armada Laut yang sangat kuatlah yang membuat mereka berjaya. Kehebatan dan kejayaan kerajaan ini, dan pengaruh agama Budha, bahkan terasa jejaknya hingga di Thailand, ketika mereka membangun candi-candi Budha disana, sama seperti yang dilakukan di Jawadwipa.

Pada masa cerita ini, pada kisaran awal tahun 1000-an, Kerajaan Sriwijaya justru sedang mengalami terjangan dan cobaan kiri dan kanan. Raja Kerajaan Sriwijaya yang bernama Maha Raja Sri Tunggawarman, sebetulnya adalah seorang Raja yang bijaksana. Bahkan, dia lebih tepat menjadi seorang Bhiksu ketimbang menjadi seorang Raja yang memiliki kekuatan yang luar biasa dalam mengendalikan kerajaannya.

Karena memang, Maha Raja Sri Tunggawarman, adalah seorang yang saleh dan lebih menekuni agama Budha daripada menekuni ilmu

pemerintahan. Akibatnya, banyak kesalahan ponggawanya yang dengan mudah diampuninya, dimaafkannya, dan berdampak pada lemahnya disiplin para pembantunya.

Lama-kelamaan, keadaan ini menjadi semakin parah, bahkan menjalar ke menurunnya disiplin bala tentaranya, karena kurangnya pengawasan ketat dari sang Raja atas para panglima perangnya. Maksud sang Raja sebetulnya tidak salah. Mudah mengampuni dan selalu memberi orang kesempatan untuk berubah.

Tetapi, bagi para pemuja kekuasaan, pemuja uang dan kenikmatan dunia, kekangan disiplin sang Raja yang melonggar, membuat mereka bersimaharajalela. Toch dengan mudah bisa minta ampun, dan akan diberi kesempatan lagi oleh sang Raja. Karena mereka semakin memahami bagaimana cara memperoleh belas kasihan dan pengampunan dari Maha Raja mereka yang bagai Budha Hidup itu.

Kekuatan Kerajaan besar yang tergerogoti dari dalam ini, perlahan namun pasti mulai tercium oleh lawan-lawan potensial Kerajaan Sirwijaya. Dan, adalah Kerajaan Cola di India yang pertama berani menyerang Kerajaan Sriwijaya pada tahun 1017. Hanya saja, serangan pada tahun itu kurang berhasil baik, karena kekuatan armada Sriwijaya masih cukup tangguh menghalau serangan tersebut.

Tetapi, serangan kedua, setelah mempelajari kekalahan dalam serangan pertama, ditambah dengan semakin surutnya disiplin bala tentara Sriwijaya berhasil dengan sukses. Serangan pada tahun 1025 ini, bahkan berhasil menawan Raja Sriwijaya dan menahan serta menawannya untuk dibawa ke Kerajaan Colo.

Kerajaan Sriwijaya, memang masih bertahan beberapa tahun, tetapi kontrolnya atas kerajaan taklukan secara perlahan memudar, dan bahkan pada tahun 1110, Kerajaan Sriwijaya menjadi taklukan sebuah kerajaan kecil di pulau yang sama, Sumatera. Dan pada tahun 1300-an, Kerajaan Sriwijaya tinggal puing dan cerita belaka, ketika kemudian sebuah Kerajaan dari Jawadwipa menyapunya dan menjadikannya sebagai daerah taklukan.

Sebetulnya, sebelum Rajendracola I naik tahta, hubungan segitiga Sriwijaya, India Selatan dan Tiongkok dalam hal ini Kerajaan Sung, sangatlah erat. Bahkan segitiga itu bukan hanya memiliki hubungan diplomatik, tetapi juga hubungan politik dan militer yang sangat erat. Lebih dari itu, hubungan keagamaan dan tukar menukar hadiah, serta pengetahuan juga berlangsung secara baik.

Dan dalam kaitan konflik di Nusantara, hubungan segitiga itu juga dimaksudkan untuk menghadapi Jawadwipa. Hal ini terutama karena hubungan yang kurang begitu baik antara Kerajaan Sriwijaya dengan wangsa Syailendra di Jawa. Tetapi, hubungan segitiga tersebut kemudan bubar ketika Rajendracola I naik tahta di India Selatan, dan bahkan kemudian menyerang Sriwijaya pada tahun 1017, meski tidak menghasilkan apa-apa.

Tetapi, seperti diceritakan didepan, kekuatan Armada Laut Sriwijaya waktu itu masihg berkemampuan hebat dalam menghalau dan menghentikan agresi Rajendracola I yang memiliki ambisi ekspansif tersebut. Dan sejak saat itu, hubungan segitiga tersebut menjadi kurang harmonis dan bahkan terus berkelanjutan sampai pada tahun-tahun panjang kedepan.

Siriwijaya atau Shih li fo shih memang mampu bertahan dari serangan Rajendracola I, Raja dari Kerajaan Cola di India yang memiliki ambisi perluasan kerajaan. Sebelumnya, Rajendracola I memang berhasil menyapu kerajaan-kerajaan sekitarnya sampai ke Srilanka dan menjadikan kerajaan disana menjadi daerah atau kerajaan taklukannya.

Tetapi, dia masih belum sanggup menaklukkan Sriwijaya. Sesudah serbuan Rajendracola I ke Sriwijaya pada tahun 1017, tahun-tahun sesudah pertempuran yang berhasil mengenyahkan serbuan Kerajaan Cola tersebut ditandai dengan perubahan-perubahan yang cukup pesat. Bahkan anehnya terkesan arus masuknya orang-orang dari India, baik karena berdagang maupun karena urusan agama menjadi lebih sering.

Lebih dari itu, terdapat indikasi bahwa masuknya orang-orang India tersebut tidak semata karena keperluan berdagang, tetapi karena maksud-maksud tertentu. Terutama mereka yang termasuk dalam rombongan urusan keagamaan. Dan kondisi ini menjadi lebih sering dan lebih bebas ketika kemudian Raja Sri Tunggawarman atau Sanggramawijayatunggawarman naik tahta pada tahun 1020 menggantikan ayahandanya.

Raja Sri Tunggawarman ini, sebetulnya adalah seorang yang bijaksana, murah hati dan seorang penganut agama Budha yang sangat taat. Karenanya, Raja Sri Tunggawarman ini, bagi banyak orang lebih dipandang tepat menjadi Pendeta Budha ketimbang menjadi Raja dari sebuah Kerajaan sebesar Sriwijaya.

Karena bahkan untuk membunuh seekor semutpun, sang Raja Sri Tunggawarman enggan dan tidak sampai hati. Bagaimana mungkin

sang Raja sanggup mengendalikan Kerajaan Sriwijaya yang demikian megah dan besar tanpa rasa “tega” untuk memberi hukuman terhadap punggawa ataupun pembantunya yang melakukan kesalahan? Dan memang, hal itulah yang kemudian terjadi hari-hari selanjutnya di dalam perkembangan kerajaan besar tersebut.

Dan, kegemaran Raja Sri Tunggawarman untuk belajar dan terus memperdalam ajaran Budha, membuatnya begitu haus untuk bercakap dan berdiskusi dengan banyak ahli agama Budha. Bahkan untuk maksud tersebut, tidak segan dia mengundang Bhiksu dari India bahkan juga Bhiksu dari Jawadwipa yang memiliki pengalaman hidup dan pendalaman keagamaan yang lebih.

Dan karena itu pula, di Sriwijaya jadi semakin banyak dan semakin sering kedatangan Bhiksu Budha dan rombongan yang berkunjung untuk maksud keagamaan. Dan semakin banyaklah pula pendatang asing yang masuk untuk urusan keagamaan dan urusan perdagangan. Hal yang sangat digemari oleh Maha Raja Sriwijaya tersebut, ternyata menghasilkan keadaan dan kondisi di luar istana yang tidak terduga.

Tentu tidak terduga oleh sang Raja, tetapi bagi beberapa orang pintar di lingkungan Sriwijaya, dan bahkan dari Jawadwipa, mampu mencium kondisi yang kurang beres, meskipun kekurangberesan itu sangat sulit untuk mereka buktikan. Tetapi yang jelas, keadaan tersebut semakin kurang menguntungkan bagi Sriwijaya dan bahkan Swarnadwipa dan Jawadwipa secara keseluruhan.

Orang-orang pintar dari India dengan bebas menjelajahi pelosok Swarnadwipa dan bahkan hingga memasuki area kekuasaan Jawadwipa. Dan tidak semua ahli agama Budha dan rombongannya itu adalah orang baik-baik, sama sekai tidak. Karena ada kelompok dan

oknum tertentu yang memasuki Swarnadwipa dan Jawadwipa dengan maksud maksud berbeda dari yang diketahui sang Raja. Dan dari sinilah kesemrawutan itu berawal, bahkan mengaduk-aduk bukan hanya tanah India, tetapi juga daerah Tiongkok (Tionggoan), Sriwijaya (Swarnadwipa) dan juga sampai ke Jawadwipa (Jawa).

=======================

Siang itu, nampak seorang tua, paling banyak berusia lebih dari 50 tahunan, dengan wajah berseri sedang menghadap ke sungai. Apa gerangan yang membuatnya senyum-senyum? Bagi orang lain, pasti hal itu terasa aneh. Tetapi, seperti itulah biasanya orang tua yang dikenal sebagai Nelayan Aneh Sungai Musi.

Hampir setiap hari orang tua yang dikenal sebagai Nelayan Aneh Sungai Musi atau sering juga dipanggil Nelayan Sakti Sungai Musi ini, nampak mengail dipinggiran sungai Musi. Sebuah sungai besar yang mengalir dan membelah Pusat Kota Raja Sriwijaya, yang memang terkenal sebagai alur perdagangan yang ramai di Selat Malaka.

Selat perdagangan yang ramai dilintasi pedagang India, Tiongkok, Srilanka, Burma, Thailand dan bahkan Jawadwipa. Tetapi, aktifitas si nelayan ini menjadi aneh bagi kebanyakan, karena tidak pernah saat mengail, orang tua ini mendapatkan bahkan 1 atau 2 ekor ikan sekalipun.

Dan lebih aneh lagi, orang tua ini ternyata tidak suka makan ikan. Karena memang orang tua ini adalah salah seorang pengikut agama Budha yang taat, dan dulunya memang seorang Nelayan. Ketika memeluk agama Budha, Nelayan Tua ini kemudian melanjutkan

kegemaran dan keahliannya tanpa mata kail, dan karenanya memang dia tidak pernah memperoleh seekorpun ikan.

Tapi jangan salah duga, Nelayan Tua ini bukan orang sembarangan. Dulunya dia gemar mengembara dari lautan ke lautan, dan bahkan sering berkelana hingga ke daerah Jawadwipa. Dia memang bukan orang sembarangan, bahkan seorang yang memiliki kepandaian yang sangat tinggi, dengan pengalaman yang segudang.

Jikapun Nelayan Tua yang aneh dan sakti ini sering kelihatan berada di tepian sungai musi tahun-tahun belakangan ini, lebih disebabkan oleh keterikatan yang memang disenanginya. Orang tua ini sedang mendidik putra dan putri Panglima Tertinggi Armada Laut Kerajaan Sriwijaya yang sangat berkuasa namun sangat bijaksana dan cinta tanah airnya. Panglima Kerajaan Sriwijaya ini bernama Jayeng Kencana dan memperoleh julukan “Malaikat Samudera Raya”.

Panglima Armada Laut Kerajaan Sriwijaya ini adalah seorang yang sebetulnya bertubuh biasa saja, sedang-sedang saja, tetapi memiliki kemampuan memimpin yang luar biasa. Kemampuan membangkitkan semangat dan kesanggupan membaca keadaan alam dan posisi lawan dalam pertempuran laut. Karena itu, meski bertubuh sedang, tetapi wibawa yang ditimbulkan orang ini sungguh luar biasa.

Apalagi jika sedang mengenakan pakaian kebesarannya dan berdiri di hadapan pasukannya. Tetapi, Panglima Jayeng Kencana ini adalah tokoh yang rendah hati, dan bila sedang bertempur, lebih suka menanggalkan pakaian kebesarannya, dan bertempur bersama dengan anak buahnya.

Tidak heran bila kemudian Panglima Perang Angkatan Perang di lautan Sriwijaya ini begitu dihormati dan dicintai, bukan hanya oleh anak buahnya, tetapi juga oleh rakyat Sriwijaya. Bahkan Kerajaan-kerajaan taklukan, semua menaruh hormat kepada Panglima yang rendah hati tetapi sangat handal dan sangat berdisiplin ini. Bahkan sang Maha Raja Sriwijayapun menaruh hormat dan sangat mempercayai Panglima Perang Lautan ini.

Siang itu, si Nelayan Aneh Sungai Musi, demikian orang tua itu dikenal pada lebih 10 tahun terakhir sejak menetap di dekat ibukota Sriwijaya, tepatnya dipinggiran sungai Musi, sedang bersiul-siul dan tersenyum memandangi sungai di depannya. Bukan apa-apa. Bukan sedang tegang. Sebaliknya, senyum-senyum dan memandangi sungai di hadapannya seakan tahu bahwa rombongan ikan dalam sungai itu sedang seliweran didekat kail yang tidak bermata itu.

Tetapi untuk itupun, si Nelayan Aneh nampak senyam-senyum belaka. Karena memang, seperti biasanya, untuk kesenangan belaka dia mengail, dan bukannya untuk menangkap seekor dua ekor ikan guna memasuki perutnya. Dan seperti hari-hari biasanya selama 10 tahun terakhir, tidak jauh di belakangnya terdengar seliweran angin.

Tetapi bukan angin biasa, karena datangnya dari dua orang, sepasang anak muda, laki-laki dan perempuan yang sedang melakukan latihan silat. Dan bukan tidak mungkin, senyum si nelayan, karena juga mengagumi gerakan dan kemajuan dua orang anak yang dibimbingnya selama lebih kurang 10 tahun terakhir ini.

Terlebih, jika mengingat, bahwa kedua anak muda yang dilatihnya ini, justru adalah keponakannya sendiri. Nelayan Aneh ini, tanpa seorangpun tahu, sebetulnya adalah Adik kandung dari Panglima

Armada Laut Sriwijaya. Bukan sang Panglima yang tak mau mengakuinya, tetapi adalah manusia aneh inilah, yang justru mensyaratkan melatih kemenakannya tetapi tanpa seorangpun tahu dia sebagai adik sang Panglima.

Dan sementara sang Adik bergelimang kemasyuran dan kekayaan di pusat kerajaan Sriwijaya, sang adik, justru memilih tinggal di luar kota, sedikit agak ke pedalaman, dan dipinggir Sungai besar. Dan dengan gubuk seadanya, dia tinggal menyatu dengan alam, bermain dengan ikan sepanjang sungai Musi, dan menyatu dengan alam.

Nampak seperti dia hidup melarat, tapi jangan salah, justru hidup semacam itulah yang justru sangat disukainya. Dan dia sama sekali tidak tertarik hidup di tengah keramaian seperti yang dilakukan dan dikecap oleh kakak kandungnya, sang panglima armada laut Sriwijaya. Sang kakak yang maklum akan keadaan adiknya, tidak pernah memaksa adiknya tinggal di rumahnya yang megah.

Dia sungguh paham gejolak jiwa adiknya, dan dia sangat menghargainya. Bahkan dia sangat menghormati pilihan adiknya, dan mempercayakan kedua anaknya untuk berada di bawah bimbingan adiknya itu. Baik dalam hal Ilmu Silat maupun tuntunan budi pekerti, sang Panglima mempercayakannya kepada adiknya tersebut. Dan tentu, nyaris tak seorangpun tahu kalau waktu senggang dan waktu tertentu kedua kakak beradik yang nampak lembut, sopan dan terpelajar itu, mengunjungi paman mereka untuk latihan Ilmu Silat.

Dan dari angin serangan yang ditimbulkan kedua kakak beradik itu, dapat diketahui, kalau tingkatan mereka dalam ilmu silat sudah bukan sembarangan lagi. Pergerakan mereka sudah menunjukkan tingkat

yang cukup tinggi, dan membuat pelatih mereka, paman sendiri, nampak senyum senyum mengikuti pergerakan mereka.

Jelas sekali, ilmu-ilmu tingkat tinggi yang di ajarkannya sudah sanggup diserap dan dimainkan dengan matang oleh kedua anak itu. Bahkan mereka tinggal mematangkannya, dan kiranya penguasaan ilmu mereka tidaklah tertinggal jauh dari kedua muridnya yang lain. Kedua murid yang dipungutnya sebagai anak angkat dalam perjalanan pengembaraannya di Jawadwipa.

Dan kedua anak angkatnya itupun sudah menjadi tokoh-tokoh yang mampu mengangkat nama dan kehormatannya. Karena keduanya adalah panglima pengapit kakaknya di Kesatuan Armada Laut Sriwijaya. Bahkan dalam tugas di darat, mereka sering menjadi petugas yang handal dalam mengendus informasi-informasi yang dibutuhkan (sejenis intelejen). Mengenangkan semuanya, membuat orang tua itu merasa sangat puas.

Meskipun pada bulan-bulan terakhir, dia memperoleh tanda-tanda yang membuat hatinya berdebar-debar. Kewaspadaan dan kematangannya itu yang membuat dia sangat awas. Tetapi, sampai saat ini, Nelayan Sakti Sungai Musi, tetap masih belum mengerti, mengapa tanda-tanda yang tak menyenangkan itu selalu mendatanginya. Meskipun sebagai seorang yang taat terhadap Budha, Nelayan Sakti ini tetap sanggup menahan diri dan tidak panic dengan tanda tersebut.

Seandainya tokoh ini mengerti dan berada di dunia politik, tentunya dia akan cepat menyadari keadaan tersebut. Sayang, dia tidak pernah minat bahkan untuk membicarakannya sekalipun. Itulah sebabnya, dia tidak mengenal dan mengetahui apa gerangan yang sedang terjadi

disekitarnya. Dan yang bahkan sebetulnya sudah berada didepan hidungnya.

Tengah dengan asyiknya Nelayan Sakti mengikuti pergerakan muridnya dan menikmati kesenangannya di pinggir sungai, tiba-tiba perasaannya yang sangat peka sedikit terusik. Dan tidak berapa lama kemudian Nelayan Sakti nampak mengerutkan keningnya, berkonsentrasi dan dengan cepat nampak dia memalingkan wajah kearah hutan di pinggir atau seberang Sungai Musi yang ada dihadapannya.

Nampaknya Nelayan Sakti sudah tahu bahwa sesuatu sedang terjadi di sebrang sungai, dan lebih lagi, sesuatu itu adalah kejadian yang tak menyenangkan. Bahkan nampaknya terkait dengan dirinya sendiri. Apakah gerangan? Meski belum mengetahui detail, tetapi jelas pertahanan batinnya terusik. Karenanya Nelayan Sakti kemudian berbisik yang dapat didengar jelas kedua murid mudanya:

“Hentikan latihan, dan bersiaga. Jangan kemana-mana sampai aku kembali ketempat ini” Dan begitu selesai Nelayan Sakti menyampaikan pesannya, tiba-tiba tubuhnya seperti terangkat dan melayang ketengah sungai, diikuti dengan pandangan kagum kedua muridnya. Mereka tahu paman dan guru mereka itu memang manusia sakti, tetapi baru sekarang mereka menyaksikan guru mereka mengambang dari bumi dan seperti terbang menyeberangi sungai yang sangat lebar itu.

Sementara itu, Nelayan Sakti sudah sampai di seberang sungai, dan dengan kecepatan yang sulit diikuti pandangan mata, tokoh tua itu melaju kearah sumber suara yang menyentakkan batinnya tersebut. Dan tidak lama waktu yang dibutuhkannya untuk sampai ke tempat

darimana sumber suara yang mengusiknya datang. Dan, dengan terkejut dia menyaksikan betapa tubuh salah seorang muridnya sudah bermandi darah, bahkan lengan kirinya sudah buntung, tetapi masih tetap melakukan perlawanan dengan gagahnya.

Meskipun batinnya sudah matang, tetapi menyaksikan anak yang diasuhnya sejak kecil dalam keadaan menyedihkan, terselip kegetiran didadanya, yang dengan cepat ditindasnya. Perlahan dia mendekati arena pertempuran, dan dengan sebuah sapuan berisi salah satu ilmu andalannya, Ajian Inti Lebur Sakheti, meluncurlah angin pukulan membadai yang anehnya bablas saja menembus badan anak muridnya dan memapas serangan tiga orang asing yang mengeroyoknya.

Tetapi untungnya, bukan dengan maksud memukul roboh Nelayan Sakti menyerang mereka, tetapi menahan serangan mereka dan mengundurkan mereka. Tapi akibatnya sudah cukup membuat ketiganya terdorong ke belakang

Kemelut di Shih Li Fo Shih (3)

Bukan main murkanya ketiga orang itu. Tiga orang yang nampak asing, memakai ikat kepala putih, berkulit kehitaman, tetapi jelas bukan penduduk pribumi, dan ketiganya menggenggam sebatang tongkat berkepala ular. Dan kini ketiganya menatap wajahnya, dan dengan bahasa lokal yang kaku menyapanya:

“Siapa kau”? orang terdepan membentaknya dengan gaya bicara bahasa lokal yang kaku, tetapi pembawaannya sangat berangasan.

“Siapa aku tidaklah penting, tetapi sungguh tidak adil mengurung dan mengeroyok seorang yang sudah terluka” sahut si Nelayan Sakti dengan sabar. Tapi kesabarannya tidak ditanggapi baik. Karena

kesulitan berbahasa, dengan cepat si jangkung yang menjadi pemimpin ketiga orang itu sudah memberi isyarat kepada ketiga kawannya untuk kembali menyerang.

Sementara Nelayan Sakti, sekali pandang segera mengerti, jika muridnya sudah berada dalam kondisi yang sangat kritis. Karena itu, dia tidak mau banyak membuang waktu. Selain kesal murid sekaligus anak angkatnya diperlakukan tidak manusiawi, juga karena diburu waktu untuk mengobati muridnya itu.

Dengan segera kembali tangannya dikibaskan, kali ini dengan tenaga yang jauh lebih kuat dalam ajian yang sama. Dan kali ini, ketiga penyerang asing itu bagaikan daun bertumbangan, dan terpental jauh dan bergelimpangan saling tumpang tindih. Untung mereka tidak terluka parah, karena Nelayan Sakti masih tetap seorang yang mengasihi sesamanya, dan sempat menjaga kekuatan tenaganya dalam serangan, betapapun murka dan kesalnya dia.

Ketika mereka memandang mencari si Nelayan Sakti, tokoh tua itu telah lenyap bersama anak muda yang mereka buru. Hal yang membuat mereka terkesiap, sekaligus gentar dengan kehebatan lawan.

“Celaka, benar-benar rahasia kita dalam bahaya. Kemana mereka”? Si Jangkung berbicara dalam bahasa mereka…… bahasa India (Thian Tok).

“Kita harus minta bantuan, orang tua tadi lihay luar biasa” orang kedua nampak berbisik dan masih bergidik mengingat dengan hanya kebasan tangan mereka bertumbangan dan terpelanting ke tanah. Untung tidak terluka, atau nampaknya ornag tua yang menyerang

mereka memang tidak bermaksud melukai mereka berdua dengan berat.

“Benar, mari kita lapor kepada guru, anak muda itu harus bisa ditangkap. Jika tidak, sungguh sangat berbahaya akibatnya” si Jangkung kembali bersuara. Dan kemudian dengan cepat mereka bertiga meninggalkan tempat pertempuran tersebut untuk melaporkan kejadian yang mereka alami. Dan tempat itu, dengan cepat kembali senyap. Kecuali terdengar semilir angin dan kicau burung. Meski barusan pertempuran baru terjadi.

Sementara itu, Nelayan Sakti atau Nelayan Aneh yang membopong tubuh muridnya sudah kembali tiba di gubug tempat tinggalnya. Namanya memang gubuk, tetapi penataannya sungguh luar biasa rapihnya. Bahkan bagian dalamnya sangatlah terurus dan lengkap dengan perlengkapan yang memadai buat orang setua Nelayan Sakti. Melihat paman atau guru mereka datang dan membopong tubuh kakak perguruan mereka yang dalam keadaan mengenaskan, kedua anak muda yang tadi berlatih terkejut.

“Paman, ada apa dengan kakang Suro Pati”? si gadis yang nampak sangat terkejut dan khawatir mulai terisak. Maklum, dia memang yang paling disayang dan dimanja kedua kakak perguruannya yang jauh lebih tua darinya itu. Dan Suro Pati ini, adalah panglima pengapit ayahnya yang sangat hormat dan sangat dekat dengannya. Bahkan sejak mulai berguru, kakak perguruannya inilah yang banyak membantunya.

“Kalian siapkan air dan semua keperluan untuk pengobatan” perintah tegas si nelayan Sakti. Tetapi, belum lagi kedua kakak beradik itu

beranjak, tiba-tiba dengan suara ditahan-tahan, dan nampak tersiksa terdengar Suro Pati yang gagah itu besuara:

“Gu…. Gu… guru, takkan sempat ….. lagi. De …. De ….. dengarkan guru, seperti dugaan Panglima Besar, orang-orang asing itu …. Me … me… mang punya niat busuk terhadap kita” Suro Pati nampak mencoba mengerahkan seluruh sisa kekuatannya untuk berbicara. Dan dengan sedih Nelayan Sakti melihat, bahwa akhir hidup muridnya sekaligus anak angkatnya ini sudah membayang.

Takkan lama lagi. Tapi, dalam sisa hidupnya, nampaknya muridnya ini ingin menyampaikan sesuatu. Dan, dia tentu harus membantunya agar muridnya ini bisa pergi dengan tenang. Dengan sedihnya, Nelayan Sakti menahan pergolakan batinnya, dan dengan sekali dua kali gerakan, dia melakukan totokan di dua tiga tempat, di bagian tubuh Suro Pati. Dan herannya, Suro Pati, seperti memperoleh kekuatan ekstra, dan kekuatan itu dia tahu berasal darimana. Maka dengan mengeraskan diri, kemudian dia berkata:

“Guru, dan engkau Pandu Winata dan Ratna Sari, tempat ini sudah tidak aman lagi. Aku berhasil menyusup ke tempat rahasia yang selama ini dicurigai Panglima sebagai tempat dikendalikannya kekisruhan di Sriwijaya. Sayang, Panglima tidak pernah bisa memperoleh ijin Baginda Raja untuk menggeledah tempat berkedok tempat ibadah itu. Yang benar, disana tersimpan sejumlah besar tokoh sakti mandraguna dari Tanah India. Tidak jelas maksudnya apa, tetapi salah satu tokoh itu nampaknya Panglima Cola yang dulu menyerang kita” Suro Pati nampak menarik nafas dan mengumpulkan kembali semangatnya untuk kemudian melanjutkan:

“Nampaknya, Raja Cola masih penasaran dengan kekalahan atas serangan pertama. Dan dia memanfaatkan hubungan keagamaan dengan kita untuk memasukkan sejumlah pengintai dan tokoh-tokoh lihai dari sana. Beberapa diantaranya, menurutku, mungkin hanya sedikit berada di bawah kepandaian guru sendiri dalam ilmu kesaktian. Tapi jumlah mereka demikian banyak. Bahkan, salah seorang Padri dari India, mampu melukaiku seperti guru melukai ketiga lawan yang mengejarku. Harap guru berhati-hati”, kembali Suro pati mengumpulkan tenaganya, tetapi jelas sekarang semakin melemah. Sementara Nelayan Sakti sengaja tidak memotong percakapan dan membiarkan muridnya berbicara sambil dipandanginya penuh kasih.

“Adi Pandu Winata dan Ratna Sari, sampaikan info ini kepada ayah kalian. Persekutuan mereka dengan beberapa tokoh Istana sudah terjalin lama, terutama tokoh-tokoh yang sering berbuat salah dan terus diampuni baginda. Meskipun ayahmu tidak akan dibunuh, tetapi moral pasukan dan persenjataan, sebagian besar sudah diboikot. Semua rencana itu, diatur dari tempat ibadah yang sangat rahasia di seberang sungai ini. Sampaikan juga salam hormatku buat ayahanda kalian, Panglima kami” Sampai disini, Ratna Sari sudah menangis terguguk, karena melihat pandang mata Suro Pati semakin meredup. Suro Pati memandanginya dengan kasih dan berkata:

“Bahaya masih mengancam adikku, tapi biarlah aku melindungimu dari tempat yang berbeda”, dan Suro Pati kemudian mengeraskan hatinya, dan memandang gurunya dengan pandangan semakin nanar:

“Guru, terimalah salam baktiku. Aku sudah berusaha sebisaku, tetapi ternyata hanya sampai disini. Biarlah aku menitipkan adikku di bawah perlindungan guru” Suro Pati kemudian menguatkan dirinya untuk duduk, dan kemudian mencoba untuk berlutut di kaki gurunya.

“Suro Pati, anakku, kalian berdua, Suro Pati dan Suro Bhakti merupakan murid dan juga anak-anakku. Engkau telah melakukan tugas kemanusiaanmu sampai pada akhirnya. Berbahagialah anakku. Pergilah dengan tenang, baktimu akan diingat Panglimamu, adik-adikmu, dan rakyat Sriwijaya” Nelayan Sakti mengelus lembut kepala Suro Pati dan kemudian melepasnya dengan mata sayu.

“Guru, orang-orang itu, konon menunggu seorang Padri sakti dari Jawadwipa ….. mereka mau …… mau …. merebut …” dan Suro Patipun kemudian terkulai. Sang Guru menarik nafas panjang karena nafas Suro Pati memang telah putus dalam posisi duduk menyembahnya.

Bahkan masih ada yang ingin disampaikannya, yang sebenarnya mengagetkannya dan menyadarkannya bahwa firasatnya ternyata benar, dan mulai terwujud hari ini. Dan betapa sangat sedihnya, betapapun anak itu dibesarkannya sebagai murid dan sebagai anak angkat, betapa dia tidak akan sedih?

Sebagai murid dan anak, Suro Pati sungguh seorang pilihan yang taat dan berbakti. Bukan sekali dua kali di tengah kesibukannya muridnya ini menyambanginya, berbicara banyak dan bertukar pikiran. Bahkan untuk menikahpun, selalu ditelantarkan muridnya ini, meski usianya sudah memasuki usia 35 tahun. Panggilan tugas kemanapun selalu dilakukannya dengan taat, karena selain panglimanya bijaksana, juga masih pamannya, karena kakak dari guru dan orang tua angkatnya.

Hampir tiada cela dari murid yang tubuhnya kini meringkuk dihadapannya itu. Karena kemanapun dia bertugas, bila ada sesuatu yang baru, entah benda, entah buku, atau benda apapun, pasti

dibawakannya sesuatu untuk ayah angkat sekaligus gurunya itu. Hal yang sama dengan yang dilakukan adiknya, Suro Bhakti.

Hal yang membuat Nelayan Sakti merasa cukup meskipun dia sendiri tidak pernah menikah dan memiliki keluarganya sendiri. Baginya, Suro Pati dan Suro Bhakti, sudah merupakan karunia dan berkat yang tak terhingga. Apalagi dengan akhlak dan bakti yang tidak tercela, dan selalu melakukan sesuatu yang membuatnya sebagai guru dan orang tua merasa sangat bangga.

Tapi, kini, salah seorang anaknya, muridnya, tergeletak dihadapannya. Benar, dia tidak marah dan tidak dendam, karena pemahamannya akan ajaran Budha memang sudah cukup matang. Tapi, betapapun, terbersit rasa sedih ditinggal murid seperti Suro Pati ini.

Tapi, tiba-tiba Nelayan Sakti sadar. Dia sendiri akan bisa menjaga diri, tetapi bagaimana dengan kedua murid dan keponakannya itu? Dan bukankah Suro Pati tadi mengingatkan bahwa ada beberapa tokoh berbahaya di pihak lawannya yang bahkan sangat sakti?

Kesadaran tersebut dengan segera membangkitkan kembali kewaspadaan dan ketepatan bertindak Nelayan Sakti. Betapapun, dia memiliki banyak pengalaman ketika masih dalam masa-masa berkelana sebagai pendekar pada masa silamnya. Karena itu, dengan cepat otaknya berpikir dan segera memutuskan:

“Pandu dan engkau Ratna, segera tinggalkan tempat ini dan langsung laporkan kejadian di tempat ini ke ayah kalian. Satu hal, paman kalian tidak akan terlibat dalam pertikaian politik ini. Ayah kalian sudah sangat paham masalah ini. Itu juga sebabnya kakak kalian Suro

Pati tidak memintaku untuk membalaskan dendamnya. Sama sekali tidak, karena dia begitu mengenalku. Tetapi kalian, keselamatan kalian terancam di tempat ini. Segeralah kalian bersiap untuk kembali ke rumah ayah kalian”

“Guru, perkenankan kami ikut melawan para perusuh itu. Kami akan membalaskan kematian Kakak Suro Pati” Ratna Sari bersikeras, dan nampaknya kakaknya juga setuju. Keduanya memang berjiwa gagah.

“Dan kalian akan membiarkan ancaman terhadap ayah kalian dan Sriwijaya tidak tersampaikan tepat pada waktunya”? Nelayan Sakti menjawab aleman. Dan jawaban sederhana itu menyentakkan kedua kakak beradik yang tidak kenal takut itu. Dan karena itu, dengan cepat Pandu berkata:

“benar dinda, kita harus bertindak cepat. Mari ….” “Sebentar Pandu, sampaikan medali lencana tugas Suro Pati kepada ayah kalian. Dan tegaskan, bahwa akulah yang menyuruh kalian untuk segera melaporkan apa yang ditinggalkan kakak kalian itu. Sekarang pergilah” Nelayan Sakti mengambil lencana tugas Suro Pati dari leher dan menyerahkan kepada Pandu. Dan tidak lama kemudian, kedua kakak beradik itu sudah melesat kedepan dan meninggalkan tempat itu.

=====================

“Kurang ajar, sudah kuduga. Tidak akan mungkin orang-orang asing itu berdatangan ke Sriwijaya tanpa maksud-maksud terselubung. Ach, apalagi gerangan yang akan terjadi”? Nampak seorang yang bertubuh sedang bergumam penasaran, dan dihadapannya berdiri 3 orang lain dengan hormat. Siapa gerangan orang itu?

Ya, pria itu adalah Panglima Tertinggi Armada Maritim atau Armada Laut Kerajaan Sriwijaya. Sore itu, Panglima yang sedang tadinya bersantai di kebun belakang rumahnya, tiba-tiba dikejutkan oleh kedatangan kedua anaknya yang membawa kabar yang teramta buruk dan mengejutkan. Betapa tidak, salah seorang Panglima Muda pengapit yang sangat dipercayainya dikabarkan tewas setelah memperoleh dan mempertegas informasi yang selama ini memang sudah diciumnya.

Tetapi, bayarannya sungguh mahal. Jiwa keponakan muridnya, orang yang bahkan sudah dianggap adik kandungnya sebagai anak. Dan betapa dia tidak sedih, karena anak itupun adalah andalannya, karena kesetiaan, kegagahan dan kesaktiannya. Tetapi, selain kesedihan itu, rasa penasaran dan kegemasan Panglima Besar yang gagah ini juga luar biasa besarnya.

Betapa tidak, kerajaan yang selama ini dibela dengan taruhan hormat dan jiwanya, terancam tanpa dia tahu bagaimana harus menanganinya. Bahkan menurut peringatan adiknya yang dia tahu benar kesaktian dan keawasannya, bahaya besar juga sedang mengancamnya dan keluarganya.

“Suro Bhakti”

“Siap Panglima”

“Segera siapkan dan siagakan Pasukan Khusus dan bersiaga siang dan malam di tempat tersembunyi disekitar markas kita. Dan engkau atur segera pertemuan dengan Menteri Kebudayaan dan Penasehat Raja malam ini juga. Tapi, usahakan dengan tidak menyolok dan tanpa

sepengetahuan siapapun. Kerjakan secara rahasia, kita sedang menghadapi musuh yang mengancam keselamatan Negeri kita”

“Siap Panglima”

“Suro Bhakti, aku paham dengan perasaanmu saat ini. Tapi aku yakin, dalam keadaan seperti ini, dibutuhkan ketenangan untuk keselamatan Negara kita. Dan aku yakin, dalam kondisi begini, tidak mungkin ayah angkatmu berdiam diri. Nah, ingat kata-kataku dan lakukan” “Baik Panglima” dan Suro Bhakti yang sebenarnya masih berduka atas kematian kakaknya dengan cepat menguasai dirinya. Sebagaimana kegagahan kakaknya, demikian juga Suro Bhakti. Dia sadar, bahwa bahaya besar mengancam, dan sebagai lasykar professional, dia harus mengutamakan keselamatan banyak orang ketimbang mengurusi urusan pribadinya. Karena itu, dia berlalu dengan cepat dan dengan semangat tugas yang berkobar.

Sepeninggal Suro Bhakti, Panglima Jayeng Kencana kemudian berpaling dan memandang kedua anaknya. Cukup lama mereka berpandangan, sampai kemudian terdengar sang Panglima berkata:

“Pandu dan Ratna, keadaan akan berubah memburuk. Kalian berdua sudah harus mulai memikul tugas untuk menjaga keamanan seluruh isi rumah kita ini. Ayah yakin, guru atau paman kalian pasti akan ikut berada disekitar sini. Tidak ada orang lain yang lebih mengenalnya ketimbang ayah kalian. Apalagi dia sendiri menyayangi kalian bagai anaknya sendiri. Tetapi, sudah saatnya kalian ikut memikul tanggungjawab yang besar. Karena badai ini tidak akan reda dengan mudah”

“Ayah, Pandu siap untuk memikul tanggungjawab itu. Jangan takut ayah, jika diperlukan, Pandu siap untuk ikut dalam pertempuran membela kehormatan keluarga dan Kerajaan ini”

“Ayah, Ratna juga siap melakukan tugas yang sama”

“Ayah bangga terhadap kalian berdua. Paman kalian telah mendidik kalian dengan sangat baik” Sungguh bangga sang Panglima melihat semangat kedua anaknya. Dan tidak kecewa dia menyerahkan keduanya dalam didikan adiknya yang dia kenal betul perangai dan kehebatannya itu.

Dan dia juga sadar, untuk urusan politik, adiknya tidak akan terlibat atau melibatkan diri. Tapi jika menyangkut keselamatannya pribadi dan keluarganya, dia yakin adiknya bahkan akan rela menyabung nyawa untuk itu. Dan dia sungguh bangga akan adiknya tersebut. Bangga atas pilihan hidupnya dan atas kegagahannya.

“malam ini Ayah akan bertemu beberapa orang untuk urusan yang sangat rahasia. Adalah tugas kalian berdua untuk mengamankan gedung kita ini. Ingat, untuk saat ini, adalah tepat kalian bahu membahu untuk mengatasi persoalan yang kita hadapi”

“Baik ayah” serentak keduanya menjawab.

“Sekarang bersiap-siaplah, hari sebentar lagi malam”

Dan malamnya, di Markas Besar Armada Angkatan Laut Sriwijaya, secara rahasia Panglima Besar Jayeng Kencana nampak sedang dalam sebuah pertemuan serius dengan dua orang pembesar tinggi lainnya. Yang seorang adalah Menteri Kebudayaan, seorang Menteri

dan pembesar yang juga sangat patriotic. Setia kepada Kerajaan dan sangat prihatin dengan kondisi Kerajaan dewasa ini.

Menteri Kebudayaan ini adalah juga seorang pemikir, seorang yang sangat memperhatikan keadaan kerajaan dan selalu memikirkan perubahan dan perbaikan kualitas kehidupan rakyat. Dalam konteks hubungan dengan India Selatan, dalam hal ini Kerajaan Cola, Menteri Kebudayaan inilah yang banyak berperan pada masa Raja yang sebelumnya. Bahkan pembangunan beberapa Candi dengan latar budaya India yang kuat mempengaruhi, juga adalah hasil ide dan kreasi cerdas yang satu ini.

Dia bahkan beberapa kali sempat berkunjung ke Kerajaan Cola, pada saat sebelum Raja Rejendracola I naik tahta di Kerajaan Cola India Selatan. Karena itu, Menteri yang satu ini, boleh dikata mengenal karakter Kerajaan Cola, yang menurutnya banyak berubah akhir-akhir ini, terutama sejak Rejendracola I naik tahta menggantikan Raja Cola yang sebelumnya, Raja yang sangat bersahabat.

Sementara Petinggi yang satu lagi, adalah seorang Penasehat Ahli Raja Sri Tunggawarman. Sebagai seorang penasehat, keahliannya terutama adalah memberi nasehat kepada Raja khusus masalah-masalah keagamaan dan juga masalah keamanan dan politik. Penguasaannya atas seluk beluk agama Budha dan kondisi Sriwijaya secara keseluruhan membuat Sang Raja sangat mengandalkannya, bahkan terutama sejak Raja sebelumnya.

Sementara Raja Sri Tunggawarman, lebih membutuhkannya dalam urusan keagamaan secara formal, bukan ajarannya. Sedangkan untuk urusan Politik dan Keamanan, sang Raja cenderung mendasarkannya

atas ajaran agama, dan bukan pada kepentingan efektifitas jalannya roda pemerintahan.

Dan karena itu, beberapa hal mereka jadi berbeda. Tetapi, selaku penasehat Ahli, petinggi yang satu ini memiliki akses yang sangat luas dan besar terhadap sang Raja. Hal ini tentu saja sangatlah penting. Dan, bersama dengan Panglima Jayeng Kencana dan menteri Kebudayaan, petinggi ini sangat sering berdiskusi soal-soal terakhir di Sriwijaya. Termasuk keadaan kurang mengenakkan yang terjadi akhir-akhir ini terkait dengan menurunnya disiplin pejabat, korupsi yang sulit terkontrol, bahkan terutama membanjirnya orang asing memasuki wilayah Sriwijaya.

Sekarang ketiganya, sedang duduk mengelilingi sebuah meja, dan di atas meja tersedia minuman panas penghangat badan. Pertemuan tersebut hanya terbatas mereka bertiga, terlebih karena informasi yang akan dibahas masih sangat dibatasi. Dan informasi itu, telah dipaparkan secara panjang lebar oleh Panglima Jayeng kencana:

“Bahkan untuk memperoleh informasi itu, kami membayarnya dengan harga yang sangat mahal. Harganya adalah salah seorang orang kepercayaanku, andalanku dan petugas sandi yang sebenarnya sangat handal”

“Sebagaimana yang selama ini kita ragukan dan curigai, ternyata memang benar bahwa kedatangan orang India yang berlebihan dan menyolok ternyata mengandung arti yang lain” menteri kebudayaan nampak tercenung.

“Benar, sudah sering kuperhatikan, rombongan bhiksu dan padri dari India, banyak yang hanya luarnya saja. Beberapa dari mereka, bahkan

dengan cepat menghilang di keramaian kota ini, dan tidak nampak untuk waktu yang cukup lama” Penasehat Raja berujar.

“Yang menjadi persoalan adalah, kita masih belum bisa membuktikan jika benar ada persekongkolan rahasia yang mengancam Negara ini. Selain itu, juga persoalan besar jika Sang Raja diberitahu sementara pilihan hidupnya dan pandnagannya soal politik saat ini, dia lebih layak menjadi Pendeta dan bukannya Raja” Menteri Kebudayaan menambahkan.

Nampak Panglima Jayeng Kencana kemudian berdiri, mondar-mandir mengelilingi meja pertemuan mereka. Dan tidak lama kemudian terdengar kembali dia berkata:

“Teramat sulit untuk memutuskan menyerbu rumah rahasia itu, apalagi kedoknya adalah Vihara. Dan resikonya adalah semakin rusaknya hubungan kita dengan Kerajaan Cola yang memang sudah buruk. Lebih celaka lagi, disiplin pasukan kita semakin tergerogoti. Masalah yang kita hadapi sungguh sangat berbahaya. Tidak ada cara lain selain menyampaikan masalah ini langsung kepada Sang Raja. Dan dalam hal ini, dari semua petinggi yang setia, tinggal Penasehat Raja yang sanggup melakukannya”, ujarnya sambil melirik Penasehat Raja yang juga sedang berpikir keras.

“Jika melihat gelagatnya, memang pertemuan dan keberadaan rumah rahasia itu, pastilah memiliki kaitan dengan penyerangan Raja Rajendracola beberapa tahun silam. Dan jika dia mengetahui kelemahan kita saat ini, rasanya tinggal menunggu waktu buat serangan lain yang lebih hebat. Dalam hal ini, keselamatan Kerajaan yang mesti kita pikirkan” Menteri Kebudayaan nampaknya menguatkan pertimbangan Panglima Jayeng Kencana, sambil melirik dan

menimbang ekspresi wajah Penasehat Raja. Karena memang tinggal dialah harapan satu-satunya untuk mengingatkan sang Raja yang lebih senang tenggelam dalam pendalaman ajaran Budha.

“Aku sepenuhnya mengerti maksud kalian, dan bahkan sedang berpikir keras bagaimana upaya meyakinkan sang Raja. Perkara bertemu dan mengutarakan hal ini, bukanlah soal sulit. Yang sulit adalah, meyakinkan Sang Raja, bahwa persoalan sudah demikian genting. Terlebih, karena membuktikan kegentingan itu, bukanlah perkara mudah” Si penasehat nampak semakin suntuk tenggelam dalam pikirannya atas kesulitan yang dihadapi.

Ketiganya terus terlibat dalam perdebatan dan pertukaran pikiran untuk urusan nyelimet dan genting. Ketiganya paham, bahwa Sriwijaya sedang terus merosot dewasa ini. Dan hal ini terutama terjadi pasca penyerangan Rajendracola I, dan disusul kemudian dengan masuknya banyak orang India dengan kedok keagamaan dan perdagangan.

Kebetulan, Raja Sri Tunggawarman adalah seorang Raja yang memang sangat bijaksana, dan sangat dekat dengan ajaran Budha, bahkan berusaha keras mengamalkannya. Kewelas asihannya dan kesalehannya sangat bermanfaat bagi sesame manusia dan tentu bagi rakyatnya. Kesejahteraan memang masih terjamin, tetapi disiplin pamong praja dan terutama di kalangan militer sudah merosot dengan cepat.

Baginda Sri Tunggawarman, sungguh tak sampai hati menurunkan perintah menghukum pejabat tingginya yang jelas-jelas bersalah, bahkan bersalah besar. Hanya teguran dan permintaan untuk kembali ke jalan benar yang diucapkannya. Dan lama-kelamaan, pelanggaran demi pelanggaran semakin sering terjadi.

Dan lama-kelamaan, laporan soal itu ke Baginda pun semakin jarang, karena toch hampir tak ada gunanya. Sementara Sri Tunggawarman, sang Raja, beranggapan bahwa kondisi Kerajaan semakin membaik, dengan semakin berkurangnya laporan pelanggaran. Sayangnya, yang terjadi justru adalah sebaliknya.

Tengah ketiganya berbicara serius, tiba-tiba sosok bayangan menerobos masuk dengan ringannya. Bahkan bagaikan tertiup angin saja, untuk kemudian berdiri menghadap ketiga orang yang sedang berpikir keras tersebut. Belum lagi ketiganya sadar, pendatang yang ternyata adalah si Nelayan Sakti sudah berkata:

“Semua sudah dan telah digariskan. Manusia bisa berusaha, tetapi takdir telah menentukan. Semua akan menuju kesana, termasuk kita sekalian” Si Nelayan Sakti berdiam sejenak, memandangi ketiga orang itu satu demi satu untuk kemudian bertanya dan ditujukan kepada Penasehat Raja:

“Benarkah bahwa Baginda Sri Tunggawarman sedang menantikan kedatangan seorang Bhiksu dari Jawadwipa”? dan siapa gerangan yang mengusulkan agar Padri itu berkunjung menemui sang Baginda”?

Penasehat Raja yang belum begitu mengenal Nelayan Sakti terhenyak, dan nampak berusaha menekan kemarahannya karena melihat roman wajah lembut di mata si Nelayan Sakti. Bahkan tidak lama kemudian dia mendengar Panglima Jayeng Kencana juga ikut bersuara dan seakan sangat mengenal si pendatang yang masih asing baginya. Panglima Jayeng Kencana yang sudah tentu mengenal adiknya itu berkata:

“Saudara Penasehat, jawablah pertanyaannya. Dialah orang pertama yang mengetahui informasi yang kusampaikan tadi”

“Bolehkah aku mengetahui siapakah saudara”? Penasehat Raja bertanya sambil memandang si Nelayan Sakti. Sementara orang yang dipandangi menoleh sekejap kearah Panglima Jayeng Kencana dan mengangguk. Dan terdengarlah suara Panglima Jayeng Kencana menjawabnya:

“Saudara Penasehat boleh menjawab pertanyaannya. Dia bukan orang asing, dia adalah Guru anak-anakku, dan bahkan dia adalah Adik kandungku sendiri. Tetapi, dia lebih senang bersahabat dengan alam dan mendalami ilmu keagamaan” Inilah untuk pertama kalinya Panglima Jayeng Kencana memperkenalkan adiknya.

Anggukan adiknya tadi adalah tanda, dan kesehatian mereka sudah memberitahu Panglima, bahwa identitas adiknya tidak mungkin lagi disembunyikan. Dan jika adiknya sudah menetapkan demikian, berarti masalah yang dihadapi bukanlah masalah kecil. Meski dia tidak melihat raut kekhawatiran diwajah adiknya, tetapi dia sadar, sesuatu yang besar sedang terjadi. Dan sesuatu yang besar sajalah yang mampu mengusik adiknya dari keterikatannya dengan alam.

Sementara itu, mendengar ucapan Panglima Jayeng Kencana, baik Menteri Kebudyaan maupu Penasehat Raja tersentak. Belum pernah mereka mendengar Panglima Besar ini memiliki adik kandung. Tetapi adik kandung itu, kini berdiri dihadapan mereka. Meski mereka belum tahu kualitas dari adik sang Panglima tersebut

Episode 11: Pendeta Sakti Jawadwipa

Keempat orang itu tenggelam dalam lamunan dan dugaan masing-masing. Panglima Jayeng Kencana diam-diam merasa khawatir akan keadaan yang berkembang semakin mengkhawatirkan. Fakta turun tangannya adiknya yang sakti mandraguna, disatu sisi memang membuatnya senang, tetapi sekaligus membuatnya makin merasa was-was.

Semua karena dia tahu, bahwa hanya karena urusan yang sangat besar sajalah yang mampu menggugah adiknya dari aktifitas kesehariannya di pinggiran sungai Musi itu. Sementara Penasehat Raja dan Menteri Kebudayaan, tenggelam dalam kesibukan menduga-duga, seperti apa orang yang memasuki ruangan pertemuan tanpa mereka tahu itu.

Bahkan tanpa mereka tahu bagaimana cara masuknya. Mereka menebak-nebak, sehebat apa orang ini? tetapi sekaligus juga kagum melihat betapa bening matanya dan betapa lembut tatapannya. Hanya orang yang tidak memikul beban berat dalam kehidupan yang memiliki kesanggupan menampilkan wajah dan tatap mata sebening dan sesejuk itu.

Sementara dipihak lain, Nelayan Sakti Sungai Musi menunggu jawaban Penasehat Raja dan Menteri Kebudayaan terhadap pertanyaan yang memang berkaitan dengan rasa was-was dan usikan terhadap kalbunya selama beberapa waktu terakhir.

Pada akhirnya terdengar Penasehat Raja menarik nafas panjang, menyadari bahwa cukup lama dia berdiam diri dan mengamati tamu asing yang baru masuk, dan yang ternyata malah adalah adik kandung sang Panglima. Setelah menarik nafas panjang dan kemudian membetulkan posisi duduknya, Penasehat Raja berujar:

“Dari manakah saudara, eh maafkan, aku belum mengetahui nama saudara …. Jika tidak keberatan”

“Ah, apalah artinya nama”? orang-orang di pinggiran sungai memanggilku dengan nama Nelayan Aneh Sungai Musi” si Nelayan Aneh memotong dan menjawab dengan senyum dikulum.

“Hm, memang nama yang aneh. Rupanya saudara tokoh aneh yang sering dibicarakan banyak orang. Baiklah, darimanakah gerangan saudara memperoleh berita ataupun informasi rahasia mengenai kedatangan seorang pendeta Budha dari tanah Jawadwipa itu?

“Sebelum meninggal, muridku mengingatkanku bahwa seorang Pendeta Sakti dari Jawadwipa sedang dinantikan. Dan entah apa yang ingin diperbuat gerombolan itu terhadap Pendeta dari Jawadwipa tersebut. Muridku keburu menghembuskan nafasnya yang terakhir” Nelayan Aneh Sungai Musi menjawab dengan mantap tanpa keraguan sedikitpun.

Tergetar juga perasaan Penasehat Raja. Rupanya Suro Dipo yang sakti mandraguna itu adalah murid Nelayan Aneh ini. Jika demikian, Nelayan Aneh ini bukanlah orang sembarangan. Tapi, yang membuatnya lebih terkejut lagi adalah fakta betapa kedatangan Pendeta dari Jawadwipa ternyata juga tercium oleh kawanan perongrong.

Akan sangat berbahaya apabila Pendeta dari Jawadwipa itu, juga ikut mengalami gangguan dari gerombolan yang memiliki maksud tidak baik itu. Dan, bukankah yang mengetahui kedatangan Pendeta itu hanya dirinya, Patih Kerajaan, Raja dan Padri Sakti dari India yang menjadi tamu Raja beberapa bulan terakhir? Bukankah runyam bila

Pendeta Jawadwipa yang diperintahkan Raja Airlangga ke Bumi Sriwijaya sampai mengalami gangguan? Sangat mungkin Sriwijaya terjepit diantara kekuatan Kerajaan Cola maupun kekuatan Kerajaan di Jawadwipa.

“Semakin dipikir, menjadi semakin rumit” gumam Penasehat Raja

“Apa maksudmu gerangan?” Menteri Kebudayaan yang mengikuti percakapan dengan saksama, selain mengagumi si Nelayan Sakti, juga menjadi tersentak karena ada kabar lain yang justru dia tidak tahu dan bocor keluar entah bagaimana caranya.

“Kira-kira 2 bulan lalu, ada seorang Padri dari India yang sangat menarik hati Sang Baginda. Berhari-hari mereka mendiskusikan masalah agama Budha, termasuk melibatkan kami beberapa kali. Dan memang, kedalaman pengetahuan Padri itu sungguh luar biasa. Meskipun sangat sederhana, tetapi nampaknya dia mengenali dan menguasai perkembangan agama Budha hingga ke Tiongkok dan bahkan Jawadwipa. Bahkan konon dia pernah mengembara hingga ke Candi Borobudur di Jawadwipa, dan pernah mengunjungi Cina untuk perluasan agama Budha”, sampai disini Penasehat Raja berhenti sejenak. Sebelum kemudian sambil sejenak termenung, seperti mengingat sesuatu dia akhirnya melanjutkan:

“Pada akhirnya, sebelum ke Sriwijaya, karena tertarik dengan pesatnya agama Budha di daerah kita, maka sang Padri berkenan singgah dan menyambangi Raja kita. Meskipun sangat lemah dan sudah sangat tua, tapi Padri itu nampaknya sangat sakti, karena mengenal tokoh-tokoh utama dari dunia persilatan di India, Jawadwipa, Sriwijaya dan bahkan Tiongkok. Hanya, dalam percakapan-percakapan sebulan terakhir, nampaknya Padri itu sangat ingin bertemu dengan

seorang sahabat lamanya di Jawadwipa, seorang Pendeta dari sana. Hanya saja, nampaknya seperti tiada keinginan Padri itu untuk berjalan lebih jauh ke Jawadwipa, dan meminta bantuan Sri Raja untuk mengundangnya sebagai tamu di Kerajaan ini”

“Apakah Padri itu sempat menyebutkan nama dari Pendeta asal Jawadwipa yang dimintanya untuk diundang ke Sriwijaya ini oleh sang Raja”? Nelayan Aneh menyela ketika Penasehat Raja berhenti sejenak untuk melanjutkan penjelasannya. Penasehat Raja memandang sekejap kearah Nelayan Aneh Sungai Musi untuk kemudian berkata:

“Tidak, mungkin di kesempatan percakapan lain dengan Raja sang Padri menyebutkannya. Tetapi, yang aku tadu, Pendeta Jawadwipa itu bertapa di sebuah lembah dekat dengan Candi Budha yang megah di Jawadwipa itu. Dan konon, Pendeta Jawadwipa itu, juga sakti mandraguna. Hanya, yang lebih menarik dari Pendeta itu, menurut Padri dari India, adalah sari pati kitab ajaran keagamaan yang mencoba mencakup inti ajaran Budha, Hindu dan juga agama-agama di Jawadwipa. Konon, itulah yang membuat kitab agama itu menjadi sangat menarik, dan Padri asal India itu, juga sangat tertarik. Sayangnya, kitab itu ditulis dalam bahasa melayu, dan karena banyak ahli bahasa Melayu yang bisa menterjemahkan kedalam bahasa Sansekerta, maka Padri itu minta tolong kepada Raja untuk membantunya” demikian Penasehat Raja mengakhiri cerita mengenai Pendeta asal Jawadwipa yang sempat disampaikan sebelum ajal muridnya kepada Nelayan Aneh. Tapi, penjelasan ini, justru menjadi semakin rumit, karena jika kitab ajaran agama yang akan datang, untuk apa sesuatu itu ataukah kitab agama itu diambil atau direbut dari Pendeta itu? Benarkah Kitab itu atau adakah sesuatu yang lain dalam

diri Pendeta itu? Dan siapa pula gerangan Pendeta Jawadwipa itu? Diakah …..?

Pikiran-pikiran dan dugaan yang berseliweran di kepalanya membuat Nelayan Sakti bergumam:

“Jika demikian, bisa diduga percakapan mengenai Pendeta Jawadwipa itu sudah bocor keluar. Tetapi, masalahnya, apakah yang serius dari Pendeta Jawadwipa itu hingga perlu direbut? Masakan kitab agama semacam itupun mau direbut? Dan yang juga penting adalah, siapakah Padri Sakti dari India itu dan siapa pulakah Pendeta Sakti Jawadwipa itu?”

“Adi, adakah engkau menemukan sesuatu”? Panglima Jayeng Kencana bertanya serius menatap adiknya, si Nelayan Aneh.

“Jika tidak penting, Suro Dipo tidak akan menyebutkan hal terakhir dalam hidupnya dengan penuh perhatian, sama seriusnya dengan informasi yang sudah disampaikan anak-anakmu” Nelayan Sakti kembali nampak seperti sedang berpikir keras. Jelas dia sangat memperhatikan persoaan satu ini. Tetapi kemudian, terdengar dia bertanya lagi:

“Siapakah sebenarnya Padri asal India itu? Bagaimana keadaannya atau cirri-cirinya, dan apa benar dia datang sendirian menemui Raja Sri Tunggawarman atau adakah teman ataupun pengiringnya”?

Penasehat Raja sejenak meneguk minuman penghangat badan, dan kemudian nampak mengingat-ingat sesuatu. Sepertinya sesuatu didapatnya, dan kemudian dia berkata:

“Setahuku, Padri India itu datang bersama dengan 2 orang tua lainnya. Kalau tidak salah, keduanya diakuinya sebagai murid-murid dalam hal agama, seorang adalah nenek-nenek yang lebih muda dari Padri itu, dan seorang lagi adalah kakek-kakek yang juga lebih muda dari Padri India tersebut. Tetapi, kedua kakek dan nenek murid Padri itu, sama sekali tidak pernah ikut dalam percakapan. Namkanya karena percakapan lebih banyak dalam bahasa melayu, dan hanya kadang-kadang memakai bahasa sansekerta. Bahkan, kedua orang tua itu, juga sangat jarang terlihat di kompleks istana, juga ditempat lain sangat jarang mereka terlihat. Lebih banyak menyembunyikan diri di kompleks tamu istana”

“Kelihatannya, disinilah letaknya kecurigaan itu, jika memang ada. Tapi, biarlah kita melihat keadaan beberapa waktu kedepan. Masih butuh waktu untuk mem buktikan keanehan itu. Terima kasih atas penjelasannya biarlah aku mohon diri” dan dengan tidak mengganggu kebingungan Penasehat Raja dan menteri Kebudayaan, hanya dengan mengangguk kepada Panglima Jayeng Kencana, tiba-tiba tubuh Nelayan Aneh Sungai Musi sudah menghilang dari hadapan mereka bertiga. Dan sebagaimana tadi kedatangannya, demikian juga kepergiannya dari tempat tersebut.

“Luar biasa, Panglima Jayeng Kencana ternyata memiliki seorang adik yang demikian sakti mandraguna. Kenapa baru sekarang kami mengetahui keberadaannya”? Menteri Kebudayaan yang terlebih dahulu sadar dari ketakjubannya sudah langsung bertanya. Dan nampak Panglima Jayeng Kencana seperti sedang berpikir berat, berdiri sejenak dari kursinya, mondar-mandir seperti orang yang resah dan pada akhirnya kemudian berkata:

“Justru disinilah letak kerisauanku. Adikku itu teah lama tenggelam dalam penghayatannya atas agama Budha, dan mencoba terus mencari keselarasan hidupnya dengan alam. Dia tidak mau menumpang di rumahku, tetapi mendirikan sebuah gubuk di pinggiran sungai besar itu untuk tinggal bersahabat dengan alam, dengan hewan dan apapun yang ada di alam semesta. Dia menghabiskan waktu mudanya dengan berguru kepada seorang yang Sakti mandraguna, dan bertualang banyak tahun di Jawadwipa, sebelum akhirnya kuminta mendidik kemenakan-kemenakannya. Tidak pernah selama 10 tahun terkahir ini dia beranjak dari pinggiran sungai itu, untuk urusan apapun. Tapi, untuk urusan terakhir ini, nampak dia agak terguncang, dan berbeda dengan kesehariannya. Setahuku, hanya urusan yang sangat besar sajalah yang sanggup menggoyahkannya. Dan lebih dari itu, kesaktiannya membuatnya awas dan waspada, serta membuatnya mampu melihat jauh kedepan. Dan justru itulah yang mengkhawatirkanku. Jika adikku itu turun tangan secara langsung dan menunjukkan kekhawatirannya, maka berarti sesuatu yang “besar” akan atau malah “sedang” terjadi”

“Sehebat itukah Nelayan Aneh Sungai Musi”? Penasehat Raja nampak termangu dan takjub tetapi setengah kurang yakin.

“Engkau lihatlah Panglima Suro Dipo dan Suro Bhakti, betapa saktinya keduanya bukan? Tetapi, kehebatan mereka masih belum ada setengah kehebatan gurunya. Di Jawadwipa, dia dikenal sebagai “Bintang Sakti Membara”, karena kehebatan ilmu silatnya yang mampu mengobrak-abrik para penjahat di rimba persilatan Jawadwipa. Dia bahkan mahir ilmu sihir dan sanggup memainkan ajian ajian sakti dari Jawadwipa, ajian-ajian yang dianggap sudah lenyap disana. Tetapi adikku itu sanggup memainkan ajian-ajian sakti itu dengan sangat baik.

Jika dia menghendaki, maka keluar masuk dari tempat ini, dan bahkan istana bukan perkara sulit buatnya. Sayangnya, dia tidak berkeinginan mencampuri urusan politik dan kenegaraan” Panglima Jayeng Kencana menerangkan siapa adiknya, seorang yang ternyata punya nama besar di Jawadwipa.

“Sungguhkah demikian”? Menteri Kebudayaanpun ikut-ikutan menjadi terpana mendengarkan penggambaran Panglima Besar Jayeng Kencana mengenai keberadaan adiknya itu. Sungguh luar biasa, ada tokoh sehebat itu tetapi hidup terpendam di tepian sungai Musi, dan hanya dikenali oleh orang-orang kecil, nelayan diseputaran sungai tersebut.

“Jika demikian, bukankah kita bisa minta bantuannya untuk urusan mendesak di Negeri kita ini”? tambah menteri itu bersemangat.

“Tidak mungkin, tiada seorangpun yang mampu merubah tabiat dan pilihannya itu. Bahkan akupun sebagai kakaknya tidak akan mampu. Jika dia menghendaki, maka jabatan tinggi di Kerajaan Jawadwipa ataupun Sriwijaya ini sudah diraihnya. Tetapi dia tidak menghendaki kemewahan, lebih menyukai kesederhanaan dan kemenyatuan dengan alam”

“Sayang” terdengar gumam kecewa Menteri kebudayaan dan Penasehat Raja secara bersamaan. Dan setelahnya, kembali mereka bertiga tenggelam dalam senyap, bermain dengan pikiran masing-masing.

========================

Sementara itu, Nelayan Sakti Sungai Musi yang ternyata memiliki julukan cemerlang dimasa lalu “Bintang Sakti Membara” telah melesat

bagaikan terbang dari tempat pertemuan. Ada apa gerangan? Mengapa orang setua dan sesakti dia seperti tidak punya sopan-santun karena pergi begitu saja tanpa pamit, dan menghilang seperti mau pamer saja? Ada apa pula gerangan dia berkelabat seperti tidak menyentuh tanah dan seperti sedang diburu sesuatu? Dan ada apa pula dari bibirnya berkali kali terdengar desisan:

“begini rupanya” ….. atau sesekali, “benarkah dia”? meski begitu, derap langkahnya yang pesat bagaikan terbang tidak pernah kendor. Nampaknya dia seperti sedang memburu sesuatu, sesuatu yang tentu teramat penting baginya.

Dan memang, beberapa saat ketika dia tiba di tempat yang ditujunya, rumah kakaknya, rumah Panglima Jayeng Kencana, yang menyambutnya adalah suasana dingin menyeramkan, dan sepertinya tidak ada kehidupan dalam rumah tersebut. Justru keadaan itu membuatnya curiga. Tetapi tunggu, tiba-tiba dia mendengar suara jeritan seperti sedang berkelahi.

Dan tidak tunggu lama, segera tubuh orang tua sakti itu berkelabat ke bagian belakang. Dimana-mana dia melihat tubuh-tubuh yang bergelimpangan, bukannya mati, tetapi pulas tertidur. Dan dia tahu apa artinya hal tersebut.

Sebelum membangun orang banyak itu, dia perlu melihat, darimana dan ada apa dengan suara pertempuran yang terjadi di bagian belakang rumah? Dengan bergegas Nelayan Aneh melayang kebelakang, dan yang disaksikannya kemudian adalah 3 orang anak muda, Suro Bhakti, Pandji Winata dan Ratna Sari sedang berkelahi hebat menghadapi 2 orang yang nampak kesaktiannya diatas ketiganya. Dan jelas, anak muda-anak muda itu bukan lawan dua

orang kakek tua, nampaknya berasal dari India, yang sedang berkelahi mempermainkan mereka.

Hanya Suro Bhakti yang agaknya lumayan perlawanannya, tetapi kakak beradik Pandu dan Ratna jelas sudah jatuh dibawah angin, dan tinggal menunggu waktu, mereka akan dijatuhkan. Dan sudah tentu, Nelayan Sakti Sungai Musi tidak menginginkan sesuatu terjadi atas 3 orang muda yang sangat dikasihinya itu. Belum hilang dari matanya, rintihan mudirnya yang lain, Suro Dipo melepas nyawa yang nampaknya akibat kedua orang ini. Masakan harus direlakannya lagi muridnya yang lain?

“Hentikan” sebuah suara yang teramat berwibawa dengan segera menggetar keluar dari mulutnya. Tidak salah, lewat suaranya, Nelayan Sakti telah menggetarkan suara berwibawa yang dilambari kekuatan “Gelap Ngampar”, sebuah Ilmu Sakti yang dikuasainya dengan baik. Dan sebagai akibatnya, semua yang sedang berkelahi, nampak termangu-mangu sesaat, seperti kehilangan semangat, bahkan termasuk dua orang kakek yang nampaknya lebih tangguh dari ketiga anak muda lawan mereka. Tetapi, dengan cepat mereka menyadari sesuatu dan akhirnya mengerahkan tenaga dan menemukan kesadaran mereka sendiri, dan kemudian membentak Nelayan Sakti:

“Siapakah engkau yang berani mengganggu pekerjaan kami”?

“Dari dandanan dan suara kalian, pastilah kalian bukan orang Sriwijaya. Buat apa kalian malam-malam begini menyerbu gedung kediaman Panglima Jayeng Kencana”? Apakah tidak takut berhadapan dengan pasukan keamanan dan penjaga Kerajaan Sriwijaya”?

“hahahahaha, jika kami takut, tidak akan kami melakukan pekerjaan ini. Dan soal pasukan keamanan, lihatlah, mereka semua sedang tertidur pulas. Jadi buat apa kami takut” Suara dan logat aneh ini, terdengar menyakitkan di telinga semua orang. Dan suara sengak seperti itu, membuat Ratna Sari menjadi semakin murka dan karena itu dengan suara manja kepada paman sekaligus gurunya dia berkata gemas:

“Guru, mereka bermaksud menawan atau bahkan membunuh kami. Katanya supaya kami tidak ribut-ribut dengan kematian Kakak Suro Dipo”

“Tenanglah Ratna, gurumu sudah tahu. Bahkan mereka menghendaki kerajaan ini, bukan hanya menutup mulut kalian. Kematian Kakakngmu Suro Dipo cuma alasan untuk cita-cita mereka yang jauh lebih besar. Bukankah begitu sobat sobat dari India? Apakah gerangan kabar baik dibawah dari tanah India? Dan bagaimana pula kabarnya “Sepasang Ular Dewa” yang konon sedang ikut keramaian kalian di Sriwijaya ini?”

Kontan wajah kedua orang kakek itu menjadi pucat. Tidak mereka sangka jika tokoh sakti dihadapan mereka bisa menebak siapa mereka, tugas mereka dan bahkan tulang punggung penyerangan pada malam hari ini. Diam-diam mereka bersiap diri, dan berkata:

“Engkau hebat, sungguh tahu banyak. Tetapi, kami tidaklah bisa dengan muda ditangkap. Ayo, majulah”

“Hm, kalian masih belum cukup berharga melawanku. Kemana “Sepasang Ular Dewa” itu berada, suruh mereka yang datang membebaskan kalian, baru hal tersebut memungkinkan” Nelayan Sakti

tetap bersuara tenang. Tetapi, ketenangan tersebut tiba-tiba terusik oleh desisan halus pertanda ada pendatang baru disekitar itu.

“Ach, akhirnya ada juga keberanian kalian unjuk diri dihadapanku. Kukira hanya kebisaan membuat orang tidur yang akan kalian perlihatkan malam ini, ternyata ada juga keberanian kalian menunjukkan diri. Tapi, selamat bertemu Mahendra dan Gayatri, Sepasang Ular Dewa, buat apa merayap jauh dari India hingga ke Swarnadwipa? Mudah-mudahan bukan untuk urusan merusak” Nelayan Sakti berucap dalam bahasa Sansekerta yang kurang lancar

“Hm, Bintang Sakti Membara, Jayeng Reksa – tak disangka engkau menyimpan dirimu di bumi Sriwijaya …. Hahahahaha” Mahendra membalas dalam bahasa Melayu yang sama kurang lancarnya dengan Nelayan Sakti bernama asli Jayeng Reksa itu. Tetapi setelah itu, kakek aneh bernama Mahendra itu kemudian melirik kearah 2 orang kakek tua tadi dan berkata dalam bahasa asli mereka.

Nampaknya menyuruh mereka untuk segera berlalu karena mereka sadar, kehadiran Nelayan Sakti membuat keadaan memburuk. Mahendra, Gayatri dan Jayeng Reksa memang pernah bertemu di Tanah India ketika Jayeng Reksa dibawa gurunya ikut mengembara ke Tanah India. Bahkan, juga pernah bertemu di sekitar Jawadwipa ketika Mahendra dan Gayatri muda dibawa guru mereka mengunjungi kumpulan Candi Siwa, Hindu di daerah Jawadwipa.

Tetapi, perjumpaan-perjumpaan mereka bukan perjumpaan persahabatan, tetapi perjumpaan yang diselingi pertikaian dan perkelahian. Jayeng Reksa dan gurunya adalah tokoh-tokoh yang beraliran lurus, tetapi sebaliknya dengan Mahendra dan Gayatri serta guru mereka yang berdiri pada sisi seberangnya, aliran sesat.

“Kejahatan apalagi yang sedang kalian rancang di Bumi Sriwijaya ini sobat sobat lama?”

Nelayan Sakti bersuara ramah, meskipun sebenarnya dia sendiri meningkatkan kewaspadaannya. Dia tahu betul, kesaktian kedua orang ini tidaklah terpaut jauh dengannya. Tetapi, dia beroleh keuntungan karena kedua kakek dan nenek ini, pastilah baru saja mengerahkan tenaga besar untuk meninabobokkan banyak orang di sekitar rumah Panglima Jayeng Kencana.

“Engkau belum berubah, selalu ingin mengganggu kesenangan kami” Gayatri membalas ketus.

“Jika kesenangan kalian tidak mengganggu banyak orang, apalagi membantu meringankan beban banyak orang, pastilah tidak kuganggu” balas Nelayan Sakti dengan tenang.

“Sudah kuduga” Mahendra berkata sambil kemudian memberi kedipan mata kepada kedua orang kakek tadi, dan dia berjalan kearah Nelayan Sakti.

“Cepat”, perintahnya dan dengan segera beberapa orang bergerak bersamaan dengan kakek Mahendra. Adalah Gayatri yang nampak kemudian menggerak-gerakkan badan meliuk-liuk seperti ular yang menerjang bersama Mahendra kearah Nelayan Sakti. Sementara kedua kakek tadi, dengan cepat telah meloncat ke belakang, dan tidak lama kemudian menghilang dibalik kegelapan malam. Sementara Suro Bhakti yang ingin mengejar mendengar bisikan gurunya “biarkan saja, masih cukup waktu di masa mendatang”.

Aneh, mengapa Mahendra dan Gayatri menyuruh kedua kakek itu mundur? Apakah karena takut? Entahlah. Yang pasti, serangan

mereka berdua, Mahendra dan Gayatri sudah menderu kencang kearah Nelayan Sakti, atau yang mereka kenal berdua bernama Jayeng kencana, Bintang Sakti Membara. Serangan keduanya selain cepat, juga sangat berat.

Mereka sudah sering berkelahi pada masa lalu, dan sejak dulu, mereka memang tidak pernah mampu menang melawan Nelayan Sakti atau Jayeng Reksa ini. Tetapi, setelah puluhan tahun, masakan masih tertinggal juga? Mereka penasaran. Tetapi, mereka baru saja mengeluarkan tenaga besar menidurkan pengawal Panglima. Karena itu, mereka memilih menyuruh anak buahnya kabur duluan, sementara mereka harus bergabung untuk menandingi Jayeng Reksa. Di sisi lain, Jayeng Reksa memang tidak takut terhadap dua orang ini.

Meskipun, dia sedikit khawatir, dengan adanya dua orang ini, selain Padri Sakti yang belum bisa dia duga siapa orangnya, tetapi dia masih merasa sanggup menahan mereka. Tapi, Jayeng Reksa ragu, apakah hanya dua orang ini sajakah lawan berat di pihak lawan? Sebuah pekerjaan yang tidak mudah tentunya.

Dan, pada akhirnya, kembali dia mengeluarkan Ajian saktinya, Ajian Inti Lebur Sakheti yang kini setelah puluhan tahun sudah dikuasainya secara matang. Saat ini, dia memiliki ajian-ajian sakti yang diwariskan gurunya kepadanya, bahkan semakin lama semakin matang. Bahkan, dengan semakin kuat kekuatan batinnya, semakin meningkat jugalah kemampuannya memainkan ilmu-ilmu ampuh dari perguruannya tersebut.

Selebihnya, dia juga sanggup mengisi kekuatan tangannya dengan Ajian Brajamusti, yang akan sanggup menggilas apapun hingga lebur. Dan kekuatan itulah yang digunakannya untuk melawan keroyokan dua

jago kawakan asal Tanah India tersebut. Dan sebagaimana dugaan mahendra dan Gayatri, meski telah menggunakan ilmu ampuh mereka, tetapi kekuatan mereka sudah berkurang.

Itu sebabnya, meski mengeroyok, mereka masih merasa sedikit kelabakan. Padahal, dalam kondisi normal, seorang saja dari mereka, sanggup menahan Jayeng Reksa berlama-lama, karena selisih mereka memang tipis. Sekarang, berdua mereka hanya sanggup mengimbangi permainan Jayeng Reksa, bahkan mereka sadar, kekuatan mereka akan dengan cepat melorot. Kal ini dikarenakan cadangan kekuatan mereka sedikit goyah.

Episode 11: Pendeta Sakti Jawadwipa (2)

Keuntungan Mahendra dan Gayatri adalah, mereka sudah sering berkelahi bersama dan karenanya gampang saling mengerti. Termasuk seperti keadaan saat ini, mereka sadar dalam posisi berbahaya jika terus-menerus memaksakan diri. Tanpa bicara mereka mengerti bahwa mereka harus menyingkir jika ingin selamat tanpa terluka parah.

Karena itu, perlahan mereka menyiapkan diri untuk mundur. Padahal, Nelayan Sakti sendiri memang tidak berniat menahan mereka berlama-lama malam hari ini. Dia sadar, posisi mereka sangat berbahaya, dengan semua pengawal sedang tertidur. Karena itu, dia sengaja memberi celah dan peluang kedua kakak beradik seperguruan ini untuk pergi.

Selain gabungan keduanya memang sangat berbahaya, juga dia sadar bahwa untuk menang, hanya mungkin melalui perjuangan berat yang takkan terhindarkan, bahkan mungkin juga akan melukainya. Karena itu, ketika Mahendra dan Gayatri mengeluarkan serangan

pamungkas berupa sinar-sinar berkeredepan kearahnya, Nelayan Sakti mengundurkan tubuhnya dan membiarkan kedua kakek dan nenek itu melayang menjauh untuk kemudian sama seperti dua kakek India sebelumnya menghilang dibalik gelapnya malam. Dan keadaan kembali berangsur normal, sementara ketiga anak muda yang tadi nonton, menjadi semakin kagum terhadap gurunya.

Tetapi Nelayan Sakti tidak meladeni pertanyaan dan ungkapan keheranan murid-muridnya, karena dia masih harus mengeluarkan tenaga untuk menyadarkan para pengawal yang tertidur akibat ilmu penidur dari India. Dan beberapa saat kemudian disekitar perumahan panglima Jayeng Kencana, berkumandang suara yang halus.

Menyusupi telinga para pengawal yang satu demi satu kemudian sadar, dan beberapa lama pada akhirnya semua pengawal menemukan kesadarannya dan merasa aneh, seperti baru siuman dari satu tidur panjang yang tidak mereka sadari. Dan ketika semua selesai, wajah Nelayan Sakti nampak sedikit berkeringat, karena upaya tadi, mengeluarkan Ilmunya Gelap Ngampar benar-benar menyita kekuatan tenaga dalamnya.

Tapi untunglah, semua pengawal kini sudah siuman, dan tidak berapa lama nampak Suro Bhakti sudah mulai mengeluarkan perintah mengatur anak buahnya untuk mengatur pengamanan lebih jauh. Ketika situasi sudah bisa terkendali, baru beberapa saat kemudian nampak Panglima Jayeng Kencana dalam kawalan yang sangat ketat memasuki rumahnya.

====================

“Adi Reksa, gimana? Ada hasilnya tidak?” Panglima Jayeng Kencana menyambut Nelayan Sakti adiknya dan bahkan memberondongnya dengan pertanyaan-pertanyaan sebelum adiknya itu duduk. Hal mana kontan disambut dengan senyum dikulum. Karena Jayeng Reksa atau nelayan Sakti atau juga Bintang Sakti Membara dengan setengah menggoda segera menjawab pertanyaan kakaknya yang nampak sangat penasaran itu:

“Sabarlah kakang, baru juga engkau masuk. Mengapa kakang bisa begitu keburu nafsu untuk mengetahui masalah tersebut? Ingat, jangan kehilangan keseimbangan dalam keadaan genting”.

“Baik, baik, engkau duduklah dulu adi. Ada baiknya engkau menyegarkan diri dengan air putih ini, biar menyegarkan badan” Panglima Jayeng Kencana mencoba menenangkan diri, sambil kemudian menyodorkan minuman buat menyegarkan badan.

“Kakang, Kuil yang menjadi tempat pertemuan dan bersembunyinya orang asing itu sudah kosong melompong. Nampaknya mereka tergesa-gesa meninggalkan kuil tersebut, tetapi bisa dipastikan, mereka masih berada di pusat ibu kota Sriwijaya. Tentu menyembunyikan diri mereka. Tetapi, dengan diketahuinya jejak-jejak persekongkolan mereka, nampaknya saat-saat menentukan akan segera tiba”

“Kosong katamu? Artinya mereka sudah meninggalkan kuil itu, dan entah dimana kita mesti mencari mereka”

“Tidak usah dicari, mereka akan datang sendiri suatu saat. Karena memang demikian nampaknya yang akan terjadi” Jayeng Reksa berkata kalem, tetapi nampak sangat yakin dalam ucapannya. Seakan

dia tidak sadar, bahwa ucapannya itu dengan telak menikam kejantung kakaknya yang memang sangat patriotik itu.

“Bagaimana dengan usaha Penasehat Raja kakang? Adakah kemajuan dari upayanya tersebut? Nelayan Sakti balik bertanya

“Dalam hal menegaskan dan meyakinkan Raja atas upaya rahasia melemahkan Sriwijaya, seperti biasanya tidaklah menghasilkan apa-apa. Tidak bisa dicegah, Kerajaan ini seperti sedang meruntuhkan dirinya sendiri. Disiplin para pembesar menurun drastis, bahkan angkatan perang, kecuali Armada Laut Sriwijaya semakin merosot kekuatannya”

“Semua berjalan sebagaimana memang sudah tertulis dan sudah ditakdirkan kakang. Kita wajib menegakkan yang benar, tetapi sebesar apapun upaya kita, tidak akan merubah apa yang telah tertulis itu”

“Benar Adi, tetapi sebagai Pembesar Kerajaan ini, betapapun hatiku tidak akan rela bila kebesaran itu runtuh begitu saja. Runtuh di tangan seorang Raja yang begitu mengasihi sesamanya, mengamalkan agamanya, tetapi tidak bermanfaat baik bagi pelaksanaan pemerintahan. Sungguh menyedihkan”

“Tidak ada yang terlampau menyedihkan jika semua dihadapi dengan lapang dada kakang”

“Benar, tetapi dadaku masih belum selapang dadamu adi. Dan karena itu, belum sanggup menerima kenyataan itu dengan sangat lapang”

Keduanya terdiam. Sorot mata Jayeng Reksa jelas-jelas menyorotkan sinar kagum dan kasih atas apa yang sedang bergejolak

didada kakaknya. Kakaknya yang perkasa, sangat ahli di bidangnya, sangat mencintai Tanah Airnya, dan yang menyaksikan sendiri dengan mata kepalanya, betapa kebesaran kerajaan yang dicintainya sedang merosot dan menuju kehancuran. Padahal, kakaknya itu berperan besar dalam menyokong kebesaran kerajaan itu selama puluhan tahun terakhir ini.

“Kakang, adakah berita mengenai Pendeta dari Jawadwipa itu”? Pertanyaan Jayeng Reksa menyentakkan kembali Panglima Jayeng kencana dari lamunan dan pikiran-pikirannya sendiri, dan perlahan kemudian Panglima Perkasa itu mendekati meja dan mengambil tempat duduk. Meraih minuman dan meneguknya buat menyegarkan badan dan pikirannya, dan beberapa saat kemudian dia berkata:

“Menurut Penasehat Raja, diperkirakan Pendeta Jawadwipa tersebut akan memasuki kota raja pada dua bulan mendatang. Konon, masih ada beberapa hal yang perlu diselesaikan pendeta itu di Jawadwipa baru kemudian memutuskan datang ke Sriwijaya”

“Hm, dan apakah ada kabarnya dimana gerangan ”Sepasang Ular Dewa” tersebut berada? Jangan-jangan mereka bersembunyi di istana para tamu Kerajaan”?

“Sulit dipastikan adi. Akses atau pintu masuk ke tempat para tamu itu sangatlah terbatas. Dan Penasehat yang pernah mencoba sekali memasukinya, juga tidak sanggup menemukan apa-apa, termasuk tidak menemukan jejak sedikitpun dari kedua orang tersebut”

“Jika begitu kakang, mari kita bicarakan beberapa hal yang sangat penting untuk persiapan ke depan” Jayeng Reksa nampak berujar

dengan mimik yang serius dan memaksa kakaknya Panglima Jayeng Kencana untuk ikut menjadi lebih serius lagi.

“Adi, apa maksudmu”?

“Kakang, rasa was-wasku pasti berkaitan erat dengan gerombolan yang sempat bersembunyi di kuil itu. Dan jika benar dugaanku, maka dalam waktu lebih kurang 6 bulan kedepan, sesuatu yang besar akan segera terjadi. Untuk menghadapi hal tersebut, maka tidak ada cara lain, meski sudah tercatat, tetapi aku tetap harus mempersiapkan anak-anak kita menyongsong masa-masa yang sulit tersebut”

“Apakah berarti bahwa akibat dari penyusupan itu akan terjadi kurang 6 bulan lagi adi”?

“Perasaan dan firasatku memang demikian kakang”

“Dan apakah artinya kita kemungkinan akan mengalami kembali serangan dari Kerajaan Cola?

“Masalah itu kakang lebih mengerti. Aku kurang paham soal politik, tetapi boleh jadi memang demikian”

“Adi, apa saranmu buat kakangmu ini menghadapi persoalan berat ini”?

“Kakang, untuk persiapan Kakang dan pasukan Sriwijaya, tiada yang bisa kusarankan. Tetapi, ada baiknya kakang melatih barisan khusus di daratan. Entah mengapa firasatku menyatakan bahwa jika benar bencana itu datang, maka bahaya terbesar justru di daratan. Pasukan kakang masih teramat kuat di Lautan, tetapi kekuatan Sriwijaya di daratan menjadi teramat lemah dari hari kehari”

“Justru itu masalahnya Adi …. Waktu 6 bulan tidak memadai untuk mempersiapkan pasukan darat yang kuat setelah moral dan disiplin mereka merosot sangat tajam”

“Kakang masih punya waktu mempersiapkannya, tetapi segalanya memang sudah atau harus terjadi. Kerjakanlah apa yang menjadi bagian kakang, itu yang terutama. Jika ada diluar bagian kakang yang bisa terbantu, syukur. Jika tidak, maka tugas kakang sudah dilakukan secara paripurna, dan itu tetap harus disyukuri. Tidak banyak yang bisa mencapai sukses dan pahala sebesar yang kakang lepaskan. Tidak banyak orang yang merasa nelangsa bila Negaranya merosot, dan tidak banyak yang mau mengorbankan pikiran, perasaan dan kebesarannya bagi kebesaran Negaranya. Kakang telah menunjukkan diri sebagai salah satu dari sedikit orang itu. Tidak berlebihan bila aku merasa sangat bangga memiliki kakang sebagai kakak.

“Adi, engkau harus tahu kalau akupun bangga memilikimu sebagai adikku. Pilihan hidupmu, prinsip hidupmu dan rasa kasihmu terhadap sesama manusia dan alam kehidupan, meskipun sulit kupahami, tapi sangat kuhormati” Panglima Jayeng Kencana bangkit dan memeluk adiknya …… sementara Jayeng Reksa sang adik, meski merasa aneh karena kakaknya berlaku luar biasa, tetapi sangat memahaminya. Setelah beberapa saat, Jayeng Reksa kemudian berkata:

“Kakang, waktu kita tidak banyak lagi. Aku akan memulai memperdalam kemampuan anak-anakmu dan juga Suro Bhakti. Sebaiknya kakang melatih pasukan khusus atau pasukan istimewa dari lingkungan kakang, tetapi dengan kemampuan bergerak di darat yang bisa diandalkan. Mudah2an bermanfaat. Waktu yang tersisa manfaatkan sebaik-baiknya. Waktu akan bergerak sangat cepat

bagimu kakang, hati-hatilah. Pada saatnya, aku akan datang khusus buat Nenggala, putra bungsumu”

“Baiklah adi, meskipun tidak engkau katakan, tetapi apa yang akan terjadi bagi keluargaku sudah bisa kurasakan. Debaran-debaran di jantungku seakan memberitahu sesuatu bagiku. Dan jika menurutmu memang garisannya sudah demikian, biarlah aku berlalu dengan tidak merusak kehormatanku. Dan adalah tugasmu adi, untuk menjaga kelanjutan keluarga kita”

“Pasti akan kulakukan kakang. Bahkan bintang putra bungsumu akan melebihi kita berdua. Jangan engkau khawatir berlebihan buat mereka. Apalagi, kita masing-masing memang harus meniti kehidupan kita sesuai dengan jalan kita sendiri” Jayeng Reksa atau nelayan Aneh, sebetulnya merasa sedih, tetapi sudah lama dia berkemampuan menindas perasaan apapun didalam hatinya. Karena itu, tampilan wajahnya tetap sejuk dan tenang. Tetapi, Jayeng Kencana, Sang Panglima Perkasa, tahu belaka siapa adiknya dan bagaimana kemampuannya. Meski hanya selintas, dia tahu bahwa adiknya sedang terharu dan prihatin atas apa yang akan dilalui dirinya kedepan. Tapi, sang Panglima sadar, bahwa itulah jalan yang harus dilaluinya. Dan dia ingin melaluinya secara jantan, karena itulah garisan hidupnya.

“Kakang, perkenankan aku pergi. Anak-anakmu, Pandu dan Ratna akan menghabiskan jauh lebih banyak waktu denganku hari-hari kedepan, demikian juga muridku. Tetapi khusus untuk Suro Bhakti, sewaktu-waktu engkau bisa memanggilnya untuk membantumu melatih pasukan daratmu. Jaga dirimu baik-baik kakang” setelah mengucapkan kalimat itu, Jayeng Reksa bangkit dari duduknya, menjura kearah kakaknya dan kemudian berlalu.

Dan tertinggal keheningan di ruangan itu. Tapi, Panglima Perkasa itu, bukannya sedih dan takut, tetapi malah bersemangat besar untuk segera melakukan apa yang disarankan adiknya. Saran yang dirasakannya sangat masuk diakal, dan diharapkannya mampu merubah takdir itu. Itulah sebabnya Panglima Jayeng Kencana kemudian memiliki kesibukannya sendiri pada hari-hari kemudian.

Kesibukan yang hanya diberitahukannya kepada kedua sahabat dekatnya, Menteri Kebudayaan dan Penasehat Raja, selain tentu diketahui adiknya yang menyarankannya mengerjakan hal tersebut.

***

Hari-hari setelahnya, Sriwijaya mengalami masa yang penuh ketenangan. Tidak ada satupun yang mengusiknya, hal yang membuat apa yang dikhawatirkan oleh Panglima Jayeng Kencana, Menteri Kebudayaan dan Penasehat Raja seperti tidak terbukti. Karena itu, kegalauan mereka, kemudian dianggap mengusik sang Raja karena memang tidak menunjukkan adanya bukti yang bisa dipercaya.

Bahkan ketika pasukan Panglima Jayeng Kencana menggerebek Kuil yang dimaksud, kuil tersebut sudah kosong, dan tak ada jejak jeka kehidupan disana. Tokoh-tokoh yang ditemukan di sana, bahkan kemudian menghilang dan tidak pernah kelihatan lagi. Bhiksu-bhiksu Budha asal India yang sebelumnya memang banyak di Sriwijaya, juga secara perlahan menghilang atau jumlahnya menyusut.

Fakta yang bagi ketiga sekawan itu mencurigakan, tidak berarti apa-apa bagi Raja. Bahkan sebagai akbatnya, akses Penasehat Raja menjadi semakin menyempit dan mengecil. Dia bisa bertemu sang Raja apabila memang Raja menginginkan untuk bertemu dan

berdiskusi sesuatu. Tetapi, beberapa minggu terakhir, panggilan bertemu Raja sama sekali tidak ada. Dan sang penasehat maklum, bahwa kondisi ini adalah akibat dari kejadian beberapa waktu lalu, ketika sarannya tidak diperhatikan dan tidak menunjukkan adanya hal yang patut dicurigai bagi Raja.

Waktu terus berlalu, sebulan lebih telah lewat. Raja semakin tenggelam dalam perenungan dan pendalaman keagamaannya. Pemerintahan keseharian, lebih banyak diserahkan kepada para Menteri dengan pengaruh utama ada pada Patih keajaan Sriwijaya. Tetapi, dengan disiplin dan moral sebagian pejabat yang sudah menurun jauh, sisa-sisa kebesaran Sriwijaya sajalah yang masih tertinggal.

Karena meskipun sang Patih cukup cakap, tetapi, peradilan bagi pembesar, tetap berada di tangan Raja, termasuk pergantian para pembesar di lingkungan Istana. Akibatnya, amat sulit jalan bagi Patih untuk menegakkan kewibawaannya. Bukan karena Rajanya bodoh, tetapi karena sang Raja terlampau baik, tidak tega untuk menurunkan tangan keras, dan selalu beranggapan bahwa siapa yang bersalah patut diberi kesempatan lain untuk berubah.

Padahal, sehari-hari Raja lebih tekun bersemadhi, atau jika tidak bertukar pikiran dengan pemuka agama ataupun Bhiksu, Pendeta dari manapun yang diundangnya untuk bertukar pikiran. Dan dalam 3 bulan terakhir, seorang Rahib atau Padri dari India, selalu terlihat bercakap-cakap dan bersamadhi bersama sang Raja.

Lebih sering mereka bercakap berdua, dan sesekali didampingi Penasehat Raja atau beberapa petinggi agama Kerajaan Sriwijaya. Rahib atau Padri itu, memang memiliki pengalaman yang luas dan

pandangan keagamaan yang sangat dalam. Hal yang membuat sang Raja begitu betah berlama lama bertukar pikiran dengannya. Karena banyak hal yang bisa ditanyakannya, sementara Padri itu bisa memberi beberapa contoh amalan yang ditemukannya di banyak tempat yang berbeda-beda.

Sementara itu, di tempat lain selama sebulan lebih, Nelayan Sakti Sungai Musi, memiliki kesibukan lain. Dia menggembleng murid-muridnya secara serius, bahkan pernah selama 3 hari-3 malam, Panji dan Ratna melakukan Samadhi atau tapa.

Mereka mulai memasuki pengenalan atas kedalaman ilmu-ilmu mereka, bahkan beberapa ilmu andalannya seperti: Ajian Lembu Sekilan, Ajian Brajamusti dan Ajian Lebur Sakheti mulai coba-coba diturunkannya kepada keduanya. Hal yang sama, juga dilakukannya untuk Suro Bhakti, yang beberapa minggu terakhir disuruhnya untuk melakukan tapa pendalaman ilmu-ilmu yang telah dikuasainya.

Berbeda dengan kedua adik seperguruannya, Suro Bhakti telah memiliki kedalaman yang memadai, karena itu, dia lebih cepat menguasai dan menyempurnakan ilmu-ilmu pamungkas gurunya. Kecuali Ilmu Gelap Ngampar yang memang sangat dahsyat, dan belum mampu dikuasainya karena membutuhkan pengerahan kekuatan bathin yang dalam. Selama beberapa minggu terakhir, Suro Bhakti mengalami peningkatan kemampuan yang luar biasa, meskipun sesekali dia membagi waktu melatih barisan khusus Panglima Jayeng Kencana.

Pagi itu, nampak Nelayan Sakti Sungai Musi sedang bercakap-cakap dengan muridnya Suro Bhakti:

“Bagaimana nak, apakah engkau mengalami kemajuan dalam penggunaan Ajian Inti Lebur Sakheti”?

“Setelah melakukan tapa selama 3 hari beberapa minggu kemaren, aku sudah bisa melakukannya lebih baik guru. Apalagi setelah menyelesaikan tapa geni yang terakhir”

“Sejauh mana kini yang bisa engkau capai”?

“Sampai saat ini sudah sanggup meleburkan batu menjadi serpihan debu guru”

“Hm, betapapun kemajuanmu sudah cukup jauh. Engkau masih butuh sekali lagi mendalaminya melalui tapa geni, baru bisa mencapai kematangan penggunaan ilmu itu. Sayang masih sulit bagimu menanjak kepenguasaan Gelap Ngampar, kekuatan batinmu kurang memadai”

“Tidak apa-apa guru, lagipula dengan memadukannya bersama Lembu Sekilan, nampaknya bisa sangat bermanfaat”

“Benar nak, tetapi menghadapi tokoh selihay Sepasang Ular Dewa, masih belum cukup memadai. Mungkin untuk bertahan lama sudah memungkinkan dan juga untuk mengimbangi mereka, tetapi untuk mengalahkan mereka, engkau butuh penguatan dan pendalaman yang lebih”

“Masih cukup waktu untuk itu guru, saat inipun aku sudah merasa cukup memadai dengan kemajuanku”

“Hm, dalam hal ilmu kesaktian, jangan engkau merasa puas, dan jangan juga merasa tekebur. Tidak ada batas tingginya ilmu kesaktian seseorang. Melatih diri untuk mencapai kedekatan dan kemenyatuan

dengan alam, akan membuatmu memahami lebih banyak hal. Nah, sambil menunggu adik-adikmu yang akan selesai beberapa jam, rasanya perlu engkau meningkatkan kekuatanmu. Waktu kita sangat terbatas, sementara engkau perlu melakukan banyak hal, bahkan dalam waktu beberapa hari kedepan kita akan sangat kerepotan”

“Maksud guru”?

“Untuk saat ini, jangan banyak bertanya. Engkau akan mengerti dengan sendirinya” Nelayan Sakti kemudian berjalan masuk ke Gua yang biasa digunakan murid-muridnya berlatih memperkuat diri dan batin, tidak begitu jauh dari gubuk tempat tinggalnya. Dan beberapa saat kemudian, orang tua itu sudah kembali menemui muridnya, sambil menyerahkan sebuah benda sebesar kelereng berwarna ungu, dia berkata:

“Kakek gurumu menemukan sebuah pohon berbuah aneh, tetapi berkhasiat luar biasa di sebuah pulau kosong jauh kearah timur Jawadwipa. Buah tersebut kemudian diolahnya, dan sangat bermanfaat untuk menggodok kekuatan tenaga dalam seseorang. Engkau sudah dalam tahap untuk bisa memakan buah ini, berbeda dengan adik-adikmu yang masih butuh beberapa waktu lagi. Telanlah sekarang ini dan setelahnya, pergilah ke air terjun di balik bukit ini. Pusatkan pikiranmu dan olahlah tenaga khasiat buah ini, tetapi jangan sekali-kali membuang atau mengeluarkan tenaga untuk mengujinya sampai engkau kembali ketempat ini” “Baik guru” Suro Bhakti kemudian menelan buah aneh sebesar biji kelereng itu, tetapi dia tidak merasakan apa-apapun sebagai efeknya.

“Ada yang ingin engkau tanyakan nak”?

“Tidak guru”

“Baiklah, lakukan sesuai yang kusampaikan. Engkau butuh paling banyak waktu 3 jam untuk melatihnya, dan kemudian kembali kemari untuk mencobanya sesuai petunjukku. Pergilah”

“Baik guru” Suro Bhakti kemudian berdiri dan menjura kepada gurunya untuk kemudian berlalu ketempat yang ditunjukkan gurunya.

Sepeninggal muridnya, Nelayan Sakti nampak terpekur. Tapi, jelas, diwajahnya beberapa hal sedang coba diuraikannya. Dan beberapa saat kemudian dia bergumam: “Hm, nampaknya semakin dekat”. Tetapi beberapa saat kemudian dia tersenyum: “Betapapun waktunya masih cukup”.

Begitu seterusnya, hingga tak terasa beberapa jam sudah berlalu. Anehnya, meski berseliweran beberapa ide dan pikiran di benak Nelayan Sakti, tetapi wajahnya tetap seperti sedia kala, tenang dan tidak mudah menyiratkan emosi dalam dadanya. Karena memang, sudah cukup lama dan sudah matang Nelayan Sakti mengolah dirinya untuk bergaul akrab dengan alam dan menyatu dengannya. Dan pada akhirnya, lamunannya dibuyarkan oleh oleh kedatangan dua orang, dari gua dibelakangnya:

“Guru, kami sudah selesai” suara dari seorang anak muda dan disusul dengan berjalan keluarnya sepasang muda-mudi dan kemudian bersila dihadapan Nelayan Sakti.

“Bagaimana anak-anak, apakah kalian sudah selesai dengan tapa geni yang kedua ini”?

“Iya guru, tapi tubuh kami lemas sekali rasanya” suara si Gadis, yang bukan lain Ratna Sari terdengar, seperti biasa, dia memang lebih manja ketimbang kakaknya, Pandji Winata yang sangat hormat ke pamannya itu. Tapi, keduanya memang tidak bisa menyembuhkan kelelahan fisik yang sangat meletihkan mereka itu. Wajah mereka tidak bisa menyembunyikan perasaan letih dan lapar tesebut.

“Itu tandanya bagus, karena kalian berhasil. Nah, kalian pergilah ke gubuk, dan ada dua mangkok sup berisi obat disana. Habiskan, dan kemudian kembali ke Goa, pusatkan pikiran dan selama sejam, endapkan yang kalian peroleh. Tanggung, tubuh kalian akan segar kembali seperti sedia kala. Nah, anak-anak, lakukan segera”

Dan, kembali untuk beberapa lama Kakek itu tenggelam dalam kemenyatuannya dengan semesta. Tetapi, tidak berapa lama, kembali prosesnya itu terinterupsi oleh seorang anak muda yang lain. Suro Bhakti, kini anak muda itu yang sudah menyelesaikan latihannya, dan kini duduk bersimpuh depan gurunya dan tidak berani mengusik gurunya itu.

Dan Nelayan Sakti yang sangat mengenal anak ini, menjadi kagum dan terharu. Dia tahu anak itu sedang sangat tersiksa. Tapi muridnya atau anak angkatnya ini memang sangat memperhatikannya, malah melebihi kakaknya. Mungkin karena pengaruh namanya, sehingga anak ini sangat berbakti bukan hanya kepadanya, tetapi juga kepada panglimanya.

“Bagaimana anakku”?

“Guru, badanku bagaikan balon yang sewaktu-waktu siap meletus” Nelayan Sakti nampak tersenyum sejenak dan berkata:

“Bagus anakku, nah dengarkanlah apa yang harus engkau lakukan. Lemaskan seluruh ototmu, jangan melawan apapun yang diinginkan dan dilakukan oleh hawa itu. Pikiranmu upayakan untuk menunggangi hawa itu, tapi yakinlah, bahwa sama seperti semesta ini, tubuhmu juga sanggup menampung hawa sebesar apapun. Ingat, usahakan untuk mampu menunggangi tapi jangan dulu berusaha mengendalikan hawa itu. Ikuti kemana dia mau, ikuti apa yang mau dilakukannya dan jangan melawannya. Nach, mulailah, pusatkan pikiranmu dan perlahan engkau lemaskan otot-otomu ….. baik, lakukan ….. lakukan anakku”

Suara Nelayan Sakti terdengar menjadi aneh. Tetapi sangat membantu Suro Bhakti untuk mencapai tahap yang disampaikan gurunya. Mulanya sangat sulit baginya untuk melemaskan otot dan membiarkan tubuhnya seperti semakin menggelembung. Bahkan tanpa disadarinya, beberapa kali tubuhnya terpental keudara, bahkan sesekali membentur pohon besar dibelakangnya.

Tetapi tuntunan suara gurunya membuat dia tetap tenang, bahkan pikirannya dan hatinya perlahan mengikuti mau dan keinginan hawa itu, merembes ke kaki, merembes ke tangan, mengitari pusar, terus kekepala, kembali ke badan dan tanpa disadarinya, menembus semua halangan-halangan baginya untuk menguasai tenaga dahsyat yang merasuknya itu.

Pada tahapan ini, kembali telinganya samar-samar mendengar bisikkan, “arahkan tenaga itu kepusarmu dan sembunyikan dia disana perlahan-lahan”. Tanpa membantah Suro Bhakti melakukannya, karena sekarang melalui hati dan pikirannya, dia mampu mengarahkan kemana tenaga itu pergi. Ada beberapa lama waktunya sampai kemudian Suro Bhakti sadar, dan dihadapannya bersila 3 orang: Gurunya dan kedua adik perguruannya.

Pendeta Sakti Jawadwipa (3)

“Bagaimana Suro Bhakti”? Apakah engkau sudah merasa jauh lebih baik”? terdengar suara Nelayan Sakti bertanya kepadanya persis setelah dia membuka matanya. Sejenak dia terkejut mendapati kedua adiknya juga sudah duduk bersila berendengan dengan gurunya.

“Sudah guru, badanku jauh lebih segar sekarang ini. Bahkan jauh lebih segar dibandingkan beberapa waktu lalu sebelum guru menyuruhku melakukan Samadhi dibalik air terjun itu.

“Kalau begitu, coba engkau lakukan kembali, engkau lontarkan jurus pamungkas Ajian Inti Lebur Sakheti”

“Baik guru”

“Aku akan melemparkan batu ini, dan diudara engkau salurkan kekuatanmu dan memukul batu ini saat melayang”

“Baik guru, aku siap”

Dan sang Guru kemudian mejemput sebuah batu yang cukup besar, 2 kali kepala kerbau dan melontarkannya keudara. Pada saat batu itu melayang di udara, Suro Bhakti segera bersiap, di bangkitkannya tenaga yang tadi disimpannya dan mengikuti alur gerakan memukul dan membangkitkan tenaga dari Ajian Inti Lebur Sakheti.

Dengan sigap dia memukul kearah batu itu, dan tiba-tiba terdengar suara: “wussssss”, ketika saluran tenaganya membentur batu itu. Dan anehnya, begitu batu itu terbentur pukulan anak muda itu, batu itu seperti lenyap seketika. Tidak ada hamburan debu, yang ada hanya bintik halus yang bahkan lebih halus dari pasir. Dan itupun hanya

nampak seperti halimun berwarna cokelat, perlahan tertiup angin dan kemudian menghilang.

“Guru, me …. Mengapa batu itu hilang”? Ratna Sari bertanya bingung

“Iya guru, apakah yang terjadi?” Suro Bhakti sendiri kebingungan dan memeriksa tangannya, ragu apakah dia kehilangan kehebatannya ketika melakukan ilmu pukulan pamungkas gurunya barusan.

“Tidak Ratna, dan engkau Suro Bhakti. Kekuatanmu sudah meningkat luar biasa, hampir sulit kupercaya. Ach, eyang guru memang luar biasa. Engkau sudah berhasil menyempurnakan kekuatan Ajian itu anakku. Bahkan engkau sudah hampir menyusulku dalam penggunaan ilmu tersebut. Aku tidak perlu takut lagi jika engkau bertemu dengan Sepasang Ular Dewa itu”

“Ach, benarkah memang sehebat itu guru”? Pandji ikut bertanya

“Benar anakku, engkau dan Ratna sebentar lagi juga akan mencapai tahapan itu. Setidaknya dalam 1-2 bulan mendatang jika kalian tekun seperti hari-hari belakangan ini”

“Ach, guru, sukar untuk dipercaya” Suro Bhakti masih takjub dengan hasil yang dicapainya. Sungguh sulit dipercaya.

“Sudahlah anakku, cobalah engkau berlatih dengan menggunakan Brajamusti dan Lebur Sakheti, cobalah engkau meresapinya lagi”

“Baik Guru”

Dan Suro Bhakti kemudian meloncat ke tanah yang rada lapang, tempat mereka biasa berlatih dan mulai bersilat dengan ilmu-ilmu khas

perguruannya. Banyak ilmu yang telah dikuasainya seperti Ajian Kidang Kuning yang membuatnya sanggup bergerak lincah dan sangat pesat, juga Ajian lain seperti Senggoro Macan.

Tetapi yang paling berbahaya adalah ilmu Brajamusti dan Inti Lebur Sakheti yang memang sangat merusak, sangat berbahaya bila diterapkan kepada lawan sebangsa manusia. Bahkan, lawan yang memiliki kekuatan gaibpun akan bisa terkena oleh alur pukulan yang sangat berbahaya ini.

Itulah sebabnya ilmu ini menjadi ilmu pamungkas Nelayan Sakti besama ilmu Brajamusti, karena sanggup mengurai sebuah benda menjadi bintik kecil, atau bahkan hilang dalam tingkatnya yang sudah sempurna. Nampak Ratna Sari melonjak-lonjak bangga dan girnag melihat kemajuannya kakak gurunya itu, sementara Pandji juga tersenyum-senyum kagum. Nelayan Sakti juga nampak tersenyum melihat kemajuan muridnya. Beberapa saat kemudian dia memanggil muridnya itu:

“Suro, cukuplah. Bagaimana, apa yang engkau rasakan”?

“Luar biasa guru, semua ilmu lainnya bisa dilakukan jauh lebih muda dan jauh lebih kuat rasanya” jawab Suro Bhakti setelah menghentikan latihannya.

“Syukurlah jika demikian. Kedua adikmu butuh waktu sebulan lebih untuk mencapai tingkatmu sekarang ini. Untuk selanjutnya, engkau perlu banyak bersamadhi guna meningkatkan kekuatan batinmu, sebab dengan cara itulah kesempurnaan ilmu yang engkau punya sekarang bisa dicapai”

“Baik, terima kasih ata segala budi dan kebaikan guru”

“Hm, masih juga engkau menyinggung hal itu anakku”

“Iya, tapi tanpa bantuan guru, mana mungkin aku bisa mencapai tingkat seperti yang sekarang ini guru”

“Tapi ketekunan dan keuletanmu juga berpengaruh banyak. Setidaknya, untuk melawan kedua manusia ular itu, engkau sudah bisa mengimbangi. Mereka masih menang matang, tetapi engkau menang usia. Ingat hal itu anakku”

“Hahahahahaha, jadi anak ingusan itu dipersiapkan untuk melawan kami? Engkau kelewat memandang kami rendah” tiba-tiba suara ketawa orang memecahkan kesunyian. Pada saat bersamaan, Nelayan Sakti berbisik kepada murid-muridnya:

“Waktu berlatih sebenarnya tiba. Ingat, Pandu dan Ratna, sedapat mungkin kalian maju berdua, dan jangan jauh-jauh dariku”

Dan setelah itu, dengan suara halus tetapi menggema jauh, Nelayan Sakti berkata menyambut pendatang itu:

“Bahkan dari jauh haripun aku tahu, kalian tidak akan pergi cepat-cepat meninggalkan bumi Sriwijaya. Sayang, aku tidak berminat mengusik istana persembunyian kalian. Marilah, bila kalian berminat untuk bermain-main”

“Bintang Sakti masih tetap membara ….. hahahaha, masih seperti dahulu. Tapi, kali ini kami berkehendak mengakhiri hidupmu agar tujuan kami berhasil” suara si wanita, Gayatri terdengar. Meski merdu, tetapi tajam menusuk dan menyakitkan. Karena suaranya bukan sembarang suara. Dan tidak berapa lama kemudian, 6 orang sudah berhadap-hadapan. Dan tidak lama kemudian menyusul datang 3

orang lagi, dan yang datang terakhir inilah yang dulu mengejar-ngejar Suro Pati sampai ditemukan gurunya.

“Hm, nampaknya persiapan kalian cukup matang Sepasang Dewa Ular. Tetapi, perhitungan dan firasatku menyatakan kalian akan gagal lagi. Meskipun jika tidak salah, masih ada seorang lagi yang bahkan lebih lihay dari kalian yang masih belum menunjukkan dirinya. Apakah benar demikian? Dan jika benar, siapakah gerangan ornag itu”?

“Hahahaha, memang sulit mengelabui Bintang Sakti Membara. Tetapi dia akan muncul pada saat yang tepat. Pada saat yang sangat diperlukan. Mari Bintang Sakti, mudah-mudahan kita sedang dalam keadaan yang lebih baik melanjutkan pertempuran kita” sambil berkata demikian, Mahendra sudah menerjang Nelayan Sakti atau yang mereka kenal sebagai Bintang Sakti Membara. Sementara itu pada saat bersamaan, Suro Bhakti juga sudah menerima terjangan Gayatri, si Ular Sakti Betina.

Sedangkan Pandji dan Ratna menghadapi 3 orang murid-murid dari Sepasang Ular Sakti itu. Pada akhirnya pertarunganpun mewarnai kesenyapan di tepi Sungai Musi, memecahkan kesunyiannya dan ditingkah oleh jeritan, teriakan maupun benturan-benturan berat yang terjadi antara mereka yang sedang saling adu kepandaian.

Dari 3 arena pertempuran pada saat itu, adalah pertempuran antara Pandji dan Ratna melawan ketiga murid Sepasang Ular Sakti yang nampaknya menunjukkan keunggulan di pihak Nelayan Sakti. Sebaliknya, meskipun alot dan mampu mengimbangi, jelas bagi Suro Bhakti bahwa dia kalah matang melawan Gayatri.

Tetapi, tidaklah muda bagi Gayatri untuk merobohkan anak muda yang baru mencapai kemajuan besar dalam ilmu kepandaiannya itu. Meskipun mendesak, tetapi Gayatri akan kesulitan untuk memaksakan kemenangan atas lawan mudanya itu. Apalagi, dalam hal siasat, Suro Bhakti yang matang dalam pertempuran, terkesan nampak mampu menilai keadaannya dan menerapkan taktik pertempuran yang akan makan waktu panjang.

Melihat keadaan ini, Nelayan Sakti menjadi sedikit lebih tenang. Dia sendiri memiliki keyakinan akan bisa memenangkan pertempurannya melawan Mahendra, yang meskipun berkepandaian tinggi, tetapi masih belum mampu mengalahkannya. Pertempuran pertempuran mereka dulu, memang tidak memiliki kepastian siapa pemenang, lebih karena memang Bintang Sakti Membara, mengerti betul keinginan gurunya.

Tidak menonjolkan kepandaian dan tidak emraih kemenangan untuk keagungan diri sendiri, apalagi bila akibatnya menghadirkan permusuhan besar.

Tetapi, ada beberapa hal yang mendorong Bintang Sakti Membara atau Jayeng Reksa ini untuk bertempur dengan keras. Mungkin, kematian anak angkat atau muridnya Suro Dipo hanya kecil pengaruhnya. Tetapi, pertama, kesadaran bahwa ada sesuatu yang besar, bencana besar yang sedang mengancam kakaknya dan bumi Sriwijaya, dan orang-orang ini ambil bagian dalam ancaman itu.

Dan, kedua, ada seseorang yang lebih lihay lagi yang masih bersembunyi disekitar tempat itu, dan dari tarikan nafasnya, dia sadar, bahwa orang itu, bahkan mungkin masih melebihinya dalam kesaktian. Karena itu, untuk berkonsentrasi menghadapi segala kemungkinan,

Bintang Sakti Membara akhirnya mengluarkan kemampuan dan kebisaannya untuk mendesak Mahendra habis-habisan.

Untuk itu, Bintang Sakti Membara menyerang dan bertahan dengan menggunakan salah satu ilmu ampuhnya, yakni Brajamusti dan mengenakan kekuatan kebalnya Lembu Sekilan untuk pertahanannya. Dan akibatnya, menghadapi serangan-serangan berbahaya ini, Mahendra jatuh dibawah angin. Dan berbeda dengan adiknya Gayatri, Mahendra mengalami keadaan yang sangat berbahaya karena memang Bintang Sakti Membara mencecar untuk menundukkannya.

Meskipun telah mengeluarkan kemampuan terbaiknya, bahkan dilambari dengan ilmu sihirnya, tetapi semua mental menghadapi tembok Brajamusti yang juga sangat berguna menghadapi ilmu-ilmu sihir dan ilmu hitam lainnya.

Tengah Bintang Sakti Membara mendesak Mahendra sampai keteteran dan sebentar lagi jatuh, tiba-tiba terdengar suara mujijat di udara. Dan bersamaan dengan itu, bergumpal-gumpal awan hitam pekat menaungi arena pertempuran. Kondisi tersebut membuat Bintang Sakti tercekat.

Dia memiliki kemampuan melawan sihir tingkat tinggi seperti itu, tetapi melawannya dalam kondisinya saat ini, sama dnegan bunuh diri, sebab dia akan menghadapi ancaman mematikan dari Mahendra. Apalagi dia melihat ketiga muridnya, juga terganggu oleh awan hitam pekat yang mengancam akan menyerang dan mengurung mereka ditengah kegelapan yang pekat itu. Melihat keadaan berbahaya itu, tanpa memikirkan keselamatan dirinya, tiba-tiba Bintang Sakti Membara menyiapkan lontaran kekuatan Gelap Ngampar.

Tandingan dari awan pekat yang sedang turun menyerang mereka. Tetapi, sebelum dia melakukannya, tiba-tiba terdengar alunan lembut yang kemudian menciptakan awan dan kabut putih tipis, perlahan membentur awan pekat tersebut hingga berbaur. Dan perlahan-lahan, pertandingan antar suara terjadi, sementara mereka yang bertempur tidak menampakkan diri.

Pertempuran antara Mahendra dan Bintang Sakti Membara terhenti setelah Mahendra yang menyerang ketika ada ketika yang tepat, saat Bintang Sakti Membara menyiapkan Gelap Ngampar, membentur tameng kekuatan luar biasa dan melontarkannya kebelakang hingga terjerembab.

Apa gerangan yang terjadi? Pada saat Bintang Sakti Membara mulai menyiapkan ilmu saktinya Ajian Gelap Ngampar, terdengar bisikan: “awan pekat itu bagianku, selesaikan pekerjaanmu”. Dan saat yang singkat itu memberi keyakinan Bintang Sakti, bahwa pertolongan bagi pihaknya sudah tesedia.

Karena itu, kumpulan hawa mujijat dalam tubuhnya, justru dikerahkan menjadi tameng mujijat menyambut pukulan maut dari Mahendra. Dan akibatnya, Mahendra terpelanting kebelakang dan masih untung dia tidak terluka parah. Terpelantingnya Mahendra, mengakhiri pertempuran di semua arena. Karena Pandji dan Ratna, juga kemudian berhasil melontarkan ketiga lawan mereka, bahkan salah seorang dari mereka terluka sangat berat akibat serempetan Ajian Inti Lebur Sakheti yang dilepaskan Ratna Sari.

Sedangkan di arena lainnya, meski terdorong lebih jauh akibat benturan terakhir, tetapi Suro Bhakti sama sekali tidaklah terluka. Hal ini boleh jadi karena Suro Bhakti mengatur betul kekuatannya dan daya

tahannya melawan nenek yang teramat sakti itu. Perkelahian merekapun sontak terhenti.

Dan kini, selain mendengar alunan suara-suara mujijat yang saling bersaing diudara, mereka menyaksikan pertempuran aneh. Yang pertempuran antara awan hitam pekat melawan awan putih tipis yang berusaha saling melibas dengan didorong oleh alunan suara yang berbeda.

Sekilas saja, Bintang Sakti Membara segera paham apa yang sedang terjadi. Sebuah pertarungan tingkat tinggi yang hanya mampu dilakukan oleh orang-orang yang memiliki kekuatan sihir dan kekuatan batin tingkat tinggi. Kekuatan suara mereka, sanggup menciptakan awan putih dan hitam yang diudara berusaha untuk saling melibas tersebut.

Dan dengan segera disadarinya, bahwa untuk pertempuran dengan cara itu, dia masih sedikit dibawah kedua orang sakti yang tersembunyi dan sedang melakukan pertempuran tersebut. Dan diam-diam dia merasa kagum sambil bergumam: “Tidak disangka, kakak perguruankupun sudah tiba di tempat ini. Jika begitu, benar dialah Pendeta dari Jawadwipa yang ditunggu itu. Hm,keadaan menjadi lebih menarik”.

Sementara itu, pertarungan antara awan hitam dan awan putih yang mujijat diudara nampak cukup berimbang. Ada kalanya awan hitam berhasil mendorong dan melibas awan putih tipis, tetapi adakalanya terjadi hal yang sebaliknya. Nampaknya, awan hitam pekat yang bernafsu merongrong da mendorong awan putih tipis yang nampak lebih banyak bertahan. Bila terlampau terdesak, maka awan putih tipis

itu akan bergerak pesat, meliuk liuk dan kemudian mendorong balik awan hitam pekat ketempatnya.

Dan dengan cara demikian, maka pertarungan itu berlangsung lebih jauh. Tetapi bagi mata ahli, Mahendra, Gayatri dan tentu Bintang Sakti, keadaan itu memperlihatkan kemurnian pengendali Awan Putih tipis masih lebih ungkulan, meski sangat tipis. Melihat hal tersebut, tanpa banyak cing-cong, Mahendra sudah menyiapkan langkah penyelamatan, dan nampaknya berbicara dalam ilmu menyampaikan suara ke murid-muridnya dan Gayatri.

Itulah sebabnya, ketika kemudian pertarungan antar awan memuncak, hanya Bintang Sakti sajalah yang tahu bagaimana caranya kedua lawannya itu berkelabat kearah 2 orang muridnya dan membawa mereka berlalu. Sementara orang ketiga yang tertinggal, kelihatannya memang sengaja ditinggalkan karena memang nafasnya tinggal satu satu, dan sudah sulit diselamatkan nyawanya.

Bintang Sakti Membara membiarkan mereka berlalu karena mempehatikan keselamatan murid-muridnya. Apalagi setelah dia melihat bahwa nampaknya awan putih ciptaan kakak seperguruannya masih sedikit tipis diatas awan hitam ciptaan musuh. Karena itu, ketika Mahendra dan Gyatri menyingkir, dia membiarkan saja, dan kemudian perlahan melirik kesuatu tempat.

Dan sebentar saja dia sadar, darimana kakak seperguruannya itu membantu mereka. Tetapi, dia cukup sadar akan kemampuan kakaknya itu, karenanya dia hanya memperhatikan saja tempat tersebut, dan kemudian segera sadar, bahwa kawanan pengacau tadi sudah semua berlalu, kecuali tokoh yang sedang adu ilmu atau yang sedang mendorong awan hitam pekat tersebut. Sebagai tokoh

kawakan, Bintang Sakti sadar bahwa percuma dan tidak jantan untuk membantu pihaknya.

Itu juga sebabnya Bintang Sakti hanya melakukan tindakan pengamanan, baik bagi jurid-muridnya maupun posisi kakak seperguruannya. Dengan berkelabat ke beberapa tempat, Bintang Sakti kemudian kembali ke arena pertempuran semula, dan bersama anak muridnya dia menyaksikan betapa kali ini awan putih itu, sudah lebih santai nampaknya.

Karena serangan awan pekat tidak lagi seganas tadi, bahkan gema suara mujijat tadi, juga tidak sekuat semula. Perlahan namun pasti pertempuran itu akan berhenti, dan saat tu nampaknya keduanya, baik awan putih maupun awan hitam sedang berusaha menarik belitan antar pertarungan suara mereka.

Perlahan-lahan suara-suara itu menghilang, dan baik awan hitam maupun awan putih juga sirap dengan sendirinya. Dan bersamaan dengan itu, terdengar suara yang menggema seperti dating dari jarak ratusan meter:

“Masih ada hari esok, lain hari kita lanjutkan”

Dan setelah suara bergaung bekali-kali seperti membentur kiri dan kanan, akhirnya suara itupun sirap. Semua sadar, bahwa penyerang yang membentuk dan mendorong awan hitam tersebut sudah berlalu dari tempatnya. Situasipun kembali tenang.

Tetapi, ketenangan itu terus berlanjut. Bahkan kemudian ketiga anak muda itu menjadi kaget ketika melihat guru mereka duduk bersila, memejamkan mata. Tetapi, ketika melihat posisi dan keteraturan nafas gurunya, Suro Bhakti yang lebih berpengalaman segera sadar, gurunya

sedang melakukan percakapan jarak jauh dnegan orang lain. Karena itu, dia segera berkata kepada adik-adiknya itu:

“Janganlah mengganggu guru. Kelihatannya guru sedang bercakap dengan orang yang tadi menolong kita. Lebih baik kalian segera berjaga disekitar tempat ini, biarkan aku mencoba melihat kondisi lawan kita itu” Sambil kemudian anak muda itu melangkah kearah lawan yang tadi terluka. Tetapi, sekali pandang, Suro Bhakti tahu bahwa lawannya bahkan untuk berbicarapun sudah sulit. Bisa dipastikan beberapa waktu lagi orang tersebut akan melayang jiwanya. Tetapi sebagai seorang Ksatria, Suro Bhakti segera berusaha menolong lawannya tersebut. Tetapi, ketika melihat keadaan tubuhnya, nampaknya justru dadanya yang terserempet serangan Ajian Lebur Sakheti, dan itu artinya pertolongan apapun tidak akan berhasil. Beberapa saat kemudian orang itu membuka matanya perlahan, melihat Suro Bhakti, dengan senyum lemah dia bergumam:

“maafkan aku, maafkan kami” hanya kalimat itu yang berulang ulang disampaikannya dengan logat yang asing, sampai kemudian orang tersebut menutup matanya.

Sementara itu, ditempat lain, nampak Bintang Sakti masih memejamkan matanya, sepertianya benar dia sedang berbicara dengan seseorang:

“Adi Reksa, bagaimana keadaanmu sekarang? Kulihat engkau memiliki murid murid yang baik, bahkan pribudi mereka juga sangat mengagumkan. Guru akan bangga dengan apa yang engkau lakukan”

“Ah biasa saja semua kakang, Bagaimana keadaanmu kakang, apakah baik baik saja? Aku nyaris pangling karena kakang sekarang

dikenal sebagai Pendeta Sakti Jawadwipa, apakah nama Bintang Sakti 8 Penjuru sekarang sudah berganti kakang”?

“Ach, apa artinya panggilan itu adi Reksa? Engkau tahu sendiri, sejak dulu kakangmu ini tidak begitu menyukai urusan-urusan semacam itu. Hanya karena ada keperluan terkait dengan tulisan dan pendalaman guru kita, dan keselamatan banyak orang di Jawadwipa, maka terpaksa aku memenuhi undangan ke Bumi Sriwijaya ini. Meskipun sangat tidak tenang dan mengenakkan, tetapi nampaknya harus juga dilalui”

“Hm, kakang Kaho Dahi, nampaknya ada sesuatu yang serius yang menyeretmu hingga ke Bumi Sriwijaya ini. Bisakah kuketahui”?

“Tentu adi, sebab betapapun akan menjadi tanggungjawabmu juga. Karena terkait dengan pusaka karya puluhan tahun guru kita yang tercinta” Si pendeta yang ternyata bernama Kaho Dahi itu seperti menghela nafas panjang.

“Maksud kakang”?

“Seperti engkau tahu, Maharaja Dharmawangsa kurang begitu baik pergaulannya dengan Sriwijaya dan Kerajaan Colamandala, meskipun cukup baik dengan Tiongkok. Baru-baru ini, kira-kira 2-3 tahun sebelumnya, Maharaja Airlangga naik tahta menggantikan Raja Darmawangsa. Dan dewasa ini, Maharaja Airlangga sedang menata kembali pemerintahan di Jawadwipa dan Balidwipa, bahkan beberapa kerajaan kecil lainnya masih belum mau tunduk kepadanya. Karena itu, Raja Airlangga tidak ingin menanam bibit perpecahan dan permusuhan dengan Sriwijaya. Baru-baru ini, entah bagaimana, utusan Raja Sriwijaya menemui Raja Airlangga. Tujuannya ingin mengundangku

berbicara masalah agama Budha dan mendiskusikan ajaran agama yang didalami Guru dan aku tahun-tahun belakangan ini. Karena tidak ingin terjadi ketegangan, Raja Airlangga kemudian memanggilku dan memerintahkan aku meninggalkan pertapaan menuju Bumi Sriwijaya. Celakanya adi Reksa, guru kita sedang berada di tanah leluhur kami, jadilah kakangmu ini harus mencapaikan diri lagi berkelana dan datang kemari”

“Hm kakang, jika hanya melulu kitab agama hasil pendalaman guru kita, rasanya firasatku tidak akan seburuk saat ini. Lagipula, bagaimana caranya Raja Sriwijaya bisa mengetahui Guru kita dan kakang memiliki kitab yang demikian”?

“Itu salah satu kecurigaanku adi Reksa, dan karena itu sebelum menemui Raja Sri Tunggawarman, kakangmu memerlukan datang menemuimu duluan”

Cerita Kaho Dahi atau Bintang Sakti 8 Penjuru sungguh mengagetkan. Perlahan Bintang Sakti Membara mencoba menyusun semua episode dan ingatan yang terjadi beberapa bulan terakhir ini. Bukan tidak mungkin semuanya berkaitan, tetapi dititik mana kaitannya dengan Kitab Pusaka gurunya? Hal yang sangat sulit dicerna dan dicari jawabannya.

“Adi Reksa, bagaimana tanggapanmu dengan semua kejadian ini”?

“Kakang”, jawab Bintang Sakti Membara setelah beberapa saat

“Beberapa bulan sebelumnya, Raja Sri Tunggawarman kedatangan seorang Padri dari India. Firasatku menyatakan dia sangat sakti, bahkan nampaknya melebihi ketiga orang yang menjadi lawan kita tadi. Mungkin, ini kemungkinan firasatku saja Kakang, mungkin hanya guru

kita yang sanggup menahannya. Karena kedatangannya berdekatan dengan kedatangan kakang, dan bahkan menurut Penasehat Raja, memang usulan memanggil kakang berasal darinya. Tetapi, kedalaman Padri ini atas agama Budha juga luar biasa, sehingga sulit menentukan apakah maksud jahat atau baik yang dikandungnya. Yang pasti, dia datang bersama Sepasang Dewa Ular yang pernah kutemui bersama Guru di India beberapa puluh tahun sebelumnya. Karena itu, maka aku merasa agak curiga terhadap Padri itu. Mungkin bukan dirinya sendiri, tetapi sangat mungkin dia sedang dimanfaatkan orang lain”

“Nampaknya analisismu masuk di akal adi Reksa. Meksipun kita masih belum sanggup menemukan kaitan antara dari mana informasi mereka dapatkan mengenai Kitab Agama hasil pendalaman Guru dengan undangan ini. Mau tidak mau, engkau harus ikut terlibat adi”

“Kakang, aku melihat masa yang sangat suram bagi Sriwijaya dalam waktu kurang dari 3 bulan kedepan. Bahkan teramat suram bagi Raja Sri Tunggawarman. Karena itulah aku sedang menggodok murid-muridku sebagai pesiapan mereka yang terakhir. Aku pasti akan terlibat, tapi berilah waktu sedikitnya sebulan bagiku agar tuntas sudah pekerjaanku mengajar keponakan keponakan dan anak angkatku tersebut. Bahkan, nampaknya bintang putra bungsu Kakakku, panglima Jayeng Kencana sangat dekat dengan kita berdua”

“Hm, aku tidak meragukannya adi Reksa. Baiklah, aku akan melakukan penyelidikan selama waktu engkau mengerjakan tugasmu yang terakhir. Lagipula, masih ada waktu sebulan bahkan bisa lebih banyak untuk memasuki Istana Raja. Baiklah adi, engkau selesaikan tugasmu. Meskipun kulihat, yang tertua dari mereka nampaknya sudah mencapai puncak latihannya. Sebaiknya engkau membuka rahasia dan

pantangan perguruan kita, karena betapapun mereka kini masuk dalam lingkup perguruan kita”

“Baiklah kakang, pesanmu akan kuperhatikan. Sambil melatih, sebetulnya kakang Panglima Jayeng Kencana selalu mengirimi aku berita seputar kedatangan kakang dan keberadaan tokoh-tokoh yang dicurigai bersembunyi di Istana. Hanya, sebaiknya kakang berhati-hati terhadap Padri sakti dari India itu. Pastilah dia bukan tokoh sembarangan”

“Baiklah adi …. Tapi bila boleh kusarankan, sebaiknya carilah tempat yang lebih aman lagi. Mereka akan berusaha terus mencari jalan dan cara mengganggu kalian berlatih. Waktu sebulan nampaknya cukup bagi mereka. Tetapi, kenapa adi Reksa tidak pernah menggunakan obat mujijat olahan guru kita itu”?

“Entahlah kakang, rasanya bukan waktuku lagi meningkatkan kemampuanku. Tapi lihat saja nanti kedepan. Aku masih memiliki 4 butir buah mujijat olahan guru, dan ingin kugunakan 2 butir bagi kedua keponakanku dan sebutir lagi bagi putra bungsu kakakku”

“Bila sempat, lebih baik engkau memakan sebiji itu Adi, biarlah yang tersisa padaku menjadi bagian ponakan bungsumu itu. Betapapun menurutmu dia akan dekat dengan kita berdua”

“Baiklah kakang, akan kuperhatikan”

“Baiklah, jika demikian aku akan mohon diri. Nampaknya harus menyelidiki dulu Sriwijaya dan kondisinya sebelum menemui Raja”

“Begitu lebih baik kakang, selamat jalan”

Dan kemudian putuslah kontak antara kedua tokoh sakti mandraguna itu. Bintang Sakti 8 Penjuru menuju Pusat kota ibukota Sriwijaya, sementara Bintang Sakti Membara membawa murid-muridnya menuju Goa rahasia dibalik air terjun.

Mereka berada disana untuk menghabiskan waktu berlatih mendalami Ilmu ketiga anak muda tersebut. Kecuali Suro Bhakti, ketiga yang lain tidak pernah lagi kelihatan selama sebulan belakangan

Episode 12: Perebutan (Lembaran) Kitab Pusaka

Sebulan bahkan lebih kembali berlalu. Sementara keresahan Panglima Jayeng Kencana ditumplekkannya dengan bertukar pikiran bersama teman-temannya, dan juga secara rahasia melatih pasukan khususnya untuk piawai bertempur di daratan. Untuk maksud ini, dia memang dibantu adiknya, terutama melalui Suro Bhakti yang sebulan terakhir mengalami kemajuan yang luar biasa dalam hal kepandaiannya.

Bahkan, beberapa tokoh sakti Swarnadwipa yang sebelumnya tidak mau melibatkan diri, berhasil dipikat oleh Penasehat Raja guna membantu Panglima Jayeng Kencana. Antaranya muncul seorang tokoh tua, Kakek Penjaring Angin yang dikenal sebagai tokoh sepuh di Swarnadwipa. Jarang ada orang yang mengenal dan mengetahui nama aslinya.

Sama anehnya dengan sahabatnya yang bernama Datuk Bukit Barisan, seorang tokoh tua aneh yang memiliki nama besar di barisan bukit dan gunung yang membentang sepanjang pulau Swarnadwipa. Kedua tokoh ini berhasil ditarik membantu Panglima Jayeng Kencana dan melatih pasukan khusus guna mempertahankan kejayaan

Sriwijaya yang terancam oleh serangan dari kerajaan Cola di India Selatan.

Selain memang, kedua tokoh tua di atas, merupakan sahabat kekal dari Penasehat Raja, dan keduanya termasuk tokoh-tokoh maha sakti yang terkenal di segenap daerah Swarnadwipa.

Meskipun keadaan seperti tidak mengalami perubahan, bahkan terkesan tidak ada lagi lonjakan kedatangan utusan agama maupun padri dari India, dan juga perdagangan lewat laut sudah kembali normal, keadaan justru menjadi semakin menggelisahkan ketiga pembesar itu. Mereka justru semakin sadar, bahwa keadaan yang teramat tenang dan tanpa gejolak ini, seakan sedang meninabobokan Sriwijaya.

Amatan-amatan mereka sungguh menyedihkan, karena selain Armada Maritimnya, maka kekuatan perang Sriwijaya di darat benar-benar sudah sangat-sangat merosot. Sementara itu di sisi lain, pengamatan-pengamatan mata-mata yang diatur oleh sang Panglima Jayeng Kencana serta Penasehat Raja, menunjukkan aktifitas rahasia di Istana justru semakin meningkat.

Bahkan dari Kakek Penjaring Angin, seorang tokoh yang sangat hebat dalam ilmu berlari cepat dan sepertinya sanggup menghilang dengan sejenis Ilmu Panglimunan, akhirnya bisa ditemukan hubungan rahasia antara tokoh asal India dengan pembesar di Pasukan Darat Sriwijaya.

Sepertinya Panglima Lingga Paksi, demikian nama sang Panglima Tertinggi Tentara Darat Sriwijaya, sudah termakan oleh janji-janji penyusup asal India tersebut. Tidak heran jika kemudian tokoh-tokoh

asing asal India yang masih berada di Istana, justru melakukan kasak-kusuk yang semakin melemahkan posisi Sriwijaya pada masa mendatang.

Tetapi, sekali lagi, memang patut disayangkan, karena posisi pengambil keputusan utama, Sang Raja, selalu menolak eksekusi keras tanpa bukti di depan mata. Bahkan beredar berita, siapapun meski sudah dihukum berat tetapi bersedia menangis minta ampun kepada Raja, pastilah akan diampuni. Dan memang demikian keadaannya.

Bersamaan dengan itu, memasuki pertengahan bulan kedua, dihitung dari perpisahan Bintang Sakti 8 Penjuru dan adik seperguruannya Bintang Sakti Membara, nampak Istana Raja Sriwijaya seperti mengalami kesibukan. Meskipun nampaknya bukan dimaksudkan untuk menerima tamu utusan dari kerajaan lain, tetapi tetaplah menunjukkan kemeriahan.

Hal ini, terutama diakibatkan oleh datangnya berita bahwa tamu Raja dari Jawadwipa akan memasuki Istana pada sore hari nanti. Berita itu sebetulnya sudah tersebar sejak seminggu terakhir, dan pada hari itu, persiapan penyambutan utusan Raja Jawadwipa, Airlangga, dilakukan secara khusus.

Bukan apa-apa, setelah mengalami serangan Kerajaan Chola, Raja Sri Tunggawarman, juga sadar, bahwa permusuhan dengan Kerajaan di Jawadwipa lebih banyak ruginya. Itulah sebabnya, bujukan Padri dari India untuk mengundang Pendeta Sakti Jawadwipa diiyakannya dengan maksud mempererat rasa persaudaraan dengan penguasa di Jawadwipa lewat jalur diplomasi keagamaan.

Sementara itu, Raja Airlangga sendiripun, mengalami kesulitan yang sama dengan Sriwijaya, yakni beliau baru naik tahta. Dan masalah utamanya ialah, menghadapi kerajaan-kerajaan kecil yang memisahkan diri pasca turunnya Raja Dharmawangsa, keadaan yang sudah tentu sangat menyulitkannya.

Prosesi penyambutan dilakukan terutama oleh para pembesar agama Budha yang banyak mendampingi Raja Sri Tunggawarman. Bahkan Bhiksu Utama Kerajaan, Bhiksu Darmakitri – seorang Bhiksu Utama dan sangat mendalami Agama Budha – berkenan menyambut kedatangan sang tamu.

Sepanjang jalan dari Gerbang Kota Raja hingga memasuki istana, dibuat menjadi meriah, meskipun baru di gerbang Istana hingga melewati Balairung dan masuk ke Ruang Pertemuan atau Jamuan tamu baru hiasan-hiasan nampak ramai. Sementara itu, pemimpin penerimaan tamu dari Jawadwipa itu adalah langsung oleh Bhisu Darmakitri, seorang Pendeta Budha yang sangat saleh dan dekat dengan Raja Sri Tunggawarman.

Sedangkan Raja Sri Tunggawarman sendiri, menunggu tamunya tersebut di ruangan pertemuan atau ruangan jamuan istimewa untuk tamu Kerajaan. Raja Sriwijaya ini didampingi oleh Permaisurinya dan juga oleh beberapa Menteri dan Pejabat Kerajaan, temasuk didalamnya Menteri Kebudayaan dan Penasehat Raja. Dan sudah tentu, dibarisan para pejabat tinggi itu, berdiri dengan hormat Maha Patih Kerajaan Sriwijaya, yang nampak agung dalam pakaian kebesarannya.

Sebagai tamu yang diundang, sekaligus menjadi utusan Raja Airlangga dalam hal hubungan keagamaan, adalah Pendeta Sakti

Jawadwipa – yang sebenarnya bernama asli Kaho Dahi – sebetulnya pada masa lalunya adalah seorang pengelana sakti berjuluk Bintang Sakti 8 Penjuru. Jarang yang mengetahui asal usul tokoh sakti ini, yang pada saat ini sudah memasuki usia ke-60 an.

Kurang lebih di usianya yang ke 35, Kaho Dahi atau Bintang Sakti 8 Penjuru akhirnya memilih kehidupan sebagai Pendeta Budha dan diusianya yang ke 45, memilih menetap di sekitar Candi Borobudur. Di sekitar lembah tersebut, sebenarnya banyak bertebaran Candi-candi dan bangunan keagamaan, bahkan juga termasuk Candi Agama Hindu.

Karena itu, Kaho Dahi atau Bintang Sakti 8 Penjuru yang tinggal dan bertapa di daerah tersebut, jadi banyak mengenal Agama Budha, Hindu dan bahkan beberapa agama asli Jawadwipa dan tentu termasuk agama asli daerah darimana dia berasal, yakni Sabu – sebuah suku yang menetap di sebelah timur Pulau Jawadwipa dan Balidwipa. Sebetulnya, tokoh ini masih memiliki pertalian keturunan dengan gurunya yang juga berasal dari Pulau yang sama.

Sebuah pulau di sebelah timur Jawadwipa dimana penduduk aslinya mengaku bahwa nenek moyang mereka sebetulnya berasal dari daerah India. Pilihan Kaho Dahi menetap di sekitar Candi Borobudur, sebetulnya dilandasi oleh ketertarikannya untuk mendalami agama Budha dan sekaligus agama Hindu yang sangat dekat kaitannya dengan agama leluhurnya di Sabu.

Dan karena dalam waktu yang lama Kaho Dahi menetap di daerah itu, maka pemahamannya atas Agama Budha, Hindu, agama Asli Jawadwipa dan Sabu menjadi menyatu dalam dirinya. Bahkan bersama dengan gurunya, Kaho Dahi banyak menelorkan tulisan dan

pendalaman keagamaan yang sebetulnya sudah saling kait mengait antara agama yang didalaminya.

Belakangan, di usianya yang memasuki 50-an, Kaho Dahi, mulai lebih dikenal sebagai Pendeta Sakti Jawadwipa, karena banyak melindungi kuil-kuil dan candi agama di seputaran Candi Borobudur. Dan mulai usianya yang ke 55, Pendeta Sakti Jawadwipa mulai menerima murid dan mendirikan Padepokan Keagamaan dan sekaligus melatih muridnya dalam ilmu-ilmu kesaktian. Dan padepokan inilah yang melindungi lingkungan keagamaan dari penjarahan orang jahat dan menjaga praktek praktek ritual di lingkungan candi tersebut.

Dan sekarang ini, Pendeta Sakti Jawadwipa inilah yang dengan diiringi 3 orang pengikutnya dari padepokan yang berjalan memasuki gerbang Istana Sriwijaya. Karena diundang dalam urusan keagamaan, maka Pendeta Sakti Jawadwipa membawa 2 orang murid utamanya yang khusus mendalami masalah keagamaan.

Khususnya agama Budha. Dan dalam hal penguasaan agama Budha, maka kedua Bhiksu tersebut termasuk yang terbaik dari padepokan dan terkenal sebagai Bhiksu yang saleh. Sementara seorang murid lainnya, selain mendalami keagamaan, juga adalah murid dalam hal kesaktian – yang dalam hal kepandaian termasuk tokoh kelas atas di Jawadwipa.

Kedua murid Pendeta Sakti Jawadwipa yang menganut agama Budha adalah Bhiksu Andanavira dan Bhiksu Dyanavira, sementara muridnya yang lain adalah Wanengpati dan berjuluk Pertapa Sakti Lembah Tidar, karena aslinya dia berasal dari sebuah dusun di Lembah Tidar. Ketiga murid inilah yang mendampingi Pendeta Sakti Jawadwipa dalam mengunjungi Raja Sriwijaya, dan kini ketiganya

berjalan khikmat mengiringi guru mereka, yang memenuhi undangan Raja Sriwijaya …… perlahan memasuki istana Raja Sriwijaya.

Dibelakang ketiga tamu ini, kemudian berjalan para pasukan penerima tamu yang mengantarkan sekaligus mengawal keempat orang tamu hingga ke gerbang Istana. Dan di gerbang Istana, telah menunggu Bhiksu Darmakitri, yang setelah memuji keagungan Budha, mengucapkan salam dan kemudian mengiringi para tamu bertemu dengan Raja Sri Tunggawarman di Ruang Penerimaan Tamu Negara.

Hanya beberapa saat dalam kebesarannya Raja Sri Tunggawarman didampingi para pembesar Kerajaan Sriwijaya menerima keempat orang tersebut, sampai kemudian secara khusus mereka diterima di sebuah ruang pertemuan khusus. Ruangan yang biasanya digunakan Raja Sri Tungawarman untuk menyambut tamu-tamu khusus dalam hal keagamaan.

Dan ruangan tersebut memang sangat bernuansa keagamaan, disudut-sudutnya adalah ornament yang menggambarkan “Jalan Budha”, disertai dengan beberapa patung sembahan Budha. Bahkan, beberapa ornament dalam ruangan tersebut, nampak berciri sama dengan yang berada di Candi Borobudur, dan membuat Pendeta Sakti Jawadwipa menjadi kagum terhadap sang Raja.

Ada cukup lama waktu yang digunakan oleh tamu-tamu tersebut yang diterima berdiskusi dengan Raja Sriwijaya ditemani oleh Bhiksu Darmakitri dan juga Padri dari India yang kemudian dikenal sebagai Bhiksu Chudamani. Sekali pandang, baik Pendeta Sakti Jawadwipa maupun Bhiksu Chudamani sudah saling maklum dengan siapa mereka sedang berhadapan.

Dan Pendeta Sakti Jawadwipa membenarkan firasat adik perguruannya, bahwa Bhiksu atau Padri dari India ini memang adalah orang yang sakti mandraguna. Meskipun sanggup menyembunyikan kepandaiannya dan bersembunyi dibalik kelembutan dan penguasaan keagamaan tingkat tinggi, tetapi tamengnya itu masih sanggup ditembus Pendeta Sakti Jawadwipa.

Tetapi sebaliknya, Bhiksu India itu, juga sanggup melihat kedalaman yang dimiliki Pendeta Sakti Jawadwipa. Dan getaran pertemuan mereka menyadarkan Pendeta Sakti Jawadwipa, bahwa memang benar, bahkan Bhiksu India itu bahkan masih mengatasinya. “Nampaknya adi Reksa benar, dalam hal kesaktian hanya Guru yang akan sanggup menanganinya, bila memang sesuatu yang buruk terjadi” pikir Pendeta Sakti Jawadwipa.

Tetapi percakapan yang terjadi sungguh-sungguh menarik. Terutama membahas banyak segi dari Agama Budha, baik perkembangannya di Sriwijaya, kemudian juga perkembangannya di Jawadwipa, dan bahkan diperbandingkan dengan di India sekalipun. Menarik, karena ternyata pemahaman dan pengetahuan Pendeta Sakti Jawadwipa, sanggup mengimbangi pengetahuan dan pemahaman mendalam dari Bhiksu India.

Hal ini sangat mungkin karena guru Pendeta Sakti Jawadwipa adalah seorang tokoh sepuh yang berkelana bahkan hingga ke India dan Tiongkok, dan menuliskan banyak pemahaman keagamaan dengan muridnya itu. Karenanya, dari semua murid gurunya, Pendeta Sakti Jawadwipa inilah yang paling memahami urusan pemahaman keagamaan. Bahkan sanggup menelisik dan membandingkan dengan agama-agama lain sekalipun.

Karena itu, percakapan mereka menjadi sangat menarik dan sanggup memperdalam pemahaman masing-masing atas banyak segi dari Agama Budha. Hal yang membuat Raja Sri Tunggawarman menjadi sangat senang dan sangat tertarik hingga lupa bahwa mereka sudah lebih dari 3 jam berbicara tanpa henti. Untunglah, Bhiksu Darmakitri kemudian mengingatkan bahwa tamu masih letih, dan percakapan masih bisa dilanjutkan hari-hari kedepan.

Selanjutnya adalah Bhiksu Darmakitri itu jugalah bersama dengan Bhiksu Chudamani yang kemudian mengajak Pendeta Sakti Jawadwipa dan murid-muridnya untuk bermalam di Kuil Budha di kota Raja. Kuil yang dibangun tidak jauh dari Istana Raja, sebuah Kuil Budha yang megah dan besar dipusat Kota Raja Sriwijaya, yang selalu menjadi tempat bermalam tamu kehormatan dalam hal agama.

Kuil itu dinamakan Kuil Raja-Raja, dan menjadi Kuil Utama Budha di Ibu Kota Kerajaan Sriwijaya. Pendeta-pendeta tamu rata-rata ditempatkan di Kuil tersebut, yang juga menjadi tempat bersemayam Bhiksu Darmakitri sekaligus tempatnya mengajar dan menyebarkan Agama Budha di Sriwijaya.

Bhiksu Darmakitri yang saleh inilah yang berperan besar dalam penyebaran Agama Budha pada masa Sriwijaya dan membuat kerajaan Sriwijaya identik dengan agama Budha. Tetapi, dari kuil Budha ini jugalah berawal perseteruan panjang yang melibatkan banyak tokoh-tokoh persilatan yang berasal dari India, Tiongkok, dan bahkan Jawadwipa.

Sebuah pertarungan yang melibatkan banyak kepentingan dan ambisi yang melibatkan begitu banyak tokoh sepuh dari beberapa

Kerajaan yang sebelumnya memiliki hubungan baik, bahkan hubungan keagamaan, perdagangan dan jalur laut.

Pendeta Sakti Jawadwipa ditempatkan dalam sebuah ruangan terpisah dengan murid-muridnya, meskipun mereka semua berdekatan. Dan mereka masing-masing dilayani oleh Pendeta Budha yang banyak berada di kuil itu, yang tugas utama mereka adalah menjalankan upacara keagamaan kerajaan Sriwijaya.

Tetapi, melayani Bhiksu-Bhiksu dan tokoh agama tamu, adalah juga tugas dan pekerjaan mereka. Di hari-hari pertama pada minggu pertama dari rencana 2 minggu kunjungan Pendeta Sakti Jawadwipa, lebih banyak diskusi dan tukar pikiran dengan Raja Sri Tunggawarman. Kesan mendalam didapatkan Pendeta Sakti Jawadwipa dari sang Raja yang begitu menguasai Agama Budha dan bahkan memiliki semangat luar biasa dalam menyebar luaskan agama Budha tersebut.

Meskipun, juga terselip rasa khawatir, karena penerapan di jajaran pemerintahan, nampaknya berada di luar kontrol yang tepat dari Raja yang saleh dalam beragama tersebut. Raja Sri Tunggawarman sendiripun sangat senang mendengarkan penjelasan dari Buku Agama yang dibawah Pendeta Sakti Jawadwipa. Bahkan beberapa kali mereka berdiskusi berdua hingga bersemadhi bersama. Dan hanya dua kali Bhiksu Chundamani ikut mendiskusikan isi Kitab Agama milik Pendeta Sakti Jawadwipa tersebut dengan minat yang juga tidak kurang tingginya.

Bahkan ketika pada hari ke-8 Raja Sri Tunggawarman berhalangan bertemu karena menerima utusan dari Raja Taklukan dari Kambodja, Bhiksu Chundamani meminta pertemuan secara khusus dengan Pendeta Sakti Jawadwipa. Meskipun pada awalnya Pendeta Sakti

Jawadwipa sudah mengenal dan bahkan mencurigai Bhiksu ini, tetapi pada akhirnya dia menyadari bahwa Bhiksu sakti ini tidak mengandung niat jahat terhadapnya.

Bhiksu Sakti tersebut bila ditaksir usianya sekitar mendekati 80 tahunan, dan menjadi seorang Bhiksu Sakti dan terkemuka di wilayah kerajaan Chola India Selatan. Karena itu diskusi dan pendalaman mereka, ikut memperluas wawasan keagamaan masing-masing. Dan pada hari mereka bertemu dan berdiskusi, justru pembicaraan mereka mengagetkan Pendeta Sakti Jawadwipa:

“Pada awalnya kuharap tidak benar, bahwa kekisruhan akan berasal dari tempat ini” Begitu Bhiksu Chundamani mengawali percakapannya.

“Tetapi, nampaknya memang benar. Karya gurumu Bintang Sakti Dari Selatan (Kolomoto Ti Lou) yang banyak mengembara hingga ke India dan Tiongkok serta meramu banyak ajaran agama serta kemudian menyarikannya dalam pelajaran Ilmu Silat tingkat tinggi telah menyebar luas di banyak tempat. Ajaran-ajaran yang banyak mendasarkan pada sari ajaran Yoga, Yin dan Yang, Unsur Utama Alam Semesta, Jalan Terang Budha, dan ajaran-ajaran rahasia dari banyak ajaran agama, telah mampu dirumuskannya dalam beberapa bentuk ilmu yang khas dan luar biasa. Demikian yang mampu kuterawang dan kudengar. Meskipun belum kuketahui bagaimana caranya, tetapi kelihatannya benar, dari sinilah semuanya akan berawal”

“Apa maksudmu Bhiksu Chundamani”? Pendeta Sakti Jawadwipa terkejut setengah mati. Tidak disangkanya bahwa kerja keras gurunya selama 30 tahun terakhir sudah tercium banyak orang, justru di negeri seberang yang nampaknya mustahil bisa mengetahuinya.

“Engkau, dan karena memang aku sudah tahu, bahwa gurumu adalah seorang yang luar biasa saktinya. Bahkan aku terhitung sahabat dekat gurumu ketika kami bertemu di tanah India (Thian Tok). Pertemuan kami membuatku banyak memperoleh pencerahan, termasuk penyempurnaan ilmu kepandaianku. Jika tidak salah, bahkan akupun masih belum cukup sanggup menandingi gurumu, meskipun jaraknya tidaklah cukup jauh. Dan kulihat, bahkan engkaupun sudah hampir menyusul kemampuanku”

“Ach, Bhiksu sungguh mengangkatku terlampau tinggi”

“Budha memberkati ….. engkau banyak miripnya dengan gurumu itu. Bahkan jika tidak salah, kalian berasal dari garis keturunan yang sama. Benarkah”?

“Guruku adalah juga pamanku Bhiksu, dan dia menjadi salah seorang dengan kekuatan paling tinggi dalam 300 tahun terakhir ini di garis keturunan keluarga kami di timur jauh pulau Jawadwipa”

“Itulah kehebatannya. Meskipun baru mendengar sebelum datang ketempat ini, tapi aku yakin, bahwa benar dia berkemampuan menuliskan dan menciptakan ilmu yang seakan meramu dan menggabungkan banyak kehebatan ilmu dari tanah yang disinggahinya. Dan hanya dengan membaca bagian-bagian awal dari Kitab Agama itu bisa kuraba betapa hebat pendalamannya atas ajaran-ajaran agama. Dan sekaligus, aku yakin dan tidak akan heran, bahwa bagian terakhirnya akan berisi ajaran ilmu kesaktian tersebut”

Sekali lagi Pendeta Sakti Jawadwipa tersentak. Untuk pertama kalinya selain dia dan gurunya, ada yang tahu bahwa Kitab Agama itu berisi 3 lembar terakhir yang berisi sari pati atau perasan dari

pemahaman gurunya atas Ilmu-Ilmu Silat yang dijumpainya dalam pengembaraannya. Dan setahunya, hanya gurunya dan dia sendiri yang mengetahui rahasia tersebut.

Jikapun ada yang mungkin mengetahuinya, setidaknya adalah Dia sendiri, gurunya, dan paling mungkin 2 orang adik seperguruan lainnya. Tetapi, kedua adik seperguruan itu, sudah 10 tahun terakhir tidak diketahui lagi kabar beritanya. Bahkan adik perguruan yang bungsu, yakni Bintang Sakti Membara, bahkan tidak mengetahui keberadaan Kitab Agama tersebut, apalagi bagian akhir dari Kitab itu.

Kitab Agama hasil perasan dari pengalaman perjalanan gurunya di banyak tempat, memang diakhiri dengan 3 lembar rahasia yang tertulis dalam bahasa Jawadwipa. Dan khusus 3 lembar terkahir, juga ada yang tertulis dalam bahasa Sansekerta, tetapi selalu disimpan dan dibawah oleh gurunya.

Kitab Agama ditulis dalam bahasa Jawadwipa Kuno, karena memang terutama dimaksudkan untuk kebutuhan Pendeta Sakti Jawadwipa yang mengurusi dunia keberagamaan di lingkungan Candi Borobudur. Ketika Bhiksu Chundamani mengungkapkan dugaannya yang tepat soal Ilmu Silat, Pendeta Sakti Jawadwipa sedikit tersentak. Kaget bukan buatan. Tetapi, segera dia mendengar suara Bhiksu Chundamani yang sudah besuara kembali:

“Tenanglah Pendeta Sakti ….. kedatanganku ke Sriwijaya, karena merasa dan melihat bahwa awal pertikaian besar yang nanti akan bergeser hingga ke India dan Tiongkok, justru berawal dari sini. Tanpa melihat lebih jauh, aku sadar, bahwa setengah dari firasatku terbukti benar. Tetapi jangan takut, aku tentu saja tidaklah berkeinginan merebut Kitab Agama itu, tapi ingin memperingatkan agar berhati-hati

dengan keberadaan Kitab tersebut. Apalagi, ini yang kusedihkan, nampaknya usia Kerajaan ini tidak cukup panjang lagi dalam masa kejayaannya. Ach, Budha Maha pengasih, semua sudah ditakdirkan”

“Terima kasih Bhiksu …. Terus terang memang guru pernah menciptakan ilmu tersebut selama 15 tahun setelah pengembaraannya selesai. Menurut Guru, itulah hasil dari percakapannya dengan banyak tokoh agama dan tokoh sakti dari banyak penjuru dunia. Bahkan Ilmu itu, meski perasan dari ajaran banyak agama, tetapi bisa dipisahkan dan dilatih terpisah dari Kitab Agama. Meski begitu, hingga saat ini, bahkan aku sendiri tidak berkemampuan untuk menanjak sampai tamat pada bagian ketiga dari lembaran itu. Sampai saat ini, hanya Guru seorang yang mencapai tingkatan tertinggi itu, tetapi juga tidak pernah ditunjukkannya kepada siapapun”

“Aku sendiri tidak membutuhkannya, selain sudah terlalu tua, juga karena menghargai persahabatanku dengan gurumu. Tetapi akan terlalu banyak orang yang mengincarnya, karena entah bagaimana di India dan Tiongkok, kabar mengenai buku itu tersebar di kalangan para tokoh sepuh. Dan tokoh-tokoh mujijat yang sudah lama tersembunyi, tetapi bila mendengar adanya kemampuan yang mujijat dan sebuah buku pusaka, pasti akan mudah tersentuh keinginannya untuk memilikinya”

“Apakah Bhiksu Chundamani yang mulia memiliki saran atas keadaan ini”?

“Entahlah, tetapi entah mengapa firasatku mengatakan bahwa sesuatu akan berawal dari sini? Dan bagaimana pulakah awalnya? Hal ini sungguh membuatku bingung. Bahkan teramat bingung memikirkan

bahwa buku atau kitab yang menurutmu sangat dirahasiakan itu, justru bocor keluar dan akan sangat menggoncangkan jagad”

“Bhiksu …. Engkau adalah tokoh kedua yang mengingatkanku masalah ini. Sebelumnya adik seperguruanku juga telah mengingatkan adanya firasatnya yang kurang baik terkait dengan kitab Agama guru kami, dan diapun baru tahu kemaren bahwa guru kami menciptakan Ilmu rahasia itu dalam lembaran Kitab Agama itu”

“Hm, aku tahu. Ada seorang tokoh sakti di pinggiran sungai Musi, seorang tokoh sakti yang sederhana, tetapi kelihatannya memiliki daya jangkau kedepan yang tidak berada dibawahku”

“Sungguh luas jangkauan penerawangan Bhiksu. Apakah Bhiksu juga menduga bahwa begitu banyak tokoh tersembunyi yang sedang berada di Sriwijaya saat ini, dan juga cukup banyak dari mereka itu justru berada disini dengan maksud yang tidak baik”?

“Jika pertanyaanmu lebih jujur, maka pertanyaan yang seharusnya adalah engkau bertanya mengapa begitu banyak tokoh asal India yang saat ini berada di Sriwijaya. Dan sebagian dari mereka, ternyata berkedok tokoh agama tetapi melakukan hal-hal yang kurang layak. Bukankah seharusnya demikian pertanyaannya”?

“Ach, sungguh tidak ada yang bisa lepas dari penerawangan Bhiksu. Tetapi sejujurnya memang demikian pertanyaannya”

“Sejujurnya, kedatanganku kemari memang dalam waktu yang sangat tidak tepat. Meskipun sadar bahwa Kerajaan Cola akan menyerang Sriwijaya, tetapi betapapun aku mencoba keras mencegahnya, naluri ekspansi Rajendra Cola I teramat tinggi. Padahal, dan ini yang kusayangkan, Sriwijaya telah menjadi pusat penyebaran

agama Budha selama ratusan tahun. Dan engkau tahu, mereka memiliki Raja yang baik dan juga seorang pendeta Budha yang luar biasa dalam diri Bhiksu Darmakitri. Tetapi, keinginan kuat melihat Kitab Agama karya gurumu, serta keingintahuan mengapa konflik berawal dari sini telah ikut menyeretku dalam pusaran panjang ini” Bhiksu Chundamani yang sakti itu nampak menarik nafas panjang. Seperti ada sesuatu yang membebaninya.

“Aku percaya dengan uraian Bhiksu. Meskipun sulit menghindarkan bencana yang dihadapi Sriwijaya, tetapi tetap akan ada orang yang mencobanya. Bagaimana setelah Bhiksu melihat dan bahkan membaca Kitab Agama guruku”?

“Tugas dan keinginanku yang terakhir sudah terpenuhi. Tetapi, akupun sadar, bahwa karena telah melayani keinginanku itu, akhirnya akupun akan terseret sangat jauh dengan pusaran konflik yang berawal dari sini. Entah bagaimana itu nantinya terjadi dan bagaimana pula akhirnya”

Akhirnya percakapan kedua tokoh sakti inipun berakhir. Namun sebelum berpisah, Bhiksu Chundamani masih sempat kembali berpesan kepada Pendeta Sakti Jawadwipa:

“Hendaklah engkau selalu awas, karena kulihat engkaupun akan terbawa jauh oleh arus dan pusaran konflik ini. Seperti juga aku. Firasatku mengatakan, bahkan banyak tokoh sakti Swarnadwipa akan terlibat pada tahap awal ini, selain tokoh-tokoh asal India yang juga memang sudah berada disini. Budha memberkati …..”

“Terima kasih Bhiksu”

Dan kemudian masing-masing kembali ketempat istirahatnya dengan membawa beban pikirannya masing-masing. Tetapi, kedua tokoh sakti itu setidaknya menjadi lebih saling mengerti akan posisinya dalam persoalan yang semakin jelas akan terjadi itu. Meksipun demikian, keduanya tetap terus menduga dalam kewaspadaannya masing-masing. Karena bagaimana akan terjadinya, dan seperti apa kemudian, tetap merupakan suatu misteri yang belum bisa mereka pecahkan pada saat itu.

Yang pasti, selama beberapa hari kemudian, kembali keduanya terlibat percakapan dan pendalaman serius masalah keagamaan bersama Raja Sri Tunggawarman dan Bhiksu Darmakitri. Disamping itu, Pendeta Sakti Jawadwipa, juga menjadi semakin berhati-hati terhadap benda pusaka gurunya yang selalu dibawanya kemanapun dia pergi.

Menjelang hari-hari terakhir kunjungan Pendeta Sakti Jawadwipa Raja Sri Tunggawarman disibukkan oleh kabar yang sangat tidak mengenakkan. Yakni, bahwa terjadi pertempuran-pertempuran laut antara armada laut Kerajaan Cola dengan armada Laut Kerajaan Sriwijaya. Pertempuran-pertempuran tersebut terjadi dekat Kedah, salah satu pusat perdagangan Sriwijaya yang langsung berada dan menghadap ke Selat Malaka.

Pertempuran-pertempuran tersebut kabarnya sangat dahsyat, meskipun armada laut Sriwijaya masih sanggup menahan serangan musuh tersebut. Bahkan kabar terakhir, Panglima Tertinggi Armada Laut, Jayeng Kencana, telah menghadap Raja Sri Tunggawarman untuk turun langsung memimpin anak buahnya menahan serangan musuh.

Kabar tersebut membuat Raja Sri Tunggawarman sedikit sedih, dan secara otomatis mengurangi frekwensi pertemuannya dengan Pendeta Sakti Jawadwipa. Sementara itu, Pendeta Sakti Jawadwipa sendiri, menjadi kurang enak hati untuk buru-buru minta diri kepada Raja Sri Tunggawarman dan menunggu saat yang tepat untuk melakukannya.

Tetapi Pendeta Sakti Jawadwipa nampaknya tidak lagi sempat melakukannya. Nampaknya penyerangan terhadap Sriwijaya menjadi momentum yang dimanfaatkan kelompok tertentu untuk melaksanakan apa yang lama mereka rencanakan. Di tengah keresahan yang melanda Kerajaan Sriwijaya atas serangan Kerajaan Chola, pada suatu malam nampak 2 bayangan berjalan tenang di lorong menuju tempat istirahat Pendeta Sakti Jawadwipa.

Anehnya, keduanya berjalan santai dan dalam wujud yang sangat sulit dikenali, dan sepertinya sangat mengenal jalanan dan kompleks yang mereka masuki. Pendeta Sakti Jawadwipa dan murid-muridnya, sebetulnya sudah bersiaga sejak hari-hari sebelumnya, bahkan mulai berkemas untuk minta diri. Tetapi, siapa sangka, kesibukan Kerajaan Sriwijaya dalam menahan musuh, malah membuat rencana kepulangan mereka mengalami penundaan.

Dan malam ini adalah malam ketiga dari perpanjangan waktu mereka di Sriwijaya, dan sedang menunggu kesempatan minta diri. Tak diduga, pada malam itu justru musuh melancarkan aksinya, pada saat mereka justru kurang bersiaga. Pendeta Sakti Jawadwipa sendiri baru menyadari bahwa tokoh yang dihadapinya lihay luar biasa, tetapi itu tejadi justru pada saat terakhir, dan saat-saat itulah yang menentukan dan nampaknya memang direncanakan.

Pada saat menyadari kehadiran orang yang tak dikehendaki, serangkum hawa aneh dan mujijat justru sudah berusaha untuk mempengaruhinya. Dan tidak ada waktu cukup baginya untuk berbuat hal-hal yang lain, karena sangat terasa kekuatan mujijat yang menyerangnya bahkan sedikit lebih kuat dari yang menempurnya di tempat adik angkatnya.

Tak ada jalan lain selain segera melawannya dengan segenap kemampuannya. Dan, sungguh kaget, karena kekuatan lawan sangat luar biasa, bahkan dirasakannya masih sedikit di atas kemampuannya. Dan yang lebih mengejutkan lagi, ketika dia berkutat melawan serangan menggelap dengan kekatan mujijat itu, tiba-tiba pintu kamarnya terbuka, dan melayang sesosok bayangan kearahnya.

Dan dengan tanpa ragu berjalan kearah meja disamping tempat istirahatnya, disana bayangan itu tanpa ragu mengangkat Buku Agama karya gurunya dan dengan cepat menyobek 3 halaman terakhir kitab itu, dan dengan cepat melayang keluar kamar. Tetapi, pada saat bersamaan sesosok tubuh lainnya dengan ringan berkelabat keluar dari kamar disudut seberang kamar Pendeta Sakti Jawadwipa.

Tidak pelak lagi, itulah Bhiksu Chundamani yang ketika melihat ada dua orang di depan kamar Pendeta Sakti Jawadwipa dengan cepat menyadari bahwa sesuatu yang luar biasa sedang terjadi. Tetapi, ketika berkelabat mendekat, dengan segera dia terkejut melihat kedua orang yang sedang “mengerjai” Pendeta Sakti Jawadwipa tersebut. Dan masih sempat dia melihat seorang yang baru keluar dari kamar Pendeta Sakti Jawadwipa memasukkan lembaran kertas kedalam saku jubahnya yang lebar. Dan Bhiksu Sakti itu segera sadar apa yang sedang terjadi.

“Hm, kalian …… sungguh tidak sopan menyerang lawan yang tidak siap. Lepaskan dan kembalikan barang curian itu” Bhiksu Chundamani dengan cepat berkelabat mendekat. Tetapi, orang yang baru saja keluar dari kamar Pendeta Sakti Jawadwipa dengan segera menghadangnya dan menyerangnya dengan pukulan yang mematikan.

Tidak ada cara lain, serangan itu dihadapi dengan kibasan lengan Bhiksu Chundamani, dan benturan keraspun terjadi. “Bressssss” dan diikuti dengan terlontarnya tubuh penyerang Bhiksu Sakti itu kearah orang yang sedang menyerang Pendeta Sakti Jawadwipa. Dalam kekagetannya, Bhiksu Chundamani secara tidak sengaja telah mengerahkan tenaga saktinya berlebihan.

Dan akibatnya, tubuh penyerangnya terlontar deras kebelakang dan mengarah ke orang lain yang sedang menyerang Pendeta Sakti Jawadwipa. Tetapi, Bhiksu Chundamani sendiri terguncang mundur sampai 3-4 langkah kebelakang, dan terkejut oleh kekuatan yang dilontarkan lawannya. Sementara itu, penyerang Pendeta Sakti Jawadwipa terpaksa melepas serangannya dan menyambut tubuh kawannya dengan ringan.

Pada saat bersamaan dari 3 kamar lainnya, melayang keluar 3 sosok tubuh yang dengan cepat bergerak kearah kamar Pendeta Sakti Jawadwipa. Semua kejadian tersebut berlangsung dalam hitungan detik belaka. Tetapi ketiga orang itu, masih sempat menyaksikan benturan kekuatan antara Bhiksu Chundamani dan si penyerang, yang mengakibatkan keduanya terlontar kebelakang.

Dan seterusnya, si penyerang kemudian melayang menjauh, dan pada akhirnya kemudian hilang ditelan kegelapan malam. Pada saat bayangan tersebut menghilang, dari dalam kamar melesat keluar

Pendeta Sakti Jawadwipa, meski wajahnya tetap tenang, tetapi tatapannya kearah Bhiksu Chundamani nampak penuh pertanyaan. Dan dalam selintasan itu, Bhiksu Chundamani segera paham apa yang telah dan sedang terjadi. Sangat paham malah.

“Bhiksu, pada akhirnya kejadiannya memang seperti yang kita percakapkan. Kekuatan penyerang itu sungguh luar biasa, bahkan masih sedikit diatasku. Tapi betapapun hebatnya orang itu, malam ini juga aku harus melakukan pengejaran. Adakah petunjuk yang bisa Bhiksu berikan buat kami”?

Bhiksu Chundamani menganggukkan kepala dan bahkan kemudian berkata dengan tegas:

“Benar …. keduanya bahkan memiliki hubungan perguruan denganku. Yang menyerangmu adalah Naga Pattinam, adalah adik perguruanku yang bahkan mungkin lebih lihay dariku karena dia belajar juga ilmu kesaktian di Srilanka, sebuah bangsa di Selatan India. Sementara yang tadi kulukai, entah sudah meninggal atau belum, adalah murid utama adik perguruanku itu. Ada baiknya engkau berhati-hati menyusuri jejaknya, dan karena melibatkan pintu perguruanku, maka akupun akan berusaha mengejarnya untuk mengembalikan barang milik gurumu”

“Terima kasih Bhiksu, kami mohon diri”

Dan tanpa membawa apapun juga, Pendeta Sakti Jawadwipa segera mengajak Wanengpati untuk berlalu dari Kuil itu melakukan pengejaran terhadap Naga Pattinam yang telah mencuri benda berharga hasil karya gurunya. Sementara kedua orang murid lainnya, untuk sementara ditinggalkan di kuil tersebut. Pada malam itu juga, Bhiksu

Chundamani menemui Bhiksu Darmakitri dan mohon diri setelah menjelaskan apa yang terjadi sebelumnya. Dan dimulailah pengejaran dan perebutan Kitab Pusaka yang sebenarnya hanya terdiri atas 3 halaman belaka itu.

Perebutan (Lembaran) Kitab Pusaka (2)

“Adi Reksa, nampaknya tugasmu disini sudah berakhir”

“Nampaknya benar Kakang, sebuah perjalanan jauh sepertinya sedang menunggu. Tapi bagaimana penyelidikanmu selama 2 hari belakangan ini”?

“Tidak menghasilkan apa-apa. Tetapi mata batinku menyatakan bahwa para pencuri itu masih berada di Sriwijaya, atau setidaknya Swarnadwipa ini. Hanya entah dimana mereka berada tepatnya, akupun tidak tahu”

“Jika demikian, kita perlu meminta bantuan sahabatku yang lain kakang”

“Siapa maksudmu”?

“Aku mengenal Datuk Bukit Barisan dan Kakek penjaring Angin. Kedua tokoh besar Swarnadwipa yang mengerti seluk beluk Sriwijaya dan pulau ini. Dijamin mereka mampu membantu kita”

“Baiklah, terserah engkau saja Adi. Tapi bagaimana dengan tugas terakhirmu itu? Sudahkah engkau menuntaskannya?

“Sudah kakang. Suro Bhakti telah menyelesaikan latihannya, demikian juga kedua keponakanku, Pandji Winata dan Ratna Sari. Mereka sudah menamatkan latihannya, ditanggung mereka menjadi

tokoh muda sakti mandraguna saat ini. Tetapi mereka memiliki tugasnya sendiri-sendiri”

“Baiklah Adi, kapan sebaiknya kita bertemu dengan kedua sahabat kita dari Swarnadwipa itu?

“Sebaiknya hari ini juga kakang, tetapi biarlah Kakang dan engkau Wanengpati, beristirahat sebentar memulihkan kekuatan”

Pendeta Sakti Jawadwipa yang bergerak selama 2 hari penuh, pada akhirnya menyerah karena tidak mampu menemukan Naga Pattinam dan muridnya yang terluka. Dua orang yang menyerangnya dan merampas Kitab Pusaka Ilmu Kepandaian ciptaan gurunya dan kemudian melarikan diri. Sudah diubek-ubek selama dua hari berturut-turut tetapi belum juga ketemu dan ketahuan dimana persembunyiannya.

Karena itu, akhirnya Pendeta Sakti Jawadwipa datang menjumpai adik perguruannya, Bintang Sakti Membara, yang memang sudah menduga bahwa kakak perguruannya akan mendatanginya. Bahkan, dia sendiri selama sebulan terakhir sudah mempesiapkan diri, ketika meraba bahwa dia mau tidak mau harus meninggalkan Sriwijaya untuk tugas lain yang sangat berat. Tugas yang terkait dengan gurunya yang dihormati dan dicintainya dan yang akan membawanya melanglang jauh untuk tugas tersebut.

Dan karena menyadari hal tesebut, selama hampir sebulan, selain menggodok murid-muridnya, Bintang Sakti Membara, pada akhirnya menuruti pesan kakaknya agar memakan buah mujijat hadiah dari guru mereka. Sebulan terakhir, Bintang Sakti Membara juga mengalami peningkatan kesaktian yang luar biasa, hingga mampu menyusul

kemampuan kakak perguruannya itu, Bintang Sakti 8 Penjuru, murid kepala dari Kolo Moto Ti Lou.

Tetapi, belum lagi mereka beranjak dari gubuk tempat tinggal Bintang Sakti Membara, menjelang sore, justru Suro Bhakti yang datang ketempat gurunya bersama dengan kedua orang Kakek Sakti dari Swarnadwipa itu. Kedatangan Suro Bhakti adalah ingin menjelaskan keadaan terakhir di Istana Raja dan tugas Panglima Jayeng Kencana untuk menyiagakan Pasukan Khusus di sekitar kompleks Istana.

Karena menurut perhitungan Panglima Jayeng Kencana, pasukan darat Kerajaan Chola bisa sewaktu-waktu menyerbu istana Raja. Berita yang ditanggap dengan serius oleh Bintang Sakti Membara, demikian juga Pendeta Sakti Jawadwipa yang memang sudah mengetahui bahwa Kerajaan Chola sudah datang menyerang, meski masih tertahan di perairan Malaka oleh armada laut Sriwijaya yang terkenal tangguh itu. Karena itu, dengan cepat Bintang Sakti Membara menukas:

“Masih butuh waktu hampir sebulan bagi pasukan darat untuk mendekati Istana Raja. Yang justru mengkhawatirkan, dalam keadaan seperti ini, para tokoh kita di pegunungan berdiam diri atau malah terpecah-pecah oleh iming-iming hadiah. Bukankah begitu Datuk Bukit Barisan dan Kakek Penjaring Angin”? Bintang Sakti Membara sudah berkomentar sambil menyapa kedua tokoh besar yang berdiri berendengan dengan 2 Datuk lainnya di Swarnadwipa.

“Hahahaha, jika tidak salah, Pendeta yang dihadapan kita pastilah Pendeta Sakti Jawadwipa yang menjadi tamu raja kita. Apakah benar demikian”?

Pendeta Sakti Jawadwipa dengan rikuh tetap ringan membalas penghormatan orang sambil tersenyum dan berkata:

“Benar sahabat, demikian orang-orang di Jawadwipa memanggilku. Selamat bertemu”

“Hahahaha, terlampau sungkan. Siapa tidak mengenal nama besarmu Bintang Sakti 8 Penjuru pada masa lalu? Nama yang bahkan menggema sampai ke Swarnadwipa” balas Kakek Penjaring Angin sambil juga turut menghormat kepada Pendeta Jawadwipa.

Pertemuan antara tokoh sakti itupun akhirnya terjadi. Sore itu juga, Suro Bhakti menyusun kekuatan pasukan istimewa hasil latihan 2 bulan terakhir di bawah arahan Panglima Jayeng Kencana dan di latih oleh kedua Datuk Sakti dari Swarnadwipa dan juga Suro Bhakti sendiri.

Namun, karena menurut perhitungan Bintang Sakti Membara, gurunya, bahwa kedatangan pasukan darat baru akan terjadi dua bulan lagi, maka persiapan-persiapan dan kesiagaan itu dilakukan secara hati-hati. Hal ini untuk menghindari kecurigaan dan syak wasangka dari pasukan darat regular yang berada dibawah komando Panglima Pasukan Darat Sriwijaya. Dalam situasi yang genting seperti itu, anehnya, Panglima Pasukan Darat justru tidak terlihat aktifitasnya sama sekali.

Bahkan tidak menyiagakan pasukannya dalam kategori berbahaya, meskipun laporan di istana semua baik-baik saja. Keadaan ini sungguh amat mengherankan. Tetapi, bagi para tokoh sakti, hal tersebut sudah dimaklumi, karena memang Panglima ini termasuk yang sudah termakan rayuan musuh.

“Jika Panglima itu sudah termakan ayuan musuh, maka sangat mungkin dia tahu dimana persembunyian dari tokoh-tokoh pencuri buku pusaka itu” berkata Datuk Bukit Barisan.

“Benar, karena dalam penyelidikanku beberapa waktu lalu, Panglima itu beberapa kali keluar dari istana dalam pakaian preman dan memasuki hutan. Dia bertemu dengan beberapa tokoh asal India, cuma tidak ada seorangpun dari mereka yang kukenal” berkata Kakek Penjaring Angin penasaran.

“Setidaknya, kita mengerti, bahwa ada tanda-tanda dan jejak yang bisa kita ikuti dalam melacak tokoh pencuri itu” Bintang Sakti Membara juga ikut memberi komentar setelah berpikir sejenak. Hal yang dianggukkan dan disetujui oleh semua orang.

“Jika demikian, tempat manakah yang menjadi pertemuan orang-orang itu dalam menjalankan misi rahasia mereka”?

“Jika tidak salah, di sebuah tempat atau Kuil Kosong, yang berada di seberang sungai ini, dan berjalan terus jauh ke utara” Kakek Penjaring Angin menjelaskan.

“Hm, aneh. Aku telah meneliti tempat itu dua bulan silam, dan tidak menemukan apa-apa di sekitar tempat itu. Bahkan kakang Jayeng Kencana telah memeriksa tempat itu bersama pasukannya, tetapi juga tidak ditemukan ada-apa disana. Ada apakah gerangan? Bintang Sakti Membara berpikir keras

“Bukan tidak mungkin mereka bersembunyi sementara untuk menghindari pemeriksaan. Atau bisa jadi, mereka memiliki jalan dan ruangan rahasia di sekitar tempat itu” berkata pendeta sakti Jawadwipa.

“Sangat mungkin, sangat mungkin. Tetapi memang ada baiknya kita mengetahui keberadaan mereka, karenanya sebaiknya kita menyatroni mereka di malam hari ini juga. Selain mengintip kekuatan mereka, kita juga perlu mempersiapkan siasat untuk menjebak Panglima Pasukan Darat itu, sehingga sekali kayuh dua tiga pulau bisa dicapai” saran Datuk Bukit Barisan

“Benar, usul itu sungguh bagus” Kakek Penjaring Angin berseru setuju, sementara Pendeta Sakti Jawadwipa dan Bintang sakti Membara juga nampak diam, dan menyetujui usulan tersebut.

Demikianlah, di malam hari itu, Kakek Penjaring Angin yang dikenal memiliki kemahiran tingkat tinggi dalam hal ilmu meringankan tubuhnya, akhirnya menyatroni tempat persembunyian musuh. Cukup lama kepergian orang tua sakti itu, dan baru kembali menemui kawan-kawannya lewat tengah malam, dengan membawa informasi yang mengejutkan:

“Sungguh celaka, ternyata bergabung bersama mereka termasuk Datuk 9 Harimau Siluman dan Nini Hesti Cendani. Mereka adalah 2 dari 4 Datuk besar Swarnadwipa yang memang selalu menjadi lawan kami berdua sejak puluhan tahun silam. Bahkan, Panglima itu, ternyata adalah cucu dari Datuk 9 Harimau Siluman. Pekerjaan ini menjadi semakin sulit” Desis Kakek Penjaring Angin

“Apakah mereka mencium jejakmu”? bertanya Datuk Bukit Barisan

“Bisa dipastikan, Nini bernama cantik tapi buruk rupa dan si Siluman harimau itu pasti mencium jejakku. Hanya, mereka pasti tidak akan gentar berhadapan dengan kita, apalagi mereka juga tahu Sriwijaya sedang dalam ancaman.

“Bagaimana dengan kekuatan mereka Kakek Penjaring Angin”? bertanya Bintang Sakti Membara. Nampak Kakek Penjaring Angin menarik nafas panjang dan cukup masygul, karena pertanyaan itu sungguh berat dijawab. Tetapi, karena menyangkut banyak urusan besar, terpaksa keluar juga pengakuan dari mulutnya:

“Di Swarnadwipa ini, ada 4 Datuk Besar yang dianggap menguasai dan paling berpengaruh. Yang pertama, adalah Datuk Bukit Barisan, yang menguasai barisan Bukit dan Gunung yang membentang sepanjang pulau ini, dan kalian telah mengenal orangnya. Dia mempunyai kekuatan pukulan yang sanggup mendorong gunung dan bukit untuk berpindah tempat dengan pukulannya yang terkenal “Pukulan Gugur Gunung”. Orang kedua, adalah Datuk 9 Harimau Siluman, yang menguasai dengan sempurna isi kitab 9 Harimau Siluman. Dia mampu mengubah diri menjadi 9 harimau besar jadi-jadian dan mengerjakan banyak hal bagi dirinya. Orang ketiga adalah Nini Hesti Cendani, nama yang rupawan tetapi berwajah buruk rupa dan berhati berbisa. Dia menguasai Ilmu Pukulan Beracun, yang dinamakannya “Ilmu Pukulan Hasta Berbisa” dan sanggup meracuni orang hingga mati dalam waktu cepat hanya dengan hawa pukulannya itu. Dan yang teakhir adalah aku sendiri, Kakek Penjaring Angin, penguasa bagian selatan Swarnadwipa dan bedekatan dengan Jawadwipa. Orang memanggilku demikian karena kemampuanku mengejar angin, hahahaha kemampuan yang sebenarnya tidak berarti banyak” Demikian Kakek Penjaring Angin menerangkan.

“Meskipun urut-urutannya demikian, tetapi pada dasarnya, kami berempat tidak pernah bisa saling mengalahkan bila bertarung salah lawan satu. Karena itu, sejak 20 tahun belakangan, kami disebut

sebagai 4 Datuk Swarnadwipa, meskipun satu sama lain sulit untuk bekerjasama. Jikapun bisa, maka Aku dengan kakek Penjaring Angin, sementara mereka berdua pasti berkomplot” tambah Datuk Bukit Barisan.

“Dengan adanya kedua Datuk itu, maka kekuatan mereka termasuk sangat berbahaya. Apalagi, bisa dipastikan disana ada Sepasang Ular Dewa, Naga Pattinam dan Murid Kepalanya. Belum lagi orang-orang pilihan yang bisa dipastikan ditempatkan di lokasi tersebut” Bintang Sakti Membara mencoba menganalisis kekuatan musuh.

“Benar, Adi Reksa benar. Kekuatan mereka cukup bisa diandalkan dan berbahaya bila dibentur secara sembarangan. Hanya ada dua kemungkinan, kita memasuki daerah dan tempat mereka secara bergelap, atau kita meminta bantuan Suro Bhakti” terdengar suara Pendeta Sakti Jawadwipa.

“Resikonya adalah, terbukanya kemungkinan perang terbuka antara Pasukan Darat dan Pasukan Laut. Dan hal ini akan tambah memperlemah Sriwijaya. Tidak, sebaiknya malam ini kita menyusup ke lokasi lawan berlima saja, dan mencoba mengacaukan keadaan mereka terlebih dahulu” Bintang Sakti Membara mengusulkan yang diiyakan pada akhirnya oleh kawan-kawannya. Percakapan selanjutnya adalah mengatur siasat bagaimana menyerbu lokasi tersebut dan bagaimana upaya Pendeta Sakti Jawadwipa yang akan dibantu oleh Bintang Sakti Membara menyerbu Naga Pattinam. Sementara kedua Datuk Sakti, Kakek Penjaring Angin dan Datuk Bukit Barisan bersama Wanengpati akan melakukan tugas yang lain.

***

“Blarrrrr” …… “Wussssss” …… Kondisi yang sebelumnya gelap gulita seakan akan menjadi terang oleh benturan dua kesaktian yang luar biasa. Di halaman dalam kuil yang dibuat menjadi sepi dan terkesan kosong pada siang hari itu, nampak dua orang tokoh tua sedang berhadap-hadapan. Yang seorang adalah Bhiksu atau Pendeta Agama Budha, memegang tasbeh, dan berpakaian layaknya Bhiksu sedang mendorongkan sepasang tangannya kedepan.

Nampaknya sedang dalam konsentrasi yang membutuhkan kekuatan batin yang luar biasa. Hal itu nampak dari wajahnya yang berkerut prihatin, meskipun tanda-tanda kewelasasihan tetap memancar dari wajah yang sedang berprihatin tersebut. Sementara di sudut lain, seorang tua, nampaknya tidak kalah tuanya dengan si Bhiksu, juga dalam posisi yang sama.

Dalam posisi berprihatin, cuma kalau dihadapannya adalah si Bhiksu yang memegang tasbeh dan mendorongkan tangan kedepan, maka kakek tua yang satu ini berpakaian hitam dan membawa sebuah tongkat berkepala ular. Dia juga menjulurkan tangannya kearah sang Bhiksu, dan nampaknya keduanya sedang dalam pertempuran yang menguras tenaga keduanya.

Hebatnya, benturan dua tenaga yang luar biasa itu seakan mengubah gelap menjadi terang, hingga 5 orang yang tadinya datang untuk menyatroni tempat tersebut jadi batal melaksanakan niatnya. Keempatnya adalah, Pendeta Sakti Jawadwipa, Bintang Sakti Membara, Kakek Penjaring Angin, Datuk Bukit Barisan, dan Wanengpati.

Kekuatan kedua kakek sakti itu membuat kelima pendatang ini benar-benar terkejut, apalagi karena Pendeta Sakti Jawadwipa

memang sudah pernah beradu kekuatan dengan salah satu dari kedua orang kakek itu. Ya, kakek berpakaian hitam itu bukan lain adalah Naga Pattinam, si pendatang dari India.

Dan kakek itulah yang telah menyerangnya dan membuatnya kehilangan peluang mempertahankan Kitab Agama milik gurunya, dan kemudian kehilangan 3 lembar dari kitab itu yang berisi catatan Ilmu Silat saripati pemahaman gurunya selama puluhan tahun. Memandang kearah dua orang itu membuatnya kemudian berbisik kepada kawan-kawannya:

“Kelihatannya keadaan menjadi berbalik seperti ini, membuat pekerjaan kita menjadi jauh lebih muda”

“Benar kakang, tetapi keduanya sungguh-sungguh sakti mandraguna. Sungguh kekuatan mereka luar biasa”

“Benar adi Reksa, tingkat keduanya memang nampaknya berada di tataran yang hampir sama dengan guru. Akupun sendiri masih belum sanggup mengimbangi salah satu dari keduanya, masih kalah seusap. Jika keadaannya demikian, kelihatannya bahkan kita bakal membuat guru ikutan repot adi”

Bahkan Datuk Bukit Barisan dan Kakek Penjaring Anginpun sampai menggeleng-gelengkan kepala melihat kehebatan kedua kakek yang bertarung itu. Keduanya nampak saling pandang, dan Kakek Penjaring Angin bergumam:

“Sungguh, kitapun kelihatannya masih belum nempil menghadapi kedua tokoh dari India ini”

“Benar, keduanya sungguh-sungguh hebat. Kelihatannya mereka masih jauh lebih matang dari kita, terutama lambaran kekuatan batin yang dilandaskan atas pengerahan ilmu mereka” Datuk Bukit Barisan membenarkan.

Sementara itu, pertarungan itu sendiri, memang semakin meningkat ketahap pengerahan kekuatan yang luar biasa. Gelap dan terang berganti-ganti, bahkan sesekali dibalik awan gelap memercik kekuatan bagaikan halilintar yang membuat keadaan menjadi semakin lama semakin menyeramkan. Hanya kadang-kadang kedua kakek itu bergerak dengan Ilmu Silatnya yang nampak mirip itu.

Hanya bedanya, variasi dan tipuan serta kegesitan masih berpihak kepada si Kakek berjubah hitam, atau Naga Pattinam, sementara kemurnian dan kekokohan masih dimenangkan oleh Bhiksu Chundamani. Dalam posisi seperti itulah pertarungan keduanya berlangsung. Terkadang, pengerahan atau penyerangan hanya dilakukan melalui sepasang tangan yang nampaknya dijadikan kayuh atau menggiring angin serangan kearah lawan.

Dan kesudahannya selalu luar biasa, sebab jika tidak dielakkan, akan mengakibatkan lubang besar di tanah. Bila ditangkis, akan menyebabkan ledakan keras yang memekakkan telinga. Karena itu, maklum bila pertempuran aneh itu mendatangkan efek yang menakutkan bagi yang menontonnya.

Pertarungan tersebut semakin lama semakin meningkat ke tahapan yang sangat berbahaya. Lontaran-lontaran kekuatan kedua tokoh itu sudah dilambari oleh lebih dari setengah kekuatan batin masing-masing, dan akibatnya kekuatan tenaga dalam yang terlontar semakin berlipat efeknya.

Bahkan penonton yang berada di pinggiran arena, semakin terombang ambing angan dan pandangan mereka. Bagi mereka, yang bertarung dihadapan mereka adalah 2 Naga Putih dan Hitam, atau kadang-kadang berubah menjadi Burung Cokelat dan Putih, dan sesekali antara 2 ular besar yang mencoba saling terkam, saling lilit dan saling mematuk.

Hal tersebut membuat beberapa orang yang lemah kekuatannya sudah pingsan, sementara yang lain, jelas-jelas sudah dalam genggaman pengaruh mujijat yang menyebar dari arena pertarungan tersebut. Sungguh sebuah pertarungan yang mendebarkan, tetapi juga semakin lama semakin membahayakan banyak orang.

Melihat hal itu, Bhiksu Chundamani menjadi gelisah, karena kebanyakan mereka yang menonton adalah Bhiksu yang dipaksa bekerja di kuil yang siangnya dibuat nampak Kosong tersebut. Bila pertarungan dilanjutkan, maka sebagian besar dari Bhiksu dan pengikut Budha di kuil itu tidak akan pernah lagi menemukan kesadaran mereka akibat pengaruh mujijat berlawanan yang mempengaruhi kesadaran mereka dalam waktu lama. Tetapi, melawan adik perguruannya yang digdaya ini dengan setengah-setengah, hanya akan membuatnya menyerahkan nyawa.

Dia sendiri, meski tahu masih kalah tipis, tetapi tidak akan mungkin terkalahkan tanpa melukai adik perguruannya si Naga Pattinam. Mereka berdua memang diakui sebagai tokoh nomor wahid di India, tetapi meski saudara seperguruan, watak mereka sungguh bertolak belakang.

Kegelisahan ini semakin berlipat karena Naga Pattinam terus menerus meningkatkan lambaran kekuatan Batin lewat lontaran tenaga

dalamnya. Tindakan yang dengan terpaksa harus diikutinya jika tidak mau mati sia-sia. Tetapi bila meningkat beberapa kali lagi, maka bisa dipastikan, penonton yang masih berdiripun akan pingsan, sementara yang pingsan akan kehilangan kesadarannya untuk selama-lamanya. Sungguh sebuah pertempuran yang menguras tenaga dan pikirannya.

Di sisi lain, ke-4 Orang Sakti yang menonton pertempuran itu, juga menyadari keadaan itu. Tetapi, mereka heran, karena sama sekali tidak menemukan Sepasang Ular Dewa dan Datuk 9 Harimau Siluman dan Nini Hesti Cendani yang entah berada dimana. Pendeta Sakti Jawadwipa memandang kearah Bintang Sakti Membara dan kemudian berbisik kepada kawan-kawannya:

“Wanengpati, engkau segera berkeliling arena, tetapi jangan mendekat. Lontaran kekuatan mereka terlampau berat buatmu untuk saat ini, sebaiknya engkau mencari jejak Sepasang Ular Dewa dan kawan-kawannya”

“Baik guru” dan dengan segera dia berlalu. Wanengpati sadar, dua gajah yang bertarung itu terlampau besar untuk didekati, apalagi kekuatan yang mereka lontarkan sudah sulit untuk dimengerti olehnya. Sepeninggal Wanengpati, Pendeta Sakti Jawadwipa segera berkata:

“Adi Reksa, engkau lindungi aku untuk menyelamatkan mereka yang telah pingsan di pinggir arena ini. Jika dibiarkan, kondisi mereka akan merusak konsentrasi Bhiksu Chundamani. Bhiksu itu sungguh saleh dan nampaknya gelisah bakal membuat mereka yang pingsan bercacat selamanya. Engkau lindungi aku dengan pengerahan kekuatanmu”

“Benar Kakang, nampak sekali kegelisahan memancar dari wajah Bhiksu Saleh itu. Sebaiknya cepat kita lakukan” sahut Bintang Sakti Membara.

“Dan kuminta Kakek penjaring Angin dan Datuk Bukit Barisan untuk melakukan hal yang sama, memecah perhatian penonton yang tersisa dan menghalau mereka menjauh jika mereka ingin selamat” pinta Pendeta Sakti Jawadwipa kepada kedua Datuk Swarnadwipa itu.

“Baik, segera kita lakukan” Kakek Penjaring Angin menyahut diikuti oleh anggukan kepala Datuk Bukit Barisan. Sungguh mereka terperanjat, karena sadar bahwa mereka yang bertempur masih diatas kebisaan mereka yang berkuasa di Swarnadwipa. Bahkan Datuk Bukit Barisan membandingkan dengan kekuatan ayahnya yang juga dia tahu sangat luar biasa di usia seperti mereka yang bertempur itu.

Keduanya, Kakek penjaring Angin dan Datuk Bukit Barisan sadar, bahwa menerjang perisai pertarungan itu adalah pekerjaan yang super berbahaya, dan mereka merasa sulit menerjangnya. Diam-diam mereka kagum juga terhadap keberanian dan perhitungan Pendeta Sakti Jawadwipa, sekaligus sadar bahwa Pendeta itu dan adik seperguruannya nampaknya, masih seusap diatas mereka.

Sementara itu, kembali Naga Pattinam meningkatkan kekuatan tenaga dalam dan lontaran kekuatan batinnya. Kali ini, udara berpendar-pendar, dan dimata orang biasa, kedua tokoh itu nampak sedang bertarung diudara, saling serang dan saling terjang. Padahal, tubuh keduanya sedang bersedekap di dua penjuru yang berlawanan.

Saling serang keduanya mengakibatkan gelombang kekuatan yang luar biasa mendera keadaan sekeliling dan membuat benda-benda

ringan beterbangan. Bahkan benda padat kecil semacam kerikilpun terangkat dan beterbangan dan bisa melukai orang yang terkena benda beterbangan tersebut.

Dan pada saat yang berbahaya itu, saat setahap lagi kedua tokoh maha sakti itu memasuki tingkat merusak bagi korban yang pingsan, melayanglah tubuh Pendeta Sakti Jawadwipa, yang dibelakangnya nampak duduk bersedekap Bintang Sakti Membara sambil mengulurkan tangan kearah Pendeta Sakti Jawadwipa.

Dari tubuh Pendeta Sakti Jawadwipa berpendar cahaya kemerah-merahan, bagaikan Bintang berpendar dengan kekuatan panas membara, dan panas serta pendaran cahaya itu tambah pekat dengan lontaran kekuatan dari Bintang Sakti Membara untuk memperkuat pertahanan kakak seperguruannya. Meski demikian, toch, Pendeta Sakti Jawadwipa bekerja secara lamban untuk menyingkirkan para korban terdekat dari lapangan atau arena pertarungan.

Sementara itu, pekerjaan Kakek Penjaring Angin dan Datuk Bukit Barisan, sedikit lebih mudah karena lontaran kekuatan kedua tokoh yang bertarung itu terhambar perisai kekuatan gabungan Bintang Sakti Membara dan Pendeta Sakti Jawadwipa.

Perebutan (Lembaran) Kitab Pusaka (3)

Keadaan yang berubah itu sangat membantu Bhiksu Chundamani yang kemudian memusatkan perhatiannya untuk meladeni adik seperguruannya itu. Meski dia sadar dia masih kalah seurat, tetapi kekokohan dan kemurnian ilmunya membuatnya memiliki keyakinan untuk bisa bertahan.

Dan hal itu segera terbukti, karena sekali lagi Naga Pattinam menghentakkan kekuatannya. Kekuatan luar biasa yang diimbangi oleh adik perguruannya, dan kali ini, tiada lagi benda-benda yang beterbangan. Keadaan bahkan menjadi senyap, tiada lagi angin serangan yang tajam menusuk dan membela senyapnya malam.

Bagi mata biasa, keadaan menjadi normal, dan lucu melihat dua orang kakek yang seperti saling cowel saja dari kejauhan. Tetapi, jangan salah sangka. Keadaan ini, justru jauh lebih berbahaya, karena memasuki penggunaan puncak kekuatan kedua tokoh tersebut. Bahkan Pendeta Sakti Jawadwipa, terpaksa menghentikan pekerjaannya, dan ada sekitar 5-6 Bhiksu yang terpaksa tak tertolong lagi, tidak sempat lagi, karena kekuatan yang menindih sudah demikian hebatnya.

Dan dari semua lubang hidung, mata dan telinga mereka mulai mengucurkan darah hidup, dan Pendeta Sakti Jawadwipa dengan terpaksa bersedih bagi mereka yang tak mungkin tertolong lagi. Dengan segera, diapun kemudian melompat kedekat adik seperguruannya, dengan berdekatan, keduanya sanggup meningkatkan energi mereka dan bertahan dari pertarungan menyeramkan itu.

Beberapa meter di belakang mereka, Kakek Penjaring Angin dan Datuk Bukit Barisan juga bertahan dengan kondisi yang serupa, mereka telah mampu menyingkirkan penonton yang segera sadar bahaya dan lari bersembunyi.

Dan pertarungan mendebarkan itu, kini berlangsung lebih menakjubkan lagi. Bhiksu Chundamani nampak sudah mencurahkan seluruh perhatiannya menghadapi Naga Pattinam, sementara

sebaliknya Naga Pattinam menjadi berdebar-debar melihat masuknya Pendeta Sakti Jawadwipa yang sudah dia tahu kemampuannya.

Keadaan kini berbalik, tetapi keadaan sudah begini mendesak, dia sadar jika diteruskan, menang sekalipun, dia tidak akan mungkin lepas dari keadaan yang rugi. Tetapi, mengurangi tekanan, jika tidak diimbangi lawan yang juga menurunkan tekanan, sangatlah berbahaya. Karena itu, keadaan menjadi berbalik, dan Bhiksu Chundamani memantapkan posisi dan kedudukannya.

Tetapi, sebagai kakak dan adik perguruan, keduanya sadar akan bahaya yang sednag mengancam. Takkan ada seorangpun dari keduanya yang akan keluar dari arena tanpa terluka parah, menang ataupun kalah, karena selisih mereka yang cuma seurat, dengan kekurangan dan kelebihan masing-masing.

Dan sorot mata keduanyalah yang kemudian menyelamatkan mereka, dengan perlahan namun pasti secara bersama mereka mengurangi tekanan dan lontaran kekuatannya. Pertarungan itupun perlahan namun pasti mulai mengalami tensi menurun, dan lama kelamaan tahapan berbahayapun sudah terlewati.

Tetapi, keempat tokoh sakti di sekitar arena, tetap berdiam diri dalam kesiagaan menjaga diri. Dan karena itu, mereka tidak sanggup lagi mencegah ketika Naga Pattinam tiba-tiba melejit tinggi keudara dan dengan teriakan mengerikan meninggalkan tempat itu. Meskipun berlalu, dari kejauhan masih terdengar suaranya:

“Chundamani, akupun tertipu. Lembaran itu telah dilarikan orang, dan engkau tahu aku jarang berdusta untuk urusan demikian” dan seterusnya suara itu kemudian lenyap tak berbekas.

Cukup lama waktu yang diperlukan Bhiksu Chundamani untuk kemudian menarik nafas panjang dan membuka matanya. Dihadapannya bersila 4 orang yang nampak sudah lebih dahulu memulihkan diri, dan memandang kagum Bhiksu Maha Sakti yang sudah berusia demikian lanjut ini. Bhiksu itu kemudian buru-buru memuji kebesaran Budha:

“Budha Maha Pengasih ……. Saudara-saudara, terima kasih atas bantuan kalian semua. Jika tidak, sungguh sulit membayangkan korban dari akhir pertempuran tadi. Hm, adik seperguruanku memang sangat hebat, malah masih sedikit mengatasiku, dia memang luar biasa”

“Bhiksu, benar-benarkah dia si Naga Pattinam adalah adik perguruanmu sendiri”?

“Benar …. benar sekali. Hanya sejak muda, dia memang sangat berbakat, dan bahkan banyak mengembara meluaskan kemampuan silatnya. Berbeda denganku yang lebih tekun mengurusi urusan agama. Tetapi, kegemarannya akan ilmu silat, memang sering membuatnya berjalan kearah yang keliru, meskipun dia sendiri sebetulnya bukanlah orang jahat. Kelihatannya, nafsu dan keinginannya untuk melihat dan meninjau lembaran kitab gurumu memancingnya datang hingga ketempat ini.”

“Tapi, Bhiksu, apa maksud dari perkataannya yang terakhir? Apa benar lembar kitab itu tidak berada di tangannya”? Bintang Sakti Membara bertanya

“Untuk perkataannya itu, aku percaya. Bahkan dia kehilangan murid kepercayaannya, murid kepalanya, yang justru dibunuh oleh orang lain. Dan kitab itu dibawah lari oleh orang lain” jawab Bhiksu Chundamani

“Apakah perkataannya bisa dipegang Bhiksu”? Bintang Sakti Membara kembali bertanya, sementara Pendeta Sakti Jawadwipa membiarkan saja adiknya terus bertanya.

“Hm, untuk kata-katanya, bisa dijamin dia tidak berdusta. Pengalaman hidup bersamanya puluhan tahun membuatku bisa menduga, dia berdusta atau tidak. Lagipula, beberapa Bhiksu disini, juga membenarkan kematian muridnya yang dibokong orang dan kemudian melarikan lembaran kitab itu”

“Tapi, adakah informasi tentang siapa gerangan yang melarikan kitab itu Bhiksu”? Pendeta Sakti Jawadipa akhirnya bertanya

“Menurut adikku, ada dua orang Datuk dari Swarnadwipa yang membokong. Dan bahkan, kedua murid adik perguruanku itu, ikut membokong dan membantu kedua datuk itu hingga mereka bisa melepaskan diri dari tempat ini. Nampaknya ketika tiba ditempat ini dan mengobati murid kepalanya yang terluka ditanganku, mereka kena diserang dan terampas lembar kitab itu. Dalam keadaan tenaga kurang, agak sulit adik perguruabnku itu meladeni keempat orang itu. Untungnya, kedua murid murtadnya itu masih segan melukai gurunya dan segera melarikan diri dari tempat ini bersama kedua temannya itu”

Mendengar penjelasan tersebut, semua orang terdiam dan terkejut dengan lintasan pikiran dan kepentingan yang berbeda-beda. Pendeta Sakti Jawadwipa menjadi muram, karena persoalan menjadi melebar dan bakal mengaduk-aduk tanah Swarnadwipa. Demikian juga dengan Bintang Sakti Membara, yang tiba-tiba merasa bahwa kesenyapan dan kedekatan dengan alam akan terganggu dengan tugas memburu lembar kitab ciptaan gurunya.

Sementara itu, Datuk Bukit Barisan dan Kakek Penjaring Angin juga berpikiran yang sama nyelimetnya. Mereka berpikir, jika kedua datuk lawan mereka memperoleh tambahan pelajaran Ilmu Sakti, maka keseimbangan di Swarnadwipa bisa terganggu. Dan sudah tentu hal tersebut tidak boleh dibiarkan. Dan karena itu juga, keduanya jadi terpacu untuk ikut secepatnya memikirkan bagaimana menemukan lembar kitab itu untuk kepentingan keseimbangan kekuatan diantara 4 Datuk Swarnadwipa itu.

Sementara Bhiksu Chundamani sendiri sudah membulatkan tekadnya untuk segera meninggalkan Bumi Sriwijaya, karena semua niat dan tugasnya dirasakannya sudah diselesaikannya. Demikianlah untuk sejenak kelima orang sakti itu tenggelam dalam pikiran masing-masing, sampai kemudian keheningan dipecahkan oleh suara Bhiksu Chundamanu:

“Budha maha pengasih …… ada waktu berjumpa, ada waktu kita berpisah. Sampaikan salamku kepada Guru kalian. Setelah lembaran kitab gurumu tidak lagi ditangan keluarga perguruanku, maka tugasku terhadap gurumu sudah selesai. Dan tugasku di Bumi Sriwijaya juga sudah berakhir, dan dari tempat ini aku akan menyusul adik perguruanku untuk segera bertolak kembali ke India. Sangat mungkin ditempat lain kita akan berjumpa pula. Salam ku pula buat tokoh-tokoh di Bumi Sriwijaya ini” Setelah menjura kepada ke-4 tokoh itu, Bhiksu Chundamani kemudian minta diri diiringi oleh tatapan penuh haru dan kekaguman. Betapapun mereka melihat Bhiksu Tua ini dengan penuh hormat dan kagum, baik atas kesaktiannya, maupun atas kesalehannya dan keramahannya.

Tetapi, beberapa saat kemudian, tiba-tiba baik Pendeta Sakti Jawadwipa maupun Bintang Sakti Membara mendengar suara yang disampaikan dari jauh, dan nampaknya oleh Bhiksu Chundamani:

“Kalian kakak beradik perguruan, nampaknya harus lebih siap untuk memasuki tanah India dan Tiongkok. Kelihatannya kalian akan ditunggu dan diterjang begitu banyak persoalan sejak hari ini. Semoga berhasil …..”

Pendeta Sakti Jawadwipa memandang Bintang Sakti Membara segera setelah suara itu berlalu. Dan Bintang Sakti Membara segera berkata:

“Benar sekali pesannya kakang, untung aku sudah memakan sebutir buah mujijat dari guru. Akan butuh waktu beberapa lama bagi kita untuk meningkatkan kemampuan kita, jika memang kita mesti merambah tanah India dan Tiongkok kakang”

“Kamu benar adi, semoga kita berhasil”

===============

Sementara Pendeta Sakti Jawadwipa dan Bintang Sakti Membara bersama dengan Kakek Penjaring Angin dan Datuk Bukit Barisan sibuk memburu lembaran kitab pusaka yang dibawa kabur orang, di tempat lain, Panglima Jayeng Kencana sukses menahan serbuan Armada Laut Kerajaan Chola.

Sebulan sudah berlalu, sejak serbuan armada Laut tersebut, tetapi semua serbuan dengan berbagai taktik yang dijalankan, mampu dipapas dan dipukul mundur oleh armada laut Kerajaan Sriwijaya. Panglima Jayeng Kencana sendiri yang langsung memimpin

penghadangan, dan bahkan kemudianmengusir armada laut lawan untuk kembali berlayar kelautan.

Bahkan penyerangan berikutnya, dengan armada Kerajaan Cola yang lebih besar, juga tidak mampu menggemingkan posisi armada Sriwijaya yang bertempur bersemangat bersama dengan panglimanya. Banyaklah kapal-kapal perang lawan yang dikaramkan. Tetapi, meski demikian, segera jelas, bahwa persiapan perang lawan kali ini jauh lebih siap, karena penyerangan demi penyerangan terus dilakukan, meskipun dari daya tahan, disiplin dan taktik, serta terutama penguasaan lapangan atau medan, armada Sriwijaya jauh unggul.

Selama peperangan di lautan itu berkecamuk, ubek-ubekan dan perburuan terus dilakukan di daratan. Terutama antara tokoh-tokoh sakti Jawadwipa, Swarnadwipa dan India yang terlibat dalam perburuan dan perebutan kitab Sakti tersebut. Kabar terakhir yang bisa dipercaya didapat Datuk Bukit Barisan, bahwa tokoh-tokoh India bersembunyi di sebuah gunung yang menjadi salah satu markas Datuk 9 Harimau Siluman.

Sebuah kebetulan, karena salah seorang anak buah Datuk Bukit Barisan memergoki rombongan itu berendap-endap mendaki sebuah gunung yang berada jauh di selatan Ibukota Sriwijaya. Bahkan pengintaian kemudian dilakukan lebih jauh dengan melakukan penyusuoan, dan dalam hal ini memang adalah kebisaan anak buah Datuk Bukit Barisan.

Dan hasilnya sangat cemerlang, karena diketahui, kedua tokoh India itu menunggu berlabuhnya tentara Darat Kerajaan Cola yang akan masuk dari sebelah Barat Pulau Swarnadwipa dan akan masuk

menyerang langsung ke Pusat Kota Sriwijaya. Berita yang sangat mengejutkan ini kemudian disikapi secara cepat oleh kelima orang itu.

Wanengpati ditugasi untuk kembali ke Ibukota menyampaikan berita itu kepada Suro Bhakti, sementara ke-4 tokoh sakti itu akan bergerak cepat menyerbut markas Datuk 9 Harimau Siluman sebelum Tentara Darat Kerajaan Cola datang menyerang. Terutama, karena menurut perhitungan Bintang Sakti Membara, dalam beberapa hari lagi, Tentara Darat itu akan segera mendarat. Dan jika demikian, maka kesulitan besar akan segera menghadang mereka, baik merebut kembali lembaran kitab pusaka, maupun menjaga keutuhan Sriwijaya dari serangan bangsa asing.

Dalam upaya keras dengan berjalan selama 2 hari, akhirnya ke-4 tokoh sakti itu berhasil mendekati salah sarang Datuk 9 Harimau Siluman yang digunakan sebagai tempat persembunyian sementara tokoh-tokoh buruan mereka. Sambil menunggu malam hari, saat yang mereka tetapkan untuk bergerak, sekaligus menunggu anak buah Datuk Bukit Barisan, ke-4 tokoh tersebut beristirahat sejenak.

Kecuali Kakek Penjaring Angin, yang seperti biasa, dengan ilmu sejenis Panglimunan, mampu bergerak seperti menghilang saking cepatnya. Kakek ini dengan inisiatif sendiri bergerak ke markas lawan untuk menghitung dan menjejaki kekuatan lawan. Ada kurang lebih 3-4 jam Kakek Penjaring Angin mengerjakan pekerjaan yang memang menyenangkan baginya itu, ubek-ubekan dan main sembunyi-sembunyian.

Dan dengan kesaktiannya yang luar biasa dalam bergerak, membuat kemampuannya untuk bersembunyi atau berlari menjadi tiada duanya di Swarnadwipa. Tidak percuma dia dijuluki Kakek Penjaring Angin.

Dari pekerjaannya menyusup dan mengintai markas musuh itulah dia mendapat gambaran berapa kekuatan lawan, dan bagaimana harus menyerang markas itu di malam hari. Harus dengan kejutan.

Dan memang, malam itu juga, siasat mengejutkan lawan akan digunakan setelah terlebih dahulu ke-4 tokoh itu menyusup masuk ke sarang lawan. Pembagian tugasnyapun sudah dilakukan, dimana Pendeta Sakti Jawadwipa dan Bintang Sakti Membawa akan langsung mencari siapa yang memegang Lembaran Kitab itu dan merampasnya, sementara kedua Datuk yang lain akan menimbulkan kekacauan segera setelah Lembaran itu bisa dirampas kembali.

Dan kekacauan akan diikuti oleh serbuan anak buah Datuk Bukit Barisan ke markas musuh untuk menambah efek kejutan tersebut. Dan demikian memang kemudian dikerjakan pada malam itu. Diawali oleh melayangnya 2 tubuh memasuki bagian belakang markas yang nampak tidak terjaga baik, karena memang tidak menyangka jika malam itu akan terjadi penyerangan.

Dan dengan cepat kemudian kedua tubuh itu mencari tempat yang aman, tetapi kesulitan untuk menduga, dimana kira-kira tempat persembunyian tokoh utama yang mencuri lembaran Kitab itu. Selain itu, masih menjadi masalah, siapa dari ke-4 tokoh itu yang memegang dan menyimpan lembaran Kitab tersebut.

Tengah keduanya kebingungan menentukan arah, tiba-tiba Bintang Sakti Membara bergerak kearah salah seorang penjaga yang kebetulan berjaga sendirian di sebuah sudut. Dan dengan sekali tepuk, orang tersebut segera kehilangan kesadarannya, dan diseret ke kegelapan. Sementara Pendeta Sakti Jawadwipa, hanya memandangi

saja pekerjaan adik seperguruannya, dia maklum apa yang sednag dilakukan adik perguruannya itu.

Begitulah, dalam kondisi terjepit, dan dalam tekanan begitu banyak persoalan, bahkan seorang saleh semisal Pendeta Sakti Jawadwipapun harus kembali bertoleransi dengan kekerasan. “Apa boleh buat” pikir Pendeta Sakti Jawadwipa.

Benar “apa boleh buat” memang sering menjadi alasan atau pembenaran terhadap tindakan apapun ketika jalan normal dianggap sudah buntu. Dan kata “apa boleh buat”, mau tidak mau menjadi menjadi sering sebagai alasan terhadap tindakan ataupun perbuatan yang boleh dikata menyimpang dari jalan yang selama ini ditempuh dan diyakini.

Mirip dengan Pendeta Sakti Jawadwipa dan Bintang Sakti Membara, yang sebenarnya puluhan tahun menjauhkan diri dari kekerasan, tetapi ketika jalan yang biasanya mereka tempuh gagal, maka “apa boleh buat” jalan lama dengan terpaksa harus ditempuh. Dan nampaknya, memang “apa boleh buat” itu banyak terjadi dalam konteks kehidupan manusia. Untuk pembenaran atas apa yang dengan sengaja dipilih untuk dikerjakan meski sebetulnya itu bukan pilihan yang ideal. Apalagi jika kemudian jalan “apa boleh buat” ternyata memang mendatangkan sukses. Tidak salah jika bahkan orang-orang saleh dan hebat sekalipun memang dengan “terpaksa” menempuh jalan “apa boleh buat” itu.

Dan memang demikian akhirnya. Seorang yang menjaga keselarasan dengan alam selama 15 tahun terakhir, juga secara terpaksa harus memakai kembali cara lama untuk melakukan tugas mengejar lembaran Kitab gurunya yang terampas orang. Dan memang,

cara itu ternyata ampuh, karena dengan cepat informasi dimana persembunyian atau peristirahatan ke- 4 tokoh utama yang bersembunyi di markas itu dapat diketahui.

Bahkan lengkap dengan kebiaaan mereka setiap malam, yakni berpesta hingga jauh malam, untuk kemudian bernagkat istirahat menjelang subuh. Kondisi ini membuat lega baik Pendeta Sakti Jawadwipa, maupun Bintang Sakti Membara yang kemudian tahu bahwa saat itu adalah saat yang tepat untuk melakukan penggeledahan. Maklum, sudah sekitar jam 11 malam, dan jam seperti itu adalah jam yang tepat untuk melakukan pesta malam hari.

Dan lebih menguntungkan lagi, lokasi pesta itu, kebetulan berjauhan dengan tempat beristirahat dari tokoh-tokoh tersebut. Kebetulan itu dengan segera dirasakan sebagai anugerah, dan tidak berapa lama kedua bayangan pesat tersebut sudha meluncur kearah timur, ke area yang terdiri dari rumah-rumah yang terhitung mewah dibandingkan dengan rumah lain di sebelah Barat, Selatan dan Utara.

Tetapi, ada satu hal yang membuat kedua tokoh sakti dari Jawadwipa itu keliru. Mereka lupa, 2 dari 4 tokoh yang mereka kejar adalah Nenek-nenek. Yakni, Gayatri dan Nini Hesti Cendana. Dan adalah Gayatri yang pada malam itu, kebetulan berada di salah satu rumah istirahat yang kebetulan mendapat giliran disatroni terakhir oleh kedua tokoh itu.

Dan, nenek sakti itu dengan cepat mengetahui bahwa lawan sudah mencium keberadaan mereka. Menyadari bahaya, Nenek Gayatri dengan cepat mengambil langkah pengamanan, bersembunyi. Tetapi, begitu mengetahui kekuatan lawan yang besar, dari sekedar bersembunyi, nenek yang cerdik ini kemudian malah kabur

meninggalkan markas itu. Dan itulah jejak nenek Gayatri yang terakhir diketahui di Swarnadwipa.

Dan, hilang jugalah salah satu lembaran Kitab Sakti dari Jawadwipa, lolos ke negeri orang. Lembaran yang hilang itu adalah lembaran pertama dari 3 lembar yang dicuri dari Kitab Agama ciptaan guru ke dua tokoh asal Jawadwipa itu.

Di tempat lain, sementara kedua tokoh sakti Jawadwipa mengobrak-abrik kamar tempat istirahat tokoh-tokoh yang lain, bahkan juga ruangan Nenek Gayatri yang sudah kosong, tiada satupun yang mereka temukan. Sedangkan pesta sedang dan akan terus berlangsung bahkan nampaknya seperti biasa akan sampai subuh nantinya.

Dan di barisan para penikmat itu, nampak Datuk 9 Harimau Siluman, Mahendra dan Nini Hesti Cendani, dan salah seorang yang nampak berada di sudut tetapi dengan tingkah yang misterius. Tetapi, dalam situasi yang meriah seperti itu, sudah pasti tidak ada yang memperhatikan tingkah misterius orang tersebut.

Apalagi, karena sosok misterius itu, sudah bersama dengan tokoh-tokoh yang bersembunyi di markas itu sejak sebelum melarikan diri dari Kuil Kosong dekat kota raja Sriwijaya. Karena itu, maka perjamuan dan pesta itu berlangsung terus dan terus tanpa adanya tanda-tanda bahwa pesta itu akan berhenti meski sudah lewat tengah malam.

Bahkan pesta itu semakin bertambah meriah, dan tanda-tanda mabuk mulai tersiar dari sebagian besar peserta pesta, kecuali beberapa orang yang berkepandaian yang masih sanggup menahan dri mereka.

Episode 13: Tragedi Shih Li Fo Shih (Sriwijaya)

Bersamaan dengan semakin larutnya malam dan semakin brutalnya pesta, kedua tokoh Jawadwipa, Pendeta Sakti Jawadwipa dan Bintang Sakti Membara, akhirnya sadar. Nampaknya, lembaran dari kitab Guru mereka tidak disimpan di ruangan tersebut, dan bisa dipastikan selalu dibawa oleh mereka yang memegangnya.

Dan yang dicurigai memegangnya adalah 3 dari antara 4 tokoh sakti itu: Entah siapa ketiga orang tersebut. Yang pasti, tiga dari antara Mahendra, Gayatri, Nini Hesti Cendana dan Datuk 9 Harimau Siluman pasti memegang satu lembaran masing-masing. Sulit dipastikan, siapa yang tidak memegang lembaran itu dari keempat manusia sesat itu.

“Adi, kelihatannya mereka tidak menyimpan lembaran itu di ruangan pribadi mereka. Tak satupun yang kita temukan”

“Benar kakang, kelihatannya pertempuran sudah pasti akan pecah. Dan itu jalan satu-satunya untuk menemukan dan merampas kembali lembaran-lembaran tulisan Guru itu”

“Benar Adi, tetapi siapa kira-kira yang memegangnya? Dan bagaimana pula kita mengetahuinya”?

“Hanya ada satu cara saat ini kakang, yakni menyerang mereka dan berusaha merampasnya”

“Baiklah, jalan seperti ini terpaksa harus kita tempuh kembali Adi”

“Benar kakang, tiada cara lain” Seperti Pendeta Sakti Jawadwipa, Bintang Sakti Membarapun nampak menyesal dengan satu-satunya pilihan yang tersedia itu. Dan keduanya dengan tetap berhati hati

kemudian bergabung dengan kedua Datuk Swarnadwipa lainnya dan bersama mengatur rencana penyerangan di ruangan pesta.

“Sedapat mungkin kita tidak mengusik keramaian mereka. Dan begitu memasuki ruangan, masing-masing kita memilih satu musuh dan kemudian menyerangnya secepat mungkin” Saran Datuk Bukit Barisan

“Hm, tetapi cara itu kurang satria” gumam Bintang Sakti Membara

“Benar, memang kurang satria. Tetap, cara mereka mengambil benda itupun memang tidak satria. Mengandalkan kegagahan akan membuang waktu dan membuat mereka menyingkir dibalik perisai anak buah mereka” tegas Datuk Bukit Barisan

“Benar, dan bila itu terjadi, kita terpaksa harus banyak memukul dan merobohkan orang. Dan jaminan keberhasilannyapun sangat sedikit” Kakek Penjaring Angin ikut bicara, kali ini dengan nada sangat serius.

“Hm, kalian benar. Dengan tingkat kepandaian kita yang sangat sedikit jaraknya, memang mau tidak mau kita mesti menggunakan cara yang mereka gunakan terhadap kita. Memanfatkan efek kejutan untuk kemudian merogoh kantong orang, siapa gerangan dari mereka yang memegang lembaran sakti itu” Bintang Sakti Membara berkata sedikit menyetujui, dengan hanya mentolerir menyodok kantong orang. Itupun sambil melirik kakak perguruannya yang kelihatannya manggut manggut menyetujui sarannya.

“Baik, kita tetapkan dengan cara demikian” tegas Datuk Bukit Barisan. Dan keempat manusia sakti itupun kemudian menggunakan kesaktian mereka untuk kemudian mendekati tempat pesta. Tiada seorangpun yang mengetahui kedatangan ke-4 manusia itu, dan

peserta pestapun semakin tenggelam dalam kenikmatan pesta tanpa sadar bahaya sudah didepan hidung.

Tetapi, benarkah tiada seorangpun yang mengetahui kedatangan ke empat manusia sakti tersebut? Sama sekali keliru. Si orang misterius yang sejak tadi tidak ikut dalam kemeriahan pesta meski berada dalam ruangan itu, nampak menjadi gelisah dengan keadaan tersebut. Perlahan lahan tangannya mengeluarkan sehelai kain, dan kelihatannya dia sedang menyiapkan sesuatu.

Hanya sejenak kegelisahan hinggap di wajahnya yang misterius itu, seterusnya dia kemudian mantap dengan pilihan kerja yang harus dia lakukan. Dan sudah tentu, dia tidaklah akan menunggu sampai manusia-manusia yang diendusnya berkepandaian akan memulai aksinya terlebih dahulu.

Tidak, sama sekali tidaklah demikian. Apalagi karena dia mengenal kesaktian dua diantara empat orang yang sedang mendatangi tempat pesta tersebut. Tidak, dia harus memulai sebelum suasana terlanjur sulit dikendalikan lagi. Dan untuk maksud tersebut, si manusia misterius ini sudah tahu siapa sasaran yang harus ditujunya agar keuntungannya nyata.

Alias tidak sia-sia semua yang direncanakan dan dikerjakannya selama ini. Dia mengincar seseorang yang dia tahu memegang lembaran yang paling penting, karena dia sadar, ketika atau waktu kejutan hanya berlangsung singkat dan sulit memanfaatkannya untuk dua urusan besar pada saat bersamaan.

Disiapkannya 8 senjata rahasia ditangannya, nampaknya akan diusahakannya ke delapan senjata tersebut akan mampu

memadamkan penerangan di ruangan pesta, sehingga akan dengan mudah dia mengerjakan segala upaya dan rencananya tersebut. Apalagi ketika melihat, sasarannya sudah setengah mabuk.

Detik detik menegangkan semakin terasa, terutama bagi 5 orang: 4 orang pendatang dan si manusia misterius dalam ruangan pesta. Dan tepat ketika ke empat pendatang sudah sangat dekat dengan pintu masuk ruangan pesta, tiba-tiba terdengar teriakan dahsyat:

“Ada penyerang, siaga” dan bersamaan dengan teriakan itu, meluncurlah 8 senjata rahasia kearah 8 obor penerangan yang dengan cepat memadamkan obor tersebut. Dan pada saat obor tersebut padam, pintu masuk digedor dan bahkan diterjang dari luar, dan meluncurlah masuk 4 bayangan tubuh manusia. Tetapi, keempatnyapun dihadang oleh kegelapan ruangan pesta, bahkan hanya cahaya temaram yang mereka temui, itupun hasil dari pintu masuk yang sedikit tersibak ketika mereka menerjang masuk.

Sementara itu, pada saat kekacauan terjadi, bayangan si manusia misterius bergerak sangat gesit dan pesat. Dengan cepat dia mencelat kearah Nini Hesti Cendani yang sedang sangat terkejut dan belum menemukan keseimbangannya. Dan sebelum Nini Hesti Cendani sadar betul dengan apa yang sedang terjadi, tiba-tiba kantongnya seperti ada yang menyentuh. Dan secepat itu pula dia menemukan kesadaran dirinya, tahu bahwa dia sedang dan bahkan telah dikerjai orang:

“Setan, ada pencuri” dan bersamaan dengan itu, dikebaskannya tangannya dan melayanglah jiwa seorang pemuda dalam pangkuannya. Tetapi, dia hanya merasakan melesatnya satu tubuh misterius dan menjauh darinya. Herannya, tanpa dia tahu siapa yang

melakukannya. Dengan segera meluncurlah jeritan atau teriakan dari mulutnya:

“Lembaranku tercuri, setan siapa engkau”? tetapi nenek itu butuh waktu sekejap untuk menyadari siapa yang mencuri lembaran dikantongnya. Ketika menyadarinya, pencuri itu sudah melesat menjauh dan sulitlah diikuti matanya yang masih coa beradaptasi dalam kegelapan.

Sementara itu, keempat pendatang menjadi terkejut dengan keadaan dalam ruangan yang diluar perhitungan mereka. Adalah Bintang Sakti Membara yang cepat menyadarinya:

“Celaka, sesuatu telah terjadi” dan Dengan cepat dia menggedor dan memecahkan pintu masuk ruangan pesta. Tetapi, ketika keempatnya melesat masuk, hanya kegelapan semata yang mereka temukan. Keempatnya sama bingungnya dengan Mahendra, dan kedua Datuk Swarnadwipa lainnya, tidak tahu perkembangan dan apa yang sedang terjadi.

Tetapi, adalah mata awas Pendeta Sakti Jawadwipa yang sempat mengikuti adegan melesatnya sosok tubuh menjauh dari Nenek Hesti Cendana, dan adegan itu membuat hatinya mencelos. “Celaka” pikirnya ….. “Sungguh akan semakin rumit keadaannya”. Tetapi, setelahnya, sosok tubuh itupun berbaur dalam kekacauan tanpa sanggup diidentifikasi sosok itu berada dimana kini.

Dan, ketika kemudian nyala api kembali menerangi tempat tersebut, semua menjadi tersentak, karena dalam ruangan tersebut kini bertambah 4 orang asing. Tetapi, baik Mahendra, Datuk 9 Harimau Siluman dan Nini Hesti Cendani memandangi keempat pendatang

tersebut sambil tersenyum. Sementara si pencuri atau si manusia misterius entah sudah menghilang kemana. Bahkan Pendeta Sakti Jawadwipapun tak sanggup lagi menjejaki kemana perginya manusia yang hanya sanggup diikutinya adegan menjauh dari Nini Hesti Cendani.

“Hm, kukira siapa. Ternyata kawan-kawan lama. Sunguh tak tahu malu memanfaatkan kegelapan untuk mengambil sesuatu dari kantongku” Nini Hesti Cendani sudah dengan cepat menduga, bahwa yang sanggup bergerak cepat mengibulinya adalah Kakek Penjaring Angin, kawan atau lawan lama.

Maklum, hanya Kakek itu yang dikenalinya dan diakuinya akan sanggup mengadalinya dalam soal kecepatan bergerak. Siapapun tahu, bahwa memang kakek itu terkenal sakti dan terkenal kehebatannya dalam soal bergerak cepat. Dan hanya Kakek itu yang nampaknya mungkin melakukan gerak cepat merogoh saku atau kantong Nini Hesti Cendani.

Sama sekali sulit bagi sang Nenek untuk menyadari bahwa ada orang lain lagi yang ikut bermain dalam skenario keributan, bahkan orang itu yang merancang skenario tersebut.

“Hahahahaha, itu namanya maling berteriak maling” seperti biasa Kakek Penjaring Angin seperti angin-anginan menghadapi persoalan.

“Hm, kamu telah berubah pengecut dan tidak berani mengakui perbuatanmu mencuri lembaran itu dari kantongku Kakek Peot Penjaring Angin”?

“Heheheh, Nini bernama cantik berkelakuan buruk, siapa kesudian menyentuh tubuhmu yang sudah layu itu ……. Hehehehe, belum layupun belum tentu aku sudi melakukannya”

“Kurang ajar, sejak kapan engkau berubah menjadi pengecut dan tidak berani mengakui perbuatanmu”? Nini Hesti Cendani menjadi murka. Murka dan malu kehilangan lembaran sakti, juga murka terhadap Kakek Penjaring Angin yang justru mempermainkannya.

“Karena memang bukan aku yang mencolekmu nenek peot, hehehehehe” tegas Kakek Penjaring Angin.

“Pengecut, rasakan seranganku” bersamaan dengan seruan itu, Nenek Hesti Cendani telah menyerang Kakek Penjaring Angin dengan pukulan yang luar biasa. Dan pertarungan pertama segera pecah di ruangan tersebut. Pada saat pertempuran itu terjadi, semua orangpun kemudian memberi ruang bagi keduanya untuk bertarung menentukan pemenang. Tetapi, kedua petarung itu sudah saling tahu kemampuan masing-masing, dan pertempuran mereka tidak akan selesai dalam waktu singkat. Keduanya paham akan hal tersebut.

Dan ketika kemudian pertempuran keduanya terjadi, nampak Datuk 9 Harimau Siluman telah bergerak mendekati Datuk Bukit Barisan. Dan tidak ada percakapan yang terjadi antara keduanya, karena keduanya maklum bicara takkan berguna dalam kondisi seperti sekarang. Karena itu, dengan segera keduanya menciptakan arena pertempuran kedua, pertempuran antara tokoh-tokoh utama Swarnadwipa.

Dan kesudahannya sungguh luar biasa, angin pertempuran dengan segera memenuhi arena tersebut. Seliweran angina pukulan dahsyat menyebabkan tidak menunggu waktu lama, ruangan pesta tersebut

runtuh. Maklum angin serangan keempat manusia sakti Swarnadwipa tersebut bukan olah-olah hebatnya.

Sebagaimana pertarungan sebelumnya antara Kakek Penjaring Angin melawan Nini Hesti Cendani, pertempuran antara Datuk Bukit Barisan melawan Datuk 9 Harimau Siluman juga berjalan keras, ketat dan nampak seimbang. Maklum, keempat tokoh besar Swarnadwipa ini memang adalah tokoh-tokoh standing dan sudah sering bertempur bahkan dnegan saling tukar lawan.

Sudah puluhan kali mereka bertarung dan masih tetap belum ada seorangpun dari mereka ang sanggup untuk memenangkan pertandingan melawan siapapun diantara mereka berempat. Dan kali ini, kembali keempatnya terlibat dalam sebuah pertarungan.

Sementara itu, Bintang Sakti Membara selalu mengawasi pergerakan Mahendra. Sedangkan Mahendra yang diawasi menyadari keadaannya, tetapi untuk bergerak dia merasa segan, karena kondisi dan posisinya agak lemah.

Apalagi pasangan bertarungnya, Gayatri tidak berada disisinya, sedangkan gurunya yang sakti sudah dikhianatinya. Posisinya sungguh-sungguh runyam. Jika dia tahu Gayatri telah meninggalkannya, maka keadaannya pasti akan menjadi lebih menyedihkan lagi. Sementara itu, sambil menonton pertarungan, Pendeta Sakti Jawadwipa berbisik lirih dengan Ilmu Menyampaikan Suara kepada Bintang Sakti Membara:

“Adi, aku merasa ada sesuatu yang tidak beres disini”

“Benar kakang, akupun merasa seperti ada sesuatu yang hilang. Tapi aku tidak tahu bagaimana menjelaskannya”

“Aku sempat menangkap sebuah bayangan yang merogoh sesuatu dari kantong Nini Hesti Cendani. Hanya, bayangan itu bergerak sungguh cepat, dan herannya gaya bergeraknyapun telalu mirip dengan gaya bergerak kita. Ada apa gerangan dengan semua kejadian ditempat ini”?

“Maksud kakang”?

“Sudah pasti bukan Kakek Penjaring Angin yang mengambil lembaran itu dari Nini Hesti Cendani. Tetapi, Nini itu, juga tidak berdusta kalau lembaran itu tidak ditubuhnya lagi. Tapi, siapa gerangan yang mempermainkan kita semua”?

“Kakang pasti sudah punya dugaan” Bintang Sakti Membara menduga

“Benar, tetapi bukan sekarang saatnya membicarakannya. Masih ada dua buah lembaran lagi, tetapi entah ditangan siapa. Di tangan Mahendra atau di tangan Datuk 9 Siluman Harimau dan dimana gerangan Gayatri”?

“Benar kakang, tidak mungkin Gayatri yang mempermainkan kita semua. Aku masih cukup mengenal kemampuannya. Pasti ada orang lain, dan bukan tidak mungkin Gayatri sudah jatuh ditangannya. Hm, kakang, sebaiknya Kakang mengawasi Datuk 9 Siluman Harimau, biarlah adi yang mengawasi Mahendra”

“Hm, baiklah Adi. Engkau sebaiknya mengurusi Mahendra secepatnya, biarlah Datuk Siluman itu kuawasi”

Sementara itu, pertarungan antara Nini Hesti Cendani melawan Kakek Penjaring Angin menjadi semakin sengit. Tetapi, kemanapun

arah pukulan bebisa Nini Hesti, selalu dengan mudah dielakkan oleh Kakek Penjaring Angin.

Sayangnya, Kakek Penjaring Angin, meskipun ilmu meringankan tubuhnya memang sangat luar biasa, tetapi dalam Ilmu Serangan, dia masih belum sanggup menandingi Nini Hesti. Itu sebabnya, pertarungan mereka luar biasa seru dan imbang. Terkadang dengan Ilmu Pukulan khasnya, Kakek Penjaring Angin mencecar Nini Hesti Cendani, tetapi terkadang, dia yang melayang-layang menghindari serbuah Nenek Sakti itu.

Di mata ahli semacam Pendeta Sakti Jawadwipa, posisi keduanya dengan cepat dapat dipahaminya, baik kelebihan maupun kekurangan Nini Hesti maupun Kakek Penjaring Angin. Seandainya Kakek Penjaring Angin memiliki sedikit kebuasan dan kekejaman dalam hatinya, maka dia akan sanggup mencecar Nini Hesti, meskipun akibatnya juga berat bagi dirinya. Apalagi, Nini Hesti berbekal kemampuan ilmu pukulan beracunnya.

Hal yang sama terjadi di pertarungan lainnya, antara Datuk Bukit Barisan melawan Datuk 9 Siluman Harimau. Keduanya mengandalkan kekuatan dan keuletan untuk saling serang. Ilmu 9 Siluman Harimau yang dimainkan Datuk 9 Siluman Harimau memang nampak kuat dan ganas.

Tetapi, Pukulan Gugur Gunung milik Datuk Bukit Barisan, sanggup menahan dan mengimbangi Ilmu Gaib si Siluman Harimau. Karena itu, pertarungan keduanya tidak kurang serunya. Bahkan, saking seringnya keempat orang ini bertempur, mereka sudah saling kenal gaya dan cara bertempur lawan.

Karena itu, sekilas, mereka seperti sedang berlatih semata. Tetapi, menilik kekuatan Tenaga Dalam dan dorongan tenaga batin yang digunakan, maka jelas pertarungan ini adalah petarungan mati dan hidup. Keempatnya, sebetulnya sudah menggunakan ilmu-ilmu puncaknya masing-masing, yang membuat ruangan pesta ambrol dan mereka bertempur melayang-layang diatas reruntuhan rumah pesta tersebut.

Dan keempatnya tetap bersemangat untuk menerjang dan diterjang. Kecuali Kakek Penjaring Angin yang sudah tahu bahwa di tubuh Nini Hesti Cendani tidak terdapat lag benda yang sedang mereka tuju.

Sementara itu, Bintang Sakti Membara sudah mendekati Mahendra untuk kemudian berkata:

“Mahendra, tolong serahkan lembaran yang kalian curi itu. Dan biarlah pertemuan kita disini berakhir dengan manis”

“Hahahaha, Bintang Sakti Membara, jikapun ada padaku, takkan mungkin kuserahkan. Apalagi, lembaran bagian kami justru disimpan adikku, Gayatri”

“Jika demikian, dimana gerangan Gayatri bersembunyi”?

“Hm, adikku itu kurang gemar berpesta. Dia mengurung diri dikamar setiap malam” Mahendra memang tega menyebut demikian, karena dia memang perlu bantuan Gayatri untuk melawan Bintang Sakti Membara. Padahal, dia belum tahu bahwa dengan bergabungnya mereka berduapunpun, saat ini sudah bukan tandingan Bintang Sakti Membara ini.

“Mahendra, sebaiknya engkau jangan berdusta. Kami telah menggeledah semua kamar kalian dan Gayatri sama sekali tidak ditemukan. Dimana dia dan dimana lembaran itu kalian simpan”?

“Tidak di kamar”? Habis, berada dimana dia”? Kali ini, Mahendrapun terkejut setengah mati. Tanpa Gayatri, habislah harapannya menghadapi tokoh sakti didepannya ini. Tiba-tiba dia mendengar kata “Maaf”, dan tanpa dia sempat mengerti apa maksud kata maaf yang keluar dari mulut Bintang Sakti Membara, dia merasakan tubuhnya seperti diraba-raba orang.

Dan sesaat kemudian dia baru sadar, jika Bintang Sakti Membara baru saja menyelesaikan pekerjaannya memeriksa sekujur tubuhnya dan tidak menemukan apa-apa ditubuhnya tersebut.

“Engkau ….. kau” Mahendra tidak sanggup menyelesaikan kalimatnya. Dia ternganga tak percaya dengan apa yang baru saja dialaminya. Selama ini, bersama Gayatri, dia selalu bisa mengimbangi Bintang Sakti Membara, tetapi baru saja, nampaknya dia menyadari bahwa mereka bukan lagi tandingan Bintang Sakti Membara, bahkan jika maju berdua sekalipun.

“Mahendra, aku tidak menghukummu meskipun engkau banyak bersalah terhadapku dan perguruanku. Kusarankan, segera engkau meninggalkan Bumi Sriwijaya dan kembali kenegerimu. Jika tidak, engkau akan menyesal nanti” Bintang Sakti Membara memperingatkan Mahendra, terlebih setelah sadar bahwa Mahendra ternyata memang tidak menyimpan lembaran tersebut. Atau bukan salah satu pemegang dari 3 lembaran ilmu sakti ciptaan atau tulisan tangan gurunya.

Mahendra yang tahu diri, segera sadar bahwa mimpinya sudah berakhir. Karena itu, setelah memandang sekejap kearah Bintang Sakti Membara, kemudian dia membalikkan dirinya dan perlahan mulai berlalu dari arena tersebut. Tetapi, sebelum dia melangkah lebih jauh, dia mendengar suara Bintang Sakti Membara:

“Mahendra, tunggu sebentar” dan Mahendrapun menghentikan langkahnya dan berpaling kebelakang menghadap Bintang Sakti Membara yang nampak sedang memandangnya, sepertinya sedang membutuhkan sesuatu dari tokoh India yang sedang kehabisan semangat tersabut.

“Ada apa lagi Bintang Sakti Membara”?

“Bisakah engkau beritahukan kemana gerangan Gayatri berada”?

“Seandainya aku tahu sekalipun, tidak akan aku mengkhianatinya. Apalagi sekarang, akupun tak tahu dia berada dimana”

“Apakah engkau sedang berkata yang sebenarnya”?

“Aku masih memiliki harga diri dan rasa terima kasih karena engkau melepaskanku. Tapi, seandainya engkau ingin tahu, kurasa adikku akan bergabung dengan Tentara Darat Kerajaan Chola yang mendarat hari ini di pantai sebelah Barat. Hanya itu yang kutahu, selamat tinggal” dan sekejap kemudian tubuh Mahendrapun kemudian lenyap dari pandangan mata.

Itulah terakhir kali Bintang Sakti Membara bertemu Mahendra di Bumi Sriwijaya, setelahnya mereka tidak pernah bertemu lagi di daerah itu. Bahkan, Gayatripun tidak pernah lagi kelihatan bayangannya di

Bumi Sriwijaya, lenyap dan tak ketahuan rimbanya. Lenyap bersama lembaran pertama dari 3 lembar Ilmu ciptaan Kolomoto Ti Lou.

Perkelahian di tempat lain, antara Nini Hesti melawan Kakek Penjaring Angin tetap berlangsung seru. Keduanya tak ada yang mau mengalah, meskipun penggunaan kekuatan keduanya masih dalam takaran terukur, belum habis-habisan. Sementara itu, perkelahian antara Datuk Bukit Barisan dan Datuk 9 Siluman Harimau justru semakin memuncak.

Keduanya sudah memasuki tahapan penggunaan ilmu ilmu simpanan perguruan masing-masing. Bahkan, diarena, sembilan harimau jejadian nampak menggerung-gerung dan dengan buas menerkam bayangan tubuh Datuk Bukit Barisan yang berdiri kokoh meski dikerubuti 9 Harimau Siluman itu.

Nampaknya Datuk 9 Harimau Siluman telah merapal kemampuan puncaknya, menciptakan atau memanggil 9 Harimau Siluman untuk menyerang Datuk Bukit Barisan. Tetapi, pukulan-pukulan Datuk Bukit Barisan, membuat tameng ajaib yang susah ditembus 9 Harimau Siluman tersebut.

Tetapi, Datuk Bukit Barisan sendiri, tidak sanggup berbuat lebih menghadapi Siluman Harimau tersebut, karena sekali celah ciptaannya tertembus, maka berbahayalah posisinya. Akibatnya, keduanya berkutat dalam -posisi dan keadaan tersebut dalam waktu yang cukup lama. Dan posisi tersebut, jelas menguras tenaga kedua tokoh sakti itu, karena lembaran kekuatan batin telah dikerahkan untuk mendukung dan memperkuat pengerahan tenaga dalam yang luar biasa itu.

Dalam kondisi pertempuran yang demikian, tiba-tiba anak buah Datuk Bukit Barisan yang lama tidak menerima kode dari ketuanya, melakukan penyerbuan. Hampir 100an anak buah Datuk Bukit Barisan melimpah memasuki markas yang sudah tak terjaga akibat ambrolnya rumah pesta dan serunya pertempuran antara keempat tokoh sakti tersebut.

Akibatnya, kondisi di seputar arena menjadi kacau balau, karena pertempuran antara anak buah kedua tokoh besar itu tak terelakkan lagi. Pertempuran massal itu, bahkan melebar sampai mendekati arena pertempuran 4 tokoh sakti Swarnadwipa tersebut, dan Pendeta Sakti Jawadwipa sampai pening melihat aksi saling bantai orang orang tersebut. Sungguh kejam, dan saling bantai, bagaikan membantai hewan saja.

Tetapi, justru suasana seperti ini yang rupanya ditunggu si orang misterius yang kembali beraksi cepat manakala Pendeta Sakti Jawadwipa dan Bintang Sakti Membara kehilangan keawasannya akibat terenyuh oleh banyaknya orang yang mati akibat saling bantai. Ketika mereka kehilangan pengawasan terhadap Datuk 9 Siluman Harimau, tiba-tiba sosok bayangan misterius tadi, kembali beraksi.

Dalam kondisi saling tekan, maka bokongan sosok misterius tersebut menjadi sangat mudah, tanpa hambatan. Apalagi, karena kepandaiannya nampaknya tidak dibawah, atau bahkan masih sedikit diatas Datuk 9 Siluman Harimau. Karena itu, ketika tangannya merogoh kekantong dalam sang Datuk, Datuk 9 Siluman Harimau tidak sanggup melakukan apa-apa. Bahkan, posisinya yang tersentak oleh bokongan sosok misterius itu, jatuh dibawah angin dan menghadapi tekanan berat dari Datuk Bukit Barisan.

Keadaan tersebut berlangsung sangat singkat. Ketika Pendeta Sakti Jawadwipa dan Bintang Sakti Membara menyadari keadaan, sosok itu sudah kembali berkelabat menghilang dibalik kegelapan malam. Dan dengan cepat, Bintang Sakti Membara berbisik:

“Kakang, cepat”

Dan kedua sosok tubuh kembali berkelabat menyusul kearah lenyapnya sosok misterius tadi. Jadi lebih misterius, karena kali ini tubuh itu mengenakan kerudung berwarna hitam, mengesankan orang itu tidak ingin dikenali siapapun. Kecepatan kedua pengejar, nampaknya setara dengan kecepatan sosok misterius tersebut dalam menghilangkan jejaknya. Dan dari arena tersebut, kembali 2 tokoh sakti menghilang atau berlalu dari arena.

Tetapi, pertarungan masih terus berlangsung. Terutama antara Datuk Bukit Barisan melawan Datuk 9 Siluman Harimau. Tetapi, rasa welas asih Datuk Bukit Barisan membuatnya tidak mau mengambil keuntungan dari keterkejutan Datuk 9 Siluman Harimau. Sebab, jika dia menyerang sungguhan, maka Datuk Siluman tersebut pasti akan celaka, tetapi justru itu yang tidak dilakukannya.

Sebaliknya, setelah mendesak beberapa saat, tiba-tiba Datuk Bukit Barisan menghentikan serangannya dan memberi ketika bagi Datuk Siluman untuk bernafas. Dan sungguh berterima kasih Datuk Siluman atas kondisi tersebut, sebab jika dilanjutkan, dia pasti akan terluka parah. Karena itu, setelah beberapa saat dia berkata:

“Datuk Bukit Barisan, terima kasih, engkau memberi aku muka dan peluang. Kita memang sulit saling mengalahkan. Tetapi, barang yang

kita pertikaikan, nampaknya sudah digondol orang lain. Tak ada gunanya kita lanjutkan pertumpahan darah ini”

“Benar, sudah saatnya kita selesaikan. Bahkan jika perlu menguber pencuri benda tersebut. Bagaimana menurutmu”?

“Baik, kita tetapkan demikian untuk sementara. Terserah siapa yang akan mendapatkan dan memilikinya suatu saat”

Setelah bersepakat demikian, kedua tokoh sakti itu kemudian menghentikan pertempuran anak buah keduanya. Cukup banyak yang terluka, bahkan beberapa nampak ada yang meregang nyawa. Jika tidak ditengahi, nampaknya aksi saling bunuh akan berlangsung terus. Demikianlah akhirnya pertempuran diakhiri, termasuk pertempuran Nini Hesti melawan Kakek Penjaring Angin yang kemudian segera diakhiri.

Dan selanjutnya, Datuk Bukit Barisan bersama Kakek Penjaring Angin meninggalkan tempat itu memburu tokoh yang melarikan 2 lembar halaman dari guru kedua teman mereka. Pertempuran berakhir, dan perburuan baru kembali dimulai. Tetapi kali ini, dalam kondisi yang serba gelap bagi tokoh-tokoh Swarnadwipa tersebut.

Tak lama setelah Datuk Bukit Barisan dan Kakek Penjaring Angin berlalu, dari markas yang terbakar itu, juga bergerak dua tokoh Swarnadwipa lainnya, Nini Hesti Cendani dan Datuk 9 Siluman Harimau. Tokoh-tokoh utama Swarnadwipa dengan sadar melibatkan diri dalam perburuan lembar kesaktian yang mengaduk Bumi Sriwijaya tersebut.

Sementara itu, pengejaran yang dilakukan Bintang Sakti Membara dan Pendeta Sakti Jawadwipa juga berujung kegagalan. Meskipun sebetulnya keduanya sadar betul, bahwa yang mereka kejar

nampaknya bukan orang sembarangan. Bahkan, kecurigaan mereka atas tokoh tersebut menebal, tetapi keduanya seperti enggan mengutarakan kecurigaan masing-masing. Sampai akhirnya ketika fajar menyingsing dan mereka sama sekali tidak lagi menemukan jejak orang yang dikejar, akhirnya keduanya menyerah.

Beristirahat sejenak, mengembalikan kebugaran melalui Samadhi dan pada pagi harinya ketika keduanya sudah jauh lebih segar akhirnya menyadari, bahwa rasa curiga yang ada memang perlu dipercakapkan:

“Adi, rasanya engkau memiliki pandangan sesuatu yang mungkin sama dengan yang kupikirkan”?

“Kakang, apakah hal itu yang kau katakana sebelumnya untuk nanti dibicarakan kemudian”?

“Rasanya memang demikian adi. Tokoh misterius itu, bila diperhatikan secara saksama, rasa-rasanya memiliki kedekatan dengan kita berdua. Dua kali kuperhatikan gaya meloncat dan gayanya membokong Datuk 9 Siluman Harimau, terlampau mirip dengan Ajian Kidang Kuning kita”

“Cara dia meloncat, bergerak menjauh atau ilmu berlarinya, memang adalah milik keluarga perguruan kita. Kakang, apakah maksudmu …….?

“Benar Adi …… sudah lama aku curiga, mengapa pusaka yang ditulis guru kita bisa menjadi berita diluaran, bahkan hingga ke India dan Tiongkok. Padahal, selain aku dan guru, hanya kedua kakak seperguruanmu yang mungkin tahu”

“Kakang, tapi apa mungkin mereka begitu tak tahu malu menyebarkan kabar rahasia perguruan sendiri”?

“Adi, guru sangat mengerti kita berempat. Guru sempat berpesan agar aku lebih memperhatikan adik ketiga. Dan kelihatannya, dari segi postur dan kemampuan, maka orang tadi adalah adik ketiga, atau masih kakak seperguruanmu, tepat diatasmu. Tak diragukan, dia adalah Bintang Sakti Berpijar, Wisanggeni, dan itu sebabnya dia mengenakan pelindung wajah begitu kita berada di arena”

“Kakang, benarkah dia”?

“Tidak salah lagi. Menurut Guru, dia memang berbakat sama dengamu, kalian erdua memang berbakat sedikit melampauiku. Bedanya, dia lebih tekun sama denganku dibandingkan engkau yang lebih senang mencintai alam. Bahkan dia telah melampaui Kakak keduamu yang juga lebih senang bercocok tanam di daerah Baliwipa”

Tragedi Shih Li Fo Shih (Sriwijaya) (2)

Kembali kedua kakak adik perguruan tersebut tenggelam dalam permenungannya. Sampai akhirnya Bintang Sakti Membara kembali memecah keheningan dan bertanya:

“Kakang, bagaimana ceritanya sampai Kakang Wisanggeni bisa mengetahui kalau guru kita menuliskan sari pati pemahamannya atas Ilmu Silat dalam Kitab Agama itu”?

“Setahuku, hanya Guru dan aku yang mengetahuinya. Tetapi, bukan tidak mungkin Adi Wisanggeni mengetahuinya, karena berkali-kali dia mendatangiku di Padepokan. Tetapi, caranya mengetahui Kitab itu, sungguh tidak kumengerti. Kelihatannya, bahkan dia berada di balik

rencana mengundangku ke Sriwijaya ini, dan dia sangat telaten memanfaatkan Naga Pattinam, Bhiksu Chundamani dan bahkan murid Naga Pattinam. Itu salah satu kecedikan adi Wisanggeni, atau mungkin tepatnya kemampuannya memanfaatkan orang secara licik untuk keperluan atau kepentingan dirinya sendiri”

“Kakang, akan sangat berbahaya jadinya jika lembaran itu terus berada di tangan Kakang Wisanggeni. Sulit kita menduga apa yang akan dilakukannya dengan Ilmu Silat tulisan guru itu”

“Benar, dan menjadi tugas kita untuk merebutnya kembali. Padahal, waktu kita juga sudah sangat terbatas. Kita mesti merebutnya, sementara Sriwijaya sendiri dalam keadaan terjepit”

“Benar kakang. Padahal aku masih memiliki kewajiban terakhir terhadap kakakku Panglima Jayeng Kencana. Dan kelihatannya, kewajibanku itu harus segera kupenuhi dalam waktu dekat”

“Begini saja Adi, kita manfaatkan 15 hari tersisa ini untuk mengejar Wisanggeni. Setelahnya, bila belum berhasil, engkau kembali ke Kota Raja, dan biar aku melanjutkan usaha mengejar Wisanggeni. Kekuatanku sekarang, hanya berimbang dengannya, dan nampaknya, engkau juga sudah akan mampu mengimbanginya. Jadi, bersama atau berpisah, akan punya kegunaannya kelak”

“Baiklah kakang, ada baiknya kita bergerak memanfaatkan sisa waktu 15 hari ini. Setelahnya aku harus kembali ke Sriwijaya dan kita harus berpisah untuk mengerjakan hal-hal itu”

====================

Istana geger. Tapi kegegeran itu masih menyisakan rasa yang menyesakkan. Betapa tidak, Suro Bhakti yang datang dengan berita mendaratnya Pasukan Darat Kerajaan Chola di Barat Swarnadwipa, tentu sebuah berita besar. Tapi, bagaimana menyampaikannya kepada Raja Tunggawarman? Dan bagaimana pula menghindari informasi itu jatuh ke tangan Angkatan Darat Sriwijaya yang sudah tercemar? Sungguh sebuah kesulitan tersendiri.

Tetapi, betapapun sesuatu harus segera dilakukan sebelum terlambat sama sekali. Dalam kondisi menegangkan, akhirnya Menteri Kebudayaan bersama Penasehat Raja memutuskan untuk menemui Raja Tunggawarman dan menceritakan informasi itu secara langsung.

Bahkan sebelum menemui Raja, dalam kondisi kritis, mereka menjumpai Bhiksu Darmakitri, yang meskipun tidak mau mencampuri urusan politik, tetapi dalam kondisi kritis, akhirnya bersedia menjadi perantara dengan Raja Tunggawarman. Bahkan, hari itu juga Bhiksu Saleh ini menemui Raja Tunggawarman untuk mengatur pertemuan tersebut.

Hal lain yang menguntungkan, Panglima Lingga Paksi, masih berada di luar kota. Selain mengadakan persiapan menyambut Pasukan Kerajaan Chola, dia sendiri sudah yakin penuh, bahwa Kerajaan Sriwijaya akan segera tersapu habis. Karena itu, pertemuan Raja Tunggawarman dengan Penasehat Raja dan Menteri Kebudayaan bisa berlangsung mulus dengan dibantu oleh Bhiksu Darmakitri.

Kali ini, hanya karena kewibawaan Bhiksu Saleh itu sajalah maka Raja berkenan menerima kunjungan dan laporan resmi Penasehat Raja dan Menteri Kebudayaan. Dan seperti yang sudah diduga,

pertemuan tersebut awalnya berlangsung sangat kurang menyenangkan:

“Hm, karena memandang wajah Bhiksu Dharmakitri, maka aku berkenan menemui kalian. Menurut Sang Bhiksu, kalian membawa berita dan informasi yang sangat penting. Cobalah kalian kemukakan” demikian Raja Tunggawarman memulai dengan suara yang masih halus, meski penuh dengan penyesalan. Apalagi, karena dia masih pusing dengan serangan Kerajaan Chola di lautan daerah Sriwijaya.

“Ampun sang Prabu, berita yang kami peroleh dan dihalang-halangi sampai ke Sang Prabu adalah, mendaratnya Pasukan Darat Kerajaan Chola di pantai Barat kita. Dan dalam sebulan, pasukan itu akan mencapai Kota Raja” demikian Penasehat Raja melaporkan

“Hm, mengapa sama sekali tidak ada laporan kepadaku”? Raja Tunggawarman tersentak kaget.

“Ampun Prabu Tunggawarman, hal ini terjadi karena Panglima Angkatan Darat sudah bersekutu dengan pasukan musuh. Ada banyak mata-mata musuh yang menyusup, tetapi tidak seorangpun berani melaporkan kepada Sang Prabu”

“Hm, paman penasehat, apakah informasimu bisa dibuktikan”? Sang Raja nampaknya tersentak, tetapi tidak mudah percaya.

“Ampun Sang Prabu, sudah lama kami mengamati keadaan ini. Kemurahan Sang Prabu telah dimanfaatkan banyak orang untuk menghindari hukuman, dan keadaan kita saat ini sudah sangat gawat. Kekuasaan angkatan Darat ada ditangan Panglima Lingga Paksi yang telah membelot, sementara ini tinggal Angkatan Maritim kita yang setia

bersama sang Prabu. Bahkan sedang mempertaruhkan nyawa mereka di lautan untuk kehormatan Sriwijaya”

“Paman Menteri, laporan dan informasi ini membuatku semakin pusing dan bingung. Apalagi jika tanpa kemampuan kalian memberi bukti”

“Sang Prabu, apakah akan menunggu waktu sebulan sampai serbuan Tentara Chola baru sang Prabu percaya? Menteri Kebudayaan menjadi nekat dan nampaknya kalimatnya ini membuat Raja tertegun.

Keheningan melingkupi ketiga orang tersebut, sementara Bhiksu Darmakitri nampak memuji keagungan Budha, tetapi tetap menahan diri untuk berbicara. Sampai Raja Tunggawarman kemudian kembali bertanya:

“Tapi, dari mana sumber informasi kalian sebenarnya”?

“Ampun Sang Prabu, mungkin Sang Prabu belum mengetahui, kalau tamu kita, Pendeta Sakti Jawadwipa telah diserang dan dicuri lembaran kitab ilmunya oleh seorang tokoh asal India. Dalam pengejarannya, Pendeta Sakti Jawadwipa memperoleh informasi yang valid ini dan menyuruh muridnya untuk memberitahu kita, sementara Pendeta itu sendiri masih terus mengejar pencuri yang sebelumnya bersembunyi di Kuil Kerajaan ini”

“Bhiksu Darmakitri, apakah benar ada kejadian demikian”? Raja Tunggawarman bertanya kepada Bhiksu saleh itu dengan kening berkerut dan sangat terkejut malahan.

“Benar Sang Prabu, hanya karena Sang Prabu sibuk dengan serbuan Kerajaan Chola di lautan membuat Pendeta Sakti itu enggan mengganggu. Beliau diserang oleh seorang tokoh India bersama muridnya yang mencuri lembaran kita pusakanya. Hingga sekarang kedua murid Pendeta itu masih berada di Kuil kita menunggu kedatangan guru mereka, Pendeta Sakti Jawadwipa”

“Dan siapa pula yang mengabarkan bahwa Panglima Angkatan Daratku telah berkhianat”? Tanya Raja

“Ampun Sang Prabu, dalam penyelidikan Pendeta itu bersama muridnya, Panglima kedapatan bertemu dengan beberapa tokoh India di sebuah Kuil Kosong. Dan menurut penyelidikan mereka, pertemuan itu selain mengamankan kitab yang dicuri, juga mempercakapkan cara menyambut serangan darat pasukan Chola. Keadaan sungguh gawat, makanya kami memberanikan diri melapor kepada Sang Prabu”

Kembali sang Raja terdiam dan bimbang dengan laporan tersebut. Sampai akhirnya dia bertanya kepada Bhiksu Darmakitri:

“Bhiksu, apakah benar Pendeta Sakti Jawadwipa itu bisa dipercaya? Bagaimana hubungannya dengan Bhiksu Chundamani”?

“Ampun Sang Prabu, ketika Pendeta Sakti diserang tokoh lain dari India, dia malah dibantu Bhiksu Chundamani. Dan sejak saat itu, Bhiksu Chundamani membantu Pendeta Sakti Jawadwipa mencari kitabnya. Tetapi, keduanya hingga saat ini tidak pernah lagi kembali ke kuil. Tapi, kedua Pendeta itu memang nampak sangat saleh dan tidak mungkin berdusta”

“Artinya, engkau mempercayai laporan Pendeta Sakti itu”?

“Nampaknya demikian Sang Prabu”

“Dan artinya, kita benar-benar sedang dalam ancaman serangan Darat kerajaan Chola. Ini benar-benar berita gawat dan berbahaya, kelihatannya aku harus memanggil semua pembesar untuk merembukkannya”

“Ampun Prabu, keadaan itu akan memberitahu para penghianat bahwa rahasia mereka sudah ketahuan. Dan itu berarti, membuat mereka bersiap membela diri, atau bahkan membocorkan keluar apa yang sudah Prabu Tunggawarman ketahui” Penasehat Raja berkata.

“Hm …..” nampak Raja Tunggawarman berpikir keras.

“Apa saran kalian jika demikian”?

“Sang Prabu, waktu kita sangat terbatas. Pasukan yang setia, tidak bisa kita duga saat ini, kecuali Pasukan Maritim yang dibawah perintah Panglima Suro Bhakti saat ini. Sementara Pasukan Darat, saat ini semua berada di tangan Panglima Lingga Paksi. Usul kami, panggil Panglima Lingga Paksi bersama pasukannya berjaga di Kota Raja, dan kemudian cabut kekuasaan Panglima tersebut untuk digantikan Panglima lainnya yang lebih Prabu Tunggawarman percayai kesetiaannya”

“Hm, masuk diakal. Panglima Suro Bhakti akan bergerak mengamankan Istana, jadi siapa yang sanggup menguasai dan menjalankan perintah menguasai Angkatan Darat kita”?

“Ampun Sang Prabu, di kalangan Angkatan Darat kita, disiplin dan moral prajurit sedang merosot tajam. Ada baiknya Sang Prabu langsung memimpinnya dengan menempatkan seorang pelaksana

lapangan yang cakap dan harus terpercaya” saran Menteri Kebudayaan.

“Adakah saran kalian siapa yang bisa melaksanakan tugas itu di lapangan”? Tanya Sang Prabu yang nampaknya dengan saran Bhiksu Darmakitri sudah percaya atas laporan Pendeta Sakti Jawadwipa soal mendaratnya pasukan Darat Kerajaan Chola di Barat Pantai Sriwijaya.

“Jika Sang Prabu percaya, kami sarankan Putra sulung Panglima Jayeng Kencana bisa memegang perintah langsung sang Prabu dan menjalankannya di lapangan. Panglima Jayeng Kencana sudah membuktikan kesetiaannya dengan menahan Armada Laut Chola mati-matian dan berhasil. Anak sulungnya, juga mewarisi kegagahan ayahnya dan siap untuk berjuang bagi Rajanya dan Kerajaannya mempertahankan kehormatan kita” Penasehat Raja menyarankan

“Baik, kita tetapkan demikian. Paman Penasehat dan Paman Menteri, kutugaskan kalian berdua mempersiapkan segala sesuatunya secara cermat, dan malam ini kalian membawa putra Panglima Jayeng Kencana menemuiku. Besoknya semua kita jalankan sesuai rencana yang kalian beberkan tadi”

“Baik Sang Prabu” serentak Menteri Kebudayaan dan Penasehat Raja menjawab hikmat.

“Bhiksu Darmakitri, engkau menjadi saksi apa yang dipercakapkan saat ini. Aku tahu, bahkan akhir dari kemelut ini sudah dalam perkiraanmu. Tapi, wajiblah kita berusaha” “Budha Maha Pengasih ……”

Dan dengan gerak cepat, Menteri kebudayaan dan Penasehat Rajapun kemudian menemui Maha Patih Kerajaan Sriwijaya,

membahas semua yang diperinahkan Raja untuk kemudian menetapkan langkah yang harus ditempuh. Dan malam hari, surat panggilan kepada Panglima Lingga Paksi dilayangkan dalam status rahasia, dan malam itu juga Panji Winata dibawa menghadap Sang Prabu ditemani Suro Bhakti, Maha Patih Kerajaan, Penasehat Raja, dan Menteri Kebudayaan. Panji Winata yang memang mewarisi kegagahan ayahnya dengan cepat menyanggupi tugas berat yang harus dipikulnya sambil minta bantuan kepada kakak seperguruannya Suro Bhakti.

“Panji Winata, malam ini juga kuasa Panglima Lingga Paksi kucabut dan kutangani sendiri. Tetapi, dalam urusan kemiliteran, maka tugas sehari-harinya adalah engkau yang menjalankanya. Dan karena suasana darurat, maka kuperintahkan engkau untuk selalu berkomunikasi dengan Maha Patih kita dan juga dengan Paman menteri dan Paman Penasehat. Apakah engkau siap melakukannya”? Dengan cepat Panji Winata berlutut dan menerima perintah Raja sambil berkata:

“Anugerah Sang Prabu sungguh luar biasa, biarlah kulakukan denan segenap jiwa dan ragaku, demi pengabdianku bagi Bumi Sriwijaya ini”

“Baiklah, bangunlah Panji. Sejak saat ini, engkau menjadi Panglima atas Angkatan Darat langsung di bawah pengawasanku, dan perintah2 akan diberikan oleh Maha Patih kita” Sabda Raja Tunggawarman. Kemudian Raja Tunggawarman berpaling kepada pembesar lainnya:

“Paman Patih, Paman penasehat, bagaimana dengan urusan-urusan lainnya”?

“Panglima Lingga Paksi sudah dipanggil termasuk pasukannya agar memasuki pinggiran Kota Raja. Surat penarikan dan pencopotannya juga sudah disiapkan, bahkan surat pengangkatan Panji juga telah disiapkan. Tinggal menunggu peresmiannya besok hari, dan sebaiknya langsung diumumkan oleh Sang Prabu. Karena dikhawatirkan akan ada penolakan Panglima Lingga jika tidak langsung dilakukan oleh Sang Prabu sendiri”

“Baiklah, kita tetapkan secara demikian. Besok, kita laksanakan langsung di Balairung, pengumuman pencopotan dan penahanan Panglima Lingga dan pengangkatan Panglima Panji sebagai pelaksana Harian atas namaku”

Benar saja, kekisruhan, meski terbatas segera terjadi pada saat Raja Tunggawarman mengumumkan pencopotan Panglima Lingga Paksi dan memutuskan memegang langsung kendali atas Tentara Darat Kerajaan Sriwijaya. Komando akan dikeluarkan langsung oleh Maha Patih Kerajaan, sementara petugas lapangan akan langsung dikerjakan oleh Panglima Muda Panji Winata yang hari itu juga diangkat menjadi Panglima Muda.

Kekisruhan segera memudar dan berubah menjadi ketegangan ketika Raja Tunggawarman mengumumkan keadaan darurat berhubung dengan mendaratnya Pasukan Kerajaan Chola di Pantai Barat Swarnadwipa. Dan hari itu juga, diperintahkan kepada Maha Patih Kerajaan untuk mempersiapkan Pasukan Perang Kerajaan Sriwijaya untuk menyambut pasukan musuh. Bahkan dalam waktu seminggu kedepan, pasukan sudah harus bergerak keluar menyambut kedatangan tentara musuh.

Dan seperti disepakati, Suro Bhakti akan memimpin pasukan khususnya untuk melindungi Istana Raja bersama dengan Pasukan Pengawal Raja. Dalam waktu singkat, kekisruhan telah berubah menjadi ketegangan, dan pada akhirnya peristiwa pencopotan Panglima Lingga Paksi dan bahkan penahanannya tidak merembet terlampau jauh.

Sementara itu, Maha Patih Kerajaan, nampak bergegas keluar dengan diiringi oleh Panglima Muda Panji Winata dan beberapa Pejabat Kerajaan Sriwijaya, dilengkapi dengan Firman Raja Tunggawarman. Dari Balairung mereka langsung menuju ke luar kota dan menemui Pasukan Perang Angkatan Darat Kerajaan Sriwijaya yang disiagakan di luar Kota Raja.

Dan begitu memasuki Markas yang biasa digunakan oleh Panglima Lingga Paksi, dengan segera masuk menghadap 7 Panglima bawahan Panglima Lingga Paksi. Dan ketika menyaksikan Firman Raja Tunggawarman menyertai Maha Patih Kerajaan, mereka segera menjatuhkan diri berlutut, sambil berucap:

“Menunggu Firman Raja”

Sementara itu, Maha Patih Kerajaan Sriwijaya nampak berdiri menghadap ketujuh Panglima tersebut, dan mengangkat tangan sambil berkata:

“Bacakan Firman Raja Tunggawarman”

Dan segera maju salah seorang Pejabat Tinggi Kerajaan yang bertugas membacakan Firman Raja Tunggawarman. Firman Raja yang menegaskan diterimanya informasi mendaratnya Pasukan Musuh, Penahanan Panglima Lingga Paksi, pengangkatan Maha Patih

Kerajaan sebagai Panglima Tertinggi Pasukan Kerasaan Sriwijaya dengan pelaksaa sehari-hari Panglima Panji Winata dan perintah bagi pasukan perang Sriwijaya untuk bersiap menyambut serangan musuh lewat darat.

Segera setelah Firman Raja selesai dibacakan, terdengar sambutan dan respons dari ke-tujuh Panglima:

“Siap melaksanakan perintah Raja”

Tetapi, Maha Patih Kerajaan Sriwjaya bukanlah orang bodoh. Dia menyaksikan keterkejutan yang tidak wajar diantara tiga dari tujuh Panglima tersebut. Dan sebelum duri dalam daging menusuk lebih jauh dan menyakitkan, maka duri itu harus segera dibersihkan atau disingkirkan. Apalagi, sudah ditegaskan Firman Raja, bahwa situasi sekarang berada dalam keadaan darurat.

“Apakah kalian semua benar-benar akan melaksanakan perintah Raja”?

“Siap melaksanakan”

“Baik, engkau, engkau dan engkau, sekarang ini juga kuperintahkan untuk menemui Panglima Lingga Paksi di penjara Istana. Tugas utama kalian adalah meminta semua data rahasia terakhir yang dimiliki Panglima tersebut terkait dengan persekutuannya dengan Keraaan Chola. Malam ini juga kalian menghadapku untuk melaporkan tugas kalian. Apakah kalian siap untuk melakukan tugas ini”?

“Si …. siap Maha Patih” kali ini dengan suara terbata dan agak terpaksa, dan semua tidak lepas dari pengamatan Maha Patih.

“Baik, sekarang juga kalian berangkat” perintah Maha Patih yang kemudiaan diikuti dengan taat oleh ketiga Panglima tersebut. Tetapi, siapapun dalam ruangan itu mengerti, bahwa tanpa surat perintah, tidak akan mungkin ketiganya mampu dan sanggup menemui Panglima Lingga Paksi dalam tahanan. Begitu ketiganya keluar dari ruangan, Maha Patih kemudian melirik kearah Suro Bhakti dan berbisik:

“Segera engkau menguntit ketiganya. Jika tidak salah, mereka akan berusaha kabur atau kembali kekesatuannya untuk berkhianat” Dan setelah berbisik demikian, Maha Patih menyerahkan tanda kekuasaan melakukan tugas tersebut kepada Suro Bhakti yang dengan segera kemudian keluar melaksanakan tugasnya.

“Panglima Panji Winata”

“Siap Maha Patih”

“Sekarang menjadi tugasmu untuk melakukan percakapan dengan ke 5 Panglima ini. Tugasmu hari ini adalah, mengkonsolidasikan semua kekuatan Pasukan Perang kita dan percakapkan langkah apa yang perlu segera diambil. Malam ini juga, kalian berenam menghadapku, dan besok adalah waktu mengerjakan semuanya. Siapkah kalian”?

“Siap Maha Patih” serentak ke-enam Panglima, termasuk Panji Winata, Panglima Muda yang baru diangkat menjadi wakil Maha Patih menjawab. Dan sesaat kemudian Maha Patih Kerajaan Sriwijaya meninggalkan tempat itu, tempat yang kemudian berubah menjadi ruangan rapat antara ke-enam Panglima yang mengemban tugas berat dalam situasi darurat.

Sepeningal Maha Patih, Panglima Panji Winata yang masih muda itu merasa sangat canggung untuk memimpin pertemuan tersebut. Tetapi, adalah para Panglima yang masih merasa shock dengan kejadian terakhir yang kemudian mendesaknya untuk melanjutkan pertemuan sebagaimana perintah Maha Patih sebelum meninggalkan tempat itu.

“Baiklah Paman-paman sekalian” tetapi, suaranya tiba-tiba disela dengan sopan oleh seorang Panglima yang lebih tua, bahkan nampaknya yang paling berpengalaman dan paling bijaksana:

“Maaf Panglima, kedudukan Panglima sekarang berada diatas kami”

“Baik, maaf atas kecanggunganku. Raja Tunggawarman menerima informasi yang sangat valid mengenai kedatangan Pasukan Perang Chola melalui pantai barat Swarnadwipa. Tetapi, sejauh ini tiada informasi dari Pasukan Perang Sriwijaya. Bahkan, Panglima Lingga Paksi kedapatan kasak-kusuk denan tokoh-tokoh India yang memiliki maksud kurang baik bagi Sriwijaya ….. keluar kau” Panji Winata yang sementara berbicara tiba-tiba mengibaskan lengan bajunya dan kemudian melesat dengan sangat cepat kearah samping.

Hanya terdengar kemudian jeritan “aaach”, yang sekejap kemudian disusul dengan kembali melayang masuknya tubuh Panji Winata menenteng tubuh seoran yang mengintil percakapan dalam ruangan tersebut. Dan, ke 5 Panglima lainnya yang tadinya agak meragukan Panglima Muda ini, sangat terkejut dan kagum atas kehebatan bergerak dan kehebatan ilmu Panglima Muda mereka Panji Winata. Dan menjadi lebih terkejut mengetahui kalau pengintil tadi adalah wakil dari salah satu Panglima yang tadi ditugaskan menghadap Panglima Lingga Paksi.

“Adakah diantara kalan yang mengenal orang ini”? Tanya Panji WInata

“Panglima, orang ini adalah wakil dari Panglima Nawa Sudra yang dtugaskan menghadap Panglima Lingga Paksi”

“Hm, apa maksudmu memata-matai percakapan dalam ruangan ini”? Panji berpaling kearah orang yang ditangkap yang kini berlutut menghadapnya.

“Ampun Panglima, tidak ada maksud apa-apa. Hanya ingin mengetahui pekrembangan terakhir saja”

“Paman Panglima, apa hukuman bagi prajurit yang mencoba mencuri dengar percakapan atasannya”? Panji berpaling dan bertanya kepada Panglima tertua yang tadi mengingatkannya.

“Hukuman mati” tegas sang Panglima.

“Hm, kau dengar hukuman buatmu apa”? Panji berpaling kembali kepada orang tangkapannya.

“Ampun Panglima, bukan maksudku untuk mencuri dengar” ratap orang itu

“Apakah engkau termasuk dalam barisan Tentara Kerajaan Sriwijaya”? “Benar Panglima”

“Engkau tahu hukuman bagi yang melakukan tindakan seperti engkau”?

“Tahu Panglima”

“Tetapi engkau tetap berkeras melakukannya. Tidak mungkin tanpa maksud tertentu, apa maksudmu yang sebenarnya”? kejar Panji

“Ampun Panglima” kembali orang itu meratap.

“Baiklah, kuampuni engkau. Tetapi saat ini juga, engkau ceritakan semua yang engkau ketahui, semua yang kalian rencanakan sedetail mungkin. Baru kupertimbangkan apakah engkau harus dihukum mati atau membebaskanmu dari hukuman mati”

“Baik, baik, baik Panglima” lolos dari lubang kematian, sungguh melegakan orang itu. Memberitahu apa yang diketahuinya bukan perkara susah, jika memang harus dutarakan dengan jaminan keselamatan jiwa, mengapa tidak?

Tapi belum sempat orang itu ditanyai, dari luar berkumandang sebuah suara:

“Panglima Suro Bhakti mohon ijin bertemu para Panglima”

“Silahkan masuk” Panji melirik sejenak kearah Panglima tertua tadi yang mengedipkan mata tanda setuju, untuk kemudian memutuskan mengundang masuk Suro Bhakti. Wajar saja, Karen Panglima Sro Bhakti merupakan Panglima Armada Maritim, bukan Armada Darat. Tidak berapa lama, dari luar kemudian melangkah masuk Suro Bhakti bersama 3 anak buahnya yang menggendong ketiga Panglima yang tadinya ditugaskan menemui Panglima Linga Paksi. Dan kemudian juga masuk Ratna Sari di belakang mereka berempat. Gadis itu yang kemudian memecah keheningan:

“Kakang, engkau sudah menjadi Panglima, tetapi bagaimana mungkin engkau tidak memberi tahu aku adikmu”? dengan suara manja kepada kakaknya seperti pergaulan biasa mereka sehari hari

“Ratna, Kakakmu sedang menjalankan tugas Ketentaraannya, jangan diganggu” tegur Suro Bhakti halus

“Tapi, dia kan Kakakku sendiri” Ratna berkeras

“Benar, tetapi Kerajaan dalam bahaya dan kakakmu sedang bertugas, tenanglah dan bersikaplah sopan”

“Baiklah” dengan merengut Ratna Sari kemudian menyingkir kesamping. Diikuti pandang mata bingung para panglima lainnya.

“Kakang Suro ….. ech, Panglima Suro Bhakti, ada apa gerangan”? Panji yang belum tebriasa tergagap dalam situasi aneh itu.

“Panglima, kami bertiga terpaksa menangkap ketiga Panglima yang berusaha mempengaruhi pasukannya untuk meninggalkan tangsi militer ini. Untung ada Ratna Sari dan Pasukan Khusus yang membantu, dan sedikit saja dari Pasukan mereka yang terpengaruh. Tetapi semua sudah ditangani secara baik dengan Firman Raja dan Perintah Maha Patih. Melapor kepada Panglima agar segera dilakukan pembersihan”

“Hm, sudah kuduga” Panji kembali melirik orang tangkapannya yang kembali gelisah karena perkembangan baru dna hadirnya atasannya yang sudah tertangkap. Nampaknya bahkan atasannya itu terluka parah.

“Baiklah, terima kasih Panglima Suro Bhakti. Silahkan melaporkannya langsung kepada Maha Patih sebagaimana titahnya tadi. Dan pembersihan pasukan akan segera kami lakukan.

Demikianlah, akhirnya Panglima Panji Winata dengan dibantu ke-5 Panglima yang masih setia kemudian melakukan pembersihan di tubuh angkatan perang Sriwijaya. Bahkan kemudian mereka melakukan percakapan strategi menghadapi musuh, yang malamnya kemudian diinformasikan dan didiskusikan langsung dengan Maha Patih yang akan memimpin perang melawan Angkatan Perang kerajaan Chola.

Semua rahasia persekutuan Panglima Lingga Paksi bisa dicium dan kemudian digagalkan, meskipun Panglima Lingga Paksi kemudian bisa dilarikan orang dari penjara semingu kemudian, dan diduga dilarikan oleh kakeknya sendiri, Datuk 9 Siluman Harimau yang sakti mandraguna. Tetapi meski demikian, Pasukan Perang Sriwijaya bisa disiapkan secukupnya untuk menghadapi serbuan angkatan perang Kerajaan Chola.

====================

Dan, sebagaimana telah diramalkan dan diduga secara baik oleh Nelayan Sakti Sungai Musi atau si Bintang Sakti Membara maupun Bhiksu Chundamani, Sriwijaya sedang dalam masa surut. Meskipun berhasil melakukan pembersihan kedalam tubuh angkatan perangnya, tetapi Panglima Panji Winata, tidak bisa menghindari kenyataan betapa moral pasukan, disiplin dan peralatan mereka sudah tertingal dari lawan mereka seberang lautan itu.

Selain itu, persiapan perang mereka yang hanya kurang dari 10 hari, juga membuat ketergesa-gesaan demikian nyata dan membawa efek

yang cukup menentukan. Jikapun ada keunggulan Pasukan Sriwijaya hanyalah fakta, bahwa mereka jauh lebih menguasai medan pertempuran ketimbang lawan mereka.

Dan keunggulan itulah yang membuat mereka bisa menahan pasukan lawan cukup lama jauh di luar Kota Raja Sriwijaya. Tetapi, sulit meramalkan, berapa lama waktu yang dibutuhkan mereka untuk bisa bertahan lama dalam kondisi yang sangat tidak menguntungkan tersebut.

Betapapun demikian, peperangan melawan Kerajaan Chola, semakin menumbuhkan rasa hormat Panglima-Panglima tua terhada Panji Winata. Anak muda atau Panglima Muda yang menunjukkan keberanian dan kesaktian yang mengagumkan, dan sering dalam keadaan terjepit menginspirasi anak buahnya dan menularkan semangat juang yang luar biasa.

Setelah peperangan berlangsung selama sepuluh hari, dan kemampuan terbatas untuk menahan musuh, barulah Panglima-panglima tua itu takluk benar-benar terhadap anak muda itu. Kepemimpinan dan semangatnya sungguh luar biasa, meskipun taktik perangnya masih sangat tergantung kepada para Panglima tua tersebut.

Betapapun, semakin lama namanya semakin harum, dan seakan menambah harum nama ayahandanya yang juga bertarung mati-matian di Lautan untuk menghadang dan mengusir para penyerbu dari sektor lautan. Hanya bedanya, bila ayahandanya melakukan tugasnya dengan kekuatan dan kemampuan terbaik, maka Panji melakukannya dengan kekuatan dan kemampuan pasukan seadanya. Baik moral pasukan maupun perlengkapan pasukan. Tetapi, semangat dan

keberaniannya, menularkan semangat dan moral yang sangat positif bagi pasukannya.

Sanggup menahan 10 hari gempuran musuh yang jauh lebih tangguh, sudah merupakan sebuah prestasi. Bahkan, memasuki hari-hari selanjutnya, perlawanan pasukan Sriwijaya masih cukup berarti dan masih sanggup menahan gelombang dan arus serbuan Kerajaan Chola. Betapapun, taktik dan strategi perang para panglima di bawah Panglima Panji memang sangat tepat dengan kondisi alam Bumi Sriwjaya di Pulau Swarnadwipa.

Sementara jauh disana, di Istana Raja, Maha Patih cukup sadar dengan kekuatan lawan yang menyerbu dan kemampuan sendiri dalam menahan gelombang serbuan tersebut. Karena itu, selama beberapa hari terakhir, mobilisasi penduduk untuk melakukan perlawanan juga dilakukan, itupun tanpa melalui koordinasi denan Raja yang sudah lebih banyak termenung menyesali keadaan yang semakin memburuk.

Keadaan yang terjadi benar-benar diluar penalarannya selama ini. Maha Patih sendiri, sampai berani melakukan diluar ijin Raja, karena sadar situasi sudah genting dan perlu ditanggulangi sesegera mungkin. Betapapun, dia bersyukur karena kemampuan Panji dalam menahan serbuan musuh sampai demikian lama.

Peperangan memang selalu berkobar, tetapi pasukan musuh masih bisa ditahan. Bahkan memasuki minggu kedua peperangan, tanda-tanda kekalahan masih belum nampak, meski Panji dan para panglimanya semakin ketar-ketir dengan kondisi pasukan mereka.

Tragedi Shih Li Fo Shih (Sriwijaya) (3)

“Hm, anak itu benar-benar keturunan Naga. Sungguh tidak diduga, dia sanggup menahan serbuan musuh asing sampai lebih dari 2 minggu tanpa bantuan pasukan cadangan” nampak Maha Patih sedang bercakap-cakap dengan Penasehat Raja, Menteri Kebudayaan dan juga nampak Panglima Suro Bhakti disana. Juga nampak beberapa Panglima lain dari jajaran kemiliteran Kerajaan Sriwijaya hadir.

“Benar, anak harimau memang pastilah melahirkan harimau” Menteri Kebudayaan yang sangat dekat dengan Panglima Jayeng Kencana menimpali, bangga dengan ayah dan anak yang dikenalnya dekat dan sedang berjuang mempertaruhkan nyawa buat Sriwijaya itu.

“Apakah pasukan cadangan sudah memadai untuk dikirim membantu ke medan perang”? Maha Patih bertanya

“Jumlahnya sudah cukup memadai Maha Patih. Jumlah 10.000 pasukan nampaknya akan merupakan bantuan memadai sesuai permintan Panglima Panji di medan perang”

“Kapan pasukan cadangan itu bisa dikirimkan”?

“Terhitung hari ini, rasanya dua hari kedepan sudah bisa dilakukan, atau bisa kita kirimkan segera”

“Baiklah, jika begitu, Pasukan itu biarlah dikirimkan secepatnya. Panglima Suro Bhakti, apakah pasukan kita didalam Istana cukup memadai untuk menahan serbuah musuh kelak”?

“Sejauh ini, kekuatan kita sudah banyak terserap ke medan pertempuran Maha Patih. Tetapi Pasukan Khusus Angkatan Maritim masih tetap utuh berada di luar istana. Karena memang mereka dilatih

khusus untuk melindungi Istana Raja. Apakah ada perintah khusus dari Maha Patih”?

“Ada Panglima Suro Bhakti, aku ingin mengutusmu untuk memimpin pasukan cadangan ini dan membantu Panglima Panji di medan perang”

“Siap Panglima” Panglima Suro Bhakti menerima perintah itu dengan senang hati. Betapapun dia ingat, bahwa yang bertarung digaris depan adalah adik perguruannya dan keponakan dari gurunya yang telah dianggap sebagai ayah sendiri. Karena itu, selama berhari-hari, Suro Bhakti memendam keinginan untuk hadir digaris depan melindungi keponakan gurunya, yang juga adik seperguruannya itu.

“Bagaimana dengan pasukan khusus angkatan Maritim di luar Istana Maha Patih”? Penasehat Raja bertanya, karena memang dia termasuk penggagas pasukan istimewa ini bersama dengan Panglima Jayeng Kencana dan Menteri Kebudayan, bahkan ikut meminta bantuan kedua sahabatnya untuk melatih pasukan itu.

“Adalah tugas Penasehat Raja dan Menteri Kebudayaan untuk mencari Panglima Pengganti, karena kalian berdua adalah penggaas-penggagas pasukan khusus tersebut. Sedapat mungkin mencari pengganti yang cakap dan sanggup menjaga keistimewaan pasukan itu”

“Maha Patih, bagaimana jika Ratna Sari, putri Panglima Jayeng Kencana yang menangani sementara pasukan itu? Selain dia putri Panglima Jayeng Kencana, dia juga adalah adik perguruanku dan kepandaiannya tidak dibawah kepandaian kakaknya Panglima Panji” Panglima Suro Bhakti tiba-tiba teringat Ratna Sari dan menyarankan

gadis itu sebagai pengganti sementara. Toch gadis itu juga sudah demikian lihay sekarang ini.

“Tapi, dia seornag perempuan.Apakah dia sanggup beradaptasi dengan lingkungan ketentaraan”? Maha Patih meragu

“Dia terlatih sejak kanak-kanak dengan Ilmu kesaktian. Kiranya, dia tdak akan kalah oleh kakaknya sendiri dalam adu kepandaian” Suro Bhakti menegaskan kemampuan Ratna Sari

“Bagaimana menurut Penasehat dan Menteri Kebudayaan”? Maha Patih bertanya kepada dua orang yang diketahuinya mengenal dekat keluarga Panglima Jayeng Kencana.

“Usul Panglima Suro Bhakti layak dipertimbangkan. Pertama, anggota pasukan istimewa itu semua anak buah Panglima Jayeng Kencana dan mengenal putri Panglima itu. Kedua, aku tahu betul kehebatan Ratna Sari. Jika dia bersedia, kiranya dia calon yang lebih dari memadai untuk memikul beban berat ini” Menteri Kebudayaan menegaskan dan diiyakan dengan anggukan kepala oleh Penasehat Raja.

“Baiklah, jika kalian anggap dia cukup pantas, biarlah besok aku mengangkatnya secara khusus menjadi Panglima Pasukan Khusus kita. Karena keadaan kita darurat, maka pengangkatan itu kita sahkan dikemudian hari dengan seijin Sang Prabu Tunggawarman”.

Bangkit kembali semangat Panji Winata begitu menerima bala bantuan yang cukup besar. Bahkan, kedatangan Suro Bhakti yang memperkuat barisannya sungguh membangkitkan kembali moral bertempurnya. Betapa tidak, sudah 3 hari terakhir pasukannya selalu terdesak mundur dan kehilangan banyak anak buah.

Dengan tambahan tenaga baru yang lebih segar, moral pasukannya juga meningkat cukup tinggi. Bahkan lebih menyenangkan lagi, ketika 3 hari setelah kedatangan Suro Bhakti, Panglima Panji menerima kunjungan seorang yang sangat dekat dan sangat dipercayainya. Dia sedang bercakap-cakap dengan Kakak seperguruannya di ruangan pribadinya ketika orang itu tanpa sepengetahuan semua penjaga sudah menyelinap masuk.

Bahkan baru setelah orang itu berada dalam ruangan pribadi, baru Suro Bhakti dan Panji menyadari kehadirannya. Dan alangkah terkejut keduanya, tetapi langsung bersujud dihadapan orang tua itu ……. Bintang Sakti Membara atau si Nelayan Sakti Sungai Musi:

“Guru, engkau datang”? adalah suara Panji yang sesunggukan. Memang, kepada paman sekaligus gurunya ini sajalah dia mampu dan sanggup mengeluarkan semua unek-uneknya. Apalagi, memang sejak berusia 10 tahun dia telah kehilangan ibunya yang meninggal karena sakit, dan sulit untuk bermesra dengan ibu tirinya sebagaimana ibu kandungnya. Tetapi, terhadap paman sekaligus gurunya ini, Panji selalu bisa dan terbiasa mencurahkan seluruh isi hatinya.

“Panji, ingatlah engkau seorang Panglima saat ini” Gurunya mencoba mengingatkan.

“Tapi guru, kepada siapa lagikah aku menumpahkan semua kesesakan ini” Panji tetap dalam keharuan menerima dan menyambut kedatangan guru sekaligus pamannya ini.

“Aku tahu apa yang engkau tanggung anakku. Seusiamu, beban itu memang teramat berat. Tetapi, engkau telah melakukannya dengan sangat baik. Terlampau baik malah dengan mengorbankan

kemudaanmu. Engkau bahkan melakukan lebih baik dari ayahmu sendiri”

“Guru ….” Panji tetap terisak tak sanggup berkata apa-apa.

“Ayahandamu bertarung di lautan dalam kekuatan dan peralatan terbaiknya. Tetapi engkau menahan musuh dengan moral pasukan yang lemah dan perlengkapan perang yang dibawah lawanmu. Engaku harus bangga dengan kemampuanmu anakku. Diatasnya, engkau mempertaruhkan nyawamu untuk Kerajaanmu. AKu puas menjadi paman dan gurumu sekaligus”

“Guru, ….. tapi ……. tapi” masih belum sanggup Panji bicara.

“Sudahlah, engkau mau berkata bahwa pasukanmu terus dan selalu terdesak. Bukan soal besar, karena siapapun Panglima yang memimpin moral dan perlengkapan seperti pasukanmu, pasti akan mengalami kekalahan demi kekalahan. Tetapi, engkau bertahan jauh lebih lama dari yang kuperkirakan. Bahkan dari perkiraan Maha Patih di Istana Raja. Tadinya aku berpikir engkau hanya akan bertahan paling lama 10 hari. Tetapi, sudah melampaui 20 hari, engkau masih tetap bertahan. Itu sudah luar biasa anakku”

Kemudian hening sejenak, hanya tarikan nafas dan sesunggukkan yang terdengar. Sampai kemudian Bintang Sakti Membara kembali berkata:

“Sekarang, bangun dan bersikaplah sebagai seorang Panglima anakku. Kuatkan hatimu dan kuasai dirimu. Dipundakmu disandarkan harapan banyak orang. Harapan yang berlebihan memang, tetapi jawablah dengan penuh tanggungjawab apapun hasil akhirnya kelak” Panji kemudian dituntun bangun oleh gurunya, dan nampak anak itu

berusaha keras untuk menguasai dirinya. Semua beban yang ditanggungnya sendirian seakan lepas dan menemukan pelepasannya begitu dia berhadapan dengan gurunya, sekaligus pamannya yang dihormati dan dicintainya. Seakan menemukan oase di padang gurun, demikianlah Panji menumpahkan semua yang dialaminya, dipikirkannya dan dilakukannya. Dan dikuti dengan anggukan kepala, tarikan nafas, desisan kagum, maupun kegetiran, oleh gurunya maupun kakak seperguruannya Suro Bhakti.

“Demikianlah guru. Meskipun memperoleh bala bantuan yang cukup besar, tetapi pengalaman tempur mereka kurang, dan peralatan perang juga kurang memadai. Dalam perkiraan kami, paling lama kita sanggup bertahan selama 2 sampai tiga minggu kedepan, jikapun lebih dari itu semata-mata karena semangat dan semangat”

“Tidak mengapa anakku. Sudah kukatakan, hasil akhir biar kita lihat kelak. Yang terpenting, engkau telah menjawab panggilan Kerajaanmu dan tugas dari Rajamu dan membaktikan semuanya bagi kepentingan Kerajaan. Semua memag harus dan akan ada akhirnya”

“Benar guru, Panji akan melakukannya dalam tanggungjawab itu” “Suro Bhakti”

“Ya guru”

“Engkau tahu benar kondisi medan pertempuran saat ini bukan”?

“Demikianlah guru, posisi kita memang selalu tertekan, meskipun bantuan tenaga cadangan sudah terlibat dalam pertempuran”

“Hm, kita benar-benar akan mengarungi perjalanan lain yang akan sangat sulit nantinya. Baik engkau, maupun adik-adikmu. Kuharap

kalian cukup siap dengan semua itu. Dan kalian berdua, harap jangan pernah berhenti menempa dirimu kelak. Baiklah, kalian berdua lanjutkan percakapan kalian, aku akan berada disini sampai saat tepat untuk kembali ke Kota Raja”

“Baik guru