Pelangi di Langit Singasari – Episode Bara di Atas Singgasana (Jilid 51-60)

 New Picture

Pelangi di Langit Singasari

Episode Bara di Atas Singgasana

(Jilid 51-60)

Karya : SH Mintardja

Jilid 51

SEKALIlagi Ken Umang berpaling sambil tersenyum. Sebuah panji-panji kemenangan telah berkibar di hatinya. Ia telah berhasil menundukkan seekor burung rajawali yang menguasai seluruh langit.

“Hamba minta diri, Tuanku. Hamba mohon maaf apabila Tuanku tidak berkenan di hati,” berkata Ken Umang.

“Pergilah.”

“Hamba Tuanku, mungkin hamba memang sudah tidak diperlukan lagi.”

“Aku bukan pengecut!”

Ken Umang menganggukkan kepalanya. Kemudian sambil melambaikan tangannya Ken Umang menggerakkan kudanya, dan meluncur di antara semak-semak perdu dan batang-batang ilalang.

Ketika Ken Umang hilang dibalik rerungkutan, maka Ken Arok pun menarik nafas dalam-dalam. Kini ia mempunyai kesempatan untuk menilai dirinya.

“Aku sudah dijebaknya,” desisnya, “tetapi aku tidak dapat melepaskan diri dari gairah hidupnya yang menyala-nyala.”

Dan tiba-tiba teperciklah pengakuannya, “Agaknya aku memang memerlukannya. Aku memang memerlukan yang lain dari Ken Dedes.”

Tiba-tiba Ken Arok menghentakkan kakinya.

“Mudah-mudahan aku tidak terjerumus ke dalam kesulitan karenanya,” desisnya. Namun demikian terbayanglah selembar mendung yang akan mengambang di langit Tumapel.

“Apa boleh buat.”

Sambil menundukkan kepalanya Ken Arok pun kemudian berjalan kembali ke tempat pengawalnya menunggu. Dicobanya untuk menghilangkan kesan dari apa yang telah terjadi. Tidak seorang pun yang boleh tahu, setidak-tidaknya untuk sementara waktu.

Demikianlah, maka Ken Arok pun kembali ke tengah-tengah pengawalnya tanpa memberikan jawaban apapun ketika pengawalnya bertanya tentang orang berkuda itu.

“Aku tidak menemukannya,” jawabnya, “mungkin kalau aku juga mempergunakan seekor kuda, aku dapat mengejarnya.”

Pengawalnya mengangguk-anggukkan kepalanya.

Namun masa berburu kali ini tidak begitu menarik lagi bagi Ken Arok. Ia sendiri tidak begitu gairah mengejar binatang-binatang buruannya. Bahkan belum lagi sepanjang waktu yang direncanakan Ken Arok sudah memerintahkan orang-orangnya untuk bersikap kembali ke padang Karautan.

Ken Arok sendiri tidak dapat mengerti, kenapa justru dalam keadaan yang demikian wajah Ken Dedes selalu terbayang di pelupuk matanya.

“Kita percepat masa berburu kali ini,” katanya kepada pengawalnya.

Pengawalnya menjadi heran. Tetapi tidak seorang pun yang bertanya.

“Besok pagi-pagi kita tinggalkan tempat ini.”

Para pengawalnya hanya saling berpandangan.

“Apa yang sudah kita dapat dari perburuan kita kali ini?”

“Dua helai kulit harimau. Satu helai loreng dan satu helai hitam.Sepasang tanduk menjangan branggah,” jawab pengawalnya.

“Baru itu?”

“Hamba Tuanku.”

Ken Arok mengerutkan keningnya.

“Badak bercula satu yang Tuanku inginkan masih belum kita dapatkan,” berkata pengawalnya pula, kemudian, “dan bagaimana dengan kulit lembu liar yang kita panggang hari ini?”

Ken Arok mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Baiklah. Tetapi itu sudah cukup. Aku ingin mengalasi tempat dudukku dengan kulit harimau loreng itu, untuk mengganti alas yang sudah tua.Bukankah kau sertakan kepala harimau itu pula.”

“Hamba Tuanku.”

“Sudah cukup. Kita akan segera kembali ke padang Karautan. Ken Dedes pasti sudah menunggu.”

Maka ketika matahari terbit di pagi harinya, iring-iringan itu pun telah meninggalkan hutan perburuan kembali ke taman di sebelah padukuhan Panawijen yang baru. Derap kaki-kaki kuda yang melontarkan debu di atas rerumputan yang kering di padang Karautan segera menarik perhatian orang-orang yang tinggal di padukuhan baru itu.

“Akuwu sudah kembali.”

“Ya, Akuwu sudah kembali.”

Beberapa orang pengawal yang berada di taman di seputar belumbang, yang mengawal pesanggrahan Ken Dedes pun segera melihat mereka pula.

“Agak lebih cepat dari rencana,” desis para pengawal yang tinggal di pesanggrahan.

Ken Dedes yang segera diberi tahu pun menjadi heran. Bahkan ia menjadi cemas, kalau sesuatu telah terjadi sehingga masa berburu itu dipercepat.

Karena itu maka dengan tergesa-gesa ia berkemas untuk menyambut kedatangan suaminya.

Tetapi ternyata Ken Arok yang berkuda di paling depan, tampak segar bugar.

Ken Dedes menarik nafas dalam-dalam. Ketika Ken Arok kemudian meloncat turun dari kudanya, Ken Dedes segera mendekatinya sambil berkata, “Hamba menjadi cemas Tuanku, karena justru rombongan ini datang terlampau cepat dari rencana. Syukurlah, kalau tidak terjadi sesuatu atas Tuanku.”

Dada Ken Arok berdesir mendengar sambutan itu. Seperti anak-anak yang merasa bersalah, maka sebelum Ken Dedes bertanya lebih lanjut, ia berkata, “Tetapi aku tidak sengaja mengubah rencana ini Ken Dedes. Tiba-tiba saja aku ingin kembali. Seakan-akan sudah terlampau lama kita tidak bertemu.”

“Ah,” Ken Dedes menjadi kemerah-merahan. Tetapi ia benar-benar tidak mengerti kenapa Ken Arok itu tiba-tiba menggandengnya, masuk ke dalam perkemahan.

Tingkah laku Ken Arok benar-benar membuat Ken Dedes menjadi heran. Meskipun Ken Arok adalah seorang suami yang baik sejak mereka kawin, namun tiba-tiba saja Ken Arok menjadi seperti seorang pengantin yang baru saja dipertemukan di pelaminan.

Tetapi Ken Dedes tidak menaruh prasangka apapun. Ia menyangka bahwa sesuatu sedang bergetar di dalam dada Ken Arok. Mungkin ia sedang tidak berminat untuk berburu di hutan, atau kelelahan yang mencengkamnya. Mungkin badannya tetapi juga mungkin pikirannya.

Sebagai seorang istri yang baik, Ken Dedes berusaha untuk berbuat sebaik-baiknya.

Namun kegelisahan yang kadang-kadang mencengkam Ken Arok sehingga mempercepat detak jantungnya, teraba oleh perasaan halus seorang istri. Meskipun Ken Arok berusaha bersikap sebaik-baiknya, tetapi tangan Ken Dedes merasakan getar yang tidak wajar pada arus darah suaminya.

Meskipun demikian Ken Dedes tidak segera bertanya sesuatu.Ia mengharap bahwa ia akan menemukan kesempatan atau bahkan Ken Arok sendiri akan mengatakannya.

Tetapi Ken Arok tidak mengatakan sesuatu. Sehari Ken Dedes menunggu. Bahkan di hari berikutnya. Ken Arok sama sekali tidak mengatakan apa-apa kepadanya.

“Mungkin akulah yang berangan-angan,” berkata Ken Dedes di dalam hatinya, sehingga dengan demikian ia sama sekali tidak lagi berniat untuk bertanya, meskipun sikap Ken Arok kadang-kadang masih menumbuhkan pertanyaan di dalam dirinya.

Demikianlah, maka musim berburu kali ini telah menimbulkan persoalan baru di dalam istana Tumapel. Persoalan yang akan berekor panjang sekali.

Pada saatnya, maka rombongan Akuwu pun kembali dari padang Karautan. Meskipun hasil buruan mereka kali ini tidak begitu banyak, tetapi kesan yang dalam telah terpahat di hati Ken Arok. Kesan yang selalu diusahakannya untuk tetap tersembunyi di dasar hati.

Namun yang tidak disangka-sangka telah terjadi. Di antara rakyat dari padukuhan Panawijen lama yang sedang melambai-lambaikan tangan mereka, ketika mereka melepaskan Ken Arok dan Ken Dedes kembali ke istana. terdapat seseorang yang hampir tidak mengerti atas penglihatannya sendiri. Hampir tanpa berkedip dicobanya untuk mengerti, apakah yang duduk di atas punggung kuda di samping tandu Ken Dedes.

“Bukankah yang berkuda itu adalah Akuwu yang baru?” ia bertanya kepada seseorang yang berdiri di sampingnya.

“Ya. Ken Arok. Ia jugalah yang membantu kami membangun bendungan itu. Ia jugalah yang atas perintah Akuwu Tunggul Ametung membangun taman yang sekarang dipakainya sendiri sebagai pesanggrahan.”

Orang itu mengerutkan keningnya. Bahkan kemudian kepalanya digeleng-gelengkannya tanpa sesadarnya.

“Kenapa?” bertanya orang di sampingnya.

“Tidak apa-apa,” jawabnya.

“Apakah kau heran? Memang jalan hidup seseorang kadang-kadang mengherankan. Tetapi sejak ia masih seorang pelayan dalam, ia sudah menunjukkan beberapa kelebihan.”

Orang yang bertanya tentang Ken Arok itu mengangguk-angguk.

“Kalau kau melihat sendiri waktu itu, kau akan sependapat dengan aku, bahwa sudah selayaknyalah ia menjadi seorang Akuwu dan suami Ken Dedes.”

Orang itu mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Aku memang mengaguminya,” katanya kemudian.

Iring-iringan Akuwu itu pun semakin lama menjadi semakin jauh. Namun orang yang keheran-heranan itu masih saja berdiri di tempatnya. Bahkan sambil mengusap-usap matanya ia berkata kepada diri sendiri, “Apakah aku sudah tidak dapat membedakan penglihatan atas orang-orang Tumapel?”

Akhirnya ketika orang-orang Panawijen telah meninggalkan tempatnya, orang itu pun berjalan dengan kepala tunduk, seakan-akan sedang menghitung langkahnya sendiri.

“Aneh. Menurut pendengaranku, orang yang membunuh Empu Gandring itu jugalah yang membunuh Akuwu Tunggul Ametung, bernama Kebo Ijo,” desah orang itu di dalam hatinya.

Namun tiba-tiba ia terkejut sekali sehingga selangkah ia terloncat.

“He, kau terkejut,” bertanya seseorang yang menggamitnya.

“Hem,” orang itu menarik nafas dalam-dalam, “sedikit.”

“Kenapa kau begitu mudah terkejut?Apalagi di siang hari begini?”

“Aku sedang memikirkan sesuatu,” berkata orang itu. Dan nada suaranya tiba-tiba merendah, “Aku berpikir tentang Akuwu itu, Agni.”

Mahisa Agni, orang yang telah mengejutkan itu, mengerutkan keningnya. Kemudian ia bertanya, “Kenapa dengan Akuwu itu?”

Orang itu tidak segera menyahut. Baru sejenak kemudian ia bertanya, “Kau telah dikenalnya dengan baik.”

“Ya.”

“Kau sudah menjadi keluarga dari Akuwu berdua.”

“Ya.”

Orang itu tidak melanjutkan kata-katanya, sehingga Mahisa Agni bertanya kepadanya.

“Kenapa?”

Orang itu menarik nafas dalam-dalam.

“Apakah ada sesuatu yang menarik perhatianmu?”

Sejenak orang itu berpikir. Namun kemudian ia menggelengkan kepalanya, “Tidak. Tidak apa-apa.”

Namun jawaban itu justru telah membuat Mahisa Agni bertanya-tanya di dalam hati. Dipandanginya orang itu tajam-tajam.

“Aku melihat sesuatu tersembunyi di dalam hatimu,” Mahisa Agnilah yang kini bertanya. “Ken Dedes adalah adikku. Mungkin aku dapat menjelaskan teka-teki yang barangkali mengganggumu.”

Orang itu berpikir sejenak. Namun sekali lagi ia menggelengkan kepalanya, “Tidak. Tidak ada apa.”

Jawaban itu justru merupakan teka-teki yang sulit sekali bagi Mahisa Agni. Karena itu, maka ia menjadi semakin ingin mengetahui, apakah yang menjadi sebabnya, sehingga orang itu menaruh perhatian yang asing kepada suami istri itu.

Karena itu maka ia pun mendesak, “Ada sesuatu yang menarik perhatianmu. Dan hal itulah yang ingin aku ketahui.”

Orang itu menggelengkan kepalanya, “Tidak ada apa-apa.”

Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia tidak dapat memaksa orang itu untuk mengatakan sesuatu kepadanya. Karena itu sambil menarik nafas dalam-dalam ia berkata, “Apa boleh buat. Tetapi sikapmu mengatakan kepadaku, bahwa ada sesuatu yang kau anggap aneh pada Akuwu dan istrinya.”

“Tidak. Kau berprasangka.”

Mahisa Agni pun kemudian meninggalkannya sendiri. Sejenak orang itu masih berdiri di tempatnya. Kemudian dengan langkah gontai ia pun pergi ke padukuhan baru dari rakyat Panawijen.

Namun ternyata penglihatannya itu benar-benar telah mengganggu perasaannya. Ketika malam datang, sekejap pun ia tidak dapat memejamkan matanya. Wajah Akuwu yang baru itu selalu membayang di pelupuk matanya, sehingga bayangan itu kemudian menjadi beban yang semakin lama semakin berat di hatinya.

“Matakulah yang agaknya sudah rabun,” katanya di dalam hati, “seharusnya aku tidak menghiraukannya.”

Ditutupnya wajahnya dengan kedua belah tangannya. Kemudian ia pun menelungkup. Tetapi wajah Akuwu masih tetap membayanginya.

“Kenapa wajah ini tidak mau pergi?” desisnya.

Namun bagaimanapun juga ia berusaha, wajah itu tetap membayang, bahkan semakin lama semakin jelas.

“Ya, wajah itu. Aku yakin,” tiba-tiba ia menggeram.

“Oh, gila,” desahnya kemudian, “aku sudah menjadi gila.”

Orang itu pun kemudian bangkit dari pembaringannya. Perlahan-lahan ia melangkah keluar dari biliknya, yang berada di gandok banjar padukuhan Panawijen baru.

Ketika ia berada di halaman banjar, terasa hatinya menjadi sedikit tenteram. Terasa sejuknya malam menyusup sampai ke pusat jantungnya.

“Hem,” ia menarik nafas dalam-dalam, “ternyata aku tidak sedang bermimpi. Tetapi apakah aku harus berterus terang?”

Orang itu tidak segera menemukan jawabnya. Ketika hatinya masih juga diamuk oleh kebingungan. maka kakinya telah membawanya melangkah keluar halaman banjar, turun ke jalan yang membujur di tengah-tengah padukuhan.

Tanpa sesadarnya ia kemudian berjalan selangkah demi selangkah. Ketika para peronda di gardu di depan banjar bertanya kepadanya, maka jawabnya, “Udara terlampau panas. Aku tidak dapat tidur, sehingga aku ingin berjalan-jalan menyejukkan diri sejenak.”

Tidak seorang pun yang mencurigainya. Orang itu adalah tamu terhormat bagi Panawijen, karena ia adalah tamu Mahisa Agni.

Namun meskipun orang itu telah berjalan hampir mengitari padukuhan, hatinya masih juga disaput oleh kegelisahan. Bayangan yang mengerikan selalu mengikutinya. Bukan sekedar bayangan Akuwu Tumapel, istrinya Ken Dedes. Tetapi tiba-tiba saja ia melihat wajah yang hampir dilupakannya, Empu Gandring.

“Oh, aku akan menjadi benar-benar gila.”

Dan orang itu sama sekali tidak ingin gila. Karena itu, maka di pagi harinya, setelah semalam suntuk ia tidak berhasil memejamkan matanya sekejap pun, ia menemui Mahisa Agni.

“Mahisa Agni,” katanya, “aku minta diri. Hari ini aku akan kembali ke Lulumbang.”

“He,” Mahisa Agni terkejut, “kenapa begitu tergesa-gesa?”

“Aku sudah beberapa hari berada di sini.”

“Tetapi sampai kemarin kau sama sekali belum merencanakan untuk segera pulang hari ini.”

“Tentu sudah. Hanya barangkali aku belum mengatakannya kepadamu.”

Mahisa Agni mengerutkan keningnya. Ia menjadi semakin tidak mengerti akan sikap orang itu. Dan ia berterus terang mengatakannya. “Aku menjadi bingung sejak kemarin melihat sikapmu yang asing itu. Aku kira kau memang menyimpan sesuatu di dalam hatimu. Apakah kau tidak lebih baik berterus terang kepadaku?”

Orang itu mengerutkan keningnya.

“Aku tahu, bahwa kau telah dibebani oleh sesuatu. Kalau kau menyimpannya di dalam hatimu, maka kau akan selalu merasa gelisah. Tetapi kalau kau mau mengatakannya, barangkali aku dapat membantumu, memperingan beban itu.”

Tetapi orang itu menggeleng.

“Kenapa?” bertanya Mahisa Agni.

Tatapan mata orang itu melontar jauh sekali.

“Katakan. Kalau itu suatu rahasia, maka aku berjanji, bahwa aku pun akan merahasiakannya.”

Kini orang itu memandang wajah Mahisa Agni. Kemudian perlahan-lahan ia berkata, “Agni. Aku tidak ingin bahwa karena salah sangka, atau prasangka-prasangka yang tidak pada tempatnya, menyebabkan ketenangan yang sudah pulih kembali di Tumapel ini terguncang.”

“He,” jawaban orang itu benar-benar tidak disangka-sangka oleh Mahisa Agni. sehingga ia menjadi sangat terkejut karenanya, “apakah kau melihat sesuatu yang dapat menimbulkan keguncangan seperti yang kau katakan? Kalau benar demikian, kau pasti melihat sesuatu yang sangat penting.”

“Tetapi kau jangan mempercayai aku. Aku tidak mempunyai ketajaman penglihatan dan ingatan seperti seorang prajurit atau petugas-petugas apapun. Aku hanya sekedar seorang cantrik padepokan yang tidak berharga.”

“Bukan kau yang menentukan. Tetapi persoalan yang kau lihat itu.”

Orang itu, salah seorang cantrik dari padepokan di Lulumbang, tidak segera menyahut. Dadanya masih saja diamuk oleh keragu-raguan yang sangat. Kalimat demi kalimat yang sudah tersusun dan terkumpul di bibirnya. tiba-tiba ditelannya kembali.

“Lebih baik aku tidak mengatakan sesuatu, Agni,” berkata orang itu kemudian, “biarlah aku minta diri. Datanglah sering ke Lulumbang. agar padepokan itu tidak menjadi terlalu sepi sepeninggal Empu Gandring.”

Tetapi Mahisa Agni menggelengkan kepalanya.Katanya, “Aku bukan anak-anak lagi. Aku dapat menimbang, mana yang baik dan mana yang buruk. Karena itu, katakanlah.”

Cantrik itu menarik nafas dalam-dalam.

“Aku tidak mau. karena kesalahan penglihatanku, Tumapel menjadi keruh kembali.”

“Katakan. Katakan,” desak Mahisa Agni.

Dada cantrik itu bergelora dahsyat sekali. Hampir saja ia tidak dapat menahan diri, sehingga syarafnya benar-benar terpengaruh oleh persoalan yang disimpannya.

“Jagalah dirimu sendiri,” bisik Mahisa Agni, “kau tidak akan dapat melepaskan diri dari tekanan perasaanmu siang dan malam. Tetapi apabila hal itu sudah kau katakan, maka apapun akibatnya, namun dadamu akan menjadi lapang.”

“Apakah aku harus mementingkan diriku sendiri?” ia bertanya.

“Apakah kau yakin bahwa akibatnya akan selalu jelek?”

“Ya.”

“Kau salah sangka. Sekali lagi aku katakan, kalau hal itu kau anggap rahasia, aku akan merahasiakannya. Kalau kau keliru, aku akan membantu menemukan kebenarannya, kalau aku mampu.”

Sekali lagi cantrik itu menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian ia berkata, “Baiklah Agni, tetapi mudah-mudahan aku keliru atau kau tidak mempercayainya.”

Mahisa Agni tidak segera menjawab. Dibiarkannya cantrik itu menelan ludahnya, kemudian berkata tersendat-sendat, “Agni. Menurut penglihatanku, orang yang bernama Ken Arok itulah yang pernah datang ke padepokan Empu Gandring pada saat Empu Gandring terbunuh.”

“He,” serasa darah Mahisa Agni terhenti sesaat. Dipandanginya cantrik itu dengan tajamnya, sehingga kepalanya tertunduk dalam-dalam.

Mahisa Agni tersadar ketika ia mendengar cantrik itu berkata, “Mudah-mudahan aku keliru.”

Mahisa Agni menarik nafas panjang-panjang untuk menenangkan gejolak di dalam dadanya. Kemudian ia berdesis perlahan-lahan, “Tetapi bukankah orang yang datang waktu itu ke padepokan memakai kalung yang berwarna kekuning-kuningan.”

“Ya. Orang itulah yang memakainya.” tetapi kemudian dilanjutkannya, “sekedar menurut penglihatanku Agni. Apalagi waktu itu malam hari. Lentera di regol halaman tidak begitu terang dan mataku barangkali memang sudah rabun.”

Mahisa Agni seolah-olah membeku untuk sejenak.Ia tidak menyangka bahwa ia akan mendengar keterangan serupa itu.

“Sudahlah Agni, jangan kau hiraukan.Aku hanya sekedar mengurangi beban yang memberati dadaku seperti yang kau sarankan. Aku tidak bermaksud menuduh Akuwu itu bersungguh-sungguh.”

“Tunggulah sebentar,” berkata Mahisa Agni, “bagaimana pendapatmu tentang Kebo Ijo?”

“Aku belum pernah mengenal Kebo Ijo.”

“Tetapi bentuk tubuhnya jauh berbeda dengan Ken Arok, sehingga seandainya yang datang waktu itu benar-benar Kebo Ijo, kau pasti tidak akan keliru bahwa yang datang itu adalah orang yang sekarang menjadi Akuwu.”

“Entahlah Agni. Sudah aku katakan, aku dapat keliru.Dan kemungkinan itulah yang terbesar dapat terjadi.”

Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Dan tiba-tiba ia berkata, “Sebaiknya kau tidak pulang ke Lulumbang.”

“Kenapa?”

“Kau tetap tinggal di padukuhan ini.”

“Maksudmu?”

“Demi keamananmu. Meskipun seandainya kau keliru, tetapi apabila orang yang pernah kau lihat itu benar bukan Kebo Ijo, dan kini ia masih hidup, maka ia akan berusaha untuk menghilangkan dan melenyapkan semua saksi, termasuk kau.”

Tetapi cantrik itu menggeleng, “Kalau hal itu akan dilakukan Agni, waktunya sudah cukup lama. sejak Empu Gandring terbunuh. Ternyata aku masih tetap hidup sampai ini.”

Mahisa Agni menganggukkan kepalanya. Tetapi ia menjawab, “Mungkin sampai saat ini kau tidak termasuk hitungan. Tetapi apabila pembunuh itu teringat, bahwa kau masih ada, maka kau akan terancam.”

“Kalau hal itu terpaksa terjadi Agni, aku akan mengalaminya dengan senang hati. Sebagai tanda setiaku kepada Empu Gandring yang sudah terbunuh lebih dahulu.”

“Kalau persoalannya hanya sekedar itu, biarlah kau terbenam dalam kesetiaanmu itu. Tetapi mungkin kau yang masih tetap hidup sangat diperlukan. Apalagi kalau ternyata bahwa pembunuhnya benar bukan Kebo Ijo. karena aku ikut menentukan, pada saat Kebo Ijo dihukum mati.”

Mahisa Agni berhenti sejenak. Lalu, “Memang mungkin orang yang datang itu bukan Kebo Ijo sendiri, tetapi pesuruhnya, namun apabila ada pembuktian yang lebih nyata, maka hukuman atas Kebo Ijo menjadi semakin mantap.”

“Tetapi sebaiknya aku kembali ke Lulumbang Agni. apapun yang akan terjadi. Bertahun-tahun aku berada di padepokan itu.”

Cantrik itu berhenti sejenak, “aku menyesal bahwa aku telah berkunjung kemari pada saat Akuwu datang pula, untuk berburu, sehingga khayalanku sudah terkacau oleh penglihatanku yang kacau pula.”

Sekali lagi ia berhenti lalu, “Maafkan aku Agni bahwa aku telah menumbuhkan prasangka di dalam dirimu. Tetapi lupakanlah kata-kataku semua. Anggaplah semuanya itu sebagai bualan yang tidak berharga sama sekali.”

Kepala Mahisa Agni terangguk perlahan. Cantrik itu alah cantik pamannya sejak ia masih terlalu muda, sehingga karena itu padepokan Lulumbang seolah-olah adalah tempat kelahirannya sendiri.

Namun demikian Mahisa Agni masih mencoba menahannya. Katanya, “Aku tahu bahwa tidak ada tempat lain bagimu selain Lulumbang. Kesetiaanmu kepada Paman Empu Gandring menumbuhkan perasaan haru padaku. Tetapi kesetiaanmu dapat juga berbentuk lain. Bukan sekedar menunggui padepokan itu.”

Mahisa Agni berhenti sejenak, kemudian katanya, “Aku adalah kemenakannya. Kematian paman telah mengguncangkan jantungku. Dan aku tidak sekedar menangisinya. Kalau memang ada suatu jalan yang lebih baik bagimu dan bagiku untuk menyatakan kesetiaan itu, maka marilah jalan itu kita tempuh.”

“Maksudmu?” bertanya cantrik itu.

Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Katanya kemudian, “Kita akan melihat bersama-sama. Meskipun persoalan Empu Gandring dan Akuwu Tunggul Ametung dianggap sudah selesai, namun apa salahnya kita melihat kebenaran, apabila itu masih memungkinkan. Kalau kita kemudian berkesimpulan, apa yang terjadi itu sudah benar, kita akan menjadi lebih mantap. Tetapi kalau kebenaran itu tidak seperti yang telah kita lakukan, betapa pahitnya kita harus berani melihat dan mengakui kesalahan, dan sekaligus harus berani meluruskan yang salah itu.”

Cantrik itu menarik nafas dalam-dalam. Terdengar ia bergumam, “Itulah yang aku cemaskan sejak semula. Karena itu lebih baik aku tidak mengatakan apa-apa.”

“Jangan bersikap begitu. Kalau kau melihat kesalahan, janganlah kesalahan itu kau endapkan saja di dalam hatimu, meskipun kau tahu, itu akan menjadi racun sepanjang hidupmu. Karena apabila demikian, maka apa yang terjadi seterusnya, adalah perbuatan-perbuatan yang beralaskan kesalahan itu.”

“Tetapi sebaiknya kau berpendirian lain Agni. Anggaplah bahwa mataku sekarang inilah yang salah.”

“Kita tidak dapat menganggap yang salah itu benar dan yang benar itu salah. Anggapan yang demikian adalah pengingkaran atas kenyataan.”

Cantrik itu termenung sejenak. Dan Mahisa Agni berkata seterusnya, “Kau harus menunjukkan kesetiaanmu kepada paman Empu Gandring. Kalau tuduhan kita atas Kebo Ijo itu memang keliru, dan kau dapat menemukan pembunuh yang sebenarnya, kamu telah berbuat kebajikan atas paman yang sudah terbunuh itu.”

“Tetapi tidak,” orang itu tiba-tiba berkata dengan nada yang tinggi. Terbayang kecemasan merambat di wajahnya, “aku tidak mau melibatkan diriku dalam kesulitan yang dapat mengguncang ketenangan Tumapel.”

Tetapi Mahisa Agni menepuk pundaknya, “Kau sama sekali tidak gentar apapun yang terjadi atasmu, apabila kau kembali ke Lulumbang, demi kesetiaanmu kepada paman Empu Gandring.Apakah kau dihinggapi oleh perasaan cemas apabila kau menempuh jalan lain untuk menyatakan kesetiaanmu itu?”

Cantrik itu tidak menjawab.

“Nah, bagaimana pendapatmu?”

Cantrik itu menarik nafas dalam-dalam. Perlahan-lahan ia berdesah, “Apakah maksudmu, dan apakah yang sebaiknya aku lakukan?”

Mahisa Agnilah yang kemudian menarik nafas dalam-dalam. Matanya yang redup memandang jauh kepada bayangan-bayangan matahari yang bermain di dedaunan.

“Kita akan mencari jalan untuk melakukannya,” desis Mahisa Agni.

Cantrik itu berdiam diri sejenak.

“Kau tetap tinggal di sini,” berkata Mahisa Agni, “Aku akan pergi ke Tumapel.”

“Apakah yang akan kau lakukan?”

“Aku akan melihat dan mendengar lebih banyak tentang Ken Arok dan Ken Dedes. Saat itu perhatian kita seakan-akan sudah dibatasi oleh tuduhan yang mantap atas Kebo Ijo, sehingga kita tidak mendapat kesempatan untuk mencari keterangan-keterangan lain.”

“Mudah-mudahan kau tidak menemukan apa-apa.”

“Mudah-mudahan. Tetapi kita tidak dapat puas dengan apa yang sudah terjadi.”

Cantrik itu mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Kau setuju?”

“Kalau itu yang kau kehendaki, aku akan mencobanya.”

“Baiklah,” berkata Mahisa Agni kemudian, “dengan demikian kau akan tetap tinggal di sini. Akulah yang besok akan segera menyusul Akuwu.”

Demikianlah, maka Mahisa Agni menemukan bahan baru yang terpaksa diperhatikannya, karena cantrik itu adalah satu-satunya saksi yang masih hidup, yang melihat sendiri orang yang datang ke padepokan pada saat Empu Gandring terbunuh. Karena itu keterangannya itu, mau tidak mau harus mendapat tanggapannya.

Betapa pahitnya apabila ternyata apa yang sudah diputuskan itu ternyata keliru.

Di hari berikutnya. Mahisa Agni minta diri kepada Ki Buyut Panawijen dan kawan-kawannya untuk pergi ke Tumapel tanpa mengatakan keperluannya yang sebenarnya. Ia masih tetap merahasiakan keterangan cantrik yang masih belum dapat dipastikan kebenarannya itu.

Namun pengenalannya atas Ken Arok sebelum anak muda itu menemukan jalan yang baik, tiba-tiba telah mempengaruhi Mahisa Agni pula. Terbayang wajah anak muda yang kasar dan liar di padang Karautan. Anak muda yang melakukan seribu macam kejahatan sebelum ia menemukan jalan yang lurus di istana Tumapel atas tuntunan seorang pendeta yang bernama Lohgawe.

“Aku harus mendapat keterangan selengkap-lengkapnya tentang anak muda itu, apa yang sudah dilakukan dan apa yang dilakukan kemudian setelah Akuwu terbunuh dan Kebo Ijo dibunuhnya,” berkata Mahisa Agni di dalam hatinya.

Berbeda dengan kebiasaannya, kali ini Mahisa Agni justru langsung pergi ke istana sebagai kakak Ken Dedes. Pada masa Tunggul Ametung menjadi Akuwu, jarang sekali Mahisa Agni mau tinggal di istana apabila ia berada di Tumapel.

Tetapi tidak seorang pun yang melihat kelainan itu. Semua orang menganggap, bahwa adalah wajar sekali, apabila Mahisa Agni mendapat tempat bermalam di istana selama ia berada di Tumapel.

Dalam pada itu, tidak seorang pun yang dapat diajaknya berbicara tentang maksudnya. Bahkan pemomong Ken Dedes yang tua itu, yang sebenarnya adalah ibunya sendiri, tidak juga diberitahukannya.

Namun setelah beberapa saat ia berada di istana, timbullah keragu-raguannya untuk meneruskan usahanya. Ia melihat Ken Arok sebagai seorang Akuwu yang memang diharapkan oleh rakyat Tumapel. Ia dapat memberi apa yang seharusnya diterima, dan ia dapat membuat apa yang memang diperlukan.

Ternyata Ken Arok adalah seorang pemimpin yang baik dan bijaksana.

Itulah sebabnya, maka Ken Arok pun kemudian tidak puas dengan keadaan Tumapel seperti yang sudah dicapainya. Ia sama sekali tidak senang untuk menundukkan kepalanya kepada orang lain yang selama ini berkuasa.

“Benar juga kata cantrik itu,” berkata Mahisa Agni, “apakah aku sekarang akan mengguncangkan Tumapel yang sedang merambat naik ini? Aku yakin sebentar lagi Ken Arok pasti akan berhasil. Rakyat Tumapel pasti tidak akan berkeberatan untuk menyebutnya sebagai seorang raja, bukan sekedar seorang Akuwu.”

Dan Ken Arok memang berusaha untuk pada suatu ketika menjadi seorang raja. Apalagi Ken Dedes selalu berusaha untuk mendorong maju.

Namun Ken Dedes tidak menaruh prasangka apapun ketika Ken Arok seakan-akan tidak sabar lagi untuk menunggu esok.

“Kenapa Tuan tergesa-gesa,” bertanya Ken Dedes, “untuk melakukan pekerjaan yang besar Tuan harus berhati-hati.Tuan harus mempertimbangkan segala segi.”

“Aku kira semuanya sudah masak. Bukan karena aku terlampau bernafsu untuk bergelar seorang raja, tetapi sejak saat ini Tumapel harus berdiri sendiri. Tumapel harus menyebut dirinya sebagai suatu negara. Dengan demikian kesadaran dan tanggung jawab rakyatnya akan meningkat.”

“Tetapi apakah Tuanku sudah mempertimbangkan tindakan yang dapat diambil oleh Maharaja Kediri dengan pernyataan Tuan itu?”

“Tumapel sudah siap.”

Ken Dedes tidak dapat berbuat apa-apa lagi. Apalagi ia mempercayai Ken Arok. bahwa perhitungannya atas keadaan pada umumnya tidak jauh menyimpang dari yang diinginkannya.

Mahisa Agni yang masih berada di istana sekali-sekali sempat juga bertemu dengan Ken Dedes. Sempat juga ia berbicara tentang kemungkinan Ken Arok untuk menyebut dirinya menjadi seorang raja.

“Bagaimana pendapatmu Kakang?” bertanya Ken Dedes.

“Aku bukan seorang pemimpin pemerintahan yang dapat menilai keadaan dengan tepat. Tetapi apabila Ken Arok. maksudku Tuanku Akuwu sudah memperhitungkannya dengan masak, maka aku kira tidak akan ada keberatan apa-apa lagi.”

Ken Dedes mengangguk-anggukkan kepalanya. Dan Mahisa Agni pun ikut merasakan kegembiraan yang membayang di wajah adik angkatnya itu.

“Mudah-mudahan kau dapat berbahagia,” desis Mahisa Agni di dalam hatinya. Dan harapannya itu telah membuatnya semakin segan untuk melihat kenyataan seperti yang dikatakan oleh cantrik pamannya.

“Aku kira Tuanku Akuwu akan berhasil,” berkata Mahisa Agni kepada Ken Dedes, “aku mengenal kemampuan dan kecerdasannya.”

“Doamu saja Kakang. Mudah-mudahan semuanya berlangsung dengan baik. meskipun Tuanku agak tergesa-gesa.”

“Tetapi persiapannya memang sudah matang. Semuanya sudah diperhitungkannya,” Ken Dedes mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi Mahisa Agni tidak pernah sempat berbicara dengan Ken Arok sendiri. Ken Arok terlampau sibuk dengan tugas-tugasnya. Dengan rencananya. Ia adalah seorang yang berhati baja. Dan ia adalah seorang yang mempunyai kecakapan untuk menilai persoalan yang sedang dikerjakannya.

Seperti Ken Dedes tidak seorang pun yang mengerti, kenapa Ken Arok begitu tergesa-gesa kali ini untuk menyebut dirinya seorang raja. Dengan demikian maka Tumapel menjadi terlampau sibuk. Selain persiapan penobatan, maka Ken Arok telah mempersiapkan setiap kemungkinan yang dapat terjadi. Pasukan sandi telah disebarnya di segenap penjuru, dan bahkan masuk dalam-dalam ke daerah Kediri. Pasukan yang kuat berjaga-jaga di perbatasan dan hampir setiap saat di Tumapel harus mempersiapkan dirinya untuk menghadapi apapun yang bakal terjadi akibat penobatan itu.

“Bukan main,” desis Mahisa Agni di dalam hati, “ia benar-benar mampu melakukannya. Cita-cita bagi Ken Arok bukanlah sesuatu yang sekedar mengambang di langit. Tetapi ia berusaha benar-benar dapat meraihnya dan menelannya. Dan kini ia sedang gigih berjuang untuk itu. Pada saatnya, seluruh rakyat Tumapel bersorak. Tumapel kini bukan lagi suatu wilayah kecil di bawah perintah sang Akuwu yang mengakui kekuasaan Kediri. Kini Tumapel adalah sebuah kerajaan yang menamakan dirinya Singasari.”

Seluruh rakyat meneriakkan kelahiran suatu kerajaan baru yang bernama Singasari itu.

Dan dengan demikian lahir pula seorang raja yang menjadi kebanggaan rakyatnya untuk memimpin kerajaan yang baru itu, Ken Arok yang kemudian bergelar Sri Rajasa Batara Sang Amurwa Bumi, yang menguasai kerajaan Singasari, di sebelah timur Gunung Kawi.

Mahisa Agni yang melihat kemajuan anak padang Karautan itu hanya dapat mengelus dadanya. Ia ikut menjadi bangga karenanya. Kalau anak itu masih berkeliaran di padang Karautan, ia akan tetap merupakan hantu yang tidak saja menakutkan, tetapi oleh otaknya yang cemerlang, ia akan menjadi iblis yang maha dahsyat. Bahkan ia pun akan mampu membuat suatu kerajaan tersendiri, yang memerintah para perampok, pencuri, pemeras dan segala macam penjahat.

Kini kemampuan yang melimpah-limpah itu sudah tersalur. Ken Arok adalah seorang raja yang perkasa.

Pergolakan yang terjadi di Kediri dimanfaatkannya baik-baik. Pertentangan antara para pendeta dan para bangsawan. Keputusan Maharaja Kertajaya yang memaksa para pendeta untuk menyembahnya, telah menggali jurang yang tidak terhubungkan lagi.

Dengan demikian, maka hubungan kedua negara itu semakin memburuk. Raja Singasari yang bergelar Sri Rajasa dapat lebih tangkas menangani persoalannya.

Mahisa Agni yang merasa berkewajiban untuk menemukan pembunuh pamannya yang sebenarnya, menjadi semakin termangu-mangu. Akhirnya tanpa berbuat sesuatu ia kembali ke padukuhan Panawijen baru. setelah beberapa lama ia berada di istana Singasari.

Ia memerlukan singgah sebentar ke Lulumbang menemui cantrik-cantrik yang masih menunggui padepokan itu.

“Kawanmu masih berada di Panawijen,” katanya kepada para cantrik ketika mereka menanyakan seorang kawannya yang berkunjung kepada Mahisa Agni.

“Kenapa ia tidak segera kembali?”

“Aku menahannya.”

Kawan-kawannya mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Jagalah padepokan ini baik-baik. Rawatlah keluarga paman yang masih ada.”

Para cantrik itu mengangguk-anggukkan kepalanya pula.

“Apabila aku sampai ke Panawijen, kawanmu akan segera pulang.”

“Ya,” jawab para cantrik, “kami menjadi cemas.”

Dada Mahisa Agni berdesir.

“Kenapa?” ia bertanya.

“Ia jauh melampaui batas waktu yang direncanakan.”

Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam.

“Ia selamat.”

Anak muda itu hanya sekedar singgah saja di Lulumbang.Kemudian ia pun segera meneruskan perjalanan, kembali ke Panawijen.

Ketika cantrik yang memberitahukan kepadanya tentang Ken Arok itu bertanya kepadanya. Mahisa Agni hanya dapat menggelengkan kepalanya, “Seperti kau, aku tidak ingin negara yang baru lahir ini berguncang. Seluruh rakyat menyambut lahirnya kerajaan Singasari. Seluruh rakyat mengharap bahwa negara ini akan segera berkembang. Aku tidak dapat melakukannya. Kepentingan yang seolah-olah lebih bersifat pribadi ini. terpaksa aku urungkan, meskipun tidak berarti bahwa kesalahan Ken Arok, seandainya benar penglihatanmu, menjadi terhapus karenanya.”

Cantrik itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Sudahlah, anggaplah penglihatankulah yang salah. Singasari memerlukan seorang besar seperti Ken Arok.”

Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Aku akan segera kembali ke Lulumbang,” berkata cantrik itu kemudian.

Namun Mahisa Agni tidak dapat melepaskannya sendiri. Perasaannyalah yang selalu membayangi. Cantrik itu adalah satu-satunya saksi yang masih dapat mengatakan, siapakah yang sebenarnya datang ke Lulumbang pada saat Empu Gandring terbunuh.

“Barangkali pembunuh itu sudah melupakannya, bahwa masih ada seorang saksi,” berkata Mahisa Agni di dalam hatinya, “selama tidak ada persoalan apapun tentang pembunuhan itu, maka aku kira cantrik itu pun tidak akan terancam.”

Meskipun demikian Mahisa Agni memerlukan mengantarkan cantrik itu sampai ke Lulumbang, menyerahkannya kembali kepada kawan-kawannya.

Dengan demikian Mahisa Agni mencoba untuk seterusnya melupakan keterangan cantrik itu. Ia menenggelamkan di dalam kerjanya sehari-hari, membangun padukuhannya yang baru, seperti juga Singasari membangun dirinya.Kini pemerintahan yang dipimpin oleh Ken Arok itu mulai terasa sampai ke padukuhan-padukuhan terpencil. Perlindungan dan bimbingannya memberikan banyak manfaat kepada daerah-daerah yang semula seakan-akan tidak bertuan.

Namun, adalah berbeda sekali apa yang terjadi di dalam istana sendiri. Di kala Singasari sedang memencar ke segala penjuru, keretakan yang perlahan-lahan telah merayapi istana. Seperti yang dikatakannya sendiri, Ken Arok bukanlah seorang pengecut. Dan ia memang tidak berlaku sebagai seorang pengecut.

Meskipun belum dilakukannya secara terbuka, namun ia benar-benar tidak meninggalkan Ken Umang. Bahkan Ken Umang ternyata mempunyai kecakapan yang seakan-akan ajaib. Ken Arok sama sekali tidak dapat melepaskannya lagi, bukan sekedar karena kejantanannya. Tetapi Ken Arok benar-benar memerlukan Ken Umang.

“Tuanku,” berkata Ken Umang pada suatu kali, “apakah untuk seterusnya Tuanku akan selalu bersembunyi-sembunyi apabila Tuanku datang mengunjungi hamba seperti ini.”

“Tentu tidak Umang. Pada saatnya aku akan mengumumkan perkawinan kita.”

“Tetapi bagaimana dengan Tuanku Permaisuri. Bukankah kekuasaan yang Tuanku miliki sekarang berasal dari Tuan Putri itu, yang mendapat pelimpahan dari Akuwu Tunggul Ametung?”

Ken Arok mengerutkan keningnya. Tetapi kemudian ia menjawab, “Tunggul Ametung bukan seorang raja. Tunggul Ametung hanya seorang Akuwu. Seandainya kekuasaanku itu aku dapatkan dari Tunggul Ametung lewat Ken Dedes, maka aku adalah sekedar seorang Akuwu, tetapi aku adalah seorang raja.”

Ken Umang tertawa pendek. Dan suara tertawa itu menggelitik jantung Ken Arok. Sambil berjalan hilir mudik Ken Umang berkata, “Hamba tahu, bahwa pada saatnya Tuanku pasti tidak akan bersembunyi-sembunyi lagi, karena Tuanku mempunyai kekuasaan untuk melakukan apa saja. Tetapi pada saatnya itu kapan?”

Ken Arok tidak segera menjawab.

“Tuanku memang seorang raja yang berkuasa. Tidak seorang pun di Singasari yang berani menentang kehendak Sri Rajasa,” Ken Umang meneruskan, “tetapi meskipun demikian Sri Rajasa yang kuasa itu tidak dapat menyakiti hati Permaisuri tercinta.”

“Cukup!” Ken Arok memotong.

Tetapi Ken Umang tertawa. Katanya, “Tuanku jangan marah. Aku tidak sengaja menyinggung perasaan Tuanku. Barangkali Tuanku memang terlampau lelah, sehingga mudah sekali kehilangan pengamatan diri.Karena itu, kami persilakan Tuanku beristirahat. Tuanku harus melupakan segala kesibukan yang melemahkan itu meskipun hanya sesaat.”

Ken Arok masih tetap berdiam diri.

“Setuju Tuanku?”

Ken Arok sama sekali tidak bergerak. Tetapi ketika tangan Ken Umang menyentuhnya, dan bau wewangian meraba hidungnya. Ken Arok tidak dapat menghindarinya lagi.

“Tuanku memang tidak perlu menyakiti hati Permaisuri. Hamba sudah puas dengan keadaan sekarang. Apapun yang Tuan lakukan hamba tidak akan sakit hati.”

“Sudah aku katakan, bahwa aku bukan pengecut,” jawab Ken Arok, kemudian, “aku sudah berusaha mempercepat penobatanku, supaya tidak ada persoalan apapun lagi yang dapat merintangi maksudku, apabila aku akan menyatakan kau sebagai istriku.”

Ken Umang tertawa. Katanya , “Jadi Tuanku menjadikan Singasari ini suatu kerajaan bukan karena cita-cita Tuan, bahwa hari depan Singasari akan menjadi lebih baik, tetapi hanya sekedar agar Tuanku dapat menjadikan hamba sebagai seorang istri yang terbuka.”

“Bukan, bukan itu,” Ken Arok menyahut dengan serta-merta, “Tetapi keduanya memang bersangkut paut.”

“Sudahlah,” berkata Ken Umang kemudian, “Tuanku memang harus beristirahat.”

Demikianlah, Ken Arok menjadi semakin terikat oleh Ken Umang yang mempunyai sifat yang berbeda dengan Ken Dedes. Seperti juga Ken Arok tidak lagi dapat hidup tanpa Ken Dedes, ia pun tidak dapat lagi terlepas dari Ken Umang. Keduanya diperlukan dan keduanya mempunyai arti yang tersendiri di dalam kehidupannya.

Maka ketika datang saatnya Ken Dedes melahirkan, maka sekali lagi rakyat Singasari bersorak. Ken Dedes melahirkan seorang putra laki-laki. Seorang putra laki-laki yang tampan.

Namun di antara sorak-sorai rakyat Singasari itu. justru rajanyalah yang selalu berdesah di dalam hati. Kelahiran putra laki-laki itu adalah suatu pertanda bagi Ken Arok, bahwa persoalannya dengan Tunggul Ametung memang belum selesai dengan terbunuhnya Kebo Ijo.

Meskipun demikian, di hadapan rakyatnya dan Ken Dedes. Ken Arok sama sekali tidak menyatakan perasaannya. Ia sama sekali tidak memberikan kesan apapun, sehingga Ken Dedes sama sekali tidak berprasangka, meskipun ia tahu benar, bahwa kelahiran putranya itu akan menimbulkan persoalan di kemudian hari.

Namun apabila Ken Arok duduk sendiri di dalam biliknya, ia selalu diburu oleh kegelisahan yang kadang-kadang sangat menyayat hatinya. Anak itu adalah anak Tunggul Ametung. Bukan anaknya. Dan anak yang lahir itu adalah seorang anak laki-laki.

“Apakah aku kelak akan mengakuinya sebagai putra Mahkota?” pertanyaan itu selalu mengganggunya setiap kali.

Dengan demikian maka Ken Arok menjadi semakin tenggelam di dalam pengaruh Ken Umang.Ia berusaha melarikan dirinya dari kejaran pertanyaan itu, dan mencari ketenteraman kepada perempuan itu.

Selain kepada Ken Umang, maka Ken Arok pun telah mencari penyaluran yang lain dari kekecewaannya. Mau tidak mau, setiap kali ia melihat putra laki-laki Permaisurinya itu, dadanya selalu berdesir. Wajah bayi itu seakan-akan merupakan bayangan wajah Tunggul Ametung.

Ken Arok menjadi semakin lekat dengan punggung kudanya. Ia menjelajahi sudut-sudut Tanah Singasari. Bahkan Ken Arok pun kemudian tidak lagi mengakui batas kerajaannya sebesar tanah Tumapel.Ia seolah-olah sudah tidak melihat lagi batas antara Singasari dan Kediri.

Arus para pendeta yang menyingkir dari Kediri memberinya kesempatan untuk menghimpun kekuatan di daerah-daerah yang sebenarnya termasuk daerah Kediri. Namun orang-orang yang tinggal di daerah itu terlampau terpengaruh oleh para pendeta yang memihak kepada Ken Arok.

Apalagi Ken Arok sendiri selalu menumbuhkan gairah yang menyala-nyala di dalam dada para anak-anak muda Singasari. Di atas punggung kuda Ken Arok menjelajahi pasukan demi pasukan yang disusun di daerah-daerah yang terpencil sekalipun.

Singasari benar-benar telah siap menghadapi setiap kemungkinan.

Dalam pada itu, kegembiraan atas kelahiran putra Ken Dedes telah mengguncangkan padukuhan Panawijen. Mereka bersyukur, bahwa seorang anak padukuhan kecil itu dapat melahirkan seorang putra yang terhormat. Seorang putra yang menghuni sebuah istana kerajaan Singasari.

Dengan demikian, maka Mahisa Agni pun telah hampir melupakan maksudnya untuk menemukan pembunuh pamannya. Meskipun setiap kali keterangan cantrik itu masih juga terngiang, namun ia selalu berusaha menahan dirinya. Ia tidak akan sampai hati melihat Ken Dedes kehilangan sekali lagi atau Singasari kehilangan seorang yang kuat yang dapat membina Singasari menjadi sebuah kerajaan besar.

Bagi rakyat Singasari nama Ken Arok semakin hari menjadi semakin besar. Usahanya yang merata, serta kebanggaan yang telah menggetarkan setiap dada, benar-benar telah mencengkam kecintaan rakyat Singasari kepadanya.

Bagi Ken Arok, kemajuan Singasari membuatnya semakin berpengharapan, bahwa pada suatu ketika, negaranya akan menjadi suatu negara yang besar.

Namun betapa kebanggaan melonjak di hatinya oleh kemajuan yang pesat dari kerajaannya, namun setiap kali Ken Arok masih harus mengusap dadanya, justru apabila ia berada di istananya.

Setiap kali ia harus melihat putra Ken Dedes. Dan setiap kali ia akan teringat kepada Tunggul Ametung dan tingkah lakunya sendiri, yang telah merenggut nyawa akuwu itu.

Tetapi akhirnya Ken Arok harus menyerah kepada kenyataan. Kenyataan bahwa anak Ken Dedes itu memang ada. Seorang laki-laki yang kemudian diberinya nama Anusapati.

“Aku harus berjiwa besar,” ia selalu berusaha menghibur dirinya sendiri.

Tetapi apabila kekecewaan itu tiba-tiba saja menggelegak di dalam dadanya, ia selalu melarikan dirinya di atas punggung kuda untuk menyaksikan latihan perang, atau menghilang dan bersembunyi di rumah Ken Umang.

Namun Ken Arok benar-benar tidak dapat berbuat demikian untuk seterusnya. Ketika Ken Arok yakin, bahwa rakyat Tumapel telah berada di dalam genggaman tangannya, maka terjadilah hal yang sama sekali tidak disangka-sangka oleh Ken Dedes.

Seperti guruh yang tiba-tiba saja meledak di atas kepalanya, Ken Dedes mendengar berita itu. Ken Arok telah mengambil seorang istri. Ken Umang. Dan yang lebih menyakitkan hatinya, adalah, bahwa Ken Umang itu telah mengandung pula. Mengandung putra Ken Arok sendiri.

Berita itu bagi Rakyat Singasari memang mengejutkan. Tetapi hanya sesaat. Kebesaran nama Sri Rajasa Batara Sang Amurwa Bumi benar-benar telah terpahat di hati mereka, sehingga perkawinannya itu pun sama sekali tidak mampu mengguncangkan kepercayaan rakyat kepadanya.

Sesuai dengan sifat-sifatnya. Ken Dedes sama sekali tidak bertanya apapun kepada suaminya. Yang dapat dilakukannya hanyalah menangis sambil memeluk putranya, Anusapati. Dicurahkannya kepahitan hidupnya kepada tetesan darahnya.

Betapa Ken Arok berusaha menghiburnya, namun Ken Dedes benar-benar telah terluka. Apa yang dilakukannya kemudian terhadap suaminya adalah sekedar melakukan kewajibannya sebagai seorang istri. Tetapi kesetiaan jasmaniahnya itu. semakin hari semakin menyakitkan perasaannya.

“Aku tidak dapat mengelabui perasaanku,” Ken Arok berterus terang, “bukan karena aku tidak mau menerima kehadiran anak itu. Tetapi aku adalah manusia biasa. Sehingga pada suatu ketika aku telah tergelincir.”

“Hamba, Tuanku. Hamba pun memang sudah merasa, bahwa hamba terlampau rendah buat Tuanku. Apalagi sekarang, setelah Tuanku menjadi seorang raja yang berkuasa. Hamba adalah anak pedesaan yang tidak berharga. Apalagi hamba memang bukan gadis lagi ketika hamba Tuanku ambil menjadi istri Tuanku. Tuanku mengetahui dengan pasti bahwa saat itu hamba telah mengandung.”

“Jangan menyakiti hati sendiri Ken Dedes. Kau telah membuat luka di hatimu menjadi bertambah parah.”

“Hamba sudah terlampau biasa mengalami kepahitan Tuanku. Barangkali Tuanku tahu pasti, apakah yang sudah terjadi atas hamba. Hamba melihat kematian seorang laki-laki untuk pertama kalinya hamba cintai, karena hamba telah diambil dengan paksa dari ayah hamba. Kemudian hamba harus menyesuaikan diri sebagai seorang istri dari Akuwu Tunggul Ametung yang mempunyai sifat-sifat yang sulit dimengerti. Ketika hamba sudah merasa berhasil, suami hamba itu terbunuh. Tuanku tahu, bahwa perasaan hamba terhadap Tuanku tumbuh dengan wajar, sebagai perasaan seorang perempuan terhadap laki-laki. Ketika kita kawin, hamba mengharap bahwa hamba akan berbahagia.”

“Jangan kau siksa dirimu sendiri dengan perasaanmu itu,” potong Ken Arok.

“Tidak Tuanku. Sama sekali tidak. Kenangan yang kadang-kadang tumbuh ini akan meneguhkan hati hamba, bahwa memang menjadi kewajiban hamba untuk bertahan dalam setiap keadaan.”

“Ken Dedes,” berkata Ken Arok, “kau jangan kecil hati. Kau bagiku adalah seorang perempuan yang paling berharga. Aku menghargai kau karena sifat-sifatmu.”

Ken Arok berhenti sejenak, kemudian, “tetapi tidak demikian pandanganku terhadap Ken Umang. Ken Umang bukan seorang istri yang mengerti keadaan suaminya sampai sedalam-dalamnya, ia adalah seorang yang menilai setiap keadaan dari tatapan lahiriahnya. Tetapi aku yakin, kau tidak demikian. Pada suatu saat, seandainya aku tidak lagi menjadi seorang raja. sikapmu, pandanganmu dan tangkapanmu atasku tidak akan berubah. Tetapi tidak demikian dengan Ken Umang. Kalau aku bukan seorang akuwu waktu itu dan apalagi sekarang seorang raja, maka ia akan lari dariku. Aku sadar akan hal itu Ken Dedes. Dengan demikian kau akan dapat menimbang, penilaianku atasmu dan penilaianku atas Ken Umang, justru karena aku menyadari keadaanku sekarang.”

Ken Dedes menundukkan kepalanya. Meskipun hatinya pedih, namun sepercik kebanggaan telah mengembang di hatinya. Ken Arok dapat melihat perbedaan antara dirinya dan Ken Umang.

Sepercik kebanggaan itu telah sedikit menghiburnya, meskipun saat yang demikian telah mematahkan segenap kegairahannya terhadap suaminya.

Namun Ken Arok yang kemudian beristrikan Ken Umang itu, sama sekali tidak mengubah sikapnya terhadap Ken Dedes. Bahkan tampak ia perlahan-lahan menjadi semakin dekat dengan Anusapati.

Tetapi bagaimanapun juga, baik Ken Arok maupun Ken Dedes mengetahui dengan pasti bahwa anak itu adalah anak Tunggul Ametung. Sehingga apabila kemudian lahir anak Ken Arok sendiri dari Ken Umang, maka perhatian Ken Arok atas Anusapati pun segera bergeser pula.

Mahisa Agni yang semula telah ingin melupakan segala-galanya. Tiba-tiba saja telah diguncang kembali oleh berita perkawinan Ken Arok dengan Ken Umang. Meskipun ia belum melihat sendiri namun ia sudah dapat membayangkan, bahwa Ken Dedes akan mengalami kejutan perasaan yang sangat pedih.

Bayangan tentang Ken Dedes itu akhirnya telah membuat Mahisa Agni menjadi sangat kecewa terhadap Ken Arok. Ken Arok yang semula berkeliaran di padang Karautan. kemudian mendapat tempat yang baik di Tumapel itu, kini justru telah membuat sakit hati kepada Ken Dedes.

“Tetapi aku belum melihatnya sendiri,” ia mencoba mempergunakan nalarnya, “mungkin ia sama sekali tidak terpengaruh oleh perkawinan Ken Arok itu. Kalau aku tiba-tiba saja berbuat sesuatu, sedang Ken Dedes sendiri dapat menerima hal itu dengan baik, maka akulah yang justru telah membuat luka baru di hati perempuan itu.”

Meskipun demikian untuk membiarkan hal itu tanpa berbuat apa-apa rasa-rasanya perasaan Mahisa Agni selalu terganggu.

“Aku akan melihat, apa yang sebenarnya terjadi,” katanya kepada diri sendiri.

Demikianlah pada suatu saat. Mahisa Agni pun segera pergi ke Singasari. Di sepanjang jalan direka-rekanya, apa yang akan dilakukannya nanti di dalam beberapa kemungkinan. Kalau begini apa yang harus dilakukan, kalau begitu apa pula yang perlu dikerjakan.

“Kalau Ken Dedes menderita karenanya, maka aku harus melakukan sesuatu. Mungkin aku akan membawa cantrik itu dengan diam-diam dan bersembunyi ke Singasari untuk mengenal apakah benar Ken Arok itulah yang dimaksud.”

Dengan hati yang berdebar-debar Mahisa Agni memasuki istana Singasari lewat regol belakang. Istana itu sudah sangat berubah menurut pengamatannya. Namun beberapa orang pemimpin prajurit penjaga yang sedang bertugas masih mengenalinya, sehingga karena itu maka tanpa kesulitan sama sekali ia dapat masuk ke dalam istana itu.

“Aku akan bertemu dengan Permaisuri,” katanya pada seorang penjaga.

“Baiklah. Silakan menunggu di serambi belakang.” jawab seorang pelayan dalam.

Kedatangan Mahisa Agni itu pun kemudian disampaikannya kepada permaisuri, yang dengan tergopoh-gopoh minta kepada pelayan dalam itu agar dipersilakannya masuk ke ruang belakang.

Dada Mahisa Agni bergetar ketika ia melihat Ken Dedes menyambutnya dengan titik-titik air mata. Selama ini kepahitan hati itu selalu disimpannya. Ia hanya dapat menumpahkannya kepada pemomongnya yang tua. Setiap kali. Dan agaknya tekanan-tekanan perasaan itu masih juga terasa menyekat di dadanya. Karena itu kehadiran Mahisa Agni adalah merupakan tempat penumpahan perasaannya pula yang semakin hari semakin penuh.

“Sudahlah Tuanku,” pemomongnya mencoba menghiburnya, “jangan Tuanku turuti perasaan itu. Cobalah menimbang dengan tenang, bahwa yang baik masih lebih banyak dari kekecewaan-kekecewaan itu.”

Tetapi air mata itu tidak segera kering. Setiap tetes serasa tusukan-tusukan duri yang paling tajam di dinding jantungnya.

“Kakang,” berkata Permaisuri itu, “hidupku kini tinggallah sisa-sisa yang gersang. seperti gersangnya padukuhan Panawijen lama. Aku tidak dapat lagi mendengarkan merdunya kidung dan tidak dapat lagi memandang cerahnya matahari pagi pada dedaunan. Hatiku telah membeku.”

“Jangan Tuanku,” tetapi mata emban itu pun telah mulai basah pula, “Tuanku masih cukup muda. Seandainya Tuanku telah puas dengan menghirup cerahnya kehidupan, maka hidup Tuanku selanjutnya adalah suatu pengabdian buat putra Tuanku.”

“Itulah satu-satunya sebab, kenapa aku masih tetap hidup emban.”

“Tidak Tuanku. Dalam kemurungan hati, maka putra Tuanku akan terpengaruh pula olehnya.”

Ken Dedes menarik nafas dalam-dalam.

“Begitulah Tuanku,” berkata Mahisa Agni, meskipun ia sendiri tidak meyakininya. Tetapi untuk selalu berdiam diri tanpa memberikan sesuatu yang dapat memperingan beban Ken Dedes adalah tidak selayaknya, “Bukankah Tuanku Sri Rajasa mempunyai seorang putra pula dari istrinya yang lain?”

Tanpa sesadarnya Ken Dedes mengangguk.

“Nah, putra Tuanku Permaisurilah yang kelak harus menjadi putra terbaik dari semua putra-putra Ken Arok.”

Ken Dedes hanya menundukkan kepalanya. Sekali-sekali jarinya menyentuh pelupuk matanya.

“Kau bermalam di istana saja Kakang,” berkata Ken Dedes seterusnya.

Mahisa Agni mengangguk.

“Hamba Tuan Putri,” jawabnya, “memang tidak ada tempat yang lebih baik daripada istana ini. meskipun di sudut yang paling tersembunyi. Tetapi bagaimanakah apabila pada suatu saat hamba datang bersama seorang kawan hamba? Apakah kawan hamba itu pun diperkenankan bermalam di istana ini pula?”

“Tentu Kakang. Tidak ada keberatan apapun. Aku dapat memberinya izin.”

“Terima kasih,” jawab Mahisa Agni yang tiba-tiba sekilas di dalam ingatannya untuk membawa cantrik itu pula ke Singasari.

Ternyata titik-titik air mata Ken Dedes telah dengan perlahan-lahan memanaskan darahnya meskipun ia masih tetap mencoba berpikir sebaik-baiknya. Ia masih tetap mencoba melihat segala segi dari kepentingan yang jauh lebih besar dari kepentingan-kepentingan pribadi. Meskipun demikian ia berkata di dalam hatinya, “Mungkin pada saatnya aku memerlukannya untuk mengetahui siapakah sebenarnya pembunuh paman Empu Gandring.”

Dan ternyata keinginannya untuk itu semakin lama justru menjadi semakin kuat. Ketika kemudian ia meninggalkan ruang dalam dan di antara langsung ke dalam bilik penginapannya di sudut bangsal belakang, niat itu justru menjadi semakin berkembang.

“Kasihan anak itu,” desisnya, “seolah-olah sepanjang hidupnya selalu dibayangi oleh mendung yang kelam.”

Ken Arok yang kemudian diberi tahu akan kehadiran Mahisa Agni menjadi berdebar-debar pula. Ia tahu benar, bahwa Mahisa Agni bukanlah sekedar anak pedesaan Panawijen kebanyakan. Mahisa Agni ternyata memiliki tidak saja kemampuan jasmaniah, tetapi ia pun termasuk seorang anak muda yang mempunyai kemampuan berpikir yang kuat.

Tetapi Ken Arok adalah seorang yang bijaksana. Karena itu, ketika terluang waktu baginya, dalam sidang yang tidak terlalu banyak persoalan, segera ia memanggil Mahisa Agni menghadap.

“Begitu lama kau tidak datang Agni?” Ken Arok bertanya.

“Hamba Tuanku,” jawab Mahisa Agni, “hamba terlampau sibuk dengan pekerjaan hamba di padukuhan.”

“Ah,” Ken Arok berdesah, “seandainya aku tidak terikat oleh tata kehidupan istana, aku sama sekali tidak menghiraukan jenjang-jenjang sebutan seperti itu.”

Mahisa Agni mengerutkan keningnya. Sejak Ken Arok menjadi seorang akuwu, ia sudah mempergunakan sebutan resmi dalam hubungan pribadi mereka. Namun baru sekarang Ken Arok menyebut kejanggalan itu. Sebagai dua orang yang pernah berada di dalam satu lingkungan kerja yang besar, jarak yang tiba-tiba saja membatasi mereka dalam jenjang kedudukan itu memang terasa janggal. Tetapi kenapa Ken Arok baru menyadarinya sekarang?

“Sebenarnya aku lebih senang hidup tanpa hubungan resmi yang mengikat seperti ini,” berkata Ken Arok, “keharusan-keharusan resmi seorang raja ternyata menjemukan sekali bagiku, bagi seorang yang biasa hidup di alam terbuka.”

Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya, “Tetapi Tuanku tinggal menjalaninya.Hal itu sudah menjadi naluri susunan hubungan di antara kita. Antara seorang raja dan rakyatnya.”

“Ya, ya,” Ken Arok mengangguk-anggukkan kepalanya. Dan tiba-tiba suaranya meninggi, “apakah kau sudah melihat kemenakanmu?”

“Hamba Tuanku.”

“Anak yang manis. Anak yang memiliki pertanda kebesaran,” Ken Arok berhenti sejenak. Dan tanpa disangka-sangka ia berkata seperti begitu saja terloncat dari bibirnya sebelum dipertimbangkannya baik-baik. “Anak itu adalah bakal Putra Mahkota. Ia harus mendapatkan tuntunan sesuai dengan kedudukannya.”

Dada Mahisa Agni menjadi berdebar-debar. Ia belum mendengar hal itu sebelumnya. Ken Dedes sama sekali tidak pernah mengatakannya. Bahkan dalam nada kecemasannya, Ken Dedes meragukan kemungkinan itu. Tetapi kini Ken Arok sendirilah yang mengatakannya.

“Bagaimana pendapatmu Agni?”

Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Kemudian dengan hati-hati ia menjawab, “Sudah tentu hamba akan sangat berterima kasih Tuanku. Meskipun hanya sentuhan yang betapapun kecilnya, hamba dapat ikut mengenyam kemurahan hati Tuanku. Kemenakan hamba akan mendapat anugerah yang akan sangat berarti di masa depannya.”

“Itu sudah haknya Agni. Ia adalah putra tertua.”

Mahisa Agni menundukkan kepalanya. Tetapi Mahisa Agni bukanlah seorang yang berotak terlampau tumpul. Sikap Ken Arok yang sangat baik terhadapnya justru menimbulkan persoalan tersendiri di dalam hatinya.

“Mungkin Ken Arok merasa bersalah,” katanya di dalam hati, “perkawinannya dengan Ken Umang dapat menjadi sebab, yang akan dapat menumbuhkan keretakan di dalam istana. Kehadiranku di sini pasti dihubungkannya dengan kepahitan hati Ken Dedes.”

Tetapi Mahisa Agni berusaha untuk bersikap sewajarnya. Sebagai seorang pedesaan yang mendapat kehormatan begitu tinggi, maka tampak kegembiraan membayang di wajahnya.

Beberapa orang pemimpin Tumapel yang melihatnya, mengangguk-anggukkan kepalanya. Beberapa orang baru, yang belum banyak mengenal Mahisa Agni justru mencibirkan bibirnya.

“Anak padang Karautan ini akan dapat menjadi besar kepalanya.”

Namun setelah Mahisa Agni mundur dari hadapan Sri Rajasa, dan sidang itu dibubarkan pernyataan baginda tentang putra Ken Dedes itu menjadi persoalan yang riuh di antara para pemimpin yang lain. Meskipun tidak seorang pun yang berani mengemukakannya kepada Ken Arok, namun mereka saling berbisik, “Apakah sudah wajar bahwa Anusapati yang akan menjadi Putra Mahkota? Bukankah Anusapati itu bukan putra Sri Rajasa?”

Tetapi beberapa orang yang lain, apabila yang tua-tua berbisik di antara mereka, “Sri Rajasa memang bijaksana. Ia tidak melupakan modal kekuasaan yang diterima dari permaisurinya yang mendapat limpahan kekuasaan dari Akuwu Tunggul Ametung.”

“Terlalu tergesa-gesa,” berkata kelompok yang lain, “sebaiknya Tuanku Sri Rajasa membicarakannya dahulu dengan para pemimpin dan tetua Kerajaan Singasari.”

“Tetapi penobatan sebagai Putra Mahkota masih belum dilakukan. Masih ada kemungkinan lain.”

“Sabda Pandita Ratu,” desis yang lain. Pembicaraan itu ternyata tidak hanya terbatas pada para pemimpin yang mendengar sendiri keterangan baginda di dalam pasewakan. Hampir seluruh rakyat, terutama yang tinggal di dalam kota Singasari, telah membicarakannya.

“Putra Permaisuri itu masih bayi,” berkata seseorang, “apakah sudah sepantasnya membicarakan masalah itu sekarang?”

Yang lain hanya mengangkat pundaknya. Dan yang lain lagi seakan-akan acuh tidak acuh saja akan hal itu.

Namun di dalam pembicaraan sehari-hari itu. Mahisa Agni ternyata mampu menangkap sikap rakyat Singasari. Ternyata di antara mereka masih juga ada yang tetap mengenangkan Akuwu Tunggul Ametung.

Beberapa orang dari rakyat Singasari masih juga menyebut-nyebut, bahwa anak itu pasti anak Tunggul Ametung. Ketika Tunggul Ametung terbunuh Ken Dedes lagi mengandung muda.

“Mudah-mudahan anak itu benar-benar menjadi putra Mahkota sehingga Tunggul Ametung kelak akan kembali memegang kekuasaan.”

Dalam pada itu. Ken Dedes yang masih belum mendengar sendiri hal itu dari Ken Arok, tetapi sudah mendengar desas-desus yang tersebar menjadi termangu-mangu. Ia sengaja tidak bertanya kepada Ken Arok tentang hal itu menunggu apakah benar Ken Arok berkata demikian bukan sekedar untuk menyenangkan Mahisa Agni.

Tetapi pada suatu saat Ken Arok benar-benar mengatakan hal itu kepadanya. Seperti pada saat ia mengatakannya di muka sidang yang dihadiri oleh Ken Arok. seakan-akan begitu saja terloncat dari bibirnya, “Adinda Permaisuri, Anusapati harus segera mendapat tuntunan untuk menyesuaikan dirinya dengan kedudukannya. Kelak ia akan menjadi Putra Mahkota, sehingga pertumbuhannya pun harus disesuaikan dengan keadaan itu.”

Pernyataan yang seakan-akan begitu saja terloncat dari bibir Ken Arok itu serasa telah mengembangkan seluruh isi dada Ken Dedes. Ken Arok benar-benar berhasrat menjadikan putranya yang sulung itu seorang Putra Mahkota.

“Terima kasih, Tuanku. Hamba akan sangat berterima kasih atas kemurahan hati Tuanku.”

“Kenapa?” Ken Arok justru bertanya.

“Kesempatan kepada Anusapati untuk menjadi seorang Putra Mahkota.”

“Bukankah hal itu sewajarnya? He? Aku tidak berbuat menurut kehendakku sendiri. Putra yang sulung akan menjadi Putra Mahkota.”

Ken Dedes menundukkan kepalanya, “Hamba Tuanku.”

Dalam pada itu Ken Arok pun mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Aku tahu Ken Dedes, bahwa mungkin selama ini kau telah dicemaskan oleh bayangan-bayangan yang seakan-akan menjadi kabut yang kelam di atas singgasana, karena aku mempunyai anak pula dari istriku yang lain. Tetapi sudah aku katakan kepadamu, bahwa kau adalah istri yang baik. Kau adalah seorang istri yang sebenarnya. Kau bukan sekedar seorang perempuan yang merindukan kelebihan duniawi.Karena itu, maka putramulah yang memang sudah sepantasnya menjadi seorang Putra Mahkota. Jangan hiraukan kata orang tentang putramu itu. Aku menganggapnya seperti anakku sendiri.”

Ken Dedes tidak menjawab. Tetapi matanya menjadi berkaca-kaca. Sepercik harapan melonjak di dalam dirinya. Meskipun hidupnya sendiri seakan-akan selama ini selalu dilingkari oleh kepahitan, namun pada suatu saat putranya akan menjadi seorang yang berkuasa di atas Tanah Singasari.

Kesanggupan Ken Arok untuk mengangkat Anusapati menjadi Putra Mahkota telah memberikan ketenangan dan sedikit kebanggaan di hatinya. Demikian juga kepada Mahisa Agni. Meskipun perasaan Mahisa Agni yang tajam menangkap sesuatu yang mendebarkan jantungnya. Seakan-akan ia melihat sesuatu yang tersembunyi dibalik kebaikan hati itu.

Tetapi Mahisa Agni tidak mengatakannya kepada siapa pun.Di dalam hatinya ia hanya mempersoalkannya dengan dirinya sendiri. Namun dicobanya untuk menenteramkan kegelisahannya.

“Mungkin aku terlampau berprasangka,” desisnya di dalam hati, “mungkin pengenalanku atas Ken Arok semasa ia masih berkeliaran di padang Karautan, dan mungkin juga karena keterangan cantrik yang masih belum pasti kebenarannya itulah yang telah menggelisahkan hati.”

Dengan demikian maka Mahisa Agni telah berusaha menahan diri untuk tidak melakukan hal-hal yang dapat menyakitkan hati Ken Dedes. Ia tidak mau Ken Dedes kehilangan harapannya untuk menggenggam hari depan lewat putranya Anusapati.

Betapapun keinginan tumbuh di dadanya untuk melihat kebenaran keterangan cantrik yang tinggal satu-satunya saksi tentang kematian pamannya, namun niat itu selalu disingkirkannya jauh-jauh.

Hari-hari yang merambat melampaui ujung bulan dan tahun telah melahirkan peristiwa-peristiwa yang berlangsung terus. Betapa dinginnya hati Ken Dedes atas suaminya setelah Ken Arok kawin dengan Ken Umang, namun ia tidak mau ingkar akan kewajibannya. Di hari-hari mendatang, maka lahirlah putranya yang berikutnya. Demikian juga dengan Ken Umang. Kelahiran putranya yang pertama, yang dinamainya Tohjaya, disusul pula oleh kelahiran adik-adiknya.Semakin lama niat Mahisa Agni pun seakan-akan menjadi hampir padam sama sekali. Meskipun ia melihat kelesuan di dalam hidup Ken Dedes, tetapi yang terjadi itu masih jauh lebih baik daripada peristiwa-peristiwa yang dapat menghempaskannya sekali lagi ke dalam duka yang mendalam.

Tetapi adalah kebetulan sekali, bahwa istri Ken Arok yang muda itu adalah Ken Umang. Seorang perempuan yang seperti dikatakan oleh Ken Arok sendiri, mendambakan dirinya pada kemewahan lahiriah. Meskipun ia selalu tersenyum di hadapan Ken Arok, seakan-akan ia tidak pernah menentang niatnya, namun kesempatan yang didapat oleh Anusapati untuk menjadi Putra Mahkota telah menyakitkan hatinya, Anusapati adalah bukan keturunan Ken Arok, sehingga tidak sewajarnyalah bahwa takhta yang diperjuangkannya selama ini akan jatuh ke tangan orang lain.

Perlahan-lahan namun pasti, Ken Umang membiuskan gejolak hatinya itu ke telinga Ken Arok. Dengan hati-hati. Setiap kata disertai belaian tangannya yang halus dan suara tawanya yang renyah, sehingga hampir tanpa disadarinya Ken Arok mulai menimbang-nimbang kembali keputusannya itu.

“Tetapi aku tidak dapat berbuat lain,” katanya di dalam hati, “Anusapati memang berhak menjadi Putra Mahkota.Bukan salahnya bahwa aku mengawini ibunya selagi ia berada di dalam kandungan.Tetapi ia lahir dari kandungan ibunya, seorang Permaisuri Kerajaan Singasari.”

Namun meskipun hanya diketahuinya sendiri Ken Arok tidak dapat ingkar, bahwa ia selalu dibayangi oleh kecemasannya bahwa ada golongan-golongan yang selalu menghantuinya yang masih tetap hidup di dalam kerajaannya.

Ken Arok tidak dapat mengelabui dirinya sendiri, bahwa di dalam lingkungannya masih ada orang-orang yang tidak mendapat kepuasan. Meskipun ia tidak tahu lagi, di mana Witantra sekarang, namun ia tidak dapat melupakannya. Anak Empu Gandring dan anak laki-laki Kebo Ijo yang menjadi semakin besar. Apabila pada suatu saat rahasia tentang kematian Akuwu Tunggul Ametung terbuka, maka semua yang pasti akan menuding wajahnya sambil berkata, “Kau. kaulah pembunuh itu.”

Karena itu, Ken Arok tidak akan menambah orang-orang yang menjadi duri di dalam hidupnya. Pengikut-pengikut Akuwu Tunggul Ametung yang tidak puas dengan keadaan, orang-orang yang lebih senang berpihak kepada Kediri, dan Mahisa Agni yang masing-masing mempunyai kepentingan sendiri-sendiri.

Dengan demikian, maka atas dasar beberapa segi pertimbangan. Ken Arok tidak dapat menolak kehadiran Anusapati untuk menjadi seorang Putra Mahkota.

Tetapi bagaimanapun juga, sikapnya sebagai manusia tidak dapat disembunyikannya pula. Semakin lama semakin nyata, kalau Ken Arok menjadi lebih dekat dengan Tohjaya daripada Anusapati.

Mahisa Agni yang semakin sering berkunjung ke istana Singasari untuk mengunjungi adiknya, melihat juga kejanggalan itu. Justru lebih banyak dari Ken Dedes sendiri. Kadang-kadang Anusapati yang bermain-main dengan pemomongnya, sama sekali tidak ditegur oleh Ken Arok yang lewat beberapa langkah saja daripadanya, dengan wajah yang gelap dan tingkah laku yang kasar.

Kadang-kadang Mahisa Agni melihat hal itu dari kejauhan.Dan ia hanya dapat menarik nafas dalam-dalam.

Meskipun demikian, hal itu sama sekali masih belum menyakiti hatinya. Ia masih memandang dengan dada lapang, bahwa Ken Arok pun manusia biasa yang tidak dapat menghindari guncangan-guncangan perasaannya.

Tetapi yang tidak disangka-sangka telah terjadi.

Ketika Mahisa Agni berjalan-jalan di halaman istana, tanpa disadarinya ia telah sampai ke batas yang membelah halaman istana itu menjadi dua bagian. Bagian yang baru, yang memang dibuat untuk menempatkan Ken Umang, dan bagian yang lama, yang sudah ada sejak istana itu masih menjadi istana Akuwu Tunggul Ametung.

Tanpa diketahuinya, sepasang mata selalu memandanginya dari ujung serambi bangsal di halaman sebelah lewat regol yang lebar. Sepasang mata seorang perempuan yang berlindung dibalik sudut bangsal itu.

Tiba-tiba perempuan itu memanggil seorang prajurit pengawal. Sambil menunjuk kepada Mahisa Agni ia berkata, “Panggil orang itu!”

Prajurit itu ragu-ragu sejenak.

“Panggil orang itu!” ulangnya.

“Orang itu adalah kakanda Tuanku Permaisuri Tuan Putri.”

“Panggil orang itu!”

Prajurit itu masih termangu-mangu. Tetapi perempuan itu membentaknya, “Panggil orang itu. Cepat!”

Tidak ada pilihan lain dari Prajurit itu. selain menundukkan kepalanya dalam-dalam sambil menjawab, “Hamba, Tuan Putri.”

Dengan tergesa-gesa prajurit itu pun menyusul Mahisa Agni yang sudah menjadi semakin jauh. Kemudian dengan nafas terengah-engah prajurit itu menggamitnya.

“Tuan,” katanya, “hamba mendapat perintah, tuan diharap datang ke bangsal sebelah.”

Terasa dada Mahisa Agni berdesir. Kini barulah ia menyadari bahwa ia telah berjalan terlampau dekat bangsal di seberang batas halaman istana yang lama.

“Tuan diharap datang sekarang.”

Mahisa Agni mengerutkan keningnya. Ia mencoba memandang ke bangsal di sebelah. Tetapi ia tidak dapat melihat seorang pun di sana kecuali para prajurit yang bertugas.

“Siapakah yang memanggil aku,” bertanya Mahisa Aum.

“Tuan Putri.”

“Tuan Putri Ken Umang maksudmu?”

“Ya. Aku mendapat perintahnya.”

Terasa darah di dada Mahisa Agni menjadi semakin deras mengalir. Tetapi ia berhadapan dengan seorang prajurit pengawal yang hanya dapat menjalankan perintah.

Meskipun demikian ia masih bertanya, “Apakah kau tidak keliru?”

“Tidak. Perintah itu jelas.”

“Apa katanya.”

“Tuan Putri menunjuk tuan dari balik bangsal itu.”

Mahisa Agni menjadi ragu-ragu. Kalau ia tidak bersedia, maka pengawal yang hanya menerima perintah itu pasti akan memaksanya. Ia sama sekali tidak mendapat keuntungan apapun berselisih dengan prajurit yang sedang bertugas.

Karena itu, betapa beratnya ia pergi juga memenuhi panggilan Ken Umang itu. Namun sudah terasa, bahwa sesuatu pasti akan terjadi. Sesuatu yang tidak akan menyenangkan hatinya.

Tetapi Mahisa Agni itu terpaksa menyusup regol yang lebar pada dinding batas halaman itu, diantar oleh prajurit pengawal yang memanggilnya.

Ketika ia sampai ke ujung serambi belakang bangsal itu. terdengar suara seorang perempuan dari balik dinding, “Suruh orang itu duduk di serambi!”

Terasa dada Mahisa Agni melonjak. Ia kini sadar, bahwa ia berhadapan dengan seorang perempuan pendendam.

Tetapi ia masih dapat menyabarkan dirinya. Meskipun ia tidak duduk di serambi, tetapi ia menunggu di bawah tangga. Tiba-tiba dari balik pintu muncul seorang perempuan dalam pakaian yang gemerlapan. Ken Umang.

Mahisa Agni menjadi semakin berdebar-debar. Tetapi ia segan memandang wajah perempuan itu.

“Kakang Mahisa Agni,” katanya kemudian, “aku ingin mengucapkan selamat datang di istana Singasari.”

Mahisa Agni dengan susah payah menahan hatinya.Jawabnya, “Terima kasih Tuan Putri.”

“Apakah Kakang Mahisa Agni masih ingat kepadaku?”

Mahisa Agni mengerutkan keningnya.Sekilas dipandangnya wajah Ken Umang yang sedang tersenyum atas kemenangannya. Sambil bersandar tiang yang berukir dan bersungging warna-warna cemerlang ia menyilangkan tangannya di dadanya.

“Ya Tuan Putri. Hamba masih ingat.”

“Di manakah kau pernah bertemu dengan aku?”

Terasa dada Mahisa Agni menjadi semakin sesak. Dengan tanpa memandanginya ia menjawab, “Aku kira Tuan Putri pun masih ingat, di mana kita pernah berjumpa.”

Ken Umang terdiam sejenak. Jawaban itu sama sekali tidak dikehendaki. Sekilas ia melihat dua orang pengawal berdiri tegak di sebelah menyebelah regol yang menghubungkan bagian istana yang baru dan bagian yang lama.

“Ya,” berkata Ken Umang kemudian, “aku memang masih ingat. Kita bertemu di rumah Kakang Witantra bukan?”

“Hamba Tuanku.”

“Dan sekarang kita bertemu di sini.Kau tahu, siapa aku sekarang?”

“Hamba Tuanku.”

“Kau ingat, bagaimana kau menyakiti hatiku waktu itu?”

Mahisa Agni berdiri termangu-mangu. Tetapi ia memang harus menahan dirinya.Kini ia berhadapan dengan istri muda seorang raja yang perkasa.

“Mahisa Agni,” berkata Ken Umang itu kemudian, “aku memang sudah berjanji kepada diriku sendiri, bahwa aku akan menunjukkan kepadamu, bahwa Ken Umang bukan seorang gadis buangan seperti yang kau sangka. Sekarang kau mengerti, bahwa kau harus berhamba diri kepadaku.”

Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Untunglah bahwa jasmaniah dan rohaniah ia sudah terlatih untuk menahan diri. Di sarang Kebo Sindet ia menahan hati betapa sakitnya dijadikan seorang budak sampai saatnya ia berhasil membinasakannya.

“Nah apa katamu?” bertanya Ken Umang.

“Tidak apa-apa Tuan Putri?” jawabnya.

“Apakah kau menyangka bahwa aku akan mati karena penolakanmu yang kasar itu?”

“Tentu tidak Tuan Putri. Kalau hamba mengira demikian, hamba tidak akan berani menolak. Dengan demikian berarti hamba telah membunuh seseorang.”

Dada Ken Umang tiba-tiba bergetar mendengar jawaban itu.Kemarahan yang digalinya sendiri mulai merayapi hatinya.

“Orang yang tidak tahu diri,” ia menggeram, “coba katakan sekarang, siapakah aku.”

Betapapun sakitnya, tetapi Mahisa Agni berusaha untuk tetap menguasai perasaannya. Maka jawabnya, “Tuan Putri adalah istri kedua Tuanku Sri Rajasa Batara Sang Amurwa Bumi.”

“Nah, sekarang kau harus duduk bersimpuh di hadapanku. Sebagai seorang budak yang duduk di hadapan Tuannya.”

“Itu tidak sewajarnya Tuan Putri.”

“Jangan membantah anak padang Karautan.”

Betapapun juga terasa sengatan menyentuh jantungnya. Sebagai seorang yang mempunyai harga diri Mahisa Agni merasa terhina.

“Hem, alangkah sakitnya,” desisnya di dalam hati, “hukuman sebagai melepaskan dendam serupa ini tidak sepantasnya dilakukan.”

“Ayo lakukan, supaya kau sadar, bahwa kau benar-benar berhadapan dengan istri seorang Maharaja,” berkata Ken Umang sambil mengangkat wajahnya.

Tetapi Mahisa Agni menjawab, “Ampun Tuan Putri. Apakah dengan demikian Tuan Putri tidak merendahkan suami Tuan Putri, seorang Raja yang perkasa?”

Ken Umang mengerutkan keningnya. “Kenapa? Kau adalah anak pedesaan yang pantas berlutut di bawah kakiku.”

“Hamba adalah kakak ipar suami Tuan Putri. Kalau Tuan menghinakan hamba demikian, maka adik iparku, akan terhina pula karenanya.”

Wajah Ken Umang tiba-tiba menjadi tegang. Sejenak ia berdiri membeku. Dipandanginya Mahisa Agni yang masih saja melemparkan tatapan matanya jauh-jauh.

Dengan suara gemetar Ken Umang berkata, “Kau mencoba menakut-nakuti aku?Kau salah, Agni. Sri Rajasa sangat mencintaiku. apapun yang aku katakan pasti dilakukannya. Seandainya aku bukan seseorang yang baik hati. yang mengerti perasaan seorang perempuan, maka aku dapat minta kepada Tuanku Sri Rajasa untuk mengusir Ken Dedes. Apakah kau tidak percaya?”

Mahisa Agni terkejut mendengar ancaman itu. Tetapi ia tidak dapat ditakut-takuti pula, sehingga dengan caranya sendiri ia menjawab, “Tuan Putri. Jangan bermain api. Tuanku Sri Rajasa sangat mencintai Tuan Putri itu hamba percaya. Karena itu, apakah yang akan terjadi kalau Tuanku mengetahui, apa yang pernah Tuan Putri lakukan terhadap hamba.”

“Diam!” tiba-tiba Ken Umang membentak. Wajahnya menjadi merah padam, “Kau akan memeras aku he?”

“Bukan, Tuan Putri. Hamba hanya sekedar membela diri. Tuanku terlampau bernafsu untuk membalas dendam dengan cara yang tidak sewajarnya.”

Ken Umang terdiam sejenak. Ditatapnya wajah Mahisa Agni sebentar. Wajah yang memang pernah menarik perhatiannya. Sejenak dadanya terguncang oleh kemarahan yang meluap. Namun sejenak kemudian darahnya serasa semakin lambat mengalir.

“Agni,” katanya perlahan-lahan dalam nada yang jauh berbeda sehingga Mahisa Agni terkejut karenanya. Tanpa sesadarnya ia menengadahkan kepalanya memandangi wajah Ken Umang itu. Sekilas ia melihat perempuan itu tersenyum. Tetapi justru senyum itu telah mendebarkan jantungnya. Dan ia mendengar Ken Umang itu berkata lirih, “Agni. berjanjilah bahwa kau akan datang lagi kemari, kapan kau sukai.”

Kata-kata itu telah menghentakkan dada Mahisa Agni. serasa akan meruntuhkan jantungnya, ia sama sekali tidak menyangka. bahwa Ken Umang yang kini telah menjadi istri Ken Arok yang bergelar Sri Rajasa Batara Sang Amurwa Bumi masih juga dihinggapi sifat-sifatnya yang lama.

Namun dengan demikian justru Mahisa Agni seakan-akan membeku karenanya. Ia berdiri tegak seperti patung, meskipun dadanya bergetar dahsyat sekali.

Karena Mahisa Agni tidak menjawab, maka terdengar suara tertawa Ken Umang, “Apakah kau masih juga akan menolak?”

Mahisa Agni masih belum menjawab.

“Pertimbangkan Agni,” berkata Ken Umang, “manakah yang lebih menguntungkan kau. Ingat, aku adalah istri Raja Singasari. Istri yang sangat dicintai oleh suaminya.”

Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam.Katanya, “Tuan Putri. Kalau Tuan Putri sangat dicintai oleh Tuanku Sri Rajasa. Kenapa Tuan Putri menyia-nyiakan cintanya itu?”

Ken Umang tertawa.Katanya, “Kalau aku seorang Permaisuri, maka aku tidak akan berbuat demikian. Tetapi aku bukan Permaisuri. Sri Rajasa tidak setiap hari datang ke bangsal ini. Bahkan kadang-kadang sepekan sekali. Kalau banyak persoalan yang harus diselesaikan, kadang-kadang dua tiga pekan Tuanku baru berkunjung. Nah, bayangkan, alangkah sepinya waktu-waktu itu.”

“Tuan Putri,” berkata Mahisa Agni, “umur kita sudah merambat semakin tua. Tuan Putri sudah bukan seorang pengantin baru lagi. Putra-putra Tuan Putri telah lahir satu demi satu. Apakah Tuan Putri masih juga memerlukan orang lain?”

Wajah Ken Umang menegang sejenak.Namun kemudian ia pun tertawa. “Aku belum tentu yang kau sangka, Agni. Tetapi aku tidak akan memaksamu sekarang meskipun aku dapat berbuat apa saja sekehendakku. Aku dapat menangkap kau dengan tuduhan apapun yang aku kehendaki. Aku dapat mengatakan hitam bagi yang putih, dan mengatakan putih bagi yang hitam.”

Terasa darah Mahisa Agni menjadi semakin cepat mengalir.

“Pergilah kalau kau mau pergi sekarang. Tetapi pada saatnya kau pasti akan kembali. Aku akan menyediakan madu yang paling manis buatmu, atau kau ingin aku memberikan reramuan yang paling pahit.”

Mahisa Agni hampir kehilangan kemampuan untuk menahan gelora kemarahan di dalam dadanya. Untunglah bahwa ia masih tetap menyadari keadaannya. Karena itu maka ia pun membungkuk dalam-dalam sambil berkata, “Terima kasih Tuanku. Hamba mohon diri.”

“Pintuku selalu terbuka bagimu, Agni.”

Mahisa Agni mengatupkan giginya rapat-rapat. Suara tertawa Ken Umang yang kemudian mengiringinya terdengar seperti suara hantu betina yang kehausan darah, melihat bangkai yang masih segar.

Tetapi Mahisa Agni tidak berani lagi berpaling. Ia berjalan sambil menundukkan kepalanya dalam-dalam. Namun di dalam dadanya berkecamuk berbagai perasaan yang menghentak-hentak.

Apa yang telah dialaminya ternyata seperti api yang telah menyalakan darahnya yang hampir mendingin kembali. Tingkah laku Ken Umang yang memuakkannya itu membuat Mahisa Agni menjadi semakin iba kepada Ken Dedes. Sudah tentu bahwa Ken Dedes tidak akan dapat berbuat seperti Ken Umang meskipun terhadap Ken Arok sendiri. Dan akibatnya pasti akan semakin menjauhkannya dari Sri Rajasa, meskipun menurut Ken Umang, waktu yang didapatkannya dari Ken Arok hanya sepekan atau dua pekan sekali. Tetapi sudah tentu bahwa Ken Arok akan lebih memperhatikan istri mudanya daripada Ken Dedes.

Sekilas terbayang di dalam angan-angan Mahisa Agni. sikap Ken Arok terhadap Anusapati. Dan terbayang pula kasih sayang Raja itu terhadap Tohjaya.

Meskipun hal itu adalah wajar sebagai suatu sikap manusiawi, tetapi perasaan Mahisa Agni kini seakan-akan tidak dapat membiarkannya hal itu berlangsung terus.

“Seandainya Ken Arok berhasil menarik diri sepenuhnya dari dalam lumpur, namun agaknya Ken Umang akan menyeretnya kembali justru ke dalam kubangan yang paling kotor,” katanya di dalam hati.

Mahisa Agni sama sekali tidak menyadari, bahwa tiba-tiba saja keinginannya untuk mengetahui siapakah pembunuh sebenarnya dari Empu Gandring telah tumbuh kembali. Meskipun ia mencoba membayanginya dengan sikap. Seolah-olah hal itu hanya sekedar pekerjaan sambilan.

“Seandainya aku mengetahuinya, maka aku tidak harus berbuat apapun apabila tidak memungkinkannya,” katanya di dalam hati.

Demikianlah maka Mahisa Agni pun segera minta diri kepada Ken Dedes, pemomongnya dan dalam suatu kesempatan kepada Ken Arok. Selain untuk mencoba menghubungi untuk yang dapat menjadi saksi dalam persoalan pamannya, ia juga mencemaskan dirinya sendiri, kalau Ken Umang benar-benar tidak dapat mengendalikan diri.

Mahisa Agni memerlukan waktu beberapa lama untuk pantas kembali lagi ke Singasari. Meskipun hampir saja ia tidak dapat bersabar lagi, namun baru pada bulan berikutnya ia membawa cantrik yang melihat kehadiran seorang prajurit yang dapat disangka membunuh Empu Gandring di padepokannya.

“Tetapi untuk keselamatanmu, kau harus dapat menyamar diri,” berkata Mahisa Agni.

“Kalau aku harus mati karena pekerjaan ini, aku tidak akan menyesal,” berkata cantrik itu “ tetapi aku sama sekali tidak bermaksud mengguncang keseimbangan yang sudah dicapai oleh Singasari.”

Mahisa Agni tidak menyahut.

“Apalagi kini,” berkata cantrik itu pula, “para pendeta di Kediri sudah tidak dapat menahan hati lagi. Mereka mengalir menuju ke Singasari. Dan agaknya Sri Rajasa pun sudah semakin bersiaga untuk menanggapi keadaan.”

Mahisa Agni menganggukkan kepalanya. Ia mengetahui juga bahwa perkembangan keadaan Singasari dan Kediri menjadi semakin panas.

Tetapi ia tidak dapat juga menyingkirkan sakit hatinya yang tiba-tiba telah terungkit karena kelakuan Ken Umang. Sehingga meskipun masih dipengaruhi oleh berbagai macam pertimbangan, ia memutuskan untuk melanjutkan penyelidikannya. Mumpung masih ada saksi yang dapat memberi arah penyelidikan itu.

Ketika mereka memasuki istana Singasari, cantrik itu berpakaian seperti seorang petani. Petani yang sangat sederhana.

Atas izin permaisuri maka Mahisa Agni dan petani yang sederhana itu pun bermalam di istana. Semula Ken Dedes heran melihat orang yang belum pernah dikenalnya itu. Sebagai anak Panawijen ia mengenal hampir setiap orang. Tetapi orang ini belum pernah dilihatnya.

“Orang ini orang baru Tuan Putri. Dari beberapa bulan ia tinggal bersama kami di padukuhan Panawijen baru.”

Ken Dedes mengerutkan keningnya. Orang baru ini pasti orang yang dianggap penting oleh Mahisa Agni. Tetapi Ken Dedes tidak menanyakannya.

Meskipun demikian, Mahisa Agni seakan-akan mengetahui perasaan Permaisuri itu, sehingga ia pun berkata, “Tetapi orang ini bukan orang terkemuka di padukuhan kami.Ia sama sekali belum pernah melihat istana. Karena itu ia ingin ikut bersamaku.”

Ken Dedes mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi dari sorot matanya Mahisa Agni dapat melihat keheranan di hati Permaisuri itu.

Tetapi Permaisuri itu berkata, “Baiklah.Pergunakan kesempatan sebaik-baiknya selagi kalian berada di Singasari.”

Sementara mereka berada di istana itu di hari-hari berikutnya. Mahisa Agni mencoba untuk memecahkan teka-teki yang sudah sekian lama tersimpan.Pada suatu kesempatan mereka melihat Sri Rajasa berjalan-jalan di halaman istana. Kemudian pada kesempatan lain, keduanya melihat Raja Singasari itu berkuda keluar regol halaman istana bersama beberapa orang pengiringnya. Namun yang meyakinkan bagi cantrik itu, adalah ketika mereka berkesempatan melihat baginda bersantap.Baginda dalam pakaian sehari-hari yang sederhana.

Sejenak cantrik itu menjadi gemetar. Ia tidak dapat dikelabui lagi meskipun semua itu telah terjadi beberapa tahun yang lalu. Namun ingatannya ternyata masih cukup segar. Seorang prajurit yang datang dengan tergesa-gesa, menemui Empu Gandring di Sanggarnya, kemudian pergi di malam itu pula.

“Apakah kau yakin?” bertanya Mahisa Agni.

“Dugaanku kuat. Tetapi sekedar dugaanku.”

Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi ia tidak dapat mengambil keputusan atas dasar keterangan cantrik itu saja. Karena itu, maka ia pun segera berusaha untuk mendapatkan keterangan dari sumber-sumber lain. Dengan hati-hati dihubunginya istri Kebo Ijo.Daripadanya ia mendapat keterangan tentang kematian suaminya, tentang pintu yang tidak terkunci.

“Kakang Mahisa Agni, kenapa Kakang menggugat hal itu kembali? Biarlah hal itu terjadi.”

Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam.

“Bukankah Kakang Mahisa Agni ikut menentukan bahwa Kakang Kebo Ijo bersalah telah membunuh Akuwu Tunggul Ametung? Dan barangkali juga Empu Gandring?”

Mahisa Agni menundukkan kepalanya. Perlahan-lahan ia menjawab, “Ya. Justru karena aku ikut menentukan kepastian Kebo Ijo bersalah itulah aku tidak dapat melupakan peristiwa itu.”

“Sudahlah. Luka di hatiku telah sembuh sedikit demi sedikit.Kalau persoalan itu nanti terungkit kembali, maka luka di hatiku pasti akan kambuh pula.”

“Maafkan Nyai. Tetapi aku memerlukan keterangan itu. Setidak-tidaknya untuk menenteramkan hatiku sendiri.”

“Sebaiknya Kakang Mahisa Agni melupakannya. Aku pun akan melupakannya.”

“Kau yakin bahwa Kebo Ijo tidak bersalah?”

“Aku yakin. Dan keyakinanku tidak akan goyah.”

“Mungkin pintu yang terbuka itu merupakan salah satu peristiwa yang bersangkut paut.”

“Sudahlah. Jangan kau teruskan Kakang.”

Mahisa Agni menganggukkan kepalanya. Kemudian ia pun minta izin untuk kembali ke istana.

Namun di sepanjang jalan langkah Mahisa Agni serasa diberati oleh beban yang tidak dapat dilepaskannya. Sambil menundukkan kepalanya ia berjalan perlahan-lahan. Ternyata ia tidak langsung menuju ke istana. Ia berjalan berkeliling kota untuk melihat-lihat perkembangan kota Singasari yang sangat pesat.

Mahisa Agni tertegun ketika ia berdiri di depan sebuah regol yang besar di pinggir kota. Sebuah padepokan yang asri dan sejuk di bawah rimbunnya batang-batang sawo kecik yang berjajar di halaman.

Sejenak Mahisa Agni berdiri termangu-mangu. Ia mengenal padepokan itu adalah padepokan pendeta istana. Pendeta Lohgawe, yang telah menarik langsung Ken Arok dari padang Karautan, dan menyerahkannya ke dalam pengabdian di istana Akuwu Tunggul Ametung saat itu.

Tiba-tiba saja Mahisa Agni telah dicengkam oleh suatu keinginan untuk menghadap Lohgawe. Ia yakin, sebagai seorang pendeta, Lohgawe akan berpijak pada kebajikan dan kebenaran.

Dalam keragu-raguan Mahisa Agni berdiri tegak di samping regol padepokan sambil menatap tanaman yang teratur di halaman yang luas. yang dilingkungi oleh pagar batu yang tidak terlampau tinggi.

Mahisa Agni terkejut ketika tiba-tiba saja seorang cantrik muncul dari dalam regol. Seperti Mahisa Agni, cantrik itu pun terkejut. Dengan serta-merta ia menyapanya, “ Apakah Ki Sanak mencari seseorang?”

Mahisa Agni menjadi bingung. Sejenak ia mematung dalam kebimbangan. Namun kemudian ia bertanya, “Apalah padepokan ini, padepokan pendeta Lohgawe?”

Kini cantrik itulah yang termangu-mangu.Ditatapnya Mahisa Agni beberapa saat. Pertanyaan itu terdengar aneh di telinga cantrik itu. karena semua orang di seluruh Singasari telah mengenal, bahwa padepokan itu adalah padepokan pendeta istana yang bernama Lohgawe.

“Apakah Ki Sanak bukan orang Singasari?” cantrik itu bertanya.

Tergagap Mahisa Agni menjawab, “Bukan. Aku bukan orang kota Singasari, meskipun aku berasal dari wilayah Singasari pula.”

“Dari manakah, Ki Sanak?”

“Padang Karautan.”

Cantrik itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian katanya, “Padepokan ini memang padepokan Pendeta Lohgawe. Pendeta istana. Apakah Ki Sanak akan menghadap?”

Mahisa Agni ragu-ragu sejenak.Namun kepalanya kemudian terangguk-angguk. Jawabnya, “Ya. Aku akan menghadap apabila tidak berkeberatan.”

“Apakah keperluan Ki Sanak?”

Mahisa Agni menjadi bingung. Ia tidak akan dapat mengatakan keperluannya kepada cantrik itu.Sedangkan ia menyadari, sebagai pendeta istana, maka tidak setiap orang dapat menemuinya.

Dalam keragu-raguan itu, tiba-tiba saja ia sadar, bahwa ia adalah kakak Permaisuri Ken Dedes. Karena itu maka katanya kemudian, “Kalau Pendeta Lohgawe tidak sedang sibuk katakan, bahwa kakanda Tuan Putri Permaisuri Singasari akan bertemu.”

Cantrik itu mengerutkan keningnya.

“Maksud Ki Sanak, Ki Sanak adalah utusan kakanda Tuanku Permaisuri?”

Sekali lagi Mahisa Agni termangu-mangu. Kalau ia mengiakan pertanyaan itu, mungkin perhatian Pendeta Lohgawe tidak seperti apabila ia langsung menyebut dirinya. Setelah sejenak berpikir, akhirnya Mahisa Agni menjawab, “Aku adalah orang yang kau maksud.”

“O, jadi … “ cantrik itu berheran-heran. Ia melihat seorang laki-laki yang sederhana, yang menyebut dirinya mula-mula sebagai seorang laki-laki yang datang dari padang Karautan. Tetapi kemudian ia menyebut dirinya sebagai kakak permaisuri Singasari.

Dalam keragu-raguan Mahisa Agni bertanya, “Apakah kau bukan orang Singasari?”

Pertanyaan yang serupa dengan pertanyaan yang pernah diajukannya itu telah membingungkan cantrik itu.

“Kalau kau orang Singasari,” berkata Mahisa Agni seterusnya, “pasti mengetahui, bahwa Tuan Putri Ken Dedes berasal dari padepokan Panawijen. Putri seorang Pendeta yang bernama Empu Purwa. Aku adalah putra laki-laki dari Pendeta tersebut.”

“O, maaf tuan. Maaf.” cantrik itu terbungkuk-bungkuk, “aku tidak tahu, bahwa tuan adalah kakak Tuan Putri Ken Dedes.”

“Tidak mengapa. Sekarang, sampaikan kepada Bapa Lohgawe bahwa aku akan menghadap.”

“Maaf, nama tuan?”

“Mahisa Agni.”

Cantrik itu membungkukkan kepalanya. Kemudian dibawanya Mahisa Agni masuk ke padepokan yang asri itu. Sementara ia menunggu, oleh cantrik itu Mahisa Agni dipersilakan duduk di pendapa padepokan, menghadap ke taman yang diwarnai oleh bunga dan dedaunan yang beraneka warna.

Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam ketika ia tinggal duduk seorang diri. Cantrik-cantrik yang lewat di halaman dan batu-batu kerikil di seputar taman, mengingatkannya kepada padepokan yang dihuninya sejak kanak-kanak. Padepokan Panawijen. Meskipun Padepokan Empu Purwa tidak sebaik padepokan pendeta istana ini, namun padepokan itu pun cukup memberikan kesan yang menarik. Belumbang, yang berisi ikan gurame dan tawes, binatang peliharaan raja kaya dan iwen yang berkeliaran di halaman, angsa, itik dan semacamnya.

Mahisa Agni terperanjat ketika cantrik yang membawanya masuk memanggilnya, “Tuan, aku sudah menyampaikan kepada Bapa Pendeta. Tuan dipersilakan masuk.”

Dada Mahisa Agni menjadi berdebar-debar. Bagaimana ia akan mulai dengan persoalan yang selama ini tersimpan di dalam hatinya?

Tetapi ia sudah terlanjur berada di dalam halaman padepokan itu. Ia tidak akan dapat pergi tanpa menemui Pendeta Lohgawe.

Karena itu, maka Mahisa Agni pun segera mengikuti cantrik itu. Lewat longkangan di sebelah pendapa, masuk ke bagian belakang padepokan.

Mahisa Agni mengerutkan keningnya ketika ia melihat seorang yang duduk terpekur di serambi. Seorang pendeta yang tua namun masih memancarkan kesegaran jasmaniah.

Mahisa Agni belum pernah duduk berhadapan muka dengan pendeta itu. Kini ia dapat melihat dengan jelas, bahwa pendeta itu adalah pendeta yang agak berbeda dengan gurunya, Empu Purwa, dan juga berbeda dengan Empu Sada. Pendeta ini kulitnya agak kehitam-hitaman. Berhidung mancung dan bermata tajam. Namun tampak kelunakan dan kesabaran yang seakan-akan tiada berbatas. Di keningnya tergurat garis-garis umurnya, sekaligus memancarkan sorot kebijaksanaan.

Mahisa Agni membungkukkan kepalanya sambil berkata, “Aku akan menghadap Bapa Pendeta, apabila berkenan di hati Bapa.”

“Marilah Anakmas. Silakan,” suaranya berat dan lunak.

Mahisa Agni pun kemudian naik ke serambi dan duduk bersila sambil menundukkan kepalanya di hadapan Pendeta Lohgawe.

“Aku sudah diberi tahu oleh cantrik, bahwa Anakmas adalah kakanda Tuanku Permaisuri Ken Dedes.”

“Ya, Bapa Pendeta.”

“Aku sebenarnya agak terkejut mendapat kunjungan yang tiba-tiba dari Anakmas tanpa seorang utusan pun yang memberitahukan hal itu kepadaku terlebih dahulu.”

“Oh, maafkan Bapa Pendeta,” sahut Mahisa Agni dengan serta-merta. Kini baru ia menyadari tata hubungan orang istana yang jauh berbeda dengan tata hubungan orang-orang di padang Karautan.

Dalam kehidupannya sehari-hari di padang Karautan ia sama sekali tidak pernah menghiraukan tata hubungan serupa itu. Bahkan kedatangannya ke istana Singasari pun hampir tidak pernah mempergunakan tata cara apapun. Ia datang dan masuk ke istana lewat regol belakang. Baru saat itulah ia memberitahukan kedatangannya kepada Ken Dedes.

Mahisa Agni mengangkat wajahnya ketika Lohgawe kemudian berkata, “Tetapi bukan sekedar karena kedatangan Anakmas yang tiba-tiba. Aku terkejut karena Anakmas begitu memerlukan berkunjung ke padepokan ini.”

Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya. Sekali lagi a menyadari sesuatu yang hampir tidak pernah dihiraukannya. Ia adalah kakak seorang permaisuri. Meskipun ia perah menolak gelar kebangsawanan dari istana Tumapel saat itu, dan kemudian juga setelah Ken Arok menjadi akuwu, sehingga kini Tumapel telah menjadi kerajaan. Namun bagi orang lain, kakak seorang permaisuri memang mendapat tempat yang tersendiri.

“Bapa Pendeta,” berkata Mahisa Agni kemudian dengan hati-hati, “sebenarnya aku hanya sekedar ingin berkunjung kemari. Aku tidak mempunyai suatu keperluan yang khusus. Karena itu, apabila bapa Pendeta sedang sibuk degan tugas-tugas Bapa Pendeta, aku tidak akan mengganggu.”

“Oh tidak, tidak Ngger. Aku tidak sedang berbuat apa-apa. Aku memang sedang duduk-duduk di serambi ini, ketika cantrik itu memberitahukan kedatangan Anakmas.”

“Terima kasih,” jawab Mahisa Agni, “aku akan sangat menghargai waktu ini.”

“Silakan. Silakan Angger duduk-duduk di sini mengawani aku,” berkata Lohgawe sambil tersenyum.

“Sudah lama sebenarnya aku ingin datang sekedar berkunjung,” berkata Mahisa Agni kemudian, “tetapi baru sekarang aku mendapat kesempatan. Setiap kali aku datang ke Singasari, waktuku tidak terlampau banyak tersisa.”

Lohgawe mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian ia pun bertanya, “Di manakah Anakmas selama ini tinggal? Apakah masih tetap berada di Panawijen?” Lohgawe berhenti sejenak, kemudian, “Bukankah Tuan Putri berasal dan Panawijen?”

“Panawijen telah kering bapa Pendeta,” jawab Mahisa Agni, “padepokan Empu Purwa pun telah kering pula.”

“Jadi?”

“Aku kini tinggal di padang Karautan.”

Pendeta Lohgawe mengangguk-anggukkan kepalanya. Tampaklah dahinya menjadi berkerut-merut.

“Ya Bapa Pendeta. Kami telah membuka padukuhan baru di padang Karautan bersama baginda sebelum menjadi akuwu.”

“Ya, ya. Aku mendengar bahwa Baginda dahulu, selagi ia masih menjadi pelayan dalam, pernah mendapat tugas untuk ikut serta membuka padang Karautan.”

“Ya Bapa Pendeta. Ternyata Baginda memang mengenal padang Karautan dengan baik, seperti mengenal isi istana sekarang ini.”

Pendeta Lohgawe tidak segera menjawab. Tetapi keningnya menjadi semakin berkerut-merut.

“Pekerjaan membangun bendungan, susukan dan parit-parit ditambah lagi dengan sebuah taman dan belumbang yang luas itu dapat ditanganinya dengan sempurna.”

Lohgawe mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Tidak ada orang lain yang dapat melakukannya selain Baginda yang saat itu bernama Ken Arok.”

“Bukan Anakmas,” jawab Lohgawe, “bukan hanya sekedar Baginda. Tetapi para prajurit yang pada waktu itu ikut besertanya, dan orang-orang Panawijen sendiri ikut menentukan.”

Mahisa Agni menganggukkan kepalanya. Tetapi kini ia benar-benar berusaha untuk mengarahkan pembicaraan.

“Memang bapa Pendeta,” jawab Mahisa Agni, “tetapi tanpa mengenal medan dengan baik, pekerjaan yang besar itu tidak akan dapat berjalan dengan lancar. Dan ternyata Baginda yang pada waktu itu bernama Ken Arok mengenal padang Karautan dengan baik.”

Pendeta Lohgawe mengangguk-anggukkan kepalanya. Dan dengan sareh ia menjawab, “Ya Ngger. Agaknya memang demikian.”

“Baginda memang seorang yang luar biasa bapa,” berkata Mahisa Agni kemudian, “kemampuannya membangun padang Karautan membayangkan kemampuannya di bidang-bidang lain. Ternyata Baginda mampu juga membangun kerajaan Singasari yang megah. Bahkan agaknya Baginda tidak hanya akan berhenti sampai sekian.”

Lohgawe mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Saat itu, Baginda yang masih bernama Ken Arok, telah menganggap padang Karautan seperti ia menangani kerajaan Singasari sekarang. Ia mulai dari modal yang sekecil-kecilnya dibumbui oleh bermacam-macam keadaan, maka jadilah apa yang kita lihat sekarang.”

Lohgawe tidak segera menjawab.

“Bapa Pendeta,” berkata Mahisa Agni kemudian, “apakah Bapa Pendeta tidak mengetahui, bahwa Baginda memang benar-benar telah mengenal padang Karautan sebelum ia datang bersama para prajurit?”

Lohgawe menarik nafas dalam-dalam. Sambil mengangguk-anggukkan kepalanya ia meraba-raba janggutnya yang tidak terlampau panjang.

“Marilah kita lihat Baginda seperti keadaannya sekarang ini Anakmas,” berkata Lohgawe kemudian.

Mahisa Agni mengerutkan keningnya. Sambil menganggukkan kepalanya pula ia berkata, “Ya Bapa Pendeta. Aku memang melihat Baginda seperti apa adanya sekarang. Aku hanya sekedar mengagumi, betapa seseorang mampu merambat untuk mencapai tangga tertinggi dari kehidupannya.”

“Asal kita berbuat dengan tekun dan penuh ketulusan hati, kita akan dapat mencapai, setidak-tidaknya mendekati ujung dari cita-cita kita.”

“Ya, Bapa. Aku mengagumi, selagi seseorang tidak memanjat mata tangga yang dibuat dari korban-korban nafsu mementingkan diri sendiri.”

Tampaklah perubahan membersit di wajah Lohgawe. Tetapi hanya sesaat. Kemudian wajah itu pun telah menjadi bening seperti semula.Bahkan sambil mengangguk-anggukkan kepalanya ia berkata, “Benar Ngger. Benar. Kita tidak dapat berdiri di atas timbunan korban-korban yang tidak bersalah, sekedar untuk memuaskan nafsu kita. Bahkan untuk mencapai cita-cita yang bagaimanapun baiknya, kita tidak dapat membenarkan setiap cara apapun tanpa menghiraukan nilai-nilai peradaban untuk mencapai tujuan.”

Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Bapa Pendeta, menilik sifat-sifat Baginda Sri Rajasa, maka Baginda pasti tidak akan berbuat serupa itu. Baginda pasti berjuang lewat jalan yang seharusnya dilalui untuk mencapai tingkat puncak seperti yang diharapkannya.”

Kini Pendeta Lohgawe tidak dapat lagi menyembunyikan perasaan yang membayang di wajahnya. Tampak sesuatu terlontar dari kerut-merut di keningnya.

Tetapi ternyata bahwa Lohgawe adalah seorang yang benar-benar bijaksana, sehingga sejenak kemudian ia berkata, “Angger Mahisa Agni memang seorang yang memiliki pandangan yang sangat tajam. Aku mengerti apa yang Angger maksudkan. Dan aku mengerti kenapa Angger berbuat demikian. Anakmas adalah kakak Tuanku Permaisuri, sedang Anakmas melihat, bahwa Baginda Sri Rajasa tidak berdiri seperti yang Angger harapkan.”

Mahisa Agni mengerutkan keningnya. Beberapa tahun lamanya ia hidup di padepokan bersama seorang pendeta yang bijaksana pula.Karena itu, maka ia pun mampu untuk menjajaki sifat-sifat kependetaan Lohgawe. Meskipun ia sadar bahwa Pendeta Lohgawe pun adalah manusia biasa pula, seperti gurunya. Empu Purwa yang pada suatu saat menjadi khilaf dan berbuat kesalahan yang besar bagi kemanusiaan dengan memecah bendungan Panawijen.

“Bapa Pendeta,” berkata Mahisa Agni, “aku minta maaf bahwa aku telah terdorong untuk menanyakan hal itu.”

“Tidak apa Anakmas. Anakmas memang berkepentingan. Tetapi kalau pertanyaan itu Angger teruskan, maka sudah pasti, aku akan sampai pada suatu kesulitan yang tidak akan dapat aku atasi.”

Mahisa Agni terdiam sejenak. Ia mencoba merenungkan kata-kata Pendeta Lohgawe itu. Namun ia sampai pada suatu kesimpulan, bahwa apa yang dikatakan oleh Pendeta Lohgawe itu, sebenarnya adalah jawaban dari semua pertanyaan yang tersimpan di dalam dadanya.

Mahisa Agni tahu pasti, bahwa Lohgawe tidak akan dapat berbohong. Sebagai seorang pendeta ia akan mengatakan putih bagi yang putih dan hitam bagi yang hitam. Sehingga apabila ia sampai ke puncak pertanyaannya, maka Lohgawe pasti tidak akan dapat menjawabnya.

Sambil mengangguk-anggukkan kepalanya Mahisa Agni berkata, “Baiklah Bapa. Aku tidak akan bertanya lebih jauh, karena sebenarnya Bapa telah memberitahukan apa yang ingin aku ketahui.”

“Baiklah Ngger. Tetapi aku tahu, bahwa Angger adalah seorang yang bijaksana. Angger tahu apa yang sebaiknya Angger lakukan dan apa yang tidak sebaiknya Angger perbuat.”

“Aku tahu Bapa. Tetapi perkenankanlah aku bertanya satu hal lagi.”

Pendeta Lohgawe mengerutkan keningnya. Terbayang keragu-raguan yang tidak lagi dapat disembunyikan pula.

“Maaf Bapa Pendeta,” berkata Mahisa Agni, “pertanyaanku terlampau sederhana. Pertanyaan seorang anak padang Karautan.”

Lohgawe masih tetap berdiam diri.

“Bapa,” suara Mahisa Agni menjadi semakin lambat dan datar, “apakah Bapa merestui perjuangan Baginda sampai ke tempatnya yang sekarang?”

Lohgawe adalah Pendeta yang hampir mumpuni. Ia menguasai ilmu yang kasatmata dan yang tidak kasatmata. Itulah sebabnya maka pertanyaan Mahisa Agni itu dapat ditangkap sampai jauh ke dalam inti maknanya. Bukan sekedar pertanyaan seorang yang datang dari padang Karautan atau seorang kakak dari seorang perempuan yang kecewa karena dimadu, bukan pula sekedar pertanyaan seorang yang iri hati. Tetapi Lohgawe menelusuri masalahnya dari sumber segala yang ada. Sangkan paraning dumadi.

Pendeta itu menarik nafas dalam-dalam. Mahisa Agni bukan orang yang harus dipersoalkan. Tetapi bahwa ia mendapat hasrat untuk melakukannya, itulah yang menjadi pusat perhatian Lohgawe.

Ken Arok sekarang justru berada di pintu kemasyhuran. Ia sedang berusaha menghadapi Kediri yang tidak senang melihat perkembangan Singasari yang tumbuh di atas tanah Tumapel.Namun sementara itu Kediri telah melakukan kesalahan yang dapat menikam jantung sendiri. Menurut keputusan Maharaja Kediri, maka semua pendeta harus menyembahnya, sebagai dewa tertinggi. Sehingga para pendeta yang mempunyai banyak pengaruh itu telah memalingkan wajah mereka ke Singasari.

Pada saat itulah, dari pusat adanya, Ken Arok telah mendapatkan sepercik tuntutan lewat Mahisa Agni.

Dengan demikian maka Pendeta Lohgawe yang mempunyai penglihatan yang lepas hampir tidak berbatas itu segera melihat, kabut yang gelap membayangi tahta Singasari yang kini masih sedang menanjak.

“Memang tidak ada seorang pun yang dapat menghindarkan diri dari tangan-Nya,” katanya di dalam hati.

Karena Lohgawe tidak segera menjawab, maka Mahisa Agni pun mendesaknya. “Bagaimana Bapa?”

“Anakmas Mahisa Agni,” berkata Pendeta itu kemudian, “aku tahu bahwa Anakmas menganggap, sebagai seorang pendeta aku tidak akan melakukan pemalsuan. Tingkah laku, kata-kata maupun kesaksian. Sejak semula aku memang sudah menyangka, bahwa Anakmas akan mendorong aku sampai ke sana. Aku tidak akan dapat ingkar dari pertanyaan itu. Tetapi sekali lagi aku mengharap bahwa Anakmas cukup bijaksana. Seandainya seekor ular bersembunyi di dalam tiang rumahku, sudah tentu aku tidak akan langsung menebang tiang itu untuk membunuh ularnya. Justru aku tahu, bahwa di atas atap rumah itu banyak orang yang sedang bersembunyi menyelamatkan diri dari kejaran seekor harimau.”

Terasa sesuatu bergetar di dada Mahisa Agni. Ia langsung dapat menangkap makna dari kata-kata Pendeta Lohgawe itu.

Justru karena itu, Mahisa Agni diam mematung. Darahnya serasa berjalan semakin lambat. Ditatapnya wajah Pendeta Lohgawe yang kini telah menjadi bening kembali, justru setelah ia mengatakan apa yang tersimpan di dalam hatinya.

Ketika Mahisa Agni akan mengucapkan sepatah kata, Lohgawe mendahului, “Itulah Anakmas. Bukankah kau menghendaki untuk mengetahui kenyataan itu? Dan agaknya Yang Maha Tunggallah yang membawa kau kemari, seperti Yang Tunggal membawa Ken Arok kepadaku.”

Lohgawe berhenti sejenak, kemudian, “Terserahlah kepada Anakmas. Apakah yang menurut Anakmas baik dilakukan. Aku menganggap bahwa Anakmas telah mendapat kebijaksanaan yang tidak terbatas.”

Mahisa Agni menggelengkan kepalanya, “Tidak sejauh itu Bapa Pendeta. Kini terasa betapa bodohnya aku. Setelah aku mendengar jawaban yang aku tunggu-tunggu itu, justru aku menjadi kehilangan akal. Aku tidak tahu, apa yang sebaiknya aku lakukan.”

“Angger memang perlu penenangan. Aku sudah pasrah. Apa yang Angger lakukan adalah yang paling baik.”

Mahisa Agni menjadi semakin bingung.

“Jangan kau paksa untuk mengambil kesimpulan sekarang Anakmas. Kalau Anakmas sudah menjadi tenang, maka Anakmas akan melihat cahaya itu di hati Anakmas.”

Mahisa Agni masih menundukkan kepalanya.

“Lupakanlah untuk sejenak. Apakah Anakmas mempunyai persoalan yang lain?”

Mahisa Agni menggelengkan kepalanya, “Tidak. Tidak Bapa Pendeta. Aku tidak mempunyai keperluan apapun.”

“Kalau begitu, kita mempunyai waktu untuk berbicara tentang banyak hal. Tentang jalan-jalan yang menjadi semakin rata, bangunan-bangunan yang bertambah megah di atas Singasari ini.”

Tetapi tiba-tiba Mahisa Agni menundukkan kepalanya sambil berkata, “Aku mohon diri Bapa Pendeta. Aku kira aku telah berbuat suatu kesalahan. Aku telah didorong oleh perasaan-perasaan yang selama ini terdesak jauh ke sudut hati yang paling tersembunyi. Tetapi aku tidak berhasrat untuk berbuat apapun.”

Lohgawe tersenyum. “Jangan mengambil keputusan sekarang.”

Kini Mahisa Agni menganggukkan kepalanya.Sejenak kemudian ia berkata, “Aku mohon diri Bapa Pendeta.”

Sekali lagi Lohgawe tersenyum, “Baiklah Anakmas.”

“Aku mohon restu, agar aku tidak dilihat oleh kegelapan, oleh iri dan dengki.”

“Kalau kau sadar akan dirimu, maka kau tidak akan terjerumus ke dalamnya.”

“Mudah-mudahan Bapa Pendeta.”

Mahisa Agni pun kemudian meninggalkan padepokan itu dengan hati yang kisruh. Ia tidak tahu apa yang sebaiknya dilakukan. Setela ia ia mendapat jawaban atas teka-tekinya, maka kini justru ia diharapkan pada suatu teka-teki baru yang lebih sulit.

Mahisa Agni menjadi semakin bingung lagi, karena ia sadar tidak seorang pun yang dapat diajaknya berbicara. Cantrik yang dibawanya dari Lulumbang itu pun tidak.

Tetapi tiba-tiba Mahisa Agni teringat kepada emban tua pemomong Ken Dedes. Ia akan dapat berkata berterus terang kepada ibunya sendiri. Sudah tentu bahwa ibunya tidak akan berbuat apa-apa yang dapat mencelakakannya. Dan bahkan mungkin ibunya, yang selama ini dekat dengan Ken Dedes, dapat mengatakan, apa yang pernah dilihatnya.

Maka ketika ia mendapat kesempatan, pada malam hari ia berkunjung ke bilik emban tua itu tanpa dicurigai oleh para pengawal. Keduanya adalah orang-orang Panawijen, dan emban tua itu adalah pemomong permaisuri.

Dengan hati-hati Mahisa Agni mencoba untuk mengarahkan pembicaraan. Dikatakannya pula bahwa ia telah bertemu dengan janda Kebo Ijo, dengan Lohgawe dan menurut sepengetahuan cantrik yang dibawanya itu.

“Bagaimanakah pendapat ibu?”

Sejenak orang tua itu tidak menjawab. Perlahan-lahan kepalanya menunduk, dan titik-titik air pun berjatuhan satu demi satu.

“Kenapa ibu menangis?” bertanya Mahisa Agni.

“Ceritamu membuat hatiku trenyuh, Agni.”

Mahisa Agni mengerutkan keningnya.

“Aku tidak tahu apa yang sebenarnya telah terjadi.Tetapi tangkapan naluriku mengatakannya demikian.Aku melihat hubungan yang tidak wajar sebelumnya antara Ken Dedes dan Ken Arok.”

“Apakah ibu percaya bahwa akhir dari peristiwa itu memang demikian.”

Perlahan ibunya mengangguk.

Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Kini ia yakin, bahwa ia telah menemukan pembunuh Empu Gandring, pembunuh Akuwu Tunggul Ametung dan jawaban atas pertanyaan, kenapa Ken Arok membunuh Kebo Ijo sebelum ada keputusan dari pemimpin yang tujuh.

Namun kesimpulan itu ternyata telah memukul dadanya, seakan-akan menjadi bengkah. Sekilat dikenangnya akan Witantra, yang terusir dari kedudukannya karena keyakinannya. Kebo Ijo tidak bersalah. Dan ia, Mahisa Agni yang terburu nafsulah yang saat itu naik ke atas arena, untuk memperkuat keputusan, bahwa Kebo Ijo telah bersalah.

Penyesalan yang tiada taranya telah meremas jantungnya. Karena itu maka kebenciannya kepada Ken Arok pun tiba-tiba meledak. Dengan nada yang tajam ia berdesis, “Aku akan membunuh Ken Arok.”

Mahisa Agni terkejut ketika tiba-tiba saja ibunya meloncat memeluknya. Di antara isak tangisnya ia berkata, “Jangan Agni. Jangan. Bagaimanapun juga, Ken Dedes tidak akan ikhlas melihat suami pilihannya itu terbunuh. Apalagi kaulah yang membunuhnya.”

Emban tua itu berhenti sejenak, kemudian, “Apalagi saat ini di mana setiap orang Singasari menggantungkan harapannya kepada Baginda Sri Rajasa.”

Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Pelukan ibunya serta titik-titik air matanya serasa telah menyejukkan hatinya. Meskipun demikian ia tidak dapat menyembunyikan penyesalan yang tiada taranya terhadap sikapnya yang telah menjerumuskan Kebo Ijo ke dalam kehinaan dan telah mengusir Witantra dari Tumapel.

“Seandainya saat itu aku tidak menjadi gila, aku kira keadaan akan berbeda. Kalau Ken Arok sendiri tidak turun ke arena, sudah pasti, sulitlah untuk mencari pimpinan prajurit yang dapat mengalahkannya. Bahkan Ken Arok pun belum pasti,” berkata Mahisa Agni di dalam hatinya, “tetapi semuanya sudah terlanjur. Aku ikut memberikan tenagaku melanggar nilai-nilai kebenaran.”

Karena Mahisa Agni tidak segera menjawab, maka ibunya berkata seterusnya, “Tenanglah Mahisa Agni. Jangan tergesa-gesa. Kalau kau masih juga tergesa-gesa maka kau akan mengulangi kesalahanmu itu.”

Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepala. Ia mencoba mengerti nasihat ibunya.

“Baiklah, Ibu. Aku akan mempertimbangkannya,” sahut Mahisa Agni. “Tetapi aku tidak dapat mengingkari kesalahan itu. Aku harus menemui Witantra.”

“Kenapa.”

“Aku harus minta maaf kepadanya.”

“Bagaimana kalau terjadi salah paham?”

“Aku tidak akan berbuat apa-apa.”

Ibunya termenung sejenak. Namun kemudian ia berkata, “Baiklah Mahisa Agni tetapi hati-hatilah. Kita tidak tahu, bagaimana sikap Witantra sekarang.”

Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Besok aku akan berangkat menemuinya.”

Keesokan harinya, Mahisa Agni minta diri kepada ibunya, Ken Dedes dan karena ia tidak dapat menemui Sri Rajasa, maka permohonannya disampaikan oleh permaisuri, untuk meninggalkan Singasari. Setelah ia mengembalikan cantrik yang menjadi satu-satunya saksi itu, maka ia pun sejenak menengok padukuhan Panawijen baru.

“Aku akan pergi Ki Buyut,” berkata Mahisa Agni.

“Ke mana lagi Anakmas akan pergi?”

“Aku belum tahu. Tetapi sebagai seorang laki-laki aku ingin menambah pengalaman dalam perantauan.”

“Tetapi kami selalu menunggu kedatanganmu.”

“Tentu Ki Buyut, pada saatnya aku pasti akan kembali.”

Maka setelah menyiapkan bekal seperlunya, Mahisa Agni pun berangkat meninggalkan padang Karautan. Beberapa orang dan kawan-kawannya memandangi debu yang terlontar dari kaki-kaki kudanya sampai ke kejauhan.

Berbagai pertanyaan bergolak di dalam hati orang-orang Panawijen baru. Agaknya Mahisa Agni akhir ini selalu gelisah, sehingga agaknya ia mencari ketenteraman di dalam perantauan.

Sementara itu Mahisa Agni berpacu dengan cepatnya. Tetapi tiba-tiba ia sadar, ke mana ia akan pergi.

Karena itu maka ia pun segera menarik kekang kudanya. Sejenak ia berdiri termangu-mangu.

“Apakah aku harus bertanya kepada Mahendra. Mungkin ia tahu, ke mana Witantra pergi,” desisnya.

Tetapi ia menjadi ragu-ragu. Mahendra tidak sedewasa Witantra. Mungkin ia masih menyimpan dendam di dalam hatinya, sehingga akan timbul salah paham seperti yang ditakutkan oleh ibunya.

“Kalau begitu aku akan menemui Panji Bojong Santi,” Mahisa Agni pun masih ragu-ragu, “apakah ia masih ada sekarang? Kalau ia masih hidup, maka ia pun pasti sudah semakin tua.”

Tetapi Mahisa Agni kemudian memutuskan untuk pergi ke padepokan Panji Bojong Santi. Ia mengharap bahwa Panji Bojong Santi tidak bersikap kekanak-kanakan menghadapi persoalan ini.

Dengan keragu-raguan yang mencengkam dadanya Mahisa Agni memasuki padepokan Panji Bojong Santi. Ketika ia melihat orang tua itu masih ada, meskipun sudah menjadi semakin tua. Ia tidak dapat menahan hatinya. Demikian ia mengikat kudanya pada sebatang pohon, langsung ia memeluk kaki orang tua itu.

Orang tua itu mengerutkan keningnya. Sejenak ia ragu-ragu, namun kemudian ia berkata lirih, “Angger Mahisa Agni.”

“Ya. Bapa. Aku datang kali ini untuk menyerahkan diriku.”

Bojong Santi mengerutkan keningnya, “Kenapa?”

“Bapa pasti sudah tahu, apa yang sudah aku lakukan atas Kebo Ijo.”

Panji Bojong Santi mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi ia masih bertanya, “Sekarang, kenapa Angger ingin menyerahkan diri kepadaku?”

“Aku telah keliru Bapa. Aku waktu itu menjadi gila, dibius oleh sikap Ken Arok yang mengagumkan. Tetapi kini aku yakin seperti Witantra, Mahendra dan Bapa sendiri yakin, bahwa Kebo Ijo tidak bersalah.”

Panji Bojong Santi mengangguk-anggukkan kepalanya.Sambil mengusap pundak Mahisa Agni orang tua itu berkata, “Duduklah. Kita akan berbicara.”

Mahisa Agni pun kemudian mengangkat kepalanya dan duduk di hadapan Panji Bojong Santi. Meskipun wajah itu sudah semakin tua tetapi kedalaman dan ketenangan masih nampak jelas di wajah itu.

“Sekarang kau pun yakin, Anakmas?”

“Ya, Bapa”

“Apakah kau berhasil menemukan orang yang kain cari?”

Mahisa Agni pun menganggukkan kepalanya.

“Baiklah. Aku ikut bergembira.”

“Bapa,” berkata Mahisa Agni, “aku telah bertekad untuk menemui Witantra. Aku harus minta maaf kepadanya.”

Panji Bojong Santi tersenyum. “Kau memang berjiwa besar Ngger.”

“Aku adalah orang yang paling bodoh waktu itu.”

Panji Bojong Santi mengangguk-anggukkan kepalanya, “Baiklah. Kau akan dapat menemuinya kelak.”

Mahisa Agni menjadi berdebar-debar.Ia mengharap untuk dapat segera menemui Witantra. Perasaan bersalah yang serasa meretakkan dadanya itu harus segera ditumpahkannya. Karena itu maka ia mendesaknya, “Bapa, apakah aku tidak segera dapat menemuinya. Kalau Bapa Panji Bojong Santi tidak berkeberatan, memberikan arah tempat tinggalnya, aku akan mencarinya.”

“Tempatnya terlampau asing Ngger. Karena itu, sebaiknya seorang mengantarkanmu, kau tidak akan dapat pergi sendiri dan menemukan dengan segera. Waktumu akan habis terbuang melingkar-lingkar mencari jalan untuk sampai ke tempat Witantra sekarang.”

“Begitu jauhkah Witantra menyepi diri?”

“Ia mendapatkan ketenangan di tempatnya yang baru. Ia mendapat tempat yang baik untuk menyempurnakan ilmunya lahir dan batin.”

“Tetapi kalau ia terpisah dari kehidupan, ilmu itu akan tetap tersimpan di dalam dirinya.”

Panji Bojong Santi tersenyum. Katanya, “Mungkin begitu, tetapi mungkin juga tidak. Kadang-kadang kita menemukan arus air yang tidak kita ketahui sumbernya. Apabila kita melihat sumber di pegunungan yang terasing, kita menyangka, bahwa air itu tidak akan berguna. Padahal arus air yang kita lihat yang pertama adalah kelanjutan saluran air dari sumber yang terasing itu.”

Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia menyadari bahwa ilmu itu dapat berguna tanpa diamalkannya sendiri. Tetapi ada perantara yang dapat mempergunakan ilmu itu untuk kepentingan yang berarti.

“Angger Mahisa Agni,” berkata Panji Bojong Santi kemudian, “apakah yang pernah dilakukan oleh Empu Purwa pada akhir-akhir ini? Setelah ia kecewa karena kehilangan putrinya, seolah-olah ia sama sekali sudah tidak pernah berhubungan dengan dunia lagi. Tetapi di antara Empu Purwa dan dunia ramai ada Angger Mahisa Agni. Ada jalur yang masih menghubungkannya, sehingga ilmu itu tidak sekedar karatan tersimpan tanpa arti.”

“Ya. ya Bapa. Aku mengerti sekarang.”

“Nah, beristirahatlah di sini sehari dua hari.Aku akan memanggil orang yang pernah melihat tempat itu.”

“Kenapa sehari dua hari Bapa.”

“Angger tidak terlampau lelah.”

“Aku masih segar. Aku dapat berangkat sekarang.. Aku dapat berjalan terus tiga hari tiga malam kalau diperlukan.”

“Mungkin Angger yang sedang dikejar oleh perasaan sendiri dapat berbuat demikian. Tetapi kuda Angger akan kepayahan.”

“Ya, Bapa. Kudaku memang perlu beristirahat. Tetapi tidak sampai sehari apalagi dua hari.”

Panji Bojong Santi menarik nafas dalam-dalam.Ia melihat perasaan Mahisa Agni yang tersiksa. Ia merasa wajib untuk segera bertemu dengan Witantra.

Karena itu Panji Bojong Santi tidak sampai hati untuk memperpanjang siksaan batin Mahisa Agni itu.Karena itu, maka ia pun segera memanggil seorang cantriknya yang pernah pergi ke tempat Witantra untuk mengantarkan Mahisa Agni.

Maka ketika matahari terbit di keesokan harinya, berangkatlah Mahisa Agni diantar oleh seorang cantrik menempuh perjalanan yang berat untuk menemui Witantra. Panji Bojong Santi melepaskannya tanpa waswas karena ia pun sudah yakin pula, bahwa Witantra pasti cukup dewasa menanggapi persoalan itu. Witantra pasti tidak akan sekedar dibakar oleh dendam. Ia akan dapat menanggapi keadaan sewajarnya.

Bersamaan dengan itu, Panji Bojong Santi telah menyuruh seorang cantriknya untuk memanggil Mahendra. Mahendra yang kini hidup di dunianya sendiri. Ia mencoba untuk hidup menjadi manusia kebanyakan, dengan kerja dan usaha, mendirikan rumah tangga.

Tetapi Panji Bojong Santi masih belum yakin, bahwa Mahendra dapat melupakan persoalan Kebo Ijo seperti halnya Witantra. Mahendra yang lebih muda dari Witantra dipengaruhi oleh lingkungan hidupnya, mungkin akan menentukan sikap yang lain.

“Aku harus memberitahukan kepadanya, bahwa ia tidak boleh berbuat sesuatu yang dapat merugikan dirinya sendiri,” berkata Panji Bojong Santi di dalam hatinya, “ia harus dapat menanggapi keadaan ini dengan hati yang lapang.”

Sementara itu. Mahisa Agni yang berpacu bersama seorang cantrik kini telah mulai menerobos hutan belukar. Kadang-kadang mereka terpaksa berhenti sejenak, bahkan turun dari kuda-kuda mereka untuk merambah sulur-sulur yang melintang di jalan setapak yang mereka lalui.

“Jalan ini tidak pernah dilalui orang,” berkata cantrik itu, “sebenarnya aku takut berjalan hanya berdua saja lewat jalan ini.”

“Kenapa?” bertanya Mahisa Agni.

“Kalau ada penyamun yang kebetulan melihat kita lewat, maka celakalah kita. Kalau bekal kita saja yang dimintanya, beruntunglah kita. Tetapi kalau ini?” cantrik itu menunjuk lehernya.

Betapapun ketegangan membelit hati Mahisa Agni, namun ia sempat juga tersenyum sambil berkata, “Jangan takut tidak ada penyamun yang akan mencegat perjalanan kita. Kita tidak membawa apapun yang berharga.”

“Tetapi mereka tidak tahu bahwa kita tidak membawa barang berharga. Setidak-tidaknya kuda kita dapat mereka rampas dan mereka ambil.”

“Jangan takut,” desis Mahisa Agni, “karena itu, marilah kita berusaha secepat-cepatnya meninggalkan tempat ini.”

“Aku tidak tahu kenapa Panji Bojong Santi mempercayai aku seorang diri mengantarkan kau ke tempat Witantra. Kalau terjadi sesuatu atasmu, maka akulah yang akan disalahkannya.”

Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia tidak dapat menyalahkan cantrik yang belum mengenalnya itu. Cantrik itu merasa bertanggung jawab, bahwa ia harus mengantarkan Mahisa Agni sampai ke tempat Witantra. Hanya itulah yang diketahuinya. Agaknya Panji Bojong Santi memang tidak merasa perlu memberitahukan tentang dirinya kepada cantrik itu.

Setiap desir di sebelah jalan setapak itu telah membuat cantrik kawan seperjalanan Mahisa Agni itu bersiaga. Ia selalu meraba-raba hulu pedang pendeknya. Agaknya Panji Bojong Santi memang mengajarinya untuk mempergunakan pedang pendek itu apabila perlu, meskipun ilmu itu sangat terbatas. Tetapi agaknya cantrik itu pun cukup tangkas untuk membela diri terhadap perampokan-perampokan dan penyamun-penyamun.

“Ki Sanak,” berkata Mahisa Agni kemudian, “jangan hiraukan apa-apa lagi. Kita sama sekali tidak bermaksud mengganggu siapa pun. Kita hanya sekedar berjalan, lewat jalan ini.”

“Memang kita tidak bermaksud mengganggu siapa pun. Tetapi merekalah yang akan mengganggu kita.”

Mahisa Agni mengerutkan keningnya.

“Coba. kalau kau dapat membuat sedikit perhitungan. Banyak orang-orang Kediri yang terpaksa menyingkir dari tempat tinggalnya karena mereka tidak sepaham dengan ketentuan-ketentuan baru di negerinya, terutama mengenai nafas hidup keagamaan. Sementara itu ketegangan di batas kedua negeri Singasari dan Kediri menjadi semakin tegang. Apakah dalam keadaan serupa itu, tidak banyak perampok-perampok yang memancing keuntungan?”

Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi ia bertanya, “Dari mana kau tahu bahwa keadaan Kediri dan Singasari menjadi kian menegang.”

“Panji Bojong Santi sering memberi banyak cerita kepada kami tentang keadaan di luar padepokan kami,” jawab cantrik itu, “juga Panji Bojong Santi yang memberi aku peringatan, bahwa perampok-perampok selalu mempergunakan segala kesempatan, bahkan orang-orang yang sedang dalam kesulitan sekalipun sama sekali tidak dihiraukannya.”

Mahisa Agni masih mengangguk-anggukkan kepalanya.

“He. kau dengar ringkik kuda?” tiba-tiba cantrik itu menjadi tegang.

Mahisa Agni memang mendengar ringkik kuda. Tetapi ia tidak mendengar derap langkahnya. Karena itu menurut perhitungan Mahisa Agni kuda itu bukan kuda yang sedang berpacu, berjalan atau sedang dikendarai oleh seseorang. Kuda itu sedang berhenti atau bahkan dituntun oleh pemiliknya.

Tetapi Mahisa Agni memperlambat kudanya sambil mempertajam telinganya.

“Kalau kita bertemu dengan perampok apa boleh buat. Sebenarnya Panji Bojong Santi selalu berpesan, kami tidak boleh berkelahi. Tetapi sudah tentu kami tidak akan menyerahkan milik kami kepada perampok-perampok.”

“Aku kira mereka bukan perampok,” berkata Mahisa Agni.

“Kalau bukan perampok, siapakah yang berada di tengah hutan seperti ini?”

Mahisa Agni mengerutkan keningnya. Kemudian jawabnya, “Memang ada beberapa kemungkinan. Mungkin perampok tetapi mungkin juga tidak. Menilik ceritamu, orang-orang Kediri yang menyingkir itu dapat saja terjerumus ke dalam hutan ini. Bukankah hutan ini ada di sekitar perbatasan, atau katakan, bahwa sebelah menyebelah hutan ini merupakan daerah yang berlainan.”

Cantrik itu mengerutkan keningnya.

“Ya, memang mungkin.”

Beberapa saat kemudian mereka melihat sekelompok orang yang berdiri termangu-mangu. Dalam sekilas, Mahisa Agni dan cantrik itu pun segera mengetahui, bahwa orang-orang itu benar-benar orang-orang Kediri yang menyingkir dari kampung halamannya oleh ketidakpuasan atas tata kehidupannya yang baru.

Agaknya mereka terkejut sekali ketika mereka melihat Mahisa Agni dan cantrik itu muncul dari balik gerumbul-gerumbul liar. Dengan sigapnya beberapa orang di antara mereka segera mempersiapkan diri, sedang yang lain, perempuan dan anak-anak, melingkar saling berpelukan dengan wajah yang pucat.

“Siapa kalian?” bertanya salah seorang yang agaknya merupakan pimpinan rombongan itu.

Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Tetapi sebelum ia menjawab, cantrik yang merasa dirinya menjadi pemimpin rombongan kecil itu pun menyahut, “Kamilah yang bertanya, siapakah kalian?”

Orang-orang itu termangu-mangu sejenak. Namun pemimpin itu kemudian menjawab, “Tanpa menyembunyikan kenyataan kami. bahwa kami adalah orang-orang Kediri yang menyingkir, karena pendeta kami telah ditangkap.”

Cantrik itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Bagus.”

“Kenapa bagus?” desis Mahisa Agni perlahan-lahan.

Cantrik itu kemudian dengan serta-merta berkata pula, “Tidak, tidak bagus. Sayang sekali pendeta itu sudah terlanjur ditangkap. Sebaiknya ia pergi ke Singasari.Bukankah kalian juga akan pergi ke Singasari?”

“Ya,” jawab pemimpin rombongan itu.

“Pergilah. Kami orang-orang Singasari.”

Pemimpin itu menjadi termangu-mangu. Kemudian ia pun bertanya, “Manakah jalan yang harus aku tempuh.”

“Lurus. Kau dapat mengikuti jejak kuda-kuda kami dalam arah yang berlawanan. Kau akan keluar dari hutan ini di wilayah Singasari. Mengerti?”

Pemimpin itu mengangguk-anggukkan kepalanya, “Terima kasih. Tetapi kami tidak dapat memastikan bahwa kami akan dapat memasuki wilayah Singasari.”

“Kenapa?”

“Aku sadar, bahwa perjalanan kami pasti diikuti.Baginda sudah mengeluarkan perintah, semua orang Kediri, tidak boleh menyeberang perbatasan.”

Cantrik itu mengangguk-anggukkan kepalanya.Mahisa Agni pun mengangguk-anggukkan kepalanya pula. Mereka sadar bahwa Maharaja Kediri akan menyebar orang-orangnya di segenap perbatasan, untuk mencegah orang-orang yang berusaha menyeberang. Kadang-kadang mereka dapat mencegah, tetapi kadang-kadang beberapa orang berhasil lolos, sehingga para pengawal harus mengejar mereka.

“Apakah kepergianmu diketahui oleh para prajurit Kediri?” bertanya cantrik itu.

“Aku tidak tahu. Tetapi sekarang setiap dahan mempunyai telinga dan setiap tikungan mempunyai mata. Itulah sebabnya sekarang arus orang-orang Kediri agak terbendung.”

“Kalau begitu, cepatlah.”

“Kami tidak akan dapat berjalan cepat.Di antara kami terdapat perempuan dan anak-anak.”

“Tetapi kalian sudah agak jauh dari perbatasan. Mungkin orang Kediri tidak akan menghiraukan kau lagi.”

Tetapi belum lagi pembicaraan itu selesai. terdengar derap beberapa ekor kuda.Lamat-lamat mereka mendengar cambuk yang meledak dan ringkik kuda yang berkepanjangan.

Pemimpin kelompok itu menjadi gelisah. Ketika ia berpaling memandangi orang-orangnya, dilihatnya beberapa di antara mereka menjadi pucat.

“Kita tidak akan kembali ke Kediri. Kita akan menjadi pangewan-ewan seperti sekelompok orang dari Padepokan Watu Putih kemarin.Diarak di sekeliling kota dengan cemoohan yang paling hina.”

Orang-orangnya tidak menjawab.

“Kita laki-laki, dan kita bersenjata.”

Tiba-tiba mereka sadar, bahwa mereka memang bersenjata.

Beberapa orang di antara mereka telah meraba senjata-senjata mereka sambil berdesis, “Ya, kami bersenjata.”

“Setidak-tidaknya, enam atau tujuh orang dari kita dapat melawan.”

“Aku juga masih mampu berkelahi,” berkata seorang laki-laki tua.

“Jadi delapan orang.”

Pemimpin itu pun kemudian melangkah maju. Disuruhnya perempuan dan anak-anak agak menjauh.

“Berdoalah. Mudah-mudahan kami dapat melindungi kalian.”

Seorang perempuan yang menggenggam patrem tiba-tiba berkata, “Aku ikut bertempur.”

“Jagailah anak-anak. Jangan kehilangan akal.”

Perempuan itu masih tegak di tempatnya. Namun ketika terpandang olehnya tatapan mata pemimpinnya, maka ia pun kemudian melangkah surut, dan bergabung dengan perempuan-perempuan dan anak-anak yang saling berdesakan dengan wajah yang pucat.

“Apakah yang datang itu para prajurit Kediri,” bertanya Cantrik itu.

“Aku kira, mereka adalah orang-orang yang sedang berburu orang. Mereka mengikuti jejak kami. Setiap kepala, mendatangkan hadiah yang baik bagi mereka. Mungkin mereka bukan prajurit-prajurit, dan bahkan kadang-kadang para perampok dan penyamun yang mengetahui kehadiran kami di daerah kerja mereka. Mereka mengejar kami, merampas milik kami, kemudian menyerahkan kami kepada para prajurit untuk mendapatkan hadiah yang cukup baik.”

Mahisa Agni mengerutkan keningnya. Apakah hal itu dapat terjadi dalam pemerintahan Baginda Kediri yang sekarang? Ataukah memang ada orang-orang yang sengaja menumbuhkan kesan yang sama sekali tidak menguntungkan bagi Kediri?”

“Saat yang tepat bagi Ken Arok,” Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam, “Ia memang cerdas dan mampu memperhitungkan keadaan yang dihadapinya. Ia akan berhasil menguasai Kediri sebagaimana ia telah berhasil menjerumuskan Kebo Ijo ke dalam kematian sekaligus tuduhan yang paling hina.”

Derap kuda yang melingkar-lingkar seakan-akan memenuhi hutan itu pun masih bergema terus. Namun telinga Mahisa Agni segera dapat mengetahui dari mana mereka datang. Mereka tidak berpacu terlampau cepat, tetapi juga tidak terlampau lambat.

“Nah. kita akan berkelahi untuk mempertahankan diri,” berkata pemimpin rombongan itu, “aku adalah orang yang paling bertanggung jawab atas rombongan ini. Karena itu, Ki Sanak berdua lebih baik menyingkir, supaya kalian tidak disangka membantu kami. Orang-orang yang sedang berburu itu kadang-kadang sama sekali tidak mempergunakan nalar, apalagi rasa perikemanusiaan.”

Mahisa Agni tertegun sejenak. Ketika ia berpaling, dilihatnya cantrik kawannya itu berdiri termangu-mangu.

“Silakan Ki Sanak. Terima kasih atas petunjuk kalian jalan ke Singasari.”

“Aku orang Singasari,” berkata cantrik itu tiba-tiba.

“Jangan mempersulit diri sendiri. Kalian tidak usah terlibat dalam persoalan ini. Kami sudah mempunyai delapan orang yang akan mengangkat senjata kami masing-masing untuk melindungi perempuan dan anak-anak kami.”

Tanpa sesadarnya Mahisa Agni memandang perempuan-perempuan dan anak-anak yang ketakutan. Tiga orang perempuan itu, dua orang setengah baya. Beberapa orang anak-anak, dan tiga orang gadis-gadis muda. Ketika terpandang olehnya sepasang mata yang berkilat. Mahisa Agni berdesir. Ia sudah terlampau tua untuk memandangi wajah-wajah gadis-gadis. Tetapi gadis itu pun tiba-tiba menundukkan kepalanya.

Yang pertama-tama merayap di hati Mahisa Agni adalah sebuah kenangan tentang Ken Dedes. Betapa ia mengalami, ketakutan yang sangat, pada saat Kuda Sempana dan Akuwu Tunggul Ametung mengambilnya.

“Seperti gadis itu,” desisnya. Dan tiba-tiba ia mengerutkan keningnya, “He, gadis itu memang mirip dengan Ken Dedes.”

“Persetan!” Mahisa Agni tiba-tiba menggeram. Dan ia pun terperanjat ketika ia mendengar pemimpin rombongan itu berkata, “Mereka telah datang. Menyingkirlah.”

Tanpa sesadarnya Mahisa Agni melangkah beberapa langkah surut. Cantrik, kawan seperjalanannya menjadi ragu-ragu. Namun kemudian ia pun mendekati Mahisa Agni sambil berbisik, “Tinggallah di sini. Aku tidak dapat berdiam diri.”

Mahisa Agni mengerutkan keningnya. Dilihatnya wajah cantrik yang bersungguh-sungguh itu. Sambil memegangi hulu pedang pendeknya ia siap untuk menghadapi segala kemungkinan.

“Apa yang akan kau lakukan?” bertanya Mahisa Agni.

“Aku harus membantu orang-orang itu. Mereka berada dalam ketakutan.” cantrik itu terdiam sejenak, “lihatlah perempuan dan anak-anak itu.”

Sekali lagi Mahisa Agni memandangi perempuan dan anak-anak itu. Sekali lagi matanya membentur sepasang mata yang cerah dari antara mereka. Betapa wajahnya pucat oleh ketakutan yang sangat namun tampak bahwa wajah itu memiliki kelebihan dari wajah-wajah yang lain.

Sementara itu. beberapa orang berkuda telah muncul dari balik dedaunan. Pemimpin dari orang-orang berkuda itu segera memberi isyarat untuk berhenti.

“Nah. Itulah mereka!” teriak salah seorang dari mereka.

Pemimpin rombongan itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Hem, kau telah membuat kami gelisah. Kami kira bahwa kami akan kehilangan kalian. Namun akhirnya kami menemukan juga.”

Pemimpin rombongan orang-orang Kediri yang akan menyeberang itu masih berdiam diri. Tetapi tangannya telah melekat di hulu pedangnya. Dipandanginya saja orang-orang yang menyusulnya itu dengan wajah yang tegang.

“Jangan banyak tingkah seperti beberapa orang yang lain.Marilah kita kembali ke Kediri, Tidak ada apa-apa. Kalian akan disambut dengan baik.”

Pemimpin rombongan orang-orang yang menyeberang itu menggelengkan kepalanya. Katanya, “Apakah kalian menyangka bahwa aku tidak tahu, apa yang diperlakukan atas orang-orang yang dapat ditangkap dalam perjalanan menyeberang ke Singasari?”

“Nah. Kalau demikian, kenapa kalian masih juga akan menyeberang?”

“Perlakuan Baginda terhadap para pendeta sangat menyakitkan hati.”

Pemimpin rombongan orang-orang yang menyusul itu pun tertawa. Katanya, “Kalian terlampau mementingkan diri kalian sendiri. Kalian merasa bahwa kedudukan kalian jauh lebih tinggi dari rakyat Kediri yang lain. Kalau kalian menganggap diri kalian seperti rakyat kebanyakan, maka perlakuan itu tidak akan terasa terlampau menyakitkan hati.”

“Kami tidak minta yang berlebih-lebihan. Tetapi kami tidak akan mungkin mengubah pandangan kami dalam kebaktian kami terhadap sesembahan kami.”

Pemimpin orang-orang yang menyusul itu pun kemudian berkata, “kau juga terlampau banyak bicara seperti orang-orang lain. Kami adalah pemburu-pemburu yang berpengalaman. Menyerahlah, supaya kami tidak memperlakukan kalian, perempuan-perempuan dan anak-anak, apalagi gadis-gadis itu. Seperti yang pernah terjadi.”

Pemimpin orang-orang yang menyeberang itu mengerutkan keningnya. Tanpa sesadarnya ia berpaling memandangi perempuan-perempuan yang ketakutan dan anak-anak mulai menangis.

“Menyerahlah!”

Tetapi pemimpin itu menggelengkan kepalanya, “Aku sudah terlanjur menempuh perjalanan begini jauh. Aku tidak akan kembali. Lebih baik kami berkubur di sini daripada kami harus menjadi tontonan di sepanjang jalan Kediri.”

“Kalian tidak ada bedanya dengan kelinci-kelinci yang terpaksa kami selesaikan sebelumnya,” pemimpin rombongan yang menyusul itu tersenyum. Kemudian dipandanginya gadis-gadis di antara perempuan-perempuan yang ketakutan, “ada juga gadis-gadis di antara kalian. Apa boleh buat.”

Terasa rambut-rambut di seluruh tubuh gadis-gadis itu meremang.

“Mereka benar-benar serombongan pemburu manusia,” desis cantrik itu kepada Mahisa Agni, “Sepuluh orang. Apa boleh buat. Aku tidak akan dapat diam. Mungkin aku akan berkelahi mati-matian.”

“Kalau kau mati, bagaimana dengan aku?” bertanya Mahisa Agni.

Cantrik itu mengerutkan keningnya. Namun kemudian katanya, “Kau dapat menyusur jalan sempit ini. Terus sampai pada suatu saat kau akan terhalang oleh sebuah rawa-rawa yang sempit. Kau berbelok ke kiri. Kemudian kau akan sampai pada lereng pegunungan yang terjal. Kali ini kau berbelok ke kanan. Kau akan segera menjumpai padukuhan-padukuhan kecil. Di situ kau bertanya, di mana rumah Witantra. Kau akan sampai kepadanya.”

“Masih amat jauh.Jangan mati.”

“Aku akan berusaha untuk tidak mati.”

Mahisa Agni tersenyum di dalam hati. Sambil mengangguk-anggukkan kepalanya ia berkata, “Baiklah. Tetapi hati-hatilah.”

(bersambung ke jilid 52).

Koleksi : Ki Arema Scanning: Ki Arema

Retype : Ki Raharga

Proofing : Ki Raharga

Recheck/Editing: Ki Sunda

—ooo0dw0ooo—

Jilid 52

CANTRIKitu-pun mengangguk-anggukkan.Tetapi ia tidak segera beranjak dari tempatnya.

Orang-orang yang berusaha menyingkir itu-pun segera menyiapkan diri. Kekuatan mereka sebenarnya hanyalah enam orang. Seorang sudah separo baya, dan yang seorang telah lebih tua lagi.

“Apakah kalian benar-benar akan melawan?“ bertanya pemimpin rombongan yang menyusul itu.

“Ya. Jangan kecewa, meskipun kau sudah mulai menghitung-hitung berapa kepala yang akan kau dapatkan, kali berapa keping uang.”

Orang itu tertawa. Katanya, “Kau tahu juga hasil yang akan kami peroleh dari buruan-buruan kami. Selain itu, semua harta benda yang kami dapatkan dari buruan-buruan kami menjadi milik kami.”

“Kalian hanya akan mendapatkan kepala-kepala kami.“

“Baiklah. Kami harus mempergunakan kekerasan. Dua di antara kami adalah prajurit yang memang bertugas bersama kami, supaya kalian yakin, bahwa kami adalah pemburu-pemburu yang sah. Lebih dari itu kedua prajurit ini akan meyakinkan kalian, bahwa perlawanan kalian akan sia-sia.”

“Persetan,“ tiba-tiba cantrik itu berteriak sambil melangkah maju, “aku berdiri di pihak mereka yang sedang diburu.“

Kelompok orang-orang yang menyusul orang-orang Kediri itu terheran-heran. Dipandanginya cantrik itu sejenak. Dan sejenak kemudian mereka saling berpandangan.

Pemimpin rombongan itu akhirnya bertanya, “Siapa kau?”

“Itu tidak perlu bagimu.”

“Kenapa kau perlu menyatakan diri berpihak kepada mereka yang sedang diburu. Apakah kau bukan termasuk rombongan mereka itu?”

“Aku orang lain.”

Pemimpin rombongan orang-orang yang menyusul itupun mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Kalau begitu sebaiknya kau berdiri di luar pagar. Aku kira kau adalah salah seorang dari mereka pula. Tetapi meskipun kau tidak merupakan sekelompok dengan orang-orang itu asal kau juga berasal dari Kediri, maka kau termasuk juga menjadi buruanku.“

“Aku orang Singasari.”

Pemimpin rombongan itu mengerutkan keningnya. Katanya kemudian, “Kau tidak usah turut campur. Ternyata orang-orang Singasari memang penghasut. Agaknya kaulah yang telah menghasut orang-orang ini untuk pergi ke Singasari.“

“Bertanyalah kepada mereka.”

“Kalian telah membicarakannya lebih dahulu.Tidak ada gunanya aku bertanya.”

“Baiklah. Kalau begitu memang tidak gunanya kita berbicara. Sekarang aku menyatakan diriku di pihak orang-orang yang sedang diburu. Nah, terserah kepadamu, apa yang akan kau lakukan.”

“Sekali lagi aku akan mencoba memperingatkan. Pertentangan antara Singasari dan Kediri agaknya memang menjadi semakin panas. Tetapi aku masih belum berkeinginan untuk berkelahi langsung dengan orang-orang Singasari.”

“Kalau begitu urungkan niatmu. Orang-orang ini mempunyai kebebasan untuk memilih. Menurut penilaian mereka, pemerintahan Kediri kurang berlaku bijaksana terhadap para pendeta.“

“Omong kosong. Kau jangan turut campur. Ini adalah persoalan Kediri, di daerah Kediri.”

“Siapa yang mengatakan kalau hutan ini berada di daerah Kediri?“ bertanya cantrik itu.

“Singasari, yang dahulu bernama Tumapel adalah wilayah Kediri. Tetapi orang yang sekarang menyebut dirinya Sri Rajasa telah memberontak.”

“Kenapa Kediri tidak mengambil tindakan apapun?”

“Kita memang tidak terlampau tergesa-gesa. Pada saatnya Singasari akan lenyap.”

Cantrik itu menggelengkan kepalanya.Katanya, “Singasari adalah suatu kerajaan yang bebas.Sama sekali tidak tunduk kepada negara mana-pun juga.“

“Persetan. Tetapi aku menuntut orang-orang ini. Mereka adalah buruanku. Siapa yang mengganggu, ia akan aku hancurkan seperti buruanku itu pula.”

Cantrik itu maju beberapa langkah lagi. Kini ia berdiri semakin dekat dengan orang Kediri yang dikejar-kejar itu.

“Ki Sanak,“ berkata pemimpin mereka, “sebaiknya Ki Sanak memang tidak mencampuri persoalan kami. Kita baru berkenalan di tempat ini, sehingga sebaiknya Ki Sanak tidak usah melibatkan diri dalam persoalan ini.”

“Tidak. Aku tidak dapat melihat kebebasan yang diperkosa oleh pemburu-pemburu keuntungan diri sendiri serupa itu. Siapapun Ki Sanak dan siapakah orang yang sedang berburu, sah atau tidak sah, aku terpaksa melibatkan diri.“

Pemimpin rombongan itu menarik nafas dalam-dalam.Tetapi ia sempat membuat penilaian atas kekuatan ke dua belah pihak. Dengan jujur pemimpin rombongan itu mengakui, bahwa kekuatan lawan agak lebih besar dari kekuatan mereka sendiri, meskipun cantrik itu ikut bersama mereka.

Tanpa sesadarnya pemimpin rombongan itu memandangi Mahisa Agni yang masih berdiri di tempatnya.

“Biarkan orang itu,“ berkata cantrik itu seolah-olah ia mencoba menjajagi pikiran pemimpin rombongan itu.“Ia berada di dalam tanggung jawabku. Aku harus mengantarkannya sampai ke tempat tujuan. Karena itu, sebaiknya ia memang tidak ikut campur.”

Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia tidak menyahut. Ia ingin melihat apa yang akan terjadi.

“Baiklah,“ berkata pemimpin dari orang-orang yang sedang memburu mangsanya itu. “Siapapun kalian dan apapun kalian, kami akan menangkap kalian.”

Dengan suatu isyarat, maka orang-orang itu-pun segera berloncatan dari punggung-punggung kuda mereka. Arena yang bersemak-semak. dan ditumbuhi pepohonan yang rapat, memang tidak menguntungkan untuk bertempur di atas punggung kuda. Sesaat kemudian mereka-pun telah memencar dan siap menyerang dari segala arah.

“Jangan lukai perempuan dan anak-anak,“ berkata pemimpin rombongan orang-orang yang sedang menyusul orang-orang Kediri itu, “terutama gadis-gadisnya.“

“Persetan,“ seseorang yang sudah siap melawan, menggeram. Ia mempunyai seorang gadis beserta isterinya di dalam rombongan perempuan dan anak-anak itu.

Lawannya tertawa, katanya, “Bukankah kami cukup berperikemanusiaan?”

Tidak seorang-pun yang menjawab. Setiap laki-laki di dalam rombongan itu ditambah seorang cantrik, sudah siap menghadapi lawan-lawan mereka. Enam orang, dua orang-orang tua dan seorang cantrik berhadapan dengan delapan orang pemburu manusia dan dua orang prajurit yang berpengalaman.

Setapak demi setapak para pemburu manusia itu-pun maju, sedangkan orang Kediri yang diburu itu-pun bersiaga pula menghadapi setiap kemungkinan yang akan segera terjadi. Senjata-senjata mereka dari ke dua belah pihak sudah siap di tangan masing-masing.

Mahisa Agni menyaksikan ke dua belah pihak dengan berdebar. Benturan senjata di antara mereka memang sudah tidak dapat dihindarkan lagi. Cantrik yang pergi bersamanya itu langsung telah melibatkan dirinya, karena orang-orang Kediri yang melarikan dirinya, pada umumnya adalah dari lingkungan keagamaan, keluarga dan orang-orang yang terdekat dari pendeta-pendeta yang tidak dapat menyesuaikan diri dengan keinginan Baginda Maharaja di Kediri.

Sejenak kemudian maka benturan itu-pun terjadilah. Orang-orang yang sedang berburu itu berloncatan sambil mengayunkan senjata mereka, sedang orang-orang yang diburunya, berusaha mempertahankan diri sekuat-kuat tenaga mereka.

Sejenak kemudian Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Ternyata cantrik yang pergi bersamanya itu memang mampu bermain dengan pedang pendeknya. Dengan tangkasnya ia berloncatan kian kemari, menyambar-nyambar seperti burung elang. Ialah yang dengan beraninya telah langsung membawa prajurit Kediri yang ada di antara lawan-lawannya. Dan ternyata bahwa ia memang mampu mengimbanginya. Bahkan kadang-kadang ia masih dapat membantu pemimpin rombongan yang harus bertempur melawan dua orang sekaligus.

Perempuan-perempuan dan anak-anak menjadi semakin erat berpelukan satu sama lain. Wajah-wajah mereka menjadi pucat dan darah mereka seakan-akan sudah tidak dapat mengalir lagi. Bahkan beberapa di antara mereka telah terduduk dengan lemahnya di atas rerumputan liar, seakan-akan kehilangan segenap tulang belulang.

Mahisa Agni masih berdiam diri di tempatnya. Tetapi ia menjadi semakin berdebar-debar ketika ia melihat dalam waktu yang singkat orang-orang yang sedang diburu itu sudah terdesak. Meskipun demikian mereka masih melawan dengan gigihnya, justru cantrik yang pergi bersamanya itulah yang seakan-akan merupakan puncak perlawanan dari rombongan itu.

Tiba-tiba, tanpa disangka-sangka, seorang dari mereka yang menyusul rombongan orang-orang Kediri itu meloncat meninggalkan gelanggang. Dengan cepatnya ia berlari ke arah Mahisa Agni. Sambil mengacungkan senjatanya ia berdiri dua langkah di hadapannya. Kemudian terdengar ia barteriak, “He, Ki Sanak yang datang dari Singasari. Aku minta kau menghentikan perlawananmu. Kalau tidak, maka orang yang menjadi tanggunganmu ini, entah siapa dia, akan aku habisi nyawanya.”

Oleh teriakan itu, perkelahian tiba-tiba terhenti sejenak. Mereka memandang dengan tegang salah seorang dari mereka yang menyusul rombongan orang-orang Kediri itu mengacungkan pedangnya beberapa jengkal kepada Mahisa Agni.

Cantrik, kawan seperjalanannya menjadi tegang sejenak. Ia mendapat perintah dari Kiai Bojong Santi menyampaikan orang itu kepada Witantra. Kalau terjadi sesuatu di perjalanan, maka yang pertama-tama dipersalahkan pasti dirinya.

Dalam termangu-mangu cantrik itu sama sekali tidak menjawab. Keringat yang dingin mengalir membasahi kening dan punggungnya.

“Aku minta, tinggalkan arena. Kalau tidak, orang ini aku bunuh meskipun ia tidak bersalah.”

Cantrik itu masih berdiri kaku di tempatnya.Kini ia berdiri di persimpangan jalan. Kalau ia meneruskan perlawanan, maka Mahisa Agni itu terancam. Tetapi kalau ia kemudian meninggalkan arena, maka orang-orang Kediri itu dalam waktu sejenak saja, pasti akan segera terbantai.

Dalam keragu-raguan itu ia mendengar pemimpin orang-orang Kediri yang sedang dikejar-kejar itu berkata, “Tinggalkan kami. Kami sudah siap menghadapi kemungkinan. Kami tidak ingin melihat kalian ke dalam persoalan kami. Lebih daripada itu ke dalam kesulitan yang tidak kalian kehendaki.”

Cantrik itu masih berdiri membeku.

“Cepat, ambil keputusan,“ berkata orang yang memburu mereka sambil mengacu-acukan ujung pedangnya ke dada Mahisa Agni, “jangan menunggu sampai kami kehilangan kesabaran.”

“Licik,“ teriak cantrik itu kemudian, “kalian tidak menghadapi tugasmu dengan jantan.”

Tetapi orang itu tertawa. Jawabnya, “Jangan banyak bicara. Kau berdua pergi, atau kau berdua akan mati di tempat ini.“

Dengan ragu-ragu cantrik itu masih menjawab, “Kalau kami sudah meninggalkan arena, kau pasti akan mempergunakan cara yang sama dengan mengancam perempuan dan anak-anak.”

“Apa pedulimu? Apapun yang akan terjadi, kau sudah tidak akan menyaksikan lagi.Karena itu, cepat, tinggalkan tempat ini.”

Cantrik itu benar-benar tidak dapat memilih. Yang manakah yang lebih baik. Bertempur terus, atau menyelamatkan Mahisa Agni.

Namun dalam pada itu terdengar Mahisa Agni berkata, “bertempurlah terus. Jangan hiraukan aku. Aku hanya seorang diri, sedang orang-orang Kediri itu berjumlah lebih dari limabelas kali lipat dari pada itu.”

“Diam,“ orang yang mengacukan senjatanya itu berteriak.Tetapi Mahisa Agni berkata terus, “selesaikan pekerjaan itu. Kalau kau menarik diri dari arena, maka sebentar saja, orang-orang yang berusaha menyebrang ke Singasari itu pasti akan binasa.”

Cantrik itu menjadi semakin ragu-ragu. Ia berdiri saja termangu-mangu tanpa dapat mengambil keputusan.

Kini seluruh perhatian di ke dua belah pihak ditujukan kepada Mahisa Agni. Ujung pedang yang mengarah ke dadanya menjadi bergetar oleh kemarahan yang meluap-luap di dada orang yang memeganginya.

“Sebenarnya aku tidak ingin bersungguh-sungguh,“ berkata orang itu, “tetapi sikapnya benar-benar membuat aku muak.”

Mahisa Agni tidak menyahut. Tetapi ketika ujung pedang itu maju mendekati dadanya, ia melangkah surut.

“Jangan,“ teriak cantrik itu, “akulah yang bertanggung jawab.“

Tetapi orang yang mengacukan pedangnya itu tertawa menyakitkan hati untuk melontarkan kemarahannya, “Persetan. Kalian terlampau lambat mematuhi perintahku.”

Sebuah desir yang tajam menyambar jantung cantrik itu. Sejenak ia seakan-akan membeku di tempatnya. Sedang orang yang mengancam Mahisa Agni itu maju semakin mendekat.

“Hentikan! Hentikan!”

Tetapi orang itu menggeleng, “Aku bunuh orang ini.”

“Jangan curang,“ yang kemudian berteriak justru pemimpin rombongan orang-orang Kediri yang sedang dikejar-kejar itu. “Tidak ada gunanya kalian membunuhnya. Kepalanya tidak kau tukarkan dengan keping-keping uang.”

“Persetan, aku tidak memerlukan uang terlampau banyak.Kepala-kepala kalian sudah cukup. Tetapi aku ingin mendapat kepuasan atas kegilaan orang Singasari ini.”

Cantrik yang bersama Mahisa Agni itu-pun hampir saja meloncat menyerbu. Tetapi beberapa orang bersama-sama menghalanginya dengan senjata teracung pula.

“Gila, gila, gila.“ ia berteriak.

Tetapi suaranya yang parau itu sama sekali sudah tidak dihiraukannya lagi. Agaknya orang Kediri yang mengancam Mahisa Agni itu sudah benar-benar kehilangan kesabaran, sehingga ia sama sekali sudah tidak berminat untuk melepaskannya lagi.

Cantrik padepokan Panji Bojong Santi itu memejamkan matanya ketika ia melihat orang Kediri itu mengayunkan pedangnya. Ia sendiri sudah tidak mempunyai kesempatan untuk mencegahnya, karena tiga orang lawannya masih berjajar di hadapannya dengan senjata siap untuk membelah dadanya.

Tetapi cantrik itu hanya memejamkan matanya sekejap. Ketika ia membuka matanya perlahan-lahan, ia mengerutkan keningnya, kemudian mengejapkan matanya berkali-kali. Ia masih melihat Mahisa Agni melangkah surut. Sedang orang Kediri itu masih saja memegang senjatanya sambil melangkahkan maju.

Sekali lagi cantrik itu melihat orang Kediri itu mengayunkan pedangnya. Deras sekali. Dan sekali lagi matanya setengah terpejam. Tetapi kini ia melihat samar-samar apa yang telah terjadi. Ayunan pedang orang Kediri itu sama sekali tidak menyentuh tubuh Mahisa Agni, meskipun tampaknya ia tidak menghindar.

Kini cantrik itu memandangnya dengan mulut ternganga.Ia hanya melihat Mahisa Agni seakan-akan menggeliat.Tetapi ia sudah bebas dari serangan lawan yang menggetarkan itu.

Lawannya dengan demikian menjadi semakin marah, tetapi juga semakin bernafsu. Senjatanya kemudian terayun-ayun tidak menentu. Tetapi ia masih tetap tidak berhasil mengenai Mahisa Agni. Mahisa Agni-pun kemudian berputar beberapa langkah, dan tiba-tiba saja serangan itu terhenti. Semua mata memandang kedua orang itu dengan tanpa berkedip. Bahkan ada di antara mereka yang tidak percaya kepada matanya sendiri.

Tetapi akhirnya mereka benar-benar harus melihat kenyataan itu. Pedang itu telah beralih tangan. Kini Mahisa Agni lah yang bersenjata.

Seperti lawannya, maka kini Mahisa Agni lah yang mengacukan pedangnya ke arah dada. Tetapi Mahisa Agni tidak mengayun-ayunkan pedang itu membabi buta.

Hal itu benar-benar tidak dapat dimengerti oleh orang-orang Kediri dan bahkan oleh cantrik kawan seperjalanannya. Sejenak mereka tercengang, seakan-akan terpukau menyaksikan suatu keajaiban.

“Sekarang bagaimana? “ terdengar suara Mahisa Agni.

Lawannya berdiri tegak seperti patung. Ialah orang yang paling tidak mengerti menghadapi keadaan itu. Tiba-tiba saja ia merasa pergelangan tangannya seakan-akan patah. Kemudian dalam sekejap, senjatanya telah berpindah tangan.

“Apa orang ini mempunyai ilmu hantu atau iblis,“ desisnya di dalam hati.

“Pertimbangkan baik-baik,“ berkata Mahisa Agni, “kalian tetap akan menangkap buruan kalian atau tidak?”

Sejenak tidak seorang-pun yang menyahut. Namun kemudian pemimpin rombongan orang-orang yang sedang berburu itu menjawab, “Persetan dengan permainan sihirmu. Kami tetap dalam pendirian kami, orang-orang ini harus kami kuasai.”

“Aku tidak sedang bermain sihir,“ sahut Mahisa Agni, kemudian, “lihat, aku tidak menyihirnya.“ kedua tangannya-pun kemudian bergerak. Yang satu menggenggam tangkai pedang yang dirampasnya itu, yang lain pada daunnya. Sejenak kemudian pedang itu-pun patah menjadi dua.”

Sekali lagi mereka yang menyaksikan hal itu menjadi berdebar-debar. Namun ternyata bahwa kedua orang prajurit yang menyertai rombongan orang-orang yang menyusul itu-pun bukan penakut yang mudah menjadi putus-asa.

“Persetan. Persetan. Ayo, kita binasakan dahulu orang itu.”

Kedua orang prajurit itu-pun kemudian bersama-sama menyerbu Mahisa Agni. Senjata-senjata mereka berputaran seperti baling-aling. Sedang orang yang telah kehilangan pedangnya itu-pun melangkah surut beberapa langkah.

Cantrik kawan seperjalanan Mahisa Agni. dan seluruh rombongan orang-orang Kediri yang lain seakan-akan sadar pula dari mimpi mereka. Dengan serta-merta mereka-pun menyiapkan diri, dan menyerang lawan-lawan mereka yang paling dekat.

Perkelahian-pun berkobar kembali. Tetapi kini keadaan menjadi jauh berbeda. Karena kedua prajurit Kediri bersama-sama berkelahi melawan Mahisa Agni, maka kawan-kawannya yang lain tidak segera dapat menguasai lawannya.

Tetapi perkelahian itu-pun tidak berlangsung lama. Mahisa Agni yang kemudian bersenjatakan pedang yang telah patah, dalam waktu yang singkat telah berhasil melemparkan senjata kedua prajurit yang mengeroyoknya. Bahkan, dengan sentuhan tangan kirinya, seorang dari mereka terpelanting jatuh meskipun segera berhasil bangkit kembali.

“Nah, apa katamu?“ bertanya Mahisa Agni, “apakah kalian masih akan berkelahi terus?”

Sekali lagi pertempuran itu terhenti. Orang-orang yang sedang memburu mangsanya itu-pun menjadi berdebar-debar. Kini mereka melihat suatu kenyataan, bahwa orang yang dianggapnya tidak mampu untuk ikut di dalam perkelahian. bahkan yang akan dijadikan tanggungan oleh orang-orang yang sedang mengejar mereka yang menyingkir dari Kediri itu, ternyata seorang yang mempunyai kemampuan yang tidak pernah mereka bayangkan. Kini agaknya orang itulah yang akan menentukan akhir dari perkelahian itu.

“Kalian dapat memilih,“ berkata Mahisa Agni selanjutnya, “bertempur terus, dengan akibat yang paling parah bagi kalian, atau kalian mengurungkan niat kalian dan melepaskan orang-orang yang sedang mencari dunianya yang paling sesuai bagi dirinya.”

“Tetapi itu suatu pengkhianatan,“ potong salah seorang prajurit itu.

“Memang dalam keadaan yang wajar, tindakan mereka tidak dapat dibenarkan,“ berkata Mahisa Agni, “tetapi Kediri kini menghadapi masa darurat.Tindakan Baginda terlampau menyinggung perasaan para pendeta dan olah tapa . Itulah yang telah memaksa mereka memilih antara dua kerajaan yang bertentangan.”

“Singasari ikut dalam kesalahan ini,“ jawab prajurit itu pula, “kalau Singasari tidak menampung mereka, maka mereka tidak akan berbuat demikian.“

“Singasari memandangnya dari segi lain. Singasari mengerti kesulitan para pendeta dan olah tapa itu. Karena itulah maka Singasari dapat menerima mereka.”

“Omong kosong. Justru Singasari lah yang menghasut rakyat Kediri, karena Singasari sendiri sudah siap untuk memberontak.”

Mahisa Agni mengerutkan keningnya. Sekilas terbayang wajah Ken Arok yang tegang, duduk di atas Singgasana didampingi oleh kedua isterinya. Ken Dedes duduk sambil menundukkan kepalanya, dan Ken Umang yang menengadahkan wajahnya sambil tersenyum asam.

Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Namun ia berkata di dalam hatinya, “Aku tidak dapat mencampur baurkan persoalan-persoalan pribadi dengan persoalan yang jauh lebih besar.”

“Ki Sanak,“ berkata Mahisa Agni kemudian, “memang pandangan kita sukar diketemukan. Kau orang Kediri dan aku adalah orang Singasari. Karena itu, maka marilah kita bicarakan saja apa yang kita hadapi sekarang. Aku minta kau lepaskan orang-orang itu memilih jalannya sendiri.“Kedua prajurit itu menggeram. Tetapi mereka sudah tidak bersenjata lagi. Mereka tidak akan mampu melakukan perlawanan terhadap Mahisa Agni. Selagi mereka masih bersenjata, mereka tidak dapat mengalahkannya, apalagi kini.

“Jangan memaksa kami berbuat terlampau jauh,“ berkata Mahisa Agni.

Pemimpin rombongan orang-orang yang meyusul orang-orang Kediri yang menyingkir itu-pun menjadi ragu-ragu.

Dalam pada itu, orang-orang yang merasa dirinya dikejar-kejar itu-pun hampir serentak berteriak, “Binasakan mereka.Jangan biarkan mereka lolos. Mereka pasti akan membantai pula lain kali.”

“Bunuh mereka, bunuh mereka,“ teriak yang lain.

Orang-orang yang mengejar orang-orang Kediri yang melarikan diri itu kini berada dalam keadaan sebaliknya. Kini merekalah yang merasa diri mereka diburu oleh orang-orang itu. Sedangkan mereka sama sekali tidak akan dapat mengingkari kenyataan, bahwa mereka pasti tidak akan dapat melawan. Orang yang mematahkan pedang itu mampu berkelahi seperti hantu, sehingga kedua prajurit yang bertempur bersama itu-pun tidak mampu berbuat apa-apa menghadapinya, meskipun ia hanya bersenjatakan sebilah pedang yang telah dipatahkannya sendiri.

Tetapi untuk membiarkan diri mereka dibunuh, mereka sama sekali tidak akan rela.

Karena itu, sejenak mereka dicengkam oleh ketegangan. Mereka menunggu, apakah yang akan terjadi selanjutnya.

Namun dalam pada itu terdengar Mahisa Agni berkata, “Biarlah mereka pergi. Kita baru menjumpai mereka untuk pertama kali. Tetapi apabila kita menjumpainya di lain kali dalam tindakan yang serupa, maka kita tidak akan memaafkannya.”

“Tidak. Jangan dilepaskan,“ teriak salah seorang.

Mahisa Agni mengerutkan keningnya. Ketika terpandang olehnya wajah cantrik yang keheran-heranan dan bahkan kebingungan, ia bertanya, “Bagaimana pendapatmu?”

Cantrik itu terperanjat. Dalam kebingungan ia menjawab, “Terserah kepadamu.”

“Nah,“ berkata Mahisa Agni, “begitulah pendapatku. Biarlah kali ini menjadi peringatan bagi mereka. Peringatan terakhir.”

“Tetapi yang mereka lakukan kali ini bukan yang pertama,“ berkata pemimpin rombongan orang-orang Kediri yang sedang menyingkir itu.

“Kita tidak dapat dengan mutlak menyalahkan mereka. Yang mereka lakukan telah dibenarkan oleh pimpinan pemerintahan Kediri, sehingga dengan demikian, sebagian dari kesalahan dan tanggung jawab mereka atas perbuatan ini telah diambil oleh pimpinan pemerintahan.“

“Jika demikian, maka tindakan-akan mereka yang akan datang-pun salah mereka.”

“Kami telah memberikan pertimbangan sebagai peringatan terakhir,“ jawab Mahisa Agni, “Karena itulah, maka untuk yang bakal terjadi, pertimbangan kita akan lain.”

Sejenak orang-orang itu terdiam. Tetapi mereka sadar, bahwa apabila orang itu tidak ikut campur dalam persoalan ini, mereka pasti akan berhasil dibinasakan oleh pemburu-pemburu itu. Karena itu, maka akhirnya pemimpin rombongan itu berkata, “Baiklah. Kami serahkan keputusan kepadamu. Apa yang baik menurut pertimbangan Ki Sanak, akan baik pula untuk kami.Tetapi perlu kami peringatkan, bahwa kami masih akan menempuh perjalanan sampai kami memasuki tlatah Singasari. Kami masih belum tahu apakah yang bakal terjadi di perjalanan kami. Kalau orang-orang yang dilepaskan ini, mencari jalan lain, dan mencegat kami selagi kami sudah tidak bersama-sama dengan kalian, maka nasib kamilah yang menjadi terlampau jelek.”

Mahisa Agni mengerutkan keningnya. Ia dapat mengerti kekhawatiran orang-orang yang sedang berusaha menyingkir dari Kediri itu.Karena itu, bagaimana-pun juga Mahisa Agni ingin segera bertemu dengan Witantra, namun ia berkata, “Baiklah. Kami akan mengawani kalian sampai ke perbatasan. Sampai kalian keluar dari hutan ini dan berada di lingkungan tlatah Singasari. Kalian akan segera menjumpai pusat penjagaan yang akan dapat menampung kalian.”

Pemimpin rombongan itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Kalau demikian, aku akan mengucapkan diperbanyak terima kasih. Aku tidak berkeberatan, apapun yang akan kalian putuskan atas orang-orang yang memburu kami ini.”

“Biarlah mereka kembali,“ berkata Mahisa Agni, “mereka akan membawa pengalamannya. Tidak seharusnya mereka berburu manusia. Mengejar harta benda yang dibawanya, dan harga kepalanya.”

Mereka yang mengejar orang-orang Kediri itu sama sekali tidak menyahut. Mereka berdiam diri sambil berdiri tegang di tempatnya.

“Nah. kembalilah ke Kediri,“ berkata Mahisa Agni, “belajarlah menghargai kebebasan seseorang. Kalau kediri tidak bertindak berlebih-lebihan, aku kira tidak akan ada arus manusia yang mengalir ke Singasari.”

Tidak seorang-pun yang menjawab. Tetapi tidak semua orang di antara mereka yang dapat mengerti keterangan Mahisa Agni. Ada di antara mereka yang sama sekali terbungkam. Tetapi gejolak di dalam dadanya menyalakan dendam tiada taranya.

Terasa dada mereka membara ketika mereka mendengar Mahisa Agni berkata, “Ki Sanak yang akan melanjutkan perjalanan ke Singasari, silahkan segera berkemas. Waktuku tidak terlampau banyak.”

Seperti tergugah dari cengkaman mimpi yang dahsyat, mereka-pun segera mengemasi barang-barang mereka. Orang-orang yang semula menggenggam senjatanya, sebagian telah menyarungkan senjata itu, dan membantu mengatur barang-barang mereka. Tetapi mereka sama sekali tidak lengah. Di antara mereka masih juga ada yang menggenggam senjata telanjang di tangan.

Mahisa Agni dan cantrik kawan seperjalanannya telah berdiri di antara orang-orang yang akan pergi ke Singasari itu. Mahisa Agni yang mempunyai penglihatan yang tajam bukan saja penglihatan lahiriah, masih melihat beberapa orang yang tidak ikhlas melepaskan buruannya.Namun demikian beberapa orang yang lain perlahan-lahan mulai menilai diri mereka sendiri. Mereka mulai melihat tujuan orang-orang yang menyeberang ke Singasari. Memang orang-orang yang menyingkir dari Kediri ke Singasari. bukanlah jalan yang paling baik. Tetapi mereka tidak dapat memilih. Mereka tidak dapat berbuat lain daripada menyingkir karena keselamatan dan kebebasan mereka terancam.

Namun tidak dapat dipungkiri, bahwa Sri Rajasa dari Singasari memang berusaha memanfaatkan keadaan. Dibentuknya kelompok-kelompok yang diserahi tugas menampung orang-orang Kediri, dan bahkan agak memanjakannya, sehingga apabila berita tentang orang-orang Kediri itu menggema kembali ke daerah asal mereka maka hal itu akan merupakan rangsang bagi yang masih tinggal untuk pergi ke Singasari. Namun dengan demikian, Ken Arok telah mematangkan kadaan. Pasukannya telah tersebar di segala penjuru. Bukan sekedar mengawasi penampungan orang-orang Singasari, tetapi mereka siap mengalir masuk ke daerah Kediri, seperti air yang tertampung oleh bendungan yang hampir pecah.

Sementara itu. orang-orang yang akan pergi ke Singasari itu telah siap untuk berangkat. Karena itu maka Mahisa Agni berkata sekali lagi kepada orang yang mengejar mereka, yang masih membeku di tempatnya, “Kenapa kalian masih berada di sini? Pergilah, dan jangan kau coba untuk berbuat seperti kali ini. Kalau aku melihat kalian sekali lagi berburu manusia, maka aku tidak akan dapat memaafkan kalian sekali lagi.”

“Beberapa pasang mata seakan-akan membara karenanya. Tetapi beberapa pasang yang lain menjadi suram.“

“Cepat, pergilah,“ bentak cantrik kawan Mahisa Agni.

Pemimpin rombongan orang-orang itu-pun mengerutkan keningnya. Ditatapnya cantrik yang bersenjata pedang pendek itu tajam-tajam. Namun cantrik itu maju beberapa langkah, “Kenapa kau memandang aku seperti itu?”

Pemimpin itu tidak menjawab. Tetapi dipalingkannya wajahnya kepada orang-orangnya, “Marilah kita kembali.”

Orang-orang itu-pun kemudian melangkah perlahan-lahan ke kuda masing-masing. Tetapi masih juga ada di antara mereka yang berpaling. Sorot matanya memancarkan dendam yang tersimpan di dalam hati. kekecewaan dan kegelisahan bercampur baur.

“He kenapa berpaling?“ bertanya cantrik itu.

Tetapi seorang yang berbulu lebat di dadanya justru berhenti.Orang yang kasar itu tidak dapat menahan hatinya mendengar bentakan-akan yang menyakitkan hati.

Namun cantrik itu-pun benar-benar seorang yang cepat digulat oleh perasaannya. Tiba-tiba saja ia memburunya sambil berkata, “Kau masih akan melawan?“

Orang itu tidak menjawab.

“Baik.Baik. Mari kita selesaikan masalah ini.Aku tidak ingin berbuat licik. Kau dan aku. Lepas dari semua persoalan yang pernah terjadi.”

Orang itu ragu-ragu sejenak. Ternyata cantrik itu bukan orang kebanyakan pula. Ia sudah menyaksikan bagaimana ia bertempur dengan pedang pendeknya.

Namun sebelum orang berbulu lebat itu mengambil keputusan, pemimpinnya sudah mendahuluinya, “Kita tinggalkan neraka ini.”

Orang berbulu lebat itu menarik nafas dalam-dalam. Kemudian ia berbalik dan berjalan ke kudanya. Sejenak kemudian orang itu telah meloncat seorang demi seorang, kemudian berpacu meninggalkan mangsa yang lepas dari mulutnya karena kebetulan sekali ada seseorang yang bernama Mahisa Agni bersama seorang cantrik di antara mereka.

Sesaat mereka yang tinggal menyaksikan debu yang putih mengepul dari kaki-kaki kuda yang berlari kencang itu. Namun sejenak kemudian mereka menyadari keadaan mereka sendiri. Dengan demikian mereka menjadi semakin sibuk mengemasi barang-barang masing-masing.

Tanpa sesadarnya Mahisa Agni selalu memeperhatikan gadis yang dengan tergesa-gesa menyiapkan beberapa barang-barangnya. Bahkan seperti tergerak oleh tenaga yang tidak dimengertinya Mahisa Agni-pun mendekatinya dan perlahan-lahan ia berkata, “Apakah aku dapat membantu?”

“O,“ sepercik warna merah membayang di wajah gadis itu.Sambil tersipu-sipu ia berkata, “sudah selesai.”

“Tetapi, siapakah yang akan membawa barang-barang itu nanti?”

“Ayah,“ berkata gadis itu.

Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya. Tiba-tiba ia sadar, bahwa gadis itu pasti tidak hanya seorang diri. Ia berjalan di antara rombongan itu bersama ayahnya dan bahkan mungkin ia sama sekali bukan seorang gadis. Tetapi di antara laki-laki itu terdapat suaminya.

Tetapi sebelum Mahisa Agni bertanya lebih lanjut, seorang laki-laki, yang justru sudah terlampau tua, mendekatinya sambil berkata, “Aku akan membawa barang-barangnya selebihnya yang dapat dibawanya sendiri.”

“O,“ Mahisa Agni mengangguk-angguk. Tetapi orang itu-pun telah terlalu tua untuk membawa barang-barang yang meskipun tidak terlampau banyak.

Namun Mahisa Agni tidak bertanya lebih jauh. Dibiarkannya gadis itu, dan juga orang-orang lain menyelesaikan pekerjaan masing-masing.Kemudian pemimpin rombongan itu-pun berkata, “Kita sudah selesai. Marilah kita meneruskan perjalanan.”

Beberapa orang di dalam rombongan itu segera mengangkat barang masing-masing. Ada di antara mereka yang membawa seekor kuda untuk membawa beban masing-masing. Tetapi laki-laki tua itu membawa barang-barangnya di atas pundaknya. Sebagian dari barang-barangnya telah dibawa pula gadis yang menyebut dirinya anaknya.

Tetapi agaknya barang-barang itu terlampau berat bagi mereka berdua. Sedang orang-orang lain telah sibuk dengan milik mereka sendiri-sendiri.

“Apakah kau berdua bersama ayahmu membawa barang-barang itu dari Kediri?“ bertanya Mahisa Agni.

Gadis itu mengangguk.

“Kudaku dapat membantu,“ berkata Mahisa Agni kemudian.

Gadis itu tidak menjawab. Tetapi ditatapnya mata ayahnya yang redup.

Sejenak laki-laki tua itu berpikir. Kemudian katanya, “Apakah dengan demikian kami tidak mengganggu Ki Sanak?”

Mahisa Agni menggeleng, “Tidak. Aku akan berjalan bersama dengan kalian.”

“Terima kasih,“ berkata orang tua itu. yang kemudian meletakkan beberapa potong barang-barangnya dan barang-barang yang dibawa oleh gadisnya di atas punggung kuda Mahisa Agni.

Ketika semuanya sudah mulai melangkahkan kakinya, maka kedua ayah beranak itu-pun berjalan pula. Tetapi kini mereka sudah tidak diberati lagi oleh barang-barangnya yang sebagian sudah mereka letakkan di atas punggung kuda Mahisa Agni.

“Siapa yang akan menitipkan barang-barang kepadaku,“ cantrik itu berdesis di telinga Mahisa Agni.

Mahisa Agni berpaling. Dilihatnya wajah cantrik yang lucu itu sedang tersenyum. Bahkan kemudian ia berbisik, “Barang-barangnya sudah dititipkan kepadamu. Biarlah pemiliknya naik di atas punggung kudaku. Kalau ia tidak berani seorang diri, aku dapat menjagainya di belakangnya.”

“Sst,“ Mahisa Agni berdesis, dan cantrik itu tersenyum semakin lebar.

Sambil berjalan maka Mahisa Agni, cantrik yang bersamanya dan laki-laki tua itu tidak berhenti-hentinya bercakap-cakap. Sedang anak gadisnya kemudian berjalan di depan bersama perempuan-perempuan yang lain.

“Ia bukan anakku,“ berkata laki-laki tua itu tiba-tiba. Mahisa Agni mengerutkan keningnya. Tanpa dikehendakinya sendiri ia bertanya, “Jadi, apakah hubungan kalian?”

“Ia sebenarnya adalah cucuku.”

“O,“ Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Ayahnya meninggal selagi ia berada di dalam kandungan karena penyakit yang tidak kami ketahui. Ketika ia berumur tiga tahun, ibunya meninggal pula.”

“Yatim piatu,“ desis Mahisa Agni.

Dan tiba-tiba cantrik itu memotong, “Suaminya?”

Orang tua itu mengerutkan keningnya.“Memang ia terlambat kawin. Tetapi ia masih gadis.”

“O,“ cantrik itu mengerutkan keningnya, “tentu belum terlambat. Berapakah umurnya?”

“Aku tidak tahu pasti. Ia lahir ketika ada gempa yang besar menimpa Kediri. Pada saat tanah-tanah bengkah dan gunung-gunug runtuh. Hujan angin seperti dicurahkan dari langit.”

Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya. “Kira-kira duapuluh tahun yang lampau.”

“Ya, begitulah,“ sahut orang tua itu. Kemudian suaranya menurun, “karena itulah terlambat kawin. Kawan-kawannya yang berumur tujuh belas tahun sudah dipinang orang.”

Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Bahkan yang berumur limabelas tahun,“ orang tua itu meneruskan. Kemudian, “Sebenarnya anak itu juga sudah dipinang orang. Ia hampir kawin tiga tahun yang lampau. Tetapi yang melukai hati anak itu, calon suaminya mati terbunuh.”

“O,“ Mahisa Agni dan cantrik itu terperanjat.

“Kenapa?”

“Itulah yang menyakiti hatinya. Ternyata calon suaminya adalah seorang perampok,“ jawab orang tua itu, “tidak seorang-pun dari orang sepadepokan kami yang mengetahuinya. Karena itu lamarannya-pun aku terima. Gadis itu-pun telah tidak menolak lagi. Namun berita itu akhirnya sampai pada kami. Laki-laki itu adalah seorang perampok yang sangat dibenci.”

Mahisa Agni dan cantrik kawan seperjalanannya itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Sekilas mereka memandang punggung gadis yang berjalan beberapa langkah di depan mereka. Tetapi mereka sama sekali tidak mendapat kesan apapun juga.

“Kasihan,“ desis Mahisa Agni di dalam hatinya.

Dan orang tua itu berkata seterusnya, “Tetapi aku kira lebih baik demikian daripada perkawinan itu sudah berlangsung. Cucuku akan menjadi seorang isteri perampok yang dikutuk orang, meskipun orang-orang di sekitarnya tidak mengetahuinya.“ orang tua itu berhenti sejenak, lalu, “Sekarang ia bebas, meskipun hatinya luka.”

Mahisa Agni hanya mengangguk-anggukkan kepalanya, tetapi ia tidak menyahut.

Demikianlah perjalanan mereka itu-pun semakin lama menjadi semakin dekat dengan perbatasan hutan dan langsung masuk ke tlatah Singasari. Mahisa Agni sempat mengantarkan mereka sampai ke tempat yang dianggapnya cukup aman. Mereka tidak akan terganggu lagi oleh orang-orang yang mengejarnya.

“Sekarang aku akan meneruskan perjalananku lagi,“ berkata Mahisa Agni kepada pemimpin rombongan itu.

“Terima kasih,“ jawabnya, “aku sudah mengganggu perjalananmu. Apakah kau akan pergi ke Kediri?”

“Tidak,“ jawab Mahisa Agni, “aku akan pergi ke daerah yang tidak bertuan. Daerah yang jauh tersembunyi di dalam hutan. Yang tidak dijangkau oleh kekuasaan baik Kediri mau-pun Singasari.”

“Daerah manakah itu?”

“Daerah yang tidak bernama.“

Pemimpin rombongan itu mengangguk-anggukkan kepalanya.Sedang orang tua kakek gadis itu berkata, “Kami sangat berterima kasih akan kebaikanmu.”

“Adalah sewajarnya, bahwa kita harus saling membantu,“ Mahisa Agni menyahut, kemudian, “kalau kelak aku kembali, aku akan mencari kalian. Berpesanlah kepada para petugas, di mana kalian akan menetap.”

“Ya, ya. Kami akan menunggu.”

Mahisa Agni dan cantrik kawan seperjalanannya itu-pun kemudian minta diri, melanjutkan perjalanan mereka pergi ke rumah Witantra. Mereka telah kehilangan waktu. Mereka telah menempuh jarak rangkap, karena mereka harus kembali lagi mengantarkan para pengungsi dari Kediri itu.

“Kau akan mencarinya kelak?“ bertanya cantrik kawan seperjalanannya itu.

Mahisa Agni mengangguk tanpa sesadarnya.

“Kenapa?”

Mahisa Agni mengerutkan keningnya. Ia sendiri tidak mengerti kenapa?

“Kenapa?“ cantrik itu mendesak.

“Tidak apa-apa. Hanya sekedar ingin tahu, apakah mereka sudah mendapat tempat yang wajar.”

Cantrik itu tidak menyahut, tetapi ia tertawa.

“Kenapa kau tertawa?“ bertanya Mahisa Agni.

“Tidak apa-apa”

Mahisa Agni mengerutkan keningnya. Tetapi ia-pun kemudian berdiam diri.

Sejenak mereka tidak saling berbicara. Kuda mereka telah memasuki semakin dalam jalan setapak di tengah-tengah hutan yang sepi. Tetapi kini matahari telah condong semakin rendah di Barat.

Dan tiba-tiba cantrik itu berkata, “Kita akan kemalaman di jalan.”

“Kita jalan terus,“ berkata Mahisa Agni.

“Berbahaya. Dan aku tidak akan dapat mengenal jalan di malam hari.Kuda-kuda kita juga perlu beristirahat.”

“Jadi?“ bertanya Mahisa Agni.

“Kita bermalam di jalan.”

Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya. “Baiklah. Kita akan bermalam di jalan.”

Karena itu, sebelum hutan itu menjadi gelap, mereka-pun segera mencari tempat untuk bermalam. Ketika mereka sudah menemukannya, maka mereka-pun segera mengikat kuda-kuda mereka dan mencari ranting dan dahan-dahan kering.

“Kita membuat perapian,“ berkata cantrik itu.

Mahisa Agni menganggukkan kepalanya.

“Aku membawa pondoh jagung. Apakah kau tidak lapar?”

Mahisa Agni mengerutkan keningnya.Namun kemudian ia menjawab. “Tentu.”

“Tentu apa?”

“Tentu lapar.”

Keduanya-pun kemudian makan pondoh jagung sambil duduk di dekat perapian. Malam yang gelap turun menyelubungi hutan yang menjadi sangat pekat, seakan-akan mata mereka tidak mampu lagi menembus jarak selangkah-pun. Namun cahaya api yang merah, telah menembus beberapa puluh langkah di seputar kedua orang yang duduk sambil berkerudung kain panjang mereka.

Tiba-tiba saja cantrik itu bertanya, “Siapakah sebenarnya kau?”

Mahisa Agni mengerutkan keningnya, “Apakah Panji Bojong Santi tidak mengatakannya.”

“Panji Bojong Santi hanya mengatakan, agar aku mengantarmu ke tempat Witantra. Tetapi Panji Bojong Santi tidak mengatakan kepadaku, siapakah kau sebenarnya.”

“Tidak ada yang aneh. Namaku Mahisa Agni. Itu sudah cukup bagimu.”

“Tetapi kau ternyata memiliki kemampuan yang tidak aku duga. Aku kira kau adalah barang titipan, yang harus aku serahkan kepada Witantra.“ cantrik itu menelan ludahnya, kemudian, “ternyata aku tidak lebih dari seorang penunjuk jalan.”

Mahisa Agni tersenyum. Katanya, “Jangan hiraukan lagi. Sekarang kita bergantian tidur. Kau dulu, atau aku?“

“Tidurlah, aku belum mengantuk,“ jawab cantrik itu.

Mahisa Agni-pun kemudian bersandar pada sebatang pohon. Ia mencoba untuk tidur barang sejenak.

Tetapi belum tengah malam Mahisa Agni sudah terbangun. Terasa punggungnya amat lelah. Perlahan-lahan ia berdiri sambil menggeliat. Dilihatnya cantrik kawan seperjalanannya masih duduk terkantuk-kantuk di pinggir perapian. Dengan sebatang dahan ia mempermainkan bara yang merah kekuning-kuningan.

“Apakah kau belum mengantuk,“ bertanya Mahisa Agni.

Cantrik itu berpaling sambil menjawab, “Sudah.“

Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya, “Tidurlah. Biarlah aku yang jaga.”

Cantrik itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi ia tidak bersandar sebatang pohon seperti Mahisa Agni. Dengan serta-merta ia berbaring di atas rerumputan liar yang layu oleh panasnya api di perapian.

Mahisa Agni mengerutkan keningnya. Tetapi ia tidak berkata sepatah kata-pun. Dibiarkannya saja cantrik itu kemudian jatuh tertidur. Baru ketika fajar menyingsing, ia membuka matanya dan bertanya, “Apakah yang kemerah-merahan itu cahaya fajar?”

“Ya,“ jawab Mahisa Agni.

“Jadi aku tidur sampai pagi?”

“Ya.”

“Kenapa aku tidak kau bangunkan?”

“Apakah kau memerlukan sesuatu?”

“Tidak, maksudku, kau duduk sampai semalam suntuk.”

“Aku sudah tidur lebih dahulu.“ –

Cantrik itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian ia-pun bangkit dan membenahi pakaiannya. dikibas-kibaskannya kain panjangnya, dan dibetulkannya letak ikat pinggangnya.

“Kau berjaga-jaga semalaman. Kau tentu lelah.“

Mahisa Agni tersenyum. “Sudahlah,“ katanya, “marilah kita berkemas. Kita sudah kehilangan waktu sehari.Aku ingin segera bertemu dengan Witantra.“

“Baiklah,“ sahut cantrik itu.Perlahan-lahan ia-pun pergi ke kudanya yang terikat. Membenahi kelengkapannya pula sambil berkata, “Kita perlu air.”

“Di sepanjang jalan nanti kita akan bertemu dengan air.”

Cantrik itu mengerutkan keningnya. “Baiklah.Aku kira kuda-kuda ini-pun sudah haus.“

Sejenak kemudian, ketika mereka sudah selesai berkemas, maka mereka-pun segera berangkat melanjutkan perjalanan. Beberapa puluh langkah kemudian mereka menemukan sumber yang bening memancar dari bawah sebatang pohon preh yang besar.

Setelah mencuci muka, memberi minum kuda-kuda mereka, maka keduanya-pun segera berpacu menuju ke rumah Witantra. Suatu pedukuhan baru yang belum banyak dikenal orang. Mereka masih harus menyusup jalan yang sulit, di antara tetumbuhan hutan yang cukup rapat, meskipun bukan sebuah belukar yang pepat.

“Kau masih ingat jalan ke padukuhan itu?“ bertanya Mahisa Agni.

“Tentu. Aku masih ingat.”

Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Masih jauh?“ ia bertanya.

Cantrik itu menggeleng, “Tidak terlampau jauh. Sebelum tengah hari kita akan sampai ke daerah yang lebih baik. Kemudian kita akan segera sampai. Lewat sedikit tengah hari.”

Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Mahendra pernah tinggal bersama Witantra beberapa saat.”

Sekali lagi Mahisa Agni mengangguk. Tiba-tiba saja cantrik itu bertanya, “Apa sebenarnya kepentinganmu dengan Witantra?”

Mahisa Agni menggelengkan kepalanya, “Tidak apa-apa.”

Cantrik itu menarik nafas. Tentu ia tidak percaya bahwa seseorang menempuh jalan sejauh itu tanpa suatu keperluan yang penting. Tetapi cantrik itu mengerti, bahwa Mahisa Agni tidak ingin mengatakan kepentingannya kepadanya, sehingga karena itu, maka ia-pun tidak bertanya lagi.

Sejenak mereka menyelusur jalan di hutan yang tidak terlampau lebat itu sambil berdiam diri. Sekali-sekali Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam untuk menenteramkan hatinya yang mulai berdebar-debar. Ia menjadi ragu-ragu, apakah Witantra dapat menanggapi kedatangannya dengan sikap yang lebih dewasa. Kalau dendam atas kematian adik seperguruannya dan kekalahannya itu masih tetap menyala di hatinya, maka ia akan menghadapi keadaan yang sulit. Dalam keadaan yang sewajarnya, mungkin ia tidak akan gentar menghadapinya. Bahkan ia masih dapat percaya kepada dirinya sendiri bahwa Witantra betapa jauh jangkaunya namun ia tidak akan dapat mengalahkannya dengan mudah. Kalau Witantra berhasil mempelajari ilmunya hampir sempurna, seperti gurunya Panji Bojong Santi. maka ia sudah berhasil mencapainya lebih dahulu.

Bahkan selama ini ia masih juga sempat merenungi ilmunya, sehingga ilmu itu menjadi kian matang. Ilmu yang didasari oleh perguruan Empu Purwa, ditambah dengan luluhnya ilmu Empu Sada dan penemuannya sesudah itu, berdasarkan kedua ilmu itu. pasti tidak akan mudah dilampaui oleh Witantra.

Tetapi ia tidak akan dapat mempergunakan ilmunya. Ia datang untuk mengakui semua kesalahannya dan untuk meminta maaf kepadanya. Sudah tentu ia tidak akan melibatkan diri ke dalam kesalahan yang lebih besar lagi.

“Tetapi bagaimana kalau Witantra tidak dapat mengerti perasaannya?“ pertanyaan itu kini telah membelit hatinya.

“Panji Bojong Santi mengenalnya dengan baik. Kalau ia tidak berpendapat bahwa Witantra akan mengendapkan perasaannya, maka ia tidak akan membiarkan cantrik ini mengantarkan aku.”

“Meskipun demikian Witantra adalah manusia biasa. Ia tidak akan luput dari kekurangan dan kekhilafan.”

Ternyata pendirian itu telah membuat dada Mahisa Agni menjadi semakin berdebar-debar.

Meskipun demikian Mahisa Agni berusaha menyembunyikan semua kesan-kesannya, sehingga cantrik yang bersamanya itu sama sekali tidak dapat meraba apa yang terpercik di hatinya.

Demikianlah maka untuk sesaat mereka saling berdiam diri.Semakin lama mereka menjadi semakin dekat. Hutan yang mereka lalui menjadi semakin jarang. sehingga akhirnya, mereka telah melintasi hutan perdu dan ilalang.

Dengan demikian maka kuda-kuda mereka dapat berlari semakin kencang. Sedang matahari menjadi semakin tinggi memanjat kaki langit.

Ketika bayangan mereka telah tepat terinjak di bawah kaki mereka berhenti sejenak pada sebuah mata air yang kecil untuk memberi kesempatan kuda-kuda mereka minum sejenak, sambil berteduh di bawah sebatang pohon yang rindang.

“Kita akan menempuh jalan yang melewati gunduk-gunduk yang keputih-putihan itu,“ berkata cantrik kawan seperjalanan Mahisa Agni sambil menunjuk segunduk padas putih di hadapan mereka.

Keduanya membiarkan kuda mereka makan rerumputan hijau sejenak, sementara keduanya menyeka keringat mereka yang membasahi seluruh tubuhnya.

Tetapi mereka tidak beristirahat terlampau lama. Sejenak kemudian mereka-pun telah berada di punggung kuda masing-masing, dan berpacu lebih cepat lagi. Tetapi jalan kini sudah menjadi semakin baik. Mereka tidak lagi diganggu oleh pepohonan yang merambat, melintas di atas jalan yang mereka lalui. Kini jalan seakan-akan terbuka meskipun tidak terlampau baik.

Setelah melewati gundukan padas yang keputih-putihan di panasnya matahari, mereka sampai ke daerah yang lebih subur. Daerah yang selalu basah oleh sumber-sumber air dan sebatang sungai yang meskipun tidak terlampau besar, namun mengalirkan air yang cukup.

“Padukuhan Witantra ada di tepi sungai ini,“ berkata cantrik itu.

Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Sudah dekat. Gerumbul hijau di hadapan kita itu adalah ujung padukuhannya.”

“O,” Mahisa Agni mengnggukkan kepalanya, dan hatinya-pun menjadi semakin berdebar-debar pula. Meskipun demikian, wajahnya sama sekali tidak mengesankan kegelisahannya itu.

Ternyata jalan yang mereka lalui memang menjadi semakin baik. Meskipun agak berdebu tapi kini mereka telah sampai pada sebuah jalan yang agak terpelihara.

Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Sebentar lagi ia akan bertemu dengan seseorang yang pernah dilukai hatinya. Ia tidak tahu tanggapan apakah yang akan diberikan oleh Witantra atas kedatangannya ini.

“Tetapi aku harus menemuinya. Apapun yang akan terjadi nanti,“ berkata Mahisa Agni di dalam hatinya, “sekarang atau waktu yang akan datang, hampir tidak ada bedanya. Aku tidak mau tersiksa lebih lama lagi oleh perasaan bersalah ini.”

Dengan demikian maka Mahisa Agni-pun telah membulatkan tekadnya, untuk bertemu kali ini dengan Witantra meskipun ia tidak tahu akibat apa yang bakal terjadi oleh pertemuan ini.

Sejenak kemudian maka mereka-pun telah sampai di ujung padukuhan yang hijau segar. Meskipun padukuhan itu sebuah padukuhan kecil tetapi tampak bahwa padukuhan itu adalah padukuhan yang hidup.

Dinding-dinding batu yang rapi dan regol yang manis, meskipun tidak terlampau besar. Jalan-jalan yang lurus dan bersih.

Sekali lagi Mahisa Agni menarik nafas. Desisnya, “Inilah padukuhan itu?”

“Ya, padukuhan yang agak terpencil.Tetapi padukuhan ini berusaha untuk memenuhi kebutuhan sendiri. Dari bahan makan sampai ke bahan pakaian meskipun tidak begitu baik. Hanya keperluan yang memaksa saja mereka cari keluar daerah padukuhan ini. Garam misalnya,“ jawab cantrik itu.

Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Nah, kita akan segera memasuki regol padukuhan itu. Rumah Witantra berada di tempat-tempat padukuhan,“ cantrik itu berhenti sejenak, “padukuhan ini adalah padukuhan yang paling damai yang pernah aku lihat.”

Mahisa Agni masih mengangguk-angguk. Tetapi ia sependapat dengan cantrik itu, bahwa padukuhan ini memang padukuhan yang tampaknya tenteram dan damai.

“Mungkin karena letaknya yang terasing,“ berkata Mahisa Agni di dalam hatinya, “tetapi apakah kedamaian yang asing seperti ini adalah yang paling baik bagi Witantra?“

Sejenak Mahisa Agni merenungi regol padukuhan itu. Kemudian dilihatnya seorang anak melintasi jalan. Anak itu memandanginya sebentar, kemudian ia berlari-lari masuk ke halaman.

“Jarang sekali ada orang lain yang datang kemari,” berkata cantrik itu, “kedatangan kita pasti akan menjadi bahan percakapan penduduk padukuhan ini. Satu dua di antara mereka mungkin pernah melihat aku datang kemari, apabila mereka masih ingat. Tetapi kau adalah orang asing sama sekali.“

Mahisa Agni tidak Menjawab. Bagi Witantra, mungkin masih dapat dimengerti. Bahwa kekecewaan yang sangat telah menyudutkannya ke tempat yang sepi ini. Tetapi bagaimana dengan anak-anak yang masih harus berkembang?

Ternyata apa yang dikatakan cantrik itu-pun segera ternyata. Bukan sekedar anak-anak sajalah yang kemudian menjengukkan kepala mereka di atas pagar-pagar batu. Dengan herannya mereka melihat cantrik itu bersama Mahisa Agni melewati di jalan yang membelah padukuhan itu. Mereka saling berbisik dan bertanya, siapakah yang datang kali ini?

Tetapi setiap kepala tergeleng lemah, karena tidak seorang-pun yang dapat menjawab pertanyaan itu. Sejenak kemudian. sampailah mereka ke pusat padukuhan kecil itu. Mereka berhenti sejenak di muka sebuah regol halaman yang agak lebih besar dari regol-regol halaman yang lain. Halaman itu adalah halaman rumah Witantra.

Mahisa Agni menarik kekang kudanya, sehingga kuda itu justru bergeser beberapa langkah surut. Kini ia tidak lagi dapat menyembunyikan perasaannya yang dibakar oleh keragu-raguan.

Cantrik itu menjadi heran. Sejenak ia mengawasi saja tingkah laku Mahisa Agni. Namun sejenak kemudian ia berkata, “Marilah kita masuk. Inilah rumahnya.”

Mahisa Agni tidak menjawab. Keringat dinginnya yang mengembun serasa telah membasahi seluruh tubuhnya.

“Kenapa kau?“ bertanya cantrik itu, “inilah rumahnya.”

Mahisa Agni masih belum menjawab. Dipandanginya saja pintu regol yang terbuka itu, langsung melintasi halaman hingga pada pintu rumah yang masih tertutup.

Tiba-tiba ia berdesis, “Sepi sekali.”

“Rumah ini memang sepi. Biasanya memang sepi pula. Witantra dan keluarganya jarang-jarang berada di pendapa. Mereka selalu berada di dalam.”

Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi kini Ia seakan-akan membeku di atas punggung kudanya.

“He. kenapa kau sebenarnya?“ bertanya cantrik itu.

“Tidak apa-apa.”

“Kenapa kau mematung di situ. Marilah masuk.“

Sekali lagi Mahisa Agni menyapukan pandangan matanya ke sekelilingnya. Halaman yang bersih. Batang-batang pohon sawo yang tumbuh subur hambir mencapai teritis. Apabila kelak batang-batang sawo itu menjadi semakin besar, maka halaman itu-pun akan bertambah asri.

“Kau sudah menempuh perjalanan yang demikian jauh dan sulit. Sekarang kau ragu-ragu,“ desis cantrik itu.

“Kau benar,“ jawab Mahisa Agni, “aku memang ragu-ragu.”

“Baiklah. Biarlah aku lebih dahulu masuk. Aku akan mengatakan kepada Witantra bahwa seorang tamu bernama Mahisa Agni sedang menunggu di luar regol.“

Mahisa Agni tidak segera menyahut.

“He,“ cantrik itu menjadi kesal, sehingga tiba-tiba ia berkata tanpa sesadarnya, “apakah kau kesurupan di jalan tadi?”

Mahisa Agni berpaling. Dipandanginya wajah cantrik itu dengan tajamnya, tetapi ia tidak menjawab.

Dalam kebingungannya, cantrik itu-pun kemudian meloncat turun dari kudanya dan membimbing kudanya mendekati regol halaman. Tetapi ia terkejut ketika tiba-tiba ia melihat sesosok bayangan yang meloncat dan hinggap di atas dinding batu halaman rumah itu. Hampir terpekik ia memandang seseorang yang berdiri tegak di atas sepasang kakinya yang renggang.

Mahisa Agni-pun terkejut bukan kepalang melihat orang yang tiba-tiba saja sudah bertengger di atas dinding halaman. Apalagi setelah ia meyakini, bahwa orang yang berdiri itu adalah Witantra.

Sejenak Mahisa Agni benar-benar terpukau oleh penglihatannya. Witantra berdiri tegak sambil bertolak pinggang. Di lambungnya tergantung sepasang pedang panjang.

Dada Mahisa Agni menjadi semakin berdebar-debar. Ia sama sekali tidak menyangka, bahwa Witantra yang telah menyepi itu masih menyandang pedang di lambungnya. Apalagi kini sepasang.

Karena itu, maka Mahisa Agni melihat seorang tokoh yang aneh menurut penilaiannya. Seorang yang mengenakan pakaian putih melitit di tubuhnya, namun kemudian pakaian itu dibelit oleh sebuah ikat pinggang kulit yang tebal dan digantungi oleh sepasang pedang.

“Nah. aku sudah menduga Agni, bahwa pada suatu ketika kau akan mencari aku. Aku kira kau masih tidak puas dengan kemenanganmu itu. Kau masih belum puas atas kematian Kebo Ijo.Kini kau datang untuk memuaskan hatimu.”

Sambutan itu sama sekali tidak disangka-sangkanya.Apalagi cantrik yang bersamanya itu. Dengan mulut ternganga ia melihat Witantra dan Mahisa Agni berganti-ganti.

“Aneh sekali,“ ia berkata di dalam hati, “kalau yang akan terjadi hanyalah demikian saja, kenapa Panji Bojong Santi menyuruh aku mengantarkannya?”

Dalam kebingungan cantrik itu berdiri membeku di tempatnya. Sekilas terbayang kemampuan Mahisa Agni yang tidak disangka-sangkanya ketika mereka berkelahi melawan orang-orang Kediri. Mahisa Agni benar-benar dapat berbuat sekehendak hatinya atas lawan-lawannya. Memang apa yang dilakukan mirip dengan permainan sihir. Sedang Witantra adalah murid tertua Panji Bojong Santi yang sudah mengasingkan diri menekuni ilmunya. Apabila benar-benar terjadi benturan di antara mereka berdua, maka akibatnya memang akan dahsyat sekali. Karena itu, maka ketika dadanya sudah menjadi agak tenang, ia-pun melangkah maju mendekati Witantra sambil berkata, “Witantra, Panji Bojong Santilah yang menyuruh aku mengantarkannya kemari.”

Witantra tertawa. Jawabnya, “Aku kira guru-pun mengetahui, apa yang tersirat di dalam hatinya. Memang tidak ada orang lain yang dapat melawannya di seluruh Tumapel, yang sekarang menyebut dirinya Singasari. Tidak ada orang yang dapat mengalahkan seorang yang bernama Mahisa Agni selain aku. Memang aku pernah di kalahkannya. Tetapi itu sudah lama berlalu. Sekarang keadaan pasti sudah berubah. Dan Witantra tidak akan dapat di kalahkannya lagi.“ Witantra berhenti sejenak, dan tiba-tiba pertanyaannya sangat mengejutkan Mahisa Agni, “Agni, apakah kau sudah berhasil membunuh Mahendra, sehingga kau sudah datang kepadaku, kepada saudara tertua di perguruan Panji Bojong Santi?”

Mahisa Agni benar-serasa terbungkam. Ia tidak mengerti bagaimana ia harus menjawab pertanyaan itu. Karena itu, maka ia duduk saja di atas punggung kudanya dengan jantung yang berdentangan.

“Kenapa kau diam saja?“ lalu kepada cantrik itu Witantra bertanya, “he. apakah kau tahu. atau guru mengatakan kepadamu, bahwa Mahendra telah terbunuh?”

Cantrik itu menjadi semakin bingung, tetapi kepalanya tergeleng lemah, “Tidak. Aku tidak mengetahuinya.”

Suara tertawa Witantra menjadi semakin menyakitkan hati. Sambil mengangguk-anggukkan kepalanya ia berkata, “Hem, begitu buas kau Mahisa Agni. Apakah kau akan mendapat upah yang terlalu besar dari Ken Arok?”

Mahisa Agni benar-benar serasa terbungkam. Hal yang sama sekati tidak disangka-sangkanya ternyata telah terjadi. Menurut dugaannya Witantra pasti seorang yang sudah menjadi semakin mapan dan mengendap, sehingga ia tidak akan terlalu banyak menjumpai kesukaran.

“Agni, ayo katakan dengan terus-terang. bahwa kau akan membunuhku.”

Betapapun juga maka akhirnya Mahisa Agni mencoba untuk menjelaskan maksud kedatangannya, “Witantra, aku sama sekali tidak akan membunuhmu. Mahendra sama sekali juga tidak terbunuh.“

Suara tertawa Witantra meninggi. Sambil mengangguk-anggukkan kepalanya ia berkata, “O, kau benar-benar seorang buas yang licik. Kau mencoba menipu aku. Kemudian dengan diam-diam kau akan menusuk aku dari belakang.“ Witantra berhenti sejenak, kemudian menggelengkan kepalanya, “Tidak Mahisa Agni, kau tidak akan dapat mengelabui aku, kau tidak akan dapat menipu aku lagi.Aku tahu pasti tujuanmu. Karena itu, marilah kita coba sekali lagi. Kau atau aku yang akan binasa kali ini.“

“Witantra,“ potong Mahisa Agni yang menjadi semakin gelisah, “kau salah Witantra. Aku tidak akan berkelahi.“

“Jangan kau kelabui aku. Kau tidak akan dapat berbuat curang.Ayo, kita berhadapan dengan jantan.”

“Kau keliru.”

“Tentu tidak. Aku tidak akan keliru. Kebo Ijo itu sudah benar-benar mati.Aku sudah kau kalahkan di arena. Mahendra-pun sudah mati pula. Sekarang kau datang kemari. Apalagi he?”

“Memang, aku telah memperkuat keputusan untuk menetapkan Kebo Ijo bersalah. Aku telah naik ke arena waktu itu. Tetapi aku salah, pada waktu itu. Dan aku ingin minta maaf kepadamu Witantra.”

“O,“ suara tertawa Witantra semakin keras, “kau benar-benar tidak tahu malu. Kenapa kau tidak menempuh jalan seperti yang pernah kau pergunakan? Naik ke arena? Kenapa kini kau lebih senang menjadi seorang yang licik?“ Witantra berhenti sejenak, kemudian, “Mungkin karena kau sudah tahu. bahwa kau tidak akan dapat mengalahkan Witantra sekarang.Kau tidak akan dapat berbuat dengan cara yang pernah kau lakukan. Sedang kau masih tetap mendendam semua murid Panji Bojong Santi. Mungkin atas dorongan kegilaanmu, tetapi mungkin juga karena kau akan mendapat upah dari Ken Arok. Tetapi aku tidak peduli. Bagiku akibatnya akan sama saja. Kau dengan nafsu dendammu yang menyala-nyala, atau kau yang akan mendapat upah berlimpah-limpah dengan raja yang licik itu?”

“Tidak Witantra, kau salah sangka. Kau terlampau mendendam kepadaku, sehingga kau diganggu oleh bayangan-bayangan yang selalu menakut-nakuti perasaanmu.”

“He,“ Witantra tiba-tiba terbelalak, “kau terlampau sombong. Apa yang aku takutkan padamu sehingga aku harus dengan gelisah menemuimu sekarang? He, kau kira otakku sudah tidak waras lagi sehingga hidupku selalu dibayangi oleh prasangka-sangka buruk saja? O Agni. betapa sombongnya kau. Kau merasa dirimu tidak terkalahkan sehingga aku yang terpencil ini selalu dibayangi oleh ketakutan yang sangat, sehingga aku menjadi gila.“

Dada Mahisa Agni menjadi semakin berdebar-debar. Ia tidak mengerti apa yang akan dikatakannya. Ia merasa bahwa ia selalu salah. Apa yang diucapkan pasti menumbuhkan salah paham. Witantra pasti menanggapinya dengan dendam yang menyala di dadanya.

Apalagi ketika kemudian Witantra yang masih berdiri di atas pagar batu itu berkata, “Agni, jangan terlampau banyak bicara. Kita selesaikan saja masalah ini dengan segera. Marilah kita pilih sebuah arena yang dapat memberi kepuasan. Kau setuju?”

Mahisa Agni menggelengkan kepalanya. Jawabnya, “Tidak Witantra. aku tidak akan berkelahi.”

“Lalu apa maksudmu datang kemari? Jangan begitu Agni. Kau adalah kakak seorang Permaisuri. Jagalah nama baik Ken Dedes yang kini bukan saja seorang Permaisuri seorang Akuwu, tetapi Permaisuri dari seorang raja yang besar.”

Tetapi Mahisa Agni menggelengkan kepalanya sambil berkata berulang kali, “Kau keliru Witantra, kau keliru.“

Dalam pada itu cantrik yang mengantarkannya menjadi bingung. Ia tidak mengerti pembicaraan apakah yang sedang berlangsung. Tetapi ketika ia mendengar Witantra menyebut Mahisa Agni sebagai seorang kakak dari Permaisuri Sri Rajasa. hatinya menjadi bertambah bingung. Tetapi kakak seorang Permaisuri itu kini sama sekali tidak berbuat apapun di hadapan Witantra. Mahisa Agni seakan-akan sama sekali tidak menanggapi tantangan Witantra yang meliliti tubuhnya dengan pakaian yang serba putih, namun di lambungnya tergantung sepasang pedang.

“Mahisa Agni adalah seorang yang luar biasa,“ berkata cantrik itu di dalam hatinya, “ia dapat bertempur seperti seorang yang dapat bermain sihir. Tanpa diketahui apa yang sudah dilakukannya, ia mampu melepaskan senjata-senjata lawannya. Dan menurut pengakuan Witantra sendiri, Mahisa Agni memang pernah mengalahkannya. Tetapi di hadapan Witantra kini Mahisa Agni seakan-akan seperti seorang yang sama sekali tidak berdaya.“

“Agni,“ berkata Witantra, “ayo, cabut senjatamu!“

Mahisa Agni menggeleng, “Aku tidak bersenjata karena aku memang tidak ingin berkelahi Witantra.“

“Jangan omong kosong. Cepat, sebelum aku berkeputusan membunuhmu.“

Tetapi sekali lagi Mahisa Agni menggeleng, “Aku tidak bersenjata.“

Witantra mengerutkan keningnya. Tiba-tiba dicabutnya sebuah pedang yang tergantung di lambungnya.Tanpa disangka-sangka dilemparkannya pedang itu kepada Mahisa Agni, “Pakai senjata itu.“

Sekilas jantung Mahisa Agni disambar oleh keragu-raguan. Pedang itu meluncur terlampau cepat, sehingga waktunya untuk menimbang dan mengambil keputusan terlampau pendek. Tetapi karena kedatangannya memang sudah dilambari oleh kebulatan tekadnya untuk tidak membuat masalah baru, maka pada saatnya Mahisa Agni telah mengambil sikap. Tangannya yang sudah bergetar, sama sekali tidak bergerak untuk menangkap tangkai pedang yang meluncur di sampingnya. Dipandanginya saja pedang yang jatuh di tanah, beberapa langkah dari kudanya.

Sementara itu cantrik yang membawanya menjadi semakin heran. Ia benar-benar tidak mengerti apa yang dihadapinya. Sejenak dipandanginya pedang yang tergolek di tanah itu dengan mata yang hampir tidak berkedip.

“Kenapa Mahisa Agni tidak memungutnya?“ desisnya di dalam hati.

Tetapi Mahisa Agni benar-benar tidak memungutnya. Ia masih tetap duduk di punggung kudanya.

“Agni,“ berteriak Witantra, “kenapa tidak kau tangkap pedang itu?”

Mahisa Agni menggelengkan kepalanya. Jawabnya, “Aku tidak memerlukannya.”

“He,“ Witantra membelalakkan matanya, “kau benar-benar sombong.Kau sudah menghina aku untuk kesekian kalinya. Kau sangka kau sekarang dapat mengalahkan aku tanpa senjata.“

“Bukan begitu. Maksudku, aku tidak memerlukannya karena aku memang tidak berhasrat sama sekali untuk berkelahi.”

“Persetan,“ Witantra menggeram, “aku akan segera mengambil sikap. Aku akan membunuhmu. Melawan atau tidak melawan.”

“Kalau itu jalan yang paling baik yang dapat kau tempuh Witantra, lakukanlah.“

Witantra terdiam sejenak. Direnunginya wajah Mahisa Agni sejenak.

“Kau benar-benar tidak ingin berkelahi?“ bertanya Witantra.

“Sudah aku katakan, aku tidak berniat untuk berbuat apapun di sini.”

Witantra menarik nafas dalam-dalam. Tiba-tiba ia membuka ikat pinggang kulitnya yang tebal berikut pedangnya. kemudian dilemparkannya ikat pinggang itu sambil berkata, “Aku memang sudah menyangka, bahwa kau sekarang sudah menjadi semakin masak.”

Mahisa Agni serasa telah terpukau oleh sikap Witantra itu. Sejenak ia mematung. Detak jantungnya seakan-akan terhenti dan justru karena itu ia menjadi sangat bingung.

Bukan saja Mahisa Agni yang kebingungan. Tetapi cantrik yang datang bersamanya itu-pun sama sekali tidak mengerti apa yang telah terjadi.

Sambil menggelengkan kepalanya ia menarik nafas dalam-dalam. Sekilas ia melihat beberapa buah kepala yang tersembul dari balik regol dan pagar-pagar batu. Agaknya beberapa orang dari padukuhan terpencil itu lagi mengintip, apakah yang sebenarnya sudah terjadi di depan halaman rumah Witantra itu. Apalagi Witantra bagi orang-orang di sekitarnya dianggap sebagai seorang tetua dari padukuhan yang kecil itu.

Mahisa Agni dan cantrik itu menjadi semakin berdebar-debar ketika mereka melihat Witantra itu meloncat turun, dan perlahan-lahan melangkah maju mendekati Mahisa Agni.

“Turunlah Agni,“ berkata Witantra dalam nada yang jauh berbeda, “aku tidak bersungguh-sungguh. Aku hanya ingin membuktikan, apakah kau benar-benar telah berhasil meyakinkan dirimu sendiri, bahwa selama ini kau telah bertindak dengan tergesa-gesa.“

Sesuatu terasa bergejolak di dalam dada Mahisa Agni. Sejenak ditatapnya Witantra dalam pakaian putihnya. Namun sejenak kemudian ia meloncat turun dari kudanya.

Witantra yang sudah menjadi semakin dekat itu-pun segera menangkap lengannya. Sambil mengangguk-anggukkan kepalanya ia berkata seperti kepada adiknya yang nakal, “Apakah kau sudah menemukan jawab tentang Kebo Ijo. Mahisa Agni?”

Mahisa Agni menganggukkan kepalanya. Sejenak ia menjadi bingung sekali, namun kemudian ia menjawab, “Ya Witantra. Sekarang aku sudah dapat melihat dan meyakinkan, apa yang sebenarnya sudah terjadi. Aku datang kepadamu untuk menyerahkan diri. Aku merasa bahwa aku sudah terlampau banyak berbuat kesalahan.”

Witantra tertawa. Tetapi nada tertawanya-pun jauh berbeda dengan nada tertawanya yang baru-baru saja diperdengarkannya dari atas dinding batu.

“Marilah. Aku memang sengaja menunggumu. Aku ingin mengerti bagaimana kau sekarang. Apakah kau masih juga diburu oleh ketergesa-gesaanmu seperti saat-saat itu.”

“Darimana kau tahu bahwa aku akan datang kemari?Dan dari mana kau tahu, bahwa aku datang dengan penyesalan?”

Witantra tertawa pula. Kemudian katanya, “Marilah. Masuklah.”

Mahisa Agni berdiri termangu-mangu, sehingga Witantra menariknya untuk melangkah memasuki regol.Ditepuknya pula pundak cantrik yang datang bersama Mahisa Agni itu sambil berkata, “Jangan bingung.Marilah, kita masuk ke dalam.”

Mahisa Agni-pun melangkahkan kakinya tanpa sesadarnya. Namun sekali lagi ia bertanya, “Darimana kau tahu bahwa aku akan datang Witantra?”

Witantra mengangkat keningnya. Tetapi ia tidak menjawab. Ia berjalan saja langsung ke pendapa.

“Marilah kita masuk,“ desisnya.

Mahisa Agni dan cantrik itu-pun kemudian mengikatkan kudanya pada sebatang pohon di halaman. Kemudian dengan ragu-ragu mereka berjalan di belakang Witantra naik ke pendapa.

“Kita masuk ke pringgitan.“

Mahisa Agni tidak menyahut. Ia berjalan saja di belakang Witantra bersama cantrik itu.

Sejenak kemudian pintu pringgitan itu-pun terbuka.Witantra segera mempersilahkan keduanya masuk ke dalam.

Mahisa Agni menjadi ragu-ragu sejenak. Dari luar, pringgitan itu tampak agak gelap, sehingga ia tidak segera dapat melihat dengan jelas, apa yang ada di dalamnya.

“Masuklah,“ Witantra mempersilahkan.

Mahisa Agni-pun kemudian melangkah masuk. Ia tertegun ketika ia melihat seseorang telah lebih dahulu duduk di sudut pringgitan.

Terasa darah Mahisa Agni hampir terhenti, ketika ia mengenal siapakah yang duduk di pringgitan itu. Sejenak ia berdiri mematung namun kemudian ia membungkukkan kepalanya dalam-dalam sambil berkata lemah, “Jadi inikah sebabnya maka Witantra sudah mengetahui semuanya?”

Panji Bojong Santi yang duduk di pringgitan itu, mengangguk-angguk sambil tersenyum. Jawabnya, “Ya ngger. Aku ternyata datang lebih dahulu.”

Cantrik yang datang bersama Mahisa Agni itu-pun mengangguk-angguk pula.“Hem,“ ia berdesah, “aku menjadi bingung. Kepalaku serasa akan terlepas dari leher ini.”

“Duduklah,“ Panji Bojong Santi mempersilahkan.

Mahisa Agni dan cantrik itu kemudian duduk berhadapan dengan Panji Bojong Santi. Witantra-pun duduk pula di antara mereka.

“Aku menyusul kalian,“ berkata Panji Bojong Santi. “Bagaimana-pun juga hatiku selalu berdebar-debar sepeninggal angger. Meskipun menurut perhitunganku, Witantra tidak akan mudah terbakar oleh dendam, namun aku ingin juga melihat, apakah sebenarnya demikian.“ Panji Bojong Santi berhenti sejenak, “Ternyata bahwa aku datang lebih dahulu.“ Orang tua itu mengangguk-anggukkan kepalanya, lalu, “Sebenarnyalah aku memang ingin mendahului, sehingga aku memilih jalan lain yang lebih pendek meskipun agak sulit.Tetapi agaknya kalian berhenti di perjalanan, ternyata kini sekarang kalian sampai.”

Mahisa Agni menganggukkan kepalanya, “Ya, kami memang berhenti di perjalanan. Bahkan kami terpaksa kembali ke kota mengantarkan serombongan pengungsi dari Kediri.”

“Kenapa kalian harus mengantarkannya?“

Mahisa Agni menceriterakan sekilas tentang orang-orang Kediri yang saling bekejaran.

Panji Bojong Santi mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Semula aku menjadi cemas, apakah cantrik ini tidak ingat lagi jalan yang harus kalian lalui, sehingga kalian tersesat.”

“Tentu tidak,“ sahut cantrik itu, “aku adalah orang yang tajam ingatan. Sekali aku mengenal jalan ke mana-pun dan betapapun jauhnya, aku akan ingat seumur hidupku.“

Panji Bojong Santi tersenyum, “Bagus, kau adalah seorang penunjuk jalan yang baik.”

Cantrik itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi ia tidak menjawab.

Dalam pada itu Mahisa Agni berkata kepada Witantra, “Aku sudah menjadi cemas atas sambutanmu.Aku kira aku akan dihadapkan pada keadaan tanpa pilihan.“

Witantra tertawa. Katanya, “Aku sudah memperhitungkannya Agni. Namun aku masih ingin meyakinkan, bahwa kau sekarang sudah menjadi semakin matang. Kau tidak mudah lagi dibakar oleh goncangan-angan perasaanmu.“

“Aku mengerti Witantra,“ sahut Mahisa Agni, “karena itulah maka aku datang kemari. Aku ingin minta maaf kepadamu, bahwa aku telah ikut serta, membuat kau kehilangan kesempatan mempertahankan kebenaran yang kau yakini.”

“Saat itu kau mempunyai keyakinan yang berbeda.”

“Dan agaknya aku telah terjebak dalam perangkap tanpa aku ketahui,“ jawab Mahhisa Agni, “aku memerlukan waktu untuk melihat kebenaran yang kau pertahankan saat itu. Tetapi agaknya aku terlampau lambat, sehingga keadaan sekarang sudah menjadi jauh berbeda.”

“Aku mengerti Agni. Meskipun aku berada jauh dari kota, tetapi aku selalu mengikuti perkembangan yang ada. Kini kau tidak akan sampai hati untuk mengusik kedudukan tertinggi di Tumapel yang kemudian menyebut dirinya Singasari.”

Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Singasari berkembang demikian pesatnya.“ Witantra berkata selanjutnya, “sehingga dengan demikian, maka kita-pun menganggap bahwa orang yang demikian, yang dapat memimpin pemerintah dengan baik itu, sangat diperlukan.“

Mahisa Agni masih mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Betapapun besar kesalahan yang telah diperbuatnya untuk mencapai tingkat yang didudukinya sekarang, namun Singasari telah menerimanya sebagai seorang perkasa yang memberi harapan.”

“Ya,“ sahut Mahisa Agni. “itulah sebabnya aku lebih dahulu datang kepadamu. Aku lebih mudah minta maaf kepadamu, daripada memperbaiki kesalahan yang telah aku lakukan. Aku tidak dapat berbuat apa-apa. Selain Singasari memang membutuhkannya, adikku-pun memerlukannya.“

Witantra tersenyum. “Aku tahu.”

“Karena itu, aku menenyerahkan diriku kepadamu. Apapun yang akan kau lakukan. Aku benar-benar ingin menebus kesalahan itu, tetapi aku tidak dapat melakukannya atas sumber kesalahan itu sendiri.”

“Jangan kau sesalkan Agni. Kau boleh menyesal, tetapi jangan menjadi duri yang tajam di dalam hidupmu. Apa yang kau lakukan itu sebenarnya adalah akibat yang wajar dari perangkap yang sudah dipersiapkan baik-baik. Aku kagum atas kematangan persiapan yang hampir tidak dapat dihindari lagi oleh setiap orang yang memang dikehendaki. Adalah luar biasa pula ketajaman perasaanmu, sehingga kini kau dapat menemukan dirimu sendiri di dalam perangkap yang sudah sekian lama menjeratmu.”

Mahisa Agni mengangguk-angguk. Tetapi kemudian ia berkata, “Jadi apakah sudah selayaknya apabila aku cukup berdiam diri, menyesal dan mengaguminya saja.”

“Sementara Agni. Aku-pun sementara ini hanya dapat berbuat demikian, semata-mata untuk kepentingan Singasari.”

Mahisa Agni masih mengangguk-anggukkan kepalanya.Kini Ia berhadapan dengan seseorang yang ternyata berpandangan sangat jauh. Dengan demikian maka Mahisa Agni hanya dapat menundukkan kepalanya sambil berkata, “Kau benar-benar berjiwa besar Witantra.”

“Jangan memuji,“ jawab Witantra, “seperti kau juga. Kau juga tidak berbuat apa-apa. Aku hanya kehilangan adik seperguruanku. Kau telah kehilangan pamanmu oleh orang yang sama menurut perhitunganmu.”

Mahisa Agni mengerutkan keningnya.

“Guru sudah mengatakan kepadaku. Bahkah sebelum kau menemuinya, meskipun guru tidak dapat menelusur seperti yang kau lakukan. Baik guru mau-pun aku sendiri, akhirnya mengambil kesimpulan, bahwa kami hampir yakin bahwa pembunuh itulah yang mempunyai kecakapan yang luar biasa, sehingga seakan-akan kami sekedar golek yang telah diaturkan, apa yang harus kita lakukan.”

“Ya. Karena itu, marilah kita beri ia kesempatan. Untuk kepentingan Singasari yang besar, jauh lebih besar dari kepentingan-kepentingan kita pribadi.”

Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam.Katanya, “Itulah satu-satunya kemungkinan yang dapat kita lakukan sekarang. Meskipun demikian, aku akan berusaha untuk tidak terbakar oleh keadaan. Kalau aku terlampau sering melihat atau mendengar berita tentang namanya, maka rasa-rasanya hati ini masih juga tergelitik.Karena itulah, maka apabila kau tidak berkeberatan Witantra, aku akan tinggal bersamamu di sini.”

“He,“ Witantra mengerutkan keningnya, “jangan bermimpi Agni.”

Sebelum Mahisa Agni menjawab. Panji Bojong Santi menyahut, “Jangan ngger. Jangan menjauhkan diri dari pergaulan seperti Witantra. Seandainya Witantra tidak didorong oleh hubungan tata kerjanya, di mana saat itu ia menjadi seorang Panglima Pasukan Pengawal yang terkalahkan di arena, maka aku tidak akan mengijinkannya pergi.”

Tanpa disadarinya terasa dada Mahisa Agni berguncang. Namun Panji Bojong Santi melanjutkannya, “Bukan maksudku mengungkat lagi apa yang sudah terjadi. Tetapi aku hanya sekedar menceriterakan alasan yang kuat bagi Witantra untuk menjauhi kota. Tetapi hal itu tidak terjadi atasmu. Kau masih tetap seperti keadaanmu semula. Tidak seorang-pun yang tahu, apa yang sebenarnya sudah terjadi dan apalagi yang langsung menyangkut kau. Karena itu tidak selayaknya kau berada di tempat yang sepi ini.“ Panji Bojong Santi terdiam sejenak, lalu katanya kemudian, ”Anakmas Mahisa Agni. Menurut pendengaranku, gurumu mPu Purwa benar-benar sudah tidak dapat diketahui lagi, di mana ia berada. Hatinya benar-benar patah sejak puterinya hilang. Hanya sekali-sekali saja ia menampakkan diri seolah-olah begitu saja ia ada tetapi juga begitu saja ia lenyap. Karena itu, kau adalah saluran pengabdiannya. Kalau kau bersembunji seperti Witantra, maka garis pengabdian gurumu akan terputus.”

Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia dapat mengerti arti kata-kata Panji Bojong Santi. Karena itu tanpa disengajanya ia mengangguk-anggukkan kepalanya dan berkata seolah-olah ditujukan kepada diri sendiri, “Jadi, meskipun aku tahu apa yang sebenarnya telah terjadi, namun aku tidak mempunyai kemampuan untuk berbuat apa-apa.”

“Bukan begitu,“ sahut Panji Bojong Santi, “kau dapat berbuat banyak. Tetapi tidak dengan tergesa-gesa.”

Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Nah. kalau kau ingin menenteramkan hatimu, tinggallah di sini sejenak. Sehari, dua hari. Tetapi tidak untuk seterusnya.”

“Terima kasih. Aku akan mencoba mencari-cari di sini. Di dalam ketenangan, mungkin aku menemukan yang aku cari.”

Panji Bojong Santi mengangguk-angguk sambil tersenyum.“Baiklah. Kau akan mendapat tempat yang kau harapkan di sini.”

Demikianlah maka Mahisa Agni memutuskan untuk tinggal sementara di padukuhan yang sepi itu. Justru Panji Bojong Santi lah yang lebih dahulu kembali ke padepokannya.

Di padukuhan yang sepi itu Witantra bersama Mahisa Agni melihat kemungkinan-kemungkinan yang dapat terjadi di Singasari. Menurut perhitungan mereka Ken Arok pasti akan berhasil menguasai Singasari dan Kediri dengan baik, sehingga berkata Witantra kemudian, “Mahisa Agni.Aku kira kita tidak akan mendapat kesempatan sama sekali untuk berbuat sesuatu atas Sri Rajasa. Kita tahu bahwa seluruh Singasari memerlukannya. Kalau kita mencoba untuk mengetrapkan rasa keadilan kita atasnya, maka kita akan berkhianat terhadap Tumapel yang kini sudah berkembang menjadi Singasari ini.”

“Jadi dengan demikian kita sudah membiarkan kejahatan berlangsung tanpa hukuman.”

Witantra menarik nafas dalam-dalam.Katanya, “Di sinilah kita dihadapkan pada kenyataan yang tidak kita harapkan itu. Kita tidak dapat memilih lagi. Kita sadar bahwa kita seakan-akan dihadapkan pada suatu neraca yang sudah berat sebelah.”

Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Tetapi,“ tiba-tiba Mahisa Agni berkata lemah, “apakah kita tidak akan terlambat untuk berbuat sesuatu di hari-hari mendatang? Hari depan Singasari bukanlah hasil kerja sehari dua hari. Apa yang akan berkembang di masa mendatang. pasti sudah mulai bergetar hari ini.”

“Apakah yang kau maksudkan?”

Mahisa Agni menarik nafas. Katanya. “Sebenarnya aku merasa, betapa kerdilnya jiwaku dibanding dengan jiwamu.Aku tidak pernah dapat melepaskan kepentingan-kepentingan pribadiku.”

“Katakan.”

“Witantra,“ berkata Mahisa Agni tersendat-sendat. “Sebuah pertanyaan selalu mengganggu aku. Siapakah yang akan melanjutkan takhta Singasari ini kemudian kalau kita sudah bersepakat untuk membiarkan Ken Arok memerintah, karena ia benar-benar telah berhasil membuat Singasari menjadi besar, sehingga kita telah melepaskan segala macam tuntutan atas segala perbuatannya itu?”

Witantra menarik nafas dalam-dalam. Baginya siapa yang akan menggantikan Ken Arok tidak begitu banyak menjadi persoalan. Yang penting baginya adalah, orang itu dapat memerintah dengan baik. Membuat Singasari bertambah maju dan bertambah besar. Tidak saja sebagai suatu negara di hadapan lingkungannya, tetapi juga bagi rakyatnya sendiri. Singasari harus menjadi negara yang memberikan kesejahteraan yang merata. Tetapi memang agak berbeda bagi Mahisa Agni. Mahisa Agni adalah saudara angkat Permaisuri Singasari sekarang. Namun demikian Witantra menjawab, “Mahisa Agni. Aku kira bagimu-pun tidak ada perbedaan, apakah sekarang yang memegang kekuasaan masih Tunggul Ametung atau sudah berpindah tangan pada Ken Arok. Bahkan secara jujur harus diakui. Tunggul Ametung mendapatkan Ken Dedes dengan cara yang tidak wajar, sehingga hampir saja aku digantung di alun-alun karena aku tidak mau ikut serta. Sedang Ken Arok bagi Ken Dedes adalah orang lain sesudah Wiraprana yang dapat menjerat hatinya.“

Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Tetapi, kebencianmu kepada Ken Arok itu-pun wajar, karena kau menganggap bahwa Ken Arok telah membunuh pamanmu,“ Witantra berhenti sejenak, kemudian. “Bukankah begitu?“

“Ya,“ suara Mahisa Agni hampir tidak terdengar, namun kemudian, “tetapi lain Witantra. Ada sesuatu yang harus diperhitungkan. Ken Arok ternyata mempunyai seorang isteri yang lain. Iparmu itu.“

Witantra menarik nafas dalam-dalam.

“Sudah tentu hal itu harus dipertimbangkan.”

“Maksudmu, kau cemas kalau takhta kelak akan jatuh ke keturunan Ken Umang?”

Mahisa Agni ragu-ragu sejenak. Adalah kebetulan sekali bahwa Ken Umang adalah adik ipar Witantra.

“Kau tidak usah ragu-ragu. Aku dan isteriku tidak dapat menyetujui kelakuan anak itu. Selain itu, aku dapat mengerti kecemasan yang selalu menghantuimu.“ Witantra terdiam sejenak. Lalu, “Tetapi bukankah Anusapati sudah diangkat menjadi Pangeran Pati?”

“Memang Anusapati harus menjadi Pangeran Pati.”

“Dan ia sudah Pangeran Pati.”

“Tetapi anak itu masih terlampau kecil. Masih banyak kemungkinan yang dapat terjadi.“

Witantra mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Aku melihat sendiri apa yang telah terjadi.Sikap Ken Arok sangat meragukan. Ia terlampau berat sebelah.”

“Maksudmu?”

“Anusapati dan Tohjaja.”

“Kenapa?”

Emban cinde emban siladan. Ken Arok terlampau memanjakan Tohjaya dan dapat dikatakan membenci Anusapati. Sebagai manusia aku dapat mengerti, karena Anusapati itu bukan anaknya. Anusapati sudah berada di dalam kandungan ketika Ken Dedes diambilnya menjadi isterinya.”

Witantra mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Tetapi sebagai manusia,“ bekata Mahisa Agni selanjutnya, “aku-pun merasa tidak senang. bahwa ke manakanku itu diperlakukan tidak adil. Aku tidak tahu, bagaimana tanggapanmu mengenai masalah ini karena aku tahu, Tohjaya adalah kemenakanmu.”

Witantra mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Ken Umang seolah-olah sudah terpisah dari keluarga kami. Ketika kami pergi dari Tumapel adik itu sudah berselisih dengan kakak perempuannya. Sehingga seolah-olah mereka saling berjanji untuk tidak berhubungan lagi di saat-saat mendatang.”

Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Jadi. apa yang akan dapat kau lakukan?”

“Aku tidak tahu,“ jawab Mahisa Agni.

Mereka-pun kemudian saling berdiam diri. Tetapi pertanyaan itu tidak dapat mereka singkirkan dari dada mereka. Bukan hanya dalam saat mereka berbincang. Tetapi setiap saat. Meskipun hampir setiap saat keduanya berbicara, maka akhirnya mereka akan sampai kepada masalah itu. Apa yang dapat mereka lakukan?

“Mahisa Agni,“ berkata Witantra pada suatu saat, “kita tidak akan dapat menemukan jawaban di masa-masa dekat. Tetapi apapun yang akan terjadi, kau harus menyiapkan Anusapati untuk menghadapi segala kemungkinan.”

Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepadanya. Jawabnya, “Itu memang sudah terpikir olehku. Menilik tuntunan yang didapatnya sekarang. Anusapati tidak akan dapat menjadi orang yang pantas untuk menjadi seorang raja yang akan menggantikan Ken Arok. Ia akan tenggelam sama sekali dalam arus kebesaran nama ayah tirinya, sehingga ia justru akan mendapat banyak kesulitan.Rakyat pasti akan menganggapnya tidak mampu untuk menggantikan Ken Arok. Dalam keadaan yang demikian itulah, maka Tohjaya menjadi semakin masak untuk mendesak kakaknya.“

Witantra mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Lalu,” katanya, “apakah kau akan menuntunnya langsung?”

“Aku cemas, bahwa aku tidak akan mendapatkan ijin.”

Witantra tidak menjawab. Tetapi kepalanya masih terangguk-angguk.

“Witantra,“ berkata Mahisa Agni kemudian, “aku tidak tahu apakah jalan yang terlintas di kepalaku ini jalan satu-satunya yang paling baik. Aku akan mencari kesempatan, apabila Anusapati menjadi semakin dewasa, untuk dengan diam-diam menuntunnya. Aku akan membuat Anusapati seorang anak muda yang memiliki kemampuan yang tangguh di dalam olah kanuragan, sehingga apabila datang saatnya, ia bukan lagi seorang yang dungu duduk kebingungan di atas takhta dan disoraki oleh rakyat Singasari yang kecewa kepadanya, apalagi yang menuntunnya turun dari kedudukannya, karena ia dianggap tidak mampu sama sekali.”

Witantra tidak segera menyahut. Tetapi kepalanya terangguk-angguk. Kadang-kadang ia mengerutkan keningnya, namun kadang-kadang sepercik cahaya memancar di matanya.

Witantra dapat mengerti apa yang terlintas di dalam angan-angan Mahisa Agni. Umur Anusapati dan Tohjaya yang tak terpaut banyak memang dapat menimbulkan kecemasan. Menurut pertimbangan Mahisa Agni, Anusapati bukan putera Sri Rajasa sendiri seperti Tohjaya, sehingga memang mungkin sekali perubahan keputusan Sri Rajasa itu terjadi, meskipun dengan liku-liku yang sangat panjang. Sri Rajasa tidak akan kekurangan akal untuk melakukan niatnya. Apalagi kini ia memegang kekuasaan. Selagi ia masih seorang perwira yang tidak begitu dekat dengan Tunggul Ametung. ia mampu menjadikan orang-orang yang memimpin Tumapel seperti tidak mempunyai sikap dan pendirian sendiri. Ken Arok mampu melenyapkan Tunggul Ametung. setelah ia berhasil membunuh Empu Gandring yang diperkirakannya akan menjadi duri di sepanjang hidupnya. Kemudian membuang bekas perbuatannya dengan mengorbankan Kebo Ijo dan memperalat Mahisa Agni untuk mempertahankan kesalahan Kebo Ijo.

“Ken Arok memang mempunyai kecakapan yang luar biasa,“ desis Witantra di dalam hatinya, “atau memang kamilah yang terlampau dungu.”

Witantra mengangkat wajahnya ketika ia mendengar Mahisa Agni bertanya, “Bagaimana pendapatmu Witantra?”

Witantra menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Ya. kau benar. Memang banyak sekali kemungkinan dapat terjadi.”

“Apalagi pada Anusapati,“ berkata Mahisa Agni pula, “ia seakan-akan sebatang kara di dalam istana. Selagi Tunggul Ametung yang dikelilingi oleh pengawal-pengawal yang terpercaya dapat dilenyapkannya tanpa bekas, karena Kebo Ijo terjerat di dalam jaring-jaringnya. Bukan saja Kebo Ijo, tetapi aku juga.”

“Ya, aku mengerti,“ sahut Witantra.

“Karena itu, aku akan melakukannya dengan diam-diam.Kalau hal itu nanti pada suatu saat diketahui oleh Ken Arok. maka Anusapati pasti akan terancam. Namun apabila anak itu dibiarkan sesuai dengan perkembangannya sekarang, di bawah asuhan orang-orang yang sama sekali memang tidak dapat dipercaya, atau sengaja atas perintah Sri Rajasa membuat Anusapati tidak berdaya, maka ia akan mengalami siksaan batin di hari kemudian. Yang lebih parah lagi adalah, ia akan hilang dari istana sebelum ia dewasa.”

“Ya,“ jawab Witantra, “tetapi caranya itu sangat berbahaya.”

“Aku mempunyai kesempatan yang cukup untuk berada di istana.Aku dapat berada di dekat Anusapati dengan alasan apapun. Kelak apabila Anusapati menjadi semakin dewasa, tugas itu akan menjadi semakin mudah, karena Anusapati sudah dapat keluar dari istana di saat-saat tertentu.”

Witantra mengangguk-anggukkan kepalanya. “Apakah alasanmu untuk selalu berada di dekat Anusapati?”

“Padang Karautan sudah menjadi semakin baik. Aku berharap untuk dapat menjadi seorang pegawai istana, atau pegawai apapun di kota. Mungkin aku akan mendapat pekerjaan di luar istana, di sudut-sudut kelengkapan kerja yang lain. Namun aku dapat tinggal di dalam istana, meskipun di sudut yang paling jauh.”

Witantra masih mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian katanya, “Memang mungkin hal itu kau lakukan atas pengaruh Tuanku Permaisuri, sehingga kau dapat tinggal di dalam. Seandainya tidak ada Permaisuri, orang yang tidak mempunyai tempat tinggal di kota seperti kau, akan di tempatkan di barak-barak seperti para prajurit-prajurit muda.”

“Ya. Apalagi aku berada di istana untuk kepentingan anaknya.”

“Apa kau akan memberitahukannya kepada Ken, Dedes?”

Mahisa Agni mengerutkan keningnya. Namun kemudian ia menggeleng, “Untuk sementara lebih baik aku tidak mengatakannya supaya hidupnya tidak kian tersiksa.“

Witantra tidak menjawab, tetapi ia merenungkan rencana Mahisa Agni. Memang Mahisa Agni tidak akan dapat merubah keadaan dalam waktu yang singkat. Ken Arok membuat Singosari seperti sekarang ini dengan perencanaan yang benar-benar masak, meskipun seorang diri. Kini apabila Mahisa Agni akan menarik kembali kekuasaan dari orang lain kecuali Ken Dedes, ia-pun harus mempergunakan rencana dan perhitungan yang matang.

Mereka tidak segera dapat memutuskan, apakah rencana itu memang rencana yang paling baik. Mereka memerlukan dua tiga hari untuk merenungkan, sehingga pada suatu saat Wiantra berkata, “Mahisa Agni, sampai saat ini aku tidak melihat cara lain yang lebih baik dari rencana-rencanamu. Karena itu, aku kira kau dapat mengetrapkannya untuk sementara. Apabila pada suatu saat kita melihat kemungkinan lain, baiklah kita pertimbangkan.”

Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya, “Aku selalu mengharap pendapatmu Witantra.“

“Aku akan membantumu Agni. Bukan sekedar saat ini, tetapi di saat-saat mendatang. Aku harap aku mendapat kesempatan untuk berbuat sesuatu yang dapat melancarkan rencanamu itu.”

“Terima kasih Witantra. Tetapi yang paling penting bagiku, aku dapat bekerja dengan tenang, karena aku sudah minta maaf kepadamu atas segala kesalahanku. Apalagi kau kini menyatakan bahwa kau akan membantuku. Aku tentu akan sangat berterima kasih. Pekerjaan ini tidak akan selesai dalam waktu sehari dua hari, sebulan dua bulan. Mungkin aku memerlukan waktu lebih dari sepuluh tahun. Dan waktu yang sepuluh tahun itu harus kita telan tanpa dapat mengelakkan diri lagi. Apa yang ada dan apa yang berlangsung. Kecuali kalau tiba-tiba saja ada perubahan keadaan yang mengguncang tanah ini.”

Witantra mengangguk-anggukkan kepalanya pula, “Kau benar Agni.Kau memang memerlukan waktu yang panjang. Selama ini kau akan melakukan tugas yang berbahaya, bukan saja bagimu tetapi bagi Anusapati juga.”

“Aku menyadari Witantra. tetapi seperti katamu, untuk sementara jalan itulah yang dapat kita tempuh.“

“Tetapi hati-hatilah. Jangan tergesa-gesa. Kau harus membuat perencanaan yang baik, cermat dan meyakinkan.”

Mahisa Agni mengangguk-anggukan kepalanya.Ia menyadari bahwa kata-kata Witantra itu bukan sekedar peringatan. Tetapi Witantra melihat, bahwa pekerjaan itu adalah pekerjaan yang terlampau sulit.

“Aku mengerti Witantra. Mudah-mudahan Anusapati sendiri membantu rencana itu.”

Witantra mengangguk-anggukkan kepalanya pula. Memang ia sama sekali belum melihat cara lain yang lebih baik.

Dengan demikian, maka keduanya memutuskan untuk melaksanakan rencana itu. Apabila datang saatnya, Witantra-pun tidak berkeberatan untuk menyempurnakan ilmu Anusapati, sehingga menurut bayangan Mahisa Agni, di dalam diri anak itu akan luluh tiga sumber ilmu dari tiga perguruan, mPu Purwa, mPu Sada dan Panji Bojong Santi.

“Mudah-mudahan anak itu dapat menjadi anak yang mendekati kesempurnaan,“ berkata Mahisa Agni di dalam hatinya.

Dengan keputusan itu, maka Mahisa Agni-pun kemudian segera minta diri. Ia ingin mencari kemungkinan-kemungkinan yang dapat ditempuhnya untuk melaksanakan rencananya.

Ternyata, baik Mahisa Agni mau-pun Witantra sama sekali sudah tidak mendapat kesempatan sama sekali untuk mengguncang kedudukan Ken Arok. betapa mereka mengetahui kesalahan yang tersimpan di dalam diri raja Singasari itu. Mereka ternyata mementingkan masalah yang jauh lebih besar dari masalah-masalah pribadi mereka sendiri. Kini Sri Rajasa benar-benar diperlukan oleh Singasari.

“Apakah kau akan kembali bersama aku, atau kau akan tinggal di sini,“ bertanya Mahisa Agni kepada cantrik yang mengantarkannya.

“Sebenarnya aku lebih senang tinggal di sini,“ jawab cantrik itu.

“Aku kira bukan begitu,“ sahut Witantra, “kau malas melakukan perjalanan ke mana-pun. Jadi di mana-pun kau berada, kau merasa bahwa tempat itu lebih baik dari tempat-tempat yang lain.”

Cantrik itu tertawa.“Kau menebak tepat,“ katanya.

“Jadi?“ bertanya Mahisa Agni.

“Aku akan kembali ke kota. Aku akan bertanya di mana para pengungsi dari Kediri itu di tempatkan.“ ia berhenti sejenak. Lalu, “bukankah begitu?”

“Ah,“ Mahisa Agni berdesah.

“Marilah kita bersiap-siap,“ berkata cantrik itu kemudian, “kapan kita berangkat?”

“Besok pagi-pagi buta, supaya kami tidak usah bermalam di perjalanan.”

Cantrik itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Demikianlah, di pagi-pagi buta keesokan harinya, Mahisa Agni dan cantrik kawan seperjalanannya itu-pun sudah siap untuk berangkat. Namun sudah barang tentu ia tidak lupa untuk minta diberi bekal ketan ireng dan serundeng kelapa muda.

“Supaya aku tidak kelaparan di sepanjang jalan,“ berkata cantrik itu.

Witantra tersenyum sambil mengangguk-anggukkan kepalanya, “Bukankah kau kadang-kadang harus berpuasa sampai beberapa hari tanpa makan apapun kecuali minum dan sebuah pisang emas sehari.”

“O, tentu berbeda. Kalau aku memang sengaja melakukannya, jangankan sepekan. Sebulan aku tidak akan merasa lapar.“ ia berhenti sejenak, “tetapi kali ini aku tidak sengaja berpuasa. Apa salahnya aku membawa ketan ireng dan serundeng kelapa muda?”

“Tentu tidak ada salahnya,“ jawab Witantra, “Nah begitulah,“ sahut cantrik itu sambil menganggukkan kepalanya, sementara Mahisa Agni tersenyum saja melihat kelakuannya.

“Bekal ini tidak kalah pentingnya dengan pedang di lambungku,“ lalu, “apakah kita sudah siap untuk berangkat.”

“Aku sudah siap sejak tadi.”

“O, “cantrik itu mengerutkan keningnya, “kalau begitu marilah kita minta diri. Sebentar lagi matahari akan naik di atas cakrawala.”

Keduanya-pun kemudian minta diri kepada Witantra suami isteri. Mereka meninggalkan padukuhan yang sepi itu. Namun agaknya Mahisa Agni menemukan pergolakan yang dahsyat di dalam dadanya, justru di padukuhan yang sepi dan tenteram.

Sejenak kemudian maka keduanya-pun segera memacu kuda mereka, sebagai jalan masih memungkinkan. Apabila mereka sampai ke daerah yang semakin sulit, maka perjalanan mereka akan terhambat.

Setiap kali cantrik itu masih harus mengusap dahinya yang dibasahi oleh embun.Kadang-kadang ia memandang langit yang kemerah-merahan di ujung Timur. Semakin lama semakin terang. Ujung padi di sawah yang mulai merunduk tampak seolah-olah masih tidur dengan nyenyaknya. Meskipun gemeretak kaki-kaki kuda melintas dekat di atas bulir-bulir yang merunduk itu, namun ujung-ujung batang padi itu sama sekali tidak bergerak.

“Sebentar lagi matahari akan naik,“ desis cantrik itu.

“Dan kita akan sampai ke hutan perdu.”

“Tetapi kita sudah dapat melihat hambatan-hambatan di tengah perjalanan.”

Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi ia tidak menjawab.

Kuda-kuda mereka itu-pun meluncur dengan kencangnya di atas jalan persawahan. Namun mereka akan segera sampai ke daerah yang tidak digarap oleh tangan.

Dengan demikian maka perjalanan mereka mulai terhambat. Selain dengan itu, maka matahari-pun mulai memanjat di kaki langit. Semakin lama semakin jelas, dan warna yang merah-pun menjadi kekuning-kuningan.

Tidak ada masalah apapun yang mereka hadapi di perjalanan. Ketika matahari mulai tergelincir cantrik itu menyuapi mulutnya dengan ketan ireng, selagi kuda-kuda mereka beristirahat sejenak, minum air jernih di belumbang kecil dan makan rerumputan di sekitarnya.

“Kau tidak makan?“ ia bertanya kepada Mahisa Agni.

“Ya,“ sahut Mahisa Agni. Tetapi ia tidak dapat makan ketan sebanyak cantrik itu, sebab jika demikian perutnya akan menjadi pedih.

Mereka memasuki kota setelah menyelesaikan perjalanannya hampir sehari penuh. Tiba-tiba saja Mahisa Agni teringat, orang-orang Kediri yang telah ditolongnya. Di antaranya terdapat seorang gadis yang telah membuat suatu pahatan yang tipis di dinding hatinya. Seorang gadis dengan matanya yang cerah dan wajahnya yang luruh seperti wajah adik angkatnya, Ken Dedes.

“He, aku akan singgah di tempat penampungan orang-orang Kediri sejenak.”

Cantrik itu mendeham. Katanya, “Mereka sudah jelas tidak mengalami gangguan apapun. Biarkan saja mereka berada di penampungan mereka.”

“Aku ingin melihatnya sebentar. Barangkali mereka memerlukan sesuatu.”

“Apa misalnya? Mereka sudah tidak kekurangan apa-apa.”

Mahisa Agni tidak segera menjawab.

“Mereka tidak akan kekurangan makan karena Singasari lohjinawi . Pakaian juga tidak akan kekurangan. Apalagi?”

“Ah kau,“ desis Mahisa Agni, “seseorang tidak hanya tergantung pada sandang dan pangan saja.”

“Papan-pun cukup. Tempat penampungan itu cukup luas?”

“Hanya itu?” tiba-tiba Mahisa Agni bertanya, “hanya sandang, pangan dan papan? Sesudah itu, tidak ada apa-apa lagi?”

“He,“ cantrik itu mengerutkan keningnya.

“Buat apa kau kadang-kadang membaca kitab-kitab Kidung atau kakawin atau apapun? Apakah kau tidak pernah mendengarkan bunyi-bunyian dan melihat tari-tarian di banjar?”

“Eh, tentu.“

“Itu juga suatu kebutuhan,“ berkata Mahisa Agni.

“Aku tahu sekarang. Kau akan mengatakan bahwa kebutuhan itu tidak sekedar kebutuhan lahiriah. Tetapi juga kesejahteraan rokhaniah. Begitu?”

“Hebat juga kau.”

Cantrik ikut tersenyum. Namun kemudian ia mengerutkan keningnya sambil berkata, “Tetapi aku kira masih ada masalah lahiriah yang tidak kalah pentingnya.”

“Apa?”

“Kau sudah terlibat dalam nalurimu sebagai manusia dewasa. Seperti malam dan siang. Langit dan bumi. Bulan dan matahari.”

“Ah,“ desah Mahisa Agni.

“Itu wajar. Wajar sekali. Kau jangan membiarkan dirimu ditelan oleh usia tanpa arti.”

“Kau sendiri bagaimana?”

Cantrik itu tiba-tiba tertawa. Keras sekali sehingga satu dua orang yang berjalan di pinggir jalan terhenti dan memandang kedua orang berkuda yang sudah mulai samar-samar.

“Marilah,“ berkata cantrik itu, “kita bermalam di tempat penampungan.”

“Tidak. Nanti kita lanjutkan perjalanan yang tinggal beberapa patok lagi ke padepokan Panji Bojong Santi.“

“ O. ya.“ cantrik itu mengangguk-anggukkan kepalanya.

Keduanya-pun kemudian singgah sejenak di tempat penampungan orang-orang Kediri. Tanpa kesulitan apapun mereka segera dapat menemukan orang-orang yang mereka cari.

Agaknya mereka sudah mulai dapat menyesuaikan diri mereka dengan keadaan di tempat penampungan yang cukup baik. Cukup makan dan pakaian. Sedang tempat-pun cukup pula, meskipun agak terlampau berjejal-jejal.

“Aku akan sering berkunjung kemari,“ berkata Mahisa Agni.

“O. kami akan senang sekali menerima,“ berkata orang-orang Kediri itu.

“Aku juga,“ berkata cantrik itu pula. “Apakah, kalian akan menerima dengan senang hati pula?”

“Tentu.”

Cantrik itu mengangguk-anggukkan kepalanya sambil tersenyum.

Tetapi mereka hanya sebentar berada di tempat itu. Mereka segera minta diri dan kembali ke padepokan Panji Bojong Santi.

Dengan berterus terang Mahisa Agni mengatakan, bahwa ia telah memutuskan suatu rencana yang disetujui oleh Witantra. Ia berharap bahwa ia akan dapat melaksanakan rencana itu tanpa mengganggu perkembangan Singasari. Tanpa mengganggu kedudukan dan usaha Sri Rajasa untuk menjadikan Singasari sebuah negeri yang besar dan kuat.

“Mudah-mudahan kau berhasil Agni,“ berkata Panji Bojong Santi.

Di malam berikutnya Mahisa Agni bermalam di padepokan itu. Namun ia hampir-hampir tidak dapat tidur sama sekali. Ia harus mengakui kelebihan Ken Arok dari dirinya sendiri, dari Witantra dan bahkan dari semua orang di Singasari. Ken Arok membuat rencana seorang diri, dilaksanakan seorang diri dan akhirnya berhasil dengan cemerlang. Tetapi, ia harus membuat rencananya yang jauh lebih sederhana bersama beberapa orang sekaligus, justru orang-orang yang memiliki kemampuan terpuji.

“Tetapi apaboleh buat,“ desis Mahisa Agni, “mungkin keadaan memang sangat membantunya. Tetapi mungkin juga karena Ken Arok memang orang yang luar biasa. Bukan saja kemampuan jasmaniahnya, tetapi juga kemampuannya berpikir.”

Untuk memenuhi rencananya Mahisa Agni harus membuat persiapan-persiapan, terutama di padang Karautan. Karena itu, ia tidak bermalam lebih dari satu malam di padepokan Panji Bojong Santi. Di pagi harinya ia segera minta diri untuk kembali ke padukuhannya.

“Hati-hatilah dengan rencana itu Agni,“ pesan Panji Bojong Santi, “kau akan berhadapan dengan Sri Rajasa sebagai seorang raja yang Agung dan bijaksana. Kau akan berhadapan dengan seseorang yang sangat diperlukan oleh Singasari. tetapi bahwa ia tetap seorang manusia biasa itu-pun harus kau perhitungkan pula.”

Pesan itu tersimpan di hati Mahisa Agni. Dan ia akan berusaha untuk melakukannya sebaik-baiknya.

Ketika ia sampai ke padukuhannya, dari kejauhan ia sudah membuat pertimbangan-angan. Menilik perkembangan padukuhan itu, tidak ada kesulitan yang perlu dicemaskannya, “Semua berjalan sesuai seperti yang diperhitungkan. Air yang ajeg , pategalan yang semakin rimbun dan sawah-sawah yang hijau. Bahkan belumbang yang dibuat oleh Ken Arok itu kini terpelihara baik. Sri Rajasa menempatkan beberapa orang petugasnya di sana. meskipun para petugas itu diambil pula dari anak-anak muda Panawijen.

“Aku sudah dapat meninggalkan mereka,“ berkata Mahisa Agni di dalam hatinya, “apalagi aku tidak pergi terlampau jauh.Aku hanya berada di Singasari. Setiap saat yang diperlukan aku dapat kembali ke padang ini.“

Demikianlah maka rencana Mahisa Agni menjadi bulat. Sehingga dengan demikian, pada suatu hari ia menghadap Ki Buyut Panawijen untuk minta diri kepadanya.

“Kau akan meninggalkan kami?“ bertanya Ki Buyut.

“Bukan begitu Ki Buyut. Aku hanya ingin mendapatkan pengalaman baru. Aku akan selalu datang menengok padukuhan ini. Bukankah aku tidak berada terlampau jauh dari padukuhan kita. Apabila ada sesuatu yang penting, seseorang dapat menyusul aku ke kota, dan aku-pun akan segera datang.”

Ki Buyut mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Memang di kota kau akan mendapatkan pengalaman yang lebih banyak. Tetapi aku sudah menjadi semakin tua. Aku tidak mempunyai seorang anak-pun lagi. Kaulah yang selama ini aku anggap menjadi ganti anakku yang hilang itu. Padukuhan yang memang kau buat ini kelak akan memerlukan tenagamu. Tidak ada orang lain yang dapat menjadi tetua di sini, kecuali kau.”

Mahisa Agni mengerutkan keningnya. Sejenak ia tepekur. Ia mengerti kerisauan yang selalu mengganggu hati orang tua itu. Sejenak kemudian ia-pun berkata, “Ki Buyut. Apabila tugas itu memanggil, dan memang tidak ada orang lain yang dapat melakukannya, aku tidak akan ingkar. Aku akan kembali ke padukuhan ini. Namun selama ini biarlah aku mendapatkan pengalaman baru di dalam hidupku.”

Ki Buyut mengangguk-angguk, “Aku mengerti. Pengalaman memang perlu. Tidak saja bagimu, tetapi bagi setiap orang. Karena itu, pergilah. Tetapi pada saatnya kau harus kembali.”

Demikianlah maka Mahisa Agni-pun kemudian minta diri pula kepada kawan-kawannya, kepada anak-anak muda yang telah menggantikan angkatannya, setelah ia menjadi semakin tua. Namun anak-anak muda itu ternyata memberikan kebanggaan dan kepercayaan di hatinya, bahwa mereka akan dapat melakukan tugas mereka dengan baik. Anak-anak muda Panawijen bukan anak-anak muda seperti anak-anak sebayanya, yang karena Panawijen terlampau subur, sehingga mereka tidak mampu berbuat apa-apa. Ketika bendungan itu pecah, mereka kebingungan tanpa melakukan sesuatu.

Tetapi, anak-anak muda kini mempunyai jiwa yang menyala di dalam dada mereka. Dengan bimbingan yang tepat, anak-anak muda itu telah siap untuk menjadikan Panawijen baru sebuah padukuhan yang besar sejalan dengan perkembangan Singasari.

Mahisa Agni yang sudah siap pergi ke Singasari, sama sekali tidak menghalang-halangi anak-anak muda yang menyediakan diri bagi perkembangan kerajaan Sri Rajasa itu. Bahkan anak-anak muda Panawijen telah siap pula untuk ikut serta dalam peperangan yang agaknya memang sudah berada di ambang pintu.Sebagian dari mereka dengan tekun mengikuti latihan-latihan keprajuritan, seperti yang diselenggarakan di padukuhan-padukuhan lain.

“Apakah kau tidak akan kembali?“ bertanya salah seorang kawannya.

“Tentu,“ jawab Mahisa Agni. “bukankah aku tidak pergi lebih jauh dari kota Singasari, kau dapat pergi ke kota itu untuk suatu keperluan. Juga seandainya padukuhan ini memanggil aku.”

Kawan-kawannya mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi kepergian Mahisa Agni membuat hati mereka serasa menjadi sepi. Selama ini Mahisa Agni seolah-olah menjadi nyala api di tengah-tengah padukuhannya.

“Kalian harus belajar melakukan tugas-tugas kalian tanpa tuntunan terus-menerus. Pada suatu saat aku memang harus pergi untuk selama-lamanya apabila umurku sudah sampai ke batas. Kini aku hanya akan pergi ke tempat yang masih dapat kalian capai dalam waktu yang terhitung pendek.”

Kawan-kawannya hanya mengangguk-angguk saja. Namun mereka mengerti, bahwa tidak sewajarnya mereka selalu menahan Mahisa Agni di padukuhan ini saja, apabila memang terbuka pintu baginya untuk mengembangkan dirinya.

“Mudah-mudahan kehadiranku di Singasari dapat bermanfaat bagi padukuhan ini, seperti dahulu Ken Dedes juga memanfaatkan kehadirannya di Tumapel. Tetapi bedanya, Ken Dedes itu diperlukan, sedang aku memerlukan Singasari.”

Demikianlah maka pada saatnya Mahisa Agni meninggalkan padukuhannya.Ia mengharap bahwa ia akan mendapat tempat di Singasari dalam jabatan apapun. Namun tujuannya yang utama adalah menyiapkan Anusapati sebagai Pangeran Pati. Ia harus dapat menerima jabatannya dengan baik.

Sebagai seorang Putera Mahkota Anusapati harus berpribadi. Dalam menjalankan tugasnya kelak, ia tidak boleh kalah dari Sri Rajasa. Dengan demikian kedudukannya akan menjadi kuat. Tetapi apabila ia tidak mampu menggantikan Sri Rajasa, bukan saja untuk menduduki takhta tetapi untuk melakukan tindakan-akan besar yang serupa, maka Anusapati tidak lebih dari sebuah golek yang betapapun indahnya, namun ia tidak akan mampu berbuat apa-apa.

Mahisa Agni memang mempunyai kecurigaan, bahwa Anusapati yang dipersiapkan untuk menggantikan kedudukan Sri Rajasa, dan bahkan telah ditentukan untuk menjadi Putera Mahkota itu, sekedar menenteramkan hati Ken Dedes dan pengikut-pengikut Tunggul Ametung. Mereka akan menganggap bahwa Sri Rajasa adalah seseorang yang berjiwa besar. Meskipun Anusapati itu putera Tunggul Ametung namun anak itu diangkatnya pula menjadi Putera Mahkota. Apalagi pada saat-saat terakhir, Singasari memerlukan segenap kemampuannya untuk menghadapi Kediri yang agaknya semakin tidak senang atas perkembangan Singasari. Beberapa orang pemimpin Kediri menganggap sikap Singasari itu sebagai suatu pemberontakan.

Tetapi, di samping mengangkat Anusapati menjadi Putera Mahkota, Ken Arok pasti sudah menyiapkan rencana lain. Rencana yang sangat rumit, seperti pada saat ia merebut takhta Tumapel dari Tunggul Ametung dan sekaligus membunuhnya, merampas jandanya, dan bahkan justru ia mendapat kepercayaan karena ia dianggap telah berjasa menangkap pembunuhnya, Kebo Ijo dan membunuh pembunuh itu sama sekali.

Menilik sikap Ken Arok sebagai manusia. Tohjaya agaknya lebih menarik perhatiannya. Karena umur Anusapati dan Tohjaya tidak terpaut terlampau banyak, maka kegagalan Anusapati pasti akan menggeser perhatian rakyat Singasari kepada Tohjaya. “Inilah agaknya yang sudah dipersiapkan oleh Sri Rajasa,“ berkata Mahisa Agni di dalam hatinya. Dan adalah tugasnya untuk mencegah hal itu terjadi. Anusapati harus dapat menerima takhta sekaligus tugas-tugasnya. Ia tidak boleh duduk di atas Singgasana seperti seekor kepompong yang dungu.

Demikianlah dengan rendah hati Mahisa Agni menyatakan niatnya itu kepada Ken Dedes, setelah ia sampai di istana. Dengan dalih yang dikarangkannya, ia mengharap bahwa ia mendapat kesempatan untuk menambah pengalaman dan pengetahuannya di Singasari sebagai apapun juga.

“Kenapa baru sekarang?,” bertanya Permaisuri, “bukankah tawaran untuk itu sudah diberikan sejak Akuwu Tunggul Amatung?”

“Saat itu aku masih belum dapat meninggalkan padang yang baru saja dibuka itu Tuan Puteri,“ jawabnya, “tetapi sekarang keadaan itu sudah jauh berbeda. Padukuhan itu sudah menjadi padukuhan yang masak. Aku sudah hampir tidak diperlukan lagi. Dalam keadaan yang mendesak, satu dua orang dapat menyusulku kemari.”

Ken Dedes mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya kemudian, “Aku akan mengatakannya kepada Baginda.“ Ketika Ken Dedes mendapat kesempatan untuk menyampaikannya kepada Ken Arok, sambutannya benar-benar di luar dugaan. Ken Arok dengan gembira menerimanya. Katanya, “Mahisa Agni adalah seorang yang berkemampuan luar biasa. Ia memiliki ilmu yang jarang ada duanya. Karena itu, justru dalam keadaan serupa ini, aku sangat memerlukannya.”

Maka dengan serta-merta, Mahisa Agni-pun segera dipanggil menghadap. Tanpa prasangka apapun Ken Arok bertanya, “Kau benar-benar ingin bekerja di istana?”

“Ya Baginda.“

“Aku sudah menawarkan sejak dahulu, tetapi kau menolak.”

“Hamba tidak pernah menolak. Tetapi hamba masih terikat oleh padukuhan yang sedang berkembang itu.”

“Baiklah Agni. Kau akan menjadi seorang Senapati yang baik. Aku kira kau dapat melihat perkembangan yang memburuk dari hubungan kita dengan Kediri.”

Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Sudah lama aku berniat untuk membentuk suatu pasukan yang khusus.

“Maksud Baginda?”

“Justru yang terdiri dari orang-orang Kediri sendiri. Orang-orang yang menyingkir ke Singasari karena bermacam-macam alasan,“ berkata Sri Rajasa. Kemudian, “Tetapi aku belum pernah berhasil melaksanakan karena tidak ada orang yang dapat dapat aku percaya untuk itu. Kini kau tiba-tiba datang. Maka kuwajiban ini akan aku bebankan kepadamu. Kau harus membentuk suatu pasukan khusus dari orang-orang Kediri sendiri.”

Mahisa Agni mengerutkan keningnya.

“Mungkin dari segi daya tempur, pasukan itu tidak akan sekuat pasukan yang memang sudah kita persiapkan sejak lama.Tetapi pasukan itu akan mempunyai pengaruh lain terhadap rakyat Kediri sendiri. Pengaruh batin yang tidak kalah tajamnya dari segala macam dan jenis senjata.”

Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya. Sekali lagi ia mengagumi kecerdasan Sri Baginda. Apabila pasukan itu benar-benar dapat terbentuk, muka pengaruhnya pasti akan dahsyat sekali bagi rakyat Kediri.

“Nah, apakah kau sanggup?”

Sejenak Mahisa Agni berpikir, namun ia-pun memperhitungkan kepentingannya sendiri. Ia harus mendapat kepercayaan dari Kan Arok, sehingga kehadirannya di istana tidak dicurigainya. Karena itu, maka ia-pun kemudian berkata, “Hamba akan mencoba Tuanku. Hamba akan mencoba membentuk pasukan seperti yang Tuanku maksudkan.”

“Bagus. Aku percaya kepadamu. Aku-pun yakin bahwa kau akan berhasil.”

Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya. Sekilas dipandanginya wajah Sri Rajasa. Wajah yang meskipun kini wajah seorang raja yang semakin lama menjadi semakin besar, namun wajah itu juga yang pernah dikenalnya di padang Karautan.

Sekilas teringat olehnya, pertama kali ia bertemu dengan Hantu Karatutan yang menakutkan itu. Gurunya sengaja membiarkannya berkelahi.

Sejak saat itu ia melihat sesuatu yang aneh pada Ken Arok. Meskipun ia tidak mempelajari ilmu tata beladiri, tetapi ia tidak dapat mengalahkannya. Tubuhnya seolah-olah menjadi liat dan kebal, meskipun agaknya tidak demikian.

Sekilas teringat pula olehnya sebuah pusaka kecil pemberian gurunya yang sampai sekarang disimpannya baik-baik.Sebuah trisula yang turun temurun diterima dari guru kepada muridnya.

Trisula ini mempunyai pengaruh yang aneh atas Ken Arok.Menurut dugaan Mahisa Agni, pengaruh itu sampai saat ini pasti masih belum pudar.

“He, kenapa kau tiba-tiba merenung?“ bertanya Ken Arok sehingga Mahisa Agni terkejut karenanya.

“Ampun Tuanku,“ jawab Mahita Agni, “hamba mencoba membayangkan, apa yang dapat hamba lakukan.”

“Tidak sekarang,“ berkata Ken Arok, “kau masih mempunyai kesempatan. Kau dapat merenungkannya sepekan dua pekan. Baru kau mulai berbuat sesuatu.”

“Hamba Tuanku.”

“Kemudian aku mempunyai tambahan seorang panglima. Di samping panglima pasukan tempur, pasukan pengawal istana dan pelayan dalam, aku akan mempunyai seorang panglima pasukan khusus.”

“Hamba Tuanku. Tetapi jabatan itu terlampau tinggi buat hamba.”

“Kenapa?”

“Hamba bukan seorang prajurit. Dan hamba hanyalah anak Padang Karautan.”

Ken Arok mengerutkan keningnya. Tetapi tiba-tiba ia tertawa. Perlahan-lahan sekali ia berbisik, “Anak-anak Padang Karautan harus menjadi orang yang terpandang.”

Mahisa Agni menundukkan kepalanya. Tetapi ia menangkap kata-kata Ken Arok itu.

Maka keputusan Baginda itu-pun kemudian diumumkannya kepada sidang para pemimpin Singasari. Mahisa Agni resmi mendapat kedudukan seorang panglima. Panglima pasukan khusus yang masih harus dibentuknya sendiri.

“Ia adalah kakak Tuan Puteri Permaisuri Singasari,“ desis mereka yang kemudian mendengar keputusan Sri Baginda itu. “Sudah sepantasnya apabila ia-pun menjadi seorang panglima.”

Namun seorang senapati muda yang baru saja ditarik masuk ke kota berkata, “Tetapi apakah ia mampu bertempur? Panglima memerlukan bekal yang cukup lengkap. Ia akan memimpin sepasukan prajurit. Pasukan yang besar terbagi-bagi dalam pasukan-pasukan yang lebih kecil.Nah, bayangkan. Seorang penglima harus mempunyai kecakapan mengatur di samping bertempur. Tidak dapat disamakan dengan jabatan-jabatan kehormatan yang dapat dijabat oleh siapapun meskipun ia kakak seorang Permaisuri.”

Kawannya mengerutkan keningnya. Dengan nada datar ia bertanya, “Apakah kau belum pernah mendengar ceritera tentang kakak Permaisuri yang bernama Mahisa Agni itu?”

“Maksudmu?”

“Ia pernah naik ke arena melawan panglima pasukan pengawal istana pada jaman Akuwu Tunggul Ametung.”

Senapati muda itu mengerutkan keningnya.

“Pada waktu itu, tidak seorang-pun di seluruh Tumapel yang dapat menunjuk seorang prajurit, senapati atau penglima dari pasukan apapun, untuk mengimbangi Witantra naik ke arena.Pada waktu itu kita masih belum dapat menilai kemampuan Sri Rajasa, seorang Pelayan Dalam. Nah, pada saat itulah. Mahisa Agni tampil dan berhasil mengalahkan Witantra di arena, meskipun ia tidak mau membunuhnya.”

Senapati itu mengerutkan keningnya.

“Kau dapat membayangkan, apakah Mahisa Agni itu akan mampu menjadi seorang panglima.”

Tetapi Senapati itu masih mencoba membela pendiriannya, “Tetapi belum pasti ia dapat mengatur suatu lingkungan keprajuritan. Apalagi sepasukan yang asing seperti yang akan dibentuknya. Untuk itu diperlukan kecakapan mengatur dan menguasai orang lain.”

“Juga ceritera tentang Mahisa Agni,“ jawab kawan-kawannya, “di padang Karautan ia berhasil membangun sebuah bendungan, membuka sebuah pedukuhan dan menciptakan tanah persawahan dan pategalan. Itu suatu kerja yang besar dengan seluruh rakyat pedukuhan Panawijen lama. Aku kira tidak jauh lebih sulit mengatur sepasukan prajurit dari pada membangun sebuah padukuhan baru dengan segala kelengkapannya.”

Sanapati muda itu mengerutkan keningnya. Tetapi kemudian ia mengangguk-anggukkan kepalanya, “Aku ternyata belum banyak mengenalnya.”

Demikianlah maka Mahisa Agni mulai mendapatkan wewenang untuk melaksanakan tugasnya. Kepadanya diperbantukan beberapa orang yang sudah mengenalnya, supaya justru tidak mngganggu pekerjaannya.

Yang pertama-tama dilakukan oleh Mahisa Agni adalah mengenal orang-orang yang menyingkir dari Kediri.Mereka di tempatkan di barak-barak yang memang dibuat untuk mereka. Dengan demikian maka Mahisa Agni tidak banyak mengalami kesulitan untuk berkenalan dengan sebagian besar dari mereka.

Namun dalam sekilas Mahisa Agni segera dapat mengetahui, bahwa mereka bukanlah calon-calon prajurit yang baik. Meskipun demikian dengan kerja yang tekun, maka hasilnya akan juga dapat memadai. Apalagi prajurit yang akan dibentuk oleh Mahisa Agni itu bukanlah pasukan tempur yang sebenarnya. Mereka lebih condong sebagai suatu pameran betapa orang-orang Kediri sendiri telah berpihak kepada Singasari.

Setelah Mahisa Agni cukup mengenal para pengungsi itu, maka mulailah ia melakukan pemilihan. Anak-anak muda dan orang-orang yang masih cukup kuat dikumpulkannya.

Tetapi Mahisa Agni cukup bijaksana. Ia tidak langsung memerintahkan mereka memisahkan diri dari para pengungsi yang lain. Tetapi kepada mereka, Mahisa Agni memberi kesempatan untuk memilih.

“Ini adalah suatu tugas suka rela,“ berkata Mahisa Agni, “karena tanpa kerelaan, pasukan yang akan terbentuk nanti tidak akan banyak berarti.”

Ternyata kata-kata Mahisa Agni justru menyentuh perasaan mereka. Jauh lebih dalam dari pada Mahisa Agni langsung menjatuhkan perintah untuk membentuk suatu pasukan.

“Siapa yang ingin ikut, aku persilahkan,“ berkata Mahisa Agni di hadapan mereka, “tetapi kalian harus menjadari, bahwa pasukan ini pada suatu saat akan bertempur. Sebenarnya bertempur melawan pasukan Kediri.”

Beberapa orang dari mereka mengerutkan keningnya.

“Memang ada kemungkinan bagi kalian masing-masing, mengalami nasib yang paling pahit. Misalnya di dalam peperangan akan bertemu dengan sanak saudara, mungkin kawan sepermainan atau bahkan keluarga yang saudara tinggalkan. Tetapi ini adalah suatu pengorbanan. Pengorbanan bagi kebebasan rakyat Kediri.”

Mahisa Agni melihat mereka mengangguk-anggukkan kepala.

“Tetapi masih ada lagi yang harus kalian pertimbangkan. Kalian akan terjun ke dalam api peperangan. Di dalam peperangan ada kemungkinan yang dapat terjadi atas kalian. Dua kemungkinan yang sama beratnya. Hidup dan yang lain, mati. Kalian dapat tetap hidup, tetapi kalian dapat juga mati.“ Mahisa Agni berhenti sejenak, kemudian, “Nah, renungkan. Siapa yang akan ikut bersama aku, membebaskan seluruh rakyat Kediri dari ketakutan seperti sekarang, kalian akan ditampung di barak yang lain. Kami akan menunggu kalian, sebelum tengah hari. Kalian mempunyai waktu untuk mempertimbangkan masak-masak. Bagi yang berkeberatan, tidak akan ada perlakuan apapun. Kalian dapat memilih sebebas-bebasnya. Asal kalian telah menyadari, bahwa kalian akan ditunggu oleh kerja berat, dan kemungkinan-kemungkinan yang paling pahit dan pedih.”

Kemudian Mahisa Agni meninggalkan mereka. Dibiarkannya mereka berpikir sampai saatnya mereka menjatuhkan pilihan.

Demikianlah dilakukan Mahisa Agni dari kelompok ke kelompok pengungsi yang ditampung di dalam barak-barak di Singasari. Menilik sikap dan tanggapan mereka, Mahisa Agni berharap, bahwa pasukannya tidak akan terlampau kecil.

Demikianlah, pada hari yang telah ditentukan, Mahiasa Agni bersama beberapa orang yang diperbantukan kepadanya, telah berada dalam suatu barak yang besar. Pada hari itu, tengah hari, adalah batas waktu penerimaan bagi orang-orang Kediri yang ingin memasuki lapangan keprajuritan yang akan memerangi ikatan-ikatan yang tidak mereka senangi, yang mereka anggap telah membelenggu Kediri sendiri selama ini.

Ternyata harapan Mahisa Agni tidak sia-sia. Berduyun-duyun anak-anak muda dan laki-laki masih mampu menggenggam senjata memasuki barak yang sudah disediakan bagi mereka. Bagi suatu pasukan baru dalam tata keprajuritan Singasari.

Bagi Singasari jabatan Mahisa Agni sebagai seorang Panglima-pun merupakan jabatan yang baru pula. Sebelumnya tidak pernah ada seorang Panglima dari sebuah pasukan yang terdiri dari bukan orang-orang Singasari yang sebelumnya bernama Tumapel. Namun untuk menghadapi Kediri, Singasari telah membentuk pasukan yang terdiri dari orang-orang Kediri.

Dengan penuh bertanggung jawab, Mahisa Agni menerima mereka. Karena orang-orang Kediri itu terdiri dari berbagai macam tingkat dan kemampuan, Mahisa Agni masih harus memisah-misahkan mereka. Bagi mereka yang pernah mengalami latihan tata peperangan, dipisahkannya dalam kelompok tersendiri. Sedang mereka yang sama sekali belum, dipisahkannya pula.

Di hari-hari berikutnya. Mahisa Agni menghadapi suatu kerja yang benar-benar berat. Bersama beberapa orang pembantu-pembantunya, Mahisa Agni mulai membentuk orangi Kediri itu menjadi sepasukan prajurit.

Mahisa Agni menyerahkan orang-orang yang pernah mendapat latihan serba sedikit, kepada pembantu-pembantunya untuk meningkatkan kemampuan mereka. Sedang yang sama sekali belum pernah memegang tangkai senjata, Mahisa Agni sendirilah yang melatih mereka menurut caranya yang kadang-kadang tidak sesuai dengan cara-cara yang dipergunakan di dalam tata keprajuritan di Singasari.

“Aku mengutamakan kemampuan tempur,“ berkata Mahisa Agni setiap kali, “meskipun orang-orang ini tidak dapat bersikap baik di dalam sikap dan langkahnya, namun mereka harus mampu membela diri di setiap peperangan.” Itulah sebabnya Mahisa Agni mengambil cara menurut pertimbangannya sendiri.

Ternyata bahwa usaha Mahisa Agni tidak sia-sia. Dalam waktu singkat, pasukan yang mendapat latihan terus menerus, tanpa mengenal lelah dan jemu itu, sedikit demi sedikit dapat meningkatkan dirinya, mendekati nilai keprajuritan yang sebenarnya di dalam olah peperangan.

Tetapi yang terlebih penting dari itu, Mahisa Agni mulai mendapat kepercayaan dari Sri Rajasa. Setelah melihat sendiri hasil yang dicapai oleh Mahisa Agni, maka Sri Rajasa menjadi semakin gairah untuk segera dapat mengimbangi kekuasaan Kediri.

Dengan demikian, maka Mahisa Agni-pun menjadi semakin leluasa pula berada di istana. Sebagai seorang kakak dari Permaisuri Singasari, ia mendapat tempat yang baik di bangsal belakang istana Singasari. Namun dengan demikian Mahisa Agni harus benar-benar menjaga dirinya agar tidak terperosok ke balik dinding yang membatasi dua buah petamanan di dalam istana Tumapel. Mahisa Agni yang mulai mapan itu tidak mau jatuh ke dalam tangan Ken Umang yang pasti akan dapat merusak semua rencananya.

Demikian, maka tanpa setahu seorang-pun Mahisa Agni menjadi semakin dekat dengan Anusapati. Memang tidak seorang-pun yang mencurigainya. Anusapati adalah ke manakannya. Ken Arok-pun tidak. Mereka menganggap hal itu wajar sekali. Apalagi hampir setiap orang di dalam istana itu mengetahui bahwa Ken Arok lebih dengan pada Tohjaya dari pada kepada Anusapati, sehingga wajarlah bahwa Anusapati memerlukan seorang laki-laki yang dapat menjadi ayahnya.

Sesuai dengan umurnya, Mahisa Agni mulai membawa Anusapati bermain-main.Permainan yang paling ringan dan tidak mencurigakan. Kadang-kadang Anusapati diajaknya bermain loncatan. Mahisa Agni membuat lingkaran-lingkaran di tanah, kemudian Anusapati harus mengejarnya, melalui lingkaran-lingkaran yang diinjak pula oleh Mahisa Agni.

Mula-mula Anusapati yang kecil itu senang bermain kejar-kejaran dengan cara itu, tetapi kemudian ia menjadi jemu.

“Kita cari cara yang lebih baik,“ berkata Mahisa Agni, “kita meletakkan batu-batu di tanah. Kejar aku, tetapi kakimu tidak boleh menyentuh tanah.”

Anusapati-pun menurut pula.Seperti semula, ia senang melakukannya. Tetapi sepekan dua pekan, ia-pun menjadi jemu pula.

Mahisa Agni merasa senang dengan anak ini. Ia selalu ingin sesuatu yang baru. Ia tidak betah untuk tetap melakukan pekerjaan yang sama.

Tetapi suatu hal yang membuat Mahisa Agni sedih.Hati anak itu agaknya terlampau tertekan. Meskipun Ken Arok tidak melakukannya di hadapan ibunya, tetapi setiap kali, apabila Ken Dedes tidak melihatnya, anak itu selalu diancam, ditakut-takuti dan sama sekali tidak mendapat hati.

“Aku tidak menyangka, bahwa Ken Arok dapat berbuat demikian,“ berkata Mahisa Agni di dalam hatinya. Namun kemudian ia teringat kepada semua rencana Ken Arok yang dapat dilakukannya dengan sempurna. Karena itu maka Mahisa Agni-pun segera mengambil kesimpulan, bahwa apa yang dilakukan oleh Ken Arok itu memang sudah diperhitungkannya masak-masak.

Sekilas terkenang olehnya, apa yang dilakukan oleh Kebo Sindet atasnya di tengah rawa-rawa maut itu. Untunglah bahwa hal itu terjadi atasnya setelah jiwanya terbentuk, sehingga sulitlah bagi Kebo Sindet untuk merubahnya menjadi seorang budak penurut dan pengecut.

Tetapi Anusapati kini sedang tumbuh dan bersemi. Pada saat-saat jiwanya sangat peka itulah ia mengalami tekanan batin yang luar biasa. Setiap kali ia selalu dibayangi oleh ketakutan dan rendah diri.

“Ini adalah salah satu kecakapan Ken Arok,“ berkata Mahisa Agni di dalam hatinya, “apabila aku tidak mengerti apa yang telah dilakukan, aku-pun tidak akan mengerti apa yang sekarang sedang dilakukannya pula. Meskipun ia mengangkat Anusapati menjadi seorang Pangeran Pati, tetapi ia berusaha untuk membuat Anusapati itu mati di dalam hidupnya.Ia kelayakan menjadi Putera Mahkota yang memuakkan bagi rakyat Singasari. Putera Mahkota sedungu keledai. Putera Mahkota yang tidak dapat berbuat apapun juga. Yang selalu dibayangi oleh ketakutan dan keragu-raguan.

Dalam keadaan yang demikian maka rakyat Singasari akan berteriak, “Minggirlah anak Tunggul Ametung,“ dan mereka akan berteriak pula, “Angkatlah Tohjaya menjadi penggantinya.”

Mahisa Agni yang sudah mengenal Ken Arok itu kini dapat memperhitungkan langkahnya. Dan agaknya otak Mahisa Agni-pun tidak terlampau tumpul untuk mengurai masalah itu.

Dengan sekuat-kuat tenaganya Mahisa Agni melawan cara Ken Arok itu. Setiap kali ia berusaha membuat hati Anusapati mantap. Diceriterakannya tentang berbagai macam dongeng tentang orang-orang yang semula menderita, tetapi karena keuletannya, mereka dapat menolong diri mereka sendiri.

Kadang-kadang Anusapati mendengarkan dengan penuh minat. Kepalanya terangguk-angguk penuh harapan. Tetapi kadang-kadang ia justru merenung dengan sorot mata yang buram memandangi bintik-bintik di kejauhan.

“Ayah terlampau sering marah,“ katanya pada suatu kali, “aku diancamnya lagi apabila aku berkelahi dengan adinda Tohjaya.”

“Kenapa kau berkelahi?“ bertanya Mahisa Agni.

“Permainanku dirampasnya. Aku mempertahankannya.”

“Lalu.”

“Ketika ia memukul aku, aku menghindar sehingga ia jatuh tertelungkup. Adinda Tohjaya menangis, dan mengatakan bahwa akulah yang bersalah.”

“Apakah Ayahanda Baginda melihat?”

“Aku dipanggil Ajahanda Baginda di bangsal sebelah, di bangsal bibi Ken Umang. Kupingku dicubitnya dan aku tidak boleh mengadu kepada ibu.”

Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam.Hal itu bukan untuk pertama kalinya terjadi. Kalau kedua anak-anak itu bertengkar seperti lazimnya anak-anak, maka Anusapati pasti dimarahi langsung oleh Baginda sendiri. Bukan oleh pemomong yang sudah diserahi untuk mengawasinya.

Bahkan Mahisa Agni itu-pun kemudian berprasangka pula terhadap pemomongnya Anusapati, apakah pemomong yang ditunjuk oleh Baginda itu sudah mendapat tugas khusus pula untuk meruntuhkan ketahanan hati Anusapati?

“Sudahlah,“ Mahisa Agni-pun mencoba menghiburnya, “kau lebih baik tidak bermain-main dengan Tohjaya. Carilah permainan sendiri di tempat yang terpisah.”

“Adinda Tohjaya lah yang sering mendatangi aku.”

“Menyingkirlah,“ berkata Mahisa Agni, “bukan karena kau takut kepada Tohjaya, tetapi lebih baik menghindari pertengkaran dengan anak cengeng. Ia pasti akan selalu menangis dan mengadu. Karena itu, bermainlah sendiri.”

Anusapati mengerutkan keningnya. Perlahan-lahan ia mengangguk-anggukkan kepalanya. Kalau ia menyingkir, bukan berarti ia takut kepada Tohjaya. Tetapi memang lebih baik tidak bermain-main dengan anak cengeng.Anak yang hanya pandai menangis.

Anusapati menarik nafas dalam-dalam. Aneh nampaknya. Seorang anak yang seakan-akan menemukan sesuatu di dalam dirinya.

“Tetapi kau tidak boleh cengeng Anusapati,“ berkata Mahisa Agni kemudian, “kau harus menghadapi semua persoalan dengan dada tengadah. Kau tahu bedanya?”

Anusapati mengangguk. Dan tiba-tiba saja anak itu bertanya, “Apakah paman Mahisa Agni tidak mempunyai seorang putera laki-laki sebesar aku?”

“Kenapa?“ bertanya Mahisa Agni.

“Aku lebih senang bermain-main dengan seorang kawan atau lebih daripada bermain-main sendiri.”

“Pemomongmu?”

“Sekarang aku sering dilepaskannya sendiri.Bermain-main sendiri tanpa emban.”

“Di mana embanmu?”

“Ia juga sering menangis.”

Mahisa Agni mengerutkan keningnya. Ia tidak mengerti apa yang sebenarnya melingkari Anusapati itu. Ia tidak dapat mencarinya dengan serta-merta. Tetapi ia harus melangkah perlahan-lahan supaya tidak ada seorang-pun yang mencurigainya.

“Menurut bibi emban, aku boleh bermain-main sendiri, tetapi tidak boleh keluar dari halaman dalam bangsal tengah.”

Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya, “Dan kau ternyata keluar dari halaman itu tanpa setahunya.”

“Aku jemu berada di halaman bangsal tengah saja paman.”

Mahisa Agni mengerutkan keningnya. Tiba-tiba ia bertanya, “Di mana Ayahanda Baginda sekarang?”

“Di bangsal sebelah dinding. Di bangsal bibi Umang.“

Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya. Marilah, aku antar kau kepada pemomongmu.”

“Aku akan pergi ke bilik Ibunda Permaisuri.”

“O, jangan. Ibunda sedang beristirahat. Ibunda terlampau letih mengurusi adikmu.”

Anusapati terdiam sejenak.

“Marilah.”

Akhirnya Anusapati mengikuti Mahisa Agni ke bangsal tengah, untuk menyerahkannya kepada pemomongnya. “Bibi,“ panggil Anusapati ketika ia sampai ke bangsal tengah.

Seorang perempuan setengah umur yang diserahi untuk menjaga dan mendidik Anusapati keluar dari sebuah bilik di bagian belakang bangsal tengah. Ketika ia melihat Anusapati, dengan tergesa-gesa ia menyongsongnya.

“He, darimana kau ngger?“ perempuan itu bertanya sambil memeluk momongannya. Lalu, “Kenapa kau he? Apakah kau menangis lagi?”

Anusapati menggeleng, “Aku tidak menangis.”

“Tetapi matamu menjadi merah.”

“Ayahanda Baginda marah lagi kepadaku bibi.“Perempuan itu mengerutkan keningnya. Namun kemudian dipeluknya momongannya semakin erat. Katanya, “Aku sudah berkata berulang kali, jangan keluar dari halaman bangsal ini. Kenapa ayahanda Baginda marah? Apakah kau bertengkar lagi dengan Tohjaya?”

Anusapati mengangguk.

Dibelainya anak itu dengan kedua tangannya. Kemudian dibimbingnya ia masuk ke dalam bangsal. Kepada Mahisa Agni emban itu berkata, “Tuan, apakah tuan mempunyai sesuatu kepentingan?”

Mahisa Agni menggeleng, “Tidak.”

“Biarlah aku mengurus anak ini, yang sudah diserahkan kepadaku oleh Baginda.”

“Tetapi ia sendirian di belakang.”

“Itu adalah karena salah anak ini sendiri.”

“Emban,“ Mahisa Agni memotong, “ingat, anak itu adalah Putera Mahkota. Bukan anak gembala kerbau yang dapat diperlakukan sekehendak hati. Ia harus mendapat perawatan dan pemeliharaan seperti selayaknya Putera Mahkota.”

Mahisa Agni terdiam ketika ia melihat emban itu menundukkan kepalanya tanpa menjawab sepatah kata-pun. Bahkan kemudian ia meneruskan langkahnya, membimbing Anusapati masuk ke dalam bilik di bagian belakang bangsal tengah.

“Maaf,“ desis Mahisa Agni, “aku tidak berhak mengatakannya.”

Emban itu justru terhenti sejenak. Ketika ia berpaling, Mahisa Agni menjadi terkejut karenanya, karena ia melihat mata emban itu menjadi basah.

“Maaf emban,“ berkata Mahisa Agni sekali lagi.

“Tidak tuan. Tuan tidak bersalah. Adalah layak sekali Tuan memperingatkan aku.”

“Aku mengharap bahwa kau dapat mengerti maksudku.”

“Ya. Tuan. Aku mengerti bahwa maksud Tuan baik. Aku-pun mengerti apa yang sebaiknya aku lakukan. Apalagi terhadap Putera Mahkota.Tetapi …,“ kata-kata emban itu terputus.

“Tetapi … “ Mahisa Agni mengulangi.

Emban itu menggelengkan kepalanya. Kemudian dibimbingnya Anusapati melangkah sambil berkata, “Marilah Ngger.”

Mahisa Agni menjadi bingung melihat sikap emban yang tidak menentu itu. Namun Mahisa Agni dapat menangkap sesuatu yang kurang wajar padanya. Menilik kata-kata dan sikapnya, bahkan kemudian air mata yang mengambang di mata, ada pertentangan yang terjadi di dalam diri perempuan setengah tua itu. Namun Mahisa Agni tidak dapat mengerti, apakah yang sebenarnya telah bergejolak di dalam dadanya.

Mahisa Agni-pun kemudian meninggalkan halaman itu. Ketika ia melalui bangsal Ken Dedes, ia tertegun sejenak. Namun ia kemudian meneruskan langkahnya ke biliknya sendiri di belakang.

Anusapati yang dibawa oleh embannya itu-pun kemudian dimandikannya dengan air hangat. Digosoknya seluruh tubuhnya sehigga bersih.

Namun Anusapati sendiri sama sekali tidak mengetahui, bahwa pemomongnya benar-benar berada dalam kesulitan batin. Dugaan Mahisa Agni ternyata tepat, meskipun tidak seluruhnya benar.

“Marilah tidur Tuan,“ berkata emban itu kemudian, “seorang Putera Mahkota harus tidur siang hari sampai matahari condong ke Barat.”

Anusapati sendiri tidak begitu menyadari arti kata-kata Pangeran Pati. Baginya, apakah ia menjadi Putera Mahkota atan tidak, namun ia merasa bahwa hidupnya di dalam istana Singasari tidak begitu menyenangkan. Setiap kali ia bermain-main ia merasa selalu diganggu oleh Tohjaya. Ibunya terlampau sibuk dengan adiknya yang kecil, dan embannya kadang-kadang bersikap aneh terhadapnya.

“Orang yang paling baik di Singasari adalah paman Mahisa Agni,“ berkata anak itu di dalam hatinya.

Ketika Anusapati kemudian berbaring di pembaringannya, embannya-pun duduk bersimpuh di lantai sambil membelai keningnya. Kemudian perempuan tua itu mencoba untuk berceritera tentang seekor rusa yang sombong. Tentang burung-burung dan tentang kelinci.

“Tidurlah sayang,“ desis emban itu.

Anusapati memejamkan matanya. Tetapi sebuah pertanyaan bergelut di dalam hatinya, “Kenapakah emban ini kadang-kadang terlampau baik, tetapi kadang-kadang nakal?”

Namun hati anak itu tidak dapat meraba terlampau jauh dari apa yang dilihatnya dan dirasakannya sehari-hari.

Karena emban itu berceritera terus sambil membelainya, maka lambat laun Anusapati-pun menjadi terlena pula karenanya.

Perlahan-lahan diselimutinya anak itu baik-baik. Diciumnya keningnya, lalu ditinggalkannya sendiri di pembaringannya.

Tetapi emban itu tidak pergi jauh. ia duduk di serambi di muka bilik Anusapati sambil merenung. Merenungi anak yang kelak akan menggantikan kedudukan Sri Rajasa itu, dan merenungi dirinya sendiri.

Di bilik di belakang, Mahisa Agni-pun duduk tepekur di atas pembaringannya. Dicobanya untuk mengerti isi istana itu seluruhnya, ia merasa bahwa istana itu merupakan petamanan yang penuh dengan duri.Ia tidak mengerti, di mana dan kapan ia akan menyentuh atau bahkan menginjaknya. “Mudah-mudahan aku dapat menghindari,“ desisnya. Demikianlah Mahisa Agni perlahan-lahan telah mulai dengan rencananya. Anusapati yang masih kecil itu mulai diisinya tanpa sesadarnya. Setiap kali, selain berloncat-loncatan Anusapati-pun diajarinya memanjat, bergantungan di cabang-cabang pepohonan. Mula-mula batang-batang pohon yang rendah, tetapi semakin lama semakin tinggi.

Dengan demikian, maka urat-urat kaki dan tangan Anusapati tumbuh dengan baiknya. Kekuatannya-pun berkembang seperti yang diharapkan Mahisa Agni.

Tetapi suatu hal yang Mahisa Agni masih belum dapat mengatasinya. Anusapati selalu dibayangi oleh ketakutan dan kecemasan. Jiwanya tidak dapat berkembang sebaik tubuhnya, meskipun Mahisa Agni selalu berusaha memberinya kebanggaan. Apalagi waktu yang dapat dipergunakan tidak terlampau banyak dan kurang teratur. Mahisa Agni hanya dapat mempergunakan waktu-waktu yang terluang. Namun bahwa embannya kadang-kadang melepaskannya sendiri, memberinya keuntungan pula kepadanya.

“Anusapati,“ berkata Mahisa Agni pada suatu saat, “kalau besok paman pergi ke peperangan, mungkin paman tidak akan dapat bermain-main dengan kau untuk beberapa saat lamanya.Jangan lupa, kau bermain-main sendiri. Kau harus sudah dapat meloncati pohon kantil di halaman samping itu. Setiap pagi kau harus bermain, loncat-loncatan, bergantungan dan ketrampilan. Kau harus dapat melontarkan tiga empat buah kerikil berganti-ganti terus-menerus untuk beberapa saat lamanya. Jangan lupa pula bermain pasir.Benamkan jari-jarimu setiap pagi dan sore ke dalam pasir. Jari-jari tangan kiri dan jari tangan kanan.”

Anusapati mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Tetapi tanpa kawan permainan itu tidak menarik.”

“Kau harus membiasakan diri bermain sendiri. Kalau paman datang, kau bermain bersama paman lagi.”

( Bersambung ke jilid 53)

koleksi : Ki Arema scanning : Ki Arema

Retype : Ki Raharga

Proofing : Ki Raharga

Cek ulang : Ki Arema

—ooo0dw0ooo—

Jilid 53

ANUSAPATImemandang wajah Mahisa Agni dengan sorot mata yang sayu. Baginya Mahisa Agni adalah orang yang paling dekat sesudah ibunya. Tetapi ibunya tidak dapat memberinya permainan seperti yang diberikan oleh Mahisa Agni kepadanya.

Dan tiba-tiba anak itu bertanya, “Apakah paman akan pergi berperang?”

“Aku seorang prajurit Anusapati,” jawab Mahisa Agni, “seorang prajurit kadang-kadang memang harus pergi ke medan perang. Mendung yang mengambang di atas perbatasan Singasari dan Kediri sudah menjadi semakin kelam, sehingga agaknya perang tidak akan dapat dihindarinya lagi.”

“Tetapi bukankah paman akan kembali?”

“Aku mengharap untuk kembali ke istana ini. Karena itu, kau harus berdoa untuk paman, untuk Singasari dan untuk kesejahteraan seluruh rakyatmu.” Mahisa Agni berhenti sejenak, “ingat, kau adalah Putera Mahkota. Kau tidak boleh menjadi acuh tidak acuh atas jabatan yang sejak kecil sudah kau sandang itu.”

“Aku tidak senang dengan jabatan itu paman.”

“Kenapa? “ Mahisa Agni menjadi heran.

“Apabila ayah marah, ayah selalu membawa-bawa jabatan itu, seperti juga orang-orang lain. Emban itu sering juga marah, dan menyebut-nyebut bahwa aku tidak kuat untuk memangku jabatan ini.”

“Emban itu?”

“Ya paman. Tetapi kadang-kadang ia terlalu baik. Dan ia sering menangis sendiri tanpa sebab.”

Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam.

“Itu semua merupakan latihan. Latihan kejiwaan. Kau sedang diuji apakah kau dapat mengatasi semua godaan itu. Kalau kau berhasil, kau kelak akan menjadi seorang raja yang paling mengagumkan.”

Anusapati mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi ia bertanya, “Apakah setiap raja, seperti ayahanda Sri Rajasa, juga terlampau sering marah?”

Mahisa Agni tidak segera dapat menjawab pertanyaan anak itu. Apalagi ketika Anusapati melanjutkannya, “Dan apakah apabila kelak aku menjadi raja, aku juga harus selalu marah-marah seperti Ajahanda itu?”

Mahisa Agni tersenyum. Jawabnya, “Sebenarnya Ayahanda tidak marah. Tetapi Ayahanda ingin agar kau menjadi seorang anak yang terlampau baik.”

Anusapati tidak dapat mengerti keterangan itu, meskipun ia tidak bertanya lagi.

“Tetapi yang harus kau sadari Anusapati,” berkata Mahisa Agni, “seorang raja haruslah seorang yang kuat lahir dan batin. Itulah sebabnya kau harus tekun. Tetapi ingatlah, jangan kau perlihatkan kepada siapapun kalau kau mempunyai beberapa macam permainan yang pasti mereka anggap aneh.”

“Permainan yang mana paman?”

“Hampir seluruh parmainanmu yang paman berikan adalah permainan yang tidak lajim. Mereka akan heran dan akan terlampau banyak bertanya tentang permainan-permainan itu. Ingat hal itu.”

“Jadi aku harus bermain-main dengan permainam yang diberikan oleh bibi emban saja?”

“Ya, di hadapan orang lain. Apakah permainan itu?”

“Golek dan beberapa helai selendang yang bagus sekali.”

Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Ia memang sering melihat Anusapati bermain dengan anak-anakan. Kadang-kadang bermain pasaran seperti yang sering dilakukan oleh anak-anak perempuan.

“Ini pasti suatu kesengajaan untuk membentuk jiwa anak itu menjadi lemah,” berkata Mahisa Agni di dalam hatinya.

“Apakah permainan Tohjaya yang pernah kau lihat?”

“Pedang-pedangan dan sebuah kuda kayu yang bagus, meskipun tidak sebagus golekku.”

“Baiklah, bermainlah dengan golekmu bersama emban. Tetapi kalau kau sempat, tidak seorang-pun yang melihat, lakukanlah permainan yang paman berikan.”

Anusapati mengerutkan keningnya.Tetapi kemudian kepalanya terangguk-angguk. Agaknya ia dapat mengerti maksud pamannya meskipun tidak seluruhnya.

Ternyata Anusapati adalah anak yang patuh. Sebelum Mahisa Agni berangkat ke medan perang yang semakin mendekat, anak itu masih sempat mendapat beberapa macam petunjuk. Bahkan Anusapati kini tahu benar-benar mencari kesempatan itu. Setiap ia terlepas dari pengawasan embannya ia selalu berlari ke bangsal belakang. Kemudian ke kebun yang sepi di bagian belakang istana.

“Pada suatu ketika,” berkata Mahisa Agni di dalam hatinya, “apabila latihan-latihan ini sudah menginjak pada olah kanuragan yang sesungguhnya, pasti tidak dapat dilakukan di halaman istana yang mana-pun.”

Dan sejak saat itu Mahisa Agni sudah berusaha untuk mendapatkan tempat yang baik, dam kesempatan yang memungkinkan bagi Anusapati.

Dalam pada itu, hubungan antara Singasari dengan Kediri menjadi semakin memburuk. Keduanya sudah saling memutuskan untuk tidak mengadakan pembicaraan apapun, sehingga di perbatasan, ke dua belah pihak telah menyiapkan pasukan mereka. Namun agaknya Baginda di Kediri masih saja menganggap Singasari tidak lebih baik dari Tumapel, sehingga Baginda agaknya masih acuh tidak acuh saja melihat seekor harimau yang menjadi dewasa di dalam biliknya.

Dengan demikian maka persiapan-persiapan yang dilakukan tidaklah sesempurna persiapan yang dilakukan oleh Ken Arok. Baik di perbatasan maupun di seluruh negeri. Rakyat Kediri sibuk dengan persoalan mereka masing-masing. Ketidak puasan semakin lama menjadi semakin merajalela, terutama dari para pendeta di padepokan-padepokan.

Pengungsi-pengungsi-pun mengalir semakin banyak menyeberangi perbatasan Singasari, sehingga tugas penampungan bagi mereka-pun menjadi semakin banyak. Demikian juga tugas Mahisa Agni. Ia mengumpulkan juga orang-orang baru dalam kelompok-kelompok yang digabungkannya dengan pasukannya yang sudah terbentuk.

Demikianlah maka pasukan Mahisa Agni menjadi semakin besar. Namun dengan demikian pekerjaannya-pun menjadi semakin banyak. Setiap hari ia harus turun ke alun-alun untuk memberikan bimbingan langsung kepada mereka yang sama sekali belum pernah mengenal senjata.

Karena itu, maka hubungannya dengan Anusapati-pun seakan-akan menjadi semakin renggang. Tetapi Mahisa Agni telah memberitahukan kepada anak itu, bahwa tugasnya memang menjadi semakin banyak, dan menyuruhnya untuk bermain-main sendiri di halaman yang sepi.

Agaknya Anusapati-pun cukup cerdas. Ia mengerti apa yang dimaksud oleh Mahisa Agni, sehingga tidak seorang-pun yang pernah melihat permainan apa yang telah dilakukan.

Ternyata Anusapati semakin lama menjadi semakin terampil. Ia sudah pandai memanjat seperti tupai. Kemudian bergayutan dengan tangannya sebelah menyebelah. Berputar balik pada dahan-dahan yang rendah, kemudian berloncatan dari cabang ke cabang.

Kalau ia jemu bermain-main di pepohonan, maka ia-pun kemudian bermain-main dengan pasir. Dimasukkannya onggokan-onggokan pasir ke dalam kantong-kantong pandan, dan dijinjingnya kantong-kantong pandan itu berkeliling halaman. Kemudian diayunkannya berputar.

Dan apabila ia sudah menjadi lelah, maka dituangkannya pasir itu beronggok-onggok. Kemudian dibenamkannya jari-jari tangannya kiri kanan berganti-ganti. Terus-menerus. Seperti petunjuk Mahisa Agni, ditusuk-tusuknya onggokan pasir itu dengan sebuah jari, kemudian dua buah dan yang terakhir kelima-limanya diulurkannya dalam suatu himpitan rapat.

Demikian bersungguh-sungguh, sehingga kadang-kadang jari-jari tangannya itu menjadi lecet dan berdarah. Tetapi anak itu tidak menghiraukannya.

Permainannya yang lain adalah memukul onggokan pasir itu dengan sisi telapak tangannya. Semakin lama semakin keras, sehingga sisi telapak tangannya menjadi keras.

Selagi Mahisa Agni masih sempat, meskipun hanya sejenak, ia menyaksikan ke manakannya itu bermain sambil mengangguk-anggukkan kepalanya. Anak ini memang mewarisi kemampuan seperti ayahnya, Tunggul Ametung. Kekuatannya berkembang dengan pesatnya, ketrampilan dan kemampuan.

Tetapi apabila setiap kali Mahisa Agni melihat air mata mengambang di mata anak itu, hatinya menjadi berdebar-debar. Kekerdilan jiwanya yang masih belum dapat di atasi oleh Mahisa Agni.

“Lambat laun ia mencoba untuk tidak berputus-asa. Dan agaknya kemampuan jasmaniah anak itu memang memberinya harapan.”

Emban pemomong Anusapati yang setiap hari bergaul dengannya itu-pun sama sekali tidak mengetahui, bahwa momongannya itu memiliki kemampuan yang sama sekali tidak disangkanya. Setiap kali Anusapati bertemu dengan Tohjaya, maka setiap kali Anusapati selalu menjauhinya. Apabila pada suatu saat keduanya bertengkar, maka Anusapati sama sekali tidak berdaya menghadapi adiknya seayah. Kalau Anusapati didorong, oleh Tohjaya, anak itu selalu jatuh tertelentang, atau terjerembab. Tertatih-tatih ia bangun dan dengan tergesa-gesa menyingkir jauh-jauh. Kalau Tohjaya tidak berhasil menyakiti Anusapati, maka anak itu menjadi marah dan kadang-kadang menangis, mengadukan masalahnya kepada ayahanda. Baginda yang langsung marah kepada Anusapati.

“Ajari anak itu baik-baik,” berkata Kem Arok kepada emban pemomong Anusapati, “aku sudah memberi, kau petunjuk. Anak itu harus menjadi anak yang rendah diri, lemah dan tidak mempunyai gairah bagi hari depannya. Kau tahu maksudku? Ia adalah keturunan Tunggul Ametung. Bukan maksudku untuk membedakan dengan anakku sendiri. Tetapi kekuasaan Singasari jangan sampai jatuh ke tangannya. Kau mengerti?”

Emban itu mengangguk.

“Kau bukan emban kebanyakan. Kau terpilih dari puluhan perempuan di Singasari yang aku percaya untuk menyelesaikan rencanaku. Meskipun sekarang kau berlaku seperti seorang emban pemomong, tetapi kau sudah ikut membangunkan Singasari di hari-hari mendatang. Kau mengerti?”

Emban itu mengangguk pula.

“Aku yakin kau akan berhasil. Anusapati tidak boleh mengembalikan kenangan nama Tunggul Ametung. Ia sudah mati. Mati untuk selama-lamanya? Rakyat Singasari tidak boleh mengenangnya lagi. Apalagi Ken Dedes. Ia sekarang adalah isteriku. Ia harus melupakan suaminya yang lama. Tetapi wajah Tunggul Ametung itu seakan-akan tercermin di wajah Anusapati.”

Emban itu tidak menjawab.

“Karena itu, aku tidak memberikan pemomong lain kepada Anusapati. Aku serahkan anak itu sepenuhnya kepadamu. Berhasil atau tidak, tergantung sekali kepadamu pula.” Sri Rajasa yang sudah matang dengan rencananya itu berhenti sejenak, kemudian, “sebentar lagi, seluruh isi istana, bahkan seluruh rakyat Singasari akan disibukkan oleh peperangan yang agaknya tidak dapat dihindari lagi. Nah, tugasmu menjadi semakin berat. Bentuk anak itu menurut petunjukku. Jangan sampai diketahui oleh ibunya atau oleh siapapun juga.”

“Hamba Tuanku,” jawab emban itu kemudian.

“Kalau kau gagal, kau akan menyesal.”

Emban itu mengerutkan keningnya. Ternyata tugas yang dibebankan kepadanya terlampau berat untuk dilaksanakan.

Semula, ketika Ken Umang menyerahkannya kepada Sri Rajasa, ia merasa bahwa ia akan dapat melakukan tugasnya dengan baik. Tetapi ketika ia sudah berada di sisi anak itu, terasa bahwa tugas itu bukan sekedar dapat dilakukannya dengan sambil lalu. Membentuk seseorang menjadi seorang yang terlampau berkecil hati, lemah dan tidak mempunyai gairah apapun bagi masa depannya.

“Aku lebih senang untuk mengasuh Tohjaya, dan membentuknya menjadi seorang anak laki-laki,” katanya di dalam hati.

Namun tugas itu sudah dibebankan kepadanya.Tanpa orang lain.

Emban itu menarik nafas dalam-dalam. Setiap kali ia merenungi dirinya sendiri, menjadi semakin jelas kepadanya, bahwa tugas yang dibebankan kepadanya adalah tugas yang hampir tidak dapat dilakukannya.

Sementara itu kemelut di perbatasan menjadi semakin panas. Pasukan Singasari mengalir seperti arus sungai dari segala jurusan ke perbatasan. Pada suatu saat Sri Rajasa Batara Sang Amurwabumi merasa, bahwa waktunya memang sudah tiba untuk menyatukan Kediri dan Singasari.

Namun agaknya Kediri yang merasa dirinya terlampau besar, tidak mudah untuk merasa cemas menghadapi persiapan Singasari yang menurut penilaian orang-orang Kediri tidak lebih dari Tumapel.Sehingga dengan demikian, Kediri masih saja tidak mempertinggi persiapan mereka. Mereka menganggap bahwa kekuatan yang diletakkan di perbatasan sudah cukup besar untuk menghadapi kekuatan Singasari.

Dalam pada itu, Sri Rajasa benar-benar telah bertekad untuk tidak gagal.Semua pasukan telah berada di perbatasan, selain pasukan keamanan yang masih tersebar di seluruh Singasari. Bahkan pasukan khusus yang dipimpin oleh Mahisa Agni-pun telah berada di pusat kekuatan Singasari. Pasukan itulah yang akan memasuki Kediri bersama-sama dengan pasukan inti dari Singasari.

Dengan demikian maka Mahisa Agni harus segera meninggalkan istana dan Anusapati.

Dalam kesempatan terakhir Mahisa Agni berkata kepada Anusapati, “Paman akan segera berangkat Anusapati. Jangan nakal. Kau harus selalu ingat pesan paman.”

Anusapati menganggukkan kepala.

“Jangan lalai melakukan permainanmu kalau kau benar-benar ingin menjadi seorang Pangeran Pati yang baik. Tetapi ingat, jangan diketahui oleh orang lain.”

“Bagaimana dengan bibi emban?” bertanya Anusapati.

“Untuk sementara jangan. Kau mengerti?”

Anusapati menganggukkan kepalanya.

“Bahkan ibu-pun jangan.”

Anusapati mengerutkan keningnya, “Kenapa?”

Mahisa Agni tidak segera menjawab. Memang sulit baginya untuk memberi tahukan apakah alasan yang sebenarnya. Yang dapat di katakannya adalah, “Anusapati. Banyak sekali orang yang ingin menjadi Putera Mahkota. Mungkin mereka iri kepadamu dan akan berusaha mengganggu kau, agar kau tidak dapat menjadi seorang anak yang kuat dan pantas untuk tetap menjadi seorang Putera Mahkota, yang ingat, kelak akan menjadi raja, menggantikan ayahanda Sri Rajasa. Bukankah kau lihat, Ayahanda Sri Rajasa adalah seorang kuat dan cerdas. Seorang yang berwibawa dan tidak lemah hati.”

“Kenapa banyak orang yang ingin menjadi Putera Mahkota? Siapakah yang sebenarnya boleh menjadi Putera Mahkota?”

“Kau, hanya kau Anusapati. Karena itu, kau dapat menumbuhkan iri hati. Itulah sebabnya kau harus menjaga dirimu. Kau harus tetap nampak lemah dan bodoh.Dengan demikian mereka menganggap bahwa kau kelak tidak pantas menjadi seorang raja.” Mahisa Agni berhenti sejenak. Lalu, “mungkin terlampau sulit bagimu. Tetapi kelak kau akan mengetahuinya. Sekarang turuti saja nasehat paman.”

Anusapati mengangguk-anggukkan kepalanya. “Demi keselamatanmu dan masa depanmu Anusapati. Kau harus tetap menjadi Pangeran Pati.”

Anusapati mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Nah, paman besok sudah pergi ke perbatasan.Ingat semua pesan paman.”

“Apakah paman lama pergi?”

“Aku tidak tahu Anusapati. Mudah-mudahan tidak.” Anusapati terdiam. Kepalanya tertunduk dalam-dalam. Seolah-olah ia merasakan betapa sepinya istana ini tanpa Mahisa Agni.

“Marilah, aku antar kau ke embanmu. Tetapi ingat, embanmu itu-pun harus tidak tahu apa yang kau lakukan dan terjadi.”

Anusapati mengangguk pula. Kemudian mereka berdua pergi ke bangsal tengah untuk mencari emban pemomong Anusapati.

Seperti biasanya Anusapati selalu memanggil-manggilnya. Dan emban itu selalu keluar dari bilik itu-itu juga.Namun kali ini Mahisa Agni melihat emban itu berwajah terlampau suram. Matanya merah dan ujung kainnya basah oleh air mata.

“Apakah kau menangis bibi?” bertanya Anusapati.

Dipeluknya anak itu, dan diciumnya di keningnya, “Tidak angger. Bibi tidak menangis. Marilah tuan mandi. Nanti tuan segera tidur.”

“Emban,” berkata Mahisa Agni kemudian, “besok aku sudah harus meninggalkan istana. Aku tidak dapat lagi membantu mengawasi dan bermain-main dengan anak itu. Meskipun Baginda Sri Rajasa sudah mempercayakannya kepadamu, tetapi aku sebagai seorang paman, menitipkan anak itu pula. Kau tentu sadar, apakah artinya seorang Pangeran Pati.”

“Ya tuan.” perempuan itu masih akan menjawab, tetapi bibirnya serasa menjadi terlampau berat, dan matanya menjadi semakin basah.

Mahisa Agni menjadi heran melihat tingkah laku emban itu.Ia tidak dapat meraba sama sekali, apakah yang ada di dalam angan-angannya. Bagaimanakah sebenarnya tanggapannya terhadap Anusapati.

Karena itu berbagai masalah bergulat di dalam hatinya. Bahkan kadang-kadang ia dicengkam oleh kecurigaan yang luar biasa. Apakah emban itu mendapat tugas sampai pada puncak kelicikan dengan menyingkirkan Anusapati perlahan-lahan?

Tetapi kadang-kadang tumbuh kepercayaannya kepada emban itu. Bahwa emban itu menaruh kasih kepada Anusapati. Ternyata setiap kali anak itu diciumnya, dibelainya dan dimandikannya baik-baik sebelum dibawa ke pembaringan. Bahkan kadang-kadang, seperti yang dikatakan oleh Anusapati, emban itu sering menangis tanpa sebab.

Dalam keragu-raguan itu Mahisa Agni menjadi semakin heran. Perlahan-lahan emban itu berkata, “Tuan, apakah aku dapat mengatakan sesuatu kepada tuan, sebelum tuan berangkat?”

Mahisa Agni mengerutkan keningnya, “Tentu,” jawabnya.

“Tetapi tidak didengar oleh orang lain?”

Sejenak Mahisa Agni berdiam diri.Namun kemudian ia mengangguk pula, “Tentu.”

Emban itu mengusap matanya yang basah. Kemudian, katanya, “Aku akan memandikan tuanku Pangeran Pati.”

Mahisa Agni mengangguk, “Ya, mandikanlah.”

“Tuan dapat datang setelah angger Anusapati tertidur.”

“Baik.”

Emban itu mengusap kepala Anusapati, katanya, “Kau harus cepat tidur tuan kecil.”

Anusapati tidak menjawab. Tetapi berbagai pertanyaan tumbuh di dalam kepalanya.

Mahisa Agni-pun kemudian meninggalkan bangsal itu. Perlahan-lahan ia kembali ke biliknya. Dari kejauhan dipandanginya bangsal tempat Permaisuri dan putera-puteranya yang kecil tinggal. Emban pemomong Ken Dedes, ibunya sendiri yang semakin tua masih sibuk membantu emban-emban yang lain melayani putera Ken Dedes yang didapatkannya dari Sri Rajasa.

“Anusapati, sebagai seorang Pangeran Pati harus mendapat pendidikan khusus,” berkata Sri Rajasa kepada Ken Dedes. Dengan alasan itulah maka Anusapati tidak tinggal bersama-sama di dalam satu bangsal dengan ibu dan adik-adiknya.

Mahisa Agni tiba-tiba tertegun sejenak.Tetapi kemudian ia melangkah lagi.Katanya di dalam hati, “Aku memang harus minta diri kepada ibu dan Ken Dedes. Tetapi biarlah nanti setelah aku bertemu dengan pemomong Anusapati itu.”

Demikianlah dengan gelisah Mahisa Agni duduk di dalam biliknya, di bagian belakang istana. Sekali-sekali ia memandang juga regol dinding yang memisahkan dua bagian dari istana Singasari. Istana yang lama, dan sebuah bangunan baru tempat tinggal Ken Umang. Tetapi Mahisa Agni sama sekali tidak berani mendekati regol itu, kalau ia tidak ingin membuat persoalan yang dapat mengganggu usahanya membina Anusapati untuk selanjutnya. Ken Umang baginya tidak kurang dari sesosok hantu betina yang siap menerkamnya dan menyeretnya ke dalam jurang bencana yang paling dalam.

Sejenak, Mahisa Agni duduk sambil merenung di dalam biliknya, menunggu sampai Anusapati kira-kira sudah tertidur. Ia ingin kembali ke bangsal itu dan menemui emban pemomong kemenakannya itu.

Sebagai seorang paman tidak seorang-pun yang menaruh keberatan apabila ia memasuki halaman di sekitar bangsal tengah itu. Tidak pula ada yang menaruh keberatan apabila ia bermain-main dengan Anusapati, yang sudah tentu permainan yang wajar bagi kanak-anak. Tetapi Mahisa Agni menyadari, apabila seseorang melihat permainan yang khusus bersama Anusapati, maka pasti akan tumbuh masalah karenanya.

Ketika Mahisa Agni mendekati bilik Anusapati, ternyata Anusapati memang sudah tertidur. Karena itu, maka Mahisa Agni-pun segera masuk ke dalam bilik itu.

“Silahkan tuan,” emban itu mempersilahkannya, “aku memang ingin mengatakan sesuatu kepada tuan.Aku kira tidak ada seorang-pun di sekitar bilik ini. Para prajurit berada di regol halaman atau di luar sama sekali.”

Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Tuan,” berkata emban itu, “apakah tuan bersedia untuk merahasiakan ceriteraku nanti demi keselamatanku?”

Mahisa Agni mengerutkan keningnya, “Apakah ceriteramu mengandung bahaya bagimu?”

Emban itu mengangguk, “Ya tuan. Bahaya yang berat bagiku.”

“Aku berjanji.”

“Aku memang yakin kalau tuan mempunyai belas kasihan kepadaku. Bukan saja untuk kepentingan keselamatanku, tetapi juga kemanakan tuan, Tuanku Pangeran Pati.”

Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya pula.

“Tuan,” berkata emban itu perlahan-lahan, “sebenarnya aku menjadi heran melihat perkembangan angger Anusapati.”

Dada Mahisa Agni berdesir mendengar kata-kata itu.Tetapi ia berusaha untuk menyembunyikan perasaannya.

“Sama sekali di luar nalarku, bahwa Pangeran Pati itu mampu melakukan hal-hal yang sama sekali tidak tersangka-sangka.”

“Apakah yang dilakukannya?” bertanya Mahisa Agni dengan serta-merta.

Emban itu menarik nafas dalam-dalam.

“Apa?”

“Tuan. Kadang-kadang angger Anusapati mengigau. Bukan saja mengigau, tetapi bergerak dan menyentak-nyentak. Agaknya ia sedang bermimpi melakukan permainan yang aneh. Yang tidak aku mengerti. Padahal ia tidak pernah bermain-main demikian.”

Mahisa Agni menjadi semakin berdebar-debar. Apakah rahasia yang selama ini ditutupinya rapat-rapat itu disadarinya sudah diketahui oleh orang lain meskipun tidak seluruhnya?

“Tuan,” berkata emban itu pula, “pada suatu saat yang lain, permainan tuanku Pangeran Pati tersangkut di langit-langit bilik ini. Semula aku akan mencari kayu untuk mengambilnya. Tetapi ternyata anak itu dapat mengambilnya sendiri.”

“Bagaimana ia mengambil?”

“Aku tidak tahu Tuan. Yang aku ketahui, sebelum aku menemukan kayu penggalah, angger Anusapati sudah berlari-lari kepadaku sambil membawa mainannya itu.”

“Ah, mungkin Anusapati tidak mengambilnya.Mungkin oleh angin atau apapun sehingga permainan itu jatuh sendiri.”

Emban itu mengerutkan keningnya. Namun tiba-tiba ia menunjuk ke satu sudut di dalam bilik itu, “Lihatlah Tuan.”

Ketika Mahisa Agni melihat ke arah yang ditunjuk oleh emban itu, hatinya berdesir. Ia melihat tapak kaki pada dinding bilik itu.

“Tapak kaki itu belum lama melekat pada dinding itu. Belum ada sepekan. Ketika angger Anusapati mengambil mainannya yang tersangkut di langit-langit.Nah, apakah kata Tuan tentang anak yang dapat berbuat demikian itu?”

Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Suatu kecerobohan yang dapat menumbuhkan rintangan.

“Tetapi Anusapati masih belum cukup dewasa untuk mengerti bahaya yang selalu mengancamnya,” berkata Mahisa Agni di dalam hatinya.

Tetapi ia bertanya, “Apakah kau yakin bahwa tapak kaki itu tapak kaki Anusapati?”

Siapa lagi Tuan. Apakah aku? Atau orang lain yang berani masuk ke dalam bilik ini?”

Mahisa Agni menarik nafas.Memang di dalam hati ia tidak dapat ingkar lagi. Telapak kaki itu pasti telapak kaki Anusapati. Namun demikian, kecurigaan Mahisa Agni terhadap emban itu-pun kian bertambah-tambah. Kalau emban itu seorang emban kebanyakan, apakah ia dapat berpikir secermat itu?

“Tuan, semuanya itu telah menumbuhkan keheranan dan pertanyaan yang selalu menggangguku.”

“Biarlah aku hapus bekas telapak kaki itu.”

“Bukan bekas itu yang penting Tuan. Tetapi perkembangan apakah yang sudah terjadi di dalam diri angger Anusapati?”

“Kau pasti lebih tahu daripadaku. Aku hanya sempat bermain-main beberapa saat saja setiap hari. Kalau aku pulang dari barak dan latihan, aku memang kadang-kadang menjumpainya bermain-main sendiri. Tetapi bermain-main anak-anakan. Gateng, dan yang paling baik yang pernah dilakukan adalah jirak.”

“Ya. Itulah sebabnya aku menjadi bingung.”

Mahisa Agni tidak segera menyahut. Ia harus mengerti dahulu arah pembicaraan emban ini, supaya itu tidak terjerumus dalam kekeliruan yang berakibat parah.

“Tuan,” berkata emban itu kemudian, “sebenarnya aku ingin minta Tuan membantu aku, atau Tuan akan mengutuk aku.”

Mahisa Agni mengerutkan keningnya, “Apa maksudmu?”

“Lebih baik Tuan menghapus bekas kaki itu dahulu. Kalau Sri Baginda melihat dan bertanya kepadaku, aku tidak akan dapat menjawab.”

“Kenapa kau tidak mengatakan, bahwa itu telapak kaki Putera Mahkota yang bermain kejar-kejaran dengan seekor cicak?”

“Oh,” emban itu memegangi keningnya.

“Bukankah dengan demikian Baginda akan bangga dan berterima kasih kepadamu, karena kau sudah mengasuhnya sebaiknya.”

“Itulah yang akan aku katakan kepada Tuan.” potong emban itu, “tetapi aku minta Tuan melindungi namaku.”

“Kenapa?”

“Tuan akan tahu.”

Mahisa Agni menganggukkan kepalanya.

“Sebenarnya aku memang mempunyai tugas khusus Tuan,” berkata emban itu.

Mahisa Agni mengerutkan keningnya.

“Tugas yang semakin lama semakin tidak aku mengerti.”

Mahisa Agni masih tetap membisu, tetapi perlahan-lahan ia mulai mengambil kesimpulan, bahwa memang ada yang tidak wajar di dalam bilik ini.

“Tetapi ternyata perkembangan angger Anusapati membuat aku menjadi bingung. Aku tidak akan dapat mempertanggung jawabkan tugasku lagi.”

“Apakah sebenarnya tugasmu?”

“Tuan, apakah yang sebenarnya Tuan kehendaki atas angger Anusapati?”

“Apakah yang aku kehendaki? Pertanyaanmu aneh emban. Aku tidak menghendaki apapun. Sebagai seorang paman, aku pasti ikut mengharap agar kemurahan hati Sri Rajasa, mengangkat Anusapati menjadi Putera Mahkota, dapat tanggapan yang sewajarnya dari Anusapati sendiri. Ia tidak boleh mengecewakan hati ayahandanya, sehingga ia kelak akan menjadi seorang raja yang besar, yang alangkah senang hati Baginda, apabila Anusapati dapat menyempurnakan apa yang sudah dirintis oleh Sri Rajasa kali ini.”

Emban itu tidak segera menyahut. Tetapi kepalanya menjadi tertunduk dalam-dalam.

“Apakah ada yang salah?” bertanya Mahisa Agni.

Emban itu tidak segera menjawab. Tetapi kepalanya yang tunduk menjadi semakin tunduk. Dengan demikian maka ruangan itu menjadi hening sejenak. Yang terdengar adalah desah nafas Anusapati yang sedang tertidur nyenyak.

Untuk menghilangkan kekakuan, Mahisa Agni berdiri sejenak, dan melangkah ke sudut bilik itu. Ditatapnya bekas telapak kaki yang masih tampak jelas melekat di dinding. Memang bekas telapak kaki itu harus dihapus, supaya tidak memumbuhkan bermacam-macam pertanyaan yang tidak akan dapat dijawab oleh emban itu.

Mahisa Agni-pun kemudian meloncat sambil mengusap bekas telapak kaki itu dengan tangannya, sehingga yang masih tampak melekat di dinding itu tidak lagi berkesan seperti telapak kaki, tetapi sekedar debu biasa.

“Tuan sudah menghapusnya?” terdengar emban itu bertanya lirih.

“Ya. Aku sudah menghapusnya. Setidak-tidaknya, tidak akan lagi menimbulkan pertanyaan, telapak kaki siapakah yang ada di dinding itu.”

“Terima kasih tuan.”

Mahisa Agni tidak menjawab. Tetapi ia kembali duduk di tempatnya.

“Bilik ini semakin lama semakin menyiksaku tuan,” desis emban itu kemudian.

“Kenapa?”

“Tuanku Pangeran Pati itu,” jawabnya sambil memandang Anusapati yang tidur nyenyak.

“Kenapa dengan Anusapati?”

Emban itu masih saja ragu-ragu, sehingga Mahisa Agni menjadi hampir tidak sabar lagi. Anusapati biasanya tidak terlampau lama tidur siang, sehingga apabila anak itu nanti terbangun, maka emban itu tidak akan sempat mengatakan apa-apa. Padahal besok ia harus sudah membawa pasukannya ke perbatasan.

“Tuan,” berkata emban itu selanjutnya, “tugasku ternyata terlampau berat bagiku.Terus-terang, aku bukan orang yang baik. Bukan orang berbudi. Justru karena itulah maka aku telah dipilih oleh Ken Umang dan diserahkannya kepada Tuanku Sri Rajasa untuk mengasuh angger Anusapati.”

Mahisa Agni mengerutkan keningnya.

“Sebagai seseorang yang memang kurang berbudi, aku menyanggupi tugas itu. Aku mendapat upah yang cukup, yang tidak akan aku dapatkan, meskipun aku bekerja di mana-pun juga.”

“Apakah tugas itu,” Mahisa Agni menjadi tidak sabar.

“Tugas itu tampaknya sederhana sekali.”

“Ya, tetapi apa?”

“Sekedar membuat angger Anusapati menjadi jinak. Jinak sekali.”

Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Dalam sekali. Kini semua kecurigaannya itu terbukti, bahwa memang ada usaha untuk membuat Anusapati tidak berdaya.

Sambil mengangguk-anggukkan kepalanya, tanpa sesadarnya ia berdesis, “Aku sudah menyangka?”

Emban itu terkejut. Dengan serta-merta ia bertanya, “Apa yang sudah tuan sangka?”

Kini Mahisa Agnilah yang terkejut. Sejenak ia berdiam diri, namun kemudian ia menjawab, “Aku sudah menyangka, bahwa Anusapati tidak mendapat tuntunan sewajarnya.”

“Kenapa tuan menyangka demikian?” emban itu bertanya pula, “Agaknya tuan memang sudah mencurigai Sri Rajasa.”

Mahisa Agni menarik nafas. Katanya kemudian, “Aku tidak memandangnya sebagai seorang raja yang memberikan kebanggaan bagi rakyat Singasari. Tetapi aku memandangnya sebagai seorang manusia biasa. Bukankah kau tahu, bahwa Anusapati itu bukan putra Sri Rajasa.”

Emban itu mengangguk kecil.

“Bukankah prasangka itu masuk akal?”

Sekali lagi emban itu mengangguk kecil.

“Dan kau melakukannya?” Mahisa Agni bertanya pula.

Emban itu menjadi ragu-ragu sejenak. Tetapi kemudian dengan nada yang dalam ia berkata, “Aku memang sudah mencoba melakukannya.”

“Aku juga sudah menyangka. Sejak semula aku tidak dapat melepaskan diri dari kecurigaan, kenapa justru hanya seorang emban yang diserahi untuk menuntun, mengawasi, memelihara segala-galanya. Hanya kadang-kadang saja ada orang lain yang membantu. Itu-pun khusus untuk kepentingan-kepentingan yang tidak langsung berhubungan dengan Anusapati. Berbeda dengan Tohjaya. Ada dua tiga orang emban yang selalu mengawaninya setiap-saat. Dua orang pengawal khusus dan permainan yang memadai sebagai seorang anak laki-laki.”

“Memang tuan. Di sini tampaknya ada juga beberapa orang emban. Tetapi adalah tugasku untuk mengasingkan Anusapati. Dan aku agaknya sudah berhasil. Emban-emban yang lain sama sekali tidak dapat berbuat apapun atas Putera Mahkota. Dan agaknya mereka-pun senang pula karenanya, selain pekerjaan mereka menjadi jauh lebih ringan, mereka justru mendapat pemberian-pemberian khusus. Tugas mereka tidak lebih dari membersihkan bilik ini nanti di sore hari dan pagi hari. Menjediakan makan dan minumnya. Mencuci pakaiannya dan duduk-duduk di halaman ini menjelang senja.”

“Ya, aku mengerti.”

“Agaknya tuan terlampau banyak memperhatikan karena itulah agaknya tuan sering marah kepadaku.”

“Tidak sering, hanya mungkin pernah aku berbuat demikian di luar sadarku.”

“Tetapi kini aku tahu, bahwa tuan melakukannya karena tuan memang sudah berprasangka.”

“Ya, Lalu apa yang sudah kau lakukan kemudian?”

“Tetapi, akhirnya aku terjerat oleh perasaanku sendiri. Hubungan yang setiap hari antara aku dan Tuanku Anusapati telah menumbuhkan sesuatu yang tidak aku mengerti. Akhirnya aku merasa, bahwa aku telah mencintai anak itu seperti anakku sendiri.”

Dada Mahisa Agni menjadi berdebar-debar. Terasa getaran kata-kata emban itu memancar dari dasar hatinya, sehingga tumbuhlah kepercayaan Mahisa Agni kepadanya dengan perlahan-lahan.

Sejenak Mahisa Agni tidak menyahut. Kini ia melihat titik-titik air mata itu lagi.Menetes satu-satu di lantai bilik Anusapati yang seakan-akan terpisah itu.

“Tuan,” berkata perempuan itu, “sebagai seorang yang tidak pantas lagi berada di dalam lingkungan pergaulan yang wajar, aku sama sekali tidak menyangka bahwa aku justru akan terlempar ke dalam istana, apalagi sebagai seorang pengasuh Pangeran Pati. Meskipun aku banyak bergaul dengan para bangsawan di masa mudaku, tetapi itu sebagai mimpi yang datang sekilas berganti-gantian.” perempuan itu menundukkan kepalanya, “memang kadang-kadang aku menyimpan dendam kepada mereka yang menemukan kebahagiaan hidup. Aku menjadi iri kepada Tuanku Permaisuri Ken Dedes, karena ia hanya berasal dari padepokan yang melonjak ke singgasana seorang Permaisuri. Tetapi aku iri juga kepada Ken Umang, yang kini perlahan-lahan nampaknya akan berhasil merebut keturunan Ken Dedes untuk merajai Tanah ini.”

Mahisa Agni mengerutkan keningnya.

“Tuan, aku sendiri tidak mempunyai seorang anak-pun. Aku belum pernah merasa betapa bahagianya seorang perempuan yang mengandung dan kemudian melahirkan seorang anak. Apakah anak laki-laki apakah anak perempuan. Aku tidak tahu, betapa bersihnya hati kanak-anak. Dan aku tidak tahu, betapa jahatnya merusak hari depan anak-anak yang sama sekali tidak menyadari, apakah yang akan terjadi atas dirinya itu. Ternyata setelah aku bergaul dengan Tuanku Pangeran Pati, aku mengerti, bahwa aku sebenarnya telah terjerumus terlampau jauh. “ Mahisa Agni tidak dapat menyahut, dan bahkan mengucapkan kata-kata apapun, selain mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Ken Umang yang mempunyai anak-anaknya itu seharusnya lebih merasakan kasih terhadap anak-anak. Tetapi mata hatinya telah dilapisi oleh pamrih, sehingga ia sampai hati mengorbankan hari depan Anusapati untuk kepentingannya sendiri dan keturunannya.”

Terasa dada Mahisa Agni bergejolak. Dengan susah pajah ia mencoba menguasai perasaannya. Tanpa menyadari keadaan Anusapati, ia pasti sudah mengambil suatu keputusan. Tetapi untunglah bahwa ia masih dapat mempergunakan nalarnya. Anusapati harus tumbuh sesuai dengan rencananya. Rencananya yang bertentangan sama sekali dengan rencana Sri Rajasa bersama Ken Umang yang agaknya telah berhasil mempengaruhi Baginda lebih jauh lagi.

“Tuan,” berkata emban itu selanjutnya, “aku sudah mengatakan keadaanku sekarang di sini. Terserahlah kepada tuan, apakah tuan percaya kepadaku atau tidak. Sudah lama aku memang tidak lagi dapat dipercaya. Tetapi kini aku mencoba untuk mencari jalan agar aku tidak terlanjur kehilangan sifat-sifat kemanusiaanku. Aku akan mempertahankan sifat-sifat itu yang masih tersisa di dalam diriku.” emban itu terdiam sejenak. Lalu, “Tetapi bagaimana dengan Pangeran Pati itu? Kalau kemudian diketahui, bahwa aku sudah berkhianat, maka aku pasti akan mendapat hukuman. Tetapi itu tidak penting, meskipun aku ngeri juga. Yang penting adalah nasib angger Anusapati.Ken Umang pasti akan mencari orang lain untuk menggantikan aku. Dan Sri Baginda akan segera mengambil keputusan, mengganti pengasuh Anusapati dengan orang lain yang jauh lebih baik.Sri Baginda akan dapat saja mengatakan, bahwa selama ini Putera Mahkota itu sama sekali tidak mendapat kemajuan. Dan aku-pun akan segera hilang dari pergaulan.”

Mahisa Agni masih mengangguk-anggukkan kepalanya. Perlahan-lahan ia berdesis, “Aku tidak tahu emban, apakah aku dapat mempercayai ceriteramu atau tidak. Tetapi aku melihat kejujuran yang memancar dari hatimu. Mudah-mudahan kau berkata sebenarnya.” Mahisa Agni berhenti sejenak. Lalu, “Memang benar katamu, bahwa nasib Anusapati lah yang paling penting sekarang.”

“Begitulah Tuan.”

“Emban,” berkata Mahisa Agni kemudian, “besok aku harus sudah pergi. Menurut pendapatku, sementara ini berlakulah seperti biasanya apa yang kau lakukan. Jangan kau rubah sikapmu dan caramu mengasuh Anusapati. Ia harus tetap terpisah dari orang-orang lain yang dapat mempengaruhinya, seperti pesan Ken Umang. Ia harus tetap bermain-main dengan anak-anakan kayu, pasaran dan sebagainya seperti yang selalu dilakukannya. Biarlah ia berkeliaran sendiri di kebun-kebun seperti anak-anak liar tidak terurus, mencari buah-buahan dan bermain-main dengan tanah dan pasir. Kemudian pada saatnya ia mencarimu, mandikanlah dan bawa ia tidur. Barangkali yang dapat kau lakukan, selain seperti kebiasaanmu, berilah anak itu ceritera-ceritera kepahlawanan. Ceritera tentang Sri Baginda raja-raja yang pernah ada. Kau tahu maksudku?”

Emban itu mengangguk-anggukkan kepalamya.

“Nah, kita masih mempunyai waktu yang cukup. Mudah-mudahan aku kembali dari peperangan dengan selamat. Kediri adalah suatu negeri yang besar, yang penuh dengan senapati-senapati yang mumpuni.”

“Tetapi tuan adalah seorang yang luar biasa.”

“Siapa yang mengatakannya?”

“Tuan berhasil mengalahkan Tuan Witantra.”

“Darimana kau tahu?”

“Semua orang mengetahuinya.”

“Sudahlah. Jagalah anak itu baik-baik. Mudah-mudahan ia kelak dapat memenuhi tugasnya sebagai seorang raja. Kau masih harus bermain dalam dua peran yang sulit. Tetapi aku percaya bahwa kau akan berhasil. Kau akan tetap mendapat kepercayaan dari Sri Baginda dan Ken Umang. Jangan sampai anak itu jatuh ke tangan orang lain yang akan dapat berbuat jauh lebih jahat dari yang pernah dialaminya.”

Emban itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia mengerti apa yang dimaksud oleh Mahisa Agni, karena itu maka jawabnya, “Mudah-mudahan aku dapat berbuat seperti yang tuan maksud.”

“Aku percaya kepadamu. Anak itu-pun agaknya sudah dapat kau ajak berbicara serba sedikit.”

“Ya tuan. Mudah-mudahan.”

Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam.Dipandanginya Anusapati yang masih tertidur nyenyak. Memang di wajahnya seolah-olah terbayang wajah Tunggul Ametung, sehingga tidak mengherankan apabila Ken Arok yang berusaha melupakan kekuasaan Akuwu Tumapel itu merasa tersinggung setiap kali. “Sudahlah,” berkata Mahisa Agni kemudian, “aku masih mempunyai tugas yang harus aku selesaikan hari ini. Kalau aku tidak sempat menemuimu lagi, aku minta diri. Jagalah anak itu baik-baik. Dan aku akan sangat berterima kasih apabila kau menganggapnya seperti anakmu sendiri.”

“Ya tuan. Aku akan menjaganya meskipun aku masih harus berpura-pura. Tetapi aku mengharap tuan mengerti perasaanku.”

“Aku mengerti,” sahut Mahisa Agni, kemudian, “sudahlah, aku minta diri. Aku akan menjumpai ibunya. Tuanku Permaisuri.”

“Silahkan tuan. Selama ini aku-pun sudah berhasil memenuhi tugas yang dibebankan kepadaku. Memisahkan anak itu jauh-jauh dari ibunya. Dari adik-adiknya dan emban pemomong Tuanku Permaisuri.”

“Begitukah pesan Sri Rajasa?”

“Pesan, ken Umang.Tetapi agaknya Sri Rajasa juga tidak berkeberatan.”

Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya. Di kepalanya terbayang suatu pemberontakan yang perlahan-lahan dilakukan oleh Ken Umang merebut keturunan untuk menguasai takhta Singasari.

Tetapi bahwa emban itu justru telah tergelincir ke dalam kasih seorang perempuan terhadap anak-anak, adalah menguntungkan sekali. Itu adalah suatu kurnia dari Yang Maha Agung, bahwa Anusapati masih mungkin sekali diselamatkan.

Mahisa Agni-pun kemudian meninggalkan bilik itu. Meskipun ia mempercayai emban itu. tetapi ia sama sekali belum berani mengatakan bahwa Anusapati telah mendapat beberapa macam petunjuk daripadanya, untuk membuat Anusapati menjadi seorang Pangeran Pati yang pantas. Bagaimana-pun juga masih ada selapis kecurigaannya terhadap emban itu. Mungkin sekali bahwa pada suatu saat gemerincingnya emas dan permata akan membuatnya berubah pendirian.

Dari bilik Anusapati. Mahisa Agni masih sempat mengunjungi bilik Ken Dedes. Ia minta diri pula kepada adik angkatnya dan kepada emban pemomongnya, yang tidak lain adalah ibunya itu.

Bagaimana-pun juga, namun emban itu terlampau sulit berusaha menyembunyikan perasaan seorang ibu. Tiba-tiba saja matanya menjadi basah. Tetapi ia tidak berbuat lebih dari seorang emban.

Demikianlah maka Mahisa Agni-pun kemudian meninggalkan istana Singasari pergi kebarak.Ia harus mempersiapkan pasukannya yang besok akan berangkat ke medan.

Pasukan Mahisa Agni adalah pasukan yang memang sangat khusus. Dengan susah payah Mahisa Agni telah membentuk serombongan pengungsi menjadi sepasukan prajurit yang siap maju ke medan perang.

Tetapi usahanya selama ini agaknya tidak sia-sia. Latihan yang tidak mengenal lelah, yang diutamakan untuk membuat setiap orang di dalam pasukannya mampu mempergunakan senjata, ternyata dapat memadai pula. Meskipun ada di antara mereka yang sama sekali belum pernah meraba hulu pedang, kini dengan tangkasnya ia dapat memutar pedang dan menyandang perisai.

Mahisa Agni bersama-sama beberapa orang prajurit yang diperbantukan kepadanya, merasa bahwa pasukannya kini tidak lagi terlampau lunak untuk digilas, oleh pasukan lawan yang betapapun kuatnya. Di setiap kelompok Mahisa Agni berusaha menempatkan kekuatan-kekuatan yang dapat dibanggakan, setidak-tidaknya untuk menuntun kawan-kawannya yang lain apabila mereka berada di peperangan.

Tetapi, meskipun pasukan itu tidak sekuat pasukan-pasukan yang memang terdiri dari prajurit yang sudah terlatih, namun Mahisa Agni sama sekali tidak kecewa apabila ia melihat tekad yang benar-benar menyala di setiap dada orang-orang Kediri. Mereka bertekad untuk kembali ke kampung halaman. Meskipun seandainya ada di antara mereka yang harus jatuh menjadi korban, tetapi korban itu sama sekali tidak sia-sia. Mereka telah berjuang untuk melepaskan Kediri dari kericuhan dan tindak yang mereka anggap sewenang-wenang, terutama di bidang keagamaan.”

Demikianlah Mahisa Agni telah berhasil menyiapkan seluruh pasukannya. Mereka telah bersiap untuk berangkat besok, menyusul pasukan-pasukan lain yang sudah lebih dahulu berada di perbatasan. Keberangkatan pasukan itu sejalan dengan rencana Ken Arok bahwa tidak ada gunanya lagi menunda-nunda benturan yang pasti akan terjadi antara Singasari dan Kediri.

“Jangan menunggu mereka bersiap lebih jauh. Selagi mereka masih tenggelam di dalam mimpi, bahwa Kediri tidak terkalahkan, maka pada saat yang demikian kalian harus menerobos memasuki batas negara itu, langsung menusuk ke jantung pemerintahan.” perintah Ken Arok yang memangku kekuasaan Singasari yang bergelar Sri Rajasa Batara Sang Amurwabumi.

Maka para Panglima. Pandega dan Senapati-pun segera menyesuaikan diri dengan perintah itu. Mereka segera menempatkan diri mereka sesuai dengan rencana. Setiap pasukan telah bersiap di mulut jalan-jalan raya yang menuju ke Kediri.

Pasukan Mahisa Agni-pun harus mengambil bagian pula dalam persiapan yang sudah matang itu.

Beberapa orang pengawas perbatasan dari Kediri melihat persiapan Singasari yang telah matang. Dengan cemas mereka menyampaikan laporan itu kepada atasan mereka, sehingga akhirnya berita itu-pun sampai juga ke hadapan Sri Baginda Kertajaya.

“Apakah yang akan dapat dilakukan oleh Tumapel?” Barinda bertanya kepada para Senapati.

“Mereka sudah bersiaga di perbatasan Tuanku.” jawab para Senapati.

Baginda Kertajaya mengerutkan keningnya. Kemudaan katanya, “Aku adalah Maharaja yang dikasihi oleh dewa-dewa. Bahkan aku adalah Batara Guru itu sendiri yang turun ke bumi. Apakah kalian masih sangsi?”

Para Senapati tidak ada yang menyahut.

Tetapi adalah suatu kenyataan bahwa para Pendeta dan pemimpin agama beserta keluarganya dan lingkungannya telah mengungsi ke Singasari.

Tetapi Sri Baginda Kertajaya terlampau mengagumi keagungannya sendiri. Ia tidak memperhatikan laporan-laporan yang sampai ke telinganya. Sehingga pada suatu saat adik Baginda sendiri Mahisa Walungan telah menghadap dan berkata, “Kakanda Baginda, apakah Kakanda Baginda masih belum yakin, bahwa kita seakan-akan telah berdiri di ujung tanduk?Pasukan Singasari telah siap di perbatasan. seperti air yang tertahan oleh bendungan. Setiap saat, air itu akan melimpah dan membanjiri tanah Kediri. Apakah kita akan tetap berdiam diri menghadapi bahaya yang sudah di ambang pintu?”

Sri Baginda Kertajaya mengerutkan keningnya. Katanya. “He, apakah kita tidak mempunyai pengawal perbatasan?”

“Ada kakanda. Tetapi pengawal itu terlampau sedikit untuk menghadapi pasukan Singasari.”

“Uh,” Sri Baginda menghentakkan kakinya, “apakah yang dapat diperbuat oleh Tumapel?”

“Kakanda. Tumapel kini sudah berkembang menjadi sebuah negeri. Bukankah setiap kali para Senanati, para Menteri dan hamba sendiri selalu mengatakan, bahwa Tumapel kini sudah bernama Singasari dan seorang yang bernama Ken Arok telah mengangkat dirinya menjadi seorang Raja yang bergelar Sri Rajasa Batara Sang Amurwabumi?”

“Itu suatu pemberontakan terhadap Kediri.”

“Bukankah hamba sudah mengatakannya pula bahwa itu memang suatu pemberontakan?”

“Tetapi kalian menjadi ketakutan seperti melihat kerajaan hantu.”

“Kakanda. Kita kini harus bertindak. Kalau kita tidak menganggap Singasari sebagai suatu bahaya, tetapi kita-pun harus bertindak terhadap negeri yang memberontak itu. Kalau kita tidak merasa bahwa pasukan mereka akan mampu menembus pertahanan kita, namun kita harus bertindak terhadap pemberontakan itu.Kalau tidak maka daerah-daerah lain akan melakukan perbuatan yang serupa.”

Kertajaya, yang merasa dirinya seorang Maharaja yang Agung itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Aku sependapat dengan kau Mahisa Walungan. Kau dapat menindas pemberontakan itu. Tetapi kita sama sekali tidak sedang berperang. Perang berarti benturan kekuatan antara dua negara. Tetapi yang kita hadapi adalah Tumapel yang kecil, yang diperintah hanya oleh seorang Akuwu.”

Adik Baginda yang bernama Mahisa Walungan itu menarik nafas dalam-dalam. Kebesaran Kediri telah membuat kakaknya kehilangan pengamatan diri. Bahkan ia merasa bahwa kekuasaannya sudah menyamai kekuasaan dewa-dewa.

“Kakanda,” berkata Mahisa Walungan kemudian, “untuk menumpas pemberontakan itu, perkenankanlah hamba membawa segenap pasukan yang ada selain pasukan keamanan.”

“He,” Baginda terkejut mendengar permintaan Mahisa Walungan itu, “apakah kau sedang diterkam oleh mimpi yang dahsyat? Kenapa kau memerlukan pasukan yang begitu besar sekedar untuk menumpas Tumapel?”

“Tumapel telah memperkuat dirinya kakanda.”

“Betapapun kekuatan Tumapel sama sekali tidak memadai kekuatan Kediri. Aku ijinkan kau mempergunakan pasukan perbatasan. Kemudian pasukan yang lain akan menggantikan pasukan yang bertugas di perbatasan itu.”

“Oh,” Mahisa Walungan berdesah. Tetapi ia tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. Katanya, “Baikkah Kakanda Baginda. Pasukan yang akan menggantikan pasukan perhatasan itu akan hamba bawa bersama hamba. Sementara hamba mohon kekuasaan dari Kakanda Baginda untuk masuk langsung ke daerah Tumapel.”

“Baik. Tangkaplah Ken Arok yang menyebut dirinya Sri Rajasa Batara Sang Amurwabumi itu.”

“Hamba Kakanda Baginda.”

Maka dengan sepasukan kecil sekedar untuk menggantikan pasukan di perbatasan Mahisa Walungan meninggalkan kota Kerajaan. Tetapi ia sama sekali tidak menusuk masuk ke Singasari. Sebagai seorang Senapati yang mengenal medan dengan baik. Mahisa Walungan menyadari, bahwa, dengan demikian ia akan membunuh dirinya bersama seluruh pasukannya.

Tetapi Mahisa Walungan tidak berhenti sampai sekian. Ia sudah berpesan kepada sahabatnya, seorang menteri yang terpercaya untuk menyusulnya ke perbatasan dengan membawa pasukan yang lain, sehingga meskipun sedikit tetapi pasukan di perbatasan sudah bertambah jumlahnya.

“Aku akan segera kembali,” berkata Mahisa Walungan. “Aku akan menyiapkan pasukan yang dapat bergerak setiap saat meskipun tidak dapat aku bawa ke perbatasan.”

Mahisa Walungan-pun pergilah meninggalkan sahabatnya, seorang menteri yang bernama Gubar Baleman, yang ikut berprihatin atas keadaan Kediri. Seperti para Senopati beberapa kali Gubar Baleman-pun pernah menyampaikan kesulitan yang, dialami Kediri, apabila Kediri masih acuh tidak acuh saja menanggapi keadaan.

Karena itu, maka sekali lagi Gubar Baleman mencoba menyampaikan kepada Sri Baginda untuk meyakinkan Sri Baginda Kertajaya bahwa keadaan Kediri benar-benar gawat.

“Kau tahu bahwa Mahisa Walungan baru saja pergi ke Tumapel untuk menumpas pemberontakan di sana.”

Gubar Baleman mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Hamba mengerti Tuanku, tetapi apakah pasukan yang dibawa oleh Adinda Mahisa Walungan mencukupi?”

“Gila kau? Sepasukan prajurit pilihan itu masih belum memadai untuk menumpas Tumapel?”

“Ampun Tuanku. Tumapel telah mengerahkan setiap laki-laki untuk maju ke perbatasan. Setiap laki-laki. Seandainya mereka maju bersama-sama tanpa membawa senjata sekali-pun, maka prajurit Kediri yang ada di perbatasan tidak cukup banyak untuk membunuh mereka sampai orang-orang terakhir mencapai kota Kediri.”

“Bohong. Bohong kau pengecut,” bentak Sri Baginda, “inilah gambaran pemimpin-pemimpin Kediri sekarang?”

“Tuanku, pasukan Kediri adalah pasukan yang pilih tanding.Pasukan Kediri tidak akan pernah mengenal mundur. Tetapi mereka memerlukan waktu yang tidak terbatas untuk menaklukkan Tumapel apabila pasukan di perbatasan itu tidak bertambah. Soalnya sama sekali bukan karena keberanian dan ketangguhan orang-orang Tumapel berkelahi. Tetapi jumlah mereka jauh lebih banyak dari pasukan yang sudah ada. Setiap kali Adinda Mahisa Walungan menghancurkan sepasukan prajurit, maka muncullah pasukan Tumapel berikutnya. Demikian seterusnya, seolah-olah peperangan itu tidak akan pernah selesai. Tetapi dengan pasukan yang lebih banyak, maka waktu yang diperlukan akan menjadi semakin pendek.”

Sri Baginda merenung sejenak. Dan Gubar Baleman berdebar-debar menunggu keputusan.

“Kediri benar-benar berada di ambang pintu bahaya,” katanya di dalam hati, “tetapi aku tidak dapat mengatakannya.Baginda kini menjadi lain sekali dengan Baginda pada saat Kediri mulai tumbuh. Kini Baginda merasa dirinya sudah sempurna. Kalau saja Baginda masih seperti dahulu, maka Baginda akan segera berada di punggung kudanya, menyaksikan keadaan di perbatasan.”

“Baleman,” titah Sri Baginda Kertajaya, “baiklah, aku ijinkan kau membawa sepasukan yang akan bergabung dengan Mahisa Walungan. Tetapi tugas kalian harus segera selesai. Kalian harus segera membawa Ken Arok menghadap hidup atau mati.”

Gubar Baleman menundukkan kepalanya dalam-dalam. Katanya, “Hamba Tuhanku. Hamba akan memimpin pasukan itu sendiri bersama beberapa orang senapati.”

“He, kau memang benar-benar seorang pengecut sekarang.” geram Sri Baginda, “kenapa dengan beberapa senapati. Setiap senapati mempunyai pasukannya sendiri-sendiri. Berapa pasukan yang akan kau bawa?”

“Sri Baginda,” sembah Gubar Baleman, “soalnya sama sekali bukan karena hamba dan pasukan Kediri tidak berani menghadapi orang-orang Tumapel, tetapi semata-mata atas pertimbangan waktu. Semakin cepat akan menjadi semakin baik. sedang beayanya-pun akan menjadi semakin murah. Peperangan yang berlarut-larut dapat menumbuhkan banyak akibat. Pasukan yang tarlampau lama barada di peperangan akan sangat berpengaruh pada setiap orang di dalamnya.”

“Kau sedang menggurui aku Baleman. Apakah kau sangka aku tidak pernah berada di peperangan he?” potong Sri Baginda.

“Ampun Tuanku. Sama sekali bukan maksud hamba,”

Sri Baginda Kertajaya terdiam sejenak. Namun kemudian Baginda itu berkata, “Bawalah sepasukan prajurit. Tidak lebih.”

Gubar Baleman menarik nafas dalam-dalam. Ia menjadi sangat kecewa.Tetapi itu sudah jauh lebih baik dari pada tidak sama sekali. Setidak-tidaknya ia akan menambah pasukan di perbatasan bersama pasukan yang sudah dibawa oleh Mahisa Walungan.

Demikianlah maka Gubar Baleman pun berangkat pula ke perbatasan, menggabungkan dirinya dengan Mahisa Walungan. Tetapi ketika mereka berada di perbatasan, mereka justru menjadi semakin cemas. Pasukan Singasari tersebar di perbatasan dan siap membanjiri Kediri dari beberapa jurusan.

Mahisa Walungan hampir tidak melihat kemungkinan lagi untuk menyelamatkan perbatasan.Demikian juga Gubar Baleman. Sedang Sri Baginda Kertajaya benar-benar seperti orang yang sedang mabuk kebesaran.

“Apakah sudah menjadi pertanda,” Mahisa Walungan berdesis, “bahwa kebesaran yang lepas dari keseimbangan, akan menjerumuskan seseorang ke dalam kesulitan. Bahkan lebih daripada itu. Apakah memang sudah menjadi keharusan dari Yang Maha Agung, bahwa Kediri sudah sampai ke puncaknya dan harus meluncur turun tenggelam di bawah cakrawala.”

Gubar Baleman hanya mengangguk-anggukkan kepalanya. Dan Mahisa Walungan, adik Sri Baginda Kertajaya itu berkata seterusnya, “Kakanda Baginda merasa dirinya melampaui kewajaran manusia biasa. Kakanda Baginda telah melupakan sumber adanya. Seakan-akan ia mampu melakukan semuanya atas kekuatan dan kemampuannya sendiri. Itulah agaknya sumber dari bencana yang kini mengancam Kediri. Bahkan Kakanda Baginda merasa dirinya mencapai kesempurnaan yang tidak tergoyahkan lagi.”

Gubar Baleman masih mengangguk-anggukkan kepalanya.Perlahan-lahan ia berkata, “Tetapi bagaimana-pun juga, kita harus mencoba bertahan. Kita masih harus tetap berusaha.”

Mahisa Walungan mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia tidak akan ingkar. Sebagai adik seorang raja besar, dan sebagai seorang prajurit ia harus bersiap melakukan perlawanan apabila negerinya dilanda oleh lawan. Dengan kekuatan yang ada, betapapun kecilnya, ia tidak dapat melepaskan begitu saja negerinya dihancurkan oleh kekuatan Singasari yang sudah berada di hadapan pintu gerbang kerajaan Kediri.

“Kakang Gubar Baleman,” berkata Mahisa Walungan itu kemudian, “agaknya aku masih mempunyai waktu sedikit. Aku akan kembali ke kota untuk menyiapkan prajurit-prajurit Kediri. Kalau aku tidak mungkin membawa mereka ke perbatasan, maka aku akan menyusun garis pertahanan di luar kota tanpa setahu Kakanda Baginda. Menurut perhitunganku, perbatasan Kediri terlampau sulit untuk dipertahankan melihat kekuatan Singasari yang tidak ada taranya.”

Gubar Baleman mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Kalau terjadi perang, kita akan segera menarik pasukan perbatasan ke pertahanan yang sudah aku siapkan.”

“Kalau rencana adinda itu dapat dilaksanakan, aku kira itu adalah kemungkinan yang sebaik-baiknya.”

“Aku akan menghubungi para Senapati.”

Gubar Baleman mengerutkan keningnya, “Kenapa Adinda Mahisa Walungan tidak memerintahkan saja mereka ke perbatasan?”

“Tidak mungkin. Apabila setiap saat Kakanda Baginda memerlukan salah seorang dari mereka, dan kebetulan yang dicarinya itu tidak ada, maka Kakanda Baginda tentu akan murka. Tidak kepada Senapati itu saja. tetapi juga kepadaku, sebagai Panglima prajurit Kediri yang berada di bawah perintah Sri Maharaja.”

“Hem,” Gubar Baleman menarik nafas dalam-dalam, “apakah yang telah menutup perhatian Baginda atas Tanah yang selama ini telah kita perjuangan dan kita kembangkan.”

Mahisa Walungan tidak menyahut. Tetapi ia mulai merenungkan rencananya untuk menyusun kekuatan tidak di perbatasan antara Singasari dan Kediri, tetapi di perbatasan kota. Setiap kali Sri Baginda memerlukan para Senapati, mereka masih dapat langsung menghadap, sementara pasukan mereka bersiap dalam kubu-kubu pertahanan.

Akhirnya, setelah dibicarakan sekali lagi dan sekali lagi, Mahisa Walungan kembali ke kota meninggalkan Gubar Baleman untuk memimpin pasukan yang ada di perbatasan. Tetapi Mahisa Walungan tidak menghadap Sri Baginda. Dengan diam-diam ia menemui para Senapati dan memberitahukan rencananya.

“Demi negeri ini,” katanya, “aku terpaksa melanggar tata perintah keprajuritan.”

Para Senapati mengangguk-anggukkan kepala mereka. Bahkan ada satu dua orang yang berpikir, sebaiknya Mahisa Walungan sajalah yang kini memegang pemerintahan di Kediri.Tetapi mereka-pun sadar, bahwa Mahisa Walungan tidak akan bersedia. Mahisa Walungan adalah seorang ksatria yang berbuat tanpa pamrih untuk negerinya, yang kadang-kadang telah melepaskan segala kepentingan pribadinya.

“Bagaimana menurut pendapat kalian?” bertanya Mahisa Walungan. “Kami sependapat tuan,” jawab salah seorang Senapati, “kami sadar, bahwa semuanya ini semata-mata untuk kebaikan negeri ini.”

“Bagus. Apakah kalian dapat mengerti?”

“Tentu,” hampir bersamaan beberapa orang menyahut.

“Tetapi jangan salah mengerti,” berkata Mahisa Walungan, “apa yang kita kerjakan ini sama sekali bukan suatu pemberontakan terhadap Kakanda Baginda Sri Maharaja Kertajaya. Tidak. Betapapun juga aku tetap setia kepadanya. Justru kesetiaankulah yang mendorong aku untuk berbuat seperti ini, untuk dengan terpaksa melanggar tertib keprajuritan yang ditentukan oleh Kakanda Baginda, demi kelangsungan pemerintah Baginda Kertajaya atas Kediri.”

Para Senapati mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Kesetiaan bagiku bukan sekedar menundukkan kepala dan melakukan segala, perintahnya, meskipun kita tahu bahwa kita bersama-sama sedang menuju ke dalam jurang kehancuran. Kalau perlu kesetiaan harus diwujudkan dalam bentuk perlawanan dengan kebiasaan. Tetapi dengan garis tujuan yang jelas. Bukan sekedar melakukan sesuatu yang tanpa arti.”

Sekali lagi para Senapati itu mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Kalau kalian setuju, maka sedikit demi sedikit, kalian, harus memusatkan sebagian dari pasukan masing-masing di jalan raya induk kota Kediri yang menghadap ke Singasari. Tetapi pengawasan di setiap arah tidak boleh dilengahkan.”

Para Senapati itu merenung sejenak. Memang tidak ada jalan lain daripada itu.

“Aku akan segera melakukannya,” berkata salah seorang Senapati, “sebagian besar dari pasukanku akan aku kirim ke pusat pertahanan itu.”

“Ya. aku akan segera melakukannya pula.”

Demikianlah maka keputusan-pun bulat. Kediri akan dipertahankan tidak di perbatasan kedua negeri yang semaki lama menjadi semakin tegang. Tetapi Kediri akan membangun pusat pertahanannya di dalam negerinya. Rencana yang disiapkan oleh Mahisa Walungan, Kediri harus menghancurkan musuh di mana-pun mereka bertemu. Pasukan Singasari itu adalah sebagian terbesar dari seluruh kekuatannya. Kalau pasukan itu berhasil dihancurkan, maka kekuatan Singasari pasti sudah akan menjadi lumpuh.

Mahisa Walungan-pun kemudian mengirimkan seorang penghubung kepada Gubar Baleman, bahwa rencana yang dibicarakannya agaknya dapat dilakukannya. Karena itu, maka pertahanan di perbatasan bukanlah pertahanan yang mutlak.

“Tuanku Mahisa Walungan menetapkan pertahanan induk pasukan Kediri di sebelah Utara Ganter,” berkata penghubung itu kepada menteri Gubar Baleman.

Gubar Baleman yang telah mendengar rencana itu lebih dahulu mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Baik, Aku menyesuaikan diri. Rencana Adinda Mahisa Walungan adalah rencana yang sebaik-baiknya dapat kita lakukan dalam keadaan ini.”

Dengan demikian maka Gubar Baleman-pun mengatur pertahanannya sesuai dengan pertahanan terakhir pasukan Kediri. Apabila pasukan perbatasan itu terdesak, maka ia harus mundur lewat jalan raya yang akan melalui Ganter. Gubar Baleman mengharap bahwa Mahisa Walungan telah siap dengan pasukannya untuk membinasakan pasukan Singasari.

Di pinggir kota Kediri, pertahanan telah disusun meskipun Mahisa Walungan berusaha untuk tidak menimbulkan kecemasan pada rakyat Kediri. Mahisa Walungan-pun menjaga agar berita tentang pemusatan pasukan itu tidak sampai kepada Sri Baginda Kertajaya, bahkan mengenai kehadirannya sendiri. Setiap orang yang mungkin berhubungan dengan Sri Baginda telah dihubunginya agar tidak seorang-pun yang menyampaikan berita itu.

Dengan perlahan-lahan Mahisa Walungan menyusun kekuatan. Sekelompok demi sekelompok. Namun dengan demikian usaha Mahisa Walungan itu berlangsung lambat sekali.

Tetapi pada suatu saat Mahisa Walungan dapat menarik nafas panjang. Pasukannya telah siap di sepanjang jalan raya di sebelah Utara Ganter. Meskipun pasukan itu masih belum memadai dibanding dengan pasukan Singa-sari. tetapi Mahisa Walungan berharap, bahwa ia akan dapat menahan pasukan Sri Rajasa di sebelah Ganter menunggu pasukan-pasukan lain yang pasti akan dapat dikerahkannya dengan alasan yang kuat.

Dengan usahanya sendiri Mahisa Walungan berhasil menghimpun bahan makanan untuk pasukan yang telah di pusatkannya itu. Hampir setiap saat ia berada di antara mereka, memberikan petunjuk-petunjuk dan membakar tekad mereka untuk mempertahankan Kediri dengan segala kekuatan yang ada pada mereka.

Akhirnya Mahisa Wahingan menjadi semakin dekat dengan hati setiap prajurit. Bagi mereka, Mahsa Walungan lah pemimpin tertinggi yang dapat memberikan pegangan bagi mereka, sehingga lambat laun, para prajurit itu seakan-akan sama sekali tidak memerlukan orang lain, selain Mahisa Walungan. Mereka sama sekali tidak memerlukan lagi Baginda Kertajaya, meskipun Baginda Kertajaya menyatakan dirinya sebagai Dewa tertinggi sekali-pun.

Demikian dengan tekun Mahisa Walungan dan beberapa orang Senapati yang sependapat dengan pendiriannya, membangunkan kekuatan di sebelah Utara Ganter. Semakin lama semakin tambah dengan kelompok-kelompok baru yang masih berdatangan. Adalah sesuai dengan pertimbangannya, bahwa kedatangan pasukan yang tiba-tiba dan bersamaan akan dapat menumbuhkan kegoncangan dalam tata kehidupan sehari-hari yang memang sudah diliputi oleh ketegangan dan ketidak pastian.

Tetapi adalah mengejutkan sekali, bahwa pada suatu saat seorang utusan datang kepada Mahisa Walungan dengan tergesa-gesa. Dengan nafas terengah-engah ia berkata, “Ampun tuan. Aku adalah utusan Sri Baginda Kertajaya.”

Mahisa Walungan mengerutkan keningnya.

“Aku mendapat perintah Sri. Baginda untuk menghadap tuan.”

“Bagaimana bunyi perintah itu?”

“Aku harus menemui tuan di sebelah Utara Ganter.”

“He,” Mahisa Walungan terkejut, “apakah Kakanda Baginda mengetahui bahwa, aku berada di sebelah Utara Ganter?”

“Ya tuan. Sri Baginda mengetahui,”

“Darimana Kakanda Baginda mengetahui?”

Utusan itu menggelengkan kepalanya, “Aku tidak mengerti.”

Mahisa Walungan menarik nafas dalam-dalam. Ia sadar bahwa tidak semua orang sependapat dengan rencananya. Tidak semua orang mengerti dan sejalan dengan caranya. Juga tidak semua orang menyerahkan dirinya untuk kepentingan Tanah yang akan dipertahankannya mati-matian.

Ketika ia mengatakannya kepada beberapa orang Senapati, mereka-pun menjadi tegang.

“Apakah kira-kira yang akan dilakukan oleh Kakanda Baginda?”

“Tuan,” berkata utusan itu, “sebaiknya tuan bersiap-siap untuk menerima kemarahan Sri Baginda. Baginda menjadi murka ketika Baginda mendengar tuan tidak berada di Tumapel.

Mahisa Walungan mengangguk-anggukkan kepalanya. Pasti ada seseorang yang menyampaikan hal ini kepada Baginda. Menurut pengamatannya. Baginda yang merasa dirinya melampaui kewajaran manusia biasa itu, tenggelam dalam sanggar yang dibuatnya untuk membesarkan dirinya sendiri di dalam alam angan-angan, seolah-olah ia sudah berada di ujung langit, tempat dewa-dewa bersemayam. Adalah tidak mungkin Baginda mengetahui keadaannya tanpa seorang-pun yang memberitahukan kepadanya.

Tetapi Mahisa Walungan tidak akan ingkar dari tanggung jawabnya. Katanya, “Aku akan menghadap Kakanda Baginda.”

“Silahkan tuan.”

Mahisa Walungan-pun kemudian menyerahkan pimpinan pasukannya kepada seorang Senapati tertua. Dengan dada yang berdebar-debar maka ia-pun berpacu di atas punggung kuda tanpa seorang-pun yang mengawalnya kembali ke istana, selain utusan Sri Baginda itu.

Mahisa Walungan menjadi semakin berdebar-debar ketika ia memasuki gerbang dalam. Ia melihat beberapa orang prajurit pilihan yang berjaga-jaga. Jauh lebih banyak dari kebiasaannya. Dengan pandangan aneh mereka memandang Mahisa Walungan yang berjalan di halaman istana itu menuju ke bangsal tengah, setelah meninggalkan kudanya di halaman depan.

“Hem,” Mahisa Walungan menarik nafas, “aku kira ada ketidak wajaran yang akan terjadi.”

Setelah menunggu sejenak, maka Mahisa Walungan langsung dipanggil menghadap oleh Sri Baginda Kertajaya. Di ruang dalam bangsal tengah.

Sekali lagi ia menjadi heran, bahwa di pintu masuk ruang itu-pun ia melihat dua orang Senapati dari pasukan pengawal istana seolah-olah memang sudah menunggunya.

“Ha, kau Walungan,” desis Baginda ketika adiknya sudah menghadap.

Mahisa Walungan tidak segera menjawab. Ia menundukkan kepalanya dalam-dalam, kemudian dengan dada berdebar-debar ia duduk di muka singgasana Baginda Kertajaya. Namun Mahisa Walungan masih sempat melihat beberapa orang pengawal istana berada di dalam ruangan itu pula, sedang beberapa orang penasehat Baginda dan para menteri seolah-olah memang telah dipersiapkan menunggu kedatangannya.

“Majulah Walungan,” tampaknya Baginda terlampau ramah kepada adiknya. Tetapi Mahisa Walungan menyadari, bahwa seakan-akan ia kini akan dihadapkan ke depan sidang yang akan membicarakan nasibnya.

Mahisa Walungan bergeser beberapa jengkal maju.Ketika ia mengangkat wajahnya, maka dadanya berdesir. Dilihatnya seorang Senapati muda yang dikenalnya dengan baik duduk di antara para menteri di sisi Baginda.

Kini sadarlah Mahisa Walungan, bahwa senapati muda yang bernama Pujang Warit itulah agaknya yang telah memberitahukan segala masalahnya kepada Baginda.

Mahisa Walungan menarik nafas dalam-dalam. Pujang Warit adalah salah seorang Senapati yang tampaknya ikut .di dalam penyusunan pasukan di luar kota Kediri. Tetapi ternyata ia telah menyampaikan hal itu kepada Baginda.

“Mahisa Walungan,” bertanya Baginda, “sekian lama aku menunggu kedatanganmu. Aku ingin mendengar, bagaimanakah hasil perjalananmu ke Tumapel? Apakah kau sudah berhasil menangkap pemberontak yang bernama Ken Arok itu?”

“Ampun Kakanda Baginda,” sembah Mahisa Walungan, namun sekali ia mencoba memandang wajah Senapati, muda itu. Kemudian katanya selanjutnya, “Hamba tidak dapat masuk ke wilayah Tumapel karena pertahanan yang rapat.”

Baginda Kertajaya mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Bukankah kau Mahisa Walungan yang dahulu juga?”

Mahisa Walungan tidak menyahut.

“Aku tidak pernah mendengar laporan, bahwa Mahisa Walungan pernah gagal.”

Mahisa Walungan masih tetap berdiam diri.

“Walungan,” berkata Baginda Kertajaya selanjutnya, “Gubar Baleman telah membawa sepusukan prajurit yang akan bergabung, dengan prajurit-prajurit yang kau pimpin. Di manakah Gubar Baleman sekarang?”

“Kakang Gubar Baleman masih berada di perbatasan.”

“Tetapi kenapa kau berada di Ganter?”

Mahisa Walungan menarik nafas dalam-dalam. Kini ia tidak akan dapat berbohong lagi.Senapati muda itu pasti sudah mengatakan apa saja yang telah dilakukannya.

“Apa salahnya,” katanya di dalam hati, “maksudku baik. Dan aku mengharap, Kakanda Baginda dapat mengerti.” Mahisa Walungan mengerutkan keningnya. Tiba-tiba saja tumbuh pertanyaan di dalam hatinya, “Apakah maksud Senapati muda itu? Apakah ia merasa berkeberatan atas persiapan itu? Atau bahkan ia merasa iri hati? Sudah tentu bahwa ia tidak akan dapat berusaha dengan cara apapun untuk mendesak kedudukanku sebagai Adinda Baginda Kertajaya. Apapun yang dilakukan, Mahisa Walungan tetap adinda Sri Baginda. Dan orang lain tidak akan dengan serta merta menjadi saudara muda Baginda. Tetapi kalau ia inginkan kedudukanku sebagai Panglima prajurit Kediri, masih juga masuk akal. Namun sudah tentu bukan anak itu yang akan menggantikan aku seandainya dengan caranya ia dapat menyingkirkan aku.”

“He,” desak Baginda Kertajaya, “kenapa kau diam saja?”

Mahisa Walungan kemudian mengangkat wajahnya. Dipandanginya wajah Baginda sekilas. Hanya sekilas. Kemudian tatapan matanya beredar kepada para tertua, penasehat dan para menteri. Ketika matanya memandang wajah Senapati muda itu, maka Pujang Warit-pun segera menundukkan kepalanya.

“Ampun Kakanda Baginda,” berkata Mahisa Walungan kemudian, “Hamba memang sudah berada di perbatasan. Tetapi menurut perhitungan hamba, maka seandainya hamba masuk ke daerah Tumapel yang sekarang menyebut dirinya Singasari itu, hamba pasti akan terjebak. Jumlah prajurit Singasari tidak terhitung lagi. Itulah sebabnya hamba memutuskan untuk mengambil cara lain. Hamba akan menjebak pasukan Singasari itu di sebelah Utara kota Ganter. Seandainya mereka berhasil mendesak pasukan kakang Gubar Baleman yang memang sudah bersedia untuk menyesuaikan diri dengan persiapan hamba.”

Sri Baginda Kertajaya mengangguk-anggukkan kepalanya.Tetapi tiba-tiba ia tertawa. Dan suara tertawanya menumbuhkan keheranan di hati Mahisa Walungan.

“Kau memang seorang Panglima yang cakap,” desis Baginda di sela suara tertawanya, “tetapi apakah kau merasa bahwa kau memegang kekuasaan tertinggi di Kediri?” tiba-tiba suara Baginda berubah. Derai tertawanya-pun patah dengan tiba-tiba. Dengan wajah yang tegang dipandanginya Mahisa Walungan yang menundukkan kepala, “He, Mahisa Walungan. Jangan kau sangka bahwa aku tidak tahu apa yang kau lakukan.”

Mahisa Walungan tidak menjawab. Ia sama sekali tidak berkeberatan kalau Baginda mengetahuinya, karena hal itu memang sudah dikatakannya. Karena itu maka ia menunggu saja apa yang akan dikatakan oleh Baginda Kertajaya seterusnya.

“Walungan,” berkata Baginda, “tetapi aku sama sekali tidak menyangka, bahwa kau, adikku sendiri, ternyata tidak setia kepadaku.”

Kata-kata itu ternyata benar-benar telah mengejutkan Mahisa Walungan sehingga ia terhenyak sejenak. Ia memang melanggar perintah Sri Baginda. Tetapi itu bukan pertanda bahwa ia sama sekali tidak setia.

“Adikku,” bertanya Baginda, “apakah maksudmu sebenarnya dengan menghimpun prajurit di hadapan gerbang kota Kediri?Apakah benar, bahwa kau sedang menarik garis pertahanan menghadap ke Singasari?”

Pertanyaan itu benar-benar telah mengguncangkan dada Mahisa Walungan. Sejenak ia duduk mematung. Ia tidak mengerti apakah pendengarannya itu tidak keliru, atau sekedar karena gelora di dalam dadanya sendiri.

Tetapi keragu-raguan itu-pun lenyap ketika Sri Baginda bertanya pula, “Bagaimana Mahisa Walungan? Benarkah begitu? Atau itu semuanya bukan sekedar sebuah topeng untuk maksud-maksudmu yang lain?”

Alangkah pedih hati Mahisa Walungan mendengar tuduhan itu. Benar-benar pedih, sehingga sejenak ia menundukkan kepalanya dalam-dalam. Sekali-sekali ia menarik nafas sambil berdesah perlahan-lahan.

Beberapa orang yang mengenal Mahisa Walungan dengan baik, menjadi beriba hati. Mereka yakin bahwa tidak akan timbul sama sekali niat Mahisa Walungan untuk berbuat sesuatu yang bertentangan dengan kesetiaannya kepada Kakanda Baginda dan kepada Tanah Kediri.

Mahisa Walungan dan semua yang ada di ruangan itu tiba-tiba terkejut ketika Baginda membentak dengan kerasnya, “He Walungan. Jawablah.”

Mahisa Walungan beringsut setapak. Sambil menundukkan kepalanya ia menjawab perlahan-lahan, “Ampun Kakanda Baginda. Sebenarnyalah hamba mempersiapkan pertahanan itu untuk menghadapi Singasari.”

“Bohong. Bohong,” teriak Sri Baginda, “Walungan.Kau adalah adikku. Satu-satunya adikku. Tetapi ternyata bahwa justru kau adalah orang yang pertama-tama mengkhianati aku.”

Mahisa Walungan tidak menjawab.

“Kau memang mempersiapkan pertahanan itu untuk dua maksud. Aku mengerti bahwa kau dapat menyusun jebakan bagi pasukan Tumapel di sebelah Utara Ganter. Tetapi yang utama, pasukan itu sama sekali tidak kau hadapkan kepada lawan, kepada pemberontakan Ken Arok. Tetapi pasukan itu terutama kau hadapkan kepadaku. Kau telah bersepakat dengan Gubar Baleman untuk menguasai Kediri. Gubar Baleman kau tempatkan di perbatasan untuk menghentikan setiap gerakan Tumapel. Sedang kau mempunyai kesempatan untuk melakukan rencanamu. Kau telah menipu banyak sekali Senapati dan prajurit. Mereka tidak tahu, untuk apa mereka harus berada di Ganter.”

Terasa getaran yang dahsyat telah melanda dada Mahisa Walungan. Ia tidak menyangka bahwa ia akan dihadapkan pada suatu tuduhan yang paling keji. Ia menyangka bahwa Kakanda Baginda Kertajaya itu hanya akan murka karena ia telah melanggar perintahnya. Tetapi agaknya kemarahan itu sudah melonjak demikian parahnya.

Agaknya Sri Baginda Kertajaya telah menuduhnya menyiapkan sebuah pemberontakan atas takhta Kediri.

“Walungan,” Kertajaya berteriak, “kenapa kau masih ingkar he?”

“Ampun Kakanda Baginda,” Mahisa Walungan mencoba menjelaskan maksudnya, “hamba sama sekali tidak bermaksud jahat. Hamba hanya mencoba menurut kemampuan hamba mempertahankan Tanah Kediri. Karena Kakanda Baginda tidak mengijinkan hamba membawa pasukan ke perbatasan, maka hamba telah menyusun pasukan itu di sebelah Utara Ganter.”

“Memang kau benar-benar adikku yang cerdas,” sahut Baginda. Meskipun Baginda tersenyum, tetapi senyumnya terasa mendirikan bulu-bulu tengkuk Mahisa Walungan, “kau sudah menyusun jawaban terhadap setiap kemungkinan yang akan ditanyakan kepadamu. Tetapi kau tidak akan dapat berbohong. Kau harus mengakui, bahwa kau sudah siap melakukan pemberontakan. Aku tahu bahwa agaknya kau tidak akan menyerahkan Kediri kepada orang-orang Tumapel, tetapi pasti ada terlintas di kepalamu, bahwa aku tidak memberimu kepuasan karena niatmu tidak terpenuhi. Kau akan memberontak, menyingkirkan aku, dan sebagai satu-satunya saudara muda, kau akan dengan sendirinya naik takhta.”

Kata-kata Sri Baginda Kertajaya itu bagaikan duri yang langsung menusuk ulu hati Mahisa Walungan.Karena itu, maka ia tidak dapat berbuat lain kecuali menundukkan kepala semakin dalam.

Kini ia sadar, kenapa di setiap sudut ruangan, di setiap pintu, pengawal istana siap berjaga-jaga. Dan ia-pun sadar, bahwa ia tidak akan dapat kembali ke pasukannya yang telah disiapkannya itu.

“Mahisa Walungan,” berkata Sri Baginda, “aku tidak perlu mendengar keteranganmu lebih banyak lagi.Karena kau adikku, maka untuk sementara kau masih akan tetap hidup. Aku masih ingin tahu, sampai di mana dosa-dosa yang telah kau perbuat atasku dan atas Kediri. Tetapi, pada suatu saat kau pasti akan menerima hukuman itu.” Sri Baginda berhenti sejenak, “sekarang kau terpaksa ditahan. Kau dapat menghitung hari di dalam bilik yang sempit, sambil menyesali dosa-dosamu. Tetapi semuanya itu sudah terlambat. Kau tinggal menunggu, hukuman apa yang akan aku jatuhkan kepadamu atas pengkhianatanmu itu. Meskipun kau adikku, atau justru karena kau adikku, maka hukuman itu akan menjadi jauh lebih berat.”

Mahisa Walungan sama sekali sudah tidak melihat kemungkinan lain. Ia harus menerima keadaannya. Sekali ia memandang wajah Senapati muda yang agaknya telah menyampaikan laporan palsu itu. Tetapi Senapati itu tidak sedang memandang wajahnya.

Yang membuatnya sangat berprihatin justru bukan dirinya sendiri. Tetapi apakah yang akan terjadi atas Kediri? Justru pada saat banjir bandang itu siap melanda negerinya, ia sama sekali tidak mendapat kesempatan untuk berbuat sesuatu.

Terasa darah Mahisa Walungan seakan-akan bergolak. Kemarahan di dalam hatinya tertuju kepada Senapati muda itu. Senapati muda yang telah mengorbankan segala-galanya untuk kepentingan dirinya sendiri. Tanpa disadarinya, bahwa ia telah mengorbankan Kediri dalam keseluruhan ini pula.

Harapan satu-satunya bagi Mahisa Walungan terletak pada Gubar Baleman. Tetapi hampir pasti bahwa Gubar Baleman-pun akan mengalami nasib serupa dengan nasibnya. Gubar Baleman itu akan dipanggil pula oleh Sri Baginda, kemudian seperti dirinya sendiri, ia tidak akan keluar lagi dari paseban dalam mil Demikianlah Mahisa Walungan tidak dapat mengelak lagi ketika dua orang Senapati pengawal istana kemudian membawanya dari hadapan Sri Baginda. Dan Mahisa Walungan itu masih melihat wajah Baginda yang merah menahan marah sambil berkata, “Aku akan memberikan contoh yang sebaik-baiknya bahwa aku tetap berpegang pada keadilan. Meskipun kau adikku, tetapi pengkhianatanmu akan medapat imbalan yang wajar.”

Mahisa Walungan tidak menjawab. Sambil menundukkan kepalanya ia melangkah meninggalkan bangsal itu. Sekilas ia melihat para pengawal yang berjaga-jaga di depan pintu.

Kedua Senapati yang mengapitnya itu-pun sama sekali tidak berbicara apapun. Sekali-sekali Mahisa Walungan mencoba memandangi wajah keduanya berganti-ganti. Tetapi sangatlah sulit untuk menangkap kesan pada wajah-wajah itu.

Ketika Mahisa Walungan sempat menebarkan pandangan matanya, maka terasa kesiagaan yang luar biasa di halaman istana itu. Di setiap regol ia melihat beberapa orang prajurit pengawal. Bahkan di sudut-sudut longkangan dan di sudut-sudut bangsal dijaga pula oleh prajurit-prajurit pilihan pengawal istana.

Mahisa Walungan menarik nafas dalam-dalam.

“Kakanda Baginda benar-benar menganggap bahwa aku akan memberontak. Dipersiapkannya prajurit pengawal sekian banyaknya, agar aku tidak dapat lolos lagi, seandainya aku berniat demikian,” katanya di dalam hati.

Namun Mahisa Walungan saat itu sama sekali tidak ingin lari. Ia tidak merasa bersalah sama sekali, sehingga karena itu, ia akan menghadapi setiap keadaan dengan dada tengadah. Bahkan mungkin ia masih mendapat kesempatan untuk membela diri dan memberikan bukti bahwa ia memang tidak bersalah.

Tetapi seandainya Mahisa Walungan berhasrat untuk melakukannya, maka masih banyak jalan yang dapat ditempuh. Meskipun hampir di setiap jengkal ada seorang prajurit yang berdiri dengan senjata telanjang, namun Mahisa Walungan adalah orang yang luar biasa.

Demikianlah maka Mahisa Walungan dimasukkan ke dalam sebuah bilik kayu yang kuat. Sebuah bilik yang sempit dan gelap. Di sudut bilik itu terdapat sebuah pembaringan kayu yang keras. Tanpa alas sama sekali.

Mahisa Walungan menggeleng-gelengkan kepalanya. Bilik itu sama sekali tidak pantas untuknya. Betapapun besar kesalahannya, tetapi ada tempat yang khusus untuk menahan para bangsawan. Apalagi seorang adik raja yang besar seperti Mahisa Walungan.

“Agaknya kesalahanku dianggap terlampau besar, dan tidak akan dapat dipersoalkan lagi. Agaknya Kakanda Baginda menganggap bahwa aku tidak pantas lagi mendapat perlakuan sebagai manusia sewajarnya. Bagaimanapun juga, tumbuh juga kekecewaan di hati Mahisa Walungan. Kekecewaan yang perlahan-lahan telah menusuk jantungnya atas perlakuan yang dialaminya.”

Ketika pintu bilik yang sempit itu kemudian tertutup rapat, maka Mahisa Walungan-pun mencoba untuk melihat seluruh sudut ruangan. Diraba-rabanya dinding kayu yang membatasi ruangan yang. sempit itu.

Sambil menggeleng-gelengkan kepalanya Mahisa Walungan kemudian duduk di atas pembaringan kayu yang keras dan tidak beralas itu.

“Terlalu. Aku harus menanggung penghinaan seberat ini,” desisnya.

Telinga Mahisa Walungan yang mendengar langkah beberapa orang prajurit di luar pintu. Ia yakin bahwa di depan pintu biliknya itu pasti di tempatkan beberapa prajurit pilihan, dan bahkan mungkin dengan seorang atau dua orang senapati.

Tiba-tiba Mahisa Walungan itu berdiri. Ia melangkah mendekati pintu sambil bertanya, “Siapa di luar?”

Tidak segera ada jawaban.

“Siapa di luar? “ Mahisa Walungan mengulangi.

“Aku. Prajurit yang bertugas,” terdengar seseorang menjawab.

“Ruangan ini terlampau Pengab. Aku hampir tidak dapat bernafas.”

Tidak ada jawaban.

“Apakah tidak dapat dibuat satu lubang agar ada udara yang dapat masuk?”

“Bagaimana dapat dibuat lubang itu?” prajurit yang bertugas itu bertanya.

“Ambil sebuah papan dinding bilik ini, kemudian setelah diberi beberapa buah lubang, pasang kembali.”

Prajurit yang ada di luar pintu itu tidak segera menjawab. Agaknya ia sedang berbincang dengan kawan-kawannya. Namun kemudian prajurit itu menjawab, “Itu bukan wewenangku.”

Mahisa Walungan mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia sadar, bahwa hal itu sama sekali bukan wewenangnya. Tetapi udara di bilik yang sempit itu serasa semakin mencekiknya.

“Bagaimana kalau aku membuat sendiri?” bertanya Mahisa Walungan.

Prajurit yang bertugas menjaganya menjadi heran. Bagaimana ia dapat membuat sendiri.

“Bagaimana? “ Mahisa Walungan mendesak.

“Tetapi apakah tuan dapat membuat sendiri?” beritanya prajurit itu.

“Aku akan membuatnya. Aku tidak dapat bernafas lagi.”

Sebelum prajurit itu menjawab, Mahisa Walungan telah mulai meraba-raba dinding kayu yang tebal itu. Kemudian ia mengatupkan giginya rapat-rapat. Sejenak ia memusatkan segenap kemampuannya, dan sejenak kemudian, maka tangannya-pun seakan-akan meremas sesuatu.

Prajurit-prajurit yang bertugas di luar bilik itu terkejut ketika mereka melihat lima buah jari yang tiba-tiba saja seakan-akan menembus dinding kayu yang tebal itu. Kemudian dengan suatu remasan yang menghentak, terjadilah sebuah lubang pada dinding kayu itu.

Prajurit-prajurit yang melihat hal itu justru diam mematung. Terasa seakan-akan darah mereka berhenti mengalir. Sebelum mereka menyadari keadaan masing-masing, maka mereka melihat tangan itu telah membuat lubang yang lain.

Ketika pada dinding bilik itu telah terjadi lima buah lubang maka terdengar suara dari dalamnya, “Aku kira sudah cukup.”

Ternyata suara itu telah membangunkan para penjaga. Mereka segera berloncatan mendekati lubang-lubang itu. Tetapi mereka tidak tahu apa yang harus mereka lakukan.

Seorang Senapati yang melihat kegelisahan itu tanpa mengerti sebabnya dari kejauhan, segera mendekatinya.

“He, kenapa kalian berloncatan?”

“Lihat,” jawab salah seorang prajurit.

“Apa?”

“Lubang itu.”

Senapati itu tidak segera mengerti. Dipandanginya lubang itu dengan tajamnya.

“Ya lubang itu,” katanya di dalam hati, “tentu bukan lubang yang memang sudah ada. Lubang-lubang itu tidak berbentuk bulat atau persegi atau bentuk-bentuk ukiran. Lubang itu sama sekali tidak berbentuk dan bahkan telah memecahkan serat-erat kaya di sekitarnya.

“Kenapa dengan lubang itu?” tiba-tiba senapati itu bertanya.

Prajurit itu-pun kemudian mengatakannya bahwa Mahisa Walungan yang telah membuatnya dengan jari-jarinya.

Terasa dada Senapati itu tergetar. Ia sama sekali tidak membantah, bahwa sebenarnyalah Mahisa Walungan pasti mampu melakukannya.

“Maaf,” tiba-tiba terdengar suara Mahisa Walungan. “aku terpaksa membuat lubang itu karena aku hampir mati tercekik oleh kepepatan udara di dalam bilik sempit ini.”

Senapati itu tidak menjawab.

“Tetapi percayalah bahwa aku tidak akan lari,” sambung Mahisa Walungan.

Tidak ada jawaban. Senapati itu berdiri saja mematung. Namun tiba-tiba ia menganggukkan kepalanya sambil berkata di dalam hatinya, “Memang luar biasa. Kalau Baginda benar-benar marah dan melakukan hukuman atasnya, aku tidak tahu, apakah yang akan terjadi atas Kediri.”

Tanpa berkata sesuatu maka Senapati itu-pun meninggalkan bilik sempit yang mengurung Mahisa Walungan di dalamnya.

Para prajurit menjadi terheran-heran. Senapati itu tidak memberikan perintah apapun. Sejenak mereka saling berpandangan, dan sejenak kemudian salah seorang berbisik, “Apakah yang akan kita lakukan sekarang?”

Kawannya menggelengkan kepalanya, “Tidak ada. Tidak ada perintah apapun. Biar saja dinding itu berlubang. Asal yang ada di dalamnya tidak lepas.”

Tetapi kawannya ragu-ragu. Kalau Mahisa Walungan mampu melubangi dinding kayu yang tebal itu, apakah sulitnya baginya memecahkan pintu bilik kemudian dengan sekali pukul membuat setiap prajurit pingsan.

Tetapi prajurit itu tidak mengatakannya. Namun dadanya yang berdebaran serasa menjadi semakin bergetar.

“Kita harus berhati-hati,” berkata prajurit yang lain, “kalau tahanan yang satu ini lepas, kita akan mengalami nasib yang paling pahit.”

Kawan-kawannya mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun tiba-tiba salah seorang dari mereka berbisik, “He, apakah kalian percaya bahwa Adinda Baginda ini akan memberontak?”

Sejenak para prajurit itu saling berpandangan. Tetapi tidak seorang-pun yang memberikan jawaban. Bahkan prajurit yang bertanya itu-pun kemudian terdiam.

Dalam pada itu. Baginda Kertajaya telah memerintahkan Senapati muda yang bernama Pujang Warit itu untuk mengatasi keadaan. Ia harus berusaha membubarkan pemusatan pasukan, di sebelah Utara Ganter dan memberinya kekuasaan untuk menyalurkan ketegangan mereka ke perbatasan.

“Kau bertanggung jawab atas mereka,” sabda Baginda, “supaya mereka tidak kehilangan gelora perjuangan mereka yang telah terlanjur membakar dada mereka.”

“Hamba Baginda. Mereka akan hamba bawa, tidak saja ke perbatasan.Tetapi supaya gelora jantung mereka tersalurkan, hamba akan memasuki Tumapel.”

“Kau harus dapat membawa Ken Arok itu,” perintah Baginda kemudian, “tetapi sebelumnya Gubar Baleman harus menghadap lebih dahulu.”

“Hamba tuanku.”

“Kalau kali ini kau berhasil, maka meskipun ada orang-orang lain yang lebih tua daripadamu, maka kau akan menepati tempat yang baik. Kau akan menjadi Panglima pasukan tempur. Tetapi aku akan membagi kekuasaan Mahisa Walungan. Aku akan memisahkan garis kepemimpinan pasukan keamanan dan pengawal. Dengan demikian maka jabatannya akan dipegang oleh tiga orang.”

Senapati muda itu mengerutkan keningnya. Ia menjadi agak kecewa karena kekuasaan Mahisa Walungan tidak mutlak dapat dipegangnya. Tetapi ia menyadari kemudaannya. Mungkin kekuasaan itu akan dapat berkembang di waktu yang mendatang.

“Tetapi sebelum itu, kau harus membuktikan lebih dahulu apa yang pernah kau sanggupkan. Menumpas pemberontakan Tumapel dan menggagalkan pemberontakan Mahisa Walungan,” berkata Baginda Kertajaya kemudian, “selanjutnya, aku sendirilah yang akan menjatuhkan hukuman atas Mahisa Walungan dan Gubar Baleman.”

“Hamba tuanku. Hamba akan segera melakukan perintah Tuanku.”

Senapati itu-pun kemudian meninggalkan istana.Di depan regol ia bertemu dengan dua orang penasehat Baginda. Sambil tersenyum kedua orang tua itu berbisik, “Mudah-mudahan kau berhasil. Agaknya Baginda mempercayai kita. Kau jangan mengecewakan kami. Dengan demikian kami tidak selamanya menjadi penasehat saja, karena kami ingin kekuasaan yang lebih besar dari seorang penasehat.”

Pujang Warit-pun tersenyum pula. Bahkan terasa detak jantungnya menjadi semakin cepat, dan dadanya seakan-akan mengembang.

Meskipun demikian ia menjawab, “Tetapi Baginda masih belum mempercayai kita sepenuhnya. Ternyata Baginda tidak berhasrat untuk mengangkat seorang Panglima yang menyeluruh. Agaknya Baginda masih ragu-ragu juga.”

“Bukan karena Baginda tidak mempercayai kita.Tetapi sudah tentu Baginda masih meragukan kemampuanmu. Kalau kau kelak dapat membuktikan bahwa kau mampu menandingi kemampuan Mahisa Walungan, maka meskipun kau bukan Adinda Baginda, namun Kediri memerlukan orang kuat yang dapat memimpin pasukannya untuk melawan pemberontakan Tumapel dan mungkin juga para pengikut Mahisa Walungan dan Gubar Baleman.”

Senapati muda itu tertawa. Sekilas ia memandang para prajurit yang sedang bertugas di luar regol. Kemudian sambil mengangkat dadanya ia berkata, “Jangan ragu-ragu. Aku tahu kemampuan Mahisa Walungan. Tetapi aku tidak mau kalah daripadanya. Kalau ada kesempatan aku memang ingin membuktikannya dalam perang tanding.”

“Kau tidak akan mendapat kesempatan itu,” jawab, salah seorang penasehat raja itu, “Mahisa Walungan pasti akan mendapat hukuman mati setelah Gubar Baleman tertangkap pula. Keduanya akan menjadi pengewan-ewan di alun-alun dan bahkan mungkin akan diarak di sepanjang jalan-jalan besar sekota.”

“Sayang,” berkata Senapati muda itu, “tetapi bagaimana-pun juga aku, akan membuktikan bahwa aku tidak kalah dari Mahisa Walungan.”

“Baiklah. Lakukanlah tugas yang diberikan kepadamu baik-baik.”

“Terima kasih. Aku akan segera pergi ke Ganter atas nama Baginda Kertajaya. Pasukanku sudah ada di sebelah pemusatan pertahanan yang dibuat oleh Mahisa Walungan. Kalau ada beberapa orang Senapati yang tidak mau tunduk kepada keputusan Sri Baginda, maka aku akan menumpas mereka dengan kekuatan. Tiga orang Senapati bersama pasukannya telah berpihak kepadaku. Sepasukan prajurit pengawal dengan dua orang Senapatinya telah diperbantukan kepadaku pula apabila aku perlukan. Selebihnya tiga Senapati dari pasukan pengaman telah berada di tempat itu pula. Aku yakin bahwa di antara mereka yang sudah ada di sebelah Utara Ganter itu-pun tidak seluruhnya setia kepada Mahisa Walungan apabila mereka telah mengerti apa yang sebenarnya terjadi.”

Kedua orang tua itu mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Aku percaya kepadamu. Jangan sampai gagal supaya leher kita tidak harus kita korbankan untuk keinginan yang tidak begitu banyak ini.”

“Jangan cemas. Aku bukan anak-anak lagi.”

“Selamat berjuang.”

Senapati muda itu-pun kemudian meninggalkan kedua penasehat raja yang memandanginya sambil termangu-mangu. Namun kemudian keduanya tersenyum dan meninggalkan halaman istana itu sambil berangan-angan, bahwa mereka kelak akan mungkin mendapat kedudukan yang lebih baik apabila terjadi perubahan di dalam tata pemerintahan. Senapati muda itu kelak pasti akan berusaha untuk menempatkan kedua penasehat itu ke dalam kedudukan yang mempunyai arti kekuasaan langsung. Mereka akan lebih senang memegang jabatan apapun di luar istana, daripada sekedar penasehat, meskipun kedudukan seorang penasehat raja sangat terhormat, seperti juga kedudukan seorang pemimpin pemerintahan yang lain. Tetapi mereka tidak mempunyai wewenang lain kecuali memberikan pertimbangan-pertimbangan saja.

Betapa kecilnya kedudukan seorang Akuwu, tetapi Akuwu mempunyai wewenang langsung untuk melakukan suatu tindakan atas suatu daerah yang dipercayakan kepadanya. Dan mereka mengharap bahwa Pujang Warit berhasil menangkap atau membinasakan Ken Arok, sehingga Tumapel tidak lagi mempunyai pemimpin pemerintahan.

Meskipun di dalam hati kedua orang itu tumbuh juga pertanyaan yang menegangkan syaraf mereka, siapakah yang akan mendapat kedudukan itu di antara mereka berdua, namun sementara mereka dapat bekerja bersama. Kalau yang seorang akan mendapat kedudukan Akuwu, mungkin yang seorang akan dapat menggantikan Gubar Baleman. Seorang menteri yang langsung berkuasa atas suatu segi pemerintahan di Kediri, meskipun masih berada di bawah perintah Sri Baginda.

“Tetapi kedudukan Gubar Baleman tidak dapat dijabat oleh setiap orang,” berkata mereka di dalam hati, “karena Gubar Baleman adalah seorang menteri yang bertanggung jawab atas keselamatan negeri, yang bekerja bersama-sama dengan Panglima dari segenap kekuatan keprajuritan Kediri yang semula dipegang oleh Mahisa Walungan. Hanya karena Mahisa Walungan itu adik Sri Baginda Kertajaya lah maka kekuasaan Mahisa Walungan tampaknya menjadi lebih besar dari Gubar Baleman.”

Namun keduanya tidak memikirkan hal itu lebih jauh.Kesempatan yang lain pasti masih terbuka. Apapun.

Dengan demikian, maka di dalam pimpinan pemerintahan Kediri sendiri telah terjadi pusaran yang hampir tidak terbendung. Setiap orang pada dasarnya hanya memikirkan kemungkinan yang paling baik bagi diri mereka masing-masing. Mereka menjadi lengah dan kehilangan kewaspadaan, bahwa di perbatasan pasukan Singasari yang kuat telah siap menerkam mereka.

Pada saat Senapati muda itu singgah sejenak di rumahnya, kemudian di atas punggung kuda dikawani oleh dua orang pengawal yang paling dipercayanya pergi ke pemusatan pasukannya di sebelah pasukan yang telah dipersiapkan lebih dahulu, maka seorang penunggang kuda berpacu seperti angin ke perbatasan. Orang itu adalah utusan beberapa orang Senapati yang mendengar penangkapan Mahisa Walungan atas tuduhan yang keji itu. Utusan itu seorang Senapati pula, harus segera menghubungi Gubar Baleman dan memberitahukan apa yang telah terjadi atas Mahisa Walungan dan apa yang sebentar lagi akan terjadi atasnya.

Gubar Beleman yang belum mendengar apa yang telah terjadi di istana, menyambut urusan itu dengan wajah yang cerah. Ia menyangka bahwa utusan itu pasti utusan Mahisa Walungan yang akan memberitahukan perkembangan terakhir dari persiapannya.

“Aku hampir tidak sabar menunggu,” sambut Gubar Baleman yang pertama-tama, “marilah. Kau dapat melihat sendiri apa yang terjadi di perbatasan, dan kau dapat memberitahukan nanti kepada Adinda Mahisa Walungan.”

Utusan yang baru saja turun dari kuda itu menggelengkan kepalanya. Jawabnya, “Tidak Pamanda Menteri. Keadaan sudah jauh berubah dari yang kita gambarkan semula.”

“He?” Gubar Galeman terkejut. Lalu, “Tetapi marilah kita duduk di gubugku. Kau dapat berbicara dengan tenang.”

Keduanya-pun kemudian masuk ke dalam sebuah gubug di perkemahan pasukan Kediri yang sengaja tidak mempergunakan rumah-rumah rakyat yang sedang diombang-ambingkan oleh ketidak tentuan.

“Apakah yang sudah terjadi?” bertanya Gubar Baleman.

Senapati muda yang menjadi utusan itu menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian ia bertanya, “Bagaimana dengan perbatasan ini Pamanda Menteri?”

“Keadaannya sudah menjadi semakin baik, meskipun masih banyak pengungsi yang menyeberang ke Tumapel. Tetapi aku sudah menghentikan perburuan manusia seperti yang terjadi sebelumnya. Aku membiarkan saja mereka yang menyeberang ke Tumapel. Aku justru mencoba memberikan bantuan yang mereka perlukan. Juga bekal di perjalanan mereka.”

“Kenapa?”

“Ternyata banyak di antara mereka yang mengurungkan niatnya, justru karena mereka tidak diburu-buru lagi. Tidak dibantai dan tidak dirampok segala milik yang sempat dibawanya.”

Senapati itu mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Tetapi kau belum mengatakan, kenapa keadaan sudah jauh berubah?”

Utusan itu termenung sejenak. Namun kemudian ia mulai menceriterakan apa yang sudah terjadi atas Mahisa Walungan.

“He? Kenapa dapat terjadi demikian? Apakah tidak ada seorang-pun yang dapat mengatakan, bahwa hal itu sama sekali tidak benar? Itu adalah fitnah semata-mata. Aku tahu benar siapakah Adinda Mahisa Walungan. Ia adalah Adinda Baginda yang terlampau setia.”

“Baginda sudah menjadi mata gelap. Menurut dugaanku pasti ada orang-orang istana yang sengaja memutar balik keadaan. Kini Baginda memercayakan pimpinan keprajuritan kepada Pujang Warit, dengan mempertaruhkan segenap keselamatan negeri ini.”

“Pujang Warit, kenapa Pujang Warit? Bukankah Pujang Warit tidak jauh lebih tua diri padamu?”

“Ya. Umur kami berselisih tiga tahun saja.”

Gubar Baleman mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya kemudian, “Memang Pujang Warit mempunyai beberapa kelebihan dari kawan-kawannya. Apalagi yang lebih muda dari padanya. Tetapi ia pasti belum mempunyai cukup kebijaksanaan untuk memimpin pasukan Kediri.”

“Apalagi dalam keadaan seperti sekarang.”

Gubar Baleman mengangguk-anggukkan kepalanya. Sejenak ia merenung. Dicobanya untuk mengerti, apakah kira-kira yang sudah terjadi di istana.

“Pamanda Menteri,” berkata Senapati itu pula, “tugas Pujang Warit sependengaran kami adalah, menumpas pemberontakan Tumapel, membubarkan pemusatan pasukan Adinda Mahisa Walungan dan memanggil Pamanda Menteri Gubar Baleman ke istana.”

Gubar Baleman sama sekali tidak terkejut. Ia mempunyai tanggapan yang tajam terhadap keadaan.

“Aku akan dipanggil dan tidak akan keluar lagi dari istana itu. Begitu agaknya.”

Utusan para Senapati itu tidak menyahut.

“Aku sama sekali tidak berkeberatan. Tetapi aku mencemaskan nasib perbatasan ini dan bahkan seluruh Kediri.”

“Itulah yang kami pikirkan, sehingga aku tergesa-gesa menemui Pamanda Menteri.”

“Kalau aku memenuhi panggilan itu, aku adalah seorang Menteri yang paling setia kepada Baginda. Tetapi dengan demikian aku sudah melepaskan kesetiaanku kepada Kediri, karena kini ternyata bahwa Baginda sudah terpisah dari Kediri dalam keseluruhan.”

“Jadi?”

“Aku menjadi bingung. Tetapi bagiku Kediri adalah wadah yang harus diselamatkan. Meskipun tampaknya kini aku tidak mematuhi perintah Baginda, namun apabila keadaan memungkinkan nanti, setelah Kediri diselamatkan, Baginda akan mengerti, bahwa perbuatan kami dilandasi oleh kejujuran hati.”

Senapati muda itu mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Aku akan mempertimbangkan, apakah yang akan aku lakukan dalam keadaan yang semakin kalut ini. Di perbatasan pasukan Singasari menjadi semakin kuat, di dalam istana para pemimpin saling berdesakan untuk mendapatkan keuntungan diri sendiri. Benar-benar suatu keadaan yang membuat kita semui harus berprihatin.”

Senapati itu masih mengangguk-anggukkan kepalanya, “Begitulah Pamanda Menteri. Karena itu, terserahlah kepada pamanda. Tidak ada lagi orang tua yang pantas melindungi Kediri dap isinya selain Pamanda Menteri Gubar Baleman. Kami, para Senapati, sudah kehilangan kepercayaan kepada siapapun. Juga kepada Pujang Warit. Kami justru menjadi curiga kepadanya.”

“Baiklah, aku akan mengambil sikap.Beri kesempatan aku berpikir hari ini.”

“Aku akan menunggu. Petang nanti aku akan kembali ke Ganter. Aku menyangka, bahwa perkembangan keadaan pasti masih akan terjadi. Mungkin lebih cepat dari yang kita duga.”

“Baiklah,” sahut Gubar Baleman. Kemudian, “Aku akan melihat perbatasan. Mungkin aku dapat meninggalkan se hari dua hari. Aku ingin melihat apa yang sudah terjadi di istana. Tetapi tidak sebagai seorang pesakitan.”

Gubar Baleman-pun kemudian menyiapkan kudanya untuk melihat-lihat daerah perbatasan. Dibawanya tiga orang pengawal kepercayaannya dan Senapati muda itu, agar ia dapat melihat sendiri, betapa ringkihnya pasukan Kediri di perbatasan.

Demikianlah maka Gubar Baleman itu kemudian mendatangi setiap pasukan yang ada. Ditemuinya para Senapati yang memimpin pasukan-pasukan mereka dengan sepenuh hati. Mereka memang sudah bertekad mempertahankan Kediri mati-matiam. Namun mereka-pun telah mengetahui rencana Mahisa Walungan. Mereka tidak akan mempertahankan perbatasan ini. Tetapi mereka akan menarik pasukan Tumapel jauh memasuki wilajah Kediri. Sampai di sebelah Ganter, mereka akan bergabung dengan pertahanan yang sudah disiapkan oleh Mahisa Walungan. Di sebelah Utara Ganter itulah nanti mereka akan menghancurkan pasukan Tumapel.

Para Senapati itu-pun kemudian melaporkan bahwa tidak ada gerakan-akan yang mencurigakan di pihak lawan. Pasukan sandi yang sempat menjusup mendekati pemusatan pasukan Singasari melaporkan, bahwa mereka-pun masih dalam sikap bertahan.

“Sepasukan prajurit khusus telah berada di perbatasan pula,” lapor seorang Senapati.

“Apakah yang kau maksud dengan pasukan khusus?”

“Pasukan yang cukup besar, yang terdiri dari beberapa kelompok. Menurut keterangan yang didengar oleh beberapa orang petugas sandi, pasukan itu justru dibentuk dari orang-orang Kediri sendiri yang telah mengungsi ke Singasari.”

“Bukan main,” geram Gubar Baleman, “itulah kelebihan Ken Arok yang sekarang menyebut dirinya Sri Rajasa.”

“Pasukan itu dipimpin sendiri oleh kakanda permaisuri Singasari.”

“Siapa?”

“Mahisa Agni.”

Gubar Baleman menarik nafas dalam-dalam. Dalam keadaan yang demikian, orang yang paling dapat diharapkan oleh Kediri, Mahisa Walungan, kini berada di dalam tahanan Sri Baginda sendiri.

Karena itu, dalam waktu yang singkat, Gubar Baleman mengumpulkan beberapa orang Sanapati yang memang tidak banyak jumlahnya itu. Kepada Senapati yang tertua, Gubar Baleman menyerahkan kepercayaan untuk memimpin seluruh pasukan di perbatasan.

“Aku akan melihat apa yang telah terjadi di Kediri. Aku ingin membuktikan sendiri, kenapa Adinda Mahisa Walungan harus berada di dalam bilik tahanan.”

“Baiklah,” jawab Senapati tertua itu, “aku akan berusaha untuk melakukan tugas ini sebaik-baiknya.”

“Seandainya keadaan meruncing, dan kau tidak dapat menunggu aku, sebelum ada perubahan apapun, lakukanlah rencana yang telah kita susun. Aku mengharap bahwa kekuatan di Ganter itu masih memadai.”

“Baiklah.”

Gubar Baleman-pun kemudian kembali ke gubugnya untuk segera mempersiapkan dirinya dan berkemas-kemas. Ia ingin pergi ke Kediri bersama Senapati muda itu hari itu juga.

Tetapi sebelum Gubar Baleman sampai ke gubugnya, seorang pengawalnya telah menemuinya sambil berkata, “Aku sedang menyusul tuan di sepanjang perbatasan.”

“Kenapa? “

“Ada utusan dari Sri Baginda.”

Gubar Baleman mengerutkan keningnya. Sejenak kemudian ia berpaling kepada Senapati muda di sampingnya sambil berkata, “Begitu cepatnya Pujang Warit mengambil tindakan. Aku memuji kelincahannya.”

Senapati itu menganggukkan kepalanya.

“Tetapi ia masih kurang cepat dari kau.”

Senapati itu masih sempat tersenyum ketika Gubar Baleman-pun tersenyum.

Kemudian kepada pengawal yang menyusulnya itu ia berkata, “Baiklah. Aku akan menemuinya. Berapa orang jumlah utusan itu?”

“Enam orang.”

Sekali lagi Gubar Baleman tersenyum. “Jumlah yang besar.”

“Tidak,” sahut Senapati muda di sampingnya, “jumlah yang pantas dalam keadaan serupa ini.”

Gubar Baleman kini benar-benar tertawa, meskipun terasa aneh.

“Katakan kepada utusan itu, sebentar lagi aku akan menemui mereka.”

“Baiklah.”

Sepeninggal pengawal itu Gubar Baleman kemudian berkata, “Kau jangan menampakkan dirimu supaya mereka tidak tahu, bahwa berita tentang Adinda Mahisa Walungan telah sampai kepadaku.”

“Baiklah.”

“Tetapi cobalah mendengarkan, apa yang mereka bicarakan. Kalau ada kesempatan, berusahalah mendekat.”

“Sulit. Gubug itu terlampau kecil. Di sekitarnya tidak ada tempat untuk bersembunyi.”

Gubar Baleman tersenyum, “Kalau mungkin. Kalau tidak, biarlah nanti aku ceriterakan apa yang mereka katakan kepadaku.”

Gubar Baleman-pun kemudian mendahului Senapati muda itu langsung pergi ke gubugnya. Di luar gubug itu ia melihat beberapa ekor kuda yang tertambat, sedang tamu-tamunya sudah duduk di atas tikar di dalam gubugnya yang sempit.

Ketika mereka melihat Gubar Baleman, maka mereka-pun segera membungkukkan kepala mereka dengan hormatnya.

“Kami datang untuk menghadap Pamanda Menteri Gubar Baleman,” berkata salah seorang dari para utusan itu, juga seorang Senapati yang masih muda.

“Baiklah,” Gubar Baleman mengangguk-anggukkan kepalanya, “aku sudah mendengar dari seorang pengawal, bahwa ada enam orang tamu dari kota, utusan Sri Baginda.” Gubar Baleman berhenti sejenak, “Apakah kalian membawa sepasukan prajurit untuk memperkuat pertahanan di perbatasan?Atau membawa perbekalan atau apapun yang dapat memperkuat ketahanan pasukan kita di sini?”

Sejenak para utusan itu saling berpandangan. Pertanyaan itu agaknya telah membuat mereka menjadi termangu-mangu. Mereka sama sekali tidak menyangka, bahwa pertanyaan itulah yang akan diucapkan oleh Gubar Baleman. Tidak seperti lajimnya, sesuai dengan tata cara, yang ditanyakan lebih dahulu bagi tamu-tamu adalah keselamatan.

Baru sejenak kemudian Senapati muda yang memimpin utusan itu dapat menjawab, “Pamanda Menteri, mungkin Baginda ingin mendengar laporan tentang penumpasan pemberontakan Tumapel. Sampai saat ini, Adinda Baginda Mahisa Walungan sama sekali belum memberikan laporan apapun juga.”

“Lalu?”

“Aku mendapat perintah untuk memanggil Pamanda Menteri menghadap Tuanku Sri Baginda.”

Gubar Baleman mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Jadi Tuanku Sri Baginda memanggil aku?”

“Ya.”

“Baiklah,” jawab Gubar Baleman, “aku akan menghadap. Tetapi tidak hari ini. Aku harus mengatur pasukan di perbatasan ini, sehingga apabila setiap saat pasukan Singasari menyerang, sedang aku tidak ada, prajurit-prajurit kita tidak kehilangan pegangan.”

“Tetapi Baginda memerintahkan Pamanda Menteri untuk menghadap segera.”

“Ya, segera. Tetapi segera itu kapan? Aku tidak sedang bertamasya di perbatasan, sehingga setiap saat aku dapat meninggalkan tempat ini tanpa pertanggungan jawab apapun.”

“Aku hanya mengemban perintah.”

“Perintah itu sudah aku terima dan akan aku jalankan sebaik-baiknya. Baginda-pun pasti mengerti, bahwa, segera bagi seorang pimpinan pasukan yang sudah siap untuk bertempur, bukanlah berarti sekarang. Kau adalah seorang Senapati. Kalau kau tidak mengerti akan hal itu, maka kau agak terdorong langkah. Seharusnya pangkatmu diturunkan dua atau tiga tingkat lagi.”

Wajah Senapati muda itu menjadi merah padam. Sekilas dipandanginya wajah kawan-kawannya. Namun ia masih menahan diri untuk tetap bersikap baik.

“Pamanda Menteri,” berkata Senapati itu, “perintah Baginda sebenarnya lebih jelas lagi. Pamanda diperintahkan menghadap bersamaku.”

“Boleh, boleh saja. Kalau begitu tunggulah.Hari ini aku akan menjelesaikan pekerjaanku di sini.Kalau besok semuanya sudah tidak mencemaskan lagi, kita akan pergi bersama-sama.”

“Bukan, bukan begitu,” sahut Senapati muda itu, “maksud Sri Baginda, Pamanda Menteri diperintahkan menghadap sekarang bersama kami.”

“Jangan membuat lelucon di sini,” berkata Gubar Baleman, “Kau telah memperbodoh Sri Baginda. Ingat, kalau aku menyampaikan kepada Sri Baginda, maka kalian akan di hukum. Sri Baginda adalah seorang Maha Senapati, seorang Panglima perang yang tiada taranya di dunia ini. Meskipun Sri Baginda tidak di medan ini. tetapi Sri Baginda mengetahui apakah yang telah terjadi di sini. Dan kau, yang sempat melihat dengan mata kepala sendiri. masih saja bersikap begitu bodoh, mencoba memaksa aku meninggalkan tanggung jawab yang begini besar begitu saja. Sekarang, sekarang. Seperti anak kelaparan minta makan.”

Sekali lagi warna merah menjalar ke wajah Senapati muda itu. Dan ia masih harus mendengar Gubar Baleman berkata, “Kalau kau ingin mendapat pujian anak-anak, pakailah cara yang lain. Kau harus menyadari, bahwa cara yang kau tempuh ini keliru. Sri Baginda pasti akan marah sekali karena sikap kalian. Apalagi kalau besok perbatasan ini pecah, dan pasukan Singasari mengalir seperti banjir bandang melanda daerah Kediri. Nah. apakah kau sadar, bahwa kau akan digantung karena kesalahmu itu. Bukan hanya kau. tetapi aku juga akan digantung, karena aku telah meninggalkan tanggung jawabku.”

Senapati itu menjadi bingung. Ternyata Menteri Gubar Baleman tidak mempercayainya, bahwa Sri Baginda benar-benar telah memanggilnya. Sekarang, seperti istilah yang dipergunakan oleh Baginda itu juga.

Dalam kebingungan itu, Senapati muda itu tidak segera dapat mengatakan apa-apa. Sejenak ia duduk dengan gelisah dan dada yang berdebar-debar.

“Jangan gelisah,” berkata Gubar Baleman, “tunggulah di sini.Aku akan menjelesaikan pekerjaan. Sokurlah kalau tugas ini dapat aku selesaikan hari ini. Nanti malam kita dapat berangkat bersama-sama.”

Senapati itu masih terdiam.

“Kenapa kau menjadi bingung? Ingat, kau adalah seorang Senapati.Bukan anak-anak lagi.”

“Pamanda Menteri,” berkata Senapati itu, “aku memang menjadi bingung. Perintah Baginda memang berbunyi demikian. Aku harus membawa Pamanda Menteri menghadap sekarang.”

“He,” potong Gubar Baleman, “kau sangka apa aku ini he? Kenapa kau harus membawa aku? Apakah aku tidak dapat menghadap sendiri?”

“Maksudku, pamanda diperintahkan untuk menghadap sekarang. Aku tidak mempergunakan kata-kataku sendiri, tetapi aku mempergunakan istilah Sri Baginda.Sekarang.”

Gubar Baleman menarik nafas dalam-dalam. “Kau memang bodoh.Kau tangkap arti kata seperti katanya itu sendiri. Tetapi baiklah. Kalau kau berkeras. Tunggulah aku di sini. Aku akan menghubungi para pemimpin kelompok dan para Senapati. Aku harus menyerahkan pimpinan kepada salah seorang dari mereka. Mudah-mudahan kita akan segera dapat berangkat. Segera, apakah segera itu sama dengan sekarang yang kau maksud aku tidak tahu.”

Senapati itu terdiam sejenak. Tetapi itu akan lebih baik dari besok atau kapan-pun. Ia dapat mengatakan bahwa selama itu ia menunggu Menteri Gubar Baleman yang sedang berkeliling, atau mencari alasan apapun.

Meskipun demikian Senapati muda itu tidak segera menjawab. Sekali-sekali ditatapnya wajah Gubar Baleman yang menumbuhkan kesan yang lain padanya, kemudian dipandanginya wajah kawan-kawannya. Tetapi hampir setiap wajah rasanya menjadi asing baginya.

“Baiklah,” akhirnya Senapati muda itu menjawab, “aku akan menunggu sampai tugas Pamanda Menteri selesai. Mungkin benar juga kata pamanda Gubar Baleman, bahwa sebaiknya aku melihat persiapan yang sudah pamanda lakukan dengan mata kepala sendiri.”

“Buat apa kau melihat?” bertanya Gubar Baleman, “Kalau kau pemimpinku, atasanku, misalnya Kau ini Adinda Mahisa Walungan atau Sri Baginda sendiri, pantaslah kau melihat-lihat untuk menilai pekerjaanku.Tetapi kau adalah bawahanku.”

Dada Senapati muda itu serasa akan retak. Kalau ia tidak mendapat tugas membawa Gubar Baleman menghadap, maka ia pasti sudah mengambil tindakan lain. Kalau saja perintah itu berbunyi, tangkap ia hidup atau mati.

“Tetapi apakah Pamanda Menteri Gubar Baleman atau justru aku sendiri yang akan mati,” geramnya di dalam hati, ia sadar bahwa Gubar Baleman adalah seorang Menteri yang bertanggung jawab atas keamanan dan keselamatan Kediri. Gubar Baleman adalah seorang prajurit yang pilih tanding. Tetapi untuk menerima penghinaan yang demikian, justru pada saat ia mengemban perintah Pujang Warit atas nama Sri Baginda, adalah sangat menyakitkan hati.

“Kalau aku datang atas namaku sendiri, aku menganggap bahwa kata-katanya wajar sekali. Tetapi aku adalah seorang utusan.” ia masih menggerutu di dalam hatinya. Meskipun demikian ia tidak mengatakan sesuatu.

“Tunggulah di sini,” berkata Gubar Baleman kemudian, “aku akan menemui para Senapati yang bertugas untuk menjerahkan pimpinan pada salah seorang di antara mereka.”

Sekali lagi Senapati muda itu tidak mempunyai pilihan lain. Maka jawabnya, “Baik Pamanda Menteri, tetapi kami mengharap agar Pamanda Menteri menyadari, bahwa istilah yang aku pakai di dalam penyampaian perintah ini adalah istilah Sri Baginda sendiri.”

“Aku sudah mendengar dan aku bukan anak-anak. Jangan kau ulangi lagi pesan itu.”

Senapati muda itu menarik nafas dalam-dalam. Kemudian dengan dada yang pepat ia menyaksikan Gubar Baleman keluar dari gubug itu, mengambil kudanya, kemudian meninggalkan tempat itu bersama tiga orang pengawal kepercayaannya.

Tidak begitu jauh dari gubugnya, muncullah seorang penunggang kuda yang lain. Senapati yang menyampaikan berita penangkapan Mahisa Walungan, yang agaknya telah siap pula di atas punggung kuda.

“Ikuti aku sebentar,” perintah Gubar Baleman.

Ternyata mereka segera berpacu menemui Senapati yang telah mendapat kepercayaan Gubar Baleman untuk menggantikan pimpinan sementara di perbatasan.

“Aku mempunyai tamu,” berkata Gubar Baleman kepada Senapati itu.

“Siapa?”

“Seorang Senapati muda. Aku dipanggil oleh Sri Baginda seperti yang sudah aku duga. Aku akan pergi ke kota.”

“Bersama utusan itu?”

“Tidak. Aku justru akan mendahului mereka. Kalau jarak yang aku tempuh sudah cukup panjang, barulah kau memberitahukan kepada mereka, bahwa aku telah mendahului. Sebaiknya lewat senja nanti. Aku mempunyai kesempatan untuk berbuat sesuatu di kota nanti.”

Senapati itu mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Utusan itu pasti akan marah. Tetapi kau harus menahan diri. Apapun yang kalian lakukan di sini atasnya, tetapi kalian harus memberi kesempatan Senapati itu kembali ke kota.”

“Baiklah. Aku akan melakukan semuanya.”

Gubar Baleman itu-pun kemudian membawa beberapa orang pengawal bersama Senapati yang telah menghubunginya untuk kembali ke kota. Ia sudah mempunyai rencana yang barangkali dapat dilakukannya. Tetapi untuk meringkuk di dalam tahanan selagi Kediri terancam bahaya adalah tidak menyenangkan sekali. Bukan untuk dirinya sendiri, tetapi untuk seluruh Kediri dan untuk Sri Baginda Kertajaya sendiri.

Ketika matahari menjadi semakin rendah, maka Senapati muda utusan Sri Baginda itu-pun menjadi semakin gelisah. Gubar Baleman masih belum datang ke gubugnya kembali.

“Meskipun malam, kita akan berjalan,” berkata Senapati itu kepada pengawalnya.

“Ya. kalau tidak, Pujang Warit dan bahkan mungkin Sri Baginda sendiri akan langsung marah kepada kita.”

Senapati itu mengangguk-angguk.Tetapi Gubar Baleman tidak juga kunjung datang.

“Aku hampir tidak sabar lagi. Apakah kita harus mencarinya di sepanjang perbatasan yang menghadap ke Singasari ini?”

“Agaknya hal itu akan lebih baik dari pada kita duduk saja di sini tanpa berbuat sesuatu.”

Senapati muda itu-pun bangkit dan melangkah keluar. Di luar gubug itu ia melihat dua orang penjaga yang berjalan hilir mudik dengan tombak di tangan.

“He,” panggil Senapati itu, “di mana Pamanda Menteri Gubar Baleman?”

Kedua prajurit yang sedang bertugas mengawal gubug perkemahan Gubar Baleman itu saling berpandangan. Kemudian salah seorang dari mereka menjawab, “Kami tidak tahu.”

“Gila,” Senapati itu menggerutu, “aku memang bawahan Pamanda Menteri. Tetapi sebagai utusan Sri Baginda aku berhak berbuat atas namanya apabila keadaan memaksa.”

Kemudian kepada pengawapnya ia berkata, “Marilah kita cari, di mana saja Pamanda Menteri itu bersembunyi.”

Para pengawalnya-pun kemudian keluar pula dari dalam gubug itu.Masing-masing pergi ke kudanya yang terikat di halaman perkemahan. Namun sebelum mereka meninggalkan perkemahan itu, mereka tertegun karena mereka melihat beberapa penunggang kuda mendekati mereka.

Senapati muda yang memimpin utusan dari kota itu menyongsong beberapa orang penunggang kuda itu. Namun sebelum ia bertanya sesuatu, salah seorang dari penunggang kuda yang mendekatinya itu berkata, “Akulah yang kini memegang pimpinan di perbatasan selagi Menteri Gubar Baleman pergi ke kota.”

Senapati muda itu mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Tetapi kaulah yang menjadi utusan Sri Baginda memanggil Menteri Gubar Baleman?”

“Ya,” jawab Senapati muda itu.

“Kenapa kau masih berada di sini?”

“Kenapa?” Senapati muda itu heran mendengar pertanyaan penunggang kuda itu.

“Ya kenapa? Yang kau jemput sudah lama berangkat. Dan kau masih menunggui gubug ini.”

Wajah Senapati muda itu menegang. Kemudian ia maju selangkah sambil berkata, “Jangan bergurau. Aku adalah utusan Sri Baginda.”

Penunggang kuda itulah yang tampaknya menjadi heran. Katanya, “Aku sudah lama berada di perbatasan. Di daerah yang tegang dan panas ini. Aku sudah tidak sempat bergurau lagi.”

Senapati itu menjadi semakin tegang. Katanya, “katakan, di mana Pamanda Menteri Gubar Baleman.”

“Sudah aku katakan. Menteri Gubar Baleman sudah kembali ke kota bersama beberapa orang pengawalnya.”

“Bohong.”

“He, kenapa aku berbohong? Apakah gunanya? Kalau kau mencari seseorang, apakah gunanya aku menyembunyikannya? Apalagi seorang Menteri.”

Senapati muda itu menjadi marah karenanya. Disangkanya penunggang kuda itu mempermainkannya.

“Cepat, tunjukkan aku di mana Pamanda Menteri Gubar Baleman sebelum aku mengambil tindakan atas nama Sri Baginda.”

Tetapi penunggang kuda itu justru tertawa. Katanya, “Kau seorang Senapati, aku juga seorang Senapati. Umurmu dan umurku terpaut cukup banyak, sehingga menurut tata kesopanan seorang prajurit, kau harus menghormati aku. Apalagi kini aku telah diserahi oleh Menteri Gubar Baleman kekuasaan atas perbatasan ini. Karena itu kau jangan merasa dirimu berkuasa di sini.”

“Aku memang tidak, tetapi kekuasaan Sri Baginda merata sampai ke ujung bumi.”

“Setiap orang dapat berkata demikian.Tetapi kau tidak mempunyai kekuasaan apa-apa selain memanggil Menteri Gubar Baleman.Dan aku sendiri mengetahui ketika ia berangkat meninggalkan daerah ini. Katanya, “Baginda memanggil aku sekarang. Sekarang.”

Darah Senapati muda itu serasa mengalir seluruhnya ke kepala. Dengan suara lantang ia berkata, “Agaknya Pamanda Menteri Gubar Baleman telah bersepakat dengan kau untuk mengadakan lelucon ini. Jangan menunggu aku kehilangan kesabaran. Aku adalah utusan Sri Baginda yang mempunyai kekuasaan atas namanya, seperti kekuasaan Sri Baginda sendiri.”

Alangkah sakit hati Senapati muda itu ketika penunggang kuda itu justru tertawa, “Jangan terlampau besar kepala anak muda. Memang kadang-kadang Senapati yang masih sangat muda, mudah kehilangan keseimbangan. Kau pasti mempunyai beberapa kelebihan sehingga dalam umurmu yang masih semuda itu, kau sudah sampai kepada jabatan seorang Senapati yang memimpin sepasukan prajurit.Tetapi kau sama sekali masih belum mempunyai kebijaksanaan sama sekali. Kau sangka bahwa seorang utusan mempunyai wewenang yang mengutusnya? Bagaimanakah apabila dua orang utusan atau penguasa atas nama Sri Baginda berbeda pendirian? Siapakah yang lebih kuasa dari keduanya?”

“Tetapi aku mendapat kekuasaan itu.”

“Aku juga. Sebagai seorang Senapati yang mendapat perintah pelimpahan yang berjalur dari Sri Baginda, aku menjadi pimpinan tertinggi dari seluruh pasukan Kediri di perbatasan. Setiap prajurit yang datang di perbatasan langsung di bawah perintahku, kecuali mereka yang memang berkedudukan lebih tinggi dari padaku.”

“Aku bukan pasukan perbatasan.”

“Tetapi kau berada di daerah kuasaku, sedang kau tidak berkedudukan lebih tinggi dari padaku.Karena itu jangan berbuat sesuatu yang dapat mencemarkan nama prajurit Kediri. Setiap prajurit harus mengerti urutan kekuasaan yang ada dalam tata keprajuritan.”

“Cukup. Aku bukan anak kemarin sore di dalam lingkungan keprajuritan Kediri. Tetapi yang penting sekarang tunjukkan di mana Pamanda Menteri Gubar Baleman. Apa lagi seorang Senapati dalam jabatan apapun. Seorang Menteri-pun harus tunduk kepadaku saat ini, sebagai pengemban tugas dari kekuasaan tunggal tertinggi di Kediri.”

“Menteri Gubar Baleman telah kembali ke kota.”

“Bohong,” bentak Senapati muda itu, “Ia harus pergi bersamaku.”

“Bagaimana mungkin kau dapat ketinggalan?”

“Tunjukkan di mana ia sekarang.”

“Di perjalanan.”

“Bohong. Bohong.”

“Jangan membentak-bentak.Di sini adalah beberapa pasukan prajurit di bawah perintahku. Kalau kau masih berkeras kepala, aku akan menangkapmu dan melaporkan tindakanmu yang bodoh itu kepada Panglima, adinda Sri Baginda, Mahisa Walungan.”

“Mahisa Walungan sudah tidak mempunyai kekuasaan apa-apa lagi.Ia sudah ditangkap karena ia memberontak.”

“O, kau sudah berceritera tentang suatu hal yang ngayawara. Kau agaknya memang sedang mengigau.”

Senapati muda itu hampir tidak dapat menahan diri lagi. Tetapi ia masih sadar, bahwa ia tidak akan dapat melakukan kekerasan. Di belakang Senapati yang kini memegang pimpinan atas pasukan di perbatasan itu, beberapa orang prajurit agaknya sudah siap pula menghadapi setiap kemungkinan.

“O, aku berhadapan dengan orang-orang gila,” katanya di dalam hati, “agaknya orang-orang di perbatasan ini sama sekali sudah tidak menghiraukan lagi kekuasaan Sri Baginda.”

Dan Senapati yang memimpin pasukan di perbatasan itu berkata seterusnya, “He. apakah kau tidak tahu bahwa Mahisa Walungan itu adalah Adinda Baginda? Siapakah yang berani menangkap Mahisa Walungan?”

“Sri Baginda,” sahut Senapati muda itu.

“O,” Senapati yang masih berada di punggung kuda itu menarik nafas dalam-dalam. “kau sudah bermimpi. Aku menjadi cemas, bahwa perintah Baginda kepada Menteri Gubar Baleman itu-pun hanya sekedar mimpi.”

Senapati muda itu menggeretakkan giginya. Tetapi ia tidak dapat berbuat apa-apa.

“Nah. daripada kau ribut di sini,” berkata pimpinan pasukan perbatasan itu, “agaknya lebih baik bagimu untuk menyusul Menteri Gubar Baleman yang dengan tergesa-gesa meninggalkan perbatasan kembali ke kota. Ia tidak sempat makan lebih dahulu meskipun sehari penuh ia belum makan, ia datang kepadaku sekedar memberikan kekuasaan atas pasukan di perbatasan, kemudian dengan tergesa-gesa memacu kudanya.”

“Apakah kau berkata sebenarnya?”

“Buat apa aku menipumu?”

“Aku akan pergi ke kota menyusul Pamanda Menteri Gubar Baleman. Tetapi apabila kau berbohong, maka kau akan menyesal. Sri Baginda tidak akan dapat kau ajak bergurau dengan cara yang bodoh ini.”

“Jangan kau ulangi supaya aku tidak menjadi bertambah marah. Sudah aku katakan, pasukan di perbatasan tidak sempat bergurau. Mungkin kau yang ada di kota masih juga sempat berbuat apa saja. Tetapi kami tidak. Kami setiap hari hanya bergurau dengan senjata-senjata kami.”

Senapati muda itu meniadi semakin tegang. Tetapi ia tidak mau terlibat dalam kesulitan. Agaknya orang-orang di perbatasan itu benar-benar sudah menjadi asing.

Sejenak Senapati muda itu merenung. Namun kemudian ia berkata kepada pengawalnya, “Kita kembali ke kota. Kita akan melihat apakah Pamanda Menteri Gubar Baleman sudah menghadap. Kalau tidak, maka kita akan mengambil tindakan kepada orang-orang yang bersalah, meskipun di perbatasan ini. Karena pasukan di perbatasan ini-pun harus tunduk kepada perintah Sri Baginda atau yang mendapat pelimpahan kekuasaannya.”

Senapati itu tidak menunggu jawab. Ia-pun segera meloncat ke punggung kudanya diikuti oleh pengawalnya. “Ingat,” katanya pula, “kekuasaan Sri Baginda tidak terbatas.”

Tetapi tidak ada yang menyahut. Para prajurit perbatasan itu hanya memandang mereka dengan tajam. Bahkan terdengar pemimpin pasukan perbatasan itu kemudian tertawa.

“Gila,” Senapati muda itu mengumpat sambil menghentakkan kendali kudanya, sehingga kuda itu-pun kemudian meloncat berlari sekencang angin.

Pengawalnya-pun kemudian menyusulnya pula, seakan-akan mereka sedang berpacu. Sejenak kemudian mereka-pun telah hilang di baliknya dedaunan liar di seputar perkemahan itu.

Senapati yang mendapat kekuasaan untuk memimpin pasukan perbatasan itu-pun menarik nafas dalam-dalam. Kemudian ia berdesis, “Agaknya keadaan Kediri akan menjadi terlampau gelap.”

Tidak seorang-pun yang menjawab.

Dalam pada itu, Senapati yang sudah cukup lama menjadi prajurit Kediri itu duduk termangu-mangu di atas punggung kudanya. Dengan pandangan yang dalam, ditatapnya warna-warna merah di langit sebelah Barat. Rasa-rasanya ia sedang menatap Kediri yang berada di ujung senja.

“Apakah sudah sampai saatnya Kediri akan tenggelam?” desisnya di dalam hati, “para pemimpinnya sudah saling bertengkar sendiri. Sri Baginda sudah kehilangan kebijaksanaannya. sehingga Mahisa Walungan, orang yang paling mungkin untuk memimpin perlawanan bersama Menteri Gubar Baleman sudah di sisihkan, meskipun ia Adinda Baginda sendiri. Sementara Singasari semakin memperkuat perbatasan.”

Senopati itu menarik nafas dalam-dalam. Namun kepada prajurit-prajuritnya ia berkata, “Kita kembali ke tempat tugas kita masing-masing. Kita akan segera dapat mengatasi kesulitan yang tidak berarti ini. Aku percaya kepada Menteri Gubar Baleman. Dan kepercayaan yang diberikan kepada kita-pun harus kita junjung tinggi-tinggi.Kita akan mempertahankan perbatasan ini, meskipun kita mendapat perintah untuk menarik pasukan lawan sampai ke Ganter. Tetapi apabila kita dapat membendung Singasari di perbatasan, itu pasti akan lebih dari rencana kedua.”

Para prajuritnya mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Kita lanjutkan rencana Menteri Gubar Baleman. Kita tidak tergantung kepada kekuatan prajurit saja. Rakyat yang dengan suka rela menyediakan dirinya, sudah kita tampung dalam suatu tempat latihan. Mereka harus kita persenjatai sebaik-baiknya, supaya mereka dapat membantu kita dalam keadaan yang sulit.”

Demikianlah maka Senapati itu meneruskan semua hal yang sudah dilakukan oleh Gubar Baleman. Justru ia semakin rajin membagi tugas para prajuritnya, termasuk latihan-latihan yang mereka berikan kepada rakyat Kediri yang dengan suka rela bergabung dengan para prajurit di perbatasan, tanpa mengenal waktu.

Sementara itu Gubar Baleman-pun telah sampai ke sebelah Utara Ganter, ketika malam telah menjadi semakin kelam. Kedatangannya telah menimbulkan harapan baru bagi pasukan yang hampir kehilangan pegangan itu.

Dalam waktu yang singkat Gubar Baleman telah dapat mengumpulkan para Senapati yang berada di sebelah Utara Ganter untuk membicarakan masalah yang kini mereka hadapi.

“Kami akan tetap setia kepada Sri Baginda Kertajaya dan kepada Tanah kami,” berkata Gubar Baleman, “tetapi dengan cara kami sendiri.”

Para Senapati itu-pun mengangguk-anggukkan kepalanya. Beberapa di antara mereka yang menangkap berita-berita tentang keadaan terakhir segera menyampaikannya kepada Gubar Baleman.”

“Pujang Waritlah yang mendapat tugas untuk membubarkan pemusatan pasukan ini.”

“Cara apakah yang akan ditempuhnya? Kekerasan?”

“Mungkin tidak. Ia akan datang atas nama Sri Baginda dan memberikan tugas-tugas baru kepada setiap Senapati yang ada di sini, sehingga pemusatan pasukan ini akan tercerai-berai.”

Gubar Baleman menarik napas dalam-dalam. Sekilas terbayang bencana yang akan melanda Kediri, jika dalam saat yang demikian pasukan Singasari bagaikan banjir bandang menempur negeri ini.

“Apakah menurut perhitungan Pujang Warit ia akan berhasil?”

“Aku kira demikian. Ia mengharap kami tetap setia kepada Sri Baginda. Mahisa Walungan telah dituduh mempergunakan kesempatan ini untuk merebut takhta. Kami di sini, sebagian terbesar dianggap tidak tahu, untuk apa kami melakukan pemusatan pasukan. Sri Baginda menganggap bahwa Mahisa Walungan telah menipu kami untuk kepentingannya.”

“Adakah yang pantas kita curigai? “

Para Senapati itu menarik nafas dalam-dalam. Tetapi tampak di dalam pandangan mata mereka. sesuatu yang rasa-rasanya tertahan di kerongkongan.

“Kalian memang cukup berhati-hati” berkata Gubar Baleman, “tetapi bagaimana kalau aku yang mulai? Aku mencurigai Pujang Warit.”

Tiba-tiba setiap kepala terangguk-angguk mengiakan. Bahkan terdengar beberapa orang bergumam, “Ya, kami-pun demikian. Ia berada di lingkungan ini pada mulanya.”

“Pasti ada sesuatu yang tidak wajar. Baginda pasti telah mendengar pengaduan palsu tentang Adinda Baginda. Sedang Adinda Baginda benar-benar seorang adik yang patuh dan tunduk. Ia tidak mau melakukan perlawanan langsung terhadap kakanda, meskipun maksudnya baik. Selain ia terikat oleh tingkat kekuasaan, ia adalah saudara muda yang sangat menghormati saudara tuanya yang dianggapnya sebagai pengganti ibu-bapa.”

“Tetapi apakah Kediri harus dikorbankan?” bertanya salah seorang Senapati.

“Tidak. Kita akan berbuat sesuatu meskipun barangkali tidak akan disetujui oleh Adinda Mahisa Walungan sendiri.”

“Apakah yang dapat kita lakukan?”

“Aku akan menghadap Sri Baginda?”

“Kapan?”

Gubar Baleman berpikir sejenak. Ditatapnya setiap wajah yang ada di sekitarnya.

“Apakah kalian dapat dipercaya?”

“Kami berjanji,” hampir berbarengan para Senapati itu menjawab.

Gubar Baleman menarik nafas dalam-dalam.

“Di mana Pujang Warit kini berada bersama pasukannya?”

“Ia juga mengadakan pemusatan pasukan tidak jauh dari tempat ini. Kami memperhitungkan, bahwa apabila ia gagal dengan caranya, memang mungkin sekali ia akan mempergunakan kekerasan.”

“Tetapi sebagian terbesar pasukan sudah berkumpul di tempat ini.”

“Ia masih mengharap pengaruh nama Sri Baginda, sehingga tidak semua Senapati di dalam pasukan ini akan berpihak kepada Mahisa Walungan.Sedang Pujang Warit telah mempergunakan pasukan pengawal istana dan pasukan pilihan yang lain. selain pasukan keamanan.”

“Tetapi itu tidak mencemaskan, seandainya ia akan mempergunakan kekerasan. Terpaksa sekali justru ketika Singasari sudah di ambang pintu. Tetapi aku akan mencari jalan lain untuk mencegah benturan yang mungkin dapat terjadi.”

“Kami menghadap itu akan berhasil.”

Gubar Baleman mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian katanya, “Yang pertama-tama harus kalian lakukan adalah menahan Senapati muda yang pasti akan mencari aku kemari. Mudah-mudahan ia tidak berbuat sesuatu di pertahanan, sehingga tidak memungkinkannya meninggalkan daerah perbatasan itu.”

“Apakah kami harus menangkapnya?”

“Ya. Ia datang bersama beberapa pengawalnya. Besok aku akan menghadap Sri Baginda tanpa orang itu.”

“Jadi?”

“Dengar, siapakah yang sudah memahami segala sudut istana? Aku sendiri sudah. Tetapi aku memerlukan beberapa orang kawan.”

Beberapa orang Senapati segera menyatakan dirinya.

“Memang terpaksa sekali. Malam ini kalian harus memasuki istana bersama beberapa orang pilihan dengan diam-diam.

Para Senapati itu saling berpandangan sejenak.

“Aku akan menghadap Sri Baginda besok pagi. Tetapi aku sadar, bahwa aku akan ditangkap. Nah. tugas kalian adalah melindungi aku.”

“Suatu perlawanan langsung terhadap Sri Baginda,” desis salah seorang Senapati.

“Tidak. Kita hanya ingin mendapat kesempatan untuk meyakinkan Baginda, bahwa kami tidak akan memberontak. Adinda Mahisa Walungan harus dapat keluar dari bilik tahanannya. Kita bersama akan membuktikan bahwa kita tidak bersalah. Hanya itu. tanpa menyentuh takhta Baginda sama sekali. Justru dengan demikian kita akan menyelamatkan kedudukan Baginda. Bukan saja dari orang yang membuat fitnah ini. tetapi juga dari kehancuran akibat benturan dengan Singasari.”

Para Senapati itu terdiam sejenak. Mereka mengerti maksud Gubar Baleman. Tetapi untuk melakukannya dengan berterus terang di hadapan Baginda, adalah terlampau berat bagi mereka.

“Bagaimana?” bertanya Gubar Baleman.

“Kalau Baginda salah paham, maka kita dapat dianggap memberontak,” berkata salah seorang Kediri.

“Memang,” jawab Gubar Baleman, “tetapi kita tidak memberontak. Kalau kita dituduh sebagai seorang pengkhianatan, dan seandainya usaha kita gagal, dan kita akan dihukum sebagai pengkhianat bersama-sama dengan Adinda Mahisa Walungan. maka ini adalah pengorbanan kita yang terbesar. Jauh lebih besar daripada apabila kita mati di peperangan. Sebab mati di peperangan kita masih akan disanjung sebagai pahlawan.Tetapi mati dalam usaha kita kali ini untuk menyelamatkan Kediri, mayat kita masih akan dicemarkan.” Gubar Baleman berhenti sejenak. Lalu, “Tetapi kalau seharusnya demikian, aku rela. Aku rela mati dan dihinakan untuk kepentingan Kediri dan kesetiaanku kepada Sri Baginda. Niat ini adalah niat yang jujur. Bukan niat yang harus kita perlihatkan kepada setiap orang dengan dada tengadah, bahwa kita telah berjuang. Kita telah berjuang untuk Kediri.” sekali lagi Gubar Baleman berhenti. Matanya menjadi menyala-nyala, “Perjuangan kita mungkin tidak akan dikenal untuk selama-lamanya, bahkan kita akan dituduh sebaliknya. Siapa yang rela mengalaminya, marilah kita selamatkan Kediri. Siapa yang tidak berani menanggung akibat itu, aku persilahkan minggir.”

Pertemuan itu menjadi hening untuk sejenak. Setiap wajah menjadi tegang dan berkerut-merut.Namun akhirnya seorang Senapati yang sudah mendekati tengah abad berkata.“Baiklah. Aku mengerti maksud ini. Aku ikut.”

“Ya, aku turut serta.”

“Aku. Aku. Aku … “ akhirnya hampir setiap orang menyatakan kesediaannya.

“Terima kasih,” sambut Gubar Baleman.“jika demikian, marilah kita mulai. Kita harus mengatur diri kita supaya usaha ini tidak gagal.”

Para Senapati-pun kemudian seakan-akan merapatkan dirinya.Dengan tajamnya mereka memandangi Gubar Baleman.

“Nah, aku lanjutkan rencana yang sudah aku katakan. Sebagian dari kalian harus memasuki istana bersama beberapa orang prajurit pilihan,” berkata Gubar Baleman, “kalian harus berusaha untuk membuat para Senapati dan prajurit yang sudah berada di halaman istana tidak dapat melakukan tugasnya dengan baik. Kalian tidak usah melakukan kekerasan jika tidak terpaksa sekali. Jika sampai saatnya Baginda memerintahkan menangkap aku, maka kalian akan mengerti apa yang kalian lakukan. Penangkapan itu harus gagal, karena tidak ada seorang prajurit-pun yang akan melakukannya. Dalam kesempatan itulah Adinda Mahisa Walungan harus menghadap Sri Baginda. Adinda Mahisa Walungan dan aku sendiri akan memberikan penjelasan kepada Sri Baginda, bahwa Kediri sudah benar-benar berada di ujung bahaya. Dalam keadaan ini, masih juga ada orang-orang yang mempergunakan kesempatan untuk kepentingan diri sendiri.”

“Baiklah,” jawab para Senapati itu, “kami akan melakutannya.”

“Sebagian dari kalian tetap berada di sini. Ada dua tugas harus dilakukan. Kalau bahaya dari Singasari itu datang sewaktu-waktu, kalian yang tinggal di sini harus mencoba mengatasinya sebelum kami datang. Sedang kemungkinan yang lain, yang sama sekali tidak kita harapkan adalah apabila Pujang Warit mempergunakan kekerasan. Entah karena ia yakin dapat menguasai kita, atau justru karena ia menjadi berputus-asa.”

“Baik,” jawab mereka hampir serentak.

Gubar Baleman-pun segera memilih para Senapati yang sudah memahami benar-benar segala sudut istana. Mereka harus memasuki istana itu dengan diam-diam, dan dengan diam-diam pula berada di setiap penjagaan, mendampingi para petugas yang sudah ada. Mereka harus menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi dengan jujur. Kalau ada di antara para prajurit itu yang menolak, maka mereka harus segera bertindak tanpa ribut-ribut.”

Bersambung ke Jilid 54.

koleksi : Ki Arema

scanning : Ki Arema

Retype : Ki Raharga

Proofing : Ki Raharga

Cek ulang : Ki Arema

—ooo0dw0ooo—

Jilid 54

PARA SENAPATIitu mengangguk-anggukkan kepalanya. Mereka sadar bahwa tugas ini adalah tugas yang sangat berat. Tetapi mereka harus menjalankannya.

“Yang terutama adalah di tempat-tempat yang terpenting, di sekitar paseban.” Gubar Baleman menjelaskan, “kemudian di sekitar tempat Adinda Mahisa Walungan ditahan.”

Para Senapati itu mengangguk-angguk pula.

Mereka telah mendengar dari beberapa orang yang berhasil menyaksikan kesiagaan di dalam istana. Karena itu mereka-pun dapat mengira-ngirakan, di mana mereka harus menyiapkan diri.

“Jumlah kita harus lebih banyak daripada Senapati dan prajurit yang sudah ada di istana, supaya kita dapat menyelesaikannya dengan cepat tanpa menumbuhkan kegaduhan.”

Para Senapati itu-pun kemudian menyiapkan diri. Yang harus pergi ke kota memasuki istana-pun segera bersiap dan menyediakan segala perlengkapan yang diperlukan.

Demikianlah, maka para Senapati itu-pun segera melakukan tugas masing-masing. Dengan tanpa menimbulkan kecurigaan, para Senapati dan prajurit-prajurit pilihan memasuki kota melalui jalan yang terpencar-pencar. Memang satu dua orang dari prajurit yang bertugas di perbatasan kota bertanya-tanya di dalam hati. kenapa beberapa orang prajurit yang berada di luar kota memasuki kota di malam begini? Namun mereka tidak dapat berbuat apa-apa karena ciri keprajuritan mereka dapat dijumpai dengan lengkap.

Ketika seorang penjaga yang tidak dapat menahan diri untuk mengetahui, kenapa mereka memasuki kota di malam hari, maka jawaban seorang Senapati yang berkuda bersama beberapa orang kawannya dan prajurit-pilihan, “Kami mendapat kesempatan untuk berkumpul dengan keluarga sehari besok.Hanya sehari, kemudian kami akan dikirim ke perbatasan. Besok sore kami akan berangkat. Karena itu kami mempergunakan waktu sehemat-hematnya.”

Agaknya jawaban itu telah cukup bagi para peronda itu, sehingga mereka tidak bertanya lebih lanjut. Mereka sendiri tidak tahu, apakah sebenarnya bahwa akan ada lagi pasukan-pasukan yang dikirim ke perbatasan. Keadaan yang tidak berketentuan di Kediri membuat setiap prajurit, bahkan setiap orang menjadi selalu bertanya-tanya. Apalagi prajurit-prajurit itu tidak mau mendapat kesulitan dengan kawan sendiri, sehingga akhirnya, mereka biarkan sajalah, berapa banyak prajurit yang memasuki kota.

Tetapi mereka tidak dapat berbuat demikian, ketika mereka akan memasuki istana. Mereka tidak dapat memasuki halaman lewat regol dan kemudian menyebar. Dengan demikian akan segera menumbuhkan kecurigaan, dan mungkin rencana mereka akan pecah di tengah jalan.

Karena itu. maka mereka-pun berusaha memasuki istana dengan diam-diam. Seorang demi seorang berusaha meloncati dinding di sudut-sudut yang mereka sangka tidak diketahui oleh penjaga. Di ujung taman yang jauh. Bahkan di bagian-bagian yang tidak terperhatikan. Di samping pakiwan atau dapur.

Yang mendapat penjagaan terkuat adalah halaman di sekitar paseban. Mereka menunggu bahwa di setiap saat Gubar Baleman akan menghadap. Adalah menjadi tugas mereka untuk melakukan suatu tindakan yang cepat, apabila Gubar Baleman ternyata mencoba untuk tidak mematuhi perintah Sri Baginda.

Tetapi ternyata sampai jauh malam, bahkan lewat tengah malam. Gubar Baleman masih belum menghadap. Beberapa orang prajurit menjadi jemu, dan yang lain sudah mulai mengantuk.

Karena itu, maka mereka sama sekaIi tidak melihat bahwa di ujung taman, di belakang pakiwan dan di bawah pohon-pohon yang rimbun beberapa orang prajurit, Senapati telah berada di dalam dinding halaman istana.

Apalagi mereka sama sekali tidak menduga bahwa itu akan terjadi. Mereka sama sekali tidak memperhitungkan perlawanan yang akan langsung dilakukan oleh beberapa orang prajurit.Menurut perhitungan mereka, malam itu juga Gubar Baleman akan menghadap Sri Baginda. Karena Sri Baginda sudah berpesan, setiap saat Baginda harus dibangunkan apabila Gubar Baleman datang.Kemudian seperti pada saat Sri Baginda menangkap Mahisa Walungan. maka di halaman itu pasti tidak akan terjadi apapun juga. Gubar Baleman termasuk seorang Menteri yang sangat patuh kepada Sri Baginda Kertajaya.

Namun dalam pada itu para prajurit dan Senapati yang sudah berada di dalam halaman itu-pun segera merayap mendekati tempat-tempat yang penting, yang sudah dijaga oleh para prrjurit pengawal istana.

Para Senapati yang baru datang itu menyadari, bahwa para prajurit pengawal istana, apalagi para Senapatinya, adalah orang-orang pilihan, karena di tangan merekalah terletak keselamatan Sri Baginda dan seisi istana. Tetapi meskipun demikian, prajurit yang telah banyak makan garam peperangan di medan-medan yang bermacam-macam, dan menghadapi musuh yang beraneka ragam itu-pun sama sekali tidak merasa berkecil hati, apabila mereka terpaksa terlibat di dalam tindak kekerasan.

Ketika di kejauhan mereka mendengar suara tengara, suara kentongan dalam nada dara-muluk-tunda-telu, maka mereka-pun segera bersiap-siap.

Suara kentongan yang tidak lajim itu memang menumbuhkan beberapa pertanyaan bagi mereka yang mendengarnya. Tetapi ada di antara mereka yang menganggap bahwa itu hanyalah suatu kelalaian para petugas sehingga tangan mereka tidak melakukan tugasnya sebaik-baiknya.

Namun bagi para prajurit yang menyusup masuk ke dalam istana suara itu adalah tanda bahwa Gubar Baleman telah berangkat ke istana.Sebentar lagi ia dan beberapa orang pengawalnya akan segera memasuki halaman.

Dalam pada itu. Senapati muda dan para pengawalnya yang mendapat tugas untuk memanggil Gubar Baleman itu-pun berpacu seperti dikejar hantu. Mereka berusaha untuk mengejar Gubar Baleman yang menurut pemimpin prajurit di perbatasan, telah mendahuluinya.

Tetapi mereka menjadi berdebar-debar ketika mereka sudah menjadi semakin dekat dengan kota, tetapi mereka sama sekali masih belum berhasil menyusulnya.

“Kita akan segera sampai ke Ganter,” desis Senapati muda itu.

“Ya. jalan di depan kita itulah jalan silang yang menuju ke pemusatan pasukan Mahisa Walungan.”

“Mungkin Gubar Baleman akan singgah ke sana.”

“Setan alas. Kalau ia berhasil menemui beberapa orang di sana, maka ia akan mendengar apa yang telah terjadi.”

“Tetapi apakah kira-kira Gubar Baleman berani menentang Sri Baginda sendiri, tanpa Mahisa Walungan,” bertanya salah seorang pengawalnya.

Senapati muda itu berpikir sejenak, “Mungkin tidak.Tetapi kemungkinan yang lain masih dapat terjadi. Aku kira Pujang Warit juga belum bertindak sesuatu sebelum Gubar Baleman ditangkap, sehingga pemusatan pasukan itu sama sekali masih utuh.”

“Lalu apakah yang akan kita kerjakan. Kita hampir sampai di jalan silang.”

Senapati itu berpikir sejenak. Sangat berat baginya untuk menghadap Sri Baginda tanpa Gubar Baleman. Karena itu apapun yang akan terjadi, ia mengambil keputusan. “Kita singgah ke tempat itu. Kita cari Gubar Baleman di sana. Kita harus membawanya menghadap.”

Beberapa orang pengawal saling berpandangan sejenak. Namun mereka tidak dapat membantah keputusan pemimpinnya itu, sehingga mereka-pun kemudian mengangguk-anggukkan kepala mereka sambil bergumam, “Baiklah.”

“Bagus,” berkata Senapati itu, “kita harus bersikap tegas.”

Para pengawalnya-pun kemudian mengerutkan kening mereka. Wajah mereka menjadi tegang. Mereka merasa bahwa mungkin mereka harus menghadapi masalah yang tidak mereka sangka-sangka ketika mereka berangkat. Beberapa orang di antara mereka tanpa sadar, telah meraba hulu pedangnya.

Kuda-kuda itu masih berpacu terus. Ketika mereka sampai ke jalan silang, maka mereka-pun kemudian berbelok ke kanan. Mereka akan singgah ke pemusatan pasukan Mahisa Walungan di sebelah Utara Ganter. hanya beberapa patok saja dari jalan yang dilaluinya. Agaknya apabila rencana Mahisa Walungan berhasil, di tempat itulah pasukan Singasari akan dijebak.

Dengan hati yang berdebar-debar. Senapati muda itu menjadi semakin dekat dengan padukuhan yang dipergunakan oleh Mahisa Walungan untuk menampung kekuatan Kediri. Sebuah padukuhan yang berhubungan dengan sebuah pategalan yang luas. Kemudian dipisahkan oleh bulak kecil terbentang sebuah hutan rindang yang sengaja dibiarkan tetap ada di situ, untuk dipergunakan sebagai tempat bercengkerama dan berburu bagi Sri Baginda Kertajaya.

Di tempat-tempat itulah pasukan Mahisa Walungan bertebaran.

“Tempat ini memang baik sekali,” berkata Senapati itu di dalam hatinya, “kalau pasukan Singasari mengalir lewat jalan induk itu, maka pasukan Mahisa Walungan akan menyerangnya dari samping. Sedang pasukan yang di seberang kiri jalan, akan memancing perhatian lawan, sebelum mereka dilanda oleh pasukan yang kuat di sini.” Senapati itu menarik nafas dalam-dalam. Dipandanginya padukuhan yang tidak begitu jauh dari tempat itu, namun karena gelapnya malam, maka ia tidak dapat melihatnya.

Di tempat itulah Pujang Warit membayangi gerak-gerik pasukan ini.

“Aku masih juga sangsi,” Senapati itu melanjutkan di dalam hatinya, “apabila orang-orang Mahisa Walungan tetap berkeras. apakah Pujang Warit mampu memaksa mereka dengan kekerasan?” Senapati itu menarik nafas dalam-dalam, kemudian, “Tetapi Pujang Warit yakin bahwa sebagian terbesar dari pasukan yang ada di pemusatan pasukan itu masih tetap setia kepada Sri Baginda.”

Ternyata bahwa Senapati muda itu masih juga dihinggapi oleh keragu-raguan. Ia mengerti benar rencana Mahisa Walungan dengan pemusatan pasukannya. Namun dipaksanya hatinya berkata, “Tetapi sayang, Mahisa Walungan dan Gubar Baleman akan menyalah gunakan kekuatan ini untuk memutar pasukan ini menghadap ke istana Kediri sendiri.”

Sementara itu kudanya berpacu semakin cepat. Sambil menggertakkan giginya Senapati muda itu berkata, “Kita sudah hampir sampai.Kita tidak dapat bermain-main lagi dengan perintah Sri Baginda ini.”

Para pengawalnya tidak menjawab. Tetapi terasa debar yang semakin cepat di dada mereka.

Angin yang basah terasa mengusap wajah-wajah yang tegang itu. Namun hati mereka terasa menjadi semakin panas.

Ketika mereka sampai di gerbang padukuhan, mereka-pun segera menarik kekang kuda-kuda mereka, sehingga kuda-kuda itu-pun segera berhenti pula.

“Siapakah kalian,” bertanya pemimpin penjaga regol itu.

“Aku adalah utusan Sri Baginda yang atas namanya, kami mencari Pamanda Menteri Gubar Baleman.”

“O, kenapa kau mencarinya di sini?Bukankah Menteri Gubar Baleman berada di perbatasan.”

“Jangan berpura-pura tidak tahu.Ia sudah datang kemari.”

Pemimpin penjaga itu mengerutkan keningnya. Namun sebelum ia menjawab, seorang Senapati yang sejak lama berada di regol itu-pun menyahut, “Ya, Menteri Gubar Baleman ada di sini.”

“Nah, kalau begitu, aku akan bertemu.”

“Ia baru saja datang dari perbatasan. Katanya, Sri Baginda memanggilnya. Tetapi begitu tergesa-gesa sehingga ia justru meninggalkan Senapati utusan Baginda yang memanggilnya di perbatasan.”

“Ya, akulah utusan itu.”

“Sekarang Menteri itu menunggu kalian di sini. Ia yakin bahwa kau akan mencarinya kemari.”

“Ya.”

“Masuklah. Ia ada di rumah yang terbesar di padukuhan ini. di sebelah tikungan yang kedua.”

Senapati itu sama sekali tidak turun dari punggung kudanya. Karena itu, maka ketika ia merasa sudah diijinkan memasuki padukuhan itu oleh penjaganya, langsung digerakkannya kendali kudanya, sehingga kudanya itu-pun berjalan maju memasuki regol diikuti oleh para pengawalnya.

Tetapi ketika orang yang terakhir sudah melangkah regol itu. betapa mereka. Senapati muda itu beserta pengawalnya, menjadi terkejut bukan buatan. Tiba-tiba saja beberapa orang telah mendorong dan menutup pintu regol itu.

“He,” Senapati muda itu berhenti. “apakah artinya ini?”

Senapati yang berdiri di depan pintu regol berjalan mendekatinya. Di bawah cahaya obor yang kemerah-merahan tampaklah wajahnya menjadi semakin keras seperti batu karang.

“Maaf Ki Sanak, kau terpaksa harus beristirahat di sini dahulu sampai Menteri Gubar Baleman datang kembali ke tempat ini.”

“Apa maksudmu?”

“Demikianlah perintah Menteri Gubar Baleman.”

“Aku adalah utusan Sri Baginda justru untuk memanggil Pamanda Menteri Gubar Baleman.”

“Aku tidak tahu.”

“Kalau kau tidak tahu, aku memberi tahumu. Kalau kau lakukan juga perintah itu, menahan aku di sini, berarti bahwa kalian telah melawan perintah Sri Baginda seperti Pamanda Menteri Gubar Baleman.”

“Menteri Gubar Baleman sudah menghadap Sri Baginda.”

Dada Senapati muda itu berdesir tajam. Sejenak ia justru terbungkam. Dipandanginya setiap prajurit yang ada di sekitarnya dengan mata tanpa berkedip. Nyala obor yang kemerah-merahan membuat wajah Senapati itu seakan-akan telah membara.

Sejenak kemudian ia menggeram, “Kalian jangan berbuat begitu dungu. Panggil Gubar Baleman.”

Tidak seorang-pun yang menjawab.

“Atas nama Sri Baginda Kertajaya yang berkuasa di Kediri, panggil Gubar Baleman,” ia berteriak.

Tetapi masih tidak ada jawaban sama sekali.Orang-orang yang ada di sekitarnya seakan-akan membeku dalam kelamnya malam.

“He, apakah kalian tidak mendengar? Bawa pengkhianat itu kemari. Aku adalah orang yang mendapat pelimpahan kekuasaan dari Sri Baginda. Apakah kalian mendengar?”

Masih tidak ada jawaban apapun.

“Gila, kalian di sini sudah menjadi gila. Aku adalah utusan Sri Baginda. Kalau aku tidak kembali pada saatnya, kalian pasti akan digantung oleh Sri Baginda sendiri karena kalian telah menghina utusannya. Itu berarti kalian telah menghina Sri Baginda sendiri.”

Tidak seorang-pun yang menjawabnya.

Tiba-tiba Senapati muda itu kehilangan kesabarannya, bahkan kehilangan nalarnya. Karena itu maka tiba-tiba ia menarik pedangnya sambil berkata lantang, “Nilai kepercayaan Sri Baginda sama dengan ujung senjataku. Siapa yang tidak tunduk, aku berhak memenggal lehernya.”

Senapati yang memang menunggunya di regol itu-pun kemudian maju selangkah sambil menarik nafas dalam-dalam. Katanya kemudian dengan tenang, “Kau kehilangan akal.”

“Tidak. Ini adalah keharusan seorang utusan.”

“Apakah yang dapat kalian lakukan di sini?”

“Memaksa kalian untuk membawa Gubar Baleman menghadap. Aku harus membawanya menghadap Sri Baginda. Hidup atau mati.”

“Kau adalah seorang Senapati. Kau sudah dimabukkan oleh tugas yang barangkali baru pertama ini kau lakukan. Mengemban tugas Sri Baginda,” berkata Senapati itu, “aku adalah orang yang lebih tua daripadamu. meskipun aku masih juga belum mendapat kesempatan dinaikkan pangkatku menjadi Senapati Pandega. Cara yang kau pakai bukanlah tata cara yang benar di dalam tata keprajuritan.”

“Aku tidak peduli. Tetapi Kediri berada dalam keadaan darurat.Aku harus menangkap Menteri Gubar Baleman.Apakah kalian tidak tahu, untuk apa kalian di pusatkan di tempat ini?”

“Kami tahu. Kami tahu dengan pasti, bahwa kami sedang menunggu banjir bandang yang akan mengalir dari Singasari lewat jalan induk di sebelah.”

“Kalian ternyata telah diperbodoh oleh Mahisa Walungan dan Gubar Baleman. Kalian sebenarnya akan dipergunakan oleh mereka untuk merebut kekuasaan Kediri. Mahisa Walungan ingin menjadi seorang Raja dan Gubar Baleman akan menjadi Menteri Pertama. Kalian adalah landasan-landasan yang bodoh untuk memanjat ke singgasana itu.Atau kalian mungkin mendapat janji untuk mendapat upah yang tinggi. Bukan kalian akan diangkat menjadi Pandega atau Akuwu di daerah-daerah kecil?”

Hampir saja Senapati yang bertugas menunggu kedatangannya itu juga kehilangan nalar. Tetapi karena umurnya yang sudah lebih tua, dan pengalamannya yang lebih banyak, ia masih mampu menahan dirinya. Bahkan ia masih dapat berkata dengan tenang, “Kau tidak sadar, apa saja yang telah kau katakan?”

“Aku sadar. Aku menyadari apa yang aku katakan dan segala akibatnya.”

“Jangan terlampau congkak. Kau sebagai utusan Sri Baginda atau kau pribadi, tidak jauh berbeda bagi kami. Kau tetap di sini. Tanpa maksud menentang kekuasaan Sri Baginda, kami berkeputusan untuk menahan kau. karena kau ternyata mempunyai penilaian yang salah terhadap kami. Atau barangkali kau yang telah memfitnah Adinda Baginda Mahisa Walungan sehinga ia ditahan? Kemudian Menteri Gubar Baleman-pun mendapat tuduhan yang sama? Kalau begitu kau adalah orang yang justru paling bodoh di seluruh Kediri, selagi Singasari siap menelan kita.”

“Cukup,” teriak Senapati muda itu, “aku tidak mau mendengar kebodohan itu lebih lama lagi. Sekarang bawa Gubar Baleman kemari.”

“Sarungkan pedangmu supaya kami tidak menarik pedang-pedang kami pula.”

“Tariklah pedangmu.”

“Kau benar-benar gila. Apakah kau akan membunuh dirimu di sini. selagi kita memerlukan keutuhan kekuatan untuk melawan Singasari?”

“Aku tidak peduli,” Senapati itu benar-benar telah kehilangan akal, “kalian harus bertanggung jawab kalau aku membuat pepati di sini.”

Senapati yang bertugas di padukuhan itu-pun tidak dapat membiarkannya berbicara lebih lama lagi. Tiba-tiba ia mengangkat tangannya, kemudian seseorang pengawal memukul kentongan di regol lima kali berturut-turut. Itu adalah suatu aba yang sudah diketahui sebelumnya, bahwa tanda itu adalah perintah bagi para prajurit yang mengawal padukuhan itu untuk mengepung Senapati muda itu beserta pengikutnya.

Karena itu maka berloncatanlah berpuluh-puluh prajurit yang siap dengan senjata mereka dari balik pagar batu di pinggir jalan dari balik gerumbul-gerumbul yang gelap, dan bahkan dari pepohonan.

“Gila,” teriak Senapati itu, “kalian telah memberontak terhadap Sri Baginda.”

“Bukan maksud kami. Kami hanya ingin menunjukkan kebenaran kepada Sri Baginda, justru karena kesetiaan kami. kesetiaan Menteri Gubar Baleman dan kesetiaan Adinda Sri Baginda, Mahisa Walungan kepada Sri Baginda dan terlebih-lebih kepada Kediri.”

Senapati muda yang merasa dirinya mendapat kekuasaan dari Sri Baginda Kertajaya itu menggeram. Kini ia sudah tidak berada di atas punggung kudanya. Demikian juga para pengawalnya. Namun pedangnya masih tetap di genggamannya.

“Kau tidak dapat berbuat lain daripada menurut perintah Menteri Gubar Baleman,” berkata Senapati yang menunggui padukuhan itu, “kau tetap di sini.”

“Tidak,” jawab Senapati muda itu, “aku sudah sanggup menjadi seorang utusan bersama beberapa orang pengawalku. Kau juga seorang Senapati. Kau pasti tahu arti daripada kesanggupan seorang prajurit.”

“Maksudmu hanya mautlah yang dapat mencegahmu?”

“Ya.”

“Kau keliru. Apakah seorang Senapati yang nyata-nyata menyadari bahwa ia telah sesat jalan, ia juga tidak akan melangkah surut? Apakah ia akan meneruskan kesesatannya itu sampai ke ujung kebodohan yang tidak terbatas?” jawab Senapati pengawal itu.

“Bagiku bukan itu. Kalau kau sadar, bahwa aku tersesat jalan, maka sebagai seorang jantan aku melangkah surut, mencari jalan lain yang seharusnya dilalui seorang prajurit?” ia berhenti sejenak. Lalu, “Sekarang kita sadar, bahwa Singasari sudah berada di ujung hidung. Apakah kau masih juga sempat mengangkat dadamu, menantang sesama kawan yang sedang berusaha menyelamatkan negerinya? Katakanlah, aku hanya setitik air di lautan yang luas, karena aku hanya seorang Senapati di antara sekian banyak Senapati. Tetapi bagaimana dengan Menteri Gubar Baleman? Bagaimana dengan Adinda Baginda Mahisa Walungan?”

“Omong kosong,” teriak Senapati muda itu, “ayo, bunuh aku. Aku hanya dapat dicegah oleh maut.”

“Jangan terlampau bodoh. Sekarang Menteri Gubar Baleman telah berada di istana. Jangan ribut.”

Senapati muda itu sama sekali tidak mau mendengar lagi. Sejenak ia berdiri mematung, kemudian ia mengangkat tangannya, memberikan perintah kepada para pengawalnya.

Tetapi ia menjadi heran, bahkan kemudian wajahnya yang membara itu seakan-akan kini telah menyala. “He, cabut senjata kalian.”

Para pengawal itu hanya saling berpandangan.

“Apakah kalian sudah tuli he?”

Salah seorang pengawal menarik nafas panjang. Dengan ragu-ragu ia berkata, “Apakah kita harus meyakini kebenaran sikap kita?”

Pertanyaan itu benar-benar telah mengejutkan Senapati muda itu. Dengan suara gemetar ia menjawab, “O, apakah kau juga sudah gila dengan tiba-tiba? Atau kesurupan? Tidak ada seorang prajurit-pun yang pernah mengucapkan pertanyaan seperti itu.”

“Ya, aku tahu. Tetapi tiba-tiba saja aku ingin jujur terhadap perasaanku sendiri. Apakah kita tidak tersesat jalan?”

“Diam, diam kau. Kau harus tunduk perintahku. Kau adalah seorang prajurit.”

Prajurit itu tidak menjawab.

Yang terdengar adalah perintah Senapati muda itu. “Ayo, tarik pedangmu.”

Para pengawal yang termangu-mangu itu-pun menarik senjata masing-masing meskipun mereka masih juga ragu-ragu.

“He, kenapa kalian menjadi linglung. Cepat, lakukanlah sesuatu. Kita adalah utusan Sri Baginda. Tidak ada nilai yang lebih tinggi daripada perintah Sri Baginda bagi seorang prajurit.”

“Itu juga keliru,” potong Senapati pengawal, “Sri Baginda adalah raja yang berkuasa di Kediri. Tetapi apakah tanpa Kediri Sri Baginda akan tetap menjadi seorang raja? Bagamana kalau Singasari kemudian menguasai Kediri?”

Senapati muda itu mengerutkan keningnya.

“Apakah kita dapat disebut setia kepada Sri Baginda dan apalagi kepada Kediri kalau kita membiarkan atau setidak-tidaknya karena kebodohan kita Kediri tenggelam dan Sri Baginda kemudian ditangkap oleh lawan?”

Senapati itu masih tetap berdiam diri.

“Renungkan.” Terasa sesuatu bergolak di dada Senapati muda itu.Namun tiba-tiba ia menghentakkan dirinya. Di dalam hatinya ia berkata, “Sudah pasti ini merupakan suatu cara untuk melemahkan hatiku. Aku sudah mulai menjadi bimbang. Tetapi seorang utusan tidak pernah bimbang dan ragu-ragu.”

Tiba-tiba saja Senapati muda itu berteriak, “Omong kosong. Omong kosong. Kalian sudah memberontak terhadap Sri Baginda. Aku adalah utusannya.”

Tiba-tiba pedang Senapati muda itu menjadi bergetar. Sekali ia berpaling kepada para pengawalnya sambil berteriak, “Jangan lemah seperti perempuan.Suara itu adalah suara demit yang ingin melemahkan hati kita. Cepat, kita bunuh semua orang di sini.”

Tetapi pengawalnya sama sekali tidak beranjak di tempatnya.

“He. kalian sudah kesurupan pula.” ia berteriak, “He. kenapa kalian diam saja he?”

Tetapi pengawalnya masih tetap berada di tempatnya.

Senapati muda yang dibakar oleh kemarahan itu tidak dapat mengekang dirinya lagi. Serangannya yang pertama justru dilontarkannya kepada para pengawalnya sendiri. Sambil berteriak ia meloncat, “Pengkhianat, pengecut. Kalian-pun harus mati.”

Untunglah, bahwa para pengawal itu sudah melihat gelagat yang kurang baik terbayang di wajah yang kemerah-merahan itu. Karena itu, mereka-pun segera berusaha untuk mengelak. Dengan tergesa-gesa mereka berloncatan surut, meskipun mereka sama sekali tidak melawan.

Ternyata serangan yang tergesa-gesa dan didorong oleh perasaan yang melonjak-lonjak itu sama sekali tidak mampu menyentuh siapapun juga. Bahkan ketika ia akan mengulangi serangannya, tiba-tiba ia tertegun. Beberapa pucuk senjata telah merunduk melingkarinya. Ujung-ujung tombak, ujung pedang dan bahwa beberapa pucuk anak panah yang sudah siap pada busurnya yang telah melengkung.

Senapati muda itu menggeram seperti seekor harimau yang terluka. Tetapi ia sama sekali tidak dapat bergerak. Ujung-ujung senjata itu semakin lama menjadi semakin dekat ke tubuhnya.

“Pengecut,” ia berteriak, “ayo. siapa jantan di antara kalian. Kita berperang tanding.”

“Itu hanya membuang-buang waktu dan tenaga saja,” jawab Senapati yang memimpin penangkapan itu, “pengawal-pengawalmu agaknya dapat berpikir lebih baik daripada kau sendiri.”

“Persetan dengan pengkhianat-pengkhianat itu. Tetapi jangan mengharap aku akan menyerah.”

“Aku memang tidak mengharap kau menyerah. Tetapi aku mengharap kau mengerti, bahwa kita kini benar-benar dalam bahaya.”

“Jangan gurui aku. Kalau kalian tetap berbuat sebodoh Ini. pasukan Pujang Warit akan menghancurkan pemusatan pasukan yang akan berkhianat terhadap Sri Baginda ini.”

“Kau mempunyai telinga, tetapi kau tidak dapat mendengar. Sudah aku katakan, bahwa aku dan seluruh pasukan ini, termasuk Menteri Gubar Baleman dan Adinda Baginda Mahisa Walungan tidak akan memberontak.”

“Omong kosong.”

“Terserah kepadamu. Aku tidak dapat melunakkan hati yang sekeras batu itu.Tetapi kau tidak akan dapat lepas dari padukuhan ini. Letakkan senjatamu.”

“Senjataku sama harganya dengan nyawaku. Ia akan terlepas sendiri dari tanganku kalau maut sudah merenggut.”

“Kau memang seorang Senapati yang jantan. Tetapi sayang. kau termasuk bodoh.”

“Tutup mulutmu.” Senapati itu bergerak setapak, tetapi ujung senjata yang ada di seputarnya seakan-akan kini telah melekat di tubuhnya, sehingga ia tidak mungkin lagi mengangkat pedangnya.

“Pengecut, pengecut,” ia berteriak. Namun suaranya hilang saja ditelan oleh gelapnya malam.

Yang terdengar kemudian adalah suara Senapati pengawal padukuhan itu, “Letakkan senjatamu supaya kami tidak usah memaksamu dengan cara yang tidak kau sukai.”

“Bunuh aku.”

“Kami tidak ingin membunuh.”

Senapati itu menggeretakkan giginya. Ketika ujung-ujung senjata para prajurit di sekitarnya menjadi semakin menekan tubuhnya, ia menjadi bimbang.

“Letakkan senjatamu. Kau tidak kalah, dan kau tidak perlu merasa kalah. Tinggallah di sini, dan kau akan membuktikan kebenaran kata-kata kami. bahwa kami bukan pemberontak. Mungkin kami mempunyai cara yang tidak disukai oleh Sri Baginda. Tetapi itu pasti hanya untuk sementaraa. Nanti Baginda-pun akan mengetahui, siapakah yang sebenarnya setia kepadanya dan kepada Kediri.”

Senapati itu tidak menjawab.

“Letakkan senjatamu.”

Senapati muda itu menggeretakkan giginya. Terasa pundaknya, punggungnya, lambungnya, dan bagian-bagian badannya yang lain telah tersentuh ujung senjata. Dan ia mendengar sekali lagi, “Letakkan senjatamu.”

Sejenak Senapati muda itu termangu-mangu. Tetapi kemudian tampak olehnya wajah-wajah yang tegang di sekitarnya.

Akhirnya, betapa keras hatinya. Senapati muda itu-pun hanya melihat kenyataan. Memang tidak bijaksana untuk membunuh diri dengan cara yang bodoh itu. Kalau ia masih mempunyai kesempatan untuk hidup, maka segala kemungkinan masih dapat terjadi.

Karena itu, ketika ia mendengar desis sekali lagi, dengan hati yang betapapun beratnya, diletakkannya senjatanya di tanah.

“Bagus,” berkata Senapati pengawal padukuhan itu, “Sekarang, ikutlah dengan prajurit-prajurit yang akan menunjukkan tempatmu. Kau barangkali perlu beristirahat.”

Senapati muda itu tidak menjawab. Tetapi sekilas tampak matanya masih menyala-nyala.

Dalam pada itu, malam-pun menjadi semakin tipis oleh cahaya yang semakin merah di langit. Meskipun embun masih menitik, tetapi terasa, bahwa malam-pun akan segera berakhir.

Dalam pada itu Gubar Baleman telah berada di pintu gerbang istananya bersama beberapa orang pengawal. Mereka-pun segera berloncatan dari punggung-punggung kuda mereka dan menyerahkan kuda-kuda itu kepada para pengawal.

“Aku akan menghadap Sri Baginda.”

Seorang prajurit membungkukkan kepalanya sambil menjawab, “Silahkan. Kami memang mendapat perintah untuk menunggu tuan datang malam ini.”

Gubar Baleman mengerutkan keningnya, “Siapa yang memberi kalian perintah itu?”

“Pimpinan pasukanku.”

Gubar Baleman tersenyum. “Bagus. Kau adalah seorang prajurit yang patuh. Apakah kalau kau tidak menunggu kedatanganku, gerbang ini tidak dijaga?”

Prajurit itu tergagap. Jawabnya, “Ya, ya, Tentu dijaga.”

Gubar Baleman menepuk pundak prajurit itu. “Sebaiknya kau bersikap biasa apapun yang sudah kau dengar tentang aku. Kau tidak usah ikut bersikap aneh-aneh.”

Prajurit itu heran. Tetapi kemudian ia tertunduk malu. Agaknya Gubar Baleman dapat membaca isi hatinya, bahwa ia-pun merasa senang melihat kehadiran Menteri yang akan ditangkap itu.

“Nah, jalankan tugasmu baik-baik. Aku akan menghadap Sri Baginda.”

Prajurit itu hanya membungkukkan kepalanya.Tetapi ia tidak menjawab lagi.

Gubar Baleman dan pengawalnya-pun segera memasuki gerbang istana langsung memasuki regol halaman dalam. Ia lahu bahwa ia harus menghadap Baginda di paseban dalam pula.

Menteri itu mengernyitkan alisnya ketika ia melihat beberapa orang prajurit yang telah bersiaga di segala sudut.

Demikian juga agaknya kesiagaan para pengawal istana pada saat Mahisa Walungan menghadap. Namun di dalam hati Gubar Baleman berkata, “Tetapi seandainya Adinda Mahisa Walungan menghendaki, penjagaan yang tiga kali lipat dari kekuatan ini tidak akan dapat menahannya. Namun Adinda Mahisa Walungan terlampau patuh kepada kakandanya.”

Tetapi ternyata Gubar Baleman telah berbuat lain. Ia adalah seorang pemimpin yang hampir sepanjang hidupnya menumpahkan segala tenaganya buat Kediri, dan ia bukan saudara Sri Baginda. Karena itu Gubar Baleman mempunyai cara yang agak lebih longgar, meskipun ia sama sekali tidak ingin melawan kekuasaan Sri Baginda Kertajaya dalam arti sebenarnya.

Maka dengan hati yang berdebar-debar Gubar Baleman memasuki halaman dalam dengan para pengawalnya. Namun kemudian ia terhenti ketika seorang Senapati datang kepadanya. Sambil menundukkan kepala, kemudian Senapati itu berkata, “Menteri Gubar Baleman. Aku mendapat perintah untuk menunggu di paseban. Sewaktu-waktu aku harus memberitahukan kepada pelayan dan emban yang menunggui bilik Sri Baginda untuk membangunkannya.”

“Terima kasih,” jawab Gubar Baleman, “agaknya kedatanganku memang sudah ditunggu-tunggu.”

“Sri Baginda sendiri menunggu sampai hampir tengah malam.”

“Aku akan mohon ampun bahwa aku datang terlambat.”

Senapati itu terdiam sejenak. Namun kemudian dengan ragu-ragu ia berkata, “Tetapi adalah perintah Sri Baginda bahwa Menteri Gubar Baleman hanya diperkenankan menghadap seorang diri, tanpa pengawal dan tanpa senjata.”

Gubar Baleman tertawa, “Aku adalah orang istana sejak kecil. Aku sudah tahu, bahwa aku hanya dapat menghadap Sri Baginda tanpa pengawal-pengawal ini. Dan mereka akan tinggal di halaman.”

Senapati itu menganggukkan kepalanya, “Ya. begitulah.”

“Tetapi tidak ada perintah yang pernah aku dengar, bahwa aku harus menghadap Sri Baginda tanpa senjata. Sebagai seorang Menteri yang bertanggung jawab atas keamanan dan keselamatan Kediri, aku adalah Senapati tertinggi. Aku adalah pimpinan tertinggi pasukan Kediri di samping Adinda Mahisa Walungan.”

“Maaf. Aku hanya sekedar menerima perintah.”

“Aku akan menunggu di halaman. Sampaikan saja dahulu kepada Sri Baginda, bahwa aku akan menghadap.”

Senapati itu ragu-ragu sejenak.

“Sampaikan.” ulang Gubar Baleman, “kalau Sri Baginda hanya bersedia menerima aku tanpa senjata, apa boleh buat. Tetapi itu adalah menyalahi kebiasaan.”

“Baiklah,” jawab Senapati itu, “aku akan menyampaikannya kepada kakang Pandega yang akan menyampaikannya kepada Sri Baginda.”

“Supaya aku tidak menyalahi keteranganmu, aku akan menunggu di sini, di luar.”

Senapati itu mengerutkan keningnya. Seharusnya Gubar Baleman sudah ada di paseban apabila Sri Baginda keluar.

“Biarlah kakang Pandega yang mengaturnya,” desis Senapati itu di dalam hatinya, sehingga karena itu, maka ia-pun pergi meninggalkan Gubar Baleman.

Gubar Baleman masih berada di halaman bersama beberapa orang pengawalnya. Tetapi Gubar Baleman masih membawa senjatanya di lambungnya.

Ketika ia melayangkan pandangan matanya ke sekelilingnya. maka hatinya berdebar-debar. Di bawah cahaya lampu-lampu obor ia melihat kesiagaan para pengawal. Bahkan di muka regol kini ia melihat beberapa prajurit berdiri berjajar tepat di muka pintu. Gubar Baleman sadar, bahwa pintu keluar sudah tertutup.

Namun Gubar Baleman-pun percaya, bahwa pada saatnya. Orang-orangnya akan segera muncul.Menurut penilaian dan perhitungannya, mereka kini pasti sudah ada di sekitar halaman ini pula.Di dalam gerumbul-gerumbul yang gelap, dan di balik-balik patung yang bertebaran.Di antara longkangan-angan kecil yang gelap di halaman itu.

“Apabila aku masuk ke paseban, mereka pasti akan segera mulai bergerak,” katanya di dalam hati.

Dalam pada itu. sejenak kemudian datanglah tiga orang prajurit dan seorang Senapati Pandega kepadanya.

Gubar Baleman mengerutkan keningnya, ketika Senapati itu langsung berkata kepadanya, “Atas perintah Sri Baginda, dipersilahkan menghadap di paseban tanpa senjata.”

“Apakah itu perintah Sri Baginda?”

“Ya.”

Gubar Baleman menjadi ragu-ragu sejenak. Tetapi kalau ia tidak mematuhinya, maka perlawanannya sudah dimulai terlampau cepat. Karena itu, maka sambil mengangguk-anggukkan kepalanya ia berkata, “Ini adalah perintah yang aneh bagiku. Tidak pernah aku melepaskan senjataku, apabila sudah terlanjur aku selipkan di lambung dalam keadaan apapun juga. Tetapi perintah Sri Baginda memang harus dipatuhi.”

“Kemudian, dipersilahkan naik ke paseban dalam, sementara para pengawal akan tinggal di luar,” berkata Pandega itu.

Gubar Baleman tidak segera menjawab. Tetapi dilayangkan pandangan matanya kepada prajurit yang ada di sekitarnya. Seolah-olah ia sedang memperingatkan para pengawalnya, bahwa prajurit-prajurit yang sudah bersiaga di halaman itu kini sudah mengepung mereka.

Sejenak kemudian Gubar Baleman-pun melangkahkan kakinya menaiki tangga paseban. Di muka pintu ia berhenti sejenak. Sambil memandang prajurit yang berdiri di muka pintu ia berkata, “He, kenapa kau berjaga-jaga di sini dengan senjata telanjang?”

Prajurit itu menjadi bingung. Dipandanginya saja Senapati yang mengantar Gubar Baleman tanpa mengucapkan sepatah kata-pun.

“Perintah Sri Baginda,” Senapati Pandega itulah yang menjawab.

Namun Senapati itu-pun menjadi bingung ketika Gubar Baleman bertanya, “Kesiagaan yang begini pulakah yang telah menyambut Adinda Mahisa Walungan pada saat ia ditangkap?”

Sejenak Senapati itu berdiri saja mematung. Yang terdengar kemudian adalah suara tertawa Gubar Baleman. Dipandanginya Senapati yang seolah-olah membeku itu. Kemudian ditepuknya bahu prajurit yang membawa senjata telanjang, “Awas,” katanya, “kau harus selalu bersiaga. Meskipun di paseban kau harus menggenggam senjata yang sudah lepas dari wrangkanya.Siapa tahu pasukan Singasari akan sampai ke pintu ini. Bahkan mungkin Ken Arok sendiri akan datang kemari.”

Prajurit itu berdiri saja tanpa dapat berbuat sesuatu. Namun demikian ia bertanya juga di dalam hatinya, “Kenapa aku harus bersiaga di sini dalam penangkapan ini? Apakah benar Menteri Gubar Baleman akan memberontak?”

Gubar Baleman-pun kemudian melangkah memasuki paseban. Dilihatnya di dalam paseban itu sudah hadir penasehat Sri Baginda, beberapa orang Menteri yang lain dan beberapa orang Senapati yang memegang pimpinan di kalangan keprajuritan. Termasuk kedua Penasehat Sri Baginda yang telah ikut serta mendorong Pujang Warit untuk merebut pimpinan keprajuritan. Namun Gubar Baleman tidak melihat Pujang Warit sendiri.

“Anak itu pasti akan mulai bertindak atas pasukan di sebelah utara Ganter,” berkata Gubar Baleman di dalam hati. Sebagai seorang prajurit ia mempunyai tanggapan yang ternyata tidak jauh dari apa yang sebenarnya terjadi.

Pada saat Gubar Baleman menghadap di paseban. Pujang Warit telah benar-benar menyiapkan pasukannya. Ia akan pergi ke sebelah Utara Ganter, dan mengumumkan bahwa Mahisa Walungan dan Gubar Baleman telah ditangkap karena mereka telah merencanakan pemberontakan. Karena itu. maka ia akan berseru atas perintah Sri Baginda supaya segenap pasukan di sebelah Utara Ganter itu melepaskan diri dari segala pengaruh Mahisa Walungan dan Gubar Baleman.

Di paseban Gubar Baleman-pun kemudian duduk di antara para Menteri seperti kebiasaannya. Namun kini ia merasa bahwa beberapa orang di antara mereka menanggapi kedatangannya dengan sikap acuh tidak acuh. Ada yang dengan sengaja memalingkan wajahnya, tetapi ada juga yang ragu-ragu. seperti juga mereka ragu-ragu bahwa kedua orang Senapati tertinggi, Mahisa Walungan dan Gubar Baleman akan memberontak.

“Kalau mereka benar-benar sudah siap, apakah mereka akan bersedia datang ke paseban?”

Tetapi tidak seorang-pun di paseban itu yang berbicara. Mereka menunggu dengan tegang kehadiran Sri Baginda Kertajaya yang memang sudah berpesan, bahwa setiap saat Gubar Baleman datang, ia akan menyelesaikan masalah yang sangat menyakitkan hatinya itu.

Demikianlah, sejenak kemudian maka dua orang pengawal memasuki ruangan. Kemudian upacara kecil kehadiran Sri Baginda, karena paseban ini adalah paseban darurat, sehingga Baginda tidak diikuti dan didahului oleh segala macam upacara kebesaran.

Ruangan itu-pun kemudian menjadi senyap.Tidak seorang-pun yang berani mengangkat wajah mereka. Seakan-akan setiap orang dapat mendengar detak jantung mereka sendiri.

“Ha,” berkata Sri Baginda dengan serta-merta, tanpa menghiraukan lagi adat upacara karena kemarahan yang sekian lama tertahan di dadanya, “Kau sudah datang Gubar Baleman?”

“Ampun Tuanku. Hamba telah datang memenuhi perintah Tuanku.”

Sri Baginda mengangguk-anggukkan kepalanya. Tampak sekilas senyum membayang di bibir Sri Baginda. Sebuah senyuman yang pahit.

“Apakah kau datang bersama Mahisa Walungan?” bertanya Sri Baginda kemudian.

“Tidak Tuanku.”

“Di mana Mahisa Walungan sekarang? Bukankah ia berada di perbatasan dengan kau?”

“Adinda Mahisa Walungan kini berada di luar paseban ini Sri Baginda.”

Sri Baginda mengerutkan keningnya. Kemudian dipandanginya para Menteri yang lain dan para Senapati yang ada di dalam ruangan itu.

“He. kenapa kau menjawab bahwa Mahisa Walungan ada di luar paseban?”

Gubar Baleman tidak segera menjawab. Ia menjadi ragu-ragu, apakah Mahisa Walungan benar-benar telah ada di luar paseban.

Sementara itu pada saat Gubar Baleman memasuki ruangan paseban maka setiap prajurit yang dikirimkannya lebih dahulu memasuki halaman itu-pun mengerti, bahwa mereka harus bertindak secepat-cepatnya. Tanpa memberi kesempatan kepada seorang penjagapun. mereka bergerak mendekati setiap orang yang sedang bertugas. Dengan pisau-pisau belati mereka menahan setiap orang yang dengan tiba-tiba saja merasa ujung pisau-pisau itu telah melekat di punggung atau lambung.

“Apa artinya ini,” desis seorang Prajurit yang berdiri di sudut halaman bersama dua orang kawannya. Tetapi di sekelilingnya telah berdiri lima orang prajurit Gubar Baleman sambil menekankan pisau di lambung masing-masing.

“Kami tidak akan melakukan pemberontakan,” berkata prajurit yang menahan mereka dengan pisau, “kami sama sekali tidak mempunyai niat untuk melawan Sri Baginda. Tetapi kami ingin memberi kesempatan Menteri Gubar Baleman dan Adinda Sri Baginda Mahisa Walungan untuk menjelaskan persoalannya.”

“Tetapi kau sudah melawan perintah. Kami adalah petugas di istana Sri Baginda.”

“Tidak. Kami tidak menarik pedang-pedang kami. Kami mempergunakan kesempatan ini untuk berbicara tentang keadaan yang sebenarnya di Kediri. Apakah kalian percaya dongeng tentang pemberontakan yang akan dimulai di Ganter?”

Prajurit yang berada di halaman itu tidak menjawab.

“Itulah yang akan dijelaskan oleh Menteri Gubar Baleman. Kami terpaksa mempergunakan cara ini, karena cara lain tidak ada. Sri Baginda pasti tidak akan memberi kesempatan Menteri Gubar Baleman untuk berbicara cukup panjang.”

Prajurit yang berdiri di sudut halaman itu menjadi termangu-mangu. Mula-mula hampir saja ia menarik pedangnya, dan berusaha melawan apapun jadinya. Meskipun lambungnya telah tersentuh ujung pisau belati, namun ia tidak boleh menyerah begitu mudah. Tetapi penjelasan prajurit itu dapat dimengertinya. karena sejak semula ia memang meragukan kebenaran keputusan Sri Baginda, bahwa Mahisa Walungan dan Gubar Baleman telah memberontak justru pada saat Singasasari siap untuk menerkam Kediri.

“Sudah tentu kami akan tetap taat kepada perintah Sri Baginda,” berkata prajurit yang memegang pisau belati itu, “Tetapi sebenarnya kami tidak ingin bahwa kami berbenturan satu dengan yang lain. Kami memerlukan segenap kekuatan untuk melawan Singasari.”

“Jadi kau sangka bahwa Baginda telah melakukan kesalahan?”

“Bukan begitu,” jawab prajurit itu, “tetapi memang mungkin sekali bahwa Sri Baginda tidak melihat keadaan yang sebenarnya. Tidak mustahil satu dua orang telah dengan sengaja memutar balik keadaan.”

“Marilah kita menunggu,” berkata prajurit pengawal itu.

Ketika ia memandang dengan sudut matanya, ujung pisau itu masih tertekan di lambungnya.

Keadaan yang serupa telah terjadi pula di beberapa tempat yang lain. Bahkan prajurit yang berada di luar pintu paseban itu-pun terkejut ketika tiba-tiba saja masing-masing telah dibayangi oleh seorang prajurit yang di bawah bayangan dirinya, melekatkan pisau-pisau belati di lambung mereka.

“Kami tidak bermaksud apa-apa,” berkata prajurit-prajurit itu, “tetapi kami mengharap bahwa kami dapat menggantikan tugas kalian.”

“Ternyata Gubar Baleman benar-benar memberontak,” desis prajurit pengawal, “semula aku ragu-ragu akan berita itu. Aku bahkan menyangkal di dalam hati bahwa Adinda Baginda Mahisa Walungan dan Menteri yang menjabat sebagai Senapati tertinggi itu akan memberontak kepada Sri Baginda. Tetapi ternyata berita itu benar.”

“Kau keliru menanggapi keadaan. Kami tidak memberontak. Hari ini kau dipaksa untuk berjaga-jaga di sini justru untuk menangkap Menteri Gubar Baleman yang tidak bersalah. Itulah sebabnya kami terpaksa mencegah kesalahan itu karena tuduhan yang tidak benar. Menteri Gubar Baleman hanya akan meluruskan yang bengkok. Sama sekali tidak akan menyentuh takhta Sri Baginda. Demikian juga Adinda Sri Baginda.”

Pengawal itu masih akan berbicara lagi, tetapi dua orang prajurit yang lain telah datang dan berdesis, “Mari, kau beristirahat bersama kami.”

Kedua pengawal itu masih tetap di tempatnya.

“Jangan membuat keributan Ki Sanak. Kami tidak bermaksud jahat. Sama sekail tidak.”

Karena ujung-ujung pisau itu semakin menekan lambung mereka, maka kedua pengawal itu-pun tidak dapat berbuat lain dari pada mengikuti perintah itu.

“Sarungkanlah senjatamu.”

Tidak ada pilihan lain bagi kedua pengawal itu, selain menyarungkan senjata mereka.Tidak ada gunanya lagi bagi mereka untuk menyesali kelengahan mereka. Ketika mereka melihat dua orang prajurit mendekatinya, mereka sama sekali tidak bercuriga. Mereka terkejut ketika tiba-tiba saja keduanya berdiri melekat tubuh-tubuh mereka sendiri, sambil melekatkan ujung pisau itu.

Maka kini dua orang prajurit yang berada di luar pintu Paseban itu adalah prajurit-prajurit Gubar Baleman. Meskipun ada juga beberapa perbedaan ciri dari kedua pasukan yang berbeda itu. tetapi di dalam keremangan malam yang hanya ditembus oleh sinar-sinar obor di kejauhan, perbedaan itu hampir tidak dapat segera dilihat.

Di bagian lain, sekelompok kecil prajurit dengan tiba-tiba telah menyergap bilik Mahisa Walungan. Hampir saja terjadi benturan kekerasan. Namun orang-orang Gubar Baleman yang lebih banyak segera dapat mengatasi keadaan.

Seperti juga kawan-kawan mereka, maka seorang Senapati yang telah agak lanjut usia berkata sareh, “Kami ingin meluruskan yang bengkok. Kami tidak akan berbuat apa-apa.”

Namun kehadiran mereka ternyata telah mengejutkan Mahisa Walungan sendiri. Ketika kemudian pintu terbuka, dan Senapati tua itu memasuki biliknya, Mahisa Walungan tanya, “Apakah kalian telah menjadi gila?”

“Tidak tuan, kami mengemban perintah Menteri Gubar Baleman.”

“He, apakah kakanda Menteri Gubar Baleman benar-benar telah memberontak?”

“Sama sekali tidak. Tetapi Menteri Gubar Baleman hanya ingin menjelaskan masalah yang sebenarnya kepada Sri Baginda. Seperti tuan, kini Menteri Gubar Baleman-pun telah dipanggil menghadap sekarang ini. Namun Menteri Gubar Baleman mengharap, tuan hadir pula di paseban untuk memberikan penjelasan seperlunya.”

“Aku sudah mencoba, tetapi Kakanda Baginda tidak mempercayainya.”

Sekarang sebaiknya tuan mencoba lagi bersama Menteri Gubar Baleman.”

“Aku tidak dapat melawan Kakanda Baginda. Kakanda Baginda memerintahkan aku tinggal di dalam bilik ini.”

“Tuan, aku tahu bahwa tuan menghormati Sri Baginda bukan saja sebagai seorang Maharaja yang berkuasa, tetapi juga sebagai seorang saudara tua yang harus dipatuhi.Tetapi kini kita berdiri di simpang jalan. Kita harus memilih. Seperti yang sudah tuan mulai, meskipun tidak seijin Baginda, dengan pemusatan pasukan di sebelah Utara Ganter. maka sebaiknya tuan juga melakukannya sekarang. Tampaknya tuan memang melawan Kakanda Baginda, tetapi semuanya itu justru untuk kepentingan Sri Baginda dan Kediri.”

Mahisa Walungan masih juga ragu-ragu.

“Kediri menunggu tuan. Kalau tuan ragu-ragu, maka Kediri akan mengeluh, karena kini Kediri benar-benar tanpa pelindungan apapun.”

Mahisa Walungan masih merenungi kata-kata Senapati tua itu.

“Keputusan Tuan ditunggu oleh seluruh rakyat Kediri, sebelum Kediri tenggelam oleh banjir bandang dari Singasari.”

Sebenarnya tidak niat sama sekali pada Mahisa Walungan untuk melanggar perintah kakaknya. Tetapi tuan itu benar-benar telah menyentuh hatinya, ia memang sudah melanggar perintah kakaknya dengan pemusatan pasukan di sebelah Utara Ganter itu.Tetapi dengan maksud yang baik bagi Kediri. Dan sekarang ia harus mengulanginya.

Dalam kebimbangan ia mendengar Senapati tua itu berkata, “Tidak ada orang lain yang diharapkan oleh Kediri untuk menghadapi Singasari selain tuan.”

Mahisa Walungan menarik nafas dalam-dalam. Memang menurut perhitungannya, apabila pasukan Kediri sendiri saling berbenturan, maka kekuatan Singasari akan tidak terbendung lagi.

“Bagaimana tuan? Keadaan menjadi demikian mendesak.”

Perlahan-lahan Mahisa Walungan-pun kemudian menganggukkan kepalanya. Katanya, “Baiklah. Aku akan menghadap Kakanda Baginda sekali lagi.”

“Nah. marilah,” berkata Senapati tua itu, “Menteri Gubar Baleman pasti sudah ada di paseban.”

Mahisa Walungan termenung sejenak. Kemudian katanya pula, “Marilah. Mudah-mudahan usaha kita akan berhasil.”

Mereka-pun kemudian pergi dengan tergesa-gesa ke paseban. Meskipun Mahisa Walungan masih ragu-ragu, namun ia sudah tidak dapat mundur lagi.

Pada saat itu Baginda dengan herannya sedang bertanya kepada Gubar Baleman tentang Mahisa Walungan.

“Apakah kau mengigau he?” bentak Sri Baginda, “Mahisa Walungan sama sekali tidak ada di halaman.”

“Ampun Tuanku, Adinda Mahisa Walungan benar-benar di halaman Adinda Mahisa Walungan datang bersama hamba dari perbatasan, karena Tuanku memanggil hamba. Adinda Mahisa Walungan merasa perlu mengikuti hamba, bila mungkin Tuanku juga memerlukannya.”

“Gila. kau sudah gila Gubar Baleman,” Sri Baginda Kertajaya berteriak.

Tetapi Gubar Baleman menjadi terheran-heran. Dengan wajah yang memancarkan pertanyaan dipandanginya para Menteri dan Senapati yang sudah ada di dalam paseban itu pula.

“Tuanku,” berkata Gubar Baleman kemudian, “bukanlah hamba ada di perbatasan bersama Adinda Mahisa Walungan?”

Sri Baginda Kertajaya menjadi semakin tidak tahan mendengar jawaban Gubar Baleman itu, sehingga ia-pun berteriak, “He Gubar Baleman, kalau memang Mahisa Walungan ada di depan paseban, panggil ia kemari.”

Gubar Baleman menjadi ragu-ragu sejenak. Tetapi kemudian dibungkukkannya kepalanya dalam-dalam sambil menjawab, “Baik Tuanku. Hamba akan memanggil Adinda Mahisa Walungan.”

“Cepat,” bentak Sri Baginda.

Gubar Baleman-pun kemudian beringsut dari tempatnya, mundur ke pintu paseban. Meskipun demikian ia masih juga cemas, apakah orang-orangnya yang akan mengambil Mahisa Walungan dari tempatnya itu sudah berhasil. Kalau mereka gagal, maka Gubar Baleman-pun pasti akan gagal pula dengan segala rencananya.

Dengan dada berdebar-debar Gubar Baleman keluar dari pintu paseban. Dilihatnya dua orang prajurit yang berada di luar pintu dengan senjata telanjang. Namun kemudian ia-pun tersenyum. Orang itu adalah orang-orangnya.

Sejenak ia berdiri dengan gelisah, karena ia belum melihat seorang-pun di halaman paseban. Apalagi Mahisa Walungan. Sejenak ia berdiri termangu-mangu, sedang keringat dinginnya telah mulai membasahi punggungnya.

Namun kemudian ia-pun menarik nafas dalam-dalam. Dari kegelapan dilihatnya beberapa orang prajurit mengawal Mahisa Walungan ke halaman paseban.

“Ha,” desis Gubar Baleman yang menyongsongnya, “aku sudah hampir kehabisan akal.”

“Aku tidak mengerti,” berkata Mahisa Walungan.

“Kita bersama-sama baru datang dari perbatasan,” jawab Gubar Baleman.

Mahisa Walungan termangu-mangu.

“Jangan bingung. Anggaplah bahwa kita baru datang,” berkata Gubar Baleman pula. Lalu diberitahukannya apa yang sudah direncanakannya malam ini.

Mahisa Walungan menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Jangan berkesan bahwa adinda baru keluar dari bilik tahanan. Adinda Mahisa Walungan baru datang dari perbatasan.”

“Permainan apa lagi yang akan kita lakukan?”

“Untuk kepentingan Kediri.”

Mahisa Walungan mengangguk-anggukkan kepalanya, “Baiklah.”

Maka keduanya-pun kemudian melangkah ke pintu paseban dengan dada yang berdebar-debar.

Demikian keduanya melangkahi pintu, maka setiap orang di dalam peseban itu terperanjat pula karenanya.Mereka melihat Gubar Baleman datang benar-benar bersama Mahisa Walungan.

Dan tiba-tiba saja Sri Baginda menutup kedua matanya dengan tangannya sambil berteriak, “Gila, gila. Apa saja yang telah kalian lakukan ini? He, Mahisa Walungan, benarkah kau Mahisa Walungan?”

Mahisa Walungan menjadi terheran-heran. Setelah duduk di hadapan Kakanda Baginda ia berkata. “Apakah Kakanda Baginda tidak mengenal hamba lagi?”

“He. bukankah kau yang kemarin aku panggil dari Ganter dan kemudian ditangkap dan dimasukkan ke dalam tahanan?”

“Hamba baru datang dari perbatasan Kakanda Baginda. Baru saja bersama kakang Gubar Baleman.”

“Gila, gila. Apakah aku memang sudah gila.” tiba-tiba Sri Baginda berdiri sambil berteriak, “Ambillah orang yang kemarin dimasukkan ke dalam tahanan itu. Apakah orang itu bukan Mahisa Walungan?”

Beberapa orang menjadi termangu-mangu.

“Cepat, suruhlah penjaga mengambil Mahisa Walungan yang kemarin dimasukkan ke dalam tahanan itu.”

Kehadiran Mahisa Walungan dan Baginda Kertajaya yang tiba-tiba saja berteriak-teriak itu ternyata telah membuat mereka yang hadir di paseban menjadi bingung. Mereka tidak segera mengerti apa yang harus mereka lakukan.

Karena itu, maka Sri Baginda menjadi semakin marah karenanya. Dengan lantang sekali lagi ia berteriak. “Suruhlah penjaga memanggil Mahisa Walungan.”

Seorang Senapati akhirnya mengerti juga maksud Sri Baginda itu. Dengan tergesa-gesa ia bergeser keluar pintu paseban. Ketika ia melihat penjaga dengan senjata telanjang, maka katanya, “Panggil Mahisa Walungan.”

Penjaga itu menjadi terheran-heran.

“Panggil Mahisa Walungan,” Senapati itu-pun ikut berteriak.

“Tetapi bukankah Adinda Sri Baginda, Mahisa Walungan telah ada di dalam paseban.”

“Bukan orang itu, tetapi Mahisa Walungan yang kemarin ditangkap dan dimasukkan ke dalam tahanan.”

Penjaga-jaga itu saling berpandangan sejenak. Yang seorang kemudian bertanya, “Di manakah Adinda Baginda itu ditahan?”

“Gila kau. Kemarin. Yang kemarin dipanggil Sri Baginda, kemudian ditahan di bilik tahanan istana.”

Karena penjaga-jaga itu masih saja keheran-heranan, maka Senapati itu-pun membentak, “Pergi, dan panggil orang itu.”

Penjaga-jaga itu tidak membantah lagi.Salah seorang dari mereka membungkuk dalam-dalam.Kemudian ia-pun pergi dengan penuh keragu-raguan.

Senapati itu-pun menjadi ragu-ragu pula. Akhirnya ia tidak segera masuk kembali ke dalam paseban, tetapi disusulnya seorang penjaga yang pergi memanggil Mahisa Walungan.

“Tunggu.” panggil Senapati itu.

Prajurit yang telah melangkah dengan tergesa-gesa itu-pun, lalu berhenti. Ketika ia melihat Senapati itu menyusulnya, maka ia-pun kemudian berdiri tegak menunggu.

“Aku pergi bersamamu.”

Senapati itu tidak menunggu jawaban prajurit penjaga itu. Ia-pun kemudian melangkah dengan tergesa-gesa ke bilik tahanan Mahisa Walungan.

Ketika ia melihat beberapa orang penjaga di muka bilik itu, maka dengan serta-merta ia berkata, “Aku memerlukan orang di dalam tahanan itu.”

Pemimpin penjaga itu berdiri saja seperti patung.Dengan wajah yang aneh ia memandangi Senapati yang datang itu.

“Sri Baginda memanggil Mahisa Walungan. Keluarkan orang itu, dan marilah kita bawa menghadap.”

“Tetapi,” jawab pemimpin penjaga, “di sini tidak ada seorang-pun. Tidak ada seorang tahanan di dalam bilik ini.”

“Gila. Mahisa Walungan. Kemarin Mahisa Walungan dimasukkan ke dalam bilik ini.”

Pemimpin penjaga itu menggeleng, “Sejak aku menerima penyerahan penjagaan semalam, aku tidak menerima penyerahan seorang tahanan pun.”

“He, jangan mengigau.” Senapati yang mendengar Sri Baginda berteriak-teriak itu-pun berteriak pula, “lihat di dalam bilik itu.”

Pemimpin penjaga itu-pun kemudian membuka pintu bilik tahanan yang sempit itu. Namun di dalam bilik itu tidak terdapat seorang-pun.

“Tidak ada seorang-pun di dalam bilik ini,” berkata pemimpin penjaga itu, “tidak ada seorang tahanan yang ada di dalamnya. Apalagi Adinda Sri Baginda, Mahisa Walungan.”

Senapati itu mengerutkan keningnya. Ketika Mahisa Walungan menghadap di paseban kemarin, ia sendiri melihatnya. Tetapi kini Mahisa Walungan itu datang bersama Gubar Baleman.

Senapati itu menjadi bingung.

“Pasti ada kecurangan,” tiba-tiba ia berteriak, “kalian atau para penjaga sebelum kalian. Aku akan pergi ke regol halaman dalam. Kalau para penjaga tidak melihat Mahisa Walungan datang bersama Menteri Gubar Baleman, maka kalianlah yang akan digantung di alun-alun besok.”

“Tentu bukan kami, tetapi penjaga sebelum kami. Mereka harus ditangkap, dan harus bertanggung jawab atas hilangnya seorang tahanan. Apalagi kalau tahanan itu benar-benar Mahisa Walungan.”

Senapati itu tidak menjawab. Tetapi dengan tergesa-gesa ia melangkah ke pintu gerbang halaman dalam istana Kediri.

Ketika ia melihat beberapa orang prajurit berdiri berjajar di regol halaman, maka ia berkata di dalam hatinya. Mereka tidak akan dapat ditipu. Mereka memang mendapat tugas untuk menutup regol itu dengan ujung-ujung senjata, agar Menteri Gubar Baleman tidak dapat melepaskan diri meskipun ia membawa beberapa orang pengawal.”

Dengan nafas yang semakin memburu. Senapati yang diikuti oleh seorang prajurit itu-pun segera sampai di regol halaman dalam. Dengan serta-merta ia bertanya, “Apakah kalian melihat Menteri Gubar Baleman masuk bersama berapa orang pengawal?”

Seorang prajurit menganggukkan kepalanya dalam-dalam sambil menjawab, “Ya. kami melihat Menteri Gubar Baleman memasuki regol ini, langsung mnghadap Sri Baginda di paseban.”

“Apakah ia datang seorang diri?”

“Tidak. Menteri Gubar Baleman datang bersama beberapa orang pengawalnya yang kini ada di luar paseban di bawah pengawasan para prajurit pengawal.”

Senapati itu mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Siapa saja yang ada di antara mereka?”

“Tidak ada orang lain kecuali Menteri Gubar Baleman dan Adinda Sri Baginda, Mahisa Walungan.”

“He,” Senapati itu terkejut, “jadi Menteri Gubar Baleman datang bersama Adinda Sri Baginda Mahisa Walungan?”

“Ya. Keduanya memasuki regol ini, kemudian memenuhi perintah yang kami terima, kami telah menutup regol ini dengan penjagaan yang kuat. Bukankah demikian?”

Senapati itu menjadi semakin bingung. Apakah ia sudah menjadi linglung pula, seperti juga Sri Baginda? Tetapi apakah semua orang yang menyaksikan penangkapan Mahisa Walungan kemarin sudah menjadi gila semua, sehingga mereka tidak mengerti apa yang sebenarnya sudah terjadi?

Dengan ragu-ragu ditatapnya wajah-wajah prajurit yang sedang bertugas itu. Tetapi dalam keremangan malam ia tidak melihat sesuatu yang dapat menumbuhkan kecurigaannya, selain keterangan mereka tentang Mahisa Walungan itu.

“Aku, Sri Baginda dan para Menteri, atau prajurit-prajurit inilah yang sudah menjadi gila. Atau seluruh Kediri sudah menjadi gila karena Tumapel yang memberontak itu tidak juga segera dapat diselesaikan,” katanya di dalam hati.

Senapati itu kemudian tidak dapat berbuat lain daripada kembali untuk menghadap Sri Baginda dan mengatakan apa yang telah dilihatnya.

Namun dalam saat-saat itu, Gubar Baleman telah sempat bertanya, “Sri Baginda, apakah yang Tuanku kehendaki dari hamba berdua, sehingga hamba berdua harus menghadap di saat-saat perbatasan sedang dalam puncak kegelisahan? Pasukan Singasari telah benar-benar siap di perbatasan. Setiap saat pasukan itu dapat mengalir seperti banjir memasuki tlatah Kediri.”

“Bohong,” teriak Sri Baginda, “betapapun besarnya pasukan Tumapel, namun Kediri adalah negara yang besar. Jauh lebih besar dari Tumapel yang selama ini tunduk di bawah perintah Kediri.”

“Benar Tuanku. Namun apabila kami yang besar ini tidak berbuat apa-apa, maka akan datang saatnya kita menyesal kelak.”

“Diam. Diam kau pengecut,” teriak Sri Baginda, “aku sudah memerintahkan Pujang Warit untuk mengatasi keadaan, termasuk pasukanmu dan Mahisa Walungan yang akan memberontak terhadap kekuasaanku.”

“Itulah yang ingin hamba jelaskan bersama Adinda Mahisa Walungan.”

“Tidak. Aku sudah cukup tahu.”

“Belum Tuanku. Tuanku belum tahu keadaan yang sebenarnya,” potong Gubar Baleman.

Sri Baginda justru menjadi terheran-heran. Gubar Baleman tidak pernah berani membantah kata-katanya sepatah kata-pun. Namun kini ia berani memotong kata-katanya yang masih belum selesai. Apalagi Gubar Baleman itu berkata, “Kami memang harus mengakui kesalahan kami, bahwa kami telah menyusun kekuatan di sebelah Utara Ganter. Tetapi kami mempunyai perhitungan yang sama sekali berlawanan dengan tuduhan yang kami terima berdua. Kalau kami ingin melawan kekuasaan Sri Baginda atas Kediri, maka kami tidak akan sebodoh itu, dengan menyusun kekuatan di luar kota Kediri dalam waktu yang berlama-lama. Demikian pasukan itu tersusun, kami akan langsung melakukan perlawanan sebelum usaha kami itu tercium oleh kalangan lain. Tetapi kami memang tidak berniat demikian. Kami menunggu banjir bandang yang akan melanda Kediri. Itu adalah suatu pengabdian yang ikhlas, meskipun kami akan dianggap bersalah. Kami telah melampaui tugas yang Tuanku berikan kepada kami, semata-mata karena kecintaan kami kepada Kediri dan kesetiaan kami kepada kekuasaan Sri Baginda di Kediri. Sebab tanpa Kediri, Tuanku tidak akan berarti apa-apa lagi.”

“Cukup, cukup,” teriak Kertajaya. Namun kemudian mulutnya serasa terbungkam. Meskipun bibirnya bergetar, tetapi ia tidak mengucapkan sepatah kata-pun juga.

“Tuanku,” Gubar Baleman masih berkata terus, “menurut penilaian kami, pasti ada satu atau dua orang yang telah berbuat kesalahan di dalam istana ini sepeninggal kami. Kami tidak tahu apa yang telah dilakukan oleh Pujang Warit. Senapati yang masih muda itu. sehingga Sri Baginda begitu percaya kepadanya, untuk mengatasi keadaan Kediri yang sedang kemelut ini. Apakah itu bukan berarti suatu kemunduran bagi kekuatan Kediri?”

“Kau terlampau sombong Gubar Baleman. Akulah yang berkuasa di Kediri. Bukan kau. Aku wenang untuk menentukan apa saja yang aku anggap baik.”

“Tetapi tidak dalam keadaan serupa ini. Demi kesetiaan kami kepada Sri Baginda, maka kami tidak dapat membenarkan tindakan Sri Baginda saat ini. Itu adalah tanda setia kami. Kalau kami tidak mempunyai kesetiaan yang mantap, kami akan tidak ambil pusing lagi. Kami tidak akan memusatkan pasukan di sebelah Utara Ganter, karena kami masih mempunyai kesanggupan untuk melarikan diri, lebih tepat dengan perlindungan pasukan kami dari setiap orang di Kediri ini.”

“Gila, kau sudah gila Gubar Baleman. Apakah kau tidak sadar, bahwa aku akan dapat menjatuhkan hukuman kisas kepadamu pada saat ini juga?”

“Kalau itu yang paling baik bagi Sri Baginda, aku tidak ingkar. Tetapi aku sudah berbuat sesuatu untuk Kediri, untuk kelangsungan kekuasaan Sri Baginda.”

Tiba-tiba Sri Baginda Kertajaya terdiam. Sejenak ia menatap wajah Gubar Baleman tajam-tajam. Kemudian dipandanginya kepala Mahisa Walungan yang tunduk. Tiba-tiba saja Sri Baginda berpaling kepada kedua penasehatnya sambil bertanya, “He, bagaimana pertimbanganmu? Bukankah kau yakin bahwa Pujang Warit mengatakan yang sebenarnya, dan kau sependapat bahwa Mahisa Walungan dan Gubar Baleman berbahaya bagi kedudukanku saat ini.”

Kedua penasehat itu seolah-olah membeku di tempatnya. Darahnya serasa berhenti mengalir. Mereka tidak menyangka, bahwa mereka akan dihadapkan langsung kepada dua orang Senapati Tertinggi itu.

“He, kenapa kalian diam saja?” bentak Sri Baginda.

Keduanya menjadi semakin gelisah. Apalagi ketika mereka melihat sorot mata Gubar Baleman yang seakan-akan membakar wajah mereka yang menjadi semakin pucat.

“Berkatalah terus terang,” geram Gubar Baleman. Tetapi Sri Baginda segera memotong, “Aku yang bertanya. Bukan kau.”

Gubar Baleman segera terdiam. Tetapi sorot matanya tidak terlepas dari kedua penasehat Baginda itu. Sedang penasehat-nasehatnya yang lain menjadi terheran-heran, apakah yang telah dilakukan oleh kedua kawan-kawannya itu.

“Aku bertanya kepada kalian berdua.Berbicaralah seperti yang kau katakan kepadaku itu.”

“Ampun Baginda,” sembah salah seorang daripadanya, “hamba memang yakin akan hal itu, kalau apa yang dikatakan oleh Pujang Warit itu memang benar.”

“Apa kata Pujang Warit?” bertanya Baginda pula.

“Bukankah hal itu dikatakannya di hadapan Tuanku.”

“Aku tahu, aku tahu. Tetapi ulangi, apa yang dikatakannya?”

Kedua orang itu menjadi semakin berdebar-debar. Sekilas disambarnya wajah Gubar Baleman, tetapi segera ia melemparkan tatapan matanya menghindari sorot mata Menteri yang sedang menahan kemarahan di dadanya itu.

“Apa kata Pujang Warit,” Sri Baginda berteriak panjang sekali.

“Ampun Tuanku,” berkata salah seorang dari mereka, “menurut Pujang Warit yang dikatakannya kepada Tuanku, bahwa Adinda Sri Baginda mengadakan pemusatan pasukan di sebelah Utara Ganter. Tetapi kesiagaan itu sama sekali tidak diarahkan kepada pasukan Singasari, karena menurut Pujang Warit kekuatan Singasari itu memang tidak seberapa besar. Pujang Warit sendiri dengan diam-diam pernah pergi ke perbatasan bersama beberapa orang pasukan sandi.”

“Nah. kau dengar Gubar Baleman.”

“Tetapi Tuanku,” sembah Gubar Baleman. Namun sebelum ia melanjutkan Sri Baginda telah membentak, “Aku tidak menyuruhmu berbicara. Aku menyuruh kau mendengarkan.”

Gubar Baleman-pun terdiam karenanya. Tetapi ia sama sekali tidak melepaskan tatapan matanya.

“Ayo, katakan. Apa pula yang sudah dikatakan oleh Pujang Warit.”

“Ampun Tuanku,” berkata salah seorang dari mereka, “menurut Pujang Warit, alasan Adinda Sri Baginda Mahisa Walungan yang sudah bersepakat dengan Menteri Gubar Baleman adalah tidak benar sama sekali. Untunglah Sri Baginda waspada, sehingga Sri Baginda tidak menyerahkan semua kekuatan kepada keduanya. Namun demikian mereka telah mencoba menyusun kekuatan atas pengaruh mereka sendiri di sebelah Utara Ganter.”

“He Gubar Baleman,” berkata Sri Baginda lantang, “apakah kau masih akan ingkar. Dan kau he Mahisa Walungan. Apakah kau Mahisa Walungan?”

“Ya Kakanda Baginda. Hamba adalah Mahisa Walungan.”

Sri Baginda mengerutkan keningnya. Lalu tiba-tiba ia berteriak, “He. di mana Senapati yang memanggil Mahisa Walungan itu?”

Sejenak paseban itu menjadi sepi ketika Sri Baginda berhenti berbicara. Dipandanginya saja pintu paseban. Sejenak ia menunggu Senapati yang disuruhnya memanggil Mahisa Walungan.

Tetapi ternyata Senapati itu sedang kebingungan. Ketika ia sampai di pintu paseban, diiringi oleh prajurit yang menyertainya, ia melihat sesuatu yang aneh baginya. Ia melihat ciri keprajuritan yang lain dari prajurit pengawal.

Senapati itu menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia tidak begitu bodoh untuk segera menegurnya. Tiba-tiba saja ia berkata, “Aku masih belum yakin. Aku akan mengulangi sekali lagi. Aku akan pergi ke bilik tahanan itu.”

Prajurit yang mengawalnya menjadi heran. Tetapi ia tidak membantah. Katanya, “Marilah, aku antarkan.”

Keduanya-pun pergi dengan tergesa-gesa ke bilik tahanan Mahisa Walungan. Sekali lagi Senapati itu bertanya. Dan ia mendapat jawaban yang sama. Tetapi yang penting baginya, prajurit-prajurit yang bertugas itu-pun sama sekali bukan prajurit pengawal.

“Aku akan meyakinkan sekali lagi ke pintu gerbang. Mungkin ada di antara mereka yang melihat kedatangan Menteri Gubar Baleman.”

“Semuanya melihat,” jawab prajurit yang mengikutinya.

Senapati itu tidak menjawab. Tetapi ia berjalan saja ke pintu gerbang. Di sudut-sudut halaman ia masih melihat beberapa orang prajurit berjaga-jaga. Tetapi Senapati itu tidak yakin bahwa prajurit itu adalah pengawal istana yang memang bertugas di sana.

Tetapi Senapati itu tidak menghiraukannya. Ia mempercepat langkahnya. Di regol, ia mendapat jawaban yang serupa. Bahkan dengan nada yang sumbang, prajurit-prajurit itu telah menjawab pertanyaannya.

Namun dengan demikian ia menjadi yakin, bahwa halaman istana ini ternyata telah dikuasai oleh prajurit-prajurit yang berpihak kepada Gubar Baleman dan Mahisa Walungan. Sudah tentu bahwa Mahisa Walungan dapat menghadap Baginda bersama Gubar Baleman.

Sekali lagi Senapati itu harus menahan hatinya. Ia masih berpura-pura bingung ketika kemudian ia memasuki pintu paseban.

“He, cepat,” bentak Sri Baginda, “apakah kali tidur di halaman he?”

Senapati itu segera duduk di tempatnya.Ditenang-tenangkannya perasaannya agar kata-katanya tidak menjadi tumpang suh.

“Di mana Mahisa Walungan?” bertanya Sri Baginda.

“Ampun Tuanku. Adinda Baginda Mahisa Walungan yang kemarin adalah Adinda Baginda yang sekarang ini menghadap.”

“Gila. Itu tidak mungkin. Kemarin ia berada di dalam tahanan. Bagaimana mungkin ia kini berada di paseban dan datang bersama-sama Gubar Baleman?”

Senapati itu menarik nafas dalam-dalam. Dipandanginya wajah Gubar Baleman sejenak. Kemudian diedarkannya pandangan matanya berkeliling.

“Hem,” katanya di dalam hati, “apabila Sri Baginda sendiri tidak turun tangan, tidak ada orang yang dapat menyentuh tubuh Mahisa Walungan. Kemudian masih harus diperhitungkan Gubar Baleman dan prajurit-prajuritnya di halaman.”

“He, kenapa kau tiba-tiba menjadi bisu,” teriak Sri Baginda.

Senapati itu memang tidak segera dapat menjawab. Berbagai macam persoalan sedang berkecamuk di dalam dadanya. Sekali-sekali ditatapnya wajah Sri Baginda yang menjadi kemerah-merahan, kemudian dipandanginya sorot mata Gubar Baleman yang seakan-akan menyala. Hanya Mahisa Walungan sajalah yang duduk tenang dan bahkan menundukkan kepalanya.

“Cepat, katakan. Apa yang kau lihat di bilik itu? Setan atau demit?”

“Tuanku,” Senapati itu menarik nafas dalam-dalam, “sebenarnya hamba akan mengatakan apa yang hamba lihat di halaman istana. Tetapi sebelumnya hamba mohon ampun, bahwa mungkin apa yang hamba katakan itu tidak masuk akal sama sekali.”

“Katakan, katakan,” teriak Sri Baginda.

Senapati itu bergeser sejengkal. Setelah sekali lagi ia menarik nafas dalam, barulah ia berkata, “Tuanku, ternyata halaman istana Tuanku kini sudah dikuasai oleh para prajurit yang telah melawan terhadap kekuasaan Tuanku.”

“Aku menolak keterangan itu,” potong Gubar Baleman.

“Diam, diam kau Baleman,” Sri Baginda menjadi semakin marah, sehingga darahnya serasa berhenti mengalir.“Ulangi, ulangi.”

“Ampun Tuanku. Halaman istana ini sudah dikuasai oleh para pemberontak.”

Sejenak Sri Baginda Kertajaya diam mematung.Namun wajahnya seakan-akan telah membara. Dipandanginya Senapati itu sejenak, kemudian Mahisa Walungan yang tunduk dan sejenak kemudian sorot mata Gubar Baleman.

Dengan suara yang parau gemetar Sri Baginda kemudian berkata, “Pengkhianat. Kalian telah benar-benar memberontak.”

“Ampun Tuanku,” sahut Gubar Baleman, “hamba sama sekali tidak berniat untuk memberontak. Tetapi hamba hanya sekedar ingin mendapat kesempatan untuk berbicara. Apabila Tuanku berkenan, hendaklah Tuanku memanggil Pujang Warit. Kita akan berbicara dengan hati terbuka. Seandainya ada salah paham, biarlah kita dapat menemukan titik pertemuan. Tetapi apabila kita saling dihinggapi oleh nafsu pribadi, maka semuanya akan menjadi jelas. Tuanku akan tahu dengan pasti, siapakah yang bersalah, dan siapakah yang benar.”

Dada Sri Baginda serasa akan pecah karenanya. Kepada Senapati yang melaporkan keadaan halaman istana itu ia bertanya, “Di mana para pengawal? Apa semuanya sudah mati?”

“Hamba belum tahu Tuanku.”

“Dan pengawal yang ada di pintu paseban?”

“Bukan prajurit pengawal istana. Tetapi prajurit medan yang tiba-tiba saja sudah ada di depan pintu dengan senjata telanjang.”

Terdengar Sri Baginda menggeram.

“Gubar Baleman dan Mahisa Walungan.Kini kalian sudah menguasai istana. Apa kehendakmu sebenarnya?”

“Hamba tidak menghendaki apa-apa Tuanku, selain kepercayaan Tuanku kepada kami untuk menyelamatkan Kediri, untuk menyelamatkan kedudukan Sri Baginda sendiri yang kini terancam.”

“Bohong. Kalian benar-benar telah memberontak.He, Mahisa Walungan. Kenapa kau diam saja? Apakah kau takut menghadapi kenyataan ini, melihat dirimu sendiri sebagai seorang pemberontak?”

Mahisa Walungan mengangkat wajahnya, tetapi ia tidak menjawab.

“Nah, apalah kau menghendaki agar aku menyerahkan takhta sekarang ini setelah kau mengepung istana selagi diadakan paseban darurat kali ini?”

Terdengar suara Mahisa Walungan lambat, “Tidak Kakanda Baginda.”

“Lalu apa maumu, apa maumu he?”

“Ampun Tuanku,” Gubar Baleman lah yang menjawab, “kalau hamba tidak berbuat serupa ini, hamba tidak akan mendapat kesempatan sama sekali untuk berbicara, karena hamba akan segera ditangkap dan dimasukkan ke dalam bilik yang gelap dan sempit tanpa kesalahan, justru karena hamba bertekad untuk mempertahankan Kediri. Tetapi sekarang hamba dapat mengatakan isi hati hamba, dan sekali lagi hamba mohon, agar Pujang Warit dipanggil menghadap, dan kedua Penasehat Baginda itu-pun agar tetap tinggal di paseban.” “Keringat dingin telah mengaliri seluruh tubuh kedua penasehat itu. Mereka tidak menyangka, bahwa Gubar Baleman akan berani melakukan perlawanan langsung, justru di hadapan Sri Baginda sendiri.”

“Tetapi aku dapat menggantung kalian sekarang juga.Apakah itu kau sadari Gubar Baleman.”

“Itulah sebabnya hamba telah menyingkirkan para prajurit yang mungkin akan melaksanakan perintah Sri Baginda itu.”

“Pengkhianat, pengkhianat.”

“Hamba telah mencoba berbuat sebaik-baiknya buat Kediri dan buat Tuanku. Hamba mohon Tuanku sudi memanggil Senapati muda itu, agar semuanya menjadi jelas.”

Sri Baginda tidak segera menjawab. Dilemparkannya tatapan matanya menembus pintu paseban yang tidak tertutup rapat. Tampaklah cahaya yang kekuning-kuningan di halaman. Ternyata bahwa pagi hari telah tiba.

Pada saat itu Pujang Warit telah datang ke sebelah Utara Ganter sambil mengemban perintah Sri Baginda, bahwa semua pasukan itu kini langsung di bawah perintah Pujang Warit, seorang Senapati Pandega yang masih muda.

Perintah itu mendapat tanggapan yang sama sekali tidak diduga oleh Pujang Warit. Seorang Senapati tua yang menyambutnya berkata, “Kau jangan mengada-ada anak manis. Tidak baik kita saling bertengkar. Aku tahu, bahwa kau sudah mengumpulkan beberapa pasukan prajurit di padukuhan sebelah, yang terdiri dari pasukan pengawal, pasukan keamanan dan pasukanmu sendiri.”

Darah Pujang Warit serasa mendidih karenanya. Ia tidak menyangka bahwa pasukan di sebelah Utara Ganter itu menanggapi perintah Sri Baginda dengan cara yang demikian. Ia masih mengharap pengaruh keputusan Sri Baginda itu. Tetapi agaknya akan sia-sia.

“Apakah aku harus mempergunakan kekerasan,” ia berkata di dalam hatinya. Namun ia sadar, bahwa kekuatan pasukan di sebelah Utara Ganter itu terlampau besar.

Karena itu maka Pujang Warit tidak dapat segera mengambil keputusan. Ia harus berpikir berulang kali. Dan ia masih melihat sikap Senapati tua yang tidak menjenangkan itu. Tetapi Pujang Warit-pun tidak segera berputus asa. Ia masih mencoba menjajagi sekali lagi.

“Apakah kalian di sini sudah mendengar bahwa Mahisa Walungan dan Gubar Baleman sudah ditangkap?” bertanya Pujang Warit kemudian, “Karena ternyata Sri Baginda sudah mendengar berita, bahwa keduanya akan menyalah gunakan pasukan yang sudah dikumpulkannya di Ganter ini untuk kepentingan mereka.”

“Aku memang mendengar,” jawab Senapati tua itu, “Mahisa Walungan memang sudah ditangkap. Tetapi Gubar Baleman masih belum ditangkap. Ia justru pergi ke istana untuk membebaskan Mahisa Walungan.”

Terasa jantung Pujang Warit menjadi semakin cepat berdetak.Dipandanginya Senapati tua itu sejenak, lalu ia-pun bertanya, “Apakah kau menyadari kata-katamu itu?”

“Tentu, kenapa?”

“Apakah itu bukan suatu pengakuan bahwa Gubar Baleman telah memberontak?”

Pujang Warit mengumpat di dalam hatinya ketika ia melihat Senapati itu justru tertawa. Katanya, “Memang mungkin sikap yang demikian itu tidak dikehendaki. Terutama oleh orang-orang yang tidak ingin melihat Kediri tetap menjadi suatu negara yang kuat.”

“Apa maksudmu?”

“Memang Gubar Baleman dapat dikatakan memberontak.Tetapi bukan itulah yang dimaksudkan. Ia tidak ingin mengusik takhta dan apalagi kehancuran Kediri. Ia justru berbuat sebaliknya.Inilah yang tidak kau ketahui. Atau sengaja tidak kau mengerti.”

Wajah Pujang Warit menjadi merah, apalagi ketika Senapati tua itu meneruskan, “Bukankah kau ada di sini ketika Adinda Sri Baginda Mahisa Walungan memberikan penjelasan tentang maksud pemusatan pasukan ini? Nah, kenapa kau masih mempersoalkannya, dan bahkan sekarang kau memberitahukan kepada kami, bahwa pemusatan pasukan ini adalah penyalah gunaan?”

Sejenak Pujang Warit tidak dapat menjawab. Ditatapnya wajah Senapati tua itu dengan tajamnya. Kemudian ketika pandangan matanya beredar, dilihatnya pula Senapati-senapati yang lain memandangnya dengan tegang.

“Tetapi,” berkata Pujang Warit kemudian, “Sri Baginda sudah memerintahkan, menangkap Mahisa Walungan dan Gubar Baleman. Kemudian menempatkan kalian di bawah perintahku. Dan perintahku yang pertama adalah melepaskan segala hubungan dengan Mahisa Walungan dan Gubar Baleman, serta membatalkan segala rencananya.”

Senapati tua itu tertawa. Katanya, “Kau adalah seorang Senapati muda yang berani. Tetapi kau ternyata tidak secerdas yang kami duga. Sudah aku katakan bahwa Gubar Baleman tidak ditangkap sekarang, tetapi ia justru membebaskan Adinda Sri Baginda, agar mereka mendapat kesempatan untuk berbicara dengan Sri Baginda, justru untuk kepentingan Sri Baginda sendiri.”

Pujang Warit benar-benar telah kehilangan harapan untuk dapat mempengaruhi para pemimpin pasukan yang ada di sebelah Utara Ganter. Karena itu, maka ia mencoba untuk mengancam mereka, katanya, “Ingat, aku mengemban perintah Sri Baginda. Sri Baginda adalah pemegang kekuasaan tertinggi di Kediri.”

“Aku sudah tahu,” jawab Senapati tua itu, “kau tidak perlu mengulanginya sampai lima atau enam kali. Dan aku sudah menjawab bahwa persoalan itu sedang dibicarakan di istana. Tidak di sini. Kita tinggal menunggu hasil pembicaraan itu.Kalau kita memang harus melepaskan cara ini, pemusatan pasukan untuk melawan Singasari, kita-pun akan melakukannya. Tetapi kalau kita harus memperkuat pertahanan ini, kita-pun akan melakukannya.”

“Perintah siapakah yang kalian tunggu?” bertanya Pujang Warit.

“Perintah Sri Baginda.”

“Kalian memang bodoh. Sri Baginda sudah memerintahkan kepadaku untuk mengambil alih pimpinan pasukan di Kediri. Termasuk kalian yang ada di sebelah Utara Ganter.”

“Ah,” Senapati tua itu berdesah, “pimpinan yang kau pegang kini adalah pimpinan yang lahir dalam keadaan yang tidak wajar. Kami sedang menunggu penyelasaian yang sedang berlangsung sekarang. Dan kau-pun harus menunggu.”

“Tidak,” tiba-tiba Pujang Warit kehilangan kesabaran, “aku tidak akan menunggu lagi. Kita sudah berada di ambang pintu bahaya. Kita harus berbuat secepat-cepatnya, agar kita dapat menyelamatkan Kediri dari intaian Singasari. Sri Baginda sudah menyerahkan segenap kekuasaan kepadaku, dan aku telah mendapat wewenang untuk berbuat apa saja.” Pujang Warit berhenti sejenak, lalu sambil menengadahkan dadanya ia berkata, “He para Senapati yang ada di sini, siapa yang masih setia kepada Sri Baginda Kertajaya, dan siapa yang masih setia kepada Kediri, dengarlah kata-kataku. Kalian harus memisahkan diri dari kekuatan yang disusun oleh Mahisa Walungan dan Gubar Baleman untuk kepentingan mereka berdua.Aku menunggu sampai matahari naik. Setelah itu aku akan menentukan sikap. Masih ada waktu beberapa saat untuk mengambil keputusan. Lihat, kini cahaya fajar sudah menjadi semakin kuning. Aku akan kembali ke pasukan yang sudah aku siapkan untuk membayangi kalian. Aku menunggu di luar padukuhan sebelah untuk menerima mereka yang masih tetap setia kepada Sri Baginda. Bagi mereka yang ingkar akan janjinya sebagai seorang prajurit, aku tidak bertanggung jawab, apa yang akan terjadi atas mereka. Kekuasaan Sri Baginda Kertajaya tidak dapat dianggap sebagai permainan yang tidak berarti.”

Sejenak para Senapati itu terdiam. Tetapi kata-kata Pujang Warit itu ternyata tidak meyakinkan mereka. Mereka masih lebih percaya kepada Mahisa Walungan dan Gubar Baleman. Dan mereka-pun tiba-tiba menjadi yakin, bahwa agaknya Pujang Warit memang sudah melakukan perbuatan tercela, justru untuk kepentingan pribadinya.

Tetapi para Senapati itu masih dapat menahan diri mereka, karena mereka menyadari bahaya yang sudah di ambang pintu.

“Aku akan meninggalkan tempat ini,” berkata Pujang Warit, “waktu kalian tinggal sedikit.”

Senapati tua itu memandangi Pujang Warit dengan pandangan yang aneh. Tampaknya Senapati tua itu akan tersenyum, tetapi agaknya ia ingin bersungguh-sungguh.

“Aku berkata sebenarnya,” sambung Pujang Warit, “aku tidak bermain-main.”

“Apa yang dapat kau lakukan?” tiba-tiba Senapati tua itu bertanya.

Pujang Warit tidak menyangka, bahwa ia akan mendapat pertanyaan itu. Tetapi karena hatinya memang sudah panas, ia-pun segera menjawab, “Aku akan memaksa mereka yang tetap menentang perintah Sri Baginda.”

“Aku benar-benar tidak tahu,” sahut Senapati tua itu, “kenapa kau dapat menjadi seorang Pandega, melampaui pangkatku. Apalagi kini mendapat kekuasaan langsung dari Sri Baginda. Maaf, bahwa menurut penilaianmu aku bukanlah seorang prajurit yang baik. Tetapi aku-pun mendapat perintah dari atasanku yang mempunyai wewenang lebih tinggi daria padamu. Kalau kau berpangkal kepada perintah Sri Baginda maka agaknya hal itu masih sedang dijernihkan. Tetapi yang perlu kau ketahui adalah, bahwa kau tidak akan dapat memaksa kami. Seharusnya kau mengetahui akan hal ini, karena kekuatan pasukan di garis pertahanan ini jauh lebih atau barangkali kau mengharap sebagian dari kami berpihak kepadamu?”

Wajah Pujang Warit yang merah menjadi semakin merah. Dan sekali lagi ia mengancam, “Aku tidak sedang bermain-main. Kalau sampai saatnya aku datang dengan kekerasan atas nama Sri Baginda, jangan menyesal.” Pujang Warit tidak menunggu jawaban lagi. Ia-pun segera meninggalkan tempat itu kembali ke pasukannya. Namun ia tidak dapat mengingkari kenyataan yang dihadapinya, bahwa agaknya perhitungannya telah keliru. Tidak seorang-pun dari pasukan yang ada di sebelah Utara Ganter itu yang dapat dipengaruhinya, dan berbalik memihaknya.

Meskipun demikian Pujang Warit masih tetap pada pendiriannya. Tanpa Mahisa Walungan dan Gubar Baleman, ia mengharap, bahwa prajurit-prajurit itu tidak akan segarang pasukannya.

Tetapi di saat itu. Baginda masih belum memasukkan Mahisa Walungan dan Gubar Baleman ke bilik tahanannya, karena kedua orang itu agaknya tidak menguncupkan tangannya semudah yang disangka oleh Sri Baginda dan mereka yang ada di paseban. Apalagi kini ternyata bahwa halaman istana itu sudah dikuasai oleh prajurit-prajurit yang berpihak kepada keduanya.

“Tuanku,” berkata Gubar Baleman, “apakah Tuanku dapat mengabulkan permohonan hamba itu? Jika Senapati muda yang bijaksana itu ada di sini, maka Tuanku akan segena dapat menyelesaikan masalah ini. Kemudian yang kita hadapi tinggallah bahaya yang kini sudah berdiri berjajar di pagar halaman.”

“Tumapel, Tumapel,” teriak Sri Baginda, “apakah kau tidak dapat menyebut kata-kata lain daripada Tumapel? Kau benar-benar seorang pengecut. Seharusnya dengan sebelah kakimu, Tumapel dapat kau injak sampai hancur. Tetapi kau biarkan Tumapel tetap menjadi persoalan, supaya kau mempunyai alasan untuk memusatkan pasukan di sebelah Utara Ganter.”

“Sudah hamba katakan Tuanku, hal inilah yang ingin hamba jelaskan.Kalau Tuanku sempat menyaksikan sendiri kesiagaan Singasari, maka Tuanku tidak akan percaya kepada ceritera itu. Tuanku pasti justru akan membenarkan sikap Adinda Mahisa Walungan, yang melampaui perintah Tuanku, menyusun pertahanan itu, selagi Tuanku tidak mengijinkan membawa pasukan lebih banyak lagi ke perbatasan.”

Tampaklah Sri Baginda Kertajaya termenung sejenak. Namun tiba-tiba ia berdiri tegak sambil berkata lantang, “Akulah Sri Baginda Kertajaya, jelmaan Dewa Tertinggi di atas Bumi. Semua kata-kataku akan terjadi seperti yang aku kehendaki.” Sri Baginda berhenti sejenak memandangi orang-orang yang ada di sekitarnya.Dalam pada itu, dada Gubar Baleman dan Mahisa Walungan menjadi berdebar-debar. Apakah yang akan dilakukan oleh Sri Baginda itu?

Dan Sri Baginda-pun kemudian melanjutkan, “Aku mempunyai kekuasaan yang tidak terbatas di seluruh bumi. Karena itu. maka aku tidak akan dapat dipengaruhi oleh siapapun juga apabila aku sudah mengambil keputusan. Kata-kataku harus terjadi. Juga atas Mahisa Walungan dan Gubar Baleman. Menurut penilaianku, kalian ternyata telah memberontak, sehingga kalian tidak akan dapat membela diri lagi dengan segala macam cara yang kau pergunakan sekarang. Meskipun kalian telah menguasai halaman istana ini. tetapi aku tetap berpendapat, bahwa kalian harus ditangkap dan dihukum.”

Suara Sri Baginda yang menggelegar itu telah memenuhi ruangan paseban, sehingga setiap dada terketuk karenanya. Para Senapati, Menteri dan Penasehat Sri Baginda yang berpendirian, bahwa keputusan Sri Baginda adalah hukum tertinggi, tiba-tiba telah menengadahkan dada mereka. Keputusan Sri Baginda harus dibela sampai kemungkinan yang terakhir, meskipun mereka telah dikelilingi oleh prajurit yang memberontak di bawah pimpinan Mahisa Walungan dan Gubar Baleman.

Keputusan Sri Baginda itu bagaikan ledakan guruh yang langsung menggoncangkan dada Gubar Baleman dan Mahisa Walungan. Ternyata Sri Baginda Kertajaya adalah Sri Baginda itu juga, yang tidak mudah berubah pendirian dalam keadaan yang bagaimana-pun juga.”

Dan terdengar kemudian suara Sri Baginda, “Mahisa Walungan dan Gubar Baleman, kalau kau tetap pada pendirianmu, melakukan perlawanan terhadap kekuasaanku. Sri Baginda Kertajaya di Kediri, maka sekaranglah saatnya.”

Ruangan itu seakan-akan telah berguncang ketika mereka melihat Sri Baginda bergeser selangkah, mendekati Mahisa Walungan dan Gubar Baleman. Sedang tangannya yang gemetar tergantung di sisi tubuhnya.

“Tidak ada kekuatan yang dapat melawan Sri Baginda Kertajaya, meskipun seluruh pasukan Kediri berdiri di pihakmu,” geram Sri Baginda. Wajahnya menjadi merah menyala, sedang giginya terdengar gemeretak.

Gubar Baleman tiba-tiba menjadi bingung. Kedua kakak beradik itu adalah orang-orang yang melampaui kewajaran manusia biasa.

Apabila mereka berdua kehilangan pengamatan diri, dan terlibat dalam pertentangan langsung, maka akibatnya pasti luar biasa. Paseban ini pasti akan menjadi reruntuhan yang mengerikan. Apabila demikian, maka sudah barang tentu, semua orang yang ada di paseban dan di sekitarnya pasti akan segera melibatkan diri, sehingga peperangan tidak akan dapat dihindarkan lagi. Pertempuran di dalam istana ini pasti akan menjalar. Yang pertama-tama akan meledak adalah pasukan-pasukan yang ada di sebelah Utara Ganter, dan pasukan Pujang Warit yang memang sudah membayanginya.

“Mahisa Walungan,” terdengar suara Baginda menggelegar. Wajahnya menjadi semakin membara dan sorot matanya seakan-akan menyala, “kalau kau sudah berani menyusun kekuatan di luar kota, ayo, sekarang sudah datang waktunya kau merebut takhta kerajaan Kediri. Kita berdua memang pewaris-pewaris dari kerajaan ini. Tetapi karena kau lebih muda dari padaku, maka akulah yang berhak menduduki takhta. Tetapi kalau kau memang ingin menjadi seorang raja di Kediri, kau memang harus membunuh aku.”

Suara Sri Baginda menjadi gemetar seperti getar jantungnya yang serasa akan meledak.

Mahisa Walungan masih duduk di tempatnya. Sesaat ia mengangkat wajahnya. Tanpa sesadarnya ia beringsut setapak mundur.

“Berdirilah. Kita tidak usah menghiraukan apakah mereka yang masih setia kepadaku akan bertempur dengan pasukanmu yang telah mengepung istana. Kau dan aku sejak kanak-anak, mendapat didikan dalam olah kanuragan oleh guru yang sama dan dalam waktu yang sama. Hanya karena kau lebih muda saja dari padaku, maka mungkin nafasmu masih lebih baik. Tetapi otakku sudah tentu lebih banyak mengunyah pengalaman.”

Betapa Mahisa Walungan menahan hatinya menyaksikan kemarahan Sri Baginda Kartajaya. Meskipun ia lebih muda dari Sri Baginda, ternyata bahwa Mahisa Walungan mempunyai kemampuan yang lebih besar untuk tetap mempergunakan nalarnya menghadapi keadaan. Meskipun demikian, desakan yang menggelora di dadanya, telah menggetarkan seluruh tubuhnya.

“Bangkitlah,” teriak Sri Baginda. Dan ketika tangannya tanpa sesadarnya meremas tiang yang berdiri tegak di sampingnya, maka segumpal kayu telah teremas hancur menjadi debu, sehingga tiang itu-pun menjadi berlekuk segenggam.

Pada saat yang bersamaan, Mahisa Walungan yang menahan diri itu-pun mengetukkan jari-jarinya di atas batu lantai tempat duduknya. Ia tidak sadar sama sekali bahwa batu itu menjadi lekuk sedalam kukunya.

Dalam keadaan yang semakin tegang itulah Gubar Baleman menjadi semakin bingung. Meskipun agaknya Mahisa Walungan tidak akan menanggapi kemarahan Sri Baginda, namun keadaan akan berkembang ke arah yang tidak dikehendakinya. Karena itu. karena kesetiaannya kepada Kediri pulalah, yang mendorong Gubar Baleman kemudian berkata dengan suara yang parau, “Tuanku. Sebaiknya Tuanku berpaling kepada hamba. Hambalah sumber dari keadaan yang panas ini karena kesetiaan hamba kepada Kediri dan kepada Sri Paduka. Tetapi kalau usaha hamba ini ternyata tidak berhasil, dan bahkan akan menumbuhkan persoalan yang sebaliknya dari yang hamba maksud. Karena itu Tuanku, supaya keadaan ini, tidak berlarut-larut. maka biarlah hamba mengaku, bahwa hambalah yang telah merencanakan semua ini. Karena hamba mendengar bahwa Adinda Sri Baginda ditangkap, maka tumbuhlah niat hamba untuk mendapat kesempatan menjernihkan keadaan, karena menurut dugaan hamba pasti ada orang yang sengaja memfitnah Adinda Sri Baginda, Adinda Mahisa Walungan. Seharusnya Tuanku mengenal tabiat dan watak Adinda Sri Baginda lebih baik dari hamba, bahwa orang seperti Adinda Mahisa Walungan tidak akan melepaskan kesetiaannya apapun yang akan terjadi. Tetapi agaknya Tuanku telah menuduhnya berbuat khianat.”

“Cukup, cukup,” teriak Sri Baginda, “atau kau yang akan berdiri di paseban ini untuk melawan aku? Aku mengerti Gubar Baleman, bahwa kau mampu memecah gunung dan mengeringkan telaga dengan kekuatan tanganmu. Tetapi cobalah kau kini melawan Sri Baginda Kertajaya.”

“Ampun Tuanku. Hamba tidak akan melawan. Hamba akan menundukkan kepala hamba demi kesetiaan hamba kepada Kediri. Seandainya apapun yang dapat hamba lakukan, tetapi hamba adalah seorang abdi yang harus tunduk kepada Tuanku, meskipun hamba tahu, bahwa hamba akan digantung di alun-alun. Tetapi yang paling menyayat hati hamba adalah justru nasib Kediri.”

“Jangan mencari alasan agar perhatianku berpaling dari persoalan kalian berdua. Aku sudah menyerahkan semua masalah kepada Pujang Warit. Ia akan segera mengatasi persoalan Singasari. Yang aku hadapi sekarang adalah persoalan kalian berdua. Mahisa Walungan dan Gubar Baleman.”

“Ampun Kakanda Baginda,” sembah Mahisa Walungan kemudian, “sudah dikatakan oleh kadanda Menteri Gubar Baleman bahwa bukan maksud hamba berdua untuk menentang Kakanda Baginda. Seandainya sekarang Kakanda Baginda memerintahkan apapun juga, hamba berdua akan bersedia menjalani tanpa mengelak lagi.”

“Bohong.” Kertajaya menjahut lantang, “kalian berpura-pura. Atau kalau kalian benar-benar menyerah, kalian tahu, bahwa aku akan menjatuhkan hukuman yang seberat-beratnya bagi kalian berdua.”

“Hamba berdua tahu Kakanda Baginda. Dan hamba berdua akan menjalaninya dengan hati yang lapang.”

“Bohong. Bohong. Lalu apa gunanya kalian mengumpulkan pasukan di sebelah Utara Ganter?”

“Sudah hamba katakan, dan kakanda Menteri Gubar Baleman-pun telah mengatakan, bahwa pasukan itu kami hadapkan kepada pasukan Singasari.”

Sri Baginda tertegun sejenak. Dipandanginya Gubar Baleman dan Mahisa Walungan berganti-ganti. Dan ia mendengar Gubar Baleman berkata, “Tuanku. Prajurit-prajurit yang ada di sebelah Utara Ganter dan di sekitar paseban ini akan segera menarik diri apabila hamba memerintahkan atas nama Tuanku. Mereka tidak akan berbuat apa-apa seandainya hamba akan digantung bersama Adinda Mahisa Walungan. Namun pesan hamba, mereka-pun sama sekali tidak bersalah. Justru mereka telah menyiapkan jiwa raga mereka untuk membela Kediri dan Tuanku.”

Sri Baginda Kertajaya masih berdiri tegak di tempatnya. Sekali-sekali ditatapnya wajah Mahisa Walungan yang tunduk, kemudian wajah Gubar Baleman. Sri Baginda sama sekali tidak melihat tanda-tanda pada keduanya, bahwa keduanya siap untuk melakukan perlawanan. Meskipun Gubar Baleman tidak menundukkan kepalanya sampai mencium lantai, dan bahkan ia berani menjawab kalimat dengan kalimat, namun terasa, bahwa Gubar Baleman-pun tidak akan mengangkat senjatanya, melawan kekuasaannya.

Dengan demikian maka Sri Baginda mulai menimbang-nimbang. Kemarahan yang meluap-luap di dadanya serasa mulai mendatar.

Meskipun demikian Sri Baginda masih berkata, “Apakah kalian mencoba memperkecil arti kesalahan yang pernah galian lakukan?”

Gubar Baleman menggeleng, “Tidak Tuanku. Hamba sudah pasrah. Apapun yang akan dikatakan dan dikenakan atas kami berdua. Tetapi kami sudah tidak lagi merasa dibebani oleh dosa seandainya Kediri mengalami bencana. Hamba dan Adinda Mahisa Walungan telah merasa menunaikan niat kesetiaan kami atas Sri Baginda dan Kediri.Tetapi apabila niat kami itu dinilai sebagai suatu pengkhianatan, kami tidak akan sakit hati. Dada kami sudah lapang, karena kami sudah melakukan usaha, meskipun gagal.”

“Tetapi kenapa kalian merampas pengawasan atas halaman ini?”

“Kami hanya sekedar berusaha untuk mendapatkan kesempatan untuk menjelaskan masalah kami seperti sekarang ini. Tanpa penguasaan halaman istana, maka kami tidak akan mendapat dukungan apapun untuk mencoba berbicara agak panjang. Mungkin kami hanya dapat mengucapkan satu dua kalimat seperti Adinda Mahisa Walungan kemarin.”

“Cukup,” potong Sri Baginda, “apapun yang kalian lakukan, kalian harus ditangkap.”

“Kami berdua tidak akan mengelak.Kami akan memerintahkan semua prajurit di halaman ini menarik diri.”

Sri Baginda tiba-tiba saja diam mematung. Terjadi sesuatu yang menggelepar di dadanya. Ia merasakan kejujuran pada setiap kata Gubar Baleman. Meskipun demikian Sri Baginda yang sudah bersabda itu, tidak harus menarik kata-katanya. Gubar Baleman dan Mahisa Walungan harus ditangkap, meskipun ia dapat menentukan hukuman yang lebih ringan bagi keduanya.

“Mahisa Walungan dan Gubar Baleman,” berkata Baginda kemudian, “kalian menjadi tahanan.”

Dalam saat yang demikian itulah Pujang Warit menyiarkan pasukannya yang terdiri atas prajurit-prajurit dari berbagai kesatuan. Meskipun dengan dada yang berdebar-debar, dan pertimbangan yang kurang matang, Pujang Warit masih mengharap perubahan sikap dari beberapa orang Senapati yang ada di sebelah Utara Ganter. Apabila mereka melihat, bahwa ia tidak bermain-main, mengemban perintah Sri Baginda, maka mereka pasti akan mulai berpikir kembali.

Tetapi pada saat yang demikian itu pulalah, maka apa yang dicemaskan oleh Mahisa Walungan dan Gubar Baleman itu terjadi. Agaknya Sri Rajasa Batara Sang Amurwabumi, Raja yang memerintah di Singasari, telah menemukan saat yang tepat. Di tengah malam itu juga, Sri Rajasa Batara Sang Amurwabumi sendiri telah berangkat ke perbatasan. Ia berhasrat memimpin langsung pasukannya yang akan menyerbu ke Kediri.

Sri Rajasa memang pernah mendengar, bahwa para Senapati dan pimpinan kerajaan Kediri, adalah orang-orang yang pilih tanding. Mereka mempunyai kemampuan yang melampaui kemampuan manusia sewajarnya. Karena itu, maka di saat-saat terakhir Sri Rajasa tidak dapat menyerahkan pimpinan pasukan yang akan menghadapi pasukan yang kuat itu kepada orang lain.

Yang mendapat kepercayaan untuk menjadi paruh dari pasukannya, justru pasukan khusus yang dipimpin oleh Mahisa Agni. Menurut Sri Baginda, tidak ada Senapati yang lain, yang dapat mengimbangi kemampuannya, meskipun pasukannya bukanlah pasukan yang terkuat. Tetapi, justru mereka terdiri dari orang-orang Kediri sendiri, Sri Rajasa berharap, bahwa pasukan itu akan dapat mempengaruhi perasaan para prajurit Kediri.

Demikianlah maka ketika Sri Baginda telah merasa cuakup dengan segala macam persiapan, terdengarlah suara tengara. Sebuah bende yang tergantung tinggi di atas sebatang pohon, telah dipukul bertalu-talu. Bende itu bukanlah bende biasa di dalam seperangkat gamelan. Tetapi para prajurit Singasari percaya, bahwa apabila bende itu meraung dengan lantangnya, peperangan yang akan datang, akan dibayangi oleh kemujuran dan kemenangan.

Bende itulah agaknya yang menjadi tengara, disambut oleh tanda-tanda yang lain, sahut menyahut sampai ke ujung-ujung pasukan.

Maka serentak bergeraklah pasukan Singasari itu memasuki perbatasan Kediri, seperti banjir bandang yang tidak terbendung lagi. Derap kaki mereka, seakan-akan telah menggugurkan gunung-gunung menimbuni lembah yang paling dalam.

Di seberang perbatasan, pasukan Kediri yang telah siap pula, segera menyongsong prajurit Singasari. Tetapi dengan sepenuh kesadaran, mereka melihat diri mereka yang terlampau Kecil dibandingkan dengan pasukan yang mendatang.

“Pertahanan kita berada di sebelah Utara Ganter,” desis Senapati yang menerima penyerahan pimpinan dari Gubar Baleman, lalu perintahnya yang terakhir sebelum para Senapati terjun ke peperangan. “Jangan membiarkan korban berjatuh-jatuhan dengan sia-sia. Kita harus menarik mereka sampai ke Ganter.”

Tetapi Senapati yang ada di perbatasan itu sama sekali tidak mengetahui, apa yang sedang terjadi di batas pertahanan mereka yang terakhir itu.

Dengan demikian, maka prajurit Kediri di perbatasan itu tidak banyak memberikan perlawanan. Mereka tidak begitu bodoh mengumpankan prajurit-prajuritnya gugur tanpa arti. Yang mereka lakukan hanyalah sekedar memperlambat kemajuan pasukan Singasari dengan kekuatan yang tidak seimbang, sementara sekelompok kecil penghubung telah mendahului, menyampaikan kabar penyerangan itu ke pertahanan di sebelah Utara Ganter dengan kuda-kuda yang berlari bagaikan angin.

Di saat pasukan Pujang Warit mulai bergerak mendekati pemusatan pasukan Mahisa Walungan itulah penghubung dari perbatasan memasuki daerah pertahanan di sebelah Utara Ganter.

Dengan nafas terengah-engah, dilaporkannya apa yang telah terjadi di perbatasan.Pasukan Singasari bagaikan banjir telah melanda pertahanan pasukan Kediri di perbatasan. Tetapi seperti yang dipesankan Gubar Baleman, pasukan perbatasan itu sama sekali tidak berusaha untuk menahan pasukan Singasari. Mereka hanya sekedar menghambat kemajuan mereka, untuk memberi kesempatan pasukan Kediri bersiap.

Senapati tertua yang mendapat tugas memimpin pasukan di sebelah Utara Ganter selagi Mahisa Walungan dan Gubar Baleman tidak ada itu-pun segera memanggil Senapati-senapati lainnya.

“Kita tidak dapat menunggu,” berkata Senapati itu, “kita tidak tahu kapan Adinda Sri Baginda Mahisa Walungan dan Menteri Gubar Baleman itu selesai.”

“Ya, kita harus mengatur diri.Mungkin kita perlu memberitahukan kehadiran ini ke istana.”

“Kita melihat perkembangannya kemudian.”

Maka sejenak kemudian terdengarlah tanda-tanda bahwa pasukan pertahanan yang sudah disiapkan itu untuk menempati garis pertahanan yang sudah ditentukan.

Ternyata bahwa prajurit Kediri cukup terlatih.Dalam waktu yang singkat, maka pasukan di sebelah Utara Ganter itu-pun segera menebar. Dengan lincahnya para Senapati, para pemimpin kelompok-kelompok yang lebih kecil mengatur pasukannya di tempat masing-masing, sehingga keseluruhan pasukan itu segera membentuk garis pertahanan yang kuat.

Namun demikian, masih terasa ada yang kurang di antara mereka. Tidak ada seorang pemimpin yang dapat memberikan kebanggaan di hati mereka. Mahisa Walungan dan Gubar Baleman, keduanya tidak ada di antara pasukan itu.

Pujang Warit yang mendekati tempat pertahanan itu-pun segera mendapat laporan, bahwa pasukan di sebelah Utara Ganter itu sudah memasang gelar.

“Gila,” geram Pujang Warit, “apakah mereka benar-benar telah menentang kekuasaan Sri Baginda dengan perlawanan langsung? Itu adalah suatu pemberontakan.”

“Tetapi,” berkata petugas yang melaporkannya itu, “mereka sama sekali tidak menghadapkan pasukannya kepada kita di sini.”

“Lalu?”

“Dengan tergesa-gesa mereka memasang gelar, menghadap ke jalan induk yang menghubungkan Tumapel dengan Kediri.”

“He?,” Pujang Warit termangu-mangu sejenak, “apakah pasukan di perbatasan sudah mulai bergerak?”

Dalam kebimbangan itu, beberapa orang pengawas yang mendapat laporan dari perbatasan bahwa pasukan Singasari-lah seorang dari mereka berkata, “Pasukan Mahisa Walungan telah siap. Tetapi menurut penilaian kami, mereka telah mendapat laporan dari perbatasan bahwa pasukan Singasari telah mulai bergerak.”

Pujang Warit masih tetap termangu-mangu, sementara langit menjadi semakin lama semakin cerah. Ia mengerutkan keningnya ketika ia melihat beberapa ekor kuda berlari ke arahnya.

Penunggangnya ternyata adalah Senapati yang diperintahkannya menyusul Gubar Baleman di perbatasan.

“He, kenapa kau di sini? Apakah kau tidak membawa Gubar Baleman menghadap Sri Baginda?”

“Ceriteranya cukup panjang. Tetapi kini Gubar Baleman sudah menghadap Sri Baginda.”

“Lalu apa kerjamu sekarang?”

“Aku ditahan oleh pasukan Mahisa Walungan di pemusatan pasukannya.”

“Gila, aku sudah siap melakukan perintah Sri Baginda atas mereka.”

“Jangan saat ini.”

“Kenapa?”

“Pasukan Singasari telah menyerbu langsung menusuk ke pusat pemerintahan Kediri. Agaknya mereka mempunyai perhitungan, bahwa pimpinan pemerintahan dan kedudukan pemerintahan harus dikuasai lebih dahulu.”

“Darimana kau dengar?”

“Beberapa orang penghubung dari perbatasan telah datang.”

Pujang Warit berpikir sejenak. Lalu, “Apakah penghubung itu dapat dipercaya?”

“Tentu. Aku melihat mereka, dan aku percaya kepada mereka.”

Pujang Warit menganggukkan kepalanya sejenak, kemudian katanya, “Baiklah, aku akan menemui Senapati yang memimpin pasukan Kediri di pertahanan itu. Akulah yang mendapat wewenang dari Sri Baginda untuk memegang seluruh pimpinan.”

“Maksudmu?”

“Senapati itu harus menyerahkan pimpinan kepadaku, sehingga seluruh kekuasaan berada di dalam satu tangan. Apalagi menghadapi Singasari yang mempunyai persiapan yang matang.”

“Mereka tentu akan keberatan.”

“Aku tidak peduli, itu perintah Sri Baginda.”

“Jangan berpegangan pada perintah Sri Baginda. Kini kita menghadapi pasukan lawan. Apapun yang kita lakukan, seandainya kita kehilangan kepemimpinan kita sama sekali, kita tetap wajib mempertahankan Kediri.”

“O. kau sudah menjadi dungu pula. Itu adalah mutlak. Perintah Sri Baginda, akulah pemimpin pasukan Kediri. Mereka harus tunduk.”

“Dalam suasana yang lain dari sekarang. Sekarang kita menghadapi lawan. Yang penting, kita kerahkan semua kekuatan untuk mempertahankan Kediri.”

“Tidak, aku akan mengambil seluruh pimpinan.”

“Ternyata kau bodoh dan tamak,” Senapati muda itu kehilangan kesabaran, “aku berpihak kepadamu karena aku menyangka, kesetiaanmu kepada Kediri melebihi kesetiaan Gubar Baleman. tetapi ternyata aku keliru.”

Darah Pujang Warit tersirap karenanya. Sejenak ia justru diam mematung. Dipandanginya Senapati muda itu dengan mata yang berapi-api.Namun agaknya Senapati itu-pun sama sekali tidak menundukkan kepalanya.

Tata susunan keprajuritan Kediri telah benar-benar rusak karenanya. Tidak ada lagi ketaatan pada perintah atasannya, dan seakan-akan tidak ada lagi jalur kekuasaan yang lurus. Setiap prajurit seolah-olah telah melakukan apa saja yang dianggapnya baik dan berguna bagi dirinya atau bagi Kediri dan Sri Baginda.

“Aku akan menghadap Sri Baginda,” berkata Senapati muda itu kemudian, “aku akan melaporkan bahwa gerakan Singasari tidak terbendung lagi.”

“Gila. Itu suatu rencana yang paling gila yang pernah …”

Wajah Senapati muda itu tiba-tiba menjadi tegang. Katanya, “Kau tidak berhak menahan aku.”

“Aku berhak menahan kau selagi aku menganggap perlu. Kau tetap di sini, dan aku-pun akan tetap di sini.”

“Maksudmu?”

“Aku akan membiarkan pasukan Mahisa Walungan itu bertempur. Apabila keduanya sudah menjadi parah, maka pasukanku akan datang membantu. Tetapi akulah yang memegang pimpinan.”

“Gila. Itu suatu rencana yang paling gila yang pernah dibuat oleh seorang prajurit Kediri.”

“Aku tidak gila. Aku memperhitungkan akhir dari peperangan ini.Semuanya akan hancur, selain pasukanku. Pasukankulah yang akan menumpas pasukan Singasari yang sudah menjadi payah karena pertempuran melawan pasukan Mahisa Walungan itu.”

“Gila. Kau benar-benar sudah gila.”

Pujang Warit tidak menjawab. Tetapi terdengar suara tertawanya yang memanjang.

“Cukup,” teriak Senapati muda itu.

Tetapi Pujang Warit masih tertawa terus.Bahkan ia berkata, “Jangan menyesal. Kelak kau akan melihat aku memegang kekuasaan tunggal di Kediri sesudah Sri Baginda.Itu kalau kau masih hidup. Perbuatanmu kali ini telah menurunkan nilai namamu di hadapanku.”

“Aku tidak peduli. Aku tidak memerlukan kau.”

Pujang Warit tertawa terus. Sambil mengangguk-anggukkan kepalanya ia berkata, “Kau tetap di sini.”

Senapati muda itu menggeram. Ketika ia berpaling dilihatnya beberapa orang prajurit ada di sekitarnya.

“Dengar,” berkata Pujang Warit kemudian, “Aku akan tetap di sini. Sebentar lagi pasukan Singasari akan melanda pertahanan Mahisa Walungan yang sudah kehilangan pimpinan itu. Aku akan menjadi penonton. Baru kemudian aku akan datang dan menggilas pasukan Singasari itu.”

Senapati muda itu tidak menyahut. Tetapi dadanya serasa menjadi retak karenanya.

“Akulah kelak yang akan menjadi Senapati Agung di Kediri karena akulah yang telah berhasil menumpas pemberontakan Mahisa Walungan dan Gubar Baleman, sekaligus menyelamatkan Kediri dari serbuan Singasari,” dan suara tertawa Pujang Warit semakin meninggi.

Senapati muda yang masih duduk di atas punggung kudanya itu menggeram. Dadanya rasa-rasanya tidak dapat menampung lagi kekecewaan dan penyesalan yang menghentak-hentak. Tetapi semuanya sudah terlanjur.

Terbayang di rongga matanya, pasukan Singasari bagaikan banjir bandang maju terus mendesak pasukan Kediri yang tidak seberapa kuatnya di perbatasan. Kemudian banjir itu akan membentur pertahanan di sebelah Utara Ganter. Tetapi pertahanan itu tidak dipimpin oleh seorang yang pantas dipercaya untuk memimpin perang yang demikian besar.

Dan tanpa sesadarnya Senapati muda itu tiba-tiba berkata, “Apakah kalau kau menahan aku di sini, kau sangka tidak ada leorang-pun yang akan melaporkannya kepada Sri Baginda?”

“Baginda tidak akan mengakui siapapun yang bukan utusanku.”

“Bohong.”

“Aku yakin. Kalau ada seseorang menghadap Sri Baginda, maka orang itu akan mengalami beberapa kesulitan. Ia tidak akan dapat masuk regol istana. Seandainya ia dapat masuk, dan menghadap Sri Baginda sekali-pun, Sri Baginda tidak akan mempercayainya, seperti Sri Baginda sudah tidak mempercayai Mahisa Walungan dan Gubar Baleman.”

“Tetapi masalah ini adalah masalah Kediri. Bukan masalah nafsu seseorang.”

“Aku tahu dan aku memanfaatkan keadaan ini. Aku sama sekali tidak akan berkhianat terhadap Kediri. Aku tidak akan membiarkan Kediri hancur. Tetapi aku memperhitungkan seluruh perkembangan keadaan.”

Senapati muda itu terdiam. Dilihatnya beberapa orang prajurit berdiri di sekitarnya, di sebelah menyebelah Pujang Warit dan di belakang mereka adalah sepasukan prajurit yang sudah siap untuk membayangi prajurit Mahisa Walungan.

Terdengar Senapati muda itu mengeluh.Ia menyesali kebodohannya selama ini.

“Lalu, apakah aku akan diam saja setelah aku mengakui kebodohan itu? “ pertanyaan itu telah mengganggu hatinya. Ia menjadi ngeri apabila sekali lagi terbayang pasukan Singasari yang menjadi semakin dekat.

Sekilas ditatapnya matahari yang mulai memanjat langit. Penghubung berkuda yang mengabarkan kemajuan pasukan Singasari telah datang beberapa saat yang lampau. Karena itu, maka pasukan yang tidak tertahankan itu pasti sudah menjadi semakin dekat. Kalau Mahisa Walungan dan Gubar Baleman kemudian mengetahui, apakah ia dapat berbuat sesuatu? Atau bahkan keduanya sudah menjalani hukuman mati?

Dalam keadaan yang sulit itu, Senapati muda itu-pun dengan tiba-tiba saja telah menarik kendali kudanya, kemudian memukul perutnya sekuat-kuat tenaganya, sehingga kuda itu-pun terkejut dan melompat sambil meringkik.Beberapa orang prajurit yang terkejut, berloncatan menepi ketika kuda itu berlari meninggalkan mereka.

Sejenak Pujang Warit terpukau oleh sikap Senapati muda itu. Namun kemudian ia sadar, bahwa Senapati itu tidak boleh meninggalkannya, dan apalagi menyampaikan kepada Sri Baginda, apa yang sedang dilakukannya sekarang.

Karena itu, maka sejenak kemudian ia berteriak, “Tahan, tahan dia.”

Tetapi kuda itu berlari semakin kencang. sehingga Pujang Warit tidak dapat menunggu prajurit-prajurit yang terpesona itu menyadari keadaan.

Dengan tangkasnya Pujang Warit sendiri meloncat merebut sebatang tombak pendek seorane prajurit yang berdiri membeku. Dengan sekuat tenaga tombak itu-pun dilontarkannya dengan sepenuh tenaga. Tetapi Senapati pilihan yang tidak saja sekedar tenaga wantah.

Tombak pendek itu meluncur dengan cepatnya, menyusul Senapati muda yang duduk di atas punggung kudanya. Senapati itu tidak sempat berpaling, sehingga ia tidak tahu, bahwa sepucuk mata tombak telah mengejarnya.

Ia mengaduh pendek ketika tiba-tiba saja terasa sesuatu menyengat pundaknya. Bahkan kemudian terasa seakan-akan pundaknya dibebani oleh sesuatu yang berat sekali.

Baru sejenak kemudian ia menyadari apa yang telah terjadi atas dirinya. Namun sementara itu kudanya masih berlari terus, dan Senapati muda yang menyadari keadaannya itu tetap bertahan untuk masih berada di atas punggung kudanya yang berlari semakin kencang.

Tombak yang melekat di pundaknya itu semakin lama terasa menjadi semakin berat, sedangkan darah mengalir dari lukanya semakin lama semakin deras.

Di perbatasan kota Senapati itu hampir kehabisan tenaga, dengan wajah pucat ia singgah di sebuah gardu penjagaan.

“He, kenapa kau?” bertanya seorang prajurit yang wertugas.

“Tolong, cabutlah tombak ini. Aku harus segera menghadap Sri Baginda.”

Prajurit itu menjadi ragu-ragu sejenak, sementara kawan-kawannya-pun datang mengerumuninya.

“Cepatlah,” berkata Senapati muda itu sambil menahan sakit. Sekali-sekali ia berpaling, kalau-kalau Pujang Warit atau orang-orangnya pergi menyusulnya. Tetapi agaknya mereka yakin bahwa Senapati muda itu tidak akan mampu bertahan sampai ke istana.

“Kenapa kau he?” bertanya pemimpin penjaga itu.

“Cabutlah. Aku sudah kehabisan waktu. Apalagi aku menyadari keadaanku. Sebenar lagi aku sudah tidak akan nampu lagi berbuat sesuatu.”

Pemimpin prajurit itu ragu-ragu sejenak. Dan tiba-tiba ia bertanya, “Kau berdiri di pihak siapa?”

Dada Senapati itu berdesir. Ternyata setiap prajurit di Kediri kini telah dihinggapi kecenderungan untuk memisah-misahkan dirinya. Dan ia merasa, bahwa sebagian dari kesalahan itu ada pada dirinya pula, karena ia-pun telah berpihak kepada pujang Warit.

“Cepat katakan, kepada siapa kau berpihak?”

“Apakah kalian juga berpihak?” bertanya Senapati yang menjadi semakin lemah itu.

“Ya, kami juga berpihak.”

“Nah, kepada siapa kalian berpihak.”

“Kamilah yang bertanya.”

Senapati muda itu menyeringai menahan sakit di pundaknya. Kemudian jawabnya, “Semula aku juga berpihak. Berpihak kepada yang mana-pun juga, yang akhirnya aku sadari bahwa itu sama sekali tidak akan bermanfaat.” Senapati itu mengeluh sesaat. Lalu, “sekarang aku melepaskan diri dari pertentangan yang ada di dalam lingkungan sendiri. Kini aku berpihak kepada Kediri. Kita bersama-sama harus menyelamatkan Kediri, karena saat ini pasukan Singasari sedang melanda seperti banjir bandang.”

Para penjaga itu saling berpandangan.

“Cepat, sebelum kalian digilas oleh pasukan Singasari itu.”

Pemimpin penjaga itu masih ragu-ragu sejenak. Kemudian dianggukkannya kepalanya ketika seseorang maju setapak mendekati Senapati yang luka itu.

“Perlahan-lahan,” desis Senapati itu.

Dengan hati-hati tombak pendek yang masih melekat di punggung itu-pun kemudian dicabut. Betapa sakitnya, namun dengan demikian. Senapati itu menjadi lebih mudah bergerak meskipun tenaganya sudah menjadi semakin lemah.

“Terima kasih. Aku harus segera menghadap.”

Pemimpin penjaga itu memandanginya sesaat. Wajah yang menjadi semakin pucat itu seakan-akan tidak lagi akan mampu bertahan. Karena itu katanya, “Biarlah seorang prajuritku mengawani kau.”

Senapati itu diam sejenak, lalu, “terima kasih. Apakah kalian menyediakan kuda di penjagaan itu?”

“Kau menjadi terlampau lemah. Biarlah ia bersamamu.”

Senapati itu berpikir sejenak. Tetapi tubuhnya memang terasa terlampau lemah, sehingga karena itu katanya, “Baiklah.”

Seorang prajurit yang ditugaskan kemudian naik ke punggung kuda itu pula sambil melayani Senapati muda yang sudah menjadi semakin kehabisan darah dan tenaga. Tetapi tekadnya masih tetap menyala di dadanya untuk dapat menyampaikan kabar tentang pasukan Kediri dan serbuan Singasari itu kepada Sri Baginda sendiri.

Meskipun terasa terlampau berat, kuda yang dibebani oleh dua orang prajurit itu-pun berlari menyelusuri jalan-jalan kota menuju ke istana.

Beberapa orang yang menyaksikan mereka berdua menjadi heran, namun tidak seorang-pun yang sempat bertanya, karena kuda itu berlari semakin kencang.

“Berhenti,” perintah para prajurit yang ada di regol istana.

Kuda itu berhenti sejenak. Ketika Senapati itu mengangkat wajahnya dilihatnya beberapa orang prajurit pengawal berdiri tegak di depan gerbang.

“Aku akan menghadap Sri Baginda,” desis Senapati yang terluka itu.

Para prajurit itu termenung sejenak. Mereka menjadi bertanya-tanya di dalam hati, kenapa prajurit yang datang itu terluka dan dengan tergesa-gesa ingin menghadap Sri Baginda?

“Aku harus mengatakan sesuatu sebelum aku mati,” berkata Senapati itu.

“Apakah kau berpihak kepada Mahisa Walungan,” bertanya pengawal di muka gerbang itu.

Senapati itu mengerutkan keningnya.

“Cepat jawab,” desak pengawal itu.

“O,” desahnya, “kalian semuanya memang sudah dibius oleh perpecahan ini. Tetapi baiklah aku sebut saja diriku, bahwa aku adalah utusan Sri Baginda yang harus memanggil Gubar Baleman ke perbatasan. Atau katakanlah, aku adalah kepercayaan Pujang Warit.”

Pengawal itu mengangguk-anggukkan kepalanya, katanya, “Bagus. Kalau begitu masuklah. Istana ini baru saja dikuasai oleh Gubar Baleman. Ia ingin memaksakan kehendaknya kepada Sri Baginda. Untunglah bahwa Sri Baginda tetap dalam pendiriannya.”

“Dan kalian telah bertempur untuk merebut istana ini kembali?”Senapati itu menjadi cemas.

“Tidak, kami tidak bertempur. Gubar Baleman telah menarik prajurit-prajuritnya yang kini dikumpulkan di halaman belakang istana.”

“Dan Gubar Baleman sendiri?”

“Menteri itu kini sudah ditahan bersama Mahisa Walungan meskipun masih ada di paseban.”

Senapati itu menarik nafas. Katanya kemudian, “Aku akan menghadap.”

“Cepat. Paseban hampir dibubarkan. Mereka tingga menunggu keputusan Sri Baginda, hukuman apakah yang akai dijatuhkan kepada kedua pemberontak itu.”

Darah Sanapati muda itu tersirap. Kemudian kudanya segera memasuki regol istana. Tetapi di gerbang dalam Senopati itu terpaksa turun. Sambil dipapah oleh prajurit yang mengawaninya, ia memasuki regol halaman dalam setelah menjawab pertanyaan-pertanyaan yang serupa.

Senapati itu masih sempat melihat kesiagaan yang luar biasa di dalam istana. Setiap sudut, setiap jengkal tanah agaknya telah mendapat pengawasan yang luar biasa.

Di pintu paseban, dua orang penjaga yang bersenjata telanjang telah menghentikannya pula. Namun Senapati itu membentak, “Jangan kau tunggu aku sampai mati. Ada masalah yang penting sekali harus aku sampaikan kepada Sri Baginda sendiri.”

“Tetapi Sri Baginda sedang membicarakan masalah yang penting sekali.”

“Aku tahu. Sri Baginda sedang mempertimbangkan hukuman bagi Mahisa Walungan dan Gubar Baleman.”

Kedua penjaga itu menjadi ragu-ragu. Sementara itu Senapati itu-pun mendekat tanpa menghiraukan lagi kedua penjaga di bawah tangga, dan dari luar pintu paseban Senapati itu mendengar seseorang berkata, “Mereka memang harus dihukum mati Tuanku. Hamba tahu pasti, apa saja yang telah mereka perbuat. Meskipun angger Mahisa Walungan adalah Adinda Sri Baginda. Tetapi bagaikan duri yang menyusup di dalam daging, maka duri itu harus dicungkil dan disingkirkan.”

Suara itu patah sejenak, namun kemudian disambungnya, “Kalau Sri Baginda tidak bertindak sekarang, maka keadaan akan menjadi semakin buruk.Mereka telah berani menguasai halaman istana ini meskipun masih dengan ragu-ragu.”

Dada Senapati muda itu menjadi berdebar-debar. Paseban dalam itu telah dicengkam oleh kesenyapan yang tegang. Dan sejenak kemudian terdengar suara yang lain, “Ampun Tuanku. Hamba adalah seorang penasehat yang tidak berarti.Tetapi hamba sama sekali tidak ingin melihat kedudukan Tuanku tergoyahkan.”

“Jadi apakah menurut pendapat kalian keduanya benar-benar sudah memberontak?”

“Hamba Tuanku,” terdengar suatu jawab.

“Dan apakah keduanya pantas mendapat hukuman yang paling berat?”

“Hamba Tuanku.”

Senapati yang di muka pintu paseban dalam itu menjadi semakin gemetar. Gemetar oleh kelemahan yang semakin mencengkam dirinya, dan gemetar karena pembicaraan yang didengarnya itu.

Tetapi pembicaraan berikutnya sama sekali tidak dimengertinya. Suara-suara di paseban itu menjadi semakin lambat karena agaknya mereka menyadari bahwa yang mereka bicarakan adalah masalah-masalah yang penting.

“He,” desis Senapati itu, “kenapa kau berada di situ?”

“Kami mendapat perintah khusus,” jawab kedua penjaga itu.

“Dengan senjata telanjang pula?”

“Keadaan menjadi panas,” jawabnya.

Senapati itu terdiam, ia bergeser semakin dekat dan menempelkan telinganya pada daun pintu yang tertutup.

“Jangan mengganggu,” berkata prajurit yang bertugas.

“Aku akan menghadap. Aku adalah utusan Sri Baginda sendiri.”

Kedua penjaga itu saling berpandangan. Sementara itu Senapati itu mendengar suara yang lamat-amat. “Tuanku. Tidak ada hukuman yang lain bagi seorang pemberontak.”

“Maksudmu hukuman mati? “ terdengar suara Sri Baginda.

“Hamba Tuanku. Terutama bagi Menteri Gubar Baleman. Bagi Adinda Sri Baginda, terserahlah kepada kebijaksanaan Sri Baginda sendiri.”

Sekali lagi ruangan itu dicengkam oleh keheningan. Namun Senapati Muda yang berdiri di muka pintu dengan tubuh yang gemetar itu sudah tidak tahan lagi. Karena itu, ia tidak menunggu sidang itu selesai. Dengan serta-merta ia menarik daun pintu sambil berteriak, “Tidak. Keduanya tidak sepantasnya dihukum mati.”

Semua orang di paseban itu berpaling kepada Senapati muda yang terluka itu. Kedua prajurit yang bertugas di muka pintu itu tidak dapat mencegahnya, karena kawan Senapati itulah yang menghalangi mereka, “Biarlah ia menghadap Sri Baginda.”

“Siapa kau?” suara Sri Baginda lantang.

Terhuyung-huyung Senapati muda itu melangkah masuk seorang diri. Kemudian dengan lemahnya duduk di lantai, di antara para Senapati yang hadir.

“Kau terluka,” desis salah seorang Senapati itu.

Senapati muda itu tidak menjawab. Sejenak tatapan matanya beredar dan terhenti pada wajah Gubar Baleman yang duduk di sudut bersama Mahisa Walungan diapit oleh tiga orang prajurit.

Gubar Baleman-pun menjadi sangat terkejut melihat kehadirannya. Apalagi Senapati itu ternyata terluka.

Yang terlintas di angan-angan Gubar Baleman adalah dugaan bahwa Senapati itu telah mencoba melakukan perlawanan atas prajurit-prajuritnya di sebelah Utara Ganter yang akan menahannya, sesuai dengan perintah yang diberikannya.

Gubar Baleman menarik nafas dalam-dalam. “Kenapa ia tidak setuju pada hukuman mati itu?” katanya di dalam hati, “apakah ia menghendaki hukuman picis yang mengerikan?”

Dalam ketidak-tentuan itu ia mendengar Sri Baginda bertanya, “He.Siapa kau? Dan kenapa kau terluka?”

Prajurit itu bergeser maju.Tetapi ia sudah menjadi semakin lemah.

“Ampun Tuanku. Hamba adalah Senapati yang mendapat kepercayaan kakang Pujang Warit untuk memanggil Menteri Gubar Baleman dari perbatasan.”

“O, jadi kaulah yang memanggil Gubar Baleman ini?”

“Hamba Tuanku.”

“Tetapi Gubar Baleman sudah lama menghadap. Kenapa kau baru datang sekarang dan terluka pula?”

“Ampun Tuanku. Hamba telah tertahan oleh para prajurit yang ada di sebelah Utara Ganter.”

“He,” wajah Sri Baginda menjadi semakin tegang, “jadi prajurit-prajurit Gubar Baleman sudah berani menahan orang yang membawa perintahku.”

“Hamba Tuanku.”

“O, jadi benarlah kalian yang telah mempercayainya bahwa kedua orang ini telah memberontak. Benarlah kalian yang menghendaki hukuman yang seberat-beratnya bagi keduanya.”

“Tetapi Tuanku,” potong Senapati muda itu, “bukan maksud hamba mengatakan demikian.”

Sri Baginda mengerutkan keningnya, sementara Gubar Baleman dan Mahisa Walungan menjadi semakin berdebar-debar.

“Jadi apakah yang akan kau katakan?”

“Tuanku, justru karena hamba tertahan di dalam perkemahan pasukan di sebelah Utara Ganter itulah hamba mengerti, apa yang sebenarnya telah terjadi.”

“Apa maksudmu?”

“Mereka sama sekali tidak mempersiapkan diri untuk memberontak.”

Sri Baginda tertegun sejenak.Tetapi ia tidak segera dapat mempercayai pendengarannya. Namun demikian keragu-raguan yang memang sudah ada di dalam dirinya, segera terangkat kembali.

Para Menteri, Senapati dan penasehat Sri Baginda-pun terperanjat mendengar keterangan itu. Mereka tidak menyangka bahwa Senapati yang terluka itu akan mengatakan yang justru ke balikan dari dugaan mereka.

“Ulangi,” desis Sri Baginda, “apakah yang kau katakan itu?”

“Ampun Tuanku. Para prajurit yang ada di sebelah Utara Ganter itu sama sekali tidak akan memberontak seperti yang kita duga.”

“He, apakah kau sudah dibius oleh para prajurit itu?”

“Sebenarnyalah bahwa hamba melihat segala persiapan mereka.”

Sri Baginda terdiam sejenak. Dipandanginya Senapati yang terluka itu. Kemudian para Senapati, akhirnya kedua penasehat Sri Baginda.

“Ampun Tuanku,” berkata salah seorang dari kedua penasehat yang berphak kepada Pujang Warit, “hamba kira, Senapati muda ini sudah tidak dapat dipercaya lagi kebeningan ingatannya, ia sudah terluka parah.”

“Tidak. Aku masih sadar sepenuhnya. Aku masih mengenal setiap orang yang ada di sini meskipun sudah menjadi agak kekuning-kuningan.”

“Jadi, apakah yang sebenarnya yang ingin kau katakan, dan kenapa kau terluka he?”

“Tuanku,” Senapati itu menjadi semakin lemah, karena darah masih mengalir dari luka di pundaknya, “ampun Tuanku. Perkenankanlah hamba mengatakan yang sesungguhnya, bahwa pasukan di sebelah Utara Ganter kini sudah memasang gelar.”

Wajah Sri Baginda menjadi tegang. Katanya, “Aku tidak mengerti arti kata-katamu yang simpang siur itu.Maksudmu, pemberontakan itu sudah dimulai.”

“Tidak Tuanku. Sama sekali tidak. Mereka telah mempersiapkan diri mereka untuk menahan arus pasukan Singasari.”

Gubar Baleman dan Mahisa Walungan yang mendengar laporan itu-pun menjadi tegang pula sehingga mereka berkisar setapak maju. Tetapi prajurit-prajurit yang mengapitnya-pun bergeser pula setapak.

Mahisa Walungan yang tidak dapat menahan desakan di dadanya, tanpa sesadarnya bertanya, “Bagaimana dengan prajurit Singasari?”

Senapati itu berpaling. Ditatapnya wajah yang suram itu. Kemudian dengan suaranya yang semakin lemah ia berkata, “Penghubung dari perbatasan telah datang.”

Wajah Mahisa Walungan menjadi semakin tegang, “Maksudmu?”

“Ya. Pasukan Singasari telah menyeberangi perbatasan.”

Mahisa Walungan menarik nafas dalam-dalam. Tetapi terasa seakan-akan dadanya terhunjam beberapa pucuk duri. Ketika ia memandang wajah Gubar Baleman, maka wajah itu justru menjadi pucat.

Sri Baginda masih berdiam diri sejenak. Namun kemudian ia berkata, “Aku sudah menyerahkannya kepada Pujang Warit.”

“Ampun Baginda,” Senapati itu masih mencoba berkata. Tetapi tubuhnya menjadi semakin lemah, sehingga kini ia mencoba menahan berat badannya dengan kedua tangannya.

“He, lukamu parah?”

Senapati itu tidak menyahut. Namun ketika Gubar Bareman bergeser untuk menolongnya, Sri Baginda membentak, “Kau tetap di tempatmu.”

Gubar Baleman kembali duduk di tempatnya meskipun ia menjadi semakin gelisah.

Dalam pada itu. Senapati itu-pun menjadi semakin kehilangan tenaganya. Kini ia telah menahan tubuhnya dengan tangannya yang gemetar, sementara darahnya masih saja mengalir lewat lukanya.

“Apakah orang itu akan dibiarkannya,” berkata Gubar Baleman di dalam hatinya, sementara Mahisa Walungan yang melihat penderitaan itu berkata tanpa menghiraukan perasaan Sri Baginda yang tidak dapat dirabanya, “Kakanda Baginda.Orang itu memerlukan pertolongan segera.”

“Jangan mengajari aku,” bentak Sri Baginda. Aku sudah melihat dan aku sudah mengerti apa yang sebaiknya dilakukan untuknya.”

Mahisa Walungan mengerutkan keningnya. Tetapi ia-pun terdiam karenanya. “He, Senapati. Apakah kau masih dapat beibicara?”

“Ampun Tuanku. Hamba akan mencoba.”

“Katakan, apa yang sudah terjadi.Cepat sebelum kau tidak mampu lagi berbicara.”

Mahisa Walungan dan Gubar Baleman menarik nafas dalam-dalam. Hampir bersamaan pula mereka berdesah. Ternyata Sri Baginda sedang dicengkam oleh kebingungan, sehingga kadang-kadang tindakannya kurang dapat dimengerti. Bukan saja Mahisa Walungan dan Gubar Beleman, tetapi semua orang yang melihat keadaan Senapati muda itu menjadi berdebar-debar.

Tetapi Senapati yang keras hati itu masih sempat menceriterakan apa yang dilihatnya. Ia masih sempat mengatakan, bahwa selama ini ia telah salah memilih pihak.

“Tuanku,” berkata Senapati itu dengan suara yang terputus-putus, “Ternyata Pujang Warit tidak jujur. Ia membiarkan pasukan di sebelah Utara Ganter itu hancur, agar ia dapat berdiri di atas tumpukan mayat dari ke dua belah pihak untuk kepentingannya.”

“He,” sorot mata Sri Baginda tiba-tiba telah menyala, “kau berkata sebenarnya?”

“Di saat hidup hamba yang terakhir ini, hamba tidak akan berdusta.” suaranya menjadi semakin lirih, sejalan dengan tubuhnya yang semakin lemah, sehingga akhirnya ia tidak kuat lagi bertelekan kedua tangannya. Dengan lemahnya Senapati yang masih duduk itu mencoba menahan tubunnya dengan sikunya.

Barulah Sri Baginda menyadari apa yang dihadapinya. Tiba-tiba saja ia berteriak, “He, apakah kalian sudah gila? Kenapa kalian membiarkan saja Senapati yang terluka ini?Cepat. Bawalah Senapati ini untuk segera mendapat pengobatan.”

Beberapa orang menjadi termangu-mangu. Namun Sri Baginda membentak, “Cepat. Apakah kalian menunggu orang ini mati.”

Maka beberapa orang bersamaan telah bergeser maju. Di antaranya adalah kedua penasehat Sri Baginda yang berpihak kepada Pujang Warit. Namun leher mereka segera berkerut ketika Sri Baginda membentaknya, “Kau berdua tetap di sini.”

Darah keduanya seakan-akan telah membeku di dalam jantung, sehingga nafas mereka-pun seolah-olah tidak lagi mau mengalir lewat lubang hidung mereka.

Dalam pada itu maka beberapa orang segera memapah Senapati muda itu, tepat ketika ia tidak lagi dapat mempertahankan duduknya.

Namun sebelum ia meninggalkan paseban ia masih sempat berkata, “Ampun Tuanku. Kediri harus diselamatkan. Ternyata bahwa Adinda Sri Baginda dan Menteri Gubar Baleman tidak bersalah menurut penilaian hamba. Hanya mereka berdua sajalah, bersama-sama para Senapati dan prajurit, akan dapat mempertahankan Kediri dari banjir bandang yang tidak pernah kita bayangkan sebelumnya.”

Sri Baginda berdiri tegak seperti patung. Dipandanginya Senapati yang semakin lemah itu kemudian diusung keluar paseban.

Ketika mereka telah hilang di balik pintu, maka Sri Baginda itu-pun menarik nafas dalam-dalam. Perlahan-lahan ia melangkah mondar-mandir. Kepalanya menunduk dalam-dalam.

Tiba-tiba Sri Baginda berkata dengan suara yang lemah, “Kita sudah dilepaskan oleh Yang Maha Agung karena keangkuhan kita.”

Tidak seorang-pun yang menjawab. Namun Mahisa Walungan dan Gubar Baleman dapat menangkap apa yang tersirat di dalam hati Sri Baginda. Sri Baginda yang memiliki pandangan yang tajam, telah dapat melihat dengan mata hatinya, apa yang kira-kira bakal terjadi di Kediri.

“Selama ini hatiku telah digelapkan oleh kebanggaan dan harga diri yang berlebihan,” desisnya. Namun tiba-tiba Sri Baginda berhenti. Dipandanginya Mahisa Walungan dan Gubar Baleman dengan tatapan mata yang suram.

“Apakah benar yang dikatakan oleh Senapati muda itu bahwa kau berdua benar-benar tidak akan memberontak?”

“Sudah hamba katakan Sri Baginda,” sahut Gubar Baleman, “apa yang hamba berdua lakukan semata-mata atas dasar kesetiaan hamba kepada Kediri dan Sri Baginda.”

Sri Baginda menarik nafas dalam-dalam.Katanya, “Aku minta maaf kepada kau berdua. Biarlah aku menanggung kutuk atas sikapku ini. Aku telah menelan kembali ludahku. Sabda Pandita Ratu. Namun aku akan tetap mencabutnya. Kalian aku bebaskan dari segala hukuman.”

“Ampun kakanda,” suara Mahisa Walungan tersendat-sendat, “tetapi yang lebih penting daripada itu, apakah hamba diperkenankan kembali kepada pasukan hamba.”

“Aku tidak dapat memerintahkan kau kembali ke pasukanmu, karena aku telah membuat kesalahan ini. Tetapi kalau kau memaafkan aku, dan kau memang ingin membaktikan dirimu. terutama Kepada Kediri, bukan kapadaku, aku akan sangat berterima kasih kepadamu.”

“Kakanda Baginda,” Mahisa Walungan tiba-tiba menengadahkan wajahnya, “Hamba mohon diri.Hamba akan pergi ke pasukan hamba. Mudah-mudahan hamba tidak terlambat.”

Sri Baginda menganggukkan kepalanya. Dan yang terdengar adalah uara Gubar Baleman, “Hamba-pun mohon diri pula, Tuanku. Seandainya hamba masih berkesempatan, hamba alan menyerahkan segala-galanya buat Kediri.”

Sri Baginda menjadi lemah, “Pergilah. Pergilah. Aku berdoa buat kau berdua dan buat Kediri.”

Mahesa Walungan dan Gubar Baleman tidak menunggu lebih lama lagi. Sekali lagi mereka mohon diri, kemudian dengan tergesa-gesa meninggalkan paseban. Di depan pintu ia masih sempat memperhatikan wajah-wajah para Senapati yang memandanginya. Wajah-wajah itu terasa banyak berbicara kepada mereka.

Penjaga pintu paseban mengerutkan keningnya melihat Mahisa Walungan dan Gubar Baleman. Mereka tidak mendengar jelas pembicaraan di dalam paseban, sehingga mereka menjadi ragu-ragu dan bertanya-tanya di dalam hati, kenapa keduanya dibiarkan keluar.

Namun sejenak kemudian seorang Senapati muncul pula di belakang keduanya. Katanya kepada Mahisa Walungan, “Aku mendapat perintah Sri Baginda untuk mengikuti kalian berdua, agar kalian tidak mendapat kesulitan dari para penjaga di halaman ini.”

“Terima kasih,” jawab Mahisa Walungan singkat.

Dengan tergesa-gesa mereka segera pergi ke halaman belakang. Mereka segera mencari kuda untuk mempercepat perjalanan mereka bersama para prajurit yang telah mereda bawa dari sebelah Utara Ganter.

Karena mereka tidak mendapat sejumlah kuda sebanyak yang mereka perlukan maka ada di antara mereka, terpaksa mempergunakan seekor kuda untuk dua orang prajurit.

Demikianlah akhirnya Mahisa Walungan dan Gubar Baleman memacu kudanya secepat dapat dilakukan untuk mencapai pasukan yang mereka tinggalkan di sebelah Utara Ganter.

Mereka sama sekali tidak memperhatikan apa yang akan diakukan oleh Pujang Warit.Yang ada di dalam angan-angan mereka, adalah banjir bandang yang datang dari Singasari melanda pasukan mereka yang seakan-akan sedang kehilangan pegangan.

Demikianlah yang sedang terjadi di sebelah Utara Ganter. Pasukan Singasari benar-benar bagaikan banjir yang tidak tertahankan. Pasukan Kediri yang ada di perbatasan dengan susah payah berhasil mundur sampai ke pertahanan pasukan Kediri. Tetapi karena mereka seakan-akan kehilangan pegangan ketidak-tentuan di dalam tingkat teratas dari pimpinan keprajuritan dan bahkan pemerintahan, maka prajurit Kediri seakan-akan telah kehilangan sebagian dari kekuatannya.

Meskipun demikian pasukan Kediri telah bertempur mati-matian untuk mempertahankan diri, mempertahankan negeri dan rajanya.Dengan sekuat-kuat tenaga mereka bertahan agar pasukan Singasari tidak dapat maju lagi selangkah-pun dari sebelah Utara Ganter.

Namun Kediri tidak bertempur dengan seluruh kekuatan.Beberapa ratus tonggak dari pertempuran itu . Pujang Warit dengan pasukannya sedang menunggu. Mereka mengharap bahwa kedua pasukan yang bertempur itu akan menjadi luka parah, sehingga pasukannyalah yang akan dapat menguasai medan yang penuh dengan mayat bergelimpangan dan bergelimang darah.

Matahari yang terik memanjat langit semakin tinggi. Peperangan di sebelah Utara Ganter itu-pun berlangsung dengan dahsyatnya. Pasukan Kediri yang ada telah bertempur dengan gagah berani melawan pasukan Singasari yang menusuk langsung ke pusat gelar mereka.

Namun pasukan Kediri itu hampir tidak percaya ketika mereka melihat ujung pasukan lawan. Mereka semula tidak menduga sama sekali, kalau pasukan itu terdiri dari orang-orang Kediri sendiri. Namun di dalam pertempuran yang kemudian terjadi, lambat laun satu dua dari mereka segera mengenal lawannya. Dan pengenalan mereka itu-pun lambat laun telah menjalar keseluruh pasukan.

Bersambung ke jilid 55.

koleksi : Ki Arema

scanning : Ki Arema

Retype : Ki Raharga

Proofing : Ki Raharga

Cek ulang : Ki Arema

—ooo0dw0ooo—

Jilid 55

TERNYATAusaha Sri Rajasa untuk mempengaruhi perasaan yang paling dalam dari prajurit-prajurit Kediri itu sedikit banyak dapat berhasil. Kekecewaan yang melanda dada mereka karena pertengkaran di antara para pemimpin, kini kekecewaan mereka melihat orang-orang Kediri sendiri datang di dalam pasukan lawan, membuat hati mereka terguncang-guncang.

Dalam keadaan yang demikian itulah pasukan Kediri harus melawan serangan yang sangat dahsyat itu.

Apalagi pasukan lawan yang terdiri dari orang-orang Kediri itu sendiri dipimpin oleh seorang Senapati yang luar biasa.Seorang Senapati yang tangguh tanggon. Dan Senapati itu adalah Mahisa Agni.

Dengan pedang di tangan Mahisa Agni maju di ujung pasukannya.Seperti kilat yang menyambar di langit, kilauan daun pedangnya menyilaukan mata. Namun kemudian ujung pedang itu bagaikan mulut berribu-ibu ekor ular yang mematuk ke segala penjuru.

Senapati yang bertempur di pasukan induk di belakang paruh pasukan Singasari itu-pun ternyata tidak terkatakan lagi.Tidak seorang-pun yang dapat mendekatinya, apalagi mengenainya dengan ujung senjata. Senapati itu adalah pimpinan tertinggi pasukan Singasari. Dan Senapati itu adalah Sri Rajasa Batara Sang Amurwabumi sendiri.

Dengan demikian maka di dalam benturan itu, pasukan Kediri tidak dapat tetap mempertahankan garis pertahanannya. Setapak demi setapak mereka terdesak mundur.

Tetapi seluruh prajurit yang terlibat di dalam peperangan itu terkejut ketika tiba-tiba mereka mendengar sorak yang seakan-akan membelah langit justru di bagian belakang pasukan Kediri yang sedang terdesak itu. Hampir setiap orang mencoba untuk mengerti, apakah sebabnya maka mereka bersorak-sorak seperti sepasukan prajurit yang menang perang. Padahal pasukan Kediri justru terdesak beberapa puluh langkah mundur.

Akhirnya seluruh pasukan Kediri mengetahui, apakah sebabnya maka kawan-kawan mereka bersorak riuh. Dan bahkan dengan serta-merta mereka-pun ikut meneriakkan nama-nama yang telah membuat hati mereka berdebar-debar.

“Mahisa Walungan dan Gubar Baleman telah datang,” dan suara teriakan itu disambut oleh yang lain, “Mahisa Walungan datang, Gubar Baleman telah ada di tengah-tengah kita.”

Pasukan Kediri seakan-akan mendapat nafas baru di dalam kesulitan itu. Mahisa Walungan langsung maju ke ujung pasukannya yang justru masih ada di belakang paruh pasukan Singasari, sedang Gubar Baleman berada di tengah-tengah pasukannya untuk menghentikan ujung pasukan lawan yang mencoba masuk semakin dalam kegelar pasukannya.

Dengan demikian, maka pertempuran itu menjadi semakin lama semakin dahsyat. Kini pasukan Kediri telah bangkit. Mereka merasa mendapatkan kekuatan untuk mengimbangi banjir bandang yang melanda dari perbatasan.

Gubar Baleman yang bertempur dengan garangnya, segera berhasil maju ketengah-tengah barisan. Hatinya menjadi berdebar-debar ketika dilihatnya korban telah terlampau banyak berjatuhan.

Ketika tampak olehnya prajurit lawan yang dengan garang mendesak terus, hatinya tiba-tiba berdesir tajam. Sejenak ia mencoba mengamati mereka, seolah-olah ia tidak segera mempercayai penglihatannya sendiri.

“Kau lihat prajurit Singasari itu,” desisnya kepada seorang prajurit di sampingnya.

Prajurit itu mengerutkan keningnya, “Bukankah mereka orang-orang Kediri?”

“Ya,” jawab prajurit itu. “aku melihat beberapa orang di antara mereka yang justru sudah aku kenal.”

“Kenapa mereka berada di pihak Singasari?”

Prajurit itu menggelengkan kepalanya.

Sejenak Gubar Baleman merenung.Kini disadarinya semua kesalahan yang pernah dilakukan oleh para pemimpin Kediri. Ketidak tentuan yang berlarut-larut, sikap Sri Baginda yang terlampau keras, apalagi terhadap golongan agama yang tidak mau menganggapnya sebagai Dewa tertinggi yang menjelma di bumi.

Sekelompok demi sekelompok mereka telah meninggalkan Kediri dan memasuki daerah Singasari. Adalah menyakitkan hati sekali, ketika tanpa diketahuinya, para pemimpin prajurit di perbatasan memanfaatkan keadaan itu untuk kepentingan diri sendiri. Dalam kekeruhan itu, muncullah Pujang Warit yang menambah suasana bertambah kalut.

“Dan inilah akibat dari semuanya itu,” katanya di dalam hati.

Gubar Baleman tersadar ketika ia mendengar dentang senjata dekat di sampingnya. Ketika ia mengangkat wajahnya, tampaklah prajurit Singasari yang sebagian terbesar terdiri dari orang-orang Kediri itu-pun mendesak maju.

“Apakah aku harus membunuh mereka?” Gubar Baleman menjadi ragu-ragu.

“Tetapi sudah tentu bahwa pasukan ini hanya sebagian kecil saja dari seluruh pasukan Singasari,” katanya kemudian. “mungkin aku harus menemukan lawanku di sana.” Gubar Baleman menjadi bimbang. Namun tumbuhlah niatnya untuk berkisar dari tempat itu. Mungkin ia akan mendapatkan lawan yang seimbang di tengah-tengah pasukan lawan yang terdiri dari orang-orang Singasari.

Tetapi tiba-tiba ia tertegun sejenak. Dilihatnya kini Senapati yang menjadi ujung pasukan lawan itu, bertempur bagaikan seekor banteng yang terluka.

“Bukan main,” desis Gubar Baleman, “orang itu pasti bukan sekedar seorang Senapati prajurit yang diketemukan di antara para pengungsi dari Kediri.”

“Aku ternyata tidak dapat meninggalkan lingkungan ini,” desis Gubar Baleman di dalam hatinya, “betapapun beratnya bertempur di antara keluarga sendiri.” Dan sekilas terbayang pasukan Pujang Warit yang sedang mengintai. Sehingga dengan demikian kekuatan Kediri akan terpecah menjadi tiga pihak yang saling bertentangan.

“Menyedihkan sekali,” keluh Gubar Baleman.

Tetapi ia tidak dapat hanya sekedar mengeluh dan menyesali apa yang sudah terjadi. Kini pasukan Singasari, siapapun mereka itu, telah berdiri di hadapannya.

Karena itu, maka segera ia-pun meloncat sambil mengacukan pedangnya menyongsong Senapati Singasari yang mendebarkan jantungnya.

Gubar Baleman langsung berusaha untuk dapat bertemu dengan Senapati Singasari itu. Ia tidak dapat menyaksikan prajuritnya terdesak terus-menerus. Sehingga dengan demikian, maka terjadilah perang tanding antara kedua Senapati yang memiliki kemampuan melampaui kemampuan manusia kebanyakan.

Ternyata Gubar Baleman menemukan lawannya yang benar-benar tangguh. Dan lawan yang tangguh itu adalah Mahisa Agni.

Dengan demikian maka pertempuran di antara keduanya-pun benar-benar merupakan pertempuran yang terlampau dahsyat. Dengan senjata di tangan masing-masing mereka sambar-menyambar, desak-mendesak silih berganti. Keduanya memiliki kemampuan bergerak terlampau cepat dibandingkan para prajurit yang bertempur di sekitarnya.

Tanpa sesadarnya seorang prajurit Singasari yang berasal dari Kediri tiba-tiba berdesis, “Gubar Baleman.”

Mahisa Agni mendengar desis itu. Dan ia-pun mendengar Gubar Baleman mejawab, “Ya, akulah Gubar Baleman. Pemimpin tertinggi pasukan Kediri. Kau mengenal aku.”

Prajurit itu sama sekali tidak menjawab. Tetapi terasa dadanya berdesir. Gubar Baleman adalah seorang Menteri yang bijaksana. Ia adalah orang yang paling banyak berbuat untuk rakyat Kediri di dalam keadaan yang kalut. Tetapi prajurit Singasari itu tidak sempat merenung terlampau lama. Perang berkecamuk semakin kisruh. Ternyata kini bukan saja orang Kediri yang berperang di pihak Singasari, tetapi orang-orang Tumapel-pun telah mengalir ke ujung barisan itu pula dalam jumlah yang hampir tidak terhitung lagi.

Gubar Baleman yang bertempur mati-matian itu masih mendengar lawannya berdesis, “Jadi kaukah yang bernama Gubar Baleman?”

Sambil bertempur Gubar Baleman menjawab, “Ya, dan apakah kau Panglima tertinggi Singasari?”

Mahisa Agni meloncat surut ketika ujung pedang Gubar Baleman hampir menyentuh pundaknya. “Tidak,” jawabnya, “Senapati tertinggi di dalam pasukan kami adalah Sri Rajasa sendiri.”

Gubar Baleman mengerutkan keningnya.

“Aku adalah Mahisa Agni.”

Gubar Baleman tidak menyahut. Ia belum pernah mendengar nama itu di dalam deretan nama para pemimpin Tumapel sampai saat negeri itu menamakan dirinya Singasari.

Tetapi menilik kemampuannya, maka ia pasti tidak akan kalah dari pemimpin Singasari yang mana-pun juga.

Dengan demikian maka Gubar Baleman harus sangat berhati-hati menghadapinya. Menurut pendengarannya. Akuwu Tunggul Ametung pada masa hidupnya adalah seseorang yang pilih tanding, yang selalu didampingi oleh Panglima pasukan pengawalnya yang bernama Witantra. Tetapi kini yang datang ke Kediri adalah orang yang tidak dikenal sebelumnya, Mahisa Agni dan Sri Rajasa sendiri.

“Baik orang ini maupun Sri Rajasa pasti orang-orang pilihan. Ternyata Sri Rajasa telah berhasil menyingkirkan segala orang yang mungkin dapat menggantikan kedudukan Akuwu yang terbunuh itu,” berkata Gubar Baleman di dalam hatinya. “Sedang apakah orang ini termasuk tangan kanannya pada saat ia mulai membangun Singasari?”

Angan-angannya itu telah mengingatkannya kepada Mahisa Walungan. Kalau Mahisa Walungan berhasil memecah pasukan Singasari. maka ia mungkin sekali akan bertemu dengan Sri Rajasa Batara Sang Amurwabumi.

Demikianlah perang yang terjadi di sebelah Utara Ganter itu-pun menjadi semakin lama semakin seru. Masing-masing pasukan telah berusaha untuk dapat menembus pertahanan lawan.

Di tengah-tengah berkecamuknya perang itu. Senapati tertinggi Singasari. Sri Rajasa telah berhasil membakar gairah perjuangan pasukannya. Dengan dahsyatnya ia menerjang lawan-lawannya tanpa ampun.

Namun ia tertegun sejenak, ketika senjatanya tiba-tiba saja tersentuh oleh sehelai pedang yang telah menggetarkan tangannya.

Sri Rajasa mengerutkan keningnya. Di hadapannya telah berdiri seorang yang bertubuh kekar, meskipun tidak terlampau tinggi. Tatapan matanya yang tajam telah memancarkan kebesaran jiwa dan kemampuan yang tersimpan di dalam diri orang itu.

“Siapa kau?” tiba-tiba Sri Rajasa berdesis.

“Apakah aku berhadapan dengan Sri Rajasa Batara Sang Amurwabumi?”

“Ya. Akulah Ken Arok yang bergelar Sri Rajasa.”

“Aku mengenal dari tanda-tanda kebesaran pada pakaianmu.”

“Siapa kau? Agaknya kau-pun pemimpin tertinggi kerajaan Kediri.”

“Aku Mahisa Walungan.”

“Adinda Sri Baginda Kertajaya?”

“Ya.” Ken Arok mengerutkan keningnya. Sejenak ia melangkah surut, seakan-akan ingin melihat lawannya lebih jelas lagi dari jarak yang tidak terlampau dekat.

“Kita akan menentukan akhir dari peperangan ini,” berkata Mahisa Walungan.

“Kau salah. Bukan hanya kita berdua. Tetapi seluruh kekuatan di dalam pasukan kita masing-masing. Kau harus mengakui, bahwa kekuatan pasukan Singasari jauh lebih besar dari pasukan Kediri. Agaknya para pemimpin di Kediri merasa dirinya terlampau kuat, sehingga kurang berhati-hati menghadapi Singasari.Karena Singasari sekarang sama sekali berbeda dengan Tumapel pada waktu itu.”

“Ya, kau benar,” jawab Mahisa Walungan, “kita dan pasukan kitalah yang akan menentukan akhir dari peperangan ini.”

Ken Arok tidak menjawab. Tetapi segera ia mulai lagi dengan pertempuran yang dahsyat di antara keduanya.

Tetapi Mahisa Walungan telah siap untuk melayaninya. Sebagai seorang yang bertanggung jawab atas tegaknya Kediri, maka ia-pun segera mengerahkan segenap kemampuannya untuk melawan Sri Rajasa.

Ternyata bahwa Mahisa Walungan benar-benar seorang yang pilih tanding. Ia mampu melubangi papan yang sangat tebal hanya dengan jarinya. Kemudian tanpa sesadarnya ketukan ujung jarinya itu pula telah membuat lekuk pada sebuah batu hitam yang keras. Dengan demikian, maka ayunan tangannya itu benar-benar merupakan sambaran angin, maut yang mengerikan.

Namun Sri Rajasa memang memiliki sesuatu yang tidak dipunyai oleh orang-orang kebanyakan. Geraknya terlampau cepat, dan kekuatannya-pun mampu mengimbangi lawannya. Sejak ia mengabdikan diri di istana Tumapel, ia adalah seorang yang aneh. Dengan jarinya pula ia mampu memijit sebuah kerikil sehingga pecah, pada saat ia terganggu oleh sikap seorang Pelayan dalam ketika mereka sedang menyaksikan perang tanding antara Kuda Sempana dan Witantra. Apalagi pada saat-saat setelah itu. Kelebihannya berkembang terus tanpa disadarinya sendiri.

Dengan demikian perkelahian di antara kedua orang itu menjadi semakin lama semakin mengagumkan. Keduanya seolah-olah berterbangan tanpa menyentuh tanah. Berputaran sambil memutar senjata masing-masing sehingga tidak dapat diikuti lagi dengan mata yang wantah.

Dengan demikian, selagi keduanya menumpahkan segenap kemampuan mereka, para prajurit yang bertempur di sekitar mereka-pun seolah-olah telah terdorong menjauh. Mereka menjadi ngeri tersentuh sambaran angin yang dilontarkan oleh ayunan senjata-senjata di tangan kedua orang yang sedang berkelahi mati-matian itu.

Orang-orang Kediri menjadi heran, bahwa di Singasari ada seorang yang mampu bertempur melawan Mahisa Walungan. Namun orang-orang Singasari-pun menjadi tercengang. Adinda Sri Baginda Kertajaya ternyata adalah seorang yang luar biasa.

“Apa sajakah yang mampu dilakukan oleh Sri Kertajaya sendiri,” mereka bertanya-tanya di dalam hati.

Dengan demikian, keduanya seakan-akan memang mendapat kesempatan yang luas untuk saling mempertunjukkan kemampuan mereka, meskipun mereka sendiri tidak bermaksud demikian. Mereka masing-masing sudah berusaha dengan sekuat tenaga dan kemampuan, sambil memeras segenap ilmu yang ada pada mereka.

Dalam pada itu dari ujung sampai ke ujung pasukan, pertempuran masih berkecamuk, justru semakin sengit. Kedua belah pihak saling menyerang dengan segenap kemampuan dan keberanian yang mengagumkan. Namun dengan demikian maka jumlah prajurit dari keduanya terasa berpengaruh dalam peperangan itu.

Meskipun ke dua belah pihak sama-sama berani dan sama-sama tangguh, tetapi pasukan Singasari masih sempat mencari waktu untuk bernafas sejenak, karena jumlah mereka yang lebih banyak.

Namun demikian, para prajurit Kediri sama sekali tidak berniat menghindarkan diri. Kediri harus dipertahankan mati-matian, Singasari semula adalah daerah kecil yang diperintah hanya oleh seorang Akuwu, sehingga tidak sepantasnya Singasari akan menguasai Kediri.

Tetapi prajurit Singasari-pun mempunyai suatu keyakinan yang teguh, bahwa Kediri harus dirubah bentuknya. Selama ini Kediri telah melakukan banyak sekali kesalahan terhadap rakyatnya dan daerah-daerah yang dikuasainya. Kekuasaan Sri Baginda Kertajaya yang berlebih-lebihan, dan bahkan yang merasa dirinya bukan lagi manusia sewajarnya.

Puncak dari kelalaian Sri Baginda Kertajaya, adalah pada saat ia merasa dirinya seorang Dewa tertinggi yang menguasai seluruh permukaan bumi.

Dengan demikian, maka peperangan itu menjadi bertambah seru. Ketika matahari sudah melampaui puncak langit, serta tangkai-tangkai senjata sudah basah oleh keringat, maka ke dua belah pihak seakan-akan telah dimabukkan oleh nafas peperangan dan maut.

Dalam pada itu, jumlah korban seakan-akan sudah tidak terhitung lagi.Mayat bergelimpangan membujur-lintang di dalam genangan darah dan debu. Rintih dan erang tenggelam dalam dentang senjata beradu.

Namun bagaimana-pun juga, di hari yang pertama pasukan Singasari tidak berhasil memecahkan pertahanan Kediri. Mahisa Walungan dan Gubar Baleman masih bertahan sekuat-kuat kemampuan mereka. Dengan demikian maka pasukannya-pun sama sekali tidak menjadi gentar menghadapi angin prahara yang datang dari Singasari.

Meskipun demikian garis peperangan itu telah bergeser beberapa tonggak, mendekati kota. Sekuat-kuat pertahanan pasukan Kediri, namun mereka terpaksa surut beberapa langkah. Tetapi tekad yang bulat di dalam dada mereka sama sekali tidak tergoyahkan.

Ketika matahari kemudian terbenam, terdengarlah suara tanda-tanda dari ke dua belah pihak, seakan-akan telah berjanji untuk menghentikan peperangan. Betapa darah menggelegak sampai ke ujung rambut, tetapi para prajurit jantan di kedua pihak saling menghormati tengara itu, bahwa perang harus dihentikan di saat matahari tenggelam di ujung langit sebelah Barat.

Pasukan ke dua belah pihak yang lelah itu-pun tersuruk-suruk mengundurkan diri. Karena pasukan Singasari tidak sempat membuat pesanggrahan, mereka bertebaran di padukuhan-padukuhan di sekitar tempat peperangan itu. Padukuhan yang telah kosong ditinggalkan mengungsi oleh para penghuninya.

“Kita harus menyelesaikannya tidak lebih dari sepekan,” geram Sri Rajasa, “Kita pada hari kelima harus sudah berada di kota.”

Mahisa Agni dan para panglima tidak menyahut.

“Kalau di hari kelima kita belum memasuki kota,” Sri Rajasa melanjutkan, “berarti kita dalam keadaan yang gawat.Perbekalan kita tidak akan membantu lagi, sedang para prajurit pasti sudah menjadi terlampau lelah.”

Mahisa Agni mengerutkan keningnya. Meskipun ia seorang Senapati namun terpengaruh oleh hubungan pribadinya, maka kadang-kadang ia lupa bahwa ia berhadapan dengan Sri Rajasa Batara Sang Amurwabumi, bukan lagi dengan Ken Arok, hantu padang Karautan. Karena itu, hampir tidak sesadarnya ia berkata, “Tidak seluruhnya kita akan gagal. Kita setidak-tidaknya sudah menguasai suatu daerah yang tidak akan kita lepaskan lagi, meskipun seandainya kita tidak segera dapat menembus dan merebut Kota Raja. Tetapi pasukan kita akan tetap berada di ambang pintu. Dan kita akan mempertahankan setiap jengkal tanah yang sudah kita satukan dengan Singasari setelah kita membebaskannya dari tangan Sri Baginda Kertajaya yang merasa dirinya Penguasa Bumi.”

Ken Arok mengerutkan keningnya. Ia mengerti maksud Mahisa Agni. Tetapi ia tidak ingin mengendorkan peperangan itu. Maka katanya, “Tidak.Aku tetap pada pendirianku. Kediri harus kita kuasai tidak lebih dari sepekan.”

Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Terbayang di wajahnya suatu kecemasan yang dalam. Dan di dalam hatinya ia memang berkata, “Ken Arok tidak memperhitungkan, berapa banyak korban akan berjatuhan.”

Tetapi Mahisa Agni tidak menjawab lagi. Apalagi ketika ia sadar, bahwa yang mengatakan rencana itu adalah Sri Baginda Singasari dan sekaligus pimpinan tertinggi segenap pasukan yang maju ke medan perang ini.

Meskipun demikian, Mahisa Agni masih mencoba membayangkan cara lain yang lebih baik. Bukan membenturkan seluruh kekuatan seperti yang terjadi saat ini.

“Kami dapat menempuh beberapa jalan,” katanya di dalam hati, “dengan pasukan yang lebih kecil, kami dapat memasuki kota lewat beberapa jurusan. Dengan melepaskan pasukan cadangan lewat jurusan lain, kami akan dapat memecah perhatian para prajurit Kediri.”

Tetapi Mahisa Agni tidak mengatakannya. Dan Mahisa Agni itu-pun tidak mengerti bahwa sebenarnya Kediri juga menyimpan pasukan cadangan yang cukup kuat. Pasukan Pujang Warit.

Di bagian lain. Mahisa Walungan duduk terpekur sambil membelai hulu pedangnya. Di sampingnya Gubar Baleman duduk bersandar sebatang pohon manggis.

Sejenak mereka saling berdiam diri. Mereka sedang sibuk dengan angan-angan masing-masing. Meskipun sekali-sekali mereka berpaling melihat beberapa orang prajurit yang sedang mengusung kawan-kawan mereka yang terluka.

Mahisa Walungan menarik nafas dalam-dalam. Sepercik kecemasan melonjak di dalam hatinya. Mau tidak mau ia melihat kenyataan, bahwa jumlah prajuritnya tidak sebanyak prajurit Singasari. Apalagi pasukannya tidak mempunyai kelebihan yang dapat dibanggakan dari pasukan lawan. Hampir setiap prajurit, baik dari Kediri maupun dari Singasari memiliki kemampuan dan tekad yang sama. Itulah sebabnya maka Mahisa Walungan memandang akhir dari peperangan ini dengan wajah yang suram.

“Kalau saja Pujang Warit dapat mengerti,” katanya di dalam hati.

Meskipun demikian Mahisa Walungan tidak menjadi berkecil hati. Ia merasa, bahwa pasukannya masih cukup kuat untuk bertahan, selagi beberapa orang Senapati masih berusaha untuk menyusun kekuatan yang akan dapat digabungkannya di dalam peperangan itu.

“Singasari memusatkan seluruh kekuatannya di sini,” tanpa sesadarnya Mahisa Walungan bergumam.

Gubar Baleman berpaling. Sejenak ia merenung. Kemudian terdengar ia menyahut, “Ya. Agaknya Singasari ingin memecah gerbang Kota Raja dari satu arah.”

“Kami masih mendapat kesempatan untuk menarik pasukan-pasukan pengawal dari dalam kota dan pasukan-pasukan keamanan dari segala penjuru.”

“Ya,” desis Gubar Baleman. “tetapi Pujang Warit benar-benar seorang yang mementingkan dirinya sendiri melampaui kepentingan Kediri.”

“Aku berprihatin karenanya. Tetapi bukan saatnya sekarang kita berselisih.”

Gubar Baleman mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Besok kita mendapat beberapa tenaga yang masih segar. Sepasukan keamanan telah datang. Masih ada beberapa kelompok yang akan menyusul.”

Sri Rajasa ternyata seorang Panglima yang ulung. Ia-pun menyimpan tenaga cadangan untuk memberikan pukulan terakhir kepada lawannya.”

Mahisa Walungan tidak menjawab. Tetapi kepalanya tertunduk dalam-dalam.

Kembali keduanya terdiam. Masing-masing telah dicengkam oleh angan-angan yang meskipun tanpa berjanji, namun gambaran-gambaran yang melintas, mempunyai banyak kesamaan.

Keduanya menyesal, bahwa Kediri telah diterkam oleh arus perpecahan di saat-saat yang menentukan ini. Keduanya menyesal bahwa Pujang Warit seakan-akan telah menjadi gila. Dan keduanya menyesal pula, bahwa Singasari berhasil menyusun sekelompok pasukan yang justru terdiri dari orang-orang Kediri dipimpin oleh seorang Senapati yang luar biasa, yang setelah bertempur sehari penuh, namun Gubar Baleman tidak berhasil menundukkannya.

“Agaknya kami belum bersungguh-sungguh,” desis Gubar Baleman di dalam hatinya, “kami masih terganggu oleh pertempuran di sekitar kami. Kami masih terganggu oleh tugas-tugas kami sebagai seorang Senapati.Pada saatnya, aku ingin menimbang, betapa beratnya Senapati Singasari yang bernama Mahis Agni itu.”

Meskipun demikian dengan jujur Gubar Baleman mengakui, bahwa kemampuan lawannya itu telah membuatnya berdebar-debar.

Sebenarnya tidak sia-sialah Mahisa Agni mempelajari dengan tekun ilmu dari perguruan mPu Purwa, yang diramu dengan ilmu mPu Sada dalam masa-masa pembajaan diri di sarang Kebo Sindet, sehingga ia memiliki kemampuan untuk berhadapan langsung dengan Senapati Kediri yang ngedab-edabi ini.

Para Senapati dari kedua pasukan yang sedang beristirahat itu, hampir semalam suntuk tidak dapat memejamkan mata mereka. Setiap saat mereka harus melihat kesiap siagaan pasukan masing-masing. Namun baik para Senapati Kediri maupun Senapati Singasari menganjurkan kepada para prajurit, agar mereka beristirahat sebaik-baiknya, selain yang mendapat giliran bertugas.

Sedang para Senapati itu-pun telah membagi diri untuk dapat meskipun hanya sekejap, beristirahat pula. Besok mereka harus memeras tenaga menyabung nyawa di bawah bahaya dan maut.

Seorang prajurit muda yang tidak dapat tidur meskipun telah lewat tengah malam menggeliat sambil berdesah. Diusapnya tangkai tombaknya dengan tangannya yang dingin. Sejenak terbayang keluarga yang ditinggalkannya di rumah, ayah yang sudah tua, ibu yang duka dan dua orang adik perempuannya.

“Aku satu-satunya anak laki-laki,” desisnya.

Prajurit muda itu menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian ia menggeretakkan giginya sambil menggeram, “Aku bertempur untuk mereka. Untuk hari depan anak-anak mereka meskipun seandainya aku tidak pulang. Anak-anak adik-adikku itu kelak akan tetap menjadi anak negeri yang besar, Kediri.”

Di sampingnya seorang yang telah hampir berumur setengah abad tidur mendekur. Sekali-sekali tangannya menepuk nyamuk yang menggigit pundaknya yang telanjang. Tetapi ia tidak terbangun sama sekali.

Prajurit muda itu berpaling ketika seorang Senapati mendekatinya sambil bertanya, “He, kau tidak tidur?”

Prajurit muda itu menggeleng, “Aku tidak dapat tidur.”

“Tidurlah. Besok kau akan mendapat kekuatan baru untuk menghadapi pasukan Singasari itu.”

“Aku memang ingin tidur. Tetapi tidak dapat.”

“Apakah kau gelisah?”

Prajurit muda itu menggeleng, “Tidak.”

Senapati itu-pun kemudian mengangguk-anggukkan kepalanya sambil berkata, “Cobalah untuk tidur. Sebentar lagi fajar akan menyingsing, dan kau akan segera mendengar suara tengara. Sejenak kemudian kau sudah akan berdiri di dalam gelar perang.”

Tetapi prajurit itu justru tersenyum, “Aku akan mencoba,” katanya.

Maka ditinggalkannya Prajurit muda itu di dalam keadaannya.

Mahisa Walungan sendiri telah membagi waktunya dengan Gubar Baleman. Lawan-lawan mereka adalah lawan-lawan yang luar biasa, sehingga mereka memerlukan tenaga yang segar untuk menghadapinya.

Berbeda dengan mereka itu, Sri Rajasa sama sekali tidak berhasrat untuk tidur, meskipun para Panglima pasukannya menganjurkannya. Hanya Mahisa Agni sajalah yang membiarkannya berjalan hilir mudik di antara pasukannya, sedang Mahisa Agni sendiri, meskipun hanya sebentar, dapat tidur dengan nyenyaknya.

“Hantu Karautan itu sanggup berkeliaran sepekan tanpa tidur sama sekali,” berkata Mahisa Agni di dalam hatinya, “bahkan badannya akan menjadi sakit-sakitan kalau ia terlampau banyak tidur meskipun badannya itu lelah. Tetapi lelah itu-pun hampir tidak dikenalnya.”

Sebenarnyalah bahwa Ken Arok yang bergelar Sri Rajasa itu seakan-akan tidak merasakan apapun setelah bertempur sehari penuh melawan seorang Senapati yang pilih tanding dari Kediri. Bahkan bukan saja ia bertempur dalam perang tanding, namun ia masih harus memperhatikan seluruh pasukannya. Dari ujung sampai ke ujung gelarnya.

Dan itulah kelebihan Ken Arok dari orang-orang lain. Tubuhnya yang terlatih mengalami segala macam keadaan sejak kecilnya, telah membuatnya seorang manusia yang aneh.

Demikianlah ketika malam menjadi semakin dalam, kemudian menjelang saat fajar, pasukan di ke dua belah pihak sudah mulai bangun. Mereka yang bertugas untuk menyiapkan makan para prajurit, telah bekerja dengan cekatan sesaat setelah tengah malam dilampaui.

Ketika langit di Timur telah membayang warna-warna merah, maka para prajurit di ke dua belah pihak telah mempersiapkan diri. Mereka membekali diri mereka dengan selengkap-lengkap dapat mereka lakukan. Di antaranya. mereka telah makan sekenyang-kenyangnya, agar mereka tidak kehabisan tenaga sebelum senja.

Demikianlah, semakin cerah warna langit, maka semakin sibuklah para prajurit dan Senapati di ke dua belah pihak itu. Mereka mengemasi pakaian mereka, senjata dan perlengkapan-perlengkapan yang mereka perlukan.

Rajasa yang sama sekali tidak tidur sekejap-pun itu telah berada di atas sebuah gundukan batu memandang ke arah nasukan lawan yang masih disaput oleh kabut pagi.

Perlahan-lahan penongsongnya datang mendekatinya sambil membawa payung kebesaran Raja Singasari, “Apakah hamba hari ini juga tidak diperkenankan ikut Sri Baginda?” bertanya orang itu.

Sri Baginda berpaling. Dilihatnya juru penongsong itu berdiri sambil menundukkan kepalanya. Kedua tangannya menggenggam tangkai payung kebesaran Sri Rajasa.

Namun Sri Rajasa kemudian menggelengkan kepalanya. Katanya, “Tinggallah kau di sini. Kau berada bersama-sama dengan para pengawal panji-panji yang hari ini juga tidak akan ikut ke medan.Menurut perhitunganku, hari ini kita belum dapat memecahkan pasukan lawan.Di hari ketiga aku akan memasang gelar lengkap dengan segala macam tanda kebesaran Singasari.”

Penongsongitu tidak menjawab. Tetapi kepalanya menjadi semakin tunduk.

“Nah, bawalah payung itu kembali. Dan panggil Mahisa Agni.”

Penongsongitu menunduk dalam-dalam. Tetapi ia merasa kecewa, bahwa ia tidak dapat berada di peperangan bersama Rajanya.

Sejenak kemudian Mahisa Agni-pun telah datang. Ia-pun kemudian meloncat pula keatas gundukan batu di belakang Sri Rajasa.

“Apakah Tuanku memanggil hamba?” bertanya Mahisa Agni.

Sri Rajasa berpaling. Sambil menganggukkan kepalanya ia menjawab, “Ya.Kemarilah.”

Mahisa Agni-pun kemudian datang mendekat.

“Kita akan segera mulai,” gumam Sri Rajasa.

“Ya Baginda.”

“Kau mendengar laporan petugas sandi itu?”

“Hamba Baginda.”

“Bagaimana pikiranmu?”

“Petugas sandi itu tidak dapat mengatakan, bahwa pasukan di padukuhan itu adalah pasukan cadangan. Tidak ada seorang penghubung-pun yang tampak datang atau pergi dari tempat itu ke medan ini atau sebaliknya, selama di dalam pengawasannya.”

“Ya, petugas kami yang terdahulu pernah melaporkan tentang perpecahan ini.”

“Hamba Baginda. Seorang Kediri yang ada di dalam lingkungan kami berhasil mendapat keterangan tentang hal itu, meskipun tidak jelas dan pasti.”

“Bagaimana menurut pendapatmu?”

“Kami menghubungkan laporan yang samar-samar itu dengan pengamatan petugas sandi yang semalam mengawasi pasukan itu. Mungkin memang benar tidak ada hubungan apapun di antara kedua pasukan ini.”

Tetapi Sri Baginda kemudian berkata, “Kita tidak dapat menduga-duga saja di dalam hal ini. Kita harus meyakinkan. Menurut perhitunganku ada atau tidak ada hubungan, pasukan itu dapat merupakan bahaya yang datang setiap saat.Di kala kita lengah, pasukan itu akan menghancurkan kita. Mungkin mereka menunggu kita dan pasukan Kediri yang lain itu bersama-sama menjadi letih. Pada saatnya mereka datang membawa panji-panji kemenangan.”

“Jadi apakah maksud Sri Baginda?”

“Kita pancing mereka ke dalam peperangan.”

“Di medan ini juga?”

Sri Baginda menggeleng, “Tidak. Kita membuka dua medan, selagi tenaga kita masih cukup segar. Aku kira puncak pimpinan Kediri baik Gubar Baleman maupun Mahisa Walungan ada di sini. Kau tetap berusaha menemukan Gubar Baleman, dan aku akan menahan harimau dari Kediri yang bernama Mahisa Walungan itu. Biarlah Panglima pasukan tempur Singasari yang memimpin sebagian pasukan cadangan dan beberapa kelompok dari pasukan ini untuk menariknya ke dalam sebuah pertempuran. Kita akan segera mengetahui kekuatannya. Kalau perlu Senapati itu dapat memanggil pasukan cadangan yang lain, apabila ternyata pasukan lawan terlampau besar.”

“Kita membuka dua garis perang?”

“Mau tidak mau, selagi kita masih cukup segar. Aku yakin bahwa pada akhirnya kita juga harus melawan mereka. Meskipun mereka tidak mau menempatkan diri mereka di bawah pimpinan Mahisa Walungan misalnya, tetapi mereka tetap prajurit Kediri.”

Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Nah, kita segera memecah pasukan, sebelum tengara itu terdengar.”

Mahisa Agni tidak sempat menjawab. Karena Sri Rajasa segera meloncat turun sambil berkata, “Bukankah kau sependapat?”

Mahisa Agni tidak menjawab. Ia menyadari, bahwa Sri Baginda itu memang tidak menunggu jawabannya. Ia sudah mengambil suatu keputusan yang akan segera dilakukannya.

Dengan cepatnya Ken Arok telah berhasil menentukan seorang Senapati bersama sepasukan prajurit untuk menghadapi pasukan Kediri yang belum terlibat dalam perang di sebelah Utara Ganter itu.

Setelah mendapat petunjuk-petunjuk seperlunya, maka dilepaslah pasukan itu melingkari medan, mendekati pasukan yang dipimpin oleh Pujang Warit.

Demikianlah ketika langit menjadi semakin cerah, pasukan di ke dua belah pihak telah menyusun diri di dalam gelar masing-masing. Mereka berbaris dalam suatu tebaran yang melebar. Sepasukan yang paling terpercaya berada di paruh pasukan, yang kemudian diikuti oleh induk pasukan bersama Senapati tertinggi.

Kali ini yang berada di paruh pasukan Singasari adalah pasukan yang dipimpin oleh Mahisa Agni pula. Tetapi pasukan itu kini diperlengkapi dengan prajurit-prajurit yang paling terpercaya dari Singasari sendiri, setelah di hari pertama pasukan itu menggoncangkan perasaan para Senapati Kediri, karena mereka ternyata terdiri dari orang-orang Kediri pula.

Dengan demikian maka susunan kedua pasukan itu hampir tidak banyak berubah. Beberapa orang prajurit yang masih segar menggabungkan dirinya pada pasukan Kediri. Sedang pasukan Singasari masih juga belum menurunkan pasukan cadangan, kecuali sebagian dari mereka yang telah dikirim untuk memancing pertempuran prajurit-prajurit Kediri yang dipimpin oleh Pujang Warit.

Sejenak kemudian para prajurit di ke dua belah pihak menjadi tegang. Sebentar lagi pasti akan terdengar tengara. Apabila langit menjadi terang, kedua pasukan itu pasti akan segera terlibat di dalam peperangan.

Agaknya pasukan Kediri sudah menjadi lebih teratur. Mereka telah sempat menyusun gelar dengan tanda-tanda kebesaran mereka. Sebuah payung kebesaran bagi Adinda Sri Baginda yang mewakili Sri Kertajaya memimpin perlawanan, karena Sri Baginda sendiri sedang diamuk oleh keprihatinan yang bercampur baur dengan keangkuhan. Kemudian beberapa jenis umbul dan tunggul panji-panji.

Dalam pada itu Sri Rajasa yang menyaksikan gelar pasukan Kediri dari kejauhan, walau-pun sama-sama, mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian katanya lantang, “Jangan hiraukan tanda-tanda kebesaran pasukan Kediri. Mereka berusaha untuk menutupi kekecilan hati mereka karena kekalahan yang nereka derita pada hari pertama. Di hari ini kalian harus berhasil menghancurkan sebagian dari pasukan itu. Sebagian terbesar. Di hari ketiga kita akan memecahkan barisan itu langsung memasuki kota.”

Para prajurit Singasari serasa tersentuh oleh kata-kata itu, dan telah memacu mereka untuk bertempur lebih gigih lagi.

“Kita merindukan Singasari yang besar dan satu. Satu lingkungan yang besar di dalam segala tata kehidupan.”

Demikianlah, maka sejenak kemudian terdengarlah tengara telah berbunyi. Semula hanya pada satu pihak. Singasari. Tetapi kemudian Kediri-pun memperdengarkan tengara pula bagi para prajuritnya untuk maju ke medan perang.

“Kita pertahankan negeri ini,” teriak Mahisa Walungan.

Para prajurit Kediri-pun menyambutnya dengan sorak yang gemuruh. Panji-panji dan umbul-umbul, rontek serta segala macam tanda-tanda kebesaran pasukan Kediri terangkat tinggi-tinggi bersamaan dengan jatuhnya sinar Matahari yang pertama kali pada ujung payung yang kuning gemerlapan.

Pertempuran di hari kedua ini-pun tidak kalah dahsyatnya. Seperti di hari pertama Mahisa Agni berusaha untuk selalu membayangi Gubar Baleman. sedang Mahisa Walungan langsung bertempur melawan Sri Rajasa.

Namun perhatian mereka kini justru lebih besar terarah kepada para prajurit yang sedang bertempur. Mereka menyadari bahwa baik Gubar Baleman, maupun Mahisa Agni tidak akan dapat dengan cepat menundukkan lawan mereka, sementara perang masih berkecamuk.

Pada hari yang kedua ini Kediri telah mengerahkan segenap pasukan yang ada. Mereka percaya bahwa di hari ketiga dan di hari-hari berikutnya, mereka masih akan sempat mengumpulkan tenaga cadangan yang dapat mereka tarik dari segenap penjuru. Bahkan betapapun keras hati Pujang Warit, selagi ia masih menyebut dirinya prajurit Kediri, pasukannya masih dapat diharapkannya.

Tetapi ternyata pasukan Singasari telah mendahuluinya, memukul pasukan Pujang Warit yang sama sekali tidak menyangka.

Pujang Warit yang ada di perkemahannya terkejut ketika ia mendengar laporan dari beberapa orang pengawas bahwa sepasukan prajurit Singasari telah menuju ke arah perkemahan itu.

“Gila,” geram Pujang Warit, “apakah kau mimpi?”

“Sebenarnya kami telah melihat,” sahut prajurit pengawas itu.

Pujang Warit menggeretakkan giginya. Tetapi sebagai seorang prajurit, maka ia-pun segera berteriak. Dipanggilnya beberapa orang Senapati yang ada padanya, kemudian dengan tergesa-gesa diperintahkannya untuk menyiapkan gelar.

“Apakah mereka benar-benar akan menyerang kita?” bertanya seorang Senapati.

“Mungkin sekali. Cepat, masuk ke dalam gelar.”

Tetapi para Senapati itu menjadi agak cemas. Prajurit-prajurit mereka belum siap mengadakan perang beradu gelar. Namun demikian, mereka tidak mendapat kesempatan untuk menimbang-nimbang. Dengan tanda-tanda yang ada, Pujang Warit telah mempersiapkan pasukannya.

“Yang belum sempat makan, usahakan, agar kalian tidak kelaparan,” teriak beberapa orang Senapati.

Para prajurit yang berdiri di dalam gelar itu masih ada juga yang sempat membawa sebungkus nasi. Dengan tangkai tombak yang dijepit dengan lengannya, ia menyuapi mulutnya dengan nasi yang dibawanya.

“Aku tidak akan sempat makan di peperangan,” katanya.

Kawannya yang berdiri di sampingnya memandanginya dengan tegang.Kemudian sahutnya, “Cepat. Kau lihat pasukan lawan itu semakin dekat. Lambungmu justru akan sakit kalau kau terlampau banyak makan.”

Tetapi prajurit itu tidak makan sendiri. Beberapa orang yang lain ternyata ada juga yang sedang makan meskipun agak tergesa-gesa. Pujang Warit yang berdiri di ujung pasukannya menjadi tegang. Ia tidak memperhitungkan, bahwa pasukan Singasari akan membelah diri di dalam saat-saat yang berat itu.

“Agaknya jumlah orang-orang Singasari memang terlampau banyak,” katanya kepada Senapati pengapitnya.

Senapati pengapit itu menganggukkan kepalanya, “Ya. Di hari pertama mereka berhasil mendesak pasukan Kediri yang dipimpin oleh Mahisa Walungan.”

Wajah Pujang Warit menjadi merah padam. Katanya, “Setan itu sempat juga terlepas dari tiang gantungan. Tetapi aku tidak mau berada di bawah pimpinannya. Aku tidak tahu kenapa Sri Baginda masih dapat mempercayainya. Mungkin Sri Baginda menjadi bingung ketika mendengar pasukan Singasari telah datang melanda pasukan Kediri di perbatasan.”

Senapati pengapitnya tidak menjawab. Tetapi wajah-wajah mereka yang tegang menatap pasukan Singasari yang semakin lama menjadi semakin dekat.

“Kita harus bertahan,” desis Pujang Warit, “kita harus tetap utuh sampai pasukan Mahisa Walungan hancur sama sekali. Kita akan berdiri di atas bangkai kedua pasukan yang bodoh ini.”

Senapati pengapitnya mengangguk-anggukkan kepalanya.“Kita harus mempertahankan diri dan mempertahankan Kediri.”

Sejenak kemudian maka Pujang Warit memerintahkan membunyikan tanda bagi pasukannya.Dengan serta-merta, gelarnya-pun maju menyongsong lawan yang mendatang.

Pimpinan pasukan Singasari mengangguk-anggukkan kepalanya sambil bergumam, “Prajurit Kediri memang prajurit yang telah matang. Dalam keadaan apapun mereka segera dapat menempatkan diri mereka untuk menghadapi segala kemungkinan.”

Tetapi pasukan Singasari telah mendapat penempaan yang matang pula, dekat menjelang peperangan ini, sehingga tubuh dan ilmu mereka masih segar di dalam diri masing-masing.

Sejenak kemudian kedua pasukan itu-pun telah saling berhadapan. Kaki-kaki mereka berderap di atas tanah persawahan yang ditumbuhi oleh tanaman palawija yang hijau. Namun kaki-kaki prajurit itu sama sekali tidak berusaha untuk menghindari bunga kacang dan kedelai yang akan segera menjadi buah.

Demikianlah maka sesaat kemudian kedua pasukan itu telah terlibat dalam peperangan. Keduanya terdiri dari prajurit-prajurit yang memang sudah siap, untuk turun kegelanggang, pertempuran.

Namun di dalam benturan yang pertama sudah terasa, bahwa pasukan Singasari agak lebih kecil jumlahnya dari pasukan Kediri. Kalau pasukan Kediri itu dapat menghancurkan pasukan Singasari. maka hal itu pasti akan mempengaruhi keadaan medan yang lain.Karena itu maka seorang penghubung segera melaporkannya kepada Senapati yang bertanggung jawab atas laskar cadangan.

Sekelompok laskar cadangan Singasari segera dikirim untuk menyelamatkan pasukan Singasari yang bertempur melawan pasukan Pujang Warit.Ternyata tinjauan mereka terhadap kekuatan pasukan lawan kurang cermat, sehingga para pemimpin Singasari salah menilai. Untunglah bahwa di belakang mereka masih ada pasukan cadangan yang memang dipersiapkan untuk mengatasi kesulitan-kesulitan yang tiba-tiba saja menimpa pasukan Singasari yang sedang bertempur itu.

Dengan kedatangan pasukan cadangan itu, maka pasukan Singasari segera dapat bernafas lagi. Kini mereka tidak lagi terdesak mundur. Dengan tekad yang menyala-nyala di dalam dada. maka pasukan Singasari bertempur dengan gigihnya.

Demikianlah maka pertempuran itu-pun menjadi semakin seru pula, seperti pertempuran di sebelah Utara Ganter, tidak begitu jauh dari pasukan Pujang Warit yang sedang bertahan dengan sekuat-kuat tenaga.

Namun tanda-tanda yang terdengar dari pasukan Pujang Warit telah menumbuhkan pertanyaan di hati Mahisa Walungan dan prajuritnya. Namun sebagai seorang prajurit Mahisa Walungan, Gubar Baleman dan sebagian terbesar dari pasukannya, segera menduga, bahwa pasukan Pujang Warit-pun telah terlibat pula di dalam pertempuran.

“Sri Rajasa benar-benar seorang Panglima yang baik,” desis Mahisa Walungan di dalam hatinya, “ia ingin mempercepat penyelesaian. Kalah atau menang. Tetapi ia tidak mau membiarkan dirinya ditunggu sampai kehabisan tenaga. Mumpung masih segar, agaknya ia telah menyeret seluruh pasukan Kediri untuk terjun ke dalam pertempuran ini. Termasuk pasukan Pujang Warit itu.”

Sambil bertempur Mahisa Walungan meneruskan kata-kata di hatinya itu. “Tetapi itu lebih baik juga bagi kami. Pujang Warit tidak sempat menunggu sampai kami hancur, kemudian turun ke peperangan sebagai seorang pahlawan yang menyelamatkan Kediri. Tetapi dengan pertempuran itu, kekuatan Singasari sudah terbagi.”

Ternyata bahwa di dalam pertempuran pada hari kedua ini, Kediri tidak terdesak lagi seperti di hari pertama. Meskipun pasukan Kediri tidak dapat maju lagi sampai kegaris pertahanannya yang pertama, tetapi di hari kedua, baik Mahisa Walungan maupun Gubar Baleman dapat bertempur dengan lebih tenang, karena pasukannya tidak harus mundur setiap saat.

“Mudah-mudahan Pujang Warit bertahan di tempatnya pula,” berkata Gubar Baleman di dalam hatinya, “dengan demikian Singosari tidak dapat memusatkan kekuatannya di pertempuran ini.”Menteri itu mengerutkan keningnya, lalu “persoalan di antara kami, di antara pasukan-pasukan Kediri sendiri, dapat kami perhitungkan kemudian.”

Semakin tinggi matahari, maka pertempuran itu-pun berjalan semakin seru. Tetapi ketika panas telah membakar punggung mereka yang berkeringat, maka lambat laun, tenaga para prajurit di ke dua belah pihak itu-pun menjadi susut.

Pasukan Pujang Warit yang tidak bersiap menghadapi serangan dalam gelar itu, ternyata semakin lama menjadi semakin terdesak. Tenaga yang mereka persiapkan dengan tergesa-gesa, di saat matahari mulai turun, menjadi terlalu banyak susut. Meskipun demikian tekad untuk mempertahankan diri, sama sekali tidak berkurang seujung rambut pun. sehingga bagaimana-pun juga, mereka sama sekali tidak berniat untuk meninggalkan gelanggang.

Meskipun demikian, meskipun seluruh kekuatan yang ada sudah dikerahkannya, namun pertahanan Pujang Warit harus beringsut setapak demi setapak.

Tetapi pasukan itu tetap utuh. Mereka tetap bertempur dalam satu kesatuan, sehingga meskipun mundur setapak sama sekali tidak berpengaruh atas pertahanan itu.

Pujang Warit berusaha dengan memeras tenaga, bertahan untuk hari ini. Besok mereka akan siap menghadapi segala kemungkinan. Mereka tidak akan turun ke dalam gelar dengan tergesa-gesa, tanpa persiapan lahir dan apalagi batin. Serangan yang mengejutkan itu mau tidak mau mempunyai pengaruh yang tidak dapat diabaikan para prajuritnya.

Sampai matahari condong ke Barat, pasukan Pujang Warit masih tetap dapat bertahan meskipun dengan susah payah. Mereka tidak terlampau banyak terdesak mundur. Namun demikian, tenaga prajuritnya sudah menjadi jauh berkurang.

Rasa-rasanya matahari berjalan semakin lambat, seakan-akan dengan sengaja memberi kesempatan kepada pasukan Singasari untuk mendesak lawannya terus.

Tetapi akhirnya matahari itu-pun menjadi semakin rendah. Cahaya yang kemerah-merahan mulai tersangkut di ujung pepohonan. Bersamaan dengan senja yang semakin suram, harapan di dada Pujang Warit menjadi semakin mekar, bahwa pasukannya akan dapat bertahan sampai gelap. Besok mereka akan mendapat kesempatan untuk mengatur pasukannya jauh lebih baik dari ini. Persiapan-persiapan lainnya, penempatan pasukan menurut tingkat kemampuan setiap prajurit di dalam gelar dan senjata-senjata yang lebih baik akan dapat banyak membantu.

Dan harapan itu-pun ternyata terpenuhi. Sebentar kemudian mereka mendengar tanda di kejauhan, meskipun lamat-lamat. Tanda-tanda yang terdengar di sebelah Utara Ganter. bahwa pertempuran untuk hari itu diakhiri.

Pasukan Singasari-pun kemudian mengendorkan tekanannya. Tanda-tanda di pasukan itu-pun terdengar pula. Demikian juga pada pasukan Kediri, sehingga perang-pun terhenti. Sebagai prajurit-prajurit yang jantan tidak satu pihak-pun yang berbuat curang, pada saat lawan menarik diri.

Betapa sibuknya pasukan di ke dua belah pihak dengan prajurit-prajuritnya yang terluka. Mereka berusaha untuk menemukan di seluruh medan. Yang terluka bagi ke dua belah pihak mempunyai kesempatan pertama untuk mendapat perawatan. Yang sudah gugur, namanyalah yang akan tetap dikenang. Tetapi yang masih dalam penderitaan harus segera mendapat pertolongan.

Seorang prajurit tua yang duduk bersandar sebatang pohon kelapa menarik nafas dalam-dalam. Umurnya telah mencapai setengah abad. Tetapi ia masih tetap berada di lingkungan keprajuritan. Telah sekian kali ia mengalami peperangan sedahsyat ini. Dan telah sekian kali pula ia melihat mayat berserakan dan orang-orang yang terluka mengerang kesakitan.

“Manusia memang aneh,” desisnya, “mereka saling melukai dan membunuh. Kemudian mereka dengan susah-payah mengobatinya. Apakah sebenarnya yang mereka kehendaki? Mereka saling membunuh untuk ditangisi kembali.”

Prajurit tua itu menarik nafas dalam-dalam, sekali lagi dan sekali lagi. Kemudian karena kelelahan, tanpa disadarinya ia-pun jatuh tertidur.

Dikemahnya, Pujang Warit mengumpat habis-habisan. Ternyata korban telah banyak yang jatuh.

“Kita tidak sempat mengatur gelar lebih baik dari yang dapat kita susun dengan tergesa-gesa itu,” geramnya, “besok kita dapat memilih. Prajurit-prajurit yang berpengalaman dan memiliki kemampuan yang lebih baik harus tersebar dari ujung gelar sampai ke ujung yang lain, agar tidak ada bagi dari gelar yang terlampau lemah, sehingga memungkinkan jatuhnya korban terlampau banyak.”

Para pemimpin kelompok mengangguk-anggukkan kepala mereka.

“Sekarang beristirahatlah. Kita harus menghemat tenaga. Besok kita akan bertempur lagi. Jangan sampai terlambat, penyediaan makan para prajurit sebelum fajar.”

Para pemimpin kelompok itu-pun segera meninggalkan Pujang Warit yang masih duduk dengan beberapa orang Senapati yang terpercaya.

“Apakah pertahanan ini menguntungkan?” ia bertanya di dalam hatinya.

Sejenak ia termenung. Dicobanya membayangkan apa yang terjadi di sebelah Utara Ganter. Apakah Mahisa Walungan dan Gubar Baleman yang ternyata mendapat kesempatan lagi dari Sri Baginda itu mampu bertahan?

“Memang keparat orang-orang Singasari,” desisnya, “kalau mereka tidak tergesa-gesa menyerang, Mahisa Walungan dan Gubar Baleman pasti sudah digantung. Sehari saja mereka menunda serangannya, maka mereka tidak akan bersusah payah membunuh harimau-harimau yang garang itu.”

Para Senapati yang lain berpaling ke arahnya, tetapi mereka tidak mendengar kata-kata itu dengan jelas.

“Apakah ada di antara kalian yang mempunyai pendapat tentang garis pertahanan kita?” tiba-tiba Pujang Warit bertanya.

Kawan-kawannya saling berpandangan sejenak. Terasa dari pertanyaan itu, bahwa agaknya telah tumbuh sesuatu di hati Pujang Warit. Tetapi agaknya masih belum cukup masak untuk diutarakan, sehingga ia berusaha untuk memancing masalah yang dapat dipakainya sebagai pancadan pembicaraan.

Namun kawan-kawannya tidak mengerti, ke mana arah jalan pikiran Senapati yang masih muda itu.

Sejenak Pujang Warit-pun terdiam. Kepalanya sekali-sekali mengangguk-angguk, namun kemudian keningnya berkerut-merut.

“Bagaimana bunyi laporan petugas sandi itu? “ tiba-tiba bertanya.

“Tentang apa?” bertanya salah seorang Senapatinya.

“Panglima pasukan Singasari.”

“Sri Rajasa sendiri.”

Pujang Warit mengerutkan keningnya. Katanya, “Betapapun saktinya orang Tumapel. mereka tidak akan melampaui orang-orang Kediri.”

Para Senapati lawannya berbicara tidak ada yang menyahut. Namun terasa, bahwa di dalam kata-kata Pujang Warit itu tersimpan keragu-raguan hatinya. Baik Pujang Warit maupun para Senapati lainnya, tidak dapat menutup mata, bahwa orang Singasari itu mampu bertempur dua hari penuh. Mereka tetap pada garis perang yang terjadi sejak benturan pertama. Bahkan mereka telah mendesak beberapa tonggak maju.

Dengan demikian maka untuk sejenak mereka saling berdiam diri. Berbagai pertanyaan telah menyentuh setiap hati. Apakah yang akan terjadi besok dengan pasukan ini?

Sementara itu, di perkemahannya, Mahisa Walungan duduk menghadapi semangkuk air panas. Wajahnya yang murung merenungi lampu minyak yang terombang-ambing oleh angin yang menyusup keperkemahan.

Di sebelahnya Gubar Baleman memandang kekejauhan, menembus gelapnya malam lewat pintu yang terbuka. Seolah-olah ingin mengetahui, rahasia apakah yang bersembunyi di balik kekelaman itu.

“Kakang Gubar Baleman,” berkata Mahisa Walungan. “hari ini kita sudah menambah prajurit yang dapat kita kumpulkan, tetapi kita tidak dapat mendesak mereka sama sekali. Beberapa petugas kita yang mengumpulkan pasukan dari beberapa tempat yang dapat dicapainya, telah terganggu oleh orang-orang Pujang Warit yang berbuat serupa, bahkan mereka masih selalu mempergunakan nama Sri Baginda Kertajaya.”

Gubar Baleman mengangguk-anggukkan kepalanya. Jawabnya, “Keadaan Kediri sama sekali tidak menguntungkan pada saat pertempuran ini mulai berkobar.”

“Tetapi apaboleh buat,” berkata Mahisa Walungan, “kita harus mengerahkan segenap tenaga yang mungkin kita tarik kepertempuran ini.Kalau Pujang Warit tidak mengadakan garis pertahanan tersendiri, mungkin keadaan kita akan menjadi semakin baik. Kekuatan Kediri dapat di pusatkan menjadi satu di sini. Penarikan tenaga-tenaga yang segar tidak saling mengganggu.”

Gubar Baleman mengangguk-anggukkan kepalanya. “Aku sependapat.Jadi, apakah kita akan mencari jalan untuk itu?”

“Demikianlah kakang. Sebenarnya aku tidak begitu mementingkan harga diri sendiri dalam keadaan seperti ini. Aku lebih mementingkan Kediri. Karena itu, apakah salahnya kalau aku mengirimkan seorang utusan untuk menghubungi Pujang Warit, agar kita bersama-sama menyusun satu garis perang yang kuat, ditambah dengan prajurit-prajurit yang kini masih belum datang. Ketidak tentuan yang tersebar di seluruh Kediri agaknya belum dapat dibersihkan dengan serangan Singasari ini.”

Gubar Baleman mengangguk-anggukkan kepalanya. “Aku sependapat Adinda Mahisa Walungan. Apakah salahnya kalau kita, orang-orang tua ini sedikit mengorbankan harga diri kita untuk kepentingan Kediri.”

“Baiklah kakang. Nanti, setelah para prajurit cukup beristirahat, serta Pujang Warit sendiri sudah agak menjadi tenang, aku akan mengirimkan seorang utusan.”

“Aku akan mencari orangnya yang akan menemui Pujang Warit nanti,” berkata Gubar Baleman.

“Baiklah kakang. Siapa yang akan pergi itu-pun tidak kalah pentingnya, supaya tidak justru menumbuhkan salah paham, sehingga jarak antara kita dan Pujang Warit menjadi semakin jauh.”

Gubar Baleman mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi ketika ia baru akan berdiri, ia-pun tertegun di tempatnya. Dilihatnya seseorang dengan tergesa-gesa memasuki kemah itu.

“O kau,” desis Mahisa Walungan kepada orang itu, seorang prajurit penghubung.

“Duduklah.”

Orang itu-pun kemudian duduk di hadapan Mahisa Walungan. Wajahnya kemerah-merahan dan keringat telah membasahi seluruh tubuhnya.

“Apakah kau baru datang?” bertanya Mahisa Walungan.

“Ya tuan. Aku baru datang dari daerah Selatan.”

“Bagaimana dengan usahamu menarik prajurit dan pasukan keamanan?”

Orang itu menarik nafas dalam-dalam.Kemudian katanya, “Menyesal sekali tuan, bahwa telah terjadi salah paham di antara kami sendiri.”

“Kenapa he?” Mahisa Walungan mengerutkan keningnya.

“Pujang Warit melakukan usaha yang serupa,” jawab penghubung itu, “sehingga justru terjadi bentrokan yang sama sekali tidak kita ingini. Para prajurit yang tidak mengalami sendiri perang seperti ini, masih saja membelah diri. Ada yang berpihak kepada tuan, tetapi ada juga yang berpihak kepada Pujang Warit.”

“O,” Mahisa Walungan menarik nafas dalam-dalam, sedang Gubar Baleman mengusap dadanya dengan telapak tangannya.

“Aku sudah berusaha menjelaskan apa yang sudah terjadi,” berkata penghubung itu kemudian, “tetapi sulit untuk memberikan kesadaran kepada mereka. Apalagi orang-orang Pujang Warit agaknya terlampau yakin, bahwa pada akhir dari segala-galanya merekalah yang akan berkuasa. Pendirian itu agaknya sudah menghambat segala usaha.”

Mahisa Walungan mengeluh di dalam hati.“Apakah Kediri memang sudah tidak akan dapat tertolong lagi?”

“Kami sudah berusaha untuk menghindari bentrokan-bentrokan itu tuan,” penghubung itu meneruskan, “tetapi sia-sia.”

“Lalu, apakah yang dapat kalian lakukan?”

“Aku gagal membawa seluruh pasukan yang kita kehendaki. Mereka harus bertahan di tempat masing-masing, karena orang-orang Pujang Warit agaknya berbuat di segala tempat dan keadaan tanpa pertimbangan apapun lagi selain nafsu yang nyala-nyala di dalam diri mereka untuk menguasai seluruh Kediri.”

“Jadi kau tidak membawa pasukan itu.”

“Hanya sebagian kecil. Yang lain masih tetap mengamankan wilayah masing-masing.”

Mahisa Walungan mengangguk-anggukkan kapalanya. Namun hatinya menjerit, “Ya, apakah Yang Maha Agung benar-benar telah melepaskan Kediri karena ketamakannya sendiri?”

Meskipun demikian Mahisa Walungan berkata kepada Gubar Baleman, “Kita tetap berusaha untuk berbicara dengan Pujang Warit. Kita benar-benar berada di ujung bahaya yang sebenarnya. Bahaya keruntuhan bagi Kediri yang besar ini.”

Ketika malam menjadi semakin malam, serta pasukan di pihak-pihak yang sedang berperang itu sudah mulai agak tepung, maka dua orang utusan yang dikirim oleh Mahisa Walungan, berderap di atas punggung kuda pergi keperkemahan Pujang Warit.

Mereka membawa tugas yang penting bagi keselamatan Kediri yang mulai tampak laju dibakar oleh panasnya api pertentangan di antara mereka sendiri, ditimpa pula oleh serangan yang dahsyat dari Singasari.

Kedatangan kedua orang itu telah mengejutkan Pujang Warit. Dengan wajah yang tegang ia bertanya dengan serta-merta, “Kenapa kalian kemari?”

“Kami adalah utusan Adinda Sri Baginda Mahisa Walungan dan Menteri, pemimpin tertinggi pasukan Kediri Gubar Baleman,” jawab utusan itu.

“Kenapa mereka tidak datang menghadap kepercayaan Sri Baginda Kertajaya sendiri?” bertanya Pujang Warit.

Kedua utusan itu saling berpandangan sejenak. Salah seorang dari mereka kemudian menjawab, “Keduanya tidak berani meninggalkan medan yang sedang gawat.Karena itu aku berdua telah diutus untuk menemui Senapati Pujang Warit.”

“Aku adalah kepercayaan Sri Baginda.Bukan sekedar seorang Senapati Pandega.”

“Ya, begitulah.”

“Begitulah bukan istilah yang tepat.”

“Maksud kami, kami memang ingin menemui kepercayaan Sri Baginda Kertajaya.”

“Nah, kalau kau mengakui, maka kau pasti harus mengakui kekuasaan yang ada padaku.”

“Ya. Kami berdua mengakui.”

Pujang Warit mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya kemudian, “Katakan, pesan apakah yang akan disampaikan oleh kedua Senapati yang sudah memberontak itu.”

Terasa dada kedua utusan itu berdesir. Tetapi mereka sadar, bahwa mereka harus menahan diri mereka agar masalah yang ada di antara dua kekuatan Kediri itu tidak menjadi semakin parah.”

“Cepat,” desak Pujang Warit, “aku-pun bukan penganggur yang sedang duduk merenungi bintang-bintang yang bergayutan di langit.”

“Baiklah,” berkata salah seorang dari kedua utusan itu. Setelah menarik nafas dalam-dalam, maka ia-pun melanjutkannya, “Kami mendapat tugas untuk menyampaikan pesan Mahisa Walungan dan Gubar Baleman. Seandainya pimpinan pasukan di sini tidak berkeberatan, Adinda Sri Baginda dan Menteri Gubar Baleman ingin membicarakan kemungkinan, kedua pasukan Kediri berada di dalam satu gerak yang berada di bawah suatu perencanaan yang matang. Misalnya, menyatukan garis perang yang kini terpecah menjadi dua. Menyatukan penarikan pasukan dari wilayah-wilayah yang dapat dicapai untuk menambah kekuatan bagi medan ini.”

Pujang Warit mengerutkan keningnya. Katanya, “Kenapa kita harus menyatukan diri. Bukankah dengan cara ini, kita masing-masing sudah berjuang untuk mempertahankan negeri kita?”

“Ya, demikianlah. Tetapi di bawah satu panji-panji yang sama kita akan menjadi semakin kuat. Mungkin di medan ini, kita tidak banyak melihat manfaat itu. Tetapi di tempat lain justru akan terasa sekali. Dengan penyatuan itu tidak akan ada lagi salah paham bagi pasukan-pasukan yang memang sedang kalut ini. Ada yang berpihak kepada Adinda Sri Baginda Mahisa Walungan dan ada yang berpihak kepada Senapati Pujang Warit.”

“Bodoh sekali. Kalau setiap prajurit menyadari tata keprajuritan hal itu tidak akan terjadi. Di Kediri tidak ada dua atau tiga sumber kekuasaan. Semuanya berpusar pada Sri Baginda Kertajaya. Akulah yang mendapat wewenang untuk melakukan kekuasaan Sri Baginda atas setiap pasukan yang ada di Kediri. Kalau saat ini Gubar Baleman dan Mahisa Walungan, karena diperlukan tenaganya, berada di medan, pasti mereka bukan pimpinan dari pasukan Kediri. Kalau Gubar Baleman dan Mahisa Walungan tidak keluar dari garis tata keprajuritan, sudah pasti tidak akan ada persoalan lagi di Kediri. Semuanya akan berjalan lancar. Sehingga seandainya nanti kita gagal mempertahankan garis pertahanan ini, maka tanggung jawab kegagalan itu ada pada Gubar Baleman dan Mahisa Walungan.”

Kedua utusan itu mengangguk-anggukkan kepalanya, namun kemudian salah seorang dari mereka berkata, “Mungkin hal itu benar. Tetapi apakah kita masih sempat di dalam keadaan serupa ini mempersoalkan siapakah yang pantas memimpin pasukan Kediri.”

“Bukan mungkin lagi. Aku memang benar. Dan pada saat serupa ini memang tidak ada waktu lagi mempersoalkan siapakah yang pantas menjadi Senapati Agung, karena Sri baginda sudah melimpahkan kekuasaan itu kepadaku.”

Kedua utusan itu terpaku sejenak. Pujang Warit agaknya benar-benar telah dimabukkan oleh kekuasaan, sehingga matanya sudah menjadi kabur. Ia tidak dapat melihat Kediri yang memelas ini sudah berada di pinggir jurang kehancuran.

“Nah. kalau Gubar Baleman dan Mahisa Walungan ikut bertanggung jawab atas keselamatan Kediri, serahkan pasukannya itu kepadaku. Akulah yang akan memimpin perlawanan di seluruh Kediri. Aku akan memanggil semua pasukan yang dapat menjadi pasukan cadangan di peperangan ini tanpa gangguan lagi.”

“Tetapi,” utusan yang seorang berkata, meskipun ragu-ragu, “Senapati Agung pasukan Singasari di tangani langsung oleh Sri Rajasa Batara Sang Amurwabumi.”

“Gila kau. Kau menghinaku. Kenapa kau sebutkan nama itu? Kau sangka aku akan menjadi ketakutan, atau aku akan menganggukkan kepala, karena aku-pun menganggap bahwa hanya Mahisa Walungan saja yang pantas melawan Sri Rajasa? O, kalau aku tidak menyadari bahwa kau-pun orang Kediri, meskipun kau berdiri di pihak pemberontak itu, aku sudah menyobek mulutmu.”

Terasa jantung kedua utusan itu berdesir. Darahnya seakan-akan mengalir semakin cepat naik ke kepala. Tetapi keduanya tetap pada sikap hormatnya, seperti pesan Gubar Baleman dan Mahisa Walungan.

“Nah. kembalilah kepada pemimpinmu sebelum darahku mendidih,” berkata Pujang Warit, “katakan semua jawabku kepada mereka.”

Hampir bersamaan keduanya menarik nafas dalam-dalam. Agaknya kedatangan mereka sama sekali tidak mendekatkan hubungan antara kedua pasukan yang tengah bertempur melawan pasukan Singasari itu.

“Jadi, apakah usaha Adinda Sri Baginda untuk menemukan titik pertemuan di antara kedua pasukan ini tidak berhasil?” bertanya salah seorang dari mereka.

“Kalau Mahisa Walungan bersedia mematuhi perintah Sri Baginda, maka kesatuan itu akan terwujud dengan sendirinya.”

“Baiklah, aku akan mengatakannya,” berkata salah seorang utusan itu, “mudah-mudahan ada pendekatan yang dapat menumbuhkan harapan bagi Kediri untuk tetap bertahan.”

“Kau sudah menjadi putus-asa,” potong Pujang Warit, “kenapa kau tiba-tiba menjadi cengeng? Prajurit Kediri bukan prajurit yang cengeng seperti kau.”

“Aku tidak cengeng,” jawab utusan itu, “tetapi aku menjadi prihatin, bahwa justru para pemimpin tertinggi pasukan Kedirilah yang membuat kami, bawahan, terpecah-belah.”

“Diam. Diam kau. Tidak sepantasnya bawahan menilai atasannya. Kau hanya bertugas menyampaikan pesan Mahisa Walungan dan Gubar Baleman, kemudian menyampaikan jawabanku kepada mereka.”

“Baik, baik,” desis utusan itu.

Mereka-pun kemudian minta diri dengan hati yang pedih. Pujang Warit sendiri tidak bersedia membuka pintu bagi pembicaraan berikutnya.Dengan demikian, maka keadaan pasukan Kediri pasti masih akan selalu dibayangi oleh perpecahan di antara mereka. Suasana yang tidak menentu masih akan berkepanjangan, meskipun lawan telah berada di ujung hidung.

Demikianlah maka kedua utusan itu-pun segera memacu kuda mereka kembali keperkemahan Mahisa Walungan dan Gubar Baleman. Dengan tanpa melampaui pengertian yang dikatakan oleh Pujang Warit, maka disampaikannya jawabannya dengan singkat kepada Mahisa Walungan dan Gubar Baleman.

Mahisa Walungan menarik nafas dalam-dalam, sedang Gubar Baleman mengelus dadanya dengan telapak tangannya. Kekecewaan yang mendalam telah merasuk sampai ke pusat jantungnya.

“Bagaimana hal ini dapat terjadi atas Kediri?” desis Mahisa Walungan. Tetapi di dalam hati ia seakan-akan melihat dengan jelas, bahwa kesalahan dari para pemimpin Kediri sudah mulai tumbuh sejak Kediri menjadi besar, terutama Sri Baginda Kertajaya sendiri, yang lambat laun telah menumbuhkan keadaan yang pahit seperti saat itu.

“Tetapi kita harus tetap berusaha, agar Kediri tetap mampu berdiri tegak, meskipun luka-parah,” berkata Mahisa Walungan. Namun kekecewaan yang dalam, yang mencengkam jantungnya itu, tidak dapat disingkirkannya.

“Apakah sebaiknya aku datang sendiri kepadanya?” berkata Gubar Baleman, “mungkin aku dapat menemukan kemungkinan-kemungkinan untuk mencari persesuaian meskipun hanya bersifat sementara. Sebenarnya bagi kita, persoalan siapakah yang memegang pimpinan tertinggi itu sama sekali bukan masalah lagi. Yang penting bagi kita, bagaimana kita dapat menyusun kekuatan sepenuhnya untuk melawan Singasari saat ini.”

Mahisa Walungan menarik nafas dalam. Kemudiannya ia-pun tidak berkeberatan, seandainya Pujang Warit tidak menuntut hal-hal yang tidak mungkin terpenuhi.

“Bagaimana pendapat Adinda Mahisa Walungan?” bertanya Gubar Baleman.

Mahisa Walungan menarik nafas dalam-dalam. Kemudian jawabnya, “Baiklah. Kalau kakang Menteri Gubar Baleman berpendapat demikian. Tetapi menilik sifat dan watak anak itu, ia pasti akan menjadi besar kepala. Mungkin ia akan menuntut aku dan kakang Gubar Baleman untuk menyerahkan leher kita sebelum ia bersedia menyatukan diri.”

“Aku akan mencoba menjajaginya.”

“Baiklah. Tetapi hati-hatilah. Pujang Warit adalah orang yang paling licik yang pernah aku temui di Kediri.”

Gubar Baleman-pun kemudian membawa sepasukan kecil pengawal berkuda, menuju keperkemahan Pudjang Warit untuk mendapatkan penyelesaian dari masalah yang paling mengganggu di saat-saat Kediri berada di pintu bahaya.

Gubar Baleman sendiri menyangsikan hasil dari kunjungannya itu, meskipun ia sudah mengorbankan segala-galanya, harga diri dan kadudukannya sebagai pemimpin pasukan Kediri.

“Aku tidak akan berarti apa-apa, asal Kediri dapat diselamatkan. Meskipun kelak aku harus menyembah di bawah kaki Pujang Warit sekali-pun, namun Kediri tidak tenggelam dalam arus banjir bandang yang datang dari Singasari.”

Demikianlah Menteri yang memimpin segenap kesatuan prajurit Kediri itu sudah melupakan kepentingan diri sendiri. Seluruh hidupnya memang sudah diserahkannya kepada Tanah kelahirannya yang pernah mencapai puncak kebesarannya itu.

Semakin dekat Gubar Baleman dengan perkemahan Pujang Warit hatinya menjadi semakin berdebar-debar.Sekali-sekali ia menengadahkan wajahnya. Malam telah jauh.

“Aku masih sempat menemuinya. Masih ada sedikit waktu sebelum fajar menyingsing,” desisnya.

Dengan demikian maka Gubar Baleman-pun segera memacu kudanya mendekati perkemahan pasukan yang dipimpin oleh Pujang Warit. Dari kejauhan mereka sudah melihat nyala api di sela-sela dedaunan. Agaknya para prajurit fang bertugas sedang memanaskan diri di tepi perapian, atau para petugas yang menyediakan makan dan minum bagi patukan itu telah mulai melakukan kewajibannya.

Tetapi ketika mereka memasuki daerah perkemahan itu, hati Gubar Baleman menjadi semakin berdebar-debar. Di regol padukuhan itu sama sekali tidak ada seorang-pun yang berjaga-aga. Sedang di seputar api itu-pun tidak tampak seorang prajurit-pun yang memanaskan diri. Sepi. Sepi sekali.

Sejenak Gubar Baleman menjadi termangu-mangu. Permainan apakah yang kini sedang dilakukan oleh Pujang Warit. Apakah terpikir olehnya untuk menjebak sekelompok praurit ini?

“Apakah anak itu sudah benar-benar kehilangan nalar, sehingga ia sampai hati berbuat demikian? “ pertanyaan itu tumbuh di hati Gubar Baleman.

Tetapi sebagai seorang prajurit yang berpengalaman, Gubar Baleman sama sekali tidak melihat kemungkinan itu.

“Marilah kita masuk lebih ke dalam,” katanya kepada para pngawalnya.

Karena pengawalnya menjadi ragu-ragu, Gubar Baleman berkata, “Tidak akan terjadi sesuatu.”

Tidak seorang-pun yang menjawab. Sekelompok prajurit itu-pun kemudian memasuki padukuhan yang dipergunakan sebagai tempat perkemahan oleh Pujang Warit.

Namun padukuhan itu benar-benar telah sepi.Sama sekali tidak dijumpainya seorang-pun juga. Penduduk telah pergi mengungsi, meninggalkan rumah mereka yang kemudian dipergunakan oleh Pujang Warit dan pasukannya. Namun pasukan itu-pun kini sudah tidak ada di tempat lagi.

Ketika Gubar Baleman menyentuh mangkuk yang berisi air. ia berdesis, “Mereka pasti belum lama meninggalkan tempat ini. Mereka masih meninggalkan minuman hangat di dalam mangkuk ini.”

Pengawalnya mengangguk-anggukkan kepala mereka. Memang tampaklah bahwa Pujang Warit dengan tergesa-gesa telah meninggalkan perkemahannya.

“Ke manakah mereka? “ tanpa sesadarnya Gubar Baleman bertanya.

Para pengawalnya hanya dapat saling berpandangan.“Marilah kita lihat seluruh perkemahan ini,” berkata Gubar Baleman.

Kesan para prajurit itu kemudian menguatkan, bahwa Pujang Warit belum lama meninggalkan padukuhan itu. Di beberapa tempat masih terdapat perapian yang menyala. Beberapa onggok bahan makanan, yang mentah dan yang sudah masak, tertinggal di dalam perkemahan itu pula. Bahkan beberapa pucuk senjata dan peralatan tertinggal pula di gardu, di ujung padukuhan.

Gubar Baleman menjadi bingung. Ia tidak dapat menduga sama sekali, ke mana pasukan Pujang Warit pergi.

Memang terlintas beberapa kemungkinan yang dapat dilakukan oleh Pujang Warit. Tetapi Gubar Baleman menggelengkan kepalanya sambil berdesah lirih, “Tidak. Tidak mungkin Pujang Warit terjerumus ke dalam pengkhianatan yang lebih dalam.”

Sejenak kemudian, setelah Gubar Baleman meyakini bahwa perkemahan itu memang sudah kosong, maka katanya kepada para pengawalnya, “Marilah, kita tinggalkan tempat ini. Aku tidak mempunyai cukup bahan untuk menduga, ke mana Pujang Warit pergi.”

Sekelompok kecil prajurit itu-pun kemudian meninggalkan perkemahan itu kembali kesebelan Utara Ganter. Di sepanjang jalan Gubar Baleman mencoba untuk memecahkan teka-teki yang baru saja ditemuinya. Tetapi yang terlintas di kepalanya adalah beberapa jawaban yang tidak meyakinkan.

Hal itulah yang kemudian disampaikannya kepada Mahisa Walungan. Perkemahan itu telah kosong.

Mahisa Walungan-pun menjadi sangat heran karenanya. Perlahan-lahan ia berdesis, “Apakah mungkin Pujang Warit membuat hubungan dengan orang-orang Singasari?”

Gubar Baleman menarik nafas dalam-dalam. Tetapi kemudian ia menjawab, “Menurut dugaanku, tentu tidak. Bagaimana-pun juga Pujang Warit adalah seorang yang bernafsu untuk menguasai pimpinan Keprajuritan Kediri, sehingga ia pasti masih akan tetap bertahan dalam keadaan apapun juga.”

“Kalau begitu,” berkata Mahisa Walungan, “apakah anak itu dengan sengaja menghindarkan diri dari medan ini, agar pasukan Singasari sempat mendesak kami?”

“Itulah kemungkinan yang paling dekat menurut perhitunganku,” sahut Gubar Baleman.

Mahisa Walungan menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Perhitungan Pujang Warit sudah menjadi kabur. Sebenarnya ia bukan seorang Senapati yang bodoh. Seharusnya ia mengerti, dengan demikian Singasari akan dengan mudahnya menggilas pasukan-pasukan yang terpecah belah ini.”

Gubar Baleman mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Nafsu dan angkara murka orang-orang Kediri sendirilah yang telah menjerumuskan negeri ini kelembah kehancuran.”

Mahisa Walungan tidak menyahut. Namun tampaklah kepahitan yang tajam membayang di wajahnya. Meskipun matanya tetap memancarkan tekad seorang Senapati besar, tetapi hatinyalah yang menangis. Menangisi ketamakan, nafsu dan pamrih yang berlebih-lebihan dari orang Kediri sendiri.”

Selagi kedua Senapati Agung itu merenungi nasib Kediri yang malang, dengan tergesa-gesa seorang petugas sandi memasuki perkemahan itu, diantar oleh seorang Senapati.

Mahisa Walungan dan Gubar Baleman mengerutkan kening mereka.

“Duduklah,” berkata Mahisa Walungan.

Petugas sandi itu-pun kemudian duduk dengan nafas terengah-engah.

“Apakah yang kau lihat?” bertanya Gubar Baleman, “apakah kau petugas di depan pasukan Singasari?”

Petugas sandi itu menggelengkan kepalanya, “Bukan. Aku tidak bertugas di hadapan pasukan Singasari.”

Kedua Senapati Agung itu saling berpandangan sejenak.Lalu, “Di mana kau bertugas?”

“Aku bertugas mengawasi pasukan Pujang Warit.”

Mahisa Walungan menarik nafas dalam-dalam. Kekeruhan di hatinya telah membuatnya khilaf, bahwa beberapa petugas sandi akan dapat memberikan sedikit keterangan tentang pasukan Pujang Warit itu.

“Mereka telah meninggalkan perkemahan,” desis Gubar Baleman.

“Tuan sudah mengetahuinya?” bertanya prajurit itu.

Ketika Gubar Baleman menganggukkan kepalanya, petugas sandi itu memandangnya dengan heran. Sekali-sekali ditatapnya wajah Mahisa Walungan, namun kemudian ia memandang Gubar Baleman dengan sepercik pertanyaan di dalam hatinya.

“Aku baru datang dari perkemahan Pujang Warit,” berkata Gubar Baleman kemudian, “tetapi perkemahan itu sudah kosong.”

Petugas itu mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Tetapi aku tidak dapat menduga, ke mana mereka pergi.” Gubar Baleman berhenti sejenak, lalu ia-pun bertanya, “Apakah kau melihat arah mereka?”

Sekali lagi petugas itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya kemudian, “Ya. Aku melihat mereka. Mereka, agaknya telah menarik pasukan itu masuk kota.”

“He.” Gubar Baleman terkejut. Mahisa Walungan-pun terkejut pula sehingga ia tersentak maju setapak.

“Jadi,” berkata Mahisa Walungan, “Pujang Warit membawa pasukannya masuk kota?”

Petugas itu mengangguk, “Ya. Menurut pengamatanku.”

Mahisa Walungan menarik nafas dalam-dalam. Desisnya, “Anak itu benar-benar sudah menjadi gila. Apakah ia sama sekali tidak menyadari bahwa ia sudah tidak mengacuhkan Kediri lagi karena nafsunya itu? Aku tidak tahu, bagaimana mungkin seorang Senapati seperti Pujang Warit dapat membuat kesalahan yang menentukan ini.”

Gubar Baleman menggeleng-gelengkan kepalanya. Mulutnya sudah bergerak-gerak untuk berbicara, tetapi niatnya dibatalkannya.

“Baiklah,” berkata Mahisa Walungan kemudian, “beristirahatlah.”

Petugas itu-pun kemudian minta diri bersama pengantarnya, kembali ke dalam pasukannya. Berita tentang Pujang Warit yang meninggalkan perkemahannya itu-pun segera tersebar keseluruh telinga di perkemahan itu.

Berita itu benar-benar telah mendebarkan jantung. Hampir setiap prajurit mempunyai penilaian yang sama, seperti penilaian Mahisa Walungan dan Gubar Baleman.

“Kakang,” berkata Mahisa Walungan, “Pujang Warit benar-benar ingin menjerumuskan kita ke dalam jurang kehancuran. Mungkin ia yakin, bahwa ia akan dapat menghancurkan sisa-sisa pasukan Singasari setelah bertempur mati-matian melawan pasukan Kediri di perkemahan ini.”

“Ya,” jawab Gubar Baleman, “aku kira Pujang Warit berharap bahwa ialah yang akan mendapat nama karenanya. Bahwa Pujang Waritlah yang telah menahan arus pasukan Singasari setelah Mahisa Walungan dan Gubar Baleman mengalami kegagalan.”

Mahisa Walungan mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi ia berdesis seolah-olah kepada diri sendiri, “Pujang Warit telah salah menilai pasukan Singasari. Ia tidak menyadari bahwa Sri Rajasa bukan anak kemarin sore di medan yang ganas mi. Ternyata ia masih cukup menyimpan pasukan cadangan, sedang dengan demikian kita tidak akan dapat mengharap apa-apa lagi dari pasukan yang terpencar, karena pokal Pujang Warit.”

Gubar Baleman tidak menyahut. Tetapi ia merasa bahwa tugas mereka besok pagi akan terlampau berat. Berat sekali. “Dan apakah aku akan dapat memikulnya?” pertanyaan itu bergema tidak saja di hati Gubar Baleman, tetapi juga di hati Mahisa Walungan.”

“Sudahlah,” terdengar suara Mahisa Walungan, “apakah masih ada kesempatan untuk sekedar beristirahat?”

Gubar Baleman mengerutkan keningnya. Ketika ia menjenguk keluar perkemahan ia melihat para petugas yang akan menyediakan makan bagi para prajurit telah sibuk dengan pekerjaannya.

“Sudah hampir pagi,” desis Gubar Baleman.

Mahisa Walungan mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun kemudian ia-pun menyilangkan tangannya di muka dadanya sambil bergumam, “Aku akan beristirahat sebentar.”

Gubar Baleman tidak menyahut. Ketika Mahisa Walungan menyandarkan dirinya pada dinding bambu, maka Gubar Baleman-pun berbuat serupa pula.

Sekejap mereka masih sempat memejamkan mata.Namun yang sekejap itu benar-benar telah berpengaruh bagi tubuh mereka. Mereka merasa bahwa tubuh mereka telah menjadi segar kembali.

Tetapi, bagi Gubar Baleman. yang sekejap itu selain membuatnya menjadi segar, juga membuatnya menjadi gelisah. Di antara sadar dan tidak sadar, ia melihat hujan dan angin yang besar melanda rumahnya. Tanpa dapat berbuat apa-apa ia melihat rumahnya menjadi miring. Semakin lama semakin miring.

Gubar Baleman menarik nafas dalam-dalam. Diusapnya matanya yang menjadi kemerah-merahan.

“Apakah aku bermimpi?” ia berdesis.

Sambil menarik nafas dalam-dalam dipandanginya Mahisa Walungan yang masih bersandar dinding sambil memejamkan matanya. Namun wajah itu-pun tampaknya terlampau suram.

Gubar Baleman mengusap keningnya yang berkeringat, kesuraman wajah Mahisa Walungan membayangkan kesuraman wajah Kediri.

“Apapun yang akan terjadi,” desis Menteri yang setia kepada tanah kelahirannya itu, “aku harus bertahan.”

Dengan hati-hati Gubar Baleman-pun kemudian bangkit perlahan-lahan ia melangkah keluar. Tetapi ia tidak meninggalkan pintu yang terbuka, meskipun di muka pintu itu terdapat sekelompok prajurit yang berjaga-jaga. Sekali-sekali ia berpaling memandang Mahisa Walungan yang masih saja bersandar dinding sambil menyilangkan tangannya di dadanya.

“Aneh,” desis Gubar Baleman, “wajah itu menjadi kian suram. Bukan saja suram, tetapi pucat.”

Gubar Baleman berdesah. Diusapnya matanya. “Mudah-mudahan matakulah yang salah.”

Menteri, pemimpin pasukan Kediri itu-pun kemudian duduk di antara para prajurit yang bertugas. Dicobanya untuk menenangkan perasaannya dengan kelakar. Namun agaknya setiap prajurit-pun dibayangi oleh perasaan serupa.

Dengan demikian, bagaimana-pun juga, suasananya selalu menjadi beku. Setiap kali terkilas di dalam angan-angan mereka, bahwa pasukan Singasari akan membanjiri pasukan Kediri yang seakan-akan menjadi semakin kecil jumlahnya.

Ketika Gubar Baleman berpaling, dilihatnya Mahisa Walungan telah duduk merenungi mangkuknya. Sejenak kemudian ia bangkit lalu melangkah keluar.

Ketika ia memandang langit yang hitam, segera ia berata “Kita harus segera siap. Sebentar lagi fajar akan menyingsing.”

Sebentar kemudian, maka para petugas-pun sudah mulai membagikan ransum para prajurit, sekelompok demi sekelompok. Mereka yang masih segan untuk bangun, menggeliat sambil mengusap matanya. Tetapi ketika kawannya meletakkan sebungkus nasi di tangannya, maka ia-pun segera bangkit, “He, nasi hangat.”

“Suapi mulutmu. Sudah hampir pagi. Kalau tengara itu berbunyi sebelum kau makan, maka kau akan kelaparan di lapangan pertempuran.”

“Aku belum mencuci muka.”

“Di rumah-pun kau tidak mencuci muka dahulu sebelum makan. Apalagi di medan.”

Prajurit itu tertawa. Tetapi ia tidak segera menyuapi mulutnya. Perlahan-lahan ia berdiri untuk mencari minum lebih dahulu.

Belum lagi mulut-mulut berhenti mengunyah, maka di kejauhan telah terdengar suara tengara. Hampir bersamaan setiap mulut-mulut itu-pun berdesis, “Singasari sudah mempersiapkan dirinya.”

Para prajurit Kediri-pun kemudian segera mengemasi diri masing-masing. Mereka meneguk beberapa tetes air untuk menggusur nasi di leher mereka.

Sejenak kemudian, para prajurit Kediri itu sudah mulai bersiap-siap. sementara langit menjadi semakin merah. Salah seorang yang masih mengunyah makannya berdesis, “He, apakah kau benar-benar menikmati makanmu pagi ini?”

“Kenapa?” bertanya kawannya yang berdiri di sampingnya.

“Siapa tahu, makanan itu adalah makananmu yang terakhir.”

Kawannya tersenyum. Namun di balik senyum itu, membayang keragu-raguan yang dalam. Meskipun kawannya itu sekedar berkelakar, namun, hampir di setiap dada, membersitlah perasaan yang demikian.

Seorang prajurit muda menimang-nimang pedangnya. Digosok-gosoknya hulu pedangnya yang dibuat dari gading. Kepada kawannya yang berdiri di sampingnya ia berkata, “Kau lihat, bahwa aku mempunyai pedang berhulu gading.”

Kawannya berpaling.

“Aku tidak mempergunakan pedang yang aku terima dari pimpinan keprajuritan. Di saat-saat yang gawat aku mempergunakan pedangku sendiri, yang berhulu gading.”

Kawannya mengamat-amati hulu pedang itu. Tetapi kesuraman fajar masih menyaput warna putih kekuning-kuningan itu.

“Kau tidak percaya?” bertanya prajurit yang masih muda itu.

“Aku percaya.”

“Terima kasih. Pedang ini aku terima dari ayahku.” prajurit muda itu berhenti sejenak, lalu, “kau tahu rumahku?”

Kawannya mengerutkan keningnya, “Ya, kenapa?”

“Nah, terima kasih.”

Kawannya menjadi heran. Dipandanginya wajah prajurit muda itu dengan saksama. Sedang prajurit muda itu melontarkan tatapan matanya jauh keseberang medan yang akan mereka pergunakan.

“Sebentar lagi kita akan bertempur,” desis prajurit muda itu, “kita masing-masing tidak tahu pasti, apakah yang akan terjadi atas diri kita.” ia berhenti sebentar. Lalu, “kalau terjadi sesuatu atasku, tolong, bawa pedang ini kembali kepada ayahku.”

“Hus,” desis kawannya, “jangan mengigau.”

Prajurit muda itu berpaling. Tetapi kemudian ia-pun tersenyum.Katanya, “Pujang Warit memang gila. Ia sampai hati mengorbankan kawan-kawannya sendiri untuk alas kakinya, dalam usahanya memanjat ke tingkat tertinggi dari susunan keprajuritan Kediri.”

“Ia akan memetik buah dari kelicikannya itu.”

Prajurit muda itu kini tertawa, “Kediri-pun akan memetik buah dari ketamakannya.”

Kawannya menepuk bahunya sambil berdesis, “Jangan berputus asa.”

“He, apakah aku berputus-asa? Kau salah terka. Aku tidak berputus-asa,” namun suaranya kemudian merendah, “tetapi apakah kita tidak seharusnya menilai keadaan?”

Kawannya mengangguk-anggukkan kepalanya, “Ya, ya. Kita memang harus menilai keadaan.”

Prajurit-prajurit Kediri itu-pun kemudian mengatur diri mereka masing-masing ketika mereka mendengar tengara bagi pasukan itu. Masing-masing telah berada di dalam kelompoknya, dan kelompok-kelompok sudah menempatkan diri di dalam gelar.

Tanda-tanda kebesaran-pun telah dipasang. Umbul-umbul dan panji-panji yang melekat pada tunggul-tunggul yang mempunyai kesan tersendiri. Tunggul-tunggul yang berwarna kekuning-kuningan, bertangkai sepanjang tombak larakan.

Sejenak kemudian Mahisa Walungan yang memegang pimpinan tertinggi atas nama Sri Baginda Kertajaya, turun ke dalam gelar yang sudah mulai dipasang. Di belakangnya sebuah songsong yang kuning gemerlap dikawal oleh lima orang prajurit pilihan.

“Seharusnya Pujang Warit menyadari dirinya,” berkata Gubar Baleman di dalam hatinya, “songsong kebesaran itu adalah pertanda bahwa Mahisa Walungan telah mewakili Sri Baginda.”

Sejenak kemudian pasukan di ke dua belah pihak-pun sudah siap. Ketika matahari menjadi semakin merayap naik, menghampiri cakrawala, maka langit-pun menjadi semakin-cerah.

Perlahan-lahan pasukan Kediri itu-pun bergerak maju. Angin pagi yang basah menyentuh panji-panji dan umbul-umbul yang beraneka warna.

Di seberang yang lain pasukan Singasari-pun telah siap pula. Seperti yang direncanakan oleh Sri Rajasa, pasukan Singasari telah memasang gelar dengan segala macam tanda-tanda kebesaran Kerajaan Singasari.

Panji-panji yang dipasang pada tunggul-tunggul yang megah, umbul-umbul dan payung yang berwarna kuning emas.

Sesaat sebelum pasukannya bergerak Sri Rajasa masih menerima beberapa laporan tentang lawangnya. Beberapa saat ia masih merenungi medan yang terbentang di hadapannya.

“Mahisa Agni,” desis Sri Rajasa, “kita telah menumpahkan semua kekuatan kita di medan hari ini. Kalau hari ini kita gagal, maka harapan untuk maju di hari-hari berikutnya-pun menjadi semakin kecil.”

Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Dan apakah kau yakin kepada laporan petugas sandi, bahwa sepasukan prajurit Kediri, justru yang terasing itu sudah ditarik dari medan?”

“Demikianlah laporan yang hamba terima Tuanku. Tetapi hamba percaya kepada petugas sandi itu. Petugas itu bahkan berhasil memasuki bekas perkemahan prajurit Kediri itu. Pada saat yang bersamaan, sekelompok kecil pasukan yang diduga datang dari pasukan induk telah datang keperkemahan itu pula. Tetapi menurut petugas sandi itu, agaknya yang datang itu tidak tahu, bahwa pasukan yang ada di perkemahan itu telah meninggalkan padukuhannya.”

“Kita menjadi semakin yakin, bahwa memang telah terjadi perpecahan di Kediri.”

“Dan sekarang, apakah Tuanku tetap akan menurunkan seluruh pasukan di satu medan?”

“Ya. Kalau di perkemahan yang lain memang sudah tidak ada pasukan lawan, kita pusatkan kekuatan kita di sini. Kita harus dapat memecahkan pertahanan pasukan Kediri. Hari ini aku akan membawa dua orang Senapati pengapit. Panglima pasukan pengawal dan panglima pasukan keamanan ada padaku. Kau-pun akan di sampingi oleh panglima pasukan tempur yang kemarin memimpin pasukan pecahan itu dan Pimpinan Pelayan Dalam.”

“Tetapi, apakah kita tidak memerlukan sebuah pasukan cadangan Tuanku. Kalau semua kekuatan hari ini turun kegelanggang kita akan kehilangan kesempatan untuk berbuat sesuatu, apabila tiba-tiba saja timbul masalah-masalah yang tidak dapat kita perhitungkan lebih dahulu.”

“Semua orang yang ikut ke medan ini adalah prajurit. Para pengawal perkemahan, juru masak, para pekatik dan orang-orang yang tinggal di perkemahan harus dapat menjaga diri mereka sendiri. Dalam keadaan darurat mereka merupakan sekelompok pasukan yang cukup untuk menolong diri mereka, sementara mereka mengirimkan penghubung ke medan.”

“Apakah dengan demikian, hal itu tidak akan justru mengganggu?”

“Tidak. Dan pada dasarnya, aku memang akan mengerahkan segenap kemampuan. Itulah sebabnya aku katakan, hari ini adalah hari yang menentukan. Kalau kita gagal, maka hari-hari yang berikutnya adalah hari-hari yang tidak dapat diharapkan lagi.”

Mahisa Agni tidak menyahut. Ia mengerti maksud Sri Rajasa. Dan ia-pun mengerti, bahwa sifat-sifat itu tidak akan dapat dihalau dari padanya. Sikap yang menentukan. Menang atau kalah sama sekali, seperti kebiasaan yang dibawanya dari padang Karautan.

Sejenak kemudian jarak gelar yang dipasang oleh ke dua belah pihak telah menjadi semakin mendekat. Pasukan Singasari-pun kemudian bergerak pula menyongsong pasukan Kediri yang telah mendahului memasuki medan.

Ketika Mahisa Walungan melihat gelar pasukan lawannya, hatinya menjadi berdebar-debar. Ia melihat perbedaan pada pasukan itu. Hari ini pasukan Singasari telah turun ke medan dengan segala macam tanda-tanda kebesaran.

“Agaknya Singasari telah meyakini keadaan,” berkata Mahisa Walungan di dalam hatinya.

Tetapi Mahisa Walungan sama sekali tidak terkecil hati meskipun kadang-kadang tumbuh juga kecemasan di dalam dadanya. Bukan tentang dirinya sendiri, tetapi ia tidak dapat mengingkari kenyataan, bahwa setelah Singasari menurunkan segenap kekuatannya maka pasukan Kediri nampaknya menjadi semakin kecil. Jumlah prajurit Singasari benar-benar tidak terhitung lagi. Jumlah yang sama sekali tidak diduga-duganya.

Mahisa Walungan menarik nafas dalam-dalam. Di belakangnya penongsongnya berjalan dengan mantap, dikawal oleh sekelompok prajurit pilihan.

Sejenak Adinda Sri Baginda Kertajaya itu melayangkan pandangannya menebar ke ujung-ujung gelarnya. Ia masih sempat meraba dadanya oleh haru. Bagaimana-pun juga, ia melihat sorot mata yang memancar dari prajurit-prajuritnya, sebagai keteguhan hati mereka menghadapi segala kemungkinan.

“Tidak seorang-pun yang ragu-ragu,” desisnya di dalam hati.

Sejenak kemudian Mahisa Walungan memandang kegelar lawannya yang semakin jelas. Ia sadar, bahwa Sri Rajasa memang seorang prajurit yang tangguh. Ia mempunyai ilmu yang sangat asing bagi Mahisa Walungan. Sebagai seorang yang berilmu, Mahisa Walungan cukup memiliki bekal untuk menilai tata gerak lawan.Tetapi ia menggeleng-gelengkan kepalanya, memikirkan tata gerak Sri Rajasa. Bahkan kadang-kadang dalam keadaan yang genting, Sri Rajasa telah melakukan beberapa macam cara yang bagi Mahisa Walungan, agak terlampau kasar dilakukan oleh seorang Raja yang perkasa. Namun di saat-saat yang lain, Sri Rajasa telah bertempur bagaikan seorang yang kebal dari sekala macam senjata. Tenang dan meyakinkan.

“Tetapi Sri Rajasa tidak kebal,” desisnya, “ternyata ia selalu menghindari tajam senjataku.”

Namun yang menggetarkan bagi Mahisa Walungan, kemampuan Sri Rajasa sama sekali tidak berkurang setelah sehari penuh ia bertempur.

Di hari pertama dan bahkan di hari kedua Sri Rajasa sama sekali tidak terpengaruh oleh banyaknya keringat yang menitik dari tubuhnya. Di saat-saat matahari sudah condong ke Barat, ia masih mampu bertempur seperti pada saat pertempuran itu dimulai.

Dan kini ia harus menghadapi Sri Rajasa itu kembali dalam keadaan yang pahit, sepeninggal Pujang Warit dari perkemahannya.

Dalam pada itu, Pujang Warit memang berada di perjalanan ke kota. Dalam waktu yang pendek ia memutuskan untuk meninggalkan medan.

“Tetapi, keputusan yang demikian itu akan sangat berbahaya bagi pasukan Adinda Sri Baginda Mahisa Walungan dan Menteri Gubar Baleman. Kita sudah merampas kemungkinan datangnya pasukan cadangan untuk membantu mereka, kini kita melepaskan mereka bertempur tanpa kita.”

“Bodoh kau,” geram Pujang Warit kepada Senapati pengapitnya yang mencoba memberinya peringatan, “Mahisa Walungan dan Gubar Baleman memang sudah tidak berhak untuk hidup.Sri Baginda melepaskan mereka, hanya karena Baginda terkejut atas berita tentang pasukan Singasari itu.”

“Bagaimana kalau Senapati muda yang menjemput Gubar Baleman ke perbatasan itu sampai ke istana?”

“Ia tidak akan memiliki nyawa rangkap.”

“Tetapi, masalahnya bukan Mahisa Walungan atau Gubar Baleman. Masalahnya adalah masalah Kediri.”

“Kau memang bodoh. Bersama kita atau tidak, Mahisa Walungan akan bertempur. Bertempur mati-matian. Kita tahu bahwa mereka adalah Senapati-senapati yang perkasa. Tetapi bagaimana perkasanya kedua orang itu, namun mereka tidak akan dapat menahan arus pasukan Singasari sehingga aku yakin, keduanya akan hancur di peperangan itu.”

“Bagaimana kalau mereka mengundurkan diri.”

Pujang Warit menggelengkan kepalanya, “Aku kira Mahisa Walungan dan Gubar Baleman tidak akan mengundurkan diri. Mereka yakin bahwa cara itu tidak akan ada gunanya bagi mereka, selama aku masih ada.”

Senapati pengapitnya mengerutkan keningnya.

“Jangan terlampau bodoh. Dalam pertempuran itu, pasukan Kediri akan pecah dan kocar-kacir.Tetapi pasukan Singasari-pun akan mengalami kehancuran yang parah. Sudah aku katakan berkali-kali. Kita akan berdiri di atas timbunan mayat ke dua belah pihak. Pujang Warit akan menjadi Senapati tertinggi. Siapa tahu, salah seorang adik Sri Baginda Kertajaya akan dihadiahkan kepadaku. Kemudian apa bedanya aku dengan Mahisa Walungan?”

Kawannya berbicara sudah tidak bernafsu lagi untuk membantah.Pujang Warit agaknya memang sudah tidak waras lagi. Tetapi Senapati itu sadar, bahwa ia tidak akan menumbuhkan perpecahan baru. sehingga sebelum mereka bertempur melawan Singasari. pasukan Kediri telah hancur dengan sendirinya.

Demikianlah maka pasukan Pujang Warit itu merayap mendekati kota. Beberapa ratus patok dari istana, Pujang Warit mengirimkan seorang penghubung untuk menghadap Sri Baginda, memberitahukan bahwa ia akan menghadap.

Kehadiran penghubung itu mengejutkan seisi istana yang selalu berjaga-jaga siang dan malam. Setiap saat mereka mendapat laporan dari medan di sebelah Utara Ganter. Karena itu, kedatangan utusan Pujang Warit telah menumbuhkan keheranan di hati Sri Baginda.

“Kenapa Pujang Warit akan menghadap?”

“Ampun Tuanku. Senapati Panggede Pujang Warit akan menyampaikan sesuatu yang dianggapnya penting bagi Tuanku.”

Sri Baginda Kertajaya berpikir sejenak. Meskipun ia tidak melihat medan, tetapi laporan yang diterimanya setiap kali telah memberikan gambaran yang jelas dari medan yang sedang diaduk oleh peperangan yang dahsyat di sebelah Utara Ganter.

Dalam pada itu, maka dua orang penasehat Baginda, tanpa berjanji, dan hampir bersamaan berkata, “Apakah hamba diperkenankan memanggilnya?”

“Aku belum memutuskan untuk menerima Pujang Warit,” jawab Sri Baginda.

Kedua orang itu saling berpandangan sejenak, namun mereka tidak berkata apa-apa lagi.

Dalam pada itu Sri Baginda mencoba menilai apa yang telah terjadi di medan peperangan yang mencemaskan itu.

Belum lagi Sri Baginda memberi keputusan, utusan yang dikirim oleh Mahisa Walungan seperti yang selalu dilakukannya, telah datang menghadap.

Dengan tergesa-gesa Sri Baginda bertanya, “Bagaimana dengan medan hari ini?”

Penghubung itu-pun segera melaporkannya, bahwa medan menjadi semakin berat.

“Pujang Warit meninggalkan perkemahannya,” berkata penghubung itu, “justru pada saat Singasari mengerahkan segala kekuatan dan pasukan cadangan di hari ketiga. Gelar yang dipasang hari ini ditandai dengan ciri-ciri kebesaran Sri Rajasa Batara Sang Amurwabumi.”

Dada Sri Baginda Kertajaya berdesir karenanya.

“Kenapa Pujang Warit justru meninggalkan medan di saat yang genting ini?” gumam Sri Baginda.

Namun tiba-tiba saja Sri Baginda itu berteriak kepada utusan Pujang Warit, “Kenapa ia pergi? Bahkan dengan segenap pasukannya yang ada di medan? Apakah Pujang Warit tidak sadar, bahwa dengan demikian ia sudah menjerumuskan pasukan Kediri yang lain ke dalam bencana?”

“Bahkan usaha Adinda Sri Baginda untuk memanggil pasukan cadangan yang tersebar-pun dihalang-halangi. Pujang Warit masih selalu menyebut dirinya, yang mendapat limpahan kekuasaan Sri Baginda Kertajaya.” Sela penghubung Mahisa Walungan.

Sri Baginda menjadi tegang sesaat. Dipandanginya kedua penasehatnya, kemudian utusan Pujang Warit yang menghadapnya.

Sejenak Sri Baginda itu merenung. memperbandingkan semua keterangan dan masalah-masalah yang pernah didengarnya dan disaksikannya.Karena itu paseban itu-pun menjadi sepi. Sepi yang tegang.

Dan tiba-tiba Sri Baginda berkata, “Aku masih tetap dalam pendirianku.Kalian tetap berada di paseban. Juga kau, tidak perlu kembali kepada Pujang Warit.”

“Ampun Tuanku. Saat ini Senapati Pujang Warit sedang menunggu.”

“Biarlah ia menunggu. Aku akan memanggilnya. Tetapi bukan kau.”

Utusan itu menjadi pucat. Tetapi ia tidak dapat berbuat lain dari pada menundukkan kepalanya.

Sri Baginda-pun kemudian dengan tiba-tiba meninggalkan ruangan paseban. Di ruang yang lain dipanggilnya beberapa orang Senapati. Senapati pengawal istana.

“Nah, apakah kau masih tetap setia kepadaku?” bertanya Sri Baginda.

Para Senapati itu saling berpandangan sejenak. Lalu salah seorang dari mereka berkata, “Ampun Sri Baginda, apapun yang akan terjadi, hamba telah menyatakan diri hamba bersama-sama, selalu setia kepada Sri Baginda.”

“Ya,” berkata Sri Baginda, “terima kasih. Dan kita bersama-sama telah membuat suatu kesalahan. Kita telah menangkap Mahisa Walungan. Untunglah bahwa Gubar Baleman mempunyai bentuk kesetiaan yang lain, sehingga aku terpaksa berpikir lagi mengenai mereka. Kini mereka berdua masih mempunyai kesempatan untuk maju ke medan perang. Tetapi keadaan Kediri telah menjadi parah.” Sri Baginda berhenti sejenak. Lalu, “kalian masih tetap harus berjaga-jaga di sekitar istana. Tidak seorang-pun boleh keluar.”

Para Senapati itu menganggukan kepala mereka. Yang tertua di antara mereka menjawab, “Hamba Tuanku.”

“Pujang Warit dan pasukannya kini telah berada di dalam kota.Senapati itu minta waktu untuk menghadap.”

Para Senapati itu saling berpandangan sejenak.

“Aku akan memanggil Pujang Warit. Tetapi kalian tahu, bahwa Pujang Warit ternyata telah mengelabui aku. Aku telah membuat kesalahan karenanya. Karena itu. Pujang Warit tidak akan mendapat tempat lagi di Kediri.”

Para Senapati menarik nafas dalam-dalam.

“Kalian tahu, akibat apa yang mungkin dapat timbul?Tetapi aku akan berusaha untuk mengatasi semuanya itu.”

“Hamba bersama-sama para Senapati dan prajurit pengawal yang masih ada akan menghadapi setiap kemungkinan Tuanku.”

“Bukankah di dalam pasukan Pujang Warit itu terdapat beberapa kelompok dari kesatuan pengawal?” bertanya Sri Baginda.

“Hamba Tuanku.”

Sri Baginda mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya kemudian, “Nah salah seorang dari kalian, pergilah. Panggil Pujang Warit. Kalau Pujang Warit menanyakan pesuruhnya, katakan, bahwa Sri Baginda masih memerlukannya untuk memberikan beberapa keterangan tentang medan dan pasukan Singasari.”

Demikianlah, maka salah seorang dari para Senapati itu-pun segera meninggalkan istana untuk menjemput Pujang Warit. Dari utusan Pujang Warit yang masih ada di paseban. Senapati itu tahu, di mana Pujang Warit dan pasukannya kini berada.

Kedatangan Senapati itu telah mengejutkan Pujang Warit. Yang pertama-tama ditanyakan adalah pesuruhnya.

“Sri Baginda masih memerlukan banyak sekali keterangan-keterangan tentang medan. Karena itu, maka aku diperintahkan oleh Sri Baginda untuk menjemputmu. Sri Baginda tidak berkeberatan untuk menerimamu. Bahkan semakin cepat semakin baik. karena Sri Baginda ingin lebih cepat dan lebih banyak mengetahui tentang medan.”

“Apakah Mahisa Walungan dan Gubar Baleman tidak pernah mengirimkan penghubungnya?”

Senapati itu mengerutkan keningnya. Sejenak ia berpikir, tetapi ia harus segera menjawab, katanya, “Laporan mereka tidak meyakinkan. Yang ada hanyalah keluh kesah dan hampir menjadi putus-asa. Itulah yang akan didengar oleh Sri Baginda.” Senapati itu terdiam sejenak. Namun ia mengerti sepenuhnya maksud Sri Baginda, sehingga ia meneruskannya.“Sri Baginda tidak meletakkan harapannya pada pasukan Mahisa Walungan dan Gubar Baleman. Pertahanan itu adalah pertahanan depan yang harus dirangkapi dengan pertahanan yang lain. Untuk sementara. Sri Baginda telah menjadikan dinding istana sebagai benteng terakhir.”

“Berbahaya sekali,” dengan serta-merta Pujang Warit menjawab.

“Untuk sementara. Tetapi sebaiknya kau menghadap sendiri.”

Pujang Warit mengerutkan keningnya. Ada sesuatu yang kurang mapan di hatinya. Namun ia yakin, bahwa dalam keadaan serupa ini, Sri Baginda tidak akan berbuat sesuatu yang akan dapat mengurangi kekuatan Singasari.

Karena itu maka katanya, “Baiklah, aku akan menghadap Sri Baginda.”

Tetapi ternyata Pujang Warit tidak pergi sendiri. Ia membawa beberapa orang prajurit yang dipercayanya, untuk mengawalnya ke istana.

Senapati yang menjemputnya menjadi termangu-mangu. Tetapi supaya Pujang Warit tidak mencurigainya, maka ia-pun sama sekali tidak berkeberatan, membawa Pujang Warit bersama beberapa orang pengawal.

Sejenak kemudian maka mereka-pun segera berpacu ke istana. Ketika mereka memasuki pintu gerbang, setiap prajurit pengawal istana, sudah tahu apa yang harus mereka lakukan. Meskipun demikian mereka tidak segera bertindak agar tidak menumbuhkan beberapa keributan.

“Cara yang dipergunakan oleh Menteri Gubar Baleman pantas ditiru,” desis salah seorang Senapati, “mereka menguasai keadaan tanpa terjadi sesuatu. Apakah dapat dilakukan tindakan serupa atas para pengawal yang tinggi di luar paseban itu.”

Kawannya menganggukkan kepalanya. “Mungkin sekali. Aku akan membawa pengawal itu kesamping bangsal.”

Senapati yang seorang itu-pun kemudian meninggalkan kawannya untuk membawa para pengawal Pujang Warit kesamping bangsal, sedang kawannya itu-pun segera mempersiapkan beberapa orang prajurit pengawal untuk menguasai para pengawal Pujang Warit itu.

Dalam pada itu, Pujang Warit yang telah sampai di luar regol halaman bangsal paseban dalam, segera turun dari kudanya. Tetapi ia tidak dapat masuk membawa pengawal-pengawalnya, sehingga karena itu, maka diantar oleh Senapati yang menjemputnya, ia melangkah di antara dua orang penjaga di bawah tangga bangsal paseban. Tetapi kedua penjaga itu, tidak memberikan kesan apapun pada Senapati muda itu.

Bahkan keduanya menganggukkan kepala mereka, memberikan hormat sebagai mana seharusnya dilakukan terhadap seorang Senapati.

Dengan demikian maka para pengawal Pujang Warit-pun tinggal di halaman bangsal paseban dalam, sedang kuda-kuda mereka harus mereka tinggalkan di luar regol. Tetapi hal itu sama sekali tidak menumbuhkan kecurigaan apapun pada Pujang Warit dan pengawalnya, karena memang demikianlah kebiasaan seseorang, siapapun dan betapapun pentingnya keperluannya, apabila menghadap Sri Baginda di paseban dalam.

Para pengawal itu berpaling ketika mereka mendengar seseorang menyapa mereka. Ternyata seorang Senapati datang menghampiri mereka dari sisi paseban itu. Sambil tertawa Senapati itu berkata, “Sri Baginda telah lama menunggu. Apakah kalian datang mengantarkan Pujang Warit?”

“Ya, kami datang mengawal Pujang Warit,” jawab seorang Senapati yang ada di dalam kelompok pengawal itu.

“Bagus. Agaknya keadaan sudah menjadi terlampau panas, sehingga Sri Baginda sendiri-pun menjadi agak bingung menghadapinya.”

“Kenapa bingung?” jawab Senapati pengawal Pujang Warit, “bukankah Sri Baginda sudah menyerahkan segala tanggung jawab kepada Pujang Warit?”

“Ya. tetapi karena Sri Baginda kekurangan bahan laporan itulah agaknya maka Sri Baginda menjadi bingung. Mudah-mudahan dengan kedatangan Pujang Warit, Sri Baginda mendapat banyak penjelasan.”

“Mudah-mudahan.”

“Tetapi,” berkata Senapati pengawal istana itu, “sebaiknya kalian berada di samping bangsal ini. Dilongkangan sebelah kalian dapat duduk sambil minum. Bukankah Pujang Warit memerlukan waktu untuk menyampaikan laporannya itu?”

Senapati pengawal Pujang Warit itu menjadi ragu-ragu sejenak. Sedang pengawal istana itu berkata, “Apakah kalian akan berdiri saja di sini?”

Sejenak Senapati pengawal Pujang Warit itu merenung. Kemudian dipandanginya anak buahnya seorang demi seorang. Nampaknya mereka mengharap untuk dapat duduk beristirahat dengan tenang sambil minum minuman hangat.

“Baiklah,” berkata pengawal itu kemudian, “di mana kami dapat duduk menunggu?”

“Di sebelah bangsal ini.”

Para pengawal itu-pun kemudian berjalan beriringan melingkari sudut paseban, menuruni sebuah tangga batu menuju kesebuah longkangan yang dirimbuni oleh daun-daun pohon sawo kecik.

Beberapa orang pengawal yang ada di tempat itu menganggukkan kepala mereka sambil tersenyum. Dengan ramahnya mereka mempersilahkan para pengawal Pujang Warit itu untuk duduk berjajar di halaman, pada sehelai tikar, pandan yang putih di bawah bayang-bayang pohon yang rimbun.

Namun belum lagi mereka mapan, tiba-tiba mereka terkejut. Seperti mimpi mereka melihat para pengawal itu bergeser setapak, kemudian muncul beberapa orang yang lain, yang dengan satu loncatan telah menekankan ujung-ujung pisau belati di lambung mereka.

“He, apa artinya ini?” bertanya Senapati pemimpin pengawal Pujang Warit.

“Tidak menjadi kebiasaan seorang Senapati yang dipanggil menghadap oleh Sri Baginda membawa sekian banyak pengawal.”

“Sama sekali bukan suatu keanehan,” jawab Senapati itu, “pengawal ini kami perlukan di sepanjang perjalanan, dalam suasana yang panas ini.”

“Tetapi lawan masih berada di sebelah Utara Ganter.”

“Siapa tahu ada pesuruh-pesuruh di dalam kota yang sengaja disebarkan oleh orang-orang Singasari, atau justru oleh orang-orang Mahisa Walungan dan Gubar Baleman.”

“Mahisa Walungan dan Gubar Baleman sedang bertempur mempertahankan Kediri.”

“Mereka sedang mencoba untuk memperbaiki kesalahan mereka. Tetapi seandainya mereka dapat mengusir pasukan Singasari, apakah mereka tidak memutar arah peperangan ini menghadap ke istana?”

“Suatu ceritera yang aneh. Kami di sini, bahkan Sri Baginda pernah mempercayai ceritera itu. Tetapi kini kami berpendapat lain dan Sri Baginda-pun berpendapat lain. Apalagi setelah Pujang Warit meninggalkan medan yang kini sedang dalam keadaan tidak menguntungkan.”

Para pengawal itu menjadi tegang. Tetapi mereka tidak dapat berbuat apa-apa. Setiap orang telah dilekati dengan ujung-pisau belati di lambung atau punggungnya.

“Kini Sri Baginda sedang membuat perhitungan dengan Pujang Warit di paseban. di hadapan para pemimpin Kediri, para penasehat, para Menteri dan diawasi oleh beberapa orang Senapati yang telah mengerti persoalan yang sebenarnya. Dengan demikian, maka kami bertugas untuk membuat kalian tidak dapat ikut campur lagi dalam masalah ini.”

“Licik. Jadi beginikah cara yang selama ini ditempuh oleh pasukan pengawal yang terkenal itu? Menurut pendengaranku, pasukan pengawal istana adalah pasukan yang paling baik di Kediri.Tetapi ternyata kalian licik. Kenapa kalian tidak berusaha mengepung kami pada saat kami memasuki halaman istana?”

Para prajurit pengawal istana itu saling berpandangan sejenak. Tetapi terasa bahwa darah mereka menjadi panas mendengar kata-kata pimpinan prajurit pengawal Pujang Warit itu.

Salah seorang dari mereka berkata, “Kalau kami tidak sedang mengemban tugas, kami akan membuktikan bahwa kami bukan manusia yang licik.”

“He, masihkah kau ingkar? Kita bersama-sama melihat kenyataan ini.”

Senapati pengawal istana itu-pun menjawab, “Kami tidak dapat membiarkan darah kami menjadi panas dan mendidih bagaimana-pun juga dada kami bergelora. Cara ini kami tempuh untuk menghindari keributan yang tidak akan berarti apa-apa bagi kita semua. Justru apabila keributan ini merembes sampai keluar istana, akibatnya hanya akan membuat rakyat menjadi bertambah bingung.Mereka sedang dicemaskan oleh berita peperangan di sebelah Utara Ganter. Karena itu, maka kami berusaha untuk menyelesaikan tugas kami dengan cepat dan tanpa keributan.”

“Tetapi itu bukan perbuatan jantan.”

“Mungkin, menurut penilaian seorang prajurit di peperangan. Tetapi kami mempunyai pertimbangan lain. Mungkin kami memang harus mengorbankan kejantanan kami untuk kepentingan yang jauh lebih besar, Kediri.”

“Omong kosong. Setiap pengecut dapat mencari alasan apapun. Untung kepentingan yang lebih besar.”

“Kami tidak akan berbantah mengenai diri kami. Apakah kami orang-orang jantan, atau sekedar hanya segerombolan pengecut. Tetapi kami berhasrat melakukan tugas kami sebaik-baiknya. Karena itu maaf bahwa kami akan melucuti senjata kalian.”

“Gila,” teriak Senapati, pemimpin pasukan pengawal Pujang Warit itu, “tidak mungkin.Senjata kami sama nilainya dengan nyawa kami.”

“Jadi?”

“Kami tidak akan menyerahkan senjata kami.”

“Sekali lagi kami minta maaf, kalau kalian tidak menyerahkan senjata kalian, memang kami terpaksa mengambil yang lain, yang sama nilainya, yaitu nyawa kalian.”

“Gila, kalian sudah menjadi gila?”

“Mungkin kami sudah menjadi gila. Beberapa saat yang lampau kami berbuat serupa, menangkap Adinda Sri Baginda Mahisa Walungan. Kemudian kami berusaha menangkap Gubar Baleman, tetapi gagal. Justru kamilah yang dikuasai oleh prajurit-prajurit topangan seperti kalian yang setia kepada Menteri Gubar Baleman. Tetapi agaknya Gubar Baleman tetap tunduk dan setia kepada Sri Baginda. Sekarang, tugas kami menguasai kalian dan melucuti senjata kalian. Kami tidak lagi sempat menilai diri kami. Apakah kami memang gila atau tidak. Tetapi kami adalah prajurit-prajurit pasukan pengawal Baginda Kertajaya yang hanya dapat diperintah langsung oleh pimpinan kami yang berada di bawah perintah Sri Baginda.”

“Gila. Kalian gila. Aku tidak perlu sesorahmu. Tetapi kalian bukan prajurit-prajurit Kediri yang sebenarnya, karena dengan tindakan kalian telah melanggar sifat kesatria.”

“Sayang, bahwa pemimpinmulah yang mendahuluinya.”

“Siapa?”

“Pujang Warit. Apakah sampai sekarang kau tidak sadar bahwa Pujang Warit telah memfitnah Adinda Sri Baginda dan Menteri Gubar Baleman sehingga hampir saja keduanya terbunuh kalau tidak ada banjir bandang dari Singasari? Kemudian pemimpinmu itu dengan licik membiarkan pasukan Kediri di sebelah Utara Ganter hari ini bertempur tanpa bantuan pasukan cadangan yang seharusnya dapat dikumpulkan?”

“Kalian mengigau?”

“Diamlah. Kalian harus menyerahkan senjata kalian. Di dalam keadaan yang gawat, kami tidak dapat bergurau lagi. Senjatamu atau nyawamu.”

Senapati itu tidak menjawab. Tetapi giginya gemeretak menahan kemarahan yang memuncak.

Tetapi mereka tidak dapat berbuat apa-apa, ketika mereka dipaksa untuk berdiri berjajar. Kemudian seorang prajurit pengawal telah melepas pedang dari lambung mereka, dengan wrangkanya sama sekali.

“Kalian menjadi tawanan pasukan pengawal istana hari ini.”

Senapati pemimpin pengawal Pujang Warit itu tidak menjawab. Wajahnya yang tegang menjadi kemerah-merahan oleh gejolak di dalam dadanya.

Sementara itu Pujang Warit yang berada di paseban-pun menjadi tegang pula. Meskipun mula-mula Sri Baginda Kertajaya menyambutnya sambil tertawa, “Ha. kau Pujang Warit. Sudah lama kami menunggumu. Marilah.”

Pujang Warit semula memang tidak menaruh kecurigaan apa-apa.Orang-orang di paseban adalah orang-orang yang sudah dikenalnya. Dilihatnya di belakang Sri Baginda, di antara para penasehat, dua orang yang dikenalinya baik-baik. Tetapi Pujang Warit tidak segera dapat membaca kesan yang terpancar dari wajah-wajah mereka yang pucat dan basah oleh keringat yang dingin.

“Bagaimana rencana selanjutnya Pujang Warit? Sebagian aku sudah mendengar dari pesuruhmu yang mendahului kau menghadap. Aku menahannya di sini. karena aku ingin banyak mendengar tentang daerah pertempuran itu. Sehingga aku memerintahkan kepada orang lain untuk menjemputmu.”

Pujang Warit membungkukkan kepalanya dalam-dalam, “Ampun Tuanku. Barangkali sebagian terbesar dari masalah yang akan hamba sampaikan telah Tuanku ketahui. Pertahanan yang sebenarnya akan hamba bangunkan di dalam lingkungan yang lebih kuat. Hamba akan menjadikan dinding kota sebagai benteng pertahanan untuk mematahkan serbuan pasukan Singasari.”

Sri Baginda mengangguk-anggukkan kepalanya.“Apakah kau akan membangun benteng pertahanan itu hari ini?”

“Apabila Sri Baginda mengijinkan. Hamba memang merencanakan demikian.”

Sri Baginda mengangguk-anggukkan kepalanya. Dipandanginya Pujang Warit dengan tatapan mata yang menyimpan teka-teki. Tetapi Sri Baginda masih berkata, “Apakah pasukan yang cukup kuat untuk bertahan? Aku mendengar laporan dari orangmu sendiri, kekuatan Singasari bagaikan banjir bandang yang seakan-akan tidak terbendung.”

“Hamba Tuanku. Memang kekuatan Singasari cukup mendebarkan jantung.”

“Apakah prajuritmu cukup banyak untuk mempertahankan kota ini.”

“Tentu Tuanku. Aku akan berusaha sekuat-kuat tenaga. Prajurit-prajuritku akan aku perlengkapi dengan senjata jarak jauh untuk menahan laju mereka. Dengan demikian, apabila mereka mencapai dinding kota, jumlah mereka-pun sudah berkurang.”

“Tidak seberapa jumlahnya. Mereka akan segera berlindung di balik perisai-perisai mereka.”

Pujang Warit mengerutkan keningnya. Dan tiba-tiba di luar sadarnya ia berkata, “Tetapi ketika mereka mencapai dinding kota, maka jumlah mereka-pun pasti sudah akan jauh berkurang.”

“Kenapa?”

“Mereka sedang bertempur di sebelah Utara Ganter.”

“Dengan pasukan Mahisa Walungan dan Gubar Baleman maksudmu?”

“Hamba Tuanku.”

“Apakah Mahisa Walungan dan Gubar Baleman kira-kira tidak akan dapat menahan mereka?”

“Terlampau berat Tuanku.”

Dan sampailah Sri Baginda kepada pertanyaan yang mengejutkan Pujang Warit sehingga serasa jantungnya berhenti berdetak, “Kenapa kau tidak membantu Mahisa Walungan dan Gubar Baleman saja? Pasukan gabungan itu pasti setidak-tidaknya akan dapat menahan arus laju pasukan Tumapel. selagi kita mengumpulkan pasukan cadangan yang tersebar.”

Pujang Warit tidak segera menjawab pertanyaan Sri Baginda.Bahkan terasa keringat dinginnya mulai mengaliri punggungnya.

“Kenapa?” desak Sri Baginda.

Pujang Warit tergagap, “Tetapi, bukankah lebih baik bagi hamba untuk menyusun pertahanan tersendiri, sesuai dengan perintah Sri Baginda, bahwa hamba harus mengambil pimpinan seluruh pasukan Kediri.”

“Ya. aku memang memerintahkan kepadamu untuk mengambil pimpinan seluruh pasukan. Tetapi kenapa kau tidak berbuat demikian dan menyatukan pertahanan untuk melawan arus pasukan yang besar itu?”

“Ampun Tuanku. Hamba sudah mencoba, tetapi Mahisa Walungan dan Gubar Baleman tidak mau menyerahkan pimpinan. Justru mereka menganggap bahwa hamba harus tunduk kepada perintahnya.”

Terasa sesuatu bergetar di dada Baginda. Ia tidak dapat ingkar, bahwa ia-pun telah melakukan kesalahan. Ia telah menyerahkan pimpinan tertinggi kepada dua tangan. Ia sampai saat terakhir masih belum dengan tegas mencabut kekuasaan Pujang Warit, sehingga akhirnya, Kediri telah terbagi.

Namun demikian Sri Baginda melihat, niat yang kurang baik pada Pujang Warit. Kalau Gubar Baleman dan Mahisa Walungan dengan jujur telah berusaha untuk menggabungkan kekuatan mereka, seperti yang disampaikan oleh penghubungnya, maka Pujang Warit dengan sengaja menjerumuskan kedua orang yang menjadi saingannya itu ke dalam bencana.

Karena itu, maka Sri Baginda-pun bertanya, “Tetapi apakah kau tidak dapat membuat suatu cara, sehingga pasukanmu dapat bergabung dengan kekuatan Mahisa Walungan dan Gubar Baleman? Misalnya, kau mengorbankan sedikit harga dirimu seperti yang telah dilakukan oleh Gubar Baleman, tetapi dengan demikian Kediri dapat diselamatkan.”

“Tuanku, bukankah Gubar Baleman dan Mahisa Walungan menurut Tuanku adalah pengkhianat-pengkhianat? Apakah hamba harus menyerahkan pimpinan pasukan ini kepada seorang pengkhianat? Kalau mereka bersedia berjuang di dalam lingkungan perintah hamba, sesuai dengan keputusan Sri Baginda, hamba tidak akan berkeberatan.”

Sri Baginda mengangguk-anggukkan kepalanya.Sekali lagi ia melihat kesalahan pada dirinya sendiri.

Tetapi Sri Baginda tidak mau banyak kehilangan waktu, sehingga katanya kemudian, “Pujang Warit, aku tidak dapat mengingkari kesalahanku. Tetapi siapakah yang menyebabkan aku salah menilai kesetiaan adikku dan Menteriku Gubar Baleman?”

Pertanyaan yang langsung itu terasa menyengat jantungnya. Ternyata bahwa Sri Baginda benar-benar sudah mencium rencananya bersama kedua penasehat itu. Ternyata kehadiran Gubar Baleman dan Mahisa Walungan di peperangan itu bukan sekedar karena Sri Baginda menjadi bingung oleh arus pasukan Singasari, tetapi justru karena Sri Baginda menyadari kekeliruannya.

“Kenapa kau diam Pujang Warit?”

Pujang Warit tidak segera menjawab. Tubuhnya menjadi semakin basah oleh keringatnya yang mengalir semakin deras di seluruh tubuhnya.

“Jangan membisu Pujang Warit. Pada saat-saat terakhir aku mendengar semua rencanamu yang keji. Kau meninggalkan medan sama sekali bukan karena kau yakin bahwa kau dapat menyusun pertahanan yang kuat, tetapi karena kau sengaja menjerumuskan Gubar Baleman dan Mahisa Walungan ke dalam jurang kehancuran. Kau berharap bahwa pasukan Gubar Baleman dan Mahisa Walungan akan hancur, sedang kedua Senapati itu terbunuh. Kau berharap bahwa sisa-sisa pasukan Singasari tidak akan terlampau berbahaya lagi bagimu sehingga kau akan dapat menghancurkannya di tepi kota ini. Dengan demikian kau akan mendapat dua kemenangan sekaligus. Kemenangan atas Gubar Baleman dan Mahisa Walungan dan kemenangan atas Singasari. Kau akan mendapat pujian dan gelar pahlawan yang telah menyelamatkan Kediri dari kehancuran. Bukankah begitu? “

Mulut Pujang Warit masih juga serasa terbungkam. Bahkan kini tubuhnya menjadi gemetar menahan perasaannya.

Tidak seorang-pun yang ada di dalam paseban itu berani mengangkat wajahnya. Kini Sri Baginda Kertajaya sudah sampai pada puncak kemarahannya, meskipun tampaknya ia masih mencoba mengendalikan diri.

“Pujang Warit,” berkata Sri Baginda, “kenapa kau diam saja?”

“Ampun Tuanku,” berkata Pujang Warit kemudian, “hamba telah melakukan yang paling baik bagi Kediri menurut pendapat hamba.”

“Juga tentang usahamu menyingkirkan Gubar Baleman dan Mahisa Walungan itu termasuk usaha terbaik bagi Kediri?”

“Hamba Tuanku, karena menurut penilaian hamba, keduanya sudah tidak menurut perintah Tuanku. Keduanya dengan diam-diam telah membangun pertahanan di sebelah Utara Ganter tidak setahu Tuanku. Itu akan menjadi kebiasaan yang sangat tercela bagi seorang prajurit.”

“Tetapi apakah pelanggaran itu berarti pemberontakan seperti yang kau katakan? Dan apakah kau yakin bahwa keduanya telah melakukan pelanggaran itu? Aku melarang membawa pasukan ke perbatasan. Dan mereka mentaatinya. Mereka tidak membawa pasukan ke perbatasan, tetapi hanya ke sebelah Utara Ganter.”

“Tetapi membangun suatu pertahanan di luar pengetahuan Tuanku, apakah hal itu dapat dibenarkan?”

“Tentu tidak. Tetapi apakah dibenarkan untuk menyalah gunakan kepercayaanku, dengan memutar balikkan kenyataan?Apakah benar Gubar Baleman dan Mahisa Walungan tidak setia kepadaku?”

“Hal itu, kita sama-sama tidak tahu. Hamba tidak tahu apa yang tersirat di hatinya yang paling dalam, dan Tuanku-pun tidak mengetahui.”

Darah Sri Baginda berdesir mendengar jawaban itu. Ketika ditatapnya wajah Pujang Warit, ternyata wajah itu-pun menjadi merah.

Sri Baginda menarik nafas dalam-dalam. Kini ia dapat membaca wajah Senapati muda itu. Agaknya Pujang Warit telah merasa bahwa ia terjebak. Karena itu, dalam keadaan yang tersudut itu, tidak ada pilihan lain baginya, dari pada mempertahankan harga diri sedapat-dapatnya. Ia yang mengetahui kelemahan dan kekeliruan Sri Baginda selalu berusaha menyandarkan tindakannya kepada kekeliruan itu. Meskipun akhirnya Sri Baginda dapat berbuat apa saja atasnya, tetapi ia akan dapat memberikan kepada orang-orang yang ada di paseban. bahwa kesalahan itu tidak dapat dibebankannya kepada dirinya sepenuhnya.

Para Senapati dan para Menteri yang ada di paseban itu-pun menjadi heran melihat sikap Pujang Warit. Sebagian dari mereka dapat mengerti seperti juga Sri Baginda, bahwa Pujang Warit sudah mendekati keputus-asaannya. Justru dengan demikian, darah mudanya telah menggelegak tanpa dapat dikendalikan lagi.

“Aku akan dihukum mati,” berkata Pujang Warit di dalam hatinya, “sebagai seorang prajurit, tidak pantas aku mati sambil menyembunyikan wajah. Aku harus menengadahkan kepalaku menghadap ketiang gantungan.”

Dengan demikian maka Pujang Warit-pun merasa tidak perlu lagi untuk menundukkan kepalanya sampai mencium lantai. Kini ia justru duduk dengan dada tengadah.

“Aku tidak akan dapat mengelak lagi,” katanya pula di dalam hati.

Sikap Pujang Warit itu memang mencengangkan mereka yang melihatnya. Namun mereka menjadi heran juga. bahwa Sri Baginda masih saja membiarkannya duduk di tempatnya.

“Pujang Warit,” Sri Baginda masih berkata wajar meskipun tampak betapa ia menahan hati, “aku tahu apa yang tersirat di hati Mahisa Walungan dan Gubar Baleman. Mahisa Walungan adalah adikku. Aku mengenalnya sejak kanak-kanak.”

“Tetapi kenapa Tuanku mempercayai hamba?”

“Ya. Kenapa aku mempercayaimu. Apakah karena kau terlampau cerdik, atau karena aku terlampau bodoh,” Sri Baginda berhenti sejenak. Lalu, “sedang Gubar Baleman telah membuktikan kesetiaannya di saat-saat terakhir. Meskipun ia telah menguasai seluruh isi istana ini, untuk sekedar dapat memberikan penjelasan kepadaku, karena aku sudah tidak memberi waktu lagi kepadanya untuk berbicara.” Sri Baginda berhenti sejenak untuk mengatur pernafasannya yang memburu, “tetapi ia tidak berbuat lebih lanjut.Ia tidak merampas kekuasaan dari tanganku meskipun itu dapat dilakukannya apabila ia mau.”

“Dan Tuanku justru membenarkan cara yang demikian?” jawab Pujang Warit, lalu, “ternyata Tuanku memang sudah tidak dapat memegang kekuasaan seperti seharusnya seorang Maharaja. Terbukti bahwa para Brahmana dan pemimpin agama telah meninggalkan Kediri. Kemudian terjadi kekisruhan di dalam pimpinan keprajuritan karena Tuan begitu cepat percaya. Tuanku yang di saat-saat terakhir merasa diri Tuanku sebagai titisan Dewa, akhirnya Tuanku harus mengakui, bahwa Tuanku tidak lebih dari manusia biasa.”

Tidak seorang-pun yang dapat menilai lain dari sikap Pujang Warit itu kecuali membunuh diri. Tetapi seperti yang diharapkan oleh Pujang Warit, bahwa kematiannya bukanlah kematian seekor tikus di tangan seekor kucing.

Namun sikap Pujang Warit itu telah membakar dada Sri Baginda Kertajaya sebagai seorang prajurit. Meskipun selama ini Sri Baginda yang merasa dirinya sebagai pengejawantahan Dewa dari langit, namun dalam keadaan yang panas, ia telah terlempar kembali ke dalam kenyataannya sebagai manusia, sebagai seorang prajurit. Itulah sebabnya maka dengan wajah yang merah Sri Baginda berkata, “Pujang Warit, kau benar. Aku tidak dapat membebankan kesalahan seluruhnya kepadamu. Kau dan aku telah membuat kesalahan yang serupa, karena itu. kau dan aku bersama-sama harus mendapat hukuman. Hukuman yang sama sebagai prajurit-prajurit Kediri. Sebagai kesatria Kediri yang jujur. Hukuman itu harus dijatuhkan kepada kita bersama-sama. Hukuman itu adalah perang tanding antara dua orang prajurit yang sama-sama bersalah.”

Kata-kata Sri Baginda Kertajaya itu ternyata telah mengguncangkan paseban.Beberapa orang Senapati tersentak, dan bahkan ada di antara mereka yang bergeser maju.Salah seorang dari mereka tiba-tiba saja berkata, “Ampun Tuanku, kenapa Tuanku menjatuhkan keputusan itu?”

“Ya, itu keputusanku.”

“Tuanku, sebelum terlambat. Tuanku dapat menunjuk salah seorang dari kami untuk mewakili Tuanku, melakukan perang tanding atas nama Tuanku.”

“Tidak. Aku berkata sepenuh kesadaranku.”

“Tetapi itu terlampau terhormat bagi Pujang Warit yang telah dengan jelas melakukan pengkhianatan terhadap Tuanku dan Kediri.”

“Tetapi sudah aku katakan, aku-pun telah bersalah.”

Senapati yang lain menyela, “Tetapi kami adalah prajuritnya yang setia kepada Sri Baginda. Adalah sepantasnya, salah seorang dari kami dapat mewakili Sri Baginda.”

Sri Baginda Kertajaya mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Aku sangat berterima kasih kepada kesetiaan kalian. Tetapi aku tahu. bahwa akulah yang harus mendapat hukuman. Aku sebagai manusia dan prajurit seperti yang dikatakan oleh Pujang Warit. sehingga dengan demikian maka aku adalah pribadi.” Sri Baginda berhenti sejenak. Lalu, “Aku sama sekali tidak merendahkan kemampuan kalian. Aku tahu, bahwa Senapati Kediri adalah prajurit-prajurit pilih tanding. Tetapi Pujang Warit memang mempunyai beberapa kelebihan, sehingga sepantasnyalah bahwa aku sebagai seorang prajurit harus melayaninya. Apalagi taruhannya aku tentukan pula, yaitu pimpinan tertinggi atas Kediri.”

“Tuanku,” hampir serentak mereka yang ada di paseban berseru dengan wajah yang tegang.

“Nah, sediakan gelanggang di halaman paseban ini. Cepat. Setelah perang tanding ini selesai, aku atau Pujang Warit masih harus menyelesaikan orang-orang Tumapel yang sedang berusaha menguasai seluruh daerah Kediri.”

Sejenak para Senapati dan Menteri yang ada di paseban tidak beranjak dari tempatnya. Mereka saling berpandangan dengan penuh keragu-raguan.

“Cepat,” teriak Sri Baginda, lalu katanya, “tetapi aku tidak akan berbuat serupa itu dengan kedua penasehatku ini. Penasehatku yang lain kuperkenankan menyaksikan perang tanding ini. Tetapi yang dua ini harus berada di bawah pengawasan. Kalau Pujang Warit menang di dalam perang tanding ini, kalian akan bebas, dan terserah apa yang akan diputuskan oleh Pujang Warit atas kalian.”

Maka setiap dada-pun menjadi berdebar-debar.Para pengawal di halaman-pun menjadi keheranan atas keputusan itu.Belum pernah Sri Baginda begitu merendahkan dirinya, melayani perang tanding melawan seorang Senapati.

“Aku adalah seorang prajurit,” geram Baginda berulang-ulang.

Tidak seorang-pun yang dapat mencegah keputusan Sri Baginda. Dengan demikian, maka para prajurit yang ada, beserta para Menteri-pun segera membuat sebuah lingkaran di halaman sebagai arena perang tanding.

Pujang Warit sendiri sebenarnya terkejut mendengar keputusan Sri Baginda. Namun karena ia yakin bahwa seandainya tidak demikian, maka ia-pun akan dihukum mati, maka tantangan itu adalah jalan yang paling baik yang tersedia baginya, meskipun ia tahu. bahwa Sri Baginda adalah maha prajurit yang tidak ada bandingnya.

“Tetapi aku belum pernah meyakinkan kemampuan Sri Baginda,” berkata Pujang Warit di dalam hatinya. “aku hanya pernah menyaksikan beberapa bentuk kelebihannya dari orang-lain. Tetapi bagi Pujang Warit yang pernah berguru bertahun-tahun, semuanya itu bukanlah hal yang mengecilkan hati.”

Sejenak kemudian maka arena-pun telah siap. Sri Baginda menuruni tangga paseban tanpa tanda-tanda kebesaran yang biasanya tidak pernah terpisah dari padanya. Bahkan bukan saja sekedar tanda kebesaran seorang Maharaja, tetapi Sri Baginda telah menganggap dirinya sebagai titisan dewa-dewa.

Tetapi kini ia menuruni tangga sebagai seorang prajurit. Sebagai pribadi yang sudah siap menyelesaikan masalah pribadinya. Kesalahannya terhadap Kediri harus ditebusnya dengan perang tanding.

Bagi Sri Baginda Kertajaya, hal itu merupakan suatu pengorbanan yang luar biasa. Tetapi hal itu kini dengan sadar telah dikehendakinya sendiri.

Setelah semuanya siap, dan kedua orang yang akan berperang tanding itu sudah berada di arena. maka bertanyalah Sri Baginda kepada Pujang Warit, “Senjata apakah yang kau kehendaki Pujang Warit?”

Bagaimana-pun juga, tatapan mata Sri Baginda telah membentur hati Pujang Warit, sehingga seisi dadanya serasa berguncang.

“Sebutkan senjata apa yang kau kehendaki. Aku akan menyesuaikan diri.”

Pujang Warit ragu-ragu sejenak, namun kemudian ia berkata, “Terserahlah kepada Sri Baginda.”

“Kau sudah membawa pedang di lambungmu. Apakah kau akan mempergunakan pedang?”

“Baiklah Tuanku. Hamba akan mempergunakan pedang.”

Sri Baginda mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian kepada seorang prajurit yang berdiri di pinggir arena Sri Baginda berkata, “berikan pedangmu.”

“Tetapi, pedang ini adalah pedang seorang prajurit pengawal Tuanku.”

“Bukankah kau menerima pedang itu dari pimpinan, keprajuritan?”

Prajurit itu mengangguk, “Hamba Tuanku.”

“Nah, berikan pedangmu.”

Prajurit itu ragu-ragu sejenak, namun kemudian oleh pesona yang tidak dimengertinya, maka ditariknya pedangnya, dan kemudian dengan tangan gemetar diserahkannya pedang itu kepada Sri Baginda.

“Terima kasih,” berkata Sri Baginda. Kemudian sambil menghadap kepada Pujang Warit Sri Baginda berkata. “Nah Pujang Warit, aku sekarang sudah bersenjata pedang seperti senjatamu.Marilah, kita mulai dengan hukuman yang sama-sama dibebankan kepada kita.Siapa yang menang, ia berhak atas segala-galanya di Kediri. Siapa yang kalah, biarlah ia menanggung hukuman atas kesalahan yang telah terjadi, dan yang telah mengakibatkan Kediri terpecah belah.”

Pujang Warit masih juga ragu-ragu. Namun kemudian disentakkannya giginya sambil menggeram di dalam hati. “Aku bukan pengecut.”

“Nah bersiaplah,” berkata Sri Baginda kemudian.

Pujang Warit mengerahkan segenap keberanian yang ada di dalam dirinya. Maka jawabnya, “Baiklah Tuanku. Hamba hanya sekedar menjalani perintah Tuanku.”

“Ya, ya. Kalau kau sekarang melawan aku, ini sama sekali bukan suatu kesalahan.Justru kita sedang menentukan, siapakah yang masih mendapat perlindungan dari Yang Maha Agung. Karena sekarang aku-pun sadar, bahwa aku bukannya titisan dewa-dewa seperti yang aku sangka sendiri, karena di dalam suatu ketika, aku telah dilepaskan oleh dewa-dewa tertinggi.”

Pujang Warit tidak menjawab, tetapi ia-pun kemudian dengan tangan bergetar mencabut pedangnya pula. Pedang seorang perwira yang memiliki kemampuan pilih tanding.

Sri Baginda mengerutkan keningnya. Ia melihat perbedaan jenis pedang yang dipergunakannya dan yang dipergunakan oleh Senapati muda itu.

Tetapi Sri Baginda tidak menghiraukannya karena Sri Baginda menyangka, bahwa pedang itu adalah pedang prajurit Kediri.

“Marilah, kita segera mulai,” berkata Sri Baginda, “nah, aku minta tiga orang Senapati yang akan menjadi saksi dari perkelahian ini. Ketiganya harus mengawasi, bahwa aku dan Pujang Warit harus berkelahi dengan jujur. Kalau ada di antara kami yang curang, maka ketiga Senapati itu dapat mengambil tindakan yang wajar. Tanpa pilih.

Sejenak para prajurit dan Senapati yang ada di seputar gelanggang itu menjadi ragu-ragu. Namun kemudian Sri Baginda telah menunjuk tiga di antaranya. Katanya, “Kau, kau dan kau. Jangan ragu-ragu. Majulah. Lihatlah, bagaimana kami akan berperang-tanding, kami adalah prajurit-prajurit Kediri.”

Tiga orang perwira yang ditunjuk itu sama sekali tidak dapat mengelak lagi. Mereka-pun kemudian melangkah maju. Mencabut pedang-pedang mereka dan berdiri berpencaran. Mereka harus mengawasi perang tanding itu sebaik-baiknya. Merekalah yang bertanggung jawab apabila terjadi kecurangan. Dan mereka dapat bertindak apabila perlu dengan kekerasan.

Semuanya-pun kemudian sudah siap.Para saksi-pun sudah siap.Sri Baginda dan Pujang Warit-pun sudah siap pula.

“Nah, semua sudah di tempatnya. Sekarang aku adalah prajurit yang sedang menjalani hukuman.Karena itu. terserahlah kepada para saksi. Kapan kita harus mulai,” berkata Sri Baginda kemudian.

Para saksi itu-pun saling berpandangan. Kemudian, meskipun tidak ditunjuk, maka Senapati yang tertua dari ketiganya-pun maju selangkah sambil berkata, “Ampun Tuanku, hambalah yang akan memimpin perang tanding ini.”

“Bagus. Pimpinlah sebaik-baiknya.”

“Hamba Tuanku.” perwira itu terdiam sejenak, lalu katanya, “tetapi yang pertama-tama hamba ingin memperingatkan bahwa, perang tanding ini harus adil. Kedua senjata pesertanya harus seimbang.”

“Bukankah senjata kami sudah seimbang?”

“Pedang yang Tuanku pergunakan adalah pedang prajurit biasa.”

“Lalu, bagaimana dengan pedang Pujang Warit.”

“Pedang itu adalah pedang yang khusus.”

“Jadi apakah ada perbedaan senjata antara seorang prajurit dan seorang Senapati? Bukankah semuanya itu adalah prajurit Kediri?”

“Pedang Pujang Warit bukannya pedang yang lazim dipergunakan oleh para prajurit dan bahkan para Senapati Kediri. Pedang itu, adalah pedang pusaka yang dibawanya sendiri meskipun bentuknya mirip dengan pedang prajurit Kediri.”

“Apakah bedanya? Aku dapat mempergunakan senjata apa saja.”

“Bahannya berbeda Tuanku. Pedang Pujang Warit terbuat dari bahan yang jauh lebih baik dari bahan pedang para prajurit yang dibuat oleh para juru pembuat senjata para pande besi. sekaligus dalam jumlah yang besar. Sedang pedang Pujang Warit adalah pedang yang hanya dibuat khusus untuknya oleh seorang empu yang terpilih.”

Sri Baginda merenung sejenak. Namun kemudian sambil tersenyum Sri Baginda berkata, “Aku akan mempergunakan pedang prajurit Kediri ini, sebagaimana aku seorang prajurit. Kalau pedang ini gagal bukan karena kesalahanku, maka alangkah malangnya nasib setiap prajurit Kediri.”

Senapati yang menjadi saksi itu mengerutkan keningnya. Tetapi tampak betapa hatinya dicengkam oleh kecemasan, karena kebetulan sekali ia mengerti betapa kuatnya pedang Pujang Warit itu. Bahkan ia pernah melihat Pujang Warit memamerkan senjatanya dan mematahkan beberapa helai pedang lainnya tanpa menjadi cacat seujung duri-pun.

“Tuanku,” berkata Senapati itu, “apakah Tuanku berkenan mempergunakan pedang hamba?”

Tetapi Sri Baginda menggelengkan kepalanya, “Tidak.”

Senapati yang akan menjadi saksi dari perang tanding itu tidak dapat memaksa, meskipun hatinya menjadi sanaat cemas. Tetapi hal itu agaknya memang sudah dihentikan oleh Baginda sehingga akhirnya, ia-pun harus membiarkannya mempergunakan pedang prajurit pengawal itu.

Dalam pada itu. di medan pertempuran di sebelah Utara Ganter, kedua pasukan telah terlibat di dalam perang yang semakin seru. Keduanya telah mengerahkan segenap kekuatan yang ada. Pasukan Singasari telah turun seluruhnya ke medan perang dengan segala macam tanda-tanda kebesaran, sedang Mahisa Walungan telah membawa setiap orang yang ada di dalam perkemahannya.

Namun jumlah prajurit Singasari yang lebih besar ternyata benar-benar telah berpengaruh pada perang itu. Perlahan-lahan namun pasti pasukan Singasari telah berhasil mendesak pasukan Kediri, meskipun setiap prajurit dari Kediri telah bertempur tanpa mengenal arti menyerah. Tetapi seorang demi seorang prajurit Kediri berguguran seperti juga prajurit Singasari. Seorang demi seorang pasukan ke dua belah pihak selalu berkurang.

Meskipun pasukan Kediri sama sekali tidak berputus asa. namun garis perlawanan mereka-pun bergeser setapak demi setapak, karena arus prajurit Singasari yang tidak terbendung lagi.

Mahisa Walungan yang memegang pimpinan pasukan Kediri, bertempur dengan gigihnya. Ternyata bahwa Mahisa Walungan benar-benar seorang yang memiliki banyak kelebihan dari orang kebanyakan. Senjatanya, sebuah pedang panjang, menyambar-nyambar seperti paruh burung garuda. Suaranya berdesing-desing memutari lawannya.

Tetapi lawannya itu adalah Sri Rajasa Batara Sang Amurwabumi. Orang yang aneh dan banyak sekali menyimpan rahasia di dalam dirinya. Rahasia yang dirinya sendiri hampir tidak mengenalinya.

Dengan kekuatan dan kemampuan yang ada di dalam dirinya, Ken Arok bertempur dengan gigihnya. Serangan-serangan Mahisa Walungan yang betapapun berbahayanya, selalu dapat dihindarinya, atau ditangkisnya. Meskipun kadang-kadang ia kehilangan irama seorang raja, namun ia tidak dapat didesak oleh kelebihan yang ada di dalam diri Mahisa Walungan. karena Ken Arok-pun memilikinya pula.

Mahisa Walungan sebagai seorang kesatria yang sejak kecilnya berada di dalam lingkungan istana serta segala macam adat dan tata cara kadang-kadang menjadi heran melihat sikap dan gerak Sri Rajasa. Kadang-kadang Sri Rajasa bertempur sebagai seorang Raja yang besar, namun apabila serangan Mahisa Walungan semakin mendesaknya, tiba-tiba saja raja Singasari itu menjadi kasar dan garang. Senjatanya berputar-putar tanpa arah dan tampaknya seperti tidak ada pegangan. Tetapi gerak yang demikian, yang seharusnya dengan mudah dapat ditembusnya, namun pedang Sri Rajasa, justru menjadi sebaliknya. Gerak-gerak yang kasar dan tidak beraturan itu justru merupakan benteng yang sangat rapat, mengitari dirinya dari segenap serangan.

Sekali-sekali Mahisa Walungan memang terpaksa meloncat surut untuk mencoba menilai tata gerak lawannya. Namun setiap kali dengan tiba-tiba saja, Sri Rajasa sudah menyerangnya dengan kecepatan yang hampir tidak disangka-sangkanya.

Namun Mahisa Walungan adalah seseorang yang matang dalam ilmu olah senjata. Karena itu. maka betapapun dahsyatnya lawannya, ia tidak kehilangan akal. Bahkan semakin lama tata geraknya-pun menjadi semakin mapan. Kekuatan-kekuatan cadangan yang tersimpan di dalam dirinya-pun mulai tersalur ke tangannya, sehingga dengan demikian gerak pedangnya-pun menjadi semakin cepat dan kuat.

Kemampuan yang seolah-olah berkembang itu terasa juga oleh Sn Rajasa. Kekuatan Mahisa Walungan seakan-akan menjadi bertambah-tambah. Setiap benturan, terasa tangan Sri Rajasa menjadi nyeri, sehingga kadang-kadang senjatanya seolah-olah ingin meloncat dari genggaman.

“Hem,” ia menggeram di dalam hatinya, “agaknya di saat-saat terakhir Mahisa Walungan mengerahkan segenap kemampuan yang tersimpan di dalam dirinya.Semua Aji dan kekuatan lahir dan batin.”

Sebenarnyalah, Mahisa Walungan yang melihat pasukannya semakin terdesak itu-pun tidak lagi dapat membiarkan peperangan itu berlangsung semakin lama. Dengan segenap kemampuan yang ada maka dibangunnya segenap kekuatan lahir dan batin yang ada di dalam dirinya. Dengan penuh tanggung jawab, Mahisa Walungan memusatkan segenap kekuatan yang ada di dalam dirinya, disusunnya dalam tata gerak yang sudah dikuasainya, menjadi suatu kekuatan yang tiada taranya. Seperti pada saat-saat ia membuat lubang pada papan yang tebal, maka kini tangannya yang seakan-akan bergetar itu, telah dialiri oleh kekuatan ilmu yang tiada taranya.

Sri Rajasa terkejut merasakan benturan-benturan berikutnya. Ia sadar bahwa ia berhadapan dengan seseorang yang menyimpan ilmu yang bukan saja ilmu yang kasat mata, tetapi latihan-latihan yang teratur, sehingga seluruh kekuatan yang ada di dalam dirinya, kekuatan cadangan yang tidak dimengerti oleh setiap orang, dapat dikuasainya dan dipergunakannya sebagai Aji Pamungkasnya.

 

 

Jilid 56

NAMUNagaknya dengan demikian Sri Rajasa menjadi marah bukan buatan. Ia sendiri tidak pernah mempelajari dan mengembangkan ilmu apapun dengan teratur. Tetapi seakan-akan semua simpul-simpul syaraf dan urat yang ada di dalam dirinya, dengan sendirinya terpengaruh oleh kehendaknya. Apabila kemarahan telah membakar dadanya, maka semua bagian tubuhnya telah mengembangkan kekuatan di luar sadarnya.

Itulah sebabnya, maka pada puncak pertempuran itu, Mahisa Walungan yang kemudian terkejut bukan buatan. Hampir ia tidak dapat mempercayai tangkapan matanya sendiri. Di dalam cahaya matahari yang semakin tinggi, ia melihat bayangan yang kemerah-merahan membara di atas kepala Ken Arok. yang bergelar Sri Rajasa Batara Sang Amurwabumi.

Dalam kemarahan yang memuncak, maka warna merah itu-pun menjadi semakin nyata, meskipun hanya dapat ditangkap oleh orang-orang tertentu yang mempunyai sentuhan indera yang lebih baik dari orang-orang kebanyakan, seperti Mahisa Walungan.

Namun akhirnya, Mahisa Walungan yang mempunyai pandangan yang jauh dan matang terhadap dunia raya di sekitarnya dan dunia kecil pada dirinya, segera dapat menanggapi keadaan. Sebenarnyalah bahwa lawannya bukannya manusia kebanyakan. Di sini ia melihat siapakah yang sebenarnya kekasih Yang Maha Agung. Bukan karena lawannya Sri Rajasa adalah Sang Amurwabumi adalah orang yang paling dikasihi oleh dewa-dewa. Tetapi orang itu, hanya sekedar alat untuk menumbangkan ketamakan yang selama ini telah mencengkam Kediri.

“Bukan kakanda Sri Kertajaya,” berkata Mahisa Walungan di dalam hatinya, “agaknya Kakanda Sri Kertajaya justru telah dikutuk oleh dewa dengan perantaraan orang ini.”

Namun meskipun demikian, Mahisa Walungan tidak menghentikan perlawanannya. Tetapi mata hatinya seolah-olah telah melihat akhir dari peperangan ini. Karena itulah maka ia justru menjadi tenang. Dihadapinya lawannya dengan penuh kesungguhan namun pasrah kepada penciptanya Yang Maha Agung. Siapapun yng telah menggerakkan Sri Rajasa, lahiriah maupun batiniah, namun semua itu pasti merupakan pengejawantahan dari kehendak Yang Maha Tunggal, pusar dari semua perputaran langit dan bumi, yang besar yang meliputi alam raya dan yang kecil di dalam dirinya, namun juga yang menjadi sumber dari segala gerak dan kehendak dewa-dawa di langit yang menjadi peraganya dalam segala susunan dan kejadian.

Dalam pada itu, Gubar Baleman-pun telah bertempur dengan sekuat tenaganya. Sebagai seorang Senapati tertinggi di samping Mahisa Walungan, maka Gubar Baleman-pun adalah seorang yang pilih tanding. Berpuluh tahun ia berguru di samping latihan-keprajuritan yang matang, sehingga di dalam dirinya telah tersimpan bekal yang rangkap untuk melakukan tugasnya. Dan kini ternyata bahwa ia adalah Senapati yang mumpuni.

Di dalam peperangan ini ternyata ia menjumpai seorang Senapati Singasari yang tidak disangkanya. Sebelumnya, sebagai seorang Senapati tertinggi di kerajaan Kediri, ia mengenal beberapa orang pemimpin Tumapel pada saat-saat Tunggul Ametung memegang kekuasaan, karena Tumapel termasuk daerah kekuasaan Kerajaan Kediri yang besar. Tetapi Gubar Baleman belum pernah mengenal orang ini. Bersamaan dengan timbulnya Ken Arok di dalam tampuk pimpinan pemerintahan Tumapel yang kemudian menyebut dirinya Kerajaan Singasari, ternyata telah timbul pula beberapa orang perwira yang memiliki kemampuan yang tinggi.

Gubar Baleman telah mendengar pula, bahwa Witantra telah tersisihkan. Namun ia tidak menyangka, bahwa telah lahir seorang Senapati yang melampui kemampuan Witantra yang saat itu merupakan orang yang paling disegani di Tumapel di samping Tunggul Ametung sendiri.

Tetapi kini yang dihadapinya adalah seorang Senapati yang bernama Mahisa Agni, yang pasti agak lebih muda dari Witantra sendiri. Namun menurut penilaian Gubar Baleman, orang yang bernama Mahisa Agni ini telah memiliki kemampuan puncak di dalam olah kanuragan.

Dengan demikian maka perang di antara kedua pasukan yang dipimpin oleh Senapati-senapati yang tangguh itu menjadi semakin sengit. Hanya karena jumlahnya yang tidak seimbang sajalah yang membuat pasukan Kediri selalu terdesak.

Sementara, api peperangan membakar medan di sebelah Utara Ganter, pasukan yang berada di pinggir kota, yang ditinggalkan oleh Pujang Warit menjadi gelisah. Mereka mengerti bahwa Kediri terancam oleh bahaya yang benar-benar mencemaskan. Tetapi kini mereka dibiarkan duduk bertopang dagu sambil menunggu.

“Apakah yang dilakukan oleh Pujang Warit di istana?” bertanya salah seorang dari para prajurit itu.

“Tidur. Mungkin ia tertidur.”

“Lalu apa yang dapat kami lakukan di sini.”

“Juga tidur.”

Mereka-pun terdiam. Beberapa orang Senapati berjalan hilir mudik tidak menentu.Sekali-kali dipandanginya sepasukan prajurit yang bertebaran di jalan-jalan dan di halaman-halaman rumah. Sedang para penghuninya hanya berani mengintip dari celah-celah daun pintu yang merenggang.Mereka menjadi sangat cemas karena mereka mendengar bahwa api peperangan telah berkobar di sebelah Utara Ganter.

“Apa kerja mereka di sini?” bertanya seorang perempuan kepada suaminya yang telah sama-sama tua.

Suaminya menggeleng-gelengkan kepalanya, “Aku tidak tahu. Dahulu ketika aku muda, sepengetahuanku, prajurit-prajurit itu berada di medan perang. Tetapi kini prajurit-prajurit berada di jalan-jalan dan di halaman-halaman sambil bertiduran.”

Tetapi mereka tidak berani bertanya, kenapa prajurit-pra-pint itu tidak berada di medan.

“Aku akan menyusul,” berkata seorang Senapati di antara para prajurit yang gelisah itu, “sejak semula aku sudah tidak setuju, bahwa pasukan ini ditarik dari medan. Sekarang, apa yang harus kita lakukan? Kalau kita harus menyusun pertahanan terakhir, kenapa kita dibiarkan saja tanpa perintah apapun?”

“Jangan,” kawannya memperingatkan, “lebih baik kita ambil alih pimpinan selama Pujang Warit tidak ada. Kita susun sendiri pertahanan di dalam dinding kota. Kita siapkan semua kekuatan yang sekarang ada, sambil menunggu pasukan cadangan yang masih akan berkumpul.”

“Aku tidak tahu, apakah kita telah melakukan sesuatu yang benar dipandang dari sudut keprajuritan. Menurut penilaianku, kalau kita gabungkan kekuatan kita dengan pasukan Adinda Sri Baginda, maka kita pasti akan dapat membendung pasukan Singasari itu.”

“Itu bukan persoalan kita.” jawab kawannya, “marilah kita manfaatkan waktu yang tersia-sia ini.”

Kawannya mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya kemudian, “Siapakah yang tertua di antara kita, kami akan tunduk pada pimpinannya.

Para prajurit yang dibawa oleh Pujang Warit masuk ke kota itu-pun kemudian mengatur diri mereka sendiri di bawah pimpinan seorang Senapati yang mereka anggap tertua. Bagaimana-pun juga, namun jiwa prajurit Kediri yang mengalir di dalam dada mereka telah memaksa mereka untuk berbuat sesuatu, justru pada saat Kediri terancam.

Sementara itu, Pujang Warit yang berada di istana sedang melakukan perang tanding melawan Sri Baginda Kertajaya. Meskipun ia tidak pernah berangan-angan bahwa pada suatu ketika ia medapat kehormatan untuk melakukannya namun di saat-saat ia tersudut di dalam suatu keharusan, maka ia-pun benar-benar telah bertekad untuk melakukan perang tanding sebaik-baiknya. Kalau ia kalah, ia pasti benar-benar akan mati. Tetapi kalau ia mendapat kesempatan memenangkan perang tanding itu, maka sudah tentu janji yang dibuat Sri Baginda akan ditaati oleh para Senapati bawahan yang ada di lingkaran perang tanding itu.

Demikianlah, maka perang tanding itu-pun segera dimulai. Sri Baginda Kertajaya dengan pedang prajuritnya, melawan Pujang Warit yang mempergunakan pedang pusakanya sendiri.

Mula-mula memang terasa canggung bagi Pujang Warit untuk berkelahi melawan Sri Baginda. Tetapi Sri Baginda yang melihat kecanggungan itu-pun berkata, “Perang tanding ini harus adil. Karena itu jangan segan, sebab kalau pedangku menusuk dadamu, kau akan benar-benar mati. Bukan sekedar berpura-pura mati.”

Pujang Warit menggeretakkan giginya untuk mendapatkan keberanian sepenuhnya. Sejenak ia berusaha menghilangkan segala macam kesan dan anggapannya terhadap Sri Baginda, “Ia manusia biasa seperti aku.” geramnya di dalam hati.

Dengan demikian maka perlahan-lahan Pujang Warit dapat melepaskan diri dari ikatan-ikatan yang mengungkungnya.

Perang tanding itu-pun semakin lama menjadi semakin seru. Ternyata Sri Baginda telah berusaha membangkitkan nafsu pada lawannya untuk melawannya dengan sungguh-sungguh.

Ketika tangan Pujang Warit telah mulai dibasahi oleh keringat maka tandangnya-pun menjadi semakin bebas. Ternyata bahwa Pujang Warit memang seorang Senapati muda yang mempunyai beberapa kelebihan. Gerakannya yang lincah dan tangguh, ayunan senjatanya yang mantap dan serangannya yang cepat, telah meyakinkan para prajurit yang melihat perang tanding itu, bahwa Pujang Warit bukanlah seorang prajurit yang hampa.

Sri Baginda-pun semakin lama semakin menyadari, bahwa lawannya memang mempunyai beberapa kelebihan dari para Senapatinya yang lain. Dan kelebihan-kelebihan inilah agaknya yang telah membuat Pujang Warit menjadi congkak, sehingga kehilangan keseimbangan. Senapati muda ini merasa bahwa ia mempunyai kemampuan yang cukup untuk memegang jabatan tertinggi di dalam tata keprajuritan di Kediri.

Tetapi Sri Baginda Kertajaya adalah seorang raja yang perkasa. Itulah sebabnya, maka betapapun Pujang Warit berusaha menekan Sri Baginda dengan serangan-serangan yang mengalir seperti banjir, namun serangan-serangan itu hampir tidak berpengaruh sama sekali atas kedudukan Sri Baginda.

Setelah perang tanding itu berjalan beberapa lama, maka tampaklah perbandingan dari keduanya. Betapapun juga Pujang Warit mengerahkan kekuatan dan kemampuannya, namun ia sama sekali tidak akan darat menembus pertahanan Sri Baginda yang serapat perisai baja.

Debar di dada Pujang Warit semakin lama menjadi semakin cepat. Ternyata bahwa Sri Baginda benar-benar seorang raja yang tidak saja pandai memerintah, tetapi juga memiliki kemampuan untuk memaksakan perintahnya.

“Jangan sekedar bermain-main Pujang Warit. Aku bersungguh-sungguh. Anggaplah bahwa aku adalah pemangku jabatan penglima tertinggi pasukan Kediri yang kau inginkan itu, karena sebenarnyalah bahwa Mahisa Walungan tidak ada bedanya dengan aku sendiri. Kami adalah saudara kandung dan saudara seperguruan. Ilmuku sama dengan ilmu Mahisa Walungan. Kemampuannya sama dengan kemampuanku. Bahkan ia agak lebih muda daripadaku, sehingga kekuatan jasmaniahnya masih lebih baik daripadaku.”

Pujang Want menggeram. Kelincahannya tidak berhasil menembus putaran pedang Sri Baginda.

“Aku tidak akan dapat mengalahkannya dengan wantah,” katanya di dalam hati.

Sekilas terlintas di angan-angannya kekuatan yang oleh gurunya diturunkannya kepadanya. Kekuatan yang melampaui kekuatan jasmaniah yang tampak. Gurunya telah memberikan ilmu kepadanya, untuk membangunkan segenap kekuatan yang ada di dalam dirinya. Tenaga cadangan yang tersimpan, yang tidak pada setiap orang dapat dikuasai dan dipergunakan, pada Pujang Warit kekuatan itu sudah dapat dibangunkannya.

Itulah sebabnya, maka ketika ia merasa bahwa ia tidak lagi berpengharapan untuk memenangkan perang tanding itu dengan cara yang wajar, maka ia-pun telah bertekad untuk membangunkan ilmu yang dimilikinya dari perguruannya.

“Aku tidak mau mati,” katanya di dalam hati, “seandainya setelah memenangkan perang tanding ini para Senapati pengawal tidak mentaati taruhan Sri Baginda, apa boleh buat. Tetapi tanpa berbuat begitu-pun aku akan mati pula di arena ini. Sedang mati itu tidak akan dapat terulang sampai dua kali.”

Dengan demikian, maka Pujang Warit-pun berketetapan hati untuk mengakhiri perang tanding itu dengan ilmunya yang dahsyat.

Sejenak kemudian Pujang Warit itu-pun melangkah surut. Sekejap ia memusatkan segenap kekuatan lahir dan batinnya, sehingga tampaklah seakan-akan dari ubun-ubunnya mengepul uap yang putih. Demikian mapannya ia menguasai ilmunya, sehingga ia sama sekali tidak membuang waktu terlampau banyak. Ketika kemudian ia menggeretakkan giginya. maka kekuatan pamungkasnya itu-pun sudah terbangun dan mengulir di seluruh tubuhnya.

Sri Baginda yang memiliki ilmu hampir sempurna segera melihat, bahwa lawannya telah membangunkan ilmunya yang tertinggi. Ungkapan segenap kekuatan yang ada di dalam diri, agaknya benar-benar akan merupakan kekuatan yang luar biasa, sehingga dengan demikian Sri Baginda tidak akan dapat melawannya dengan kekuatan wajarnya.

Tetapi Sri Baginda Kertajaya, Maharaja di Kediri, yang bahkan pernah merasa dirinya titisan dewa itu-pun memiliki kemampuan yang melampaui kemampuan manusia kebanyakan, di saat-saat ia merasa bahwa ia tidak akan mungkin melawan puncak kekuatan dan ilmu lawannya dengan tenaga wajarnya itulah maka Sri Baginda-pun segera membangunkan ilmunya yang dirasanya akan dapat melindungi dirinya.

Sri Baginda Kertajaya masih belum tahu dengan pasti, betapa jauh Pujang Warit sudah berhasil menguasai dirinya sendiri. menguasai segala kekuatan yang ada pada dirinya.Karena itu, maka Sri Baginda tidak akan mau menjadi korban penjajagannya. Itulah sebabnya, maka Sri Baginda Kertajaya-pun segera mengerahkan segenap kemampuan dan kekuatan yang ada di dalam dirinya.

Apalagi Sri Baginda yang telah berperang tanding beberapa waktu itu kemudian berkata kepada diri sendiri, “Memang aku harus segera mengakhiri perang tanding ini, agar aku mendapat kesempatan untuk memikirkan medan di sebelah Utara Ganter itu. Pujang Warit ternyata memang sudah tidak dapat diharapkan lagi. Supaya anak ini tidak akan menjadi penghalang untuk seterusnya, maka sebaiknya anak ini harus segera disingkirkan.”

Pada saat itulah, Pujang Warit yang kini sudah menyandang aji pamungkasnya itu-pun meloncat sambil berteriak nyaring. Pedangnya terayun deras sekali langsung mengarah kepundak Sri Baginda Kertajaya. Ayunan pedang yang dilambari oleh kekuatan yang hampir tidak terkatakan, betapa besarnya.

Sri Baginda Kertajaya melihat serangan yang datang dengan kekuatan raksasa itu. Karena itu, maka ia-pun segera bergeser selangkah. Untuk mengetahui kekuatan Pujang Warit, maka Sri Baginda-pun mengajunkan pedangnya pula, membentur pedang Pujang Warit.

Sekejap kemudian terjadilah benturan itu. Benturan antara dua kekuatan raksasa yang dahsyat.

Para Senapati dan prajurit yang melingkari arena itu berdiri dengan mulut ternganga menyaksikan apa yang telah terjadi. Para Senapati yang menjadi saksi utama dari perang tanding itu-pun tegak mematung dengan tatapan mata yang tidak berkedip.

Benturan itu ternyata telah menaburkan bunga api yang memercik dari kedua senjata yang sedang beradu itu.

Namun ternyatalah kemudian bahwa kedua bilah pedang itu memang berbeda. Pujang Warit yang kemudian meloncat setapak surut sambil menyeringai karena sengatan yang pedih di tangannya, masih berhasil mempertahankan pedangnya. Dengan wajah yang tegang ia melihat Sri Baginda Kertajaya berdiri termangu-mangu sambil memandangi senjatanya. Ternyata pedang yang ada di dalam genggaman Sri Baginda itu telah patah di tengah.

Pedang yang patah itu agaknya telah mengejutkan semua orang yang ada di sekitar arena.Para Senapati yang menjadi saksi dari perang-tanding itu tiba-tiba menjadi pucat. Mereka menyadari ketentuan yang berlaku, bahwa seseorang yang kehilangan senjatanya di dalam perang tanding, tidak akan mendapatkan senjata pengganti.

Dan kini ternyata pedang Sri Baginda Kertajaya itu telah patah.

Pujang Warit memandangi pedang yang patah itu sejenak. Sekilas tumbuh pengakuan di dalam dirinya, bahwa seandainya pedang Sri Baginda itu tidak patah, maka pedangnya sendirilah yang akan terloncat dari genggaman karena benturan kekuatan itu.

Bagaimana-pun juga Pujang Warit harus mengakui, bahwa kekuatan Sri Baginda masih belum dapat diimbanginya. Meskipun ia telah mengerahkan segenap kekuatan dan kekuatan cadangan yang telah dikuasainya, namun ternyata Sri Baginda masih jauh lebih perkasa.

Tetapi kini pedang Sri Baginda itu telah patah.

Bersamaan waktunya dengan patahnya pedang Sri Baginda, pasukan Kediri di medan perang Ganter telah terdesak jauh kebelakang. Betapa para prajurit Kediri berjuang tanpa mengenal menyerah, tetapi semakin lama semakin tampak, bahwa Singasari mempunyai cukup kemampuan untuk mendesak dan perlahan-lahan tetapi pasti menghancurkan pasukan Kediri.

Mahisa Walungan yang ada di ujung pasukan, dan sedang bertempur melawan Sri Rajasa, menjadi sangat berprihatin atas korban yang berjatuhan tak terhitung lagi. Tetapi ia tidak dapat berbuat apa-apa karena lawannya sendiri adalah seorang yang aneh. Bahkan Gubar Baleman-pun kemudian menjadi cemas. Apakah pasukan Kediri benar-benar akan pecah?

Sebagai seorang prajurit Gubar Baleman telah berbuat sebaik-baiknya. Seorang melawan seorang Gubar Baleman ternyata dapat mengimbangi kemampuan Mahisa Agni yang perkasa. Mahisa Agni yang telah berhasil menempatkan dirinya, sejajar dengan gurunya dan dengan orang-orang yang berada di dalam lapisan tertinggi dari ilmu olah kanuragan.

Tetapi ternyata Senapati Kediri itu-pun memiliki kemampuan yang seimbang. Sehingga dengan demikian pertempuran itu-pun menjadi semakin lama semakin seru. Darah menjadi semakin banyak mengalir, membasahi tanah yang berdebu.

Panas yang semakin terik telah membakar padang yang merah oleh darah. Tetapi keringat yang membasahi tubuh para prajurit itu bagaikan minyak yang menitik ke dalam api, dan membuat nafsu mereka semakin menyala-nyala. Hanya ada dua kemungkinan di dalam peperangan, membunuh atau dibunuh.

Sri Baginda Kertajaya. meskipun tidak menyaksikan peperangan itu, namun ia dapat membayangkan apa yang telah terjadi. Karena itu ia merasa wajib untuk segera membantu. Tetapi kini pedangnya justru patah.

Pujang Warit yang melihat pedang Sri Baginda patah, dan setelah pedih di tangannya oleh benturan kedua senjata itu menjadi berkurang, tiba-tiba saja merasa bahwa ia sudah berdiri di ambang pintu kemenangan.Selangkah lagi ia maju maka ia akan dapat memenangkan perang tanding ini. Perang tanding yang mempertaruhkan segala-galanya yang paling berharga di Kediri.

Karena itu oleh perasaannya yang meluap-luap, tiba-tiba Pujang Warit kehilangan pengamatan diri. Ia merasa seolah-olah ia sudah menggenggam taruhan yang disediakan oleh Sri Baginda. Karena itu, maka Senapati muda itu mengacukan pedangnya dengan tangan kanan ke arah Sri Baginda, sedang tangan kirinya bertolak pinggang sambil tertawa berkepanjangan. Di sela-sela derai tertawanya ia berkata, “Nah. Sri Baginda Kertajaya. Jangan menyesal bahwa hari-hari akhirmu sudah tiba. Kau ternyata telah ditelan oleh ketamakanmu sendiri. Kau yang merasa dirimu titisan dewa tertinggi, kini harus bersimpuh di hadapanku. Sebagai seorang Maharaja kau tidak dapat mengingkari apa yang sudah kau katakan. Taruhan dari perang tanding ini bukan saja nyawa kita, tetapi juga kekuasaan Tunggal di Kediri.”

Sri Baginda Kertajaya sejenak diam mematung melihat sikap Pujang Warit. Dengan penuh keheranan ia menyaksikannya tertawa terbahak-bahak sambil bertolak-pinggang.

“Apakah anak ini sudah menjadi gila?” bertanya Sri Baginda di dalam hatinya.

“Kertajaya,” Pujang Warit berteriak, “sebaiknya kau menyerah. Aku tidak akan membunuhmu dengan sewenang-wenang. Aku akan melaksanakan hukuman matimu dengan cara yang paling terhormat. Sedang saudara-saudara perempuanmu tidak akan menjadi tersia-sia. Tetapi kalau kau tetap berkeras hati melawan aku dan melanjutkan perang tanding ini, maka kau akan mati di tengah-tengah arena sebagai seekor ayam yang kalah dalam aduan.”

Keheranan Sri Bagmda kemudian telah memuncak. Perlahan-lahan perasaan heran itu telah berubah menjadi kemarahan yang semakin membakar dadanya. Sikap Pujang Warit tiba-tiba menjadi degsura. Tidak lagi sebagai sikap seorang Senapati terhadap rajanya.

“Apa katamu Kertajaya?”

Sri Baginda memandang berkeliling sesaat. Dilihatnya wajah-wajah yang tegang dan cemas menyaksikan perang-tanding itu.

“Aku tidak tahu. kenapa kau tiba-tiba saja mengigau Pujang Warit?” berkata Sri Baginda kemudian, “kenapa tiba-tiba saja kau menganggap bahwa perang tanding ini sudah selesai, sedang aku masih berdiri tegak di sini? Kalau karena pedangku patah, kau mengambil kesimpulan bahwa aku tidak akan mampu melawanmu lagi, agaknya kau keliru. Bukankah pedangku masih separo? Tentu yang separo ini justru menjadi lebih kuat. Karena daun pedang ini lebih pendek, maka ia pasti tidak akan patah lagi. Nah, daripada kau mengigau, marilah, kita lanjutkan saja perang tanding ini.”

“He,” Pujang Warit yang sedang dicengkam oleh mabuk kemenangan itu menyahut, “kenapa kau tidak mau melihat kenyataan ini? Dengan pedang yang utuh kau tidak dapat memenangkan perang tanding ini. Apalagi dengan pedang buntungmu itu.”

“Jangan banyak bicara,” Sri Baginda akhirnya kehilangan kesabaran, “marilah kita lihat akhir dari perang tanding ini. Aku tidak mempunyai banyak kesempatan lagi melayani orang yang sedang mabuk seperti kau ini. Sementara ini aku harus segera pergi ke Utara Ganter untuk menolong Mahisa Walungan dan Gubar Baleman.”

Pujang Warit mengerutkan keningnya. Ia tidak melihat kecemasan membayang di wajah Sri Baginda. Dan para Senapati serta para prajurit-pun menjadi heran. Sri Baginda masih tetap tenang dan sama sekali tidak terpengaruh oleh pedangnya yang patah.

“Apakah kau akan berbuat curang?” bertanya Pujang Warit, “apakah kau berhasrat mengganti senjatamu? Itu tidak dibenarkan oleh ketentuan perang tanding bagi para kesatria.”

“Siapa yang bilang bahwa aku akan mengganti senjataku?Aku akan mempergunakan senjataku yang patah ini. Ini justru akan lebih baik bagiku,” jawab Sri Baginda.

Mata Pujang Warit yang kemerah-merahan menjadi semakin merah dibakar oleh kemarahan di dalam dadanya. Sri Baginda Kertajaya yang sudah kehilangan senjatanya itu masih juga berani menengadahkan dadanya. Karena itu, maka sambil menggeretakkan giginya ia berkata, “Maharaja Kertajaya yang sudah kehilangan wahyu. Kau sudah tidak berhak lagi untuk menengadahkan wajahmu di hadapan rakyat Kediri. Sudah sampai waktunya kau berlutut sambil menundukkan kepalamu. Akulah yang akan memotong lehermu di hadapan para Senapati dan prajurit pengawal.”

Kemarahan Sri Baginda-pun hampir-hampir tidak tertahankan lagi. Tetapi sebagai seorang Maharaja, ia tidak dapat berbuat sekasar Pujang Warit. Karena itu maka ia hanya dapat menjawab, “Marilah kita buktikan.”

Pujang Warit yang masih berdiri bertolak pinggang itu menegang sejenak. Namun kemudian ia-pun terpaksa berkepanjangan untuk melepaskan kemarahannya yang menyesak, “kau memang seorang raja yang paling bodoh yang pernah aku kenal.”

Sri Baginda tidak menyahut. Tetapi justru karena kemarahan yang memuncak, maka seluruh kekuatan yang ada di dalam dirinya telah terungkat.Dengan tangan gemetar menggenggam pedangnya yang patah Sri Baginda melangkah setapak demi setapak maju. Ditatapnya Pujang Warit dengan tajamnya. Namun kemudian ia membentak, “Pujang Warit. Jangan lengah.”

Suara Pujang Warit-pun segera terputus. Ia melihat Sri Baginda menjadi semakin dekat.

Kini Pujang Warit menghadap kepada Sri Baginda. Wajahnya menjadi semakin menyala, sedang pedangnya kini terjulur lurus ke depan. Sejenak ia memandang Sri Baginda, namun sejenak kemudian ia-pun meloncat maju menyerang dengan garangnya.

Sri Baginda menyadari bahwa Pujang Warit masih berada di dalam puncak kekuatannya. Ia masih mempergunakan aji pamungkasnya. Karena itu, maka Sri Baginda-pun harus menyesuaikan dirinya pula.

Ternyata kemudian, bahwa meskipun pedang Sri Baginda tinggal sepotong, namun Sri Baginda masih dapat mempergunakannya dengan baik. Sambil memiringkan tubuhnya Sri Baginda memukul ujung pedang Pujang Warit kesamping.

Sekali lagi sebuah benturan yang dahsyat telah terjadi. Sekali lagi bunga-api memercik keudara. Namun pedang yang tinggal sepotong itu memang tidak patah lagi.

Pujang Warit yang merasa senjatanya masih utuh, segera melakukan serangan beruntun. Kalau ia ingin menang, maka ia harus segera mengakhiri perang-tanding itu, selagi Sri Bnginda masih dicengkam oleh keadaan yang mengecilkan hati itu.

Namun ternyata bahwa pedang yang patah itu sama sekali tidak berpengaruh apapun kepadanya.

Maka sejenak kemudian perang tanding itu-pun berlangsung semakin sengit. Kini mereka mempergunakan puncak-puncak dari ilmu mereka sehingga setiap gerak dan ayunan senjata mereka, tampak menjadi lebih garang dan lebih dahsyat.

Tidak seorang-pun berani mendekati arena. Sebenarnya bukan hanya Pujang Warit sajalah yang mampu menampakkan ilmu yang dahsyat yang tersimpan pada diri mereka. Tetapi ternyata bahwa Pujang Warit mempunyai beberapa kelebihan. Kelebihan di dalam dirinya itulah yang telah membuatnya menjadi sombong.

Dengan demikian, kini di arena itu sedang bertempur dua orang yang telah dicengkam oleh ketamakannya masing-masing. Sri Baginda Kertajaya, meskipun di saat-saat terakhir ia menyadarinya, betapa ia telah kehilangan pegangan, melawan Pujang Warit.

Namun bagi mereka yang memiliki pengamatan yang tajam, segera dapat melihat, bahwa meskipun Sri Baginda mempergunakan pedang yang patah, namun kemampuan Pujang Warit masih belum dapat menyamainya. Apalagi apabila keduanya mempergunakan senjata yang seimbang. Maka Pujang Warit akan segera merasai kesulitan dari perang tanding itu.

Sri Baginda yang mempergunakan pedang yang patah itu-pun kemudian telah berusaha untuk segera mengakhiri perang tanding. Geraknya menjadi semakin cepat, dan serangannya menjadi semakin garang.

Pujang Warit mengumpat-umpat di dalam hati. Meskipun lawannya hanya mempergunakan pedang yang patah, namun ia masih mampu bertempur seperti seekor burung garuda.

Betapa Pujang Warit mempergunakan aji pamungkasnya namun kekuatan manusia memang terbatas. Demikian pula kekuatan yang ada di dalam dirinya. Setelah beberapa saat ia memeras segenap tenaga yang ada di dalam dirinya, bahkan segenap tenaga cadangannya, namun masih belum juga berhasil mengalahkan lawannya, tampaklah bahwa kekuatan yang ada di dalam dirinya menjadi semakin lama semakin surut.

Dengan demikian maka Pujang Warit-pun menjadi semakin terdesak pula karenanya, sehingga pada suatu saat Pujang Warit merasa bahwa kemenangan yang sudah terbayang itu-pun menjadi semakin kabur kembali, sejalan dengan nalarnya yang menjadi semakin kabur pula, sehingga susunan tata perkelahiannya-pun menjadi semakin kehilangan arah.

Sejenak kemudian Sri Baginda merasa bahwa saatnya telah tiba. Apalagi ingatannya tentang pasukan di sebelah Utara Ganter yang pasti memerlukan bantuan. Karena itulah, maki betapa beratnya hati Sri Baginda, namun ia harus mengakhiri perang tanding itu.

Maka dengan garangnya Sri Baginda-pun menyerang lawannya dengan segenap kemampuannya yang meskipun sudah susut pula, namun masih jauh melampaui kekuatan Pujang Warit. Kedua senjata yang masih saja tetap berbenturan itu, menjadi semakin nyata bahwa Pujang Warit hampir-hampir tidak berdaya lagi melawan kekuatan Sri Baginda, meskipun pedang Sri Baginda patah dan tajamnya telah kikis. namun di saat-saat terakhir senjata itu bagaikan paruh burung rajawali yang mengitari dahi Pujang Warit.

Ketika Pujang Warit terdorong oleh benturan kedua senjata itu. dan terhuyung-huyung beberapa langkah surut Sri Baginda meloncat maju.

Pujang Warit tidak dapat berbuat lain karena keseimbangannya terganggu. Yang dilakukan kemudian adalah menjulurkan pedangnya lurus-lurus. Ia merasa bahwa senjatanya itu lebih panjang dari senjata Sri Baginda, sehingga Sri Baginda tidak akan dapat mencapainya dengan senjata patah itu.

Tetapi Sri Baginda berhasil menggeliat dan mengekang diri. Dengan daun pedangnya yang separo itu ia memukul Pedang Pujang Warit yang belum berhasil menguasai keseimbangannya sepenuhnya itu, sehingga Pujang Warit berputar setengah lingkaran.

Sri Baginda tidak menunggu lebih lama lagi. Dengan sebuah loncatan panjang ia menjulurkan pangkal pedangnya ke atas lambung lawannya.

Namun Pujang Warit tidak menyerah begitu saja. Ia tidak membiarkan lambungnya berlubang oleh pangkal pedang. Karena itu, justru ia membanting dirinya untuk menghindari tusukan lawannya.

Sri Baginda terkejut melihat cara Pujang Warit menghindar. Dengan tangkasnya Sri Baginda meloncat memburu Pujang Warit yang sedang berguling. Tetapi langkahnya-pun tertegun karena sambil berbaring Pujang Warit mengayunkan pedangnya mendatar.

Sri Baginda yang berdiri selangkah dari Pujang Warit terpaksa meloncat menghindari sambaran pedang pada mata kakinya itu. Ternyata bahwa Pujang Warit masih berusaha melawan sekuat-kuat tenaganya.

Serangan itu agaknya telah memberi kesempatan Pujang Warit untuk sekali lagi berguling kemudian melenting dengan tangkasnya, berdiri di atas kedua kakinya.

Namun begitu kedua kakinya menjejak tanah, maka terasalah sesuatu menyengat lambungnya, sehingga ia-pun menyeringai karenanya.

Pujang Warit tidak sempat berbuat apapun ketika pedang Sri Baginda yang tinggal separo itu menghunjam di lambungnya. Geraknya yang terlampau cepat, telah berhasil menembus pertahanan Senapati muda yang masih menggenggam pedang.

Tetapi Pujang Warit tidak sempat lagi mengayunkan pedangnya yang masih belum cacad sama sekali itu. Ketika Sri Baginda menarik pedangnya yang patah itu, darah menyembur dari luka di lambung Pujang Warit.

Senapati muda itu masih mencoba untuk berdiri. Tetapi kekuatannya serasa telah larut. Namun demikian justru di saat-saat terakhir itu ia benar-benar telah menjadi mabuk. Pujang Warit sama sekali tidak mau melihat kenyataan yang terjadi atas dirinya. Selama ini ia sudah merasa menggenggam kemenangan, bahkan seakan-akan ia sudah menerima taruhan yang dijanjikan oleh Sri Baginda, kekuasaan tertinggi di Kediri.

Kalau tiba-tiba pedang Sri Baginda menembus lambungnya, itu adalah suatu kejutan yang tidak masuk di akalnya, sehingga meskipun kekuatannya telah lenyap, namun ia sama sekali tidak mau menerima kenyataan itu.

Di saat-saat tubuhnya sudah demikian lemahnya, sehingga ia jatuh berjongkok di atas lututnya dan bersandar pada ke dua belah tangannya, ia masih berteriak, “He, Kertajaya, menyerahlah. Akulah yang akan menjadi Maharaja di Kediri. Ayo kalian prajurit, berlutut.Berlutut.”

Para prajurit yang berdiri mengitari arena itu diam mematung. Mereka memandang mata Pujang Warit yang merah dan liar. Namun demikian, tumbuhlah perasaan iba dan kasihan di hati mereka melihat akhir yang sama sekali tidak dikehendaki dan tidak diduga-duga sama sekali.

Perlahan-lahan Sri Baginda maju selangkah. Ditatapnya wajah Pujang Warit yang kian menjadi pucat. Tubuhnya-pun kemudian menjadi semakin menggigil. Sehingga sejenak kemudian ia sama sekali sudah tidak mampu lagi untuk berjongkok pada lututnya.

Perlahan-lahan tubuh Pujang Warit itu-pun terkulai di tanah. Darah yang merah masih saja mengalir dari lambungnya.

“He. He,” ia masih mencoba berteriak, “akulah Maharaja Kediri sekarang.”

Sri Baginda berjongkok di sampingnya.Perlahan-lahan ia berkata, “Ya, kaulah Sri Maharaja di Kediri.”

“Ayo berjongkok di hadapanku.”

“Aku sudah berjongkok.”

Pujang Warit mencoba mengangkat wajahnya dan membuka matanya yang semakin merah. Dilihatnya Sri Baginda berjongkok di sampingnya.

Setiap dada berdesir karenanya, ketika mereka melihat Pujang Warit itu tersenyum. Perlahan-lahan kepalanya terangguk-angguk. Namun kemudian kepala itu-pun menjadi semakin lemah. Perlahan-lahan Pujang Warit meletakkan kepalanya yang sudah tidak terangkat lagi oleh lehernya. Dan sekejap kemudian, maka terdengarlah tarikan nafasnya yang terakhir. Pujang Warit telah terbunuh di arena perang tanding oleh ketamakannya sendiri.

Sri Baginda Kertajaya-pun kemudian berdiri perlahan-lahan. Untuk pertama kalinya ia melakukan perang tanding melawan seorang Senapatinya sendiri, karena hukuman yang dijatuhkannya kepada dirinya sendiri.

“Singkirkan orang ini,” berkata Sri Baginda, “kuburkan ia baik-baik. Nafsunya telah menjerumuskannya ke dalam kesulitan. Bukan saja bagi dirinya sendiri, tetapi bagi seluruh Kediri.”

Ketika Sri Baginda kemudian memalingkan wajahnya dan memandang dua orang penasehatnya yang telah memberi kesempatan kepada Pujang Warit untuk merampas kedudukan keprajuritan yang tertinggi dengan nasehat-nasehatnya yang menyesatkan, maka kedua orang itu merasa, seolah-olah seluruh tulang belulangnya telah dicopoti.Keduanya sama sekali tidak mempunyai perisai apapun juga selain Pujang Warit. Dan kini Pujang Warit telah terbunuh.

Sambil berlutut mereka merayap ke hadapan Sri Baginda sambil menyembah, “Ampun Tuanku. Ampunkan kami. Kami telah menyadari segala kesalahan kami.”

Sri Baginda memandang keduanya dengan sorot mata yang seakan-akan membara. Dengan suara yang parau Sri Baginda berkata, “Kalian adalah pengecut yang paling licik, masih lebih menghargai Pujang Warit yang berani mempertanggung jawabkan kesalahannya sebagai seorang jantan. Tetapi kalian?”

“Ampun Tuanku. Yang dapat hamba lakukan hanyalah mohon kasihan Tuanku.”

Sri Baginda termenung sejenak. Kemudian katanya kepada penasehatnya yang lain, “Apakah kata paman tentang kedua orang kawan paman ini?”

Penasehat yang tertua menganggukkan kepalanya dalam-dalam, “Tuanku keduanya telah mencemarkan nama baik para penasehat Tuanku.”

“Hukuman apakah yang pantas dijatuhkan atas mereka?”

Penasehat itu tidak menyahut.

Sejenak kemudian Sri Baginda berpaling kepada Senapati yang menjadi saksi utama dalam perang tanding ini. Katanya, “Keduanya adalah pengkhianat. Akibatnya terasa oleh seluruh rakyat Kediri.”

Senapati itu menganggukkan kepalanya.

“Hukuman apakah yang pantas bagi keduanya aku serahkan kepada kalian.”

“Ampun Tuanku. Ampun,” keduanya berteriak hampir berbareng.

Tetapi Sri Baginda tidak menghiraukannya. Karena tiba-tiba saja Sri Baginda berkata lantang, “Sediakan kudaku. Ambillah pusakaku. Aku akan menangani sendiri pasukan yang telah diracuni oleh Pujang Warit. Aku akan membawa mereka ke sebelah Utara Ganter. Akulah yang paling pantas untuk melawan Akuwu Tumapel yang telah memberontak dan menamakan dirinya Sri Rajasa Batara Sang Amurwa-bumi itu.”

Beberapa orang Senapati saling berpandangan. Tetapi tidak seorang-pun yang beranjak dari tempatnya, sehingga Sri Baginda harus mengulanginya, “Ambil kudaku.”

“Tetapi tuanku,” seorang Senapati memberanikan diri untuk bertanya, “apakah Tuanku sendiri akan maju ke medan perang?”

“Ya,” jawab Sri Baginda.

“Tuanku. Kami masih ada di halaman istana ini. Apakah Tuanku tidak memerintahkan saja kepada kami, agar kami berangkat ke peperangan?”

“Aku sendiri akan menguasai lebih dahulu orang-orang Pujang Warit supaya tidak timbul persoalan baru.”

“Tuanku dapat memerintah kami. “

“Kali ini aku sendiri akan pergi. Cepat. Ambil kudaku.”

Para Senapati itu tidak dapat membantah lagi. Namun demikian salah seorang yang lain berkata, “Apakah Tuanku berkenan, kami ikut serta bersama dengan Tuanku?”

Sri Baginda berpikir sejenak. Lalu, “Baiklah. Tetapi kalian harus mengatur diri, sehingga sebagian dari kalian tetap berada di dalam halaman istana ini.”

“Hamba Tuanku. Kalau begitu perkenankanlah kami mempersiapkan diri.”

Sejenak kemudian halaman istana itu-pun segera menjadi sibuk. Beberapa orang pengawal telah mempersiapkan diri mereka untuk mengikuti Sri Baginda kepinggir kota.

Ketika mereka sudah siap dengan kuda masing-masing, maka Sri Baginda-pun segera berkata, “Marilah, kita tidak mau terlambat.”

Maka Sri Baginda-pun segera meloncat ke punggung kudanya. Dengan sebuah sentuhan cemeti, maka kuda itu-pun segera meloncat berlari sekencang-kencangnya diikuti oleh para Senapati dan prajurit pengawal istana.

Derap kuda-kuda itu-pun segera menggema di jalan-jalan raya. Sri Baginda kali ini hampir tidak ditandai oleh kelengkapan kebesarannya, selain pusakanya yang berbentuk tombak dengan sehelai panji-panji kecil, sebuah panji-panji yang terikat pada tunggul yang berwarna keemasan, berbentuk seekor gajah dengan belalainya yang mencuat keatas dan sebuah payung pusaka, yang juga berwarna kuning keemasan, masing-masing dibawa oleh seorang Senapati pengiring.

Beberapa orang yang melihat-lihat iring-iringan itu menjadi bertanya-tanya di dalam hati. Ciri-ciri itu adalah ciri kebesaran Sri Baginda meskipun tidak lengkap.

“Apakah Sri Baginda sendiri turun ke medan perang?” mereka menjadi saling bertanya.

“Ya. Aku pasti. Yang paling depan adalah Sri Baginda.”

“Bukan. Bukan yang paling depan,” bantah yang lain, “yang paling depan adalah seorang Senapati pengiring. Sri Baginda memang ada di dalam pasukan berkuda itu, tetapi yang nomor dua dari depan. Bukan yang paling depan.”

“Yang membawa tombak.” sahut yang lain.

“Pasti bukan, yang membawa tombak, panji-panji dan sosong itu adalah Senapati pengiring.”

“Oh, kita tidak akan dapat melihat Sri Baginda,” berkata yang lain, “Baginda adalah titisan dewa-dewa. Kita pasti akan selalu berselisih pendapat, karena sebenarnya Sri Baginda tidak dapat kita ketahui dengan pasti, karena Sri Baginda mampu mengaburkan dirinya sendiri dalam segala bentuk.”

Yang lain tidak menyahut lagi. Sebagian dari mereka percaya bahwa Sri Baginda adalah titisan dewa, sehingga ia dapat menyamar dirinya dalam bentuk apapun yang dikehendaki.

Demikianlah maka kuda-kuda itu-pun kemudian berderap dengan cepatnya di atas tanah berbatu-batu melemparkan debu yang putih, mengepul di belakang kaki-kaki kuda yang sedang berpacu itu.

Di pinggir kota pasukan yang ditinggalkan Pujang Warit telah benar-benar dicengkam oleh kegelisahan yang semakin memuncak. Mereka kini sudah tidak tahu lagi. apa yang harus mereka kerjakan. Padahal mereka tahu pasti, bahwa sebagian prajurit Kediri sedang bertempur mati-matian melawan prajurit, Singasari yang lebih besar jumlahnya.

Yang dapat mereka lakukan adalah membangun pertahanan sementara sambil menunggu kedatangan Pujang Warit.

Ketika seorang pengawas melihat beberapa ekor kuda berderap mendekati pasukan, maka segera ia berteriak, “Mungkin yang datang itulah Senapati Pujang Warit.”

Senapati tertua di antara mereka, bersama beberapa orang Senapati yang lain segera berlari-lari untuk melihat mereka yang baru datang. Namun tiba-tiba salah seorang berkata, “Kau lihat songsong pusaka yang berwarna kuning emas?”

“Ya,” desis kawannya, “baru saja aku akan melihatnya.”

“Apakah Sri Baginda sendiri?”

“Atau Pujang Warit sudah mendapat wewenang? Kalau demikian maka songsong pusaka itu bernilai lebih tinggi dari songsong kebesaran yang dipergunakan oleh Mahisa Walungan, sehingga Pujang Warit berhak memimpin segenap pasukan Kediri. Mahisa Walungan dan Gubar Baleman harus tunduk di bawah perintahnya.”

“Tetapi kau lihat panji-panji kecil pada tombak pusaka itu, dan sekaligus panji-panji pada tunggul Kiai Gajah?”

“Itu adalah kelengkapannya.”

“Tetapi itu sama sekali bukan Pujang Warit,” berkata seorang prajurit.

“Sri Baginda, Sri Baginda sendiri,” berkata seseorang hampir berteriak.

Semua-pun segera terdiam. Mereka kini melihat, bahwa orang yang berkuda di paling depan, didampingi oleh Senapati pengapit itu adalah Sri Baginda Kertajaya sendiri.

Darah para prajurit itu-pun serasa hampir membeku. Ada beberapa persoalan yang bergolak di dada mereka. Namun salah seorang dari mereka bergumam, “Apakah Pujang Warit dianggap bersalah dan Sri Baginda sendiri datang kemari? “

“Atau Pujang Warit ada juga di dalam pasukan kecil itu?”

Sejenak kemudian semua orang justru terdiam. Meleka melihat iring-iringan itu menjadi semakin dekat.

Ketika kuda-kuda itu berhenti beberapa langkah dari mereka, maka para Senapati itu-pun menganggukkan kepala mereka dalam-dalam. Salah seorang yang dianggap tertua dari mereka berkata sambil menundukkan kepalanya, “Sri Baginda sendiri berkenan datang ke tempat ini.”

“Ya,” jawab Sri Baginda, “aku ingin melihat apa yang telah terjadi.”

Senapati itu ragu-ragu sejenak. Namun kemudian diberani-beranikan dirinya untuk bertanya dengan hati-hati, “Ampun Tuanku. Beberapa saat yang lampau, Tuanku telah memanggil Pujang Warit untuk menghadap.”

Sri Baginda mengerutkan keningnya, “Ya.Aku telah memanggil Pujang Warit.Tetapi jangan hiraukan dia. Aku sendiri akan memimpin pasukan Kediri. Nah, siapa yang tetap setia kepadaku akan serta bersamaku.”

Senapati yang ada di tempat itu-pun mulai meraba apa yang telah terjadi dengan Pujang Warit. Tetapi mereka tidak sempat untuk berpikir terlampau lama karena Sri Baginda segera berkata lantang, “Siapa yang menolak kehadiranku sebagai pemimpin dan Senapati tertinggi dari pasukan Kediri sekarang, aku beri kesempatan untuk menyingkir?”

Dada para Senapati itu-pun terguncang karenanya. Namun tidak seorang-pun yang menolak kepemimpinan Sri Baginda Kertajaya sendiri.

“Nah, kalau kalian menerima kehadiranku sebagai pemimpin kalian, maka kalian harus bersiap.Kita tidak akan menunggu di sini. Kita akan berangkat ke sebelah Utara Ganter. Hari ini kita harus menggabungkan diri ke dalam pasukan itu. sebelum Tumapel berhasil memecah pasukan Kediri yang lemah karena kalian berada di sini.”

“Kami berada di sini atas perintah Pujang Warit Tuanku.”

“Aku tahu. Cepat. Kalian persiapkan prajurit-prajurit kalian masing-masing.”

Para Senapati itu-pun segera berlari ke pasukannya masing-masing. Mereka dengan singkat telah menyampaikan perintah Sri Baginda, bahwa mereka akan segera pergi ke medan di bawah pimpinan Sri Baginda sendiri.

Terasa darah para prajurit itu semakin cepat mengalir. Mereka telah mendapat kehormatan, bertempur di bawah pimpinan Sri Baginda sendiri.

Dengan penuh kesungguhan mereka-pun kemudian mempersiapkan diri mereka. Pertahanan yang sudah mereka susun sementara itu-pun segera terurai. Pasukan-pasukan yang sudah menebar di sepanjang dinding kota di sekitar regol induk itu-pun kemudian berkumpul kembali untuk segera berangkat kegaris perang di sebelah Utara Ganter.

Setelah semua persiapan selesai, maka Senapati tertua itu-pun segera menghadap Sri Baginda sambil berkata, “Ampun Tuanku. Seluruh pasukan telah siap menjalankan perintah Tuanku.”

“Bagus, kita akan segera berangkat.”

“Kami sudah bersedia.”

Sri Baginda-pun kemudian menempatkan dirinya di ujung barisan, bersama para Senapati pengiring dan para Senapati yang membawa tanda-tanda kebesarannya yang tidak lengkap. Sebuah songsong pusaka, tombak pusaka dan sebuah panji pada tunggul Kiai Gajah.

“Kita berangkat,” teriak Sri Baginda Kertajaya itu sejenak kemudian yang disambut oleh para Senapati dengan memberikan aba-aba kepada pasukan masing-masing.

Namun ketika pasukan itu mulai bergerak, Sri Baginda Kertajaya mengangkat tangannya sehingga dengan tiba-tiba pasukan itu-pun tertegun.

“Kau lihat debu itu?” bertanya Sri Baginda kepada Senapati pengapit yang ada di sampingnya.

“Hamba Tuanku.”

“Seekor kuda.”

“Hamba Tuanku.”

Sri Baginda mengerutkan keningnya. “Seorang penghubung dari medan.”

“Hamba Baginda. Seorang penghubung dari medan.”

“Kita tunggu sebentar. Mungkin ia membawa berita penting tentang peperangan.”

Sejenak kemudian maka kuda yang berderap itu-pun semakin lama menjadi semakin dekat. Para Senapati yang melihat penghubung itu menjadi berdebar-debar. Apalagi Sri Baginda sendiri. Darahnya serasa berhenti mengalir ketika ia melihat penghubung yang berlumuran darah itu membawa payung kebesaran Mahisa Walungan yang tangkainya telah patah di tengah.

“He, kemarilah,” teriak Sri Baginda tidak sabar.

Penghubung itu mengerutkan keningnya. Agaknya ia-pun terkejut ketika dilihatnya Sri Baginda sendiri yang ada di ujung barisan.

“Ampun Tuanku,” penghubung itu-pun segera menarik kendali kudanya dan meloncat turun. Dengan serta-merta ia berjongkok di sisi kuda Sri Baginda.

“Berdirilah, cepat katakan apa yang terjadi.”

“Ampun Tuanku,” dengan ragu-ragu orang itu berdiri terhuyung-huyung. Dari seluruh tubuhnya yang terluka parah, mengalir darah yang merah hitam. Seorang Senapati segera menghampirinya dan membantunya berdiri.

“Cepat, katakan apa yang terjadi,” teriak Sri Baginda.

“Tuanku. Hamba membawa songsong kebesaran Adinda Sri Baginda Mahisa Walungan yang telah patah.”

“Ya. aku sudah melihat.”

“Ampun Tuanku.Adinda Sri Baginda telah gugur di medan peperangan.”

“He. Mahisa Walungan telah gugur?” suara Sri Baginda melengking tinggi menggetarkan udara yang sedang dibakar oleh terik matahari.

Setiap dada tergetar mendengar berita gugurnya Adinda Sri Baginda Mahisa Walungan. Meskipun orang-orang Pujang Warit sebelumnya menganggap bahwa Adinda Sri Baginda itu telah berkhianat seperti yang pernah dikatakan oleh Pujang Warit, namun kini mereka-pun menyadari, siapakah sebenarnya yang telah berkhianat.

Sejenak Sri Baginda Kertajaya merenung. Sri Baginda adalah seorang prajurit yang berhati jantan. Sebagai seorang Maharaja ia berhati sekeras baja. Tetapi ketika ia mendengar adik kandungnya gugur di peperangan setelah ia sendiri melukai hati adiknya itu, terasa kerongkongannya menjadi panas.

“Siapa yang telah membunuh Mahisa Walungan?” suara Sri Baginda hampir tidak terdengar.

Penongsong yang telah membawa payung kebesaran Mahisa Walungan itu menjawab dengan suara yang tersendat-sendat, “Sri Rajasa Batara Sang Amurwabumi.”

Terdengar Sri Baginda menggeretakkan giginya. Kemudian terdengar suaranya lantang, “Aku sendiri aku melawannya di peperangan.”

Dengan kedua kakinya Sri Baginda menyentuh perut kudanya. Namun sebelum kuda itu meloncat maju, penongsong yang sudah terlampau lemah itu masih berusaha meloncat memegang tali kendali kuda Sri Baginda sambil berkata, “Ampun Tuanku. Jangan pergi sekarang.”

Kuda Sri Baginda melonjak karena kejutan di perut dan tali kendalinya, sehingga penongsong yang terluka itu terseret beberapa langkah.

Senapati yang menolongnya berdiri tidak menyangka bahwa hal itu akan terjadi, sehingga dengan tergesa-gesa ia berlari-lari menolong orang yang terlempar itu, sedang Senapati yang lain memegangi tali kuda Sri Baginda yang melonjak-lonjak dan berusaha menenteramkannya.

“Kenapa kau halangi aku, he?” teriak Sri Baginda.

“Ampun Tuanku,” penongsong itu menjadi semakin lemah, sedang darah masih mengalir dari luka-luka di tubuhnya, “ampun Tuanku. Pasukan Kediri sedang terdesak. Sebaiknya Sri Baginda sendiri tidak pergi ke peperangan tanpa pasukan yang lengkap.”

“Di sini ada pasukan segelar sepapan.”

“Kalau Sri Baginda pergi bersama pasukan ini, hamba akan ikut pula. Tetapi kalau Sri Baginda mendahului di atas punggung kuda ini, maka Sri Baginda akan berada dalam bahaya.”

Sri Baginda Kertajaya merenung sejenak. Namun ia kemudian berkata, “Justru pasukan itu ada dalam kesulitan. Aku harus secepatnya pergi ke medan.”

“Tetapi medan terlampau berbahaya saat ini.”

Tiba-tiba seorang Senapati maju sambil membungkukkan kepalanya, “Biarlah kami yang saat ini berada di atas punggung kuda pergi mendahului. Meskipun kami tidak terlampau banyak, tetapi kami akan dapat sekedar membantu, sementara Sri Baginda membawa pasukan segelar sepapan ini ke medan.”

Sri Baginda merenung sejenak, dan Senapati itu mendesaknya, “Waktu terlampau sempit Sri Baginda.”

Sri Baginda Kertajaya tidak dapat berpikir lebih lama lagi.Perlahan-lahan ia menganggukkan kepalanya.

Isyarat itu tidak usah diulanginya. Senapati itu mengangguk dalam-dalam kemudian ia-pun segera berlari meloncat keatas punggung kudanya sambil berteriak, “Kita yang berada di punggung kuda diperkenankan mendahului pasukan. Keadaan sangat gawat di medan perang.”

Senapati itu segera memacu kudanya tanpa menunggu kawan-kawannya. Namun sejenak kemudian setiap kuda-pun segera berlari menyusulnya berderap di atas jalan berbatu-batu. Maka kemudian debu yang kelabu-pun berhamburan di atas jalan yang menuju ke Ganter.

Bukan saja pasukan pengawal yang telah memacu kudanya ke medan perang. Prajurit-prajurit yang ada di pinggir kota sebagian telah berusaha mendapatkan kuda-kuda yang ada di dalam pasukan itu. Kuda-kuda penghubung dan kuda-kuda bagi para pimpinan. Bahkan satu dua di antara mereka telah masuk ke padukuhan terdekat. Membuka kandang-kandang kuda yang mereka ketemukan, dan memakainya untuk menyusul para prajurit yang sudah terdahulu.

Sri Baginda Kertajaya menarik nafas dalam-dalam. Baru kali ini pasukan Kediri menghadapi lawan dalam keadaan tercerai berai, seolah-olah bukan lagi sebuah pasukan dari negara yang besar. Dengan hati yang pedih Sri Baginda melihat beberapa ekor kuda masih saja berlari-larian saling menyusul. Lima ekor, tiga, dua dan bahkan seekor kuda berderap ke medan. Namun dengan demikian Sri Baginda melihat kesetiaan yang sebenar-benarnya dari prajurit-prajuritnya kepada Kediri.

Setelah kuda yang terakhir hilang di balik kepulan debu. barulah Sri Baginda berkata, “Siapkan prajurit yang tersisa. Kita akan menyusul ke medan perang.”

Senapati pengapit yang masih tinggal, segera memimpin pasukan yang masih ada. Beberapa kelompok telah kehilangan Senapatinya, yang dengan tidak tersusun telah pergi ke medan oleh luapan perasaan yang tidak tertahankan setelah mereka mendengar bahwa Adinda Sri Baginda Mahisa Walungan telah gugur.

Namun sejenak Sri Baginda tertegun ketika ia melihat penongsong Mahisa Walungan yang hampir tidak mampu berdiri lagi, dilayani oleh seorang prajurit.

“Luka-lukanya parah,” desis Sri Baginda, “bawalah ia ke rumah yang terdekat. Usahakan pertolongan sementara.”

Tetapi orang itu menggeleng lemah, “Ampun Sri Baginda,” suaranya sudah hampir tidak terdengar, “biarlah aku mati di antara para prajurit ini.”

“Kau akan hidup.”

Sekali lagi orang itu menggeleng lemah. Nafasnya semakin deras mengalir. Hampir tidak dapat didengar lagi apa yang dikatakannya, “Hati-hatilah Sri Baginda. Lawan datang seperti banjir bandang.”

Sri Baginda menarik nafas dalam-dalam. Dalam keadaan yang wajar, Sri Baginda Kertajaya sudah tentu akan membentak prajurit yang mencoba mengajari dan memperingatkannya atas suatu keadaan.

Tetapi kini Sri Baginda merasa bahwa prajurit itu benar-benar mengucapkannya dari dasar hatinya, di saat-saat nyawanya sendiri sudah di ambang pintu. Hanya didorong oleh kesetiaan yang tulus, maka penongsong itu berani mengatakan, apa yang sebenarnya telah terjadi di medan.

Ketika Sri Baginda akan memerintahkan sekali lagi untuk merawat penongsong itu, maka setiap kepala-pun kemudian ditundukkan. Prajurit itu telah menarik nafas yang terakhir di hadapan Sri Baginda dipapah oleh seorang prajurit yang lain.

“Serahkan kepada prajurit penjaga gerbang ini, supaya orang ini mendapat perawatan sebaik-baiknya,” berkata Sri Baginda, “ia telah gugur dalam menunaikan tugasnya, seperti juga Mahisa Walungan telah gugur pula.”

Demikianlah maka pasukan Kediri itu-pun segera bersiap untuk berangkat ke medan perang, dipimpin oleh Sri Baginda Kertajaya sendiri.

Dalam pada itu. di medan perang di sebelah Utara Ganter, pasukan Kediri benar-benar telah hampir tercerai berai. Beberapa orang Senapati dengan tanpa menghiraukan keselamatan diri sendiri, berusaha menyingkirkan jenazah Mahisa Walungan yang telah gugur di peperangan melawan Sri Rajasa.

Pada saat senjata Sri Rajasa mengenai dada kiri Mahisa Walungan, sebuah tombak telah menyerang penongsongnya. Tanpa dapat berbuat sesuatu dengan gerak naluriah penongsong itu menangkis ujung tombak itu dengan tangkai payung yang dibawanya. Tetapi ternyata tangkai payung itu-pun patah di tengah.

Sorak prajurit Singasari serasa akan memecahkan selaput telinga.Mereka meneriakkan kemenangan Sri Rajasa, dan meneriakkan kematian Adinda Sri Baginda Kertajaya.

Namun pada saat itu Sri Rajasa sendiri berdiri termangu-mangu memandang Mahisa Walungan yang terhuyung-huyung beberapa langkah surut.

“Kau memang seorang Raja yang sakti,” desis Mahisa Walungan, “aku akui kemenanganmu. Tidak seorang-pun yang mampu melawan Aji Sangga Langit dan Aji Songkok Sari sekaligus. Tetapi kau sama sekali tidak terguncang oleh kedua Aji pamungkasku. Itu pertanda bahwa Sri Rajasa memang kekasih dewa-dewa.”

Sri Rajasa tidak menjawab. Direnunginya Mahisa Walungan yang menjadi semakin lemah. Ia sama sekali tidak berbuat apa-apa ketika beberapa orang Senapati Kediri berusaha menyelamatkan Mahisa Walungan.Tetapi mereka hanya dapat mengangkat tubuhnya yang sudah tidak bernafas.

Ketika beberapa orang prajurit Singasari mencoba menghalang-halangi prajurit Kediri yang berusaha menyingkirkan Jenasah itu. Sri Rajasa membentak mereka dengan marahnya, “Biarkan jenazah itu. Ia pantas mendapat penghormatan, sehingga jenazahnya pantas mendapat perawatan yang sebaik-baiknya. Ia adalah seorang pahlawan besar. Pahlawan terbesar di saat ini.”

Tidak seorang-pun yang kemudian mengganggu para Senopati Kediri membawa jenazah itu pergi. Tetapi Sri Rajasa tidak sempat memperhatikan, penongsong Mahisa Walungan yang menjadi luka parah oleh senjata orang-orang Singasari. Tetapi prajurit yang membawa payung kebesaran itu-pun berhasil menyingkir dan mendapatkan seekor kuda dari para penghubung.

Sri Rajasa seolah-olah tersadar ketika sorak para prajurit Singasari semakin membelah langit. Mereka berhasil semakin mendesak pasukan Kediri yang telah kehilangan agul-agul. Yang ada kini tinggallah Gubar Baleman.

Berita gugurnya Mahisa Walungan telah memukul dada Gubar Baleman, sehingga sejenak ia kehilangan pengamatan diri. Tetapi karena senjata Mahisa Agni yang menyentuh pundaknya, maka Gubar Baleman-pun menyadari, bahwa kini justru seluruh tanggung jawab ada di atas pundaknya.

Karena itu, maka Gubar Baleman-pun menggeretakkan giginya. Dengan lantang suaranya mengatasi sorak sorai prajurit Singasari, “Adinda Sri Baginda telah gugur sebagai seorang pahlawan.He. prajurit Kediri, apa yang dapat kalian serahkan kepada Tanahmu ini?”

Prajurit Kediri yang terguncang karena kematian Mahisa Walungan tiba-tiba seperti yang bangkit dari tidur yang diganggu oleh mimpi yang menakutkan.Serentak prajurit Kediri menyambut teriakan Menteri Gubar Baleman dengan gemeretak gigi dan nyala di dalam dada.

Sambil berteriak nyaring, mereka segera menemukan gairah perjuangan mereka kembali.

Tetapi pasukan Singasari ternyata semakin mendesak mereka. Jumlah yang besar, dan nafsu yang melonjak karena gugurnya Mahisa Walungan membuat pasukan Singasari berhasil menguasai segala bagian medan yang dahsyat itu.

Gubar Baleman-pun akhirnya melihat, betapa korban berjatuhan tanpa dapat dihitung lagi.Sebagai seorang pemimpin ia merasa kematian yang tidak terbilang masih akan terjadi.

Tetapi seperti Mahisa Walungan, maka Gubar Baleman-pun seorang Senapati jantan. Itulah sebabnya maka ia sendiri telah berusaha untuk bertempur sekuat-kuat tenaganya. Semua kemampuan. Aji dan ilmunya telah dicurahkannya.

Namun ternyata bahwa Mahisa Agni yang memiliki Aji Gundala Sasra dan Kala Bama sekaligus itu mampu melawan setiap ilmu yang dilontarkan oleh Gubar Baleman.

Namun ada sesuatu yang telah mengganggu segenap pemusatan kekuatan lahir dan batin dari Menteri Gubar Baleman yang berani itu. Ia tidak dapat menutup mata dan telinga, bahwa keadaan pasukannya telah menjadi semakin terdesak. Terbayang sekilas di kepalanya, bahwa pasukan Kediri sebentar lagi pasti akan pecah, dan akan lenyaplah Kerajaan Kediri yang besar itu.

Dan keprihatinan Gubar Baleman itu telah dicurahkan dengan mengerahkan segenap kemampuannya. Bahkan Gubar Baleman sama sekali sudah tidak menghiraukan keselamatan dirinya lagi.

Ketika pasukannya semakin lama menjadi semakin terdesak, maka Gubar Baleman tidak dapat lagi menahan hati. Kalau ia tidak berbuat sesuatu, maka semua prajurit Kediri yang ada di peperangan ini pasti akan tumpas. Tidak seorang-pun yang akan berusaha atau berniat menyelamatkan dirinya, sedang Kediri yang dipertahankan pasti juga akan runtuh.

Gubar Baleman memang terharu melihat kesetiaan prajurit Kediri kepada Tanah Kelahiran. Tetapi Gubar Baleman masih mencoba mempergunakan nalarnya. Karena itu, maka kepada kedua Senapati pengapitnya ia memberikan perintahnya sebagai Senapati Tertinggi, “Tarik pasukan. Hubungi Pujang Warit di dalam kota. Apapun yang dikehendaki, kita harus menyerahkannya. Tetapi Kediri harus dipertahankan sekuat tenaga. Aku masih berpengharapan, bahwa Pujang Warit akan bersedia menjadi Senapati Agung pasukan Kediri.Namun dengan demikian kekuatan yang ada padanya dapat dikerahkan bagi medan.”

Senapati pengapitnya mengerutkan keningnya. Tetapi ia mendengar perintah itu dengan jelas, seperti juga Mahisa Agni mendengarnya.

Sekilas terbersit pertanyaan di hati Mahisa Agni, “Apakah yang sebenarnya terjadi atas prajurit-prajurit Kediri? Agaknya Kediri benar-benar telah dihancurkan oleh perpecahannya sendiri.”

Ketika salah seorang Senapati pengapit yang menerima perintah itu mundur dari medan. Mahisa Agni menjadi termangu-mangu sejenak. Apakah yang sebaiknya dilakukan? Agaknya Kediri masih menyimpan tenaga cadangan. Tetapi tenaga cadangan itu sama sekali tidak dapat dikuasai, baik oleh Mahisa Walungan maupun oleh Gubar Baleman.

Namun ternyata bahwa Gubar Baleman sama sekali belum mendengar berita kematian Pujang Warit oleh tangan Sri Baginda Kertajaya sendiri.

Senapati pengapit yang mendapat perintah dari Gubar Baleman itu-pun segera berusaha mendapatkan seekor kuda untuk meninggalkan medan. Betapa berat hatinya, namun ia tidak dapat berbuat lain. Ia harus menghubungi Pujang Warit. Sedang Senapati pengapit yang lain masih belum menemukan jalan, bagaimana ia akan menarik pasukan yang sedang bertempur demikian dahsyatnya.

Karena Senapati pengapitnya masih belum berbuat apa-apa, maka Gubar Baleman mengulangi perintahnya, “Tarik pasukan. Kalau hubungan dengan Pujang Warit dapat diadakan, maka pertahanan yang kuat akan disusun.Kita akan mundur sampai pertahanan yang sudah tersusun itu.”

Senapati itu kini mengerti. Pasukannya harus berusaha untuk mengundurkan diri sampai pertahanan berikutnya yang akan disusun oleh Pujang Warit.

“Tetapi bagaimana kalau Pujang Warit benar-benar telah menjadi gila?” pertanyaan itu sekilas melontar di dada Senapati itu.

Namun memang tidak ada jalan lain. Itu adalah jalan satu-satunya. Pasukan Kediri tidak akan dapat bertahan lebih lama lagi menghadapi pasukan Singasari yang besar ini.

Karena itu. maka Senapati itu-pun segera berusaha mengatur sisa-sisa pasukannya. Bersama beberapa orang penghubung, Senapati itu memerintahkan setiap pimpinan kelompok mengikat pasukannya, betapapun kecilnya yang tersisa, untuk menarik diri. Pasukan yang sudah parah ini tidak boleh pecah. Meskipun mereka harus menghindari peperangan, tetapi dengan teratur mereka harus dapat menempatkan diri pada pertahanan berikutnya. Apabila Pujang Warit tidak bersedia melakukannya, maka jalan terakhir adalah musna bersama-dengan musnanya Kediri.

Demikianlah maka kini pasukan Kediri berada di dalam keadaan yang sangat gawat. Menarik pasukan dari medan yang demikian dahsyatnya bukanlah pekerjaan yang mudah. Apalagi pasukan yang akan mengadakan pertahanan di belakang garis perang ini-pun masih belum dapat diperhitungkan dengan pasti.

Dalam gerakan inilah Gubar Baleman menunjukkan dirinya, sebagai seorang Senapati yang benar-benar bertanggung jawab. Ia sama sekali tidak berkisar dari tempatnya, selama para Senapati bawahannya mengatur diri. Sebagai seorang prajurit yang mumpuni ia tetap bertahan di tempatnya. sehingga Mahisa Agni tidak segera dapat mengatur pasukannya untuk mendesak maju. Dalam keadaan yang demikian, maka beberapa orang Senapati yang lain segera mengambil sikap, mendesak dan mencegah gerakan mundur pasukan Kediri.

Tetapi selain Mahisa Agni, ternyata di barisan Singasari masih ada Sri Rajasa sendiri yang kini tidak mempunyai lawan lagi yang seimbang. Namun demikian ternyata Sri Rajasa bukanlah seorang yang terlalu kejam. Ia tidak melawan orang-orang Kediri seperti menebas daun ilalang, meskipun ia dapat melakukannya apabila dikehendakinya.

Dalam keadaan yang demikian Sri Rajasa kini benar-benar berdiri sebagai seorang panglima. Ia hanya meneriakkan aba-aba untuk mengatur pasukannya.

Mahisa Agni yang melihat kehadiran Sri Rajasa sebagai panglima yang berdiri tanpa lawan itu-pun segera dapat memusatkan perhatiannya pada perang yang sedang dilakukan, melawan Gubar Baleman.

Sekali lagi Sri Rajasa menjadi kagum melihat sikap Gubar Baleman, seperti juga Mahisa Agni mengaguminya. Senapati-senapati Kediri yang demikian inilah yang agaknya membuat Kediri pada saatnya menjadi sebuah negara yang besar.

Ketika pasukan Kediri mengalami kesulitan untuk menarik diri itulah, terdengar derap kaki-kaki kuda yang berpacu menuju ke medan peperangan. Mereka adalah pasukan pengawal berkuda yang telah mendahului Sri Baginda Kertajaya maju ke peperangan.

Kedatangan pasukan berkuda yang tidak merupakan suatu barisan yang teratur itu telah mengejutkan prajurit-prajurit di peperangan itu. Sebagai seorang Senapati yang berpengalaman, maka Gubar Baleman segera mengetahui, bahwa pasukan itu telah menyusul ke medan dengan sangat tergesa-gesa, sehingga mereka tidak sempat menyusun barisan yang teratur.

Tetapi bagaimana-pun juga kehadiran pasukan berkuda itu telah memberi harapan bagi Gubar Baleman.Bukan suatu harapan untuk mengusir pasukan Singasari yang ternyata terlampau kuat. Tetapi pasukan berkuda itu akan dapat membantu melindungi pasukannya yang sedang bergerak mundur.

Dengan demikian maka melalui penghubungnya Gubar Baleman-pun segera menyampaikan perintah itu kepada seorang Senapati yang datang paling depan.

Senapati itu mengerutkan keningnya. Ia tidak menyangka bahwa pasukan Kediri sudah menjadi sedemikian parahnya. Apalagi sepeninggal Mahisa Walungan. Karena itu, maka Senapati itu-pun segera menyampaikan perintah Gubar Baleman lewat mulut kemulut, sehingga akhirnya perintah itu-pun merata di antara para pengawal berkuda itu.

Sejenak kemudian maka kuda-kuda itu-pun segera terjun ke peperangan. Mereka mencoba untuk menyesuaikan diri dengan perintah Gubar Baleman. Salah seorang dari mereka berhasil mendekati pemimpin tertinggi pasukan Kediri itu dan mengatakan bahwa pasukan yang lebih besar akan segera datang dipimpin oleh Sri Baginda Kertajaya sendiri.

“Bagus,” sambut Gubar Baleman. Namun ia masih berpikir, berapa besarnya pasukan yang akan datang itu. Apakah mereka dapat menahan arus pasukan Singasari yang demikian dahsyatnya. Apabila pasukan itu gagal, maka taruhannya adalah Sri Baginda Kertajaya sendiri dan Kediri seluruhnya.

Demikianlah maka kini gerakan mundur dari pasukan Kediri itu agak terlindung oleh pasukan berkuda yang kecil. Namun kuda-kuda yang menjadi seakan-akan liar itu berloncatan di medan perang, menghalau prajurit-prajurit Singasari yang berusaha mengejar prajurit Kediri.

Namun dengan kenyataan itu, para pemimpin prajurit Singasari terpaksa membuat perhitungan-perhitungan baru. Berita tentang pasukan yang dipimpin langsung oleh Sri Baginda Kertajaya itu segera sampai pula ke telinga Sri Rajasa, sehingga dengan demikian maka ia-pun segera mengambil sikap. Dengan lantangnya Sri Rajasa perintahkan seluruh prajuritnya untuk bertindak lebih cepat. Katanya, “Jangan menunggu kalian masuk perangkap. Hancurkan pasukan lawan.”

Perintah itu-pun segera mendapat tanggapan. Pasukan Singasari mendesak semakin maju. Selain pasukan berkuda yang kecil itu. Gubar Baleman sendiri berusaha untuk tetap bertahan.Bahkan seakan-akan ia-pun berusaha melindungi para prajurit yang sedang bergerak mundur. Dengan demikian maka sebagian perhatiannya kini dicurahkan kepada gerakan prajurit Kediri, selain lawannya yang tangguh, Mahisa Agni.

Namun dengan demikian, maka perlawanannya atas Mahisa Agni itu-pun tidak dapat dilakukan sepenuh kemampuannya, karena Gubar Baleman tidak dapat membiarkan pasukannya menjadi tercerai berai.

Suasana peperangan itu-pun menjadi semakin kalut. Pasukan Singasari semakin mendesak maju, sedang korban di pihak Kediri menjadi semakin banyak meskipun pasukan berkuda yang kecil itu berusaha sekuat-kuat tenaga mereka untuk melindungi.

Mahisa Agni yang harus mengerahkan segenap kemampuannya untuk mencoba mendesak lawannya, tetap mengaku, bahwa Gubar Baleman adalah seorang Senapati yang pilih tanding. Yang tidak saja menghiraukan dirinya sendiri. bahkan keselamatannya, namun baginya keselamatan prajurit-prajuritnyalah yang dianggapnya lebih penting.

Dalam saat yang demikian itulah Mahisa Agni justru merasa berdiri di persimpangan jalan. Dalam kekalutan itu ia melihat beberapa kesempatan untuk menembus pertahanan Gubar Baleman. Namun setiap kali ia tertegun. Kekagumamnya kepada Senapati Kediri itu membuatnya termangu-mangu. Setiap kali serasa ada sesuatu yang memberatkan perasaannya.

“Apakah aku harus melakukannya?” pertanyaan itu selalu mengganggunya.

Namun ketika terngiang kembali laporan peghubung Kediri yang mengatakan bahwa pasukan Sri Baginda Kertajaya sudah berada di perjalanan maka Mahisa Agni-pun segera menggeletakkan giginya. Teringat pula olehnya putera Mahkota Singasari, Anusapati putera Ken Dedes dari Akuwu Tunggul Ametung. Kalau Kediri dapat di kalahkan maka hari depan Anusapati itu-pun akan menjadi semakin cemerlang. Ia akan menjadi seorang raja yang besar, yang tidak saja meliputi daerah Singasari sekarang tetapi kesatuan dari daerah-daerah yang lebih luas akan membuat kerajaan itu lebih kuat.

Akhirnya Mahisa Agni menghentakkan perasaannya. Ia sadar, bahwa ia memang harus berbuat sebagai seorang Senapati di peperangan, sehingga ia tidak boleh hanyut dalam arus perasaannya.

Karena itu, ketika terbuka kesempatan padanya, ia segera mendesak lawannya. Gubar Baleman yang lagi terbelah perhatiannya oleh beberapa orang prajuritnya yang terdesak dan kehilangan sebagian dari kesempatan untuk melindungi diri, terkejut mendapat serangan yang tiba-tiba saja menyentuh tubuhnya.

Senapati Kediri itu menggeram sambil meloncat surut.Sejenak ia memusatkan perhatiannya menghadapi Mahisa Agni. Sehingga dengan demikian maka pertempuran di antara mereka-pun menjadi semakin dahsyat.

Tetapi ketika terdengar pekik kesakitan dan lengking seekor kuda yang terbanting jatuh, perhatian Gubar Baleman kembali terbagi. Bahkan Gubar Baleman berusaha untuk sekali lagi meloncat surut menjauhi Mahisa Agni.

Pada saat itu Sri Baginda Kertajaya sedang berada di perjalanan menuju ke medan perang. Meskipun Prajurit Kediri sudah berjalan secepat-cepat dapat mereka lakukan, bahkan ada di antara mereka yang terloncat-loncat, namun terasa pasukan itu maju terlampau lamban.

Di langit matahari merambat semakin ke Barat.Cahayanya yang terik serasa membakar kulit. Sekali-kali sehelai awan yang putih hanyut dibawa angin yang lambat.

Sri Baginda Kertajaya menengadahkan kepalanya. Terasa dadanya berdesir tajam. Tiba-tiba saja dari arah Tenggara segumpal awan yang hitam terbang dengan cepatnya, seakan-akan ingin mengejar matahari yang terik.

“Sri Baginda Kertajaya tidak pernah memperhatikan awan di langit. Tetapi tiba-tiba kini perhatiannya tertarik oleh awan yang hitam dan tebal. Selama ini langit tampak cerah kebiruan, sehingga awan yang tebal itu begitu tiba-tiba saja sudah ada di atas Kediri.

Awan yang hitam itu seakan-akan kemudian mekar memenuhi udara. Semakin lama semakin rata. sehingga sejenak kemudian maka matahari-pun telah ditelannya.

Langit yang biru kini menjadi berangsur gelap. Begitu cepatnya. Apalagi sejenak kemudian terdengar guruh yang lamat-amat mengumandang di sepanjang cakrawala.

Sri Baginda merasakan sesuatu yang aneh. Tetapi Sri Baginda Kertajaya tidak mengatakannya kepada siapapun juga.

Namun tiba-tiba langkah pasukan Kediri itu tertegun.Dari kejauhan mereka melihat kuda berderap seperti angin. Belum lagi Sri Baginda melihat siapakah yang datang itu, namun sesuatu sudah terasa melonjak di hatinya.

Sejenak, kemudian kuda itu-pun menjadi semakin dekat. Dan hati setiap prajurit Kediri-pun menjadi semakin berdebar-debar.

“Apa yang sudah terjadi?” belum lagi kuda itu berhenti Sri Baginda sudah tidak sabar lagi.

Dengan nafas terengah-engah Senapati penghubung itu meloncat dari kudanya. Ditundukkannya kepalanya dalam-dalam Kemudian katanya, “Ampun Sri Baginda. Menteri Gubar Baleman telah gugur pula?”

“Gubar Baleman,” Sri Baginda berteriak sambil membelalakkan matanya.

“Hamba Tuanku.”

Sejenak Sri Baginda justru terbungkam.Pasukan Kediri itu sama sekali sudah tidak mempunyai pengikat lagi.

Namun tiba-tiba Sri Baginda Kertajaya itu menggeretakkan giginya.

“Cepat,” geramnya, “kita harus segera mencapai medan.”

“Tuanku,” berkata Senapati penghubung itu, “pasukan Kediri sedang dalam gerakan mundur. Itu-pun dalam keadaan yang payah. Sebaiknya Tuanku tidak maju ke medan. Tetapi justru mempersiapkan pertahanan yang lebih baik di batas kota.”

“Gila,” teriak Sri Baginda, “apakah aku akan membiarkan prajurit yang sedang berada di medan itu tumpas dibantai oleh orang-orang Singasari.”

“Tuanku, kita berharap bahwa mereka akan dapat mencapai batas kota. Tetapi di gapura itu, kita dapat mengerahkan semua tenaga.Setiap prajurit akan kita tarik ke medan.”

“Kapan akan kau lakukan itu?”

“Sekarang Tuanku. Selagi Tuanku kembali surut ke dinding kota, hamba akan mempersiapkan pertahanan itu. Setiap laki-laki yang dapat dikerahkan harus dikerahkan.”

Sri Baginda menarik nafas dalam-dalam.

“Tuanku, waktu terlampau sempit. Sebenarnyalah keadaan medan sudah sangat parah.”

Tanpa sesadarnya Sri Baginda menengadahkan wajahnya ke langit. Awan yang hitam kelam kini sudah memenuhi udara. Sekali-kali guruh terdengar meledak di kejauhan.

“Apakah Tuanku memperkenankan hamba melakukannya? Itulah pesan terakhir dari Menteri Gubar Baleman, karena hambalah yang telah berusaha menyingkirkan jenazahnya.”

Sri Baginda masih termenung sejenak. Namun akhirnya Sri Baginda menganggukkan kepalanya, “Apa boleh buat.”

Senapati penghubung itu-pun segera memacu kudanya ke dinding kota, sedang Sri Baginda menarik pasukannya mundur kembali memasuki regol.

Kotaraja Kediri segera berada di dalam keadaan yang gawat. Suara tengara telah bergema di seluruh kota. Setiap laki-laki yang merasa dirinya memiliki kemampuan sekedarnya untuk bertempur, segera menyambar senjata mereka apa saja yang dapat mereka pergunakan. Tombak, pedang, canggah, bindi, parang, keris dan lain-lain yang dapat mereka ketemukan.

Dengan hati yang berdebar-debar mereka-pun segera berlari-lari ke dinding kota.Mereka tahu benar, bahwa pasukan lawan pasti akan memasuki kota lewat regol itu.

Sejenak kemudian di sepanjang dinding kota itu telah bertebaran laki-laki bersenjata dari segala penjuru kota. Mereka sama sekali bukan prajurit. Tetapi mereka yang memiliki keberanian, telah terjun di gelanggang untuk mempertahankan Kotaraja. Di antara mereka terdapat beberapa orang prajurit penjaga regol. Kemudian berdatangan beberapa orang prajurit yang lain dari setiap sudut kota mereka. Mereka adalah para pengawal yang tinggal untuk mengamankan kota mereka.Tetapi kini mereka telah ditarik seluruhnya untuk melawan pasukan Singasari.

Sejenak kemudian pasukan Sri Baginda Kertajaya-pun telah berada di tempat itu pula. Mereka telah mempersiapkan diri untuk menyongsong kedatangan pasukan Singasari yang melanda Kediri seperti banjir bandang.

Dengan dada yang berdebar-debar Sri Baginda yang telah turun dari kudanya, berdiri tegak di tengah-engah regol. Ditatapnya jalan yang membujur panjang di bawah kakinya. Seolah-olah jalan itu adalah jalan yang langsung memanjat sampai ke batas langit.

Sekilas terbayang kedua orang yang selama ini telah menjadi sapu kawat kerajaannya yang sedang goncang. Mahisa Walungan dan Guber Baleman. Kini keduanya telah gugur di peperangan oleh kesetiaan mereka terhadap Kediri, meskipun keduanya hampir saja mati terbunuh oleh pengkhianatan Pujang Warit.

“Keduanya tidak melihat, bahwa Pujang Warit telah terbunuh,” desisnya didalam hati, “meskipun barangkali Gubar Baleman sempat mendengarnya.”

Dada Sri Baginda serasa menjadi sesak.

Namun kemudian tumbuh suatu pertanyaan di dalam hatinya, “Betapa saktinya para Senapati Singasari itu. Mereka mampu membunuh Mahisa Walungan dan Gubar Baleman. Kalau Mahisa Walungan terbunuh oleh Sri Rajasa, maka pastilah bahwa Sri Rajasa adalah seorang yang pilih tanding.Sedang Senapati yang mampu membunuh Gubar Baleman-pun pasti Senapati yang mumpuni.

“Dengan Senapati-senapati yang tangguh itulah agaknya Singasari akan merambat ke puncak kejayaannya, sementara Kediri akan menjadi semakin surut.” gumamnya di dalam hati.

Meskipun melonjak pula penyesalan di dalam hati, tetapi ada semacam perasaan pasrah pula pada diri Sri Baginda Kertajaya. Namun demikian, ia masih tetap berdiri di ujung pasukan, menggenggam senjata sebagai seorang Senapati.

Pada saat itu, dengan susah payah pasukan Kediri berusaha menarik diri dari medan. Dengan korban yang tidak terhitung lagi pasukan itu berusaha untuk mencapai dinding kota. Mereka sudah mendapat kabar, bahwa Sri Baginda sendiri telah menyusun pasukan, untuk mempertahankan Kediri di batas Kotaraja.Karena itu maka gairah perjuangan mereka-pun semakin melonjak pula. Dengan sepenuh hati, mereka berusaha menarik pasukannya, bukan karena mereka takut mati terbunuh di peperangan. Tetapi sebagai seorang prajurit mereka memperhitungkan, bahwa masih ada kesempatan untuk memperbaiki kekalahan.

“Kita tidak boleh mati sia-sia,” teriak seorang Senapati, “karena itu atur dirimu baik-baik.”

Sementara beberapa orang yang masih berada di punggung kudanya selalu berusaha melindungi gerakan mundur yang banyak menemui kesulitan itu.

Betapapun sulitnya, namun akhirnya pasukan Kediri itu berhasil mendekati dinding kota. Dari kejauhan mereka sudah melihat, sebuah songsong pusaka, tombak, dan umbul-umbul yang merekat pada tunggul Kiai Gajah.

“Sri Baginda ada di dinding kota,” teriak salah seorang Senapati.

Setiap hati prajurit Kediri-pun tergetar. Betapapun mereka menjadi lemah, tetapi tekad mereka telah menyala kembali. Sepeninggal Mahisa Walungan dan kemudian Gubar Baleman, pasukan Kediri seakan-akan sudah tidak bertenaga sama sekali. Namun kini, pada tubuh yang lemah itu, seakan-akan telah tersiram air yang sejuk, menyegarkan.

Sri Baginda yang melihat pasukan terdesak hatinya serasa telah menyala. Hampir tidak sabar lagi ia menunggu pasukannya sampai ke batas. Tetapi ia tidak dapai maju menyongsong pasukan Singasari dalam keadaan serupa itu. Menurut perhitungan nalar ia harus memanfaatkan dinding kota itu untuk bertahan.

Tetapi, Sri Baginda yang mempunyai pengalaman yang cukup itu, setelah melihat perimbangan kedua pasukan, berkata di dalam hati. “Pasukan Singasari memang tidak akan dapat dibendung. Akulah orang yang paling bodoh di antara para prajurit Kediri.” dan penyesalan itu datang lagi, “kalau aku mendengarkan nasehat Mahisa Walungan dan Gubar Baleman. aku tidak akan terjerumus ke dalam kesulitan seperti ini. Tetapi kini keduanya telah gugur. Maka tidak ada penyelesaian yang lebih baik bagiku. Mengusir prajurit Singasari, atau gugur sama sekali di medan ini.”

Sejenak kemudian, maka Sri Baginda-pun segera mengirimkan sepasukan yang akan menjadi mulut regol kotanya. Pasukan yang akan membantu pasukan Kediri yang sedang bergerak mundur. Sementara pasukan yang akan menjadi penutup regol-pun telah siap pula. Apabila pasukan Kediri yang mundur itu sudah memasuki regol, maka pasukan yang telah disediakan itulah yang akan menahan pasukan lawan, sedangkan para prajurit yang telah menyiapkan senjata jarak jauh. telah siap di atas dinding dengan busur di tangan.

“Pertempuran ini akan menjadi pertempuran yang paling dahsyat di sepanjang sejarah perkembangan Kediri,” berkata Sri Baginda kepada Senapati pengapitnya.

“Hamba Tuanku,” sahut Senapati itu.

Sejenak kemudian maka barisan Kediri yang mundur itu berhasil mencapai regol. Bahwa pasukan itu tidak pecah dan tercerai berai itu adalah karena ikatan yang kuat dan keberanian yang tiada taranya dari para prajurit Kediri itu.

Laju pasukan Singasari-pun kemudian tertahan oleh anak panah yang bagaikan hujan yang jatuh dari langit. Mereka yang berperisai, segera mempergunakan perisai mereka untuk melindungi bukan saja dirinya sendiri, tetapi juga melindungi kawan-kawannya yang sedang mendesak maju.

Sejenak kemudian kedua pasukan itu telah bergulat di depan regol dinding istana. Pasukan Kediri yang parah, dengan susah payah menyusup di antara prajurit Kediri yang masih segar masuk ke dalam dinding, sedang pasukan yang memang sudah dipersiapkan telah mencoba menahan pasukan Singasari.

Sri Rajasa dan Mahisa Agni yang tidak mempunyai lawan itu-pun kini sempat berdiri berdampingan sambil membicarakan kemungkinan yang mereka hadapi.

“Kita pecah dinding kota,” berkata Sri Baginda.

“Dinding ini terlampau tebal Tuanku,” sahut Mahisa Agni.

“Kita akan memanjat.”

“Berbahaya sekali.”

“Beberapa orang akan saling menyusun diri bersama. Sementara yang lain mecoba melindungi mereka.”

Mahisa Agni tidak menjawab. Tetapi cara yang disebut oleh Sri Rajasa itu adalah cara yang berbahaya sekali. Dengan mudah sekali orang yang berada di atas dinding kota yang tebal itu dapat menyerang mereka yang sedang mencoba memanjat naik.

Tetapi cara lain memang sulit sekali diketemukan. Masuk melalui gerbang adalah hampir tidak mungkin. Gerbang yang tidak terlampau lebar itu telah tersumbat oleh pertempuran yang sengit. Prajurit yang sudah terlanjur bertempur di mulut regol itu, pasti tidak akan lagi dapat keluar. Maju mereka akan berhadapan dengan ujung senjata prajurit Kediri, sedang prajurit Singasari yang lain mendesak dari belakang, sementara prajurit Kediri-pun mempertahankan jalan masuk itu mati-matian.

Akhirnya perintah Sri Rajasa-pun segera mengumandang di seluruh medan, dan segera pula ditanggapi oleh para Senapati.

Dengan cepatnya pasukan Singasari itu-pun menebar dan berloncatan melekat dinding. Setiap jengkal seorang prajurit berdiri bertelekan pada dinding kota. Seorang kawannya yang lain memanjat di pundaknya dan kawan yang lain lagi harus meloncat pula naik. Kalau prajurit yang paling bawah merasa terlampau berat, maka seorang yang lain membantunya menahan berat tubuh orang yang ada di atasnya.

Orang yang ketiga sudah akan dapat meloncat dinding apabila ia dapat mengatasi serangan yang datang bertubi-tubi dari para prajurit Kediri yang berada di atas dinding. Sehingga, karena itulah maka orang ketiga yang akan naik adalah para prajurit yang mengenakan perisai atau yang bersenjata tombak panjang, sedang prajurit yang lain melindunginya dengan panah atau tombak-tombak pendek yang dilontarkan dari luar.

Demikian banyaknya prajurit Singasari yang melekat dinding kota itu, sehingga pada suatu saat terdapat juga bagian-bagian yang lemah dari para prajurit Kediri yang berada di atas dinding, sehingga ketika beberapa orang Singasari sempat naik keatas dinding, maka seolah-olah mereka telah membukakan pintu bagi kawan-kawannya yang lain.

Dengan demikian maka lambat laun, beberapa orang prajurit Singasari-pun segera berhasil meloncat memasuki bagian dalam Kotaraja yang sedang dipertahankan.

Dalam kekalutan itu seorang Senapati bertanya kepada Mahisa Agni, “Apakah sebagian dari kita diperkenankan memasuki Kotaraja dari pintu-pintu gerbang yang lain.?”

Mahisa Agni menggelengkan kepalanya, “Kita pusatkan seluruh kekuatan di sini.Gerbang-gerbang itu pasti juga sudah ditutup, dan beberapa orang prajurit pasti sedang menjaganya. Tanda-tandanya di sini kita akan segera dapat menyelesaikan pekerjaan ini.”

Perhitungan Mahisa Agni itu-pun ternyata tidak jauh meleset. Selagi ke dua belah pihak bertempur dengan dahsyatnya di regol kota, maka beberapa kelompok pasukan Singasari berturut-turut telah berhasil meloncati dinding.

Ternyata bahwa beberapa kelompok prajurit itu mempunyai pengaruh yang besar bagi pertempuran yang terjadi di mulut regol. Kehadiran pasukan Singasari dari arah samping telah mengejutkan prajurit-prajurit Kediri yang berada di dalam dinding.

Dengan demikian maka pertempuran-pun menjadi semakin meluas. Pasukan Kediri tertarik untuk melawan prajurit Singasari yang masuk meloncati dinding, sehingga pertahanan di mulut regol-pun menjadi semakin berkurang, sedang prajurit Singasari yang memasuki dinding semakin lama menjadi semakin banyak.

Sementara itu langit yang kelam oleh mendung yang tebal menjadi semakin kelam.Sekali-sekali guntur meledak di langit. Semakin lama menjadi semakin sering. Sementara matahari di balik mendung yang tebal itu-pun merayap terus semakin ke Barat.

Sebenarnyalah bahwa pasukan Kediri yang terakhir itu-pun tidak mampu lagi membendung pasukan Singasari.Kemenangan demi kemenangan membuat seiap prajurit Singasari menjadi semakin berbesar hati.

Kematian Mahisa Walungan dan Gubar Baleman, dua pahlawan yang gagah berani itu, membuat para prajurit Singasari menemukan kejakinan, bahwa Kediri pasti akan dapat ditundukkan.

Di pertahanan yang terakhir inilah pasukan Kediri dan rakyat yang tetap setia kepada Kotanya, telah berjuang dengan sekuat tenaga mereka. Peperangan ini tidak hanya sekedar menentukan nasib Kotaraja Kediri itu sendiri, tetapi apa yang terjadi di pusat pemerintahan Kerajaan Kediri yang Agung ini, akan menentukan suatu bentuk pemerintahan dari sebuah wilayah yang luas sekali.

Perang yang semakin lama menjadi semakin dahsyat itu ternyata telah mendesak prajurit Kediri mundur semakin dalam memasuki Kotaraja. Prajurit-prajurit yang berjuang di regol-regol kota-pun sudah tidak mampu lagi bertahan, sehingga sejenak kemudian, pasukan Singasari yang masih ada di luar regol berhasil mendorong pasukan Kediri dan menguasai pintu gerbang. Dengan demikian maka pecahlah bendungan yang menahan arus banjir bandang dari Singasari itu.

Dengan demikian, maka medan perang kini telah berada di dalam kota.Sri Baginda Kertajaya sendirilah yang memimpin sisa-sisa dari pasukannya. Luka yang parah pada pasukannya, telah membuat Sri Baginda Kertajaya menjadi semakin garang, seperti seekor harimau yang terluka di bagian tubuhnya sendiri.

Mahisa Agni yang berada di pusat pasukan Singasari melihat Sri Baginda Kertajaya mengamuk. Pusakanya berputar seperti angin pusaran. Setiap sentuhan dari ujung senjata itu, pasti akan berakibat maut.

“Kemarahan Sri Baginda Kertajaya harus mendapat pelayanan,” berkata Mahisa Agni di dalam hatinya, “kalau tidak, maka prajurit Singasari akan menjadi bosah-baseh.”

Tetapi ketika Mahisa Agni meloncat maju untuk menyongsong Sri Baginda Kertajaya, terasa punggungnya digamit seseorang. Ternyata Sri Rajasa Batara Sang Amurwabumi, dibayangi oleh songsong kebesarannya telah siap pula maju melawan Sri Baginda di Kediri.

Dada Mahisa Agni menjadi berdebar-debar. Di medan ini akan bertemu dua orang raja yang besar, yang memiliki kelebihan yang sukar dicari tandingnya. Sri Baginda Kertajaya dan Sri Rajasa Batara Sang Amurwabumi.

“Apakah Tuanku akan menghadapi Sri Baginda Kertajaya sendiri?” bertanya Mahisa Agni di luar sadarnya.

Sri Rajasa menganggukkan kepalanya, “Ya. Aku akan melawannya. Menurut pendengaranku, Sri Baginda Kertajaya adalah seorang Raja yang besar, yang sakti dan tidak ada duanya.”

Mahisa Agni tidak menjawab.

“Aku akan mencoba melawannya.”

Mahisa Agni masih tetap berdiam diri.

“Agni,” desis Sri Rajasa kemudian, “kalau aku gagal, maka kau adalah orang yang paling terpercaya di seluruh Singasari. Kau adalah kakak Permaisuriku. Karena itu, seandainya aku tidak dapat keluar dari peperangan ini karena Sri Baginda Kertajaya, maka kaulah yang wajib mengatur pemerintahan sampai Pangeran Pati dapat mengemudikan Kerajaan.”

“Siapakah Pangeran Pati itu?” bertanya Mahisa Agni.

“Bukankah aku sudah menentukan?”

“Anusapati?”

“Ya. Tidak ada orang lain.”

Mahisa Agni mengerutkan keningnya. Ia melihat kesungguhan memancar di wajah Ken Arok yang bergelar Sri Rajasa itu. Sekilas terbayang sikap Sri Rajasa yang tidak adil atas kedua puteranya, Anusapati dan Tohjaya. Kedua putera yang lahir dari ibu yang berbeda dan sebenarnyalah dari ayah yang berbeda pula, karena Anusapati adalah putera Akuwu Tunggul Ametung.

Tetapi dalam saat yang genting ini Sri Rajasa telah, menyebut nama Anusapati.

Sejenak Mahisa Agni diam sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.Ia terperanjat ketika Sri Rajasa berkata, “Aku akan mulai.”

“O,” Mahisa Agni mengangkat wajahnya. Selama itu pasukan Singasari berhasil mendesak terus. Tetapi tidak seorang-pun dari para Senapati yang berani mendekati Sri Baginda Kertajaya seorang diri. Di dalam kelompok yang terdiri dari Senapati pilihan, prajurit Singasari mencoba membendung kemarahan Sri Baginda Kertajaya. Tetapi korban masih berjatuhan terus.

Sejenak, kemudian maka Sri Rajasa-pun melangkah maju di bawah songsong kebesarannya. Selangkah demi selangkah. Ditatapnya Sri Baginda Kertajaya yang mengamuk sebagai harimau luka. Siapa yang mendekat pasti akan tersobek dadanya oleh ujung pusakanya.

Tetapi Ken Arok tidak menjadi gentar. Sejak kecil ia sudah ditempa untuk menghadapi bermacam-macam bahaya. Sekilas terngiang di telinganya sebuah suara yang memancar dari ketiadaan, selagi ia memanjat pohon tal ketika ia dikejar-kejar orang.

“Kalau aku memang akan binasa, binasalah aku saat itu. Tetapi Yang Agung masih melindungi aku,” berkata Ken Arok di hatinya. “Meskipun pada saat itu ia tidak tahu sama sekali, siapakah yang telah menunjukkan jalan pelepasan itu. Namun dari Empu Purwa ia mendengar untuk pertama kali, bahwa Yang Agung adalah sumber dari segala bentuk kehidupan.”

Kini Ken Arok telah menerjunkan dirinya kekancah peperangan melawan Sri Baginda Kertajaya.

Para prajurit dan Senapati, seakan-akan telah menyibak ketika mereka melihat Sri Rajasa sendiri maju menghadapi Sri Baginda Kertajaya, sehingga di sekitar mereka berdua, para prajurit seakan-akan tidak sempat lagi untuk saling bertempur.Mereka menjadi ternganga-nganga melihat kedua Raja besar itu bertemu di peperangan.

Dalam kancah peperangan yang riuh, di mana pasukan Singasari berhasil mendesak pasukan Kediri yang parah maka kedua rajanya sedang berhadapan untuk menentukan, siapakah di antara mereka yang akan menguasai telatah yang besar ini, telatah yang sampai saat itu masih bernama Kerajaan Kediri. Kerajaan yang diperintah oleh seorang Maharaja yang bernama Kertajaya.

Sejenak kedua raja itu saling berhadapan. Tetapi mereka agaknya tidak perlu untuk saling bertanya, karena mereka masing-masing telah mengetahui, dengan siapa mereka berhadapan.

Dengan demikian, maka keduanya segera menggerakkan senjata masing-masing. Sri Baginda Kertajaya dengan pusakanya, sebatang tombak dan Sri Rajasa mempergunakan sehelai pedang dan sebuah perisai kecil memanjang, terbuat dari kepingan baja yang tipis.

Sejenak kemudian keduanya telah terlibat dalam perang yang dahsyat, senjata mereka saling beradu, memancarkan bunga api di udara, sedang guntur di langit masih juga meledak-ledak tidak hentinya.

Selagi keduanya terlibat dalam perang tanding yang dahsyat, maka pasukan Singasari berhasil mendesak pasukan Kediri, sehingga mereka perlahan-lahan semakin terdesak mundur ke dalam kota. Karena itulah maka Sri Baginda Kertajaya-pun kadang-kadang terganggu pula karenanya.

Meskipun gerakan maju pasukan Singasari masih juga tidak dapat secepat di saat-saat pasukan Kediri kehilangan Gubar Baleman setelah mereka kehilangan Mahisa Walungan, namun untuk dapat bertahan di dalam kota, agaknya akan terlampau sulit.

Dalam keadaan yang kalut itulah Sri Rajasa berusaha sekuat-kuat tenaganya untuk mendesak Sri Baginda Kertajaya. Namun ternyata Sri Baginda Kertajaya memiliki kemampuan yang lebih matang dari Mahisa Walungan. Meskipun pada dasarnya ilmu mereka didasari oleh bahan yang sama, tetapi umur Sri Baginda yang lebih tua, ternyata berpengaruh pula atas kematangan ilmu pada kedua kakak beradik itu.

Itulah sebabnya, maka menghadapi Sri Baginda Kertajaya, Sri Rajasa mengalami beberapa kesulitan.

Namun ketika Mahisa Agni mendekati arena pergulatan dari dua orang yang berilmu raksasa itu, Sri Rajasa berteriak, “Menyingkir kau Agni.”

Tanpa sesadarnya Mahisa Agni surut selangkah. Dengan hampir tidak berkedip ia memandang pertempuran yang semakin lama menjadi semakin seru.

Mahisa Agni sendiri adalah seorang raksasa di dalam olah kanuragan, sehingga dengan demikian ia dapat melihat imbangan kekuatan antara kedua Raja yang sedang bertempur itu.

Dalam pada itu, maka pertempuran antara ke dua belah pihak semakin dahsyat pula. Prajurit Singasari mendesak lawannya semakin jauh.

Dengan demikian maka timbullah jarak antara prajurit-prajurit Kediri itu dengan rajanya, sehingga pada suatu saat, Sri Baginda Kertajaya itu-pun terpisahlah dari para prajuritnya.

Beberapa orang Senapati yang tetap berusaha mengitari Sri Baginda, seorang demi seorang telah tersingkir. Bahkan penongsong Sri Baginda Kertajaya-pun telah menjadi terluka parah dan tidak mampu lagi untuk tetap mengangkat payung pusaka Sri Baginda. Dengan tenaganya yang terakhir, penongsong itu telah mencoba menancapkan tangkai bendera itu di tanah. Kemudian perlahan-lahan ia jatuh terduduk.

Tanpa disadarinya, kini Sri Baginda Kertajaya telah terkepung di dalam lingkungan pasukan Singasari. Namun demikian Sri Baginda Kertajaya sama sekali tidak menjadi berkecil hati. Dengan tekad yang bulat ia tetap bertempur dengan gigihnya. Yang masih tetap mendampinginya meskipun tubuhnya telah basah oleh darah adalah Senapati Kediri yang memanggul panji-panji yang terikat pada sebuah tunggul yang bernama Kiai Gajah.

Ketika Sri Rajasa melihat, bahwa lawannya telah terpisah dari pasukannya, serta beberapa orang Senapati Singasari telah mengepung arena, maka Sri Rajasa itu-pun kemudian berteriak, “Jangan ganggu kami. Kami akan menyelesaikan peperangan ini sebagai laki-laki.”

Seperti Mahisa Agni. maka para Senapati itu-pun kemudian melangkah surut, membentuk suatu lingkaran yang membatasi arena perang tanding antara dua orang raja yang besar.

Ketika Sri Kertajaya menyadari keadaannya, maka ia-pun kemudian berkata, “Kau memang seorang Raja yang besar dan jantan. Dengan sebuah perintah yang pendek, maka Sanapatimu dapat beramai-ramai membunuhku.Tetapi kau bermaksud untuk menyelesaikan pertempuran ini dengan perang tanding.”

“Ya,” sahut Sri Rajasa, “aku ingin menyelesaikan pertempuran ini dengan perang tanding. Apapun yang akan mengakhirinya.”

Tantangan Sri Rajasa itu telah membuat dada Mahisa Agni menjadi berdebar-debar. Ia, sebagai seorang yang memiliki ilmu yang hampir mumpuni itu-pun dapat menilai, bahwa Sri Rajasa memang berada di dalam kesulitan. Meskipun demikian Mahisa Agni masih belum dapat mengatakan bahwa Sri Rajasa akan dapat di kalahkan oleh Sri Baginda Kertajaya.

Perang yang berkecamuk antara prajurit Kediri dan prajurit Singasari masih berlangsung terus. Prajurit Kediri semakin jauh terdesak masuk ke dalam kota.

Sementara itu prajurit Kediri menjadi cemas ketika mereka menyadari bahwa Sri Baginda Kertajaya tidak mau menarik diri bersama pasukan yang bergerak mundur itu.

Beberapa orang Senapati Kediri yang setia segera berusaha menembus jaringan gelar pasukan Singasari. Tetapi sampai orang yang terakhir, mereka tidak dapat mencapai Sri Baginda Kertajaya.

Sedang prajurit-prajurit Singasari sendiri tidak kalah cemasnya menyaksikan perang tanding yang menjadi semakin seru itu. Namun setiap Senapati Singasari yang sempat menyaksikan perang tanding itu merasa bahwa kemampuan ilmu Sri Baginda Kartajaya agak lebih tinggi dari Sri Rajasa. Ketangkasan Sri Kertajaya benar mengagumkan. Sri Baginda mampu melontarkan tubuhnya dengan kecepatan yang hampir tidak dapat diikuti dengan pandangan mata wadag. Bukan saja ketangguhan ilmu seperti Mahisa Walungan. tetapi kematangan dan ketetapan penggunaan setiap unsur dari ilmunya itu.

Dengan demikian semakin lama menjadi semakin jelas bahwa ilmu Sri Baginda Kertajaya memiliki beberapa kelebihan dari Sri Rajasa yang sulit untuk dimengerti, ilmu apakah yang telah dipergunakannya.

Setiap kali Sri Rajasa selalu terdesak. Meskipun Sri rajasa masih selalu sempat menangkis setiap serangan ujung tombak Sri Kertajaya, tetapi kecepatan gerak Sri Kertajaya kadang-kadang telah membingungkannya.

Namun demikian, Sri Rajasa masih tetap segar seperti permulaan dari perang tanding itu. Meskipun ia harus memeras segenap tanaganya, tetapi tenaganya sama sekali tidak menjadi susut.

Dengan tabah ia menghadapi setiap serangan lawannya. Dengan memutar pedangnya dan perisai kecilnya, Sri Rajasa masih selalu sempat menghindarkan dirinya dari ujung tombak lawannya.

Dalam pada itu, Sri Baginda Kertajaya menjadi heran. Menurut perhitungannya, setiap kali Sri Rajasa kehilangan kesempatan untuk menghindar atau menangkis serangannya, karena geraknya yang cepat tidak dapat diikuti oleh lawannya. Tetapi apabila Sri Baginda Kertajaya hampir memastikan bahwa serangannya akan berhasil menembus dada Sri Rajasa, tiba-tiba saja, ujung tombaknya itu telah menyentuh perisai lawannya atau tersentuh oleh pedangnya ke samping.

“Aku tidak mengerti, ilmu apakah yang dipergunakannya,” desis Sri Kertajaya. Namun karena itulah maka Sri Baginda itu telah, mengerahkan segenap ilmunya. Apalagi ketika ia sadar, bahwa ia tidak lagi berada di dalam lingkungan prajuritnya yang telah terdesak semakin jauh.

Tetapi keheranan Sri Baginda Kertajaya itu-pun segera terjawab ketika Sri Rajasa-pun telah mengerahkan segenap kemampuannya pula, meskipun ia sama sekali tidak dapat mengimbangi kecepatan bergerak Sri Baginda Kertajaya.

Ketika Sri Rajasa sudah sampai pada puncak pengerahan kekuatan lahir dan batinnya tanpa disadarinya sendiri, maka Sri Baginda Kertajaya-pun terkejut. Seperti Mahisa Walungan, ia-pun mampu menangkap sasmita yang memancar di atas kepala Sri Rajasa. Cahaya yang kemerah-merahan, yang hanya dapat ditangkap oleh indera seseorang yang berilmu mumpuni.

Mahisa Agni yang berada di luar arena itu-pun menarik nafas dalam-dalam. Itulah agaknya yang membuat Sri Rajasa mampu melakukan rencananya, karena ia mempunyai kelebihan yang tidak ada duanya.Dikasihi oleh dewa-dewa.

Demikianlah maka pertempuran itu-pun menjadi semakin seru. Tetapi juga seperti Mahisa Walungan Sri Baginda Kertajaya telah pasrah akan nasibnya kepada Yang Maha Agung. Tetapi ia sama sekali tidak menyesal, seandainya ia tidak dapat keluar lagi dari perang tanding ini. Bahkan ada sepercik kebanggaan yang menyentuh perasaannya, bahwa dewa-dewa sendirilah yang telah mengatur akhir dari hidupnya.

Namun demikian Sri Baginda Kertajaya tidak menjadi kendor. Ia masih bertempur dengan sekuat tenaga. Di saat terakhir ia berkeinginan untuk melihat, apakah yang ada di dalam diri Sri Rajasa itu selanjutnya.

Para Senapati yang tidak mempunyai indera setajam Sri Baginda Kertajaya dan Mahisa Agni, tidak dapat melihat cahaya yang kemerah-merahan itu.Karena itu, mereka-pun menjadi semakin cemas, bahwa Sri Rajasa seakan-akan menjadi semakin terdesak.

Namun yang tidak dapat mereka mengerti, dalam keadaan yang betapapun sulitnya, Sri Rajasa pasti dapat menyelamatkan diri. Seolah-olah mereka telah menyaksikan peristiwa yang tidak mungkin dapat terjadi.Tetapi yang tidak mungkin itu ternyata benar-benar telah mereka lihat.

Bahkan sekali-kali Sri Rajasa itu terdorong demikian kerasnya, sehingga terbanting jatuh. Namun demikian cepatnya pula ia meloncat bangkit. Tidak hanya sekali dua kali. Tetapi berkali-kali. Namun demikian, tenaga Sri Rajasa sama sekali tidak kelihatan susut.Bantingan yang keras, desakan-desakan serangan yang membingungkan, sama sekali tidak mempengaruhi. Ia masih saja bertempur dengan gigih dan mantap. Para Senapati Singasari yang tidak ikut di dalam pengejaran pasukan Kediri itu menjadi heran, seperti juga pemandi panji-panji pusaka dari Kediri yang masih berdiri mematung menyaksikan pertempuran itu. Sejenak kemudian justru Sri Baginda Kertajaya lah yang tampak menjadi lelah. Keringatnya telah terperas dari seluruh wadah kulitnya, dan nafasnya-pun telah mulai menjadi semakin cepat mengalir.

Perang tanding itu memang hampir tidak dapat masuk di akal setiap orang yang menyaksikannya. Meskipun demikian, mereka tidak dapat mengingkari kenyataan itu. Semakin lama Sri Baginda Kertajayalah yang justru kehilangan sebagian dari tenaganya.

Namun Sri Baginda Kertajaya-pun sama sekali tidak menjadi cemas. Ia menyadari dengan siapa ia berhadapan. Apapun yang akan terjadi atasnya adalah kehendak dari Yang Maha Agung.

Dalam pada itu langit-pun menjadi semakin lama semakin gelap. Matahari yang terlindung itu-pun menjadi semakin rendah di ujung Barat, sehingga sinarnya sama sekali tidak dapat lagi menembus lapisan awan yang gelap.

Guntur dan guruh saling bersahutan di langit dan lidah api-pun meloncat-loncat dengan dahsyatnya.

Beberapa orang prajurit dan Senapati yang tanggap akan sasmita alam itu-pun mulai mereka-reka apa yang kira-kira akan terjadi. Karena itu maka prajurit Kediri-pun menjadi semakin berkecil hati. Apalagi pasukan Singasari benar-benar telah mendesak mereka tanpa memberi kesempatan untuk mengatur diri di dalam gerakan mundur.

Para Senapati di ke dua belah pihak, kini sudah meyakini, bahwa pasukan Kediri pasti akan pecah.

Di saat-saat guntur meledak di langit, dan di saat titik-titik air hujan jatuh satu-satu, tampaklah, bahwa Sri Kertajaya seakan-akan telah kehabisan tenaga. Meskipun demikian wajahnya masih tetap bening dan segar, bahkan sorot matanya yang pasrah telah membuatnya menjadi semakin tenang.

Dan akhirnya yang sudah diperhitungkan itu terjadilah. Di saat-saat terakhir, justru Sri Baginda Kertajaya lah yang selalu terdesak. Bukan karena ilmu Sri Rajasa melampaui kematangan ilmu Sri Baginda Kertajaya. tetapi kekuatan yang tersembunyi, yang hanya tampak oleh Sri Baginda sendiri dan Mahisa Agni itulah yang telah menentukan akhir dari pertempuran itu.

Sejenak Mahisa Agni teringat, bagaimana pertama-tama ia bertemu dengan Ken Arok di padang Karautan. Di saat itu hantu itu sama sekali masih belum mengenal ilmu apapun juga. Namun sebagai seorang murid Empu Purwa yang terpercaya, ia sama sekali tidak berhasil mengalahkannya.

Tanpa disadarinya Mahisa Agni itu mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Agaknya saat itu guru-pun telah melihat cahaya yang kemerah-merahan itu,” katanya di dalam hati.

Di saat-saat itulah teringat olehnya pusaka yang diterimanya dari gurunnya. Sebuah Trisula kecil. Kecil saja. Namun di saat ia mempergunakan trisula itu, Ken Arok yang lebih dikenal dengan julukan Hantu Karautan, sama sekali tidak berdaya melawannya. Trisula yang menurut gurunya langsung diterima dari langit.

Ternyata bahwa senjata kecil itu telah membuat orang yang dikasihi oleh dewa-dewa ini menjadi silau, sehingga ia sama sekali tidak dapat memberikan perlawanan.

Terngiang suara Hantu Karautan saat itu, “Kau curang.”

Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Tiba-tiba terbersit di hatinya, “Betapapun saktinya Sri Rajasa, namun aku memiliki sesuatu yang dapat mengimbanginya.”

Dalam pada itu, pertempuran yang dahsyat itu-pun sudah mendekati pada saat-saat terakhir. Sri Baginda Kertajaya adalah seseorang yang memiliki tenaga yang tidak terkirakan besarnya. Namun melawan Sri Rajasa, tenaga itu seakan-akan begitu cepatnya terhisap.

Karena itulah maka sejenak kemudian, kekuatannya sama sekali sudah tidak berdaya lagi untuk melawan sambaran pedang Sri Rajasa.

Dengan kekuatan yang tidak terduga-duga besarnya, maka pedang itu-pun terayun dengan derasnya.

Sri Baginda Kertajaya melihat juga ayunan senjata itu. Tetapi tangannya seakan-akan telah membeku, sehingga dengan pasrah ia sama sekali tidak berbuat sesuatu.

Dengan demikian, maka pedang itu-pun segera terhunjam di dadanya. Dada Sri Baginda Kertajaya.

Terdengar Sri Baginda berdesis. Namun kemudian ia tersenyum sambil bertelekan pada tangkai tombaknya.Katanya, “Kau adalah lantaran dewa-dewa untuk memusnakan ketamakan kerajaan Kediri. Kaulah yang akan menyasikan, Kediri yang di saat ini akan runtuh. Karena itu, ingat-ingatlah Sri Rajasa. Jangan mengulangi kesalahan Kerajaan Kediri. Ketamakan, keangkuhan dan lupa diri. Tidak ada manusia yang dapat menyamai Yang Maha Agung. Aku ternyata juga tidak. Kau-pun tidak Sri Rajasa.” Baginda Kertajaya berhenti sejenak. Tetapi tampaklah bahwa ia menjadi semakin lemah, “Karena itu, pergunakanlah kehidupan Kediri yang lampau sebagai cermin bagi pemerintahanmu yang bakal datang.”

Sri Baginda tidak dapat berdiri tegak lagi. Sejenak ia terhuyung-huyung. Senapati yang setia, yang masih memegang panji-panji pusaka pada tunggul Kiai Gajah, mencoba untuk melangkah maju. Tetapi ternyata bahwa tubuhnya sendiri telah terlampau lemah, karena darah yang terlampau banyak mengalir dari luka-lukanya yang arang kranjang.

“O,” desis Sri Baginda yang masih bertelekan pada tangkai tongkatnya sambil terhuyung-huyung, “kau masih di situ?”

“Ampun Tuanku, hamba tidak dapat berbuat apa-apa lagi.”

“Terima kasih atas kesetiaanmu,” desis Sri Baginda, “sebentar lagi aku akan mati, kembali ke alam asal mulaku.”

“Hamba juga akan serta tuanku.”

Sri Baginda tersenyum.Kemudian ia berpaling kepada Sri Rajasa, “Sri Rajasa. Di saat-saat terakhir aku mempunyai permintaan kepadamu, apakah kau mengijinkan?”

Sejenak Sri Rajasa terdiam. Namun kemudian ia menganggukkan kepalanya, “Sebutkan permintaan itu Sri Baginda Kertajaya.”

“Apakah kau mau melepaskan orang ini?”

Sri Rajasa tidak segera menjawab.

“Biarlah ia menghadap adik-adikku di istana. Adik-adik perempuan. Biarlah ia memberikan kabar kepada mereka, bahwa aku telah mati di peperangan. Mati sebagai seorang prajurit.”

Dada Sri Rajasa tersentuh juga mendengar permintaan itu. Sebagai seseorang yang berjiwa besar maka Sri Rajasa-pun menganggukkan kepalanya sambil menjawab, “Aku tidak berkeberatan. Tetapi apakah Senapatimu itu masih mampu mencapai istana?”

Sri Baginda Kertajaya ragu-ragu sejenak. Namun Senapati itu berkata, “Hamba akan mati bersama tuanku.”

“Terima kasih. Tetapi aku akan lebih berterima-kasih lagi kalau kau dapat mengatakan kepada adik-adikku, kepada Dewi Amisani, Dewi Hasin dan Dewi Paya.”

Senapati itu menundukkan kepalanya. Namun kemudian ia berkata, “Kalau itu perintah Tuanku, hamba akan melakukannya. Sudah tentu apabila tuanku kehendaki, apapun yang akan terjadi, aku pasti akan sampai ke istana.”

Sri Baginda mengerutkan keningnya. Katanya terputus-putus, “terima kasih. Pergilah.”

Namun sebelum orang itu beranjak dari tempatnya, Sri Rajasa berkata, “Kau akan melalui medan yang pasti masih gawat dan berbahaya. Karena itu, biarlah ia dikawal oleh dua orang Senapati Singasari.”

Sri Baginda Kertajaya menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Pantaslah bahwa kau akan dapat menjadi seorang Maharaja yang besar dan bijaksana. Aku sangat berterima kasih atas kesempatan ini.”

Senapati Kediri itu-pun kemudian menyerahkan tunggul Kiai Gajah kepada Sri Kertajaya yang sudah tidak dapat berdiri tegak lagi. Ternyata bahwa Sri Rajasa telah mengijinkan Senapati itu diantar dengan naik kuda penghubung, menuju ke istana Kediri.

Ketika kuda-kuda itu berlari meninggalkan Sri Baginta Kertajaya. maka Sri Baginda itu sudah tidak kuat lagi berdiri. Hampir saja ia terjatuh, kalau Mahisa Agni tidak cepat menyambarnya.

“Terima kasih,” desis Sri Baginda Kertajaya, “aku sudah tidak kuat lagi.”

Perlahan-lahan Mahisa Agni-pun melayaninya dan dibaringkannya Sri Baginda itu di tanah, sedang kepalanya diletakkannya di atas lengannya.

“Ternyata orang-orang Singasari adalah orang-orang yang baik,” desisnya, “tetapi, kaukah yang bernama Mahisa Agni?”

Mahisa Agni menganggukkan kepalanya.

“Pantas, kau mampu membunuh Gubar Baleman,” suaranya menjadi semakin lambat, “tetapi kalian adalah kekasih dewa-dewa. Peliharalah kerajaan Singasari yang sudah kalian rintis itu dengan baik, supaya kalian tidak terjerumus ke dalam kesalahan yang serupa seperti yang dialami oleh Kediri.”

Sri Rajasa-pun kemudian berjongkok pula di sampingnya.Sambil mengangguk ia berkata, “Ya. Aku akan menjaga Singasari dengan sebaik-baiknya.”

Sri Baginda tersenyum sejenak.Namun kemudian matanya-pun terkatub rapat-rapat. Tarikan nafasnya yang terakhir telah membuat kepala Mahisa Agni dan Sri Rajasa tertunduk dalam-dalam.

“Seorang Raja yang besar telah gugur,” desis Mahisa Agni.

Sri Rajasa mengangguk-anggukkan kepalanya. Seperti pada saat gugurnya Mahisa Walungan, maka Sri Rajasa-pun memerintahkan agar jenazah Sri Baginda Kertajaya diselenggarakan sebaik-baiknya seperti lazimnya bagi para pahlawan yang mempertahankan keyakinannya.

Demikianlah maka Sri Baginda Kertajaya yang semula merasa dirinya sebagai pengejawantahan Dewa-dewa tertinggi di langit. pada saat-saat terakhirnya telah berhasil melihat ke dalam dirinya sendiri, bahwa bagaimana-pun juga kurnia yang diterimanya. namun ia tidak akan dapat menyamai Yang Maha Agung, yang melimpahkan kurnia itu kepada manusia.

Dalam pada itu. Senapati Kediri yang telah terluka itu-pun berpacu dilayani oleh seorang Senapati Singasari, dan dikawani oleh Senapati Singasari seorang lagi.

Ketika di hadapan mereka tampak debu yang mengepul tinggi. Senapati itu menarik nafas dalam-dalam. Di medan itulah-prajurit di ke dua belah pihak sendang bertempur mati-matian.

Dalam pada itu ketika tiba-tiba hujan tercurahkan dari langit Senapati Kediri yang sudah lemah itu-pun berpaling. Perlahan-lahan ia berdesis, “Sri Baginda Kertajaya pasti telah gugur.”

“Darimana kau tahu?”

“Hujan yang tercurahkan dari langit bukan pada musimnya, guruh yang meledak-ledak dan awan yang hitam ke labu.”

Senapati Singasari itu-pun mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun ia tidak menjawab.

Ketika kuda-kuda itu mendekati medan, tiba-tiba beberapa orang prajurit Singasari datang menyergap. Namun mereka tertegun ketika mereka melihat bahwa di antara mereka yang berkuda itu adalah Senapati Singasari sendiri.Bahkan ada di antara para prajurit itu yang sudah mengenalnya.

“Aku mengemban perintah Sri Rajasa Batara Sang Amurwabumi,” teriak salah seorang Senapati itu. sehingga, para prajurit itu-pun kemudian menarik diri.

Demikianlah setiap kali mereka harus menyatakan perintah itu, sehingga pada akhirnya mereka melampaui medan, yang dikuasai oleh pasukan Singasari.

Namun di seberang medan itu, prajurit Kediri yang terluka itulah yang setiap kali menghalau prajurit-prajurit Kediri yang mencoba menghalanginya, “Dengarlah,” katanya, “ini adalah perintah terakhir dari Sri Baginda Kertajaya.”

“Kenapa terakhir?”

Senapati itu merenung sejenak, namun kemudian ia memutuskan bahwa tidak ada gunanya lagi merahasiakan gugurnya Sri Baginda Kertajaya. Karena menilik medan yang semakin bergeser itu. keadaan prajurit Kediri sudah menjadi, semakin payah.

“Sri Baginda telah gugur.”

“He?”

Senapati itu tidak menyahut lagi.Tetapi dilanjutkannya perjalanannya menuju ke istana.

Kedatangan Senapati yang luka parah, diantar oleh orang-orang Singasari itu menimbulkan persoalan pada para pengawal. Tetapi akhirnya mereka tidak dapat menolak, ketika dengan dada tengadah para Senapati Singasari itu melepaskan senjata mereka sambil berkata, “Kalau kalian meragukan niat baik kami.”

Dengan demikian, maka prajurit Kediri yang luka itu-pun dipapah oleh para prajurit Singasari sampai mereka masuk ke keputren.

Beberapa orang hamba istana menyaksikan hal itu dengan herannya. Selagi di medan yang dahsyat ke dua belah pihak bertempur dengan dahsyatnya, bahkan saling membunuh, namun di sini kedua prajurit Singasari itu memapah orang-orang Kediri seperti melayani kawan mereka sendiri.

“Itulah buktinya, bahwa perang bukanlah tujuan para prajurit. Pada suatu saat, mereka akan mengenakan pribadi mereka masing-masing. Manusia dan kemanusiaan,” berkata salah seorang hamba istana yang berambut putih.

Kawan-kawannya mengangguk-anggukkan kepalanya. Di sini mereka melihat dua dunia yang terpisah dari golongan yang sama. Prajurit yang berperang, dan prajurit yang berpelukan dan saling menyatakan sikap kemanusiaan mereka.

Adik-adik Sri Baginda terkejut melihat kedatangan prajurit itu. Sejenak mereka menjadi ketakutan. Tetapi akhirnya mereka mengenal bahwa yang seorang itu adalah seorang Senapati Kediri, pengawal Sri Baginda Kertajaya yang setia.

Sebelum prajurit itu mengatakan sesuatu. Dewi Amisani telah berlari-lari kepadanya sambil bertanya, “Apa yang telah terjadi?”

“Ampun tuan Puteri, hamba mengemban perintah Sri Baginda.”

“O. jadi Kakanda Baginda masih selamat?”

Senapati itu tidak menjawab.

“Tetapi siapakah orang-orang ini?”

“Mereka adalah para Senapati dari Singasari.”

“He,” Dewi Amisani terkejut, “kenapa mereka kau bawa kemari?”

“Merekalah yang membawa hamba kemari Tuan Puteri, karena hamba sudah tidak berdaya lagi.”

Dewi Amisani dan adik-adiknya yang telah mendekat menjadi heran mendengar jawaban itu.

“Hamba sudah terluka parah. Dan hamba harus menyampaikan pesan kakanda Sri Baginda Kertajaya.”

“Tetapi, tetapi bukankah Kakanda Baginda selamat,” bertanya Dewi Paya, adik bungsu Sri Baginda.

“Di manakah sekarang Kakanda Baginda?” bertanya pula Dewi Hasin.

Senapati yang terluka itu menjadi termangu-mangu. Sejenak dipandanginya wajah Senapati-senapati dari Singasari itu. Tetapi, mereka menundukkan kepala mereka. Di peperangan mereka, selalu behadapan dengan mata sambil menengadahkan dadanya. Tetapi di sini mereka tidak berhadapan dengan maut itu, tetapi dengan kemanusiaan.

Baik para Senapati itu, maupun ketiga puteri Adinda Sri Baginda Kediri, sejenak dicengkam oleh kebekuan. Masing-masing saling berpandangan, tetapi seakan-akan mereka tidak dapat mengatakan sesuatu.

Baru sejenak kemudian justru salah seorang Senapati dari Singasarilah yang berkata sambil menundukkan kepalanya, “Ampun Tuan Puteri, sebenarnya bahwa Senapati ini membawa pesan terakhir Sri Baginda Kertajaya.”

“Kenapa terakhir?” hampir bersamaan ketiga puteri itu bertanya serentak. Wajah-wajah mereka menjadi pucat dan tegang.

“Berkatalah,” desis Senapati Singasari itu sambil mengguncang tubuh Senapati Kediri yang masih tergantung pada dua orang Singasari. Tetapi Senapati itu masih berdiam diri sambil menundukkan kepalanya dalam.

“Berbicaralah,” desis Senapati Singasari yang lain. Tetapi keduanya menjadi termangu-mangu sejenak. Tubuh itu serasa menjadi semakin berat tergantung di pundak mereka.

Ketika salah seorang dari mereka mencoba memandangi wajahnya yang pucat, maka Senapati Singasari itu terkejut. Prajurit Kediri sudah terlampau lemah.

“Berbicaralah,” desis Senapati Singasari itu. Dengan lemahnya ia menggelengkan kepalanya. Terdengar suaranya lirih sekali, “Aku tidak sampai hati mengatakannya.”

“Tetapi harus. Kau harus mengatakan.”

“Ya. katakanlah,” sahut Dewi Amisani, “katakanlah apa yang sudah terjadi dengan Kakanda Baginda.”

“Tuan Puteri,” suara itu sudah hampir tidak terdengar, “hamba, hamba ……”

“Ya, katakan,” desis Amisani yang mendekatinya sambil mendekatkan telinganya kemulut Senapati itu.

“Ampun Tuan Puteri.Sri Baginda telah gugur di peperangan.”

“Gugur?” dewi Amisani hampir menjerit.

Prajurit itu mengangguk dengan lemahnya. lalu lemah pulalah seluruh tubuhnya.

“Prajurit ini-pun sudah meninggal,” desis salah seorang Senapati Singasari.

“O,” Dewi Amisani menutup mulutnya yang hampir berteriak. Tetapi tiba-tiba saja kedua adiknyalah yang berteriak serempak, sehingga para emban menjadi terkejut karenanya, dan berlari-lari mendekatinya.

Kalau para emban tidak menangkapnya, maka kedua puteri itu pasti sudah jatuh di lantai. karena tubuh mereka menjadi lemah seperti tidak bertulang lagi.

“O,” Dewi Amisani kemudian menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya, “Kakanda Baginda telah gugur.”

“Kalian pembunuh,” tiba-Dewi Paya, adik Sri Baginda Kertajaya yang bungsu berteriak nyaring, “kalian, orang-orang Singasari telah membunuh Kakanda Baginda dan utusannya.”

Dada kedua Senapati itu berdesir tajam, tetapi mereka tidak menjawab sama sekali.

Tiba-tiba saja puteri yang sudah hampir kehilangan kekuatannya itu meloncat berlari, menyambar tombak yang terpancang di sudut ruangan.

“Kubunuh kau. Kubunuh kau yang telah membunuh Kakanda Baginda.”

Kedua Senapati terimangu-mangu sejenak. Untunglah para emban berhasil mencegahnya, dan Dewi Amisani mencoba menenteramkannya, “Paya. Sadarilah dirimu. Kakanda Baginda gugur di peperangan sebagai seorang pahlawan.”

“Tetapi orang-orang Singasari adalah pembunuh.”

Dewi Amisani mengusap dadanya. Ia sendiri menjadi sangat bersedih karena kematian Sri Baginda Kertajaya. Tetapi agaknya ia sudah lebih matang, menanggapi keadaan daripada kedua adik-adiknya. Karena itu. maka didapatkannya adiknya yang bungsu itu. Sambil membelai rambutnya yang ikal ia berkata, “Jangan menjadi bingung adikku. Adalah menjadi salah satu pilihan dari para prajurit. Menang atau gugur di peperangan. Kali ini kanda telah gugur sebagai seorang pahlawan. Jangan menyalahkan lawan.”

“Kakanda Puteri,” Dewi Paya meloncat memeluk Dewi Amisani seperti anak-anak, sambil meledakkan tangisnya yang tidak tertahan lagi.

Dewi Amisani masih membelai rambut adiknya yang kini ada di dalam pelukannya. Ketika ia berpaling, dilihatnya Dewi Hasin-pun duduk sambil menutupi wajahnya yang basah oleh air mata.

“Adik-adikku,” berkata Dewi Amisani, “marilah, ikutlah aku masuk keruang dalam.”

“Tetapi, bagaimana dengan kakanda Sri Baginda?” bertanya Dewi Hasin.

“Kakanda Baginda telah kembali kealam dewa-dewa.”

“Lalu. bagaimanakah dengan kita kakanda Puteri?”

“Marilah, ikutlah aku. Aku akan berbicara dengan kalian.”

Ketiga Puteri itu-pun pergi meninggalkan ruangan itu tanpa berkata apapun kepada kedua prajurit Singasari yang masih berdiri termangu-mangu.

Setelah kedua puteri itu hilang, maka diletakkannya prajurit Kediri yang telah gugur itu, dan dibaringkannya di lantai istana.

“Apakah yang akan dikerjakan oleh ketiga puteri itu?” desis salah seorang Senapati Singasari itu.

Senapati yang lain mengerutkan keningnya, “Mereka akan memuja untuk arwah Sri Baginda. Tetapi mungkin juga untuk keperluan yang lain.”

Senapati yang pertama mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi terasa dadanya menjadi berdebar-debar. Katanya, “Kita menunggu sejenak. Mungkin mereka memerlukan bantuan kita.”

“Ya,” sahut yang lain, “agaknya mereka menjadi sangat bersedih atas kematian Sri Baginda Kertajaya.”

“Sudah tentu. Mereka adalah adik-adik Sri Baginda.”

Senapati yang lain mengangguk-anggukkan kepalanya.Tetapi terasa sesuatu menyentuh jantungnya. Ia tidak merasakan getaran seperti saat itu, di dalam keadaan yang paling gawat sekali-pun.

Sejenak kedua Senapati dari Singasari itu berdiri termangu-mangu. Namun adik-adik Sri Baginda Kertajaya itu tidak menampakkan diri lagi. Meskipun demikian, kedua Senapati itu tidak segera pergi meninggalkan ruangan itu.

Dalam pada itu, ketiga puteri itu-pun segera memasuki ruang dalam istana. Setelah berbicara sejenak, maka mereka-pun segera pergi kepakiwan.

“Waktu kita tinggal sedikit,” berkata Dewi Amisani, “kita harus segera selesai. Aku tidak sudi menerima siapapun masuk ke dalam istana ini, apalagi berhubungan dengan mereka dalam bentuk apapun.”

“Aku sependapat dengan keputusan itu,” hampir bersamaan kedua adik-adiknya menyahut.

“Marilah adik-adikku,” ajak Dewi Amisani.

“Marilah kakanda Puteri.”

Mereka-pun kemudian mengurai rambut-rambut mereka yang hitam dan panjang. Kemudian menyiramnya dengan air yang diberinya wewangian dan bunga-bunga.

“Tuan Puteri,” bertanya seorang emban yang melayani ketiga puteri itu, “apakah yang akan Tuanku lakukan?”

“Aku adalah Adinda Sri Baginda Kertajaya dan adinda kakanda Mahisa Walungan.”

“Ya. demikianlah yang hamba ketahui.”

“Keduanya telah gugur di medan peperangan.”

“Lalu?”

“Tidak ada yang pantas mengganti kedudukan mereka, sebagai Senapati Agung, selain kami bertiga.”

“Tuan Puteri. Tuanku adalah Puteri.Puteri yang tidak pernah mengenal tajamnya senjata.”

“Sudahlah emban. Sediakan apa yang aku perlukan.”

“Tuanku.”

Dewi Amisani tersenyum, meskipun senyumnya adalah senyum yang penuh dengan rahasia.

Emban yang melayaninya tidak bertanya lagi meskipun masih juga selalu dibayangi oleh keheranan. Beberapa orang emban yang lain-pun menjadi bertanya-tanya di dalam hati, apakah sebenarnya yang akan dilakukan oleh ketiga puteri itu.

Sejenak kemudian, setelah ketiganya selesai dengan membasahi rambut mereka dengan wewangian dan bunga-bungaan. maka mereka-pun kemudian masuk ke dalam bilik mereka.

“Tunggulah di luar emban,” berkata Dewi Amisani.

Embannya menjadi semakin berdebar-debar. Tetapi ia tidak berani memaksa untuk ikut serta masuk ke dalam bilik itu.

Di dalam bilik, ketiga puteri itu-pun kemudian mengemasi diri mereka. Mereka mengenakan pakaian mereka. Bukan pakaian yang gemerlapan dihiasi dan disulami dengan benang-benang emas. tetapi mereka telah mengenakan pakaian mereka yang serba putih.

Sejenak kemudian mereka-pun telah selesai berpakaian.Dengan tanpa ragu-ragu mereka-pun kemudian mengambil beberapa helai pusaka istana, dan mengenakan di lambung mereka. Masing-masing sebilah patrem.

Ketika mereka keluar dari dalam bilik, maka para emban-pun menjadi semakin cemas.Salah seorang dari mereka memberanikan diri untuk bertanya, “Tuan Puteri. apakah yang akan tuan Puteri lakukan?”

Dewi Amisanilah yang menjawab, “Sudah aku katakan bukan. Tidak ada orang lain yang wajib mengangkat diri menjadi Senapati Agung, selain kami bertiga.”

“Tetapi, tetapi ……”

Sekali lagi emban itu melihat senyum yang tersungging di bibir Dewi Amisani.

“Kami akan ke Sanggar Pamujan sejenak. Setelah itu, barulah kami akan melakukan kewajiban kami.”

Ketika ketiga Puteri itu berjalan ke Sanggar Pamujan, maka para emban itu-pun mengikutinya. Semakin lama semakin banyak. Bahkan hamba-hamba istana yang lain-pun mengikutinya pula di belakang.

Sejenak kemudian maka keliga Puteri itu-pun telah memasuki Sanggar Pamujan. Dengan khusuk mereka mengheningkan cipta, mendekatkan diri kepada Yang Maha Agung.

Setelah mereka selesai dengan pemujaan itu, maka mereka-pun segera keluar pula dari dalam sanggar.

Di depan pintu sanggar ketiga puteri itu menjadi termangu-mangu sejenak.Dipandanginya emban-emban yang selama ini telah melayani mereka dengan baik. Mengawani mereka di dalam suka dan duka.

“Tuan Puteri,” seorang emban tiba-tiba saja telah memeluk kaki Dewi Amisani, “ke manakah Tuan Puteri akan pergi? Jangan tinggalkan kami. Peperangan bukanlah tempat Tuan Puteri bermain. Karena itu sebaiknya Tuan Puteri tinggal di istana ini saja bersama kami.”

“Emban,” jawab Dewi Amisani, “kedua kakak-kakak kami telah gugur di peperangan. Kakanda Kertajaya dan kakanda Mahisa Walungan. Sebentar lagi pasukan Singasari pasti akan memasuki telatah Kotaraja dan sudah tentu akan memasuki istana ini. Maka apakah pantas bagi kami bertiga, sepeninggal kakak-kakak kami, kemudian kami menerima orang-orang Singasari itu?”

“Jadi maksud Tuanku?”

“Apakah aku harus mengulangi keputusanku?”

“Tuanku,” emban itu-pun kemudian menangis sejadi-jadinya. Bahkan beberapa emban yang lain-pun telah menitikkan air mata pula. Apalagi ketika mereka memandang wajah puteri bungsu. Dewi Paya. Puteri yang masih terlampau muda.Sedang pada wajahnya seakan-akan terbayang kebeningan hati seorang gadis remaja yang sedang meningkat dewasa.

Seorang emban yang gemuk tidak dapat menahan hati lagi. Tiba-tiba saja berlari dan memeluk kedua Puteri terkecil. Dewi Paya dan Dewi Hasin. Dengan air mata yang berlinang-linang ia berkata, “Ampun Dewi. Hamba tidak sampai hati melihat Tuan Puteri berdua yang sedang bersedih.”

Kedua puteri itu-pun saling berpandangan. Pandangan dua orang gadis yang bersih seolah-olah tanpa cacat, sehingga justru sikapnya itu telah membuat emban yang gemuk itu semakin iba.

Tetapi Dewi Amisani kemudian berkata, “Marilah kita bersikap sebagai keluarga terdekat dari Maharaja Kediri, Jangan cengeng seperti anak-anak. Saat ini bukanlah waktunya,” Dewi Amisani berhenti sejenak, lalu, “sebentar lagi pasukan Singasari pasti sudah akan memasuki ruangan ini dan setiap ruangan di dalam istana. Kami bertiga akan menunggu mereka di paseban. dan akulah yang akan duduk di singgasana.”

“Dewi,” para emban itu berdesah.

Tetapi Dewi Amisani sudah berkeras hati untuk pergi keruang paseban dalam. Ruang yang selalu dipakai oleh Sri Baginda antuk berbincang dengan lingkungan yang agak terbatas.

Ketika ketiga puteri itu memasuki paseban. maka beberapa orang emban akan mengikutinya. Namun Dewi Amisani berkata, “Biarlah kami bertiga saja yang akan menemui mereka apabila pemimpin mereka memasuki ruang ini.”

Tidak seorang emban dan hamba istana-pun yang berani memaksa. Mereka dengan gelisah menunggu di luar pintu bersama dua orang prajurit Kediri yang sedang bertugas. Sedang di ruangan lain dua orang Senapati Singasari berdiri termangu-mangu. Mereka tidak tahu apakah yang sebaiknya mereka lakukan atas ketiga puteri adik Sri Baginda Kertajaya itu. Yang dapat mereka perbuat hanyalah menunggu. Sebah mereka-pun yakin. bahwa pasukan Singasari pasti akan memasuki istana ini meskipun seandainya hari akan disaput oleh gelapnya malam.

Seisi istana itu menjadi berdebar-debar oleh guntur yang sahut menyahut di udara. Hujan yang lebat-pun kemudian seolah-olah tercurah dari langit, sehingga suasana di seputar istana itu menjadi suram, sesuram hati ketiga puteri yang kini sudah memasuki paseban dalam.

Dalam curahan hujan yang deras, dan senja yang mendatang, maka pasukan Singasari telah merayap maju memasuki seluruh bagian kota. Para prajurit Kediri tidak dapat lagi bertahan setelah orang-orang kebanggaan mereka gugur di peperangan. Karena itu, maka suatu saat perlawanan para prajurit Kediri benar-benar telah patah.

Demikianlah, maka di saat-saat gelap malam mulai menyentuh bumi Kediri yang pernah menguasai daerah yang luas, pasukan Singasari telah memenuhi seluruh Kota Raja. Sri Rajasa Batara Sang Amurwabumi sendirilah yang memimpin induk pasukannya bersama dengan Mahisa Agni memasuki gerbang istana Kediri. Beberapa orang petugas di pintu-pintu gerbang tidak dapat berbuat apa-apa selain menyerahkan senjata-senjata mereka.

Kedua Senapati Singasari yang telah berada di halaman istana itu-pun segera menyongsong pasukan Singasari yang basah kuyup namun memanggul kemenangan itu.

Sri Rajasa yang melihat kedua Senapati itu-pun segera bertanya, “He, apakah pesan Sri Baginda Kertajaya sudah disampaikan kepada adik-adiknya?”

“Hamba Tuanku,” jawab salah seorang dari kedua Senapati itu.

“Di mana Senapati Kediri itu sekarang?”

“Sayang, ia-pun telah menghembuskan nafasnya yang penghabisan.”

Sri Rajasa mengerutkan keningnya. Namun kemudian kepalanya-pun terangguk-angguk.

“Di mana keluarga Sri Kertajaya yang terdekat itu sekarang? Aku ingin menemui mereka. Aku harus menjelaskan, bahwa tidak ada permusuhan di antara kita. Bahwa Singasari terpaksa menyerang Kediri adalah karena cita-cita penyatuan dari daerah yang menjadi terpecah belah karena kekeliruan sikap dan tindakan Sri Kertajaya.”

“Mereka ada di dalam istana. Tuanku.”

Sri Rajasa mengangguk-anggukkan kepalanya pula. Bersama pimpinan tertinggi Singasari mereka-pun kemudian memasuki pusat bangunan istana setelah mereka melampaui beberapa longkangan dan gerbang-gerbang di setiap bagian.

“Apakah mereka berada di Keputren?” bertanya Sri Rajasa.

“Mungkin Tuanku. Tetapi mungkin pula tidak.Mereka meninggalkan kami dan tidak muncul kembali.”

Sri Rajasa mengerutkan keningnya. Tetapi sejenak kemudian ia menunjuk kesuatu sudut yang agak terang, “Kau lihat beberapa orang emban yang berkumpul itu?”

“Hamba Tuanku.”

“Panggillah mereka.”

Senapati itu-pun kemudian memanggil beberapa emban yang berdesak-desakan karena ketakutan. Prajurit-prajurit lawan yang memasuki istana dengan membawa kemenangan kadang-kadang bertingkah laku kasar dan mengerikan. Tetapi justru yang memimpin para prajurit itu Sri Rajasa sendiri, maka para prajurit-pun tidak berani berbuat sekehendak hati mereka.

 

 

Jilid 57          

BEBERAPA emban-pun kemudian maju menghadap Sri Rajasa yang berdiri di serambi bangsal yang ternyata adalah bangsal paseban dalam.

 “Kaukah emban di istana ini?“ bertanya Sri Rajasa.

Dengan mengenali pakaian dan tanda-tanda kerajaan, maka para emban itu-pun segera mengenal, bahwa yang dihadapinya adalah pemimpin tertinggi Singasari. Karena itu mereka-pun segera menyembah, “Hamba Tuanku. Hamba adalah emban di istana Kediri.”

 “Aku mendengar bahwa Sri Baginda Kertajaya mempunyai beberapa orang adik perempuan selain Mahisa Walungan yang telah gugur itu.”

 “Hamba Tuanku. Sri Baginda mempunyai tiga orang adik perempuan.”

 “Aku akan menemui mereka. Katakan, bahwa aku dan seluruh prajurit Singasari tidak akan berbuat apa-apa di dalam istana ini.“

Para emban itu menjadi ragu-ragu sejenak. Mereka saling berpandangan dan tidak segera berbuat sesuatu, sehingga Sri Rajasa mengulanginya, “Kami tidak akan berbuat apa-apa. Yakini kata-kataku ini.”

Salah seorang dari para emban itu kemudian memberanikan diri menyahut, “Hamba dan kawan-kawan hamba tidak diperkenankan masuk ke paseban dalam.”

 “Apakah ketiga puteri itu ada di paseban dalam?“

 “Hamba Tuanku.”

 “Dimanakah bangsal paseban dalam itu?”

 “Itulah Tuanku,“ tunjuk salah seorang emban.

Sri Rajasa mengerutkan keningnya. Bangsal itu masih terlampau gelap. Hanya di sudut, justru diluar paseban saja yang sudah dipasang sebuah lampu minyak.

 “Apakah tidak dinyalakan lampu di bangsal itu?“ bertanya Sri Rajasa.

Para emban itu menarik nafas dalam-dalam. Salah seorang dari mereka berkata, “Ketika ketiga puteri itu masuk, paseban masih belum terlampau gelap.”

 “Dan tidak ada yang memasang lampu itu kemudian?“

 “Tuan Puteri berpesan, bahwa tidak boleh seorang-pun memasuki paseban. Dewi Amisani, yang terbesar dari ketiganya berkata, “Biarlah kami bertiga saja yang akan menemui mereka apabila pemimpin mereka memasuki ruang ini.“ Dengan demikian Tuanku, tidak ada seorang-pun yang berani memasuki paseban itu.”

 “Siapakah yang dimaksud dengan mereka?”

 “Para pemimpin Singasari.”

Sri Rajasa mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya kemudian, “Baiklah. Aku akan menemui mereka di bangsal paseban dalam itu.”

Maka Sri Rajasa-pun kemudian mengajak Mahisa Agni dan beberapa orang pemimpin Singasari masuk ke paseban. Namun demikian, Sri Rajasa tetap berhati-hati menghadapi setiap keadaan didalam lingkungan istana Kediri.

Karena itu maka dengan hati-hati ia mendekati pintu bangssal paseban yang masih gelap itu. Ketika tangannya telah menyentuh pintu, Mahisa Agni menjadi berdebar-debar sehingga tanpa sesadarnya ia berdesis, “Tuanku.”

Sri Rajasa tertegun sejenak. Di muka pintu paseban itu sama sekali sudah tidak terdapat seorang prajuritpun.

 “Biarlah hamba mendahului Tuanku,“ gumam seorang Senapati.

Dengan hati-hati Senapati itu membuka pintu sementara Senapati yang lain telah mengambil lampu minyak yang ada diluar paseban.

Seleret sinar memancar memasuki ruangan paseban yang gelap itu. Namun Senapati yang sedang membuka pintu itu belum melihat seorangpun. Sehingga selangkah ia masuk lebih dalam lagi, diikuti oleh Senapati yang membawa lampu itu.

Ternyata Sri Rajasa tidak sabar lagi. Setelah ia yakin bahwa tidak ada sesuatu yang terdengar disebelah menyebelah pintu, ia-pun segera melangkah masuk. Didorongnya Senapati yang membawa lampu itu lebih kedalam lagi.

Ketika seluruh ruangan di bangsal paseban itu tersentuh oleh cahaya lampu yang remang, maka tertegunlah setiap orang yang berada di muka pintu itu. Sri Rajasa berdiri membeku seperti patung memandang Singgasana diujung ruangan, sedang Mahisa Agni hampir tidak percaya melihat apa yang sudah terjadi.

Diatas singgasana duduk salah seorang dari ketiga puteri adik Sri Baginda Kertajaya. Menilik bentuk lahiriahnya maka ia adalah puteri tertua dari ketiganya.

 “Masuklah,“ terdengar suaranya lirih, “akulah sekarang Maharaja Kediri.”

Sri Rajasa masih membeku di tempatnya.Ditatapnya puteri yang dengan tenang duduk diatas Singgasana itu.

 “Mendekatlah kalau kalian ingin menghadap Sri Maharaja,“ terdengar suara puteri itu pula.

Seperti dipukau oleh sebuah pesona yang tidak terlawan Sri Rajasa dan para pemimipin Singasari itu-pun melangkah mendekat. Namun dada mereka-pun menjadi semakin berdebar-debar. Mereka melihat kedua puteri yang lain duduk memeluk kaki puteri yang menyebut dirinya Maharaja Kediri.

Tetapi langkah mereka terhenti ketika oleh cahaya lampu yang remang-remang mereka melihat noda-noda yang melumuri pakaian ketiga puteri itu. Ternyata pada pakaian mereka yang putih seputih kapas itu melekat noda-noda yang berwarna merah.

 “Tuan Puteri,“ tanpa sesadarnya Sri Rajasa berkata, “apakah yang telah terjadi?”

 “Aku adalah Maharaja Kediri. Namaku Dewi Amisani.“

 “Ya, Dewi Amisani. Aku adalah Sri Rajasa Batara Sana Amurwabumi.”

 “Bukankah kau Akuwu Tumapel?”

Dada Sri Rajasa berdesir tajam.Namun ia tidak mempedulikannya lagi. Setapak ia maju mendekat. Dan ia kini melihat dengan jelas, bahwa kedua puteri yang duduk di lantai memeluk kaki Dewi Amisani itu ternyata telah meninggal.

 “Dewi Amisani, apa yang telah terjadi?”

Dewi Amisani tersenyum. Katanya, “Tidak ada apa-apa yang terjadi. Kami memang, menunggu kedatangan kalian. Pemberontakan kalian telah berhasil. Kakanda Sri Baginda Kertajaya telah gugur dan kakanda Mahisa Walungan-pun telah gugur pula. Kini kalian telah berhasil memasuki istana. Supaya kemenanganmu sempurna maka seluruh keluarga kakanda Kertajaya harus musna.“

 “Tuan Puteri, apakah artinya?”

Dewi Amisani tidak segera menjawab. Tetapi ketika Sri Rajasa maju selangkah lagi. Dewi Amisani berkata, “Sudah cukup. Jangan terlampau dekat dengan Singgasana. Hanya keturunan darah Maharaja Kediri sajalah yang boleh menyentuh Singgasana ini.”

 “Tetapi, apakah maksud Tuan Puteri?”

Dewi Amisani tidak segera menjawab. Dipandanginya Sri Rajasa dan para pemimpin Singasari yang lain dengan tajamnya. Sejenak kemudian ia berkata, “Meski-pun kalian dapat menguasai istana beserta seluruh isinya, namun kalian tidak akan dapat menguasai jiwa kami. Jiwa seluruh rakyat Kediri. Itulah sebabnya maka kakanda Sri Kertajaya dan kakanda Mahisa Walungan memilih gugur dipeperangan.“

Sri Rajasa masih berdiri terpaku ditempatnya.

 “Kini kau melihat kedua adik-adikku ini-pun telah memilih kebebasannya tidak kau tundukkan.”

 “Apakah yang telah terjadi dengan kedua puteri itu?“ bertanya Sri Rajasa.

 “Seperti Kediri. Kau dapat menguasai wadagnya, tetapi tidak jiwanya.”

“Tuan Puteri,“ berkata Sri Rajasa, “bukan maksud kami untuk menguasai apa-pun dan siapapun. Kami tidak ingin menguasai Kediri jasmaniah dan apalagi rohaniah. Kami hanya ingin melihat satu negara yang besar yang bersama-sama kita bina. Selama ini kakanda Tuan Puteri telah berbuat beberapa kesalahan kepada rakyat Kediri sendiri dan terutama kepada kaum Brahmana.“

 “Terserahlah kepada penilaianmu Sri Rajasa. Tetapi kami sudah bertekad, bahwa kami hanya akan menyerahkan wadag-wadag kami.”

 “Tuan Puteri, tunggu. Jangan berbuat sesuatu. Kami akan dapat memberikan penjelasan.”

Dewi Amisani tersenyum. Sambil menggelengkan kepalanya ia berkata, “Hari menjadi semakin gelap. Juga bagi Kediri.”

 “Tidak. Kalau tuan Puteri bersedia, kami dapat berbuat sesuatu sesuai dengan keinginan Tuan Puteri.”

 “Jangan mencoba membujuk. Niat kami sudah bulat.“ Dewi Amisani berhenti sejenak. Lalu, “Semuanya sudah bersiap. Aku memang menunggu kalian sejenak untuk mengatakan tekad kami. Kalian tidak akan dapat menguasai jiwa kami.”

 “Tuan Puteri, Tuan Puteri.”

 “Jangan maju lagi. Langkahmu hanya mempercepat penyelesaian.”

Sri Rajasa menjadi termangu-mangu. Ketika ia berpaling, di dalam cahaya lampu minyak yang samar-samar ia melihat Mahisa Agni menjadi tegang.

 “Agni,“ berkata Sri Rajasa, “kau mempunyai kesempatan seandainya kau berhasil.”

Mahisa Agni menjadi berdebar-debar. Ia sama sekali tidak ingat lagi kepada dirinya sendiri. Tetapi hatinya menjadi seolah-olah tersayat melihat ketiga puteri Kediri itu.

 “Mintalah kepadanya, supaya puteri itu menyadari keadaannya,“ desis Sri Rajasa.

 “Tidak ada gunanya,“ Dewi Amisanilah yang menjawab.“siapa-pun yang akan membujuk aku. tidak akan ada artinya.“

Sri Rajasa benar-benar kehilangan akal. Ia menjadi bertambah gelisah ketika ia melihat Dewi Amisani kemudian berdiri. Sejenak disentuhnya rambut kedua adiknya yang telah mendahuluinya suduk-sarira, dan telah meninggal pula sambil memeluk kaki Dewi Amisani.

 “Adik-adikku-pun telah mendahului aku.”

 “Tuan Puteri,“ Sri Rajasa berdesis. Lalu, “Agni, kenapa kau tidak berbuat sesuatu?”

Mahisa Agni maju selangkah. Namun ia tertegun pula ketika ia mendengar Dewi Amisani berkata, “Jangan mencoba berbuat apa-pun juga.Sekarang, dengarlah. Kau dapat berbuat apa-pun atas Kediri dan atas tubuh kami. Tetapi kau tidak akan dapat menumbangkan keteguhan jiwa kami. Kami adalah pewaris kerajaan ini. Sehingga hanya kamilah yang berhak menguasainya.”

 “Ya. Tuan Puteri benar. Tuan Puterilah kini pewaris tunggal,“ Mahisa Agni mencoba untuk melunakkan hati Dewi Amisani.

 “Sayang, kau sudah mengotori istana ini. Akuwu Tumapel yang mengenakan gelar apa-pun juga, tidak berhak menguasai dan mewarisi Kerajaan Kediri.”

Mahisa Agni dan Sri Rajasa hanya membeku ditempatnya.

Sejenak mereka melihat Dewi Amisani tersenyum. Dibenahinya pakaiannya yang serba putih. Kemudian tiba-tiba saja tangnnnya telah menarik patremnya dari wrangka.

 “Tuan Puteri. Jangan. Jangan.”

Dewi Amisani seolah-olah tidak mendengarnya. Katanya. “Kakanda Kertajaya. kakanda Mahisa Walungan dan adinda Dewi berdua telah terlampau lama menunggu aku.Karena itu tugasku telah selesai. Aku sudah menyatakan tekad kami.”

 “Tetapi, tetapi … “ Sri Rajasa tidak dapat menyelesaikan kata-katanya. Tanpa sesadarnya ia berteriak, “Dewi Amisani.”

Tetapi patrem ditangan Dewi Amisani telah tertancap didadanya. Sejenak ia masih berdiri. Namun sejenak kemudian tubuhnya itu jatuh terduduk disinggasana Kediri.

Sri Rajasa meloncat hampir bersamaan waktunya dengan Mahisa Agni. Secepat dapat mereka lakukan, mereka mencoba untuk menahan tubuh puteri yang sudah tidak berdaya itu. Tetapi seperti yang dikatakan oleh Dewi Amisani, mereka hanya dapat menguasai tubuhnya saja, karena Dewi Amisani itu-pun sudah menghembuskan nafasnya yang penghabisan.

 “O,“ terdengar sebuah keluhan yang berat dibibir Sri Raiasa. Beratus-ratus kali ia melihat kematian. Sejak ia berkeliaran dipadang Karautan. Namun kali ini dadanya benar-benar telah berguncang melihat tiga orang puteri yang telah membunuh dirinya diatas Singgasana.

Sejenak Sri Rajasa berdiri membeku. Ditatapnya wajah Dewi Amisani yang seakan-akan sekedar tertidur di Singgasana. Namun darah yang memancar didadanya benar-benar telah menggetarkan jantung.

Mahisa Agni-pun berdiri tanpa berkedip memandang ketiga puteri adik Sri Baginda Kertajaya itu. Perlahan-lahan wajahnya menunduk, dan dirasanya pelupuk matanya menjadi terlampau panas.

Para pemimpin Singasari dan para Senapati telah menundukkan kepala mereka. Demikianlah tekad yang menyala didalam dada ketiga puteri Kediri itu.

Sejenak ruangan itu dicengkam oleh kesenyapan. Setiap orang yang berada didalam bangsal paseban itu telah terpesona oleh peristiwa yang telah menggoncangkan dada mereka.

Sejentik kemudian maka Sri Rajasa yang telah menyadari keadaannya berkata, “Jangan terlampau lama dibiarkan. Jenazah ketiga puteri itu harus segera mendapat perawatan sebaik-baiknya.”

Tetapi ketika dua orang Senapati melangkah maju, Sri Ragasa berkata, “Jangan kau. Panggillah para emban. Biarlah orang-orang yang terbiasa berada disekelilingnya setiap hari menyelenggarakan perawatan jenazah-jenazah itu.”

Senapati itu-pun kemudian berjalan meninggalkan ruangan itu dan memanggil beberapa orang emban dan hamba istana yang lain.

Ketika para emban melihat ketiga jenazah itu, maka serentak mereka menjerit. Hampir berbareng mereka berlari-larian dan berebut dahulu memeluk ketiga puteri yang telah tidak bernafas lagi itu.

Tiba-tiba salah seorang emban telah menarik patrem dari dada Dewi Amisani. Tanpa mengucapkan sepatah katapun, maka patrem itu-pun telah terhunjam didadanya sendiri.

Betapa terkejut para pemimpin tertinggi Singasari. Karena itu, maka Sri Rajasa sendiri segera meloncat, merebut ketiga patrem itu. Hampir saja dua orang emban telah melakukan tindakan serupa.

 “Jangan bodoh,“ Sri Rajasa berteriak, “kalau kalian mencintai ketiga puteri ini, kalian tidak akan berbuat begitu bodoh.”

Para emban itu memandang Sri Rajasa dengan penuh kebencian.

 “Kalian boleh membenci aku. Tetapi kalian tidak dapat membiarkan jenazah ini tidak terawat, karena kalian telah membunuh diri kalian masing-masing.”

Tidak seorang-pun yang menyahut.

 “Kami memang dapat mengurus jenazah ketiga puteri ini. Tetapi maksud kami, biarlah orang-orang yang dekat dengan ketiganya semasa hidupnyalah yang mengurus jenazahnya sebaik-baiknya.”

Para emban itu masih tetap berdiam diri.

 “Nah, terserahlah kepada kalian. Apakah kalian benar-benar mencintai ketiga puetri itu atau kalian lebih mencintai diri sendiri dan berebut membunuh diri.”

Para emban dan hamba istana yang lain itu-pun menundukkan kepala masing-masing. Tetapi mereka masih tetap berdiam diri.

Namun dalam keheningan itu tiba-tiba seorang emban yang masih sangat muda berdiri sambil menunjuk wajah Sri Rajasa, “Kalian telah membunuh momonganku.Kenapa kalian tidak membunuh kami sama sekali. Kenapa kalian mencegah kami untuk membunuh diri?”

Ketika seorang Senapati melangkah maju, maka Sri Rajasa menahannya sambil berkata, “Biarkan mereka.“

 “Jangan kau cegah. Kalau ia ingin membunuhku, inilah dadaku.”

Sri Rajasa menggelengkan kepalanya, “Tidak. Kami tidak ingin membunuh siapapun. Ketiga puteri ini-pun bukan kamilah yang telak membunuhnya.”

 “Aku tahu. Tuanku Puteri telah melakukan suduk sarira. Tetapi kalianlah yang menyebabkannya.“

 “Sudahlah,“ berkata Sri Rajasa, “apakah kalian masih akan membiarkan perasaan kalian berbicara tanpa menghiraukan ketiga puteri itu?”

Para emban itu seperti digerakkan oleh kekuatan yang tanpa mereka sadari telah menyusup didalam diri mereka. Serentak mereka bergeser mendekati ketiga Puteri yang telah tidak bernafas lagi itu.

 “Bawalah mereka kebangsal keputren. Mereka akan mendapat perawatan sebagai tiga orang puteri adik seorang Raja yang besar. Seperti Sri Kertajaya dan Mahisa Walungan yang mendapat penghormatan terakhir sebagai seorang pahlawan besar.“

Para emban dan hamba istana itu-pun tidak menyahut lagi. Perlahan-lahan mereka mengangkat tubuh ketiga puteri itu bersama seorang emban yang telah membunuh dirinya pula. Tidak seorang-pun dari mereka yang tidak menitikkan air matanya. Bahkan ada beberapa orang diantara mereka yang tidak mampu lagi membantu kawan-kawannya karena isaknya yang menghentak-hentak dada.

 “Selenggarakan sebaik-baiknya. Semua kebutuhan untuk pemakaman ketiga jenazah itu. kamilah yang akan mengadakannya. Jangan takut, hubungilah kami.”

Para emban itu tidak menjawab. Tetapi beberapa orang diantara mereka menganggukkan kepala mereka.

Namun demikian para emban, terutama yang masih muda menjadi sangat cemas terhadap keadaan yang sedang dihadapi oleh Kediri. Hampir disetiap sudut istana tampak prajurit Singasari berjaga-jaga dengan senjata telanjang.

Seperti yang sering mereka dengar, prajurit yang berhasil memecahkan pertahanan lawan, kadang-kadang telah berbuat sesuatu yang tidak sewajarnya. Terutama terhadap perempuan-perempuan muda.

Karena itu. hampir setiap emban telah membawa patrem pula dibawah ikat pinggang mereka. Mereka menganggap bahwa kematian adalah penyelesaian yang paling baik, daripada mereka jatuh ketangan prajurit-prajurit yang masih berbau darah. Darah orang Kediri sendiri.

Tetapi ternyata bahwa prajurit Singasari tidak berbuat demikian. Betapa gilanya Ken Arok semasa mudanya, namun kini ia berusaha mengendalikan prajurit-prajuritnya. Ia menyadari, betapa pahitnya seseorang yang dibayangi oleh ketakutan, dan betapa pedihnya seorang gadis yang mengalami perkosaan.

Apalagi sikap Mahisa Agni yang merupakan salah seorang pemimpin Singasari yang dekat dengan Sri Rajasa, karena Mahisa Agni adalah kakanda Permaisuri Singasari. Seperti Sri Rajasa ia selalu mengawawsi para prajurit Singasari yang berada didalam istana, dan lewat para Senapati, pengawasan yang serupa diseluruh daerah yang diduduki oleh prajurit Singasari.

Demikianlah, dipagi harinya, pemakaman katiga puteri Kediri itu-pun telah diselengarakan dengan upacara kebesaran. Meski-pun yang mengawal ketiga jenazah itu bakun prajurit Kediri, tetapi prajurit Singasari, namun semuanya dapat berlangsung sebaik-baiknya.

Sejak saat itu, maka Kerajaan Kediri telah tenggelam. Tidak ada lagi kekuatan yang dapat mempertahankan kehadirannya. Betapa prajurit yang gagah berani, tetapi kelengahan Sri Kertajaya karena kepuasan yang berlebih-lebihan telah tidak dapat menolong lagi. Sehingga akhirnya Kediri sampai pada puncak keruntuhannya, sebagai banjir bandang dari Singasari telah melandanya.

Tetapi ternyata Sri Rajasa adalah benar-benar seorang yang bijaksana. Seolah-olah bukan kehendaknya sendiri, bahwa ia telah melakukan suatu tindakan yang sangat terpuji.

Meski-pun ia telah berhasil mengalahkan Kediri, tetapi Sri Rajasa tidak mempunyai maksud sama sekali untuk menduduki pusat kerajaan itu. Diserahkannya istana Kediri kepada keluarga Sri Kertajaya yang terdekat. Bukan saja untuk menguasai isi istana, tetapi juga memerintah tlatah Kediri atas namanya.

Mahisa Agni yang mengenal Ken Arok dimasa mudanya, tidak dapat mengerti bagaimanakah sebenarnya sifat dan watak orang itu. Dipadang Karautan ia adalah hantu yang paling menakutkan. Kemudian ia adalah seorang prajurit yang patuh dan memegang teguh kewajibannya. Disaat-saat Mahisa Agni kehilangan keseimbangan, justru Ken Arok dapat memberinya peringatan. Namun pada suatu saat, Ken Arok itu juga telah membunuh mPu Gandring, kemudian mengorbankan Kebo Ijo dan membunuh pula Akuwu Tunggul Ametung. Namun kini, setelah ia berhasil menghancurkan kekuasaan Sri Baginda Kertajaya, maka ia telah berbuat sebagai seorang Raja yang terlampau bijaksana, seolah-olah Sri Rajasa itu sama sekali bukannya dan bahkan tidak ada sangkut pautnya dengan Ken Arok dan apalagi dengan Hantu Karautan.

Dengan demikian maka kemudian pusat kerajaan telah berpindah dari Kediri ke Singasari. Sri Rajasa kini memegang seluruh kekuasaan dari seluruh daerah Kediri, sehingga namanya-pun kemudian menjadi semakin lama semakin besar.

Setelah peperangan selesai, dan setelah beberapa saat Sri Rajasa beserta para pemimpin Singasari berada di Kediri untuk mengatur perpindahan pusat kekuasaan dan menyerahkan pimpinan atas Kerajaan Kediri yang berada dibawah kekuasaan Singasari, maka datanglah saatnya Sri Rajasa Batara Sang Amurwabumi, dengan segala macam tanda kebesarannya sebagai seorang Maharaja, kembali keistananya di Singasari. Beberapa utusan telah mendahuluinya dan mempersiapkan penyambutan di istana Singasari.

Mendengar berita tentang kedatangan Sri Rajasa maka gemparlah seluruh rakyat Singasari. Terutama mereka yang tinggal di sepanjang jalan yang akan dilalui Sri Rajasa. Tanpa diperintah oleh siapa-pun juga, maka hampir disetiap padukuhan telah dibuat gapura-gapura didepan regol. Rakyat yang dengan sepenuh minat ingin menyambut rajanya yang pulang dengan membawa kemenangan telah menghias padukuhan masing-masing dengan janur-janur kuning.

Apalagi gapura kota Singasari.

Disepanjang jalan telah dibangun pula gardu-gardu untuk menempatkan seperangkat gamelan. Gamelan itu kelak apabila Sri Rajasa bersama iring-iringannya lewat, akan mengumandangkan gending-gending kemenangan.

Bagi rakyat Singasari. Sri Rajasa adalah seorang Pahlawan besar yang telah dapat melontarkan Singasari dari sebuah lingkungan pemerintahan yang kecil, yang dipimpin oleh seorang Akuwu menjadi sebuah kerajaan yang besar, yang justru melampaui kebesaran Kediri.

Rakyat Singasari, yang pada mulanya adalah rakyat Tumapel yang merasa dirinya tertampau kecil, kini mereka dapat membusungkan dada, bahwa mereka adalah rakyat dari suatu kerajaan yang besar, Singasari. Dan mereka adalah rakyat dipusat pemerintahan. Rakyat Kotaraja.

Kota Singasari sendiri seakan-akan telah dipenuhi dengan berbagai macam perhiasan. Di alun-alun Singasari, umbul-umbul, rontek dan panji-panji telah dipancangkan. Tidak hanya seperangkat gamelan yang telah siap diatas panggungan disebelah-menyebelah paseban. Disitulah nanti penyambutan resmi akan dilakukan.

Para pemimpin pemerintahan Singasari dan para Senapati yang tidak ikut ke medan perang telah siap menerima kedatangan Sri Rajasa beserta pengiringnya.

Setiap kepala menengadah ketika mereka melihat dua ekor kuda berderap memasuki alun-alun. Keduanya adalah utusan Sri Rajasa yang memberitahukan bahwa iring-iringan Sri Rajasa telah mendekati kota.

 “Sebentar lagi Sri Rajasa akan memasuki gerbang.”

 “Apakah sekarang mereka sudah sampai dipintu gerbang?”

 “Sebentar lagi.“

Para pemimpin yang sudah siap menyambut itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Para penabuh gamelan-pun telah siap ditempatnya. Apabila Sri Rajasa memasuki alun-alun, maka gamelan itu harus bersama-sama menyambutnya.

Pada saat itu Sri Rajasa telah berada diambang pintu gerbang kota. Para petugas yang menyambutnya telah mengelu-elukannya. Beberapa orang gadis telah menaburkan bunga-bunga kepada Sri Rajasa yang duduk diatas seekor kuda, diiringi oleh Mahisa Agni dan para Panglima dan Senapati.

Suara gamelan kemudian mengumandang mengiringi derap kaki-kaki kuda yang berjalan perlahan-lahan, dibarengi dengan para prajurit yang berjalan kaki.

Betapa besar hati rakyat Singasari melihat Rajanya kembali dengan membawa kemenangan. Karena itu, maka sambutan rakyat-pun seakan-akan telah meledak.

Gadis-gadis yang berdiri dipintu gerbang masih menabur-naburkan bunga kepada para prajurit yang lewat didalam barisan yang menyusup gerbang sampai bunga yang terakhir. Kemudian mereka-pun melambai-lambaikan tangan mereka, menyambut pasukan yang datang itu dengan penuh kegembiraan.

Digardu-gardu panggungan yang terdapat dipojok-pojok desa, para pengawas yang melihat iring-iringan itu segera memukul kentongan. Berlari-larian rakyat menuju kepinggir jalan. Sambil berteriak-teriak, mereka melambai-lambaikan tangan mereka dengan kegembiraan yang meluap.

Seluruh Singasari seakan-akan tengah dibakar oleh kegembiraan dan kebanggaan. Prajurit yang berjalan beriringan, bagaikan seekor ular Naga yang menyelusuri jalan-jalan menuju kepusat kota.

Diujung iring-iringan itu. Sri Rajasa beserta beberapa orang pemimpin tertinggi Singasari berada diatas punggung kuda, dibayangi oleh tanda-tanda kebesaran yang jarang sekali keluar dari simpanan.

Selain rakyat Singasari dan para Senapati, maka didalam istana-pun sedang sibuk dilakukan persiapan penyambutan. Kedua isteri Sri Rajasa, sibuk mengadakan persiapan masing-masing. Namun adalah merupakan semacam keharusan yang tidak disebutkan didalam peraturan resmi, bahwa Sri Rajasa akan diterima lebih dahulu di istana dalam oleh Permaisurinya. Upacara penyambutan khusus akan dilakukan oleh para pemimpin tertinggi Singasari yang tidak ikut menyerang Kediri, bersama Permaisuri Sri Rajasa, Ken Dedes.Sedang Ken Umang akan hadir didalam upacara itu, tetapi tidak akan melakukan penyambutan resmi.

Demikianlah maka akhirnya iring-iringan itu-pun memasuki pusat Kotaraja. Sebentar kemudian ujung dari iring-iringan itu-pun telah memasuki alun-alun Singasari.

Suara gamelan yang menyambut kedatangan Sri Rajasa, bagaikan meledaknya guntur dilangit. Sorak sorai rakyat yang berjejal-jejal seakan-akan memecahkan selaput telinga.

Apalagi ketika Sri Rajasa kemudian sampai ditengah-tengah alun-alun. Diatas punggung kudanya ia melambai-lambaikan tangannya kepada rakyatnya yang mengelu-elukannya.

 “Sri Rajasa adalah Raja yang paling besar pada jaman ini,“ desis seorang yang telah berambut putih di pinggir alun-alun.

Kawannya berbicara-pun mengangguk-anggukkan kepalanya, “Ya. Yang terbesar. Seandainya daerah ini masih diperintah oleh Akuwu Tunggul Ametung, maka Tumapel pasti masih tetap saja merupakan daerah yang kecil dan diam. Akuwa Tunggul Ametung adalah seorang yang sakti pilih tanding. Tetapi ia terlampau cepat menjadi puas dengan keadaannya. Ia sudah puas dengan Permaisurinya yang cantik, dengan taman disebelah padang Karautan, dengan kota yang sedikit ramai dan beberapa orang prajurit pilihan. Ia sudah menjadi puas dengan hasil buruannya, dengan kulit harimau dilantai biliknya.”

Orang yang berambut putih itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya pula, “Aku adalah prajurit pilihan saat itu. Aku adalah seorang prajurit pengawal istana dibawah pimpinan Witantra. Tetapi aku terlampau cepat menjadi tua, sehingga aku segera mengundurkan diri,” orang itu berhenti sejenak, “semula aku kagum akan kesetiaan Witantra. Namun kini ternyata bahwa Witantra telah berbuat kesalahan. Seandainya pembelaannya atas Kebo Ijo dengan perang tanding diarena itu dimenangkannya, dan keadaan Singasari tidak seperti sekarang ini, maka Tumapel masih akan tetap merupakan daerah kecil dibawah kekuasaan Sri Baginda Kertajaya di Kediri.”

Kawannya berbicara masih mengangguk-anggukkan kepalanya.

 “Aku adalah bawahan Witantra,” katanya pula, “dan aku tidak menyangka bahwa di Tumapel ada orang yang mampu mengalahkannya diarena. Karena itu, secara tidak langsung, kakanda Permaisuri yang bernama Mahisa Agni itu telah meratakan jalan bagi Sri Rajasa untuk naik takhta.”

 “Dan sekarang kakanda Tuan Puteri itu-pun telah mendapatkan tempat yang baik. Ia merupakan sayap kanan yang telah memacu Singasari ketingkatnya yang sekarang.”

 “Berita yang mendahului para prajurit itu mengatakan, bahwa Mahisa Agnilah yang berhasil membunuh Menteri yang paling setia kepada Kediri, Gubar Baleman.”

Keduanya mengangguk-anggukkan kepalanya. Mereka terpaksa berhenti berbicara karena sorak sorai yang seakan-akan hendak meruntuhkan langit.

Kini Sri Rajasa berdiri diatas panggungan yang sudah disediakan. Meski-pun Sri Rajasa tidak mengucapkan separah katapun, namun senyumnya telah menumbuhkan getaran di setiap dada rakyat Singasari yang menyaksikannya.

Sejenak kemudian Sri Rajasa turun dari panggungan dan langsung menuju ke paseban.

Ditangga peseban itulah Sri Rajasa telah disambut dengan resmi oleh para pemimpin tertinggi Singasari. Sri Rajasa dengan resmi pula menyerahkan sebatang tombak yang kemudian oleh seorang Senapati yang menyambutnya, telah dimasukkannya kedalam wrangkanya, sebagai perlambang bahwa perang telah selesai.

Setelah upacara resmi berlangsung sejenak, maka Sri Rajasa-pun langsung menuju kebangsal dalam istana Singasari. dimana akan dilakukan sambutan khusus oleh keluarga istana. Namun para Senapati dan Panglima yang ikut didalam penerangan, tidak semua mengikutinya. Mereka tinggal di-paseban bersama para Senapati yang menyambut mereka. bahwa mereka yang termasuk dalam lingkungan terdekat sajalah yang ikut dengan Sri Rajasa masuk ke ruang dalam.

Dada Sri Rajasa menjadi berdebar-debar ketika di muka pintu bangsal dilihatnya Putera Mahkota. Anusapati, dalam pakaian kebesarannya siap menyambut kedatangan ayahanda Sri Raasa yang baru datang dari peperangan membawa kemenangan.

Dengan susah payah Sri Rajasa telah berusaha menguasai perasaannya. Mau tidak mau, sekilas terbayang wajah Akuwu Tunggul Ametung di wajah Putera Mahkota itu. Bahkan didalam hatinya yang paling dalam terbersit penyesalan, “Aku telah melakukan perang yang dahsyat. Aku telah berhasil menguasai Kediri, dan setiap orang mengelu-elukan aku sebagai seorang pahlawan. Tetapi ketika aku pulang membawa keemenangan, maka kemenangan itu harus aku serahkan kepada seorang yang bukan tetesan darahku sendiri.”

Agaknya sentuhan perasaannya itu telah mempengaruhinya betapa ia berusaha, sehingga langkahnya-pun menjadi tertegun-tegun.

Namun adalah diluar tata upacara penyambutan, ketika tiba-tiba seorang anak laki-laki berlari mendahului Putera Mahkota menyambut kedatangan Sri Rajasa.

Sebenarnya anak laki-laki itu tidak akan terlampau banyak mempengaruhi jalannya upacara. Tidak banyak orang yang memperhatikannya. Memang satu dua orang terkejut melihat anak itu berlari-lari. Namun kemudian mereka hanya mengangguk-anggukkan kepala mereka, karena anak laki-laki itu adalah Putera Sri Rajasa sendiri yang bernama Tohjaya.

Betapa Sri Rajasa adalah seorang Raja yang bijaksana dimedan peperangan, melampaui dugaan setiap orang, namun didalam keadaan yang tiba-tiba, ia adalah seorang manusia yang dipengaruhi oleh perasaannya. Perasaan sebagai seorang manusia biasa, sebagai seorang ayah dan sebagai seorang suami.

Kini Sri Rajasa dihadapkan kepada dua orang anak laki-laki. Yang seorang adalah Putera Mahkota yang secara resmi menyambutnya, sedang yang lain adalah seorang anak laki-laki, anaknya sendiri. Meski-pun setiap orang menyebutnya bahwa keduanya adalah anaknya, namun Sri Rajasa sendiri mengetahui, bahwa Putera Mahkota yang bernama Anusapati itu adalah anak Akuwu Tunggul Ametung yang telah dibunuhnya.

Karena iti, didalam keadaan yang tiba-tiba, tanpa kesempatan untuk mempergunakan nalar. Sri Rajasa telah berbuat seperti sewajarnya manusia. Yang pertama-tama menyentuh perasaannya, adalah anak lakinya sendiri. Tohjaya, bukan Anusapati.

Itulah sebabnya maka yang pertama-tama diraihnya, adalah Tohjaya. Diguncang-guncangnya tubuh anak laki-laki yang sehat kekar itu. Sambil menepuk bahunya berulang-ulang, Sri Rajasa mencium pipi anak laki-laki itu sambil berbisik, “Kau sehat-sehat saja bukan Tohjaya?”

 “Hamba ayahanda Baginda. Hamba sehat-sehat saja.“ jawab anak itu dengan wajah berseri-seri.

Sri Baginda tertawa. Ditepuknya kepala anak itu. Kemudian katanya, “Bagus. Dimana ibumu?“

 “Didalam. Ibu berada didalam bangsal, tetapi duduk dibelakang ibu Permaisuri. Kenapa ibu tidak boleh duduk berjajar dengan ibu Permaisuri?”

 “Hus,“ Sri Rajasa berdesis. Tetapi ia tertawa sambil bergumam, “Inilah namanya mulut anak-anak. Duduklah ditempatmu.”

Tohjaya memandang wajah ayahnya dengan kecewa. Namun kemudian didorongnya anak itu sekali lagi sambil berkata, “Kembalilah ketempatmu.”

Tohjaya-pun kemudian berjalan kembali ketempatnya. Ketika ia lewat disamping Anusapati ia masih sempat mencibirkan bibirnya.

Anusapati sama sekati tidak menanggapinya. Tetapi agaknya ia lebih terikat pada keharusan menyesuaikan diri dengan tata upacara, sehingga ia tidak dapat berbuat sebebas adik tirinya, Tohjaya. Apalagi sifat pribadi Anusapati memang sangat berlainan dengan sifat Tohjaya yang lebih terbuka, bebas dan merasa dirinya dapat berbuat apa-pun tanpa dimarahi oleh ayahanda Sri Rajasa. Serta dengan penuh kesadaran ia mengerti, bahwa ia adalah putera tersayang orang yang paling berkuasa di Singasari, dan yang kini bahkan menguasai seluruh daerah Kediri.

Peristiwa yang tampaknya kecil itu memang tidak mempengaruhi keseluruhan upacara. Para Senapati dan pemimpin Singasari yang mengikuti Sri Rajasa hanya tertegun sejenak.

Namun msreka-pun segera tersenyum pula. Apalagi mereka yang mempunyai anak laki-laki sebesar Tohjaya. Mereka-pun telah terbayang wajah anak-anak mereka, seolah-olah mereka-pun ingin segera memeluknya pula. Tetapi mereka masih harus menyelesaikan upacara itu, barulah mereka boleh pulang ke rumah masing-masing.

Tetapi peristiwa yang sekejap itu benar-benar telah membekas didada beberapa orang.Sri Rajasa sendiri kemudian segera melupakannya. Ia-pun segera melangkah maju. Sambil tersenyum pula betapa hambarnya ia mengangguk-angguk ketika Putera Mahkota secara resmi berlutut dihadapannya dan membungkukkan kepalanya dalam-dalam sambil menyembah.

Dengan ujung jari-jarinya Sri Rajasa menyentuh punggung anak itu sambil berkata, “Terima kasih anakku.Bangkitlah.”

Anusapati-pun kemudian bangkit dan berdiri sambil menundukkan kepalanya.

Dengan ujung jarinya pula Sri Rajasa mengangkat dagu Anusapati sambil berkata, “Kau tampak pantas sekali dengan pakaian kebesaranmu Anusapati.”

Anusapati menjawab tersipu-sipu, “terima kasih ayahanda.”

 “Bagus. Kau memang pantas menjadi seorang Putera Mahkota. Nah, duduklah.“

Anusapati-pun kemudian dibawa oleh seorang Senapati kembali ketempatnya, disisi sebelah kanan Singgasana Sri Rajasa.

Hal itu-pun seolah-olah tidak menumbuhkan sesuatu masalah didalam upacara itu.Sri Rajasa sudah memenuhi adat sebagai seorang Raja yang menerima sambutan seorang Putera Mahkota.

Namun didalam kesempatan itu, hati Ken Dedes, Permaisuri Singasari benar-benar telah tertusuk. Bukan saja karena Tohjaya seakan-akan merebut kesempatan pertama menerima salam Sri Rajasa setelah membawa kemenangan dari medan perang, tetapi sikap Sri Baginda sendiri telah benar-benar melukai hati Permaisuri.

Sebagai seorang Permaisuri ia sudah mendapat tempatnya tersendiri. Duduk disebelah kiri Sri Rajasa. Sedang Ken Umang, sebagai isteri kedua Sri Baginda, duduk di belakangnya. Tetapi ternyata, hati Ken Dedes sebagai seorang Isteri benare telah pecah.

Ketika Sri Rajasa menerima sambutan Tohjaya. maka Sri Rajasa telah bertanya kepada anak itu, “Dimana ibumu?“Tetapi kepada Anusapati Sri Rajasa sama sekali tidak bertanya tentang ibunya. Mungkin karena tempat Permaisuri yang sudah pasti itulah yang menyebabkan Sri Rajasa tidak bertanya. Namun sebagai seorang perempuan, sebagai seorang isteri, Ken Dedes benar-benar telah tersinggung karenanya.

Ternyata bukan saja Ken Dedes yang telah diguncang hatinya didalam peristiwa itu. Mahisa Agni, yang berdiri dibelakang Sri Rajasa-pun terpaksa meraba dadanya. Hatinya benar-benar bergejolak, ketika ia melihat perbedaan sikap disaat-saat Sri Baginda menerima sambutan kedua anak laki-itu.

Dimedan perang Mahisa Agni benar-benar telah mengagumi Sri Rajasa. Sri Rajasa sebagai seorang prajurit yang berani, tangguh dan yang akhirnya dapat menyelesaikan tugasnya dengan baik, bahkan berhasil mengalahkan dua Senapati besar dari Kediri, kakak beradik Mahisa Walungan dan Sri Baginda Kertajaya sendiri. Kemudian Mahisa Agni-pun mengagumi sikap Sri Rajasa sebagai seorang yang berjiwa besar, yang pantas untuk memegang tampuk pimpinan suatu Kerajaan yang besar seperti Kediri yang kemudian dipindahkan ke Singasari tanpa memadamkan sama sekali kekuasaan yang ada di Kediri.

Namun tiba-tiba kini ia melihat Sri Rajasa sebagai seorang manusia, sebagai seorang laki-laki yang tidak dapat berdiri adil diantara kedua isterinya dan sebagai seorang ayah yang tidak adil terhadap anak-anaknya, meski-pun Mahisa Agni-pun tahu, bahwa Anusapati itu bukan anak Ken Arok, bahkan Mahisa Agni tahu dan meyakini, bahwa Ken Arok itulah yang telah membunuh ayah Anusapati.

Dengan demikian maka Mahisa Agni menjadi bingung, bagaimana ia harus bersikap dan memandang terhadap Sri Rajasa. Sri Rajasa adalah ujud gabungan dari keperwiraan yang paling jantan, keberanian dan kebijaksanaan tetapi juga ujud yang utuh dari keja