Renjana Pendekar

Renjana Pendekar

Karya : Khu Lung

Saduran : Gan K.L

Jilid 1

Di suatu halaman rumah yang luas dan rindang, di bawah pohon sana seorang kakek

berjubah hijau tampak berdiri tenang dan santai, sambil berdekap tangan sedang menyaksikan

seorang pemuda di depannya lagi menulis. Pemuda itu duduk bersila di depan sebuah meja

pendek, pit (Pensil bulu) yang digunakan menulis itu sebesar lengan bayi, panjangnya kurang

lebih setengah meter. Sebesar itu alat tulisnya, tapi yang ditulis justeru huruf kecil yang

disebut gaya “Siau Kay”. Saat itu dia baru habis menulis seluruh isi kitab Lam-hoa-keng.

Sampai huruf terakhir, sampai goresan pensil penghabisan, dia tetap menulis dengan tekun

dan sungguh-sungguh, gerak pensilnya juga tidak kacau sedikitpun.

Di tengah kerimbunan pohon terdengar suara tonggeret yang bising memecahkan kesunyian.

Perlahan-lahan anak muda itu menaruh pensilnya, mendadak ia menengadah, katanya dengan

tertawa terhadap orang tua tadi: “Pertemuan Hong-ti tidak dikesampingkan oleh setiap

Enghiong (Pahlawan, Ksatria) di dunia ini, masa ayah benar-benar tidak mau hadir ?”

“Setelah Lam-hoa-keng selesai kau tulis barulah kau bertanya, dalam hal kesabaran jelas kau

sudah ada kemajuan”, ucap si kakek dengan tersenyum. “Tapi pertanyaanmu ini mestinya

tidak perlu kau ajukan, masa kau masih memandang penting sebutan “Enghiong” segala ?”

Pemuda itu mendongak, memandang sekejap pucuk pohon, lalu menunduk pula mengiakan

petuah sang ayah. Rupanya bukan tanpa sebab pemuda itu mendongak dan memandang pucuk

pohon. Terdengar suara kresekan daun pohon yang pelahan, mendadak sesosok bayangan

manusia melayang turun seringan burung hinggap di tanah.

Kiranya pendatang ini adalah seorang pendek kecil cekatan berbaju hitam, di balik

pakaiannya yang hitam ketat ringkas itu tampak otot daging yang kekar, sekujur badan penuh

Renjana Pendekar > Karya Khulung > Diceritakan oleh : GAN KL > buyankaba.com 2

sikap kewaspadaan, seolah-olah anak panah yang sudah siap pasang pada busurnya, sekali

tersentuh segera akan menjepret.

Namun kedua orang tua dan muda tadi tetap tenang-tenang saja, dengan tak acuh mereka

menandang sekejap tamu tak diundang ini, juga tanpa bicara dan tidak menegur, seakan-akan

si baju hitam memang sejak tadi sudah berdiri di situ.

Mendadak si baju hitam bergelak tertawa, serunya; “Sungguh hebat Gak-san-lojin Ji Hong-ho,

ternyata benar tetap tenang biarpun gunung Thaysan gugur di depannya, tak tersangka

Kongcu juga setenang ini, baru sekarang aku Hek-kap-cu (si merpati hitam) menyaksikan

kehebatannya” Sambil berbicara iapun memberi hormat, sikapnya tampak sangat kagum dan

sangat hormat.

“O. kiranya Hek-tayhiap dari ketujuh tokoh ahli Ginkang,” ucap si kakek, Ji Hong ho, dengan

tertawa.

“Mestinya Cianpwe tahu, diantara Bu lim jit kim (tujuh unggas dunia persilatan), aku si Hekkap

ca inilah yang paling tidak becus.” demikian kata si merpati hitam. “Aku tidak berani

menjadi bandit, juga tidak sanggup menjadi tukang kawal. Terpaksa kucari sesuap nasi

dengan kemampuan dan sifatku yang bisa menjaga rahasia untuk mengantarkan surat kepada

cianpwe.

Ji Hong-ho dengan gembira berkata: “Saudara Hek tidak mencari nafkah dengan cara yang

tidak jujur dan ini benar-benar kuhormati. Tapi aku menduga-duga, sahabat lama manakah

yang meminta saudara Hek untuk mengantarkan surat?”

Hek Kap-cu menjawab: “Kalau orang itu tidak mau mengungkapkan jati dirinya, aku

berkewajiban untuk menjaga kerahasiaan jati dirinya. Itu adalah kode etik pekerjaanku, aku

juga tahu bahwa cianpwe bisa memaksaku untuk mengungkapkan jati dirinya. Tapi aku juga

tahu bahwa surat ini mengandung suatu rahasia penting dari cianpwe”. Sesudah mengucapkan

kata-kata tersebut, dia mengeluarkan sebuah surat dan memberikannya kepada Ji Hong-ho.

Ji Hong-ho ragu-ragu sejenak dan kemudian ia menyerahkan surat itu kembali kepada Hek

Kap-cu dan berkata: “Tolong, bisakah kau membuka dan membaca surat ini keras-keras

untukku?”

Hek Kap-cu berkata: “Tapi, isi surat ini mengandung rahasia cianpwe….”

Ji Hong-ho tersenyum: “Oleh karena itu, aku ingin anda membacakannya untukku karena aku

sama sekali tidak mempunyai rahasia. Aku tidak takut siapapun mengetahui isi surat ini”.

Hek Kap-cu sangat terkesan dan sambil tersenyum: “Tidak ada rahasia sama sekali! Hanya

Cianpwe yang bisa mengucapkan kata-kata ini” Hek Kap-cu membuka sampul surat itu dan

menemukan lembaran lembaran suratnya. Lembaran-lembaran surat itu saling lengket satu

sama lain dan Hek kap-cu membasahi jari-jarinya dengan ludah dan memisahkan lembaranlembaran

suratnya. Dia mulai membaca surat itu keras-keras: “Yang terhormat saudara….”.

Tiba-tiba Hek Kap-cu jatuh dan kejang-kejang. Ji Hong-ho sangat terkejut dan segera

bergegas menolongnya. Sesudah memeriksa denyut nadinya, ia segera tahu bahwa Hek Kapcu

tidak akan bertahan lebih lama lagi, dengan suara keras ia bertanya: “Sesungguhnya siapa

yang menyuruh kau menyampaikan surat ini kesini ? Siapa? Lekas katakan!”

Renjana Pendekar > Karya Khulung > Diceritakan oleh : GAN KL > buyankaba.com 3

Mulut Hek-kap-ca terpentang, tapi tak dapat mengucapkan sepatah katapun, air mukanya dari

hijau berubah pucat, dari pucat berubah merah, dari merah lantas berubah menjadi hitam,

hanya sekejap saja air mukanya sudah berubah beberapa warna. Kulit daging mukanya juga

mendadak lenyap secara ajaib, seraut muka yang sesaat sebelumnya masih segar dan sehat,

kini mendadak berubah menjadi sebuah tengkorak yang hitam.

“Racun! Lihay amat racun ini !” seru pemuda tadi dengan melenggong.

Perlahan Ji Hong-ho berdiri, ucapnya sambil menghela napas sedih: “Sebenarnya akulah yang

hendak dicelakai dengan surat berbisa ini, tak tersangka dia yang menjadi korban. Meski

bukan aku yang membunuh dia, tapi jelas dia mati lantaran diriku … “

Dilihatnya kulit daging sekujur badan Hek-kap- cu juga muali menyusut dan hilang dalam

waktu singkat, dari bagian bajunya menggelinding keluar beberapa potong biji emas.

Mungkin inilah imbalan bagi jasanya menyampaikan surat ini, tapi juga imbalan bagi

jiwanya.

Melihat beberapa potong emas itu, mendadak Ji Hong-ho malah menjemput kembali surat

tadi. Si pemuda terkesiap, serunya cepat: “He, akan diapakan, ayah?!”

Ji Hong-ho tampak sudah tenang kembali, katanya dengan perlahan: “Orang ini mati lantaran

diriku, betapapun harus kubalas budinya. Apalagi, begini keji cara orang yang hendak

membunuh diriku ini, kalau cara yang satu gagal, tentu dia nasih ada tipu-daya yang kedua.

Jika hal ini sampai terjadi maka hidupku tentu akan menyesal dan merasa berdosa, kan lebih

baik akupun mati agar hatiku bisa tenteram”

“Tapi … tapi, ayah tidak ingin mencari tahu sesungguhnya siapa yang hendak mencelakai

engkau?. Selama hidup ayah tiada bermusuhan dengan siapapun, sungguh aneh, siapakah

gerangan …”

Belum habis ucapan pemuda tadi, se konyong konyong terdengar suara “Blang” yang keras,

beberapa potong emas tadi mendadak meledak, semua benda seperti pot air, kertas tulis,

tatakan tinta dan sebagainya yang berada diatas meja pendek tadi sama tergetar dan jatuh ke

tanah.

Ji Hong-ho sendiri tetap berdiri ditempatnya tanpa bergerak, padahal sebenarnya dia sudah

melompat mundur beberapa meter jauhnya untuk kemudian lantas melayang balik ke tempat

semula. Sorot matanya yang semula tenang-tenang itu kini mengandung rasa marah, ucapnya

sambul mengepal tangannya: “Keji benar orang ini, ternyata di dalam lantakan emas juga

diberi obat peledak, bahkan sudah diperhitungkan saat meledaknya setelah Keh-kap-cu

menyerahkan surat padaku, jelas bukan cuma aku saja yang ingin dibunuhnya, malahan orang

yang menyampaikan surat inipun akan dibinasakan agar tutup mulut untuk selamanya.”

Air muka pemuda tadi juga berubah, katanya dengan gemas: “Orang macam apakah yang

berhati keji dan juga perencana yang rapi ini?. Jika orang ini tidak ditumpas, bukankah dunia

persilatan akan … “

“Sebenarnya hal inipun tak dapat menyalahkan dia.” Ji Hong-ho memotong ucapan pemuda

itu dengan tersenyum pedih. “Jika secermat ini dia berusaha membunuh diriku, mungkin

karena pernah ku berbuat sesuatu kesalahan, makanya dia sedemikian benci padaku.”

Renjana Pendekar > Karya Khulung > Diceritakan oleh : GAN KL > buyankaba.com 4

Air mata si pemuda tampak berlinang-linang di kelopak matanya, katanya dengan suara agak

gemetar: “Tapi engkau orang tua masakah pernah berbuat kesalahan? Engkau sedemikian

baik terhadap siapapun juga, tapi toh ada orang yang berusaha membunuhmu, dimanakah

letak keadilan dunia Kangouw ini ?!”

“Pwe-giok.” ucap Ji Hong-ho dengan tenang “Jangan terburu napsu, jangan kau bilang dunia

Kangouw sudah tiada keadilan lagi. Hidup seseorang betapapun sukar terhindar dari berbuat

salah, akupun tidak terkecuali. Hanya saja … hanya saja seketika aku tidak ingat kesalahan

apa yang pernah kulakukan. “

Pada saat itulah mendadak dikejauhan sana ada suara orang membentak: “Di mana Ji Hongho?…

Di mana ji Hong-ho?… “

Susul menusul suara bentakan itu dan makin lama makin mendekat, ditangah suara bentakan

itu terseling pula suara jeritan kaget dan takut serta caci maki, lalu ada suara pintu didobrak

dan jatuhnya benda berat, suara itu terus berkumandang, jelas para centeng keluarga Ji tidak

mampu merintangi masuknya penyatron.

“Orang macam apakah berani menerjang kemari?” kata si pemuda yang bernama Ji Pwe-giok

itu dengan rada terkesiap.

Tapi Ji Hong-ho tetap tenang-tenang saja, ucapnya dengan perlahan: “Sebenarnya mereka

tidak perlu merintangi pengunjung, apalagi tamunya sudah masuk rumah, buat apa kau repot

keluar menyambutnya… ” mendadak ia berpaling kesana dan dengan tertawa: “Silakan kalian

masuk saja.”

Benar juga, melalui pintu bundar taman sana lantas menerobos masuk lima orang lelaki kekar

berbaju sulam yang mentereng, semuanya tampak garang dengan wajah napsu membunuh,

tapi demi nampak ji hong-ho dan puteranya menyambut kedatangan mereka dengan tenangtanang

saja, mereka jadi melengak sendiri.

Lelaki kekar pertama yang berewok dan bergolok tebal bergalang sembilan lantas membentak

dengan bengas; “Ji-Hong-ho, keparat kau, akhirnya kutemukan juga kau!” Sambil meraung ia

ayun goloknya yang bergelang hingga berbunyi gemerincing itu, dengan kalap Ji Hong-ho

dibacoknya. Daun pepohonan sama tergetar bertebaran oleh guncangan angin bacokan golok

yang keras itu, tapi Ji Hong-ho tetap berdiri tenang tanpa bergerak seakan-akan sengaja

menantikan bacokan golok lawan. Tanpa mengangkat kepala, mendadak pemuda Ji Pwe-giok

menjentikkan jarinya pelahan, terdengar suara “crit” sekali, menyusul lantas berbunyi “Trang”

golok tebal si berewok sudah terjatuh ke tanah. Setengah badan lelaki berewok itu merasa

kaku kesemutan, telingapun mendengung karena suara gataran tadi, mukanya menjadi pucat,

ia pandang anak muda tadi dengan melenggong, tidak berani maju dan tidak berani mundur.

Perlahan lahan Ji Pwe giok mendekati orang itu, tapi mendadak Ji Hong-ho membentak

tertahan: “Jangan melukai orang, Pwe-giok!”

Karena itu, Ji Pwe-giok lantas berhenti dan tidak melangkah maju pula. Si berewok lantas

bergelak tertawa, teriaknya: “Betul, Ji Hong-ho suka menganggap dirinya seorang arif

bijaksana, selamanya tidak mau melukai orang. Tapi biarpun kau tidak mau melukai aku, aku

justeru ingin membinasakan kau. Bilamana kau berani mengganggu seujung rambutku, itu

berarti kau adalah manusia munafik yang sok jual nama kosong !”

Renjana Pendekar > Karya Khulung > Diceritakan oleh : GAN KL > buyankaba.com 5

Dia ternyata memutar balikkan persoalan dan menjadikan alasan tidak masuk diakal itu untuk

menyudutkan Ji Hong-ho, sungguh manusia yang tidak tahu malu dan berhati keji.

Namun Ji Hong-ho tetap tenang saja dan menghadapinya dengan tak acuh, ia malah

tersenyum dan berkata: “Jika demikian, jadi apapun juga kalian pasti akan mencabut

nyawaku?!”

“Ucapanmu memang tepat!” teriak si berewok sambil menyeringai. Mendadak ia jatuhkan diri

ke tanah dan terus menggelinding maju, tahu-tahu goloknya yang jatuh tadi sudah direbutnya

kembali, dengan golok terhunus ia lantas membentak: “Hayo saudaraku, tunggu kapan lagi!”

Di tengah bentakannya, serentak lima macam senjata, yaitu golok bergelang sembilan, pedang

pencabut nyawa, gaetan berkepala harimau, Boan-koan-pit dan tumbak berantai, terus

menyerang.

Pada saat itu juga mendadak terdengar seorang tertawa panjang dan berseru: “Haha, melulu

kalian inipun berani menyerang Ji-locianpwe !?”

Menyusul suara itu sesosok bayangan orang melayang turun dari puncak pohon dan

menerjang ke tengah hujan senjata tadi. Terdengar suara gemerantang, golok bergelang tadi

yang pertama tama mencelat dan menancap di batang pohon sana. Habis itu “krek”, pedang

juga patah menjadi dua. Lalu Boan-koan-pit mabur ke udara, gaetan berbalik merobek perut

kawan sendiri yang berpedang tadi, sedangkan rantai tombak membelit leher orang yang main

gaetan, seketika orang itu roboh terguling.

Orang ini muncul mendadak, gerak tubuhnya juga sangat cepat, jurus serangannya bahkan

secepat kilat dan sukar ditahan. Keruan Ji Hong-ho dan Ji Pwe-giok melengak.

Baru sekarang mereka dapat melihat jelas pendatang ini adalah seorang pemuda cakap

bertubuh jangkung dan berbaju sutera ungu tipis, sinar matanya mencorong tajam, gagah

berwibawa, cuma mukanya pucat lesi, dingin kaku tanpa sesuatu tanda perasaan apapun

sehingga kelihatannya rada menyeramkan.

Dia terus menyembah kepada Ji Hong-ho, katanya dengan sangat hormat: “Di tengah

perjalanan hamba sudah mendengar berita maksud kelima orang ini akan membikin celaka

Cianpwe, maka kukuntit kemari. Setelah menyaksikan Cianpwe memperlakukan mereka

sedemikian baik, tapi mereka malah tidak tahu diri, terdorong oleh rasa penasaran sehingga

cara turun tangan hamba terlalu keras dan membinasakan mereka di kediaman Cianpwe,

untuk ini kumohon Cianpwe sudi memberi ampun.”

Dia telah berjasa membantu Ji Hong-ho, tapi dia malah minta maaf dan mohon ampun.

Ji Hong-ho menghela napas dan berkata: “Apa yang anda lakukan ini adalah karena membela

diriku, permintaan ampun ini harap jangan disebut lagi. Tentang kelima orang ini … Ai, aku

sendiri tidak tahu bilakah pernah bermusuhan dengan mereka sehingga sekarang jiwa mereka

harus melayang.”

Setelah terdiam sejenak, ia tertawa sambil membangunkan pemuda baju ungu, katanya:

“Anda masih muda dan cakap, alangkah gembira ku bila anda ini putera seorang sahabatku.”

Renjana Pendekar > Karya Khulung > Diceritakan oleh : GAN KL > buyankaba.com 6

Pemuda itu tetap tidak mau bangun, ia masih mendekam di atas tanah dan berkata: “Meski

Cianpwe tidak kenal hamba, tapi jiwa hamba sesungguhnya adalah hadiah Cianpwe. Terlalu

banyak kebajikan yang di sebar oleh Cianpwe, tentu Cianpwe sudah melupakan anak kecil

yang pernah mendapat perlindungan dahulu.”

Ji Hong-ho menggandeng tangan pemuda itu dan tarik bangun, katanya dengan tertawa: “Tapi

anak itu sekarang sudah dewasa, bahkan telah menyelamatkan jiwaku, tampaknya Thian

memang maha adil… ” sampai di sini, sekonyong-konyong ia menggentak tangannya sehingga

pemuda itu terlempar jauh kesana.

Ji Hong-ho sendiripun sempoyongan, katanya dengan suara gemetar: “Kau… kau siapa

sesungguhnya?”

Pemuda baju ungu sempat berjumpalitan di udara, lalu turun ke bawah dengan ringan,

mendadak ia menengadah dan terbahak bahak, katanya: “Ji-loji, telapak tanganmu sudah

terkena To-hon-bu-ceng-ciam (Jarum pencabut nyawa tanpa kenal ampun), biarpun malaikat

dewata juga tidak sanggup menyelamatkan kau, jangan harap lagi kau akan mengetahui siapa

diriku ini …”

Dalam pada itu Ji Pwe-giok telah melompat ke samping ayahnya, dilihatnya kedua tangan

sang ayah sudah membengkak satu kali lebih besar hanya dalam sekejap itu warnanya hitam

pekat, panas seperti dibakar. Waktu ia pandang wajah orang tua ini, tubuhnya yang gemetar

sudah tidak kuat berdiri lagi, mulutnya terkancing rapat dan tidak mampu bicara.

Sedih dan gusar tidak kepalang hati Ji Pwe-giok, teriaknya dengan suara parau: “Sebenarnya

ada permusuhan apa antara kau dengan kami ? Mengapa kau turun tangan sekeji ini ?”

“Permusuhan? Haha, selamanya aku tidak ada permusuhan apapun dengan orang she Ji,”

jawab pemuda baju ungu dengan tertawa. “Tujuanku tiada lain hanya ingin mencabut nyawa

kalian saja.”

Sambil bicara dan tertawa, air mukanya tetap dingin dan kaku tanpa emosi apapun.

Ji Pwe giok memandang jenazah sang ayah yang menggeletak di tanah itu, ucapnya pula

dengan menggertak gigi: “Jadi kau yang mengatur semua rencana keji ini ?”

“Betul.” jawab pemuda baju ungu, Demi mencabut nyawa kalian ayah dan anak, yang

mengiringi kematian kalian sudah lebih daripada enam orang ini …”

Mendadak ia bersiul, serentak dari luar pagar tembok melompat masuk likuran lelaki berbaju

hitam, semuanya bersenjata pedang atau golok, setiap orang tampak gesit dan tangkas,

tampaknya likuran orang ini adalah jago silat pilihan, semuanya memakai kedok muka dengan

sepotong kain sutera ungu, nyata mereka sengaja menyembunyikan muka aslinya.

“Orang she Ji.” demikian si pemuda baju ungu tadi berseru pula dengan tertawa, “Kukira lebih

baik kau menyerah dan terima nasib saja. Yang kami takutkan adalah Kim-i-bun-ciang

(Pukulan lunak sutera emas) andalan Ji-loji yang tiada tandingannya di dunia ini, sekarang Jiloji

sudah mampus, lalu apa yang dapat kau lakukan?”

Renjana Pendekar > Karya Khulung > Diceritakan oleh : GAN KL > buyankaba.com 7

Sekilas pandang saja Ji Pwe-giok sudah mengetahui kawanan penyatron ini adalah jago-jago

kelas satu seluruhnya, hatinya tidak kepalang sedihnya, juga gusar tak terkatakan, dengan

sendirinya juga sangat terkejut.

Bilamana orang lain, mungkin sudah panik dan bingung, jika tidak patah semangat dan

ketakutan tentu menjadi nekat dan mengadu jiwa dengan musuh. Tapi Ji Pwe-giok memang

pemuda yang lain daripada yang lain, mendadak ia membalik badan bagian bajunya

diringkaskan pada pinggang lalu panggul tubuh sang ayah, menyusul pensil besar bergagang

besi yang dibuatnya menulis tadi diraihnya.

Dalam pada itu kawanan lelaki berbaju hitam tadi sudah mendesak maju. melihat pemuda she

Ji ini masih tetap berdiri di situ dengan tenang dan mantap, mau tak mau mereka jadi

melengak. Habis itu baru mereka mengangkat senjata dan menerjang maju.

Cahaya senjata bertaburan, berpuluh golok dan pedang menyerang serentak, ada yang

membacok, ada yang menusuk, ada yang menebas, semuanya ditujukan satu sasaran,

semuanya teratur sedikitpun tiada terdengar benturan senjata di antara teman sendiri.

Akan tetapi mendadak angin puyuh berjangkit, Jian-kin-thi-pit atau pencil besi seribu kati

senjata khas Ji pwe-giok, menyapu dengan keras, terdengar suara gemerantang nyaring, golok

dan pedang musuh sama bengkok dan patah, ada pula yang terlepas dari tangan.

Belasan orang tergetar mundur dengan bahu pegal dan tangan linu sehingga sukar diangkat

untuk seketika. Sungguh mimpipun mereka tidak menyangka pemuda yang kelihatannya

lemah lembut dan bermuka putih cakap ini ternyata memiliki tenaga sakti sebesar ini.

Namun orang-orang inipun bukan jago kelas kambing, meski terkejut mereka tidak menjadi

gentar, setelah belasan orang tergetar mundur segera belasan orang menerjang maju pula.

Cepat Jian-kian-pit Ji Pwe-giok berputar lagi.

Sekali ini tiada seorangpun yang berani keras lawan keras, mereka terus berputar dan mencari

peluang untuk menyerang. Seketika terdengar angin menderu-deru sehingga daun pohon sama

rontok berhamburan.

Likuran orang itu ternyata dapat bekerja sama dengan rapat, sebagian dari kanan dan sebagian

lagi dari kiri, sebagian mundur, bagian lain lantas ganti maju. Namun sebegitu jauh tiada

seorangpun yang mampu menembus lingkaran pertahanan Ji Pwe-giok.

Cuma, meski jian-kian-thi-pit andalannya ini sangat lihay, namun bobotnya terlalu berat dan

juga agak panjang, kurang lincah untuk digunakan seperti pedang biasa, tenaga yang harus

dikeluarkan juga lebih banyak. Maka setelah belasan jurus, dahi Ji Pwe-giok yang putih bersih

itu mulai dipenuhi butiran keringat.

“Bagus, beginilah caranya.” seru si pemuda baju ungu tadi dengan tertawa. “Kuras dulu

tenaganya baru nanti bekuk dia. Kalau tikus sudah masuk kaleng, masakan dia mampu

kabur?”

Wajah yang kelihatan kaku dingin tanpa emosi itu jelas lantaran dia memakai topeng, tapi dari

suaranya dapat diduga usianya memang belum tua.

Renjana Pendekar > Karya Khulung > Diceritakan oleh : GAN KL > buyankaba.com 8

Meski Ji Pwe-giok sedang menghadapi kerubutan orang-orang itu, namun pandangannya

tidak pernah lalai memperhatikan pemuda yang keji ini, lebih-lebih Bu-ceng-ciam yang siap

digenggam pemuda itu.

Didengarnya pernapasan ayah yang berada digendongannya itu semakin lemah sehingga

akhirnya hampir tak terdengar lagi, sedangkan musuh tangguh di depan mata semakin

mendesak, bahkan jarum berbisa yang siap di tangannya itu kelihatannya segera akan

ditaburkan.

Hancur hati Pwe giok saking sedihnya, tenaga pun mulai habis, ia menjadi nekat, dia tahu bila

tidak segera berusaha meloloskan diri, mungkin selanjutnya tidak dapat lagi mengetahui asal

usul dan maksud tujuan sesungguhnya pihak musuh, keadaan memaksanya harus segera

keluar.

Karena itulah, mendadak ia meraung murka, Jian-kin-pit menyapu dengan gerakan “Hengsau-

jian-kun” atau menyapu ribuan prajurit, ujung pensil itu terus menjodoh ke dada seorang

lelaki yang berada disamping kanan.

Kejut orang itu tak terhingga, cepat ia menjatuhkan diri dan menggelinding ke sana, saking

kerasnya tikaman pensil Ji Pwe-giok itu hingga ujung pensil langsung menancap di tanah, tapi

dengan tenaga pantulan tikaman itu tubuh Ji Pwe-giok juga lantas melayang lewat di atas

kepala orang banyak, melewati pucuk pohon, laksana seekor burung raksasa ia terus terbang

keluar.

Bahwa Jian-kin-thi-pit itu masih mendatangkan daya guna sebagus itu, tentu saja tiada pernah

terpikirkan oleh orang-orang itu.

“Kejar!” segera si pemuda baju ungu berteriak. Sekali totol kakinya, secepat anak panah

terlepas dari busurnya iapun melayang keluar.

Namun dia agak ketinggalan, apalagi Ginkangnya memang juga selisih jauh dibandingkan Ji

Pwe giok. Lebih-lebih daya pantulan tikaman pensilnya itu. Ginkang Ji Pwe-giok tiada

ubahnya bertambah satu kali lipat.

Ketika pemuda baju ungu melayang keluar pagar tembok taman, di luar hanya tampak

pepohonan Yang-liu melambai pelahan tertiup angin, air sungai mengalir berkilau tertimpa

sang surya.

Seekor anjing kecil berlari ketakutan ke seberang jembatan sana dengan mencawat ekor.

Sebenarnya Ji Pwe-giok belum kabur pergi, dia justru bersembunyi di tengah-tengah semaksemak

rumput di bawah jembatan.

Karena menggendong ayahnya, sisa tenaga Pwe-giok tidak mengijinkan dia berlari lagi,

terpaksa ia menyerempet bahaya dan mengadu kecerdasan, ia gunakan jiwa sendiri untuk

bertaruh dengan pihak musuh.

Didengarnya pemuda baju ungu tadi sedang membentak perlahan: “Kejar, bagi empat jurusan,

lekas!”

Renjana Pendekar > Karya Khulung > Diceritakan oleh : GAN KL > buyankaba.com 9

Terdengar seorang berkata: “Jangan-jangan di bawah jembatan …”

Tapi dengan gusar si pemuda baju ungu memotong: “orang she Ji bukanlah orang bodoh,

masakan dia menunggu kematian di bawah jembatan ?”

Menyusul lantas terdengar suara berkibarnya kain baju, satu persatu orang-orang itu melayang

lewat jembatan. “plung”, anjing kecil tadi melengking terdepak jatuh ke sungai. Mungkin si

pemuda baju ungu tadi menggunakan anjing sialan itu sebagai pelampias marahnya.

Setelah riak air tenang kembali, suasana sekeliling lantas sunyi senyap pula, hati JI Pwe giok

juga merasa lega. Namun begitu ia tetap meringkuk di semak-semak itu dan tidak berani

bergerak.

Dia benar-benar pemuda yang sabar, ia tunggu sampai sekian lama, setelah yakin benar-benar

rombongan orang tadi tidak kembali lagi barulah ia melompat keluar, tapi ia tidak menuju ke

tempat lain, sebaliknya langsung berlari pulang ke rumahnya sendiri.

Kalau orang lain memperhitungkan dia pasti tidak berani pulang ke rumah, maka dia justeru

sengaja balik lagi ke situ.

Halaman rumah tetap sunyi senyap dengan pepohonan yang rimbun, seperti tidak pernah

terjadi apapun. Hanya ke enam sosok mayat itu yang mengingatkan dia pada kejadian sedih

tadi.

Pwe-giok langsung berlari masuk ke ruangan dalam, ia baringkan ayahnya di tempat tidur,

lalu dari almari dikeluarkannya sebotol, seluruhnya ia tuangkan ke mulutnya.

Obat mujarab ini adalah buatan khusus orang tua itu dan entah sudah berapa kali

menyelamatkan jiwa manusia, tapi sekarang ternyata tidak sanggup menyelamatkan jiwanya

sendiri. Baru sekarang Ji pwe-giok mengucurkan air mata.

Sinar sang surya menyorot masuk melalui jendela sana, wajah si orang tua kelihatan sudah

hitam, pada dadanya masih tersisa hembusan napasnya yang terakhir, dengan lamat-lamat ia

membuka matanya dan berkata dengan lemah “Apa… apa salahku?… kesalahan apa yang

kulakukan ?….”

Dengan tubuhnya Pwe-giok menghalangi sinar matahari yang menyilaukan pandangan orang

tua itu, ucapnya dengan air mata meleleh: “Ayah, engkau tidak pernah berbuat salah !”

Orang tua itu seperti mau tersenyum, namun senyumannya sudah sukar lagi menghias

mukanya yang mulai kaku, hanya ujung mulutnya saja berkerut sedikit, lalu katanya pula

dengan lemah, satu kata demi satu kata: “Aku tidak salah. Kau harus meniru aku, jangan lupa

mengalah, sabar, mengalah, sabar …” makin lemah suaranya hingga akhirnya tak terdengar

lagi.

Pwe-giok berlutut lemah di depan pembaringan tanpa bergerak, air mata masih terus

bercucuran, sampai lama dan lama sekali air matanya belum lagi kering.

Sinar matahari sudah tad ada lagi, di dalam kamar mulai gelap gulita.

Renjana Pendekar > Karya Khulung > Diceritakan oleh : GAN KL > buyankaba.com 10

Di tengah kegelapan dan kesunyian itu, sekonyong-konyong terdengar suara langkah orang.

Langkah kaki orang ini sangat pelahan dan berat, setiap langkahnya seakan akan menginjak

remuk hati orang, suara tindakan ini berkumandang dari serambi samping sana dan akhirnya

sampai di depan pintu.

Pelahan-lahan pintu kamar terpentang, didorong orang. Pwe-giok masih tetap berlutut dalam

kegelapan tanpa bergerak.

Sesosok bayangan melangkah masuk ke dalam kamar, setindak demi setindak, seperti badan

halus, begitu lambat jalannya, padahal perawakannya kelihatan langsing kecil, tapi

langkahnya sedemikian beratnya seakan-akan menyeret benda beribu kati.

Akhirnya Pwe-giok berdiri.

Orang itu terkejut dan melompat mundur keluar kamar, lalu tegurnya: “Sia … siapa kau ?”

Seyogyanya yang bertanya adalah Ji Pwe-giok, tapi dia malah bertanya lebih dulu, namun

Pwe-giok hanya memandangnya dengan tenang, samar-samar kelihatan pinggang orang yang

ramping dan rambutnya yang panjang terurai, jelas seorang perempuan.

Di luar dugaan, mendadak perempuan itu berteriak kalap: “Bangsat keparat, keji amat caramu,

berani kau … tetap tinggal di sini?!”. Segera ia mencabut pedangnya, sinar perak gemerdep, ia

menubruk maju sekaligus melancarkan tujuh kali tusukan.

Langkahnya tadi begitu berat, tapi sekarang gerak pedangnya sedemikian enteng dan gesit,

cepat dan ganas pula.

Terpaksa Pwe-giok berkelit kian kemari untuk menghindarkan tujuh kali serangan maut itu,

lalu ucapnya dengan suara tertahan: “Leng-hoa-kiam ?”

Perempuan tadi melengak, ia lantas menjengek: “Keparat, kaupun kenal kebesaran ilmu

pedang keluarga Lim? Kau …”

“Aku Ji Pwe-giok!” kata anak muda itu dengan menghela napas dan menyurut mundur dua

tiga langkah pula.

Kembali perempuan tadi melenggong dan menarik pedangnya, akhirnya pedang jatuh ke

lantai, ucapnya dengan menunduk: “Ji… Ji-toako, apakah … apakah paman…”

Sambil bicara sorot matanya mengikuti pandangan Pwe-giok ke arah tempat tidur, dan bicara

sampai di sini agaknya samar-samar ia dapat melihat siapa yang berbaring di situ, tanpa terasa

tubuhnya bergetar dan menggigil, akhirnya ia menjatuhkan diri ke lantai dan menangis: “O,

aku tidak percaya … Sungguh tidak percaya…”

Pwe-giok tetap memandangnya dengan tenang. Setelah menangis si nona mulai serak barulah

ia berkata mendadak: “Sudahlah, kau sudah cukup menangis, sekarang bicaralah kau.”

Renjana Pendekar > Karya Khulung > Diceritakan oleh : GAN KL > buyankaba.com 11

Tapi Pwe-giok masih tidak bersuara, menyalakan lampu sehingga kelihatan baju putih tanda

berkabung yang dipakai si nona. Baru sekarang hati Pwe-giok tergetar, serunya: “Paman

Lim… apakah paman Lim… “

“Ya, enam hari yang lalu ayahku telah dicelakai orang!” kata si nona dengan suara parau.

“Siap… siapa yang melakukannya sekeji itu ?” tanya Pwe-giok dengan muka pucat.

“En… entah, aku… aku tidak tahu…”

Mendadak si nona menoleh, di bawah cahaya lampu kelihatan wajahnya yang cantik dan juga

agak kurus dan lesu, matanya merah bendul karena terlalu banyak menangis, meski penuh

rasa sedih, tapi masih tetap terbelalak memandang Pwe-giok, sorot matanya menampilkan

keteguhan hatinya.

“Apakah kau heran?” tanyanya sambil melototi Pwe-giok. “Ayahku terbunuh, tapi aku tidak

tahu siapa pembunuhnya. Waktu itu aku sedang keluar, sepulangku di rumah, jenazah

ayahpun sudah dingin. Di rumahku sekarang tiada lagi terdapat seorang hidup”

Sungguh tak terbayangkan oleh Pwe-giok bahwa anak perempuan yang kelihatan lemah

lembut ini setelah mengalami peristiwa menyedihkan itu masih sanggup melakukan

perjalanan sejauh ini ke rumahnya sini dan sekarang masih dapat bicara dengan jelas.

Nyata di dalam tubuh yang lemah itu terdapat sebuah hati yang teguh dan lebih keras daripada

baja. Mau tak mau Pwe-giok menghela napas dan menunduk, ia tak tahu apa yang harus

diucapkannya.

Si nona lantas menyambung pula: “Apakah kau heran bahwa aku dapat menyatakan aku

sudah cukup menangis?. Sebab aku memang sudah kenyang menangis, aku tidak ingin

menangis lagi, sedikitnya sudah lima kali aku menangis sepanjang perjalanan”

“Lima kali ?” Pwe-giok menegas.

“Ya, lima kali.” kata si nona, “Kecuali ayahmu dan ayahku, ada pula paman Ong dari Thayoh,

paman Sim dari Ih-hin-sia, paman Sebun dari Mo-san dan …”

“Merekapun menjadi korban keganasan?” sela Pwe-giok sebelum selesai uraian si nona.

Nona itu tidak menjawab, hanya pandangannya beralih ke cahaya lampu.

“Paman Ong dari Thay-oh, si gunting emas, terkenal tiada tandingan selama hidupnya, Paman

Sim dari Ih-hin, si tombak perak berkuda putih, pada waktu mudanya pernah menyapu rata

seluruh Kanglam tanpa tandingan. Paman Sebun dari Mo-san terkenal dengan Lwekangnya

yang maha lihay masa merekapun dicelakai orang?”

“Dan bagaimana pula dengan Leng-hoa-sin-kiam dan Kim-si-sian-ciang?” tukas si nona

dengan beringas.

“Betul…” kata Pwe-giok dengan menunduk muram. “Jangan-jangan mereka terbunuh oleh

orang yang sama? Lalu siapakah gerangan orang ini? …”

Renjana Pendekar > Karya Khulung > Diceritakan oleh : GAN KL > buyankaba.com 12

“Cuma, aku sendiri tidak melihat jenazah para paman itu.” kata si nona dari keluarga Lim itu.

Mendadak Pwe-giok mengangkat kepala dan bertanya: “Kalau tidak melihat jenazahnya,

darimana kau tahu mereka sudah meninggal ?”

“Kosong melompong tiada terdapat seorangpun… rumah mereka sama sekali tidak kelihatan

sesosok mayat pun, tapi juga tidak nampak seorang hidup, rumah mereka seperti kuburan

belaka, kosong dan hening… Rumahmu dan rumahku juga demikian.”

Pwe-giok terdiam sejenak, gumamnya kemudian: “Rumah?… kita tidak punya rumah lagi.”

Si nona menatap Pwe-giok dengan sorot mata tajam, tanyanya mendadak: “Dan kau akan

pergi kemana dan apa yang akan kau lakukan?”

Pelahan Pwe-giok menjawab: “Jelas, semua ini adalah suatu intrik yang maha besar dan sulit

dipecahkan. Sekarang aku tak dapat menerkanya, tapi pada suatu hari pasti dapat kuselidiki

dengan baik.

“Apabila kau adalah kau adalah biang keladi dari intrik keji ini, tindakan apa yang akan kau

lakukan atas diriku?”

“babat rumput sampai akar-akarnya!” jawab si nona tegas.

“Betul, dan bagaimana jika kau menjadi aku ?”

“Lari… tapi lari kemana?”

“Dimana terasa aman, kesanalah ku pergi.”

“Aman? … Sedangkan siapa musuh kita saja tidak kita ketahui, seumpama dia berada di

sampingmu juga tidak kau ketahui, di seluruh dunia ini, dimana ada tempat aman bagimu?”

“Ada, ada suatu tempat”

“Mana?” tanya si nona.

“Hong-ti!” jawab Pwe-giok.

“Hong-ti?” si nona menegas.

“Padahal setiap tokoh Bu-lim saat ini akan pergi kesana…”

“Justeru lantaran para pahlawan akan pergi kesana, maka ku anggap disanalah tempat yang

paling aman. Betapapun besar nyali jahanam itu tentu juga tidak berani mengganas di sana.”

Si nona mengangguk pelahan, ucapnya: “Bagus, dalam saat begini engkau masih dapat

berpikir secermat ini, ku yakin engkau tak nanti dicelakai musuh. Baiklah lekas engkau

berangkat.”

Renjana Pendekar > Karya Khulung > Diceritakan oleh : GAN KL > buyankaba.com 13

“Dan kau?…”

“Kau tidak perlu mengurus diriku!” seru si nona mendadak, ia membalik tubuh dan

melangkah keluar.

Pwe-giok tidak merintanginya, ia hanya mengikuti di belakangnya dengan diam-diam,

sekeluarnya di pintu, mendadak kaki si nona menjadi lemas dan tubuh akan ambruk, namun

Pwe-giok keburu memapahnya dari belakang, katanya sambil menghela napas: “Terlalu

banyak penderitaanmu, kaupun terlalu lelah, lebih baik istirahatlah dulu.”

Air mata kelihatan mengembeng pula di kelopak mata si nona, ia menggigit bibir, katanya:

“Untuk apa kau sengaja berlagak memperhatikan diriku, jauh-jauh ku datang kemari, tapi…

tapi namaku saja tidak kau tanyakan.”

“Aku tidak perlu tanya.” jawab Pwe-giok.

Nona itu meronta dan berdiri tegak sambil berseru: “Lepaskan aku… lepaskan… bila kau

menyentuh diriku lagi segera kubunuh kau.”

Pwe-giok menghela napas pelahan, katanya: “Meski aku tidak pernah berjumpa dengan kau,

tapi mustahil aku tidak tahu namamu.”

Nona itu tersenyum, tapi segera menunduk dan berkata dengan rawan: “Cuma sayang

pertemuan kita ini tidak tepat waktunya…”

Belum habis ucapannya, tiba-tiba terdengar suara langkah orang di luar, suara seorang tua

memanggil dengan pelahan: “Siauya… “

“Siapa itu?” tanya Pwe-giok sambil mengaling di depan si nona.

“Masa suara Ji tiong saja tidak Kongcu kenal lagi?” jawab suara itu.

Pwe-giok menghela napas lega, sebaliknya si nona mencengkeram bahunya dan bertanya:

“Siapa dia?”

“Budak tua yang ikut ayahku sejak kecil,” tutur Pwe-giok.

“Tapi … tapi ketika ku masuk ke sini, tiada seorangpun yang kulihat.”

Pwe-giok melengak, katanya kemudian: “Mungkin … mungkin dia bersembunyi.”

Selagi bicara, tampak seorang tua berbaju hijau dan berambut uban sudah melangkah masuk,

dan setelah memberi hormat ia berkata: “Ong-loyacu dari Leng-cun sedang menunggu di

ruang tamu, beliau ingin bertemu dengan Siauya.”

“Apakah Ong-jicek Ong Ih-lau?” tanya Pwe-giok dengan agak melengak.

“Selain beliau siapa lagi?” jawab si budak tua Ji-tiong. Belum lenyap suaranya, dengan

langkah lebar Pwe-giok lantas menuju keluar.

Renjana Pendekar > Karya Khulung > Diceritakan oleh : GAN KL > buyankaba.com 14

Dilihatnya jalan serambi yang berliku-liku sana entah sejak kapan sudah ada lampu yang

dinyalakan, suasana seperti biasa saja. Dengan heran Pwe-giok melangkah ke ruangan tamu,

ternyata di situ juga terang benderang.

Seorang berjubah ungu dan bermuka merah, alis tebal, jenggot panjang, duduk di kursi tamu,

jelas si pendekar Kang-lam yang termasyhur berbudi luhur Ong Ih-lau, Ong jiya.

Pwe-giok berlari maju dan menyembah, ucapnya dengan terguguk: “Jicek, engkau da…

datang terlambat.”

“Ai, urusanmu dengan ayahmu, aku ikut tidak enak setelah mendengarnya,” ujar Ong Ih-lau

dengan sedih.

“Sungguh malang, siautit……” baru berucap sampai di sini, mendadak Pwe-giok mengangkat

kepalanya dan bertanya dengan keheranan: “Eh. Jicek, da… darimana engkau mengetahui

secepat ini?”

Ong Ih-lau mengelus jenggotnya, dengan tersenyum ia menjawab: “Kan Ji-toako sendiri yang

bilang padaku.” Keruan Pwe-giok melenggong, serunya:

“Ayahku? Beliau … Kapan… “

“Tadi dia berjalan keluar dengan marah-marah,” demikian tutur Ong Ih-lau dengan tertawa,

“sampai kedatanganku juga tidak begitu dihiraukan. Meski aku tidak tahu apa yang diributkan

kalian ayah dan anak, tapi selama 40 tahun ini memang tidak pernah kulihat dia marah

sebesar ini. Terpaksa kuminta In-sahcekmu mengiringinya keluar berjalan-jalan agar kalian

ayah dan anak tidak ……”

Sampai melongo Pwe-giok mendengar penuturan itu, sampai di sini, ia tidak tahan lagi,

mendadak ia berseru. “Tapi… tapi ayahku tadi telah terbunuh!”

Air muka Ong Ih-lau tampak kurang senang, katanya sambil berkerut kening: “Anak muda

bertengkar dengan orang tua memang lazim terjadi, tapi janganlah engkau mengutuki ayahmu

sendiri.”

“Tapi ……tapi ayah be……..benar-benar sudah…….”

“Tutup mulut !” bentak Ong Ih-lau.

“Jenazah ayah saat ini terbaring di kamar tidurnya, jika paman tidak percaya, silahkan

memeriksanya sendiri,” kata Pwe-giok dengan menggertak gigi.

“Baik, hayo ke sana!” dengan gusar Ong Ih-lau bangkit.

Dengan langkah cepat kedua orang lantas menuju ke belakang. Belum lagi sampai di sana,

dari jauh sudah kelihatan kamar tidur yang tadi gelap itu kini telah terang benderang oleh

nyala lampu.

Renjana Pendekar > Karya Khulung > Diceritakan oleh : GAN KL > buyankaba.com 15

Pwe-giok terus menerjang ke dalam kamar, dilihatnya selimut bantal di tempat tidur teratur

dengan rapi, sedikitpun tiada tanda-tanda pernah disentuh orang, sedangkan jenazah Ji Hongho

sudah tidak kelihatan lagi.

“Di mana jenazah ayahmu?!” tanya Ong Ih-lau dengan suara bengis. Gemetar tubuh Pwegiok,

mana dia sanggup bicara lagi. Mendadak ia membentak terus berlari ke halaman

belakang.

Di bawah cahaya lampu yang bergantungan di serambi sana, terlihat suasana di bawah pohon

yang rindang tadi. Jangankan ke enam mayat, bahkan daun yang rontok oleh getaran

pertarungan sengit tadipun entah sejak kapan sudah disapu bersih.

Jian-koa-pit masih berada di situ, di atas meja pendek itupun masih lengkap tersedia pot air,

tatakan tinta tulis, samar-samar kertas tulis yang berada di meja juga kelihatan adalah kertas

yang digunakannya untuk menulis Lam-hoa-keng tadi.

Kaki dan tangan Pwe-giok terasa dingin, halaman yang sunyi ini bagi pandangannya seolaholah

berubah menjadi neraka yang seram dan penuh misterius. Ong Ih-lau berdiri dengan

berdekap tangan, tanyanya kemudian: “Sekarang apa yang akan kau katakan lagi?”

Pwe-giok seperti orang linglung, jawabnya dengan bingung: “Aku…….aku.”

Tiba-tiba dilihatnya ada bayangan orang bergerak di balik semak-semak sana, jelas itulah si

nona jelita tadi. Pwe-giok seperti menemukan bintang penolong, cepat ia memburu maju dan

memegang tangannya sambil berseru: “Tadi nona inipun menyaksikan… Dia adalah putri

Lim-loyacu Leng-hoa-sim-kiam, namanya Lim Tay-ih, dengan mata kepala sendiri iapun

menyaksikan jenazah ayahku.”

Dengan sorot mata tajam Ong Ih-lau Tanya si nona dengan suara bengis: “Apa betul kau

melihatnya?”

“Aku…. Aku. Tadi….”

Belum lanjut ucapan si nona, mendadak empat orang muncul dari serambi sana sambil

menyapa dengan tertawa: “Wah, bilakah Ong-jiko datang kemari, sungguh sangat kebetulan.”

Orang yang berjalan di depan berjubah sulam dan berkopiah tinggi, pedang panjang

bergantung di pinggangnya, meski rambut bagian pelipis sudah kelihatan putih, tapi sikapnya

masih tetap gagah, tiada tanda-tanda sudah tua.

Melihat ke empat orang ini, seketika Lim Tay-ih berhenti bicara dan tubuh gemetar, terutama

orang yang berjalan paling depan itu, melihat dia, sampai Ji Pwe-giok juga terkejut seperti

melihat setan, teriaknya:” Pa….. paman Lim, bukankah engkau sudah… sudah meninggal?”

Orang pertama ini memang betul Leng-hoa-sin-kiam Lim Soh-koan, ayah Lim Tay-ih,

seorang hartawan dan juga tokoh silat terkemuka di Sohciu. Ketiga orang lainnya adalah Ong

Kim-liong dari Thay oh, Sim Gin-jiang dari Ih-hia, Sebun Hong dari Mo-san, yaitu orangorang

yang dikatakan Lim Tay-ih sudah terbunuh tadi.

Renjana Pendekar > Karya Khulung > Diceritakan oleh : GAN KL > buyankaba.com 16

Belum lagi Lim Soh-koan menjawab teguran Pwe-giok, Sebun Hong lantas bergelak tertawa

dan berkata: “Huh, tiga tahun tidak bertemu, sekali bertemu kau lantas menyumpahi ayah

mertuamu. Ai, kelakarmu ini terasa agak keterlaluan.”

Mendadak Pwe-giok membalik tubuh dan memandang Lim Tay-ih tajam-tajam, katanya:

“Kan, kau yang bilang begitu? Mengapa…..mengapa kau berdusta padaku?”

Tay-ih mengangkat kepalanya perlahan-lahan, sorot matanya tenang dan bening, jawabnya

lirih: “Aku yang bilang? Kapan dan apa yang kukatakan?”

Tubuh Pwe-giok bergetar hebat dan menyusul mundur beberapa tindak, dilihatnya kelima

tokoh Bu lim termasyhur itu sedang menatapnya dengan dingin, sorot mata mereka

mengandung rasa kejut, heran dan juga kasihan.

Si budak tua Ji Tiong entah sejak kapan juga sudah berdiri dengan setengah membungkuk

tubuh di samping sana, dengan mengiring tawa ia berkata: “Siauya, seyogyanya engkau

mengundang kelima Loyacu minum dulu ke ruang tamu.”

Pwe-giok tidak menjawab, sebaliknya ia melompat ke sana dan mencengkeram pundak budak

tua tiu sambil berteriak: “Coba katakan! Ceritakan apa yang terjadi tadi.”

Budak tua itu tampak melenggong, jawabnya: “Kejadian tadi? Kejadian apa?”

Keruan muka Pwe-giok tambah pucat.

“Kecuali kami berlima, apakah tadi ada kedatangan orang lain?” Tanya Ong Ih-lau.

Ji Tiong menggeleng: “Tidak ada, tiada orang lain lagi…..”

Perlahan Pwe-giok melepaskan cengkeramannya dan menyurut mundur selangkah demi

selangkah, ucapnya dengan suara gemetar: “Meng …….mengapa kau mem…..memfitnah

diriku?”

Ji Tiong menghela napas panjang dan memandang Pwe-giok lekat-lekat, sorot matanya juga

memantulkan rasa kasihan, katanya kemudian: “Agaknya akhir-akhir ini Siauya terlalu berat

berlatih, mungkin engkau….”

“Mungkin aku sudah gila, begitu bukan? seru pwe-giok sambil menengadah dan tertawa

terbahak-bahak. “Kalian memandangi diriku dengan heran, karena kalian menganggap aku ini

sudah gila, begitu bukan? Kalian sama berharap aku gila, begitu bukan?”

“Ai, anak ini mungkin terlalu keras dikekang oleh ayahnya,” ujar Lim Soh-koan dengan

gegetun.

“Hahaha! Memang betul, aku memang terkekang terlalu keras sehingga gila!” teriak Pwe-giok

sambil tertawa latah. Mendadak ia menghantam sehingga jendela di sebelah sana ambrol

terkena angin pukulannya.

Serentak Ong Ih-lau, Sim Gin-jiang dan Sebun Hong menubruk maju, secepat kilat mereka

memegangi bahu anak muda itu, sedang Lim Soh-koan lantas mengeluarkan sebuah botol

Renjana Pendekar > Karya Khulung > Diceritakan oleh : GAN KL > buyankaba.com 17

hitam kecil, katanya dengan suara halus: “Anak Giok, menurut lah padaku, minumlah obat ini

dan tidurlah baik-baik, besok tentu kau akan sehat kembali.”

Segera ia membuka tutup botol terus dijejalkan ke mulut Pwe-giok, seketika tercium bau

harum semerbak dan memabukkan.

Tapi Pwe giok tutup mulut serapat-rapatnya, matipun tidak mau pentang mulut.

“Ai, mengapa kau berubah begini, Pwe-giok,” kata Sim Gin jiang dengan gegetun. “Masa

ayah mertuamu sendiri sampai hati membikin susah padamu?”

Mendadak Pwe giok menggertak keras-keras, sekali kedua tangannya terpentang, kontan

tokoh-tokoh kelas tinggi seperti Sim Gian jiang dan Sebun Hong itupun tidak mampu

menahannya, ditengah suara bentaknya Pwe giok terus melayang ke atas, ujung kaki menutul

wuwungan, secepat burung terbang ia melayang lewat ke balik pepohonan sana.

“Lihai amat anak ini, biarpun waktu mudanya juga Ji Hong ho tidak sehebat ini !” ujar Sebun

hong.

“Cuma sayang, dia sudah gila, sungguh sayang….” Ong Ih lau menghela nafas menyesal. Lim

Tay ih terus menjatuhkan diri ditengah dan menangis sedih.

*****

Bintang berkelip memenuhi langit, malam sunyi dan dingin.

Sudah lebih tiga jam Ji Pwe giok berbaring di bawah pohon dan memandangi bintang yang

bertaburan di cakrawala, sama sekali tidak bergerak, sampai berkedip juga tidak. Bintang

berkelip yang memenuhi langit itu seakan-akan sedang mengejeknya:

“Kau sudah gila…….kau sudah gila………”

Malam tambah larut, bintang mulai jarang-jarang, ditengah tiupan angin malam yang sepoisepoi

itu terbawa suara tangisan orang yang memilukan, makin lama semakin dekat suara

tangis orang itu.

Akhirnya kelihatan lah seorang tua pendek kecil dengan jenggot yang sangat panjang hingga

hampir menyentuh tanah muncul dengan menangis. Setiba di bawah pohon sana, ia menangis

lagi sejenak, lalu mengumpulkan beberapa potong batu sebagai ganjal kaki, ikat pinggang

dilepaskan dan dilibatkan pada dahan pohon. Melihat gelagatnya kakek itu jelas hendak

gantung diri.

Pwe giok tidak tahan menyaksikan orang bunuh diri di depannya, cepat ia melompat kesana

dan mendorong si kakek.

Bukannya berterima kasih, orang tua itu malah duduk di atas tanah, kakinya memancalmancal

dan menangis seperti anak kecil, serunya:

Renjana Pendekar > Karya Khulung > Diceritakan oleh : GAN KL > buyankaba.com 18

“Untuk apa kau tolong diriku? Di dunia ini tiada orang yang lebih malang dari padaku,

hidupku sudah tiada artinya lagi. Ku mohon janganlah engkau merintangi kematianku, mati

rasanya akan lebih baik bagiku.”

Pwe-giok menghela nafas, ucapnya dengan menyengir:

“Apa betul di dunia ini tiada orang terlebih malang daripadamu ?…. kau tahu dalam satu hari

saja aku kehilangan rumah, kehilangan orang tua, apa yang kukatakan terjadi sungguhsungguh,

tapi tiada seorangpun yang mau percaya padaku. Di dunia ini pun tiada seorang lagi

yang dapat kupercayai. Pendekar yang biasanya kuhargai dan kupuja, dalam sehari juga

mendadak berubah menjadi penuh intrik dan misterius, orang yang setiap hari berdekatan

denganku juga mendadak berubah tidak setia lagi padaku dan ingin membuat gila padaku,

ingin mencelakai jiwaku, bukankah diriku ini jauh lebih malang daripada dirimu ?”

Si kakek memandangnya dengan termangu-mangu hingga sekian lamanya, ucapnya kemudian

setengah berguman: “Jika demikian, kalau dibandingkan kau, rasanya aku masih jauh lebih

mujur. Kau memang lebih pantas mati daripadaku, biarlah ikat pinggang ini kupinjamkan

kepadamu.” Ia terbahak-bahak, lalu melangkah pergi.

Dengan termangu-mangu Pwe-giok mengikuti bayangan si kakek yang menghilang di

kejauhan. Ia coba memasukkan leher sendiri ke jiratan tali pinggang, gumamnya: “Cara

demikian memang sangat mudah. setelah mati, segala kekesalan pun tak terasa pula, tapi

apakah benar aku ini orang yang paling pantas mati di dunia ini ?…” Mendadak iapun

tertawa, katanya: “Ya, anggaplah aku sudah pernah mati satu kali !”

Ia lepaskan jiratan itu dan melangkah pergi. Sepanjang jalan, apabila dia berlalu di kolam,

dimana banyak anak gadis sedang memetik lengkak, maka sering-sering ada gadis yang

melemparkan beberapa biji lengkak padanya. Pwe giok lantas menangkap lengkak itu dan

dimakan. Bila dia melalui hutan murbei, nona pemetik murbei juga sering melemparkan buah

itu kepadanya dan iapun menerimanya untuk dimakan. Kalau dia sudah lelah dalam

perjalanan, seadanya dia mencari rumput kering atau onggokan jerami untuk alas tidur. Bila

mendusin, seringkali ada anak gadis yang sedang memandanginya dengan tersenyum jengah

serta memberinya semangkuk telur rebus air gula. Bilamana diketahui ibu si anak gadis, sang

ibu lantas marah-marah dan mengusir Pwe-giok dengan gagang sapu. Tapi melihat wajah

anak muda itu, kadang-kadang sang ibu malah tambah memberinya beberapa potong bakpau

atau beberapa biji ketela rebus.

Perjalanan sejauh ini entah cara bagaimana dilaluinya, apa yang dipikirnya juga tidak berani

dibicarakan nya dengan orang lain, dalam batin ia hanya selalu ingat: “Sabar….mengalah..

sabar…” Itulah petuah mendiang ayahnya yang selalu mendengung-dengung dalam benaknya.

Dia seperti tidak perduli lagi apakah ada orang menguntit jejaknya, padahal sekarang tiada

orang yang mengenalnya lagi, siapapun pasti pangling. Pakaiannya memang sederhana,

ditambah lagi sekarang tubuhnya penuh debu kotoran, bajunya sudah robek di sana-sini,

keadaannya sekarang tiada banyak bedanya dengan kaum pengemis. Dia tidak cuci muka,

juga tidak sisir rambut. tapi keadaannya yang kelihatan linglung dan harus dikasihani justru

makin disukai oleh anak perempuan.

Tapi sekarang Pwe-giok sudah tidak perduli apakah orang suka atau jemu padanya, ia

meneruskan perjalanan menurut selera sendiri.

Renjana Pendekar > Karya Khulung > Diceritakan oleh : GAN KL > buyankaba.com 19

Akhirnya ia tiba di wilayah Holam, ditengah jalan orang yang berdandan sebagai busu atau

jago silat semakin banyak, semuanya bersemangat dan tergesa-gesa. Pertemuan pesilat yang

berlangsung setiap tujuh tahun sekali tentu saja sangat menarik perhatian setiap tokoh dunia

persilatan.

Selewatnya Siangcu, ditengah jalan bertambah ramai lagi. Bilamana ada tokoh ternama

berlalu di tepi jalan lantas ramai orang berbisik-bisik membicarakannya.

“Lihatlah, yang berjubah bunga ungu itulah Sin To Kongcu dari Hong-yang, golok yang

tergantung di pinggangnya itulah Giok Liong to yang dapat memotong emas seperti merajang

sayur.”

“Dan Nona berbaju kuning itu, apakah kau kenal ?”

“Kenapa tidak ? kalau Kim Yan Cu (si walet emas) saja tidak kukenal, apa gunanya aku

berkecimpung di dunia kangouw ? ai, mereka benar-benar suatu pasangan yang setimpal,

yang lelaki ganteng yang perempuan cantik.”

“He, itu dia Jian jiu kun (pukulan seribu tangan) Tio Tayhiap juga datang,” demikian seru

seorang lagi. “Siaw lim pay sudah tujuh kali mengetuai pertemuan Hong-ti kedudukannya

dalam pemilihan tahun ini tentu tidak boleh berpindah kepada orang lain. Tio Tayhiap adalah

murid Siau lim pay dari keluarga preman, sudah tentu dia harus hadir.”

Percakapan orang itu dapat didengar semua oleh Pwe giok, tapi dia tidak memandangnya,

dengan sendirinya orang lainpun tidak memperhatikan seorang jembel semacam dia.

Setiba di Hongciu, malam sudah larut. Dia tidak masuk ke kota, tapi berbaring seadanya di

emper sebuah hotel kecil di luar kota.

Malam semakin larut, orang lain sudah tidur semua. namun menghadapi pertemuan Hong Li

yang sudah dekat di depan mata, mana Pwe giok dapat tidur nyenyak, meski matanya terasa

sepat, tapi masih terbelalak dan melamun:

“Apakah Lim Soh koan, Ong Ih lau dan lain-lain juga akan hadir di Hong-ti? Sesungguhnya

apa yang hendak mereka lakukan ? mengapa mereka berkeras menyatakan ayahku belum

meninggal dunia ? apakah mungkin……”

Mendadak terdengar seorang berkata: “Ang lian hoa (bunga teratai merah), pek lian ngau (ubi

teratai kecil), sebatang gala bambu menjelajah dunia”

Entah sejak kapan, seorang pengemis muda kurus kecil dengan mata besar, tangan memegang

sebatang bambu, seang memandangnya dengan tertawa.

Pwe giok balas menyengir padanya, tapi tidak bicara. hakekatnya dia tidak tahu apa yang

harus dikatakan.

Pengemis muda berkedip-kedip, tegurnya kemudian dengan tertawa: “kau bukan anggota Kay

pang kami ?”

Renjana Pendekar > Karya Khulung > Diceritakan oleh : GAN KL > buyankaba.com 20

Pwe giok menggeleng sebagai tanda bukan.

“Jika kau bukan orang Kay pang, mengapa dandananmu mirip benar si tukang minta-minta,

tidurmu juga ditempat kaum pengemis,” kata si jembel muda itu dengan tertawa.

“sungguh aneh, kalau kau menyaingi pekerjaan lain masih dapat dimengerti, jasa pekerjaan

mengemis juga ingin kau rebut?”

“O, maaf.” jawab Pwe giok sambil menyengir berbangkit dan melangkah keluar emper rumah,

berdiri termangu-mangu di bawah langit yang penuh bertabur bintang.

Pengemis muda tadi memandangnya tanpa berkedip, ia merasa orang ini sangat menarik, ia

tutul bahu Pwe giok dengan ujung galanya dan bertanya pula: “Dari logat suaramu, agaknya

kau datang dari Kang-lam ?”

Secara singkat Pwe giok mengiakan.

“Siapa namamu ?” tanya pula pengemis muda itu.

Pwe giok menoleh dan memandangnya beberapa kejap, ia merasa sepasang mata yang besar

itu seperti kelihatan licin dan nakal, tapi mengandung maksud baik tanpa bermaksud jahat,

dengan tertawa ia lantas menjawab: “Namaku Ji Pwe giok.”

“Aku Lian Ang ji (Lian si anak merah).” kata jembel muda dengan tertawa. “Soalnya baju

yang kupakai meski compang-camping, tapi selalu berwarna merah.”

“O, kiranya Lian heng ( saudara Lian),” kata Pwe giok.

“Haha, boleh juga kau ini, ternyata sudi berbicara dengan si tukang minta nasi,” ujar Lian Ang

ji dengan bergelak tertawa.

“Tapi aku sendiri ingin minta nasi saja tidak kuat”, tukas Pwe giok sambil menyengir.

Tambah mencorong sinar mata Lian Ang ji, katanya perlahan: “Kulihat dasar ilmu silatmu

tidaklah lemah, kalau bukan anak murid keluarga persilatan tentu tak dapat terpupuk dasar

sekuat ini, tapi mengapa kau menyaru sedemikian rupa?”

Pwe giok terkejut, jawabnya : “Aku tidak menyamar, aku tidak mahir ilmu silat.”

Seketika Lian ang ji menarik muka, jengeknya: “Kau berani mendustai aku?”

Mendadak gala bambunya bergerak, secepat kilat ia tutul Long si hiat di dada Ji Pwe giok,

hanya dalam sekejap saja ujung gala bambunya bergetar, hampir seluruh Hiat to penting di

tubuh Pwe giok terancam di bawah gala bambu.

Karena sedang tertimpa malang, Pwe giok merasa setiap orang di dunia ini bisa jadi adalah

utusan musuh yang tak kelihatan itu, maka cepat ia ia mendak ke bawah dan menyurut

mundur.

Renjana Pendekar > Karya Khulung > Diceritakan oleh : GAN KL > buyankaba.com 21

Tak tersangka Lian ang ji juga lantas menarik kembali galanya, ia tatap Pwe giok dengan

tajam dan menjengek pula: “Masih muda belia sudah suka berdusta, kalau sudah besar kan

lebih celaka !”

Pwe giok menunduk, katanya: “Sungguh ada… ada kesukaranku yang tak dapat kujelaskan.”

“O, tidak dapat kau katakan padaku ?” tanya Lian ang ji.

“Jika kaupun mempunyai sesuatu rahasia, apakah mungkin kau katakan kepada orang yang

tak pernah kau kenal ?” Pwe giok balas bertanya

Lian ang ji memandangnya dengan melenggong, sejenak kemudian barulah ia berkata pula

dengan tertawa: “Tepat sekali pertanyaanmu, tampaknya kau lemah lembut, agaknya kau

tidak suka banyak bicara. Tak kusangka sekali bicara lantas begini tajam.”

Dengan kemalas-malasan Lian ang ji merebahkan diri lantas berkata pula dengan kemalasmalasan:

“Cuma, perjalananmu ini mungkin akan sia-sia belaka, kau tak dapat hadir di

pertemuan Hong-ti nanti.”

Kembali pwe giok terkejut, serunya: “He, dari… darimana kau tahu?……”

“Mataku ini adalah kaca penyorot siluman, siapapun juga asalkan kupandang tiga kejap, pasti

kutahu dia berasal dari apa,” demikian jawab Lian ang-ji dengan tertawa.

Pwe-giok pandang mata orang dengan rasa kejut, heran dan juga kagum.

Lian Ang-ji lantas memandang ke langit dan berkata pula dengan tak acuh: “Pertemuan Hongti

bukanlah tontonan umum dan boleh dihadiri setiap orang, yang boleh hadir adalah anak

murid ke 13 Mui-pay (golongan dan aliran) yang menjadi sponsor pertemuan ini, orang luar

harus membawa kartu undangan. Dan kau?”

“Aku…..aku bukan anak murid ke 13 Mui-pay itu dan juga…. juga bukan tamu yang

diundang,” jawab Pwe-giok dengan menunduk.

“Jika begitu, lebih baik sekarang juga kau pulang saja,” kata Lian Ang-ji.

Pwe-giok terdiam sejenak. Tiba-tiba ia bertanya: “Apakah Kay-pang termasuk ke 13 Mui-pay

itu?”

“Sudah tentu,” jawab Lian Ang-ji dengan tertawa. “Selama lebih 40 tahun ini, meski setiap

kali yang menjadi ketua perserikatan adalah Siau-lim-pay, tapi kalau Kay-pang kami tidak

memberi dukungan, mustahil kedudukan itu tidak sejak dulu-dulu direbut oleh Bu-tong-pay

atau Kun-lun-pay.”

“Dan kalau aku dapat mencampurkan diri di tengah anggota kay-pang, kukira takkan

diketahui oleh orang lain…. ” demikian Pwe-giok bergumam sendiri.

“Haha, enak benar perhitunganmu,” ujar Lian Ang-ji sambil tertawa.

Renjana Pendekar > Karya Khulung > Diceritakan oleh : GAN KL > buyankaba.com 22

Mendadak Pwe-giok berlutut di depan jembel muda itu dan memohon: “Kuharap Lian-heng

sudilah memberi bantuan sekali ini saja. Tolonglah engkau bicarakan kepada Pangcu kalian,

asalkan Siaute dapat hadir di sana, urusan lain tidak perlu lagi dikuatirkan.”

Lian Ang-ji memandangnya dengan tertawa, katanya: “Kenal saja baru sekarang, mengapa

harus kubantu kau?”

Pwe-giok melenggong, ucapnya kemudian: “Sebab…..sebab…. ” ia menghela napas panjang

dan bangkit. Sesungguhnya ia memang tidak dapat menjelaskan sebab apa…

Terpaksa ia angkat kaki. Lian Ang-ji juga tidak memanggilnya kembali, dengan tertawa ia

memandangi kepergian Pwe-giok yang lesu dan menghilang dalam kegelapan, seperti halnya

menyaksikan seorang yang hampir terbenam dan akhirnya tenggelam ke dasar sungai.

Dalam kegelapan, entah sudah berapa lama dan berapa jauh Ji Pwe-giok berjalan. Di depan

masih tetap gelap gulita.

Sekonyong-konyong di depan ada gemerlapnya cahaya api, serombongan orang datang sambil

bertepuk tangan dan berdendang: “Ang-lian-hoa (bunga teratai merah) pujaan beta. Orang

jahat ketemu dia merangkak ketakutan, orang baik ketemu dia tepuk tangan memuji. Di

seluruh kolong langit ini hanya ada sekuntum Ang-lian-hoa.”

Pwe-giok tidak ingin bertemu dengan siapa-siapa, maka ia membelok ke arah lain. Tak

terduga rombongan orang ini mendadak berkerumun maju dan mengitari di sekelilingnya.

Ada yang bergelak tertawa, ada yang bertepuk tangan. Di bawah cahaya obor kelihatan orangorang

ini sama berbaju compang-camping dan telanjang kaki, ada tua ada muda.

Pwe-giok tercengang, belum sempat bicara. Orang-orang itu lantas bersorak-sorak gembira

pula: “Ji Pwe-giok, orangnya cakap bagai kemala, tengah malam buta, kau mau ke mana?”

Berubah air muka Pwe-giok seketika, serunya: “He, bagaimana kalian kenal diriku?”

Seorang pengemis tua lantas tampil ke depan, ia memberi hormat dan berkata dengan

tersenyum: “Pangcu kami mendengar kedatangan Ji-kongcu, maka kami diperintahkan

menyambut….”

“Tapi aku sama sekali tidak kenal pangcu kalian,” seru Pwe-giok bingung.

“Walaupun Kongcu tidak kenal Pangcu kami, tapi sudah lama Pangcu mendengar nama besar

kongcu, sebab itulah kami sengaja disuruh menunggu kedatangan Kongcu di sini, bahkan

kami disuruh mengantar sesuatu untuk Kongcu,” demikian tutur pengemis tua itu dengan

tertawa.

Karena pengalaman kematian ayahnya yang mengenaskan itu, terhadap segala sesuatu

sekarang Pwe-giok selalu waspada, dengan mengepal tinju ia menjengek: “Baiklah, mana

barangnya.”

“Harap Kongcu jangan salah paham,” ucap si pengemis tua pula. Yang hendak kami

sampaikan ini bukanlah senjata tajam atau kepalan.” Lalu ia mengeluarkan sepucuk surat

Renjana Pendekar > Karya Khulung > Diceritakan oleh : GAN KL > buyankaba.com 23

bersampul kuning dan dihaturkan dengan hormat: “Silahkan Kongcu memeriksanya dan

segera akan jelas isinya.”

Tanpa terasa Pwe-giok menerima sampul surat itu, tapi sekilas teringat lagi “surat maut”

tempo hari itu, mendadak ia cengkeram leher baju si pengemis tua, ia sodorkan surat itu ke

depan sambil membentak dengan bengis: “Coba kau jilat dulu surat ini!”

Pengemis tua itu tidak melawan, ia pandang Pwe-giok sekejap dengan tersenyum, ucapnya:

“Cermat benar Kongcu ini.”

Tanpa ragu ia benar-benar menjulurkan lidahnya dan menjilat sampul yang dipegang Pwegiok

itu, bahkan sehelai kartu di dalam sampul juga dijilatnya sekali, lalu berkata pula dengan

tertawa:

“Sekarang Kongcu tidak perlu sangsi lagi bukan?”

Pwe-giok berbalik merasa rikuh dan melepaskan cengkeramannya, waktu ia keluarkan kartu

di dalam sampul, yang tertulis ternyata berbunyi: “Mengundang dengan hormat atas kehadiran

anda di pertemuan Hong-ti.”

Keruan Pwe-giok terkesiap, waktu ia berpaling, rombongan kaum jembel itu sudah pergi

semua, tertinggal onggokan obor saja yang masih gemerdep dalam kegelapan.

Memandangi api obor, Pwe-giok menjadi bingung pula. Siapakah gerangan Pangcu yang

dimaksudkan itu? Mengapa menyampaikan kartu undangan ini kepadanya?

Apa yang dialaminya selama beberapa hari ini kalau tidak lucu dan sukar dimengerti, tentulah

misterius dan menyeramkan di samping keji dan ganas, tapi setiap kejadian juga sangat aneh

dan sukar dibayangkan.

Entah berapa lama ia termenung sambil memegang kartu undangan itu. Tiba-tiba dalam

kegelapan ada suara tindakan orang lagi.

Pwe-giok bermaksud pergi saja, tapi mendadak ada orang membentaknya: “Berhenti!”

Diam-diam Pwe-giok merasa gegetun, ia tidak tahu apa yang akan terjadi lagi dan siapa pula

yang datang. Apa yang dialaminya selama beberapa hari ini tiada satupun yang dapat

menduga sebelumnya, orang yang ditemuinya juga tiada seorangpun yang dapat menerka asal

usul serta maksud tujuannya.

Karena itu ia menjadi malas untuk memikirkannya. Dilihatnya yang datang sekali ini ada

tujuh orang, dua diantaranya memakai jubah Tosu, seorang berbaju Hweshio, tiga lagi

berpakaian ketat ringkas, orang terakhir adalah perempuan, memakai mantel bersulam.

Meski dandanan ke tujuh orang ini tidak sama, tapi semuanya tangkas, semuanya masih muda

dan gagah, gerak-geriknya juga sangat gesit.

Seorang pemuda baju hitam ringkas berada paling depan, sinar matanya tajam mencorong, ia

melotot pada Pwe-giok dan membentak: “Apa yang sahabat lakukan dengan berdiri di sini?”

Renjana Pendekar > Karya Khulung > Diceritakan oleh : GAN KL > buyankaba.com 24

“Hm, masa orang berdiri di sini saja tidak boleh?” jengek Pwe-giok.

Alis pemuda itu berjengkit, si Hwesio yang berdiri di sebelahnya lantas menyela dengan

mengulum senyum: “Mungkin Sicu tidak tahu, lantaran pertemuan Hong-ti akan berlangsung

besok, kebanyakan tokoh dunia persilatan sama hadir di sini, dalam pada itu tentu sukar

terhindar kemasukan anasir-anasir jahat yang sengaja hendak mengacau. Maklum akan

kemungkinan ini, para Ciangbun dari ke-13 Mui-pay yang menyelenggarakan pertemuan ini

telah menugaskan pada anak muridnya untuk melakukan perondaan. Pinceng (Paderi miskin)

Siong-cui dari Siau-lim, beberapa Suheng, berasal dari Bu-tong, Kun-lun, Hoa-san, Tiam-joa,

Khong-tong, dan lain-lain”

Air muka Pwe-giok menjadi cerah, katanya: “Ah, kiranya kalian adalah murid terhormat dari

Jit-toa-kiam-pay (ke tujuh aliran ilmu pedang beras) …”

Si pemuda baju hitam sejak tadi terus mengincar kartu undangan yang dipegang Pwe-giok,

mendadak ia bertanya: “Kartu undangan ini apakah milikmu ?”

Pwe-giok mengiakan.

Tak terduga, mendadak sinar pedang berkelebat, tahu-tahu ujung senjata orang sudah

mengancam di depan batok kepalanya.

Pemuda baju hitam ini memang tidak malu sebagai murid perguruan ternama, hanya sekejap

itu saja pedang sudah terlolos dan menyerang.

Karena tidak terduga-duga, sedapatnya Pwe-giok berusaha menghindar, walaupun berhasil,

hampir saja daun telinganya terpapas, keruan ia menjadi gusar dan mendamperat: “Kenapa

kau bertindak sekasar ini?. Apakah kau kira kartu undanganku ini palsu ?”

Pedang si baju hitam tampak gemerlapan dan mendesak maju pula, jengeknya: “Lihat

serangan!”

Gerak serangannya itu tampaknya tidak ada sangkut pautnya satu sama lain, tapi sejurus demi

sejurus terus dilancarkan, berturut turut Pwe-giok menghindarkan tujuh belas kali barulah

sempat berganti napas, teriaknya gusar: “He, apa-apaan ini ?”

Tiba-tiba si perempuan muda bermantel berucap dengan dingin: “Tanyai dulu baru bertindak

kan belum lagi terlambat.”

Menurut juga pemuda berbaju hitam itu. segera ia menarik kembali pedangnya, tapi mata juga

melotot terlebih besar, bentaknya dengan bengis: “Baik, coba katakan, darimana kau peroleh

kartu undangan ini ?”

“Pemberian orang,” jawab Pwe giok.

“Hehehe, kawan-kawan sudah dengar, katanya pemberian orang!” demikian pemuda baju

hitam itu terkekeh kekeh hina.

“Kenapa kau merasa heran ?” tanya Pwe giok. Siong-cui, si paderi Siau-lim-pay juga menarik

muka, katanya dengan pelahan: “Kartu undanganmu ini tidak palsu, cuma terlalu tulen

Renjana Pendekar > Karya Khulung > Diceritakan oleh : GAN KL > buyankaba.com 25

sehingga meragukan. Supaya Sicu maklum, dalam pertemuan Hong-ti ini, kartu undangan

yang disebar ada tujuh macam. Kartu warna kuning ini paling terhormat, kalau bukan ketua

sesuatu perguruan ternama, sedikitnya juga kaum Locianpwe yang disegani barulah mendapat

kartu undangan ini. Tapi juga ketua ke 13 Mui-pay penyelenggara saja yang dapat

mengirimkan kartu ini, sedangkan anda …”

“Hehe, sedangkan anda tampaknya bukan orang yang mempunyai hubungan erat dengan

ketua ke-13 Mui-pay penyelenggara,” Sambung si pemuda baju hitam dengan tertawa dingin.

“Jelas kartu undanganmu ini kalau bukannya kau curi tentu kau dapatkan dengan menipu.”

Di tengah bentakannya, segera pedangnya menusuk pula. Sekali ini perempuan muda tadi

tidak mencegahnya, ke tujuh orang bahkan sudah berdiri dalam posisi mengepung sehingga

Pwe-giok terkurung di tengah.

Sungguh penasaran Pwe-giok tak terlampiaskan, tapi cara bagaimana dia dapat memberi

penjelasan? Si “Pangcu” sialan yang memberi kartu undangan ini bukankah malah sengaja

hendak membikin celaka padanya?

Serangan pedang si pemuda baju hitam tambah gencar, yang dimainkan adalah Hui hoa-kiamhoat

(ilmu pedang merontokkan bunga) dari Tiam jong-pay. Cepat, ganas, inilah keunggulan

Tiam jong-kian-hoat.

Ilmu pedang inipun paling sukar dihindarkan lantaran Pwe-giok tidak menangkis dan balas

menyerang, maka berulang-ulang ia harus menghadapi serangan berbahaya.

Si Perempuan muda tadi tampak berkerut kening, katanya: “Masa kau tidak menyerah saja,

apakah kau ingin …”

Belum habis ucapannya, mendadak terdengar suara tertawa nyaring panjang bergema

melayang lewat di angkasa. Semua orang terkejut dan sama menengadah, tertampak sesosok

bayangan berkelebat lenyap dalam kegelapan, tapi ada sesuatu benda melayang-layang jatuh

ke bawah.

Sekali pedang si pemuda baju hitam mencungkit, benda itu tersunduk pada ujung pedangnya.

Waktu diperiksa, kiranya sekuntum bunga teratai merah.

“Ang-lian-hoat?” seru pemuda baju hitam dengan air muka pucat.

Mendadak Siong-oui Hwesio memberi hormat kepada Ji Pwe-giok, katanya dengan

tersenyum: “Kiranya sicu adalah sahabat baik Ang-lian-pangcu. Tecu tidak tahu sehingga

bersikap kurang hormat, harap anda suka memberi maaf.”

Cepat si pemuda baju hitam menambahkan: “Ai, mengapa engk … Cianpwe tidak omong

sejak tadi.”

Pwe-giok sendiri melenggong sejenak, katanya kemudian: “Sesungguhnya akupun tidak kenal

pada Ang-lian-pangcu ini.”

Renjana Pendekar > Karya Khulung > Diceritakan oleh : GAN KL > buyankaba.com 26

“Ai, jika cianpwe bilang begini, betapapun Wanpwe menjadi serba susah.” kata pemuda baju

hitam dengan menunduk.

Pwe-giok hanya menyengir saja dan sukar memberi penjelasan.

Si perempuan muda tadi sedang menatapnya dengan sorot mata yang tajam, tiba-tiba ia

berkata dengan tertawa manis: “Tecu Ciong Cing dari Hoa-san. Apabila Kongcu sudi, boleh

silahkan istirahat dulu di tempat kami sana”

Segera si pemuda baju hitam mendukung usulnya: “Bagus sekali, besok pagi-pagi Tian-jongpay

kami pasti akan mengirim kereta kemari untuk menjemput anda untuk menghadiri

pertemuan besar.”

Pwe-giok berpikir sejenak, akhirnya ia menjawab: “Ya, boleh juga”

Dengan demikian Ji Pwe-giok lantas diantar ke wisma tamu agung Hoa-san pay yang terang

benderang. Tapi siapakah gerangan Ang-lian-pangcu itu sebenarnya tetap tak diketahuinya.

Ging-pin koan atau wisma tamu agung sepanjang malam terang benderang, ruang tamu sangat

luas, tiada hiasan apapun kecuali tergantung potret yang besar. Pwe-giok mengamati potret itu

satu persatu, dilihatnya ke – 14 potret orang itu terdiri dari macam-macam jenis, ada Hwesio

ada Tosu, ada orang preman, ada perempuan dan ada pula pengemis, kedudukan dan usia

tidak sama, tapi semuanya tampak kereng, anggun dan berwibawa.

Ciong Cing masih mengiring disamping Pwe-giok, dengan tertawa ia menjelaskan: “Inilah

potret ke-14 tokoh Cianpwe dari ke-14 Mui-pay yang mensponsori pertemuan Hong-ti sejak

pertama kalinya. Hal ini terjadi 70 tahun yang lalu, ketika itu dunia persilatan kacau balau,

hampir tidak pernah aman dan tenteram. Tapi sejak ke-14 tokoh itu mengikat janji di Hong-ti,

dunia Kangouw lantas aman dan damai, maka jasa ke-14 tokoh besar ini boleh dikatakan tiada

taranya.”

Pwe-giok entah mendengarkan tidak uraian Ciong Cing itu, dia hanya memandang termangumangu

salah sebuah potret di tengah itu, tokoh yang terlukis di potret itu adalah seorang tua

bermuka lonjong dan cerah dengan sikap yang tenang.

Dengan tertawa Ciong Cing lantas menyambung lagi ceritanya: “Mungkin kongcu merasa

heran potret di tengah ini bukan Haon-im Taysu dari siau-lim dan juga bukan Thi-koh Tojin

dari Butong. Hendaklah Kongcu maklum bahwa Ji-locianpwe inilah orang pertama yang

menyelenggarakan pertemuan Hong-ti ini, kedudukan Bu-kek-pay pimpinan Ji-locianpwe di

dunia Kangouw pada waktu itu sekali-kali tidak di bawah Siau lim-pay dan Bu-tong pay.”

Jilid 2________

“Ya, kutahu.” kata Pwe-giok pelahan sambil menghela napas.

“Tiga kali berturut turut Ji-locianpwe mengetuai perserikatan Hong-ti, meski kemudian beliau

mengundurkan diri, tapi setiap tindak dan ucapannya masih berbobot. Baru 30 tahun yang

lalu, ketika Ji-locianpwe menjabat ketua Bu kek pay, beliau baru sama sekali mengundurkan

diri dari urusan perserikatan, sebab itulah dalam kartu undangan sekarang hanya tercantum ke

13 Mui-pay saja.”

Renjana Pendekar > Karya Khulung > Diceritakan oleh : GAN KL > buyankaba.com 27

Meski cara bercerita Ciong Ling yang cantik ini sangat menarik akan tetapi tetap Pwe-giok

tetap menunduk saja dengan wajah sedih.

Malam ini dia bergolek tak dapat tidur, sampai fajar sudah hampir menyingsing, baru saja dia

akan terpulas, tahu-tahu suara Ciong Ling sudah terdengar di luar pintu kamar: “Kongcu

sudah bangun belum? Nyo Kun-pi, Nyo-suheng dari Tiam jong-pay sudah datang menjemput

anda.”

Cepat Pwe-giok bangun dan menyambut keluar, dilihatnya kerlingan mata si nona masih tetap

lembut, senyumnya tetap menggiurkan. Nyo Kun-pi dari Tiam-jong-pay itu kini tampak

memakai baju kuning di luar bajunya yang hitam ketat, sikapnya masih tetap sangat

menghormat seperti semalam.

“Kereta penyambutan mu kami sudah menunggu di luar, Ciangbun Cin-suheng kami juga

menantikan kedatangan anda di atas kereta.” demikian Nyo Kun-pi bertutur sambil memberi

hormat.

Cepat Pwe-giok membalas hormat dan mengucapkan terima kasih.

Di wisma tamu agung itu sudah mulai ramai, banyak yang sedang latihan pagi, tapi Pwe-giok

tidak memusingkan mereka, langsung dia ikut Ciong Ling dan Nyo Kun-pi keluar.

Benar juga, di luar sebuah kereta besar dengan empat kuda penarik yang tinggi besar sudah

menunggu. Kereta itu sangat mewah dan longgar, di situ sudah berduduk sembilan orang.

Sekilas pandang Pwe-giok melihat diantara ke sembilan orang itu ada seorang pemuda

berbaju kembang ungu, ada pula seorang nona berbaju kuning dan membawa pedang.

Mungkin mereka inilah Sin-to-kongcu (Kongcu bergolok sakti) serta Kim-yang-cu (si walet

emas). Selain itu ada pula seorang lelaki kekar bermuka ungu dan berbaju mentereng, dua

orang Tosu yang berdandan serupa. Didekat jendela sebelah sana berdiri seorang pemuda

dengan baju sutera kuning dan berpedang sarung hijau sedang melongok keluar dan bicara

dengan seorang lelaki yang menuntun kuda.

Pwe-giok tak dapat melihat jelas sekaligus seluruh penumpang kereta itu, tapi iapun tidak

memandang lebih lanjut. Orang lain tidak menghiraukan dia, iapun tidak perdulikan orang

lain, dia tetap berduduk dan menunduk.

“Sampai bertemu di tengah rapat… ” seru Ciong Ling sambil melambaikan tangannya kepada

Pwe-giok ketika kereta mulai berangkat.

Setelah pintu kereta ditutup dan kereta sudah mulai bergerak barulah pemuda baju kuning tadi

menarik kepalanya dan membalik tubuh, tanyanya dengan tertawa: “Yang manakah sahabat

Ang-lian-pangcu?”

Waktu Pwe-giok mengangkat kepalanya, sungguh kagetnya tidak kepalang. Dilihatnya sorot

mata pemuda baju kuning itu mencorong tajam meski mukanya putih pucat, jelas pemuda

inilah yang membunuh ayahnya, Ji Hong-ho, secara keji itu.

Renjana Pendekar > Karya Khulung > Diceritakan oleh : GAN KL > buyankaba.com 28

Karena mendengar Pwe-giok adalah sahabat Ang-lian-pangcu, semua orang lantas berubah

sikap dan sama memandang ke arah Pwe-giok, terlihat mata Pwe-giok melotot dan

memandang pemuda baju kuning dengan beringas.

Tapi pemuda baju kuning lantas berkata dengan tertawa hampa “Cayhe Cia Thian-pi dari

Tiam-jong, juga sahabat lama Ang-lian-pangcu, entah siapa nama anda yang terhormat?”

Mendadak Pwe-giok berteriak dengan suara parau: “Meski kau tidak… tidak kenal padaku,

tapi… tapi kukenal kau…” berbareng itu ia terus menubruk maju, kedua tinjunya menghantam

sekaligus, tidak kepalang dahsyat angin pukulannya sehingga para penumpang kereta sama

terkesiap.

Pemuda baju kuning Cia Thian-pi seperti terkejut juga, sekuatnya ia menghindarkan serangan

Pwe-giok itu, lalu membentak: “Apakah maksudmu ini ?”

Pwe-giok melancarkan pukulan pula sambil berkata dengan menggertak gigi: “Hari ini jangan

kau harap akan kabur? sudah lama kucari kau!”

Kejut dan dongkol pula Cia Thian-pi, untung ruangan kereta ini cukup longgar, dia sempat

berkelit kian kemari dengan lincah, setelah mengelak lagi beberapa kali pukulan, dengan

gusar ia membentak: “Selamanya kita belum kenal, mengapa kau…”

“Utang darah yang terjadi di luar kota Lengcu enam hari yang lalu sekarang harus kau bayar

dengan darahmu!” teriak Pwe-giok murka, tangan bergerak ke atas, tangan kiri terus

menonjok dengan jurus “Ciok-boh-thian-keng” atau batu hancur mengejutkan langit.

Karena sudah kepepet, terpaksa Cia Thian-pi menangkis serangan ini. “Blang”, dua tangan

beradu dan menerbitkan suara kulit dipukul kayu, Cia Thian-pi tergetar mundur dan

menubruk pintu kereta.

Pwe-giok tidak memberi kelonggaran, secara berantai kedua kepalan menghantam pula.

“Berhenti!” mendadak beberapa orang membentak, tahu-tahu tiga batang pedang sudah

mengancam di punggung Pwe-giok, dua gaetan tajam menggantol bahunya, sebilah belati

yang mengkilap juga mengancam didada kirinya, ujung belati terasa sudah menyentuh kulit,

dalam keadaan demikian mana Pwe-giok berani bergerak pula.

Kereta itu masih terus dilarikan ke depan, wajah Cia Thian-pi bertambah pucat, dengan gusar

ia bertanya: “Apa katamu tadi? Di luar kota Lengcu apa? utang darah apa maksudmu?

sungguh aku tidak mengerti!”

“Kau pasti mengerti!” teriak Pwe-giok, mendadak ia menjatuhkan tubuhnya ke kiri,

menumbuk Tojin sebelah kiri yang bersenjata gaetan, menyusul tangan kanan menarik gaetan

Tojin itu dan ditangkiskan ke belakang sehingga kedua pedang yang mengancam

punggungnya tersampuk pergi, waktu pedang ketiga hendak menusuk, ia mendahului

menyikut perutnya sehingga orang itu menungging kesakitan.

Akan tetapi golok pendek atau belati yang mengancam dadanya tadi masih belum bergeser.

Rupanya belati inilah senjata andalan Sin-to Kongcu atau si Kongcu golok sakti, dengan sorot

Renjana Pendekar > Karya Khulung > Diceritakan oleh : GAN KL > buyankaba.com 29

mata setajam goloknya dia mengejek: “Ketangkasan anda memang harus dipuji, tapi ada

urusan apa, hendaklah dibicarakan dengan baik-baik sambil berduduk saja?”

Sedikit belatinya bergerak, baju dada Pwe-giok sudah terobek dan kulit dadanya seperti

tertusuk jarum, mau tak mau ia menurut dan berduduk kembali.

Orang yang disikut perutnya tadi masih menungging, saking sakitnya, dia belum sanggup

berdiri lagi.

Keruan semua orang terkesiap. Seorang pemuda yang tidak terkenal ternyata sanggup

mengadu pukulan dengan ketua Tiam-jong-pay yang tergolong tokoh terkemuka di kalangan

anak muda jaman ini, lalu merobohkan tokoh ternama “Yu-liong-kiam” Go To, walaupun

caranya rada jahil, namun cukup mengejutkan.

Lelaki kekar bermuka ungu sejak tadi hanya berduduk saja tanpa bergerak, mendadak ia

berkata dengan bengis: “Tampaknya ilmu silatmu tidak lemah, tapi mengapa tindakanmu

begini sembrono? Selamanya Cia-heng tidak kenal kau, mengapa kau menyerang orang

secara ngawur? Jangan-jangan kau salah mengenali orang?”

“Hm, biarpun dia menjadi abu juga ku kenal dia” ucap Pwe-giok dengan menggreget. “Eman

hari yang lalu, dengan mata kepalaku sendiri kusaksikan dia mencelakai ayahku dengan cara

yang licik dan keji…”

“Persetan kau!” teriak Cia Thian-pi dengan penasaran. “Dari Tiam-jong langsung ku datang

ke sini, jangankan tidak tahu menahu tentang ayahmu, hakekatnya tak pernah kulewatkan

wilayah kota Lengcu”

“Apakah Benar kau tidak ke sana?” Pwe-giok meraung murka.

“Untuk itu aku bersedia menjadi saksi,” kata salah seorang Tojin berjubah jingga tadi.

“Apa gunanya kau menjadi saksi?” teriak Pwe-giok.

“Apa yang dikatakan Sian-he-ji-yu tidak pernah bohong!” jengek si Tojin.

Pwe-giok melengak, nama “Sian-he-ji-yu atau dua kawan dari Sian -he-nia, sudah pernah

didengarnya. Konon ilmu silat kedua orang bersaudara ini tidak terlalu tinggi, tapi terkenal

jujur dan setia kawan, apa yang diucapkan mereka jauh lebih dapat dipercaya daripada paku

yang kelihatan di dinding.

Walaupun begitu, masa mata Pwe-giok sendiri tidak dapat dipercaya dan malah harus

disangsikan?

“Apa yang dapat kau katakan lagi sekarang?” ujar Sin-to Kongcu.

Pwe-giok hanya menggertak gigi kencang-kencang dan tidak bicara pula.

Akhirnya si Yu-liong-kiam Go To dapat berduduk tegak, dengan suara penasaran ia lantas

berkata: “Sebelum pertemuan besar, orang ini sengaja datang mencari perkara kepada CiaRenjana

Pendekar > Karya Khulung > Diceritakan oleh : GAN KL > buyankaba.com 30

heng, dia pasti tidak bertindak sendiri, tentu masih ada dalangnya dengan muslihat tertentu,

kita jangan membebaskan dia.”

Sejak tadi Kim-yan-cu hanya menonton saja tanpa bersuara, kini mendadak menjengek:

“Betul, kalau Go-tayhiap ingin membalas sakit hati karena disikut tadi, boleh kau bunuh dia

saja.”

Muka Go To menjadi merah, ingin bermaksud bicara pula, tapi melihat pedang yang

tergantung di pinggang si nona dan Giok-liong-to yang terhunus di tangan Sin-to Kongcu,

akhirnya ia urung buka mulut.

Setelah berpikir sejenak, kemudian Cia Thian-pi berkata: “Lalu bagaimana baiknya kalau

menurut pendapat nona Kim?”

Tanpa memandang sekejap pun kepada Ji Pwe-giok, Kim-yan-cu berkata: “Kukira orang ini

kurang waras, lempar dia keluar saja dan habis perkara.”

“Kuharap betul dugaan nona, lantas….”

Belum habis ucapan Cia Thian-pi, mendadak Sin-to Kongcu berseru: “Tidak, seumpama dia

dilepaskan, sebelumnya harus kita tanyai sejelasnya.”

Kim-yan-cu mendengus dan melengos ke sana dengan mendongkol.

“Kupikir betul,” segera Go To mendukung usul Sin-to Kongcu. “Melihat ilmu silatnya, dia

jelas bukan sembarang orang, hendaklah Kongcu…”

“Aku sudah mempunyai perhitungan sendiri, tidak perlu kau repot,” jengek Sin-to Kongcu.

Pwe-giok tidak bicara apa-apa, sesungguhnya memang tidak ada yang perlu dibicarakannya.

Sementara itu kereta sudah berhenti, terdengar suara ramai di luar seperti pasar.

Dengan tertawa Cia Thian-pi berkata: “Karena terlalu sibuk, biarlah orang ini kuserahkan

kepada Suma-heng, tapi Ang-lian-pangcu….”

Belum lanjut ucapannya, tiba-tiba seorang berseru di luar: “Apakah Cia-tayhiap berada di

dalam kereta? Adakah seorang Ji-kongcu ikut datang menumpang kereta ini?”

Menyusul ia lantas melongok ke dalam kereta melalui jendela. Siapa lagi dia kalau bukan si

pengemis tua yang menyampaikan kartu undangan kepada Ji Pwe-giok itu.

Serentak Sian-he-ji-yu tertawa dan menyapa: “He, Bwe Su-bong, sekian tahun tidak

berjumpa, tampaknya kau terus sibuk setiap hari tanpa urusan.”

“Tapi hari ini aku ada urusan,” jawab si pengemis tua bernama Bwe Su-bong itu dengan

tertawa. “Pangcu kami menugaskan diriku menyambut tamu, selesai pekerjaanku nanti akan

kucari kalian untuk minum tiga ratus cawan.”

Renjana Pendekar > Karya Khulung > Diceritakan oleh : GAN KL > buyankaba.com 31

Pengemis tua itu seperti tidak melihat golok di tangan Sin-to Kongcu yang masih mengancam

di dada Ji Pwe-giok, segera ia membuka pintu kereta dan menarik Pwe-giok keluar, berbareng

ia menyapa dengan tertawa: “Ji-kongcu, kau tahu, Mui-pay yang paling miskin di dunia

Kangouw ini adalah Kay pay kami, dan paling kaya adalah Tiam jong pay. Sungguh mujur

Kongcu dapat kemari dengan menumpang kereta semewah ini. Eh, Cia tayhiap, terima kasih

banyak-banyak, bilamana ada tempo, lain hari Pangcu kami akan mengundang engkau minum

arak.”

Air muka Sin-to Kongcu tampak sangat buruk, entah menyengir entah meringis, dengan mata

terbelalak ia menyaksikan Bwe Su-bong menarik keluar Ji Pwe-giok tanpa berani bersuara

sepatah kata pun.

Dalam pada itu, Cia Thian-pi sedang menjawab: “Sampaikan salamku kepada Ang lian

Pangcu, katakan aku pasti akan datang bila diundang.”

Di luar suasana hiruk pikuk, tapi pikiran Pwe-giok terlebih kusut.

Sudah jelas Cia Thian-pi ini adalah pemuda yang membunuh ayahnya, masa bisa keliru?

Tapi siapa pula gerangan Ang-lian Pangcu ini? Mengapa berulang-ulang menolongnya?

Didengarnya Bwe Su-bong sedang membisikinya: “Jangan melamun, coba berpalinglah ke

sana.”

Tanpa terasa Pwe-giok menoleh, dilihatnya sepasang mata yang bening di dalam kereta tadi

sedang memandangnya dengan sorot mata yang mesra dan juga dingin.

Bwe Su-bong menepuk pundak Pwe-giok, katanya dengan tertawa pelahan: “Walet kecil ini

berduri, apalagi selalu dikintil oleh gentong cuka, cukup kau pandang sekejap saja, sekarang

lebih baik memandang keramaian di depan sana.”

*****

Hong-ti adalah nama sebuah tempat yang sudah terkenal sejak jaman Cunciu, terletak di

selatan kota Hongciu di Propinsi Holam.

Tempat ini sejak dahulu sering menjadi tempat pertemuan orang-orang penting. Maka

pertemuan besar Hong-ti sekarang juga ingin memperlihatkan kebesarannya, nyatanya

suasananya sekarang memang tidak kurang semaraknya daripada jaman dulu.

Bangunan kuno Hong-ti kini sudah runtuh semua, keadaan tempat ini hanya berwujud tanah

lapang belaka seluas ratusan li.

Di lapangan seluas ratusan li ini sekarang kepala manusia berjubel-jubel sehingga sukar

dihitung berapa jumlahnya dan juga tidak jelas siapa mereka, tapi setiap orang yang hadir ini

jelas terhormat, kepala mereka sedikitnya bernilai ribuan tahil emas.

Semua orang sama mendongak memandangi 13 panji besar yang berkibar tertiup angin di atas

sebuah panggung raksasa seluas belasan meter persegi itu, asap tampak mengepul di atas

panggung laksana gumpalan awan.

Renjana Pendekar > Karya Khulung > Diceritakan oleh : GAN KL > buyankaba.com 32

Sambil menunjuk sehelai panji kuning dengan tertawa Bwe Su-bong berkata kepada Ji Pwegiok:

“Kuning adalah warna kebesaran, panji kuning ini hanya boleh digunakan Siau lim pay

yang mengetuai dunia persilatan ini. Agama To suka pada warna ungu, panji ungu itu adalah

tanda pengenal Bu tong pay, sedangkan panji dengan sulaman naga itu adalah tanda pengenal

Kun lun pay, angker benar tampaknya panji mereka….”

Pwe-giok melihat di antara panji-panji itu ada sehelai panji yang terbuat dari sepuluh jalur

kain yang berbeda warnanya, ia bertanya: “Panji ini mungkin adalah pengenal Pang kalian.”

Bwe Su-bong mengiakan dengan tertawa, katanya: “Kay pang kami adalah kumpulan kaum

jembel, kami kumpulkan sisa kain panji orang lain, lalu kami sambung dan jahit menjadi

sebuah panji, satu peser pun tidak perlu keluar, praktis dan hemat.”

“Entah berada di mana Ang-lian Pangcu kalian sekarang, Cayhe sangat ingin menemuinya,”

kata Pwe-giok.

“Di bawah setiap panji pengenal itu ada sebuah tenda, di situlah Pangcu kami beristirahat,”

tutur Bwe Su-bong. Segera mereka menyibak kerumunan orang banyak dan menyusur ke

depan, kebanyakan orang yang melihat Bwe Su-bong hampir semuanya memberi hormat dan

menyapa.

Diam-diam Pwe-giok membatin: “Selama ratusan tahun ini Kay pang tetap bertahan sebagai

Pang terbesar di dunia Kangouw, dengan sendirinya anak muridnya juga lain daripada

perguruan lain. Mengingat anggotanya berjumlah ratusan ribu, harus menjaga kehormatan

perkumpulan dan mempertahankan kedudukan, andaikata Ang-lian Pangcu ini bukan manusia

tiga kepala berenam tangan, paling sedikit dia harus memiliki kepandaian maha sakti.

Padahal, selamanya aku tidak pernah berkecimpung di dunia Kangouw, bilakah pernah

kukenal tokoh semacam ini, mengapa dia mengakui diriku sebagai sahabatnya?”

Makin dipikir makin bingung. Sementara itu sebuah tenda besar sudah kelihatan di depan. Di

antara satu dengan tenda lain berjarak puluhan meter dan dijaga oleh berpuluh muda-mudi

yang ronda kian kemari, sikap mereka gagah dan cekatan, dandanan tidak sama, bisa jadi

mereka adalah anak murid pilihan ke-13 Mui-Pay penyelenggara pertemuan Hong-ti ini.

Belum lagi mereka mendekati tenda itu, seorang Tosu muda berbaju ungu sudah

menyongsong kedatangan mereka, setelah mengamati Pwe-giok sekejap, Tosu itu memberi

hormat dan menyapa: “Baru sekarang Bwe locianpwe datang? Tuan ini….”

“Supaya To-heng maklum, saudara ini adalah tamu Pangcu kami, Ji-kongcu,” jawab Bwe Subong

dengan tertawa. Lalu ia berpaling kepada Pwe-giok dan berkata: Kartu undangannya…”

Segera Pwe-giok memperlihatkan kartu undangannya, lalu Tosu itu menyurut mundur dan

memberi tanda: “Silahkan!”

Penjagaan ternyata sedemikian ketatnya, benar-benar satu langkah saja sukar dilalui. Baru

sekarang Pwe-giok merasa dirinya memang beruntung. Ia coba memandang ke belakang sana,

saat ini ksatria yang sedang longak-longok di sana dan tidak berdaya hadir di sidang

sedikitnya ada puluhan ribu orang.

Renjana Pendekar > Karya Khulung > Diceritakan oleh : GAN KL > buyankaba.com 33

Sementara itu, Bwe Su-bong telah berada di luar kemah, ia memberi hormat ke arah pintu

kemah sambil berseru: “Lapor Pangcu, Ji Kongcu sudah tiba.”

Seorang di dalam kemah lantas berseru dengan tertawa: “Aha, mungkin dia sudah tidak sabar

menunggu lagi, lekas disilahkan masuk.”

Pwe-giok memang benar tidak sabar lagi, sungguh ia ingin lekas-lekas melihat bagaimana

macamnya Ang-lian Pangcu yang misterius ini. Baru saja Bwe Su-bong menyingkap tenda

dan menyilakan, segera ia menerobos masuk dengan langkah lebar.

Dilihatnya di tengah kemah yang luas ini hanya terdapat sebuah meja rongsokan, dua bangku

panjang, sungguh sangat menyolok perbedaannya dengan kemah yang tampak mewah dari

luar ini.

Seorang kelihatan bersidekap di atas meja, entah sedang menulis atau kerja apa, dari belakang

hanya tampak rambutnya yang kusut dan tidak tahu bagaimana raut wajahnya.

Terpaksa Pwe-giok memberi hormat dari jauh: “Teecu Ji Pwe-giok menyampaikan sembah

hormat kepada Ang-lian Pangcu.”

Baru sekarang orang itu menoleh, katanya dengan tertawa: “Apakah Ji-heng masih kenal

padaku?”

Tertampak tubuhnya yang kurus kecil dengan baju merah yang compang-camping, kedua

matanya justru bening dan mencorong terang seakan-akan sekali pandang saja dapat

menembus isi hatimu.

Pwe-giok melengak dan menyurut mundur, katanya dengan tergagap: “Jadi an…… anda inilah

Ang-lian Pangcu?”

“Bunga teratai merah, ubi teratai putih, dengan sebatang gala menjelajah dunia!” orang itu

tertawa dan berdendang pula.

Ang-lian Pangcu yang termashur ini ternyata bukan lain daripada Lian Ang-ji, si pengemis

muda yang cerdik dan jahil yang ditemui Pwe-giok di emper rumah kemarin malam itu.

Pwe-giok sampai melongo dan tak dapat bicara.

“Apakah kau heran?” tanya Ang-lian-hoa atau si bunga teratai merah dengan tertawa.

“Padahal, untuk menjadi Pangcu tidak mutlak harus seorang tua. Misalnya Ketua Tiam-jong

pay sekarang usianya juga belum ada 30, Ketua Pek-hoa-pang juga baru berumur likuran.”

“Cayhe hanya heran, selama hidup Cayhe tidak kenal Pangcu, sebab apa Pangcu memberi

bantuan sebesar ini?” ujar Pwe-giok.

Ang-lian Pangcu terbahak-bahak, katanya: “Tidak ada sebab apa-apa, hanya karena merasa

cocok saja. Selanjutnya kau akan tahu sendiri bahwa di dunia Kangouw ini banyak sekali

orang yang berwatak aneh. Ada orang hendak membikin celaka padamu tanpa kau tahu apa

sebabnya, ada pula orang membantu kau secara membingungkan kau.”

Renjana Pendekar > Karya Khulung > Diceritakan oleh : GAN KL > buyankaba.com 34

Tergerak hati Pwe-giok mendengar kata-kata yang penuh arti ini, ia menghela napas dan

menjawab: “Ya, betul……”

Mendadak Ang-lian Pangcu berhenti tertawa, sorot matanya menatap Pwe-giok tajam-tajam,

lalu menambahkan: “Apalagi, melihat gerak-gerikmu, soal kau dapat menghadiri pertemuan

Hong-ti atau tidak, tampaknya sangat besar sangkut-pautnya dengan dirimu.”

“Ya, besar sekali sangkut-pautnya, menyangkut soal mati dan hidup!” jawab Pwe-giok dengan

pedih.

“Itu dia,” kata Ang-lian Pangcu. “Maka kalau banyak orang yang tiada sangkut-pautnya dapat

menghadiri rapat besar ini, sebaliknya kau tidak dapat, bukankah hal ini sangat tidak adil?

Dan segala apa yang tidak adil di dunia ini, aku justru ingin ikut campur.”

“Sungguh Cayhe sangat berterima kasih atas kebijaksanaan Pangcu,” kata Pwe-giok dengan

tunduk kepala.

Mendadak Ang-lian Pangcu berkata pula dengan mengulum senyum: “Apalagi tidak lama lagi

kau akan menjadi Ciangbunjin (ketua) Bu-kek pay, tatkala mana sekalipun kami mengundang

kehadiranmu mungkin akan kau tolak.”

Seketika Pwe-giok mendongak dan berseru: “Dari……. darimana kau tahu…..”

Belum lanjut ucapannya, sekonyong-konyong terdengar suara “blang” yang keras, habis itu di

luar kemah terdengar suara tetabuhan dibunyikan, menyusul seseorang lantas berteriak:

“Pertemuan Hong-ti segera akan dimulai, dengan hormat para Ciangbunjin dipersilahkan

menempati tempatnya masing-masing.”

Suara orang itu sangat keras dan lantang sehingga berkumandang sampai jauh.

Ang-lian Pangcu lantas menggandeng tangan Ji Pwe-giok dan keluar kemah, katanya dengan

tertawa: “Sudah menjadi kelaziman setiap orang yang menjadi Pangcu kaum jembel ini,

bukan saja harus ikut campur urusan orang lain, bahkan juga harus serba tahu. Mengenai cara

bagaimana aku mengetahui hal-hal sebanyak ini, kukira lain hari kau akan tahu sendiri.”

*****

Dikelilingi ke-13 kemah besar itu, di tengahnya adalah sebuah panggung raksasa, di seputar

panggung sudah berkumpul para undangan, hampir semua inti ksatria di seluruh jagat telah

berkumpul di sini.

Di atas panggung terdapat sebuah tungku tembaga ribuan kati, asap tampak mengepul

bergulung-gulung dari tungku tembaga itu, di kedua samping tungku ada 13 buah kursi besar.

Saat itu ke-13 kursi sudah diduduki delapan atau sembilan orang, seorang Hwesio berjenggot

putih dan berkasa kuning berdiri di depan tungku, meski perawakannya kurus kering, tapi

sikapnya gagah dan kuat.

Renjana Pendekar > Karya Khulung > Diceritakan oleh : GAN KL > buyankaba.com 35

Di bawah panggung, di bagian depan, juga terdapat tiga baris kursi, yang duduk di situ ratarata

adalah tokoh-tokoh Bulim yang terhormat, tapi barisan kursi pertama masih kosong

semua, entah diperuntukkan siapa kursi baris depan ini.

Dengan suara pelahan Ang-lian Pangcu lantas berkata kepada Pwe-giok: “Aku harus naik

panggung untuk mulai bereaksi, silahkan kau cari suatu tempat duduk. Jika kau sungkansungkan,

tentu orang lain yang beruntung.”

Pwe-giok mengiakan. Baru saja ia mendapatkan suatu tempat duduk, dilihatnya Ang-lian

Pangcu sudah membawa enam murid Kay-pang naik ke atas panggung diiringi dengan suara

tetabuhan, orang yang bersuara lantang tadi segera berseru: “Ang-lian Pangcu dari Kaypang!”

Suaranya berkumandang jauh, para hadirin sama mendongak, baru sekarang Pwe-giok

melihat jelas wajah si pembawa acara yang mukanya hitam seperti pantat kuali, matanya

sebesar gundu, perawakannya tinggi.

Betapa tinggi perawakannya dapat dibandingkan ketika Ang-lian Pangcu lewat di

sampingnya, ketua Kay-pang itu hanya setinggi pundaknya.

Namun pandangan semua orang justru terpusat kepada Ang-lian-hoa yang pendek kecil itu,

sekalipun si pembawa acara lebih tinggi satu meter lagi juga tidak diperhatikan orang.

Tanpa terasa Pwe-giok tertawa senang.

Mendadak seorang di sebelahnya berkata: “Kawanmu begitu keren, kau pun ikut gembira,

bukan?”

Suara itu kedengaran dingin dan angkuh, tapi nyaring merdu. Waktu Pwe-giok menoleh,

dilihatnya sepasang mata yang bersinar dingin tapi juga mesra itu.

Kiranya tanpa sengaja ia kebetulan berduduk di sebelah Kim-yan-cu. Terpaksa ia

menjawabnya dengan menyengir saja.

Belum lagi dia buka suara, mendadak Sin-to Kongcu berbangkit dan berkata kepada Kim-yancu:

“Adik Yan, marilah kita pindah tempat duduk saja,”

“Memangnya tempat ini kenapa?” jengek Kim-yan-cu.

“Tempat ini mendadak berbau busuk,” kata Sin-to Kongcu.

“Kalau kau bilang bau busuk, boleh kau pindah sendiri saja, aku tetap duduk di sini,” ujar

Kim-yan-cu.

Pwe-giok tidak tahan, segera ia berdiri dan bermaksud melabrak orang, tapi tangan Kim-yancu

yang halus sempat menariknya.

Melihat itu Sin-to Kongcu tambah gregetan, ia melototi Pwe-giok. Lalu berkata dengan

gemas: “Baik, aku akan pindah ….” mulut bicara begitu, tapi pantatnya tetap duduk di tempat

semula.

Renjana Pendekar > Karya Khulung > Diceritakan oleh : GAN KL > buyankaba.com 36

Diam-diam Pwe-giok tertawa geli, tapi juga serba runyam. Meski dia belum pernah

merasakan pahit getirnya “cinta”, tapi sudah dapat dibayangkannya rasanya pasti manis juga

getir dan memusingkan kepala. Melihat sorot mata Kim-yan-cu yang dingin hangat itu, entah

mengapa, tiba-tiba ia jadi teringat kepada kerlingan mata Lim Tay-ih:

Kerlingan mata yang lembut dan juga keras, begitu bening sorot matanya, tapi entah mengapa

selalu mengandung perasaan rawan dan penuh misteri, seakan-akan rela menyerahkan

segalanya kepadanya, tapi entah sebab apa pula si nona tega menipunya dan mencelakainya

dengan menyangkal keterangan yang pernah dikatakan kepadanya itu.

Selagi dia melamun sendiri, mendadak terdengar si protokol berteriak pula: “Hay-hong Hujin,

Pangcu Pek hoa pang tiba!”

Pwe giok terkejut dan cepat menengadah, segera tercium bau harum menusuk hidung,

dilihatnya 12 gadis berbaju sutera dan berhias bunga mutiara di kepalanya menggotong

sebuah tandu penuh hiasan bunga beraneka warna muncul dari sebelah kiri. Bau harum bunga

semerbak itu tersiar jauh, biarpun orang yang berdiri paling belakang juga pasti dapat

menciumnya.

Di dalam tandu yang penuh bertumpukan bunga itu bersandar seorang perempuan cantik tiada

bandingannya dengan baju sutera tipis, pelahan-lahan ia turun dari tandunya dengan dipapah

oleh dua gadis cantik.

Baju suteranya yang tipis panjang itu melambai-lambai, tubuhnya meliuk lemas seperti tak

bertenaga, seakan-akan berjalan saja malas, dengan setengah bersandar pada kedua dayang

yang memapahnya itu, pelahan-lahan ia naik ke atas panggung.

Melihat pinggangnya yang ramping, hampir semua orang sama menahan napas, sampai agak

lama baru semua orang menyadari mereka belum melihat jelas wajah si jelita. Maklum,

gayanya saja sudah membuat sukma mereka melayang ke awang-awang sehingga mereka

lupa untuk melihat wajahnya.

Mendadak Kim-yan-cu menghela napas pelahan, ucapnya: ” Sicantik dipapah lemas tak

bertenaga, ratusan bunga paling indah bunga Hay-hong …. Ai, nyonya Hay-hong-kun ini

memang benar-benar cantik tiada bandingannya.”

Ucapannya ini dengan sendirinya ditujukan kepada Ji Pwe-giok, tapi anak muda itu sama

sekali tidak menggubrisnya, pandangannya masih terus berjelilatan kian kemari untuk

mencari, di antara ke 13 Ciangbunjin penyelenggara pertemuan ini sudah datang 12 orang.

tapi orang yang diharapkannya ternyata tiada seorangpun yang muncul.

Apakah jalan pikirannya yang keliru, jangan-jangan mereka memang tidak hadir.

Dalam pada itu di tengah kerumunan orang banyak sudah ramai orang berbisik-bisik: “He,

mengapa Hi-ciangbun dari Hay-lam-kiam-pay belum nampak hadir?”

“Perjalanan dari lautan selatan terlalu jauh, mungkin dia malas datang.”

Renjana Pendekar > Karya Khulung > Diceritakan oleh : GAN KL > buyankaba.com 37

“Tidak mungkin, kemarin dulu kulihat dia minum arak di restoran Wat-pinlau di kota Khayhong,

malahan telah terjadi tontonan yang menarik di sana.”

“Wah, apa betul? Tontonan menarik apa?”

“Kebetulan Kim-si-ngo-hou (lima harimau keluarga Kim) juga minum arak di restoran itu,

cuma lucu, mereka tergolong kawanan Kangouw, tapi Hi-tay ciangbun yang termasyhur itu

ternyata tidak mereka kenal dan terjadilah pertengkaran. Hui-hi-kiam benar-benar pedang

paling cepat di dunia, sekali sinar pedang berkelebat, tahu-tahu kelima Kim bersaudara lantas

….”

Mendadak ia berhenti bicara, suara berisik itupun sirap.

Rupanya mereka terkesiap ketika mendadak melihat seorang pendek gemuk berbaju hijau

dengan perut gendut telah muncul. Topi yang dipakainya sudah melorot hingga hampir

terjatuh, dada bajunya terbuka sehingga kelihatan simbar dadanya, pedang yang tergantung di

pinggangnya sangat panjang hingga menyeret tanah, ujung sarung pedang sudah pecah

tergosok-gosok, ujung pedang yang menongol dari lubang yang pecah itu kelihatan

mengkilap.

Meski dipandang orang sebanyak itu, tapi si gendut anggap tidak tahu saja, dia tetap berjalan

dengan sempoyongan menuju ke panggung. Dari jauh sana Pwe giok dapat mengendus bau

arak yang memenuhi tubuh si gendut.

Si protokol berkerut kening melihat kedatangan orang ini, namun tidak urung ia lantas

berteriak :

“Hi tayhiap, ciangbunjin Hay lam kiam pay tiba!”

Mendengar suara ini, ahli pedang dari ke 18 pulau di lautan selatan yang terkenal dengan

julukan “Hui hi gway kiam” atau pedang kilat ikan terbang ini, baru membetulkan topinya

yang miring itu, lalu naik ke atas panggung dan berseru sambil tertawa:

“Jangan-jangan kehadiranku ini agak terlambat, maaf-maaf !”

Ketua Siau lim si, yaitu si Hwesio kurus kering tadi, masih tetap berduduk tenang dan

memberi salam.

Seorang tosu berjubah hitam dengan mata tajam seperti elang dan bertulang pipi menonjol

lantas mendengus:

“Hmm, lambat sih tidak, biarpun Hi heng minum lebih banyak juga takkan terlambat.”

Hui hi kiam berkedip-kedip, ucapnya dengan tertawa :

“Minum arak adalah suatu kenikmatan, orang yang tidak biasa minum mana tahu

kenikmatannya, Khong tong pay kalian pantang minum arak, apa yang dapat kukatakan

dengan kalian ?”

Mendadak tosu jubah hitam itu berbangkit, teriaknya dengan bengis:

Renjana Pendekar > Karya Khulung > Diceritakan oleh : GAN KL > buyankaba.com 38

“Pertemuan Hong yi ini sekali-kali tidak boleh memberi kelonggaran kepada manusiamanusia

pemabukan dan gila perempuan ini !”

Dengan kemalas-malasan Hui hi kiam khek Hi soan berduduk di kursinya dan tidak

menggubris lagi kepada si tosu.

Thian in taysu dari Siau lim pay lantas berkata dengan tersenyum:

“Coat ceng toheng hendaklah jangan marah dulu….”

“Orang ini menyepelekan pertemuan besar ini hanya karena minum arak, jika tidak diberi

hukuman setimpal, cara bagaimana kita dapat menegakkan disiplin ?” teriak Coat ceng cu, si

tosu tadi dengan gusar.

Thian in taysu berpaling memandang Jut tun Totiang dari Bu tong pay. terpaksa tosu yang

alim ini berdiri dan angkat bicara:

“Hi tayhiap memang bersalah, tapi….”

Mendadak Ang lian pangcu bergelak tertawa dan menyeletuk:

“Apakah para hadirin mengira kelambatan Hi tayhiap ini benar-benar lantaran minum arak

dan lupa daratan ?!”

Dengan tersenyum Jut Tun Totiang menjawab:

“Silahkan Ang Lian pangcu memberi keterangan, pemberitaan Kay pang dengan sendirinya

jauh lebih cepat daripada orang lain.”

Segera Ang lian hoa berseru :

“Semalam Hi tayhiap berhasil memancing “Hun Lin Jit hong” (tujuh kumbang hutan bedak)

ke Tong Wah siang dan sekaligus membunuh mereka, Hi tayhiap telah menyelamatkan sanak

keluarga perempuan yang ikut menghadiri pertemuan ini dari kemungkinan diganggu oleh

kawanan kumbang itu, untuk mana aku Ang Lian hoa lebih dahulu mengucapkan terima

kasih.”

Keterangan ini membuat semua orang sama melengak.

Hun Lin jit hong adalah kawanan penjahat yang suka mengganggu kaum wanita, kalau

sampai mereka berhasil menyusup ke tengah-tengah rapat besar ini tanpa ketahuan, apabila

ada anggota keluarga peserta yang tercemar kehormatannya, maka para ketua penyelenggara

tentu akan kehilangan muka. Apalagi Siau lim pay sebagai ketua perserikatan ini, tanggung

jawabnya lebih-lebih sukar terelakkan. Mau tak mau Thian in taysu terkesiap juga setelah

mendapat keterangan Ang lian pangcu.

Tapi Hi soan hanya tersenyum tak acuh, katanya:

Renjana Pendekar > Karya Khulung > Diceritakan oleh : GAN KL > buyankaba.com 39

“Cepat amat berita yang diterima Ang lian pangcu. Padahal urusan sekecil ini untuk apa

disebut-sebut ?”

“Mana boleh dikatakan urusan kecil.” kata Thian in taysu dengan prihatin.

“Melulu jasa ini Hi tayhiap sudah pantas menjabat kedudukan bengcu (ketua perserikatan) ini,

bila perlu Siau lim pay bersedia mengundurkan diri.”

Kata-kata ini kalau diucapkan orang lain mungkin akan dianggap basa-basi saja, tapi ucapan

yang keluar dari ketua Siau lim pay tentu saja lain bobotnya. seketika para hadirin sama

melenggong.

Segera Hi soan menjawab dengan tegas:

“Jika Ang lian pangcu sudah tahu peristiwa ini, andaikan aku tidak turun tangan pasti juga

Ang lian pangcu akan membereskan secara diam-diam, maka cayhe sama sekali tidak berani

mengaku berjasa.”

“Wah, jika begitu kan berarti kedudukan bengcu harus diserahkan kepada Kay-pang ?” cepat

Ang Lian hoa menanggapi.

“Haha, kalau si tukang minta-minta menjadi Bulim bengcu, apakah bukan lelucon yang tidak

lucu ? Budi luhur Thian in taysu cukup diketahui siapapun juga, maka kedudukan bengcu

tahun ini kukira tetap dijabat taysu saja.”

Thian in menghela nafas, katanya:

“Akhir-akhir ini sudah kurasakan keloyoanku, ku tahu tidak sanggup memikul tugas berat ini

lagi, maka sudah lama ada maksudku mengundurkan diri, andaikan tidak terjadi peristiwa Hi

tayhiap ini, soal ini tetap akan kukemukakan kepada sidang.”

Biasanya kalau Siau lim pay mencalonkan diri, maka Mui pay lain tidak berani berebut lagi

dengan dia. Tapi sekarang Thian in taysu ingin mengundurkan diri secara sukarela, seketika

Jut tun totiang dari butong, Coat ceng cu dari Khong tong, Cia Thian pi dari Tiam jong, Liu

Siok cin dari Hoa san pay, tokoh-tokoh ini menjadi besar harapannya untuk menjadi ketua.

Lin Siok cin tokoh wanita Hoa san pay yang cantik segera mendahului berseru dengan suara

yang nyaring:

“Bu tong pay sudah sama-sama kita kenal kemampuannya, jika Thian in taysu ada maksud

mengundurkan diri, Hoa san pay kami tidak sungkan-sungkan untuk mencalonkan Jut tuh

toheng untuk menggantikannya.”

“Hm, tidak sungkan-sungkan,” jengek Coat ceng cu “Sayang aku tidak mempunyai adik

perempuan yang menjabat sebagai ketua perguruan ternama dan tidak sungkan-sungkan untuk

mencalonkan kakaknya sendiri.”

Kiranya Liu Siok cin ini adalah adik kandung Jut tun totiang. Kakak beradik ini masingmasing

mengetuai suatu perguruan ternama, sebenarnya biasanya suka dipuji oleh orangorang

persilatan, tapi sayang sekarang dijadikan bahan cemoohan Coat ceng cu.

Renjana Pendekar > Karya Khulung > Diceritakan oleh : GAN KL > buyankaba.com 40

Seketika alis Liu Siok cin menjengkit marah, tapi Jut tun totiang hanya tersenyum saja dan

berkata:

“Jika demikian, biarlah aku mencalonkan Coat ceng toheng saja untuk menjadi bengcu.”

Mendadak Cia Thian pi berteriak:

“Jika orang lain menjadi ketua, cayhe pasti setuju, kalau Khong tong pay yang menjadi ketua,

731 anggota Tiam Jong pay kami yang pertama-tama tidak tunduk.”

Meski Tiam jong pay jauh berada di perbatasan propinsi Hualam, tapi akhir-akhir ini

anggotanya bertambah banyak dan pengaruhnya besar, kekuatannya cukup mengimbangi Bu

tong pay, dengan sendiri apa yang diucapkan ketuanya juga berbobot maka perkataan Cia

Thian pi serentak mendapatkan sorak-sorai di bawah panggung.

Dengan mendongkol Coat ceng cu menjawab: “Kalau begitu, jadi kedudukan ketua sekali ini

harus kubereskan dulu dengan anda, begitu?”

“Bagus, memang sudah lama aku ingin belajar kenal dengan Coat-ceng kiam Khong-tong

pay,” kata Cia Thian-pi sambil meraba pedangnya.

Mendadak seorang tua berjubah sulam, berjenggot dan rambut ubanan, wajahnya penuh kudis

berbangkit dan berteriak: “Atas nama 36 pangkalan laut pimpinanku, aku Auyang Liong

mencalonkan Cia tayhiap dari Tiam-jong pay sebagai Bengcu, tentang Coat-ceng Totiang,

kami…”

Belum habis ucapannya, seorang kakek botak di sebelahnya dengan wajah merah seperti anak

muda, mendadak bergelak tertawa terhadap kakek tegap yang berbicara itu, lalu ia pun

berseru: “Tiam-jong pay jauh terletak di perbatasan selatan sana, apabila Cia tayhiap menjadi

Bengcu, maka Auyang Pangcu akan tambah berpengaruh dan meraja-lela di pangkalannya

sendiri.”

“Hm, apa maksudmu?” teriak Auyang Liong dengan gusar. “Orang lain takut kepada senjata

rahasia berbisa keluarga Tong kalian dari Sujwan, orang she Auyang ini tidak nanti gentar.”

“O, apakah kau ingin mencobanya?” tanya si kakek botak dengan tertawa. Baru tangannya

bergerak, tahu-tahu Auyang Liong sudah melompat mundur.

“Hahaha, besar amat nyali Auyang Pangcu?” ejek kakek dengan tertawa.

Melihat suasana menjadi kacau, Thian-in Taysu tampak sedih, segera ia membuka suara.

“Cara bertengkar kalian ini, bukankah bertentangan dengan maksudku yang sebenarnya?”

Dia berbicara dengan tenang, suaranya perlahan dan tertahan, tapi sekata demi sekata tetap

berkumandang hingga jauh.

Mau tak mau, semua orang lantas diam. Mendadak seorang lelaki tinggi besar dengan muka

hitam serupa si pembaca acara tadi tampil ke depan dan mendekati tungku tembaga, ia

berjongkok sambil meludahi telapak tangannya, tungku yang beribu kati itu lantas

diangkatnya tinggi-tinggi ke atas.

Renjana Pendekar > Karya Khulung > Diceritakan oleh : GAN KL > buyankaba.com 41

Serentak terdengarlah suara sorakan ramai, tanpa terasa Pwe-giok juga berseru memuji akan

tenaga orang.

Segera Kim-yan-cu menanggapi pujian itu. “Orang ini adalah tokoh utama dunia persilatan di

Kwan-gwa, orang menyebutnya “Bu-tek-thi-pah-ong” (Si raja maha kuat tanpa tandingan),

kedua tangannya memang memiliki tenaga yang sukar diukur. Cuma sayang, meski anggota

badannya berkembang melebihi orang lain, tapi otaknya terlalu sederhana.”

Pwe giok tetap tidak menghiraukan si walet, dilihatnya Thi pah ong yang mengangkat tungku

raksasa itu berjalan satu keliling di atas panggung lalu menaruh kembali tungku itu ditempat

semula. Ternyata mukanya tidak merah dan napasnya tidak tersenggal, lalu ia berseru :

“Barang siapa sanggup mengangkat tungku ini dan berjalan tiga langkah saja, maka aku akan

mengakui dia sebagai bengcu.”

Meski yang berduduk di atas panggung ialah ketua dari berbagai aliran ternama, tapi tenaga

sakti pembawaan demikian memang sukar tertandingi. Seketika suasana menjadi hening dan

tiada yang bersuara.

Selagi Thi pah ong memandang ke sini dan mengerling kesana dengan bangga, tiba-tiba Hay

hong hujin dari Pek hoa pang, mendekatinya dengan langkah lemah gemulai, dengan

kerlingan mata genit ia berkata dengan tertawa:

“Hari ini dapat menyaksikan tenaga sakti Thi pah ong di sini, sungguh aku kagum tak

terhingga.”

Tidak menjadi soal jika Hay Hong hujin tidak ketawa, sekali ketawa, maka tidak cuma

orangnya saja yang tertawa, bahkan alisnya, matanya, sampai bunga yang menghiasi

sanggulnya seakan-akan juga tertawa semua.

Biarpun Thi pah ong adalah seorang lelaki kasar, melihat tertawa yang menggiurkan dan

merontokkan sukma ini, mau tak mau ia terkesima lupa daratan, sejenak kemudian barulah ia

berdehem-dehem, lalu berkata: “Terima-kasih atas pujian Hujin.”

Hay hong Hujin menengadah memandang wajah Thi pah ong, katanya pula dengan suara

halus : “Tenagamu yang maha sakti ini apakah benar timbul dari kedua tanganmu ini ?”

Dipandang dari jauh saja orang sudah mabuk oleh kecantikannya, apalagi sekarang dia berdiri

di depan Thi pah ong, bau harum tersiar mengikuti suaranya, bau harum yang mirip Lan hoa

(bunga anggrek) tapi bukan lan hoa, rasanya biarpun harum segala bunga di dunia ini

berhimpun menjadi satu masih kalah harumnya daripada bau hay hong hujin ini.

Keruan Thi pah ong menjadi lemas, berdiri saja hampir tidak sanggup, ia mengangguk dan

menjawab : “Ya, timbul dari kedua tanganku ini.”

“Apakah boleh ku pegang ?” pinta Hay hong hujin dengan lembut.

Muka Thi pah ong menjadi merah. katanya dengan gelagapan : “Hu… Hujin…”

Renjana Pendekar > Karya Khulung > Diceritakan oleh : GAN KL > buyankaba.com 42

Tapi tangan Hay-hong Hujin yang mulus itu sudah mulai merabai tangan Thi-pah-ong yang

kuat seperti besi itu, Thi-pah-ong terkesima seperti orang hilang ingatan, ia diam saja dan

tidak tahu apa yang harus diperbuatnya.

Mendadak terdengar Ang-lian-hoa membentak, “Awas Thi-heng…”

Thi-pah-ong terkejut, seketika terasa jari Hay-hong Hujin berubah sekeras baja, tahu2

setengah badannya terasa kaku.

Terdengar suara tertawa nyaring Hay-hong Hujin, tubuh Thi-pah-ong yang gede seperti

kerbau itu telah diangkatnya.

Seorang lelaki sebesar itu diangkat begitu saja oleh seorang perempuan cantik yang

tampaknya lemah tak bertenaga, pemandangan ini sungguh sangat berkesan dan sukar untuk

dilupakan oleh siapapun yang melihatnya.

Semua orang menjadi tertegun dan tidak tahu apakah harus bersorak atau mesti tertawa, yang

jelas tertawa tidak, bersorak juga tidak, menjadi bingung sendiri.

Perlahan-lahan Hay-hong Hujin menurunkan Thi-pah-ong ke tempatnya tadi, dibetulkannya

baju orang yang kusut serta membenarkan rambutnya, lalu berkata dengan suara lembut,

“Sungguh lelaki yang hebat, bilamana Bengcu harus dijabat oleh orang yang bertubuh paling

besar dan berat, maka aku pasti mencalonkan kau.”

Habis berkata dengan tersenyum manis dan langkah gemulai ia kembali ke tempat duduknya.

Meski tangannya sudah dapat bergerak, tapi terpaksa Thi-pah-ong menyaksikan si jelita

melangkah pergi tanpa dapat berkutik.

Dilihatnya Hui-hi-kiam-khek telah menyongsong Hay-hong Hujin dan menyapanya dengan

tertawa, “Bunga yang menghiasi sanggul Hujin ini sungguh sangat indah, bolehkah pinjamkan

padaku sebentar?”

Hay-hong Hujin ber-kedip2, ucapnya dengan tertawa, “Apabila Hi tocu kurus sedikit, tanpa

syarat tentu akan kuberikan bunga ini…”

Belum lanjut ucapannya, se-konyong2 sinar pedang berkelebat, angin tajam menyambar lewat

di samping telinganya, tahu2 sekuntum bunga segar yang menghias sanggul Hay-hong Hujin

itu telah dicungkil oleh ujung pedang Hi Soan. Cara bagaimana dia melolos pedang dan cara

bagaimana turun tangannya, ternyata tiada seorangpun yang tahu.

Hay-hong Hujin menyurut mundur dua tiga langkah dengan wajah berubah pucat.

Ang-lian-hoa lantas bergelak tertawa dan berseru, “Kalau bunga Hay-hong Hujin itu sudah

diberikan kepada Hi-heng, sebagai gantinya boleh pakai saja bunga terataiku ini!” Di tengah

gelak tertawanya tertampak bayangan berkelebat.

Waktu semua orang memandang Hay-hong Hujin, ternyata di sanggulnya sekarang sudah

bertambah sekuntum bunga teratai merah.

Renjana Pendekar > Karya Khulung > Diceritakan oleh : GAN KL > buyankaba.com 43

Ginkang yang diperlihatkan Ang-lian-hoa ini sungguh luar biasa, biarpun Kun-lun-pay yang

terkenal dengan ginkangnya juga merasa kalah.

Seketika muka Hay-hong Hujin menjadi pucat, kedua tangannya berselubungkan lengan

bajunya yang longgar, katanya dengan senyum genit, “Dua lelaki besar merecoki seorang

perempuan lemah, apa kalian tidak malu?”

Meski dia tersenyum manis dan berucap dengan lembut, tapi setiap orang tahu Pek-hoa-pang

masih ada ilmu sakti simpanan yang disebut “Sam-sat jiu” atau tebaran tiga maut, yaitu

berupa bunga, hujan, dan kabut. Saat ini ketiga macam senjata rahasia itu sudah siap di dalam

lengan bajunya dan setiap saat dapat dihamburkannya.

Meski lahirnya Hi Soan dan Ang-lian-hoa masih bergelak tertawa, tapi diam2 mereka sama

siap siaga.

“Siau-hun-hoat” atau bunga pencabut sukma, “Sit-kun-uh” atau hujan penyusut tulang dan

“Thian-hiang bu” atau kabut harum semerbak, tiga macam senjata rahasia maut Pek-hoa-pang

ini bila dihamburkan, selama ini belum pernah ada orang yang sanggup lolos dengan selamat.

Sebaliknya semua orang juga tahu kecepatan pedang kilat Hui-hi-kiam-khek, sekali bergerak

hampir tidak pernah meleset.

Dalam keadaan tegang itu, semua orang sama menahan nafas.

Syukurlah Thian-in Taysu lantas menghadang di depan Hay-hong Hujin, katanya sambil

menghormat, “Beribu macam ilmu silat berasal dari sumber yang sama, sedangkan kalian

masing2 memiliki keunggulan dan kelemahan sendiri2, andaikan benar2 saling gebrak kalah

menang pasti sukar ditentukan, yang jelas kalian pasti akan ditertawakan dulu oleh setiap

ksatria di dunia ini.”

Semua orang menjadi bungkam dan merasa malu.

Jut-tun Totiang lantas berkata, “Lalu bagaimana menurut pendapat Taysu?”

“Bicara tentang ilmu silat, jelas kalian mempunyai keistimewaannya masing2, dalam hal

nama, kalianpun pimpinan suatu golongan terkemuka,” demikian kata Thian-in Taysu. “Maka

untuk kedudukan Bengcu ini, akan lebih baik…”

“Kedudukan Bengcu ini akan lebih baik diserahkan saja kepada Bu-kek-pay kami!” mendadak

seseorang menanggapi dengan bergelak tertawa.

Serentak semua orang berpaling ke sana, tertampak belasan orang muncul dari sebelah kanan,

tampaknya sangat lambat jalannya, tapi baru lenyap ucapan tadi, rombongan mereka pun

sudah berada di depan panggung.

Tentu saja semua orang sama melengak. Tubuh Ji Pwe-giok juga lantas bergemetar,

gumamnya: “Ini dia baru……. baru datang……”

Belasan orang itu terbagi menjadi dua baris, jubah yang mereka pakai berwarna hijau

seluruhnya, semuanya berjenggot, usianya rata-rata sudah di atas setengah abad.

Renjana Pendekar > Karya Khulung > Diceritakan oleh : GAN KL > buyankaba.com 44

Meski wajah belasan orang ini tidak luar biasa, namun sudah cukup membuat para ksatria

terkesiap. Sebab, tiada satu pun di antara belasan orang ini bukan tokoh kelas wahid, andaikan

ada yang belum pernah melihat muka mereka, paling sedikit juga pernah mendengar nama

kebesaran mereka.

Pada baris pertama dua orang di kanan dan kiri masing-masing adalah Leng-hoa-kiam Lim

soh-koan, satu di antara kesepuluh ahli pedang jaman ini, yang lain ialah Kanglam tayhiap

Ong Ih-lau. Di belakang mereka mengikuti Sim Cin-jiang si tumbak perak dari Ih-hian, Sebun

Hong dari Mo-san dan raja bajak Thay-oh Kim Liong-ong.

Pendek kata, belasan orang ini meski bukan sesuatu ketua perguruan ternama seperti ke-13

Mui-pay, tapi nama mereka sama sekali tidak di bawah ke-13 ketua mui-pay besar yang

berada di atas panggung ini.

Kursi baris terdepan yang berada di bawah panggung itu justeru disediakan bagi rombongan

ini, tapi mereka malah langsung naik ke atas panggung. Maka cepat Thian-in Taysu

menyongsong mereka dan menyapa: ” Kalian datang dari jauh, disilahkan mengikuti upacara

ini di bawah panggung.”

“Kedatangan kami ini bukan cuma sebagai peninjau saja,” dengan suara lantang Lim Sohkoan

lantas berkata.

Thian-in rada melengak, ia tetap bersikap hormat, katanya dengan tersenyum: “Bilakah kalian

masuk menjadi anggota Bu-kek-pay? Ah, janganlah kalian bergurau!”

“Waktu kami masuk perguruan, tidak sempat mengundang Taysu untuk ikut menyaksikan

upacaranya, untuk ini mohon dimaafkan,” kata Lim Soh-koan.

“Ah, tidak soal,” ujar Thian-in. “Tapi Ji Ciangkun kalian……”

Mendadak di belakang sana seorang menanggapi dengan tertawa: “Sudah sekian tahun tidak

bertemu, baik-baikkah Taysu selama ini?!”

Cepat Thian-in Taysu berpaling, dilihatnya seorang tua dengan baju longgar dan berwajah

lonjong, sikapnya tenang dan sabar seperti dewa, siapa lagi dia kalau bukan ketua Bu-kekpay,

Ji Hong-ho adanya.

Ternyata di depan mata orang banyak, secara diam-diam ia telah naik ke atas panggung,

sampai-sampai Coat-ceng-cu yang berdiri paling belakang sana juga tidak mengetahuinya.

Mau tak mau Thian-in Taysu melengak, cepat ia memberi hormat dan menyapa: “Ji-heng

laksana dewa yang hidup di surga-loka, tak tersangka hari ini benar-benar menginjak pula

dunia ramai. Ini benar-benar sangat beruntung bagi dunia Kangouw, pertemuan ini dihadiri Jiheng,

tak sesuatu lagi yang perlu kukuatirkan.”

Di balik ucapannya ini seolah-olah hendak mengatakan bahwa jabatan ketua Perserikatan

Hong-ti ini jelas tak dapat dijabat orang lain terkecuali Hong-ho Lojin atau si kakek Hong-ho.

Padahal Hong-ho Lojin memang juga tokoh yang paling dihormati dan menjadi pujaan setiap

peserta rapat ini.

Renjana Pendekar > Karya Khulung > Diceritakan oleh : GAN KL > buyankaba.com 45

Meski Coat-ceng-cu dan lain-lain tetap merasa berat untuk menarik diri dari pencalonan

jabatan ketua itu, tapi melihat Bu-kek-pay kini telah didukung oleh berbagai tokoh terkemuka

golongan lain, mau tidak mau mereka tidak berani banyak omong lagi.

Segera Jut-tun Totiang mendahului buka suara: “Apabila Hong-ho Toheng sudi memegang

pimpinan pula, sudah tentu anak murid Bu-tong akan merasa sangat beruntung.”

“Anak murid Khong tong juga sudah lama mengagumi kepribadian Hong-ho Lojin,” seru

Coat-ceng-cu.

Auyang Liong juga berteriak: “Mendiang guruku juga sering menyatakan bahwa Ji locianpwe

adalah seorang paling bijaksana, tak tersangka hari ini dapat kutemui di sini. Bilamana Ji

locianpwe sudi memimpin perserikatan ini, para kawan yang hidup di atas air pimpinanku

dengan ini menyatakan akan tunduk di bawah perintah.”

Suara Hay-hong Hujin yang nyaring juga berseru: “Ji-ciangbun luhur budi dan bijaksana tentu

bukanlah manusia yang suka menganiaya anak perempuan. Pek-hoa Pang kami memang tidak

tunduk kepada siapa pun juga terkecuali kepada Ji cianpwe.”

Sampai di sini, melihat gelagatnya jelas jabatan ketua sudah diputuskan dengan suara bulat.

Semua orang, baik di atas maupun di bawah panggung sama bertepuk tangan dan bersorak

gembira. Hanya Ang-lian-hoa saja yang tidak memberi reaksi apa-apa, dengan pandangan

heran dan sangsi ia terus mengawasi sikap Ji Pwe-giok.

Dalam pada itu, terdengar Hong-ho Lojin sedang berkata dengan tersenyum: “Sebenarnya

Losiu (orang tua lapuk) sudah terbiasa hidup malas dan tiada maksud apa pun, tapi

lantaran…..”

Mendengar suara ini, Pwe-giok tidak tahan lagi, mendadak ia melompat ke atas, seperti orang

gila saja dia menerjang ke atas panggung sambil berteriak dengan suara parau: “Orang ini

bukan ayahku! Dia palsu!”

Seketika senyap suara sorak-sorai tadi, semua orang sama melenggong kaget.

“Pwe-giok, apa kau sudah gila?” bentak Lim Soh-koan dengan gusar.

Berbareng Sebun Hong dan Kim Liong-ong menubruk maju, akan tetapi mereka lantas

diseruduk Pwe-giok hingga tergetar mundur.

Dengan kalap Pwe-giok menerjang ke depan “Hong-ho Lojin” dan membentak:

“Sesungguhnya siapa kau? Berani kau memalsukan ayahku?!”

Di tengah bentakannya ia terus menjotos, akan tetapi semacam tenaga lunak dan sukar ditahan

telah membuat tubuhnya terpental. Karena itu, Ong Ih-lau dan lain-lain lantas memburu maju

dan membekuknya.

Dengan suara berat Thian-in Taysu berkata: “Orang muda mana boleh berlaku sekasar dan

tidak sopan begini, ada persoalan apa hendaklah dibicarakan secara baik-baik saja.”

Renjana Pendekar > Karya Khulung > Diceritakan oleh : GAN KL > buyankaba.com 46

“Kau anak murid siapa?” Jut-tun Totiang lantas bertanya.

“Tecu Ji Pwe-giok,” seru Pwe-giok dengan menggertak gigi dan air mata bercucuran.

Sorot mata Thian-in Taysu beralih ke arah Ji Hong-ho, tanyanya: “Apakah benar dia

putramu?”

Ji Hong-ho tersenyum pedih, katanya sambil mengangguk: “Anak ini…. Ai, dia …..” sampai di

sini dia lantas menghela napas panjang dan tidak melanjutkan.

Jut-tun Totiang lantas membentak Pwe-giok: “Mengapa kau berani berbuat kasar begini

terhadap orang tua?”

Kedua lengan Pwe-giok terasa kaku dan tak dapat berkutik lagi, dengan suara parau ia

berteriak: “Dia bukan ayahku! Ayah sudah meninggal, di sampingku beliau meninggal!”

Thian-in dan Jut-tun saling pandang sekejap dengan air muka berubah.

Oh Ih-lau lantas menyela: “Anak ini benar-benar sudah gila, masa ngaco-belo tidak keruan.”

“Ya, dia memang gila,” tiba-tiba Cia Thian-pi menukas. “Pagi tadi dia datang menumpang

keretaku, tapi dia menuduh aku membunuh ayahnya. Padahal jejakku selama beberapa hari

terakhir ini tentu diketahui oleh kalian, syukur sekarang Ji Locianpwe berada di sini, kalau

tidak……. wah!”

Meski dalam hati orang banyak timbul rasa curiga, tapi setelah mendengar keterangan ketua

Tiam-jong pay ini, mereka pun sama menggeleng dan menghela nafas gegetun.

Apakah ucapan tokoh-tokoh angkatan tua yang terhormat dan disegani ini lebih dapat

dipercaya atau harus percaya kepada penuturan seorang pemuda yang tampaknya kurang

waras ini? Tanpa dijawab pun kiranya sudah jelas.

Hancur luluh perasaan Pwe-giok melihat air muka para hadirin yang merasa tidak senang

terhadap tindakannya itu, air matanya berderai bagaikan hujan. Musibah yang dideritanya dan

fitnah yang diterimanya apakah sejak kini akan tenggelam ke dasar lautan dan tak dapat

dibongkar lagi?

Lim Soh-hoan memandang sekeliling, dengan sendirinya ia pun dapat melihat sikap orang

banyak yang menguntungkan pihaknya, dengan suara bengis ia lantas membentak: “Berani

kepada atasan dan mengacau di sidang khidmat ini, durhaka kepada orang tua dan menuduh

secara ngawur, dosanya ini harus dihukum mati dan sukar diampuni. Orang she Lim terpaksa

harus mengenyampingkan hubungan keluarga dan melaksanakan keadilan bagi dunia

Kangouw.”

Jika ayah mertuanya saja sudah begitu bicaranya, orang luar mana ada yang berani ikut

campur lagi.

Segera Lim Soh-koan melolos pedangnya terus menusuk.

“Nanti dulu!” mendadak seseorang membentak.

Renjana Pendekar > Karya Khulung > Diceritakan oleh : GAN KL > buyankaba.com 47

Tahu-tahu tangan Lim Soh-koan yang memegang pedang dicengkeram orang seperti terjepit

tanggam, sehingga badannya terasa kaku dan tak bisa berkutik.

“Ang-lian Pangcu, masa kau mem… membela anak durhaka ini?” teriak Lim Soh-koan.

Yang mencengkeram tangannya memang betul Ang-lian-hoa, ia tidak perdulikan ucapan

orang, tangan yang lain menepuk pundak Pwe-giok, katanya dengan tertawa: “Memang agak

keterlaluan kelakar ini, tapi rasanya sudah cukuplah sekarang!”

Ucapan ketua Kay pang ini membikin beribu-ribu orang, baik di atas maupun di bawah

panggung, semuanya sama tercengang.

“Kel…. kelakar apa maksudmu?” tanya Lim-soh-koan dengan terkesiap.

Ang-lian-hoa bergelak tertawa, katanya: “Setiap kali sidang pertemuan Hong-ti berlangsung,

suasana selalu terasa sangat tegang, karena itulah Siaute lantas mencari akal ini agar dapat

sekedar mengendurkan urat syaraf para hadirin.”

Thian-in saling pandang dengan Jut-tun Totiang, sedangkan Ong Ih-lau, Lim Soh-koan dan

konco-konconya sama melenggong seperti patung.

Sekali tepuk Ang-lian-hoa membuka hiat-to Pwe-giok yang tertutuk, lalu katanya pula:

“Sekarang kita mengakhiri kelakar ini dan bolehlah kau bicara dengan sejujurnya.”

Pwe-giok menunduk dan mengiakan, mendadak ia lantas menengadah dan tertawa, ia terus

menyembah kepada Ji Hong-ho dan berseru: “Anak terlalu kurang ajar, mohon ayah sudi

memberi ampun.”

Wajah Ji Hong-ho tampak kurang senang, katanya sambil terbatuk-batuk: “Kau…. hk, hk….

kau terlalu…. terlalu….. hk, hk…..”

“Nah sudahlah, ayahmu sudah memberi ampun padamu, lekas kau bangun!” seru Ang-lianhoa.

Sampai di sini, ada sementara orang sudah mulai tertawa, mereka merasa “kelakar” ini

sungguh sangat menarik. Sebaliknya Lim-soh-koan, Ong Ih-lau dan lain-lain sama menyengir

bingung mimpi pun mereka tidak menduga akan terjadi perubahan begini.

Cia Thian-pi menghela nafas lega, ucapnya dengan tertawa: “Memang seharusnya sudah

kuduga ini adalah kelakar yang disutradarai Ang-heng.”

Ang-lian-hoa berkedip-kedip dan menjawab dengan tertawa: “Memang, seharusnya sudah

tadi-tadi kau duga, mustahil di dunia ini ada manusia sembrono begini, masa menuduh kau

membunuh ayahnya tanpa berdasar?”

Cia Thian-pi terbahak-bahak, agaknya makin dipikir terasa semakin lucu.

“Kelakar ini tidak ditujukan kepada orang lain, tapi justeru tertuju kepada Ji locianpwe yang

bijaksana dan baik hati, tidak nanti beliau marah hanya karena sedikit urusan ini.”

Renjana Pendekar > Karya Khulung > Diceritakan oleh : GAN KL > buyankaba.com 48

“Hk, hk,…. anak ini…… hk, hk,……” selain batuk-batuk saja, memangnya apa yang dapat

dikatakan Ji Hong-ho?

Segera Ang-lian-hoa membangunkan Pwe-giok dan berkata: “Gara-gara berkelakar, kau yang

terpaksa harus berlutut dan minta ampun, harap aku dimaafkan.”

“Nanti dulu,” mendadak Lim Soh-koan membentak.

“Apakah kaupun ingin dia menyembah dan minta ampun padamu seperti perbuatannya

terhadap ayahnya?” tanya Ang-lian-hoa.

“Sidang Hong-ti ini masa kau anggap tempat berkelakar seperti anak kecil begini?” seru Lim

Soh-koan dengan bengis. “Perbuatan yang tidak sopan dan tidak masuk akal begini apakah

cukup dengan menyembah dan minta ampun saja?”

“Habis, mau apalagi kalau menurut pendapat anda?” tanya Ang-lian-hoa.

“Melulu kesalahan mempermainkan orang tua sudah harus dihukum dengan memunahkan

ilmu silatnya dan dipecat dari perguruan,” bentak Lim Soh-koan.

Ang-lian-hoa tersenyum dan bertanya: “Apakah anda ketua sidang pertemuan ini?”

“Bu……. bukan,” jawab Lim Soh-koan.

“Apakah anda ayah Ji Pwe-giok?” tanya Ang-lian-hoa pula.

“Bukan,” jawab Lim Soh-koan dengan muka merah.

Mendadak Ang-lian-hoa menarik muka, katanya: “Kalau begitu, lantas anda ini orang macam

apa? Dengan hak apa kau bicara di atas panggung ini?”

Sorot mata Ang-lian-hoa mendadak berubah tajam sehingga Lim Soh-koan tidak berani

menatapnya, ia menunduk dan tidak berani bicara lagi.

Ang-lian-hoa lantas memberi hormat kepada segenap hadirin, lalu berkata: “Kelakar ini sama

sekali adalah karena doronganku, jika para hadirin merasa Siaute bersalah, kalau harus

dipukul, Siaute terima dipukul, kalau mesti dihukum, Siaute juga rela dihukum.”

Kay-pang adalah organisasi Kangouw terbesar selama 80 tahun, anggotanya beratus ribu

bahkan jutaan banyaknya dan tersebar di seluruh negeri, usia Ang-lian-hoa masih sangat

muda, tapi kepribadiannya, kecerdasan dan tinggi ilmu silatnya dipuji oleh setiap orang

kangouw. Sekarang dia bicara blak-blakan begitu, siapa yang berani bermusuhan dengan dia

dengan menyatakan dia harus dipukul atau dihukum.

Apalagi persoalannya tidak menyangkut kepentingan sendiri, kebanyakan di antaranya lebih

suka tidak ikut campur. Hanya Hui-hi-kiam-khek saja, sambil meraba pedangnya ia berkata

dengan tertawa: “Menurut pendapatku, Ang-lian-pangcu justru telah menghibur kita di tengah

ketegangan ini, bukannya dihukum seharusnya dia harus mendapat pahala, maka aku

mengusulkan dia harus disuguh tiga cawan arak!”

Renjana Pendekar > Karya Khulung > Diceritakan oleh : GAN KL > buyankaba.com 49

Thian-in Taysu termenung sejenak, katanya kemudian: “Kukira urusan ini serahkan saja

kepada keputusan Hong-ho Lojin!”

Ji Hong-ho berdiam cukup lama, belum lagi bicara, tiba-tiba suara seorang tajam melengking

terdengar di bawah panggung sana: “Sebuas-buasnya harimau juga tidak makan anaknya

sendiri, kukira persoalan ini pasti tidak diusut lebih lanjut oleh Ji Locianpwe!”

Air muka Ji Hong-ho tampak berubah demi mendengar suara itu, segera ia pun berkata

dengan tertawa getir: “Jika Ang-lian Pangcu sudah bicara bagi anak ini, biarlah kuberi ampun

padanya sekali ini.”

Serentak terdengarlah suara sorak-sorai di bawah panggung. Pada kesempatan itu Ang-lianhoa

lantas mendekati Bwe Su-bong dan membisikinya: “Lekas pergi mencari tahu, siapa

orang yang bicara tadi?”

Diam-diam Bwe Su-bong lantas melayang turun melalui belakang panggung. Sedang Anglian-

hoa berlagak seperti tidak terjadi apa-apa, ia maju pula ke depan panggung dan memberi

hormat kepada segenap hadirin sambil mengucapkan terima kasih. Lalu ia tepuk-tepuk

pundak Pwe-giok dan berkata: “Nah, untuk apalagi kau berdiri di sini? Pergilah ganti pakaian

dan sediakan arak, tunggulah kedatangan ayahmu nanti.”

Pwe-giok memandangnya sekejap, entah betapa rasa terima kasihnya yang terkandung dalam

sorot matanya ini. Lalu, ia pun memberi hormat kepada para hadirin dan berlari meninggalkan

panggung.

Terpaksa Lim Soh-koan, Ong Ih-lau dan lain-lain hanya memandangi kepergian anak muda

itu dengan melongo, bagaimana perasaan mereka sukar untuk diketahui orang lain.

Tiba-tiba Sin-to Kongcu mengomel: “Sialan!”

Kim-yan-cu lantas menjengek: “Huh, orang sekarang resminya adalah putera Bu-lim Bengcu,

betapa pun kedudukannya sudah jauh lebih terhormat daripadamu, kukira janganlah kau cobacoba

merecoki dia.”

Tidak kepalang gemas Sin-to Kongcu, ia hanya melotot dan menggertak gigi, tapi tak sanggup

bicara lagi.

*****

Setelah turun dari panggung, tanpa berpaling Ji Pwe-giok terus berlari meninggalkan

perkemahan sidang, di luar hanya lautan manusia belaka, ia menyelinap ke tengah kerumunan

orang banyak. Orang banyak yang di depan melihat kedatangannya sama memberi jalan

padanya, tapi orang yang di belakang hakekatnya tidak tahu siapa dia sehingga dia mandi

keringat tergencet di sana-sini.

Dengan susah payah tampaknya dia sudah hampir menyelinap keluar dari berjubelnya lautan

manusia, sekonyong-konyong ia merasa pinggangnya seperti tertutuk oleh sesuatu benda

keras, segera ia mendoyongkan tubuh ke depan dengan sekuatnya, tentu saja orang lain tidak

Renjana Pendekar > Karya Khulung > Diceritakan oleh : GAN KL > buyankaba.com 50

tahan oleh gentakan tenaganya yang kuat ini, belasan orang sama tertumbuk jatuh tunggang

langgang.

Pada saat yang sama itulah ia dengar di belakang seperti ada suara orang yang menjerit

tertahan, begitu bersuara lantas berhenti, mirip orang yang baru menjerit dan segera mulutnya

didekap.

Ia pun tidak ingin mencari tahu apa yang terjadi, cepat ia menyelinap keluar dari kerumunan

orang banyak dan berlari ke depan. Tapi lari kemana? Sungguh kusut pikirannya, mana dia

tahu ke mana akan dituju nya?

Setelah tertiup angin barulah ia merasa belakang tubuhnya silir-silir perih, seperti ada cairan

mengalir, ia mengira air keringat, tapi ketika dirabanya dengan tangan dan memandangnya,

ternyata tangannya penuh berlepotan darah segar.

Baru sekarang ia menyadari bilamana tadi dia tidak bertindak cepat dengan mendoyong ke

depan, tentu saat ini dia sudah mati di tengah berjubelnya manusia.

Lalu siapakah yang hendak membunuhnya? Sudah tentu sukar untuk diselidiki.

Teringat kejadian ini, belum lagi keringat hangatnya kering, kembali keringat dingin

merembes lagi.

Seketika tidak keruan rasa hati Ji Pwe-giok, ya pahit ya getir, ya benci ya terima kasih, ya

gemas ya sedih. Jelas tadi orang hendak membunuhnya, tapi ada seorang lain telah menjadi

korban karena dia sempat menyelamatkan diri. Hal inilah yang membuatnya sedih.

Ang-lian-hoa boleh dikatakan baru saja dikenalnya, tapi telah membantunya dengan sepenuh

hati tanpa pamrih, hal inilah yang membuatnya berterima kasih.

Ayahnya dibunuh orang secara keji, tapi keadaan memaksanya sedemikian rupa, bukan saja

dia tidak dapat menuntut balas, bahkan terpaksa harus mengakui musuh sebagai ayah. Untuk

ini masakan dia tidak pedih dan tidak benci ?

Sekarang keluarganya berantakan, dikhianati orangnya sendiri, hari depannya tak menentu

dan tidak tahu apa yang harus dilakukannya, semua ini membuatnya sedih.

Teringat kepada kejadian tadi, ketika dia harus tertawa dan menyembah kepada musuh dan

mengaku ayah padanya, sungguh ia tidak tahu cara bagaimana dia dapat berlaku tertawa. Bisa

jadi lantaran bencinya sudah merasuk tulang, maka dia harus menuntut balas, dia harus hidup!

sekali kali tidak boleh mati.

Pada saat itulah mendadak di belakang terdengar suara orang berjalan dengan langkah

perlahan, cepat Pwe-giok berpaling, beberapa bayangan orang segara berkelebat dan

sembunyi dibalik pohon dab batu.

Pwe-giok pura-pura tidak tahu, ia tetap melangkah ke depan, tapi sengaja dilambatkan

jalannya. Baru belasan langkah, sekonyong-konyong datang serangan, tiga batang golok, dua

dari atas dan satu dari bawah, serentak membacok dan menebas dengan cepat dan kuat.

Renjana Pendekar > Karya Khulung > Diceritakan oleh : GAN KL > buyankaba.com 51

Secepat kilat Pwe-giok menjatuhkan diri ke depan, sambil setengah bertiarap, kaki kanan

terus mendepak ke belakang.

Kontan terdengar suara jeritan, seorang lelaki terdepak terpental. Dua lainnya karena serangan

tidak berhasil, segera bermaksud kabur.

Akan tetapi Pwe-giok bergerak terlebih cepat, mendadak ia melompat bangun terus

menghantam tepat mengenai punggung salah seorang itu. Lelaki itu sempat berlari beberapa

langkah, tapi tubuh bagian atas terus menekuk ke belakang mirip bambu patah, lalu roboh

terkulai.

Lelaki yang lain merasa tidak dapat kabur lagi, terpaksa ia mengadu jiwa, goloknya

membacok lagi. Tapi sekali pegang, pergelangan tangannya dapat ditangkap oleh Ji Pwe-giok,

segera orang itu menjotos dengan tangan lain, tapi kepalannya juga kena dihimpit di bawah

ketiak oleh Pwe-giok.

Pada waktu biasa lelaki inipun tergolong jagoan, tapi ilmu silat yang dimilikinya sekarang

bagi Ji Pwe-giok jadi seperti permainan anak kecil belaka. Tulang tangannya sama retak,

sakitnya membuatnya hampir kelenger.

Dengan suara bengis Pwe-giok lantas membentak: “Kau bekerja bagi siapa? Asalkan kau

mengaku terus terang segera kuampuni jiwamu!”

Lelaki itu tertawa pedih, katanya: “Apakah kau ingin tahu? tapi selamanya kau tak mungkin

tahu…” suaranya semakin lemah dan mendadak berhenti dengan muka pucat.

Waktu Pwe-giok memeriksa napasnya, hanya sekejap saja lelaki itu ternyata sudah mati. Air

mukanya dari pucat lantas berubah hitam, kulit daging mukanya juga lantas menyusut, sampai

biji mata juga lantas ambles ke dalam dan akhirnya lenyap semua. Hanya sejenak saja

berubah menjadi tengkorak.

Nyata didalam mulut lelaki itu sudah disiapkan racun. Racun ini serupa dengan racun yang

membinasakan Hek-Kap-cu tempo hari itu. Jelas ketiga lelaki inipun didalangi oleh iblis tak

kelihatan yang membinasakan Hong-ho Lojin itu.

Waktu Pwe-giok memeriksa lagi kedua orang lain, yang satu tulang dadanya remuk dan yang

satu lagi tulang punggung patah, semuanya sudah mati sejak tadi. Maklum, terlalu berat

tendangan dan hantaman Pwe-giok bagi mereka.

Pwe-giok menghela napas sedih, ia menunduk, dirasakan tangannya terasa rada gatal. Ia tidak

mengacuhkan dan menggaruk-garuknya. Tak terduga, makin digaruk makin gatal, bahkan

akhirnya rasa gatal itu seakan-akan menggelitik hati.

Tidak kepalang kagetnya, ia tahu gelagat tidak baik, tapi rasa gatal itu sungguh sukar ditahan

dan ingin menggaruknya lagi. Hanya sekejap saja jarinya sudah bengkak, telapak tangan juga

mulai bersemu hitam, rasa gatal itu dari telapak tangan mulai menjalar ke lengan.

Kejut dan takut pula Pwe-giok, ia berusaha menjemput golok orang yang terjatuh di tanah itu,

bilamana perlu ia bermaksud membuntungi tangan sendiri.

Renjana Pendekar > Karya Khulung > Diceritakan oleh : GAN KL > buyankaba.com 52

Akan tetapi jari tangan sudah tidak mau menurut perintah lagi, sudah kaku dan mati rasa,

golok terpegang dan terjatuh pula. Dengan menggertak gigi sekuatnya ia pegang pula golok

itu, akhirnya dapatlah golok itu diangkatnya terus hendak menebas lengan sendiri. Syukurlah

pada detik itu mendadak setitik sinar menyambar tiba, “trang”, golok itu tergetar hingga

terlepas.

Pada saat yang hampir sama dua lelaki berjubah panjang dan memakai kedok hitam melayang

keluar dari tempat teduh, yang seorang tinggi kurus, yang lain pendek besar.

Yang jangkung lantas terkekeh kekeh terhadap Pwe-giok, ucapnya: “Gatal, aduh, gatalnya,

nikmat sekali kalau digaruk.” Sambil bicara ia terus berlagak seperti orang yang menggaruk.

Tanpa terasa Pwe-giok juga hendak menggaruk pula, tapi mendadak ia tersentak kaget, tangan

kanan terus menghantam tangan kiri sendiri sambil berteriak: “Akhirnya aku terperangkap

juga oleh tipu keji kalian. Jika mau bunuh boleh kalian bunuh saja diriku.”

Dengan terkekeh si jangkung berkata: “Baru sekarang kau tahu terperangkap? Padahal

alangkah tangkasnya tadi ketika kau main depak dan pukul membinasakan ketiga kawan kami

ini”

Si pendek juga mengejek: “tentunya kau tahu sekarang bahwa ketiga orang ini sengaja kami

kirim agar kau bunuh, kalau tidak, masa pihak kami mengirim orang tak becus seperti mereka

ini.”

Si jangkung lantas menyambung: “Sudah kami perhitungkan, setelah kau bunuh mereka, tentu

akan kau periksa mayat mereka, sebab itulah di baju mereka sudah ditaburi racun, begitu

tanganmu menyentuh bubuk itu, sedikit terasa gatal, segera racun itu akan bekerja terlebih

cepat. Ha ha, bilamana rasa gatal sudah menggelitik, mustahil kau tidak menggaruknya ?”

“Dan sekarang kedua tanganmu sudah bengkak seperti kaki babi, jelas tanganmu tiada

gunanya lagi, coba, apakah kau masih bisa berlagak garang dan memukul orang ?”

Begitulah kedua orang, yang satu jangkung dan yang lain pendek, keduanya bercakap seperti

pelawak di atas panggung, meraka sengaja mengejek dan berolok-olok.

Dengan menggertak gigi Ji Pwe-giok berkata: “Cara kalian mencelakai orang ternyata tidak

sayang mengorbankan kawan sendiri, hm, apakah cara kalian ini terhitung perbuatan manusia,

hakekatnya melebihi binatang buas.”

“Ketiga orang itu rela mati demi Cukong kami, kematian mereka harus dipuji, bukan saja

mereka merasa bangga, bahkan anggota keluarga yang ditinggalkan mereka juga akan merasa

beruntung.” ujar si jangkung.

“Tapi sekarang kematianmu justeru mati tanpa suara dan tak berbau, bahkan orang lain tiada

yang tahu apakah kau sudah mati atau masih hidup, mungkin ada yang mengira kau telah

melarikan diri karena takut dosamu akan dituntut.” sambung si pendek.

Tidak kepalang pedih hati Ji Pwe-giok, ia merasa kematian sudah menanti dan sukar

dihindari, ia tertawa sedih dan berkata: “Sungguh tak tersangka di dunia ini ada manusia

Renjana Pendekar > Karya Khulung > Diceritakan oleh : GAN KL > buyankaba.com 53

sekeji dan kejam seperti kalian ini …” belum habis ucapannya pandangannya menjadi gelap

dan robohlah dia.

“He he he, bagaimana kalau kita berlomba, kubacok satu kali dan kaupun bacok satu kali,

coba siapa yang lebih dulu membinasakan dia,” kata si jangkung dengan terkekeh kekeh.

Si pendek menjawab: “Aha bagus, usul yang menarik…”

Kedua orang lantas menjemput sebatang golok kawan mereka yang sudah binasa ini, lalu

mendekati Pwe-giok pula.

“Sebelum ajalku, apakah kalian tetap tidak mau memberitahukan padaku sesungguhnya

bagaimana bentuk intrik ini dan siapa yang berdiri di belakang semua ini ?” teriak Pwe-giok

dengan parau.

Jilid 3________

“Hehe, apakah kau ingin jadi setan yang tahu duduknya perkara?” tanya si jangkung. “Tidak,

tidak boleh, kau ditakdirkan harus menjadi setan penasaran.”

“Bukan kami tidak mau memberitahukan padamu, sebab rahasia di balik urusan ini kami

sendiripun tidak tahu,” ujar yang pendek.

Baru habis ucapannya, mendadak ia melonjak kaget seperti melihat setan, jeritnya dengan

ketakutan, “He, ular! ular!” benar juga, kaki kanannya telah dirambati oleh dua ekor ular kecil

berwarna hijau gelap.

Di atas tanah masih ada dua ekor ular lagi dan secepat kilat menyambar ke arah si jangkung.

Tapi gerak tubuh si jangkung juga selicin ular, sekali berkelebat dapatlah ia menghindarkan

pagutan ular, berbareng goloknya lantas menabas dan tepat mengenai muka si pendek,

bentaknya dengan bengis:

“Keluargamu pasti akan ku jaga dengan baik, kau tidak perlu kuatir.”

Muka si pendek berlumuran darah, tapi masih sanggup tertawa pedih, katanya, “Te! terima

kasih! aku dapat mati bagi Cu-siang (majikan) sungguh aku sangat! sangat senang!” belum

habis ucapannya ia terus roboh dan binasa.

Dalam pada itu si jangkung sudah melayang pergi beberapa tombak jauhnya, sekali berkelebat

pula lantas menghilang.

Mandi keringat dingin Ji Pwe-giok menyaksikan kejadian itu, pandangannya mulai gelap,

tubuhnya terasa semakin berat dan seolah tenggelam ke lubang gua yang tak terkira dalamnya

dan akhirnya tidak melihat apa2 lagi.

*****

Sang surya sudah terbenam di sebelah barat, jagat raya ini diliputi kekelaman, meski di

musim panas, angin malam mengembus silir2 sejuk, suasana sunyi senyap dan terasa

mencekam.

Renjana Pendekar > Karya Khulung > Diceritakan oleh : GAN KL > buyankaba.com 54

Waktu Pwe-giok siuman, ia merasa tangannya seakan-akan dicocok oleh beribu-ribu jarum,

tangannya yang sudah kaku itu tiba-tiba dapat dirasakan lagi, tapi bukan rasa gatal lagi

melainkan rasa sakit.

Ia membuka mata, dalam keadaan remang-remang terlihat sesosok bayangan berdiri di

depannya tanpa bergerak, rambut orang sudah memutih perak dan bergoyang-goyang tertiup

angin.

Kejut dan girang Pwe-giok. “Bwe!” belum sempat dia berseru, tahu2 mulutnya sudah didekap

oleh Bwe Su-bong.

“Jangan bergerak,” kata pengemis tua itu. “Saat ini sedang kusuruh Siau Jing (si hijau), Siau

Pek (si putih), Siau Pan (si loreng) dan Siau Hek (si hitam) menghisap racunmu, asalkan

racun sudah terhisap habis, tentu takkan berbahaya lagi.”

Waktu Pwe-giok memandang ke bawah, dilihatnya empat ekor ular kecil menempel di

tangannya, yang seekor berwarna hijau, satu lagi warna putih, yang lain warna belang dan

yang ke empat berwarna hitam bertutul putih. Mungkin itulah ke empat ekor ular Siau Jing

dan lain2 yang disebut Bwe Su-bong tadi.

Memandangi ular2 itu, Bwe Su-bong tampak sangat kasih sayang seperti seorang ayah

terhadap anak-anaknya. Dengan tersenyum ia berkata, “Coba lihat, mereka sangat

menyenangkan bukan?”

Dengan setulus hati Pwe-giok mengangguk. Setelah melihat manusia kejam dan keji tadi kini

melihat pula ke empat ekor ular kecil ini, sungguh ia merasa ular terlebih menyenangkan

daripada manusia.

“Sudah lama, mereka bukan saja menjadi kawan karibku, menjadi anakku, bahkan juga

pembantuku yang setia,” tutur Bwe Su-bong dengan tertawa. “Aku sendiri sudah tua, tangan

dan kakiku sudah kaku dan tidak gesit lagi, tapi mereka masih sangat muda.” Bicara sampai di

sini, tertawalah dia dengan sangat gembira.

Teringat kepada tingkah laku orang yang digigit ular tadi, mau tak mau timbul juga rasa puas

Ji Pwe-giok. Sudah sekian lamanya, untuk pertama kali inilah hati anak muda ini merasa

senang.

“Tentunya kau tahu sekarang bahwa namaku juga timbul dari kawanan ular ini,” tutur Bwe

Su-bong pula. “Orang Kangouw suka menyebut diriku “Bo-su-bang” (tidak ada urusan, sibuk

selalu)! Haha, padahal namaku Bwe Su-bong (Bwe si empat ular), Bo Su-bang dan Bwe Subong,

hehe.. entah keparat siapa yang mencetuskan olok2 ini padaku.”

Tiba2 Pwe-giok teringat kepada gerak-gerik kedua orang tadi, yaitu si jangkung dan si

pendek, jelas kepandaian mereka tidak lemah dan pasti tokoh ternama dunia Kangouw. Bwe

Su-bong sudah lama berkelana di dunia persilatan, pengalamannya sangat luas, entah dia

kenal mereka tidak?

Agaknya Bwe Su-bong dapat meraba isi hati Pwe-giok, dengan menyesal dia berkata, “Siapa

orang ini mungkin aku dapat mengenali dia, cuma sayang mukanya telah dihancurkan oleh

Renjana Pendekar > Karya Khulung > Diceritakan oleh : GAN KL > buyankaba.com 55

bacokan golok temannya. Ai, orang itu bukan saja membunuh kawan untuk tutup mulut,

bahkan menghancurkan mukanya, tindakannya yang keji ini sungguh jarang ada

bandingannya.”

Dengan sedih Pwe-giok memejamkan matanya, nyata garis petunjuk yang diharapkan ini

kembali lenyap.

“Orang2 ini tidak saja kejam dan keji dengan rencana yang rapi, bahkan cara kerja mereka

sangat cekatan dan bersih,” tutur Bwe Su-bong pula. “Tadi sudah kugeledah tubuh mereka

dan tiada menemukan sesuatu benda tanda pengenal mereka.”

Lalu pengemis tua ini berjongkok dan memeriksa tangan Pwe-giok, mendadak ia bersuit

perlahan, serentak empat ekor ular kecil itu melepaskan gigitannya dan merambat ke tubuh

Bwe Su-bong, dari kaki merambat ke perut, ke dada dan melintasi pundaknya.

“Anak sayang, tentu kalian sudah lelah. Pulanglah dan tidur!” kata Bwe Su-bong dengan riang

gembira.

Ke empat ular kecil itu juga sangat penurut, beramai-ramai mereka lantas menyusup ke dalam

karung goni di punggung Bwe Su-bong.

“Untung racun yang mengenai dirimu masuknya melalui kulit badan secara tidak langsung,

untung juga tanganmu tiada lubang luka, meski tubuhmu sekarang masih terasa lemah, tapi

pasti tidak beralangan lagi,” ujar Bwe Su-bong dengan tertawa.

Pwe-giok tidak mengucapkan terima kasih, ia merasa budi pertolongan sebesar ini tidak dapat

dibalas hanya dengan ucapan terima kasih saja.

Tampaknya Bwe Su-bong sangat gembira, ia bangunkan Pwe-giok dan berkata pula,

“Pertemuan Hong-ti entah sudah berakhir belum, jika sudah ditutup, tentu Pangcu kami

sedang menantikan kedatanganmu. Marilah kita pulang untuk menemuinya.”

“Aku! aku tidak ingin kesana,” mendadak Pwe-giok berkata.

“Kau tidak! tidak mau menemui Pangcu?” Bwe Su-bong menegas dengan heran.

“Saat ini di sekitarku sedang mengintai berbagai setan iblis yang tak terhitung jumlahnya dan

setiap saat akan turun tangan keji kepadaku, jika ku pulang kesana, mungkin Pangcu akan ikut

terembet,” kata Pwe-giok dengan tersenyum sedih.

“Aah, kau kira Ang lian-pangcu itu manusia yang takut urusan?” kata Bwe Su-bong dengan

tak acuh.

Pwe-giok tidak bicara lagi, ia menunduk dan menghela nafas, lalu ikut pengemis tua itu

kesana.

“Tadi waktu kubersihkan racunmu, kudengar sorak sorai gemuruh di tempat sidang sana,

mungkin upacara sumpah setia perserikatan telah berlangsung dengan memuaskan dan

selanjutnya para kawan Bu-lim boleh hidup dengan aman dan tenang lagi.”

Renjana Pendekar > Karya Khulung > Diceritakan oleh : GAN KL > buyankaba.com 56

“Hah, apakah betul dapat hidup tenang dan aman?” ucap Pwe-giok dengan tersenyum pedih.

Bwe Su-bong memandangnya sekejap dan menghela nafas panjang. Katanya dengan

tersenyum getir, “Ya, semoga begitu hendaknya!”

Tidak lama mereka berjalan, terlihat di tempat sidang sana cahaya api gemerdep dan

terdengar suara sorak gembira yang sayup2 berkumandang terbawa angin. Cahaya api dan

suara sorakan itu tidak terlalu jauh, tapi bagi penglihatan dan pendengaran Ji Pwe-giok

rasanya seperti ter-aling2 oleh sebuah dunia lain, cahaya terang dan sorak gembira tidak

berani lagi diimpikannya.

“Pertemuan tahun ini tampaknya jauh lebih meriah daripada tahun2 sebelumnya,” tutur Bwe

Su-bong dengan gegetun. “Sudah enam kali aku ikut serta pertemuan besar demikian, hanya

sekali ini saja tidak ikut pesta bergembira dengan para kawan peserta rapat! rasanya aku

seperti kurang bersemangat.”

“Sehabis pertemuan besar ini apakah selalu diadakan pesta besar?” tanya Pwe-giok.

“Sudah tentu pesta demikian tidak boleh berkurang.”

“Tapi hidangannya!”

“Setiap pertemuan Hong-ti, para hadirin selalu membawa hidangan dan arak sendiri,” tutur

Bwe Su-bong dengan tertawa cerah. “Habis sidang, beramai-ramai lantas duduk di

perkemahan masing-masing atau mengajak beberapa kawan karib untuk makan minum

dengan gembira, biasanya pesta berlangsung semalam suntuk. Esoknya jarang ada yang dapat

berangkat pagi-pagi.”

Wajahnya yang sudah tampak ketuaannya kelihatan bersemangat demi bercerita tentang

pengalamannya di masa lalu, dengan tertawa ia sambung pula, “Beberapa kali pertemuan

besar itu sungguh sukar dilupakan orang, dimana-mana cahaya terang, dimana-mana

berkumandang dendang gembira, di sana-sini mengundang minum, setelah menenggak

beberapa cawan, bisa jadi kau akan jatuh di pangkuan seorang kawan lama yang sudah

belasan tahun tak berjumpa, sekalipun kau tidak sanggup minum lagi dia masih akan

mencekoki kau dengan paksa! Ai, aku sudah tua, hari2 menyenangkan begitu mungkin takkan

kembali lagi.”

“Apapun juga, kenangan demikian tetap sangat menyenangkan,” kata Pwe-giok dengan

gegetun.

“Betul, manusia harus mempunyai sedikit kenangan yang manis, kalau tidak, cara bagaimana

akan melewatkan malam2 yang sunyi dan musim dingin yang menyiksa!”

Pwe-giok berusaha mengunyah betapa rasanya ucapan pengemis tua itu dan coba

meresapinya, tetapi sukar diketahui apakah pahit atau manis.

Tanpa terasa mereka sudah sampai di depan perkemahan Ang-lian pangcu. Orang2 yang

semula berkerumun di luar kemah sekarang sudah bubar, samar-samar ada cahaya lampu di

dalam kemah. Belum lagi mereka mendekati segera ada orang yang membentak di dalam

kemah, “Siapa itu?”

Renjana Pendekar > Karya Khulung > Diceritakan oleh : GAN KL > buyankaba.com 57

Suaranya kereng berwibawa, ternyata bukan suara Ang-lian hoa. Selagi Pwe-giok terkesiap,

suara Ang-lian hoa yang lantang sudah bergema, “Apakah Bwe Su-bong di luar? Sudahkah

kau bawa pulang domba kecil kita yang tersesat itu?”

*****

Di dalam kemah yang sangat besar itu hanya menyala sebatang lilin merah. Cahaya lilin

gemerdep, bayangan Ang-lian-hoa kelihatan terseret memanjang di tanah, seorang kakek

berjubah warna jingga dan bertopi besar, wajah kehitam-hitaman dan berjenggot panjang, alis

tebal lurus sehingga kelihatan angker, kakek ini berduduk di samping Ang-lian-hoa dengan

tegak, sorot matanya tajam menatap Ji Pwe-giok.

Tanpa terasa Pwe-giok menunduk oleh perbawa si kakek yang kereng ini.

“Akhirnya kau datang juga!.” Kata Ang-lian hoa dengan tertawa. “Apakah kau kenal

Locianpwe ini?”

“Ketua Kun-lun pay,” jawab Pwe-giok.

“Boleh juga penglihatanmu, sama sekali Thian-kang Totiang tidak bersuara, tapi dapat juga

kau kenali,” puji Ang-lian hoa. Mendadak ia berpaling dan tanya Bwe Su-bong, “Dia terkena

racun apa? Siapa yang meracuni dia?”

“Orang yang meracuni dia belum jelas asal-usulnya, racun yang digunakan juga belum

diketahui jenisnya, untung hanya…!”

Belum habis cerita Bwe Su-bong, mendadak Thian-kang Totiang melompat ke samping Ji

Pwe-giok, secepat kilat ia tutuk beberapa hiat-to penting di kedua lengan anak muda itu,

menyusul ia jejalkan satu biji obat ke mulutnya dan berkata, “Jangan bergerak dalam waktu

setengah jam.”

Sambil bicara ia telah menutuk 12 hiat-to penting di tubuh Pwe-giok, saat itu pula obat sudah

ditelan anak muda itu, lalu Thian-kang Totiang melayang kembali ke tempat duduknya.

Keruan Pwe-giok melenggong, begitu pula Bwe Su-bong merasa bingung, katanya, “Ini! ini!.”

“Memangnya kau kira racunnya sudah habis kau punahkan?” kata Ang-lian hoa.

“Sudah! sudah kuperiksa tadi!”

“Jika Kim-kong-ci dan Hoa-kim-tan terlambat diberikan Thian-kang Totiang, tentu kedua

tangan Ji-kongcu akan cacad untuk selamanya,” kata Ang-lian hoa pula.

Tentu saja Pwe-giok terkesiap dan Bwe Su-bong menunduk malu oleh karena tidak menduga

bahwa racun yang disangkanya sudah tuntas dihisap keluar oleh ularnya ternyata belum bersih

sama sekali.

“Lalu bagaimana dengan orang yang kusuruh kau selidiki itu?” tanya Ang-lian hoa.

Renjana Pendekar > Karya Khulung > Diceritakan oleh : GAN KL > buyankaba.com 58

“Hamba sudah menanyai belasan orang, tapi tiada seorangpun yang memperhatikan siapa

yang berteriak itu,” tutur Bwe Su-bong. Hanya ada seorang mengatakan bahwa dia melihat

orang yang bersuara itu seperti berbaju hitam!”

“Berbaju hitam?…” gumam Ang-lian hoa dengan mengernyitkan kening.

“Setiap pertemuan besar di sini, orang yang berbaju hitam mulus rasanya tidak banyak,” kata

Bwe Su-bong. “Tapi sekali ini menurut penyelidikan hamba, orang berbaju hitam yang ikut

hadir di pertemuan ini ternyata ada ratusan orang, malahan di tengah kerumunan pengunjung

di luar sidang ada pula ribuan orang berseragam hitam. Orang2 ini ternyata belum dikenal,

tampaknya juga tidak lemah ilmu silatnya.”

“Orang berseragam hitam! ribuan orang!” gumam Ang-lian hoa. Perlahan-lahan sorot

matanya beralih kepada Thian-kang Totiang, tanyanya kemudian, “Bagaimana pendapat

Totiang terhadap kejadian ini?”

“Racun yang tidak dikenal dan orang yang tidak dikenal, rapi benar perencanaan ini dan sukar

dipecahkan,” demikian ucap Thian-kang Totiang dengan suara berat.

“Apakah orang2 berseragam hitam inipun anak murid Bu-kek-pay?” kata Ang-lian hoa.

“Umpama bukan murid Bu kek pay, kukira pasti juga ada hubungannya,” ujar Thian-kang

Totiang.

“Sungguh sukar untuk dipercaya bahwa tokoh2 angkatan tua yang terhormat dan disegani

seperti Ji Hong-ho, Lim Soh-koan, Ong Uh-lau, dan lain2 dapat bertindak sekeji ini,” kata

Ang-lian hoa dengan gegetun. “Nama baik mereka selama berpuluh tahun tentu bukan palsu,

jika dikatakan mereka tiada niat jahat dan sesuatu intrik tertentu, jelas akupun tidak percaya.”

“Nama mereka memang tidak palsu, orangnya yang palsu,” seru Pwe-giok dengan parau.

Ang-lian hoa menggeleng, katanya, “Sudah kuamat-amati mereka dengan teliti, jelas tiada

seorangpun yang menyamar atau merias mukanya, apalagi sekalipun mereka berganti rupa

dan menyamar, tentu gerak-gerik dan senyum-tawa mereka tidak semirip ini. Selain itu,

Thian-in taysu, Jut-tun Totiang juga kenalan lama mereka, mustahil penyamaran mereka tak

ketahuan?”

Dengan sedih Pwe-giok menunduk. Apa yang diuraikan Ang-lian hoa itu memang betul.

Tidak perlu orang lain, melulu ayahnya saja, orang ini bukan saja wajahnya mirip benar

dengan ayahnya, bahkan setiap gerak-gerik, setiap tutur kata dan senyum tawanya boleh

dikatakan persis sama. Apabila sebelumnya dia tidak menyaksikan sang ayah meninggal di

depannya, mungkin ia sendiripun tidak percaya orang ini adalah ayahnya yang palsu.

Bwe Su-bong tidak tahan, iapun menimbrung, “Jangan2 mereka kehilangan kesadarannya dan

segala tindak tanduknya berada di bawah perintah orang. Hamba ingat, puluhan tahun yang

lalu di dunia Kangouw juga pernah terjadi peristiwa demikian.”

“Orang yang kesadarannya terbius, gerak-gerik dan sinar matanya pasti kaku dan berbeda

dengan orang normal,” kata Ang-lian hoa. “Sedangkan mereka jelas kelihatan sehat dan wajar,

sorot mata merekapun jernih dan tajam, tiada tanda2 dipaksa orang atau dibius orang.”

Renjana Pendekar > Karya Khulung > Diceritakan oleh : GAN KL > buyankaba.com 59

Thian-kang Totiang menengadah dan menghela nafas panjang, katanya, “Sungguh

perencanaan yang rapi dan sukar dipecahkan.”

“Hal ini memang serba aneh,” kata Ang-lian hoa pula. “Jika orang2 ini dikatakan palsu, jelas2

mereka bukan palsu, bila dikatakan mereka ini tulen, justru terjadi banyak hal2 yang aneh.

Apakah mereka itu didalangi orang atau mereka sendiri mempunyai intrik tertentu, yang pasti

setelah mereka mengetuai dunia persilatan dengan kekuasaan besar, apa yang akan terjadi

selanjutnya sungguh sukar dibayangkan. Sedangkan di dunia sekarang selain kita berempat

tiada orang lain lagi yang menaruh curiga terhadap mereka.”

Setelah tertawa getir, kemudian Ang-lian hoa menyambung pula, “Selama beribu tahun

sejarah dunia persilatan, kukira tiada intrik lain yang terlebih besar dan keji daripada yang kita

hadapi sekarang.”

Air muka Thian-kang Totiang bertambah prihatin, katanya dengan perlahan, “Jika ingin

membongkar rahasia ini, kuncinya terletak pada diri Ji-kongcu ini.”

“Ya, justru inilah, maka jiwanya setiap saat terancam bahaya,” kata Ang-lian hoa. “Sebab

kalau dia mati, maka…!”

Tanpa terasa Bwe Su-bong menimbrung pula, “Bukankah Ji Hong-ho itu sudah mengetahui Ji

Kongcu sebagai putranya, mana dapat membunuhnya lagi?”

“Meski tak dapat membunuhnya secara terang-terangan, kan dapat turun tangan secara

gelap2an?” ujar Ang-lian hoa. “Lalu dibuat sedemikian rupa seolah-olah dia mati kecelakaan,

dengan demikian kan segala urusan menjadi beres?”

“Pantas, tadi ketika kuobati dia, tak kulihat seorangpun yang berani menyergapnya, agaknya

mereka tidak bebas turun tangan bila Ji-kongcu didampingi seseorang,” kata Bwe Su-bong.

“Makanya kubilang kalau sendirian dia hendak pergi dari sini sungguh lebih sulit daripada

manjat ke langit, kecuali…!”

Mendadak Thian-kang Totiang memotong ucapan Ang-lian hoa, “Apakah kau tahu urusan apa

yang paling menakutkan sekarang?”

Ang-lian hoa berkerut kening, tanyanya, “Adakah Totiang teringat sesuatu?”

“Apabila hal ini terjadi, kukira Ji-kongcu pasti tak dapat hidup!”

Belum habis ucapan Thian-kang, mendadak di luar ada orang berseru, “Apakah Thian-kang

Totiang berada di sini, Bengcu mengundang untuk berunding sesuatu urusan.”

Air muka Thian-kang Totiang rada berubah, ucapnya dengan suara tertahan, “Jangan pergi

dulu, tunggu sampai ku kembali.” Segera ia berbangkit dan melangkah keluar.

Ang-lian hoa juga berkerut kening, katanya kemudian, “Biasanya Thian-kang Totiang tidak

suka sembarangan bicara, apa yang dikatakannya tadi pasti ada dasarnya! sesungguhnya apa

yang terpikir oleh dia? Urusan apa yang dimaksudkan nya?”

Renjana Pendekar > Karya Khulung > Diceritakan oleh : GAN KL > buyankaba.com 60

Bwe Su-bong garuk2 rambutnya yang kusut masai itu dan bergumam sendiri, “Menakutkan,

menakutkan, apa yang terjadi memang sudah cukup menakutkan, masa masih ada urusan lain

yang lebih menakutkan? Ai, Ji-kongcu memang…!” dia pandang Pwe-giok sekejap dan tidak

melanjutkan, ia menunduk dan menghela nafas.

Selama hidupnya sudah banyak menemui orang yang bernasib malang, tapi kalau orang2 itu

dibandingkan nasib Pwe-giok sekarang, mereka masih terhitung orang2 yang mujur.

Pwe-giok tersenyum pedih, katanya, “Ku tahu diriku sudah terdesak ke jalan buntu, untung

ada orang seperti Pangcu dan sudi pula membantu aku! aku biarpun mati juga takkan

melupakan budi kebaikan Pangcu ini.”

Ang-lian hoa hanya menggeleng-geleng saja dan tidak tahu apa yang harus dikatakan pula.

Mendadak Pwe-giok berkata pula, “Padahal Pangcu tidak pernah kenal diriku, mengapa

engkau menolong diriku dengan sepenuh hati. Setiap orang menganggap aku sudah gila,

mengapa Pangcu percaya penuh padaku?”

“Dengan sendirinya ada alasannya!” perlahan Ang-lian hoa mengeluarkan sebuah kantongan

kain berwarna hijau, kantongan kain ini bersulam indah, seperti dompet kaum gadis

bangsawan, siapapun tidak menyangka Ang-lian pangcu, ketua kaum jembel, bisa menyimpan

barang begini.

Setelah membuka kantongan itu, Ang-lian hoa mengeluarkan secarik kertas dan disodorkan

kepada Pwe-giok dan berkata, “Coba kau lihat sendiri, apa ini?”

Jelas cuma secarik kertas yang kumal, tapi terlipat dengan rajin. Bahwa Ang-lian hoa

menyimpan sebuah kantongan bersulam begitu sudah cukup aneh, di dalam kantongan itu

hanya tersimpan secarik kertas kumal, hal ini lebih2 mengherankan lagi.

Tanpa terasa Bwe Su-bong ikut melongok ke depan dan ingin tahu apa yang terdapat pada

kertas kumal itu.

Pwe-giok lantas membuka lipatan kertas itu, ternyata di atasnya tertulis, “Ji Pwe-giok,

percayai dia, bantu dia.”

Huruf itu tertulis dengan rada kabur, tampaknya ditulis dengan tergesa-gesa dengan goresan

benda tajam sebangsa jarum yang ditutulkan pada tanah liat.

Pwe-giok termenung memandangi tulisan itu, katanya kemudian, “Sia! siapa yang menulis

ini?”

“Calon isteri mu,” jawab Ang-lian hoa.

Seketika air muka Pwe-giok berubah rada aneh, tapi Ang-lian hoa tidak memperhatikannya.

“Lim Tay-ih maksudmu? Kau kenal dia?” tanya Pwe-giok kemudian.

Renjana Pendekar > Karya Khulung > Diceritakan oleh : GAN KL > buyankaba.com 61

Ang-lian hoa mengangguk, jawabnya, “Tiga hari yang lalu pernah kulihat dia di sekitar

Siangciu. Dia berada bersama ayahnya dan Ong Ih-lau. Sudah lama kukenal dia, tapi waktu

itu dia hanya memandang sekejap padaku seakan-akan sama sekali tidak kenal lagi padaku.”

“Memangnya kalian sudah… sudah lama kenal baik?” tanya Pwe-giok.

“Tampaknya kau memang sebangsa Kongcuya yang jarang keluar pintu, masa urusan

Kangouw sama sekali tidak tahu,” ujar Ang-lian hoa dengan tertawa. “Pada usia 13 Lim Tayih

sudah berkelana di dunia Kangouw, seterusnya setiap tahun sekali dia pasti mengeluyur

keluar, bahkan telah melakukan beberapa pekerjaan yang mulia, namanya sudah cukup

terkenal di dunia persilatan.”

Terbayang oleh Pwe-giok sorot mata Lim Tay-ih yang memperlihatkan sifatnya yang keras

dan berani serta ilmu pedangnya yang cepat dan ganas itu. Terbayang pula tubuh si nona yang

kelihatan lemah itu ternyata memiliki watak yang kuat, mau tak mau Pwe-giok menghela

nafas gegetun, katanya, “Ya, dia memang tidak sama seperti diriku, dia memang jauh lebih

kuat daripadaku.”

“Sebenarnya Tay-ih adalah anak perempuan yang lugu dan suka terus terang, tapi hari itu dia

telah berubah sama sekali,” ujar Ang-lian hoa. “Ku tahu dalam hal ini pasti ada sesuatu yang

tidak beres. Maka ketika mereka beristirahat, segera kusuruh anggota Kay-pang di Siangciu

untuk menghubungi kuasa hotel tempat mereka mondok, anggota itu kusuruh menyamar

sebagai pelayan hotel. Benar juga, sekali pandang Tay-ih lantas mengenalinya, dia lantas

mencari kesempatan dan diam2 menyerahkan kantongan kain ini kepadanya.”

“Pantas kemarin dulu Song-losi dari Siangciu datang terburu-buru minta bertemu dengan

Pangcu, kiranya ingin menyerahkan kantong bersulam ini kepada Pangcu,” sela Bwe Su-bong.

Pwe-giok jadi melenggong sambil bergumam, “Kiranya dia sering berkelana di dunia

Kangouw, pantaslah pada hari kejadian itu dia tidak berada di rumah.”

Berubah juga air muka Ang-lian hoa, cepat ia menegas, “Di rumahnya terjadi apa? Jangan2

mengenai ayahnya?”

“Ya, dengan sendirinya Lim Soh-koan yang Pangcu lihat itu juga palsu, tapi hari itu…!”

dengan menyesal Pwe-giok lantas menceritakan perubahan sikap Lim Tay-ih yang mendadak

itu ketika berhadapan dengan ayahnya yang palsu, lalu ia melanjutkan ceritanya, “Waktu itu

kukira dia sengaja hendak memfitnah diriku, tak tahulah kalau waktu itu dia sudah memahami

betapa berbahayanya intrik musuh, ia tahu tiada pilihan lain terkecuali mengakui musuh

sebagai ayah. Sedangkan diriku! meski sudah kutunggu sampai sekarang, agaknya terpaksa

akupun harus menempuh jalan yang sama seperti dia! Ai, dia sesungguhnya anak perempuan

yang cerdik.”

“Ya, diantara orang2 yang kukenal, baik lelaki maupun perempuan, bila bicara tentang

kecerdikan dan kegesitan bertindak menurut keadaan, mungkin tiada orang lain yang dapat

melebihi dia,” kata Ang-lian hoa.

“Tapi! tapi Lim Soh koan itu jelas sudah tahu segalanya, mengapa dia tidak membunuh Tayih

sekaligus?” kata Pwe-giok. “Melihat gelagatnya sekarang, jelas Tay-ih telah berada di

tahanan mereka, mungkin… Mungkin…!”

Renjana Pendekar > Karya Khulung > Diceritakan oleh : GAN KL > buyankaba.com 62

Ang-lian hoa memandangi Pwe-giok dengan tertawa, katanya, “Anak perempuan secantik dan

sepintar dia, dengan sendirinya dia mempunyai akal untuk membikin orang lain tidak dapat

dan tidak tega mencelakai dia. Kukira kita tak perlu berkuatir baginya, sebab kalau ada urusan

yang tak dapat dibereskan oleh dia, maka tiada gunanya orang lain bergelisah baginya.”

Habis berkata Ang-lian hoa lantas masukkan lagi kertas tadi ke dalam kantong.

Pwe-giok mengira Ang-lian hoa akan menyerahkan kantong bersulam itu kepadanya, tak

tersangka Ang-lian hoa terus menyimpan kembali kantong itu ke dalam kantong bajunya, lalu

berkata pula, “Apabila kita dapat mengadakan kontak dengan Tay-ih, ku yakin pasti dapat!”

mendadak ia berhenti ketika dilihatnya Thian-kang Totiang telah kembali dengan langkah

lebar.

“Ai, kembali ada persoalan yang memusingkan lagi,” kata ketua Kun-lun-pay itu.

Bwe Su-bong terkejut dan bertanya, “Urusan memusingkan apalagi?”

“Ji… dia telah menunjuk diriku sebagai Hou-hoat (pelindung) perserikatan kita ini!” tutur

Thian-kang.

“Hou-hoat?” Pwe-giok menegas.

“Selain Bengcu, perserikatan Hong-ti inipun harus mengangkat salah seorang ketua suatu

perguruan ternama sebagai Houhoat,” demikian Ang-lian hoa menjelaskan. “Selama ini, kalau

Siau lim-pay menjadi Bengcu, maka yang diangkat menjadi Hou-hoat adalah Bu-tong-pay.”

“Tapi sekali ini kalau Jut-tun Toheng yang diangkat menjadi Houhoat, tentu tindak tanduk

mereka akan kurang leluasa,” kata Thian-kang Totiang dengan tersenyum kecut. “Sedangkan

kediaman ku jauh di Kun-lun-san, selamanya jarang ikut campur urusan dunia ramai, jelas

orang she Ji itu mempunyai maksud tujuan tertentu dengan mengangkat diriku sebagai Houhoat.”

“Tapi juga lantaran nama Totiang yang memang sesuai untuk menjadi Hou-hoat,” ujar Anglian

hoa dengan tertawa. “Kalau tidak, kan lebih baik mereka mengangkat Thi-pah-ong saja

yang jauh tinggal di Kwan-gwa sana?”

Sampai disini mendadak senyuman yang menghias wajah Ang-lian hoa lenyap seketika,

dengan prihatin dia bertanya, “Tadi Totiang bicara tentang urusan…”

Dengan sungguh2 Thian-kang menukas, “Urusan yang kukuatirkan adalah kalau2 terjadi

orang she Ji itu menyuruh Ji-kongcu ikut dia pulang ke rumah, lalu apa yang harus kita

lakukan?”

“Ya, betul juga!.” Ang-lian hoa juga terkesiap.

“Bila Ji-kongcu ikut pulang bersama dia akan berarti jatuh di dalam cengkeraman mereka dan

setiap saat ada kemungkinan dicelakai,” kata Thian-kang. “Dan kalau sang ayah menyuruh

anaknya sendiri ikut pulang, mana bisa si anak membangkang?”

Renjana Pendekar > Karya Khulung > Diceritakan oleh : GAN KL > buyankaba.com 63

“Ya, bukan saja si anak tidak boleh membangkang, bahkan orang lainpun tiada hak buat

bicara, siapapun tak dapat merintanginya,” ujar Ang-lian hoa. “Ai, urusan segawat ini

seharusnya sudah kupikirkan jauh2 sebelumnya.”

Bwe Su-bong ikut gelisah, keluhnya, “Wah, lantas bagaimana! bagaimana baiknya?”

“Urusan ini hanya ada satu jalan baik untuk menolongnya,” kata Thian-kang.

“Betul, hanya ada satu jalan untuk menolongnya,” tukas Ang-lian hoa.

“Terpaksa Ji-kongcu harus melarikan diri selekasnya, begitu bukan?” tanya Bwe Su-bong.

Thian-kang Totiang menggeleng.

“Habis bagaimana kalau tidak lari?” tanya Bwe Su-bong pula dengan gelisah.

“Asalkan Ji-kongcu lekas2 mengangkat seseorang sebagai guru, lalu sang guru minta si murid

ikut pulang untuk belajar, dalam keadaan demikian biarpun ayahnya sendiri juga tak dapat

menolak lagi,” tutur Thian-kang dengan perlahan.

“Bagus, bagus sekali, cara ini sungguh sangat bagus!” seru Bwe Su-bong.

Segera Ang-lian hoa berkata dengan tertawa, “Kionghi (selamat) Ji-kongcu mendapatkan guru

bijaksana dan Kionghi kepada Totiang yang mendapatkan murid berbakat.”

Pwe-giok jadi melengak. Sedangkan Thian-kang Totiang berkata, “Ah, mana aku sesuai

menjadi guru Ji-kongcu!”

“Di dunia sekarang ini, kecuali Totiang siapa lagi yang sesuai menjadi guru Ji-kongcu?” ujar

Ang-lian hoa dengan tertawa. “Demi kesejahteraan dunia persilatan selanjutnya, kuharap

Totiang sudi menerimanya.”

Akhirnya Pwe-giok berlutut dan menyembah. Pada saat itu juga di luar kemah ada orang

berseru memanggil, “Ji Pwe-giok, Ji-kongcu diharap keluar. Bengcu ingin bicara denganmu!”

Ang-lian hoa memandang Pwe-giok sekejap, ucapnya perlahan, “Nah, apa kataku? Setiap

gerak-gerikmu senantiasa diawasi orang, kemanapun kau pergi pasti sudah diketahui.”

Bwe Su-bong melenggong juga, kaki dan tangan terasa dingin dan hampir saja tidak dapat

bergerak.

*****

Di luar kemah tampak api unggun menyala di mana2, suasana riang gembira, beribu orang

duduk mengelilingi api unggun di bawah bintang2 yang bertaburan memenuhi langit, silir

angin malam membawa bau harum arak. Kehidupan manusia seyogyanya penuh diliputi

gembira dan bahagia.

Renjana Pendekar > Karya Khulung > Diceritakan oleh : GAN KL > buyankaba.com 64

Akan tetapi Ji Pwe-giok berjalan dengan kepala tertunduk, hatipun pedih dan getir. Saat ini

dia seolah2 berubah menjadi sebuah boneka, segala urusan harus patuh kepada perintah dan

didalangi orang lain.

Terdengar di sana-sini orang sama menyapa, “Ang-lian-pangcu, silahkan mampir dan marilah

minum tiga cawan!”

Ada juga yang menegur Bwe Su-bong, “Hai Bo-su-bong, tampaknya kau masih sibuk selalu.

Apakah kau sudah pantang minum arak?”

Selain itu ada pula yang berseru heran, “He, bukankah itu Ji-kongcu?”

Di tengah sorak gembira itu, seorang pemuda baju hitam melangkah tiba dengan cepat dan

memberi hormat, katanya, “Saat ini Bengcu sedang menunggu di perkemahan Siau-lim-pay.”

Ber-turut2 tujuh kali Siau-lim-pay menjabat Bengcu, tapi perkemahannya juga tiada bedanya

dengan pihak lain, hanya beberapa meter di sekeliling perkemahannya tiada orang berani

bergerombol. Hormat orang terhadap Thian-in juga tidak berkurang lantaran sekali ini dia

tidak terpilih lagi sebagai Bengcu.

Saat ini di depan perkemahan Siau-lim-pay tiada seorangpun, cuma dibalik kemah yang gelap

sana samar2 seperti ada bayangan orang berkelebat. Baru saja mereka sampai di depan

kemah, di dalam Thian-in Taysu sudah lantas menegur dengan tertawa, “Jangan2 Ang-lianpangcu

juga ikut datang?”

“Kesaktian Taysu sungguh luar biasa, se-akan2 dapat melihat dari tempat yang jauh,” puji

Ang-lian hoa dengan tertawa.

Terlihatlah orang yang disebut Ji Hong ho itu duduk berhadapan dengan Thian-in Taysu dan

sedang minum, Lim Soh-koan, Ong Uh-lau dan lain2 ternyata tidak ikut serta di situ.

Di dalam kemah asap dupa wangi semerbak, masuk di sini rasanya seakan-akan masuk di

suatu dunia lain lagi.

Setelah beramah tamah dan berduduk, kemudian pandangan Ji Hong ho beralih ke arah Ji

Pwe-giok yang berdiri tertunduk di samping sana, dengan senyum kasih sayang seorang ayah

ia berkata, “Anak Giok, apakah badanmu terasa lebih enak?”

“Terima kasih atas perhatian ayah,” jawab Pwe-giok dengan hormat.

“Biasanya kau jarang keluar rumah, tidak-tandukmu selanjutnya hendaklah hati2 dan prihatin

agar tidak menjadi buah tertawaan kaum Cianpwe dunia Kangouw,” kata Ji Hong-ho pula.

Pwe-giok mengiakan dengan menunduk.

Yang satu memberi petuah dan yang lain mengiakan dengan hormat, tampaknya seperti

benar2 seorang ayah yang kereng dengan seorang anak yang berbakti. Siapa yang menduga

bahwa keduanya sesungguhnya sedang main sandiwara?

Renjana Pendekar > Karya Khulung > Diceritakan oleh : GAN KL > buyankaba.com 65

Sudah jelas Pwe-giok mengetahui orang di depan ini adalah musuhnya, hatinya sangat sakit,

tapi lahirnya dia justru harus berlagak hormat dan menganggap orang sebagai ayahnya.

Sebaliknya Ji Hong-ho juga tahu bahwa pemuda di depannya ini bukanlah anaknya, dalam

hati iapun ingin sekali hantam mampuskan Ji Pwe-giok. Tapi lahirnya dia harus berlagak

kasih sayang kepada seorang anak.

Ang-lian hoa dapat mengikuti semua ini dari samping, dalam hati tak keruan rasanya, entah

duka, entah marah atau merasa geli.

Sejak umur tujuh Ang-lian hoa sudah terjun di dunia Kangouw, adegan ramai apapun pernah

dilihatnya. Tapi permainan sandiwara yang serba konyol ini sungguh belum pernah

ditemuinya. Kalau orang di luar garis saja demikian perasaannya, apalagi orang yang

bersangkutan seperti Ji Pwe-giok, tentu saja sukar untuk diceritakan.

Begitulah Thian-in Taysu lantas berkata pula dengan tersenyum, “Ji-kongcu kelihatan halus di

luar, tapi keras di dalam, di tengah ketenangan jelas kelihatan kecerdasannya, sungguh bakat

yang sukar dicari. Bilamana tidak keliru pandanganku, hasil yang akan dicapai Ji-kongcu di

kemudian hari pasti akan di atas Bengcu sendiri.”

Segera Ang-lian hoa berkeplok tertawa, serunya, “Hendaklah Taysu dan Bengcu maklum,

kecuali mempunyai seorang ayah termashur, kini Ji-kongcu sudah mempunyai pula seorang

guru ternama!”

“O, guru ternama?” Ji Hong-ho seperti melengak.

Thian-kang Totiang lantas menukas, “Berhubung melihat putera anda mempunyai bakat

tinggi dan sukar dicari, hatiku jadi tergerak dan secara sembrono telah menerima putera anda

sebagai murid. Untuk ini diharap Bengcu suka memberi maaf atas kelancanganku.”

Ang-lian hoa tertawa dan menambahkan, “Ji-kongcu akan merangkap keunggulan kedua

keluarga Bu-kek dan Kun-lun, kelak pasti akan memancarkan cahaya gilang gemilang bagi

dunia persilatan umumnya. Ku yakin Bengcu pasti akan kegirangan, masa menyalahkan

Totiang malah?”

“Ini… ini memang harus berterima kasih kepada Totiang,” jawab Ji Hong-ho.

Meski tampaknya tersenyum tapi senyuman kecut atau lebih tepat dikatakan menyengir.

“Besok juga kami akan berangkat pulang ke Kun-lun-san, putera anda…”

Belum lanjut ucapan Thian-kang Totiang, segera Ang-lian hoa menyambung dengan tertawa,

“Ji-kongcu dengan sendirinya harus ikut pergi bersama Totiang. Tentu saja Bengcu tidak

perlu kuatir, kungfu Kun-lun-pay sudah termasyhur, bisa selekasnya belajar kan lebih baik.

Apalagi Bengcu baru mulai menjabat tugas berat, tentu banyak pekerjaan dan tidak sempat

memikirkan pelajaran Ji-kongcu.”

Lalu ia tarik tangan Ji Pwe-giok, katanya pula dengan tertawa, “Besok juga kau akan ikut

Totiang ke Kun-lun dan harus belajar dengan giat, jangan harap lagi ada tempo senggang dan

pesiar seperti sekarang ini, andaikan bertemu lagi kelak sedikitnya juga tiga atau lima tahun

Renjana Pendekar > Karya Khulung > Diceritakan oleh : GAN KL > buyankaba.com 66

pula. Mumpung masih berkumpul sekarang, marilah kita pergi minum sepuasnya sebelum

berpisah.”

Habis berkata Ang-lian hoa lantas menarik Pwe-giok dan diajak pergi.

Ji Hong-ho jadi melenggong dan tak dapat bersuara.

Dengan tersenyum Thian-in Taysu lantas berkata, “Putera anda dapat berkawan dengan Anglian-

pangcu, rejekinya sungguh tidak kecil.”

“Ya, sungguh beruntung!” ucap Ji Hong-ho sembari menenggak teh untuk menutupi rasa

canggungnya.

*****

Esok paginya, baru saja remang2 di ufuk timur, namun sebagian besar para ksatria masih

bergelak tertawa dengan muka merah karena terlalu banyak menenggak arak, ada sebagian

lagi yang tidak dapat tertawa dan sudah roboh tertidur lelap.

Hanya anak murid Kun-lun-pay saja, baik mabuk atau tidak, saat ini dengan khidmat sama

berdiri di depan perkemahan untuk mengantar keberangkatan sang ketua.

Di dalam kemah Ji Pwe-giok sedang menyembah kepada sang “ayah” sebagai tanda mohon

diri. Ber-ulang2 “Ji Hong-ho” memberi pesan, kembali keduanya lagi main sandiwara kasih

sayang antara ayah dan anak.

Habis itu delapan Tojin muda berbaju ungu mengiringi Thian-kang Totiang dan Ji Pwe-giok

melangkah keluar kemah. Di luar tiada kereta atau kuda. Dari Kun-lun-san ke Hongciu, jarak

ribuan li itu ternyata ditempuh kawanan Tojin Kun-lun-pay itu dengan berjalan kaki.

Ang-lian hoa memegangi tangan Ji Pwe-giok, ucapnya dengan tersenyum, “Selamat jalan,

jangan lupa kepada kakakmu yang rudin ini.”

“Aku… Cayhe… Siaute…” saking terharunya Pwe-giok tidak tahu cara bagaimana harus

berucap, suaranya menjadi ter-sendat2 dan air mata ber-linang2, akhirnya ia cuma tertunduk

belaka.

Se-konyong2 seorang mendekatinya dan berkata dengan tertawa, “Anak Giok, perpisahan ini

kukira akan makan waktu cukup lama, apakah kau tidak ingin bertemu dulu dengan Tay ih?”

Cepat Pwe-giok menengadah, dilihatnya Lim Soh-koan yang berdiri di depannya.

Pagi2 masih diliputi kabut yang tipis, samar2 disana berdiri bayangan seorang dengan

kerlingan mata sayu, siapa lagi dia kalau bukan Lim Tay-ih?

Melihat bayangan si nona yang lembut, teringat perpisahan ini entah kapan baru dapat

bertemu kembali, seketika Pwe-giok jadi terkesima.

Memandangi mereka, Ang-lian hoa sendiri juga tertegun.

Renjana Pendekar > Karya Khulung > Diceritakan oleh : GAN KL > buyankaba.com 67

Mendadak terdengar Thian-kang Totiang membentak perlahan, “Kehidupan di pegunungan

selalu sunyi, perasaan laki perempuan janganlah ditumbuhkan! Hayolah!” Segera tangan Pwegiok

ditariknya terus melangkah pergi.

Lim Tay-ih masih berdiri di sana dan memandangnya dengan sayu, pada matanya yang jernih

itu entah sejak kapan sudah mengembeng air mata.

“Melihat kepergian kekasih dan tidak dapat berbicara sepatah dua, apakah hatimu tidak

merasa sedih?” demikian tiba2 suara seorang senyaring genta menegur dengan tertawa genit

disertai bau harum semerbak terbawa angin.

Tay-ih tidak berpaling, sebab Ong Ih-lau dan Sebun Bu-kut sudah sampai pula disampingnya,

dengan sorot mata tajam dan kereng kedua orang itu berkata, “Tay-ih, hayolah pergi.”

Suara nyaring merdu tadi berkata pula dengan tertawa, “Perempuan bicara dengan perempuan

juga dilarang oleh kalian kaum lelaki?”

Dengan suara berat Ong Ih-lau menjawab, “Selama ini Bu-kek-pay tiada hubungan apapun

dengan murid Peh-hoa-pang.”

“Dulu tidak ada, sekarang kan sudah ada,” ujar suara genit itu.

Lim Tay-ih hanya berdiri diam saja, rambutnya ber-gerak2 tertiup angin. Sesosok bayangan

lemah gemulai tahu2 melayang tiba di depannya dengan baju tipis berkibar laksana dewi

kahyangan.

Meski sama2 perempuan, mabuk juga Tay-ih melihat sepasang mata orang yang baru muncul

ini, sungguh sama sekali tak tersangka olehnya bahwa ketua Pek-hoa-pang yang termasyhur

itu ternyata sedemikian cantiknya.

Berbareng Ong Uh-lau dan Sebun Bu-kut hendak menghadang di depan Lim Tay-ih, tapi

mendadak bau harum menusuk hidung, se-konyong2 kain tipis seperti kabut menyampuk tiba,

tanpa terasa Ong Uh-lau berdua melompat mundur lagi.

Waktu mereka memandang lebih jelas, terlihat Hay-hong Hujin telah menggandeng tangan

Tay-ih dan melangkah pergi, terdengar suaranya yang nyaring merdu lagi berkata, “Leng-hoakiam,

kan boleh kubawa pergi anak perempuanmu untuk mengobrol sejenak?… Akupun

seperti kaum lelaki, bila melihat anak perempuan cantik lantas terpikat dan ingin bicara

dengan dia.”

Lim Soh-koan hanya melongo bingung di sana tanpa bersuara.

Dari jauh Ang-lian hoa dapat menyaksikan kejadian ini, tersembul senyumannya yang puas.

Di tengah kabut pagi yang belum buyar itu ke-14 panji besar masih berkibar di udara, tapi

pertemuan besar setiap tujuh tahun satu kali ini sudah berakhir, para ksatria secara berkelompok2

telah mulai berangkat pulang.

Memandangi panji Bu-kek-pay yang baru saja ikut dikerek, Ang-lian hoa jadi terharu, tanpa

terasa ia menghela nafas panjang.

Renjana Pendekar > Karya Khulung > Diceritakan oleh : GAN KL > buyankaba.com 68

“Apa yang Pangcu renungkan di sini?” tiba2 seorang menegurnya. “Apakah sahabat baru

Pangcu si Ji-kongcu sudah ikut berangkat bersama Thian-kang Totiang?”

Kiranya orang ini adalah Cia Thian-pi, ketua Tiam-jong-pay. Dengan terharu Ang-lian hoa

menjawab, “Ya, sudah berangkat!”

“Wah, mengapa… mengapa secepat ini berangkatnya?!” seru Cia Thian pi mendadak dengan

air muka berubah.

Melihat adanya kelainan air muka orang, Ang-lian hoa terkesiap, cepat ia bertanya, “Cepat?

Cepat bagaimana?”

“Maaf Pangcu, ternyata kedatanganku ini tetap terlambat sejenak,” kata Cia Thian-pi dengan

muram dan menunduk.

“Sesungguhnya ada urusan apa?” tanya Ang-lian hoa sambil pegang pundak orang.

“Pernahkah Pangcu mendengar nama “Thian-kai-biau-peng-khek” (si kelana kian kemari)?”

“Sudah tentu pernah,” jawab Ang-lian hoa. “Sesuai namanya, orang ini tidak tertentu tempat

tinggalnya, dimanapun dapat dijadikan rumah olehnya. Jut-tun Totiang dari Bu-tong

menganggap satu2nya tokoh Kangouw saat ini yang pantas disebut “Yu-hiap (pendekar

kelana) hanya dia saja seorang.”

“Dan baru saja Siaute menerima surat merpati dari dia, katanya… Katanya…”

“Katanya apa?” Ang-lian hoa menegas, makin erat cengkeramannya pada pundak orang.

Cia Thian-pi menghela nafas panjang dan memejamkan mata, lalu menjawab dengan

perlahan, “Katanya Thian-kang Totiang dari Kun-lun-pay telah wafat pada setengah bulan

yang lalu.”

“Apa betul beritanya ini?” seru Ang-lian hoa terperanjat.

“Demi membuktikan kebenaran berita ini, dia telah membuang waktu selama setengah bulan,

setelah menyaksikan sendiri jenazah Thian-kang Totiang barulah dia mengirim berita merpati

kepadaku. Yu hiap Ih Eng selamanya bertindak dengan cermat dan hati2, berita penting begini

mana berani dia siarkan secara ngawur jika tidak terbukti kebenarannya?”

Seketika kaki dan tangan Ang-lian hoa dingin semua, katanya, “Wah, jika demikian jadi

Thian-kang Totiang inipun palsu?!”

Cia Thian-pi berkata dengan menyesal, “Ketika dia hadir di atas panggung pertemuan, kulihat

dia selalu diam saja, sebenarnya sudah timbul rasa curigaku, kemudian dia diangkat menjadi

Houhoat pula, tentu saja!”

“Mengapa tidak… tidak kau katakan waktu itu?” tanya Ang-lian hoa.

“Mana berani Siaute memastikannya!” ujar Cia Thian-pi.

Renjana Pendekar > Karya Khulung > Diceritakan oleh : GAN KL > buyankaba.com 69

“Sekarang Ji Pwe-giok telah dibawa pergi, bukankah ini sama dengan mengantar domba ke

mulut harimau?” kata Ang-lian hoa dengan suara rada gemetar.

“Ya, sebab itulah aku merasa kuatir,” kata Cia Thian-pi.

Butiran keringat memenuhi dahi Ang-lian hoa, katanya pula, “Dia berangkat hanya membawa

Pwe-giok seorang, anak muridnya masih tertinggal semua di sini, rupanya supaya dia leluasa

turun tangan! Ai, akulah yang membikin celaka dia! akulah yang bersalah!”

“Bisa jadi inilah langkah yang sudah lama diatur oleh komplotan jahat itu,” ujar Cia Thian-pi,

“kalau tidak, biasanya Kun-lun-pay sangat keras dalam hal memilih murid, mengapa dia mau

terima murid secepat dan semudah itu?”

“Sungguh rapi dan cermat sekali rencana keji mereka dan sukar untuk dibendung,” kata Anglian

hoa dengan tersenyum pedih. “Tapi!” mendadak ia tarik tangan Cia Thian-pi dan

mendesis, “Untung juga kedatangan Cia-heng ini belum terlalu terlambat.”

“Apakah mereka belum pergi jauh?!” tanya Thian-pi.

“Dengan kecepatan berjalan kita, kuyakin dapat menyusulnya!” seru Ang-lian hoa.

Dengan gemas Cia Thian-pi berkata, “Jahanam yang licik dan keji, baginya tiada soal

peraturan Kangouw lagi, bila bertemu nanti, biarlah kita berlagak tidak tahu, coba kita lihat

bagaimana sikapnya nanti.”

“Ya, marilah kita kejar!” seru Ang-lian hoa.

*****

Makin sepi tempat yang dilalui mereka, makin tebal pula kabut yang mengambang di udara.

Pwe-giok berjalan di belakang Thian-kang Totiang, memandangi jenggot Tojin yang

bertebaran tertiup angin dengan perawakannya yang tegap, teringat pula pertemuan dirinya

yang aneh dan kebetulan, sungguh Pwe-giok tidak tahu mesti bergirang atau bersedih.

Kun-lun-pay cukup termasyhur, betapa keras caranya menerima murid juga sukar ditandingi

perguruan lain, apabila murid juga sukar ditandingi perguruan lain, apabila dirinya tidak

tertimpa musibah sebanyak ini, mana bisa dalam semalam saja telah berubah menjadi murid

Kun-lun-pay.

Didengarnya Thian-kang Totiang berkata, “Perjalanan masih jauh, kita harus berjalan dengan

lebih cepat.”

Dengan hormat Pwe-giok mengiakan, “Peraturan perguruan kita selamanya sangat keras, tata

tertib kehidupan se-hari2 sangat prihatin, hidup sederhana dan harus tahan uji, apakah kau

sanggup?”

“Tecu tidak takut menderita.”

Renjana Pendekar > Karya Khulung > Diceritakan oleh : GAN KL > buyankaba.com 70

“Kau terakhir masuk perguruan, setiba di gunung, pekerjaan se-hari2 yang harus kau lakukan

dengan sendirinya akan lebih banyak daripada murid lain. Tampaknya badanmu lemah

lembut, entah kau sanggup tidak bekerja berat?”

“Di rumah Tecu juga biasa bekerja berat.”

“Baiklah, di depan sana ada sumur, timbalah airnya sedikit.”

Pwe-giok mengiakan.

Benar juga, tidak jauh di depan sana ada sebuah sumur yang sangat besar, baru saja Pwe-giok

menurunkan timba ke dalam sumur, mendadak terbayang waktu menimba air di rumah,

terkenang pada taman yang rimbun dan sejuk itu, terbayang wajah sang ayah yang welas asih!

seketika air matanya berderai, timba yang dipegangnya mendadak terlepas dan jatuh ke dalam

sumur.

Ia terkejut dan cepat hendak meraih tali timba, tapi entah mengapa, mendadak ia terpeleset,

tubuhnya ikut terjerumus ke dalam sumur.

Padahal sumur itu sangat dalam, biarpun dia memiliki ilmu silat maha tinggi, kalau jatuh ke

dalam sumur mungkin sukar juga manjat ke atas. Sudah banyak musibah yang menimpanya,

sudah sering dia menghadapi bahaya, kalau sekarang ia harus mati di dalam sumur, apakah

bukan permainan nasib?

Padahal sejak kecil ia belajar silat, kuda2nya terlatih sangat kuat, entah mengapa dia bisa

terpeleset.

Air sumur sedingin es, keruan Pwe-giok menggigil, ia me-ronta2 dan berusaha memanjat ke

atas, tapi dinding sumur penuh lumut tebal dan licin, hakekatnya tiada tempat yang dapat

dibuat pegangan.

Anehnya, mengapa Thian-kang Totiang tidak datang menolongnya?

Sekuatnya ia bertahan. Mendadak terdengar kumandang derap kuda lari yang langsung

menuju ke tepi sumur. Lalu suara seorang perempuan berseru, “Siapakah yang jatuh ke dalam

sumur?… Ai, jangan-jangan Ji…”

“Betul, memang dia!” terdengar suara Thian-kang Totiang.

“Totiang menyaksikan dia jatuh ke dalam sumur, mengapa engkau tidak menolongnya?

Apakah ingin dia mati di situ?” tanya perempuan itu.

“Dia mengira dirinya sanggup menderita dan tahan uji, tapi tidak tahu betapa sengsaranya

orang hidup di dunia ini. Demi hari depannya supaya dia dapat menjadi orang yang berguna,

maka sengaja ku gembleng dia mulai sekarang.”

“O, jika begitu, maafkan bila barusan Tecu salah omong, tapi! tapi sekarang ujian baginya

apakah belum cukup?”

“Mengapa kau begitu memperhatikan dia?” tanya Thian-kang Totiang dengan tersenyum.

Renjana Pendekar > Karya Khulung > Diceritakan oleh : GAN KL > buyankaba.com 71

Perempuan itu tak dapat menjawab, seperti merasa kikuk, sejenak kemudian barulah dia

berseru, “Sebabnya Tecu menyusul kemari justeru ingin… ingin bicara beberapa patah kata

dengan dia.”

“O, jika demikian, bolehlah ku naikkan dia!” lalu Thian-kang Totiang melemparkan seutas

tambang ke dalam sumur.

Waktu Pwe-giok naik ke atas, mukanya tampak merah padam, seluruh tubuhnya basah kuyup,

ia merasa malu juga serba runyam.

Dilihatnya sebuah tangan yang putih halus mengangsurkan sepotong sapu tangan, pada sapu

tangan warna keemasan itu tersulam pula seekor burung walet emas, terdengar suara merdu

itu berkata padanya, “Lekas mengusap air yang membasahi mukamu!”

Ucapan yang sederhana ini ternyata mengandung perhatian yang sangat mendalam, kepala

Pwe-giok tertunduk semakin rendah, ia menjadi bingung apakah harus menerima sapu tangan

itu atau tidak.

Didengarnya Thian-kang Totiang berkata dengan suara bengis, “Seorang lelaki sejati,

mengapa mengangkat kepala saja tidak berani?”

Sudah tentu bukannya Pwe-giok tidak berani mengangkat kepalanya. Begitu dia angkat

kepala, segera dilihatnya Kim-yan-cu, gadis yang lincah dan cerah ini sedang memandanginya

dengan penuh simpati.

“Ada urusan apa silahkan bicaralah, segera kami harus melanjutkan perjalanan jauh,” kata

Thian-kang Totiang. Biarpun orang pertapaan tulen, agaknya iapun paham hubungan mesra

antara muda-mudi, sambil mengelus jenggotnya ia lantas menyingkir ke sana.

Kim-yan-cu tersenyum manis dan menyerahkan sapu tangannya kepada Pwe-giok, katanya,

“Ambil, takut apa kau?”

Air yang memenuhi muka Pwe-giok entah air atau keringat, dia berucap dengan gelagapan,

“Te! terima kasih nona.”

“Tentunya kau heran, selamanya kita belum kenal, mengapa kususul kemari untuk bicara

dengan kau?” kata Kim-yan-cu.

Pwe-giok mengusap air di mukanya, lalu menjawab, “Entah! entah nona ada petunjuk apa

yang harus dibicarakan padaku?”

“Sebenarnya akupun heran,” kata Kim-yan-cu dengan gegetun. “Entah mengapa, kurasakan

kita tak dapat berpisah dengan begini saja. Maka aku lantas menyusul kemari. Biasanya

memang begitu. Apa yang ingin kukerjakan seketika juga kulaksanakan.”

“Tapi… tapi nona!” Pwe-giok tidak sanggup melanjutkan, ia tidak tahu apa yang harus

diucapkannya, sekilas dilihatnya dikejauhan sana ada sesosok bayangan orang berdiri di

tengah kabut bersandar di samping kuda, tampaknya sangat kesepian.

Renjana Pendekar > Karya Khulung > Diceritakan oleh : GAN KL > buyankaba.com 72

Pwe-giok berdehem, katanya, “Maksud baik nona cukup kupahami. Sin-to Kongcu sedang

menunggu di sana, le… lekaslah nona kesana, bisa jadi kelak…”

“Jangan pusingkan dia, berapa lama dia akan menunggu, buat apa kau gelisah baginya?” sela

Kim-yan-cu dengan kurang senang. Mendadak ucapannya berubah lembut, katanya dengan

perlahan dan tandas, “Aku cuma ingin tanya padamu, selanjutnya kau ingin bertemu lagi

denganku atau tidak?”

“Aku…” Pwe-giok menunduk dan ragu2.

Kim-yan-cu menggigit bibir, tanyanya pula, “Aku anak perempuan, kalau kuberani tanya

masa kau tak berani menjawab?”

Dengan menggreget Pwe-giok berkata, “Cayhe adalah orang yang bernasib malang,

selanjutnya… selanjutnya paling baik kita tidak bertemu lagi.”

Tergetar tubuh Kim-yan-cu, ia melenggong sekian lamanya, akhirnya dia berkata dengan

suara gemetar, “Ba.. bagus kau!” mendadak ia mencemplak ke atas kudanya terus dibedal

pergi secepat terbang.

Tangan Pwe-giok masih memegangi sapu tangan kuning itu dan mengikuti bayangan si nona

yang lenyap di tengah kabut. Bau harum saputangan masih terendus, tanpa terasa Pwe-giok

rasa terkesima.

Pada saat itulah mendadak seekor kuda menerjang tiba, bayangan golok berkelebat terus

membacok!

Serangan ini datangnya teramat cepat dan keras. Keruan Pwe-giok terkejut, untuk menghindar

terasa tidak sempat lagi, terpaksa Pwe-giok menubruk ke depan malah, terasa punggungnya

terserempet angin tajam, dilihatnya Sin-to Kongcu telah melarikan kudanya ke sana, dengan

gelak tertawa dan mengangkat goloknya Kongcu golok sakti itu lantas berseru, “Bacokan ini

hanya sebagai peringatan saja, jika kau tetap tidak tahu diri, lain kali kepalamu pasti akan

kupenggal!”

Pwe-giok benar2 serba susah. Setelah berdiri tegak lagi barulah diketahui baju bagian

punggung telah robek tersayat golok lawan, hanya selisih sedikit saja jiwanya bisa melayang

di bawah golok kilat tadi.

Thian-kang Totiang juga sedang memandang padanya, ucapnya sambil menggeleng, “Jika

persoalan demikian selalu terjadi, cara bagaimana kau bisa hidup tenteram?”

“Tecu… tecu…” Pwe-giok tertunduk dan tidak sanggup melanjutkan.

“Sudahlah, hayo kita berangkat, ingin kulihat apakah kau sanggup berjalan sampai Kun-lunsan!”

kata Thian-kang Totiang.

Cara berjalan Thian-kang Totiang tidak cepat juga tidak lambat, tapi bagi Pwe-giok sudah

kepayahan untuk mengikuti langkahnya. Duka derita selama akhir2 ini benar2 telah menyiksa

jiwa raganya. Ia sudah basah kuyup oleh air keringat, rasanya akan menggigil, tapi di samping

guru yang kereng ini mana dia berani mengeluh.

Renjana Pendekar > Karya Khulung > Diceritakan oleh : GAN KL > buyankaba.com 73

Kabut sudah mulai buyar, tapi sinar sang surya belum lagi muncul. Cuaca mendung, lembab

dan kelam seperti air muka Thian-kang Totiang.

Mereka terus jalan dan entah sudah berapa jauhnya, baju Pwe-giok yang basah oleh air

keringat sudah kering, tapi segera basah lagi. Ia mulai ter-engah2, langkahnya tambah lambat,

kepalapun merasa berat!

Se-konyong2 Thian-kang Totiang berhenti di depan sebuah kelenteng bobrok, katanya sambil

menggeleng, “Nak, tampaknya kau tidak tahan menderita, marilah masuk dan mengaso

dahulu.”

Kelenteng itu sunyi senyap dengan ruangan yang gelap, patungnya tinggi besar dan beringas

menakutkan se-akan2 sedang mengejek siksa derita yang dialami manusia.

Tanpa terasa Pwe-giok terus berbaring di depan patung, di luar angin meniup santer, agaknya

akan hujan. Biarkan hujan, air hujan mungkin dapat mencuci bersih segala kekotoran

kehidupan manusia.

Thian-kang Totiang berdiri di depan Pwe-giok, tampaknya iapun angker seperti patung

kelenteng itu, dengan bengis ia berkata, “Berdiri, di depan malaikat pujaan mana boleh

sembarangan berbaring!”

Pwe-giok mengiakan dan meronta bangun, ia berdiri dengan sikap hormat, dalam hati tiada

sedikitpun merasa menyesal. Tanpa guru yang kereng, mana dapat mengeluarkan anak didik

yang baik?

Air muka Thian-kang tampak ramah kembali, katanya, “Setiap anak murid Kun-lun harus

berani menderita, lebih2 kau, nasibmu berbeda dengan orang lain, kau harus berani menderita

berlipat ganda daripada orang lain.”

“Tecu mengerti,” jawab Pwe-giok dengan muram.

Perlahan Thian-kang berpaling ke sana, di luar daun rontok gemerisik oleh tiupan angin, ketua

Kun-lun-pay yang termasyhur ini se-akan2 merasakan akan datangnya musim rontok yang

senyap, ia bergumam, “Akan hujan lagi! langit selalu datang awan dan angin yang sukar

diramal, kehidupan manusia tidaklah juga demikian adanya? Nak, sampai matipun kau harus

tetap ingat, tiada seorangpun di dunia ini yang dapat dipercaya sepenuhnya, kecuali dirimu

sendiri.”

Tiba2 angin meniup, entah mengapa Pwe-giok jadi merinding. Suasana sedemikian

senyapnya, jangan2 inilah firasat yang tidak baik.

“Nak, kemarilah kau,” kata Thian-kang pula perlahan.

Dengan sikap hormat dan prihatin Pwe-giok mendekatinya.

Dari kantongan yang dibawanya Thian-kang mengeluarkan sepotong bola nasi yang dibuat

seperti onde2. Diberi nya onde2 nasi ini kepada Pwe-giok, air mukanya yang kereng itu

Renjana Pendekar > Karya Khulung > Diceritakan oleh : GAN KL > buyankaba.com 74

tersembul senyuman yang jarang terlihat, katanya, “Makanlah, pada usia semuda kau, gurumu

juga merasakan cepatnya lapar.”

Orang tua yang kereng ini ternyata juga punya rasa kasih sayang. Memandang onde2 nasi di

tangannya, saking terharu hampir saja Pwe-giok mengucurkan air mata. “Dan suhu sendiri?”

ucapnya kemudian.

Thian kang tertawa, katanya, “Bola nasi ini tidak sembarangan orang dapat memakannya,

setelah kau makan tentu kau tahu apa sebabnya, gurumu!”

“Jika bola nasi itu sedemikian bernilai, entah boleh tidak Cayhe ikut minta sebagian?”

mendadak seorang menimbrung dengan tertawa.

Tahu2 seorang muncul di luar, dengan langkah lebar masuk ke dalam kelenteng, dadanya

tampak ter-engah2, senyuman yang menghiasi mukanya juga rada aneh. Cuma cuaca

mendung kelam sehingga tidak begitu jelas kelihatan.

“Mengapa Pangcu menyusul kemari?” seru Pwe-giok dengan girang setelah mengetahui siapa

pendatang ini.

Dengan mengelus jenggotnya, Thian-kang juga menyapa, “Pangcu menyusul kemari dengan

tergesa2 begini, kukira pasti bukan untuk minta bagian makanan ini.”

“Totiang memang bijaksana dan tahu segalanya,” ujar Ang-lian hoa dengan tertawa.

“Kedatanganku ini memang ini memperlihatkan sesuatu kepada Totiang.”

Ia lantas mengeluarkan sesuatu barang dan disodorkan ke depan Thian-kang. Benda itu sangat

kecil, di ruangan kelenteng yang gelap ini tidak terlihat jelas.

Terpaksa Thian-kang Totiang menunduk untuk memeriksa barang itu sambil berkata, “Barang

yang diantar kemari oleh Ang-lian-pangcu secara tergesa-gesa ini pasti benda yang sangat

menarik!”

Belum habis ucapannya, se-konyong2 tangan Ang-lian hoa terangkat ke atas dan tepat

menghantam mata Thian-kang Totiang.

Pada saat itu juga mendadak terdengar guntur menggelegar, hujan turun bagai dituang. Pada

saat yang sama pula sinar pedang lantas berkelebat dan menancap di punggung Thian-kang

Totiang.

Thian-kang meraung sambil menghantam dengan sebelah tangannya. Tapi Ang-lian hoa

sempat melompat mundur, angin pukulan yang dahsyat menghantam altar patung hingga

berantakan, patung besarpun sama ambruk.

Muka Thian-kang berlumuran darah, rambut dan jenggotnya se-akan2 kaku berdiri, teriaknya

dengan parau, “Ken! kenapa kau!” belum habis ucapannya, robohlah dia terkapar.

Di luar hujan turun semakin deras, pedang yang menancap di punggung ketua Kun-lun-pay

itu tampak masih bergetar.

Renjana Pendekar > Karya Khulung > Diceritakan oleh : GAN KL > buyankaba.com 75

Terkesiap Pwe-giok oleh kejadian itu, bola nasi yang dipegangnya juga terjatuh. Ang-lian hoa

berdiri mepet dinding sana, dadanya naik-turun dengan napas ter-engah2, air mukanya juga

berubah pucat. Tapi Pwe-giok masih dapat diselamatkan, betapapun kedatangannya belum

terlambat.

Terlihat Cia Thian-pi lantas melayang masuk, serunya dengan tertawa, “Betapapun

kedatangan kita masih keburu dan sekali turun tangan lantas berhasil.”

“Mestinya jangan kau binasakan dia, harus kita tanyai lebih dulu,” ujar Ang-lian hoa dengan

menyesal.

“Tanya apalagi?” kata Cia Thian-pi. “Kalau ditanyai mungkin akan!”

Mendadak Pwe-giok meraung murka, teriaknya dengan parau, “Apa2an kalian ini? Mengapa

kalian membunuhnya?”

“Jika dia tidak dibunuh, dia yang akan membunuh kau!” kata Thian-pi.

Kejut dan kesima Pwe-giok, ucapnya, “Meng! mengapa?…”

“Kelak kau tentu akan tahu sendiri,” ujar Cia Thian-pi, lalu ia tarik tangan Pwe-giok dan

berkata, “Komplotan jahat ini pasti ada begundalnya di sekitar sini, siaute akan berangkat

dulu bersama dia, harap Pangcu merintangi mereka, nanti Siaute akan balik lagi untuk

membantu.”

Karena tangannya dipegang, tanpa kuasa Pwe-giok ikut terseret pergi.

Ang-lian hoa lantas berdiri di ambang pintu kelenteng dan bergumam, “Hayolah maju, akan

kutunggu kalian di sini!”

Hujan angin tambah keras, cuaca tambah kelam. Ang-lian hoa mencabut pedang yang

menancap di punggung Thian-kang Totiang itu.

Kembali guntur menggelegar pula. Darah menetes dari ujung pedang. Air muka Ang-lian hoa

mendadak berubah pucat, tubuhnya serasa lemas, ia terhuyung-huyung dan menumpahkan

darah.

*****

Dalam pada itu Pwe-giok telah diseret pergi oleh Cia Thian-pi, mereka berlari di bawah hujan

lebat, dengan langkah agak sempoyongan Pwe-giok bertanya, “Ken… kenapa?”

“Thian-kang Totiang itu adalah samaran komplotan jahat,” kata Cia Thian-pi. “Apa yang

dilakukannya itu ialah ingin mencelakai kau. Bola nasi yang diberikan padamu itu adalah

racun yang tak dapat ditolong!”

“Apa betul?” teriak Pwe-giok terkejut.

“Sekalipun mungkin aku menipu kau, apakah Ang-lian pangcu juga akan menipu kau?” kata

Cia Thian-pi.

Renjana Pendekar > Karya Khulung > Diceritakan oleh : GAN KL > buyankaba.com 76

“Tapi dia… dia…” mendadak Pwe-giok ingat kejadian jatuh ke dalam sumur tadi, apa benar

Thian-kang Totiang bermaksud mencelakai dia? Tapi sikapnya yang kereng dan berwibawa

itu masa dapat dipalsukan?

Hati Pwe-giok terasa kusut, tanpa kuasa tubuhnya ikut terseret berlari ke depan. Se-konyong2

ia merasa tangan Cia Thian-pi yang menariknya itu sangat dingin, sungguh dingin luar biasa,

tanpa terasa ia menggigil dan berkata, “Mengapa tanganmu sedemikian aneh?”

“Kau bilang apa?” tanya Cia Thian-pi sambil menoleh.

Pwe-giok pandang wajah orang dan menjawabnya, “Kubilang! hei!” mendadak ia meraung.

“Kau! kau inilah palsu! kukenal matamu!”

Belum habis ucapannya, ia merasa beberapa hiat-to pada tangannya sudah tertutuk, tubuhnya

lantas dilemparkan oleh Cia Thian-pi.

“Hehe.. anggaplah kau memang pintar, tapi orang pintar justeru mati terlebih cepat!” kata Cia

Thian-pi sambil menyeringai, ia angkat kakinya terus menginjak ke dada Pwe-giok yang jatuh

tersungkur di tengah lumpur itu.

Lengan kanan Pwe-giok serasa kaku semua, ingin mengelak pun tidak sanggup lagi. Untung

tangan kirinya masih dapat bergerak, secepat kilat ia pegang ujung kaki Cia Thian-pi.

Walaupun pembawaan tenaga Ji Pwe-giok sangat kuat, apa daya, saat ini dia seperti anak

panah yang sudah jauh meluncur dan tinggal jatuh lemas ke tanah.

Cia Thian-pi masih menyeringai dan kakinya tetap ingin menginjak ke bawah, ucapnya,

“Hayolah tahan sekuatnya, ingin kulihat sampai berapa lama kau mampu bertahan!”

Ruas tulang Pwe-giok terasa gemertak, air hujan berhamburan di mukanya, hampir2 tidak

sanggup membentangkan matanya, sedangkan injakan Cia Thian-pi terasa semakin berat. Ia

menggertak gigi dan bertahan sekuatnya, teriaknya dengan parau, “Kiranya kau yang

membunuh ayahku! Susah payah kucari kau!”

“Hehehe… dan sekarang sudah kau temukan diriku, bukan?” jawab Cia Thian-pi dengan terkekeh2.

“Tapi apa yang dapat kau lakukan? Ayahmu mati di tanganku, sebaliknya kau akan

mati di bawah kakiku!”

Lengan Pwe-giok serasa hampir patah, sebaliknya kaki Cia Thian-pi semakin berat seperti

bukit menindih. Dia bertahan sekuatnya, tapi jelas tiada harapan lagi. Betapa dia tersiksa oleh

injakan kaki musuh, sungguh ia ingin lepas tangan dan pasrah nasib. Dengan demikian segala

duka nestapa, segala siksa derita, semuanya takkan menimpa dirinya lagi.

“Hayolah tahan yang kuat!” demikian Cia Thian-pi berteriak sambil tertawa latah. “Apakah

kau sudah kehabisan tenaga? Wahai Ji Pwe-giok, setelah mati janganlah kau menyesal

padaku. Meski kita tiada permusuhan apa2, tapi kematianmu akan membuat hidup orang lain

jauh lebih nikmat dan bahagia!”

Pwe-giok merasa pandangannya mulai kabur dan gelap, tenggorokan terasa anyir, akhirnya

tak tahan lagi, darah segar tersembur keluar dan mengotori baju Cia Thian-pi.

Renjana Pendekar > Karya Khulung > Diceritakan oleh : GAN KL > buyankaba.com 77

Sambil menyeringai kaki Cia Thian-pi terus menginjak sekerasnya, pada saat itulah mendadak

terdengar suara mendenging tajam menyambar dari belakang.

Dengan daya pantulan injakannya itu cepat Cia Thian-pi meloncat ke atas, ia berjumpalitan di

udara, lalu turun di kejauhan sana.

Terlihat di bawah hujan lebat sana melayang sesosok bayangan orang seperti badan halus,

mukanya kaku tanpa emosi, tapi sorot matanya merah membara. Siapa lagi dia kalau bukan

Ang-lian hoa.

Suara mendenging tajam tadi adalah sambaran pedang yang ditimpukkan, pedang itu akhirnya

menancap pada batang pohon dan ambles hampir setengah pedang, dari sini dapat diketahui

betapa pedih dan gemas hati Ang-lian hoa.

Air muka Cia Thian-pi tampak berubah pucat, tapi ia tetap bersikap tenang dan menyapa,

“Kenapa Pangcu sudah menyusul tiba, apakah kawanan penjahat sudah dihalau pergi?”

Seperti berapi sorot mata Ang-lian hoa, ia tatap orang dengan tajam, tanyanya sekata demi

sekata, “Siapa kau sebenarnya!?”

“Aku… Siaute…” Cia Thian-pi menjawab dengan gelagapan dan menyurut mundur setindak

demi setindak.

“Hm, mirip benar penyamaran mu, sungguh teramat mirip, sebentar harus ku sayat mukamu

secuil demi secuil, ingin ku tahu mengapa penyamaranmu bisa begini mirip!” kata Ang-lian

hoa. Suaranya dingin seram, jauh lebih menakutkan daripada suara raungan murka. Siapapun

percaya, apa yang dikatakan Pangcu kaum jembel ini pasti akan dilaksanakannya.

Keruan Cia Thian-pi merasa ngeri, tapi mendadak ia bergelak tertawa, serunya, “Hahaha,

bagus, Ang-lian hoa, tak tersangka akhirnya kau tahu juga. Dengan jerih payah tiga tahun

kubelajar merias, kuyakin sudah dapat berlagak serupa benar dengan Cia Thian-pi. Kukira

biarpun dia sendiri juga sukar membedakan mana yang asli dan mana yang palsu. Tapi kau,

cara bagaimana dapat kau pecahkan penyamaranku ini?”

“Pedangmu itu,” kata Ang-lian hoa. “Setiap anak murid Tiam-jong-pay tidak mungkin

menggunakan pedang begitu, lebih2 tidak nanti membuang pedangnya begitu saja. Mungkin

kau lupa istilah yang dipatuhi setiap anak murid Tiam-jong, yaitu “Pedang ada orang ada,

pedang hilang orang gugur.”

Cia Thian-pi melenggong, serunya kemudian, “Ah, kiranya langkah ini telah kulupakan.

Wahai Ang-lian hoa, engkau memang luar biasa, pantas Cusiang kami bilang engkau ada

tokoh nomor satu yang paling sulit direcoki.”

“Si.. siapa Cusiang kalian?” tanya Ang-lian hoa dengan gregetan.

“Selamanya takkan diketahui olehmu,” jawab Cia Thian-pi sambil tertawa latah. “Bilamana

nanti kau tahu, saat itu pula mungkin jiwamu akan melayang. Biarpun tokoh yang beribu kali

lebih kuat daripadamu juga sukar menandingi satu jari Cusiang kami.”

Renjana Pendekar > Karya Khulung > Diceritakan oleh : GAN KL > buyankaba.com 78

“Hehe.. memang betul, selama beratus tahun ini di dunia Kangouw memang tiada seorangpun

yang terlebih licik, licin dan keji seperti dia,” kata Ang-lian hoa dengan tersenyum pedih.

“Dunia Kangouw yang akan datang akan menjadi dunianya Cusiang kami,” teriak Cia Thianpi

dengan bengis. “Ang-lian hoa, kau adalah orang pintar, coba pikirkan baik2, apa yang akan

kau lakukan?”

Ang Lian-hoa maju beberapa langkah ke arahnya dan berkata: “Aku ingin membunuhmu.

Saat ini, yang aku ingin lakukan hanyalah membunuhmu.”

Cia Thian-pi berkata: “Tugasku adalah membunuh Ji Pwe-giok, oleh karena itu aku harus

membunuh Thian-kang totiang. Tetapi jangan lupa, engkau adalah komplotanku, kalau kau

ingin membunuhku engkau juga harus menghukum dirimu sendiri.”

Ang Lian-hoa berkata dengan menyesal: “Itu adakah kesalahan terbesar selama hidupku.

Begitu bodohnya aku mempercayaimu. Aku akan menghukum diriku sendiri kelak di

kemudian hari. Tapi engkau…engkau…”

Secepat kilat Ang Lian-hoa menyerang dengan kepalan 3, 4 jurus. tidak banyak orang di

dunia persilatan yang pernah bertempur dengan Ang Lian-hoa. Sekarang Cia Thian-pi

menyadari bahwa ketua Kay-pang yang masih muda ini mempunyai jurus kepalan dan telapak

tangan yang hebat. Setiap jurusnya dilambari kekuatan tenaga dalam yang penuh.

Terlebih-lebih saat ini dia menyalurkan kemarahannya ke kepalan dan telapak tangannya.

Kekuatannya sangat menggiriskan hati orang-orang.

Ji Pwe-giok kini berteriak: “Engkau tidak boleh membunuhnya!”

Ang Lian-hoa dan Cia Thian-pi sama-sama dikejutkan dengan teriakannya itu. Ang Lian-hoa

bertanya dengan marah: “Mengapa aku tidak boleh membunuhnya?”

Ji Pwe-giok menggunakan tangan kirinya untuk membebaskan 3 titik jalan darahnya yang

tertotok dan berdiri. Dia nampak sangat pucat dan matanya memancarkan sinar kebencian.

Pemuda yang biasanya nampak rapuh dan lembut ini kini telah berubah menjadi seorang yang

beringas.

Ji Pwe-giok berkata dengan lantang: “Bangsat licik ini tidak hanya telah membunuh ayahku,

dia juga telah membunuh guruku. Hanya aku yang boleh membunuh bajingan ini!”

Ang Liang-hoa tersenyum nyengir: “Baiklah, dia milikmu sepenuhnya.”

Ji Pwe-giok merangsek ke Cia Thian-pi. Ang Lian-hoa melihat langkah kakinya tidak stabil

dan gerakannya lambat, jelas pikiran dan tenaganya sangat terganggu.

“Kau masih mengawasi di samping, kenapa dia harus hati2 segala?!” jengek Cia Thian-pi

Dengan menggertak gigi Pwe-giok berteriak pula, “Hari ini harus kubunuh kau dengan

tanganku sendiri, siapapun tidak boleh membantuku!”

Renjana Pendekar > Karya Khulung > Diceritakan oleh : GAN KL > buyankaba.com 79

Semangat Cia Thian-pi terbangkit, ia tertawa latah dan berkata, “Bagus, jantan sejati! Ucapan

seorang lelaki harus dipegang teguh!”

Sembari bicara sembari bertempur, berbareng iapun menyurut mundur, pada suatu

kesempatan mendadak ia mencabut pedang yang menancap di batang pohon, “sret” kontan ia

menabas ke depan, ber-turut2 ia menusuk dan menabas tujuh kali.

Serangan mendadak dan secepat kilat ini jelas bukan ilmu pedang Tiam-jong-pay, tapi

keganasan dan kekejiannya bahkan di atas ilmu pedang Tiam-jong.

Jilid 4________

Pwe-giok tidak gentar, ia hadapi serangan musuh dengan serangan yang sama ganasnya, ia

bertempur dengan kalap, betapapun serangan kilat Cia Thian-pi menjadi terdesak oleh

terjangan Pwe-giok yang nekat itu.

“Sret-sret-sret”, tahu-tahu baju Pwe-giok tergores robek tiga tempat, darahpun tampak

merembes keluar dari pundaknya, tapi hanya sekejap saja darah sudah lenyap diguyur air

hujan.

Ang Lian-hoa ikut berdebar-debar menyaksikan pertarungan sengit itu, butiran keringat

memenuhi dahinya. Sudah banyak pengalaman tempurnya, tapi belum pernah ada pertarungan

sengit seperti sekarang ini. Mendadak ia menemukan pemuda yang berwatak keras ini meski

setiap hari tutur-katanya lembah lembut tapi dikala bertempur ternyata gagah perkasa luar

biasa, sungguh pahlawan yang belum pernah dilihatnya.

Setiap orangpun dapat melihat bahwa meski semangat tempur Ji Pwe-giok belum runtuh,

namun apa daya, maksud ada, tenaga tak sampai.

Tapi dalam keadaan demikian bilamana ada orang hendak membantunya, pemuda yang

berwatak keras itu bisa jadi akan marah dan mungkin akan membunuh diri malah.

Terpaksa Ang Lian-hoa hanya menghela napas saja dan diam-diam menyesal. Dilihatnya Cia

Thian-pi dari menyerah sudah berubah menjadi bertahan, jelas dia sengaja hendak menguras

habis dulu tenaga Pwe-giok, habis itu baru melancarkan serangan mematikan.

Daya serangan Pwe-giok masih tetap dahsyat, namun belum dapat membobol pertahanan

lawan, sebaliknya tubuhnya entah sudah bertambah berapa luka pula.

Hujan semakin deras, angin bertambah kencang, jagat raya ini diliputi kegelapan melulu,

inilah cuaca yang menyeramkan dan menyedihkan, inipun pertarungan maut yang

mengerikan. Melihat Pwe-giok masih terus bertempur dengan mandi darah, sekalipun Ang

Liang-hoa berhati baja juga tidak tahan mengucurkan air mata.

Sekonyong-konyong langkah Pwe giok terhuyung, bagian dada jadi terbuka. Pucat wajah Ang

Lian-hoa, ia menjerit kuatir. Dalam keadaan demikian, sekalipun dia ingin menolong juga

tidak keburu lagi.

Renjana Pendekar > Karya Khulung > Diceritakan oleh : GAN KL > buyankaba.com 80

Terlihat pedang Cia Thian-pi telah menusuk ke depan, ke dada Pwe-giok yang tak terjaga itu.

Serangan cepat ganas. Remuk redam hati Ang Lian-hoa, seketika ia cuma memejamkan mata

saja, ia tidak sampai hati untuk menyaksikan apa yang bakal terjadi.

Sinar kilat berkelebat, tertampak wajah Cia Thian-pi yang pucat itu penuh diliputi napsu

membunuh, ia menyeringai seram, ia yakin tusukannya itu pasti tidak akan meleset. Tapi

cahaya kilat yang gemerdep itu telah membuat matanya ikut berkedip.

Pada saat itu juga lantas terdengar suara “bluk” satu kali, entah dengan cara bagaimana kedua

tangan Ji Pwe-giok telah dapat menjepit pedangnya.

Seketika Cia Thian-pi merasakan pedangnya terjepit oleh sesuatu, seperti terjepit oleh

tanggam yang kuat dan tak dapat bergerak lagi. Menyusul Pwe-giok lantas menggeser maju,

sekali menyikut, “brek”, dengan tepat dada Cia Thian-pi kena disodok.

Kontan pandangan Cia Thian-pi menjadi kabur, sakitnya tidak kepalang, pada saat itulah

tangan Pwe-giok juga lantas melayang tiba, “plok”, dengan tepat mukanya kena digampar

sehingga dia tergetar setengah lingkaran.

Menjepit menyikut dan menggampar, tiga gerakan itu se-akan2 dikerjakan sekaligus dalam

waktu sekejap. Begitu sinar kilat tadi habis berkelebat, lalu menggelegarlah bunyi guruh.

Pwe-giok terus menubruk maju lagi, ia rangkul tubuh Cia Thian-pi, kedua lengannya seperti

tanggam kuatnya, tulang dada Cia Thian-pi tergencet seakan-akan remuk seluruhnya, ingin

bersuara saja tidak mampu.

Air muka Cia Thian-pi dari pucat berubah menjadi kemerahan dan kembali pucat pula,

sedangkan muka Pwe-giok juga pucat seperti mayat, kedua tangannya mengunci tubuh musuh

dengan kuat, terdengar suara napas Cia Thian-pi mulai megap-megap, lalu menjadi lemah,

menyusul lantas terdengar suara “gemeretak”, tulang dadanya sama patah.

Tidak kepalang kagum dan girang Ang-lian-hoa, baru sekarang ia sempat berseru: “Jangan

dibunuh dulu, harus kita tanyai sejelasnya.”

Pelahan Pwe-giok melepaskan kedua tangannya, lalu menyurut mundur dengan sempoyongan

seakan-akan roboh, ia menengadah dan tertawa, serunya: “Akhirnya sudah kulaksanakan ….

sudah kulaksanakan…”

Tubuh Cia Thian pi lantas terkulai dengan lemas dan tak bergerak lagi.

Ang-lian-hoa menarik tangan Pwe giok, dengan berseri-seri ia berkata: “Apakah jurus ini

adalah kepandaian Ji-locianpwe yang pernah menggetarkan dunia Kangouw di masa lalu,

yaitu jurus Leng-yang-kua-kak (kambing benggala menggaet tanduk), jurus serangan maut

andalan Bu-kek-pay?”

Pwe-giok tersenyum pedih, jawabnya: “Tapi selama hidup ayah belum pernah mencelakai

orang dengan jurus serangan ini, sebaliknya sekarang Siaute ….” mendadak ia menunduk,

butiran air pun berderai, entah air hujan, entah air mata?

Renjana Pendekar > Karya Khulung > Diceritakan oleh : GAN KL > buyankaba.com 81

“Sungguh jurus serangan yang aneh dan lihay!” ujar Ang-lian-hoa dengan gegetun. “Jurus

serangan ini sungguh sukar dicari cirinya dan timbul dalam keadaan kepepet. Ilmu sakti kaum

Cianpwe sungguh luar biasa, sekarang barulah mataku benar-benar terbuka.”

Dia menepuk pundak Pwe giok, lalu berseru pula dengan tertawa: “Kau sendiri memiliki ilmu

sakti ini, mengapa tidak sejak tadi kau keluarkan sehingga membikin aku kuatir bagimu?”

“Siaute . … Siaute …. ” Pwe-giok tidak sanggup melanjutkan, mendadak ia jatuh mendekap

Ang-lian-hoa, nyata ia telah kehabisan tenaga, sampai berdiri saja tidak kuat.

Cepat Ang-lian-hoa mengeluarkan sebiji obat dan dijejalkan ke mulut Pwe-giok, katanya:

“Inilah Siau-hoan-tan Kun-lun-pay yang terkenal, khasiatnya menambah tenaga dan

menimbulkan semangat, obat yang tiada bandingannya di dunia ini.”

Mulut Pwe giok terasa sedap dan harum, serunya: “Siau-hoan-tan katamu? Obat yang sukar

dicari ini mengapa …. mengapa kau berikan padaku?”

Ang-lian-hoa terdiam sejenak, katanya kemudian dengan sedih: “Obat ini bukan aku yang

memberikan padamu, tapi Thian-kang Totiang . …”

“Suhu?” Pwe giok melengak. “Dia….. beliau mengapa . . . . “

“Obat ini kukeluarkan dari bola nasi yang kau terima dari orang tua itu,” tutur Ang-lian-hoa

dengan gegetun. “Semula kukira di dalam bola nasi itu ada racunnya, siapa tahu . . . siapa tahu

. . . .”

Pwe giok tertunduk muram dengan air mata bercucuran, katanya: “Pantas beliau bilang bola

nasi ini tidak dapat dimakan sembarang orang. Cia Thian-pi, kau jahanam, kau bangsat!. . .. “

Dengan gemas ia berpaling ke sana, tapi mendadak air mukanya berubah pucat pula.

Mayat Cia Thian-pi masih terkapar di pecomberan sana, tapi kepalanya sudah tidak kelihatan

lagi. Padahal sejak tadi hujan masih turun dengan lebatnya, di sekitar sini tiada terlihat

bayangan orang lain, lalu ke mana perginya kepala Cia Thian-pi?

Ang-lian-hoa dan Ji Pwe-giok saling pandang dengan bingung. Kalau kepala Cia Thian-pi

dipenggal orang, hal ini tidak mungkin terjadi. Bila dikatakan kepalanya tidak dipotong orang,

lalu apakah kepalanya dapat terbang sendiri?

Cerdik dan pandai Ang-lian-hoa, masih muda belia sudah mengetuai sebuah organisasi

terbesar di dunia ini, boleh dikatakan tokoh muda yang tiada taranya di jaman sekarang, Tapi

meski dia sudah peras otak, tetap sukar memecahkan teka-teki ini.

Setelah melenggong sejenak, ketika ia menunduk dan memandang lagi hanya sekejap itu

bagian pundak dan dada Cia Thian-pi ternyata sudah lenyap pula.

Mendadak Ang-lian-hoa menepuk pundak Pwe-giok dan berseru: “Aha, tahulah aku!”

“Kau tahu?” Pwe-giok menegas.

“Coba berjongkok dan periksalah yang teliti,” kata Ang-lian-hoa.

Renjana Pendekar > Karya Khulung > Diceritakan oleh : GAN KL > buyankaba.com 82

Waktu Pwe-giok melongok pula ke bawah, dilihatnya mayat Cia Thian-pi itu sedikit demi

sedikit telah membusuk, darah daging yang merah segar itu secara aneh berubah menjadi

cairan kuning, lalu lenyap diguyur air hujan.

Pwe-giok merasa mual dan hampir saja tumpah-tumpah, cepat ia berpaling ke arah lain dan

menarik napas dalam-dalam, katanya kemudian: “Jangan-jangan inilah Hoa-kut-tan (obat

pemusnah tulang) yang tersiar di dunia Kangouw itu?”

“Ya, betul,” jawab Ang-lian-hoa. “Rupanya dia tahu pasti akan mati, maka dia rela melebur

dirinya menjadi cairan.”

“Tapi kedua tangannya sudah patah tergencet, cara bagaimana dia dapat mengambil obatnya?”

tanya Pwe-giok pula.

“Mungkin sebelumnya Hoa-kut-tan itu sudah dikulum di dalam mulutnya, setelah menyadari

akan kematiannya, kapsul obat lantas dikunyahnya. Kalau Hoa-kut-tan itu masuk darah,

segera terjadi pembusukan. Ai, dia lebih suka menerima nasib demikian daripada

membocorkan rahasia komplotannya, sebab dia tahu hanya orang mati saja yang benar-benar

tidak dapat membocorkan lagi sesuatu rahasia.

“Tak tersangka, orang ini pun jantan sejati,” kata Pwe-giok.

“Salah besar jika demikian pendapatmu,” ujar Ang-lian-hoa dengan tersenyum getir.

“Yang benar, dia tidak berani membocorkan rahasia komplotan jahat mereka, sebab kalau

sampai rahasianya diketahui orang luar, maka kematiannya akan jauh lebih mengerikan

daripada sekarang ini.”

“Betul, tampaknya mereka semuanya begitu, lebih baik mati daripada membocorkan rahasia

mereka,” ujar Pwe-giok.

“Tapi siapakah sebenarnya pimpinan mereka? Mengapa dapat membuat orang-orang ini

sedemikian takut padanya?…..Mati, hal ini sebenarnya cukup menakutkan setiap orang di

dunia ini. Masa pimpinan mereka ini jauh lebih menakutkan daripada soal “mati” ?”

“Dia memang benar lebih menakutkan daripada mati,” gumam Ang-lian-hoa. “Saat ini aku

pun tak dapat membayangkan betapa menakutkannya dia itu…”

“Ah, betul,” seru Pwe-giok mendadak seperti menemukan sesuatu, “sebabnya Cia Thian-pi ini

bertindak nekat, jelas karena dia tahu bila orang sudah mati, maka tidak mungkin lagi dapat

membocorkan sesuatu rahasia, tapi kalau dia sendiri mati toh tetap rahasianya bisa

terbongkar, kalau tidak, mengapa dia mesti melebur tubuhnya sendiri hingga menjadi cairan?”

“Orang mati juga dapat membocorkan rahasia, maksudmu?” gumam Ang-lian-hoa sambil

berkerut kening.

“Ya, orang mati terkadang juga dapat membocorkan rahasia!” ucap Pwe giok tegas, sekata

demi sekata.

Renjana Pendekar > Karya Khulung > Diceritakan oleh : GAN KL > buyankaba.com 83

“Rahasia apa?” tanya Ang-lian-hoa.

“Rahasia penyamarannya!” jawab Pwe-giok.

Ang-lian-hoa melenggong, sejenak kemudian ia menepuk jidat sendiri dan berseru: “Aha,

memang betul. Dia kuatir setelah mati mukanya dapat kita kenali, sebab inilah rahasia mereka

yang terbesar.”

“Justeru lantaran kuatir rahasia mereka ini bocor, maka pimpinan komplotan jahat ini

menyiapkan Hoa-kut-tan bagi mereka, bila perlu, bukan jiwa mereka saja harus melayang,

mayat mereka pun harus dilenyapkan!” seru Pwe-giok dengan menggreget dan meremas

tangan Ang-lian-hoa, lalu sambungnya pula: “Sekarang ku tahu, sedikitnya ada enam orang

yang kuketahui adalah palsu di dunia ini, kecuali diriku sendiri ternyata tiada orang lain lagi

yang mau percaya dan dapat melihat kepalsuan mereka. Yang mengerikan adalah, kecuali ke

enam orang yang sudah kuketahui itu masih ada berapa orang pula yang dipalsukan? Inilah

yang sulit diketahui dan benar-benar mengerikan.”

Air muka Ang-lian-hoa juga guram seperti cuaca yang mendung ini. Sebenarnya dia seorang

tokoh yang periang, jarang ada persoalan yang dapat membuatnya sedih dan bingung. Tapi

sekarang, hatinya benar-benar tertekan dan agak cemas.

Dengan suara gemetar Pwe-giok berucap pula: “Umpamanya kalau sanak-kadangmu, sampai

ayahmu sendiri pun bisa jadi anggota komplotan jahat itu, lalu di dunia ini siapa pula yang

dapat kau percayai? Dan kalau di dunia ini sudah tiada seorang pun yang dapat kau percayai,

apakah engkau masib sanggup hidup terus? Bukan …. bukankah peristiwa ini tidak dapat kau

bayangkan?!”

“Cia Thian-pi palsu sudah mati, sekarang tinggal siapa-siapa saja anak buah komplotan jahat

itu yang palsu?” tanya Ang-lian-hoa dengan tenang.

“Ong Uh-lau, Lim Soh-koan, Ong Liong-ong dari Thay-oh, Sim Cin-jiang, Sebun Bu-kut dan

dan orang yang mengaku she Ji itu, sebab ku tahu dengan pasti ke enam orang ini

sesungguhnya sudah meninggal semua.””

Ang lian-hoa menghela napas panjang, katanya: “Kecuali ke enam orang ini, mungkin tidak

banyak lagi yang dipalsukan.”

“Cara bagaimana kau berani memastikannya?” “Sebab hal ini bukan tindakan yang mudah.

Untuk memalsukan pribadi seseorang dan harus dapat mengelabui mata-telinga orang banyak,

sedikitnya diperlukan waktu latihan bertahun-tahun lamanya, kalau tidak, biarpun mukanya

serupa, tapi suaranya, gerak geriknya, sikapnya, tetap akan diketahui orang. Apalagi ilmu

silatnya…”

“Aha, betul, ilmu silatnya!” seru Pwe-giok.

“Jika mereka hendak memalsukan pribadi seseorang, mereka juga harus mahir menirukan

ilmu silatnya.”

Habis berkata mendadak ia putar tubuh dan berlari ke sana.

Renjana Pendekar > Karya Khulung > Diceritakan oleh : GAN KL > buyankaba.com 84

Namun Ang-lian-hoa keburu melompat dan menghadang di depannya, ucapnya dengan

tenang: “Leng yang-koa kak, betul tidak?”

“Betul, jurus serangan ini kecuali kami ayah dan anak, di dunia ini tiada orang lain lagi yang

mampu memainkannya,” seru Pwe-giok.

“Jika orang yang mengaku she Ji itu tidak mampu memperlihatkan jurus serangan khas ini,

maka terbuktilah kepalsuannya.”

“Gagasan ini memang suatu cara yang bagus,” ujar Ang-lian-hoa dengan gegetun.

“Cuma sayang, perangai ayahmu membuat gagasanmu ini menjadi tiada gunanya.”

“Sebab apa?” tanya Pwe giok.

“Kau tahu perangai yang ramah dan sabar, arif dan bijaksana, setiap orang Bu-lim tahu budi

ayahmu yang luhur. Sekarang coba jawab, andaikan beliau masih hidup, adakah orang yang

dapat memaksa beliau mengeluarkan ilmu simpanannya yang khas ini?”

Sampai lama Pwe-giok melenggong, akhirnya ia jatuh terduduk.

*****

Disiram oleh air hujan lebat, mayat “Cia Thian-pi” itu sudah hilang tak berbekas lagi. Dia

telah lenyap dari muka bumi ini, tapi sesungguhnya siapa dia?

Di dunia ini sebenarnya tiada Cia Thian pi kedua, jika demikian, yang baru saja lenyap ini kan

seharusnya memang tidak ada. Berpikir demikian, Ang-lian-hoa tidak tahu harus menangis

atau mesti tertawa. Sungguh ia tidak berani memikirkannya lagi, bilamana hal-hal demikian

banyak dipikir, sungguh bisa membikin gila.

Dipandangnya tempat mayat yang sudah bersih itu, gumamnya: “Pembunuh Thian kang

Totiang sudah mati, tapi kalau dibicarakan, siapakah gerangan pembunuhnya, siapa yang

dapat membuktikan beradanya si pembunuh ini?”

Melihat sikap Ang-lian hoa yang cemas itu, Pwe-giok jadi merinding, katanya kemudian:

“Engkau juga tidak perlu…”

“Jangan kuatir,” seru Ang-lian-hoa dengan tertawa, “meski ada maksudku akan menebus dosa

tapi tidak nanti kutebus kesalahanku dengan kematian. Aku masih ingin hidup terus, tidak

nanti kupenuhi kehendak mereka.”

Pwe-giok merasa lega, katanya: “Ya, kutahu engkau bukan manusia biasa, engkau memang

lain daripada yang lain.”

Ang-lian-hoa menengadah, membiarkan air hujan menuang ke mukanya, katanya pula dengan

pelahan: “Sekarang, ada suatu urusan mau-tak mau harus kukerjakan.”

“Engkau akan pergi ke Kun-lun-san?” tanya Pwe-giok dengan tatapan tajam.

Renjana Pendekar > Karya Khulung > Diceritakan oleh : GAN KL > buyankaba.com 85

“Anak murid Kun-lun berhak mengetahui berita duka Thian-kang Totiang dan aku

berkewajiban menyampaikan berita ini kepada mereka!”

“Tapi pekerjaan di sini juga tidak boleh di tinggal pergi olehmu,” ujar Pwe-giok dengan suara

berat. “Perjalanan ke Kun-lun biarlah kuwakilkan kau ke sana.”

Di antara mereka tiada lagi kesungkanan, tiada tolak menolak, tiada percakapan yang tidak

perlu, juga tidak ada duka-cita yang tidak perlu, lebih-lebih air mata yang tidak perlu. Sebab

keduanya sama-sama lelaki sejati, sama-sama jantan perkasa. Keduanya berdiri berhadapan di

bawah curahan hujan.

“Baiklah, pergilah kau,” kata Ang lian-hoa kemudian. “Tapi kau harus hati-hati, urusan yang

tidak perlu ikut campur hendaklah jangan ikut campur. Jangan lupa, jiwamu sekarang jauh

lebih bernilai daripada jiwa orang lain.”

“Kutahu,” jawab Pwe-giok singkat. Dilihatnya pedang tadi, dijemputnya dan disisipkan pada

ikat pinggang, bisa jadi di tengah jalan pedang itu akan berguna.

Tiba-tiba Ang-lian-hoa tertawa dan berkata pula: “Ah, lupa kuberitahukan sesuatu padamu.”

“Urusan apa?” tanya Pwe-giok dengan nada was-was.

“Urusan baik” kata Ang lian-hoa “Tentang bakal istrimu, Lim Tay-Ih, kau tidak perlu

berkuatir lagi baginya.”

Entah mengapa, bila menyebut nama Lim Tay-ih, seketika sikap Ang Lian-hoa berubah

kikuk, biarpun tertawa juga tertawa setengah dipaksakan.

Dengan sendirinya Pwe-giok tidak memperhatikan sikap orang, ia bertanya: “Sebab apa?

Adakah dia….”

“Saat ini dia telah berada di bawah lindungan seorang tokoh yang paling sulit direcoki di

seluruh dunia ini.”

“Ya, di bawah perlindungan Ang lian pangcu, memangnya apa yang perlu kukuatirkan lagi?”

Sikap Ang Lian-hoa berubah pula, tapi segera ia berkata dengan tertawa: “Kau jangan salah

tampa, bukan diriku.”

“Orang yang paling sulit direcoki di dunia ini siapa lagi kalau bukan dirimu? Apa Jut-tun

Totiang?”

“Nama orang ini mungkin tidak lebih terkenal daripada Jut-tun Totiang, tapi orang lain

andaikan berani merecoki Jut-tun Totiang tentu juga tidak berani mengusik orang ini.”

“Aha, bunga paling cantik ialah Hay-hong” seru Pwe-giok.

Ang lian-hoa berkeplok, katanya: “Betul, memang dia. Agaknya iapun melihat sesuatu yang

tidak beres, maka iapun ikut campur. Kalau dia sudah menangani sesuatu urusan, tidak nanti

ditinggalkannya setengah jalan.”

Renjana Pendekar > Karya Khulung > Diceritakan oleh : GAN KL > buyankaba.com 86

“Wah, tampaknya persoalannya tidak sederhana sebagaimana kita sangka, masih banyak

orang lagi yang….”

“Wah, celaka! Aku melupakan sesuatu lagi!” teriak Ang Lian-hoa mendadak.

“He, urusan baik atau buruk?” tanya Pwe-giok.

“Cia Thian-pi palsu muncul di sini, jangan-jangan Cia Thian-pi yang tulen telah mengalami

nasib buruk, harus lekas ku pergi menjenguknya!” belum habis ucapannya tahu-tahu Ang

Lian-hoa sudah melayang pergi secepat terbang.

Memandangi kepergian ketua kaum jembel yang muda dan perkasa itu, Pwe-giok menghela

napas panjang, ya kagum, ya terharu, ya berduka…..

*****

Hujan sudah mereda, tapi belum berhenti, masih gerimis. Anginpun masih meniup, bahkan

tambah dingin.

Dengan langkah berat Pwe giok meneruskan perjalanan, hari depannya terasa guram, sama

seperti cuaca yang kelam sekarang ini, sekonyong-konyong terdengar derapan kuda lari yang

riuh. Tujuh atau delapan penunggang kuda membedal lewat, air jalanan yang kotor menciprati

tubuh Ji Pwe giok. Namun pemuda itu sama sekali tidak perduli, mengangkat kepala saja

tidak.

Tak terduga, baru saja barisan pemuda itu lewat seseorang mendadak melayang balik dari

kudanya dan menubruk ke arah Pwe-giok.

Dengan terkejut Pwe-giok menyurut mundur dan orang itupun turun di depannya. Dilihatnya

orang ini berpakaian hitam ketat dan basah kuyup oleh air hujan. Sorot matanya tajam, jelas

dikenalnya sebagai pemuda anggota Tiam-jong-pay itu.

Tergerak hati Pwe-giok teringat olehnya ucapan Ang-lian-hoa tadi, tanpa terasa ia berkata:

“Jangan-jangan… jangan-jangan terjadi sesuatu atas diri Cia-tayhiap”

Murid Tiam-jong-pay itu sebenarnya sedang memberi hormat, demi mendengar ucapan Pwegiok

itu, mendadak ia mengangkat kepalanya dan bertanya: “Darimana Ji-kongcu mendapat

tahu?”

“0, aku….aku….” Pwe giok menjadi gelagapan dan tak dapat menjawab.

Murid Tiam-jong-pay itu menarik muka, katanya dengan suara bengis: “Waktu melihat Jikongcu,

sebenarnya Tecu hendak menyampaikan berita duka, tak tersangka Ji-kongcu

ternyata sudah tahu lebih dulu, bukankah sangat aneh?”

“Ah, Cayhe cuma omong iseng saja,” ujar Pwe-giok dengan tersenyum kecut.

Murid Tiam-jong-pay itu menjengek: “Semalam Ciangbunjin kami baru lenyap dan hingga

kini belum diketahui jejaknya, kejadian inipun baru dilaporkan kepada Jut-tun Totiang dan

Renjana Pendekar > Karya Khulung > Diceritakan oleh : GAN KL > buyankaba.com 87

Thian-in Taysu pada siang tadi, sedangkan Ji-kongcu sudah berangkat pagi-pagi, darimanakah

engkau mendapat tahu malah?”

Nadanya ternyata tajam dan mendesak, seakan-akan menganggap Ji Pwe-giok ada sangkutpautnya

dengan persoalan ini. Beberapa penunggang kuda tadi juga sudah putar balik, mereka

sama melototi Pwe-giok dengan pandangan sangsi dan benci.

Pwe-giok menghela napas, katanya kemudian: “Bisa jadi, Cia-taihiap hanya keluar untuk

berjalan-jalan saja. mungkin pula bertemu dengan sahabat dan diajak pergi. Dengan ilmu silat

Cia-tayhiap yang tinggi, kuyakin beliau sanggup menjaga dirinya sendiri.”

Murid Tiam-jong-pay tadi berkata pula: “Setiap anak murid Tiam-jong, pedang ada orang ada,

pedang hilang orang gugur. Istilah ini tentu Ji-kongcu pernah mendengarnya. Tapi pagi tadi

kami justeru menemukan pedang Ciangbunjin terjatuh di semak-semak rumput di luar kemah,

apabila tiada kejadian yang luar biasa, rasanya tidak mungkin Ciangbunjin bertindak

seceroboh itu dengan meninggalkan pedangnya di sembarang tempat.”

“Kupikir ini……. ini……” Pwe-giok jadi gelagapan, mendadak ia merasakan banyak rahasia

yang diketahuinya ternyata sukar diuraikan. Andaikan diceritakan juga orang lain takkan

percaya.

Mendadak salah seorang penunggang kuda itu menegur: “Saat ini mengapa Ji kongcu berada

sendirian? Ke mana perginya Thian-kang Totiang?”

Seorang lagi ikut berteriak bengis: “Mengapa keadaan Ji-kongcu juga serba kumal begini?

Jangan-jangan habis bergebrak dengan orang?”

“Di sekitar sini tiada nampak seorang lain, dengan siapakah Ji-kongcu bertempur?” tanya pula

seorang lain.

Pertanyaan anak murid Tiam jong-pay itu tiada satu pun dapat dijawab Pwe-giok, betapapun

dia tidak dapat menerangkan bahwa Thian-kang Totiang dibunuh oleh “Cia Thian-pi”, ia pun

tak bisa mengatakan bahwa “Cia Thian-pi” itu palsu, sebab “Cia Thian-pi” itu itu sudah

musnah, dengan sendirinya tiada terdapat lagi seorang “Cia Thian-pi”.

Dengan meraba pedangnya murid Tiam jong pay itu bertanya pula dengan gusar; “Mengapa

Ji-kongcu tidak bicara?”

“Bila kalian menyangsikan hilangnya Cia-tayhiap ada sangkut-pautnya dengan diriku, maka

hal ini sungguh lucu, apalagi yang dapat kukatakan?”

Air muka murid Tiam jong itu berubah lebih ramah, katanya: “Jika demikian, sebelum urusan

ini menjadi jelas, sebaiknya Ji-kongcu ikut kami pulang dulu, sebab mungkin ada urusan lain

yang tak dapat Ji-kongcu katakan kepada kami, tapi kepada Bengcu tentu dapat engkau

beberkan sejelas-jelasnya.”

“Tidak, aku tidak boleh kembali ke sana,” jawab Pwe giok tegas.

“Mengapa tidak boleh?” bentak para murid Tiam-jong-pay itu.

Renjana Pendekar > Karya Khulung > Diceritakan oleh : GAN KL > buyankaba.com 88

“Jika tidak berbuat sesuatu kesalahan, mengapa tidak berani kembali ke sana?” demikian

mereka berteriak-teriak sambil melompat turun dari kuda masing-masing, semuanya melolos

pedang dan siap tempur.

Murid Tiam-jong-pay yang menjadi kepala rombongan itu membentak; “Ji Pwe-giok, apa pun

juga alasanmu, kau harus ikut pulang ke sana bersama kami!”

Butiran keringat yang memenuhi dahi Pwe-giok itu berderai ke bawah diguyur oleh air hujan,

tangan dan kakinya terasa dingin. Belum lagi dia menjawab, mendadak dari kejauhan ada

seorang menjengek: “Ji Pwe giok, kau tidak perlu kembali ke sana!”

Tujuh atau delapan Tojin berbakiak dan membawa payung tampak berlari datang di bawah

hujan. Jelas mereka adalah murid Kun lun pay.

Murid Tiam-jong-pay tadi menanggapi dengan suara keren: “Meski orang ini terhitung murid

Kun-lun-pay, tapi dia tetap harus ikut kembali ke sana bersama kami. Selamanya Tiam jong

dan Kun-lun bersahabat, tapi persoalan ini menyangkut mati-hidup Ciangbunjin kami, maka

hendaklah para Toheng tidak marah kepada sikapku yang kurang sopan ini.”

Air muka para Tojin Kun-lun-pay tampak jauh lebih kelam dan menakutkan daripada murid

Tiam-jong-pay, Tojin yang menjadi kepala rombongan berwajah putih dengan jenggot yang

jarang-jarang, dengan sorot mata yang tajam ia tatap Pwe giok, katanya: “Tidak perlu kau

kembali ke sana, bahkan tidak perlu lagi ke mana-mana.”

Pwe-giok menyurut mundur, murid Tiam jong-pay tadipun heran, tanyanya: “Apa artinya

ucapanmu ini?”

Pek-bin Tojin atau si Tojin bermuka putih tersenyum pedih, katanya: “Meski jejak

Ciangbunjin kalian tidak diketahui ke mana perginya tapi Ciangbunjin kami justeru…

justeru….” mendadak “krek”, payung jatuh ke tanah, batang payung telah diremasnya hingga

hancur.

Murid Tiam-jong-pay terkejut, serunya; “Apakah… apakah…. Thian-kang Totiang telah….

telah wafat…”

“Guru kami telah disergap orang, telah meninggal tertikam pedang dari belakang,” seru Pekbin

Tojin dengan suara parau.

Terperanjat anak murid Tiam-jong-pay itu, katanya; “Kungfu Thian-kang Totiang luar-dalam

sudah terlatih sempurna, daun jatuh dalam jarak beberapa tombak saja tak dapat mengelabui

beliau, sungguh kami tak percaya bahwa beliau kena disergap orang.”

Dengan menggereget Pek-bin Tojin menjawab: “Orang yang menyergapnya dengan

sendirinya adalah orang yang berhubungan sangat rapat dengan beliau, seorang yang tidak

pernah dicurigai beliau, sebab beliau tidak percaya bahwa orang ini ternyata manusia yang

berhati binatang.”

Belum habis ucapannya, berpasang-pasang mata yang beringas sudah melototi Ji Pwe giok,

semuanya penuh rasa gemas dan dendam.

Renjana Pendekar > Karya Khulung > Diceritakan oleh : GAN KL > buyankaba.com 89

Dengan suara serak Pek Bin Tojin lantas membentak: “Nah, Ji Pwe Giok, cara bagaimana

meninggalnya Suhu, lekas katakan, lekas!”

“Suhu…. beliau….” seluruh tubuh Pwe Giok bergemetar sehingga tidak sanggup melanjutkan.

“Beliau mati di tanganmu bukan?” bentak Pek Bin Tojin pula dengan murka.

Mendadak Pwe Giok mendekap mukanya dan berteriak dengan parau: “Tidak, aku tidak…

matipun aku takkan menyentuh satu jari beliau …”

“Creng”, belum habis ucapannya, tahu-tahu pedang yang terselip di pinggangnya itu telah

dilolos orang.

Tangan Pek Bin Tojin memegang pedang rampasan itu, ujung pedang bergetar dan mengarah

ke dada Ji Pwe Giok. Sorot matanya yang merah membara itu menatap anak muda itu,

tanyanya pula dengan beringas: “Katakan, inikah senjata yang kau gunakan untuk membunuh

guru?”

Pedang ini memang betul adalah senjata yang digunakan membunuh Thian Kang Totiang itu,

cuma pemilik pedang ini sudah tiada terdapat lagi di dunia ini. Tapi pedang ini sekarang

berada pada Ji Pwe Giok. Lalu apa yang dapat dikatakannya. Hancur perasaan Pwe Giok,

setindak demi setindak ia menyurut mundur.

Ujung pedang juga mendesak maju setindak demi setindak, meski tajam ujung pedang itu,

tapi sorot mata orang-orang itu rasanya berlipat kali lebih tajam daripada tajam pedang

manapun.

Mendadak Pwe Giok menjatuhkan diri ke tanah, sambil berlutut ia menengadah, air mata

bercucuran, ia berteriak kalap: “O, Thian! Mengapa engkau memperlakukan diriku

sedemikian kejam? Apakah aku memang harus mati?”

“Trang”, mendadak pedang itu dilemparkan Pek Bin Tojin ke depannya, lalu Tojin itu berkata

tegas: “Hanya ada satu jalan bagimu dan inipun jalan yang paling baik bagimu!”

Betul, memang cuma inilah jalan satu-satunya bagi Pwe Giok. Sebab segala persoalan tiada

mungkin dibeberkan dan dijelaskan olehnya. Fitnah yang ditanggungnya tiada satupun yang

betul, tapi semuanya itu seakan-akan lebih betul daripada yang “betul”, sedangkan yang

“betul” justru tak dipercaya oleh siapapun.

Kini satu-satunya orang yang dapat menjadi saksi baginya hanya Ang-lian-hoa saja. Tapi

apakah Ang-lian-hoa dapat membuat semua orang mau percaya padanya? Dengan bukti apa

pula Ang-lian-hoa akan membelanya?

Dalam keadaan biasa sudah tentu setiap kata Ang lian-pangcu sangat berbobot, betapapun

anak murid Kun-lun dan Tiam-jong pasti percaya padanya. Tapi sekarang persoalannya

menyangkut mati-hidup ketua mereka, menyangkut pula segala kemungkinan yang terjadi

pada kedua perguruan itu, bahkan menyangkut nasib dunia persilatan umumnya. Cara

bagaimana mereka dapat mempercayai perkataan orang lain, sekalipun orang ini adalah Ang

lian-hoa yang disegani dan dihormati?

Renjana Pendekar > Karya Khulung > Diceritakan oleh : GAN KL > buyankaba.com 90

Setelah dipikir lagi, Pwe-giok jemput pedang itu, dia memang tiada pilihan lain, sekali pun ….

Mendadak ia meraung murka, pedang diputar kencang, dia terus menerjang ke depan.

Sudah tentu anak murid Kun-lun dan Tiam-jong sama berteriak kaget, keadaan menjadi

kacau. Tapi mereka tidak malu sebagai anak murid perguruan ternama, di tengah kekacauan

ada sebagian sempat melolos pedang dan menyerang.

Terdengar suara “trang tring” beberapa kali, beberapa pedang sama tergetar mencelat, Pwegiok

telah melampiaskan rasa gemas dan penasaran pada pedang itu, sekali pedangnya

berputar, sukarlah bagi lawan untuk menangkis.

Sungguh anak murid Tiam jong dan Kun-lun tidak menyangka anak muda ini memiliki tenaga

sakti sehebat ini. Di tengah kaget dan raung gusar orang banyak, seperti kucing gesitnya Pwegiok

berhasil menerobos keluar kepungan. Hanya beberapa kali lompatan saja, dengan

Ginkangnya yang tinggi, di bawah hujan serta berkelebatnya kilat, dalam sekejap saja ia

sudah melayang berpuluh tombak jauhnya.

Ia terus berlari seperti kesetanan, ia melupakan segalanya, yang dipikir hanya lari dan lari

terus.

Ia tidak takut mati, tapi ia tidak boleh mati dengan menanggung penasaran.

Suara bentakan orang banyak masih terdengar di belakang, suara pengejar itu seperti bunyi

cambuk yang memaksanya harus lari terlebih cepat. Ia pun mengerahkan segenap tenaganya

untuk lari di bawah hujan, air hujan berjatuhan di tubuh dan di mukanya seperti batu kerikil

yang menimbulkan sakit pedas, namun semua itu tak dihiraukan lagi.

Suara bentakan orang akhirnya tak terdengar lagi, tapi langkah Pwe-giok tidak pernah

berhenti, hanya sudah mulai kendur, makin lama makin lambat, ia masih terus lari dan lari

lagi, mendadak ia jatuh tersungkur.

Sekuatnya ia meronta bangun, ia terjatuh lagi, pandangannya mulai kabur, hujan lebat

berubah seperti kabut baginya, ia kucek-kucek matanya, tetap tidak jelas pandangannya.

Tiba-tiba ada suara roda kereta di kejauhan dan juga suara kaki kuda. Darimana datangnya

kereta kuda itu?”

Dalam keadaan samar-samar ia seperti melihat sebuah kereta sedang berlari kemari, ia

meronta dan berusaha menghindar, tapi ia jatuh lagi, sekali ini ia tidak sanggup bangun pula,

ia jatuh pingsan.

*****

Cuaca tambah kelam. Terdengar suara roda kereta yang gemeretak disertai suara kuda

meringkik pelahan Pwe-giok sudah siuman, ia mendapatkan dirinya sudah berada di dalam

kereta. Terdengar rintik hujan memukul kabin kereta laksana derap kuda berpacu di medan

tempur, seperti genderang bertalu-talu menggebu, suara yang mendebarkan jantung.

Ia menjadi ragu, jangan-jangan dirinya terjatuh dalam cengkeraman musuh?

Renjana Pendekar > Karya Khulung > Diceritakan oleh : GAN KL > buyankaba.com 91

Ia meronta bangun, cuaca sudah kelam, di dalam kereta menjadi tambah gelap. Ada sebuah

lentera bergantung di kabin dan bergoyang-goyang mengikuti guncangan kereta, tapi lentera

itu tidak dinyalakan.

Seputar kabin kereta penuh tertumpuk sapu, pengki, gentong, tampah dan sebangsanya.

Pwe-giok coba menyingkap terpal kereta dan mengintip ke depan, terlihat di bagian kusir

berduduk seorang tua bermantel ijuk dan bertopi caping, meski tidak jelas mukanya, tapi

kelihatan jenggotnya yang sudah ubanan bergerak-gerak di bawah hujan angin itu.

Jelas seorang tua yang miskin dan sederhana secara kebetulan menemukan seorang pemuda

yang jatuh pingsan di tengah jalan serta menolongnya. Tanpa terasa Pwe-giok menghela

napas panjang.

“Apakah kau sudah siuman, Ji Pwe-giok?” tiba-tiba terdengar orang tua di luar itu menegur

dengan tertawa.

Pwe-giok terkejut, cepat ia bertanya: “Dar ….darimana kau tahu namaku?”

Kakek itu menoleh, katanya dengan menyipitkan mata; “Tadi kudengar di sekitar sana ada

orang berteriak-teriak dan membentak-bentak,” katanya: “Ji Pwe-giok, kau tak dapat lolos.”

“Kukira Ji Pwe-giok yang dimaksudkan itu pasti kau, tapi akhirnya kau kan lolos juga!”

Wajah si kakek penuh keriput, suatu tanda sudah kenyang asam-garam kehidupan manusia,

setiap garis keriputnya itu, seakan-akan melambangkan suatu masa penderitaan di waktu yang

lalu. Sinar matanya yang penuh mengandung kecerdasan pengalaman hidup itu juga diliputi

perasaan welas asih dan suka ria.

Pwe-giok menunduk, ucapnya dengan tersendat: “Terima kasih atas pertolongan Lotiang

(bapak).”

“Jangan kau berterima kasih padaku,” ujar kakek itu dengan tertawa.

“Ku tolong kau adalah karena kulihat kau tidak mirip orang jahat. Kalau tidak, mustahil tidak

kuserahkan dirimu kepada mereka.”

Pwe-giok terdiam sejenak, katanya kemudian dengan tersenyum pedih: “Sudah sekian

lamanya, mungkin Lotiang inilah orang pertama yang bilang aku bukan orang jahat!”

“Hahaaha!” kakek itu tergelak. “Biasa, orang muda kalau mengalami sedikit kesusahan lantas

suka mengomel. Biarlah nanti kalau sudah sampai di gubuk kakek, setelah minum semangkuk

dua mangkuk, tanggung semua rasa penasaranmu akan lenyap.”

“Tarrr”, ia ayun cambuknya dan melarikan keretanya terlebih cepat.

Menjelang petang, hujan masih rintik-rintik. Kereta memasuki sebuah jalan kecil yang tiada

orang berlalu-lalang. Kakek yang miskin ini mungkin tinggal sendirian di rumah gubuknya.

Tapi bagi Pwe-giok hal ini sangat kebetulan malah. Ia lantas berbaring di dalam kereta dan

Renjana Pendekar > Karya Khulung > Diceritakan oleh : GAN KL > buyankaba.com 92

membayangkan dinding gubuk si kakek yang sudah berlubang-lubang dan pembaringannya

yang penuh daki serta tuak kampung yang menusuk tenggorokan itu. Ia merasa dirinya

sekarang bolehlah tidur dengan tenteram.

Tiba-tiba terdengar kakek itu bergumam: “Wahai kudaku sayang, larilah yang cepat, sudah

dekat rumah kita, kau kenal jalan tidak?”

Pwe-giok tidak tahan, ia merangkak bangun pula dan menyingkap terpal untuk mengintip

keluar. Dilihatnya di depan adalah jalan berbatu yang bersih terguyur air hujan. Di ujung jalan

sana adalah sebuah gedung yang mentereng dengan cahaya lampu yang gemilang. Dipandang

pada petang yang hujan ini tampaknya tiada ubahnya seperti sebuah istana kaum bangsawan.

Pwe-giok terkejut, tanyanya dengan ragu-ragu; “Apakah ini . . . ini rumah Lotiang?”

“Betul,” jawab si kakek tanpa menoleh.

Pwe-giok membuka mulut, tapi segera ditelannya kembali kata-kata yang hendak

diucapkannya. Dalam hati sungguh penuh rasa heran dan sangsi. Jangan-jangan kakek miskin

ini adalah samaran seorang hartawan? Jangan-jangan dia seorang pembesar yang telah

pensiun? Atau mungkin juga seorang bandit yang sengaja menutupi gerak-geriknya dengan

menyamar sebagai kakek rudin? Apa maksud tujuannya membawa pulang Ji Pwe giok?

Terlihat di luar pintu gerbang yang besar berwarna ungu itu terdapat dua ekor singa batu, di

pinggir pagar bambu sana tertambat beberapa ekor kuda bagus, beberapa lelaki tegap dengan

bergolok dan pakaian ringkas sedang menurunkan pelana kuda.

Siapa yang datang menumpang kuda-kuda itu?

Meski pertanyaan ini belum dapat segera dijawab, tapi kakek ini adalah seorang tokoh Bulim,

hal ini jelas tidak perlu disangsikan lagi. Padahal setiap orang Bulim sekarang, siapakah yang

tidak memusuhi Ji Pwe-giok?!

Tangan dan kaki Pwe-giok terasa dingin, lebih celaka lagi sekujur badan terasa lemas lunglai,

ingin kabur pun tidak dapat. Apalagi, seumpama dia dapat lari kinipun sudah terlambat. Sebab

kereta itu telah masuk ke dalam perkampungan itu.

Pwe-giok menutup kembali terpal kereta, hanya tersisa sela-sela kecil untuk mengintip.

Mendadak terlihat dua sosok bayangan orang melayang kemari, orang di sebelah kiri

dikenalnya sebagai si Pek-bin Tojin dari Kun-lun-pay itu.

Tidak kepalang kejut Pwe-giok, tanganpun agak gemetar.

Pek-bin Tojin itu menghadang di depan kereta dan menegur; “Dalam perjalanan pulang ini,

apakah Lotiang melihat seorang pemuda?”

“Terlalu banyak pemuda yang kulihat, entah yang mana yang kau maksudkan?” jawab si

kakek dengan tertawa.

“Dia berbaju panjang warna hijau, cukup gagah dan ganteng, cuma keadaannya agak

runyam,” tutur Pek-bin Tojin.

Renjana Pendekar > Karya Khulung > Diceritakan oleh : GAN KL > buyankaba.com 93

“Aha, kalau pemuda begini memang ada kulihat,” seru si kakek.

“Di mana dia?” tanya Pek-bin Tojin cepat.

“Bukan saja kulihat, bahkan telah kutangkap dia ke sini,” ujar si kakek sambil tertawa.

Tidak kepalang cemas Pwe-giok, hampir saja ia jatuh kelengar.

Dengan tajam Pek bin Tojin menatap si kakek, katanya dengan tegas; “Biarpun pemuda itu

dalam keadaan runyam, meski dia sudah payah untuk kabur, kalau dirimu saja jelas tidak

mampu menangkapnya pulang. Hendaklah Lotiang ingat selanjutnya, Pek-ho Tojin dari Kunlun

pay biasanya tidak suka berkelakar!”

Habis berkata mendadak ia membalik tubuh dan melangkah kembali ke sana.

Si kakek menghela napas, ucapnya: “Jika sudah jelas kau tahu aku tidak mampu

menangkapnya, untuk apa kau tanya pada diriku?”

Dia tarik lagi tali kendalinya dan menghalau keretanya ke suatu gang kecil, terdengar ia

bergumam sendirian: “Wahai anak muda, sekarang tentunya kau tahu, semakin cerdik

seseorang, semakin mudah pula ditipu. Soalnya hanya dengan cara apa akan kau tipu dia.”

Dengan sendirinya ucapan ini sengaja diperdengarkan kepada Ji Pwe-giok, cuma sayang Pwegiok

tidak dapat mendengarnya. Waktu Pwe-giok sudah dapat mendengar, sementara itu tahutahu

ia sudah berada di dalam rumah si kakek.

Rumah ini memang betul sudah reyot, dinding sekelilingnya sudah banyak yang rontok dan

kotor di atas meja ada sebuah poci yang telah patah corongnya serta dua mangkuk butut,

selain itu ada pula sedikit sisa kacang goreng.

Sebuah lampu minyak dengan cahayanya yang guram tampak bergoyang- tertiup angin

seolah-olah melambangkan kehidupan si kakek.

Di belakang pintu menyantel sehelai selimut lusuh, dari sela-sela pintu air hujan tampak

merembes masuk dan mengalir ke kaki tempat tidur yang terbuat dari bambu. Di tempat tidur

inilah sekarang Pwe-giok berbaring. Bajunya yang basah sudah ditanggalkan, meski sekarang

badannya ditutup dengan sehelai selimut, tapi rasanya masih menggigil.

Si kakek tidak kelihatan berada di dalam rumah, sekuat tenaga Pwe giok meronta turun dari

tempat tidur, dengan selimut membungkus tubuh ia mendekati jendela, jendela terbuat dari

papan kayu, ia mengintip keluar melalui celah-celah papan. Di luar ternyata adalah sebuah

taman yang sangat luas.

Gelap gulita taman itu, meski di kejauhan ada berkerlipnya cahaya lampu, tapi sinarnya tidak

dapat mencapai ke sini, pepohonan yang gelap di bawah hujan tampaknya seperti bayangan

setan yang bergerak-gerak. Pwe-giok merinding, diam-diam ia bertanya kepada dirinya

sendiri: “Sesungguhnya tempat apakah ini? Apa yang telah terjadi dengan diriku?”

Renjana Pendekar > Karya Khulung > Diceritakan oleh : GAN KL > buyankaba.com 94

Tiba-tiba terlihat setitik sinar lampu melayang ke sana di tengah bayangan pohon, seperti api

setan. Kaki Pwe-giok menjadi lemas, ia berdiri bersandar pada ambang jendela. Di tengah

kegelapan sayup-sayup terdengar suara nyanyian yang lembut:

Mana ada malam purnama di tengah kehidupan ini, kecuali dicari di dalam mimpi. Katamu

kau pernah melihat senyuman dewi, adakah itu di dalam mimpi atau nyata?

Suara nyanyian itu hanya sayup-sayup hampir tak terdengar, membawa semacam perasaan

yang hampa, duka dan misterius yang sukar dilukiskan, adakah ini nyanyian orang, bukankah

lebih tepat dikatakan rintihan arwah halus?

Api setan dan suara nyanyian itu semakin dekat, sesosok bayangan putih remang-remang

muncul dengan tangan membawa sebuah lampu kristal yang kecil mungil, melayang tiba di

bawah hujan.

Bentuk bayangan ini sedemikian ramping, baju yang basah kuyup melekat pada tubuhnya,

rambut yang panjang terurai juga lengket di atas pundaknya, sinar lampu terpancar menyinari

mukanya. Wajahnya putih pucat pasi, cahaya lampu juga menyinari matanya, sorot mata yang

kelihatan hampa dan bingung, tapi juga sangat cantik. Kehampaan ditambah cantik

menimbulkan semacam perasaan yang sukar diucapkan.

Pwe-giok menjadi lemas dan tak dapat bergerak menghadapi taman yang luas dan seram itu

dengan bayangan yang menyerupai badan halus . . . .

Sekonyong-konyong pintu berkeriut dan terbuka, dengan kaget Pwe-giok berpaling,

dilihatnya si kakek dengan mantel ijuk dan bercaping entah sejak kapan sudah berada di situ.

Pwe-giok menubruk maju dan memegang bahunya sambil berseru: “Sia …. siapa itu di luar?”

Si kakek tersenyum jawabnya: “Mana ada orang di luar?”

Sudah tentu Pwe-giok tidak percaya, ia membuka pintu dan melongok keluar, di luar hanya

taman yang luas dan gelap, mana ada bayangan orang segala?

Si kakek kelihatan tersenyum-senyum, seperti mengejek dan juga merasa kasihan. Pwe-giok

mencengkeram leher bajunya dan berseru dengan suara gemetar: “Sesungguhnya tempat ….

tempat apakah ini? Siapa kau sesungguhnya?”

“Siapa? Kan cuma seorang kakek yang telah menyelamatkan kau,” jawab si kakek dengan

tenang.

Pwe giok jadi melenggong dan melepaskan cengkeramannya, ia menyurut mundur dan jatuh

berduduk di atas kursi bambu, baru sekarang keringat dinginnya menetes.

“Kau lelah, kau terlalu lelah,” kata si kakek, “Janganlah berpikir yang bukan-bukan,

istirahatlah.”

Sambil memegangi sandaran kursi bambu Pwe-giok berseru pula: “Tapi. … tapi jelas-jelas

kulihat………”

Renjana Pendekar > Karya Khulung > Diceritakan oleh : GAN KL > buyankaba.com 95

“Kau tidak melihat apa-apa, bukan? Ya, apapun tidak kau lihat…… “si kakek memandangnya

lekat-lekat.

Tiba-tiba Pwe-giok merasa sorot mata si kakek ada semacam kekuatan yang sukar dilawan,

tanpa terasa ia menunduk, ia tersenyum pedih, katanya: “Ya, aku memang tidak melihat

apapun.”

“Memang begitulah,” ujar si kakek dengan tertawa, “semakin sedikit yang kau lihat, semakin

sedikit pula rasa kesalmu.”

Lalu dia menaruh sebuah kuali kecil di atas meja di depan Pwe giok, katanya; “Sekarang

boleh minumlah kuah pedas ini dan tidurlah baik-baik. Besok, tentulah hari yang tidak sama,

entah betapa bedanya besok dengan hari ini?”

“Ya, apapun juga, hari ini pun sudah lalu…..” ucap Pwe-giok dengan tersenyum pedih.

*****

Dalam mimpinya, Pwe-giok merasa bumi ini makin lama makin gelap, tubuhnya seakan-akan

terhimpit oleh bumi raya yang gelap ini, ia berkeringat? ia meronta,

mengerang…………..Selimut serasa sudah basah, tempat tidur bambu itu berbunyi keriatkeriut!

Sekonyong-konyong ia membuka mata di bawah cahaya pelita yang guram dilihatnya

sepasang tangan!

Sepasang tangan yang putih mulus!

Kedua tangan ini sedang menggeser ke lehernya, seakan-akan hendak mencekiknya,

“Sia……………..siapa kau?” jerit Pwe-giok saking kaget dan takutnya.

Di bawah sinar lampu yang guram, dilihatnya seraut wajah yang pucat dengan rambut yang

panjang serta sepasang mata yang indah dengan pandangannya yang rawan. Ketika rambut

yang panjang itu tersebar, bayangan putih itupun melayang pergi seperti angin, tahu-tahu

lantas lenyap dalam kegelapan. Bukankah itu badan halus yang dilihatnya di bawah hujan itu?

Cepat Pwe-giok melompat bangun, ia meraba leher sendiri dengan napas terengah-engah.

Sesungguhnya bayangan tadi manusia atau setan? Apakah dirinya hendak dibunuhnya tadi?

Tapi sebab apa orang hendak membunuhnya?

Si kakek tidak diketahui ke mana perginya dan celah-celah papan jendela terlihat cuaca sudah

remang-remang, fajar sudah menyingsing. Daun pintu kelihatan masih bergoyang-goyang.

Sesungguhnya bayangan tadi manusia atau setan? Jika benar hendak membunuhnya tentu

sudah dilakukannya sejak tadi. Kalau tiada maksud jahat, mengapa dia menyusup datang

seperti badan halus dan melayang pergi pula seperti arwah gentayangan?

Jantung Pwe-giok berdebar keras, di tepi tempat tidurnya ada seperangkat baju bekas, tanpa

pikir dipakainya dengan tergesa-gesa, lalu ia berlari keluar.

Renjana Pendekar > Karya Khulung > Diceritakan oleh : GAN KL > buyankaba.com 96

Kabut pagi masih menyelimuti halaman taman yang sunyi senyap ini. Hujan sudah berhenti,

cuaca remang-remang, lembab, sejuk dan rada-rada menggigilkan. Remang-remang kabut

membuat taman yang sunyi ini menimbulkan semacam keindahan yang misterius.

Diam-diam Pwe-giok menyusuri jalan berbatu itu, langkahnya sangat perlahan, seakan-akan

kuatir memecahkan kesunyian bumi raya ini.

Tiba-tiba didengarnya suara kicau burung, semula suara seekor dengan bunyi yang merdu dari

pucuk pohon sini terus berpindah ke pucuk pohon sana.

Menyusul suara lain lantas berbangkit, lalu seluruh taman seolah-olah pecah suara burung

berkicau dengan nyaringnya.

Pada saat inilah kembali Pwe-giok melihat si “dia” lagi.

Dia masih mengenakan jubah panjang warna putih dan berdiri di bawah pohon yang sana. Dia

sedang menengadah dan memandangi pucuk pohon, rambutnya mengkilap, jubah putih dan

rambut panjangnya berkibaran tertiup angin, di tengah remang kabut pagi ini dia bukan lagi

badan halus, tapi serupa dewi kahyangan.

Dengan langkah lebar Pwe-giok mendekatinya, ia kuatir orang akan menghilang pula seperti

badan halus. Namun si dia masih menengadah tanpa bergerak sedikit pun.

Sesudah dekat, dengan suara keras Pwe-giok menegur; “He, kau…….”

Baru sekarang si dia memandang Pwe giok sekejap sorot matanya yang indah itu penuh rasa

bingung seperti orang kehilangan ingatan. Sementara itu kabut sudah mulai hilang, sinar sang

surya sudah mulai mengintip di ufuk timur, butiran air hujan atau embun laksana mutiara

menghias dedaunan.

Mendadak Pwe-giok merasa si dia ini bukan si “dia”.

Meski si dia ini juga berjubah putih dan berambut panjang, juga bermuka pucat, juga bermata

indah, tapi cantiknya terlalu bersahaja. Dari gemerdep matanya dapat terlihat betapa suci

murninya, betapa gemilang dan betapa tenangnya.

Sedangkan si “dia” yang dilihatnya semalam itu jelas sangat misterius dan juga sangat rumit,

bahkan mengandung semacam hawa yang aneh dan sukar untuk dipahami.

Cepat Pwe giok berkata pula dengan menyesal; “O, maaf aku salah lihat.”

Ia pandang Pwe-giok dengan tenang, mendadak ia membalik tubuh dan kabur seringan

burung.

Tanpa terasa Pwe-giok berseru: “Nanti dulu, nona! Apakah engkau juga penghuni

perkampungan ini?”

Nona itu sempat menoleh dan tertawa kepada Pwe-giok, tertawa yang cantik, tapi juga

mengandung rasa hampa dan linglung yang sukar dilukiskan. Habis itu lenyaplah dia di

tengah kabut.

Renjana Pendekar > Karya Khulung > Diceritakan oleh : GAN KL > buyankaba.com 97

Sampai lama Pwe giok termenung, ia ingin membalik ke arah datangnya tadi, tapi langkah

kakinya justeru menggeser ke depan, jalan punya jalan, tiba-tiba ia merasa ada sepasang mata

sedang mengintainya di balik pohon sana. Mata yang begitu jernih, begitu bening. Pelahanlahan

Pwe-giok menghentikan langkahnya dan berdiri tenang di situ, sedapatnya ia tidak mau

mengejutkan orang.

Akhirnya si dia muncul sendiri dan memandang Pwe-giok dengan linglung.

Baru sekarang Pwe-giok berani tertawa padanya dan menyapa: “Nona, apakah boleh kutanya

beberapa kata padamu?”

Dengan tertawa linglung nona itu mengangguk.

“Tempat apakah ini?” tanya Pwe-giok.

Nona itu tetap tertawa sambil menggeleng.

Dengan kecewa Pwe giok menghela napas, ia tidak tahu mengapa tempat ini sedemikian

misterius, mengapa tidak seorang pun mau memberitahukan padanya?”

Tapi ia tidak putus asa, ia tanya pula: “Jika nona penghuni perkampungan ini, mengapa tidak

tahu tempat apakah ini?”

“Aku bukan manusia,” tiba-tiba nona itu bersuara dengan tertawa. Suaranya nyaring merdu

seperti kicauan burung.

Jawaban itu membuat Pwe-giok terkejut. Jika kata itu diucapkan orang lain paling-paling

Pwe-giok cuma tertawa saja. Tapi nona yang berwajah bingung ini sesungguhnya mempunyai

kecerdasan yang melebihi orang lain.

Dengan tergagap kemudian Pwe-giok bertanya pula: “Masa kau bukan .. . . “

“Aku seekor burung,” ucap si nona pula sambil menggigit bibir. Ia menengadah memandangi

pucuk pohon, di mana hinggap beberapa ekor burung kecil yang tak diketahui namanya

sedang berkicau. Dengan tertawa ringan nona itu berkata pula: “Akupun serupa burung di atas

pohon itu, aku adalah saudara mereka.”

Pwe-giok terdiam sejenak, tanyanya kemudian: “Jadi nona sedang bicara dengan mereka?”

Nona baju putih itu berpaling dan tertawa. Mendadak matanya terbelalak dan bertanya: “Kau

percaya pada perkataanku?!”

“Sudah tentu kupercaya,” jawab Pwe-giok dengan suara halus.

Sorot mata si nona menampilkan perasaan hampa, ucapnya dengan menyesal; “Tapi orang

lain tidak mau percaya.”

“Bisa jadi mereka orang tolol semuanya,” ujar Pwe giok.

Renjana Pendekar > Karya Khulung > Diceritakan oleh : GAN KL > buyankaba.com 98

Sampai lama si nona memandangi Pwe giok dengan tenang, tiba-tiba ia tertawa nyaring,

katanya: “Jika demikian, bolehkah kukatakan padamu bahwa aku ini seekor burung kenari.”

Dia tertawa riang, lalu berlari pergi pula.

Pwe giok tidak merintanginya, ia termangu-mangu sejenak, timbul semacam perasaan yang

belum pernah dirasakannya selama ini. Perlahan-lahan ia melangkah balik ke rumah kecil

tadi.

Baru saja ia melangkah masuk rumah, sekonyong-konyong dari balik pintu sebatang pedang

mengancam punggungnya. Ujung pedang yang tajam dingin itu seakan-akan menusuk ke

dalam hati Pwe-giok.

Terdengar seorang bersuara sedingin es; “Jangan bergerak, sekali bergerak segera kutusuk

tembus punggungmu…..” Jelas ini suara seorang perempuan, juga nyaring dan merdu.

Tanpa terasa Pwe giok menoleh, kembali ia melihat jubah putih dengan rambut panjang

terurai dan muka yang pucat serta mata yang indah. Ini bukanlah badan halus semalam, tapi

dewi kahyangan pagi ini.

Kejut dan heran Pwe-giok, dengan mendongkol ia berkata sambil menyengir: “Nona kenari,

masa kau tidak kenal lagi padaku?”

“Sudah tentu aku tidak kenal kau!” kata nona itu dengan suara bengis.

“Tapi …. tapi barusan kita baru …. baru saja bicara.”

“Hm, mungkin kau melihat setan,” jengek si nona.

Pwe giok jadi melenggong dan tak dapat bersuara. Sorot mata si nona sekarang telah berubah

menjadi tajam dan dingin, tapi alisnya, mulutnya dan hidungnya jelas-jelas si nona cantik tadi.

Mengapa mendadak dia berubah begini? Mengapa sikapnya berubah ketus begini? Kembali

Pwe giok kebingungan, ucapnya kemudian dengan tersenyum pedih: “Apakah benar kulihat

setan?”

“Siapa kau?” bentak nona itu dengan bengis.

“Mengapa kau berada di tempat Ko lothau (kakek Ko)? Ingin mencuri atau ada pekerjaan

lain? Lekas mengaku terus terang, lekas!”

“Begitu ujung pedangnya didorong sedikit, seketika darah mengucur dari punggung Pwegiok.

“Aku tidak tahu, apa pun aku tidak tahu,” jawab Pwe-giok sambil menghela napas. Ia merasa

setiap penghuni perkampungan ini seakan-akan orang gila semua, terkadang sedemikian baik

padanya, tapi mendadak bisa berubah menjadi garang.

Renjana Pendekar > Karya Khulung > Diceritakan oleh : GAN KL > buyankaba.com 99

Sebentar bersikap ramah, lain saat berubah beringas seperti hendak membunuhnya, “Kau

tidak tahu?” jengek nona itu pula. “Baik, akan kuhitung sampai tiga, jika kau tetap bilang

tidak tahu, segera kutusukkan pedang ini hingga menembus dadamu.”

Lalu ia berseru: “Satu.” Pwe-giok hanya berdiri tegak tanpa bersuara. “Dua . . .. ” teriak pula

si nona. Pwe-giok tetap berdiri saja tanpa bicara. Hakekatnya memang tiada apa-apa yang

dapat dikatakannya. Si nona seperti melengak juga, tapi akhirnya ia berseru pula: Tiga!

Pada saat yang sama, sekonyong-konyong Pwe giok menggeser ke samping selicin belut,

berbareng tangannya menyampuk balik, seketika tangan si nona kaku kesemutan, pedang

mencelat dan menancap di belandar.

Sampukan Pwe-giok ini sangat kuat. Si nona jadi melenggong. Pwe-giok memandangnya

dengan dingin, katanya: “Nona kenari, sekarang bolehlah kutanyai kau bukan? Tentunya

jangan pura-pura bodoh lagi, sebaiknya kau bicara dengan bahasa manusia, aku tidak paham

bahasa burung.”

Nona itu mengerling sekejap, mendadak ia tertawa nyaring, katanya: “Hihi, aku cuma

berkelakar saja dengan kau. Jika kau ingin belajar bahasa burung biarlah kuajari kau besok.”

Dengan enteng ia terus membalik tubuh dan berlari pergi. “Nanti dulu!” seru Pwe-giok sambil

mengejar.

Tapi mendadak dilihatnya si kakek menghadang di depannya sambil menegur: “Telah

kuselamatkan jiwamu, tapi bukan maksudku membawa kau ke sini untuk menakuti orang.”

“Kedatangan Lotiang sangat kebetulan,” jengek Pwe-giok.

“Waktu nona itu mengancam punggungku dengan pedang, mengapa Lotiang tidak lantas

muncul?”

Kakek itu tidak bersuara, ia masuk ke rumah dan berduduk, diambilnya cangklong

tembakaunya, disulutnya dengan api dan mulai merokok, setelah menghisap tembakaunya

satu-dua kali barulah ia berucap:

“Biarlah kukatakan terus terang padamu, di perkampungan ini memang banyak hal-hal yang

aneh, bila kau dapat anggap tidak dengar dan tidak lihat, tentu kau takkan dicelakai orang.

Jika sebaliknya, tentu akan mendatangkan musibah bagimu.”

“Sekalipun aku berlagak tidak dengar dan tidak lihat, kan nona tadi juga hendak

membunuhku?!” seru Pwe giok dengan gusar.

Si kakek menghela napas, katanya: “Persoalan tadi hendaklah jangan kau pikirkan lagi,

mereka adalah anak perempuan yang harus dikasihani, nasib mereka sangat malang, kau harus

memaafkan mereka.”

Dan kerut wajahnya dapat terlihat si kakek jelas sangat berduka ketika membicarakan nona

tadi, Pwe-giok termenung sejenak, tanyanya kemudian: Siapakah mereka?”

“Untuk apa kau ingin tahu siapa mereka?”

Renjana Pendekar > Karya Khulung > Diceritakan oleh : GAN KL > buyankaba.com 100

“Dan, mengapa kau tidak mau memberitahukan padaku?” seru Pwe-giok.

Si kakek menghela napas panjang, katanya: “Bukannya aku tidak mau memberitahukan

padamu, soalnya akan lebih baik jika kau tidak tahu.”

Kembali Pwe-giok termenung sejenak, ia memberi hormat, lalu berkata pula dengan suara

berat: “Terima kasih banyak-banyak atas pertolongan jiwa Lotiang, kelak pasti akan kubalas

kebaikanmu ini.”

“Kau mau pergi?” tanya si kakek sambil menoleh.

“Kupikir, lebih baik ku pergi saja,” ujar Pwe-giok sambil menyengir.

“Tapi ratusan anak murid Kun-lun dan Tiam-jong saat ini masih berkeliaran di sekitar

perkampungan ini, jika kau pergi, dapatkah kau lolos dari pengawasan mereka?”

Pwe-giok jadi ragu-ragu, tanyanya pula: “Sesungguhnya ada hubungan apa antara

perkampungan ini dengan Kun-lun dan Tiam-jong-pay?”

Si kakek tersenyum hambar, katanya: “Jika tempat ini ada hubungannya dengan Kun-lun dan

Tiam-jong, mungkinkah kau diberi kesempatan tinggal di sini?”

Pwe-giok terkesiap dan menyurut mundur; “Apakah… apakah engkau sudah tahu…”

“Aku sudah tahu semuanya,” ucap si kakek sambil menyipitkan matanya.

Pwe-giok menubruk maju dan memegang bahu si kakek, serunya dengan parau: “Aku tidak

membunuh Cia Thian-pi, lebih-lebih tidak pernah membunuh Thian-kang Totiang, kau harus

percaya padaku.”

“Sekalipun aku percaya, tapi orang lain apakah juga percaya?” kata si kakek.

Pwe-giok melepaskan tangannya dan menyurut mundur selangkah demi selangkah hingga

bersandar pada dinding.

“Terpaksa kau harus berdiam di sini, nanti kalau keadaan sudah aman, baru kau kubawa

pergi,” ujar si kakek dengan gegetun.

“Pada kesempatan ini pula dapat kau istirahat dan memulihkan tenagamu di sini.”

Basah mata Pwe-giok, katanya: “Lotiang, semestinya engkau …. engkau tidak perlu sebaik ini

kepadaku.”

Si kakek menghisap lagi tembakaunya, lalu berkata dengan ikhlas: “Sekali sudah

kuselamatkan kau, tidak nanti kusaksikan lagi kau mati di tangan orang lain.”

Sekonyong-konyong seutas tali menyambar ke atas dan persis menjerat batang pedang yang

menancap di belandar, sedikit ditarik, pedang itu lantas jatuh ke bawah dan tepat diraih oleh

sebuah tangan yang putih halus.

Renjana Pendekar > Karya Khulung > Diceritakan oleh : GAN KL > buyankaba.com 101

Tahu-tahu si nona telah berdiri di ambang pintu dan berkata kepada si kakek dengan tertawa;

“Ko-lothau, ibu ingin melihat dia.”

Si kakek memandang Pwe-giok sekejap. Segera Pwe-giok dapat melihat perubahan air muka

si kakek, matanya yang menyipit mendadak terbelalak, katanya dengan berkerut kening:

“Ibumu ingin melihat siapa?”

“Di rumah ini selain kau dan aku, ada siapa lagi?” ucap si nona baju putih dengan tertawa.

“Untuk…… untuk apa ibumu ingin melihat dia?” tanya si kakek Ko.

Nona itu melirik Pwe-giok sekejap, katanya; “Akupun tidak tahu, lekas kau bawa dia ke

sana.”

Lalu ia memutar tubuh dan melangkah pergi pula.

Sampai lama si kakek berdiri termangu.

Pwe-giok tidak tahan, tanyanya. “Siapakah ibunya?”

“Cengcu-hujin (nyonya kepala perkampungan),” jawab Ko-lothau sambil mengetuk pipa

tembakaunya, lalu disisipkannya diikat di pinggang dan berkata pula: “Marilah berangkat,

ikut saja di belakangku. Hendaklah hati-hati, saat ini di perkampungan ini terdapat tidak

sedikit anak murid Tiam-jong dan Kun-lun pay.

“Sungguh aku tidak paham,” kata Pwe-giok dengan gegetun, “kalau kalian sudah mau

menerima diriku, mengapa kalianpun menerima mereka di sini. Jika kalian telah menerima

mereka di sini, mengapa kalian kuatir pula diriku dilihat mereka?”

Si kakek tidak menghiraukan gerundelan Pwe-giok itu, ia membawa anak muda itu menyusur

kian kemari di antara pepohonan yang lebat, di jalan berbatu licin bersih, kabut di tengah

pepohonan itu sudah buyar.

“Kalau sekarang aku harus menemui Cengcu-hujin, sedikitnya engkau harus memberitahukan

padaku sesungguhnya di sini ini perkampungan apa?” kata Pwe-giok pula.

“Sat jin-ceng!” jawab Ko-lothau singkat.

“Sat-jin-ceng (perkampungan membunuh orang)?” seru Pwe giok terkejut dan berhenti

melangkah mendadak.

Sementara itu mereka sudah sampai di sebuah serambi yang melingkar, bangunan serambi ini

sangat indah dan mentereng, tapi langkan serambi kelihatan tak terawat, catnya yang

berwarna merah sudah banyak yang mengelupas, debu memenuhi lantai.

“Kau heran pada nama perkampungan ini?” “Ya, mengapa diberi nama seaneh ini?”

“Sebabnya setiap orang boleh membunuh orang di sini secara bebas, tiada seorangpun yang

akan melarangnya. Setiap orang juga dapat terbunuh di sini dan pasti tiada seorangpun yang

mau menolong dia!” tutur si kakek Ko.

Renjana Pendekar > Karya Khulung > Diceritakan oleh : GAN KL > buyankaba.com 102

Pwe-giok merasa merinding, ucapnya dengan ngeri: “Sebab apa, sebab apa begitu?”

“Apa sebabnya kukira lebih baik jangan kau tanya,” jawab Ko lothau.

“Masa……masa selama ini tiada orang ikut campur?”

“Tidak ada, selamanya tidak ada yang berani.”

“Masa Cengcu kalian juga tidak ikut campur urusan perkampungan?”

Mendadak Ko-lothau menoleh dengan senyuman yang misterius, ucapnya sekata demi sekata:

“Cengcu kami selamanya tidak ikut campur urusan, sebab dia……………”

Belum habis ucapannya, tiba-tiba terdengar suara langkah orang berkumandang dari ujung

serambi sana. cepat Ko lothau menarik Pwe-giok dan menyelinap ke balik pintu samping

yang berkerai.

Suara langkah orang itu semakin dekat, pelahan-lahan berlalu ke sana.

Pwe-giok mengintip ke luar, dilihatnya bayangan dua Tojin berjubah ungu dan menyandang

pedang, jelas mereka murid Kun-lun-pay.

Diam-diam Pwe-giok menghela napas lega, katanya; “Apakah setiap orang boleh bergerak

secara bebas di perkampungan kalian ini?”

“Siapa yang ingin membunuh orang dengan sendirinya boleh bebas bergerak, tapi orang yang

mungkin akan terbunuh cara berjalannya harus berhati-hati… berhati-hati sekali.”

“Kalau orang di sini setiap saat mungkin terbunuh, mengapa mereka masih juga datang

kemari? Bukankah tempat lain jauh lebih aman bagi mereka?”

“Bisa jadi dia sudah kehabisan jalan, atau mungkin dia tidak tahu seluk-beluk tempat ini.

Mungkin pula ia tertipu ke sini, boleh jadi lagi iapun ingin membunuh orang.”

Pwe-giok merinding pula, gumamnya; “Sungguh tepat sekali alasan ini, ke empat alasan ini

memang tepat……” segera ia menyusul ke depan dan bertanya: Tapi Cengcu kalian

mengapa.,..”

Belum habis ucapannya, tiba-tiba terdengar suara nyaring merdu berkata: “Dia sudah datang,

ibu……” Waktu Pwe-giok memandang ke sana, di ujung serambi ada sebuah pintu berukir

daun pintu kelihatan terbuka sedikit, suara merdu itu berkumandang dan balik pintu.

Sepasang mata jeli yang semula mengintip di balik pintu kini mendadak lenyap. Dengan

langkah berat Ko lothau mendekati pintu itu dan mengetuknya pelahan sambil berseru:

“Apakah Hujin ingin bertemu dengan bocah ini?”

“Ya, masuk!” ucap seorang perempuan dengan suara lirih. Hanya dua kata ini saja yang

terdengar, namun mengandung semacam daya tarik yang aneh luar biasa, rasanya suara ini

seperti tersiar dari suatu dunia yang lain.

Renjana Pendekar > Karya Khulung > Diceritakan oleh : GAN KL > buyankaba.com 103

Mendadak pintu terbuka, Di dalam sangat gelap, sinar sang surya pagi cukup benderang, tapi

tak dapat menyorot ke dalam rumah.

Entah mengapa, jantung Pwe giok berdebar keras, pelahan ia melangkah masuk. Dalam

kegelapan sepasang mata yang terang sedang menatapnya, mata yang indah dan juga hampa,

Nyonya rumah dari Sat-jin ceng ini ternyata tidak-lain-tidak-bukan adalah “badan halus” yang

dilihatnya di bawah hujan itu.

Pwe-giok terkesiap. Segera dilihatnya pula sepasang tangan yang putih dan halus, jelas itulah

tangan yang hendak mencekiknya waktu dia tidur itu. Butiran keringat terasa mengucur dari

dahinya ….

Sepasang mata yang jeli itu masih menatapnya lekat-lekat tanpa bergerak. Pwe-giok juga

tidak bergerak, lamat-lamat ia merasa di sampingnya juga ada satu orang. Waktu matanya

sudah terbiasa dalam kegelapan, tiba-tiba dilihatnya orang di samping ini tersenyum manis,

senyuman yang suci dan bersahaja.

Hai, bukankah ini si dewi yang dilihatnya di tengah pepohonan pagi tadi?

Sekonyong-konyong pintu tertutup pula, segera Pwe-giok berpaling. Di dekat pintu kembali

dilihatnya sepasang mata yang sudah dikenalnya, mata yang sama jelinya, alis yang sama

lentiknya dan mulut yang sama mungilnya.

Bedanya, sorot mata yang satu sedemikian halus dan bersahaja, yang satu lagi justeru begitu

tajam dan dalam. Kalau diperumpamakan seorang seperti burung Kenari yang lincah dan

riang, seakan-akan tidak kenal arti susah orang hidup. Yang seorang lagi dapat di ibaratkan

burung elang di padang pasir, garang dan selalu mengincar hati setiap mangsanya.

Baru sekarang Pwe-giok paham duduknya perkara. Rupanya si burung Kenari yang

ditemuinya di hutan pagi tadi serta si elang yang mendorongnya dengan pedang itu adalah

kakak beradik kembar.

Ia pandang ke depan dan melihat ke belakang, ia merasa kedua kakak beradik ini benar-benar

mirip seperti pinang yang dibelah dua, sampai-sampai ibu mereka, si badan halus di tengah

hujan itu, arwah dalam mimpi, si Cengcu-hujin yang misterius ini, juga serupa benar dengan

kedua puterinya. Hanya saja, watak di antara ibu dan kedua puterinya sama sekali berbeda

dan terdiri dan tiga jenis watak yang tak sama.

Seketika Pwe-giok tidak tahu apa yang harus dilakukannya, entah kejut, heran, bingung atau

merasa lucu. Segera terngiang pula ucapan si kakek Ko: “Mereka adalah perempuan yang

harus dikasihani.”

Perempuan yang harus dikasihani? Mengapa….

Cengcu-hujin masih menatapnya lekat-lekat, mendadak ia tertawa dan berkata: “Di sini sangat

gelap, bukan?”

Renjana Pendekar > Karya Khulung > Diceritakan oleh : GAN KL > buyankaba.com 104

Pada wajah yang pucat dan penuh rasa hampa itu bisa menampilkan senyuman, sungguh

sesuatu yang hampir sukar dibayangkan. Pwe-giok merasa terpengaruh oleh semacam daya

tarik, yang aneh, dengan menunduk ia mengiakan.

Dengan rawan Cengcu-hujin berkata pula: “Aku suka kepada kegelapan dan benci pada sinar

matahari. Sinar matahari hanya mencorong bagi orang yang gembira ria, orang yang berduka

selalu hanya kebagian kegelapan.”

Mestinya Pwe-giok ingin tanya sebab apa si nyonya berduka, mengapa tidak gembira saja?

Tapi pertanyaan ini tidak jadi dilontarkannya.

Sorot mata Cengcu-hujin tidak pernah bergeser dari muka Pwe-giok, tanyanya kemudian:

“Kau she apa dan siapa namamu?”

“Cayhe she……. ” belum lanjut ucapan Pwe-giok, tiba-tiba Ko-lothau berdehem pelahan, maka

Pwe-giok lantas menyambung: “Yap, namaku Yap Giok-pwe.”

“Kau tidak she Ji?” Cengcu-hujin menegas.

Kembali Pwe-giok terkesiap, ia tidak menjawab.

“Bagus, kau tidak she Ji,” ucap pula si Cengcu-hujin. “Dahulu seorang she Ji pernah

membunuh seorang yang sangat rapat denganku, maka menurut perasaanku setiap orang she

Ji pasti bukanlah manusia baik-baik.”

Pwe-giok tak dapat menjawab apa-apa, terpaksa ia hanya mengiakan saja, “Aku sangat senang

atas kedatanganmu ke perkampungan kami ini, kuharap kau dapat tinggal beberapa hari lebih

lama di sini, rasanya banyak yang ingin kubicarakan denganmu.”

“Terima. . . . . terima kasih… .” ucap Pwe-giok.

Mendadak si nona elang melolos pedang dan mengetuk belakang dengkul anak muda itu,

keruan Pwe-giok kesakitan dan tanpa terasa ia berlutut.

Pada saat itu juga tahu-tahu seorang menerjang masuk, siapa lagi kalau bukan Pek-ho Tojin

dari Kun-lun-pay.

Sekilas melirik Pwe-giok melihat beberapa murid Tiam-jong pay juga ikut masuk bersama

Pek-ho Tojin. Begitu masuk mereka lantas memandang sekitar ruangan, tapi orang-orang

yang berada di situ seolah-olah tidak memperdulikan kedatangan mereka.

Dengan bertolak pinggang si nona elang lantas mendamprat: “Selanjutnya kalau kau berani

membangkang dan malas kerja.. pasti akan kupatahkan kaki-anjingmu.”

Dengan kepala tertunduk Pwe-giok mengiakan dengan suara yang dibikin serak, Pek-ho Tojin

masih memandang kian kemari, tapi tidak memperhatikan “tukang kebun” yang berlutut di

sampingnya. Baru sekarang ia memberi hormat kepada Cengcu hujin dan bertanya: “Apakah

Hujin melihat seorang pemuda asing masuk kemari?”

Renjana Pendekar > Karya Khulung > Diceritakan oleh : GAN KL > buyankaba.com 105

“Satu-satunya orang asing yang menerobos masuk ke sini ialah anda,” jengek Cengcu-hujin.

“Tapi barusan jelas-jelas ada…… . . ” Belum lanjut ucapan Pek-ho Tojin, mendadak si nona

elang melompat ke depannya dan menghardik: “Jelas-jelas apa? Memangnya kau kira kami

ibu dan anak main pat-gulipat dengan lelaki di sini?!”

Pek-ho Tojin melengak, cepat ia menjawab dengan menyengir: “O, mana berani

kumaksudkan demikian.”

“Hm, lalu, seorang pertapa seperti dirimu ini berani sembarangan menerobos ke kamar orang

perempuan, lantas apa maksud tujuanmu? Apakah kau ingin baca kitab di sini?” jengek si

nona elang.

Sama sekali Pek-ho To-jin tidak menyangka sedemikian lihaynya nona jelita ini, begini tajam

kata-katanya sehingga sukar baginya untuk menjawab. Terpaksa ia berkata: “Pernah kutanya

kepada Ceng-cu, katanya…..”

“Betul, jika kalian ingin membunuh orang, setiap rumah boleh kalian masuki dengan bebas,”

potong si nona elang dengan suara bengis. “Tapi rumah ini dikecualikan, betapapun tempat ini

adalah kediaman Cengcu-hujin, kau tahu tidak?”

“Ya,ya….” terpaksa Pek-ho Tojin memberi hormat dengan munduk-munduk, lalu

mengundurkan diri bersama kawan-kawannya. Meski dia tergolong murid Kun-lun-pay yang

paling cekatan, menghadapi siocia galak begini iapun mati kutu.

Baju Pwe-giok sudah basah oleh keringat dingin, ia masih berlutut, waktu mengangkat kepala,

dilihatnya kedua tangan Cengcu-hujin yang putih mulus itu, tapi sekarang ia tahu kedua

tangan ini semalam sebenarnya tiada maksud hendak mencekiknya, kalau tidak, barusan

Cengcu hujin tentu akan menyerahkannya kepada Pek-ho Tojin dan tidak perlu turun tangan

membunuhnya.

Cengcu hujin memandangnya lekat-lekat, tanyanya kemudian: “Tampaknya kau takut. Sebab

apa kau takut?”

“Cayhe…. Cayhe….”

“Sudahlah, tidak perlu kau katakan padaku.” ujar Cengcu hujin dengan tertawa. “Setiap orang

yang datang ke Sat-jin-ceng ini pasti merasa takut. Tapi siapapun tidak perlu menceritakan

alasan takutnya”. Tiba-tiba pandangannya beralih kepada Ko-lothau dan berkata pula: “Kau

boleh pergi saja.”

Ko-lothau ragu-ragu, katanya: “Dan dia……”

“Dia tinggal di sini, aku ingin bicara dengan dia,” ujar Cengcu hujin.

Walaupun masih ragu, akhirnya Ko-lothau memberi hormat dan mengundurkan diri. Kedua

nona kembar tadi ternyata juga ikut keluar. Si nona Kenari seperti tertawa terkikik-kikik,

sedangkan si Nona Elang sama sekali tidak bersuara.

Daun pintu menutup dengan keras. Kesunyian di dalam rumah mendadak terasa menakutkan,

sampai detak jantung sendiri dapat didengar oleh Pwe-giok.

Renjana Pendekar > Karya Khulung > Diceritakan oleh : GAN KL > buyankaba.com 106

Cengcu hujin masih memandangnya lekat-lekat, hanya memandangnya saja. Pwe-giok ingin

bicara tapi sama sekali tidak sanggup buka mulut, terpengaruh oleh pandangan orang yang

berdaya misterius ini.

Jendelapun tertutup oleh tirai, di dalam rumah semakin gelap, semacam hawa seram dan tua

meliputi setiap sudut ruangan.

Cengcu-hujin tetap tidak bicara, bahkan bergerakpun tidak. Ia tetap menatap Pwe-giok tanpa

berkedip, seolah-olah juru tembak sedang mengincar sasarannya, seperti nelayan sedang

memandangi kailnya.

Jilid 5________

Lambat-laun Pwe-giok merasa tidak tenteram, pikirnya: “Mengapa dia pandang diriku cara

begini?, mengapa?….”

Pada saat itulah tiba-tiba di luar jendela sana berkumandang suara orang tertawa riuh.

Pwe giok mendekati jendela dan sedikit menyingkap ujung tirai serta mengintip keluar,

dilihatnya seekor kucing hitam sedang berlari-lari dikejar oleh seorang pendek kurus kecil

dengan jubah kembang. Wajahnya yang pucat itu kelihatan berjenggot, tapi perawakannya

serupa anak berumur dua belasan, gerak-geriknya juga kekanak-kanakan.

Muka orang kerdil ini penuh butiran keringat, rambutnya juga kusut, bahkan sebelah

sepatunya juga sudah copot, keadaannya kelihatan serba konyol, ya kasihan, ya lucu, ya

menggelikan.

Belasan lelaki kekar berpakaian mentereng tampak mengikuti di belakang orang kerdil ini

dengan gelak tertawa, seperti orang yang sedang melihat tontonan menarik, ada yang

berkeplok gembira, ada yang menimpuki kucing hitam tadi dengan batu.

Melihat itu, tanpa terasa Pwe-giok menghela napas panjang.

“Kenapa kau menghela napas panjang, apa yang kau sesalkan?” tiba-tiba seorang bertanya di

belakangnya.

Kiranya Cengcu-hujin itu entah sejak kapan sudah berdiri di belakangnya dan juga sedang

memandang keluar.

“Cayhe melihat orang ini dipermainkan orang banyak seperti badut, hati merasa tidak tega,”

kata Pwe-giok dengan menyesal.

Cengcu-hujin diam saja, wajahnya kaku tanpa memperlihatkan sesuatu perasaan, sejenak

kemudian barulah ia berkata dengan perlahan:” Orang ini adalah suamiku.”

“Apa…..apa katamu? Dia…. dia suamimu? Dia inilah Cengcu?” tanya Pwe-giok dengan

terkesiap.

“Betul, dia inilah Cengcu dari Sat-jin-ceng ini,” jawab Cengcu-hujin dengan dingin.

Renjana Pendekar > Karya Khulung > Diceritakan oleh : GAN KL > buyankaba.com 107

Pwe-giok melenggong hingga sekian lamanya ia tak dapat bersuara. Baru sekarang ia paham

apa sebabnya ketiga ibu beranak ini disebut sebagai “perempuan yang harus dikasihani”.

Sekarang iapun tahu duduk perkara sebab apa di perkampungan ini orang boleh bebas bunuh

membunuh.

Rupanya Cengcu dari Sat-jin-ceng ini adalah seorang badut yang harus dikasihani, seorang

kerdil yang malang. Setiap orang boleh datang ke sini dan mempermainkan dia dengan sesuka

hati. Dalam pada itu Cengcu-hujin sudah kembali ke tempat duduknya dan memandangi Pwegiok

tanpa bicara.

Kini Pwe-giok dapat menahan perasaannya, sebab sekarang sudah timbul rasa simpatinya

terhadap perempuan di depannya ini, simpati yang tak terhingga terhadap segenap keluarga

yang malang ini, sekalipun banyak sekali tingkah-laku mereka yang aneh, tapi itupun dapat

dimaklumi.

Entah sejak kapan mereka sudah disediakan santapan, Cengcu hujin hampir tidak menyentuh

hidangan itu, tapi Pwe-giok telah makan dengan lahapnya.

Di dunia ini memang tiada sesuatu persoalan yang dapat mengganggu selera makan anak

muda. Dan begitulah waktu telah berlalu dengan begitu cepat.

Di dalam rumah semakin gelap, wajah Cengcu hujin mulai samar-samar, rumah ini mirip

sebuah kuburan yang akan mengubur masa mudanya yang bahagia.

“Mengapa dia memandang diriku cara begini?!” demikian Pwe-giok bertanya-tanya di dalam

hati, ia merasa kasihan dan juga merasa heran.

Mendadak Cengcu hujin berbangkit, katanya dengan hampa: “Hari sudah gelap, maukah kau

mengiringi aku keluar berjalan-jalan?”

*****

Inilah sebuah taman yang teramat luas dan juga sangat seram, di tengah-tengah semak-semak,

di balik bayangan pohon, di mana-mana seakan-akan ada hantu yang sedang mengintai. Jalan

berbatu yang mereka lalui berbunyi gemerisik.

Pwe-giok merasa sangat dingin. Sedangkan Cengcu-hujin sudah tertinggal di belakang.

Cahaya rembulan yang baru menyingsing melemparkan bayangan Cengcu hujin yang panjang

itu ke sebelah sini. entah darimana mendadak berkumandang bunyi burung hantu.

Tanpa terasa Pwe-giok merinding, ia memandang jauh ke sana, tiba-tiba di balik bayangan

pohon yang seram sana terdapat sebuah rumah ke kelabu-kelabuan dan berbentuk aneh.

Rumah itu tidak ada cahaya lampu, hakekatnya tiada jendela, runcing atapnya, pintu

gerbangnya dari besi warna hitam itu agaknya sudah karatan, rumah aneh yang berdiri

terpencil di tengah taman yang seram ini menimbulkan rasa ngeri dan penuh misteri yang

sukar dilukiskan.

Renjana Pendekar > Karya Khulung > Diceritakan oleh : GAN KL > buyankaba.com 108

Terasa takut dan juga heran Pwe-giok, tanpa terasa ia terus mendekat ke sana.

“Jangan ke sana” tiba2 didengarnya bentakan Cengcu hujin, suara yang terasa lembut itu

mengandung rasa cemas.

“Sebab apa?” Pwe-giok terkejut dan berhenti.

“Barang siapa mendekati rumah itu, dia pasti mati!” kata Cengcu-hujin.

Pwe-giok tambah terkejut, tanyanya pula: “Seb ….. Sebab apa?”

Ujung mulut Cengcu-hujin kembali menyembulkan senyuman misterius, ucapnya kemudian

dengan pelahan: “Sebab di dalam rumah itu adalah orang mati semua, mereka ingin menyeret

orang lain untuk menemani mereka.”

“orang mati? Semua orang mati?” Pwe-giok menegas.

Dengan pandangan yang hampa Cengcu-hujin menatap jauh ke depan, katanya: “Rumah ini

adalah makam keluarga Ki kami. Yang terkubur di dalam rumah seluruhnya adalah leluhur

keluarga Ki. Sedangkan leluhur keluarga Ki seluruhnya adalah orang gila. Yang masih hidup

gila, yang sudah mati juga gila.”

Pwe-giok mengkirik oleh cerita yang aneh dan seram itu, tangannya penuh keringat dingin.

Di depan ada sebuah gardu segi delapan, mereka mendaki undak-undakan dan naik ke tengah

gardu, sekeliling langkan di tengah-tengah gardu itu mengitari sebuah lubang gua yang gelap

dan dalam, setelah diperiksa lebih teliti, kiranya adalah sebuah sumur.

“Inilah sebuah sumur yang aneh,” Cengcu Hujin (nyonya Ki) itu bergumam, seperti bicara

kepada dirinya sendiri dan tidak ditujukan kepada orang lain.

Tapi Pwe-giok tidak tahan, ia bertanya: “Mengapa sumur ini kau katakan aneh?”

“Sumur ini disebut Mo kia (cermin hantu)” jawab Ki-hujin.

Pwe-giok tambah heran, ia tanya pula: “Mengapa disebut Mo kia?”

“Konon sumur ini dapat meramal kejadian yang akan datang,” tutur Ki hujin dengan pelahan.

Di malam bulan purnama, bila kau berdiri di tepi sumur ini dan bayangan mu tersorot ke

dalam sumur, maka bayangan di dalam sumur itulah menunjukkan nasibmu yang akan

datang”

“Aku … aku rada bingung,” kata Pwe-giok.

“Umpamanya, bila bayangan seorang tersorot ke dalam sumur dan bayangannya lagi tertawa,

padahal ia sendiri tidak tertawa, maka ini melambangkan hidupnya akan beruntung.

Sebaliknya jika bayangan di dalam sumur itu menangis, padahal ia tidak menangis, maka

kehidupannya pasti akan penuh kedukaan, penuh kemalangan.”

“Hah, masa betul begitu?” seru Pwe-giok terkesiap.

Renjana Pendekar > Karya Khulung > Diceritakan oleh : GAN KL > buyankaba.com 109

Dengan pelahan Ki-hujin menutur pula: “Tapi ada juga cahaya bulan tak dapat menyorotkan

bayangan seseorang ke dalam sumur, di dalam sumur hanya terlihat cahaya darah belaka,

maka hal ini melambangkan orang itu akan segera tertimpa bencana, bahkan menuju

kematian.”

“Aku… Aku tidak percaya,” ucap Pwe-giok, tanpa terasa ia mengkirik pula.

“Kau tidak percaya? Kenapa tidak kau coba?” ujar Ki-hujin.

“Aku…aku tidak ingin….” meski di mulut dia bilang tidak, tapi sumur ini rupanya memang

sebuah sumur hantu yang punya daya tarik yang kuat, tanpa terasa ia mendekati tepi sumur

dan melongok ke bawah.

Sumur itu sangat dalam, gelap gulita dan tidak kelihatan dasarnya, hakekatnya Pwe-giok tidak

melihat sesuatu apapun, tapi tanpa terasa kepalanya semakin menunduk dan semakin ke

bawah.

Mendadak Ki-hujin menjerit: “Da… darah… darah… “

Kejut dan ngeri Pwe-giok luar biasa, ia melongok lebih ke bawah lagi, sekonyong-konyong

langkan sumur itu jebol, tubuhnya lantas terjerumus ke dalam sumur.

Terdengar Ki-hujin sedang menjerit jerit pula: “Darah… darah… Mo-kia… lalu berlari pergi

seperti kesetanan.

Pada saat itulah di dalam sumur baru terdengar suara “plung” ini jelas suara jatuhnya Pwegiok

didalam sumur. Sumur hantu ini dalamnya luar biasa untung ada airnya, airnya juga

sangat dalam. Tubuh Pwe-giok langsung terbanting di permukaan air sumur sehingga ruas

tulang sekujur badannya seakan akan terlepas. Ia terus tenggelam ke bawah, sampai lama

sekali belum lagi timbul.

Apabila tubuh Pwe-giok tidak gemblengan seolah-olah otot kawat tulang besi, waktu timbul

lagi ke permukaan air mungkin sudah berwujud sesosok mayat.

Suara jeritan ngeri Ki-hujin itu seakan-akan masih mengiang di telinganya, dalam keadaan

masih berdebar Pwe-giok berendam didalam air sumur yang dingin seperti es, ia menggigil

tiada hentinya.

“Mengapa dia mencelakai diriku?… ” “Ah, aku sendiri yang kurang hati-hati dan terpeleset

hingga jatuh ke dalam sumur, mana boleh ku salahkan orang lain ?…” “Tapi mengapa dia

tidak menolong diriku?… ” “Ah, jiwanya memang sangat lemah, saat ini dia sendiri sangat

ketakutan, mana dapat menolong diriku?… ” “Apalagi, tentu dia mengira aku sudah mati, buat

apa bersusah payah menolong aku?… “

Begitulah macam-macam pikiran terlintas dalam benak Pwe-giok, akhirnya dia hanya dapat

menyesal dan menyalahkan dirinya sendiri: “Ai, aku memang seorang yang malang, selama

hidup ini penuh diliputi ketidak beruntungan.”

Renjana Pendekar > Karya Khulung > Diceritakan oleh : GAN KL > buyankaba.com 110

Kemalangan yang tidak pernah dibayangkan orang lain, baginya boleh dikatakan sudah biasa

seperti makanan sehari hari.

Sumur itu sangat lebar, jika berdiri ditengah tengah dan merentangkan kedua tangan tetap tak

dapat mencapai dinding sumur. Apalagi dinding sumur penuh lumut hijau yang tebal dan

licin, siapapun jangan harap dapat memanjat ke atas.

Jika orang lain mungkin sudah berteriak teriak minta tolong. Tapi Pwe-giok sam sekali tidak

berani bersuara, apalagi berteriak minta tolong. Sebab kalau suara teriakannya didengar

musuh yang sedang mencarinya, bukankah dia akan mati konyol terlebih cepat?.

Untung Pwe-giok mahir berenang sehingga tidak sampai tenggelam, namun tubuh yang

terendam di air sumur yang dingin seperti es itu membuat badannya mulai kaku, lambat atau

cepat dia tetap akan tenggelam juga.

Semua ini seolah-olah impian buruk saja, sungguh ia tidak mau percaya, tapi tidak dapat tidak

percaya.

Sejak dia berlatih menulis di taman kediamannya sendiri dengan disaksikan ayahnya tempo

hari, dimulai dengan penyampaian surat oleh Hek-kap-cu, kehidupan Pwe-giok lantas seperti

berada didalam mimpi buruk, dan sekarang, apakah hidupnya akan tamat di sini ?!

Ia tidak suka membayangkannya, juga tidak berani memikirkannya, akan tetapi mau tak mau

ia justeru harus memikirkannya, teringat apa apa yang telah dialaminya itu, sungguh ia hampir

gila. Dan malam yang gelap gulita inipun berlalu ditengah penderitaan yang membuatnya gila

itu.

Samar-samar mulut sumur sudah kelihatan remang-remang, tapi cahaya itu terasa sedemikian

jauhnya dan sukar dijangkau.

Dari kejauhan yang sukar dijangkau itu tiba-tiba berkumandang suara kicau burung yang

merdu. Bagi pendengaran Pwe-giok, suara burung ini adalah satu langkah kejutan yang sama

sekali tak pernah terpikir oleh orang itu. Coba, siapa yang pernah berpikir suara burung

berkicau demikian dapat menyelamatkan orang ?

Maka mulailah Pwe-giok menirukan suara burung berkicau, Sejenak kemudian, dikejauhan

tiba-tiba berkumandang suara nyanyian yang terlebih merdu daripada kicau burung. Suara itu

makin dekat dan dekat, akhirnya dimulut sumur muncul sepasang mata yang jeli.

Baru sekarang Pwe-giok berani berseru perlahan: “Nona Kenari… “

Terbelalak mata yang indah itu, serunya: “He kiranya kau? Pantas tidak kupahami apa yang

kau katakan, rupanya kau bukan… bukan burung.”

“Aku berharap dapat menjadi burung, nona Kenari,” kata Pwe-giok dengan menyengir.

Nona Kenari itu berkedip-kedip, katanya kemudian: “Jelas kau bukan burung, sampai bertemu

pula!” ia angkat kepala terus hendak pergi.

Renjana Pendekar > Karya Khulung > Diceritakan oleh : GAN KL > buyankaba.com 111

Cepat Pwe-giok berseru: “Hei, nona, ada orang jatuh didalam sumur, masa kau tidak

mengereknya ke atas?”

Si nona kenari melongok pula ke dalam sumur, ucapnya dengan tertawa: “Mengapa harus ku

kerek kau ?”

“Sebab… sebab… ” Sebenarnya jawaban ini sangat sederhana, tapi seketika Pwe-giok justeru

tidak dapat menjawabnya.

“Hi, hi, ku tahu kau tidak punya alasannya.” seru si nona Kenari sambil berkeplok gembira.”

Aku akan pergi!”

Sekali ini dia benar-benar pergi dan tidak kembali lagi.

Pwe-giok menjadi melenggong dan serba susah, ia jadi gemas terhadap dirinya sendiri dan

ingin menggampar mukanya sendiri, masa jawaban sederhana begitu saja tidak sanggup

bicara.

“Apakah segenap anggota keluarga Ki memang orang gila semua?” demikian Pwe-giok

bertanya tanya pula di dalam batin.

Pedih rasanya, kecuali hatinya yang masih ada perasaan, bagian tubuh lain hampir seluruhnya

sudah kaku, sekujur badannya mirip sepotong kayu yang terendam di dalam air. Ia meraup

secomot air untuk membasahi bibirnya yang kering.

Sekonyong-konyong seutas tali panjang terjulur dari atas.

Pwe-giok kegirangan, cepat ia pegang tali itu. Tapi segera teringat sesuatu, ia memandang ke

atas dengan kuatir. Ternyata di atas tiada orang. Dengan suara yang dibikin serak ia bertanya:

“Siapa di sana ? Siapa yang menolong diriku ?”

Namun tiada jawaban. Ia menjadi ragu-ragu, Jangan-jangan orang Kun-lun-pay atau anak

murid Tiam-jong-pay ?

Jangan-jangan komplotan jahat itu sengaja hendak mengereknya ke atas untuk kemudian

membunuhnya?

Pwe-giok menggreget, dipegangnya erat-erat tali itu, perlahan-lahan ia merambat ke atas,

Betapapun akan lebih baik daripada mati terendam hidup-hidup di sumur hantu ini.

Dalam keadaan demikian, selain menuruti perkembangan, memangnya apa yang dapat

diperbuatnya? Hakekatnya tiada pilihan lain baginya.

Dari bawah sampai di mulut sumur, jarak ini seolah-olah perjalanan yang paling panjang yang

pernah ditempuhnya selama hidup. Tapi akhirnya sampai juga di tempat tujuan.

Pagi ini tidak ada kabut, cahaya matahari yang keemas-emasan menyinari seluruh halaman

taman, sampai-sampai gardu yang tak terawat dengan cat pada pilar dan langkan yang sudah

banyak terkelupas inipun kelihatan sangat indah di bawah sinar matahari yang terang.

Renjana Pendekar > Karya Khulung > Diceritakan oleh : GAN KL > buyankaba.com 112

Dapat hidup terus, betapapun adalah kejadian yang baik.

Tapi di atas tetap tiada terlihat bayangan seorangpun. Tali panjang itu kiranya terikat pada

pilar gardu. Lalu sesungguhnya siapa yang menolongnya? Mengapa penolong itu tidak

memperlihatkan dirinya?

Dengan kuatir dan sangsi Pwe-giok selangkah semi selangkah menuruni undak-undakan.

Sekonyong-konyong di belakangnya ada burung bercuit, cepat ia menoleh, maka terlihatlah

pula si dia, si nona Kenari.

Dia duduk bersandar di luar lantakan gardu, rambutnya yang indah kemilau tertimpa sinar

matahari. Seekor burung hijau kecil hinggap di lengannya yang halus itu, tampaknya seperti

benar-benar lagi bicara dengan si nona.

“He, kau.” seru Pwe-giok girang. “Meng… mengapa kau tolong juga diriku ke atas?”

Si nona Kenari tertawa manis, ucapnya: “Dia inilah yang minta kutarik kau ke atas.”

“Dia?… dia siapa ?” tanya Pwe-giok.

Penjelasan si nona kenari membelai bulu hijau burung kecil itu, ucapnya dengan lembut:

“Adik kecil, katamu dia orang baik, kau bilang pula dia tidak punya sayap seperti kau, maka

perlu orang lain menariknya ke atas, begitu bukan? Akan tetapi dia tidak berterima kasih

padamu.”

Burung hijau itu lantas bercuat-ciut, tampaknya sangat gembira.

Termangu-mangu Pwe-giok memandangi nona kenari itu, ia tidak tahu sesungguhnya gadis

ini teramat pintar atau seorang gila?

“Apakah kau benar-benar paham bahasa burung ?” tanyanya kemudian saking tak tahan.

Mendadak si nona Kenari berbangkit dan melangkah kesana, tampaknya sangat marah,

katanya: “jadi kaupun tidak percaya seperti orang-orang itu.” “Aku… aku percaya.” kata Pwegiok.

“Tapi cara bagaimana pula kau dapat belajar bahasa burung?”

“Aku tidak perlu belajar,” ujar si nona Kenari dengan tertawa manis, “Begitu melihat mereka

aku lantas paham dengan sendirinya.”

Dalam sekejap itu sorot matanya yang buram dan linglung itu mendadak penuh bercahaya

terang, entah sebab apa, Pwe-giok se-akan2 percaya saja kepada keterangannya, tiba2 ia

bertanya pula: “Dan gembirakah mereka?”

“Ada yang gembira, ada sebagian tidak, terkadang suka ria, terkadang…” mendadak si nona

tertawa dan menyambung pula: “Tapi setidak2nya mereka jauh lebih bergembira daripada

manusia yang tolol.”

Renjana Pendekar > Karya Khulung > Diceritakan oleh : GAN KL > buyankaba.com 113

Pwe-giok termangu sejenak, katanya kemudian dengan menyesal: “Memang betul, manusia

memang teramat tolol, di dunia mungkin hanya manusia saja yang suka mencari susah

sendiri.”

Si nona kenari tertawa, katanya: “Asalkan kau tahu saja, maka kau harus….” mendadak

burung kecil di tangannya itu bercuit nyaring terus terbang ke udara. Seketika air muka si

nona juga berubah.

Tentu saja Pwe-giok merasa heran, tanyanya: “Nona, kau….”

Tiba2 si nona Kenari menggoyangkan tangan memutuskan ucapan Pwe-giok, lalu ia

membalik tubuh dan berlari pergi secepat terbang, mirip seekor burung yang terbang terkejut.

Selagi Pwe-giok terbelalak bingung, tiba2 terdengar semacam suara aneh berkumandang dari

semak2 pohon sebelah kiri sana, suara orang menggali tanah.

Diam2 ia menunduk ke sana dan mengintipnya, benar juga, dilihatnya seorang pendek kecil

sedang berjongkok dan menggali tanah, dia memakai jubah kembang yang longgar, kedua

tangannya kecil seperti kanak2, siapa lagi dia kalau bukan si “badut” yang dilihatnya kemarin,

Cengcu atau kepala kampung Sat jin ceng ini.

Kucing hitam yang diuber2 kemarin itu kini sudah mati dalam keadaan luluh, sangat

mengerikan kematiannya.

Selesai menggali liang, Cengcu kerdil itu memasukkan bangkai kucing itu ke dalam liang,

lalu ditimbuni bunga, kemudian diuruk dengan tanah. Terdengar ia bergumam: “Orang bilang

kucing mempunyai sembilan nyawa, mengapa kau cuma punya satu nyawa? ….O, kasihan

anakku, kau menipu orang2 itu ataukah orang2 itu yang membodohi kau?”

Memandangi perawakan orang yang kerdil itu, memandangi gerak-gerik orang yang serupa

anak kecil yang masih polos itu, tanpa terasa Pwe-giok menghela napas,

Cengcu itu terkejut dan melonjak bangun sambil membentak: “Siapa?”

Cepat Pwe-giok melangkah keluar, ucapnya dengan suara halus: “Jangan kau takut, aku tidak

bermaksud jahat.”

“Kau….kau siapa?” tanya sang Cengcu dengan melotot tegang.

Sedapatnya Pwe-giok bersikap ramah agar orang tidak ketakutan; jawabnya dengan

tersenyum “Akupun tamu di sini, namaku Ji Pwe-giok.”

Ternyata Pwe-giok merasa urusan apapun tidak perlu mengelabui orang kerdil, sebab ia yakin

manusia yang mempunyai kelainan tubuh ini pasti mempunyai sebuah hati yang bajik dan

luhur. Contohnya, kalau terhadap seekor kucing saja dia begitu welas-asih, mana mungkin dia

mencelakai manusia?

Muka sang Cengcu kerdil yang putih pucat tapi cukup cakap dan seperti wajah anak kecil

yang belum akil balig itu akhirnya tampak tenang kembali, dia tertawa, lalu berkata: “Jika kau

tamu, aku inilah tuan rumahnya. Namaku Ki Song-hoa,”

Renjana Pendekar > Karya Khulung > Diceritakan oleh : GAN KL > buyankaba.com 114

“Kutahu,” ujar Pwe-giok.

“Kau tahu?” si kerdil Ki Song-hoa menegas dengan mata terbelalak.

“Ya, aku sudah bertemu dengan isteri dan puterimu,” tutur Pwe-giok dengan tertawa.

Perlahan2 Ki Song-hoa menunduk, ucapnya dengan tersenyum pedih: “Kebanyakan orang

seolah2 harus menemui mereka lebih dahulu baru kemudian bertemu dengan diriku.”

Mendadak ia pegang tangan Ji Pwe-giok dan berseru: “Tapi jangan kau percaya kepada

ocehan mereka. Otak isteriku itu tidak waras, tidak normal, boleh dikatakan gila. Anak

perempuanku yang besar itu lebih2 judas, cerewet, tiada orang yang berani merecoki dia,

bahkan akupun tidak berani. Meski mereka sangat cantik, tapi hatinya berbisa, lain kali bila

kau bertemu lagi dengan mereka, hendaklah kau hindari mereka sejauh2nya.”

Sungguh tak pernah terpikir oleh Pwe-giok bahwa si kerdil ini akan bicara demikian

mengenai anak dan istrinya, Apakah betul ucapannya? Atau cuma omong kosong belaka?

Tapi tampaknya tiada alasan baginya untuk berdusta? Seketika Pwe-giok jadi melenggong

dan tidak dapat bicara.

Dengan suara rada gemetar Ki Song-hoa lantas berkata pula: “Apa yang kukatakan ini demi

kebaikanmu, kalau tidak, untuk apa aku mesti mencaci-maki sanak keluargaku sendiri?”

Akhirnya Pwe-giok menghela napas panjang dan mengucapkan terima kasih. Sejenak

kemudian, karena ingin tahu, ia bertanya pula: “Dan masih ada pula seorang nona yang fasih

berbahasa burung ….”

Baru sekarang Ki Song-hoa tertawa, katanya: “Apakah kau maksudkan Leng-yan? Ya, hanya

dia saja yang tidak bakalan mencelakai orang, sebab ….sebab dia seorang idiot, miring….”

“Apa? Ia …. idiot?” seru Pwe-giok dengan tercengang.

Pada saat itulah di tengah pepohonan sana tiba2 terdengar gemerisik orang berjalan.

Cepat Ki Song-hoa menarik tangan Pwe-giok dan berkata: “Mungkin mereka yang datang,

jangan sampai kau dilihat mereka lagi, kalau tidak, jiwamu pasti sukar diselamatkan. Hayolah

lekas ikut pergi bersamaku!”

Segera terbayang oleh Pwe-giok sumur hantu yang seram itu, teringat tangan yang akan

mencekik lehernya itu, tiba2 ia merasa alasan pembelaannya bagi Ki hujin sebelum ini hanya

sia2 belaka dan tiada gunanya.

Dilihatnya Ki Song-hoa menariknya berputar kian kemari di antara pepohonan dan sampailah

di depan sebuah gunung2an, setelah menerobosi gunung2an itu, di situ ada sebuah kamar,

ruangan kamar itu penuh berdebu dan gelagasi, kertas bertulis yang menghiasi sekeliling

dinding ruangan itupun sama berwarna kuning.

Di tengah ruangan ada kasuran bundar dan sudah tua, ruangan ini sangat sempit, untuk berdiri

dua orang saja terasa sesak, namun Ki Song-hoa lantas menghela napas lega, katanya: “Di

sinilah tempat yang paling aman, tidak nanti ada orang datang kemari,”

Renjana Pendekar > Karya Khulung > Diceritakan oleh : GAN KL > buyankaba.com 115

Selama hidup Pwe-giok belum pernah melihat rumah sekecil ini, ia coba bertanya: “Tempat

apakah ini?”

“Di sinilah pada masa tua mendiang ayahku suka menyepi dan membaca kitab.” tutur Ki

Song-hoa. “Sejak berumur 50 beliau lantas berdiam di sini, satu langkahpun tidak pernah

keluar hingga 20 tahun lamanya.”

“Selama 20 tahun tidak pernah keluar dari tempat ini?…..” tukas Pwe-giok dengan terkesima.

“Tapi ruangan ini sedemikian sempitnya, berdiri saja tidak dapat tegak, berbaringpun kurang

leluasa, mengapa ayahmu suka menyiksa diri cara begini?”

“Soalnya ayahku merasa di waktu mudanya terlalu banyak membunuh, sebab itulah pada

masa tuanya beliau berusaha merenungkan segala dosanya. Beliau merasa asalkan berhasil

mencapai ketenangan batin, hal penderitaan badan bukan apa2 baginya.”

“Beliau, sungguh seorang yang luar biasa,” ujar Pwe-giok dengan menghela napas panjang.

Teringat olehnya ucapan Ki hujin yang menyatakan segenap leluhur keluarga Ki adalah orang

gila semuanya, diam2 ia tersenyum kecut dan menggeleng.

Ki Song-hoa menepuk tangan Pwe-giok, katanya pula: “Hendaklah kau sembunyi di sini

dengan tenang, makan-minum akan ku antarkan ke sini, tapi jangan sekali2 kau lari keluar, di

perkampungan ini sudah terlalu banyak banjir darah, sungguh aku tidak ingin menyaksikan

darah mengalir lagi.”

Memandangi kepergian orang kerdil itu, diam2 Pwe-giok terharu, pikirnya: “Istrinya gila,

anak perempuan berotak miring, ia sendiripun bertubuh tidak normal, selamanya menjadi

bulan2an orang, hidupnya ini bukankah jauh lebih malang daripada ku? Tapi terhadap orang

lain dia masih begitu baik hati, begitu welas asih, jika aku menjadi dia, apakah aku akan

berbuat sebaik dia?”

Di lantai penuh debu belaka, Pwe-giok berduduk di kasuran bundar itu. Kamar ini tiada

dinding tembok, sekelilingnya ditutup dengan kotakan pintu dan jendela yang terbuat dari

kertas. Tempat demikian tentu sangat menyusahkan di musim dingin atau di waktu hujan

angin.

Pwe-giok coba mengamat2i sekitar ruangan, ia merasa di lantai yang penuh debu itu ada

gambar loreng2, ia robek sepotong lengan bajunya untuk mengusap lantai, maka tertampaklah

sebuah gambar Pat-kwa.

Bagi anak murid “Bu-kek-pay”, perhitungan Pat-kwa dan pelajaran ilmu alam yang aneh2

sudah tidak asing lagi. Pwe-giok adalah putera tokoh ternama dari Bu-kek-pay, terhadap ilmu

pengetahuan begituan boleh dikatakan sangat mahir.

Dengan tekun ia memandangi lukisan Pat-kwa itu, dengan jarinya ia coba menggoresi garis2

gambar itu menuruti lukisannya. Mendadak kasuran yang didudukinya bisa bergeser, lalu

tertampaklah sebuah lubang di bawah tanah yang gelap dan sangat dalam.

Renjana Pendekar > Karya Khulung > Diceritakan oleh : GAN KL > buyankaba.com 116

Pwe-giok jadi tertarik dan melangkah ke bawah. Pada saat itu juga, mendadak berpuluh

pedang mengkilap telah menusuk ke tempat duduknya secepat kilat dan tanpa suara.

Tidak kepalang kaget Pwe-giok. Coba kalau dia tidak menemukan lukisan Pat-kwa di lantai

dan kalau dia tidak mahir ilmu pengetahuan begitu, jika dia masih tetap berduduk di atas

kasur, saat ini tubuhnya tentu sudah berubah menjadi sarang tawon ditembus oleh berpuluh

senjata tajam itu.

Sungguh kejadian yang sangat kebetulan dan juga sangat berbahaya. Antara mati dan hidup

benar-benar bergantung pada sedetik dua detik saja. Jiwa Pwe-giok boleh dikatakan direnggut

kembali dari cengkeraman elmaut. Tapi dalam keadaan demikian sama sekali ia tidak berani

memikirkannya, lekas-lekas ia tutup lubang di atas lantai itu dengan kasur tadi.

Pada saat lain lantas terdengar suara orang berseru di luar ruangan sana: “He, mengapa

kosong, tidak ada seorangpun!”

Lalu “blang”, dinding kertas ruangan itu telah dijebol orang, sekeliling ruangan penuh berdiri

anak murid Kun-lun-pay dan Tiam jong pay, semua berseru kaget: “He, mengapa sudah

kabur!?”

“Ya, dari mana dia mendapatkan berita akan digerebek?” terdengar Pek-ho Tojin berkata.

“Dia pasti takkan lari jauh, lekas kita kejar!” seru seorang pula.

Lalu terdengar suara kain baju berkibar, beberapa orang telah melayang pergi, hanya sekejap

saja keadaan sudah sunyi kembali.

Sampai lama Pwe giok menunggu di bawah baru berani menggeser lagi kasuran itu sedikit,

dilihatnya benar-benar tiada orang lagi barulah dia berani merayap naik ke atas.

Ada suara gemericiknya air di luar serta gemerisiknya daun kering tertiup angin, mungkin

suara berisik inilah yang menutupi suara kedatangan orang-orang tadi sehingga sebelumnya

Pwe-giok tidak tahu sama sekali.

Tapi mengapa mereka dapat mencari ke tempat ini? Darimana mereka mendapat tahu Pwegiok

berada di sini?

Betapapun hati Pwe-giok menjadi kebat-kebit, ia merasa di tengah “Sat jin-ceng” ini di manamana

penuh orang gila, hakekatnya tiada seorangpun yang dapat dipercaya.

Lalu, dalam keadaan demikian, ke mana pula dia harus pergi?

Kini rambutnya sudah kusut masai, matanya penuh garis-garis merah, pemuda yang tadinya

cakap dan lembut kini telah berubah seperti seekor binatang buas, seekor binatang yang

terluka. Ia tidak memiliki keyakinan akan sanggup bertempur dengan orang, hakekatnya ia

tidak punya tenaga untuk bertempur lagi.

Sekonyong-konyong terdengar seorang memanggil dengan suara tertahan: “Yap-kongcu …

Yap Giok-pwe … . “

Renjana Pendekar > Karya Khulung > Diceritakan oleh : GAN KL > buyankaba.com 117

Semula Pwe giok melengak, tapi segera ia menyadari yang dipanggil itu ialah dirinya. Meski

dia tidak kenal suara siapakah itu, tapi orang yang dapat memanggil nama samarannya ini

kecuali ibu dan anak itu jelas tiada orang lain lagi.

Tanpa pikir ia terus menerobos masuk pula ke dalam liang di bawah tanah serta menutup

lubang itu dengan kasuran tadi. Keadaan di dalam liang itu gelap gulita, jari sendiri saja tidak

kelihatan.

Ia merasa liang di bawah tanah ini sangat besar, tapi iapun tak berani sembarangan bergerak,

ia cuma berdiri bersandar saja di situ. Sampai lama sekali, lamat-lamat ia tertidur akhirnya.

Sekonyong-konyong cahaya terang menyorot ke bawah, kasuran itu telah digeser orang.

Dengan terkejut Pwe-giok menoleh, segera dilihatnya wajah yang pucat dan bajik itu, wajah

itu kelihatan terkejut dan juga bergirang, terdengar ia berseru lega: “O, syukur alhamdulillah

kau ternyata masih berada di sini.”

Sebaliknya Pwe-giok tidak mengunjuk rasa girang sedikitpun, ia menjengek: “Hm, akan kau

bikin susah lagi padaku?”

Mendadak Ki Song-hoa memukul dadanya sendiri dan berkata: “Ai, semuanya gara-garaku.

Waktu itu kubawa kau ke sini telah dilihat oleh isteriku, mungkin dia yang memberi tahukan

kepada pengganas-pengganas Kun-lun-pay dan Tiam-jong-pay itu.”

“Hm, masakah kau kira aku percaya lagi padamu?” jengek Pwe-giok.

“Jika kukhianati kau, saat ini mengapa tidak kubawa mereka ke sini?”

Baru sekarang Pwe-giok percaya penuh, ia melompat ke atas, katanya dengan menyesal: “Ai,

rupanya aku telah salah sangka padamu.”

Ki Song-hoa mendepak kasuran itu ke tempat semula, ditariknya Pwe-giok dan berkata:

“Sekarang bukan waktunya minta maaf segala. Hayolah, lekas pergi!”

“Hah, mau ke mana?!” mendadak seorang mendengus sambil tertawa latah.

Sungguh tidak kepalang kaget Pwe-giok Belum lagi dia bertindak apa-apa, tahu-tahu sinar

pedang sudah menyambar tiba: “Sret-sret-sret”, tiga pedang menusuk sekaligus.

“Hei, hei, berhenti” Ki Song hoa berteriak-teriak. “Kalian tidak boleh…..”

Tapi pedang yang sambar menyambar itu tidak menghiraukan seruannya, tubuh Pwe giok

sudah tersayat dua baris luka, anak murid Kun- lun dan Tiam-Jong telah mengepungnya

dengan rapat. Dengan mati-matian Pwe-giok berusaha membobol kepungan tapi dalam

sekejap saja ia sudah mandi darah.

“Jangan dibunuh, akan kutanyai dia!” terdengar Pek-ho Tojin berseru dengan suara bengis.

Pwe-giok menghindarkan tabasan dua pedang, habis itu mendadak ia menghantam ke depan

ke arah Pek-ho Tojin. “Blang”, Pek-ho Tojin sempat mengegos, sebaliknya tiang rumah kecil

Renjana Pendekar > Karya Khulung > Diceritakan oleh : GAN KL > buyankaba.com 118

itu telah tergetar patah oleh pukulan Pwe-giok yang dahsyat ini, rumah kecil itu runtuh dan

ambruk, tanpa pikir Pwe-giok mengangkat sepotong tiang kayu, tiang itu terus diputarnya

dengan kalap.

Di tengah jeritan kaget, seorang murid Tiam-jong pay tersabet tiang itu hingga tulang dada

remuk, pedang dua kawannya juga terlepas dari pegangan.

“Keparat ini sudah nekat, dibunuhpun tak menjadi soal lagi!” bentak Pek-ho Tojin.

Sekali berputar, Pwe giok mengayun tiang kayu yang bulatan tengahnya sebesar mangkuk itu

seperti kitiran, tubuh manusia yang terdiri dari darah-daging mana mampu menahan hantaman

yang begini dahsyat?

Ki Song hoa berdiri jauh di samping sana, tampaknya iapun terkesima dan bergumam sendiri:

“Besar amat tenaganya, sungguh hebat tenaganya. . . .”

Pwe-giok benar-benar sudah kalap, tiada sesuatu yang dilihat dan tiada sesuatu yang

didengarnya lagi, ia masih terus memutar tiangnya seperti orang gila. Mendadak putarannya

mengendor, tiang yang beratnya ratusan kati itu dengan tenaga maha dahsyat mendadak

dilepaskan sehingga meluncur ke depan, seorang Tojin Kun-lun pay tepat menjadi sasaran

utama, tiang itu menembus perutnya. Terdengarlah jeritan ngeri memanjang menggema

angkasa disertai muncratnya darah.

Tentu saja orang lain sama pecah nyalinya dan cepat menyingkir ke samping. Kesempatan itu

tidak disia-siakan Pwe-giok, ia terus menerjang keluar. Hakekatnya ia tidak membedakan arah

dan tidak melihat jalan lagi, ia hanya berlari dan berlari terus seperti orang kesetanan, ia

menerobos pepohonan dan menyusup ke semak-semak. Tubuhnya sudah penuh dicocok duri

tetumbuhan, tapi suara bentakan orang mengejar lambat laun juga menjauh, tiba-tiba di

depannya muncul pula rumah aneh warna kelabu itu.

Rumah setan itu atau makam, bukankah di situ tempat sembunyi yang paling bagus?

Tanpa pikir Pwe-giok terus menerjang ke sana. Tapi mendadak sinar pedang berkelebat,

seorang telah merintangi jalannya.

“Berani kau masuk ke rumah ini, segera kucabut nyawamu!” demikian suara seorang

perempuan membentak dengan bengis.

Jalan Pwe-giok sudah sempoyongan, yang dapat dilihatnya hanya bayangan seorang secara

samar-samar, seperti berambut panjang, berjubah putih, bermata jeli.

Akhirnya Pwe giok dapat mengenalinya, ialah anak perempuan sulung Ki Song hoa, si elang

padang pasir yang galak itu.

Dengan tersenyum pedih Pwe-giok berkata: “Bagus sekali jika dapat mati di tanganmu,

sedikitnya kau bukan orang gila . …” dia sudah kehabisan tenaga, belum habis ucapannya

iapun jatuh pingsan.

*****

Renjana Pendekar > Karya Khulung > Diceritakan oleh : GAN KL > buyankaba.com 119

Waktu siuman kembali, Pwe-giok merasa berada di dalam sebuah kamar gelap, tapi segera ia

mengenali tempat ini adalah kamar tidur Ki-hujin.

Tapi segera iapun mengetahui dirinya tidak siuman sendiri, tapi ada orang yang membuatnya

siuman. Sekarang meski di dalam rumah tiada orang, tapi daun pintu yang berat itu berbunyi

berkeriut didorong orang hingga terbuka.

Lalu sesosok tubuh kerdil melongok ke dalam, siapa lagi kalau bukan Ki Song-hoa, si Cengcu

Sat-jin-ceng yang tidak diketahui bajik atau jahat itu.

Gemetar juga tubuh Pwe giok, katanya: “Selamanya kita tiada permusuhan, mengapa kau

berkeras akan mencelakai diriku?”

Ki Song-hoa mendekati pembaringan Pwe-Giok, ucapnya dengan menunduk dan menyesal;

“Maaf, mestinya ingin ku tolong kau, siapa tahu malah bikin susah padamu …. Sungguh aku

tidak tahu bahwa orang-orang itu selalu membuntuti diriku.”

“Jika begitu, sekarang juga lekas kau keluar,” kata Pwe-giok.

“Tidak, tidak boleh kutinggalkan kau kepada mereka,” kata Ki Song-hoa.

“Tapi merekalah yang menyelamatkan diriku, aku takkan pergi,” ucap Pwe-giok dengan

tersenyum pedih.

“Anak muda, kau tidak tahu,” kata Ki Song-hoa dengan menghela napas panjang. “Mereka

menolong kau adalah karena ingin menyiksa kau secara perlahan-lahan agar kau mati di

tangan mereka.”

Pwe-giok merinding, tanyanya: “Sebab…. sebab apa mereka berbuat demikian?”

“Kau benar-benar tidak tahu?”

“Sungguh aku tidak mengerti.”

“Istriku itu paling benci kepada orang she Ji. Memangnya kau kira dia tidak tahu kau ini she

Ji?”

“O…. aku sampai lupa….” seru Pwe-giok. Sampai di sini, ia tidak sangsi lagi, segera ia

meronta turun.

Tapi mendadak seorang masuk lagi, orang ini berjubah putih dan berambut panjang, siapa lagi

kalau bukan si nona Elang. Dia menyelinap masuk tanpa suara dan melototi Ki Song-hoa

dengan dingin, sama sekali tiada perasaan kasih sayang antara ayah dan anak sebagaimana

umumnya, sebaliknya malahan kelihatan sikapnya yang benci dan kasar, bahkan lantas

membentak: “Keluar!”

Keruan Ki Song-hoa berjingkrak, teriaknya: “Ki Leng-hong, jangan lupa, aku ini bapakmu.

Terhadap ayahmu kaupun bicara sekasar ini?”

Renjana Pendekar > Karya Khulung > Diceritakan oleh : GAN KL > buyankaba.com 120

Dia berjingkrak dan marah-marah seolah-olah mendadak berubah menjadi gila, wajahnya

yang kekanak-kanakan itupun berubah menjadi beringas menakutkan.

Pwe-giok terkesima oleh perubahan luar biasa ini, tapi si nona Elang atau Ki Leng-hong itu

masih tetap berdiri tegak, sama sekali tidak takut, sebaliknya makin dingin sorot matanya,

katanya pula sekata demi sekata: “Kau keluar tidak?”

Ki Song-hoa mengepal tinjunya dan mendelik, saking gregetan seakan-akan ingin mencaplok

mentah-mentah si nona. Namun Ki Leng-hong itu masih tetap memelototinya dengan sikap

dingin.

Sungguh aneh, ayah dan anak ini seperti ada permusuhan yang mendalam, mereka saling

melotot dan entah sudah berapa lamanya, akhirnya Ki Song-hoa menghela napas panjang, ia

menjadi lemas, lalu berkata sambil terkekeh-kekeh: “Anakku sayang, jangan kau marah, jika

kesehatanmu terganggu, kan ayah juga yang susah. Kau suruh aku keluar, baiklah segera aku

akan keluar”

Dia berjalan keluar pintu sambil bergumam: “Bagaimana jadinya dunia ini. Ayah takut pada

anaknya”

Pwe-giok juga tidak menyangka sang Cengcu bisa diusir pergi oleh anak perempuannya

sendiri, ia terkejut dan heran, segera ia merangkak bangun.

“Untuk apa kau bangun? Rebah kembali di tempatmu!” jengek Ki Leng-hong.

“Cayhe merasa tidak…. tidak pantas mengganggu di sini dan ingin mohon diri saja,” kata

Pwe-giok.

“Setelah kau dengar ocehan si kerdil itu dan kau percaya aku ingin mencelakai kau?” jengek

Ki Leng-hong.

“Betapapun dia…. dia kan ayahmu?” ujar Pwe-giok.

“Tidak, dia bukan ayahku, bukan, bukan!” teriak Ki Leng-hong dengan histeris sambil

meremas-remas baju sendiri, air mukanya berkerut-kerut dan beringas seperti Ki Song-hoa

tadi.

Pwe giok memandangnya dengan terkejut dan tidak tahu harus berkata apa. Selang beberapa

saat Ki Leng-hong menjadi tenang dan kembali ke pembawaannya semula yang dingin. Dia

lalu bertanya: “Apakah kau pikir dia benar-benar orang baik?”

Ji pwe-giok tidak menjawab karena dia memang tidak yakin apakah sesungguhnya Ki Songhoa

itu baik atau tidak.

Ki Leng-hong tertawa, katanya: “Sungguh aneh, banyak juga orang yang mau tertipu dan

dibohongi olehnya, sampai terbunuh juga masih belum tahu, bahkan tetap menyangka dia

adalah orang baik.”

“Aku kan tiada permusuhan apapun dengan dia, untuk apa dia mencelakai diriku?” kata Pwegiok.

Renjana Pendekar > Karya Khulung > Diceritakan oleh : GAN KL > buyankaba.com 121

“Tiada permusuhan?” jengek Ki Leng-hong. “Apakah kau tahu mengapa tempat ini diliputi

suasana bunuh membunuh? Tahukah kau sebab apa nyawa hampir tiada harganya di sini?”

“Aku….aku tidak tahu,” jawab Pwe-giok.

Jari tangan Ki Leng-hong yang putih lentik itu kembali berkejang, serunya dengan parau:

“Sebabnya karena dia suka membunuh orang, suka kepada kematian, dia suka menyaksikan

jiwa seseorang tamat di tangannya, semakin mengerikan kematian orang lain, semakin

gembira dia.”

Pwe-giok melenggong dan tak dapat bicara, berdiri bulu romanya.

Sungguh luar biasa. Di antara keluarga ini, antara suami dan istri, antara ayah dan anak,

seakan-akan penuh dendam dan benci, masing-masing saling mencaci maki dan mengutuki.

Pwe giok jadi bingung harus percaya kepada keterangan siapa?

Dengan sendirinya Ki Leng-hong dapat melihat sikap Pwe-giok yang ragu itu, katanya pula

dengan dingin: “Terserah kepadamu mau percaya tidak kepada ucapanku, percaya dan tidak

juga tiada sangkut-pautnya denganku.”

“Bu…..bukannya aku tidak percaya,” kata Pwe-giok dengan tergagap. “Aku cuma merasa, jika

seorang terhadap seekor hewan saja begitu welas-asih, masakah mungkin terhadap manusia

malahan bertindak kejam?”

“Kau bilang dia welas-asih terhadap hewan?” tanya Ki Leng hong sambil berkerut kening.

“Kulihat sendiri dia mengubur bangkai kucing dengan baik-baik, tatkala mana dia tidak tahu

aku berada di dekatnya, jelas dia tidak sengaja berbuat begitu agar dilihat olehku,” tutur Pwegiok.

“Hm,” jengek Ki Leng-hong dengan tersenyum aneh. “Dan tahukah kau siapa yang

membunuh kucing itu?”

“Memangnya siapa?” tanya Pwe-giok.

“Dia sendiri,” jawab Ki Leng-hong.

“Dia sendiri!?” tukas Pwe-giok, tanpa terasa ia merinding pula.

“Umpama bunga sedang mekar dengan semaraknya, iapun akan memetiknya untuk

dihancurkan lalu ditanamnya dengan baik-baik,” jengek Ki Leng-hong pula: “Pendeknya baik

bunga maupun kucing atau manusia sekalipun, asalkan melihat kehidupan yang baik, maka

dia menjadi sirik dan tidak tahan, tapi kalau kehidupan itu sudah mati, dia lantas tidak dendam

lagi. Asalkan mati barulah dapat memperoleh welas-asihnya. Jika kau mati, ia pun akan

mengubur kau dengan sebaik-baiknya.”

Tanpa terasa Pwe-giok merinding pula dan tidak sanggup bicara lagi.

Renjana Pendekar > Karya Khulung > Diceritakan oleh : GAN KL > buyankaba.com 122

“Di bawah tanah seluruh halaman perkampungan ini hampir penuh dengan mayat yang

dibunuh dan dikubur olehnya sendiri,” tutur Ki Leng-hong pula. “Jika kau tidak percaya,

boleh coba kau menggalinya pada sembarang tempat dan kau akan melihat buktinya.”

Pwe-giok jadi mual, dengan suara parau ia berkata: “Aku…..aku ingin pergi saja, makin jauh

makin baik.”

“Tapi sayang, biarpun ingin pergi juga tidak dapat pergi lagi sekarang.” jengek Ki Leng-hong.

Baru saja Pwe-giok berbangkit, demi mendengar ucapan itu, “bluk”, ia duduk kembali di

tempat tidurnya.

“Jika kau ingin hidup lebih lama, kau harus turut kepada perkataanku, kalau tidak, boleh kau

pergi saja dan takkan kurintangi!” habis berkata Ki Leng-hong benar-benar menyingkir ke

samping dan daun pintu masih terpentang.

Tapi Pwe-giok menjadi bingung, ia pandang pintu yang terbuka itu, ia tidak tahu apakah harus

lekas pergi atau lebih baik tetap tinggal di sini saja.

Ki Leng-hong memandang dengan dingin, katanya kemudian: “Tidak perlu kau kuatir akan

kedatangan orang di sini. Betapapun besar nyali Ki Song hoa juga takkan berani membawa

orang ke sini. Aku mempunyai cara untuk mengatasi dia, aku pun mempunyai akal untuk

melindungi kau.” Akhirnya Pwe giok berbangkit, tanyanya: “Kau akan melindungi diriku?”

“Ya, tidak perlu kau kuatir, selama aku berada di sini, tidak nanti kau mati!” ucap Ki Lenghong.

“Betul juga, dalam keadaan demikian, memang betul hanya di sinilah tempat yang paling

aman. Tapi ada sementara orang yang lebih suka menyerempet bahaya daripada minta

perlindungan orang. “Tapi kau jelas bukan orang macam begitu!” “Masa aku bukan?” ucap

Pwe giok dengan suara hambar, ia menarik napas panjang-panjang, lalu melangkah keluar.

Betapapun duka dan dongkol perasaannya, cara bicara Pwe-giok tetap halus dan sopan,

selamanya ia tidak suka bersikap kasar terhadap siapa pun. Tapi kalau orang lain menganggap

dia lemah dan penakut, maka salahlah dugaan demikian.

Agaknya Ki Leng-hong melengak juga melihat sikap tegas Pwe giok itu, serunya: “He, kau

benar-benar ingin mengantar nyawa?”

Tanpa menoleh dan tanpa menjawab Pwe-giok melangkah keluar.

“He, sudah buntu jalanmu, mengapa kau masih tetap keras kepala?!” seru Leng-hong pula.

Baru sekarang Pwe-giok berpaling, katanya dengan tenang: “Terima kasih atas perhatianmu,

aku mempunyai tempat tujuan sendiri.”

“Baiklah, pergilah kau,” dengus Ki Leng-hong.

“Kau akan mati atau tetap hidup kan tiada sangkut-pautnya denganku.”

Renjana Pendekar > Karya Khulung > Diceritakan oleh : GAN KL > buyankaba.com 123

Walaupun begitu ucapannya, tapi sudah jauh Pwe-giok melangkah pergi dia toh masih tetap

memandangnya dengan termangu-mangu.

*****

Pingsan Ji Pwe giok tadi agaknya sampai setengah harian lamanya, sekarang sudah dekat

magrib lagi.

Setiap kali Pwe-giok kehabisan tenaga dan pingsan, ia selalu mengira pasti tak tahan hidup

lagi.

Tapi aneh, setelah siuman, tenaga baru lantas timbul pula. Hal ini bukanlah disebabkan karena

pembawaannya yang kuat, sudah tentu lantaran khasiat siau hoan-tan pemberian Thian-kang

Totiang tempo hari.

Sekarang dia berada di tengah taman yang luas itu, cuaca sudah mulai remang-remang lagi, ia

menyusuri pepohonan dengan setengah berjongkok, agaknya orang-orang yang mencarinya

juga tidak menyangka dia berani berkeliaran di situ, makanya tiada orang berjaga dan

mengawasi di taman itu. Apalagi di taman yang luas dengan pepohonan yang lebat ini pun

tidak sukar baginya untuk menghindarkan pengawasan orang.

Akan tetapi ia pun jangan harap akan dapat menerobos keluar. Di balik pepohonan sana, di

sekeliling taman itu jelas ada bayangan orang, tampaknya di bawah setiap pohon dan di setiap

sudut yang gelap selalu ada bahaya yang sedang mengintai.

Pwe-giok terus menyelinap kian kemari, tujuannya hendak menemukan kembali rumah kecil

yang bobrok itu, sebab pada saat demikian ia merasa perkampungan “Sat jin-ceng” ini hanya

kakek Ko saja satu-satunya orang yang dapat diandalkan.

Tapi di tengah taman yang rindang dan gelap ini sukar baginya untuk membedakan arah. Dia

telah berputar kian kemari, mendadak ia menemukan dirinya berada pula di depan rumah

kertas yang terletak di tengah gunung-gunungan palsu dengan suara gemericiknya air itu.

Meski mayat yang bergelimpangan di situ sudah diangkut pergi, tapi bekasnya masih

kelihatan, pertarungan sengit yang mendebarkan itu seolah-olah terbayang pula di depan

matanya.

Cepat Pwe-giok membalik tubuh dan melangkah pergi tapi baru dua-tiga tindak, mendadak ia

berhenti.

Jika Ki Song-hoa telah menemukan dia di dalam liang rahasia di bawah rumah kertas ini,

maka siapapun pasti tidak menyangka dia akan kembali lagi ke situ. Jika demikian, bukankah

di sinilah tempat sembunyi yang paling aman?

Sesungguhnya Pwe-giok memang tiada jalan keluar lain, teringat demikian, ia tidak ragu lagi,

segera ia putar balik dan melompat masuk ke rumah berdinding kertas itu, kasuran itu digeser,

ia terus melompat ke dalam lubang.

Liang di bawah tanah itu tetap gelap gulita, Pwe-giok bersandar pada dinding batu yang

dingin dengan napas terengah-engah. Mungkinkah tersembunyi apa-apa di liang bawah tanah

yang gelap gulita ini?

Renjana Pendekar > Karya Khulung > Diceritakan oleh : GAN KL > buyankaba.com 124

Setelah napasnya tenang kembali, tanda tanya tadi semakin membuatnya ngeri. Tanpa terasa

ia mulai merayap ke depan.

Sekonyong-konyong tangannya menyentuh sesuatu, jelas tubuh seseorang.

Sungguh kagetnya tidak kepalang, di liang bawah tanah yang gelap ini ternyata ada orang

sedang menantikan kedatangannya.

Dalam kegelapan, ia merasa orang ini berduduk di situ dan memakai baju kain belacu.

“Siapa…..siapa kau?” tanya Pwe-giok dengan suara gemetar, jantungnya serasa mau berhenti

berdenyut.

Tapi orang itu tidak bergerak sama sekali, juga tidak menjawab.

Keringat berketes-ketes di dahi Pwe-giok, dengan menempel dinding ia coba menggeser

pelahan ke samping, ucapnya pula dengan suara parau: “Sesungguhnya siapa kau? Apa

kehendakmu bersembunyi di sini?”

Dalam kegelapan tetap tiada sesuatu suara, keheningan yang mencekam dan menyeramkan.

Tangan Pwe-giok yang merabai dinding sudah penuh keringat dingin, kakinya bergeser

sedikit demi sedikit, kakinya terasa sangat berat, seperti diganduli benda beribu kati.

Mendadak jarinya menyentuh sesuatu benda dingin, ia coba merabanya, kiranya sebuah

lentera tembaga.

Dinding di situ mendekuk, maka lentera itu terselip di dekukan itu. Di samping lentera ada

dua potong batu api, cepat Pwe-giok meraup batu api itu. Diketahuinya minyak pada lentera

itu belum lagi kering, ia ingin mengetik api, tapi tangan terasa gemetar sehingga selalu gagal

membuat api. Pwe-giok menarik napas panjang, katanya kemudian: “Sekarang aku sudah

memegang batu api biarpun kau tidak bersuara, asalkan api sudah menyala, segera akan

diketahui siapa kau, mengapa sampai sekarang kau tidak bicara?”

Dengan sendirinya perkataan Pwe giok itu tiada gunanya, paling-paling anak muda itu hanya

menggunakan ucapannya itu untuk menambah keberaniannya. Dan setelah omong begitu, dia

benar-benar bisa lebih tenang. “Cret”, akhirnya api dapat dinyalakan untuk menyulut sumbu

lentera.

Di bawah kerlipan cahaya api, dapatlah dilihatnya seorang kakek pendek kecil berduduk

bersimpuh di situ dengan mata terpejam, rambut dan jenggotnya sudah putih semua, bajunya

warna kuning muda dari kain belacu, air mukanya kurus kering dan pucat, tampangnya agak

mirip Ki Song-hoa, cuma terlebih seram.

Dingin tangan dan kaki Pwe-giok, tanyanya dengan suara terputus-putus: “Apakah…..

…..apakah kau ini ayah Ki Song-hoa? Masa…….. masa kau belum mati?”

Renjana Pendekar > Karya Khulung > Diceritakan oleh : GAN KL > buyankaba.com 125

Dari ujung kaki hingga kepala orang tua itu sama sekali tidak bergerak, bahkan rambut dan

jenggotnya juga tidak bergoyang sedikitpun, di bawah kerlipan cahaya lampu tampaknya

menjadi sangat seram dan misterius.

Pwe-giok menggreget dengan nekat ia mendekatinya. Sesudah dekat baru dilihatnya jenggot

dan rambut orang tua itu ada sesuatu yang tidak betul. Ia coba merabanya, benar juga,

memang terbuat dari malam. Jadi kakek ini tidak lebih hanya sebuah patung malam atau lilin.

Pwe giok jadi menyengir sendiri, tapi setelah dipikir lagi, ia menjadi ragu-ragu pula. Ia pikir

patung ini pasti patung ayah Ki Song hoa, mengapa disembunyikan di liang rahasia ini?

Ia coba mencari lagi ke depan, kecuali patung lilin ini ditemukan lagi sebuah ranjang kecil, di

samping ranjang ada sebuah almari kecil, di atas almari berserakan teko, cangkir, buku

dengan debu tebal.

Meski benda-benda ini cuma alat-alat keperluan sehari-hari tapi ditemukan di liang rahasia

yang tak berpenghuni, betapapun menimbulkan rasa misterius yang sukar dijelaskan.

Dengan heran dan sangsi Pwe-giok coba merenungkan hal ini, akhirnya ia paham duduknya

perkara: “Bisa jadi ayah Ki Song-hoa itu dipaksa orang atau demi mempertahankan nama

baiknya maka dia sengaja pura-pura ingin merenungkan kesalahan yang pernah diperbuatnya,

katanya ingin membaca kitab untuk merenungkan dosa, yang benar dia tidur saja di bawah

sini. Tapi demi mengelabui mata telinga orang, dia sengaja membuat patung lilin ini. Di harihari

biasa dia menaruh patung lilin ini di kamar berdinding kertas itu, karena orang lain toh

tak berani mengganggu nya, kalau dipandang dari jauh dengan sendirinya menyangka ia yang

berduduk di kamar ini.”

Analisa ini sangat masuk diakal, Pwe-giok sendiri merasa puas dengan hasil pemikirannya ini.

Tapi ia lantas menghela napas menyesal pula, sungguh tak terpikir olehnya bahwa ada

sementara orang yang tampaknya sangat suci, kenyataannya justeru kebalikannya, rendah dan

kotor perbuatannya.

Ia taruh lentera itu di atas almari, lalu coba membalik-balik kitab yang terletak di situ. Kitabkitab

itu ternyata buku bacaan umum dan bukan sebangsa kitab pusaka pelajaran ilmu silat

segala.

Pwe-giok rada kecewa.

Mendadak dilihatnya ada satu jilid buku, di dalamnya terselip beberapa carik kertas yang

bertuliskan kata-kata indah dan sajak asmara. Tampaknya tulisan perempuan.

Pwe-giok memang serba bisa, baik ilmu silat maupun sastra, sekali pandang saja ia lantas

paham arti yang terkandung dalam sajak itu, yaitu sajak rindu seorang perempuan terhadap

kekasihnya.

Padahal patung lilin itu berperawakan kerdil sama seperti Ki Song hoa, mukanya juga lucu,

masa orang macam begini juga bisa main roman, apakah mungkin ada perempuan yang jatuh

cinta terhadap lelaki demikian?

Renjana Pendekar > Karya Khulung > Diceritakan oleh : GAN KL > buyankaba.com 126

Pwe giok tersenyum sambil menggeleng, ditaruhnya buku itu. Mendadak dilihatnya pula di

bawah tempat tidur itu menongol ujung sebuah kantong kain bersulam, ia coba

mengambilnya. Dari dalam kantung sulaman itu mendadak jatuh sepotong batu Giok yang

berukir halus. Satu sisi batu kemala itu terukir gambar Bu-kek-to dan sisi lain cuma terukir

satu huruf, yaitu “Ji”.

Batu kemala ini ternyata benda pusaka milik keluarga Ji Pwe-giok.

Sungguh luar biasa dan sukar dimengerti bahwa benda mestika keluarga Ji bisa ditemukan di

tempat ini, sungguh suatu hal yang sukar dibayangkan.

Sampai lama Pwe-giok termangu-mangu, dilihatnya pula kantung kain itu bersulamkan potret

seorang perempuan, matanya jeli, wajahnya sangat cantik, jelas potret Ki-hujin.

Di samping potret sulaman itu terdapat pula dua baris huruf yang berbunyi: “Semoga

senantiasa berdampingan dengan anda, mohon janganlah ditinggalkan.”

Lalu di sisi bawah tersulam pula nama yang menyulam tulisan itu: “Bi-nio”.

Dengan sendirinya Bi nio ini adalah nama Ki-hujin. Meski sulaman berbeda dengan tulisan

tangan, tapi gaya tulisannya jelas serupa dengan sajak tadi.

Pwe-giok dapat membayangkan betapa hampa perasaan Ki-hujin setelah bersuamikan lelaki

kerdil macam Ki Song hoa, sebab itulah ia jatuh cinta pula kepada orang lain. Dan kekasihnya

itu ternyata anggota keluarga Ji.

Selagi Pwe-giok termenung-menung suara Ki-hujin seolah-olah mengiang pula ditepi

telinganya: “Dahulu ada seorang she Ji telah membunuh seorang yang sangat dekat denganku,

karena itu dalam perasaanku setiap orang she Ji pasti bukan orang baik-baik.”

Kalau dipikir sekarang, sebabnya Ki-hujin benci kepada orang she Ji tentunya bukan lantaran

orang she Ji itu membunuh orang yang paling rapat dengan Ki-hujin, tapi disebabkan orang

she Ji itu telah melukai hatinya.

Tentunya orang she Ji itupun terancam bahaya serupa Pwe-giok sekarang, lalu Ki-hujin

menyembunyikannya di gua rahasia ini. Tatkala mana ayah Ki song-hoa dengan sendirinya

sudah lama meninggal, tapi pada masa hidupnya mungkin tak terpikir olehnya bahwa gua

rahasianya yang digunakan menipu orang kemudian dapat digunakan anak menantunya untuk

menyembunyikan kekasih gelap.

Bisa jadi Ki-hujin sudah lama kenal orang she Ji itu, mungkin cintanya baru timbul ketika

melihat orang she Ji itu berada dalam bahaya. Pendek kata, orang she Ji itu jelas tidak setia

pada hubungan cinta mereka dan akhirnya telah meninggalkan Ki-hujin.

Setelah orang she Ji itu pergi, hidup Ki-hujin lantas merana dan kehilangan gairah, terpaksa ia

mencari hiburan di alam mimpi, makanya setiap hari Ki-hujin selalu berkeliaran kian kemari

seperti orang linglung, seperti arwah halus.

Memandangi Ki-hujin yang cantik pada gambar yang tersulam di kantung itu, kemudian ia

membayangkan pula Ki-hujin yang linglung itu, diam-diam Pwe-giok menghela napas

Renjana Pendekar > Karya Khulung > Diceritakan oleh : GAN KL > buyankaba.com 127

menyesal. Tapi iapun tidak dapat menerka sesungguhnya siapakah gerangan orang she Ji itu.

Kalau dihitung usianya orang itu tentunya kerabatnya dari angkatan yang lebih tua, tapi jelas

pasti bukan ayahnya.

Kisah cinta yang menyedihkan dan juga misterius ini, kecuali Ki-hujin dan si “dia” sendiri,

mungkin tiada orang lain lagi yang tahu seluk beluknya.

Pwe-giok menghela napas panjang dan bergumam: “Agaknya orang itu akhirnya ingkar janji

dan meninggalkan Ki-hujin, ia telah pergi dari sini… Tapi melalui mana dia pergi? Janganjangan

di lorong bawah tanah ini masih ada jalan tembus lain?”

Berpikir demikian, semangat Pwe-giok terbangkit lagi, segera ia kesampingkan urusan lain,

diangkatnya lentera tadi dan menyusuri lorong yang gelap itu.

Lorong di bawah tanah itu sempit lagi berliku-liku dan sangat panjang.

“Hampir di bawah setiap jengkal tanah pekarangan ini terdapat mayat korban yang dibunuh

dan dikuburnya sendiri… ” teringat kepada keterangan Ki Leng-hong ini, tanpa merasa Pwegiok

berkeringat dingin pula.

Namun di lorong bawah tanah ini tiada terdapat sesuatu mayatpun, akhirnya Pwe-giok dapat

mencapai ujungnya, Setelah diraba dan dicari sekian lamanya, akhirnya ditemukan tempat

yang merupakan kunci pintu lorong itu. Sebuah papan batu pelahan lahan bergeser.

Dari luar segera menyorot masuk cahaya terang. Girang sekali Pwe-giok, lentera itu

ditinggalkan dan segera ia menerobos keluar… sekonyong-konyong sebuah tangan merangkul

lehernya dengan erat. Tangan itu sedingin es.

“Akhirnya kau kembali juga, memang ku tahu kau pasti akan kembali lagi!” demikian suara

seorang berkata sambil tertawa terkikik-kikik.

Tidak kepalang kaget Pwe-giok, cepat ia menengadah, dilihatnya orang yang merangkulnya

itu ialah Ki-hujin, jalan tembus ini ternyata berada didalam kamar tidur Ki-hujin.

Ki-hujin terus menubruk ke dalam pelukan Pwe-giok dengan air mata bercucuran katanya

dengan suara gemetar: “O. betapa kejam kau, kau pergi tanpa pamit, sudah sekian lama siang

dan malam kurindukan kau, saking gemas ingin kubunuh kau… Tapi sekarang kau sudah

kembali lagi, rasanya aku dapat juga memaafkan kau.”

Ternyata secara kebetulan Pwe-giok telah memasuki lagi kamar tidur Ki-hujin, malahan

disangkanya sebagai kekasih sang nyonya rumah yang ingkar janji, keruan ia menjadi serba

susah. Katanya dengan menghela napas: “Ki-hujin, kau salah mengenali orang, aku bukan

orang yang kau rindukan itu, harap lepaskan diriku.”

Tapi makin erat Ki-hujin merangkulnya, ya menangis ya tertawa, katanya: “Sungguh kejam

kau, sampai sekarang kau masih ingin menipu diriku. Tapi aku tak dapat kau tipu lagi, takkan

kulepaskan kau lagi, selamanya takkan kubebaskan kau.”

Tentu saja Pwe-giok kelabakan, mendadak dilihatnya Ki Leng-hong juga berdiri disamping

sana dengan girang ia lantas berseru “He, nona Ki, tentunya kau tahu siapa diriku ini.”

Renjana Pendekar > Karya Khulung > Diceritakan oleh : GAN KL > buyankaba.com 128

Ki Leng-hong memandangnya dengan dingin, mendadak ia berkata dengan tertawa: “Sudah

tentu ku tahu siapa kau, kau adalah orang yang senantiasa dirindukan ibuku.”

“He, ken …. kenapa kaupun sengaja membikin susah padaku?” seru Pwe-giok.

“Kau telah membikin ibu menderita sekian tahun, sekarang sudah waktunya kau

menggirangkan hati ibu,” ucap Ki Leng-hong dengan tersenyum hambar.

Tidak kepalang kejut dan kuatir Pwe-giok, keringat dingin membasahi bajunya, ia ingin

meronta namun rangkulan Ki-hujin teramat erat dan sukar melepaskan diri.

Dengan tertawa linglung Ki-hujin mendorong Pwe-giok berduduk di atas tempat tidur,

dipegangnya tangan anak muda itu, katanya dengan mesra: “O, tahukah kau betapa

kurindukan kau? Apakah kau baik-baik saja selama ini?”

“Aku …. aku tidak …. bukan …. ” Pwe giok gelagapan.

Tapi sebelum lanjut ucapannya, Ki-hujin lantas berkata pula; “Ku tahu kau pasti sangat lelah

dan tidak ingin bicara. Tapi kita dapat bertemu pula setelah berpisah sekian lama, sungguh

hatiku girang tak terperikan …. He, Leng-hong, Kenapa tidak lekas kau ambilkan arak yang

telah kusiapkan baginya, rayakanlah pertemuan kembali kami ini.”

Ki Leng-hong benar-benar melangkah keluar untuk kemudian datang lagi dengan membawa

sebuah poci arak yang berbentuk aneh dengan dua cawan batu kemala.

Setelah menuang secawan penuh dan disodorkan kepada Pwe-giok, dengan tertawa genit Kihujin

berkata: “Sudah lama sekali tidak pernah ku bergembira seperti ini, secawan arak ini

harus kau minum.”

Pwe-giok tahu dalam keadaan demikian. biarpun dirinya putar lidah untuk menjelaskan juga

tiada gunanya, terpaksa ia mengikuti perkembangan selanjutnya, dengan menghela napas

iapun terima arak itu dan diminum habis.

“Nah, memang harus begitu,” kata Ki-hujin pula dengan lembut. “Ingatkah kau, waktu minum

arak bersama dahulu pernah kau katakan padaku bahwa selamanya kau takkan meninggalkan

diriku, apakah masih ingat?”

Pwe-giok menjawab dengan menyengir: “Aku.. .. ..aku …..”

Dengan gaya menggiurkan Ki-hujin berbangkit katanya pula sambil menatap Pwe-giok:

“Meski dahulu kau telah berdusta padaku, tapi setelah kau minum arak ini, selanjutnya kau

takkan berdusta lagi.”

Pwe-giok terkejut, segera ia merasakan hawa dingin menerjang ke atas melalui perut, seketika

kaki dan tangannya menggigil kedinginan, matapun berkunang-kunang. Tanyanya kaget: “He,

arak ini beracun?!”

“Ya, arak ini disebut Toan-jong-ciu (arak perantas usus),” tutur Ki-hujin dengan tertawa,

“Setelah kau minum arak ini, kau tak dapat lagi pergi secara diam-diam.”

Renjana Pendekar > Karya Khulung > Diceritakan oleh : GAN KL > buyankaba.com 129

“Tapi …. tapi orang itu bukan diriku, bu . . . .kan diriku ….” Pwe-giok melonjak dan berteriak

takut. Belum habis seruannya, “bluk”, ia jatuh terkapar dan tak tahu lagi apa yang terjadi.

Ki-hujin menyaksikan robohnya Pwe-giok, suara tertawanya perlahan-lahan berhenti, air mata

berbalik bercucuran, perlahan ia berjongkok dan membelai rambut anak muda itu, gumamnya:

“Aku masih ingat, waktu pertama kalinya dia menerobos keluar dari lorong bawah tanah ini,

tatkala mana aku sedang ganti pakaian. Aku terkejut dan gusar pula melihatnya munculnya

secara mendadak itu. Tapi dia sedemikian cakap, sedemikian ganteng, dia berdiri di situ dan

memandang diriku dengan tertawa, matanya . . . . ya matanya, pandangannya itu membuat

aku tak berdaya…”

Seperti orang mengigau di waktu mimpi Ki-hujin mengenangkan kejadian di masa yang

lampau, peristiwa yang menyenangkan dan menyusahkan itu seolah-olah berada pula di

dalam hatinya, akhirnya dia mulai mencari lagi malam bulan purnama dalam mimpinya.

Hambar Ki Leng-hong memandangi sang ibu, katanya kemudian dengan pelahan: “Tatkala

mana engkau tentunya sangat kesepian.”

“Kawin dengan suami begitu, perempuan mana yang takkan kesepian?” ucap Ki-hujin dengan

hampa. “Kesepian, ya kesepian itulah mengakibatkan aku tertipu olehnya.”

“Tapi apapun juga dia cukup baik padamu bukan?” kata Ki Leng hong.

Wajah Ki-hujin tambah cerah, katanya dengan tertawa: “Betul dia memang cukup baik

padaku, selama hidupku belum pernah merasakan kebahagiaan seperti pada waktu itu.

Seumpama aku tidak dapat melihat dia, asalkan terkenang padanya hatiku pun akan terasa

manis dan bahagia.”

“Justeru lantaran kalian terlalu bahagia sewaktu berkumpul, maka setelah dia pergi kau lantas

menderita,” ujar Leng hong.

Tangan Ki-hujin tampak mengejang lagi, serunya dengan parau: “Betul! Aku menderita, aku

tersiksa-siksa, aku benci…” jari tangannya mulai mengendor dan membelai rambut Pwe-giok

lagi, lalu katanya pula: “Tapi sekarang aku tidak lagi benci padanya. Sekarang, seluruhnya dia

sudah menjadi milikku, tiada seorangpun yang dapat merampas nya dari tanganku.”

“Cuma sayang, orang yang kau bunuh ini bukanlah si “dia” yang dulu itu,” jengek Leng-hong.

Ki-hujin terbahak-bahak seperti orang gila, teriaknya: “Hahahaha, bohong kau, kau pun ingin

menipu aku? Kecuali dia, siapa lagi yang dapat muncul dari lorong bawah tanah ini?”

“Meski lorong ini sangat dirahasiakan, tapi kalau si dia yang dahulu dapat menemukan lorong

rahasia ini, orang yang sekarang berbaring di sampingmu ini dengan sendirinya juga dapat

menemukannya,” demikian tutur Leng-hong dengan perlahan. “Sebabnya, mereka sama-sama

orang keluarga Ji, mereka sama-sama paham rahasia perhitungan Thay kek-to (Pat-kwa).”

Seketika berhenti suara tertawa Ki-hujin, teriaknya: “Tutup mulut…”

Renjana Pendekar > Karya Khulung > Diceritakan oleh : GAN KL > buyankaba.com 130

Tapi Ki Leng-hong tidak menghiraukan dan menyambung pula: “Sebenarnya kau sendiri juga

tahu orang ini bukanlah si dia, tapi kau sengaja menganggap orang ini adalah dia. Kau menipu

diri sendiri, sebab hanya dengan cara begini kau dapat terlepas dari penderitaan.”

Mendadak Ki-hujin menjatuhkan diri di lantai dan menangis seperti anak kecil, serunya

dengan suara parau: “O, mengapa kau sengaja membongkar isi hatiku? Mengapa kau bikin

aku menderita.”

Kaku air muka Ki Leng-hong, ucapnya dingin: “Kau cuma tahu aku membikin kau menderita,

tapi kau tidak tahu bahwa sudah lama kau membikin kami menderita, kau membikin kami

menderita sejak dilahirkan. Leng-yan masih dapat menghindarkan penderitaan dengan dunia

khayalannya, tapi aku… aku benci padamu!”

Sorot matanya yang dingin itu akhirnya mengembeng juga butiran air mata.

Mendadak Ki-hujin berbangkit, seperti orang kalap ia angkat Ji Pwe-giok dan meraung: “Kau

bukan dia! Kau bukan dia! Jika kau bukan dia, untuk apa kau datang kemari…” sambil

meraung ia terus melemparkan Pwe giok keluar jendela.

Cepat Ki Leng hong menyelinap keluar pintu, ia berdiri di serambi sana dan berteriak: “Ini dia

Ji Pwe-giok sudah mati, lekas kalian kemari melihatnya!”

Suaranya juga sangat dingin, suara yang melengking dingin ini berkumandang jauh terbawa

angin malam. Hanya sekejap saja dalam kegelapan muncul berbagai bayangan orang.

Orang yang melayang tiba lebih dulu adalah Pek-ho Tojin, berkat cahaya lampu yang

menembus dari jendela dapatlah dilihatnya jenazah Ji Pwe-giok. Dirabanya tubuh yang tak

bergerak itu, lalu berbangkit dan berkata dengan suara berat: “Betul, Ji Pwe-giok sudah mati!”

Anak murid Tiam-jong-pay yang sudah tiba berkata dengan menyesal: “Sungguh sayang kita

tak dapat membunuh bangsat ini dengan tangan sendiri.”

Dengan suara bengis Pek-ho Tojin berseru; “Meski tak dapat kita bunuh bangsat ini, setelah

mati mayatnya juga harus kita cincang…” di tengah bentakannya segera ia melolos pedang

terus menusuk jenazah Ji Pwe-giok.

Mendadak terdengar suara “trang” sekali, pedang Pek-ho Tojin tahu-tahu mencelat, Ki Songhoa

telah berdiri di samping jenazah Ji Pwe-giok dengan berlagak tertawa.

Ternyata pedang Pek-ho Tojin tergetar mencelat oleh tangkisan Ki Song-hoa, keruan Pek-ho

Tojin terkejut, serunya: “He.. Ki-cengcu, mengapa engkau bertindak demikian?”

“Cut-keh-lang (orang yang sudah meninggalkan rumah, artinya orang yang sudah menjadi

Tosu atau Hwesio) mana boleh bertindak sekejam ini, merusak mayat, hal ini sekali-kali tidak

boleh kau lakukan,” kata Ki Song-hoa dengan perlahan.

Pek-hoa Tojin melengak, jengeknya kemudian: “Hm, mulai kapan Ki cengcu berubah menjadi

welas-asih?”

“Apa?” Ki Song-hoa mendelik gusar. “Bilakah aku tidak welas-asih?”

Renjana Pendekar > Karya Khulung > Diceritakan oleh : GAN KL > buyankaba.com 131

Bahwa Sat-jin-cengcu mengaku sebagai orang yang welas-asih, sungguh Pek-hoa Tojin

merasa geli dan juga mendongkol, tapi demi ingat betapa lihay caranya orang membikin

pedangnya mencelat tadi mau-tak-mau ia rada jeri, katanya sambil memberi hormat: “Ya,

maafkan ucapan Tecu yang tidak pantas. … Bukan Tecu tidak tahu welas-asih, soalnya dosa Ji

Pwe-giok ini teramat besar dan tak terampunkan, jika dia mati begini saja, rasanya belum

cukup untuk menebus dosanya.”

“Betapapun besar dosanya waktu hidup, kalau sudah mati, ya lunas seluruhnya,” ujar Ki

Song-hoa. “Di dunia ini hanya orang matilah yang paling sempurna, orang hidup harus

menaruh segenap hormatnya kepada orang mati.”

Pek-hoa tojin tidak dapat membantah perkataan ini dan berkata: “Toh dia sudah mati,

mengapa kau masih…”

Ki Song-hoa memotong dan berkata dengan sungguh-sungguh “Ini adalah perkampunganku,

orang-orang mati adalah tamu-tamu sejati perkampungan ini. Jika dia masih hidup, kau bebas

untuk melakukan apa saja padanya. Tapi sekarang dia menjadi tamuku dan menjadi tanggung

jawabku untuk mengurusnya.”

Pek-hoa tojin berkata: “Baiklah jika demikian. Kami akan pergi sekarang. Kami akan

membawa mayatnya. Meskipun dia telah membunuh guru kami, dia tetap murid Kun-lun.

Terima kasih atas kesediaan anda menampung kami.”

Ki Song-hoa berkata: “Aku tidak peduli apakah ketika dia masih hidup dia murid Kun-lun

atau Hoa-san. Setelah dia mati, tubuhnya menjadi milikku. Siapa yang ingin membawanya

harus mengalahkanku terlebih dahulu.”

Ki Song-hoa berdiri siap menghadapi siapapun yang berani membawa tubuh Pwe-giok.

Murid-murid Kun-lun dan Tiam-jong saling memandang kehabisan akal mau berbuat apa.

Pek-hoa akhirnya berkata: “Betapapun juga, Ji Pwe-giok kini telah meninggal! Dendam

kematian guru kita telah terbalas, lebih baik kita mematuhi kehendak Ki cengcu”

Ki Song-hoa cepat-cepat lari sambil membawa tubuh Ji Pwe-giok.

Ki Leng-hong berdiri mengawasi apa yang terjadi dengan dingin. Kelihatannya, dia sudah

menduga akhirnya jadi begini.

Pek-hoa tojin ingin mengatakan sesuatu tapi Ki Song-hoa sudah pergi berlalu.

Pek-hoa menghentakkan kakinya dan berkata dengan marah: “Seluruh orang di

perkampungan ini idiot semua! Mari kita cepat-cepat pergi menjauh dari tempat terkutuk ini.”

Ki Song-hoa mengganti pakaian Ji Pwe-giok dan membersihkan debu kotoran di wajahnya.

Mungkin di dunia ini tiada orang lain lagi yang begini lembut memperlakukan sesosok mayat.

Habis itu, Cengcu kerdil itu mendapatkan sebuah cangkul di balik semak-semak pohon sana

dan mulai menggali. Dari sorot matanya tampak rasa gembira yang kelewat batas, tapi di

mulut dia justeru bergumam dengan menyesal: “O, anak yang harus dikasihani, masih muda

Renjana Pendekar > Karya Khulung > Diceritakan oleh : GAN KL > buyankaba.com 132

belia begini kau sudah mati, sungguh sangat sayang. Salahmu sendiri, tidak mau turut pada

nasihatku, kalau tidak masakah kau sampai mati diracuni perempuan siluman itu.”

“Jika dia turut kepada perkataanmu, mungkin dia akan mati terlebih mengerikan,” demikian

mendadak suara seorang menanggapi. Di bawah cahaya bintang yang remang-remang

kelihatan sesosok bayangan berdiri di samping sana, siapa lagi kalau bukan Ki Leng-hong.

Jilid 6________

Seketika Ki Song-hoa melonjak murka, teriaknya sambil memukuli dada sendiri: “Kau, kau

datang lagi! Kenapa kau selalu mengganggu diriku, apakah tak dapat aku diberi sedikit

ketenangan?!”

“Dia sudah mati, mengapa tidak kau berikan ketenangan pula?” jawab Leng-hong dengan

hambar.

“Justru sekarang akan kuberi ketenangan abadi baginya dengan membaringkannya di bawah

tanah” kata Ki Song-hoa.

“Orang yang kau kubur mana bisa tenang? Bisa jadi setiap saat kau akan kembali lagi ke sini

dan menggalinya untuk diperiksa pula” jengek Ki Leng-hong.

Dengan gusar Ki Song-hoa berkata: “Mana boleh kau bicara demikian kepadaku?…

Seumpama aku bukan ayahmu, berdasarkan apa pula kau kira aku takut padamu? Enyah,

lekas enyah! Kalau tidak, bisa ku kubur kau hidup-hidup bersama dia.”

Namun Ki Leng hong tanpa bergerak, ucapnya pelahan: “Tak nanti kau berani menyentuh

diriku, betul tidak?…….. Kau tahu sebelum wafat kakek telah banyak menyerahkan rahasia

padaku, satu di antaranya adalah paling ditakuti mu.”

Kata-kata Leng-hong ini ternyata sangat manjur, seketika Ki Song-hoa menjadi lesu, katanya:

“Sesungguhnya apa kehendakmu?”

“Mayat ini adalah kepunyaanku, tidak boleh kau sentuh dia!” ucap Leng-hong dengan tegas.

“Hahahahaha! Sungguh lucu, mengapa kau pun merasa tertarik pada orang mati? Apakah

kaupun serupa diriku… Aha, memang betul, betapapun kau juga she Ki, biarlah kuberikan

mayat ini padamu.”

Sambil berjingkrak gembira dan tertawa latah, lalu Ki Song-hoa berlari pergi.

Ki Leng-hong mengangkat tubuh Ji Pwe-giok, gumamnya: “Orang lain sama menganggap kau

sudah mati, siapa pula yang tahu bahwa orang mati kadang-kadang juga dapat hidup

kembali.”

Angin dingin menghembus, cahaya bintang berkerlip redup, alam ini memang penuh

kegaiban.

*****

Renjana Pendekar > Karya Khulung > Diceritakan oleh : GAN KL > buyankaba.com 133

Di atas batu-batu raksasa itu sudah banyak lumut hijau, di sudut-sudut yang gelap penuh

sawang, sampai-sampai debu kotoran juga berbau apek.

Di dalam rumah batu yang seram ini tiada terdapat jendela, tiada angin, tiada cahaya matahari,

apapun tidak-ada, yang ada cuma hawa kematian.

Di atap rumah yang tinggi dan lebar itu ada sebuah lubang bundar kecil, setitik sinar matahari

menembus masuk dari situ, langsung menyoroti tubuh Ji Pwe-giok.

Anak muda itu sedang gemetar, jangan-jangan Pwe giok benar-benar telah hidup kembali?

Pelahan ia membuka mata, hampir-hampir ia sendiripun terperanjat. Cepat ia melompat

bangun, maka terlihatlah pemandangan di dalam rumah batu ini.

Seketika dapat diterkanya tempat ini pasti rumah kuburan yang misterius itu. Kini ia ternyata

berada di dalam makam leluhur keluarga Ki.

Kaki dan tangan Pwe-giok terasa dingin, tanpa terasa ia menggigil, pikirnya: “Tentunya aku

sudah mati, maka dikubur di sini…. Tapi orang mati masa dapat bergerak?… Jangan-jangan

sekarang aku telah berubah menjadi setan, menjadi arwah halus?”

Ia kucek-kucek matanya, segera dilihatnya satu orang.

Orang ini berbaju kain belacu putih, duduk di suatu kursi yang longgar dan besar, mukanya

kuning, tanpa bergerak, tempatnya juga sangat seram dan penuh misterius.

Tapi Pwe-giok tidak merasakan apa-apa, ia pikir tentu sebuah patung lilin lagi.

Ia coba berjalan ke depan, ia merasa di ruangan ini ada silirnya angin, dengan sendirinya

angin masuk dari lubang kecil di atap rum ah itu sehingga rambut dan jenggot “patung lilin”

tertiup bergerak-gerak.

Jelas itu bukan patung lilin, tapi benar-benar seorang manusia.

“Siapa kau?!” bentak Pwe-giok terkejut.

Orang itu tetap diam saja tanpa bergerak seakan-akan tidak mendengar suaranya.

Pwe-giok pikir dirinya kan sudah mati, apa yang mesti ditakuti? Segera ia melangkah ke sana,

mendekati orang itu, ia coba memegangnya, memang betul seorang manusia, tapi manusia tak

bernyawa.

Terasa hawa dingin menyusup ke tubuhnya melalui jarinya, cepat Pwe-giok menarik kembali

tangannya. Waktu ia berpaling, ternyata di situ tidak cuma seorang ini saja, masih banyak

orang lagi, orang mati seluruhnya.

Kiranya jenazah leluhur keluarga Ki tidak ditanam, jenazah mereka telah dibalsam sehingga

semua jenazah masih utuh, tidak membusuk untuk selamanya.

Renjana Pendekar > Karya Khulung > Diceritakan oleh : GAN KL > buyankaba.com 134

Sejauh mata memandang terlihat setiap mayat itu berduduk di suatu kursi yang longgar dan

besar. Pwe-giok seolah-olah berada di tengah-tengah mayat itu. Meski diketahui “orangorang”

ini sudah tak dapat bergerak lagi dan tidak nanti membikin susah padanya, tapi

merembes juga keringat dingin Pwe-giok.

Cahaya yang remang-remang menyoroti wajah mayat-mayat itu, setiap wajah mayat itu sama

dingin dan kurus kering, namun air muka mereka tetap dalam keadaan yang wajar, tidak

mengunjuk keberingasan yang menakutkan, namun sikapnya yang dingin itu tampaknya

menjadi lebih menyeramkan. Berada di tengah-tengah mayat ini tiada ubahnya seperti berada

di neraka.

Pandang sini dan lihat sana, darah di tubuh Pwe-giok seakan-akan beku, ia tidak tahan,

akhirnya ia menjerit ngeri terus menerjang keluar.

Di dalam rumah batu itu masih ada sebuah kamar batu, sekeliling kamar batu ini juga

berduduk tujuh-atau delapan orang mati, semuanya juga duduk di atas kursi dengan sikap

kaku dan dingin.

Pandangan Pwe giok yang pertama lantas tertuju kepada sebuah wajah yang kurus kering dan

aneh, yaitu yang serupa dengan patung lilin yang dilihatnya di lorong bawah tanah sana.

Dengan sendirinya inilah mayat ayah Ki Song-hoa yang sesungguhnya.

Tampaknya orang ini mati belum terlalu lama, hal ini terbukti dari bajunya yang jauh lebih

baru daripada mayat-mayat lain.

Selagi Pwe-giok memandang sana dan memandang sini, sekonyong-konyong seorang mati di

sampingnya dapat berdiri dan menegurnya: “Kau… kau pun datang ke sini?!”

Sungguh kaget Pwe-giok sukar dilukiskan, hampir pecah nyalinya.

Dilihatnya orang inipun memakai belacu putih, malahan mukanya juga dibalut dengan kain

putih, bahkan orangnya lantas mendekati Pwe-giok dengan langkah berat.

Kaki dan tangan Pwe giok terasa lemas, setindak demi setindak ia menyurut mundur,

teriaknya dengan parau: “Kau… kau…” hanya kata ini saja yang dapat diucapkannya dan sukar

melanjutkan pula.

Orang itu lantas berhenti dan memandangi Pwe-giok, katanya pelahan: “Jangan takut, aku

bukan setan.”

“Kau …. kau bukan setan? Lalu sia ……. siapa kau?” tanya Pwe-giok.

Cukup lama orang itu berpikir, mendadak ia bergelak tertawa dan berseru: “Aku Ji Pwegiok!”

“Hah, kau Ji Pwe-giok? Lantas siapa… siapa diriku?” teriak Pwe-giok dengan kaget luar

biasa.

Orang itu tidak bicara lagi, tapi mulai membuka kain pembalut mukanya selapis demi selapis

sehingga terlihat mukanya yang penuh bekas luka.

Renjana Pendekar > Karya Khulung > Diceritakan oleh : GAN KL > buyankaba.com 135

Sampai lama sekali Pwe giok memandang wajah yang rusak ini, akhirnya ia berseru: “He,

bukankah engkau ini Cia . . . Cia Thian pi, Cia cianpwe?”

Bahwa Cia Thian-pi bisa muncul di rumah hantu ini, hal ini benar-benar membuatnya terkejut

melebihi melihat setan.

Cia Thian-pi tersenyum pedih, ucapnya: “Betul, aku memang Cia Thian pi adanya, tak

tersangka kau masih dapat mengenali diriku.”

“Wah, tadi Cia cianpwe benar-benar telah membikin kaget padaku,” ujar Pwe-giok dengan

menyengir.

Dengan menyesal Cia Thian-pi berkata: “Sudah sekian lama berkumpul dengan orang mati di

dalam makam ini, ketika mendadak melihat kedatanganmu, saking kejut dan girangnya aku

lantas bergurau denganmu.”

“Mungkin Cianpwe sengaja hendak melihat bagaimana sikapku setelah mendengar ucapanmu

tadi, untuk mengetahui apakah aku ini benar-benar Ji Pwe-giok atau bukan.”

“Betul” kata Cia Thian-pi dengan menghela napas. “Di seluruh dunia sekarang, mungkin

hanya kau saja yang dapat memahami isi hatiku. Hanya aku pula yang memahami

perasaanmu. Betapa aneh pengalamanmu dan betapa malang nasibmu, baru sekarang aku

percaya penuh.”

Pedih hati Pwe-giok, ucapnya dengan rada gemetar: “Dan Cianpwe sendiri… “

“Ya, meski sekarang aku sudah percaya, tapi sayang, tiada gunanya lagi.” tukas Cia Thian-pi.

“Nasibku sekarang jelas serupa dengan kau, mungkin hidupku ini harus ku lalui di tempat

gelap begini untuk selamanya.”

“Cara bagaimana Cianpwe berada di sini?”

“Malam itu di perkemahanku, cukup banyak juga ku tenggak arak sehingga terasa rada

mabuk, menjelang tengah malam aku tertidur dengan lelapnya. Tiba-tiba seorang

menggoyang tubuhku dan membangunkan aku serta bertanya siapa diriku?”

“Dia menerobos ke dalam kemah, belum lagi Cianpwe tanya siapa dia, sebaliknya dia malah

bertanya lebih dulu kepada Cianpwe, orang aneh dan kejadian aneh ini sungguh jarang

terjadi.”

“Tatkala mana akupun sangat mendongkol,” tutur Cia Thian-pi pula. “Tapi begitu aku

memandangnya, seketika aku tak dapat… tak dapat bersuara.”

“Sebab apa?” tanya pwe-giok.

“Lampu dalam perkemahanku waktu itu masih menyala, di bawah cahaya lampu dapat kulihat

muka orang itu, mata alisnya, raut wajahnya, semuanya serupa benar dengan diriku, rasanya

seakan-akan aku sedang berkaca atas diriku sendiri.”

Renjana Pendekar > Karya Khulung > Diceritakan oleh : GAN KL > buyankaba.com 136

“Hm, ternyata benar bangsat itu,” desis Pwe-giok dengan geram.

“Aku terbelalak memandangi dia, dia juga terbelalak menatap diriku.

Dia malah berkata: “Akulah Cia Thian-pi dari Tiam-jong, mengapa kau tidur ditempatku?”

Waktu itu aku masih sangsi kalau mabuk ku belum lenyap, aku menjadi bingung oleh

ucapannya itu. Serupa kau tapi, akupun berteriak “Kau Cia Thian-pi?… lantas siapa diriku?”

“Rupanya karena pengalaman Cianpwe itu, maka setelah mendengar ucapanku tadi Cianpwe

lantas yakin diriku ini Ji Pwe-giok tulen,” ucap Pwe-giok dengan menyesal. “tapi kemudian

apa pula yang diperbuat oleh bangsat itu.”

“Setelah mendengar teriakanku, bangsat itu malah mendamperat diriku, ia menuduh aku

memalsukan wajahnya, bahkan menyatakan bahwa orangnya dapat dipalsu, tapi ilmu pedang

Tiam-jong-pay tidak dapat dipalsu. Dia justeru menantang aku agar menentukan siapa lebih

unggul, yang unggul ialah Cia Thian-pi tulen, yang asor adalah palsu dan harus enyah.”

“Jika begitu, jelas ilmu pedang bangsat itu bukan tandingan Cianpwe,” ujar Pwe-giok.

“Kau salah sangka.” kata Cia Thian-pi dengan tersenyum pedih. “betapa keji dan perencanaan

orang-orang itu sungguh sukar dibayangkan. Ternyata dalam arak yang kuminum itu di luar

tahuku telah diberinya obat bius sehingga aku tidak mampu mengerahkan tenaga sama sekali,

tidak sampai tiga jurus pedangku sudah tersampuk jatuh oleh pedangnya dan ilmu pedang

yang digunakannya memang betul Tiam-jong-kiam-hoat tulen.”

“Dan Cianpwe lantas didesak pergi secara begitu?” tanya Pwe-giok.

“Memangnya apa yang dapat kuperbuat lagi?” tutur Cia Thian-pi. “Tatkala mana Ji Hong-ho,

Ong Uh lau dan lain-lain serentak muncul juga, rupanya mereka sebelumnya sudah

bersembunyi di situ, dalam kedudukannya sebagai Bengcu, dia telah menyingkirkan anak

muridku ke tempat lain, lalu…”

“Mungkin waktu itu Cianpwe sendiri tidak tahu bahwa merekapun palsu seluruhnya.” kata

Pwe-giok dengan gemas.

“Ya, tatkala itu aku memang tidak pernah membayangkan akan terjadi begitu, demi nampak

datangnya Bengcu, aku menjadi girang. Siapa tahu mereka lantas menuduh aku inilah yang

memalsukan Cia Thian-pi.” dengan tangan gemetar ia pegang tangan Pwe-giok, tangannya

sudah penuh keringat, nadanya sangat sedih, sambungnya pula:

“Saat itulah baru kurasakan betapa susahnya orang yang terfitnah. Dadaku serasa mau

meledak, tapi apa dayaku, anggota badan terasa lemas, aku tidak sanggup melawan, akhirnya

aku dibekuk oleh mereka dan diangkut ke atas kereta serta dibawa pergi…”

“Orang… orang she Ji itupun berada di kereta itu?” tanya Pwe-giok.

“Meski dia tidak ikut di dalam kereta, tapi dia memerintahkan beberapa lelaki kekar

membawa pergi diriku, jelas aku hendak dibunuhnya ditempat jauh dan sepi. Waktu itu

Renjana Pendekar > Karya Khulung > Diceritakan oleh : GAN KL > buyankaba.com 137

keadaanku hampir tak bertenaga sama sekali, orang biasa saja tak dapat kulawan, apalagi anak

buah bangsat itu.”

“Jika demikian, bahwa Cianpwe masih dapat menyelamatkan diri, boleh dikatakan lolos dari

lubang jarum.”

“Ya, kalau tindakan mereka tidak terlalu rapi, bisa jadi aku takkan hidup sampai saat ini.”

“Aneh, mengapa berbalik begitu?” tanya Pwe-giok heran.

“Coba kalau mereka membunuhku di sembarangan tempat, tentu jiwaku sudah melayang.

Tapi mereka justeru kuatir perbuatan jahat mereka diketahui orang, kuatir pula tindakan

mereka akan meninggalkan bukti…” ia tersenyum pedih dan menyambung pula: “Padahal

hendak membunuh orang semacam diriku rasanya juga tidak mudah, mereka harus mencari

suatu tempat yang baik. Sedangkan tempat pembunuhan yang paling baik di seluruh dunia ini

mungkin tiada yang lebih baik daripada Sat-jin-ceng.”

“Betul di sat-jin-ceng ini, membunuh orang ibaratnya orang membabat rumput, siapapun tidak

perduli dan tanpa perkara.” ujar Pwe-giok dengan menyesal.

Ia menunggu cerita Cia Thian-pi lebih lanjut, tapi sesampai di sini Cia Thian-pi lantas

berhenti dan tidak menyambung lagi.

Selang sejenak, Pwe-giok tidak tahan, ia bertanya: “Melihat luka Cianpwe yang parah ini,

mungkin kawanan bangsat itu sengaja membuat Cianpwe tersiksa untuk kemudian mati

dengan sendirinya.”

“Ya, memang begitu kehendak mereka.” kata Cia Thian-pi.

“Dan entah cara bagaimana Cianpwe mendapat pertolongan dan mengapa pula sampai di

sini?” Pwe-giok coba memancing.

Cia Thian-pi berpikir sejenak, tuturnya kemudian: “Sudah tentu inipun secara kebetulan saja,

cuma… cuma kejadian ini menyangkut rahasia orang ketiga, sebelum mendapat

persetujuannya, maafkan, tak dapat kuceritakan padamu.”

Dan sebelum Pwe-giok bertanya pula, dengan tertawa ia bertanya: “Dan dengan cara

bagaimana kau pun datang ke sini?”

Pwe-giok menghela napas sedih, jawabnya: “Tecu… Tecu sudah dianggap orang mati dan

dikubur di sini.”

“Orang mati?” Cia Thian-pi menegas dengan heran. “Jangan-jangan kau…”

Belum lanjut ucapannya, tiba-tiba seorang menyela dengan dingin: “Ucapannya memang

tidak salah, dia memang sudah mati satu kali, cuma saat ini dia sudah hidup kembali.”

Di bawah cahaya yang remang-remang muncul sesosok bayangan putih dengan rambutnya

yang terurai, tertampak matanya yang indah mempesona dan wajahnya yang cantik laksana

Renjana Pendekar > Karya Khulung > Diceritakan oleh : GAN KL > buyankaba.com 138

dewi itu. Ditempat yang suram begini tampaknya lebih mirip badan halus dan membuat orang

yang melihatnya seakan-akan berhenti bernapas.

Perpaduan antara badan halus dan dewi itu bukan lain ialah Ki Leng-hong.

Cia Thian-pi seperti juga terkesima oleh kecantikan yang tiada taranya serta keangkeran yang

sukar dilukiskan itu. Ia termangu-mangu sejenak, kemudian berkata dengan tertawa: “Ah,

jangan nona berkelakar, orang mati mana bisa hidup kembali?”

“Akulah yang membuatnya hidup kembali.” kata Leng-hong dengan pelahan. Suaranya

hambar, seolah-olah memang mengandung semacam kekuatan gaib yang dapat

mengendalikan mati atau hidup manusia. Sorot matanya yang dingin itu seakan-akan

menyembunyikan segala macam rahasia yang dapat menentukan mati atau hidup seseorang.

Cia Thain-pi dan Ji Pwe-giok saling pandang tak dapat bicara.

Dilihatnya Ki Leng-hong telah mendekati patung lilin yang serupa dengan patung di lorong

bawah tanah itu serta menyembahnya tiga kali dengan khidmat. Mendadak ia berkata: “Di

makam ini seluruhnya adalah leluhur keluarga Ki. Tentunya kalian heran mengapa aku cuma

menyembah dia saja? Biarlah kuberitahu, sebabnya dia pernah menyelamatkan diriku, seperti

halnya aku telah menyelamatkan kalian.”

Pwe-giok dan Cia Thian-pi tambah bingung dan tidak tahu bagaimana harus menjawab.

Ki Leng-hong telah berbangkit dan membalik tubuh, ditatapnya Cia Thian-pi, katanya:

“Dalam keadaan kempas kempis dan tak berdaya, jelas kau pasti akan terbunuh, akulah yang

membuat mereka menyangka kau sudah mati, kemudian ku pancing pergi mereka dan

membawa kau ke sini, kau tahu tidak?”

“Ya, budi pertolongan nona takkan kulupakan selama hidup.” kata Thian-pi.

“Sebagai seorang ketua suatu perguruan ternama, ternyata harus ditolong oleh seorang gadis

yang tak terkenal, tentu dalam hati kau merasa malu, makanya tadi ketika ditanya orang, kau

enggan menjelaskannya, begitu bukan?”

“Ah, nona telah salah paham.” jawab Thian-pi dengan menyengir. “soalnya Cayhe ingin…”

“Aku memang berpikiran sempit.” dengan ketus Ki Leng-hong memotong. “Barang siapa

sudah ku tolong, selama hidupnya harus selalu ingat kepada budi pertolonganku, kalau tidak,

akupun dapat membuatnya mati. Untuk itu hendaklah kau ingat dengan baik.”

Cia Thian-pi melongo mendengarkan perkataan Ki Leng-hong itu.

Nona itu tidak menggubrisnya lagi, ia berpaling ke arah Pwe-giok dan berkata pula: “Dan kau,

hakekatnya kau sudah mati, setiap orang sudah merabai mayatmu dan menyatakan kau sudah

mati. Tapi aku telah membuat kau hidup kembali, Meski di mulut kau tidak bicara, di dalam

hati tentu kau tidak percaya. Orang mati masa bisa hidup kembali, begitu bukan?”

Renjana Pendekar > Karya Khulung > Diceritakan oleh : GAN KL > buyankaba.com 139

Pwe-giok terdiam sejenak, katanya kemudian: “Cayhe tidak pernah menaruh curiga, tapi

sekarang sudah kupikirkan, rahasia mati dapat hidup kembali pasti terletak pada arak yang

kuminum itu.”

“Meski tampaknya kau dungu nyatanya tidaklah bodoh.” Jengek Leng-hong. “Memang betul,

arak yang kuberikan itu bukanlah Toan-jiong ciu millik Hujin, tapi To-ceng ciu (arak

menghindari cinta).”

“Hah, arak bernama To-ceng, sungguh nama yang bagus.” kata Pwe-giok dengan tertawa.

“Konon arak ini buatan seorang sastrawan termasyhur di jaman dahulu.” tutur Ki Leng-hong.

“Dia terlibat di tengah tiga perempuan yang mencintai dia, selama puluhan tahun dia

terombang-ambing di tengah kerumunan wanita cantik itu, akhirnya ia merasa kewalahan dan

ingin membebaskan diri, sebab itulah dia berusaha menyuling arak khas ini. Setelah diminum,

seketika pernapasannya berhenti, kaki dan tangan dingin serupa dengan orang mati. Tapi

dalam waktu 24 jam dapat hidup kembali. Berkat arak itulah dia dapat melepaskan diri dari

godaan ketiga perempuan itu dan dapat bebas, sebab itulah dia menamai araknya sebagai Toceng-

ciu.”

“Sungguh tak tersangka arak buatan orang yang romantis di jaman dahulu, sekarang telah

menyelamatkan jiwaku.” ujar Pwe-giok dengan menghela napas.

“Tapi jangan kau lupakan, yang menyelamatkan kau bukan To-ceng-ciu itu melainkan aku.”

jengek Leng-hong.

“Budi kebaikan nona sudah tentu takkan kulupakan selama hidup.” kata Pwe-giok sambil

menyengir.

Dengan tatapan tajam Leng-hong bertanya pula padanya: “Tahukah kau, sebab apa ku tolong

kau?”

“Aku…. ini….” Pwe-giok menjadi gelagapan. Sudah tentu, siapapun tak dapat menjawab

pertanyaan ini.

“Jika kau sangka lantaran ku jatuh cinta padamu maka ku tolong kau, maka salahlah kau,”

kata Leng-hong pula. “Sama sekali aku bukan perempuan yang mudah jatuh cinta, kaupun

tidak perlu bangga bagi diri sendiri.”

Sekenanya dia menerka jalan pikiran orang lain tanpa peduli betul atau salah, juga tidak

memberi kesempatan bagi orang lain untuk membantah, dengan muka merah baru saja Pwegiok

hendak bicara sudah didahului lagi olehnya: “Sebabnya ku tolong kau sama seperti

halnya ku tolong Cia Thian-pi, yakni supaya kau selalu ingat akan budi pertolonganku.”

Seketika Pwe-giok melenggong juga.

Didengarnya Leng-hong berkata pula: “Tentunya dalam hati kalian sekarang sedang berpikir

bahwa aku ini bukan seorang Kuncu (ksatria sejati), memberi pertolongan dengan

mengharapkan balas jasa.”

“Ah, mana Cayhe berani berpikir demikian.” kata Cia Thian-pi.

Renjana Pendekar > Karya Khulung > Diceritakan oleh : GAN KL > buyankaba.com 140

“Kau tidak berpikir demikian, aku justeru berpikir begitu,” jengek Leng-hong. “Aku memang

bukan seorang Kuncu, aku memang mengharapkan balas jasa. Nah, setelah kuselamatkan jiwa

kalian, coba, cara bagaimana kalian akan membalas budi padaku?”

Cia Thian-pi menjadi bingung, dipandangnya Ji Pwe-giok, ternyata anak muda itupun sedang

memandangnya. Keduanya jadi saling pandang dengan melongo dan tak dapat menjawab.

“Bagaimana, setelah menerima budi pertolonganku, apakah kalian tidak ingin membalas?”

tanya Leng-hong dengan gusar.

“Budi pertolongan nona sudah tentu ….” tergagap-gagap Pwe-giok.

“Huh, aku tidak suka kepada segala omong kosong tentang selama hidup takkan melupakan

budi pertolonganmu segala. Jika kalian ingin balas budi, kalian harus menyatakan dengan

tegas cara balas budi yang nyata.”

Seperti orang menagih utang saja cara si nona mendesak orang membalas budi, sungguh

jarang ada orang macam begini di dunia ini.

Cia Thian-pi hanya menggeleng dengan menyengir saja, katanya kemudian: “Entah cara

bagaimana kami harus membalas budi menurut pendapat nona?”

Mendapat Ki Leng-hong berpaling menghadapi orang mati tadi dan berkata: “Tahukah kalian

siapa dia?”

“Bukankah dia…… ayah Ki Song-hoa?” kata Pwe-giok.

Dia tidak bilang “kakekmu”, tapi bilang “ayah Ki Song-hoa”, sebab dia sudah dapat meraba

riwayat hidup nona ini pasti ada sesuatu yang ganjil dan rahasia, hakekatnya tidak mengakui

dirinya adalah keturunan keluarga Ki.

Benar juga, Ki Leng-hong lantas berkata: “Betul dia inilah Ki Go-ceng, aku menghormat dan

menyembah padanya bukan lantaran dia ayah Ki Song-hoa, juga bukan disebabkan dia pernah

menyembuhkan penyakitku yang parah, tapi karena kepintarannya, dia pernah meramal

bahwa di dunia Kangouw pasti akan timbul kekacauan yang belum pernah terjadi selama ini,

dan diriku ini justeru dilahirkan karena jaman kacau ini….”

Mendadak ia membalik tubuh lagi ke sini, sorot matanya tampak merah membara, ia berteriak

pula: “Jika aku dilahirkan di jaman demikian, jaman ini harus pula menjadi milikku. Sebab

itulah kuminta kalian tunduk pada perintahku, bantulah pekerjaanku. Aku telah

menghidupkan kalian, akupun menghendaki kalian rela mati bagiku.”

Sungguh Pwe-giok dan Cia Thian-pi tidak pernah menyangka nona yang masih muda belia ini

ternyata mempunyai ambisi sebesar ini, tanpa terasa mereka jadi melenggong.

Dari bajunya Ki Leng-hong lantas mengeluarkan sebuah botol kayu kecil, katanya: “Di dalam

botol ini ada dua biji obat, makanlah kalian, bila kalian siuman nanti, kalian akan berubah

menjadi manusia baru, sama sekali baru, orang lain takkan kenal kalian lagi, akupun

Renjana Pendekar > Karya Khulung > Diceritakan oleh : GAN KL > buyankaba.com 141

menghendaki kalian melupakan segala apa yang telah lalu dan cuma mengabdi bagiku, sebab

jiwa kalian adalah pemberianku.”

“Dan kalau kami tidak mau terima?” kata Cia Thian-pi dengan air muka berubah.

“Hm,” Leng-hong mendengus. “Jangan kau lupa, setiap saat dapat kucabut pula nyawamu.”

Dia terus melangkah maju dua tindak, tanpa terasa Cia Thian-pi dan Pwe-giok lantas

menyurut mundur dua tindak.

Pada saat itulah sekonyong-konyong terdengar seorang tertawa latah di luar rumah hantu itu:

“Budak busuk, kau sendiri tak bisa hidup lebih lama lagi, masih coba ancam orang lain?”

Terdengar suara tertawanya yang seram itu membawa semacam kegilaan yang mengerikan..

“Ki Song-hoa!” teriak Pwe-giok tanpa terasa, entah terkejut entah girang.

Belum lenyap suara Pwe-giok, secepat angin Leng-hong melayang keluar kamar itu.

Cepat Pwe-giok ikut berlari keluar, tapi tertampak pintu batu yang berat itu sudah tertutup

rapat. Baru saja Leng-hong melayang sampai di depan pintu, “krek” terdengar bunyi gembok

di luar.

“Hahahaha! budak busuk!” demikian terdengar pula tertawa latah Ki Song-hoa di luar pintu.

“Kau kira tidak ada orang yang berani datang ke sini, bukan ? Kau kira tiada orang yang dapat

mengetahui rahasiamu, he? Tapi, hahahaha, sedikit kau lengah, akhirnya jiwamu harus amblas

di tanganku.”

Pucat wajah Leng-hong yang kaku dan dingin itu, jelas dia tertegun dan ketakutan, sebab ia

tahu apabila pintu batu itu sudah digembok dari luar, maka siapapun jangan harap akan dapat

keluar lagi.

“Hahahaha!” terdengar Ki Song-hoa terbahak-bahak pula. “Seharusnya kau tahu bahwa

selamanya tiada seorangpun yang dapat keluar dengan hidup dari rumah setan ini. Dan

mengapa kau masuk juga ke situ? Sungguh teramat besar nyalimu…. Memang sengaja

kuberitahukan rahasia membuka gembok padamu, sudah kuperhitungkan pada suatu ketika

kau pasti tidak tahan dan ingin coba melihat ke dalam. Haha, budak busuk, kau kira dirimu

sangat pintar, akhirnya kau terjebak juga olehku.”

Makin jauh suara tertawa latah itu, sehingga akhirnya tak terdengar lagi. Tapi Ki Leng-hong

masih berdiri mematung di tempatnya, mendadak air matanya bercucuran, yang menyedihkan

dia mungkin bukan jiwanya akan melayang, tapi cita-citanya, ambisinya yang belum

terlaksana dan kini harus hancur dalam sekejap.

Mau tak mau Pwe-giok dan Cia Thian-pi juga melenggong dan tidak tahu apa yang harus

mereka lakukan.

Sampai lama sekali Ki Leng-hong berdiri di tempatnya seperti orang linglung, kemudian ia

membalik tubuh perlahan dan mendekati sebuah kursi batu yang lowong serta duduk di situ.

Renjana Pendekar > Karya Khulung > Diceritakan oleh : GAN KL > buyankaba.com 142

Ia memandang sekelilingnya, mendadak ia tertawa seperti orang gila, teriaknya: “Hahaha!

Biar matipun tidak kesepian, masih ada sekian banyak orang yang mengiringi diriku.”

Cia Thian-pi terperanjat, cepat ia tanya: “Apakah….. apakah nona juga akan menanti kematian

di sini?”

“Ya,” jawab Leng-hong. “Menanti datangnya kematian secara perlahan-lahan, rasanya pasti

lain daripada yang lain dan sangat menarik.”

“Meng…. mengapa nona tidak berdaya keluar dari sini?” tanya Thian-pi pula.

“Keluar? Hahahaha!” Leng-hong tertawa hingga suaranya serak. “Sekali sudah tergembok di

rumah setan ini, mana ada harapan buat keluar.”

“Apakah betul rumah ini tidak pernah dimasuki orang hidup?” tanya Thian-pi

“Pernah, bahkan banyak,” jawab Leng-hong “Cuma, hanya ada orang hidup yang masuk dan

tidak ada orang hidup yang keluar.”

Mendadak Pwe-giok menimbrung: “Orang yang menggotong mayat ini ke sini apakah juga

tidak ada yang keluar dengan hidup?”

“Tidak ada orang menggotong mayat ke sini.” jawab Leng-hong dengan tertawa seram.

“Tidak ada orang menggotong mayat ke sini, lalu apakah mayat-mayat ini masuk sendiri ke

sini?” tanya Thian-pi dengan terkesiap.

“Ya, memang benar, masuk sendiri ke sini!” ucap Leng-hong dengan sekata demi sekata.

Cia Thian-pi memandang mayat sekelilingnya, mayat-mayat itupun seakan-akan sedang

memandangnya dengan dingin, tanpa terasa ia merinding, katanya dengan rada gemetar: “Ah,

janganlah nona bergurau.”

“Dalam keadaan demikian, siapa yang bergurau dengan kau?” jengek Leng-hong

“Tapi…. tapi mana ada… mana ada mayat yang dapat berjalan sendiri di dunia ini?” ujar

Thian-pi dengan mandi keringat dingin.

“Sebabnya mereka memang orang hidup sebelum mayat-mayat ini berduduk di kursi masingmasing,”

tutur Leng-hong. “Setelah berduduk di kursinya, mereka lantas berubah menjadi

mayat.”

“Seb…. sebab apa?” tanya Thian-pi, bulu romanya sama berdiri.

“Inilah rahasia keluarga Ki!” ucap Ki Leng-hong dengan tersenyum misterius.

“Sudah begini, masa nona tidak mau menjelaskan?” kata Thian-pi.

Leng-hong menatap ke depan dengan sorot mata yang kabur, ucapnya perlahan: “Setiap

anggota keluarga Ki, di dalam darah mereka ada semacam sifat pembawaan yang gila, sifat

Renjana Pendekar > Karya Khulung > Diceritakan oleh : GAN KL > buyankaba.com 143

yang suka menghancurkan diri sendiri. Dalam keadaan tertentu, bisa jadi penyakitnya itu

mendadak kumat, tatkala mana bukan saja orang lain akan dihancurkannya, bahkan ia akan

menghancurkan dirinya sendiri.”

Ia merandek sejenak, lalu menyambung pula dengan sekata demi sekata: “Di mulai sejak

leluhur keluarga Ki sampai pada Ki Go-ceng, tiada seorangpun yang tidak mati membunuh

diri!”

“Jika mereka masuk ke sini dengan hidup, lalu membunuh diri dengan berduduk di kursi ini,

mengapa jenazah mereka sampai sekarang belum lagi membusuk? Jelas jenazah ini telah

diberi sesuatu obat. Kalau orang sudah mati, masa dapat menggunakan obat untuk

mengawetkan jenazahnya sendiri?”

“Hal ini disebabkan ketika mereka bermaksud mati, sebelumnya mereka lantas minum

semacam obat campuran dari berbagai jenis racun, di antara belasan macam racun ini satu

sama lain bertentangan sehingga bekerjanya racun sangat lambat, akan tetapi dapat membuat

otot daging mereka menjadi kaku sedikit demi sedikit, ketika anggota badan mereka sudah

mati dan cuma tinggal kedua kaki saja yang dapat berjalan, lalu mereka masuk ke rumah ini

dan berduduk di kursi batu untuk menanti datangnya ajal.”

Ki Leng-hong tersenyum tak acuh, katanya pula: “Begitulah mereka menganggap selama

menanti datangnya kematian itu adalah saat orang hidup yang paling aneh dan menarik,

mereka menyaksikan sendiri anggota badan sendiri sedikit demi sedikit mulai kaku dan

menjalar ke bagian lain, semua ini mereka anggap sebagai suatu kenikmatan yang sukar

dicari, bahkan jauh lebih menyenangkan daripada menyaksikan penderitaan orang lain.

Maklumlah, mereka sudah terlalu banyak menyaksikan kematian orang lain, hanya

menyaksikan kematiannya sendiri barulah dapat mendatangkan semacam rangsangan baru

bagi kepuasan mereka.”

Siapapun mengkirik mendengarkan cerita yang aneh dan sukar dimengerti ini di rumah hantu

yang seram ini.

“Gila, benar-benar gila….” gumam Pwe-giok sambil memandangi mayat-mayat itu dengan

bingung. “Pantas Ki hujin bilang mereka semua orang gila, waktu hidup gila, sesudah mati

juga gila.”

“Ya. sekujur badan mereka sudah dirembesi oleh racun yang aneh itu, maka jenazah

merekapun takkan busuk selamanya,” kata Leng-hong pula.

Cia Thian-pi merinding pula, ucapnya dengan gemetar: “Pantas tidak pernah ada orang hidup

keluar dari rumah maut ini, kiranya mereka telah mengubur dirinya sendiri di sini.”

“Dan keadaan kita sekarang juga serupa mereka,” sambung Leng-hong dengan dingin,

“terpaksa kita harus berduduk di sini untuk menunggu datangnya elmaut. Keadaan kita

sekarang sama juga mengubur dirinya sendiri.”

Dia pandang jenazah Ki Go-ceng di sebelahnya, lalu menyambung pula dengan tenang: “Aku

masih ingat pada hari dia mengubur dirinya sendiri, pagi-pagi kami semuanya hadir di depan

rumah ini untuk mengantar keberangkatannya, dengan langkah berat dia masuk ke sini.

Mendadak ia menoleh dan berkata kepada kami dengan tertawa: “Meski lahirnya kalian

Renjana Pendekar > Karya Khulung > Diceritakan oleh : GAN KL > buyankaba.com 144

kelihatan berduka, tapi di dalam hati kalian tentu menertawakan diriku sebagai orang bodoh.

Padahal kalian tidak perlu pura-pura berduka, sebab selama hidupku justeru tidak pernah

segembira seperti sekarang ini…”

Sungguh Cia Thian-pi tidak ingin mendengarkan lagi, tapi mau tak mau ia harus

mendengarkan.

Ki Leng-hong telah menyambung pula: “Kami tidak ada yang berani menjawab, maka dengan

tertawa dia berkata pula: “Kelak kalian akan tahu bahwa seorang kalau sudah mati akan jauh

lebih gembira daripada waktu hidup. – Waktu itu mukanya sudah mulai kaku, meski

kedengaran dia tertawa, namun air mukanya tiada sesuatu tanda tertawa, tampaknya menjadi

sangat menakutkan. Tatkala mana Leng-yan baru berumur sepuluhan tahun, ia menangis

ketakutan.”

Nyata Ki Leng-hong ini suka mencari kepuasan dengan memperlakukan sadis kepada orang

lain, semakin sedih orang lain, semakin gembira dia, sudah jelas orang lain tidak suka

mendengar ceritanya, dia justeru bercerita terus, bahkan bercerita secara hidup dan nyata.

Membayangkan ceritanya dan memandang pula mayat di depannya sekarang, tambah ngeri

hati Cia Thian-pi, mendadak iapun tertawa seperti orang gila, makin keras suara tertawanya

dan tidak dapat berhenti.

“He, Cia-cianpwe, kenapa kau?” seru Pwe-giok kuatir.

Tapi Cia Thian-pi masih terus tertawa, seperti tidak pernah mendengar teguran Pwe-giok itu.

Cepat Pwe-giok mendekatinya dan menggoyangi tubuhnya, dilihatnya tertawanya yang

terkial-kial itu benar-benar seperti orang gila.

Mendadak Pwe-giok menampar pipinya, dengan begitu tertawa Cia Thian-pi baru berhenti, ia

tercengang sejenak, tapi mendadak ia menangis tergerung-gerung.

“Orang ini mungkin saking ketakutan dan menjadi gila,” ujar Leng-hong dengan tenang. “Gila

juga baik, paling sedikit dia tidak perlu merasakan siksaan menanti ajal ini.”

Tiba-tiba Pwe-giok membalik tubuh dan menghadapi Ki Leng-hong, katanya tegas: “Meski

pernah kau tolong aku satu kali, tapi sekarang akupun sedang menunggu kematian, hal ini

sama seperti jiwaku sudah kubayar kembali padamu. Selanjutnya kita sudah tiada utangpiutang

lagi, sudah lunas. Dan kalau kau masih bertindak sesuatu yang menusuk perasaan

orang, jangan kau salahkan diriku jika terpaksa ku bertindak kasar padamu.”

Ki Leng-hong memandangi Pwe-giok sejenak, akhirnya ia berpaling kesana dan tidak bicara

lagi.

Tanpa terasa Pwe-giok mengusap keringat di dahinya. Aneh, ia heran mengapa ia merasa

kegerahan?

Rupanya di dalam rumah batu itu semakin panas rasanya, agaknya Ki Leng-hong juga

merasakan hal ini, dia berseru: “He…. api! Si gila itu hendak memanggang kita di sini.”

Benar juga, lubang kecil di atap itu tampak mulai berasap tipis.

Renjana Pendekar > Karya Khulung > Diceritakan oleh : GAN KL > buyankaba.com 145

“Rupanya dia kuatir kematian kita kurang cepat, maka ingin memanggang mati kita,” kata

Leng-hong pula. “Padahal kalau kita jelas harus mati, bisa mati lebih cepat memang lebih

baik.”

“Mengapa dia tidak mencari jalan yang lebih cepat?” ujar Pwe-giok dengan menyesal.

“Hm, masa kau belum paham?” jengek Leng-hong. “Bila menggunakan cara lain, tentu

mayat-mayat ini akan ikut rusak, selamanya dia menghormati orang mati, sudah tentu dia

tidak mau membikin susah orang mati. Pula, orang mati kan juga tidak takut di panggang

dengan api, betul tidak?”

Sementara itu tangis Cia Thian-pi sudah berhenti, dengan termangu-mangu ia memandang ke

depan. Di depannya itu ialah mayat Ki Go-ceng, ia sedang bergumam sendiri: “Aneh….

sungguh aneh….”

Sampai belasan kali ia bilang “aneh”, tapi tidak di gubris Pwe-giok maupun Ki Leng-hong.

Saat itu Leng-hong lagi duduk diam seperti orang linglung, betapapun dia juga orang she Ki,

ia benar-benar seperti sedang menanti ajal, seolah-olah sedang merasakan nikmatnya

menunggu kematian.

Sebaliknya Pwe-giok tak dapat diam, betapapun ia masih menaruh setitik harapan akan

meloloskan diri dari tempat ini. Namun “rumah maut” ini benar-benar sebuah kuburan, di

dunia ini mana ada orang yang dapat keluar dari kuburan?

Sekonyong-konyong Cia Thian-pi menuding mayat Ki Go-ceng sambil tertawa terkekeh

kekeh: “Ha, coba kalian lihat, sungguh aneh, orang mati dapat berkeringat… Orang mati juga

dapat berkeringat!”

Suara tertawanya yang keras itu menimbulkan gema suara yang nyaring di rumah batu itu.

Diam-diam Pwe-giok menghela napas, ia menyesal bahwa ketua suatu perguruan ternama di

daerah selatan ini kini benar-benar telah berubah menjadi orang gila. Mustahil, orang mati

mana bisa berkeringat!

Dengan tak acuh ia melangkah ke sana dan tanpa terasa iapun memandang sekejap pada

mayat Ki Go-ceng itu.

Dilihatnya muka orang mati yang kelihatan dingin dan seram itu benar-benar merembes

keluar butiran keringat sebesar kedelai.

Jadi orang mati ini benar-benar berkeringat!

Selama setengah bulan ini entah sudah betapa banyak kejadian aneh dan misterius yang

dialami Pwe-giok, tapi tiada sesuatu yang lebih aneh dan menakutkan daripada kejadian ini.

Orang mati bisa berkeringat!

Renjana Pendekar > Karya Khulung > Diceritakan oleh : GAN KL > buyankaba.com 146

Dengan mata terbelalak ia pandang butiran keringat yang menetes dari muka orang mati ini.

Ia menjadi ketakutan sehingga kaki dan tangan terasa lemas, sungguh iapun hampir gila

saking takutnya.

Mau tak mau Ki Leng-hong juga memandang ke sana, mendadak ia berteriak dengan gemetar:

“He, dia benar-benar ber… berkeringat!”

Tapi jelas tidak masuk akal, orang mati mana bisa ketakutan? Orang mati mana bisa

berkeringat?.

Sungguh kejadian yang sukar dibayangkan dan siapa yang dapat memberi penjelasan

mengenai rahasia ini?

Makin panas hawa di dalam rumah batu ini dan butiran keringat di muka orang mati inipun

semakin banyak.

Mendadak Pwe-giok berjingkrak sambil berteriak: “Ah, patung lilin, orang mati inipun sebuah

patung lilin!”

“Dengan mata kepalaku sendiri kusaksikan dia masuk ke sini, mana bisa berubah menjadi

patung lilin? ” ujar Leng-hong.

Pwe-giok terus melompat kesana, dipuntirnya kepala “Orang mati” itu, seketika kepala orang

mati itu copot. Benar, “orang mati” ini memang betul cuma sebuah patung lilin.

Di tempat yang remang-remang dan seram, di tengah mayat tulen sebanyak ini, di dalam

“Rumah maut” yang penuh dengan kisah yang menakutkan ini, dengan sendirinya tiada

seorangpun yang tahu bahwa diantara mayat-mayat ini ada sesosok mayat palsu.

Pwe-giok mengusap keringat yang membasahi tubuhnya, ia merasa lemas seperti kehabisan

tenaga.

Ki Leng-hong juga sangat kaget, ia meraung: “Ini bukan patung lilin, pasti bukan patung lilin,

aku menyaksikan sendiri dia masuk ke sini!”

Memang, jika ini betul patung lilin, lalu kemana perginya Ki Go-ceng?

“Setelah masuk kemari, bisa jadi dia telah keluar lagi.” ujar Pwe-giok dengan tersenyum getir.

“Mungkin dia tidak sungguh-sungguh minum racun itu, bisa jadi dia cuma pura-pura mati.”

kata Leng-hong. “Tapi setelah dia masuk ke sini pintu lantas digembok dari luar, hakekatnya

dia tidak dapat keluar lagi… Dan kalau dia tidak dapat keluar, tentu dia akan mati di sini,

mengapa sekarang bisa berubah menjadi patung lilin?”

Mendadak mata Pwe-giok bersinar, serunya: “Di rumah maut ini pasti ada lagi jalan keluar

yang lain. Ki Go-ceng pasti keluar melalui jalan rahasia itu. Jika dia dapat keluar, tentu juga

kita dapat keluar!”

Berpikir demikian, seketika terbangkit semangatnya, ia tidak perduli dinding sekeliling sudah

terbakar panas, segera ia mulai menyelidiki.

Renjana Pendekar > Karya Khulung > Diceritakan oleh : GAN KL > buyankaba.com 147

Orang yang berasal dari perguruan “Bu-kek-bun”, dalam hal ilmu alam serta ilmu pasti sudah

tidak asing lagi, terutama mengenai segala macam peralatan rahasia. Tapi Pwe-giok sudah

meneliti setiap pelosok rumah batu ini dan tetap tidak menemukan jalan keluarnya.

Baju Pwe-giok dari basah telah menjadi kering, kini matanya juga sudah merah dan bibirnya

pecah karena hawa yang panas. Dengan napas terengah-engah ia bergumam: “Di manakah

jalan keluarnya?… Demi menipu orang dengan berpura-pura mati, sudah tentu Ki Go-ceng

telah menyiapkan jalan keluarnya. Jika aku menjadi dia, dimana lubang keluar itu akan ku

buat?”

“Setahuku di rumah maut ini tidak ada jalan keluar lagi.” kata Leng-hong.

“Ada, pasti ada.” ujar Pwe-giok “Kalau tidak, cara bagaimana Ki Go-ceng bisa keluar?”

Leng-hong termangu-mangu sejenak, katanya kemudian: “Apakah tidak mungkin ada orang

membuka pintu dari luar dan melepaskan di dari sini ?”

Pwe-giok seperti kena dicambuk orang satu kali, seketika ia melenggong dan tidak sanggup

bersuara lagi.

Memang betul, dengan sendirinya ada kemungkinan begitu. Orang semacam Ki Go-ceng ini,

meski tidak nanti dia menghadapi kejadian yang sukar dipecahkan ini, Pwe-giok merasa apa

yang dikatakan Ki Leng-hong itu terhitung yang paling masuk akal.

Apalagi setelah orang itu membukakan pintu mungkin sekali Ki Go-ceng lantas

membinasakan orang itu. Dengan demikian rahasia pribadinya akan tetap tertutup.

Berpikir sampai di sini, Pwe-giok benar-benar menjadi putus harapan.

Tapi tiba-tiba terdengar Cia Thian-pi berteriak pula: “He, lihat aneh sekali, orang mati ini

tidak kelihatan lagi, hilang sama sekali!”

Pwe-giok memandang lagi ke tempat mayat tadi, benar, dilihatnya patung lilin tadi sudah cair

seluruhnya, tapi cairan lilinnya ternyata tidak banyak, kemana perginya cairan lilin itu?

Terkilas sesuatu dalam benak Pwe-giok, ia coba mendekati kursi batu itu dan diperiksanya

dengan teliti, mendadak ia berseru dengan girang: “Aha, dugaan ku ternyata tidak meleset, di

rumah maut ini memang betul ada jalan keluar lagi, jalan keluar itu terletak di bawah patung

lilin ini, di bawah kursi batu ini.”

Kiranya di bawah kursi batu itu ada sebuah lubang kecil dan cairan lilin itu justeru mengalir

keluar melalui lubang kecil ini. Tapi lubang ini sangat kecil, hanya cukup dimasuki dua jari,

cara bagaimana manusia dapat menerobos keluar?

“Hm, kukira lebih baik kau tunggu kematian dengan tenang saja.” jengek Ki Leng-hong. “Jika

dibawah kursi ini terdapat jalan keluar, sesudah Ki Go-ceng pergi, cara bagaimana patung

lilin dapat berduduk di atas kursi ini, memangnya patung dapat berduduk dengan sendirinya?”

Renjana Pendekar > Karya Khulung > Diceritakan oleh : GAN KL > buyankaba.com 148

Gemeredep sinar mata Pwe-giok, katanya kemudian: “justeru Ki Go-ceng telah memperalat

titik ini untuk mengelabui orang, biar orang menemukan rahasia patung lilin juga tidak

menyangka jalan keluar itu terletak di bawah patung.”

“Apapun juga, kalau tidak dipindahkan orang, tidak mungkin patung ini dapat berduduk di di

atas kursi, untuk ini tidak nanti kau dapat memberi penjelasan” Kata Leng-hong.

“Tapi lubang kecil ini dapat memberi penjelasan.” ujar Pwe-giok.

“Lubang kecil ini?” Leng-hong menegas. “Ya,” jawab Pwe-giok. “Pada waktu Ki Go-ceng

membuat patung ini, dia benamkan seutas tali di bagian pantat patung ini, lalu tali itu

menyusup ke dalam lubang ini. Waktu dia masuk ke lorong di bawah dan tutup lubang

dirapatkan kembali, tali ini lantas ditariknya sehingga patung lilin ini diseretnya berduduk di

atas kursi.”

“Ya, betul juga, cara ini memang sangat pintar dan bagus.” seru Leng-hong

“Cara berpikir Ki Go-ceng yang rapi dan bagus sungguh sukar dibandingkan siapapun,” ujar

Pwe-giok. “Cuma sayang, betapapun rapi perhitungannya tetap tak pernah terpikir olehnya

bahwa rumah ini bakal dipanggang dengan api dan patung lilin ini akhirnya akan cair, sudah

tentu mimpipun tak terpikirkan olehnya bahwa lubang kecil yang tidak ada artinya ini

akhirnya dapat membocorkan seluruh rahasianya.”

Ki Lneg-hong berdiam sejenak, kemudian ia menghela napas panjang dan berkata: “Ai, kau

memang jauh lebih pintar daripada apa yang pernah kusangka, sungguh cerdik!”

*****

Papan batu di bawah patung lilin itu memang dapat digeser, di bawahnya memang betul ada

sebuah lorong yang gelap.

Pwe-giok menarik napas lega, katanya: “Akhirnya diketahui ada orang hidup yang keluar dari

rumah maut ini, bahkan tidak cuma satu orang saja?”

Kini Ki Leng-hong tidak dapat omong lagi, ia hanya ikut masuk ke lorong di bawah tanah itu.

Dengan memayang Cia Thian-pi, Pwe-giok terus merayap ke depan. Lorong ini panjang lagi

berkelok-kelok, dengan sendirinya gelap gulita pula, jari sendiri saja tidak kelihatan.

Akhirnya mereka dapat lolos keluar. Tapi siapa yang berani menjamin bahwa jalan tembus ini

adalah tempat yang aman?

Bisa jadi lorong ini menembus juga ke kamar tidur Ki-hujin sana.

Baru saja Pwe-giok berpikir demikian, tiba-tiba tampak cahaya lampu di depan sangat jelas di

tempat gelap begini.

Di tempat yang ada cahaya lampu pasti juga ada manusianya.

Renjana Pendekar > Karya Khulung > Diceritakan oleh : GAN KL > buyankaba.com 149

Pwe-giok melepaskan pegangannya pada Cia Thian-pi dan cepat melompat ke sana, Siapapun

yang dipergoki, setiap saat dia siap merobohkannya dengan sekali hantam.

Tapi mendadak Pwe-giok melihat lampu itu adalah lampu yang dibawanya masuk itu.

Waktu dia ditarik masuk ke kamar Ki-hujin lampu ini masih tertinggal di sini dan juga belum

dipadamkan, jadi lorong ini memang betul jalan yang menembus ke kamar tidur Ki-hujin.

Kiranya baik kamar tidur Ki-hujin maupun rumah berdinding kertas dengan kasuran bundar

serta rumah mati yang misterius itu satu dan lain ditembusi oleh jalan di bawah tanah ini.

Sudah banyak pengalaman pahit Pwe-giok dan hidup menuju kematian telah dijalaninya,

setelah berputar-putar akhirnya dia tiba kembali di tempat semula. Sungguh ia tidak tahu

mesti tertawa atau menangis?!

Ki Leng-hong telah datang pula, iapun melenggong.

Pwe-giok bergumam: “Menurut pikiranku, jalan di bawah tanah ini selain menembus ke

kamar Hujin serta rumah berdinding kertas itu, pasti ada pula jalan keluar ke empat.”

“Berdasarkan apa kau bilang demikian?” tanya Leng-hong.

“Sebab Ki Go-ceng dan orang she Ji itu tidak nanti keluar melalui kamar tidur Ki-hujin,” tutur

Pwe giok. “Mereka lebih-lebih tidak mungkin keluar melalui rumah berdinding kertas itu.

Makanya kuyakin di sini pasti ada jalan keluar ke empat.”

“Ha, jika begitu, kau kira terletak di mana jalan keluar ke empat itu?” kata Leng-hong dengan

girang.

Pwe-giok mengangkat lampu minyak itu dan menyusur ke depan dengan pelahan. Jalan ini

kembali menuju ke bawah rumah berdinding kertas itu. Tidak jauh, tiba-tiba ia berpaling dan

bertanya kepada Ki Leng-hong: “Apakah kau tahu kapan orang she Ji itu datang ke Sat jinceng

sini?”

“Tentu saja kuingat dengan jelas,” jawab Leng-hong. “Hari itu adalah hari ketiga setelah Ki

Go-ceng mulai minum racun, yaitu hari ketiga lewat tahun baru. Jadi tepat pada hari tahun

baru dia mulai minum racun, tujuannya membikin kegembiraan akan bertambah dengan

sedikit rasa duka.”

“Jadi Ce-it (tanggal satu) dia mulai minum racun, lalu hari apa dia masuk ke rumah mati itu?”

tanya Pwe giok.

“Itulah hari Cap-go-meh,” jawab Leng-hong. “Dimulai Ce-it hingga Cap-go-meh, segenap

penghuni Sat-jin ceng sama sibuk membereskan urusan kematiannya sehingga orangpun tidak

memperhatikan orang she Ji itu.”

Sementara itu mereka sudah sampai di ruangan kecil di bawah rumah kertas itu, kantung

bersulam indah yang berisi sepotong kemala berukir itu masih terletak di tempat tidur, patung

lilin Ki Go-ceng juga masih di situ dan seakan-akan sedang memandang mereka.

Renjana Pendekar > Karya Khulung > Diceritakan oleh : GAN KL > buyankaba.com 150

Mendadak Cia Thian pi tertawa terkekeh-kekeh pula, serunya: “Pantas orang mati itu

menghilang, kiranya dia mengeluyur ke sini…”

Pwe-giok ambil batu Giok itu dan termangu-mangu, katanya kemudian: “Kukira orang she Ji

itu tidak mengeluyur pergi, Ki-hujin telah salah sangka padanya.”

“Apa alasanmu kau bilang demikian?” tanya Leng hong heran.

“Waktu kulihat batu Giok ini, aku menjadi heran,” tutur Pwe giok. “Seumpama orang she Ji

itu tidak sayang pada kantung bersulam ini, tidak seharusnya dia meninggalkan batu pualam

ini di sini.”

“Ya, tampaknya benda ini adalah benda pusaka keluarganya, bisa jadi dia pergi dengan

tergesa-gesa, makanya tertinggal di sini,” kata Leng-hong.

“Tidak, tatkala itu tiada orang tahu rahasia lorong di bawah tanah ini, jika dia menemukan

jalan tembus ke empat, tentu dia mengeluyur pergi dengan bebas, kenapa dia harus tergesagesa,

kecuali….”

“Kecuali apa?” tanya Leng-hong.

“Kecuali kepergiannya itu bukan kehendak sendiri melainkan dipaksa orang,” jawab Pwegiok.

Ki Leng-hong melenggong, katanya kemudian; “Jadi maksud… maksudmu dia telah dipergoki

Ki Go-ceng?”

“Kupikir pasti begitu,” kata Pwe-giok. “Waktu Ki Go-ceng menyusup masuk ke lorong ini

dan mengetahui di tempat yang dirahasiakan ini ternyata ada orang luar, tentu saja dia tidak

tinggal diam, mana dia dapat membiarkan ada orang kedua yang mengetahui rahasia

kematiannya yang pura-pura.”

“Jika demikian, jadi orang the Ji itu bukan cuma dipaksa pergi olehnya, bahkan ada

kemungkinan telah dibunuhnya untuk menghilangkan saksi?!”

“Ya, kurasa Ki Go ceng pasti telah membunuhnya,” ucap Pwe-giok.

Sampai lama Ki Leng hong terdiam, katanya kemudian: “Jika dia (maksudnya Ki-hujin)

mengetahui si dia sudah mati, bisa jadi dia takkan begitu berduka dan sedih….”

“Masa dia takkan bertambah sedih jika dia mengetahui kekasihnya sudah mati?” tanya Pwegiok

dengan heran.

Ki Leng-hong tersenyum pedih, jawabnya: “Tahukah kau apakah yang menjadi penderitaan

terbesar bagi seorang perempuan?”

Dia tidak menunggu jawaban Pwe-giok, tapi lantas dijawabnya sendiri: “Yaitu ditinggal oleh

orang yang dicintainya. Penderitaan ini bukan saja sangat hebat, bahkan tak terlupakan selama

hidup. Bahwa kekasihnya itu sudah-mati, walaupun dia akan sedih juga tapi hampir tiada

artinya jika dibandingkan penderitaan seperti kalau ditinggal pergi. Sebab itulah ada

Renjana Pendekar > Karya Khulung > Diceritakan oleh : GAN KL > buyankaba.com 151

sementara orang perempuan yang tidak sayang membunuh kekasih sendiri, yaitu karena kuatir

sang kekasih akan menyukai perempuan lain. Jadi dia lebih suka kekasihnya mati daripada

jatuh dalam pelukan wanita lain.”

“Jika demikian, bila dia mengetahui kekasihnya sudah mati, ia berbalik akan rnerasa senang?”

“Ya, akan jauh lebih senang,” kata Long-hong.

“Ai, jalan pikiran orang perempuan sungguh sukar untuk dipahami kaum lelaki,” ujar Pwegiok

sambil menggeleng.

“Lelaki memang tidak seharusnya memahami jalan pikiran perempuan dan perempuan juga

bukan dilahirkan untuk dipahami orang, tapi supaya dihormati dan dicintai,” jengek Lenghong.

Pwe-giok tidak menanggapi lagi, dengan memegang lampu minyak itu, dia mulai menyelidiki

sekitar tempat itu. Ia yakin jalan keluar ke empat pasti berada di dekat tempat tidur itu.

Namun dia tidak menemukannya, sementara itu minyak sudah habis, akhirnya lampu itu

padam.

Pwe-giok menghela napas, gumamnya: “Tampaknya sekalipun di lorong bawah tanah ini

memang ada jalan tembus ke empat, tapi dalam keadaan gelap gulita begini jangan harap akan

dapat menemukannya.”

“Padahal, tidak perlu kau cari jalan tembus ke empat itupun kita tetap dapat keluar dari sini,”

kata Leng-hong tiba-tiba.

“He, kau punya akal?” tanya Pwe-giok cepat.

“Kukira asalkan kau sanggup membuktikan orang she Ji itu sudah mati, tentu Hujin takkan

benci lagi padamu, bisa jadi dia akan segera melepaskan kau,” kata Leng-hong.

Belum lagi Pwe-giok menjawab, mendadak dalam kegelapan ada seorang menanggapi;

“Tidak, cara ini tidak tepat.”

“Mengapa tidak tepat?” tanya Leng-hong.

“Jika Ji Pwe-giok sudah mati, cara bagaimana dapat keluar lagi dengan hidup?” ujar orang itu.

Baru sekarang Ki Leng-hong mengenali suara itu bukan suara Ji Pwe-giok juga bukan suara

Cia Thian-pi, seketika ia berkeringat dingin dan berteriak tertahan: “Sia… siapa kau?”

“Hehehhehe, masa suaraku saja tidak kau kenal lagi?” ucap orang itu dengan tertawa.

“Cras”, dalam kegelapan lantas menyala sinar api, tertampaklah seraut wajah tua dan kurus

penuh bekas penderitaan hidup.

“Ko-lothau!” seru Pwe-giok dan Leng-hong berbareng. “Mengapa kau dapat masuk ke sini?!”

Renjana Pendekar > Karya Khulung > Diceritakan oleh : GAN KL > buyankaba.com 152

Wajah si Ko tua yang kurus pucat itu tampaknya juga misterius di bawah cahaya lampu yang

gemerdep di lorong bawah tanah ini. Dia pandang Ki Leng-hong dan tersenyum penuh

rahasia, katanya: “Ya, si Ko tua yang biasa bekerja sebagai tukang kayu mana bisa datang ke

sini? Tapi selain Ko tua yang kau ketahui, adalah hal lain yang kau ketahui mengenai diriku?”

Tiba-tiba Ki Leng-hong merasakan sorot mata si kakek memancarkan semacam sinar tajam

yang belum pernah dilihatnya, tanpa kuasa ia menyurut mundur dan berkata dengan suara

gemetar; “Sesungguhnya sia… siapa kau?”

Pelahan-lahan Ko-lothau melangkah lewat di depan Leng hong, ia taruh lampu yang

dipegangnya di atas almari kecil di ujung tempat tidur sana, habis itu mendadak ia membalik

tubuh dan memandang si nona dengan sorot mata gemerdep: “Aku inilah orang yang

membikin Ki Go-ceng tidak dapat tidur dengan lelap dan tidak dapat makan dengan enak, aku

inilah yang membuat Ki Go-ceng merasa tak dapat hidup lebih lama lagi…”

“Oh, sebabnya Ki Go-ceng terpaksa berlagak merenungkan dosanya di rumah kertas dan

terpaksa pura-pura mati, semua itu lantaran dia takut padamu?” seru Pwe giok.

“Hehehe, kau pun tidak menyangka bukan?” kata Ko-lothau dengan tertawa. “Ya, siapapun

pasti tidak menduga bahwa orang yang paling ditakuti Ki Go ceng selama ini ternyata adalah

seorang tua bangka macamku ini.”

“Apakah. ….. apakah dia sudah tahu siapa dirimu?” tanya Leng-hong terkejut.

“Sudah tentu dia tahu siapa diriku?” jengek Ko-lothau, “tapi dia justeru tidak berani

membongkar hal ini, terpaksa dia berlagak bodoh dan pura-pura tidak tahu, sebab iapun tahu

sudah lama kuketahui rahasianya.”

“Rahasia apa?” tanya Leng-hong.

“Lebih 20 tahun yang lalu di dunia Kangouw mendadak terjadi banyak peristiwa yang

menggoncangkan, ada pencurian benda pusaka secara besar-besaran, banyak tokoh ternama

terbunuh secara gaib, si pencuri dan pembunuh itu sangat tinggi Kungfunya, apa yang

diperbuatnya itu pun sangat bersih tanpa meninggalkan bekas sedikitpun. Meski dunia

persilatan waktu itu telah mengerahkan berpuluh tokoh pilihan untuk menyelidikinya, namun

tak dapat menemukan jejaknya. Maklum, siapapun tidak menyangka orang yang melakukan

hal-hal itu adalah Ki Go-ceng yang lagi merenungkan dosanya di rumah kertas dan diketahui

tidak pernah keluar rumah sepanjang tahun.”

“Memangnya sudah kuduga apa yang dilakukannya itu pasti mempunyai intrik tertentu,” kata

Pwe-giok, ia sangat tertarik oleh cerita si Ko tua.

“Tapi kalau kau bilang dia adalah pembunuh dan pencuri, jelas aku tak percaya,” kata Lenghong.

“Ya, bukan saja kau tidak percaya, jika kuceritakan pada waktu itu, di seluruh dunia ini

mungkin juga tiada seberapa orang yang mau percaya,” ujar Ko-lothau dengan gegetun. “Nah,

demi membongkar rahasia inilah terpaksa aku menyelundup ke Sat-jin-ceng sini.”

Renjana Pendekar > Karya Khulung > Diceritakan oleh : GAN KL > buyankaba.com 153

“Kau bilang waktu itu dia sudah tahu siapa dirimu?” tukas Leng-hong. “Jika begitu mengapa

dia dapat membiarkan kau tinggal di Sat jin-ceng dan mengapa tidak dia bunuh dirimu.”

“Jika dia tidak membiarkan ku tinggal di sini, bukankah makin menandakan dia bersalah

sehingga takut diketahui orang?” ujar Ko-lothau.

“Dan kalau dia bunuh diriku, bukankah akan lebih membuktikan dosanya? Segala sesuatu

selalu dipikirkannya dengan rapi, selamanya dia tidak suka menyerempet bahaya dan main

untung-untungan, dengan sendirinya iapun tidak mau mengambil resiko dalam persoalan

diriku ini. Makanya meski dia tahu kedatanganku ini sengaja hendak mengawasi gerakgeriknya,

terpaksa dia tetap pura-pura tidak tahu.” Ia tertawa, lalu menyambung pula; “Jika

tidak demikian, mana bisa Sat jin ceng mau menerima seorang tua bangka yang tidak

diketahui asal-usulnya.”

“Jadi menurut perhitunganmu, meski dia tahu kedatanganmu ini hendak mengawasi dia, tapi

dia berbalik terpaksa harus menerima kau di sini, walaupun langkah ini sangat bagus, tapi

setelah dia tahu siapa dirimu, bukankah setiap saat dia dapat berjaga-jaga segala

kemungkinan, mana bisa dia memperlihatkan rahasianya di depanmu?” tanya Pwe-giok.

“Sekali pandang saja dia dapat mengetahui asal usul orang lain, orang pintar seperti dia, masa

semudah itu orang hendak membongkar rahasianya? Maka setiba ku di sini, segera ku sadari

semua peristiwa yang tiada buktinya takkan terpecahkan untuk selamanya,” jawab Ko-lothau

sambil menghela napas.

“Jika demikian, untuk apalagi kau tinggal di sini selama ini?” kata Leng-hong.

“Aku tinggal di sini, memang tak dapat ku bongkar rahasianya, tapi sedikitnya dapat ku awasi

gerik-geriknya agar dia tidak berani lagi keluar dan berbuat jahat…” tutur Ko lothau. “Dan

memang, sejak aku tinggal di sini, segala perbuatan yang menggemparkan dunia Kangouw itu

lantas lenyap dan tak pernah terjadi lagi.”

“Demi untuk mencegah terjadinya kejahatan, Cianpwe telah mengorbankan nama dan

kedudukan sendiri, rela menjadi budak orang, sungguh keluhuran budi dan kebesaran jiwa

Cianpwe ini sukar dicari bandingannya,” puji Pwe-giok dengan gegetun.

Tanpa terasa timbul rasa muram pada wajah Ko-lothau, selama hampir 20 tahun ini tentu

dilewatkannya dengan susah-payah. Akan tetapi rasa muram itu hanya sekilas saja menghiasi

wajahnya dan segera lenyap, ia lantas bergelak tertawa dan berkata; “Meski aku telah

mengorbankan kenikmatan hidupku sendiri dan melewatkan hari-hari sengsara selama ini,

tapi akupun berhasil memaksa Ki Go ceng dari pura-pura menjadi sungguhan, mau-tak-mau

dia menderita juga di rumah kertas itu. Jadi pengorbananku ini terasalah cukup berharga.”

“O, lantaran dia tidak mampu membunuh dirimu dan juga tidak dapat kabur, akhirnya

terpaksa ia pura-pura mati!” kata Pwe-giok.

“Ya, ambisinya memang besar, dengan sendirinya ia tidak rela mengakhiri hidupnya secara

begitu,” tutur Ko-lothau. “Mungkin setelah dipikirnya, akhirnya didapatkan akal pura-pura

mati itu. Meski ku tahu dia pasti tidak rela mengeram di rumah kertas itu, tapi tak terduga

olehku bahwa dia akan mengelabui diriku dengan akal bulusnya itu.”

Renjana Pendekar > Karya Khulung > Diceritakan oleh : GAN KL > buyankaba.com 154

“Setelah kena diakali, mengapa kau tidak pergi?” tanya Leng hong.

“Meski waktu itu dia dapat mengelabui diriku, tapi kemudian kupikir dalam urusan ini pasti

ada sesuatu yang tidak beres, sebab ku tahu Ki Go-ceng bukanlah manusia yang mudah

menyerah dan rela mati begitu saja, apalagi . …” tersembul senyuman pahit pada ujung mulut

si Ko tua, lalu sambungnya dengan pelahan: “Sejak kecil aku sudah terbiasa terluntanglantung

kian kemari, belum pernah aku berdiam di suatu tempat lebih dari setengah tahun.

Tapi di sini, tanpa terasa aku telah tinggal sekian tahun, kehidupan yang sederhana ini terasa

sudah biasa bagiku, bahkan rasanya sangat enak. Aku sendiri tidak berkeluarga, tidak punya

anak isteri, kusaksikan kalian meningkat dewasa, diam-diam akupun bergembira, makanya…”

“Hm, tidak perlu kau gembira bagi kami,” jengek Ki Leng-hong. “Kau pergi atau tidak, sama

sekali tiada sangkut-pautnya dengan diriku, kau pun tidak perlu menggunakan diriku sebagai

alasan. Sekarang maksud tujuanmu tinggal di sini sudah tercapai, maka selanjutnya aku tidak

kenal lagi padamu.”

Ko-lothau terdiam sejenak, ucapnya kemudian dengan menghela napas panjang: “Ya, betul,

setelah maksud tujuanku tinggal di sini sudah tercapai, akhirnya sudah kubuktikan Ki Goceng

belum lagi mati, selanjutnya aku perlu mengembara lagi ke mana-mana, akan kucari

pula jejaknya. Selama belum kutemukan dia, sebelum kusaksikan dia mati di depan mataku,

selama itu pula aku tidak rela.”

“Hm, setelah dia pergi, mungkin selamanya jangan harap dapat kau temukan dia,” jengek

Leng-hong pula.

“Betul juga, jika seterusnya dia mengasingkan diri dan hidup di tempat jauh, tentu tak dapat

kutemukan dia lagi. Tapi bila dia melakukan sesuatu kejahatan, segera pula aku dapat

menemukan jejaknya. Sedangkan orang macam dia itu jelas tidak rela hidup kesepian.”

Kembali sorot matanya memancarkan sinar yang tajam, jago tua yang sudah lama

mengasingkan diri ini kini mendadak telah berubah menjadi kereng dan bersemangat lagi.

Akhirnya Ki Leng-hong tidak tahan, ia bertanya: “Sesungguhnya siapa kau?”

Ko-lothau tersenyum, jawabnya: “Jika selanjutnya kau tak mau kenal lagi padaku, untuk apa

pula kau tanya siapa diriku?”

Ki Leng hong melengos ke sana dan tidak memandangnya lagi.

Padahal tanpa bertanya ia pun tahu orang yang dapat membuat Ki Go-ceng takut mustahil

tiada mempunyai kisah hidup yang gemilang dan asal-usul yang luar biasa.

*****

Sesungguhnya siapakah Ko-lothau ini dan bagaimana asal-usulnya?

Kemana perginya Ki Go-ceng?….

Renjana Pendekar > Karya Khulung > Diceritakan oleh : GAN KL > buyankaba.com 155

Semua itu tidak diperhatikan oleh Pwe-giok, yang sedang dipikirnya hanya satu soal saja. Dia

memandang sekelilingnya, akhirnya ia bertanya; “Entah darimanakah Cianpwe masuk ke

sini?”

“Kudengar kau sudah mati aku jadi ingin tahu cara bagaimana kau mati? Maka diam-diam

kumasuki kamar Ki hujin, disitulah tanpa sengaja kutemukan jalan rahasia di balik almari itu.

Padahal almari itu selamanya tertutup, entah mengapa sekarang telah terbuka.”

Kiranya seperginya Ji Pwe-giok, Ki hujin telah lupa menutup kembali almarinya.

Terbelalak Pwe-giok demi mendengar keterangan ini, serunya: “He, jadi saat ini di kamarnya

tiada orang?”

“Kau ingin keluar melalui sana?” tanya Ko-lothau.

“Jika mereka menyangka aku sudah mati, tentu mereka tidak lagi mengawasi diriku,

kesempatan ini dapat kugunakan untuk kabur,” kata Pwe-giok.

“Bila kau sudah mati, mana dapat keluar lagi dengan hidup?” bentak Ko-lothau mendadak

dengan bengis.

“Jadi maksud Cianpwe…” Pwe-giok melengak dan tak dapat melanjutkan.

“Apa maksudku, masa kau tidak paham?” kata Ko-lothau dengan sinar mata gemerdep,”

seperti tanpa sengaja ia melirik sekejap ke arah patung lilin Ki Go-ceng.

Mendadak Pwe giok sadar, serunya: “Aha, betul, jika Ki Go ceng dapat mengelabui orang

dengan pura-pura mati, mengapa aku tidak boleh? Di dunia ini mana ada penyamaran lain

yang lebih mudah menghindari pengejaran serta untuk alat penyelidikan rahasia orang lain

daripada pura-pura mati?”

“Bagus, akhirnya kau paham juga,” ujar Ko-lothau dengan tersenyum puas. “Pendek kata, ada

permusuhan apapun juga kau dengan orang lain, asal sudah mati, orang lain takkan mengusut

lebih lanjut. Jika kau hendak menyelidiki rahasia orang lain, setelah kau mati, tentu orang

takkan berjaga-jaga lagi akan dirimu.”

Pwe-giok menghela napas, katanya: “Pantas ketika Ki Go-ceng masuk ke rumah mati itu dia

sengaja bilang bahwa kematian seorang akan jauh lebih menggembirakan daripada hidup.

Kiranya di balik ucapannya ini mengandung makna yang sangat dalam, cuma sayang waktu

itu tiada seorangpun yang paham maksudnya.”

“Tapi sayang, orang lain sama kenal kau sebagai Ji Pwe-giok,” tiba-tiba Leng-hong

menjengek.

“Ya, betul juga,” jawab Pwe-giok dengan menyengir. “Meski aku dapat pura-pura mati, tapi

wajahku tak dapat mengelabuhi orang.”

Tapi Ko-lothau tidak menanggapi, ucapnya dengan tenang: “Tuhan menciptakan manusia

dengan pintar dan bodoh, cakap dan buruk, tapi tidak pernah menciptakan manusia yang

sempurna. Melulu bicara tentang lahiriah saja, sekalipun lelaki cakap yang sama-sama diakui

Renjana Pendekar > Karya Khulung > Diceritakan oleh : GAN KL > buyankaba.com 156

umum pasti juga terdapat sesuatu ciri, dari jaman dahulu hingga kini, baik lelaki maupun

perempuan tidak pernah ada sebuah wajah yang sempurna.”

Ia menatap tajam-tajam muka Pwe-giok, lalu menyambung pula dengan pelahan. “Misalnya

dirimu, kaupun terhitung seorang lelaki cakap, tapi alismu terasa tebal, matamu rada

kekecilan, hidungmu kurang tegak, ujung mulutmu juga terasa kurang serasi.”

Pwe-giok tidak tahu mengapa orang tua itu mendadak bicara seperti tukang Kwamia atau

tukang nujum di tepi jalan, terpaksa ia cuma menyengir dan menjawab dengan tergagapgagap:

“Ah, mana Wanpwe dapat dianggap orang cakap?”

“Bilamana batiniah seseorang ada cirinya, maka siapa pun tak berdaya memperbaikinya,” kata

Ko-lothau pula. “Tapi kekurangan pada lahiriah, betapapun dapat ditambal. Sudah lama

terkandung niatku akan menciptakan seorang yang paling cakap hanya saja aku ingin mencari

seorang model yang cocok dan inilah yang sulit. Sebab, betapapun kita tidak dapat

menjadikan seorang yang sumbing atau seorang yang juling untuk berubah menjadi lelaki

yang sempurna.”

Kembali sorot matanya yang tajam menatap Pwe-giok dan menyambung pula: “Sedangkan

kau baik lahiriah maupun tutur-katamu sudah terhitung mendekati sempurna, ciri pada

wajahmu juga tidak sulit diperbaiki. Sudah sekian tahun kucari, akhirnya. kutemui dirimu.”

“Memangnya Cianpwe bermaksud meng… mengubah diriku menjadi lelaki cakap?” tanya

Pwe-giok dengan terkejut.

“Menjadi lelaki cakap akan banyak manfaatnya,” ujar Ko-lothau dengan tersenyum. “Bisa

menjadi lelaki cakap yang sempurna terlebih-lebih banyak manfaatnya. Umpamanya, paling

tidak setiap perempuan di dunia ini pasti tidak tega mencelakai dirimu lagi.”

“Tapi…. tapi terhadap wajahku sekarang ini Wanpwe sudah cukup puas,” seru Pwe-giok.

Ko-lothau tidak menghiraukannya, dengan tersenyum ia berkata pula: “Manfaat lain

sementara tidak perlu kukatakan, manfaat yang paling besar adalah selanjutnya tidak bakal

ada orang yang kenal kau sebagai Ji Pwe-giok lagi.”

Pwe-giok melengak bingung, katanya dengan tergagap: “Tapi… tapi dengan wajah yang

begitu cakap kan lebih mudah menarik perhatian orang?”

“Karena terpengaruh oleh kecakapan wajahmu, terhadap setiap tindak-tandukmu orang akan

menjadi kurang memperhatikannya,” kata Ko-lothau. “Dengan demikian, andaikan dalam

gerak-gerik atau tutur katamu ada sesuatu yang tidak betul juga tidak perlu kuatir.”

Pwe-giok berpikir sejenak, akhirnya ia menghela napas panjang dan menjawab: “Baiklah, jika

demikian, Wanpwe terpaksa menurut saja.”

Waktu menengadah, dilihatnya Cia Thian-pi masih memandangi patung lilin itu dengan

termangu-mangu linglung, sedangkan Ki Leng-hong menghadap ke dinding, terhadap apa

yang dipercakapkan Pwe-giok dan Ko-lothau itu dianggapnya seperti tidak melihat dan tidak

mendengar.

Renjana Pendekar > Karya Khulung > Diceritakan oleh : GAN KL > buyankaba.com 157

*****

Lorong di bawah tanah yang kelam itu mendadak terang lagi.

Ko-lothau sudah keluar satu kali, kembalinya telah membawa bahan makanan dan air minum

serta cukup banyak lilin dan dua buah cermin tembaga, tersorot oleh cahaya lampu, cermin

tembaga itu kelihatan bertambah terang.

Pwe-giok berbaring di tempat tidur, Ko-lothau menutupi muka anak muda itu dengan

sepotong kain belacu yang basah, terasa bau obat yang menusuk hidung, seketika Pwe-giok

kehilangan ingatan. Dalam keadaan sadar-tak-sadar sempat didengarnya Ko-lothau lagi

berkata: “Tidurlah sepuasnya, setelah kau mendusin nanti, jadilah kau lelaki cakap yang

paling sempurna dan tiada bandingannya.”

*****

Entah sudah berapa lama Pwe-giok tertidur nyenyak, waktu mendusin, mukanya masih

terbalut oleh kain basah, tujuh hari kemudian barulah pembalut itu dibuka.

Ko-lothau memandangi wajahnya dengan seksama, mirip seorang pelukis yang sedang

meneliti buah karyanya dengan sorot mata yang penuh rasa puas dan bangga, gumamnya:

“Dengan wajahmu ini, siapa pula yang sanggup menemukan setitik cirinya? Sudah barang

tentu melulu wajahmu inipun belum cukup, dengan sendirinya masih ada lainnya, sedangkan

kau ……” dia tepuk pundak Pwe-giok dan berkata pula dengan tertawa: “Kebetulan juga sejak

kecil kau telah mendapatkan pendidikan kekeluargaan dan sudah biasa sopan santun dan

lemah lembut, pula dari pengalamanmu yang sudah kenyang menghadapi berbagai macam

bahaya kau lebih terbiasa bersikap tenang dan sewajarnya. Kalau tidak berpengalaman seperti

kau dan menganggap mati dan hidup sebagai kejadian yang sepele, tentu kau takkan

sedemikian sempurna…”

“Betul, dengan gabungan semua itu, kau memang cukup memikat setiap anak gadis di dunia

ini,” jengek Ki Leng-hong mendadak. “Sungguh aku pun sangat bangga bisa mempunyai anak

buah semacam kau, tak perlu kuatir lagi usahaku takkan berhasil.”

“Siapa kau anggap anak buah?” tanya Ko-lothau dengan tercengang.

“Ji Pwe-giok,” jawab Leng-hong pula. “Dengan sendirinya termasuk kau juga.”

Ko-lothau memandangi nona itu dengan terkesima, seperti memandang makhluk yang aneh.

Ki Leng-hong menjengek pula: “Hm, jika kalian tidak tunduk kepada perintahku, segera akan

ku bongkar rahasia kalian agar usahamu sia-sia, agar Ji Pwe giok segera mati.”

“Jika demikian, lekas kau keluar dan beritahukan kepada orang, silakan!” kata Ko lothau

sambil menghela napas panjang.

Sekali ini Ki Leng hong melenggong sendiri ucapnya: “Kau . . . .kau suruh ku bongkar

rahasiamu kepada orang lain?”

Ko-lothau tersenyum, katanya: “Dan takkan kau lakukan, bukan? Ku tahu betul, meski

lahirnya kau kelihatan bengis, padahal hatimu jauh lebih bajik daripada apa yang kau

Renjana Pendekar > Karya Khulung > Diceritakan oleh : GAN KL > buyankaba.com 158

bayangkan sendiri. Sejak kecil kusaksikan kau meningkat dewasa, masa aku tidak pahami

pribadimu?”

Leng-hong termenung hingga lama, mendadak ia menerjang keluar. Akan tetapi baru

beberapa langkah mendadak ia mendekap di dinding dan menangis tergerung-gerung.

Ko-lothau mendekatinya dan membelai rambutnya pelahan, ucapnya: “Anak yang baik,

agaknya kau pandang segala urusan secara bersahaja. Hendaknya kau tahu, sekalipun kau

ingin menjadi orang jahat juga bukan perbuatan yang mudah. Terkadang, untuk menjadi

orang jahat malahan jauh lebih sulit daripada menjadi orang baik.”

Pwe-giok berbangkit dirasakan mukanya rada gatal, baru saja ia hendak menggaruknya,

mendadak Ko-lothau menarik tangannya dan berkata: “Dalam waktu tiga hari belum boleh

kau raba mukamu, sebaiknya juga jangan terkena air.”

“Masa aku masih harus menunggu tiga hari di sini?” tanya Pwe-giok.

Jilid 7________

“Tampaknya kau tidak sabar menunggu lagi, boleh kau keluar saja jika mau,” kata Ko-lothau.

“Cuma kau harus hati2…., Ya, sesungguhnya akupun tidak sabar ingin kau dilihat orang lain,

agar seluruh umat manusia di dunia ini mengetahui bahwa lelaki paling cakap dan sempurna

di dunia kini telah lahir!”

Ia memutar kasuran yang menutupi lobang keluar itu, maka cahaya lantas menerangi wajah Ji

Pwe giok.

Sekuatnya Ko lothau menepuk pula pundak Ji Pwe giok, katanya dengan tertawa: “Kenapa

tidak lekas kau keluar?”

“Boleh… boleh ku keluar sekarang juga?” tanya Ji Pwe giok dengan ragu2.

“Mengapa tidak?” jawab Ko lothau dengan tertawa. Hendaklah kau tahu, selanjutnya tidak

perlu lagi kau takut bertemu dengan siapapun, seterusnya tiada orang yang mengenal kau lagi.

Pwe giok memandangi Cia Thian pi sekejap, dilihatnya ketua Tiam jong pay itu masih terus

bergumam: “Orang mati bisa berkeringat…. orang mati telah menghilang… “

Pedih juga hati Pwe giok, ia pegang tangan Cia Thian pi, katanya dengan menyesal:

“Cianpwe, engkau….”

“Tak perlu kau pikirkan dia,” seru Leng hong mendadak sambil berpaling, “Karena aku yang

mengakibatkan dia gila, dengan sendirinya akan kujaga dia. Di Sat jin ceng ini tiada orang

lain yang akan tahu rahasiaku, juga tidak bakal ada orang yang menemukan dia.

“Jadi nona sendiri masih akan berdiam di Sat jin ceng sini?” tanya Pwe giok.

“Mengapa tidak?” jawab Leng hong ketus.

“Tapi Ki Song hoa… ” Pwe giok ragu2 untuk meneruskan.

Renjana Pendekar > Karya Khulung > Diceritakan oleh : GAN KL > buyankaba.com 159

“Hm, jika dia tahu aku belum mati, asal melihat mukaku mungkin akan lari terbirit-birit, mana

ia berani mencari perkara lagi padaku,” jengek Ki Leng hong. “Maka jangan kuatir terhadap

dia, tidak nanti dia berani menanyaiku cara bagaimana kita dapat lari keluar.”

Mendadak ia memandang Pwe giok dengan sorot mata dingin dan tajam, dia telah kembali

kepada keangkuahannya semula, lalu katanya pula: “Nah, kenapa kau tidak lekas pergi?

apakah perlu tunggu pikiranku berubah lagi?”

Ko lotahu menyela dengan tersenyum: “Ya, tampaknya memang lebih baik lekas kau pergi

saja, pikiran orang perempuan memang sangat mudah berubah.”

*****

Tiba di luar rumah kertas itu, cahaya sang surya menyinari baju Pwe giok yang putih bersih

itu, pakaian ini dengan sendirinya juga disediakan oleh Ko lothau.

Dengan baju yang baru, dengan wajah baru, kini Ji Pwe giok berada kembali di tengah Sat jin

ceng. Dunia ini seakan-akan sedang menyambut kemunculannya dengan segala sesuatu yang

serba baru.

Di bawah cahaya sang surya yang cemerlang, sampai-sampai Sat jin ceng yang biasanya

seram menakutkan inipun penuh suasana hangat, tercium bau harum bunga dan kicau burung

yang merdu sama sekali tidak tercium bau darah lagi.

Pwe giok mendekati sebuah sungai kecil, dengan air sungai ia berkaca, dilihatnya bayangan

seorang pemuda tampan seperti lukisan sedang memandangnya.

Pemuda ini kelihatan seperti Ji Pwe giok, tapi seperti bukan Ji Pwe giok, meski mata alis

pemuda ini menyerupai Ji Pwe giok, namun entah berapa kali lebih cakap daripada Ji Pwe

giok.

Jika alis Pwe giok semula agak tebal, sekarang alis pemuda ini sudah dibenahi sedemikian

bagusnya. Jika pemuda sekarang ini diibaratkan sebuah lukisan karya seniman nomor wahid,

maka Ji Pwe giok boleh dikatakan cuma barang tiruan dari pelukis kaki lima.

Sampai terkesima sendiri Pwe giok memandangi bayangan di permukaan air itu, gumamnyal

“Masakan ini diriku?… wahai Ji Pwe giok, perlu kau ingat, wajah ini kau pinjam pakai untuk

sementara waktu saja, jangan sekali-kali kau melupakan dirimu sendiri.

Sekonyong-konyong didengarnya suara tindakan orang banyak.

Pwe giok masih was-was, tanpa terasa ia menyelinap ke balik gunung-gunungan palsu, maka

terlihatlah beberapa orang sedang mendatangi sambil mengobrol.

Terdengar seorang diantaranya berkata dengan tertawa: “Menurut cerita yang tersiar di

kangouw, konon Sat jin ceng ini sedemikian misteriusnya, sangat menyeramkan dan macammacam

lagi, tempat ini dilukiskan seolah-olah istana hantu atau neraka, tapi setelah kita lihat

sendiri, ternyata juga tiada ubahnya dengan tempat lain.”

Renjana Pendekar > Karya Khulung > Diceritakan oleh : GAN KL > buyankaba.com 160

“Kedatanganmu bukan untuk membunuh orang, tentunya kaupun takkan dibunuh orang,”

demikian seorang lagi menanggapi. “Kita cuma datang untuk melawat orang mati, dengan

sendirinya Sat jin ceng dalam pandanganmu menjadi tempat yang biasa saja.”

Dengan tertawa orang ketiga menyela: “Padahal kedatanganku untuk melawat ini hanya purapura

saja, yang benar aku memang ingin tahu bagaimana bentuknya Sat jin ceng. Jika

kesempatan ini tidak kugunakan untuk masuk ke Sat jin ceng, di hari2 biasa jangan harap

akan dapat keluar dengan hidup”

Begitulah sambil bersenda-gurau beberapa orang itu lantas lalu dari situ.

Pikiran Pwe giok tergerak, diam-diam iapun ikut menuju ke sana.

Belum lagi sampai di ruangan pendopo sana dari jauh sudah kelihatan orang banyak

berkerumun, Pwe giok ikut berjubel di tengah orang banyak sehingga apapun tidak terlihat.

Hanya didengarnya seorang berkata: “Meski kematiannya tidak gemilang, tapi yang melawat

ternyata luar biasa.”

“Ini kan berkat nama besar ayahnya,” kata orang lain.

Pwe giok coba menepuk pundak orang itu dan bertanya: “Para pelawat ini entah ksatriaksatria

dari mana saja?”

Orang itu menoleh sambil berkerut kening, tampaknya merasa tidak suka ditanya, tapi demi

nampak wajah Pwe giok, seketika terunjuk senyuman pada wajahnya, jawabnya: “Ah

barangkali anda tidak tahu, bahwa yang kita lawat ini adalah Ji Pwe giok, putera Bulim

bengcu sekarang.”

“Oo, kiranya dia.” ujar Pwe giok sambil menyengir.

Orang mengacungkan jari jempolnya dan berkata pula: “Ji Hong-ho benar2 tak malu sebagai

Bulim bengcu, Anaknya mati, sama sekali ia tidak mengusut bagaimana kematiannya, bahkan

ia berkata: “Jika anak durhaka ini masih hidup, tetap aku akan menumpasnya bagi

kesejahteraan umum. Sekarang dia sudah mati, mengingat hubungan ayah dan anak, terpaksa

harus kulawat ke sini,… coba, betapa bijaksana dan luhur budinya bulim bengcu kita ini.

Sebab itulah, meski waktu hidupnya Ji Pwe-giok tidak dihormati, sesudah mati malah

menerima penghormatan yang besar.”

“Eh, tampaknya anda masih asing, bolehkah mengetahui nama anda yang terhormat?” tanya

orang kedua tadi.

Pwe giok tersenyum hambar, jawabnya: “Cayhe Ji Pwe giok adanya”

Orang itu berjingkat kaget, tapi segera ia tertawa dan berkata: “Ah,.. orang kangouw sama she

dan nama tidaklah sedikit. Kalau melihat wajah anda, jelas jauh lebih cakap daripada Ji Pwe

giok yang mati itu.”

“Ah, masa?” ujar Pwe giok tersenyum.

Renjana Pendekar > Karya Khulung > Diceritakan oleh : GAN KL > buyankaba.com 161

Tengah bicara, kerumunan orang banyak mendadak tersingkir ke pinggir, seorang perempuan

cantik luar biasa tampak muncul dengan langkah lemah gemulai.

Segera Pwe giok kenal perempuan cantik ini ialah Hay hong hujin yang namanya

mengguncangkan dunia itu.

Sebelah tangan nyonya cantik menggandeng seorang gadis cantik berbaju hitam, muka

dikerudungi sutera tipis, meski tidak kelihatan wajahnya dengan jelas, tapi dapat didengar

suara tangisnya yang tersedu-sedang.

Tanpa melihat wajah gadis berbaju hitam itu dapatlah Pwe giok mengetahui siapa dia.

Tergetar juga hatinya, tanpa terasa ia terkesima.

Seperti sengaja Hay hong hujin meliriknya sekejap dengan mengulum senyum, tapi gadis

berbaju hitam itu tetap menunduk dan menangis pelahan tanpa memandang siapapun juga.

Lirikan Hay hong hujin penuh daya tarik, namun Pwe giok seperti tidak tahu, maklum

baginya saat ini selain gadis baju hitam itu boleh dikatakan tiada seorang lain lagi yang

terlihat olehnya.

Terdengar orang2 sedang membicarakan kedatangan Hay hong hujin dan gadis berbaju hitam

itu.

Seorang berkata: “Nona ini konon adalah bakal istri Ji Pwe giok, waktu bersembahyang di

depan layon tadi sedikitnya tiga kali dia jatuh pingsan, bahkan nekat ia telah memotong

rambutnya.”

Seketika hati Pwe giok seperti ditusuk-tusuk, hampir saja ia tidak tahan dan menerjang ke

sana untuk memberitahu siapa dirinya dan meminta nona itu jangan bersedih.

Tapi saat itu Hay hong hujin dan Lim Tay-ih sudah berlalu dan Pwe giok juga menahan

perasaannya sebisanya.

Terdengar ada orang berkata pula dengan menyesal: “Mempunyai ayah dan isteri sebaik ini,

jika Ji Pwe giok itu dapat menjaga diri tentu hidupnya akan bahagia dan mengagumkan orang.

Cuma sayang, dia justeru tidak tahu diri…”

Di tengah ramai orang bicara itu, mendadak seorang berteriak: “Ji Pwe giok adalah sahabatku,

semasa hidupnya berbuat atau jelek janganlah diurus lagi. Tapi sesudah dia mati, bila masih

ada orang suka membicarakan baik-buruknya dan terdengar olehku, maka bolehlah dia

berhadapan denganku.”

Segera terlihat seorang melangkah tiba dengan wajah penuh rasa sedih dan penasaran, dengan

bersitegang ia terus pergi menyusur kerumunan orang banyak. Dia tak lain tak bukan ialah

Ang lian hoa yang berbudi luhur dan setia kawan itu.

Perasaan Pwe giok benar-benar disayat-sayat.

Dengan jelas dilihatnya bakal isterinya dan sahabat karibnya lewat di depan matanya, tapi

dirinya tidak berani menegur dan menyapanya. Sungguh tiada kejadian lain yang lebih

Renjana Pendekar > Karya Khulung > Diceritakan oleh : GAN KL > buyankaba.com 162

memilukan daripada sekarang ini. Sekalipun Pwe giok dapat menahan diri, tidak urung

bercucuran juga air matanya.

Untung saat itu siapapun tidak memperhatikan dia, sebab tokoh yang paling menarik di dunia

persilatan saat ini telah muncul, yaitu bulim bengcu Ji Hong ho.

Meski wajahnya juga penuh rasa duka nestapa, serombongan orang yang ikut di belakangnya

juga semua sama menunduk dengan langkah berat, hanya saja air mata mereka tidak sampai

menetes.

Dada Pwe giok serasa mau meledak demi melihat orang ini. Tapi pada saat dan tempat ini

betapapun sedih dan murkanya juga dapat ditahannya.

Kerumunan orang banyak mulai bubar, setiap orang yang lalu di depan Pwe giok tentu

menoleh dan memandangnya sekejap dua seakan-akan semuanya terkejut dan heran mengapa

di dunia ini ada pemuda setampan ini.

Sampai lama Pwe giok berdiri bingung di situ, sekonyong-konyong ia melihat wajah Ki Song

hoa, orang kerdil itu sedang memandangnya dengan tertawa.

Meski wajah ini tampaknya kekanak-kanakan dan sedemikian polosnya, tapi bagi Pwe giok

saat ini terasa lebih seram daripada ular yang paling berbisa.

Selagi ia hendak tinggal pergi, tak terduga Ki Song hoa lantas mendekatinya. Diam-diam Pwe

giok terkesiap, pikirnya: “Jangan-jangan dia telah mengenal diriku”

Langsung Ki Song hoa mendekati Pwe-giok, ia memberi hormat dan menegur: “Cakap benar

saudara ini, sungguh cayhe sangat kagum. Entah sudikah mampir sejenak ke kediamanku

untuk minum dua cawan agar cayhe dapat sekedar memenuhi kewajiban sebagai tuan rumah.”

Ucapannya sangat serius dan jujur dengan tersenyum ramah, undangan yang penuh simpatik

ini sukar bagi siapapun untuk menolaknya. Jika orang lain pasti akan segera ikut pergi tanpa

sangsi.

Tapi bagi Pwe giok sekarang, wajah yang simpatik ini justeru tiada ubahnya seperti topeng

hantu, semakin enak didengar ucapannya semakin sukar untuk diraba muslihat yang

terkandung didalamnya.

Pwe giok merasa ngeri, terpaksa ia menjawab: “Ah, mana cayhe berani mengganggu

ketenangan cengcu.”

“Jika anda tidak mau berarti memandang rendah padaku,” ucap Ki Song hoa dengan tertawa,

segera ia tarik tangan Ji Pwe giok dan diajaknya menuju ke dalam rumah.

Tangan orang kerdil ini terasa dingin dan lembab sehingga serupa badan ular, Pwe giok

menjadi bingung dan tidak tahu cara bagaimana melepaskan diri.

Syukurlah pada saat itu juga terdengar seorang gadis berseru dengan suara merdu: “Tamu ini

sudah berjanji lebih dulu akan bertemu dengan hujin kami, harap cengcu melepaskan dia.”

Renjana Pendekar > Karya Khulung > Diceritakan oleh : GAN KL > buyankaba.com 163

Sebuah tangan yang putih halus segera terjulur tiba, seperti tidak sengaja terus memencet ke

urat nadi tangan Ki Song hoa.

Terpaksa Ki Song hoa harus lepas tangan, dilihatnya seorang gadis berbaju merah tipis sedang

memandangnya dengan matanya yang jeli dan tersenyum nakal.

“Besar amat nyali nona cilik, tahukah kau siapa aku?” tanya Ki Song hoa dengan terkekehkekeh.

Dengan tertawa nona baju merah itu menjawab: “Dan tahukah kau siapa hujin kami?”

“Memang ingin kutanya siapa dia?” jawab Ki Song Hoa.

Nona berkedip-kedip seperti penuh rahasia ia mendesis perlahan: “Kuberitahu padamu dan

jangan kau katakan pada orang lain. Beliau adalah Hay-hong hujin.”

Ki Song hoa melengak mendadak ia putar tubuh dan melangkah pergi tanpa menoleh.

Pwe giok menghela napas lega menyaksikan si kerdil tua itu.

Tiba-tiba didengarnya pula si nona baju merah berkata: “Kau pandangi orang kerdil itu,

apakah kau merasa berat di tinggal pergi olehnya dan ingin ikut ke sana?”

Karena dipandang oleh mata si nona yang terbelalak lebar itu, Pwe giok jadi kikuk.

“Kau tahu untuk apa dia mengundangmu ikut ke sana?” tanya si nona.

“Tidak, tidak tahu” jawab Pwe giok.

Nona itu tertawa terkikik-kikik, katanya: “Dia mengajakmu ke sana adalah untuk membunuh

kau. Sebab selama ini dia belum pernah membunuh lelaki setampan kau, maka dia ingin

mencicipi rasanya membunuh seorang pemuda cakap. menurut pikiranku, membunuh pemuda

tampan seperti dirimu ini memang benar jauh lebih merangsang daripada membunuh orangorang

yang buruk rupa itu.”

“Apakah kaupun ingin coba2?” tanya Pwe giok dengan tertawa.

Gemerdep biji mata si nona yang jeli itu, jawabnya sambil tertawa genit: “Meski aku memang

ingin mencobanya, tapi masa aku tega turun tangan?”

Sambil tertawa mendadak ia jejalkan sepotong lipatan kertas ke tangan Pwe giok, lalu berlari

pergi dengan terkikik-kikik. tidak beberapa jauh, mendadak ia berpaling dan berseru:” Anak

tolol, untuk apa kau berdiri melongo di situ? lekaslah buka kertas itu dan dibaca, ada rejeki

nomplok masa belum kau rasakan?”

Pwe giok tercengang, tercium bau harum yang memabukkan, bau harum seperti bau harum

yang terbawa Hay hong hujin itu.

Renjana Pendekar > Karya Khulung > Diceritakan oleh : GAN KL > buyankaba.com 164

Segera ia membuka surat itu, dilihatnya di situ tertulis: “Tengah malam nanti di luar Sat jin

ceng, di depan Hoa sin su, tersedia bunga indah dan minuman enak, anda datang atau tidak?”

*****

Malamnya, belum tengah malam Ji Pwe giok sudah berada di depan Hoa sin su atau kelenteng

malaikat bunga.

Dia memenuhi undangan itu bukan karena tertarik kepada bunga yang indah, juga bukan

terpikat oleh minuman enak, tapi karena ingin bertemu dengan si jelita berkerudung sutera

hitam seperti diselimuti oleh kabut tipis itu.

Di bawah sinar bulan di depan Hoa sin su yang sunyi itu entah mulai kapan sudah berwujud

lautan bunga, di tengah onggokan bunga itu setengah berbaring sesosok tubuh yang cantik

dengan baju sutera tipis. Di tengah lautan bunga dan di bawah cahaya bulan yang permai

tertampak kerlingan mata yang menggiurkan dengan tubuh putih mulus membuat orang lupa

daratan.

Namun begitu Pwe giok merasa kecewa juga, biarpun mendapat pelayanan serupa di surga

tetap dirasakannya tidak lebih bahagia daripada kerlingan mata si “dia” yang dirindukannya.

Terdengar suara tertawa nyaring berkumandang dari lautan bunga sana: “Kau sudah datang,

mengapa tidak berani kemari? Apakah kau sudah mabuk sebelum mendekat?”

Dengan langkah lebar Pwe giok mendekati si cantik, jawabnya dengan tersenyum hambar:

“Sebelum mengetahui untuk apa hujin mengundangku ke sini, mana cayhe berani mabuk

lebih dulu.”

“Bulan seterang ini, malam seindah ini, jika dapat mengobrol dan minum bersama pemuda

tampan seperti kau, bukankah suatu kesenangan hidup? Apakah alasan ini belum cukup dan

perlu lagi kau tanya padaku untuk apa kuundang kau kemari?”

Pwe giok tersenyum, ia menuju ke depan Hay hong hujin dan berduduk, ia menuang arak dan

diminumnya sendiri, berturut-turut dihabiskannya tiga cawan, ia angkat cawan terhadap bulan

dan berseru tertawa: “Betul, orang hidup berapa lama, kalau dapat minum bersama di bawah

bulan purnama, inilah kesenangan orang hidup yang utama, apa pula yang perlu

kutanyakan…”

Sebenarnya Pwe giok adalah pemuda yang hidup prihatin, tapi seorang kalau sudah

mengalami beberapa kali hidup kembali dari kematian, maka terhadap segala persoalan di

dunia ini akan dipandangnya tawar dan tiada artinya, untuk apa dia mesti mengikat diri

dengan susah payah? Kini sesuatu urusan yang dianggap orang lain sangat gawat, baginya

sudah bukan apa-apa lagi.

Hay hong hujin menatapnya dengan tajam, mendadak dia tertawa dan berkata: “Tahukah

kau?.. makin lama aku semakin tertarik olehmu!”

“Tertarik?” Pwe giok mengulang dengan tertawa.

Renjana Pendekar > Karya Khulung > Diceritakan oleh : GAN KL > buyankaba.com 165

“Ya, segala sesuatu mengenai dirimu, semuanya aku merasa tertarik,” jawab Hay hong hujin.

“Misalnya.. Siapa dirimu? darimana asal usulmu dan dari aliran mana ilmu silatmu?”

“Seorang petualang yang suka mengembara ke segenap pelosok dunia ini, mungkin dia

sendiripun tidak tahu cara bagaimana harus menjawab pertanyaanmu ini? Bukankah begitu?”

“Usiamu masih muda, memangnya betapa banyak pengalamanmu? mengapa caramu bicara

seolah-olah sudah kenyang dengan segala macam asam garam kehidupan ini dan seolah-olah

sudah hambar terhadap kehidupan ini?”

“Ada beberapa orang, biarpun baru sebulan menghadapi berbagai persoalan, mungkin sudah

jauh lebih banyak daripada apa yang dialami oleh orang lain.

Mendadak Hay hong hujin tertawa nyaring pula, katanya: “Tepat sekali ucapanmu. Tapi

sedikitnya kan harus kau katakan namamu dulu?”

Pwe giok berpikir sejenak, jawabnya kemudian: “Cayhe Ji Pwe giok.”

“Ji Pwe giok?” Hay hong hujin menegas. Suara tertawanya seketika berhenti.

“Apakah hujin merasa namaku ini tidak baik?” tanya Pwe giok.

“Aku cuma merasa lucu pada namamu.” jawab Hay hong Hujin dengan tertawa cerah.

“Bahwa Ji Pwe giok sendiri ikut melawat kematian Ji Pwe giok, apakah hal ini tidak kau

rasakan lucu?” – Ia tatap anak muda ini dengan sorot mata tajam dan ingin tahu apa reaksinya.

Pwe giok tetap tenang-tenang saja, ucapnya dengan tersenyum hambar: “Ji Pwe giok ini dan

Ji Pwe giok itu memang ada perbedaannya, meski seorang Ji Pwe giok telah mati, tapi ada

seorang Ji Pwe giok yang lain masih hidup.”

“Dapatkah kau meyakinkan bahwa kau sendiri bukan Ji Pwe giok yang mati itu?” kata Hay

hong hujin sekata demi sekata.

Pwe giok terbahak-bahak: “Hahahaha!.. Memangnya hujin menyangka aku ini badan halus?”

Hay hong hujin tersenyum, katanya: “Pertama kali kulihat kau segera kurasakan kau memang

rada-rada berbau setan!”

“Ooh?”

“Sebab kau ini seperti mendadak muncul di dunia ramai dari alam halus sana. Sebelum

kemunculanmu, tidak pernah ada orang yang melihat kau dan juga tiada seorangpun yang

tahu asal usulmu.”

“Jangan-jangan hujin sudah menyelidiki seluk beluk diriku?” tanya Pwe giok.

Hay hong hujin tertawa genit, katanya: “Tiada seorang perempuan di dunia ini yang tak

tertarik kepada lelaki semacam kau ini. Dan aku, betapapun aku kan juga perempuan, betul

tidak?”

Renjana Pendekar > Karya Khulung > Diceritakan oleh : GAN KL > buyankaba.com 166

“Hujin bukan saja perempuan, boleh dikata hujin adalah perempuannya perempuan, dewi nya

dewi,” ujar Pwe giok dengan tertawa.

“Tapi kau ternyata tidak tertarik kepadaku,” kata Hay hong hujin. “Waktu ku lalu di depanmu,

kau bahkan melirik saja tidak, bukankah hal ini rada-rada mengherankan?”

Meski senyumnya sedemikian genit, walaupun suaranya begitu lembut, tapi ucapan2 itu

seakan-akan semacam duri yang dapat menembus segala rahasia orang hidup di dunia ini.

Diam-diam Pwe giok terkejut, sedapatnya ia menenangkan diri, jawabnya dengan tersenyum:

“Menghadapi kecantikan hujin yang semarak, mana cayhe berani memandang secara kurang

sopan?”

“Kukira yang kau pandang hanya orang yang berjalan di sisiku,” Ucap Hay hong hujin dengan

lembut. “Tapi dia memakai cadar sutera hitam, hakekatnya kau tidak dapat mengenal

wajahnya. Caramu memandang dia, jangan2 sudah kau kenal dia sebelumnya?”

“Sia.. siapa dia?” tanya Pwe giok.

“Jangan kau harap akan mengelabui diriku,” ujar Hay hong hujin dengan tertawa genit.

“Sudah kurasakan kau ialah Ji Pwe giok yang mati itu. Kau tahu, sampai saat ini di dunia ini

belum pernah ada seorangpun yang dapat membohongi aku.”

Hay hong hujin yang namanya menggoncang dunia ini benar-benar luar biasa, sorot matanya

seperti mengandung semacam kekuatan gaib yang dapat menjelajahi segala sesuatu.

Sedapatnya Pwe giok bersikap tenang dan menahan guncangan perasaanya, jawabnya dengan

tertawa hambar: “Di dunia ini mungkin tiada seorangpun yang tega membohongi hujin.”

“Dan kau?” tanya Hay hong hujin.

“Cayhe kan juga manusia, betul tidak?” jawab Pwe giok.

“Bagus, bagus sekali!” Hay hong hujin tertawa terkikik-kikik. Mendadak ia bertepuk tangan

dari balik semak2 bunga sana lantas muncul satu orang.

DI bawah sinar bulan yang terang, pada matanya yang mendelong itu seakan-akan terhimpun

kedukaan yang sukar diuraikan, mukanya yang pucat membawa semacam rasa sedih yang tak

dapat diutarakan.

Perasaan sedih dan duka yang mendalam itu tak mengurangi kecantikannya, sebaliknya malah

menimbulkan semacam daya tarik yang menggetar sukma sehingga kelihatannya dia bukan

lagi kecantikan manusia, melainkan cantiknya dewa bunga di atas langit, mencakup seluruh

keindahan bunga yang terdapat di dunia ini.

Seketika itu Pwe giok merasa langit seakan-akan berputar dan bumi terbalik, napasnya serasa

mau berhenti.

Renjana Pendekar > Karya Khulung > Diceritakan oleh : GAN KL > buyankaba.com 167

Hay hong hujin menatapnya dengan tajam, setiap perubahan air mukannya tak terlepas dari

pengamatannya. Dia menuding Lim Tay-ih yang muncul dari balik semak-semak bunga itu

dan bertanya: “Coba kau pandang dia lebih teliti, kau kenal dia tidak?”

Pwe giok mengangkat cawan dan ditenggaknya hingga habis, jawabnya: “Tidak kenal.”

“Tidak kenal,” meski cuma dua kata yang sangat sederhana, tapi entah telah memerlukan

betapa besar tenaga Pwe giok untuk bisa mengucapkannya. Kedua kata itu laksana dua bilah

belati yang menusuk kerongkongannya, seperti dua bola bara yang telah membakar lidahnya

dan menghanguskan hatinya.

Sudah jelas2 orang yang dirindukannya, orang yang paling dicintainya, tapi dia justru

mengeraskan hati dan menjawab “tidak kenal”. Coba, adakah sesuatu di dunia ini yang lebih

menyakitkan hati daripada kejadian ini?

Sudah terang dia inilah sisa satu2nya sanak keluarganya, tapi dia justeru harus berlagak tidak

mengenalnya. Coba, adakah sesuatu di dunia ini yang lebih kejam daripada kenyataan ini?

Arak wangi telah masuk tenggorokannya, arak sedap berbau wangi, tapi rasanya seakan-akan

telah berubah menjadi pahit dan sepat. Kehidupan ini memang mirip arak yang getir ini dan

arak getir ini terpaksa harus diminumnya.

Hay hong hujin lantas berpaling kepada Lim Tay ih dan bertanya: “Apakah kau kenal dia

ini?”

Wajah Lim Tay ih yang pucat lesi itu tiada memperlihatkan sesuatu perasaannya, jawabnya

dingin, “Tidak kenal!”

Sudah jelas si nona adalah bakal istrinya tapi di depannya menyatakan tidak kenal padanya,

ucapan itu mirip dua anak panah yang menancap di ulu hati Ji Pwe giok.

Akhirnya Hay hong hujin menghela napas perlahan, katanya: “Jika dia juga tidak kenal kau,

agaknya kau memang bukan Ji Pwe giok yang sudah mati itu, pula,.. jika bakal istrinya sendiri

saja tidak mau mengakuinya lagi, maka orang itu sekalipun hidup juga sama seperti sudah

mati.”

Hati Ji Pwe giok memang benar2 sudah mati, dia menengadah dan terbahak-bahak: “Bagus

sekali ucapan hujin ini, perkenankan cayhe menyuguh hujin tiga cawan.”

Dia menuang dan diminum sendiri, hanya sekejap saja sudah berpuluh cawan arak masuk

perutnya, sampai2 Lim Tay ih sudah pergi juga tak dipandangnya barang sekejap.

“Kau sudah mabuk,” ujar Hay hong hujin dengan tertawa.

“Ya, berapa kalikah orang hidup ini sempat bermabuk-mabukan?” kata Pwe giok sambil

angkat cawan araknya.

“Betul juga, sekali mabuk dapat membuyarkan seribu kesedihan,” ucap Hay hong hujin

dengan rawan, “Baiklah, silahkan kau mabuk!”

Renjana Pendekar > Karya Khulung > Diceritakan oleh : GAN KL > buyankaba.com 168

“Cuma sayang, hanya beberapa cawan arak ini belum lagi dapat memabukkan diriku!” kata

Pwe giok, seolah-olah bergumam sendiri.

Ia tahu betapapun kuat takaran minumnya, tapi arak seratus bunga buatan Hay-hong Hujin ini

lain daripada arak biasa. Kini seluruh tubuhnya terasa ringan seakan-akan terbang, rupanya

dia benar-benar sudah mabuk.

Terdengar Hay-hong Hujin lagi berkata dengan suara lembut: “Mabuklah, silahkan

mabuklah…., berkecimpung di tengah Kangouw yang penuh bahaya ini, kalau untuk mabuk

saja tidak bisa, maka hidup manusia inipun terlalu memilukan. Lain kali jika kau masih ingin

mabuk, bolehlah kau kemari mencari diriku.”

Ditengah mabuknya Pwe-giok merasa di depan matanya muncul berbagai bayangan orang

yang berbentuk macam-macam, tinggi pendek, gemuk kurus, semua ada. Malah setiap orang

itu sama beringas menakutkan. Lalu dia seperti mendengar suara Hay-hong Hujin berkata: “Ji

Pwe-giok ini hanya seorang pemuda yang baru terjun di dunia Kangouw, kukira kalian akan

percaya padaku.”

Dunia Kangouw ternyata sedemikian keji dan berbahaya, terhadap setiap orang asing selalu

harus diselidiki asal-usulnya. Jika tidak ada Hay-hong Hujin, mungkin masih banyak sekali

kesulitan yang harus dihadapi Pwe-giok.

Rasa terima kasih Ji Pwe-giok terhadap Hay-hong Hujin sungguh tak terkatakan, sedapatnya

ia ingin mengucapkan beberapa kata sebagai tanda terima kasihnya, tapi suaranya terasa

samar-samar sehingga ia sendiripun tidak tahu apa yang diucapkannya.

Hanya didengarnya Hay-hong Hujin berkata pula: “Sekali anak muda ini menjadi tamuku,

maka selama hidupnya dia adalah tamu kehormatan Pek-hoa kiong kami. Selanjutnya jika

tiada sesuatu keperluan apa-apa, hendaklah kalian jangan mengganggu dia. Dan sekarang,

biarkan dia tidur saja…..”

*****

Pwe-giok benar-benar terus pulas.

Waktu mendusin, bau harum bunga, sinar bulan purnama, semua sudah tidak ada lagi. Yang

ada cuma remang-remang sinar sang surya yang meliputi bumi.

Di kejauhan terdengar suara burung berkicau. Menyusul lantas terlihat sesosok bayangan

orang yang ramping muncul dari balik kabut pagi dan mendekatinya dengan pelahan.

Kedatangannya laksana membawa suasana baru bagi bumi raya ini. Sinar matanya gemerdep

terang, jernih dan murni, berbeda dengan sorot mata Hay hong Hujin yang tajam dan genit itu,

juga tiada sedih dan duka seperti sorot mata Lim Tay-ih. Dunia yang ruwet ini, bagi

pandangannya seakan-akan juga sedemikian sederhana, bersahaja tanpa sesuatu hiasan.

Dia pandang ji Pwe-giok, lalu menegur dengan suara merdu: “Wahai walet yang tersesat,

akhirnya kau sadar juga. Di dunia ini masih banyak air sumber yang jernih dan manis,

mengapa kau sengaja minum arak?”

Renjana Pendekar > Karya Khulung > Diceritakan oleh : GAN KL > buyankaba.com 169

Ji Pwe-giok menghela napas perlahan, gumamnya: “Kesusahan orang hidup, dengan

sendirinya tak dapat dipahami oleh nona kenari.”

Gadis itu memang si nona kenari Ki Leng-yan. Mendadak iapun menghela napas, ucapnya

dengan sayu: “Tahukah kau si Kenari yang tadinya tidak tahu apa artinya sedih, kini juga

mulai gundah?”

“Memangnya kenapa nona merasa gundah?” tanya Pwe-giok dengan tersenyum getir.

Tiba-tiba menetes air mata Ki leng-yan, jawabnya: “Sarang si Kenari telah penuh digenangi

darah. Dia tidak dapat berdiam lagi disitu. O, Kenari yang harus dikasihani, kini tiada tempat

lain lagi yang dapat ditujunya.” – Mendadak ia pegang tangan Pwe-giok dan menyambung

dengan setengah meratap: “O, kumohon padamu, bawalah serta diriku, ke manapun juga akan

kuturut padamu.”

Tergerak hati Pwe-giok, jawabnya dengan suara keras: “Cara bagaimana kau tahu siapa diriku

ini? Mengapa kau ingin ikut bersamaku?”

“Kukenal matamu ini”, kata Ki Leng-yan. “Sedemikian bajik, sedemikian bagus matamu ini

dan juga sedemikian perwira, sama seperti burung walet. Matamu yang lain daripada yang

lain ini, mana bisa kulupakan?”

Gadis yang linglung ini ternyata memiliki daya pandang sepeka ini. Barang sesuatu yang

diketahui setiap orang mungkin takkan dipahami olehnya, tapi sesuatu lain yang tak dapat

dipecahkan orang lain justru dapat diketahui olehnya. Mungkin inilah sebabnya dia tidak

paham kata-kata manusia, sebaliknya paham bahasa burung.

Pwe-giok terdiam sejenak, ucapnya kemudian dengan tersenyum: “Kau tahu, tak mungkin kau

dapat ikut pergi bersamaku, sebab tempat yang hendak ku tuju itu dimana-mana penuh

bahaya, setiap orang bisa membikin susah padamu.”

“Tidak, aku tidak takut, di bawah perlindungan mu, apapun aku tidak takut,” jawab Leng-yan

tegas.

Dia pandang Pwe-giok dengan termangu-mangu, sorot matanya penuh harap juga penuh

kepercayaan terhadap anak muda itu. Menghadapi sorot mata demikian, siapa pula yang tega

menolak permintaannya?

Akhirnya Pwe-giok menghela napas panjang, katanya: “Jika kau ingin ikut padaku, sungguh

akupun tidak dapat menolak permintaanmu. Cuma… aku sendiri tidak tahu apakah dapat

melindungi diriku sendiri atau tidak, cara bagaimana ku tahu akan dapat melindungi dirimu?”

Leng-yan tertawa, katanya: “Ku tahu engkau pasti akan menerima permintaanku…” Begitulah

Pwe-giok berjalan di depan dang Leng-yan ikut di belakang, sama sekali ia tidak perduli ke

manapun pwe-giok akan pergi, padahal Pwe-giok sendiripun tidak tahu dirinya akan pergi ke

mana?

Dia berjalan dengan hati bimbang, selagi merenungkan ke arah mana harus dituju, tiba-tiba

terdengar angin berkesiur, empat orang melayang keluar dari balik pohon sana dan

Renjana Pendekar > Karya Khulung > Diceritakan oleh : GAN KL > buyankaba.com 170

menghadang di depannya. Gerakan ke empat orang ini sedemikian cepat dan gesitnya, jelas

semuanya jago-jago kelas tinggi.

Segera Pwe-giok dapat melihat jelas siapa ke empat orang ini. Kiranya mereka adalah

samaran komplotan jahat itu, yakni Ong uh-lau, Lim Soh-koan, Ong Sin-jiang dan Sebun Bukut.

Ong Uh-lau mendahului maju dan menegur dengan sorot mata tajam: “Ji Pwe-giok bukan?”

“Cayhe memang Ji Pwe-giok adanya,” jawab Pwe-giok hambar. “Siapakah anda sekalian dan

ada urusan apa?”

Empat pasang mata yang tajam dan kejam itu sama menatap muka Pwe-giok, mereka ingin

tahu bagaimana perubahan sikap anak muda itu. tapi Pwe-giok hanya tenang-tenang saja.

Maklum, sudah terlalu banyak pengalaman pahit serta kejadian seram yang dialaminya, di

dunia sesungguhnya tiada sesuatu urusan dapat menakutkan dia lagi.

Ong Uh-lau bergelak tertawa, katanya: “Ji-kongcu baru saja terjun di dunia kangouw dan

lantas mendapat perlakuan istimewa dari Hay-hong Hujin, dengan sendirinya Ji-kongcu

mempunyai asal-usul yang lain daripada yang lain pula. Kami tidak berani sembrono, yang

kami inginkan adalah belajar kenal dengan ilmu silat Ji-kongcu.”

Pwe-giok terbahak-bahak, jawabnya: “Kiranya keterangan Hay-hong Hujin kemarin belum

meyakinkan kalian sehingga kalian sekarang hendak memaksa kukeluarkan Kungfu

perguruanku, maksud tujuan kalian ingin membuktikan apakah diriku ini Ji Pwe-giok yang

mati kemarin ini atau bukan?”

Dia sengaja membongkar maksud tujuan mereka Tapi air muka Ong Uh-lau ternyata tidak

berubah, dengan tersenyum ia berkata: “Akhir-akhir ini di dunia Kangouw sedang digemari

ilmu tata rias, hal ini kukira cukup diketahui olehmu.”

“Apakah Cayhe mengalami tata-rias, masa kalian tidak dapat melihatnya?” ujar Pwe-giok.

“Ilmu tata rias memang beraneka ragamnya, justeru lantaran kami tidak dapat

membedakannya, maka terpaksa harus berlaku lebih hati-hati,” ujar Ong Uh-lau dengan

tersenyum. “Oleh karena itulah, asalkan anda memperlihatkan sejurus-dua, segera kami akan

mengundurkan diri.”

Gemerdep sorot mata Pwe-giok, katanya: “Sungguh aku tidak mengerti, sebab apa Ji Pwegiok

yang telah mati itu bisa membuat kalian sedemikian kuatir, kan jelas dia sudah mati,

mengapa kalian masih merasa tidak aman?”

Berubah juga air muka Ong Uh-lau, jawabnya dengan bengis: “Silahkan anda memperlihatkan

sejurus-dua dan segera akan kau ketahui sendiri.” Sambil bicara, segera pedangnya menusuk

ke depan, serangan cepat dan mantap, inilah jurus “Jong-liong-tay-thau” atau naga tua angkat

kepala, suatu jurus ilmu pedang perguruan Ong Uh-lau sendiri.

Tapi Ji Pwe-giok tidak nanti terpancing dan memperlihatkan ilmu silat perguruannya sendiri.

Ilmu silat Bu-kek-pay memang bergaya khas dan tidak sama dengan Kungfu dari perguruan

lain. Asalkan dia memainkan satu jurus saja segera akan dapat diketahui asal-usulnya.

Renjana Pendekar > Karya Khulung > Diceritakan oleh : GAN KL > buyankaba.com 171

Maka mendadak terdengar suara “trang” yang nyaring dan keras, pedang Ong Uh-lau yang

menusuk lurus ke depan itu terpukul menceng, padahal tenaganya boleh dikatakan jarang ada

bandingannya, tidak urung ia merasakan pergelangan tangannya linu pegal.

Tiba-tiba dilihatnya seorang gadis jelita berbaju seputih salju dengan memegang dua pedang

pendek telah menghadang di depan Ji Pwe-giok, dengan tersenyum berkata: “Dia orang baik,

kalian jangan membikin susah padanya.”

Berubah air muka Ong Uh-lau, jawabnya: “Siapa nona? Mengapa kau membelanya?”

“Ayahku sangat gemar membunuh orang, Ciciku juga suka membunuh orang,” jawab si nona

yang bukan lain daripada Ki Leng-yan, “meski aku tidak suka membunuh, tapi akupun tidak

suka menyaksikan sahabatku dianiaya orang lain, apalagi dibunuh.”

Sembari bicara dia terus putar kedua pedang pendek. Gerak tubuhnya begitu enteng gemulai,

tapi ilmu pedangnya justeru sedemikian aneh, cepat lagi ganas.

Sungguh Pwe-giok sendiripun tidak pernah menyangka nona yang baik itu memiliki ilmu

seganas itu.

Baru saja Ki Leng-yan menyelesaikan ucapannya tadi, sekaligus ia telah melancarkan

serangan 49 kali, begitu gencar serangannya sehingga membuat Lim Soh-koan dan tokohtokoh

yang tergolong jago pedang terkemuka itu sama melongo kaget.

Tapi Ki Leng-yan lantas menghentikan permainan pedangnya, lalu berkata dengan tertawa:

“Orang bilang ilmu pedangku ini sangat keji dan ganas, apakah kalian juga berpendapat

demikian?”

“Hehe, bagus, ilmu pedang bagus!” kata Ong Uh-lau dengan menyengir.

“Meski ilmu pedangku ini dibilang keji dan ganas tapi tidak kugunakan terhadap manusia,”

tutur Ki Leng-yan. “Asalkan tidak digunakan membunuh, betapapun keji dan ganasnva

sesuatu ilmu pedang kan tidak menjadi soal, betul tidak?”

Ong Uh-lau memandangnya sejenak, lalu dipandangnya pula Ji Pwe-giok, tanpa bicara

mendadak ia berpaling terus melangkah pergi dan dengan sendirinya diikuti oleh orang-orang

lain.

Leng-yan menyimpan kembali kedua pedang pendeknya, seperti tidak pernah terjadi apapun

ia pandang Pwe-giok, katanya dengan tertawa linglung; “Marilah kitapun pergi!”

Pwe-giok menghela napas, katanya: “Kau minta perlindungan ku, siapa tahu kau yang

melindungi diriku malah. Selama ini telah kuremehkan dirimu, sungguh tidak terduga ilmu

pedangmu sedemikian hebatnya.”

Si nona berkedip-kedip, katanya dengan tertawa: “Jadi kaupun memuji kebagusan ilmu

pedangku, semua burung kawanku juga bilang demikian. Kata mereka, setelah si Kenari

mahir ilmu pedang, selanjutnya tidak perlu lagi kuatir diserang oleh elang. Menurut kau,

orang-orang tadi elang atau bukan?”

Renjana Pendekar > Karya Khulung > Diceritakan oleh : GAN KL > buyankaba.com 172

Begitulah sepanjang jalan si nona jelita terus bicara tentang dia dan burung, tertarik juga Pwegiok

oleh ceritanya sehingga tidak merasa kesepian dalam perjalanan.

Semula Pwe-giok merasa sedih juga bagi jalan keluar dirinya, tapi setelah dipikir pula, dunia

seluas ini, ke manapun boleh pergi, dengan berkelana di dunia ini kan sekaligus dapat

menyelidiki rahasia komplotan jahat itu.

Karena pikiran itu, tekanan batinnya menjadi longgar. Waktu istirahat di suatu rumah makan,

ia minta disediakan dua poci arak seakan-akan hendak merayakan hidup barunya.

Ki Leng-yan ternyata mengiringi dia minum dua cawan. Burung kenari yang cantik ini jadi

tambah lincah dan terus mengoceh ke barat dan timur, berulang-ulang ia pun menuangkan

arak dan mengisi nasi di mangkuk Pwe-giok.

Bila Pwe-giok menolak pelayanan itu, maka si nona lantas kurang senang dan mengomel.

Ribut antara kedua muda mudi ini sebaliknya menimbulkan rasa takjub dan iri orang lalu.

Malamnya, si kenari yang terus menerus berkicau ini akhirnya tertidur. Tapi di kamar sendiri

Pwe giok bergolak-golek tak dapat pulas, diam-diam ia mengenakan baju dan keluar.

Rumah penginapan kecil ini terletak di luar kota. Cahaya bulan menyinari sebuah kolam kecil

di kaki bukit sana, di dalam kolam tampak bintik-bintik bintang gemerlapan, angin malam

meniup silir-silir membawa bunyi serangga dan suara katak.

Sudah sekian lama, untuk pertama kalinya ini Pwe-giok merasa hatinya rada tenang dan untuk

pertama kalinya pula dia dapat menikmati keindahan malam.

Dia terus melangkah ke depan, di bawah keremangan sinar bulan dan bau harum bunga teratai

di kolam…. Sekonyong-konyong, dua larik sinar pedang menyambar ke tenggorokannya.

Sama sekali tak terduga olehnya bahwa di tengah malam yang indah ini tersembunyi juga

hasrat membunuh sekeji ini. Ia terkejut dan cepat menjatuhkan diri ke tanah, syukur sergapan

itu sempat dihindarinya.

Pada saat yang sama empat orang berbaju hitam dan berkedok melompat keluar dari tempat

gelap, tanpa bicara pedang mereka terus menyerang lagi secepat kilat.

Gerakan Pwe-giok juga tidak berhenti, dia menyelinap keluar dari jaringan sinar pedang

musuh. Terdengar dering nyaring sinar pedang, tahu-tahu kain bajunya terkoyak-koyak

menjadi potongan kecil dan bertebaran.

Agaknya kawanan seragam hitam itu tidak ingin sekaligus membinasakan dia melainkan

cuma hendak memaksa dia mengeluarkan Kungfunya.

Sinar pedang masih terus berkelebat dan memburu bagai ular berbisa, bukan saja baju Pwegiok

sudah terkoyak-koyak, bahkan tubuhnya sudah tergores beberapa jalur luka, tapi dia

tetap tidak berani balas menyerang. Semakin dia tidak balas menyerang semakin besar pula

curiga orang-orang berseragam hitam.

Renjana Pendekar > Karya Khulung > Diceritakan oleh : GAN KL > buyankaba.com 173

Tiba-tiba seorang di antaranya mendengus: “Peduli tulen atau palsu, bunuh saja habis

perkara!”

“Betul,” jawab seorang lagi. “Lebih baik salah bunuh seribu daripada lolos satu.”

Meski tahu siapa kawanan baju hitam ini, tapi Pwe-giok sengaja berteriak: “Jika kalian

menghendaki aku turun tangan, mengapa kalian tidak berani memperlihatkan wajah asli?

Seorang lelaki sejati mana sudi turun tangan terhadap kawanan cecurut macam kalian ini.”

“Kau tidak mau turun tangan, maka kau harus mati!” jengek orang pertama tadi.

Habis berkata, mereka tidak kenal ampun lagi, sinar pedang memburu dengan lebih cepat.

Sekali ini kalau Pwe-giok tidak balas menyerang, rasanya jiwanya benar-benar bisa melayang.

Pada saat itulah, tiba-tiba segumpal kabut tipis berwarna kemerah-merahan mengambang tiba

terbawa angin terus terlibat ke tengah jaringan sinar pedang.

Seketika kawanan baju hitam itu merasakan gerak pedang mereka terhalang, ujung pedang

seolah-olah melengket pada gumpalan asap tipis itu. Kesempatan itu segera digunakan Pwegiok

untuk melompat mundur.

Segera terdengar seorang berdendang dengan suara merdu: “Bunga, bukan bunga, kabut

bukan kabut …..”

Baru berjangkit suara nyanyian orang itu, serentak timbul rasa takut pada sorot mata kawanan

baju hitam berkedok ini, tanpa, berjanji ke empat orang itu terus melayang pergi dan

menghilang dalam kegelapan. Perginya jauh lebih cepat daripada datangnya.

“Apakah Hay-hong Hujin yang telah menolong Cayhe?” tanya Pwe-giok dengan

membungkuk tubuh.

Tapi dalam kegelapan sama sekali tiada suara jawaban.

Waktu Pwe-giok menengadah, tahu-tahu di depannya sudah bertambah seorang yang

berwajah pucat dan kening berkerut dengan sorot matanya yang layu…. Yang muncul ternyata

bukan Hay-hong Hujin melainkan Lim Tay-ih.

Hati Pwe-giok seketika mengencang, ucapnya dengan tergagap: “Kira …. kiranya nona, terima

kasih banyak-banyak.”

Lim Tay-ih seperti enggan mendengar kata-kata yang bertele-tele itu, jengeknya: “Mengapa

kau pakai nama Ji Pwe-giok?”

Pwe-giok jadi melengak, jawabnya gelagapan: “Ini . . . .ini lantaran ….”

“Sebaiknya kau ganti nama saja,” kata Tay-ih. “Nama ini tidak membawa alamat baik. Barang

siapa memakai nama ini tentu akan mendatangkan kemalangan, bahkan mati. Meski aku

diperintahkan Hujin untuk menyelamatkan kau, tapi paling-paling juga cuma kutolong kau

satu kali ini saja!”

Renjana Pendekar > Karya Khulung > Diceritakan oleh : GAN KL > buyankaba.com 174

Setelah terdiam sejenak, dengan tersenyum getir Pwe-giok bertanya: “Kecuali itu, adakah

alasan lain?

“Betul, memang masih ada alasan lain,” jawab Tay-ih. Mendadak ia membalik tubuh dan

melangkah beberapa tindak ke sana, lalu menyambung: “Jika dia sudah mati, aku tidak suka

mendengar lagi orang memakai namanya.”

“Tapi aku…..”

“Kaupun tidak setimpal memakai nama itu!” jengek Tay-ih.

Pwe giok melenggong dan menyaksikan bayangan si nona menghilang dalam kegelapan,

sukar untuk dijelaskan bagaimana perasaannya. Dia seharusnya berduka karena sikap dingin

yang diperlihatkan tunangannya itu. Tapi sikap dingin si nona itu pun menandakan betapa

cintanya terhadap Ji Pwe-giok, untuk ini dia harus bersyukur dan bergembira.

Begitulah gundah gulananya hatinya, sebentar pedih sebentar girang, entah manis entah getir.

*****

Bintang di langit semakin jarang, bulanpun bertambah buram, di ufuk timur sudah mulai

remang-remang. Tapi Pwe-giok masih terus melangkah ke depan dengan hati bimbang.

Entah sudah berapa lama pula, sang surya sudah mulai mengintip di ujung timur. Sekonyongkonyong

muncul seorang dengan langkah terhuyung-huyung.

Perawakan orang ini kurus kecil, jenggot dan rambutnya sudah putih semua, senyum

misterius menghias wajahnya. Pwe-giok merasa sudah pernah kenal pada muka orang ini, tapi

tidak ingat di mana.

Dilihatnya si kakek kecil ini membawa sebuah lukisan, sesudah dekat mendadak ia angkat

lukisannya ke depan Pwe-giok dan menegur: “Coba kau lihat, apa yang kulukis ini?”

Lukisannya itu tampak samar, seperti mega tapi bukan mega, seperti gunung juga bukan

gunung, kalau dipandang lebih cermat, rasanya seperti bekas cat yang tumpah di atas kanvas

lukisan itu.

Pwe-giok menggeleng, jawabnya: “Entah, aku tidak tahu.”

“Yang kulukis adalah gunung di depanmu ini, masa tak dapat kau lihat?” kata pula si kakek

kecil.

Mau-tak-mau Pwe-giok memandang gunung yang tertutup oleh kabut pagi di kejauhan itu,

lalu dipandangnya pula lukisan yang dipegang si kakek, sedikit demi sedikit dirasakannya

memang rada-rada mirip. Tanpa terasa ia tertawa dan berkata: “Ya, sekarang dapat kulihat

persamaannya.”

Mendadak orang tua itu tergelak seperti orang gila, berjingkrak dan menari, jelas girangnya

tak terperikan, tapi juga memperlihatkan semacam kelatahan yang aneh.

Renjana Pendekar > Karya Khulung > Diceritakan oleh : GAN KL > buyankaba.com 175

“Apa yang kau tertawakan?” tanya Pwe-giok heran.

“Aku berhasil, aku berhasil!” teriak si kakek sambil berkeplok gembira.

“Kau berhasil mengenai apa?” tanya Pwe-giok pula.

“Lukisanku telah berhasil,” teriak si kakek. “Akhirnya dapatlah kucapai intisari dalam

lukisanku.”

Pwe-giok menggeleng sambil memandangi “cat tumpah” hasil lukisan si kakek, katanya

dengan menyengir: “Lukisan begini masa dapat dianggap telah berhasil mencapai

intisarinya?”

“Coba kau pikir,” kata si kakek, “sudah jelas yang kulukis adalah gunung, tapi dapat kubuat

dia tidak menyerupai gunung. Yang kulukis ini jelas-jelas tidak menyerupai gunung, tapi

setelah kau pandang dengan cermat terasa seperti gunung pula. Semua ini disebabkan meski

tidak kulukis bentuk gunungnya, tapi sudah dapat kulukis jiwanya, intisarinya sasaran

lukisanku.”

Pwe-giok berpikir sejenak, gumamnya kemudian: “Mungkin sedikit sekali orang yang dapat

memahami jiwa daripada lukisanmu ini.”

“Justeru orang lain tak dapat memahaminya,” seru si kakek sambil berkeplok. “Tapi asalkan

yang kulukis adalah gunung, maka dalam pandanganku lukisan ini ialah gunung, dalam hatiku

juga gunung. Hanya aku saja yang paham dan orang lain tetap tidak paham. Cara ini

bukankah sangat hebat, sangat bagus?!”

Dia berkeplok sambil bergelak tertawa dan melangkah pergi.

Sebaliknya Pwe-giok berdiri termangu-mangu di situ sambil berpikir: “Jelas-jelas yang

kulukis adalah gunung tapi dapat kulukis hingga tidak menyerupai gunung …. Meski tidak

kulukiskan bentuk gunungnya, tapi sudah dapat kulukis jiwanya, intisarinya…” selain teringat

kepada ucapan si kakek tadi, di tepi telinganya seolah-olah terngiang pula wejangan ayahnya

dahulu mengenai ilmu pedang, bahwa betapapun bagus bentuk permainan sesuatu ilmu

pedang, semua itu bukanlah intisari ilmu pedang perguruannya sendiri. Jiwa ilmu pedang Bukek-

pay terletak pada maksud yang tak berwujud, terlepas daripada wujud yang terbatas dan

masuk ke alam yang tak berwujud (abstrak) dan tak berkutub (Bu-kek), Jika mujijat ini dapat

diselami dengan tuntas, maka berarti ilmu pedang yang kau yakinkan telah berhasil, Pwe-giok

coba merenungkan dan mengulang lagi petuah sang ayah itu, mendadak ia merasa seperti

diguyur air dingin, dalam hati seketika terasa “plong”, terasa terang.

Ia mendapatkan setangkai kayu sebagai pedang, dengan pelahan ia menusuk ke depan.

Sepenuh hati dan segenap pikiran hanya dipikirnya satu jenis, “Thian-te-bu-pian” (langit dan

bumi tak bertepian) dari Bu-kek-kiam-hoat, tapi waktu pedangnya menusuk, gayanya tidak

menurut jurus serangan Thian-te-bu-pian yang sebenarnya.

Jurus serangan ini jelas-jelas jurus Thian te-bu-pian, tapi ketika serangan itu dilancarkan jurus

itu justeru tercakup seluruhnya di dalam serangannya, tidak menyerupai jurus Thian-te-bupian,

tapi jiwa dan intisari jurus serangan itu justeru tercakup seluruhnya di dalam serangan

itu.

Renjana Pendekar > Karya Khulung > Diceritakan oleh : GAN KL > buyankaba.com 176

Kalau dua orang bertempur, bila salah satu pihak dapat melihat lubang kelemahan pihak

lawan sehingga dapat mengatasi lebih dulu setiap perubahan gerak lawan, maka dia pasti akan

menang. Tapi suatu serangan yang bermaksud, namun tanpa wujud, cara bagaimana pihak

lawan akan mampu menghindarinya dan cara bagaimana akan sanggup mematahkannya serta

cara bagaimana akan menghindarinya?

Saking kegirangan Pwe-giok lantas tertawa tergelak-gelak dan berteriak: “Sudah dapat

kupahami! Sudah kupahami sekarang!”

Tiba-tiba seorang menanggapi dengan suara nyaring: “Kau memahami apa?”

Segera terdengar pula kicau burung yang ramai di hutan sana, ternyata Ki Leng-yan sejak tadi

sudah berada di situ.

Dengan tertawa Pwe-giok menjawab: “Apa yang sudah kupahami, masa para burung

kawanmu itu tidak memberitahukannya padamu?”

Dengan termenung Leng-yan mendengarkan sejenak, ucapnya kemudian sambil berkedipkedip:

“Mereka tidak tahu apa yang sudah kau pahami, mereka bilang kau seperti rada-rada

sinting.”

“Haha, sudah tentu mereka tidak paham,” ujar Pwe-giok dengan tertawa. “Tapi bolehlah kau

katakan kepada mereka, bahwa asalkan mereka paham persoalan ini, maka mereka tidak perlu

lagi takut kepada elang, malahan manusia juga tidak perlu ditakuti pula.”

“Eh, coba dengarkan,” kata Leng-yan perlahan sambil tersenyum, “mereka sama menyatakan

ucapanmu ini memang benar. Kata mereka, elang memang tiada sesuatu yang perlu ditakuti,

yang paling menakutkan di dunia ini adalah manusia!”

Suara tertawa Pwe giok mulai mereda, ia pandang burung yang beterbangan di tengah hutan

di remang-remang fajar sana, tanpa terasa ia menghela napas dan bergumam pula: “Betul

juga, manusia memang sangat menakutkan. Sungguh tak tersangka kalian telah memahami

soal ini. Sebaliknya manusianya sendiri malah tetap belum paham. . ..”

“Coba lihatlah burung pipit yang baru terbang dari kota sana,” kata Leng-yan dengan rawan.

“Dia bilang, seumpama manusia sudah paham akan soal ini toh tetap tak mau mengakui

kebenarannya.”

*****

Akhirnya kedua orang pulang ke hotel kecil itu.

Leng yan sudah kenyang tidur, sebaliknya Pwe-giok mulai merasa ngantuk. Dia mendorong

pintu kamar sendiri, tapi mendadak ia merandek. Ternyata di atas pembaringannya bersimpuh

satu orang.

Sinar sang surya yang baru terbit itu menyorot masuk melalui jendela sana dan terlihat jelas

wajah orang itu. Kelihatan kepalanya botak kelimis, tapi wajahnya merah cerah seperti orang

muda.

Renjana Pendekar > Karya Khulung > Diceritakan oleh : GAN KL > buyankaba.com 177

Segera Pwe-giok mengenali orang ini ialah Tong Bu-siang, ketua perguruan keluarga Tong di

Sujwan yang terkenal sebagai ahli Amgi atau senjata rahasia nomor satu di dunia.

Tong Bu-siang duduk menunduk dengan mata terpejam, tapi di sekelilingnya berbaris

berpuluh macam senjata rahasia yang gemerlapan, jelas itulah Amgi berasal keluarga Tong

yang merontokkan nyali setiap jago persilatan.

Selain Tong Bu-siang, ada lagi dua orang yang berdiri di kanan-kirinya, meski tetap

berpakaian hitam ringkas, tapi kedoknya sudah ditanggalkan, jelas mereka ialah Ong Uh-lau

dan Sebun Bu-kut.

Pwe-giok menghirup napas panjang-panjang, serunya sambil mengalingi Ki Leng-yan di luar

pintu: “Aha, di kamar sempit ini ternyata ada juga tamu agung yang berkunjung, selamat

bertemu!”

Pelahan Tong Bu-siang membuka matanya, seketika sorot matanya berkelebat seperti kilat,

dengan suara berat ia bertanya: “Apakah bocah ini yang kalian maksudkan?”

“Betul,” jawab Ong Uh-lau dengan hormat.

“Bagus, akan kucoba dia!” seru Tong Bu-siang. Begitu kata “dia” terucapkan, kontan kelima

jarinya menyelentik, serentak barisan Am-gi yang terletak di depannya itu ada lima buah yang

menyambar ke depan.

Menyusul tangan yang lain juga bekerja, kedua kakinya juga bergerak, sekaligus berpuluh

Amgi melayang ke depan, sisanya tinggal tujuh atau delapan buah, sekali tiup, seluruh Amgi

itupun menyambar ke arah Pwe-giok.

Di seluruh tubuh orang tua ini seolah terpasang pesawat khusus dan setiap tempat dapat

membidikkan senjata rahasia. Puluhan Am-gi yang berbaris di pembaringan itu dalam sekejap

saja telah dihamburkan seluruhnya.

Padahal bentuk Am-gi itu tidak sama, bobotnya juga berbeda, tapi ada yang diselentikkan, ada

yang disampuk dengan tangan, ada yang disapu dengan kaki atau ditiup dengan pernapasan

yang kuat, cara menyerangnya dan kekuatannya juga tidak sama. Ada yang menyambar

dengan cepat dan ada yang lam bat, ada yang menyerang lurus langsung, ada yang melingkar

dan ada juga yang berputar-putar di udara untuk kemudian menyerang Pwe-giok dari

belakang.

Puluhan Am-gi itu seolah-olah bukan senjata rahasia lagi, tapi menyerupai puluhan jago silat

kelas tinggi dengan senjata yang berbeda-beda dan mengerubuti Pwe-giok dari berbagai

jurusan.

Sejak Pwe-giok terjun di dunia Kangouw, tidak sedikit lawan tangguh yang pernah

ditemuinya. Tapi Am-gi selihay ini sungguh belum pernah dilihat atau didengarnya.

Dengan tetap memegang tangkai kayu tadi, dengan segenap minat dan pikiran segera ia

melancarkan jurus serangan “Thian-te-bu-pian”, habis itu dengan jurus yang sama ia

Renjana Pendekar > Karya Khulung > Diceritakan oleh : GAN KL > buyankaba.com 178

menyerang pula secara terbalik. Dua serangan dilancarkan secara berlawanan sehingga sukar

diraba.

Orang lain hanya melihat tangkai kayunya berputar dua lingkaran dan tak terlihat cara

bagaimana dia bergerak, tahu-tahu terdengar suara “crat-cret” berulang-ulang, berpuluh

bentuk senjata rahasia itu entah mengapa sama menancap pada tangkai kayunya.

Seketika Ong Uh-lau dan Sebun Bu-kut melenggong.

Tong Bu-siang juga tercengang, mau-tak-mau ia berseru memuji: “Ilmu pedang bagus!” Lalu

dia tepuk bahu Ong Uh-lau dan bertanya: “Dia sudah turun tangan, apakah kalian sudah tahu

asal-usul ilmu pedangnya?”

Dengan lesu Ong Uh-lau menjawab: “Belum ketahuan!”

“Hahaha! Tidak cuma kau saja yang tidak tahu, bahkan berpuluh tahun pengalamanku di

dunia Kangouw juga tidak pernah kulihat ilmu pedang sehebat ini,” seru Tong Bu-siang

dengan tertawa.

“Tapi dapat kupastikan bahwa di perguruan Bu kek-bun tidak ada ilmu pedang selihay ini.”

“Ya, memang tidak ada!” tukas Ong Uh-lau.

“Sebelumnya memang sudah kuketahui dia pasti bukan Ji Pwe-giok yang mati itu,” kata Tong

Bu-siang pula. “Coba pikir jika dia penyamaran Ji Pwe-giok yang pura-pura mati itu,

mengapa dia tidak menggunakan nama lain, tapi sengaja tetap memakai nama Ji Pwe-giok?”

Sambil menyengir terpaksa Ong Uh-lau memberi hormat kepada Pwe-giok dan berkata: “Jika

tindakan kami terasa agak kasar, mohon Ji-kongcu sudi memberi maaf.”

Pwe-giok tersenyum, katanya: “Ah, tidak menjadi soal, hanya selanjutnya …..”

Belum habis ucapannya, mendadak Ki Leng-yan menjerit kaget “blang”, seorang menerobos

masuk dengan beringas.

Orang ini memakai baju kasar dan topi kulit semangka, jelas orang ini adalah jongos hotel ini.

Tapi jongos yang ramah dan rendah hati ini kini sikapnya telah berubah sama sekali. Kedua

matanya tampak merah membara, mulutnya menyeringai sehingga kelihatan giginya yang

kuning, air mukanya penuh napsu membunuh.

Di tengah jeritan kaget tadi Leng-yan sempat menarik Pwe-giok ke samping, maka jongos

hotel itu lantas menerobos langsung ke dalam. Cepat Sebun Bu-kut mendepak sebuah meja

kecil di sebelahnya sehingga menyeruduk si jongos.

Tak tersangka sekali hantam jongos itu telah membuat meja itu hancur berkeping-keping.

Diam-diam Pwe-giok terkejut. “Orang macam apakah jongos hotel ini, masa memiliki tenaga

sekuat ini?”

Renjana Pendekar > Karya Khulung > Diceritakan oleh : GAN KL > buyankaba.com 179

Dalam pada itu Ong Uh-lau juga tidak tinggal diam, pedangnya lantas menusuk. Tapi jongos

itu sama sekali tidak mengelak, sebaliknya membusungkan dada dan memapak tusukan itu.

“Crat” tanpa ampun lagi pedang itu menembus dadanya. Sekali depak Ong Uh-lau membikin

tubuh si jongos mencelat, darah segera berhamburan dan mengotori tangan Oh Uh-lau.

Sambil berkerut kening Ong Uh-lau berkata: “Keparat ini barangkali sudah gila, masa….”

Belum lanjut ucapannya, mendadak Tong Bu-siang melolos belati yang terselip di

pinggangnya terus menabas, kontan sebelah lengan Ong Uh-lau dipotongnya mentah-mentah.

Ong Uh-lau menjerit kesakitan dan jatuh kelengar.

“Ap. ….. apa maksudmu Cianpwe?” teriak Sebun Bu-kut terkejut.

Wajah Tong Bu-siang yang semula merah cerah itu seketika berubah menjadi pucat, katanya:

“Jongos hotel ini telah terkena racun jahat Thian-cam-kau dari daerah Miau, dia sudah

kehilangan kesadarannya sehingga berubah kuat luar biasa, bahkan darah di seluruh tubuhnya

juga telah berubah menjadi darah berbisa, barang siapa keciprat setitik darahnya dalam

sekejap racun akan terus menjalar ke seluruh tubuh. Bila tidak kubuntungi tangannya ini,

hanya sebentar saja seluruh tubuhnya akan membusuk dan mati.”

Keringat dingin merembes di dahi Sebun Bu-kut, ucapnya dengan suara gemetar: “Jadi. ,….

jadi inilah salah-satu ilmu iblis Thian-cam-kau yang disebut Mo-hiat-hu-kut-tay-hoat (ilmu

darah iblis pembusuk tulang) itu? Jangan-jangan ada orang Thian-cam-kau datang kemari?”

Dari suaranya yang gemetar dan ketakutan itu mau-tak-mau Pwe-giok ikut merinding juga,

waktu dia pandang lengan yang putus dan jatuh di lantai itu, ternyata sudah berubah menjadi

genangan darah hitam.

Tanpa terasa Pwe-giok bergidik, hatipun berdebar Tong Bu-siang yang terkenal berhati

bajapun berkeringat dingin.

“Yang datang di luar itu apakah khing-hoa-sam-niocu?” tanyanya dengan suara parau.

Segera terdengar suara tertawa genit di luar sana. Nyaring dan merdu suara tertawanya

laksana kicau burung kenari, siapapun yang mendengar suara tertawa ini pasti akan

terguncang perasaannya dan tergetar kalbunya. Namun kulit muka Tong Bu-siang justeru

berkerut-kerut demi mendengar suara itu.

Terdengar suara merdu itu berucap pula dengan tertawa genit: “Betapapun memang

pandangan Tong-loyacu terlebih tajam, hanya sekilas lihat saja lantas tahu kami kakak

beradik yang datang kemari.”

“Untuk apa kalian datang ke Tionggoan sini?” tanya Tong Bu-siang dengan bengis.

“Dengan sendirinya kedatangan kami ini adalah ingin mengunjungi Tong-loyacu,” jawab

suara genit tadi. “Lebih dulu kami telah mendatangi kediaman Tong-loyacu, tapi Loyacu telah

berangkat ke Hong-ti. karena itulah kami lantas menyusul kemari. Meski agak terlambat

sehingga tidak keburu ikut menyaksikan keramaian pertemuan besar di Hong-ti, tapi dapat

berjumpa di sini dengan Tong loyacu, betapapun perjalanan kami ini tidaklah sia-sia.”

Renjana Pendekar > Karya Khulung > Diceritakan oleh : GAN KL > buyankaba.com 180

Dia bicara sambil tertawa, suaranya enak didengar, sama halnya mengobrol dengan orang tua

di rumah, siapapun tidak menyangka di balik suara merdu dan kata-kata ramah ini

tersembunyi hasrat membunuh yang sukar diraba.

Namun jago tua yang namanya mengguncangkan dunia Kangouw ini ternyata gemetar juga

mendengar ucapan itu, sambil memegang belatinya dia bertanya pula: “Jadi kalian. …. kalian

sudah pergi ke rumahku?”

Suara itu menjawab dengan tertawa: “Loyacu jangan kuatir, meski kami sudah berkunjung ke

sana, tapi mengingat Toa-cihu, sama sekali kami tidak mengganggu apapun di tempatmu,

bahkan seekor semut pun tidak terinjak mati.”

Meski merasa lega juga mendengar keterangan itu, tapi mendadak Tong Bu-siang bertanya

pula dengan gusar: “Siapa itu Toa-cihu (kakak ipar, suami kakak) yang kau maksud?”

Suara genit itu menjawab: “Sungguhpun Tong-kongcu pemuda yang cakap dan pintar, tapi

Toaci kami juga nona cantik yang serba mahir. Jadi kedua muda-mudi adalah suatu pasangan

yang setimpal, ini kan jodoh yang ditakdirkan?”

“Omong kosong, kentut busuk!” damprat Tong Bu-siang dengan gusar.

Agaknya orang itu tidak marah, terbukti suaranya masih tetap enak didengar, katanya:

“Apalagi mereka berdua memang sudah cocok satu sama lain, si tampan dan si cantik sudah

sama-sama ikat janji di taman bunga akan sehidup semati, mengapa Tong-loyacu justeru

berusaha hendak membuyarkan pasangan merpati ini?”

“Omong kosong!” teriak Tong Bu-siang. “Anak durhaka itu lantaran tidak tahu asal-usul

perempuan siluman itu, makanya dia terpikat. Sekarang dia sudah sadar dan tidak sudi

beristerikan perempuan siluman itu.”

“Ah, kukira belum tentu,” ujar suara nyaring merdu itu dengan tertawa. “Tong-kongcu adalah

pemuda yang berperasaan, tidak nanti dia mengingkari janjinya kepada Toaci kami. Apalagi,

gadis secantik Toaci kami itu lelaki mana di dunia ini yang tidak suka padanya? Jika ada,

maka lelaki itu pasti gendeng.”

“Tidak bisa, keputusanku sudah bulat, tidak nanti pikiranku berubah, tiada gunanya kalian

banyak bicara lagi,” teriak Tong Bu-siang dengan bengis “Mengingat hubungan kalian dengan

anak durhaka itu di masa lampau, lekas kalian pulang saja agar tidak terjadi apa-apa yang

tidak diinginkan.”

“Jadi sudah pasti Tong-loyacu tidak setuju?” tanya suara genit tadi.

“Ya, tidak nanti berubah,” jawab Tong Bu-siang tegas.

“Dan Loyacu takkan menyesal?” tanya pula suara merdu itu.

“Biarpun segenap keluarga Tong mati semuanya juga takkan bersedia menerima menantu

seperti perempuan siluman itu!” bentak Tong Bu-siang dengan murka.

Renjana Pendekar > Karya Khulung > Diceritakan oleh : GAN KL > buyankaba.com 181

Sejenak suara genit tadi terdiam, lalu dia berucap pula dengan tertawa: “Wah, tampaknya

sukar bagiku untuk membujuk Loyacu, terpaksa aku mesti minta perantara seorang

comblang.”

Mendengar sampai di situ, tahulah Pwe-giok bahwa kedatangan Khing-hoa-sam-niocu atau

tiga perempuan bunga ini adalah untuk melamar suami kepada Tong Bu-siang, Agaknya sang

Toaci atau kakak tertua di antara Sam-niocu itu sudah ada ikatan janji dengan Tong-kongcu,

tampaknya cara mereka memaksakan perjodohan ini mendekati pemerasan, tapi tekad Tong

Bu-siang yang berkeras tidak mau terima perjodohan anaknya inipun agak keterlaluan.

Selagi Pwe-giok pikir siapakah comblang yang dimaksudkan itu? Apakah si comblang akan

sanggup membujuk Tong Bu-siang. Tiba terdengar suara daun jendela terbuka, dari luar

lantas melayang masuk satu orang.

Kedua mata orang ini melotot serupa mata ikan emas, air mukanya hitam kebiru-biruan,

kedua pundaknya, dadanya dan punggungnya seluruhnya menancap tujuh bilah belati emas

yang gemerdep, tangkai belati pun terbingkai batu permata yang berkilauan.

Dengan mata yang melotot seperti mata ikan mati itu, pendatang ini terus menatap Tong Busiang,

darah segar tampak meleleh dari ujung matanya, sikapnya sungguh sangat misterius

dan juga menyeramkan.

Leng-yan memegangi tangan Ji Pwe-giok dengan menggigil. Muka Sebun Bu-kut tampak

pucat dan basah seperti kehujanan, rupanya keringat dinginnya bercucuran seperti air hujan.

Serentak Tong Bu-siang melompat bangun sambil berteriak, “Inilah Kim-to-ho-hiat dari

Thian-cam-kau!”

Belum lenyap suaranya, mendadak sinar emas gemerdep, tujuh bilah belati emas itu terus

melayang keluar jendela menjadi satu garis lurus. Kiranya pada gagang belati yang berhias

batu manikam itu terikat pula satu benang emas yang halus.

Ketika ke tujuh belati itu melayang keluar dari lubang luka belati itu lantas menyembur keluar

tujuh pancuran darah segar. Seketika itu terjadi hujan darah memenuhi seluruh kamar.

Sebelumnya Tong Bu-siang telah angkat Ong Uh-lau dan di lemparkan keluar pintu, ia

sendiripun melompat ke atas belandar ruangan. Ji Pwe-giok juga tidak tinggal diam, dengan

angin pukulannya, ia tolak cipratan darah itu.

Hanya Sebun Bu-kut saja yang lebih lamban reaksinya, meski iapun sempat melompat ke atas

belandar, tapi tubuhnya sudah terciprat beberapa titik darah berbisa itu. Tapi ia memang

pemberani, dengan nekat ia menyayat kulit daging sendiri yang terciprat darah itu.

Ketika darah berbisa yang berhamburan seperti hujan itu mengenai dinding, seketika dinding

yang terkapur putih itu berubah menjadi hitam hangus.

Setiap kungfu yang dikeluarkan Khing-hoa-sam-niocu itu ternyata sama membawa suasana

seram dan mengerikan, setiap kungfunya harus minta korban jiwa. Sungguh keji luar biasa.

Renjana Pendekar > Karya Khulung > Diceritakan oleh : GAN KL > buyankaba.com 182

Pwe-giok berkerut kening, mendadak ia melayang keluar jendela, ia ingin tahu bagaimana

macamnya Khing-hoa-sam-niocu yang cantik tapi keji itu.

“Hei, Ji kongcu, hati-hati.” seru Tong Bu-siang khawatir.

Tapi Ki Leng-yan lantas menanggapi dengan tertawa linglung, “Jangan kuatir, di dunia ini

pasti tiada perempuan yang tega mencelakai dia!”

*****

Di luar jendela sana ada sebatang pohon besar, pada dahan pohon itu terikat empat atau lima

orang, semuanya dalam keadaan tidak sadar, agaknya terbius oleh sesuatu obat.

Di depan pohon berdiri tiga gadis maha cantik, semuanya memakai mantel panjang warna

hitam, begitu panjang mantel mereka hingga menyentuh tanah dan menutupi tubuh mereka

yang ramping.

Rambut mereka tergelung tinggi di atas kepala, pada bagian atas pelipis sama memakai hiasan

bunga permata, yang satu memakai bunga emas gemerdep, satu lagi bunga perak yang

berkilau dan seorang lagi memakai bunga yang berwarna hitam gelap.

Gadis yang memakai hiasan bunga emas itu beralis lentik agak menegak, matanya yang jeli

itu mengembeng air mata seperti gadis yang lagi dirundung kesedihan.

Jelas gadis bunga emas ini adalah sang Toaci yang sedang kasmaran itu.

Gadis yang berhias bunga perak berwajah bulat, matanya selalu mengerling genit, lirikannya

dapat membuat luluh hati lelaki yang berhati baja sekalipun.

Gadis ketiga yang berbunga hitam gelap paling cantik, lirikan matanya juga paling

menggiurkan, senyumnya yang paling manis, kalau bicara, belum berucap sudah tertawa.

Barang siapa memandangnya sekejap saja pasti akan jatuh hati padanya.

Mungkinkah ketiga gadis maha cantik ini adalah tokoh dari agama jahat yang paling terkenal

dan paling disegani di dunia persilatan sekarang ini, yaitu Khing-hoa-sam-niocu.

Apakah ketiga pasang tangan yang halus dan mulus inipun dapat menggunakan kungfu yang

misterius serta maha keji itu sehingga jiwa manusia dipandang mereka seperti permainan anak

kecil ?

Jika tidak menyaksikan sendiri kelihaian mereka, tentu Pwe-giok juga tidak percaya akan

kekejian mereka.

Tiga pasang mata jeli dengan lirikan memabukkan sama terpusat pada diri Pwe-giok, seakanakan

menembus dada anak muda itu, ingin tahu isi hatinya.

Mendadak Thi-hoa niocu, yaitu si nona bunga besi berkata dengan tertawa genit, “Eeh,

pemuda bagus dari mana ini ? Kedatanganmu ke sini apakah hendak memikat perempuan dari

keluarga baik-baik seperti kami ini ?”

Renjana Pendekar > Karya Khulung > Diceritakan oleh : GAN KL > buyankaba.com 183

Dengan hambar Pwe-giok menjawab; “Kedatanganku ini hanya ingin belajar kenal dengan

kehebatan cara para nona bunuh orang.”

Thi-hoa-niocu terhitung paling seksi di antara ketiga Khing hoa-sam-niocu, dengan langkah

gemulai ia mendekati Pwe-giok, katanya pula dengan senyum manis, “Membunuh katamu?

Wah, sungguh menakutkan ucapanmu ini? Membunuh orang hanya akan merusak kecantikan

anak perempuan. Selamanya kami tidak berani membunuh. Apakah anda sering membunuh

orang ?”

Dia bicara dengan suara lembut dan senyum selalu dikulum serta menatap Pwe-giok dengan

pandangan yang tulus sehingga mirip benar seorang nona cilik yang selamanya tidak pernah

membunuh, bahkan tidak tahu apa artinya membunuh.

Meski tahu jelas nona ini tidak saja membunuh, bahkan memandang jiwa manusia tidak lebih

berharga daripada jiwa semut, tapi melihat cara bicaranya, melihat sikapnya sekarang, Pwegiok

menjadi tidak percaya pada pandangannya sendiri. Ia berkerut kening dan bertanya

dengan ragu, Maksudmu, kedua orang tadi bukan di bunuh olehmu ?”

Mata Thi-hoa-niocu terbelalak lebar, seperti terkesiap dan heran, jawabnya, “Kau bilang

kedua orang yang masuk ke rumah itu ?”

Pwe-giok mengiakan.

“Bukan kau yang membunuh kedua orang itu?”

“Aku?! …. ” Pwe-giok jadi melengak sendiri.

“Jelas-jelas kedua orang tadi masuk kesana dalam keadaan segar bugar dan telah kalian

bunuh, masa sekarang kalian malah menuduh diriku ?!” kata Thi-hoa-niocu.

Dia berbalik menghantam Pwe-giok cara berucapnya juga tegas, meski penasaran, seketika

Pwe-giok jadi kalah berbantah.

Thi-hoa-niocu menghela nafas, katanya pula, “Ku tahu setelah kau bunuh orang, tentu

perasaanmu tidak enak. Tapi kaupun tidak perlu berduka, asalkan lain kali jangan

sembarangan membunuh. kan beres?!”

Mestinya Pwe-giok yang hendak memberi nasehat padanya, sekarang si nona berbalik

memberi wejangan, keruan anak muda itu serba runyam, rasa gusarnya menjadi sukar di

hamburkan.

Maklum, menghadapi nona cantik, lincah, pintar, dan binal seperti ini, jika digunakan sikap

kasar dengan membentak, memaki atau memukulnya kan tidak pantas.

Kembali Thi-hoa-niocu tersenyum manis, ia mengebaskan sapu tangannya dengan perlahan

dan berkata pula: “Jika hatimu kesal, marilah ikut padaku. Bisa jadi akan ku bikin hatimu

menjadi riang.”

Dia terus melangkah beberapa tindak kesana, lalu menoleh, dilihatnya Pwe-giok tetap berdiri

tenang di tempatnya tanpa ikut melangkah dan juga tiada sesuatu perubahan. Keruan hati ThiRenjana

Pendekar > Karya Khulung > Diceritakan oleh : GAN KL > buyankaba.com 184

hoa-niocu terkejut, namun senyum yang menghias wajahnya bertambah manis sehingga rasa

kejutnya tidak kelihatan.

Rupanya pada sapu tangannya itu tersembunyi semacam obat bius yang paling lihay dari

Thian-cam-kau.

Jilid 8________

Apa yang digunakan Thi-hoa-nio ini disebut “Lo-pek-ciau-hun-tay-hoat” atau ilmu sapu

tangan pengisap sukma. Gerak tangannya kelihatan enteng tapi sesungguhnya memerlukan

kecermatan yang luar biasa, baik gerakannya, timingnya, arah angin, semuanya harus

diperhitungkan dengan tepat.

Selain itu, lebih dulu pihak lawan harus dirayu sehingga setengah linglung dan sama sekali

tidak berjaga-jaga, untuk ini sudah tentu diperlukan daya pelet dan kecerdikan, jadi lambaian

sapu tangan yang kelihatannya sepele ini sesungguhnya memerlukan pengetahuan yang luas

dan dalam, sebab itulah ia termasuk satu di antara ke tujuh ilmu iblis berbisa dari Thian-camkau.

Selama ini entah sudah berapa banyak orang kangouw yang terjungkal di bawah “Lo-pekciau-

hun-hoat” ini, mengingat usia Ji Pwe-giok yang masih muda belia, Thi-hoa-nio yakin

pasti dapat merobohkannya.

Siapa tahu, biarpun masih muda usia Pwe-giok sudah kenyang pengalaman, sudah berkali-kali

ia menghadapi momen menentukan mati dan hidup, terhadap siapapun dia senantiasa

waspada, maka begitu melihat gelagat tidak baik, segera ia menahan pernapasannya.

Begitulah Thi hoa nio menjadi terkejut, namun di mulut ia masih bicara dengan manis: “Wah,

besar amat lagakmu, masa diundang dengan hormat saja tidak mau?!”

Terdengar seorang menukas dengan tertawa di kejauhan: “Jika kongcu sudi ikut pergi

bersama kami kakak beradik, kujamin kongcu pasti takkan kecewa!”

Suaranya berat dan rada parau, namun penuh daya pikat yang menggetar sukma, setiap

katanya seolah-olah mengkili-kili hati setiap lelaki.

Di tengah suara tertawa, tertampaklah Gin hoa nio (si bunga perak) telah muncul, begitu riang

wajahnya seakan-akan alisnya lagi tertawa dan matanya juga sedang tertawa. Hampir setiap

bagian sekujur badannya seperti lagi tertawa genit terhadap Pwe-giok.

Belum lagi orangnya mendekat sudah tersiar dulu bau harumnya yang merangsang, sebelah

tangannya yang membelai rambut dengan kerlingan mata yang menggiurkan, katanya pula

dengan tersenyum getir: “Ku tahu kongcu pasti takkan menolak ajakan kami bukan?”

“Bukan,” jawab Pwe giok dengan hambar, jawaban yang sederhana.

Tampaknya melengak juga Gin hoa-nio, tapi ia lantas berkata pula dengan lenggokan

pinggang menggiurkan: “Masa kongcu sampai hati?”

Renjana Pendekar > Karya Khulung > Diceritakan oleh : GAN KL > buyankaba.com 185

Setiap gerak-gerik Gin hoa nio seolah-olah ingin memancing kaum lelaki berbuat sesuatu,

setiap kerlingan dan senyumnya cukup menimbulkan gairah kaum lelaki.

Namun Pwe-giok masih tetap memandangnya dengan hambar, mirip orang yang lagi

menonton suatu permainan.

Hakekatnya Pwe giok tidak perlu bicara, sikapnya yang dingin dan menghina ini sudah lebih

tajam daripada kata-kata apapun juga.

Gin hoa-nio menghela napas, ucapnya: “Kau tidak mau ikut, juga tidak pergi, memangnya

untuk apa kau cuma berdiri saja di sini?”

“Aku ingin tahu Khing hoa sam-niocu masih mempunyai kemahiran apalagi?” jawab Pwegiok

dengan tertawa.

Mendadak air muka Gin hoa-nio berubah, ia tertawa terkekeh-kekeh dan berseru: “Baik!”

Begitu kata “baik” terucapkan, serentak ketiga kakak beradik itu lantas berputar dengan cepat,

mantel mereka yang longgar lantas ikut berkibar sehingga kelihatan tubuh mereka.

Seketika Pwe-giok melenggong.

Sungguh tak tersangka bahwa tubuh di dalam mantel itu ternyata telanjang bulat. Di antara

tubuh yang putih mulus itu hanya bagian pinggul saja yang menggunakan sepotong gaun hijau

yang cekak dan kelihatan kedua kakinya yang jenjang. Dadanya padat dengan kulit badan

yang putih bersih.

Mantel hitam mereka mendadak terbang seperti kupu-kupu raksasa, rambut mereka yang

panjang terurai di atas dada yang putih, dada yang kelihatan kenyal dan tergetar-getar.

Gaya tarian mereka tampak halus dengan tangan yang mulus serta kaki yang jenjang

mempesona, semua ini seakan-akan sedang menggapai-gapai Pwe giok.

Lambat laun pipi ketiga nona itu bersemu merah dengan mata setengah terbuka dan mulut

setengah terpentang, dada berombak naik turun dan mengeluarkan suara yang menggetar

sukma. Inilah suara kehausan dan gerakan yang penuh harap.

Semua ini benar-benar bisa membikin gila kaum lelaki.

Namun Pwe-giok masih tetap memandangnya dengan hambar, sorot matanya juga tidak

dialihkan ke jurusan lain.

Kini gaya tari mereka yang semula kelihatan ruwet itu mulai berubah menjadi sederhana dan

bersahaja, mereka seperti masih meronta-ronta ditengah kehausan, bergeliat, berkeluk-keluk,

bergemetar dan memohon…

Mendadak Pwe giok menghela napas, katanya: “Nona Kim hoa, gaya tarian mu ini kalau

dilihat Tong kongcu, lantas bagaimana jadinya?”

Renjana Pendekar > Karya Khulung > Diceritakan oleh : GAN KL > buyankaba.com 186

Tubuh Kim hoa niocu tampak bergemetar mirip kena dicambuk orang. Namun tariannya

masih tetap berlangsung.

Sekonyong-konyong Gin hoa-nio tertawa nyaring, serentak ketiga nona itu berjungkir dengan

kepala di bawah, dengan tangan sebagai kaki mereka menari dengan lebih gila lagi.

Dapat dibayangkan jika perempuan telanjang menjungkir dengan kaki bergerak-gerak di

udara dan rambut terurai di lantai dan… tidak perlu menyaksikan sendiri juga setiap orang

dapat membayangkan betapa gilanya gaya tersebut. Apabila ada lelaki yang tidak berdebardebar

jantungnya dan timbul reaksi badaniah yang spontan demi menyaksikan tari yang gila

ini, maka lelaki itu pasti punya penyakit jika tidak mau dikatakan abnormal.

“Awas, itulah Siau-hun-thian-mo-bu!” tiba-tiba terdengar suara Tong Bu-siang berseru

dengan suara gemetar. “Blang”, mendadak daun jendela ditutupnya, ia tidak berani

memandang lagi. Siau-hun-thian-mo-bu, tarian iblis pembetot sukma, siapapun tidak tahan

melihat tarian gila ini.

Rupanya Tong Bu-siang menyadari betapa lihay daya tarik tarian itu, bila dirinya tidak tahan

seketika bisa tertimpa bencana, sungguh ia tidak berani menyerempet bahaya ini.

Suasana sunyi sepi, hanya terdengar suara napas dan keluhan yang menggetar sukma saja,

seperti membawa semacam irama yang aneh yang dapat menghancurkan iman setiap lelaki.

Sejenak kemudian, “blang”, daun jendela yang tertutup tadi mendadak berlubang dan dibobol

dari dalam, rupanya Tong Bu-siang tidak tahan oleh suara keluhan yang merangsang itu,

betapapun dia ingin melihatnya.

Wajah orang tua ini kelihatan merah padam, sorot matanya seolah-olah membara, sekujur

badan gemetar, saking tak tahan beberapa kali ia hendak menerjang keluar kamar, namun ia

menggertak gigi dan bertahan sekuatnya, celakanya matanya justru sukar dipejamkan.

Tarian iblis pembetot suka ini benar-benar menimbulkan daya pikat yang sukar dibayangkan.

Di bawah bimbingan orang tua yang kereng, sejak kecil watak dan iman Pwe-giok sudah

terpupuk dengan kuat. Melulu soal iman, di antara tokoh-tokoh Bu-lim sekarang mungkin

tiada seberapa orang yang dapat menandingi dia. Jika tiada keteguhan iman yang melebihi

orang lain ini, mungkin dia sudah gila selama lebih sebulan ini mengalami pukulan yang luar

biasa ini.

Walaupun demikian, tidak urung jantungnya sekarang juga berdebur-debur dan hampir tiada

bertenaga lagi.

Pada saat itu, sinar sang surya menyorot terlebih terang, di depan matanya seolah-olah terlapis

cahaya kelabu yang gemerlapan, waktu ia mengawasi lebih cermat, di sekelilingnya ternyata

sudah terjalin selapis jaring halus.

Jaring halus berwarna putih kelabu telah mengurungnya di tengah, benang perak yang halus

dan hampir tidak kelihatan oleh mata telanjang itu terus terjulur dari ujung jari Khing-hoasam-

niocu.

Renjana Pendekar > Karya Khulung > Diceritakan oleh : GAN KL > buyankaba.com 187

Mendadak Thi-hoa-nio melompat ke atas, lalu berdiri tegak, ucapnya dengan tertawa: “Boleh

juga ketajaman matamu, akhirnya dapat kau lihat juga.”

“Cara nona mempertontonkan keindahan tubuhmu ini, apakah tujuan kalian adalah untuk

memasang jaring labah-labah yang tiada artinya ini?” tanya Pwe-giok dengan gegetun.

“Salah jika demikian pikiranmu,” jawab Thi-hoa-nio dengan tertawa. “Thian-mo sin bu

sendiri yang kami tarikan ini memang sudah penuh daya pikat, jika kau tidak percaya, boleh

kau lihat Tong loyacu itu, bilamana kami tidak mengingat kepada Tong-kongcu, mungkin…

mungkin ahli Am-gi nomor satu yang termasyhur ini sekarang sudah… sudah… ” dia sengaja

tidak melanjutkan dan tertawalah terkial-kial.

Tanpa terasa Pwe-giok berpaling ke sana, dilihatnya Tong Bu siang bersandar diambang

jendela dengan lunglai, tampaknya sedikitpun tiada bertenaga pula.

Nyata apa yang dikatakan Thi-hoa-nio barusan memang bukan bualan, bilamana Thian-mo-bu

ini ditujukan kepada Tong Bu-siang, saat ini mungkin jago Am gi nomor satu ini sudah mati

di bawah kerumunan nona-nona bunga ini. Mau tak mau terkesiap juga Pwe-giok.

Sampai sekian lama Thi-hoa-nio tertawa, habis itu mendadak ia berkata pula dengan

menyesal: “Cuma sayang, kau ini lebih mirip patung, sama sekali tidak tahu menikmati

keindahan orang perempuan, maka terpaksa kami melepaskan Gin-si (benang perak), tapi

inipun bukan benang labah-labah.”

“Habis apa kalau bukan benang labah-labah?” tanya Pwe-giok.

“Akan kuberitahukan, supaya tambah pengetahuanmu.” ujar Thi-hoa-nio. “Inilah ‘Ceng-si’

yang dikeluarkan oleh ‘Thian-cam’ (ulat sutera sakti), mahluk sakti agama kami.”

“Ceng-si (benang cinta)?… Bagus juga nama ini,” ujar Pwe-giok dengan tersenyum.

“Apabila sudah terlibat oleh Ceng-si ini, maka sukarlah melepaskan diri, benang cinta ini

akan mengikat dan merasuk tulang, betapa nikmat rasanya yang menggetar kalbu itu,

mimpipun tak dapat kau bayangkan.” kata Thi-hoa-nio pula dengan tertawa genit. “Cuma

sayang, terlalu cepat kau melihat benang cinta ini tadi, kalau tidak, tentu sekarang

kenikmatannya sudah kau rasakan.”

Pwe-giok tahu Thian-cam ceng-si ini pasti keji luar biasa, tadi apabila dirinya sampai terlibat

oleh benang itu, maka jangan harap akan bisa terlepas lagi, mau tak mau harus pasrah nasib

untuk diperlakukan sesuka mereka, tatkala mana mungkin minta hidup tak dapat, ingin

matipun sukar.

Nyata, dalam waktu singkat tadi meski tampaknya tiada terjadi sesuatu yang berbahaya, tapi

sesungguhnya dia sudah berada di ambang pintu neraka dan untung bisa pulang balik.

Teringat begitu, tanpa terasa Pwe-giok berkeringat dingin, namun lahirnya dia tetap tenangtenang

saja, katanya dengan tersenyum: “Cayhe cukup maklum, semakin indah nama sesuatu

benda, semakin keji pula benda itu. Seperti Siau-hun-san (Puyer pembuyar sukma), To-cengciu

(Arak pelarian cinta) dan sebagainya, kuyakin Ceng-si andalan kalian ini pasti juga

sejenisnya.”

Renjana Pendekar > Karya Khulung > Diceritakan oleh : GAN KL > buyankaba.com 188

Mulut Thi-hoa-nio menjengkit, ucapnya: “Ceng-si agama kami ini tidak dapat dibandingi

benda apapun di dunia ini, barang sebangsa Sian-hun-san, To-ceng-ciu dan sebagainya mana

dapat disejajarkan dengan Ceng-si?”

“Jika demikian, tadi waktu para nona menumpahkan Ceng-si dari tangan, mengapa benang itu

tidak kalian libatkan pada tubuhku, sungguh sampai saat ini aku merasa tidak paham.”

“Sudah kubilang kau ini orang tolol, nyatanya kau memang bebal.” ujar Thi-hoa-nio dengan

tertawa genit. “Tadi jika kami benar benar langsung melibat dirimu dengan Ceng-si, bukankah

segera akan diketahui olehmu? Hanya satu dua utas Ceng-si mana dapat mengikat patung

seperti kau ini?”

“Oo, kiranya demikian.” ucap Pwe-giok dengan tersenyum.

Melihat senyuman anak muda itu, segera Th-hoa-nio merasa dirinya telah terpancing dan

terlanjur bicara tentang daya guna Ceng-si. Ia berkedip-kedip, lalu berkata pula dengan

tertawa: “Tapi saat ini kau sudah terkurung rapat oleh Ceng-si kami bertiga dan jangan harap

akan dapat lolos lagi, lebih baik kau berlutut dan menyerah kepada kami, kujamin pasti akan

memuaskan kau.”

“Para nona memiliki Ceng-si, aku kan juga punya Hui-kiam (pedang tajam),” kata Pwe-giok.

Habis bicara, sekali tangannya bergetar, Am-gi keluarga Tong yang menancap di ranting kayu

yang masih dipegangnya itu segera ada dua buah melayang kesana.

Meski kedua biji Am-gi ini terpental karena tenaga sentakan ranting kayu itu, namun dari

suara mendesingnya yang keras, jelas jauh lebih kuat daripada ditimpukkan dengan tangan

orang lain.

Tak terduga, Am-gi sekuat itu sama sekali tak berguna, begitu menyentuh jaring cinta itu,

sama seperti laron masuk ke jaring, meronta tak bisa terlepas, menerjang tak dapat tembus.

Pwe-giok jadi teringat pada dirinya sendirinya juga terikat oleh benang cinta Lim Tay-ih,

selama ini pikirannya selalu dirundung rindu dan sukar dilupakan, entah pula bagaimana

nantinya.

Teringat sampai di sini, seketika timbul macam-macam pikirannya, ucapnya dengan

tersenyum getir: “Nama Ceng-si yang nona gunakan ini sungguh nama yang sangat bagus dan

sukar dicari.”

“Dan sekarang kau sudah menyerah?” tanya Thi-hoa-nio dengan tertawa.

Pwe-giok termangu-mangu seperti orang linglung, seolah-olah tidak mendengar apa yang

diucapkan si nona.

Thi-hoa-nio berkata pula: “Jika kau tidak segera menjawab, sekali jaring kami tarik, seketika

kau akan menjadi setan bagi cinta.”

“Bisa menjadi setan bagi cinta mungkin akan lebih baik daripada selama hidup senantiasa

dirundung rindu,” jawab Pwe-giok dengan menghela napas panjang.

Renjana Pendekar > Karya Khulung > Diceritakan oleh : GAN KL > buyankaba.com 189

“Baik jika memang begitulah kehendakmu!” seru Thi-hoa-nio. Dia bertepuk tangan pelahan,

lapisan jaring yang putih kelabu itu lantas mulai ringkas ke tengah, pelahan-lahan mendesak

ke tubuh Ji Pwe-giok, apabila tubuhnya tersentuh Ceng-si, maka sukarlah melepaskan diri.

Benang cinta ini memang tiada ubahnya seperti benang kematian!

Entah apa yang terpikir oleh Ji Pwe-giok, tampaknya ia tidak menyadari malaikat elmaut

selangkah demi selangkah sedang mendekatinya.

Dipandang dari jauh Pwe-giok seperti berdiri di tengah tiga dewi cantik dan sedang bersenda

gurau, siapa yang tidak mengiler melihat adegan yang menggiurkan ini? Siapa pula yang tahu

sesungguhnya anak muda itu sudah terjeblos ke dalam jaringan maut.

Kim-hoa-nio hanya memandangi Pwe-giok dengan termangu-mangu, ucapnya dengan rawan:

“Menjadi setan bagi cinta memang jauh lebih baik daripada hidup dirundung rindu tak

sampai, tampaknya kau sudah berpengalaman cinta, seumpama matipun tidak menjadi soal.”

Mendadak Pwe-giok tertawa dan bersenandung: “Ingin tak rindu, membuat orang cepat tua,

setelah berpikir, tetap rindu jua…” ditengah senandungnya pelahan ia ayun ranting kayunya

setengah lingkaran, Am-gi yang menancap pada ranting kayu itu seluruhnya lengket pula pada

jaring cinta itu hingga berwujud suatu lingkaran.

“Hihi, dengan besi rongsokan ini kau kira dapat membobol benang cinta kami ini?” kata Thihoa-

nio dengan tertawa mengikik.

Belum lenyap suaranya, dengan ranting kayu sebagai pedang, Pwe-giok terus menusuk

berpuluh kali, setiap kali tusukannya tepat mengenai Am-gi yang menempel di ‘jaring cinta’

itu. Tenaga tusukan yang digunakan sangat kuat.

Thi-hoa-nio merasa pergelangannya tergetar hebat, bukan saja jaring itu sukar ditarik dan

ringkas, sebaliknya malah terasa membentang lebar, tanpa terasa ia berseru: “Sungguh cerdik

caramu ini, rasanya akupun rada-rada kagum padamu.”

Hendaklah diketahui bahwa benang ulat sutera alam itu mempunyai daya lengket yang sangat

kuat, benda apapun bila melengket lantas sukar terlepas, karena benang itupun bisa mulur

mengkeret, maka ditolak atau dipentang sekuatnya tetap sukar membobolnya.

Kalau melulu menggunakan ‘Pedang’ dan langsung menusuk ‘jaring cinta’ itu, sekali pedang

melengket, sekalipun besar tenaganya dan dapat melubangi jaring itu, tapi orangnya tetap

akan terlilit juga di tengah jaring.

Tapi sekarang Pwe-giok menghamburkan lebih dulu am-gi sebanyak itu dan menempel pada

jaring, lalu ‘pedang’ menghantam am-gi dengan sendirinya berbagai senjata rahasia itu takkan

melengket benda lain dan Pwe-giok lantas dapat memainkan pedangnya dengan leluasa.

Cara ini tampaknya sangat sederhana, tapi bila tiada mempunyai kecerdasan luar biasa tidak

nanti dapat berpikir sejauh ini. Sekarang ranting kayu ditangan Pwe-giok telah berubah

menjadi sebilah pedang serba guna.

Renjana Pendekar > Karya Khulung > Diceritakan oleh : GAN KL > buyankaba.com 190

Terdengarlah serentetan suara ‘trang tring’ yang nyaring. Susul menyusul Pwe-giok menusuk

terlebih gencar, tenaga yang dilontarkan juga semakin kuat, padahal jaring itu sedang ditarik

dan diringkaskan oleh ketiga nona bunga itu, sebaliknya Am-gi yang ditusuk pedangnya

menerjang keluar dengan kuat, akhirnya ujung berbagai senjata rahasia itupun tertembus

keluar jaring.

Mendadak Pwe-giok bersiul panjang sambil berputar kencang, pedang menggaris, lingkaran

senjata rahasia yang berjajar itu tertolak lebih keras oleh pedang itu. Senjata rahasia pertama

merenggang satu-dua inci ke samping dan menyampuk senjata rahasia kedua. Maka senjata

rahasia kedua itu dapat merobek jaring cinta itu beberapa inci lagi terus menghantam senjata

rahasia ketiga dan begitu seterusnya….

Hanya dalam sekejap saja “Jaring Cinta” itu hampir terobek seluruhnya, ketika Pwe-giok

menyingkap dengan ujung ranting kayunya, segera orangnya menerobos keluar sambil bersiul

panjang melengking.

Khing-hoa-sam-niocu seakan-akan kesima menyaksikan olah Pwe-giok yang luar biasa itu,

baru sekarang mereka terkejut sadar dan cepat melompat mundur bersama.

“Bagus, bagus sekali” seru Thi-hoa-nio dengan tertawa. “Di kolong langit ini kau orang

pertama yang dapat menerobos keluar dari Ceng-bang (jaring cinta) ini. Kau memang hebat

dan pantas dibanggakan…”

Di tengah suara tertawanya yang seram, mendadak ia mencabut sebilah golok emas yang

menancap di pohon, sekali berkelebat, lengan beberapa orang teringkus di batang pohon itu

ditabasnya mentah-mentah. Darah segar berhamburan, tapi orang-orang itu seperti tidak

merasa sakit, mereka malah tertawa seperti orang gendeng.

Thi hoa-nio lantas melemparkan lengan kutung yang berlumuran darah itu kepada Pwe-giok.

Dengan gusar Pwe-giok membentak; “Sampai sekarang kalian masih membikin celaka

orang?”, cepat la melompat mundur, ia tahu darah yang muncrat dari lengan kutung itu pasti

darah berbisa yang bisa membikin celaka orang.

Saking gemasnya melihat kekejian Thi-hoa-nio itu, segera Pwe-giok melayang ke atas dan

hendak menerjang mereka.

Tapi mendadak “blang”, suara letusan menggelegar, beberapa lengan kutung itu mendadak

meledak dan berubah menjadi kabut darah yang mengerikan. Kabut berdarah itu tersebar

dengan sangat cepat dan membanjir ke arah Pwe-giok.

Saat itu Pwe-giok masih terapung di atas, ia terkejut, sebisanya ia melejit di udara sehingga

tubuh sendiri terpental lebih cepat ke belakang dan turun kembali ke bawah. Dilihatnya kabut

berdarah itu masih terus menjalar, cuma jaraknya sekarang sudah mulai menjauh.

Didengarnya suara Thi-hoa-nio yang seram berkumandang dari jauh: “Sekali Thian-can (ulat

sutera sakti) menyusup tulang, sebelum mati, takkan berhenti, boleh kau tunggu saja nanti…”

Kabut itupun mulai menipis, tapi bayangan Khing-hoa-samniocu sudah tidak kelihatan lagi,

hanya golok emas yang menancap di pohon itu tampak masih bergoyang-goyang.

Renjana Pendekar > Karya Khulung > Diceritakan oleh : GAN KL > buyankaba.com 191

Kebetulan angin meniup, seketika tercium bau darah yang anyir. Pwe-giok ingin tumpah,

sungguh tidak kepalang kejutnya mengingat apa yang terjadi barusan.

Terdengar Tong Bu-siang lagi berkata dengan menghela napas panjang: “Inilah ilmu andalan

Thian-can-kau yang disebut Kim-to-kay-te, Hiat-sun-tay-hoat (Golok emas membelah tubuh,

ilmu menghilang di balik kabut darah). Sekali ilmu ini dikeluarkan, di dunia ini mungkin tiada

seorangpun yang mampu menangkap mereka.”

Ahli senjata rahasia nomor satu yang termasyhur ini tampak bersandar lemas di ambang

jendela dan memandang jauh ke depan, sorot matanya juga menampilkan rasa kejut dan takut

yang tak terhingga, seperti membayangkan bahaya dan petaka yang bakal timbul.

“Agama iblis sekeji dan kejam ini, mengapa tiada orang yang mau menumpas mereka?” kata

Pwe-giok dengan menyesal.

Tong Bu-siang tersenyum getir, katanya: “Memangnya siapa yang sanggup menumpas

mereka? Ilmu silat Thian-can-mo-kau sungguh teramat keji, orang biasa hakekatnya tidak

dapat mendekati mereka, begitu menempel tubuh mereka seketika jiwa melayang”

“Siapakah Kaucu mereka?” tanya Pwe-giok.

“Kaucu Thian-can-kau hakekatnya tidak pernah dilihat oleh siapapun juga, jejaknya sukar

diketahui, pergi datang tanpa bekas serupa hantu, wajah aslinya tidak pernah dikenal orang,

bahkan siapa namanya juga tiada yang tahu.”

“Aku tidak percaya bahwa di dunia ini tiada seorangpun yang mampu mengatasi dia?” ujar

Pwe-giok.

“Ilmu silat Thian-can-kau memang sangat keji, tapi juga tidak sembarangan mengganggu

orang, jejaknya juga jarang ditemukan di wilayah Tionggoan, mereka kebanyakan berkeliaran

di pegunungan sunyi dan di daerah terpencil, bilamana mereka tidak mencari orang lain,

hakekatnya orang lainpun sukar menemukan mereka.”

“Namun aku tetap yakin pasti ada orang yang akan menumpas mereka,” kata Pwe-giok pula

pelahan setelah termenung sejenak.

Terbelalak mata Tong Bu-siang, katanya: “Ya, mungkin kau… kau masih muda dan berani,

tinggi pula ilmu silatmu, apabila kelak ada orang yang mampu menumpas Thian-can-kau,

maka… maka orang itu pastilah kau. Mengenai diriku…” dia menyengir, lalu menyambung

pula: “Pada waktu mudaku hidupku tidak teratur dan suka menuruti bisikan hati, iman tidak

teguh. Jadi ilmu jahat Thian-can-kau kebetulan adalah lawan maut bagiku.”

Baru sekarang Pwe-giok tahu apa sebabnya seorang guru besar dunia persilatan terkenal ini

sedemikian jeri terhadap Khing-hoa-sam niocu dan begitu mudah dipengaruhi oleh tarian gila

tadi.

Mendadak Sebun Bu kut melongok keluar dan memandang Pwe-giok dengan tersenyum

misterius, katanya: “Thian-can merasuk tulang, sebelum mati tidak berhenti. Sekali kau

Renjana Pendekar > Karya Khulung > Diceritakan oleh : GAN KL > buyankaba.com 192

terlibat mereka, jarang ada orang yang dapat lepas dengan hidup. Meski sekarang mereka

sudah pergi, tapi Ji-kongcu masih perlu hati-hati.”

“Untuk ini tidak perlu anda ikut kuatir,” jawab Pwe-giok dengan tersenyum hambar.

“Jika demikian, biarlah Cayhe mohon diri lebih dulu,” kata Sebun Bu kut. Tiba-tiba ia

berpaling kepada Tong Bu-siang dan bertanya: “Dan Tong cianpwe? ….”

Tong Bu-siang tampak ragu, katanya, “Ji-kongcu ……”

“Cianpwe silahkan pergi saja dan tidak perlu kuatir bagiku,” sela Pwe-giok dengan tertawa,

“Bila aku tak dapat menjaga diriku sendiri, cara bagaimana aku akan berkelana di dunia

Kangouw kelak?”

Tong Bu-siang berpikir sejenak, katanya pula: “Ya, kuyakin kau pasti dapat menjaga dirimu

sendiri. Hanya perlu kau ingat, masa paling lihay dari racun ulat ini hanya tujuh hari, asalkan

kau dapat bertahan tujuh hari pertama, selanjutnya tentu tidak berbahaya lagi.”

“Tapi untuk tujuh hari itulah sampai sekarang belum pernah ada orang yang sanggup

menghindarinya” kata Sebun Bu-kut dengan seram. Habis itu, sekuatnya ia memayang Ong

Uh-lau dan diajak pergi.

Menunggu sesudah Tong Bu-siang juga pergi, barulah Ki Leng-yan muncul dengan tertawa,

katanya: “Memang ku tahu di dunia ini tiada seorang perempuan pun yang sampai hati mem…

” belum habis ucapannya, mendadak Pwe-giok jatuh terkapar.

Terlihat wajahnya pucat menghijau, bibirnya bergemetar, sekujur badan menggigil, Leng-yan

coba merabanya, terasa badan pemuda itu panas seperti dibakar.

Rupanya tadi waktu kabut berdarah mulai buyar, tanpa terasa ia telah menghisapnya setitik,

waktu itu ia memang sudah merasakan gelagat tidak enak, tapi baru sekarang racun itu mulai

bekerja.

Leng-yan seperti terkesima saking cemasnya, dipandangnya Pwe-giok dengan termangumangu,

katanya kemudian: “Akhirnya kau terkena juga… terkena juga racun mereka.”

Pwe-giok merasa seluruh badan sebentar dingin sebentar panas, ia tahu keracunan tidak

ringan, tapi dia memang berbudi luhur, selalu memikirkan orang lain lebih dulu. Ia kuatir

Leng-yan berkuatir dan berduka baginya, maka sedapatnya ia berlagak tenang. katanya

dengan tertawa: “Sejak tadi ku tahu keracunan, tapi… tapi tak beralangan… “

Ling-yan berpikir sejenak, katanya kemudian: “Jika sejak tadi tahu keracunan, mengapa tidak

kau katakan?”

“Kau tahu Sebun Bu-kut dan komplotannya itu bermaksud jahat padaku,” tutur Pwe-giok.

“Jika tadi ku perlihatkan tanda-tanda keracunan, mungkin mereka takkan meninggalkan

diriku. Sebab itulah aku bertahan sekuatnya hingga sekarang.”

Renjana Pendekar > Karya Khulung > Diceritakan oleh : GAN KL > buyankaba.com 193

Meski untuk bicara saja rasanya sangat sulit, namun Pwe-giok bertahan dan berusaha

memberi penjelasan kepada Ki Leng-yan, diharapkannya semoga anak perempuan yang masih

polos dan suci bersih ini bisa lebih banyak memahami seluk-beluk orang hidup.

Nona itu menghela napas, katanya: “Ai, kenapa manusia selalu punya macam-macam soal

ruwet begitu, burung tentu tidak ……..”

Memandangi wajah si nona yang kekanak-kanakan dan linglung itu, susah juga hati Pwegiok.

Ia tahu ucapan Sebun Bu kut tadi bukan untuk menakutinya, Khing-hoa-sam-niocu pasti

takkan melepaskan dia, selama tujuh hari ini pasti sukar dilewatkan. Apalagi sekarang dirinya

keracunan, untuk berdiri saja tidak kuat.

Bilamana sekarang dia didampingi orang lain, mungkin dapat membantu dia menghindarkan

malapetaka ini, celakanya yang mengiringinya sekarang adalah Ki Leng-yan yang linglung

dan tidak dapat bertindak apapun.

Semakin dipikir semakin gelisah Pwe-giok, apabila Khing-hoa-samniocu datang lagi dan

melihat Ki Leng-yan, mungkin anak dara ini takkan diampuni. Teringat demikian, cepat ia

berseru: “Kawanan burung sedang menantikan dirimu, lekas kau pergi mencari mereka saja!”

“Dan kau?” tanya Leng-yan. “Aku… aku akan istirahat di sini,” jawab Pwe-giok. Leng-yan

berpikir sejenak, katanya kemudian dengan tertawa: ‘Biarlah kutunggu kau di sini, bila kau

sudah sembuh, kita pergi bersama.” – Dengan tersenyum lantas ia berduduk dan sama sekali

tidak mengetahui bahwa sesungguhnya Pwe-giok dalam keadaan gawat.

Pwe-giok merasa darah dalam tubuhnya bergolak hebat, mulut mendadak terasa kaku dan

mati rasa, ingin bicara, namun bibir tak dapat bergerak lagi. terpaksa ia hanya memandangi Ki

Leng-yan dengan sorot mata yang cemas.

Dilihatnya wajah Ki Leng-yan yang tersenyum simpul itu makin lama makin kabur, makin

jauh, suaranya juga seperti semakin lirih seolah-olah berkumandang dari tempat yang tidak

kelihatan, sayup-sayup terdengar nona itu berkata: ” Jangan kuatir, bilamana kawanan burung

sakit, akupun senantiasa menjaga mereka, setiap hari kusuapi obat kepada mereka, obatku

sangat manjur, setelah kau minum tentu akan jauh lebih segar.”

Pwe-giok ingin berteriak: “Aku bukan burung, mana boleh minum obat burung!”

Namun satu katapun tak dapat diucapkannya, ia merasa Leng-yang telah menjejalkan sebiji

obat ke mulutnya, pil itu lantas cair dan mengalir ke dalam kerongkongan, malahan terasa

membawa semacam bau harum yang aneh.

Ia merasa pikirannya mulai tenang, badan terasa segar dan enak sekali, selang sejenak pula

mendadak ia terpulas.

*****

Begitulah Pwe-giok tertidur dan mendusin dan tertidur pula. Apabila mendusin, Ki leng-yan

lantas menyuapi ia satu biji obat, sehabis minum obat rasanya menjadi segar, lalu tertidur pula

dengan nyenyaknya.

Renjana Pendekar > Karya Khulung > Diceritakan oleh : GAN KL > buyankaba.com 194

Mula-mula bila dia mendusin dia masih terus mendesak: ‘Lekas kau pergi saja, larilah lekas,

setiap saat Khing-hoa-samniocu bisa muncul lagi.”

Tapi akhirnya ia merasa badan sedemikian segarnya, terhadap segala urusan penuh keyakinan

biarpun Khing-hoa-samniocu sekarang datang lagi rasanya juga tidak takut pula.

Ia sendiri tidak paham mengapa bisa timbul perasaan begitu, iapun tidak tahu apakah masa

tujuh hari yang konyol itu sudah lewat atau belum.

Entah berapa hari sudah lalu, suatu hari mendadak Pwe-giok sadar kembali, sadar seluruhnya,

ia merasa tubuhnya segar bugar, sedikitpun tiada tanda-tanda lemas sehabis keracunan,

bahkan rasanya penuh semangat, penuh gairah.

Ki leng-yan juga sedang memandangnya dengan tersenyum. “Obatku memang manjur

bukan?” demikian tanya si nona.

Pwe-giok tertawa, jawabnya: “Ya, memang sangat manjur, sungguh obat mujarab yang jarang

ada bandingannya…” Sembari bicara iapun memandang sekelilingnya, baru sekarang dia

mengetahui dirinya masih berada di kamar itu, meski mayat dan darah sudah tersapu bersih,

tapi segera teringat lagi olehnya akan “Khing-hoa-niocu”. ia terkesiap, tanyanya: “Sudah

berapa lama aku tertidur?”

“Rasanya seperti sudah delapan atau sembilan hari,” jawab Leng-yan.

“Apa? Sembilan hari?….Dan mereka tidak datang?” seru Pwe-giok kaget.

Tujuh hari yang konyol itu ternyata sudah dilaluinya tanpa sadar, ia terkejut dan bergirang

pula, sungguh rada-rada tidak percaya. “Kau merindukan mereka?”

Jawab Pwe-giok dengan menyengir. “Aku cuma… cuma heran mengapa mereka tidak datang

lagi?”

“Dan mengapa kau tidak pergi saja, apakah sengaja menunggu kedatangan mereka?” kata

Leng-yan dengan tenang-tenang.

Mendadak Pwe-giok melonjak bangun, serunya: “He, betul juga. mereka pasti tidak

menyangka aku masih berada di sini, mereka tentu akan mengejar ke tempat jauh sana dan

tidak tahu bahwa aku belum pergi dari sini,” Ia pegang tangan leng-yan, katanya dengan

tertawa: “Meski tindakan ini rada-rada menyerempet bahaya, tapi dalam keadaan terpaksa,

kukira akal ini adalah akal paling bagus yang dapat dipikirkan, syukur kau dapat memikirkan

akal ini.”

“Akal apa? Aku tidak tahu!” kata Leng-yan dengan tertawa linglung. Pwe-giok melengak,

dipandangnya wajah yang masih polos, bersih dan kekanak-kanakan itu, entah nona ini benarbenar

orang gendeng dan berbuat secara kebetulan saja, atau sebenarnya memiliki kecerdasan

yang luar biasa.

Leng-yan berbangkit, mendadak ia tertawa dan berkata: “Marilah kita pergi, mereka sedang

menunggu kau di luar!”

Renjana Pendekar > Karya Khulung > Diceritakan oleh : GAN KL > buyankaba.com 195

“Apa? mereka menunggu di luar?” Pwe-giok menegas dengan kaget.

“Ya,” jawab Leng-yan dengan tertawa, “Waktu kau tertidur, banyak pula kudapatkan kawan

baru di sini, ada kakak gagak, ada adik pipit, sudah kubicarakan dengan mereka, bilamana

sakitmu sudah sembuh, akan kubawa kau berkenalan dengan mereka.”

Sementara itu sinar sang surya tampak memancar masuk melalui jendela, waktu masih pagi,

di luar memang benar ramai burung berkicau.

Pwe-giok lantas ikut keluar bersama Ki Leng-yan. Begitu melihat kawanan burung, dengan

tertawa senang nona itu lantas berlari ke sana.

Pwe-giok melihat pohon itu masih tegak berdiri di sana dihembus silir angin pagi, cuma

orang-orang yang semula terikat di pohon itu sudah tak kelihatan lagi.

Tiba-tiba teringat olehnya pondokan yang letaknya meski terpencil ini toh tidak terlalu jauh

dari perkampungan lain, jika di tempat ini mendadak mati orang sebanyak ini, mengapa tiada

orang bertanya atau menyelidiki apa yang terjadi. Sesungguhnya orang-orang yang terikat di

pohon itu orang hidup atau mati?

Selain itu, tempat penginapan ini sekarang juga tiada nampak bayangan seorangpun. Aneh,

apakah semuanya sudah lari dan tiada yang mengurus? Jika tidak ada yang mengurus,

mengapa dirinya dapat tinggal di sini sampai delapan atau sembilan hari?

Pertanyaan-pertanyaan ini cukup membuat pusing kepala. Sekalipun Pwe-giok sudah sadar,

tapi cara bagaimana pula harus diselesaikannya. Ki Leng-yan yang sama sekali tidak paham

seluk-beluk kehidupan manusia ini.

Berpikir sampai di sini, timbul juga rasa curiga Pwe-giok, dipandangnya Leng-yan yang

sedang berkeplok dan berjingkrak gembira di kejauhan itu, pikirnya: “Jangan-jangan nona ini

tidak gendeng sungguh-sungguh, tapi cuma pura-pura bodoh… Mungkinkah selama beberapa

hari ini sudah pernah kedatangan orang lain yang membantu dia menyelesaikan urusan di sini.

Tapi mengapa dia tidak omong padaku?”

Tapi segera terpikir lagi: “Ah, dengan susah payah orang telah menolong diriku, tapi aku

malah mencurigai dia, betapapun tidak pantas. jika dia bermaksud jahat padaku, untuk apa

pula dia menyelamatkan diriku?”

Dilihatnya Ki Leng-yan sedang berlari-lari kemari dengan tertawa riang, serunya sesudah

dekat: “Mereka (maksudnya kawanan burung) memberitahukan padaku bahwa di depan sana

ada sebuah tempat yang baik, maukah kita melihatnya ke sana?”

Di bawah cahaya sang surya, kelihatan pipi si nona bersemu merah laksana buah apel yang

mulai masak, sinar matanya mencorong terang, begitu jernih dan polos seolah-olah tidak tahu

betapa licik dan kejinya kehidupan manusia ini.

“Marilah ikut!” ajak Leng-yan pula sambil menarik tangan Pwe-giok. Pwe-giok merasa tiada

halangan untuk menolak, dia ikut melangkah ke sana.

Renjana Pendekar > Karya Khulung > Diceritakan oleh : GAN KL > buyankaba.com 196

Tidak lama kemudian, tertampak di depan sana ada sebuah perkampungan yang cukup

megah, pintu gerbang perkampungan itu bercat merah mentereng, dapat diduga penghuni

gedung ini pasti bukan sembarang orang.

“Sudah sampai, marilah kita masuk ke sana,” kata Leng-yan tiba-tiba sambil menarik tangan

Pwe-giok. “Di dalam sini banyak hal yang menarik, hayo kita melihatnya.’

“Ini rumah siapa? mana boleh sembarangan masuk ke rumah orang lain?” ujar Pwe-giok

dengan tersenyum getir.

“Tidak apa-apa, masuk saja,” ajak Leng-yan pula.

Dengan lagak rumah ini aku punya, nona itu lantas menolak pintu dan masuk tanpa permisi.

Terpaksa Pwe-giok ikut terseret masuk ke sana.

Halaman di dalam ternyata sangat luas, ruangan tamu juga terpasang sangat mewah.

Langsung Ki Leng-yan masuk ruangan tamu terus berduduk. Anehnya juga tiada orang yang

merintanginya. Padahal halaman rumah ini terawat rapi dan bersih, jelas ada penghuninya.

“Mumpung tuan rumahnya belum keluar, marilah kita lekas pergi saja,” ajak Pwe-giok.

Tapi Leng-yan tidak menghiraukannya, sebaliknya ia malah berkata:

“Hayo ambilkan teh.”

Sejenak kemudian, benarlah seorang lelaki berbaju hijau (seragam kaum hamba yang umum)

membawakan dua mangkuk teh dan ditaruh dengan hormat di atas meja, tanpa bersuara terus

tinggal pergi pula dengan kepala tertunduk.

Leng-yan minum seteguk teh yang di suguhkan itu, lalu berseru pula: “Perutku lapar!”

Hanya sebentar saja, segera beberapa orang menghidangkan santapan yang diminta dengan

sikap yang sangat menghormat, bukan saja tidak bersuara sepatah pun kepada mereka, bahkan

memandang saja tidak berani.

Melenggong lah Pwe-giok, ia mengira dirinya sedang bermimpi.

Segera Leng-yan mengangkat sumpit, katanya dengan tertawa: “Hayolah makan, kenapa

sungkan-sungkan?” Dia lantas mendahului menyumpit hidangan dan dimakan dengan

nikmatnya.

Pwe-giok sendiri tiada napsu makan, ia termenung-menung, sejenak kemudian, ia tidak tahan

dan bertanya: “Apakah tuan rumah di sini memang kenalan mu?”

Leng-yan tidak menggubrisnya, ia makan lagi beberapa sumpit, mendadak ia pegang meja

terus didomplangkan, keruan mangkuk piring jatuh berantakan.

“Mana orangnya!” teriak si nona.

Renjana Pendekar > Karya Khulung > Diceritakan oleh : GAN KL > buyankaba.com 197

Beberapa lelaki baju hijau berlari keluar dengan tergopoh-gopoh, semuanya mengunjuk rasa

gugup dan takut, semuanya berdiri di depan Leng-yan dengan kepala tertunduk, sampai

bernapas saja tidak berani keras-keras.

Dengan mata melotot Leng-yan berteriak: “Kenapa begini asin masakan Haysom-ah-ciang

(teripang masak kuah telapak kaki itik), siapa yang menghidangkan nya tadi?”

“Hamba!” cepat salah seorang baju hijau menjawab dengan suara gemetar sambil berlutut.

“Apakah kau sengaja hendak membikin aku mati keasinan?” teriak Leng-yan pula.

Pwe-giok tidak tahan, ia ikut bicara: “Dia kan tidak mencicipi, darimana tahu rasanya asin

atau cemplang, mana boleh kau menyalahkan dia. Apalagi kita makan gratis di tempat orang

lain, masa kau marah-marah malah?”

Leng-yan tertawa, katanya: “O, aku tidak tahu urusan, jangan kau marah padaku.”

“Ai, kau…..”

Belum lanjut ucapan Pwe-giok, sekonyong-konyong lelaki baju hijau yang berlutut itu

berseru: “Hamba tidak layak menghidangkan makanan yang terlalu asin ini, hamba pantas

mampus, tangan yang membawa hidangan ini lebih-lebih harus mampus….” mendadak ia

melolos sebilah belati dari pinggangnya dan “krek”, kontan ia potong tangan sendiri.

Terkejut Pwe-giok, dilihatnya orang itu kesakitan setengah mati, butiran keringat memenuhi

dahinya, tapi tidak berani merintih sedikitpun, tangan kanan memegangi pergelangan tangan

kiri yang buntung itu dengan darah bercucuran, namun tetap berlutut dan tidak berani berdiri.

“Ehm, mendingan begini,” kata Leng-yan dengan tertawa manis.

“He, ken….. kenapa kau berubah menjadi sekejam ini?” seru Pwe-giok.

“Mereka kan bukan burung, kenapa harus ku sayang mereka?” jawab si nona.

“Memangnya manusia tidak lebih berharga daripada burung?” kata Pwe-giok.

“Mereka suka dan rela, kenapa kau ribut bagi mereka?” ujar Leng-yan dengan tertawa.

“Di dunia ini mana ada orang yang suka rela membikin cacat anggota tubuh sendiri?” seru

Pwe-giok dengan gusar.

Leng-yan tidak menanggapinya, ia pandang lelaki berbaju hijau dan bertanya dengan tertawa:

“Kalian tunduk kepada perintahku secara sukarela, begitu bukan?”

Tidak saja lelaki baju hijau yang membuntungi tangan sendiri, bahkan semua hamba itu

menjawab serentak: “Ya, secara sukarela.”

“Bagus!” kata Leng-yan dengan gembira. “Jika demikian, coba kalian memotong dua jari

masing-masing”

Renjana Pendekar > Karya Khulung > Diceritakan oleh : GAN KL > buyankaba.com 198

Kata-kata ini membikin Pwe-giok terperanjat.

Siapa tahu orang-orang ini benar-benar lantas melolos pisau dan “krak-krek”, beramai-ramai

mereka memotong dua jarinya sendiri.

“Kalian berbuat demikian secara suka rela, bukan?” tanya Leng-yan pula.

“Ya, sukarela.” jawab orang-orang itu tanpa perduli darah mengucur dari tangan masingmasing.

“Kalian tidak merasa sakit, sebaliknya malah sangat senang, betul tidak?” tanya Leng-yan

pula.

“Betul, hamba gembira sekali,” jawab orang-orang itu berbareng.

“Kalau gembira, kenapa tidak tertawa?” kata Leng-yan.

Serentak tertawalah orang-orang itu meski sebenarnya semuanya kesakitan setengah mati,

dengan sendirinya tertawa demikian lebih tepat dikatakan meringis.

Merinding Pwe-giok menyaksikan kejadian luar biasa ini, tanpa terasa iapun berkeringat

dingin.

Sungguh sukar dibayangkan, kaum lelaki yang kekar dan segar ini seakan-akan telah menjadi

boneka semata-mata. Mereka hanya mengiakan apa yang dikatakan Ki Leng-yan dan perintah

nona itu lantas dilakukan. Sungguh kalau tidak menyaksikan dengan mata kepala sendiri,

betapapun Pwe-giok tidak percaya di dunia ini ada kejadian aneh begini.

Leng-yan berpaling dan tertawa kepadanya, katanya: “Tahukah kau sebab apa mereka tunduk

kepada perkataanku?”

“Mer…mereka…” Pwe-giok gelagapan.

Tapi Leng-yan lantas menukas: “Sebab mereka telah menjual sukmanya kepadaku.”

Bulu roma Pwe-giok merasa berdiri seluruhnya, serunya kaget: “Ap…apakah kau sudah

gila….”

Si nona tersenyum tenang, katanya pula: “Bukan saja sudah ku beli sukma mereka, bahkan

sukma mu selekasnya juga akan ku beli, bukan saja mereka tunduk kepada perintahku, nanti

kaupun harus tunduk.”

Pwe-giok menjadi gusar, teriaknya: “Kau berani…. ber…..”

“Sekarang kedua kakimu sudah lemas, sekujur badanmu tidak bertenaga lagi, berdiri saja

tidak sanggup, cukup satu jari saja dapat ku robohkan kau!” kata Leng-yan dengan tertawa.

Mendadak Pwe-giok berdiri, tapi memang betul, kedua kakinya terasa lemas, “bluk”, ia jatuh

terduduk pula.

Renjana Pendekar > Karya Khulung > Diceritakan oleh : GAN KL > buyankaba.com 199

“Selang sebentar lagi sekujur badanmu akan terasa sebentar dingin sebentar panas, habis itu

seluruh badan akan terasa sakit dan gatal, rasanya seperti beribu-ribu semut sedang menyusup

ke dalam kulit daging mu.”

Padahal tidak perlu sebentar lagi, sekarang juga Pwe-giok sudah mempunyai perasaan begitu,

dengan suara gemetar ia bertanya: “Kau….kau turun tangan keji padaku?”

“Hehe, selain diriku masa ada orang lain?” jawab Leng-yan dengan tersenyum manis.

Gemerutuk gigi Pwe-giok saking ngerinya, teriaknya parau: “Meng…mengapa tidak kau

bunuh saja diriku?”

“Orang berguna seperti kau ini, kan sayang jika kubunuh?” ujar si nona dengan tertawa.

Keringat dingin memenuhi dahi Pwe-giok, tanyanya dengan parau: “Sesungguhnya apa

kehendakmu?”

“Meski sekarang kau merasa seperti terjeblos di dalam neraka,” kata Leng-yan pula “Tapi

asalkan kau mau menjual sukma kepadaku, segera dapat kubawa kau menuju ke surga,

bahkan ke dunia yang jauh lebih gembira daripada surga.”

Pwe-giok merasa tidak tahan lagi akan siksaan ini, dengan suara serak ia tanya: “Apa yang

kau inginkan?”

“Sekarang, hendaklah segera kau pergi ke suatu tempat yang disebut kim-khak-ceng, 23

penghuni perkampungan itu, tua-muda, laki-perempuan harus kau bunuh seluruhnya……” kata

leng-yan dengan tertawa. “Lo Cu-liang, pemilik perkampungan itu terkenal kaya-raya,

sekaranglah aku sangat memerlukan harta-bendanya itu.”

“Apakah dalam keadaan begini aku sanggup membunuh orang?” tanya Pwe-giok dengan

tersenyum pedih.

Saat ini kau memang tidak sanggup membunuh, tapi setiba di Kim-khak-ceng segera kau akan

berubah menjadi maha kuat, bila tenagamu tidak kau keluarkan akan terasa tersiksa malah,

rasanya seperti mau meledak,” kata si nona.

Siksaan yang sukar ditahan ini hampir membuat Pwe-giok lupa segalanya, sekuatnya ia

berdiri dan menerjang keluar pintu, tapi mendadak dia berlari balik dan berteriak dengan

parau: “Tidak, tak dapat kulakukan hal ini.”

“Kau harus, harus kau lakukan, apakah kau ingin bertaruh denganku?” kata Leng-yan dengan

tertawa.

Dengan suara gemetar Pwe-giok berkata: “Tadinya kukira kau ini anak perempuan yang tulus

dan bersih, siapa tahu semua ini cuma pura-pura saja, kau berlagak seperti tidak tahu apa-apa

agar orang lain tidak was-was terhadap dirimu, siapa tahu kau terlebih ….. lebih keji daripada

Ki Leng-hong!”

“Hihi,” Leng-yan tertawa misterius. “Memangnya kau kira aku ini siapa?”

Renjana Pendekar > Karya Khulung > Diceritakan oleh : GAN KL > buyankaba.com 200

Pwe-giok memandangnya tajam, tiba-tiba dilihatnya sorot mata si nona yang poos dan bersih

itu memancarkan sinar tajam laksana mata elang. Tanpa terasa Pwe-giok bergidik, ucapnya:

“He, kau…. kau inilah Ki Leng-hong!”

Nona itu tertawa terkekeh-kekeh, dia memang bukan Ki Leng-yang melainkan Ki Leng-hong.

Katanya dengan tertawa: “Sudah belasan hari kau menjadi orang tolol, baru sekarang kau tahu

siapa diriku. Hehe, memangnya kau kira aku benar-benar paham bahasa burung? Di dunia ini

mana ada manusia yang benar-benar paham bahasa burung? Biarpun si idiot Leng-yan sendiri

juga belum tentu paham. Apa yang kau pahami adalah hasil penyelidikanku sendiri dengan

segenap daya upaya ku, kalau manusia saja tidak tahu, darimana burung bisa tahu? Huh, kau

sok anggap dirimu pintar, masa hal ini tak dapat kau pahami?”

Gemetar sekujur badan Pwe-giok, katanya: “Pantas, pantas kau berkeras ingin ikut padaku.

Pantas kau memperhitungkan Khing-hoa samniocu, pasti takkan datang lagi, apalagi datang

ke hotel kecil itu…”

“Ya, meski kau terkena racun Khing-hoa-samniocu, tapi tidak terlalu berat, malahan

tampaknya kau pernah minum semacam obat mujarab apa yang memiliki daya tahan sangat

kuat terhadap segala jenis racun.”

“Betul, itulah Siau-hoan-tan dari Kun-lun-pay…?”

“Tepat.” sela Leng-hong dengan tertawa.

“Cuma Siau-hoan-tan Kun-lun-pay itu meski dapat menawarkan segala macam racun, namun

terhadap Kek-lok-wan (pil maha girang) yang kuberikan padamu ini sedikitpun tak berguna.”

“Kek-lok-wan apa?” Pwe-giok menegas dengan kaget.

“Jadi Kek-lok-wan yang kau beri minum padaku ini telah membikin keadaanku menjadi rusak

sedemikian rupa? apakah orang-orang itupun terkena racun Kek-lok-wanmu, maka… maka

sukma merekapun dijual kepadamu?!”

“Jika Kek-lok-wanku kau anggap sebagai racun, maka itu sama seperti kau menghina diriku,”

kata Leng-hong.

“Meski sekarang kau sangat menderita, tapi cukup minum satu biji Kek-lok-wan, seketika

semua rasa derita akan lenyap, bahkan semangatmu akan timbul berlipat ganda dan

membuatmu merasa nikmat tak terhingga.”

“Apakah… apakah Kek-lok-wanmu ini bisa membuat orang ketagihan?” tanya Pwe-giok

dengan suara gemetar.

“Barang siapa sudah keracunan maka setiap hari harus meminumnya, kalau tidak tentu akan

merasa tersiksa dan tak tertahankan?”

“Memang benar perkataanmu,” kata Leng-hong dengan tertawa.

“Dalam kek-lok-wanku ini mengandung semacam getah tumbuh-tumbuhan yang berasal dari

negeri barat, tumbuhan ini berbunga sangat indah, tapi getah buahnya dapat membuat hidup

Renjana Pendekar > Karya Khulung > Diceritakan oleh : GAN KL > buyankaba.com 201

orang seperti terbang ke awang-awang, tapi juga dapat membikin orang hidup lebih menderita

daripada mati.”

Mendadak ia berpaling dan bertanya kepada orang-orang berbaju hijau: “Hidup kalian

sekarang bukankah sangat bahagia?”

“Ya, selamanya hamba tidak pernah sebahagia sekarang ini.” sahut orang-orang itu serentak.

“Dan bagaimana kalau tidak kuberi Kek-lok-wan kepada kalian ?” tanya Leng-hong pula.

Seketika wajah orang-orang itu berkerut-kerut, sorot matanya menampilkan rasa kuatir, jelas

rasa takut ini timbul dari lubuk hati yang dalam, semuanya munduk munduk dan memohon

dengan sangat: “Mohon ampun, nona, apapun akan hamba lakukan bagi nona, asalkan setiap

hari nona memberi satu biji Kek-lok-wan.”

“Demi memperoleh satu biji Kek-lok-wan, kalian tidak segan-segan menjual ayah-ibu bahkan

istrinya sendiri, begitu bukan?” tanya Leng-hong lagi.

Serentak orang-orang itu mengiakan.

Leng-hong berpaling ke arah Pwe-giok dan tertawa, katanya: “Meski kau tak punya ayah-ibu

dan istri untuk dijual, tapi kau dapat menjual dirimu sendiri, dengan tubuhmu sebagai

imbalannya akan kau dapatkan kebahagiaan sukma mu yang tak terhingga, tidakkah ini cukup

berharga bagimu?”

Keringat bercucuran dari dahi Pwe-giok, serunya dengan tergagap: “Aku… aku…”

Leng-hong berkata dengan suara lembut: “Kau tidak berdaya melawan lagi, selama delapan

hari itu setiap hari telah kutambah kadar Kek-lok-wan yang kuberi minum padamu,

kecanduanmu sekarang sudah jauh lebih dalam daripada mereka, penderitaan yang kau

rasakan hakekatnya tidak mungkin dapat ditahan oleh siapapun juga, kukira lebih baik kau

tunduk dan menurut perintah saja.”

Pwe-giok menggertak gigi, saking tersiksanya sampai bicarapun sukar.

“Lebih cepat kau menyatakan tunduk, lebih cepat pula akan berkurang rasa derita mu, kalau

tidak, kau hanya akan tersiksa lebih lama secara sia-sia, sebab akhirnya kau toh pasti akan

menyerah juga,” habis berkata Leng-hong lantas mengeluarkan sebuah botol porselen kecil

dan menuang keluar sebiji obat berwarna coklat, seketika tercium bau harum yang aneh.

Dengan sorot mata yang rakus orang-orang berbaju hijau itu sama melototi pil yang dipegang

Leng-hong itu, tampang mereka itu mirip anjing kelaparan yang melihat tulang, bahkan

orang-orang ini tampaknya terlebih rendah daripada anjing.

Leng-hong menyodorkan obat itu ke depan Pwe-giok, katanya dengan tertawa:

“Ku tahu kau tidak tahan lagi, boleh kau minum dulu satu biji ini, lalu mulailah bekerja.

Asalkan kau menyatakan tunduk padaku, akupun pasti percaya padamu.”

Pwe-giok meremas-remas tangan sendiri, serunya dengan parau: “Tid… tidak, aku… aku tidak

boleh!…”

Renjana Pendekar > Karya Khulung > Diceritakan oleh : GAN KL > buyankaba.com 202

Dengan suara terlebih halus Leng-hong berkata pula: “Sekarang, asalkan pil ini kau terima,

seketika dari neraka kau akan menuju ke surga. Kebahagiaan yang dapat kau peroleh dengan

cara semudah ini, jika kau tidak mau, kan bodoh kau?”

Orang-orang berbaju hijau itu sama mendekam di lantai, napas mereka ngos-ngosan seperti

anjing di musim birahi.

Pwe-giok melirik sekejap orang-orang itu, tiba-tiba terpikir olehnya bilamana obat itu

diminum, seketika dirinya akan berubah serendah orang-orang ini dan selama hidup akan

mengesot di bawah kaki Leng-hong untuk memohon belas kasihannya agar memberinya satu

biji Kek-lok-wan, selama hidupnya akan menjadi budaknya dan tenggelam di tengah

penderitaan yang kotor dan rendah serta takkan menjelma lagi untuk selamanya.

Berpikir sampai di sini, sekujur badan Pwe-giok sudah penuh keringat dingin, mendadak ia

meraung keras-keras, dua orang berbaju hijau itu didepaknya hingga terjungkal, seperti orang

gila ia terus menerjang keluar.

Anehnya Ki Leng-hong tidak merintanginya, ia cuma berucap dengan dingin: “Kau mau

pergi, boleh pergilah. Cukup kau ingat, bilamana kau tidak tahan derita lagi, setiap saat kau

boleh pulang kembali ke sini, Kek-lok-wan ini senantiasa menantikan kedatanganmu, bila kau

kembali ke sini segera kau akan mendapatkan pembebasan.”

Tersembul senyuman keji pada wajahnya, katanya pula dengan pelahan: “Sekalipun kakimu

di rantai juga kau akan kembali ke sini, biarpun kedua kakimu ditebas buntung merangkak

pun kau akan pulang lagi ke sini.”

*****

Pwe-giok terus berlari-lari, ia menerjang ke ladang, ia menjatuhkan diri di tanah berpasir,

bergulingan dan meronta, pakaiannya sudah terkoyak-koyak, tubuh pun berdarah, tapi

sedikitpun tidak dirasakannya. Penderitaan lahiriah ini bukan apa-apa, yang sukar ditahan

adalah penderitaan yang timbul dari rohaniahnya.

Jika orang tidak pernah mengalami sendiri, selamanya takkan dapat membayangkan betapa

menakutkan penderitaan yang sukar dilukiskan itu.

Bahkan Pwe-giok membentur-benturkan kepalanya kepada batu padas sehingga berdarah, ia

menggertak gigi kencang-kencang, ujung mulut pun berdarah, ia memukuli dada sendiri dan

menjambak rambut…

Semua itu tetap tiada gunanya, telinganya selalu mengiang ucapan Ki Leng-hong tadi: “Setiap

saat kau boleh pulang kembali ke sini… bila kau kembali ke sini segera kau akan mendapat

pembebasan?”

Pembebasan, saat ini yang dipikirkannya memang cuma mengharapkan pembebasan, apakah

untuk itu harus menjual raga sendiri atau menjual sukma sendiri, ia tidak perduli lagi.

Seperti apa yang sudah diduga Ki Leng-hong, mendadak ia berbangkit dan menerjang

kembali ke arah datangnya tadi.

Renjana Pendekar > Karya Khulung > Diceritakan oleh : GAN KL > buyankaba.com 203

Mendadak seorang tertawa terkekeh-kekeh dan berkata: “Aha, akhirnya kami dapat

menemukan kau.”

Tiga sosok bayangan orang segera melayang tiba seperti burung cepatnya dan menghadang di

depan Pwe-giok, tertampak mantel hitam yang gemerlapan tertimpa sinar matahari. Mereka

ternyata “Khing-hoa-samniocu” adanya.

Akan tetapi bagi Pwe-giok sekarang ketiga ‘nona bunga’ ini tidak menakutkan lagi. Ia

mendelik matanya merah membara, teriaknya parau: “Menyingkir! Biarkan ku lewat!”

Heran dan terkejut juga Khing-hoa samniocu melihat perubahan luar biasa Pwe-giok ini,

ketiga kakak beradik itu saling pandang sekejap, sambil berkerut kening Thi-hoa-nio lantas

berkata: “Pemuda yang cakap dan ganteng mengapa berubah menjadi seperti binatang buas ?”

Belum lenyap suaranya, serentak Pwe-giok menerjang tiba. Saat ini meski tenaganya sengat

kuat, tapi itu cuma tenaga yang timbul secara naluri, ia sudah lupa cara bagaimana

menggunakan tenaga dalam dan kepandaian.

Perlahan Gin-hoa-nio lantas menjulurkan sebelah tangannya untuk menjegal, kontan Pwegiok

jatuh tersungkur. Kaki Gin-hoa-nio lantas menginjak di atas punggung anak muda itu,

katanya dengan tercengang: “Mengapa orang ini berubah menjadi begini, sampai ilmu silat

sendiripun tidak ingat lagi.”

“Kumohon, lepaskan diriku!” ratap Pwe-giok sambil meronta dan menggabruki tahan pasir.

“Hm, kau kira kami akan melepaskan kau pergi?” jengek Gin-hoa-nio.

“Jika kalian tidak mau melepaskan diriku, lebih baik kalian bunuh saja diriku!” seru Pwegiok.

“Ai, kenapa kau berubah menjadi begini?” tanya Kim-hoa-nio dengan gegetun: “Apakah kau

terkena sesuatu racun?”

“Kek-lok-wan….. Kek-lok-wan, kumohon beri… berilah satu biji Kek-lok-wan!” teriak Pwegiok

dengan serak.

“Apa itu Kek-lok-wan?” tanya Kim-hoa-nio.

“Kuterima segala permintaanmu, ku tunduk kepada segala perintahmu, ku rela menjadi budak

mu, akan kulakukan apa saja….” agaknya anak muda itu sudah kurang sadar sehingga bicara

tak keruan.

“Lihay amat Kek-lok-wan itu,” Kata Kim-hoa-nio, “Mengapa tak pernah kuketahui barang

apakah Kek-lok-wan ini sehingga dapat mengubah watak seorang yang keras kepala begini

rela menjadi budaknya?”

“Perduli barang apa, pokoknya kita bawa saja dia,” kata Thi-hoa-nio setelah berpikir sejenak.

Renjana Pendekar > Karya Khulung > Diceritakan oleh : GAN KL > buyankaba.com 204

Ia memberi tanda, segera beberapa gadis jelita bergaun cekak berlari dari lereng bukit sana,

mereka membawa sebuah karung berwarna putih kelabu, Pwe-giok terus dimasukkan ke

dalam karung itu.

Karung itu entah terbuat dari bahan apa, kuat dan ulet luar biasa, sia-sia Pwe-giok meronta,

memukul dan menendang di dalam sambil berteriak-teriak.

Mungkin mimpipun Ki Leng-hong tidak pernah menyangka Ji Pwe-giok akan ditawan orang

dimasukkan ke dalam karung dan dibawa pergi, kalau tidak, pasti seperti apa yang telah

diucapkannya, biarpun merangkak juga Pwe-giok akan balik lagi ke sana.

“Sungguh aneh sekali racun yang diidapnya, entah cara bagaimana menawarkan nya dan

entah siapa di dunia Kangouw ini yang paham cara menawarkan racun semacam ini.” kata

Kim-hoa-nio dengan masgul.

“Jika kita saja tidak sanggup menawarkannya, siapa lagi di dunia ini yang sanggup?” ujar Thihoa-

nio.

“Habis, apakah membiarkan dia dalam keadaan demikian?” ucap Kim-hoa-nio sambil

berkerut kening.

“Toaci jangan lupa, dia adalah musuh kita,” kata Gin-hoa-nio dengan ketus. “Sekalipun dia

tidak keracunan juga kita akan membunuh dia, sekarang dia keracunan, mengapa kita berbalik

akan menolongnya?”

Kim-hoa-nio menghela napas panjang, jawabnya: “Meski dia musuh kita, tapi melihat

keadaannya aku menjadi tidak tega dan merasa kasihan.”

“Toaci sungguh seorang pecinta besar, cuma cintamu rasanya menjadi tidak murni,” kata Thihoa-

nio dengan tertawa.

“Memangnya kau kira kasihanku padanya demi diriku sendiri?” kata Kim-hoa-nio dengan

mengulum senyum.

“Bukan demi dirimu, memangnya demi diriku?” ujar Thi-hoa-nio sambil terkikik-kikik.

“Ucapanmu sekali ini memang tepat, apa yang kulakukan ini justeru demi kau,” kata Kimhoa-

nio dengan tertawa.

“Aku?” Thi-hoa-nio menegas, mukanya menjadi merah, sambil menggigit bibir ia berkata

pula: “Padahal…. padahal namanya saja aku tidak tahu, masa…. masa Toaci….” – Belum habis

ucapannya mukanya bertambah merah dan mendadak ia berlari menyingkir.

Dalam pada itu sebuah kereta besar dan mewah tampak memapak tiba, segera kawanan gadis

tadi menggotong karung yang berisi Pwe-giok ke dalam kereta. Khing-hoa-samniocu juga

naik kuda masing-masing dan beramai-ramai terus membedal ke depan.

*****

Renjana Pendekar > Karya Khulung > Diceritakan oleh : GAN KL > buyankaba.com 205

Kereta itu terus menuju ke selatan, melalui propinsi Oh-pak, Su-jwan, kemudian ke propinsi

Kui-ciu.

Sepanjang jalan Pwe-giok masih terus meronta-ronta dan meraung-raung, jelas

penderitaannya luar biasa. Tapi Khing-hoa-samniocu tidak memperlakukan dia dengan sadis,

sebaliknya malah merawatnya dengan sangat baik.

Thi-hoa-nio yang galak dan liar itu seakan-akan berubah sama sekali sikapnya terhadap Pwegiok,

bahkan kelihatan merasa sedih.

Kim-hoa-nio tahu meski di mulut saudaranya itu tidak bicara, tapi di dalam hati sesungguhnya

sedang berkuatir bagi Pwe-giok.

Sedangkan Gin-hoa-nio terkadang suka menyindir: “Coba lihat Sam-moay (adik ketiga),

orang hampir membunuhnya, tapi dia malah menyukai dia.”

Dengan tertawa Kim-hoa-nio berkata: “Biasanya penilaian Sam-moay sangat tinggi, setiap

lelaki di dunia ini dipandangnya seperti kotoran yang tidak laku sepeserpun. Sebenarnya aku

berkuatir kalau-kalau selama hidupnya takkan mendapat pasangan, tapi sekarang dia bisa

jatuh hati kepada seseorang, kan kita harus bergirang baginya.”

“Tapi orang yang ditaksirnya justeru adalah musuh kita,” kata Gin-hoa-nio.

“Ah, musuh apa?” ujar Kim-hoa-nio dengan tersenyum. “Padahal ada permusuhan apa antara

dia dengan kita, apalagi kalau dia sudah menjadi suami Sam-moay, dari musuh kan terus

berubah menjadi ipar?”

Gin-hoa-nio melengak, ia tertawa, katanya: “Sungguh aku tidak paham mengapa Sam-moay

bisa penujui dia?”

“He, dia kan lelaki cakap yang jarang ada bandingannya, ilmu silatnya juga tergolong pilihan,

pemuda sebaik ini siapa yang tidak menyukainya? apalagi usia sam-moay sudah waktunya

birahi,” kata Kim-hoa-nio.

Gin-hoa-nio menggigit bibir dan tidak bicara lagi, ia terus melarikan kudanya ke depan.

Gerak gerik rombongan ini meski misterius, tapi sangat royal, tidak sayang buang uang,

siapapun menghormati mereka, maka sepanjang jalan tiada terjadi sesuatu halangan.

Sesudah menyeberangi Tiangkang, mereka tidak mencari hotel lagi, sepanjang jalan mereka

disambut dengan hormat oleh keluarga hartawan. Rupanya pengaruh Thian-can-kau diamdiam

telah meluas hingga mencapai daerah Kanglam (selatan sungai Tiangkang), kebanyakan

keluarga hartawan di daerah situ sudah masuk menjadi anggota cabang Thian-can-kau.

Yang menggembirakan Kim-hoa-nio dan Thi-hoa-nio adalah keadaan Pwe-giok sudah

semakin baik, penderitaannya sudah jauh berkurang, terkadang sudah dapat tidur dengan

nyenyak.

Sudah tentu mereka tidak tahu bahwa bekerjanya racun Kek-lok-wan yang mengandung

morfin itu lambat laun akan berkurang apabila si penderita sanggup bertahan pada masa krisis

Renjana Pendekar > Karya Khulung > Diceritakan oleh : GAN KL > buyankaba.com 206

yang memang sangat menyiksa itu. Tapi bila tiada mendapat pertolongan, satu diantara sejuta

mungkin juga tidak sanggup menahan siksaan batin yang maha hebat itu. Coba kalau Khinghoa-

sam-niocu tidak terus mencari jejak Ji Pwe-giok, saat ini dia mungkin sudah terjerumus

semakin dalam.

Melihat keadaan Pwe-giok yang bertambah sehat, Thi-hoa-nio menjadi girang. Sebaliknya

Gin-hoa-nio tampak semakin dongkol, agaknya dia menaruh dendam kepada Pwe-giok.

Meski perlahan-lahan Pwe-giok sudah sadar kembali, tapi keadaannya sangat lemas, seperti

orang yang baru sembuh dari sakit keras.

Bila teringat dirinya hampir terjerumus ke neraka yang sukar melepaskan diri, tanpa terasa

Pwe-giok berkeringat dingin pula. Baik atau buruk, untung atau celaka, nasib manusia

terkadang hanya bergantung pada sekian detik dan sekian jengkal saja.

Namun perlakuan Khing-hoa-samniocu yang teramat baik padanya membuat hatinya merasa

tidak tenteram, ia tidak tahu apa pula maksud tujuan yang telah dirancang oleh ketiga kakak

beradik yang misterius ini.

Dari propinsi Oh-pak mereka telah masuk ke Su-jwan. Suatu hari sampailah mereka di Songpeng-

pah.

Song-peng-pah ini bukan kota besar, tapi jalan kota cukup rajin dan terpelihara. Kotanya juga

ramai, orang berlalu lalang, banyak yang tertarik kepada ketiga kakak beradik yang cantik

dengan keretanya yang besar itu.

Ketiga nona ini malah sengaja turun dari kuda masing-masing dan berjalan dengan

bergandeng tangan, mereka melirik ke kanan dan tersenyum ke kiri, sungguh tidak kepalang

senang mereka melihat orang lain sama terpesona terhadap mereka.

Mendadak Gin-hoa-nio menepuk pundak seorang di tepi jalan, tanyanya dengan tersenyum

genit: “Apakah toako penduduk Song-peng-pah sini?”

Tanpa sebab ditepuk seorang nona cantik, tulang orang itu serasa lemas seluruhnya, melihat

tangan yang putih halus itu masih semampir di pundaknya, tanpa terasa orang itu lantas

merabanya dan menjawab dengan menyengir: “Ya, betul!”

Gin-hoa-nio seolah-olah tidak tahu tangannya lagi diraba-raba orang, ia tertawa terlebih

manis, katanya pula: “Jika demikian, tentu Toako tahu di mana kediaman Ma Siau-thian?”

Mendengar nama Ma Siau-thian, seketika orang itu merasa seperti kena dicambuk satu kali,

cepat ia menarik tangannya kembali dan menjawab dengan hormat: “O, kiranya nona ini

kenalan Ma toaya, beliau tinggal tidak jauh di depan sana, di jalan seberang sana, belok ke

kiri, gedung yang berpintu cat merah itulah.”

Tiba-tiba Gin-hoa-nio memberikan lirikan genit, lalu membisiki orang itu: “Kenapa kau takut

kepada Ma Siau-thian? Asalkan kau berani, malam nanti boleh kau datang mencari diriku….”

lalu ia meniup pelahan ke telinga orang itu dan tertawa.

Renjana Pendekar > Karya Khulung > Diceritakan oleh : GAN KL > buyankaba.com 207

Sukma orang itu seakan-akan terbang ke awang-awang, dengan muka merah ia menjawab:

“O, aku….. aku tidak berani.”

“Huh, percuma!” omel Gin-hoa-nio dengan tertawa menggiurkan sambil mencubit pelahan

pipi orang itu.

Dengan melenggong orang itu menyaksikan kepergian rombongan Gin-hoa-nio, sampai lama

ia masih berdiri terkesima seperti habis mimpi, ia meraba pipinya yang rada-rada gatal dan

bergumam: “Keparat, barang baik hampir semuanya di borong olehmu, Ma Siau-thian,

dasar….” mendadak pipinya yang rada gatal itu berubah menjadi rasa sakit, pipi itu sudah

bengkak seperti kepala babi, kupingnya juga sakit seperti ditusuk-tusuk jarum, ia kesakitan

dan ketakutan sambil terguling-guling dan menjerit.

“Ai, untuk apa kau lakukan?” omel Kim-hoa-nio sambil menggeleng ketika mendengar jeritan

ngeri dari jauh itu.

Gin-hoa-nio terkekeh-kekeh, katanya: “Terhadap lelaki yang suka iseng begini, kalau tidak

dihajar adat sedikit tentu tidak kapok. Tampaknya Toaci telah berubah menjadi welas asih,

apakah benar-benar sudah siap untuk menjadi menantu baik hati keluarga Tong?”

Kim-hoa-nio mendongkol, ia tidak bicara lagi, tapi terus melangkah ke depan dengan cepat.

Terlihat dinding tembok tinggi di depan sana, beberapa orang sebangsa cecunguk sedang

main dadu lempar di samping pintu besar sana.

Gin-hoa-nio mendekatinya, sekali depak ia bikin salah seorang lelaki itu terpental, orangorang

lain terkejut dan gusar, beramai-ramai mereka membentak.

Tapi Gin-hoa-nio memandang mereka dengan tertawa manis, katanya: “Numpang tanya para

Toako, apakah di sini tempat kediaman Ma-toaya?”

Melihat wajah yang cantik itu, rasa gusar orang-orang itu seketika terbang ke awang-awang,

mereka terbelalak memandangi Gin-hoa-nio dari segala sudut ke segenap bagian tubuhnya.

Seorang diantaranya berkata sambil cengar-cengir: “Akupun she Ma, akupun Ma toaya, ada

keperluan apa adik sayang mencari diriku?”

“Ah, kulihat mukamu ini masih boleh juga,” ucap Gin-hoa-nio dengan tertawa genit sambil

menjulurkan tangannya untuk meraba muka orang.

Serentak orang itupun mendekatkan mukanya dan bermaksud mencium, tak tersangka dia

lantas dipersen dengan sekali gamparan keras oleh Gin-hoa-nio hingga mencelat.

Keruan lelaki yang lain menjadi gusar terus hendak mengerubutinya.

Dengan tertawa Gin-hoa-nio berkata: “Aku kan tidak mau menjadi menantu orang, biarpun

hatiku keji dan tanganku keras sedikit juga tidak menjadi soal.”

Dia ternyata sengaja berolok-olok kepada Kim-hoa-nio, beberapa orang itu terus dilabraknya

hingga terkapar di sana-sini dengan kepala pecah dan darah mengucur.

Renjana Pendekar > Karya Khulung > Diceritakan oleh : GAN KL > buyankaba.com 208

Kim-hoa-nio mendongkol, tapi iapun tidak menghiraukan lagi.

Pada saat itulah terdengar seorang meraung: “Keparat, anak kura-kura darimana, berani ributribut

di depan pintu Locu? semuanya berhenti!”

Maka muncul seorang lelaki berjubah sulam dengan wajah merah diiringi beberapa lelaki

kekar.

Segera Gin-hoa-nio menanggapi dengan tertawa: “Ah, kukira siapa, rupanya Ma-toaya sudah

keluar! Wah, alangkah gagahnya, alangkah kerengnya!”

Beberapa pengiring itu segera mendelik dan bermaksud mendamprat, tapi Ma Siau-thian

lantas pucat demi melihat ketiga nona ini, serentak ia bertekuk lutut dan menyembah, katanya

dengan hormat: “Tecu Ma Siau-thian dari cabang Sujwan utara menyampaikan sembah bakti

kepada ketiga Hiangcu, mohon maaf, karena tidak tahu akan kedatangan ketiga Hiangcu,

sehingga tidak dilakukan penyambutan selayaknya.”

Gin-hoa-nio menarik muka dan mendengus: “Hm, mendingan Ma-toaya masih kenal kami,

untung juga kau keluar pada waktunya yang tepat, kalau tidak kami mungkin bisa mampus

dihajar oleh beberapa tuan yang gagah perkasa ini.”

Ma Siau-thian berkeringat dingin, cepat ia menyembah lagi dan berkata: “Kawanan binatang

ini memang pantas mampus, mereka benar-benar buta melek, masa berani bersikap kasar

kepada ketiga Hiangcu, sebentar Tecu pasti memberi hukuman setimpal kepada mereka.”

Dengan hambar Kim-hoa-nio lantas berkata: “Sudahlah, yang penting sekarang barangkali

Ma-toaya dapat menyediakan suatu tempat bagi kami, sedapatnya tempat yang tenang, sebab

kami membawa seorang sakit di dalam kereta.”

Berulang-ulang Ma Siau-thian mengiakan dan menyambut ketiga nona itu ke dalam rumah.

Beberapa cecunguk itu sama terkesima melihat Ma-toaya yang biasanya malang-melintang itu

sekarang ternyata munduk-munduk dan ketakutan terhadap ketiga nona cantik ini.

Ketika melangkah masuk ke dalam gedung itu, mendadak Gin-hoa-nio mendengus: “Yang

menyudahi persoalan ini dan mengampuni mereka adalah Toaci, aku sendiri tidak berkata

demikian.”

Ma Siau-thian menjadi kebat-kebit, katanya dengan tergagap: “Ya, Tecu…. Tecu paham.”

Thi-hoa-nio menarik lengan baju Gin-hoa-nio dan berkata: “Ji-ci, kau tahu perasaan Toaci

akhir-akhir ini kurang baik, kenapa kau suka membikin marah dia.”

“Dia kan tidak mencarikan pacar bagiku, untuk apa aku mesti menjilat dia?” jengek Gin-hoanio

sambil mengebaskan lengan bajunya dan melengos

Setelah menyilakan ‘Khing-hoa-samniocu’ ke ruangan tamu, Ma Siau-thian mendadak

menyingkirkan semua anak buahnya, lalu berkata dengan hormat: “Tecu tahu ketiga Hiangcu

suka kepada ketenangan, maka setiap saat senantiasa menyediakan tempat yang baik bagi para

Hiangcu.”

Renjana Pendekar > Karya Khulung > Diceritakan oleh : GAN KL > buyankaba.com 209

“O, dimana tempatnya?” tanya Kim-hoa-nio.

“Di sini,” jawab Ma Siau-thian. Dengan tersenyum ia lantas menggulung sebuah lukisan besar

di ruangan tamu itu, tertampaklah di balik lukisan itu ada sebuah pintu rahasia. Pintu dibuka

dan tertampaklah sebuah jalan tembus, dibalik pintu terdapat beberapa kamar indah.

“Kami kan tidak mau berbuat sesuatu yang malu dilihat orang, kenapa mesti main sembunyisembunyi,”

jengek Gin-hoa-nio.

Ma Siau-thian menjadi seperti diguyur air dingin, ucapnya dengan gelagapan: “O, jika….. jika

Hiangcu kurang suka, di taman belakang masih ada tempat lain….”

“Biarlah, di sini saja,” sela Kim-hoa-nio dengan menarik muka. Segera ia mendahului

melangkah masuk ke kamar rahasia itu, beberapa gadis mengikuti di belakangnya dengan

menggotong Ji Pwe-giok.

Melihat tempat yang dikunjungi ketiga nona ini makin lama makin misterius, entah

bagaimana nasibnya nanti bila digotong masuk ke situ. Namun apa daya, biarpun tidak suka,

mau tak mau Pwe-giok hanya menurut saja karena badan tak bisa berkutik.

Setelah menaruh Pwe-giok di atas tempat tidur, beberapa gadis cantik itu lantas tinggal pergi

dengan merapatkan pintu.

Sunyi senyap, di dalam kamar rahasia itu, selagi Pwe-giok berbaring memandangi langitlangit

kamar dengan melamun, sekonyong-konyong seorang membuka pintu dan melangkah

masuk. Ternyata Thi-hoa-nio adanya.

Nona ini berduduk diam saja di ujung ranjang dan memandangi Pwe-giok dengan mengulum

senyum, satu kata saja tidak bicara.

Akhirnya Pwe-giok tidak tahan, ucapnya: “Sekali ini berkat pertolongan nona, kalau tidak ….

kalau tidak, Cayhe mungkin …. mungkin ….”

“Kau tidak benci kepada kami lagi?” tanya Thi-hoa-nio dengan tersenyum.

Pwe-giok tidak tahu cara bagaimana harus menjawabnya, ia menghela napas, katanya

kemudian: “Cayhe tidak pernah membenci kalian, asalkan para nona jang…. jangan….”

“Jangan membunuh orang, begitu bukan?” tukas Thi-hoa-nio.

“Nona sendiripun bilang begitu, bila terlalu banyak membunuh orang, wajah cantik bisa

berubah menjadi buruk,” kata Pwe-giok sambil tersenyum getir.

Thi-hoa-nio memandangnya pula sejenak dengan diam, mendadak ia tertawa dan bertanya:

“Jadi kau ingin supaya aku bertambah cantik?”

Jilid 9________

Renjana Pendekar > Karya Khulung > Diceritakan oleh : GAN KL > buyankaba.com 210

Pwe-giok gelagapan dan tak dapat menjawab, bilang suka terasa tidak tepat, bilang tidak suka

juga terasa tidak betul. Ia menjadi kelabakan, ia merasa untuk menjawab pertanyaan nona ini

jauh lebih sukar daripada berbuat apapun.

Thi Hoa-nio menatapnya tajam-tajam, katanya pula:

“Kalau suka bilang suka, kalau tidak jawab saja tidak suka, kenapa tidak berani menjawab ?”

“Sudah…..sudah tentu suka,” akhirnya tercetus juga jawabannya.

“Dan kau menghendaki aku turut perkataanmu,” tanya Thi Hoa-nio pula dengan tersenyum.

Nona yang jahil ini semakin aneh pertanyaannya.

Dengan menyengir Pwe-giok menjawab:

“Memikirkan diri sendiri saja tidak sempat, mana berani kuharapkan nona menurut kepada

perkataanku ?”

“Asalkan kau menghendaki demikian, tentu aku akan menurut,” ucap Thia Hoa-nio dengan

suara lembut.

“Tapi…tapi aku….” Pwe-giok tergagap-gagap pula.

“Apakah kau menghendaki aku membunuh orang ?”

“O, aku tidak bermaksud begitu,” jawab Pwe-giok.

“Jika begitu, kau cuma ingin ku turut kepada perkataanmu saja ?”

Pwe-giok menghela nafas dan terpaksa mengiakan.

Mendadak Thi Hoa-nio melonjak bangun dan mencium satu kali di pipinya, lalu berlari pergi

dengan tertawa genit.

Menyaksikan menghilangnya bayangan si nona di luar pintu, Pwe-giok berguman sendiri:

“Aneh, mengapa mendadak dia kegirangan begitu ? Apakah dia menyangka aku telah

menyanggupi sesuatu kepadanya ?”

Teringat kepada Tong Kongcu yang digoda mereka, tanpa terasa Pwe-giok jadi ngeri sendiri.

Selama beberapa hari ini, meski keadaannya semakin sehat, tapi tetap dirasakan lemas tak

bertenaga, lesu dan lelah, ia melamun hingga lama dan akhirnya terpulas tanpa terasa.

Entah sudah berapa lama dia tertidur, ketika mendadak dirasakannya sesosok tubuh yang

halus dan lunak menyusup ke dalam selimutnya, pelahan-lahan orang itu menggigit samping

lehernya serta meniup hawa di telinganya.

Renjana Pendekar > Karya Khulung > Diceritakan oleh : GAN KL > buyankaba.com 211

Pwe-giok terjaga bangun, namun lampu sudah padam, apapun tidak kelihatan, hanya

dirasakan gumpalan tubuh yang lunak dalam pelukannya dengan bau yang harum sedap dan

membuat jantung berdetak keras.

“He, sia…siapa kau ?” seru Pwe-giok.

Orang yang berbaring disampingnya tidak menjawab, tapi lantas membuka bajunya serta

merangkulnya, jari-jemari yang halus itu meraba perlahan sekujur badannya.

Pwe-giok tahu orang yang menyerahkan diri ke dalam pelukannya ini pasti Thi Hoa-nio

adanya dan tidak mungkin orang lain. Ia merasa detak jantungnya bertambah keras, dengan

menahan perasaan ia berkata: “Jika kau benar-benar menurut perkataanku, hendaklah lekas

kau keluar !”

Tapi orang di sebelahnya tertawa genit dan menjawab: “Siapa mau turut kepada perkataanmu

? Justru kuharap kau yang turut kepada perkataanku, sayang…” suara yang setengah tertahan

dan rada serak itu penuh daya tarik dan godaan.

“Hei, kau, Gin Hoa-nio !” seru Pwe-giok kaget.

“Ya, makanya kau harus turut kepada perkataanku, pasti takkan ku kecewakan kau,” kata Gin

Hoa-nio dengan lembut.

Tenaga Pwe-giok saat ini ternyata lenyap tanpa bekas, ia tertindih di bawah hingga hampir tak

dapat bernapas, jantungnya berdetak-detak keras dan mandi keringat.

“Maukah kau menyalakan lampu ?” kata Pwe-giok mendadak.

“cara begini saja apakah kurang baik ?” tanya Gin Hoa-nio

“Aku ingin melihat dirimu,” jawab Pwe-giok.

Gin Hoa-nio tertawa cekikikan, katanya: “Sungguh tidak nyana kau ternyata sudah

berpengalaman dan ahli. Baiklah akan kuturuti kehendakmu.”

Dengan kaki telanjang Gin hoa-nio lantas melompat turun dari tempat tidur, digerayanginya

batu api untuk menyalakan lampu. Di bawah cahaya lampu itu tertampak jelas potongan

tubuhnya yang menggiurkan.

“Kau mau lihat, silahkan lihatlah sepuasmu !” katanya dengan tertawa sambil melirik genit

kepada Pwe-giok.

Tapi anak muda itu lantas mendengus: “Hm, memang ingin kulihat betapa bejatmu, betapa

kau tidak kenal malu ? Hm, kau kira kau sangat cantik ? bagiku justru memualkan !”

Selama hidup Pwe-giok belum pernah mengucapkan kata-kata sekeji ini, apalagi terhadap

seorang perempuan. Tapi sekarang ia sengaja hendak memancing kemarahan Gin Hoa-nio,

maka dipilihnya kata-kata yang paling menyakitkan hati dan dilontarkan langsung:

Renjana Pendekar > Karya Khulung > Diceritakan oleh : GAN KL > buyankaba.com 212

Benarlah senyum yang menghiasi wajah Gin Hoa-nio seketika lenyap, mukanya yang

bersemu merah seketika berubah menjadi kelam, lirikan yang menggoda juga memancarkan

sinar buas, teriaknya dengan suara parau: “Kau… kau berani mempermainkan diriku ?!”

Kuatir orang akan menggodanya lagi, Pwe-giok lantas mencaci maki sekalian:

“Sekalipun kau tidak tahu malu, seharusnya kau berkaca dulu agar kau tahu…..”, makin

menyakitkan hati makiannya, biarpun perempuan yang sedang dirangsang napsu birahi juga

pasti akan dingin seketika.

Bibir Gin Hoa-nio sampai pucat, teriaknya dengan suara gemetar: “Memangnya kau kira kau

sendiri ini lelaki cakap ? Hmm, justru ingin kulihat berapa lama kecakapanmu ini akan

bertahan ?”

Mendadak ia menyambar sebilah golok yang tergantung di dinding dan menerjang ke depan

tempat tidur, dicekiknya leher Pwe-giok sambil menyeringai: “Sekarang juga akan ku bikin

kau berubah menjadi lelaki yang paling buruk di dunia ini, agar setiap perempuan di dunia ini

akan mual bila melihat tampangmu. Akan kulihat apakah kau masih bisa jual tampang atau

tidak ?”

Segera Pwe-giok merasakan mata golok yang dingin menggores di pipinya, akan tetapi dia

tidak merasakan sakit, sebaliknya merasakan semacam kesadisan yang menyenangkan, ia

malah bergelak tertawa.

Gin Hoa-nio menyaksikan muka yang tiada cacat itu telah robek di bawah mata goloknya,

darah tertampak mengucur dari wajah yang pucat itu. Seketika Gin Hoa-nio merasakan

tangannya gemetar, sayatan kedua sukar dilakukannya lagi.

Maklum, bilamana seorang harus merusak hasil seni yang indah, betapapun memang bukan

pekerjaan mudah.

Tapi Pwe-giok lantas melotot, teriaknya dengan tertawa: “Hayolah, turun tangan lagi ?

Mengapa berhenti ? Muka ini bukan milikku, jika kau rusak justru kurasakan sebagai suatu

pembebasan bagiku, aku malah berterima kasih padamu dan takkan sakit hati.”

Kulit daging yang tersayat itu jadi merekah akibat tertawa Pwe-giok itu, darah mengucur

lebih deras, tapi sorot matanya juga mengandung semacam pembebasan yang latah.

Gin Hoa-nio merasa keringat dinginnya telah membasahi gagang goloknya, dengan suara

histeris ia berteriak: “Biarpun kau tidak sakit hati, tapi ada orang lain yang akan merasa sakit.

Jika tak dapat ku peroleh kau, biarlah kuhancurkan kau, ingin kulihat apakah dia tetap suka

kepada orang gila bermuka buruk macam kau ?”

Mendadak iapun bergelak tertawa seperti orang gila, sayatan kedua akhirnya dilakukan pula.

Sekonyong-konyong “Blang”, pintu didobrak orang, Thi Hoa-nio menerjang masuk dan

merangkul pinggang Gin Hoa-nio terus diseretnya mundur sambil berteriak-teriak:

“Toaci, lekas kemari, jici sudah gila !”

Renjana Pendekar > Karya Khulung > Diceritakan oleh : GAN KL > buyankaba.com 213

Gin Hoa-nio meronta-ronta dan menyikut Thi Hoa-nio, teriaknya dengan tertawa:

“Aku tidak gila, tapi kekasihmu itulah yang gila. Dia bilang mukanya itu bukan miliknya,

biarlah kuberikan si gila ini padamu, sekarang diberikan secara gratis padaku juga aku tidak

mau.”

Selagi Pwe-giok, Gin Hoa-nio dan Thi Hoa-nio berebutan begitu, datanglah Kim Hoa-nio, ia

kaget melihat muka Pwe-giok berdarah, teriaknya: “He.. apa yang kau lakukan?”

Gin-hoa-nio tertawa, teriaknya parau “Akulah yang melakukannya, apakah.. apakah kau pun

merasa sakit…” Belum habis ucapannya, “plok”, mukanya telah digampar sekali oleh Kim-

Hoa-nio.

Mendadak suara tertawanya berhenti, suasana yang ribut seketika berubah menjadi hening

pula.

Thi Hoa-nio melepaskan pegangannya dan Gin Hoa-nio mundur selangkah sambil meraba

pipinya, sorot matanya memancarkan sinar yang buas, teriaknya gemetar: “Kau pukul aku!

Kau berani pukul aku?”

“Mengapa kau berbuat demikian?” tanya Kim Hoa-nio.

Gin Hoa-nio berteriak sambil berjingkrak: “Mengapa aku tidak boleh berbuat begitu? Kau

hanya tahu losam ( ketiga, maksudnya Thi Hoa-nio ) suka padanya, tapi apakah kau tahu

bahwa akupun suka pada nya? Kalian sudah mempunyai pilihan sendiri-sendiri, mengapa aku

tidak boleh memilihnya pula?”

“Bu… Bukankah kau benci padanya?” Tanya Kim Hoa-nio dengan melengak.

“Betul, kubenci dia, akupun benci padamu,” teriak Gin Hoa-nio dengan parau. “Kau hanya

tahu usia losam sudah besar dan perlu mencari lelaki. Tahukah kau bahwa usiaku lebih tua

daripada dia, apakah aku tidak menginginkan lelaki?”

Sejenak Kim Hoa-nio tertegun, akhirnya ia menghela napas dan berkata: “Sungguh tak

terpikirkan olehku bahwa kau masih memerlukan bantuanku untuk mencarikan lelaki bagimu.

Kan sudah.. sudah banyak lelakimu. Masa masih perlu dicarikan orang?”

Mendadak Gin Hoa-nio meraung dan mendadak menerjang keluar.

Terdengar suaranya yang semakin menjauh. “Kubenci padamu, kubenci kepada kalian..

kubenci semua orang di dunia ini, kubenci … hendaklah semua orang di dunia ini mampus

seluruhnya!”

Kim Hoa-nio berdiri termangu-mangu, sampai lama ia diam saja.

Thi Hoa-nio lantas mendekati tempat tidur, melihat wajah Pwe-giok yang rusak itu,

menangislah dia.

Renjana Pendekar > Karya Khulung > Diceritakan oleh : GAN KL > buyankaba.com 214

Sebaliknya Pwe-giok malah bersikap tenang, gumamnya: “Di dunia ini tiada sesuatu yang

kekal, tiada sesuatu yang sempurna, anehnya logika ini kenapa tidak dipahami oleh Kolothau?

Saat ini bila dia melihat diriku, entah bagaimana pula perasaannya..”

Mendadak ia merasa geli dan tertawa terbahak-bahak. Akhirnya ia merasa terbebas dari suatu

beban yang berat, hati terasa lega sekali.

Thi Hoa-nio berhenti menangis, ia pandang anak muda itu dengan terkesiap, apa yang dipikir

Pwe-giok dengan sendirinya tak diketahuinya, siapapun tak dapat memahaminya.

*****

Tiga hari kemudian, Pwe-giok merasa sebagian tenaganya sudah pulih, tapi mukanya

sekarang penuh terbalut kain perban, yang kelihatan hanya hidungnya, matanya dan sebagian

mukanya.

Kim Hoa-nio dan Thi Hoa-nio memandangi dia dengan penuh rasa menyesal dan pedih.

Akhirnya Kim Hoa-nio berkata: “Apakah benar kau hendak pergi?”

“Saat kepergianku sudah lama lalu,” ujar Pwe-giok dengan tertawa.

Mendadak Thi Hoa-nio menubruk maju dan merangkulnya erat-erat sambil berseru: “Kau

jangan pergi! Bagaimanapun kau berubah, tetap… tetap sama baiknya aku terhadapmu.”

“Jika betul kau baik padaku seharusnya kau lepaskan aku pergi,” kata Pwe-giok dengan

tertawa. “Seorang kalau tidak dapat bergerak bebas, lalu apa artinya hidup ini baginya?”

“Tapi, sedikitnya, harus kau perlihatkan kepada kami betapa kau telah berubah?” kata Kim

Hoa-nio dengan pedih.

“Betapapun perubahan diriku, aku tetap aku,” kata Pew giok.

Pelahan ia mendorong Thi Hoa-nio, lalu berbangkit. Katanya pula mendadak dengan tertawa:

“Tahukah kalian, sepergiku dari sini urusan apa yang akan kulakukan pertama-tama?”

“Jangan-jangan akan mencari Jimoay yang kejam itu?” Kata Kim Hoa-nio.

“Aku memang hendak mencari satu orang, tapi bukan dia yang kucari,” jawab Pwe-giok

dengan tertawa.

“Habis siapa yang kau cari?” Tanya Thi Hoa-nio sambil mengusap air matanya.

“Jika kalian mau berduduk saja di sini dan membiarkan ku pergi sendiri, inipun sudah cukup

sebagai tanda terima kasih padaku,” kata Pwe-giok. Lalu ia melangkah keluar tanpa menoleh.

Ternyata Kim Hoa-nio dan Thi Hoa-nio juga tidak menguntitnya, air mata mereka sudah

berderai.

Renjana Pendekar > Karya Khulung > Diceritakan oleh : GAN KL > buyankaba.com 215

Hati Pwe-giok terasa lega. Tiada sesuatu yang terpikir dan juga tidak perlu menyesal terhadap

seseorang, jika memang tidak pernah merugikan atau mengingkari orang lain, maka air mata

orang lainpun tak dapat mempengaruhi dia.

Dia membuka pintu ruangan di bawah tanah dan menyingkap lukisan itu, cahaya matahari di

waktu senja menyinari mukanya, meski senja belum tiba, namun sudah dekat magrib.

Agar tidak silau ia angkat sebelah tangannya untuk mengalingi sinar matahari, tangan yang

lain digunakan merapatkan pintu. Sekonyong-konyong kedua tangannya terjulur lemas ke

bawah, kakipun terasa berat untuk melangkah.

Ternyata di ruangan luar ini tergantung sebaris orang di belandar, semuanya sudah mati.

Darah segar masih menetes, agaknya darah mereka belum lagi beku. Leher tiap-tiap orang itu

sama tertembus, lalu lubang yang tembus itu dicocok dengan tali dan digantung mirip ayam

panggang. Orang yang paling depan jelas tuan rumah di sini.

Apa yang terjadi ini jelas baru berlangsung sore tadi, sebab siangnya tuan rumah yang ramah

ini pernah masuk ke ruangan bawah tanah dan mengantar santapan.

Orang sebanyak itu terbunuh sekaligus, tapi di ruangan dalam sedikitpun tidak mendengar,

jelas tindakan si pembunuh sangat gesit, cekatan dan juga keji.

Pwe-giok berdiri termangu sejenak, ia ingin masuk kembali ke ruangan dalam, tapi sekilas

pikir ia berganti haluan, segera melangkah keluar ruangan besar itu.

Sekalipun dalam hatinya rada was-was, tapi orang lain tidak dapat mengetahui perasaannya,

waktu ia lalu di barisan orang mati itu, dia anggap seperti lalu di samping sederetan pohon

saja.

“Siapa itu? Berhenti!” mendadak seorang membentak.

Seketika Pwe-giok berhenti, tak terlihat rasa kagetnya sedikitpun, juga tiada tampak rasa

gugup atau rasa terpaksa, seperti sudah tahu sebelumnya bakal dibentak orang begitu.

“Kemari Kau” bentak orang itu pula.

Segera Pwe-giok berputar dan melangkah ke sana, maka dapatlah dilihatnya orang yang baru

keluar dari pintu sana adalah Kim yan cu, si walet emas.

Meski dirasakannya agak di luar dugaan, tapi sikapnya tidak berubah, sebaliknya Kim Yan cu

tampak penuh rasa kejut dan heran, bentaknya pula dengan bengis: “kau keluar dari mana?

Mengapa tadi tidak kulihat kau?”

“Ku keluar dari jalan keluar tentunya!” Jawab Pwe-giok dengan hambar.

Kim yan cu membentak pula: “Apakah kau bersembunyi bersama Khing hoa sam-niocu?”

“Benar atau tidak ada sangkut pautnya apa dengan kau?” jawab Pwe-giok ketus.

Renjana Pendekar > Karya Khulung > Diceritakan oleh : GAN KL > buyankaba.com 216

Belum habis ucapannya, tahu-tahu ujung pedang Kim yan cu sudah mengancam di

tenggorokannya. Dengan sendirinya dia tidak kenal lagi yang dihadapinya ialah Ji Pwe-giok.

Maklumlah, saat ini bukan saja mula Pwe-giok hampir seluruhnya terbalut, bahkan sikapnya

yang tenang dan sewajarnya juga sama sekali berbeda daripada dahulu. Jangankan cuma

sebilah pedang yang mengancam tenggorokannya, sekalipun ada seribu pedang yang sama

menusuk ke dalam dagingnya juga takkan menimbulkan rasa jerinya.

Seorang kalau sudah menyaksikan sendiri kematian ayahnya secara ngeri, tapi ia sendiri

malah dituduh sebagai orang gila, malahan harus mengakui sebagai ayah orang gila, malahan

harus mengakui musuh sebagai ayah yang jelas-jelas sudah mati, lalu kejadian apa di dunia ini

yang tak dapat ditahannya?

Jika seorang berhadapan dengan orang yang dicintainya, tapi tidak dapat mengakui dan

berbicara, lalu urusan apa di dunia ini yang dapat membuatnya lebih pedih.

Bila seorang sudah mengalami beberapa kali ancaman maut dan tidak sampai mati karena

kejadian-kejadian yang ajaib, lalu soal apa di dunia ini yang dapat membuatnya takut?

Apabila seorang dari yang cakap telah berubah menjadi buruk rupa, lalu hal apalagi di dunia

ini yang dapat membuatnya merasa risau?

Seorang kalau sudah mengalami berbagai kejadian yang sukar dibayangkan orang lain, maka

tidak ada sesuatu yang dapat mengguncangkan perasaannya.

Ketenangan dan kewajaran Pwe-giok ini diperolehnya dengan imbalan yang cukup mahal,

rasanya di dunia ini tiada orang lain yang mampu membayar semahal ini. Di dunia ini

memang tiada orang lain lagi yang dapat dibandingkan dengan dia.

*****

Begitulah tanpa terasa pedang Kim yan cu terjulur ke bawah. Nyata ketenangan orang ini

telah mempengaruhi dia.

Pwe-giok menatapnya tajam-tajam, tanyanya kemudian dengan tertawa: “Dimana Sin to

kongcu ?”

“Kau…..kau kenal padaku ?” seru Kim yan cu dengan melenggong.

“Sekalipun cayhe tidak kenal nona juga tahu bahwa nona dan Sin to kongcu selamanya berada

bersama seperti tubuh dan bayangan yang tak pernah terpisahkan.”

Kim yan cu terbelalak, katanya kemudian: “Ya, rasanya aku sudah seperti sudah kenal kau.”

“Orang yang terluka dan kepalanya terbalut sudah tentu tidak cuma aku saja,” kata Pwe-giok.

“Sesungguhnya siapa kau ?” tanya Kim yan cu

“Ji Pwe-giok !”

Renjana Pendekar > Karya Khulung > Diceritakan oleh : GAN KL > buyankaba.com 217

Wajah Kim yan cu yang cantik itu seketika berkerut-kerut, ucapnya dengan gemetar:

“Ji Pwe-giok kan sudah mati, kau….kau…”

“Tahukah nona di dunia ini ada dua Ji Pwe-giok, yang satunya sudah mati, yang lain masih

hidup, syukur cayhe bukan Ji Pwe-giok yang mati itu, cuma kawannya agaknya memang jauh

lebih banyak dariku.”

Kim yan cu menghembus nafas lega, tanyanya mendadak: “Apakah kau yang membunuh

orang-orang ini ?”

“Masa bukan nona yang membunuh orang-orang ini ?” balas Pwe-giok bertanya.

“Kejahatan orang-orang ini sudah kelewat takaran, mati sepuluh kali juga belum cukup untuk

menebus dosa mereka,” ucap Kim yan cu dengan gemas.

“Memang sudah lama ingin ku bunuh mereka, cuma sayang kedatanganku sekarang ini agak

terlambat sejenak.”

“Jadi nona benar-benar tidak tahu siapa pembunuhnya ?” tanya Pwe-giok

“Aku inilah pembunuhnya !” sekonyong-konyong seorang menanggapi dengan pelahan.

Suaranya begitu datar dan hambar, seolah-olah ucapan demikian sudah sangat biasa baginya,

seperti juga membunuh orang bukan sesuatu yang menakutkan dan mengerikan lagi.

Menyusul ucapan tersebut, seorang mendadak muncul di depan mereka. seorang yang

buntung sebelah tangannya.

Jenggot panjang putih kelabu berjuntai di depan dada orang itu, pinggangnya juga terikat tali

sutera putih kelabu, sepatunya juga berwarna putih kelabu, rambutnya yang juga kelabu

terikat dengan kopiah perak.

Mukanya juga putih kelabu, di bawah alisnya yang sama warna, biji matanya yang juga

kepucat-pucatan itu memancarkan sinar yang tajam.

Sudah lama Kim yan-cu malang melintang di dunia Kangouw, biasanya Ia suka menganggap

dirinya adalah perempuan yang paling berani di dunia ini. Tapi sekarang tidak urung ia

merinding juga melihat orang yang aneh ini, serunya kemudian: “Jadi kau yang membunuh

orang-orang ini?”

Dengan hambar si kakek serba kelabu itu menjawab: “Kau kira dengan sebelah tanganku saja

tak dapat membunuh? Jika aku tidak dapat membunuh, tentu orang jahat di dunia ini sekarang

bertambah banyak daripada dahulu.”

“Cianpwe…..entah Cianpwe….”

“Tidak perlu kau tanya namaku,” potong si kakek sebelum lanjut ucapan Kim yan-cu. “Kalau

kau memusuhi Thian-can-kau, ini berarti kau sehaluan denganku Kalau tidak, saat ini tentu

kau tidak hidup lagi di dunia ini.”

Renjana Pendekar > Karya Khulung > Diceritakan oleh : GAN KL > buyankaba.com 218

Bila orang lain yang bicara demikian pada Kim-yan cu, tentu ujung pedang si walet emas

sudah mengancam di ulu hatinya. Tapi sekarang meski hambar saja ucapan si kakek, namun

bagi pendengaran Kim-yan cu rasanya memang tepat dan pantas. Ia lantas bertanya pula:

“Entah Cianpwe sudah menemukan Khing-hoa-sam niocu atau belum?”

“Kau pun bermusuhan dengan mereka?” tanya si kakek.

“Betapa dalamnya permusuhan ini sukar diceritakan dalam waktu singkat,” jawab Kim-yan-cu

dengan menggreget.

“Kau bertekad akan menemukan mereka?” tanya si kakek pula.

“Jika dapat menemukan mereka, tanpa kupikirkan apa imbalannya,” jawab Kim-yan cu.

“Baik, bila kau ingin menemukan mereka, ikutlah padaku,” kata si kakek sambil melangkah

keluar ruangan besar itu, setelah menyusuri taman dan keluar dari sebuah pintu kecil, jalan

lebar di pinto belakang sunyi senyap tiada nampak bayangan seorangpun.

Kim-yan-cu ikut di belakang si kakek dengan penuh semangat. Pwe-giok juga ikut di

belakang mereka dengan penuh rasa sangsi.

Jelas kakek ini tidak tahu di mana beradanya Khing-hoa-sam niocu mengapa dia bilang

hendak membawa Kim yan-cu pergi mencari mereka. Sekalipun kakek ini dapat membunuh

Ma Siau-thian dan begundalnya, tapi orang yang cuma bertangan satu cara bagaimana

menggantung orang sebanyak itu di belandar? Cukup dengan dua soal ini saja jelas si kakek

telah berdusta. Dan untuk apakah dia berdusta?

Orang yang berdusta kebanyakan bertujuan membikin celaka orang lain. Tapi melihat

kemampuan kakek ini, jika dia mau membunuh Kim-yan-cu boleh dikatakan sangat mudah,

kenapa mesti bersusah payah mencari jalan lain. Sesungguhnya hendak dibawa ke manakah

Kim-yan-cu?

Sejak mula si kakek sama sekali tidak memandang Pwe-giok, seolah-olah tidak merasa ada

seorang Ji Pwe-giok di sekitarnya.

Pwe-giok juga mengikuti mereka dengan diam saja tanpa bersuara.

Si kakek dapat menahan perasaannya, Ji Pwe-giok juga cukup sabar, tapi Kim yan-cu yang

tidak tahan akan gejolak pikirannya.

Sementara itu cuaca sudah makin gelap, jalan yang mereka tempuh juga semakin terpencil, di

bawah sinar bulan, kakek yang misterius ini mirip badan halus berwarna kelabu.

“Sesungguhnya Khing-hoa-sam niocu berada di mana?” saking tak tahan akhirnya Kim yancu

bertanya.

Si kakek menjawab dengan hambar tanpa menoleh; “Orang yang jahat dengan sendirinya

berada di tempat yang jahat.”

“Tempat yang jahat?” tukas Kim-yan-cu.

Renjana Pendekar > Karya Khulung > Diceritakan oleh : GAN KL > buyankaba.com 219

“Ya jika kau tidak berani ke sana, sekarang juga boleh kau putar balik,” kata si kakek.

Kim-yan-cu menggreget dan tidak bicara lagi.

Diam-diam Pwe-giok membayangkan kata-kata “tempat yang jahat” tadi, ia merasa maksud

tujuan si kakek lebih-lebih sukar dijajaki.

Lengan baju si kakek yang longgar itu melambai di tanah, jalannya tampaknya tidak cepat,

tapi hanya sebentar saja mereka sudah berada di luar kota.

Kim yan-cu belum lama muncul di Kangouw dan namanya sudah cukup terkenal, dia

memakai nama julukan “walet” dengan sendirinya ahli Gin-kang, namun setelah ikut berjalan

sekian lama bersama si kakek, tanpa terasa mulai terengahlah napasnya.

Mendingan Ji Pwe-giok, meski tenaganya belum pulih seluruhnya, tapi dia belum merasakan

lelah, terhadap kepandaian si kakek diam-diam ia bertambah waspada.

Dilihatnya si kakek berputar kian kemari di tengah hutan, mendadak mereka berada di sutu

lereng bukit yang tidak terlalu tinggi, namun batu padas aneh berserakan di sana sini, lereng

bukit tandus kering, tampaknya sangat curam dan bahaya.

Di tengah lereng terdapat sepotong batu padas besar yang mencuat keluar, pada batu padas itu

semula tertatah tiga huruf besar, tapi sekarang penuh dengan bekas bacokan golok, ketiga

huruf itu telah dirusak entah oleh siapa.

“Huruf pada batu padas itu tentu nama gunung ini,” demikian Pwe-giok membatin. “Tapi ada

orang sengaja memanjat ke atas dan merusak ketiga huruf itu, apakah maksud tujuannya?

Memangnya nama gunung inipun mengandung sesuatu rahasia sehingga tidak boleh dilihat

orang, masa cuma nama gunung saja mengandung rahasia?

Rupanya setelah beberapa kali menghadapi detik antara mati dan hidup, Pwe-giok bertambah

matang, ia cukup memahami betapa keji dan kejamnya orang hidup ini, maka terhadap segala

sesuatu ia selalu lebih hati-hati. Barang sesuatu yang mungkin dipandang sepele oleh orang

lain, baginya justeru dipandang cukup berharga untuk direnungkan dan dipelajari asalkan ada

sesuatu yang menyangsikan tentu diperhatikannya dengan baik.

Cuma sekarang ia sudah berhasil belajar dari pengalaman, segala sesuatu tentu dipikirnya

lebih mendalam. Sebab itulah rasa sangsinya sekarang juga bertambah besar, namun dia tetap

bersikap tenang dan tidak menyinggungnya.

Setiba di depan batu padas yang mencuat keluar di lereng situ, tanpa kelihatan bergerak, tahutahu

kakek itu telah melayang ke atas padas itu.

Selagi Kim-yan-cu bermaksud ikut melayang ke atas, sekonyong-konyong terdengar suara

keriat-keriut, batu raksasa itu mendadak bergeser pelahan dan tertampaklah sebuah gua yang

gelap di balik gua batu.

Perubahan ini sungguh membuat Pwe-giok terkejut, Kim-yan cu malahan melongo

menyaksikan kejadian itu, dia sudah bergerak mau melompat ke atas, sekarang diurungkan.

Renjana Pendekar > Karya Khulung > Diceritakan oleh : GAN KL > buyankaba.com 220

“Kenapa kalian tidak ikut naik ke sini?” terdengar si kakek berseru.

Kim yan-cu berpaling dan memandang Pwe-giok sekejap, tiba-tiba ia mendesis: “Perjalanan

ini sangat berbahaya, untuk apa kau ikut kemari? Lekas pergi saja!”

Pwe-giok tersenyum, jawabnya: “Sudah ikut sampai di sini, hendak pergipun terasa terlambat

sudah.”

“Memangnya kenapa?” ujar Kim-yan-cu sambil berkerut kening.

Pwe-giok tidak menjawabnya, segera ia mendahului melayang ke atas. Ia merasakan si kakek

sedang memandangnya dengan sorot mata yang tajam, se-olah2 ingin tahu betapa tinggi

kemampuannya. Tergerak hati Pwe-giok, cepat ia kurangi kekuatannya, hanya setengah

kemampuannya saja dikeluarkannya.

Meski air muka si kakek tidak berubah, tapi sorot matanya mengunjuk perasaan kurang puas.

Sementara itu Kim-yan-cu sudah melompat ke atas dengan sepenuh tenaga dan si kakek

kelihatan merasa senang.

Kembali Pwe-giok merasa heran, Jika si kakek bermaksud jahat terhadap mereka, bila

kepandaian mereka makin rendah kan makin mudah baginya untuk turun tangan, jadi

seharusnya dia merasa senang.

Tapi dari sikapnya ini tampaknya dia mengharapkan ilmu kedua orang muda ini lebih tinggi

lebih baik. Lantas apa maksudnya? Sesungguhnya apa yang dikehendaki?

Saat itu Kim-yan-cu sudah berada di atas batu padas, dilihatnya gua itu gelap gulita, dalamnya

sukar dijajaki, terasa angin dingin meniup keluar dari dalam gua.

Batu raksasa yang bergeser itu tepat ambles ke samping tebing yang mendekuk, jadi sudah diperhitungkan

dengan tepat. Apalagi batu raksasa yang berpuluh ton ini dapat digeser oleh

seorang saja, jelas pesawat rahasianya dibuat sedemikian dan entah betapa banyak memakan

tenaga dan pikiran untuk menciptakan alat rahasia yang hebat ini.

Dan kalau di dalam gua ini tidak tersembunyi sesuatu rahasia yang maha penting, siapa pula

yang sudi mengorbankan tenaga dan pikiran sebesar ini?

Sampai di sini, mau tak mau timbul juga rasa curiga Kim-yan-cu, ia berguman: “Apakah

mungkin Khing-hoa-samniocu berada di gua ini?”

“Gua ini sebenarnya tempat rahasia Thian can-kau, tempat penyimpanan harta karun, apabila

Khing-hoa-samniocu bukan Tancu (kepala seksi) dalam Thian-can-kau, jangan harap dapat

masuk ke sini”, kata si kakek

Mendadak Kim-yan-cu bertanya: “Darimana pula Cianpwe mengetahui rahasia Thian-cankau?”

Si kakek tertawa hambar, jawabnya: “hehe, betapa banyak rahasia di dunia ini yang dapat

mengelabui mataku?”

Renjana Pendekar > Karya Khulung > Diceritakan oleh : GAN KL > buyankaba.com 221

Jika kata2 ini diucapkan orang lain, andaikata Kim-yan-cu tidak menganggapnya membual

tentu akan menganggapnya omong besar. Tapi di mulut kakek ini ucapan tersebut memang

lain bobotnya.

Kim-yan-cu seperti takluk benar2 lahir batin terhadap kakek itu, setelah berpikir sejenak, ia

bergumam: “Aneh, Thian-can-kau jauh berada di daerah Miau, sebaliknya tempat rahasia

penyimpanan harta pusakanya terletak di sini.”

“Kau tidak berani masuk ke situ?” tanya si kakek dengan sorot mata tajam.

Kim-yan-cu menghela napas panjang, katanya keras-keras: “Asalkan dapat menemukan

Khing-hoa-sam niocu, ke gunung golok atau masuk lautan api juga bukan soal bagiku.”

Seketika sorot mata si kakek berubah halus lagi, ucapnya: “Bagus, bagus sekali, asalkan kau

tabah dan hati-hati, kujamin kau takkan menghadapi apapun. Kalian boleh masuk saja dan

tidak perlu kuatir.”

“Tapi Cayhe tiada maksud buat masuk ke situ,” kata Pwe-giok mendadak.

Baru sekarang ia membuka suara, mestinya dia hendak bilang: “Ku tahu Khing-hoa-sam

niocu tidak berada di gua ini, kenapa kau berdusta?”

Tapi dia tahu bilamana kata-kata itu diucapkan, maka si kakek pasti takkan mengampuni dia.

Saat ini ia merasa bukan tandingan si kakek, maka dia sengaja memancingnya dulu dengan

ucapan tadi.

Benar juga, segera sorot mata si kakek berubah tajam pula, katanya: “Kau tidak mau masuk

ke sana?”

“Cayhe kan tidak ingin mencari Khing-hoa-sam niocu, untuk apa masuk ke situ?” jawab Pwegiok.

“Ya, persoalan ini hakekatnya tiada sangkut pautnya dengan dia, sesungguhnya akupun tidak

kenal dia,” demikian cepat Kim-yan-cu menyela.

“Jika kau tidak mau masuk ke sana ya terserah lah, akupun tidak memaksa,” kata si kakek

dengan tak acuh.

Seperti tidak sengaja, mendadak tangannya menepuk pelahan pada dinding tebing itu, tiada

terdengar sesuatu suara, tapi di dinding tebing itu lantas bertambah dekukan cap telapak

tangan seperti pahatan senjata tajam.

Dengan tertawa Pwe-giok lantas berkata: “Sebenarnya cayhe tidak berniat masuk ke situ, tapi

kalau benar harta pusaka Thian-can-kau disimpan di sini, kesempatan ini biarlah kugunakan

untuk mencari rejeki.”

Si kakek tidak menghiraukan dia lagi, dia mengeluarkan sebuah pedang bersarung perak,

panjangnya cuma setengah meteran, serta sebuah geretan api, semua itu ia serahkan kepada

Kim-yan-cu sambil berkata: “Pedang ini sangat tajam, memotong besi seperti merajang sayur,

Renjana Pendekar > Karya Khulung > Diceritakan oleh : GAN KL > buyankaba.com 222

Geretan api pun bukan barang sembarangan, boleh kau bawa dan tentu banyak gunanya.

Hendaklah kau jaga dengan baik dan jangan sampai hilang.”

“Terima kasih,” kata Kim-yan-cu.

Begitu dia dan Pwe-giok melangkah masuk gua batu padas raksasa itu pelahan-lahan lantas

bergerak merapat lagi.

Dengan kaget Kim-yan-cu berteriak: “He, jika Cianpwe menutup batu ini, bukankah kami tak

dapat keluar lagi?”

Segera ia bermaksud melompat keluar, siapa tahu mendadak suatu tenaga maha kuat

menolaknya dari luar gua sehingga dia jatuh terjengkang.

Sempat terdengar si kakek berkata: “Jika nanti kau ingin keluar, gunakan pedang pendek itu

mengetuk dinding batu tujuh kali dan segera ku tahu…” belum habis ucapannya batu raksasa

itu sudah menutup rapat.

Seketika keadaan di dalam gua gelap gulita, jari sendiri saja tidak kelihatan.

Mendadak cahaya perak meletik, Km-yan-cu telah menyalakan api geretan yang diberikan si

kakek tadi. Geretan api ini sangat aneh, lelatu berhamburan seperti bunga api dan cahaya

perak yang tidak begitu terang terus terpancar.

Di bawah cahaya perak itu tertampak wajah Pwe-giok yang terbalut kain perban itu, tapi sorot

matanya gemerdep, nyata dia tidak menjadi gugup atau kuatir.

Kim-yan-cu tidak tahu orang ini bodoh atau gendeng, namun jelas nyalinya sangat besar.

Ucapnya dengan menyesal: “Urusan ini kan tiada sangkut-pautnya dengan kau, untuk apa kau

ikut masuk kemari?”

Diam-diam Pwe-giok merasa gegetun: “Meski watak nona ini suka menang, namun hatinya

sangat bajik. Dalam keadaan demikian dia masih juga berpikir bagi orang lain.”

Selama beberapa hari ini perempuan yang pernah ditemui Pwe-giok kalau tidak berhati keji

tentu berwatak aneh dan jahil, sekarang mendadak melihat kebaikan hati Kim yan-cu,

seketika timbul kesan baiknya, dengan tersenyum ia menjawab: “Dua orang berada bersama

kan jauh lebih baik daripada menempuh bahaya sendirian?”

“Kau …. kau datang ke sini demi diriku?!” tanya Kim-yan cu dengan melengak.

“Jika nona adalah sahabat Ji Pwe-giok yang itu, maka engkau sama juga kawanku,” kata Pwegiok

dengan tertawa.

Kim-yan-cu memandanginya sekejap, mendadak mukanya bersemu merah, untung cahaya

perak itu sangat aneh, air mukanya merah atau putih sukar dibedakan orang lain.

Dia terus melengos ke sana dan terdiam sejenak, kemudian berkata pula: “Menurut

dugaanmu, sesungguhnya apa maksud tujuan orang tua tadi?”

Renjana Pendekar > Karya Khulung > Diceritakan oleh : GAN KL > buyankaba.com 223

“Menurut nona, bagaimana?” Pwe-giok balas bertanya setelah merenung sejenak.

“Jika dia berniat mencelakai diriku, untuk apa pula dia menyerahkan benda berharga ini

kepadaku,” kata Kim-yan cu. “Apalagi kalau melihat tenaga pukulannya tadi, jika dia tidak

bermaksud membunuh kita, kukira bukan sesuatu yang sukar baginya.”

“Betul, tenaga pukulan orang ini lunak tapi maha kuat, boleh dikatakan sudah terlatih hingga

puncaknya, tampaknya tidak di bawah “Bian-ciang” (pukulan lunak) Jut tun Totiang dari Butong-

pay.”

“Tapi bila dia tidak bermaksud jahat, mengapa dia memaksa kau masuk kemari, lalu

menyumbat pula jalan keluarnya sehingga kita tiada jalan mundur terpaksa kita harus

menerjang ke depan?”

“Jika demikian, marilah kita menerjang ke depan,” kata Pwe-giok dengan tertawa.

Akhirnya Kim-yan-cu berpaling memandangnya lagi sekejap, ucapnya: “Berada di

sampingmu, sekalipun aku merasa takut, akhirnya aku menjadi tidak takut lagi.”

Di bawah cahaya perak yang remang-remang, tertawa Kim-yan-cu kelihatan sedemikian

cerah, di balik wajah yang cerah ini tampaknya tiada tersembunyi sesuatu rahasia apa pun.

Diam-diam Pwe-giok menghela napas gegetun, pikirnya: “Apabila setiap perempuan di dunia

ini serupa dia, tentu dunia ini akan jauh lebih aman….”

Kemudian Pwe-giok mengambil oper geretan api itu, dia membuka jalan di depan.

Di bawah cahaya perak tiba-tiba dilihatnya kedua sisi dinding gua ini penuh terukir gambargambar

yang halus dan indah, setiap gambar terdiri dari satu lelaki dan satu perempuan.

Hanya sekejap saja Kim yan-cu memandang ukiran dinding itu, seketika mukanya menjadi

merah, teriaknya: “Tempat setan ini benar-benar tempat jahat, menga… mengapa….”

Muka Pwe-giok terasa panas juga, sungguh tak tersangka olehnya di gua yang misterius ini

bisa terukir gambar-gambar tidak senonoh begini.

Kiranya gambar lelaki dan perempuan yang memenuhi dinding gua itu rata-rata adalah dalam

adegan “hot” di luar susila.

Mendadak Kim-yan-cu mendekap mukanya dan berlari ke depan.

Tak tersangka, sekonyong-konyong dari tempat gelap muncul dua orang, dua golok besar

terus membacok secepat kilat. “Awas!” bentak Pwe-giok.

Begitu bersuara segera ia pun menerjang maju, Kim-yan-cu dirangkulnya dan berguling ke

sana sehingga mata golok menyambar lewat di samping mereka.

“Ah, kiranya cuma dua orang batu saja,” ujar Pwe-giok sambil menyengir setelah melihat

jelas kedua penyerang itu.

Renjana Pendekar > Karya Khulung > Diceritakan oleh : GAN KL > buyankaba.com 224

“Tapi kalau tiada kau, bisa jadi aku sudah berubah menjadi orang mati,” kata Kim yan-cu.

Pwe-giok merasa bau harum memabukkan, waktu ia menunduk, baru disadarinya Kim-yan-cu

masih berada dalam pelukannya, mulut si nona yang kecil mungil cuma beberapa inci di

bawah mulutnya.

Berdetak keras jantungnya. Selagi ia hendak minta maaf, mendadak Kim yan-cu tertawa

terkekeh-kekeh, katanya: “Sin-to Kongcu yang kau katakan itu tentu akan mati kheki bila

melihat keadaan kita sekarang, Sungguh aku berharap dia benar-benar menyaksikan adegan

ini sekarang.”

Tadinya Pwe-giok kuatir si nona akan malu dan menjadi gusar, tak tahunya Kim-yan-cu jauh

lebih terbuka pikirannya daripada nya, bahkan juga tidak pura-pura malu dan berlagak rikuh

segala.

Sungguh mujurlah, seorang lelaki dalam keadaan demikian dapat bertemu dengan seorang

nona yang berhati terbuka seperti ini. Mau-tak-mau gembira juga Pwe-giok, katanya dengan

tertawa: “Bahwa sekali ini dia tidak mengikuti kau, sungguh kejadian yang aneh.”

Dengan tertawa Kim-yan-cu menjawab: “Sepanjang hari dia terus mengintil di belakangku,

asalkan orang lain memandang sekejap padaku, dia lantas marah. Sungguh aku pun merasa

sebal, maka kucari kesempatan untuk meninggalkan dia…” mendadak sorot matanya menatap

ke belakang Pwe-giok dan berkata pula: “Eh, coba . .. .coba lihat…”

Pwe-giok berpaling, dilihatnya dinding batu di belakangnya seperti berbentuk beberapa daun

pintu, di atas pintu terukir delapan huruf, di bawah cahaya perak itu warnanya kelihatan pucat

kehijau-hijauan.

Ke delapan huruf itu berbunyi: “Siau-hun-bi-kiong, barang siapa masuk mati.”

Terbelalak Kim-yan-cu memandangi ukiran itu, katanya sambil berkerut kening: “Tempat

penyimpanan benda pusaka Thian-can-kau mengapa disebut Siau-hun-bi-kiong (istana

penggetar sukma)?”

Tapi dari ukiran cabul yang dilihatnya di dinding gua tadi, lalu melihat lagi nama Siau-hun-bikiong

ini, tahulah Pwe-giok bahwa gua ini tidak saja “jahat”, bahkan sangat misterius dan

sangat berbahaya, bisa jadi juga tempat yang sangat mengasyikkan, tempat yang menakutkan

tapi juga menarik seperti dalam dongeng itu.

Mendadak ia menatap Kim-yan-cu dan bertanya: “Kau masih berani masuk ke sana?”

“Apakah dengan kedelapan huruf ini dapat menggertak mundur kita?” jawab Kim-yan-cu

dengan tertawa.

Pwe-giok melengak, katanya kemudian; “Tapi kalau Khing-hoa-sam niocu tidak berada di

dalam sana?”

Kim-yan-cu juga melengak, katanya: “Mengapa mereka tidak berada di dalam? Masa kakek

itu membohongi aku?”

Renjana Pendekar > Karya Khulung > Diceritakan oleh : GAN KL > buyankaba.com 225

“Setahuku, Khing-hoa-sam niocu tidak berada di dalam,” tutur Pwe-giok. “Mengenai sebab

apa si kakek membohongi kau, inipun aku tidak habis mengerti,”

Kim-yan-cu berpikir sejenak, katanya kemudian pelahan: “Coba, menurut kau, sesudah

begini, apakah kita masih dapat keluar lagi?”

Dia membetulkan rambutnya yang agak kusut, Ia lalu menyambung pula: “Sekarang biarpun

kita mengetuk tiga ratus kali di dinding batu itu juga si kakek takkan melepaskan kita keluar.

Jika dia telah menipu kita masuk ke sini, betapapun pasti ada maksud tujuannya.”

“Setiap langkah di sini ada kemungkinan akan menghadapi bahaya,” kata Pwe-giok

kemudian.

“Kukira lebih baik kau tunggu di sini saja, biarlah ku masuk lebih jauh untuk memeriksanya.”

“Kau sendiri bilang, dua orang berada bersama jauh lebih baik daripada sendirian,” ucap Kimyan-

cu dengan tersenyum manis.

Dalam keadaan begini, biasanya watak asli setiap orang akan tertampak, orang yang

menggemaskan bisa bertambah menggemaskan, orang yang menyenangkan bisa pula

bertambah menyenangkan.

Tanpa terasa Pwe-giok menarik tangan Kim-yan-cu, katanya dengan tertawa: “Marilah kita

maju lagi ke sana, asalkan hati-hati kukira takkan…”

Belum habis ucapannya mendadak kaki terasa menginjak tempat kosong, lantai batu di

bawahnya mendadak merekah menjadi sebuah lubang, kontan tubuh kedua orang terjeblos ke

bawah.

Kim-yan cu menjerit kaget, tapi segera dirasakan tangan Pwe-giok yang menggandeng

tangannya itu menolaknya dengan kuat, oleh tenaga dorongan yang kuat itu tubuh Kim-yan cu

dapat ditolak ke atas. Sebaliknya Pwe-giok sendiri tetap terjerumus ke bawah.

Berkat tenaga dorongan Pwe-giok itu, Kim-yan-cu berjumpalitan sekali di udara dan

menancapkan kakinya di tepi lubang itu, teriaknya: “He, kau . . . . kau bagaimana?”

Lubang di bawah tanah itu ternyata sangat dalam, cahaya perak geretan api yang dipegang

Pwe-giok kelihatan gemerdep jauh di bawah, tapi tidak jelas apakah anak muda itu masih

hidup atau sudah mati.

Saking cemasnya Kim-yan-cu mengucurkan air mata, teriaknya parau: “Ja… jawablah, kenapa

kau diam saja?”

Tapi tetap tiada suara jawaban dari bawah.

Kim-yan-cu menjadi nekat, ia pejamkan mata dan hendak ikut terjun ke bawah.

Pada saat itulah, sekonyong-konyong seorang telah meraihnya dengan erat. Cepat Kim-yan-cu

membuka mata, cahaya perak kelihatan masih gemerdep di bawah lubang sana, ia terkejut dan

Renjana Pendekar > Karya Khulung > Diceritakan oleh : GAN KL > buyankaba.com 226

heran siapakah yang menariknya. Waktu ia mengawasi lebih cermat, siapa lagi orang yang

berdiri di sebelahnya dengan tersenyum simpul jika bukan Ji Pwe-giok adanya?

Kejut dan girang bercampur aduk, Kim-yan-cu menjerit tertahan terus menubruk ke dalam

pelukan Pwe-giok, serunya: “Ai, kau bikin aku mati kaget, ken …. kenapa tadi kau tidak

bersuara?”

Dengan tersenyum Pwe-giok menjawab: “Dengan menahan napas tadi ku sempat panjat

dinding gua, bila membuka mulut, tentu akan kehilangan tenaga dan bisa jadi benar-benar

terjerumus ke bawah.”

“Kulihat gemerdep nya api geretan di bawah sana, kukira …. kukira kau sudah tamat, siapa

tahu geretan api itu cuma terjatuh saja ke bawah dan kau…. kau masih hinggap di dinding gua

dan dapat naik ke atas.”

Pwe-giok memandangnya lekat-lekat, ia menghela napas dan berucap: “Dan untuk apa kau

bertindak demikian?”

Yang dimaksudkannya ialah tindakan Kim-yan-cu yang hendak ikut terjun ke bawah tadi.

Kim-yan-cu menunduk, jawabnya pelahan: “Bilamana kau mati lantaran menyelamatkan

diriku, lalu apakah aku dapat hidup sendirian?”

Mendadak ia menengadah dan tertawa cerah, katanya: “Tidak cuma kau saja, siapapun kalau

mati demi menyelamatkan diriku, kukira aku pasti tak dapat hidup lagi sendirian.”

“Apa yang kau katakan terakhir ini sungguh bisa mengecewakan harapanku,” Pwe-giok

sengaja menggoda dengan mata berkedip-kedip.

“Ku tahu, orang semacam kau ini pasti sudah lama mempunyai kekasih,” ucap Kim-yan-cu

dengan tersenyum. “Sebab itulah bilamana kukatakan akan mati demi dirimu, bukankah akan

membuat kau serba salah?”

Tanpa terasa Pwe-giok memegang pula tangan si nona, katanya dengan tertawa: “Haha,

sungguh kau ini anak perempuan satu-satunya yang tidak membikin kesal daripada semua

anak perempuan yang pernah kukenal.”

Ia merasa sangat gembira bisa berada dengan anak perempuan seperti Kim-yan-cu, orangnya

lugu, terus terang, tidak sok, tidak pura-pura dan tidak menonjolkan diri, juga tidak suka

membikin kesal orang. Anak perempuan demikian sungguh terlalu sedikit di dunia ini.

Namun geretan api tadi sudah jatuh ke bawah, sambil memandangi api geretan yang masih

gemerdep itu, kedua orang menjadi sedih.

Sekilas mendadak Pwe-giok melihat pedang pendek bersarung perak itu. Segera ia melolos

pedang itu, sinar pedang kemilauan, ia menusuk pelahan dan hampir seluruh pedang itu

amblas ka dalam batu. Sekali pedang diputar, batu itu lantas berlubang.

“Tajam amat pedang ini,” seru Pwe-giok girang. “Untuk menjemput kembali geretan api itu

terpaksa harus kita andalkan pedang ini.”

Renjana Pendekar > Karya Khulung > Diceritakan oleh : GAN KL > buyankaba.com 227

Lebih dulu ia mengerek Kim-yan-cu ke bawah, dengan pedang pendek itu Kim-yan-cu

membuat sebaris lubang di dinding, kemudian Pwe-giok merambat ke bawah dengan lubanglubang

di dinding itu sebagai tangga dan geretan api itu berhasil di jemput kembali.

Dilihatnya di dasar gua itu banyak terpasang pisau tajam, ujung pisau penuh berserakan kain

baju dan tulang kering, melihat kain baju yang sudah lapuk itu sedikitnya korban-korban itu

sudah jatuh 20 tahun yang lalu, hanya satu di antaranya, yaitu mayat perempuan berbaju hijau

kelihatan pakaiannya masih baru, mayatnya juga belum membusuk.

Diam-diam Pwe-giok membatin: “Melihat tengkorak-tengkorak ini dan kematian perempuan

berbaju hijau ini jaraknya sedikitnya ada 20 tahun lamanya. Jangan-jangan Siau-hun-bi-kiong

ini sudah 20 tahun tak dikunjungi orang. Jadi rahasia di sini sudah terpendam antara 20 tahun

dan baru akhir-akhir ini ditemukan orang. Dengan sendirinya tempat ini bukan gudang

penyimpan harta pusaka Thian-can-kau segala.”

Kim-yan-cu menggosok-gosok sepatunya di lantai untuk menghilangkan lumut dan

kotorannya, maka tertampaklah lantai batu yang rajin dan licin. Ia berkerut kening dan

berkata: “Sepanjang jalan ini mungkin penuh dengan jebakan, cara bagaimana kita harus maju

lebih lanjut?”

“Kau ikut di belakangku, jangan terlalu dekat, dengan demikian, andaikan aku terjeblos kan

masih ada yang bisa menolong,” kata Pwe-giok setelah berpikir sejenak.

Mendadak Kim-yan-cu berteriak: “Sebenarnya ini kan urusanku, mestinya aku yang berjalan

di depan, tidak perlu kau anggap aku orang perempuan dan segala sesuatu baru mengalah

padaku!”

Pwe-giok tertawa, katanya: “Meski aku tidak ingin menganggap kau sebagai perempuan, tapi

nyatanya kau memang perempuan. Di depan orang perempuan kaum lelaki sok berlagak

sebagai pahlawan, kenapa kau tidak mau mengalah padaku?”

Kim-yan-cu memandangnya tajam-tajam, ucapnya kemudian dengan tertawa: “Sungguh kau

ini satu-satunya lelaki yang tidak menjemukan yang pernah kulihat.”

Pwe-giok terus berjalan ke depan dengan lebih hati-hati, sebelum langkahnya terasa mantap,

tentu dia mencoba-cobanya dulu apakah tiada sesuatu jebakan. Sudah tentu reaksinya juga

jauh lebih peka daripada orang lain.

Sepanjang jalan ternyata tiada perangkap lagi, sesudah beberapa tombak jauhnya, sekonyongkonyong

terlihat dua patung batu wanita telanjang yang saling rangkul dengan mesra, bukan

saja perawakan patung itu terukir dengan indah dengan garis-garis tubuhnya yang menyolok,

bahkan wajahnya juga terukir dengan mimik yang “hot” dan penuh daya merangsang. Meski

patung telanjang ini sudah penuh debu, tapi siapapun juga pasti akan berdetak jantungnya bila

melihatnya.

Kedua patung batu ini lebih besar sedikit daripada orang hidup dan tepat menghadang di

tengah jalan.

Renjana Pendekar > Karya Khulung > Diceritakan oleh : GAN KL > buyankaba.com 228

Selagi Pwe-giok hendak mencari tombol rahasia untuk menyingkirkan patung itu, dengan

muka merah mendadak Kim-yan-cu merampas geretan api yang dipegang Pwe-giok sambil

mendengus: “Hm, di tempat ini penuh barang begini melulu, sungguh memuakkan.”

Sembari berkata mendadak ia mendepak.

Pwe-giok bermaksud mencegahnya, namun sudah terlambat.

Kontan dari pusar salah satu patung perempuan telanjang itu menyemburkan kabut bubuk

putih, cukup keras semburan itu dan langsung menyemprot muka Kim-yan-cu.

Cepat Pwe-giok menariknya ke samping, tanyanya dengan kuatir: “Sudahkah kau cium

baunya?”

Karena gugupnya ia sendiripun lupa menahan napas sehingga hidungnya juga sempat

menghisap sedikit bau harum bedak.

Baru saja Kim-yan-cu menggeleng, dilihatnya Pwe-giok telah duduk bersila dan sedang

mengatur pernapasan.

“Kau . . . . kau …” tanya Kim-yan-cu dengan suara gemetar, ia tahu dirinya yang telah

membikin gara-gara lagi.

Berulang-ulang Pwe-giok mengedipi si nona agar jangan bicara. Meski Kim-yan-cu sudah

tutup mulut, tapi hatinya tambah gelisah. Selang sejenak, dilihatnya Pwe-giok menghela

napas panjang dan berkata: “Untung jarak waktunya sudah terlalu lama sehingga khasiat obat

ini sudah kurang manjur, kalau tidak . . . . “

“Meski khasiat obat sudah kurang manjur, tapi kalau sampai mukaku kesemprot, jiwa tetap

bisa melayang, betul tidak?”

“Bisa jadi!” ucap Pwe-giok. “Kembali kau telah menyelamatkan diriku,” kata Kim-yan-cu

dengan menghela napas.

Dengan cahaya geretan Pwe-giok menyinari patung perempuan telanjang itu dan

dipandangnya dengan cermat, sejenak kemudian, mendadak ia berkata; “Coba, pejamkan

matamu?”

“Kenapa aku tidak boleh melihatnya?” tanya Kim-yan-cu dengan tertawa.

“Letak kunci rahasianya di tempat yang kurang sopan,” tutur Pwe-giok dengan menyengir.

Belum habis ucapannya, cepat Kim-yan-cu memejamkan matanya. Entah di bagian mana

Pwe-giok telah meraba dan memutarnya, lalu terdengarlah suara “Kreek”, kedua patung yang

saling rangkul itu mendadak terpisah sehingga bagian tengah terluang jalan lewat selebar

setengah meteran, segera Kim-yan cu lewat ke sana melalui pangkuan kedua patung telanjang

itu.

Renjana Pendekar > Karya Khulung > Diceritakan oleh : GAN KL > buyankaba.com 229

Ia menghela napas, katanya dengan gegetun; “Tak tersangka kau pun mahir berbagai macam

permainan setan begini. Tanpa kau, mungkin selama hidupku jangan harap akan dapat lewat

kesini.”

“Menurut pendapatku, daripada masuk ke situ akan lebih baik tidak masuk saja ke sana,” kata

Pwe-giok pelahan.

“Sebab apa?” tanya Kim-yan-cu dengan tertawa. “Setiap tempat di sini, seumpama tiada

persoalan Khing-hoa-sam niocu juga aku ingin masuk ke sana untuk melihatnya.”

“Tempat yang semakin besar rahasianya, bahaya yang akan timbul juga semakin besar…”

“Ada kau, apa yang kutakuti?”

Terpaksa Pwe-giok menyengir pula. Segera ia membuka jalan di depan. Selewatnya rintangan

patung telanjang itu, debu di lantai juga lebih sedikit, di bawah cahaya perak yang gemerdep

samar-samar kelihatan juga penuh gambar dan corat-coret.

Ternyata corat-coret dan gambar di lantai juga melukiskan adegan mesra antara lelaki dan

perempuan.

Pwe-giok mengamatinya sejenak katanya kemudian: “Hendaklah kau ingat di mana kakiku

menginjak dan ke situ pula kau ikut melangkah, jangan sampai salah.”

Dan di mana kakinya menginjak pertama ternyata adalah bagian tubuh yang paling tidak

sopan yang terlukis di lantai itu.

Sambil ikut melangkah, berulang-ulang Kim-yan-cu mengomel: “Benar-benar tempat setan

dan tidak boleh didatangi orang baik?”

“Sebabnya tuan rumah sengaja mengatur begini tempatnya, mungkin tujuannya justeru

hendak mencegah datangnya orang baik-baik. Sekalipun orang tahu rahasianya, tapi sungkan

juga datang ke sini. Kalau tidak, mana bisa dia terlepas dari tuntutan hukum.”

“Bagaimana dengan kau? Kau orang baik-baik bukan?” tanya Kim-yan-cu dengan tertawa.

“Terkadang baik, terkadang juga tidak,” jawab Pwe-giok tertawa.

Kim-yan-cu tertawa genit, katanya: “Kau ternyata tidak menjemukan bahkan rada

menyenangkan…”

Belum habis ucapannya, mendadak suara tertawanya terhenti. Dilihatnya seorang gadis

berbaju merah tergantung terbalik dengan muka yang menyeringai seram.

“He, tampaknya barang siapa masuk mati, kata-kata ini bukan cuma gertak sambel belaka,”

seru si walet emas dengan ketakutan.

Mayat gadis berbaju merah ini masih utuh, paling-paling baru dua-hari dia mati.

Renjana Pendekar > Karya Khulung > Diceritakan oleh : GAN KL > buyankaba.com 230

“Tempat yang sudah terpendam selama puluhan tahun, bilamana diketemukan orang, seketika

akan berbondong-bondong didatangi orang banyak, apakah rahasia yang terdapat di tempat ini

memang betul-betul sedemikian menarik sehingga matipun tak terpikir oleh orang-orang?”

demikian gumam Pwe-giok.

Baru dua-tiga langkah, dilihatnya pula mayat seorang perempuan berbaju ungu, mati

terpantek di dinding oleh sebatang paku raksasa berbentuk aneh. Kedua tangannya tampak

erat memegangi pangkal paku, jelas sebelum mati dia berusaha mencabut paku itu, tapi tidak

mampu mencabutnya sehingga dia mati terpantek hidup-hidup.

Hanya sekejap saja Kim yan-cu memandangnya, ia merasa mual dan hampir saja tumpahtumpah.

Selanjutnya setiap beberapa langkah lagi ke depan pasti ditemukan sesosok mayat perempuan,

ada yang mati terbacok golok, ada yang mukanya hancur, ada yang mati terhimpit di tengah

celah-celah batu.

“Jalan ini benar-benar maut menunggu pada setiap langkah, jika aku tidak mengikuti kau,

mungkin sekarang sudah… sudah mengalami nasib serupa anak-anak perempuan ini,” kata

Kim yan-cu dengan suara gemetar.

“Tapi mereka dapat sampai di sini, suatu tanda di antara mereka pasti ada orang yang pintar,”

ujar Pwe-giok.

“Darimana kau tahu mereka datang bersama?” tanya Kim-yan-cu.

“Kuyakin mereka pasti satu rombongan,” jawab Pwe-giok.

“Pada masa hidupnya anak-anak perempuan ini pasti muda dan cantik, tapi untuk apakah

mereka datang ke tempat setan ini dan mengantarkan nyawa,” ujar Kim-yan-cu.

“Hanya ada satu alasan,” ujar Pwe-giok, “meski tempat ini bukan gudang penyimpan pusaka

Thian-can-kau, tapi pasti terpendam satu partai harta karun yang tak ternilai jumlahnya.”

Mendadak Kim-yan-cu berhenti melangkah dan berkata: “Menurut kau, kakek itu sengaja

menipu kita masuk ke sini, mungkinkah kita hanya dijadikan perintis jalan baginya?”

“Kukira memang demikian, makanya dia berharap lebih tinggi ilmu silat kita akan lebih baik

pula, tidak sayang meminjamkan pedang wasiat kepadamu.”

“Wah, kalau begitu, apabila kita bisa masuk ke sana, hal ini sama saja seperti membuka jalan

baginya,” seru Kim-yan-cu dengan terkesiap.

“Dan umpama kita menemukan benda mestika terpaksa juga harus diserahkan kepadanya.

Dan kalau kita mati, dia sendiri tidak rugi. Hati orang tua ini sungguh keji, padahal kita tidak

pernah kenal dia, namun dia tega menggunakan jiwa kita sebagai taruhan bagi

kepentingannya.”

“Di dalam hal ini masih ada kejadian lain yang aneh,” kata Pwe-giok setelah berpikir sejenak.

Renjana Pendekar > Karya Khulung > Diceritakan oleh : GAN KL > buyankaba.com 231

“Hal …. hal apa?” tanya Kim-yan-cu.

“Coba kau lihat, jenazah ini semuanya adalah perempuan, di dasar lubang tadi, kulihat

kerangka tulangnya juga seluruhnya tulang perempuan, apakah orang yang datang ke sini dan

mengincar harta pusaka ini tiada seorang lelaki pun?”

“Hal ini ada dua alasan, apakah kalian ingin tahu?” mendadak seorang menanggapi dengan

tak acuh.

Mendengar suara yang datar dan hambar ini, air muka Kim yan-cu seketika berubah, ia tarik

tangan Pwe-giok dan berkata: “Hahh, dia …. dia ikut masuk ke sini.”

“Jika kugunakan kalian sebagai perintis jalan dengan sendirinya aku mesti ikut masuk

kemari,” kata si kakek.

“Setelah kalian menghancurkan semua perangkap yang terpasang di sini, maka aku pun tidak

perlu bersusah payah lagi.”

Di tengah gemerdepnya cahaya perak, tahu-tahu orang tua itu sudah muncul seperti badan

halus.

Dongkol dan gusar pula Kim-yan-cu, omelnya: “Kuhormati kau sebagai orang tua, tapi kau

bertindak kejam kepada kami malahan tanpa malu-malu kau mengakui perbuatanmu.”

“Meski kalian telah menderita bagiku, tapi juga tidak bekerja percuma, kalianpun akan

menarik keuntungannya,” kata si kakek bercahaya perak.

“Apalagi kalian diberi kesempatan pesiar ke sini, andaikan matipun tidak perlu penasaran.”

“Sesungguhnya tempat apakah ini?” tanya Kim-yan cu.

“Kenapa kalian tidak melihatnya sendiri, itulah dia!” kata si kakek.

Waktu Kim-yan-cu memandang ke arah yang ditunjuk, terlihat di samping mayat seorang

perempuan berbaju hijau, di atas dinding terukir 16 huruf besar yang berbunyi: “Un-yu-cibiang,

bing-lok-ci-kiong” atau surga yang hangat, istana yang gembira. Lalu di bawahnya:

“Siau-hun-si-kut, jik-tok-ji-hiong” atau sukma tergetar tulang terhapus, selain keji juga ganas.

“Empat puluh tahun yang lalu, tempat inilah surga yang di impi-impikan oleh setiap pendekar

muda di seluruh dunia ini,” demikian tutur si kakek. “Barang siapa dapat berkunjung ke sini,

sekalipun tulang terhapus dan sukma tergetar juga rela.”

“Apa sebabnya?” tanya Kim-yan-cu dengan terkesiap.

“Sebab kalau sudah berada di sini barulah diketahui sesungguhnya apa kegembiraan kaum

lelaki? Hahaha, cuma sayang, setelah menikmati kebahagiaan ini, lalu orang itupun harus

mati.”

Sampai di sini, si kakek bergelak tertawa beberapa kali, namun suaranya tetap hambar, tiada

tinggi-rendahnya nada, juga tiada terdengar rasa suka atau duka.

Renjana Pendekar > Karya Khulung > Diceritakan oleh : GAN KL > buyankaba.com 232

Kim-yan-cu menarik napas dingin, ucapnya kemudian: “Jika demikian, mengapa di sini tidak

terlihat mayat lelaki seorangpun?”

“Soalnya waktu itu setiap lelaki harus menunggu setelah masuk istana dan dinilai dulu oleh

Siau-hun Kiongcu (puteri penggetar sukma), habis itu barulah dia akan mati,” tutur Si kakek.

“Jika sudah tahu tempat setan yang jahat ini mengapa anak perempuan juga sengaja kemari?”

tanya Kim-yan-cu.

“Untuk ini memang banyak alasannya,” tutur pula si kakek. “Ada sementara orang perempuan

yang iri kepada kecantikan Siau-hun-kiongcu dan bertekad akan membunuhnya. Ada lagi

yang dendam karena suami atau kekasih sendiri menjadi korban pikatan sang Kiongcu dan

sengaja datang kemari untuk menuntut balas…”

“Tapi kalau Siau-hun-kiongcu itu masih hidup sampai sekarang, tentunya dia sudah berwujud

siluman tua, mengapa masih tetap ada anak perempuan sebanyak ini yang mengantar nyawa

ke sini?”

“Meski Siau-hun-kiongcu sudah mati, tapi harta pusakanya dan kitab wasiat tinggalannya

masih berada di sini,” kata si kakek. “Harta pusakanya tidak perlu dipersoalkan, melulu kitab

wasiat pelajaran ilmu silatnya saja selama berpuluh tahun ini selalu diincar oleh setiap

perempuan di dunia ini, tak perduli siapapun, asalkan bisa memperoleh Bikang (ilmu

memikat) Siau hun-kiongcu, maka setiap lelaki di dunia ini pasti akan bertekuk lutut di bawah

kakinya.”

Kim-yan cu memandang Pwe-giok sekejap, tanpa terasa air mukanya menjadi merah pula,

katanya: “Barang kotor begitu, melihat saja aku tidak sudi.”

Si kakek tertawa terkekeh-kekeh, katanya: “Tapi sekali sudah kau lihat mungkin kau akan

merasa berat untuk melepaskannya.”

Sekonyong-konyong sorot matanya beralih ke arah Pwe-giok, katanya pula; “Meski ilmu

silatmu kurang memadai, tapi pengetahuanmu dalam hal-hal lain ternyata cukup luas, orang

seperti kau ini rasanya sayang jika kubunuh.”

Pwe-giok tersenyum, katanya: “Saat ini kita belum masuk ke istana, dengan sendirinya kau

takkan membunuhku.”

Mencorong sinar mata si kakek, ucapnya: “Jika kau dapat membawaku masuk ke istana ini,

bukan saja tidak kubunuh kau, bahkan akan ku bagi sama rata harta pusaka yang kita temukan

nanti.”

“Dan kalau aku tidak mau?” tanya Pwe-giok.

“Jika kau tidak mau, sekarangpun jangan kau harap akan bisa hidup lagi,” kata si kakek

dengan hambar.

“Tempat ini sudah didatangi orang, bisa jadi harta pusaka yang terpendam di sini sudah

diambil orang,” kata Pwe-giok dengan tertawa.

Renjana Pendekar > Karya Khulung > Diceritakan oleh : GAN KL > buyankaba.com 233

“Sampai saat ini belum pernah ada seorangpun yang dapat keluar dari sini dengan hidup!”

ucap si kakek dengan dingin.

Pwe-giok tertawa, katanya: “Sering kudengar kata-kata seperti ini. Padahal tempat yang tak

dapat keluar dengan hidup justeru selalu ada orang yang keluar dengan hidup, hanya

keluarnya tidak diketahui orang lain.”

Si kakek terbahak-bahak, katanya; “Dengan mata kepalaku sendiri kusaksikan ke sembilan

perempuan ini masuk ke sini dan aku sendiri yang menyumbat jalan keluarnya, dua hari pula

ku jaga di luar. Bilamana ada orang keluar di luar tahuku, kedua biji mataku ini rela kukorek

keluar.”

Dengan sorot mata gemerdep Pwe-giok berkata pula dengan pelahan. “Kau membunuh

segenap keluarga Ma Siau-thian, apakah lantaran kau mencurigai dia membocorkan rahasia

tempat ini kepada ke sembilan perempuan ini.”

“Hm, kau sudah bertanya terlalu banyak,” jawab si kakek dengan sorot mata tajam.

“Hanya karena mencurigai seorang, lalu kau bunuh segenap keluarganya, tidakkah caramu ini

terlalu keji dan kejam?” seru Kim-yan-cu.

“Jangan lupa, yang kubunuh adalah anggota Thian-Can-kau,” jawab si kakek dengan tak acuh.

“Lantaran mereka membocorkan rahasiamu kepada orang lain, makanya kau bunuh mereka,

begitu?” Kim-yan-cu menegas.

“Hm!” si kakek cuma mendengus saja.

“Tapi dari mana pula orang Thian-can-kau mengetahui rahasiamu?” teriak Kim-yan-cu.

“Jangan-jangan kau pun sekomplotan dengan mereka?”

Mendadak si kakek membalik tubuh dan “plok”, tangannya menepuk dinding batu, lalu

menjawab dengan pelahan: “Kaupun sudah terlalu banyak bertanya.”

Melihat dekukan cap tangan di dinding, Kim-yan-cu mencibir dan tidak bersuara pula.

*****

Cukup lama Pwe-giok meraba dan mencari dan berulang-ulang bergumam: “Jangan-jangan

pintu masuk istananya tidak terletak di sini?”

“Di depan sudah buntu, kalau pintunya tidak di sini, lalu di mana?” ujar si kakek.

Pwe-giok berpikir sejenak, ia menggeser sesosok mayat perempuan berbaju hijau, tiada

dilihatnya sesuatu luka pada mayat ini, tapi kedua tangannya tampak matang biru.

Ia berjongkok, dengan sarung pedang ia mencungkil jari-jemari mayat itu, dilihatnya jari

telunjuk kanan-kiri masing-masing ada setitik darah kering. Seperti luka yang habis digigit

Renjana Pendekar > Karya Khulung > Diceritakan oleh : GAN KL > buyankaba.com 234

nyamuk atau seperti bekas dicocok jarum bilamana orang hendak diperiksa darahnya pada

jaman ini. Namun begitu sudah mengakibatkan kematian perempuan ini.

Pwe-giok berdiri dan menghela napas panjang, gumamnya pula: “Kiranya rahasia untuk

masuk ke dalam istana ini terletak pada kedua titik di huruf “ci” ini.”

Huruf yang terukir di dinding batu itu pun, penuh debu, hanya kedua titik pada huruf “Ci” saja

yang kelihatan licin dan bersih, seolah-olah sering digosok.

Dengan girang Kim-yan-cu berseru: “Aha, betul, aku pun tahu sekarang. Asalkan kedua titik

pada huruf Ci ini ditekan, seketika akan muncul pintunya, begitu bukan?”

Sambil berkata segera ia hendak menekan kedua titik itu.

Cepat Pwe-giok mencegahnya dan berkata: “Apakah kau pun akan meniru perempuan baju

hijau ini? Jika setiap kali hendak membuka pintu istana harus mengorbankan satu nyawa,

harga ini kukira terlalu mahal.”

Mendadak sinar perak gemerdep, si kakek telah merampas pedang pendek dan memotong

kedua jari telunjuk mayat itu, lalu digunakan menekan kedua titik huruf Ci itu.

Seketika dinding yang tadinya rapat dan rata itu berbunyi keriat-keriut, pelahan-lahan dinding

itu bergeser dan muncul selapis tirai bermutiara yang melambai hingga menyapu lantai.

Cahaya mutiara gemerlapan menyilaukan mata, di atas juga muncul enam belas huruf yang

berbunyi: “Kegembiraan yang bahagia, dinikmati bersama anda. Masuk ke dalam pintu ini,

sekaligus naik ke surga.”

Air muka si kakek yang tadinya dingin dan hambar itu seketika memperlihatkan rasa gembira

dan bersemangat, sinar matanya mencorong terang, mendadak ia menengadah dan tertawa

terbahak-bahak; “Hahaha! Rahasia Siau-hun-niocu akhirnya terjatuh juga di tanganku

sekarang!”

Di tengah gelak tertawanya itu ia lantas menyingkap tirai dan melangkah masuk.

Kim-yan-cu coba memeriksa kedua potong jari kutung yang di buang ke lantai itu, ternyata

pada ujung jari yang sudah hitam kering itu bertambah lagi dua lubang kecil. Ia pandang Pwegiok

sekejap, katanya dengan penuh rasa terima kasih: “Kembali kan telah menyelamatkan

diriku. Sungguh tak tersangka pada kedua titik kecil inipun terpasang perangkap yang dapat

membunuh orang.”

Kiranya pada kedua titik itu masing-masing ada sebuah jarum berbisa yang sangat lembut dan

hampir sukar terlihat oleh mata telanjang Bilamana jari itu tercocok jarum, hanya terasa gatal

sedikit dan bilamana mulai merasa sakit, maka tak tertolong lagi orangnya.

Pwe-giok sedang memandangi tirai bertabur mutiara itu, seperti sedang menimbang apakah

harus ikut masuk atau tidak. Sekonyong-konyong sebuah tangan yang pucat terjulur keluar

dari balik tirai dan menarik Kim-yan-cu ke dalam.

Renjana Pendekar > Karya Khulung > Diceritakan oleh : GAN KL > buyankaba.com 235

Terdengar si kakek berkata: “Harta pusaka ini ada separuhnya adalah milikmu, kenapa kau

tidak ikut masuk kemari?”

Belum habis ucapannya Kim yan-cu sudah terseret masuk ke sana.

Diam-diam Pwe-giok merenungkan apa yang bakal terjadi nanti, pikirnya; “Setelah maksud

tujuannya tercapai, orang tua ini pasti takkan melepaskan diriku…”

Sementara itu didengarnya suara sorak gembira Kim-yan-cu, akhirnya Pwe-giok ikut

melangkah masuk ke sana.

Di balik tirai itu memang betul terdapat suatu dunia lain. Seketika Pwe-giok merasa silau oleh

gemerlapnya cahaya emas dan sinar perak sehingga tidak jelas keadaan di dalam.

Tiba-tiba Kim-yan-cu mendekatinya dengan membawa sebuah cangkir kumala, di dalam

cangkir penuh terisi ratna mutu manikam yang kemilauan sehingga wajah si nona yang

berseri-seri itu semakin menarik.

“Lihatlah, betapa indah benda-benda ini?” seru si nona dengan berjingkrak gembira.

“Kau suka?” tanya Pwe-giok.

“Anak perempuan mana yang tidak suka kepada intan permata? Kalau lelaki suka kepada

intan permata adalah karena nilainya yang tinggi, sedangkan perempuan suka kepada intan

permata adalah karena keindahannya. Coba lihat, yang ini bagus atau tidak?”

Dia lantas angkat seuntai kalung mutiara dan digantung di depan lehernya, cahaya mutiara

yang kemilauan menyinari kerlingan matanya yang redup seperti agak mabuk.

Pwe-giok menjawab dengan gegetun: “Betapa pun indahnya mutiara ini, mana bisa lebih

indah daripada kerlingan matamu?”

Kim-yan-cu menunduk dan tertawa, mukanya menjadi merah.

Tapi si kakek bercahaya perak tadi sama sekali tidak memandang mereka, terhadap ratna

mutu manikam yang memenuhi ruangan itu seolah-olah juga tidak tertarik, ia masih terus

mencari dan menggeledah di segenap pelosok.

Mutiara, jamrud, kumala, mirah, safir . . .. satu persatu dibuangnya di lantai seperti

membuang sampah. Sungguh aneh, apakah barang yang dicarinya bisa lebih berharga

daripada benda-benda mestika ini?

“Menurut kau, apakah dia sedang mencari Siau-hun-pit-kip (kitab pusaka penggetar sukma)

tinggalan Siau-hun-kiongcu itu?” tanya Kim-yan cu dengan suara tertahan.

“Kukira begitulah,” jawab Pwe-giok.

Kim-yan-cu tertawa cekikik, katanya: “Dia kan bukan perempuan, seumpama berhasil

meyakinkan ilmu memikat tinggalan Siau-hun-kiongcu itu, lalu apa gunanya?”

Renjana Pendekar > Karya Khulung > Diceritakan oleh : GAN KL > buyankaba.com 236

Pwe-giok berpikir sejenak, katanya kemudian: “Bisa jadi Kungfu yang diyakinkan nya

sehaluan dengan ilmu Siau-hun kiongcu ini. Jika keduanya bergabung dan saling menambal

kekurangan masing-masing, dengan sendirinya lantas besar manfaatnya. Atau mungkin juga

dia mempunyai anak perempuan…”

Belum habis ucapannya, sekonyong-konyong terdengar si kakek bergelak tertawa seperti

orang gila. Terlihat tangannya yang pucat itu memegangi beberapa jilid buku tipis warna

jambon, rasa gembiranya itu jauh melebihi Kim-yan-cu ketika menemukan batu permata tadi.

Tanpa terasa Pwe-giok menghela napas panjang.

“Cita-citaku telah terkabul, kau harus ikut bergembira bagiku, kenapa kau menghela napas?”

omel si kakek dengan tertawa.

“Soalnya Cayhe lantas teringat kepada pepatah “Niau-cin-kiong-cong” (burung habis gendewa

disimpan, kiasan bahwa setelah burung terbidik, gendewa tidak diperlukan lagi), maka aku

menjadi sedih.”

“Kan sudah kukatakan takkan kubunuh kau, masa aku ingkar janji,” ujar si kakek dengan

tergelak. Lalu ia menggunakan tangan kiri dan memberi tanda garis tengah ruangan itu dan

berkata pula: “Bukan saja jiwamu takkan kuganggu, bahkan aku tetap pegang janji dan akan

ku bagi separoh harta pusaka ini kepadamu. Di sinilah batasnya, yang sebelah sana semuanya

adalah milikmu, boleh kau ambil saja sesukamu.”

“Anda dapat pegang janji, tidak sia-sia ku sebut engkau sebagai Cianpwe,” ujar Kim-yan-cu

dengan tertawa.

Tapi Pwe-giok menanggapi dengan tak acuh: “Biarpun Cianpwe memberikan kepadaku

seluruh harta pusaka ini, kalau tidak dapat kubawa keluar kan juga percuma dan tiada

gunanya,”

Sembari bicara, seperti tidak sengaja, ia tetap menghadang di depan pintu tanpa bergeser.

Si kakek tertawa, katanya: “Meski ilmu silatmu kurang tinggi, kukira tenagamu cukup kuat,

boleh kau bungkus saja harta pusaka ini sekantong demi sekantong, kan akhirnya dapat kau

bawa pergi seluruhnya?”

“Sekalipun Cianpwe tidak mengganggu jiwaku, tapi bila Cayhe sedang meringkasi bendabenda

berharga ini, mungkin Cianpwe terus melayang keluar dan menyumbat pintu keluar,

lalu apa gunanya biarpun Cianpwe memberikan seluruh harta karun ini kepadaku?”

Tak tersangka oleh si kakek bahwa pemuda yang tampaknya lugu dan tulus itu dapat menerka

isi hatinya. Sejenak ia melenggong, dari malu ia menjadi gusar, segera ia membentak: “Kau

menghadang di depan pintu, apakah kau kira aku tidak mampu keluar?”

Di tengah bentakannya kelima jarinya laksana kaitan terus mencengkeram urat nadi

pergelangan tangan Pwe-giok.

Renjana Pendekar > Karya Khulung > Diceritakan oleh : GAN KL > buyankaba.com 237

Mendadak Pwe-giok memutar tangannya dan berbalik memotong urat nadi lawan, gerakan

cepat dan balas menyerang secara licin ini membuat si kakek terkejut, cepat telapak

tangannya yang lain juga memukul.

Jilid 10________

Pwe-giok tidak mengelak juga tidak menghindar atas serangan si kakek, ia malah sambut

pukulan lawan dengan sebelah tangannya, “plak” kedua tangan beradu, kedua orang samasama

tergetar mundur dua-tiga tindak.

Si kakek sama sekali tidak menyangka Kungfu anak muda ini bisa sedemikian lihai, ia

terkejut dan gusar, katanya dengan menyeringai: “Tak terduga boleh juga kau, akulah yang

salah pandang!”

Belum habis ucapannya, sekaligus ia sudah menyerang beberapa jurus lagi. Di tengah

serangannya yang aneh itu membawa gerakan keji.

Namun Pwe-giok dapat mematahkan setiap jurus serangan lawan, cuma dia baru sembuh dari

keracunan, setelah belasan gebrakan, tenaga mulai terasa lemah. Mendadak ia membentak

pada Kim-yan cu: “Kenapa kau tidak lekas terjang keluar?”

Kim yan-cu memang lagi kesima menyaksikan pertarungan mereka, ia terkesiap oleh

bentakan Pwe-giok itu, tapi ia lantas menjawab dengan tertawa: “Dua lawan satu kan lebih

baik daripada sendirian biarlah akupun maju…”

Cepat Pwe-giok memotong: “Dengan kepandaianmu, biarpun ikut maju juga tiada gunanya.

Terjang keluar saja dan jangan hiraukan diriku!”

Karena bicara dan sedikit lengah, kembali dia terdesak mundur dua tiga langkah.

Melihat pertarungan kedua orang sedemikian rapatnya sehingga dirinya tidak mungkin ikut

campur, terpaksa Kim-yan cu menghela napas, mendadak ia melompat lewat samping si

kakek.

Tak terduga punggung si kakek seakan-akan juga tumbuh mata, sebelah tangannya

menghantam ke belakang. Kim-yan-cu tidak sanggup menangkis, dada terasa sesak, ia

terpental dan jatuh terguling ke belakang.

Pada kesempatan itulah Pwe-giok juga melancarkan serangan sehingga dapat mendesak maju

ke tempat semula. “Apakah kau terluka?” tanyanya kepada Kim-yan-cu.

Tubuh Kim-yan cu terasa pegal seluruhnya tapi dia menjawab dengan tersenyum: “Tidak apaapa

jangan kau pikirkan diriku!”

Melihat senyuman si nona yang setengah meringis itu, Pwe-giok tahu dalam waktu singkat

mungkin Kim-yan-cu tidak sanggup berbangkit. Pikirannya menjadi kusut, kembali dia

terdesak mundur lagi oleh hantaman si kakek.

Renjana Pendekar > Karya Khulung > Diceritakan oleh : GAN KL > buyankaba.com 238

Dengan menggertak gigi Pwe-giok menyambut pula tiga kali pukulan kakek itu. Kedua orang

berdiri di luar dan di dalam tirai, sesudah bergebrak beberapa jurus lagi, tirai itu pun robek,

mutiara dan batu permatanya berserakan di lantai.

“Mengapa kau tidak bersuara, apakah kau terluka?” tanya Kim-yau-cu dengan parau.

Terpaksa Pwe-giok berteriak; “Kau jangan kuatir, aku….” karena bersuara, bawa murni dalam

tubuh tambah lemah, kembali dia terdesak mundur dua langkah, kini ia sudah terdesak ke luar

pintu.

Si kakek terus mendesak keluar, serunya dengan tertawa: “Kalian berdua boleh dikatakan dua

sejoli yang sehidup semati, sungguh aku menjadi iri.”

Pada waktu si kakek bicara, segera Pwe-giok bermaksud menyerang dan mendesak kembali

ke tempat semula, tapi sayang, tenaga tidak mau menuruti kehendaknya lagi. Kain putih yang

membalut kepalanya juga sudah basah kuyup oleh air keringat. Dalam keadaan demikian

kalau dia mau kabur sendiri mungkin masih ada harapan, tapi mana dia tega meninggalkan

Kim-yan-cu begitu saja?

Agaknya si kakek dapat meraba jalan pikirannya dengan menyeringai ia berkata pula: “Jika

kau tidak keluar sekarang, segera akan kututup pintu ini, akan kukurung dia di dalam, dengan

demikian jangan harap lagi kalian akan berkumpul kembali.”

Pwe-giok menghela napas, katanya: “Jika demikian, hendaklah kau memberi jalan, biar aku

lewat ke sana.”

Si kakek terbahak-bahak, benar juga ia lantas menyingkir ke samping.

Dengan sedih Pwe giok melangkah ke sana. Tapi baru saja sampai ambang pintu, Cepat Pwe

giok berteriak: “Sudah kutahan dia, lekas kau lari!”

Dengan terhuyung-huyung Kim yan cu berlari keluar, katanya dengan suara gemetar: “Dan. . .

.dan kau?”

Tidak kepalang gemas Pwe giok, sungguh dia ingin mencekik leher si nona dan

menghardiknya: “Kenapa kau tidak lari keluar lebih dulu dan nanti berusaha lagi menolong

diriku?”

Tapi ia sendiri sedang terdesak oleh serangan si kakek sehingga tidak sempat bersuara sama

sekali.

Si kakek sinar perak tertawa terkekeh-kekeh katanya; “Demi keselamatan dirimu, dia rela

mengorbankan dirinya di sini, apakah kau tega pergi sendirian?”

“Sudah tentu tidak mungkin ku pergi sendiri,” jawab Kim-yan-cu tegas.

“Mau mati biarlah kami mati bersama saja.”

“Bagus,” ujar si kakek dengan tertawa. “Dengan demikian barulah dapat dikatakan punya

perasaan, sungguh aku sangat kagum.”

Renjana Pendekar > Karya Khulung > Diceritakan oleh : GAN KL > buyankaba.com 239

Cemas dan gemas Pwe-giok sungguh kalau bisa ingin ditendangnya keluar Kim-yan-cu.

Karena gusarnya itu, sedikit meleng, dada terasa panas, rupanya telah kena getaran pukulan si

kakek. Sekali ini dia tidak mampu balas menghantam lagi.

“Haha, apakah nona tidak ingin masuk lagi ke sana?” seru si kakek dengan tertawa.

“Sudah tentu aku akan masuk ke sana, tidak perlu kau kuatir,” teriak Kim-yan cu dengan

suara serak.

Pwe giok hendak membentak untuk mencegahnya, tapi belum lagi bersuara, tahu-tahu Kimyan-

cu sudah lari masuk lagi dengan langkah sempoyongan dan menubruk ke dalam

pelukannya.

Terdengar si kakek tertawa latah, katanya: “Sudah kukatakan takkan kubunuh kau, tentu ku

pegang teguh janjiku ini. Tapi kalau kalian mati sesak di sini kan bukan salahku.”

Habis berkata, “krek” pintu batu itu telah tertutup.

Seketika di dalam gua itu berubah menjadi sunyi senyap, sampai suara tertawa si kakek pun

tidak terdengar lagi.

Kim-yan-cu termangu-mangu sejenak, akhirnya air mata bercucuran, ucapnya dengan

tersendat-sendat: “Semuanya gara-garaku sehingga kau pun ikut susah. Mengapa… mengapa

kau tidak melarikan diri sendiri tadi?”

“Dan kau sendiri mengapa tidak mau lari?” jawab Pwe giok dengan menyesal. “Setelah kau

keluar, kau kan dapat berusaha menolong diriku? Dengan begitu kan lebih baik daripada duaduanya

terkurung mati di sini?”

Kim yan-cu melenggong sejenak, mendadak ia mengikik tawa.

“Apa yang kau tertawakan?” tanya Pwe giok dengan berkerut kening. “Apakah salah

ucapanku?”

“Jika kau kira ucapanmu itu masuk diakal, kenapa kau sendiri tidak lari keluar lebih dulu baru

kemudian berusaha menolong diriku lagi?” jawab Kim-yan-cu.

Sekali ini Pwe giok juga melenggong, sejenak kemudian barulah ia berkata dengan tersenyum

kecut: “Ya, betul juga. Tadinya kukira kau ini nona bodoh, tak tahunya akulah yang jauh lebih

bodoh daripadamu.”

“Kau sama sekali tidak bodoh,” ujar Kim-yan-cu dengan suara lernbut, “hanya karena terlalu

memikirkan diriku, maka kau lupa akan dirinya sendiri.”

Tanpa terasa Pwe-giok membelai rambut si nona, katanya dengan gegetun: “Dan kau sendiri

bagaimana? Bukankah kau pun begitu, demi diriku kau pun lupa pada dirimu sendiri?”

Kim yan-cu bersuara tertahan terus menjatuhkan diri ke pangkuan anak muda itu.

Renjana Pendekar > Karya Khulung > Diceritakan oleh : GAN KL > buyankaba.com 240

Sejak kecil Pwe-giok sudah kehilangan ibu, di bawah didikan sang ayah yang keras, meski

sejak dulu sudah mengikat jodoh, namun jari sang tunangan saja tidak pernah disentuhnya,

bilakah dia pernah merasakan kemesraan muda-mudi begini?

Seketika pikirannya menjadi bingung, entah mesti gembira atau harus sedih. Entah suka entah

duka?

Umumnya, orang yang sama-sama berada dalam kesusahan memang lebih mudah

menumbuhkan benih perasaan dengan cepat, kecepatan yang sukar dibayangkan dan juga

sukar dicegah.

Entah selang berapa lama, mendadak Kim-yan-cu melompat bangun, dengan muka merah ia

berkata: “Coba lihat, kita telah berubah menjadi tolol semua sehingga tidak terpikir kalau

pintu ini dapat di buka dari luar, dengan sendirinya dapat pula dibuka dari dalam. Kalau tidak,

waktu Siau-hun-kiongcu masih hidup, apakah dia juga harus dibukakan pintu dari luar

bilamana dia ingin keluar?”

Merasa jalan pikirannya ini sangat masuk diakal, tanpa terasa ia menjadi sangat gembira.

Sebaliknya Pwe-giok lantas menghela napas panjang, ucapnya: “Kakek itu sudah tahu dimana

letak kunci pintu keluar masuk tempat ini, dia membawa pula pedang wasiat setajam itu,

cukup sekali bergerak saja semua alat rahasia dapat dirusaknya. Pintu batu ini seberat ribuan

kati, jika pegasnya rusak, siapa lagi yang sanggup menggesernya? jika ia sudah berniat

mengurung kita di sini, tentu juga sudah dipikirkannya segala kemungkinannya.”

Kim yan-cu melengak, senyumnya tadi lenyap seketika, katanya dengan ragu-ragu: “Tapi

harta… harta benda yang terdapat di sini, apakah tidak… tidak dikehendakinya lagi?”

“Bila kita mati terkurung di sini, tentu harta karun inipun takkan lari, lambat atau cepat tetap

akan jadi miliknya, untuk apa dia terburu-buru mengambilnya? apalagi tujuannya sebenarnya

bukan terletak pada harta karun ini.”

Dengan lemas Kim-yan cu berduduk lagi, ia termangu-mangu sejenak, mendadak ia tertawa

cerah pula dan berkata: “Sebelum pagi hari ini, sungguh mimpipun tak terpikir olehku akan

mati bersamamu di sini. Yang aneh adalah sekarang aku tidak merasa takut sedikitpun. baru

sekarang ku tahu, mati ternyata bukan sesuatu yang menakutkan seperti apa yang pernah

kubayangkan. apalagi kalau dapat mati bersamamu, jelas aku lebih beruntung daripada ke

delapan anak perempuan yang telah mati itu.”

Mendadak Pwe-giok terbelalak, serunya: “Kau bilang ke delapan anak perempuan itu?”

Kim-yan cu bingung karena tidak tahu apa sebenarnya anak muda itu berteriak, jawabnya

dengan tergagap: “Be… betul”

Pwe-giok memegang tangan si nona dan menegas: “Apakah sudah kau lihat jelas? Betul-betul

delapan dan bukan sembilan?”

Kim-yan cu berpikir sejenak, lalu menjawab tegas: “Ya, tidak kurang tidak lebih, persis

delapan” ia merandek, kemudian berkata pula: “Tapi delapan atau sembilan, memangnya ada

sangkut paut apa dengan kita?”

Renjana Pendekar > Karya Khulung > Diceritakan oleh : GAN KL > buyankaba.com 241

“Tentu saja ada sangkut pautnya, bahkan sangat besar sangkut pautnya!” seru Pwe-giok.

Melihat anak muda itu mendadak kegirangan, Kim-yan cu menjadi heran, tanyanya: “Ada

sangkut paut apa? Bukankah anak-anak perempuan itu sudah mati semua?”

Pwe-giok menggenggam tangannya erat-erat dan berkata: “Menurut orang tua tadi, katanya

dengan mata kepala sendiri dia menyaksikan sembilan anak perempuan masuk ke sini dan

tiada seorangpun yang pernah keluar. Berdasar ketajaman matanya kupercaya dia pasti tidak

salah hitung, sebaliknya kau cuma melihat delapan sosok mayat dan juga tidak keliru lihat.”

Dia menghela napas panjang dan menatap Kim-yan cu tajam-tajam, lalu menyambung pula

sekata demi sekata: “Maka sekarang ingin kutanya padamu, ke mana perginya anak

perempuan yang ke sembilan itu?”

Kim-yan cu melongo bingung seperti paham dan seperti tidak, gumamnya: “Ya, betul,

kemana perginya anak perempuan ke sembilan itu? Kenapa bisa menghilang?”

“Orang sebesar itu masa bisa hilang?” ujar Pwe-giok.

“Betul, orang sebesar itu mustahil bisa hilang?” tukas Kim-yan cu.

Mendadak Pwe-giok berseru: “Masa kau tidak paham, sebabnya anak perempuan ke sembilan

itu bisa menghilang mendadak tentu karena di sini ada jalan keluar lain, kalau tidak,

memangnya dia dapat menyusup masuk ke dalam bumi?”

Akhirnya Kim-yan cu paham duduknya perkara, ia melonjak bangun dan merangkul Ji Pwegiok

serunya dengan tertawa: “Ai, kau memang benar-benar bukan orang bodoh, sebaliknya

aku inilah budak tolol.”

Pada saat sudah putus asa tiba-tiba mendapatkan setitik sinar harapan, sudah tentu mereka

kegirangan, Tapi lantaran kelewat bergirang, mereka menjadi lupa bahwa bilamana anak

perempuan ke sembilan itu datang demi mencari harta karun, kalau betul dia sudah keluar

melalui suatu jalan rahasia lain, mengapa harta karun ini tidak dibawa pergi sekalian? Setelah

mencapai tempat penyimpanan harta karun ini apakah mungkin dia keluar lagi dengan tangan

hampa?

Si kakek tadi menemukan kitab pusaka Siau-hun-pit-kip pada sebuah almari batu yang

berbentuk aneh, sekarang pintu almari batu itu masih terpentang. Didepan almari batu ada

sebuah kasuran berwarna hijau-kelabu, waktu diperiksa lebih teliti, kasuran ini juga ukiran

dari batu, saking pandainya mengukir sehingga tampaknya seperti kasuran asli.

Bahwa ditengah ruangan hanya tertaruh sebuah kasuran begini, jelas tampaknya agak janggal,

tidak sesuai dan tidak serasi dengan keadaan di ruangan ini, apalagi kasuran ini ukirannya dari

batu hijau, lebih-lebih menurut ingatan Ji Pwe-giok, di bawah kasuran begini biasanya

tersembunyi sesuatu rahasia. Maka begitu melihat kasuran ini, dia lantas tertarik, segera ia

mendekatinya.

Namun kasuran ini seperti berakar di tanah, didorong maupun ditarik tidak bergeming

sedikitpun, diputar kesana ke sini juga tidak mau bergetar.

Renjana Pendekar > Karya Khulung > Diceritakan oleh : GAN KL > buyankaba.com 242

Pwe-giok menghela napas kecewa. waktu menengadah, mendadak dilihatnya di dinding

almari batu itupun terukir gambar laki perempuan yang tidak senonoh. Anehnya setiap

pasangan manusia ukiran ini secara indah terangkat menjadi satu huruf sehingga seluruhnya

berbunyi: “Barang siapa mendapat kitab pusaka ku, masuklah ke perguruanku. Terimalah

ilmu tinggalan ku dan menyembah kepada arwahku. Baik buruk atau untung malang, semua

itu mesti tunduk kepada perintahku. Yang melanggar pesan tinggalanku ini akan tertimpa

bencana dan mati.”

Disamping kedua baris tulisan yang menyerupai ramalan ini terdapat pula beberapa baris

huruf kecil dan berbunyi: “Barang siapa menemukan harta dan kitab pusakaku, dia harus

masuk ke perguruanku, hendaklah segera berlutut di atas kasuran dan menghadap ke dinding

ini, dengan hati tulus dan bersujud menyembah sembilan kali sembilan sana dengan 81 kali

sebagai penghormatan mengangkat guru, dengan demikian akan mendapatkan rejeki. Tapi

kalau membangkang atas perintahku ini, setelah mendapatkan harta pusaka ini terus pergi,

arwahku pasti akan mengejar dirimu dan mencabut nyawamu. Camkanlah peringatan ini.”

Jelas si kakek cahaya perak tidak pernah memperhatikan pesan Siau-hun-kongcu ini, dengan

sendirinya dia tidak percaya orang yang sudah mati masih mampu mencabut nyawanya.

Akan tetapi setelah berpikir sejenak, Pwe-giok benar-benar berlutut di atas kasuran itu dan

mulai menyembah.

Kim-yan cu melenggong, katanya dengan tertawa: “Masa kau benar-benar ingin mengangkat

guru kepada orang mati?”

Sembari menyembah Pwe-giok menjawab: “Pada masa hidupnya, tindak-tanduk Siau-hunkongcu

ini sudah sukar diraba orang. Ketika mendekati ajalnya, tentu dia memeras otak dan

mencari akal yang aneh-aneh untuk mengatur segala sesuatu.” “Ya, orang seperti dia itu,

kalau mati tentu juga tidak rela barang tinggalannya dikuras orang dengan begitu saja.” ujar

Kim-yan cu.

“Sebab itulah, kupikir pesan yang diukir di sini ini pasti juga ada tujuan tertentu, mungkin

disinilah letak rahasianya yang paling besar,” kata Pwe-giok.

Kim-yan cu berkerut kening katanya: “Tapi orang sudah mati apa yang dapat diperbuat lagi?

…”

Tiba-tiba terpikir sesuatu olehnya, air mukanya berubah pucat, dengan suara gemetar ia

berkata pula: “Jangan-jangan… jangan-jangan dia belum lagi mati?”

Selesai Kim-yan cu bicara, Pwe-giok juga sudah habis menyembah 81 kali.

Sekonyong-konyong dinding batu yang penuh terukir huruf itu terbelah menjadi dua dan

bergeser ke samping. Dibalik dinding tampak cahaya terang gemerlapan menyilaukan mata.

Pada saat itu yang hampir sama, mendadak kasuran batu itu terus meluncur ke arah lemari

batu itu secepat kilat. Pwe-giok sendiri waktu itu merasa dengkulnya kaku kesemutan setelah

berlutut dan menyembah sekian lama, belum lagi dia sempat berbangkit, tahu-tahu kasuran

tempat dia berlutut itu terus meluncur ke balik dinding yang terbelah itu.

Renjana Pendekar > Karya Khulung > Diceritakan oleh : GAN KL > buyankaba.com 243

Tanpa kuasa Pwe-giok terhanyut oleh kasuran batu itu, seketika ia merasa silau dan tidak

melihat apa-apa. Pada saat itu mendadak kasuran batu itu berganti arah terus meluncur balik

ke belakang.

Karena dibawa meluncur ke depan dan mendadak membalik lagi ke belakang, tanpa kuasa

Pwe-giok terjungkal ke depan dan jatuh di lantai. “bluk”, seperti ada sesuatu barang tertindih

oleh tubuhnya. Menyusul asap tebal lantas muncrat berhamburan.

Kasuran batu tadi telah meluncur keluar dinding dan dinding itu lantas merapat kembali,

semuanya itu berlangsung dengan cepat, hampir seperti terjadi dalam waktu yang sama.

Apa yang terjadi ini sungguh terlalu cepat dan terlalu banyak sehingga Pwe-giok tak sempat

bertindak apapun, hidungnya sempat menghisap bau harum bedak. Meski harum baunya, tapi

terasa gelagat tidak menguntungkan.

Sama sekali tak tersangka oleh Pwe-giok bahwa setelah dia menuruti pesan Siau hun-kiongcu

tadi, sebagai imbalan adalah kejadian yang luar biasa ini dan rejeki nomplok. Segera pula dia

hendak menahan napas, namun bau harum tadi sudah sempat diisapnya sedikit.

Kim yan cu juga mendadak merasakan cahaya yang menyilaukan tadi sehingga matanya sukar

terbuka.

Samar-samar ia sempat melihat kasuran tadi meluncur ke dalam lemari batu dengan

membawa Ji pwe giok, waktu dia dapat membuka mata dan melihat lebih jelas, tahu-tahu batu

itu sudah meluncur balik ke tempat semula. Waktu dia pandang almari batu itu, keadaannya

masih utuh seperti tadi, sedikitpun tiada perubahan apapun namun Ji Pwe giok tidak kelihatan

lagi, entah menghilang kemana?

Kim yan cu jadi melongo kesima, sungguh ia tidak percaya kepada pemandangannya sendiri,

apakah yang terjadi sesungguhnya? Mengapa bisa begini?

Hampir saja ia berteriak-teriak, tapi dalam keadaan demikian, sekalipun sampai pecah

kerongkongannya juga tiada seorangpun yang mendengar suaranya.

Kim yan cu sudah cukup berpengalaman berkelana di dunia kangouw, sudah sering juga dia

menghadapi saat-saat antara mati dan hidup, betapapun dia bukan anak perempuan biasa,

walaupun dia kelihatan begitu lemah lembut ketika berada disamping Ji we giok.

Tapi anak perempuan mana di dunia yang tidak kelihatan lemah lembut bila berada bersama

seorang lelaki? Bila berada bersama seorang lelaki, bisa jadi untuk melangkahi selokan yang

setengah meter lebarnya perlu juga dibantu oleh si lelaki Tapi kalau berada sendirian tanpa

didampingi lelaki mungkin sungai yang lebarnya tiga meter akan dapat dilompatinya.

Kalau berada bersama lelaki, setiap anak perempuan pasti akan ketakutan setengah mati

bilamana kebetulan ada seekor tikus menerobos, disamping kakinya, tapi kalau berada

sendirian, biarpun tiga puluh ekor tikus muncul sekaligus juga akan dibinasakan semuanya.

Renjana Pendekar > Karya Khulung > Diceritakan oleh : GAN KL > buyankaba.com 244

Bila tiada orang yang lain yang dapat diandalkan, setiap anak perempuan bisa mendadak

berubah kuat dan tangkas, apalagi pada dasarnya Kim yan cu memang bukan anak perempuan

lemah.

Ia coba membaca tulisan yang terukir di dinding almari itu dan direnungkan berulang ulang,

mendadak ia berseru : “Aha, paham lah aku!…”

Kiranya di bawah kasuran batu itu memang ada pesawat rahasianya. Kasuran baru itu tidak

dapat terbuka juga tidak dapat berputar, tapi harus ditindihi oleh bobot tubuh orang, ditambah

lagi orang itu berlutut diatasnya harus menyembah segala, gerakan itu akan menimbulkan

daya tekanan pula, bilamana sudah menyembah hingga 81 kali, daya tekanan itu sudah cukup

untuk membuka pesawat rahasia yang terpasang di bawah kasuran batu sehingga

menggerakan dinding almari, begitu dinding bergerak dan terpentang, segera segala alat

rahasia yang lain akan ikut tertarik dan kasuran batu itupun terbawa meluncur ke depan,

ketika daya kerja pegas itu sampai pada titik akhirnya, segera kasuran batu itu terpantul balik

ke tempat semula dan dindingpun rapat kembali.

Kalau sudah dijelaskan, apa yang terjadi ini menjadi kelihatan sederhana, cuma Siau Kun

Kiongcu memang sengaja mengaturnya sedemikian rupa sehingga kelihatan lebih misterius

dan menyeramkan.

Kim yan cu tidak ragu lagi, segera iapun berlutut di atas kasuran batu itu dan mulai

menyembah. Tapi ketika menyembah 52 kali, mendadak ia melompat turun, ia memandang

sekitarnya dan menemukan sebuah peti besi sebesar satu meteran, tutup peti besi itu

diambilnya, lalu ditaruh di punggung sendiri, habis itu dia berlutut dan mulai menyembah

lagi.

Tak tahunya, sudah 81 kali menyembah, kasuran itu tetap tidak bergerak. Ia menjadi sangsi,

jangan-jangan pesawat rahasia ini hanya bergerak satu kali saja, lalu tidak mau bekerja lagi?

Tapi dia tidak putus asa, ia ingin mencobanya satu kali lagi, sekali ini dia baru menyembah

lima enam kali dan mendadak kasuran itu meluncur keluar sana secepat panah.

Rupanya disebabkan perawakan Kim yan cu yang ramping, bobotnya tidak cukup, mesti

ditambah lagi sebuah tutup peti besi, namun cara menyembahnya menjadi kurang

membungkuk ke bawah sehingga daya tekanannya menjadi berkurang pula. Maka dia perlu

menyembah hingga 86-87 kali barulah daya tekanannya cukup kuat untuk menggerakan

pesawat rahasianya.

Ketika merasa orangnya ikut dibawa meluncur masuk ke balik almari batu, sesudah masuk

dan kasuran batu itu terpantul balik lagi kesana. Namun diam-diam Kim yan cu sudah

mempunyai perhitungan, begitu ia terjerembab ke depan, berbareng itu iapun membuang

tutup besi tadi keluar.

Kepandaian menggunakan Am-gi atau senjata rahasia Kim yan cu terkenal lihai juga di dunia

kangouw, dengan sendirinya cara menyambitkan tutup besi itupun cukup jitu, tutup peti itu

dengan cepat dilemparkan ke tengah-tengah belahan dinding, maka waktu kedua belah

dinding itu akan merapat kembali lantas terhalang oleh tutup peti itu, meski tutup peti itu

tergencet hingga mengeluarkan suara keriat-keriut, namun dinding itupun tidak dapat rapat

sama sekali.

Renjana Pendekar > Karya Khulung > Diceritakan oleh : GAN KL > buyankaba.com 245

Sementara itu mata Kim yan cu sudah terbiasa oleh cahaya silau, akhirnya ia dapat melihat

jelas rahasia di dalam gua misterius ini. Kiranya ruangan batu ini berbentuk segi delapan,

dinding sekelilingnya penuh terhias batu permata dan mutiara sebesar gundu, di belakang

mutiara ini semuanya dilapisi sepotong kaca kecil. karena itulah cahaya mutiara lantas

memantulkan sinar yang kemilauan sehingga kamar inipun gemerlapan dan seperti bintangbintang

yang bertaburan di langit telah dipindahkan oleh Siau hun kiongcu ke kamar ini.

Ditengah-tengah kamar batu ini ada sebuah peti mati batu raksasa, selain peti mati ini sudah

tentu masih ada pula barang lain, tapi Kim yan cu tidak menaruh perhatian lagi, yang

dipikirkannya cuma Pwe giok saja.

Dilihatnya anak muda itu duduk bersila di sana, sekujur badan tampak menggigil, kain putih

yang membalut kepalanya itu sudah basah kuyup seperti habis disiram air. “He, ken…..

kenapa kau? jerit Kim yan cu. Pwe giok menggertak gigi dan tidak menjawab, bahkan

matapun tetap terpejam.

Kim yan cu terkejut dan kuatir, baru saja ia bermaksud memegang tangan Pwe giok,

mendadak tangan Pwe giok malah menghantamnya sehingga Kim yan cu terguling. “He, apaapaan

kau?” jerit Kim yan cu “Jangan ….. jangan kau urus diriku,” teriak Pwe giok.

“Biarkan ku istirahat sebentar dan semuanya akan baik lagi” Setiap kata yang diucapkan anak

muda itu seakan akan sangat memakan tenaga, maka Kim yan cu tidak berani bertanya lagi.

Dilihatnya disamping Pwe Giok ada secomot benda yang gemerlapan, benda sebangsa

pecahan kaca berwarna merah muda, entah barang apa.

Waktu ia memandang lagi ke belakang peti mati, di sana juga ada sebuah almari batu, pintu

almari sudah terbuka. Di dalam almari terdapat berpuluh botol kecil berwarna merah muda

dan bercahaya, tampaknya serupa dengan barang pecah yang terdapat di samping Ji Pwe giok

itu.

Disamping berpuluh botol kecil itu ada pula beberapa jilid buku berwarna merah, buku ini

serupa kitab yang dibawa pergi si kakek bercahaya perak itu, halaman buku ini tampak

tersingkap, agaknya pernah dibalik-balik orang.

Kim yan cu mengira Pwe giok yang membalik-balik halaman buku itu, ia jadi tertarik juga

dan mendekatinya untuk melihat, tapi baru dua halaman buku itu dibacanya, seketika

mukanya menjadi merah, jantungnya berdetak keras.

Pada halaman pertama buku itu tertulis: “Siau hun pit kip, yang mendapatkannya mencapai

kenikmatan. Siau hun pi yok, yang mendapatkannya naik surga.”

Disamping kedua belas huruf besar itu tertulis pula: “Inilah kitab asli Siau hun pit kip, hanya

perempuan yang punya rejeki besar yang akan mendapatkannya. Setelah belajar satu tahun,

cukup untuk membuat setiap lelaki di dunia ini tergiur dan jatuh hati. Bila belajar tiga tahun,

dapatlah mematahkan iman siapapun di dunia ini. Kitab yang beredar di luar adalah kitab

tiruan dan sekali-kali tidak boleh sembarangan dipelajari, kalau tidak menurut, akibatnya akan

terjeblos sendiri ke laut penderitaan dan sukar tertolong, berbagai macam penyakit akan

timbul dan tersiksa hingga mati. Inilah pesan perguruan yang harus diperhatikan. Karena kau

sudah datang ke sini dan mendapatkan kitab pusaka ini, maka bahagialah selama hidupmu.

Renjana Pendekar > Karya Khulung > Diceritakan oleh : GAN KL > buyankaba.com 246

Waktu ia baca pula halaman kedua, seketika muka Kim yan cu menjadi panas, sungguh

mimpipun tak pernah terpikirkan olehnya di dunia ini ada kejadian begini dan juga ada cara

begini. Kiranya yang diajarkan dalam kitab ini adalah teknik bercinta yang hampir sukar

dibayangkan siapapun juga.

Hampir saja Kim yan cu merobek kitab itu, tapi entah mengapa, rasanya berat juga untuk

menghancurkan kitab demikian. Selagi ragu-ragu, tiba-tiba tergerak pikirannya, pikirnya:

“Jangan-jangan dia terkena racun yang terisi di botol yang pecah itu? mungkin di dalam kitab

ini ada petunjuk cara menawarkannya…”

Sudah tentu inilah alasan yang paling baik baginya untuk membaca lagi kitab ajaib itu.

Setelah membaca beberapa halaman pula, ditemuinya di dalam kitab benar-benar ada tulisan

yang berbunyi: “Isi botol ini semuanya adalah obat perangsang cinta, ada yang berbentuk pil,

ada yang berwujud bubuk. Lelaki yang meminum obat di dalam botol ini, bila tidak

mendapatkan pelampiasan tubuh perempuan, akibatnya akan mati dengan tujuh lubang (mata,

telinga, hidung dan mulut) berdarah.”

Membaca sampai di sini, tanpa terasa Kim-yan-cu bersuara kaget. Jantungnya serasa mau

melompat keluar dari rongga dadanya, ya takut ya kuatir, sungguh tidak keruan rasanya.

Didengarnya Pwe-giok sedang menggertak gigi hingga berbunyi gemertakan, katanya dengan

terputus-putus: “Lekas, ….lekas kau pergi …. lekas pergi saja …”

Tapi Kim-yan-cu masih tetap berdiri melenggong di tempatnya. Lantaran membela dirinya

sehingga anak muda itu tersiksa begini, mana dia tega tinggal pergi dan membiarkan orang

mati dengan tujuh lubang berdarah?

Mendadak Kim-yan-cu tertawa manis sambil mendekati Pwe-giok. Jantungnya berdebar,

tubuhpun terasa lemas, ia sendiri tidak tahu apakah kuatir, takut, malu atau gembira?

Pwe-giok menatapnya dengan mendelik, teriaknya dengan gemetar: “Jangan kau

mendekatiku, jangan, kumohon dengan sangat, jangan kau mendekat kemari!”

Tapi Kim-yan-cu malah pejamkan mata terus menjatuhkan dirinya ke dalam pangkuan Ji

Pwe-giok.

Dia sudah bertekad akan korbankan dirinya sendiri. Akan tetapi anak perempuan manapun

juga tidak nanti mau berkorban bagi lelaki yang tidak disukanya.

Dengan memejamkan mata kim-yan-cu sudah merelakan segalanya, dia sudah siap

mempersembahkan miliknya, dan bersedia menerimanya….

Tak terduga, pada saat itu juga mendadak ia merasakan pinggangnya kaku, ia telah tertutuk

oleh Pwe-giok. menyusul tubuhnya terus dilemparkan keluar oleh anak muda itu. lalu tutup

peti besi tadipun ditendang mencelat dan dinding batu lantas rapat kembali.

Kim-yan-cu terkejut dan melenggong dan juga berterima kasih. Tapi entah mengapa, rasanya

juga rada kecewa, berbagai macam perasaan itu bercampur aduk.

Renjana Pendekar > Karya Khulung > Diceritakan oleh : GAN KL > buyankaba.com 247

Ia tahu Pwe-giok masih punya perasaan, belum hilang akal sehatnya, maka tidak tega

membikin susah padanya.

Ia tahu sebabnya anak muda itu menutuk hiat-tonya adalah karena kuatir dirinya akan masuk

lagi ke sana. Sebabnya dia menutup dinding itu adalah untuk menjaga agar Pwe-giok sendiri

tidak sampai menerjang keluar bilamana tidak tahan oleh rangsangan obat kuat yang

diminumnya.

Dan jelas pintu dinding itu tidak mungkin dibuka dari dalam. Sekarang tertinggal Pwe-giok

saja yang terkurung di situ untuk menanti kematian.

Air mata Kim-yan-cu bercucuran, teriaknya dengan suara parau: “Meng…. mengapa kau

begitu bodoh? Memangnya kau kira demi menolong dirimu maka kulakukan seperti tadi itu?

Sesungguhnya aku sendirilah yang rela berbuat begitu, apakah… apakah kau tidak tahu aku

memang suka padamu?…”

Di luar dugaan, suara Kim-yan-cu itu ternyata bisa tersalur ke dalam kamar batu sana, apa

yang diucapkan Kim-yan-cu itu dapat didengar jelas oleh Pwe-giok. Tapi sekarang biarpun

dia ingin memasukkan lagi si nona ke sana juga tidak dapat lagi, semuanya sudah terlanjur.

Pwe-giok memukul-mukul dinding dan berteriak dengan suara gemetar: “Kau tahu, aku tidak

boleh berbuat begitu, aku tidak boleh merusak dirimu?!”

Kim-yan-cu juga dapat mendengar suaranya, iapun berteriak: “Tapi kalau kau tidak berbuat

begitu, terpaksa kau harus mati!”

“O.., kumohon….. maafkan…”

“Kubenci padamu, kubenci….” teriak Kim-yan-cu. “Selamanya takkan kumaafkan kau. Kau

hanya tahu tidak tega mencelakai diriku, tapi tahukah kau dengan penolakanmu ini kau telah

menyakitkan hatiku?”

Sungguh ia tidak tahu mengapa dirinya bisa mengucapkan kata-kata begitu. Bisa jadi ia

sengaja hendak mendorong semangat Pwe-giok agar berusaha keluar.

Sekujur badan Pwe-giok serasa mau meledak, ia berteriak-teriak: “Ya, aku salah. Memang

aku salah besar! Sebenarnya akupun suka padamu!”

“Dan mengapa kau tidak keluar? Apakah sekarang kau tidak dapat keluar?!” teriak Kim-yancu,

betapapun dia masih menaruh harapan.

“Sudah terlambat, sudah terlambat!”

“Tahukah kau, hanya ada kematian jika kau tidak keluar?”

“Biarpun mati akupun berterima kasih kepadamu!” teriak Pwe-giok dengan gemetar.

Tubuhnya merasa panas seperti dibakar, keadaannya sungguh payah dan tak tahan lagi.

Renjana Pendekar > Karya Khulung > Diceritakan oleh : GAN KL > buyankaba.com 248

Ia tidak tahu bahwa pada saat itu juga peti mati batu itupun terbuka, seorang perempuan yang

lebih cantik daripada bidadari, tapi dingin melebihi hantu telah melangkah keluar dari peti

mati itu.

Sungguh aneh, masakan mayat perempuan cantik di dalam peti mati itu benar-benar telah

hidup kembali? Baju perempuan itu berwarna putih laksana salju, tapi air mukanya terlebih

putih daripada bajunya.

Dia menyaksikan Ji-Pwe-giok yang lagi berkelojotan di lantai, mendadak ia menjengek: “Hm,

kalian memang benar dua sejoli yang sehidup semati, setelah kalian mati nanti pasti akan ku

kubur kalian bersama.”

Suaranya ternyata juga sedingin es, sedikitpun tanpa emosi. Melihat gelagatnya, seumpama

dia memang bukan orang mati, tapi hatinya jelas sudah lama mati, sudah lama beku.

Mendengar suara orang, Pwe-giok terkejut dan cepat berpaling, segera dilihatnya wajah yang

cantik ini, wajah ini membuatnya jauh lebih terkejut daripada melihat setan.

Perempuan yang dingin seperti badan halus ini ternyata Lim-Tay-ih adanya!

Jadi ke delapan anak perempuan yang mati dilorong tadi kiranya anak murid Pek-hoa-bun dan

Lim-Tay-ih adalah anak perempuan yang menghilang secara misterius itu.

Saking terkejutnya Pwe-gok berteriak: “Lim-Tay-ih, ken…. kenapa kau berada di sini?”

Air muka Lim-Tay-ih berubah hebat, jawabnya dengan terkesiap: “Siapa kau? Darimana kau

tahu namaku?”

“Aku inilah Ji-Pwe-giok!” teriak Pwe-giok. Lim-Tay-ih melengak, segera ia menjengek: “Hm,

kiranya kau Ji-Pwe-giok itu, kau ternyata belum mau ganti nama!”

“Aku memang Ji-Pwe-giok, kenapa mesti ganti nama?” jerit Pwe-giok.

“Hm, apakah kau mau ganti nama atau tidak, sekarang bukan soal lagi,” dengus Lim-Tay-ih:

“Sebab kau toh bakal mati, setelah kau tahu rahasia tempat ini, bagimu hanya ada mati!”

Sekuatnya Pwe-giok meronta bangun, mendadak dilihatnya di dalam peti mati batu itu masih

ada sesosok mayat perempuan yang sangat cantik dan seperti masih hidup. tanpa terasa ia

menjerit pula: “Se…sesungguhnya bagaimana persoalannya ini?”

“Apakah kau terkejut?” tanya Lim-Tay-ih

“Supaya kau tahu, yang membujur di dalam peti mati inilah jenazah asli Siau-hun-niocu. pada

waktu masih hidup setiap lelaki pasti tergiur padanya, sesudah mati iapun sayang pada

wajahnya dan tidak membiarkannya membusuk.”

“Dan…dan kau? Mengapa … mengapa kau berada di situ?” tanya Pwe-giok.

Renjana Pendekar > Karya Khulung > Diceritakan oleh : GAN KL > buyankaba.com 249

“Ketika kudengar ada orang masuk kemari cepat ku bersembunyi di dalam peti mati itu. Ku

tahu ilmu silatmu tidak lemah, untuk apa ku buang tenaga percuma untuk bergebrak dengan

kau?”

“O, jadi obat bius itupun kau yang mengaturnya di sana?”

“Akupun dibawa masuk ke sini oleh luncuran kasuran batu itu, jadi ku tahu bilamana kasuran

batu itu terpantul balik ke sana, orang yang berada di atasnya pasti akan terjerembab ke

depan, maka lebih dulu ku taruh obat bius itu di sana. Untuk mematikan kau, buat apa aku

mesti turun tangan sendiri?”

Baru sekarang Pwe-giok paham duduk persoalannya, ucapannya dengan terputus-putus:

“Sejak kapan kau berubah menjadi… menjadi sekeji ini?”

“Orang keji di dunia ini terlalu banyak,” jawab Lim-Tay-ih. “Jika aku tidak keji, tentu aku

yang akan dibinasakan orang.”

“Tapi aku ini bakal suamimu, mana boleh kau….”

“Plok”, belum habis ucapan Pwe-giok, kontan Lim-Tay-ih menamparnya sambil membentak:

“Persetan kau! Bakal suamiku sudah lama mati, tapi kau berani kurang ajar padaku?”

Tamparan ini cukup keji dan keras, tapi Pwe-giok seperti tidak merasakan apa-apa, ia cuma

menatap si nona dengan matanya yang merah dan bergumam: “Kau tunanganku, kau….kau

bakal istriku!”

Lim-Tay-ih menjadi takut sendiri melihat sorot mata Pwe-giok yang beringas itu, katanya:

“Ap…. apa kehendakmu?”

Tersembul senyuman aneh pada ujung mulut Pwe-giok, dia masih terus bergumam: “Kau

bakal istriku! Kau inilah….” mendadak ia menubruk ke arah Tay-ih.

Tadinya ia gunakan tenaga dalamnya untuk mengekang bekerjanya obat perangsang, sebab

itulah dia masih dapat mempertahankan kejernihan pikirannya, tapi sekarang, obat perangsang

itu akhirnya meledak dan tidak tahan lagi.

Apalagi perempuan cantik di depannya ini adalah bakal isterinya, ia merasa tiada salahnya

kalau…

Keruan Lim tay-ih terkejut dan gusar pula tangannya kembali menggampar muka Pwe-giok

sambil membentak: “Kau gila! kau berani!”

Tapi Pwe-giok sama sekali tidak mengelak dan tetap membiarkan mukanya dihantam seperti

tanpa terasa, sebaliknya matanya semakin merah dan menakutkan dan terus menubruk maju.

Baru sekarang Lim Tay-ih ingat muka anak muda itu masih terbalut kain, segera ia ganti

menampar dengan satu pukulan tertuju ke dada Pwe-giok. Tak tersangka hantaman inipun

tetap tak dapat mencegah tindakan buas anak muda itu.

Renjana Pendekar > Karya Khulung > Diceritakan oleh : GAN KL > buyankaba.com 250

Kini obat perangsang itu sudah menyebar, seluruh tubuh Pwe-giok serasa mau meledak,

betapapun keras pukulan Lim Tay-ih bagi Pwe-giok rasanya seperti dipijat malah.

Keruan Tay-ih ketakutan, mendadak ia membalik tubuh terus lari.

Seperti orang gila Pwe-giok lantas mengejar.

Pemuda yang semula ramah tamah dan sopan santun ini sekarang sudah berubah seperti

seekor binatang buas.

Kim-yan-cu yang berada di luar juga terkesiap oleh apa yang terjadi di dalam itu, meski sia

tidak dapat melihat keadaan di dalam kamar batu itu, tapi dari suaranya ia dapat berteriak:

“He, Ji Pwe-giok, apa yang kau lakukan?”

Tapi di dalam hanya terdengar suara dua orang berlari, kejar mengejar, suara napas terengah

engah dan tiada jawaban.

Entah sebab apa, hati Kim-yan-cu serasa dibakar dan seakan akan meledak, mendadak ia

berteriak: “Ji Pwe-giok, mengapa kau tidak menghendaki diriku dan menginginkan dia?”

Terdengar Pwe-giok menjawab dengan napas tersengal-sengal: “Sebab di… dia adalah..”

“Kau sendiri sudah menyatakan suka padaku, betul tidak?” teriak Kim-yan-cu dengan suara

parau.

“Aku… aku memang… aku tidak…”

Lim-Tay-ih menjadi murka dan benci, teriaknya: “Kau orang gila, jika kau suka padanya,

mengapa tidak kau cari dia saja?”

“Tidak, aku suka padamu, kau… kau adalah isteriku!” seru Pwe-giok

“Kentut! Memangnya siapa isterimu?” damprat Lim-Tay-ih dengan gusar.

Dalam pada itu Kim-yan-cu telah menanti di luar.

Keadaan ini sangat ruwet, siapapun tidak dapat membayangkannya, siapapun sukar

menjelaskannya. Hubungan antara ketiga orang ini memang luar biasa, cinta dan benci

memangnya sukar dijernihkan, tapi pada saat dan keadaan yang paling serba sulit inilah ketiga

orang ini telah berkumpul di suatu tempat.

Apabila dipikir, sungguh di dunia ini tiada kejadian lain yang lebih gila, lebih aneh, lebih

mustahil dan tidak masuk diakal. Dan semua ini justeru ditimbulkan oleh seorang yang mati.

Jenazah cantik Siau-hun-niocu didalam peti mati tampaknya lagi tersenyum puas.

Kim-yan-cu sedang menangis, ia sendiri tidak tahu mengapa dirinya menangis, daripada

dikatakan dia berduka, kecewa, akan lebih baik kalau dikatakan dia merasa penasaran.

Renjana Pendekar > Karya Khulung > Diceritakan oleh : GAN KL > buyankaba.com 251

Sekonyong-konyong terdengar suara jeritan kaget Lim Tay-ih, jeritan ini laksana sebatang

jarum yang menusuk ulu hati Kim-yan-cu. Ia tahu akhirnya Lim Tay-ih telah berhasil

ditangkap oleh Ji Pwe-giok.

Habis itu lantas terdengar suara rontaan, suara caci maki, suara keluhan, suara napas yang

ngos-ngosan serta suara punggung dipukul, mendadak terdengar pula suara “bles” , habis itu

lantas tidak terdengar apa-apa lagi.

Keheningan ini membikin Kim-yan-cu jauh lebih tersiksa daripada suara apapun, ia ingin

menangis terlebih keras, tapi ingin menangispun tidak sanggup lagi.

Entah berapa lama ia termenung-menung di situ, mendadak terdengar suara kumandangnya

orang berjalan. Kim-yan-cu bergirang, pikirnya: “Nah, jangan-jangan Pwe-giok datang

menolong diriku?” Pada dasarnya Kim-yan-cu bukan perempuan yang berjiwa sempit, tapi

rasa benci itu tidak sampai berlarut-larut.

Tak terduga, suara orang berjalan itu ternyata bukan datang dari dalam melainkan

berkumandang dari luar gua.

Agaknya pada masa hidupnya Siau-hun-kiongcu sengaja ingin tahu setiap suara yang timbul

dari luar maupun dalam gua, maka dia telah mengatur alat penyalur suara sedemikian pekanya

sehingga suara yang lirihpun dapat terdengar.

“Giau-jiu-sam-long, kau memang tidak bernama kosong.” demikian terdengar suara seorang

perempuan berseru dengan tertawa genit. “Bilamana tidak ku ajak kau ke sini, mungkin

selama hidupku jangan harap akan dapat masuk ke sini.”

Suara perempuan ini terasa agak serak-serak bagus, tapi kedengaran manis dan memikat,

perempuan yang bicara ini seolah-olah setiap detik, senantiasa bergaya genit dan bersikap

manja.

Lalu suara seorang lelaki menanggapi dengan tertawa: “Dan tentunya kau tahu bukan aku

sengaja membual bahwa kecuali kedua saudaraku, mungkin terlalu sulit bagi orang lain untuk

masuk ke sini.”

“Hihi, lelaki pintar seperti kau ini pasti sangat disukai oleh anak perempuan,” demikian

perempuan tadi berkata pula dengan tertawa genit. “Anehnya mengapa sampai sekarang kau

belum lagi beristeri dan berumah-tangga.”

Lelaki yang disebut Giau-jiu-sam-long itu terbahak-bahak dan menjawab: “Masa perlu tanya

lagi, aku kan sedang menunggu jawabanmu?”

Begitulah sembari bersenda gurau kedua orang itu lantas main cubit dan colek segala.

Apabila Pwe-giok berada di sini, tentu segera dapat dikenali suara itu adalah suara Gin-hoanio

yang kabur dengan gusar meninggalkan Kim-hoa-nio dan Thi-hoa-nio.

Tapi Kim-yan-cu tidak tahu siapa kedua orang ini, dia cuma merasa mereka memuakkan,

celakanya dirinya sendiri justeru tak dapat berkutik, ingin menghindarpun tak bisa. Tentu saja

Renjana Pendekar > Karya Khulung > Diceritakan oleh : GAN KL > buyankaba.com 252

Kim-yan-cu sekilas dan kuatir, ia berharap semoga pintu batu di luar telah dirusak oleh si

kakek bercahaya perak, dengan demikian kedua orang ini tidak dapat masuk ke situ.

Didengarnya lelaki yang disebut Giau-jiu-sam-long itu mendadak bersuara kaget dan suara

tertawanya lantas berhenti, katanya: “He, dinding ini mengapa berlubang, juga alat rahasianya

hanya tertutup oleh pelat besi, apakah karena kuatir ada orang menerobos keluar dari dalam?”

Terdengar Gin-hoa-nio menanggapi dengan terkesiap: “Ya, mengapa di dalam bisa ada orang,

padahal rahasia tempat ini oleh ayahku hanya diberitahukan kepada kami bertiga kakak

beradik dan orang lain tidak ada yang tahu.”

“Tentu rahasia tempat ini sudah bocor.” ujar Giau-jiu-sam-long. “Tempat ini pasti sudah

pernah didatangi orang. Dan orang yang mampu datang ke sini pasti bukan kaum lemah,

kukira lebih baik kita…”

Dengan tertawa genit Gin-honio lantas memotong: “Biarpun yang datang ke sini bukan kaum

lemah, tapi sam-siauya kita dari Ji-ih tong masa takut padanya?”

“Mana ku takut padanya?” ujar Giau-jiu-sam-long dengan tertawa. “Siapapun tidak kutakuti,

aku cuma takut padamu, Apabila beberapa jurus kungfu tinggalan siau-hun-niocu itu berhasil

kau yakinkan, wah, aku bisa keok.”

Gin-hoa-nio tertawa cekakak-cekikik, jawabnya: “Bila Kungfu siau-hun-niocu berhasil

kuyakinkan, tujuanku kan juga untuk memuaskan kau?”

Ditengah suara tertawa kedua orang itu, “krek”, pintu sudah terbuka.

Seorang pemuda berbaju hijau pupus dan membawa cundrik terus melompat masuk,

gerakannya ternyata sangat gesit, tapi mukanya kelihatan pucat, hidungnya besar membetet,

pipinya kempot, bokongnya tepos, jelas potongan orang yang terlalu bekerja keras di waktu

malam.

Namun begitu, sorot matanya ternyata tajam ia memandang sekeliling ruangan, lalu terbelalak

ke arah Kim-yan-cu.

Kim-yan-cu juga melotot padanya, tapi tidak bersuara.

Mendadak Giau-jiu-sam-long tertawa, serunya: “He, lihatlah, di sini memang benar ada

orang, bahkan seorang nona jelita, tapi entah Hiat tonya ditutuk siapa ?”

Dengan bersorak gembira Gin-hoa-nio memburu maju, pakaiannya ternyata cukup sopan, tapi

kedua matanya sama sekali tidak kenal sopan, dia melirik genit dan berkata: “Ya, orang yang

menutuk Hiat tonya mengapa tidak kelihatan?” Giau-jiu-sam-long mendekati Kim-yan-cu,

dengan ujung kakinya dia menggelitik pinggang Kim-yan-cu dengan laku bangor. Keruan

Kim-yan-cu gemas setengah mati. Tapi apa daya, sama sekali ia tak dapat bergerak.

Dengan cengar cengir, Giau-jiu-sam-long lantas berkata: “Nona cilik, siapakah yang menutuk

Hiat-tomu? ai, orang ini keterlaluan, masa tidak kenal kasih sayang kepada nona jelita seperti

kau ini, Eh, katakan saja kepadaku dimana dia nanti kuhajar dia untuk melampiaskan

dendammu”

Renjana Pendekar > Karya Khulung > Diceritakan oleh : GAN KL > buyankaba.com 253

Gin-hoa-nio tertawa cekikikan, katanya: “adik yang baik, lekaslah kau beritahukan padanya,

Sam-siauya (tuan muda ke tiga) kita ini maha pencinta, terutama terhadap anak perempuan

yang cantik, bilamana ada anak perempuan cantik teraniaya, dia terlebih penasaran daripada

siapapun juga”

“Eh, ucapanmu ini kok terasa berbau cuka (maksudnya cemburu)?” seru Giam-jiu-sam-long

dengan tergelak. Gin-hoa-nio terus merangkul lehernya dan berkata: “Kalau aku tidak suka

padamu apakah mungkin bisa cemburu?”

Hampir saja Giam-jiu-sam-long jatuh kelenger oleh rayuan itu, ucapnya dengan tertawa:

“Sudah memiliki kau, masa ku perlu lagi mencari yang lain? Kedua pahamu….” Belum habis

ucapannya, sekonyong-konyong ia jatuh terkulai, sampai menjerit saja tidak sempat dan tahu

sudah putus napasnya, malahan wajahnya masih tersenyum simpul, cara bagaimana matinya

mungkin ia sendiripun tidak tahu.

Sebaliknya Gin-hoa-nio sama sekali tidak berkedip, ia pandang Kim-yan-cu, katanya dengan

tertawa: “Lelaki macam begini, bila melihat perempuan matanya lantas hijau, biarpun

matipun tidak perlu disayang. Tapi kalau bukan lantaran dirimu, sesungguhnya aku rada

merasa berat untuk membunuhnya.”

“Lantaran diriku?” Kim-yan-cu menegaskan dengan terbelalak.

“Ai, Cici yang baik, meski kau tidak kenal diriku, tapi sekali kulihat bajumu ini segera

kukenali kau,” ucap Gin-hoa-nio dengan suara lembut. “Bukankah kau ini pendekar wanita

Kim-yan-cu yang termasyhur di dunia Kangouw itu?”

“Dan siapa kau?” tanya Kim-yan-cu.

Gin-hoa-nio menghela napas, jawabnya dengan rawan: “Aku adalah seorang anak perempuan

yatim piatu yang sengsara…”

Kim-yan-cu bergelak tertawa dan menyela: “Kudengar kau bilang mempunyai saudara dan

berayah, mengapa sekarang kau katakan yatim piatu dan sengsara?”

Biji mata Gin-hoa-nio berputar, tampaknya air matanya akan menetes, katanya: “Meskipun

aku mempunyai ayah bunda dan saudara, tapi mereka… mereka sama benci padaku, akupun

sendiri tidak mampu membuat mereka suka padaku, akupun tidak berani bertindak keji dan

ganas seperti mereka,”

Hati Gin-hoa-nio rada lunak demi melihat mimik Kim-yan-cu yang memelas itu, namun dia

tetap berteriak: “Dan kau sendiri, caramu membunuh orang barusan ini apakah tidak terhitung

keji dan ganas?”

“O, tahukah betapa aku tersiksa olehnya hanya karena kuminta dia membawaku ke sini?”

tutur Gin hoa-nio dengan suara gemetar. “Apabila tidak kubunuh dia, selama hidupku pasti

akan selalu dianiaya olehnya.” Mendadak ia menjatuhkan diri ke pangkuan Kim-yan-cu dan

menangis, katanya dengan tersendat: “O, Cici yang baik, coba katakan, apakah ini salahku?”

Renjana Pendekar > Karya Khulung > Diceritakan oleh : GAN KL > buyankaba.com 254

Hati Kim-yan-cu tambah lunak lagi, ia menghela napas gegetun, katanya: “Ya, betul, kau

memang tidak dapat disalahkan. Ada sementara lelaki di dunia ini memang pantas kalau

dibunuh.”

Sesungguhnya Kim-yan-cu memang tidak dapat menemukan alasan berdusta si nona jelita ini,

sebab kalau orang bermaksud jahat padanya, bukankah sejak tadi sekali tabas saja sudah dapat

membinasakan dia?

Nyata ia tidak tahu betapa jelimetnya jalan pikiran Gin-hoa-nio, hakekatnya seumur hidupnya

jangan harap akan dapat menerkanya.

Walaupun sudah cukup pengalaman berkelana di dunia Kangouw, tapi kalau dibandingkan

Gin-hoa-nio, hakekatnya Kim-yan-cu seperti anak kecil berbanding orang tua.

Sekalipun Gin-hoa-nio telah menjualnya mungkin dia belum lagi mengetahui apa yang

terjadi.

Sementara itu Gin-hoa-nio telah membuka Hiat-to Kim-yan-cu, katanya dengan tertawa

manis: “Tak kuduga Cici akan memaklumi diriku secepat ini, sungguh aku tidak tahu cara

bagaimana harus berterima kasih padamu.”

“Kau telah menyelamatkan diriku, akulah yang harus berterima kasih padamu,” kata Kimyan-

cu.

Gin-hoa-nio menunduk, mendadak ia berkata pula: “Ada sesuatu pikiranku, entah mesti

kukatakan atau tidak?”

“Mengapa tidak kau katakan saja?”

“Aku hidup sengsara sendirian, entah, … entah Cici sudi menerima diriku sebagai adik atau

tidak?” ucap Gin-hoa-nio dengan rawan.

Kim-yan-cu melengak, serunya; “Kita.. kan baru saja kenal?”

Belum habis ucapannya, bercucuranlah air mata Gin-hoa-nio, katanya: “Kakak kandungku

saja tidak sudi mengakui diriku, orang lain lebih lagi, ai, sungguh aku ini terlalu bodoh, aku. .

.aku ….” sampai di sini, menangislah dia dengan sedihnya.

Tanpa terasa Kim-yan-cu merangkulnya, ucapnya dengan suara lembut: “O, adik yang baik,

siapa bilang aku tidak sudi mengakui kau sebagai adik? Cuma. . . . cuma kau harus

memberitahukan lebih dulu siapa namamu?”

“Ai, aku ini memang pikun.,.” seru Gin hoa-nio dengan tertawa cerah. “Cici yang baik,

terimalah hormat adikmu, Hoa Gin hong”

Habis berkata ia benar-benar memberi sembah hormat kepada Kim yan cu.

Cepat Kim yan cu membangunkannya, katanya dengan tertawa: “Aku Kim yan cu (walet

emas) dan kau Gin hong hong (burung Hong perak), tampaknya kita menjadi seperti kakak

adik sekandung.”

Renjana Pendekar > Karya Khulung > Diceritakan oleh : GAN KL > buyankaba.com 255

Padahal ia sendiri juga sebatang-kara, tidak punya sanak tidak punya kadang. Sekarang

mendadak mendapatkan seorang adik secantik ini, dengan sendirinya iapun sangat gembira.

Ia tidak tahu bahwa adik perempuannya ini sesungguhnya bukanlah burung Hong segala,

tetapi lebih tepat dikatakan “serigala betina” dan setiap saat dia bisa dicaploknya bulat-bulat.

Lantas untuk apakah sesungguhnya Gin hoa nio memikat Kim yan cu? mengapa dia sengaja

mengangkat saudara dengan Kim yan cu? apa maksud tujuannya?

Semua pertanyaan ini, kecuali Gin hoa nio sendiri mungkin tiada seorangpun yang dapat

menjawab.

*****

Gin hoa nio lantas mondar-mandir longak-longok di dalam ruangan ini, tampaknya sangat

gembira, sama sekali ia tidak tanya cara bagaimana Kim yan cu datang ke sini dan siapa yang

menutuknya.

Sebaliknya Kim yan cu sendiri tidak tahan, ia buka suara lebih dulu: “Meski benda mestika

berada di sini tidaklah sedikit, tapi harta pusaka Siau hun niocu yang sebenarnya justru

tersimpan di dalam sana.”

“Oooh di dalam sana masih ada kamar lain? ” tanya Gin hoa nio dengan mata terbelalak.

Padahal sejak tadi dia sudah memperhitungkan di dalam sana pasti masih ada ruangan lain,

kalau tidak, kemana perginya orang yang menutuk hiat-to Kim yan cu itu?

Dengan suara tertahan Kim yan cu lantas berkat: “Boleh kau ikut padaku, tapi harus hati-hati,

tak perduli bertemu dengan siapa dan mengalami kejadian apa, hendaklah kau jangan

bersuara, dapatkah kau turut kepada perkataanku?”

“Kalau adik tidak turut kepada perkataan kakak, habis mesti turut perkataan siapa?” jawab

Gin hoa nio dengan tertawa.

Kim yan cu tertawa, di panggulnya lagi tutup peti besi itu, dia mulai menyembah lagi.

Maklum ia merasa tidak mempunyai akal kecuali mengulangi resep semula.

Gin-hoa-nio hanya memandangi saja dengan diam, meski dalam hati merasa heran, tapi dia

tidak banyak omong. Dalam keadaan bagaimana harus bicara dan dalam keadaan bagaimana

kudu diam, baginya jauh lebih paham daripada orang lain.

Benar juga, kasuran batu itu meluncur masuk lagi ke balik dinding sana, sampai Gin-hoa-nio

juga terkejut menyaksikan kejadian tak terduga itu. Didengarnya Kim-yan-cu lagi menjerit

kaget berada di dalam sana.

Kiranya Ji Pwe-giok dan Lim Tay-ih sudah menghilang.

Pada detik sebelum dinding itu merapat kembali, secepat kilat Gin-hoa-nio ikut menyelinap

masuk ke sana, melihat harta pusaka yang berserakan di situ, kejut dan girang pula Gin-hoaRenjana

Pendekar > Karya Khulung > Diceritakan oleh : GAN KL > buyankaba.com 256

nio. Sebaliknya Kim-yan-cu berdiri ter-mangu2 dan ber-ulang2 bergumam, “Kemana

perginya mereka? Mengapa bisa menghilang?”

“Siapa yang hilang?” tanya Gin-hoa-nio.

Kim-yan-cu tidak menjawabnya, ia mengitari peti mati raksasa itu, mendadak dilihatnya lantai

di belakang peti itu bertambah sebuah lubang, dua botol obat di dalam almari batu juga

tertindih hancur lagi.

Meski dia tergolong anak perempuan yang polos dan masih ke-kanak2an, tidak paham liku2

dan kelicikan orang hidup, tapi hal ini ia tidak berarti dia orang bodoh. Setelah berpikir

sejenak, segera ia dapat menerka apa yang telah terjadi, yakni tentunya Ji Pwe-giok berhasil

menangkap Lim Tay-ih, keduanya terus bergumul dan Lim Tay-ih menindih pecah lagi dua

botol obat sehingga dia sendiri juga sempat menghisap obat perangsang cinta itu, lantaran

itulah dia tidak meronta dan tidak melawan lagi kehendak Ji Pwe-giok. Tapi ketika kedua

orang itu bergumul, tanpa sengaja telah menyentuh tombol pesawat rahasia sehingga timbul

sebuah lubang di bawah tanah, dalam keadaan pikiran me-layang2, tanpa sadar kedua orang

lantas terjeblos ke bawah.

Lubang di bawah tanah itu ternyata gelap gulita, entah berapa dalamnya dan entah tempat apa

di bawah sana.

Kim-yan-cu menjadi kuatir dan gelisah, mendadak ia berkata, “Kau tunggu di sini, biar ku

turun ke bawah untuk melihatnya.”

Gin-hoa-nio melirik sekejap botol obat dan kitab yang berada di dalam almari batu itu, lalu

berkata, “Hendaklah kau hati2, dengan susah payah aku mendapatkan seorang Cici, jangan

sampai…”

“Jangan kuatir,” potong Kim-yan-cu, “Cici takkan mati.”

Ia mencoba merangkak ke dalam lubang, diketahuinya lubang ini tidak lurus ke bawah

melainkan miring seperti tangga luncur. Tanpa pikir ia terus pejamkan mata dan membiarkan

tubuhnya meluncur ke bawah.

Ternyata di bawah lubang inilah benar2 ‘istana bahagia’ yang dimaksudkan dalam pesan Siauhun-

kiongcu itu.

Inilah sebuah gua batu yang luas, tampaknya gua alam dan tidak mengalami perubahan oleh

tangan manusia. Mutiara dan batu permata berserakan dan memancarkan cahaya sehingga

kelihatan dinding batu yang berbentuk aneh melebihi ukiran.

Di pojok sana ada sebuah tempat tidur yang indah dan di samping tempat tidur ada sebuah

meja kecil yang berbentuk aneh dan di atas meja ada sebuah piala emas dan bokor kemala.

Tempat dimana Kim-yan-cu jatuh itu adalah sebuah kolam yang besar, cuma sekarang kolam

itu kering tanpa air sehingga kelihatan berbagai ukiran di tepi kolam, ukiran yang

menggambarkan adegan main cinta yang merangsang.

Renjana Pendekar > Karya Khulung > Diceritakan oleh : GAN KL > buyankaba.com 257

Kini di gua ini sunyi senyap, tapi dapat dibayangkan dahulu tempat ini pasti selalu dalam

suasana gembira ria. Kini meski di tempat tidur itu tiada terdapat seorang pun, tapi dapat

diduga dahulu selalu berbaring sepasang muda-mudi yang gagah dan cantik. Isi bokor itu

pasti santapan yang paling lezat di dunia ini dan isi piala emas itu pasti juga arak yang paling

sedap.

Seorang kalau meluncur dari atas ke bawah dan terperosot ke kolam mandi itu serta melihat

“pemandangan indah” di sekitarnya, bukankah sama halnya terjatuh ke surga yang hangat dan

bahagia.

Akan tetapi disinipun Kim-yan-cu tetap tidak melihat Ji Pwe-giok dan Lim Tay-ih.

Ia coba mengitari ruangan gua ini, akhirnya ditemukan di balik batu dinding yang menonjol

sana samar2 seperti ada cahaya yang menembus masuk dari luar. Kiranya di sinilah jalan

keluarnya. Jelas Ji Pwe-giok dan Lim Tay-ih telah pergi.

Padahal Ji Pwe-giok sendiri yang menutuknya dan jelas dia masih terkurung di ruangan sana,

tapi sekarang pemuda itu tinggal pergi begitu saja tanpa menghiraukan dia. Seketika Kimyan-

cu berdiri terkesima dengan air mata bercucuran.

“Cici, kau baik2 bukan?” terdengar Gin-hoa-nio berseru di atas.

Dengan menahan kesedihannya, Kim-yan-cu berseru, “Semuanya baik2, boleh kau turun saja

kemari!”

Dia mengusap air matanya, ia bertekad melupakan apa yang terjadi di sini, apa yang

dialaminya ini biarkan seperti mimpi buruk saja dan takkan dipikir lagi, iapun tidak ingin

memikirkan Ji Pwe-giok pula.

Cuma sama sekali tak terpikir olehnya bahwa Lim Tay-ih pasti membenci Ji Pwe-giok sampai

merasuk tulang, mana bisa nona itu pergi bersama Ji Pwe-giok, cinta dan benci di antara

mereka yang sukar dijernihkan itu mana bisa terselesaikan semudah itu?

*****

Di luar gua sang surya yang baru terbit sedang memancarkan cahayanya yang gemilang,

bunga hutan yang tak diketahui namanya sedang mekar mewangi diembus oleh silir angin

pagi.

Gin-hoa-nio lagi sibuk mengusungi harta karun di dalam gua itu, satu peti demi satu peti

diangkutnya keluar.

Kim-yan-cu menghela nafas rawan, katanya, “Lihatlah butiran embun di kelopak bunga itu,

mana ada mutiara di dunia ini yang lebih indah dari-padanya?”

“Tapi mutiara dapat membuat hidup manusia merasa bahagia dan mendatangkan hormat dan

tunduknya orang lain, sedangkan butiran embun mana ada daya tarik sebesar itu?” ujar Ginhoa-

nio.

Renjana Pendekar > Karya Khulung > Diceritakan oleh : GAN KL > buyankaba.com 258

Kim-yan-cu menatap jauh ke langit, memandangi gumpalan awan, katanya pula, “Tapi kau

pun jangan lupa, di dunia inipun ada barang yang tak dapat ditukar dengan mutiara.”

Gin-hoa-nio tertawa, katanya, “Cici, jangan2 engkau menanggung sesuatu kedukaan?”

Kim-yan-cu menghela nafas dan tidak bicara lagi.

“Cici, kau tunggu sebentar di sini, segera ku balik lagi,” seru Gin-hoa-nio sambil berlari pergi.

Kim-yan-cu benar2 menunggunya dengan melamun di situ. Tidak sampai satu jam, Gin-hoanio

kelihatan kembali dengan membawa tiga buah kereta sewaan ditambah dua ekor kuda.

Ketiga sais kereta itu melotot heran membantu Gin-hoa-nio mengusung semua peti2 itu ke

atas kereta, tapi tiada satupun yang berani tanya. Asalkan lelaki, tentu Gin-hoa-nio punya akal

untuk membuatnya menurut.

Sebuah sungai mengalir ke bawah melingkari lereng bukit.

Kim-yan-cu menunggang kuda mengikuti laju kereta menyusur jalan di tepi sungai. Tidak

jauh tiba2 dilihatnya di permukaan sungai ada sepotong kain putih yang tersangkut di batu,

masih kelihatan bekas darahnya ketika Kim-yan-cu mengangkat kain itu dengan sepotong

kayu. Jelas itulah kain pembalut kepala Ji Pwe-giok.

Nyata anak muda itu pernah berhenti di tepi sungai ini untuk membuka kain pembalut dan

mencuci muka. Bisa jadi iapun bercermin pada air sungai untuk melihat wajah sendiri. Setelah

mengetahui muka sendiri yang sudah rusak itu, entah bagaimana perasaannya?

Lalu dimanakah saat itu Lim Tay-ih? Apakah dia hanya memandanginya di samping? Apakah

dia tidak benci lagi kepada anak muda itu dan telah mengakui dia adalah bakal suaminya?

Apakah Ji Pwe-giok ini sama orangnya dengan Ji Pwe-giok yang sudah mati itu?

Tapi Ji Pwe-giok yang itu bukankah jelas2 sudah mati? Banyak orang yang menyaksikan

jenazahnya, masa bisa palsu?

Dengan gemas Kim-yan-cu membuang kain putih itu dan melompat lagi ke atas kudanya,

diam2 ia menggerutu, “Aku sudah bertekad tidak mau memikirkannya lagi, kenapa sekarang

kupikirkan dia pula?”

Gin-hoa-nio seperti tidak melihat apapun, iapun tidak tanya Kim-yan-cu. Sebaliknya Kimyan-

cu juga tidak tanya dia kemana iringan kereta ini akan menuju?

Yang pasti iringan kereta itu dilarikan ke arah barat daya, agaknya menuju ke provinsi

Sujwan.

Banyak juga kawan orang Kangouw di sepanjang jalan ini, ada yang dari jauh sudah melihat

pakaian Kim-yan-cu yang kuning keemasan dan gemilapan, lalu cepat2 menghindar dengan

membelok ke jalan lain, kalau kepergok paling2 juga cuma menyapa dari jauh. Seharian

sedikitnya ada 40 orang yang kenal Kim-yan-cu, tapi tiada seorangpun yang berani mendekat

untuk mengajaknya bicara.

Renjana Pendekar > Karya Khulung > Diceritakan oleh : GAN KL > buyankaba.com 259

Terkadang Kim-yan-cu ingin bertanya kepada mereka apakah melihat seorang pemuda yang

mukanya terluka bersama seorang anak perempuan cantik. Tapi niat itu selalu urung

dikemukakan.

Dengan tertawa Gin-hoa-nio berkata, “Menempuh perjalanan bersama Cici sungguh sangat

senang, siapapun tak berani mengganggu kita. Coba kalau dua anak perempuan biasa

menempuh perjalanan sejauh ini bersama tiga buah kereta besar, mustahil kalau di tengah

jalan tidak banyak mendapat rintangan.”

Belum habis ucapannya, tiba2 dari belakang seorang penunggang kuda memburu datang

dengan cepat. Penunggang kudanya tampak berwajah cakap dan gagah dengan baju perlente,

sebilah golok pendek dengan gagang golok penuh berhias mutiara terselip di tali

pinggangnya. Ternyata Sin to Kongcu adanya.

Hanya memandangnya sekejap Kim-yan-cu lantas melengos ke arah lain seperti tidak kenal

saja. Sebaliknya Sin-to Kongcu tampak sangat senang melihat si nona, segera ia berucap

setengah mengomel, “Adik Yan, mengapa kau pergi tanpa pamit, susah payah kucari dirimu.”

“Siapa suruh kau cari diriku?” jawab Kim-yan-cu dengan muka bersungut.

Sin-to Kongcu melengak, katanya dengan tergagap. “Habis cari… cari siapa kalau aku tidak

mencari kau?”

“Peduli siapa yang akan kau cari,” jengek Kim-yan-cu. “Setiap orang di dunia ini boleh kau

cari, kenapa kau mencari diriku?” “Plak”, ia tepuk perut kudanya dan dilarikan jauh ke depan.

Sama sekali Sin-to Kongcu tidak menyangka sikap Kim-yan-cu padanya akan berubah 180

derajad, semula ia kegirangan setengah mati karena dapat menemukan kembali si nona, siapa

tahu kepalanya seperti diguyur air dingin, seketika ia menjadi melenggong.

Gin-hoa-nio mengerling genit dan mendekati Sin-to Kongcu, desisnya, “Hati Ciciku selama

dua hari ini lagi kesal, ada urusan apa boleh kau bicarakan nanti saja.”

“Cicimu?” Sin-to Kongcu menegas dengan terbelalak.

“Memangnya kenapa? Kau tidak suka mempunyai adik perempuan seperti diriku?” ucap Ginhoa-

nio dengan tertawa.

Baru sekarang Sin-to Kongcu memandangnya lebih seksama dan melihat jelas senyum

genitnya yang menggiurkan, melihat kerlingan matanya yang membetot sukma. Mendadak ia

terkesima dan tidak dapat bicara lagi.

Perlahan Gin-hoa-nio mencubit pinggang Sin-to Kongcu, katanya dengan tertawa genit, “Jika

kau ingin menjadi Cihuku (kakak iparku), maka perlu kau menyanjung diriku dan turut

kepada perkataanku.” Habis berkata ia terus membedal kudanya ke depan, mendadak ia

menoleh dan memicingkan matanya dan berseru: “Hayolah, mengapa tidak kau ikut kemari?”

Benar Sin to Kongcu lantas ikut ke sana dengan sangat penurut, rasa gusarnya tadi seketika

lenyap tanpa bekas.

Renjana Pendekar > Karya Khulung > Diceritakan oleh : GAN KL > buyankaba.com 260

Menjelang lohor sampailah mereka di Gak keh tin, suatu kota kecil, di sini mereka istirahat

dan makan siang.

Gin hoa nio memesan santapan dan arah, ditariknya Kim yan cu dan Sin to kongcu agar

berduduk bersama, diam-diam ia bisik-bisik ke sini dan kasak-kusuk kesana sambil tertawa

cekakak-cekikik.

Sin to kongcu yang pecinta itu seakan-akan melupakan Kim yan cu, kalau Gin hoa nio tertawa

iapun ikut tertawa, bila Gin hoa nio mengerling, sayuran yang disumpitnya hampir kesasar

masuk hidungnya.

Mendadak Gin hoa nio mencabut golok pendek di pinggang Sin to Kongcu, katanya dengan

tertawa: “Wah, memang engkau tidak malu bernama Sin to Kongcu, golokmu memang golok

pusaka.”

Sin to Kongcu menjadi senang, serunya dengan tertawa: “Kau tahu, berapa banyak golok dan

pedang kaum ahli kangouw yang patah oleh golok pusakaku ini?”

Seperti tidak sengaja Gin hoa nio memegang tangan Sin to Kongcu, ucapnya dengan lagak

manja: “Ai, kenapa tidak lekas kau katakan, ada berapa banyak seluruhnya?”

Gin hoa nio menatapnya lekat-lekat seperti tidak kepalang kagumnya dan sangat memujanya,

genggamannya tambah erat seolah-olah tidak mau melepaskannya, katanya dengan tersenyum

menggiurkan: “Didampingi orang seperti kau, sungguh apapun tidak perlu kutakuti lagi.”

Jantung Sin to Kongcu berdetak keras seakan-akan melompat keluar dari rongga dadanya,

sungguh ia menjadi bingung dan entah apa pula yang harus diucapkannya.

Meski Kim yan cu tidak mengacuhkan Sin to Kongcu, tapi melihat sikapnya yang linglung

dan lupa daratan itu, seketika ia naik darah. Maklumlah di dunia ini tiada anak perempuan

yang tidak cemburu bila melihat pemuda yang pernah tergila-gila padanya mendadak

menaruh perhatian kepada anak perempuan lain.

Soal dia sendiri suka atau tidak terhadap anak muda ini adalah urusan lain, tapi dia tidak tahan

bila lelaki ini membuat malu padanya. Akhirnya Kim-yan-cu berbangkit dan tinggal pergi

dengan gemas.

Mau tak mau Sin-to kongcu merasakan gelagat tidak baik, cepat ia meng-ada2, katanya

dengan tertawa, “eh, apakah kau masih ingat kepada Ji Pwe-giok itu ?”

Nama “Ji Pwe Giok” seolah-olah sebuah kaitan yang dapat seketika menyantol kaki Kim-yancu

dan membuatnya sukar melangkah lagi. Dia berhenti di ambang pintu, setelah detak

jantungnya agak mereda barulah dia berkata dengan dingin, “Bukankah Ji Pwe-giok itu sudah

mati ?”

“Sudah mati satu, sekarang muncul satu lagi!” kata Sin-to Kongcu.

Gemetar Kim-yan-cu, ia pegang cagak pintu dan sedapatnya berlagak tak acuh, namun

betapapun air mukanya sukar menutupi perasaannya. Ia pun tidak berani berpaling, iapun

Renjana Pendekar > Karya Khulung > Diceritakan oleh : GAN KL > buyankaba.com 261

tidak melihat betapa lebih hebat perubahan air muka Gin-hoa-nio ketika mendengar nama Ji

Pwe-giok.

Kim-yan-cu tidak bersuara, tapi Gin-hoa-nio lantas berteriak, “Jadi kau kenal kedua Ji Pwe

Giok itu ?”

“Kedua orang ini memang seluruhnya pernah kulihat, Hmmm, masa kukenal orang macam

begitu ?” jengek Sin-to Kongcu.

Gin-hoa-nio mengerling genit, ucapnya dengan tertawa, “Konon Ji Pwe-giok yang mati itu

adalah putera Bu-lim-bengcu sekarang, bukan saja mukanya tampan, perangainya juga halus,

entah Ji Pwe-giok yang hidup ini apakah bisa menandingi dia?!”

Muka Sin-to Kongcu menjadi merah padam saking genasnya, jengeknya “Hmm, kalau bicara

tentang rupa, memang tampang Ji Pwe-giok yang sudah mati itu tidak secakap yang masih

hidup ini. Tapi soal kehalusan perangai, kukira keduanya tidak banyak berbeda.”

Dia sengaja merendahkan Ji Pwe-giok yang sudah mati itu seolah-olah tidak laku sepeserpun.

Ia tidak tahu bahwa saat ini hati Kim-yan-cu seluruhnya sudah beralih kepada Ji Pwe-giok

yang hidup ini, lebih-lebih mimpipun tak terpikir olehnya bahwa kedua Ji Pwe-giok itu

sebenarnya adalah satu orang yang sama.

Gin Hoa-nio tertawa terkikik-kikik, katanya, “O, apakah Ji Pwe-giok yang ini juga pemuda

tampan ?”

Sin-to Kongcu melototi bayangan punggung Kim-yan-cu dan berteriak, “Ji Pwe-giok yang ini

memang tidak perlu malu diberi julukan pemuda tampan. meski entah oleh siapa mukanya

telah disayat, tapi toh masih tetap jauh lebih cakap daripada yang sudah mati itu.”

Ucapan Sin-to kongcu ini sebenarnya dimaksudkan untuk membikin dongkol Kim-yan-cu, tak

tersangka Gin-hoa-nio yang menjadi gregetan, saking khekinya sampai ia tidak dapat bersuara

dan tidak dapat tertawa pula.

Diam-diam Kim-yan-cu terkesiap dan juga senang, gumamnya: “Kiranya Ji Pwe-giok yang ini

bukan orang yang sama dengan Ji Pwe-giok yang itu, iapun bukan bakal suami Lim Tay-ih,

kiranya luka di mukanya tidak parah dan tidak menjadi buruk rupa.”

Sin-to Kongcu sangat mendongkol, teriaknya: “Kau bilang apa?”

Dengan tak acuh Kim-yan-cu menjawab: “Sebenarnya ada beberapa persoalan yang sukar

kupahami, terima kasih atas keteranganmu.”

“Aku…aku tidak paham maksudmu!?” kata Sin-to Kongcu.

“Lebih baik kau tidak paham,” ujar Kim-yan-cu.

“Eh, dimana kau melihat dia? sungguh kamipun ingin menemuinya,” tiba-tiba Gin-hoa-nio

bertanya dengan tertawa.

Renjana Pendekar > Karya Khulung > Diceritakan oleh : GAN KL > buyankaba.com 262

Sin-to kongcu menarik napas, jawabnya: “Kemarin malam kulihat dia satu kali, waktu itu aku

tidak tahu iapun bernama Ji Pwe-giok, aku tidak memperhatikan dia, tapi kukenal anak

perempuan yang bersama dia itu.”

Mata Gin-hoa-nio terbelalak, ia menegas: “Hanya seorang anak perempuan yang bersama

dia?”

“Memangnya satu tidak cukup?” jengek Sin-to Kongcu.

“Budak hina, sampai kakak sendiri juga disingkirkan dan mengangkanginya sendiri,” ucap

Gin-hoa-nio dengan gemas. Sudah tentu menurut keyakinannya anak perempuan yang

mendampingi Ji Pwe-giok itu pasti Thi-hoa-nio adanya.

Tak terduga Sin-to Kongcu lantas berkata pula dengan tertawa: “Sungguh lucu kalau

kuceritakan, perempuan itu sebenarnya adalah bakal isteri Ji Pwe-giok yang sudah mati itu,

setelah Ji Pwe-giok mati, baru sebentar saja ia sudah kecantol oleh Ji Pwe-giok yang baru

ini…”

“Siapakah perempuan yang kau maksudkan itu?” sela Gin-hoa-nio dengan melengak.

“Dengan sendirinya puteri Leng-hoa kiam yang bernama Lim Tay-ih itu, memangnya kau kira

siapa?” jawab Sin-to Kongcu.

Mendadak Gin-hoa-nio bergelak tertawa, serunya: “Ha..ha..ha…, bagus, bagus! Kiranya dia

telah berganti pacar dan juga she Lim. Wah, agaknya orang ini memang seorang maha

pecinta, di mana-mana ada pacar!”

Teringat Thi-hoa-nio juga telah didepak oleh Ji Pwe-giok, gembira sekali tertawanya.

Jilid 11________

Sudah tentu Sin-to Kongcu tidak tahu sebab apa Gin-hoa-nio bergembira dan merasa geli,

yang dirasakan cuma gaya tertawa Gin-hoa-nio yang menggiurkan itu, ia memandangnya

dengan kesima, sampai sekian lamanya barulah ia berkata pula:

“Waktu itu, demi melihat Lim Tay-ih tidak berkabung, sebaliknya malah sudah bergaul

dengan lelaki lain, sungguh hatiku sangat gemas. Kupikir perempuan ini ternyata seorang

munafik, lahirnya kelihatan dingin dan kereng, se-olah2 puteri suci yang tak boleh diganggu,

nyatanya cuma seorang perempuan yang tidak teguh imannya dan berharga murah.”

Gin-hoa-nio tertawa ter-kikik2, katanya kemudian, “Berada bersama seorang lelaki kan tidak

berarti perempuan itu suka jual murah. Saat ini bukankah akupun berada bersamamu?”

Hampir semaput Sin-to Kongcu oleh lirikan Gin-hoa-nio yang memikat itu, segera ia

bermaksud lagi meraba tangannya, ucapnya dengan menyengir, “Sudah tentu aku dan kau

bukan…”

“Kemudian bagaimana?” mendadak Kim-yan-cu berteriak. “Mengapa tidak kau sambung?”

Renjana Pendekar > Karya Khulung > Diceritakan oleh : GAN KL > buyankaba.com 263

Sin-to Kongcu berdehem perlahan dan menegakkan tubuhnya, tuturnya, “Kemudian kami

mondok di suatu hotel, kulihat mereka tinggal bersama di satu kamar.”

“Hm, jadi kau selalu membuntuti mereka?” jengek Kim-yan-cu.

“Apa maksudmu selalu membuntuti orang?” tanya Gin-hoa-nio dengan ter-kekeh2.

“Barangkali kau ingin mengintip… mengintip… atau kau sendiri juga ingin ambil bagian?”

Muka Sin-to menjadi merah, serunya, “Masa aku ini orang macam begitu? Soalnya di sana

hanya ada sebuah hotel, terpaksa akupun masuk hotel itu supaya tidak tidur di jalanan.”

Gin-hoa-nio tertawa, katanya, “Jangan kau marah. Padahal lelaki mana yang tidak mata

keranjang. Bilamana lelaki melihat seorang perempuan yang jual murah, kalau dia tidak ikut

mencicipi, maka akan dirasakan rugi besar. Kukira lelaki umumnya sama saja, siapa tahu

kau… kau ternyata lain daripada lelaki lain.”

Andaikata Sin-to Kongcu memang rada dongkol, setelah mendengar kata2 ini, lenyap juga

rasa marahnya.

Biji mata Gin-hoa-nio berputar, dengan tertawa genit ia berkata pula, “Eh, tapi pada

malamnya kau mengintip juga bukan?”

Cepat Sin-to Kongcu menjawab, “Hah, masa ku intip orang macam begitu? Soalnya kamarku

berada di sebelah mereka, sampai tengah malam kudengar mereka ribut mulut di kamarnya.”

Baru sekarang Kim-yan-cu tidak tahan dan bertanya, “Sebab apa mereka bertengkar?”

“Waktu kulihat mereka tampaknya Lim Tay-ih sedang sakit, sampai berjalan saja tidak kuat,”

tutur Sin-to Kongcu. “Ji Pwe-giok itu memayangnya dengan penuh kasih mesra, jika aku jadi

dia tentu kikuk dilihat orang banyak. Bila aku tidak tahu seluk beluk mereka, mungkin akan

menyangka mereka itu suami isteri. Ketika kudengar suara pertengkaran mereka, aku menjadi

terheran-heran.”

“Hihi… makanya kau tidak tahan dan ingin melihatnya,” tukas Gin-hoa-nio dengan tertawa

ngikik.

“Tapi aku tidak mengintip,” ujar Sin-to Kongcu. “Baru saja ku keluar kamar dan sampai di

halaman, mendadak Lim Tay-ih itu membuka pintu dan menerjang keluar dengan pedang

terhunus.”

“Wah, aneh juga nona Lim itu,” ujar Gin-hoa-nio dengan tertawa. “Baru sembuh sakitnya

lantas mau membunuh orang. Apakah Ji-kongcu yang telah merawatnya itu dianggap salah?”

“Menurut pengamatanku, tentu Ji Pwe-giok itu telah menggagahi orang pada waktu orang

sedang sakit, makanya begitu menerjang keluar segera Lim Tay-ih itu berteriak, “Hayo

keluar, Ji Pwe-giok, hari ini kalau bukan kau yang mampus, biarlah aku yang mati!” Pada saat

itulah baru ku tahu bocah itu bernama Ji Pwe-giok.”

Gin-hoa-nio melirik Kim-yan-cu sekejap, katanya dengan tertawa, “Jika demikian, Lim Tayih

itu se-olah2 benar-benar telah dimakan oleh Ji Pwe-giok itu, makanya dia menjadi dendam

Renjana Pendekar > Karya Khulung > Diceritakan oleh : GAN KL > buyankaba.com 264

dan ingin mengadu jiwa dengan dia. Bagaimana Cici, menurut kau apakah memang begitu

kepribadian Ji-kongcu?”

Sudah tentu Kim-yan-cu tahu apa alasan Lim Tay-ih ingin membunuh Ji Pwe-giok, tapi hal

ini mana boleh diceritakan nya kepada orang lain. Bila teringat kepada apa yang terjadi di

tempat Siau-hun-kongcu itu, Kim-yan-cu sendiri merasakan pahit, getir, manis dan kecut

bercampur aduk dan sukar menyatakan bagaimana rasanya.

Terpaksa ia menjawab dengan dingin, “Dengarkan saja ceritanya, kenapa kau tanya padaku?”

Gin-hoa-nio melelet lidah dan tidak bersuara pula.

Sin-to Kongcu lantas menyambung ceritanya, “Mungkin Ji Pwe-giok itu merasa malu, dia

sembunyi di dalam kamar dan tak berani keluar. Sampai lama Lim Tay-ih mencaci maki di

luar, mendadak ia menerjang masuk lagi ke kamar.”

“Masa Ji Pwe-giok belum lagi pergi?” tanya Kim-yan-cu.

“Ji Pwe-giok seolah-olah terkesima, ia duduk di kursinya dengan termangu-mangu,” tutur Sinto

Kongcu. “Sementara itu tamu hotel menjadi kaget dan be-ramai-ramai merubung datang

untuk menonton, ada yang menyangka suami isteri sedang bertengkar dan ingin melerai, tapi

baru masuk segera orang itu di depak keluar oleh Lim Tay-ih, keruan yang lain-lain menjadi

ketakutan dan tidak berani mendekat.”

“Galak benar nona Lim itu,” ujar Gin-hoa-nio dengan tertawa.

“Setelah menerjang ke dalam kamar, Ji Pwe-giok didamperatnya habis-habisan,” tutur Sin-to

Kongcu lebih lanjut. “Hakikatnya Ji Pwe-giok dimaki se-olah2 manusia yang paling tidak

kenal malu di dunia ini. Tapi Ji Pwe-giok masih tetap duduk mematung dan tidak

menanggapi.”

“Kata peribahasa, bertepuk sebelah tangan takkan berbunyi, kalau orang tidak menjawabnya,

betapapun galaknya nona Lim itu terpaksa tak dapat berbuat apa-apa lagi,” ujar Gin-hoa-nio.

“Ya, tadinya akupun anggap begitu,” kata Sin-to Kongcu. “Siapa tahu Lim Tay-ih itu seperti

sudah gila, mendadak pedangnya menusuk…”

“Dan dia tidak membalas?” betapapun Kim-yan-cu menjadi kuatir dan bertanya.

Sin-to Kongcu melototinya sekejap, lalu menjawab dengan perlahan, “Bukan saja dia tidak

membalas, bahkan berkelit saja tidak. Ketika pedang Lim Tay-ih mengenai badannya,

hakekatnya dia tidak bergerak sama sekali.”

“Parah tidak lukanya?” tanya Kim-yan-cu.

“Tampaknya Lim Tay-ih tidak ingin sekali tusuk membinasakan dia,” jawab Sin-to Kongcu

dengan dingin, “sebab itulah tusukannya itu diarahkan ke bahunya, tusukan yang kedua juga

cuma melukai dadanya…”

“Dia tega menusuk lagi?!” seru Kim-yan-cu.

Renjana Pendekar > Karya Khulung > Diceritakan oleh : GAN KL > buyankaba.com 265

“Tidak cuma menusuk lagi, bahkan sembari memaki dan menangis, pedangnya juga tidak

pernah berhenti,” jengek Sin-to Kongcu.

Hampir menangis Kim-yan-cu, katanya dengan tersendat, “Masa tidak ada orang yang

mencegahnya?”

“Tadi kan sudah ada yang di depak keluar, siapa lagi yang berani melerainya?” ujar Sin-to

Kongcu.

“Dan kau? Kenapa tidak kau cegah dia? Apakah kaupun takut kepada ilmu silatnya?” tanya

Kim-yan-cu.

Sin-to Kongcu menunduk, katanya, “Sebenarnya akupun ingin menariknya, tapi begitu

mendengar orang itupun bernama Ji Pwe-giok, entah mengapa, aku menjadi… menjadi marah

bila mendengar nama Ji Pwe-giok.”

“Jadi… jadi kau saksikan dia dibunuh orang di depanmu?” tanya Kim-yan-cu pula dengan

suara gemetar.

“O, kaupun kenal dia?” tanya Sin-to Kongcu dengan terbelalak. “Mengapa begini besar

perhatianmu kepadanya?”

“Kukenal dia atau tidak, kuperhatikan dia atau tidak, semua ini ada sangkut paut apa

denganmu?” teriak Kim-yan-cu.

Mata Sin-to Kongcu menjadi merah, ia angkat cawan arak, tapi tangannya terasa gemetar

hingga arak berceceran membasahi bajunya. “Tapi Ji Pwe-giok itu apakah betul telah dibunuh

oleh Lim Tay-ih?” timbrung Gin-hoa-nio dengan tertawa genit.

“Sudah tentu, masakah perlu dijelaskan lagi,” kata Sin-to Kongcu dengan dingin sambil tetap

menatap Kim-yan-cu.

Se-konyong2 Kim-yan-cu berbangkit, teriaknya dengan parau, “Dan kau… kau ti…”

Sin-to Kongcu juga berdiri dan meraung, “Ji Pwe-giok sendiri tidak menghiraukan dirinya

diserang, jelas ia sendiri rela mati di tangan Lim Tay-ih. Kalau dia sendiri sukarela, mengapa

aku mesti ikut campur urusannya?!”

Dengan sinar mata buram Kim-yan-cu menatap Sin-to Kongcu, selangkah demi selangkah ia

menyurut mundur ke pintu, akhirnya air mata menetes, mendadak ia membalik tubuh terus

berlari pergi dengan mendekap mukanya.

Lama juga Gin-hoa-nio melenggong, lalu ia tertawa ter-kekeh2, katanya, “Hehe, akhirnya Ji

Pwe-giok mati juga, bahkan mati di tangan orang perempuan… jika Losam (si ketiga,

maksudnya Thi-hoa-nio) mendengar berita ini, kuyakin air mukanya pasti sangat lucu.”

Waktu ia berpaling, dilihatnya Sin-to Kongcu berdiri kaku seperti patung, air mukanya

sebentar hijau sebentar putih, mendadak “prak”, cawan arak yang dipegangnya telah hancur

diremasnya.

Renjana Pendekar > Karya Khulung > Diceritakan oleh : GAN KL > buyankaba.com 266

*****

Kim-yan-cu berlari kembali ke kamarnya dan menjatuhkan diri di ranjang, kepala ditutupnya

dengan selimut lalu menangis ter-gerung2. Ia sendiripun tidak menduga dirinya bisa begini

berduka.

Entah sudah berapa lama ia menangis, ia merasa sebuah tangan meraba bahunya dengan

perlahan, ia membuka selimut, dilihatnya Gin-hoa-nio berduduk di tepi ranjang dan lagi

berkata dengan suara lembut, “Orang mati tak dapat hidup kembali, untuk apa Toaci

sedemikian berduka?”

Melihat dia Kim-yan-cu merasa seperti bertemu dengan orang yang paling karib di dunia ini,

ia menubruk ke pangkuan Gin-hoa-nio dan menangis lagi sekian lamanya, habis itu barulah ia

berkata dengan tersendat, “Akupun tidak tahu mengapa aku begini berduka, padahal aku cuma

berada bersama dia satu hari saja, bahkan bagaimana bentuknya sesungguhnya akupun tidak

jelas.”

“Hah? Kau hanya berkumpul satu hari dengan dia? Hanya satu hari?” Gin-hoa-nio menegas

dengan tercengang.

“Ya, meski cuma satu hari, tapi apa yang terjadi selama sehari itu sudah cukup kukenangkan

untuk selama hidup,” kata Kim-yan-cu.

Gemerdep sinar mata Gin-hoa-nio, tanyanya pula dengan perlahan, “Dia sangat baik

padamu?!”

“Ya”.

“Tapi Sin-to Kongcu itu kan juga sangat baik padamu?”

“Itu tidak sama,” ujar Kim-yan-cu. “Dia baik padaku lantaran ia ingin memiliki diriku, tapi

Ji… Ji Kongcu itu, dia selalu memikirkan kepentinganku, bahkan tidak sayang mengorbankan

dirinya sendiri demi diriku.”

“Kukira dia bukan manusia sebaik itu…”

“Kau tahu,” mendadak Kim-yan-cu mengangkat kepalanya dan berkata dengan suara agak

gemetar, “Sebenarnya dia dapat mendapatkan segalanya dari diriku, aku… aku sudah rela

menyerahkan segalanya kepadanya, tapi dia… dia tidak mau membikin susah padaku…”

Tergetar tubuh Gin-hoa-nio, serunya, “Jadi dia telah menolak dirimu, bisa jadi lantaran dia

memandang rendah dirimu!”

“Tidak, sama sekali bukan begitu,” kata Kim-yan-cu. “Kau tidak tahu…”

“Mengapa aku tidak tahu,” jengek Gin-hoa-nio. “Sudah lama ku tahu dia bukan manusia yang

tahu kebajikan, sepantasnya kau benci padanya, mengapa kau malah berduka baginya?”

Renjana Pendekar > Karya Khulung > Diceritakan oleh : GAN KL > buyankaba.com 267

Kim-yan-cu menghela nafas, jawabnya, “Sebenarnya akupun rada benci padanya, tapi

sekarang… sekarang aku dapat memahami maksudnya, rupanya dia kuatir kebahagiaan

hidupku menjadi korban, maka dia lebih suka membikin kubenci padanya dan tidak mau

membikin susah padaku. Tiada lain melulu ini saja selama… selama hidupku takkan

kulupakan dia.”

Gin-hoa-nio melengak, tapi dia lantas mendengus pula, “Tapi kalau aku sudah ditolak oleh

seorang lelaki, maka aku akan membencinya selama hidup.”

Mendadak pintu berkeriut dan terbuka, dengan kaku Sin-to Kongcu berdiri di depan pintu,

wajahnya kelihatan pucat seperti mayat.

Kim-yan-cu menjadi gusar, dampratnya, “Siapa suruh kau kemari? Keluar, lekas keluar!”

Sin-to Kongcu tetap berdiri kesima di situ, mendadak ia menghela nafas panjang, katanya,

“Janganlah kau berduka, Ji Pwe-giok itu tidaklah mati!”

Tercengang Kim-yan-cu, tanyanya, “Habis tadi mengapa… mengapa kau…”

Sin-to Kongcu menunduk, jawabnya, “Tadi aku sengaja membikin marah padamu, tapi… tapi

sekarang, setelah melihat kau sedemikian berduka, aku… aku tidak sampai hati berdusta lebih

jauh.”

Kim-yan-cu menatapnya dengan terkesima, seketika ia menjadi tak sanggup bicara.

“Jika tiada orang menolongnya, bisa jadi Lim Tay-ih benar2 akan membunuhnya,” tutur Sinto

Kongcu lebih lanjut. “Pada saat itulah mendadak seorang melayang masuk dan

menghadang di depan Lim Tay-ih.”

“Siapa dia?” tanya Kim-yan-cu cepat.

“Ang-lian hoa!” jawab Sin-to Kongcu.

“Ji Pwe-giok itupun kenal Ang-lian hoa?” seru Kim-yan-cu.

“Meski Ang-lian hoa telah menyelamatkan dia, tapi Ang-lian hoa juga tidak kenal dia,

tampaknya malahan rada jemu terhadap orang she Ji itu, cuma dia merasa kesalahan orang

tidak perlu dihukum mati, maka dia merintangi Lim Tay-ih.”

“Darimana kau tahu?” tanya Kim-yan-cu.

“Tatkala mana sekujur badan Ji Pwe-giok sudah mandi darah, siapapun dapat melihat lukanya

cukup parah, tapi Ang-lian hoa sama sekali tidak memandangnya, sebaliknya malah

membujuk dan menghibur Lim Tay-ih, seolah-olah yang terluka bukanlah Ji Pwe-giok

melainkan Lim Tay-ih. Ji Pwe-giok itupun memandangi mereka dengan termangu-mangu

tanpa bicara.”

“Kemudian?” tanya Kim-yan-cu.

Renjana Pendekar > Karya Khulung > Diceritakan oleh : GAN KL > buyankaba.com 268

“Kemudian Ang-lian hoa lantas membawa pergi Lim Tay-ih tanpa memperdulikan orang she

Ji itu,” tutur Sin-to Kongcu. “Coba pikir, jika dia sahabat Ji Pwe-giok itu atau dia bersimpatik

padanya, paling tidak ia pasti akan memeriksa lukanya.”

Sampai di sini barulah Gin-hoa-nio menghela nafas, katanya, “Jika begitu, untuk apa pula

Ang-lian hoa menolongnya. Ang-lian hoa benar2 tidak malu sebagai seorang yang sok ikut

campur urusan tetek bengek. Tapi tidak lambat tidak cepat, justeru pada saat itulah dia

muncul. Jangan-jangan iapun senantiasa menguntit dan mengawasi gerak-gerik mereka?”

“Tapi baru saja Ang-lian hoa dan Lim Tay-ih berangkat, segera ada seorang perempuan

melayang masuk lagi dan memandangi Ji Pwe-giok dengan tertawa,” tutur Sin-to Kongcu

pula. “Perempuan itu lantas berkata: “Sebelumnya memang ku tahu ada orang akan menolong

kau, maka sebegitu jauh aku tidak turun tangan…” Coba pikir, kalau dia tidak menguntit

mereka, mana bisa dia bicara begitu?”

“Hm, tampaknya banyak juga pacar Ji Pwe-giok, yang satu menemani dia tidur di hotel, ada

lagi yang diam2 menunggu kesempatan baik untuk menolongnya,” jengek Gin-hoa-nio.

“Tapi demi melihat perempuan itu, Ji Pwe-giok seperti melihat setan saja, tanpa

menghiraukan lukanya yang cukup parah itu, dia melompat bangun terus kabur,” tutur Sin-to

Kongcu. “Hebat juga ginkangnya, biarpun dalam keadaan terluka, perempuan itu belum tentu

dapat menyusulnya.”

Gin-hoa-nio berkerut kening, tanyanya, “Siapa pula perempuan itu? Bagaimana bentuknya?”

“Perempuan itu berbaju putih mulus, tampaknya juga tergolong perempuan cantik, ilmu

silatnya juga tergolong kelas tinggi, tapi aku tidak tahu di Kangouw ada seorang tokoh

semacam dia, bisa jadi baru saja muncul,” tutur Sin-to Kongcu pula dengan wajah pucat dan

agak linglung, orang bertanya diapun menjawab, sampai di sini mendadak ia menatap lagi

Kim-yan-cu, katanya dengan perlahan, “Sekarang apa yang kulihat sudah kuceritakan

seluruhnya, meski di balik urusan ini pasti masih ada hal2 lain yang ter-belit2, tapi aku tidak

tahu lagi, akupun tidak tahu kemana perginya Ji Pwe-giok itu.”

Dengan nada yang agak terangsang kemudian dia menyambung pula, “Tapi kelak bila kulihat

dia pasti akan kusuruh dia mencari dirimu, ku tahu isi hatimu, apapun sikapmu terhadapku

tidak menjadi soal, paling tidak aku sendiri tidak… tidak berbuat salah padamu!”

Habis berkata segera ia membalik badan dan melangkah pergi. Padahal biasanya dia se-akan2

lengket terhadap Kim-yan-cu, tapi kepergiannya ini ternyata cukup ikhlas.

“Orang ini meski terkadang terasa menjemukan, tak tersangka cukup keras juga kepalanya,”

ujar Gin-hoa-nio dengan tertawa.

Kim-yan-cu ter-mangu2 sejenak, katanya kemudian dengan menyesal, “Dia memang tidak

bersalah padaku, tapi aku merasa tidak enak padanya.”

“Tadi aku cuma berpikir bicara dengan Cici dan tidak menyangka dia akan mencuri dengar di

luar pintu,” kata Gin-hoa-nio. “Jika dia tidak mendengar perkataan Cici tadi, tentu dia takkan

pergi seperti sekarang ini.”

Renjana Pendekar > Karya Khulung > Diceritakan oleh : GAN KL > buyankaba.com 269

“Sebabnya dia selalu melengket pada diriku adalah karena dia mengira aku pasti jauh lebih

dingin terhadap orang lain daripada sikap dinginku terhadap dia. Sekarang setelah dia tahu

hatiku sudah terisi orang lain, barulah dia ikhlas melepaskan diriku. Dengan demikian akupun

tidak perlu repot lagi menghadapi dia.”

“Tapi mengapa Toaci membikin dia putus asa? Jika dia selalu masih berharap akan memiliki

Toaci, tentu dia akan senantiasa mengintil di belakang kita, jika kau suruh dia ke timur, tidak

nanti dia berani ke barat. Dengan demikian bukankah akan sangat menyenangkan. Apalagi

anak perempuan seperti kita yang suka berkelana di Kangouw justeru memerlukan pesuruh

semacam dia.”

Sama sekali Kim-yan-cu tidak pernah membayangkan jalan pikiran yang bukan2 seperti apa

yang dikatakan Gin-hoa-nio ini, karena pikiran sendiri sedang kusut, maka iapun tidak

menanggapinya. Ia cuma menghela nafas dan berkata, “Aku sangat lelah dan ingin istirahat,

harap kau keluar saja.”

Namun Gin-hoa-nio masih tetap duduk saja, ia malah berkata lagi dengan mata terbelalak,

“Toaci, menurut kau, sebab apakah nona Lim itu ingin membunuh Ji-kongcu?”

Kim-yan-cu membalik tubuh, memejamkan mata dan tidak menggubrisnya lagi.

“Menurut pendapatku, belum tentu nona Lim itu hendak membunuh Ji-kongcu,” kata Ginhoa-

nio pula. “Dalam hal ini ada dua titik yang mencurigakan, masa Toaci tidak dapat

membayangkannya?”

Mesti tidak mau menggubrisnya, tak tahan juga Kim-yan-cu mendengar ucapan tersebut,

segera ia bertanya, “Hal apa yang mencurigakan?”

Gin-hoa-nio tertawa, katanya, “Melihat sikap Ji-kongcu terhadap nona Lim itu, pasti dia tidak

berprasangka jelek apapun terhadap nona itu, bahkan tidak cuma satu hari saja mereka berada

bersama.”

“Ini kan juga tidak perlu diherankan”

“Jika begitu, kesempatan bagi nona Lim untuk membunuh Ji-kongcu tentunya sangat banyak,

mengapa dia sengaja menunggu sampai malam itu, di tempat yang banyak orang dan sengaja

ribut2 sehingga ditonton orang?”

“Bisa jadi dia tidak sengaja mengagetkan orang, mungkin dia tidak sabar lagi dan akhirnya

ribut,” ujar Kim-yan-cu setelah berpikir sejenak.

“Seorang perempuan kalau sudah benci kepada seorang lelaki, bahkan ingin membunuhnya,

maka dia pasti takkan ribut dengan dia secara terbuka, jika sampai ribut2 begitu, tentu dia

tidak bermaksud membunuhnya… Toaci, engkau juga perempuan, kau bilang uraianku ini

masuk di akal atau tidak?”

Setelah termenung sejenak, akhirnya Kim-yan-cu mengangguk, “Ya, betul juga.”

“Selain itu, jika benar nona Lim itu ingin membunuh Ji-Kongcu, di depan orang banyak

kenapa tidak sekali tusuk dibinasakannya?”

Renjana Pendekar > Karya Khulung > Diceritakan oleh : GAN KL > buyankaba.com 270

“Mungkin dia ingin menyiksanya secara perlahan.”

“Menurut pendapatku, hati nona Lim itu pasti tidak sekeji itu, apalagi seumpama benar ia

maksud menyiksanya secara perlahan, tentu serangannya juga tidak seringan itu.”

“Darimana kau tahu serangannya ringan atau berat?”

“Jika serangannya cukup berat, masakah kemudian Ji-kongcu mampu kabur dengan

menggunakan ginkangnya?”

Kim-yan-cu termenung, tanyanya kemudian, “Habis kalau menurut kau, sesungguhnya

permainan apakah itu?”

“Menurut pendapatku, apa yang dilakukan nona Lim itu hanya sekedar dilihat orang lain

saja.”

“Mengapa dia berbuat begitu agar dilihat orang lain?”

“Apa sebabnya akupun tidak tahu, bisa jadi Toaci tahu…”

“Aku cuma tahu dia memang sangat benci kepada Ji Pwe-giok dan memang ada alasannya

untuk membunuhnya. Di dunia ini jika ada seorang yang benar2 ingin membunuh Ji Pwegiok,

maka orang itu ialah Lim Tay-ih.”

Walaupun di mulut dia bicara penuh keyakinan, tapi dalam hati lamat2 juga merasakan di

balik urusan ini pasti masih ada persoalan lain yang tersembunyi. Tapi tak terpikir olehnya

bahwa urusan ini sesungguhnya memang sangat ruwet, sangat pelik, berpuluh kali lebih ruwet

dan pelik daripada apa yang pernah dibayangkannya.

*****

Kereta mereka beristirahat sehari penuh di kota kecil ini, esok paginya, belum lagi terang

tanah Gin-hoa-nio sudah bangun untuk mendesak kusir kereta agar mengatur segala sesuatu

yang perlu untuk segera berangkat.

Kim-yan-cu semalaman tak dapat tidur, baru saja ia terpulas sudah dikejutkan lagi oleh suara2

di halaman, terpaksa ia bangun dan membuka pintu kamar, tanyanya kepada Gin-hoa-nio

dengan dahi berkerut, “Pagi2 begini sudah mau berangkat?”

Gin-hoa-nio menyongsongnya, katanya dengan mengiring tawa, “Sudah ku pesan mereka agar

jangan mengejutkan Toaci hingga terjaga, dasar orang kasar, sukar diatur.”

“Sekalipun mereka tidak mengejutkan tidurku, toh kau juga akan membangunkan aku,” ujar

Kim-yan-cu hambar.

Karena isi hatinya tepat dibongkar, muka Gin-hoa-nio menjadi merah, baru sekarang ia tahu

meski Kim-yan-cu tampaknya serba gampangan, tapi juga tidak sederhana seperti apa yang

disangkanya.

Renjana Pendekar > Karya Khulung > Diceritakan oleh : GAN KL > buyankaba.com 271

Kim-yan-cu balik ke dalam kamar, katanya pula, “Kau ter-gesa2 hendak berangkat, kukira

kau pasti sudah mempunyai tempat tujuan. Sesungguhnya hendak kemana? Mengapa tidak

kau katakan padaku?”

Gin-hoa-nio tertawa dan menjawab, “Sejauh ini Toaci tidak tanya, maka…”

“Kan sudah kutanyakan sekarang?”

“Soalnya begini,” tutur Gin-hoa-nio, “begini banyak harta benda yang kita bawa, rasanya agak

kurang leluasa bila kita menempuh perjalanan jauh, maka kupikir barang2 ini harus kita

titipkan pada suatu tempat yang dapat dipercaya.”

“Ingin kau titipkan dimana?”

“Adik baru saja berkecimpung di Kangouw dan belum banyak kenalanku, untuk ini dengan

sendirinya mesti minta petunjukmu.”

Setelah kejadian kemarin, meski lamat2 Kim-yan-cu juga merasakan adik angkat yang baru

ini tidak sederhana, tapi iapun tidak menyangka orang ada intrik apa2 terhadap dirinya.

Setelah berpikir, kemudian ia berkata, “Harta benda sebanyak itu memang tidak leluasa

biarpun dititipkan dimana saja. Sekalipun kita percaya penuh kepada orang yang kita titipi,

orang lain belum tentu sanggup menerima resiko sebesar ini.”

“Betul juga ucapan Toaci,” kata Gin-hoa-nio. “Makanya orang yang akan kita titipi selain

harus dapat dipercaya juga harus berani bertanggung jawab, kalau tidak, titipan harta benda

ini jangan2 malah bisa membikin celaka dia.”

Kim-yan-cu berpikir sejenak, katanya kemudian, “Orang yang kau maksudkan kuingat

memang ada satu di dekat sini.”

“Ha, siapa?” seru Gin-hoa-nio cepat dan girang.

“Keluarga Tong di Sujwan…”

Belum habis ucapan Kim-yan-cu, serentak Gin-hoa-nio berkeplok dan berseru, “Aha, nama

besar keluarga Tong di Sujwan memang sudah lama kudengar. Jika peti2 ini dapat dititipkan

di sana, sudah tentu tidak perlu dikuatirkan lagi. Selain itu, dengan nama baik ayah beranak

keluarga Tong itu, tentu orangpun tak berani menyatroni mereka dan mengincar harta benda

ini.”

Tiba2 ia berkerut kening dan menyambung pula, “Cuma orang2 keluarga Tong itu biasanya

berwatak aneh, suka menyendiri dan jarang bergaul. Jika Toaci tidak kenal mereka, kukira

merekapun tak mau menerima titipan ini.”

Kim-yan-cu tersenyum, katanya, “Jika kau tahu seluk beluk dunia Kangouw, mengapa kau

tidak tahu aku dan Tong-bun-su-siu (empat cantik dari Keluarga Tong) juga bersaudara

angkat?”

Meski ia merasa rasa girang Gin-hoa-nio itu rada kelewatan, tapi ia sangka mungkin karena

adik angkat ini terlalu memikirkan keselamatan harta benda itu. Ia tidak tahu sebabnya GinRenjana

Pendekar > Karya Khulung > Diceritakan oleh : GAN KL > buyankaba.com 272

hoa-nio memikat dan bersaudara dengan dia justeru lantaran sebelumnya sudah diketahui dia

adalah saudara angkat dari para nona keluarga Tong. Kalau tidak tentu sudah lama dia

dibunuhnya.

Begitulah terlihat Gin-hoa-nio sangat gembira dan tertawa terus menerus, katanya, “Toaci dan

Tong-bun-su-siu adalah saudara angkat, wah, kalau begitu adik kan juga ikut2an menjadi

saudara mereka? Biasanya aku sebatang kara dan hidup ter-lunta2, kini mendadak

mendapatkan kakak2 sebanyak ini dan rata2 orang termasyhur, aku sangat girang.”

Melihat kegembiraan orang Kim-yan-cu juga tertawa, katanya, “Disiplin keluarga Tong

biasanya sangat keras, para nona dan menantunya jarang keluar rumah, mereka selalu merasa

kekurangan teman, bilamana mendapat seorang adik cilik yang menyenangkan seperti kau,

mereka pasti juga akan kegirangan.”

Teringat kepada nasib Gin-hoa-nio yang sebatang kara dan hidup sengsara, sekalipun

pandangannya terhadap harta benda sedemikian penting, hal inipun dianggapnya lumrah.

Karena pikiran ini, rasa was-wasnya terhadap Gin-hoa-nio kemarin lantas tersingkirkan

semua, ia malah menyesal pagi tadi tidak pantas bersikap dingin padanya. Karena itulah

sepanjang jalan kembali ia mengajaknya bersenda gurau lagi.

Perjalanan ke Sujwan cukup sulit ditempuh sebab pada umumnya jalan daerah Sujwan adalah

lereng2 bukit. Tapi saat ini mereka berada di dataran Sujwan tengah yang jarang lereng

bukitnya, bahkan Sujwan tengah sejak jaman dahulu terkenal sebagai daerah yang subur dan

makmur, sepanjang jalan cukup ramai orang berlalu lalang sehingga tidak terasakan kesepian.

Setelah melintasi In-yang-to dan menyusur lembah Tiangkang, jalanan semakin lapang, tapi

sepanjang jalan mulai banyak tertampak kawanan pengemis, kebanyakan berkelompok dalam

jumlah tiga atau lima orang. Kawanan jembel inipun menempuh perjalanan ke depan dengan

teratur, melihat kaum saudagar dan orang lalu, mereka suka memberi jalan dengan sikap

hormat, tapi tidak minta2 seperti biasanya. Bahkan di antara kaum jembel itu ada yang

kelihatan angkuh, se-olah2 memandang rendah kaum awam ini.

Agaknya Gin-hoa-nio tertarik, ia membisiki Kim-yan-cu, “Tampaknya kawanan pengemis ini

sama mahir ilmu silat dan bukan tukang minta2 biasa… jangan2 mereka inilah anak murid

Kay-pang?”

Suara Gin-hoa-nio sangat lirih, tapi seorang pengemis yang berjalan sendirian beberapa

tombak di depan mendadak menoleh dan tersenyum padanya dan berkata, “Nona cantik

hendaklah menempuh perjalanannya sendiri dan tidak perlu ikut campur urusan orang lain.”

Pakaian pengemis ini juga compang-camping dan berlepotan debu kotoran, tapi wajahnya

yang agak kurus itu tampak tercuci bersih, sorot matanya juga gemerdep tajam. Gin-hoa-nio

melelet lidah dan tertawa genit, katanya, “Wah, tajam benar telinga Cianpwe, Anda tentu

Tianglo di dalam Kay pang?”

Mendadak pengemis setengah umur itu menarik muka, mata alisnya memperlihatkan rasa

marah, tapi setelah memandang sekejap Kim-yan-cu yang berada di sebelah Gin-hoa-nio,

dengan dingin dia berkata, “Aku bukan Cianpwe segala, juga bukan Tianglo apa, mungkin

nona yang salah lihat.”

Renjana Pendekar > Karya Khulung > Diceritakan oleh : GAN KL > buyankaba.com 273

Gin-hoa-nio ingin bicara lagi, tapi pengemis setengah umur itu sudah melangkah ke sana, ia

menuju ke bawah pohon di tepi jalan, dikeluarkannya sebuah buli2 kayu, isi buli2 tentunya

arak, maka ditenggaklah araknya.

Dalam sekejap saja kereta sudah lalu di samping pengemis itu, Gin-hoa-nio menggeleng dan

bergumam, sungguh aneh tabiat orang ini, aku tidak bersalah padanya, mengapa dia merasa

marah padaku?”

Kim-yan-cu tidak menjawabnya, selang tak lama, mendadak ia berkata, “Di depan adalah kota

Li-toh-tin, hendaklah kau tunggu diriku di hotel Li-keh-can sana, sebelum ku datang jangan

pergi dulu.”

“Toaci hendak ke mana?” tanya Gin-hoa-nio dengan tercengang.

“Tiba2 teringat sesuatu olehku…”

“Bolehkah adik mengiringi kepergian Toaci?”

Kim-yan-cu seperti tidak sabar, katanya sambil berkerut kening, “Biar kau tunggu saja di Litoh-

tin, tidak sampai tiga hari tentu ku datang mencari kau, masa kau takut ku kabur?”

Cepat Gin-hoa-nio menjawab, “Baiklah, adik menurut saja.”

Melihat Gin-hoa-nio sudah jauh membawa kedua keretanya, mendadak Kim-yan-cu memutar

balik kudanya dan dilarikan ke tempat tadi. Dilihatnya si pengemis setengah baya itu sudah

tertidur di tepi jalan di bawah pohon.

Kalau pengemis yang lain, banyak atau sedikit, tentu membawa beberapa karung goni sebagai

tanda tingkatannya, makin banyak karung goni yang dibawanya, makin tinggi kedudukannya.

Jika tidak membawa karung berarti murid yang belum resmi masuk perkumpulan.

Sikap pengemis setengah baya ini sangat angkuh, langkahnya cepat enteng, jelas sangat tinggi

ilmu silatnya, tidak mungkin dia murid Kay-pang yang belum resmi, tapi buktinya dia tidak

membawa sebuah karungpun.

Pakaian pengemis yang lain juga compang camping, tapi kebanyakan tercuci bersih, hanya

wajah masing2 jelas kelihatan sudah kenyang menderita gemblengan kehidupan sebagai

tukang minta2. Sebaliknya meski pakaian pengemis setengah baya ini penuh kotoran, namun

mukanya justeru putih bersih, kulit badannya juga halus, bahkan tiada tampak garis keriput

sama sekali.

Bila pengemis lain sama berkelompok dan saling menyapa, tapi pengemis aneh ini justeru

menempuh perjalanan sendirian dengan langkah angkuh se-akan2 tidak sudi bergaul dengan

orang lain.

Tujuan Kim-yan-cu sebenarnya hendak mencari Ang-lian hoa untuk ditanyai apa yang terjadi

tempo hari, untuk ini mestinya ia dapat minta keterangan kepada pengemis yang lain. Tapi dia

merasa heran terhadap pengemis setengah umur ini, timbul rasa ingin tahunya. Dari kejauhan

ia sudah turun dari kudanya, lalu mendekati pohon itu dan berduduk di situ.

Renjana Pendekar > Karya Khulung > Diceritakan oleh : GAN KL > buyankaba.com 274

Pengemis2 yang lain sama heran melihat seorang nona jelita berduduk di samping pengemis

setengah umur yang sedang tidur itu. Ketika lalu di depan mereka, langkah mereka lantas

dibikin perlahan, tampaknya kuatir mengganggu tidur pengemis setengah umur yang nyenyak

itu.

Kim-yan-cu juga bersabar sebisanya dan tidak membangunkan orang.

Terdengar suara dengkuran perlahan pengemis aneh itu, tidurnya sangat lelap, malahan

samar-samar terdengar ia sedang mengigau.

Kim-yan-cu coba pasang kuping dengan cermat, didengarnya orang sedang berkata, “Begitu

banyak benda berharga yang termuat di kereta itu, kenapa tidak cepat melanjutkan perjalanan,

untuk apa kau cari si tukang minta2 ini? Apakah hendak memberi sedekah?”

Terkejut Kim-yan-cu, diam-diam ia mengakui ketajaman pandangan orang.

Kalau barang muatan kereta itu adalah sebangsa emas-perak yang berat bobotnya, debu yang

mengepul yang ditimbulkan oleh roda kereta itu pasti berbeda, orang Kangouw kawakan

sekali pandang akan segera tahu hal ikhwalnya.

Tapi sekarang barang yang dimuat kedua kereta itu hanya benda2 berharga yang ringan

bobotnya sebangsa ratna mutu manikam, sungguh luar biasa pengemis aneh inipun dapat

mengetahuinya.

Begitulah semakin kejut dan heran, semakin bersabar pula Kim-yan-cu, betapapun lama si

pengemis aneh ini akan pura2 tidur tetap akan ditunggunya.

Selang sejenak, mendadak pengemis aneh bergelak tertawa dan berbangkit, katanya, “Hahaha,

Kang-lam-lihiap Kim-yan-cu yang termasyhur ternyata menunggui tidur seorang tukang

minta2, apakah tidak kuatir dijadikan bahan tertawa orang!”

Kim-yan-cu terkesiap, “Kiranya Cianpwe kenal Tecu.”

“Bukan cuma kau si walet ini yang kukenal, bahkan kukenal pula si elang,” ucap pengemis itu

dengan tertawa.

Supaya diketahui, guru Kim-yan-cu bernama In Tiat-ih, berjuluk “Sin-eng” atau elang sakti,

seorang pendekar termasyhur pada 30 tahun yang lalu.

Selama hidup In Tiat-ih melaksanakan tugas mulianya dengan sendirian, musuhnya tersebar

di mana2, sampai tua dia cuma menerima Kim-yan-cu sebagai murid satu2nya. Tapi ketika

Kim-yan-cu tamat belajar dan terjun di dunia Kangouw, tatkala mana In Tiat-ih sendiri jatuh

sakit berat. Ia tahu musuhnya terlalu banyak dan mungkin akan menimbulkan kesukaran bagi

Kim-yan-cu, maka wanti2 dia pesan Kim-yan-cu agar tidak mengatakan asal-usul

perguruannya dan selama ini di dunia Kangouw memang tiada yang tahu siapa gurunya.

Bahkan Ang-lian hoa yang terkenal serba tahu itupun tidak tahu.

Tapi sekarang pengemis setengah umur ini kontan dapat membongkar rahasia perguruannya,

tentu saja Kim-yan-cu terkejut dan cepat berdiri, tapi perlahan2 dia lantas duduk lagi, katanya

Renjana Pendekar > Karya Khulung > Diceritakan oleh : GAN KL > buyankaba.com 275

dengan tersenyum ewa, “Entah siapa nama Cianpwe yang mulia, darimana Anda tahu nama

mendiang guruku.”

Pengemis aneh itu ayun tangan memotong ucapannya, katanya dengan berkerut kening, “Jika

ingin orang lain tidak tahu, kecuali diri sendiri tidak berbuat. Masa kau lupa akan peribahasa

ini? Mengenai namaku, biar kukatakan juga kau tidak kenal.”

Kim-yan-cu menjadi bingung karena tidak tahu sebab apa orang menjadi marah, maka ia tidak

berani bertanya pula.

Pengemis aneh itu melototinya sejenak, tapi mendadak wajahnya cerah lagi da berkata, “Kau

cari padaku, sesungguhnya ada urusan apa? Apakah sangat penting?”

“Tecu ingin mencari Ang-lian-pangcu dari Pang kalian,” jawab Kim-yan-cu. “Sebab itu

mohon Cianpwe sudi membawa…”

“Jadi maksudmu mencariku hanya minta aku menjadi penunjuk jalan bagimu?” teriak

pengemis itu dengan gusar.

Waktu bicara biji mata orang itu se-akan2 memancarkan dua jalur sinar tajam dan membuat

orang tidak berani memandangnya. Tapi dalam sekejap lantas tertawa pula dan membuat

orang seperti ditiup angin sejuk.

Selama hidup Kim-yan-cu tidak pernah melihat orang marah dan tertawa dapat berubah

secepat ini, selagi ter-heran2, tiba2 pengemis aneh itu menengadah dan bergelak tertawa,

katanya, “Jika aku yang kau minta untuk mencari Ang-lian hoa, baiklah akan kubawa kau ke

sana. Nah, lekas naik kudamu dan ikut berangkat.”

Kim-yan-cu tidak tahu mengapa orang marah2 tadi dan juga heran apa sebabnya orang

tertawa te-bahak2 pula dan begitu aneh cara tertawanya, seketika ia menjadi terkesima

bingung.

Sementara itu pengemis itu sudah berbangkit, ia melangkah dua tiga tindak, tiba2 ia menoleh

dan membentak, “Suruh kau ikut berangkat, mengapa kau malah diam saja?”

Kim-yan-cu menyengir dan terpaksa berbangkit, ia kuatir membikin marah pengemis yang

aneh ini, ia menuntun kudanya dan mengikuti di belakang orang, ia tidak berani menunggang

kudanya.

Dalam pada itu hari sudah remang2, orang berlalu lalang sudah mulai jarang2, hanya ada

kawanan pengemis yang ber-kelompok2 masih menempuh perjalanan dengan ter-gesa2.

Ketika melihat pengemis aneh itu mereka lantas memberi jalan, sikap mereka seperti agak

segan dan takut2 tapi tiada seorangpun yang menyapanya.

Pengemis setengah baya itupun tidak menghiraukan kawanan pengemis itu, tampaknya dia

seperti bukan orang Kay-pang, tapi kalau bukan orang Kay-pang mengapa dia berdandan

sebagai pengemis? Bahkan menempuh perjalanan searah dengan kawanan pengemis itu?

Begitulah Kim-yan-cu semakin heran, diam2 iapun menyesal. Ia merasa salah alamat bertanya

keterangan kepada pengemis aneh itu. Pikirnya, “Tingkah laku orang aneh ini kelihatan

Renjana Pendekar > Karya Khulung > Diceritakan oleh : GAN KL > buyankaba.com 276

misterius, jangan2 dia musuh Kay-pang? Yang hendak kucari adalah Ang-lian-pangcu, untuk

apa mesti ku ikuti dia?”

Dilihatnya pengemis aneh itu makin cepat jalannya dan makin jauh tanpa menoleh. Mendadak

Kim-yan-cu mencemplak ke atas kudanya terus dilarikan dengan cepat, dalam sekejap saja

pengemis setengah umur itu sudah tertinggal jauh di belakang, bahkan bayangan anggota

Kay-pang yang lain juga tidak kelihatan lagi.

Kim-yan-cu menghela nafas lega, gumamnya, “Sekarang, barulah…” belum habis ucapannya,

tahu-tahu di bawah pohon di tepi jalan sana seorang mendengus, “Hm, katanya kau ingin

mencari Ang-lian hoa, jelas kau telah kesasar!”

Siapa lagi orang itu kalau bukan si pengemis setengah umur yang misterius itu? Sungguh

kejut Kim-yan-cu tak terkatakan, tanpa bersuara ia memutar kudanya, tanpa membedakan

arah ia larikan kudanya seperti kesetanan.

Setelah membedal kudanya sekian lama, baru saja ia hendak berhenti, tahu2 pengemis aneh

itu sudah berdiri lagi di depan sana sedang menantikan kedatangannya dan mengejeknya,

“Kau kesasar lagi!”

Gerak-gerik orang ini secepat hantu, meski biasanya Kim-yan-cu juga bukan orang penakut,

tapi memang aneh, pada pertama kali dia bertemu dengan pengemis ini rasanya dia sudah

terpengaruh oleh daya gaibnya, sebab itulah secara aneh dia tidak mencari orang lain tapi

justeru mencari dia dan secara tidak sadar menunggui dia tidur, kemudian secara

membingungkan ia membedal kudanya berlari tak keruan.

Sekarang ia merasakan kaki dan tangan lemas semua, ingin melarikan kudanya juga tak bisa

bergerak lagi, dengan suara rada gemetar ia bertanya, “Apa… apa kehendakmu?”

Pengemis itu memandangnya sekejap dengan tertawa, jawabnya kemudian, “Kan kau sendiri

yang minta kubawa kau pergi mencari Ang-lian hoa, sekarang aku kan cuma memenuhi

permintaanmu dan membawa kau kesana?”

“Sek…sekarang aku tidak… tidak ingin pergi,” jawab Kim-yan-cu.

Seketika pengemis aneh itu menarik muka, katanya dengan ketus, “Sekali kau minta kubawa

kau pergi, maka tetap kau harus pergi.”

Bila orang lain yang bicara begini kepadanya, mustahil kalau Kim-yan-cu tidak melabraknya,

tapi aneh, di depan pengemis misterius ini sama sekali dia tidak mempunyai keberanian untuk

melawan.

Seketika pengemis itu membalik tubuh dan berjalan lagi ke depan, sama sekali Kim-yan-cu

tidak berani kabur, ia mengikuti di belakangnya dengan baik2, sampai ia sendiri tidak tahu

mengapa dia menjadi penurut begini.

Didengarnya pengemis itu berkata dengan perlahan, “Saat ini tentunya kau menyesal karena

kau justeru mencari diriku.”

Kim-yan-cu menggreget dan diam saja.

Renjana Pendekar > Karya Khulung > Diceritakan oleh : GAN KL > buyankaba.com 277

“Tapi kaupun tidak perlu menyesal, sebenarnya bukan kau yang mencari diriku melainkan

aku yang mencari dirimu.”

Kembali Kim-yan-cu terkejut, serunya, “Kau yang mencari diriku?”

“Betul, aku yang mencari kau,” mendadak pengemis itu membalik tubuh. “Cuma kau sendiri

tidak tahu.”

Memandangi mata orang yang bercahaya itu, tiba2 Kim-yan-cu ingat sejak dia melihat mata

orang secara aneh dan tanpa terasa lantas timbul keinginannya untuk kembali ke sana untuk

mencarinya sampai Gin-hoa-nio yang mengajak bicara sejenak itupun dirasakan mengganggu,

hatinya terasa gelisah dan tidak tenteram. Tatkala mana ia tidak tahu apa sebabnya, tapi

sekarang ia tahu bahwa segala perubahan yang aneh ini adalah disebabkan oleh sinar mata

orang yang penuh daya tarik aneh dan berpengaruh ini.

Berpikir demikian, tanpa terasa Kim-yan-cu berkeringat dingin, tanyanya dengan suara

gemetar, “Sebab apa… sebab apa kau cari diriku?”

“Ada tiga sebab,” jawab pengemis itu.

“Tiga sebab?” Kim-yan-cu melenggong.

“Ya, ada tiga sebab,” tukas pengemis itu dengan perlahan. “Pertama karena kau murid In Tiatih…”

“Sesungguhnya ada hubungan apa antara kau dengan mendiang guruku?”

Pengemis itu tidak menjawabnya dengan kalem ia menyambung, “Sebab kedua adalah karena

kau ingin mencari Ang-lian hoa!”

“Jangan2 kaupun ada permusuhan dengan Ang-lian-pangcu?”

Tetap pengemis itu tidak menjawab, sebaliknya ia tersenyum dan melanjutkan, “Sebab ketiga

adalah karena kau seorang perempuan, bahkan perempuan yang sangat cantik.”

Karena tertawa, wajahnya yang kurus itu mendadak kelihatan sangat jahat, sinar matanya

menimbulkan rasa yang memuakkan. Dipandang oleh mata orang, Kim-yan-cu merasa dirinya

se-olah2 sudah telanjang bulat, ia merasa malu, kalau ada lubang ingin segera diselusupinya.

“Tapi kaupun jangan takut, aku takkan membikin susah padamu,” dengan tersenyum

pengemis itu berkata pula.

“Habis… apa kehendakmu?” tanya Kim-yan-cu gemetar. Sungguh kalau bisa dia ingin punya

sayap dan segera melarikan diri. Tapi sinar mata orang se-akan2 memancarkan semacam daya

tarik yang aneh, bukan saja dia tidak dapat lari, hakekatnya mata ingin berkedip saja tidak

bisa.

Renjana Pendekar > Karya Khulung > Diceritakan oleh : GAN KL > buyankaba.com 278

Dengan kalem pengemis itu berkata pula, “Sebabnya kuinginkan kau cari padaku adalah

karena… karena aku hendak melindungi kau… melindungi kau…,” suaranya semakin perlahan,

semakin lirih, juga semakin halus.

Kim-yan-cu merasa pikirannya mulai kabur, seperti tertidur, tapi juga merasa seperti jauh

lebih sadar daripada biasanya, tanpa terasa ia ikut berkata, “Ya, betul, kau akan melindungi

diriku…”

“Dan sekarang tentunya kau tahu bahwa di dunia ini hanya aku inilah satu2nya orang yang

paling akrab dengan kau,” kata pula pengemis.

“Ya, betul, engkaulah orang yang paling karib dengan diriku.”

“Makanya apapun yang kutanya harus kau jawab dengan sejujurnya.”

“Ya, apapun pertanyaanmu pasti akan kujawab dengan sejujurnya.”

Pengemis itu tertawa dan berkata pula, “Lebih dulu ingin kutanya padamu, sebelum

meninggal In Tiat-ih pernah menemukan sejilid Bu-kang-pi-kip (kitab pusaka ilmu silat),

apakah kitab itu diberikannya kepadamu?”

“Tidak,” jawab Kim-yan-cu.

“Mengapa tidak?” tanya pengemis itu.

“Menurut keterangan suhu, kitab pusaka itu hanya dapat dipahami oleh seorang yang

memiliki kecerdasan paling tinggi, sebab itulah, biarpun beliau menurunkan kitab pusaka itu

kepadaku juga tiada gunanya, sebaliknya mungkin akan membikin celaka padaku malah.”

“Dan setelah dia mati, kemana perginya kitab pusaka itu?”

“Menurut beliau, bila kitab pusaka itu tersiar di dunia ini, akibatnya pasti akan menimbulkan

perebutan berdarah, namun beliau juga merasa berat untuk memusnahkan kitab itu, maka

kitab itu telah disembunyikannya di suatu tempat yang sangat rahasia, kecuali beliau sendiri

tiada seorangpun yang tahu tempat itu.”

“Kaupun tidak tahu?”

“Ya, akupun tidak tahu. Meski suhu tidak pernah merahasiakan apa2 kepadaku, hanya urusan

inilah betapapun juga beliau tidak mau memberitahukannya kepadaku, sebab beliau

menganggap tiada seorang perempuan di dunia ini yang dapat menjaga rahasia.”

Dengan gemas pengemis setengah baya itu berucap, “Sudah sekian tahun kucari dia dan

akhirnya kutemukan kau sebagai muridnya, tak tersangka terhadap murid satu2nya juga tidak

diberitahukannya. Padahal setan tua itu sudah mati, mengapa dia bertindak demikian?”

“Kata suhu, barang siapa berhasil meyakinkan ilmu silat yang tercantum dalam kitab itu,

maka dia akan malang melintang di dunia ini tanpa tandingan. Beliau kuatir apabila kita itu

jatuh di tangan orang jahat, maka akibatnya sukar dibayangkan. Suhu tahu sudah ada

sementara tokoh Kangouw yang telah mencium bau tentang kitab pusaka yang ditemukan

Renjana Pendekar > Karya Khulung > Diceritakan oleh : GAN KL > buyankaba.com 279

Suhu itu, orang2 itu sudah mulai mencari jejaknya. Sebab itulah aku dilarang mengatakan

asal-usul perguruanku agar tidak menimbulkan kesulitan bagiku.”

Pengemis itu berkerut kening dan termenung sejenak, tanyanya kemudian, “Dan untuk apa

pula kau ingin mencari Ang-lian hoa?”

“Ingin kutanya sesuatu padanya.”

“Urusan apa?”

“Urusan yang menyangkut Ji Pwe-giok dan Lim Tay-ih.”

“Mengapa kau sedemikian memperhatikan urusan orang lain?”

“Sebab kucinta Ji Pwe-giok.”

Ujung mulut pengemis aneh itu tersembul secercah senyuman yang jahat, ucapnya, “Tidak,

yang kau cintai bukan Ji Pwe-giok, kau cinta padaku, tahu tidak?”

Se-konyong2 Kim-yan-cu berteriak, “Tidak, yang kucintai ialah Ji Pwe-giok dan bukan kau,

bukan kau!”

Orang itu tidak menyangka sedemikian kuat pikiran Kim-yan-cu sehingga dapat melepaskan

diri dari pengaruh ilmu gaibnya. Tapi segera ia mengeluarkan seuntai rantai emas yang sangat

lembut, pada rantai emas itu terikat sebentuk mutiara hitam yang aneh, rantai emas itu

digoyangkan sehingga mutiara hitam itupun ber-putar2 di depan Kim-yan-cu…

Benarlah, pikiran Kim-yan-cu yang terangsang tadi lambat laun tenang kembali.

Dengan suara keras pengemis itu berkata pula, “Tak perduli siapa yang kau cintai, yang jelas

aku inilah orang yang paling karib denganmu, begitu bukan?”

“Ya,” jawab Kim-yan-cu dengan mata setengah terpejam.

“Dan sekarang kuminta kau menanggalkan pakaianmu.”

Tanpa pikir Kim-yan-cu menuruti permintaan itu, perlahan ia membuka bajunya sehingga

kelihatan dadanya yang putih mulus, buah dadanya yang montok menegak diusap silir angin

malam.

Pengemis aneh itu tersenyum puas, katanya pula, “Bagus, dan sekarang bukalah gaunmu!”

Perlahan Kim-yan-cu membuka kancing pinggang gaunnya dan…

Pada saat itulah tiba2 terdengar suara berderak, suara bambu di-pukul2kan yang

berkumandang dari kejauhan.

Pengemis aneh itu menghela nafas, katanya, “Sayang waktunya tidak keburu lagi, bolehlah

kau pakai lagi bajumu.”

Renjana Pendekar > Karya Khulung > Diceritakan oleh : GAN KL > buyankaba.com 280

Waktu Kim-yan-cu selesai mengenakan kembali pakaiannya, pengemis setengah baya itu

berkata pula, “Dan sekarang bolehlah kau sadar per-lahan2, hendaklah kau lupakan segala apa

yang kutanyakan padamu barusan, cukup kau ingat bahwa aku adalah orang yang paling karib

denganmu, aku adalah kawanmu, suamimu, akupun ayahmu, gurumu.”

Habis berkata ia lantas menyimpan kembali mutiaranya dan menepuk tangan perlahan.

Serentak Kim-yan-cu membuka matanya, dengan linglung seperti orang kehilangan semangat

ia pandang orang sekejap, lalu bergumam, “Ya, engkau adalah sahabatku, suamiku, kaupun

ayahku, guruku. Tapi siapakah engkau? Sesungguhnya siapa kau?…”

Pengemis itu tersenyum, jawabnya, “Jika kau ingin tahu namaku, tiada halangannya

kukatakan padamu. Aku inilah manusia yang serba tahu dan serba bisa, namaku Kwe Piansian,

aku inilah kegaibannya manusia, tiada orang lain lagi di dunia ini yang bisa

dibandingkan dengan diriku.”

“Kwe Pian-sian?!…” Kim-yan-cu mengulangi nama itu, agaknya dia tergetar.

Kwe Pian-sian tertawa pongah, katanya, “Ya, aku pernah menjabat Tianglo Kay-pang,

Houhoat Bu-tong-pay, aku inilah juragan peternakan yang paling besar di daerah barat laut

sana, hartawan yang paling kaya raya di dunia ini, akupun pernah menjadi suami Kun Hayhong

atau Hay Hong Hujin.”

Sampai di sini ia bergelak tertawa, lalu menyambung pula, “Semua itu hanya beberapa saja di

antara berpuluh macam jabatanku, betapa banyak jabatanku sampai aku sendiri terkadangpun

tidak ingat. Pengalaman hidupku ini jauh lebih kenyang dibandingkan berpuluh orang lain.”

Kim-yan-cu menghela nafas linglung, gumamnya, “Kwe Pian sian… kegaibannya manusia…

suamiku.”

*****

Tengah malam di pegunungan yang sunyi kelihatan cahaya lampu terang benderang, di suatu

tempat tanah mangkuk, di sekeliling dinding tebing penuh tertancap obor yang menyala, di

bawah cahaya obor be-ribu2 anggota Kay-pang berduduk tersebar mengelilingi tanah lapang

itu.

Ang-lian hoa berduduk di atas sepotong batu besar, air mukanya sangat prihatin, siapapun

dapat melihat bahwa Ang-lian hoa yang termasyhur ini sekarang pasti lagi menghadapi suatu

urusan yang maha sulit untuk diselesaikan.

Dengan sendirinya Bwe Su-bong, si pengemis yang berjuluk “sibuk selalu tanpa pekerjaan”,

juga berduduk di sebelahnya, wajahnya juga kelihatan sedih.

Orang sebanyak itu berkumpul di tanah mangkuk ini, namun suasana tetap sunyi senyap,

hanya suara api obor yang terbakar ditiup angin sehingga mirip lolong kawanan serigala yang

serak.

Sampai lama sekali, akhirnya Ang-lian hoa tidak tahan, ia membuka suara, “Menurut

perkiraanmu, apakah dia betul2 akan datang?”

Renjana Pendekar > Karya Khulung > Diceritakan oleh : GAN KL > buyankaba.com 281

Dengan suara berat Bwe Su-bong menjawab, “Menurut anggota kita yang datang dari utara,

sepanjang jalan banyak yang melihat seorang yang mirip dia, dari bentuknya semua orang

sama bilang tidak banyak berbeda daripada orang yang dilukiskan Pangcu itu, sebab itulah

mereka sama mematuhi perintah Pangcu, mereka sama menghindari dia bilamana melihatnya

dari kejauhan.”

Ang-lian hoa menghela nafas, katanya, “Sudah hampir 15 tahun orang ini menghilang tanpa

kabar beritanya, sekarang mendadak muncul lagi, sesungguhnya apa maksud tujuannya,

sungguh sukar untuk diterka.”

Terdengar Bwe Su-bong lagi berkata, “Apakah Pangcu memang tidak dapat menerka maksud

tujuan kedatangannya ini?”

Ang-lian hoa terdiam sejenak, katanya dengan tersenyum pahit, “Jangan2 dia menghendaki

kuserahkan kedudukan Pangcu ini kepadanya? Tapi melihat tindak tanduknya, agaknya

kedudukan Pangcu ini juga tidak terpandang olehnya. Kupikir mungkin masih ada intrik lain

yang lebih besar.”

Air muka Bwe Su-bong tampak prihatin, ia memandang kejauhan yang gelap sana, ucapnya

dengan rawan, “Tak perduli intrik apa yang diaturnya, yang pasti yang dibawanya kemari

hanya malapetaka belaka!” Mendadak ia menahan suaranya dan menyambung pula, “Tapi

betapapun tinggi ilmu silatnya, berdasarkan kekuatan kita sekarang kukira masih dapat

menumpasnya.”

Air muka Ang-lian hoa agak berubah, katanya dengan parau, “Namun apapun juga dia kan

tetap Tianglo Kaypang kita?”

Setahuku, ia juga masih menjabat Hou-hoat (pembela agama) Bu-tong-pay,” kata Bwe Subong.

“Seorang merangkap dua jabatan dari dua aliran yang berbeda, jelas ini telah melanggar

peraturan Pang kita, berdasarkan alasan ini boleh Pangcu menghukum dia menurut aturan.”

“Tapi siapa yang dapat membuktikan bahwa dia juga merangkap menjadi Houhoat Bu-tongpay?”

ujar Ang-lian hoa dengan tersenyum getir.

“Ini…” Bwe Su-bong melengak dan tak dapat menjawab.

“Sekalipun kejahatan orang ini sudah kelewat takaran, tapi di dunia ini tiada seorangpun yang

dapat membuktikan kejahatannya, kalau tidak, tidak perlu menunggu orang lain, Lo-pangcu

(ketua lama) sendiri pasti tidak mengampuni dia dan tidak mungkin dia hidup sampai

sekarang,” demikian tutur Ang-lian hoa dengan menyesal.

“Habis bagaimana menurut pikiran Pangcu?”

“Begitu menerima suratnya, mulailah kurenungkan daya upaya untuk menghadapi dia. Tapi

sampai saat ini tetap belum kutemukan akal yang baik, bisa jadi…”

Belum habis ucapannya, se-konyong2 dari kejauhan berkumandang suara bambu di-ketok2.

“Itu dia sudah datang!” seru Bwe Su-bong.

Renjana Pendekar > Karya Khulung > Diceritakan oleh : GAN KL > buyankaba.com 282

Suara gemeretak bambu dipukulkan semakin gencar dan makin keras.

Kiranya bila kaum jembel ini berkumpul, di sekeliling tempat rapat pasti dipasang pos

pengawas, bilamana melihat kedatangan orang tak dikenal, segera tongkat bambu di-ketok2

sebagai tanda waspada.

“Cepat amat datangnya!” ucap Bwe Su-bong.

Namun para anggota Kay-pang yang berduduk memenuhi lapangan itu tetap tenang saja

meski kelihatan agak tegang juga.

Sekejap kemudian, terlihatlah seorang pengemis setengah umur berperawakan jangkung dan

bermuka kurus muncul dengan langkah lebar, di antara sorot matanya yang tajam dan takabur

itu jelas kelihatan lagak angkuhnya se-akan2 dunia ini aku kuasa.

Selain pengemis ini, di belakangnya mengikuti pula seorang nona cantik berbaju kuning

keemasan.

Seketika air muka Ang-lian hoa berubah, desisnya, “Aneh, mengapa Kim-yan-cu ikut datang

bersama dia?”

“Jangan2 Kim-lihiap telah jatuh di dalam cengkeramannya?” kata Bwe Su-bong.

Belum selesai ucapannya, dengan langkah lebar Kwe Pian-sian sudah maju ke depan mereka,

sorot matanya yang tajam memandang Ang-lian hoa dari atas ke bawah, lalu dari bawah ke

atas, tiba-tiba ia berkata dengan tertawa, “Sekian tahun tidak bertemu, anak yang berpotongan

poni dahulu sekarang sudah tumbuh menjadi pemuda yang ganteng, bahkan namanya sudah

termasyhur, sungguh mengagumkan dan harus diberi selamat.”

“Terima kasih,” ucap Ang-lian hoa sambil merangkap kedua tangannya.

“Dan entah kau masih kenal padaku atau tidak?” tanya Kwe Pian-sian.

“Meski sudah lama tak berjumpa, tapi wajah Kwe-tianglo senantiasa terkenang oleh Tecu,”

jawab Ang-lian hoa.

Mendadak Kwe Pian-sian menarik muka dan berkata dengan bengis, “Jika kau belum lupa

bahwa aku ini Tianglo Pang kita, mengapa kau tidak berlutut di depanku?”

Ang-lian hoa melengak, jawabnya tergagap, “Ini…”

Segera Bwe Su-bong memprotes dari samping, “Pangcu adalah yang maha agung di dalam

Pang kita, sekalipun Tianglo adalah tokoh angkatan tua, juga Pangcu tidak wajib berlutut dan

menyembah padamu.”

Kwe Pian-sian menengadah dan bergelak tertawa, “Haha, bagus, bagus! Kiranya kau telah

menjadi Pangcu, selamat, selamat!”

Renjana Pendekar > Karya Khulung > Diceritakan oleh : GAN KL > buyankaba.com 283

Suara tertawanya berkumandang sehingga menimbulkan suara yang nyaring, anak telinga

anak murid Kay-pang serasa mau pecah, jantung ber-debar2 dan wajah pucat.

Mendadak Kwe Pian-sian berhenti tertawa, ia tatap Ang-lian hoa dan bertanya dengan bengis,

“Siapa yang menunjuk kau sebagai Pangcu? Siapa?”

“Itu berdasarkan pesan wasiat Lo-pangcu,” seru Bwe Su-bong.

“Pesan wasiat? Dimana, coba kulihat!”

“Pesan lisan Lo-pangcu sebelum menghembuskan nafas terakhir, dengan sendirinya tiada

sesuatu bukti.”

“Pesan lisan Lo-pangcu, memangnya siapa yang ikut dengar?” tanya Kwe Pian-sian.

“Kecuali Pangcu sendiri, tecu juga ikut mendengarkan,” jawab Bwe Su-bong.

“Hm, hanya berdasarkan pengakuanmu lantas dia didukung ke atas singgasana Pangcu? Hah,

apakah tidak terlalu naif?”

“Apakah Tianglo menganggap ucapan Tecu tidak benar?”

“Kurang ajar! Berdasarkan apa kau berani bicara demikian padaku?”

“Tecu bicara menurut kebenaran!”

“Menurut kebenaran? Hm, kau sesuai?” bentak Kwe Pian-sian, berbareng itu sebelah

tangannya terus menyambar ke depan.

Belum lagi Bwe Su-bong menyadari apa yang terjadi, tahu2 mukanya sudah kena digampar

dua kali. Menyusul tubuhnya lantas terlempar jauh ke sana.

Bwe Su-bong berjuluk “Bo-su-bang” atau tidak ada pekerjaan tapi sibuk selalu, dengan

sendirinya lantaran pribadinya yang simpatik dan suka membantu. Karena itulah dalam

pergaulan dia sangat disenangi kawan2nya.

Meski anak buah Kay-pang merasa jeri terhadap ilmu silat dan perbawa Kwe Pian-sian, tapi

melihat Bwe Su-bong dianiaya, seketika terjadi kegaduhan.

Sorot mata Kwe Pian-sian menyapu sekeliling hadirin, lalu katanya dengan bengis, “Lahirnya

pangcu kita selama ini hanya melalui dua jalan, pertama berdasarkan tinggi rendahnya

kedudukan. Kedua, berdasarkan tinggi rendahnya ilmu silat. Sekarang selaku Tianglo ku

datang untuk mengusut perkara ini, apa yang kalian ributkan?”

Meski bengis dan keras suaranya dan berkumandang jauh di tengah kegaduhan itu, namun

anak murid Kay-pang masih tetap ber-teriak2 dan tidak mau tunduk.

Dengan gusar Kwe Pian-sian lantas berkata, “Ang-lian hoa, kau ini Pangcu macam apa?

Mengapa anak murid Pang kita makin lama makin tidak tahu aturan?”

Renjana Pendekar > Karya Khulung > Diceritakan oleh : GAN KL > buyankaba.com 284

Sejak tadi Ang-lian hoa seperti tidak ikut campur, baru sekarang dia tersenyum, perlahan ia

angkat kedua tangannya dan memberi tanda agar semua orang diam, serunya dengan suara

lantang, “Tenanglah saudara2, ada urusan apa biarlah kita bicarakan dengan perlahan-lahan.”

Meski suaranya tidak senyaring Kwe Pian-sian, tapi baru selesai ucapannya, kegaduhan di

tengah2 anak murid Kay-pang itu seketika berhenti, suasana menjadi sunyi kembali dan

perhatian setiap orang tertuju pula ke arah Ang-lian hoa.

Dengan tersenyum Ang-lian hoa memandang Kwe Pian-sian, katanya, “Anak murid Pang kita

masih cukup patuh kepada setiap peraturan dan tata tertib, rupanya mereka sudah agak

pangling terhadap Kwe-tianglo, 15 tahun, kukira bukan waktu yang pendek bagi siapapun

juga.”

Air muka Kwe Pian-sian berubah, katanya, “Memangnya mereka sudah lupa padaku?”

“Bukannya lupa, mereka cuma mengira Houhoat-tianglo kita di masa dahulu itu sudah

mengundurkan diri pada 15 tahun yang lalu,” jawab Ang-lian hoa dengan tenang.

“Siapa yang omong begitu?” teriak Kwe Pian-sian dengan gusar.

“Mendiang Lo-pangcu sudah mengumumkan urusan ini pada 15 tahun yang lalu dan setiap

anak murid Pang kita sama mendengar dengan jelas, kuyakin Kwe-tianglo pasti tidak akan

menganggap ucapan Wanpwe ini tidak betul.”

Kwe Pian-sian melengong sejenak, segera ia mendengus, “Hm, dia tidak menyatakan aku

telah dipecat, tapi hanya mengatakan aku mengundurkan diri dari Pang kita, betapapun dia

masih cukup baik padaku.”

“Lo-pangcu memang sudah lama mengetahui cita2 Kwe-tianglo terletak di empat penjuru dan

tidak nanti memikirkan sedikit kedudukan Pang kita yang tidak berarti ini, kalau tidak,

berdasar tingkatan maupun ilmu silat, setelah Lo-pangcu wafat adalah pantas jika Kwetianglo

yang mewarisi pimpinan beliau.”

“Haha, pantas orang Kangouw sama bilang Ang-lian-pangcu bukan saja serba pandai dalam

segala hal, bahkan mulutnya juga tajam dan sukar ada bandingannya,” seru Kwe Pian-sian

dengan tertawa. “Dan setelah bertemu sekarang, semua itu ternyata terbukti memang betul.”

Tiba2 Ang-lian hoa mendekati Kim-yan-cu dan menyapa dengan tersenyum, “Kim lihiap

berkunjung kemari, entah adakah sesuatu petunjuk bagiku?”

“Ku datang ikut dia,” jawab Kim-yan-cu.

“Kukira belum terlalu lama bukan Kim-lihiap kenal Kwe-tianglo?” Ang-lian hoa coba

memancing.

“Dia adalah orang yang paling karib dengan diriku,” jawab Kim-yan-cu.

“Oh… sungguh tak tersangka…” sebenarnya Ang-lian hoa ingin memancing sesuatu

pengakuan Kim-yan-cu mengenai kejahatan Kwe Pian-sian, sekarang ia menjadi kecewa,

Renjana Pendekar > Karya Khulung > Diceritakan oleh : GAN KL > buyankaba.com 285

namun lahirnya dia tidak memperlihatkan sesuatu tanda apapun. Ia menyadari untuk melayani

Kwe Pian-sian, bilamana salah langkah sedikit tentu urusan bisa runyam.

Dengan tertawa Kwe Pian-sian berkata pula, “Tadinya ku kuatir usiamu terlalu muda dan

tidak dapat memikul beban tanggung jawab Pang kita yang besar ini, tapi sekarang setelah

kusaksikan anak murid kita sedemikian hormat dan memuja dirimu, maka akupun tidak perlu

kuatir lagi.”

Sedemikian cepat perubahan nada ucapannya membuat orang ter-heran2, mestinya Ang-lian

hoa juga sangsi, tapi segera terpikir lagi olehnya, “Mungkin karena dukungan para anggota

kepadaku sepenuh hati, ia merasa tiada gunanya andaikan berhasil merebut kedudukan

Pangcu dariku, maka segera ia putar haluan menurut arah angin.”

Berpikir demikian, legalah hati Ang-lian hoa, rasa waspadanya menjadi banyak berkurang,

dengan tertawa ia berkata, “Kwe-tianglo sudah lama berada di luar Pang dan ternyata masih

begini memperhatikan kepentingan Pang kita, sungguh Tecu merasa sangat berterima kasih.”

Ketika ia menyebut “memperhatikan” tadi, tiba-tiba ia merasa kedua mata Kwe Pian-sian

memancarkan sinar tajam dan aneh, sorot mata sendiri seketika tertarik. Segera ia bermaksud

mengalihkan pandangannya ke arah lain, namun sudah terlambat.

Dengan sinar mata tajam Kwe Pian-sian menatapnya dengan tersenyum, katanya, “Satu cagak

tidak kuat menahan sebuah gedung, tenaga satu orang betapapun terbatas, apakah kau

bermaksud minta diriku kembali kepada Pang kita untuk menjadi Houhoat-tianglo?”

“Ya, begitulah,” tanpa terasa Ang-lian hoa menjawab.

Kwe Pian-sian tersenyum puas, katanya pula, “Dan kelak bilamana kau merasa tidak sanggup

memikul beban sebagai Pangcu, akan kau serahkan kedudukanmu padaku?”

Kembali Ang-lian hoa mengiakan.

Para anggota Kay-pang sama melengak melihat Ang-lian hoa hanya mengiakan melulu setiap

perkataan Kwe Pian-sian itu. Tapi tata tertib Kay-pang biasanya sangat keras, maka tiada

seorangpun berani ikut bicara.

Hanya Bwe Su-bong saja, dari ucapan Kwe Pian-sian itu dia sudah tahu tipu muslihat orang,

apalagi sang Pangcu kelihatan linglung dan tidak seperti biasanya, ia tahu pasti ada sesuatu

yang tidak beres, cepat dia berseru, “Pangcu, setiap persoalan yang menyangkut kepentingan

Pang kita hendaklah engkau pertimbangkan dengan baik2 dan jangan mudah dipengaruhi

orang lain.”

Kwe Pian-sian menjadi gusar, dengan suara bengis ia membentak, “Orang ini tidak

menghormati orang tua dan berani terhadap pimpinan, menurut tata tertib harus dihukum

mati.”

Ang-lian hoa terbelalak dan menjawab, “Ya, setiap pelanggaran memang harus dihukum.”

Renjana Pendekar > Karya Khulung > Diceritakan oleh : GAN KL > buyankaba.com 286

Bwe Su-bong berlari maju dan menyembah, ucapnya, “Sekalipun Tecu akan dihukum mati

juga Tecu tetap ingin bicara. Kematian Tecu bukan soal, tapi bila kekuasaan Pang kita jatuh di

tangan orang ini, akibatnya pasti sukar dibayangkan.”

Air muka Ang-lian hoa tampak serba susah dan tidak bicara.

Kwe Pian-sian mengeluarkan pula jimatnya, yaitu mutiara hitam berantai emas itu,

digoyangkannya mutiara hitam itu dengan perlahan dan berkata, “Dosa orang ini harus

dihukum mati, kenapa tidak lekas kau beri perintah?”

Wajah setiap anggota Kay-pang sama pucat, dengan berdebar mereka menantikan sang

Pangcu membuka mulut.

Bwe Su-bong terus menyembah, kepalanya mem-bentur2 tanah hingga berdarah, ber-ulang2

ia berseru, “Kematian Tecu tidak perlu disayangkan, tapi Pangcu hendaklah berpikir dan

menimbangnya se-baik2nya…”

Dengan suara bengis Kwe Pian-sian berkata pula, “Orang ini bukan saja berani terhadap orang

tua, bahkan ikut campur kekuasaan Pangcu, dia telah melanggar Undang2 Pang kita nomor

satu dan nomor tujuh, dosanya harus dihukum mati, betul tidak?”

“Ya,” tiba2 Kim-yan-cu bersuara. Kiranya sorot matanya juga tertarik oleh mutiara hitam

yang ber-goyang2 itu, apapun yang dikatakan Kwe Pian-sian selalu dijawabnya “ya”.

Terdengar Ang-lian hoa juga menjawab, “Ya, harus dihukum mati.”

Bwe Su-bong menjerit saking cemas dan gemasnya, seketika ia jatuh pingsan.

Para anggota Kay-pang juga sama terkesiap dan ketakutan, mereka terkesima dan tidak berani

bersuara. Siapapun tidak menyangka sang Pangcu sampai hati menghukum mati Bwe Subong.

Hendaklah diketahui bahwa asal-usul anggota Kay-pang terdiri dari berbagai macam unsur

yang campur aduk, sebab itulah Pangcu memegang kekuasaan tertinggi untuk mengendalikan

ber-juta2 anggotanya yang tersebar di seluruh dunia. Andaikan ada kesalahan perintah sang

Pangcu tetap setiap anggota harus tunduk dan menurut, sama sekali tidak boleh membantah

dan melawan, kalau berani membangkang, maka hukuman berat yang akan diterimanya.

Sebab itulah meski keanggotaan Kay-pang sangat ruwet, namun sedikit sekali yang berani

melanggar peraturan.

Lantaran itulah Bwe Su-bong jatuh pingsan demi mendengar perintah hukuman mati Ang-lian

hoa tadi. Sedangkan Kwe Pian-sian tersenyum puas, segera ia berseru, “Pangcu sudah

memberi perintah, petugas pelaksana hukum kenapa tidak lekas maju?”

Serentak terdengar beberapa orang mengiakan. Empat orang telah berbangkit dan tampil ke

depan dengan kepala tertunduk. Kebanyakan anggota Kay-pang sama mengucurkan air mata

dan tidak tega menyaksikan Bwe Su-bong dihukum mati.

Mutiara yang dipegang Kwe Pian-sian masih terus ber-putar2 menimbulkan perasaan yang

aneh dan tidak enak.

Renjana Pendekar > Karya Khulung > Diceritakan oleh : GAN KL > buyankaba.com 287

Dengan tersenyum manis Kwe Pian-sian berkata, “Ang-lian hoa, sekarang bolehlah kau…”

Belum habis ucapannya, mendadak terdengar suara “crit”, angin tajam terus menyambar ke

depan dari jari Ang-lian hoa, mutiara hitam itu seketika pecah.

Kwe Pian-sian menyurut mundur beberapa langkah, serunya tertahan, “Kau…”

Ang-lian hoa terbahak-bahak memutus ucapan orang, serunya, “Hahahaha! Jika kau kira

semudah itu dapat kau pengaruhi diriku dengan ilmu gaib Lian-sim-sut (ilmu pengisap hati,

sebangsa ilmu hipnotis), maka salah besarlah kau.”

Pucat wajah Kwe Pian-sian, teriaknya dengan gemas, “Bagus Ang-lian hoa, mirip benar

caramu ber-pura2.”

“Jika tidak mirip caraku ber-pura2, mana bisa ku pancing semua tipu muslihatmu,” ujar Anglian

hoa dengan tertawa. “Dan kalau tidak dapat kubongkar kedokmu di depan beribu anggota

Pang kita, lalu kutumpas dirimu, kan bisa jadi orang lain akan mengira aku lagi berebut

kedudukan dengan kau?”

Melihat perubahan itu, anak murid Kay-pang terkejut dan bergirang pula.

Sementara itu Bwe Su-bong juga sudah siuman, iapun kegirangan sehingga mengucurkan air

mata, ia menengadah dan berseru, “Thian maha adil! Apa yang dahulu tidak berhasil

dilaksanakan Lo-pangcu, kini dapatlah dibereskan oleh Pangcu muda. Tipu muslihat Kwe

Pian-sian akhirnya terbongkar, arwah Lo-pangcu di alam baka bolehlah merasa tenteram.”

Muka Kwe Pian-sian kelihatan pucat hijau, mendadak ia pun tertawa latah dan berteriak,

“Hahahaha..! Tipu muslihat apa maksud kalian? Lian sim-sut apa katamu? Sungguh aku tidak

paham!”

“Hm, urusan sudah berlanjut begini dan kau belum lagi mau mengakui kesalahanmu?” bentak

Ang-lian hoa dengan bengis.

“Aku harus mengaku salah apa?” jengek Kwe Pian-sian. “Jadi kau sendiri yang hendak

menghukum Bwe Su-bong, sekarang kau sendiri pula yang mengingkari segala tindakanmu

itu, semua itu ada sangkut paut apa denganku?”

Dalam keadaan begini dia masih tetap tenang dan bicara menurut keadaan, nyata dia ingin

mengelakkan tanggung jawab apa yang terjad tadi.

Meski Ang-lian hoa, Bwe Su-bong dan lain2 tahu jelas orang terlalu licik dan ingin membela

diri, tapi seketika mereka memang tak dapat membantah ucapannya itu.

Kwe Pian-sian menyapu pandang para hadirin, lalu berteriak pula, “Saudara2 sekalian, dia

menuduh aku menggunakan ilmu gaib Liap-siam-sut segala, coba kalian tanya dia, mana

buktinya? Jika dia tak dapat memberi bukti nyata, maka berarti dia memfitnah orang.

Ketahuilah, fitnah lebih jahat daripada membunuh.”

Seketika para anggota Kay-pang hanya saling pandang saja dan tiada yang membuka suara.

Renjana Pendekar > Karya Khulung > Diceritakan oleh : GAN KL > buyankaba.com 288

Melihat Ang-lian hoa juga diam saja dan tak dapat membuktikan dia menggunakan ilmu gaib,

segera ia mendengus, “Ang-lian hoa, bilamana ada yang bisa membuktikan aku menggunakan

Liap-sim-sut segala, segera ku tunduk dan mengaku dosa. Sebaliknya kalau tak dapat kau

buktikan, maka berarti kau sengaja memfitnah orang tua. Selaku Houhoat Tianglo Pang kita,

aku tidak dapat tinggal diam dan terpaksa aku harus bertindak untuk membersihkan rumah

tangga Pang kita dari unsur2 jahat.”

Orang ini memang licik dan licin serta jahat jauh di luar perkiraan Ang-lian hoa, meski nyata2

kedoknya sudah terbongkar, tapi dengan segala jalan ia tetap berusaha membela diri, bahkan

memutar balik tuduhannya.

Tanpa terasa Ang-lian hoa menjadi gelisah, pikirnya, “Selama puluhan tahun Lo-pangcu

berusaha membongkar tipu muslihatnya dan tidak berhasil, jelas tidak mudah bagiku untuk

membuka kedoknya dalam waktu sesingkat ini, tampaknya urusan memang sukar

diselesaikan.”

Pada saat itulah se-konyong2 seorang berteriak, “He, tempat apakah ini?… mengapa aku

berada… berada di sini?…”

Ang-lian hoa berpaling, yang berteriak itu kiranya Kim-yan-cu adanya. “Ia menjadi girang,

cepat ia berseru, “Kwe Pian-sian, apakah kaukira di dunia ini benar2 tiada seorangpun yang

dapat membuktikan Liap-sim-sut yang kau gunakan?”

Rupanya setelah mutiara hitam tadi dihancurkan Ang-lian hoa, segera Kim-yan-cu merasa

otaknya tergetar se-olah2 dipalu orang dengan keras, kontan dia ter-huyung2 dan hampir

roboh.

Akan tetapi kemplangan yang keras itu justeru telah menghancurkan daya gaib yang

mempengaruhi pikirannya. Kiranya mutiara hitam itu adalah lambang penguasa jiwanya,

begitu mutiara hitam itu hancur, segera jiwanya bebas dari pengaruh apapun.

Walaupun begitu, dia masih harus pingsan sejenak untuk kemudian baru dapat berteriak.

Dilihatnya Ang-lian hoa melompat ke depannya dan berseru, “Nona Kim, apakah kau benar2

tidak tahu cara bagaimana kau datang ke sini?”

Jilid 12________

Kim-yan-cu tidak lantas menjawab, ia memandang seputarnya, melihat Kwe Pian-sian

seketika ia berteriak: “Dia, ya dia inilah si iblis jahat, dengan ilmu siluman dia memikat

diriku, dia menyuruh aku menjadi kekasihnya, menjadi muridnya, menjadi istri dan menjadi

anaknya”

Sampai di sini barulah meledak raungan murka anak murid Kay-pang.

“Orang she Kwe” teriak Bwe Su-bong dengan gusar, “sekarang apa yang dapat kau sangkal

lagi?”

Renjana Pendekar > Karya Khulung > Diceritakan oleh : GAN KL > buyankaba.com 289

Biji mata Kwe Pian-sian berputar, benaknya bekerja cepat. Dilihatnya anak murid Kaypang

telah mendesak maju dan sukar dibendung, setiap orang memperlihatkan rasa murka dan

benci padanya.

Mendadak Kwe Pian-sian membentak: “Berhenti! apa yang hendak kalian lakukan?”

“Menghukum pengkhianat, membersihkan rumah tangga perguruan!” teriak Bwe Su-bong.

“Hm, kau tidak sesuai untuk melakukan hal itu,” jengek Kwe Pian-sian. Mendadak ia

mengeluarkan sesuatu benda dan diangkat tinggi ke atas sambil membentak: “Coba kau lihat,

apakah ini?”

Yang dipegangnya itu adalah sepotong kain kuning yang sudah tua dan lusuh, pada kain itu

tertulis delapan huruf besar yang berbunyi: “Di mana Houhat tiba, sama seperti ku datang

sendiri”.

Apa yang diperlihatkan Kwe Pian-sian ini adalah panji tanda pengenal yang berkuasa penuh

atas nama sang Pangcu.

Air muka Bwe Su-bong seketika berubah pucat, ucapnya dengan gemetar: “Dari….darimana

kau peroleh panji ini?”

Kwe Pian-sian tidak menghiraukan dia, ia melototi Ang Lian-hoa dan membentak: “Ini tulisan

tangan siapa tentunya kau tahu bukan?”

Ang Lian-hoa menunduk, jawabnya: “Ku tahu, inilah panji gulung para tetua Pang kita sejak

tiga ratus tahun yang lampau….”

“Jika tahu, kenapa tidak lekas berlutut dan menyembah?” bentak Kwe Pian-sian.

Ang Lian-hoa menghela napas sedih, pelahan-lahan ia berlutut.

Kalau sang Pangcu sudah berlutut, anak murid Kay-pang yang lain siapa pula yang berani

berdiri? Dalam sekejap saja beribu murid Kay-pang sama bertekuk lutut. Dalam sekejap saja

beribu murid Kay-pang sama bertekuk lutut.

Kwe Pian-sian menengadah dan tertawa latah, katanya: “Sekalipun aku bersalah umpamanya,

kecuali pada tetua angkatan lalu yang sudah mati itu dapat hidup kembali, siapa pula yang

berhak menghukum akan kesalahanku?”

Tapi mendadak suara tertawanya berhenti, air mukanya juga berubah hebat.

Tiba-tiba terdengar seseorang berteriak: “Aku bukan murid Kay-pang, akupun tidak perduli

panji gulung yang kau pegang apa segala!”

Rupanya dengan belatinya Kim-yan-cu telah menyergap Kwe Pian-sian dari belakang. Setelah

belatinya bersarang di tubuh sasarannya barulah ia berteriak. Lantaran sedang latah dan lupa

daratan, Kwe Pian-sian menjadi lengah, ketika ia merasa apa yang terjadi, namun sudah

terlambat, belati Kim-yan-cu sudah ambles di tulang punggungnya.

Renjana Pendekar > Karya Khulung > Diceritakan oleh : GAN KL > buyankaba.com 290

Para anggota Kay-pang sama terkejut dan juga bergirang, terlihat Kwe Pian-sian hendak

roboh, serunya dengan tersenyum pedih: “Bagus, tak tersangka orang she Kwe kena disergap

oleh seorang anak perempuan…..” mendadak tangannya membalik dan menghantam secepat

kilat.

Pukulan ini berlangsung dengan segenap sisa kekuatannya. Kim-yan-cu tidak mampu

menghindar, tubuhnya mencelat dan jatuh beberapa tombak jauhnya, menjerit saja tidak

sempat, tahu-tahu ia sudah pingsan. Namun belatinya tetap menancap di tubuh Kwe Pian-sian.

Dengan sempoyongan Kwe Pian-sian menyurut mundur ke belakang dengan tangan masih

memegangi panji gulung tadi, serunya dengan menyeringai: “Panji kebesaran ini masih ku

pegang, siapa di antara kalian yang berani mendekati aku?”

Walaupun tahu dirinya dapat membekuk pengkhianat itu dengan mudah, tapi terpaksa Ang

Lian-hoa tidak dapat turun tangan, terpaksa dengan mata terbelalak ia saksikan orang mundur

ke tengah-tengah kerumunan orang banyak.

Syukurlah sebelum Kwe Pian-sian menghilang, sekonyong-konyong bayangan orang

berkelebat, berturut-turut muncul dua orang menghadang jalan pergi Kwe Pian-sian. Orang

yang mendahului adalah seorang To-koh (pendeta perempuan agama To), berambut hitam dan

berjubah kuning, meski usianya sudah setengah baya, tapi masih kelihatan cantik. Pedang

melintang di belakang punggungnya dengan untaian benang sutera kuning menghiasi gagang

pedangnya.

Dia inilah ketua Hoa-san-pay, Hu-yong-siancu Ji Siok-cin, si dewi cantik.

Seorang lagi di belakangnya adalah gadis jelita berperawakan jangkung, namanya Ciong

Cing, murid tertua Hoa-san-pay angkatan terakhir.

Melihat munculnya kedua orang ini, legalah hati Ang Lian-hoa.

Terdengar Ji Siok-cin mendengus: “Hm, karena dosamu sudah kelewat takaran sehingga sukar

bagimu untuk lolos dari jaringan malaikat. Kwe Pian-sian, akhirnya kutemukan juga kau di

sini!”

Kwe Pian-sian meraung keras-keras, segera ia membalik tubuh dan bermaksud menerjang

pergi.

Namun Ji Siok-cin tidak memberi kesempatan lari baginya, kesepuluh jarinya bekerja cepat,

sekaligus ia totok beberapa Hiat-to penting Kwe Pian-sian. Betapapun Kwe Pian-sian

memang sudah terluka parah sehingga sama sekali ia tidak sanggup melawan.

“Apakah Siancu juga ada permusuhan dengan orang ini?” tanya Ang Lian-hoa dengan kejut

bercampur girang.

“Seusai pertemuan Hong-ti, seterusnya aku lantas membuntuti dia,” tutur Ji Siok-cin.

“Permusuhan Hoa-san-pay kami dengan orang ini boleh dikatakan tidak mungkin hidup

bersama.”

Renjana Pendekar > Karya Khulung > Diceritakan oleh : GAN KL > buyankaba.com 291

Lalu ia memberi tanda, Ciong Cing lantas mengangsurkan panji gulung yang dirampasnya

dari Kwe Pian-sian kepada Ang-lian-hoa.

Menyusul Ji Siok-cin berkata pula: “Panji sudah kami persembahkan kembali, bagaimana

kalau Pangcu menyerahkan orang ini kepada Hoa-san-pay kami?”

Dengan hormat Ang-lian-hoa menerima penyerahan panji itu, setelah berpikir sejenak, lalu

berkata: “Jika Siancu tidak kebetulan menyusul tiba, akhirnya orang ini akan kabur juga.”

Ji siok-cin tersenyum dan menyambung: “Apalagi, pada belasan tahun yang lalu mendiang

pangcu kalian yang dulu sudah mengusirnya keluar dari Pang kalian, jika sekarang kubawa

pergi dia tentunya tidak merugikan nama Pang kalian.”

“Betul,” jawab Ang Lian-hoa.

“Terima kasih, pangcu” ucap Ji Siok-cin sambil memberi hormat. Dari jauh ia pandang

sekejap kepada Kim-yan-cu, tiba-tiba ia berkata pula dengan tertawa: “Bila tidak ada orang

ini, kukira tidaklah mudah untuk menangkap Kwe Pian-sian. Mohon pangcu sampaikan

kepada nona ini, kelak bila dia ada sesuatu urusan, pasti Hoa-san-pay akan memberi balas jasa

kepadanya.”

“Sungguh beruntung nona Kim itu bisa mendapat perhatian khusus dari Siancu” ujar Ang

Lian-hoa dengan mengulum senyum.

Ia menyaksikan Ji Siok-cin membawa pergi Kwe Pian-sian dan baru sekarang perasaannya

rada lega, selagi ia hendak mendekati Kim-yan-cu untuk memeriksa keadaan lukanya,

mendadak sesosok bayangan orang melayang tiba dengan cepat.

Ginkang orang ini tidak terlalu tinggi tapi gayanya indah, bajunya yang merah tipis berkibarkibar

tertiup angin laksana gumpalan awan yang meluncur tiba.

“Yang datang apakah Pek-hoa-sucia (dua seratus bunga)?” tegur Ang Lian-hoa dengan dahi

berkerut.

Seorang gadis cantik dengan baju sutera merah tipis sudah berada di depan Ang-Lian-hoa dan

menyembah padanya, jawabnya: “Tecu Hoa Sin menyampaikan sembah hormat kepada

pangcu”

“Terima kasih” kata Ang-lian-hoa dengan tersenyum. “Kedatangan nona ini adakah membawa

pesan Hay-hong Hujin?”

Gadis jelita ini memang betul anggota Pek-hoa-pang (klik seratus bunga) pimpinan Hay-hong

Hujin yang cantik itu. Dengan hormat ia lantas menjawab: “Betul, Tecu diperintahkan kemari

oleh Hujin, pertama untuk menyampaikan terima kasih pangcu yang telah mengantar pulang

Lim suci, kedua: hamba disuruh memohon sesuatu kepada pangcu.”

“Urusan Hay-hong hujin pasti akan kubantu sekuat tenaga.” ujar Ang Lian-hoa dengan

tertawa.

Renjana Pendekar > Karya Khulung > Diceritakan oleh : GAN KL > buyankaba.com 292

Hoa Sin berkedip-kedip kemudian menutur dengan tertawa: “Kwe Hou-hoat dari pang kalian

di masa lampau yang sudah menghilang dari Kangouw selama 15 tahun, konon sekarang telah

muncul lagi. Menurut laporan Toa-suci Hoa Bwe dari perbatasan Siamsay, katanya

kemunculan Kwe Houhoat telah dilihatnya di sana. Hujin pikir, kalau pangcu sedang

mengadakan pertemuan anggota di sini tentu ada hubungannya dengan kemunculan Kwe-

Houhoat, sebab itulah hamba disuruh kemari untuk memohon kepada pangcu….”

“Apakah Hujin ada persoalan dengan dia?” sela Ang-lian-hoa.

Hoa Sin menghela napas, jawabnya: “Ya, begitulah, sebab itulah Hujin mohon bantuan

Pangcu agar bila Kwe-houhoat datang kemari hendaklah segera Pangcu memberi kabar

kepada Hujin dengan bunga api khas kalian, apabila Hujin berada di sekitar sini tentu beliau

dapat segera memburu kemari.

Ang Lian-hoa terdiam sejenak, katanya kemudian dengan tersenyum pahit: “Pesan Hujin

sudah tentu akan kuperhatikan, cuma sayang, kedatangan nona ini agak terlambat satu

langkah.”

“Apakah Kwe-Houhoat telah dihukum mati oleh Pangcu?” seru Hoa Sin kaget.

“Hendaklah nona sampaikan kepada Hujin, katakan bahwa Kwe Pian-sian sudah lama dipecat

oleh Pang kami.” kata Ang-lian-hoa dengan gegetun. “Saat ini dia…. dia sudah dibawa pergi

oleh Ji-siancu, ketua Hoa-san-pay”.

*****

Cukup lama kemudian barulah Kim-yan-cu siuman.

Ang-lian-hoa seperti tidak sabar menunggunya, begitu melihat nona itu sadar segera ia

memberi hormat dan berkata: “Berkat bantuan nona sehingga Pang kami terhindar dari

kesukaran, sebaliknya karena itulah nona terluka, sungguh segenap anggota pang kami tidak

tahu cara bagaimana menyampaikan terima kasih kepada nona.”

Kim-yan-cu tertawa hambar: “Ah, terlalu berat ucapan Pangcu ini bagiku….” dengan cepat

tertawanya berganti menjadi cemas pula, tanyanya: “Dan iblis itu apakah…. apakah sudah

mati?”

“Dia terluka parah dan telah dibawa pergi oleh Ji-siancu dari Hoa-san” tutur Ang Lian-hoa.

“Hoa-san-pay juga bermusuhan dengan dia, apalagi Ji-siancu terkenal paling benci kepada

kejahatan, kukira iblis itu pasti tak bisa hidup lama lagi.”

Kim-yan-cu terdiam sejenak, katanya kemudian dengan menyesal: “Terus terang, kalau aku

tidak menyaksikan mayatnya, betapapun aku tetap kuatir.”

“Musuh orang ini terdapat di mana-mana, sekalipun Ji-siancu tidak membunuhnya, tentu Hayhong

Hujin juga takkan ampuni dia” ujar Ang Lian-hoa dengan tertawa.

“Hay-hong katamu?” Kim-yan-cu menegas dengan berkerut kening.

Renjana Pendekar > Karya Khulung > Diceritakan oleh : GAN KL > buyankaba.com 293

“Ya, Hay-hong hujin, baru saja ia mengirim utusan untuk mencari berita tentang iblis itu”

tutur Ang-lian-hoa.

“Dan sudah kau beritahukan?” tanya Kim-yan-cu dengan muka pucat.

“Dengan sendirinya kuberitahukan padanya, mengapa nona merasa cemas?”

“Jika pangcu memberitahukan apa yang terjadi barusan, maka selanjutnya Hoa-san-pay dan

Pek-hoa-pang pasti akan banyak timbul persoalan.”

“Mengapa begitu?” tanya Ang-lian-hioa dengan terkesiap.

“Apakah Pangcu tahu ada hubungan apa antara Kwe Pian-sian dengan Hay-hong hujin?”

“Tidak tahu” jawab Ang-lian-hoa.

“Apakah orang kangouw tidak ada yang tahu bahwa antara dia dan Hay-hong Hujin adalah

suami-istri?”

“Apa katamu? Suami-istri?” Ang Lian-hoa menegas dengan terperanjat.

“Ya, makanya seumpama Hay-hong Hujin mempunyai dendam apa-apa terhadap bekas

suaminya itu, betapapun dia tidak akan membiarkan dia mati di tangan orang lain. Dengan

demikian dia dan Ji-siancu dari Hoa-san tentu akan bermusuhan.”

Ang Lian-hoa termangu-mangu sejenak, dengan menyesal ia berkata: “Pantas, begitu nona

Hoa Sin itu mendengar keteranganku, buru-buru ia lantas permisi pulang lapor kepada Hayhong

hujin…. Ai, kedua orang ini boleh dikatakan perempuan yang paling sukar direcoki di

dunia Kangouw saat ini, bilamana keduanya saling gempur, maka akibatnya sukar

dibayangkan”

“Urusan sudah terlanjur begini, berkuatir juga tiada gunanya” ujar Kim-yan-cu sambil

meronta bangun berduduk. Tiba-tiba ia menambahkan pula: “Kedatanganku ini sebenarnya

ingin minta sesuatu keterangan kepada Pangcu.”

“Asalkan ku tahu, segala apapun pasti akan kuberitahukan,” jawab Ang-lian-hoa dengan

tertawa.

Kim-yan-cu menunduk, katanya dengan perlahan: “Malam itu, apa yang terjadi antara nona

Lim Tay-ih dan Ji-kongcu di kamar hotel sana, dapatkah pangcu menceritakan kepadaku

dengan jelas?”

Rada berubah air muka Ang Lian-hoa, ia termenung agak lama, akhirnya ia menghela napas

dan berkata: “Dan entah ada sangkut-paut apa antara nona dengan persoalan ini?”

“Bila Pangcu sudi memberitahu, untuk apa pula mesti tanya hubunganku dengan mereka?”

ujar Kim-yan-cu tersenyum kecut.

Kembali Ang Lian-hoa terpekur sejenak, akhirnya ia menutur dengan gegetun: “Hari itu

kebetulan akupun singgah di kota kecil itu, kebetulan kulihat mereka juga masuk ke kota itu,

Renjana Pendekar > Karya Khulung > Diceritakan oleh : GAN KL > buyankaba.com 294

aku dan nona Lim memang …. memang sudah kenal baik, meski tidak kukenal pemuda yang

mendampingi dia itu, tapi kudekati juga dan menyapanya.”

“Pangcu dan Ji Pwe-giok yang sudah mati itu memang sahabat baik, bila melihat nona Lim

berada bersama lelaki lain, mungkin timbul rasa kurang senang di hati Pangcu”

Ang Lian-hoa melengak, mendadak ia tertawa dan berkata: “Ha.ha.ha..ha.! Jika nona anggap

demikian sifat pribadiku, maka salah besar nona. Watakku cukup terbuka, tidak suka

memikirkan adat kolot yang terlalu mengikat itu, jangankan nona Lim memang belum

menikah secara resmi dengan Ji Pwe-giok, sekalipun mereka sudah menikah juga tiada alasan

bagiku untuk memaksa Lim Tay-ih harus menjanda selama hidup. Bila dia mendapatkan

teman lelaki baru, aku justru bersyukur dan bergembira baginya.”

Meski dia tertawa dengan lantang, namun lamat-lamat mengandung perasaan sedih.

Dengan sendirinya Kim-yan-cu tidak dapat merasakan isi hati ketua Kaypang yang gagah dan

muda itu, dengan tertawa cerah ia berkata: “Pangcu memang berpribadi lain daripada yang

lain, bilamana ucapanku tadi salah, hendaklah pangcu jangan marah.”

Ang Lian-hoa tertawa, tapi ia lantas berkerut kening dan berkata pula: “Namun ketika ku sapa

mereka, pemuda itu tampaknya sangat simpatik, sebaliknya nona Lim tidak mau menggubris

diriku, seakan-akan tidak kenal padaku. Padahal persahabatanku dengan dia bukan cuma

sehari dua hari saja, tidak pantas ia bersikap demikian”.

“Bisa jadi…. bisa jadi dia sedang murung atau ada persoalan lain” ujar Kim-yan-cu.

“Ucapanmu memang beralasan, tapi mendadak kuingat bulan yang lalu pernah juga satu kali

dia tidak menggubris padaku ketika kami bertemu, kemudian baru ku tahu bahwa waktu itu

dia terancam bahaya, ada kesukaran yang tak dapat dikatakannya padaku”

“Makanya sekarang Pangcu juga curiga jangan-jangan nona Lim ada kesukaran lain yang tak

dapat diberitahukan kepadamu?” tukas Kim-yan-cu.

“Ya, begitulah” kata Ang Lian-hoa.

“Lantaran itulah Pangcu jadi ketarik untuk menyelidiki seluk-beluknya, meski sebenarnya

urusan orang lain. Dan apa yang Pangcu lihat pada malam itu?”

Mendengar ucapan Kim-yan-cu ini, Bwe Su-bong yang sejak tadi hanya berdiri menunggu di

samping mendadak menyeletuk: “Apa yang dikatakan nona sebenarnya tidak salah. Jika orang

lain melihat sesuatu yang mencurigakan pada siangnya, malamnya tentu akan menyelidiki hal

yang menarik perhatiannya itu, sekalipun tempat yang harus didatangi adalah kamar perawan

juga takkan dihiraukannya….” dia pandang Kim-yan-cu dengan tersenyum, lalu menyambung

pula: “Tapi nona jangan lupa, seorang kalau sudah menjabat Pangcu Kay-pang, maka

kedudukannya akan banyak berbeda daripada orang lain, setiap tindak tanduknya tidak boleh

lagi gegabah.”

Muka Kim-yan-cu menjadi merah, cepat ia berkata: “Ya, maaf… jika ucapanku tidak pantas

tapi…. tapi apakah Pangcu memang sama sekali tidak tertarik untuk menyelidikinya?”

Renjana Pendekar > Karya Khulung > Diceritakan oleh : GAN KL > buyankaba.com 295

“Setiap langkah Pangcu kami selalu hati-hati dan prihatin, meski beliau tidak sudi melakukan

sesuatu yang merosotkan derajatnya, tapi urusan yang menyangkut keselamatan teman pasti

juga takkan dibiarkannya begitu saja” kata Bwe Su-bong.

“Kecermatan bertindak Ang-lian Pangcu dan keluhuran budinya terhadap teman-teman sudah

cukup dikenal orang, termasuk pula diriku, kukira tidak perlu dijelaskan lagi oleh Cianpwe!”

kata Kim-yan-cu.

Sekali ini muka Bwe Siu-bong yang agak merah, cepat ia berdehem dan berkata pula: “Demi

menyelidiki apa yang terjadi, Pangcu hanya menyuruh seorang anggota Pang kami menyamar

sebagai pelayan hotel untuk mengawasi setiap gerak-gerik yang terjadi di kamar nona Lim”

“Oo, bilakah hal itu terjadi?” tanya Kim-yan-cu.

Bwe Su-bong memandang Ang-lian-hoa sekejap, sang Pangcu mengangguk, habis itu baru

Bwe Su-bong menyambung lebih lanjut. “Tatkala itu sudah magrib….”

Mendadak Kim-yan-cu memotong dengan tertawa: “Jika suka, mohon Pangcu sendiri saja

yang bercerita. Kalau tidak, setiap kalimat Bwe cianpwe harus minta izin satu kali kan repot?”

Bwe Su-bong bergelak tertawa, katanya; “Pendekar perempuan si walet emas benar-benar

tidak boleh direcoki. Hanya karena kata-kataku tadi agak menyinggung, tampaknya nona

menjadi sakit hati dan tidak dapat mengampuniku.”

Sembari tertawa iapun memberi hormat dan mengundurkan diri.

Kim-yan-cu berkata dengan gegetun: “Pangcu mempunyai pembantu setia begini, sungguh

sangat mengagumkan orang.”

Tanpa menunggu tanggapan Ang-lian-hoa, segera ia bicara tentang soal pokok pula: “Setelah

anggota Pang kalian menyamar dan masuk ke kamar nona Lim, adakah hal-hal mencurigakan

yang dilihatnya?”

“Keadaan yang dilihatnya memang agak mencurigakan, dilihatnya nona Lim selalu murung,

sejak awal hingga akhir sama sekali tidak menggubrisnya,” tutur Ang-lian-hoa.

Tentu saja, mana mungkin nona Lim menggubris seorang pelayan, kenapa mesti diherankan?”

ujar Kim-yan-cu.

“Soalnya nona Lim seharusnya kenal anggota kami itu,” kata Ang lian hoa.

“Oo . . .. ” Kim-yan-cu melengak.

“Sebelum ini, kira-kira sebulan yang lalu di sekitar Siang-ciu, waktu itu nona Lim juga

terancam bahaya, tapi dia mencari peluang untuk secara diam-diam mengirimkan berita

kepadaku. Tapi sekali ini dia jejak awal hingga akhir tidak menggubris penghubung kami itu,

bukankah sangat aneh?” “Maka Pangcu lantas…”

Renjana Pendekar > Karya Khulung > Diceritakan oleh : GAN KL > buyankaba.com 296

“Makanya aku lantas menduga keadaan nona Lim sekali ini jauh lebih berbahaya daripada

pengalaman yang dulu sehingga sama sekali tiada peluang baginya untuk mengadakan kontak

denganku.

Kim-yan-cu berpikir sejenak, katanya kemudian: “Apakah Pangcu tidak berpikir ada

kemungkinan nona Lim memang tiada terancam bahaya apa-apa sehingga dia memang tidak

perlu mengirim sesuatu berita kepadamu?”

“Sudah tentu kemungkinan ini pun bisa terjadi cuma . .. . kalau nona Lim tidak terancam

bahaya, sedikitnya dia kan mesti bertegur sapa padaku?”

“Bisa jadi mendadak dia tidak suka bertegur sapa dengan Pangcu.”

“ini jelas tidak mungkin.”

“Masa Pangcu begitu yakin?” tanya Kim-yan cu dengan tatapan tajam.

“Ya,” jawab Ang-lian-hoa pasti.

Tiba-tiba Kim-yan-cu tertawa, katanya: “Jika demikian, hubungan Pangcu dengan nona Lim

pasti lain daripada yang lain, pantaslah Pangcu sedemikian memperhatikan urusan nona Lim.”

Air muka Ang-lian-hoa rada berubah, tapi ia lantas berkata dengan tertawa: Nona juga sangat

memperhatikan utusan ini, bahkan selalu berbicara mengenai Ji kongcu itu. Agaknya nona

juga mempunyai hubungan istimewa dengan Ji-kongcu?”

Kim-yan cu melengak, segera ia tertawa, katanya: “Ang-lian-pangcu memang betul-betul

tidak boleh direcoki oleh siapapun juga.”

Kedua orang saling pandang dengan tertawa, namun tertawa yang menyerupai menyengir,

meski mereka berdua sama-sama cukup bijaksana terhadap sesuatu, tapi sekarang tertekan

juga perasaan mereka.

Selang sejenak barulah Ang-lian-hoa berkata lagi: “Anak buah kami yang bernama Seng-losu

itu beberapa kali pura-pura mengantar teh ke kamar nona Lim, dilihatnya nona itu sedang

menangis, waktu dia masuk kamar, nona Lim lantas menutup kepalanya dengan selimut dan

Ji-kongcu itupun melengos ke arah dinding, agaknya tidak ingin muka mereka dilihat orang.

“Dan Pangcu bertambah heran tentunya,” kata Kim yan-cu.

“Ya, waktu Song-losu menyampaikan laporan kepadaku, sementara itu hari sudah jauh

malam, tatkala mana meski aku tambah curiga, tapi masih juga ragu-ragu apakah aku harus

langsung menyelidiki ke sana ataukah tidak.”

“Entah kemudian mengapa Pangcu bertekad turun tangan sendiri?”

“Pada saat itulah kulihat beberapa Ya heng-jin (orang berpakaian piranti malam) yang tinggi

sekali Ginkangnya telah melayang ke arah hotel sana, maka aku tidak ragu lagi dan segera

menyusul ke sana.”

Renjana Pendekar > Karya Khulung > Diceritakan oleh : GAN KL > buyankaba.com 297

“Aha, yang mengikuti gerak-gerik mereka kiranya masih ada lagi kelompok lain. Siapakah

mereka itu, apakah Pangcu melihatnya?” seru Kim yan-cu.

“Gerak-gerik orang-orang itu rada misterius, mereka sama memakai kedok kain hitam,

hakekatnya aku tidak tahu siapa mereka. Tapi setiba di hotel itu dari jauh kulihat salah

seorang di antaranya terus menyusup masuk ke cerobong hawa di atap rumah. Padahal

cerobong hawa itu sangat sempit, orang biasa jelas sukar masuk ke situ, kecuali orang yang

memiliki Nui-kang (ilmu kelemasan, badan plastik) yang hebat. Tentunya nona tahu jarang

sekali orang Kangouw yang terkenal mahir Nuikang.”

“Jangan-jangan Pangcu mengira orang itu adalah Sebun Bu Kut?” ucap Kim yan cu.

“Ya, kukira bukan orang lain.”

“Untuk apakah Sebun Bu kut senantiasa mengawasi mereka?”

“Persoalan ini agak panjang untuk diceritakan. Yang dapat kuberitahukan kepadamu adalah

karena nona Lim itu adalah bakal istri Ji-hiante yang telah mati itu, sedangkan segala sesuatu

urusan yang menyangkut Ji-hiante tidak pernah terlepas dari pengawasan mereka.”

Kim yan-cu termangu-mangu sejenak, katanya kemudian dengan berkerut kening: “Wah,

urusan ini makin lama makin ruwet tampaknya.”

“Ya, dalam persoalan ini memang terkandung banyak rahasia, kalau kami tidak utang budi

kepada nona, tidak nanti kuceritakan padamu.”

“Tapi Pangcu juga tidak perlu kuatir, asalkan urusan yang menyangkut Ji Pwe-giok, baik Ji

Pwe-giok yang hidup ataupun Ji Pwe-giok yang sudah mati, aku berjanji akan menjaga

rahasia baginya.”

Ang lian hoa tertawa, ia menyambung pula: “Malam itu gelap gulita, tiada rembulan dan

tanpa bintang, tamu hotel sudah tidur seluruhnya, suasana di halaman hotel itu sunyi dan

gelap. Kelima Ya heng-jin itu, kecuali Sebun Bu-kut yang sembunyi di dalam cerobong hawa

itu, empat lainnya telah mengepung rapat kamar nona itu.”

“Bukankah mereka hanya mengintai gerak-gerik nona Lim secara diam-diam, mengapa

mereka mengepung tempat tinggal nona Lim, apakah mereka ada maksud jahat lain?”

“Betul, memang ada maksud jahat lain.”

“Mereka…. apa yang hendak dilakukan mereka?”

Ang lian hoa menatapnya dengan terbelalak, sampai lama tidak menjawab.

Dengan suara keras Kim yan cu berkata pula : “Urusan apapun juga, demi Ji Pwe-giok itu,

aku rela mati daripada membocorkan sepatah kata rahasianya.”

Ang lian hoa menghela napas lega, katanya pula dengan pelahan: “Jelas mereka hendak

meringkus nona Lim dan dibawa pulang, kalau tidak dapat meringkusnya dengan hidup,

membunuhnya bukan soal lagi.”

Renjana Pendekar > Karya Khulung > Diceritakan oleh : GAN KL > buyankaba.com 298

“Sebab apa?” seru Kim yan cu.

“Hal ini kukira tiada sangkut pautnya lagi dengan persoalan yang ingin diketahui nona, betul

tidak?” tanya Ang lian hoa.

Kim yan cu berpikir sejenak, akhirnya ia tanya pula: “Sebun bu-kut adalah sahabat baik Lenghoa

kiam Lim Soh koan, sedangkan Lim Tay-ih adalah puteri tunggal Lim Soh koan,

mengapa Sebun Bu-kut hendak membunuhnya, apakah dia tidak takut dituntut balas oleh Lim

Soh koan?”

“Di dunia ini memang banyak persoalan yang sukar dimengerti orang,” tutur Ang lian hoa

dengan gegetun. “Hanya dapat kukatakan padamu, jauh sebelum itu mereka sudah bermaksud

membekuk Lim Tay-ih, tapi waktu itu nona Lim telah dibawa pergi oleh Hay-hong Hujin,

meski mereka tidak berani merecoki Hay-hong Hujin, tapi demi melihat Lim Tay-ih berada

sendirian, tentu saja mereka tidak mau melepaskan dia.”

“Lalu mengapa mereka tidak…. tidak cepat turun tangan?”

“Bisa jadi lantaran mereka pun rada-rada jeri terhadap Ji kongcu ini, mungkin pula mereka

ingin tahu ada hubungan apa antara Lim Tay-ih dan Ji Pwe-giok yang satu ini.”

Setelah menghela napas, lalu ia sambung pula: “Tampaknya mereka rada jeri terhadap Jihiante

dan masih sangsi kalau-kalau dia belum mati. Sebab itulah ketika dilihatnya nona Lim

berada pula dengan Ji Pwe-giok baru, mereka menjadi curiga kalau-kalau Ji Pwe-giok yang

baru ini adalah samaran Ji Pwe-giok yang lama, kalau tidak, menurut sifat Lim Tay-ih yang

angkuh itu tidak nanti mau tinggal bersama satu kamar dengan pemuda yang tidak

dikenalnya.”

“Mungkin hal ini pula yang menimbulkan curiga Pangcu?” kata Kim yan cu.

“Tapi ku tahu pasti Ji-hiante benar-benar sudah mati, apabila Ji-kongcu yang ini adalah

samaran Ji-hianteku itu, mustahil dia tidak menyapa diriku ketika berjumpa.”

Kim yan cu terdiam sejenak, katanya kemudian dengan perlahan: “Ucapan Pangcu memang

tidak salah, Ji Pwe-giok yang mana pun tidak nanti bersikap dingin begitu.”

“Kukenal kelihaian kelima orang ini, seluruhnya tergolong jago kelas satu, dengan sendirinya

aku sangat kuatir bagi nona Lim. Tapi sebelum mereka bertindak, terpaksa akupun tidak dapat

turun tangan, akupun tak dapat mendekat hingga mengejutkan mereka terpaksa aku hanya

sembunyi di balik atap rumah seberang, dari jauh ku intai gerak-gerik mereka.”

“Dalam pada itu di dalam kamar nona Lim apakah tiada sesuatu suara?” tanya Kim yan cu.

“Waktu itu di kamarnya sama sekali tiada sesuatu suara, namun lampunya menyala, kusangka

mereka sudah tidur, siapa tahu pada saat itu juga mendadak nona Lim mendepak pintu kamar,

sambil berteriak-teriak ia terus menerjang keluar.”

“Aha, pahamlah aku!” seru Kim yan cu mendadak sambil berkeplok tangan.

Renjana Pendekar > Karya Khulung > Diceritakan oleh : GAN KL > buyankaba.com 299

“Nona paham apa?” tanya Ang lian hoa dengan melengak.

“Mungkin nona Lim tahu ada orang sedang mengintainya, secara diam-diam maka dia sengaja

menerjang keluar, apabila di sekitarnya terdapat banyak orang, dengan sendirinya Sebun Bukut

dan begundalnya itu tidak bebas turun tangan.”

Ang lian hoa berpikir sejenak, katanya: “Nona Lim memang cerdik dan pintar, dari tindaktanduknya

di masa memang bisa jadi dia sengaja berbuat begitu. Tapi umpama

pertengkarannya dengan Ji-kongcu itu hanya pura-pura saja, beberapa tusukan pedangnya itu

jelas-jelas bukan pura-pura.”

“Tapi dia kan tidak melukai Ji-kongcu itu dengan parah?”

“Biarpun tidak parah, tapi juga tidak ringan. Apalagi…. seumpama terkaan nona betul, kan

salah juga perbuatan Lim Tay-ih itu?”

“Salah!? Salah bagaimana?”

“Kau tahu, sebabnya Sebun Bu-kut tidak segera turun tangan jelas karena dia rada jeri

terhadap Ji Pwe-giok itu, maka Sebun Bu-kut tidak perlu kuatir lagi.”

“Tapi di halaman hotel kan banyak orang?”

“Orang-orang di hotel itu mana dipandang sebelah mata oleh mereka? Maka waktu Lim Tayih

menusuk Ji Pwe-giok untuk kedua kalinya, serentak Ya heng-jin yang siap di atas rumah

juga lantas berdiri dan hendak bertindak.”

“Sebab itulah Pangcu lantas mendahului menerjang ke sana!?”

“Waktu itu akupun tahu tidak boleh ayal lagi, harus turun tangan lebih dulu secara mendadak,

Tay-ih harus diselamatkan agar mereka kaget dan kelabakan.”

“Tatkala mana orang lain mungkin menyangka orang yang ditolong Pangcu ialah Ji-kongcu,

tak tahunya yang ditolong adalah nona Lim. Dari sini terbuktilah bahwa sesuatu yang

disaksikan sendiri terkadang juga belum pasti betul,” Kim Yan cu menghela napas, lalu

berkata pula: “Bukankah apa yang kupikirkan tadipun salah?”

“Salah? Hal apa?” tanya Ang lian hoa.

“Yaitu, nona Lim benar-benar ingin membunuh Ji-kongcu dan bukan cuma pura-pura saja,

sebab kalau dia benar-benar tahu ada orang sedang mengincarnya, dengan sendirinya dia

memerlukan bantuan Ji-kongcu untuk menghadapi musuh, mana bisa dia bertengkar sendiri

dengan Ji-kongcu?”

“Kukira belum tentu,” kata Ang lian hoa setelah termenung.

“Oo!…”

“Bisa jadi sebelumnya dia telah melihat diriku, tahu diam-diam aku pasti akan mencari

kesempatan untuk menolong dia.”

Renjana Pendekar > Karya Khulung > Diceritakan oleh : GAN KL > buyankaba.com 300

“Jika demikian, apa gunanya dia berlagak begitu?”

“Mungkin disebabkan dia kuatir Sebun Bu-kut dan begundalnya itu akan salah sangka Jikongcu

itu sebagai Ji-hianteku yang sudah meninggal itu, setelah dia melukai Ji-kongcu itu

tentu orang lain takkan menaruh curiga lagi….” sampai di sini, ujung mulut Ang lian hoa

seperti rada gemetar.

Kim yan cu jadi terharu, katanya: “Jika demikian, apa yang dilakukan nona Lim itu bukan

cuma untuk kepentingan sendiri, tapi juga demi keselamatan Ji-kongcu. Dia menyerang

kepada Ji-kongcu bukan sengaja hendak mencelakainya, tapi sebaliknya ingin

menyelamatkannya.”

“Itu pun hanya dugaanku saja,” ujar Ang lian hoa dengan menghela napas.

“Setelah kau selamatkan nona Lim, apakah tidak kau tanya kepadanya?”

Ang lian hoa memandang jauh ke depan sana, jawabnya kemudian dengan perlahan: “Dengan

hak apa kutanyai isi hatinya?”

Kim yan cu menatapnya lekat-lekat, tiba-tiba dia tertawa dan berkata: “Jangan kau kuatir, dia

pasti tidak benar-benar jauh cinta terhadap Ji-kongcu itu, dia justeru benar-benar sangat benci

padanya, bisa jadi dia benar-benar ingin membunuhnya.”

Ang lian hoa melengak, katanya kemudian dengan tersenyum hambar: “Jangan kuatir?

Memangnya apa yang kukuatirkan?”

“Tidak perlu kau dusta padaku,” ucap Kim Yan cu dengan rawan, “ku tahu isi hatimu, hanya

saja….. hanya saja nona Lim tidak tahu, kuharap semoga dia akan tahu.”

Tiba-tiba sorot mata Ang lian hoa menampilkan perasaan menderita, tapi di mulut ia tergelak

tertawa, katanya: “Apapun yang kau pikir atas diriku pasti keliru seluruhnya, ketahuilah

hubungan Ji Pwe-giok dan aku adalah seperti saudara sekandung.”

“Tapi Ji Pwe-giok sudah mati bukan?”

“Meski dia sudah mati, tapi di dalam hatiku dia tetap hidup selamanya.”

“Apakah demi dia, kau rela mengorbankan perasaanmu? Jika dia benar-benar sahabatmu yang

sejati, di alam baka juga dia berharap kau yang akan menggantikan dia untuk menghibur nona

Lim.”

“Nona Lim tidak perlu dihibur siapapun!” seru Ang lian hoa.

“Kau salah!” ucap Kim yan cu. “Ku tahu saat ini nona Lim sangat menderita, orang yang

dapat menghiburnya saat ini mungkin cuma kau saja, hanya Ang lian hoa seorang.”

Ang lian hoa memandangnya tanpa berkedip, sampai lama barulah ia mendengus: “Hm, kau

berharap aku akan menghibur nona Lim, apakah lantaran kau takut dia akan merampas kau

Renjana Pendekar > Karya Khulung > Diceritakan oleh : GAN KL > buyankaba.com 301

punya Ji-kongcu? Kau berharap dia membenci Ji-kongcu, bahkan membunuhnya daripada

mereka terikat menjadi satu?”

Gemetar tubuh Kim yan cu, ia menunduk perlahan, ucapnya dengan tersendat: “Be… betul,

ucapanmu memang tidak salah, aku…. aku manusia yang egois…. aku hanya memikirkan

kepentinganku sendiri…..” belum habis ucapannya, berderailah air matanya.

Sinar mata Ang lian hoa memancarkan cahaya penuh penyesalan, katanya dengan suara halus:

“Demi cinta, siapakah di dunia ini yang tidak egois? Cinta artinya monopoli, tidak mungkin

dibagi.”

“Hanya kau!” kata Kim yan cu sambil menengadah. “Cintamu berarti pengorbanan, meski

mengorbankan dirinya sendiri toh kau berusaha tidak diketahui orang lain. Dan untuk itu

mengapa aku tidak boleh meniru kau? Mengapa tidak boleh….”

Ang lian hoa tidak ingin si walet emas meneruskan ucapannya itu, maklumlah, kata-kata itu

laksana jarum yang menyakitkan hatinya, ia coba mengalihkan pokok pembicaraan, katanya

dengan tersenyum: Setelah nona bertanya padaku, sekarang akupun ingin tanya beberapa hal

kepadamu.”

“Ta….tanya saja,” jawab Kim-yan-cu.

“Dari mana nona mengetahui urusan ini?”

Kim-yan-cu mengusap air matanya, jawabnya: “Malam itu, kau lihat Suma Bun tidak?”

“Sin-to Kongcu Suma Bun, maksudmu? Malam itupun ia hadir di sana?”

“Dia sendiri yang memberitahukan peristiwa itu kepadaku, tadinya kukira urusan ini sangat

sederhana, setelah mendengar cerita Pangcu barulah kurasakan persoalan ini sesungguhnya

sangat ruwet dan di luar dugaanku. Meski Pangcu telah menceritakan kejadian itu secara

terperinci dan jelas, tapi sesungguhnya bagaimana latar belakang persoalan ini tetap tidak

jelas bagiku”

“Bukan saja nona tidak jelas, memangnya aku tahu jelas?” ujar Ang Lian-hoa. “Padahal

malam itu akupun banyak melalaikan hal-hal lain, aku cuma memperhatikan tindak-tanduk

Sebun Bu-kut dan begundalnya, sampai Sin-to Kongcu berada di sana juga tidak

kuperhatikan. Kalau diam-diam ada orang lain lagi tentu aku lebih tidak tahu.”

“Ya, secara diam-diam memang masih ada lagi satu orang!” kata Kim-yan-cu.

“Siapa?” tanya Ang Lian-hoa cepat.

“Seorang gadis yang cantik dan misterius” tutur Kim-yan-cu dengan pelahan. “Konon setelah

melihat dia, seketika Ji-kongcu ketakutan seperti melihat setan dan segera melarikan diri”

“Siapa pula nona cantik itu? Mengapa Ji-kongcu sedemikian takut padanya?”

“Rahasia ini kukira selain Ji Pwe-giok sendiri tiada orang lain lagi yang tahu.”

Renjana Pendekar > Karya Khulung > Diceritakan oleh : GAN KL > buyankaba.com 302

“Ji Pwe-giok, Ji Pwe-giok!…..” Ang Lian-hoa menarik napas panjang sambil menengadah.

“Nama Ji Pwe-giok mengapa selalu menyangkut rahasia sebanyak ini?”

“Mengapa tidak…. tidak kau tanyakan padaku tentang rahasia apa di balik hubungan nona

Lim dengan Ji-kongcu itu? Bukan mustahil akulah orang yang tahu rahasia mereka.”

Ang Lian-hoa tersenyum pedih, ucapnya: “Makin banyak rahasia yang diketahui seseorang,

semakin menderita pula dia. Sudah cukup banyak rahasia yang kuketahui, lebih baik aku tidak

menambah penderitaan lagi”.

*****

Meski Kim-yan-cu dapat berbicara panjang lebar, tapi lukanya tidak ringan, untung obat luka

Kay-pang sangat mujarab, sekalipun begitu dia tetap sukar melangkah, masih belum boleh

bergerak.

Ang-lian-hoa menyarankan agar dia merawat lukanya, setelah sembuh baru berangkat, tapi

Kim-yan-cu tidak sabar lagi, kalau disuruh berbaring di tempat tidur betapapun dia tidak

betah.

Terpaksa Ang-lian-hoa menyuruh Bwe Su-bong mengantar nona itu, bahkan melanggar

kebiasaan, Kim-yan-cu disewakan sebuah kereta. Maklumlah, kaum pengemis terkenal

sebagai kaki besi, selamanya berjalan dan tidak pernah menggunakan kendaraan.

Kebetulan Bwe-su-bong juga seorang yang tidak sabaran, tanpa didesak Kim-yan-cu ia terus

membedal kereta kudanya dan sekaligus sampai di Li toh-tin. Setiba di kota kecil ini bahkan

masih tengah malam hari kedua.

Bwe-su-bong menghentikan kereta, ia berpaling dan bertanya: “Apakah adik perempuanmu

menunggu nona di suatu tempat di kota ini?”

“Ya, dahulu pernah kutinggal semalam di kota ini, tempatku bermalam itu bernama Li-kehcan,

di hotel itulah kusuruh dia menunggu kedatanganku” tutur Kim-yan-cu.

“Baru pertama kali ku datang ke kota ini, entah Li-keh-can itu terletak di jalan mana?”

Kim-yan-cu melongok keluar dan memberi tahu dengan tertawa: “Di kota ini hanya ada

sebuah jalan raya ini, hotel itu terletak di…..”

Belum habis ucapannya, tiba-tiba di dalam kegelapan di sebelah timur sana bergema suara

raungan yang seram, mirip suara raungan macan tutul sebelum keluar rimba.

Menyusul di sebelah selatan juga bergema dua kali suara aneh, suara seperti tambur dipukul,

di sebelah barat juga berkumandang suara auman seperti bende berbunyi, lalu dari sebelah

utara juga bergema suara siulan nyaring.

Di tengah malam gelap mendadak timbul suara aneh itu, sampai Kim-yan-cu juga gemetar

dan berkerut kening, katanya: “Suara apakah itu, jelas seperti suara tambur, bende dan

sebagainya, tapi rasanya seperti raungan binatang buas”

Renjana Pendekar > Karya Khulung > Diceritakan oleh : GAN KL > buyankaba.com 303

Air muka Bwe Su-bong berubah hebat, ucapnya dengan suara tertahan: “Lekas sembunyi di

dalam kereta dan jangan bersuara”. Segera ia melayang turun ke bawah kereta.

Kuda penarik kereta juga ketakutan oleh suara seram itu hingga kaki lemas dan tak sanggup

berjalan, mulut kuda tampak berbuih, sekuatnya Bwe Su-bong menyeretnya ke bawah pohon.

Pada saat itulah terdengar suara kain baju berkibar tertiup angin, beberapa sosok bayangan

melayang tiba secepat terbang, dalam kegelapan tidak jelas kelihatan wajah mereka. Tapi

jelas semuanya memakai baju ketat dengan gerakan lincah dan gesit.

Meski diliputi perasaan heran, tapi demi mendengar suara misterius tadi serta melihat kuda

yang lemas ketakutan, diam-diam tangan Kim-yan-cu berkeringat dingin, ia mendekap di

dalam kereta dan tidak berani bersuara.

Bwe Su-bong berlagak memegang tali kendali dan berdiri di bawah bayang-bayang pohon

tanpa bergerak seolah-olah kuatir dilihat oleh kawanan Ya-heng-ji itu, tapi orang-orang itu toh

melihatnya juga.

Salah seorang di antaranya tampak merandek dan mengomel: “Kereta ini sangat menyolok

mata, hancurkan saja!”

“Sudahlah, bos telah mendesak, untuk apa kita cari gara-gara” kata seorang lagi.

Orang pertama tadi menjengek: “Jika begitu, untunglah kakek ini.”

Baru habis ucapannya beberapa orang itu sudah melayang lewat beberapa tombak jauhnya.

Kim-yan-cu melongok keluar lagi dan bertanya kepada Bwe Su-bong: “Malam ini mengapa

Cianpwe menjadi takut perkara?”

Bwe Su-bong menghela napas, ucapnya sambil menyengir: “Mereka tidak mengganggu kita,

buat apa kita mengganggu mereka?”

“Apakah orang-orang ini sukar direcoki?” tanya Kim-yan-cu.

“Masa nona tidak tahu siapakah mereka?”

“Memangnya siapa?”

“Apakah nona tidak pernah mendengar “Su-ok-siu” (empat binatang buas) yang malang

melintang di wilayah propinsi Sujwan, Kamsiok, Siamsay dan Ohpak?”

“Jadi mereka itulah Su-ok-siu?”

“Ya, lengkap empat, semuanya datang”

“Konon Su-ok-siu ini meski sama terkenalnya, tapi masing-masing berkuasa di wilayahnya

sendiri-sendiri, biasanya jarang berhubungan satu sama lain, mengapa sekarang mereka

berkumpul di sini?”

Renjana Pendekar > Karya Khulung > Diceritakan oleh : GAN KL > buyankaba.com 304

“Ya, hal ini memang rada mengherankan, kalau tiada transaksi besar, tidak nanti Su-ok-siu

turun tangan sekaligus bersama, tapi di kota kecil seperti Li-toh-tin ini masa ada transaksi

besar?”

Tiba-tiba air muka Kim-yan-cu berubah, ia pandang jauh ke depan sana, terlihat jalan raya

sepi nyenyak, kawanan Ya-heng-jin tadi sudah menghilang. Ia menghela napas, katanya:

“Apakah kau memang melihat kemana perginya mereka?”

“Seperti menghilang di gedung ujung jalan sana” jawab Bwe Su-bong.

“Hah, celaka, disitulah letak Li-keh-can,” seru Kim-yan-cu.

Berubah juga air muka Bwe Su-bong, tanyanya: “Apakah adik perempuanmu membawa

sesuatu benda mestika yang berharga?”

“Bukan saja membawa benda mestika, bahkan tidak sedikit jumlahnya,” jawab Kim-yan-cu,

sembari bicara ia terus berusaha melompat keluar.

Tapi Bwe Su-bong keburu mencegahnya, desisnya: “Jangan bergerak, nona, lukamu belum

lagi sembuh.”

Kim yan-cu menjadi gelisah, katanya: “Su-ok-siu ini sedemikian terkenal, tentu ilmu silat

merekapun tidak lemah, adik perempuanku cuma sendirian dan pasti bukan tandingan mereka.

Apakah aku harus berdiam diri menyaksikan dia dicelakai orang?”

Bwe Su-bong tampak prihatin, katanya pelahan: “Tapi biarpun sekarang nona ikut turun

tangan juga tiada gunanya, malahan cuma mengantar nyawa belaka.”

“Habis…. habis bagaimana baiknya?” Kim yan-cu menjadi kelabakan.

“Jangan kuatir nona” ujar Bwe Su-bong dengan tertawa, “asalkan ku hadir di sini, tidak boleh

mereka berbuat sesukanya”

Meski begitu ucapannya, sesungguhnya iapun tidak yakin akan jaminannya itu.

“Kalau begitu lekaslah kau mencari akal, kalau terlambat mungkin urusan bisa runyam” pinta

Kim-yan-cu.

“Cara turun tangan mereka takkan terlalu cepat” tutur Bwe Su-bong setelah berpikir sejenak.

“Sebelum turun tangan biasanya Su-ok-siu selalu berhati-hati, makanya selama ini mereka

jarang gagal”

Sembari bicara ia terus mengamat-amati sekeliling sana, dilihatnya di belakang hotel Li-kehcan

itu terdapat sebuah rumah kecil berloteng sehingga lebih tinggi daripada atap rumah di

sekitarnya.

Tiba-tiba Bwe Su-bong tertawa dan berkata: “Aku sudah kakek-kakek hampir 70 tahun, kalau

nona tidak merasa tubuhku kotor, marilah ku gendong saja, kita sembunyi dulu di atas loteng

sana untuk mengawasi gerak-gerik mereka”

Renjana Pendekar > Karya Khulung > Diceritakan oleh : GAN KL > buyankaba.com 305

“Ya, selain jalan ini kukira tak berdaya lagi” ujar Kim-yan-cu dengan gegetun.

Begitulah Bwe-Su-bong lantas menggendong Kim-yan-cu dan memutar ke samping rumah

kecil berloteng itu, ia mengeluarkan seutas tali panjang, digantolkan pada emper loteng, lalu

merambat ke atas dengan hati-hati.

Meski gelisah dan wataknya tidak sabaran, namun jelek-jelek dia tokoh Kangouw yang sudah

ulung, dengan sendirinya dia bisa lebih hati-hati dari pada biasanya, apalagi dia menggendong

seorang, gerak-geriknya kurang leluasa, bila melompat tentu menimbulkan suara, maka dia

tidak berani main loncat ke atas loteng.

Dari atas loteng itu dapat memandang jelas, keadaan sekitarnya, terutama Li-keh-can di

depannya, kecuali kedua lampu kerudung yang tergantung di depan pintu hotel itu serta

samar-samar ada cahaya lampu di kamar pengurus, suasana sekelilingnya gelap gulita dan

sunyi senyap, hanya keresekan daun pohon yang terkadang tertiup angin memecah kesunyian

malam yang seram.

Di bawah pohon, di ujung tembok, di balik atap rumah, setiap tempat yang gelap lamat-lamat

ada bayangan orang, namun tidak terdengar sesuatu suara yang mencurigakan.

Kim-yan-cu menjadi kuatir, gumamnya dengan suara tertahan: “Mengapa tidur Ji-moay

seperti babi mampus, kawanan bandit sudah di depan pintu dan dia belum lagi tahu.”

Di tempat gelap terdengar ada orang menjentik sebagai tanda, empat lelaki serentak melolos

golok dan merunduk ke rumah di depan sana. Dua orang di antaranya menuju ke pintu dan

dua lagi mendekati jendela. Tapi belum lagi dekat, mendadak di dalam rumah cahaya lampu

terang benderang.

Ke empat orang itu terkejut dan berhenti dengan golok terhunus dan siap tempur. Tak

tersangka di dalam rumah lantas berkumandang suara tertawa orang perempuan yang genit,

berbareng itu pintu lantas terbuka.

Tertampaklah seorang nona jelita dengan membawa sebuah lampu minyak muncul di ambang

pintu. Dia memakai baju tidur warna ungu tipis, perawakannya yang ramping dan garis

tubuhnya yang samar-samar kelihatan di bawah cahaya lampu.

Terkejut juga Bwe Su-bong memandangnya dari jauh, pikirnya: “Adik perempuan Kim-yancu

mengapa secantik ini?”

Ke empat lelaki tadipun terkesima berhadapan dengan perempuan cantik itu sampai bernapas

saja setengah ditahan, bahkan orang-orang yang masih bersembunyi di tempat gelap juga

sama melotot.

Perempuan cantik itu memang betul Gin-hoa-nio adanya, dia mengerling genit, katanya

dengan tersenyum menggiurkan: “Kedatangan para Toako ini apakah hendak mencari

diriku?”

“Iya….” mestinya ke empat lelaki itu hendak mengucapkan kata-kata yang bengis, tapi aneh,

mulut terasa kering dan jantung berdetak keras, bukan saja tidak dapat memperlihatkan sikap

buas, bahkan kata-kata kasar juga sukar terucapkan.

Renjana Pendekar > Karya Khulung > Diceritakan oleh : GAN KL > buyankaba.com 306

“Jika kalian ingin mencari diriku, hayolah silahkan masuk dan minum dulu, mengapa berdiri

saja di luar, kalau masuk angin kan bisa berabe…..” demikian ucap Gin-hoa-nio dengan suara

lembut sambil menggeliatkan pinggangnya yang ramping, senyumnya juga tambah genit.

Dia seperti nyonya rumah yang simpatik terhadap kunjungan tamunya dari jauh, seperti sama

sekali tidak tahu kedatangan orang-orang ini bermaksud membunuhnya.

Ke empat lelaki tadi menjadi melenggong bingung. Sesungguhnya mereka sudah cukup

berpengalaman, tapi terhadap nona jelita tanpa senjata ini mereka tidak tahu apa yang harus

diperbuatnya.

Mendadak salah seorang di antara ke empat lelaki itu berkata dengan tertawa aneh: “Nyonya

rumah secantik ini mengundang kita minum, mana boleh kita kecewakan kehendaknya.

Biarlah aku “Oh-pa” (harimau tutul hitam) Cin Piao mencicipi dulu suguhannya”

Di tengah suara tertawa seram, seorang di antaranya yang berbaju hitam, berbadan tinggi

dengan gerak-gerik gesit segera melangkah maju. Langkahnya kelihatan sangat mantap,

namun tidak terdengar suara sedikitpun.

Dipandang dari jauh, orang itu seperti sangat gagah, tapi ketika mukanya tersorot cahaya

lampu, seketika orang terperanjat, orang tidur saja mungkin akan terjaga bangun.

Ternyata muka orang gagah itu hitam pekat, tulang pipinya menonjol, mukanya penuh codet,

bekas sayatan pisau, ketika tertawa mulutnya yang lebar tampak merah menganga seakanakan

sekali caplok lawan bisa diganyangnya mentah-mentah.

Gin-hoa-nio memandangnya tanpa gentar, ia malah tersenyum genit dan berkata: “Wah,

pahlawan gagah perkasa begini mana boleh minum teh saja, syukur di sini tersedia beberapa

botol arak simpanan, pahlawan dengan arak, begini barulah setimpal.”

Cin Piao si macan tutul hitam terbahak-bahak.

Belum lagi dia bicara, seorang lagi sudah berteriak: “Keparat, perempuan ini memang

menarik, betapapun aku juga mau minum satu cawan”

Di tengah gelak tertawa masuk lagi tiga orang. Orang pertama tinggi besar dan gemuk,

mukanya penuh daging lebih. Orang kedua tinggi kurus, mukanya pucat seperti mayat,

hidungnya tinggal separuh, telinganya juga hilang satu.

Orang ketiga tampaknya tidak begitu buruk rupa, tapi jalannya yang abnormal, terincat-incut,

kedua tangannya juga terus gemetar, orang bisa muak melihat dia.

Kim-yan-cu saja hampir tumpah demi melihatnya dari jauh.

Bentuk ketiga orang itu dari kepala sampai ke kaki hakekatnya sukar dikatakan mirip

manusia. Namun Gin-hoa-nio tidak memperlihatkan rasa kurang senang, ia tetap tertawa

manis menyambut kedatangan ketiga orang itu, bahkan ia memberikan lirikan yang

menggiurkan kepada setiap orangnya sehingga membikin setiap orang itu berpikir seolah-olah

lirikan si cantik hanya ditujukan kepadanya saja.

Renjana Pendekar > Karya Khulung > Diceritakan oleh : GAN KL > buyankaba.com 307

Lelaki baju merah yang tinggi besar dengan muka penuh daging lebih itu terbahak-bahak,

teriaknya: “Busyet, sudah lama ku malang melintang kian kemari, tapi belum pernah aku

“Ang-hou” (harimau merah) Tio Kang melihat perempuan sexy begini, sungguh ingin sekali

ku caplok kau mentah-mentah”

Orang berbaju putih yang berjalan paling belakang terkekeh-kekeh, katanya: “Nona jangan

kaget, Hou-loji (si harimau kedua) memang suka omong kasar, tapi hatinya sangat baik…..”

sembari bicara, tubuhnya terus menggigil tiada hentinya.

Ang-hou Tio Kang berkata dengan tertawa: “Betul, mukaku sih tidak setampan Pek-coalongkun

(si bagus ular putih), tapi hatiku lebih baik dari pada dia, bila kau digauli sekali

olehnya, sedikitnya tiga hari kau tak bisa bangun….”

Begitulah sambil bersenda-gurau beberapa orang itu terus melangkah masuk kamar seperti

masuk ke rumah sendiri, hakekatnya tidak gentar kalau-kalau si cantik menggunakan akal

licik terhadap mereka.

Hanya si baju kelabu yang hidungnya tinggal separuh itu tetap bersikap acuh tak acuh,

memandang sekejap saja tidak terhadap Gin-hoa-nio, seolah-olah sama sekali tidak berminat

terhadap perempuan.

Tapi ketika dia lalu di samping Gin-hoa-nio, sekonyong-konyong ia remas pantat Gin-hoa-nio

sehingga nona itu menjerit kesakitan. Tapi segera Gin-hoa-nio tertawa genit dan

membisikinya: “Tadinya kukira kau ini lelaki suci bersih, tak tahunya juga sama bangornya.

Anjing yang suka menggigit orang biasanya memang tidak menggonggong”

Tanpa menoleh, si baju kelabu berucap dengan ketus, “Serigala yang makan manusia biasanya

juga tidak menyalak.”

“0ooo, kau serigala ?” tanya Gin-hoa-nio dengan tertawa.

“Ya, serigala kelabu.” jawab orang itu.

Sesudah ke empat orang itu berada di dalam kamar, si Harimau merah Tio Kang lantas

menjatuhkan diri di tempat tidur, ia tarik selimut dan diendusnya lalu tertawa dan berkata,

“Haha, harum amat tubuh perempuan ini, sampai selimutnya juga ketularan wangi, sungguh

aku tidak tahan, ingin ku tindih mampus dia.”

“Wah tampaknya Loji sudah lupa tujuan kedatangan kita ini !” omel si baju kelabu.

Gin-hoa-nio tertawa, katanya, “Apapun maksud tujuan kedatangan kalian ini, pokoknya

minum arak saja dahulu, kan tidak menjadi soal bukan ?” Segera ia menuang empat cawan

arak dan diaturkan kepada tetamunya.

Pek-coa-longkun terkekeh-kekeh, katanya, “Ai, tangan nona putih mulus begini, entah arak

yang kau suguhkan ini beracun atau tidak?”

Renjana Pendekar > Karya Khulung > Diceritakan oleh : GAN KL > buyankaba.com 308

Ang-hoa melompat bangun, ia tarik tangan Gin-hoa-nio dan di rabanya, katanya dengan

tertawa, “Arak suguhan dari tangan putih halus begini, sekalipun beracun juga akan

kuminum.”

Benar juga, tanpa pikir ia angkat salah satu cawan arak itu terus ditenggaknya hingga habis.

Ob-pah melototi sang kawan, ia cukup licin, ia tunggu sebentar lagi dan melihat Ang-huo

sama sekali tidak ada tanda-tanda keracunan, bahkan si harimau merah itu bertambah

gembira. Maka tertawalah Oh-pah alias Macan Tutul hitam katanya, “Masa ada orang main

racun di depan kita ? ….. Hehe, kukira nona ini bukan orang bodoh!” Sambil bicara iapun

angkat satu cawan dan di minum habis.

Pada saat itulah, Bwe Su-bong yang mengintai di rumah seberang sana sedang tanya Kimyan-

cu dengan suara tertahan, “Kau kira arak itu beracun atau tidak ?”

“Mungkin tidak,” jawab Kim-yan-cu, “Ai, seharusnya di berinya racun.”

“Jika demikian pikiran nona, kukira kau keliru besar,” ujar Bwe Su-bong dengan tersenyum.

“Menaruh racun di dalam arak terlalu mudah di ketahui lawan, tentu saja sangat berbahaya,

jelas adik perempuanmu tidak mau bertindak sebodoh itu.”

“Memangnya dia mempunyai cara lain?” ujar Kim-yan-cu dengan gregetan.

“Menurut pandanganku, tindakan adikmu mungkin jauh lebih pintar dari pada nona sendiri

dan jauh lebih tinggi daripadaku.” kata Bwe Su-bong. “Tampaknya urusan ini tidak perlu lagi

kita ikut campur.”

Dalam pada itu terlihat Gin-hoa-nio sedang menyuguhkan arak ke depan Pek-coa-long-kun,

katanya, “Apakah kongcu tidak sudi minum arak suguhanku?”

Pek-coa-long-kun tertawa terkekeh-kekeh, katanya, “Tapi melulu minum arak saja kan kurang

menyenangkan, nona harus memberikan barang pengiring arak sekalian.”

Gin-hoa-nio melirik genit, tanyanya, “Kongcu menghendaki barang pengiring arak apa ?”

“Sepanjang jalan kami mengikuti nona ke sini apa tujuan kami masakah nona tidak tahu ?”

kata Pek-coa -longkun dengan tertawa misterius.

“O, barang yang tidak manis juga tidak asin begitu masa dapat digunakan pengiring arak ?”

ucap Gin-hoa-nio dengan menggigit bibir.

“Meski barang-barang itu tidak manis, juga tidak asin tapi, asalkan ku lihatnya sekejap,

sedikitnya ku sanggup minum tiga cawan arak,” ujar Pek-coa-long-kun. “Tapi entah nona sudi

memperlihatkan tidak kepada kami barang tersebut ?”

“Jika Kongcu menghendaki demikian, mana aku berani menolak,” kata GIn-hoa-nio dengan

tertawa genit, Mendadak dia menyingkap kain sprei tempat tidur yang terletak di pojok kamar

sana.

Renjana Pendekar > Karya Khulung > Diceritakan oleh : GAN KL > buyankaba.com 309

Seketika pandangan semua orang terasa silau, sinar-sinar lampu seolah-olah menjadi suram

oleh cahaya gemerlapnya ratna mutu manikam. Seketika ke empat orang itu mendelik, tubuh

Pek-coa-longkun menggigil semakin keras.

Segera Ang-hou melompat maju, diraupnya segenggam batu permata itu, teriaknya dengan

gembira, “Sungguh tak kusangka begini gemuk kambing kita ini, setelah transaksi ini,

mungkin selanjutnya kita tidak perlu susah payah lagi dan dapat hidup tenteram sampai tua.”

Pek-coa-longkun terkekeh-kekeh, katanya, “Cuma sayang, barang-barang ini kan milik nona

jelita ini, apakah orang sudi menyerahkannya kepada kita kan masih menjadi soal.”

“Kita angkut saja dan habis perkara, perduli dia mau memberi atau tidak?! teriak Ang-hou.

“Kita kan orang sopan, segala sesuatu harus permisi dulu kepada yang empunya,” ujar Pekcoa-

longkun dengan terkekeh-kekeh.

“Baik, biar kutanya dia, ” teriak Ang-hou. “Eh, mestika ratu, boleh tidak ? Hahahaha, kita

bertanya padanya boleh atau tidak, Hahaha…”

Makin keras tertawanya dan makin geli rasanya, sampai-sampai ia memegangi perut dan

menungging.

Gin hoa nio tidak memberi reaksi-apa-apa, dengan tersenyum ia berkata: “Sebelumnya hamba

sudah tahu kalian akan kemari, maka sudah kusiapkan semua barang yang kalian inginkan

ini.”

“Hahaha, memang sudah kukatakan kau ini perempuan cerdik,” seru Ang hou sambil

bergelak.

“Bukan cuma batu permata ini saja akan kupersembahkan kepada kalian, bahkan masih ada

barang berharga lain juga akan kuserahkan kepadamu, entah kalian sudi menerima atau

tidak?”

Ang-hou mendelik, teriaknya: “Masih ada barang berharga lain lagi? Di mana? Lekas

perlihatkan kepadaku!”

Gin hoa nio mengerling genit, ucapnya dengan tersenyum: “Barang itu sudah berada di sini.

Coba kalian pikir, benda paling berharga apa yang terdapat pada diriku? Masa kalian tidak

dapat menerkanya?”

Ang-hou garuk-garuk kepalanya yang tidak gatal dan berteriak-teriak: “Tak dapat kuterka,

aku tidak tahu, benda apa maksudmu?”

“Andaikan kalian tak dapat menerkanya, biarlah ku perlihatkan saja!” ujar Gin hoa nio dengan

lirikan mautnya.

Perlahan ia menarik baju tidurnya yang tipis itu sehingga merosot ke lantai, maka

tertampaklah dadanya yang menegak hanya tertutup oleh selapis kutang yang tipis remangremang,

tubuhnya yang montok dan pahanya yang mulus dengan warna kulit yang putih

bersih…..

Renjana Pendekar > Karya Khulung > Diceritakan oleh : GAN KL > buyankaba.com 310

Biji mata Su ok siu melotot seperti mata ikan emas yang akan melompat keluar dari rongga

matanya, napas mereka pun makin kasar dan akhirnya megap-megap, kalau semula ada tiga

bagian mereka masih menyerupai manusia, tapi sekarang hampir seluruhnya berubah menjadi

binatang yang buas dan kelaparan.

Biji leher Ang hou tampak naik turun, berulang kali ia menelan air liur, gumamnya kemudian:

“O, mestika ratuku, sungguh ini benar-benar mestika ratu nomor satu di dunia ini, jika ada

anak kura-kura yang bilang ini bukan mestika ratu, maka matanya pasti buta dan akan

kuhancurkan mulutnya.”

Pek coa longkun juga tambah gemetar sehingga pinggangnya hampir patah, gumamnya

dengan tergagap-gagap: “Nona…. nona benar-benar …. benar-benar hendak memberikan

barangmu yang berharga ini kepada kami?”

Gin hoa nio bersuara aleman, ucapnya sambil tersenyum manis. “Pemuda mana yang tidak

birahi, gadis mana yang tidak gairah. Perempuan kalau sudah dewasa yang dikehendakinya

bukan lagi batu permata melainkan lelaki.”

Tangannya yang menutupi dada itu perlahan-lahan mulai merosot ke bawah, lalu ucapnya

pula dengan suara yang menggetar sukma: “Tentunya para Kongcu dapat melihat sendiri, aku

tidak lagi anak kecil bukan?”

Ang hou tertawa dengan setengah menjerit, teriaknya: “Bilamana ada anak kura-kura yang

bilang kau masih anak kecil, seketika akan ku masukkan lagi dia ke perut biangnya.”

Mendadak Oh pah Cin Piau berkata dengan bengis: “Perempuan cantik dan genit macam kau

ini kalau ingin cari lelaki, sekaligus satu keranjang juga dapat kau dapatkan, sebab apa kau

sengaja menghendaki kami? Sesungguhnya akal bulus apa yang telah kau atur?”

Gin hoa nio tertawa ngikik, katanya: “Meski kalian berempat tidak terhitung cakap, tapi

kalian adalah lelaki sejati, jantan cemerlang, hanya anak perempuan yang masih hijau saja

yang suka kepada lelaki sebangsa enak dipandang tak berguna dipakai. Aku justeru…..” ia

lantas menunduk dan malu-malu kucing seperti gadis pingitan, lalu sambungnya dengan

tertawa genit: “Yang kusukai adalah lelaki jantan, jantannya lelaki.”

“Plok”, Ang hou berkeplok sambil berteriak: “Keparat, ucapanmu memang tepat, nyata

pandanganmu memang tajam, anak muda yang bermuka putih seperti pupuran itu mana becus

bekerja? Hahaha, cukup kau jepit dengan pahamu saja mungkin seketika keluar kuning

telurnya.”

“Tapi…. tapi hamba pun mempunyai sesuatu kesukaran,” tiba-tiba Gin hoa nio menghela

napas.

Ang hou jadi mendelik, tanyanya cepat: “Apa kesukaranmu?”

Gin hoa nio tidak lantas menjawab, ia mengerling mesra sekeliling kepada keempat orang itu,

lalu berkata dengan menyesal: “Soalnya begini, meski batu permata ini dapat dibagi menjadi

empat, tapi diriku hanya seorang saja….”

Renjana Pendekar > Karya Khulung > Diceritakan oleh : GAN KL > buyankaba.com 311

“Di antara kami berempat hanya aku saja yang belum berbini, sudah tentu kau mestika ratu ini

adalah milikku,” teriak Ang hou.

Dengan menunduk Gin hoa nio berkata: “Tio-kongcu gagah perkasa, sudah tentu terhitung

lelaki tulen, bilamana kudapatkan suami seperti dirimu, apa pula yang kuharapkan lagi, hanya

saja….” sembari bicara, matanya diam-diam melirik Cin Piau, si macan tutul.

Benar saja, belum habis ucapannya, serentak Cin Piau berteriak: “Tio-loji, barang lain boleh

kuberikan padamu, tapi mestika ratu jelita ini adalah milikku Cin-lotoa.”

“Lotoa (si tua)? Hehe, jika aku tidak mengalah, bisakah kau menjadi Lotoa?” jengek Tio

Kang alias Ang hou atau di harimau merah.

Cin Piau menjadi gusar, bentaknya: “Jadi kau tidak terima?”

“Terima? Berdasarkan apa aku mesti mengalah padamu?”

Gemerdep sinar mata Gin hoa nio, jelas dalam hati sangat senang, tapi di mulut ia berkata: “Eeh,

janganlah kalian bertengkar, apabila kalian bersaudara bertengkar lantaran diriku, wah,

entah bagaimana hamba harus menebus dosaku ini.”

Pek coa longkun terkekeh-kekeh, katanya: “Ucapan nona ini memang tidak salah, jika kita

bersaudara bertengkar mengenai seorang perempuan, bukankah akan dibuat buah tertawaan

orang? Menurut pendapatku, mestika ratu ini akan menjadi milik siapa boleh ditanyakan

langsung kepada dia sendiri.”

Si ular putih ini menganggap dirinya paling cakap dan menarik di antara mereka berempat,

jika sang “mestika ratu” disuruh memilih, jelas dirinya yang akan terpilih.

Tapi harimau merah, serigala kelabu dan macan tutul hitam juga mengira dirinya masingmasing

yang dipenujui Gin hoa nio, kalau tidak masakah lirikan si cantik yang membetot suka

itu selalu tertuju ke arahnya?

Baru habis ucapan si ular putih, serentak ketiga rekannya menyatakan setuju: “Ya cara ini

memang paling bagus dan adil!”

Ang hou lantas menyambung pula dengan tertawa: “Mestika sayang, jadilah kau Ong Po sun

dan Aku Sih Peng kui (Nama-nama peran dalam cerita roman kuno), pilihlah aku!?”

Gin hoa nio menunduk sambil menggigit bibir, seperti malu dan juga seperti serba salah.

Kerlingannya yang mesra justru mengusap kian kemari secara bergilir di antara ke empat

orang itu.

Oh pah Cin Piau bertepuk-tepuk dada dan berkata: “Siapa yang kau sukai, katakan saja terus

terang, tidak perlu takut!”

“Betul, jangan takut,” tukas Ang hou. “Bila aku yang kau pilih, katakan saja, kalau ada anak

kura-kura yang berani mengganggu seujung rambutmu, lihat saja kalau tidak kugetok

kepalanya hingga gepeng.”

Renjana Pendekar > Karya Khulung > Diceritakan oleh : GAN KL > buyankaba.com 312

Sembari bicara sebelah tangannya bertolak pinggang dan tangan yang lain memperlihatkan

ototnya yang kuat.

Begitulah ke empat orang itu sama yakin pasti dirinya yang akan dipilih Gin hoa nio.

Sungguh luar biasa. Memang tidak mudah bagi seorang perempuan untuk membuat setiap

lelaki sama merasa mabuk baginya, dalam hal ini Gin hoa nio harus diberi piala.

Menyaksikan kejadian itu dari kejauhan, berulang-ulang Bwe Su-bong juga mengurut dada,

sungguh mimpi pun dia tidak menyangka Kim yan cu mempunyai adik perempuan sehebat

itu, diam-diam ia pun membatin: “Untung usiaku sudah hampir 70, kalau tidak, bisa jadi

akupun akan terjun ke sana dan ikut ambil bagian…..”

*****

Dalam pada itu, Gin hoa nio tampaknya masih ragu-ragu, biji matanya berputar-putar dan

tetap tak dapat mengambil keputusan, lama sekali barulah ia menghela napas dan berkata:

“Kalian semuanya adalah lelaki sejati dan ksatria terpuji, sungguh aku menjadi bingung, entah

siapa yang harus ku pilih. Setelah kupikir pergi-datang, kukira hanya ada satu cara untuk

menentukannya.”

Cara bagaimana?” tanya ke empat orang itu serentak.

“Begini,” tutur Gin hoa nio dengan senyum genit dan lirikan mautnya, “kalian kan tahu,

perempuan adalah kaum lemah, setiap perempuan tentu berharap akan mendapatkan suami

yang berilmu silat tinggi dan bertenaga kuat……”

Air muka si serigala kelabu yang licin dan licik itu seketika berubah, tapi Gin hoa nio tidak

memberi peluang baginya untuk bicara, cepat ia menyambung: “Tapi kalau kalian berempat

benar-benar saling berhantam sehingga ada yang cedera, tentu hatiku akan sedih.”

Mendengar ini, air muka si serigala kelabu berubah menjadi tenang kembali.

Sebaliknya si harimau merah berkerut kening dan berkata: “Tapi kalau tidak saling gebrak,

cara bagaimana membedakan Kungfu siapa yang lebih unggul? Keparat, aku menjadi bingung

apa kehendakmu sesungguhnya.”

Gin hoa nio tertawa manis, ucapnya pula: “Maka hamba cuma ingin kalian memperlihatkan

sejurus Kungfu masing-masing saja, aku yang melihat dan aku yang menilai, sebaliknya

takkan merusak persaudaraan kalian sekaligus juga ketahuan Kungfu siapa yang lebih

unggul.”

“Aha, bagus,” teriak Ang hou dengan tertawa. “Tak terduga, kepalamu yang kecil ini berisi

akal sebanyak ini.”

Pada saat itulah Kim-yan-cu mengintip di seberang sana berkata pula kepada Bwe Su-bong:

“Entah akal apa yang sedang diaturnya sekarang?”

“Sudah tentu akal untuk memancing agar ke empat orang itu saling membunuh sendiri.” ujar

Bwe Su-bong.

Renjana Pendekar > Karya Khulung > Diceritakan oleh : GAN KL > buyankaba.com 313

“Jika demikian, mengapa dia tidak berdaya agar mereka lekas saling bergebrak?” kata Kimyan-

cu.

“Di sinilah letak kecerdikan adikmu” ujar Bwe-Su-bong dengan tertawa. “Serigala kelabu itu

sudah mencurigai adikmu sedang main gila, jika saat ini juga adikmu menyuruh mereka

saling baku hantam, mungkin serigala kelabu itu akan segera berontak.”

“Tapi kalau ke empat orang itu tidak saling gebrak, cara bagaimana pula bisa terjadi bunuh

membunuh?”

“Agaknya adikmu sudah tahu, meski ke empat orang itu bersaudara, tapi satu sama lain tidak

mau mengalah, tiada satupun mengakui kungfunya di bawah yang lain, maka akhirnya

mereka pasti akan saling hantam sendiri. Biarkan mereka baku hantam sendiri kan jauh lebih

baik daripada adikmu yang menyuruhnya?”

Kim-yam-cu menghela napas dan tidak bicara lagi.

Dalam pada itu terlihat si harimau merah sedang mengulet badan dengan kemalas-malasan

sehingga seluruh ruas tulang badannya sama berbunyi keriat-keriut, habis itu mendadak ia

meraung, sebelah tangannya terus menghantam sebuah bangku batu bulat disampingnya.

Bangku itu berbentuk bulat tengahnya kosong, tapi biarpun begitu, umpama orang biasa

memukulnya dengan palu besar juga tidak mungkin dapat menghancurkannya dengan sekali

hantam. Sekarang si harimau merah sekali hantam telah dapat membuat bangku batu itu

menjadi berkeping-keping.

Gin-hoa-nio berseru dengan tersenyum genit:

“Wah, hebat sekali kungfu Tio-kongcu, sungguh mimpipun tak terpikir olehku tenaga seorang

bisa begini besar dengan kepalan yang begitu keras”

Ang-hoa tertawa latah sambil melirik hina kesana dan ke sini, teriaknya:

Setelah kuperlihatkan kungfuku ini, kukira orang lain tidak perlu coba-coba lagi”

“Ya, kungfumu ini memang sukar dibandingi siapapun,” ujar Gin-hoa-nio dengan senyuman

menggiurkan, namun matanya senantiasa melirik ke arah si macan tutul.

Cin-piau, si macan tutul hitam mendengus:

“Hm, tangan To-loji memang kuat untuk membelah kayu, tapi kalau digunakan untuk

bertempur jelas tiada gunanya.

Muka Ang-hou menjadi merah, teriaknya gemas: “Bedebah, tiada gunanya katamu?

Memangnya kau lebih kuat daripadaku?”

Oh-pah atau si macan tutul hitam mendengus, pelahan ia berduduk di bangku batu yang lain,

ia duduk dengan diam, sampai sekian lama tetap tidak bergerak.

Renjana Pendekar > Karya Khulung > Diceritakan oleh : GAN KL > buyankaba.com 314

“Hehe, kungfu macam apa yang kau perlihatkan? kungfu pantat barangkali? ejek si harimau

merah dengan tertawa.

Oh-pah tetap berduduk tanpa bergerak, jengeknya kemudian: “Seumpama otakmu bebal,

apakah matamu juga buta?”

Baru sekarang Ang-hoa mengamati-amati rekannya dan seketika ia tidak sanggup tertawa

lagi. Tiba-tiba dilihatnya bangku batu yang diduduki Oh-pah itu makin lama makin pendek,

bangku batu yang berat itu ada sebagian ambles ke dalam tanah.

Nyata, meski kelihatannya Oh-pah hanya berduduk tanpa bergerak, tapi sesungguhnya dia

sudah memperlihatkan Lwekangnya yang hebat.

Dengan tertawa genit Gi-hoa-nio berseru: “hih, Cin-lotoa memang tidak malu sebagai orang

pertama, jika bangku ini berujung lancip masih dapat dimengerti, tapi bangku ini berujung

rata, sekarang ada setengahnya tertanam ke dalam tanah, sungguh hebat tenaga dalamnya

betul tidak Kongcu-kongcu yang lain?”

Pek-coa-longkun tertawa terkekeh kekeh, ucapnya: “Betul, betul! beberapa bulan tidak

bertemu, tak tersangka kungfu Cin-lotoa sudah maju sepesat ini.”

Oh-pah tertawa bangga, katanya: “Jika kungfuku tiada kemajuan, kan bisa di…” mendadak ia

berhenti tertawa, air mukanya juga berubah pucat.

Rupanya entah sejak kapan si serigala kelabu telah merunduk ke belakang Oh-pah dan

menyarangkan belatinya di punggung rekannya.

Keringat dingin tampak menghiasi dahi Oh-pah dengan suara gemetar ia berkata: “Losam,

ke… keji amat kau!”

Wajah si serigala tiada memperlihatkan sesuatu perasaan, ucapnya dengan dingin:

“Aku cuma ingin memberitahukan padamu bahwa Kungfu Tio-loji hanya cocok untuk dipakai

memotong kayu, sebaliknya kungfumu juga belum tentu ada gunanya.

Manusia adalah makhluk hidup, mungkinkah dia akan kau duduki sesukamu seperti bangku

yang kau tanamkan ke dalam tanah ini?”

Dengan pandangan yang licik ia melototi Gin-hoa-nio dan berkata pula dengan menyeringai:

“Kungfu yang paling berguna di dunia ini adalah kungfu yang dapat digunakan membunuh

orang betul tidak nona?”

Oh-pah meraung kalap, segera ia membalik tubuh dan bermaksud mencekik leher si serigala.

Namun si serigala sempat melompat mundur, belati juga dicabutnya sehingga darah lantas

mancur dari tubuh Oh-pah, belum lagi macam tutul hitam itu berdiri seketika ia jatuh

terguling ke lantai dan tidak mampu bangun pula.

Ang-hou meraung gusar: “Sekalipun Cin-lotoa bukan orang baik, jelek-jelek dia kan saudara

kita, mengapa kau membunuhnya?”

Renjana Pendekar > Karya Khulung > Diceritakan oleh : GAN KL > buyankaba.com 315

“Setelah ku bunuh dia, bukankah kau yang menjadi Lotoa?” jawab si serigala.

Ang-hoa mengelak, ia mendengus dan tidak bicara lagi.

Pek-coa-longkun terkekeh kekeh katanya: “Ucapan … memang betul, kungfu apa segala,

semuanya palsu, hanya kungfu yang dapat membunuh orang adalah kungfu sejati. Kungfuku

membunuh orang tentunya juga tidak kurang hebat daripada kungfu si Lo-sam?”

Sambil bicara terus ia terus mengitar ke belakang Ang-hou, mendadak ia melolos belati terus

menikam. Kecepatan dan kegesitan serta kelihaiannya memang tidak di bawah Hwe-long atau

si serigala kelabu.

Tak tersangka, meski si harimau merah itu tampaknya gede dan bodoh, sesungguhnya dia

malah cukup cerdik. Baru saja si ular putih turun tangan, secepat itu pula dia membalik tubuh

dan balas menghantam.

Cuma sayang, badannya terlalu gede, meski tikaman si ular tidak mengenai tempat yang fatal

namun tetap mengenai bahunya, begitu keras tikaman itu sehingga belati itu ambles

seluruhnya ke dalam dagingnya. Begitu kuat tikaman itu sampai si ular sendiripun tak sempat

menahan diri.

Di tengah raungan keras Ang-hou terus pentang sebelah tangannya, seketika si ular kena

didekapnya di bawah ketiak, Anghou menyeringai: “He he, coba kemana lagi kau akan lari?”

Si ular ketakutan dan berteriak: “He, Tio-loji, lepaskan, ampuni aku!”

“Hatiku sih mau mengampuni kau, tapi sayang tanganku tidak boleh.” jawab Ang-hou sambil

tertawa. ia perkeras dekapannya, terdengarlah suara “Krak-krek” beberapa kali tulang badan si

ular tergencet remuk, jeritan ngeri berubah menjadi rintihan. Sampai akhirnya suara

rintihanpun tidak terdengar lagi, barulah Ang-hou mengangkat tangannya dan Pek-coalongkun

terus jatuh terkapar seperti bangkai ular.

Diam-diam si serigala kelabu merasa ngeri, ucapnya kemudian dengan terkekeh: “Wih, hebat

benar tenaga Tio-loji.” Ang-hou mencabut belati yang menancap di belakang bahunya, darah

segar kontan menyembur seperti air mancur, namun dia sama sekali tidak merasa sakit,

katanya terhadap Hwe-long sambil menyeringai: “Sekarang tinggal kau, apa kehendakmu?”

Jilid 13________

Gin-hoa-nio telah menyingkir ke samping, ia hanya menonton tanpa ikut bicara. Ia tahu api

sudah menyala dan tidak perlu diberi minyak lagi.

Dilihatnya Ang-hoa dan Hwe-long lagi saling melotot, sampai lama sekali keduanya tetap

diam saja.

Tiba-tiba Hwe-long mendekati meja, kursi ditariknya lalu duduk, katanya dengan tersenyum:

“Tio loji, mengapa tidak duduk saja dan marilah kita berbincang-bincang.”

“Duduk ya duduk, orang lain takut kepada tipu muslihatmu, masa akupun takut kepadamu?”

kata Ang-hoa, segera iapun menarik kursi dan duduk.

Renjana Pendekar > Karya Khulung > Diceritakan oleh : GAN KL > buyankaba.com 316

Dengan tersenyum Hwe long berkata pula: “Sebuah meja boleh berpasangan dengan dua kursi

bukan?”

Ang-hoa tidak tahu untuk apakah lawannya bertanya tentang tetek bengek begitu, ia cuma

mengangguk dan menjawab singkat: “Betul!”

Hwe-long mengangkat poci dan menuang dua cangkir the, katanya pula dengan tertawa: “Dan

satu poci juga boleh berpasangan dengan dua cangkir, betul tidak?”

“Huh, omong kosong!” omel Ang-hou dengan gusar.

Dengan tertawa Hwe-long menyodorkan secangkir teh yang dituangnya itu dan berkata: “Jika

kita sama-sama dapat minum teh, untuk apa mesti berkelahi mati-matian?”

Lamat-lamat Gin-hoa-nio sudah dapat merasakan maksud tujuan ucapan si serigala kelabu,

diam-diam ia berkerut kening.

Didengarnya Ang-hou menjawab dengan aseran: “Sesungguhnya apa arti ucapanmu, aku

tidak paham!”

“Tentunya kau pernah membaca, dahulu ada dua ratu bersama mengawini seorang suami dan

kisah itu dijadikan cerita yang menarik. Sekarang kita berdua adalah saudara, mengapa kita

tidak boleh berkongsi mengawini seorang isteri?”

“Urusan lain boleh berkongsi, hanya isteri yang tidak boleh berkongsi,” jawab Ang-hou

dengan gusar.

“Sabar, pertimbangkan dulu,” kata Hwe-long.” Musuh kita tidaklah sedikit, umpama aku kau

bunuh dan tersisa kau sendiri, apakah kau takkan kesepian dan kehilangan kawan? Apalagi

bila kita bergebrak sungguh-sungguh, siapa yang akan terbunuh kan juga masih suatu tanda

tanya, betul tidak?”

Lama juga Ang-hou melototi si serigala, tiba-tiba ia tertawa, katanya: “Betul juga, setengah

potong bini rasanya lebih baik daripada sama sekali tidak punya bini. Apalagi melihat

gairahnya yang menyala, sendirian belum tentu ku sanggup melayani dia.” Ia angkat cangkir

dan berkata pula: “Saudaraku yang baik, usulmu sangat bagus, terimalah hormat satu cangkir

ini.”

Gin-hoa-nio tertawa terkikit-kikik, ucapnya: “Usulnya memang bagus, setelah kau minum teh

ini, tentu kau akan tahu betapa bagus usulnya ini.”

Berputar biji mata Ang-hou, cangkir teh yang sudah diangkatnya ditaruhnya lagi. Meski

sebodoh kerbau orang ini, betapapun sudah puluhan tahun dia berkecimpung di dunia

Kangouw, perbuatan baik mungkin dia tidak paham, tapi perbuatan busuk tidak sedikit yang

diketahuinya. Sambil masih memegangi cangkir teh itu, ia melototi Hwe-long dan berkata:

“Apakah di dalam air teh ini kau hendak main gila padaku?”

“Lo-ji, jangan kau sembarangan menuduh, kita adalah saudara sendiri, jangan mau diadu

domba orang,” teriak Hwe-long.

Renjana Pendekar > Karya Khulung > Diceritakan oleh : GAN KL > buyankaba.com 317

Gin-hoa-nio tertawa dan berkata: “Jika demikian, boleh coba kau minum teh itu.” Dengan

berlenggak-lenggok dia mendekati Ang-hou dan mengambil cangkir teh itu terus disodorkan

ke depan Hwe-long. Di luar tahu orang, ujung kukunya yang bercat merah itu seperti dicelup

perlahan ke dalam teh. Lalu ucapnya dengan tertawa genit: “Kau bilang air teh ini beracun,

jika kau tidak mau minum juga takkan kusalahkan kau.”

“Kalau kau tidak berani minum teh itu, segera kugencet pecah kepalamu!” teriak Ang-hou

dengan gusar.

Air muka Hwe-long bertambah pucat, serunya: “Teh ini semula tidak beracun, tapi sekarang

telah kau racuni.”

“Kau… kau bilang aku yang menaruh racun?” tanya Gin-hoa-nio dengan terbelalak.

“Ya, kau perempuan busuk ini !” teriak Hwe-long, berbareng ia lantas menjotos.

Namun Gin-hoa-nio keburu menyingkir dan bersembunyi di belakang Ang-hou.

Serentak Ang-hou juga melompat bangun sambil meraung: “Bangsat! Jelas-jelas kau yang

menaruh racunnya dan sekarang menuduh orang lain? Kau kira Locu ini babi goblok?”

Berbareng itu ia terus menubruk ke sana. Terdengar suara “blak-bluk ” dua kali, kedua

kepalan Hwe-long dengan tepat menghantam tubuh ang-hou, tapi pukulan itu seperti

mengenai karung pasir, sama sekali si harimau merah tidak bergeming.

Keruan Hwe-long terkejut, segera ia hendak mencabut belati lagi, namun Ang-hou tidak

memberi kesempatan padanya, kontan ia balas menonjok perut Hwe-long.

Serigala kelabu yang kerempeng itu tidak tahan, ia menungging kesakitan. Menyusul Anghou

lantas menambahi sekali hantam di kepalanya, seketika kepala pecah dan otak

berantakan.

Kedua pukulan Ang-hou itu tidak pakai jurus silat segala, tapi pukulan umum, namun cukup

berguna. Barang siapa kalau bertangan kosong sebaiknya jangan berkelahi dengan orang gede

semacam Ang-hou ini, sebab dipukul dia tidak bergeming, sebaliknya kalau dia balas

memukul, maka celakalah kau.

Gin-hoa-nio kegirangan menyaksikan hasil pertarungan itu, ia berkeplok dan tertawa.

Ang-hou terus meludahi mayat Hwe-long dan mendamprat: “Huh, belum belajar tahan pukul

sudah ingin memukul orang, kan cari mampus sendiri!”

Gin-hoa-nio tertawa senang, katanya: “Betul kepandaian Tio-kongcu memukul orang

tergolong hebat. Kungfumu tahan pukul terlebih tiada bandingannya. Tapi… tapi barusan

apakah keparat ini benar-benar tidak melukaimu?”

Dengan membusungkan dada Ang-hou berkata dengan tertawa: “Kedua cakarnya seperti

menggaruk gatal badanku, tidak percaya boleh kau periksa sendiri.”

Renjana Pendekar > Karya Khulung > Diceritakan oleh : GAN KL > buyankaba.com 318

Benar-benar Gin-hoa-nio mendekati Ang-hou, ucapnya dengan suara lembut: “Tapi bahumu

masih mengucurkan darah….” Dengan kuku jarinya yang merah ia menggelitik perlahan di

bahu Ang-hou yang dilukai si ular putih tadi dan bertanya perlahan: “Sakit tidak?”

“Tidak,” jawab Ang-hou dengan tertawa, “tapi rasanya menjadi geli karena digelitik kau.”

Sambil bergelak tertawa sehingga tubuhnya yang penuh daging lebih itu berguncang-guncang,

berbareng ia terus merangkul pinggang Gin-hoa-nio.

Tapi Gin-hoa-nio lantas menyelinap ke samping dengan tertawa genit, ucapnya sambil

tertawa terkikik-kikik. “Bila kau dapat menangkap diriku barulah aku menyerah padamu!”

Begitulah ia lantas lari di depan dan dikejar Ang-hou dengan napas terengah-engah. Gerakan

Gin-hoa-nio sangat enteng dan gesit, jangankan menangkapnya, meraih ujung bajunya saja

tidak mampu dilakukan Ang-hou.

Sampai akhirnya Ang-hou sendiri tidak tahan, ia megap-megap sambil memegang tepi meja,

namun begitu ia masih cengar-cengir dan berseru: “O, mestikaku, kemarilah biar kupeluk

cium kau.”

Gin-hoa-nio memandangnya dengan tertawa, tiba-tiba ia menggeleng dan menghela napas

gegetun, katanya: “Ai, kau ini… jelas kau ini seekor babi goblok, mengapa kau tidak mau

mengaku?”

Ang-hou melengak, tanyanya kemudian dengan melotot: “Ap…. Apa maksudmu?”

“Baru saja ku taruh racun pada lukamu, racun yang membinasakan bila masuk ke darah.

Kadar racun yang ku taruh itu cukup untuk membunuh sepuluh ekor babi gemuk,” tutur Ginhoa-

nio dengan suara halus. “Jika kau tidak bergerak mungkin akan hidup lebih lama

beberapa jam, sekarang kau telah berlari-lari, racun sudah mengalir masuk darahmu dan

menyebar di seluruh tubuhmu, bila kau gunakan tenaga sedikit seketika jiwamu bisa

melayang.”

Mendadak Ang hou meraung murka, dengan segenap sisa tenaganya, ia menubruk maju,

terdengarlah suara gemuruh, meja ditumbuknya hingga hancur berantakan dan tertindih oleh

tubuhnya yang gede.

Gin hoa nio menghela napas, katanya: “Dengan maksud baik sudah ku peringatkan, mengapa

kau tidak mau percaya padaku?”

Lalu ia mengitari meja dan menuju ke ambang pintu, sambil bersandar di depan pintu ia

berseru dan tersenyum menggiurkan: “Di dalam rumah ada empat orang mati, maukah para

Toako membantuku menggotongnya keluar?”

Sejak tadi anak buah Su ok siu menunggu di luar dengan gelisah, namun disiplin Su ok siu

sangat keras, tanpa diperintah, siapa pun tidak berani meninggalkan tempatnya. Mereka cuma

mendengar suara kacau di dalam rumah dan tidak tahu apa yang terjadi, setelah mereka

dipanggil Gin hoa nio barulah mereka berkerumun maju, mereka jadi melongo kaget setelah

melihat keadaan di dalam rumah.

Renjana Pendekar > Karya Khulung > Diceritakan oleh : GAN KL > buyankaba.com 319

Dengan suara halus Gin hoa nio berkata kepada mereka: “Ku tahu perasaan kalian. Melihat

majikan kalian dibunuh orang, takkan kusalahkan kalian bila kalian ingin menuntut balas bagi

mereka.”

Melihat Gin hoa nio bersikap tenang dan tertawa riang, bajunya sedikit pun tidak terkoyak

apalagi robek, sebaliknya majikan yang mereka puja seperti malaikat dewata itu semuanya

terkapar seperti anjing mampus, jelas perempuan ini tidak cuma sangat cantik, tapi pasti juga

sangat lihai. Belasan orang ini mana berani lagi bicara tentang menuntut balas, serentak

mereka membalik tubuh dan lari terbirit-birit, hanya sekejap saja sudah hilang tanpa bekas.

“Ai, jaman ini tampaknya kaum penjahat juga kecil hatinya,” gumam Gin hoa nio dengan

menghela napas.

*****

Apa yang terjadi, semua itu dapat diikuti Kim yan cu dan Bwe Su-bong dengan jelas, mereka

sama melenggong.

Dengan tersenyum getir Bwe Su bong berkata: “Betapa lihai adik perempuanmu, hakekatnya

dapat disejajarkan dengan kelihaiannya Hay hong hujin di masa dahulu. Memang sudah

kuduga orang lain tidak perlu turun tangan, adikmu sendiri pasti sanggup membereskan

mereka.”

Kim yan cu tidak menanggapi, diam-diam ia pun merasa getir.

“Sekarang bolehlah nona turun ke sana dan aku pun akan pulang,” kata Bwe Su bong.

“Kau…. kau tidak turun dan berduduk dulu?” tanya Kim yan cu.

“Biarpun aku sudah kakek-kakek, tapi tetap lelaki, maka lebih baik tidak berjumpa dengan

adikmu…” belum habis ucapannya dia sudah melayang jauh ke sana.

Kim yan cu menghela napas panjang, dilihatnya Gin hoa nio sedang bersandar pula di pintu

dan berkata sambil menengadah ke arahnya: “Tak tersangka di atas loteng juga ada tamu,

maaf jika sambutanku kurang baik.”

Tidak tahan lagi Kim Yan cu, mendadak ia melayang turun ke depan Gin hoa nio.

Baru saja Gin hoa nio melengak setelah tahu siapa gerangannya, tahu-tahu mukanya sudah

tertampar dua kali. Cukup keras gamparan itu sehingga Gin hoa nio jatuh ke dalam rumah

sambil berteriak: “He, Toaci…. kau….”

Kim yan cu merasa pukulannya tidak cukup keras, dengan gemas ia mendengus: “Hm, tidak

perlu lagi kau panggil Toaci padaku, mana ku berharga menjadi Toacimu? Jiwa manusia

bagimu tidak lebih seperti semut, bilamana kau mau, bisa jadi aku pun akan kau bunuh.”

Gin hoa nio merabai mukanya yang digampar itu, mendadak ia menangis.

“Dengan mudah sekali kau bunuh empat orang ini, seharusnya kau bergembira, apa yang kau

tangisi?” damprat Kim yan cu dengan gusar.

Renjana Pendekar > Karya Khulung > Diceritakan oleh : GAN KL > buyankaba.com 320

“Apakah Toaci mengira aku sangat senang setelah membunuh orang?” seru Gin hoa nio

dengan menangis sedih. “Toaci, jika kau menyaksikan tingkah laku mereka tadi, tentu kau

akan paham bagaimana jadinya jika aku tidak berdaya membinasakan mereka.”

Dengan menangis ia menubruk ke bawah kaki Kim yan cu dan berkata pula: “Toaci, kau mau

memukul aku, mau memaki, semua ini bukan soal bagiku, tapi kalau kau tidak mengakui adik

lagi padaku, biarlah sekarang juga ku mati di depanmu.”

Setelah memukul dan mendamprat, rasa gusar Kim yan cu sudah hilang sebagian besar,

sekarang mendengar ucapan Gin hoa nio yang mengibakan hati ini, akhirnya ia pun

mengucurkan air mata dan mengomel pula: “Biarpun kau terpaksa, seharusnya tidak boleh

sekeji itu!”

“Ya, Toaci, ku tahu kesalahanku,” jawab Gin hoa nio dengan suara gemetar. “Soalnya sejak

kecil aku sudah kenyang dianiaya orang, yang kulihat setiap hari adalah orang-orang yang

kejam, aku…. aku menjadi takut, maka caraku turun tangan menjadi agak kejam.” Sembari

menangis ia terus merangkul kaki Kim yan cu dan meratap pula: “O, Toaci, jika kau datang

lebih cepat tentu mereka tidak berani mengganggu diriku dan aku pun takkan bertindak

demikian.”

Hati Kim yan cu terharu pula, ia menghela napas dan berkata: “Betul juga, aku pun salah,

seharusnya sejak tadi-tadi ku datang kemari.”

Dasar hatinya memang polos, ia merasa kejadian ini tidak dapat menyalahkan orang lain, tapi

dirinya ikut bertanggung jawab. Bicara punya bicara, akhirnya ia merangkul Gin hoa nio dan

menangislah keduanya.

Meski lahirnya Gin hoa nio menangis tergerung-gerung, tapi di dalam hati sebenarnya lagi

tertawa.

*****

Sekarang ia telah menemukan suatu kenyataan yakni asalkan sifat seseorang dapat kau raba

dengan jitu, bukan saja lelaki mudah dihadapi, bahkan perempuan juga tidak sulit dilayani,

lebih-lebih perangai anak perempuan seperti Kim yan cu ini.

Dunia Kangouw memang kejam dan berbahaya, tapi juga adil, asalkan manusia yang punya

kemahiran tentu akan menanjak ke atas dan kehidupannya seketika juga akan berubah gilang

gemilang. Cuma saja, ada kehidupan sementara orang yang meski gilang gemilang, tapi

terlalu singkat, seperti meteor saja, hanya sekelebat, lalu lenyap.

Selama beratus tahun sejarah Kangouw entah sudah berapa banyak pahlawan yang baik

bintangnya untuk kemudian lantas tenggelam pula. Tapi di antaranya bukan tiada yang tetap

berdiri tegak tanpa jatuh.

Ada sementara orang, meski orangnya sudah mati, tapi keturunannya, anak cucunya, masih

dapat mempertahankan suatu kekuatan yang tidak pernah runtuh di dunia kangouw, dengan

demikian selamanya juga lantas tetap berjaya dan abadi.

Renjana Pendekar > Karya Khulung > Diceritakan oleh : GAN KL > buyankaba.com 321

Selama 300 tahun ini, kekuatan yang tetap berdiri tegak tanpa ambruk itu, selain Siau-lim pay,

Bu tong pay, dan aliran-aliran besar yang mempunyai sejarah gilang gemilang ini, masih ada

juga keluarga persilatan ternama dan berpengaruh. Keluarga persilatan ini ada sebagian yang

tetap berjaya karena pengorbanan leluhurnya bagi kepentingan dunia persilatan di masa lalu

sehingga mendapat penghormatan dari kaum pahlawan dunia Kangouw, tapi kebanyakan

adalah karena mereka memang mempunyai Kungfu yang istimewa dan sukar ditandingi,

sebab itulah sejarah mereka bisa tetap hidup abadi sepanjang masa.

Di antara keluarga persilatan itu misalnya terdapat keluarga “Thio Kan-cay” di kota-raja yang

terkenal dengan ilmu pertabibannya. Ada keluarga “Pi-lik-tong” di Kanglam yang termasyhur

karena ahli membuat senjata api. Ada keluarga Lam-kiong dengan ilmu pukulannya yang

hebat, ada keluarga “Thian-hi-tong” yang disegani karena kemahirannya menyelam di dalam

air, ada pula keluarga Pang di Holam yang merajai dunia persilatan di wilayahnya karena

permainan Toan bun to yang lihay.

Dan di antara keluarga-keluarga persilatan yang turun temurun itu, yang paling berkesan dan

diketahui setiap orang persilatan kiranya harus ditonjolkan keluarga Tong dari Sujwan yang

termasyhur karena Am-gi atau senjata rahasia yang tiada bandingannya selama ini.

Tong keh ceng atau perkampungan keluarga Tong itu terletak di kaki gunung di luar kota

Cung king, propinsi Sujwan.

Setelah mengalami perbaikan dan perluasan di sana-sini selama berabad-abad, dari

perumahan sederhana dua deret kini telah meluas menjadi sebuah perkampungan yang megah

dan sudah menyerupai sebuah kota kecil.

Ini terbukti bilamana orang masuk pintu gerbang yang tiap tahun dicat satu kali itu, maka

segala keperluan, dari sandang, pangan sampai tempat tinggal dan sarana lain, sekolahan,

hiburan, sampai urusan nikah dan kematian, setiap barang keperluan dapat diperoleh di sini

dan tidak perlu berbelanja ke luar.

Hakekatnya, restoran Sujwan yang paling terkemuka, toko cita yang paling mentereng, toko

barang kosmetik yang mutakhir, semuanya terdapat di perkampungan ini.

Dengan sendirinya anak murid keluarga Tong masing-masing juga mempunyai kepandaian

sendiri-sendiri, mereka dapat mencari nafkah menurut kemahirannya sendiri-sendiri, lalu

dibelanjakan pula kepada toko-toko itu sehingga terjadilah sirkulasi perekonomian yang

makmur di perkampungan ini. Bila mereka ingin menikmati kehidupan yang tinggi, cukup

asalkan mereka berusaha mencari laba segiatnya, dengan dana dan tenaga yang hanya beredar

di lingkungan perkampungan mereka saja, dengan sendirinya makin lama Tong keh ceng

bertambah besar dan kuat.

Sampai Gin hoa nio sendiri, begitu memasuki pintu gerbang perkampungan Tong ini seketika

ia terkesima dan hampir tidak percaya kepada apa yang dilihatnya.

Dia pernah datang ke Tong keh ceng ini, tapi hanya memandangnya dari luar, sama sekali

tidak terbayangkan olehnya bahwa antara luar dan dalam Tong keh ceng terdapat perbedaan

sebanyak ini.

Renjana Pendekar > Karya Khulung > Diceritakan oleh : GAN KL > buyankaba.com 322

Kalau dipandang dari luar, pintu gerbangnya bercat hitam dengan pagar balok kayu sebesar

dahan pohon, panji terkerek tinggi di tiangnya, keadaan demikian tiada bedanya dengan

perkampungan persilatan lain, hanya formatnya saja yang lebih besaran.

Tapi setibanya di dalam pintu gerbang perkampungan, tiba-tiba ia melihat di dalam

perkampungan ini ada sebuah jalan raya, sebuah jalan balok batu yang rajin dan lurus, di

kedua tepi jalan terdapat aneka macam toko, cukup ramai toko-toko itu dikunjungi pembeli,

cuma saja toko-toko itu tidak pasang merek dagang.

Sungguh mimpipun tak terpikir olehnya bahwa keadaan yang demikian ini akan dilihatnya di

dalam suatu “perkampungan”, yang lebih mengherankan lagi adalah di dalam perkampungan

keluarga persilatan yang termasyhur ini sama sekali tiada terdapat penjagaan dan tanda-tanda

siap siaga. Sungguh aneh.

Ketika kuda mereka sampai di depan pintu gerbang, Kim yan cu hanya memberitahukan

sekedarnya namanya, lalu mereka disilahkan masuk. Sedangkan penjaga pintu gerbang itu

pun cuma dua kakek reyot.

Gin hoa nio menghela napas panjang, saking tak tahan ia coba bertanya dengan suara

tertahan: “Apakah benar inilah satu-satunya Tong keh ceng yang termasyhur itu?”

“Memangnya kau tidak percaya?” tanya Kim yan cu dengan tertawa.

“Bukannya aku tidak percaya, aku cuma merasa bingung,” kata Gin hoa nio dengan gegetun.

Di jalan raya itu banyak juga orang berlalu lalang, sudah barang tentu kedatangan Kim yan cu

dan Gin hoa nio menarik perhatian mereka, tapi mereka pun cuma memandang sekejap saja

dan tiada seorang pun yang mendekat dan menegur mereka.

Kembali Gin hoa nio bertanya: “Orang Kangouw suka bilang Siau lim si, Bu tong san dan

Tong keh ceng adalah tempat-tempat terlarang di dunia persilatan dan jangan harap akan

dapat memasukinya, andaikan dapat masuk, maka jangan mengharapkan akan dapat keluar

dengan hidup. Tapi melihat gelagatnya sekarang, tampaknya seperti setiap orang boleh masuk

dan keluar lagi dengan bebas.”

Kim yan cu tersenyum tak acuh, katanya: “Soalnya lantaran kau datang bersamaku.”

“O, jika aku datang sendiri pasti tidak dapat menerobos masuk?” tanya Gin hoa nio.

“Masuk sih tidak sulit, tapi keluar lagi tubuhmu akan membujur,” jawab Kim yan cu dengan

tertawa. Lalu ia menyambung pula: “Coba kau lihat orang-orang yang berlalu, semuanya

kelihatan ramah tamah bukan? Tapi salahlah jika kau pikir demikian. Sebab sedikit kau

perlihatkan sesuatu yang tidak beres, dari lengan baju setiap orang itu bisa melayang keluar

sesuatu benda untuk mencabut nyawamu.”

Diam-diam Gin hoa nio merasa ngeri, tapi di mulut ia menanggapi dengan tertawa: “Tapi kita

sudah masuk ke sini, mengapa tiada seorang pun yang melaporkan dan memberi petunjuk

jalan?”

Renjana Pendekar > Karya Khulung > Diceritakan oleh : GAN KL > buyankaba.com 323

“Darimana kau tahu mereka tiada yang melaporkan kedatangan kita?” tanya Kim yan cu.

“Hanya caranya mereka melapor itu saja tidak diketahui orang luar. Jika tidak percaya, boleh

kau lihat sebentar lagi, segera ada orang keluar menyambut.”

“Cujin (majikan, pemilik) perkampungan ini….”

“Maksudmu Bu Siang Lojin? Beliau berdiam di gedung belakang perkampungan sana, tinggal

bersama anak-anaknya. Mungkin kau mengira setiap orang juga dapat menerobos masuk dari

pintu gerbang hingga ke tempat tinggalnya, orang itu sedikitnya harus punya sayap dan

mempunyai beberapa kepala.”

Gin hoa nio menghela napas, gumamnya: “Jika dia terus menerus berdiam di tempat aman

begini, pantaslah kalau nyalinya makin lama makin kecil.”

“Darimana kau tahu nyali beliau makin lama makin kecil?” tanya Kim yan cu sambil berkerut

kening.

Gin hoa nio melengak, cepat ia menjawab: “Ah, aku cuma mendengar orang bercerita

demikian.”

Mestinya Kim yan cu ingin tanya pula, tapi dari ujung jalan sana sudah muncul beberapa

perempuan menyongsong kedatangan mereka. Perempuan itu semuanya memakai gaun

berwiru banyak, jalannya berlenggang, mungkin itulah gaya berjalan “macan luwah” atau

harimau lapar.

Salah seorang perempuan itu, seorang nyonya berbaju putih dan berperawakan semampai,

dari jauh lantas berseru kepada Kim yan cu: “Sam-ya thaucu (budak ketiga), kenapa baru

sekarang kau kemari, sungguh Cici telah lama merindukan kau.”

*****

Tidak lama kemudian Gin hoa nio lantas tahu bahwa perempuan semampai dan bernas ini

dengan wajah bulat telur dan sedikit berjerawat ini bernama Tong Ki, puteri tertua, anak

kedua Tong Bu-siang. Dia inilah yang memegang kekuasaan rumah tangga di perkampungan

Tong ini.

Kemudian dari Kim yan cu juga diketahui Gin hoa nio bahwa Tong ji-kohnaynay (bibi kedua

keluarga Tong) ini memang bernasib malang, meski mukanya tidak jelek, pintar mengurus

rumah tangga pula, tapi sudah dua kali bertunangan, belum lagi menikah, dua kali pula bakal

suaminya meninggal dunia.

Sebab itulah, di belakangnya orang suka bilang mungkin lantaran Tong ji-kohnaynay terlalu

pintar mengurus rumah tangga, tapi membawa sial bagi suami.

Mungkin Tong ji-kohnaynay mendengar desas-desus ini, saking gusarnya ia lantas bersumpah

di depan abu leluhur bahwa selama hidup dia tidak mau menikah.

Dan sekarang Tong ji-kohnaynay inilah menyambut kedatangan Kim yan cu dengan gembira,

ia pun banyak memberi pujian kepada kecantikan “adik baru” Kim yan cu.

Renjana Pendekar > Karya Khulung > Diceritakan oleh : GAN KL > buyankaba.com 324

Mungkin sudah menjadi sifatnya yang khas, tangan Tong jikohnaynay selalu membawa

sepotong handuk kecil, sepanjang jalan bila melihat ada gulungan kertas tercecer atau kulit

buah terbuang, segera dijemputnya dan dibungkus dengan handuknya.

Melihat itu baru Gin hoa nio tahu apa sebabnya Tong keh ceng sedemikian rapi dan bersih.

Diam-diam ia pun mentertawai Tong jikohnaynay kita ini, untung nona ini tidak menikah,

kalau tidak, bisa jadi suaminya akan repot mempunyai isteri begini.

Di antara perempuan-perempuan yang mendampingi Tong Ki, tapi hanya tersenyum dan tidak

bersuara, ialah menantu perempuan tertua Tong Bu-siang, isteri Tong Jan, namanya Li Pweling.

Nyonya menantu ini bermuka bundar, matanya juga bundar, pergelangan tangannya juga bulat

seperti lontong. Potongan nyonya menantu inilah model menantu bijaksana dan membawa

rejeki.

Sedangkan adik Tong Ki, namanya Tong Lin, adalah gadis yang lemah tidak tahan angin.

Matanya yang besar kelam itu seolah-olah orang yang selalu menanggung susah.

Gin hoa nio tahu ketiga perempuan inilah orang penting di Tong keh ceng, selebihnya tidak

perlu diperhatikannya.

Setelah melintasi jalan raya dan melalui sebuah jalan berkerikil, tiba-tiba membentang

sebidang hutan di depan sana, di balik pepohonan terdapat pagar tembok bercat merah dengan

genteng warna hijau, disitulah tempat Bu-siang Lojin menikmati kehidupan bahagia di hari

tuanya.

Sementara itu, Tong jikohnaynay telah membuang handuk kecil yang penuh membungkus

sampah jemputannya tadi dan dibuang ke keranjang sampah, lalu mencuci tangan pada sungai

kecil yang melingkari pagar tembok, kemudian ia berkata dengan tertawa: “Loyacu (tuan tua)

sedang tidur siang, kukira kalian tidak perlu menjumpai beliau, boleh langsung ke tempat

Toa-so (kakak ipar, isteri kakak) saja, ku tahu di tempatnya ada dua botol Bi kwi lo (arak

mawar), biarlah kita gasak saja.”

“Wah, dasar tukang gasak, orang menyimpan dua botol arak saja selalu kau incar,” demikian

Li Pwe-ling berseloroh.

Tong Ki, Tong jikohnaynay tertawa, ucapnya: “Terus terang, memang sudah lama ku incar

kedua botol araknya, sekarang mumpung ada tamu, harus kugunakan kesempatan ini untuk

menyikatnya, kalau tidak, bila Toako pulang nanti, mungkin berikut botolnya akan dia lalap

sama sekali.”

Kim yan cu tertawa terpingkal-pingkal, Gin hoa nio juga ikut tertawa.

Diam-diam ia pun heran mengapa nona-nona keluarga Tong di Sujwan ini mahir bicara

dengan logat Pakkhia, tapi kemudian diketahuinya bahwa isteri Tong Bu-siang justeru adalah

puteri keluarga ternama dari kota raja.

Pendek kata, sejak masuk pintu gerbang perkampungan Tong, segenap panca indera Gin hoa

nio tidak pernah menganggur, mata telinga dan mulut terus bekerja. Matanya tidak

Renjana Pendekar > Karya Khulung > Diceritakan oleh : GAN KL > buyankaba.com 325

menyampingkan sesuatu benda yang dilihatnya, telinga juga tidak pernah lalai terhadap

sesuatu berita yang dapat didengarnya, malahan mulutnya terus menerus memuji dan

menyanjung.

Meski semuanya itu tujuannya cuma satu, yakni ingin mencari kabar, akan tetapi betapa pun

dia berusaha, kabar yang ingin didengarnya tetap sukar didapat. Yakni mengenai diri Jikongcu

atau putera kedua keluarga Tong, kekasih Kim hoa nio, Tong Giok, kemana perginya?

Bahwa dia berusaha mati-matian memikat Kim yan cu dan rela diakui sebagai adiknya,

harapannya justeru ingin dibawa Kim yan cu ke Tong keh ceng untuk mencari tahu

bagaimana keadaan Tong Giok.

Hanya dua hari saja Gin hoa nio sudah dapat bergaul dengan erat bersama beberapa nona

keluarga Tong. Dari peti benda mestika dikeluarkannya beberapa bentuk permata yang paling

bagus untuk diberikan kepada Tong Ki, Tong Lin dan Li Pwe-ling, dipilihnya pula beberapa

perhiasan lain yang tidak begitu indah, namun juga cukup berharga dan dibagi-bagikannya

kepada setiap nona, setiap menantu keluarga Tong yang ditemuinya.

Sebab itulah, setiap orang yang pernah bertemu dengan dia, di depan maupun di belakang,

semuanya sama memuji betapa baik hati “adik baru” Kim yan cu yang cantik ini.

Dalam pada itu ia pun sudah bertemu dengan Tong Bu-siang, ia tahu orang tua ini belum tentu

dapat mengenalnya.

Maklumlah, kebanyakan orang yang sudah pernah melihat “Khing hoa samniocu”, kalau tidak

melenggong kaget tentu juga terkesima oleh dandanan mereka yang aneh-aneh atau bisa juga

melongo lupa daratan melihat tari bugil mereka, jarang ada yang teringat lagi kepada wajah

mereka.

Begitulah, hampir setiap anggota keluarga Tong telah dilihatnya di perkampungan ini, hanya

Tong Giok saja yang tidak ditemuinya. Bahkan di Tong keh ceng ini hakekatnya tiada orang

lagi berbicara mengenai Ji kongcu yang romantis itu.

Sudah hampir setiap pelosok Tong keh ceng telah didatanginya terkecuali sebuah gua yang

terletak di lereng bukit belakang perkampungan, setiap kali dia berpura-pura menyelonong ke

sana secara tidak sengaja, setiap kali pula dia dihadang orang dari jauh.

Akhirnya diketahuinya bahwa gua itulah rupanya tempat pembuatan Am-gi atau senjata

rahasia keluarga Tong yang termasyhur itu, tempat itu terlarang dikunjungi orang yang tidak

berkepentingan.

Malam ini, Tong toaso bergilir pula menjadi nyonya rumah, dengan sendirinya kedua botol Bi

kwi lo yang diincar Tong Ki dahulu itu sudah habis terminum, tapi arak enak yang masih

tersedia juga lumayan. Sebenarnya arak bukan minuman yang cocok bagi kaum wanita, tapi

sifat para nona keluarga Tong ini ternyata tidak kalah daripada lelaki, meski makan sayur

sedikit-sedikit, tapi minum arak justeru banyak-banyak.

Cahaya bulan malam ini sangat terang, terendus pula bau harum bunga Kwi di halaman sana,

setelah menenggak arak, ucapan Tong Ki semakin banyak, bahkan Li Pwe-ling yang biasanya

Renjana Pendekar > Karya Khulung > Diceritakan oleh : GAN KL > buyankaba.com 326

jarang bicara kini juga banyak omongnya. Pertemuan di antara kenalan lama, mereka dan Kim

yan cu seakan-akan tidak pernah kehabisan bahan bicara.

Hanya Gin hoa nio saja yang tidak banyak minum arak, pertama dia merasa tiada artinya

minum arak bersama kaum perempuan. Kedua, ia pikir dirinya harus tetap dalam keadaan

sadar. Kedatangannya ini bukan untuk minum arak saja.

Tong Lin juga tidak banyak minum arak, matanya yang besar dan kelam itu seolah-olah

menanggung kesedihan yang semakin berat, tampaknya dia selalu bermalas-malasan, berbuat

apa pun kurang semangat.

Aneh juga, nona cilik yang belum pernah ke luar rumah ini sebenarnya menanggung pikiran

apa.

Tiba-tiba Tong Ki melototi Kim yan cu dan bertanya: “He, Sam-ya-thau, tahun ini berapa

umurmu?”

Kim yan cu tertawa, jawabnya: “Untuk apa kau tanya urusan ini? Memangnya ingin pacaran

denganku? Cuma sayang kau bukan lelaki, kalau tidak aku ingin menjadi istrimu.”

Tong Ki menenggak araknya, lalu berkata pula: “Kau tahu, kau lahir bulan tiga, tahun ini

sudah lebih 20, betul tidak?”

“Ehmm..,” Kim yan cu bersuara samar-samar.

“Nona berumur likuran belum lagi kawin, kukira ini rada berbahaya,” kata Tong Ki.

Muka Kim yan cu menjadi merah, omelnya: “Kau tidak gelisah bagi dirimu sendiri, mengapa

malah kuatir bagi diriku?”

Kembali Tong Ki minum araknya, ucapnya dengan menghela napas: “Selama hidupku ini

jelas tidak akan menikah, tapi kau…. kau tidak boleh, perempuan harus menikah, bila kau

berumur sebaya diriku baru kau akan tahu betapa susahnya kesepian.”

Tanpa terasa pandangan Kim yan cu menjadi suram, tapi ia berucap dengan tersenyum: “Eh,

koh-naynay kita hari ini bisa juga bicara setulusnya.”

Sambil memegang cawan araknya Tong Ki berkata pula dengan rawan: “Untuk apa ku purapura

di depan kalian? memangnya aku dilahirkan untuk tidak menikah? Tapi sekarang…. kau

kira aku mesti menikah dengan siapa…? Yang tinggi tidak sudi padaku, yang rendah aku

emoh…” dia angkat cawan araknya dan menenggaknya pula.

“Bicara sesungguhnya, Sam-moay, sampai sekarang apakah kau belum punya pacar?” tanya

Li Pwe-ling dengan tertawa. “Bukankah Sinto Kongcu itu…..”

“Jangan kau sebut dia lagi, bila menyebut namanya, arak saja tak dapat kuminum,” seru Kim

yan cu.

“Aneh, mengapa mendadak kau benci padanya, jangan-jangan kau sudah punya yang lain?”

kata Li Pwe-ling.

Renjana Pendekar > Karya Khulung > Diceritakan oleh : GAN KL > buyankaba.com 327

Muka Kim yan cu menjadi merah, jawabnya dengan tertawa: “Huh, mana ada?”

“Aha, tahulah aku,” seru Tong Ki mendadak. “Caramu bicara ini mana bisa menipu orang?

Hayolah, siapa, lekas katakan. Lekas mengaku terus terang, kalau tidak pasti tidak kuampuni

kau.”

Habis berkata segera dia hendak menggelitik pinggang Kim yan cu. Dengan tertawa Kim yan

cu mengelak dan sembunyi di belakang Tong Lin, ucapnya dengan tertawa: “Usia Simoay

juga tidak kecil lagi, mengapa kalian tidak tanya dia apakah sudah punya pacar atau belum?”

Mendadak Tong Lin berdiri, ucapnya dengan hambar: “Aku tidak ada urusan dengan mereka,

jangan kalian ikut campurkan diriku.”

Sembari bicara ia terus melangkah keluar tanpa berpaling.

Kim yan cu jadi melengak: “He, Simoay marah!” serunya.

“Jangan urus dia,” kata Tong Ki. “Akhir-akhir ini tampaknya budak ini seperti kesurupan

setan, selalu kurang semangat, entah menanggung pikiran apa?”

Li Pwe-ling tertawa lembut, ucapnya: “Anak perempuan se-usia dia, mana yang tidak

menanggung pikiran? Biar ku keluar melihatnya.”

Biji mata Gin hoa nio berputar, mendadak ia mendahului berdiri dan berseru: “Toa-so jangan

repot, biar aku saja yang keluar melihatnya.”

“Boleh juga,” ujar Li Pwe-ling. “Kalian dapat bicara dengan cocok, cuma selekasnya

hendaklah kembali, sudah ku sediakan ayam goreng untuk makan malam nanti.”

Setiba di luar, bau harum bunga terasa semakin semerbak.

Tong Lin kelihatan berdiri di bawah pohon Kwi, bayang-bayang pohon menutupi wajahnya,

nona itu berdiri diam saja tanpa bergerak laksana badan halus di malam sunyi.

Gin hoa nio tidak lantas mendekati nona yang kesepian itu, ia pun mondar-mandir di bawah

cahaya bulan, tiba-tiba ia menghela napas panjang dan bergumam perlahan: “O, kehidupan

manusia sungguh mengecewakan, sinar bulan yang terang, bau harum bunga Kwi, semua ini

paling-paling hanya menambah rasa kesunyian orang hidup saja.”

Dia memperhitungkan dengan baik pada waktu murung begini Tong Lin pasti malas untuk

bicara, maka dia sengaja menguraikan kesepian orang hidup, kekecewaan dan sebagainya,

semua ini ternyata tepat mengena di hati Tong Lin.

Ia jadi tertarik dan menoleh, dipandangnya Gin hoa nio hingga sekian lama, akhirnya ia

berucap dengan hampa: “Orang semacam kau, ke mana pun kau dapat pergi, kenapa kau pun

merasakan kesepian? Rasa kesepian hanya diketahui dengan jelas oleh burung yang terkurung

di dalam sangkar.”

Renjana Pendekar > Karya Khulung > Diceritakan oleh : GAN KL > buyankaba.com 328

Gin hoa nio menghela napas dan berkata: “Adik yang baik, usiamu masih belia, kau belum

tahu persis sesungguhnya apa kesepian itu. Ada sementara orang meskipun setiap hari dapat

pesiar dan bergurau dengan orang lain, tapi hatinya jauh lebih kesepian daripada siapa pun

juga. Ada lagi setengah orang meski setiap hari hanya berduduk sendirian, tapi asalkan

pikirannya melayang ke tempat yang jauh, di sana pun ada seorang sedang memikirkan dia,

maka apa pun juga ia takkan merasa kesepian.”

Tong Lin termenung sejenak, ia mengangguk perlahan dan berkata: “Betul, orang yang belum

pernah merasakan kesepian tak nanti dapat mengucapkan kata-kata demikian… Tapi waktu

pikiranmu melayang ke tempat jauh sana, darimana kau tahu dia juga sedang memikirkan

dirimu?”

“Sudah tentu aku tidak tahu, siapa pun tidak tahu soal ini dan inilah penderitaan orang hidup.”

“Betul, inilah penderitaan orang hidup,” tukas Tong Lin dengan rawan dan menunduk.

“Sudah lama sekali,” tutur Gin hoa nio, “ada kukenal seorang pemuda, namanya The Giok

long, hanya satu kulihat dia, tapi siang dan malam aku merindukan dia, mungkin…. mungkin

namaku saja dia tidak tahu….”

Gin hoa nio tahu kelemahan anak perempuan umumnya, bilamana kau ingin seorang anak

perempuan membeberkan rahasia isi hatinya, maka jalan yang paling baik adalah

menceritakan dulu rahasia di hatinya sendiri.

Sebab itulah dia lantas membuat suatu nama dan mengarang satu cerita.

Benarlah, tubuh Tong Lin kelihatan rada gemetar, selang sejenak, ia coba bertanya lagi:

“Sudah banyak tempat yang kau jelajahi?”

“Ehmm,” Gin hoa nio mengangguk.

“Ya, banyak sekali,” jawab Gin hoa nio dengan tersenyum getir.

Tong Lin menunduk, jelas hatinya sedang meronta dan bergolak, ia terdiam lagi sebentar

barulah mengambil keputusan, mendadak ia mengangkat kepala dan menatap Gin hoa nio,

ucapnya sekata demi sekata: “Tahukah kau seorang na… namanya Ji Pwe giok?”

Ji Pwe giok! Kembali Ji Pwe giok!

Jantung Gin hoa nio hampir melompat keluar dari rongga dadanya. Namun air mukanya tidak

memperlihatkan sesuatu tanda sedikit pun, dengan tersenyum ia bertanya: “Kakimu tidak

pernah melangkah keluar Tong keh ceng ini, cara bagaimana kau kenal Ji Pwe giok?”

“Beberapa hari yang lalu dia pernah kemari,” tutur Tong Lin perlahan.

“Berkunjung kemari? Beberapa hari yang lalu?” tukas Gin hoa nio tanpa terasa.

Tong Lin menggigit bibir, ucapnya pula: “Dia datang mencari ayahku. Hari itu, kebetulan

Toako dan Toa-so keluar mengantar keberangkatan Toako, hanya aku saja yang di rumah.

Renjana Pendekar > Karya Khulung > Diceritakan oleh : GAN KL > buyankaba.com 329

Cukup lama dia bicara dengan ayah, tiba-tiba ayah menyatakan mau keluar, seperti akan

mencarikan seseorang baginya, maka…. maka aku lantas dipanggil untuk menemani dia…”

Cahaya bulan menembus celah-celah dedaunan yang menyinari wajahnya, menyinari

matanya, wajahnya kemerah-merahan, matanya bersinar laksana kerlip bintang di langit.

Dengan tenang Gin hoa-nio mendengarkan dan tidak memutus ceritanya.

Sampai lama Tong Lin termangu-mangu, kemudian disambungnya dengan perlahan:

“Sebenarnya aku tidak suka bicara dengan orang yang baru kukenal, tapi di depannya aku

merasakan tiada sesuatu kekangan, setiap gerak geriknya kurasakan begitu halus, apa yang

diucapkannya terasa penuh rasa simpatik dan pengertian. Tatkala mana dia seperti baru

terluka parah, tapi dia tidak memperlihatkan rasa menderita sedikitpun, jelas karena dia tidak

ingin ku ikut susah, nyata, setiap urusan apa pun selalu dia pikirkan dulu bagi orang lain.”

Dia bercerita dengan perlahan seperti orang yang mengigau dalam mimpi.

“Kemudian bagaimana?” tanya Gin hoa nio tak tahan.

“Kemudian ayahku pulang dan terpaksa ku kembali ke kamarku, kukira esoknya dapat kulihat

dia lagi, siapa tahu, pada…. pada malam itu juga dia telah berangkat, ayah pun tidak mau

memberitahukan kemana perginya, hanya menyampaikan terima kasihnya atas

pembicaraanku dengan dia waktu dia ku ajak ngobrol. Ai, aku…. kukira selama hidup ini

takkan melihat dia lagi.” Dia menunduk dengan air mata bercucuran.

“Kau kan baru melihat dia satu kali, masa dia begitu penting bagimu?” ucap Gin hoa nio

dengan perlahan.

“Dan kau sendiri bukankah… bukankah juga baru bertemu satu kali dengan The Giok Long

yang kau sebut tadi?”

Baru Gin hoa nio ingat pada bualannya tadi, katanya pula: “Jika benar-benar kau tak dapat

melihat dia lagi, lalu bagaimana?”

“Ya, apa boleh buat!?” jawab Tong Lin dengan suara agak gemetar. “Tapi selama… selama

hidupku ini mungkin akan selalu…. merana.”

Gin hoa jio memandangnya tajam-tajam, tanyanya kemudian: “Bagaimana kalau ada orang

yang dapat membuat kau bertemu dengan dia?”

Mendadak Tong Lin memegang tangan Gin hoa nio erat-erat, serunya dengan gemetar: “Jika

ada orang dapat mempertemukanku dengan dia, aku bersedia melakukan apapun juga

baginya…. Ya, apapun juga akan kulakukannya, selama hidupku ini tidak pernah gila bagi

urusan apa pun, tapi sekarang, rasanya aku benar-benar hampir gila.”

Gin hoa nio menghela napas, katanya dengan tertawa: “Pikiran anak gadis, ya, inilah pikiran

anak gadis.”

Sekujur badan Tong Lin gemetar pula, pegangannya bertambah erat, ia menegas:

“Dapatkah…. dapatkah kau memper….”

Renjana Pendekar > Karya Khulung > Diceritakan oleh : GAN KL > buyankaba.com 330

Gin hoa nio menarik tangannya, ia tidak lantas menjawab, ia sengaja jual mahal, sejenak

kemudian barulah ia menjawab secara licin: “Aku pun ingin melihat sesuatu, entah kau dapat

membantu atau tidak?”

“Urusan apa? katakan saja, katakan!” desak Tong Lin.

“Kudengar cerita orang, konon tempat keluargamu menggembleng am-gi adalah tempat yang

paling misterius dan tempat yang paling menarik, mimpi pun aku ingin masuk ke sana untuk

melihatnya,” jawab Gin hoa nio.

Seketika air muka Tong Lin berubah, katanya: “Ah, tempat itu tiada sesuatu yang menarik.”

“Tak apalah jika kau tak dapat membantu keinginanku ini,” ucap Gin hoa nio tak acuh.

Sejenak kemudian tiba-tiba ia berkata: “O, sebentar, aku akan minum dulu.”

Tapi sebelum Gin hoa nio melangkah pergi, cepat Tong Lin menariknya dan berkata: “Jika

kubantu keinginanmu ini, apakah kau….”

“Aku pun akan membantu terpenuhi keinginanmu,” tukas Gin hoa nio dengan tertawa.

Tong Lin berpikir sejenak, akhirnya ia menjawab dengan menggreget: “Baik, akan kubawa

kau ke sana. Tapi berhasil atau tidak tak berani kujamin. Selain itu, kau mesti berjanji juga

padaku, setelah masuk ke sana, tidak boleh kau menyentuh sesuatu barang apa pun.”

Dengan girang Gin hoa jio menjawab: “Asalkan melihatnya saja hatiku sudah puas, pasti

takkan ku sentuh.”

“Baik, sekarang juga kita pergi kesana,” kata Tong Lin.

Tapi Gin hoa nio menariknya pula dan berkata: “Biarlah kita kembali dulu ke dalam, agar

mereka tidak curiga. Ku tahu di sana ada sebuah gardu kecil, nanti kalau mereka sudah mabuk

dan tertidur kita bertemu kembali di gardu itu.”

Tong Lin mengangguk setuju, tiba-tiba air matanya bercucuran, ratapnya di dalam hati: “Ji

Pwe giok, wahai Joi Pwe giok, sejauh ini kulakukan bagimu, tapi apakah kau tahu….?”

*****

Tengah malam Gin hoa nio sudah datang ke gardu kecil itu, sebelumnya Tong Lin sudah

menunggunya dengan tak sabar, begitu melihat Gin hoa nio muncul dari kejauhan segera ia

menggapai dengan tangannya.

Jarak gardu kecil ini dengan gua itu masih cukup jauh, tapi gerak-gerik Tong Lin tampak

sangat hati-hati. Gin hoa nio juga tahu di tempat ini tidak boleh sembrono.

Kelihatan dua lelaki baju hitam mondar-mandir di depan gua sana, di dalam gua tampak ada

cahaya lampu, selain itu tiada kelihatan bayangan orang lain.

Renjana Pendekar > Karya Khulung > Diceritakan oleh : GAN KL > buyankaba.com 331

Di kejauhan ada suara air gemercik, Gin hoa nio, tahu itulah sebuah sumber air hangat di

tebing bukit sana. Konon sebabnya racun senjata rahasia keluarga Tong tidak dapat ditiru

orang lain adalah karena dicampur dengan sumber air yang istimewa ini. Tapi sesungguhnya

masih ada sebab lain atau tidak sukar dipastikan.

Gin hoa nio lantas mendesis: “Apakah sekarang kita dapat masuk ke sana?”

Muka Tong Lin tampak lebih pucat daripada kertas, katanya sambil menggeleng: “Tidak, saat

ini yang dinas jaga gua ini adalah Si-suhengku, Tong Siu-hong, dia berwatak keras dan kaku,

bila kita ingin masuk ke sana sekarang, hakekatnya setitik harapan saja tidak ada.”

“Jika demikian, hayolah kita pulang saja!” ucap Gin hoa nio dengan kurang senang.

Tapi Tong Lin lantas mendesis: “Sabar dulu, ketahuilah orang yang dinas jaga di sini akan

berganti pada tengah malam tepat, maka boleh kita tunggu lagi sejenak, bila yang dinas jaga

nanti adalah Toa suheng atau Jit-suheng, maka bereslah, sebab kedua orang ini paling mudah

diajak bicara.”

Gin hoa nio tersenyum cerah dan tidak bersuara lagi.

Tidak lama kemudian, Tong Lin tak tahunya ia bertanya: “Apakah kau pun kenal… kenal Ji

kongcu?”

Gin hoa nia mengiakan.

Tong Lin menggigit bibir. “Cara bagaimana kau kenal dia?” tanyanya kemudian.

“Jangan kuatir,” ujar Gin hoa nio dengan tertawa. “Aku dan dia cuma kawan biasa saja, aku

sendiri sudah punya pacar.”

Muka Tong Lin yang pucat itu seketika merah semarak, ia menunduk dan tidak bicara lagi.

<