Bu Kek Siansu – (Seri 01 Bu kek siansu)

Bu Kek Siansu

Seri 01 Bukeksiansu

Karya : Asmaraman S Kho Ping Hoo

Ebook oleh : Dewi KZ

Source : Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

JILID 1

Pagi itu bukan main indahnya di dalam hutan di lereng

Pegunungan Jeng Hoa San (Gunung Seribu Bunga). Matahari

muda memuntahkan cahayanya yang kuning keemasan ke

permukaan bumi, menghidupkan kembali rumput-rumput yang

hampir lumpuh oleh embun, pohon-pohon yang lenyap ditelan

kegelapan malam, bunga-bunga yang menderita semalaman

oleh hawa dingin menusuk. Cahaya kuning emas membawa

kehangatan, keindahan, penghidupan itu mengusir halimun

tebal, dan halimun lari pergi dari cahaya raja kehidupan itu,

meninggalkan butiran-butiran embun yang kini menjadi

penghias ujung-ujung daun dan rumput membuat bungabunga

yang beraneka warna itu seperti dara-dara muda jelita

sehabis mandi, segar dan berseri-seri.

Cahaya matahari yang lembut itu tertangkis oleh daun dan

ranting pepohonan hutan yang rimbun, namun kelembutannya

membuat cahaya itu dapat juga menerobos di antara celahcelah

daun dan ranting sehingga sinar kecil memanjang yang

tampak jelas di antara bayang-bayang pohon meluncur ke

bawah, di sana sini bertemu dengan pantulan air membentuk

warna pelangi yang amat indahnya, warna yang dibentuk oleh

segala macam warna terutama oleh warna dasar merah,

kuning dan biru. Indah! Bagi mata yang bebas dari segala

ikatan, keindahan itu makin terasa, keindahan yang baru dan

yang senantiasa akan nampak baru biarpun andaikata

dilihatnya setiap hari Sebelum cahaya pertama yang

kemerahan dari matahari pagi tampak, keadaan sunyi senyap.

Yang mula-mula membangunkan hutan itu adalah kokok

ayam hutan yang pendek dan nyaring sekali, kokok yang tibatiba

dan mengejutkan, susul menyusul dari beberapa penjuru.

Kokok ayam jantan inilah yang menggugah para burung yang

tadinya diselimuti kegelapan malam, menyembunyikan muka

ke bawah selimut tebal dan hangat dari sayap mereka, kini

terjadilah gerakan-gerakan hidup di setiap pohon besar dan

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

terdengar kicau burung yang sahut-menyahut, bermacammacam

suaranya, bersaing indah dan ramai namun

kesemuanya memiliki kemerduan yang khas. Sukar bagi

telinga untuk menentukan mana yang lebih indah, karena

suara yang bersahut-sahutan itu merupakan kesatuan

seperangkat alat musik yang dibunyikan bersama. Yang ada

pada telinga hanya indah! Sukar dikatakan mana yang lebih

indah, suara burung-burung itu sendiri ataukan keheningan

kosong yang terdapat di antara jarak suara-suara itu.

Anak laki-laki itu masih amat kecil. Tidak akan lebih dari

tujuh tahun usianya. Dia berdiri seperti sebuah patung, berdiri

di tempat datar yang agak tinggi di hutan Gunung Seribu

Bunga itu, menghadap ke timur dan sudah ada setengah jam

lebih dia berdiri seperti itu, hanya matanya saja yang

bergerak-gerak, mata yang lebar yang penuh sinar ketajaman

dan kelembutan, seperti biasa mata kanak-kanak yang

hidupnya masih bebas dan bersih, namun di antara kedua

matanya, kulit di antara alis itu agak terganggu oleh garisgaris

lurus. Aneh melihat seorang anak kecil seperti itu sudah

ada keriput di antara kedua alisnya! Anak itu pakaiannya

sederhana sekali, biarpun amat bersih seperti bersihnya

tubuhnya, dari rambut sampai ke kuku jari tangannya yang

terpelihara dan bersih, wajahnya biasa saja, seperti anak-anak

lain dengan bentuk muka yang tampan, hanya matanya dan

keriput di antara matanya itulah yang jarang terdapat pada

anak-anak dan membuat dia menjadi seorang anak yang

mudah mendatangkan kesan pada hati pemandangnya

sebagai seorang anak yang aneh dan tentu memiliki sesuatu

yang luar biasa.

Sepasang mata anak itu bersinar-sinar penuh seri

kehidupan ketika dia tadi melihat munculnya bola merah besar

di balik puncak gunung sebelah timur, bola merah yang amat

besar dan yang mula-mula merupakan pemandangan yang

amat menarik hati, akan tetapi lambat laun merupakan benda

yang tak kuat lagi mata memandangnya karena cahaya yang

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

makin menguning dan berkilauan. Maka dia mengalihkan

pandangannya, kini menikmati betapa cahaya yang tiada

terbatas luasnya itu menghidupkan segala sesuatu, dari

puncak pegunungan sampai jauh di sana, di bawah kaki

gunung.

Anak itu lalu menanggalkan pakaiannya, satu semi satu

dengan gerakan sabar dan t idak tergesa-gesa,

tanpamenengok ke kanan kiri karena selama ini dia tahu

bahwa di pagi hari seperti itu tidak akan ada seorang.pun

manusia kecuali dirinya sendiri berada di situ. Dengan

telanjang bulat dia lalu menghampiri sebuahbatu dan duduk

bersila, menghadap matahari. Duduknya tegak lurus, kedua

kakinya bersilang dan napasnya masuk keluar dengan halus

tanpa diatur, tanpa paksaan seperti pernapasan seorang bayi

sedang tidur nyenyak. Sudah beberapa tahun dia melakukan

ini setiap hari duduk sambil mandi cahaya matahari selama

dua tiga jam sampai semua tubuhnya bermandi peluh dan

terasa panas barulah dia berhenti. Juga di waktu malam

terang bulan, dia duduk pula di batu itu, telanjang bulat,

mandi cahaya bulan purnama selama tujuh malam, kadangkadang

sampai lupa diri dan duduk bersila sampai setengah

tidur, dan barulah dia berhenti kalau tubuh sudah hampir

membeku dan bulan sudah lenyap bersembunyi di balik

pumcak barat. Anak yang luar biasa! Memang. Demikian pula

penduduk di sekitar Pegunungan Jeng Hoa San menyebutnya

Sin Tong (Anak Ajaib), demikianlah nama anak ini yang

diketahui orang. Anak ajaib, anak sakti dan lain-lain sebutan

lagi. Karena semua orang menyebutnya Sin Tong dan

memang dia sendiri tidak pernah mau menyatakan siapa

namanya, maka anak itu sudah menjadi terbiasa dengan

sebutan ini dan menganggap namanya Sin Tong!

Mengapakah orang-orang dusun, penghuni semua dusun di

sekitar lereng dan kaki Pegunungan Jeng Hoa San

menyebutnya anak ajaib? Hal ini ada sebabnya, yaitu karena

anak berusia tujuh tahun itu pandai sekali mengobati penyakit

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

dengan memberi daun-daun, buah-buah, dan akar-akar obat

yang benar-benar manjur sekali! Hampir semua penduduk

yang terkena penyakit datang ke lereng Hutan Seribu Bunga,

yaitu nama hutan di mana anak itu t inggal karena di antara

sekalian hutan di Pegunungan Seribu Bunga, hutan inilah yang

benar-benar tepat disebut Hutan Seribu Bunga denga

tetumbuhan beraneka warna, penuh dengan bunga-bunga

indah, terutama sekali pada musim semi. Dan anak ini

memberi daun atau akar obat dengan hati terbuka, dengan

hati terbuka, dengan tulus ikhlas, suka rela dan selalu menolak

kalau diberi uang! Maka berduyun-duyun orang dusun datang

kepadanya dan diam-diam memujanya sebagai seorang anak

ajaib, sebagai dewa yang menjelma menjadi seorang anakanak

yang menolong dusun-dusun itu dari malapetaka.

Bahkan ketika terjangkit penyakit menular, penyakit demam

hebat yang menimbulkan banyak korban tahun lalu, bocah

ajaib inilah yang membasminya dengan memberi akar-akar

tertentu yang harus diminum airnya setelah dimasak. Dengan

akar itu, yang sakit banyak tertolong dan yang belum terkena

penyakit tidak akan ketularan.

Ketika orang-orang dusun itu, terutama yang wanita,

datang membawa pakaian baru yang sudah dijahit rapi, anak

itu tak dapat menolak, dan menyatakan terima kasihnya

dengan butiran air mata menetes di kedua pipinya akan tetapi

tidak ada kata-kata yang keluar dari mulutnya. Karena jasa

orang-orang dusun ini, maka anak itu selalu berpakaian

sederhana sekali, potongan “dusun”. Siapakah sebetulnya

anak kecil ajaib yang menjadi penghuni Hutan Seribu Bunga

seorang diri saja itu? Benarkah dia seorang dewa yang turun

dari kahyangan menjadi seorang anak-anak untuk menolong

seorang manusia, seperti kepercayaan para penduduk di

Pegunungan Tibet sehingga banyak terdapat Lama yang

dianggap sebagai Sang Budha sendiri yang “menjelma”

menjadi anak-anak dan menjadi calon Lama.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Sebetulnya tentu saja tidak seperti ketahyulan yang

dipercaya oleh orang-orang yang memang suka akan

ketahyulan dan suka akan yang ajaib-ajaib itu. Anak itu

dahulunya adalah anak tunggal dari Keluarga Kwa di kota Kun-

Leng, sebuah kota kecil di sebelah timur Pegunungan Jenghoa-

san. Dia bernama Kwa Sin Liong, dan nama Sin

Liong(Naga Sakti) ini diberikan kepadanya karena ketika

mengandungnya, ibunya mimpi melihat seekor nama

beterbangan di angkasa diantara awan-awan. Adapun ayah

Sin Liong adalah seorang pedagang obat yang cukup kaya di

kota Kun-leng.

Akan tetapi malapetaka menimpa keluarga ini ketika malam

hari tiga orang pencuri memasuki rumah mereka. Tadinya tiga

orang penjahat ini hendak melakukan pencurian terhadap

keluarga kaya ini,

akan tetapi ketika mereka memasuki kamar ayah dan ibu

Sin Liong mempergoki mereka. Karena khawatir dikenal, tiga

orang itu lalu membunuh ayah-bunda Sin Liong dengan

bacokan-bacokan golok. Ketika itu Sin Liong baru berusia lima

tahun dan di tempat remang-remang itu melihat betapa ayahbundanya

dihujani bacokan golok dan roboh mandi darah,

tewas tanpa sempat berteriak. Saking ngeri dan takutnya, Sin

Liong seperti berubah menjadi gagu, matanya melotot dan dia

tidak bisa mengeluarkan suara. Karena ini, tiga orang pencuri

itu tidak melihat anak kecil di kamar yang gelap itu. Mereka

terutama sibuk mengumpulkan barang-barang berharga dan

mereka itu juga panik, ingin lekas-lekas pergi karena mereka

telah terpaksa membunuh tuan dan nyonya rumah..Setelah

para penjahat itu keluar dari kamar, barulah Sin Liong dapat

menjerit, menjerit sekuat tenaganya sehingga malam hari itu

terkoyak oleh jeritan anak ini. Para tetangga mereka terkejut

dan semua pintu dibuka, semua laki-laki berlari keluar dan

melihat tiga orang yang tidak dikenal keluar dari rumah

keluarga Kwa membawa buntalan-buntalan besar, segera

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

terdengar teriakan “maling…maling!” dan orang-orang itu

mengurung tiga penjahat ini.

Beberapa orang lari memasuki rumah keluarga Kwa yang

dapat dibayangkan betapa kaget hati mereka melihat suamiisteri

itu tewas dalam keadaan mandi darah, sedangkan Sin

Liong menangisi kedua orang tuanya, memeluki mereka

sehingga muka,tangan dan pakaian anak itu penuh dengan

darah ayah-bundanya.

“Pembunuh! Mereka membunuh keluarga Kwa!” Orang

yang menyaksikan mayat kedua orang itu segera lari keluar

dan berteriak-teriak

“Manusia kejam! Tangkap mereka!”

“Tidak! Bunuh saja mereka!”

“Tubuh suami-istri Kwa hancur mereka cincang!”

“Bunuh! “

“Serbu…!”

Dan terjadilah pergumulan atau pertandingan yang berat

sebelah. Tiga orang itu terpaksa melakukan perlawanan untuk

membela diri, akan tetapi mana mereka itu, maling-maling

biassa, mampu menahan serbuan puluhan bahkan ratusan

orang yang marah dan haus darah?. Anak laki-laki itu, ketika

pengeroyokan di luar rumahnya sedang terjadi, keluar dari

dalam, mukanya penuh darah, kedua tangannya dan

pakaiannya juga. Dia melangkah keluar seperti dalam mimpi,

mukanya pucat sekali dan matanya yang lebar itu terbelalak

memandang penuh kengerian.Dia berdiri di depan pintu

rumahnya, matanya makin terbelalak memandang apa yang

terjadi di depan rumahnya. Jelas tampak olehnya betapa para

tetangganya itu, seperti sekumpulan serigala buas, menyerang

dan memukuli tiga orang pencuri tadi, para pembunuh ayahbundanya.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Terdengar olehnya betapa pencuri-pencuri itu mengaduhaduh

merintih-rintih, minta-minta ampun dan terdengar pula

suara bak-bik-buk ketika kaki tangan dan senjata

menghantami mereka. Mereka bertiga itu roboh, dan terus

digebuki, dibacok, dihantam dan darah muncrat-muncrat.,

tubuh tiga orang itu berkelojotan, suara yang aneh keluar dari

tenggorokan mereka. Akan tetapi orang-orang yang marah

dan haus darah itu, yang menganggap bahwa apa yang

mereka lakukan ini sudah baik dan adil, terus saja

menghantami t iga orang manusia sial itu sampai tubuh

mereka remuk dan tidak tampak seperti tubuh manusia lagi,

patutnya hanya onggokan-onggokan daging hancur dan

tulang-tulang patah!.

Ketika semua orang sudah merasa puas, juga mulai ngeri

melihat hasil perbuatan mereka, menghentikan pengeroyokan

terhadap tiga mayat itu dan mereka memasuki rumah

keluarga Kwa, Sin Liong tidak berada disitu! Kiranya bocah ini,

yang baru saja tergetar jiwanya, tergores penuh luka melihat

ayah bundanya dibacoki dan dibunuh, ketika melihat tiga

orang pembunuh itu dikeroyok dan disiksa, jiwanya makin

terhimpit, luka-luka dihatinya makin banyak dan dia tidak kuat

menahan lagi. Dilihatnya wajah orang-orang itu semua

seperti wajah iblis, dengan mata bernyala-nyalapenuh

kebencian dan dendam, penuh nafsu membunuh, dengan

mulut terngangga seolah-olah tampak taring dan gigi

meruncing, siap untuk menggigit lawan dan menghisap

darahnya. Dia merasa ngeri, merasa seolah-olah tampak

taring dan gigi meruncing, siap untuk menggigit lawan dan

menghisap darahnya. Dia merasa ngeri, merasa seolah-olah

berada di antara sekumpulan iblis, maka sambil menangis

tersedu-sedu Sin liong lalu lari meninggalkan tempat itu,

meninggalkan rumahnya, meninggalkan kota Kun-leng, terus

berlari ke arah pegunungan yang tampak dari jauh seperti

seorang manusia sedang rebahan, seorang manusia dewa

yang sakti, yang akan melindunginya dari kejaran iblis itu!

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Seperti orang kehilangan ingatan, semalam itu Sin lIong

terus berlari sampai pada keesokan harinya, saking lelahnya,

dia tersaruk-saruk di kaki Pegunungan Jeng-hoa-san, kadangkadang

tersandung kakinya dan jatuh menelungkup, bangun

lagi dan lari pagi, terhuyung-huyung dan akhirnya, pada

keesokan harinya, pagi-pagi dia terguling roboh pingsan di

dalam sebuah hutan di lereng bagian bawah Pegunungan

Jeng-hoa-san..Setelah siuman, anak kecil berusia lima tahun

ini melanjutkan perjalanannya, dan beberapa hari kemudian

tibalah dia di sebuah hutan penuh bunga karena kebetulan

pada waktu itu adalah musim semi. Di sepanjang jalan

mendaki pegunungan, kalau perutnya sudah mulai lapar, anak

ini memetik buah-buahan dan makan daun-daunan, memilih

yang rasanya segar dan tidak pahit sehingga dia tidak sampai

kelaparan. Di dalam hutan seribu bunga itu Sin Liong

terpesona, merasa seperti hidup di alam lain, di dunia lain.

Tempat yang hening dan bersih, tidak ada seorang pun

manusia. Kalau dia teringat akan manusia, dia bergidik dan

menangis saking takut dan ngerinya. Dia telah menyaksikan

kekejaman-kekejaman yang amat hebat.

Bukan hanya kekejaman orang-orang yang merenggut

nyawa ayah bundanya, yang memaksa ayah bundanya

berpisah darinya dan mati meninggalkannya, akan tetapi juga

melihat kekejaman puluhan orang tetangga yang menyiksa

tiga orang itu sampai mati dan hancur tubuhnya, Dia bergidik

dan ketakutan kalau teringat akan hal itu. Di dalam Hutan

Seribu Bunga itulah dia merasakan keamanan, kebersihan,

keheningan yang menyejukkan perasaan.

Mula-mula Sin Liong tidak mempunyai niat untuk kembali

ke kotanya karena ia masih terasa ngeri, tidak ingin melihat

ayah bundanya yang berlumuran darah, tak ingin melihat

mayat tiga orang pencuri yang rusak hancur. Ketika dia tiba di

hutan Jeng-hoa-san itu dan melihat betapa tubuh dan

pakaiannya ternoda darah yang baunya amat busuk, dia cepat

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

mandi dan mencuci pakaian di anak sungai yang terdapat di

hutan itu, anak sungai yang airnya keluar dari sumber, jernih

dan sejuk sekali. Mula-mula memang dia tidak ingin pulang

karena kengerian hatinya, akan tetapi setelah dua tiga bulan

“Bersembunyi” di tempat itu, timbul rasa cintanya terhadap

Hutan Seribu Bunga dan dia kini tidak ingin pulang sama sekali

karena dia telah menganggap hutan itu sebagai tempat

tinggalnya yang baru! Di dekat pohon peak yang besar,

terdapat bukit batu dan di situ ada guanya yang cukup besar

untuk dijadikan tempat tinggal, dijadikan tempat berlindung

dari serangan hujan dan angin. Gua ini dibersihkannya dan

menjadi sebuah tempat yang amat menyenangkan.

Demikianlah, anak ini tidak tahu sama sekali bahwa harta

kekayaan orang tuanya yang tidak mempunyai keluarga dan

sanak kadang lainnya, telah dijadikan perebutan antara para

tetangga sampai habis ludes sama sekali! Dengan alas an

“mengamankan” barang-barang berharga dari rumah kosong

itu, para tetangga telah memperkaya diri sendiri. Mereka ini

tetap tidak tahu, atau tidak mengerti bahwa mereka telah

mengulangi perbuatan tiga orang pencuri yang mereka

keroyok dan bunuh bersama itu. Mereka juga melakukan

pencurian, sungguhpun caranya tidak “sekasar” yang

dilakukan para pencuri. Jika dinilai, pencurian yang dilakukan

para tetangga dan “sahabat” ini jauh lebih kotor dan rendah

daripada yang dilakukan oleh tiga orang pencuri dahulu itu,

karena para pencuri itu melakukan pencurian dengan sengaja

dan terang-terangan mereka itu adalah pencuri, tidak

berselubung apa-apa, dan kejahatannya itu memang terbuka,

sebagai orang-orang yang mengambil barang orang lain di

waktu Si Pemilik sedang lengah atau tertidur. Namun, apa

yang dilakukan oleh para tetangga itu adalah pencurian

terselubung, dengan kedok “menolong” sehingga kalau dibuat

takaran, kejahatan mereka itu berganda, pertama jahat

seperti Si Pencuri biasa karena mengambil dan menghaki milik

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

orang lain, ke dua jahat karena telah bersikap munafik,

melakukan kejahatan dengan selubung “kebaikan”.

Demikianlah sampai dua tahun lamanya anak berusia lima

tahun ini tinggal seorang diri di dalam Hutan Seribu Bunga.

Sebagai putera seorang ahli pengobatan, biarpun ketika

usianya baru lima tahun, sedikit banyak Sin Liong tahu akan

daun-daun dan akar obat, bahkan sering dia ikut ayahnya

mencari daun-daun obat di gunung-gunung.

Setelah kini dia hidup seorang diri di dalamhutan, bakatnya

akan ilmu pengobatan mendapat ujian dan pemupukan secara

alam. Dia harus makan setiap hari itu untuk keperluan ini, dia

telah pandai memilih dari pengalaman, mana daun yang

berkhasiat dan mana yang enak, mana pula yang beracun dan

sebagainya.

Selama dua tahun itu, dengan pakaian cabik-cabik t idak

karuan, sering pula dia terserang sakit dan dari pengalaman

ini pula dia terserang sakit dan dari pengalaman ini pula dia

dapat memilih daun-daun dan akar-akar obat, bukan dari

pengetahuan, melainkan dari pengalaman. Mungkin karena

tidak ada sesuatu lainnya yang menjadikan bahan pemikiran,

maka anak ini dapat mencurahkan semua perhatiannya

terhadap pengenalan akan daun dan akar serta buah dan

kembang yang mangandung obat ini sehingga penciumannya

amat tajam terhadap khasiat daun dan akar obat. Dengan

menciumnya saja dia dapat menentukan khasiat apakah yang

terkandung dalam suatu daun, bunga, buah ataupun akar!

Tidak kelirulah kata-kata orang bahwa pengalaman adalah

guru terpandai. Tentu saja kata-kata itu baru

terbukti.kebenarannya kalau seseorang memiliki rasa kasih

terhadap yang dilakukannya itu.

Dan memang di lubuk hati Sin Liong, dia mempunyai rasa

kasih yang menimbulkan suka, dan suka ini menimbulkan

kerajinan untuk mempelajari khasiat bunga-bunga dan daunTiraikasih

Website http://kangzusi.com/

daun yang banyak sekali macamnya dan tumbuh di dalam

Hutan Seribu Bunga itu.

Selain mempelajari khasiat tumbuh-tumbuhan, bukan

hanya untuk menjadi makanan sehari-hari akan tetapi juga

untuk pengobatan, Sin Liong mempunyai kesukaan lain lagi

yang timbul dari rasa kasihnya kepada alam, kasih yang

sepenuhnya dan yang mungkin sekali timbul karena dia

merasa hidup sebatangkara dan juga timbul karena melihat

kekejaman yang menggores di kalbunya akan perbuatan

manusia ketika ayah ibunya dan tiga orang pencuri itu tewas.

Di tempat itu dia melihat kedamaian yang murni, kewajaran

yang indah, dan tidak pernah melihat kepalsuan-kepalsuan,

tidak melihat kekejaman. Rasa kasih kepada alam ini membuat

dia amat peka terhadap keadaan sekelilingnya, membuat

perasaannya tajam sekali sehingga dia dapat merasakan

betapa hangat dan nikmatnya sinar matahari pagi, betapa

lembut dan sejuk segarnya sinar bulan purnama sehingga

tanpa ada yang memberi tahu dan menyuruh hampir setiap

pagi dia bertelanjang mandi cahaya matahari pagi dan setiap

bulan purnama dia bertelanjang mandi sinar bulan purnama.

Tanpa disadarinya, tubuhnya telah menerima dan menyerap

inti tenaga mujijat dari bulan dan matahari, dan membuat

darahnya bersih, tulangnya kuat dan tenaga dalam di

tubuhnya makin terkumpul di luar kesadarannya. Setelah

keringat membasahi seluruh tubuh dan beberapa kali memutar

tubuhnya yang duduk bersila di atas batu, kadang-kadang

dadanya, Sin Liong turun dari batu itu, menghapus peluh

dengan saputangan lebar, kemudian setelah tubuhnya tidak

berkeringat lagi, setelah dibelai bersilirnya angin pagi, dia

mengenakan lagi pakaiannya dan pergi mengeluarkan bunga,

daun, buah dan akar obat dari dalam gua untuk dijemur

dibawah sinar matahari. Inilah yang menjadi pekerjaannya

sehari-hari, selain mencangkok, memperbanyak dan menanam

tanaman-tanaman yang berkhasiat.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Menjelang tengah hari, mulailah berdatangan penduduk

yang membutuhkan obat. Di antara mereka terdapat pula

beberapa orang kang-ouw yang kasar dan menderita luka

beracun dalam pertempuran. Untuk mereka semua, tanpa

pandang bulu, Sin Liong memberikan obatnya setelah

memeriksa luka-luka dan penyakit yang mereka derita.

Lebih dari lima belas orang datang berturut-turut minta

obat dan yang datang terakhir adalah seorang laki-laki

setengah tua bertubuh tinggi besar, dipunggungnya

tergantung golok dan dia datang terpincang-pincang karena

pahanya terluka hebat, luka yang membengkak dan

menghitam. “Sin-tong, kau tolonglah aku…” Begitu tiba di

depan gua dimana Sin Liong duduk dan memotong-motong

akar basah dengan sebuah pisau kecil, laki-laki bermuka hitam

dan bertubuh tinggi besar itu menjatuhkan diri dan merintih

kesakitan.

Sin Liong mengerutkan alisnya. Di antara orang-orang yang

minta pengobatan, dia paling tidak suka melihat orang kangouw

yang dapat dikenal dari sikap kasar dan senjata yang

selalu mereka bawa. Namun , belum pernah dia menolak

untuk mengobati mereka, bahkan diam-diam dia menilai

mereka itu sebagai orang-orang yang berwatak serigala, yang

haus darah, yang selalu saling bermusuhandan saling melukai,

sehingga mereka ini merupakan manusia-manusia yang patut

dikasihani karena tidak mengenai apa artinya ketentraman,

kedamaian, dan kasih antar manusia yang mendatangkan

ketenangan dan kebahagiaan. “Orang tua gagah, bukankah

dua bulan yang lalu kau pernah datang dan minta obat karena

luka di lengan kirimu yang keracunan?” tanyanya sambil

menatap wajah berkulit hitam itu. “Benar, benar sekali, Sintong.

Aku adalah Sin-hek-houw (Macan Hitam Sakt i) yang

dahulu terkena senjata jarum beracun di lenganku. Akan

tetapi sekarang, aku menderita luka lebih parah lagi. Pahaku

terbacok pedang lawan dan celakanya, pedang itu

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

mengandung racun yang hebat sekali. Kalau kau tidak segera

menolongku, aku akan mati, Sin-tong.”

Sin Liong tidak berkata apa-apa lagi, menghampiri orang

yang di atas tanah itu, memeriksa luka mengangga di balik

celana yang ikut terobek. Luka yang lebar dan dalam, luka

yang tertutup oleh darah yang menghitam dan membengkak,

seluruh kaki terasa panas tanda keracunan hebat! Sin Liong

menarik nafas panjang.

“Lo-enghiong, mengapa engkau masih saja bertempur

dengan orang lain, saling melukai dan saling

membunuh? Bukankah dahulu ketika kau dating kesini

pertama kali, pernah kau berjanji tidak akan lagi

bertanding dengan orang lain?”.Mata yang lebar itu melotot

kemudian pandang matanya melembut. Tak mungkin dia

dapat marah kepada

anak ajaib ini. Seorang anak kecil berusia tujuh tahun dapat

bicara seperti itu kepadanya, seolah-olah anak itu adalah

seorang kakek yang menjadi pertapa dan hidup suci!

“Sin-tong, aku adalah Sin-hek-houw, dan jangan kau

menyebut Lo-enghiong (Orang Tua Gagah) kepadaku. Aku

adalah seorang perampok, mengertikah kau? Seorang

perampok tunggal yang mengandalkan hidup dari merampok

orang lewat! Kalau aku tidak butuh barang, aku tentu tidak

akan menganggu orang, dan kalau orang yang kumintai

barangnya itu tidak melawan, aku tentu tidak akan

menyerangnya. Akan tetapi, dua kali aku keliru menilai orang.

Dahulu, aku menyerang seorang nenek yang kelihatan lemah,

dan akibatnya lenganku terluka hebat. Sekarang, aku

merampok seorang kakek yang kelihatan lemah, yang

membawa barang berharga, dan akibatnya pahaku hampir

buntung dan kini keracunan hebat. Kau tolonglah, aku akan

berterima kasih kepadamu, Sin-tong dan akan mengabarkan

sesuatu yang amat penting bagimu”.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Lo-enghiong, aku tidk membutuhkan terima kasih dan

balasan. Aku mengenal khasiat tetumbuhan di sini,

tetumbuhan itu tumbuh di sini begitu saja mempersilahkan

siapapun juga yang mengerti untuk memetik dan

mempergunakannya, tanpa membeli, tanpa merampas dan

tanpa menggunakan kekerasan. Aku hanya memetik dan

menyerahkan kepadamu, perlu apa aku minta terima kasih

dan balasan? Lukamu ini hebat seluruh kaki sudah panas,

berarti darahmu telah keracunan, Untuk mengeluarkan

racunnya yang masih mengeram di sekitar luka, sebaiknya

luka itu dibuka agar dapat diobati, tidak seperti sekarang ini

ditutup oleh darah beracun yang mengering. Dapatkah kau

membuka lukamu itu, Lo-enghiong?” Orang setengah tua itu

membelalakan mata dan kembali dia kagum mendengar cara

bocah itu bicara, akan tetapi keheranannya lenyap ketika dia

teringat bahwa bocah ini adalah Sin-tong, anak ajaib! Maka

dia lalu menghunus goloknya dan melihat berkelebatnya sinar

golok, Sin Liong memejamkan matanya. Terbayan kembali tiga

batang golok yang membacoki tubuh ayah bundanya, dan

banyak golok yang kemudian membacoki tubuh tiga orang

pencuri itu.

Sin-hek-houw menggunakan ujung goloknya untuk

menusuk dan membuka kembali luka di pahanya. Dia

mengeluh keras, akan tetapi lukanya sudah terbuka dan darah

hitam mengucur keluar. Dengan siksaan rasa nyeri yang

hebat, Sin-hek-houw melemparkan goloknya dan

menggunakan kedua tangannya memijit-mijit paha yang

terasa nyeri itu.

Sin Liong berlutut, menggunakan jari tangannya yang halus

untuk bantu memijat sehingga darah makin banyak

keluar.Darah hitam dan baunya membuat orang mau muntah!

Akan tetapi Sin Liong yang melakukan hal itu dengan rasa

kasih sayang di hati, dengan rasa iba yang mendalam dan

tidak dibuat-buat dan tidak pula disengaja, menerima bau itu

dengan perasaan makin terharu. Betapa sengsara dan

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

menderitanya orang ini, hanya demikian bisikan hatinya. Dia

lalu mengambil bubukan akar tertentu, menabur bubukan itu

ke dalam luka yang mengangga.

“Aduhhhhh..mati aku….!” Kakek itu berseru keras ketika

merasa betapa obat itu mendatangkan rasa nyeri seperti ada

puluhan ekor lebah menyengat-nyengat bagian yang terluka

itu. “Harap kaupertahankan, Lo-enghiong sebentar juga akan

hilang rasa nyerinya. Jangan lawan ras nyeri itu, hadapilah

sebagai kenyataan dan ketahuilah bahwa bubuk itu adalah

obat yang akan mengusir penyakit ini.” Sambil berkata

demikian, Sin Liong lalu menggunakan empat helai daun yang

sudah diremas sehingga daun itu menjadi basah dan layu,

kemudian ditutupnya luka itu dengan empat helai daun.

Benar saja, rintihan orang itu makin perlahan tanda bahwa

rasa nyerinya berkurang dan akhirnya orang itu menarik nafas

panjang karena rasa nyerinya kini dapat ditahannya. “Harap

Lo-enghiong membawa akar ini, dimasak dan airnya diminum.

Khasiatnya untuk membersihkan racun yang masih berada di

kakimu. Dengan demikian maka luka itu akan membusuk dan

akan lekas sembuh. Obat bubuk dan daun-daun ini untuk

mengganti obat setiap hari sekali, kiranya cukup untuk

sepekan sampai luka itu sembuh sama sekali.” Sin Liong

berkata sambil membungkus obat-obat itu dengan sehelai

daun yang lebar dan menyerahkannya kepada Sin-hek-houw.

Orang kasar itu menerima bungkusan obat dan kembali

menghela napas panjang..”Kalau saja aku dapat mempunyai

seorang sahabat seperti engkau yang selalu berada di

sampingku. Kalau

saja aku dapat mempunyai seorang anak seperti engkau,

kiranya aku tidak akan tersesat sejauh ini. Terima kasih, Sintong

dan aku tidak dapat membalas apa-apa kecuali

peringatan kepadamu bahwa engkau terancambahaya besar”.

Sin Liong mengangkat muka memandang wajah berkulit

hitam itu dengan heran. “Sin-tong, dunia kang-ouw telah

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

geger dengan namamu. Orang-orang kang-ouw, termasuk

aku, yang telah menerima pengobatanmu, membawa namamu

di dunia kang-ouw dan terjadilah geger karena nama Sin-tong

menjadi kembang bibir setiap orang kang-ouw. Banyak partai

besar tertarik hatinya, menganggap engkau tentu penjelmaan

dewa atau Sang Buddha dan kini telah banyak partai dan

orang-orang gagah yang siap untuk dating kesini dan untuk

membujukmu menjadi anggota mereka atau menjadi murid

orang-orang kang-ouw yang terkenal. Celakanya, di antara

mereka itu terdapat 2 orang manusia iblis yang lain lagi

maksudnya, bukan maksud baik seperti tokoh dan partai

persilatan, melainkan maksud keji terhadap dirimu.” Sin liong

mengerutkan alisnya, sedikitpun dia tidak merasa takut karena

memang dia tidak mempunyai niat buruk terhadap siapa pun

di dunia ini. “Lo-eng-hiong, aku hanya seorang anak kecil yang

tidak tahu apa-apa, tidak mempunyai permusuhan dengan

siapapun juga. Siapa orangnya yang akan menggangguku?”

Kakek itu memandang terharu. “Ahh…kau benar-benar

seorang yang aneh dan bersih hatimu. Kalau aku memiliki

kepandaian, aku akan melindungimu dengan seluruh tubuh

dan nyawaku, bukan hanya karena dua kali kau menolongku,

melainkan karena tidak rela aku melihat orang mau merusak

seorang bocah ajaib seperti engkau ini. Akan tetapi 2 orang

iblis itu…” Sin-hek-houw menggiggil dan kelihatan jerih sekali.

“Siapakah mereka dan apa yang mereka kehendaki dari aku?”

“Di dunia kang-ouw, banyak terdapat golongan sesat,

manusia-manusia iblis termasuk orang seperti aku. Akan

tetapi dibandingkan dua orang yang kumaksudkan itu, mereka

adalah dua ekor harimau buas sedangkan orang seperti aku

hanyalah seekor tikus! Yang seorang adalah kakek berpakaian

pengemis, kelihatan seperti orang miskin yang alim, namun

dialah iblis nomor satu, ketua Pat-Jiu Kai-pang, seorang yang

memiliki rumah seperti istana dan wajahnya yang biasa dan

alim menyembunyikan watak yang kejamnya melebihi iblis

sendiri! Celakalah engkau kalu sudah berada di tangan kakek

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

ini Sin-tong.” “Hemmm, kurasa seorang kakek seperti dia tidak

membutuhkan seorang anak kecil seperti aku. Aku tidak

khawatir dia akan mengangguku, Lo-eng-hiong!”

“Tidak aneh kalau kau berpendapat demikian, karena kau

seorang anak ajaib yang berhati dan berpikiran polos dan

murni. Akan tetapi aku khawatir sekali, apa lagi iblis kedua

yang tidak kalah kejamnya. Dia seorang wanita, cantik dan tak

ada yang tahu berapa usianya. Kelihatannya cantik,

rambutnya panjang harum dan selalu membawa sebuah

payung, kelihatannya lemah dan membutuhkan perlindungan.

Akan tetapi, seperti iblis pertama, semua kecantikan dan

kelemah-lembutannya itu menyembunyikan watak yang

sesungguhnya, watak yang lebih keji dan kejam daripada iblis

sendiri.” “Lo-enghiong, harap saja Lo-enghiong tidak

memburuk-burukkan orang lain seperti itu. Aku tidak percaya.”

Kakek itu menarik napas panjang lalu bangkit berdiri. “Aku

sudah memberi peringatan kepadamu Sin-tong. Dan kalau

kau mau, marilah kau ikut aku bersembunyi di tempat aman

sehingga tidak ada seorang pun yang tahu. Setelah keadaan

benar aman barulah kau kembali kesini. Aku mendengar berita

angin bahwa dua iblis itu sedang menuju ke Jeng-hoa-san

mencarimu.”

Namun Sin Liong menggeleng kepala “Aku dibutuhkan oleh

penduduk pedusunan si sini, aku tidak pergi kemana-mana,

Lo-enghiong.”

“Hemmm, sudahlah! Aku sudah berusaha

memperingatkanmu. Mudah-mudahan saja benar-benar tidak

terjadi seperti yang kukhawatirkan. Dan lebih-lebih lagi

mudah-mudahan aku tidak akan terluka lagi seperti ini,

sehingga kalau kau benar-benar sudah tidak berada lagi di

sini, aku payah mencari obat. Selamat tinggal,Sin-tong dan

sekali lagi terima kasih.”.”Selamat jalan, Lo-enghiong, semoga

lekas sembuh.”

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Orang itu berjalan menyeret kakinya yang terluka, baru

belasan langkah menoleh lagi dan berkata, “Benar-benarkah

kau tidak mau ikut bersamaku untuk bersembunyi, Sin-tong?”

Sin Liong tersenyum dan menggeleng kepala tanpa

menjawab.

“Sin-tong, siapakah namamu yang sesungguhnya?”

“Aku disebut Sin-tong, biarpun aku merasa seorang anak

biasa, aku tidak tega menolak sebutan itu. Kau mengenalku

sebagai Sin-tong, itulah namaku.”

Sin-hek-houw menggeleng kepala, melanjutkan

perjalanannya dan masih bergeleng-geleng dan mulutnya

mengomel, “Anak ajaib, anak ajaib..sayang..!” Dan dia

mengepal tinju, seolah-olah hendak menyerang siapa pun

yang akan menganggu bocah yang dikaguminya itu.

Beberapa hari kemudian semenjak Sin-hek-houw datang

minta obat kepada Sin Liong, makin banyaklah orang yang

datang membisikkan kepada anak itu tentang geger di dunia

kang-ouw tentang dirinya. Bermacam-macam berita aneh

yang didengar oleh Sin Liong tentang ancaman dan lain-lain

mengenai dirinya, namun dia sama sekali tidak ambil peduli

dan tetap saja bersikap tenang dan bekerja seperti biasa,

tidak pernah gelisah, bahkan sama sekali t idak pernah

memikirkan tentang berita yang didengarnya itu.

Beberapa pekan kemudian, pagi hari dari arah timur kaki

Pegunungan Jeng-hoa-san tampak berjalan eorang kakek

seorang diri, menoleh ke kanan dan kiri seolah-olah menikmati

pemandangan alam di sekitar tempat itu, kakek ini usianya

tentu sudah enam puluhan tahun, tubuhnya kurus kecil,

pakaiannya penuh tambalan, dan wajahnya membayangkan

kesabaran dan mulut yang ompong itu bahkan selalu

menyungging senyum simpul keramahan. Dia melangkah

perlahan-lahan memasuki hutan pertama di kaki Pegunungan

Jeng-hoa-san, langkahnya dibantu dengan ayunan sebatang

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

tongkat butut yang berwarna hitam, agaknya terbuat dari

semacam kayu yang sudah amat tua sehingga seperti besi

saja rupanya. Agaknya dia seorang pengemis tua yang

hidupnya serba kekurangan namun yang dapat menyesuaikan

diri sehingga tidak merasa kurang, bahkan kelihatannya

gembira, menerima hidup apa adanya dan hatinya selalu

senang. Buktinya ketika dia mendengar kicau burung-burung,

kakek ini membuka mulutnya dan bernyanyi pula! Akan tetapi

kata-kata dalam nyanyiannya itu tentu akan membuat setiap

orang yang mendegarnya mengerutkan kening, karena selain

aneh, juga menyimpang dari ajaran kebatinan umumnya!

“Apa artinya hidup

kalau hati tak senang?

Apa artinya hidup

Kalau segala keinginan tak terpenuhi?

Puluhan tahun mempelajari ilmu

Bekal memenuhi segala kehendak

Berenang dalam lautan kesenangan

Matipun tidak penasaran!

Berkali-kali pengemis ini bernyanyi dengan kata-kata yang

itu-itu juga, suaranya halus dan cukup merdu dan sambil

bernyanyi dia mengatur irama lagu dengan ketukan

tongkatnya di atas tanah lunak atau kebetulan mengenai batu

yang keras, ujung tongkat itu tentu membuat lubang. Kedua

kakinya yang bersepatu butut itu sendiri tidak meninggalkan

jejak seolah-olah dia tidak menginjak tanah akan tetapi

tongkat itu membuat jejak jelas karena setiap kali melubangi

tanah maupun batu. Adapun kaki itu sendiri, biarpun

menginjak tanah basah, sama sekali tidak meninggalkan

bekas.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Beberapa menit kemudian setelah kakek aneh ini lewat,

tampak berkelebat bayangan orang, juga

datang dari arah timur melalui kaki bukit itu. Mereka itu

terdiri dari 12 orang laki-laki dari usia tiga puluh sampai empat

puluh tahun, dan seorang wanita berusia dua puluh lima

tahun, berwajah manis dan bertubuh bagus dengan pinggang

ramping. 12 orang laki-laki itu kesemuanya kelihatan gagah

dan pakaian mereka jelas menunjukkan bahwa mereka adalah

ahli-ahli silat, sedangkan gerakan mereka yang ringan

cekatan.membuktikan bahwa mereka bukanlah sembarangan

orang kang-ouw melainkan rombongan orang gagah yang

berilmu. Hal ini memang tidak salah, karena mereka itulah

yang terkenal dengan julukan Cap-sa-sin-hiap (13 Pendekar

Sakti) murid-murid utama dari Partai Besar Bu-tong-pai!

“Tahan dulu, para suheng!” Tiba-tiba wanita cantik itu

mengangkat tangannya ke atas dan memperingatkan para

suhengnya, kemudian dia menuding ke bawah dan berkata,

“Lihat ini….!” Tiga Belas orang ini memperhatikan bekas

tusukan tongkat pengemis tadi yang jaraknya teratur dan

biarpun tiba di atas batu, tetap saja tampak batu itu

berlubang.

“Siapa lagi kalau bukan dia?” kata gadis itu dengan alis

berkerut.

“Tenaga tusukan tongkat yang hebat” kata seorang.

“Dan jejak kakinya tidak tampak, tak salah lagi, Pat-jiu Kaiong

(Raja Pengemis Berlengan Delapan), tentu telah lewat

disini, dan baru saja. Hayo cepat kita mengejarnya! Jangan

sampai dia mendahului kita memasuki Hutan Seribu Bunga!”

kata orang tertua di antara mereka, seorang berusia empat

puluh tahun yang bermuka seperti harimau.

Karena kini merasa yakin bahwa jejak lubang-lubang itu

tentu terbuat oleh tongkat Pat-jiu kai-ong, maka tiga belas

orang tokoh Bu-tong-pai itu mencabut senjata masing-masing

dan tampaklah berkilaunya senjata tajam itu meluncur ke

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

depan ketika tiga belas orang itu mengerahkan ginkang

mereka dan menggunakan ilmu berlari cepat melakukan

pengejaran ke depan, ke arah jejak berlubang itu. Tak lama

kemudian terdengarlah oleh mereka bunyi nyanyian kakek

pengemis tadi. Tiga belas orang ini memperlambat larinya dan

satu-satunya wanita diantara mereka mengomel lirih, “Hemm,

dasar manusia iblis. Selama hidupnya mengejar kesenangan

dan demi kesenangan dia tidak segan melakukan hal-hal

terkutuk yang kejamnya melebihi iblis sendiri!

“Sssssttt, Sumoi, terhadap orang seperti dia kita harus

berhati-hati. Semenjak dahulu, Bu-tong-pai tidak pernah

bermusuhan dengan tokoh kang-ouw yang manapun juga,

tidak pula mencampuri urusan mereka. Maka biarlah nanti

kita bertanya dia secara baik-baik dan kalau tidak terpaksa

sekali lebih baik kita menghindarkan pertempuran.” Kata twasu-

heng (kakak seperguruan tertua) mereka. Semua sutenya

mengangguk, akan tetapi sumoinya mengomel, “Siapakah

yang takut kepadanya?” Dia melintangkan pedangnya.

Memang nona yang bernama The Kwat Lin ini, terkenal

berhati keras dan pemberani dan memang ilmu pedangnya

hebat maka tidaklah mengherankan apabila diat terhitung

seorang di antara Cap-sha Sin-hiap yang terkenal di dunia

kang-ouw.

“Sumoi, kita harus mentaati perintah Suhu, agar tidak

membawa Bu-tong-pai menanam bibit permusuhan dengan

golongan lain, baik kaum bersih maupun kaum sesat. Karena

itu, dalam pertemuan ini, serahkan saja kepadaku untuk

mewakili kalian semua!”

Karena maklum bahwa dia tidak boleh melanggar perintah

gurunya dan bahwa twa-suheng ini selain paling lihai juga

merupakan seorang yang mewakili Suhu mereka, Kwat Lin

mengangguk biarpun bibirnya yang merah tetap cemberut

tidak puas. Dia merasa tidak puas melihat sikap jerih yang

diperlihatkan para suhengnya. Cap-sha Sin-hiap mempunyai

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

nama besar di dunia kang-ouw, disegani kawan ditakuti lawan,

masa sekarang berhadapan dengan seorang tokoh sesat saja

kelihatan gentar? Suara nyanyian itu makin keras, tanda

bahwa jarak di antara mereka dengan kakek itu makin dekat.

Dengan ilmu meringankan tubuh yang hampir sempurna, tiga

belas orang pendekar Bu-tong-pai itu dan dapat menyusul dan

berkelebatlah tubuh mereka, dari kanan kiri dan atas, tahutahu

mereka telah berdiri menghadap di depan kakek

pengemis dengan sikap keren dan gagah sekali.

Kakek pengemis itu masih melanjutkan nyanyiannya sambil

berdiri memandang, dan ketika pandang matanya bertemu

dengan wajah Kwat Lin, dia tidak meyembunyikan

kekagumannya. Setelah nyanyiannya berhenti, barulah dia

tersenyum dan berkata, “Eh-eh, apakah kalian ini

serombongan pemain akrobat yang hendak menjual

kepandaian? Aku seorang pengemis t idak mempunyai uang

untuk membayar upah kalian!”.”Harap Locianpwe tidak

berpura-pura lagi. Kami tahu bahwa Locianpwe adalah Pat-jiukai-

pangcu (Ketua Perkumpulan Pengemis Delapan Lengan)

yang terhormat. Locianpwe adalah tokoh terkenal yang

berjuluk Pat-jiu Kai-ong, bukan?”

Kakek yang mukanya kelihatan sabar dan baik hati itu

tersenyum, senyumnya juga simpatik dan ramah. Tiga belas

orang pendekar Bu-tong-pai itu yang hanya baru mengenal

nama kakek sakti kaum sesat ini, diam-diam merasa heran

bahkan sangsi apakah benar mereka berhadapan dengan Patjiu

Kai-ong yang kabarnya kejamnya seperti iblis, karena

kakek ini kelihatan halus tutur sapanya dan begitu ramah!

“Ha..ha..ha, sungguh sukar jaman sekarang ini untuk

bersembunyi dan menyembunyikan diri. Orang-orang muda

sekarang amat tajam penciumannya dan penglihatannya,

biarpun belum pernah jumpa sudah mengenal orang. Orangorang

muda yang gagah dan cantik, dia memandang Kwat Lin

lagi dengan kagum, “Tidak keliru dugaan kalian aku adalah

Pat-jiu Kai-ong, seorang pengemis tua yang hanya memiliki

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

sebatang tongkat butut ini. Tidak tahu siapakah kalian dan

perlu apa kalian menghadang perjalananku?” “Kami adalah

Cap-sha Sin-hiap dari Bu-tong-pai!” kata Kwat Lin dan karena

sudah terlanjur, maka percuma saja twa-suhengnya

mencegahnya dengan pandang matanya. “Benar, kami adalah

murid-murid Bu-tong-pai, Locianpwe,” kata Twa-suheng itu

dengan hati tidak enak karena sumoinya yang lancang itu

ternyata telah membuka kartu dan mengaku bahwa mereka

dari Bu-tong-pai, berarti membawa-bawa nama perkumpulan

mereka.

“Ha..ha..ha, bagus. Memang Bu-tong-pai mempunyai

banyak murid pandai, gagah dan cantik sepanjang kabar yang

kudengar. Akan tetapi kalau tidak salah, aku tidak pernah

berurusan dengan Bu-tong-pai.” Melihat sikap kakek itu masih

ramah dan kata-katanya juga halus dan tidak bermusuh, twasuheng

itu menjadi makin tidak enak. Akan tetapi karena dia

maklum orang macam apa adanya kakek di depannya ini, dan

betapa Sin-tong yang mereka dengar merupakan seorang

anak ajaib yang luar biasa dan sudah menolong manusia

dengan pengetahuan yang tepat mengenai khasiat

tetumbuhan yang mengandung obat, maka tetap saja dia

merasa khawatir akan keselamatan Sin-tong itu kalau sampai

kakek datuk sesat ini bertemu dengan anak itu.

“Apa yang Locianpwe katakan memang benar. Di antara

Locianpwe dengan Bu-tong-pai, tidak pernah ada urusan. Dan

sekali ini, kami orang-orang muda dari Bu-tong-pai juga tidak

berniat untuk menganggu Locianpwe yang terhormat. Hanya

kami mendengar berita bahwa diantara banyak tokoh kangouw,

Locianpwe juga berminat kepada anak kecil budiman

yang terkenal dengan sebutan Sin-tong dan yang berdiam di

dalam Hutan Seribu Bunga. Benarkah ini, dan apakah

Locianpwe sekarang sedang menuju ke hutan itu?”

Mulai berubah wajah kakek itu mendengar ucapan ini,

senyumnya masih ada akan tetapi sepasang matanya yang

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

tadinya berseri gembira itu kehilangan cahaya

kegembiraannya dan berubah dengan sinar kilat yang

mengejutkan mereka semua.

“Hemmm, orang-orang muda yang lancang. Kalau benar

aku hendak pergi mengunjungi Sin-tong, kalian mau apakah?”

Tiga belas orang anak murid Bu-tong-pai itu sudah dapat

“Mencium” keadaan yang membuat mereka semua siap siaga.

Mereka melihat bahwa kakek yang kelihatannya halus budi itu

dan ramah ini mulai memperlihatkan “tanduknya” atau watak

sesungguhnya.

“Locianpwe, kalau benar demikian, kami hanya mohon

kepada Locianpwe agar tidak mengganggu Sin-tong.”

“Apamukah bocah itu?”

“Bukan apa-apa, Locianpwe. Namun mendengar betapa

anak ajaib itu telah banyak menolong orang tanpa pandang

bulu tanpa pamrih, maka sudahlah menjadi kewajiban semua

orang gagah di dunia kang-ouw untuk menjaga kesel

amatannya.”.Perubahan hebat pada diri kakek itu. Kini

senyumnya bahkan lenyap dan mulutnya menyeringai penuh

sikap mengejek, matanya berkilat-kilat dan suaranya berubah

kaku, ketus dan memandang rendah.

“Anak-anak kurang ajar! Apakah Si Tua Bangka Kui Bho

Sanjin yang mengutus kalian?” “Guru kami tidak tahu-menahu

tentang ini. Kami kebetulan berada di daerah ini dan

mendengar akan Sin-tong yang terancam bahaya, maka kami

melihat Locianpwe lalu sengaja hendak bertanya. Tentu saja

kalau Locianpwe tidak menghendaki Sin-tong, kami pun sama

sekali t idak kurang ajar dan kami mohon maaf sebanyaknya.”

“Aku memang menuju ke Hutan Seribu Bunga. Mengapa

kalian menyangka bahwa aku akan mencelakai Sin-tong?”

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Tiga belas pendekar Bu-tong-pai itu makin tegang. Kakek

ini sudah mulai berterus terang, maka tiada salahnya kalau

mereka bersikap waspada dan berterus terang pula.

“Siapa yang tidak mendengar bahwa Pat-jiu Kai-ong sedang

menyempurnakan ilmu iblis yang disebut Hiat-ciang-hoat-sut

(Ilmu Hitam Tangan Darah)?” Tiba-tiba Kwat Lin berseru

sambil menudingkan telunjuk kirinya ke arah muka kakek itu.

Para suhengnya terkejut, akan tetapi ucapan telah terlanjur

dikeluarkan dan memang dalam hati mereka terkandung

tuduhan ini. Ilmu Hiat-ciang hoat-sut adalah semacam ilmu

hitam yang hanya dapat dipelajari oleh kaum sesat karena

ilmu ini membutuhkan syarat yang amat keji, yaitu

menghimpun kekuatan hitam dengan jalan menghisap dan

minum darah, otak dan sumsum anak-anak yang masih bersih

darahnya! Tentu saja bagi seorang yang sedang

menyempurnakan ilmu iblis ini, Sin-tong mempunyai daya tarik

yang luar biasa, karena darah, otak dan sumsum seorang

bocah seperti Sin-tong yang ajaib, lebih berharga dari darah,

otak dan sumsum puluhan orang bocah biasa lainnya!.

Tiba-tiba kakek itu tertawa lebar. Hah-hah-hah-hah,

memang benar! Dan satu-satunya bocah yang akan

menyempurnakan ilmuku itu adalah Sin-tong! Dan aku bukan

hanya suka minum dan menghisap darah, otak dan sumsum

bocah yang bersih, juga aku bukannya tidak suka bersenangsenang

dengan perawan cantik seperti engkau, Nona!”

“Singggg! Singggg…!” Tampak sinar-sinar berkilauan ketika

pedang yang tiga belas buah banyaknya itu bergerak secara

berbarengan dan tiga belas orang pendekar itu telah

mengurung si Kakek yang masih tertawa-tawa.

“Heh-heh, kalian mau coba-coba main-main dengan Pat-jiu

Kai-ong? Sayang kalian masih muda-muda harus mati, kecuali

Nona manis. Andaikata Si Tua Bangka Kui Bhok Sanjin berada

disini sekalipun, dia juga tentu akan mampus kalau berani

menentang Pat-jiu Kai-ong!”

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Serbu dan basmi iblis ini!” Twa-suheng itu berteriak dan

mereka sudah menerjang maju dengan bermacam gerakan

yang cepat dan dahsyat.

Tiba-tiba kakek itu mengeluarkan suara pekik yang

dahsyat, pekik yang disusul dengan suara tertawa

menyeramkan. Suara ketawa ini bergema di seluruh hutan,

sehingga terdengar suara ketawa menjawabnya dari semua

penjuru, seolah-olah semua setan dan iblis penjaga hutan

telah datang oleh panggilan kakek itu. Hebatnya, suara pekik

dan tertawa itu membuat tiga belas orang pendekar itu

seketika seperti berubah menjadi arca, gerakan mereka

terhenti dan untuk beberapa detik mereka hanya bengong

memandang kakek itu dan jantung mereka seolah-olah

berhenti berdenyut.

Twa-suheng mereka yang bermuka gagah perkasa itu

segera berseru, “Awas. Saicu-hokang (Ilmu menggereng

seperti singa berdasarkan khikang)!”

Seruan ini menyadarkan para sutenya dan sumoinya.

Mereka cepat mengerahkan sinking sehingga pengaruh Saicuhokang

itu membuyar. Pedang mereka melanjutkan

gerakannya.

“Sing-sing…. siuuuut…. trang-trang-trang..Heh-hehheh!”.

Gulungan sinar pedang-pedang yang menyambar ke

arah tubuh kakek dari berbagai jurusan, dapat

ditangkis oleh gulungan sinar tongkat hitam yang telah

diputar dengan cepatnya oleh Pat-jiu kai-ong. Para pendekar

Bu-tong-pai itu terkejut ketika merasakan betapa telapak

tangan mereka menjadi panas dan nyeri setiap kali pedang

mereka tertangkis tongkat. Hal ini menandakan bahwa Si

kakek benar-benar amat lihai dan memiliki tenaga sakti yang

amat kuat. Juga tongkatnya yang kelihatan butut dan hitam

itu ternyata terbuat dari logam pilihan sehingga mampu

menahan ketajaman pedang di tangan mereka, padahal

semua pedang di tangan Cap-sha Sin-hiap adalah pedangTiraikasih

Website http://kangzusi.com/

pedang pusaka yang ampuh. “Ha..ha..ha, inikah Ngo-hengkiam

(Ilmu Pedang Lima Unsur) dari Bu-tong-pai yang

terkenal? Ha..ha, tidak seberapa!” Sambil menggerakan

tongkatnya menangkis setiap sinar pedang yang meluncur

datang, kakek itu tertawa dan mengejek.

“Bentuk Sin-kiam-tin (Barisan Pedang Sakti)!” Teriak si

Twa-suheng melihat betapa kakek itu benar-benar amat

tangguh sehingga semua serangan pedang mereka dapat

ditangkis dengan mudahnya. Tiba-tiba tiga belas orang

pendekar itu merobah gerakan mereka, kini mereka t idak lagi

menyerang dari kedudukan tertentu, melainkan mereka

bergerak mengurung dan mengelilingi kakek itu, sambil

bergerak berkeliling mereka menyusun serangan berantai

yang susul menyusul dan yang datangnya dari arah yang tidak

tertentu.

Diam-diam kakek itu terkejut. Sejenak dia menjadi bingung.

Kalau tadi mereka itu menyerangnya dari kedudukan tertentu,

biarpun gerakan mereka tadi berdasarkan Ngo-heng-kiam,

namun dia sudah dapat mengenal dasar Ngo-heng-kiam dan

dapat menggerakan tongkat secara otomatis untuk menangkis

semua pedang yang dating menyambar. Akan tetapi sekarang,

sukar sekali menentukan dari mana serangan akan dating, dan

gerakan mengelilinginya itu benar-benar mendatangkan rasa

pusing. Marahlah Pat-jiu Kai-ong. Tadi dia ingin mempelajari

ilmu pedang Bu-tong-pai dan memperhatikan para

pengeroyoknya sebelum membunuh mereka. Akan tetapi

setelah mereka menggunakan Sin-kiam-t in dia tahu behwa

mereka kalau dia tidak cepat mendahului mereka, dia bisa

terancam bahaya. Tidak disangkanya bahwa Si Tua Bangka

Kui Bhok San-jin, ketua dari Bu-tong-pai dapat menciptakan

barisan pedang yang demikian lihainya.

Tiba-tiba terjadi perubahan pada diri kakek ini. Tangan

kirinya berubah menjadi merah sekali, merah darah!

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Hati-hati terhadap Hiat-ciang Hoat-sut!” Si Twa-suheng

berseru keras ketika melihat perubahan warna tangan kiri

kakek itu.

Pat-jiu Kai-ong tiba-tiba mengeluarkan pekik yang amat

dahsyat, lebih dahsyat daripada tadi dan tubuhnya mendadak

membalik, tongkatnya menyambar dibarengi tangan kiri merah

itu mendorong ke depan.

“Prak-prak…dessss!”

Tiga orang pengeroyok menjerit dan roboh, dua orang

dengan kepala pecah oleh tongkat, sedangkan seorang lagi

terkena pukulan jarak jauh Hiat-ciang Hoat-sut, roboh dan

tewas seketika dengan dadanya tampak ada bekas lima jari

merah seperti terbakar, bahkan bajunya robek dan hangus.

Itulah Hiat-ciang Hoat-sut, pukulan maut yang mengerikan.

Padahal ilmu itu masih belum sempurna, dapat dibayangkan

betapa hebatnya kalau kakek ini berhasil menghisap darah,

otak dan sumsum seorang bocah ajaib seperti Sin-tong!.

Sepuluh orang pendekar Bu-tong-pai terkejut dan marah

sekali. Mereka melanjutkan serangan dengan penuh semangat

dan penuh dendam. Namun kembali Pat-jiu Kai-ong memekik

dahsyat sambil bergerak menyerang, dan kembali tiga orang

lawan roboh dan tewas. Serangan ini diulanginya terus, tidak

memberi kesempatan kepada para pengeroyoknya untuk

membebaskan diri. Empat kali terdengar dia memekik dahsyat

seperti itu dan akibatnya, dua belas orang diantara Cap-sha

Sin-hiap dari Bu-tong-pai itu tewas semua, tewas dalam

keadaan masih menggurungnya dan yang masih hidup t inggal

The Kwat Lin.seorang! Hal ini memang disengaja oleh Pat-jiu

Kai-ong dan kini sambil tersenyum mengejek dia menghadapi

Kwat Lin.

Dapat dibayangkan betapa perasaan dara itu melihat dua

belas orang suhengnya telah tewas semua! Dua belas orang

suhengnya yang selama ini berjuang sehidup semati

dengannya, kini telah menjadi mayat yang bergelimpangan di

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

sekelilingnya, seolah-olah mayat dua belas orang itu

mengurung dia dan Pat-jiu Kai-ong yang berdiri tersenyum di

depannya.

“Iblis busuk, aku akan mengadu nyawa denganmu!” Kwat

Lin berseru mengandung isak tertahan. “Haiiiit…..!” tubuhnya

melayang ke depan, pedangnya ditusukkan ke arah dada

lawan dengan kebencian meluap-luap.

Namun dengan gerakan seenaknya kakek itu memukulkan

tongkatnya dari samping menghantam pedang yang

menusuknya. “Krekkk!” Pedang itu patah dan gagangnya

terlepas dari pegangan Kwat Lin! Dara itu membelalakan

matanya dan melihat pandang mata kakek itu kepadanya,

melihat senyum yang baginya amat mengerikan itu, tiba-tiba

dia membalikan tubuhnya dan melayang ke arah sebatang

pohon besar, dengan niat untuk membenturkan kepalanya

pecah pada batang pohon itu! Kwat Lin melihat ancaman

bahaya yang lebih mengerikan daripada maut sendiri, maka

setelah yakin bahwa dia tidak akan mampu mengalahkan

lawannya, dia mengambil keputusan nekat untuk membunuh

diri dengan membenturkan kepalanya pada batang pohon.

“Bukkkkkk!” Bukan batang pohon yang dibentur kepalanya,

melainkan perut lunak dan tubuhnya berada dalam pelukan

Pat-jiu Kai-ong yang entah kapan telah berada di situ

menghadangnya di depan pohon! “Lepaskan aku!!” Kwat Lin

berteriak dan tubuhnya tiba-tiba dilontarkan oleh kakek itu,

jauh kembali ke dalam lingkaran mayat-mayat suhengnya.

Dengan langkah gontai, kakek itu tersenyum-senyum

memasuki lingkaran dan melangkahi mayat bekas para

penggeroyoknya, menghampiri Kwat Lin yang sudah bangkit

duduk dengan muka pucat dan mata terbelalak. Dia telah

tersudut seperti seekor kelinci muda ketakutan menghadapi

seekor harimau yang siap menerkamnya.

Perasaan ngeri yang luar biasa membuat Kwat Lin cepat

menggerakan tangan kanannya, dengan dua buah jari tangan

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

dia menusuk ke arah ubun-ubun kepalanya sendiri sambil

mengerahkan sinking. Batu karang saja akan berlubang

terkena tusukan jari tangannya seperti itu apa lagi ubun-ubun

kepalanya. “Plakkk!”

“Aihhh….!” Kwat Lin menjerit ketika tangannya itu

tertangkis dan setengah lumpuh. Ternyata kakek itu telah

berdiri di depannya dan telah mencegah dia membunuh diri!

“Bretttt…bretttt….!” Tongkat kakek itu bergerak beberapa

kali dan seperti disulap saja seluruh pakaian yang

membungkus tubuh Kwat Lin cabik-cabik dan cerai-berai,

membuatnya menjadi telanjang bulat sama sekali! Kwat Lin

menjerit akan tetapi t iba-tiba, seperti seekor kucing menerkam

tikus, sambil mengeluarkan suara ketawa menyeramkan,

kakek itu telah menubruk dan memeluknya sehingga mereka

berdua bergulingan diatas rumput yang bernoda darah para

korban keganasan kakek itu! Kwat Lin melawan sekuat

tenaga, namun sia-sia belaka. Untuk membunuh diri tidak ada

jalan baginya, untuk melawan pun percuma, bahkan semua

jeritan tangis dan permohonan, semua usahanya merontaronta

tiada gunanya sama sekali. Bahkan semua usaha ini

malah menyenangkan hati si Kakek. Seolah-olah seekor kucing

yang menjadi gembira dapat mempermankan seekor t ikus

yang telah tersudut dan tidak berdaya, mempermainkannya

dan melihatnya tersiksa dan meronta sebelum menjadi

mangsanya!

Selama tiga hari t iga malam Kwat Lin menderita siksaan

yang amat hebat. Diperkosa, dihina, diejek. Pada hari

ketiga,pagi-pagi sekali dalam keadaan lebih banyak yang mati

daripada yang hidup, dalam keadaan setengah sadar, rebah

terlentang tak mampu bergerak, hanya matanya saja yang

mendelik memandang kakek itu. Kwat Lin melihat kakek itu

mengenakan pakaian, menyambar tongkatnya dan tertawa

memandang kepadanya yang masih rebah terlentang dalam

keadaan telanjang bulat di atas rumput berdarah..”Ha-ha-ha,

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

sekarang aku pergi, manis. Aku telah puas, dan kalau kau mau

membunuh diri, silahkan. Ha-ha-ha!”Biarpun Kwat lin berada

dalam keadaan menderita hebat, kehabisan tenaga, hampir

mati karena lelah, muak, jijik, malu, marah dan dendam

tercampur aduk menjadi satu dalam benaknya, namun

kebencian yang meluap-luap masih memberinya tenaga untuk

berseru, “Jahanam, sekarang aku harus hidup! Aku harus

hidup untuk melihat engkau mampus di tanganku!”

“Ha..ha..ha..ha! Kalau sewaktu-waktu kau merasa rindu

kepadaku, manis, datang saja ke Hong-san, sampai jumpa!”

Kakek itu lalu melangkah pergi meninggalkan tempat itu

meninggalkan Kwat-Lin yang masih rebah dan kini wanita

yang bernasib malang ini menangis sesenggukan dia antara

mayat-mayat dua belas suhengnya yang sudah mulai

membusuk dan berbau! Dapat dibayangkan betapa tersiksa

rasa badan wanita muda ini. Dia dipaksa, diperkosa, dihina di

antara mayat-mayat dua belas suhengnya, bahkan sewaktu

keadaan mayat-mayat itu mulai membusuk dan menyiarkan

bau yang hampir tak tertahankan, kakek itu masih saja enakenak

mempermainkannya. Benar-benar seorang manusia yang

kejam melebihi iblis sendiri.

JILID 2

Tiba-tiba Kwat lin bangkit serentak, seolah-olah ada tenaga

baru memasuki tubuhnya yang menderita nyeri, lelah dan

kelaparan karena selama tiga hari t iga malam dia

dipermainkan tanpa diberi makan atau minum oleh kakek iblis

itu. Dia berdiri tegak, telanjang bulat, lalu memandang ke arah

semua mayat suhengnya, dan matanya menjadi liar, keluar

suara parau dari mulutnya yang pecah-pecah bibirnya oleh

gigitan kakek iblis. “Suheng sekalian, dengarlah! Aku The Kwat

Lin, bersumpah untuk membalaskan kematian suheng

sekalian. Satu-satunya tujuan hidupku sekarang hanyalah

untuk membalas dendam dan membunuh iblis busuk Pat-jiu

Kai-ong!” Tiba-tiba dia terhuyung mundur memandang wajah

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

twa-suhengnya. Pria inilah sebetulnya yang sudah sejak

dahulu mencuri hatinya.

“Twa Suheng……!” Dia menubruk dan berlutut di dekat

mayat yang sudah mulai membusuk itu. “Jangan berduka,

Twa-suheng….jangan menangis……” Dia berdirisesunggukan.

“Apa…..? Aku telanjang…..? Pakaianmu……? Seperti orang

gila yang bicara dengan sesosok mayat, Kwat Lin bertanya,

kemudian dia membuka baju dab celana luar dari mayat yang

sudah kaku kejang itu dengan agak susah, dan mengenakan

pada tubuhnya sendiri. Tentu saja agak kebesaran. “Hi-hi-hik,

pakaianmu kebesaran, Suheng…….” Dia memandang wajah

mayat twa-suhengnya dan tertawa lagi. “Hi-hik,nah,begitu,

tertawalah Twa-suheng, tertawalah para suheng sekalian……,

tertawa dan bergembiralah karena dendam kalian pasti akan

kubalaskan…! Hi-hi-hik… hu-hu-huuuhhh…” Dia menangis lagi

terisak-isak dan dengan terhuyung-huyung dia meninggalkan

tempat mengerikan itu setelah mengambil pedang twasuhengnya.

Pedang itu adalah pedang pusaka terbaik di

antara pedang ketiga belas orang pendekar Bu-tong-pai itu,

sebatang pedang pemberian Ketua Bu-tong pai sendiri,

pedang yang di dekat gagangnya ada gambar setangkai

bunga Bwee merah, maka pedang itu diberi nama Ang-bwekiam

(Pedang Bunga Bwee Merah). Dia terhuyung-huyung,

pergi tak tentu tujuan, asal menggerakkan kedua kaki

melangkah saja, langkah yang kecil-kecil dan terhuyunghuyung

karena tubuhnya masih terasa lelah, lapar dan sakit

semua. Kadang-kadang terdengar dia terisak menangis,

kemudian terkekeh geli sehingga kalau ada orang yang

bertemu dengan wanita yang bibirnya pecah-pecah mukanya

penuh debu dan air mata, matanya membengkak dan merah,

rambutnya riap-riapan dan pakaiannya terlalu besar, ini tentu

orang itu akan merasa seram, mengira bahwa setidaknya dia

adalah seorang wanita gila. Dugaan ini memang tidak meleset

terlalu jauh. Penderitaan lahir batin yang melanda diri Kwat

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Lin membuat wanita malang ini tidak kuat menahan sehingga

terjadi perubahan pada ingatannya.

Pada hari yang sama ketika Cap-sha Sin-hiap roboh di

tangan kakek iblis Pat-jiu Kai-ong di kaki Pegunungan Jenghoa-

san, terjadi pula peristiwa hebat di bagian lain dari

Pegunungan itu. Kalau Cap-sha Sin-hiap roboh di daerah timur

pegunungan, maka di daerah barat terjadi pula peristiwa yang

hampir sama sungguhpun sifatnya berbeda.

Pada pagi hari itu, seorang wanita berjalan seorang diri

mendaki lereng pertama dari pegunungan Jeng-hoa-san

sebelah barat. Wanita itu memasuki hutan dengan wajah

berseri dan harus diakui bahwa wajah wanita cantik manis

sekali, mempunyai daya tarik yang kuat sungguhpun usianya

sudah empat puluh tahun. Tidak.ada keriput mengganggu

kulit mukanya yang putih halus, mulutnya yang agak lebar itu

mempunyai bibir yang senantiasa menantang dan seolah-olah

buah masak yang sudah pecah, akan tetapi kalau orang

memperhatikan matanya, mata yang jernih dan bersinar

tajam, maka hati yang kagum akan kecantikannya tentu akan

berubah menjadi ragu-ragu, curiga dan ngeri karena sepasang

mata itu tidak pernah, atau jarang sekali berkedip. Mata itu

terbuka terus seperti mata boneka!

Dengan langkah-langkah gontai dan lemas, membuat buah

pinggulnya menonjol dan bergoyang ke kanan kiri, wanita itu

berjalan seorang diri, memutar-mutarsebuah payung yang

dipanggulnya. Sebuah payung hitam yang tertutup,

gagangnya melengkung dan ujungnya meruncing. Pakaiannya

serba mewah dan indah, rambutnya panjang sekali, digelung

ke atas seperti sebuah menara hitam yang indah, terhias

tusuk sanggul dari mutiara dan emas.

Yang menarik adalah kuku-kuku jari tangannya. Kuku yang

panjang terpelihara, diberi warna merah, panjang meruncing

dan agak melengkung seperti kuku kucing atau harimau.

Pakaiannya yang mewah itu dibuat terlalu pas dengan

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

tubuhnya sehingga membungkus ketat tubuh itu,

membayangkan lekuk lengkung yang menggairahkan dari

dada sampai ke kaki karena celananya yang terbuat dari

sutera merah muda itu pun ketat sekali!

Biarpun kelihatannya seperti seorang wanita cantik dan

genit (tante girang), namun sesungguhnya dia bukanlah

manusia biasa saja! Inilah dia yang terkenal sekali di dunia

hitam kaum penjahat, karena wanita ini bukan lain adalah

Kiam-mo Cai-li (Wanita Pandai Berpayung Pedang), sebuah

julukan yang membuat bulu tengkuk orang yang sudah

mengenalnya berdiri sangking ngerinya karena wanita yang

sebenarnya hanya bernama Liok Si ini memiliki ilmu

kepandaian yang tinggi mengerikan dan kekejaman yang

sukar dicari bandingnya! Bahkan ia disamakan dengan wanita

cantik penjelmaan siluman rase yang biasa mengganggu pria,

dan setiap orang pria yang terjebak dalam pelukannya tentu

akan mati kehabisan darah, disedot habis oleh siluman ini!

Tentu saja bagi mereka yang belum pernah berjumpa

dengannya, sama sekali tidak akan mengira bahwa wanita

yang berlenggak-lenggok dengan payung di pundak itulah iblis

wanita yang menggeggerkan dunia kang-ouw dengan

perbuatannya yang luar biasa. Dan mudah saja diduga

mengapa pada hari itu Kiam-mo Cai-li ini mendaki lereng

Jeng-hoa-san!

Tentu saja dia pun mendengar berita menggeggerkan

dunia kang-ouw akan adanya Sin-tong, Si Bocah ajaib dan

mendengar ini, kontan keras hatinya berdebar-debar penuh

ketegangandan penuh birahi! Dia dapat membayangkan

betapa tenaga mukjijat yang dihimpunnya secara ilmu hitam

dengan jalan menghisap sari tenaga ratusan orang pria, akan

meningkat dengan hebat sekali kalau dia bisa menghisap

kejantanan si Bocah Ajaib itu! Maka begitu mendengar akan

bocah ajaib di puncak Pegunungan Jeng-hoa-san di dalam

Hutan Seribu Bunga, dia segera menempuh perjalanan jauh

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

mengunjungi pegunungan itu. Perjalananyang jauh karena

biarpun sering kali Liok Si ini pergi merantau namun dia

memiliki sebuah pondok kecil seperti istana mewahnya

terletak di tempat yang tidak lumrah dikunjungi manusia, yaitu

di daerah Rawa Bangkai. Rawa-rawa yang liar ini terdapat di

kaki Pegunungan Luliang-san, merupakan daerah maut karena

banyak lumpur dan pasir yang berputar, merupakan

perangkap maut bagi manusia dan hewan. Namun di tengahtengah

rawa-rawa itu, yang tidak dapat dikunjungi oleh

manusia lain, terdapat sebuah tanah datar, tanah keras

semacam pulau dan diatas pulau inilah letaknya istana kecil

milik Liok Si yang berjuluk Kiam-mo Cai-li, bersama belasan

orang pembantu-pembantuyang sudah menjadi orang-orang

kepercayaannya.

Dia disebut Cai-li(Wanita Pandai) karena sebetulnya wanita

ini dulunya adalah puteri seorang sasterawan kenamaan dan

semenjak kecil Liok Si telah mempelajari kesusasteraan

sehingga dia mahir sekali akan sastra, bahkan dia pernah

menyamar sebagai pria menempuh ujian pemerintah sehingga

dia lulus dan mendapat gelar siucai! Akan tetapi,

penyamarannya keetahuan dan seorang pembesar tinggi

istana yang kagum kepadanya lalu mengambilnya sebagai

seorang selir. Selain ilmu sastra, juga Liok Si ini semenjak kecil

digembleng ilmu oleh para sahabat ayahnya, apalagi setelah

menjadi selir pembesar tinggi di istana, dia mengadakan

hubungan dengan kepala-kepala pengawal, dengan pengawalpengawal

kaisar yang berilmu tinggi, menyerahkan tubuhnya

sebagai pengganti ilmu silat-ilmu silat tinggi yang diperolehnya

sebagai “bayaran”. Akhirnya, pembesar itu mengetahui akan

tabiat selirnya ini yang ternyata adalah seorang wanita yang

gila pria maka dia diusir dari istana pembesar itu. Akan tetapi,

apa yang dilakukan oleh wanita ini? Dia membunuh Si

Pembesar, membawa banyak harta benda yang dicurinya dari

istana itu, kemudian minggat!.Belasan tahun kemudian,

muncullah nama julukan Kiam-mo Cai-li, namun tidak ada

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

yang menduga bahwa dia adalah Liok Si yang dahulu menjadi

selir bangsawan dan yang membunuh bangsawanitu sehingga

menjadi orang buruan pemerintah.

Liok Si berjalan sambil tersenyum-senyum, kadang-kadang

senyumnya melebar dan tampak giginya yang putih mengkilat

dan di kedua ujungnya terdapat sebuah gigi yang agak

meruncing sehingga sekelebatan mirip gigi caling sihung.

Hatinya gembira sekali kalau dia membayangkan betapa akan

sedapnya kalau dia dapat memperoleh bocah ajaib itu.

“Hemmm, aku harus bersikap halus dan hati-hati

terhadapnya, menikmatinya selama mungkin. Hemmm…”

Tiba-tiba dia terkejut dan menghentikan langkahnya, akan

tetapi kembali dia tersenyum manis matanya mengerling

tajam penuh kegairahan ketika melihat lima orang laki-laki

berdiri di depannya dengan sikap gagah. Pandang matanya

menyambar-nyambar dan terbayang kepuasan dan

kekaguman. Memang, hati seorang wanita gila pria seperti

Liok Si tentu saja menjadi berdebar tegang ketika melihat lima

orang pria yang usianya rata-rata tiga puluh tahun lebih

bertubuh tegap-tegap dan rata-rata berwajah tampan dan

gagah! Seperti melihat lima butir buah yang ranum dan

matang hati! “Aih-aihh… Siapakah Ngo-wi (Anda berlima)

yang gagah perkasa ini? Dan apakah Ngo-wi sengaja hendak

bertemu dan bicara dengan aku?”

Seorang di antara mereka, yang usianya tiga puluh tahun,

mukanya bulat dan alisnya seperti golok hitam dan tebal,

berkata, “Apakah kami berhadapan dengan Kiam-mo Cai-li

dari Rawa Bangkai?” Wanita itu memainkan bola matanya

memandangi wajah merka berganti-ganti dengan berseri,

mulunya tersenyum ketika menjawab, “kalau benar mengapa?

Kalian ini siapakah?” “Kami adalah Kee-san Ngo-hohan(Lima

Pendekar dari Gunung Ayam)”. “Kiam-mo Cai-li mengeluarkan

bunyi “tsk-tsk-tsk” dengan lidahnya tanda kagum. Segera dia

menjura dan berkata manis. “Aih, kiranya lima pendekar yang

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

namanya sudah terkenal di seluruh dunia kang-ouw sebagai

murid-murid utama Hoa-san-pai? Aih, terimalah hormatnya

seorang wanita bodoh seperti aku.” “Harap Toanio(Nyonya)

tidak mengejek dan bersikap merendah. Kami sudah tahu

siapa adanya Kiam-mo Cai-li, dan karena melihat engkau

mendaki Jeng-hoa-san, maka terpaksa kami memberanikan

diri untuk menghadang.”

“Ehm…! Maksud kalian?” Senyumnya makin manis dan

kerling matanya makin memikat. “Kami telah mendengar

akan berita bahwa tokoh-tokoh kang-ouw sedang berusaha

untuk memperebutkan Sin-tong yang berada di Hutan Seribu

Bunga dan kami mendengar pula bahwa Kiam-mo Cai-li

merupakan seorang di antara mereka yang hendak menculik

Sin-tong. Karena kami telah berhutang budi, diberi obat oleh

Sin-tong maka kami hanya dapat membalas budinya dengan

melindunginya terutama dari tangan… maaf, para tokoh

kaum sesat yang tentu tidak mempunyai itikad baik terhadap

dirinya. Andaikata kami tidak berhutang budi sekalipun,

mengingat bahwa Sin-tong adalah seorang anak ajaib yang

telah banyak menolong orang tanpa pandang bulu, sudah

menjadi kewajiban orang-orang gagah untuk melindunginya.”

Kembali Kiam-mo Cai-li tersenyum. “Terus terang saja,

memang aku mendengar tentang Sin-tong dan aku ingin

mendapatkannya, maka hari ini aku mendaki Jeng-hoa-san.

Habis kalian mau apa?” Kalau begitu, kami minta dengan

hormat agar kau suka membatalkan niatmu itu, Toanio. Kalau

kau memaksa hendak menganggu Sin-tong, terpaksa kami

akan merintangimu dan tidak membolehkan kau melanjutkan

perjalanan!”

“Hi-hi-hik, galak amat! Lima orang laki-laki muda tampan

gagah bertemu dengan seorang wanita cantik penuh gairah,

sungguh tidak semestinya kalu bermain senjata mengadu

nyawa!”

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Hemm, habis semestinya bagaimana?” tanya orang

pertama dari Kee-san Ngo-hohan yang betapapun juga

merasa jerih mendengar nama besar wanita ini dan

mengharapkan wanita itu akan mengalah dan pergi dari situ,

tidak mengganggu Sin-tong..Mata itu tajam mengerling dan

senyumnya penuh arti, bibirnya penuh tantangan.

“Mestinya? Mestinya kita bermain cinta memadu kasih!”

“Perempuan hina!”

“Jalang!”

“Siluman betina”

Lima orang itu telah mencabut senjata masing-masing yaitu

senjata golok besar yang selama ini telah mengangkat nama

mereka di dunia kang-ouw. Kelima orang pendekar ini

memang merupakan ahli-ahli bermain golok dengan Ilmu Hoasan-

to-hoat yang terkenal, dan selain itu juga mereka semua

mahir akan ilmu menotok jalan darah yang bernama Sam-citiam-

hoat, yaitu ilmu menotok menggunakan tiga buah jari

tangan.

“Siaaaattt…singg…siang…”

“Ha-ha, bagus! kalian memang gagah sekali bermain golok,

tentu lebih gagah kalau bermain cinta, hi-hik! ” Kiam-mo Cai-li

mengelak dan tiba-tiba payung hiatmnya berkembang

terbuka. Payung itu merupakan senjata isimewa, terbuat dari

baja yang kuat dan kainnya terbuat dari kulit badak yang

kering dan sudah dimasak lemas, namun kuatnya luar biasa

dapat menahan bacokan senjata tajam. Adapun ujung payung

itu meruncing, merupakan ujung pedang, dan gagangnya

yang melengkung itu pun dapat digunakan sebagai senjata

kaitan yang lihai.

“Trang-trang-trang…!!” Bunga api berpijar ketika golokgolok

itu tertangkis oleh payung dan karena kini tubuh wanita

itu tertutup payung yang berkembang dan berputar-putar,

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

maka sukarlah bagi lima orang itu untuk menyerangnya dari

depan. Mereka lalu berloncatan dan mengurung wanita itu.

“Hi-hik, hayo keroyoklah. Kalu baru kalian lima orang ini saja,

masih terlampau sedikit bagiku. Hi-hik, hendak kulihat sampai

dimana kekuatan kalian apakah patut untuk menjadi lawanlawanku

untuk bermain cinta!”

“Perempuan rendah!” Orang pertama dari lima pendekar itu

marah sekali, goloknya menyambar dahsyat, tapi tiba-tiba

golok itu terhenti di tengah udara karena telah terikat oleh

sebuah benda hitam panjang yang lembut. Kiranya wanita itu

telah mengudar gelung rambutnya dan ternyata rambut itu

panjangnya sampai ke bawah pinggulnya, rambut yang gemuk

hitam, panjang dan harum baunya, bahkan bukan itu saja

keistemewaannya, rambut itu dapat dipergunakan sebagai

senjata ampuh, sebagai cambuk yang kini berhasil membelit

golok orang pertama dari Kee-san ngo-hohan! Sebelum orang

ini ssempat menarik goloknya, tangan kiri Kiam-mo Cai-li

bergerak menghantam tengkuk orang itu dengan tangan

miring. “Krekk!” Laki-laki itu mengeluh dan roboh tak dapat

bangkit kembali karena dia telah terkena totokan istimewa

yang membuat tubuhnya lumpuh sungguhpun dia masih dapat

melihat dan mendengar. Empat orang lainnya terkejut dan

marah sekali. Mereka memutar golok lebih gencar lagi, bahkan

kini tangan kiri mereka membantu dengan serangan totokan

Sam-ci-tiam-hoat yang ampuh! Namun orang yang mereka

keroyok itu tertawa-tawa mempermainkan mereka. Setiap

serangan golok dapat dihalau dengan mudah oleh payung

yang diputar-putar sedangkan ujung rambut yang panjang itu

mengeluarkan suara ledakan-ledakan kecil dan menyambarnyambar

di atas kepala mereka, tidak menyerang, hanya

mendatangkan kepanikan saja karena memang dipergunakan

untuk mempermainkan mereka.

“Mampuslah!” Orang ke dua yang menyerang dengan golok

ketika goloknya ditangkis, cepat dia “memasuki” lowongan dan

berhasil mengirim totokan. Karena tempat terbuka yang dapat

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

dimasuki jari tangannya di antara putaran payung itu hanya di

bagian dada, maka dia menotok dada kiri wanita itu. Dalam

keadaan seperti itu, menghadapi lawan yang amat tangguh,

pendekar ini sudah tidak mau lagi mempergunakan sopan

santun yang tentu tidak akan dilanggarnya kalau keadaan

tidak mendesak seperti itu..”Cusss…!” tiga buah jari tangan itu

tepat mengenai buah dada kiri yang besar, tapi dia hanya

merasakan sesuatu yang lunak hangat, sedangkan wanita itu

sama sekali tidak terpengaruh, bahkan mengerling dan

berkata, “Ihh, kau bersemangat benar, tampan. Belum apaapa

sudah main colek dada, hihik!” Tentu saja pendekar ini

menjadi merah sekali mukanya. Dia merasa malu akan tetapi

juga penasaran. Ilmu totok yang dimilikinya sudah terkenal

dan belum pernah gagal. Tadi jelas dia telah menotok jalan

darah yang amat berbahaya di dada wanita itu, mengapa

wanita itu sama sekali tidak merasakan apa-apa, bahkan

menyindirnya dan dianggap dia mencolek dada?

Dengan marah dia menerjang lagi bersama tiga orang

sutenya. “Sudah cukup, sudah cukup, rebah dan

beristirahatlah kalian!” Tiba-tiba payung itu tertutup kembali,

berubah menjadi pedang yang aneh dan segulung sinar hitam

menyambar-nyambar mendesak empat orang itu, kemudian

dari atas terdengar ledakan-ledakan dan berturut-turut tiga

orang lagi roboh terkena totokan ujung rambut wanita sakti

itu. Seperti orang pertama, mereka ini pun roboh tertotok dan

lumpuh, hanya dapat memandang dengan mata terbelalak

namun tidak menggerakan kaki tangan mereka!

Orang termuda dari mereka kaget setengah mati melihat

betapa empat orang suhengnya telah roboh. Namun dia tidak

menjadi gentar, bahkan dengan kemarahan dan kebencian

meluap dia memaki, “Perempuan hina, pelacur rendah,

siluman betina, aku takkan mau sudah sebelum dapat

membunuhmu!” “Aihhh… kau penuh semangat akan tetapi

mulutmu penuh makian menyebalkan hatiku!” Golok itu

tertangkis oleh payung sedemikian kerasnya sehingga

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

terpental dan sebelum laki-laki itu dapat mengelak, sinar

hitam menyambar dan ujung rambut telah membelit lehernya!

Pria itu berusaha sekuat tenaga untuk melepaskan libatan

rambut dari lehernya dengan kedua tangan, akan tetapi begitu

wanita itu menggerakkan kepalanya, rambutnya terpecah

menjadi banyak gumpalan dan tahu-tahu kedua pergelangan

lengan orang itu pun sudah terbelit rambut yang seolah-olah

hidup seperti ular-ular hitam yang kuat. “Nah, kesinilah,

Tampan. Mendekatlah, kekasih. Kau perlu dihajar agar tidak

suka memaki lagi!” Laki-laki itu sudah membuka mulut hendak

memaki lagi, akan tetapi libatan rambut pada lehernya makin

erat sehingga dia tidak dapat bernapas, kemudian rambut itu

menariknya mendekat kepada wanita yang tersenyum-senyum

itu! Kini laki-laki itu sudah berada dekat sekali, bahkan dada

dan perutnya telah menempel pada dada yang membusung

dan perut yang mengempis dari wanita itu. Tercium olehnya

bau wangi yang aneh dan memabokkan, akan tetapi karena

lehernya terbelit kuat-kuat, dan napasnya tak dapat lancar,

maka dia terpaksa menjulurkan lidahnya keluar.

“Aihhh, kau perlu diberi sedikit hajaran, Tampan!”

Empat orang pendekar yang tertotok melihat dengan mata

terbelalak penuh kengerian betapa wanita iut kini

mendekatkan muka sute mereka yang termudda, kemudian

membuka mulut dan mencium mulut sute mereka yang

terbuka dan lidah yang terjulur keluar itu.Mereka melihat

tubuh sute mereka berkelojot sedikit seperti menahan sakit,

mata sute mereka terbelalak, namun wanita itu terus mencium

dan menutup mulut pria itu dengan mulutnya sendiri yang

lebar. Tak dapat terlihat oleh empat orang pendekar itu

betapa wanita itu yang kejam dan keji seperti iblis, telah

menggunakan giginya untuk menggigit sampai terluka lidah

sute mereka yang terjulur keluar, kemudian menghisap darah

dari luka di lidah itu! Mereka berempat hanya melihat betapa

wanita itu memejamkan mata, baru sekarang mereka melihat

wanita itu memejamkan mata, kelihatan penuh nikmat, akan

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

tetapi wajah sute mereka makin pucat dan mata sute mereka

yang terbelalak itu membayangkan kenyerian dan ketakutan

yang hebat. Agaknya wanita itu tidak puas karena darah yang

dihisapnya kurang banyak, maka kini dia melepaskan mulut

pemuda itu dan memindahkan ciuman mulutnya ke leher si

Pemuda.

Dapat dibayangkan betapa kaget empat orang pendekar itu

melihat bahwa mulut sute mereka penuh warna merah darah!

“Sute…!!!” Mereka berseru akan tetapi tidak dapat

menggerakkan kaki tangan mereka..Sute mereka merontaronta

seperti ayam disembelih, matanya melotot memandang

ke arah para suhengnya seperti orang minta tolong, kemudian

tubuhnya berkelojotan ketika wanita itu kelihatan jelas

menghisap-hisap lehernya ternyata bahwa urat besar di

lehernya telah ditembusi gigi yang meruncing dan kini dengan

sepuasnya wanita itu menghisap darah yang membanjir keluar

dari urat di leher itu! Mata yang melotot itu makin hilang

sinarnya dan pudar, wajahnya makin pucat dan akhirnya

tubuh yang meregang-regang itu lemas. Orang termuda itu

pingsan karena kehilangan banyak darah, takut dan ngeri.

Kiam-mo Cai-li melepaskan libatan rambutnya dan tubuh itu

tergulig roboh, terlentang dengan muka pucat dan napas

terengah-engah.

‘Sute…!” Kembali mereka mengeluh dan dengan penuh

kengerian mereka melihat betapa wanita itu menggunakan

lidahnya yang kecil merah dan meruncing itu untuk menjilati

darah yang masih belepotan di bibirnya yang menjadi makin

merah. Wajahnya kemerahan, segar seperti kembang

mendapat siraman, berseri-seri dan ketika dia mendekati

empat orang itu, mereka terbelalak penuh kengerian. Akan

tetapi, wanita itu tidak menyerang mereka, agaknya dia sudah

puas menghisap darah orang termuda tadi. Hanya kini kedua

tangannya bergerak -gerak dan sekali renggut saja pakaian

empat orang itu telah koyak-koyak. Kemudian dia bangkit

berdiri, dengan gerakan memikat seperti seorang penari

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

telanjang, dia membuka pakaiannya, menanggalkan satu demi

satu sambil menari-nari! Sampai dia bertelanjang bulat sama

sekali di depam empat orang itu yang membuang muka

dengan perasaan ngeri dan sebal! “Kalian layanilah aku,

puaskanlah aku, senangkan hatiku dan aku akan

membebaskan kalian berlima. Lihat, bukankah tubuhku

menarik? Aku hanya ingin mendapatkan cinta kalian, aku tidak

menginginkan nyawa kalian.”

“Cih, siluman betina! Kauanggap kami ini orang-orang apa?

Kami adalah murid Hoa-san-pai yang tidak takut mati. Seribu

kali lebih baik mampus daripada memenuhi seleramu yang

terkutuk melayani nafsu berahimu yang menjijikan!” kata

empat orang itu saling susul dan saling bantu. Kiam-mo Cai-li

tersenyum. “Hi-hik, begitukah? Kalau begitu, baiklah, kalian

melayani aku sampai mampus!”

Dia lalu membungkuk dan menarik lengan seorang di

antara mereka, kemudian menggunakan kuku jari kelingking

kiri menggurat beberapa tempat di punggung dan tengkuk

pria ini. Orang itu menggigil, menggigit bibir menahan sakit,

akan tetapi karena dia tidak mampu mengerahkan sinkang,

dia tidak dapat melawan pengaruh hebat yang menggetarkan

tubuhnya melalui luka-luka goresan kuku beracun dari

kelingking itu. Mukanya menjadi merah, juga matanya menjadi

merah dan napasnya terengah-engah. Tiga orang pendekar

yang lain memandang penuh kekhawatiran dan kengerian.

Tiba-tiba wanita itu terkekeh, menggunakan tangan

membebaskan totokan sehingga orang itu dapat

menggerakkan kaki tangannya dan terjadilah hal yang

membuat tiga orang pendekar yang masih rebah lumpuh itu

terbelalak penuh kengerian. mereka melihat Sute mereka itu

seperti seorang gila menerkam dan mendekap tubuh wanita

itu penuh gairah nafsu! Dengan mata terbelalak mereka

melihat betapa wanita itu menyambutnya dengan kedua

lengan terbuka, bergulingan di atas rumput dan tampak

betapa wanita itu membiarkan dirinya diciumi, kemudian

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

mengalihkan mulutnya yang lebar ke leher Sute mereka!

Mereka bertiga terpaksa memjamkan mata agar tidak usah

menyaksikan peristiwa yang memalukan dan terkutuk itu.

Mereka mengerti bahwa Sute mereka melakukan hal terkutuk

itu karena terpengaruh oleh racun yang diguratkan oleh kuku

jari kelingking si iblis betina, dan mereka tahu pula bahwa

Sute mereka yang diamuk pengaruh jahanam itu tidak tahu

bahwa darahnya dihisap oleh wanita itu yang seperti telah

dilakukan pada orang pertama tadi kini juga menghisap

darahnya sepuas hatinya.

Dapat diduga lebih dahulu bahwa tiga orang yang lain juga

mengalami siksaan yang sama tanpa dapat berdaya apa-apa

tanpa dapat melawan. Hal ini dilakukan berturut-turut oleh

Kiam-mo Cai-li dan tiga hari tiga malam kemudian, dia

meninggalkan tempat itu sambil menjilat-jilat bibirnya penuh

kepuasan.

Setelah dia melempar kerling ke arah lima tubuh telanjang

yang sudah menjadi mayat semua itu, bergegas dia pergi

mendaki Jeng-hoa-san untuk mencari Sin-tong yang amat

diinginkan..Lima orang Kee-san Ngo-hohan itu mengalami

kematian yang amat mengerikan. Tubuh mereka kehabisan

darah, kulit mengeriput. Mereka seperti lima ekor lalat yang

terjebak ke sarang laba-laba dan setelah semua darah mereka

disedot habis oleh laba-laba, mayat mereka yang sudah kering

dan habis sarinya itu dilemparkan begitu saja.

Kwa Sin Liong, atau yang lebih terkenal dengan nama

panggilan Sin-tong, pada pagi hari itu seperti biasa setelah

mandi cahaya matahari, lalu menjemur obat-obatan dan tidak

lama kemudian berturut-turut datanglah orang-orang dusun

yang membutuhkan bahan obat untuk bermacam penyakit

yang mereka derita.

Sin tong mendengarkan dengan sabar keluhan dan

keterangan mereka tentang sakit yang mereka derita,

menyiapkan obat-obat untuk mereka semua dengan hati

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

penuh belas kasihan. Semua ada sebelas orang dusun, tua

muda laki perempuan yang memandang kepada bocah itu

dengan sinar mata penuh kagum dan pemujaan. Baru

bertemu dan memandang wajah Sin-tong itu saja, mereka

sudah merasa banyak berkurang penderitaan sakit mereka.

Seolah-olah ada wibawa yang keluar dari wajah bocah penuh

kasih sayang itu yang meringankan rasa sakit yang mereka

derita. Tentu saja hal ini sebenarnya terjadi karena

kepercayaan mereka yang penuh bahwa bocah itu akan dapat

menyembuhkan penyakit mereka, sehingga keyakinan ini

sendiri sudah merupakan obat yang manjur. Dan bocah ajaib

itu memang bukanlah seorang dukun yang menggunakan

kemujijatan dan sulap atau sihir untuk mengobati orang,

melainkan berdasarkan ilmu pengobatan yang wajar. Dia

memilih buah, daun, bunga atau akar obat yang memang

tepat mengandung khasiat atau daya penyembuh terhadap

penyakit-penyakit tertentu itu. Tiba-tiba terdengar nyanyian

yang makin lama makin jelas terdengar oleh mereka semua.

Juga in Liong, bocah ajaib itu, berhenti sebentar

mengumpulkan dan memilih obat yang akan dibagikan karena

mendengar suara nyanyian yang aneh itu. Akan tetapi begitu

kata-kata nyanyian itu dimengertinya, dia mengerutkan alisnya

dan menggeleng-geleng kepala.

“Aihh, kalau hidup hanya untuk mengejar kesenangan,

apapun juga tentu tidak akan dipantangnya untuk dilakukan

demi mencapai kesenangan!” kata Sin Liong.

“Huh-ha-ha, benar sekali, Sin-tong. Untuk mencapai

kesenangan harus berani melakukan apapun juga, termasuk

membunuh para tamu-tamu yang tiada harganya ini!”

Terdengar jawaban dan tahu-tahu disitu telah berdiri Pat-jiu

Kai-ong! Sebagai lanjutan kata-katanya, tongkatnya

ditekankan kepada tanah di depan kaki lalu lima kali ujung

tongkat itu bergerak menerbangkan tanah dan kerikil ke

depan. Tampak sinar hitam berkelebat menyambar lima kali,

disusul jerit-jerit kesakitan dan robohlah berturut-turut lima

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

orang dusun yang berada di depan Sin Liong, roboh dan

berkelojotan kemudian tewas seketika karena tanah dan kerikil

itu masuk ke dalam kepala mereka!

“Hi-hi-hik, kepandaian seperti itu saja dipamerkan di depan

Sin-tong lihat ini!” Tiba-tiba terdengar suara ketawa merdu

dan tau-tahu di situ telah berdiri seorang wanita cantik yang

bukan lain adalah Kiam-mo Cai-li! Dia menudingkan payung

hitamnya yang tertutup itu ke arah para penghuni dusun yang

berwajah pucat dan dengan mata terbelalak memandang lima

orang teman mereka yang telah tewas. “Cuat-cuat-cuat…!”

Dari ujung payung itu meluncur sinar-sinar hitam dan

berturut-turut, enam orang dusun yang masih hidup menjerit

dan roboh tak bergerak lagi, leher mereka ditembusi jarumjarum

hitam yang meluncur keluar dari ujung payung itu!

Sejenak Sin Liong terbelalak memandang kepada kedua orang

itu yang berdiri di sebelah kanan dan kirinya. Kemudian dia

memandang ke bawah, ke arah tubuh sebelas orang dusun

yang telah menjadi mayat. Mukanya menjadi merah, air

matanya berderai dan dengan suara nyaring dia berkata

sambil menudingkan telunjuknya bergantian kepada Pat-jiu

Kai-ong dan Kiam-mo Cai, “Kalian ini manusia atau iblis?

Kalian berdua amat kejam, perbuatan kalian amat terkutuk.

Membunuh orang-orang tak berdosa seolah kalian pandai

menghidupkan orang. Bocah itu memandang kepada sebelas

mayat dan sesenggukan menangis.

“Hi-hi-hik, Sin-tong yang baik, apakah kau takut kubunuh?

Jangan khawatir, aku datang bukan untuk membunuhmu,”

kata Kiam-mo Cai-li, agak kecewa melihat betapa bocah ajaib

itu menangis dan membayangkannya ketakutan..Sin Liong

mengangkat muka memandang wanita itu, biarpun air

matanya masih berderai turun namun pandang matanya sama

sekali tidak membayangkan ketakutan, “Kau mau bunuh aku

atau tidak, terserah. Aku tidak takut!”

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Ha-ha-ha! Benar hebat! Sin-tong, kalau kau t idak takut

kenapa menangis?” Pat-jiu Kai-ong menegur.

“Apa kau menangisi kematian orang-orang tak berharga

itu?” Kiam-mo Cai-li menyambung. “Mereka sudah mati

mengapa ditangisi? Aku menangis menyaksikan kekejaman

yang kalian lakukan, kau menangis karena melihat kesesatan

dan kekejaman kalian.”

Dua orang tokoh sesat itu terbelalak heran saling pandang

kemudian mereka teringat kembali akan niat mereka terhadap

anak ajaib ini, maka keduanya seperti dikomando saja lalu

tertawa, dan keduanya dengan kecepatan kilat menyerbu ke

depan hendak menubruk Sin-Liong yang berdiri tegak dan

memandang dengan sinar mata sedikitpun tidak

membayangkan rasa takut!

“Desss……!” Karena gerakan mereka berbarengan, disertai

rasa khawatir kalau-kalau keduluan oleh orang lain, maka

melihat Pat-jiu Kai-ong sudah lebih dekat dengan Sin-tong,

Kiam-mo Cai-li lalu merobah gerakannya, tidak hendak

menangkap Sin-tong karena dia kalah dulu, melainkan

melakukan gerakan mendorong dengan kedua tangannya ke

arah Pat-jiu Kai-ong! Pukulan jarak jauh yang dilakukan oleh

wanita iblis ini dahsyat sekali, membuat Pat-jiu Kai-ong

terkejut ketika ada angin panas menyambar, maka dia cepat

menunda niatnya menangkap Sin-tong dan bergerak

menangkis. Keduanya merasakan dahsyatnya tenaga lawan

dan terpental ke belakang!

Sejenak mereka saling berpandangan dan Pat-jiu Kai-ong

yang lebih dulu dapat menguasai dirinya lalu tertawa, “Ha-hayha,

lama tidak jumpa, Kiam-mo Cai-li menjadi makin gagah

saja!” “Pat-jiu Kai-ong, selama ada aku disini, jangan harap

kau akan dapat merampas Sin-tong dari tanganku!” Wanita itu

berkata dan memandang tajam, siap menghadapi kakek yang

dia tahu merupakan lawan yang tangguh itu.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Aha, Kiam-mo Cai-li, sekali ini kau mengalahlah kepadaku.

Aku membutuhkannya untuk menyempurnakan ilmuku…”

“Hi-hik, Ilmu Hiat-ciang Hoat-sut, bukan? Kau sudah cukup

tangguh, Kai-ong, dan betapa mudahnya bagimu untuk

mencari seratus orang anak lagi untuk kau hisap darah, otak

dan sumsumnya. Jangan Sin-tong!” “Hemmmm, kau mau

menang sendiri. Apa kaukira aku tidak tahu mengapa kau

menghendaki Sin-tong? Dia masih terlalu muda, Cai-li, tentu

tidak akan memuaskan hatimu. Apa sukarnya bagimu mencari

orang-orang muda yang kuat dan menyenangkan?”

“Cukup! Kita mempunyai keinginan sama, dan jalan satusatunya

adalah untuk memperebutkannya dengan

kepandaian!”

“Ha-ha-ha, bagus sekali. Memang aku ingin mencoba

kepandaian Wanita Pandai dari Rawa Bangkai!” Liok Si, Si

Wanita Pandai Berpayung Pedang dari Rawa Bangkai sudah

tak dapan menahan kemarahannya melihat ada orang berani

merintanginya, maka sambil berteriak keras dia sudah

menerjang maju dengan senjatanya yang istimewa, yaitu

payung hitam yang tangkainya sebatang pedang runcing itu.

“Trakkk!” Pat-jiu Kai-ong sudah menggerakkan tongkatnya

menangkis. Gempuran dua tenaga raksasa membuat

keduanya terpental lagi ke belakang dan Pat-jiu Kai-ong cepat

meloncat ke depan, tongkatnya berubah menjadi segulungan

sinar hitam yang menyambar ganas.

“Trakk! Trakkk!!”

Dua kali senjata payung dan tongkat bertemu di udara dan

keduanya terhuyung ke belakang. Diam-diam mereka berdua

terkejut sekali dan maklum bahwa dalam hal tenaga sakti,

kekuatan mereka berimbang.

Sebelum mereka melanjutkan pertandingan mereka, tibatiba

mereka melangkah mundur dan memandang.tajam

karena berturut-turut ditempat itu telah muncul lima orang

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

kakek yang melihat cara munculnya dapat diduga tentu

memiliki kepandaian tinggi. Mereka muncul seperti setansetan,

tidak dapat didengar atau dilihat lebih dahulu, tahutahu

sudah berdiri di situ sambil memandang ke arah Pat-jiu

Kai-ong dan Kiam-mo Cai-li dengan bermacam sikap. Ketika

dua orang datuk kaum sesat atau golongan hitam ini melihat

dengan penuh perhatian mereka terkejut sekali. Biarpun

diantara lima orang itu ada yang belum pernah mereka

jumpai, namun melihat ciri-ciri mereka, kedua orang datuk

golongan hitam ini dapat mengenal mereka yang kesemuanya

adalah orang-orang aneh di dunia kang-ouw yang masingmasing

telah memiliki nama besar sebagai orang-orang sakti.

Sementara itu, ketika melihat dua orang kakek dan nenek

tadi bertanding memperebutkan dirinya, Sin Liong menjadi

makin berduka. Tak disangkanya bahwa di tempat yang penuh

damai ini di mana dia selama hampir tiga tahun tinggal penuh

ketentraman dan kedamaian, yang membuat dia hampir

melupakan kekejaman-kekejaman manusia ketika terjadi

pembunuhan ayah-bundanya, kini dia menyaksikan kekejaman

yang lebih hebat lagi di mana sebelas orang dusun yang sama

sekali tidak berdosa dibunuh begitu saja oleh dua orang itu.

Maka dia lalu duduk di atas batu, bersila dan tak bergerak

seperti arca, hatinya dilanda duka, dan dia memandang

dengan sikap tidak mengacuhkan. Bahkan ketika muncul lima

orang aneh itu, dia pun tidak membuat reaksi apa-apa kecuali

memandang dengan penuh perhatian namun dengan sikap

sama sekali tidak mengacuhkan.

Orang pertama adalah seorang kakek berusia enam puluh

tahun, bertubuh tinggi besar dengan muka merah seperti

tokoh Kwan Kong dalam cerita Sam-kok, kelihatan gagah

sekali, di punggungnya tampak dua batang pedang menyilang,

matanya lebar alisnya tebal dan suaranya nyaring ketika dia

tertawa, “Ha-ha-ha, kiranya bukan hanya orang gagah saja

yang tertarik kepada Sin-tong, juga iblis-iblis berdatangan

sungguhpun tentu mempunyai niat lain!” Dengan ucapan yang

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

jelas ditujukan kepada Kiam-mo Cai-li dan Pat-jiu Kai-ong ini,

dia memandang dua orang itu dengan terang-terangan. Orang

ini bukanlah orang sembarangan, namanya sendiri adalah

Siang-koan Houw, akan tetapi dia lebih terkenal dengan

sebutan Tee-tok (Racun Bumi) karena selain merupakan

seorang ahli racun yang sukar dicari tandingannya, juga dia

amat ganas menghadapi lawan tidak mengenal ampun dan

selain itu, juga dia amat jujur dan blak-blakan, bicara dan

bertindak tanpa pura-pura lagi. Ilmu silatnya tinggi sekali, dan

yang paling terkenal sehingga menggegerkan dunia persilatan

adalah ilmu pukulannya yang disebut Pek-lui-kun (Ilmu Silat

Tangan Kilat) dan Ilmu Pedangnya Ban-tok Siang-kiam

(Sepasang Pedang Selaksa Racun)! Tidak ada orang yang

tahu dimana tempat tinggalnya karena memang dia seorang

perantau yang muncul dimana saja secara tak terduga-duga

seperti kemunculannya sekarang ini di Hutan Seribu Bunga.

“Huhh, bekas Suteku yang tetap goblok!” kata orang kedua.

“Masa masih tidak mengerti apa yang dikehendaki dua iblis ini.

Jembel busuk itu tentu ingin menghisap darah dan otak Sintong

untuk menyempurnakan Ilmu Iblisnya Hiat-Ciang Hoatsut.

Sedangkan iblis betina genit ini apa lagi yang dicari

kecuali sari kejantanan Sin-tong? Hayo kalian menyangkal,

hendak kulihat apakah kalian begitu tak tahu malu untuk

menyangkal!” Orang yang kata-katanya amat menusuk ini

adalah seorang kakek yang beberapa tahun lebih tua daripada

Tee-tok, bahkan menyebut Tee-tok sebagai bekas sutenya

karena memang demikian. Dia bertubuh tinggi kurus dan

mukanya seperti tengkorak mengerikan, di ketiaknya terselip

sebatang tongkat panjang dan gerak-geriknya ketika bicara

seperti seekor monyet tidak mau diam, bahkan kadangkadang

menggaruk-garuk kepala atau pantatnya, matanya liar

memandang ke kanan-kiri. Inilah dia tokoh hebat yang

berjuluk Thian-tok (Racun Langit), bekas suheng Tee-tok yang

memiliki kepandaian khas. Selain lihai dalam hal racun sesuai

dengan nama dan julukannya, juga dia adalah seorang

pemuja Kauw Cee Thian atau Cee Thian Thaiseng, Si Raja

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Monyet itu, yaitu sebatang tongkat yang dia beri nama Kimkauw-

pang seperti tongkat Si Raja Monyet. Juga dia telah

menciptakan ilmu silat tangan kosong yang meniru gerak-gerik

seekor monyet yang diberinya nama Sin-kauw-kun(Ilmu Silat

Monyet Sakti). Seperti juga Tee-tok, dia tidak mempunyai

tempat tinggal yang tetap, dan tidak ada yang tahu lagi nama

aslinya, yaitu Bhong Sek Bin.

“Hemmm, setelah ada aku disini jangan harap segala

macam iblis dapat berbuat sesuka hati sendiri!” kata orang ke

tiga, suaranya kasar dan keras, pandang matanya seperti

ujung pedang menusuk. Orang ini bernama Ciang Ham

julukannya Thian-he Te-it, Sedunia Nomor satu! Usianya

kurang lebih 50 tahun, dan dia adalah ketua dari Perkumpulan

Kang-jiu-pang (Perkumpulan Lengan Baja) yang didirikannya

di Secuan..Di tangan kirinya tampak sebatang senjata tombak

gagang panjang, dan selain terkenal sebagai seorang ahli

bermain tombak, dia pun terkenal sebagai seorang ahli

bermain tombak, dia pun terkenal memiliki lengan sekuat

baja! Pakaiannya ringkas seperti biasa dipakai oleh seorang

ahli silat dan setiap gerak-geriknya menunjukkan bahwa dia

telah mempunyai kepandaian silat yang sudah mendarah

daging di tubuhnya. Orang ke empat adalah seorang

berpakaian sastrawan, sikapnya halus, usianya 50 tahun tapi

masih tampak tampan, tubuhnya sedang dan dia sudah

menjura ke arah kedua orang datuk golongan hitam itu. Di

pinggangnya terselip sebatang mauwpit alat tulis pena

panjang. “Kami berlima dengan tujuan yang sama datang ke

tempat ini, tidak sangka bertemu dengan dua orang tokoh

terkenal seperti Ji-wi (Anda berdua), Pat-jiu Kai-ong dan Kiammo

Cai-li, terutama sekali kepada Cai-li, terimalah hormatku.”

Pat-jiu Kai-ong sudah segera dapat mengenal siapa orang ini,

akan tetapi Kiam-mo Cai-li tidak mengenalnya. Hati wanita ini

yang tadinya panas mendengar kata-kata menentang dari tiga

orang pertama, merasa seperti dielus-elus oleh sikap dan

kata-kata orang berpakaian sastrawan yang tampan ini. Maka

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

dia pun membalas penghormatannya dan dengan lirikan mata

memikat dan senyum simpul manis sekali dia bertanya, “Harap

maafkan, kana tetapi siapakah saudara yang manis budi dan

yang tentu memiliki ilmu kepandaian bun dan bu(Sastra dan

silat) yang tinggi ini?”

Laki-laki itu tersenyum dan menjawab halus, “Saya yang

rendah dinamakan orang Gin-siauw Siucai (Pelajar Bersuling

Perak), seorang yang suka bersunyi di Beng-san.” Kiam-mo

Cai-li kembali menjura, tersenyum dan berkata, “Aihhh, sudah

lama sekali saya telah mendengar nama besar Cin-siauw

Siucai, sebagai seorang ahli silat tinggi, terutama sekali

sebagai seorang peniup suling yang mahir dan sudah lama

pula mendengar akan keindahan tamasya alam di Beng-san.

Mudah-mudahan saja saya akan berumur panjang untuk

mengunjungi Beng-san yang indah, menjadi tamu Gin-siauw

Siucai yang ramah dan sopan, tidak seperti kebanyakan pria

yang kasar tak tahu sopan santun!” Ucapan terkhir ini jelas

ditujukannya kepada tiga orang tokoh pertama yang kasarkasar

tadi. Orang ke lima dari rombongan itu adalah seorang

tosu berusia enam puluh tahun lebih, tubuhnya tinggi kurus

dan mukanya pucat, tangan kiri memegang sebuah hudtim

(Kebutan Pendeta) dan tangan kanan memegang sebuah

kipas yang tiada hentinya digoyang-goyang menipasi lehernya

seolah-olah dia kepanasan, padahal hawa di Hutan Seribu

Bunga itu sejuk! Kini dia membuka mulut dan terdengarlah

suaranya yang merdu menyanyikan sajak dalam kitab To-tekkheng,

kitab utama dari kaumtosu (Pemeluk Agama To)!

Amat sempurna,

namun tampak tak sempurna,

tampak t idak lengkap,

sungguhpun kegunaannya tiada kurang

Terisi penuh,

namun tampaknya meluap tumpah,

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

tampaknya kosong,

sungguhpun tak pernah kehabisan

Yang paling lurus,

kelihatan bengkok,

yang paling cerdas,

kelihatan bodoh,

yang paling fasih,

kelihatan gagu.

Api panas dapat mengatasi dingin,

air sejuk dapat mengatasi panas,.Sang Budiman, murni dan

tenang

dapat memberkati dunia!”

“Huah-ha-ha-ha! Anda tentulah lam-hai Seng-jin (Manusia

Sakti Laut Selatan), bukan? Sajak-sajak To-tek-kheng

agaknya telah menjadi semacam cap Anda, ha-ha-ha!” kata

Pat-jiu Kai-ong sambil tertawa mengejek.

Tosu itu berkata , “Siancai! Pat-jiu Kai-ong bermata tajam,

dapat mengenal seorang tosu miskin dan bodoh.”

“Ah, jangan merendah, Totiang,” kata Kiam-mo Cai-li,

“Siapa orangnya yang tidak tahu bahwa biarpun Anda seorang

yang berpakaian tosu dan kelihatan miskin, namun memiliki

sebuah istana dan menjadi majikan dari Pulau Kura-kura. Ini

namanya menggunakan pakaian butut untuk menutupi

pakaian indah di sebelah dalamnya.”

“Siancai! Pujian kosong…!” Tosu itu berkata dan mukanya

menjadi merah. Tee-tok Siangkoan Houw mngeluarkan suara

menggereng tidak sabar. “Apa apaan semua kepura-puraan

yang menjemukan ini? Pat-jiu Kai-ong dan Kiam-mo Cai-li,

ketika kami berlima datang tadi, kami melihat kalian sedang

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

memperebutkan Sin-tong dan tentu sebelas orang dusun ini

kalian berdua yang membunuhnya!” “Tee-tok, urusan itu

adalah urusan kami sendiri. Perlu apa kau mencampuri?” Patjiu

Kai-ong menjawab dengan senyum dan suara halus seperti

kebiasaannya namun jelas bahwa dia merasa tak senang.

“Bukan urusanku, memang! Akan tetapi ketahuilah, kami

berlima mempunyai maksud yang sama, yaitu masing-masing

menghendaki agar Sin-tong menjadi muridnya. Biarpun kami

saling bertentangan dan berebutan, namun kami

memperebutkan Sin-tong untuk menjadi murid kami atau

seorang di antara kami. Sedangkan kalian berdua,

mempunyai niat buruk!” kata pula Tee-tok yang terkenal

sebagai orang yang tidak pernah menyimpan perasaan dan

mengeluarkannya semua tanpa tedeng aling-a ling lagi melalui

suaranya yang nyaring.

“Tee-tok, jangan sombong kau! Mengenai kepentingan

masing-masing memperebutkan Sin-tong, adalah urusan

pribadi yang tak perlu diketahui orang lain. Yang jelas, kita

bertujuh masing-masing hendak memiliki Sin-tong, Untuk

kepentingan pribadi masing-masing tentu saja sekarang

bagaimana baiknya? Apakah kalian ini lima orang yang

mengaku sebagai tokoh-tokoh sakti dan gagah dari dunia

kang-ouw hendak mengandalkan banyak orang mengeroyok

kami berdua. Aku, Kiam-mo Cai-li sama sekali tidak takut

biarpun aku seorang kalian keroyok berlima, akan tetapi

betapa curang dan hinanya perbuatan itu. Terutama sekali

Gin-siauw Siucai, tentu tidak begitu rendah untuk melakukan

pengeroyokan!” kata Kiam-mo Cai-li yang cerdik.

“Perempuan sombong kau, Kiam-mo Cai-li!” Tee-tok

membentak marah dan melangkah maju. “Siapa sudi

mengeroyokmu? Aku sendiri pun cukup untuk mengenyahkan

seorang iblis betina seperti engkau dari muka bumi!”

“Tee-tok, buktikan omonganmu!” Kiam-mo Cai-li

membentak dan dia pun melangkah maju. “Eh-eh, nanti dulu!

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Apa hanya kalian berdua saja yang menghendaki Sin-tong?

Kami pun tidak mau ketinggalan!” kata Pat-jiu Kai-ong

mencela.

“Benar sekali! Perebutan ini t idak boleh dimonopoli oleh

dua orang saja! Aku pun tidak takut menghadapi siapa pun

untuk memperoleh Sin-tong!” Thian-te Te-it Ciang Ham

membentak menggoyang tombak panjangnya melintang di

depan dada.

“Siancai, siancai…!” Lam-hai Seng-jin melangkah maju,

menggoyang kebutannya. “Harap Cuwi (Anda Sekalian) suka

bersabar dan tidak turun tangan secara kacau saling serang.

Semua harus diatur seadilnya dan sebaiknya. Kita bukanlah

sekumpulan bocah yang biasanya hanya saling baku hantam

memperebutkan sesuatu..Sudah jelas bahwa kita bertujuan

sama, yaitu ingin memperoleh Sin-tong. Akan tetapi kita lupa

bahwa hal

ini sepenuhnya terserah kepada pemilihan Sin-tong sendiri.

Maka marilah kita berjanji. Kita bertanya kepada Sin-tong,

kepada siapa ia hendak ikut dan kalau dia sudah menjatuhkan

pilihannya, tidak seorangpun boleh melarang atau

mencampuri, Bagaimana?”

“Hemm, tidak buruk keputusan itu. Aku setuju!” kata Teetok.

“Aku pun setuju!” kata Thian-tok dan yang lain pun t idak

mempunyai alasan untuk tidak menyetujui keputusan yang

memang adil ini, kemudian melanjutkan dengan kata-kata

sengaja dibikin keras agar terdengar oleh Sin-tong. “Tentu

saja harus jujur tidak membohongi Sin-tong akan maksud hati

sebenarnya. Misalnya yang mau mengambil murid, yang

hendak menghisap darahnya atau hendak memperkosa dan

menghisap sari kejantanannya juga harus berterus terang!”

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Tentu saja dua orang tokoh golongan hitam itu

mendongkol sekali dan ingin menyerang Thian-tok yang licik

itu.

“Isi hati orang siapa yang tahu? Boleh saja kau bilang

hendak mengambil murid, akan tetapi siapa tahu kalau kau

menghendaki nyawanya?” Kiam-mo Cai-li mengejek Thian-tok.

“Kau…! Majulah, rasakan Kim-kauw-pang pusakaku ini!”

“Boleh! Siapa takut?” Wanita itu balas membentak.

“Siancai…!” Lam-hai Seng-jin mencela dan melangkah

maju. “Apakah kalian benar-benar hendak menjadi kanakkanak?

Katanya tadi sudah setuju, nah marilah kita

mendengar sendiri siapa yang menjadi pilihan Sin-tong.”

Tujuh orang itu lalu menghampiri Sin-tong yang masih

duduk bersila seperti sebuah arca, hatinya penuh kengerian

menyaksikan tingkah laku tujuh orang itu.

“Sin-tong yang baik. Lihatlah, kau satu-satunya wanita di

antara kami bertujuh. Lihatlah aku, seorang wanita yang hidup

kesepian dan merana karena tidak mempunyai anak, kau

mendengar bahwa engkau pun sebatangkara, tidak

mempunyai ayah bunda lagi. Marilah anakku, marilah ikut

dengan aku, aku akan menjadi pengganti ibumu yang

mencintaimu dengan seluruh jiwaku. Mari hidup sebagai

seorang Pangeran di istanaku, di Rawa Bangkai, dan engkau

akan menjadi seorang terhormat dan mulia. Marilah Sin-tong,

Anakku!”

Sin Liong mengangkat muka memandang sejenak wajah

wanita itu, kemudian dia menunduk dan tidak menjawab, juga

tidak bergerak, hatinya makin sakit karena dia dengan jelas

dapat melihat kepalsuan di balik bujuk-rayu manis itu, apalagi

kalau dia mengingat betapa wanita ini dengan tersenyumsenyum

dapat begitu saja membunuh jiwa enam orang dusun

yang tidak berdosa! Dia merasa ngeri dan tidak dapat

menjawab.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Sin-tong, aku adalah ketua dari Pat-jiu Kai-pang di

Pegunungan Hong-san. Sebagai seorang ketua perkumpulan

pengemis, tentu saja aku kasihan sekali melihat engkau

seorang anak yang hidup sebatangkara. Kau ikutlah

bersamaku, Sin-tong, dan kelak engaku akan menjadi raja

Pengemis. Bukankah kau suka sekali menolong orang? Orang

yang paling perlu ditolong olehmu adalah golongan pengemis

yang hidup sengsara, kau ikutlah dengan aku, dan Pat-jiu Kaiong

akan menjadikan engkau seorang yang paling gagah di

dunia ini!”

Kembali Sin-tong memandang wajah itu dan diam-diam

bergidik. Orang yang dapat membunuh lima orang dusun

sambil tertawa-tawa seperti kakek ini sekarang menawarkan

kepadanya untuk menjadi raja pengemis! Dia t idak menjawab

juga, hanya kembali menundukkan mukanya.

“Anak ajaib, anak baik, Sin-tong, dengarlah aku. Aku adalah

Gin-siauw Siucai, seorang sastrawan yang mengasingkan diri

dan menjadi pertapa di Beng-san. Selama hidupku aku tidak

pernah melakukan perbuatan jahat dan selama puluhan tahun

aku tekun menghimpun ilmu silat, ilmu sastra dan ilmu meniup

suling. Aku ingin sekali mengangkat engkau sebagai muridku,

Sin-tong.”.”Ha-ha-ha, kau turut aku saja, Sin-tong. Biarpun

aku seorang yang kasar, namun hatiku lemah menghadapi

anak-anak. Aku sendiri memiliki seorang anak perempuan

sebaya denganmu. Biarlah kau menjadi saudaranya, kau

menjadi muridku dan kau takkan kecewa menjadi murid Teetok.

Pilihlah aku menjadi gurumu, Sin-tong.”

“Tidak, aku saja! Aku Bhong Sek Bin, namaku tidak pernah

kukatakan kepada siapapun dan sekarang kukatakan di

depanmu, tanda bahwa aku percaya dan suka sekali

kepadamu. Akulah keturunan dari Dewa Sakti Cee Thian Thaiseng,

akulah yang mewarisi ilmu Kim-kauw-pang. Kau jadilah

murid Thian-tok dan kelak kau akan merajai dunia kang-ouw,

Sin-tong.”

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Lebih baik menjadi muridku. Aku Thian-he Te-it Ciang

Ham, di kolong dunia nomor satu dan ketua dari Kang-jiupang

di Secuan. Menjadi muridku berarti menjadi calon

manusia terpandai di kolong langit!” “Siancai…siancai..!

Kaudengarlah mereka semua itu, Sin-tong. Semua hendak

mengajarkan ilmu silat dan memamerkan kekayaan duniawi,

tidak seorangpun yang hendak mengajarkan kebatinan

kepadamu. Akan tetapi pinto (aku) ingin sekali mengambil

murid kepadamu, hendak pinto jadikan engkau seorang calon

Guru Besar Kebatinan. Kau berbakat untuk itu, siapa tahu,

kelak engkau akan memiliki kebijaksanaan besar seperti Nabi

Lo-cu sendiri, dan engkau menjadi seorang nabi baru. Kau

jadilah murid Lam-hai Seng-jin, Sin-tong!”

Hening sejenak. Semua mata ditujukan kepada bocah yang

masih duduk bersila seperti arca dan yang tidak pernah

menjawab kecuali mengangkat muka sebentar memandang

orang yang membujuknya. Kemudian terdengar suaranya,

halus menggetar dan penuh duka. “Terima kasih kepada Cuwi

Locianpwe. Akan tetapi saya tidak dapat ikut siapapun juga di

antara Cuwi karena di balik semua kebaikan Cuwi terdapat

kekerasan dan nafsu membunuh sesama manusia.

Tidak, saya tidak akan turut siapapun, saya lebih senang

tinggal disini, di tempat sunyi ini. Harap Cuwi sekalian

tinggalkan saya, saya akan mengubur mayat-mayat yang

patut dikasihani ini.” “Wah, kepala batu! Kalau begitu, aku

akan memaksamu!” kata Tee-tok yang berwatak berangasan

dan kasar.

“Eh, nanti dulu! Siapa pun tidak boleh mengganggunya!”

bentak Thian-tok. “Siancai…sabar dulu semua! Jelas bahwa

bocah ajaib ini tidak mau memilih seorang diantara kita secara

sukarela. Karena itu, tentu kita semua ingin merampasnya

secara kekerasan. Maka harus diatur sebaik dan seadil

mungkin. Kita bukan kanak-kanak, kita adalah orang-orang

yang telah menghimpun banyak ilmu, maka sebaiknya kalau

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

kita sekarang masing-masing mengeluarkan ilmu dan

mengadu ilmu. Siapa yang keluar sebagai pemenang, tentu

saja berhak meimiliki Sin-tong,” kata Lam-hai Seng-jin yang

lebih sabar daripada yang lain.

“Mana bisa diatur begitu?” bantah Pat-jiu kai-ong yang

khawatir kalau-kalau lima orang itu akan mengeroyok dia dan

Kiam-mo Cai-li. “Lebih baik seorang lawan seorang, yang

kalah masuk kotak dan yang menang harus menghadapi yang

lain setelah beristirahat. Begitu baru adil!” “Tidak!” bantah

Kiam-mo Cai-li, wanita yang cerdik ini dapat melihat

kesempatan yang menguntungkannya kalau terjadi

pertandingan bersama seperti yang diusulkan Lam-hai Sengjin.

Dalam pertempuran seperti itu, siapa cerdik tentu akan

keluar sebagai pemenang. “Kalau diadakan satu lawan satu,

terlalu lama.

Sebaiknya kita bertujuh mengeluarkan ilmu dan saling

serang tanpa memandang bulu. Dengan demikian, satusatunya

orang yang kelaur sebagai pemenang, Jelas dia telah

lihai daripada yang lain.”

Akhirnya Pat-jiu kai-ong kalah suara dan ketujuh orang itu

telah mengelurkan senjata masing-masing, membentuk

lingaran besar dan bergerak perlahan-lahan saling lirik , siap

untuk menghantam siapa yang dekat dan menangkis serangan

dari manapun juga! Benar-benar merupakan pertandingan

hebat yang kacau balau dan aneh!.Sin Liong yang masih

duduk bersila, memandang dengan mata terbelalak dan dia

menjadi silau ketika tujuh orang itu sudah mulai

menggerakkan senjata masing-masing untuk menyerang dan

menangkis. Gerakan mereka demikian cepatnya sehingga bagi

Sin Liong, yang kelihatan hanyalah gulungan-gulungan sinar

senjata dan bayangan orang berkelebatan tanpa dapat dilihat

jelas bayangan siapa. Memang hebat pertandingan ini karena

dipandang sepintas lalu, seolah-olah setiap orang melawan

enam orang musuh dan kadang-kadang terjadi hal yang lucu.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Ketika Tee-tok menyerang Pat-jiu Kai-ong dengan siangkiamnya,

sepasang pedangnya ini membabat dari kiri kanan.

Pat-jiu Kai-ong terkejut karena pada saat itu dia sedang

menyerang Lam-hai Seng-jin yang di lain pihak juga sedang

menyerang Gin-siauw Siucai! Akan tetapi terdengar suara

keras ketika sepasang pedang Tee-tok itu bertemu dengan

tombak di tangan Thian-he Te-it dan tongkat Thian-tok,

sehingga seolah-olah dua orang ini melindungi Pat-jiu Kai-ong.

Pertandingan kacau balau dan hanya Kiam-mo Cai-li yang

benar-benar amat cerdiknya. Dia tidak melayani seorang

tertentu, melainkan berlarian berputar-putar, selalu

menghindarkan serangan lawan yang manapun juga dan dia

pun itdak menyerang siapa-siapa, hanya menggerakkan

pedang payungnya dan rambutnya untuk membuat kacau dan

kadang-kadang juga menekan lawan apabila melihat ada

seorang diantara mereka yang terdesak.

Siasatnya adalah untuk merobohkan seorang demi seorang

dengan jalan “mengeroyok” tanpa membantu siapa-siapa agar

jumlah lawannya berkurang. Namun, mereka itu rata-rata

adalah orang-orang yang memiliki kepandaian tinggi, maka

tidaklah mudah dibokong oleh Kiam-mo Cai-li, bahkan lamalama

akalnya ini ketahuan dan mulailah mereka menujukan

senjata kepada wanita ini sehingga mau tidak mau wanita itu

terseret ke dalam pertandingan kacau-balau itu! Terpaksa dia

mempertahankan diri dengan pedang payungnya, dan

membalas serangan lawan yang paling dekat dengan

kemarahan meluap-luap. Sin Liong menjadi bengong. Entah

kapan datangnya, tahu-tahu dia melihat seorang laki-laki

duduk ongkang-ongkang di atas cabang pohon besar yang

tumbuh dekat medan pertandingan itu. Laki-laki itu

memandang ke arah pertempuran dengan mata terbelalak

penuh perhatian, tangan kiri memegang sehelai kain putih

lebar, dan tangan kanan yang memegang sebatang alat tulis

tiada hentinya mencorat-coret di atas kain put ih itu, seolaholah

dia tidak sedang menonton pertandingan, melainkan

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

sedang menonton pemandangan indah dan dilukisnya

pemandangan itu! Sin Liong yang terheran-heran itu

memperhatikan. Orang laki-laki itu kurang lebih empat puluh

tahun usianya, pakaiannya seperti seorang pelajar akan tetapi

di bagian dada bajunya yang kuning muda itu ada lukisan

seekor Naga Emas dan seekor Burung Hong Merah. Indah

sekali lukisan baju itu. Wajahnya tampan dan gagah, dengan

kumis dan jenggot terpelihara baik-baik, pakaiannya juga

bersih dan terbuat dari sutera halus, sepatu yang dipakai

kedua kakinya masih baru atau setidaknya amat terpelihara

sehingga mengkilap.

Rambutnya memakai kopyah sasterawan dan sepasang

matanya bersinar-sinar penuh kegembiraan ketika dia

mencorat-coret melukis pertandingan antara tujuh orang sakti

itu. Sin Liong makin bingung. Betapa mungkin melukis tujuh

orang yang sedang berkelebatan hampir tak tampak itu? Sin

Liong tidak lagi memperhatikan pertandingan, hanya

memandang ke arah orang itu. Dia mendengar bentakanbentakan

nyaring dan tidak tahu bahwa tujuh orang itu telah

ada yang terluka. Thian-he Te-it telah terkena hantaman

tongkat Thian-tok di pahanya sehingga terasa nyeri sekali.

Pat-jiu Kai-ong juga kena serempet pundaknya sehingga

berdarah oleh sebatang di antara Siang-kiam di tangan Teetok,

sedangkan Lam-hai Seng-jin dan Gin-siauw Siucai juga

telah mengadu tenaga dan keduanya tergetar samapi

muntahkan darah namun berkat sinkang mereka, kedua orang

ini tidak sampai mengalami luka dalam yang parah.

Sin Liong melihat betapa laki-laki di atas pohon itu

tersenyum, menghentikan coretannya, menyimpan pensil dan

menyambar jubah luar yang tadi tergantung di ranting pohon,

memakainya, kemudian mengantongi gambar yang telah

digulungnya dan tubuhnya melayang turun. “Tontonan tidak

bagus!” Terdengar dia berseru. “Tujuh orang tua bangka gila

memperlihatkan tontonan di depan seorang anak kecil benarbenar

tak tahu malu sama sekali!”

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Tujuh orang itu terkejut ketika mendengar suara yang

langsung menggetarkan jantung mereka itu. Mengertilah

mereka bahwa yang datang ini memiliki khikang dan singkang

yang amat kuat, sehingga dapat mengatur suaranya, langsung

dipergunakan untuk menyerang mereka dan sama sekali tidak

mempengaruhi Sin-tong yang masih duduk bersila. Dengan

hati tegang mereka lalu meloncat mundur dan masingmasing.

melintangkan senjata di depan dada, memandang ke

arah laki-laki gagah yang baru muncul itu. Namun, tidak ada

seorangpun diantara mereka yang mengenalnya, maka

ketujuh orang itu menjadi marah sekali.

JILID 3

Bangsat kecil, engkau siapakah berani mencampuri urusan

kami dan memaki kami?” bentak Pat-jiu Kai-ong sambil

mengusap pundaknya yang berdarah.

Apa kau memiliki kepandaian maka berani mencela kami,

tikus kecil?” bentak pula Thian-he Te-it yang masih ngilu rasa

pahanya, dan untung bahwa pahanya itu tidak patah

tulangnya. Laki-laki itu melangkah maju menghampiri mereka

dengan langkah tegap dan sikap sama sekali t idak takut,

bahkan wajahnya itu berseri-seri memandang mereka seorang

demi seorang. kemudian, setelah berada di tengah-tengah

sehingga terkurung, dia berkata, ” Tadinya aku hanya

mendengar bahwa ada seorang anak baik terancam oleh

perebutan orang-orang pandai di dunia kang-ouw. Ketika tiba

disini dan melihat lagak kalian, mau tidak mau aku masuk dan

hatiku memang penasaran menyaksikan gerakan kalian yang

sungguh-sungguh masih mentah. Ilmu tongkat dia itu tentu

Pat-mo-tung-hoat yang berdasarkan Ilmu Pedang Pat-mokiam-

hoat,” katanya sambil menuding ke arah Pat-jiu Kai-ong.

Raja pengemis itu terkejut sekali melihat orang mengenal ilmu

tongkatnya, padahal tadi mereka bertujuh bertanding dengan

kecepatan luar biasa, bagaimana orang ini dapat mengenal

ilmu tongkatnya?

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Dan ilmu otngkat dia itu lebih lucu dan kacau lagi. Meniru

gerakan Kauw Cee Thian Si Raja Monyet, akan tetapi kaku dan

mentah, tidak pantas menjadi gerakan Raja Monyet,

pantasnya menjadi gerakan Raja Tikus! Dia menuding arah

Thian-tok.

“Brakkk!!” Batu besar yang berada di samping Thian-tok

hancur berantakan karena dipukul oleh tongkatnya. Dia marah

sekali mendengar ucapan yang dianggapnya menghina itu.

“Manusia lancang, berani kau menghina Thian-tok?”

bentaknya dan tongkatnya sudah diputar hendak menyerang.

Akan tetapi orang itu membentak, “Berhenti!” Dan aneh,

suaranya demikian berwibawa sehingga Thian-tok sendiri

sampai tergetar dan menghentikan gerakan tongkatnya. “Aku

melihat kalian masing-masing memiliki kepandaian khusus

namun masih mentah semua. Aku tidak membohong dan

kalau tidak percaya, marilah kalian maju seorang demi

seorang, akan kuperlihatkan kementahan ilmu silat kalian yang

kalian pergunakna dalam pertandingna kacau balau tadi. Hayo

siapa yang maju lebih dulu, akan kulayani dengan ilmu silat

kalian sendiri!”

Ucapan ini lebih mendatangkan rasa heran dan tidak

percaya daripada kemarahan, maka Pat-jiu Kai-ong melupakan

pundaknya yang terluka, cepat dia sudah meloncat ke depan,

melintangkan tongkatnya di depan dada sambil berseru, “Nah,

coba kaubukt ikan kementahan ilmu tongkatku!” Setelah

berkata demikian, Raja Pengemis ini menyerang,

menggunakan tongkatnya untuk menusuk, kemudian gerakan

ini dilanjutkan dengan memutar tongkat ke atas menghantam

kepala.

Memang gerakan tongkatnya adalah gerakan pedang, dia

ambil dari Ilmu Pedang Pa-mo-kiam-hoat. Hal ini adalah

rahasianya, maka dia heran sekali mendengar orang tampan

gagah itu mengenal ilmu tongkatnya dan sekaligus membuka

rahasianya.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Enam orang tokoh yang lain adalah orang-orang yang telah

terkenal, maka mereka menahan kemarahan dan menonton

untuk melihat apakah orang yang tidak terkenal ini benarbenar

memiliki kepandaian aneh dan apakah benar-benar

selihai mulutnya yang amat sombong itu.

Serangan Pat-jiu Kiam-ong itu tidak ditangkis, akan tetapi

tubuh orang itu tiba-tiba saja lenyap! Semua orang kaget dan

bengong melihat betapa tubuh orang itu tahu-tahu telah

melayang turun dari atas pohon, di tangannya terdapat

sebatang cabang pohon, yang daunnya telah dibersihkan.

Demikian cepatnya dia tadi meloncat sehingga tidak tampak,

dan entah bagaimana cepatnya tahu-tahu dia telah membikin

sebatang tongkat yang ukurannya sama dengan tongkat yang

dipegang Pat-jiu Kai-ong. Begitu dia turun, Pat-jiu Kai-ong

telah menyerangnya dengan kemarahan meluap.

“Nah, lihatlah. Bukankah ini Pat-mo-kiam-hoat (Ilmu

Pedang Delapan Iblis) yang kau rubah menjadi Pat-mo-tunghoat?”

Dan orang itu pun kini mengimbangi permainan ilmu

tongkat Pat-jiu Kai-ong dengan gerakan yang sama! Jurus

demi jurus dimainkan orang itu untuk menangkis dan balas

menyerang, namun.bedanya, serangannya jauh lebih cepat

dan lebih kuat tenaga sinkang yang menggerakkan tongkat

itu!Tokoh-tokoh lain hanya menduga-duga, mengira orang

baru itu meniru gerakan Pat-jiu Kai-ong, akan tetapi Raja

Pengemis ini sendiri mengenal gerakan orang itu yang bukan

lain adalah ilmu tongkatnya sendiri yang digubahnya sendiri!

Dia menjadi bingung dan heran, apalagi serangan orang itu

cepatnya melebihi kilat dan dalam belasan jurus saja, tiba-tiba

terdengar suara keras, tongkat di tangan Pat-jiu Kai-ong patah

dan si Raja Pengemis ini sendiri terpelanting dan mukanya

pucat sekali karena tadi ujung tongkat lawannya telah

menyambar dahinya tepat diantara mata dan kalau

dikehendakinya, tentu dia telah tewas, akan tetapi orang aneh

itu hanya mengguratnya saja sehingga kulit di bagian itu

robek dan berdarah.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Tahulah dia bahwa sia telah berhadapan dengan seorang

yang memiliki ilmu kepandaian yang jauh melampuinya, tahu

pula bahwa nyawanya diampuni maka tanpa banyak cakap dia

lalu mundur dan berdiri dengan muka pucat dan mulut

berbisik, “Aku mengaku kalah!” Tentu saja hal ini mengejutkan

enam orang tokoh yang lain! Mereka tadi, dalam pertandingan

kacau balau, telah beradu senjata dengan Si Raja Pengemis,

dan mereka maklum bahwa selain ilmu tongkatnya amat lihai,

juga tongkat itu sendiri merupakan senjata pusaka yang kuat

menangkis senjata tajam, di samping tenaga sinkang si Kakek

Jembel yang amat kuat. Namun, dalam belasan jurus saja

kakek jembel itu mengaku kalah, tongkatnya patah dan

diantara alisnya terluka, sedangkan tadinya mereka mengira

bahwa orang yang baru datang itu hanya meniru-niru ilmu

silat Pat-jiu Kai-ong! “Si Jembel tua bangka memang tolol!”

Tiba-tiba Thian-he Te-it Ciang Ham meloncat ke depan,

tombaknya melintang di tangannya, sedangkan tangan kirinya

dikepal, tangan kiri yang mengandung tenaga mukjijat dan

terkenal dengan sebutan Kang-jiu(Lengan Baja) yang kuat

menangkis senjata tajam! Orang itu tersenyum sabar. Hemm,

jadi tadi adalah Pat-jiu Kai-ong, ketua Pat-jiu Kai-pang yang

terkenal?

Heran ilmunya masih serendah itu sudah berani malang

melintang di Heng-san. Dan kau ini siapakah? Ginkangmu

cukup lumayan akan tetapi permainan tombakmu belum patut

disebut Sin-jio(Tombak Sakti), dan pukulan itu, tentu yang

dinamakan Lengan Baja, sayangnya tidak cocok dengan

sebutannya karena terlalu lemah, hemm, terlalu lemah…!”

Muka Ciang Ham menjadi merah sekali saking marahnya.

Sudah menjadi kebiasaannya kalau dia lagi marah, matanya

mendelik dan kumisnya yang jarang itu bergoyang-goyang

menurutkan bibir atasnya yang tergetar! “Si keparat sombong!

Tahukah engkau dengan siapa engkau berhadapan? Aku

adalah Thian-he Te-it (Nomor Satu Sedunia) ketua dari Kangjiu-

pang di Secuan! Bersiaplah untuk mampus di tanganku!”

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Kembali orang itu meloncat ke atas, kini semua orang yang

sudah memperhatikan seluruh gerak-geriknya melihat bahwa

orang itu benar-benar memiliki ginkang yang sukar dipercaya.

Hanya dengan mengenjot ujung kaki, tubuhnya melesat

dengan kecepatan yang luar biasa sekali, lenyap ke dalam

pohon besar dan tak lama kemudian sudah melayang turun

membawa sebatang cabang yang panjangnya sama dengan

tombak di tangan Ciang Ham, bahkan ujungnya juga sudah

diruncingkan, entah bagaimana caranya! “Nah, coba mainkan

ilmu tombakmu dan pukulan Lengan Bajumu yang masih

mentah itu.” Thian-he Te-it Ciang Ham bukan main marahnya.

Sambil mengeluarkan gerengan keras dia menerjang,

tombaknya bergerak dahsyat sehingga mata tombak berubah

menjadai belasan banyaknya, semua mata tombak itu seolaholah

menyerang bagian-bagian tertentu dari lawannya! Namun

orang itu pun menggerakkan tombak cabang pohon dengan

gerakan yang sama, bahakan mata “tombaknya” berubah

menjadi dua puluh lebih, membentuk bayangan tombak yang

menyilaukan mata dan terjadilah pertandingan tombak yang

amat aneh karena gerakan mereka sama. Dapat dibayangkan

betapa kagetnya hati Thian-he Te-it Ciang Ham. Ilmu tombak

itu adalah ciptaannya sendiri dan selama ini belum pernah

diajarkan kepada siapapun juga, merupakan kepandaian

khasnya yang ampuh. Akan tetapi sekarang dia melihat orang

ini mainkan ilmu tombaknya dengan gerakan yang lebih cepat

dan lebih kuat!

Marahlah dia. “Setan kau!” dia memaki dan kini tombaknya

membuat lingkaran besar, menyambar-nyambar diatas kepala

sedangkan lengan kirinya melakukan pukulan maut karena

lengan itu seolah-olah merupakan sebuah senjata baja yang

kuat sekali..”Bagus,” orang itu berseru, tombaknya bergerak

pula menyambut tombak lawan dan terdengar suara “krekkk”

ketika ujung tombak Thian-he Te-it patah disusul bertemunya

dua buah lengan. “Desss…!” Thian-he Te-it Ciang Ham

mengaduh, melemparkan tombaknya yang patah,

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

menggunakan tangan kanan mengurut-urut lengan kirinya.

Lengan kiri yang terkenal dengan sebutan Lengan Baja itu,

yang berani menangkis senjata tajam lawan, begitu bertemu

dengan lengan lawan, berubah menjadi seperti bambu

bertemu besi. Tulangnya retak dan sakitnya bukan main! Dia

pun bukan anak kecil, seketika tahulah dia bahwa dia

berhadapan dengan seorang yang tingkat kepadaiannya jauh

lebih tinggi, membuat dia seolah-olah berhadapan dengan

gurunya, maka dia meloncat ke belakang, meringis dan

berkata nyaring, “Aku kalah!”

Hening sejenak. Lima orang tokoh lain terheran-heran,

hampir tidak dapat percaya akan peristiwa yang telah terjadi.

Biarpun mereka mulai merasa heran dan gentar, namun rasa

penasaran membuat mereka lupa akan kenyataan bahwa

orang itu benar-benar lihai. Mereka hendak membuktikan

sendiri apakah benar orang aneh ini dapat memainkan ilmu

istimewa mereka yang selama ini mengangkat nama mereka

di tempat tinggi di dunia kang-ouw.

“Hayo, siapa lagi yang ingin memamerkan ilmunya yang

masih mentah?” Orang itu sengaja menantang sambil

melemparkan tombak cabang pohon yang telah berhasil

mematahkan ujung tombak pusaka di tangan Ciang Hamtadi.

“Aku ingin mencoba!” Thian-tok sudah melompat ke depan

dengan gerakan seperti seekor kera dan tangan kirinya

menggaruk-garuk pantat, tangan kanan memegang tongkat

Kim-kauw-pang itu memutar-mutar tongkatnya.

“Nanti dulu,” kata orang itu. “Yang bertombak tadi,

bukankah dia yang terkenal sekali sebagai ketua Kang-jiupang

di Secuan? harap Pangcu (Ketua) menjaga agar anak

buahmu tidak merendahkan nama Kang-jiu-pang dengan

melakukan perbuatan melanggar hukum dan memperbaiki

ilmu silatnya.” Ciang Ham tidak menjawab, hanya kumisnya

bergoyang-goyang karena marahnya.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Dan Anda ini, apakah mempunyai kudis di pantat, ataukah

memang hendak meniru lagak seekor monyet? Kalau begitu,

tentulah Anda yang berjuluk Thian-tok, yang kabarnya

menjadi pemuja Kauw Cee Thian, terkenal dengan Ilmu

Tongkat Kim-kauw-pang dan Ilmu Silat Sin-kauw-kun.”

“Dugaanmu benar, akulah Thian-tok! Siapakah namamu,

manusia sombong?” Thian-tok Bhong Sek Bin membentak

marah. “ataukah kau tidak berani mengakui namamu dan

bersikap sebagai seorang pengecut tukang mencuri ilmu orang

lain?”

Biarpun diserang dengan kata-kata yang menghina itu,

orang ini tersenyum saja dan menjawab, “Namaku tidak ada

perlunya kauketahui. Kalau aku tidak mampu mengalahkan

engkau dengan ilmumu sendiri, barulah aku akan

memperkenalkan diri dan boleh kau perbuat sesukamu

terhadap diriku.” Thian-tok lalu mengeluarkan suara memekik

nyaring seperti seekor kera marah, akan tetapi sebelum dia

menyerang laki-laki aneh itu telah menyambar tombak cabang

pohon yang tadi dilemparnya ke atas tanah. Tombak itu

panjang dan sekali dia menggerakkan jari tangannya, ujung

tombak cabang yang runcing itu telah patah dan berubahlah

tombak itu menjadi sebatang tongkat yang panjangnya sama

dengan Kim-kauw-pang di tangan Thian-tok! Thian-tok sudah

menerjang dengan gerakan lincah sekali. Kim-kauw-pang

ditangannya diputar-putar sedemikian rupa, mulutnya

menggeluarkan pekik-pekik dahsyat dan tubuhnya sampai

lenyap terbungkus gulungan sinar tongkat sendiri. Namun

dengan enaknya orang itu pun memutar tongkatnya, serupa

benar dengan gerakan Thian-tok bahkan mulutnya juga

mengeluarkan pekik seperti monyet itu dan terjadilah

pertandingan yang aneh dan lucu, seolah-olah bukan sedang

bertanding, melainkan Thian-tok sedang berlatih silat dengan

gurunya.

Gerakan mereka sama, akan tetapi gerakan orang itu lebih

cepat dan lebih mantap. Kembali belum sampai dua puluh

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

jurus terdengar suara keras, Kim-kauw-pang di tangan Thiantok

patah-patah menjadi tiga.potong dan Si Racun Langit itu

terhuyung mundur dengan muka pucat karena tulang

pundaknya hampir patah terpukul tongkat lawan!

Melihat betapa bekas suhengnya kalah, Tee-tok marah

sekali. Siang-kiam di punggungnya telah dicabutnya dan tanpa

banyak cakap lagi dia telah meloncat maju.

“Keluarkan senjatamu, manusia licik! Akulah Tee-tok, hayo

lawan siang-kiam-ku ini kalau kau memang gagah!”

Orang itu menjura, “Aha, kiranya Tee-tok Siangkoan Houw

yang terkenal. Kulhat tadi ilmu pedangmu adalah pecahan dari

Hui-liong-kiamsut, dan kau pandai pula menggunakan Ilmu

Silat Pek-lui-kun. Akan tetapi seperti yang lain, gerakanmu

masih mentah.”

“Tak usah banyak cakap! Lawanlah ilmuku!” Bentak Tee-tok

dengan marah dan dia sudah menerjang maju. Laki-laki iut

mematahkan tongkatnya menjadi dua potong tongkat yang

sama dengan pedang-pedang di kedua tangan Tee-tok, dan

begitu dia menggerakkan kedua tangannya, tampaklah sinarsinar

bergulung dengan gerakan yang persis seperti gerakan

Tee-tok yang memutar sepasang pedangnya. Kembali terjadi

pertandingan yang hebat, seru dan aneh. Berkali-kali

terdengar suara nyaring bertemunya pedang dengan tongkat,

namun anehnya, tongkat dari cabang pohon itu sama sekali

tidak dapat terbabat putus, bahkan kedua tangan Tee-tok

selalu terasa panas dan perih setiap kali pedangnya bertemu

tongkat! Dengan teliti Tee-tok memperhatikan gerakan orang

dan dia terkejut. Memang benar bahwa orang itu mainkan

jurus-jurus ilmu pedangnya! Dan bukan hanya mainkan jurus

ilmu pedangnya, bahkan telah mendesaknya dengan tekanan

yang hebat karena orang itu jauh lebih lincah dan lebih kuat

daripada dia.

Lewat lima belas jurus, Tee-tok berseru, “Aku mengaku

kalah!” Dia meloncat mundur, menyimpan pedangnya dan

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

mengangkat tangan menjura ke arah orang itu sambil berkata,

“Harap kau menerima penghormatanku dengan Pek-lui-kun!”

Kelihatannya saja dia memberi hormat dengan mengangkat

kedua tangan ke depan dada, namun dari kedua telapak

tangannya itu menyambar hawa pukulan maut yang

mendatangkan hawa panas dan yang dapat membunuh lawan

dari jarak tiga empat meter tanpa tangannya menyentuh

tubuh lawan! Itulah pukulan Pek-lui-kun(Kepalan Kilat) yang

mengandung tenaga sakti yang amat kuat! Orang itu sudah

melempar sepasang tongkat pendeknya, sambil tersenyum dia

pun mejura dengan gerakan yang sama.

Terjadilah adu tenaga yang tidak tampak oleh mata. Di

tengah udara, diantara kedua orang itu terjadi benturan

tenaga dahsyat dan akibatnya membuat Tee-tok terpental ke

belakang, terhuyung dan dari mulutnya muntah darah segar!

Dia tidak terluka hebat karena tenaganya Pek-lui-kun

membalik, hanya tergetar hebat dan mukanya makin pucat.

“Engkau hebat! Aku bukan tandinganmu!” kata Tee-tok

dengan jujur, dan memandang dengan mata terbelalak penuh

kagum dan juga penasaran. “Engkau luar biasa sekali dan aku

amat kagum kepadamu, sahabat!” Gin-siauw Siucai berkata

sambil melangkah maju. “Aku tahu bahwa agaknya aku pun

bukan tandinganmu, akan tetapi hatiku penasaran sebelum

melihat engkau mainkan ilmu-ilmuku yang tentu kauanggap

masih mentah pula. Aku adalah Gin-siauw Siucai dari Bengsan,

senjataku adalah suling dan pensil bulu entah kau bisa

mainkannya atau tidak.”

“Gin-siauw Siucai, sudah lama aku mendengar namamu

yang terkenal. Jangan khawatir, aku tentu saja dapat mainkan

ilmumu. Dengan ranting pendek ini aku meniru sulingmu, dan

aku pun memiliki sebatang pensil bulu.” Orang itu memungut

sebatang ranting yang panjangnya sama dengan suling perak

di tangan Gin-siauw Siucai, juga dia mencabut keluar pensil

bulu yang tadi dia pergunakan untuk mencoret-coret ketika

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

tujuh orang tokoh sakt i itu sedang saling bertempur. Akan

tetapi kalau pensil bulu di tangan Gin-siauw Siucai adalah

pensil yang dibuat khas, bukan hanya untuk menulis akan

tetapi juga dipergunakan sebagai senjata sehingga gagangnya

terbuat dari baja tulen, adalah pensil di tangan orang itu

hanyalah sebatang pensil biasa saja.

Berkerut alis Gin-siauw Siucai. Orang itu dianggapnya

terlalu memandang rendah kepadanya. Akan tetapi karena

orang itu tersenyum-senyum dan meniru menggerak-gerakkan

pensil dan “suling” di tangannya, dia.lalu berkata, “Apa boleh

buat, engkau sudah memperoleh kemenangan. Kalau kau

kalah, orang akan menyalahkan aku yang menggunakan

senjata lebih kuat. Kalau aku yang kalah, engkau akan

menjadi makin terkenal, sungguhpun kami belum tahu siapa

kau. Nah, mulailah!” Siucai ini cerdik dan dia sengaja

menantang agar lawannya bergerak lebih dulu.

Akan tetapi orang itu tersenyum dan sambil menggerakkan

kedua senjata istimewa itu berkata, “Lihat baik-baik, Siucai.

Bukankah ini jurus terampuh dari suling dan pensilmu?” Kedua

tangan orang itu bergerak dan Gin-siauw Siucai terkejut

mengenal jurus-jurus maut dari kedua senjatanya dimainkan

oleh orang itu untuk menyerangnya! Tentu saja dia dapat

memecahkan jurus ilmunya sendiri dan berhasil menangkis

kedua senjata lawan, akan tetapi seperti juga yang lain tadi,

dia merasa betapa kedua lengannya tergetar hebat, tanda

bahwa dalamhal sinkang, dia masih kalah jauh. Namun, Siucai

ini merasa penasaran sekali. Puluhan tahun dia bertapa di

Beng-san menciptakan ilmu-ilmu silat tinggi yang dirahasiakan

dan belum pernah diajarkan kepada siapapun juga.

Bagaimana sekarang telah dicuri oleh orang ini tanpa dia

mengetahuinya? Dia melawan mati-matian, mengeluarkan

jurus-jurus paling ampuh dari kedua senjatanya, namun

karena kalah tenaga, setiap kali tertangkis dia terhuyung.

Seperti juga yang lain dia tidak mampu bertahan lebih dari

dua puluh jurus. Terdengar suara keras dan kedua senjatanya

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

itu, suling dan pensil patah-patah bertemu dengan senjata

lawan yang sederhana itu. Dia meloncat ke belakang, menjura

dan berkata, “Kepandaian Taihiap(Pendekar Besar) memang

amat hebat, aku yang bodoh mengaku kalah.” Orang itu

tersenyum dan memuji “Tidak percuma julukan Gin-siauw

Siucai karena memang hebat kepandaianmu.” Ucapan itu

dengan jelas menunjukkan kekaguman, bukan ejekan, maka

Gin-siauw Siucai menjadi makin kagumdan terheran-heran.

“Sekarang tiba giliran pinto untuk kau kalahkan, sahabat

yang gagah. Akan tetapi karena sepasang senjata pinto adalah

hudtim dan kipas, yang tentu saja tidak dapat kautiru,

bagaimana kalau kita bertanding dengan tangan kosong?

Hendak kulihat apakah kau mampu mengalahkan pinto

dengan ilmu silat tangan kosong pinto sendiri?”

Orang itu masih tersenyum, akan tetapi diam-diam ia

terkejut. Tak disangkanya tosu ini amat cerdik. Dia belum

pernah melihat tosu ni mainkan ilmu silat tangan kosong,

bagaimana dia akan dapat menirunya? Akan tetapi dengan

tenang dia menjawab, “Tentu saja saya akan melayani

kehendak Totiang, akan tetapi sebelum bertanding, saya

harap Totiang tidak keberatan untuk memperkenalkan nama.”

“Siancai…! Anda licik, sobat. Semua orang hendak dikenal

namanya, akan tetapi engkau sendiri menyembunyikan nama.

Baiklah, pinto adalah Lam-hai Seng-jin yang berkepandaian

rendah…” “Aihh, kiranya Tocu (Majikan Pulau) dari pulau

kura-kura? Telah lama mendengar nama Tot iang, girang hati

saya dapat bertemu dan bermain-main sebentar dengan

Totiang.” “Nah, siaplah!” Lam-hai Seng-jin sudah memasang

kuda-kuda sambil memandang tajam ke arah lawan karena dia

ingin sekali tahu apakah benar lawan ini akan dapat

menjatuhkan dia dengan ilmu silatnya sendiri! Diam-diam

orang itu memperhatikan dan tersenyum, lalu dia pun

memasang kuda-kuda yang sama, kuda-kuda dari Ilmu Silat

Tangan Kosong Bian-sin-kun (Tangan Kipas Sakti), semacam

ilmu silat yang berdasarkan sinkang tinggi sekali tingkatnya

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

sehingga telapak tangan menjadi halus seperti kapas, namun

mengandung daya pukulan maut yang dahsyat sekali.

“Hiiaaatttttt….!!” Tosu itu sudah menerjang dengan

pukulan mautnya. Tampak olehnya lawannya mengelak cepat

dengan gerakan aneh, sama sekali bukan gerakan ilmu

silatnya, akan tetapi betapa kagetnya melihat bahwa begitu

mengelak lawan itu dalam detik berikutnya sudah

menerjangnya dengan jurus yang sama, jurus yang baru saja

dia pergunakan! Maklum akan hebatnya jurus ini, dia pun

cepat mengelak untuk memecahkan ilmunya sendiri, namun

harus diakui bahwa elakan orang tadi dengan gerakan aneh

jauh lebih cepat dan bahkan sambil mengelak orang itu dapat

balas menyerang!

Kembali Lam-hai Seng-jin menyerang dengan jurus lain

yang lebih dahsyat, dan seperti juga tadi lawannya meloncat

dan tahu-tahu telah membalasnya dengan serangan dari jurus

yang sama! Tentu saja dia dapat pula menghindarkan diri dan

makin lama dia menjadi makin penasaran. Dikeluarkan semua

ilmu simpanan, jurus-jurus maut dari Bian-sin-kun sampai

delapan jurus banyaknya. Semua jurus dapat dihindarkan

orang itu dan tiba-tiba orang itu berseru, “Totiang, jagalah

serangan Ilmu Silat Bian-sin-kun!”.Dan dengan gencar kini

orang itu menyerangnya dengan jurus-jurus yang tadi sudah

dikeluarkannya, delapan jurus paling ampuh dari Bian-sin-kun.

Karena gerakan orang itu cepat bukan main, Lam-hai Seng-jin

sama sekali tidak mendapatkan kesempatan untuk balas

menyerang sehingga dia terancam dan terdesak hebat oleh

ilmu silatnya sendiri. Biarpun dia tahu bagaimana utnuk

memecahkan jurus-jurus serangan dari Bian-sin-kun, namun

karena kalah tenaga dan kalah cepat, akhirnya punggungnya

kena ditampar dan dia terpelanting, mukanya pucat dan dia

harus cepat-cepat mengatur pernafasannya agar isi dadanya

tidak terluka.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Siancai…engkau benar-benar seorang manusia ajaib…”

akhirnya dia berkata sambil bangkit perlahan-lahan.

“Lepaskan aku…!” tiba-tiba terdengar seruan halus dan semua

orang menengok ke arah Sin-tong dan melihat betapa anak

ajaib itu telah dipondong oleh lengan kiri Kiam-mo Cai-li. “Hei,

lepaskan dia!” Enam orang kakek sakt i maju berbareng.

“Mundur!” Kiam-mo Cai-li membentak dan menempelkan

ujung payung pedang di tangan kanan itu ke leher Sin Liong.

“Mundur kalian, kalau tidak dia akan mati!”

Melihat ancaman ini, enam orang itu terpaksa melangkah

mundur semua. Laki-laki aneh itu memandang dengan sinar

mata berkilat, kemudian dia melangkah maju dan suaranya

halus namun penuh wibawa ketika dia berkata, “Kiam-mo Caili,

lepaskan bocah yang tidak berdosa itu!” “Hi-hik, enak saja

kau. Mundur atau dia akan mampus di ujung payungku!” Dia

menempelkan ujung payung yang runcing itu ke leher Sin

Liong yang tak mampu bergerak dalam pelukan lengan kiri

yang kuat itu.

Akan tetapi, tidak seperti enam orang kakek yang lain, lakilaki

itu masih tersenyum dan masih melangkah maju,

membuat Kiam-mo Cai-li mundur-mundur dan dia berkata,

“Bocah itu tidak ada hubungan apa-apa dengan aku. Kalau

kau bunuh dia, bunuhlah. Akan tetapi demi Tuhan, aku akan

menangkapmu dan akan memberikan tubuhmu kepada

Beruang Es untuk menjadi makanannya!” Berkata demikian,

laki-laki itu menanggalkan jubah luarnya.

“Kau…kau..Pangeran Han Ti Ong….”

“Pangeran Han Ti Ong…!” Para tokoh kang-ouw itu

berteriak.

“Pangeran Pulau Es….!”

Kiam-mo Cai-li yang tadinya sudah merasa bahwa bocah

ajaib itu tentu dapat dibawanya, menjadi marah sekali. Dia

menjerit dengan lengking panjang rambutnya menyambar ke

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

depan, ke arah leher Pangeran Han Ti Ong, dan pedang

payungnya juga meluncur dengan serangan yang dahsyat.

Laki-laki itu, yang disebut Pangeran Han Ti Ong, tenangtenang

saja, tidak mengelak ketika ujung rambut yang tebal

itu seperti seekor ular membelit lehernya, akan tetapi ketika

pedang payung berkelebat menusuk, dia menangkap payung

itu dan sekali menggeakkan tangan pedang payung itu dan

sekali menggerakkan tangan pedang payung itu membabat

putus rambut yang melibat lehernya. Tangannya tidak

berhenti sampai di situ saja.

Selagi Kiam-mo Cai-li menjerit melihat rambut yang

dibanggakan dan andalkan itu putus setengahnya, kedua

tangan Pangeran Han Ti Ong bergerak, dan tahu-tahu tubuh

Sin Liong dapat dirampasnya setelah lebih dulu dia menampar

punggung wanita iblis itu sehingga tubuh Kiam-mo Cai-li

menjadi lemas dan seperti lumpuh!

Dengan Sin Liong dalam pondongan lengan kirinya, kini

Pangeran Han Ti Ong membalik dan

menghadapi tujuh orang itu, tidak mempedulikan Kiam-mo

Cai-li yang mangeluh dan merangkak bangun..”Apakah masih

ada diantara kalian yang hendak mengganggu anak ini? Sekali

ini aku tentu tidak akan bersikap halus lagi!”

“Siancai….!” Lam-hai Sian-jin menjura, “Harap Ong-ya

maafkan pinto yang tidak mengenal Ong-ya sehingga bersikap

kurang ajar.”

“Maafkan aku, Pangeran.”

“Maafkan saya…”

Enam orang kakek itu menggumam maaf, hanya Kiam-mo

Cai-li saja yang tidak minta maaf, bahkan wanita ini berkata,

“Pangeran Han Ti Ong, kau tunggu saja, Kiam-mo Cai-li tidak

biasa membiarkan orang menghina tanpa membalas dendam!”

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Hemmm, terserah kepadamu. Aku selalu berada di Pulau

Es. Nah, pergilah kalian, orang-orang tua yang tak tahu diri,

tega mengganggu seorang bocah.”

Dengan kepala menunduk, tujuh orang tokoh kang-ouw

yang namanya terkenal itu meninggalkan Hutan Seribu Bunga.

Karena mereka mempergunakan kepandaiannya, maka hanya

nampak bayangan-bayangan mereka berkelebat dan sebentar

saja sudah lenyap dari tempat itu. “Hemmm…berbahaya…”

Han Ti Ong melepaskan Sin Liong dan menghela napas

panjang sambil memandang bocah itu yang sudah berlutut di

depannya.

“Locianpwe selain sakti dan budiman juga cerdik sekali…”

Sin Liong berkata memuji sambil memandang wajah Pangeran

itu dengan kagum.

Han Ti Ong mengerutkan alisnya. “Hemmm, mengapa kau

mengatakan demikian, terutama apa artinya kau mengatakan

aku cerdik?”

“Locianpwe mengalahkan mereka, berarti Locianpwe sakti

sekali, Locianpwe mengampuni dan membiarkan mereka lolos,

berarti Locianpwe budiman, dan Locianpwe tadi mencatat

gerakan-gerakan mereka dan kemudian mengalahkan mereka

dengan ilmu mereka sendiri yang sudah Locianpwe catat

berarti Locianpwe cerdik sekali.”

Wajah yang gagah itu berubah, mata yang tajam itu

memandang heran dan kagum, kemudian dia berkata, “Wah,

dalam kecerdikan, belum tentu kelak aku dapat melawanmu!

Akal dan kecerdikan memang amat perlu untuk

mempertahankan hidup di dunia yang penuh bahaya ini.

Tahukah engkau bahwa tanpa menggunakan akal budi,

memanaskan hati mereka dengan mengalahkan mereka

dengan ilmu mereka sendiri, kalau mereka maju bersama

mengeroyokku, belum tentu aku dapat menang! Sekarang kau

sudah bebas dari bahaya, nah, aku pergi…!”

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Melihat orang itu membalikkan tubuh dan melangkah pergi

dari situ, Sin Liong memandang ke arah mayat sebelas orang

dusun yang masih menggeletak di situ maka dia berseru,

“Locianpwe….”. Pangeran Han Ti Ong berhenti melangkah

dan menoleh. Dia merasa heran sendiri. Tidak biasa baginya

untuk mentaati perintah orang kecuali suara ayahnya, raja

ketiga dari Pulau Es. Akan tetapi, ada sesuatu dalam suara

bocah itu yang membuat dia mau tidak mau menghentikan

langkahnya, lalu menoleh dan bertanya, “Ada apa lagi?”

Dengan masih berlutut Sin lIong berkata, “Locianpwe,

sudilah kiranya Locianpwe menerima teecu sebagai murid.”

Han Ti Ong kini memutar tubuh dan menghampiri anak

yang masih berlutut itu.

“Bocah, siapa namamu?”.”Teecu She Kwa, bernama Sin

Liong. Dengan ringkas Sin Liong lalu menuturkan tentang

kematian ayah

bundanya dan mengapa dia melarikan diri dan bersembunyi

di hutan itu karena dia ngeri dan muak menyaksikan

kekejaman manusia dan merasa mendapatkan tempat yang

tentram dan damai di tempat itu. “Hemm, kau ingin menjadi

muridku hendak mempelajari apakah?”

“Mempelajari kebijaksanaan yang dimiliki Locianpwe dan

tentu saja mempelajari ilmu kesaktian.” “Kalau kau hanya

ingin belajar silat mengapa tadi kau menolak ketika para tokoh

menawarkan kepadamu agar menjadi murid mereka? Mereka

itu adalah tokoh-tokoh yang memiliki kesaktian hebat.”

“Namun teecu masih melihat kekerasan di balik kepandaian

mereka. Teecu kagum kepada Locianpwe bukan hanya karena

ilmu kesaktian, terutama sekali karena sifat welas asih pada

diri Locianpwe.” “Tapi kau hendak belajar silat, mau kaupakai

untuk apa? Bukankah kau lebih dibutuhkan dan berguna

berada disini bagi penduduk sekitar Jeng-hoa-san?”

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Maaf Locianpwe. Tidak ada seujung rambut pun hati teecu

untuk mempergunakan ilmu kesaktian dalam tindakan

kekerasan. Dan tidak tepat pula kalau kepandaian teecu disini

berguna bagi para penduduk. Buktinya, teecu hanya bisa

mengobati orang sakit, itu pun kalau kebetulan jodoh,

sedangkan sebelas orang ini, tertimpa bahaya maut sampai

mati tanpa teecu dapat mencegahnya sama sekali. Andaikata

teecu memiliki kepandaian seperti Locianpwe, apakah sebelas

orang ini akan tewas secara demikian menyedihkan? Teecu

kini melihat bahwa menolong orang tidak hanya

mengandalkan ilmu pengobatan, juga untuk menyelamatkan

sesama manusia dari tindasan orang kuat yang jahat,

diperlukan kepandaian. Mohon Locianpwe sudi memenuhi

permintaan teecu.”

“Aku adalah seorang penghuni Pulau Es. Hidup disana

tidaklah mudah dan enak, tidak seperti disini. Kau akan

mengalami kesukaran, bahkan menderita ditempat yang

dingin itu.” “Kesukaran apa pun akan teecu terima dengan hati

rela, karena tiada hasil dapat dicapai tanpa jerih payah,

Locianpwe.”

Han Ti Ong tersenyum. Memang dia sudah tertarik sekali

melihat bocah yang dijuluki Sin-tong ini. Bocah ini sama sekali

tidak mengkhawatirkan dirinya sendiri, melainkan untuk

keselamatan orang lain yang lemah.

Selain itu, pandang matanya yang tajam dapat melihat

bahwa bocah ini memang benar-benar bocah ajaib, memiliki

ketajaman otak dan pandangan yang luar biasa, juga memiliki

darah dan tulang bersih, bakatnya malah jauh lebih besar

daripada dia sendiri! Kalau tadinya dia tidak mau menerima

bocah ini sebagai murid adalah karena dia merasa malu

terhadap diri sendiri, karena kalau dia mengambil anak ini

sebagai murid lalu apa bedanya antara dia dengan tujuh orang

yang dihalaunya pergi tadi. Akan tetapi, memang ada bedanya

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

sekarang setelah Sin Liong sendiri yang mengajukan

permohonan agar diterima menjadi muridnya.

“Kalau memang sudah bulat kehendakmu menjadi muridku,

baiklah, Sin-Liong. Mari kauikut bersamaku, akan tetapi jangan

menyesal kelak. Hayo!” Han Ti Ong kembali membalikkan

tubuhnya dan hendak melangkah pergi.

“Suhu, nanti dulu…!”

Pangeran itu mengerutkan alisnya. Lagi-lagi dia mendengar

pengaruh yang luar biasa di balik suara anak itu yang

memaksanya menoleh! Dengan suara kesal dia berkata, “Mau

apa lagi?” “Maaf, Suhu. Teecu mana bisa meninggalkan

sebelas buah mayat itu disini begini saja?”

“Habis, apa maumu?”

“Teecu harus mengubur mereka lebih dulu sebelum

pergi.”.”Kalau aku melarangmu?” Teecu tidak percaya bahwa

Suhu akan sekejam itu, teecu yakin akan kebaikan budi Suhu.

Akan tetapi andaikata Suhu benar melarang teecu, terpaksa

teecu akan membangkang dan tetap akan mengubur mayatmayat

ini.”

Sepasang mata pangeran itu terbelalak penuh keheranan.

Anak berusia tujuh tahun sudah berani memiliki pendirian

seperti batu karang kokohnya.

“Murid macam apa kau ini? Belum apa-apa sudah siap

membangkang terhadap Guru!” “Teecu menjadi murid bukan

membuta, dan teecu ingin mempelajari ilmu yang baik. Kalau

teecu mentaati saja perintah Suhu yang tidak benar, sama

saja dengan teecu menyeret Suhu ke dalam kesesatan.” Mata

Han Ti Ong makin terbelalak. Hampir dia marah, akan tetapi

dia dapat melihat apa yang tersembunyi di balik ucapan yang

kelihatan kurang ajar ini dan dia mengangguk-angguk.

“Lakukanlah kehendakmu, aku menunggu.”

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Terima kasih! Teecu memang tahu bahwa Suhu seorang

sakti yang budiman!” Dengan wajah berseri Sin LIong lalu

menggali lubang. Akan tetapi karena dia hanya seorang anak

kecil dan yang dipergunakan menggali hanyalah sebatang

cangkul biasa yang kecil pemberian orang-orang dusun dan

yang biasa dia pergunakan untuk menggali dan mencari akar

obat, maka tentu saja menggali sebuah lubang untuk

mengubur sebelas buah mayat bukan merupakan pekerjaan

ringan dan mudah! Mula-mula Han Ti Ong duduk di bawah

pohon dan melirik ke arah muridnya itu yang bekerja keras.

Disangkanya bahwa tentu bocah itu akan kelelahan dan akan

beristirahat. Akan tetapi dia kecele. Sin Liong bekerja terus

biarpun kaki tangannya sudah pegal-pegal semua, dan

keringat membasahi seluruh tubuh, menetes dari dahinya dan

kadang-kadang diusapnya dengan lengan baju. Akan tetapi

dia tidak pernah berhenti bekerja.

Sudah setengah hari mencangkul, baru dapat membuat

lubang yang hanya cukup untuk dua buah mayat saja. Kalau

dilanjutkan, agaknya untuk dapat menggali lubang yang cukup

untuk semua mayat, ia harus bekerja selama dua hari dua

malam atau lebih! “Hemm, hatinya lembut tapi kemauannya

keras. Benar-benar bocah ajaib.” Han Ti Ong mengomel

sendiri dan dia lalu bangkit, dirampasnya cangkul dari tangan

muridnya dan tanpa berkata apa-apa lagi dia lalu mencangkul.

Gerakannya amat cepat sekali sehingga Sin Liong yang

mundur dan menonton menjadi kabur pandangan matanya

karena seolah-olah tubuh gurunya berubah menjadi banyak,

semuanya mencangkul dan sebentar saja telah terbuat sebuah

lobang yang amat besar dan yang cukup untuk megubur

sebelas buah mayat itu. Tentu saja hati Sin lIong girang bukan

main dan satu demi satu diangkat, atau lebih tepat

diseeretnya mayat-mayat itu, dimasukkan ke dalam lubang

dan air matanya bercucuran! Han Ti ong membantu muridnya

mengguruk atau menutup lubang itu sehingga di tempat itu, di

depan gua tempat tinggal Sin Liong, terdapat sebuah kuburan

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

yang besar sekali. “Sudahlah, sudah mati ditangisipun tidak

ada gunanya. Mari kita pergi!” Sin Liong merasa lengannya

dipegang oleh gurunya dan di lain saat dia harus memejamkan

matanya karena tubuhnya telah “terbang” dengan amat

cepatnya meninggalkan Gunung Jeng-hoa-san, entah kemana!

Akan tetapi setelah merasa terbiasa, Sin Liong berani juga

membuka matanya dan dengan penuh kagum dia melihat

bahwa dia dikempit oleh suhunya yang berlari cepat seperti

angin saja. Dia mengenal pula tempat dimana suhunya

melarikan diri yaitu ke sebelah timur Pegunungan Jeng-hoasan.

Tiba-tiba dia melihat sesuatu, juga hidungnya mencium

sesuatu, maka dia cepat berseru, “Suhu, harap berhenti dulu!”

Han Ti Ong berhenti. “Ada apa?”

“Suhu, disana itu…” Suara Sin Liong tergetar dan ketika

Han Ti Ong menoleh, dia pun merasa jijik sekali. Yang

ditunjuk oleh muridnya itu adalah sekumpulan mayat orang

yang sudah menjadi mayat rusak dan bekasnya menunjukkan

bahwa mayat-mayat itu tentu diganggu oleh binatangbinatang

buas sehingga berserakan kesana-sini..”Mau apa

kau?” Han Ti Ong membentak.

“Suhu apakah kita harus mendiamkan saja mayat-mayat

itu? Mereka adalah bekas-bekas manusia seperti kita juga.

Kasihan kalau tidak diurus…”

“Wah, kau memang gatal-gatal tangan ! Nah, hendak

kulihat apa yang akan kau lakukan terhadap mereka?” Han Ti

Ong menurunkan Sin Liong dan dia sendiri lalu duduk diatas

sebuah batu dari tempat agak jauh. Dia sungguh ingin tahu

apa yang akan dilakukan muridnya itu terhadap mayat-mayat

yang sudah demikian membusuk, bahkan dari tempat dia

duduk pun tercium baunya yang hampir membuatnya muntah.

Dengan langkah lebar Sin Liong menghampiri mayat-mayat

itu, sedikit pun tidak kelihatan jijik atau segan. Kemudian,

diikuti pandang mata Han Ti Ong yang terheran-heran bocah

itu mulai menggali tanah dengan hanya menggunakan

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

sebatang pisau kecil, pisau yang biasanya dipergunakan untuk

memotong-motong daun dan akar dan yang agaknya tak

pernah terpisah dari saku bajunya. Anak itu hendak menggali

lubang untuk mengubur dua belas buah mayat busuk itu

hanya dengan menggunakan sebatang pisau kecil! Hampir

saja Han Ti Ong tertawa tergelak saking geli hatinya, juga

saking girangnya mendapat kenyataan bahwa muridnya ini

benar-benar seorang bocah ajaib yang mempunyai pribadi

luhur dan wajar tanpa dibuat-buat! Dengan kagum dia

meloncat bangun, lari menghampiri yang telah menggali

lubang beberapa sentimeter dalamnya.

“Cukup Sin Liong. Lubang itu sudah cukup lebih dari cukup

untuk mengubur mereka.”

“Ehhh…? Mana mungkin, Suhu…?

“Ha, kau masih meragukan kelihaian suhumu? Lihat baikbaik!”

Han Ti Ong lalu mengeluarkan sebuah botol dari saku

jubahnya, menggunakan ujung sepatunya mencongkel mayatmayat

itu menjadi setumpukan barang busuk, dan dia

menuangkan benda cair berwarna kuning dari dalam botol ke

atas tumpukan mayat.

Tampak uap mengepul dan tumpukan mayat itu mencair,

dalam sekejap mata saja lenyaplah tumpukan mayat itu

karena semua, berikut tulang-tulangnya, telah mencair dan

cairan itu mengalir ke dalam lubang yang tadi digali Sin Liong.

Benar saja, cairan itu memasuki lubang dan meresap ke

tanah, tentu saja lubang itu sudah lebih dari cukup untuk

menampung cairan itu.

Dengan mata terbelalak penuh kagum, Sin Liong lalu

menguruk lagi lubang itu dan berlutut di depan kaki suhunya,

“Suhu, terima kasih atas bantuan Suhu. Suhu sungguh sakti

dan budiman.” “Aahhh….!” Muka Han Ti Ong menjadi merah

dan dia mengeluarkan seruan itu untuk menutupi rasa

malunya. Mana bisa dia disebut budiman kalau mengubur

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

mayat-mayat itu bukan terjadi atas kehendaknya, melainkan

dia “terpaksa” oleh muridnya?

“Kalau aku tidak salah lihat, mereka ini adalah pendekarpendekar

gagah. Sungguh kematian yang menyedihkan dan

entah siapa yang dapat membunuh mereka.

Mereka kelihatan bukan orang-orang sembarangan yang

mudah dibunuh. Mari kita pergi, Sin Liong!” Kembali murid itu

dikempitnya dan Pangeran Sakti itu menggunakan ilmu berlari

cepat seperti tadi, melanjutkan perjalanan ke timur menuruni

Pegunungan Jeng-hoa-san. Tak lama kemudian, kembali Sin

Liong yang dikempit(dijepit di bawah lengan) berseru, “Haiii

Suhu, harap berhenti dulu…!”

Han Ti Ong menjadi gemas. Akan tetapi dia berhenti juga

menurunkan bocah itu dari kempitan di bawah ketiaknya.

“Mau apa lagi kau? Awas, kalau tidak penting sekali, aku akan

marah!”

“Lihat disana itu, Suhu. Tidak patutkah kita menolong

orang yang sengsara itu? Siapa tahu dia juga sudah mati

disana…” Tanpa menanti jawaban suhunya, Sin Liong sudah

lari menghampiri sesosok tubuh yang menggeletak di bawah

pohon tak jauh dari situ. Tubuh itu tidak bergerak-gerak, akan

tetapi dari tempat ia berdiri, Han Ti Ong mengerti bahwa

orang itu belum tewas, agaknya pingsan atau tertidur

saja..Dia tersenyum dan melihat muridnya sudha menjatuhkan

diri berlutut di depan orang itu. Betapa kagetnya ketika dia

mendengar teriakan muridnya, “Eihh, Suhu! Dia seeorang

wanita!” Han Ti Ong terheran. Dia lalu meloncat ke arah

muridnya dan melihat betapa tiba-tiba orang yang

disangkanya pingsan itu sudha meloncat bangun dan langsung

memukul kepala Sin Liong dengan kekuatan dahsyat.

“Wuuuttt……….. plakkk! Augghhh….!!” Wanita yang

mukanya kotor matanya merah dan rambutnya awut-awutan

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

itu menjerit ketika pukulannya tertangkis oleh lengan Han

Ti Ong yang amat kuat. Dia terhuyung ke belakang, sejenak

memandang Han Ti Ong dan Sin Liong, kemudian menangis

tersedu-sedu dan bergulingan diatas tanah menangis seperti

seorang anak kecil.

“Jangan….aughhh, jangan….lepaskan aku….lepaskan …!

Jangan bunuh mereka…!” Sin Liong tertegun dan memandang

penuh kasihan. Juga Han Ti Ong memandang penuh kasihan.

Juga Han Ti Ong memandang dengan terharu, maklum bahwa

dia berhadapan dengan seorang wanita yang berotak miring!

“Toanio(Nyonya), kau kenapakah…? Sin Liong melangkah

ke depan. Tiba-tiba wanita itu meloncat bangun dan Han Ti

Ong sudah siap melindungi muridnya yang sama sekali tidak

kelihatan takut itu. Akan tetapi wanita itu lalu tiba-tiba tertawa

terkekeh. “Hi-hi-hi-hikk!” Aneh sekali, ketika wanita itu

tertawa, Han Ti Ong melihat wajah yang amat cantik manis!

Wanita itu adalah seorang gadis muda yang amat cantik, akan

tetapi yang entah mengapa telah menjadi gila. Pakaian yang

dipakainya adalah pakaian pria yang terlalu besar, rambutnya

yang hitam panjang itu riap-riapan tidak diurus, mukanya

kotor terkena debu dan air mata, matanya merah dan

membengkak. “Hi-hi-hik, kubunuh engkau, Pat-jiu Kai-ong,

aku bersumpah akan membunuhmu untuk membalas

kematian dua belas orang Suhengku!” Kemudian dia menangis

lagi. ” Hu-hu-huuuuuh…. Cap-sha Sin-hiap dari Bu-tong-pai

habis terbasmi….”

Han Ti Ong terkejut dan teringatlah dia akan nama Tiga

Belas Orang Pendekar Bu-tong-pai yang amat terkenal sebagai

tiga belas orang pendekar gagah perkasa pembela keadilan

dan kebenaran, teringat pula bahwa mereka terdiri dari dua

belas pria dan seorang wanita, kalau tidak salah, saudara

termuda. “Nona, apakah engkau orang termuda dari Cap-sha

Sin-hiap dari Bu-tong-pai?” tanyanya sambil melangkah maju

menghampiri wanita gila itu.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Jangan sentuh aku! Manusia terkutuk, jangan sentuh aku

lagi!” Dan tiba-tiba wanita itu menyerang dengan hebatnya.

Han Ti Ong menangkis dan menotok.

Robohlah wanita itu, roboh dalam keadaan lemas tak dapat

bergerak lagi.

“Suhu, mengapa….?” Sin Liong bertanya penasaran.

“Bodoh, kalau tidak kutotok, tentu dia akan mengamuk

terus. Coba kauperiksa dia, apakah kau bisa mengobatinya?”

Sin Liong berlutut dan melihat wanita itu hanya melotot

tanpa mampu bergerak. Setelah memerikasa sebentar, dia

menarik napas panjang. “Suhu, dia terkena pukulan batin

yang amat berat, membuat dia menjadi begini, berubah

ingatannya. Kalau kita berada di Jeng-hoa-san, kiranya dapat

teecu mencarikan daun penenang utnuk mengobatinya.”

“Hemm, kau lihatlah Gurumu mencoba untuk

mengobatinya.” Han Ti Ong megeluarkan sebatang jarum

emas dari sakunya, setelah membersihkan ujungnya dia lalu

mengahampiri wanita itu dan menusukkan jarum emasnya di

tiga tempat, di tengkuk kanan kiri dan ubun-ubun! Sin Liong

memandang dengan mata terbelalak..Dia sudah mendengar

dari ayahnya tentang kepandaian orang mengobati dengan

tusukan jarum, akan tetapi sekarang dia menyaksikannya. Dan

wanita itu baru mengeluh lalu tertidur dengan pernapasan

yang panjang dan tenang. Ketika gurunya mencabut jarum

dan menyimpannya, gurunya berkata, “Coba kau periksa lagi

matanya, apakah sudah ada perubahan?”

Sin Liong membuka pelupuk mata dan meihat bahwa mata

wanita itu yang tadinya mengeluarkan sinar aneh yang liar,

kini telah normal kembali. Dia cepat menjatuhkan dirinya

berlutut di depan Suhunya. “Suhu, teecu seperti buta, tidak

tahu bahwa Suhu adalah seorang ahli pengobatan pula.”

“Hemm, dalam hal mengenal tetumbuhan obat, mana aku

mampu menandingimu? Akan tetapi aku mempunyai

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

kepandaian menusuk jarum, kepandaian turunan yang tentu

kelak akan kuajarkan kepadamu.” “Suhu, teecu mengajukan

sebuah permohonan, harap Suhu tidak keberatan.” “Hemm,

apa lagi?” “Harap Suhu suka menolong wanita malang ini, dan

membiarkan dia ikut dengan kita.” “Kau…………..kau

gila…….?”

“Suhu, dia belum sembuh benar. Kalau dia dibiarkan disini,

lalu datang orang jahat, bagaimana?”

“Ha, kau tidak usah khawatir. Dia adalah orang termuda

dari Cap-sha Sin-hiap, ilmu kepandaiannya tinggi.

Siapa berani mengganggunya?”

“Buktinya, dua belas orang suhengnya tewas dan tentu

mereka itu adalah mayat-mayat yang tadi kita kubur. Agaknya

yang membunuh adalah Pat-jiu Kai-ong. Selain itu, kalau dia

teringat akan peristiwa itu sebelum sembuh benar, tentu dia

akan kumat gilanya dan apakah Suhu tega membiarkan dia

seperti itu?” Han Ti ong memandang wajah wanita yang

bukan lain adalah The Kwat Lin itu. Dia terheran sendiri

mengapa wajah yang kotor dan rambut yang kusut itu

mendatangkan rasa iba yang luar biasa di hatinya? Mengapa

dia merasa tertarik dan ingin sekali menolong wanita muda

ini? Apakah dia sudah “Ketularan” watak muridnya, ataukah…

ataukah…? Dia tidak berani membayangkan. Selama ini hanya

isterinya seoranglah wanita yang menarik hatinya, yang

membangkitkan gairahnya, akan tetapi perempuan gila ini..

entah mengapa, telah membuat dia tertarik dan kasihan

sekali. “Sudahlah, kau memang cerewet, dan kalau tidak

kuturuti, tentu kau rewel terus. Biar kita membawa bersama

ke Pulau Es, kita lihat saja nanti bagaimana

perkembangannya.” Ucapan terakhir ini seperti ditujukan

kepada hatinya sendiri!

“Teecu tahu, Suhu adalah seorang yang budiman.”

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Dengan hati mengkel karena ucapan muridnya itu seperti

ejekan kepadanya karena dia mau menolong dara ini sama

sekali bukan karena dia budiman, melainkan karena dia

kasihan dan terutama sekali… tertarik hatinya, dengan kasar

dia lalu mengempit tubuh wanita itu di bawah ketiak

kanannya, dan menyambar tubuh Sin Liong di bawah ketiak

kirinya dan larinya Pangeran yang sakti ini secepat terbang

menuju ke pantai lautan.

Siapakah sebetulnya manusia sakti yang ditakuti oleh tujuh

orang tokoh kang-ouw itu? Siapakah Pangeran Han Ti Ong

yang pada bagiaan dada bajunya terdapat lukisan burung

Hong dan seekor Naga emas itu?

Dia adalah pangeran dari Pulau Es. Pulau ini merupakan

pulau rahasai yang hanya dikenal orang kang-ouw seperti

dalam dongeng karena tidak pernah ada orang yang berhasil

menemukan pulau itu kecuali beberapa orang nelayan yang

perahunya diserang badai dan mereka ini ditolong oleh

manusia-manusia sakti, manusia yang menjadi penghuni Pulau

Es, sebuah pulau dari es dimana terdapat istana indah dan

merupakan sebuah kerajaan kecil penuh dengan orang sakti.

Setelah ditolong dan diselamatkan, dan berhasil kembali ke

daratan, para nelayan inilah yang membuat cerita seperti

dongeng itu sehingga nama sebutan Pulau Es terkenal di

dunia kang-ouw.

Kerajaan di Pulau Es itu dibangun oleh seorang pangeran,

ratusan tahun yang lalu. Seorang

pangeran yang amat sakti, seorang pangeran yang

dianggap pemberontak karena berani menentang.kehendak

kaisar, dan pangeran ini bersama keluaraganya menjadi

pelariaan. Dengan kesaktiannya, dia berhasil melarikan

keluarganya ke pantai timur dan menggunakan sebuah perahu

utnuk mencari tempat baru. Tujuannya adalah ke pulau di

timur di mana dahulu sudah banyak orang-orang pandai dari

daratan yang melarikan diri dan menjadi buronan karena

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

berani menentang pemerintah, yaitu Kepulauan Jepang! Akan

tetapi dia tersesat jalan, perahunya dilanda badai hebat dan

perahunya dibawa jauh ke utara sampai kemudian perahu itu

mendarat di sebuah pulau. Pulau Es! Melihat pulau itu

tersembunyi, baik sekali dijadikan tempat persembunyiannya,

dan di sekitar situ terdapat pulau-pulau lain yang tanahnya

cukup subur, maka pangeran pelarian ini mengambi keputusan

untuk menjadikan Pulau Es sebagai tempat tinggalnya. Dia lalu

mengumpulkan orang-orang yang setia kepadanya, membawa

mereka ke Pulau Es menjadi pengikut-pengikutnya.

Dibangunnya sebuah istana yang kecil namun indah di Pulau

itu dan berdirilah sebuah kerajaan kecil di tempat terasing ini!

Berkat kebijaksanaan Raja Pulau Es ini, para pengikutnya

dan keluarga raja hidup aman tentram dan penuh

kebahagiaan di Pulau Es. Para keluarganya hidup rukun dan

para pengikutnya membentuk keluarga-keluarga sehingga

penghuni pulau itu berkembang biak. Karena kesaktian

rajanya, dan karena letak pulau itu yang sukar dikunjungi

orang luar, maka kerajaan kecil ini tidak pernah terganggu.

Raja itu mewariskan kepandaiannya kepada keturunannya,

merupakan ilmu-ilmu warisan yang hebat, dan tentu saja para

pengikut mereka mendapat pula pelajaran ilmu yang tinggi.

Pangeran Han Ti Ong adalah keturunan ke empat dari raja

pertama di Pulau Es. Pangeran ini berbeda dengan keturunan

raja yang sudah-sudah. Kalau semua keturunan raja hidup di

Pulau Es dan hanya meninggalkan pulau kalau mereka ada

keperluan di pulau-pulau kosong sekitar daerah itu untuk

mengambil daun obat, sayur-sayuran atau berburu binatang,

maka Pangeran Han Ti Ong tidak betah tinggal di tempat

sunyi itu.

Dia sering kali pergi dari pulau dan diam-diam dia

melakukan perantauan di daratan! Dia adalah orang yang

paling banyak mewarisi ilmu nenek moyangnya sehingga dia

adalah orang terpandai diantara para keluarga raja di Pulau

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Es. Apalagi karena dengan kesukaannya merantau di daratan,

dia dapat mengambil banyak ilmu-ilmu silat tinggi yang lain

dari daratan sehingga kepandaiannya bertambah. Dan garagara

perantauan Pangeran inilah maka Pulau Es menjadi

makin terkenal dan nama Pangeran Han Ti Ong sendiri juga

menggemparkan dunia kang-ouw sungguhpun dia jarang

sekali memperkenalkan diri. Melihat bajunya yang terhias

gambaran naga dan burung Hong itu saja sudah cukup bagi

para tokoh kang-ouw untuk mengenal manusia sakti dari

Pulau Es ini, seperti peristiwa yang terjadi di Hutan Seribu

Bunga ketika Pangeran ini menghadapi tujuh orang tokoh

besar dunia kang-ouw.

Para Pangeran yang sudah-sudah, selalu mengambil isteri

dari keluarga kerajaan sendiri, yaitu saudara-saudara misan

mereka sendiri. Hal ini adalah untuk menjaga agar “darah”

kerajaan tetap “asli”. Akan tetapi, berbeda dengan semua

kebiasaan para pangeran, Han Ti Ong yang jatuh cinta kepada

seorang dara puteri penghuni Pulau Es biasa, berkeras

mengambil dara itu sebagai isterinya! Padahal biasanya, daradara

yang berdarah “biasa” ini hanya diambil sebagai selir-selir

oleh para pangeran dan raja. Akan tetapi, Pangeran Han Ti

Ong tidak mau mengambil selir dan hanya mempunyai

seorang isteri, yaitu anak nelayan yang menjadi pengikut

keluarga raja, seorang dara biasa saja, namun yang

sesungguhnya memiliki kecantikan yang mengatasi kecantikan

para puteri raja!

Dari isteri tercinta ini, Pangeran Han Ti Ong mempunyai

seorang puteri yang pada waktu itu berusia enam tahun,

seorang anak perempuan yang mungil, cantik, keras hati

seperti ayahnya dan gembira seperti ibunya. Anak ini diberi

nama Han Swat Hong(Angin Salju) ini diambil oleh Pangeran

Han Ti Ong untuk menamakan puterinya karena ketika

puterinya terlahir, Pulau Es dilanda angin dan salju yang amat

kuat! Pada pagi hari itu Swat Hong, nak perempuan berusia

enam tahun lebih itu, duduk bengong di tepi pantai Pulau Es.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Dia sengaja memilih tempat sunyi yang agak tinggi ini untuk

melihat jauh ke selatan, dan hatinya penuh rindu terhadap

ayahnya yang sudah pergi selama tiga bulan itu. “Hong-ji

(Anak Hong)…”

Swat Hong menoleh dan melihat bahwa yang memanggil

tadi adalah ibunya, dia lalu meloncat bangun, lari

menghampiri ibunya, meloncat dan merangkul leher ibunya

dan menangis.

Ibunya tertawa. :Aih-aihhh… anakku yang biasanya periang

tertawa mengapa menangis? Mengapa bulan yang berseri

gembira menjadi suram? Awan hitam apakah yang

menghalanginya?”

“Ibu, kau…kau kejam!”

“Ihh! Ibumu kejam? Mungkin kalau sedang menyembelih

ikan atau ayam. Akan tetapi ibumu tidak kejam terhadap

manusia.” Memang watak Liu Bwee, ibu anak itu, atau isteri

Pangeran Han Ti Ong adalah lincah gembira yang menurun

pula kepada Swat Hong.

“Ibu kejam, mengapa Ibu t idak berduka? Apakah Ibu t idak

rindu kepada Ayah?” Tiba-tiba muka wanita itu menjadi merah

sekali dan terasa lagi dua titik air mata meloncat turun ke atas

pipinya. Melihat ini, Swat Hong melorot turun dan bertepuktepuk

tangan, “Hi-hi, Ibu menangis! Ibu juga rindu kepada

Ayah? Hayoh, Ibu sangkal kalau berani!”

Memang watak anak-anak, begitu melihat orang lain

berduka, dia sendiri lupa akan kedukaanya dan merasa

terhibur! Ibunya berlutut, memeluk dan menciuminya, akan

tetapi masih bercucuran air mata. Swat Hong yang tadinya

berbalik menggoda ibunya yang dianggapnya rindu kepada

ayahnya seperti juga dia tadi, kini menjadi terheran dan

berkhawatir. “Ibu, mengapa ibu berduka? Apa yang terjadi?

Apakah diam-diam ibu begitu merindukan Ayah dan

menyembunyikannya saja?” Liu Bwee memaksa diri tersenyum

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

dan menghapus air matanya, mengangguk-angguk sebagai

jawaban karena masih sukar baginya untuk mengeluarkan

suara tanpa terisak menangis. Akan tetapi puterinya itu adalah

seorang anak yang amat cerdik, maka tentu saja tidak dapat

dibohonginya semudah itu. “Ibu ada apakah? Harap Ibu

beritahu kepadaku, siapa yang menyusahkan hati Ibu? Akan

kuhajar dia!” Swat Hong mengepal kedua tinjunya yang kecil

seolah-olah orang yang menyusahkan hati ibunya sudah

berada disitu dan akan dihantamnya.

Melihat sikap anaknya ini, hati Liu Bwee terharu sekali dan

ingin dia menangis lagi, akan tetapi ditekannya perasaan

harunya dan dia tertawa. “Aih, Hong-ji, kalau ada yang kurang

ajar kepada ibumu, apakah Ibumu tidak dapat menghajarnya

sendiri?”

Swat Hong tertawa. “Memang aku tahu bahwa kepandaian

Ibu juga hebat, biarpun tidak sehebat Ayah, akan tetapi tidak

puas kalau aku tidak menghajar dengan kedua tanganku

sendiri kepada orang yang menyusahkan hati Ibu.”

“Anakku yang baik…!” Untuk menekan harunya, LIu Bwee

mengangkat tubuh anaknya, dipeluk, diciuminya kemudian dia

membentak, “Terbanglah!” dan melempar tubuh anak itu ke

atas. Swat Hong bersorak gembira. Itulah sebuah diantara

permainan mereka. Dia senang sekali kalau dilempar ke udara

oleh Ibunya, terutama kalau ayahnya yang melakukannya

karena lemparan ayahnya membuat tubuhnya “terbang” tinggi

sekali. Namun kini lemparan ibunya cukup menggembirakan

hatinya karena biarpun Ibunya tidak sekuat ayahnya,

lemparannya cukup membuat tubuhnya melambung tinggi

melewati puncak pohon!

Ketika tubuhnya melayang turun, ibunya sudah siap

menyambutnya, akan tetapi dasar anak nakal, dia

menggunakan kesempatan ini untuk berlatih! Dia cepat

membalikkan tubuh sehingga kedua kakinya diatas dan cepat

dia menggunakan kedua tangannya untuk menyerang ibunya,

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

mencengkram ke arah ubun-ubun. Itulah jurus terakhir yang

dilatihnya dari ayahnya yang seharusnya dilakukan dengan

loncatan ke atas dan menyerang ubun-ubun kepala lawan,

akan tetapi kini dilakukannya ketika dia melayang turun!

“Haaiiiit…!!” Untuk memperingatkan ibunya, Swat Hong

menjerit sebelum menyerang.

Tentu saja Liu Bwee tidak perlu diperingatkannya lagi.

Semenjak menjadi isteri Pangeran Han Ti Ong, wanita puteri

nelayan yang tentu saja seperti semua penghuni Pulau Es

telah memiliki dasar ilmu silat tinggi, telah digembleng oleh

suaminya dengan ilmu-ilmu simpanan yang tinggi sehingga dia

menjadi seorang yang sakti seperti semua keluarga kerajaan

itu. Melihat kegembiraan puterinya, dia pun cepat.mengelak,

dari samping dia menyambar kedua lengan anaknya dan

dengan bentakan nyaring kembali tubuh anaknya dilemparkan

ke atas!

Tubuh itu melayang tinggi dan tiba-tiba dari atas Swat

Hong berteriak girang, “Heiii, Ibu… itu Ayah datang….!!”

Mendengar ini, Liu Bwee cepat lari kepinggir tebing tinggi dan

memandang ke laut. Wajahnya berseri-seri, jantungnya

berdebar karena penuh rindu kepada suaminya. Benar saja.

Tampak sebuah perahu dan dia mudah mengenal suaminya

yang mendayung perahu itu dengan kekuatan dahsyat

sehingga perahu kecil meluncur seperti seekor ikan hiu yang

marah. Akan tetapi alis wanita ini berkerut ketika dia melihat

dua orang lain di dalam perahu. Seorang wanita muda yang

cantik! Hatinya terasa tidak enak. Dia t idak akan mengikat

suaminya, dan sebagai seorang isteri pangeran calon raja

tentu saja dia maklum bahwa suaminya berhak mengambil

selir-selir sebanyaknya. Akan tetapi entah mengapa,

kedatangan suaminya dengan dua orang itu, terutama

seorang wanita cantik, mendatangkan rasa gelisah yang aneh

didalam hatinya.

“Ibuuuu…..tolong dulu aku………..!”

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

JILID 4

Teriakan Swat Hong ini mengejutkan hatinya. Dia

menengok dan melihat tubuh anaknya meluncur turun. Dia

kaget dan baru sadar bahwa ketegangan mendengar

suaminya pulang membuat dia lupa kepada puterinya.

Sungguhpun Swat Hong telah memiliki ginkang yang cukup

baik akan tetapi meluncur turun dari tempat tinggi seperti itu

ada bahayanya patah atau setidaknya salah urat. Untuk

meloncat sudah tidak ada waktu lagi, maka cepat dia

menyambar sebuah ranting kayu di dekat kakinya,

melontarkan kayu itu dengan tepat melayang di bawah kaki

Swat Hong dan anak ini juga idak menyia-nyiakan pertolongan

ibunya. Dia menginjak kayu itu dan tenaga luncuran kayu itu

dapat menahan dan mengurangi tenaga luncuran tubuhnya

sendiri dari atas sehingga dia dapat meloncat kebawah

dengan aman. Seperti tidak pernah mengalami bahaya apaapa,

anak itu lalu lari ke arah ibunya dan berteriak girang,

“Ayah datang, Ibu?”

Ibunya hanya mengangguk tanpa menoleh, tetapi

memandang ke arah perahu yang makin mendekat pantai.

“Heii, Ayah bukan datang sendiri! Ada seorang wanita dan

anak laki-laki bersama ayah di dalamperahu!”

Liu Bwe tetap tidak menjawab akan tetapi memandang

tajam penuh selidiki ke arah perahu. “Wah, jangan-jangan itu

selir dan putera..ayah!” Swat Hong yang memang berwatak

terbuka itu berkata mengomel. Dia pun sudah tahu akan

kebiasaan para pangeran untuk mengambil selir, maka dia

tidak akan merasa heran pula kalau ayahnya juga mempunyai

selir di luar pulau Es, biar pun hatinya merasa tidak senang

dan penuh iri memandang kepada anak laki-laki di dalam

perahu itu. Mendengar ucapan yang tanpa disengaja oleh

Swat Hong merupakan benda tajam menusuk hatinya itu, Liu

Bwee menjawab, Perempuan itu masih terlalu muda untuk

menjadi ibu anak laki-laki itu, Sungguhpun bukan tidak

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

mungkin dia adalah selir Ayahmu karena dia memang cantik.”

Jawaban ini keluar dari lubuk hati Liu Bwee sehingga keluar

melalui mulutnya seperti tidak disadarinya. Barulah dia kaget

ketika kalimat itu telah terucapkan. Cepat dia menoleh ke arah

puterinya dan merasa menyesal telah mengeluarkan kata-kata

yang penuh cemburu tadi. Segera digandengnya tangan

anaknya dan untuk mengapus kata-katanya dari hati anaknya

dia berkata riang, “Ehh, kenapa kita disini saja? Hayo kita

sambut Ayahmu!” Berlari-larianlah mereka menuruni tebing

untuk menyambut kedatangan Pangeran Han Ti Ong di pantai

pasir. Sikap wanita yang penuh kegembiraan ini

menyembunyikan semua perasaanya sehingga Swat Hong

sudah lupa lagi akan kedukaan ibunya tadi.

Sebenarnya, memang amat giranglah hati Liu Bwee melihat

kembalinya suaminya sungguhpun kegembiraanya itu akan

lebih besar andai kata suaminya pulang sendirian saja.

Semenjak suaminya pergi beberapa bulan yang lalu dia

mengalami penderitaan batin yang hebat. Memang dia

maklum bahwa dirinya tidak disukai oleh keluarga kerajaan,

karena dianggap seorang wanita berdarah rendah. Kebencian

keluarga itu menjadi-jadi ketika mendapat kenyataan betapa

Han Ti Ong tidak mau mengambil selir.Hal ini.dianggap oleh

mereka Bahwa Liu Bwee menggunakan daya upaya untuk

mengikat suaminya!. Apalagi karena Liu Bwee tidak

mempunya anak laki-laki, maka kebencian mereka makin

bertambah. Sudah tentu saja, yang merasa paling benci

adalah mereka yang mengharap agar Han Tiong pangeran

calon raja itu memperistrikan puteri mereka!

Pada waktu itu, raja yang sudah tua menderita sakit dan

sudah menjadi dugaan umum bahwa usianya takan bertahan

lama lagi. Agaknya raja itu hanya menantikan kembalinya

puteranya yang menjadi putera mahkota, yaitu pangeran Han

Ti Ong untuk mewariskan singasana kepada puteranya ini.

Akan tetapi, karena keadaan Han Ti Ong yang lain daripada

para pangeran lain, suka merantau, isterinya orang rendah

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

dan hanya satu, tidak punya selir, tidak punya putera, maka

Liu Bwee maklum bahwa di antara keluarga raja terdapat

persekutuan yang menentang diangkatnya suaminya menjadi

calon raja! Hal inilah yang mendukakan hatinya. Dia

menganggap bahwa dirinya menjadi penghalang Bagi

suaminya dan hal inilah yang paling merusak hatinya. Maka

dapat dibayangkan betapa gembira hatinya melihat suaminya

pulang! Ketika ibu dan anak ini tiba dipantai, ternyata

pasukan kehormatan telah berbaris dan siap menyambut

pulangnya pangeran yang dihormati itu. Tentu saja Liu Bwee

dan Swat Hong mendapat tempat kehormatan paling depan

dan ketika akhirnya perahu itu menempel dipantai dan Han Ti

Ong melompat keluar sambil tersenyum lebar, Swat Hong

menjadi orang pertama yang berlari menyambut. “Ayah….!!”

“Ha-ha, Hong-ji, kau makin cantik saja!” Han Ti Ong

menerima puterinya itu dan mengangkatnya tinggi-tinggi, lalu

melemparkan tubuh anaknya keudara. Sambil tertawa-tawa

Swat Hong melayang turun dan langsung menyerang ayahnya

dengan jurus Kek-seng-jip-hai (Bintang Terompet Meluncur ke

Laut ) seperti yang dilakukanya kepada ibuya tadi.

“Ha-ha-ha, bagus juga!”Ayahnya tertawa, menyambar

kedua lengan yang mencengkram ubun-ubunnya, lalu

memondong puterinya, dan menciumdahinya.

Sambil memondong puterinya Han Ti Ong menghampiri

istrinya yang sudah maju menyambutnya, memandang penuh

kemesraan dan berkata halus, Harap kau baik-baik saja

selama aku pergi.” Liu Bwee memandang suaminya,

tersenyum akan tetapi di balik senyum itu tampak oleh Han Ti

Ong ada sesuatu yang menggelisahkan hati istrinya, apalagi

ketika mendengar suara istrinya lirih. “Ayahanda raja sedang

menderita sakit parah.”

Han Ti Ong mengangguk. Ucapan yang pendek itu sudah

mencakup semua isi hati istrinya. Dia sudah mengenal hati

istrinya yang tercinta itu dan tahu dia bahwa menjelang

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

kematian ayahnya, ada hal-hal yang menggelisahkan istrinya.

Tentu saja tentang warisan tahta kerajaan dan istrinya yang

datang dari keluarga berdarah “rendah” itu tentu saja

mengkhawatirkan bahwa keturunan istrinya itu akan

menjadikan persoalan bagi pengangkatan raja! Maka dia

memandang isterinya dengan sinar mata menghibur,

kemudian seperti teringat dia berkata, “Ahh, hampir aku lupa.

Aku datang bersama seorang muridku, namanya Sing Liong

akan tetapi di daratan besar sana dia dikenal sebagai Sintong.”

“Hai, seorang sin-tong (anak ajaib)? Hemm, ingin aku tahu

sampai di mana keajaibannya!” “Hong-ji, jangan!” ibunya

menegur, akan tetapi anak itu meloncat ke depan dan pada

saat itu, Sin Liong sudah turun dari atas perahu. Baru saja dia

berjalan menghampiri gurunya, tiba-tiba ada bayangan

berkelebat dan tahu-tahu seorang gadis cilik dengan gerakan

seperti seekor burung garuda menyambar telah

menyerangnya dari depan, sebuah kaki kecil telah

menghantam dadanya. “Bukk!!” Tanpa dapat ditanyakan lagi,

Sin Liong roboh terjengkang, dadanya terasa nyeri dan

napasnya sesak. Akan tetapi dia bangkit berdiri, mengebutkan

pakaianya yang menjadi kotor, memandang anak perempuan

yang lebih muda daripada dia itu, menggeleng kepala dan

berkata tenang, “Sungguh sayang sekali, seorang anak-anak

yang masih bersih dikotori kebiasaan buruk mempergunakan

kekerasan untuk memukul orang tanpa sebab.”

“Aihhh…” Swat Hong tertegun, lalu menoleh kepada

ayahnya yang terdengar tertawa keras, “Ayah, dia tidak bisa

apa-apa, mengapa disebut Sin-tong? Serangan biasa saja

membuatnya roboh terjengkang!”.”Ha-ha-ha, kaulihat dia

roboh, akan tetapi apakah kau tidak lihat sesuatu yang ajaib?

Dia tidak marah malah menyayangkan dirimu, bukankah itu

ajaib?” “Anak yang luar biasa dia…” terdengar Liu Bwee

berkata lirih dan kini Swan Hong juga memandang Sin Liong .

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Akan tetapi dia masih merasa tidak puas dan berkata, “Dia

tidak marah karena takut dan pengecut, Ayah!”

“He, Sin Liong, apakah engkau takut kepada Swat Hong

ini?” Han Ti Ong berteriak kepada Sin Liong.

Anak ini menggeleng kepala. “Suhu mengerti bahwa teecu

tidak takut terhadap apa pun dan siapa pun.” Swat Hong

membusungkan dadanya yang masih gepeng itu, menegakan

kepalanya dan menantang, “Bocah sombong ,kalau kau tidak

takut, hayo kaulawan aku!” Dia sudah siap memasang kudakuda.

Sin Liong menggeleng kepalanya. “Adik yang baik, aku

tidak akan menggunakan kepandaian apapun juga untuk

melakukan kekerasan terhadap orang lain, apalagi terhadap

seorang anak-anak seperti engkau.” Gadis cilik itu sudah

menerjang maju, dipandang oleh Sin Liong dengan sikap

tenang saja, berkedip pun tidak menghadapi serangan anak

perempuan itu. Tiba-tiba tubuh Swat Hong terhuyung ke

belakang dan ternyata lengannya sudah ditangkap oleh ibunya

dan ditarik ke belakang. “Swat Hong, kau terlalu sekali!

Seharusnya kau minta maaf kepada Suhengmu itu!” Swat

Hong menoleh, melihat ayahnya tersenyum, melihat pandang

mata semua orang dari prajurit sampai perwira penuh kagum

terhadap Sin Liong. Barulah dia ingat bahwa dia telah

melanggar pelajaran pertama dari ayahnya, bahkan dari

semua penghuni pulau bahwa ilmu silat pulau Es tidak boleh

sembarangan dikeluarkan untuk menyerang orang tanpa

alasan! Dan dia telah menyerang Sin Liong tanpa sebab apaapa,

padahal Sin Lion adalah murid ayahnya atau suhengnya

(kakak seperguruan). Biarpun dia berwatak keras dan tidak

mengenal takut, akan tetapi sifatnya yang gembira dan mudah

berubah membuat Swat Hong dapat mengusir semua rasa

penasaran dan sambil tersenyum dan muka ramah dia

menjura ke arah Sin Liong sambil berkata, “Suheng, harap

maafkan aku yang kurang ajar tehadap murid Ayah.” Sin Liong

terkejut. Kiranya bocah ini puteri suhunya! Dia pun menjura

dan berkata, Tidak ada yang perlu dimaafkan, Sumoi.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Kepandaianmu memang hebat, tentu saja aku bukan

tandinganmu.” “Hi-hik, wah, dia baik sekali, Ayah!” Swat Hong

lalu meloncat menghampiri Sin Liong, menggandeng

tangannya dan diajak lari ke pinggir di mana dia menghujani

Sin Liong dengan pertanyaan-pertanyaan. “Siapakah nama

lengkapmu, Suheng? Dari mana kau datang? Bagaimana kau

dapat menjadi murid Ayah?

Apa saja yang sudah diajarkannya kepadamu? Mengapa

pula kau disebut Sin-tong?” “Payah juga Sin Liong menghadapi

hujan pertanyaan dari anak perempuan yang baru saja

menyerangnya seperti seekor burung garuda akan tetapi yang

kini sudah bersikap demikian ramah dan baik terhadapnya ini.

Akan tetapi baru saja dia memperkenalkan namanya, yaitu

Kwan Sin Liong dan belum sempat menjawab pertanyaan

yang lain, perhatiannya, juga Swat Hong dan semua orang

yang berada disitu tertarik oleh keributan yang terjadi ketika

Kwat Lin turun dari atas perahu.

Begitu Kwat Lin turun dari perahu, wanita yang masih

belum sadar betul dari gangguan ingatannya karena

malapetaka hebat yang menimpa dirinya, menjadi perhatian

semua orang. Wanita ini memang berwajah manis dan gagah,

apalagi ketika turun dari perahu itu rambutnya yang awutawutan

berkibar tertuip angin, pakaiannya yang terlalu

longgar itu membuat dia kelihatan makin aneh dan penuh

rahasia. Kwat Lin turun dengan sikap tenang, akan tetapi

matanya bergerak liar menyapu semua orang yang

memandangnya, kemudian mata itu berhenti memandang

kepada Liu Bwee yang telah melangkah menghampirinya.

“Dia ini siapakah?” Liu Bwee bertanya tanpa mengalihkan

pandang matanya dari wajah pucat itu sambil didalam hatinya

menduga-duga dan menanti jawaban yang diharapkan dari

suaminya karena pertanyaan itu sesungguhnya diajukan

kepada suaminya..Akan tetapi sebelum Han Ti Ong menjawab,

tiba-tiba Kwat Lin, wanita itu membentak, “Manusia-manusia

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

busuk! Kubunuh engkau!” Dan dia sudah meloncat ke depan

dan menyerang Liu Bwee dengan pukulan yang dahsyat.

“He, Twanio! jangan begitu…!!” Sin Liong berteriak

mencegah, namun terlambat karena Kwat Lin sudah

menyerang dengan cepatnya. Sedangkan para penghuni Pulau

Es, termasuk Swat Hong dan Pangeran Han Ti Ong sendiri,

hanya memandang dengan tenang-tenang saja!

“Wuuuutttt… plak-plak…!”

Tubuh Kwat Lin terplanting ketika pukulannya tertangkis

oleh Liu Bwee dan wanita ini sudah menampar pundaknya

sebagai serangan balasan. Hal ini membuat Kwat Lin yang

memang belum sadar benar itu makin marah. Dengan nekat

dia melompat bangun dan menerjang lagi, Pangeran Han Ti

Ong sudah mendahuluinya menotok pundaknya sambil

berkata, “Tenanglah, Nona,” Kwat Lin kembali roboh, akan

tetapi tubuhnya disambar oleh Han Ti Ong. Ternyata dia telah

ditotok lemas. Dengan lambaian tangan, Pangeran itu

memanggil empat orang wanita pelayan yang kelihatan

tangkas-tangkas. “Dia sedang sakit ingatannya tidak

sewajarnya.” Ucapan ini ditujukan kepada istrinya yang

memandang marah. mendengar ini, Liu Bwee menganggukangguk

dan kemarahannya di wajahnya berubah menjadi iba.

“Bawa dia ke kamar tamu dan rawat dia baik-baik,” kata Liu

Bwee kepada empat orang pelayan itu yang segera

menggotong tubuh Kwat Lin pergi dari situ.

Barulah Pangeran Han Ti Ong kini mempedulikan sambutan

resmi dari para pangeran dan pasukan penghormatan. Tadi

dia seolah-olah menganggap mereka semua itu seperti patung

belaka. Dengan megah Pangeran itu lalu langsung diantar ke

kamar ayahnya Sang Raja yang sedang sakit dan yang telah

lama menanti kedatangan puteranya ini sedangkan Sin Liong

langsung diajak oleh Swat Hong ke bagian istana di mana dia

dan ibunya tinggal, yaitu di bagian kiri istana besar.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Tepat seperti telah diduga oleh semua penghuni Pulau Es,

tiga hari kemudian setelah pulangnya Pangeran Han Ti Ong,

raja tua meninggal dunia setelah sempat menyaksikan Han Ti

Ong dinobatkan menjadi penggantinya, merajai Pulau Es

dalam upacara yang amat sederhana. Dapat dibayangkan

betapa tidak puas dan penasaran rasa hati para pangeran

yang membenci Han Ti Ong karena usaha mereka

memanaskan hati mendiang ayah mereka tentang keadaan

Han Ti Ong tidak dipedulikan oleh raja tua itu. Dan untuk

memberontak secara terang-terangan, tentu saja mereka tidak

berani karena di dalam pulau itu, pada waktu itu Han Ti Ong

merupakan orang yang paling sakti. Maka, mereka itu hanya

diamsaja biarpun tidak pernah lengah barang seharipun untuk

mencari peluang dan kesempatan yang baik untuk

menjatuhkan Han Ti Ong, atau lebih tepat lagi, menjatuhkan

Lui Bwee yang mereka anggap sebagai biang keladi dari

“penyelewengan” Han Ti Ong dari kebiasaan keluarga raja di

Pulau Es! Setengah bulan kemudian, berkat perawatan yang

baik dari Liu Bwee dan para pelayan, juga dengan pengobatan

tusuk jarum oleh Raja Han Ti Ong sendiri, ditambah obatobatan

berupa daun-daun yang dicari para anak buah Pulau

Es atas petunjuk Sin Liong, gangguan ingatan yang diderita

oleh The Kwat Lin menjadi sembuh.

Pada suatu pagi, wanita yang bernasib malang ini duduk

seorang diri di dalam taman istana, taman yang bukan berisi

bunga bungan hidup, melainkan terisi ukir-ukiran bunga dari

batu-batu beraneka warna, dihias salju dan patung patung

kayu. Sudah berhari-hari, dia duduk di taman ini dan

didiamkan saja karena menurut Raja Han Ti Ong, wanita

malang ini harus dibiarkan pulih kembali ingatannya dan tidak

boleh diganggu. Namun, diam-diam dia sendiri melakukan

pengawasan karena entah bagaimana, makin lama dia

menjadi tertarik dan tahu bahwa dia jatuh hati kepada gadis

ini!”

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Tiba-tiba Kwat Lin melompat bangun karena mendengar

gerakan di belakangnya. Sebagai seorang hali silat kelas

tinggi, sedikit suara saja cukup membuat dia siap waspada .

Ketika dia membalik, dia melihat Han Ti Ong yang berdiri di

situ sambil memandangnya dengan senyum ramah. The Kwat

Lin yang kini sudah sembuh sama sekali, memandang penuh

keheranan lalu menegur,.”Siapakah engkau? Dan mengapa

engkau bisa berada di tempat aneh ini?”Melihat sikap gadis ini

dan mendengar pertanyaan-pertanyaan itu, legalah hati Raja

Han Ti Ong. Sikap dan kata-kata itu sudah cukup

membuktikan bahwa Kwat Lin telah sembuh sama sekali, telah

kembali kepada keadaan sebelum mengalami tekanan batin

hebat, maka tentu saja tidak mengenalnya dan tidak mengerti

mengapa dan bagaimana bisa berada di pulau itu.

“Nona, girang hatiku mendapat kenyataan bahwa Nona

telah sembuh dari lupa ingatan yang Nona derita belasan hari

ini.”

“Lupa ingatan? Sekaranglah aku kehilangan ingatan karena

aku tidak mengenal engkau dan tidak tahu mengapa dan

bagaimana aku bisa berada di tempat ini.”

“Memang begitulah. Tadinya Nona lupa ingatan, dan baru

sekarang Nona sadar sehingga Nona lupa lagi apa yang Nona

telah alami selama belasan hari ini.

Sungguh aku ikut merasa berduka dan terharu akan nasib

Ca-sha Sin-siap yang amat malang….” Tba-tiba wajah itu

menjadi merah sekali dan kemudian berubah pucat, “Kau…

kau tahu apa yang terjadi kepada kami…?”

Raja Han Ti Ong tersenyum dan memandang wajah yang

mengguncangkan hatinya itu dengan senyum mesra. Tentu

saja, Nona. Aku dan muridkulah yang mengubur jenazah dua

belas orang suhengmu, dan aku dan muridku pula yang

menolongmu membawa kesini kemudian mengobatimu

sehingga sembuh hari ini. Aku adalah Raja Han Ti Ong, raja

pulau ini dan kau berada di Pulau Es.” Mata yang indah ini

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

terbelalak. “Apa…? Di… di Pulau Es… dan aku telah

mendengar nama besar Pangeran Han Ti Ong…”

“Sekarang telah menjadi Raja Han Ti Ong, raja sebuah

pulau kecil tak berarti, Nona, dan aku belum mengetahui

namamu karena selama ini kau tidak menyebut namamu.”

Kwat Lin menjatuhkan diri berlutut dan menahan isaknya.

Saya menghaturkan banyak terima kasih atas pertolongan

Paduka, dan maafkan kalau saya tidak mengenal penolong

saya. Saya bernama The Kwat Lin, orang termuda Cap-sha

Sin-hiap, dan…kalau paduka menaruh kasihan kepada saya,

saya ingin segera pergi dari sini … sekarang juga….” “Nona

The, aku adalah seorang yang tidak bisa menyimpan rahasia

hati. ketahuilah, semenjak pertama kali melihatmu dan melihat

penderitaanmu, timbul rasa iba dan sayang di dalam hatiku.

Karena itu, kalau kiranya engkau suka aku akan merasa

berbahagia sekali kalau Nona mau tinggal didalam istanaku ini,

sebagai seorang istriku, istri ke dua.”

Kwat Lin terkejut sekali. Dia telah berhutang budi kepada

raja ini, dan sekarang raja ini secara demikian terus terang

menyatakan cintanya dan ingin mengambil dia sebagai isteri!

Dia menjadi isteri raja? Dia yang telah dinodai oleh Pat-jiu

Kai-ong? “Tidak! Maaf… saya… saya harus pergi sekarang

juga. Hanya satu tujuan hidup saya, dan Paduka tentu tahu…

yaitu untuk membunuh iblis Pat-jiu Kai-ong.” Han Ti Ong

mengangguk-angguk. “Aku mengerti dan aku sudah menduga

bahwa seorang dara perkasa seperti engkau tentu saja tidak

akan mau menerima tawaranku dan tidak mungkin aku

mengharapkan seorang dara seperti Nona akan jatuh cinta

begitu saja kepadaku. Akan tetapi aku pun tidak terlalu

mengharapkan yang ajaib. Aku jatuh cinta kepadamu, Nona,

dan adanya aku berani meminangnya secara terang-terangan,

karena aku yakin Nona akan menerimanya berdasarkan citacita

tunggal Nona itulah. Bagaimana mungkin Nona akan

membalas dendam kepada Pat-jiu Kai-ong, sedangkan Capsha

Sin-hiap saja tidak mampu mengalahkannya. Akan tetapi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

kalau engkau menjadi istriku, hemmm…soal membalas

dendam kepada Pat-jiu Kai-ong sama mudahnya dengan

membalikan telapak tangan.”

Ucapan ini berkesan mendalam, memang buat Kwat Lin

termangu-mangu. Dia bukan gadis lagi dan tidak mungkin dia

menjadi istri orang, dan baginya setelah berhasil membalas

dendam, hanya kematianlah yang akan mengakhiri noda yang

dideritanya. Akan tetapi, menjadi istri kedua Raja Han Ti Ong

yang sakti, lain lagi halnya, apa pula kalau orang sakti itu

sendiri sudah tahu akan keadaanya..”Apakah… apakah Paduka

akan mengajarkan ilmu kesaktian kepada saya? tanyanya dan

kini dia mengangkat muka, memandang raja itu, diam-diam

harus mengakui bahwa laki-laki ini gagah dan tampan,

sungguhpun usianya tentu tidak kurang dari empat puluh

tahun.

“Terserah kepadamu. kalau engkau suka memenuhi hasrat

hatiku yang ingin memperistrimu. Kalau kau menghendaki,

dalam waktu pendek saja aku dapat menangkap musuhmu itu

dan menyeretnya kedepan kakimu. Atau, engkau boleh

mempelajari ilmu dan aku berani tanggung bahwa selama

setahun saja engkau akan mengalahkan musuhmu itu.”

“Be…benarkah itu?”

“Nona The Kwat Lin. Han Ti Ong bukan orang biasa

membohong, pula aku tidak ingin mendapatkan dirimu dengan

jalan membohong. Aku telah bicara terus terang dan

andaikata engkau menolak sekalipun, aku tidak akan

memaksamu. Sekarang juga, kalau engkau menolak, akan

kusediakan perahu untukmu. Nah, engkau yang

memutuskan.”

Tentu saja timbul keraguan hebat didalam hati Kwat Lin.

Dia mengerti betapa lihainya Pat-jiu Kai-ong. Tentu saja dapat

pergi ke Bu-tong-pai dan melaporkan malapetaka yang

menimpa Cap-sha Sin-hiap itu kepada gurunya, ketua Butong-

pai, Kui Bhok Sianjin. Akan tetapi, gurunya sudah tua

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

sekali, dan belum tentu gurunya mau mencampuri urusan

dunia, biarpun murid-muridnya terbunuh. Mengandalkan para

saudara seperguruan, agaknya akan sukar mengalahkan Patjiu

Kai-ong, dan terrutama sekali yang memperberat hatinya,

kalau dia pergi ke Bu-tong-pai, tentu semua orang akan tahu

tentang malapetaka yang menimpa dirinya, bahwa dia telah

diperkosa oleh Pat-jiu Kai-ong. ke mana dia akan menaruh

mukanya kalau semua orang mengetahuinya akan hal itu?

Sebaliknya, kalau dia berada di Pulau Es, selain tak seorang

pun akan tahu tentang hal yang memalukan itu, juga dia akan

mempunyai kesempatan besar untuk melakukan balas dendam

itu!

Akan tetapi, benarkah pria di depannya ini akan mampu

mengajarnya sehingga dalam waktu setahun dia akan lebih

pandai dari Pat-jiu Kai-ong? Dia tidak akan puas kalau tidak

dapat membunuh jembel iblis itu dengan tangannya sediri.

Biarpun dia sudah banyak mendengar nama besar Pangeran

dari Pulau Es yang kini menjadi raja itu, namun bagaimana dia

dapat membuktikan kesaktianya? Apakah orang ini lebih lihai

dari gurunya dan terutama sekali, lebih lihai dari Pat-jiu Kaiong?

Perlahan-lahan Kwat Lin bangkit berdiri dan sejenak

memandang kepada Han Ti Ong yang juga sedang

memandangnya. Keduanya berpandangan dan akhirnya Kwat

Lin berkata, “Saya ingin sekali dapat membalas dendam

dengan tangan saya sendiri. Akan tetapi, bagaimanakah saya

dapat yakin bahwa dalam setahun saya dapat belajar di sini

dan menangkan iblis itu?”

Han Ti Ong tersenyum dan mengeluarkan sebatang pedang

dari balik jubahnya. “Inilah pedang yang kutemukan ketika

aku dan muridku menolongmu.”

Kwat Lin menerima pedang itu dan air matanya turun

bertitik akan tetapi segera dihapusnya. Itulah Ang-bwe-kiam

pedang dari twa-suhengnya!

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Engkau meragu, baiklah. Kaupergunakan pedangmu dan

kauserang aku untuk menguji apakah aku dapat melatihmu

selama setahun sehingga kau lebih lihai daripada Pat-jiu Kaiong.”

Kwat Lin menimang-nimang pedang Ang-bwe-kiam di

tangannya. Pat-jiu Kai-ong telah dikeroyok oleh dia dan dua

belas orang suhengnya. Mereka telah mainkan Ngo-hengkiam,

bahkan telah membentuk barisan Sin-kiam-t in ketika

mengeroyok kakek iblis itu namun akhirnya mereka semua

kalah, sungguhpun sejenak kakek itu terdesak. kini, kalau

hanya dia seorang diri menyerang raja ini, mana bisa dipakai

ukuran apakah dia lebih lihai dari Pat-jiu Kai-ong?

“Nona, jangan ragu-ragu. Percayalah, kalau engkau benar

rajin belajar, dalam waktu setahun engkau pasti akan dapat

mengalahkan dia. Hiat-ciang Hoat-sut dan Pat-mo-tung-hoat

dari kakek itu sebetulnya kosong saja,” kata raja itu, seolaholah

dapat membaca isi hati Kwat-lin. Dara itu terkejut,

kemudian mengambil keputusan untuk menguji orang ini

sebelum dia menyerahkan dirinya yang sudah ternoda itu

menjadi istrinya sebagai penebus latihan ilmu untuk membalas

dendam.

“Baiklah, saya akan menguji kepandaian Paduka, harap

Paduka bersiap dan mengeluarkan senjata.”.”Ha-ha-ha, Pat-jiu

Kai-ong membutuhkan tongkatnya dan pukulan beracunya

untuk mengalahkan Cap-sha

Sin-hiap, akan tetapi aku cukup menggunakan ini.” Dia

meraih kebawah dan tanganya sudah membentuk batu karang

sedemikian rupa sehingga batu karang itu berbentuk panjang

seperti pedang! “Harap Paduka siap!” Kwan Lin berseru dan

tiba-tiba pedangnya menyambar dengan cepat, melakukan

tusukan ke arah leher sedang tangan kirinya sudah memukul

ke arah dada. Serangan berganda dengan pedang dan

pukulan tangan kiri ini merupakan jurus hampuh dari Ngoheng-

kiam-sut. Tiba-tiba tubuh raja itu bergerak, serangan

Kwat Lin telah dapat dielakkan dan pada detik berikutnya,

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

leher dara itu tersentuh ujung batu karang dan dadanya juga

tersentuh kepalan tangan kiri Han Ti Ong. Kwat Lin menjerit

lirih karena maklum bahwa kalau tusukan batu dan pukulan

tadi dilanjutkan oleh Han Ti Ong tentu dia telah roboh dan

tewas seketika. Akan tetapi yang lebih mengejutkan hatinya

adalah gerakan raja itu.

“Paduka… Paduka mengunakan jurus Hui-po-liu-hong (Air

Tumpah Muncrat Pelangi Melengkung) dari Ngo-heng-kiam-sut

Bu-tong-pai!”

Han Ti Ong tersenyum, “Persis sekali dengan seranganmu

tadi, akan tetapi jauh lebih lihai karena sekali serang berhasil,

bukan? Nah, kalau engkau memiliki kesempurnaan dalam

jurus ini tadi, bukankah mudah kau mengalahkan musuhmu?

Kwat Lin tertegun, akan tetapi dia masih belum puas. “Saya

ingin mencoba lagi!” “Boleh, boleh. kauseranglah aku sepuluh

jurus yang paling lihai dan aku tanggung bahwa engkau akan

kukalahkan dengan jurusmu yang sama.”

Dengan pengerahan tenaga dan memilih jurus-jurus

terampuh, Kwat Lin menyerang lagi, akan tetapi setiap kali

menyerang satu jurus, dia menjerit lirih karena benar saja, dia

selalu dikalahkan oleh jurusnya sendiri. Jurus itu digerakan

oleh Han Ti Ong sedemikian aneh dan sempurnanya, demikian

cepat dan mengandung tenaga mujijat sehingga biarpun dia

mengenal jurusnya sendiri, dia tidak sempat lagi mengelak

atau menangis! Setelah sepuluh kali dia terkena sentuhan

ujung batu atau usapan tangan kiri lawan yang lihai ini dia

menjadi yakin, lalu menjatuhkan diri berlutut.

“Saya menerima penawaran Paduka!”

Ha Ti Ong memegang kedua pundaknya dan

mengangkatnya bangun berdiri. Mereka berdiri berhadapan,

saling pandang dan wajah raja itu berseri melihat betapa

wajah Kwat Lin menjadi merah sekali dan ada kedukaan hebat

tersembunyi dibalik kemerahan wajah karena malu itu. dengan

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

mesra Han Ti Ong mengusap pipi halus kemerahan itu dan

berkata lirih, “Aku tahu, Kwat Lin. Peristiwa terkutuk menimpa

dirimu membuat kau jijik terhadap pria dan muak terhadap

hubungan antara pria dan wanita. Akan tetapi, aku bukanlah

pria yang mengutamakan hubungan badani saja, Kwat Lin.

Aku akan menghapus kejijikan dan kemuakan itu.

Percayalah, aku cinta dan iba kepadamu. Keputusan yang

kauambil ini tepat sekali dan tidak akan mendatangkan sesal

di kemudian hari. Mari,mari kita mengumumkan pernikahan

kita. Semoga engkau berbahagia.” Han Ti Ong mencium dan

mengecup mesra dan halus pinggir mata Kwat Lin, kemudian

menggandeng tangannya dan mengajaknya berjalan

memasuki istana dari pintu belakang yang menembus ke

“Taman” itu.

Tentu saja tidak ada kehebohan terjadi ketika Han Ti Ong

mengumumkan keputusanya mengambil The Kwat Lin,

sebagai istri ke dua, sunguhpun hal ini mendatangkan

bermacam-macam tanggapan dalam hati para penghuni Pulau

Es. Pesta diadakan, pesta yang sederhana saja tetapi cukup

meriah. Sebagian besar penghuni Pulau Es bersuka cita dan

mengharapkan bahwa dari pernikahan ini, raja akan dikurniai

seorang putera. Juga terjadi bermacam tanggapan di kalangan

keluarga raja. Ada kekecewaan akan tetapi ada pula harapan.

Kecewa karena sekali lagi Raja Han Ti Ong mengambil “orang

luar” sebagai selir, akan tetapi timbul harapan karena mungkin

melalui istri ke dua ini mereka dapat “memukul” Liu Bwee

yang mereka benci..Ternyata kemudian oleh Kwat Lin Bahwa

semua ucapan yang dikeluarkan oleh Raja Pulau Es itu ketika

meminangnya bukan hanya bujukan kosong belaka.

Raja itu benar-benar jatuh cinta kepadanya dan hal ini

terasa olehnya setelah dia menyerahkan dirinya menjadi selir

Raja Han Ti Ong. Dengan sepenuh jiwa raganya, Han Ti Ong

mencurahkan kasih sayang kepadanya sedemikian besarnya

sehingga lambat laun dia pun jatuh cinta kepada suaminya ini.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Dan dia yang tadinya hendak belajar ilmu silat sebagai

dorongan terutama dengan mengorbankan dan menyerahkan

diri sebagai selir, setelah menerima pencurahan cinta kasih

yang amat mesra dan mendalam, mulailah berbalik pikir.

Apalagi setelah sembilan bulan kemudian semenjak dia

menjadi selir, dia melahirkan seorang anak laki-laki. Kwat Lin

merasa betapa hidupnya berubah sama sekali, kalau dulu dia

hanya seorang pendekar wanita yang seringkali menghadapi

banyak kesengsaraan hidup, kini menjadi seorang yang mulia

dan terhormat, bahkan dia mendapat kenyataan bahwa

suaminya benar-benar memiliki ilmu kepandaian yang luar

biasa tingginya! Timbullah keinginan hatinya untuk

mengangkat diri menjadi permaisuri, dan dia merasa berhak

karena bukankah dia yang mempunyai keturunan laki-laki, dan

selain menjadi permaisuri, juga menjadi pewaris semua ilmu

kesaktian dari Pulau Es. Kalau sudah demikian, baru dia akan

mencari dan membunuh Pat-jiu Kai-ong.

Kebenciannya terhadap kakek iblis jembel itu kini menjadi

tipis sekali. Memang kalau dipikir betapa selama tiga hari tiga

malam kakek itu mempermainkanya, merengut kehormatan

dengan memperkosa secara amat menghina akan tetapi ada

segi lain yang membuat dia diam-diam berterima kasih kepada

kakek itu. Kalau tidak ada peristiwa hebat itu, agaknya selama

hidupnya dia tidak akan dapat bertemu dengan Han Ti Ong,

apalagi menjadi istrinya dan sekaligus pewaris ilmu-ilmunya!

Sin Liong belajar ilmu silat dengan tekun bersama suhengnya,

Swat Hong yang lincah jenaka.Dan mulai tampaklah bakatnya

yang luar biasa. Tidak mengherankan kalau para tokoh kangouw

ingin memiliki bocah ini dan menjadikan Sin Liong

sebagai bahan perebutan, karena dia pantas disebut Sin-tong.

Han Ti Ong sendiri yang merupakan manusia luar biasa dan

memiliki kecerdasan yang disebut Kwee-bak-put-bong (sekali

melihat tidak bisa lupa lagi), diam-daim menjadi kagum sekali

karena dia harus akui bahwa dalam hal kecerdasan dan

kekuatan pikiran, dia masih kalah oleh muridnya ini! Yang

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

amat mengagumkan hatinya adalah betapa di balik semua

bakat yang luar biasa ini terpendam watak yang amat luar

biasa, watak yang penuh kehalusan, kelembutan dan kasih

sayang dan iba terhadap orang lain yang amat mendalam, di

samping watak yang wajar seadanya.

Benar-benar seorang bocah yang ajaib! Diam-diam Sin

Liong mengerti bahwa diangkatnya Kwat Lin menjadi istri Han

Ti Ong, biarpun hal ini merupakan hal yang lumrah bagi

seorang raja, namun akan mendatangkan banyak ketidak

baikan, terutama di pihak ibu sumoinya. Apalagi ketika dia

melihat sikap dan perubahan pada diri bekas pendekar wanita

Bu-tong-pai itu Akan tetapi karena dia hanyalah seorang anak

kecil yang tidak tahu apa-apa dan yang sama sekali tidak

berhak mencampuri “Urusan dalam” suhunya, maka tentu saja

dia hanya berdiam diri, hanya mengikut i perkembangan

keadaan dengan hati tidak enak. Yang dikhawatirkan oleh

anak yang belum tahu apa-apa memang sungguh terjadi.

Semenjak mengambil Kwat Lin sebagai isteri kedua, Liu Bwee

menderita tekanan batin yang amat hebat. Mula-mula tidak

terasa olehnya ketika suaminya makin jarang bermalam di

dalam kamarnya karena hal ini dianggapnya limrah setelah

suaminya memiliki isteri lain yang baru. Akan tetapi perasaan

kewanitaannya yang halus segera dapat menangkap

kehambaran cinta kasih yang dicurahkan suaminya

kepadanya. Dan terutama sekali setelah The Kwat Lin

mengandung, suaminya tidak pernah datang lagi menginap

dikamarnya, dan kalau sekali-sekali datang, tidak ada cumbu

rayu dan kemesraan sama sekali, hanya untuk menanyakan

kesehatan dan agaknya suaminya datang hanya demi

kesopanan belaka!

Hati seorang wanita amatlah halusnya, mudah tersinggung,

mudah gembira, mudah marah, mudah berduka, mudah jatuh

cinta dan mudah pula membenci! Setelah Kwat Lin melahirkan

seorang anak laki-laki, mulailah hati Liu Bwee digerogoti iri

dan hal ini mendatangkan kebencian hebat. Dia mulai merasa

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

tersiksa batinya, merasa kesepian, rasa rindu yang makin

menghimpit terhadap belaian kasih sayang suaminya

membuat Liu Bwee makin tersiksa, menambah kebenciannya

terhadap Kwan Lin yang makin dipuja suaminya itu. Liu Bwee

bukan seorang wanita yang gila akan kedudukan. Dia tidak

mengejar kedudukan dan dia sama sekali tidak khawatir akan

menurunya derajatnya apabila madunya itu diangkat menjadi

permaisuri karena mempunyai seorang putera. Akan tetapi Liu

Bwee adalah seorang wanita yang haus akan kasih sayang,

maka dapat dibayangkan betapa hebat penderitaan batinnya

setelah cintanya disia-siakan oleh suaminya yang telah jatuh di

bawah telapak kaki Kwat Lin..Melihat penderitaan batin yang

dialami oleh Liu Bwee ini, diam-diam bersoraklah para

keluarga raja. Bagi mereka, biarpun putera raja bukan

keturunan dari seorang ibu yang masih berdarah “agung”

seperti mereka, namun masih lebih baik dari pada kalau

dilahirkan oleh seorang iu seperti Liu Bwee, hanya anak

seorang nelayan Pulau Es rendah! Pula kebencian mereka

yang terdorong oleh iri hati terhadap Liu Bwee membuat

mereka condong kepada Kwan Lin sehingga kelahiran Han Bu

Ong, nama putera itu, disambut dengan penuh kegembiraan

oleh keluarga raja dan juga oleh semua penghuni Pulau Es

sebagai penyambutan terhadap lahirnya seorang putera raja

yang akan menjadi pangeran mahkota!

Tujuh tahun telah lewat semenjak Sin Liong berada di

Pulau Es. Dipandang begitu saja, agaknya keadaan Pulau Es

dan kerajaan kecilnya selam tujuh tahun itu t idak terjadi

perubahan sesuatu, para penghuninya masih hidup dengan

tenang dan tentram penuh kedamaian seperti puluhan,

bahkan ratusan tahun yang lalu. Raja Han Ti Ong tidak kalah

bijaksana dalam mengendalikan pemerintahan kecilnya

sehingga para penghuni Pulau Es hidup bahagia, sedangkan

pelanggaran-pelanggaran yang terjadi hanya sedikit sekali.

Namun sesungguhnya terjadi perubahan yang amat besar dan

banyak! The Kwat Lin yang kini menjadi permaisuri, diangkat

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

secara resmi oleh Han Ti Ong sehingga kedudukan Liu Bwee

tergeser menjadi istri selir, bukan hanya menjadi wanita

pertama yang paling tinggi t ingkat kedudukanya, namun juga

telah menjadi seorang wanita yang memiliki kesaktian hebat,

hanya kalah oleh suaminya dan beberapa tokoh lain di Pulau

Es. Namun, hasratnya untuk membalas dendam terhadap Patjiu

Kai-ong agaknya telah lenyap sama sekali! Dia kelihatan

hidup bahagia tenggelam dalam belaian penuh kasih sayang

dari suaminya dan melihat puteranya yang kini telah berusia

enam tahun dan menjadi seorang anak laki-laki yang tampan

dan sehat biarpun tubuhnya agak kecil, sebagai pangeran,

tentu saja Bu Ong digembleng oleh ayahnya sendiri sejak

kanak-kanak. Sin Liong telah memperoleh kemajuan yang

mentakjubkan dan mengagumkan Han Ti Ong sendiri. Semua

ilmuyang diajarkan oleh raja itu, sekali dilatih dapat dilakukan

dengan hampir sempurna! Tentu saja dalam waktu beberapa

tahun dia telah jauh melampaui tingkat kepandaian sumoinya,

dan setelah dia berusia empat belas tahun, Sin Liong telah

jauh meninggalkan tingkat sumoinya.

Bukan hanya dalam hal ilmu silat, akan tetapi juga dalam

ilmu sinkang dia maju pesat karena tanpa diperintah oleh

suhunya, dengan tekun Sin Liong berlatih seorang diri di

bawah hujan salju yang amat dingin sehingga dia dapat

menampung int i sari tenaga im-kang yang amat hebat. Selain

tekun mempelajari ilmu silat yang diturunkan oleh suhunya

tanpa ada yang disembunyikan itu, Sin Liong juga rajin sekali

membaca kitab-kitab yang banyak terdapat didalam kamar

perpustakaan istana. Dia dikenal oleh semua ahli sastra di

Pulau Es dan mereka ini amat kagum dan suka kepada Sin

Liong melihat ketekunan bocah ajaib ini. Tidak ada bosannya

Sin Liong membaca kitab-kitab kuno dan setiap bertemu hurup

baru yang tidak dikenalnya, dia mencatatnya untuk kemudian

ditanyakan kepada para ahli itu. Dengan cara demikian,

biarpun tidak dibimbing langsung, namun Sin Liong telah

dapat memperkaya perbendaharaan kata-kata sehingga dia

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

mampu membaca kitab-kitab yang paling kuno di dalam

perpustakaan itu.

Kitab kuno tidaklah seperti kitab biasa, karena selain hurufhurufnya

kuno, juga huruf-huruf itu mengandung arti yang

amat mendalam. Karena inilah, maka kitab-kitab yang amat

kuno di pulau itu jarang atau hampir tidak pernah dibaca

orang. Han Ti Ong sendiri segan membaca kitab-kitab itu,

karena selain sukar, juga isinya hanyalah sajak-sajak kuno

yang dianggapnya tidak ada gunanya dan melelahkan

otaknya. Namun semua kitab itu “dilalap” semua oleh Sin

Liong! Bukan ini saja, namun anak ajaib ini dapat menemukan

sesuatu yang tersembunyi didalam sajak-sajak itu! Dia

menemukan rangkaian ilmu silat sakti yang masih merupakan

“rangka” terselubung di dalam huruf-huruf kuno yang sukar

dimengerti itu, bahkan menemukan pula ilmu yang masih

dirahasiakan oleh Han Ti Ong, ilmu yang selama ratusan tahun

mengangkat nama Pulau Es, yaitu ilmu inti sari dasar gerakan

semua ilmu silat.

Dengan ilmu ini yang sudah dikuasainya, maka Han Ti Ong

dapat mengalahkan tujuh orang tokoh sakti dengan jurusjurus,

jurus ilmu silat mereka sendiri ketika Han Ti Ong

menolong Sin Long di jeng-hoa-sian. Kini, secara tidak

disengaja, bahkan di luar kesadaran Sin Liong sendiri, bocah

ajaib ini telah menemukan ilmu itu “terselip” dan terselubung

di antara sajak-sajak kuno yang kelihatanya tidak ada gunanya

itu. Selain memperoleh kemajuan hebat dalam ilmu silat, juga

selama berada di Pulau Es, Sin Liong memperoleh kesempatan

memperdalam ilmunya mengenal daun dan tumbuhan obat

dengan jalan menyelidikinya di pulau-pulau kosong di sekitar

Pulau Es.

Dia memang mendapat tugas untuk mencari bahan-bahan

obat di pulau-pulau itu untuk kepentingan para penghuni

Pulau Es, Dan dalam kesempatan.melaksanakan tugasnya ini,

Sin Liong tidak menyia-nyiakan waktu untuk menyelidiki lebih

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

banyak lagi tetumbuhan dan khasiatnya untuk kesehatan

tubuh manusia. Dengan adanya Sin Liong di Pulau Es,

banyaklah sudah penghuni yang terhidar dari bahaya

penyakit, dan untuk ini, Han Ti Ong merasa berterima kasih

sekali sehingga dia t idak segan-segan menurunkan ilmu

pengobatan tusuk jarum kepada muridnya itu. Selain Sin

Liong, tentu saja Swat Hong sebagai puteri raja, juga

memperoleh kemajuan pesat dan dalam usia tiga belas tahun

itu dia telah memilik ilmu kepandaian yang sukar dicari

tandinganya.

Dengan demikian, hampir semua orang di Pulau Es

memperoleh kemajuan masing-masing. Raja Han Ti Ong

memperoleh kebahagiaan cinta kasih dalam diri Kwat Lin yang

telah menjadi permaisurinya. The Kwat Lin sendiri yang

tadinya mengalami malapetaka yang dianggapnya lebih hebat

daripada kematian sendiri, telah memperoleh banyak

keuntungan, memperoleh cinta kasih yang mesra, kedudukan

tinggi sekali, dan ilmu kepandaian yang amat hebat pula.

Hanya seorang saja yang sama sekali tidak memperoleh

kemajuan lahir maupun batin yaitu Liu Bwee! Dia menderita

makin hebat, terutama batinnya karena semenjak beberapa

tahun ini, suaminya sama sekali tidak pernah lagi

mendekatinya! Lenyaplah wataknya yang periang dan kini Liu

Bwee lebih banyak mengurung dirinya di dalam kamar,

menyulam atau membaca kitab. Dia seolah-olah menjadi

seorang pertapa dan biarpun wajahnya tidak membayangkan

sesuatu, masih tetap cantik manis dan pakaiannya selalu

bersih, namun sesungguhnya hatinya terluka dan selalu

meneteskan darah, batinnya terhimpit dan terbakar oleh rindu

yang tak kunjung henti, kehausan akan belaian kasih sayang

seorang pria yang tak pernah terpuaskan.

Keadaan di dalam istana dengan adanya penderitaan Liu

Bwee, dengan adanya para anggauta keluarga istana yang

masih menaruh benci kepadanya dan tidak melihat

kesempatan untuk menjatuhkan wanita ini karena Liu Bwee

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

selalu bersikap diam dan tidak memperlihatkan sesuatu,

merupakan api dalam sekam yang setiap saat tentu akan

berkobar atau meledak. Hal ini tidak saja dirasakan oleh

semua angauta keluarga raja, bahkan dirasakan pula oleh Sin

Liong dan Swat Hong. Sering kali Sin Liong kehilangan

kejenakaan Swan Hong yang merupakan ciri khas dara ini.

Kalau dia melihat dara itu termenung seorang diri, dia menarik

nafas panjang dan sekali waktu dia menegus, “Eh, Sumoi.

Kenapa kau termenung dan wajahmu suram? lihat, hari tidak

sesuram wajahmu, sinar matahari mencairkan salju dengan

cahaya yang keemasan!”

Swat Hong memandang pemuda itu dan menarik nafas

panjang. “Betapa aku tidak tidak akan muram menyaksikan

keadaan yang begini dingin di dalam istana, Su-heng? Ayah

memang masih biasa dan baik kepadaku, juga ibu baik

kepadaku. Akan tetapi antara Ayah dan Ibu seolah-olah

terdapat jurang pemisah yang amat dalam. Tidak pernah lagi

aku menyaksikan keduanya beramah tamah dan bersendau

gurau seperti dahulu lagi. Apakah karena Ibu Permaisuri…?”

“Ssst, Sumoi. Kita t idak mempunayi hak untuk bicara

mengenai orang-orang tua itu. Hal itu adalah urusan mereka

sendiri.”

“Aku mengerti, Suheng. Akan tetapi aku melihat kedukaan

hebat bersembunyi di balik senyum Ibu kepadaku. Aku tahu

betapa dia rindu kepada Ayah, rindu yang membuatnya

seperti gila….” “Hushh….”

“Aku tidak membohong, Suheng. Seringkali aku mendengar

Ibuku mengigau memanggil nama Ayah dan menangis dalam

tidur. Ibu selalu gelisah kalau tidur dan biarpun dia hendak

menyembunyikannya dariku, namun aku tahu betapa Ibu

menderita sengsara batin yang hebat, menderita rindu yang

menghancurkan batinnya….” Dara itu kelihatan berduka

sekali, kemudian berkata lagi, “Suheng, apa sih perlunya

orang saling mencinta kalau akibatnya hanya mendatangkan

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

rindu dan kecewa?” “Itu bukan cinta, Sumoi, Ahh, kau takan

mengerti dan semua orang takan mengerti karena sudah lajim

menganggap hawa nafsu sama dengan cinta. Hawa nafsu

menuntut pemuasan, menuntuk kesenangan dan ingin

memilikinya untuk diri sendiri. Dan semua inilah yang

menimbulkan kecewa dan duka, Sumoi.”

Sumoinya terbelalak. “Aihh, kau bicara seperti kakek-kakek

saja! Dari mana memperoleh filsafat macam itu, Suheng?”

Karena tertarik, dara yang mudah ini sudah melupakan

kedukaanya dan menjadi riang gembira lagi, matanya

memandang suhengnya dengan berseri penuh godaan..”Dari…

hemm, kukira dari kesadaran, Sumoi. Bukan filsafat. Aku

sudah kenyang membaca filsafat, dan apa artinya filsafat

kalau hanya untuk diafal? Tidak ada bedanya dengan benda

mati yang hanya diulang-ulang, dipakai perhiasan, dijadikan

alat untuk terbang melayang diawang-awang yang kosong.

Terlalu banyak kitab kubaca sudah, dan mungkin juga karena

memperhatikan keadaan mendatangkan kesadaran.” Dia

menarik napas panjang.

“Suheng, kau tadi mencela aku yang kaukatakan murung.

Akan tetapi aku juga seringkali melihat engkau seperti orang

berduka. Apakah kau tidak senang tinggal di Pulau Es?” “Aku

suka sekali tinggal di sini, Sumoi. Kurasa jarang terdapat

tempat seindah ini, masyarakat setenteram ini. Akan tetapi,

kalau aku melihat hukuman-hukuman yang dibuang ke Pulau

Neraka…” “Aih, hal itu bukan urusan kita, Suheng. Bukankah

kau tadi juga mengatakan bahwa urusan antara Ayah dan Ibu

bukan urusanku? Maka urusan hukuman itu pun sama sekali

bukan urusan kita.” Kau keliru, Sumoi. Urusan Ayah Bundamu

memang merupakan urusan pribadi mereka. Akan tetapi

urusan orang-orang terhukum adalah urusan umum, urusan

kita juga. Aku merasa tidak senang sekali dengan adanya

peraturan itu. Aku akan berusaha untuk mengingatkan

Suhu….”

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Tapi Ayah seorang Raja, Suheng!”

“Raja pun manusia juga.”

“Tapi Raja hanyalah menjalankan hukum yang berlaku,

Suheng.”

“Hukumpun buatan manusia. Benda Mati! “

Tiba-tiba terdengar suara tambur dipukul. Sejenak dua

orang muda-mudi itu memperhatikan dan wajah Sin Liong

menjadi muram. “Nah, ada lagi sidang pengadilan yang akan

menjatuhkan hukuman. Entah siapa lagi sekarang yang

melakukan pelanggaran. Mari kita lihat, Suheng!” Sin Liong

digandeng tangannya oleh Swat Hong yang menariknya ke

arah bangunan di samping istana, bangunan yang dijadikan

ruang sidang pengadilan di mana dijatuhkan hukuman

terhadap mereka yang melakukan pelanggaran-pelanggaran.

Ketika mereka tiba di situ, banyak sudah penghuni Pulau Es

yang menonton diluar ruangan, dan tentu saja dua orang

muda-mudi itu mudah untuk memasuki ruang sidang dan

duduk di atas kursi yang berderet di pinggiran.

Ruangan itu luas sekali, lantainya halus dan bersih. Isi

ruang hanyalah sebuah meja panjang dan di belakang meja

panjang ini terdapat lima buah kursi dan di kanan kiri, di

pinggir juga terdapat kursi-kursi, sedangkan di depan meja, di

bagian tengah tetap kosong. Pada saat Sin Liong dan Swat

Hong tiba di ruangan itu, di belakang meja telah duduk hakim,

yaitu seorang kakek tua keluarga kerajaan yang biasa

bertugas sebagai hakim, sedangkan di sebelah kanannya, di

kursi kebesaran, tampak duduk Han Ti Ong sendiri bersama

permaisurinya. Hal ini merupakan keanehan karena biasanya

raja hanya datang tanpa permaisurinya dan duduk bersama

dengan para pangeran lain. Agaknya permaisuri Raja Han Ti

Ong sekarang ini ingin pula melihat pengadilan dilakukan di

Pulau Es.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Para pesakitan yang sudah berlutut di depan meja, di atas

lantai, hanya tiga orang. Seorang laki-laki tinggi besar penuh

brewok yang matanya lebar dan gerak-geriknya kasar,

seorang laki-laki muda yang tampan dan seorang wanita yang

usianya empat puluhan, namun masih cantik dan wanita ini

berlutut di samping laki-laki muda yang kelihatan ketakutan,

tidak seperti laki-laki tinggi besar dan Si Wanita yang kelihatan

tenang-tenang saja.

Dengan suara lantang jaksa penuntut membacakan

tuntutan kepada laki-laki tinggi besar yang sudah berlutut ke

depan setelah namanya dipanggil, yaitu Bouw Tang Kui.

Bouw Tang Kui telah berkali-kali diperingatkan karena

sikapnya yang kasar, suka menggunakan kepandaian

menghina yang lemah dan suka mencuri. Terakhir ditangkap

karena melakukan pencurian,mengambil batu hijau mustika

penyedot racun ular milik orang lain. Karena

kejahatanya.membahayakan Pulau Es, dapat menimbulkan

kekacauan dan permusuhan, maka hukuman yang paling

berat patut dijatuhkan atas dirinya, selain untuk memberantas

kejahatan dari permukaan pulau juga sebagai contoh kepada

semua penghuni pulau.”

Hening sejenak, kemudian terdengar suara hakim tua yang

lemah dan agak gemetar, “Bouw Tang Kui, kau sudah

mendengar tuduhan atas dirimu. Kau diperkenankan membela

diri.” Bouw Tang Kui yang berlutut itu memberi hormat kepada

raja, kemudian dengan suaranya yang kasar dan nyaring

berkata,”Hamba mengaku telah melakukan perbuatan itu

karena hamba ingin memiliki mustika batu hijau. Hamba telah

menerima banyak budi dari Sri baginda, kalau sekarang

dianggap berdosa, hamba siap menerima segala macam

hukuman yang dijatuhkan kepada hamba.” Hakim berfikir

sejenak, kemudian sambil mengetok meja dia berkata,

“Pengadilan memutuskan hukuman buang ke Pulau Neraka

kepada Bouw Tang Kui.”

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Suasana menjadi hening. Keputusan hukuman ini

merupakan yang lebih hebat dari pada penggal kepala.

Banyak di antara mereka yang mendengarkan, menahan nafas

dengan muka pucat, ada yang menaruh hati kasihan kepada

Bouw Tang Kui. Akan tetapi pesakitan itu sendiri setelah

memandang kepada raja, lalu berkata, suaranya penuh pahit

getir, “Hukuman apa pun bagi hamba tidak terasa berat, yang

terasa berat adalah bahwa hamba dipaksa untuk memusuhi

Pulau Es yang hamba cintai!” “Jadi engkau menerima

keputusan hukuman?” hakimbertanya.

“Hamba mene….”

“Nanti dulu!!” tiba-tiba terdengar suara nyaring dan Han Ti

Ong sendiri mengangkat muka memandang tajam ketika

melihat Sin Liong telah berdiri dari kursinya dan mengeluarkan

seruan itu. “Harap Suhu dan para Cu-wi sekalian maafkan

saya. Akan tetapi pesakitan berhak untuk dibela dan saya

hendak membelanya.

Saudara Bouw Tang Kui ini dianggap berdosa dan memang

dia telah melakukan pelanggaran. Akan tetapi patutkah kalau

kesalahannya itu lalu dijadikan tanda bahwa dia seorang jahat

yang tidak bisa diampuni lagi? Saya hendak bertanya,

siapakah di antara Cu-wi sekalian yang tidak pernah

melakukan kesalahan?”

“Semua manusia pasti pernah melakukan kesalahan dan

karena kita semua manusia, maka kita pun tentu pernah

melakukan kesalahan. Siapakah yang mau kalau kesalahan

yang dilakukannya itu lalu dijadikan tanda bahwa selamanya

dia akan bersalah atau berdosa, dan patut dihukum tanpa

ampun lagi? Kesalahan yang dilakukan oleh Bouw Tang Kui

adalah sebuah penyelewengan biasa yang dilakukan oleh

manusia yang berbatin lemah. Manusia yang berbatin lemah

dan melakukan penyelewengan sama saja dengan seorang

yang sedang menderita semacam penyakit, hanya bedanya,

yang sakit bukan tubuhnya melainkan hatinya.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Akan tetapi, setiap orang sakit bisa sembuh! Maka,

menghukumnya dengan hukuman keji itu sama dengan

membunuhnya!”

Hening sekali keadaan di situ setelah pemuda tanggung ini

mengeluarkan pembelaanya. “Akan tetapi di sini sudah

diadakan hukum sejak ratusan tahun dan kita semua harus

tunduk kepada hukum! ” kata Han Ti Ong ketika melihat

betapa hakim ragu-ragu untuk menjawab. Dia maklum bahwa

Sin Liong disuka banyak orang di situ, dan selain ini, agaknya

para pejabat itu juga sungkan mendebat karena pemuda itu

adalah murid raja. Karena inilah maka Han Ti Ong sendiri yang

mengeluarkan suara membantah.

“Harap Suhu memaafkan teecu kalau teecu terpaksa

mendebat. Saudara Bouw melanggar hukum yang dianggap

berdosa, lalu menurut hukum harus dibuang ke Pulau Neraka.

Dari manakah timbulnya pelanggaran yang disebut dosa?

Kalau tidak ada hukum, mana mungkin ada dosa? Kalau tidak

ada larangan, mana mungkin ada pelanggaran? Hukumlah

yang menciptakan dosa dan pelanggaran, hukum adalah keji

karena hukuman yang dijatuhkan sebetulnya lebih kotor

daripada dosa itu sendiri! Kalau dia dianggap bersalah lalu

dibuang ke Pulau Neraka, bukankah hal itu membuat dia

menjadi makin jahat dan mendendam? Andaikata seorang

penderita sakit, penyakitnya menjadi makin parah! Apakah

hukuman.pembuangan ke Pulau Neraka itu akan

menginsafkannya? Suhu, sudah berkali-kali teecu menyatakan

bahwa hukuman seperti ini tidak patutu dilakuakan di Lebih

baik menuntut mereka yang tersesat agar kembali ke jalan

benar dari pada menghukum mereka dengan kekerasan yang

akan membuat meraka menjadi lebih jahat lagi.”

Kwat Sin Liong, kau tak berhak untuk mencela hukum yang

sudah menjadi tradisi kami! Hakim, lanjutkan persidangan dan

pembelaan yang dilakukan atas diri Bouw Tang Kui tidak dapat

diterima!” bentak Han Ti Ong yang merasa tersinggung juga

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

mendengar betapa peraturan yang dijunjung tinggi selam

ratusan tahun oleh nenek moyangnya itu kini disangkal dan

dicela oleh seorang bocah yang menjadi muridnya!

Sin Liong menghela nafas dan terpaksa dia duduk kembali.

“Ssttt, kau terlampau berani….” Swat Hong berbisik.

“Hemmm… tiada gunanya….” Sin Liong balas berbisik.

Suara jaksa yang lantang sudah memanggil nama dua

orang pesakitan yang lain, laki-laki tampan dan wanita cantik

itu. Mereka maju dan berlutut di depan pengadilan.

“Sia Gin Hwa dan Lu Kiat telah ditangkap karena melakukan

perjinaan. Karena Sin Gin Hwa telah menjadi istri syah dari Ji

Hoat, maka perbuatan itu merupakan perbuatan hina yang

hamat berdosa, melanggar larangan keras yang telah

disyahkan hukum. Karena itu, tidak ada pengampunan

baginya dan mohon pengadilan menjatuhkan hukuman

terberat kepadanya. Adapun Lu Kiat, biarpun masih muda dan

belum beristri, namun dia telah berjinah dengan istri orang,

maka dia pun harus dijatuhi hukuman yang layak. Kemudian

terserah kepada hakim.”

Wanita itu menundukan mukanya yang menjadi merah

sekali ketika mendengar suara mengejek dari mereka yang

menonton di luar ruangan sidang, akan tetapi sikapnya masih

tenang-tenang saja. Adapun Lu Kiat, pemuda itu menjadi

pucat wajahnya, akan tetapi dia juga menundukan mukanya,

kelihatan gelisah sekali.

“Pengadilan memutuskan hukuman buang ke Pulau Neraka

kepada Sia Gin Hwa dan hukuman rangket seratus kali kepada

Lu Kiat!”

“Hamba tidak menerima!” Tiba-tiba Sia Gin Hwa berteriak.

“Yang melakukan perjinaan adalah hamba berdua, maka kalau

dibuang pun harus hamba berdua!”

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Tidak, hamba menerima hukuman rangket seratus kali!”

teriak pula Lu kiat. “Laki-laki apa kau ini? Ketika merayuku,

kau berjanji akan bersama-sama menderita andaikata dibuang

ke Pulau Neraka!” Sia Gin Hwa memaki dan terjadilah ribut

mulut antara mereka. “Diam!!” Teriakan menggetarkan dari

Han Ti Ong membuat mereka berdiri menjatuhkan diri mohon

pengampunan.

“Karena kalian melakukan perbuatan yang memalukan

sekali, menodakan nama baik Pulau Es, maka sepatutnya

kalian berdua sama-sama dibuang ke Pulau Neraka!” kata Raja

itu dengan suara tenang namun penuh wibawa. Sia Gin Hwa

memegang tangan kekasihnya dan menangis sambil menciumi

tangan itu, akan tetapi wajah Lu Kiat menjadi makin pucat.

Kembali Sin Liong bangkit berdiri. “Maaf, Suhu. Teecu

terpaksa membantah lagi! Mereka memang telah melakukan

perbuatan yang melanggar hukum yang ada, akan tetapi

apakah perbuatan mereka itu sudah demikian jahatnya maka

sampai mereka dihukum buang? Teecu kira di balik perbuatan

mereka itu tentu ada sebab dan alasannya. Mereka menjadi

korban nafsu, akan tetapi kalau seoarang istri sampai

melakukan penyelewengan, tentu pihak suami juga ada

kesalahannya. Tidak perlukah diselidiki mengapa wanita ini

yang telah bersuami sampai berjina dengan pria lain?

Mengapa dia sampai tidak dapat menahan dorongan nafsu

berahi?

Tentu ada sebab-sebabnya.”.” Sin Liong, engkau seorang

bocah belum dewasa, tahu apa tentang nafsu berahi?” bentak

gurunya, agak

tertegun juga karena dia mendapatkan kebenaran

tersembunyi di balik bantahan muridnya itu.

Terdengar suara ketawa ditahan di sana-sini, bahkan

permaisuri sendiri menahan senyumnya.

“Teecu…teecu…mengerti dari kitab….”

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Pembelaan seorang anak yang belum dewasa terhadap

perjinaan yang dilakukan orang dewasa tidak dapat diterima.

Laksanakan hukumannya dan buang mereka bertiga sekarang

juga ke Pulau Neraka!” kata Han Ti Ong.

Persidangan dibubarkan dan tiga orang pesakitan itu lalu

digiring keluar untuk dilaksanakan hukuman atas diri mereka,

yaitu dibuang ke Pulau Neraka, hukuman yang paling

mengerikan dan paling di takuti oleh semua penghuni Pulau Es

karena mereka semua tahu bahwa di buang ke Pulau Neraka

berarti hidup tersiksa dan sengsara, lebih hebat dari kematian!

Peristiwa seperti inilah yang membuat hati Sin Liong

memberontak. Dia amat cinta dan kagum kepada suhunya,

akan tetapi peraturan hukum di Pulau Es ini dianggapnya

terlalu kejam. Sebaliknya, Han Ti Ong yang maklum akan

kekecewaan hati muridnya yang dia kagumi dan cinta,

berusaha menyenangkan hati muridnya itu dengan

menurunkan ilmu-ilmu simpanannya sehingga dalam waktu

setahun lagi saja ilmu kepandaian pemuda yang berusia lima

belas tahun itu menjadi makin hebat. Boleh dibilang dialah

orang satu-satunya yang menjadi pewaris ilmu-ilmu Pulau Es.

Biarpun Permaisuri juga mewarisi banyak ilmu dahsyat namun

dibandingkan dengan Sin Liong dia kalah bakat sehingga kalah

sempurna gerakannya, apa lagi dalam hal tenaga sinkang dia

kalah jauh. Hal ini adalah karena Sin Liong adalah seorang

yang pada dasarnya memiliki batin kuat dan tidak pernah

terseret oleh nafsu, sebaliknya The Kwat Lin adalah seorang

wanita yang dibangkitkan nafsunya semenjak dia diperkosa

oleh Pat-jiu Kai-ong.

JILID 5

Dan pada suatu hari terjadilah suatu hal yang sudah lama

diduga-duga akan terjadi hal yang menjadi akibat daripada

keadaan yang ditekan-tekan di dalam istana yang dimulai

dengan masuknya The Kwat Lin yang kini telah menjadi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

permaisuri itu ke Pulau Es. Pagi hari itu, Sin Liong tengah

duduk seorang diri di tempat yang menjadi tempat

kesukaannya bersama Swat Hong, yaitu di tepi pantai yang

paling sunyi, pantai yang tak pernah tertutup salju karena

pasir berwana putih yang terjadi dari pecahan batu karang

dan segala macam kulit kerang dan kepompong itu seolaholah

selalu mengeluarkan hawa hangat. Selagi dia duduk

termenung itu terdengarlah olehnya suara tabur dipukul

gencar, tanda bahwa pagi hari itu diadakan persidangan

pengadilan yang amat penting, sidang yang diadakan kurang

lebih tiga bulan semenjak tiga orang pesakitan terakhir itu di

buang ke Pulau Neraka.

Suara tambur itu seolah-olah menghantami isi dada Sin

Liong, karena suara itu suara yang paling

tidak disukainya, suara yang menandakan bahwa akan ada

orang lagi yang dihukum! Maka dia tidak

bergerak, mengambil keputusan tidak akan menonton

karena menonton berarti hanya akan menghadapi hal

yang menyakitkan hatinya. Akan tetapi dia meloncat

bangun ketika mendengar suara panggilan Swat Hong,

suara panggilan yang lain dari biasanya karena suara dara

itu

mengandung isak tangis yang mengejutkan.

“Kwa-suheng…!!”

Sin liong terkejut melihat dara itu berlari-lari kepadanya

sambil menangis dan dengan wajah yang pucat sekali.

“Ada apakah, Sumoi?” tegurnya sebelum dara itu tiba di

depannya.

“Suheng…, celaka… Ibuku…”Biarpun hatinya berdebar

penuh kaget dan kejut, Sin Liong bersikap tenang ketika di

memegang kedua pundak Sumoinya dan bertanya, “Ada

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

apakah dengan Ibumu? Tenanglah, Sumoi.”.”Swat Hong

menahan isaknya. “Mereka… mereka menangkap Ibuku dan

membawanya ke sidang pengadilan…”

Sin Liong mengerutkan alisnya. Sudah keterlaluan ini,

pikirnya. Rasa penasaran membuat dia berlaku agak kasar.

Digandengnya tangan Sumoinya, ditariknya dara itu dan dia

berkata , “Mari kita lihat!” Ketika dua orang itu tiba di ruangan

pengadilan, mereka mendapat kenyataan bahwa keadaan

berlainan sekali dengan sidang pengadilan yang sudah-sudah

karena suasana amat sunyi. Tidak ada seorang pun

diperbolehkan mendekati ruangan pengadilan, bahkan ketika

Sin liong dan Swat Hong tiba disitu, mereka dihadang oleh

beberapa orang penjaga, “Maaf, atas perintah Sribaginda,

tidak ada yang boleh memasuki ruang sidang pengadilan hari

ini.” Kata mereka.

Dengan kedua tangan di kepal, Swat Hong melompat maju,

matanya melotot dan mukanya merah sekali, “Apa kalian

bilang? Kalian berani melarang aku memasuki ruangan?

Apakah kalian sudah bosan hidup?” Sin Liong cepat

memegang lengan sumoinya karena dia maklum bahwa kalau

sumoinya ini sudah marah, tentu akan hebat akibatnya. Juga

para penjaga itu mundur ketakutan karena mereka mengerti

betapa lihainya Sang Puteri ini.

“Harap Saudara sekalian melaporkan kepada atasan

Saudara bahwa kami akan memasuki ruang sidang,” kata Sin

Liong dengan tenang kepada para penjaga.

“Akan tetapi kami hanya mentaati perintah. Bagaimana

kami berani melanggar?” jawab kepala penjaga dengan muka

bingung.

“Aku tahu. Ibuku yang diadili, Bukan? Nah, dengar kalian!

Apa pun yang akan terjadi dengan ibuku, aku harus hadir,

kalau perlu aku akan bunuh kalian semua agar dapat masuk!”

Kembali Swat Hong membentak. “Saudara sekalian harap

mundur dan biarkan kami masuk. Akibatnya biarkan kami

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

berdua yang menanggungnya,”kembali Sin Liong berkata dan

keduanya memaksa masuk. Para penjaga tidak ada yang

berani melarang akan tetapi mereka cepat-cepat lari untuk

melapor kedalam. Han Ti Ong mengerutkan alisnya ketika

melihat Sin Liong dan Swat Hong memasuki ruang sidang,

akan tetapi dia hanya mengangguk kepada para penjaga yang

kebingungan. Hal ini melegakan hati para penjaga dan mereka

cepat-cepat meninggalkan ruangan itu untuk menjaga di luar,

karena mereka pun tidak boleh mendengarkan sidang yang

sedang mengadili isteri raja! Dapat dibayangkan betapa

hancur hati Swat Hong melihat ibunya dengan tenang berlutut

di depan meja pengadilan bersama seorang laki-laki muda

yang berpakaian sebagai pelayan dalam istana. Hatinya

menduga dan dia merasa ngeri karena melihat ibunya dan

pemuda itu berlutut di situ, dia seolah-olah melihat Sia Gin

Hwa dan Lu Kiat, dua orang pesakitan yang saling berjinah itu!

Akan tetapi dia tidak percaya! Tak mungkin ibunya…! Akan

tetapi dia menjadi lemas dan menurut saja ketika Sin Liong

menariknya dan mengajaknya duduk dideretan kursi pinggiran

yang sekali ini sama sekali kosong. Di belakang meja panjang

hanya duduk jaksa, hakim, Raja Han Ti Ong , permaisurinya,

dan Han Bu Ong, bocah berusia delapan tahun yang

mengenakan pakaian indah dan duduk dengan agungnya di

dekat ibunya, matanya memandang kearah Sin Liong dan

Swat Hong dengan angkuh. Kemudian terdengarlah suara

nyaring Sang Jaksa, suara yang bagi telinga Swat Hong

terdengar seperti sambaran pedang yang menusuk-nusuk

hatinya dan bagi Sin Liong seperti guntur di tengah hari! “Liu

Bwee, sebagai bekas istri Sribaginda, dari seorang anak

nelayan biasa menjadi seorang mulia terhormat, ternyata

membalas budi Sribaginda dengan aib dan noda yang hina,

telah ditangkap karena melakukan perjinahan dengan seorang

pelayan muda. Dosa ini amat besar karena selain

menimbulkan aib dan malu kepada Sribaginda, juga kalau

diketahui dunia luar akan mencemarkan nama Kerajaan Pulau

Es.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Oleh karena itu, sepatutnya dia dijatuhi hukuman yang

seberat mungkin.”.”Bohong…! Ibu tidak mungkin….” Swat

Hong menjerit dan hendak melompat maju menyerang jaksa

yang

berani mengeluarkan ucapan menuduh ibunya seperti itu

akan tetapi Sin Liong menangkap lengannya untuk mencegah

sumionya bergerak.

“Swat Hong! Berani engkau kurang ajar di depan Ayah?”

Terdengar Han Ti Ong membentak dengan penuh wibawa.

“Ayah, tuduhan itu fitnah belaka! Tidak mungkin ibu

melakukan hal yang kotor itu. Mana buktinya? Siapa

saksinya?” kembali Swat Hong menjerit-jerit.

“Hong-ji, jangan begitu. Ibumu tidak berdosa, akan tetapi

kita harus. tunduk kepada peraturan dan hukum,

anakku.Tenanglah.” Ucapan ini keluar dari mulut Liu Bwee

yang menoleh kearah Swat Hong, suaranya lirih dan jelas,

namun mengandung kedukaan yang merobek hati.

“Liu Bwee, engkau telah mendengar tuduhan atas dirimu.

Apakah pembelaanmu?” terdengar suara hakim tua itu dengan

halus dan lirih seperti biasanya, namun penuh wibawa karena

dalam sidang ini, dialah orang yang paling kuasa.

“Saya tidakakan membela diri, hanya seperti dikatakan

anakku tadi, agar tidak mendatangkan penasaran, harap suka

disebutkan siapa saksinya dan apa buktinya yang memperkuat

tuduhan terhadap diriku,” kata Liu Bwee dengan tenang dan

suara halus.

Jaksa yang termasuk orang di antara anggauta keluarga

raja yang tidak senang kepada Liu Bwee karena dia dahulupun

mengharapkan agar Han Ti Ong memilih anak perempuannya,

segera berkata lantang, “Buktinya? Engkau ditangkap ketika

berada di dalam kamar dengan A Kiu, padahal dia bukanlah

pelayanmu. Apalagi yang kalian kerjakan kalau bukan

berjinah? Seorang wanita dan seorang laki-laki yang tidak ada

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

hubungan apa-apa berada di dalam kamar berdua saja! selain

itu, perjinahan kalian juga telah ada yang menyaksikan.”

Wajah Swat Hong sebentar pucat dan sebentar merah. Tak

dapat dia menahan kemarahanya.

Ibunya dituduh berjinah dengan seorang pelayan!

“Bohong! itu bukan bukti!! Kalau memang ada yang

menyaksikan, hayo siapa yang menyaksikan?” teriaknya, tidak

memperdulikan cegahan Sin Liong yang masih memegang

lengannya karena khawatir kalau-kalau dara ini mengamuk.

“Akulah saksinya!” tiba-tiba terdengar suara kecil merdu

dan Han Bu Hong telah bangkit berdiri dengan sikap

menantang. Mulut anak ini tersenyum mengejek dan matanya

bersinar-sinar. “Enci Hong, akulah yang telah melihat ibumu

dan pelayan itu di atas ranjang….”

“Ssssttt, diam…!” Permaesuri menarik puteranya. Akan

tetapi hakim telah berkata lagi, “Sudah terbukti kesalahan

besar yang dilakukan Liu Bwee. Kesalahan paling besar yang

dapat dilakukan oleh seorang wanita…”

“Nanti dulu!” Dengan muka pucat sekali Swat Hong

memotong kata-kata hakim. “Tidak adil kalau begini! kita

belum mendengar keterangan A Kiu. Hai, A Kiu, aku percaya

bahwa engkau seorang manusia yang menjujur kegagahan,

tidak mungkin seorang pria penghuni Pulau Es Seperti engkau

menjatuhkan fitnah sebagai seorang pengecut hina dina. Hayo

ceritakan sesungguhnya apa yang terjadi!” Suara Swat Hong

ini nyaring sekali dan muka A Kiu menjadi pucat, kepalanya

makin menunduk. Suasana menjadi hening dan akhirnya

terpecah oleh suara Raja, “A Kiu, kau diperkenankan untuk

bicara!”

Tubuh itu menggigil, muka yang tampan itu pucat sekali

ketika diangkat memandang Raja, kemudian

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

melirik ke arah Liu Bwee yang masih bersikap tenang dan

agung berlutut di sebelahnya. Ketika dia melirik

ke arah Swat Hong yang berdiri dengan sikap angkuh

memandang kepadanya, A Kiu mengeluh lirih,

kemudian menelungkup dan berkata dengan suara

mengandung isak, “Hamba tidak berdaya… hamba

memang berada di kamar itu… tapi… tidak seperti

kesaksian Pangeran kecil… hamba terpaksa karena…”.”Berani

kau mengatakan puteraku bohong?” Jeritan ini keluar dari

mulut permaisuri dan hawa pukulan

yang dahsyat sekali menyambar ketika permaisuri

menggerakan tangan kirinya ke arah A Kiu. “Dess…!

Aungghh…!” Tubuh A Kiu terlempar bergulingan dan rebah tak

bernyawa lagi, dari mulut, hidung dan telinganya mengalir

darah. Hebat sekali pukulan jarak jauh yang di lakukan

permaesuri itu, mengenai kepala A Kiu yang tentu saja tidak

kuat menahannya.

Hakim dan jaksa saling pandang, sedangkan Raja menegur

Permaesurinya, “Kau terlalu lancang….” “Apakah aku harus

diam saja kalau seorang rendah macam dia menghina putera

kita?” Permaesuri membantah dengan suara agak ketus. Raja

diam saja dan menarik nafas panjang. Dia merasa bingung

dan berduka sekali harus menghadapi perkara ini, lalu

memberi isyarat kepada hakim sambil berkata, “Lanjutkan.”

Hakim menelan ludah beberapa kali, kemudian berkata

lantang, ” Saksi utama yang mejadi pelaku perjinahan telah

terbunuh karena berani menghina Pangeran. Akan tetapi dia

mengaku telah berada di kamar itu, maka sudah jelas dosa

yang dilakukan oleh Liu Bwee. Karena itu sudah adil kalau dia

harus dijatuhi hukuman berat. Liu Bwee, pengadilan

memutuskan hukuman buang ke Pulau Neraka kepadamu!”

“Ibuuuu..!!” Swat Hong meronta dan melepaskan diri dari Sin

Liong, meloncat dan menubruk ibunya. “Sssst, tenanglah,

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Hong-ji….” ibunya terbisik dengan sikap masih tenang saja,

sungguhpun wajahnya kelihatan makin berduka.

“Tenang? Tidak! ibu t idak boleh dihina sampai begini!”

Swat Hong lalu bangkit berdiri, menghadapi ayahnya dan

berkata lantang, “ibuku telah dijatuhi hukuman tanpa bukti

dan saksi yang jelas. Akan tetapi keputusan telah dijatuhkan

dan saya tidak rela melihat ibu dibuang ke Pulau Neraka. Saya

sebagai anak tunggalnya, yang takkan mampu membalas

budinya dengan nyawa, saya yang akan mewakilinya, memikul

hukuman itu. Saya yang akan mejadi penggantinya ke Pulau

Neraka, maka harap Sribaginda bersikap bijaksana,

membiarkan ibu yang sudah mulai tua ini menghabiskan

usianya di Pulau Es. Ibu, selamat tinggal!”

“Hong-ji…!” ibunya memekik, akan tetapi Swat Hong sudah

meloncat dan lari keluar dari tempat itu dengan cepat.

Sin Liong memandang dengan alis berkerut. Tak

disangkanya hal yang sudak dikhawatirkannya akan terjadi,

sesuatu yang tidak menyenangkan, suatu yang akan meledak,

ternyata sehebat ini. “Hong-ji… ah, Hong-ji, Anakku…!” Liu

Bwee tak dapat menahan lagi tanggisnya. Dia maklum bahwa

untuk mengejar anaknya dia tidak mungkin dapat karena

kepandaian puterinya itu sudah t inggi sekali, juga dia sebagai

seorang pesakitan, tentu saja tidak berani melanggar hukum

dan lari dari tempat itu. “Aduh, anakku… Swat Hong… Swat

Hong… apa yang mereka lakukan atas dirimu…?” ibu yang

hancur hati ini meratap.

Hakim menjadi bingung dan beberapa kali menoleh kearah

Raja seolah-olah hedak minta keputusan Han Ti Ong. Raja ini

menggigit bibir, jengkel dan marah karena tak disangkanya

bahwa urusan akan berlarut-larut seperti ini. Ketika dia

menerima laporan tentang istri pertamanya, Liu Bwee, yang

berjinah dengan seorang pelayan muda, hatinya panas dan

marah sekali. Akan tetapi dia masih hendak membawa perkara

ini kepengadilan agar diambil keputusan yang seadil-adilnya.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Siapa mengira terjadi hal-hal yang tidak menyenangkan

hatinya. Permaisurinya membunuh pelayan muda, kemudian

kini Swat Hong membela ibunya, bahkan menggantikan

ibunya “membuang diri” ke Pulau Neraka. maka kini,melihat

betapa hakim menjadi bingung dan minta keputusannya, dia

memukulkan kepalan kanan ke telapak kiri sambil berkata, “

Sudahlah, sudahlah! Biar kupenuhi permintaan Swat Hong.

Anak yang keras kepala itu sudah menggantikan ibunya ke

Pulau Neraka. Sudah saja! Aku perkenankan Liu Bwe tinggal

terus disini!”

Setelah berkata demikian, dia menggandeng tanggan Bu

Ong dan permaisurinya, bangkit berdiri dan

hendak meninggalkan tempat yang tidak menyenangkan

itu. Akan tetapi Liu Bwee juga bangkit berdiri dan

wanita ini berkata lantang, sambil menatap wajah suaminya

dengan mata tajam..”Biarpun anakku telah menebus dosa

yang tidak kulakukan, dan aku telah diperbolehkan tinggal di

sini,

akan tetapi apa artinya hidup disini bagiku setelah anakku

pergi ke Pulau Neraka? Tidak, aku tidak akan sudi tinggal di

sini lagi. Aku mulai saat ini tidak menganggap diriku sebagai

penghuni Pulau Es. Aku juga mau pergi dari sini!” Setelah

berkata demikian, Liu Bwee lalu meloncat dan pergi. Setelah

dia bukan pesakitan lagi, setalah dia bukan terhukum, dia

berani pergi, bahkan dengan sikap tidak menghormat lagi

kepada Raja yang pernah menjadi suami dan pujaan hatinya

selama bertahun-tahun itu. “Hmm, sesukamulah!’ kata Han Ti

Ong perlahan dan dengan wajah muram raja ini memasuki

istana bersama permaisuri dan Pangeran Bu Ong.

Sampai ruangan persidangan itu kosong dan mayat A Kiu

dibawa pergi, Sin Liong masih duduk di situ. Di dalam hatinya,

dia merasa menyesal melihat sikap Raja Han Ti Ong, gurunya

yang di cintainya itu. Tahulah dia bahwa perubahan pada diri

gurunya itu terutama sekali terjadi karena hadirnya The Kwat

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Lin yang kini telah menjadi permaisurinya. Diam-diam dia

merasa menyesal sekali. Bukankah dia sendiri yang dahulu

minta kepada gurunya membawa pendekar wanita Bu-tongpai

itu ke Pulau Es? Kini, wanita itu menjadi selir gurunya, dan

setelah The Kwat Lin menjadi permaisuri, kebahagiaan ibu

Swat Hong menjadi musna! Bahkan kini berekor seperti ini,

dengan larinya Swat Hong menggantikan ibunya ke Pulau

Neraka sedang ibu dara itu sendiri pergi entah ke mana!

Dialah, langsung atau tidak bertanggung jawab. Akan tetapi,

tidak mungkin dia menegur gurunya, Juga permaisuri tidak

dapat dipersalahkan. Betapapun juga, dia harus

memperlihatkan tanggung jawabnya atas kerusakan hidup

Swat Hong dan ibunya. Kalau dia mendiamkan saja, seolaholah

dia ikut pula persekutuan untuk merusak hidup ibu dan

anak itu. “Pulau Neraka kabarnya merupakan tempat

berbahaya sekali. Aku harus menyusul Swat Hong dan

melindunginya.” Demikian dia mangambil keputusan dalam

hatinya dan dia tidak lagi berpamit kepada gurunya karena

maklum gurunya sedang berada dala kedukan dan

kepusingan. Pula, Sin Liong sudah biasa meninggalkan pulau

itu mencari tetumbuhan obat, maka kepergiannya dengan

sebuah perahu menunggalkan Pulau Es t idak ada yang

menaruh curiga.

Dengan tenaganya yang amat kuat Sin Liong mendayung

perahunya sehingga perahu meluncur amat cepatnya menuju

ke Pulau Neraka. Dia sudah tahu dimana letaknya pulau itu,

dari keterangan yang diperolehnya ketika dia bertanya-tanya

kepada para penghuni Pulau Es Bahkan diam-diam pernah

pula seorang diri mendayung perahu mendekati Pulau Neraka

ini akan tetapi hanya melihat dari jauh dan dia merasa ngeri

sekali. Pulau itu dari jauh tampak kehitaman seperti pulau

yang pantas di huni oleh setan dan iblis.Pantainya penuh

dengan batu-batu karang yang runcing dan tajam, amat

berbahaya apalagi kalau ombak sedang besar.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Sama sekali tidak tampak ada penghuninya sehingga ketika

itu Sin Liong menduga-duga bahwa orang-orang buangan

yang dibuang dari Pulau Es tentu telah tewas di jalan, tentu

tewas di atas pulau itu. Maka dia menentang keras dalam

hatinya kalau melihat di Pulau Es diadakan pengadilan dan

diputusakan hukuman buang ke Pulau Neraka, karena

baginya, dibuang ke Pulau Neraka sama dengan menghadapi

kematian yang mengerikan, baik di dalam perjalanan menuju

ke pulau itu atau setelah berasil mendarat. Dan kini Swat

Hong telah pergi ke Pulau Neraka mewakili ibunya! Dia kagum

dan khwatir. Kagum akan keberaniannya dan kebaktian

sumoinya terhadap ibunya, akan tetapi khawatir sekali akan

keselamatan sumoinya yang belum dewasa benar itu.

Sumoinya baru berusia empat belas tahun! Biarpun dia tahu

bahwa ilmu kepandaian sumoinya sudah hebat dan cukup

untuk dipakai untuk menjaga diri, namaun betapapun juga

sumoinya itu masih kanak-kanak! Sin Liong sama sekali tidak

ingat bahwa usianya sendiri hanya satu tahun lebih tua dari

pada usia Swat Hong!

Perjalanan dari Pulau Es ke Pulau Neraka melalui lautan

yang penuh dengan gumpalan-gumpalan es yang mengapung

di permukaan laut, gumpalan es yang kadang-kadang sebesar

gunung dan celakalah kalau sampai perahu tertumpuk oleh

gumpalan es menggunung itu yang kadang-kadang bergerak,

digerakkan oleh angin. Celaka pula kalau sampai terjepit di

antara dua gumpalan es yang begitu saling menempel tentu

akan melekat dan membuat perahu terjepit di tengah-tengah.

Akan tetapi, Sin Liong sudah banyak mendengar tentang ini

maka dia tahu pula caranya menghindarkan

perahunya dan tidak mendekat gumpalan-gumpalan es

yang berbahaya, melainkan mencari jalan di celah-celah

yang agak lebar. Kemudian dia tiba di daerah lautan yang

penuh dengan ikan hiu. Ratusan ikan hiu

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

yang hanya tampak siripnya itu berenang di kanan kiri dan

belakang perahunya. Betapapun juga tinggi

ilmunya, ngeri juga hati Sin Liong karena dia tahu bahwa

sekali perahunya terguling, kepandaianya tidak

akan berguna banyak dalam melawan ratusan ikan buas itu

di dalam air! Cepat ia mengeluarkan bungkusan

yang sudah dibawanya sebagai bekal, membuka bungkusan

dan menaburkan sedikit bubuk hitam di kanan.kiri, depan

belakang perahunya. Tak lama kemudian, ikan-ikan hiu itu

pergi berenang pergi dengan cepat

seperti ketakutan setelah mencium bau bubukan hitam

yang disebarkan oleh Sin Liong. Pemuda ini sudah mendengar

akan bahaya ikan-ikan buas, maka dia telah membawa bekal

racun bubukan hitam yang sering kali dipergunakan oleh para

penghuni Pulau Es untuk mengusir ikan-ikan buas di waktu

mereka mencari ikan.

Beberapa jam kemudian, kembali dia menghadapi ancaman

ikan-ikan kecil yang banyak sekali jumlahnya, mungkin

laksaan. Ikan-ikan besar ibu jari kaki, akan tetapi

keganasannya melebihi ikan hiu. Ikan-ikan ini bahkan berani

menyerang orang di atas perahu dengan jalan meloncat dan

menggigit. Sekali mulut yang penuh gigi runcing seperti

gergaji itu mengenai tubuh, tentu sebagian daging dan kulit

terobek dan terbawa moncongnya! Apalagi kalau sampai

orang jatuh ke dalam air. Dalam waktu beberapa menit saja

tentu sudah habis tinggal tulangnya dikeroyok laksaan ikan

buas ini. Kembali Sin Liong dengan cepat menyebar obat

bubuk hitam beracun itu dan ikan-ikan kecil itupun lari cerai

berai tidak berani lagi mendekati sampai perahu meluncur

meninggalkan daerah berbahaya itu. Setelah melalui

perjalanan yang amat sulit akhirnya menjelang senja, sampai

juga perahu Sin Liong di pantai Pulau Neraka. Tetapi seperti

dugaannya, pulau itu memang mengerikan sekali. Hutan yang

terdapat di pulau itu amat besar dan liar, pohon-pohon aneh

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

dan menghitam warnanya memenuhi hutan yang kelihatannya

sunyi dan mati. Namun, dibalik kesunyian itu Sin Liong

merasakan seolah-olah banyak mata mengamatinya dan maut

tersembunyi disana-sini, siap untuk mencengkram siapa pun

yang berani mendarat!

Melihat keadaan pulau ini makin berdebar hati Sin Liong,

penuh kekhawatiran terhadap keselamatan Swat Hong.

Apakah dara itu sudah berasil mendarat? Tentu Swat Hong

dapat mencapai pulau ini, karena dara itupun tahu jalan ke

situ, dan mengerti pula tempat-tempat berbahaya yang

dilaluinya tadi sehingga seperti juga dia, tentu Swat Hong

telah membawa bekal obat pengusir ikan-ikan buas tadi

dengan cukup.

Akan tetapi dia tidak melihat sebuah pun perahu di pantai

Pulau Neraka. Apakah ada penghuninya? Atau semua orang

buangan telah mati terkena racun yang kabarnya memenuhi

pulau ini? Karena khawatir kemalaman sebelum dapat

menemukan Swat Hong, Sin Liong lalu meloncat ke darat dan

menarik perahunya ke atas. Kemudian dia membalik dan

memasuki hutan. Baru saja dia berjalan beberapa langkah,

terdengar suara berdengung-dengung dan entah dari mana

datangnya, tampak ratusan ekor lebah berwarna putih

menyambar-nyambar dan mengeroyoknya! Dari bau yang

tercium olehnya, tahulah Sin Liong bahwa lebah-lebah itu

mengandung racun yang amat jahat maka tentu saja dia

terkejut sekali! Cepat dia lari dari tempat itu, namun lebahlebah

itu mengejar terus, beterbangan sambil mengeluarkan

suara berdengung-dengung yang mengerikan.

Sin Liong cepat menanggalkan jubah luarnya dan memutar

jubah itu di sekeliling tubuhnya. Dari putaran jubah ini

menyambar angin dahsyat dan lebah-lebah itu terdorong jauh

oleh hawa yang menyambar dari putaran jubah.Sin Liong tidak

tega untuk membunuh lebah-lebah itu maka dia hanya

menggunakan hawa putaran jubahnya untuk mengusir.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

namun, binatang-binatang kecil itu hanya tidak mampu

mendekati dan menyerang tubuh Sin Liong, akan tetapi sama

sekali tidak terusir, bahkan kini makin banyak dan terbang

mengelilingi Sin Liong dari jarak jauh sehingga tidak

terjangkau oleh hawa pukulan jubah. Melihat ini, Sin Liong

kaget. betapapun kuatnya tidak mungkin baginya untuk berdiri

di situ sambil memutar jubahnya semalam suntuk, bahkan

selamanya sampai lebah-lebah itu terbang pergi! Lalu

teringatlah dia akan senjata yang paling ampuh. Api! Dengan

tangan kiri terus memutar jubah melindungi tubuhnya, Sin

Liong lalu mengumpulkan daun kering dan mencari batu yang

keras. Dengan pengerahan tenaganya, dia menggosok dua

batu itu sehingga timbul percikan bunga api yang membakar

daun kering. Diambilnya sebatang ranting kering dan

dibakarnya ranting ini. Benar saja. Dengan ranting yang

ujungnya menyala ini dipegang tinggi di atas kepala, tidak ada

lebah yang berani mendekatinya. Dia melanjutkan perjalanan,

dan terus menerus menyalakan api diujung ranting yang

dikumpulkan dan dibawanya. Dapat dibayangkan betapa

ngeri hatinya ketika melihat banyak sekali binatang berbisa di

sepanjang jalan. Ular-ular kecil, kalajengking, lebah-lebah dan

sebangsanya merayap-rayap lari ketika dia datang dengan

obor di tangan. Untung dia membawa ranting bernyala.

Semua binatang berbisa itu takut terhadap api.

Andaikata dia tidak membawa api tentu dia telah dikeroyok

oleh binatang-binatang kecil yang semuanya.berbisa itu, dari

atas dan bawah! lebah-lebah itu terus mengikut inya, akan

tetapi dari jarak jauh, terbukti

dari suara yang berdengung-dengung itu masih terus

berada di belakangnya. Tiba-tiba terdengar suara bersuit

panjang dan lebah-lebah itu beterbangan makin dekat,

kembali mengurungnya dan kelihatan seperti marah. Bahkan

ada beberapa yang ekor yang meluncur dekat sekali, akan

tetapi menjauh lagi ketika Sin Liong menggunakan api di

ujung ranting untuk mengusirnya. Suitan terdengar berkali-kali

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

dan lebah-lebah itu makin marah dan mengamuk, juga

tampak oleh Sin Liong betapa binatang kecillainya yang

banyak terdapat di hutan itu mulai mendekatinya, namun

masih takut-takut oleh api di ujung ranting.

“Siuuuttt…” tiba-tiba tampak benda hitam menyambar

kearah ujung rantingnya. Maklumlah Sin Liong bawa sambitan

yang amat kuat itu bermaksud memadamkan api di ujung

ranting. Tentu saja dia tidak mau terjadi hal ini, maka cepat ia

menari kebawah ranting terbakar itu dan menggunakan

tangan kirinya menyambar benda yang dilontarkan. Kiranya

segumpal tanah hitam! Mengertilah dia bahwa ada orang yang

membokonginya dan orang itu agaknya yang besuit-suit tadi.

Suitan yang agaknya merupakan perintah kepada binatangbinatang

itu untuk mengeroyoknya!

“Haiiii, Saudara penghuni Pulau Neraka! Harap jangan

menyerang. Aku Kwa Sin Liong datang dengan maksud baik!

Aku hanya mau mencaru Sumoiku di sini!”

Hening sejenak. Suitan-suitan tidak terdengar lagi dan

lebah-lebah itu kembali menjauh, demikian ular, kelabang dan

lain binatang kecil. Terdengar bunyi tampak kaki menginjak

daun-daun kering dan tak lama kemudian muncullah belasan

orang yang bertelanjang kaki, berpakaian tidak karuan,

bermuka menyeramkan itu kotor tidak terawat, mata mereka

merah dan bergerak liar seperti mata orang-orang gila.

Dengan gerakan perlahan, pandang mata penuh juriga,

belasan orang itu menghampiri dan mengurung Sin Liong.

Pemuda itu tersenyum ramah, bersikap tenang dan

mengangkat ranting menyala tinggi-tinggi untuk

memperhatikan wajah mereka.

“Harap Cuwi (Anda Sekalian) sudi memaafkan

kedatanganku yang tiba-tiba ini. Akan tetapi sungguhnya aku,

Kwa Sin Liong, tidak berniat buruk terhadap Pulau Neraka

apalagi terhadap penghuninya. Aku datang untuk mencari

sumoiku yang bernama Han Swat Hong, yang mungkin sudah

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

mendarat di pulau ini.” Seorang di antara mereka, yang

mukanya penuh brewok sehingga yang tampak hanya

matanya dan sedikit hidungnya, melangkah maju dan

menegur, suaranya parau dan kasar. “kau dari mana?” “Dari

Pulau Es….”

Belasan orang itu mendengus dan kelihatan marah sekali.

Si Brewok mengangkat tinggi senjata golok besarnya dan

membentak, “kalau begitu kau harus mampus!”

“Nanti dulu, harap Cuwi bersabar.” Sin Liong cepat berseru

dan mengangkat tangan kirinya ke atas, “Aku bukan musuh

dari Cuwi, sudah kukatakan bahwa aku datang bukan untuk

bermusuh, mengapa Cuwi hendak membunuhku?” Pada saat

itu, muncul pula lima orang, dan terdengar seruan heran dari

seorang di antara mereka, yang bertubuh tinggi besar, “Ehh,

bukankah ini Kwa-kongcu dari Pulau Es?” Sin Liong

memandang dan merasa girang sekali ketika mengenal orang

itu yang bukan lain adalah Bouw Tang Kui, penghuni Pulau Es

yang dihukum buang ke Pulau Neraka karena telah mencuri

batu mustika hijau! “Bouw-lopek!” serunya girang. “Aku

datang untuk mencari Swat Hong yang juga sudah dibuang ke

sini!” “Apa??” Bouw Tang Kui berteriak, lalu berkata kepada Si

Brewok yang agaknya menjadi pemimpin rombongan itu. “Dia

adalah seorang yang telah membelaku, membela Lu Kiat dan

Sia Gin Hwa ketika dijatuhi hukuman buang. Dia seorang

pemuda yang tak setuju dengan hukum di Pulau Es, biarpun

dia adalah murid Raja Han Ti Ong sendiri.”

“Apa…??” Mereka kelihatan terkejut mendengar ini.

“Muridnya…?”

“Benar,” jawab Bouw Tang Kui. “Dan kita bukanlah

lawanya.”.Si Brewok meragu. “Kalau begitu, kita bawa dia

kepada To-cu (Majikan Pulau)!”Bouw Tang Kui melangkah

maju. “Harap Kongcu menurut saja kami hadapkan kepada

To-cu sehingga Kongcu dapat bicara sendiri dengannya.” Sin

Liong mengangguk. Memang menghadapi orang-orang kasar

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

ini akan berbahaya sekali karena mereka sukar diajak bicara.

Kalau dia dapat bicara dengan Majikan Pulau yang tentu

merupakan tokoh yang paling pandai, dia akan dapat minta

keterangan apakah Swat Hong telah berada di pulau itu. Dia

mengangguk dan beberapa orang penghuni Pulau Neraka lalu

menyalakan obor. Sin Liong sendiri membuang rantingnya,

mengenakan lagi jubahnya dan mengikuti rombongan belasan

orang itu memasuki hutan. Di sepanjang jalan dia melihat

tempat-tempat berbahaya, lumpur-lumpur yang tertutup

rumput tinggi, pasir-pasir berpusing yang dapat menyedot apa

saja yang menginjaknya, pohon-pohon yang aneh dengan

buah-buah yang kelihatan lezat namun dari baunya dia tahu

bahwa buah itu mengandung racun jahat, dan lain-lain. Benarbenar

pulau yang amat aneh dan berbahaya, fikirnya. Pantas

kalau disebut Pualu Neraka, dan diam-diam dia mencela

kekejaman Kerajaan Pulau Es yang membuang orang-orang

bersalah ke tempat seperti ini. Dari keadaan orang-orang yang

menangkapnya ini, hanya Bouw Tang Kui seorang yang

kelihatan masih normal. Hal ini mungkin karena raksaksa ini

baru beberapa bulan saja dibuang ke sini, sedangkan yang

lain-lain, biarpun dapat mempertahankan hidupnya, namun

telah berubah menjadi orang-orang liar yang agaknya telah

berubah pula watak dan ingatanya! Dan selain menjadi orangorang

yang tidak normal agaknya mereka telah menguasai

ilmu yang dahsyat dan mengerikan, yaitu ilmu menguasai

binatang-binatang berbisa di pulau itu. Buktinya, biarpun

meraka berjalan di hutan penuh binatang berbisa itu tanpa

sepatu tidak ada seekor pun yang berani menyerang mereka.

Akhirnya dengan menggunakan ketajaman pandang mata

dan penciuman hidungnya Sin Liong maklum bahwa orangorang

ini telah menggunakan semacam obat yang agaknya

digosok-gosokan ke seluruh kaki mereka sehingga binatang itu

menyingkir begitu mereka mendekat. Tak disangkanya sama

sekali, ketika mereka tiba di tengah jalan, di situ terdapat

tanah lapang yang luas dan tampak sebuah rumah besar,

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

dikelilingi pondok-pondok kayu sederhana. lampu-lampu

dinyalakan terang dan Sin Liong dibawa ke sebuah ruangan

yang luas di mana telah menanti ketua pulau itu yang disebut

To-co (Majikan Pulau). Ruangan itu luasanya lebih dari

sepuluh meter persegi, dikelilingi banyak orang yang

memegang bermacam senjata dan yang sikapnya semua

penuh curiga dan permusuhan, kecuali Bouw Tang Kui, Sia Gin

Hwa, Lu Kiat dan belasan orang lagi yang belum lama dibuang

kesitu sehingga mereka ini mengenal Sin Liong sebagai murid

Han Ti Ong yang selalu baik kepada mereka, bahkan banyak

di antara mereka yang pernah diobati oleh pemuda ini.

“Hayo berlutut di depan tocu!” kata Si Brewok sambil

mendorong Sin Liong ke depan. Akan tetapi Sin Liong dengan

tenang berdiri di depan To-cu itu dan memandang penuh

perhatian. Orang ini sudah tua, sedikitnya tentu ada enam

puluh tahun usianya. Kepalanya besar sekali, tubuhnya kurus

kecil sehingga kelihatan lucu, seperti seekor singa jantan yang

duduk di kursi! Sepasang matanya bersinar-sinar, mulutnya

menyeringai. Sebetulnya wajahnya tampan, akan tetapi

karena sikapnya yang ganas itu membuat wajahnya kelihatan

menyeramkan dan menakutkan. Pakaiannya tidak seperti

pakaian sebagian besar penghuni Pulau Neraka yang butut,

melainkan pakaian dari kain yang baru dan bersih. Kursinya

terbuat dari tulang-tulang berukir, dan di kedua lengan

kursinya dihiasi dengan rangka ular dengan moncongnya

ternganga lebar memperlihatkan gigi yang runcing

melengkung. Di sebelah kana ketua Pulau Neraka ini duduk

seorang anak perempuan yang tadinya hampir membuat Sin

Liong salah kira. Anak itu usianya sebaya dengan Swat Hong,

seorang anak perempuan yang cantik dan tersenyum-senyum,

sikapnya kelihatannya gembira dan mungkin karena sebaya

maka kelihatanya mirip dengan Swat Hong. Hampir saja Sin

Liong tadi memanggilnya ketika mula-mula memasuki

ruangan. Ketika melihat betapa pemuda tawanan itu

memandangnnya penuh perhatian, anak perempuan itu

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

tersenyum-senyum. Melihat Sin Liong tidak mau berlutut di

depannya, kakek itu memandang tajam, kemudia berkata

berlahan, suaranya rendah, “Hemmm, kau tidak mau berlutut,

ya? Hendak kulihat kalau kedua lututmu patah, kau berlutut

atau tidak?” Berkata demikian, tiba-tiba tangan kakek itu

menyambar sebatang toya dari tangan seorang penjaga,

menekuk toya itu sehingga patah tengahnya dan sekali dia

menggerakan tangan, sepasang potong toya itu menyambar

ke arah kedua kaki Sin Liong!

Pemuda itu terkejut, akan tetapi bersikap tenang. Dia

maklum bahwa ketua Pulau Neraka itu bermagsud

menggunakan lemparan tongkat untuk membikin

sambungan lututnya terlepas. Maka dia cepat

menggerakan kedua kakinya, meloncat ke atas, kemudian

setelah melihat kedua toya berkelebat ke bawah.kaki dia

menggunakan kedua kakinya menginjak. Sepasang tongkat

pendek itu menancap di atas lantai dan

pemuda itu berdiri di atas kedua ujung tongkat dengan

tubuh tegak dan bersikap seolah-olah tak pernah terjadi

sesuatu!

“Waduhhh, dia hebat sekali, kong-kong (Kakek)!” anak

perempuan yang tadi tersenyum-senyum itu besorak penuh

kagum, padahal anak buah Pulau Neraka memandang marah

karena mengangap bahwa pemuda itu mengejek ketua

mereka.

“Hebat apa! Permainan kanak-kanak seperti itu!” Kakek

berkepala besar itu mendengus marah. “Kong-kong juga

bisa? Ajarkan aku kalau begitu!” anak prempuan itu berkata

dengan sikap dan suara manja.

“Hushh! Diamlah kau!” kakek itu membentak dan sejak tadi

matanya tidak pernah berpindah dari Sin Liong. Dibentak

seperti itu, anak perempuan itu cemberut dan mukanya

merah, menahan tangis. Sin Liong merasa kasihan lalu

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

meloncat turun dan berkata menghibur, “Adik yang manis,

jangan berduka. Biarlah kalau ada kesempatan aku akan

mengajarkannya kepadamu.” Anak perempuan itu

memandang Sin Liong dengan mata terbelalak, kemudian

lenyaplah kemuraman wajahnya yang manja menjadi berseriseri

kembali.

“Orang muda yang bersikap dan bermulut lancang! Siapa

engkau yang mengandalkan sedikit kepandaian untuk

mengacau Pulau Neraka?” Kakek itu membentak, menahan

kemarahannya karena dia merasa direndahkan sekali ketika

serangan sepasang tongkatnya tadi gagal dan dihadapi oleh

pemuda itu secara luar biasa.

Sin Liong cepat memberi hormat dengan menjura dalamdalam,

kemudian dia berkata dengan suara tenang, “Harap

To-cu suka memaafkan kedatanganku ke Pulau Neraka ini.

Seperti telah kukatakan kepada semua penghuni Pulau Neraka

kedatanganku sama sekali tidak mengandung niat buruk atau

hendak bermusuhan. Aku bernama Kwa Sin Liong dan ….”

“Dia murid Han Ti Ong!” tiba-tiba Si Brewok berkata

lantang.

Ucapan ini disambut dengan suara berisik dari semua oang

yang berada di situ karena mereka sudah menjadi marah

sekali. Semua orang yuang berada disitu adalah orang-orang

buangan dari Pulau Es, semenjak raja pertama sehingga

sudah tinggal disitu selama tiga keturunan, ada orang

buangan baru dan ada pula yang merupakan turunan dari

orang-orang buangan lama, akan tetapi kesemuanuya

mempunyai rasa benci dan dendam pada satu nama, yaitu

Pulau Es! Maka begitu mendengar pemuda tampan dan

tenang ini adalah murid Han Ti Ong, raja terakhir dari Pulau

Es, dapat dibayangkan kemarahan hati mereka. Dengan

pandang mata mereka yang liar mereka hendak mencabikcabik

dan membunuh pemuda itu yang dianggapnya seorang

musuh besar, dan andaikata mereka itu tidak takut kepada

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

ketua mereka, tentu mereka telah menyerbu untuk

melaksanakan niat yang terbayang dalam pandang mata

mereka itu. “Akan tetapi dia selalu menentang Han Ti Ong,

menentang pembuangan ke Pulau Neraka!” terdengar suara

beberapa orang membela, yaitu suara Bouw Tang Kui, Lu Kiat,

Sia Gin Hwa dan beberapa orang buangan baru yang lain.

“Bunuh saja dia!”

“Seret murid Han Ti Ong!”

“Jadikan dia mangsa ular!”

Kakek bekepala besar itu mengangkat kedua lengannya ke

atas dan membentak, “Diam…!!”

Sin Liong kembali terkejut. Ketika mengeluarkan suara

bentakan tadi ketua Pulau Neraka agaknya

telah mengerahkan khikangnya sehingga dia sendiri yang

berdiri di depan kakek itu merasa betapa kedua

kakinya tergetar! Mengertilah dia bahwa ketua Pulau

Neraka ini benar-benar memiliki ilmu kepandaian.tinggi dan

tahulah dia bahwa dia telah memasuki sarang naga dan

berada dalam keadaan terancam. Namun

Sin Liong t idak merasa takut sedikitpun juga karena dia

merasa bahwa dia tidak melakukan suatu kesalahan terhadap

mereka ini. Maka kembali dia menjura kepada ketua Pulau

Neraka sambil berkata, “To-cu, sekali lagi kujelaskan bahwa

kedatanganku ini sama sekali tidak mengandung niat buruk

dan kalau tidak ada perlu sekali pasti aku tidak akan berani

menginjakan kaki ke pulau ini. Aku datang untuk mencari

Sumoiku yang bernama Han Swat Hong puteri Suhu…..” Sin

Liong menghentikan kata-katanya karena teringat bahwa dia

telah kelepasan bicara, akan tetapi karena sudah terlanjur

maka tak mungkin kata-kata itu ditariknya kembali.

“Putera Han Ti Ong…??” Ketua Pulau Neraka berseru keras

sekalli sampai mengagetkan semua orang.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Kau mencari puteri Han Ti Ong di sini?”

Sin Liong berkata, “Benar, To-cu. Karena aku menduga

bahwa dia berada di sini maka aku menyusul ke sini.”

“Tangkap puteri Han Ti Ong!”

“Bunuh dia!”

“Gantung puterinya!”

Kini Sin Liong mengangkat kedua lengannya dan sambil

menggerakan khikangnya dia beseru, “Harap Cu-wi diam!”

Dan diamlah semua orang. Di antara meraka yang memiliki

kepandaian tinggi, termasuk ketua Pulau Neraka, kagum sekali

karena orang muda yang belum dewasa benar ini ternyata

memiliki kekuatan khikang yang amat hebat! “Harap Tocu

tidak salah sangka. Puteri Han Ti Ong itu juga menjadi orang

buangan.”

Ucapan Sin Liong ini tentu saja mengejutkan dan

mengherankan hati semua orang sehingga mereka tidak dapat

mengeluarkan kata-kata melainkan hanya memandang kepada

SinLiong dengan mata terbelalak.

“Kau bohong!” Kakek berkepala besar itu menghardik.

“Mana mungkin Han Ti Ong membuang puterinya sendiri ke

Pulau Neraka?”

“Agaknya Tocu telah mengerti akan kerasnya peraturan

hukum di Pulau Es, dan sebetulnya yang dianggap melanggar

hukum adalah istri suhu sendiri, istri tua, yang aku yakin

hanyalah karena fitnah belaka. Suhu telah menjatuhkan

hukuman kepada Subo, dan Sumoi lalu mewakili ibunya untuk

membuang diri ke Pulau Neraka, maka aku menyusul ke sini

untuk mengajaknya pulang ke Pulau Es.” Tiba-tiba ketua Pulau

Neraka tertawa bergelak, tertawa penuh kegembiraan sampai

kedua matanya mengeluarkan air mata! “Huah-ha-ha-ha! Haha-

ha, betapa lucunya! Rasakan kau sekarang Han Ti Ong,

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Raja keparat! Rasakan kau betapa perihnya orang tertimpa

kesengsaraan karena keluarga berantakan. Ha-ha-ha!”

Semua orang yang melihat dan mendengar kata-kata ketua

Pulau Neraka ini, kontan tertawa-tawa semua, mentertawakan

Raja Pulau Es! Biarpun mereka belum sempat membalas

dendam kepada Raja Pulau Es, mendengar nasib buruk Raja

itu sudah merupakan hiburan besar yang amat menyenangkan

hati mereka. Hanya anak perempuan itu saja yang tidak ikut

tertawa karena dia agaknya tidak mengerti apa-apa, dan pada

saat itu dia hanya saling pandang dengan Sin Liong yang juga

terheran-heran. “Hei, Kwat Sin Liong! Betapa baiknya

ceritamu, akan tetapi aku masih belum percaya kalau tidak

melihat sendiri peteri Han Ti Ong datang ke pulau ini. kita

tunggu dan lihat saja. Setelah aku melihat puteri Han Ti Ong

berada di pulau ini, barulah kita akan bicara lagi. Tangkap dia

dan masukan dalam kamar tahanan sambil menanti

munculnya puteri Han Ti Ong!”

Si Brewok dan beberapa orang yang agaknya menjadi

pembantu utama ketua Pulau Neraka sudah

melangkah menghampiri Sin Liong dengan sikap

mengancam. Pemuda ini maklum bahwa tidak ada jalan

lain kecuali menyerah sambil menanti munculnya Sumoinya

karena sebelum dia bertemu degnan.Sumoinya, melawan

hanya akan menimbulkan permusuhan yang tidak ada artinya

saja. Maka dia

mengangkat kedua tangannya dan berkata, “Aku tidak akan

melawan, kecuali kalau kalian menggunakan kekerasan. Aku

menyerah dan mau menanti di kamar tahanan sampai

Sumoiku muncul.” Melihat sikap tenang dan ucapan yang

berwibawa ini, belasan orang yang mengurung Sin Liong

dengan sikap mengancam tadi kelihatan ragu-ragu. Akan

tetapi Sin Long lalu melangkah ke depan dan berkata, “Marilah

bawa aku ke kamar tahanan.”

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Jangan ganggu dia, biar dia mengaso di kamar tahanan

dan layani baik-baik sampai puteri Han Ti Ong mucul. kalau

dia membohong, hemm, baru kita akan berpesta

membunuhnya!” Ketua Pulau Neraka berkata sambil terkekehkekeh

karena hatinya senang sekali mendengar betapa Han Ti

Ong sampai membuang istrinya sendiri ke Pulau Neraka,

kemudian puterinya malah membuang diri ke Pulau Neraka.

Biarpun dia belum percaya benar akan cerita ini sebelum dia

menyaksikan buktinya, namun berita itu saja sudah

mendatangkan rasa senang di dalam hatinya.

Dengan sikap gagah dan tenang sekali Sin Liong digiring ke

dalam kamar tahanan, diikuti oleh pandang mata penuh

khawatir dari anak perempuan tadi. Setelah rombongan itu

lenyap, anak perempuan itu mencela ketua Pulau Neraka,

“Kong-kong kenapa dia ditahan? Dia luar biasa, berani dan

pandai sekali!” “Hushh! Dia orang Pulau Es, dia murid Han Ti

Ong, karena itu dia adalah musuh kita. Mengerti?” Anak

perempuan itu cemberut, lalu meninggalkan kakek itu sambil

bersungut-sungut sedangkan kakeknya tertawa bergelak

dengan hati senang. Dia lalu memberi isyarat memanggil

seorang kepercayaannya, lalu berbisik-bisik sambil tersenyumsenyum.

Pembantunya juga tertawa, mengangguk-anguk lalu

pergi. Kakek ini, ketua Pualu Neraka yang memiliki kepandaian

tinggi, sama sekali tidak curiga kepada cucunya sendiri, tidak

tahu bahwa cucunya itu tadi menyelinap dan mendengarkan

perintah yang dia berikan kepada orang kepercayaannya.

Sin Liong adalah seorang pemuda yang tidak pernah

mempunyai prasangka buruk terhadap orang lain. Dia belum

banyak mengenal kepalsuan watak manusia dan biarpun

terhadap orang-orang Pulau Neraka, dia tetap menaruh

kepercayaan. Maka diapun percaya penuh akan kata-kata

ketua Pulau Neraka dan dengan suka rela dia menyerahkan

diri, tidak melawan ketika digiring memasuku kamar tahanan!

Setelah berada di dalam kamar di bawah tanah yang sempit

itu, dengan jendela dan besi dari baja, dan ruji baja yang kuat

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

memenuhi jendela sebagai jalan hawa, dia segera duduk

besila. Dia tak menaruh khawatir akan keadaan dirinya, akan

tetapi dia merasa gelisah mengapa sumoinya belum tiba di

Pulau Neraka? Dia percaya bahwa ketua Pulau Neraka tidak

membohonginya. Kalau benar bahwa Swat Hong telah berada

di Pulau Neraka, tentu tidak seperti ini sikap mereka terhadap

dirinya. Kalau begitu, jelas bahwa Sumoinya belum tiba di

Pulau Neraka, padahal telah berangkat lebih dahulu. Ke

manakah perginya sumoinya itu? Tengah malam telah lewat

dan keadaan sunyi sekali dalam kamar tahanan itu. Tidak ada

penjaga di luar pintu atau jendela, akan tetapi dia tahu bahwa

di pintu masuk lorong tahanan itu terdapat beberapa orang

penjaga yang selalu siap dengan senjata di tangan. Tiba-tiba

dia mendengar suara wanita yang marah-marah di sebelah

luar dan suara para penjaga ketakutan.

“Kalian berani melarangku masuk?” terdengar suara wanita

itu.

“Nona, tahanan ini adalah orang penting! dan….”

“Dan kauanggap aku bukan orang penting? Kaukira aku

mau apa? Aku mau mengejeknya dan memakinya, dia adalah

musuh besarku. Apakah kau berani melarangku? Coba kau

melarang dan aku akan mengatakan kepada Kong-kong

bahwa kalian berani kurang ajar kepadaku hendak

menggodaku, aku mau melihat apakah kepala kalian masih

akan menempel di leher!”

“Ah, tidak… bukan begitu….”

“Maafkan, Nona….”

“Silahkan masuk, silahkan;;;;”.”Awas kalau ada yang

mengikut i aku dan mengintai, berarti dia mau kurang ajar dan

akan kuberitahukan

kepada Kong-komg!”

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Sin Liong sudah menduga siapa wanita yang bicara di luar

dan ribut-ribut dengan para penjaga itu, akantetapi begitu

dara itu muncul di bawah sinar lampu di luar ruji jendelanya,

hampir saja dia berteriak memanggil karena mengira bahwa

Swat Hong yang muncul itu. Di bawah sinar lampu yang tidak

begitu terang memang gadis cucu ketua Pualu Neraka ini

hampir sama dengan Swat Hong. Setelah melihat jelas bahwa

yang datang adalah cucu ketua Pulau Neraka dan mengingat

akan kata-kata gadis ini di luar tadi bahwa kedatangannya

dengan niat mengejek dan memakinya, Sin Liong tetap duduk

bersila dan bahkan memejamkan matanya, pura-pura tidur.

“Ssssttt…”

Sin Liong tidak menjawab, bergerak sedikitpun t idak. Perlu

apa melayani seorang bocah yang hanya datang hendak

mengejek dan memakinya? Demikian pikirnya sungguhpun

hatinya terasa tidak enak juga harus mendiamkan saja orang

yang susah payah datang sampai ribut mulut dengan para

penjaga. Tentu akan kecewa hatinya, pikir Sin Liong dan

diam-diam dia mengintai dari balik bulu matanya yang

direnggangkanya sedikit.

“Pssstttt… kau tidak tidur, bulu matamu bergerak-gerak,

jangan kautipu aku….” anak perempuan itu berkata lagi

dengan suara bisik-bisik dan meruncingkan bibirnya di antara

ruji-ruji jendela. Sin Liong menarik napas panjang dan

membuka matanya. “Hah, kau boleh mengejek dan memaki

sesukamu, kemudian pergilah agar aku dapat mengaso benarbenar,”

katanya. “Hi-hik!” Gadis itu menahan ketawanya,

menutupi mulutnya yang kecil. “Kiranya engkau sama

bodohnya dengan para penjaga itu, percaya saja apa yang

kukatakan apa yang kukatakan di luar tadi!” Sin Liong bangkit

berdiri dan menghampiri jendela kamar tahanan. Mereka

saling berhadapan dan saling pandang melalui ruji-ruji jendela.

“Apa yang kaumaksudkan, Nona?” Mulut yang tersenyum itu

kini cemberut dan terdengar suaranya manja, “Kau tadi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

menyebutkan Adik yang manis. Mengapa sekarang menjadi

Nona? kau benar pandai mengecewakan hati orang!” Mau

tidak mau Sin Liong tersenyum. Bocah ini manja dan lincah,

mengingatkan dia kepada Han Swat Hong. Banyak persamaan

antara kedua orang perempuan itu. “Baiklah, Adik yang manis.

sebenarnya, mau apa kau datang ke sini kalau bukan untuk

mengejek dan memaki aku yang dianggap musuh oleh

kakekmu?”

“Aku datang untuk bercakap-cakap.”

“Hemm, waktu dan tempatnya tidak tepat untuk bercakapcakap.

Aku adalah seorang tahanan dan engkau adalah cucu

To-cu di sini, tempat ini di kamar tahanan yang kotor dan

sempit dan sekarang sudah lewat tengah malam. Harap

engkau kembali ke kamarmu dan tidur yang nyenyak. janganjangan

kau akan dimarahi Kong-kongmu.”

“Aku tidak takut! Aku sengaja datang ke sini untuk

bercakap-cakap denganmu. Siapa berani melarangku?”

Sikapnya menjadi galak, matanya bersinar-sinar dan Sin Liong

menarik napas panjang. Sejak lama dia memperoleh

kenyataan betapa ganjilnya watak wanita. Dia melihat watakwatak

yang aneh dan sukar dimengerti yang dilihatnya pada

diri Sia Gin Hwa yang menyeleweng dari suaminya, berjinah

dengan Lu Kiat, pada diri Liu Bwee ibu Swat Hong yang

tadinya periang lalu berubah pemurung dan berhati begitu

sabar dan mengalah terhadap suaminya yang menyakitkan

hatinya, pada diri The Kwat Lin yang juga amat berubah

setelah menjadi istri raja, pada diri Swat Hong yang telah

nekad membuang diri ke Pualu Neraka, dan kini dia

berhadapan dengan seorang gadis yang juga berwatak aneh

sekali.

“Baiklah, jangan marah karena tidak ada yang melarangmu

di sini. Kalau kau ingin bercakap-cakap, nah,

bercakaplah dan aku akan mendengarkan.” Gadis itu

melongo. “Bercakap apa?”.Diam-diam Sin Liong merasa geli.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Benar-benar seorang gadis yang masih seperti kanak-kanak

dan

mungkin semua sikapnya tadi, ketika bergembira dan ketika

marah, tidaklah setulusnya hati maka demikian mudah

berubah.

“Bercakap apa saja sesukamu, misalnya siapa namamu,

siapa pula nama Kong-kongmu dan keadaan di pulau ini dan

lain-lain.”

Wajah itu berseri kembali, gembira setelah ingat bahwa

sesungguhnya banyak sekali bahan untuk dibicarakan.

“Namaku Soan Cu, Ouw Soan Cu….”

“Namamu indah.” Sin Liong memuji untuk menyenangkan

hatinya. Dan memang hati Soan Cu senang sekali mendengar

pujian ini.

“Benarkah? Benarkah namaku indah?” Dengan penuh

gairah dia lalu menceritakan riwayatnya secara singkat.

Ketua atau Majikan Pulau Neraka itu bernama Ouw Kong Ek

bukanlah seorang buangan dari Pulau Es, melainkan

keturunan orang buangan yang semenjak ratusan tahu

menjadi ketua di situ karena memiliki ilmu kepandaian tinggi.

Kakek dari Ouw Kong Ek, seorang buangan dari Pulau Es yang

berilmu tinggi, adalah seorang pertama yang menjadi “Ketua”

di Pulau Neraka, kemudian menurunkan kedudukan ini kepada

anaknya sampai kepada Ouw Kong Ek. Ouw Kong Ek sendiri

mengambil seorang buangan dari Pulau Es, seorang bekas

pelayan permaisuri Raja Pulau Es yang dijatuhi hukuman

buang karena fitnah dan sesungguhnya dia tidak mau

melayani seorang pangeran yang tergila-gila kepadanya,

menjadi istrinya mempunyai seorang anak laki-laki yang

bernama Ouw Sian Kok. Akan tetapi istrinya meninggal dunia

ketika Ouw Sian Kok menikah dengan seorang gadis Pulau

Neraka dan Ketua Pulau Neraka ini tinggal menduda. Dia

mencurahkan pengharapanya kepada putera tunggalnya yang

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

mewarisi semua ilmunya dan yang diharapkan kelak akan

menggantikan kedudukanya kalau dia sudah mengundurkan

diri.

Namun nasib buruk menimpa keluarga Ouw. Ketika istri

Ouw Sian Kok melahirkan seorang anak, yaitu Soan Cu, ibu

muda ini meninggal dunia. Ouw Sian Kok demikian berduka

sehingga ingatannya terganggu, menjadi gila dan melarikan

diri dari Pulau Neraka, tak seorangpun tahu kemana perginya

orang gila itu. “Demikianlah riwayatku yang tidak

mengembirakan,” Soan Cu mengakhiri ceritanya. Sejak kecil

aku tidak pernah melihat wajah ibu dan ayahku. Ayah sampai

sekarang tidak pulang dan tidak ada yang tahu berada di

mana. Aku dipelihara dan dididik oleh Kong-kong yang

mengharapkan kelak aku menggantikan kedudukan ketua di

sini. Akan tetapi aku tidak sudi!”

“Mengapa tidak suka, Soan Cu?”

“Siapa sudi mengurusi orang-orang gila itu! Mereka semua

gila dan jahat, karena itu aku suka kepadamu Sin Liong.

Engkau lain dari pada mereka, engkau berani dan baik. Maka

aku datang untuk menolongmu. Ketahuilah, sebentar lagi,

kalau kau dikira sudah tidur, engkau akan dibunuh!” Sin Liong

terkejut akan tetapi tetap bersikap tenang. “Benarkah?

Mengapa aku dibunuh? Bukankah Kongkongmu berjanji bahwa

kita akan berjanji akan menunggu sampai Sumoiku tiba di

Pulau Neraka?” “Uhh, kau percaya kepada Kong-kong! Hmm,

dia hanya membohong.”

“Ah, mengapa begitu? Sebagai seorang ketua tidak

sepatutnya kalau dia menipu.” “Membohong dan menipu

merupakan pebuatan yang menguntungkan dan bahkan

dianggap baik dan layak di sini! itu adalah tanda dari

kecerdikan seseorang!”

“Pantas kau tadi pun membohongi penjaga.” Sin Liong

mencela. “Memang, kalau tidak membohong, mana bisa

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

masuk dengan mudah? Dan kau tentu akan celaka kalau akau

tidak membohong.”

“Hmmm…, alasan dicari-cari dan ngawur. Jadi mereka

hendak membunuhku? Mudah saja, apa dikira aku

begitu mudah dibunuh?”.”Kau tidak tahu kecerdikan Kongkong,

Sin Liong. Kalau digunakan kekeras, agaknya kau akan

melawan

dan sudah melihat kau tadi sudah lihai. Akan tetapi, mereka

akan mengerahkan binatang-binatang berbisa untuk

mengeroyokmu dan membunuhmu di kamar sempit ini! Kalau

segala macam ular, kalajengking, kelabang, lebah dan lain

binatang berbisa itu datang memenuhi tempat ini dan

mengeroyokmu, apa yang akan dapat kaulakukan untuk

menyelamatkan diri?”

“Hemm, aku akan berusaha membela diri, kalau aku gagal,

aku akan mati dan habis perkara. tidak ada hal yang

menggelisahkan hatiku.”

“Kau sombong! Kau tidak minta tolong kepadaku?”

“Andaikata aku minta tolong juga, kalau kau tidak mau

menolong, apa artinya? Tanpa kuminta sekalipun, kalau kau

mau menolong, bagaimana caranya? Sudahlah, kau hanya

akan menyusahkan dirimu sendiri saja, Soan Cu. Betapapun

juga terima kasih atas kedatanganmu dan kebaikan hatimu.

Kau seorang dara yang cantik dan baik budi, sayang kau

berada diantara orang-orang liar itu. Pergilah, jangan sampai

kakekmu melihat engkau berada disini.”

Soan Cu mengeluarkan sebuah bungkusan. “Inilah yang

akan menyelamatkanmu. Kaupergunakan obat bubuk ini untuk

menggosok semua kulit tubuhmu yang tampak, dan sebarkan

sebagian di sekelilingmu. Tidak akan ada seekor pun binatang

berbisa yang berani datang mendekat, apalagi menggigitmu.

Nah, sebetulnya kedatanganku hanya untuk menyerahkan ini,

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

akan tetapi kita terlanjur ngobrol panjang lebar. Selamat

tinggal, Sin Liong.”

Sin Liong menerima bungkusan itu, mengulurkan tangan

dari antara ruji jendela dan memegang lengan dara itu.

“Nanti dulu, Soan Cu.”

Ada apa lagi?” Gadis itu membalikan tubuh dan mereka

saling berpegangan tangan. Hal ini dilakukan oleh Sin Liong

karena dia merasa terharu juga oleh pertolongan yang sama

sekali tidak disangka-sangka itu. “Soan Cu, tahukah engkau

apa yang akan terjadi padamu kalau sampai Kong-kongmu

mengetahui akan perbuatanmu ini?”

“Menolong engkau? Ah, paling-paling dia akan

membunuhku! “

“Hemm, begitu ringan kau memandang akibat itu? Soan

Cu, mengapa kau melakukan ini untukku?

Mengapa kau menolongku dengan mempertaruhkan

nyawa?”

“Sudah kukatakan tadi. Kau lain dari pada semua orang

yang kulihat di pulau ini. Aku suka padamu dan aku tidak ingin

mendengar apalagi melihat engkau mat i. Sudahlah, hati-hati

menjaga dirimu, Sin Liong!” Gadis itu meloncat dan berlari

keluar.

Sin Liong berdiri temenung sejenak, kemudian kembali ke

tengah kamar tahanan dan duduk bersila menenangkan

hatinya. Andaikata tidak ada Soan Cu yang datang

memberikan obat penawar dan pengusir binatang berbisa, dia

pun tidak kan gentar dan belum tentu dia akan celaka oleh

binatang-binatang itu, sungguhpun dia sendiri belum mau

membayangkan apa yang akan dilakukanya kalau serangan itu

tiba. Apalagi sekarang ada obat bubuk itu. Dia teringat

betapa penghuni Pulau Neraka dapat menjelajahi hutan yang

penuh binatang berbisa dengan enaknya karena tubuh mereka

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

sudah memakai obat penawar. Agaknya inilah obat penawar

itu. Dia membuka bungkusan dan melihat obat bubuk

berwarna kuning muda yang tidak akan kentara kalau

dioleskan di kulit tubuhnya. Sin Liong bersila dan mengatur

pernapasan, melakukan siulian (samadhi) lagi.

Pendengarannya menjadi amat terang dan tajam sehingga

dia dapat menangkap suara mendesis dan suara

yang dikenalnya sebagai suara lebah yang datang dari

jauh, makin lama makin mendekat itu. Tahulah dia

bahwa apa yang diceritakan oleh Soan Cu memang t idak

bohong. Sekali ini agaknya anak itu tidak

membohong!.Maka dia lalu membuka bungkusan,

menggosok kulit tubuhnya yang tidak tertutup pakaian dengan

obat

itu. Mukanya sampai ke leher, tangan dan kakinya,

digosoknya sampai rata. Kemudian sambil membawa

bungkusan yang terisi sisa obat itu, dia menanti.

Tak lama kemudian, suara itu menjadi makin dekat dan

tiba-tiba saja munculah mereka! Diam-diam Sin Liong bergidik

juga. Tentu dia akan melompat kalau saja dia tidak

mempunyai obat penolak itu. Dari bawah pintu, puluhan ekor

ular kecil dan kelabang besar, kalajengking yang besarnya

sebesar ibu jari, merayap dengan cepat memasuki kamar,

berlomba dengan lebah-lebah putih yang beterbangan masuk

melalui jendela.

Sin Liong cepat menyebarkan bubuk obat ke sekeliling di

atas lantai, dan menaburkan sebagian ke atas, ke arah lebahlebah

yang berterbangan. Dia tersenyum kagum melihat

akibatnya. Semua binatang berbisa itu, dari yang paling kecil

sampai yang paling besar, tiba-tiba serentak membalik saling

terjang dan saling timpa, lari cerai berai meninggalkan kamar.

Lebah-lebah putih juga terbang dengan kacau, menabarak

dinding dan banyak yang jatuh mati, yang sempat terbang

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

keluar jendela saling tabrak seperti mabok, dan sebentar saja

suara binatang-binatang itu sudah menjauh. Akan tetapi

mendadak Sin Liong meloncat berdiri ketika medengar suara

lain yang membuat jantungnya berdebar,. Suara seorang

wanita memaki-maki, “Iblis kalian semua! Manusia-manusia

gila! Kalau tidak dapat membasmi kalian, jangan sebut aku

Han Swat Hong!”

Sin Liong meloncat ke arah jendela, kedua tangannya

bergerak dan terdengar suara keras ketika ruji-ruji jedela jebol

semua. Dia meloncat dan keluar dari kamarnya, terus berlari

keluar melalui lorong. Setibanya di luar, tampaklah olehnya

Swat Hong berdiri tegak dengan kedua tangan bertolak

pinggang, dua orang anggota Pulau Neraka roboh dan

mengaduh-aduh di bawah sedangkan belasan orang lain

mengurung gadis itu. Sin Liong menggeleng-geleng kepala.

Sumoinya memang galak dan pemberani. Bukan main

gagahnya. Dikurung oleh orang-orang Pulau Neraka itu masih

enak-enak saja, bahkan tidak mencabut pedang, padahal

semua yang mengurungnya memegang senjata.

JILID 6

Heiii! Mundur kalian, jangan ganggu dia!!” Sin Liong sudah

meloncat ke depan. “Kau yang mundur! Mengapa ikut-ikut

keluar?” Swat Hong membentak dan memandang Sin Liong

dengan mata mendelik.

“Ehh? Sumoi…? Aku hanya ingin menolongmu.”

“Siapa membutuhkan pertolonganmu? kembalilah ke kamar

tahananmu itu dengan … dengan…” Akan tetapi Swat Hong

tak dapat melanjutkan kata-katanya karena kini orang-orang

Pulau Neraka telah mengeroyoknya.

“Wuuuttt… siuuuuttt!” Tubuh Swat Hong sudah

menyambar ke sana-sini, selain mengelak dari serbuan banyak

senjata itu, juga untuk mengirim serangan serangan balasan

dengan tangan dan kakinya yang bergerak cepat sekali. Bukan

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

main hebatnya Swat Hong yang bergerak cepat dan yang

didorong oleh perasaan marah itu. Dia memang marah, bukan

marah kepada orang-orang Pulau Neraka, melainkan marah

kepada… Sin Liong!

Kiranya tanpa diketahui oleh Sin Liong sendiri, sudah sejak

tadi Swat Hong t iba di tempat itu, menggunakan

kepandaiannya menyelundup sehingga tidak diketahui para

penjaga dan dia telah dapat mendengarkan percakapan antara

suhengnya dan Soan Cu. Hatinya menjadi panas! Dia sendiri

tidak tahu akan hal ini, tidak sadar mengapa dia menjadi tidak

senang mendengar betapa suhengnya bercakap-cakap dengan

ramah bersama seorang gadis! karena itu, niatnya untuk

menolong suhengnya menjadi buyar dan dia hanya menonton

saja ketika suhengnya diserbu binatang berbisa dan dapat

menolong diri dengan obat penolak yang diberikan oleh Soan

Cu.

Ketika Swat Hong yang marah menyaksikan ibunya dijatuhi

hukuman buang melarikan diri dari

Pulau Es, dara ini segera berlayar menggunakan sebuah

perahu Pulau Es. Tujuannya memang hendak.membuang diri

ke Pulau Neraka menggantikan ibunya, dan terutama hal ini

dilakukannya sebagai protes

kepada ayahnya.

Akan tetapi karena dia belum pernah pergi ke pulau tempat

buangan itu, dan pula karena sudah jauh meninggalkan Pulau

Es dia mulai merasa gelisah dan ngeri memikirkan keadaan

Pulau Neraka yang kabarnya amat berbahaya itu, maka dia

tersesat jalan, mendarat di pulau-pulau kosong sekitar Pulau

Neraka. Akhirnya dia melihat dari jauh perahu Sin Liong

meluncur di antara gumpalan-gumpalan es yang menggunung.

Dia merasa heran sekali melihat suhengnya dan merasa

khawatir kalau-kalau suhengnya itu mengejarnya atas suruhan

raja untuk memaksanya kembali ke Pulau Es. Maka diam-diam

ia lalu mengikuti dari jauh sampai akhirnya dia melihat

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

suhengnya mendarat di Pulau Neraka. Dengan menggunakan

kepandaianya. Swat Hong berhasil pula mendarat di Pulau

Neraka. Dia tidak khawatir akan serangan binatang-binatang

berbisa, karena sebelum berangkat Swat Hong membawa batu

mustika hijau yang dia dapat dahulu dari ayahnya. Di bagian

tertentu di dasar laut dekat Pulau Es terdapat batu mustika

hijau ini yang amat sukar didapat dan hanya beberapa orang

penghuni Pulau Es saja yang berhasil mendapatkannya. Batu

mustika hijau ini mengandung khasiat yang mujijat terhadap

ular berbisa dan semua binatang berbisa, selalu ditakuti

binatang-binatang itu, juga dapat dipergunakan untuk

mengobati luka terkena gigitan binatang berbisa. Maka,

dengan batu mustika ditangannya, dengan mudah Swat Hong

dapat memasuki Pulau Neraka tanpa mendapat gangguan

sedikit pun dari binatang berbisa yang hidup di pulau itu.

Ketika Swat Hong tiba di tengah pulau, dia sempat melihat

sinar, maka dia menanti sampai larut malam dan

menyelundup ke dalam tempat tahanan, dengan maksud

menolong suhengnya, akan tetapi tanpa disengaja dia dapat

mendengarkan percakapan antara suhengnya dengan Soan

Cu. Inilah yang membuat hatinya menjadi panas sehingga

ketika dia ketahuan para penjaga dan dikroyok, dia menolak

keras bantuan Sin Liong!

Tentu saja Sin Liong menjadi terheran-heran melihat sikap

sumoinya dan memandang dengan alis berkerut dan hati

khawatir. Sudah ada enam orang pengeroyok terguling roboh

oleh gerakan kaki tangan Swat Hong yang marah itu, padahal

dara itu belum mencabut pedangnya. Dapat dibayangkan

betapa akan hebatnya kalau dara itu sudah menggunakan

senjata!

“Sumoi, tahan…!” Dia meloncat maju.

“Singgg…! Mundur kau!” Sin Liong terkejut melihat

sumoinya mencabut pedang! Dan pada saat itu, terdengar

bentakan keras, “Siapakah gadis cilik itu berani mengacau

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

disini? Ahhh, Kwa Sin Liong, engkau berani lolos dari tempat

tahanan?”

Yang datang adalah Ouw Kong Ek, ketua Pulau Neraka!

Tentu saja ketua ini tidak mengenal Swat Hong, sebaliknya,

dara itupun tidak mengenal kakek berkepala besar ini, maka

dia memandang rendah dan membentak, “Siapa kau? Kalau

sudah bosan hidup, majulah!” Dara itu dengan gerakan gagah

melintangkan pedangnya di depan dada.

Sin Liong cepat melangkah maju. Dia tahu betapa lihainya

kakek ini, maka untuk mencegah pertempuran, dia cepat

berkata, “Tocu, jangan salah sangka.Dia adalah sumoiku, dia

adalah puteri Suhu, Raja dari Pulau Es!”

Semua orang terkejut mendengar ini dan para pengurung

melangkah mundur dengan mata terbelalak. Betapapun juga,

nama Raja Pulau Es masih merupakan nama ampuh dan selain

dibenci, juga amat ditakuti oleh mereka. Tentu saja sebagai

puteri Raja Pulau Es, dara itu merupakan musuh yang dibenci

dan juga ditakuti. Pantas saja dara itu demikian lihai, pikir

mereka. Hati mereka gentar. Tidak demikian dengan Ouw

Kong Ek. Dia memandang Swat Hong dan tertawa bergelak.

“Ha-ha-ha, jadi dia inikah puteri Raja Pulau Es? Puteri Han

Ti Ong? Bagus, hayo tangkap dia hidup-hidup!” perintahnya

kepada para pembantunya yang segera melompat ke depan.

“Tahan dulu!” Sin Liong sudah mengangkat tangan

kanannya ke atas. Semua orang, termasuk Ouw Kong

Ek sendiri, memandang pemuda ini. Betapapun juga

mereka maklumbahwa pemuda ini lihai sekali,

buktinya penyerbuan binatang-binatang berbisa untuk

membunuhnya di dalam kamar tahanan telah gagal,

bahkan binatang-binatang itu lari cerai berai dan kini

pemuda itu sudah lolos dari dalam penjara..”Ouw-tocu, seperti

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

sudah kuceritakan kepadamu, biarpun sumoi adalah puteri

Raja Han Ti Ong, akan tetapi

ia menentang Ayahnya dan mewakili Ibunya dihukum ke

Pulau Neraka. Dia tidak memusuhi Pulau Neraka….”

“Ha-ha-ha, apa pun yang kaukatakan, dia tetap adalah

puteri Han Ti Ong, musuh besar kami. Mana kami dapat

percaya kepada kalian, puteri dan murid Han Ti Ong? Tangkap

mereka!” “Nanti dulu, Tocu! Mengapa engkau melanggar janji?

Aku sudah mengatakan bahwa kedatanganku ke pulau ini

hanya untuk mencari Sumoi dan ternyata sekarang Sumoi

telah tiba di sini, maka harap Tocu bersikap bijaksana dan

membiarkan kami pergi dari tempat ini.”

“Hai, Kakek berkepala besar yang tolol! Kau mudah saja

dibohongi Suheng! Kami memang datang untuk membasmi

iblis-iblis di Pulau Neraka. Nah, kau mau apa?”

“Sumoi!” Sin Liong membentak kaget dan cepat berkata

kepada ketua Pulau Neraka, “Tocu, jangan dengarkan dia.

Agaknya dia telah mengalami tekanan batin yang hebat

sehingga mengeluarkan kata-kata kacau balau t idak karuan.”

Swat Hong mengangkat dada, menegakan kepalanya dan

menghadapi Sin Liong dengan mata mendelik dan berkata

lantang, “Apa? Kau mau bilang bahwa aku telah menjadi gila?”

“Sumoi, kalau kau bicara seperti tadi, membohong tidak

karuan, memang agaknya kau telah gila?” “Kau yang gila! Kau

yang tidak waras dan berotak miring! Kalau aku membohongi

iblis-iblis ini, apa hubungannya dengan kau?”

Sin Liong benar-benar menjadi bingung. Biasanya Swat

Hong bersikap manis kepadanya dan biarpun dia tahu bahwa

dara ini berhati keras, akan tetapi belum pernah bersikap

sekeras itu kepadanya. Tiba-tiba muncul Soan Cu yang

berkata kepada kakeknya, suaranya nyaring sehingga

terdengar oleh semua orang. “Kong-kong, apa yang dikatakan

Sin Liong memang benar! Dia beriktikad baik terhadap kita,

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Kong-kong. Malam tadi aku datang kepadanya untuk

mengejeknya, akan tetapi dia sebaliknya malah menunjukkan

bahaya maut yang mengancamdiriku.”

Kakek itu terkejut. “Bahaya maut? Apa maksudmu?”

“Sin Liong ternyata memiliki ilmu pengobatan yang lihai

sekali. begitu melihat aku, dia mengatakan bahwa aku

terserang hawa beracun dari sebelah dalam dan jika tidak

diobati dengan tepat, dalam waktu kurang dari setahun aku

tentu akan mati.”

“Hahh…??” Kakek itu dan semua pembantunya terbelalak

kaget memandang dara itu yang bersikap sungguh-sungguh.

“Dan dia memang benar. Dia mengantakan bahwa setiap

tengah malam aku tentu merasa pening dan dibagian

punggung seperti ditusuk-tusuk jarum, kalau pagi kedua kaki

pegal-pegal dan sehabis makan tentu merasa mual hendak

muntah. Semua yang dikatakanya itu ternyata tepat sekali,

Kong-kong.” Berubah wajah kakek itu. Soan Cu adalah

seorang yang amat disayangnya, bahkan disayang oleh

pembantunya karena dara inilah yang akan mewarisi seluruh

ilmu kepandaiannya dan yang akan menggantikannya menjadi

Ketua Pulau Neraka. Tentu saja mendengar bahwa usia Soan

Cu hanya tinggal setahun, dia terkejut bukan main dan cepat

memandang kepada Sin Liong. Sin Liong sendiri bengong dan

terheran-heran. Akan tetapi ketika dia memandang Soan Cu

ketika kakek itu membalik dan menghadapinya, dia melihat

dara itu secara lucu telah mengejapkan mata kirinya, maka

mengertilah dia bahwa dara itu kembali membohong!

Membohong dengan cerdik bukan main dalam usahanya untuk

menolongnya!

“Kwa Sin Liong, benarkah cucuku diancam hawa beracun?

Benarkah??”.Melihat sikap Sin Liong meragu, agaknya sukar

bagi pemuda itu untuk membohong maka Soan Cu cepat

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

berkata lagi, “Kong-kong, dia mengatakan bahwa dia dapat

memberikan obatnya, akan tetapi dia hanya mau memberi

obat kalau dia dan sumoinya dibebaskan dari sini. Terserah

kepada Kong-kong berat aku atau berat mereka itu.”

Swat Hong sudah hampir membuka mulutnya memaki dara

itu yang dia tahu telah membohong. Dia sendiri mendengar

percakapan mereka dan dara itu sama sekali tidak sakit,

bahkan telah memberi obat penolak binatang beracun kepada

Sin Liong, dan menyatakan betapa dara tak tahu malu itu

amat suka dan kagum kepada Sin Liong, maka datang

menolongnya. Sekarang dara itu mengatakan hal yang bukanbukan!

Akan tetapi, ketika mendengar ucapan terakhir dari

Soan Cu, tahulah dia bahwa dara itu kini membohong untuk

menolong Sin Liong dan dia terbebas dari Pulau Neraka!

Kenyataan ini membuat dia bungkam kembali. Betapa

baiknya dara itu dan betapa akan buruknya dia kalau dia

membongkar rahasia gadis itu. Tentu Sin Liong akan makin

kagum kepada Soan Cu dan makin benci kepadanya. Pikiran

inilah yang membuat dia membungkam dan tidak melanjutkan

niatnya untuk membantah Soan Cu. Hati kakek itu makin

bingung. Lenyaplah semua nafsunya untuk menawan Sin

Liong dan Swat Hong. Dia memandang Sin Liong dan

bertanya, “Orang muda, benarkah engkau dapat

menyelamatkan cucuku?”

Kini Sin Liong yang menjadi bingung. Pemuda ini sama

sekali tidak pernah membohong dan hatinya tidak akan dapat

membohong, namun dia tahu bahwa kalau dia menyangkal

kata-kata Soan Cu, sama saja mencelakakan gadis yang

berniat baik kepadanya itu. Maka dia lalu menjawab dengan

suara ragu-ragu dan perlahan, “Aku dapat memberi obat

pembersih darah dan penguat tulang kepadanya, Tocu.” “Dan

kau menjamin bahwa cucuku tentu akan sembuh dan

terhindar dari ancaman maut hawa beracun di tubuhnya itu?”

Kakek itu mendesak.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Kong-kong mengapa t idak percaya kepadanya? lekas

minta obatnya dan engkau yang harus menjamin bahwa dia

dan sumoinya tidak akan diganggu,” kata Soan Cu.

Kakek berkepala besar itu meraba-raba jenggotnya.

“Hemmm,harus ada buktinya dulu. Kwat Sin Liong, mulai saat

ini engkau dan Sumoimu puteri Han Ti Ong harus tinggal di

pulau ini sebagai tamu sambil menant i hasil pengobatanmu

kepada cucuku. Kalau kau gagal mengobatinya, hemmm, aku

tidak akan mengampuni kalian berdua. Kalau cucuku sembuh,

barulah kita bicara lagi.” Sin Liong mengerutkan alisnya

hendak membantah peraturan yang berat sebelah ini, akan

tetapi dia melihat Soan Cu mengedipkan mata kirinya maka

dia menarik napas panjang dan mengangguk lalu berkata,

“Harap sediakan alat tulis, biar kulukiskan bentuk daun yang

harus dicari.”

Sin Liong lalu melukiskan beberapa macam daun yang

mudah dicari dan yang mempunyai khasiat biasa saja, yaitu

sekedar penambah kekuatan tubuh. Ouw Kong Ek lalu

menyuruh seorang pembantunya untuk mencari daun-daun

yang dilukis itu di pulau sebelah Pulau Neraka di mana

terdapat banyak tetumbuhan. Adapun Sin Liong dan Swat

Hong lalu diperlakukan sebagai tamu terhormat, bahkan

disediakan dua kamar yang bersih untuk mereka, dilayani

baik-baik dan tentu saja di samping pelayanan ini, para

pelayan yang terdiri dari pembantu-pembantu ketua, bertugas

pula sebagai penjaga! “Kuperingatkan kepada kalian agar

menanti sampai cucuku sembuh. Lari pun tidak akan ada

gunanya bagi kalian karena perahu-perahu kalian telah kami

simpan dan di sekeliling Pulau Neraka tidak akan ada perahu

sebuah pun. Tanpa perahu, bagaimana kalian akan dapat

meninggalkan pulau ini?” Demikinan pesan Ouw Kong Ek

sebelum dia meninggalkan dua orang itu sehingga Swat Hong

menjadi mendongkol sekali dan hampir saja dia memaki-maki

ketua itu kalau tidak ditahan oleh Sin Liong yang memegang

lengannya. Setelah ketua itu meninggalkan mereka berdua di

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

dalam pondok di mana mereka untuk sementara tinggal, Sin

Liong menegur sumoinya , “Sumoi, mengapa kau bersikap

seperti itu?”

“Suheng, aku tidak nyangka sama sekali akan menyaksikan

engkau yang terkenal alim kini bermain gila

dengan gadis puteri ketua Pulau Neraka. Huhh!”.Sin Liong

mengerutkan alisnya dan memandang tajam kepada

sumoinya,hatinya bertanya mengapa

sumoinya memperhatikan soal begitu, padahal sama sekali

tidak ada sangkut paut dengan sumoinya. “Sumoi, engkau

tahu betul bahwa Nona Ouw Soan Cu melakukan hal itu demi

menolong kita. Siapakah yang main-main dengan dia?”

“Hemm, apa kaukira aku tidak tahu betapa dia suka

kepadamu dan sengaja mendatangi kamar tahananmu untuk

merayumu?”

“Sumoi! jadi sudah selama ini kau berada di sini? Dan aku

diam saja? Sumoi, mengapa kau menyangka yang bukanbukan?

Kalau kau sudah tahu akan kunjungannya itu, tentu

kau tahu juga bahwa dia datang untuk memberi obat penolak

binatang-binatang berbisa. Sumoi, kita semestinya berterima

kasih kepadanya, dia bermagsud baik bahkan tidak segansegan

membohong kepada Kong-kongnya demi keselamatan

kita.” “Ya, ya, memang dia baik sekali dan cantik sekali. Siapa

yang tidak tahu?” “Sumoi…, harap jangan marah. Dia adalah

seorang gadis yang bernasib buruk sekali, ibunya meninggal

ketika melahirkan dia, ayahnya pergi entah kemana dan

sampai kini belum kembali…” “Memang, dia seorang gadis

bernasib buruk yang patut dikasihani, tidak seperti aku…” dan

Swat Hong lalu menelungkupkan muka di atas meja dan

menangis!

Sin Liong terkejut, beberapa kali hendak memegang lengan

sumoinya akan tetapi ditahannya tangannya. “Aihh… Sumoi,

engkau pun bernasib buruk, dan aku merasa kasihan sekali

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

kepadamu. Karena aku merasa kasihan aku menyusulmu.

Sumoi, diamlah jangan menangis. Apakah Sumoi telah

bertemu dengan Ibumu?” Swat Hong seketika berhenti

menangis, mengangkat mukanya yang basah air mata dan

memandang kepada Sin Liong. Pemuda itu merasa kasihan

sekali, lalu mengeluarkan saputangannya dan mengapus air

mata yang membasahi muka gadis itu.

“Suheng…apa maksudmu? Apa yang terjadi dengan dia?

Bukankah ibu berada di Pulau Es dan aku sudah

mewakilinya?”Mendengar tentang ibunya, seketika lupalah

Swat Hong akan kemarahan dan kedukaan hatinya sendiri.

“Ibumu juga telah pergi meninggalkan Pulau Es…” dengan

singkat Sin Liong lalu menceritakan apa yang terjadi setelah

gadis itu lari pergi dari Pulau Es, betapa ibunya juga pergi,

tidak mau disuruh t inggal di Pulau Es setelah puterinya

membuang diri ke Pulau Neraka.

“Aku tadinya mengharapkan engkau dapat bertemu dengan

ibu maka aku tidak melihatmu di sini,Sumoi.

Jadi engkau belumbertemu dengan ibumu?”

Gadis itu mengerutkan alisnya dan menggeleng kepala,

kelihatan muram wajahnya mendengar akan kepergian

ibunya. “Ah, kalau begitu ke manakah perginya ibumu?” Sin

Liong termenung dan diam-diam dia pun merasa prihatin

sekali akan nasib wanita itu.

Tiba-tiba Swat Hong berdiri dan mengepal tinju, mukanya

agak pucat ketika dia berkata, “Aku mau pergi dari sini

sekarang juga! Aku harus mencari ibu sampai ketemu, dan

aku tidak akan kembali ke Pulau Es! Aku tidak akan sudi

menggantikan ibu di Pulau Neraka ini pula. Bukankah ibu

sudah meninggalkan Pulau Es sehingga percuma saja aku

mewakilinya?”

“Nanti dulu, Sumoi, kau tidak bisa pergi begitu saja. Tentu

mereka akan menghalangimu!”

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Aku tidak takut! Yang menghalangi aku akan kubunuh!”

“Sabarlah, Sumoi. Perlu apa kita mencari permusuhan

dengan mereka yang berjumlah banyak? Bukan soal

takut atau tidak takut, akan tetapi mereka adalah manusiamanusia

yang bernasib buruk sekali, dipaksa

tinggal di tempat seperti neraka ini. Bahkan mereka boleh

dibilang senasib dengan ibumu dan denganmu

sendiri. Selain itu ke manakah kita harus mencari ibumu?

Kalau kita berbaik dengan mereka, bukankah

kemudian mereka dapat membantu kita mencari? Dengan

tenaga banyak orang kukira akan lebih mudah

mencari Ibumu yang tidak jelas ke mana perginya

itu.”.Swat Hong dapat dibujuk dan akhirnya dia duduk di atas

bangku sambil mengerutkan alisnya dengan wajah

muram. Betapapun juga, setelah dia sadar bahwa

cemburunya terhadap suhengnya dan Soan Cu tidak berdasar,

kini terasalah olehnya betapa hatinya sesungguhnya merasa

lega dan senang karena dapat bertemu dan berkumpul

dengan suhengnya, apalagi di tempat yang berbahaya ini.

Beberapa hari telah lewat dan Soan Cu setiap hari minum

“Obat” yang terbuat dair daun-daun seperti yang dilukiskan

oleh Sin Liong. Setiap hari kakenya bertanya dan dia

menjawab bahwa penyakitnya yang dideritanya, rasa nyeri

seperti yang dinyatakan Sin Liong itu berangsur-angsur

sembuh! Girang bukan main hati kakek itu, akan tetapi hati

Swat Hong yang mendongkol melihat betapa Soan Cu seolaholah

mengulur waktu “penyembuhannya”!

Pada hari ke tujuh, Ouw Kong Ek dan Soan Cu mendatangi

pondok tempat tinggal Sin Liong dan Swat Hong. Dua orang

muda dari Pulau Es ini memang sudah menunggu di depan

pondok dengan hati tidak sabar, menanti berita kesembuhan

total Soan Cu. Maka mereka menyambut ketua Pulau Neraka

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

dan cucunya itu dengan penuh harapan itu, melihat betapa

wajah kedua orang pendatang itu berseri. Setelah tiba di

depan mereka, Soan Cu segera berkata, “Sin Liong, Kakek

merasa berterima kasih sekali kepadamu dan menyetujui kau

melanjutkan pengobatan dengan menggunakan sinkang!”

“Apa…?” Akan tetapi kata-kata Sin Liong yang bingung dan

tidak mengerti itu segera diputus oleh Soan Cu, “Bukankah

dulu kaukatakan setelah beberapa hari minum obat penawar

racun, kau akan melenyapkan sama sekali hawa beracun itu

dengan menggunakan sinkang menyedot keluar hawa itu dari

punggungku?”

Ouw Kong Ek tertawa. “Orang muda she Kwa. Kalau bukan

engkau yang sudah kupercaya penuh, tentu

aku tidak mengijinkan pengobatan ini. Akan tetapi aku

sudah percaya kepadamu, maka silahkan. Mudah-mudahan

saja dalam waktu singkat cucuku akan sembuh sama

sekali.” Setelah berkata demikian, kakek itu membungkuk ke

arah Sin liong dan Swat Hong, lalu meninggalkan cucunya.

“Soan Cu, apa maksudmu?” Sin Liong segera berbisik

menegur.

“Huh, tentu ingin berduaan denganmu di dalam kamar, apa

lagi?” Swat Hong mengejek. “Husshhh, harap kalian jangan

ribut-ribut, “bisik Soan Cu. “Mari kita masuk ke kamar dan

bicara. “Dia menggandeng tangan Sin Liong dan diajaknya

masuk. Melihat Swat Hong cemberut, Sin Liong berkata,

“Sumoi, marilah.”

“Aku tidak sudi menggangu kalian!”

“Aih Enci Hong, mengapa begitu? Yang hendak kubicarakan

adalah kepentingan kalian berdua. Marilah.” Soan Cu berkata

dan agaknya memang dara Pulau Neraka ini tidak pernah

mengerti apa yang diejekan oleh Swat Hong. Agaknya cara

hidup di Pulau Neraka membuat dia kurang mengerti akan

tata susila sehingga tak pernah merasa melanggar sesuatu

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

biarpun dia memasuki kamar berdua dengan seorang pemuda.

Sambil bersungut-sunggut menyembunyikan rasa malunya

bahwa dia telah menduga yang bukan-bukan, Swat Hong ikut

masuk. “Aku memang berpura-pura, mengulur panjang waktu

penyembuhan. Semua ini karena aku mendengar bahwa

Kong-kong dan para pembantunya tidak membebaskan kalian

setelah aku sembuh.”

“Keparat! Kong-kongmu memang bukan manusia baik-baik!

pantas menjadi ketua di Pulau Neraka! Aku akan

menemuinya!”

“Hushhh, Sumoi, Bersabarlah, dan mari kita dengar katakata

Soan Cu.” Dengan muka muram Swat Hong duduk lagi

dan memandang wajah Soan Cu. Wajah yang manis sekali,

pikirnya, manis dan polos. Pantaslah kalau andaikata Sin Liong

jatuh cinta kepada gadis ini, pikirnya lagi dan hatinya merasa

berdebar penuh khawatir.

“Kong-kong telah berjaga-jaga dan mempersiapkan anak

buahnya, menjaga kalau-kalau kalian melarikan diri.

Berbahaya sekali.”.”Habis bagaimana baiknya,Soan Cu?”

“Ada jalan,” kata dara yang lincah dan cerdik itu. “Menurut

pendengaranku ketika Kong-kong merundingkan di kamar

rahasia bersama para pembantunya yang paling dipercaya,

Kong-kong tidak berniat buruk kepada kalian. Setelah kau

dapat menyembuhkan aku, maka Kong-kong membutuhkan

engkau sebagai ahli pengobatan di pulau ini. Dia hendak

menahanmu agar kau dapat mengobati setiap penghuni yang

terserang penyakit. Adapun Enci Hong ditahan di sini sebagai

sandera, untuk menahan kekuasaan Pulau Es.”

“Keparat….!”

“Jangan marah, Enci Hong. kurasa kita harus menghadapi

Kong-kong yang berwatak kasar dengan sikap dan akal halus.

Kalau aku sudah sembuh, yaitu kalau kunyatakan bahwa aku

sudah sembuh sama sekali, sedikit banyak Kong-kong tentu

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

akan berterima kasih. Kemudian Liong-ko…heh, Sin Liong

mengajarkan Kong-kong mengenal daun obat-obatan dengan

janji akan membebaskan kalian. Kurasa Kong-kong akan mau

menerimanya karena sebenarnya yang dibutuhkan adalah

pengetahuan tentang ilmu pengobatan itu. Dengan demikian,

kalau kalian meninggalkan pulau ini, kalian akan dianggap

sebagai sahabat dan penolong.

Bagaimana?”

“Kurasa baik juga akal ini,” kata Sin Liong. “Hemm,

terserahlah,. Akan tetapi jangan ada akal bulus di balik semua

ini!” Swat Hong mengancam.

Soan Cu menarik napas panjang. “Enci Hong, harap jangan

mencurigai aku. Aku sudah menyesal sekali menjadi seorang

yang terlahir di tempat ini, dan aku ingin melanjutkan cita-cita

Ayah bundaku yang kabarnya dahulu juga selalu berusaha

agar penghuni Pulau Neraka tidak menjadi orang liar yang

tidak mengenal prikemanusiaan.” Setelah berkata demikian,

Soan Cu pergi meninggalkan pondok itu dengan muka tunduk.

“Seorang anak yang baik….” Sin Liong memuji sambil

memandang tubuh dara itu yang melangkah pergi

meninggalkan pondok.

“Maksudmu, seorang dara yang cantik dan berbudi!”

Tanpa menoleh Sin Liong mengangguk. “Memang, dia

cantik dan berbudi.” Huh! Sudah kusangka demikian!”

Sin Liong menoleh kaget dan memandang wajah sumoinya,

“Sumoi, apa maksudmu?” Swat Hong membuang muka.

“Hemm, tidak apa-ap. “Begitulah!” lalu dia lari memasuki

kamarnya, membanting daun pintu keras-keras.

Sin Liong menggeleng kepalanya, makin tidak mengerti dia

akan sikap wanita pada umumnya dan saat itu, sikap Swat

Hong khususnya, juga sikap Soan Cu yang amat aneh kalau

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

diingat bahwa dia adalah cucu ketua Pulau Neraka yang

berwatak aneh dan kejam.

Semua terjadi seperti direncanakan oleh Soan Cu. Setelah

dara itu mengaku sembuh sama sekali dan Sin Liong bersama

Swat Hong menghadap ketua untuk minta pembebasan, Ouw

Kong Ek menggeleng kepalanya dan berkata, “Kwa Sin Liong,

kami berterima kasih sekali atas penyembuhan penyakit

cucuku, dan untuk jasamu itu, kami tidak akan menggangu

kalian, bahkan menganggap kalian sebagai orang-orang

berjasa. Akan tetapi, terpaksa kami tidak dapat membebaskan

kalian karena kami amat membutuhkan engkau sebagai ahli

pengobatan di pulau ini. Maka, harap kalian suka mengerti

akan kebutuhan kami ini. Tinggallah di sini dan menjadi

orang-orang terhormat menjadi pembantuku yang paling

baik.”

“Tocu, aku mengerti akan kebutuhan Tocu dan para

penghuni Pulau Neraka. Akan tetapi sungguh tidak adil

kalau menyuruh kami tinggal di sini selamanya, apa lagi

amat tidak adil bagi Sumoi. Betapapun juga,

karena aku mengerti akan kebutuhan kalian semua, biarlah

sekarang diatur begini saja. Aku akan sementara

waktu tinggal di sini mengajarkan ilmu pengobatan kepada

Tocu, akan tetapi kuminta agar Sumoi sekarang.juga

dibebaskan, diberi sebuah perahu agar sumoi dapat pergi

lebih dahulu meninggalkan Pulau Neraka.Adapun aku sendiri,

kalau Tocu sudah mengenal semua daun dan bahan

pengobatan, baru aku akan pergi dari sini.

Bagaimana?”

Ketua Pulau Neraka itu mengerutkan alisnya, lalu melirik

kearah cucunya yang duduk di sebelahnya dan menundukan

kepala saja. “Hemmm, boleh juga sumoimu pergi. Biarpun dia

puteri Han Ti Ong, akan tetapi mengingat akan jasamu,

biarlah dia kami bebaskan. Akan tetapi kau….ah, aku sangat

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

mengharapkan agar engkau menjadi…. keluarga kami, orang

muda.” Kembali dia mengerling ke arah Soan Cu dan gadis itu

makin menundukan mukanya yang menjadi merah sekali.

“Benar sekali, dia amat cocok menjadi jodoh Nona Ouw!”

beberapa orang membantu berkata sambil tertawa-tawa, sikap

mereka bebas terbuka.

“Aku tidak mau pergi!” tiba-tiba Swat Hong berkata

lantang. “Kalau Suheng tinggal di sini mengajarkan ilmu

pengobatan, aku akan tinggal di sini juga sampai pelajaran itu

selesai. Dan kalau….kalau ada pengantian di sini, kalau

suheng diambil mantu, aku pun harus menjadi saksinya!”

Ucapan itu sebetulnya dikeluarkan dengan gejolak kemarahan

dan kepanasan hatinya, akan tetapi para pembantu Ouw Kong

Ek menyambutnya dengan suara ketawa.

Tentu saja Sin Liong kaget sekali mendengar ucapan

Sumoinya itu. Ada kesempatan yang amat baik terbuka bagi

Swat Hong untuk membebaskan diri dari pulau berbahaya itu,

dan kesempatan itu dibuang begitu saja oleh Swat Hong! Dia

telah mengenal watak Swat Hong. Sekali bilang tidak mau,

dipaksa pun sampai mati tidak akan mau tunduk! Maka dia

menjadi bingung sekali. “Tocu, karena Sumoi tidak mau pergi

sendiri lebih dulu, maka biarlah perjanjian kita diubah. Akan

memberi pelajaran ilmu pengebatan kepada Tocu, setelah

Tocu mengenal bahan obat untuk melindungi penghuni pulau

ini, aku dan Sumoi boleh pergi dengan bebas.”

Ketua Pulau Neraka itu mengelus-elus dagunya dan alisnya

berkerut, berkali-kali dia melirik ke arah cucunya. Dia adalah

seorang yang sudah tua, biarpun tidak pernah terjun ke dunia

ramai, namun dia tahu bahwa cucunya jatuh hati kepada

pemuda yang hebat ini. Dan dia tidak melihat seorang pemuda

lain di Pulau Neraka yang kiranya patut menjadi suami

cucunya! Tentu saja hatinya tidak rela kalau pemuda itu pergi

meninggalkan pulau karena dia tahu bahwa hal itu tentu akan

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

mengecewakan hati cucunya. Maka dia hanya menggelenggeleng

kepala, tanpa dapat menjawab.

Melihat keraguan ketuanya, seorang kakek berusia lima

puluh tahun lebih melaju maju. Orang ini kepalanya gundul

botak akan tetapi mukanya penuh brewok, tubuhnya kurus

kecil dan di lehernya ada seekor ular merah melingkar. Dia

adalah pembantu utam dari Ouw Kong Ek, seorang yang lihai

ilmu kepandaiannya dan bernama Lo Thong. Berbeda dengan

Majikan Pulau Neraka itu yang merupakan keturunan orang

buangan, maka Lo Thong sendiri adalah seorang buangan dari

Pulau Es, tiga puluh tahun yang lalu dia dibuang dariPulau Es

karena sebagai seorang pemuda dia banyak melakukan

kejahatan. Setelah berada di Pulau Neraka dia memperdalam

ilmi-ilmunya dan menjadi orang ke dua yang terkuat setelah

Ouw Kong Ek, yaitu sesudah putera Ouw Kong Ek yang

bernama Ouw Sian Kok, ayah Soan Cu menjadi gila dan

meninggalkan pulau. Maka dia diangkat sebagai pembantu

utama oleh Ouw Kong Ek. “Twako(Kakak),” Lo Thong berkata

dan tidak seperti lain penghuni Pulau Neraka yang menyebut

ketua mereka tocu (majikan pulau), dia menyebutnya kakak,

“mengapa Twako bingung menghadapi urusan dua orang

anak-anak ini? Betapapun juga, mereka berada di pulau ini

dan seharusnya mereka tunduk kepada semua perintah Twako

yang menjadi hukum di sini. Kalau mereka hendak mengambil

keputusan sendiri, boleh saja akan tetapi mereka harus lebih

dulu dapat mengalahkan kita!” Ouw Kong Ek memandang

pembantunya dengan muka berseri, seolah-olah dia terlepas

dari keadaan yang ruwet. “Kalau begitu, bagaimana baiknya,

Lo-tee?”

“Menurut saya, lebih baik diadakan pertandingan antara

orang pemuda She Kwa ini dan Twako. Kalau

dalam pertandingan itu dia kalah, maka dia dan Sumoinya

harus selamanya tinggal di sini dan menjadi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

penghuni pulau ini seperti kita semua.”.”He, Botak! Enak

saja kau bicara! Siapa bilang Suhengku kalah oleh ketua

kalian? Habis, kalau kemudian

ketua kalian yang kalah, bagaimana?” Swat Hong berteriak

nyaring. “Twako kalah? Ha-ha, mana mungkin?” Lo Thong

menjawab. “Akan tetapi kalau Twako kalah, biarlah pemuda

She Kwa ini mengajarkan ilmu pengobatan sampai Twako

pandai, baru kalian berdua boleh pergi meninggalkan pulau ini

dengan bebas.” “Usul yang bagus sekali!” Ouw Kong Ek

berseru gembira. “Kwa Sin Liong, aku mendengar bahwa di

dunia ramai, di daratan sana, orang-orang gagah

menggunakan kepandaian untuk memutuskan sebuah perkara

yang ruwet. Aku percaya bahwa engkau tentu seorang gagah

pula, maka biarlah kita membereskan urusan ini dengan

mengukur kepandaian masing-masing seperti yang diusulkan

oleh pembantuku Lo Thong.” Sin Liong menggeleng

kepalanya. “Tocu, aku tidak suka menggunakan ilmu yang

kupelajari untuk kekerasan. Mengapa Tocu hendak

menggunakan cara kekerasan untuk menahan kami berdua

selamanya di pulau ini? Aku sudah besedia mengajarkan ilmu

pengobatan, maka sudah sepatutnya kalau Tocu membalasnya

dengan membebaskan kami.

“Tidak kita harus saling mengukur kepandaian dulu!” ketua

itu berkeras. Tiba-tiba Swat Hong melompat ketengah

lapangan dan membusungkan dada menegakkan kepalanya.

“Hayolah! Kalau Suheng tidak mau, biarlah aku yang

melayanimu! Siapa sih takut kepada orang Pulau Neraka? Aku

yang memasuki pertandingan itu, dan kalau kalah, boleh

kalian berbuat apa saja sesuka kalain!”

“Sumoi…!!” Sin Liong menegur.

“Suheng, aku t idak takut!” Swat Hong membantah.

Ouw Kong Ek mengerutkan alisnya. “Soan Cu, kau layani

bocah liar yang sombong ini!” katanya. “Baik Kong-kong.”

Soan Cu bangkit berdiri dan melangkah maju, akan tetapi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

segera berhenti ketika mendengar suara Sin Liong, “Soan Cu

harap jangan bertanding. Di antara kita tidak ada

permusuhan, bukan?” Soan Cu meragu, memandang kepada

Kong-kongnya, kemudian kepada Sin Liong, dan akhirnya dia

kembali duduk di tempatnya yang tadi.

“Soan Cu….” Kakeknya menegur.

“Kong-kong, aku tidak mau bertanding. Mereka bukan

musuhku.”

Mata kakek itu terbelalak, akan tetapi dia t idak marah

bahkan lalu tertawa bergelak. “Kau…kau lebih taat

kepadanya? Ha-ha-ha-ha!” Dia tertawa karena sikap cucunya

itu jelas membuktikan betapa cucunya benar-benar telah jatuh

cinta kepada Sin Liong! Sampai-sampai berani membangkang

terhadap perintahnya hanya karena Sin Liong menghendaki

demikian. Makin panaslah hati Swat Hong. Tadinya dia sudah

siap-siap untuk menjatuhkan cucu ketua Pulau Neraka itu,

selain agar menang pertandingan juga hendak

memperlihatkan kepada Suhengnya bahwa dia lebih pandai

dari pada Soan Cu. Akan tetapi, ternyata Suhengnya melarang

Soan Cu dan dan putri Pulau Neraka itu begitu taat! “Ouw

Kong Ek, kalau cucumu tidak berani maju, biarlah kau sendiri

yang maju! Hayo tandingilah aku, puteri Raja Pulau Es!” Dia

menantang-nantang dengan suara penuh kemarahan. Sin

Liong hanya menggeleng kepalanya dan bingung sekali

bagaimana harus mencegah sumoinya.

Kembali kakek itu menjadi marah. Tantangan yang keluar

dari mulut Swat Hong membuat mukanya merah

dan telinganya panas. Akan tetapi betapa memalukan kalau

dia harus menandingi seorang bocah

perempuan yang usianya sebaya dengan cucunya

sendiri!.”Twako, perkenankanlah saya menghajar bocah

bermulut lancang ini” Lo Thong berkata dan Ouw Kong

Ek mengangguk, akan tetapi masih ingat dan memesan.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Akan tetapi cukup beri hajaran saja, jangan sampai dia

terbunuh.”

“Baik saya mengerti, Twako.” Lo Thong menjawab lalu

sekali kakinya bergerak, tubuhnya sudah mencelat ke depan

Swat Hong. Menyaksikan ginkang yang hebat ini diam-diam

Sin Liong khawatir sekali, akan tetapi dia pun tidak dapat

mencegahnya karena maklum kalau dia melarang, Sumoinya

tentu akan menjadi makin nekat saja. Maka dia hanya bangkit

berdiri dan memandang dengan jantung berdebar tegang.

Swat Hong memandang kakek botak yang berdiri di depannya,

lalu berkata, suaranya mengejek. “Apakah pertandingan ini

akan memutuskan perjanjian tadi, bahwa kalau aku menang

kami berdua boleh pergi dari sini?”

“Tidak”, jawab Lo Thong. “Pertandingan ini hanya

mengenai dirimu, kalau kau menang kau boleh pergi, kalau

kau kalah, kau harus tinggal di sini selamanya dan menjadi

muridku.” “Setan alas! Siapa takut padamu?” Swat Hong yang

sudah kena dibakar hantinya itu membentak.

“Sumoi, tanpa pertandingan pun kau boleh pergi sekarang

juga!” Sin Liong berteriak. “Tidak, Suheng. Aku merasa

kurang terhormat kalau pergi begitu saja. Aku tidak sudi

menerima kebaikan orang-orang Pulau Neraka. Kalau aku

pergi berarti aku pergi mengandalkan kepandaian aku sendiri,

bukan karena kebaikan hati mereka. Hayo, kakek botak, boleh

kaukeluarkan segala ilmumu!” “Bocah sombong, sambutlah

ini!”

Lo Thong merasa panas juga perutnya melihat sikap dara

remaja yang memandang redah kepadanya itu. Akan tetapi

dia pun maklum bahwa dara ini tentu memiliki kepandaian

tinggi sebagai puteri Raja Pulau Es, maka sekali menyerang,

dia telah mengeluarkan kepandaiannya, mengeluarkan jurus

yang ampuh dan mengerahkan tenaga sinkangnya.

“Wuuuuuttt… sirrr…desss!”

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Mula-mula Lo Thong menggerakan tubuhnya rendah

kebawah, seolah-olah lengan kirinya yang bergerak itu hendak

menangkap kaki Swat Hong, akan tetapi tiba-tiba saja

tubuhnya meninggi, tangan kanannya meluncur dan

mencengkram ke arah pinggang dara itu. Namun Swat Hong

yang usianya masih muda sekali itu belum lima belas tahun,

telah mewarisi inti kepandaian dari ilmu-ilmu kesaktian Pulau

Es. Dengan tenang dia melihat bahwa bukan tangan kiri lawan

yang berbahaya melainkan tangan kanannya, maka dia cepat

menarik kaki kiri dan menangkis dengan sabetan tangan

miring dari samping yang mengenai lengan lawan.

LoThong mencelat ke belakang dan inilah kehebatan

ginkangnya. Gerakannya bukanlah langkah kaki, melainkan

loncatan yang membuat tubuhnya mencelat ke sana-sini

dengan amat cepatnya dan sama sekali tidak terduga-duga

lawan.

“Sumoi awasilah gerakannya. Ginkangnya lihai!” Sin Liong

berseru dan diam-diam Lo Thong mendongkol juga. Ternyata

pemuda itu lihai sekali, baru segebrakan saja sudah mengenal

dimana letak keampuhannya. Maka dia lalu menggereng dan

menubruk maju, menghujani Swat Hong dengan serangan

bertubi-tubi. Swat Hong diam-diam terkejut juga. Ternyata

bahwa pembantu utama dari ketua Pulau Neraka ini hebat

bukan main. Setiap gerakan tangannya mendatangkan angin

keras menyambar dan kecepatannya membuat dia pening

karena harus menggerakan kekuatan matanya untuk

mengikut i terus gerakan lawan. namun, tentu saja dia tidak

menjadi gentar. Sejak kecil dara remaja ini tidak pernah

mengenal artinya takut, dan dia pun mengeluarkan

kepandaiannya untuk membalas dengan serangan yang tidak

kalah dahsyatnya.

Semua mata memandang pertandingan itu dengan penuh

perhatian. Diam-diam Soan Cu merasa kagum

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

sekali kepada Swat Hong dan dia harus mengaku dalam

hatinya bahwa andaikata tadi dia yang maju, dia

akan kalah menghadapi kelihaian dara Pulau Es itu, maka

dia merasa makin bersyukur kepada Sin Liong

yang tadi mencegahnya maju melawan Swat Hong. Apakah

pemuda itu sudah tahu bahwa dia akan kalah

kalau melawan Swat Hong? Soan Cu melirik ke arah Sin

Liong dan melihat betapa wajah pemuda yang

tampan itu diliput i kekhawatiran, maka dia kembali

menyaksikan pertandingan yang hebat itu..Tubuh mereka

berdua yang bertanding itu sudah tidak dapat kelihatan jelas,

yang tampak hanya

dua bayangan berkelebatan ke kanan kiri dengan cepat

sekali. Ginkang yang dikuasai oleh Lo Thong memang hebat

sekali, akan tetapi sekarang dia berhadapan dengan puteri

Raja Han Ti Ong dari Pulau Es! Biarpun masih kalah sedikit

namun Swat Hong dapat mengimbangi kecepatan lawan,

bahkan dapat mendesak dengan ilmu silatnya yang luar biasa

dan tenaga sinkangnya yang berdasarkan hawa murni dari imkang

yang dingin. Ilmu silat yang dimainkan oleh Swat Hong

adalah ilmu silat tangan kosong Jit-cap-ji-seng (Jutuh Puluh

Dua Bintang ) yang mempunyai tuluh puluh dua jurus-jurus

ampuh. Sebagai bekas penghuni Pulau Es sebelum Swat Hong

terlahir, tentu Lo Thong mengenal ilmu ini, bahkan ilmu

silatnya sediri pun bersumber pada ilmu silat Pulau Es. Akan

tetapi setelah dua puluh tahun lebih berada di Pulau Neraka

dan mempelajari ilmu-ilmu dari Pulau Neraka, maka ilmu

silatnya menjadi campur aduk dan tentu saja kalah murni oleh

ilmu silat yang dimainkan oleh Swat Hong.Pula, Lo Thong

dahulu belum mempelajari J it-cap-ji-seng sampai habis, hal

yang jarang dilakukan penghuni Pulau Es kecuali keluarga

raja.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Mulailah Lo Thong terdesak oleh serangan bertubi-tubi

yang dilancarkan oleh Swat Hong. Ingin sekali Lo Thong

menggunakan senjatanya, yaitu ular hidup yang melingkar di

lehernya, namun dia takut akan pesan ketuanya tadi. Kalau

dia menggunakan senjata itu dan sekali lawan tergigit mati

tentu dia akan mendapat marah besar. Maka dia lalu berteriak

keras dan mengerahkan seluruh ilmunya meringankan tubuh.

“Aihhh…!” Swat Hong terkejut ketika melihat betapa tubuh

lawan dapat bergerak lebih cepat lagi dan dalam serangkaian

serangan yang tak terduga saking cepatnya, hampir saja

pundaknya kena dicengkeram. Dia berseru sambil meloncat

keatas, tinggi sekali kemudian bagaikan seekor burung walet,

tubuhnya sudah membalik di udara, menukik kebawah dan dia

sudah melancarkan serangan dengan jurus Kak-seng-jip-hai

(Bintang Terompet Memasuki Laut), jurus terakhir yang paling

ampuh dan yang dulu dilatihnya dengan ibu dan ayahnya

sehingga dia mahir sekali mainkan jurus ini. Hebat bukan main

daya serang jurus ini karena selagi tubuh meluncur turun

dengan menukik kebawah, kedua tangannya sudah bergerak

mencengkram kearah ubun-ubun kepala lawan yang botak itu!

“Hayaaa…!” kini Lo Thong yang kaget ketika merasa ada

hawa dingin menyentuh ubun-ubun kepalanya dari atas.

Maklum bahwa serangan itu merupakan ancaman maut bagi

dirinya, dia tidak berani lengah, cepat membuang diri

kebelakang sehingga dia terjengkang, kemudian

menggunakan ginkangnya untuk berguling di atas lantai.

Dengan gerakan ini, biarpun pakainnya kotor terkena debu,

namun dia selamat dan dapat menghindarkan diri dari

serangan jurus Kak-seng-jip-hai tadi. Akan tetapi, betapa

terkejutnya melihat dara itu sudah meloncat ke depan dan

baru saja dia bangkit berdiri, Swat Hong sudah

menghantamnya dengan kedua tangan didorongkan ke depan.

“Haiiiiiiittt!!” Swat Hong berseru nyaring dan mengerahkan

tenaga sinkangnya. “Sumoi, jangan….!” Sin Hong berteriak,

kaget ketika melihat betapa sumoinya itu menggunakan

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

tenaga Swat-im-sin-ciang (Tenaga Pukulan Inti Salju) yang

merupakan sinkang paling ampuh dari Pulau Es! Untuk melatih

diri agar bisa menguasai tenaga im-kang yang amat kuat ini,

orang harus bersamadhi di atas salju, tanpa pakaian, dan

melewati malam-malam yang dinginya menyusup tulang! Dan

sebagai puteri Raja Han Ti Ong, tentu saja Swat Hong telah

menguasai sinkang itu yang kini dipergunakan untuk

menyerang selagi lawan terdesak.

“Ciaaaattt…!!” Lo Thong juga berteriak keras dan cepat dia

menolak hawa serangan itu dengan dorongan

kedua tangannya. Dua tenaga sinkang bertemu tanpa

kedua pasang telapak tangan itu bersentuhan dan

akibatnya, Lo Thong terhuyung kebelakang dan dari ujung

bibirnya mengucur darah! Sambil menggereng

keras, Lo Thong yang merasa penasaran itu melompat ke

depan menerkam, akan tetapi Swat Hong yang

sudah siap menyambutnya dengan sebuah tendangan dari

samping yang tepat mengenai pantat Lo Thong

dan membuat tubuhnya terlempar jauh ke arah tempat

duduk Ouw Kong Ek! Ketua Pulau Neraka ini marah

sekali, tangannya bergerak menyambut tubuh itu dan tahutahu

tubuh Lo Thong sudah melayang lagi ke

arah Swat Hong. Akan tetapi ternyata bahwa ketika

menyambut tadi, Ouw Kong Ek yang lihai telah

menotok dua jalan darah di pungung pembantunya yang

seketika merasa dadanya lega kembali, begitu dia

dilontarkan ke arah Swat Hong, dengan nekat dia sudah

menyerang dengan kedua lengan dikembangkan,

kedua tangan hendak mencengkram tubuh gadis itu. Swat

Hong terkejut sekali, tidak nyangka bahwa tubuh

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

lawan akan secepat itu melayang kembali ke arahnya,

maka dia berteriak dan maklumakan bahaya yang

mengancam karena dia t idak sempat mengelak lagi!.Akan

tetapi tiba-tiba ada bayangan berkelebat dan tahu-tahu Sin

Liong telah berada di dekat

sumoinya. dengan tangan kiri dia menarik tubuh sumoinya

dan dengan tangan kanan dia menyapok ke atas dan kedua

tangan Lo Thong tertangkis, bahkan tubuh orang botak ini

terdorong miring dan cepat dia meloncat ke atas lantai dengan

mata terbelalak heran dan kagum akan kehebatan tenaga

pemuda itu. Maklum bahwa dia tak mampu menang, dia lalu

mengundurkan diri di dekat ketuanya dengan muka penuh

keringat.

“Bagus! Puteri Han Ti Ong lumayan juga kepandaiannya,

boleh coba-coba dengan aku sendiri!” Ouw Kong Ek turun dari

kursinya dan melangkah ke tengah lapangan.

“Baik, majulah! Aku tidak takut menghadapimu!” Swat

Hong menantang.

“Sumoi, mundurlah! Biar aku menghadapi Ouw Tocu.” Sin

Liong mencegah sumoinya.

“Tidak, aku akan menghadapi sendiri!”

Sin Liong melangkah menghampiri Ouw Kong Ek dan

berkata, “Ouw-tocu, benarkah Tocu menantang sumoiku ini?

Harap Tocu suka melihat baik-baik. Sumoiku adalah seorang

anak perempuan yang usianya sebaya dengan cucumu,

sehingga kalau Tocu menantangnya sama artinya dengan

Tocu menantang seorang cucu!

Kalau Tocu tidak malu bertanding dengan seorang anak

perempuan yang sepatutnya menjadi cucumu, silahkan. Kalau

Tocu, cukup gagah biarlah aku menerima tantanganmu tadi.

mari kita bertanding mengukur kepandaian. Kalau aku kalah,

terserah kepada Tocu. kalau aku menang, setelah aku

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

mengajarkan ilmu pengobatan, Tocu akan membiarkan kami

berdua pergi dari pulau ini dengan aman. Bagaimana?” “Aku

tidak takut! Suheng, biar aku melawan dia, aku tidak takut!”

Swat Hong berteriak-teriak. Ouw Kong Ek memandang

kepada dara muda dan mukanya berubah merah. Memang

tidak keliru omongan Sin Liong tadi. Bocah itu masih amat

muda, masih kanak-kanak sebaya Soan Cu. Seorang anakanak

dan perempuan lagi! Tentu saja akan amat merendahkan

dirinya kalau sampai dia menantang seorang anak perempuan

kecil!

“Baiklah, mari kita mengadu kepandaian Kwa Sin Liong,”

katanya.

Sin Liong menoleh kepada sumoinya. “Nah, kau dengar.

Yang ditantang adalah aku, buka kau, Sumoi. Mundurlah.”

Swat Hong membanting-banting kaki, terpaksa dia mundur

akan tetapi lebih dulu dia berkata kepada Ouw Kong Ek, “Aku

selalu masih siap untuk melayani jago Pulau Neraka yang

manapun juga.” Ouw Kong Ek dan Sin Liong sidah saling

berhadapan dan keduanya saling pandang tanpa bergerak,

seolah-olah hendak mengukur dan menilai keadaan lawan

dengan pandangan matanya. Melihat sikap pemuda yang amat

tenang itu, juga pancaran sinar matanya lembut dan bebas

dari rasa takut maupun kebencian dan kemarahan, hati Ouw

Kong Ek menjadi makin suka. Melihat sikap pemuda ini, sukar

untuk dipercaya bahwa pemuda ini adalah murid Han Ti Ong,

Raja Pulau Es yang sakt i. Kelihatannya hanya seperti seorang

pemuda yang lemah, pantasnya seorang sastrawan yang

biasanya hanya membaca sajak dan menulis huruf indah atau

meniup suling.

“Orang muda, mulailah!” Ouw Kong Ek berkata ragu-ragu

untuk menggunakan kepandaiannya menyerang orang yang

kelihatannya lemah ini.

“Ouw-tocu, bukan aku yang menghendaki adu kepandaian

ini, maka biarlah aku hanya menjaga diri saja.” Jawaban yang

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

keluar dengan suara lembut dan sejujurnya itu setidaknya

memanaskan hati Ouw Kong Ek karena kedengarannya

seolah-olah pemuda itu memandang rendah kepadanya.

Pemuda ini sama sekali tidak gentar menghadapinya, hal itu

sama saja memandang rendah!

“Kwa Sin Liong, sambutlah seranganku!” bentaknya dan

tubuhnya sudah menerjang ke depan, gerakannya

perlahan saja namun didahului sambaran angin pukulan

dari kedua telapak tangannya..”Wuuuuuttt… wuuuuttt!!” hawa

pukulan yang dahsyat dua kali menyambar ke arah leher dan

pusar Sin

Liong ketika kakek itu menggerakan kedua tangannya

memukul.

Dengan tubuh ringan sekali Sin Liong menggeser kaki dan

berhasil mengelah sampai berturut-turut enam kali karena

ternyata bahwa pukulan kakek itu begitu luput dari sasaran

terus dilanjutkan dengan serangan berikutnya tanpa berhenti

sedikit pun, sehingga enam kali berturut-turut kedua

tangannya menyambar dahsyat dari segala jurusan! barulah

Sin Liong dapat membebaskan diri dari kepungan kedua

tangan itu ketika dia meloncat jauh ke belakang, dan siap lagi

menghadapi serangan berikutnya. “Bagus!” Ouw Kong Ek

berseru kagum melihat betapa pemuda itu dengan enak saja

sudah berasil menghindarkan diri dari serangan pukulan yang

dinamakan Jurus Pukulan Badai Mengamuk. Kemudian dia

menerjang lagi, kini dia tidak bergerak lambat lagi, melainkan

cepat sekali. Kaki tangannya bergerak dengan cepatnya,

gerakan yang aneh namun setiap gerakan mengandung daya

serang yang amat berbahaya. Kembali Sin Liong menyambut

serangan-serangannya itu dengan tenang dan hati-hati,

mengelak ke sanan-sini dan hanya kalau terpaksa dia

menggunakan kedua tangannya untuk menangkis atau

menyampok. Perlahan saja pemuda itu menangkis, namun

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

selalu tangkisannya yang membawa hawa pukulan Im-kang

itu berhasil menghalau tangan lawan!

Sampai tiga puluh jurus lebih Sin Liong selalu mengelak

dan menangkis tanpa satu kalipun membalas serangan lawan!

Tentu saja hal ini membuat Ouw Kong Ek kagum sekali.

Pemuda ini sudah diserangnya dengan hebat, didesaknya

sampai keadaannya berbahaya, namun tetap tidak mau

membalas. “Eh, Suheng, kau tidak membalas, apa kau

merasa phai-seng-gi (sungkan) kepada orang yang hendak

memunggut mantu kepadamu?” Swat Hong berteriak-teriak

penuh penasaran ketika melihat suhengnya bertempur seperti

orang mengalah saja.

Merah muka Sin Liong. Memang dia tidak mau membalas

karena dia selamanya belum pernah memukul orang! Dia

memang mempelajari silat yang tinggi sekali tingkatannya,

bahkan dari kitab-kitab lama yang rahasia dan tak pernah

dibaca orang di dalam perpustakaan Pulau Es, dia menemukan

ilmu-ilmu mujijat, di antaranya ilmu mengenal int i gerakan

semua ilmu silat. Akan tetapi dia merasa sungkan dan ngeri

kalau harus memukul orang lain, apalagi kepada kakek yang

sama sekali tidak ada permusuhan apa-apa dengannya itu.

Kini mendengar ejekan Swar Hong, dia merasa tidak enak dan

hatinya terguncang. Guncangan ini memperlambat gerakan

tangannya, maka ketika dia menangkis sebuah pukulan,

tangkisannya meleset dan pukulan tangan kiri Ouw Kong Ek

menyerempet pundaknya. Tubuhnya tergetar hebat dan dia

terhuyung ke belakang.

Ouw Kong Ek yang merasa penasaran sekali kini maklum

bahwa kalau pemuda itu membalas serangannya, mungkin dia

akan kalah! maka melihat hasil pukulannya yang membuat Sin

Liong terhuyung dia cepat mendesak maju. Dia harus

mengalahkan pemuda ini karena dia ingin sekali pemuda ini

menjadi penghuni Pulau Neraka, dan kalau mungkin menjadi

suami Soan Cu. Dan untuk itu, dia harus lebih dulu

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

merobohkannya. Maka dia cepat mendesak selagi tubuh Sin

Liong terhuyung ke belakang itu. “Wuuut-plak-plak! Wuuuplak-

plak!!”

Pukulan-pukulan tangan Ouw Kong Ek hebat sekali dan

setiap kali Sin Liong yang masih terhuyung itu mengelak,

pukulan itu berubah menjadi cengkraman yang amat lihai

namun selalu tangan Sin Liong masih dapat menyapoknya!

Bahkan pemuda itu berseru keras, tubuhnya melayang keatas,

berjungkir balik dua kali dan sudah turun lagi ke atas lantai

dengan tubuh tegak dan sudah siap lagi! Ouw Kong Ek makin

penasaran. Cepat dia menerjang maju, kedua kakinya

bergerak cepat dengan tendangan berantai yang cepat dan

kuat sekali. Kedua kaki itu seperti kit iran saja sehingga

kelihatannya kakek ini berkaki lebih dari dua yang bergerak

susul menyusul melakukan tendangan ke arah bagian-bagian

berbahaya dari tubuh Sin Liong.

“Siuut-siutt…dess!!”

Setelah berhasil mengelak ke kanan kiri, Sin Liong terdesak

ke sudut dan terpaksa dia

menggunakan kedua lengannya menangkis sambil

mengerahkan tenaga inti salju. Tubuh Ouw Kong Ek

menggigil, terasa dingin sekali tubuhnya, rasa dingin yang

menjalar melalui kaki yang tertangkis. Dia.menggoyang

tubuhnya beberapa kali dan ras dingin sudah terusir. Dia

memandang lawannya dengan mata

terbelalak lebar, kemudian kakek ini mengeluarkan suara

melengking nyaring dan tubuhnya sudah melayang ke atas

kemudian menukik kearah Sin Liong.

Sin Liong terkejut sekali, dia maklum bahwa serangan

terakhir ini bukan main hebatnya, maka dia pun lalu berteriak

keras dan tubuhnya juga mencelat ke atas menyambut tubuh

lawannya, kedua lengannya digerakkan di depan tubuhnya.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Plak-plak… bruukkk!!” tubuh Ouw Kong Ek terbanting ke

atas lantai, dan hanya setelah dia bergulingan beberapa kali

saja dia dapat bangun dengan agak pening.

Bukan main, pikirnya. Dia tadi melakukan serangan

dahsyat, serangan maut yang akan sukar disambut oleh lawan

yang sakti, akan tetapi pemuda itu menyambutnya di udara,

memapaki pukulan dengan pukulan sehingga kedua telapak

tangan mereka bertemu di udara dan akibatnya dia sendiri

yang terbanting keras! “Belum cukupkah, Tocu?” Sin Liong

bertanya dengan suara penuh penyesalan karena dia dipaksa

untuk bertempur , hal yang sama sekali tidak disukainya.

“Hmm, aku belum mengaku kalah, orang muda!” Dan kini

kakek itu menyerang lagi dengan ilmu silat yang gerakannya

cepat sekali, akan tetapi juga aneh. Swat Hong yang

menonton di pinggir, memandang penuh perhatian dengan

alis berkerut. Dia merasa heran sekali. Ilmu silat yang

dimainkan oleh kakek itu seperti pernah dilihatnya, seperti

bukan gerakan asing, namun mengapa begitu aneh dan sama

sekali tidak dikenalnya? Memang t idak mengherankan hal ini

terjadi pada Swat Hong karena ilmu silat yang dimainkan

kakek itu memang bersumber pada ilmu silat Pulau Es, hanya

sudah diubah banyak sekali menjadi ilmu silat ciptaan nenek

moyang Pulau Neraka! Bahkan kini dari kedua telapak tangan

kakek itu mengepul uap hitam, dari mulutnya juga

menyembur uap hitam yang kadang-kadang menyambar ke

arah muka Sin Liong. Sebagai seorang hali pengobatan Sin

Liong segera mengenal hawa beracun keluar dari uap hitam

itu, maka dia bersikap hati-hati, setiap kali ada uap hitam

menyambar. Sementara itu, sambil mengelak dan menangkis

dia mencurahkan seluruh perhatiannya dan dengan ilmu

mujijat yang didapatnya dari kitab, yaitu mengenal rahasia inti

gerakan ilmu silat, dia sudah dapat mencatat dan hafal akan

jurus-jurus yang dimainkan oleh lawannya.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Suheng, balaslah lawanmu! Apa kau takut?” Swat Hong

berteriak lagi. Ouw Kong Ek yang sudah merah mukanya

saking penasaran dan malu karena merasa dipandang rendah

dan dipermainkan, membentak, “Orang muda, berani engkau

memandang rendah kepadaku sehingga tidak mau balas

menyerang?”

Sin Liong terkejut bukan main. Sama sekali tidak mengira

bahwa sikapnya yang mengalah dan tidak mau balas

menyerang itu malah dianggap memandang rendah oleh

kakek itu dan dianggap takut oleh Swat Hon! Tadinya dia

hanya mengharapkan kakek itu akan tahu diri dan mundur

sendiri. Siapa kira, kakek itu keras kepala dan tidak akan

mengaku kalah kalau tidak dirobohkan! Dalam keadaan seperti

itu, tidak ada pilihan lain bagi Sin Liong. Dia menggigit

bibirnya menguatkan hati karena menyerang orang

merupakan hal yang berlawanan dengan hatinya, lalu kaki

tangannya bergerak cepat sekali. Terdengarlah seruan-seruan

kaget dari mulut para pembantu Ouw Kong Ek, bahkan

belasan jurus kemudian, setelah dengan susah payah Ouw

Kong Ek mengelak dan menangis, kakek ini berseru keras dan

tubuhnya terguling.

“Heiiii… dari mana engkau mendapatkan ilmuku ini ?”

Kakek yang sudah terguling karena kedua lututnya tercium

ujung sepatu Sin Liong itu meloncat bangun lagi sambil

bertanya dengan mata terbelalak dan penuh keheranan.

Selama belasan jurus tadi, dia telah diserang oleh Sin Liong

dengan ilmu silatnya sendiri dan pada jurus ke lima belas, dia

tidak mampu menghindar sehingga kedua lututnya

tertendang, membuat dia terguling dan kalau pemuda itu

menghendaki, ketika ia terguling tadi tentu pemuda itu dapat

menyusulkan serangan maut yang dapat menewaskannya!

Sin Liong menjura dan melangkah mundur. “Aku hanya

meniru-niru dari Tocu sendiri….”

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Ouw Kong Ek makin terheran dan sejenak dia melongo,

kemudian dia melangkah maju dan

memegang kedua tangan pemuda itu. “Kwa Sin Liong

…engkau hebat sekali! Aku mengaku kalah terhadap

Kwa-taihiap (Pendekar Besar Kwa)! Aku telah dirobohkan

secara mutlak, bahkan dengan jurus-jurus ilmu

silatku sendiri! Dia ini adalah seorang pendekar besar yang

memiliki kesaktian seperti dewa!”.Semua penghuni Pulau

Neraka membungkuk dan memberi hormat kepada Sin Liong!

Tentu saja pemuda

itu cepat membalas penghormatan mereka dengan

memutar-mutar tubuhnya sambil berkata tersipu-sipu, “Aahhh,

harap Cuwi (Anda sekalian) jangan berlebihan…”

“Kwa-taihiap, aku Ouw Kong Ek sudah mengaku kalah.

Harap Taihiap suka mengajarkan ilmu pengobatan itu agar

kami dapat terbebas dari hawa beracun yang banyak terdapat

di pulau ini. Setelah aku paham, kami akan mempersilahkan

Taihiap dan Han-lihiap (Pendekar Wanita Han) meninggalkan

pulau ini dengan aman.”

“Baik, Ouw-tocu. Aku akan melakukan penyelidikan tentang

racun-racun di pulau ini dan berusaha mencarikan obat

penawanya.”

Soan Cu berlari menghampiri Sin Liong dan berkata, “Sin

Liong, kau hebat sekali! Aku sungguh kagum kepadamu .”

Sambil berkata demikian, Soan Cu memegang kedua tangan

Sin Liong dan mengangkat muka memandang wajah Sin Liong

penuh kekaguman.

“Ahhh, engkau terlalu memuji, Soan Cu. Sebetulnya adalah

Kong-kongmu yang sengaja mengalah kepadaku,” kata Sin

Liong, dan mukanya menjadi merah. Dia maklum bahwa Soan

Cu seorang dara remaja yang berhati polos dan wajar, maka

di depan semua orang tanpa segan-segan menyatakan

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

kekagumannya dan memegang kedua tangannya begitu saja.

Akan tetapi hal ini tentu saja menimbulkan anggapan salah

dan dia sudah melihat betapa Swat Hong membuang muka

dengan wajah diselubungi kemarahan, bahkan akhirnya dara

itu lalu membalikan tubuh dan berlari pergi!

Sampai tiga bulan lamanya Sin Liong dan Swat Hong di

Pulau Neraka. Dengan teliti dan hati-hati Sin Liong melakukan

penyelidikan tentang segala macam racun yang terdapat di

pulau itu, kemudian dia mencarikan obat penawarnya dan

menulis serta melukiskan nama dan bentuk daun, akar,

bunga, atau buah yang berkhasiat sebagai penawar racunracun

itu. Sibuklah ketua Pulau Neraka, dan para

pembantunya mencarikan bahan-bahan obat itu dan setelah

tiga bulan, barulah lengkap catatan Sin Liong.

JILID 7

Ouw Kong Ek dan semua penghuni Pulau Neraka merasa

berterima kasih sekali kepada Sin Liong, apalagi setelah

terbukti banyak penghuni yang sembuh dari penderitaan

penyakit akibat keracunan setelah menggunakan obat-obat

seperti yang ditunjuk oleh pemuda itu. Dia dianggap sebagai

seorang dewa penolong mereka dan diperlakukan dengan

sikap penuh hormat.

Setelah “terpaksa” tinggal di Pulau Neraka selama tiga

bulan, akhirnya Swat Hong mendapatkan kenyataan bahwa

Soan Cu adalah seorang remaja yang benar-benar tulus, jujur

dan wajar sehingga mudah saja di antara mereka terjalin

persahabatan yang akrab. bahkan karena dara Pulau Neraka

itu dengan terang-terangan tanpa dibuat-buat dan tanpa

usaha menarik hati Sin Liong menyatakan suka dan cintanya

kepada Sin Liong, Swat Hong menyambut pernyataan itu

dengan hati terharu. Diam-diam menaruh hati kasihan kepada

dara Pulau Neraka ini karena dia tahu bahwa hati suhengnya

itu jauh daripada cinta! Suhengnya belum pernah

mengacuhkan tentang hubungan di antara mereka, juga

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

suhengnya sama sekali tidak kelihatan menaruh hati kepada

Soan Cu. Dianggapnya suhengnya itu terlalu “dingin” dan

sudah seringkali dia sendiri merasa kecewa melihat suhengnya

sebagai seorang pemuda yang tidak ada semangat! Padahal

dia sendiri belum yakin apakah dia mencintai suhengnya,

sungguhpun dia merasa suka sekali kepada pemuda itu

namun sebagai seorang dara remaja, tentu saja dia merasa

tidak puas menyaksikan sikap pemuda yang “dingin” saja

terhadapnya. Sebagai seorang wanita muda yang sehat dan

normal, tentu saja Swat Hong juga ingin agar semua orang,

terutama kaum pria, memandangnya dengan kagum dan

suka, bahkan dia pun seperti semua wanita di dunia ini

agaknya, akan merasa bangga kalau semua orang laki-laki

jatuh cinta kepadanya!

Hari keberangkatan mereka meninggalkan Pulau Neraka

pun tibalah. Sin Liong dan Swat Hong diantar oleh semua

penghuni Pulau Neraka sampai ke pantai, dimana telah

tersedia sebuah perahu yang lengkap dengan layar,

dayung,dan bekal makanan. Soan Cu mengantar dengan mata

berlinang air mata.

Semenjak tadi dara ini menangis, bahkan rewel kepada

kakeknya hendak ikut pergi bersama Sin Liong dan

Swat Hong..”Hushhh, apakah kau gila?” demikian kakeknya

menjawab. “Kau hendak ikut ke Pulau Es? tidak tahukah

kau bahwa semua penghuni Pulau Neraka dilarang

menginjakan kaki ke Pulau Es? Begitu kau t iba di sana, kau

akan dijatuhi hukuman sebagai seorang pelanggar hukum! “

Juga Sin Liong dan Swat Hong melarang dengan alasan

bahwa Swat Hong sendiri sedang menghadapi malapetaka,

bahkan dia bersama suhengnya sedang berusaha mencari

ibunya. Selama tiga bulan ini, Ouw Kong Ek sudah

mengerahkan pembantunya untuk mencari Liu Bwee, bekas

istri Raja Han Ti Ong, ke pulau-pulau kosong di sekitar Pulau

Neraka, namun hasilnya sia-sia belaka. Tentu saja para

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

penghuni Pulau Neraka yang mencari itu tidak berani terlalu

mendekat Pulau Es. Setelah perahu yang ditumpanginya Sin

Liong dan Swat Hong pergi Jauh, Soan Cu menjatuhkan

dirinya menangis. “Kong-kong, akupun mau pergi dari sini.

Aku tidak tahan lagi tinggal lebih lama di Pulau Neraka tanpa

adanya mereka berdua! Aku harus pergi, aku harus pergi

mencari ayahku, seperti Swat Hong yang pergi mencari

ibunya!”

Kong-kongnya hanya menggeleng kepala, menghela napas

dan menggandeng cucunya yang tercinta itu kembali ke

tengah pulau. Hati orang tua ini khawatir sekali karena dia

tahu bahwa cucunya telah mulai dewasa dan telah tergoda

oleh cinta sehingga merasa tidak tahan lagi tinggal lebih lama

di Pulau Neraka. Dia maklum bahwa agaknya takan lama lagi

cucunya itu tentu akan nekat meninggalkan pulau dan kalau

hal yang dikhawatirkan itu terjadi, apalagi artinya hidup

baginya di pulau itu? Puteranya telah lenyap dan satu-satunya

orang yang selamanya ini membuat hidupnya berarti hanyalah

Soan Cu. Ketika perahu mereka mendarat di Pulau Es, Sin

Liong dan Swat Hong saling pandang dengan hati yang

berdebar. Mereka sudah menjelajahi seluruh pulau di sekitar

Pulau Es untuk mencari ibu Swat Hong, namun sia-sia belaka.

Akhirnya mereka mengambil keputusan untuk kembali ke

Pulau Es, dengan harapan mudah-mudahan ibu dara itu sudah

kembali ke Pulau Es.

“Bagaimana kalau ibu tidak berada di sana? Bukankah

berarti bahwa aku telah melanggar janjiku untuk mewakili ibu

yang dibuang ke Pulau Neraka?” Swat Hong bertanya ketika

perahu mereka tadi sudah mendekati Pulau Es.

“Jangan khawatir, Sumoi. Suhu adalah ayahmu sendiri, dan

betapapun marahnya, aku percaya bahwa suhu akan dapat

memaafkanmu. Aku percaya akan kebijaksanan Suhu, dia

bukanlah seorang yang berbudi rendah….”

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Tapi dia telah terkena racun yang hebat, racun yang

seratus kali lebih kejam daripada racun yang paling jahat di

pulau Neraka! Dia telah terkena hasutan mulut wanita jahat

itu…” “Ssttt, Sumoi, jangan mempersulit keadaan dengan

menyangka yang bukan-bukan. Sudalah, kekhawatiranmu itu

hanyalah permainan pikiran yang membayangkan hal yang

belum terjadi. Singkirkan saja kekhawatiran kosong itu dan

mari kita hadapi kenyataan. Percayalah, apa pun yang akan

terjadi, aku tidak akan membiarkan engkau terancam

bencana. Mari kita hadapi apa saja yang menimpa kita

berdua.” “Suheng… betulkah? Betulkah kau akan membela

dan melindungi aku?”

“Tentu saja, Sumoi.”

“Menghadapi Ayah sekalipun?”

“Menghadapi siapa saja karena aku yakin bahwa engkau

tidak mempunyai kesalahan apa pun.”

“Kalau begitu, aku menjadi besar hati, Suheng. mari kita

mendarat.”

Makin tegang hatinya dan juga terheran-heran ketika dia

melihat betapa beberapa orang penghuni

Pulau Es kebetulan berada di situ, segera berlari pergi

menuju ke tengah pulau, bahkan tidak berhenti

ketika dia dan suhengnya memanggil mereka..Makin tidak

enak mereka, namun dengan tenang Sin Liong mengajak

sumoinya untuk menuju ke Istana

Pulau Es di tengah pulau itu, menemui Raja Han Ti Ong

dan bertanya tentang Liu Bwee. Tak lama kemudian,

keduanya berhenti tiba-tiba ketika melihat raja itu sendiri

berlari-laridatang bersama permaisuri dan pembantupembantu

yang terpercaya. Tadinya Swat Hong merasa

girang, wajahnya berseri karena dia mengira bahwa ayahnya

datang menyambutnya dengan girang melihat di pulang. Akan

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

tetapi betapa kagetnya ketika ayahnya sudah tiba di depan

mereka, langsung raja Han Ti Ong menudingkan telujuknya ke

arah mereka sambil membentak, “Manusia-manusia rendah!

kalian masih berani menginjakan kaki di Pulau Es? Membikin

kotor pulau ini? keparat!”

“Ayah…!!”

“Suhu…!!”

“Plak! Plak!!” Tubuh Sin Liong dan Swat Hong terguling

ketika tangan Raja itu dengan kecepatan kilat telah menampar

mereka. Dengan alis berdiri Raja Han Ti Ong menudingkan

telunjuknya bergantian ke arah muka dua orang muda yang

menjadi kaget setengah mati dan merangkak bangun itu.

“Jangan sebut aku Ayah dan Suhu! Kalian berdua telah

minggat dengan diam-diam, perbuatan yang tak tahu malu

dan mengotorkan nama keluarga Han! Masih berani datang

dan menyebut Ayah dan Suhu kepadaku? Huh!!”

“Ayahhhh….apa…apa yang terjadi….? Mana Ibuku…?”

“Ibumu seorang yang hina, dan engkau anaknya pun t idak

berbeda banyak!”

“Ayah…!”

“Diam! Dan minggat engkau dari sini sebelum kubunuh! “

“Ayah, kalau begitu bunuh saja aku! Aku tidak berdosa…!”

Swat Hong yang berlutut itu menangis sesungguhnya.

“Bagus! Kau minta mati?”

“Suhu…!” Suara Sin Liong ini mengandung wibawa

sedemikian hebatnya sehingga Han Ti Ong sendiri sampai

terkejut menghent ikan langkahnya yang hendak menghampiri

puterinya. Sepasang mata Sin Liong mengeluarkan sinar yang

luar biasa dan sejenak Ha Ti Ong ragu-ragu. Teringatlah dia

akan keadaan dahulu ketika anak ajaib ini menyuruhnya

menolong The Kwat lin, menyuruhnya berhenti untuk

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

menguburkan mayat-mayat. Seperti itu pula kekuatan mujijat

yang keluar dari sepasang mata itu. Sepasang mata yang

sedikitpun tidak membayangkan takut, atau marah, atau

kekerasan, hanya membayangkan kelembutan yang

mengharukan.

“Suhu, harap suhu bersabar dulu. Menjatuhkan hukuman

tanpa memberitahu kesalahan orang, sungguh tidak adil

sekali, sungguhpun Sumoi adalah puteri Suhu sendiri.” Bangkit

kembali marah Han Ti Ong. “Sin Liong, bagus perbuatanmu,

ya? Kau masih berpura-pura lagi? Dia pergi tanpa pamit, hal

itu masih belum apa-apa, akan tetapi dia pergi lalu kau susul,

bersamamu pergi sampai berbulan-bulan, pantaskah itu?

Kalian t idak tahu malu, dan menodakan nama baik keluarga

KerajaanHan!” Diam-diam Sin Liong terheran. mengapa

suhunya berubah seperti ini? Tentu saja dia tidak tahu betapa

para keluarga yang membenci Liu Bwee telah menggunakan

kesempatan selagi terjadi peristiwa penghukuman atas diri Liu

Bwee itu untuk membakar hati raja ini, terutama sekali melalui

mulut permaisuri!

“Ayah, jangan menuduh yang bukan-bukan. Aku memang

pergi dan bertemu dengan suheng, akan tetapi apakah

salahnya dengan itu?”

“Hemm, apa, salahnya, ya? Tidak salahkah kalau seorang

pemuda dan seorang dara berdua saja sampai

hampir setengah tahun lamanya? Mingkinkah tidak akan

terjadi apa-apa antara kalian, di tempat sunyi,.hanya berdua

saja! Hem…hemmm… siapa percaya tidak akan terjadi apaapa

yang kotor?” ucapan ini

keluar dari mulut permaisuri, The Kwat Lin yang tersenyum

mengejek.

“Ibu, kalau Enci Hong dan Suheng melakukan hubungan

gelap, kawinkan saja mereka, mengapa ribut-ribut?” Tiba-tiba

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Bu Ong, putera raja yang baru berusia kurang lebih delapan

tahun itu, berkata dengan suara nyaring.

“Hussshhh! Tutup mulutmu!” Kwat Lin membentak

puteranya yang segera cemberut, tapi memandang kepada

Swat Hong dan Sin Liong dengan pandang mata mengejek.

Hampit saja Swat Hong tak dapat percaya akan apa yang

didengarnya. Ayah dan ibu tirinya menuduh dia berjinah

dengan Sin Liong! Dengan dada sesak dan kemarahan yang

meluap-luap, Swat Hong lupa diri dan meloncat bangun,

menjerit dengan kata-kata yang seperti dilontarkan kepada

ayahnya, “Ayah! Mengapa ada fitnah sekeji ini? Ayah,

insyaflah, Ayah telah dikelabui, Ayah telah mabuk oleh

rayuan…” “Plak! Desss!!” Tubuh Swat Hong terlempar dan

terguling-guling ketika terkena tamparan dan pukulan tangan

ayahnya sendiri.

“Suhu, ini tidak adil sama sekali!” “Plak! Desss!!!” Tubuh

Sin Liong juga terjungkal, Akan teapi pemuda ini sudah

meloncat bangun kembali. Sedikit pun tidak merasa takut,

bahkan kini dia memandang tajam kepada Han Ti Ong.

“Suhu, andaikata Suhu memukul tee-cu sampai mati

sekalipun, suah sepatutnya karena karena tee-cu hanyalah

seorang murid yang telah menerima banyak kebaikan dari

Suhu dan tee-cu rela membalasnya dengan nyawa. Akan

tetap, Sumoi adalah puteri Suhu sendiri, darah daging suhu

sendiri! Mengapa Suhu begitu tega? Di manakah rasa kasih di

hati Suhu?”

“Keparat!” Han Ti Ong memaki dengan suara gemetar

saking marahnya. Melihat betapa Sin Liong berani

menantangnya untuk membela Swat Hong makin besar

kepercayaannya akan desas-desus bahwa puterinya main gila

dengan muridnya ini. “Kau mau memberi kuliah kepadaku?

Kalau dia orang lain, aku tidak akan perduli apa yang

dilakukannya. Justru karena dia anaku dan aku cinta kepada

anakku, maka aku perlu mengajarnya!”

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Hemmm, begitulah cinta di hati Suhu? Cinta suhu siap

untuk berubah menjadi kemarahan, kebencian yang meluap

karena Suhu merasa bahwa puteri Suhu tidak menyenangkan

hati suhu? itu bukan cinta, Suhu! Suhu hanya mement ingkan

diri sendiri, kalau disenangkan hati Suhu, biar orang lain

sekalipun akan Suhu perlakukan dengan baik, akan tetapi

kalau hati Suhu dikecewakan, biar anak sendiri akan dibunuh!”

“Plak-plak! Dess…!” Kembali tubuh Sin Liong terjungkal dan

kini darah mengucur dari mulut dan hidungnya.

“Suheng…! Ahhh, Ayah… Jangan…!” Swat Hong sudah

meloncat ke depan dan menubruk suhengnya. “Anak

durhaka, murid murtad! Dess!” kini Swat Hong yang mengeluh

dan terjungkal terkena tendangan ayahnya yang sedang

marah itu. Masih untung bagi mereka berdua bahwa Han Ti

Ong hanya berniat mengajar dan menghukum, kalau berniat

membunuh, tentu mereka sudah tak benyawa lagi. Saking

marahnya, biarpun melihat murid dan puterinya sudah

beberapa kali dihantam dan ditendangnya sampai mulut dan

hidung mengeluarkan darah dan muka mereka bengkakbengkak,

Han Ti Ong masih saja menghajar mereka.

“Ongya, harap ampunkan mereka….” Tiba-tiba beberapa

orang pembantu utama berlutut di depan Raja yang marah ini

dan menyabarkan hatinya.

Han Ti Ong berdiri dengan napas terengah-engah, mata

terbelalak dan muka merah sekali. dia menjadi hampir putus

napasnya saking marahnya.

“Hemmm, mereka ini bocah-bocah kurang ajar yang layak

dibunuh!” katanya.

“Ongya, sejak dahulu belum pernah ada hukuman

dilaksanakan tanpa diadili lebih dulu, harap Ongya ingat

akan keadilan Kerajaan Pulau Es yang sudah terkenal

semenjak ratusan tahun,” kata seorang pembantu.yang sudah

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

berusia lanjut. Han Ti Ong menghela napas panjang dan dia

teringat. Sebetulnya, dia sedang

berada dalam keadaan duka dan kecewa. duka mengingat

akan istrinya, Liu Bwee, yang kini menimbulkan penyesalan di

dalam hatinya karena dia pun mulai meragukan kesalahan

istrinya itu. Kecewa karena serangkaian peristiwa yang tidak

menyenangkan hatinya, mengganggu ketentraman hidupnya

di Pulau Es. “Anak durhaka, untung engkau belum kubunuh!

Kau boleh membela diri, kalau memang masih ada yang akan

kau katakan!”

Dengan tubuh sakit-sakit dan hampir pingsan, Sin Liong

masih dapat membantu Sumoinya, bangkit duduk, bahkan

tidak memperdulikan keadaan dirinya sendiri, dia menyusuti

peluh, air mata dan darah dari muka sumoinya, kemudian

menarik sumoinya untuk berlutut di depan raja yang sedang

marah itu. “Sumoi, laporkanlah semuanya kepada Suhu…”

bisiknya.

“Apa gunanya? Biarlah aku dibunuh! Biarlah, Ibu lenyap tak

berbekas dan akan dibunuhnya… tentu akan puas

hatinya…hu-hi-huuuuukkk….” Swat Hong menangis terisakisak.

Melihat keadaan puterinya ini, tersentuh juga rasa hati

Raja Han Ti Ong.

“Sin Liong, hayo ceritakan apa yang terjadi! kami semua

menuduh kalian berdua selama berbulan-bulan dan tentu

kalain telah melakukan perbuatan yang tidak senonoh.

Mengakulah! Awas, kalau kau membohonng, akan kubunuh

kau sekarang juga!”

“Suhu boleh membunuh teecu kalau teecu berbohong.

Bahkan kalau teecu tidak membohong sekalipun, teecu

menyerahkan nyawa teecu kepada suhu.

Sebetulnya, ketika melihat sumoi pergi membuang diri ke

Pulau Neraka dan melihat Subo juga pergi, teecu merasa

kasihan dan berkhawatir sekali. Maka teecu diam-diam lalu

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

mengejar dan menyusul ke Pulau Neraka.” kemudian dengan

panjang lebar dan jelas Sin Liong menceritakan semua

pengalaman mereka di Pulau Neraka dan mengapa mereka

sampai berbulan-bulan berada di pulau itu. Berkerut Raja Han

Ti Ong. Di lubuk hatinya, dia percaya kepada muridnya ini.

Tidak ada seorang pun di dunia ini yang dapat membohong

dengan sikap seperti yang diperlihatkan muridnya. Tidak,

tentu muridnya tidak berbohong. Akan tetapi hatinya masih

marah dan ia makin marah ketika mendengar betapa Pulau

Neraka telah berani menahan puterinya sebagai sandera!

“Swat Hong! Benarkah cerita Sin Liong?” bentaknya kepada

dara yang masih menangis sesenggukan itu. “Apa gunanya

Ayah bertanya kepadaku? Lebih baik Ayah menyelidiki sendiri

ke Pulau Neraka. Kalau aku dan suheng berbohong, boleh

bunuh seribu kali juga tidak apa.” Memang sejak dahulu Swat

Hong bersikap manja kepada ayah bundanya, pula dia

memiliki watak keras, tidak takut mati, maka dalam keadaan

seperti itu pun dia bersikap berani dan menantang!

“Siapkan pasukan, tiga puluh orang untuk ikut bersamaku

ke Pulau Neraka!” Raja itu memerintah kepada pembantunya

dengan suara marah dan pada hari itu juga dia berangkat

bersama tiga puluh orang pasukan menuju ke Pulau Neraka!

Dapat dibayangkan betapa gagetnya para penghuni Pulau

Neraka ketika diserbu oleh pasukan Pulau Es yang dipimpin

Oleh Raja Han Ti Ong sendiri! Ouw Kong Ek sendiri yang maju

dan berusaha melawan, dalam belasan jurus saja telah

dirobohkan dan dipaksa menceritakan apa yang terjadi ketika

puteri Raja Pulau Es itu berada di Pulau Neraka.

Dengan kebencian dan dendam yang makin mendalam,

Ouw Kong Ek menceritakaan keadaan sebenarnya, tepat

seperti yang telah didengar oleh Han Ti Ong dari mulut Sin

Liong. Maka mulailah raja ini merasa menyesal mengapa dia

telah terburu nafsu menghajar, bahkan hampir saja

membunuh Sin Liong dan Swat Hong yang sebetulnya tidak

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

berdosa. Mulailah dia teringat bahwa kemarahanya itu timbul

karena bujukan dan kata-kata yang membakar dari

permaisurinya. Dia menjadi marah sekali dan kemarahannya

itu dilampiaskannya di Pulau Neraka. Pulau itu diobrak-abrik,

sebagai hukuman telah berani menahan puterinya. Bahkan

kitab catatan Sin Liong tentang racun dan pengobatanya,

dihancurkan dan dibakarnya!

Setelah puas melampiaskan kemarahanya, Han Ti Ong

memimpin pasukannya meninggalkan Pulau.Neraka,

meninggalkan para penghuni yang banyak menderita luka

lahir batin itu dan Raja ini telah

menanamkan dendam yang makin menghebat di dalam

hati para penghuni Pulau Neraka. Sepekan kemudian, barulah

rombongan Han Ti Ong tiba kembali di Pulau Es dan wajah

Raja ini seketika pucat setelah dia mendengar berita yang

lebih hebat dan mengejutkan lagi, yaitu bahwa sehari setelah

dia dan pasukanya berangkat, permaisuri dan pangeran telah

pergi meninggalkan Pulau Es! Dan belum pulang .

Makin terpukul lagi bathin Raja Han Ti Ong ketika dia

mendapat kenyataan bahwa kitab-kitab pusaka Pulau Es telah

lenyap, berikut banyak harta benda berupa mas dan permata

yang disimpan didalam kamarnya! Hampir saja dia roboh

pingsan mendapat kenyataan bahwa permaisurinya, The Kwat

Lin, gadis yang ditolongnya itu, ternyata telah berkhianat!

“Mengapa tidak kalian larang mereka pergi? Mengapa? Sin

Liong, engkau muridku, mengapa engkau mendiamkan saja

pergi membawa pusaka-pusaka kita?” dalam bingung dan

marahnya dia menegur Sin Liong.

“Suhu, Subo pergi hanya memberi tahu bahwa Subo

bersama Sute hendak menyusul ke Pulau Neraka. Siapa yang

berani menghalangi Subo? Kami semua t idak ada yang

mengira bahwa Subo tak kan kembali, dan tidak ada yang

tahu bahwa Subo membawa sesuatu, harap maafkan teecu.”

Han Ti Ong membanting-banting kakinya, lalu berlari

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

memasuki kembali istana setelah tadi dia memeriksa dan

melihat kehilangan pusaka Pulau Es. Ketika dia memanggil dua

orang muda menghadap, Sin Liong dan Swat Hong melihat

perubahan hebat terjadi pada diri raja sakti ini. wajahnya

menjadi suram dan gelap, sepasang mata yang biasanya

bersinar dan berpengaruh itu, menjadi redup seperti lampu

kekurangan minyak. Dan rambut yang tadinya hanya sedikit

putihnya, mendadak berubah hampir seluruhnya, dan

suaranya tidak bersemangat ketika berkata, “Sin Long…, Swat

Hong…, kalian ampunkan aku…”

“Suhu…!” Sin Liong berlutut dan menundukan muka.

“Ayah… jangan berkata begitu Ayah…!” Swat Hong

meloncat menubruknya. Ayah dan anak itu saling rangkulan

dan Sin Liong makin menundukan mukanya ketika mendengar

suhunya menangis mengguguk seperti anak kecil ! Setelah

Han Ti Ong dapat menguasai kembali hatinya dia mencium

dahi puterinya dan menyuruhnya duduk kembali. Swat Hong

menyusuti air matanya dan berlutut di dekat Sin Liong.

“Aku telah bedosa. Sekarang baru aku tahu…aku telah

berdosa. Mungkin sekali… tidak, aku yakin sekarang, bahwa

ibu Swat Hong tidak bersalah apa-apa, hanya terkena fitnah…

aih, apa yang telah kulakukan? Dan aku hampir saja

membunuhmu, Sin Liong, dan kau Swat Hong anaku. Orang

macam apa aku ini? Dan aku mengaku cinta kepada anakku?

Huh, huh, engkau benar, Sin Liong. Tidak ada cinta di dalam

hatiku yang kotor, yang ada hanya nafsu berahi sehingga

mudah saja aku dipermainkan oleh wanita itu. Aihhhh….kalian

maafkan aku. Swat Hong, hanya satu pesanku kepadamu,

anakku. Kau… kau menjadilah jodoh Sin Liong. Jadilah kalian

suami istri, baru akan terobati hatiku…” “Suhu…!”

“Ayah…!”

“Muridku….anakku….,maukah kalian melegakan hatiku?

Aku ingin menebus kesalahanku… aku ingin melihat kalian

menjadi suami istri, kalian anak-anak malang…”

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Suhu, teecu mohon ampun. Teecu…tidak ada dalam hati

teecu untuk memikirkan soal jodoh…”

“Ayah, mengenai jodoh t idak dapat ditentukan begitu saja.

Biarkan kami menentukannya sendiri…”

Han Ti Ong menarik napas panjang, memejamkan mata

sebentar, kemudian bangkit berdiri, membalikan

tubuh dan berjalan memasuki kamarnya meninggalkan dua

orang muda yang masih berlutut itu. Semenjak

saat itu, sampai berhari-hari lamanya, Raja itu tidak pernah

keluar dari kamarnya sehingga membuat.gelisah semua

pembantunya. Keadaan di Pulau Es tidak seperti biasa, semua

penghuni dapat merasakan ini.Semenjak terjadinya peristiwa

yang memalukan dan menyedihkan menimpa keluarga Raja

Han Ti Ong, keadaan Pulau Es sunyi dan semua wajah para

penghuni kelihatan muram. bahkan cuaca juga seolah-olah

berubah suram, seringkali malah menjadi gelap oleh mendung

tebal. Hati semua orang merasa gelisah tanpa mereka ketahui

sebabnya, seolah-olah merupakan tanda rahasia bahwa akan

terjadi hal-hal lebih hebat lagi.

Peristiwa yang menyedihkan yang menimpa Han Ti Ong

bisa menimpa diri setiap orang, dan memang kita sebagai

manusia hidup selalu terlupa bahwa mengejar kesenangan

sama artinya dengan memanggil kesengsaraan! Kita hidup

dibuai khayal akan keadaan yang lebih baik, lebih

menyenangkan dari pada keadaan seperti apa adanya. Kita

tidak pernah membuka mata, tidak pernah menghayati

keadaan saat ini, tidak dapat melihat bahwa saat ini mencakup

segala keindahan. Dengan membandingkan keadaan kita

dengan keadaan lain, kita selalu menganggap bahwa keadaan

buruk tidak menyenangkan, dan kita selalu memandang jauh

kedepan, mencari-cari dan menghayalkan yang tidak ada,

keadaan yang kita anggap lebih menyenangkan. Karena

kebodohan kita inilah maka kita hidup dikejar-kejar oleh

kebutuhan setiap saat, detik demi detik kita mengejar

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

kebutuhan. Kebutuhan adalah keinginan akan sesuatu yang

belum tercapai, yang kita kejar-keja. Lupa bahwa kalau yang

satu itu dapat tercapai, didepan masih menanti serbu yang

lain yang akan mejadi keinginan dan kebutuhan kita

selanjutnya. Maka, berbahagialah dia yang tidak

membutuhkan apa-apa! Bukan berarti menolak segala

kesenangan, melainkan tidak mengejar apa-apa sehingga

kalau ada sesuatu yang datang menimpa diri, bukan lagi

merupakan kesenangan atau kesusahan, melainkan dihadapi

sebagai suatu yang sudah wajar dan semestinya sehingga

tampaklah keindahan yang murni!

Demikian pula keadaan Raja Han Ti Ong. Dia seorang yang

sakti dan bijaksana namun tiba saatnya dia lengah dan

menganggap bahwa dia menemukan kebahagiaan dalan diri

The Kwat Lin. Padahal yang dia temukan hanyalah

kesenangan yang timbul dari kenikmatan badani, dari

terpuaskannya nafsu. Dia seolah-olah hidup dialam khayal, di

alam mimpi. Setelah dia sadar dari mimpi, terasa bahwa yang

manis menjati pahit bukan main, baru sadar bahwa perubahan

dari senang ke susah sama mudahnya dengan membalikan

telapak tangan! Dan mengalah, suka dan duka hanyalah dwi

muka (kedua muka) dari sebuah tangan yang sama!

Perahu kecil itu terayun-ayun kekanan kiri seperti menarinarikarena

tidak dikuasai oleh layar maupun

dayung, melainkan sepenuhnya dikuasai oleh air laut yang

tenang. Dua orang yang duduk diperahu itu

seperti dua buah arca, diam dan pandang mata mereka

melayang jauh ke kaki langit, melayang-layang di

permukaan laut seperti mencari-cari sesuatu yang hilang.

Dan memang f ikiran Sin Liong dan Swat Hong,

dua orang di perahu itu, sedang mencari-cari jawaban

pertanyaan hati mereka sendiri. pulau Es hanya

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

kelihatan sebagai sebuah garis mendatar putih dekat kaki

langit. mereka berangkat pagi-pagi meninggalkan

Pulau Es, setelah tiba di tempat jauh yang sunyi ini, mereka

menggulung layar dan membiarkan perahu

mereka dibuai gelombang kecil. Mereka sudah lama

berdiam diri seperti itu, dibuai oleh lamunan masing-masing,

lamunan yang timbul karena keadaan di Pulau Es yang

menyedihkan. “Suheng…” Suara panggilan Swat Hong ini lirih

saja, namun karena sejak tadi mereka tidak mendengar suara

apa-apa, maka suara panggilan ini seolah-olah mengandung

getaran hebat yang memenuhi seluruh ruang kesunyian.

Sin Liong menoleh dan dia pun seolah-olah baru sadar dari

alam mimpi. “Hemmmm…?” jawabannya masih ragu-ragu.

“Suheng mengajakku meninggalkan pulau dan setelah tiba

disini, mengapa suheng tidak lekas bicara melainkan melamun

saja?”

“Aku terpesona akan keindahan alam yang sunyi ini,

Sumoi….”

“Aku pun tadi terseret, Suheng. Akan tetapi melihat batu

karang menonjol di depan itu, aku tersadar.

Apakah aku akan menjadi setua batu karang itu yang

kerjanya hanya termenung di tempat sunyi! Suheng,

kau tadi bilang bahwa untuk membicarakan urusan kita,

engkau mengajakku ketengah laut. Mengapa?.”Engkau sudah

mengerti sendiri. Fitnah yang dilontarkan kepada kita, bahwa

ada terjadi sesuatu yang

rendah di antara kita, membuat aku merasa tidak enak

kalau mengajak kau bicara berdua saja di tempat sunyi di atas

pulau itu. Dapat menimbulkan prasangka yang bukan-bukan.

Karena itulah maka kuajak kesini, agar kita dapat bicara

dengan tenang dari hati ke hati tanpa ada yang mendengar

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

dan melihat. Pula, kuharap ditempat yang sunyi ini, yang

membuat kita seolah-olah berada di dalam alam lain, kita akan

menemukan ilham…”

Swat Hong tertawa. Timbul kembali kegembiraan dara ini

setelah dia tidak berada di Pulau Es yang membuat dia selama

ini ikut muram dan berduka. “Wah, Suheng! Kadang-kadang

kau bicara seperti seorang pendeta saja! Apa sih yang akan

dibicarakan sampai-sampai kau membutuhkan ilham segala?”

“Mari kita bicara tentang cinta, Sumoi.”

Wajah dara muda jelita itu terheran, matanya memandang

terbelalak dan perlahan-lahan kedua pipinya menjadi agak

kemerahan. “Aihh… apa maksudmu, Suheng?”

Sin Liong menarik napas panjang, dan menyentuh tangan

sumoinya. “Perlukah aku menjelaskan lagi? Suhu, Ayahmu

sedang dilanda duka dan kedukaannya yang terakhir sekali ini

adalah menyangkut hubungan antara kita. Suhu menghendaki

agar kita berjodoh, dan kita secara jujur telah menyatakan

tidak setuju akan kehendaknya itu. Dan memang kita benar,

Sumoi. Perjodohan tidak bisa ditentukan begitu saja, karena

perjodohan merupakan hal gawat bagi seseorang, akan

melekat selama hidupnya. Akan tetapi bagaimana kita tahu

kalau hal ini tidak kita bicarakan secara terus terang? Maka,

agar kita dapat mengambil keputusan yang tepat tentang

kehendak Suhuini, marilah kita bicara tentang cinta!” “Hemm,

bicaralah. Aku tidak tahu apa-apa,” Kata Swat Hong yang

tentu saja merasa malu untuk bicara tentang hal yang asing

baginya itu.

“Swat Hong, apakah kau cinta kepadaku?” Dara itu makin

merah mukanya. Tak disangkanya bahwa suhengnya akan

bertanya secara langsung seperti itu sehingga dia merasa

seperti diserang dengan tusukan pedang yang amat dhasyat!

Dia mengangkat muka memandang suhengnya dengan

bingung. “Aku…aku…ah, aku tidak tahu…” dan dia

menundukan mukanya.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Sumoi, sudah sering aku melihat sikapmu yang aneh.

Engkau marah-marah ketika kita berada di Pulau Neraka.

Engkau cemburu melihat Soan Cu berbuat baik kepadaku, dan

kau tidak senang melihat Kong-kongnya hendak menjodohkan

Soan Cu dengan aku. Sumoi, aku tidak tahu apa cemburu itu

tandanya cinta? Akan tetapi, jawablah demi pemecahan

persoalan yang kita hadapi ini. Cintakah kau kepadaku?”

Disinggung-singgung tentang sikapnya di Pulau Neraka yang

jelas menadakan rasa cemburunya, Swat Hong menjadi makin

malu. Dicobanya untuk menjawab, akan tetapi begitu dia

bertemu pandang dengan suhengnya, dia menjadi makin malu

dan ditutupinya mukanya dengan kedua tangan, kepalanya

digeleng-gelengkan dan dia berkata, “Aku tidak tahu…aku

tidak tahu… kau saja yang bicara, Suheng. Kau saja yang

menjawab apakah kau cinta padaku atau tidak!” Dan kini dia

menurunkan kedua tangannya, sepasang matanya yang

bening itu kini dengan penuh selidik menatap wajah Sin Liong!

Sin Liong menarik napas panjang. “Itulah yang

membingungkan hatiku selama ini,Sumoi. Mau bilang tidak

mencintaimu, buktinya aku suka kepadamu. Akan tetapi untuk

menyatakan bahwa aku cinta padamu, sulit pula karena aku

sendiri tidak tahu bagaimana sesungguhnya cinta itu. Apakah

seperti cintanya suhu terhadap ibumu yang berakhir dengan

peristiwa menyedihkan itu? ataukah seperti cintanya Ibumu

kepada Suhu? Ataukah seperti cintanya The Kwat Lin dan

suhu? Hemm, mengapa semua cinta itu demikian palsu dan

mengakibatkan hal yang amat menyedihkan? Aku menjadi

ngeri melihat cinta macam itu, Sumoi.” Swat Hong

memandang heran. “Ahhh, aku tidak pernah memikirkan cinta

seperti yang kau kemukakan ini, suheng.”

“Mudah saja. Lihat saja apa yang terjadi antara Suhu,

Ibumu, dan The Kwat Lin. Seperti itukah cinta? Hanya

mendatangkan cemburu, kemarahan, kebencian, dan

permusuhan hebat. Apakah itu cinta? Kalau seperti itu, aku

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

ngeri dan aku tidak berani berlancang mulut menyatakan cinta

kepada siapapun, Sumoi.

Karena, kalau hanya seperti itu akibatnya, maka cinta yang

kunyatakan hanyalah merupakan kembang bibir.elaka, hanya

cinta palsu belaka. Bayangkan saja, Sumoi. Di antara kita

berdua, sejak kecil sampai sekarang

menjelang dewasa, tidak pernah ada pertentangan dan

tidak pernah ada urusan apa-apa. Akan tetapi, setelah kita

berdua mengaku cinta, lalu timbul soal-soal ceburu, kecewa

dan lain-lain. Apalagi setelah menjadi suami istri…hemm,

betapa mengerikan kalau melihat contoh yang kita saksikan di

Pulau Es ini.” Swat Hong menunduk dan tak mampu

menjawab. Persoalan yang diajukan oleh Sin Liong itu

terlampau berat baginya, sulit untuk dimengerti. Baginya,

sebagai seorang wanita, dia haus akan cinta kasih, akan

perhatian, akan pemanjaan dari seorang pria yang

menyenangkan hatinya, seperti suhengnya ini. Akan tetapi,

setelah mendengar uraian Sin Liong tentang cinta yang

diambilnya peristiwa di Pulau Es sebagai contoh, dia pun ngeri

dan tidak berani menyatakan perasaanya itu. “Aku tidak tahu,

Suheng.., aku tidak mengerti. Terserah kepadamu sajalah…”

Sin Liong kembali menarik napas panjang. Dia memang sudah

mengambil keputusan di dalam hatinya bahwa dia harus

membalas budi kebaikan suhunya yang sudah berlimpahlimpah

diberikan kepadanya. Satu-satunya jalan untuk

membalas budi hanya dengan menyenangkan hati suhunya

yang sedang berduka itu. Dia harus menerima keputusan

suhunya, yaitu menerima menjadi jodoh Swat Hong! Akan

tetapi dia tidak boleh membuat dara itu menderita dengan

keputusannya ini, maka dia harus tahu terlebih dahulu

bagaimana pendirian Swat Hong. Dan sekarang, dara itu sama

sekali t idak berani mengaku tentang cinta. “Sumoi, sekarang

begini saja. Andai kata aku memenuhi permintaan suhu, yaitu

mau menerima ikatan jodoh denganmu, menjadi calon

suamimu, bagaimana dengan pendapatmu?” Swat Hong

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

menunduk dan menggigit bibirnya. Akhirnya dia dapat

berbisik. “Aku tidak tahu, terserah kepadamu dan kepada

ayah…” “Maksudku, apakah engkau merasa terpaksa? Apakah

hal ini menyenangkan hatimu? Sumoi, harap kau suka

berterus terang. Kalau kau, seperti aku, tidak bisa mengaku

cinta begitu saja, setidaknya kukatakan apakah ikatan jodoh

ini tidak menimbulkan penyesalan bagimu?”

Swat Hong tidak menjawab, hanya menggeleng kepala.

“Kalau begitu, andaikata aku menerima, engkau pun akan

menerimanya dengan senang hati?”

Swat Hong mengangguk!

“Kalau begitu, mari kita pergi menghadap Ayahmu. Aku

akan menerima permintaannya, karena betapapun juga, kita

harus menghiburnya, menyenangkan hatinya. Aku telah

berhutang banyak budi dari suhu, maka kalau dengan

penerimaan ini aku dapat sekedar membalas budinya, aku

akan merasa senang.” Sin Liong mengambil dayung perahu itu

dan menggerakan dayung. “Suheng, kau menerima karena

kasihan kepada Ayah? jadi kau…kau tidak cinta kepadaku?”

“Sumoi aku tidak berani berlancang mulut mengaku cinta.

Aku telah banyak menyaksikan cinta kasih yang kuragukan

kemurniannya. Aku khawatir bahwa sekali cinta diucapkan

dengan mulut, maka itu bukanlah cinta lagi. Aku tidak tahu,

apakah cinta itu sesungguhnya, maka aku tidak berani lancang

mengaku, Sumoi…”

“Ahhh…!!” Jeritan Swat Hong ini adalah campuran dari rasa

kecewa dan juga kekangetan hebat, matanya terbelalak

memandang kedepan. Melihat wajah Sumoinya, Sin Liong

cepat menengok dan pada saat itu terdengar ledakan dahsyat

dibarengi dibarengi dengan cahaya kilat yang seolah-olah

membakar dunia. Tampak oleh Sin Liong yang terbelalak

memandang itu air muncrat tinggi sekali disusul asap dan api,

muncul dari permukaan laut antara perahunya dan Pulau Es.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Kedua orang muda yang terbelalak dengan muka pucat itu

tidak berkesempatan untuk terheran lebih lama lagi karena

tiba-tiba karena perahu mereka dilontarkan keatas, dalam saat

lain perahu itu telah dipermainkan oleh gelombang yang

mendahsyat dan menggunung. Suara mengguruh memenuhi

telinga mereka dan keheningan yang baru saja mencekam

lautan itu kini terisi dengan kebisingan yang sukar dilukiskan.

Sin Liong berteriak, “Sumoi, bantu aku! Jangan sampai

perahu terguling!” keduanya mengerahkan tenaga,

menggunakan dayungnya untuk mengatur keseimbangan

perahu. Namun, kekuatan gelombang air laut

yang amat dahsyat itu mana dapat ditahan oleh tenaga

manusia, biarpun kedua orang pemuda itu adalah

tokoh-tokoh Pulau Es sekalipun? Perahu mereka menjadi

permainan gelombang, dilontarkan tinggi ke atas,

disambut dan diseret kebawah, seolah-olah tangan

malaikat maut atau ekor naga laut yang menyeret perahu.ke

dasar laut, akan tetapi tiba-tiba dihayun lagi keatas, ditarik ke

kanan, didorong kekiri sehingga kedua

orang murid Raja Han Ti Ong itu menjadi pening dan

setengah pingsan! Mereka tidak ingat akan waktu lagi, tidak

tahu berapa lama mereka diombang-ambingkan air laut, tidak

tahu lagi berapa jauh mereka terbawa ombak, dan mereka

tidak sempat menggunakan pikiran lagi. Yang ada hanya

naluri untuk menyelamatkan diri, menjaga sekuat tenaga agar

perahu mereka tidak sampai terguling dan tangan mereka

tidak sampai terlepas memegangi pinggiran perahu. Dengan

tangan kanan memegang pinggiran perahu, tangan kiri Sin

Liong memegang lengan kanan sumoinya. Betapapun juga,

dia tidak akan melepaskan sumoinya! Swat Hong yang

biasanya tabah dan tidak mengenal takut itu, sekali ini

menangis dengan muka pucat dan mata terbelalak. Terlampau

hebat keganasan air laut baginya, terlampau mengerikan

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

melihat gelombang setinggi gunung yang seolah-olah setiap

saat hendak mencengkram dan menelannya itu!

Tiba-tiba Swat Hong menjerit. Segulung ombak besar

datang dan menelan perahu itu. Mereka gelagapan karena

ditelan air, kemudian mereka merasa betapa perahu mereka

dilambungkan ke atas. “Brukkk…!” Keduanya terpental

keluar, akan tetapi masih saling bergandeng tangan. Cepat Sin

Liong menyapu mukanya agar kedua matanya dapat

memandang. Ternyata perahu mereka telah dilontarkan ke

sebuah pulau kecil yang penuh batu karang, sebuah pulau

yang menjulang tinggi akan tetapi hanya kecil-kecil sekali,

merupakan sebuah batu karang besar yang menonjol tinggi.

“Sumoi, lekas…, kita naik ke sana…!!” Sin Liong t idak

mempedulikan tubuhnya yang terasa sakit semua, membantu

sumoinya merangkak bangun. Pipi kanan dan lengan kiri Swat

Hong berdarah, akan tetapi gadis itu pun agaknya tidak

merasakan semua ini, tersaruk-saruk dia dibantu suhengnya

merangkak dan menyeret perahu ke atas, kemudian mereka

melanjutkan pendakian ke atas puncak batu karang itu

dengan susah payah.

Akhirnya mereka tiba di puncak batu karang dan apa yang

tampak oleh mereka dari tempat tinggi ini benar-benar

menggetarkan jantung. Air di sekeliling mereka. Air yang

menggila, bergerak berputaran, gelombang yang dahsyat

menggunung, suara yang gemuruh seolah-olah semua iblis

dari neraka bangkit. Batu karang besar , atau lebih tepat

disebut pulau kecil dari batu itu tergetar-getar, seolah-olah

menggigil ketakutan menghadapi kedahsyatan badai yang

mengamuk. Tidak tampak apa-apa pula selain air, air dan

kegelapan, kadang-kadang diseling cahaya menyambar dari

atas, seperti lidah api seekor naga yang bernyala-nyala,

“Ouhhhh..!” Swat Hong menangis dan cepat dipeluk oleh

suhengnya. Tubuh dara itu menggigil, pakaiannya robekrobek.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Tenanglah… tenanglah, Sumoi….” Sin Liong berbisik dan

pemuda ini mengerti bahwa bukan hanya sumoinya yang

disuruhnya tenang, melainkan hatinya sendiri juga!

Pengalaman ini sungguh dahsyat dan tidak mungkin dapat

terlupa selama hidupnya. Kebesaran dan kekuasan alam

nampak nyata. membuat dia merasa kecil tak berarti, kosong

dan remeh sekali!

Sin Liong dan Swat Hong yang dipeluknya tidak tahu lagi

berapa lamanya mereka berada di tempat itu. Siang malam

tiada bedanya, yang tampak hanya kegelapan, air, dan

kadang-kadang kilatan cahaya halilintar. Yang terdengar

hanyalah gemuruh air, angin menderu, dan kadang-kadang

ledakan halilintar. Tidak memikirkan dan merasakan apa-apa,

yang ada hanya takjub dan ngeri! Di luar tahunya dua orang

itu, mereka telah berada di pulau batu karang selama sehari

semalam! Akhirnya badai mereda, badai yang ditimbulkan oleh

ledakan gunung berapi di bawah laut! Kegelapan mulai

menipis, akhirnya tampak kabut putih bergerak perlahan

meninggalkan tempat itu, air mulai tenang dan menurun,

akhirnya tampaklah sinar matahari disusul oleh bola api itu

sendiri setelah kabut terusir pergi. Tampaklah lautan luas

terbentang di bawah dan baru sekarang ternyata oleh dua

orang muda itu bahwa mereka duduk dipuncak batu karang

yang amat tinggi!

Swat Hong mengeluh, baru terasa betapa penat tubuhnya,

betapa luka-luka kecil dari kulitnya yang lecet-lecet, dan

betapa haus dan lapar leher dan perut!

“Sumoi, badai sudah mereda. Mari kita turun. Aihh, itu

perahu kita. Untung t idak pecah,” kata Sin Liong

dan dia menggandeng tangan sumoinya, menuruni batu

karang..Perahu mereka tidak pecah, akan tetapi layar dan

dayungnya lenyap. Sin Liong mengangkat perahu itu,

membawanya turun kebawah. “Mari kita lekas pulang,

Sumoi. Biar kudayung dengan kedua tangan.” Swat Hong

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

duduk didalam perahu, mengeluh lagi dan berkata penuk

kegelisahan, “Bagaimana dengan Pulau Es? Badai mengamuk

demikian hebatnya, Suheng.”

Aku tidak tahu, mudah-mudahan mereka selamat. Maka,

kita harus cepat pulang.” dia lalu menggunakan kedua

tangannya yang kuat sebagai dayung. Perahu bergerak,

meluncur di atas air yang tenang dan licin seperti kaca, sama

sekali tidak ada tanda-tanda di permukaan air bahwa air itu

telah mengamuk sedemikian hebatnya baru-baru ini. Tak lama

kemudian Sin Liong medapatkan dayung yang dipatahkan dari

batang pohon yang hanyut di air. Agaknya pulau-pulau kecil

disekita tempat itu telah diamuk badai sedemikian hebatnya

sehingga pohon-pohon tumbang dan terbawa air. Setelah

keadaan cuaca terang kembali, Sin Liong dapat menentukan

arah perahu dan tak lama kemudian tampaklah Pulau Es dari

jauh. Kelihatannya masih seperti biasa, sebuah pualu

keputihan memanjang di kaki langit, berkilaun tertimpa sinar

matahari. Hati mereka lega. Dari jauh kelihatannya tidak

terjadi perubahan di pulau itu. Setelah agak dekat, mereka

melihat pula puncak atap istana di Pulau Es, maka legalah hati

mereka. Hati Sin Liong mulai berdebar tegang ketika

perahunya sudah menepel di Pulau Es. Keadaannya begitu

sunyi. Sunyi dan mati! Tidak kelihatan seorang pun di pantai,

bahkan tidak tampak sebuah perahu pun. Dan bukit-bukit es

tidak seperti biasanya, kacau balau tidak karuan dan berubah

bentuknya! Dengan hati tidak enak kedua orang muda itu

belari-lari ketengah pulau. Makin ke tengah, makin pucat

wajah mereka. Tidak ada seorang pun kelihatan, dan juga

pondok-pondok yang biasanya terdapat di sana-sini, sekarang

habis sama sekali. Tidak ada sebuah pun pondok yang

tampak! Seolah-olah semua telah disapu bersih, tersapu bersih

dari pulau itu.

“Auhhhh…!” Swat Hong berdiri dengan muka pucat, kedua

kakinya menggigil. “Mari kita ke istana, Sumoi!” Sin Liong

yang berkata dengan suara bergetar lalu menyambar lengan

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

sumoinya dan diajaknya dara itu lari ke dalam istana.

Beberapa kali terdengar Swat Hong mengeluarkan seruan

tertahan, dan Sin Liong juga kaget bukan main. Mereka

seperti memasuki sebuah kuburan! Sunyi, kosong, dan tidak

ada bekas-bekasnya tempat itu didiami manusia! Habis sama

sekali, baik prabot-prabotan istana maupun manusiamanusianya!

Tidak tertinggal sepotong pun benda atau

seorang pun manusia. Habis semua! Ke mana pun mereka lari

dan berteriak-teriak memanggil, yang terdengar hanya gema

suara mereka sendiri!

“Oughhh…!!” Swat Hong tidak menahan himpitan perasaan

yang ngeri dan berduka, tubuhnya tergelimpang dan tentu

akan terbanting kalau tidak cepat disambar oleh Sin Liong.

“Sumoi…!” Akan tetapi suara ini kandas dikerongkongannya

dan tanpa disadari pula, kedua pipi Sin Liong basah oleh air

matanya yang mengalir deras menuruni kanan kiri hidungnya

ketika dia memondong tubuh sumoinya yang pingsan itu ke

dalam kamar.

Akan tetapi dia termangu-mangu ketika tiba di ambang

pintu kamar yang terbuka, karena kamar itu pun kosong dan

bersih, tidak ada sebuah atau sepotong pun prabotannya.

terpaksa dia merebahkan tubuh sumoinya di atas lantai, dan

dia sendiri merebahkan kepala diatas kedua lututnya sambil

menangis. terlampau hebat peristiwa yang dihadapinya. Pulau

Es telah disapu bersih oleh badai! Bersih sama sekali sehingga

agaknya tidak ada seorang pun manusia yang tertolong, tidak

ada sepotong pun barangnya yang tinggal, kecuali bangunan

istana yang memang amat kuat itu.

Setelah siuman, Swat Hong menangis, “Aih, mengapa..?

Mengapa…? ayah, kasihan sekali Ayah…!”

Akhirnya Sin Liong dapat menghibur dan membujuknya.

Mereka berdua lalu mengadakan pemeriksaan

dan mendapat kenyataan bahwa benar-benar Pulau Es

telah diamuk badai. Agaknya air laut telah naik

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

sedemikian tinggi sehingga pulau itu teredam air. Mereka

menemukan beberapa potong pakaian yang

tersangkut di batu-batu dan dengan hati terharu penuh

kedukaan mereka mengumpulkan pakaian itu, entah

punya siapa, sebagai barang peninggalan yang amat

berharga. Kemudian mereka memeriksa istana..Memang ada

beberapa benda yang masih tertinggal di dalam kamar di

bawah tanah, akan tetapi yang

berada di atas, semua habis dan lenyap.

“Suheng, lihat ini…!” tiba-tiba Swat Hong berkata sambil

menunjuk ke dinding. Sin Liong cepat menghampiri dan

keduanya mengenal goresan tangan Han Ti Ong yang agaknya

menggunakan jari tangan yang penuh tenaga sinkang untuk

menulis di dinding batu itu!

“Sin Liong dan Swat Hong, maafkan aku. Thian telah

menghukum aku dan membasmi Pulau Es. Pergilah kalian

mencari wanita jahat itu, rampas kembali semua pusaka. Dan

Bu Ong bukanlah puteraku, dia keturunan Ki-ong.”

Pendek saja “surat dinding” itu, namun cukup jelas isinya.

Sin Liong menarik napas panjang. Kasihan dia kepada suhunya

yang mati meninggalkan dendam itu!

“Suheng lihat ini…”

Tak jauh dari tulisan itu terdapat bekas jari-jari tangan

mencengkram dinding. Mudah saja mereka menggambarkan

keadaan Han Ti Ong dan keduanya tak dapat menahan tangis

mereka. Agaknya, dalam menghadapi amukan badai, Han Ti

Ong berhasil menggunakan tenaganya untuk

mempertahankan diri beberapa lamanya dengan

mencengkram dinding dan sempat pula membuat tulisan itu

sebelum kekuatan yang jauh lebih besar dari pada kekuatanya

menyeret keluar dari istana dan bahkan dari pulau itu!

“Kasihan sekali suhu…” Sin Liong menghapus air matanya.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Swat Hong mengepal tinjunya. “Aku akan mencari

perempuan iblis itu, selain merampas kembali pusaka Pulau

Es,juga menghukumnya! Dialah yang mencelakakan ibuku,

yang mencelakakan Ayahku!” Sin Liong menarik napas

panjang. Sudah diduganya ini. Tentu akan terjadi balasmembalas.

Dendam tak kunjung habis! “Sumoi, Suhu hanya

meninggalkan pesan agar kita mencari kembali pusaka-pusaka

itu….” “Kau yang mencari pusaka, aku yang membunuh iblis

betina itu!” Swat Hong berseru penuh semangat.

“Dan Bu Ong… hemm,apa pula artinya ini? Bukan putera

ayah?”

“Sumoi, tenanglah dan dengarlah penuturanku. Mungkin

hanya aku dan ayahmu saja yang tahu akan nasib wanita itu,

nasib yang amat buruk dan mengerikan. Tahukah kau apa

yang telah dialami oleh The Kwat Lin sebelum ditolong

ayahmu?” Sin Liong lalu menceritakan keadaan The Kwat Lin

yang menjadi gila karena dua belas orang suhengnya dibunuh

orang dan agaknya, melihat keadaannya, gadis yang tadinya

seorang pendekar wanita perkasa itu telah diperkosa di antara

mayat para suhengnya. “Kurasa demikianlah kejadiannya.

Setelah suhu menyatakan bahwa Bu Ong adalah keturunan

Kai-ong, teringatlah aku. Jelas bahwa The Kwat Lin diperkosa

oleh pembunuh dua belas orang anak murid Bu-tong-pai itu,

sehingga anak yang dilahirkannya itu, Han Bu Ong, adalah

keturunan Kai-ong yang memperkosanya dan membunuh para

suhengnya.”

Mendengar penuturan tentang nasib mengerikan yang

dialami ibu tirinya, Swat Hong bergidik. Akan tetapi dia

mengomel. “Yang berbuat jahat kepadanya adalah Raja

Pengemis itu, mengapa dia membalasnya kepada ibu? Dan dia

telah menghancurkan penghidupan Ayah. Betapapun juga,

aku harus mencarinya dan membalaskan sakit hati ibu dan

Ayah.”

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Sin Liong maklum bahwa membantah kehendak sumoinya

ini percuma, hanya akan menimbulkan pertentangan saja.

Maka diam-diam dia mengambil keputusan untuk selalu

mendamping sumoinya, selain menjaga keselamatan dara ini,

juga kalau perlu mencegah sepak terjangnya yang terdorong

oleh nafsu dan dendam. Betapapun juga, setelah Pulau Es

dibasmi oleh badai, dara ini kehilangan ayah bunda, tiada

sanak kadang, tiada handai taulan dan dialah satu-satunya

orang yang patut melindunginya, sebagai suhengnya.

Ataukah sebagai calon suami? Sin Liong tidak mengerti dan

tidak berani memutuskan. Biarlah hal

perjodohan itu diserahkan kepada keadaan kelak. Dia tidak

membantah ketika sumoinya mengajaknya

meninggalkan Pulau Es yang telah kosong itu, untuk

mencari ibunya, dan kalalu masih juga t idak berhasil,

untuk pergi ke daratan besar mencari The Kwat

Lin..Beberapa hari kemudian, setelah yakin benar bahwa tidak

ada seorang pun di antara penghuni Pulau Es

yang selamat dan kembali ke pulau itu, Sin Liong dan Swat

Hong berangkat meninggalkan Pulau Es. Ketika perahu kecil

yang mereka dayung itu meluncur meninggalkan pulau, Swat

Hong memandang kearah pulau dengan air mata bercucuran.

Juga Sin Liong merasa terharu dan berduka mengingat akan

nasib para penghuni Pulau Es yang mengerikan itu. Mereka

berdua mendayung perahu menuju ke selatan dan di

sepanjang perjalanan ini mereka menemukan bukti-bukti

kedahsyatan badai dan keanehan alam yang diakibatkan oleh

letusan gunung berapi di bawah laut itu. Ada pulau yang

lenyap sama sekali , dan ada pula pulau yang baru muncul

begitu saja, pulau yang amat aneh, pulau batu karang yang

masih jelas kelihatan bahwa pulau ini tadinya merupakan

dasar laut dengan segala keindahannya, dengan mahluk hidup

dan tetumbuhannya yang kini semua mengeras menjadi batu

karang dengan bermacam bentuk. Banyak pulau yang

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

mengalami nasib serupa dengan pulau Es, yaitu menjadi

gundul, habis sama sekali tetumbuhan atasnya. diam-diam

terbayang dalam pikiran Sin Liong betapa dahsyat kekuasan

alam. Andaikata semua lautan yang mengamuk seperti

beberapa hari yang lalu itu, agaknya dunia akan menjadi

kiamat! Melihat keadaan pulau-pulau itu, timbul rasa khawatir

dalam hati Sin Liong tentang keadaan Pulau Neraka. Tentu

pulau itu pun tidak terluput dari amukan badai, pikirnya.

Padahal baru saja pulau itu mengalami penyerbuan Han Ti

Ong dan pasukannya! Sin Liong merasa kasihan sekali

terhadap nasib para penghuni Pulau Neraka. Apakah pulau itu

seperti juga Pulau Es, disapu bersih dan seluruh penghuninya

terbasmi habis?

“Agaknya ibumu tidak berada diantara pulau-pulau ini,”

Beberapa hari kemudian setelah merasa mencari dengan siasia,

Sin Liong mengemukakan pendapat. “Bagaimana kalau

kita mencari ke utara lagi. Siapa tahu kali ini kita berhasil, dan

kita dapat juga bertanya ke Pulau Neraka kalau-kalau ibumu

ke sana.” “Hemm, agaknya engkau sudah rindu kepada Soan

Cu, suheng.”

Sian Liong mengerutkan alisnya. “sumoi, kau…cemburu

lagi?”

Wajah dara itu menjadi merah. “Aku hanya berkata

sewajarnya.”

“Sudahlah. Kalau kau cemburu, kita tidak usah singgah di

Pulau Neraka,” kata Sin Liong menarik napas panjang.

Hening sejenak dan mereka telah menghentikan gerakan

dayung karena mereka masih belum mendapat keputusan

akan mencari ke mana.

“Kita ke Pulau Neraka!” tiba-tiba Swat Hong berkata.

“Ehhh…??”

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Aku harus ke sana. Aku akan menegur kakek berkepala

besar itu! Pulau Neraka yang menjadi biangkeladi sehingga

Ayah marah-marah kepada kita, hampir saja kita dibunuhnya.

Karena Pulau Neraka telah berani menawanku.”

“Hemm, Sumoi. Mengapa kejadian yang telah lewat

dipersoalkan lagi? Bukankah Ayamu telah menyerbu ke sana

kurasa Ayahmu telah menghukum mereka menurut cerita

anak buah pasukan? Kalau begitu, kita tidak perlu pergi ke

sana, sumoi.”

“Aku harus pergi ke sana!” dara itu berkeras.

Sin Liong menggeleng-geleng kepala. Sukar benar melayani

sumoinya ini yang memiliki watak aneh dan hati yang keras

sepeti baja.

“Aku hanya mau pergi ke Pulau Neraka kalau untuk

mencari ibu, akan tetapi kalau kita pergi ke sana hanya untuk

mencari perkara, aku tidak mau. Kau harus berjanji tidak akan

membuat kekacauan di sana, sumoi.” “Hemmm, agaknya kau

berkeinginan keras untuk menjadi sahabat baik Pulau Neraka,

ya? Karena ada….”

“Sumoi, harap jangan bicara yang tidak-tidak. Memang kita

sahabat baik mereka! Lupakah kau ketika

mereka mengantar kita ketika meninggalkan pulau itu?

Karena itu, aku hanya mau pergi ke sana kalau.untuk mencari

ibumu dan menjenguk mereka sebagai sahabat, melihat

keadaan mereka setelah ada badai

mengamuk.”

Swat Hong cemberut, akan tetapi menjawab juga. “Baiklah,

kita lihat saja nanti.” Dan mereka lalu mendayung perahu

dengan cepat menuju ke Pulau Neraka. Akan tetapi, setelah

mereka tiba di daerah Pulau Neraka, mereka menjadi bingung

dan pangling karena didaerah itu telah terjadi perubahan

hebat sekali. Mungkin karena akibat badai yang mengamuk,

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

yang ternyata mengambil daerah yang amat luas itu, di sekitar

situ telah muncul gunung-gunung es yang anat besar

sehingga Pulau Neraka yang biasanya tampak dari jauh

sebagai raksasa yang tidur itu kini tidak kelihatan lagi karena

semua jurusan terhalang pandangannya oleh gunung-gunung

es.

Mereka mendayung perahu berputar namun tidak dapat

keluar dari kurungan gunung-gunung es itu.

“Ahhh, dahulu t idak ada gunung-gunung es besar seperti

ini,” kata Swat Hong. “Ini tentu diakibatkan oleh badai itu,

Sumoi. Biarlah kita mengaso dulu dan aku akan mencoba

melihat keadaan dari puncak sebuah gunung. Kau tunggu saja

di sini.”Perahu itu menempel pada sebuah bukit es yang tinggi

dan Sin Liong meloncat ke daratan es. Kemudian dia

menggunakan ilmunya berlari cepat, mendaki gunung es itu

untuk melihat dan mengenali daerah itu dari atas puncaknya

yang tinggi. Tiba-tiba terdengar suara gerengan keras sekali

yang mengguncangkan seluruh gunung es itu. Sin Liong

terkejut dan dengan cepat dia menoleh untuk melihat apa

yang mengeluarkan suara seperti itu. Dari jauh tampak

olehnya seekor beruang besar sedang menggerakkan kedua

kaki depanya ke arah burung-burung yang menyambarnyambar

di atasnya. Burung-burung nazar (burung botak

pemakan bangkai) yang besar-besar beterbangan di atas

biruang itu dan menyerangnya dari atas sambil mengeluarkan

suara pekik mengerikan. Melihat ini, Sin Liong cepat berlari

mendekati. Ternyata beruang itu terluka parah juga di

beberapa bagian anggauta badannya, sedangkan di bawah

kakinya tampak bangkai seekor ular laut yang besar. Jelaslah

bahwa biruang itu tadi berkelahi dengan ular laut itu dan dia

menang, akan tetapi dia menderita luka-luka dan burungburung

nazar yang kelaparan itu kini hedak mengeroyoknya

dan tentu saja ingin makan bangkai ular besar.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Sin Liong segera menggunakan salju yang digenggam

untuk menyambiti burung-burung itu. Terdengar suara plakplok-

plak-plok disusul suara burung-burung nazar berkaokkaok

kesakitan dan mereka terbang ketakutan menjauhi

tempat itu karena setiap kali terkena sambitan salju, terasa

nyeri sekali. Dengan beberapa loncatan saja Sin Liong sudah

tiba di depan biruang itu. Beruang yang berkulit hitam dan

amat besar itu menyeringai dan mengerang, memperlihatkan

gigi bertaring yang amat runcing kuat dan lidah yang merah.

Matanya terbelalak penuh kecurigaan dan kemarahan kepada

Sin Liong. “Tenanglah, aku datang untuk menolongmu,” kata

Sin Liong sambil maju lebih dekat.

“Auuughh..!” Beruang itu menggerang dan kaki depan yang

kiri menyambar kearah dada Sin Liong. Melihat betapa

telapak kaki itu berdarah, Sin Liong mengelak dan cepat

menangkap pergelangan kaki depan itu. Kiranya telapak kaki

itu tertusuk tulang dan masuk amat dalam. Agaknya dalam

perkelahian melawan ular laut, beruang itu mencengkram

tubuh ular dan sedemikian kuatnya dia mencengkeram sampai

tulang punggung ular patah dan menusuk ke dalam daging di

telapak kaki depan itu, Sin Liong segera mencabut tulang itu.

Darah mengucur deras dan dia segera membalut dengan

saputangannya. Beruang itu kini tidak marah lagi. Agaknya

dia cerdik dan dapat mengerti bahwa orang yang datang ini

bukan musuh, bahkan menolongnya. Kaki depan yang terluka

itu kini tidak nyeri lagi dan tentu saja , karena yang membuat

dia tersiksa rasa nyeri tadi adalah karena tulang yang

menancap itu. “Coba kuperiksa, apa lagi yang perlu kuobati,”

Sin Liong berkata dan dia memeriksa luka-luka di tubuh

beruang itu. Ada sebuah luka di tengkuk yang membengkak.

Tahulah Sin Liong bahwa luka ini cukup berbahaya, kalau tidak

lekas diberi obat yang cocok akan dapat membahayakan

nyawa beruang itu. “Hemmm, aku harus mencarikan daun

obat untuk luka-lukamu,”katanya, lupa bahwa beruang itu

tentu saja tidak mengerti apa yang dia katakan.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Hai, Suheng, ada apakah?” Tiba-tiba terdengar teriakan

dari atas..Sin Liong menoleh dan melihat Sumoinya turun

berlari-lari cepat sekali.Setelah dekat, beruang itu

menggerang dan memandang Swat Hong dengan marah.

“Huh, binatang buruk!” Swat Hong memaki.

“Dia terluka cukup berat, akan tetapi dia menang berkelahi

melawan ular laut itu. Lihat, betapa besarnya ular itu, Sumoi.

Beruang itu kuat sekali. Aku harus mengobatinya sampai

sembuh.” Swat Hong mengerutkan alisnya, “Perlu apa

menolong binatang buas seperti itu, Suheng? Membuangbuang

waktu saja.”

“Dia tidak buas lagi, sumoi. lihat betapa jinaknya. Dia pun

mahluk hidup yang perlu kita tolong. Aku merasa kasihan

kepadanya,sumoi.”

“Wah, kau lebih mement ingkan dia…”

“Hei…, ada apa engkau…?” Tiba-tiba Sin Liong berteriak

melihat beruang itu menggereng-gereng dan menarik-narik

tangannya, seolah-olah hendak mengajak Sin Liong pergi dari

situ! Beruang itu makin keras menggereng dan makin kuat

menariknya. Diam-diam Sin Liong kagum bukan main. Tenaga

beruang ini luar biasa besarnya, dan kiranya dia hanya akan

dapat menandingi tenaga raksasa ini kalau dia menggerakan

sinkang sekuatnya! Akan tetapi tiba-tiba dia mendapat firasat

tidak baik melihat sikap beruang itu, maka disambarnya

tangan sumoinya dan dia berteriak. “Awas, sumoi. Mari pergi,

dia menghendaki demikian, entah mengapa?”

JILID 8

Sin Liong memegang erat-erat lengan sumoinya dan

membiarkan dirinya diseret oleh biruang itu. Binatang itu

mengajaknya setengah paksa berlompatan dan berlarian ke

gunung es yang lain yang berdekatan. Baru saja mereka

melompat ke atas gunung es lain itu, tiba-tiba terdengar suara

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

keras dan gunung es dimana mereka berada tadi telah pecah

berantakan menjadi keping-keping kecil. Kiranya gunung es itu

ditabrak oleh gunung es yang lain dan hal ini agaknya telah

diketahui oleh si Beruang tanpa melihat datangnya gunung es

yang tak tampak dari situ. Ternyata binatang itu hanya

diperingatkan oleh nalurinya yang tidak ada pada manusia!

Sin Liong berdiri dengan muka pucat, kemudian dia

merangkul beruang itu. “Terima kasih, kakak beruang.

Kiranya engkau malah menyelamatkan kami berdua.”

Akan tetapi Swat Hong merasa tidak senang. “Suheng, mari

kita segera pergi dari sini. Tempat ini amat berbahaya. Lihat,

gunung es tadi hancur dan itu kelihatan dari sini perahu kita.

Untung tidak hilang. Marilah, suheng.”

“Nanti dulu, sumoi. Aku harus mencarikan daun obat untuk

mengobati luka-luka di tubuh beruang ini.”

“Ah, perlu apa? Kita bisa celaka di sini…”

“Sumoi, dia telah menyelamatkan nyawa kita!”

“Hemm, begitukah? Engkau pun tadi telah menyelamatkan

nyawanya ketika kau mengusir burung-burung nazar itu,

bukan? Aku melihat dari jauh. Berarti sudah terbalas semua

budi, bukan Marilah, Suheng.” “Tidak, sumoi. Kita t inggal di

sini dulu sampai aku selesai mengobatinya.” Swat Hong

menjadi marah.

“Agaknya kau lebih sayang biruang betina ini dari pada

aku!”

“Sumoi…!”

Akan tetapi Swat Hong sudah berlari pergi, berloncatan di

atas pecahan es dan menuju ke perahu mereka, meloncat ke

dalam perahu dan mendayung perahu itu pergi dari situ! Sin

Liong menjadi bingung dan hampir membuka mulut menegur,

akan tetapi karena maklum bahwa hal itu percuma saja, dia

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

membatalkan niatnya..”Ngukkk… nguuuuukkk….” Beruang itu

mendengus-dengus dan menciumi kepalanya. “Ahhh, Enci

(Kakak Perempuan) beruang, betapa sukarnya menyelami

watak wanita. Aku telah membuat hatinya kecewa dan marah,

akan tetapi bagaimana hatiku dapat tega meninggalkan

engkau yang terancam bahaya maut oleh lukamu?”

Sin Liong lalu mengajak beruang itu mencari daun. Karena

perahu sudah dibawa pergi Swat Hong, Maka terpaksa dia

mencari pulau yang masih ada tetumbuhannya dengan jalan

berloncatan dari batu es lainnya, dan kalau jaraknya terlalu

jauh, beruang itu menggendongnya dan membawanya

berenang ke batu es lainya atau kadang-kadang Sin Liong

menggunakan sebongkah es yang mengambang sebagai

perahu, didayung dengan tangannya yang kuat. Akhirnya,

setelah melalui perjalanan yang amat sukar, dapat juga dia

menemukan pulau yang masih ada tetumbuhannya dan di

pulau kecil itu, mulailah dia mengobati luka-luka beruang itu

sampai sembuh.

Pada suatu hari dia melihat sebuah perahu kosong terbalik

mengambang tidak jauh dari pulau. Dia merasa girang sekali.

Cepat menyuruh beruang mengambilnya dan hatinya terharu

ketika mengenal perahu itu sebagai sebuah di antara perahu

pulau es. Tentu penumpangnya telah lenyap ditelan badai,

pikirnya. Dia lalu membuat dayung dari cabang pohon dan

setelah biruang hitam itu sembuh benar, dia lalu melompat ke

perahu dan mendayungnya meninggalkan pulau. Akan tetapi

tiba-tiba beruang itu terjun ke air dan berenang mengejar

perahunya.

“Heii, kakak beruang, kembalilah. Engkau sudah sembuh,

dan aku harus pergi mencari sumoi! ” “Nguuuk…nguukk…!”

Beruang hitam itu mengeluarkan suara mengeluh dan

mukanya seperti orang menangis!

Sin Liong tersenyum. “Hmm, kau hendak ikut, ya? Nah,

loncatlah ke atas!” Seolah-olah mengerti arti kata-kata Sin

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Liong, biruang itu lalu meloncat ke dalam perahu kini mukanya

kelihatan berseri, matanya bersinar-sinar dan lidahnya terjulur

keluar seperti sikap seekor anjing yang kegirangan.

“Kau boleh ikut sampai aku dapat menemukan kembali

sumoi!” kata Sin Liong. “Kalau sumoi tidak menghendaki kau

ikut, kau harus kutinggalkan karena kau telah sembuh.”

Demikianlah, Sin Liong kini melanjutkan perjalanan mencari

Pulau Neraka. Dari puncak sebuah gunung es, dia dapat

melihat dari jauh dan kini dia tahu di mana letaknya Pulau

Neraka. Beruang yang kini menggantikan tempat Swat Hong,

menjadi temannya berlayar itu kelihatan girang sekali ketika

perahu meluncur dan binatang ini telah jinak benar-benar.

Setelah kini dia mengenal kembali keadaan dan tahu di mana

letaknya Pulau Neraka, perjalanan dapat dilakukan dengan

cepat. Setelah dekat dengan Pulau Neraka, dia menyaksikan

suatu yang membuatnya terheran dan merasa tegang. Sebuah

perahu besar kelihatan mendarat di Pulau Neraka. Jelas bukan

perahu Pulau Neraka yang kecil-kecil. Perahu itu besar sekali,

perahu layar yang hanya dipergunakan untuk pelayaran jauh.

Dan perahu itu pun dalam keadaan payah, jelas kelihatan

bekas diamuk badai. Tiang layarnya patah, layarnya cabikcabik

dan perahu itu tidak ada orangnya sama sekali, berdiri

miring di pantai Pulau Neraka.

Apakah yang telah terjadi di Pulau Neraka? Ternyata bahwa

seperti juga pulau lain. Pulau Neraka tidak luput dari amukan

badai. Hanya karena letaknya agak jauh dari pusat amukan

badai, maka penderitaannya tidak sehebat pulau lain,

terutama Pulau Es. Air juga naik tinggi dan menenggelamkan

setengah bagian pulau ini, banyak pula penghuninya yang

tidak keburu lari ke tempat tinggi, diseret dan ditelan badai.

Perahu-perahu lenyap, pohon-pohon yang berada di tepi

pantai bobol semua. Dan setelah badai mereda,

sebuah perahu besar terdampar di tepi pantai.Perahu itu

adalah perahu bajak laut! Setelah air menyurut,

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

para bajak laut yang terdiri-dari dua puluh lima orang itu

segera mendarat. Mereka itu kelelahan dan

kelaparan, bahkan ada lima orang di antara mereka tewas

ketika badai mengamuk sehingga jumlah mereka

hanya tinggal dua puluh lima orang itulah. Mereka

mendarat di kepalai oleh raja bajak yang memimpin

mereka, raja yang amat terkenal di sepanjang pantai

muara-muara sungai Huangho dan Yangce. Kepala.bajak ini

adalah seorang laki-laki t inggi besar yang buta sebelah

matanya. Mata kiri yang buta karena

tusukan pedang lawan dalam pertandingan, kini ditutupi

oleh sebuah kain hitam sehingga ia kelihatan lebih

menyeramkan lagi. Tubuhnya tinggi besar dan di antara para

nelayan dan pedagang yang suka berperahu, dia dikenal

sebagai Tok-gan-hai-liong (Naga Laut Mata Satu) dan

namanya adalah Koan Sek. Mereka sama sekali tidak tahu

bahwa perahu mereka yang diamuk oleh badai dahsyat itu

telah mendarat di Pulau Neraka! Andaikata mereka tahu juga,

mereka tentu tidak merasa takut karena pada waktu itu, nama

Pulau Neraka hanya dikenal oleh Orang-orang Pulau Es. Untuk

dunia ramai, yang dikenal hanyalah Pulau Es, yang dikenal

sebagai tempat yang hanya terdapat dalam sebuah dongeng.

Betapapun juga, Pulau Es merupakan nama yang ditakuti oleh

semua orang termasuk para bajak. Akat tetapi karena pulau

dimana perahu mereka mendarat bukanlah Pulau Es,

melainkan pulau yang hitam penuh tetumbuhan, mereka

menjadi berani dan setelah badai mereda dan air menyurut,

mereka lalu menyerbu ke tengah pulau. Untung bagi mereka

bahwa badai yang amat dahsyat itu membuat air laut naik dan

mengamuk di daratan pulau sehingga binatang-binatang

berbisa pun menjadi panik dan ketakutan, lari bersembuyi dan

belum berani keluar. Andaikata mereka itu berani menyerbu

pulau dalam keadaan biasa tentu mereka akan menjadi korban

binatang-binatang itu dan sukarlah dibayangkan apa akan

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

jadinya. Mungkin sekali tidak ada diantara mereka yang akan

dapat lolos betapapun liar, ganas dan lihai mereka itu. Dapat

dibayangkan betapa heran dan girangnya hati para bajak itu

ketika mendapat kenyataan bahwa di tengah pulau itu

terdapat pondok-pondok yang dibuat oleh manusia! Akan

tetapi keheranan mereka segera berubah menjadi kekagetan

hebat ketika para penghuni pulau itu menyambut mereka

dengan serangan dahsyat tanpa peringatan apa-apa. Karena

mereka adalah bajak-bajak yang sudah biasa berkelahi dan

mengadu nyawa, maka serbuan para penghuni Pulau Neraka

itu mereka sambut dengan gembira. mereka mengira bahwa

penghuni pulau itu adalah orang-orang biasa saja.

Maka besar sekali kekagetan mereka ketika mendapat

kenyataan betapa kurang lebih dua puluh orang, yaitu sisa

penghuni Pulau Neraka yang tidak dibasmi oleh badai, yang

berani menyambut mereka dengan serangan itu rata-rata

memiliki kepandaian hebat! Terjadilah perang tanding yang

seru dan mati-matian. Bajak laut pimpinan Tok-gan-hai-liong

itu pun bukan orang-orang biasa melainkan penjahat-penjahat

pilihan yang selain kuat dan ganas, juga rata-rata pandai ilmu

silat. Apalagi Tok-gan-hai-liong sendiri bersama seorang

pembantu yang sebetulnya adalah sutenya (adik seperguruan)

sendiri yang bernama Coa Liok Gu, seorang ahli pedang yang

lihai sekali. Sedangkan Tok-gan-hai-liong Koan Sek sendiri

adalah seorang ahli bermain senjata ruyung yang ujungnya

merupakan sebuah bola baja yang berat dan keras.

Para penghuni Pulau Neraka masih terguncang oleh

amukan badai, bahkan ketua mereka, Ouw Kong Ek, sedang

menderita sakit hebat. Semenjak penyerbuan pasukan Pulau

Es yang dipimpin oleh Han Ti Ong, Ouw Kong Ek jatuh sakit.

Mungkin karena dia merasa terlalu marah, dan mungkin juga

karena usianya yang sudah tua. Pernyerbuan dari Pulau Es itu

merupakan hal yang amat menyakitkan hatinya, dan juga hati

para penghuni Pulau Neraka, mendatangkan rasa dendam

yang lebih mendalam. Apalagi melihat betapa catatan

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

pengobatan dari Kwa Sin Liong telah dihancurkan oleh Han Ti

Ong, hati Ouw Kong Ek merasa sakit sekali.

Untung masih ada beberapa macam obat yang hafal

olehnya, akan tetapi sebagian besar telah dibasmi oleh Raja

Pulau Es yang marah itu.

Pada saat bajak laut menyerbu, Ouw Kong Ek tidak dapat

bangun dari tempat tidurnya. Dia dijaga dan dirawat oleh

cucunya, Ouw Soan Cu. Maka dapat dibayangkan betapa

kaget hati kakek ini ketika ada anak buahnya yang datang

melapor bahwa pulau yang baru saja diamuk badai itu kini

disebu oleh sepasukan bajak laut yang ganas dan rata-rata

memiliki kepandaian tinggi!

“Keparat…!” Kakek itu meloncat bangun akan tetapi

terguling kembali dan Soan Cu segera memegang lengan

kakeknya, membantunya untuk rebah kembali.

“Tenanglah, Kong-kong! Biarlah aku yang keluar untuk

membantu teman-teman membasmi bajak laut yang tidak

tahu diri itu.”

Ouw Kong Ek terpaksa hanya mengangguk karena dia

sendiri masih t idak kuat untuk bangun, apalagi

bertempur. “Hati-hatilah, Soan Cu…” Dia percaya akan

kepandaian cucunya yang tentu akan dapat

mengusir bajak-bajak laut yang biasanya hanya terdiri

orang-orang kasar itu..Dengan pedang di tangan Soan Cu lalu

berlari keluar. Melihat anak buahnya sudah bertanding matimatian

melawan bajak-bajak yang ganas, apalagi melihat seorang

wanita Pulau Neraka digelut i oleh dua orang laki-laki kasar

sampai wanita itu menjerit-jerit namun dua orang laki-laki itu

malah tertawa-tawa dan merobek-robek pakaian wanita itu,

Soan Cu menjadi marah sekali. Dia mengeluarkan teriakan

marah, tubuhnya yang ramping mencelat ke depan,

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

pedangnya menyambar dan dua orang bajak yang sedang

memperkosa wanita itu roboh dengan leher terkuak lebar dan

hampir putus! Wanita itu cepat membereskan pakaiannya,

menyambar goloknya dan seperti seekor harimau kelaparan

dia membacoki tubuh dua orang bajak tadi.

Melihat sepak terjang Soan Cu yang kembali sudah

merobohkan dua orang bajak, Tok-gan-hai-liong Koan Sek dan

Coa Liok Gu, dibantu oleh beberapa orang bajak lain cepat

mengepung dan mengeroyoknya. Namun Soan Cu mengamuk

hebat dan pedangnya berubah segulung sinar terang yang

menyambar Dahsyat, membuat dua orang pimpinan bajak itu

terkejut dan harus memainkan senjata dengan hati-hati sekali

agar jangan sampai mereka menjadi korban kedahsyatan sinar

pedang yang dimainkan oleh dara itu.

“Lepas tulang ikan!!” Tiba-tiba kepala bajak itu memberi

aba-aba kepada sutenya dan mereka berdua telah meloncat

mundur, membiarkan anak buah mereka yang empat orang

banyaknya melanjutkan pengeroyokan, sedangkan mereka

berdua lalu mengayun tangan berkali-kali ke arah Soan Cu.

Sinar lembut bertubi-tubi menyambar ke arah Soan Cu dari

depan dan belakang. Dara ini memandang rendah senjata

rahasia mereka. Dia adalah Seorang dara Pulau Neraka sudah

terlalu banyak racun dikenalnya bahkan dia telah

menggunakan obat anti racun maka dia tidak terlalu khawatir

ketika sebuah di antara senjata rahasia lawan yang lembut itu

mengenai pahanya.

Akan tetapi, betapa kagetnya ketika dia merasa kakinya itu

setengah lumpuh dan begitu dia menggerakan pedang,

tubuhnya terhuyung, kepalanya pening.

“Aihhh…!” Dia berseru nyaring, lebih merasa heran

daripada khawatir. Dara ini tidak tahu bahwa lawannya

menggunakan am-gi (senjata gelap) berupa tulang berbentuk

duri dari sirip semacam ikan laut yang berbisa. Bisa dari ikan

laut ini tentu saja tidak dapat disamakan dengan bisa dari

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

binatang darat, maka bisa yang asing ini tidak dapat ditolak

oleh obat anti racun yang dipakainya. “Sute, tangkap nona

manis ini…!”

Teriak Koan Sek dengan girang. Akan tetapi tiba-tiba

terdengar suara gerengan yang dahsyat dan yang membuat

mereka kaget bukan main. Dua orang bajak yang mendengar

suara itu dekat sekali dibelakang mereka menengok dan…

mereka itu terjengkang dan merangkak untuk melarikan diri

dengan ketakutan. Kiranya yang menggerang itu adalah

seekor binatang raksasa hitam yang menakutkan. Seekor

beruang yang lebar moncongnya cukup untuk mencaplok

kepala mereka sekaligus! Sin Liong yang datang bersama

biruang itu cepat meloncat mendekati Soan Cu merampas

pedang dari tangan dara itu dan memondongnya dengan

tangan kiri, kemudian sekali meloncat dia telah berada di

punggung biruang, lengan kiri memeluk dan menjaga tubuh

Soan Cu yang dipangkunya karena dara itu telah menjadi

pingsan sedangkan tangan kanan menggerakan pedang dara

itu sambil beseru “Kakak biruang, lawan mereka yang berani

mendekat!”

Biruang itu menggereng-gereng dan ketika melihat dari kiri

ada sinar menyambar, yaitu sinar pedang yang digerakan oleh

Coa Liok Gu sute dari kepala bajak, tiba-tiba kaki depan kiri

yang kini dipergunakan seperti tangan itu bergerak

menangkis, bukan menangkis pedang melainkan

mencengkram kepala Coa Liok Gu.

Tentu saja orang ini kaget dan sekali merendahkan tubuh,

membalikan pedang dan siap untuk menyerang lagi. Begitu

lengan biruang itu menyambar lawan, dia meloncat ke atas

dan menusukan pedangnya mengarah bagian antara kedua

mata biruang itu.

“Cringgg…!!” Pedangnya terpental dan dia harus cepat

melempar tubuh ke belakang kalau tidak ingin

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

dadanya robek oleh cakar biruang setelah pedangnya

ditangkis oleh Sin Liong tadi. “Siuuuut…!!” Senjata

ruyung berujung baja di tangan Koan Sek sudah bergerak

menyambar dengan ganas, menghantam

punggung biruang hitam dengan kecepatan kilat dan

dengan tenaga dahsyat..”Cringgg…! Tranggg…!!” Dua kali

senjata berat itu ditangkis oleh Sin Liong dan dua kali pula

kepala bajak

itu berseru kaget karena telapak tangannya hampir

terkupas kulitnya dan terasa panas dan perih. Pada saat dia

terbelalak dan terheran, biruang itu sudah membalikan tubuh

dan sekali kaki depannya yang kanan menampar, kepala bajak

itu mencoba menangkis, namun senjatanya terlepas dari

pegangannya dan biruang itu sudah menubruknya dan

mencengkram ke arah lehernya.

“Kakak biruang, jangan …!” Sin Liong membentak. Biruang

itu terkejut dan ragu-ragu sehingga kesempatan itu dapat

dipergunakan oleh Koan Sek untuk meloncat jauh kebelakang.

Dia dan pembantu utamanya, Coa Liok Gu berdiri dengan

muka pucat memandang pemuda yang menunggang biruang

itu membawa pergi tubuh dara jelita yang pingsan. Biarpun

pedang masih berada di tangannya, Coa Liok Gu tidak lagi

berani menyerang karena dia maklum bahwa selain biruang

raksasa itu amat kuat, juga pemuda itu memiliki kepandaian

yang luar biasa sekali.

Sin Liong merasa bingung dan gelisah menyaksikan

pertempuran hebat itu. “Hentikan pertempuran…!” Dia

berseru berkali-kali namun percuma saja, para bajak laut dan

penghuni Pulau Neraka adalah orang-orang kasar yang pada

saat itu sedang marah, maka sukar untuk dibujuk.

Tiba-tiba terdengar suara melengking tinggi dan panjang

dan suara itu segera disusul suara berdengung-dengung dan

berdesis-desis. Dapat dibayangkan betapa kagetnya hati Sin

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Liong ketika dia melihat datangnya binatang-binatang kecil

yang berbisa. Ular, kelabang, kalajengking dan sebangsanya

berdatangan dari semua penjuru, merayap cepat seolah-olah

digerakan oleh suara melengking iru, dan yang lebih

mengerikan lagi, lebah-lebah putih datang pula beterbangan!

Saking kagetnya Sin Liong melompat turun dari punggung

biruang dan kini biruang itu pun terkejut dan ketakutan,

seolah-olah binatang raksasa ini sudah mengerti bahwa

bahaya maut datang mengancamnya.

“Uhhh… apa yang terjadi…?” Soan Cu mengeluh dan

siuman dari pingsannya. Melihat dara itu sudah siuman. Sin

Liong agak lega. “Bagaimana lukamu?” “Nyeri sekali, panas…

eh, siapa yang memimpin binatang-binatang berbisa itu?”

Soan Cu turun dari pondongan Sin Liong. “Cepat pergunakan

obat penolak ini…” Dia mengeluarkan sebungkus obat penolak

dari ikat pinggangnya. Setelah menaburkan obat bubuk di

sekeliling mereka bertiga, yaitu Soan Cu, Sin Liong dan

biruang betina, Soan Cu berkata lagi, “Sin Liong tolong… kau

tangkap Si Mata Satu itu…aku membutuhkan obat penawar

racun am-gi-nya (senjata gelapnya)….”

Melihat betapa wajah dara itu pucat sekali tanda menderita

kenyerian hebat, Sin Liong maklum bahwa tentu dara itu

terkena senjata rahasia yang mengandung racun luar biasa

sekali. Maka tanpa menjawab tubuhnya mencelat kearah Koan

Sek yang masih bengong memandang ke depan, matanya

terbelalak ketika melihat betapa anak buahnya mulai menjadi

korban pengeroyokan binatang-binatang berbisa. Maka ketika

tubuh Sin Liong menyambar, dia terkejut sekali, mengira

bahwa pemuda itu akan menyerangnya. Dia tadi sudah

mengambil kembali senjatanya, maka tanpa banyak cakap lagi

dia sudah mengayun senjatanya menghantam ke arah Sin

Liong. Pemuda ini tadi melepaskan pedangnya, melihat betapa

dia disambut serangan dahsyat, cepat dia miringkan tubuhnya,

membiarkan senjata berat itu lewat dan secepat kilat kedua

tangannya menyambar dan sebelumnya Koan Sek tahu apa

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

yang terjadi, senjatanya telah terampas dan dibuang oleh

pemuda itu sedangkan tubuhnya sudah diangkat dan

dipanggul seperti seorang anak kecil saja. Percuma dia

meronta, karena pemuda itu sudah meloncat seperti terbang,

kembali ke dalam lingkaran obat penolak yang ditaburkan

Soan Cu. Koan Sek menggigil. Selain dia maklum betapa

lihainya pemuda ini, juga dia merasa ngeri sekali menyaksikan

apa yang terjadi di luar lingkaran obat bubuk itu. Terdengar

jerit dan pekik mengerikan. Orang-orang Pulau Neraka telah

mundur dan menonton sambil sambil tertawa-tawa. Akan

tetapi anak buah bajak laut itu menghadapi penyerangan

binatang-binatang berbisa dan sama sekali mereka tak

berdaya. Apalagi penyerangan lebah-lebah putih membuat

mereka panik. Mengerikan sekali melihat mereka berkelojotan

merintih-rintih dan menangis mengerung-ngerung karena

tidak tahan menderita rasa nyeri yang menyengati sekujur

tubuh.

“Cepat bertindak, halau mereka, Soan Cu!” Sin Liong

berkata dengan alis berkerut. Biarpun yang dikeroyok

binatang-binatang itu adalah kaum bajak, namun dia tidak

dapat menyaksikan peristiwa mengerikan itu.

Soan Cu menggeleng kepala. “Tak mungkin. Mereka

digerakan oleh suara melengking itu…”.”Suara apa itu? Siapa

yang membunyikan?”Soan Cu tersenyum dan menggigit

bibirnya menahan rasa nyeri. Pahanya seperti dibakar dan

rasa nyeri menusuk-nusuk jantung. “Siapa lagi? Satu-satunya

orang yang dapat melakukannya hanyalah Kong-kong…

augghh …” Dara itu roboh pingsan lagi dalam rangkulan Sin

Liong.

“Aduh celaka…, binatang-binatang itu….” Tok-gan-hai-liong

Koan Sek menggigil dan dia hendak lari dari tempat itu ketika

melihat bagaimana pembantunya, Coa Liok Gu, sudah sibuk

memutar pedang untuk berusaha mengusir lebah-lebah putih

yang mengeroyoknya.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Kalau kau keluar dari sini, engkau pun akan mengalami

nasib yang sama,” Kata Sin Liong, menunjuk ke arah lingkaran

putih dari obat penolak. “Binatang-binatang itu tidak berani

memasuki lingkaran ini.” Koan Sek memandang dan matanya

terbelalak ngeri melihat betapa ular-ular beracun yang

bermacam-macam warnanya itu benar saja membalik lagi

ketika mendekati garis lingkaran. Bahkan lebah-lebah putih

yang terbang dekat, agaknya mencium bau penolak itu dan

mereka itu pun terbang membalik, mengamuk dan menyerang

para bajak yang berada di luar lingkaran.

Saking ngerinya melihat betapa Coa Liok Gu menjerit dan

roboh karena kakinya tergigit seekor ular, kemudian betapa

pembantunya yang juga merupakan sutenya melolong-lolong

dan bergulingan, dikeroyok banyak sekali binatang yang

mengerikan, kepala bajak ini tak dapat lagi menahan dirinya

dan dia menjatuhkan diri berlutut!

Sin Liong sendiri merasa ngeri menyaksikan peristiwa yang

terjadi disekelilingnya. Kalau saja dia dapat melihat Ouw Kong

Ek, tentu dia akan meloncat dan memaksa kakek itu

menghentikan pekerjaanya yang kejam, membunuh para

bajak seperti itu. Akat tetapi celakanya, suara itu melengking

tinggi dan sukar diketahui dari mana datangnya, bahkan kakek

itu pun tidak tampak. pula, mana mungkin dia berani

meninggalkan Soan Cu yang pingsan itu bersama kepala

bajak? Maka pemuda ini merasa seperti disayat-sayat

jantungnya menyaksikan pembunuhan yang amat kejam itu,

melihat betapa dua puluh empat orang bajak menemui

kematian secara mengerikan, berkelojotan dan melolonglolong,

akhirnya suara jeritan mereka makin lemah dan

berubah seperti suara binatang disembelih, kemudian

tubuhnya tidak berkelojotan lagi dan binatang-binatang kecil

berbisa yang kelaparan itu masih menggerogoti kulit dan

daging mereka! Kemudian tampaklah Ouw Kong Ek, Tocu

Pulau Neraka. Kakek ini datang ke tempat itu sambil

merangkak dengan susah payah, tubuhnya kelihatan lemah

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

dan kurus, mukanya pucat dan sambil merangkak itu dia

meniup sebatang alat tiup terbuat daripada batang alangalang,

menyerupai suling kecil. Pantas saja suaranya

melengking tinggi dan aneh. Beberapa orang anggauta Pulau

Neraka segera maju dan mengangkat ketua mereka,

memapahnya datang dan kini binatang-binatang itu

berangsur-angsur merayap pergi setelah Ouw Kong Ek

merobah merobah suara tiupan sulingnya. Akhirya yang

tinggal hanya mayat-mayat dua puluh empat orang bajak

dalam keadaan mengerikan, dan mayat tujuh orang penghuni

Pulau Neraka yang tewas dalampertempuran.

“Ahhh, engkau pula yang menolong cucuku, Taihiap?” Ouw

Kong Ek dituntun anak buahnya datang mendekat.

Sin Liong mengerutkan alisnya. “To-cu, engkau sungguh

kejam, membunuh mereka seperti itu.” Kakek itu terbelalak.

“Aku? kejam? Dan mereka ini…?” Dia menuding ke arah

mayat-mayat para bajak laut. “Dan…hei, siapa dia ini? Ah,

bukankah dia ini pemimpin mereka?” Ouw Kong Ek sudah

melangkah maju menghampiri Koan Sek yang berdiri dengan

muka pucat.

“Tahan dulu, Tocu! Memang dia pemimpin bajak, akan

tetapi nyawa cucumu berada didalam tangannya!” “Soan

Cu…!” Ouw Kong Ek memandang tubuh dara yang dipondong

oleh Sin Liong dan berada dalam keadaan pingsan itu.

“Mengapa dia?”

“Terkena senjata beracun.” Kemudian dia memandang

Koan Sek dan membentak, “hayo kauberikan obat penawar

senjata gelapmu!”

Tok-gan-hai-liong Koan Sek adalah seorang yang sudah

berpengalaman, seorang yang menjelajah di dunia

kang-ouw, maka dia tentu saja cerdik sekali. Tadi ketika

menyaksikan betapa semua anak buahnya, juga.sutenya,

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

tewas secara mengerikan, dia ketakutan setengah mati dan

kehilangan akalnya. Akan tetapi

sekarang setelah dia melihat kesempatan untuk menolong

diri, timbul kembali keberaniannya dan dia tersenyum.

“Agaknya kita telah salah masuk. Tidak tahu pulau apakah

ini dan siapa kalian ini?” tanyanya kepada Sin Liong karena dia

merasa jerih sekali menghadapi pemuda yang dia tahu amat

lihai dan sama sekali bukan tandingannya itu.

“Kau belum tahu? Ini adalah Pulau Neraka dan dia itu

adalah ketuanya.” Dia menuding kepada Ouw Kong Ek.

“Sedangkan Nona ini adalah cucunya. Maka kau harus cepat

memberikan obat penawarnya.” “Ha-ha, mudah saja! Mudah

saja memberi obat penawarnya. Aihh, kiranya kami telah

memasuki sebuah pulau iblis dengan penghuni-penghuninya

seperti iblis pula! Benar-benar kami telah membuat kesalahan

besar! Orang muda, mudah saja mengobati luka Nona ini,

akan tetapi bagaimana dengan aku sendiri? Anak buahku telah

tewas semua dan aku dalamcengkraman kalian!”

“Engkau… engkau akan kusiksa, kucincang sampai hancur!”

Ouw Kong Ek membentak. “Ha-ha-ha, boleh! Lakukan

sekarang, karena aku tidak takut mati setelah aku melihat

bahwa aku mempunyai banyak teman terutama sekali

cucumu. Kalau orang tidak lagi menyayangkan kematian

seorang dara jelita muda remaja seperti dia ini, apalagi

kematian seorang tua bangka seperti aku. Ha-ha-ha! biarlah

aku mati ditemani oleh dara remaja ini!”

Ouw Kong Ek sudah marah sekali, kedua tangannya dikepal

sehingga suling batang alang-alang itu hancur di tangannya.

Melihat kemarahan ketua Pulau Neraka itu, Sin Liong Berkata,

“Ouw-tocu apa yang dikatakan benar. Sudah kuperiksa luka

cucumu dan ternyata dia terkena racun yang aneh sekali yang

belum pernah aku melihatnya. Maka, biarlah kita menukar

keselamatannya dengan keselamatan Soan Cu. Betapapun

juga , nyawa Soan Cu jauh lebih berharga dari pada

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

kehidupan seorang sesat seperti dia.” “Ha-ha-ha , itu baru

omongan yang tepat!” Tok-gan-hai-liong Koan Sek yang

merasa “mendapat angin” berkata dengan dada dibusungkan.

Dia tidak takut lagi sekarang. Nyawa cucu ketua Pulau Es

berada di tangannya. Apalagi yang ditakutinya?

“Iblis keparat! Hayo kauberikan obat untuk cucuku dan kau

boleh minggat dari sini!”Ouw Kong Ek membentak.

“Ha-ha-ha, aku Tok-gan-hai-liong Koan Sek bukan seorang

tolol.” Dia lalu menoleh kepada Sin Liong.

“Orang muda apakah kedudukanmu di Pulau Neraka ini?”

Dia memang tidak dapat menduga karena tadi dia

mendengar ketua Pulau Neraka menyebut taihiap (pendekar

besar) kepada pemuda ini. Dan kalau ada yang dipercaya di

situ. Maka satu-satunya orang adalah pemuda ini.

“Aku bukan penghuni Pulau Neraka aku adalah seorang dari

Pulau Es….” “heeeehhh…??” Mata Tok-gan-hai-liong yang

tinggal satu itu terbelalak dan mukanya pucat. Dia merasa

seolah-olah dalam mimpi. Setelah bertemu dengan Pulau

Neraka yang aneh dan mengerikan di mana semua anak

buahnya tewas, dia bertemu pula dengan seorang pemuda

sakti yang mengaku datang dari Pulau Es, sebuah sebutan

yang tadinya dikiranya hanya terdapat dalam dongeng tahyul

belaka. Mimpikah dia? Ataukah dia sudah mati ditelan badai

dan sekarang ini adalah pengalaman dari rohnya?

“Pulau… Pulau… Es…?” Dia berkata lirih. Sin Liong

mengangguk tak sabar. Dia tadi mengaku sebenarnya, siapa

mengira malah membuat kepala bajak ini menjadi termangumangu

seperti orang sint ing. “Kalau begitu, aku hanya mau

memberikan obat penawar jika engkau yang mengantarku

sampai ke sebuah perahu di pantai Pulau Neraka ini.”

“Jahanam, kau tidak percaya kepadaku?” Ouw Kong Ek

membentak dan para pembantunya sudah mengangkat

senjata mengancam.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Terserah, bunuhlah. Aku toh akan mati bersama dia ini.”

Sin Liong menyerahkan tubuh Soan Cu yang masih pingsan

kepada kakeknya, kemudian berkata, “ouw-tocu, biarlah kita

memenuhi permintaannya.

Harap sediakan perahu untuknya.”.Terpaksa Ouw Kong Ek

menggerakan kapalanya memberi isyarat kepada anak

buahnya, kemudian

memandang kepada kepala bajak itu dengan mata

mendelik. Koan Sek lalu berjalan bersama Sin Liong dan dua

anak buah Pulau Neraka menuju ke tepi laut. Setelah sebuah

perahu dipersiapkan, kepala bajak itu mengeluarkan sebuah

benda dari dalam sakunya. Benda itu ternyata adalah seekor

kuda laut sebesar ibu jari tangan yang sudah kering. “Nona itu

terkena racun yang terkandung dalam duri ikan yang tidak

dapat diobati kecuali dengan ini. Bubuklah dan masak, lalu

minumkan airnya. Tentu dia akan sembuh.” Sin Liong

mengerutkan alisnya. Sudah banyak pengetahuannya tentang

pengobatan akan tetapi tentu saja belum pernah dia mengenal

rahasia racun yang keluar dari dalam lautan. Dia menyerahkan

bangkai kuda laut kering itu kepada dua orang penghuni Pulau

Neraka sambil berkata, “Berikan ini kepada Ouw-tocu, suruh

menumbuk halus dan masak dengan air, kemudian minumkan

kepada Nona. Bagaimana hasilnya supaya cepat melapor ke

sini. Aku menunggu di sini.”

Dua orang itu menerima kuda laut mati dan berlari

memasuki pulau, sedangkan Sin Liong lalu duduk di tepi

pantai dengan sikap tenang.

“Kau tidak mau membiarkan aku pergi?” Koan Sek bertanya

penuh khawatir. “Jangan tergesa-gesa,” jawab Sin Liong.

“Aku harus yakin dulu bahwa obatmu benar-benar manjur,

baru aku akan membolehkan engkau pergi. Bukankah itu adil

namanya?” Koan Sek menghela napas dan menjatuhkan diri

duduk di dalam perahu. Dia maklum bahwa kalau melawan,

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

dia tidak akan menang. “Dia pasti akan sembuh. Dalam

keadaan seperti ini, mana aku berani main-main?”

Sin Liong diam saja. Kepala bajak itu menggunakan mata

tunggalnya untuk memandangi pemuda itu penuh selidik,

kemudian bertanya, “Orang muda, benarkah engkau dari

Pulau Es?” Sin Liong mengangguk.

“Dan siapa namamu?”

“Kwa Sin Liong. Mengapa engkau bertanya-tanya?”

“Tadinya aku mengira bahwa Pulau Es hanyalah sebuah

dongeng…” “Hemm.., memang sekarang hanya tinggal

dongeng…” Sin Liong berkata sambil merenung jauh

membayangkan keadaan Pualu Es yang telah terbasmi oleh

badai dan kini tinggal menjadi sebuah pulau kosong yang

menyedihkan.

“Nguuk… nguuukkk…”

Sin Liong menoleh dan tersenyum “Eh, Enci biruang. Kau

menyusulku?” Biruang itu menghampiri, dan memperlihatkan

taringnya ketika dia melihat Koan Sek di atas perahu di depan

pemuda itu.

“Binatang yang hebat!” Koan Sek berkata dan bulu

tengkuknya berdiri. Pemuda ini seperti bukan manusia biasa !

dan mempunyai binatang peliharaan seperti itu! “Kau bilang

tadi… tinggal dongeng apa maksudmu?”

“Tidak apa-apa, lupakanlah,” kata Sin Liong sambil

mengelus biruang yang sudah bertiarap di depannya.

“Orang muda she kwa… eh, Tai-hiap… kenapa kau mau

membebaskan aku?” Sin Liong mengangkat mukanya

memandang dan kepala bajak itu menjadi lebih heran lagi

melihat betapa pandang mata pemuda itu sama sekali tidak

membayangkan kebencian atau permusuhan dengannya?

“Mengapa tidak? engkau pun membebaskan Soan Cu.”

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Sin Liong menengok dan tampaklah dua orang tadi datang

berlari-lari. “Kwa-taihiap, Nona sudah sembuh!”.Sin Liong

mengangguk kepada Koan Sek. “Pergilah, cepat! Lebih cepat

lebih baik dan harap kau jangan

sekali-kali mendekati pulau ini.”

Koan Sek menjawab, “Terima kasih. Satu kalipun sudah

cukuplah!” Dia mengkirik. “Pulau Iblis seperti ini siapa yang

ingin melihatnya lagi?” Dia lalu menggerakan dayungnya dan

perahu meluncur cepat meninggalkan Pulau Neraka.

Ketika Sin Liong bersama biruangnya tiba kembali ke

tengah pulau benar saja bahwa Soan Cu telah sembuh sama

sekali dari pengaruh racun. Hanya luka di pahanya yang

tinggal dan luka itu sudah diobati oleh Kong-kongnya. Para

penghuni Pulau Neraka sedang sibuk menyingkirkan mayatmayat

yang bergelimpangan mengerikan itu dan Sin Liong lalu

diajak masuk ke pondoknya oleh Ouw Kong Ek dan Soan Cu.

“Taihiap, lagi-lagi engkau yang datang menolong kami,

“kata Ouw Kong Ek. “Kalau engkau t idak segera datang entah

bagaimana dengan aku. Mungkin sudah mati, Sin Liong,” kata

Soan Cu dengan mata bersinar-sinar penuh kagum dan terima

kasih.

“Ahh, mengapa Tocu dan kau masih bersikap sungkan

terhadap aku? Bukankah kita ini sahabat? Kedatanganku

bukan hanya kebetulan saja. Aku datang dengan maksud yang

sama seperti setahun yang lalu, yaitu mencari Sumoi. Apakah

dia tidak datang ke sini?”

Soan Cu dan kakeknya memandang kaget dan juga heran,

dan di dalam pandang mata Ouw Kong Ek terkandung rasa

hati tidak senang. Sin Liong maklum akan ketidaksenangan

hati kakek itu, maka dia menarik napas panjang dan berkata,

“Harap saja Tocu tidak menyangka yang bukan-bukan

terhadap Sumoi. Apa yang dilakukan oleh Suhu di sini sama

sekali t idak ada sangkut pautnya dengan Sumoi.”

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Jadi Taihiap sudah tahu apa yang diperbuat oleh Han Ti

Ong di sini?” Sin Liong mengangguk. “Aku dapat menduganya.

Tentu dia marah-marah karena puterinya pernah ditahan di

sini.”

“Bukan hanya marah-marah!” kata Soan Cu mengepal tinju.

“Orang itu sombong sekali! Dia menghina kakek, biar pun

tidak melakukan pembunuhan tapi dia memukul semua

orang!” “Kau juga dipukulnya?” Sin Liong bertanya.

“Tadinya, melihat aku seorang wanita dan masih muda, dia

tidak mau memukulku, akan tetapi karena melihat kakek

dipukul, aku menyerangnya dan aku roboh oleh tamparan. Dia

memang sakti, akan tetapi ganas dan kejam, bahkan semua

catatanmu dihancurkan! Sekali waktu kami akan menuntut

balas, kami akan menyerang Pulau Es!”

Sin Liong menarik napas panjang. “Lupakan saja niat itu,

selain tidak baik juga tidak ada gunanya.

Kerajaan Pulau Es tidak ada lagi sekarang, telah musnah.”

“Hei…? Apa maksudmu, Taihiap…?” kakek itu bertanya,

terbelalak.

“Apa yang telah terjadi?” Soan Cu juga bertanya.

“Dilanda badai… habis seluruhnya, semua penghuninya

termasuk suhu dan seluruh benda di sana habis terbasmi

kecuali bangunan istana yang telah kosong sama sekali…” Sin

Liong lalu menuturkan dengan singkat malapetaka yang

penimpa Pulau Es, dan betapa secara aneh dan kebetulan saja

dia dan Sumoinya terluput dari bencana. Kakek dan cucu itu

mendengarkan dengan melongo kemudian kakek itu bertepuk

tangan dan tertawa bergelak. “Ha-ha-ha-ha! Ha-ha-ha-ha!

Dendam ratusan tahun lenyap dalam sekejap mata! kami

orang-orang buangan yang dianggap berdosa, dianggap

dikutuk tuhan, malah masih dapat hidup melanjutkan riwayat,

sedangkan penghuni Pulau Es yang suci dan agung, kaum

bangsawan yang tinggi, sekali sapu saja musnah!

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Ha-ha-ha, siapa yang lebih dilindungi tuhan? Han Ti Ong,

tanpa kami bergerak, engkau dan kerajaanmu

lenyap sudah!” Kakek itu tertawa-tawa sampai air matanya

keluar sehingga sukar dikatakan apakah dia itu

tertawa, ataukah menangis..Mengapa Taihiap sekarang

mencari Nona Swat Hong ke sini? Apa yang terjadi dengan

dia?”Sin Liong lalu menceritakan niat perjalanannya bersama

Swat Hong, yaitu untuk mencari ibu Swat Hong yang sampai

kini tidak diketahui berada di mana. Dan betapa di jalan

mereka menjadi bungung dan tersesat karena badai telah

menciptakan pemandangan yang berbeda di permukaan laut

sehingga sehingga mereka mendarat di gunung es dan betapa

dia menemukan biruang hitam.

“Sumoi berangkat melanjutkan perjalanan mencari Pulau

Neraka karena disangkanya ibunya berada di sini, sedangkan

aku mengobati biruang.” Sin Liong menutup ceritanya, tentu

saja dia segera menceritakan kemarahan Swat Hong

kepadanya. “Apakah dalam beberapa hari ini dia tidak dantang

ke sini?” Soan Cu menjawab, “Untung saja dia tidak datang,

Sin… eh, Taihiap.”

“Soan Cu mengapa engkau meniru kakekmu, bersungkan

kepadaku dan menyebut Taihiap segala?” “Biarlah, Taihiap,”

Kata Ouw Kong Ek. “Tidak pantas kalau dia menyebut

namamu begitu saja. Dan engkau memang menolong kami

dan pantas disebut Taihiap karena kepandaianmu tinggi

sekali.” “Kaukatakan tadi untung Sumoi tidak datang ke sini,

mengapa?”

“Andaikata dia datang, tentu akan terjadi apa-apa yang

tidak baik antara dia dan Kong-kong. Ketahuilah, semenjak

Raja Pulau Es datang mengacau di sini, Kong-kong jatuh sakit,

dan kebencian kami semua terhadap Pulau Es makin

mendalam. Maka kalau Sumoimu, Swat Hong datang, tentu

akan terjadi hal yang tidak baik.”

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Sin Liong mengangguk-angguk, merasa lega bahwa

sumoinya tidak mendahului datang ke Pulau Neraka, akan

tetapi juga menimbulkan kegelisahannya karena dia jadi tidak

tahu ke mana sumoinya yang pemarah itu kini berada!

Bajak-bajak laut itu, dari mana datangnya dan mengapa

mengacau ke sini?” tanyanya.

“Entah. Tahu-tahu mereka muncul dan perahu besar

mereka terdampar di tepi pulau.”

“Agaknya mereka juga diamuk badai.”

“Mungkin.” Soan Cu melanjutkan. “Kami diserang selagi

kong-kong sakit. Kong-kong tidak dapat turun dari

pembaringan, maka aku yang menggantikannya, aku keluar

menyambut mereka, akan tetapi karena kurang hati-hati,

karena memandang rendah am-gi mereka, aku hampir celaka

kalau tidak ada engkau yang datang di waktu yang tepat,

Taihiap.”

“Akan tetapi akhirnya, biarpun sakit, Kong-kongmu dapat

membunuh semua bajak laut itu.” Sin Liong bergidik ngeri

mengenangkan kematian para bajak itu.

“Ugh-ugh….!” Kakek itu terbatuk-batuk. “Bajak-bajak

macam itu saja kalau aku tidak sakit, kalau Soan Cu tidak

memandang rendah dan kalau para penghuni tidak baru saja

diamuk badai, tidak ada artinya bagi kami. Kalau binatangbinatang

Pulau Neraka bersembunyi ketakutan diamuk badai,

mana mereka mampu masuk?

Sudahlah, sekarang saya hendak menyampaikan

permohonan yang amat penting bagi Taihiap.” “Ah, Tocu, Di

antara kita yang sudah menjadi sahabat, perlu apa banyak

sungkan lagi? Kalau ada sesuatu, katakanlah saja, mana perlu

menggunakan permohonan lagi?” jawab Sin Liong.

Akan tetapi, tiba-tiba kakek itu turun dari bangkunya dan

menjatuhkan diri berlutut di depan Sin Liong! Tentu saja

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

pemuda ini menjadi sibuk sekali, cepat membangunkan kakek

itu dan berkata, “Tocu, harap jangan begini. Aku yang muda

mana berani menerimanya? Ada keperluan apakah? katakan

saja, aku tentu akan membantumu sedapat mungkin.” Sin

Liong berkata dengan hati tidak enak, mengira akan

menghadapi hal yang sulit.

Setelah duduk kembali dan mengatur napasnya yang

terengah-engah karena kesehatannya belum pulih

kembali dan tubuhnya terasa amat lelah, kakek itu berkata,

“Kwa-taihiap, aku sudah tua dan tidak.mempunyai keturunan

lain kecuali Soan Cu. Taihiap sudah melihat sendiri keadaan di

Pulau Neraka yang

merupakan tempat tidak baik untuk seorang dara seperti

Soan Cu. Oleh karena itu, setelah kini kerajaan Pulau Es tidak

ada, berarti bahwa Pulau Neraka telah bebas dan kami

bukanlah orang-orang buangan lagi. Soan Cu juga bukan

keturunan orang buangan lagi dan sewaktu-waktu kami boleh

meninggalkan pulau ini. Karena itu, aku mohon dengan

sepenuh hatiku, sudilah Taihiap membawa Soan Cu bersama

Taihiap untuk mengenal dunia ramai, dan syukur kalau Taihiap

dapat mengatur agar cucuku ini tidak usah lagi kembali dan

tinggal di Pulau Neraka ini. Kuharap permohonan ini tidak

akan ditolak oleh Taihiap.” Sin Liong mengerutkan alisnya.

Permintaan yang sama sekali tidak pernah disangkanya! “Akan

tetapi, Ouw-tocu, hendaknya diingat bahwa aku sendiri adalah

seorang sebatangkara yang tidak mempunyai apa-apa, tidak

mempunyai tempat tinggal dan masih belum kuketahui apa

akan jadinya dengan diriku ini.”

“Kalau Taihiap merantau, bawalah dia merantau, ke mana

saja aku sudah pasrah sepenuhnya. Baik dia akan Taihiap

anggap sebagai sahabat, sebagai saudara, atau kalau

mungkin…. dari lubuk hatiku kuharap sebagai calon jodoh,

aku sudah merasa lega dan senang, asal dia tidak tersiksa

tinggal di neraka ini.” Sin Liong merasa sukar untuk menolak,

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

akan tetapi juga berat untuk menerima, maka dia menoleh

kepada Soan Cu dan berkata, “Soal ini sebaiknya kita serahkan

kepada Soan Cu sendiri. Kalau memang dia suka merantau

meninggalkan pulau ini, tentu saja aku tidak keberatan

mengadakan perjalanan bersama. Akan tetapi hal ini bukan

berarti bahwa aku menerima usul perjodohan Tocu, dan

sewaktu-waktu dia boleh pergi ke mana saja, jadi aku tidak

terikat oleh perjanjian apapun juga.”

“Taihiap, jangan khawatir. Memang aku sejak dulu t idak

kerasan tinggal di sini, hanya karena kedudukanku sebagai

seorang keluarga buangan saja yang mencegah aku

meninggalkan Pulau Neraka. Sekarang aku telah bebas, dan

betapapun juga, aku akan pergi dari sini. Hanya kalau

bersama Taihiap, tentu hati Kong-kong akan merasa lebih

aman, dan juga untukku sendiri yang tidak ada pengalaman,

melakukan perjalanan bersamamu merupakan hal yang

menyenangkan sekali. Aku hendak pergi mencari ayahku,

Taihiap.”

“Dan aku hendak mencari Swat Hong dan ibunya.”

“Kalau begitu, mari kita mencari berdua, siapa tahu dalam

mencari Sumoimu itu , aku dapat bertemu dengan ayahku.”

Setelah mendapat banyak pesan dan melihat Kongkongnya,

membawa pula bekal berupa pakaian dan sekantung

emas simpanan Kong-kongnya, berangkatlah Soan Cu

bersama Sin Liong meninggalkan Pulau Neraka dengan sebuah

perahu. Selama hidupnya yang lima belas tahun itu, belum

pernah Soan Cu meninggalkan pulau, maka setelah perahu

meluncur jauh dan dia hampir tidak dapat melihat lagi Kongkongnya

bersama semua sisa penghuni Pulau Neraka yang

mengantarkanya sampai ke pantai, Soan Cu tak dapat

menahan bercucurannya air matanya.

“Soan Cu, mengapa kau menangis? Kalau kau tidak tega

meninggalkan kakekmu, masih belum terlambat untuk

kembali,” kata Sin Liong yang sebetulnya merasa tidak enak

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

sekali memikul kewajiban ini. Biarpun dia tidak terikat sesuatu,

namun sedikit banyak dia dibebani keselamatan dara ini, dan

kalau dara ini wataknya seaneh Swat Hong, dia tentu akan

menjadi lebih pusing lagi! “Ah, tidak, Taihiap. Aku hanya

merasa perih hatiku meninggalkan tempat yang sejak kulahir

menjadi tempat tinggalku itu. Orang sedunia boleh

menyebutnya Pulau Neraka, akan tetapi setelah aku berangkat

meninggakan pulau itu, terasa olehku bahwa disitu adalah

sorga.”

Sin Loing tersenyum dan mendayung perahunya lebih cepat

lagi. Pernyataan yang keluar dari

mulut dara ini merupakan pelajaran yang amat penting

baginya, membuka matanya melihat kenyataan

bahwa sorga maupun neraka itu berada dalam hati

manusia itu sendiri! Betapapun indahnya suatu tempat

kalau tidak berkenan di hatinya, akan merupakan neraka,

sebaliknya betapapun buruknya suatu tempat

kalau berkenan di hatinya akan menjadi sorga! Jadi, baik

buruk, senang, susah, puas kecewa, semua ini

bukan ditentukan oleh keadaan di luar, melainkan

ditentukan oleh keadaan hati dan pikiran sendiri. keadaan

di luar merupakaan kenyataan yang wajar, dan hanya

pikiranlah yang menentukan dengan menilai,

membandingkan, maka lahirlah puas, kecewa, senang,

susah, baik, buruk, dan lain-lain hal yang saling.bertentangan

itu. Bahagialah orang yang dapat menghadapi segala sesuatu

dengan mata terbuka,

memandang segala sesuatu seperti APA ADANYA, tanpa

penilaian. tanpa perbandingan. Orang bahagia tidak mengenal

susah senang, karena bahagia bukan susah bukan pula

senang, bukan puas bukan pula kecewa, melainkan suatu

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

keadaan di atas itu semua, sama sekali tidak terganggu oleh

pertentangan-pertentangan itu.

Perahu yang ditumpangi Sin Liong dan Soan Cu meluncur

terus, ujung depannya yang meruncing membelah air yang

tenang seperti sebuah pisau membelah agar-agar biru. Soan

Cu sudah melupakan kesedihan hatinya dan kini dara itu

memandang ke depan dengan wajah berseri dan mata

bersinar-sinar penuh harapan akan masa depan yang

berlainan sama sekali dengan keadaan di Pulau Neraka.

Banyak sudah dia mendengar dongeng kakeknya yang juga

hanya mendengar dari nenek moyangnya tentang keadaan di

dunia rame, dan sekarang dia sedang menuju kepada

kenyataan yang akan dilihatnya dengan mata sendiri!

Pusat perkumpulan Pat-jiu-kaipang (Perkumpulan pengemis

Tangan Delapan) berada di lereng Pegunungan Hen-san. Dari

luar, tempat itu memang pantas disebut pusat perkumpulan

pengemis karena hanya merupakan tempat di dataran tinggi

yang dikelilingi pagar bambu yang tingginya hampir dua kali

tinggi orang, pagar yang butut dan bambu-bambu itu

mengingatkan orang akan tongkat bambu yang biasa dibawa

oleh para pengemis. Akan tetapi kalau orang sempat

menjenguk di dalamnya, dia akan terheran-heran

menyaksikan sebuah rumah gedung yang pantas juga disebut

sebuah istana kecil berdiri megah dan mewah sekali! Inilah

tempat tinggal Pat-jiu Kai-ong, Si Raja Pengemis yang menjadi

ketua Pat-jiu Kai-pang di lereng Hengsan!

Pat-jiu kai-ong sudah berusia kurang lebih tujuh puluh

tahun, akan tetapi dia masih kelihatan tangkas dan belum

begitu tua, sungguhpun pakaianya selalu butut, sebutut

tongkatnya, sama sekali tidak sesuai dengan keadaan

gedungnya. Hanya kalau hari sudah menjadi gelap saja maka

berubahlah raja pengemis ini, pakaiannya diganti dengan

pakaian tidur yang layaknya dipakai seorang pangeran! Dan

mulailah kehidupan yang berlawanan dengan keadaan

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

hidupnya di waktu siang, berbeda jauh seperti bumi dan

langit. Di waktu siang, dia lebih patut disebut seorang

pengemis elaperan yang berkeliaran di sekitar rumah gedung

itu. Akan tetapi di waktu malam, dengan pakaian indah dan

tubuh bersih, dia bersenang-senang makan minum dengan

hidangan serba lezat dan mahal, dilayani oleh lima orang

selirnya yang muda-muda, cantik dan genit.

Pat-jiu Kai-ong tinggal tinggal didalam istananya yang

mewah akan tetapi yang dikelilingi pagar bambu tinggi

sehingga tidak tampak dari luar itu bersama lima orang

selirnya, lima orang pelayan dan selosin orang anak buahnya

yang merupakan pengawal-pengawalnya. Selosin orang ini

tentu saja merupakan tokoh-tokoh dalam pat-jiu Kai-pang,

karena mereka adalah pembantu yang boleh diandalkan, atau

juga murid-murid tingkat satu dari raja pengemis itu. para

pengawal itu melakukan penjagaan siang malam secara

bergilir dan mereka tinggal di dalam rumah samping di kanan

kiri istana ketua mereka. Adapun Pat-jiu Kai-pang mempunyai

anggota yang banyak dan yang tersebar luas di kota-kota.

Dengan mengandalkan nama besar perkumpulan itu, terutama

sekali nama besar Kai-ong, para anggauta itu dapat

mengumpulkan sumbangan-sumbangan yang besar dan

sebagian dari pada hasil sumbangan ini mereka setorkan

kepada Pat-jiu kai-ong. Inilah membuat raja pengemis

menjadi kaya raya dan dapat hidup mewah sekali. Selosin

orang pembantunya, selain pengawal dan penjaga istananya,

juga bertugas untuk turun tangan mewakili ketua mereka

apabila ada cabang yang kurang dalam memberi setoran!

Pat-jiu Kai-ong sendiri yang sudah hidup makmur jarang

meninggalkan istananya di Heng-san. Hanya urusan besar

saja yang dapat menariknya pergi meninggalkan tempat yang

amat menyenangkan hatinya itu. Kurang lebih sepuluh tahun

yang lalu dia ikut pula memperebutkan Sin-tong Si Anak Ajaib

karena dia pada waktu itu ingin cepat-cepat menyempurnakan

ilmu yang sedang diciptakan dan dilatihnya, yaitu ilmu HiatTiraikasih

Website http://kangzusi.com/

ciang-hoatsut (Ilmu Sihir Tangan Darah). Jika pada waktu itu

dia berhasil merebut Sin-tong, tentu dalam waktu satu tahun

saja ilmunya akan sempurna. Akan tetapi karena seperti

diceritakan di bagian depan, dia gagal dan Sin-tong dibawa

pergi oleh pangeran Han Ti Ong dari Pulau Es, maka dia harus

mengorbankan puluhan orang bocah untuk dimakan otaknya

dan disedot darah dan sumsumnya. Kini dia telah mahir

dengan ilmu hitam yang mengerikan itu, akan tetapi

sayangnya, setiap tahun dia harus mengisi tenaga itu dengan

pengorbanan seorang bocah!

Pada suatu hari , pagi-pagi sekali, selagi Pat-jiu Kai-ong

seperti biasa meninggalkan kehidupan

malamnya yang mewah, berpakaian sebagai seorang

pengemis berjalan-jalan di dalam taman bunga di

belakang istananya, membawa tongkat butut dan berlatih

silat di waktu embun pagi masih tebal, tiba-tiba.seorang

pengawalnya datang menghadap dan melaporkan bahwa ada

tiga orang tamu datang ingin bertemu

dengan Si Raja Pengemis.

“Hemm, siapakah pagi-pagi begini sudah datang

menggangguku?” Pat-jiu Kai-ong berkata dengan alis berkerut.

Akan tetapi karena merasa penasaran, dia tidak

memerintahkan pengawalnya mengusir orang itu dan

terutama sekali ketika mendengar pelaporan itu bahwa yang

datang adalah seorang kakek bersama dua orang muda,

seorang dara jelita dan seorang muda tampan. Hatinya

tertarik sekali ketika mendengar bahwa kakek itu mengaku

sebagai seorang “sahabat lama.”

Ketika dia keluar membawa tongkat bututnya dan bertemu

dengan tiga orang itu, Pat-jiu Kai-ong memandang tajam. Dia

kagum melihat pemuda yang amat tampan dan pemudi yang

amat cantik jelita itu. Wajah mereka yang mirip satu sama

lain menunjukan bahwa mereka adalah kakak beradik,

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

pemudanya berusia kurang lebih enam belas tahun,

pemudinya lima belas atau empat belas tahun. Sampai lama

pandang mata Pat-jiu Kai-ong melekat kepada dua orang

muda itu, keduanya membuat hatinya terguncang penuh

kagum dan andaikata dia tidak menahan perasaannya, tentu

mulutnya akan mengeluarkan air liur! Barulah dia terkejut

ketika mendengar kakek itu tertawa bergelak.

“Ha-ha-ha-ha! Pat-jiu Kai-ong kurasa engkau belum begitu

pikun untuk melupakan dua orang anakku ini.

Mereka adalah Swi Liang dan Swi Nio, ha-ha-ha!

Akan tetapi Pat-jiu Kai-ong mengerutkan alisnya, sama

sekali tidak mengenal kedua nama ini. Dia memandang

dengan mata terheran kepada laki-laki yang berdiri di

depannya, seorang laki-laki berusia kurang lebih lima puluh

tahun, berpakaian sederhana berwarna kuning, dengan kepala

yang beruban itu terlindung kain pembungkus rambut yang

berwarna kuning pula.

Kakek itu tertawa lagi. “Wah, Pat-jiu Kai-ong, benar-benar

engkau telah lupa kepada kami? Lupa kepada sahabatmu di

Lusan ini?”

“Ahhhh…!” Pat-jiu Kai-ong tertawa, mukanya berseri dan

dia cepat membungkuk untuk memberi hormat. “Kiranya

sahabat Bu yang datang? maaf, maaf, mataku sudah lamur

saking tuanya sehingga tidak mengenal sahabat baik yang

kurang lebih sepuluh tahun tak pernah kujumpi. Jadi ini kedua

anakmu itu? Dahulu mereka baru berusia lima enam tahun,

kecil dan lucu serta berani, bahkan kalau tidak salah, anak

perempuanmu ini yang dahulu menantang pibu kepadaku. Haha-

ha!” Dara berusia lima belas tahun yang cantik jelita itu

menunduk dan kedua pipinya berubah merah.

“Harap Pangcu sudi memaafkan saya.”

“Aih-aih…! Ini tentu orang tua lusan ini yang mengajarnya.

Menyebutku Pangcu segala!” “Ha-ha-ha, Pangcu. Bukankah

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

engkau memang Ketua dari Pat-jiu Kai-pang? Mengapa tidak

mau disebut Pangcu oleh puteriku?” Kakek itu berkata.

“Wah, jangan berkelabar. Anak-anak yang baik, sebut saja

aku paman. marilah masuk, kita bicara di dalam.” Pat-jiu-kaiong

lalu bertepuk tangan dan para pengawalnya muncul.

“lekas beritahukan para pelayan agar mempersiapkan

hidangan makan pagi yang baik untuk tamuku yang

terhormat, Lu-san Lojin (Orang Tua Dari Lusan) dan dua

orang putera-puterinya!”

Para pengawal itu mundur dan Pat-jiu-kai-ong

menggandeng tangan kakeknya itu, sambil tertawa-tawa

mereka memasuki istana dan duduk di ruangan dalam

menghadapi meja dan duduk di kursi-kursi yang berukir indah.

Sambil memandang ke kanan kiri mengagumi keindahan

ruangan itu, Lu-san Lojin berkata memuji, “Sungguh hebat!

Lama sudah aku mendengar bahwa Pat-jiu-kai-ong t inggal

disebuah istana yang megah, kiranya keadaan di sini

melampau segalanya yang telah kudengar. Hebat sekali!”

Sejak tadi Pat-jiu-kai-ong merayapi tubuh pemuda dan pemudi

itu dengan pandangan matanya. Dia kagum bukan main

melihat dara cantik jelita dan pemuda yang tampan dan gagah

itu. “Ha-ha, kau terlalu memuji, sahabat. Aku tidak mengira

bahwa hari ini tempatku yang buruk akan meneriama

kehormatan kedataangan seorang tamu agung, seorang

penolongku yang budiman bersama putra dan puterinya yang

begini elok.”

Kedua orang tua ini lalu bercakap-cakap dengan gembira

membicarakan masa lampau. Siapakah kakek ini?

Dia adalah Lu-san Lojin, seorang ahli silat dan ahli

pengobatan yang semenjak istrinya meninggal dunia,

meninggalkan dua orang anak, lalu mengajak dua orang

anaknya itu mengasingkan diri ke puncak Lu-san,

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

dan di sana dia bertapa sambil mendidik dan

menggembleng putera puterinya. Sepuluh tahun yang lalu,

setelah gagal merebut Sin-tong, dalam kekecewaannya Patjiu

Kai-ong lalu mengamuk di sepanjang.jalanan, menculik dan

membunuhi bocah-bocah yang dianggapnya cukup sehat.

Ketika dia tiba di kaki

Pegunungan Lu-san, dia berada dalam keadaan keracunan

hebat. Hal ini terjadi karena dia terlampau banyak membunuh

anak laki-laki, makan otak mereka dan menghisap darah serta

sumsum mereka untuk menyempurnakan ilmunya, terlampau

banyak melatih diri dengan ilmu hitam Hiat-ciang Hoat-sut.

Karena hatinya yang penasaran mengapa dia tidak dapat

mengalahkan Han Ti Ong dan merebut Sin-tong, maka dia

lupa akan ukuran tenaga sendiri dan melatih diri dengan ilmu

hitam itu, dia terlampau terburu-buru dan akibatnya, hawa

mujijat dari ilmu itu membalik dan membuat dia terluka

dalam, keracunan hebat sehingga dia terhuyung-huyung dan

hampir pingsan ketika tiba di kaki Pegunungan Lu-san. Dia

maklum akan keadaan dirinya, tahu bahwa dia terancam

bahaya maut maka hatinya menjadi khawatir sekali.

Kebetulan baginya, pada saat itu keadaannya terlihat oleh Lusan

Lojin yang sedang turun gunung bersama puteraputerinya

yang pada waktu itu baru berusia enam dan lima

tahun, sebagai seorang gagah dan berilmu tinggi, Lu-san Lojin

cepat menolong Pat-jiu Kai-ong. Setelah memeriksa keadaan

raja pengemis itu, dia maklum bahwa Pat-jiu Kai-ong

memerlukan perawatan khusus, maka diajaknya orang ini naik

ke puncak Lu-san. Di situ Pat-jiu Kai-ong diobati Lu-san Lojin

sampai sembuh . Selama satu bulan berada di Lu-san, raja

pengemis ini menerima perawatan yang amat baik dari Lu-san

Lojin, maka dia merasa berterima kasih sekali dan

menganggap pertapa itu sebagai penolong dan sahabat

baiknya. Juga dia mengenal dua orang bocah yang mungil itu.

Karena kebaikan hati Lu-san Lojin, biarpun dia melihat Swi

Liang sebagai seorang anak yang mempunyai darah bersih

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

dan tulang kuat, dia tidak tega untuk mengganggu anak lakilaki

itu.

Di lain pihak, ketika mendengar bahwa yang ditolongnya

adalah Pat-jiu kai-ong ketua Pat-jiu kai-pang, Lu-san Lojin

terkejut sekali. Akan tetapi dia menjadi bangga bahwa raja

pengemis yang namanya terkenal itu menganggapnya sebagai

sahabat baik. Maka setelah sembuh, mereka berpisah sebagai

sahabat yang berjanji untuk saling mengunjungi dan saling

membantu.

“Sungguh aku tidak tahu diri dan tidak mengenal budi,”

setelah makan minum Pat-jiu Kai-ong berkata kepada

tamunya. “Sepatutnya akulah yang datang mengunjungi kalian

di Lu-san, bukan kalian yang jauh-jauh datang mengunjungi

aku.”

“Ahhh, mengapa kau menjadi sungkan begini? Kita

bersama telah mempunyai kewajiban masing-masing sehingga

tentu saja telah sibuk dengan pekerjaan. Kamu pun hanya

kebetulan saja lewat di kaki Pegunungan Heng-san, maka aku

teringat kepadamu dan mengajak kedua anakku untuk

mendekati Pegunungan Hengsan mencarimu.”

“Terima kasih, engkau baik sekali, Lu-san Lojin. Akan

tetapi, kalau boleh aku mengetahui, kalian datang dari

manakah?”

Lu-asn Lojin menarik napas panjang dan menoleh kepada

puteranya, memandang puterinya seolah-olah minta ijinnya,

Swi Liang menganggukan kepalanya kepada ayahnya, dan

menunduk. Dianggap oleh pemuda ini bahwa Pat-jiu Kai-ong

adalah seorang sahabat baik ayahnya, bahkan seperti saudara

sendiri, maka tidak ada salahnya kalau raja pengemis itu

mengetahui urusannya. Siapa tahu raja pengemis itu dapat

membantunya .

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Kami baru saja datang dari Lokyang, melakukan

perjalanan sejauh itu dan ternyata sia-sia belaka perjalanan

kami untuk mencari Tee-tok Siangkoan Houw.”

“Tee-tok Siangkoan Houw? Ah, ada urusan apakah engkau

mencari racun bumi itu, Lu-san Lojin?” “Sebetulnya urusan

lama, urusan perjodohan, semenjak kecil, antara Tee-tok dan

aku telah terdapat persetujuan untuk menjodohkan puteraku

Bu Swi Liang ini dengan puterinya yang bernama Siangkoan

Hui. Akan tetapi, setelah keduanya menjadi dewasa, tidak ada

berita dari Tee-tok sehingga hatiku merasa khawatir sekali.

Aku sudah berusaha mencarinya, namun selalu sia-sia. Akhirakhir

ini aku mendengar bahwa dia berada di Lokyang, akan

tetapi setelah jauh-jauh kami bertiga mencarinya di sana,

ternyata dia tidak berada di sana pula. Hemm, sikap orang tua

itu masih selalu aneh dan penuh rahasia.”.JILID 9 “Ha-ha-ha,

ala salahmu sendiri! mengapa mengikat perjanjian dengan

seorang iblis seperti Tee-tok?” “Pat-jiu Kai-ong, jangan

bergurau. Ini urusan yang penting bagi kami, karena itu, kami

mengharap bantuanmu yang mempunyai banyak anak buah,

agar suka menyelidiki di mana kami dapat bertemu dengan

Tee-tok Siangkoan Houw.”

“Baik, baik… jangan khawatir. Akan kusuruh anak buahku

menyelidikinya, dan kalian bermalamlah di sini, jangan

tergesa-gesa pulang.”

Lu-san Lojin menggeleng kepala. “Sudah terlalu lama kami

meninggalkan pondok, kami hanya dapat bermalam untuk

satu malam saja. Besok pagi-pagi kami harus melanjutkan

perjalanan.” “Semalaman cukuplah, Biar kupergunakan untuk

menjamu kalian sepuas hatiku.” Tiba-tiba terdengar suara

hiruk pikuk di luar istana raja pengemis itu. Tak lama

kemudian dua orang pengawal pribadi Kai-ong masuk dengan

muka pucat dan kelihatan takut. “Ada apa? mau apa kalian

mengganggu kami?” Kai-ong membentak marah dan

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

menurunkan cawan araknya keras-keras ke atas meja

sehingga meja itu tergetar.

“Pangcu… ampunkan kami berdua… terpaksa kami

mengganggu karena ada peristiwa yang amat aneh dan

mengkhawatirkan kami semua.”

“Apa yang terjadi? Hayo cepat ceritakan.”

Dengan wajah ketakutan, seorang di antara dua orang

pengawal itu lalu menceritakan apa yang baru saja terjadi di

luar istana. Karena Pangcu sedang menjamu tamu, para

pengawal menjaga di luar dan mereka sedang mengagumi

seekor ayam jago kesayangan Pat-jiu Kai-ong. Raja pengemis

itu memang suka sekali memelihara ayam jago dan kadangkadang

mengadunya. Pagi hari itu seperti biasa, seorang

pelayan memandikan dan memberi makan ayam jago itu, dan

memuji-mujinya sebagai jago peranakan tanah selatan yang

amat baik.

Tiba-tiba ayam jago itu menggelepar di dalam kedua

tangannya, darah muncrat dan ayam itu mati, dadanya

ditembusi sehelai benda lembut yang kemudian ternyata

adalah sebatang daun! Di tangkai daun itu terdapat sehelai

kain yang ada tulisanya. “Kami telah meloncat dan mencari di

sekeliling, akan tetapi tidak ada bayangan seorang pun

manusia, Pangcu. Agaknya hanya iblis saja yang dapat

menggunakan sehelai daun untuk menyambit dan membunuh

ayamjago dan….”

“Cukup!” Raja pengemis itu marah sekali mendengar

jagonya dibunuh orang. “Kalian tolol semua! Mana kain yang

ada tulisan itu!”

Kepala pengawal yang mukanya penuh bewok itu dengan

kedua tangan gemetar, menyerahkan sehelai kain putih

kepada ketuanya. kain itu ada tulisannya dengan huruf-huruf

kecil berwarna hitam, akan tetapi ada noda-noda darah, darah

ayam jago tadi. Akan tetapi Pat-jiu Kai-ong yang menerima

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

kain itu, sejenak menjadi bingung dan baru ia teringat bahwa

dia tidak mampu membaca. Dia buta huruf! Dengan jengkel

dan agak malu dia lalu melemparkan kain itu kepada Lu-san

Lojin sambil berkata, “Harap kaubacakan ini untukku!”

Lu-san Lojin menyambar kain yang melayang ke arahnya

itu, lalu matanya memandang tulisan.

Mukanya berubah, matanya terbelalak. “Wah… apa artinya

ini?”

“Lojin! bagaimana bunyinya?” Pat-jiu Kai-ong bertanya,

suaranya membentak. Lu-san Lojin lalu membaca huruf-huruf

itu.

Malam ini, semua mahluk hidup yang tinggal di rumah Patjiu

Kai-ong dari binatang sampai manusia, akan kubasmi

habis!”

Ratu Pulau Es..”Ratu Pulau Es…?” Pat-jiu Kai-ong tertawa.

“Siapakah dia? Aku tidak mengenalnya. Hai pelawak dari

manakah yang main-main seperti ini? Ha-ha-ha, biar dia

datang hendak kulihat magaimana macamnya!” “Kai-ong,

harap jangan main-main. Biarpun hanya seperti dalam

dongeng, nama Pulau Es amat terkenal, katanya penghuninya

memiliki kepandaian seperti dewa, apalagi dahulu yang

terkenal dengan sebutan Pangeran Han Ti Ong….”

“Ha-ha-ha, siapa perduli? Aku tidak ada permusuhan

dengan Han Ti Ong, bahkan dia yang pernah mengganggu

aku. Mengapa sekarang ada ratu dari sana hendak

membunuhku dengan ancaman sesombong itu? Aku tidak

percaya. He, pengawal apakah kalian tahu akan isi surat?”

Dua orang pengawal itu mengangguk. “Sudah Pangcu.”

“Apa kalian takut?”

“Ti… tidak, Pangcu, Hanya… hanya amat aneh itu…”

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Sudahlah. Setelah kalian tahu isinya, hayo kalian dua belas

orang melakukan penjagaan yang ketat terutama malam ini.

Kita jangan mudah digertak lawan yang membadut! Biarkan

dia datang, kita tangkap dia dan kita permainkan dia, ha-haha!”

“Kai-ong harap hati-hati….” kata Lu-san Lojin setelah para

pengawal itu keluar dari ruangan itu. “Ha-ha-ha, mengapa

khawatir? Apalagi baru seorang badut, biar Han Ti Ong sendiri

yang datang, setelah kini Hiat-ciang Hoat-sut kulatih

sempurna, aku takut apa?”

Kakek dari Lu-san itu kelihatan ragu-ragu, akan tetapi

untuk menyatakan bahwa dia takut, tentu saja dia tidak mau

dengan hati berat dia bersama dua orang anaknya menemani

tuan rumah makan minum dan bercakap-cakap sampai lewat

tengah hari. Kemudian mereka dipersilahkan mengaso sejenak

dalam kamar tamu, akan tetapi menjelang senja, mereka

sudah dipersilahkan makan minum lagi. Sekali ini mereka

benar-benar takjub. Melihat Pat-jiu Kai-ong kini bertukar

pakaian, pakaian malam yang indah dan mewah! Mengignat

betapa siang tadi Kai-ong merupakan seorang pengemis yang

berpakaian butut, dan kini seperti seorang raja, benar-benar

membuat Lu-san Loji hampit tertawa, seperti melihat seorang

badut pemain lenong! Dan hidangan yang dikeluarkan di meja

juga istimewa, jauh lebih lengkap daripada siang tadi!

“Ha-ha, ayo makan minum. Kita berpesta sampai kenyang!”

kata tuan rumah itu mempersilahkan tamu-tamunya. Setelah

hidangan tinggal sedikit dan perut mereka kenyang sekali,

Pat-jiu Kai-ong mengusap-ngusap bibirnya yang berminyak

dan perutnya yang gendut, matanya memandang ke arah Bu

Swi Liang dan Bu Swi Nio penuh gairah, lalu dia berkata, katakata

yang sama sekali t idak pernah disangka oleh para

tamunya dan yang membuat mereka terkejut setengah mati,

“Lu-san Loji, sekarang kau tidurlah dalam kamarmu dan

jangan hiraukan badut yang hendak mengganggu. Adapun

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

dua orang anakmu ini, yang cantik jelita dan tampan gagah,

biarlah mereka berdua besenang-senang dengan aku dalam

kamarku, ha-ha-ha!” “Kai-ong!” Lu-san Lojin membentak.

“Apa… maksud kata-katamu ini?” Pat-jiu Kai-ong memandang

tamunya sambil tersenyum lebar. “Apa maksudnya? Swi Liang

begini tampan gagah dan Swi Nio cantik jelita dan segar,

sungguh aku suka sekali kepada mereka. Kalau mereka bedua

bersama dengan aku dalam kamarku, tentu mereka akan

terlindung dan….hemmm, aku ingin sekali bersenang dengan

mereka, tidur-tiduran dengan mereka sejenak.”

“Kai-ong, apa kau gila??” Lu-san Lojin hampir tidak dapat

percaya akan pendengaranya sendiri. “Eh, mengapa? Apa

salahnya aku tidur dengan dua orang keponakanku ini? Hehheh,

tak tahan aku melihat puterimu yang muda dan cantik

segar, dan puteramu yang tampan dan ganteng ini. Anak-anak

baik, marilah kalian layani pamanmu…”

“Keparat!” Lu-san Lojin melompat ke depan dan dua orang

anaknya yang berada di belakangnya pun sudah

siap dengan pedang di tangan. “Pat-jiu Kai-ong! Harap kau

jangan main gila dan jelaskan apa sebabnya

perubahan sikapmu ini. Mau apa engkau dengan anakanakku?”.”

Ha-ha-ha! Siapa main gila? Sebelum kalian muncul,

tidak pernah ada terjadi apa-apa di sini. Akan tetapi

begitu kalian muncul, muncul pula orang aneh yang

membunuh ayamku dan mengeluarkan ancaman. Siapa lagi

kalau bukan teman dan kaki tanganmu? Dan kau tentu sudah

mendengar bahwa Pat-jiu Kai-ong tidak pernah menyianyiakan

kecantikan seorang dara remaja seperti putermu ini

dan puteramu yang tampan ini tentu memiliki otak yang

bersih, darah yang segar dan sumsum yang kuat. Perlu sekali

untuk menambah keampuhan Hiat-ciang Hoat-sut agar makin

kuat menghadapi lawan kalau malam ini ada yang berani

datang!”

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Iblis jahanam! Kiranya engkau seorang manusia iblis yang

busuk!” Lu-san Lojin sudah menerjang maju dengan kepalan

tangannya. Kakek ini memiliki ilmu kepandaian yang tinggi

sebagai bekas murid Hoa-san-pai yang sudah memperdalam

ilmunya dengan ciptaanya sendiri, hasil renungannya di waktu

bertapa. Kepalan tangnnya menyambar dahsyat,

mengandung tenaga sinkang yang amat kuat. Akan tetapi

kiranya hanya dalam ilmu pengobatan saja dia menang jauh

dibandingkan dengan Pat-jiu Kai-ong. Dalam ilmu berkelahi,

dia tidak mampu menandingi Kai-ong yang amat lihai. Sambil

tertawa, Kai-ong mengebutkan ujung lengan bajunya yang

lebar dua kali dan kakek Lu-san itu terpaksa harus menarik

kembali kedua tanganya karena dari kedudukan menyerang,

dia malah menjadi yang diserang karena pergelangan kedua

tangannya terancam totokan ujung lengan baju itu! dua orang

naknya yang sudah marah sekali karena merasa dihina, sudah

menerjang maju pula dengan pedang mereka. Swi Liang

menusuk dari samping kiri ke arah lambung kakek pengemis

itu, sedangkan dari kanan Swi Nio membabatkan pedangnya

ke arah leher.

“Ha-ha, bagus! Kalian benar-benar menggairahkan!” kata

kakek itu dan dia bersikap seolah-olah tidak tahu bahwa

dirinya diserang. Akan tetapi setelah kedua pedang itu

menyambar dekat, tiba-tiba kedua tangannya menyambar

dan…. dua batang pedang itu telah dicengkramnya dengan

telapak tangan! Swi Liang dan Swi Nio terkejut bukan main,

akan tetapi melihat betapa kedua batang pedang mereka itu

dipegang oleh tangan kakek itu, mereka cepat menggerakan

tenaga menarik pedang dengan maksud melukai telapak

tangan Pat-jiu Kai-ong. Namun usaha mereka ini sia-sia

belaka, pedang mereka tak dapat dicabut, seolah-olah

dicengkeramjepitan baja yang amat kuat.

“Manusia tak kenal budi!”

“wirrrr… tar-tar!”

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Pat-jiu Kai-ong merasa terkejut melihat menyambarnya

sinar kuning dan ternyata bahwa Lu-san Lojin melolos

sabuknya yang berwarna kuning dan kini menggunakan sabuk

itu sebagai senjata. Kakek ini memang memiliki tenaga

sinkang yang kuat, dan memainkan sabuk sebagai senjata

sudah merupakan kehaliannya. Sabuk lemas di tangannya itu

dapat bergerak seperti pecut, dapat pula menjadi sebatang

senjata yang kaku dengan pengerahkan sinkangnya.

“Krekk-krekkk!” dua batang pedang itu patah-patah dalam

cengkraman Pat-jiu Kai-ong dan sambil melompat mundur

menghindarkan sambaran ujung sabuk, raja pengemis ini

menyambitkan dua ujung pedang yang dipatahkanya ke arah

Lu-san Lojin.

“Trang-tranggg!” Dua batang ujung pedang itu terlempar

ke lantai ketika ditangkis oleh ujung sabuk(ikat pinggang) dan

kini Lu-san Lojin mendesak ke depan dengan putaran

senjatanya yang istimewa. Sedangkan kedua orang anaknya

telah mundur dan hanya menonton di pinggir karena mereka

terkejut menyaksikan pedang mereka dipatahkan begitu saja

oleh kedua tangan lawan dan mereka sama sekali tidak

berdaya dan tidak berguna membantu ayah mereka.

Pada saat itu, muncullah empat orang pengawal yang

mendengar suara ribut-ribut. Melihat mereka, Pat-jiu Kai-ong

berkata, “Tangkap dua orang muda ini, akan tetapi awas,

jangan lukai mereka!” Empat orang pengawal itu segera

menubruk maju hendak menangkap Swi Liang dan Swi Nio.

Tentu saja kakak beradik ini melawan sekuat tenaga, akan

tetapi biarpun keduanya memiliki ilmu silat tinggi, namun

empat orang pengawal itu pun merupakan murid-murid

terpandai dari Pat-jiu Kai-ong, maka ketika dua orang di

antara mereka menggunakan tongkat, dalam belasan jurus

saja Swi Liang dan Swi Nio dapat ditotok dan roboh dan

lumpuh.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Ha-ha-ha, belenggu kaki tangan mereka baik-baik…

kemudian lempar mereka ke atas tempat tidurku… ha-haha!”

Pat-jiu Kai-ong tertawa sambil menyambar

tongkatnya..Setelah dia bertongkat, maka kini dia menghadapi

Lu-san Lojin dengan lebih leluasa. Kakek dari Lu-san itu

marah bukan main melihat putera dan puterinya digotong

pergi dari ruang itu. Dia mengejar dan menggerakan ikat

pinggangnya, namun Pat-jiu Kai-ong menghadangnya sambil

tertawa-tawa dan menyerangnya dengan tongkatnya sehingga

terpaksa kakek Lu-san itu melayaninya bertanding.

Pertandingan yang amat seru dan diam-diam Pat-jiu Kai-ong

harus mengaku bahwa ilmu kepandaian kakek yang pernah

menolongnya ini memang hebat.

“Pat-jiu Kai-ong, benar-benarkah kau lupa akan budi orang?

Aku pernah menyelamatkan nyawamu, apakah sekarang

engkau mencelakakan kami bertiga?” Lu-san Lojin berkata

membujuk karena khawatir melihat nasib puterinya.

“Ha-ha-ha, dahulu memang engkau pernah menolongku,

akan tetapi sekarang kalian datang dengan niat buruk!”

“Tidak! Kau salah duga! Kami tidak ada sangkut pautnya

dengan si pembunuh ayam!” “Ha-ha-ha, Lu-san Lojin! Kalian

menyelundup ke dalam dan bergerak dari dalam, sedangkan

setan itu bergerak dari luar. Begitukah?” Tongkat di tangan

Pat-jiu Kai-ong menyambar ganas. “Plak-plakk!” Ujung sabuk

kakek Lu-san menangkis dua kali akan tetapi dia merasa

betapa telapak tangannya tergetar tanda bahwa tenaga Si

Raja Pengemis itu benar-benar amat kuat. “Pat-jiu Kai-ong,

kau salah menduga, kami tidak ada hubungan dengan musuh

yang datang. Lepaskan kedua anakku dan kau berjanji akan

membantumu menghadapi musuh gelap itu.” “Wah, berat

kalau disuruh melepaskan. Lu-san Lojin, dengan baik-baik.

Aku tergila-gila melihat anak-anakmu. Pinjamkan mereka

kepadaku untuk satu dua malam, dan kau bantu aku

menghadapi musuh, baru aku akan membebaskan kalian.”

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Iblis busuk!” Lu-san Lojin marah sekali dan dengan nekat

dia lalu mengerahkan seluruh tenaga untuk melawan raja

pengemis ini karena dia maklum bahwa betapapun juga hati

yang kotor dari raja pengemis itu tidak mudah dibujuk. Satusatunya

jalan untuk menolong anak-anaknya adalah melawan

mati-matian. “Plakkk! ” Tiba-tiba ujung sabuk melibat tongkat,

keduanya saling betot untuk merampas senjata. Tidak mudah

bagi mereka untuk dapat berhasil merampas senjata lawan

dan kesempatan ini dipergunakan oleh Pat-jiu Kai-ong untuk

menggerakan tangan kirinya dengan telapak tangan terbuka

ke arah lawan. Lu-san Lojin terkejut melihat telapak tangan

yang menjadi merah seperti tangan berlumuran darah itu. Dia

belum pernah mengenal limu Hiat-ciang Hoat-sut dari raja

pengemis itu, namun dia pernah mendengar akan hal ini, tahu

pula betapa keji dan berbahayanya ilmu itu. Akan tetapi untuk

mengelak dia harus melepaskan sabuknya dan hal ini pun

amat berbahaya. Dengan senjata itu saja dia masih kewalahan

melawan Pat-jiu Kai-ong, apalagi tanpa senjata, maka dengan

nekat dia lalu menggerakan tangan pula menyambut pukulan

itu.

“Dessss…! Aduhhh…!!” Dua telapak tangan bertemu dan

akibatnya tubuh Lu-san Lojin terjengkang dan terbanting ke

atas lantai, mulutnya mengeluarkan darah segar dan matanya

mendelik. Kakek ini pingsan dan menderita luka dalam yang

amat parah!

“Lempar dia di kamar tahanan!” Pat-jiu Kai-ong berkata

sambil tertawa. Setelah tubuh kakek yang pingsan itu digusur

pergi oleh para pengawalnya. Pat-jiu Kai-ong menghampiri

meja di mana dia tadi menjamu para tamunya, menyambar

guci arak dan menenggaknya habis, kemudian sambil tertawatawa

dia memasuki kamarnya.

Pemuda dan pemudi She Bu itu sudah rebah terlentang di

atas pembaringan Pat-jiu Kai-ong yang lebar. Dalam keadaan

terbelenggu kaki tanganya. Lima orang selirnya menjaga di

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

situ. Ketiaka dia masuk sambil tertawa gembira, Bu Swi Liang

memandang dengan mata melotot penuh kebencian, akan

tetapi Bu Swi Nio memandang dengan mata terbelalak

ketakutan dan mencucurkan air mata. Pat-jiu Kai-ong

menghampiri pembaringan, menggunakan tangannya untuk

membelai dan menghusap pipi Swi Nio dan Swi Liang sambil

berkata, “Manis, jangan menangis dan kau jangan marah.

Aku akan menemani kalian dan bersenang-senang sepuas

hati setelah kami menangkan musuh gelap yang

mengancam.” Dia menengok ke arah lima orang selirnya

dan berkata garang. “Temani mereka, jaga baik-.baik jangan

sampai ada yang lolos, dan kalau ada apa-apa, cepat berteriak

memanggil para pengawal.

Mengerti?”

Lima orang selir itu mengangguk dan kakek itu

meninggalkan kamar lagi. Sebelum orang yang membunuh

ayam jagonya dan yang mengirim surat ancaman itu dapat

ditangkap atau dibunuh, tentu saja dia tidak bernafsu untuk

bersenang-senang dengan dua orang muda yang tertawan itu.

Dia percaya penuh bahwa menghadapi seorang pengacau

saja, para pengawalnya akan dapat mengatasinya, akan tetapi

dia harus berhati-hati dan ikut melakukan penjagaan sendiri.

Setelah keadaan benar-benar aman barulah dia boleh

bersenag-senang. Dia belum yakin benar apakah musuh gelap

itu ada hubungannya dengan Lu-san Lojin dan kedua orang

anaknya, akan tetapi ada hubungan atau tidak, setelah tiga

orang itu dibuat tidak berdaya, berarti mengurangi bahaya.

Dia harus berhati-hati, maklum bahwa dia mempunayi banyak

musuh. Siapa tahu kalau Lu-san Lojin yang termasuk golongan

putih itu juga memusuhi. Andaikata tidak sekalipun, mana bisa

dia melepaskan dua orang muda yang cantik jelita dan tampan

itu?

Pat-jiu Kai-ong duduk lagi di ruangan tadi sambil

melanjutkan minum arak. Dia maklum bahwa malam ini dua

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

belas orang pengawalnya menjaga dengan tertib dan penuh

kewaspadaan. Ingin dia tertawa keras-keras mengusir

kesunyian malam yang mendatangkan perasaan tidak enak.

Hemmm, Ratu Pulau Es? Hanya dongeng!

Pembunuh ayam itu tidak perlu ditakut i. Andaikata dia

mampu mengalahkan dua belas orang pengawalnya, hal yang

sukar dipercaya, masih ada dia sendiri. Hiat-ciang Hoat-sut,

ilmu yang dilatihnya belasan tahun kini telah dapat

diandalkan. Tadipun, hanya menggunakan sebagian kecil

tenaganya saja, ilmu itu telah merobohkan Lu-san Lojin. Dia

tidak takut!

“Aku tidak takut!” serunya kuat-kuat. “Datanglah kamu, hai

Ratu Pulau Es keparat! Ha-ha-ha!” Para pelayan sudah

menyalakan lampu-lampu penerangan dan atas perintah para

pengawal, pelayan-pelayan ini menambah jumlah lampu

sehingga keadaan di seluruh gedung itu menjadi terang.

Setelah menyuruh para pelayan membersihkan meja di

ruangan itu, dan sekali lagi memanggil kepala pengawal dan

menekankan agar penjagaan diperketat dan selalu diadakan

perondaan bergilir, Pat-jiu Kai-ong lalu duduk bersila di dalam

ruangan itu untuk mengumpulkan tenaga dan mempertajam

pendengarannya sehingga biarpun dia berada di dalam istana,

namun dia ikut pula menjaga dan meronda mempergunakan

ketajaman pendengarannya untuk menangkap semua suara

yang tidak wajar di luar istana. Malam makin larut dan

keadaan sunyi sekali di istana itu dan sekitarnya. Para pelayan

yang mendengar dari para pengawal, dengan muka pucat

tinggal berkelompok di kamar seseorang di antara mereka,

tidak berani membuka suara dan hanya saling pandang

dengan mata penuh rasa takut. Para selir juga berkelompok di

dalam kamar Pat-jiu Kai-ong, agar terhibur dengan adanya

Swi Liang pemuda yang tampan itu. Bahkan ada di antara

mereka yang tanpa-malu-malu membelai pemuda itu,

memegang tangannya, mengusap dagunya, membereskan

rambutnya. Akan tetapi mereka tidak berani berbuat lebih dari

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

itu, dan tidak berani mengeluarkan suara. Juga para pengawal

agaknya melakukan penjagaan dengan teliti dan hati-hati,

tidak bersuara seperti biasanya kalau mereka melakukan

penjagaan tentu diisi dengan sendau gurau dan mengobrol.

Kesunyian yang mengerikan itu tidak menyenangkan hati

Pat-jiu Kai-ong. Akan tetapi dia amat memerlukan kesunyian

ini agar penjagaan dilakukan lebih tertib dan rapi pula. dia

merasa tersiksa dan diam-diam dia memaki musuh gelap itu.

Kalau sampai tertawan, tentu akan dihukum dan disiksanya

seberat mungkin!

Tiba-tiba terdengar suara jeritan susul-menyusul yang

datangnya dari dalam kamarnya! Pat-jiu Kai-ong cepat

melompat dan hanya dengan beberapa kali lompatan saja dia

sudah menerjang masuk ke dalam kamarnya. Dilihatnya

kelima orang selirnya menangis dan kelihatan gugup dan

ketakutan, akan tetapi dua orang muda yang tadi terbelenggu

di atas pembaringannya, seperti dua tusuk daging panggang

yang dihidangkan di atas meja makan dan siap untuk

diganyangnya, kini telah lenyap tanpa bekas! “Apa yang

terjadi? Keparat, diam semua! Jangan menangis, apa yang

terjadi?”

Lima orang selir itu menjatuhkan diri berlutut dan seorang

di antara mereka bercerita dengan suara gagap,

“Ada… ada… setan…., hanya tampak bayangan berkelebat

ke atas ranjang dan… dan mereka berdua… tahu-tahu

telah lenyap…”.”Tolol!!” Pat-jiu Kai-ong berkelebat keluar

melalui jendela kamar yang terbuka, terus berloncatan

memeriksa sampai dia bertemu dengan para pengawal di

luar istana, namun dia tidak melihat jejek dua orang tawanan

yang lenyap itu. “Kalian t idak melihat orang masuk?”

Bentaknya kepada para pengawal. “Tidak ada, Pangcu.”

“Bodoh! Kalau tidak ada, bagaimana dua orang tawanan itu

lenyap?” Kagetlah para pengawal itu dan Pat-jiu Kai-ong,

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

dibantu oleh para pengawalnya lalu mengadakan pemeriksaan

di dalam istana. Mula-mula timbul dugaannya bahwa tentu Lusan

Lojin dan dua orang anaknya itu benar-benar mempunyai

kawan-kawan di luar, buktinya kedua orang muda itu ditolong

mereka. Akan tetapi ketika dia menjenguk kedalam kamar

tahanan, Lu-san Lojin masih mengeletak pingsan di atas

lantai!

“Cepat lakukan penjagaan tadi. Tutupsemua jalan masuk!

Bagi-bagi tenaga!” Pat-jiu Kai-ong memerintah dengan suara

yang agak parau karena harus diakuinya bahwa jantungnya

tergetar juga oleh rasa gentar menyaksikan sepak terjang

musuh gelap yang aneh dan amat luar biasa itu. Setelah

sekali lagi memeriksa sendiri dengan memepersiapkan tongkat

ditangan, sampai tidak ada lubang yang tidak dijenguknya di

dalam dan di sekitar gedungnya dan mendapatkan keyakinan

bahwa tidak ada orang bersembunyi di dalam gedung, Pat-jiu

Kai-ong kembali ke dalam ruangan besar dan menanti dengan

jantung berdebar. Malam telah makin larut dan musuh yang

aneh itu telah mulai memperlihatkan bahwa musuh itu

memang ada dengan menculik dua orang tawannan itu secara

aneh. Biarpun lima orang selirnya bukan ahli-ahli silat tinggi,

namun lima pasang mata tidak dapat melihat orang yang

menculik pemuda-pemudi itu di depan hidung mereka,

sungguh merupakan hal yang amat aneh! Pat-jiu Kai-ong

bergidik dan membalik-balik gudang ingatan di dalam otaknya.

Siapakah Ratu Pulau Es? Apalagi dengan ratunya, dengan

penghuni Pulau Es dia tidak pernah bertemu, kecuali satu kali

dengan Han Ti Ong ketika memperebutkan Sin-tong. Dan di

mana adanya pulau dongeng itu dia pun t idak tahu.

Pertemuannya dengan Han Ti Ong tidak boleh dianggap

permusuhan, dan adaikata ada yang sakit hati, kiranya sakit

hati itu seharusnya datang dari dia, bukan dari pihak Pulau Es

atau Han Ti Ong yang telah berhasil menangkan perebutan

atas diri Sin-tong! Mengapa kini muncul tokoh rahasia yang

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

mengaku bernama Ratu Pulau Es? Siapakah yang bermainmain

dengan dia?

Melihat sepak terjang orang rahasia ini, caranya membunuh

ayam, dapat dipastikan bahwa orang itu kejam dan aneh, ciri

seorang tokoh golongan hitam, bukan golongan putih yang

selalu datang secara berterang. Siapakah tokoh golongan

hitam yang memusuhinya? Tentu saja banyak, dan di antara

mereka, yang paling menonjol adalah Kiam-mo Cai-li Liok Si!

Wanita itukah yang kini datang mengganggunya? “Ha-ha-ha!”

Dia tertawa keras-keras, hatinya menjadi besar. Mengapa dia

takut? Andaikata Kia-mo Cai-li sendiri yang datang, diapun

tidak takut! Dan siapakah lain wanita di dunia Kang-ouw yang

lebih mengerikan daripada Kiam-mo Cai-li?

“Iblis atau manusia, jantan atau betina, keluarlah dari

tempat persembunyian! Hayo serbulah, aku Pat-jiu Kai-ong

tidak takut kepada siapa pun juga! Kalau kau diam saja,

berarti kau pengecut hina dan penakut, ha-ha-ha-ha!”

Karena merasa tersiksa oleh keadaan sunyi yang

mengerikan itu, Pat-jiu Kai-ong berusaha mengusir rasa

takutnya dengan teriakan keras ini yang tentu saja didengar

oleh semua penghuni gedung itu. Dan agaknya, sebagai

sambutan atas tantangannya, tiba-tiba terdengar suara ayam

jagonya yang berada di belakang, di kandang ayam,

berkeruyuk keras sekali!

“Ha-ha-ha!” Pat-jiu Kai-ong tertawa mendengar ayamnya

sendiri yang menjawab, akan tetapi tiba-tiba dia terkejut dan

mukanya berubah. Keruyuk ayamnya itu berhenti setengah

jalan dan terputus oleh suara “kok!” suara ayam kesakitan!

Suara ini disusul suara berkotek riuh dari ayam-ayam betina di

dalam kandang, seolah-olah ada sesuatu yang mengganggu

mereka akan tetapi suara berkotek ini pun berhenti setengah

jalan dan bekali-kali terdengar suara “ko” suara ayam dicekik

atau dihentikan suara dan hidupnya!

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Keparat…!!” Pat-jiu Kai-ong yang bermuka merah saking

marahnya itu sudah meloncat keluar dan

langsung lari ke kandang. Hampir dia bertubrukan dengan

dua orang pengawal yang juga mendengar

keanehan di kandang itu. Kini dengan sebuah obor yang

dipegang oleh pengawal, mereka bertiga

memeriksa kandang dan di bawah sinar obor tampaklah

oleh mereka bahwa dua puluh ayamyang berada di

kandang itu, jantan, betina, semua telah tewas dengan

leher putus! Darah merah muncrat ke mana-mana,

membuat lantai dan dinding kandang itu menjadi merah

mengerikan..”Jahanam…!” Pat-jiu Kai-ong memaki dan

mereka bertiga sejenak menjadi seperti arca

memandang ke dalam kandang. Sunyi di situ, bahkan tidak

ada angin berkelisik, membuat suasana menjadi

menyeramkan.

“Ngeooonggg…!” Suara kucing yang tiba-tiba terdengar ini

yang membuat mereka tersentak kaget dan memandang ke

atas genting. Si Putih satu-satunya kucing peliharan di gedung

itu, berkelebat melompat sambil menggereng, seolah-olah

menghadapi musuh dan marah. Akan tetapi gerengannya

terhenti tiba-tiba dan Pat-jiu Kai-ong cepat melompat ke kiri

ketika ada benda jatuh dari atas genteng menimpanya.

“Bukkk! ” Ketika pengawal yang membawa obor mendekat,

ternyata yang terjatuh itu adalah bangkai kucing Si Putih yang

baru saja mengeong tadi! “Jahanam…!” Pat-jiu Kai-ong

memaki untuk kedua kalinya dan tubuhnya sudah melayang

ke atas genting, diikuti oleh dua orang pengawalnya. Melihat

betapa obor yang dipegang pengawal itu tidak padam ketika

dia meloncat ke atas genting membuktikan bahwa pengawal

itu sudah memiliki ginkang yang hebat. Akan tetapi kembali

ketiganya termangu-mangu di atas genting karena tidak

tampak bayangan seorang manusian pun. Keadaan sunyi.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Sunyi ekali, terlampau sunyi seolah-olsh gedung itu telah

berubah menjadi tanah kuburan!

“Hung-hung! Huk-huk-huk…!!” Riuhlah suara tiga ekor

anjng peliharaan gedung itu menggonggong dan menyalaknyalak

di sebelah kanan gedung. Suara ini mengejutkan

mereka, apalagi suaran gonggongan mereka yang riuh rendah

itu tiba-tiba ditutup dengan suara “kaing…! nguik… nguikkk…

nguikkkkk!” Dan suasana menjadi sunyi kembali, lebih sunyi

dari tadi sebelum terdengar gonggongan anjing-anjing itu.

“Bedebah…!” Pat-jiu Kai-ong melompat dari atas genting,

tidak dapat disusul oleh dua orang pengawalnya itu saking

cepatnya dan sebentar saja dia sudah tiba di sebelah kanan

gedungnya, di kandang anjing. Seperti sudah

dikhawatirkannya, tiga ekor anjing itu sudah menggeletak mati

dengan leher hampir putus dan darah mengalir di bawah

bangkai mereka. Tiga orang pengawal yang terdekat sudah

tiba pula dan mereka saling pandang dengan muka berubah

pucat!

Seperti terngiang di telinga Pat-jiu Kai-ong suara Lu-san

Lojin ketika membacakan isi surat, “Malam ini, semua mahluk

hidup yang tinggal di rumah Pat-jiu Kai-ong, dari binatang

sampai manusia, akan kubasmi habis!”

Semua binatang peliharaannya , ayam, kucing, dan anjing,

sudah mati semua dan sekarang tentu tiba gilirannya

manusianya! Teringat akan ini, Pat-jiu Kai-ong cepat berkata,

suaranya sudah mulai gemetar “Cepat, semua berkumpul

denganku di dalam gedung…!”

Tiba-tiba mereka dikejutkan oleh jeritan-jeritan di sebelah

luar dan di depan gedung itu. Mereka cepat berlari menuju ke

depan gedung dan tampaklah oleh mereka dua orang

pengawal yang berjaga di luar sudah menggeletak tak

bergerak di atas tanah. Ketika seorang pengawal yang

membawa obor mendekat, Pat-jiu Kai-ong melihat bahwa dua

orang pengawalnya yang terlentang itu telah tewas dengan

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

mata melotot dan dari mata, hidung, telinga, dan mulut keluar

darah hitam sedangkan di dahi mereka itu tampak jelas cap

jari tangan yang kecil panjang, tiga buah banyaknya dan

mudah dilihat bahwa itu adalah tanda jari telunjuk, jari

tengah, dan jari manis. Begitu dalam gambar jari itu sampai

garis-garisnya tampak! “Kurang ajar! Mari kita berkumpul

semua…!”

Akan tetapi kembali terdengar pekik mengerikan dari

sebelah kiri gedung. Mereka kembali berlari-lari ke tempat itu

dan melihat tiga orang pengawal lain sudah menjadi mayat

dalam keadaan yang sama seperti dua orang korban pertama.

Segera tersusul pula pekik-pekik mengerikan itu dari

belakang gedung. Pat-jiu Kai-ong dan tiga orang

pengawalnya ini, termasuk pengawal kepala Si brewok,

mengejar ke belakang dan empat orang pengawal

sudah menggeletak tewas dalam keadaan mengerikan,

presis seperti yang lain. Dalam sekejap mata saja

sembilan orang pengawal telah tewas. Mereka itu berada di

depan, di sebelah kiri, di belakang gedung,

akan tetapi kematian mereka susul menyusul begitu

cepatnya, seolah-olah banyak musuh yang datang dari

berbagai jurusan. Namun, biarpun mulutnya tidak

menyataakan sesuatu, Pat-jiu Kai-ong maklum bahwa

tanda dari jari tangan itu dibuat oleh jari tangan yang

sama, dan bahwa pembunuhnya itu hanya satu orang

saja, seorang yang memiliki ilmu kepandaian luar biasa

sehingga para pengawal itu agaknya sama sekali

tidak mampu melakukan perlawanan..Tiga orang pengawal

saling pandang dengan muka pucat. Melihat muka mereka,

Pat-jiu Kai-ong

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

menjadi penasaran dan merah sehingga timbul kembali

keberaniannya yang tadi agak berkurang karena jerih. Dia

berteriak memaki, “jahanan pengecut! Hayo keluarlah dan

lawan aku Pat-jiu Kai ong!” Setelah dia mengeluarkan katakata

ini dengan suara nyaring, keadaan menjadi sunyi sekali,

sunyi yang amat menggelisahkan damn menyeramkan,

seolah-olah dalam kegelapan dan kesunyian malam itu tampak

mulut iblis menyeringai dan menanti saat untuk menerkam

dan mencabut nyawa ! Pat-jiu Kai-ong makin penasaran. Dia

sendiri adalah seorang manusia yang dikenal sebagai iblis,

jarang menemui tandingan dan ditakuti banyak orang dari

semua golongan. Akan tetapi malam ini dia, Raja Pengemis

yang menjadi ketua Pat-jiu Kai-pang yang terkenal, memiliki

anggauta ratusan orang banyaknya, seorang di atara datuk

kaum sesat atau golongan hitam yang ditakut i orang, dia

dipermainkan orang! Dan orang itu, kalau melihat namanya

sebagai ratu tentulah seorang wanita! Apa lagi dia melihat

bahwa bekas jari tangan di dahi para korban itu pun jari

tangan wanita yang kecil meruncing!

“Hem, pengecut benar dia, “katanya kepada tiga orang

pengawalnya yang diam-diam telah kehilangan separuh dari

nyali mereka. “Kita harus menggunakan pancingan. Biar aku

mengintai dari atas, kalian berjalan-jalan di sini. kalau dia

muncul menyerang, aku tentu dapat melihatnya dan aku akan

meloncat turun.

Bersiaplah kalian!” Setelah berkata demikian, dengan

gerakan ringan seperti seekor kelelawar, Pat-jiu Kai-ong

melompat ke atas genteng dan mendekam di wuwungan

sambil mengintai. Dia melihat tiga orang pengawalnya itu

masing-masing telah mencabut senjata mereka. Si Brewok

menggunakan sebatang tombak panjang yang ujungnya

berkait, orang ke dua mengeluarkan golok besar dan orang

ketiga sebatang pedang. Mereka berdiri saling membelakangi

dan mata mereka memandang tajam ke depan, telinga

mereka memperhatikan setiap suara. Akan tetapi sunyi saja

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

sekeliling tempat itu. Tiba-tiba Pat-jiu Kai-ong melihat

sesosok bayangan melayang turun dari atas pohon! Celaka

pikirnya. Kiranya si laknat itu bersembunyi di dalam pohon

yang tumbuh di depan gedung. Bayangan itu sukar di lihat

bentuknya karena cepat sekali gerakannya, tahu-tahu telah

berada di depan Si Brewok. Tiga orang pengawal itu

menggerakan senjata, akan tetapi anehnya, tampak oleh Patjiu

Kai-ong betapa tiga buah senjata mereka itu telah

berpindah tangan! entah bagaimana caranya karena dari atas

genteng itu dia tidak dapat melihat jelas. Yang dia ketahuinya

hanyalah betapa tiga orang pengawalnya itu kini lari

ketakutan! “Hik-hik-hik!” Suara ketawa ini membuat bulu

tengkuk Pat-jiu Kai-ong berdiri dan dia melihat sinar-sinar

menyambar ke arah tiga orang pengawal yang lari, melihat

mereka roboh dan memekik, terjungkal tak bergerak lagi

karena punggung mereka ditembus oleh senjata mereka

masing-masing! “Keparat jangan lari kau!” Pat-jiu Kai-ong

sudah melayang turun dan tongkatnya sudah diputar-putar.

Akat tetapi bayangan itu melesat dan lenyap dari tempat itu!

Pat-jiu Kai-ong menoleh ke kanan kiri, akan tetapi tidak

tampak gerakan sesuatu. Dia makin penasaran. Dihampirinya

tiga orang pengawalnya. Mereka telah tewas dan hanya

mereka bertiga yang tidak dicap dahinya dengan tiga buah jari

tangan hitam akan tetapi kematian mereka cukup mengerikan.

Tombak golok dan pedang itu menembus punggung pemilik

masing-masing sampai ujungnya keluar dari hulu hati! Dan

sambitan tiga buah senjata yang berlainan bentuknya itu

dilakukan secara berbareng dari jarak yang cukup jauh, tepat

mengenai t iga sasarannya yang sedang berlari. Hal ini saja

membuktikan pula betapa hebatnya kepandaian orang aneh

itu Mendadak Pat-jiu Kai-ong tersentak kaget. Di dalam

gedung! Betapa tololnya dia! Semua pengawalnya yang

berjumlah dua belas orang telah tewas semua. Tentu

sekarang musuh itu masuk ke dalam gedung untuk

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

membunuh orang-orang di dalam gedung. Secepat kilat dia

meloncat dan lari memasuki gedung.

Benar saja, terdengar pekik susul-menyusul dan begitu

melewati pintu depan, dia sudah melihat para

pelayannya telah menjadi mayat dan berserakan di sanasini.

Cepat dia lari ke dalam kamarnya dan dengan

mata terbelalak dia melihat lima orang selirnya telah mati

semua, dahi mereka juga ada bekas tanda tapak

tiga jari tangan dan semua lubang di muka mereka

mengalirkan darah hitam! Sunyi sekali di dalam gedung

itu, kesunyian yang penuh rahasia. Lu-san Lo-jin! Pat-jiu

Kai-ong teringat dan dia cepat lari ke dalam

tempat tahanan, hanya untuk melihat bahwa kakek itu pun

telah tewas dan di dahinya terdapat pula tanda

tapak tiga jari tangan dan semua lubang di muka mereka

mengalirkan darah hitam!.Kini dia benar-benar bingung. Jelas

bahwa musuh ini bukanlah kawan Lu-san Lojin seperti yang

disangkanya semula! Makin bingunglah dia dan dia lari pula

ke dalam ruangan besar di mana dia tadi makan minum

dengan Lu-san Lojin dan dua anaknya, di mana dia tadi

menanti datangnya musuh rahasia. Dan begitu memasuki

ruangan itu, dia tertegun! Ruangan itu kini terang sekali,

agaknya ada yang menambah lampu penerangan. Ketika dia

melihat, benar saja bahwa di situ terdapat banyak lampu,

banyak sekali karena agaknya semua lampu penerangan

dibawa dan dikumpulkan di ruangan itu. Dan di atas kursinya

yang tadinya ditinggalkan kosong, kini tampak duduk seorang

wanita! Di depan wanita itu, juga duduk di atas kursi, tampak

seorang anak laki-laki berusia sepuluh tahun yang

memandangnya dengan mata penuh selidik. Wanita itu cantik,

pakaiannya mewah dan indah, anak itu pun tampan dan

bersih serta mewah pakaiannya. Wanita itukah yang

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

membunuh semua orang di gedungnya? Tak mungkin

agaknya. wanita itu usianya paling banyak tiga puluh lima

tahun, cantik dan kelihatan halus gerak-geriknya, hanya

sepasang matanya mengeluarkan sinar yang aneh dan dingin

sekali.

“Ibu, dia inikah orangnya?” Tiba-tiba anak kecil itu

bertanya, suaranya nyaring, memecahkan kesunyian yang

sejak tadi mencekam.

“Benar, dialah Si Bedebah Pat-jiu Kai-ong.” Wanita itu

berkata, suaranya halus akan tetapi dingin menyeramkan.

“Kalau begitu, mengapa ibu tidak lekas membunuhnya?”

Wanita itu tersenyum dan wajah yang cantik itu makin cantik,

akan tetapi juga makin dingin menyeramkan, kemudian

bangkit berdiri berlahan-lahan. “Kau lihat sajalah ibumu

menundukan Si jembel busuk ini.”

Wanita itu ternyata bertubuh tinggi ramping dan ketika

melangkah maju, tampak gerakan kedua kakinya lemah

lembut. Pat-jiu Kai-ong sudah dapat menguasai hatinya dan

timbul keberaniannya setelah melihat bahwa orang itu

hanyalah seorang manusia biasa, wanita yang kelihatan lemah

pula, bukan seorang iblis yang menyeramkan sama sekali.

“Siapakah engkau? Siapa pembunuh orang-orangku dan

apa hubunganmu dengan Ratu Pulau Es yang mengancamku?”

Wanita itu kini tiba di depan Pat-jiu Kai-ong sehingga raja

pengemis ini dapat mencium bau harumsemerbak yang keluar

dari rambut dan pakaian wanita itu.

“Akulah Ratu Pulau Es, aku pula yang telah membunuh

semua mahluk hidup di dalam gedungmu, semua telah

kubunuh kecuali engkau, Pat-jiu Kai-ong. Aku harus

membunuhmu berlahan-lahan, menyiksamu sampai puas

hatiku.”

Mendengar ancaman ini, Raja Pengemis yang biasanya

berhati kejamdan keras itu, menjadi berdebar juga.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Akan tetapi kemarahannya melenyapkan semua rasa jerih

dan dia membentak, “Perempuan sombong!

Siapakah engkau dan mengapa engkau memusuhi Pat-jiu

Kai-ong?” Pat-jiu Kai-ong, agaknya kejahatanmu sudah begitu

bertumpuk-tumpuk sehingga engkau tidak dapat mengenal

korban-korbanmu lagi. Pandanglah aku baik-baik dan

kumpulkan ingatanmu! Lupakah kau apa yang terjadi di kaki

pegunungan Jeng-hoa-san sepuluh tahun yang lalu?” Pat-jiu

Kai-ong memandang dan terbayanglah peristiwa di Jeng-hoasan

sebelumdia naik ke puncak gunung itu untuk mencari Sintong.

Kini dia dapat mengenal wajah ini, wajah cantik yang

pernah merintih-rintih dan memohon pembebasan, namun

yang dia permainkan secara kejam. “Kau… kau… Cap-she

Sin-hiap…?” Tanyanya ragu-ragu.

“Benar. Aku adalah anggauta paling muda dari Cap-sha Sinhiap.

Dua belas orang suhengku telah kaubunuh. Ingatkah

sekarang kau?”

Pat-jiu Kai-ong tertawa. Hatinya lega. Kalau hanya wanita

muda itu, yang telah diperkosanya dan yang

hanya menjadi orang ke tiga belas dari Cap-sha Sin-hiap,

perlu apa dia takut? Biar perempuan ini agaknya

telah memperdalam ilmunya selama sepuluh tahun ini,

akan tetapi perlu apa dia takut?.”Ha-ha-ha, kiranya engkaukah

ini, manis? Tentu saja aku masih ingat kepadamu, siapa bisa

melupakan

kenang-kenangan manis selama tiga hari itu? Ha-ha-ha,

betapa mesranya!” Jahanam! Kematian sudah di depan mata

dan kau masih berlagak? Pat-jiu Kai-ong, aku telah datang dan

rasakanlah pembalasanku, aku akan membuat kau menyesal

mengapa kau pernah dilahirkan ibumu!” “Perempuan

sombong, mampuslah!” Pat-jiu Kai-ong sudah menerjang

dengan tongkatnya melakukan penyerangan dengan dahsyat,

menusukan tongkatnya yang tentu akan menembus dada

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

wanita itu kalau tidak depat wanita itu mengebutkan ujung

lengan bajunya menangkis. “Trakk!” Tongkat itu

menyeleweng dan terkejutlah Pat-jiu Kai-ong. Ternyata

lawannya ini benar-benar telah memperoleh kemajuan hebat

dan telah memiliki sinkang yang tak boleh dipandang ringan.

Tentu saja! Wanita itu bukan lain adalah The Kwat Lin yang

selama sepuluh tahun ini menjadi istri atau permaisuri Raja

Pulau Es, Han Ti Ong yang sakti! Wanita ini selama sepuluh

tahun telah menggembleng diri, di bawah petunjuk suaminya

yang amat mencintainya. Bahkan suaminya telah menurunkan

ilmu-ilmu yang khusus untuk menghadapi ilmu tongkat Pat-jiu

Kai-ong dan ilmu mujijat Hiat-ciang Hoat-sut dari Raja

Pengemis ini atas permintaan The Kwat Lin. Karena itu,

biarpun ada sebatang pedang menepel di punggungnya, The

Kwat Lin tidak menggunakan senjata melainkan ujung lengan

bajunya untuk menghadapi tongkat dan memang kedua ujung

lengan baju ini yang merupakan sepasang senjata yang

dilatihnya khusus untuk mengatasi tongkat Raja Pengemis itu.

Seperti telah dituturkan di bagian depan, The Kwat Lin

menggunakan kesempatan selagi Han Ti Ong pergi menyerbu

Pulau Neraka, untuk meninggalkan Pulau Es. Hal ini sudah

bertahun-tahun dia cita-citakan. Dia menjadi istri Han Ti Ong

hanya karena ingin mewarisi ilmu kepandaiannya, akan tetapi

setelah menjadi permaisuri, dia pun ingin memiliki pusaka

Pulau Es dan benda-benda berharga lainya. Maka dia menanti

kesempatan baik untuk meninggalkan pulau, tentu saja

meninggalkan untuk selamanya karena pada hakekatnya dia

tidak suka tinggal di pulau itu. Siapa suka tinggal di Pulau Es

yang membosankan itu, jauh dari dunia ramai? Pergilah dia

mengajak puteranya, Han Bu Hong, meninggalkan Pulau Es

sewaktu suaminya tidak ada, membawa pusaka Pulau Es.

Dengan alasan akan menyusul suaminya yang menyerbu

Pulau Neraka, tidak ada seorang pun berani menghalangi

kepergiannya dan akhirnya, dengan kepandaiannya yang

sudah tinggi, dia berhasil mendarat.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Berbulan-bulan dia menyelidiki dan akhirnya dia dapat

menemukan tempat tinggal musuh besarnya di lereng Hengsan.

Dia mengajak puteranya dan setelah menyembunyikan

puteranya, dia menyelidiki istana Raja Pengemis itu. Melihat

Swi Liang dan Swi Nio, dia tertarik sekali, maka dia menculik

mereka dan membawa mereka ke dalam hutan di mana Bu

Hong menanti ibunya. “Kalian kuselamatkan dengan maksud

untuk mengangkat kalian berdua menjadi muridku ,” dia

berkata tanpa banyak cerita lagi. “Tinggal kalian pilih, mati

atau hidup. Kalau ingin mat i, kalian semestinya mati karena

kalian berada di gedung Pat-jiu Kai-ong. karena sekarang

belum malam, maka kalian belum mestinya dibunuh dan

karenanya boleh pula kukeluarkan dari sana. Kalau kalian ingin

hidup harus suka menjadi muridku. Bagaimana?”

Tentu saja dua orang muda itu ingin hidup dan segera

berlutut di depan calon Subo (ibu guru) mereka.

“Harap subo sudi menolong Ayah kami….” kata Swi Liang.

“Kalian tinggal saja di sini menemani sute kalian ini.

Tentang Ayahmu, kita lihat saja nanti.” The Kwat Lin

meninggalkan dua orang murid itu bersama puternya,

kemudian mulailah dia turun tangan membunuh-bunuhi

semua binatang peliharaan gedung raja Pengemis itu lalu

membunuhi semua pengawal, pelayan, selir dan juga Lusan

Lojin dibunuhnya karena dia sudah berjanji akan membunuh

semua orang di dalam gedung itu, apalagi dia tahu bahwa

kalau tidak dibunuh, kakek itu tentu akan menjadi penghalang

baginya mengambil murid Swi Liang dan Swi Nio yang menarik

hatinya. Akhirnya dia keluar dari gedung, menyuruh kedua

orang muridnya menanti di hutan. Akhirnya bersama

puteranya, dia dapat berhadapan dengan musuh besarnya itu

setelah membunuh semua orang di dalam gedung.

Han Bu Ong anak laki-laki yang baru berusia sepuluh tahun

itu, duduk di kursi dan menonton

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

pertandingan dengan mata terbelalak dan jarang berkedip.

Dia sama sekali tidak merasa takut atau

khawatir. Dia percaya penuh kepada kelihaian ibunya dan

memang sejak kecil anak ini memiliki.keberanian luar biasa

dan kekerasan hati yang amat aneh bagi seorang anak

sebesar itu. Melihat

kekejaman-kekejaman yang terjadi, dia tidak pernah

merasa ngeri, bahkan merasa gembira! Barulah hati Pat-jiu

kai-ong terkejut sekali setelah selama lima puluh jurus dia

mainkan tongkatnya dia tidak mampu menembus pertahanan

sepasang ujung lengan baju lawannya. Bahkan lawannya

terkekeh-kekeh mengejeknya dan biarpun lawannya hanya

mainkan ujung lengan baju, namun ternyata tongkat yang

biasanya dia andalkan itu sama sekali tidak berdaya!

“Keparat, mampuslah!” Tiba-tiba Pat-jiu Kai-ong berseru

keras, disusul dengan gerengan dahsyat yang menggetarkan

seluruh ruangan itu. Han Bu Ong terplanting jatuh dari

kursinya, akan tetapi bocah ini sudah duduk bersila dan

mengatur pernapasan, menutup pendengaran. Ternyata

sekecil itu, Bu Ong telah digembleng hebat oleh ayahnya

sehingga dengan dasar latihan sinkang Inti Salju, dia kini

mampu menulikan telinga dan menghadapi auman Sai-cu Hokang

dari Pat-jiu Kai-ong! Padahal lawan yang tidak begitu

kuat sinkangnya, mendengar auman Sai-cu Ho-kang yang

berdasarkan Khi-kang yang amat kuat ini, sudah akan roboh.

Sementara itu, The Kwat Lin yang melihat puteranya dapat

menyelamatkan diri, sudah mengeluarkan suara terkekehkekeh

dan lawannya terkejut bukan main karena dari suara ini

keluar getaran yang menghancurkan ilmunya bahkan

menyerangnya dengan hebat. Terpaksa dia menghentikan

auman Sai-cu Ho-kang dan mempercepat gerakan tongkatnya

dengan ilmu Tongkat Pat-mo-tung-hoat (Ilmu Tongkat

Delapan Iblis) yang dahsyat.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

The Kwat Lin memang hendak mempermainkan lawannya,

maka dia hanya menangkis dan mengelak. Hal ini sengaja

dilakukannya untuk memamerkan kepandaiannya dan untuk

meyakinkan lawan bahwa akhirnya lawan akan roboh olehnya

sehingga lawannya yang amat dibencinya itu akan ketakutan

setengah mati! Dan memang usahanya ini berhasil.

Keringat dingin membasahi muka pat-jiu Kai-ong dan

tahulah kake ini bahwa mengandalkan ilmu silat saja, dia tidak

akan menang melawan wanita yang pernah dipermainkannya

dan diperkosanya selama tiga hari tiga malam itu. Maka dia

lalu mengerahkan tenaganya, menggerakan sinkang dan tibatiba

dia memekik dan menghantamkan tangan kirinya dengan

telapak tangan terbuka. The Kwat Lin sudah menduga bahwa

lawannya tentu akhirnya akan menggunakan ilmu Hiat-ciang

Hoat-sut ini. Dan dia sudah mendengar dari suaminya akan

ilmu mujijat ini, maka dia bersikap hati-hati dan tidak berani

memandang rendah. Bahkan ketika menyaksikan cahaya

merah menyambar keluar, merasakan getaran mujijat dan

mencium bau amis darah yang memuakan, dia terkejut sekali

dan cepat dia menekuk kedua lututnya sedikit, kemudian

mendorongkan telapak tangan kanannya dengan tiga buah jari

tangan diluruskan. Hawa dingin meluncur keluar dari telapak

tangannya menyambut hawa pukulan Hiat-ciang Hoat-sut.

“Dess!”dua benturan tenaga mujijat bertemu dan tubuh

kedua orang itu tergetar hebat! Kiranya tenaga Hiat-ciang

Hoat-sut sudah sedemikian ampuhnya sehingga dalam

benturan tenaga ini, Pat-jiu Kai-ong dapat mengimbangi

tenaga The Kwat Lin. Kalau kakek itu merasa betapa tubuhnya

mendadak menjadi dingin sekali, sebaliknya The Kwat Lin

merasa tubuhnya panas! Namun keduanya dapat melawan

hawa ini dan berkali-kali mereka mengadu tenaga sinkang

lewat telapak tangan mereka . Tiba-tiba ujung lengan baju

kiri The Kwat Lin menyambar kearah ubun-ubun kepala kakek

itu yang menjadi terkejut sekali dan menangkis dengan

tongkatnya. Ujung lengan baju melihat dan tangan The Kwat

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Lin menyambar ke depan dari dalam lengan baju itu,

menangkap tongkat. Pat-jiu Kai-ong cepat menghantamkan

tangan kirinya lagi dengan tenaga Hiat-ciang Hoat-sut

sekuatnya, mengarah kepala lawan. Namun hal ini sudah

diperhitungkan oleh wanita itu yang cepat sekali menarik

tongkat yang dicengkramnya menangkis.

“Krekkkk!” Tongkat raja pengemis itu hancur terkena

pukulannya sendiri dan selagi dia terkejut bukan main, tahutahu

ujung lengan baju kanan wanita itu sudah menyambar ke

arah matanya! Dia berteriak kaget, miringkan kepala, akan

tetapi ternyata ujung lengan baju itu tidak menyerang mata,

melainkan menyeleweng ke bawah dan menotok lehernya.

“Auggghh…!” Kalau orang lain yang terkena totokan yang

tepat mengenai jalan darah, tentu akan roboh

dan tewas. Akan tetapi tubuh Pat-jiu Kai-ong sudah kebal,

maka totokan yang kuat itu hanya membuat ia

terhuyung ke belakang. Melihat ini, The Kwat Lin tertawa

terkekeh, kedua tangannya bergerak dengan

cepat sekali dan biarpun raja pengemis itu sudah berusaha

mati-matian membela diri, namun karena.totokan pertama

membuat pandangan matanya berkunang sehingga

gerakannya menjadi kurang cepat, dua

kali totokan lagi dan sebuah tamparan dengan tiga jari

tangan yang tepat mengenai punggungnya membuat dia

roboh pingsan!

Ketika dia siuman. Pat-jiu Kai-ong mendapatkan dirinya

sudah rebah terlentang di atas lantai dan dia tidak mampu

menggerakan kaki tangannya, bahkan tidak mampu

mengeluarkan suara karena selain tertotok jalan darah yang

membuatnya menjadi lumpuh, juga urat ganggu di lehernya

telah ditotok. Tahulah dia bahwa dia tak berdaya lagi dan

nyawanya berada di tangan lawan, dan dia pun maklum

bahwa wanita ini tidak akan mungkin mengampuni

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

kesalahannya.Maka dia memejamkan mata menanti

datangnya kematian.

“Bret-bret-brettt…, hi-hik! lihatlah, Bu Ong, lihat binatang

ini!”

Pat-jiu Kai-ong memaki dalam hatinya. Apa maunya

perempuan ini? Seluruh pakaiannya direnggut lepas semua

sehingga dia terlentang dalam keadaan telanjang bulat sama

sekali! Karena ingin tahu, bukan karena jerih sebab seorang

datuk macam Pat-jiu Kai-ong juga t idak mengenal takut, dia

menggerakan pelupuk mata dan mengintai dari balik bulu

matanya. Dia melihat anak laki-laki turun dari kursinya,

memandanginya dan tertawa. “Heh-heh, ibu,dia lucu sekali!

Lucu dan amat buruk… eh, menjijikkan!” The Kwat Lin

tertawa-tawa, kemudian sekali ujung lengan bajunya bergerak

menyambar ke arah leher Pat-jiu Kai-ong, kakek ini terbebas

dari totokan urat ganggunya dan dapat mengeluarkan suara.

“Perempuan hina, mau bunuh lekas bunuh! Aku tidak takut

mati!” teriaknya marah. “Hi-hik, enak saja! Ingatkah kau

betapa aku dahulupun minta-minta mati kepadamu? Tidak,

engkau harus mengalami siksaan, mati sekarat demi sekarat!

Bu Ong, dia inilah yang membunuh dua belas orang Supekmu

secara kejam . Maukah kau membalaskan sakit hati dan

kematian para Suoekmu?” “Tentu saja! Akan kubunuh anjing

tua ini!” Bu Ong sudah melangkah maju dan anak ini

memandang dengan muka bengis.

“Nanti dulu, Bu Ong.Terlampau enak baginya kalau dibunuh

begitu saja. Tidak, untuk setiap orang dari suhengku, dia

harus menderita satu macam siksaan. Jari tangannya. Hi-hak,

jari-jari tangannya berjumlah sepuluh, itu untuk sepuluh orang

suheng! Dan dua buah daun telinganya itu untuk kedua

suheng yang lain,” The Kwat Lin mencabut pedangnya,

menyerahkan kepada puteranya sambil tertawa-tawa,

kemudian dia menggerakan khikangnya, “mengirim suara”

dengan ilmunya yang tinggi ini sehingga suaranya hanya

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

terdengar oleh Pat-jiu Kai-ong, akan tetapi sama sekali tidak

terdengar oleh anaknya, “Pat-jiu Kai-ong , tahukah kau siapa

bocah ini? Dia ini adalah puteramu! Keturunanmu! hasil kotor

dari perkosaanmu atas diriku. Nah, sekarang kaulihatlah

anakmu, darah dagingmu sendiri yang akan menyiksa dirimu!”

Sepasang mata Pat-jiu Kai-ong terbelalak lebar, mukanya

pucat sekali. Puluhan tahun dia ingin sekali memperoleh

keturunan, terutama seorang putera, akan tetapi biarpun dia

sudah berganti-ganti selir sampai ratusan kali, tetap saja para

selir itu tidak pernah memperoleh keturunannya. sekarang,

secara tidak sengaja dia telah memperoleh seorang putera!

dan puteranya itu dengan pedang di tangan menghampirinya,

siap untuk menyiksanya! Tadi dia terheran melihat betapa

bekas anggauta Cap-sa Sin-hiap, murid Bu-tong-pai yang

terkenal gagah itu menjadi begitu keji, mengajar putera

sendiri melakukan kekejaman. Kira-kira wanita itu memang

sengaja hendak menyiksanya dengan menggunakan tangan

keturunanya sendiri! Kiranya wanita itu juga membenci anak

itu seperti juga membencinya, maka sengaja membiarkan

anak itu menyiksa dan membunuh ayah sendiri!

“Anak… jangan…dengarkanlah….”

“Pratttt…!” Pat-jiu Kai-ong tidak dapat melanjutkan katakatanya

yang tadinya hendak mmperingatkan anak

laki-laki itu karena urat ganggunya dileher telah ditotok

oleh lengan baju The Kwat Lin yang terkekeh

menyeringai..”Pat-jiu Kai-ong, begini pengecutkah engkau?

Haiii… di mana kegagahanmu sebagai seorang datuk?Lihatlah

baik-baikdan nikmatilah siksaan anak ini! Bu Ong, pergunakan

pedang itu . Pertama buntungi kedua daun telinganya untuk

Twa-supek dan Ji-supekmu! “

“Baik, Ibu!”Bu Ong lalu melangkah maju dan dua kali

pedang itu berkelebat karena anak itu ternyata sudah pandai

menggunakan pedang itu dan buntunglah kedua daun telinga

Pat-jiu Kai-ong ! Dapat dibayangkan betapa nyeri, perih dan

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

pedih rasa badan dan hati kakek itu. Air matanya meloncat

keluar membasahi pipinya!

“Ha-ha, ibu! Lihat, dia menangis !” Anak itu bersorak dan

mengambil dua buah daun telinga itu. “He-he, seperti teling

babi!”

Memang Pat-jiu Kai-ong menangis! Akan tetapi bukan

menangis karena rasa nyaeri dan pedih karena kedua daun

telinganya buntung, melainkan nyeri di hati yang lebih hebat

lagi melihat betapa anaknya sendiri yang sejak puluhan tahun

yang lalu dirindukannya, kini bersorak girang melihat

penderitaannya! Dia tidak takut mati, tidak takut sakit, akan

tetapi melihat betapa dia menghadapi siksaan dan kematian di

tangan anaknya sendiri, benar-benar merupakan tekanan

batin yang hampir tak kuat dia menanggungnya .

“Teruskan,Bu Ong.Masih ada sepuluh orang Supekmu yang

belum dibalaskan sakit hatinya.Jari-jari tangannya yang

sepuluh itu! Perlahan-lahan saja, satu demi satu buntungkan!”

Mulailah penyiksaan yang amat mengerikan itu dilakukan oleh

Bu-ong. Anak ini seolah-olah telah menjadi gila, dengan

tertawa-tawa dia membuntungi semua jari tangan kakek itu

satu demi satu dan setiap buntung sebuah jari, dia bersorak

kegirangan. Memang sejak dapat mengerti omongan, anak ini

dijejali dendam oleh ibunya, dendam terhadap Pat-jiu Kai-ong

dan diceritakan betapa Pat-jiu Kai-ong telah membunuh dua

belas orang suhengnya dan betapa raja pengemis itu

menyiksanya dan Bu Ong kelak harus membalas dendam itu.

Maka kini anak itu samasekali tidak menaruh rasa kasihan,

bahkan hatinya puas sekali dapat menyiksa kakek itu.

Dapat dibayangkan betapa hebat penderitaan Pat-jiu Kaiong.

Namun dia tidak menyesali nasibnya karena dia maklum

bahwa dia pun telah melakukan perbuatan sewenang-wenang

atas diri The Kwat Lin sehingga pembalasan ini sudah jamak.

Hanya satu hal yang membuat air matanya bercucuran adalah

melihat betapa dia disiksa dan akan dibunuh oleh darah

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

dagingnya sendiri. Dia menangis melihat darah dagingnya

sendiri itu, yang baru berusia sepuluh tahun, telah menjadi

seorang iblis cilik yang demikian kejam! Kini The Kwat Lin

membebaskan totokan yang membuat kaki tangannya

lumpuh. Begitu kaki tangannya dapat bergerak, Pat-jiu Kaiong

meloncat dan menerkam ke arah Bu Ong dengan ke dua

tangan yang sudah tak berjari lagi itu, yang berlumuran darah.

Niat hatinya untuk membunuh saja anaknya itu agar kelak

tidak dijadikan iblis cilik oleh ibu yang membencinya. Akan

tetapi sebuah tendangan dari samping yang dilakukan oleh

The Kwat Lin membuat dia terguling lagi. Rasa nyeri pada

kedua ujung tangannya membuat kakek itu menggeliat-geliat.

“Mundurlah, Bu-ong. lihat sekarang ibumu yang akan turun

tangan. Aku akan membalas sendiri perbuatannya kepadaku

terdahulu!”

The Kwat Lin menghampiri musuhnya dengan pedang di

tangan. “Pat-jiu Kai-ong, ingatlah engkau akan peristiwa

dahulu itu? Bayangkanlah,hi-hik, bayangkanlah betapa

nikmatnya bagimu dan betapa menyiksa dan sengsaranya

bagiku. Sekarang aku yang menikmati dan kau yang

menderita . Sudah adil bukan? Nah, terimalah ini… ini… ini…!”

Bertubi-tubi pedang di tangan The Kwat Lin bergerak dan

tubuh kakek itu bergulingan, berkelojotan karena rasa nyeri

yang amat hebat ketika ujung pedang itu membabat keseluruh

tubuhnya, dengan tepat sekali membabat ujung semua jari

kakinya, hidungnya, dagunya. Babatan itu hanya mengenai

ujung sedikit, tidak membahayakan keselamatan nyawa

namun menimbulkan rasa nyeri yang hebat. Seluruh tubuh

kakek itu kini berlepotan darah, mukanya dipenuhi oleh kerutmerut

menahan nyeri. “Hi-hik, bagaimana? Masih kurang?

Nah, rasakanlah ini!” Kembali pedang itu digerakan, kini

menusuk-nusuk dan seluruh tubuhnya ditusuki ujung pedang

bertubi-tubi. Ujung pedang hanya menusuk dua senti saja

sehingga menembus kulit daging akan tetapi tidak membunuh

dan darah keluar makin banyak lagi, rasa nyeri makin

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

menghebat sehingga tubuh kakek itu berkelojotan seperti

dalam sekarat.

“Ini yang terakhir!” The Kwat Lin berkata dan ujung

pedangnya membabat ke bawah pusar. Wanita itu

tertawa bergelah, tertawa puas, wajahnya yang cantik itu

pucat sekali dan dia tertawa sambil berdongak ke.atas.

“suheng sekalian, terutama Twa-suheng, lihatlah musuhmu.

Sudah puaskah kalian?” Dan dia terisak,

lalu menghampiri tubuh yang berkelojotan itu. “akan tetapi

aku belum puas! kau harus tidur dalam keadaan tersiksa di

antara mayat-mayat yang membusuk, selama tiga hari tiga

malam!” The Kwat Lin menengok kepada anaknya dan

berkata, “Bu Ong, kautunggu di sini sebentar!” Tubuhnya

berkelebat meninggalkan ruangan itu dan dengan cepat dia

telah datang menyeret mayat-mayat para pengawal, selir dan

pelayan sampai ruangan itu penuh dengan mayat-mayat yang

dia lemparkan ke sekeliling tubuh Pat-jiu Kai-ong yang mandi

darah.

JILID 10

Nah, nikmatilah sekaratmu selama tiga hari!” The Kwat Lin

lalu menggandeng tangan anaknya dan mengajak pergi

meninggalkan gedung itu. Ketika mereka berdua tiba di dalam

hutan di depan gedung, Swi Liang dan Swi Nio menyambut

mereka dengan mata penuh harapan. “Mana Ayah, Subo?”

Swi Liang bertanya.

“Bagaimana dengan dia?” Swi Nio juga bertanya.

“Ayah kalian telah tewas….”

Dua orang muda itu mengeluh dan menangis. Swi Liang

mengepal t injunya dan berkata, “Si jahanam Pat-jiu Kai-ong!

aku harus membalas kematian Ayah!”

“Subo, bantulah kami…” kata pula Swi Nio, “kami harus

menuntut balas!” “Heh-heh, Suheng dan Suci, tenangkanlah

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

hati kalian. Pat-jiu Kai-ong telah di balas dan sekarang sedang

sekarat di antara tumpukan mayat, he-he-heh! Wah, aku

mendapat bagian pesta tadi. Akulah yang membuntungi kedua

telinganya dan sepuluh jari tangannya. Menyenangkan sekali!”

Swi Liang dan Swi Nio terbelalak memandang “sute” ini.

Ucapan anak itu benar-benar membuat mereka merasa serem.

Memang, mendengar kematian ayah mereka yang tanpa

keraguan lagi mereka yakin tentu dilakukan oleh Pat-jiu Kaiong,

mereka pun merasa sakit hati dan ingin membalas

dendam. Akan tetapi apa yang dilakukan oleh sute mereka

menurut pengakuan anak itu, sungguh luar biasa sekali.

Membuntungi kedua daun telinga dan sepuluh jari tangannya,

dan perbuatan itu dianggap menyenangkan sekali dan

berpesta, benar-benar membuat mereka bergidik!

“Musuhmu sedang menanti saat kematian, harap kalian

tenang dan tidak memikirkannya lagi. Ayahmu telah tewas,

dan kalian akan kuajak bersamaku sebagai muridku . Akulah

pengganti ayah kalian.” Swi Liang dan Swi Nio menjatuhkan

diri dan berlutut di depan subo mereka sambil bercucuran air

mata.

“Terima kasih subo…” Kata mereka di antara tangis

mereka.

“Perkenankan kami mengubur jenasah Ayah, “kata pula Swi

Liang.

“Tidak perlu. Kita menanti di sini sampai tiga hari, setelah

itu aku akan membakar gedung itu.” Biarpun merasa heran

dan kasihan kepada mayat ayah mereka, kedua orang yang

sudah merasa ditolong dan dibalaskan sakit hati itu tidak

membantah. Mereka tentu saja tidak tahu betapa mayat ayah

mereka itu ikut pula di lempar oleh The kwat Lin di dekat

tubuh Pat-jiu Kai-ong untuk ikut menyiksa musuh besar ini!

Memang Pat-jiu Kai-ong tersiksa hebat bukan main. Ketika

tadi anaknya membuntungi jari-jari tangannya, dia melihat

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

muka anaknya itu berubah-ubah menjadi muka banyak anak

laki-laki yang menjadi korbanya.

Puluhan, bahkan ratusan anak laki-laki yang menjadi

korbannya itu seolah-olah mengeroyoknya, memaki

dan mengejeknya, dan kini, setelah tubuhnya mandi darah

dan rasa nyeri sampai menusuk-nusuk tulang,

dia ditinggalkan di antara mayat-mayat itu. Celaka baginya,

tubuhnya yang terlatih memiliki daya tahan

yang amat kuat sehingga dia tidak menjadi pingsan oleh

rasa nyeri itu. Kalau saja dia dapat pingsan atau

mati sekali, tentu dia tidak akan menderita sehebat

itu..Mayat-mayat itu mulai mengeluarkan bau yang memuakan

pada hari ke dua. Bau darah yang mengering

dan membusuk, ditambah rasa nyeri di sekujur tubuhnya,

masih diganggu lagi oleh bayangan anak-anak yang dahulu

menjadi korbanya, membuat Pat-jiu Kai-ong menangis di

dalam hatinya, menyesali perbuatannya yang mengakibatkan

dia mati dalam keadaan tersiksa seperti itu. Tiga hari

kemudian, The Kwat Lin muncul dan perempuan ini tertawa

bergelak melihat musuh besarnya masih belum mati. Senang

sekali hatinya. Dahulu, dia diperkosa dan dipermainkan di

antara mayat-mayat suhengnya selama tiga hari tiga malam,

dan kini dia dapat membalas secara memuaskan sekali.

“Hi-hik, kau sudah puas sekarang?” ejeknya. “Nah,

mampuslah kau. Pat-jiu Kai-ong!” pedangnya berkelebatan

dan seluruh bagian tubuh di bawah pusar kakek itu dicincang

hancur oleh pedang di tangan The Kwat Lin. Setelah merasa

puas melihat mayat musuh besarnya, barulah dia membuat

api dan membakar gedung itu, lalu berlari keluar.

Dengan air mata bercucuran, Swi Liang dan Swi Nio

memandang nyala api yang membakar gedung, maklum

bahwa mayat ayah mereka ikut terbakar.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Ayahmu telah sempurna,” kata The Kwat Lin. “Tak perlu

menangis lagi, hayo kalian ikut bersamaku.

Kalau kalian rajin mempelajari ilmu, kelak kalian tidak akan

mengalami penghinaan orang lagi.”

Dengan hati berat namun karena tidak ada orang lain yang

mereka pandang setelah ayah mereka meninggal, dua orang

muda itu terpaksa mengikuti The Kwat Lin bersama Han Bu

Ong pergi meninggalkan Hen-san.

Bu-tong-pai adalah sebuah perkumpulan silat yang besar,

merupakan sebuah di antara “partai-partai” persilatan yang

terkenal. Akan tetapi pada saat itu, Bu-tong-pai sedang

berkabung. Di markas perkumpulan itu yang letaknya di lereng

pegunungan Bu-tong-san, dari pintu gerbang sampai rumahrumah

para tokoh dan murid kepala, tampak kibaran kain-kain

putih menghias pintu, tanda bahwa Bu-tong-pai sedang

berkabung.

Siapakah yang meninggal dunia? Bukan lain adalah ketua

Bu-tong-pai yang sudah berusia lanjut, yaitu Kiu Bhok San-jin

yang meninggal dunia dalam usia delapan puluh tahun. Baru

saja upacara penguburan selesai dilakukan oleh para anak

murid Bu-tong-pai, para tamu telah meninggalkan

Pegunungan Bu-tong-san, akan tetapi semua anak buah murid

Bu-tong-pai masih berkumpul di sekitar kuburan baru itu.

Suasana penuh pergabungan dan masih tampak beberapa

orang murid yang mengusap air mata. Kui Bhok San-jin

terkenal sebagai seorang ketua dan guru yang baik dan yang

dicintai oleh para anak murid Bu-tong-pai. “Suhu…!” Seruan

ini membuat semua orang menengok dan tampaklah seoang

wanita cantik berlari mendatangi, diikuti oleh seorang mudamudi

remaja dan seorang anak laki-laki. Wanita itu tidak

menoleh ke kanan kiri, melainkan langsung berlari

menghampiri kuburan baru dan menjatuhkan diri berlutut di

depan batu nisan sambil menangis.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Ahh, bukankah dia Sumoi The Kwat Lin….?” Seorang

murid Kui Bhok San-jin yang usianya lima puluhan berseru.

Semua orang memandang dan kini mereka pun mengenal

wanita yang berpakaian indah seperti seorang nyonya

bangsawan itu. The Kwat Lin! Tentu saja mereka semua kini

teringat. Bukankah The Kwat Lin merupakan seorang anak

murid Bu-tong-pai yang amat terkenal, sebagai orang termuda

dari Cap-sha Sin-hiap yang sudah bertahun-tahun lenyap

tanpa meninggalkan jejak? “Benar, dia orang termuda dari

Cap-Sha Sin-hiap!” terdengar seruan-seruan setelah mereka

mengenal wanita cant ik itu.

Mendengar suara-suara itu, wanita ini lalu bangkit berdiri,

menyusuti air matanya, kemudian memandang kepada

mereka sambil berkata, “Benar, aku adalah The Kwat Lin,

orang termuda dari Cap-Sha Sin-hiap. Masih baik kalian

mengenalku! Sekarang suhu telah meninggal dunia, siapakah

yang akan menggantikannya sebagai ketua Bu-tong-pai?”

Para tokoh Bu-tong-pai terkejut menyaksikan sikap angkuh

ini. Di antara mereka, terdapat delapan orang

yang terhitung suheng-suheng dari The Kwat Lin, dan

orang tertua di antara mereka adalah seorang

kakek.berpakaian seperti pendeta tosu. Sejak tadi kakek tosu

ini mengerutkan alisnya setelah mendengar bahwa

wanita itu adalah seorang muda dari Cap-sha Sin-hiap,

maka kini mendengar pertanyaan Kwat Lin, dia melangkah

maju dan berkata, “Sian-cai…, tak pernah pinto sangka bahwa

anggauta termuda dari Cap-sha Sin-hiap akan muncul hari ini.

Berarti engkau adalah murid termuda dari mendiang suheng,

dan kalau engkau ingin mengetahi, pinto yang dipilih oleh

anak murid Bu-tong-pai, juga telah ditunjuk oleh mendiang

suheng menjadi ketua di Bu-tong-pai.” Kwat Lin mengangkat

mukanya memandang. Tosu itu bertubuh kecil sedang, dan

biarpun mukanya penuh keriput, namun matanya bersinar

terang dan jenggotnya yang terpelihara baik mengitari

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

mulutnya itu masih hitam semua, demikian pula rambutnya

yang diikat dan diberi tusuk konde dari perak. Pakaiannya

sederhana saja, pakaian seorang pendeta To yang longgar.

“Siapakah Totiang?”

“Ha-ha-ha-ha, sungguh lucu kalau seorang murid

keponakan tidak mengenal susioknya sendiri. Ketahuilah

bahwa pinto adalah Kui Tek Tojin, satu-satunya saudara

seperguruan dari mendiang Kui Bhok San-jin.” Kwat Lin sudah

pernah mendengar nama susioknya (paman gurunya) ini,

seorang tosu perantau, sute termuda dan satu-satunya yang

masih hidup dari mendiang suhunya. Dia mencibirkan bibirnya

yang merah dengan gaya mengejek, kemudian berkata

dengan suara lantang, “Ah, kiranya Susiok Kui Tek Tojin yang

menggantikan Suhu menjadi ketua Bu-tong-pai? Sungguh

keputusan yang sama sekali t idak tepat! Aku tidak setuju

sama sekali kalau Susiok yang menjadi ketua!”

Tosu itu membelalakan matanya dan memandang kaget,

heran dan penasaran. Akan tetapi sebelum dia mengeluarkan

kata-kata, seorang tosu lain yang bernama Souw Cin Cu,

murid tertua dari Kui Bhok San-jin, melangkah maju dan

berkata, “Sumoi, apa yang kaukatakan ini? Betapa beraninya

engkau mengatakan demikian! Keputusan ini tidak saja sesuai

dengan petunjuk suhu, juga telah menjadi keputusan kami

semua. Pula, Susiok merupakan satu-satunya saudara

seperguruan mendiang Suhu, sehingga kedudukannya paling

tinggi dan usianya paling tua di antara kita. Siapa lagi kalau

bukan Beliau yang menggantikan Suhu menjadi ketua kita?”

“Siancai, kedatangan yang mendadak dan tak tersangkasangka,

juga pendapat yang mengejutkan. Betapapun juga,

sebagai murid mendiang Suheng, dia berhak berbicara untuk

kepentingan dan kebaikan Bu-tong-pai. The Kwat Lin,

bukankah demikian namamu tadi? Kalau menurut

pendapatmu, siapa gerangan yang patut dijadikan ketua Butong-

pai menggantikan Suheng yang telah tidak ada?” “Harap

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

maafkan aku, Susiok. Bukan sekali-kali aku memandang

rendah kepada Susiok, akan tetapi penolakanku itu

berdasarkan perhitungan yang matang.” Kwat Lin berkata

kepada calon ketua Bu-tong-pai itu, mengejutkan dan

mengherankan semua orang yang mendengar dan melihat

sikap tidak menghormat dari wanita itu. “Pertama-tama sejak

dahulu Susiok selalu merantau, tidak pernah memperdulikan

keadaan Bu-tong-pai, apalagi Susiok adalah seorang tosu

sehingga kalau Susiok yang menjadi ketua Bu-tong-pai, ada

bahayanya Bu-tong-pai akan berubah menjadi perkumpulan

Agama To! Berbeda sekali dengan pendirian mendiang Suhu

yang bebas sehingga murid suhu pun terdiri dari bermacammacam

golongan. Selain itu, selama ini Bu-tong-pai makin

kehilangan sinarnya, menjadi bahan ejekan dan bahan

penghinaan orang lain.”

“Ahhhh…!” terdengar suara memprotes dari sana-sini dan

Souw Cin Cu kembali berkata penasaran, “Sumoi aku benarbenar

merasa heran mendengar kata-katamu dan melihat

sikapmu. Sepuluh tahun engkau dan para suhengmu

menghilang dan kini engkau muncul seperti seorang yang lain.

Seperti langit dengan bumi bedanya antara engkau dahulu

dan engkau sekarang! Sumoi, kau mengatakan bahwa Butong-

pai menjadi lemah dan menjadi bahan ejekan dan

penghinaan orang lain. Apa artinya ini?” “Souw Cin Cu

Suheng, selama bertahun-tahun ini Cap-sha Sin-hiap telah

lenyap, tahukah engkau apa yang terjadi dengan mereka?”

“Kami telah berusaha menyelidiki namun tidak dapat

menemukan kalian.” “Hemm, itulah tandanya bahwa Bu-tongpai

amat lemah, sehingga semua suhengku, tokoh-tokoh Capsha

Sin-hiap, dibunuh orang tanpa diketahui oleh Bu-tongpai!”

Semua orang terkejut sekali mendengar bahwa dua belas

orang dari Cap-sha Sin-hiap telah dibunuh orang!.”Siapa yang

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

membunuh mereka?” Souw Cin Cu bertanya dengan suara

marah sekali. Hati siapa yang

takkan menjadi panas dan marah mendengar bahwa dua

belas orang saudara seperguruannya dibunuh orang?

“Hemm, terlambat sudah! Dua belas orang Suheng dibunuh

oleh Pat-jiu Kai-ong ketua Pat-jiu Kai-pang di Heng-san.”

“Ohhh…!” kini Kui Tek Tojin berseru kaget, “Pat-jiu Kaiong…??

Mengapa…??” Kwat Lin tersenyum mengejek. “Ahhh,

tentu Susiok pernah mendengar nama besarnya dan menjadi

gentar, bukan? Memang dialah datuk sesat yang terkenal itu,

yang telah membunuh dua belas orang Suhengnya. dan

peristiwa itu berlalu begitu saja! Tiga belas orang tokoh Butong-

pai mengalami penghinaan, dan Bu-tong-pai sendiri diam

saja. Apalagi berusaha membalas dendam, bahkan tahupun

tidak akan peristiwa itu! Ini tandanya bahwa Bu-tong-pai

lemah! Kini Bu-tong-pai hendak diketahui oleh Susiok, apakah

akan dijadikan markas kaum pendeta Tosu dan menjadi makin

lemah lagi? Aku sendirilah yang harus turun tangan

membunuh musuh-musuh besar kami, membunuh Pat-jiu Kaiong

dan membasmi Pat-jiu Kai-pang di Heng-san. Melihat

kelemahan Bu-tong-pai, aku tidak setuju kalau mendiang Suhu

digantikan kedudukannya oleh Susiok Kui Tek To-jin harus

diganti oleh orang yang memiliki kepandaian t inggi dan dapat

memajukan dan memperkuat Bu-tong-pai, barulah tepat!”

Kwat Lin bicara penuh semangat, mukanya yang cantik dan

berkulit halus itu kemerahan, sepasang matanya bersinar-sinar

dan dengan tajamnya menyapu wajah semua anak murid Butong-

pai yang hadir di situ. Pandang mata bekas orang

termuda Cap-sha Sin-hiap ini membuat banyak anak murid

Bu-tong-pai merasa gentar dan mereka hanya menunduk

untuk menghindarkan pandang mata Kwat Lin. Akan tetapi,

delapan orang suheng dari Kwat Lin memandang dengan

marah dan penasaran. Adapun Kui Tek Tojin hanya tersenyum

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

dan mengelus jenggotnya sambil mengangguk-angguk,

matanya memandang wajah wanita itu penuh selidik.

“The Kwat Lin, omonganmu penuh semangat terhadap

kedudukan Bu-tong-pai. Andaikata benar semua kata-katamu

itu, habis siapakah yang kaupandang tepat untuk menjadi

ketua Bu-tong-pai?” Kui Tek Tojin berkata lagi dengan sikap

tenang.

“Untuk waktu ini, kiranya tidak ada orang lain lagi dari Butong-

pai kecuali aku sendiri!” Kini benar-benar terkejut dan

terheran-heranlah semua anak murid Bu-tong-pai yang berada

di situ. Begitu beraninya wanita ini. Biarpun tak dapat

disangkal lagi bahwa The Kwat Lin merupakan murid utama

pula dari mendiang Bhok Sanjin dan orang termuda Cap-sha

Sin-hiap, akan tetapi pada waktu itu dia bukanlah orang yang

memiliki tingkat tertinggi di Bu-tong-pai. Sama sekali bukan!

Di atas dia masih ada delapan orang suhengnya, murid-murid

Kui Bhok San-jin yang lebih tua, dan lebih lagi di situ masih

ada Kui Tek Tojin yang tentu saja memiliki tingkat jauh lebih

tinggi karen tosu ini adalah paman gurunya! “Murid Murtad!!”

Tiba-tiba Souw Cin Cu membentak garang dan meloncat maju,

diikuti pula oleh sute-sutenya. Telunjuk kirinya menuding ke

arah muka The Kwat Lin. “The Kwat Lin, engkau sungguh

tidak patut menjadi murid Bu-tong-pai! Kiranya engkau

menghilang sepuluh tahun hanya untuk pulang sebagai iblis

wanita yang murtad terhadap perguruanya sendiri. Dan kami

berkewajiban untuk mengajar seorang murid murtad!” Sambil

berkata demikian, Souw Cin Cu menerjang ke depan dengan

dahsyat. Souw Cin Cu merupakan murid pertama atau paling

tua dari Kui Bhok San-jin. sungguhpun tidak dapat dikatakan

bahwa dia memiliki t ingkat ilmu silat paling tinggi, akan tetapi

setidaknya tingkatnya sejajar dengan orang-orang tertua dari

Cap-sha Sin-hiap dan sebenarnya masih lebih tinggi setingkat

jika dibandingkan dengan ilmu kepandaian The Kwat Lin

ketika masih menjadi orang termuda Cap-sha Sin-hiap dahulu.

Akan tetapi, Kwat Lin sekarang sama sekali tidak bisa

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

disamakan dengan Kwat Lin sepuluh tahun yang lalu. Dia telah

mewarisi ilmu, silat ilmu silat tinggi dan mujijat dari Pulau Es!

Tingkatnya sudah tinggi sekali dan dengan tenang saja dia

memandang ketika suhengnya itu menerjangnya. Apalagi

karena dia mengenal benar jurus yang dipergunakan oleh

suhengnya, jurus dari ilmu silat Ngo-heng-kun. Ketika tangan

kiri Souw Cin Cu mencengkeram ke arah lehernya dan tangan

kanan tosu itu menampar pelipis, dia diam saja seolah-olah

dia hendak menerima dua serangan ini tanpa melawan. Akan

tetapi setelah hawa sambaran pukulan itu sudah terasa

olehnya, tiba-tiba tangan kirinya bergerak dari bawah ke atas.

“Plak-plak-plak!!”.Kedua lengan Souw Cin Cu telah

terpental, bahkan tubuh tosu ini terpelanting ketika tangan

Kwat Lin yang

tadi sekaligus menangkis kedua lengan itu melanjutkan

gerakannya dengan tamparan pada pundaknya. Tamparan

yang perlahan saja, akan tetapi sudah cukup murid pertama

mendiang Kui Bhok San-jin terpelanting!

Diam-diam Kui Tek Tojin terkejut heran menyaksikan

gerakan tangan wanita itu, gerakan yang amat cepat dan

aneh, gerakan yang sama sekali tidak dikenalnya dan tentu

saja bukan jurus ilmu silat Bu-tong-pai! Akan tetapi tujuh

orang sute dari Suow Cin Cu sudah menjadi marah dan tanpa

dikomando lagi mereka menerjang maju.

Akan tetapi The Kwat Lin tertawa, tubuhnya bergerak

sedemikian cepatnya dan berturut-turut tujuh orang ini pun

terguling roboh di dekat Suow Cin Cu! Mereka sendiri tidak

tahu bagaimana mereka dirobohkan, akan tetapi tahu-tahu

terpelanting dan bagian yang tertampar tangan Kwat Lin,

biarpun tidak sampai patah tulang, akan tetapi amat nyeri.

Padahal tamparan itu perlahan saja. Bagaimana andaikata

wanita itu menampar dengan pengerahan tenaga sekuatnya,

sukar dibayangkan akibatnya. Betapapun juga, delapan orang

murid utama dari Bu-tong-pai ini tentu saja tidak sudi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

menyerah begitu mudah dan mereka sudah meloncat bangun

dan mencabut senjata masing-masing!

“Ibu, mengapa tidak dibunuh saja tikus-tikus menjemukan

ini?” Tiba-tiba Bu Ong berteriak. Anak ini sudah bertolak

pinggang dan memandang marah kepada para pengeroyok

ibunya. Kalau saja tangannya tidak dipegang erat-erat oleh

Swi Liang dan Swi Nio, suheng dan sucinya, tentu dia sudah

menerjang maju membantu ibunya. Akan tetapi memang

sebelumnya, Swi Liang dan Swi Nio sudah dipesan oleh subo

mereka untuk menjaga Bu Ong, dan terutama sekali

mencegah bocah ini mencampuri urusannya dengan orangorang

Bu-tong-pai.

Kwat Lin tersenyum mengejek melihat delapan orang

suhengnya itu mengeluarkan senjata. “Hemmm, apakah

kalian ini sudah buta? Apakah para suheng tidak melihat

bahwa tingkat kepandaianku jauh melebihi kalian, dan bahkan

andaikata Suhu masih hidup, beliau sendiri tidak akan mampu

menandingi aku.”

“Keparat…!” Souw Cin Cu dan tujuh orang sutenya

menerjang maju, akan tetapi tiba-tiba Kui Tek Tojin berseru,

“Tahan senjata! Mundur kalian!”

Mendengar teriakan ini, delapan orang ini serentak mundur

mentaati perintah calon ketua mereka. Kui Tek Tojin

melangkah maju menghampiri wanita yang tersenyum-senyum

itu. “Siancai… kiranya engkau telah memiliki kepandaian

tinggi maka berani menentang Bu-tong-pai! The kwat Lin,

selama ini engkau telah mempelajari ilmu silat dari luar Butong-

pai, tidak tahu dari perguruan manakah?”

“Memang benar dugaanmu, Susiok, akan tetapi tidak perlu

aku menceritakan kepada siapapun juga.”

“Hei, tosu bau! Ibu adalah Ratu dari Pulau Es, tahukah

engkau?”

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Bu Ong…!” Kwat Lin membentak puteranya, akan tetapi

anak itu sudah terlanjur bicara dan bukan main kagetnya Kui

Tek Tojin dan para anak murid Bu-tong-pai mendengar ini.

Pulau Es hanya disebut-sebut dalam dongeng saja, dan

memang nama besar tokoh Pangeran Han Ti Ong dari Pulau

Es amat terkenal di dunia kang-ouw. Timbul keraguan di

dalam hati Kui Tek Tojin, akan tetapi karena wanita di

hadapannya itu juga merupakan anak murid Bu-tong-pai,

maka dia menekan perasaannya dan berkata, “The Kwat Lin,

kalau engkau masih mengaku sebagai murid Bu-tong-pai,

betapapun tinggi ilmu kepandaianmu, engkau harus tunduk

kepada pimpinan Bu-tong-pai. Sebaliknya, kalau engkau sudah

mempelajari ilmu silat dari golongan lain dan tidak lagi merasa

sebagai orang Bu-tong-pai, engkau tidak berhak mencampuri

urusan dalamdari Bu-tong-pai.”

Kwat Lin tersenyum mengejek. ” Susiok, tidak perlu

kupungkiri lagi bahwa aku telah membelajari

ilmu silat dari golongan lain dan tingkat kepandaianku

menjadi jauh lebih tinggi daripada semua tokoh Bu-tongpai.

Akan tetapi aku bukan saja masih mengaku orang Butong-

pai, bahkan ingin memimpin Bu-tong-pai

menjadi perkumpulan terkuat di dunia. Akan kuperbaiki dan

kupertinggi mutu ilmu silat Bu-tong-pai.agar tidak ada lagi

golongan lain yang berani memandang rendah Bu-tong-pai,

apalagi menghina anak

murid Bu-tong-pai seperti yang terjadi kepada Cap-sha Sinhiap

sepuluh tahun yang lalu.” “Hemm, kalau begitu, pinto

sebagai calon ketua Bu-tong-pai, terpaksa melarang dan

menentang kehendakmu, The Kwat Lin.”

“Dengan cara bagaimana kau hendak menentangku,

Susiok?”

“Dengan mempertaruhkan nyawaku. Kehormatan Bu-tongpai

lebih penting dari pada nyawa seorang ketuanya. Majulah

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

dan mari kita putuskan persoalan ini dengan kepandaian kita

.” The Kwat Lin tersenyum. “Susiok, betapapun mudahnya

bagiku membunuhmu, membunuh para suheng dan

membunuh semua orang yang menentangku. Akan tetapi, aku

bahkan ingin menolong kalian, ingin mengangkat nama Butong-

pai, maka biarlah aku hanya akan mengalahkan Susiok

tanpa membunuhmu.” Ucapan ini malah merupakan

penghinaan yang luar biasa sekali, karena mengalahkan lawan

tanpa membunuhnya merupakan hal yang amat sukar dan

hanya dapat dilakukan oleh orang yang memiliki tingkat

kepandaian yang jauh lebih tinggi dari lawannya!

Merah muka tosu tua itu. Dia dipandang rendah oleh murid

keponakannya sendiri! Bukan hanya itu saja. Dia sebagai

orang tertua dari Bu-tong-pai, sebagai calon ketua Bu-tongpai,

dihina oleh seorang anggauta muda Bu-tong-pai! Oleh

karena itu, tosu tua ini mengambil keputusan untuk mengadu

nyawa dengan wanita yang kini dipandangnya bukan sebagai

anggauta Bu-tong-pai lagi, melainkan sebagai seorang musuh

yang hendak mengacau Bu-tong-pai.

“The Kwat Lin sebagai seorang ketua Bu-tong-pai, pinto

menyediakan nyawa untuk mempertahankan kehormatan Butong-

pai terhadap siapapun juga , dan saat ini pinto akan

mempertahankannya terhadap engkau! Majulah!” sambil

berkata demikian tosu tua berjenggot lebat ini meloncat ke

depan, tongkatnya di tangan kanan dan ujung lengan bajunya

melambai panjang.

Kwat Lin mengenal tongkat itu. Tongkat kayu cendana

yang harum dan menghitam saking tuanya, tongkat yang

menjadi tongkat pusaka para ketua Bu-tong-pai sejak dahulu.

Dia maklum pula bahwa tongkat itu hanya sebagai lambang

kedudukan ketua belaka, namun dalam hal ilmu silat

bersenjata, ujung lengan baju kakek itu jauh lebih barbahaya

dari pada tongkatnya. Dia dapat menduga bahwa tentu kakek

ini sudah memiliki tingkat tertinggi dari Bu-tong-pai, dan telah

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

memiliki sinkang yang amat kuat sehingga kedua ujung lengan

bajunya dapat dipergunakan sebagai senjata ampuh yang

dapat menghadapi senjata apapun juga dari lawan, dapat

dibikin kaku keras seperti besi dan lemas seperti ujung

cambuk yang dapat melakukan totokan-totokan maut

keseluruh jalan darah di tubuh lawan! Karena itu, dia tidak

berani memandang rendah, cepat dia mengeluarkan pekik

melengking, dan tubuhnya sudah bergerak maju, tangan

kananya melakukan pukulan dorongan dengan telapak tangan

sambil mengerahkan tenaga sinkang Swat-im Sin-jiu. Hawa

yang amat dingin menghembus ke depan menyerang kakek

itu. Swat-im Sin-jiu adalah tenaga dalam inti salju yang

dilatihnya di Pulau Es, kekuatannya dahsyat bukan main

karena hawa yang menyambar ini mengandung tenaga sakti

yang mendatangkan rasa dingin. “Siancai…!!” Tosu itu

berseru kaget ketika merasa betapa hawa yang menyambar

dari depan amat dinginnya, membuat tangannya ketika

mendorong kembali terasa membeku. Maka dia lalu

mengerakan tongkat di tangan kanannya, mengambil

keuntungan dari ukuran tongkat yang panjang, menghantam

ke arah kepala wanita itu dari samping.

“Wuuuuttt… plakkkk!”

Dengan berani sekali Swat Lin menggunakan tangan kiri

yang dibuka untuk memapaki sambaran tongkat dari samping,

terus mencengkram tongkat itu dan mengerahkan sinkang,

menyalurkannya lewat getaran tongkat dan kembali tosu itu

berseru kaget ketika merasa betapa lengan kanannya yang

memegang tongkat terasa dingin dan lumpuh!

Kesempatan baik ini, dalam satu detik pada saat lawan

masih terkejut dan belum sempat mengerahkan

sinkang, dipergunakan oleh Kwat Lin dengan jalan menarik

ke bawah, bergulingan ke depan dan

menghantam ke arah lawan dengan tangan kananya, kini

menggerakan tenaga sinkang yang berhawa

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

panas!.”Ouhhh…!” Kui Tek Tojin berteriak, cepat meloncat

ke belakang dan tentu saja tongkatnya dapat dirampas.Dia

tadi sudah mengerahkan sinkang melawan getaran melalui

tongkat, dengan niat merampasnya kembali, akan tetapi

pukulan lawannya dari bawah yang ditangkis dengan tangan

kanan, ternyata luar biasa kuat dan panasnya,

mengejutkannya karena perubahan sinkang yang berlawanan

itu tidak disangka-sangkanya, maka untuk menyelamatkan

diri, terpaksa dia meloncat ke belakang dan mengorbankan

tongkatnya. Kwat Lin sudah melompat kebelakang pula,

memegang tongkat itu dengan kedua tangan di atas kepala

sambil tertawa dan berkata, “Hi-hik, tongkat pusaka telah

berada di tanganku, berarti akulah ketua Bu-tong-pai!

“Kembalikan tongkat!” Kui Tek Tojin berteriak marah dan

kedua lengannya bergerak ketika tubuhnya menerjang maju.

Dengan amat cepatnya kedua ujung lengan bajunya bergerak

seperti kilat menyambar-nyambar dan dalam segebrakan itu,

Kwat Lin telah dihujani sembilan kali totokan yang amat

berbahaya! Sukarlah membebaskan diri dari ancaman totokan

yang hebat ini dan andaikata Kwat lin bukan seorang pewaris

ilmu-ilmu dari Pulau Es, tidak mungkin dia dapat

menghindarkan diri lagi. Dia menggunakan ginkangnya

berloncatan menghindar, akan tetapi sebuah totokan yang

meleset masih mengenai pergelangan tangannya, membuat

tongkat pusaka itu terlepas dari peganganya! Kwat Lin

menjerit marah, pedangnya sudah dicabutnya, yaitu pedang

Ang-bwe-kiam dan tampak sinar merah berkeredepan dan

menyambar-nyambar dahsyat.

“Bret-brettttt…!!” Kui Tek Tojin berteriak kaget, meloncat

mundur dan ternyata bahwa ujung lengan bajunya telah

terbabat buntung oleh pedang di tangan Kwat Lin, dan

sekarang wanita itu telah mengambil lagi tongkat pusaka yang

tadi terpaksa dilepaskan oleh tangannya yang tertotok.

“Susiok! Dan kalian para suheng semua! Kalau kalian

mendesak, terpaksa aku akan mematahkan tongkat pusaka ini

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

kemudian membunuh kalian dan merampas Bu-tong-pai

dengan kekerasan!” Dia mengangkat tongkat itu tinggi-tinggi.

“Aku hanya menuntut hak seorang murid Bu-tong-pai yang

memiliki tingkat tinggi dan memegang tongkat wasiat itu, hak

menjadi ketua dengan niat untuk mempertinggi tingkat Butong-

pai!”

Delapan orang suheng itu masih penasaran dan mereka

hendak menyerbu ke depan, akan tetapi Kui Tek Tojin

mengangkat tangan ke atas dan berkata, “Mundurlah kalian.

Dia benar, kita tidak boleh melawan pemegang tongkat

pusaka!” Kemudian dia berkata kepada Kwat Lin, “Baiklah,

melihat tongkat pusaka di tanganmu, kami tidak akan

melawan. Akan tetapi, betapapun juga kami tidak dapat

menerima engkau menjadi ketua kami dan kami harap engkau

tidak memaksa anak murid Bu-tong-pai yang tidak mau

tunduk kepadamu dan meninggalkan tempat ini.”

Kwat Lin tersenyum. Memang bukan kehendaknya untuk

memusuhi anak murid Bu-tong-pai. Dia tidak membenci Butong-

pai, melainkan hendak mencarikan kemuliaan bagi

puteranya dengan perantaraan sebuah perkumpulan besar

dan dia akan mengusahakan agar Bu-tong-pai menjadi sebuah

perkumpulan yang paling kuat dan paling besar.

“Terserah kepadamu, Susiok.” dia lalu memandang ke

sekeliling, kepada para anak murid Bu-tong-pai, “Haiii, semua

anggauta dan murid Bu-tong-pai, dengar lah baik-baik!

Betapapun juga aku adalah murid Bu-tong-pai sejak kecil, dan

di dalam sepak terjang Cap-sha Sin-hiap, kalian juga sudah

tahu betapa aku dan para suheng telah menjunjung tinggi

nama Bu-tong-pai dan aku ingin menyebarkan ilmuku kepada

kalian semua agar kalian menjadi orang-orang yang lihai dan

Bu-tong-pai menjadi perkumpulan yang paling kuat di dunia

ini. Terserah kepada kalian apakah hendak besetia kepada

nama Bu-tong-pai dan menjadi murid-muridku, ataukah

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

hendak bersetia kepada tosu Kui Tek Tojin dan delapan orang

suhengku ini yang hendak membelakangi Bu-tong-pai!”

Berisiklah keadaan di situ setelah Kwat Lin mengeluarkan

kata-kata ini. Para anak murid Bu-tong-pai saling bicara

sendiri, saling berbantahan dan akhirnya hanya ada dua puluh

orang termasuk Kui Tek Tojin yang meninggalkan tempat itu,

menuruni bukit dan memasuki sebuah hutan di kaki bukit yang

dipilih oleh Kui Tek Tojin untuk menjadi tempat tinggal mereka

sementara waktu sambil menanti perkembangan selanjutnya.

Sisanya semua suka mengangkat Kwat Lin menjadi ketua

mereka setelah mereka tadi menyaksikan betapa lihainya Kwat

Lin dan mereka semua ingin memperoleh bagian pelajaran

ilmu silat yang tinggi.

Demikianlah, mulai hari itu, The Kwat Lin menjadi ketua

yang baru dari Bu-tong-pai yang

dipimpinnya dengan gaya dan bentuk yang baru pula.

Dengan harta benda berupa emas permata yang amat

mahal, yang didapatkan dan dilarikannya dari Pulau Es, dia

membangun markas Bu-tong-pai menjadi.bangunan yang

megah, mewar dan kuat. Bahkan dalam keinginan hatinya

untuk lekas-lekas melihat Bu-tongpai

menjadi perkumpulan yang kuat dan banyak

anggautanya, dia menerima anggauta-anggauta baru.

Anggauta baru diterima dari golongan apapun juga, syaratnya

hanya satu bahwa mereka itu haruslah memiliki kepandaian

yang sampai pada tingkat tertentu, dan bersumpah setia

sampai mati kepada Bu-tong-pai. Karena mendengar bahwa

ketua Bu-tong-pai yang baru adalah seorang wanita yang

cantik yang memiliki kesakt ian hebat, juga amat kaya raya,

maka banyaklah orang-orang kang-ouw dan golongan kaum

sesat yang tadinya hidup sebagai perampok dan bajak-bajak

yang tidak tertentu penghasilanya, berdatanganlah dan masuk

menjadi anggauta Bu-tong-pai!

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Mulai pulalah The Kwat Lin mengatur dan merencanakan

cita-citanya untuk puteranya. Dengan kerja sama antara dia

dan para anggauta baru yang berpengalaman mulailah dia

diam-diam mengadakan kontak dan mencari kesempatan

untuk menghubungi para pembesar tinggi yang merupakan

kekuatan rahasia untuk membrontak terhadap kaisar. Inilah

cita-cita The Kwat Lin. Dia pernah menjadi ratu, menjadi istri

seorang raja, biarpun hanya raja kecil yang menguasai

Kerajaan Pulau Es, karena itu, dia menganggap bahwa

puteranya, Han Bu-ong, adalah seorang pangeran! Seorang

pangeran haruslah bercita-cita menjadi raja. Bukan raja kecil

yang hanya menguasai sebuah pulau, melainkan raja besar!

Dan satu-satunya jalan untuk dapat mencapai ini, hanyalah

menggulingkan kaisar sehingga kelak ada kesempatan bagi

puteranya untuk menjadi kaisar!

Tentu saja untuk membrontak sendiri dengan

mengandalkan kekuatanBu-tong-pai merupakan hal yang tak

masuk diakal dan hanya merupakan bunuh diri, maka dia

mencari kesempatan mengadakan kontak dengan para

pembesar tinggi yang berambisi seperti dia sehingga mungkin

bagi mereka untuk menggunakan bala tentara yang dapat

dikuasai untuk mencapai cita-cita mereka itu.

Memang sesungguhnyalah bahwa kemuliaan duniawai atau

alam benda merupakan keadaan yang amat berbahaya. Tak

dapat disangkal pula bahwa hidup memang memerlukan

kebendaan sebagai pelengkap dan pelangsung hidup, dan

amat baiklah kalau orang dapat menggunakan keduniawian itu

pada tempat sebenarnya. Akan tetapi, akan celakalah dan

hanya akan menimbulkan malapetaka bagi diri sendiri dan

bagi orang lain kalau manusia sudah dikuasai oleh duniawi

yang merupakan harta benda, kedudukan, nama besar,

kepandaian dan lain-lain sebagainya. Alam kebendaan ini

mempunyai sifat seperti arak. Diminum dengan kesadaran

dan pengertian akan menjadi obat, tapi di lain saat dalam

keadaan lalai akan menjadi minuman yang memabokan. Dan

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

sekali orang mabok oleh duniawi, akan timbullah perbuatan

sombong, sewenang-wenang, dan lupa segala. yang ada

hanyalah keinginan memenuhi segala kehendaknya dengan

cara apapun juga tanpa mengharamkan dengan segala cara.

Demikian pula terjadi dengan The Kwat lin. Dahulu, belasan

tahun yang lalu, The Kwat Lin merupaka seorang pendekar

wanita yang gagah perkasa menentang kejahatan yang gigih

sehingga namanya bersama dua belas orang suhengnya

sebagai Cap-sha Sin-hiap amatlah terkenal. Akan tetapi

setelah malapetaka menimpa Cap-sha Sin-hiap, dendam

menaburkan bibit yang merobah seluruh pandangan hidupnya.

Setelah dia berhasil membalas dendam secara keji dan kejam

sekali, bibit itu masih berkembang biak dan merobah sifat,

dari dendam kepada pengejaran kemuliaan yang tanpa batas.

Sudah terlalu lama kita meninggalkan Han Swat Hong.

puteri dari Raja Han Ti Ong dan sebaiknya kita mengikuti

pengalamanya agar tidak tertinggal terlampau jauh. Seperti

kita ketahui, Swat Hong yang berwatak keras itu marah-marah

ketika melihat betapa Sin Liong menolong seekor biruang dan

tidak mempedulikan dia.Dianggapnya Sin Liong sengaja

mencari-cari alasan untuk menghambat perjalanan, padahal

dia ingin sekali segera mencari dan menemukan ibunya yang

tidak ia diketahui kemana perginya dan bagaimana nasibnya

setelah badai yang amat dahsyat mengamuk disekitar lautan

itu. Akan tetapi tentu saja bukan dengan hati yang

sesungguhnya dia hendak meninggalkan Sin Liong di pulau

kosong itu, melainkan hanya untuk sekedar menunjukan

kemarahan hatinya saja. Karena itu setelah perahunya jauh

meninggalkan pulau itu sehingga pulau dimana Sin Liong

mengobati biruang itu tidak nampak lagi, dara itu memutar

lagi perahunya dan hendak kembali kepada Sin Liong. Sudah

dibayangkannya betapa Sin Liong yang selalu sabar dan selalu

mengalah kepadanya itu akan minta maaf dan menyatakan

penyesalan hatinya, dan dia yang akan memaafkannya! Saat -

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

saat seperti itu mendatangkan keharuan, kebanggan dan

kemenangan di dalam hatinya.

Betapa bingung dan kagetnya ketika kemudian dia

mendapat kenyataan bahwa dia tersesat jalan

dan tidak tahu lagi dimana dia meninggalkan Sin Liong tadi!

Demikian banyaknya pulau yang sama

bentuknya di lautan itu, banyak sekali bongkahan es yang

datang dan pergi seperti hidup saja! Setelah

berputar putar tanpa hasil dan yakin bahwa dia berada

makin jauh dari tempat dimana Sin Liong berada,

setelah berteriak – teriak memanggil dengan pengerahan

khikang tanpa ada jawabannya dan memutar.perahu

keluardari daerah penuh pulau kecil yang membingungkan itu.

Biarlah, dia akan pergi saja

melanjutkan perjalanan seorang diri mencari ibunya. Dia

merasa yakin bahwa suhengnya itu tentu akan dapat

menyelamatkan diri. Suhengnya memiliki ilmu kepandaian yg

amat tinggi. Swat Hong tidak tahu bahwa perahunya menuju

ke selatan, bukan menuju ke daerah Pulau Es lagi. Namun

karena maksudnya untuk mencari ibunya, dara ini seolah -

olah berlayar tanpa tujuan dan membiarkan saja kemana

perahu yang terdorong angin itu membawanya.

Pada suatu hari , tampaklah olehnya garis hitam di sebelah

kanan, masih jauh sekali, akan tetapi dengan girang dia dapat

mengenal bahwa garis hitam yang amat panjang membujur

dari kanan kiri itu adalah sebuah daratan yang agaknya tiada

bertepi. Itulah daratan besar, pikirnya dengan girang dan dia

segera membelokan perahunya menuju ke garis hitam itu.

Ketika perahunya sudah tiba di dekat pantai yang sunyi, dia

melihat ada sebuah perahu lain yang meluncur cepat dari

sebelah kirinya. Perahu kecil dan yang berada di perahu itu

seorang laki-laki muda yang kelihatannya gagah dan tampan.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Pemuda itu pun memandang kepadanya sehingga dua pasang

mata saling pandang sejenak. Akan tetapi Swat Hong

membuang muka dan t idak mempedulikan orang yang tidak

dikenalnya itu, terus saja mendayung perahunya ke tepi.

Begitu perahunya mendekati daratan, dia lalu meloncat ke

daratan, tidak menghiraukan perahunya lagi. Memang dia

tidak berpikir untuk kembali ke tempat itu dan berperahu lagi.

Untuk apa berlayar? Pulau Es sudah kosong. Dia akan mencari

ibunya di daratan besar, karena kalau ibunya berada di suatu

pulau, agaknya tentu tidak akan dapat terlepas dari amukan

badai yang dahsyat itu. Kalau ibu berada di daratan besar ,

dan ini mungkin saja terjadi, barulah ada harapan bahwa

ibunya masih hidup dapat bertemu dengannya. Andaikata

tidak, dia pun akan merantau di daratan besar, tidak kembali

kelaut. Dan dia tahu bahwa demikian pula agaknya pendapat

suhengnya karena sebelum berpisah mereka sudah

membicarakan hal ini berkali-kali. Nenek moyangnya yang

selama ini menjadi raja di Pulau Es juga berhasal dari daratan

besar! Setelah kini Kerajaan Pulau Es terbasmi badai dan tidak

ada lagi, sepatutnya kalau dia sebagai ahli waris satu-satunya

kembali pula ke daratan besar!

“Heiii… Nona! Tunggu…!!”

Swat Hong mengerutkan alisnya dan berhenti

melangkahkan kakinya, membalik dan melihat betapa pemuda

yang berada di dalam perahu tadi sudah menambatkan

perahunya dan juga perahu yang ditinggalkanya meloncat

tadi, di pantai. Kini pemuda itu berlari mengejarnya. “Mau

apa engkau mengejar dan memanggil aku?” Swat Hong

bertanya, matanya memandang penuh selidik. Pemuda itu

usianya tentu hanya lebih tua dua tiga tahun darinya, seorang

pemuda yang berwajah tampan dan gagah, yang

perawakanya tinggi besar dan matanya menyorotkan

kejujuran dan membayangkan kekerasan dan keberanian.

Kedua lengan yang tampak tersembul keluar dari lengan baju

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

pendek itu kekar berotot membayangkan tenaga yang hebat,

juga bajunya yang terbuat dari kain tipis membayangkan dada

yang bidang, terhias sedikit rambut, berotot dan kuat sekali.

Melihat bahan pakaiannya dapat di duga bahwa pemuda ini

seorang yang beruang, namun melihat dari keadaan tubuhnya

dan kaki tangannya, agaknya dia biasa dengan pekerjaan

berat. Seorang petani atau seorang nelayan, pikir Swat Hong,

kagumjuga memandang tubuh yang kokoh kuat itu.

Pemuda itu tersenyum. Senyumnya lebar memperlihatkan

deretan gigi yang kokoh kuat pula, senyum terbuka seorang

yang berwatak jujur dan bersahaja. Akan tetapi sikapnya

ketika mengangkat kedua tangan di depan dada sebagai

penghormatan, membukt ikan bahwa dia pernah”makan

sekolahan” alias terpelajar, terbukti pula dari kata-katanya

yang biarpun ringkas dan singkat akan tetapi tetap sopan.

“Maafkanlah, Nona meninggalkan perahu begitu saja, aku

merasa sayang dan membantu meminggirkannya. Melihat

gerakan Nona ketika meloncat, jelas bahwa Nona

berkepandaian tinggi. Aku ingin sekali belajar kenal.”

Swat Hong mengerutkan alisnya. Hatinya sedang tidak

senang, karena selain kegagalannya mencari ibu, juga

perpisahanya dengan Sin Liong setidaknya mendatangkan rasa

gelisah di hatinya. Kini ada pemuda yang amat lancang ingin

“belajar kenal”, sungguh menggemaskan.

“Aku tidak membutuhkan perahu itu lagi, dan aku t idak

peduli apakah kau meminggirkannya atau hendak

memilikinya, aku tidak minta bantuanmu. Tentang belajar

kenal biasanya hanya pedang, kepalan tangan

dan tendangan kaki saja yang mau belajar kenal dengan

orang asing lancang!”.Sepasang mata lebar itu terbelalak

seolah-olah memandang sesuatu yang amat aneh, namun

membayangkan kekaguman yang luar biasa. Dan memang,

di luar dugaan Swat Hong sendiri, sikap dan kata-katanya tadi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

mendatangkan rasa kagum yang amat besar di dalam hati

pemuda ini. Telah menjadi ciri khas pemuda ini yang

mengagumi sikap orang yang terbuka, jujur, kasar dan tanpa

pura-pura seperti sikap Swat Hong yang baru saja

diperlihatkan.

“Ha-ha-ha-ha!” Pemuda itu tertawa bergelak dan kedua

matanya menjadi basah oleh air mata. Ini pun ciri khasnya.

Kalau dia tertawa, air matanya keluar seperti orang menangis.

Dengan punggung tangannya yang besar dan berotot dia

menghapus air matanya. “Nona hebat sekali! Ha-ha-ha , aku

Kwee Lun selama hidupku baru sekarang ini bertemu dengan

seorang nona yang begini hebat! Diantara seribu orang gadis,

belum tentu ada satu! Nona, kalau sudi, perkenalkanlah aku

Swee Lin, biarpun jelek dan kasar bukanlah tidak terkenal.

Ayahku adalah seorang pelaut biasa dan sudah meninggal,

demikian pula Ibuku. Aku anak pelaut akan tetapi sejak kecil

aku sudah ikut kepada guruku. Guruku inilah yang terkenal.

Guruku adalah Lam Hai Sen-jin, pertapa yang amat terkenal di

dunia kang-ouw, dan kami berdua tinggal di Pulau Kura-kura

di laut selatan.”

Melihat sikap terbuka ini, geli juga hati Swat Hong. Kini dia

melihat jelas bahwa pemuda ini sama sekali tidak kurang ajar.

Kasar memang, akan tetapi kekasaran yang memang menjadi

wataknya yang terbuka. Orang macam ini baik dijadikan

sahabat, pikirnya. Akan tetapi harus dibuktikan dulu apakah

pemuda ini pantas menjadi sahabatnya, sungguhpun menurut

pengakuannya dia murid seorang pertapa yang namanya

terkenal di dunia kang-ouw!

Swat Hong tersenyum. “Aihh, engkau lebih pantas menjadi

seorang penjual jamu! Setelah engkau memperkenalkan

semua nenek moyangmu kepadaku, dengan maksud apakah

engkau seorang pria minta perkenalan dengan seorang

wanita?”

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Kwee Lun mengerutkan alisnya yang sangat lebat seperti

dua buah sikat ditaruh melintang di dahinya itu, dan dia

menggeleng-geleng kepalanya. “Memang, sebelumaku

berangkat merantau, suhu berpesan dengan sungguh bahwa

aku tidak boleh mendekati wanita cantik yang katanya amat

berbahaya melebihi ular berbisa! Akan tetapi, biarpun Nona

cantik sukar dicari cacatnya, namun kepandaian Nona tinggi

dan sikap Nona jujur menyenangkan. Aku ingin bersahabat,

karena sekarang ini baru pertama kali aku merantau seorang

diri, aku membutuhkan seorang sahabat yang pandai seperti

Nona untuk memberi petunjuk kepadaku. Untuk budi Nona ini,

tentu aku akan berusaha menyenangkan hatimu.” Swat Hong

makin terheran. Dia tidak tahu apakah pemuda ini pintar atau

bodoh. Sikapnya terbuka akan tetapi biarpun kata-katanya

teratur, ada bayangan ketololan.

“Hemm, kau bisa apa sih? Bagaimana engkau bisa

menyenangkan hatiku?” Dia menyelidik. “Aku? Wah, aku

bodoh akan tetapi kalau ada orang-orang kurang ajar

kepadamu, tanpa Nona turun tangan sendiri, aku sanggup

menghajar mereka! Dia melonjorkan kedua lengannya yang

kekar berotot itu. “Dan jangan Nona sangsi lagi, biar ada lima

puluh orang, aku masih sanggup menghadapi mereka, kalau

perlu dibantu sengan senjataku kipas dan pedang. Kalau Nona

senang sajak, aku banyak mengenal sajak kuno yang indah

dan di waktu Nona kesepian, aku dapat menghibur Nona

dengan nyanyian! Aku suka sekali bernyanyi.”

Hampir saja Swat Hong tertawa geli orang yang kekar

seperti seekor singa buas ini membaca sajak, bernyanyi dan

senjatanya kipas? Benar-benar seorang pemuda yang aneh,

akan tetapi tentu saja dia belum mau percaya begitu saja.

Sambil memandang tajam dia berkata, “Hemm, kau bicara

tentang pedang dan kipas sebagai senjata, akan tetapi aku

tidak melihat engkau membawa senjata apa-apa.” Ahh,

tunggu dulu, Nona. Aku memang sengaja meninggalkanya di

perahu!” Setelah berkata demikian, Kwee Lun membalikan

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

tubuhnya dan berlari cepat sekali ke perahunya dan ketika dia

sudah kembali ke depan Swat Hong, benar saja dia telah

membawa sebatang pedang yang sarungnya terukir indah dan

sebuah kipas bergagang perak yang diselipkan di ikat

pinggangnya!

“Mengapa baru sekarang kau memperlihatkan senjatasenjatamu?”.”

Aih, kalau tadi aku membawa senjata, tentu

akan menimbulkan dugaan yang bukan-bukan dan untuk

berkenalan dengan seorang gadis, bagaimana aku berani

membawa senjata? Tentu disangka perampok atau bajak!”

Mau atau tidak, Swat Hong tersenyum. Timbul rasa

sukanya kepada pemuda kasar yang aneh ini.

“Betapapun juga, aku adalah seorang wanita dan engkau

seorang pria, mana mungkin menjadi sahabat?

Tidak patut dilihat orang.”

Mata yang lebar itu kembali terbelalak penuh penasaran

dan tangan kirinya dikepalkan. “Apa peduli kata-kata orang?

Kalau ada yang berani mengatakan yang bukan-bukan tentu

akan kuhancurkan mulutnya! Wanita adalah seorang

manusia, pria pun seorang manusia. Apa salahnya berkenalan

dan bersahabat? Nona, aku Kwee Lun bukan seorang yang

berpikiran kotor, juga aku tidak akan sembarangan memilih

kawan! Aku kagum melihat Nona, maka kalau Nona sudi,

harap memperkenalkan diri.” Swat Hong makin tertarik, akan

tetapi dia masih ragu-ragu apakah orang ini patut dijadikan

seorang teman.

Biarpun lagaknya seperti jagoan, siapa tahu kalau kosong

belaka?

“Kau bilang tadi murid seorang tosu yang terkenal?”

“Ya, Suhu Lam Hai Seng-jin merupakan tokoh yang paling

terkenal di daerah selatan!”

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Kalau begitu, ilmu silatmu tentu lebih lihai daripada

bicaramu sepeti penjual jamu?” “Ihhh, harap jangan

mentertawakan! Biarpun tidak selihai Nona yang dapat kulihat

dari gerakan meloncat dari perahu tadi, akan tetapi masih

tidak terlalu orang di dunia ini yang akan sanggup

mengalahkan Kwee Lun!”

“Tidak ada artinya kalau hanya disombongkan dan

dibanggakan tanpa ada buktinya! Aku juga tidak sembarangan

memperkenalkan diri kepada orang lain. Untuk membuktikan

apakah kau patut menjadi kenalanku, cabut kedua senjatamu,

dan coba kau hadapi pedangku!” Sambil berkata demikian,

Swat Hong sudah mencabut pedangnya perlahan-lahan dan

tampaklah sinar pedang ketika sinar matahari menimpanya.

“Akan tetapi, Nona….” Kwee Lun meragu. Biarpun dia tadi

menyaksikan betapa gesit dan ringannya tubuh nona itu

melayang ke daratan, namun dia tidak percaya apakah nona

ini mampu menandingi pedang dan kipasnya!

“Tidak usah banyak ragu. Kalau kau tidak mau, pergilah

dan jangan menggangguku lebih lama lagi!” “Srat…!!” Pedang

terhunus sudah berada di tangan kanan Kwee Liu dan sarung

pedangnya dilempar ke atas tanah, sedangkan tangan kirinya

sudah mencabut kipas gagang perak yang telah

dikembangkan dan melindungi dadanya, adapun pedang itu

dilonjorkan ke depan.

“Aku telah siap, Nona.”

Swat Hong memang ingin sekali melihat sampai di mana

kepandaian pemuda yang aneh ini, maka tanpa banyak kata

lagi dia sudah meloncat ke depan dan menggerakan

pedangnya dengan hebat sekali. Pedang di tangannya itu

adalah pedang biasa saja, akan tetapi karena yang

menggerakan adalah tangan yang mengandung tenaga

sinkang istimewa dari Pulau Es, maka pedang itu lenyap

bentuknya berubah menjadi gulungan sinar yang menyilaukan

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

mata dan tubuh dara itu juga tertutup oleh gulungan sinar

pedang saking cepatnya tubuh itu berloncatan.

“Aihhh…!!” Kwee Lun berseru keras dan cepat dia

menggerakan pedang dan kipas. Memang sudah diduganya

bahwa dara itu lihai sekali, akan tetapi menyaksikan gerakan

pedang yang demikian luar biasa, dia menjadi kaget, kagum,

heran dan juga gembira. Tanpa ragu-ragu dia lalu

mengerahkan tenaga dan mengeluarkan semua ilmu silatnya

untuk menandingi dara yang mengagumkan hatinya ini.

Seperti telah kita kenal di permulaan cerita ini ketika terjadi

para tokoh kang-ouw memperebutkan

Sin Liong yang ketika itu dikenal sebagai Sin-tong (bocah

ajaib), guru pemuda itu, Lam Hai Seng-jin,

adalah seorang tosu yang selain ahli dalam Agama To, juga

pandai bernyanyi, dan lihai sekali ilmu

silatnya. Namun terkenal sebagai pertapa atau pemilik

Pulau Kura-kura di Lam-hai dan senjatanya yang

berupa hudtim dan kipas mengangkat tinggi namanya di

dunia kang-ouw. Agaknya kepandaian itu telah.diturunkan

semua kepada murid tunggalnya ini, namun tentu saja karena

muridnya bukanlah seorang tosu,

senjata hudtim digant i dengan pedang.

Pedang dan kipas adalah senjata yang ringan, kini

dimainkan oleh kedua lengan Kwee Lun yang mengandung

tenaga gajah, tentu saja dapat dibayangkan betapa cepatnya

kedua senjata itu bergerak sampai tidak tampak lagi sebagai

senjata kipas dan pedang, melainkan tampak hanya gulungan

sinar yang berkelebatan dan saling belit dengan sinar pedang

di tangan Swat Hong. “Cringgg…!” Tiba-tiba pemuda itu

berseru kaget dan pedangnya mencelat ke atas terlepas dari

tangannya. Swat Hong tersenyum. Dia tadi sudah

menyaksikan bahwa ilmu pedang pemuda itu cukup lihai,

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

bahkan dalam hal kecepatan dan tenaga tidaklah kalah banyak

dibandingkan dengan kepandaiannya sendiri. Adanya dia

dapat membuat pemuda itu terlepas dalam waktu tiga puluh

jurus, hanyalah karena selain dasar ilmu silatnya lebih tinggi

daripada pemuda itu, juga kenyataan bahwa pemuda itu tidak

mau menyerangnya dengan sungguh-sungguh dan

mendasarkan permainannya pada tingkat penguji dan berlatih

saja. Kalau pemuda itu merupakan lawan sungguh-sungguh,

dia sendiri sangsi apakah akan dapat merobohkannya dalam

waktu seratus jurus.

“Wah, kau hebat sekali, Nona! Aku mengaku kalah!” Kwee

Lun menjura dan menyimpan kipasnya. Suaranya bersungguhsungguh,

karena memang pemuda ini walaupun tadi tidak

mau menyerang sungguh-sungguh, namun dari gerakan

lawannya dia sudah dapat melihat bahwa dara itu benar-benar

memiliki ilmu silat yang amat aneh dan amat kuat. “Aku terlalu

rendah untuk menjadi sahabatmu.” “Kwee-twako, kau terlalu

merendah. Ilmu kepandaianmu hebat! Perkenalkanlah, aku

bernama Hat Swat Hong….” Sampai di sini, dara itu meragu

karena dia masih sangsi apakah dia akan memperkenalkan diri

sebagai seorang puteri dari Kerajaan Pulau Es yang asing dan

yang telah terbasmi habis oleh badai itu. “Ilmu pedang Nona

hebat bukan main, juga amat aneh gerakannya, Selama

melakukan peratauan dengan Suhu, dan mendengar

penjelasan Suhu, sudah banyaklah aku mengenal dasar ilmu

silat perkumpulan besar di dunia kang-ouw akan tetapi melihat

gerakan pedangnya tadi, aku benar-benar tidak tahu lagi,

sedikit pun tidak mengenalnya. Maukah Nona Han Swat Hong

memperkenalkannya kepadaku?” “Kwee-twako, sebenarnya

aku akan merahasiakan keadaanku, Baru pertama kali ini aku

menginjak daratan besar dan aku tidak ingin melibatkan diri

dengan urusan di dunia kang-ouw, apa lagi memperkenalkan

diriku. Akan tetapi memang sudah nasib, begitu mendarat

bertemu dengan engkau, dan sikapmu menarik hatiku,

membuat aku tidak dapat menyembunyikan diri lagi. Aku akan

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

menceritakan keadaanku hanya dengan satu janji darimu,

Twako.”

Kwee Lun memunggut pedangnya, mengikatkan sarung

pedang di punggung lalu membusungkan dadanya yang sudah

membusung tegap itu sambil menepuk dada dan berkata,

“Nona Han….” “Kwee-twako, sekali mau mengenal orang, aku

tidak mau bersikap kepalang. Aku menyebutmu Twako

(kakak), berarti aku sudah percaya kepadamu. Maka

janganlah kau masih bersikap sungkan menyebutku Nona.

Namaku Swat Hong dan tak perlu kau menyebutku Nona

seperti orang asing.” “Hemm, bagus sekali!” Kwee Lun

bertepuk tangan dan memandang ke langit. “Bukan main! Aku

benar-benar berbahagia dapat memperoleh adik seperti

engkau!

Nah, Hong-moi (adik Hong), kauceritakanlah kepada

kakakmu ini. Ceritakan semuanya, kalau ada penasaran,

akulah yang akan membereskan untukmu! Kakakmu ini sekali

bicara tentu akan dipertahankan sampai mati!”

Diam-diam Swat Hong merasa girang dan kagum. Inilah

seorang laki-laki sejati! Seorang jantan! Sekaligus dia

memperoleh seorang sahabat yang boleh dipercaya seorang

kakak dan sebagai pengganti seorang keluarga setelah dia

kehilangan segala-galanya. Dia telah kehilangan ibunya,

ayahnya, keluarga ayahnya, bahkan akhirnya dia kehilangan

suhengnya dan dalam keadaan seperti itu t iba-tiba muncul

seorang seperti Kwee Lun!

“Kwee-twako aku baru saja meninggalkan tempat tinggalku

di tengah-tengah laut di sekitar sana!” Dia menuding ke arah

laut bebas.

“Di manakah tempat tinggalmu itu? Di sebuah pulau?”.Swat

Hong mengangguk, masih agak ragu-ragu.

“Pulau apa, Hong-moi?”

“Pulau Es…”

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Hah…?” Benar saja seperti dugaannya, nama Pulau Es

mendatangkan kekagetan luar biasa, bahkan wajah pemuda

itu berubah menjadi agak pucat dan dia memandang dara itu

seperti orang melihat iblis di tengah hari! “Pulau… Pulau

Es…??” Seperti juga semua orang di dunia kang-ouw, Pulau Es

hanya didengarnya seperti dalam dongeng saja, dan pangeran

Han Ti Ong yang pernah menggegerkan dunia kang-ouw

disebut sebagai seorang dari Pulau Es, seorang yang memiliki

kepandaian seperti dewa! Dan kini pemuda itu mendengar

bahwa dara itu dari Pulau Es.

“Kwee-twako! Jangan memandangku seperti memandang

siluman begitu…!”

“Ohh… eh…., maafkan aku, Moi-moi! Hati siapa yang mau

percaya? Akan tetapi aku percaya padamu, Moi-moi! Wah!

aku percaya sekarang! Kau pantas kalau dari Pulau Es. Ilmu

kepandaianmu luar biasa, bukan seperti manusia lumrah.

Mana ada gadis biasa mampu mengalahkan Kwee Lun dalam

beberapa jurus saja? Aku malah bangga! Seorang penghuni

Pulau Es menyebutku twako dan kusebut Moi-moi! Ha-ha-haha,

Suhu tentu akan tercengang saking kagetnya kalau

mendengar ini!”

Melihat pemuda itu petentang- petenteng mengangkat

dada seperti orang membanggakan diri sebagai seorang

sahabat baik penghuni Pulau Es, Swat Hong menjadi geli

hatinya. “Hong-moi, engkau tidak tahu betapa bangga dan

besarnya hatiku. Aihh, sekali ini, baru saja meninggalkan Suhu

untuk merantau seorang diri, aku telah bertemu dan dapat

bersahabat denganmu. Betapa bangga hatiku!”

Swat Hong terkejut. Baru teringat olehnya bahwa dia tadi

belum melanjutkan syaratnya, maka cepat dia berkata, “Kalau

begitu, berjanjilah bahwa engkau tidak akan menceritakan

kepada siapapun juga tentang keadaan diriku, kecuali namaku

saja. Berjanjilah Twako!”

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Kwee Lun memandang kecewa. “Tidak menceritakan

kepada siapapun juga bahwa engkau adalah penghuni Pulau

Es? waaahhh… ini…” Tentu saja hatinya kecewa karena hal

yang amat dibanggakan itu tidak boleh diceritakan kepada

orang lain. Mana bisa dia berbangga kalau begitu? “Kwee

Lun.”tiba-tiba Swat Hong berkata dengan lantang. “Hanya ada

dua pilihan bagimu. Berjanji memenuhi permintaanku dan

selanjutnya menjadi sahabat baiku, atau kau tidak mau

berjanji akan tetapi kuanggap sebagai seorang musuh!”

“Wah-wah… aku berjanji! Aku berjanji! Bukan karena takut

kepadamu, Hong-moi, aku bukan seorang penakut dan juga

tidak takut mati, akan tetapi karena memang aku merasa suka

sekali kepadamu. Aku tidak sudi menjadi musuh! Nah, aku

berjanji, biarlah aku bersumpah bahwa aku tidak akan

menceritakan kepada siapapun juga tentang asal-usulmu,

kecuali… hemm, tentu saja kalau… kalau kau sudah

mengijinkan aku. Siapa tahu…” Sambungnya penuh harap.

Swat Hong tersenyum lega. “Baiklah, Kwee-twako. Aku

percaya bahwa engkau akan memegang teguh janjimu.

Sekarang dengarlah cerita singkatku dan kuharap kau suka

membantuku. Aku adalah puteri dari Raja Pulau Es…”

“Aduhhhh….” Kembali mata itu terbelalak dan kwee Lun

segera membungkuk, agaknya malah akan berlutut!

“Twako, kalau kau berlutut atau melakukan hal yang

bukan-bukan lagi, aku takan sudi bicara lagi kepadamu!”

Kwee Lun berdiri tegak lagi. “Hayaaaa… siapa bisa

menahan datangnya hal-hal yang mengejutkan secara

bertubi-tubi ini? Baiklah, aku taat… eh, benarkah aku boleh

menyebutmu Moi-moi?”.”Siapa bilang tidak boleh ! Aku hanya

bekas puteri raja! Ayahku telah meninggal dunia dan Ibuku…,

ah,

aku sedang mencari Ibuku yang pergi entah kemana.

Kwee-twako, aku tidak bisa menceritakan lebih banyak lagi.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Yang penting kauketahui hanya bahwa Ibuku telah berbulanbulan

meninggalkan Pulau Es, entah ke mana perginya dan

aku sedang mencarinya. Juga aku telah saling berpisah

dengan Suhengku. aku sedang pergi merantau dan sekalian

mencari Ibuku dan Suhengku.”

“Aku akan membantumu!” Kwee Lun menggulung lengan

bajunya yang memang sudah pendek sampai kebawah siku

itu. “Jangan khawatir!”

“Terima kasih, Twako. Dan sekarang, engkau hendak ke

manakah?” “Sudah kukatakan tadi bahwa aku meninggalkan

Pualu Kura-kura untuk pergi merantau meluaskan

pengalaman, sekalian memenuhi permintaan penduduk kota

Leng-sia-bun yang berada tak jauh dari pantai ini.”

“Permintaan apa, Twako?”

“Beberapa orang penduduk bersusah payah mencari Suhu

di Pulau Kura-kura, dan mereka mohon pertolongan Suhu

untuk menghancurkan komplotan busuk yang merajalela di

kota ini. Suhu lalu memerintahkan aku pergi, dan sekalian aku

diberi waktu setahun untuk merantau sendirian. Kebetulan

sekali aku bertemu denganmu di sini. Marilah kau ikut

bersamaku ke Leng-sia-bun, tentu kau akan gembira melihat

keramaian ketika aku menghadapi komplotan itu. Setelah

selesai urusanku di sana,aku menemanimu mencari Suhengmu

dan Ibumu.”

Swat Hong mengangguk setuju. Lega juga hatinya, karena

kini ada seorang teman yang setidaknya lebih banyak

mengenal keadaan daratan besar dari pada dia yang asing

sama sekali. “Baik, Twako. Akan tetapi perutku….”

“Eh, perutmu mengapa? Sakit….”

“Sakit…. lapar…!”

JILID 11

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Kwee Lun tertawa-tawa bergelak dan Swat Hong juga

tertawa. Keduanya merasa lucu dan gembira karena

mendapatkan seorang teman yang cocok wataknya! “Kalau

begitu, tidak jauh bedanya dengan perutku! mari kita cepat

pergi. Leng-sia-bun terdapat banyak makanan enak!”

“Tapi …. perahumu itu? Bagaimana kalau ada yang curi

nanti ?”

“Hemm, siapa berani mencurinya? Lihat, bentuk perahuku

itu. Bentuknya seperti seekor kura-kura, lengkap dengan

kepalanya dan ekornya. Melihat itu, semua orang tahu bahwa

itu milik Pulau Kura-kura, siapa berani mengganggunya?

Perahumu yang berada di dekat perahuku juga aman.” “Wah,

kalau begitu nama Suhumu sudah terkenal sekali!”

Memang, dan sekarang aku akan membuat nama agar

sama terkenalnya dengan nama suhu!” Berangkatlah kedua

orang muda itu menuju ke utara, melalui sepanjang pantai itu

lalu mendekati sebuah daerah pegunungan, menuju ke kota

Leng-sia-bun yang letaknya tidak jauh dari pantai laut, tak

jauh dari muar sungai Huai.

Kota Leng-sia-bun merupakan kota pantai yang ramai dan

padat penduduknya. Karena daerah ini

merupakan daerah perdagangan yang menampung

datangnya hasil bumi dari pedalaman untuk dibawa oleh

perahu-perahu ke pantai laut yang lain, juga merupakan

pasar besar pagi para nelayan, maka penduduknya

cukup makmur. Rumah-rumah besar, toko-toko, hotel-hotel

dan restoran-restoran membuktikan

kemakmuran kota itu. Akan tetapi, seperti biasa terjadi

dimanapun juga di penjuru dunia dan di jaman apa

pun, di kota Leng-sia-bun muncul juga manusia-manusia

yang mempergunakan kesempatan untuk mencari

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

keuntungan dan menumpuk harta benda dengan cara yang

tidak layak, tidak halal, bahkan tidak

mempedulikan lagi nilai-nilai kemanusiaan.Telah bertahuntahun,

di kota itu merajalela komplotan yang.dipimpin oleh

seorang hartawan bernama Ciu Bo jin dan terkenal dengan

sebutan Ciu- wangwe (Hartawan

Ciu). Sebenarnya, tanpa diketahui oleh siapa pun di kota

itu, Ciu-wangwe adalah bekas seorang perampok tunggal yang

memiliki kepandaian tinggi. Setelah rambutnya mulai putih

dan dia berhasil mengumpulkan kekayaan, tinggallah dia di

kota Leng-sia-bun menjadi seorang pedagang. Mula-mula dia

mendirikan sebuah rumah makan. Setelah rumah makannya

maju, dia membuka rumah judi dan rumah penginapan. Tentu

saja dia mengumpulkan bekas teman-temannya dari kalangan

hitam untuk bekerja kepadanya dan merangkap menjadi

tukang pukul, akan tetapi Ciu-wangwe melarang keras kepada

anak buahnya untuk memperlihatkan sikap kasar dan

sewenang-wenang karena dia maklum bahwa itu bukan

merupakan cara untuk mengumpulkan kekayaan di sebuah

kota. Dengan licin sekali, Ciu-wangwe mempengaruhi para

pembesar kota itu dengan jalan seringkali mengirimkan hadiah

kepada mereka. Bahkan bukan uang saja yang dijadikan

umpan untuk memancing ikan besar dan menjinakan haimau,

akan tetapi dia juga mempergunakan wanita-wanita muda!

Terkenallah hotel dan rumah judi yang didirikan Ciu-wangwe

karena kedua tempat ini juga merupakan tempat berpelesir di

mana disediakan perempuan muda sebagai pelacur-pelacur

kelas tinggi! Bahkan restorannya juga amat laris karena disitu

bercokol pula beberapa orang pelacur cantik yang melayani

para tamu makan minum dan memberi kesempatan kepada

para tamu sambil makan minumuntuk colek sana sini!

Biarpun banyak penduduk Leng-sia-bun yang menjadi

korban judi, banyak rumah tangga berantakan, namun tidak

ada orang yang mampu menyalahkan Ciu-wangwe karena

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

rumah judi, hotel dan restoran yang dibukanya adalah sah dan

mendapat restu serta perlindungan dari para pembesar

setempat. Bahkan secara terang-terangan, hampir semua

pembesar di kota itu menjadi langganan Ciu-wangwe. Mereka

yang gemar berjudi menjadi langganan pokoan ( tempat judi)

di mana mereka dapat berjudi apa saja sepuasnya dan tentu

saja dalam melayani para pembesar berjudi, orang-orang

kepercayaan Ciu-wangwe tidak berani main curang, tidak

seperti jika melayani umum di situ dilakukan kecurangankecurangan

yang menjamin kemenangan bagi si bandar judi.

Bagi para pembesar yang senang pelesir dengan wanita,

mereka mendatangi likoan (hotel) di mana tersedia kamar

yang mewah berikut pelacurnya yang tinggal pilih dan mereka

memperoleh pelayanan istimewa! Bagi yang mengutamakan

lidah dan mulut, tersedia restoran yang menyediakan atau

mengirim arak wangi dan masakan lezat! Kesewenangwenangan

Ciu-wangwe tidaklah tampak atau terasa secara

langsung oleh penduduk. Hanya apabila ada orang berani

mendirikan tempat judi, restoran atau hotel baru yang

menyaingi perusahannya, maka diam-diam tukang pukulnya

akan bertindak dan memaksa si pemilik perusahan itu untuk

menutup pintu dan menurunkan papan nama perusahan!

Boleh orang lain membuka akan tetapi harus kecil-kecilan dan

mengirim “pajak” sebagai penghormatan kepada Ciu-wangwe!

Akan tetapi, beberapa bulan belakangan ini terjadilah

kegemparan-kegemparan di daerah kota

Leng-sia-bun. Kegemparan yang terasa oleh kaum pria

yang doyan pelesir di restoran dan hotel milik Ciuwangwe.

Hanya bedanya, kalau kegemparan para penduduk

dusun disertai tangis, adalah kegemparan di hotel-hotel itu

diiringi suara ketawa gembira sungguhpun di malam hari juga

mengakibatkan tangis mnyedihkan. Apakah yang terjadi di

kedua tempat itu? Di kota Leng-sia-bun, di dalam hotel milik

Ciu-wangwe, kini seringkali terdapat “barang baru”, yaitu

pelacur-pelacur muda yang baru, dan daun-daun muda seperti

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

ini paling disuka oleh bandot-bandot tua yang tidak segansegan

membuang uang sebanyaknya untuk memetik daundaun

muda itu! dan di dalam tempat-tempat rahasia di

belakang hotel, di dalam kamar-kamar gelap sering kali terjadi

hal yang mengerikan di mana seorang gadis remaja dipaksa

dan dicambuki, disiksa sampai mereka itu terpaksa

menyanggupi untuk dijadikan pelacur dan melayani kaum pria!

Dan sekali dara remaja ini melayani seorang tamu, segala

akan berjalan lancar dan beberapa bulan kemudian

perempuan remaja itu akan menjadi seorang pelacur kelas

tinggi yang dijadikan rebutan!

Pada waktu yang bersamaan, terjadi geger di dusun-dusun

di sekita daerah itu. Banyak terjadi

pembelian gadis-gadis muda, bahkan banyak terjadi

penculikan dan perampokan secara terang-terangan

dilakukan oleh gerombolan perampok ganas! Keluarga

gadis ini melakukan penyelidikan dan mereka

akhirnya dapat menemukan anak gadis mereka di Leng-siabun,

dalam keadaan yang menyedihkan karena

sudah menjadi pelacur-pelacur! Ada yang lenyap sama

sekali, bahkan ada yang terlunta-lunta sebagai

seorang wanita gila! Mereka ini adalah gadis-gadis yang

berkeras tidak mau menjadi pelacur. ada yang

disiksa sampai mati, dan ada yang diperkosa dan akhirnya

menjadi gila!.Tentu saja banyak di antara mereka yang

melapor kepada pembesar di Leng-sia-bun, akan tetapi

mereka itu

malah dimaki-maki karena dianggap menghina Ciuwangwe.

Dikatakan bahwa anak mereka menjadi pelacur, hal

ini adalah orang tua mereka yang tidak tahu malu dan tak

dapat mendidik anak, sekarang ada Ciu-wangwe yang

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

menampung mereka sehingga t idak kelaparan, mengapa

mereka itu malah melapor dan menuntut Ciu-wangwe?

Mereka melaporkan bahwa anak gaisnya di culik orang

yang ternyata anak gadis mereka itu tahu-tahu telah menjadi

pelacur di hotel milik Ciu-wangwe, malah dijatuhi hukuman

rangket karena menghina Ciu-wangwe, dan pelaporan mereka

itu dianggap fitnah karena tidak ada bukti bahwa anak mereka

diculik! Memang ada saja jalan dan alasan para penegak

hukum yang telah diperbudak oleh harta yang mereka terima

dari Ciu-wangwe itu, disamping suguhan anak-anak perawan

hasil penculikan! Untuk melakukan penculikan sendiri, tentu

saja para pembesar ini merasa malu. Kini ada yang

menculikan untuk mereka, hati siapa yang takkan senang?

Karena sudah merasa tersudut dan tidak berdaya lagi,

akhirnya mereka teringat akan nama besar Lam-hai Seng-jin,

Majikan pulau kura-kura yang terkenal sebagai seorang

pertapa yang suka menolong kesukaran orang lain yang

memerlukan pertolongan. Terutama sekali mereka yang

mempunyai anak perempuan dan yang merasa gelisah kalaukalau

pada suatu malam akan tiba giliran mereka didatangi

penculik yang akan melarikan anak mereka, segera

bermufakat untuk mita pertolongan pertapa itu dan akhirnya

berangkatlah serombongan orang menuju ke pulau Kura-kura.

Lam-hai Seng-jin menerima pelaporan mereka dan merasa

kasihan, maka dia mengutus murid tunggalnya yang sudah

mewarisi ilmu kepandaiannya untuk mewakilinya menyelidiki

dan memberi hajaran kepada komplotan penjahat itu. Juga dia

memberi ijin kepada muridnya untuk merantau selama satu

tahun.

Setelah memberi banyak nasihat, berangkatlah Kwee Lun

seorang diri naik perahu menuju ke daratan besar dan tanpa

disangkanya, dia telah berjumpa dengan Han Swat Hong

puteri kerajaan Pulau Es! Pada hari itu kota Leng-sia-bun

sibuk seperti biasa. Keadaan tetap ramai dan biasa seperti

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

tidak terjadi sesuatu dan seperti tidak akan terjadi sesuatu.

Tidak ada seorang pun yang tahu, di antara sebagian besar

penduduk yang memang tidak memikirkan lagi, bahkan malam

tadi telah terjadi seperti biasa, yaitu pemerkosaan dara-dara

culikan baru seperti seklompok domba disembelih, dan tidak

ada pula yang tahu bahwa pagi hari itu muncul dua orang

yang akan mendatangkan perubahan besar di kota itu,

menimbulkan geger yang akan menggemparkan kota dan

akan menjadi bahan cerita sampai bertahun-tahun lamanya.

Setelah menyelidiki di mana letaknya rumah makan milik Ciuwangwe,

Kwee Lun mengajak Swat Hong mendatangi rumah

makan itu. Sebuah rumah makan yang bangunannya indah

dan besar, dengan cat baru dan di depan rumah makan

terdapat tulisan dengan huruf besar “RUMAH ARAK” yang

berarti restoran. “Hong-moi, engkau lapar bukan? Mari kita

makan dan minum di sini.” Swat Hong memandang heran.

Bukankah ini rumah makan milik Hartawan Ciu yang menjadi

pemimpin komplotan penjahat di kota ini yang akan dibasmi

Kwee Lun? Dia memandang dan melihat mata pemuda itu

bersinar, kemudian Kwee Lun memejamkan sebelah mata

penuh arti. Swat Hong tersenyum geli. Mengertilah dia kini.

Pemuda itu hendak mengajaknya makan sampai kenyang

lebih dulu sebelum turun tangan. Dan memang dia merasa

lapar sekali!

“Aku tidak bisa bekerja tanpa makan lebih dulu,” pemuda

itu berkata lirih ketika mereka memasuki rumah makan dan

Swat Hong tersenyum-senyum. Sepagi itu, rumah makan

sudah terisi setengahnya oleh mereka yang beruang, karena

rumah makan ini terkenal sebagai rumah makan mahal. Dua

orang pelayan, pria dan wanita, yang wanita masih muda dan

genit, dengan wajah yang ditutup warna putih dan merah

yang tebal seperti tembok dikapur dan digambar, menyambut

mereka dengan sikap manis. Kwee Lun dan Swat Hong diantar

ke sebuah meja kosong di sudut dan dengan suara lantang

Kwee Lun memesan makanan dan minuman yang paling lezat,

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

dalam jumlah banyak sekali. Para pelayan menjadi terheranheran

mendengar pesanan masakan yang pantasnya untuk

menjamu sepuluh orang! Akan tetapi melihat sikap kasar dari

pemuda tinggi besar itu, pula melihat dua batang pedang dan

kipas yang diletakan di atas meja, mereka tidak berani banyak

cakap dan melayani mereka. Diam-diam seorang pelayan

memberi tahu kepada kepala tukang pukul yang berada di

dalam.

Dua orang tukang pukul yang berpakaian biasa, dan

dengan sikap biasa pula, keluar dari dalam

dan berjalan lewat dekat meja Kwee Lun dan Swat Hong.

Kedua orang tidak perduli dan berpura-pura t idak.melihat.

Juga Swat Hong melanjutkan makan sambil kadang -kadang

tersenyumgeli menyaksikan betapa

temannya itu makan dengan lahapnya. Dia belum

menghabiskan setengah mangkok, Kwee Lun sudah menyapu

bersih lima mangkok. Ketika dua orang itu lewat, Swat Hong

hanya melirik sebentar dan mengerahkan ilmu sehingga

telinganya terbuka dan dapat menangkap dengan ketajaman

luar biasa ke arah kedua orang itu yang masih berjalan-jalan

di ruangan itu, seolah-olah sedang memriksa dan kadangkadang

membenarkan letak kursi dan meja yang kosong.

“Aku tidak mengenal mereka,” terdengar yang kurus pucat

berkata.

“Tapi gadis itu hebat….,” kata orang ke dua yang pendek

dan berperut gendut. “Kalau dia bisa didapatkan, tentu Loya

(Tuan Tu) akan memberi banyak hadiah kepada kita.”

“Hushh… apa kau mau menyaingi pekerjaan Tian-ci-kwi

(Setan Berjari Besi)?”

“Ah, siapa tahu, dengan cara halus bisa mendapatkan

dia….”

“Tapi pemuda itu kelihatan jantan!”

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Huh, takut apa? Orang kasar seperti itu….”

“Tapi jangan memancing keributan, Lote, kita nanti tentu

dimarahi Loya.” “Aku tidak bodoh, mari kita pergunakan cara

halus. Lihat, mereka telah selesai makan. Raksasa itu

makannya melebihi babi!”

Swat Hong yang sedang minum hampir tersedak karena

geli hatinya mendengar temannya yang gembul itu dimaki

seperti babi. Akan tetapi Kwee Lun agaknya tidak

mempedulikan sesuatu dan tidak melakukan penyelidikan

seperti Swat Hong, tidak mendengar makian itu dan

mengelus-elus perutnya yang kenyang. Dia kelihatan puas

sekali telah dapat makan minum secukupnya di dalam

restoran itu. Pada saat itu dua orang tukang pukul tadi sudah

menghampiri mereka. Yang kurus pucat sudah menjura sambil

berkata, “kami mewakili Ciu-wangwe pemilik restoran ini

menghaturkan selamat datang kepada Jiwi.”

Sebelum Kwee Lun yang terheran-heran menjawab, Si

Gendut pendek sudah menyambung sambil menyeringai dalam

usahanya untuk tersenyum ramah. “Tentu Jiwi datang dari

jauh dan lelah. Majikan kami juga memiliki hotel yang paling

besar, paling bersih dan paling baik di kota ini, letaknya di

sebelah kiri rumah makan ini. Jiwi akan dapat mengaso

dengan enak di hotel kami dan kalau Loya kami mendengar

bahwa Jiwi adalah tamu dari jauh, tentu biayanya akan diberi

potongan separuhnya.” Kwee Lun sudah mengerutkan alisnya,

mukanya merah dan dia seakan-akan memperoleh

kesempatan mulai beraksi. “kalian berani mengganggu kami

yang sedang makan?” Mendadak kakinya tertendang ujung

kaki Swat hong dan ketika dia memandang, dia melihat isyarat

dalam sinar mata gadis itu, maka dia hanya mengerutkan alis

dan tidak melanjutkan kata-katanya. Swat Hong sendiri segera

berkata kepada dua orang itu dengan suara ramah dan sikap

manis, “Kalian sungguh ramah, tentu majikan kalian adalah

seorang yang mengenal pribudi. Baik, kami memang hendak

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

bermalam barang dua hari di kota ini. Akan tetapi melihat

keramahan kalian, aku ingin bertemu dengan majikan kalian

untuk menghaturkan terima kasih.”

Dua orang itu saling pandang. “Marilah kami antarkan Nona

dan Tuan agar memperoleh kamar yang paling baik di hotel,

kemudian kami akan melapor kepada majikan kami….”

“Tidak usah repot-repot!” Swat Hong berkata cepat.

“Temanku ini masih hendak melanjutkan

makan minum….heiii! Pelayan tambah araknya! Biarlah

saya yang menemui majikan kalian dan memilih

kamar di hotel sebelah. Kami sudah mendengar tentang

kebaikan hati majikan kalian dari pembesar-pembesar

di kota ini, dan kami memang ingin minta pekerjaan. Aku

ingin bekerja apa saja yang pantas dan

temanku itu…. dia tentu bisa menjadi seorang penjaga

keselamatan..Dapat dibayangkan betapa girangnya hati kedua

orang itu. Sudah terbayang di depan mata betapa mereka

akan menerima pujian berikut hadiah dari Ciu-wangwe.

Seorang nona begini cantik jelita seperti bidadari, tanpa susah

payah datang sendiri ke depan mulut, tinggal membuka mulut

dan mencaplok saja! Ciu-wangwe tentu senang sekali, bukan

untuk hartawan itu sendiri yang kesenangannya bukan

memeluk wanita cantik, melainkan untuk menyenang hati para

pembesar setempat. Ciu-wangwe sendiri kesenangannya

hanya satu, yaitu uang dan kedudukan!

“Bagus sekali kalau begitu, Nona! Kebetulan pada saat ini

Ciu-wangwe sedang menjamu pembesar yang paling

terhormat di kota ini. Mereka sedang berpesta di ruangan

belakang hotel kami. Mari kami antar Nona ke sana!”

“Tidak usah, kalian di sini saja melayani temanku!” Sambil

berkata demikian Swat Hong sudah bangkit berdiri dan cepat

laksana kilat kdua tangannya bergerak seperti seorang wanita

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

yang menepuk-nepuk pundak kedua orang itu dengan

ramahnya, akan tetapi dapat dibayangkan betapa kaget rasa

hati kedua orang tukang pukul itu ketika tiba-tiba tubuh

mereka menjadi lemas dan kaki tangan mereka tak dapat

digerakan lagi.

“Ha-ha, duduklah kalian, mari temani aku minum arak!”

Kwee Lun yang dapat melihat gerakan temannya itu cepat

bangkit berdiri, kakinya bergerak dan kedua lutut mereka

telah terkena tendangan ujung sepatunya sehingga terlepas

sambungannya. Sambil tersenyum Kwee Lun sudah

mendudukan mereka di atas bangku di kanan kirinya!

Para tamu hanya melihat empat orang itu seperti beramah

tamah, maka mereka tidak tertarik lagi, hanya tertarik kepada

Swat Hong yang memang sejak tadi telah menjadi perhatian

pandang mata para tamu pria yang berada di dalam restoran.

Mereka menahan napas melihat dara cantik jelita itu dengan

langkah gontai meninggalkan restoran, membawa dua batang

pedang dan sebuah kipas, “Aku pinjam dulu ini!” kata Swat

Hong tadi kepada Kwee Lun yang hanya memandang dengan

terheran-heran melihat kedua senjatanya dibawa pergi oleh

Swat Hong. “Agar kau tidak kesalahan membunuh orang!”

kata pula Swat Hong dan Kwee Lun tersenyum. Kiranya gadis

itu tidak ingin melihat dia membunuh orang, maka sengaja

membawa pergi kedua senjatanya. Di dalam hatinya dia

mentertawakan Swat Hong. Apakah tanpa kedua senjata itu

kaki dan tanganku tidak mampu membunuh orang? Pula,

apakah dia seekor harimau yang haus darah? Biarlah, pikirnya.

Gadis itu masih belum percaya kepadanya, dan dia akan

memperlihatkan kelihaianya tanpa bantuan senjata. Sambil

tertawa-tawa kepada dua orang tukang pukul yang duduk

seperti boneka dan tak mampu bergerak itu, Kwee Lun

melanjutkan minum arak. Karena hawa mulai panas

disebabkan oleh hawa arak, pemuda perkasa ini melepaskan

kancing bajunya sehingga tampak rambut halus ditengah

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

dadanya yang bidang dan kokoh kuat itu. Tiba-tiba seorang

pelayan menghampiri meja Kwee Lun. pelayan ini tadi melihat

ketidak wajaran pada kedua tukang pukul yang duduk

berhadapan dengan pemuda itu. Mengapa mereka tidak

bergerak-gerak dan duduk dengan lemas, dan ketika dia

bertemu pandang, tukang pukul yang gendut pendek itu

mengejapkan mata kepadanya sedangkan dari kedua mata

tukang pukul kurus pucat itu keluar dua titik air mata. Maka

dia cepat menghampiri dan melihat dari dekat. “mau apa

kau? pergi!” Kwee Lun membentak dan pelayan itu kaget

sekali, lalu lari pergi masuk ke dalam untuk melaporkan

keanehan itu kepada kepala tukang pukul yang lain. Kwee

Lun bukanlah seorang yang bodoh. Dan maklum bahwa

pelayan itu telah melihat keadaan dan tentu akan melapor ke

dalam. Maka dia memandang ke sekeliling dan mencari akal.

Ketika dia melihat segulung tambang yang besar dan kuat,

timbullah akalnya. Dia bangkit berdiri, melangkah lebar ke

dekat meja pengurus, menyambar gulungan tambang itu dan

berkata dengan suara lantang yang ditujukan kepada para

tamu yang duduk di ruangan restoran itu, “Semua orang yang

berada di dalam restoran ini harap lekas pergi! Restoran ini

akan ambruk!”

Kemudian sekali melompat tubuhnya telah berada di luar

restoran. Di ikatkan ujung tambang ke pilar di

depan, pilar yang ikut menyangga atap, kemudian dia

membawa ujung tambang yang lain ke jalan depan

restoran. Dengan memegang ujung tambang, mulailah

pemuda raksasa ini menarik tambang, melalui atas

pundak kanannya yang menonjolkan otot besar yang amat

kuatnya. Tambang besar itu menegang,

kemudian terdengar suara berkerotok. Orang-orang sudah

mulai lari keluar rumah makan itu dan mereka

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

ada yang ketawa-tawa geli menyaksikan pemuda itu

menarik tambang. Tentu pemuda itu sudah mabok,

pikir mereka. Mana mungkin merobohkan bangunan yang

besar itu dengan cara demikian? Menarik

tambang yang diikatkan pada pilar yang demikian besar

dan kuatnya. Kalau tidak mabok tentu sudah gila!.Memang

membutuhkan tenaga gajah untuk dapat menumbangkan pilar

yang sedemikian

kokohnya. Kwee Lun mengerahkan tenaga, matanya

terbelalak, dahinya penuh keringat dan mulutnya

mengeluarkan gerengan yang langsung keluar dari dalam

pusarnya, seluruh tubuhnya menarik tambang dengan

pemusatan perhatian dan tenaga.

“Krakkk….!” Pilar yang kokoh kuat itu patah tengahnya!

Orang-orang berteriak kaget dan mulai berlari-lari ketakutan.

Terdengar bunyi hiruk pikuk ketika akhirnya, atap rumah

makan itu runtuh ke bawah dan menyusul debu mengebul

tinggi dibarengi teriakan-teriakan mengerikan dari dalam di

mana masih banyak pekerja restoran itu yang teruruk. Di

antara suara hiruk pikuk ini terdengar suara ketawa dari Kwee

Lun yang masih memegang tamban besar itu di kedua

tangannya. Tali besar itu sudah terlepas dari pilar dan kini

menjadi senjata di kedua lengan yang dilingkari otot itu.

Tempat itu menjadi sunyi dan biarpun banyak sekali

penduduk kota yang berlari-larian datang, mereka hanya

menonton dari jauh saja, tidak ada yang berani mendekati

restoran yang sudah runtuh itu. Belasan orang tukang pukul

datang berlarian, dari belakang restoran yang roboh dan dari

rumah judi yang berada di sebelah kanan restoran.

“Itu orangnya….!” Seorang pelayan restoran yang berhasil

menyelamatkan diri menuding ke arah Kwee Lun.

“Tangkap penjahat….!”

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Serbu….!”

“Bunuh….!”

Lima belas orang tukang pukul dengan bermacam senjata

di tangan mereka, belari-lari datang menyerbu dan

mengurung Kwee Lun. Pemuda ini masih tersenyum lebar, tali

tambang tadi masih melingkar-lingkar di kedua lengan, kdua

kakinya terpentang lebar dan sikapnya gagah sekali, membuat

lima belas orang tukang pukul itu merasa gentar dan raguragu

untuk mendahului maju menyerang. Seorang yang telah

meruntuhkan sebuah bangunan seperti restoran itu, sudah

jelas memiliki tenaga gajah! Apalagi melihat sikap yang

demikian gagah.

“Ha-ha-ha, hayo majulah! Mengapa ragu-ragu? Hayo

keroyoklah aku! Memang aku datang untuk membasmi

komplotan yang merajalela di Leng-sia-bun. Kalian ini anak

buah si keparat Ciu Bo Jin, bukan? Mana itu hartawan Ciu

jahanam, si penculik gadis orang! Suruh dia keluar, biar

kuhancurkan kepalanya!” “Serbu….!!” Kepala tukang pukul,

seorang she Ma yang juga memiliki ilmu kepandaian tinggi dan

menjadi tangan kanan Ciu-wangwe, berseru setelah diamdiam

dia mengutus seorang anak buahnya untuk melaporkan

kepada Ciu-wangwe di hotel, dan seorang anak buah lagi

disuruh minta bala bantuan di markas keamanan!

Tiga belas orang tukang pukul, dipimpin oleh Ma Siu

menyerbu dengan senjata mereka. Akan tetapi, Kwee Lun

tertawa bergelak dan begitu kedua lengannya bergerak, tali

besar yang panjang menyambar dan menjadi gulungan sinar

yang besar panjang. Setiap senjata pengeroyok yang

terbentur tali itu terlepas dari pegangan pemiliknya sehingga

terdengarlah teriakan-teriakan kaget karena dalamsegebrakan

saja, lima orang tukang pukul kehilangan senjata mereka dan

dua orang lagi terpelanting roboh dan tak dapat bangun

kembali karena tulang punggung dan tulang iga mereka patah

oleh hantaman tambang!

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Ma Siu menjadi marah sekali dan dengan nekat dia

bersama sisa anak buahnya menyerbu dan

menghujankan senjata mereka kepada Kwee Lun. Namun

pemuda Pulau Kura-kura ini sambil tertawa

melakukan perlawanan seenaknya. Teringat dia oleh

perbuatan Swat Hong yang menyingkirkan pedang

dan kipasnya, karena andaikata dia menggunakan dua

senjata itu, agaknya sekarang semua tukang pukul

sudah roboh kehilangan nyawa mereka! Dan dia tahu

bahwa biang keladi semua kejahatan adalah orang

She Ciu, adapun para tukang pukul ini hanya orang-orang

yang mencari nafkah mengandalkan ilmu silat

mereka! Biarpun cara mencari nafkah dengan menjadi

tukang pukul adalah perbuatan sesat yang

menimbulkan kekejaman, namun andaikata tidak ada

Hartawan Ciu yang menjadi sumber maksiat, agaknya

mereka tidak akan berani mengacaukan sebuah kota besar

seperti Leng-sia-bun. Diam-diam dia.membenarkan tindakan

Swat Hong dan teringat dia akan nasehat suhunya bahwa di

dalam perantauannya,

dia tidak boleh sembarangan membunuh orang!

Sementara itu, di dalam hotel juga terjadi keributan hebat.

Dengan dua batang pedang tergantung di punggung dan kipas

gagang perak di tangan, Swat Hong memasuki hotel besar di

sebelah kiri restoran. Gedung yang lebih megah dan besar

daripada restoran itu. Dengan sikap tenang dia berjalan

menaiki anak tangga di depan hotel.

Beberapa orang pelayan segera menyambutnya dengan

wajah berseri. Biarpun dara ini membawa pedang di punggung

namun kecantikannya yang luar biasa menyenangkan hati

para pelayan. “Apakah Nona mencari kamar,?” tanya seorang

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

pelayan dengan senyum manis. “Bukan mencari kamar, akan

tetapi aku mencari Ciu-wangwe,” jawab Swat Hong tanpa

memperdulikan senyum itu.

Wajah para pelayan itu berubah dan pandang mata mereka

membayangkan kecurigaan, “Tidak semudah itu mencari Loya,

Nona,. Pula, kami tidak tahu dimana adanya Ciu-wangwe

sekarang ini….” kata seorang di antara mereka dengan suara

hati-hati.

“Aihhh, kalian tidak perlu membohong lagi. Aku mengenal

Ciu-wangwe dan kedatanganku adalah atas undangannya. Aku

tahu bahwa dia sedang menjamu kepala Daerah di ruangan

belakang hotel ini, bukan? Kalau kalian tidak membawaku

menemuinya sekarang juga, bukan hanya dia akan marah

kepada kalian, akan tetapi aku pun akan kehabisan sabar!”

Mendengar ini, para pelayan itu saling pandang, lalu

seorang di antara mereka memanggil tukang pukul. Dua orang

tukang pukul datang berlari. Mereka adalah bekas-bekas

perampok yang tentu saja dapat menduga bahwa wanita ini

tentulah seorang kang-ouw, maka mereka segera memberi

hormat dan bertanya, “Ada urusan apakah Lihiap hendak

bertemu dengan Ciu-wangwe?”

Swat Hong memandang tajam dan mengambil sikap marah.

Eh, pangkat kalian di sini apa sih berani bertanya-tanya

urusan antara aku dan Ciu-wangwe? Lekas bawa aku

menemuinya!” “Tapi… tapi…. Loya sedang menjamu Tai-jin,

tidak boleh diganggu!” “Siapa mau mengganggu? Aku justru

datang memenuhi panggilannya untuk meramaikan pesta!

Kalau dia marah, biar aku yang tanggung jawab, akan tetapi

kalau kalian berani menolak aku, dia akan marah kepada

kalian!”

Dua orang tukang pukul itu saling pandang, kemudian

mereka berkata, “Baiklah mari kami antarkan Lihiap ke

dalam.” Mereka telah mengambil keputusan dengan isyarat

mata untuk mengawal dan menjaga wanita cantik ini. Kalau

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

wanita ini mempunyai niat buruk, masih belum terlambat

untuk merobohkannya. Siapa tahu, melihat kecantikannya

yang luar biasa, sangat boleh jadi kalau dia ini adalah seorang

yang dikenal oleh Ciu-wangwe dan benar-benar dipesan

datang untuk menghibur pembesar! Dengan langkah tenang

sambil mengipasi lehernya dengan kipas gagang perak, Swat

Hong diiringkan dua orang tukang pukul itu melalui gang yang

berliku-liku, melalui kamar-kamar di mana terdapat wanitawanita

cantik yang rata-rata wajah layu dan bermata sayu,

ada yang duduk sendiri, ada pula yang sedang berduaan

dengan seorang tamu pria karena terdengar suara ketawa

laki-laki di dalam kamar itu, kemudian tibalah mereka di

ruangan belakang yang luas dan terjaga oleh belasan orang

prajurit pengawal yang bercampur dengan para tukang pukul.

Ketika mereka bertiga muncul, tentu saja para penjaga dan

pengawal itu memandang Swat Hong dengan penuh

perhatian. Dua orang tukang pukul itu agaknya bangga dapat

mengawal nona cantik jelita ini maka sambil mengacungkan

ibu jari, mereka berkata, “Barang baru! Pesanan khusus!”

Maka tertawa-tawalah para pengawal dan tukang pukul itu

memasuki pintu besar yang menembus ke dalam ruangan.

Karena mereka yang duduk mengitari meja besar terdiri

dari belasan orang berpakaian serba indah

dan masing-masing dilayani dan dirubung wanita-wanita

muda dan cantik, Swat Hong tidak mau bertindak.sembrono.

Dia tidak tahu siapa Ciu-wangwe dan yang mana pula kepala

daerah, maka dia menanti dan

membiarkan dua orang tukang pukul itu melapor.

Akan tetapi sebelum kedua orang yang sudah menjura

penuh hormat itu sempat membuka mulut, seorang yang

berpakaian serba biru, berusia lima puluh tahun, bertubuh

tinggi kurus dan matanya besar sebelah, telah bangkit berdiri

dan membentak, “Haii! Mengapa kalian lancang….?” Dia tidak

melanjutkan ucapannya karena matanya telah dapat melihat

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Swat Hong dan kini dia memandang heran. Swat Hong sudah

melangkah ke dalam, mendekati meja lalu bertanya kepada

laki-laki berpakaian biru itu, “Apakah aku berhadapan dengan

Ciu-wangwe?”

Laki-laki itu memang benar Ciu Bo Jin. Dia merasa curiga

sekali, akan tetapi karena dia mengandalkan ilmu

kepandaiannya sendiri, pula dia berada di tempatnya sendiri

yang terjaga oleh para anak buahnya, bahkan disitu terdapat

pula pasukan pengawal Gu-taijin, maka sambil tersenyum

lebar dia melangkah maju dan berkata, “Benar, aku adalah

orang she Ciu yang kau cari. Nona siapakah dan ….

heiiittt….” Dia cepat mengelak ke kiri ketika melihat nona

cantik itu sudah menerjang maju, menggunakan tangan

kirinya mencengkeram ke arah pundaknya. Gerakan Ciuwangwe

cukup cekatan dan memang dia telah memiliki ilmu

kepandaian tinggi. Akan tetapi sekali ini dia berhadapan

dengan seorang dara perkasa yang luar biasa lihainya, maka

baru saja dia mengelak, tahu-tahu ujung gagang kipas terbuat

dari perak itu telah menotok jalan darah di punggungnya dan

dia terpelanting roboh dengan tubuh lemas! Peristiwa ini

terjadi sedemikian cepatnya sehingga tidak terduga sama

sekali, maka terjadilah keributan hebat. Seorang yang

tubuhnya gendut dan mukanya merah sekali, agaknya sudah

mabok, bangkit berdiri dengan t iba-tiba sehingga dua orang

pelacur cantik yang tadinya duduk di atas kedua pahanya

terpelanting jatuh sambil menjerit. Orang ini berpakaian

mewah dan sikapnya agung-agungan, sambil berdiri dia

berseru, “Hai… pengawal….! Tangkap pengacau…!!”

Pintu depan terbuka dan para pengawal serta tukang pukul

berlompatan masuk. Swat Hong girang sekali karena dia dapat

menduga bahwa Si Gendut itulah tentu yang menjadi kepala

daerah, orang she Gu yang diperalat oleh Ciu-wangwe. Maka

dia sudah meloncat ke dekat orang itu, mencabut pedangnya

dan menempelkan pedang telanjang di leher Gu-taijin sambil

menghardik, “Gu-taijin! Cepat kau menyuruh mundur semua

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

orangmu! Kalau tidak, pedang ini akan menyembelih

lehermu!” Swat Hong menahan geli hatinya melihat tubuh

yang gendut itu menggigil semua dan dia menahan jijiknya

karena terpaksa menggunakan tangan kanan mencengkeram

leher baju. Apalagi ketika melihat betapa lantai di bawah

pembesar gendut ini t iba-tiba menjadi basah, tersiram air

yang membasahi celana, dia makin jijik. Ingin dia

membacokkan pedangnya saja agar manusia tiada guna ini

tewas seketika kalau saja dia t idak teringat bahwa jalan satusatunya

untuk membantu Kwee Lun membereskan urusannya

hanyalah menangkap pembesar ini hidup-hidup. Biarpun

manusia gendut ini tidak ada gunanya, akan tetapi manusia

yang bagaimana pun pengecut dan lemahnya, sekali

menduduki pangkat besar, menjadi seorang yang sewanangwenang

dan jahat! Makin pengecut dan makin rendah watak

orang itu makin celakalah kalau dia memperoleh kedudukan

tinggi, karena kerendahan akalnya akan membuat dia makin

jahat, mempergunakan kekuasaannya yang kebetulan

melindunginya.

“Am… ampun…!” Gi-taijin dengan sukar sekali

mengeluarkan suara. Mendengar betapa lehernya akan

disembelih, apalagi disembelih berlahan-lahan dan sedikit

demi sedikit, membayangkan betapa lehernya akan terasa

perih dan nyeri, berlepotan darah, betapa dia akan mati dan

meninggalkan semua kemewahan dan kesenangan hidupnya,

hampir dia pingsan!

“Suruh mereka mundur…!” Kembali Swat Hong membentak

dan tangan kirinya mencengkeram tengkuk. “Ouwwhhh…!”

Pembesar itu menjerit, mengira tengkuknya disembelih,

padahal hanyalah jari-jari saja yang mencengkeramnya. “Heii,

mundur kalian! Tolol semua!

Mundur kataku, dan jangan membantah… Li… Lihiap…!”

Para pengawal menjadi bingung dan dengan muka pucat

dan mata terbelalak lebar mereka mundur sambil memandang

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

penuh kesiapsiagaan. Pada saat itu, seorang tukang pukul

telah berhasil membebaskan totokan Ciu-wangwe dan kini

hartawan itu dengan marahnya berteriak kepada tukang

pukulnya, “Cepat serbu iblis betina itu….!”.Swat Hong kembali

mencengkeram tengkuk Gu-taijin. “Suruh jahanam Ciu itu

menyerah!” “Ouughh… Ciu-wangwe… jangan…! jangan

melawan….!”

Ciu-wangwe yang melihat betapa kepala daerah itu telah

ditangkap, sejenak menjadi bingung sekali. Akan tetapi tentu

saja dia tidak sudi menyerah dan pada saat itu terdengar

suara hiruk pikuk di sebelah luar hotel. Tahulah Swat Hong

bahwa Kwee Lun tentu telah turun tangan pula mulai bereaksi,

maka dia berkata, “Orang she Ciu! Kejahatanmu berakhir di

hari ini juga!” Selagi Ciu-wangwe kebingungan, tiba-tiba

datang seorang tukang pukulnya dari luar dan berteriak-teriak,

“Celaka… Loya…. ada orang merobohkan restoran kita….!”

Akan tetapi orang ini terbelalak memandang ke dalam dengan

muka pucat. Dia melihat kepala daerah berada dalam

cengkeraman wanita cantik itu dan melihat Ciu-wangwe

berdiri bingung. Mendengar ini, Ciu-wangwe menjadi kaget

dan mengira bahwa tentu banyak musuh yang datang

menyerbunya. Dia tidak mau mempedulikan Gu-taijin lagi.

Dalam keadaan seperti itu, yang terbaik baginya adalah

berada di luar dan berusaha mengerahkan seluruh anak

buahnya untuk menghadapi para penyerbu. Keselamatan Gutaijin

tentu saja tidak dipedulikannya lagi. Maka tanpa berkata

apa-apa lagi dia lalu berlari hendak keluar dari ruangan besar

itu. “Hendak kemana engkau?” Swat Hong cepat menotok

roboh Gu-taijin dan meloncat ke depan. Tubuhnya melayang

dan Ciu-wangwe hanya melihat sesosok bayangan berkelebat

dan tahu-tahu wanita cantik itu telah berdiri di depannya!

“Serbu….!” Bentaknya dan dia sendiri yang sudah

mencabut goloknya membacok dengan cepat sambil

mengerahkan seluruh tenaganya.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Sing-sing-singggg….!!” Bertubi-tubi golok itu menyambar

dan kini anak buahnya juga sudah membantunya.

Swat Hong cepat memutar pedangnya dan mengerahkan

sinkang disalurkan kepada pedang itu. “Cring-cring-trangtrang-

trang….!!” Sebatang golok di tangan Ciu-wangwe dan

empat batang pedang terlepas dari pegangan pemiliknya, dan

tiga orang pengeroyok roboh terkena totokan kipas perak di

tangan kirinya! Melihat kelihaian wanita ini, bukan main

kagetnya hati Ciu-wangwe. Dia sudah berpengalaman dan

tahulah dia bahwa kalau dia melanjutakn, dia sendiri akan

roboh di tangan wanita lihai ini. Maka jalan terbaik baginya

adalah lari keluar untuk mengerahkan anak buahnya dan kalau

perlu melarikan diri! Melihat orang yang hendak ditangkapnya

itu lari, Swat Hong hendak mengejar, akan tetapi pada saat itu

dia melihat tubuh gendut Gu-taijin sedang dibantu oleh

beberapa orang meninggalkan tempat itu. Celaka, pikirnya.

Dia harus dapat menangkap pembesar itu , kalau tidak, tentu

akan sukar menundukan semua orang.

Maka dia lalu mengerahkan tenaga pada tangan kanan,

tangan kanan itu bergerak dan pedangnya meluncur seperti

kilat menyambar ke depan. Terdengar jerit mengerikan dan

tubuh Ciu-wangwe terjungkal ke depan, dadanya ditembusi

pedang dari punggung dan dia tewas seketika!

Swat Hong telah melompat dan tangan kanannya kembali

sudah mencabut pedang, kini pedang milik Kwee Lun yang

dicabutnya. Kipas di tangan kirinya merobohkan empat orang

pengawal yang tadi membantu Gu-taijin dan mereka roboh

tertotok, kemudian sebelum pembesar itu sempat bergerak,

dia sudah mencengkeramnya lagi, bahkan yang dicengkeram

adalah pundaknya sambil mengerahkan tenaga. “Aughhh…

add… duh… duh…duhhh… ampun, Lihiap….!” Gu-taijin

berteriak-teriak seperti seekor babi disembelih.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Hayo cepat suruh mereka semua mundur!” bentak Swat

Hong, kembali pedang telanjang ditekankan di tengkuk

pembesar itu.

“Mundur kalian semua! Keparat! Kurang ajar kalian!

Disuruh mundur tidak cepat mentaati perintah! Apa minta

dihukum gantung semua!” Mendengar pembesar ini dengan

suara galak sekali, seperti biasanya, membentak-bentak,

semua pengawal dan anak buah Ciu-wangwe terbelalak

ketakutan dan mundur. Apalagi mereka melihat betapa Ciuwangwe

sudah tewas. Para pelacur yang tadi melayani

perjamuan itu, menjerit-jerit dan lari pontang-panting,

kemudian bersembunyi di kolong-kolong meja dan belakangbelakang

lemari..Swat Hong mendengar suara ribut-ribut

diluar, suara pertempuran. Tahulah dia bahwa Kwee Lun

sedang dikeroyok. Cepat dia menarik tubuh pembesar Gu

keluar dari hotel, kemudian dengan mencengkeram punggung

baju, dia membawa pembesar gendut itu meloncat ke atas

genteng. Semua orang memandang heran melihat betapa

seorang gadis cantik dan muda seperti itu mampu meloncat

sambil mencengkeram tubuh seorang laki-laki bertubuh

gendut dan berat seperti pembesar itu! Swat Hong masih

mencengkeram punggung Gu-taijin yang pucat sekali

wajahnya, menggigil kedua kakinya. Tentu saja dia merasa

ngeri berdiri di atas genteng, di pinggir sekali. Terpeleset

sedikit saja dia tentu akan melayang jatuh ke bawah,

tubuhnya akan remuk! Selama hidupnya tentu saja belum

pernah dia naik ke atas genteng. Akan tetapi karena dia

ditodong dan merasa takut sekali kepada wanita perkasa yang

mencengkeram punggungnya, dia mentaati perintah Swat

Hong dan dengan suara lantang dia berteriak-teriak dari atas.

“Haiii…. mundur semua…!” Dia melihat pasukan keamanan

sudah berada di situ, dipimpin oleh Bhong-ciangkun, perwira

yang mengepalai pasukan keamanan.

“Bhong-ciangkun, suruh semua pasukan mudur!”

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Pada saat itu, Kwee Lun sedang mengamuk. Tadinya yang

mengeroyoknya hanyalah para tukang pukul anak buah Ciuwangwe

dan dia sudah berhasil merobokan belasan orang

dengan tambang di tangannya yang kini sudah berlepotan

darah. Akan tetapi dia kewalahan juga ketika pasukan

keamanan datang. Pasukan yang jumlahnya hampir seratus

orang itu tentu saja tidak mungkin dapat dia lawan seorang

diri hanya mengandalkan segulung tambang! Maka dalam

amukannya itu, dia sudah menerima pula beberapa bacokan

senjata tajam yang melukai pinggul dan punggungnya,

membuat pakaiannya berlepotan darah pula. Namun, sedikit

pun semangatnya tidak menjadi kendur, bahkan darah

dipakaiannya itu seolah-olah membuat dia makin bersemangat

lagi!

Melihat betapa atasannya berada di atas genteng dan

mengeluarkan perintah itu, Bhong-ciangkun

terkejut dan cepat dia mengeluarkan aba-aba menyuruh

pasukannya mundur. Kwee Lun ditinggalkan

seorang diri, berdiri dengan kedua kakinya terbentang

lebar, pakaian dan tambangnya berlumuran darah,

gagah bukan main sikapnya. Sisa anak buah Ciu-wangwe

tidak ada lagi yang berani maju setelah para

pasukan itu diperintahkan mundur. Apalagi ketika mereka

itu mendengar bisikan teman-teman bahwa Ciu-wangwe

telah tewas oleh dara di atas genteng itu!

Ketika Kwee Lun melihat betapa Swat Hong telah berdiri di

atas gentang sambil membawa Gu-taijin, diam-diam dia

menjadi kagum bukan main. Kiranya gadis itu amat cerdiknya.

Tahulah dia bahwa dara perkasa itu hendak menggunakan

kekuasaan Gu-taijin untuk membasmi kejahatan yang

merajalela di Leng-sia-bun! Maka sambil tertawa bergelak dia

pun melompat dan tubuhnya melayang ke atas genteng di

mana dia berdiri di samping Swat Hong dan berkata

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

mengejek, “Hong-moi, bagaimana kalau kita orong ton

kotoran ini ke bawah saja dan melihat perutnya berhamburan

di bawah sana?” “Jangan…. jangan … aduh, ampunkan

saya….” Gu-taijin berkata memohon dengan rasa takut

menghimpit hatinya.

“Kalau begitu, hayo kau membuat pengumunan dan

perintah, menurutkan kata-kataku.” Swat Hong berbisik di

belakang pembesar itu. Gu-taijin mengangguk-angguk,

kemudian terdengarlah suaranya lantang mengikuti perintah

yang dibisiki oleh Swat Hong.

“Hai, dengarlah baik-baik semua pembantuku dan semua

penduduk Leng-sia-bun! Hari ini,

dengan bantuan Kwee-taihiap dari Pulau Kura-kura, aku

baru mengetahui bahwa di kota ini terdapat

komplotan penjahat yang diketuai oleh Hartawan Ciu Bo

Jin! Mereka mendirikan rumah judi, hotel-pelacuran,

dan rumah makan di mana terjadi segala macam kejahatan

perjudian curang, pemaksaan

terhadap gadis-gadis yang diculik untuk dijadikan pelacur

dan penyogokan terhadap para petugas

pemerintah! Sekarang Ciu-wangwe telah tewas! Anak

buahnya akan diampuni asal saja mulai sekarang

mau merobah watak dan tidak lagi melakukan kejahatan !

Dan semua wanita yang dipaksa menjadi pelacur,

akan dibebaskan dan dikirim pulang ke rumah masingmasing

dengan mendapat bekal masing-masing

seratus tail perak! Semua ini harus dijalankan sebaiknya.

Kalau ada yang melanggar dia akan dihukum

sesuai dengan hukuman pemerintah, dan selain itu, juga

Kwe-taihiap sendiri akan selalu mengawasi dan

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

memberi hukuman terhadap mereka yang tidak mentaati

perintah kami ini!”.Tiba-tiba terdengar sorak-sorai penduduk

dan terjadi keributan karena beberapa tukang pukul yang

pernah

berbuat sewenang-wenang, tiba-tiba dikeroyok oleh

penduduk! Sekali ini, para pasukan pemerintah tidak ada yang

berani melindunginya para tukang pukul itu sehingga mereka

mengaduh-aduh dan tidak berani melawan, mengalami

pemukulan penduduk sampai babak belur! Dan para wanita

pelacur yang berasal dari keluarga baik-baik dan yang

dipakasa menjadi pelacur dengan berbagai ancaman dan

siksaan, sudah menangis riuh-rendah, menangis saking

girang, terharu, dan juga duka. “Awas kau, Gu-taihiap. Kalau

sampai semua ucapanmu tadi tidak kau laksanakan, kami akan

melaporkan bahwa engkau sebagai seorang kepala daerah

telah diperalat oleh orang jahat dengan jalan sogokan, dan

selain itu, kami akan datang kembali khusus untuk

menyembelih lehermu!” Swat Hong berbisik dengan nada

penuh ancaman. Pembesar itu mengangguk-anggukkan

kepalanya seperti seekor ayam mematuki gabah. Ketika dia

mengangkat muka memandang, ternyata kedua orang itu

telah lenyap dan dia hanya berdiri sendiri saja di atas genteng

yang begitu tinggi. Tentu saja dia menjadi ngeri sekali.

“Bhong-ciangkun…. tolong…. tolong saya turun….!”

Bhong-ciangkun telah melihat bayangan kedua orang itu

berkelebat, maka dia lalu meloncat naik ke atas genteng dan

membawa pembesar itu turun.

“Bagaimana, apakah hamba harus mengejar mereka?”

Bhong-ciangkun berbisik. “Hushhh…! Bodoh! Masih untung

kita….” Pembesar itu berbisik kembali kemudian berkata

lantang. “Hayo laksanakan perintahku tadi!”

Demikianlah, peristiwa itu menjadi semacam dongeng

sampai bertahun-tahun di kalangan penduduk Leng-sia-bun,

dan betapa pun orang mencari kedua orang pendekar itu, tak

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

pernah lagi mereka melihat mereka. Memang Swat Hong dan

Kwee Lun telah melarikan diri dari kota itu dan melanjutkan

perjalanan mereka dengan hati puas.

Hebat kau, Hong-moi!” Kwee Lun memuji. “Luar biasa

sekali! Kalau t idak ada engkau yang membantuku dengan

siasat yang cerdik itu, tentu akan lain jadinya! Aku masih

sangsi apakah aku akan mampu menaklukkan mereka! Tentu

akan menjadi banjir darah, dan mungkin aku sendiri akhirnya

mati dikeroyok.”

“Ah, sudalah, Kwee-twako. Kau yang hebat, menggunakan

tali merobohkan restoran dan dengan hanya bersenjatakan

tambang dapat menghadapi pengeroyokan puluhan orang!”

“Tidak ada artinya dibandingkan dengan sepak terjangmu,

Moi-moi. Engkau telah membantuku sehingga tugasku selesai

dengan hasil baik. Tak pernah aku akan dapat melupakan ini!

Dan sebagai balasannya, aku akan membantumu mencari

ibumu dan suhengmu sampai berhasil pula!” Wajah Swat

Hong menjadi suram, dan dia menarik napas panjang.

“Hemm… Ibu dan Suheng pergi tanpa meninggalkan jejak. Ke

mana aku harus mencarinya?”

“Jangan khawatir, Moi-moi. Kalau memang Ibumu dan

Suhengmu mendarat tentu kita akan dapat mencari mereka.

Tempat yang paling tepat untuk mencari seseorang adalah

kota raja. Memang belum tentu mereka berada di sana, akan

tetapi setidaknya, di kota raja merupakan sumber segala

keterangan sehingga kita dapat mendengar-dengar kalaukalau

ada berita dari dunia Kang-ouw tentang mereka.”

Swat Hong Menyetujui pendapat ini Memang dia pun

bermaksud mengunjungi kota raja, karena

bukankah nenek moyangnya dahulunya juga seorang

anggauta keluarga raja? Mereka melanjutkan

perjalanan dari luar kota Leng-sia-bun. Makin lama

melakukan perjalan bersama Kwee Lun, setelah lewat

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

sebulan kurang lebih, makin sukalah Swat Hong kepada

pemuda itu. Dia makin mengenal Kwee Lun,

sebagai seorang yang benar-benar jantan, keras hati, teguh

dan tidak mempunyai sedikit pun pikiran

menyeleweng, suka bergurau, kasar akan tetapi kekasaran

yang bukan bersifat kurang ajar melainkan

karena terbawa oleh kejujurannya yang wajar dan tak

pernah mau menyembunyikan sesuatu. Pendeknya,

pemuda itu benar-benar seorang laki-laki yang gagah

perkasa lahir bathinnya..Di lain pihak, Kwee Lun juga merasa

kagum kepada Swat Hong setelah dia mengenal sifat-sifat

temanya

ini yang amat cerdik, periang, jenaka namun keras hati dan

kadang-kadang tampak keagungan sikapnya sebagai seorang

puteri kerajaan!

Namun dara itu sama sekali tidak angkuh atau sombong,

sungguhpun kini dia harus mengakui bahwa ilmu

kepandaiannya sedikitnya kalah dua tingkat dibandingkan

dengan dara Pulau Es ini! Oleh karena inilah maka ada

keseganan di dalam hatinya sehingga biarpun dia yang selalu

memimpin perjalanan dan menjadi petunjuk jalan, namun

dalam segala hal, sampai dalam memilih makanan dan

penginapan yang selalu dibayar oleh Kwee Lun, pemuda ini

selalu minta pendapat dan keputusan Swat Hong! Pada suatu

hari tibalah kedua orang ini di kaki Pegunungan Tai-hang-san

yang amat luas dan memanjang dari selatan ke utara. Tujuan

mereka adalah Tiang-an ibu kota Kerajaan Tang. Di dusun ini

mereka berhenti untuk makan di sebuah warung nasi

sederhana. Mereka memesan nasi, mi, dan arak, Kwee Lun

minta air hangat untuk Swat Hong agar nona ini dapat

mencuci muka setelah melakukan perjalanan yang panas

berdebu.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Ketika Swat Hong sedang bercuci muka dengan air hangat,

menggosok mukanya dengan air bersih sampai kedua pipinya

kemerahan, dia mendengar percakapan menarik dari arah

dapur warung itu. “Bukan main ramenya !” terdengar suara

seorang laki-laki, agaknya pekerja di dapur itu. “Lebih ramai

daripada kalau melihat dua orang jago silat berkelahi!

Bayangkan saja! Harimau mengaum sampai bumi tergetar,

lalu menubruk dan mencakar ke arah biruang itu. Akan tetapi

si biruang juga tidak kalah lihainya, dia menggereng dan aku

yakin engkau sendiri tentu akan terkencing-kencing

mendengar gerengan itu! Dia dapat menangkis dengan kaki

depannya dan balas menggigit. Mereka saling cakar, saling

gigit, mula-mula saling menangkis lalu bergumul! Bukan

main!” “Ahhh, sudahlah. Siapa percaya omonganmu? Palingpaling

kau melihat ornag mengadu jangkerik dan kau kalah

bertaruh lagi! Lebih baik lekas masak air, tehnya hampir

habis.” Swat Hong cepat menghampiri Kwee Lun dan berbisik,

“Agaknya di sini ada jejak suhengku! ” “Ehhh….? Kwee Lun

bertanya heran. “Ada orang di dapur tadi bercerita tentang

pertandingan antara harimau dan biruang, dan kalau tiadk

salah perasaan hatiku, itu biruang kepunyaan suheng.” “Eh?

Suhengmu memelihara biruang?” Kwee Lun bertanya makin

heran lagi. “Belum kuceritakan kepadamu, Twako. Ketika aku

berpisah dari suheng, dia sedang mengobati seekor biruang

terluka. Tentu biruang itu menjadi jinak dan menjadi binatang

peliharaannya.”

“Aduh! Suhengmu tentu hebat sekali, berani mengobati

seekor biruang!” “Sudahlah, Twako. Kalau kelak dapat

bertemu, engkau dapat berkenalan dengan suheng sendiri.

Sekarang harap kau suka tanyakan kepada pekerja di dapur

tentang biruang yang diceritakannya tadi.” “Mengapa tidak

panggil saja dia ke sini? Hei, Bung pelayan!” Pelayan itu

segera menghampiri. “Tolong kau panggilkan sahabat yang

tadi berbicara tentang biruang, dia bekerja di dapur. Cepat!”

Pelayan itu terheran-heran, akan tetapi dia masuk juga ke

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

dalam dan tak lama kemudian, dia kembali ke situ bersama

seorang laki-laki muda yang kelihatan takut-takut. Laki-laki ini

kurus kecil dan memakai pakaian koki, agaknya dialah tukang

atau pembantu tukang masak di warung itu. “Saya…. saya

tidak tahu apa-apa….” begitu tiba di dekat meja, orang itu

berkata. Kwee Lun menggerakkan tangannya tak sabar.

“Aahh, mengapa takut? Kami hanya tertarik mendengar cerita

biruang bertanding dengan harimau. Di manakah kejadian itu

dan bagaimana asal mulanya?’ Kwee Lun mengeluarkan

sepotong uang dan memberikan kepada orang itu. “Nah,

ceritakanlah! Jangan takut-takut, ini hadiahnya.”

Orang itu menerima hadiah dan setelah memandang ke

kanan kiri dia bercerita. “Pagi tadi, sebelum masuk bekerja

saya menemani Saudara Misan saya mengantar segorobak

kayu bakar ke atas sana….” dia menuding ke luar warung..”Ke

atas mana?”

“Di Puncak Awan Merah, tempat tinggal Siangkoan Loenghiong.

Kami berdua mengantarkan kayu bakar dan melihat

ribut-ribut di sana. Mendengar gerengan-gerengan dahsyat,

saya lalu menyelinap dan mendahului saudara saya,

mengintai. Ternyata di sana sedang diadakan permainan yang

luar biasa, yaitu adu harimau dan biruang! Entah milik siapa

biruang itu, akan tetapi harimau itu saya kenal sebagai

harimau peliharaan Siangkoan Lo-engkeng yang biasanya di

dalam kerangkeng. Bukan main ramenya dan saya takut

sekali. Agaknya di tempat Siangkoan Lo-enghiong ada tamu

yang membawa biruang….” “Siapa tamunya? Bagaimana

macam orangnya?” Swat Hong mendesak penuh ketegangan

hati. Akan tetapi orang itu menggeleng kepala. “Bagaimana

saya bisa tahu? Di atas sana banyak orang, murid-murid Loenghiong

dan orang-orang seperti kami t idak mempunyai

hubungan dengan Puncak Awan Merah, kami tidak

diperbolehkan naik kecuali kalau ada pesanan dari sana.

Hanya kadang-kadang saja Siocia atau murid Lo-enghiong

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

yang turun ke sini. Melihat pertandingan yang amat dahsyat

itu, saya ketakutan dan cepat lari turun lagi….”

Swat Hong mengerutkan alisnya. Mungkinkah suhengnya

“kesasar” sampai di tempat ini? Tiba-tiba Kwee Lun bertanya,

“Yang kausebut Siangkoan Lo-enghiong itu, apakah dia

bernama Siang-koan Houw?” Nama lengkapnya mana saya

tahu?” Orang itu menggeleng kepala, kelihatannya takuttakut.

“Julukannya Tee Tok (Racun Bumi), bukan?”

Orang itu makin ketakutan, akan tetapi dia mengangguk.

“Pernah saya mendengar muridnya bicara menyebut julukan

itu…. harap Ji-wi maafkan, saya masih banyak pekerjaan di

dapur.” Dia tidak menanti jawaban, kembali ke dapur dengan

sikap ketakutan.

“Aihh, kiranya Teek-tok sekarang tinggal di tempat ini!”

kata Kwee Lun.

“Twako, siapakah racun bumi itu?”

“Hemm, seorang yang luar biasa! Dapat dikatakan saingan

suhu, menurut cerita suhu, sukar dikatakan siapa yang lebih

unggul. Dia adalah seorang di antara tokoh-tokoh dunia kangouw

yang sudah terkenal sekali. Aku sendiri baru mendengar

namanya dari suhu saja. Menurut suhu, dia adalah seorang

yang gagah perkasa dan jujur, akan tetapi sayang sekali, hati

ganas dan kejam terhadap orang yang tak disukainya dan dia

amat lihai dan berbahaya sebagai seorang ahli racun yang

mengerikan. Karena itu julukannya adalah Racun Bumi.

Sungguh tidak dinyana bahwa kita bakal bertemu dengan

orang seperti dia!” “Hemm… kalau begitu engkau sudah

merencanakan untuk mengunjungi Puncak Awan Merah,

Twako?” “Tidak begitukah kehendakmu? Agaknya sangat

boleh jadi biruang itu milik suhengmu. hong-moi, karena di

tempat tinggal seorang seperti teek-tok, segala apa mungkin

saja terjadi. Tentu saja amat mencurigakan dan hatiku tidak

akan merasa puas kalau belum menyelidiki ke sana. Kalau

ternyata suhengmu tidak berada di sana kita turun lagi karena

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

aku tidak mempunyai urusan dengan Tee-tok.” Swat Hong

mengangguk. “Baiklah, kalau begitu mari kita berangkat.

Entah mengapa, betapa pun sedikit kemungkinannya bahwa

suheng berada di sana, akan tetapi hatiku merasakan sesuatu

yang aneh. Kita harus menyelidiki ke sana.”

Setelah membayar harga makanan berangkatlah kedua

orang itu ker Pulau Awan Merah, tentu saja diikuti pandang

mata penuh keheranan dan kegelisahan oleh pelayan warung

yang mereka tanyai di mana adanya puncak itu.

Setelah mereka mendekati bukit dan tiba di lereng atas,

tampaklah bangunan besar di puncak yang dimagsudkan itu.

Mereka tidak mengerti mengapa puncak itu disebut Puncak

Awan Merah, padahal ketika mereka tiba di situ di siang hari

itu, awannya tidak berwarna merah melainkan biru dan putih

seperti biasa.

“Twako, kedatangan kita hanya menyelidiki apakah suheng

berada di sana. Oleh karena itu, tidak baik

kalau kita datang berterang, bisa menimbulkan kecurigaan

orang dan kita tidak berniat mencari perkara

dengan tokoh kang-ouw itu, bukan? Maka, sebaiknya kita

berpencar dan kau menyelidiki dengan memutar.dari kiri, aku

dari kanan, sampai kita saling bertemu dan kalau suheng tidak

ada di sana, dan biruang itu

bukan biruangnya, kita segera kembali ke dusun tadi dan

bermain saja di sana.”

“Baik, Hong-moi, dengan demikian, penyelidikan dapat

dilakukan lebih leluasa dan lebih cepat.” Mereka mendaki terus

dan setelah tiba di luar pagar tembok gedung besar di puncak

itu, mereka berpencar. Swat Hong yang mengambil jalan dari

kanan menyelinap di atas pohon-pohon dan batu gunung.

Tak lama kemudian dia mendengar suara orang dan cepat dia

menghampiri dan mengintai. Apa yang dilihatnya membuat dia

hampir berteriak saking kagetnya! Dapat dibayangkan betapa

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

heran dan kagetnya ketika dia melihat suhengnya, Kwa Sin

Liong, terbelenggu kedua pergelangan tangannya dan

setengah tergantung pada pohon! Tubuh atas suhengnya itu

telanjang dan hanya celana dan sepatunya saja yang

menutupi tubuhnya. Sin Liong kelihatan tenang saja biarpun

dahinya berpeluh, dan agaknya pemuda itu memang sengaja

membiarkan dirinya terbelenggu, karena Swat Hong yakin

sekali bahwa apabila dikehendaki oleh suhengnya itu, apa

sukarnya membebaskan diri dari belenggu seperti itu? Tentu

ada sesuatu yang aneh telah terjadi di sini! Swat Hong

menahan kemarahannya yang membuat dia ingin menyerbu,

dan dia memandang kepada orang-orang lain itu. Dua orang

yang berpakaian seragam, memakai topi aneh, menjaga di

belakang pohon dan tangan mereka meraba gagang golok.

Seorang kakek yang tinggi besar, brewok dan matanya lebar,

dengan marah-marah menghampiri Sin Liong, tangan

kanannya memegang senjata yang aneh. Bukan senjata, pikir

Swat Hong, melainkan tanduk rusa yang agaknya hendak

dipakai sebagai senjata. Tanduk rusa seperti itu saja apa

artinya bagi suhengnya? Yang membuat dia terheran-heran

adalah melihat suhengnya berada di tempat itu dan mudah

saja dibelenggu dan dihina! Apa yang telah terjadi?

Seperti telah kita ketahui, Sin Liong meninggalkan Pulau

Neraka bersama Ouw Soan Cu, gadis Pulau Neraka yang

hendak mencari ayahnya. Sebetulnya, mencari ayahnya ini

hanya merupakan alasan yang dicari-cari saja oleh Ouw Kong

Ek, ketua Pulau Neraka. Puteranya Ouw Sin Kok, ayah

kandung Soan Cu, telah menghilang selama belasan tahu, tak

pernah kembali dan tidak pula ada kabarnya sehingga

menimbulkan dugaan besar bahwa Ouw Sian Kok telah

meninggal dunia. Selain itu, andaikata masih hidup, tak

seorang pun mengetahui di mana tempat tinggalnya. Soan Cu

ditinggal ayah kandungnya sejak bayi bagaimana mungkin dia

dapat mencari ayahnya yang belum pernah dilihatnya dan tak

diketahui ke mana perginya itu?

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Kalau Ouw Kong Ek mengunakan alasan ini dan mendesak

kepada Sin Liong agar membawa dara itu bersama, keluar dari

Pulau Neraka, adalah karena sebenarnya dia ingin agar

cucunya itu dapat berjodoh dengan Sin Liong. Dia sering kali

mengingat akan nasib cucu yang di cintanya itu. Jauh dari

dunia ramai, akhirnya cucunya itu terpaksa hanya akan

berjodoh dengan seorang penghuni Pulau Neraka! Maka

munculnya Sin Liong untuk pertama kalinya itu sudah

mendatangkan harapan untuk menjodohkan cucunya dengan

pemuda itu. Apalagi ketika Sin Liong datang untuk kedua

kalinya, bahkan pemuda itu telah menolong Soan Cu, dan

menolong Pulau Neraka yang diserbu bajak laut. Tentu saja

dia tidak dapat memaksa pemuda itu untuk menjadi calon

suami cucunya, akan tetapi dengan kesempatan melakukan

perantauan bersama, dia harap akan timbul cinta di dalamhati

pemuda itu terhadap cucunya yang dia tahu merupakan

seorang gadis yang cantik jelita dan berilmu tinggi, juga

berwatak baik.

JILID 12

Demikianlah, Sin Liong meninggalkan Pulau Neraka

bersama Soan Cu dan juga biruang raksasa yang menjadi

jinak itu. Dengan sebuah perahu yang disediakan oleh Ouw

Kong Ek, berangkatlah mereka meninggalkan Pulau Neraka,

berlayar melalui pulau-pulau di daerah itu. Akhirnya, karena

tidak berhasil menemukan Swat Hong yang dicari-carinya,

juga tidak tampak seorang pun manusia tinggal di daerah

lautan berbahaya itu, Sin Liong mengemudikan perahunya

menuju ke arah barat, ke daratan besar. “Besar kemungkinan

Sumoi mendarat, dan kalau sampai belasan tahun ayahmu

tidak pernah pulang dan tidak ada beritanya, juga bukan tidak

mungkin Ayahmu tinggal di sana,” katanya kepada Soan Cu.

“Mari kita mencari jejak mereka di daratan besar.”

Soan Cu tidak membantah dan demikianlah, akhirnya

mereka mendarat dan hanya beberapa hari lebih dulu

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

dari pendaratan yang dilakukan oleh Swat Hong yang

tersesat jalan dan mendarat jauh di selatan sehingga

dia bertemu dengan Kwee Lun. Karena dari pantai ke barat

banyak melalui daerah yang sunyi, pegunungan.dan hutan,

maka adanya biruang bersama meraka tidak terlalu

mengganggu benar. Pula, binatang itu sudah

jinak sekali, bahkan dapat disuruh untuk mencari buahbuahan,

pandai pula mencari air di dalamhutan yang lebat.

Pada suatu hari, tibalah mereka di pegunungan Tai-hangsan.

Tanpa mereka ketahui, mereka tiba di lereng puncak

Awan Merah, daerah kekuasan Tee-tok. Ketika mereka

memasuki sebuah hutan besar, tiba-tiba terdengar auman

harimau yang amat keras sehingga suara itu menggetarkan

hutan. Mendengar auman ini, biruang menjadi marah sekali.

Sin Liong cepat memegang dan memeluk binatang itu,

khawatir kalau-kalau biruang itu akan lari dan berkelahi

dengan harimau yang mengaum itu. “Hai…….! Ada harimau!

Biar kutangkap dia!” Sian Cu sudah berlari-lari membawa

senjatanya yang aneh dan istimewa, yaitu sebatang cambuk

berduri yang menjadi senjata kesayangannya disamping

pedang. Dia tertawa-tawa gembira sehingga Sin Liong tidak

tega untuk melarangnya. Dara itu masih remaja, masih

bersifat kanak-kanak dan hanya kadang-kadang saja tampak

kedewasaanya. Dia maklum bahwa gadis yang sejak bayi

dibesarkan di tempat seperti Pulau Neraka itu, tentu saja

memiliki sifat-sifat liar, akan tetapi dia pun mengenal dasardasar

baik dari hati Soan Cu. Selain membiarkan gadis itu

bergembira, juga dia percaya penuh bahwa ilmu kepandaian

Soan Cu sudah tinggi sekali, cukup tinggi untuk melindungi diri

sendiri.

Soan Cu berlari cepat sekali dan dalam berlari ini t imbullah

kegembiraan yang luar biasa di dalam hatinya. Di depan Sin

Liong, dia selalu harus menekan perasaannya karena sikap

pemuda ini sungguh penuh wibawa dan membuat dia tunduk,

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

takut dan hormat seolah-olah pemuda itu menjadi pengganti

kakeknya.

Akan tetapi sesunguhnya semenjak dia meninggalkan Pulau

Neraka, ada perasaan gembira yang disembunyikannya dan

baru sekarang dia memperoleh kesempatan untuk melepaskan

kegembiraannya yang meluap-luap. Ingin dia bersorak

gembira kalau saja tidak takut terdengar oleh Sin Liong! Maka

kegembiraannya itu disalurkannya lewat kedua kakinya yang

berloncatan dan berlari-lari menuju ke arah suara harimau

yang mengaum. Karena auman harimau itu keras sekali,

mudah saja bagi Soan Cu untuk menuju ke tempat itu dan

akhirnya dia melihat seekor harimau yang amat besar dan

kuat, berbulu indah sekali, loreng-loreng hitam kuning berdiri

memandang ke arah seorang laki-laki yang berdiri ketakutan.

Harimau itu membuka-buka moncongnya, seperti seorang

anakkecil yang menggoda kakek itu, menakut-nakutinya,

kadang-kadang mengaum dan tiap kali dia mengaum,

kedua kaki orang itu menggigil dan terdengar suara terputusputus

dan dia mencoba untuk bersembunyi di belakang

sebatang pohon, “Kakak harimau yang baik….. saya…..

saya….. A-siong pedagang kayu bakar….. hendak mengirim

kayu bakar kepada Lo-enghiong……. harap jangan

mengganggu saya……”

Harimau itu sebetulnya adalah harimau peliharaan Tee-tok

dan biasanya dikurung dalam kerangkeng dan hanya pada

waktu-waktu tertentu saja dibiarkan berkeliaran di hutan.

Agaknya penjaga harimau pada hari itu terlupa sehingga

harimau itu tetap berkeliaran pada waktu A-siong sedang

mengirim kayu bakar ke Puncak Awan Merah. A-siong adalah

seorang di antara pedagang-pedagang kayu bakar yang suka

menjual kayu bakar di tempat itu. Melihat harimau itu, Soan

Cu lalu berseru, “Kucing besar, kau nakal sekali!”

Harimau itu menggereng dan menoleh. Ketika dia melihat

seorang wanita memengang cambuk, dia menggereng dan

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

cepat sekali, berlawanan dengan tubuhnya yang besar, dia

sudah membalik dan menubruk. “Celaka……!” A-siong

berseru kaget, memeluk batang pohon dan menahan napas,

membelalakan matanya. Akan tetapi, tanpa mengelak Soan

Cu sudah menggerakan cambuknya. “Tar-tar!” ujung cambuk

itu menyambar dan membelit kaki depan kanan harimau itu

dan sekali tarik, tubuh harimau yang sedang meloncat itu

terbanting ke atas tanah.

Harimau itu menggereng dan kelihatan marah sekali.

Kembali dia menubruk, akan tetapi sekali ini, Soan

Cu yang sedang gembira meloncat ke kiri dan melihat

tubuh harimau itu menyambar lewat, dengan tangan

kirinya dia menangkap ekor harimau yang panjang dan

sekali tubuhnya bergerak, dia telah berada di atas

punggung harimau! Sambil tersenyum-senyum dan

membuat gerakan seperti orang menunggang kuda,

Soan Cu menggerak-gerakan ujung cambuk menyabeti

moncong harimau itu. Tentu saja harimau itu

merasa kesakitan karena ujung cambuk itu berduri. Dengan

kemarahan meluap harimau itu berusaha.mencakar dan

menggigit ujung cambuk yang mungkin dikira seekor ular

yang ganas, namun tak pernah

berhasil bahkan bagaikan buntut seekor ular, ujung cambuk

itu terus melecuti hidung dan bibirnya sampai berdarah!

“Hiyooooo…. kucing binal, hayo jalan baik-baik!” Seperti

seorang pemain sirkus yang mahir, Soan Cu menunggang

harimau, tangan kiri mencengkeram kulit leher, tangan kanan

mempermainkan cambuknya dan harimau itu yang mengejar

ujung cambuk yang digerak-gerakan, melangkah perlahanlahan!

A-siong yang menonton sambil berusaha

menyembunyikan diri di balik batang pohon, terbelalak dan

hampir tak percaya kepada matanya sendiri. Beberapa kali

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

tangan kirinya menggosok kedua matanya dengan ujung

lengan baju karena dia mengira bahwa dia sedang dalam

mimpi, akan tetapi tetap saja penglihatan yang luar biasa itu

masih tampak oleh kedua matanya.

“Soan Cu, turunlah……!!” Tiba-tiba terdengar teguran dan

mengenal suara Sin Liong, lenyaplah semua kegembiraan

yang liar dari gadis itu. Dia masih tersenyum, akan tetapi

matanya kehilangan sinar yang berapi-api dan liar tadi, dan

dia berkata, “Liong-koko, dia…. dia hendak menerkam

orang…..” ucapannya ini bersifat membela diri karena dia

ketakutan oleh pemuda itu sedang mengganggu harimau.

“Turunlah berbahaya sekali permainanmu itu!”

Soan Cu meloncat turun dan tentu saja harimau yang

marah itu cepat mencakar dengan kecepatan luar biasa.

Namun dia hanya mencakar tempat kosong kerena gerakan

Soan Cu lebih cepat lagi. Dara ini telah meloncat ke dekat Sin

Liong dan mengejek ke arah harimau dengan meruncingkan

mulutnya dan mengeluarkan bunyi, “Hiii…..! Hiiiiii!!”

Sementara itu, biruang yang tadinya sudah dapat

ditenangkan oleh Sin Liong dan dijak menyusul Soan Cu,

setelah kini melihat harimau, timbul kembali kemarahannya,

bahkan lebih hebat dari pada tadi. Pada saat Sin Liong lengah

karena menegur gadis itu, tiba-tiba biruang itu melompat ke

depan dan menggereng sambil memperlihatkan taringnya,

memandang harimau dengan mata merah. Harimau itu

agaknya tidak merasa gentar menghadapi tantangan ini. Dia

pun menggereng dan menubruk. Akan tetapi biruang itu

sudah siap. Ketika harimau itu menubruk dengan kedua kaki

depan lebih dulu, dia menggerakan kaki depan kanan yang

amat kuat, memukul dari samping dan menangkis kedua kaki

depan harimau . Karena tubuh harimau itu berada di udara,

tentu saja dia kalah kuat dan tubuhnya terlempar ke bawah.

Akan tetapi dia sudah meloncat lagi dan siap untuk

melanjutkan serangannya. “Hushhh….! Biruang yang baik,

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

jangan berkelahi!” Sin Liong sudah menangkap kaki depan

biruangnya dan mengelus kepalanya, menenangkannya. Akan

tetapi sekali ini agak sukar karena biruang itu marah sekali,

meronta-ronta dan apa lagi melihat harimau itu masih

menggereng hendak menyerangnya. “Ihh, kucing licik! Hayo

mundur kau!” Soan Cu melangkah maju, menggerakan

cambuknya ke depan untuk menghalau harimau itu. “Tar-tartarr…..!!”

Harimau merasa jerih menghadapi cambuk, akan

teapi bukan berarti dia takut karena dia masih menggerenggereng

memperlihatkan taringnya dan matanya merah

bersinar-sinar.

“Hayo pergi! Kalau tidak akan kuhajar kau!” Soan Cu

membentak.

“Siapa dia berani kurang ajar hendak mengganggu harimau

kami?” Tiba-tiba terdengar seruan nyaring dan

muncullah banyak orang di tempat itu. Serombongan orang

yang berpakaian seragam telah bergerak

mengurung tempat itu, dan orang yang berseru tadi,

seorang kakek t inggi besar yang brewok, pakaiannya

ringkas, tubuhnya membayangkan tenaga yang kuat,

matanya lebar membayangkan kekerasan dan

kejujuran, akan tetapi tarikan bibirnya membayangkan

kekejaman. Di sampingnya berjalan seorang gadis

yang cantik sekali, dengan pakaian yang mewah dan indah,

rambutnya ditekuk ke atas dan diikat dengan

kain kepala dari sutera merah, dihias dengan bunga emas

permata, pakaian yang indah itu membungkus

ketat tubuhnya sehingga membayangkan lekuk lengkung

tubuhnya yang padat dan ramping, di pinggang

yang kecil ramping itu melibat sehelai sabuk sutera merah.

Telinganya terhias anting-anting batu kemala

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

panjang berwarna hijau, menambah kemanisan wajahnya

yang mendaun sirih bentuknya itu..Sin Liong cepat menjura

dengan hormat dan berkata halus, “Harap Locian-pwe sudi

memaafkan

kami yang secara tidak sengaja memasuki daerah ini, “kata

Sin Liong sambil memegangi kaki depan biruangnya.

Kakek itu memandang tajam. Jawaban penuh kesopanan

dan sepasang mata bersinar halus tanpa rasa takut sedikit pun

itu mencengangkan hatinya. “Melanggar daerah ini masih

bukan apa-apa, akan tetapi kalian berani mengganggu

harimau peliharaanku. Apakah karena mempunyai biruang itu

maka kalian menjadi sombong?”

“Kami tidak menggangu, Locianpwe. Hanya karena harimau

itu dan biruang kami akan berkelahi maka kami melerai dan

mencegahnya.”

“Hemm… dua ekor binatang akan berkelahi, apa anehnya?

Hanya kalau manusia sudah mencampurinya, maka manusia

itu lebih rendah daripada binatang!”

“Eh, tahan tuh mulut!” Soan Cu membentak dan

menudingkan telunjuknya ke arah mulut kakek gagah itu.

Dara ini tidak lagi dapat menahan kemarahan hatinya

mendengar ucapan yang menghina tadi. “Kami melerai karena

yakin bahwa kucing hutan busuk ini tentu akan mampus

dirobek-robek oleh biruang kami, engkau ini orang tua tidak

berterima kasih, malah mengucapkan kata-kata menghina!”

Sepasang mata kakek itu besinar-sinar, bukan hanya marah

akan tetapi juga kagum. Kakek ini memang orang aneh.

Melihat keberanian orang, apa lagi seorang dara muda seperti

Soan Cu yang pada saat itu muncul kembali sifat liarnya

karena marah, dia kagum bukan main. Kakek ini adalah

Siangkoan Houw yang terkenal dengan julukan Tee-tok

(Racun Bumi), seorang gagah yang jujur dan terbuka

sikapnya, maka kasar sekali dan kalau dia sudah marah,

kejamnya melebihi harimau peliharaannya. Dia terkenal sekali

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

di dunia kang-ouw sebagai seorang di antara tokoh-tokoh

besar. Dia hidup di Puncak Awan Merah itu dengan tentram,

bersama puteri tunggalnya, yaitu gadis cantik yang datang

bersamanya dan yang sejak tadi diama saja. Tee-tok

Siangkoan Houw sudah duda, dan hanya hidup berdua dengan

puterinya yang bernama Siangkoan Hui. Adapun orang-orang

lain yang berada di situ adalah para murid-muridnya yang juga

menjadi anak buahnya, kurang lebih lima belas orang

banyaknya, di antaranya seorang kakek yang usianya sebaya

dengan dia dan rambutnya sudah putih semua. Kakek inilah

yang merupakan murid kepala dan yang telah memiliki

kepandaian tinggi pula, bernama Thio Sam dan berjuluk Angin

Mo-ko (Iblis Awan Merah). “Bagus sekali!” Kakek ini

memuji. “Kalau begitu, mari kitas adukan kedua binatang itu.

Hendak kulihat apakah benar-benar biruangmu dapat

mengalahkan harimauku!”

“Boleh!” Soan Cu menjawab.

“Jangan! Soan Cu, tidak boleh begitu!” Sian Liong berseru,

kemudian dia berkata kepada kakek itu, “Harap Locianpwe

suka memaafkan kami dan biarlah kami pergi dari sini

sekarang juga. Bukan maksud kami untuk mengganggu siapa

pun.”

“Kucing hitam macam itu saja, biar ada lima akan

diganyang oleh biruang kami!” Soan Cu masih marah-marah.

“Kakek sombong mengandalkan harimaunya menakut-nakuti

orang. Kalau aku tidak cepat datang, agaknya harimau itu

sudah makan orang tadi! Perlu diberi hajaran!” “Hayo kita

adukan mereka!” Tee-tok berteriak-teriak dengan kumis

bangkit saking marahnya. “Sebelum kedua binatang

peliharaan kita saling diadu, jangan harap kalian akan dapat

pergi dari sini!” “Kami tidak takut!” Soan Cu menjerit lagi.

Mendengar ucapan kakek itu, Sin Liong menyesal bukan

main. Kalau dia tidak membolehkan biruang diadu, tentu

kakek itu bersama teman-temannya akan menghalangi dia

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

dan Soan Cu pergi dan akibatnya lebih hebat lagi. Maka dia

menghela napas dan berkata, “Baiklah, mari kita lepaskan

mereka dan melihat apakah mereka memang mau berkelahi.

Kuharap saja setelah ini, kami diperbolehkan pergi.”

“Koko, lepaskan biruang kita, biar dihancurlumatkan kucing

keparat itu. Tar-tar-tarrr…!!” Soan Cu sudah

membunyikan cambuknya di udara berkali-kali..Sin Liong

melepaskan biruangnya dan dia menghampiri Soan Cu,

memegang lengannya dan berbisik,

“Soan Cu, kautenangkanlah hatimu, jangan marah-marah.

Ingat, kita tidak mau melibatkan diri dalam permusuhan

dengan siapapun juga, bukan?” Dipegang lengannya secara

demikian halus oleh Sin Liong, seketika api yang bernyala

dalam hati Soan Cu padam seperti tertimpa hujan, semangat

dan tubuhnya lemas dan dia menunduk sambil menganggukan

kepalanya. Dia seperti seekor harimau liar yang tiba-tiba

menjadi jinak! Sementara itu, setelah kini dilepas keduanya

dan tidak ada yang menghalangi, kedua ekor binatang itu

mengeluarkan suara auman dan gerengan yang dahsyat dan

menggetarkan. Mual-mula mereka saling pandang dan

masing-masing hendak menggetarkan lawan dengan kekuatan

suara, kemudian harimau yang ganas itulah yang mulai

menerjang maju! Dengan berdiri di atas kedua kaki

belakangnya, harimau itu menubruk dan menerkam. Akan

tetapi, dengan gerakannya yang agak lamban dan tenang,

namun kuat dan tetap sekali, biruang menangkis terkaman

dan balas mencengkeram dengan kuku jari kakinya yang

biarpun tidak seruncing kuku harimau, namun tidak kalah

kuatnya. Kena tamparan biruang yang amat kuat itu, harimau

terguling-guling!

Hanya sepasang matanya saja yang bersinar-sinar girang,

akan tetapi Soan Cu tiak berani berkutik di dekat Sin Liong.

Ingin hatinya bersorak dan mulutnya mengeluarkan kata-kata

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

mengejek melihat betapa harimau itu terguling-guling, namun

dia merasa segan terhadap Sin Liong.

Harimau itu meloncat lagi dan menerkam makin dahsyat.

Terjadilah perkelahian yang amat dahsyat, ditengah-tengah

suara gerengan yang menggetarkan seluruh bukit. Pada saat

itulah koki warung yang menemani sudara misannya

mengantar kayu bakar, mendapat kesempatan menonton

harimau bertanding melawan biruang, akan tetapi karena

merasa ngeri dan takut, dia cepat meninggalkan tempat itu

dan berlari turun lagi.

Perkelahian yang dahsyat, seru dan mati-matian. Biruang

itu sudah menderita banyak luka di tubuhnya akibat cakaran

dan gigitan harimau, akan tetapi akhirnya dia berhasil

mencengkeram kepala harimau, menindihnya dan menggigit

leher harimau, sampai robek dan terus luka di leher itu

dirobeknya sampai keperut!

Harimau berkelojotan dan mat i tak lama kemudian.

“Heiii….!” Soan Cu berteiak, namun terlambat. Sinar hitam

menyambar ke arah leher biruang dan binatang ini

mengeluarkan pekik mengerikan lalu roboh dan tak bergerak

lagi, mati diatas bangkai harimau yang tadi menjadi lawannya.

“Kau membunuh biruang kami!” Soan Cu melompat dan

menuding dengan marah kepada kakek yang tadi menyerang

biruang dengan Hek-tok-t ing (Paku Hitam Beracun).

“Dia pun membunuh harimau kami!” Tee-tok menjawab

dengan mata mendelik saking marahnya. “Manusia curang

kau!” Soan Cu sudah menerjang maju dan cambuknya

mengeluarkan suara meledak-ledak di udara.

“Tar-tar-cring-tranggggg…..!!” Bunga api berpijar ketika

cambuk itu tertangkis oleh sepasang pedang yang bersinar

hitam. itulah pedang Ban-tok-siang-kiam (Sepasang Pedang

Selaksa Racun) yang ampuh dari Tee-tok. Akan tetapi bukan

main kagetnya ketika tadi pedangnya menangkis cambuk duri,

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

dia merasakan lengannya tergetar, tanda bahwa dara muda

itu memiliki sinkang yang amat kuat. “Heii, jangan

bertempur…..!” Sin Liong cepat menegur,akan tetapi sekali ini

Soan Cu pura-pura tidak menengarnya, apalagi kakek itu pun

sudah marah dan sudah membalas serangannya dengan

sepasang pedangnya. Terjadi pertempuran hebat sekali antara

gadis itu dan Tee-tok. Melihat gerakan sepasang pedang itu

lihai bukan main dan ada menyambar hawa yang kuat dari

lawannya, Soan Cu tidak berani memandang ringan dan

tangan kanannya sudah mencabut pedangnya.

Pedang di tangan gadis ini adalah pemberian kakeknya,

ketua Pulau Neraka dan seperti juga cambuknya,

pedang ini aneh dan ampuh sekali. Bentuk pedang itu juga

berduri seperti cambuknya dan pedang itu

terbuat dari tulang ular dan namanya pun Coa-kut-kiam

(Pedang Tulang Ular) terbuat dari pada tulang ular

beracun yang telah dikeraskan dan diperkuat dalam

rendaman tetumbuhan beracun sehingga keras seperti.baja.

Sedangkan cambuknya itu pun bukan cambuk biasa karena

cambuk itu terbuat dari ekor ikan hiu yang

istimewa dan yang hanya terdapat di pantai Pulau Neraka.

Seperti juga pedangnya, cambuknya itu pun mengandung bisa

yang tidak dapat diobati, kecuali oleh dia sendiri yang selalu

membawa obat penolaknya! Sin Liong sudah mengenal kakek

itu ketika muncul tadi, dan dia memang tadinya tidak mau

memperlihatkan bahwa dia telah mengenalnya. Tentu saja dia

mengenal kakek ini yang dahulu pernah pula membujuknya

untuk ikut dan menjadi muridnya, ketika para tokoh kang-ouw

datang memperebutkan dia dilereng Pegunungan Jeng-hoasan.

Kini, melihat betapa Soan Cu sudah bertanding mati-matian

melawan kakek itu, dia menjadi khawatir sekali dan cepat dia

berkata, “Locianpwe, seorang tokoh besar yang berjuluk TeeTiraikasih

Website http://kangzusi.com/

tok dan disegani di seluruh dunia Kang-ouw, benar-benar

mengecewakan dan merendahkan nama besarnya kalau

sekarang melayani bertanding melawan seorang dara remaja!”

Mendengar ucapan itu, Tee-tok menjadi merah mukannya.

Dia menangkis pedang Soan Cu sekuat tenaga sampai pedang

itu hampir terlepas dari tangan Soan Cu, melompat mudur dan

menghadapi Sin Liong. “Hemm, orang muda! Kau sudah

mengenal aku, kalau begitu majulah kau menggantikan gadis

itu!” Sin Liong menjura. “Bukan maksudku dengan kata-kata

itu menantangmu, Locianpwe. Saya hanya hendak

mengatakan bahwa kami berdua sama sekali bukan datang

untuk bertanding.” “Tapi kalian datang dan mengakibatkan

harimau peliharaan kami mat i. Kalau kalian tidak datang

mengacau, mana biasa harimau kami mati?”

“Dia mampus karena kalah dalam pertandingan yang adil!”

Soan Cu membentak, akan tetapi menjadi tenang kembali

karena Sin Liong mendekatinya dan minta gadis itu

menyimpan pedang dan cambuknya kembali.

“Siangkoan Locianpwe, memang kami akui bahwa harimau

peliharaan Locianpwe mati karena biruang kami, akan tetapi

Locianpwe telah membalas kematian itu dengan membunuh

biruang kami. Bukankah itu sudah lunas artinya?”

“Tidak!” Tee-tok yang masih marah itu membentak.

“Biarpun biruangnya sudah mati, akan tetapi pemiliknya belum

dihukum! “

Soabn Cu tak dapat lagi menahan kemarahannya.

“Dihukum apa? Kau hendak membunuh kami?” “Tak perlu

dibunuh! Pelanggaran ke dalam daerah ini sudah merupakan

kesalahan, dan matinya harimau tidak cukup ditebus dengan

kematian biruang. Pemiliknya harus dihukum rangket seratus

kali , baru adil!” “Keparat!”

“Soan Cu!” Sin Liong berkata dan memegang lengan dara

itu sehingga Soan Cu menelan kembali kata-katanya. “Soan

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Cu, aku mita kepadamu agar kau sekarang juga meninggalkan

tempat ini. Biarkan aku yang berurusan dengan Siangkoan

Locianpwe. Kau turunlah dan kau tunggu aku di dusun itu.

Mengerti?” Soan Cu mengerutkan alisnya dan matanya

memandang ragu, akan tetapi melihat sinar mata Sin Liong

yang tegas dan halus itu, dia tidak dapat menolak dan dia

mengangguk. “Berangkatlah, dan tunggu aku di sana.” Sin

Liong berkata lagi sambil tersenyum. Soan Cu membanting

kakinya, lalu melotot ke arah Siangkoan Houw, kemudian

meloncat pergi, meninggalkan isak tertahan. Semua orang

memandang dengan kagum akan keberanian dara itu yang

sekali meloncat lenyap dari situ, akan tetapi terutama sekali

kagum kepada Sin Liong yang bersikap demikian tenang dan

halus, namun ia memiliki wibawa demikian besarnya sehingga

gadis liar seperti itu menjadi demikian jinak dan taat.

Setelah Soan Cu pergi jauh dan tidak tampak lagi

bayangannya, Sin Liong lalu mengeluarkan kedua

lengannya dan sambil tersenyum tenang dia berkata, “Nah,

Locianpwe. Tidak ada yang perlu diributkan

lagi. Aku sudah mengaku bersalah telah memasuki tempat

ini dan menimbulkan keributan. Biarlah aku

menerima hukuman rangkes seratus kali agar hatimu

puas.”.Sikap yang tenang dan halus ini diterima keliru oleh

Siangkoan Houw. Matanya terbelalak lebar dan dia

menganggap pemuda itu menantangnya, menantang

ancaman hukumannya.

“Belenggu kedua lengannya!” bentaknya kepada para

muridnya.

Empat orang muridnya menyerbu dan Sin Liong hanya

tersenyum saja ketika bajunya dibuka, kedua pergelangan

lengannya diikat dengan tali yang diikatkan pula pada cabang

pohon sehingga tubuhnya setengah tergantung.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Ayah…..!” Tiba-tiba dara cantik jelita yang sejak tadi

hanya menonton dan selalu memandang ke arah Sin Liong

penuh kagum, berkata kepada Tee-tok, “Apakah tidak

berlebihan perbuatan kita ini? Harap Ayah berpikir lagi dengan

matang sebelum melakukan suatu kesalahan.”

“Dipikir apalagi? Kita telah dihina orang, kalau t idak

memperlihatkan kekuatan, bukankah akan menjadi bahan

tetawaan orang sedunia?”

Mendengar kata-kata orang tua itu, Siangkoan Hui, gadis

itu, menunduk dan melirik ke arah Sin Liong yang telah siap

menerima hukuman.

“Terima kasih atas kebaikan hatimu, Nona. Akan tetapi

biarlah, aku sudah siap menghadapi hukuman.

Dengan begini, habislah segala urusan dan Ayahmu takkan

marah lagi.” “Diam kau!” Tee-tok membentak, kemudian

menuding kepada seorang muridnya yang bertubuh tinggi

besar. “Ambil cambuk dan rangket dia seratus kali!”

Murid itu berlari pergi dan tak lama kemudian sudah datang

kembali membawa sebatang cambuk hitam yang besar dan

panjang. Setelah menerima isyarat gurunya, murid tinggi

besar ini mengayun cambuknya. Terdengar suara meledakledak

dan cambuk itu menyambar ke bawah, melecut tubuh

atas yang telanjang itu.

“Tar…..! Tar….! Tar……..!”

Semua orang terbelalak memandang , penuh keheranan.

Cambuk itu menyambar bertubi-tubi, melecuti tubuh itu,

mukanya, lehernya, lengannya, dada, dan punggungnya,

namun sama sekali tidak membekas pada kulit halus putih itu!

Hanya dahi pemuda itu yang berkeringat, akan tetapi dahi Si

Pemengang Cambuk lebih banyak lagi peluhnya! Sampai

seratus kali cambuk itu menyambar tubuh Sin Liong dan

ujungnya sudah pecah-pecah, namun jangankan sampai ada

darah yang menetes dari kulit tubuh Sin Liong, bahkan tampak

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

merah saja tidak ada seolah-olah cambuk itu bukan melecut

kulit membungkus daging, melainkan melecut baja saja!

Setelah menghitung sampai seratus kali, Si Algojo itu jatuh

terduduk, napasnya terengah-engah dan dia menggosokgosok

telapak tangan kanannya yang terasa panas dan lecetlecet.

Mukanya pucat dan matanya terbelalak penuh

keheranan dan kengerian. Semua anak buah atau murid Teetok

terbelalak dan pucat. Akan tetapi muka Tee-tok sendiri

menjadi merah sekali. Tahulah bahwa pemuda itu adalah

seorang yang memiliki ilmu kepandaian tinggi dan tadi telah

menggunakan sinkangnya sehingga tubuhnya kebal dan tentu

saja lecutan cambuk itu tidak membekas! Hal ini menambah

kemarahan hatinya. Dia merasa dihina dan ditantang. Dengan

kemarahan meluap dia menyambar senjata aneh, yaitu tanduk

rusa yang kering itu.

Tanduk rusa itu bukanlah sebuah senjata sembarangan

saja. Tee-tok merupakan seorang ahli racun dan dia telah

menemukan tanduk rusa ini yang mempunyai daya ampuh

terhadap kekebalan. Tanduk ini mengandung racun yang tak

dapat ditahan oleh kekebalan yang bagaimana kuat pun dan

kini dalam kemarahannya, dia hendak mengajar pemuda ini

dengan tanduk rusa ini! Pada saat itulah Swat Hong datang

dan mengintai dengan mata terbelalak keheranan. Seluruh

urat syaraf di tubuhnya sudah tegang dan dia sudah hampir

meloncat keluar untuk menolong suhengnya ketika dia melihat

seorang gadis datang berlari dan berlutut di depan kakek yang

memegang senjata tanduk rusa itu. Melihat ini, Swat Hong

menahan diri dan terus mengintai.

“Ayah, jangan….. jangan pukul dia dengan ini…..!”.”Hui-ji

(Anak Hui), mundurlah kau! Dia telah menghina kita,

memperlihatkan dan memamerkan

kekebalannya! Hemm, hendak kulihat sampai dimana

kekebalannya kalau dia merasai pukulanku dengan ini!” Dia

mengamangkan senjata aneh itu.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Jangan, Ayah! Jangan…. aku akan melindunginya kalau

Ayah memaksa! Ayah bersalah, dia…. dia orang gagah yang

budiman, luar biasa….. mengapa Ayah tak bisa melihat

orang…..?” Siangkoan Houw menundukan mukanya dan

melihat wajah puterinya yang pucat, mata yang sayu dan

tampak dua t itik air mata di pipi puterinya. Dia terkejut dan

terheran-heran, kemudian marah sekali. Puterinya telah jatuh

cinta kepada pemuda itu!

“Hemm…” Suaranya penuh geram. “Lupakah kau kepada

putera Lusan Lojin…..?”

“Ayahhhh….!” Siangkoan Hui berseru dan terisak sambil

memeluk kedua kaki ayahnya, menangis. Betapapun

bengisnya, Tee-tok yang hanya mempunyai seorang anak itu,

tentu saja merasa tidak tega kepada anaknya. Hantinya

mencair ketika dia melihat puterinya menangis sambil

memeluk kedua kakinya. Dia menghela napas panjang dan

pandang matanya yang ditujukan kepada Sin Liong kini

kehilangan kekejaman dan kemarahannya, hanya terheran

dan ragu-ragu. Puterinya mencintai pemuda ini? Hemm….,

seorang pemuda yang amat tampan , dan harus diakuinya

bahwa biarpun pemuda itu kelihatan halus seperti seorang

lemah, namun pemuda itu gagah perkasa, penuh ketenangan

dan keberanian. Dan kekebalannya itupun membuktikan

bahwa pemuda ini bukan orang sembarangan. Dia belum

melihat putera Lu-san Lojin, entah bagaimana setelah dewasa

sekarang. Apakah sebaik pemuda ini? “Hai, orang muda.

Siapakah namamu?”

Sin Liong memandang kepada kakek itu dan menjawab

halus, “Nama saya Kwa Sin Liong, Locianpwe.”

“Bagaimana engkau bisa mengenal aku?”

“Siapa yang tidak mengenal Locianpwe yang terkenal di

dunia Kang-ouw? Locianpwe adalah Tee-tok Siangkoan Houw

yang amat tinggi ilmu kepandaiannya, dan saya pernah

bertemu dengan Locianpwe…..” Tiba-tiba Sin Liong berhenti

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

bicara karena baru dia teringat bahwa sebenarnya tidak ada

perlunya menyebut-nyebut hal itu.

“Bertemu? Di mana?”

Karena sudah terlanjur bicara, Sin Liong merasa tidak enak

untuk membohong lagi, maka dia berkata, “Di lereng Jenghoa-

san, bahkan Locianpwe pernah membujuk saya menjadi

murid……” “Astaga….! Engkaukah ini? Engkaukah anak ajaib?

Engkau Sin-tong….?” Tee-tok berseru dan cepat melangkah

maju. “Benar, engkaulah Sin-tong! Aihh….. maafkan kami. Di

antara kita telah timbul salah pengertian besar!” Dia cepat

meloncat dan merenggut lepas tali yang mengikat kedua

lengan Sin Liong, bahkan cepat meneriaki muridnya untuk

menyerahkan kembali baju Sin Liong. Sin Liong tersenyum.

“Tidak mengapa, Locianpwe. Memang saya mengaku salah,

telah menimbulkan keributan dan mengakibatkan kematian

harimaumu.”

“Aihh… hei, matamu tajam sekali, Hui-ji! Engkau benar! Dia

anak baik, bukan hanya baik saja. Aduh, betapa dahulu aku

mati-matian memperebutkan anak ini! Hui-ji, dia Sin-tong!

Betapa girangku dia tiba-tiba muncul di sini!” Dengan giran

Tee-tok menggandeng lengan Sin Liong dan menariknya.

“Hayo masuk ke rumah kami, kita bicara!”

“Tapi, Locianpwe. Saya ingin melanjutkan.”

“Nanti dulu, kita bicara! Sejak engkau dibawa oleh…. eh, di

mana dia sekarng…..?” Kakek itu menengok

kekanan kiri, seolah-olah merasa ngeri karena dia teringat

akan Pangeran Han Ti Ong yang sakt i. Siapa

tahu, pangeran yang luar biasa itu tahu-tahu muncul pula

di situ..”Locianpwe maksudkan Suhu? Saya hanya datang

berdua dengan adik Soan Cu.””Mari kita bicara. Ah, pertemuan

ini sungguh menggirangkan hati!” Melihat sikap kakek itu

begitu gembira, Sin Liong tidak tega untuk menolak terus.

Urusan telah selesai dengan baik, dan Soan Cu tentu sedang

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

menanti di dusun di kaki bukit. Terlambat sedikit pun tidak

mengapa daripada memaksa menolak dan menimbulkan

kemarahan kakek yang berangasan ini.

Siangkoan Hui memandang kepada Sin Liong dengan

sepasang mata bersinar-sinar, penuh kekaguman dan ketika

ayahnya menggandeng pemuda itu dengan tangan kanan,

kemudian menggandengnya dengan tangan kiri, dia

tersenyum dan meronta melepaskan diri karena malu,

kemudian berlari-lari kecil meninggalkan mereka.

“Ha-ha-ha! Hui-ji… ha-ha-ha-ha! Eng kau benar. Dia ini

seorang pemuda pilihan, seorang pemuda hebat!”

Dengan penuh kegembiraan Tee-tok menjamu Sin Liong.

“Siapakah Nona yang lihai dan berani itu?” “Dia adalah Ouw

Soan Cu, seorang sahabat baik saya, Locianpwe. Dia sedang

mencari ayahnya dan saya membantunya.”

“Mana dia? Karena dia sahabatmu, dia pun sahabat kami.

Biar aku menyuruh orang mengundangnya.”

“Tidak usah, Locianpwe. Wataknya aneh dan keras, janganjangan

malah menimbulkan salah paham.” “Ha-ha-ha, aku

suka kepadanya! Sejak pertemuan pertama aku kagum

kepada anak itu! Keras, aneh dan berani! Hebat dia! Aihh, Sintong….”

“Locianpwe, nama saya Kwa Sin Liong.”

“Tidak apa, aku tetap menyebutmu Sin-tong. Engkau

memang anak ajaib, luar biasa sekali. Apakah engkau telah

menjadi murid pangeran Han Ti Ong?’

Sin Liong mengangguk dan merasa agak gugup. “Benar,

akan tetapi saya dilarang untuk bicara tentang Suhu….”

“Ha-ha-ha, aku tahu. Dia bukan manusia biasa! Aku girang

sekali bertemu dengan muridnya, apalagi muridnya adalah

engkau, Sin-tong! Ahhh… kegirangan yang bercampur dengan

kekecewaan sebesar gunung!” Tiba-tiba kakek itu meremas

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

cawan araknya dan cawan arak yang terbuat daripada perak

itu seperti tanah lihat saja, di dalam kepalanya berubah

menjadi perak yang pletat- pletot, lenyap bentuk cawannya.

Sin Liong terkejut dan tidak berani bertanya. Kakek itu

melempar cawan yang sudah tidak karuan itu ke bawah meja

dan berteriak kepada muridnya mita diberi sebuah cawan

baru. Kemudian dia berkata, “Siapa tidak kecewa? Anaku

hanya seorang, perempuan lagi, dan celakanya, dia sudah

ditunangkan sejak kecil!” Kakek ini memang selalu bicara

keras, kasar dan jujur, tak pernah mau menyembunyikan

sesuatu! Sin Liong menjadi makin terheran. “Telah

ditunangkan sejak kecil adalah baik sekali, mengapa celaka,

Locianpwe?’

“Kalau ditunangkan dengan engkau tentu saja baik sekali!

Akan tetapi bukan denganmu , dengan orang lain yang tak

kunjung datang! Dan karena telah ditunangkan itu, mana

mungkin aku dapat mengambil engkau sebagai mantuku?

Padahal aku tahu, Hui-ji suka padamu, dia jatuh cinta

padamu. Ha-ha, anak pintar itu, matanya tajamsekali.”

Tentu saja Sin Liong menjadi terkejut dan malu, menunduk

dan tak berani bicara lagi. “Engkau tentu belum bertunangan,

bukan?”

Sin Liong hanya menggeleng kepalanya.

“Kalau begitu, mudah saja ! Engkau menjadi mantuku,

menikah saja dengan Hui-ji….”.”Locianpwe, ingatlah bahwa

Siocia telah bertunangan, adapun aku…. aku sama sekali tidak

mempunyai

pikiran untuk menikah,”

Kakek itu menarik napas panjang. “Engkau betul, memang

tidak patut kalau diputuskan begitu saja, dari satu pihak.

Aihhh, Lu-san Lojin, engkau tua bangka benar-benar sekali ini

membuat hatiku kesal! Aku telah pergi ke sana baru-baru ini

dan dia bersama puteranya itu, juga bersama seorang

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

puterinya, menurut penuturan penduduk di sekitar Lu-san,

telah pergi entah ke mana! Aihh, betapa kesal hatiku….”

“Harap Locianpwe menenangkan pikiran. Mungkin mereka

sedang mencari Locianpwe. Kalau sudah jodoh, tentu akan

dipertemukan kelak.”

Kembali kakek itu mengangguk-angguk. Memang, setelah

mendengar bahwa pemuda yang tadinya akan dibunuhnya itu

ternyata adalah Sin-tong yang dahulu dibawa oleh Pangeran

Han Ti Ong tokoh Pulau Es, dia tertarik dan terkejut sekali.

Bukan hanya untuk mencoba menarik pemuda itu menjadi

mantunya, akan tetapi juga untuk keperluan lain yang amat

penting. Dia masih ragu-ragu untuk membicarakan urusan ini,

maka dia menanti kesempatan baik dan hendak menjajaki

lebih dulu, di fihak manakah pemuda ini berdiri.

Sementara itu, Siangkoan Hui merasa malu sekali. Dia

sudah mengenal baik watak ayahnya yang kasar dan jujur.

Tentu kalau dia ikut masuk ke dalam rumah menemui pemuda

itu, ayahnya akan bicara yang bukan-bukan tanpa tedeng

aling-aling lagi! Dia merasa malu dan…. girang bukan main.

Tak dapat ia menipu hatinya sendiri. Dia memang telah jatuh

cinta kepada pemuda itu! Pemuda yang amat luar biasa,

bukan hanya tampan dan gagah, namun memiliki watak yang

amat hebat. Belum pernah dia bertemu dengan pemuda

segagah itu, begitu halus, begitu budiman, begitu tabah dan

mengalah, akan tetapi juga amat lihai sehingga seratus kali

rangketan itu tidak membekas sama sekali di kulit tubuhnya

yang putih halus dan padat membayangkan tenaga yang luar

biasa! Dia sudah jatuh cinta! Dan ayahnya sudah mengetahui

akan hal ini. Tentu ayahnya akan bicara terang-terangan

kepada pemuda itu. Akan tetapi, bagaimana dengan

tunangannya?

Teringat akan ini, tiba-tiba Siangkoan Hui menjadi lemas.

Dia duduk bersandar pohon dan termenung, menanggalkan

sabuk sutera merah yang melibat pinggangnya. Kiranya sabuk

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

itu hanya sabuk tambahan dan dapat dipergunakan sebagai

saputangan, karena di pinggang itu telah terdapat sabuk lain

yang berwarna kuning.

Sambil menggigit-gigit ujung sabuk sutera merah,

Siangkoan Hui termenung, mukanya sebentar pucat sebentar

merah tanda bahwa hatinya kacau t idak karuan oleh jalan

pikirannya. Dara ini sama sekali tidak tahu bahwa sejak tadi

ada bayangan yang mengikutinya, bayangan seorang gadis

lain yang memandangnya dengan sinar mata berapi-api penuh

kemarahan! Gadis ini bukan lain adalah Han Swat Hong!

TadinyaSwat Hong mengintai dan hampir saja dia melompat

keluar untuk menolong suhengnya. Akan tetapi kemunculan

Siangkoan Hui yang melarang ayahnya menggunakan tanduk

rusa memukul Sin Liong, membuat dia membatalkan niatnya

menolong Sin Liong. Apalagi melihat betapa usaha

pertolongan dara cantik puteri kakek berangasan itu berhasil!

Hatinya terasa panas sekali, seperti dibakar dan serta merta

dia merasa benci kepada Siangkoan Hui! Kebencian yang

membuat dia diam-diam mengikuti dara itu dengan niat untuk

membunuhnya! Swat Hong sendiri tidak mengerti mengapa

dia selalu marah dan tidak senang kalau melihat ada gadis

memperlihatkan sikap baik dan mencinta kepada Sin Liong.

Dia sendiri tidak tahu bahwa hatinya diamuk cemburu!

Melihat Siangkoan Hui yang dibayanginya itu duduk

seorang diri di tempat sunyi itu, menggigit ujung sabuk merah

dengan wajah sebentar pucat sebentar merah, melamun dan

kadang-kadang tersenyum manis, Swat Hong merasa perutnya

seperti dibakar!

“Perempuan tak tahu malu!” Bentaknya dan dia sudah

melompat keluar, mencabut pedangnya dan menyilangkan

pedang itu di tangan kanan dan sarung pedang di tangan kiri,

memasang kuda-kuda dan membentak, “Bersiaplah untuk

mampus di tangan Nonamu! “

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Siangkoan Hui adalah seorang gadis yang sejak kecil

digembleng ilmu silat tinggi oleh ayahnya, maka begitu

melihat bayangan berkelebat tadi, dia sudah meloncat

bangun. Kini, melihat bahwa yang muncul dan datang-datang

memakinya itu adalah seorang gadis cantik yang tidak

dikenalnya, dia melongo.

“Eh-eh, apakah kau ini orang gila?”.Tentu saja pertanyaan

ini membuat Swat Hong menjadi makin marah. Kedua pipinya

merah seperti udang

direbus dan sepasang matanya yang jeli itu mengeluarkan

sinar berapi-api. Sukar dikatakan siapa di antara kedua orang

dara itu yang lebih menarik. Keduanya sama muda, sama

cantik jelita dan pada saat itu sama marahnya!

“Kau…. kau…. perempuan rendah! Perempuan macam

engkau berani jatuh cinta kepada Suhengku!” Swat Hong

memaki.

Siangkoan Hui terkejut sekali, akan tetapi perutnya juga

sudah panas dibakar kemarahan mendengar dirinya dimakimaki

orang. “Apa? Kau ini mengaku Sumoinya? Sungguh tidak

patut! Seekor naga mana mempunyai sumoi seekor cacing?”

Dapat dibayangkan betapa marahnya hati yang keras

seorang dara seperti Swat Hong mendengar ini. Ingin dia

mencaci maki habis-habisan, ingin dia menjerit-jerit, akan

tetapi karena dia tak pandai cekcok dengan suara, dia hanya

mengeluarkan suara melengking nyaring dan pedangnya

sudah menerjang ke arah dada Siangkoan Hui!

“Singgg… Wuuuuttt……!”

Siangkoan Hui juga mengeluarkan pekik kemarahan,

tubuhnya tiba-tiba mencelat ke atas dan dari atas sabuk

sutera merahnya yang ternyata adalah senjatanya yang

ampuh itu menyambar ke bawah dengan serangan balasannya

yang tidak kalah berbahaya. “Plakkkk!!” Sarung pedang di

tangan kiri Swat Hong berhasil menangkis serangan itu dan

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

dia terkejut juga menyaksikan kelincahan lawan. Tahulah Swat

Hong bahwa lawannya tak boleh dipandang ringan dan

memiliki ginkang yang amat hebat, maka dia memutar

pedangnya dengan kecepatan kilat.

Repotlah Siangkoan Hui menghadapi permainan pedang

lawannya yang amat luar biasa itu. Sebetulnya tingkat

kepandaian Siangkoan Hui sudah tinggi, dan pada jaman itu,

sukarlah dicari tandingannya. Sebagai puteri tunggal, Tee-tok

telah menurunkan semua ilmu simpanannya dan selain

memiliki senjata istimewa berupa sabuk sutera, juga dara ini

adalah seorang ahli racun seperti ayahnya. Ayahnya adalah

seorang tokoh yang berjuluk Racun Bumi, tentu saja dia

mempelajari pula penggunaan racun-racun yang ampuh.

Setelah mendapat kenyataan betapa permainan pedang

lawannya benar-benar amat lihai dan berbahaya, tiba-tiba

Siangkoan Hui membentak dan dari tangan kirinya

menyambar sinar-sinar merah. Sawat Hong mengeluarkan

suara mendengus dari hidung dan mengejek, sinar pedangnya

berkelebatan dan bergulung-gulung sehingga jarum-jarum

merah yang dilepas Siangkoan Hui secara lihai itu semua

dapat dipukul runtuh.

“Haiiittt….!!” Swat Hong meluncur ke depan, didahului sinar

pedangnya, pedang itu menusuk lalu disambung membabat ke

kanan kiri, sedangkan sarung pedangnya masih bergerak

menghantam dari atas. Seolah-olah semua jalan keluar

tertutup dan tidak memungkinkan lawan untuk mengelak lagi!

“Hiaaaaahhhh!!” Siangkoan Hui memekik nyaring, sabuknya

berubah menjadi sebatang benda keras yang diputar-putar,

melindungi tubuhnya. Pada saat pedang tertangkis, tiba-tiba

dari ujung sabuk merah itu menyambar dua batang paku

merah yang meluncur tanpa tersangka-sangka dan dengan

cepat sekali ke arah tenggorokan Swat Hong!

“Aihhh….!!” Swat Hong menjerit dan tidak ada jalan lain

baginya kecuali membuka mulutnya yang kecil dan

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“menangkap” dua batang paku merah itu dengan gigitan

giginya yang kecil-kecil dan putih berderet rapi itu!

Siangkoan Hui terkejut dan kagum bukan main , dan pada

saat itu, Swat Hong telah meniupkan dua batang paku ke arah

tubuh lawan. Tentu saja Siangkoan Hui dapat mengelakan

senjata rahasianya sendiri ini dengan mudah. Akan tetapi kini

Swat Hong sudah marah sekali dan pedangnya bergerak untuk

membunuh!

Jurus-jurus terhebat dari Pulau Es dimainkannya dan tentu

saja Siangkoan Hui terdesak hebat dan ujung

sabuknya sudah robek dicium ujung pedangnya!.”Sumoi,

jangan….!!!” Tiba-tiba terdengar seruan dan Sin Liong

melompat memasuki lapangan

pertandingan, menolak lengan sumoinya dengan tangan

kiri. “Sumoi….! Syukur kita dapat saling bertemu di sini….!”

Sin Liong berseru girang bukan main.

Akan tetapi, perut Swat Hong terasa panas saking

mendongkolnya.tadi dia sudah berhasil mendesak lawan dan

belasan jurus lagi saja dia tentu akan menang. Siapa Tahu,

suhengnya muncul dan lawannya itu dapat meloncat keluar

dan kini berdiri di belakang kakek yang menjadi ayahnya!

“Aku harus membunuhnya!” bentaknya dan dia hendak

melompat ke arah Siangkoan Hui.

“Sumoi, jangan serang orang!”

“Kalau begitu, serang kau saja!” Dan gadis itu lalu

menyerang Sin Liong kalang kabut dengan pedangnya! “Eheh….!

Ohhh….! Sumoi…., mengapa kau marah-marah?” Sin

Liong terpaksa berlompatan ke sana-sini mengelak karena

sambaran pedang di tangan sumoinya itu bukan main-main!

“Kenapa kau membelanya? Kenapa?” Swat Hong berkata

berlahan dan menyerang terus tanpa mempedulikan seruan

suhengnya.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Pada saat itu tampak dua sosok bayangan berkelebat dan

tahu-tahu di situ telah berdiri Kwee Lun dan Soan Cu.

Bagaimana dua orang muda ini dapat datang bersama?

Telah kita ketahui bahwa Soan Cu disuruh pergi oleh Sin

Liong, dan karena gadis ini amat taat kepada Sin Liong,

dengan hati berat dia meninggalkan puncak itu hendak turun

ke dusun kembali. Dan telah diceritakan pula di bagian depan

betapa Kwee Lun melakukan penyelidikan bersama Swat Hong

dan mereka berpencar.

Kwee Lun mengambil jalan dari kiri. Kebetulan sekali ketika

pemuda ini sedang berindap-indap melakukan penyelidikan,

dia melihat seorang gadis cantik berjalan seorang diri keluar

dari pagar. Tentu saja dia mengira bahwa gadis itu adalah

seorang musuh. Timbul dalam pikirannya untuk menangkap

gadis ini dan memaksanya mengaku apa yang telah terjadi di

sebelah dalam . Hal ini akan lebih memudahkan

penyelidikannya, daripada menyelidiki dari luar tak

berketentuan.

Dengan pikiran ini, Kwe Lun tiba-tiba meloncat keluar dari

tempat sembunyinya dan langsung dia menubruk dan

memeluk Soan Cu!

Dapat dibayangkan betapa marahnya dara ini. Ketika tibatiba

ada seorang laki-laki keluar dari semak-semak dan

dengan gerakan secepat kilat menyergap dan memeluknya,

tentu saja dia mengira bahwa ini tentulah anak buah Tee-tok

yang hendak menangkapnya atau hendak berkurang ajar.

“Setan keparat jahanam terkutuk !!” bentaknya dan dia

mengerahkan tenaganya, meronta dan menggerakan kaki

tangannya, menyepak dan menampar.

“Plak-plak-plak…..! Wah-wah….. galak benar!” Kwee Lun

kewalahan dan terpaksa melepaskan rangkulannya karena

tulang kering kakinya kena ditendang, pipinya dicakar dan

dagunya ditampar! Kini mereka berhadapan dan saling

pandang. Keduanya kelihatan tertegun karena sama-sama

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

tidak menyangka. Kwee Lun sama sekali tidak menyangka

bahwa yang ditangkapnya tadi, dipeluknya karena

disangkanya seorang pelayan wanita, kiranya adalah seorang

dara remaja yang cantik jelita! Sedangkan Soan Cu yang

terkejut melihat seorang pemuda yang begitu tampan gagah

perkasa. Sejenak keduanya saling pandang, kemudian timbul

kegalakan Soan Cu yang menjadi marah. Dia memang sudah

mendongkol disuruh pergi oleh Sin Liong , hatinya gelisah

memikirkan Sin Liong biarpun dia yakin pemuda itu akan

mampu menjaga dirinya.

Kini ada orang yang betapa gagahnyapun telah berlaku

kurang ajar. “Setan alas! Siapa kau? Tentu kaki tangan Teetok,

ya? Hendak menangkap aku? Keparat jahanam! Engkau

sudah bosan hidup!”

“Tar-tar-tar….!!” Cambuk buntut ikan hiu itu sudah

meledak-ledak di atas kepala Kwee Lun. Soan Cu

mengira bahwa sekali serang saja kepala pemuda gagah itu

tentu akan pecah. Seberapa hebat sih

kepandaian anak buah Tee-tok? Akan tetapi betapa

herannya ketika dia melihat pemuda tinggi besar itu.dapat

mengelak dengan amat cepatnya, bahkan telapak tangan

pemuda itu berhasil menepuk lengannya

yang memegang cambuk.

“Plakkk!” Pemuda itu terheran. Tamparannya tidak

membuat cambuk itu terlepas! “Aihhh….. nanti dulu, jangan

menyerang begitu. Aku bukan anak buah Tee-tok atau racun

manapun juga!” Namun Soan Cu sudah merasa penasaran

sekali. Kembali dia menyerang dan kini cambuknya berubah

menjadi segulung sinar hitam yang menyambar-nyambar

dibarengi suara meledak-ledak. Akan tetapi, Kwee Lun tetap

dapat mengelak dan meloncat ke sana-sini, bahkan kadangkadang

dia berani menangkis cambuk itu dengan telapak

tangannya! Hal ini tentu saja mengagumkan hati Soan Cu.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Dan tidak tahu bahwa pemuda itu menggunakan ilmu Biansin-

kun (Tangan Kapas Sakti) yang mengandung sinkang

tingkat tinggi yang membuat telapak tangannya menjadi

lemas seperti kapas dan karenanya tidak terluka oleh benda

keras!

“Nona cantik tapi galak seperti kucing lapar!” Kwee Lun

balas memaki ketika melihat nona itu menyerang terus sambil

memaki-maki. “Berhentilah dulu dan kita bicara!”

“Iblis raksasa, kau yang kelaparan!” Soan Cu membentak

makin marah dan kini dia sudah mencabut pedangnya, pedang

Coa-kut-kiam! Dengan kedua senjatanya ini, dia menyerang

kalang kabut! “Wah, runyam! Perempuan galak dan ganas!”

Kwee Lun terancam bahaya maut dan dia pun terpaksa lalu

mencabut pedangnya dengan tangan kanan sedangkan

tangan kirinya memegang kipas gagang perak. “Tringgggg….

Cringggg-trangggg……!” Bunga api berpijar dari keduanya

terdorong kebelakang oleh pertemuan senjata yang hebat itu

tadi. Kipas bertemu dengam cambuk dan pedang bertemu

dengan pedang. Masing-masing menjadi terkejut dan

terheran. Tenaga sinkang mereka seimbang!

“Bagus! Mari kita bertanding sampai selaksa jurus!” Soan

Cu sudah menerjang lagi.

“Trangggg….! Trangggg….!!” Kembali Kwee Lun menangkis

sekuatnya dan mereka terdorong mudur. “Sombongnya!

Manusia mana kuat bertanding sampai selaksa jurus? Makan

waktu berapa bulan? Tunggu dulu, mengapa kau marahmarah

kepadaku seperti orang kebakaran jenggot?” “Ngaco!

Jenggotmu yang kebakaran!”

“Eh, ohhh! Kau bikin aku bingung! Benar, kau tidak

berjenggot. Eh, kenapa kau marah-marah begini? Dan kau

lihai bukan main! Senjatamu mengerikan!”

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Cerewet!” Soan Cu sudah hendak menerjang lagi, sekarang

terdorong oleh rasa penasaran bahwa dia tidak mampu

mengalahkan pemuda ini.

“Nanti dulu! Kita bicara dulu, baru kita bertanding

selaksa…. eh, seratus jurus saja! Aku salah menduga, kukira

kau tadi seorang pelayan di sini! “

“Menghina kamu ya? Orang macam aku ini pelayan? Kalau

kau baru pantaslah menjadi jongos! Atau jagal babi! “

“Maafkanlah. Aku tadi melihat dari jauh. Aku sedang

menyelidiki….. wah, celaka! Kau tentu puteri Tee-tok!”

Kwee Lun terkejut dan menyesali kebodohannya.

Mengapa dia tidak menduganya lebih dulu? Siapa lagi kalau

bukan puteri Tee-tok yang begini lihai?

“Aku bukan anak racun bumi, bukan anak racun bau! Aku

malah musuhnya!” “Wah, benarkah? Kalau begitu kita cocok!

Aku pun sedang melakukan penyelidikan. Aku mendengar ada

biruang diadu dengan harimau, pemilik biruang itu adalah

sahabatku, eh, maksudku, sahabatnya sahabatku!”

Soan Cu menjadi bingung. “bicaramu seperti orang

sinting!’.”Memang betul, sahabatnya, eh, malah suhengnya

sahabatku. Kau siapa?””Aku baru saja meninggalkan pemilik

biruang itu yang menjadi sahabat baikku.” Dengan singkat

Soan Cu menuturkan betapa Sin Liong mengalah dan malah

menyuruh dia pergi dan ingin menerima hukuman! “Wah,

kenapa kau sudah begini besar masih begini tolol?”

“Siapa? Siapa tolol?” Soan Cu melangkah maju dan

sepasang senjatanya sudah menggetar ditangannya. “Siapa

lagi kalau bukan engkau? Mengapa kau meninggalkan

sahabatmu itu menghadapi hukuman? Kau tidak tahu siapa itu

Tee-tok Siangkoan Houw? Dari julukannya saja sudah mudah

diketahui. Dia Racun Bumi, kejemnya bukan main. Sahabatmu

itu, suheng sahabatku, pemilik biruang, tentu akan

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

dibunuhnya!” “Apa….?” Wajah Soan Cu menjadi pucat sekali.

“Celaka….!”

“Hayo cepat kita kesana, barangkali belum terlambat!”

Demikianlah, kedua orang itu seperti berlomba lari saja,

bersicepat lari kembali ke puncak. Dan mereka tiba di tempat

yang tepat di mana mereka melihat Swat Hong sedang

menyerang kalang kabut kepada Sin Liong yang mengelak ke

sana-sini. Ketika Kwee Lun melihat sahabatnya itu menerjang

seorang pemuda dengan mati-matian dan mendapat

kenyataan betapa pemuda itu lihai bukan main, biarpun

bertangan kosong namun pedang di tangan Swat Hong sama

sekali tidak pernah menyentuhnya, dia sudah menggerakan

pedang dan kipasnya, meloncat maju sambil membentak,

“Berani kau menghina Hong-moi?” “Trangg-cringgg….!!” Kwee

Lun terdorong ke belakang dan matanya terbelalak melihat

bahwa yang menangkisnya adalah sepasang senjata di

tangan….. Soan Cu yang mendelik dan memaki, “Kerbau tolol!

Berani kau mencampuri urusan Liong-koko?” Setelah berkata

demikian, Soan Cu menyerang kalang kabut dan kembali

mereka saling serang dengan serunya!

Melihat ini, otomatis Swat Hong menghentikan serangannya

dan Sin Liong juga sudah meloncat ke belakang lalu berkata,

“Jangan bertempur! Soan Cu, mundurlah….!” “Liong-ko,

biarkan aku bertemput dengan gajah ini sampai selaksa…….

eh, seratus jurus!”

“Kwee-koko, mundur! Orang sendiri……!”

“Hehhhh….? Orang sendiri….? Dia ini….” Kwee Lun terkejut

dan terheran-heran, sebentar memandang kepada Sin Liong,

lalu kepada Soan Cu.

“Kwee-koko, inilah suhengku yang kucari-cari.” Swat Hong

memperkenalkan .

“Eh…. akan tetapi, mengapa kau menyerangnya…..??”

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Sin Liong cepat berkata, “Saudara yang gagah, Sumoiku ini

memang kalau lama tidak bertemu lalu ingin mengajakku

berlatih.” Mendengar ini, merah wajah Swat Hong. Setelah

ketahuan oleh semua orang betapa dia marah-marah dan

menyerang suhengnya sendiri, baru dia teringat dan menjadi

malu. Sementara itu, dapat dibayangkan betapa kaget dan

sedihnya hati Siangkoan Hui ketika itu. Kiranya dara cantik

yang amat lihai ini adalah Sumoi dari Kwa Sin Liong dan

melihat sikapnya, dia dapat menduga bahwa dara yang galak

ini cemburu kepadanya. Maka dia sudah melangkah maju dan

menjura sambil berkata, “Ah, harap maafkan. Kiranya Cici

adalah sumoi dari Kwa-taihiap….”

“Hemmmm…. sudahlan!” Swat Hong berkata malu,

kemudian memperkenalkan kepada suhengnya,

“Suheng, dia ini adalah Saudara Kwee Lun, murid dari Lam

Hai Sengjin.”.”Ha-ha-ha! Kiranya murid majikan Pulau Kurakura?

Selamat datang! Dan Nona adalah Sumoi dari Kwataihiap?

Aihhh….. sungguh hari ini kami kedatangan banyak

tokoh besar!” Kemudian berkata kepada Soan Cu yang masih

cembertu. “Baik sekali Nona sudah datang kembali. Mari….

mari orang-orang muda yang gagah perkasa, marilah kita

duduk dan bicara di dalam.” Tee-tok Siangkoan Houw lalu

mempersilahkan mereka semua memasuki gedungnya dan dia

menjamu mereka dengan hidangan mewah, dibantu oleh

puterinya, Siangkoan Hui yang merasa kagum sekali kepada

Swat Hong, akan tetapi juga merasa iri hati dan berduka.

Tidaklah demikian dengan perasaan Soan Cu. Memang tak

dapat disangkal lagi bahwa gadis Pulau Neraka ini amat

tertarik kepada Sin Liong yang dianggapnya sebagai seorang

pemuda yang luar biasa dan amat mengagumkan hatinya.

Akan tetapi, selama dalam perjalanan ini Sin Liong jelas

memperlihatkan sikap bahwa pemuda itu sama sekali tidak

tertarik kepadanya, juga bahwa sikap baiknya itu lebih

mendekati sikap baik seorang kakak terhadap adiknya, pula,

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

melihat bahwa sesungguhnya Swat Hong, sumoi pemuda itu,

juga mencintai suhengnya, Soan Cu maklum bahwa tidaklah

mungkin dia membiarkan cintanya terhadap Sin Liong

berlarut-larut. Pertemuannya dengan Kwee Lun telah

mengubah seluruh perasaan hatrinya. Pemuda raksasa ini

amat hebat, amat menarik dan jelas lebih cocok dengan dia!

Kwee Lun merupakan seorang pemuda yang jujur, terus

terang, gagah perkasa dan biarpun baru sekali bertemu saja,

mereka telah saling serang sampai dua kali! Oleh karena itu,

ketika mereka semua makan bersama mengelilingi meja besar,

perhatian Soan Cu lebih banyak tertuju kepada pemuda

perkasa itu.

Setelah mereka makan minum, berkatalah Tee-tok

Siangkoan Houw, suaranya sungguh-sungguh dan katakatanya

ditujukan kepada Sin Liong dan Swat Hong, “Saya tidak

tahu dengan jelas apakah Ji-wi mempunyai hubungan dengan

Pulau Es, akan tetapi mengingat bahwa Kwa-taihiap adalah

murid dari Pangeran Han Ti Ong dari Pulau Es, maka agaknya

apa yang hendak saya bicarakan ini akan menarik perhatian Jiwi.

Dan sesungguhnya saya, atas nama para orang gagah di

dunia kang-ouw, saya amat mengharapkan bantuan Sin-tong!”

JILID 13

“Ah, mengapa Locianpwe terlalu sungkan dan

merendahkan diri? Harap diceritakan ada urusan apakah yang

kiranya dapat kami bantu, dan harap jangan membawa-bawa

nama Pulau Es.” “Justeru karena urusan ini menyangkut Pulau

Es.”

“Heiii….? Ada urusan apakah yang menyangkut Pulau Es?”

Swat Hong bertanya penuh semangat. Mendengar ini Tee-tok

tersenyum dan memandang. “Sebagai Sumoi dari Sin-tong,

tentu Nona juga dari Pulau Es, bukan? Gerakan pedang Nona

tadi hebat bukan main….”

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Tidak perlu diketahui siapa pun apakah aku dari Pulau Es

atau tidak,” jawab Swat Hong tegas. “Kalau ada urusan Pulau

Es, kami ingin mendengar.”

“Locianpwe, harap ceritakan kepada kami dan maafkanlah

sikap Sumoi yang selalu tegas dan singkat. Perlu saya

berutahukan bahwa memang amatlah penting artinya bagi

kami kalau ada urusan yang menyangkut Pulau Es.”

Tee-tok menarik napas panjang. “Kalau dibicarakan

sungguh membuat orang menjadi penasaran sekali. Ji-wi

(Anda Berdua) tentu telah mendengar nama besar Bu-tongpai,

bukan? Nah, semua orang gagah dari dunia kang-ouw

bersepakat untuk menentang Bu-tong-pai mati-mat ian.”

“Haiii….? Mengapakah? Maaf kalau aku mencampuri, akan

tetapi sungguh hatiku penasaran sekali mendengar Bu-tongpai

dimusuhi orang kang-ouw. Bukankah anak murid Bu-tongpai

adalah orang-orang gagah yang dihormati oleh dunia

kang-ouw? Mengapa sekarang hendak dimusuhi?” Kwee Lun

berseru lantang, matanya terbelalak lebar karena penasaran.

“Ha-ha-ha, agaknya gurumu, Si Tua Bangka Lam Hai

Sengjin masih belum mendengar berita karena dia

selalu bertapa dipulaunya sehingga engkau pun belum

tahu, orang muda yang gagah, Bu-tong-pai telah

beberapa bulan ini dikuasai oleh seorang ketua baru!”.”Soal

pengangkatan ketua baru Bu-tong-pai, kurasa adalah urusan

dalam Bu-tong-pai sendiri!” kata pula

Kwee Lun.

“Memang demikian kalau ketua baru itu orang dalam Butong-

pai pula. akan tetapi, ketua baru itu mengaku dirinya

sebagai Ratu Pulau Es dan telah melakukan perbuatan

sewenang-wenang, melanggar peraturan kang-ouw,

mengalahkan banyak tokoh kang-ouw dan kabarnya bahkan

bersekutu dengan pembrontak!” “Ihhhh….!” Swat Hong

berseru.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Kiranya dia di sana….!” Sin Liong juga berseru.

Mendengar seruan dua orang muda sakti dari Pulau Es itu,

Tee-tok cepat memandang penuh selidik. “Ji-wi mengenal

wanita itu?”

Sin Liong mengangguk tenang. “Agaknya begitulah. Dan

sekarang juga kami berdua minta diri, karena kami harus

segera berangkat ke Bu-tong-pai.”

“Tapi biarlah kami membantumu, dan kalau perlu kita

memberitahukan teman-teman di dunia kang-ouw agar….”

“Tidak usah, Locianpwe. Ini adalah urusan antara kami

sendiri. Bukankah begitu Sumoi?” “Benar! Harus kami berdua

saja yang berangkat ke sana. Kwee-koko, terima kasih atas

bantuanmu mencari Suheng dan setelah kini aku bertemu

Suheng dan kami ada urusan yang amat penting, terpaksa aku

akan meninggalkanmu. Kita berpisah sampai di sini, Kweekoko.”

Kwee Lun mengangguk dan berkata dengan suara lirih

setelah menarik napas panjang. “Aku mengerti, Hong-moi.”

“Soan Cu, kuharap engkau suka menanti dulu di sini dan

harap Siangkoan Lo-enghiong melimpahkan kebaikan hati

dengan menerima Soan Cu di sini untuk beberapa hari sampai

saya selesai berurusan dengan Bu-tong-pai.”

“Tentu saja! Dengan senang hati! Biarlah Ouw-siocia

tinggal di sini dulu, ditemani oleh anakku.” “Tidak, Liong-koko!

Aku…. aku…. akan pergi saja melanjutkan usahaku mencari

Ayah. Kaupergilah menyelesaikan urusanmu dengan Swat

Hong……” kata Soan Cu sambil menekan perasaannya.

“Urusan kita memang berlainan. Selamat tinggal, aku pergi

lebih dulu!” Setelah berkata demikian, Soan Cu lalu bangkit

berdiri dan berlari pergi tanpa menoleh lagi.

Kwee Lun juga bangkit berdiri. “Kalau begitu aku pun

pamit. Biarlah aku membantu dia kalau dia mau.”

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Kwee Lun lalu berlari sambil berseru, “Nona…., tunggu

dulu….!!”

Namun Soan Cu tidak menengok lagi dan berlari cepat

sehingga Kwee Lun terpaksa harus mengerahkan ginkangnya

untuk mengejar. Sebentar saja kedua orang muda yang

berkejaran itu sudah lenyap dari pandangan mata.

Sin Liong dan Swat Hong juga berpamit dan meninggalkan

Tee-tok bersama puterinya yang mengantar mereka sampai di

pintu depan. Setelah kedua orang itu berjalan pergi dan tidak

nampak lagi, terdengar Siangkoan Hui terisak dan menutupi

matanya dengan ujung lengan bajunya. Siangkoan Houw

menghela napas dan merangkulnya. dara itu makin berduka,

menangis sesenggukan di dada ayahnya. Tee-tok menepuknepuk

pundak puterinya dan berkata, “Hemm, tidak patut

anak Tee-tok begini lemah hatinya!

Aku tahu bahwa kau jatuh cinta kepadanya, Hui-ji. Memang

dia seorang pemuda luar biasa! Akan tetapi,

aku melihat sesuatu yang aneh pada diri Sin-tong itu. Aku

akan merasa heran kalau sampai mendengar dia

itu menikah! Dia tidak seperti manusia biasa! Dia dari Pulau

Es, demikian Sumoinya. Mereka itu berbeda

dengan kita. Selain itu, engkau adalah tunangan putera

Lusan Lojin Bu Si Kang. Engkau sejak kecil telah

dijodohkan dengan Bu Swai Liang. Biarlah aku akan

mencari lagi mereka!”.Siangkoan Hui tidak menjawab dan dia

menurut saja ketika diajak masuk ke rumah oleh ayahnya

yang

amat menyayanginya. Sebetulnya, sukarlah dikatakan

apakah Siangkoan Hui benar-benar jatuh cinta kepada Sin

Liong. Kiranya lebih tepat dikatakan kalau dia tertarik dan

suka menyaksikan wajah dan sikap pemuda yang halus budi

itu. Untuk dikatakan jatuh cinta, kiranya masih terlalu pagi!

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Keadaan di Bu-tong-pai mengalami perubahan hebat

semenjak The Kwat Lin menjadi ketua partai persilatan besar

itu. Bukan hanya perubahan di luar, yang nampak jelas karena

adanya banyak anggauta perkumpulan golongan hitam dan

sepak terjang mereka yang kasar dan ugal-ugalan,

mengandalkan kepandaian untuk menentang siapa saja, akan

tetapi juga terjadi perubahan di sebelah dalam yang tidak

diketahui oleh orang luar. Terjadi hal yang membuat Swi Nio

seringkali menangis seorang diri di dalam kamarnya! Peristiwa

yang memalukan hati dara itu, yaitu ketika dia melihat betapa

kakaknya, Swi Liang, telah menjadi kekasih dari subo mereka

sendiri! Tadinya tentu saja hal itu terjadi secara sembunyisembunyi,

akan tetapi kini dia melihat sendiri betapa subonya

dan kakaknya itu berjinah secara terang-terangan, tidak

bersembunyi lagi dan biarpun pada siang hari di mana banyak

mata para angauta Bu-tong-pai menyaksikannya, dengan

seenaknya ketua Bu-tong-pai itu memasuki kamar Bu Swi

Liang atau sebaliknya pemua itu memasuki kamar subonya

kemudian pintu kamar ditutup dari dalam! Hati Swi Nio

membrontak, akan tetapi apa yang dapat dia lakukan kecuali

menangis? Dan memang sungguh menyedihkan sekali

kenyataan bahwa seorang pemuda seperti Bu Swi Liang kini

terjebak oleh nafsu berahi dan menjadi hamba nafsu berahi,

juga menjadi hamba subonya sendiri yang membuatnya

tergila-gila! Hal ini t idak amat mengherankan, mengingat

bahwa Swi Liang adalah seorang pemuda yang masih hijau.

Seorang pemuda remaja yang tentu saja tidak kuat menahan

godaan dan rayuan seorang wanita yang sudah matang

seperti The Kwat Lin pula, memang rasa kagum seoran muda

terhadap lawan kelaminnya yang lebih tua dengan mudah

menyeretnya ke dalam perangkap cinta nafsu. Di lain pihak,

peristiwa itu bukanlah dapat diartikan bahwa The Kwat Lin

adalah seorang wanita yang gila laki-laki atau gila berahi.

Sama sekali tidak. Dia adalah seorang yang normal, dan hanya

keadaanlah yang membuat dia menjadi seorang penyeleweng

besar. Dia adalah seorang wanita yang belum tua benar, baru

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

tiga puluh tahun usianya, berwajah cantik dan bertubuh sehat.

Setelah menjadi janda dan hidupnya menyendiri, wajarlah

kalau dia merindukan cinta asmara, merindukan kehangantan

rasa sayang seorang pria. Adapun pria yang sudah dewasa

dan yang dekat dengannya adalah Bu Swi Liang, maka tidak

pula mengherankan apa bila dia teertarik dan jatuh hati

kepada muridnya sendiri ini. Karena pemuda ini masih hijau

dan tentu saja tidak berani mulai dengan langkah pertama,

maka The Kwat Lin yang menggunakan perasaan

kewanitaannya untuk membuka pintu dan menggerakan kaki

dalam langkah pertama. Dialah yang memikat dan merayu

sehingga akhirnya Swi Liang jatuh dan mabok. Sekali saja

hubungan jinah dilakukan, maka membuat orang menjadi

mencandu. Yang pertama kali segera disusul oleh yang ke

dua, ke tiga, kemudia mereka menjadi ketagihan dan seolaholah

tidak dapat lagi hidup tanpa kelanjutan hubungan gelap

mereka!

Tentu saja hal ini dapat terjadi karena keadaan hidup Kwat

Lin. Andaikata dia masih seorang pendekar wanita seperti

belasan tahun yang lalu, tentu perbuatan ini sampai mat i pun

tak kan dia lakukan. Akan tetapi kini keadaanya lain. Dia

menjadi seorang wanita yang berhati keras oleh sakit hati,

kemudian menjadi tak peduli oleh keadaannya sebagai

seorang ketua paksaan dari Bu-tong-pai, seorang yang

bercita-cita untuk mencarikan kedudukan setingginya bagi

puteranya. Kedudukannya memberi dia perasaan lebih dan

berkuasa, maka timbul sifat untuk bertindak sewenangwenang

tanpa mempedulikan orang lain lagi. Akan tetapi,

selain hubungan gelap dengan muridnya yang tersayang ini,

Kwat Lin juga mulai dengan langkah-langkah ke arah

tercapainya cita-citanya. Dia mulai memperkuat Bu-tong-pai

dengan mengadakan hubungan dengan para pembesar di kota

raja melalui anggauta-anggauta barunya, yaitu para pembesar

yang mempunyai cita-cita yang sama, para pembesar calon

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

pembrontak. Kedudukan Bu-tong-pai makin kuat setelah

terjadi peristiwa hebat pada beberapa hari yang lalu.

Pada beberapa hari yang lalu, pagi-pagi sekali, anak buah

Bu-tong-pai gempar dengan munculnya dua

orang laki-laki di pintu gerbang Bu-tong-pai. Tidak ada

seorang pun anak buah Bu-tong-pai yang berani

sembarangan turun tangan ketika mendengar dan

mengenal bahwa dua orang ini adalah tokoh-tokoh besar

dalam dunia persilatan. Ketika seorang diantara mereka,

yang usianya sudah enam puluh tahun lebih, kumis

dan jenggotnya sudah putih, mengatakan bahwa mereka

minta berjumpa dengan ketua Bu-tong-pai yang

baru, para anak murid Bu-tong-pai cepat memberi kabar

kepada The Kwat Lin yang pada saat itu masih

enak-enak pulas dalam pelukan muridnya, juga kekasihnya,

Bu-swi Liang! Terkejut lah dia ketika pintu

kamarnya diketuk dan mendengar suara seorang murid

bahwa di luar pintu gerbang terdapat dua orang.tamu, ayah

dan anak she Coa dari dusun Koan-teng di kaki Pegunungan

Bu-tong-san yang minta bertemu

dengan ketua!

“Suruh mereka menanti di luar! Aku segera datang!” kata

Kwat Lin dengan marah. Tak lama kemudian, Kwat Lin yang

ditemani oleh Swi Liang dan Swi Nio, juga ikut pula Han Bu

Ong yang usianya hampir sebelas tahun, keluar dari pintu

gerbang menemui dua orang itu. Senyum mengejek menghias

bibir ketua Bu-tong-pai yang cantik itu. Semenjak dia

merampas kedudukan ketua dengan paksa, sudah lima kali dia

didatangi tokoh-tokoh kang-ouw yang agaknya datang karena

permintaan para tosu Bu-tong-pai yang mengundurkan diri.

Para tokoh ini merasa penasaran dan membela para tokoh BuTiraikasih

Website http://kangzusi.com/

tong-pai. Dengan mudahnya semua tokoh yang datang

berturut-turut itu dirobohkan oleh Kwat Lin, ada yang tewas

seketika, ada yang terpaksa pergi membawa luka-luka berat!

Dan kini, ayah dan anak yang datang itu merupakan tokohtokoh

yang datang ke enam kalinya. Swi Liang dan Swi Nio

yang menggandeng tangan Bu Ong segera minggir dan

membiarkan subu mereka seorang diri menghadapi dua orang

tamu itu.

Dengan pakaian yang mewah dan indah, dandanan seperti

puteri kerajaan, The Kwat Lin tampak sebagai seorang wanita

bangsawan agung yang memiliki wibawa. Dengan sikap

angkuh dia melangkah maju menghadapi dua orang itu sambil

tersenyum. Kedua orang itu berpakaian sederhana, namun

dari sikap mereka yang tenang jelas tampak kegagahan

mereka sebagai pendekar-pendekar penentang kejahatan.

Kakek itu biarpun sudah tua, masih kelihatan sehat dan kuat,

jenggot dan kumisnya yang putih menambah keangkeran

wajahnya.Di pinggangnya tergantung sebatang pedang dan

dia memandang ketua Bu-tong-pai dengan sinar mata penuh

selidik. Orang ke dua masih muda, paling banyak tiga puluh

tahun usianya, bertubuh tegap dan berwajah tampan gagah.

Ada kemiripan pada wajah kakek dan laiki-laki ini dan memang

mereka itu adalah ayah dan anak yang terkenal sekali

namanya sebagai pendekar-pendekar dari dusun Koan-teng

yang menjadi sahabat-sahabat baik dari para tosu Bu-tongpai.

Kakek Coa Hok memiliki ilmu pedang turunan keluarga

Coa yang amat lihai dan ilmu pedang ini diturunkan pula

kepada puteranya itu yang bernama Coa Khi. Ketika ayah dan

anak ini mendengar akan malapetaka yang menimpa para

pemimpin Bu-tong-pai, yaitu munculnya orang termuda dari

Cap-sha Sin-hiap, seorang wanita yang merampas kedudukan

ketua , kemudian mendengar betapa banyak sahabat -sahabat

kang-ouw yang membela mereka telah roboh di tangan wanita

itu, mereka berdua menjadi marah sekali. Sebagai orangorang

yang biasa menentang kejahatan mereka tidak

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

mempedulikan berita tentang kesaktian wanita itu dan

berangkatlah mereka meninggalkan rumah, berbekal pedang,

semangat dan kebenaran, naik ke Bu-tong-san menjumpai

ketua Bu-tong-pai itu.

The Kwat Lin bukan seorang bodoh. Setiap kali ada tokoh

naik ke Bu-tong-san dan hendak menantangnya, dia selalu

membujuk mereka untuk berdamai dan bekerja sama. Selama

cita-citanya belum tercapai, dia membutuhkan bantuan

sebanyak mungkin orang pandai. Maka setiap kali ada orang

gagah datang dengan maksud menantangnya dan membela

para bekas pimpinan Bu-tong-pai, dia selalu menyambut

mereka dengan bujukan manis. Hanya karena bujukannya

tidak berhasil dan mereka itu berkeras, terpaksa dia turun

tangan menerima tantangan mereka.

Memang demikianlah sifat orang-orang yang mempunyai

cita-cita besar, cita-cita yang sesungguhnya hanyalah nafsu

keinginan untuk kesenangan diri pribadi. Demi tercapainya

cita-cita yang merupakan pamrih bagi diri peribadi ini, orang

tidak segan untuk bersikap palsu, membujuk orang

sebanyaknya untuk membantunya demi tercapainya cita-cita

itu. Orang-orang yang tidak membantu di anggap musuh dan

perlu dibasmi agar jangan menjadi penghalang cita-citanya,

sebaiknya, mereka yang mati-matian membantunya, jika citacita

itu sudah tercapai sebagian besar dilupakannya begitu

saja! Atau kalau teringat pun, hanya diberi pahala sekedarnya

karena yang penting bukan orang-orang yang membantunya,

melainkan dirinya sendiri!

Begitu berhadapan dengan ayah dan anak itu, The Kwat Lin

mengangkat kedua tangannya ke depan dada sambil berkata.

“Kiranya Ji-wi Coa-enghiong (Kedua Pendekar she Coa) yang

datang. Suadh lama kami mendengar Ji-wi yang terkenal

gagah perkasa, maka kami merasa beruntung sekali hari ini

dapat bertemu. Apalagi mendengar bahwa Ji-wi adalah

sahabat baik dari Bu-tiong-pai…..”

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“The Kwat Lin!” Kakek Coa membentak dengan telunjuk kiri

menuding ke arah muka ketua baru Bu-tong-pai

itu. “Aku mengenalmu sebagai seorang di antara Cap-sha

Sin-hiap yang gagah perkasa, sebagai seorang

murid Bu-tong-pai yang selalu menjunjung tinggi nama Butong-

pai. Aku telah puluhan tahun bersahabat

dengan Bu-tong-pai dan telah mendengar akan namamu.

Akan tetapi, mengapa setelah menghilang

bertahu-tahun, engkau kembali ke sini dan menjadi

seorang murid murtad, merampas kedudukan

ketua.mengandalkan kekerasan dan kepandaian? Aku sebagai

seorang sahabat Bu-tong-pai tentu saja tidak

mungkin dapat mendiamkan hal penasaran ini tanpa turun

tangan!”

Kwat Lin tersenyum manis dan melirik ke arah Soa Khi yang

berwajah tampan, akan tetapi Coa Khi mengerutkan alis dan

memandang penuh kemarahan.

“Coa-lo-enghiong agaknya kena dibujuk orang! Memang

benar saya menjadi ketua Bu-tong-pai, akan tetapi hal itu

adalah demi kebaikan Bu-tong-pai, demi cinta saya kepada

Bu-tong-pai. Saya ingin menjadikan Bu-tong-pai perkumpulah

terbesar dan terkuat di dunia kang-ouw, dan saya ingin

menarik semua orang gagah menjadi sahabat yang dapat

bekerja sama. Karena itu, saya harap Ji-wi dapat membuka

mata melihat kenyataan dan saya persilahkan J i-wi untuk

datang sebagai sahabat dan untuk minum arak persahabatan

bersama kami.”

“Perempuan murtad! Jangan mengira dapat menyogok

kami dengan omongan manis!” Kakek itu membentak marah.

Kedua alis yang hitam kecil dan panjang itu bergerak-gerak

dan biarpun mulut yang berbibir itu masih tersenyum, namun

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

kata-kata yang keluar mengandung nada dingin, “Habis apa

yang kalian akan lakukan?”

“Sing! Singggg!!” Ayah dan anak itu telah mencabut

pedang dan kakek Coa berkata, “Hanya ada dua pilihan bagi

engkau dan kami. Pertama engkau pergi meninggalkan Butong-

pai dan kami akan berterima kasih kepadamu yang

mengembalikan Bu-tong-pai, kepada para pimpinan Bu-tongpai,

atau kalau engkau berkeras terpaksa kami ayah dan anak

turun tangan menggunakan pedang membela kehormatan

sahabat-sahabat dari Bu-tong-pai!”

“Hi-hik! Betapa gagahnya keluarga Coa! Apakah ilmu

Pedang Hok-liong-kiamsut sehebat sikap mereka, perlu

ditonton dulu!” Tiba-tiba terdengar suara yang lantang dan

merdu ini. Semua orang menengok, juga The Kwat Lin yang

menjadi terkejut melihat ada orang datang tanpa

diketahuinya. Hal itu saja membuktikan bahwa wanita yang

muncul ini memiliki ilmu kepandaian yang hebat. Ayah dan

anak itu mendengar nama ilmu pedang turunan mereka

disebut-sebut, juga menengok dengan kaget. Wanita itu

pakaiannya mentereng dan biarpun usianya sudah kurang

lebih setengah abad, namun harus diakui bahwa dia adalah

seorang wanita cantik. Rambutnya hitam gemuk dan panjang,

dibiarkan terurai sampai kepinggulnya yang menonjol di balik

celana yang ketat. Tangan kanannya memanggul sebatang

payung hitam dan wanita itu tahu-tahu telah berdiri di situ

dengan gaya lemah lembut. Dia seorang wanita yang masih

kelihatan cantik dengan tubuh padat akan tetapi ada sesuatu

yang dingin mengerikan keluar dari sikapnya, terutama sekali

sepasang matanya yang amat tajam itu karena mata itu

terbelalak memandang hampir tak pernah berkejap!

Melihat wanita ini, kakek Coa terkejut bukan main dan

otomatis dia berseru keras. “Kiam-mo Cai-li….!!” Puteranya,

Coa Khi terkejut. Tentu saja dia sudah pernah mendengar

nama ini, nama seorang datuk kaum sesat yang amat terkenal

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

sebagai seorang iblis betina yang selain kejam dan ganas,

juga amat tinggi ilmu kepandaiannya. Kakek Coa merasa

heran sekali mengapa iblis betina yang sudah bertahun-tahun

tak pernah muncul di dunia kang-ouw dan kabarnya hanya

bertapa di tempat kediamannya, yaitu di Rawa Bangkai di kaki

Penggunungan Lu-liang-san itu tahu-tahu kini muncul di situ.

Dan biasanya, di mana pun iblis itu muncul, tentu akan terjadi

malapetaka hebat!

The Kwat Lin juga sudah mendengar nama itu, yaitu

sepuluh tahun yang lalu ketika dia masih menjadi seorang di

antara Cap-sha Sin-hiap. Ketika itu, nama Kiam-mo Cai-li

(Wanita Cerdik Berpedang Payung) sudah amat terkenal. Akan

tetapi dia belum pernah bertemu dengan iblis betina itu dan

sekarang dia melirik ke arah wanita itu dengan senyum

mengejek. Dengan kepandaiannya seperti sekarang ini, dia

tidak perlu takut menghadapi iblis yang manapun juga!

“Kiam-mo Cai-li, apakah kedatanganmu tanpa diundang ini

pun hendak menantang aku sebagai ketua Bu-tongpai?

Kalau memang demikian, jangan kepalang tanggung,

majulah kau bersama kedua orang She Coa

ini agar lebih cepat aku menghadapi kalian!”.Ucapan yang

keluar dengan tenangnya dari mulut ketua Bu-tong-pai itu

mengejutkan hati kedua orang ayah

dan anak She Coa itu. Berani bukan main wanita ini

menantang Kiam-mo Cai-li seperti itu! Menyuruh datuk kaum

sesat itu untuk mengeroyok!

Akan tetapi Kiam-mo Cai-li tertawa lebar sehingga

tampaklah deretan giginya yang putih dan rapi, “Hi-hi-hik,

hebat sekali mulut ketua baru Bu-tong-pai! Pantas kau

disebut-sebut di dunia kang-ouw, kiranya memang memilki

keberanian yang hebat! Hanya karena mendengar engkau

adalah Ratu Pulau Es maka aku terpaksa meninggalkan

tempatku yang aman dan tenteram. Kalau tidak karena nama

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

ini, biar siapa pun yang akan menduduki Bu-tong-pai, aku

peduli apa? Sekarang hendak kulihat bagaimana kau

menghadapi pewaris-pewaris ilmu Pedang Hok-liong-kiamsut

yang terkenal ini. Kalau kau memang berharga untuk

melawanku, barulah kita nanti bicara lagi!”

The Kwat Lin tersenyum mengejek dan mendenguskan

suara dari hidung. “Hemm, kau merasa terlalu tinggi untuk

mengeroyok? Baiklah, kalau begitu tunggu saja sampai aku

membereskan dua oran ini. Di sini tidak ada bangku, duduklah

di sini!” Setelah berkata demikian, Kwat Lin menghampiri

sebatang pohon dan sekali tangan kirinya bergerak menyabet

dengan telapak tangan miring, terdengar suara keras dan

pohon itu tumbang. Hebatnya, batang pohon itu putus seperti

dibabat pedang tajam saja, rata dan halus sehingga sisanya

merupakan sebuah bangku!

“Hi-hi-hik, memang hebat sinkangmu! Terima kasih, aku

menanti di sini,” kata Kiam-mo Cai-li Liok Si dan sekali

meloncat, tubuhnya sudah melayang ke atas batang pohon

yang merupakan bangku bermuka halus itu. Dia duduk

bertumpang kaki dan menunjang dagu dengan sebelah

tangan, seperti seorang yang akan menikmati suatu tontonan

yang menarik.

Ayah dan anak she Coa itu saling pandang. Di dalam

pandang mata yang bertemu ini mereka seperti sudah saling

bicara, menyatakan bahwa mereka menghadapi lawan yang

amat lihai. Akan tetapi, jiwa pendekar kedua orang ini

membuat mereka sama sekali tidak merasa gentar. Mereka

bukan saja membela sahabat-sahabat mereka Kui Tek Tojin

dan para tokoh Bu-tong-pai, akan tetapi juga menuntut balas

atas kematian dan kekalahan para tokoh kang-ouw yang

datang lebih dulu dari mereka membela Bu-tong-pai. Selain itu

mereka sudah datang sebagai dua orang penuntut kebenaran,

kalau sekarang mereka harus mundur melihat kehebatan

lawan, hal ini akan membuat mereka menjadi pengecut dan

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

bagi dua orang pendekar seperti mereka yang namanya sudah

terkenal harum selama beberapa keturunan, lebih baik mati

sebagai orang gagah dari pada hidup menjadi pengecut hina!

“Kalau begitu, The Kwat Lin, bersiaplah engkau!” teriak

kakek Coa dan pedang di tangan kanannya sudah melintang di

depan dada. Gerakan ini diturut oleh Coa Khi dan kedua orang

itu berdiri berjajar dengan memasang kuda-kuda yang kuat.

Kwat Lin menggerakan tangan kanannya dan tongkat

pusaka ketua Bu-tong-pai yang selalu dipegangnya itu

menancap di atas tanah di depannya. Tongkat itu baginya

perlu untuk menghadapi orang-orang Bu-tong-pai yang

menghormat i tongkat itu dan menganggapnya sebagai benda

keramat lambang kedudukan tertinggi di Bu-tong-pai. Kini,

menghadapi dua orang luar, dia tidak mau

mempergunakannya, dan juga untuk memamerkan

kepandaiannya, dia sengaja hendak menghadapi dua orang itu

dengan tangan kosong! “Ceppp!” Tongkat itu amblas

setengahnya ke dalam tanah dan sekali Kwat Lin

menggerakan ke dua kakinya, tubuhnya mencelat ke depan

dua orang gagah se Coa itu sambil berkata, “Mulailah!”

“Sing, sing…. wut-wut-wut-wutttt….!!” Bertubu-tubi kedua

pedang itu menyambar dengan kekuatan dan

kecepatan dahsyat sehingga tampak sinar-sinar berkilauan

dibarengi suara bersiutan ketika kedua pedang

membelah udara. Diam-diam Kwat Lin terkejut dan harus

memuji kehebatan dan keindahan gerakan ilmu

pedang mereka itu. Namun, tentu saja dengan latihan yang

didapatnya dari Pulau Es, gerakanya lebih cepat

lagi sehingga dengan mudah dia dapat mengelak ke sanasini

menghindarkan diri dari sambaran sinar

kedua pedang itu dengan gerakan yang cepat dan indah.

Setelah merasa yakin bahwa betapapun indah dan

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

lihainya ilmu pedang mereka namun dia masih memiliki

tingkat jauh lebih tinggi dalamhal sinkang, Kwat

Lin tersenyumdan bagaikan seekor kucing mempermainkan

dua ekor tikus, dia sengaja selalu mengelah ke

sana ke mari memamerkan kegesitan tubuhnya, bukan

hanya kepada dua orang itu melainkan terutama

sekali kepada wanita yang dianggapnya merupakan calon

lawan yang lebih lihai, yaitu Kiam-mo Cai-li

yang menonton pertandingan itu. Tiba-tiba Kwat Lin

mengeluarkan seruan tertahan ketika lirikan matanya

membuat dia maklum bahwa ada dua orang bekas anak

buah Bu-tong-pai yang mendekati tongkat pusaka

itu dan berusaha mencabut tongkat pusaka dari dalam

tanah. Peristiwa itu terjadi cepat sekali namun Kwat.lin yang

cerdik lebih cepat lagi mengambil kesimpulan bahwa dua

orang itu tentulah pengkhianat-pengkhianat

yan berpura-pura takluk kepadanya namun diam-diam

mencari kesempatan untuk mencuri tongkat pusaka, tentu

dengan maksud mengembalikan tongkat itu kepada Kui Tek

Tojin! Pada saat itu, dua pedang ayah dan anak itu menusuk

dari depan dan belakang dengan cepatnya. Kwat Lin tentu

saja agak terlambat gerakanya oleh perhatian yang terpecah

tadi, maka dia cepat menggulingkan tubuhnya, mengelak dari

tusukan pedang di depan, sedangkan tusukan pedang dari

belakang yang masih mengancamnya di tangkisnya dengan

lengan kiri yang dilindungi gelang-gelang emas.

“Cringggg….!!” Coa Khi terkejut bukan main ketika lengan

yang memegang pedang itu tergetar hebat dan hampir saja

pedangnya terlepas dari pegangan ketika bertemu dengan

gelang di pergelangan tangan kiri ketua Bu-tong-pai itu! Ketika

dia dan ayahnya memandang, ternyata wanita itu telah lenyap

dan tahu-tahu terdengar jerit-jerit mengerikan dari kiri. Ketika

mereka memandang, ternyata wanita itu telah merobohkan

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

dua orang laki-laki yang tadi mencoba mencuri tongkat

pusaka. Dua orang laki-laki itu roboh dengan kepala pecah

disambar jari-jari tangan Kwat Lin yang marah. Setelah

membunuh kedua orang itu, sekali meloncat Kwat Lin sudah

kembali menghadapi dua orang lawannya. kini dialah yang

menerjang, menyerang dengan kedua tangan terbuka,

cepatnya bukan main sehingga ayah dan anak itu terpaksa

mudur sambil melindungi tubuhnya dengan pedang. Seru dan

indah dipandang pertandingan itu. Tubuh Kwat Lin lenyap dan

hanya kadang-kadang saja tampak, bergerak-gerak di antara

gulungan dua sinar pedang. Dia seloah-olah seorang penari

yang amat indah dan lemah gemulai gerakannya, seperti

sedang bermain-main dengan gulungan sinar pedang yang

dipandang sepintas lalu seperti dua helai selendang yang di

mainkan oleh wanita itu.

Tiba-tiba kedua orang ayah dan anak itu mengeluarkan

pekik yang menggetarkan bumi dan tampak mereka

menerjang secara berbareng dari depan dengan pedang

terangkat ke atas dan membacok sambil meloncat. Inilah

jurus paling ampuh dari ilmu pedang mereka lakukan dengan

berbareng, jurus terakhir dari Hok-liong-kiam-sut (Ilmu

Pedang Naga). Serangan ini demikian dahsyatnya sehingga

tidak memungkinkan lawan yang diserangnya untuk mengelak

lagi karena jalan keluar sudah tertutup dan ke mana pun

lawan mengelak, ujung pedang tentu akan mengejar terus.

Akan tetapi, sambil tersenyum Kwat Lin tidak

menghindarkan diri sama sekali tidak mengelak, bahkan

menubruk ke depan, tiba-tiba ketika tubuh Coa Khi yang

meloncat ke atas itu sudah dekat dan pedang pemuda itu

sudah menyambar ke arah kepalanya, dia menjatuhkan diri ke

bawah, berjongkok dan kedua tangannya menyambar ke atas

dan depan dengan jari-jari terbuka. “Hyaaaaattt….!!” Pekik

melengking yang keluar dari mulut Kwat Lin ini dahsyat sekali

dan kedua tangan yang mengandung sepenuhnya tenaga Inti

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Salju yang ampuh itu telah menyambar perut kedua orang

laawannya.

“Plak! Plak!” Tamparan jari-jari tangan yang mengandung

tenaga sinkang mujijat ini tepat mengenai perut Coa Khi yang

sedang melayang di atas dan Coa Hok yang berada di depan.

Ayah dan anak itu mengeluarkan jerit tertahan yang

mengerikan. Mereka merasa tubuh mereka dimasuki hawa

dingin yang tak tertahankan hebatnya dan robohlah ayah dan

anak itu, roboh tanpa dapat berkutik lagi karena mereka telah

tewas dengan muka membiru karena darah mereka telah beku

terkena pukulan yang mengandung Swat-im-sinkang hebat

dari Pulau Es!

“Bagus sekali….!!” Kiam-mo Cai-li Liok Si memuji dan

melayang turun dari atas batang pohon dan berdiri

berhadapan dengan ketua Bu-tong-pai itu. Keduanya sama

cantik dan sama mewah pakaiannya, dan sejenak mereka

saling pandang seperti hendak mengukur kelebihan lawan

dengan pandang mata. “Hebat kepandaianmu, Pangcu

(Ketua)! Melihat tingkatmu, engkau pantas menjadi lawanku

bertanding, mari kita coba-coba, siapa diantara kita yang lebih

lihai! “

The Kwat Lin mengerutkan alisnya dan bertanya, “Kiam-mo

Cai-li, diantara kita tidak pernah ada urusan sesuatu. Apakah

engkau menantangku demi membela para tosu Bu-tong-pai

yang sudah mengundurkan diri?”

“Hi-hi-hik!” Wanita yang sudah hampir nenek-nenek namun

masih amat genit itu terkekeh. “Aku membela

tosu Bu-tong-Pai? Jangan bicara ngaco! Bagi aku, siapa pun

yang akan menjadi ketua Bu-tong-pai, masa.bodoh! Akan

tetapi mendengar bahwa yang mengetuai Bu-tong-pai disebut

Ratu Pulau Es, hatiku tertarik

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

dan sekarang melihat engkau benar-benar lihai, makin ingin

hatiku menguji kelihaianmu dan bertanya apakah benar

engkau Ratu Pulau Es?”

Kwat Lin mengangguk. “Benar, aku adalah bekas Ratu

Pulau Es! Kiam-mo Cai-li, kalau engkau t idak membela tosutosu

Bu-tong-pai perlu apa kita bertanding? Ketahuilah, aku

sedang membangun Bu-tong-pai dan aku membutuhkan kerja

sama dengan orang-orang pandai, terutama sekali engkau.

Apakah seorang dengan kepandaian seperti engkau ini tidak

pula mempunyai cita-cita tinggi untuk mencapai matahari dan

bulan? Ataukah hanya menanti kematian begitu saja,

membusuk di tempat pertapaanmu di Rawa Bangkai?” “Hi-hihik,

aku sudah mendengar pula akan usahamu yan bercita-cita

luhur! Karena itu pula aku tertarik dan datang ke sini. Akan

tetapi sebelum kita bicara tentang kerja sama dan cita-cita,

kita harus menentukan dulu siapa diantara kita yang patut

memimpin dan siapa pula yang harus taat.” “Maksudmu?” The

Kwat Lin memandang tajam dengan alis berkerut. “Kita

bekerja sama, itu pasti! Dan kalau kita berdua sudah bekerja

sama, di tangan kita kaum wanita, tentu segalanya akan

berhasil baik! Lihat saja keadaan di istana kerajaan. Seorang

selir mampu mengemudikan seluruh kendali pemerintahan!

Akan tetapi untuk menentukan siapa yang akan menjadi

pemimpinnya diantara kita, perlu diketahui sekarang juga.”

“Bagus! Dengan lain kata-kata engkau menantang untuk

kita mengadu kepandaian, ya? Kiam-mo Cai-li, engkau seperti

seekor katak dalam sumur! Majulah!” Kwat Lin membanting

kakinya ke atas tanah dekat pusaka Bu-tong-pai dan….

tongkat yang menancap setengahnya lebih itu mencelat ke

atas seperti didorong dari bawah tanah, lalu tongkat itu

disambar dan dipegangnya.

Kiam-mo Cai-li menganguk-angguk. “Hebat memang

sinkangmu, Pangcu. Akan tetapi jangan kau salah sangka.

Sekali ini aku benar-benar menyadari bahwa usiaku sudah

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

makin tua dan aku perlu memperoleh kedudukan yang akan

menjamin masa tuaku sampai mati. Kita hanya mengukur

kepandaian, bukan bertanding sebagai musuh, hanya untuk

menentukan t ingkat siapa yang lebih tinggi di antara kita

berdua.”

Mendengar kata-kata ini, berkurang panas hati Kwat Lin

dan teringat lagi dia bahwa betapapun juga, dia

membutuhkan tenaga bantuan wanita iblis yang terkenal

sebagai datuk kaum sesat ini. Kalau dia dapat menarik wanita

ini sebagai pembantu, tentu akan banyak tokoh kaum sesat

yang dapat ditariknya untuk membantu tercapainya citacitanya.

“Baiklah kalau begitu, Kiam-mo Cai-li. Mari kita mulai!”

“Pangcu, awas serangan pedang payungku!” Kiam-mo Cai-li

berseru dan tubuhnya sudah menerjang ke depan, didahului

oleh bayangan hitam dari pedang payungnya yang terbuka

dan menyembunyikan gerakannya. Ujung payung berbentuk

pedang itu menusukkan payung itu sendiri berputar

mengaburkan pandangan mata lawan. Namun, dengan tenang

saja Kwat Lin menggerakan tangan kirinya, dengan telapak

tangan terbuka dia mendorong ke depan sehingga hawa

pukulan sinkang yang hebat menyambar dan membuat

payung itu seperti tertiup angin keras dan menahan daya

serang ujung payung yang seperti pedang, kemudian disusul

dengan gerakan tongkat pusaka ditangan Kwat Lin

menyambar dari samping dengan dahsyatnya.

“Plakk…! Cringggg-cring….!!” Tongkat itu ditangkis,

pertama dengan kuku tangan Kiam-mo Cai-li yang hendak

mencengkeram dan merampas tongkat, namun tongkat sudah

ditarik kembali dan mengirim hantaman dua kali berturut-turut

yang dapat ditangkis oleh pedang di ujung payung. Maklum

akan kehebatan lawannya, Kiam-mo Cai-li bergerak cepat

sekali dan dia sudah mainkan ilmu pedangnya yang luar biasa,

yaitu Tiat-mo Kiam-hoat (Ilmu Pedang Payung Besi).

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Kalau saja kwat Lin belum mewarisi ilmu-ilmu yang amat

tinggi tingkatnya dari Pulau Es, tentu dia bukanlah lawan

Kiam-mo Cai-li yang lihai sekali itu. Akan tetapi, karena The

Kwat Lin kini telah menjadi seorang yang berilmu tinggi, maka

dia dapat mengimbangi permainan lawannya dan terjadilah

pertandingan yang amat seru dan seimbang.

Kiam-mo Cai-li memang luar biasa lihainya. Tidak percuma

dia menjadi seorang datuk kaum

sesat, seorang tokoh golongan hitam yang ditakuti seperti

seorang iblis betina yang kejam dan berilmu.tinggi. Tdak

hanya ilmu pedangnya yang lain dari pada yang lain,

permainan pedang yang gerakan

tangannya terlindung dan tersembunyi oleh payung hitam

sehingga lebih praktis dan berbahaya daripada menggunakan

perisai, akan tetapi di samping ilmu pedangnya ini juga tangan

kirinya merupakan senjata yang amat berbahaya dengan

kuku-kukunya yang panjang dan mengandung racun. Ini

semua masih dilengkapi lagi dengan rambutnya yang hitam

panjang, karena rambutnya ini seperti ular-ular hidup, dapat

dipergunakan untuk menotok, melecut, atau melibat!

Akan tetapi, tidak percuma pula The Kwat Lin pernah

menjadi isteri seorang manusia yang disohorkan seperti

setengah dewa, yaitu Han Ti Ong yang sukar diukur lagi

tingkat kepandaiannya. Tidak percuma selama sepuluh tahun

bekas murid Bu-tong-pai ini digembleng di Pulau Es, apalagi

telah mewarisi kitab-kitab pusaka Pulau Es yang telah

dilarikannya. Yang jelas, dalam hal tenaga sinkang, dia masih

menang setinggkat dibandingkan dengan Kiam-mo Cai-li.

Tenaga sinkangnya adalah hasil latihan di Pulau Es, maka dia

telah dapat menyedot tenaga inti salju, yaitu Swat-im Sinkang,

tenaga sinkang yang mengandung hawa dingin

sehingga lawan yang kurang kuat sekali bertemu tenaga akan

menjadi beku darahnya. Selain menang dalam tenaga sinkang,

juga dasar ilmu silatnya lebih sempurna daripada dasar ilmu

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

silat Kiam-mo Cai-li yang sesungguhnya merupakan gabungan

ilmu silat campur-aduk. Demikianlah, pertandingan itu

berlangsung sampai seratus jurus lebih dengan amat serunya.

Kiam-mo Cai-li menang keanehan senjatanya dan menang

pengalaman bertanding akan tetapi kelebihannya ini menjadi

tidak berarti karena dia kalah tenaga sinkang sehingga setiap

serangan dan desakannya membuyar oleh hawa sinkang dari

dorongan telapak tangan The Kwat Lin. Akhirnya, iblis betina

ini harus mengakui keunggulan lawan dan dia sebagai seorang

ahli maklum bahwa kalau dilanjutkan, salah-salah dia akan

menjadi korban hawa Swat-im Sin-kang yang mujijat. Maka

dia meloncat ke belakang dan berseru, “Cukup, Pangcu!

Kepandaianmu hebat, engkau pantas menjadi Ratu Pulau Es,

pantas menjadi ketua Bu-tong-pai dan biarlah aku

membantumu dalam kerja sama kita!”

Dapat dibayangkan betapa girangnya hati Kwat Lin

mendengar ini. Dia lalu menghampiri Kiam-mo Cai-li,

menggandeng tangan wanita itu dan memperkenalkan kepada

Swi Liang, Swi Nio, dan Han Bu Ong. Kemudian dia mengajak

sahabat baru itu memasuki gedungnya dan sambil

menghadapi hidangan lezat kedua orang wanita lihai ini

bercakap-cakap dan mengadakan perundingan untuk bekerja

sama. Ternyata mereka cocok sekali dan memang keduanya

merindukan kedudukan yang mulia dan terhormat, maka

dalam perundingan ini. Kiam-mo Cai-li diangap sebagai

pembantu utama dan tangan kanan Kwat Lin, bahkan Rawa

Bangkai yang terletak di kaki Pegunungan Lu-liang-san itu

dijadikan markas kedua di mana kelak akan dilakukan semua

pertemuan dan perundingan rahasia. Benar saja seperti yang

diharapkan, setelah Kiam-mo Cai-li menjadi pembantunya,

banyaklah kaum sesat yang menggabung dan menyatakan

suka bekerja sama sehingga biarpun tidak resmi, mulai saat

itu The Kwat Lin bukan hanya menjadi ketua Bu-tong-pai,

akan tetapi juga diakui sebagai datuk kaum sesat nomer satu!

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Hubungan rahasia yang diadakan oleh The Kwat Lin

dengan para pembesar kota raja menjadi makin luas, dan

diam-diam persekutuan ini mulai mengatur rencana

pemberontakan untuk menggulingkan Kaisar! Dari para

pembesar yang mengharapkan bantuan orang-orang kangouw

inilah Kwat Lin memperoleh bantuan keuangan sehingga

Bu-tong-pai menjadi makin kuat dan wanita lihai ini dapat

menarik banyak tenaga bantuan orang pandai dengan

mempergunakan uang sebagai pancingan. Keadaan kerajaan

Tang di masa itu memang sedang diancam pergolakan hebat.

Kaisarnya, yaitu Kaisar Beng Ong, atau yang terkenal juga

dengan sebutan Kaisar Hian Tiong. Tak dapat disangkal lagi,

di bawah pemerintahan Kaisar Beng ini Kerajaan Tang

mengalami perkembangan yang amat pesat sehingga menjadi

sebuah kerajaan yang luas sekali wilayahnya. Di jaman

pemerintahannya inilah (712-756) di Tiongkok bermunculan

sastrawan-sastrawan dan pelukis-pelukis yang menjadi

terkenal sekali dalam sejarah, seperti Li Tai-po, Tu Fu, Wang

Wei dan lain-lain.

Namun, disayangkan bahwa kebijaksanaan Beng Ong

dalam mengemudikan roda pemerintahan ini

mengalami godaan hebat yang meruntuhkan segalagalanya.

Seperti telah terjadi seringkali, di jaman apa

pun dan di negara manapun juga, Beng Ong yang hatinya

teguh menghadapi godaan segala macam

keduniawian, ternyata lumpuh ketika menghadapi seorang

wanita! Betapa banyaknya sudah dibukt ikan

oleh sejarah, betapa pria-pria yang hebat, pandai, gagah

perkasa dan kuat hatinya, menjadi luluh dan tak

berdaya begitu bertemu dengan seorang wanita yang

berkenan di hatinya. Peristiwa itu terjadi dalam tahun.745.

Ketika itu, Raja Beng Ong sudah berusia enam puluh tahun

lebih. Sebenarnya sudah tua dan sudah

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

kakek-kakek, namun seperti telah terbukti dari jaman

dahulu sampai sekarang, laki-laki, betapapun tuanya dalam

menghadapi wanita menjadi seperti seorang kanak-kanak

yang hijau dan lemah. Seorang di antara banyak pangeran,

yaitu putera Kaisar yang terlahir dari banyak selirnya adalah

Pangeran Su. Pangeran ini mempunayi seorang isteri yang

amat cantik jelita, dan menurut kabar angin, wanita ini

cantiknya melebihi bidadari kahyangan. Wanita ini bernama

Yang Kui Hui, dan memang wanita ini memiliki kecantikan

yang amat luar biasa sehingga terkenal di seluruh penjuru

dunia.

Ketika Kaisar Beng Ong dalam suatu kesempatan bertemu

dan melihat Yang Kui Hui, seketika hati Kaisar tua itu tergilagila.

Ratusan orang selir cantik dan pelayan-pelayan muda dan

perawan tidak lagi menarik hatinya dan setiap saat yang

tampak di depan matanya hanyalah wajah Yang Kui Hui yang

cantik jelita. Akhirnya, Kaisar tidak lagi dapat menahan nafsu

hatinya. Dengan kekerasan dia memaksa puteranya sendiri,

Pangeran Su, untuk menceraikan isterinya dan mengawinkan

pangeran ini dengan seorang wanita lain. Adapun Yang Kui

Hui, tentu saja, segera dimasukan ke dalam istana, di dalam

kumpulan harem (rombongan selir) di istana. Setelah Yang Kui

Hui pada malam pertama melayani Kaisar Beng Ong, bekas

ayah mertuanya, sejak saat itulah terjadi lembar baru dalam

sejarah Kerajaan Tang. Kaisar Beng Ong yang tadinya giat

mengurus pemerintahan, memperhatikan segala urusan

pemerintahan sampai ke soal yang sekecil-kecilnya, kini mulai

tidak acuh dan menyerahkan semua urusan ke tangan para

Thaikam (Orang Kebiri, Kepercayaan Raja) dan para pembesar

yang berwenang. Dia sendiri dari pagi sampai jauh malam tak

pernah meninggalkan tempat tidur di mana Yang Kui Hui

menghiburnya dengan penuh kemesraan. Dalam beberapa

bulan saja, selir yang tercinta ini berhasil menguasai hati

Kaisar seluruhnya sehingga apa pun yang dilakukan oleh Yang

Kui Hui selalu benar, dan apa pun yang diminta oleh selir ini,

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

tidak ada yang ditolak oleh Kaisar tua yang sudah dimabok

cinta itu. Yang Kui Hui bukanlah seorang wanita bodoh. Sama

sekali bukan. Tentu saja hatinya menaruh dendam kepada

kaisar Beng Ong karena dia dipisahkan dari suaminya yang

tercinta. Sudah pasti sekali dalam melayani semua nafsu

berahi Kaisar tua itu, ada tersembunyi niat yang lain lagi,

bukan semata-mata karena dia membalas cinta kasih Kaisar

yang sudah tua itu. Dia tidak menyia-nyikan kesempatan amat

baik itu. Setelah membuat Kaisar tergila-gila dan seolah-olah

bertekuk lutut di depan kakinya yang kecil mungil, mulailah

Yang Kui Hui memet ik hasil pengorbanan diri dan hatinya. Dia

menggunakan pengaruhnya terhadap Kaisar, menarik

keluarganya menduduki tempat-tempat penting dalam

pemerintahan! Bahkan kakaknya yang bernama Yang Kok

Tiong diangkat menjadi menteri pertama dari Kerajaan Tang

setelah menteri yang lama dicopot secara menyedihkan oleh

Kaisar, tentu saja atas bujukan Yang Kui Hui! Dan masih

banyak lagi anggota keluarga selir yang cantik jelilta ini

memperoleh kedudukan yang tinggi sekali yang sebelumnya

tak pernah termimpikan oleh mereka.

Pada jaman itulah muncul seorang yang akan menjadi

terkenal sekali dalam sejarah Tiongkok. Orang ini bukan lain

adalah An Lu San, seorang yang tadinya dari keturunan tak

berarti. An Lu San dilahirkan di Mancuria Selatan, di luar

Tembok Besar, yaitu Di Liao-tung. Orang tuanya berdarah

Turki dari suku bangsa Khitan, keturunan keluarga yang

bersahaja dan terbelakang. Ketika An Lu San menjadi seorang

pemuda remaja, sebagai seorang budak belian dia dijual

kepada seorang perwira Kerajaan Tang yang bertugas di

utara, di Tembok Besar. Mulai saat itulah bintangnya menjadi

terang. Sebagai kacung perwira itu, dia ikut pula ke medan

perang dan ternyata bocah ini membuktikan dirinya sebagai

seorang yang gagah berani dan cerdik sekali, memiliki

keahlian dalam pertempuran sehingga beberapa kali dia

membuat jasa pada pasukan yang dipimpin oleh majikannya.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Maka diangkatlah dia menjadi prajurit dan dalam waktu

singkat saja dia membuat jasa-jasa besar sehingga dia

diangkat terus, dinaikkan menjadi perwira dan akhirnya,

beberapa tahun kemudian setelah dia memenangkan

beberapa peperangan melawan musuh dari luar sehingga dia

berjasa besar bagi Kerajaan Tang, dia diangkat menjadi

jenderal! Mulailah jenderal An Lu Sun ini mendekati Kaisar.

Setelah pangkatnya setinggi itu, tentu saja terbuka

kemungkinan baginya untuk berhadapan dengan Kaisar yang

waktu itu sedang tergila-gila kepada Yang Kui Hui yang telah

memperoleh kedudukan tinggi. An Lu San memang seorang

yang amat cerdik. Menyaksikan pengaruh dan kekuasaan selir

yang cantik jelita itu terhadap Kaisar, dia melihat kesempatan

baik sekali untuk mengangkat diri sendiri ke tempat yang lebih

tinggi. Dengan sikapnya yang lucu dan ugal-ugalan,

pembawaan watak liarnya, dia berhasil menyenangkan hati

Kaisar dan memancing kegembiraan Yang Kui Hui sendiri. Selir

ini, yang setiap hari harus melayani seorang pria yang sudah

tua dan sudah lemah, tentu saja bangkit gairahnya melihat

jenderal yang tegap, gembira dan kasar liar itu! Terjadilah

“main mata” antara kedua insan ini, dan akhirnya, dengan

bujukan dan rayuannya, Yanh Kui Hui.memuji-muji kesetiaan

dan jasa-jasa An Lu San sehingga Kaisar menjadi semakin

suka kepada jenderal ini.

Bahkan Yang Kui Hui dengan akalnya yang licik telah

mengangkat An Lu San sebagai “putera angkatnya”. Hal ini

tidak dijadikan keberatan oleh Kaisar, bahkan Kaisar memuji

selirnya sebagai seorang selir yang cerdik, selir yang mencinta

dan yang setia karena perbuatan Yang Kui Hui itu

dianggapnya sebagai taktik selir untuk menyenangkan hati

seorang pahlawan sehingga dengan demikian memperkuat

kedudukan Kaisar.

Kaisar Beng Ong yang terkenal pandai dan bijaksana itu

ternyata menjadi lemah tak berdaya, sama lemahnya dengan

seuntai rambut lemas hitamdari Yang Kui Hui yang setiap saat

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

dapat dipermainkan oleh jari-jari tangan halus dari selir yang

cantik jelita itu. Tentu saja setiap sukses dari seseorang, bail

didapatkan dengan jalan apa pun juga melahirkan iri hati

kepada orang-orang lain. Biarpun tidak ada yang berani secara

terang-terangan menentang selir cantik yang amat dikasihi

Kaisar tua itu, namun diam-diam banyak anggauta keluarga

kerajaan yang merasa iri hati dan membenci Yang Kui Hui,

terutama sekali para selir lainnya yang kini seolah-olah

diabaikan oleh Kaisar yang setiap malam selalu dibuai dalam

pelukan Yang Kui Hui.

Pada suatu malam Kaisar beristirahat di dalam kamarnya

sendiri. Betapapun dia tergila-gila kepada Yang Kui Hui,

namun karena dia sudah tua sekali, tenaganya tidak

mengijinkan dia setiap malam mengunjungi selirnya yang

masih muda, penuh nafsu dan panas itu. Malam itu

merupakan malam istirahatnya dan dia tidak mendekati

selirnya yang tercinta. Tubuhnya terasa lelah setelah sore tadi

dia berpesta makan minum dan menikmati tari-tarian yang

disuguhkan untuk kehormatan jenderal An Lu San yang

datang berkunjung ke istana. Setelah mengijinkan jenderal

perkasa itu mengundurkan diri ke kamar tamu yang

disediakan, Kaisar yang merasa lelah itu berbisik kepada

selirnya tercinta bahwa malam itu dia ingin beristirahat karena

merasa lelah, kemudian langsung menuju ke kamarnya

sendiri.

Menjelang tengah malam, kaisar terbangun dan ternyata

yang mengganggu tidurnya adalah seorang selir muda belia

yang cantik seperti selir-selir lain. Selir ini bernama Yauw Cui,

masih berdarah bangsawan dan termasuk selir termuda

sebelum Kaisar mengambil Yang Kui Hui yang merupakan selir

terakhir. “Hemmm, apa maksudmu datang mengganggu?”

Kaisar berkata, tidak marah karena dia pun pernah mencinta

selir yang cantik ini, bahkan tangannya lalu diulur untuk

membelai dagu yang berkulit putih halus itu.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Hamba mohon Sri Baginda mengampunkan hamba,” selir

itu berkata dengan suara agak gemetar, “Sebetulnya hamba

tidak berani mengganggu paduka yang sedang berist irahat,

akan tetapi….” Kaisar yang tua itu tersenyum dan salah

menyangka. Dikiranya selir muda ini merindukan curahan

kasihnya karena sudah lama dia tidak mengunjungi kamar

selirnya ini dan tidak pula memerintahkan selirnya itu datang

melayaninya. “Aihh, manis, naiklah ke sini dan kau pijiti

punggungku…” katanya sebagai uluran tangankarena

membayangkan hasrat selirnya ini, sudah bangkit pula

berahinya. Yauw Cui tidak berani membantah, bangkit dari

lantai di mana dia berlutut, dan jari-jari tangannya yang halus

mulai menari-nari di atas punggung tua yang pegal-pegal itu.

Akan tetapi selir ini berkata lagi, “Rasa penasaran memaksa

hamba memberanikan diri mengujungi Paduka. Hamba tidak

ingin melihat Paduka yang hamba junjung tinggi ditipu dan

dihina orang!”

Tangan Kaisar yang mulai membelai tubuh selirnya itu tibatiba

terhenti dan dengan pandang mata penuh selidik Kaisar

Beng Ong bertanya, “Apa maksudmu? Siapa yang berani

menipu dan menghinaku?”

Yauw Cui menangis dan suara terisakisak dia berkata,

“Hamba…. secara tidak sengaja… mendengar …. An-goanswe

(jenderal An) berada di dalam kamar…. Yang Kui Hui….”

Seketika Kaisar bangkit duduk dengan mata terbelalak.

Dengan alis berkerut dia memandang selirnya itu yang masih

menangis, hatinya tidak percaya sama sekali karena memang

sudah seringkali Yang Kui Hui difitnah orang lain yang merasa

iri hati.

“Hammm, jangan bicara sembarangan saja terdorong iri

hati.”.”Tidak…. hamba rela untuk dihukum mat i, rela diapakan

saja kalau hamba membohong…. tidak berani

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

hamba menjatuhkan fitnah…. hamba hanya merasa

penasaran melihat Paduka dihina maka hamba memberanikan

diri melapor….”

“Pengawal….!!” kaisar berseru sambil mendorong selirnya

turun dari pembaringan. Pintu terbuka dan enam orang

pengawal pribadi meloncat masuk dan langsung berlutut

setelah mereka melihat bahwa Kaisar tidak dalam bahaya.

Kaisar menyambar jubah luarnya. “Antar kami ke kamar

yang Kui Hui.” kata Kaisar singkat sambil memberi isyarat

dengan matanya agar Yauw Cui ikut pula bersamanya. Pada

saat Yauw Cui melapor kepada Kaisar, kamar Yauw Kui Hui

sudah gelap remang-remang dan pada saat itu memang selir

yang cantik jelita ini sedang bersama An Lu San. Mereka

seperti mabok nafsu berahi dan tentu saja segala pertahanan

di hati Yang Kui Hui runtuh menghadapi jenderal yang tegap

dan gagah perkasa ini, yang masih memiliki sifat-sifat liar dan

kasar dari tempat asalnya. Selama tujuh tahun Yang Kui Hui

menekan kekecewaan hatinya melayani seorang kakek-kakek

lemah. Kini bertemu dengan An Lu San dan berkesempatan

menikmati rayuan laki-laki yang jantan dan jauh lebih muda

dari kaisar ini, tentu saja dia terbuai dan lupa segalanya.

Sesosok bayangan menyelinap ke dalam kamar itu dan

berisik di luar kelambu pembaringan. Bisikan itu merobah

suasana di dalam kamar itu. Yang Kui Hui dan An Lu San

dalam waktu beberapa menit saja telah memakai pakaian

yang rapi, duduk menghadapi meja yang diterangi dengan

beberapa batang lilin, dan di atas meja terdapat gambar peta

daerah utara. Di ujung-ujung Kamar itu terdapat mengawal

dan pelayan berdiri seperti patung, hanya memandang saja

ketika An Lu San dengan suara lantang sedang menjelaskan

tentang situasi dan keadaan pertahanan di perbatasan utara.

Demikianlah, ketika Kaisar yang diiringkan Yauw Cui dan

para pengawal memasuki kamar itu dengan sikap kasar, dia

melihat selirnya yang tercinta itu memang benar duduk

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

berdua dengan An Lu San, akan tetapi bukanlah berjinah

seperti yang dilaporkan Yauw Cui, melainkan sedang bicara

urusan pertahanan! “Hamba sedang mempelajari keadaan

kekuatan pertahanan kita di utara dari An Lu San,” antara lain

Yang Kui Hui membela diri ketika Kaisar menyatakan

kecurigaannya. “Paduka terlalu mempercayai mulut seorang

wanita yang cemburu dan iri hati setengah mati kepada

hamba.” Karena semua pengawal dan pelayan yang berada di

kamar itu merupakan saksi yang kuat bahwa selir tercinta itu

tidak bermain gila dengan putera angkatnya tentu saja Kaisar

menjadi marah kepada Yauw Cui. Selir muda ini mengerti

bahwa dia berbalik kena fitnah oleh madunya yang lihai itu,

maka maklum bahwa tidak ada lagi harapan baginya, dia

menudingkan telunjuknya kepada Yang Kui Hui sambil

berteriak nyaring, “Kau Wanita Iblis! Karena engkaulah

kerajaan ini akan hancur!” Dan sebelum para pengawal yang

diperintah oleh Kaisar yang marah-marah itu sempat

menangkapnya, Yauw Cui lari membenturkan kepalanya di

dinding kamar itu sehingga kepalanya pecah dan dia tewas

disaat itu juga! Tentu saja pada hari berikutnya, ada seorang

pelayan yang menerima hadiah banyak sekali dari Yang Kui

Hui, yaitu pelayan yang membisikinya semalam sehingga

menyelamatkannya. Semenjak peristiwa itu, kepercayaan

Kaisar terhadap Yang Kui Hui dan An Lu San makin besar.

Tentu saja kesempatan baik ini tidak dibiarkan lewat percuma

oleh Yang Kui Hui dan An Lu San yang mengadakan hubungan

gelap sepuas hati mereka. Karena pengaruh Yang Kui Hui di

depan Kaisar, maka An Lu San memperoleh kehormatan yang

besar, bahkan diangkat menjadi Gubernur di Propinsi Liao

Tung. Menguasai pasukan-pasukan terbaik dari kerajaan dan

menjaga di propinsi yang merupakan perbatasan timur.

Kehormatan ke dua diterimanya tak lama kemudian, tentu

saja atas desakan dan bujukan Yang Kui Hui yaitu ketika dia

dianugrahi gelar Pangeran Tingkat Dua. Kehormatan yang

besar sekali karena biasanya, gelar ini hanya diberikan kepada

keluarga kerajaan yang berdarah bangsawan! Memang An Lu

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

San seorang yang berasal dari suku bangsa terbelakang,

namun dia diberkahi dengan kecerdikan luar biasa. Melihat

betapa kaisar bertekuk lutut di depan kedua kaki yang mungil

dari selir kaisar Yang Kui Hui, dia mengeluarkan semua

kepandaian untuk mengambil hati selir ini dan ternyata semua

muslihatnya berhasil baik dan dia memperoleh kedudukan

yang tinggi sekali.

Akan tetapi, tentu saja banyak pula orang merasa iri hati

dan tidak suka kepada An Lu San. Di antara

mereka ini adalah kakak kandung Yang Kui Hui sendiri,

yaitu Yang Kok Tiong yang menjadi Menteri.Pertama. Dengan

kedudukanya yang tingi, Yang Kok Tiong melakukan

penyelidikan dan ketika dia

memperoleh berita bahwa An Lu San mempersiapkan

pemberontakan, segera dia berunding dengan Putera Mahkota

dan melapor kepada Kaisar. Kaisar tidak percaya dan

menganggap pelaporan ini omong kosong belaka, akan tetapi

karena para pangeran mendesaknya, akhirnya Kaisar

memanggil An Lu San yang merasa keadaannya belum kuat

betul untuk memulai pembrontakan yang memang benar telah

dipersiapkannya, tidak membantah. Dia menghadap Kaisar

dan dengan air mata bercucuran dia memprotes, menyatakan

kesetiaanya terhadap Kaisar dan dalam hal ini kembali

pengaruh Yang Kui Hui membantunya. Selir ini pun mencela

Kaisar yang mudah saja dipermainkan orang yang merasa iri

hati bahkan Yang Kui Hui mengambil contoh selir Yauw Cui

yang irir hati kepadanya. “hendaknya Paduka ingat bahwa An

Lu San adalah seorang pahlawan kerajaan yang jasanya sudah

amat besar. Tidak mungkin dia memberontak, dan andaikata

dia benar mempunyai niat memberontak tentu dia tidak akan

datang memenuhi panggilan Paduka! Kedatangannya ini

sudah merupakan bukti akan kebersihan dan kesetiaanya!

Kabar tentang niat pembrontakan itu tentu ditiup-tiupkan oleh

mereka yang merasa iri hati kepadanya.”

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Seperti biasa, hati kaisar luluh dan lenyaplah semua

kecurigaan dan keraguannya. Dia malah menjamu An Lu San

dan malam itu dengan amat pandainya An Lu San “membalas

budi” Yang Kui Hui, dengan sepenuh hatinya, di dalam kamar

selir Kaisar itu, aman karena terjaga oleh orang-orang

kepercayaan mereka. Demikianlah, pada saat cerita ini terjadi

An Lu San sudah kembali ke utara dengan penuh kebesaran

dan kebanggaan, dan diam-diam dia makin mempercepat

persiapannya untuk memberontak! Dan demikian pula dengan

keadaan kerajaan Tang pada waktu itu. Kelemahan Kaisar

yang jatuh di bawah telapak kaki halus dari Yang Kui Hui,

menimbulkan ketidakpuasan kepada banyak pembesar

sehingga di sana-sini timbul niat untuk memberontak.

Kesempatan keadaan yang lemah dari kerajaan Tang inilah

dipergunakan oleh The Kwat Lin untuk mulai dengan

petualangannya, untuk memenuhi cita-citanya mencarikan

kedudukan tinggi untuk puteranya!

Pada suatu hari, datanglah seorang utusan dari kota raja

mendaki Pegunungan Bu-tong-san, menghadap Ketua Butong-

pai. Melihat bahwa utusan ini adalah utusan dari

Pangeran Tang Sin Ong dari kota raja, Kwat Lin cepat

menerimanya di kamar rahasia. Setelah utusan itu

menyampaikan tugasnya dia cepat pergi lagi meninggalkan

Bu-tong-pai dan terjadilah kesibukan di Bu-tong-pai. Pangeran

Tang Sin Ong, yaitu seorang pangeran di kota raja yang

mempersiapkan pemberontakan pula, sebagai saingan besar

dari An Lu San, pangeran yang dihubungi oleh Kwat Lin,

mengirim berita tentang hari dan tempat di mana Yang Kui

Hui akan ikut dengan Kaisar yang hendak berburu binatang

dalam hutan, sebuah di antara kesenangan Kaisar. saat inilah

yang dinanti-nanti oleh The Kwat Lin dan Pangeran Tang Sin

Ong untuk menjalankan siasat mereka yan telah lama mereka

rencanakan.

Beberapa hari kemudian, tibalah saatnya Kaisar bersama

Yang Kui Hui bersenang-senang di dalam hutan di kaki

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Pegunungan Funiu-san, tidak jauh dari kota raja. Seperti

biasa, di waktu mengadakan perburuan ini, tempat itu dijaga

oleh para pengawal dan ada pula pasukan yang tugasnya

hanya mencari dan menggiring binatang hutan sehingga

binatang-binatang yang ketakutan itu menuju ke dekat tempat

Kaisar dan Permaisurinya menanti sehingga dengan mudah

Kaisar dapat melepaskan anak panah ke arah binatangbinatang

itu. Sekali ini, selain beberapa orang pembesar

penting, yang menemani Kaisar terdapat juga Pangeran Tang

Sin Ong.

JILID 14

Seperti biasa, Kaisar dan selirnya yang tercinta menanti di

dalam pondok yang memang tersedia di situ, di tengah-tengah

hutan. Para pembesar dan Pangeran Tang Sin Ong menanti di

luar pondok sambil bercakap-cakap. Mereka menanti sampai

datangnya binatang-binatang yang akan digiring oleh pasukan

yang sudah menyusup-nyusup ke dalam hutan lebat di depan.

para pengawal menjaga di sekeliling tempat itu, pengawal

Kaisar dan pengawal Pangeran Tang Sin Ong karena pangeran

ini mempunyai pasukan pengawal sendiri.

Mereka tidak usah lama menanti. Segera terdengar soraksorai

dari jauh, makin lama makin mendekat.

itulah suara pasukan yang bertugas menggiring binatang

hutan menuju ke tempat penyembelihan itu, di

mana para pembesar telah menanti dengan gendewa

bersama dengan anak panahnya siap di tangan..Mendengar

suara ini, kaisar sudah keluar dari pondok sambil tersenyumsenyumgembira

membawa sebatang gendewa. Seorang thaikam yang

menjadi kepercayan dan pelayannya mengikuti Kaisar sambil

membawa tempat anak panah.

Tak lama kemudian, mulailah bermunculan binatangbinatang

hutan yang panik ketakutan karena dikejar-kejar dan

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

digiring oleh pasukan di belakang mereka yang bersorak-sorai

itu. Dan mulailah Kaisar bersama Pangeran Tang Sin Ong dan

para pembesar lainnya menghujankan anak panah mereka ke

arah binatang-binatang itu.

Tidak ada seorang pun melihat ketika dari rombongan

pengawal Pangeran tang Sin Ong, seorang pengawal

menyelinap kedalam semak-semak, menanggalkan pakaian

biasa menyelinap dan memasuki pondok Kaisar dari samping,

meloncat masuk dari jendela yang terbuka. Dengan kecepatan

kilat, laki-laki setengah tua ini menyergap Yang Kui Hui yang

sedang berdiri menonton di ambang pintu depan. Terdengar

selir cantik itu menerit, akan tetapi tubuhnya menjadi lemas

ketika dia tertotok dan ketika semua orang menoleh medengar

jeritan itu, Yang kui Hui telah dipondong dan dibawa lari oleh

laki-laki itu. “Penculik…..!”

“penjahat….!”

“Jangan lepas anak panah, bisa salah sasaran….!!” Tibatiba

Pangeran tang Sin Ong berseru keras. Mendengar ini,

Kaisar yang sudah pucat mukanya cepat berseru, “Benar!

Jangan lepas anak panah. Kejar dan tangkap! Selamatkan

dia….!”

Semua orang, pengawal, pembesar, pangeran tang Sin

Ong, bahkan Kaisar sediri, mengejar penculik yang memiliki

gerakan yang amat gesit itu. Dengan beberapa loncatan saja

penculik itu telah lari jauh sekali. “Cepat kejar…. tolong dia….

ahhhh, Kui Hui….!!” kaisar berteriak dengan muka pucat.

Tiba-tiba tampak dua sosok bayangan orang berkelebat

menghadang penculik itu. Dari jauh kelihatan jelas bahwa dua

orang itu adalah wanita-wanita cantik yang gerakannya cepat

luar biasa. Wanita yang lebih tua sudah menerjang maju dan

dengan serangan mendadak berhasil memukul roboh penculik

dan merampas Yang Kui Hui, kemudian wanita ke dua yang

muda dan cantik menggerakan pedangnya menusuk.

Terdengar jerit melengking yang nyaring sekali ketika pedang

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

itu menembus dada penculik itu yang berkelojotan, terbelalak

dan menudingkan telunjuknya kepada wanita pertama seolaholah

hendak berkata sesuatu, akan tetapi sebuah tendangan

yang mengenai kepalanya membuat penculik itu tak dapat

bergerak lagi dan tewas seketika!

Kaisar dan rombongannya sudah tiba di situ. Dengan

tepukan perlahan wanita perkasa yang lebih tua itu

membebaskan totokan Yang Kui Hui. Selir ini mengeluh dan

menangis sambil menubruk Kaisar yang memeluknya. kaisar

memandang kepada dua orang wanita cantik yang sudah

berlutut di depan kakinya dengan perasaan bersyukur dan

berterima kasih.

“Untung sekali kalian berdua yang gagah perkasa datang

menolong!” kata kaisar dengan penuh rasa syukur, suaranya

masih gemetar karena ketegangan hebat yang baru saja

dialaminya. “Siapakah kalian?” “Hamba adalah Ketua Bu-tongpai

bernama The Kwat Lin,” berkata wanita cant ik itu lalu

menuding kepada dara muda yang cantik jelita dan tinggi

semampai di sebelahnya, “dan ini adalah Bu Liang-cu murid

hamba.”

“Ahhh, kiranya ketua Bu-tong-pai yang terkenal!” Kata

Kaisar sambil tersenyum lebar. “Pantas saja demikian lihai!

Kalian telah berjasa, telah menyelamatkan kekasih kami dan

membunuh penculik jahat. Kalian pantas diberi hadiah besar.”

Yang Kui Hui sudah menghent ikan tangisnya dan kini dia

pun memandang kedua orang wanita itu dengan mata berseri.

“Kalian datanglah ke istana, aku akan memberi hadiah kepada

kalian.”

The Kwat Lin menyembah dengan hormat. “Hamba berdua

hanya melakukan tugas hamba sebagai rakyat

yang setia kepada junjungannya. hamba berdua tidak

mengharapkan balas jasa, hanya apabila paduka

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

sudi.menerima, biarlah murid hamba ini bekerja sebagai

pengawal pribadi paduka. Sekarang banyak orang

jahat, tanpa pengawalan yang kuat tentu membahayakan

Paduka.

Girang bukan main hati Yang Kui Hui. “Baik sekali! Siapa

namamu tadi?” tanyakan kepada gadis cantik yang menunduk

sejak tadi. Gadis itu kini mengangkat mukannya dan dengan

sepasang mata yang bersinar-sinar dia menjawab, “Nama

hamba Bu Liang-cu.

Saking girangnya, yang Kui Hui mencabut tusuk konde dari

emas berhiaskan permata dan menghadiakan benda itu

kepada The Kwat Lin, dan dia menerima pula gadis murid Butong-

pai itu sebagai pengawal pribadinya. Mulai saat ini gadis

yang bernama Bu Liang-cu itu ikut bersama rombongan

Kaisar, selalu mengawal di belakang Yang Kui Hui, kembli ke

istana. Ada pun The Kwat lin segera kembali ke Bu-tong-san

dengan hati girang karena siasatnya berjalan dengan baik

sekali, sungguhpun untuk itu dia terpaksa harus

mengorbankan nyawa seorang anggautanya. Penculik itu

bukan lain adalah seorang anggautanya sendiri, seorang bekas

penjahat yang memiliki ginkang tinggi. Penculik itu hanya

diperintah untuk melarikan diri Yang Kui Hui dengan janji akan

dibantunya kalau sampai mengalami bahaya. Akan tetapi,

penculik itu baru tahu bahwa dia dikhianati oleh ketuanya

sendiri setelah dia roboh dengan pedang menembus dadanya.

Baru ia tahu bahwa dia dikorbankan untuk suatu siasat licik

dari The Kwat Lin, namun pengetahuan ini tiada gunanya

karena dia keburu mati sebelum dapat mengeluarkan suara.

Siapakah gadis cantik yang kini menjadi pengawal Yang Kui

Hui? Tadinya, untuk tugas ini The Kwat Lin menunjuk

muridnya, Bu Swi Nio. Akan tetapi, betapa marahnya ketika

dia menghadapi penolakan muridnya!

“Teecu tidak berani, Subo. Perintahlah teecu untuk

melakukan hal lainnya, biar disuruh membasmi penjahat yang

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

bagaimanapun, biar harus mempertaruhkan nyawa, teecu

tidak akan mundur dan pasti akan memenuhi perintah Subo!

Akan tetapi ini… ah, teecu tidak mau terlibat dalam….

pemberontakan…..” jawab Swi Nio sambil berlutut dan

menundukan mukanya.

Hampir saja Kwat Lin menampar kepala muridnya itu

saking marah dan kecewanya. Dan pada saat itu, Swi Liang

yang melihat adiknya terancam bahaya kemarahan subonya,

cepat maju dan berkata, “Subo, kalau Moi-moi tidak berani,

biarlah teecu melakukannya.”

“Kau seorang pria…. mana mungkin….?”

“Teecu bisa saja menyamar sebagai seorang gadis. Dahulu

di waktu kecil seringkali teecu mengenakan pakaian Moi-moi

dan bermain-main seperti seorang anak perempuan .”

Mendengar ini, Kwat Lin termenung. Betapapun juga dia lebih

percaya kepada muridnya dan juga kekasihnya ini. Selama ini,

Swi Nio delalu memperlihatkan sikap dingin dan kdang-kadang

menentang. Berbeda dengan Swi Liang yang selalu menuruti

kehendaknya, bahkan pemuda itu mau pula melayani nafsu

berahinya!

Pekerjaan yang direncanakan ini amat berbahaya kalau

sampai bocor, maka sebaiknya kalau dilakukan oleh orang

yang paling dipercayanya. Memaksa Swi Nio amat berbahaya

karena siapa tahu kalau-kalau murid perempuan ini akan

mengkhianatinya kelak.

“Hemm, kita coba saja!” katanya dan setelah melihat Swi

Liang berpakaian wanita dan bergaya, Kwat Lin menjadi

girang sekali. Agaknya murid itu memang mempunyai bakat

sandiwara maka ketika berpakaian wanita dan beraksi, dia

sendiri hampir pangling dan mengira bahwa Swi Liang adalah

Sawi Nio! Demikian, rencana siasat itu dijalankan dengan baik

dan Swi Liang yang menyamar sebagai seorang gadis cantik

bernama Bu Liang-cu, berhasil menyusup ke dalam istana

sebagai pengawal pribadi dari Yang Kui Hui! Memang itulah

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

tujuan pokok dari siasat Kwat Lin, yaitu memikat hati Yang Kui

Hui. Pemikatan dengan jalan menolong selir itu dari bahaya

cukup baik, akan tetapi akan lebih berhasil lagi kalau muridnya

itu berhasil menjatuhkan hati selir itu dengan ketampanannya!

Kalau sampai berhasil Swi Liang menjadi kekasih Yang Kui

Hui, hemm, akan mudah saja melakukan gerakan

pemberontakan dari dalam! Inilah sebabnya maka dia setuju

muridnya itu menyamar sebagai wanita. Dia rela memberikan

kekasihnya ini kepada Yang Kui Hui demi tercapainya citacitanya.

Berbeda dengan kakaknya yang telah mabok bujukan

gurunya, Swi Nio makin lama merasa makin

tidak enak tinggal di Bu-tong-san. Dia sama sekali t idak

senang dan hatinya menentang menyaksikan.semua

perbuatan subonya. Tadinya memang dia rela menjadi murid

wanita sakti, karena wanita itu yang

menolong dia dan kakaknya, juga yang telah membunuh

Pat-jiu Kai-ong musuh besar yang telah membunuh ayah

mereka. Akan tetapi semenjak menyaksikan betapa subonya

itu menguasai Bu-tong-pai dengan kekerasan, melihat

subonya melawan susiok sendiri dan bahkan membuat para

tokoh Bu-tong-pai mengundurkan diri dari Bu-tong-pai,

hatinya sudah merasa tidak senang. Apalagi melihat masuknya

orang-orang kasar dan yang dia ketahui adalah bekas-bekas

penjahat menjadi anggauta Bu-tong-pai dia merasa

penasaran. Semua itu masih ditambah lagi kenyataan yang

membuatnya merasa malu dan hina, yaitu melihat kakaknya

menjadi kekasih subonya.

Seringkali secara diam-diam Swi Nio menasihati kakaknya,

bahkan menganjurkan kakaknya untuk bersama dia melarikan

diri saja dari Bu-tong-pai, namun semua itu tidak diacuhkan

oleh Swi Liang. Swi Nio menderita batin seorang diri, seringkali

menangis di dalam kamarnya. Melihat munculnya Kiam-mo

Cai-li, hatinya menjadi makin gelisah. Dia dahulu sudah

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

mendengar dari mendiang ayahnya bahwa Kiam-mo Cai-li

adalah seorang datuk kaum sesat yang amat kejam. Namun

kenyataannya, subonya menjadi sekutu iblis itu, bahkan diakui

sebagai pemimpin! Pagi hari itu, setelah merasa kehilangan

kakaknya yang pergi tampa pamit bersama subonya dan

kemudian melihat subonya pulang sendiri tanpa kakaknya, Swi

Nio tak dapat menahan kegelisahan hatinya lagi dan dia

memberanikan diri memasuki kamar subonya di mana

subonya sedang bercakap-cakap dengan Kiam-mo Cai-li yang

kebetulan datang ke Bu-tong-san.

“Subo, teecu (murid) tidak melihat adanya Liang-koko yang

tadinya pergi bersama Subo selama beberapa hari lamanya.

Ke manakah dia, Subo? Apakah yang terjadi dengan kakakku

itu?” tanyanya dengan wajah agak pucat karena beberapa

malam dia kurang tidur memikirkan kakaknya. The Kwat Lin

mengerutkan alisnya. Hatinya memang sudah tidak senang

pada muridnya ini, apalagi ketika Swi Nio terang-terangan

berani menolak perintahnya sehingga tugas itu digantikan oleh

Swi Liang biarpun pemuda itu berhasil baik, betapapun juga

The Kwat Lin merasa kehilangan, apalagi di waktu malam

yang sunyi dan dingin!

“Kau tidak perlu tahu!” jawabnya membentak.

“Tapi…. Subo, dia adalah kakak teecu……” Swi Nio

membantah.

“Hemm, dia bertugas di kota raja. Sudah, pergilah dan

jangan kau mengganggu kami yang sedang bicara!”

Swi Nio bangkit berdiri dari atas lantai dan memandang

gurunya dengan mata terbelalak dan muka pucat.

“Jadi….dia…. dia telah menyelundup ke dalam istana….?”

The Kwat Lin bangkit berdiri dan menudingkan telunjuknya

ke muka Swi Nio sambil membentak marah, “Gara-gara

engkaulah! Apa kaukira kalau tidak terpaksa aku suka

membiarkan dia melakukan tugas berbahaya itu? Mestinya

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

engkau yang bertugas, akan tetapi engkau telah menolak. Dia

seorang murid yang amat baik, tidak seperti engkau yang tak

mengenal budi!”

Swi Nio membalikan tubuhnya, menutupi muka dan

menangis sambil mengeluh, “Liang-koko….. ah, Koko….!”

Setelah dara itu berlari pergi, Kwat Lin duduk kembali,

wajahnya keruh dan dia mengomel, “Murid yang murtad!

Sungguh menjengkelkan saja dia itu!”

Kiam-mo-Cai-li tersenyum. “Mengapa pusing-pusing

menghadapi seorang gadis seperti itu? Kalau dibiarkan saja,

tentu dia akan terus merongrongmu dan boleh jadi kelak akan

membahayakan perjuangan kita. Dia harus ditundukkan!”

“Hemm, maksudmu menggunakan kekerasan?”

“ah, aku mengenal gadis seperti itu. Wataknya keras dan

kalau digunakan kekerasan, sampai mati pun dia tidak akan

tunduk. Kalau sampai dia mati, amat tidak baik bagi kakaknya

yang kita butuhkan tenaganya. Dia harus dilawan dengan

cara halus.”

“Bagaimana maksudmu? Membujuknya?”.Kiam-mo Cai-li

menggeleng kepalanya. “Dibujukpun takkan berhasil. Akan

tetapi sekali dia telah jadi

isteri orang, tentu dia akan menurut segala kehendak

suaminya.”

“Ihhh! Aku tidak pernah memikirkan hal itu. Dengan siapa?”

“Kita harus cerdik, kita harus memakai siasat sekali tepuk

memperoleh dua ekor lalat atau menggunakan pedang yang

bermata dua. Di satu fihak, kita harus menyenangkan hati

Pangeran Tang Sin Ong yang aku tahu memiliki watak mata

keranjang sehingga dia akan tentu berterima kasih sekali

kepadamu kalau kau rela memberikan muridmu yang cantik

manis itu kepadanya, menjadi seorang selirnya yang tercinta

dan dapat diandalkan. Ke dua, kalau muridmu itu sudah

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

menjadi selir Pangeran Tang Sin Ong, tentu dia akan tidak

banyak bantahan lagi!”

The Kwat Lin mengangguk-angguk dan diam-diam dia

memuji kecerdikan temannya ini. “Siasatmu memang baik

sekali, Cai-li! Akan tetapi…. biarapun sudah pasti sekali

Pangeran akan menerima penawaran ini dengan kedua tangan

terbuka, kukira belum tentu Swi Nio akan mau dijadikan selir

pangeran itu. Kalau dia menolak, lalu bagaimana?”

Kiam-mo Cai-li tertawa. “Hi-hi-hik, tidak usah khawatir,

Pangcu. Aku yang tanggung jawab dia tentu tidak akan

menolak.” Dia lalu mendekatkan mulutnya ketelinga The Kwat

Lin berbisik-bisik. Kwat Lin mengangguk-angguk. ” Hemm,

kalau dia merupakan seorang murid yang baik dan taat, tentu

aku tidak tega, akan tetapi…. demi suksesnya perjuangan kita,

agar dia tidak menjadi penghalang malah kelak mungkin dapat

membantu, biarlah…. kita atur secepatnya agar Pangeran

dapat berkunjung ke sini.” “Tentu mudah saja dan tidak

menimbulkan kecurigaan. Bukankah peristiwa di hutan itu

membuat nama Bu-tong-pai terangkat tinggi dalam

pandangan kerajaan?

Kalau seorang Pangeran berkunjung ke sini, menemui

penolong selir Yang Kui Hui, hal itu sudah semestinya! Hi-hihik.”

“Kau memang cerdik sekali, Cai-li!” The Kwat Lin memuji

dan kedua orang wanita berkepandaian t inggi itu sambil

tersenyum-senyum minum arak wangi yang berada di dalam

cawan-cawan perak mereka. Beberapa hari kemudian, sesuai

dengan siasat mereka itu, datangalah rombongan tamu agung

dari kota raja. Pangeran Tang Sin Ong! Inilah hasil pertama

dari siasat The Kwat Lin menolong Yang Kui Hui. Sebelum

peritiwa itu, hubunganya dengan pangeran itu dilakukan

secara sembunyi dan pertemuan rahasia yang diadakan hanya

melalui kurir (utusan). Akan tetapi sekarang, setelah siasat di

hutan itu sekaligus mengangkat nama Bu-tong-pai, Pangeran

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Tang Sin Ong berani datang secara berterang, bahkan

sebelum berangkat pangeran itu menerima titipan bingkisan

hadiah yang dikirim oleh Yang Kui Hui sendiri melalui

pangeran itu.

Tentu saja keadaan di Bu-tong-san seperti dalam pesta.

Semua anak buah Bu-tong-pai mengenakan pakaian baru dan

rombongan tamu agung itu disambut dengan meriah seperti

sambutan terhadap seorang pengantin. Dengan penuh

kehormatan para tamu agung dijamu di ruangan yang lebar

dari Bu-tong-pai, dan pesta pora diadakan diruangan yang

biasa dipergunakan untuk Lian-bu-thia (ruang belajar silat).

Sambutan resmi dilakukan dan pangeran menyerahkan

bingkisan dari Yang Kui Hui dan menyerahkan pula bingkisan

dari dirinya sendiri kepada ketua Bu-tong-pai. Malam harinya,

sebagai penghormatan khusus, Pangeran Tang Sin Ong

seorang diri dijamu oleh The Kwat Lin diruangan dalam dan

ketua ini ditemani oleh Kiam-mo Cai-li dan Bu Swi Nio! Dara ini

setengah dipaksa oleh subonya untuk menemaninya menjamu

pangeran itu dan biarpun di dalam hatinya Bu Swi Nio tidak

setuju, namun dia tidak berani membantah. Pula, di dalam

hatinya dia ingin sekali mendengar percakapan mereka yang

tentu akan menyangkut pula keadaan kakaknya di kota raja.

Ketika pengeran ini dipersilahkan duduk menghadapi meja

yang sudah penuh hidangan, The Kwat Lin memperkenalkan

Kiam-mo Cai-li Liok Si sebagai pemilik istana Rawa Bangkai,

dan memperkenalkan muridnya pula Bu Swi Nio sebagai

muridnya yang terkasih.

Pangeran itu memandang Kiam-mo Cai-li dan Bu Swi Nio,

lalu tertawa gembira dan berkata, “Sungguh

beruntung sekali Pangcu mendapatkan seorang pembantu

seperti Liok Toanio ini yang saya yakin tentu

memiliki ilmu kepandaian tinggi. Dan muridmu ini….aaihh…

penerangan ini menjadi makin bercahaya,

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

suasana menjadi makin gembira dan segar, hidangan

menjadi bertambah lezat. Sungguh saya merasa.berbahagia

sekali bahwa Nona Bu suka menemani saya makan minum,

untuk ini saya harus menghaturkan

arak penghormatan sebagai tiga cawan!” Pangeran itu

tentu saja tadinya sudah diberitahu oleh Kwat Lin bahwa

ketua ini hendak menghadiahkan muridnya kepadanya. Maka

begitu melihat Swi Nio yang masih amat muda dan cantik

jelita itu, hati Sang Pangeran sudah jatuh dan gairahnya

sudah bernyala-nyala. Wajah Swi Nio menjadi merah padam.

Dia merasa malu sekali menyaksikan sikap dan mendengar

kata-kata yang penuh pujian ini. Dia tidak biasa berhadapan

dengan pria seperti ini. Hatinya berdebar tegang dan khawatir,

akan tetapi untuk menolak, tentu saja dia tidak berani. Sambil

menunduk dan membisikan kata-kata terima ksih dia

menerima t iga cawa arak berturut-turut. Biarpun dia tidak

biasa minum banyak arak, akan tetapi terpaksa tiga cawan

arak itu diminumnya tanpa banyak membantah. Melihat ini

The Kwat lin dan Kiam-mo Cai-li tertawa girang dan dari

seberang meja, The Kwat Lin mengedipkan sebelah matanya

kepada Sang Pangeran.Tang Sin Ong mengerti akan isyarat

ini, maka dia lalu melepas seuntai kalung emas bertaburan

permata yang tergantung di lehernya, bangkit berdiri dan

mengulurkan kedua tangan yang memegang kalung itu

kepada Swi Nio sambil berkata, “Nona Bu, kalung ini sama

sekali tidak dapat mengimbangi kecantikan Nona, akan tetapi

karena pada saat ini yang ada pada saya hanya kalung ini,

maka sudilah Nona menerimanya sebagai tanda

penghormatan saya kepada seorang Nona secantik dewi!”

Bu Swi Nio terkejut sekali dan cepat dia menoleh kepada

subonya. Menurutkan kata hatinya, ingin dia menolak keras

dan mencela sikap pangeran yang terlalu berani itu. Akan

tetapi dia melihat subonya mengangguk dan berkata, “Swi

Nio, Pangeran telah bermurah hati kepadamu, mengapa tidak

lekas menerima dan menghaturkan terima kasih?”

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Bu Swi Nio merasa terdesak dan dengan suara gemetar dia

berkata, “Hamba…., hamba…., tidak berani menerimanya…..”

“Swi Nio….!” The Kwat Lin menegur

“Bu Swi Nio, mengapa kau menolak kemurahan hati

Pangeran?” Kiam-mo Cai-li juga ikut menegur. Pangeran Tang

Sin Ong tertawa. “Ahh, tentu saja Nona Bu merasa malu-malu,

tidak seperti gadis-gadis yang haus akan harta benda. Hal ini

malah menonjolkan kecemerlangan watak seorang gadis yang

cantik jelita dan gagah perkasa! Nona, biarlah aku

mengalungkan hadiah ini di lehermu.” Berkata demikian, Sang

Pangeran lalu bangkit berdiri dan mengalungkan kalung emas

itu melingkari leher Swi Nio yang menundukan kepalanya.

Karena tak dapat menolak lagi dan kalung yang lebar itu

sudah mengalungi lehernya, dengan muka sebentar pucat, Swi

Nio menjura, “Banyak terima kasih hamba haturkan…”

“Aaaahhh, jangan sungkan-sungkan.” Dia tertawa, kedua

orang wanita sakti itupun tertawa dan mereka bergantian

menyuguhkan arak kepada Sang Pangeran dan juga Bu Swi

Nio. “Muridku, karena pangeran telah bermurah hati

kepadamu, tidak saja menyuguhkan arak tetapi juga

menghadiahkan kalung, mengapa kau tidak bersikap sebagai

seorang muridku yang tahu aturan dan mengenal budi. Hayo

cepat suguhkan tiga cawan kepada Pangeran sebagai

penghormatanmu!” Muka Swi Nio menjadi merah. Dia tidak

membantah kebenaran ucapan ini, maka secara terpaksa dia

bangkit berdiri, dipandang oleh pangeran yang tersenyumsenyum

dan mengelus jenggotnya, menghampiri pangeran

dan menuangkan arak ke cawan Sang Pangeran dari guci

emas. “Silahkan Paduka minum arak sebagai tanda

kehormatan hamba, Pangeran,” kata Swi Nio dengan malumalu.

“Ha-ha-ha, terima kasih, Nona. Akan tetapi, aku tidak

mau minum kalau tidak aku temani. Hayo untukmu juga

secawan!”

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Kembali Kwat Lin dan Kiam-mo Cai-li ikut membujuk dan

terpaksa akhirnya Swi Nio kembali minum tiga

cawan arak bersama Sang Pangeran. Karena tidak biasa

minum arak, kini diloloh banyak arak yang diam-diam

telah dicampuri bubuk putih dilepas secara lihai oleh Kiammo

Cai-li ke dalan cawan gadis itu,

akhirnya Swi Nio menjadi mabok. Dia mulai tersenyum

dengan lepas, memperlihatkan deretan gigi yang

putih, dan mulai berani mengangkat muka memandang

pangeran yang pandai bicara itu..”Ha-ha-ha, setelah ditemani

makan minum oleh Nona Bu, aku lupa semua wanita di

istanaku! Hemm,

bagaimana aku dapat berpisah lagi darimu, Nona?” kata

Pangeran itu. Mendengar ini Swi Nio mengerutkan alisnya,

akan tetapi karena kepalanya sudah pening dan pandang

matanya sudah berkunang, hanya sebentar saja dia merasa

betapa kata-kata itu tidak pada tempatnya dan dia hanya

tersenyum! “Bu Swi Nio muridku yang baik. Pangeran telah

berkenan mencintaimu! Kau akan diambilnya sebagai selir

yang tercinta. Cepat kau berlutut dan haturkan terima kasih,

muridku.” Sepasang mata dara itu terbelalak. “Tidak….! Ah,

tidak……!” Terdengar suara pangeran, “Nona, kau cantik

sekali…. kau gagah perkasa, aku cinta padamu dan marilah

kau ikut bersamaku ke kota ke kota raja. Kau akan menjadi

selirku yang paling tercinta, menjdi pengawal pribadiku….”

“Tidak….! Ahhh, tidak mau…. oughh…….!” Swi Nio yang

tadinya bangkit berdiri serentak itu, tiba-tiba terhuyung dan

kembali menjatuhkan diri di atas bangku karena melihat

betapa kamar itu berpuatr-putar dan dia merasa seperti

terayun-ayun.

Karena tidak tahan lagi, Swi Nio merebahkan kepalanya di

atas kedua lengan yang berada di atas meja, hanya

menggoyang kepalanya tanda menolak. Terdengar olehnya

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

lapat-lapat suara gurunya, “Jangan bodoh, Swi Nio. Engkau

akan menjadi seorang nyonya Pangeran yan terhormat, dan di

kota raja kau dapat bekerja sama dengan kakakmu……..”

“aku tidak mau…. ah, tidak mau…..” Swi Nio membuka

matanya dan melihat wajah yang dekat sekali dengan

mukanya. Wajah Sang Pangeran Tang Sin Ong, wajah seorang

laki-laki yang cukup tampan gagah, akan tetapi sudah tua,

sedikitnya lima puluh tahun usianya. Dia merasa ngeri, takut

dan akhirnya dia tidak ingat apa-apa lagi. Obat bubuk yang

dicampurkan di raknya oleh Kiam-mo Cai-li telah bekerja

dengan baik, dia tertidur dan tidak merasa apa-apa lagi.

Swi Nio mengeluh dan mengerang. Dia mimpi. Seolah-olah

dia berada di dalam sebuah perahu berdua saja bersama

Pangeran Tang Sin Ong. Lalu perahu itu diserang badai,

terguling dan dia meronta-ronta hendak melawan gulungan

ombak yang menggelutnya. Namun dia merasa tubuhnya

lemas, dia terseret, tenggelam, gelagapan dan seluruh

tubuhnya terasa sakit-sakit, kepalanya pening. Sebentar dia

timbul, lalu tenggelam lagi, dan lapat-lapat dia mendengar

suara Pangeran Tang Sin Ong yang menyatakan cinta

kasihnya. Jauh lewat tengah malam Swi Nio mengeluh dan

merintih perlahan, lalu membuka matanya Mimpi itu teringat

lagi olehnya, membuat dia bergidik ngeri. Untung hanya

mimpi, pikirnya ketika dia membuka mata mendapatkan

dirinya, telah rebah di atas pembaringannya sendiri di dalam

kamarnya. “Ouh….!” Kepalanya masih pening sekali. Dia

bangkit duduk dan hampir dia menjerit kaget ketika melihat

bahwa dia tidak berpakaian sama sekali! Dia teringat bahwa

dia menemani subonya, Kiam-mo Cai-li, dan Pangeran Tang

Sin Ong makan minum. Teringat betapa dia terlalu banyak

minum dan mabuk. Mengapa dia tahu-tahu berda di

pembaringannya tanpa pakaian? Dia memeriksa keadaan

tubuhnya, melihat kalung yang masih bergantung di lehernya,

dan tiba-tiba tahulah dia akan semua yang telah terjadi atas

dirinya! “Keparat….!” Dia bangkit akan tetapi terguling lagi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

karena selain kepalanya pening sekali, tubuhnya juga panas

dan lemas seolah-olah kehabisan tenaga. Dia tidak tahu

bahwa itulah pengaruh obat bubuk, racun yang diminumnya

bersama arak, yang membuat dia pulas sehingga tidak dapat

melawan ketika Pangeran Tang Sin Ong membawanya ke

dalam kamar dan menggagahinya.

Tiba-tiba pintu kamar terbuka dari luar. Swi Nio menahan

napas, mengambil keputusan untuk mengerahkan seluruh

tenaganya membunuh Pangeran itu. Dia sudah maklumbahwa

dirinya diperkosa Pangeran itu.

“Selamat, muridku. Engkau telah menjadi isteri Pangeran!

Besok Pangeran Tang Sin Ong akan menjemputmu secara

resmi membawanya ke kota raja sebagai selirnya terkasih….”

“Tidak sudi! Aku harus membunuhnya!” Swi Nio meloncat

turun tanpa mempedulikan tubuhnya yang telanjang bulat,

kedua tanganya dikepal.

“Plak!” Swi Nio terlempar dan terbanting di atas

pembaringannya lagi ketika kena tamparan tangan

gurunya..”Swi Nio, apa yang kauucapkan itu? Engkau suka

sendiri melayani Pangeran, engkau menerima kalungnya,

engkau tersenyum-senyum kepadanya. Setelah engkau dan

dia bersenang-senang di dalam kamar ini, semestinya aku

mengutukmu. Akan tetapi aku sayang kepadamu, aku tidak

marah malah bersyukur bahwa engkau akan menjadi isteri

muda seorang pangeran. Dan sekarang kau hendak

memberontak? Hendak membikin malu Gurumu? Kau mau

membunuh kekasihmu sendiri?

Bocah setan tak kenal budi! Kalau tidak aku robah

pendirianmu, aku sendiri yang akan membunuhmu! Pikirkan

ini baik-baik. Engkau sudah bukan perawan lagi, engkau milik

Pangeran Tang Sin Ong!” The Kwat Lin meninggalkan kamar

itu dan membanting keras-keras daun pintu kamar. Swi Nio

menutupi mukanya dan menangis mengguguk. Tak tahu apa

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

yang harus dilakukannya. Dengan terisak-isak dan jari-jari

tangan gemetar dia mengenakan pakaiannya yang bertumpuk

di sudut pembaringan. Kepalanya masih pening dan tenaganya

habis. Tak mungkin dalam keadaan seperti itu dia melarikan

diri. Tentu akan mudak tertangkap kembali oleh gurunya.

Melawan pun tidak mampu, apa lagi dia benar-benar merasa

seperti tidak bertenaga lagi. Apa lagi hendak membunuh

pangeran itu yang selalu terkawal kuat!

“Ta Tuhan….!” Dia menangis lagi sesenggukan. “Ayah….

Koko…., apa yang harus kulakukan……?” Dia sudah ternoda.

Mau atau tidak, dia harus menjadi selir Pangeran itu. Dia tidak

sudi! Lebih baik mati! Mati!! Ya, matilah jalan satu-satunya,

demikian pikiran yang ruwet itu mengambil. Dirabanya ikat

pinggangnya. Tidak, dia seorang gadis gagah perkasa, tidak

semestinya mati menggantung diri seperti wanita-wanita

lemah. Dihampirinya pedangnya yang tergantung di dinding.

Biarpun tangannya gemetar dan tidak bertenaga dipaksanya

tangan itu mencabut pedangnya, lalu sambil memejamkan

matanya, dia mengayun pedang itu ke lehernya.

“Plakkkk!!” Lengan kanannya dipegang orang dan pedang

itu dirampasnya. Tadinya dia mengira bahwa subonya yang

mencegahnya membuuh diri, maka dia terisak dan membalik.

Betapa kagetnya ketika dia melihat bahwa yang mencegahnya

membunuh diri itu adalah seorang laki-laki muda, paling

banyak tiga puluh tahun usianya. Laki-laki ini tersenyum,

wajahnya cukup tampan dan membayangkan kegagahan.

“Membunuh diri bukan perbuatan seorang gagah.” Bisik lakilaki

itu. “Kalau sudah mati, mana mungkin dapat

menghilangkan penasaran? Kalau masih hidup, selalu terbuka

harapan untuk membalas dendam! ” Ucapan ini menyadarkan

Swi Nio. “Siapa kau….?”

“Ssssttt…., bisik pula laki-laki itu. “Aku seorang mata-mata

yang dikirim oleh Jenderal An Lu San. Nona, daripada engkau

membunuh diri, mari kubantu kau keluar dari tempat ini dan

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

kau ikut bersamaku. Dengan bekerja untuk An-goanswe, kelak

kau berkesempatan untuk membalas kepada semua orang

yang telah mendatangkan malapetaka ini kepadamu.”

Seperti kilat masuknya pikiran ini ke dalam kepala Swi Nio.

Mengapa tidak? Mati bukan merupakan jalan yang

memecahkan persoalan! Dia harus membalas kepada

Pangeran itu! Dan kini, dia dapat menduga bahwa dia tentu

pingsan karena pengaruh obat dari Kiam-mo Cai-li. Dia tahu

bahwa wanita itu adalah seorang ahli tentang racun. Kini dia

mengerti semua. Dia sengaja dikorbankan oleh gurunya dan

oleh wanita iblis itu, seperti seekor domba yang sengaja

dikorbankan menjadi mangsa serigala, Si Pangeran itu!

Dendamnya bertumpuk, kini terbuka jalan baginya, perlu apa

mengambil jalan pendek membunuh diri? “Baik, mari ikut

aku….” bisiknya dan dengan berindap-indap Swi Nio mengajak

laki-laki itu melalui jalan rahasia dan akhirnya, menjelang pagi,

mereka berdua berhasil keluar dari tembok pagar Bu-tong-pai.

“Haiii….!!” tiba-tiba terdengar bentakan dan lima orang

anggauta Bu-tong-pai muncul dari tempat penjagaan

tersembunyi. Akan tetapi ketika mereka melihat Swi Nio,

mereka terheran-heran, memandang kepada gadis itu lalu

kepada orang asing yang keluar dari jalan rahasia bersama

murid utama ketua mereka. Malam itu memang banyak

datang tamu dari kota raja yang ikut dalam rombongan

Pangeran, maka mereka mengira bahwa tentu orang ini

adalah anggauta rombongan pula. Akan tetapi sepagi itu,

masih gelap, apakah yang akan dilakukan tamu ini bersama

Swi Nio keluar dari Bu-tong-pai dengan diam-diam?”

Tiba-tiba terdengar teriakan berturut-turut dan lima orang

itu roboh dan tewas seketika. Mereka hanya

mampu satu kali saja mengeluarkan teriakan karena

tenggorokan mereka hampir putus disambar jari-jari.yang

amat kuat dari mata-mata itu yang bergerak dengan cepat

luar biasa menyerang mereka. Melihat

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

kelihaian orang itu, Swi Nio tercengang. Dia makin kagum.

Kiranya mata-mata ini bukan orang biasa dan andaikata

ketahuan pun akan merupakan lawan tangguh, sungguhpun

tentu saja dia sangsi apakah orang ini akan mampu lolos kalau

Kiam-mo Cai-li dan subonya turun tangan. “Mari cepat….!”

Orang laki-laki itu berkata dan melihat keadaan Swi Nio yang

masih lemas, dia tanpa ragu-ragu lagi lalu menyambar tubuh

gadis itu, dipanggulnya dan berlarilah dia dengan amat

cepatnya meninggalkan tempat yang berbahaya baginya itu.

Gadis bernama Liang-cu yang sebenarnya adalah

penyamaran Bu Swi Liang, bekerja di dalam istana sebagai

pengawal pribadi Yang Kui Hui. Dia bertugas memikat hati

selir Kaisar yang cantik jelita ini. Dapat dibayangkan betapa

tersiksa hati pemuda itu menyaksikan semua yang terjadi di

dalam kamar Yang Kui Hui, melihat selir yang cantik jelita itu

beristirahat, mandi, berganti pakaian dan lain-lain di depan

matanya begitu saja karena dia dianggap wanita pula!

Betapa tersiksa hati orang muda ini hidup di antara wanitawanita

cantik, yaitu para pelayan Yang Kui Hui. Di istana

bagian puteri ini tidak ada prianya, karena para thaikam yang

bertugas di situ biarpun kelihatan seperti orang pria, namun

sesunguhnya tidak lagi dapat disebut sebagai pria. Swi Liang

adalah seorang pemuda yang sedang berkobar nafsunya

karena Bu-tong-san dia diseret ke dalam kekuasaan nafsu

berahi oleh subonya sendiri. Sebagai seorang pemuda yang

baru gila berahi, kini berada ditengah-tengah para wanita

cantik itu, tentu saja dia tidak kuat bertahan terlalu lama.

Untuk melakukan tugasnya memikat Yang Kui Hui, dia belum

berani karena kesempatanya belum tiba. Dia tidak berani

bersikap kasar dan membuka rahasia penyamarannya begitu

saja. Karena sekali gagal, dia tentu akan mati konyol. Akan

tetapi untuk menunda lebih lama lagi menguasai nafsunya, dia

tidak sanggup! Akan tetapi, Swi Liang menahan gelora hatinya

sedapat mungkin. Dia harus bersabar menanti kesempatan

baik. Tugasnya amat penting bagi perjuangan subonya Sama

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

sekali t idak boleh gagal karena taruhannya adalah nyawanya.

Pada suatu senja belasan hari kemudian Swi Liang

diperbolehkan mengaso karena malam itu kaisar akan

mengunjungi selirnya yang tercinta dan tempat itu penuh

dengan pengawal-pengawal pribadi Kaisar sendiri. Swi Liang

lalu mengundurkan diri ke dalam kamarnya, sebuah kamar

yang amat indah dan berdekatan dengan kamar para pelayan

utama atau pelayan pribadi selir Kaisar itu. Selagi duduk

melamun sendiri di dalam kamarnya, mencari akal bagaimana

untuk memulai tugasnya, merayu dan memikat Hati Yang Kui

Hui, dia membayangkan keadaan selir itu dan jantungnya

berdebar penuh nafsu dan gairah. Selir itu memang cantik luar

biasa, dan ketika mandi atau bertukar pakaian, dia dapat

menyaksikan seluruh bagian tubuh yang padat dan amat

menggaerahkan itu. Pernah dia membantu pelayan

menyelimutkan kain setelah selir itu mandi dan jari-jari

tangannyamenyentuh kulit yang halus, lunak, dan hangat, dan

tercium olehnya bau semerbak harum dari tibuh selir itu.

Keharuman yang khas dan alangkah jauh bedanya antara

kecantikan dan tubuh indah selir itu dibandingkan dengan

subonya! “Enci Liang-cu! kenapa melamun saja?” Seorang

gadis cantik berbaju hijau menegurnya sambil tertawa-tawa,

di belakangnya masuk pula seorang gadis cantik berbaju

merah. Mereka itu adalah dua orang pelayan pribadi Yang Kui

Hui, dua orang gadis cantik jelita yang genit-genit “Ah, Enci

Liang-cu orangnya pendiam amat sih, tidak mau

bersendaugurau dengan kami? Swi Liang tersenyum menekan

jantungnya yang berdebar-debar dan menahan matanya agar

jangan terlalu melotot melahap kecantikan dua orang gadis

itu.

“Ahh, aku lelah dan sedang beristirahat. Jarang ada

kesempatan berist irahat seperti ini….” kata Swi Liang.

“Mari temani kami main thio-ki (kartu) di kamarku, Enci

Liang-cu!” kata Si Baju Hijau. “Ya, marilah, Enci Liang-cu.

Tidak enak hanya bermain berdua. Marilah, sambil kita

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

berkenalan lebih erat lagi. Kenapa sih? Bukankah kita ini

rekan-rekan yang berkerja di sini?” kata Si Baju Merah sambil

menarik tangan Swi Liang.

Tak dapat Swi Liang menolak karena hal ini mendatangkan

kecurigaan apalagi memang dia sudah

rindu sekali akan sentuhan tangan wanita cantik setelah

belasan hari berpisah dari subonya. Kedua orang

gadis itu tertawa-tawa, menggandeng kedua tangan Swi

Liang dan membawanya kedalam kamar Si Baju

Hijau yang berbau harum. Sebuah meja bundar rendah

telah dipersiapkan di tengah kamar, di dekat.pembaringan di

sekeliling meja itu terdapat tikar yang ditilami kasur dan

bantal. Selain kartu untuk main,

juga di atas meja terdapat seguci arak wangi dan cawancawan

kecil, juga beberapa macam kuih kering. “Duduklah,

Enci Liang-cu. Mari kita, main-main. kau bermalam saja di sini

malamini, ya?” Si Baju Hijauberkata sambil merangkul.

“Dan tubuhmu begini tegap dan kelihatan kuat, Enci Liangcu,”

kata Si Baju Merah memegang-megang lengan pemuda

itu.

“Aihhh, tangan Enci Liang-cu kuat dan kasar!” kata Si Baju

Merah menghelus telapak tangan pemuda itu. Swi Liang

menarik tangannya. “Aahh, aku sejak kecil berlatih silat. Tentu

saja aku seorang gadis yang kasar, mana bisa dibandingkan

dengan kalian yang halus mungil?”

“Hi-hik, kau terlalu memuji, Enci!” kata Si Baju Merah

sambil mencubit paha Swi Liang.

“Kalau engkau menjadi seorang laki-laki, tentu tampan dan

gagah, Enci Liang-cu!” kata Si Baju Hilau. Dapat dibayangkan

betapa tubuh Swi Liang terasa panas dingin menghadapi

godaan-godaan ini, maka cepat-cepat mengajak mereka

bermain kartu, karena kalau dilanjutkan godaan mereka itu,

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

tentu dia takkan kuat lagi bertahan! Sudah timbul keinginan

keras di hatinya untuk merangkul dan mendekap mereka,

menciumi bibir yang merah dan lincah itu!

“Eh, untuk apa arak ini?” katanya setelah Si Baju Merah

menuangkan secawan arak yang berbau wangi. “Hi-hik,

bermain thioki tanpa taruhan tidak menyenangkan. Siapa

kalah harus menebus kekalahannya dengan minum secawan

arak wangi!” kata Si Baju Hijau.

Meeka mulai bermain thioki sambil bercakap-cakap dan

bersendau gurau, atau lebih tepat lagi, kedua orang gadis itu

yang bercakap-cakap dan bersendau gurau sedangkan Swi

Liang hanya mendengarkan dan kadang-kadang tersenyum

saja. Karena dia tidak ingin dilolohi arak sehingga rahasianya

dapat terbuka, maka Swi Liang bermain sungguh-sungguh

sehingga dia jarang kalah dan yang kebagian minum arak

adalah kedua orang gadis itulah! Mereka bermain terus sampai

menjelang tengah malam dan akhirnya arak dalam guci kecil

itu habis!

“Ahhh, hawanya panas sekali ….!” kata Si Baju Hijau.

“Bukan panas, hanya engkau terlalu banyak minum maka

terasa panas, ” kata Swi Liang. “Hemm, mungkin… aihhh,

gerahnya.” Si Baju Hijau membuka kancing bajunya dan

mengebut-ngebut dengan kipas. Swi Liang menelan ludah,

matanya memandang ke arah dada yang hanya tertutup

pakaian dalam yang tipis sehingga membayangkan tonjolantonjolan

yang memikat hati. Karena pandang matanya selalu

tertarik ke arah dada Si Baju Hijau, maka permainan Swi Liang

menjadi kalut dan sekali ini dia kalah. Akan tetapi arak telah

habis!

“Wah, Enci Liang-cu jarang kalah, sekarang telah kalah

araknya habis. Mana dia bisa menebus kekalahannya?” kata Si

Baju Merah cemberut.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Hi-hik, kalau arak habis dia harus membayar dengan

ciuman!” kata Si Baju Hijau. “Hi-hi-hik, benar! Dia harus

didenda dengan ciuman dan mulai sekarang, taruhannya

dirobah. karena arak habis, siapa kalah harus membayar

dengan ciuman!” kata Si Baju Merah. Kedua orang gadis itu

dari kanan kiri lalu menyerbu dan mencium pipi Swi Liang

dengan hidung mereka.

Swi Liang memejamkan kedua matanya! “Eh…. eh….,

kalian ini bagaimana? Ihh… malu, kan….?” katanya

gelagapan..”Enci Liang-cu, mengapa kau begitu kejam? Kita

bertahun-tahun dikurung di tempat ini dan hanya dapat

menyaksikan orang lain bermain cinta. Bertemu dengan

pria pun merupakan hal yang tak mungkin bagi kita. Apa

salahnya di antara kita saling menghibur dan saling

mencumbu? Sekedar menghilangkan rindu……” kata Si Baju

Merah.

Permainan dilanjutkan dan makin lama Swi Liang makin

terseret oleh gelora nafsu berahinya sendiri. Ketika dia

menang dan harus mencium, dia tidak mencium seperti biasa

dengan hidung kepipi, melainkan mencium mulut dua orang

gadis itu dengan mulutnya! Dua orang gadis itu mengeluh dan

balas mencium sehingga tanpa diperintah lagi permainan kartu

itu bubar dan dilanjutkan dengan permainan saling

mencumbu, saling peluk dan saling cium antara tiga orang itu!

“Aihh, Enci Liang-cu…. kau hebat sekali …..” keluh Si Baju

Hijau.

“Enci Liang-cu…. kalau saja engkau seorang pria…..” bisik

Si Baju Merah

“Kalian senang?” Swi Liang berkata, terengah-engah

sedikit. “Matikanlah lampunya, barangkali di dalam gelap aku

akan dapat pian-hoa (bermain rupa) menjadi pria, siapa

tahu?” Sambil terkekeh genit, Si Baju Hijau meniup pandam

lampu di meja dan mereka bertiga pindah ke pembaringan,

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

melanjutkan permainan mereka yang mengasyikkan hati

mereka itu. Mereka merasa semakin bebas setelah keadaan di

dalam kamar itu menjadi gelap, mereka dapat mencurahkan

seluruh nafsu mereka tanpa malu-malu lagi.

Tak lama kemudian terdengar jerit tertahan, disusul

teriakan-teriakan yang lebih menyerupai bisikan kaget

bercampur girang, “Eh… kau…?”

“Hemm, diamlah sayang…..” terdengar suara Swi Liang dan

selanjutnya kamar itu sunyi, tidak terdengar keras lagi

sehingga kalau didengar dari luar kamar, seolah-olah tiga

orang “gadis” itu sedang tidur pulas, padahal tentu saja

keadaanya jauh dari pada itu, bahkan sebaliknya.

Menjelang pagi, terdengar suara Si Baju Hijau, suara yang

berbisik dan agak serak karena semalam tidak tidur rupanya,

“…engkau…. setiap malam harus menemani kami…. ya, koko

yang baik?” “….harus, kalau tidak…. hemm, kami akan

melaporkan bahwa kau adalah seorang pria sejati……” bisik

pula Si Baju Merah dengan nada manja mengancam.

Sunyi mengikuti kata-kata bisikan itu, kemudian terdengar

jerit tertahan dan tak lama kemudian, tampak Swi Liang dalam

pakaian seperti liang-cu, meloncat keluar dari dalam kamar itu

memondong tubuh dua orang pelayan itu yang sudah menjadi

mayat! Dengan tergesa-gesa Swi Liang membawa dua mayat

itu ke kebun, menggali lubang, mengubur dengan cepat

sekali, kemudian kembali ke kamarnya dengan badan penuh

keringat dan muka pucat. Akan tetapi hatinya lega dan diamdiam

dia menyesali perbuatannya sendiri. Mengapa dia begitu

lemah sehingga tidak dapat menahan diri terjatuh ke dalam

rayuan dua orang gadis cantik itu?

Dia terpaksa membunuh mereka, sungguhpun hal itu

dilakukannya dengan perasaan penuh penyesalan. Tugasnya

lebih penting dan kalau sampai gagal, dia akan tewas, akan

mati konyol. Dengan membuka rahasianya kepada dua orang

gadis itu, keadaannya tentu saja terancam hebat. Belum apaTiraikasih

Website http://kangzusi.com/

apa dua orang gadis itu telah “memerasnya” untuk setiap

malam melayani mereka dengan ancaman akan dibuka

rahasianya! Tentu saja dia terpaksa harus membunuh mereka

demi keselamatan dirinya sendiri. Lenyapnya dua orang

pelayan itu hanya menimbulkan sedikit keributan di istana

bagian puteri.

Betapapun juga, mereka itu hanyalah dua orang pelayan

dan akhirnya Yang Kui Hui hanya memerintahkan

para pengawal untuk melakukan pengejaran karena dikira

bahwa mereka itu tentu melarikan diri, dan kalau

sampai dapat ditangkap agar supaya dijatuhi hukuman

berat. Mengertilah kini Swi Liang bahwa dia harus

cepat-cepat turun tangan kalau tidak mau terjadi gangguan

lain lagi. Mulailah dia mendekati Yang Kui Hui,

membantu pada setiap kali ada kesempatan, membantu

para pelayan yang memandikan selir jelita itu,

menggosok punggungnya, mengeringkan tubuhnya dan

mengenakan pakaiannya. Bahkan pada suatu

malam, ketika Yang Kui Hui merebahkan diri seorang diri

dengan mata merem melek seperti seekor kucing.malas, ia

mendekatinya, berlutut dan menggunakan tangannya untuk

memijit-mijit kaki selir itu dengan

perlahan, meniru perbuatan pelayan yang suka memijit

tubuh selir itu. Jantungnya berdebar keras sekali. Nafsu

hatinya ditekannya keras sekali dia merasa betapa api berahi

telah membakar dadanya dan api itu menyala dari ujung jari

tangannya yang bersentuhan dengan kulit kaki yang halus

lunak dan hangat.

“Ehhmmm….” Yang Kui Hui menggeliat seperti seekor

kucing dan membuka sedikit matanya untuk melihat siapa

yang memijit kakinya. Matanya terbuka agak lebar dan

tersenyum. “Aihhh, kiranya engkau, Liang-cu? Engkau pandai

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

pula memijit? Ahhhh, tanganmu kuat sekali, nah,

kaulanjutkanlah, tubuhku memang sedang pegal-pegal…..”

Dan selir itu sudah memejamkan matanya kembali rebah

terlentang di depan Swi Liang.

Pemuda itu melanjutkan pekerjaannya memijit betis

mengendurkan urat yang kaku dan pandang matanya melahap

wajah yang menengadah itu. Betapa cantik jelitanya, demikian

rangsangan hatinya. Rambut yang hitam agak mengeriting itu

terurai di atas bantal, anak rambut yang melingkar-lingkar

menghias dahi dan pelipis sampai ke bawah telinga. Dahi yang

melengkung halus sekali seperti lilin diraut, berkulit putih

bersih itu nampak makin putih terhias anak rambut yang

menghitam dan sepasang alis yang hitam sekali melengkuk

seperti dilukis, melindungi mata yang terpejam sehingga

tampak bulu mata yang panjang. Bayangan bulu mata

menggelapkan pipi sebelah atas, menyembunyikan warna

kemerahan yang menyegarkan. Hidung yang mancung,

dengan dua cuping hidung yang tipis, agak bergerak

terdorong napas yang keluar masuk, dan dibawah hidung itu,

sepasang bibir yang kemerahan dan agak basah, kelihatan

menebal sebelah bawahnya karena selir itu tersenyum, sebuah

lesung pipit menghias di ujung mulut sebelah kiri. Manis dan

cantik jelita! Kemudian leher itu, dan dada itu, pinggang itu….!

Swi Liang menelan ludahnya berkali-kali dan jari-jari

tangannya yang memijit kaki itu agak menggigil. Agaknya

Yang Kui Hui dapat merasakan tangan yang menggigil ini,

maka dia membuka sedikit matanya dan bertanya, “Ada

apakah Liang-cu? Tanganmu gemetar…” “Ahhh…. tidak apaapa,

hanya…. paduka demikian cantik jelita….. hamba sampai

merasa terharu memandangi Paduka…..”

“Aihhh…., hi-hik, kau aneh, Liang-cu Coba kau tutup dan

kunci pintu kamar itu, dan beritahukan kepada penjaga di luar

bahwa aku tidak ingin diganggu malam ini, hendak

beristirahat. Oya, suruh penghubung pelaporkan kepada Sri

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Baginda tidak datang ke kamarku. Setelah itu, kautemani aku

di sini, pijati tubuhku sampai aku tidur.”

Dengan jantung berdebar penuh ketegangan dan gairah,

Swi Liang mentaati perintah itu. Setelah selesai dan dia sudah

menutupkan dan memalang daun pintu sehingga mereka

hanya berdua saja di dalam kamar yang mewah dan harum

itu, Swi Liang segera berlutut lagi di depan pembaringan dan

melanjutkan pekerjaannya memijit betis yang berdaging

gempal, lunak, halus dan hangat itu. “Nanti dulu, Liang-cu.

Coba kaubantu aku membuka pakaian luarku. Setelah pintu

ditutup, kamar ini menjadi agak panas….” kata Yang Kui Hui

sambil bangkit duduk di atas pembaringannya yang bertilam

sutera merah berkembang.

Swi Liang tidak mampu menjawab karena merasa lehernya

seperti tercekik. Dengan jari-jari tangan gemetar dia

membantu puteri itu membuka pakaian luarnya sehingga kini

Yang Kui Hui hanya memakai pakaian dalam yang amat tipis

dan tembus pandang sehingga terbayanglah lekuk lengkung

yang amat menggairahkan. Begitu pakaian luarnya dibuka,

Swi Liang memejamkan mata sebentar sambil menarik napas

panjang. Tercium olehnya bau harum yang memabukan,

keharuman yang membuat selir Kaisar itu terkenal sekali si

samping kecantikannya yang sukar dicari bandingnya. “Hihik…

mengapa kau seperti patung dan memejamkan matamu,

Liangcu?” Suara terkekeh halus dan teguran itu menyadarkan

Swi Liang yang segera membuka matanya.

“Ampunkan hamba…. hamba…. silau, seolah-olah melihat

bidadari turun dari langit….”.Selir Kaisar itu tertawa senang.

“Aihh, kata-katamu seperti seorang laki-laki saja! Hayo pijiti

aku lagi dan

jangan bersikap seperti orang gila!”

Swi Liang segera melakukan perintah ini dengan penuh

gairah. Jari-jari tangannya kembali memijit betis dan paha,

makin ke atas makin tersiksalah hatinya apalagi mendengar

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

puteri itu terkekeh kegelian. “Hi-hi-hik, kau begitu kuat, jari

tanganmu juga tegang dan kuat seperti tangan laki-laki

membelai….!” Yang Kui Hui membalikan tubuhnya dan kini

rebah terlentang, karena pakaian dalam yang tipis itu

tersingkap membuat Swi Liang hampir tidak kuat menahan

lagi. Cahaya kemerahan dari lampu merah di dalam kamar

membuat tubuh yang membayang di balik pakaian tipis itu

seolah-olah telanjang bulat di depannya! “Nah kau pijiti

pahaku, pegal-pegal rasanya. Akan tetapi jangan kuat-kuat,

perlahan saja, Liang-cu.” Dapat dibayangkan betapa tersiksa

hati seorang pemuda yang sudah menjadi lemah karena

dikuasai nafsu berahi seperti Swi Liang menghadapi Yang Kui

Hui yang tanpa disengaja telah menimbulkan godaan dan

tantangan yang demikian menggairahkan hati pria. Namun

tentu saja Swi Liang tidak berani bertindak sembrono, dan

sambil menguatkan hatinya dan menundukan mukanya yang

menjadi merah, menyembunyikan dadanya yang

bergelombang dengan menunduk dan menahan nafsunya

yang memburu, dia memijit paha yang gempal itu dan jari-jari

tangannya seolah-olah bertemu langsung dengan kulit paha

karena hanya tertutup sutera tipis. Setiap sentuhan jarinya

seolah-olah mendatangkan aliran hawa panas yang menjalar

naik ke dada dan kepala melalui lengannya. Makin lama dia

makin gelisah, tubuhnya panas dingin dan sama sekali dia

tidak berani memandang wajah puteri itu karen takut kalaukalau

Sang Puteri marah. Betapapun nafsu berahi telah

menyundul sampai ke ubun-ubunnya, namun Swi Liang

tidaklah demikian nekat untuk berani bertindak kurang ajar,

tidak berani melakukan langkah pertama dan hanya menanti

uluran tangan Sang Puteri, karena dia maklum bahwa sekali

keliru bertindak tebusannya adalah nyawanya di samping

kegagalan tugasnya.

“Kau memang aneh, Liang-cu. Benar kata-kata beberapa

orang pelayan yang selama ini tidak kau perhatikan. Sekarang

baru aku melihat sendiri. Kau seorang gadis yang aneh.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Apakah seorang gadis kalau sudah mempelajari ilmu silat

tinggi lalu berubah sifatnya, menjadi kejantan-jantanan? Kau

patut menjadi seorang laki-laki. Suaramu agak berat, gerakgerikmu

kaku, tanganmu kuat dan kasar, dan pandang

matamu….. hemmm….. engkau seolah-olah hedak menelanku

bulat-bulat setiap kali kau melihatku! Hi-hik, aku sampai

merasa sungkan dan malu!”

Swi Liang terkejut sekali, akan tetapi sambil membungkuk

rendah dia berkata dan berusaha sedapatnya untuk

meningikan nada suaranya, “Harap Paduka ampunkan semua

kekurangan hamba.” “Ah, tidak apa-apa, Liang-cu. Engkau

sudah berjasa besar, dan….hem….. keadaanmu yang

kejantan-jantanan itu bukanlah hal yang tidak menyenangkan.

Sayang sekali, kau seorang wanita dan sifat kejantananmu

hanya karena kau seorang gadis kang-ouw yang

berkepandaian silat tinggi. kalau engkau seorang pria sejati,

hi-hik, betapa lucunya…… tentu akan lebih menyenangkan

hatiku…..” Seketika terhenti jari-jari tangan yang tadi menarinari

dan memijiti paha kenyal itu. Jantung Swi Liang seperti

berhenti berdetak mendengar ucapan Sang Puteri, kemudian

berdebar-debar dengan kerasnya sehingga suara detak

jantungnya memasuki kedua telinganya dengan amat nyaring.

Kesempatan baik telah terbuka!

Selir jelita ini telah membuka rahasia hatinya! Begitu

menantang, seperti setangkai bunga yang tinggal memetik

saja, tinggal mengulur tangan dan akan terpenuhilah kedua

cita-citanya, yaitu menikmati tubuh yang telah membuat

tergila-gila ini dan sekaligus menyempurnakan tugasnya

memikat hati Yang Kui Hui demi suksesnya siasat yang sedang

dilakukan oleh subonya!

Tiba-tiba Swi Liang berlutut dan menempelkan dahinya di

lantai dekat pembaringan. “Hamba…. hamba rela

mengorbankan nyawa demi Paduka, dan hamba siap sedia

melalukan apa saja untuk menyenangkan hati Paduka. Akan

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

hamba lakukan dengan taruhan nyawa dan hamba siap

menanti perintah Paduka….”

Hi-hik, Liang-cu. Engkau memang aneh. Betapapun juga,

mana mungkin engkau menjadi laki-laki sejati?”.”Kalau Paduka

kehendaki, pasti dapat terjadi. Perintah Paduka merupakan

keputusan bagi hamba, seperti

perintah dari langit.”

Yang Kui Hui menjadi terheran-heran dan bangkit duduk,

membiarkan pakaian dalamnya tersingkap lebar, tidak hanya

pada pahanya, akan tetapi juga pada pundaknya sehingga

setengah dadanya tampak jelas, putih halus membusung.

“Apa….,apa maksudmu, Liang-cu?”

“Hamba telah mempelajari ilmu kesaktian dari Subo,

sehingga kalau Paduka menghendaki, hamba dapat pian-hoa

(mengubah diri) menjadi seorang pria sejati.”

Ehhh…?” Mata yang bening indah itu terbelalak, mulut

yang kecil itu ternganga sehingga bibir merah membasah itu

membentuk lingkaran memperlihatkan lidah yang meruncing

merah dan rongga mulut yang lebih merah lagi terhias deretan

gigi seperti mutiara. Sinar mata Yang Kui Hui menjelajahi

tubuh pembantunya yang berlutut itu, akhirnya dia dapat

berkata, “Benarkah itu? Suguh aneh dan luar biasa! Coba

kaubuktikan omonganmu, Liang-cu. Coba kau pian-hoa

menjadi seorang pria!” Swi Liang menekan jantungnya yang

berdebar tegang, mengangkat mukanya dan berkata,

“Hamba…. hamba …. mana berani kurang ajar….?”

“Lakukanlah! ini merupakan perintah. Berdirilah dan pianhoalah!”

Yang Kui Hui berkata penuh nafsu karena dia ingin

sekali menyaksikan apakah benar gadis ini dapat pian-hoa

menjadi pria, hal yang hanya pernah didengar dalam dongeng

kuno saja. “kalau Paduka memerintahkan, hamba tidak berani

membantah.” Swi Liang lalu bangkit berdiri dan membungkuk.

“Maafkan hamba….” Dia lalu melepas gelung rambutnnya,

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

menggosok bedak dan yanci dari mukanya, kemudian dengan

wajah merah berseri dia berkata, “Hamba telah berubah

menjadi seorang pria.” Suaranya kini besar, suara seorang

laki-laki tulen! Yang Kui Hui memandang terbelalak. “Aihhh,

mana aku bisa percaya? Hanya suaramu yang berubah, dan

mukamu tanpa bedak dan yanci memang seperti muka pria,

akan tetapi mana buktinya bahwa kau pria?”

Swi Liang mengerutkan alisnya. “Paduka ingin bukti?

Baiklah, maafkan kelancangan hamba!” Dia lalu merenggut

pakaiannya, baju di bagian atas sehingga tanggal kancingkancingnya

dan terbukalah dadanya. Sebuah dada yang

tegap dan bidang, tidak berbuah, dada seorang laki-laki tulen!

Wajah Yang Kui Hui berseri-seri, mulutnya tersenyum lebar

ketika dia memandang dada yang bidang, tegap dan berkulit

putih bersih itu. “Memang tidak salah lagi, tubuhmu bagian

atas memang tubuh seorang pria. Akan tetapi aku belum

puas, Liang-cu. Buka semua pakaianmu!” Perintah ini sama

sekali tidak disangka-sangka oleh Swi Liang. Biarpun sudah

lama dia menghedaki terjadinya hal yang hanya dalam mimpi

ini, namun sebagai seorang laki-laki, dia merasa jengah dan

malu juga menerima perintah agar dia bertelanjang bulat

seperti itu! Akan tetapi, gairah yang meluap-luap dan

kegembiraannya mengusir semua rasa malu dan dengan jari

tangan gemetar Swi Liang menanggalkan semua sisa

pakaiannya sehingga tak lama kemudian dia telah berdiri

membuktikan bahwa dirinya adalah seorang pria sejati di

depan selir jelita itu.

“Ahhh…., Liang-cu… ke sinilah kau! Sungguh hebat…. tak

kusangka sama sekali. Rebahlah kau di sini, di sisiku, manis!”

Tanpa diperitah kedua kalinya karena memang itulah yang

diinginkannya selama ini. Swi Liang lalu naik ke pembaringan

dan merebahkan dirinya di sisi selir cantik itu. Yang Kui Hui

terkekeh genit lalu menyambutnya dengan peluk cium ganas,

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

menerkamnya seperti seekor harimau kelaparan, atau seperti

seekor ular yang memagutnya dan membelit-belitnya.

Manusia, baik laki-laki atau wanita, kaya atau miskin, dari

golongan ningrat maupun jembel terlantar, sekali dikuasai

nafsu berahi akan menjadi lupa diri dan lupa segala. Pada saat

seperti itu, lenyaplah duka, lenyap pula takut, hilang segala

pertimbangan dan akal, yang ada hanyalah tindakan sebagai

akibat dorongan nafsu birahi yang minta dilampiaskan.JILID

15 Hebatnya, makin dipenuhi dorongan nafsu, makin

hebatlah, seperti nyala api, makin dibiarkan makin membesar

dan takkan padam sebelum habis bahan bakarnya! Hanyalah

manusia yang selalu sadar akan keadaan dirinya, akan gerakgerik

dirinya lahir maupun batin, takkan kehilangan

kewaspadaan dan kebijaksanaan, takkan dapat dicengkeram

oleh nafsu dalam bentuk apa pun. Hal ini bukan berarti bahwa

manusia bijaksana menolak nikmat hidup yang didatangkan

oleh gairah nafsu, sama sekali tidak. Bahkan hanya manusia

sadar sajalah yang bebar-bebar akan dapat menikmati hidup

karena baginya nafsu kesenangan hanyalah pelengkap hidup,

bukan hal yang mutlak dan tidak dikejar-kejarnya. Dialah

orang menguasai nafsu, bukan nafsu yang menguasai dia.

Menguasai nafsu dengan kewaspadaan dan memngenal akan

keadaan diri sendiri seperti apa adanya, lahir maupun

batinnya, bukan menguasai nafsu dengan cara pengekangan

dan penyiksaan diri. Dengan cara pengamatan yang

sewajarnya, penuh kesadaran, pengamatan terhadap nafsu

dan gerak-geriknya, tanpa celaan tanpa pujian, maka nafsu

akan kehilangan kekuasaannya sendiri terhadap diri pribadi.

Sebaliknya, menggunakan kemauan untuk menekan dan

mengekang nafsu, tidak akan ada gunanya, karena, boleh jadi

nafsu akan dapat dibendung pada saat itu, manun sewaktuwaktu

nafsu yang masih menguasai diri itu meluap. Bagaikan

api dalam sekam, sewaktu-waktu akan dapat menyala lagi,

demikianlah kalau orang menguasai nafsu dengan

pengekangan yang berarti menguasainya dengan kekerasan.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Dengan pengamatan waspada, nafsu yang seperti api itu

akan padam dengan sendirinya. Namun dengan pengekangan,

api itu hanya membara dan tidak tampak untuk sewaktuwaktu

bernyala lagi, karena YANG MENGEKANG NAFSU

ADALAH NAFSU JUGA. Mengekang berarti menggunakan

kekerasan menuruti keinginan!

Menjelang pagi, yang Kui Hui yang kekenyangan

melampiaskan nafsu berahinya, terlena di pembaringan,

wajahnya yang agak pucat menoleh kepada Swi Liang yang

tidur pulas di sampingnya, lalu wanita cantik itu tersenyum.

Jari-jari tangannya yang halus itu bergerak membelai dada

telanjang dari pemuda itu, lalu ditariknya kembali tangannya

dan dia menghela nafas panjang. Setelah kekenyangan,

barulah dia dapat berfikir dan barulah selir Kaisar ini sadar

betapa bodohnya dia membiarkan dirinya terseret oleh nafsu

berahi. Pemuda ini tentu seorang pria sejati yang menyamar

sebagai wanita. Hal ini sudah jelas! Dan di balik penyamaran

ini tentulah ada suatu rahasia! Kesadaran ini mengejutkan

hatinya dan menimbulkan kekhawatirannya. Dia adalah selir

yang cerdik sekali.

Yang Kui Hui bangkit duduk dan perlahan-lahan, agar

jangan membangunkan pemuda itu, dia mengenakan

pakaiannya. Matanya tak pernah berpindah dari wajah Swi

Liang dan sambil memakai pakaiannya, dia mengenangkan

semua yang mereka lakukan semalam ketika mereka bermain

cinta tanpa mengenal puas sampai akhirnya tertidur kelelahan.

Betapapun juga, pemuda itu terlalu halus. Bagi wanita macam

Yang Kui Hui yang sudah banyak pengalaman bermain cinta

dengan pria, kejantanan Swi Liang kurang memuaskan

hatinya. Betapa jauhnya dibandingkan dengan An Lu San! An

Lu San barulah boleh disebut seorang laik-laki sejati! Dengan

kekudukannya yang tinggi dan pengaruhnya yang besar,

dengan tubuhnya yang tinggi besar, tenaganya yang seperti

singa, dengan permainan cintanya yang liar kasar dan wajar,

menonjolkan kejantanan yang amat hebat! Sedangkan

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

pemuda ini, terlalu halus, masih hijau dan kurang

pengalaman, dan yang lebih berbahaya lagi, pemuda ini

tentulah seorang mata-mata musuh! Yang Kui Hui bergidik

ngeri. Betapa bodohnya dia, mudah terbujuk dan terseret oleh

nafsunya sendiri dan terkena rayuan seorang mata-mata.

Untung mata-mata ini belum bertindak terlalu jauh.

Bagaimana kalau semalam dia dibunuhnya?

Yang Kui Hui bergidik dan bergegas turun dari

pembaringan, dengan hati-hati dia mengambil pedang

bersarung indah yang diletakan oleh Swi Liang di atas

tumpukan pakaiannya, kemudian selir Kaisar itu berindapindap

menuju ke pintu kamar, membuka pintu dan keluar

setelah menutupkan kembali daun pintu perlahan-lahan. Tak

lama kemudian dia telah berbisik-bisik dengan beberapa orang

pengawal pribadinya, kemudian memasuki kamar lain setelah

merasa yakin bahwa para pengawalnya yang kini telah

berkumpul itu akan melaksanakan perintahnya dengan baik.

Swi Liang terbagun dari tidur nyenyak, menggeliat dan

tersenyumpenuh bahagia ketika dia

teringat akan keadaan dirinya. Dirabanya kasur di mana dia

rebah dan hidungnya kembang kempis, masih

penuh oleh keharuman tubuh Yang Kui Hui. Baru saja

terbangun dari tidur, teringat akan wanita cantik itu,

berkobar lagi nafsunya, lenyap semua kelelahan tubuhnya

dan dia membalik ke kanan, lengan kirinya dan

kaki kirinya merangkul memeluk..Dai membuka matanya

ketika tangan dan kakinya bertemu dengan kasur yang

kosong, lalu bangkit duduk,

menoleh ke kanan kiri, mencari-cari. yang Kui Hui telah

pergi dari kamar itu! Swi Liang merasa heran dan juga

terkejut, kemudian timbul kekhawatiran di dalam hatinya. Ke

manakah perginya wanita itu sepagi ini, pikirnya. Karena

khawatir kalau-kalau ada pelayan memasuki kamar dan

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

memergoki keadaanya, bergegas dia menyambar pakaiannya,

dan cepat mengenakan pakaiannya, pakaian wanita

penyamarannya. Dengan tergesa-gesa dia menghampiri meja

rias Yang Kui Hui, menggunakan bedak dan yanci untuk

memulas mukanya yang semalam telah menjadi muka pria

aslinya dan sia-sia bedak dimukanya telah terhapus sama

sekali oleh ciuma-ciuman Yang Kui Hui. Kemudian dia mencari

pedangnya dan betapa heran dan terkejut hatinya ketika

mendapat kenyataan bahwa pedangnya tidak berada di dalam

kamar itu! Akan tetapi dia segera tersenyum menenangkan

hatinya sendiri. Tentu Yang Kui Hui sengaja hendak main-main

dengan dia! Tak mungkin wanita itu melakukan hal yang

bukan-bukan dan merugikannya setelah apa yang mereka

nikmati bersama semalam! Tentu Yang Kui Hui sudah

bertekuk lutut dan mencintanya setelah dia membuktikan

kejantanannya semalam, pikir Swi Liang dengan bangga.

Dengan hati ringan dia lalu melangkah ke pintu, membuka

daun pintu hendak mencari kekasihnya itu. Sunyi di luar

kamar itu, padahal biasanya penuh dengan pengawal.

Kemudian muncul seorang pelayan wanita yang bertugas

membersihkan kamar Yang Kui Hui setiap pagi. Melihat

pelayan ini, Swi Liang dengan suara biasa lalu menanyakan di

mana adanya majikan mereka yang cantik itu. “Beliau tadi

memerintahkan bahwa kalau Liang-lihiap sudah bangun agar

Lihiap suka pergi menyusul ke dalam pondok di taman. Beliau

menanti di sana.”

Mendengar kata-kata ini, Swi Liang bergegas pergi ke

taman, hatinya girang sekali. Tak salah dugaannya. Yang Kui

Hui telah bertekuk lutut di depan kakinya! Selir yang angkuh

dan cantik itu telah jatuh cinta kepadanya sehingga kini selir

itu ingin melanjutkan permainan cinta mereka di dalam

pondok taman, tentu agar jangan sampai menimbulkan

kecurigaan para pelayan lain! “Ha-ha, kau cerdik sekali, mais,”

kata hatinya penuh kegembiraan, “untuk kecerdikanmu itu

akan kuberi upah ciuman hangat!” Sambil tersenyum-senyum

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

membayangkan segala kemesraan yang akan dialaminya

sebentar lagi di dalam pondok taman, Swi Liang melangkah

lebar ke dalam taman yang indah dan luas itu. Taman itu

sunyi karena hari masih amat pagi dan memang biasanya pun

taman itu hanya dikunjungi para puteri istana setelah matahari

naik tinggi sehingga mereka dapat menghirup hawa segar di

situ. Bahkan t idak tampak seorang pun juru taman yang

biasanya sepagi itu tentu telah membersihkan taman. Ketika

melewati tempat di mana dia malam-malam beberapa hari

yang lalu mengubur mayat dua orang pelayan wanita, Swi

Liang menggerakan pundaknya untuk menenteramkan hatinya

yang agak terguncang. Salah kalian sendiri, pikirnya dan untuk

menekan perasaanya, dia telah menginjak kuburan yang tidak

kentara dan tidak dikenal orang lain kecuali dia itu.

Dia kini sudah berdiri di depan pintu pondok, lalu mengetuk

pintu pondok sambil berkata dengan suara biasa, suara pria,

halus dan penuh rayuan, “Dewiku yang cantik jelita, bidadari

dari sorga manis, bukalah pintu, aku sudah amat rindu

kepadamu….!”

Daun pintu pondok merah itu terbuka dari dalam dan….

Swi Liang meloncat ke belakang sambil menahan seruan

kagetnya ketika dia melihat bahwa dari dalam pondok itu

keluar dua puluh orang lebih pengawal yang memegang

senjata di tangan!

“Menyerahlah engkau, Liang-cu. Kami mendapat perintah

untuk menangkapmu!” komandan pengawal berkata keren.

Seketika pucat muka Swi Liang dan otomatis tangan

kanannya meraba pinggang, hanya untuk diingatkan bahwa

pedangnya telah lenyap dari dalam kamar tadi!

“Apa… apa… dosaku….?” Dia bertanya gagap, saking

bingungnya dia lupa menyembunyikan suara laki-laki yang

keluar dari mulutnya.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Dua puluh lebih pengawal itu tertawa dan Sang Komandan

membentak. “Lekas berlutut dan menyerah!” Swi Liang

maklum bahwa rahasianya tentu telah terbuka. Dia tidak tahu

apa yang terjadi dan siapa yang telah membuka rahasianya.

Sampai saat itu dia sama sekali tidak menyangka bahwa Yang

Kui Hui yang telah mengkhianatinya. Akan tetapi dia tahu

bahwa kalau dia tertangkap, tentu dia akan celaka.

“Mampuslah!” bentaknya sambil menerjang ke depan,

menghantam komandan dengan kepalan tangan

kanan sedangkan kepalan tangan kiri menghantam

pengawal ke dua yang berdiri dekat. Komandan itu

memiliki kepandaian silat yang cukup tinggi, maka dia

dapat menangkis biarpun dia menjadi terhuyung-.huyung,

akan tetapi pengawal yang terkena hantaman tangan kiri Swi

Liang, mengeluarkan teriakan keras

dan roboh terguling, muntah-muntah darah karena pukulan

yang mengenai dadanya tadi amat kuat. Segera Swi Liang

dikeroyok oleh dua puluh orang lebih. Para pengawal itu ratarata

memiliki ilmu silat yang cukup tangguh, karena mereka

semua bersenjata. Repot jugalah Swi Liang yang harus

membela diri dengan tangan kosong!

“Jangan bunuh dia! kita harus menangkapnya hiduphidup!”

beberapa kali komandan berteriak. Swi Liang

mengamuk sekuatnya, namun setelah tubuhnya terkena

beberapa kali bacokan dan tusukan, akhirnya dia terguling dan

teringkus. Dalam keadaan luka-luka dan setengah pingsan dia

diseret ke dalam kamar tahanan. Sementara itu, yang Kui Hui

segera mengadu kepada Kaisar bahwa pelayan wanita yang

dahulu menolongnya itu ternyata adalah seorang pemuda dan

mungkin mata-mata musuh yang sengaja menyelundup.

Mendengar ini, kaisar memerintahkan agar Swi Liang disiksa

dan dipaksa untuk mengakui keadaannya. Pada hari itu juga,

di dalam kamar tahanan yang dirahasiakan, Swi Liang

dikompres untuk mengaku.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Ada beberapa macam semangat yang mendorong

seseorang menjadi prajurit. Semangat patriotik sebagai

pengabdian kepada negara dan bangsa, semangat mencari

kedudukan dan kemuliaan, dan semangat yang timbul dari

keadaan lain pula. Di antara semua itu, hanya prajurit yang

didorong semangat mengabdi kepada negara dan bangsa

sajalah yang akan berani mempertaruhkan nyawa dengan

rela, karena dia merasa yakin bahwa apa yang diperjuangkan

dalam hidupnya itu benar! Kebenaran seseorang yang tentu

saja mengharapkan sesuatu, misalnya nama sebagai seorang

pahlawan atau “tempat baik” di alam baka! Betapapun juga,

lepas daripada tepat tidaknya kebenaran semacam itu, harus

diakui bahwa hanya prajurit yang bersemangat demikian

sajalah yang akan menghadapi kematian dan siksaan dengan

berani dan gagah. Tidaklah demikian dengan Swi Liang. Dia

melakukan tugasnya karena dorongan subonya yang juga

menjadi kekasihnya, karena keinginannya untuk kelak

memperoleh kedudukan tinggi jika cita-cita subonya

terlaksana. Kalau putera subonya sampai biasa menjadi kaisar

seperti yang dicita-citakan subonya, dia tentu setidaknya akan

menjadi seorang menteri! Karena semangat seperti ini yang

mendorongnya berjuang, maka begitu gagal patahlah

semangatnya. Begitu dia disiksa, keluarlah pengakuan dari

mulut Swi Liang bahwa dia adalah kaki tangan subonya, The

Kwat Lin Ratu Pulau Es yang kini menjadi Ketua Bu-tong-pai

dan yang bersekutu dengan Pangeran tang Sin Ong, dan

tugasnya adalah memikat hati Yang Kui Hui agar selir itu kelak

mau membantu pemberontakan mereka.

Pengakuan ini tentu saja menimbulkan geger. Pangeran

Tang Sin Ong ditangkap dan beberapa hari kemudian, Swi

Liang dan Pangeran Tang Sin Ong dijatuhi hukuman penggal

kepala di tempat umum agar menjadi peringatan bagi siapa

saja yang hendak memberontak. Kaisar lalu mengirim pasukan

untuk menangkap Ketua Bu-tong-pai yang memberontak.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Habislah riwayat hidup Bu Swi Liang, putera Lu-san lojin Bu

Si Kang yang gagah perkasa itu. Memang patut disayangkan

karena sebenarnya dahulu Bu Swi Liang adalah seorang

pemuda yang baik dan gagah perkasa, yang dididik oleh

ayahnya sejak kecil agar menjadi seorang pendekar yang

selalu membela kebenaran dan keadilan. Memang, keadaan

sekeliling amat mempengaruhi jalan hidup seseorang. Hal ini

tidaklah berarti bahwa sekeliling yang bersalah sehingga

menyeret seseorang ke jalan sesat seperti halnya Bu Swi

Liang.Sebetulnya, yang bersalah adalah dirinya sendiri! Orang

yang mengenal diri sendiri akan selalu dalam keadaan

waspada dan sadar sehingga berada di dalam lingkungan apa

pun juga dia akan selalu mengamati tingkah laku sendiri lahir

batin setiap saat, tak mungkin terseret atau ternoda, seperti

emas murni atau bunga teratai, biar berada di lumpur akan

tetapi tetap bersih! Sebaliknya, orang yang tidak mau

mengamati dirinya sendiri setiap saat, akan mudah lupa

karena “akunya”menonjol dan Si Aku ini memang selalu ingin

menang sendiri, ingin enak dan senang sendiri, sehingga

untuk memenuhi segala keinginannya itu, diri terseret dan

mudah terjeblos ke dalam jurang penuh dengan ular-ular

berbisa bernama iri, dendam, benci, sombong, duka, dan lainlain

yang kesemuanya berakhir dengan kesengsaraan.

Pasukan yang kuat dipimpin seorang perwira tinggi membawa

perintah penangkapan dari Kaisar sendiri, tiba di Bu-tong-san.

Namun mereka terlambat. The Kwat Lin, Ketua Bu-tong-pai

yang baru dan hendak ditangkap itu, telah melarikan diri

bersama anak buah yang setia kepadanya.

Hal ini tidaklah mengherankan. Sebelum Swi Liang

membuka rahasia pemberontakannya, The Kwat Lin

telah lebih dulu mendengar bahwa muridnya telah gagal

dan ditangkap. Dia merasa kecewa sekali, akan

tetapi dia juga maklum akan bahaya yang mengancam

dirinya. Kalau sampai pasukan pemerintah.menyerang BuTiraikasih

Website http://kangzusi.com/

tong-pai, tentu saja dia tidak mungkin dapat melawan

pasukan yang besar itu. Maka diam-diam

dia lalu lolos dari Bu-tong-san, bersama anak buahnya yang

setia dia lalu melarikan diri ke Rawa Bangkai yang menjadi

markas ke dua dari komplotan ini. Seperti di ketahui, Kiam-mo

Cai-li Liok Si yang menjadi datuk kaum sesat itu telah

ditaklukannya dan telah menjadi sekutunya, dan tempat

tinggal datuk wanita ini, Rawa Bangkai, di kaki Pengunungan

Luliang-san, menjadi markas ke dua. Ketika menghadapi

bahaya penangkapan dari kota raja, tentu saja Kwat Lin lalu

melarikan diri ke tempat yang merupakan daerah berbahaya

dan rahasia itu.

Pelarian dari Bu-tong-pai ini diterima dengan baik oleh

Kiam-mo Cai-li Liok Si yang memperoleh kesempatan

menonjolkan jasanya. Segera Rawa Bangkai dijaga dengan

kuat sekali dan Liok Si menghibur The Kwat Lin atas

kegagalan muridnya. “Aku hanya merasa kecewa sekali

mengenangkan murid-muridku,” kata The Kwat Lin dengan

suara gemas. “Swi Nio telah mengkhianatiku, lari dengan

seorang mata-mata musuh entah dari mana dan

pengharapanku tadinya tinggal kepada Swi Liang. Dia sampai

terbuka rahasianya dan tertangkap, hal itu katakanlah sebagai

suatu kegagalan yang menyedihkan. Akan tetapi mengapa dia

membocorkan rahasia Pangeran Tang Sin Ong sehingga

Pangeran itu pun dihukum mati. Dengan matinya Pangeran

Tang Sin Ong habislah harapan kita!” The Kwat Lin menghela

napas panjang dan mengepal tinjunya dengan hati gemas.

“Aihhh, seorang yang memiliki ilmu kepandaian seperti

Pangcu, mengapa mudah sekali putus asa?” Liok Si mencela.

“Hem, Cai-li, jangan kau menyebutku Pangcu lagi. Aku

bukan lagi Ketua Bu-tong-pai setelah kini menjadi pelarian

pemerintah. Dan aku tidak membutuhkan perkumpulan itu.

Siapa yang tidak akan putus asa? Cita-cita kita kandas

setengah jalan. Betapapun tinggi kepandaian kita,

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

menghadapi pasukan pemerintah yang puluhan laksa

banyaknya, kita dapat berbuat apakah?”

Kiam-mo Cai-li tersenyum. Dia maklum bahwa wanita yang

amat lihai ini memiliki cita-cita yang besar sekali. “Thepangcu….

eh, Lihiap, seorang dengan kepandaian seperti

engkau tentu dapat mencari kedudukan dengan mudah

sekali.”

“Hemm, mana mungkin? Pemerintah telah menganggapku

sebagai pemberontak dan aku akan selalu menjadi pelarian

dan buruan pemerintah. Pula, aku adalah seorang bekas ratu,

oleh karena itu. Cita-citaku hanya satu, ialah aku akan

berusaha sekuat tenaga agar puteraku memperoleh

kedudukan yang sepadan dengan darah keturunannya.”

Kiam-mo Cai-li mengangguk-angguk. “Memang

sepatutnya…. sepatutnya…., dan aku bersedia membantumu

asal kelak kau tidak akan melupakan bantuanku.”

The Kwat Lin memegang tangan datuk wanita itu dan

memandang tajam. “Kiam-mo Cai-li, kita bukan anak-anak

kecil lagi, kita sama-sama wanita dan kita saling mengetahui

isi hati masing-masing. Engkau sudah banyak menolongku,

masihkah engkau menyangsikan bahwa aku menganggapmu

sebagai tangan dan kaki sendiri dan kita akan senasib

sependeritaan, bahkan sehidup semati?” Kiam-mo Cai-li

tersenyum dan mengangguk. “Aku tahu bahwa engkau adalah

seorang wanita yang selain berilmu tinggi, juga berkemauan

keras dan bercita-cita tinggi, The-lihiap. Kita tidak perlu putus

asa dengan kegagalan muridmu. Masih ada jalan lain yang

kurasa akan lebih menguntungkan kita.” “Bagaimana?”

“Bersekutu dengan An Lu Shan!”

The Kwat Lin memandang wajah Kiam-mo Cai-li dengan

alis berkerut. Majikan Rawa Bangkai itu tersenyum dan diamdiam

The Kwat Lin harus memuji bahwa wanita yang usianya

sudah lima puluh tahun itu kalau tersenyum kelihatan masih

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

muda dan masih cantik. Kata-kata Kiam-mo Cai-li

mengejutkan hatinya dan sekaligus menimbulkan

kecurigaannya. Sudah terang bahwa mereka menjadi saingan

An Lu Shan, bagaimana sekarang dapat bersekutu dengan

Panglima itu?

Bahkan yang menyalakan api pemberontakan dalam dada

Pangeran Tang Sin Ong adalah karena merasa iri

hati kepada An Lu Shan yang disuka oleh Laisar dan selalu

dibela oleh Yang Kui Hui. Dan sekarang,

sekutunya ini mengusulkan untuk bersekutu dengan An Lu

Shan! “Cai-li, apa maksudmu?” tanyanya,

suaranya membentak dan matanya memandang tajam

menyelidik..”Aih, The-lihiap, aku tahu mengapa engkau

terkejut. Akan tetapi bukankah para cerdik pandai jaman

dahulu pernah berkata bahwa orang cerdik harus pandai

memilih kawan?Demi tercapainya cita-cita, kalau perlu kawan

menjadi lawan dan lawan berbalik menjadi kawan!”

Berseri wajah The Kwat Lin dan dia memandang kagum.

“kau benar, Cai-li. Kau benar dan cerdik sekali!

Akan tetapi, mungkinkah dia mau?”

“Jangan khawatir. Aku sudah lama mengenal baik Panglima

kasar itu. Di balik semua langkahnya menjilat Kaisar dan Yang

Kui Hui, dia bercita-cita merebut kekuasaan Kaisar. Dan pada

waktu ini dia amat membutuhkan bantuan orang-orang

pandai, tentu saja dia akan menerima kita dengan tangan

terbuka.” The Kwat Lin berdebar-debar dan menggosok-gosok

pipinya yang berkulit halus itu dengan tangannya, nampaknya

ragu-ragu. “Akan tetapi, bagaimana kita dapat mengadakan

hubungan?” “Aku akan menyuruh anak buahku, harap kau

suka tulis surat untuk disampaikan kepada An Lu Shan.

Sebaiknya begini isinya.” Wanita cerdik Kiam-mo Cai-li

berunding dengan The Kwat Lin, mengulurkan tangan kepada

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

An Lu Shan mengajak bersekutu melalui sehelai surat yang

ditulis oleh tangan halus The Kwat Lin. Dalam hal

menggunakan siasat, kiranya wanita lebih cerdik dari pada

pria, dan hal ini dibuktikan oleh The Kwat Lin dan Kiam-mo

Cai-li Liok Si. Sebulan kemudian tampak lima orang muncul di

tepi rawa yang sunyi itu. Mereka ini terdiri dari empat orang

pria dan seorang wanita, kesemuanya kelihatan gagah

perkasa dan tangkas.

Rawa ini amat luas, sunyi dan terkenal berbahaya sekali.

Kelihatannya tidak berbahaya, hanya merupakan genangan air

yang amat luas seperti telaga besar, namun air itu tertutup

oleh rumput dan bermacam tetumbuhan kecil sehingga

kadang-kadang tidak nampak airnya. Bahkan seolah-olah

tertutup oleh lapisan tanah tipis dan inilah yang berbahaya

sekali. Manusia maupun binatang yang berani mendekati rawa

dan salah injak, mengira bahwa tanah berumput itu keras,

akan terperosok ke dalam air berlumpur yang mempunyai

daya penyedot sehingga sekali kaki terbenam, disedot ke

bawah dan sukar ditarik ke atas lagi. Air berlumpur itu dalam

sekali dan karena amat lembek, maka seolah-olah menyedot

kaki, padahal kaki orang atau binatang itu tenggelam terus

secara perlahan-lahan dan lupur itu memang mempunyai daya

lekat sehingga kaki seolah-olah disedot dan ditahan, sukar

untuk ditarik kembali ke atas. Selain bahaya yang merupakan

perangkap-perangkap maut dari alam ini, juga di situ terdapat

banyak ular dan binatang berbisa lain yang bersembunyi di

antara rumput-rumput dan tetumbuhan lain.

Jauh dari rawa, tampak ditengah-tengah rawa itu sebuah

pulau dan di situ terdapat bangunan-bangunan yang tampak

dari jauh. Namun, tidak ada orang dari luar rawa yang berani

mencoba untuk mendekati pulau ini, karena selain jalan

menuju ke situ harus menyeberangi rawa maut itu, juga telah

terkenal bahwa bangunan-bangunan itu adalah sarang dari

iblis betina yang ditakuti semua orang, yaitu Kiam-mo cai-li.

Karena seringkali terdapat bangkai-bangkai binatang-binatang

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

yang terperosok ke dalam perangkap alam sekitar rawa, juga

bahkan kadang-kadang tampak mayat mausia-manusia yang

sampai membusuk dimakan lumpur, maka terkenallah rawa itu

dengan sebutan Rawa Bangkai! Karena Kiam-mo-Cai-li yang

cerdik itu melarang para anak buahnya untuk mengganggu

rakyat di sekitar tempat itu, maka tidak akan ada alasan bagi

alat pemerintah untuk memusuhinya, pula pembesar setempat

merasa ngeri untuk menentang iblis betina itu. Dengan

demikian, datuk kaum sesat ini hidup aman dan teteram di

kaki Pegunungan Lu-liang-san itu, tempat ini menjadi tempat

pesembunyian yang baik sekali bagi The Kwat Lin dan anak

buahnya.

Kita kembali kepada lima orang yang pada hari itu berada

di tepi rawa. Tiga orang di antara mereka laki-laki tua berusia

antara lima puluh sampai enam puluh tahun. Seorang lagi

adalah laki-laki berusia tiga puluh tahun, berwajah tampan

gagah dan bertubuh tegap, sedangkan wanita itu masih muda,

seorang gadis berusia paling banyak enam belas tahun,

tubuhnya langsing dan wajahnya manis namun sepasang

matanya mengandung sinar keras. Wanita itu bukan lain

adalah Bu Swi Nio dan laki-laki muda tampan gagah itu adalah

penolongnya ketika dia hendak membunuh diri setelah malam

itu dia diperkosa oleh Pangeran Tang Sin Ong!

Bagaimana dia sekarang bersama laki-laki dan tiga orang

kakek dapat berada di tepi Rawa Bangkai?

Malam itu, setelah diperkosa oleh Pangeran Tang Sin Ong

dalam keadaan mabok dan t idak sadar, Swi Nio

hendak membunuh diri dengan pedang, akan tetapi dia

dicegah oleh laki-laki yang ternyata adalah seorang

mata-mata dari An Lu Shan. Dia dapat diingatkan oleh lakilaki

itu bahwa membunuh diri bukanlah jalan.terbaik untuk

membalas sakit hati, maka Swi Nio lalu ikut dengan orang itu

dan menjadi petunjuk jalan

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

sehingga mata-mata itu berhasil menyelamatkan diri

bersama Swi Nio, keluar dari tembok Bu-tong-pai. Kedua

orang ini tanpa bicara melarikan diri terus dengan cepatnya

sampai matahari naik tinggi dan mereka tiba di kaki

Pegunungan Bu-tong-san, barulah mereka berhenti mengaso

di dalam sebuah hutan lebat. Begitu duduk di bawah pohon

melepaskan lelah, Swi Nio teringat akan nasib yang menimpa

dirinya, maka serta merta dia menangis mengguguk.

Laki-laki itu memandang ke arahnya dan menghela napas

panjang, mengepal tinju dan hanya mendiamkannya saja

karena pengalamannya membuat dia mengerti bahwa dalam

keadaan berduka seperti itu, tidak ada obat yang lebih baik

bagi gadis itu kecuali tangis dan air mata yang bercucuran.

Setelah agak mereda tangis Swi Nio, dia berkata, “Nona,

seperti kukatakan pagi tadi, tidak perlulah hal yang telah

terjadi dan yang telah lalu ditangisi dan disedihkan. Yang

penting, kita melihat ke depan. Jalan hidup masih lebar dan

terbentang luas di depan kita. Mengubur diri dengan kedukaan

saja tidak ada artinya dan pula hanya akan melemahkan

semangat kita yang perlu kita pupuk untuk dapat membalas

kepada orang-orang yang telah merusak hidup kita.”

Kata-kata yang dikeluarkan dengan suara gagah ini

membuat Swi Nio mengangkat mukanya yang pucat dan

basah, memandang. Mereka berdua saling pandang sejenak,

kduanya baru melihat nyata akan wajah masing-masing.

Wajah pria itu menimbulkan kepercayaan di hati Swi Nio

sedangkan wajah gadis itu membuat jantung laki-laki itu

berdebar dan tertarik.

“Kau siapakah?” Akhirnya Swi Nio bertanya.

“Sudah kukatakan kepadamu, aku adalah seorang matamata,

seorang kepercayaan Jenderal An Lu Shan.

Namaku Liem Toan Kie. Dalam penyelidikanku di Bu-tongpai,

aku telah mengenal namamu, Nona. Engkau adalah Nona

Bu Swi Nio, bersama kakakmu Bu Swi Liang engkau adalah

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

murid dari Ketua Bu-tong-pai yang baru. Aku pun telah

mengetahui akan nasibmu semalam….” “Ahhh….! Si Jahanam

Tang Sin Ong….!” Engkau benar! Aku tidak perlu berputus

asa, aku tidak perlu mengubur diri dalam kedukaan, aku harus

berusaha untuk membalas semua penghinaan ini. Akan

kubunuh Si Jahanam Tang Sin Ong!” Gadis itu mengepal

kedua tangannya dengan penuh kemarahan. “Nah, itu baru

gagah dan bersemangat! Akan tetapi, tidak semudah itu

membunuh seorang Pangeran apalagi dia sahabat baik

Gurumu yang amat lihai. Jalan satu-satunya, marilah ikut aku,

mengabdi kepada Jenderal An Lu Shan. Hanya itulah jalannya

sehingga kelak engkau akan dapat membalas dendam.”

“Kau…. kau seorang prajurit bawahan Jenderal itu?”

Toan Ki menggelengkan kepalanya. “Bukan, aku bukan

perajurit, aku seorang luar yang telah menggabungkan diri

dengan An-goanswe dan mendapatkan kepercayaannya untuk

menyelidiki Bu-tong-pai. Aku disuruh menyelidiki rencana apa

yang diadakan oleh Pangeran Tang Sin Ong dan Bu-tong-pai.

An-goanswe adalah seorang yang amat cerdik. Dia biarkan

pemberontakan lain agar kedudukan Kaisar makin lemah,

namun dia harus tahu segala gerak-gerik musuh, baik gerakgerik

Kaisar maupun pemberontak lain. Sekarang aku tahu

bahwa rencana mereka adalah melemahkan Kaisar melalui

Yang Kui Hui, dan sekarang aku akan kembali dan melaporkan

hasil penyelidikanku kepada An-goanswe. kau ikutlah, akan

kuperkenalkan dan engkau tentu akan diterima, karena

engkau memiliki kepandaian yang lumayan di samping

dendammu kepada Tang Sin Ong.”

“Aku…. aku tidak suka menjadi pemberontak.”

“Hemm,apakah kaukira aku suka menjadi

pemberontak,Nona? tidak,aku membantu An Lu Shan bukan

karena aku suka menjadi pemberontak, melainkan karena aku

pun sakit hati terhadap pemerintah.” “Eh?” Swi Nio tertarik

dan memandang wajah yang gagah itu.”mengapa?”

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Hampir sama nasib kita, Nona, hanya bedanya jalannya

saja. ketahuilah, dahulu aku adalah seorang tokoh

Hoa San-Pai yang tentu saja tak mau mencampuri urusan

politik dan pemberontakan, bahkan condong.untuk setia

kepada pemerintahan, akan tetapi pada suatu hari terjadilah

hal yang amat hebat… yang

merubah seluruh jalan hidupku…”

Swi Nio teringat akan nasibnya sendiri. dia mendekat lalu

berkata, “Liem-twako, kauceritakanlah!” Sejenak mereka

berpandangan, lalu Toan Ki menceritakan riwayatnya secara

singkat. Dia tinggal di kota Ma-Kiubun, sebuah kota yang

cukup ramai di tepi sungai Huangho. dia hidup tenang dan

bahagia dengan isterinya yang baru dinikahinya selama tiga

bulan. Dengan membuka toko obat dan mengajar ilmu silat,

dia hidup lumayan. Namun isterinya merasa kecewa setelah

tiga bulan menikah, belum juga ada tanda-tanda

mengandung, maka dia mengijinkan isterinya untuk

bersembahyang ke kelenteng untuk minta berkah agar

isterinya dapat memperoleh keturunan secepatnya.

“Akan tetapi mujur tak dapat diraih, malang tak dapat

ditolak. Menjelang senja, setelah pergi sejak pagi, barulah

isterinya pulang dan turun dari joli dalam keadaan payah,

mukanya pucat dan basah air mata. Sambil menangis

sesenggukan isterinya lari ke dalam rumah, menjatuhkan diri

dan berlutut di depan kakinya sambil menceritakan bahwa

ketika tadi bersembahyang di kelenteng, kebetulan di

kelenteng itu terdapat putera bangsawan Lui yang bermain

catur dengan para hwesio. Melihat dia, putera bangsawan

menyeretnya ke dalam kamar di kelenteng dan

memperkosanya! Setelah mengucapkan pengakuan yang

hebat itu, isterinya lari ke dalam kamar sambil menangis

sesenggukan. hati Toan Ki terasa tidak enak. Tadi dia

termangu-mangu seperti patung saking marah dan dukanya

mendengar penuturan isterinya sehingga dia agak lalai

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

membiarkan isterinya lari. Cepat dia mengejar dan melihat

pintu kamar isterinya dipalang dari dalam, ia menendang

pecah daun pintu! Dia berdiri pucat dan terbelalak. Apa yang

dilihatnya?

“Isteriku telah rebah mandi darah di lantai! Pedangku ia

pergunakan untuk membunuh diri, menusuk dadanya hampir

tembus!” Dia mengakhiri ceritanya sambil menutupkan kedua

tangan di depan mukanya. “Ohhh….!!” Swi Nio menjadi pucat

sekali dan dia menyentuh lengan Toan Ki dengan penuh

perasaan terharu. “Putera bangsawan dan hwesio-hwesio

keparat itu harus dihukum! Dan aku akan membantumu,

Liem-twako!”

Toan Ki menurunkan tangannya, memegang tangan Swi

Nio dengan erat. Mereka saling berpegangan dan saling

menggenggam tangan. “Kita senasib, Nona. Karenanya ada

kecocokan di antara kita dan karenanya aku menolongmu pagi

tadi. Akan tetapi, bicara soal bantu-membantu, akulah yang

akan membantumu kelak kalau saatnya tiba untuk

membalaskan sakit hatimu. Sedangkan sakit hatiku sendiri

sudah kubalas impas dan lunas. Pemuda bangsawan keparat

itu telah kubunuh bersama semua hwesio kelenteng itu!

Karena itu aku menjadi buronan dan aku terpaksa lari kepada

Jenderal An Lu Shan yang segera menerimaku karena dia

membutuhkan bantuan kepandaianku.” “Ahhh, engkau baik

sekali, Twako. Dan engkau bernasib buruk sekali seperti aku.

Aku merasa beruntung dapat bertemu dan dapat bersahabat

denganmu. Baiklah aku akan ikut bersamamu menghadap

Jenderal An Lu Shan.”

Demikianlah, Swi Nio ikut bersama Toan Ki dan benar saja

seperti dikatakan laki-laki gagah itu,

dia diterima dengan baik di dalam rombongan orang-orang

gagah bukan perajurit yang menjadi pembantu-pembantu

An Lu Shan. Persahabatannya dengan Liem Toan Ki

menjadi makin akrab dan bahkan tumbuh benih-benih cinta

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

kasih di antara kedua orang yang sama nasibnya ini, Liem

Toan Ki kehilangan isterinya yang dikawininya baru tiga bulan

lamanya, sedangkan Swi Nio kehilangan keperawanannya

karena diperkosa oleh seorang pangeran. Akhirnya keduanya

bersepakat untuk mengikat perjodohan, namun Swi Nio

mengatakan bahwa dia baru mau melangsungkan pernikahan

secara resmi apabila sakit hatinya telah terbalas semua! Maka

kedua orang ini hidup sebagai dua orang tunangan yang

saling mencinta, apalagi karena perjodohan mereka itu direstui

oleh An Lu Shan yang pandai mengambil hati orang-orang

yang memiliki ilmu kepandaian yang amat dibutuhkan

bantuannya.

Pada suatu hari An Lu Shan memanggil Liem Toan Ki dan

Bu Swi Nio, bersama tiga orang tokoh

lain yang merupakan orang-orang berkepandaian t inggi di

antara para pembantu An Lu Shan. Yang seorang

bernama Tan Goan Kok, seorang kakek tinggi besar yang

yang terkenal di utara sebagai seorang ahli gwa-kang

yang hebat. Kabarnya, Tan Goan Kok ini biarpun usianya

sudah lima puluh tahun lebih, dapat

menggunakan kekuatan otot tubuhnya untuk mengangkat

seekor kerbau bunting.Di samping tenaganya yang besar, juga

dia memiliki ilmu silat toya yang sukar dicari bandingannya.

Kakek

kedua adalah pat-jiu Mokai (Pengemis Iblis Tangan

Delapan), seorang kakek yang berusia enam puluh tahun,

pakaiannya penuh tambalan biarpun bersih dan baru, selalu

memegang sebatang tongkat butut dan siapa pun, bahkan An

Lu Shan sendiri, menyebutnya Pangcu (Ketua) padahal kakek

jembel ini hanyalah seorang ketua yang tidak mempunyai

anak buah! Pat-jiu Mo-kai tidak memimpin suatu perkumpulan

pengemis namun nama besarnya sedemikian terkenal

sehingga setiap orang pengemis di manapun juga akan selalu

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

menyebutnya Pangcu! Sampai ketua para perkumpulan

pengemis juga menyebutnya Pangcu! Ilmu tongkatnya amat

tinggi dan kabarnya belum pernah kakek ini dikalahkan lawan

selama dalam perantauannya sampai akhirnya dia dapat

dibujuk membantu An Lu Shan. Orang ke tiga, berusia lima

puluh tahun lebih, berpakaian tosu dan memang dia seorang

penganut Agama To, seorang kakek perantau yang disebut

Siok Tojin. Berbeda dengan kedua orang kakek pertama, Siok

Tojin orangnya pendiam, tidak terkenal, namun ilmu

pedangnya amat hebat sehingga ketika dia diuji, ilmu

pedangnya itu bahkan mampu menandingi tongkat Pat-jiu Mokai!

Setelah Liem Toan Ki, Bu Swi Nio, dan tiga orang kakek itu

menghadap An Lu Shan yang memanggilnya, Jenderal

pemberontak ini lalu menceritakan akan surat dari The Kwat

Lin bekas ketua Bu-tong-pai yang mengajak kerjasama dalam

menentang Kaisar.

“Aku sengaja mengutus Ngo-wi (kalian Berlima) untuk

menjajaki hati wanita berilmu t inggi apakah benar-benar dia

hendak bersekutu. Bu Swi Nio adalah muridnya, maka aku

mengutusnya untuk mengukur hati gurunya. Kalau dia benarbenar

hendak bersekutu, tentu dia tidak akan marah kepada

muridnya yang telah melarikan diri dan menjadi pembantuku.

kau menemani dan menjaga tunanganmu, Toan Ki. Dan

Pangcu bersama dua orang Lo-enghiong hendaknya menguji

kepandaian mereka yang hendak bersekutu, di samping

melindungi mereka berdua ini kalau-kalau terancam bahaya.”

Demikianlah maka pada pagi hari itu, lima orang kaki tangan

An Lu Shan ini telah berada di tepi Rawa Bangkai. Mereka

memandang ke arah pulau di tengah-tengah rawa yang

tampak dari tempat itu dalam jarak yang cukup jauh dan

mereka memandang permukaan rawa dengan wajah

membayangkan kengerian. Sudah banyak mereka mendengar

akan bahayanya melintasi rawa itu. “Saya hanya baru satu

kali mengunjungi tempat ini bersama Subo,” terdengar Swi Nio

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

menerangkan ketika dia ditanya oleh teman-temannya, “dan

ketika itu kami mengikuti Kiam-mo Cai-li yang membawa kami

berlompatan dari tempat ini ke pulau itu. Setiap lompatanya

membawanya ke tanah keras dan aman, akan tetapi tentu

saja aku tidak bisa mengingat lagi karena dia melompatlompat

ke tanah kiri, kadang-kadang membalik lagi.”

“Hemmm, tentu merupakan jalan rahasia yang sukar

diketahui orang luar,” kata Pat-jiu Mo-kai sambil meraba-raba

dagunya yang berjenggot panjang.

“Dan menurut Kiam-mo Cai-li, katanya meleset sedikit saja

merupakan bahaya maut karena di sepanjang jalan penuh

dengan jebakan alam. Kadang-kadang dia membawa kami

meloncat ke bagian yang ada airnya, sampai saya merasa

ngeri, akan tetapi ternyata bagian itu airnya hanya semata

kaki, sedangkan tanah yang kelihatan kering di dekatnya,

menurut keterangannya, bahkan merupakan tempat

berbahaya sekali. Ketika pulang ke Bu-tong-san, Subo sendiri

mengatakan bahwa dia t idak akan berani lancang menempuh

jalan ini sendirian saja karena dia pun tidak dapat mengingat

kembali jalan berliku-liku itu.” “Bagaimana kalau kita

menggunakan tali yang panjang? Biar kau tidak hafal jalan itu,

setidaknya kau pernah melaluinya dan dapat kau mencarinya,

Moi-moi. Kita berempat mengikuti dari belakang,

menggunakan tali yang ditalikan di pinggangmu sehingga

andaikata kau salah jalan dan masuk perangkap, kita dapat

menolongmu dengan menarik tali itu,” kata Liem Toan Ki

kepada kekasihnya. “Begitupun boleh, akan kucoba

mengingat-ingat, akan tetapi harus kau sendiri yang

memegang ujung tali, Koko, karena aku ngeri!”

“Ah, aku tidak setuju! Usul itu tidak tepat, Liem Sicu! ” Tibatiba

Tan Goan Kok berkata dengan suaranya yang parau dan

nyaring.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Akan tetapi aku tidak takut, Tan-lo-enghiong!” Swi Nio

membantah. “Pula, kalau Liem-koko yang memegang ujung

talinya, aku tidak takut apa-apa lagi.

Andaikata aku terjeblos, tentu akan dapat cepat ditariknya

naik lagi.”.”Bukan tidak setuju karena takut, melainkan karena

kalau hal itu diketahui mereka, tentu akan menjadi

bahan ejekan. Perlu apa kita harus mencari-cari jalan

rahasia yang disembunyikan orang? Kita harus mencari jalan

masuk yang lebih gagah, tidak mencuri-curi seperti

segerombolan maling.” Bu Swi Nio mengerti dan

membenarkan pendapat ini. Mereka berlima lalu duduk di tepi

rawa sambil mengerutkan alis, mencari akal bagaimana

mereka akan dapat mengunjungi pulau di tengah rawa itu

sebagai tamu-tamu yang datang secara gagah. Karena kalau

usul Liem Toan Ki dan Swi Nio tadi dilanjutkan, dan sampai

terjadi Swi Nio terjebak ke dalam perangkap alam, tentu hal

ini akan membuat mereka memandang rendah saja. Akan

tetapi, betapapun banyak pengalaman mereka dan betapapun

tinggi ilmu kepandaian mereka, belum pernah mereka

menghadapi kesukaran seperti sekarang ini. Akhirnya Siok

Tojin yang sejak tadi tidak ikut bicara, mengeluarkan suara

mengomel, kemudian berkata, “Dapat! Aku teringat akan

orang-orang Mongol yang menggunakan akal mencari ikan di

rawa-rawa seperti ini!” Empat orang kawanannya memandang

ke arah tosu ini dengan wajah gembira dan penuh harapan.

“Lekas katakan, Totiang, bagaimanakah akal itu?” Tan Goan

Kok bertanya. “Mereka menggunakan bambu-bambu sebagai

perahu.”

“ahh, mana mungkin? Menggunakan perahu menyeberangi

rawa ini? Tentu akan mogok di tengah jalan kalau bertemu

dengan air yang tertutup tanah dan rumput,” bantah Pat-jiu

Mo-kai sambil memandang ke rawa dengan alis berkerut.

“Kita jangan meniru mereka yang membuat rakit dari

bambu. Kita masing-masing menggunakan sebatang bambu

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

saja, ujungnya dibikin runcing,” kata Siok Tojin singkat, akan

tetapi teman temannya sudah dapat menangkap maksudnya.

“Bagus sekali! Tentu kita berhasil! Dengan bambu runcing,

kita dapat meluncur melalui apa saja!” Tan Goan Kok berteriak

girang.

“Hemm, kusangka tidak semudah itu. Kita harus hati-hati,

benar-benar mengerahkan ginkang dan sinkang, kalau sampai

tergelincir tentu kita celaka dan akan makin menjadi bahaya

tertawan lagi. Betapapun juga, akal itu baik sekali. Mari kita

mencari bambu dan membuat dayung,” kata Pat-jiu Mo-kai

yang bersama Siok Tojin dianggap orang tertua dan tertinggi

ilmunya.

Tak lama kemudian, tampaklah lima orang itu meluncur di

atas Rawa Bangkai yang terkenal sukar dilalui orang itu.

Dilihat dari jauh, seolah-olah lima orang itu terbang meluncur

di atas air rawa! Akan tetapi kalau orang melihat dari dekat

barulah tampak bahwa kaki mereka menginjak sebatang

bambu besar yang kedua ujungnya telah diperuncing dan

mereka menggunakan dayung kayu untuk mendorong bambu

yang mereka injak itu meluncur ke tengah. Orang yang tidak

memiliki ginkang dan sinkang jangan mencoba-coba untuk

menyebrang menggunakan cara seperti ini. Bambu sebatang

yang diinjak kaki itu tentu saja amat berbahaya, selain licin

juga dapat berputar sehingga kaki dapat terpeleset. Namun,

dengan kekuatan sinkang, telapak kaki mereka seolah olah

melekat pada batang bambu itu tidak dapat berputar, dan

dengan ginkang mereka lima orang lihai kepercayaan An Lu

Shan itu dapat memperingan tubuh mereka dan bambu yang

mereka injak itu meluncur cepat ke tengah rawa. Mereka

adalah orang-orang yang memiliki ilmu kepandaian tinggi.

Yang paling rendah tingkatannya di antara mereka adalah Bu

Swi Nio, padahal wanita ini sudah amat lihai karena semenjak

kecil dia telah digembleng pula oleh wanita sakti The Kwat Lin,

ratu dari Pulau Es! Diam-diam, dari tempat persembunyian

Tiraikasih Website h