HAMUKTI PALAPA

HAMUKTI PALAPA

Karya : Langit Kresna Hariadi

Sepuluh bulan sudah waktu berlalu dari hujan terakhir, menjadikan udara demikian kering dan sengsara. Itu berlangsung sejak Kasanga (bulan ke sembilan tahun Icaka), terus merayap ke bulan Kasapuluh, Hapit Lemah, Hapit Kayu, Kasa, Karwa, melewati bulan Katelu. Namun, ketika bulan Kapat dan Kalima langit masih saja bersih tanpa selembar pun mendung, keadaan yang demikian sungguh sangat mencemaskan. Manusia, binatang, dan pepohonanmenangis dan semua berharap segala penderitaan itu akan segera berakhir, seperti jalan panjang ke depan selalu menjanjikan ujung meski sebenarnya tanpa ujung.

Daun kering menangis, daun beluntas meranggas. Di antara sesama pepohonan tak lagi saling menyapa. Sepuluh bulan yang lalu, hujan memang turun menggila di mana-mana pada bulan Kanem, Kapitu, dan Kawwalu, menyebabkan banjir terjadi di banyak tempat. Ada saatnya hujan demikian dirindukan, tetapi ada waktunya pula hujan yang turun dengan jumlah air kebablasan berbuah bencana mengerikan. Hujan ada saatnya menjadi anugerah, tetapi hujan berkesanggupan pula menjadi bencana. Seperti api, kecil sahabat baik, jika terlalu besar namanya bencana.

Hujan menyebabkan longsor yang mengubur rumah-rumah di lereng bukit. Hujan pula yang menenggelamkan rumah-rumah penduduk dan memberangus nasib mereka beberapa bulan ke depan karena gagal panen. Apalagi, jika hujan itu masih dibarengi badai dan puting beliung, rumah sekukuh apa pun ambruk dilibas kekuatannya yang sungguh mengerikan dan dahsyat. Puting beliung yang mampu memilin udaradan melibas benda apa pun, rumah diterjang rumah pun berantakan, gajah diterjang gajah pun terlempar. Apalagi, yang hanya kecil-kecil, seperti semut, lalat, dan debu. Namun, yang terjadi kini justru sebaliknya. Sungai-sungai tak berair. Sumur dikeduk makin dalam dan makin dalam. Ketika air sangat dibutuhkan dan masih terlihat mengalir di Kali Brantas, banyak orang menggagas bagaimana cara mengangkat sisa air itu naik ke permukaan.

Gagasan yang tetap sebatas gagasan karena mustahil diwujudkan. Membendung Kali Brantas dan mengangkat airnya sungguh gagasan gila kecuali jika pemilik gagasan itu adalah raja yang punya kewenangan menjatuhkan perintah kepada para kawula tanpa terkecuali untuk bekerja

bahu-membahu membendung sungai itu, seperti dulu pernah dilakukan oleh Prabu Erlangga.

Air memang masih mengalir di Kali Brantas, tetapi hanya sedikit dan dangkal. Sia-sia dan sayang karena air itu terbuang ke laut. Andai saja airitu bisa dinaikkan untuk dimanfaatkan membasahi sawah maka tanaman yang meranggas akan menghijau kembali. Sawah-sawah akan kembali menghampar bak permadani dan penderitaan karena kemarau panjang bisa sedikit dikurangi. Setidaknya, berbagai tanaman akan terbebas dari sesak napas yang membelit.

Kemarau tak hanya meranggas di kampung-kampung pedukuhan, di sawah-sawah, dan pekarangan, bahkan hutan demikian kering. Penghuni hutan bingung, tidak tahu bagaimana menyikapi keadaan yang luar biasa itu. Menjangan yang butuh air, tak tahu ke mana bisa mendapatkan air untuk minum. Rasa haus memancing menjangan mendekati belumbang yang masih bersisa, tetapi belumbang itu menyembunyikan bencana.

Belumbang yang airnya mulai surut yang selalu dikunjunginya menyembunyikan bahaya karena di sana, harimau yang menunggu bersembunyi di balik semak siap menerkam jika menjangan itu berada dalam keadaan lena.

Dalam pada itu, nun jauh tinggi di langit, helang mider anambayang saha tangis kapanasan amalar dres ing jawuh. (burung helang berputar-putar, menangis ia menderita karena hawa panas dan mendambakan turunnya hujan lebat” kalimat tersebut dikutip dari Samanasantaka 7.8). Ke arah mana pun sejauh mata memandang, langit yang bersih justru menggelisahkan hatinya. Jika burung kalangkyang3 bisa demikian menderita, lalu bagaimana dengan burung cataka,4 yang untuk mengobati rasa hausnya hanya dengan mendambakan tetes-tetes air hujan karena jika turun ke belumbang, ia diusir oleh burung-burung kecil yang bersikap galak dan amat tidak bersahabat pada dirinya.

Tak hanya manusia yang berebut air. Karena rupanya duka para

syena5 masih belum seberapa dibanding duka burung cucur6 dan tadah asih.7

Bagi pasangan ini, kesedihan karena belum juga turun hujan masih harus

ditambah dengan rembulan yang menyusut. Masih harus menunggu lama

untuk datangnya purnama sebagai penghibur gundah hati. Cucur tadah

asih swaranya kawelas harep anangis i pangiwang ing wulan.8

Kesulitan pun menggeliat membelit kaki siapa saja. Antara ternak

dan manusia saling berbagi untuk minum, bukan untuk mandi. Bahan

makanan jauh berkurang, menjadi penyebab harga membubung. Maka

beras menjadi jenis makanan yang mewah. Orang lebih suka menjual

beras yang dimiliki untuk mendapatkan jagung yang lebih berlimpah

atau gaplek yang lebih mengenyangkan perut, setidaknya untuk bertahan

sampai musim hujan tiba.

2 Helang mider anambayang saha tangis kapanasan amalar dres ing jawuh, Jawa Kuno, .

3 Kalangkyang, Jawa Kuno, burung elang

4 Cataka, Jawa Kuno, Cucculus melanoleucus

5 Syena, Sanskerta, dalam adiparwa, kata helang dipakai sebagai sinonim kata Sanskerta syena atau rajawali

6 Cucur, Sanskerta, jenis jantan dari burung tadah asih

7 Tadah asih, Sanskerta, sekarang disebut dengan nama burung kedasih (Cucculus flavus)

8 Cucur tadah asih swaranya kawelas harep anangis i pangiwang ing wulan, Sanskerta, cucur, dan

tadah asih suaranya memelas menangisi susutnya rembulan, kalimat tersebut dikutip dari Samanasantaka 136.2.

Bambu muda pun menjadi pengganjal perut sementara. Soal ada

yang keracunan, itu hanya nasib. Beberapa orang mati karena keracunan

gaplek memang sering terjadi. Jenis pohung pandesi9 memang sering

meminta korban karena kandungan racunnya yang pekat. Padahal,

jika pohung pandesi dan yang bukan diletakkan berdampingan, orang

yang tidak awas akan kesulitan membedakan antara keduanya. Bahkan,

dalam keadaan lapar yang tidak tertahan, orang tidak peduli pada racun.

Kematian, bahkan mungkin lebih baik daripada penderitaan yang

berkepanjangan.

Langit demikian bersih sepanjang hari. Tidak terlihat selembar pun

mendung yang dirindukan. Debu mudah mengepul ketika ada kuda

melintas. Pemilik kuda yang tinggal jauh dari Kali Brantas pasti akan

mengalami kesulitan mencarikan rumput. Di sepanjang bantaran sungai,

rumput masih menghijau, tetapi para pemilik kuda atau penyabit rumput

yang menjual jasa terlihat cemas membayangkan ke depan, rumput pun

akan mengering.

Karena hanya tempat itu yang masih menyisakan makanan ternak,

sepanjang pagi sampai petang banyak sekali orang yang mencari rumput.

Di antaranya adalah penyabit rumput yang mencari uang dengan cara

itu. Bagi orang-orang kaya yang memiliki ternak dalam jumlah banyak

juga membutuhkan rumput yang banyak pula sehingga jasa pencari dan

penjual rumput itu sangat membantu mereka.

Kalau rumput itu pun habis, para pemilik kuda, sapi, dan kerbau,

tidak tahu lagi bagaimana bisa memberi kebutuhan makan binatangbinatang

itu. Amat mungkin sapi atau kerbau terpaksa digiring ke jagal

mumpung masih berdaging dan bisa dijual eceran.

”Kemarau kali ini terasa panjang sekali. Kapan, ya, hujan turun?”

keluh seorang perempuan.

Yang mendengar keluhan itu seorang lelaki tetangganya. Orang

itu tersenyum. Tentu saja ia memiliki kerinduan sama dengan yang

dikeluhkan tetangganya itu.

9 Pohung pandesi, jenis ketela pohon yang mengandung racun sianida

Hamukti Palapa 5

”Keluhanmu itu seperti kau seorang istri yang sedang merindukan

kepulangan suami.”

Perempuan itu tidak merasa tersindir atau tak merasakan makna apa

pun di balik kalimat tetangganya yang bertubuh kekar itu. Belakangan

alisnya agak mencuat, senyum yang merekah terasa jengah. Perempuan

itu kemudian melotot.

”Aku merindukan hujan, bukan merindukan suami. Bagaimana

merindukan suami kalau belum punya. Mbok kamu jadi suamiku!

Lamaren10 aku!” jawabnya.

Laki-laki itu membekap mulutnya. Tiba-tiba saja guyonan itu masuk

ke benaknya. Tawanya langsung lenyap entah ke mana.

”Aku melamarmu? Apa kamu mau jadi istriku?”

Memperoleh pertanyaan yang dilontarkan dengan bersungguhsungguh

itu membuat perempuan itu sedikit kaget, tetapi sejenak

kemudian tawanya yang mendadak melebar menyadarkan laki-laki di

sebelahnya untuk tidak berangan-angan terlalu jauh. Meski perempuan

itu belum bersuami, bukan berarti akan menjadikannya sebagai pilihan

terakhir.

Menilik wajahnya yang sebenarnya cukup cantik, sulit dipahami

mengapa sampai di usianya sekarang, ia masih belum bertemu dengan

jodohnya. Mungkin karena mimpinya terlalu muluk, menyebabkan jodoh

sulit mendekat. Perempuan itu berangan-angan bersuami seorang prajurit

dan kalau bisa suaminya adalah seorang pasangguhan.11

Perempuan itu mengedarkan pandangan matanya dari ujung ke ujung

langit, tetapi warna biru kali ini adalah warna yang ia benci. Ternyata

memang ada saatnya warna gelap dan hitam justru dikangeni.

Seorang lelaki bernama Haryo Mendung pernah bingung ketika

ditanya mengapa orang tuanya memberinya nama Mendung. Mendung

10 Lamaren, Jawa, pinanglah

11 Pasangguhan, Jawa Kuno, kata ini sudah tidak ketahuan jejak maknanya, tetapi diduga merupakan

jabatan yang amat tinggi yang bukan berlatar prestasi di pemerintahan, tetapi justru prestasi di bidang

keprajuritan. Diduga jabatan itu diperoleh karena keberanian seseorang di medan perang.

Gajah Mada 6

itu berwarna hitam lambang kegelapan. Tidak ada makna apa pun yang

bisa dibanggakan dari nama Haryo Mendung. Dalam keadaan kemarau

yang terjadi seperti kali ini, terbukti mendung memang dirindukan

melebihi merindukan kekasih hati.

Haryo Mendung sedang berada di tengah sawah ketika tetangganya

menggoda.

”Ayo, Mendung, segera turun hujan.”

Haryo Mendung berbalik dan segera memelorotkan celana yang

dikenakan. Tanpa sungkan, Haryo Mendung mengocori sawahnya dengan

kencing, yang itu pun tidak deras, jumlah airnya jauh dari yang dibutuhkan

kecuali jika orang senegara Majapahit dari ujung Jawa belahan timur

sampai ke ujung Jawa bagian barat dikumpulkan untuk kencing bersamasama,

ditanggung sawahnya sudah bisa dibajak dan ditanami padi.

Orang yang berada tepat di sebelahnya tertawa terkekeh. Perbuatan

itu ditirunya.

Jopa japu tai asu, tak uyuhi sawahku muga-muga udane teka,”12

ucapnya.

Kemarau panjang dan sangat kering kali ini menjadi keprihatinan

siapa pun. Untung keadaan masih belum memburuk. Lumbung-lumbung

kerajaan yang dibangun di beberapa tempat masih penuh. Bahan

makanan yang beredar di pasar masih banyak.

Menghadapi keadaan yang demikian, kerajaan telah siap siaga

menyalurkan bantuan. Pedati dan dokar disiapkan, pintu lumbung pun

dibuka. Pengendalian kegiatan ini dipimpin langsung oleh Prabu Putri

yang muda, Dyah Wiyat Rajadewi Maharajasa, dan disalurkan perintah

itu melalui Kementerian Katrini,13 didukung penuh oleh Sang Panca

12 Jopa japu tai asu, tak uyuhi sawahku muga-muga udane teka, Jawa, jopa japu tahi anjing, aku kencingi

sawahku semoga hujannya turun.

13 Kementerian Katrini atau para mahamenteri katrini terdiri atas rakrian menteri hino, rakrian menteri

sirikan, dan rakrian menteri halu. Jabatan-jabatan ini sudah ada sejak zaman Mataram lama dan masih

berlanjut ke zaman Majapahit. Catatan atas pejabat-pejabat yang menduduki posisi tersebut, antara lain

Negarakertagama pupuh X, Piagam Sidateka yang dikeluarkan Sri Jayanegara 1323, Piagam Berumbung,

dan piagam O.J.O. LXXXIV yang dikeluarkan oleh Tribhuanatunggadewi Jayawisnuwardhani.

Hamukti Palapa 7

Ri Wilwatikta14 yang berada di bawah pengendalian Mahapatih Arya

Tadah. Namun, diselaraskan kegiatan yang dilakukan Sang Panca Ri

Wilwatikta itu di bawah kendali Gajah Mada yang memegang mandat

dari Arya Tadah.

Di beberapa tempat yang dilanda paceklik, bantuan segera disalurkan.

Untuk pemantauan keadaan itu, ratusan prajurit dan tandha15 disebar

ke segala penjuru. Kekeringan luar biasa yang pernah melanda wilayah

Pegunungan Kapur Utara diharapkan jangan sampai terulang kembali.

Bojonegoro memang mendapatkan perhatian melebihi wilayah

mana pun karena nasib wilayah itu yang selalu buruk. Jika hujan, sering

kebanjiran. Bahkan, tanpa hujan turun pun bisa kebanjiran. Hal itu karena

Bengawan Solo melintasi wilayah itu. Jika di wilayah pegunungan batu

di Alasgiri dan sekitarnya hujan turun sehari penuh, luapannya akan

membenamkan Bojonegoro dan sekitarnya.

Pemandangan mengerikan macam itulah yang direkam oleh

Pancaksara16 yang kemudian dilaporkan ke istana. Berkat tindakan yang

cepat, orang-orang Bojonegoro yang kelaparan tertolong. Busung lapar

di Bojonegoro teratasi.

Namun, pada musim kemarau seperti ini, dijamin Bojonegoro

akan mengalami kekeringan luar biasa. Sumur-sumur tidak berair.

Sungai-sungai tidak mengalirkan air. Ternak akan banyak yang mati,

penduduk demikian juga. Busung lapar akan terjadi dan aneka macam

penyakit kulit akan bermunculan karena berhari-hari tak pernah mandi.

Daun-daun meranggas, hutan jati berubah menjadi hutan tombak

yang serba mencuat menuding langit, mencaci awan yang tidak berani

menampakkan diri.

14 Panca Ri Wilwatikta, mungkin mirip kabinet yang terdiri atas seorang patih, seorang demung, seorang

kanuruhan, seorang rangga, dan seorang temenggung.

15 Tandha, abdi istana, searti dengan pegawai negeri di zaman sekarang.

16 Pancaksara, petunjuk menuju ke nama asli Empu Prapanca menurut telaah Prof. Dr. Slamet Muljono

berdasar pada pupuh XXXII kakawin Negarakertagama. Penelusuran yang dilakukan Prof. Dr. Slamet

Muljono sampai pada dugaan bahwa ketika menjabat sebagai dharmadyaksa kasogatan, Prapanca atau

Pancaksara tak lain adalah Dang Acarya Nadendra, juga ada pendapat nama aslinya adalahWinada.

Gajah Mada 8

Untunglah para pejabat Majapahit tidak melupakan wilayah

Bojonegoro dan sekitarnya yang amat menderita. Berpuluh-puluh pedati

bahan makan dikirim dan dibagi secara adil dan merata. Kiriman bahan

makanan itu setidaknya bisa mengamankan kebutuhan makanan dalam

sebulan atau dua bulan ke depan.

Perhatian istana juga menyebar ke wilayah lain yang menderita

karena kekurangan bahan makanan. Juga layak disyukuri karena dari

masa panen di tahun yang lalu, lumbung-lumbung terisi berjejal-jejal.

Gabah yang disimpan mencapai jumlah yang memadai untuk dihadapkan

pada keadaan genting, demikian juga dengan persediaan gaplek yang

terbuat dari ketela.

Nun jauh di sudut pelosok Majapahit, seorang kakek tua

merenungkan keadaan itu. Kakek tua itu masih disebut buyut meski tidak

lagi menjabat buyut. Nama yang dipakainya sekarang Ajar Padmaguna.

Oleh sebuah alasan yang hanya dirinya yang mengerti, Ki Buyut telah

membuang nama aslinya jauh-jauh, seolah ada bagian dari masa silamnya

yang ingin dilupakan, mungkin karena yang terjadi di masa silam itu

terlalu pahit untuk dikenang.

Meski usianya sudah tua, Ki Buyut masih bermata tajam dan

bertelinga awas, juga mampu berpikir jernih. Dengan bertumpu pada

tongkatnya, Ki Ajar Padmaguna masih mampu berjalan mengelilingi

pedukuhannya. Pengalaman hidupnya yang panjang dan memiliki usia

paling tua di kampung itu, menempatkan Ki Ajar Padmaguna menjadi

orang yang sangat dihormati, tidak hanya oleh para tetangga sebelah,

tetapi juga orang-orang dari kampung lain.

Di pendapa rumahnya, Ki Buyut duduk bersila.

Dhahar17 sarapan, Kiai?” sebuah suara muncul dari belakangnya.

Tanpa menoleh, Ki Buyut menggeleng.

”Aku belum merasa lapar dan tidak ingin makan, Nyai. Tetapi,

tolong panggilkan suamimu. Aku mau bicara.”

17 Dhahar, Jawa, makan

Hamukti Palapa 9

Branjang Ratus, nama suami perempuan itu, adalah anak Ki

Buyut satu-satunya yang masih hidup dari yang semula berjumlah tiga.

Bhirawa, anak pertamanya yang mengabdi sebagai seorang prajurit di

Majapahit menjadi pengikut Mahapatih Nambi, mati dalam peperangan

mempertahankan benteng Pajarakan, tidak jauh dari Ywangga atau

Parabalingga.

Lalu, anak kedua juga laki-laki, Banyak Tlangkas, mati dipatuk ular.

Banyak Tlangkas meninggalkan seorang istri yang untungnya tidak perlu

berlama-lama menjanda karena ada lelaki lain yang mau mengambilnya

sebagai istri.

Branjang Ratus yang mengawini Inten Maharsi memberinya empat

orang cucu, dua lelaki dan dua perempuan. Keberadaan para cucu itu

merupakan hiburan yang tidak berkesudahan bagi Ki Ajar Padmaguna.

Cucu-cucu yang disayangi itu kini beranjak remaja. Kepada cucunya

sebagaimana dulu di masa muda Ki Ajar Padmaguna berangan-angan,

Ki Ajar Padmaguna bercerita tentang bagaimana perjalanan hidupnya di

masa muda yang penuh dengan perjuangan dan semangat membara.

Branjang Ratus yang mengetahui ayahnya membutuhkan kehadirannya

bergegas turun dari pohon kelapa yang dipanjatnya. Untuk kebutuhan

masak istrinya, Ki Branjang Ratus harus menurunkan satu janjang kelapa

tua dan satu janjang lagi kelapa yang masih muda. Di pekarangan rumahnya

yang luas, ada hampir seratus pohon kambil,18 yang sebagian di antaranya

menjulang terlalu tinggi, menakutkan siapa pun yang akan memetik.

Ki Buyut Padmaguna membalut tubuhnya dengan kain panjang

yang dibelitkan di bagian pinggang, separuh sisanya disampirkan ke

pundak, menjadi semacam selendang sekaligus jubah. Rambutnya tak

selembar pun yang menyisakan warna hitam, tetapi masih lebat dan

panjang. Itu sebabnya, ukuran gelung kelingnya cukup besar melingkar

di atas kepala.

Jenggot dan jambangnya menyatu dan panjang. Jika duduk,

rambut panjang itu menyentuh pangkuannya. Wibawa yang dimilikinya

18 Kambil, Jawa bagian timur dan tidak sering digunakan di Jawa tengahan, kelapa

Gajah Mada 10

demikian besar, menyebabkan semua orang di pedukuhan tempat ia

tinggal menghormatinya dengan sangat. Untuk berbagai keperluan, para

tetangga dan penduduk pedukuhan yang lain selalu meminta petunjuk

dan restu kepada Ki Ajar Padmaguna.

”Ada apa, Ayah?” tanya Ki Branjang Ratus.

Ki Buyut Padmaguna tidak segera menjawab pertanyaan itu.

Perhatiannya diobral ke langit yang lengang tanpa mega, langit dengan

udara kering kerontang yang menjanjikan kekeringan tanpa ujung.

Begitu bersihnya langit, jangankan mendung, selembar mega pun

tidak ada.

Ki Buyut menoleh dan memandangi anaknya.

”Bibimu memanggilmu. Ia membutuhkanmu untuk melakukan

sesuatu.”

Ki Branjang Ratus mengerutkan kening. Branjang Ratus merasa

yakin, tidak ada tamu yang datang untuk keperluan itu.

”Bibi siapa, Ayah?” tanya Ki Branjang Ratus menegas.

”Bibimu, siapa lagi?”

Meski ayahnya telah mengucapkan dengan tegas, Branjang Ratus

merasa punya alasan untuk belum yakin. Bisa jadi, ayahnya yang sudah

sangat tua itu memasuki tahap pikun sehingga apa yang disampaikan

semata-mata karena otaknya yang telah tua dan tak mampu berpikir

jernih.

Ketidakmampuannya berpikir utuh dan membedakan mana yang

khayal dan mana yang nyata, menyebabkan ia merasa yakin, orang yang

disebut bibi itu sedang membutuhkannya. Padahal, hubungan itu telah

terputus sangat lama. Bahkan, sudah lama sekali mereka tidak bertemu,

terhitung sejak ontran-ontran19 Ranggalawe terjadi.

Meski tinggal di tempat yang jauh, kabar orang yang disebut bibi

itu selalu bisa dipantau.

19 Ontran-ontran, Jawa, geger

Hamukti Palapa 11

”Bibi Sri Yendra, Ayah?” tanya Branjang Ratus.

”Ya,” jawab ayahnya tegas. ”Berangkatlah hari ini juga. Dengan

berkuda maka dua hari yang akan datang kau akan sampai.”

Manakala Branjang Ratus terbungkam, alasan utamanya adalah

karena belum mengerti bagaimana ayahnya bisa tahu, Bibi Sri Yendra

membutuhkannya. Tatap matanya menyiratkan hal itu.

”Tetapi, bukankah tidak ada utusan yang datang membawa warta

itu, Ayah?”

Ki Buyut Padmaguna tidak mengalihkan pandangan matanya dari

pohon jarak yang bergerak melambai-lambai lembut digoyang angin.

Andai pohon jarak punya indra pengantuk, goyangan angin itu akan

mendorongnya bablas ke alam mimpi.

Di pedukuhan dengan udara sejuk itu, pohon jarak ditanam dan

tumbuh di mana-mana sebagai pagar, bahkan dengan sengaja ditanam

di kebun karena tanpa ada pohon jarak, malam hari akan menjadi gelap

gulita. Sebagai bahan bakar penerangan, di samping getah jarak, ada

juga orang yang menggunakan lemak. Namun, karena baunya yang

menyengat, minyak lemak tidak begitu disukai anak-anak.

”Sebaiknya jangan banyak bertanya, pergilah! Kautahu bagaimana

cara yang harus kaulakukan untuk bertemu bibimu,” jawab ayahnya.

Ki Branjang Ratus tidak menjawab. Dengan ikhlas akan dilaksanakan

tugas itu karena baktinya yang tulus dan besar kepada ayahnya.

Ki Branjang Ratus ingat, ayahnya adalah orang yang sidik paningal,20

memiliki mata hati yang awas terhadap mobah mosik ing jagat.21 Maka,

jika Bibi Sri Yendra memang membutuhkannya, mungkin saja Ki Buyut

bisa mengetahuinya cukup melalui hubungan batin22 di keheningan

hati atau bisa pula melalui mimpi. Rasanya memang demikianlah cara

berhubungan antarorang tua yang berjauhan tempat.

20 Sidik paningal, Jawa, bermata tajam

21 Mobah mosik ing jagat, Jawa, segala gerak perubahan di jagat (kaitannya dengan pertanda alam)

22 Hubungan batin, yang dimaksud telepati

Gajah Mada 12

Ki Branjang Ratus mempersiapkan kudanya di kandang, dibantu

dua orang anak lelakinya. Sementara itu, istrinya mempersiapkan bekal

apa saja yang harus dibawa, dibantu dua anak perempuannya.

”Berapa lama Ayah pergi?” tanya anak perempuannya setelah Ki

Branjang Ratus berada di atas kudanya.

”Ayah akan sampai di tempat tujuan dalam dua hari. Waktu yang

Ayah perlukan untuk kembali juga dua hari, mungkin bisa lebih karena

Ayah belum tahu, tugas macam apa yang akan diberikan nenekmu.”

”Belikan aku baju baru, Ayah,” anak perempuannya yang kedua

menyela.

”Ya,” jawab ayahnya.

Maka, sejenak kemudian senyap siang itu pecah oleh suara kuda

yang berderap di jalanan yang membelah pedukuhan. Demikian parah

keadaan karena kemarau panjang itu. Sepanjang jalan yang dilewati, debu

mengepul berhamburan. Keadaan yang serba kering dan kerontang

adalah pemandangan yang akan selalu dilihat oleh Branjang Ratus di

sepanjang perjalanannya.

Begitu keluar dari pedukuhan, Ki Branjang Ratus akan melewati

tepian hutan. Dalam keadaan biasa hutan itu akan menghijau, tetapi kali

ini hutan itu terhapus dari warna hijau, yang tersisa hanya pohon-pohon

tanpa daun.

Berbeda dengan tiga saudaranya, anak bungsu Ki Branjang

Ratus selalu memiliki rasa ingin tahu yang besar. Rasa ingin tahu itu

ditumpahkan kepada kakeknya yang masih duduk bersila di pendapa.

Nala menempatkan diri di belakang, pijatan yang dilakukan ke pundak

Ki Padmaguna membuat kakek berambut putih itu sangat berkenan.

Nala yang punya otak amat cair itu diraih dan dipeluknya.

”Ke mana Ayah pergi, Mbah Kung?”23 tanya Nala.

Ki Buyut memandangi cucunya dengan rasa bangga.

23 Mbah kung, Jawa, singkatan dari simbah kakung, kakek

Hamukti Palapa 13

”Nenekmu sedang membutuhkannya. Ia pergi untuk menemuinya.”

Siapa nenek yang dimaksud, Nala mengetahui cukup banyak.

Akan tetapi, kisah tentang nenek yang belum pernah dilihat wujudnya

itu selalu menarik. Kakeknya selalu punya banyak sempalan peristiwa

yang menarik untuk disimak. Jika kakeknya bercerita tentang Nenek Sri

Yendra, selalu saja ada hal baru yang diceritakan, yang akan disimaknya

cerita itu dengan penuh gairah. Meski belum pernah bertemu dengan

Nenek Sri Yendra, Nala yakin nenek yang belum pernah dilihat wajahnya

itu akan menganggap dirinya benar-benar sebagai cucunya.

”Bagaimana Kakek bisa tahu, Nenek Sri Yendra membutuhkan

bantuan Ayah?” tanya Nala terus mengejar.

Ki Buyut mengelus-elus rambut cucunya.

”Apakah Nenek Sri Yendra sedang kesusahan hingga memerlukan

bantuan?” tambah bocah itu.

”Sama sekali tidak,” Ki Buyut menjawab. ”Nenekmu tidak sedang

mengalami kesusahan. Nenekmu mungkin satu-satunya orang yang tidak

perlu mengalami kesusahan dalam bentuk apa pun. Namun, itu bukan

berarti nenekmu tidak butuh bantuan.”

Nala merasa harus mengejar satu hal yang amat penting.

”Tolong ceritakan, Mbah Kung,” pinta remaja itu, ”bagaimana cara

Mbah Kung tahu Nenek Sri Yendra membutuhkan bantuan? Bukankah

tak ada orang yang datang kemari mewartakan hal itu?”

Jika yang bertanya orang lain, tamu yang datang membawa penasaran

misalnya, Ki Padmaguna tidak akan mau menjawab pertanyaan itu.

Namun, kali ini yang bertanya adalah cucu kesayangannya. Ki Padmaguna

sadar, tidak menjawab pertanyaan itu akan membuat cucunya kecewa.

Mbah Kung semalam bertemu dengan nenekmu melalui mimpi,”

berkata Ki Padmaguna. ”Di tepi pantai dengan ombak yang mengalir

deras, nenekmu mengutarakan butuh bantuan ayahmu. Itulah

karenanya, ayahmu kukirim untuk menemuinya. Ayahmu orang yang

dipilih untuk membantunya.”

Gajah Mada 14

”Bantuan apa?” tanya Nala.

”Nenekmu hanya mengatakan sedang butuh bantuan, tetapi tidak

dikatakan bantuan apa yang dibutuhkan.”

Jawaban itu bagi Nala yang telah mampu berpikir menggunakan

nalar, terasa aneh. Namun, Nala tidak berniat mengejar untuk

memperoleh jawaban yang paling masuk akal. Ingat kelapa muda yang

telah diturunkan ayahnya dari pohon, Nala segera berlari menghambur.

Seperti apa yang dicemaskan, satu janjang kelapa muda yang telah

diturunkan dari pohon menjadi jarahan saudara-saudaranya.

Namun, Nala tak harus kecewa tidak kebagian. Soal memanjat

kelapa, Nala justru sangat mumpuni dengan kelincahan mirip seekor

beruk, binatang sejenis kera, tetapi memiliki ukuran jauh lebih besar.

Ki Buyut turun ke halaman. Kali ini perhatiannya ditujukan ke

gunung yang menjulang tinggi, dengan arah lurus di depan rumahnya.

Mata hati Ki Buyut Padmaguna membaca sesuatu pada gunung itu, hal

yang layak dicemaskan. Padahal, nun jauh di sana, di puncak gunung

itu, tidak ada asap yang mengepul terbawa angin.

Gunung itu Kampud24 namanya. Gunung itu sedang menggeliat.

Tenaga raksasa sedang mendidih di kedalamannya dan amat butuh

penyaluran. Padahal, pada waktu bersamaan, di tempat lain tak jauh dari

Pabanyu Pindah,25 sesuatu di bawah tanah tengah bergerak mengancam

keselamatan siapa pun. Jika tanah itu bergerak, boleh jadi akan merobek

celah kepundan Gunung Kampud dan menumpahkan isi perutnya yang

berupa cairan api dan melontarkan batu-batu menyala dengan ukuran

sebesar gajah.

24 Kampud, nama sebuah gunung pada zaman Majapahit yang kini tak diketahui jejaknya sebagai gunung

yang mana. Penulis mengira Kampud adalah nama lain dari Gunung Kelud yang memiliki banyak riwayat

ledakan dan berada pada jarak paling dekat untuk perubahan dari Kampud ke Kelud. Namun, ada banyak

gunung yang tercatat berada pada jarak dekat beradius 100 hingga 150 km dari kota Mojokerto, antara lain

Anjasmoro, Arjuno, Welirang, dan Kawi yang berada di dekat Blitar. Sementara itu, lebih ke timur lagi ada

Gunung Bromo di Pegunungan Tengger bersebelahan dengan Gunung Mahameru di selatannya.

25 Pabanyu Pindah, nama sebuah tempat yang tercatat dilanda gempa bumi menjelang, bersamaan, atau

sesudah kelahiran Hayam Wuruk

Hamukti Palapa 15

2

Dua hari kemudian.

Perempuan tua berwajah bersih itu membuka matanya. Ia

mendapatkan di depannya telah duduk bersila seorang lelaki. Tidak

banyak cahaya di ruangan yang bersih berbalut bau dupa kemenyan itu.

Gelap malam di ruangan itu hanya diterangi sebuah ublik,26 yang hidup

tak hendak mati pun segan.

”Aku yang menghadap, Bibi,” ucap Branjang Ratus setelah yakin

perempuan itu telah membuka mata.

Perempuan yang dipanggil dengan sebutan bibi itu tersenyum.

”Apakah ayahmu telah meletakkan sebuah tugas di pundakmu untuk

menempuh perjalanan jauh kemari?”

Branjang Ratus yang duduk bersila tak mengubah arah pandang

matanya.

”Benar, Bibi. Ki Buyut mengatakan, aku harus menghadap Bibi Sri

Yendra karena Bibi membutuhkan bantuan. Apakah benar demikian?”

Perempuan yang dipang gil dengan nama Sri Yendra itu

mengangguk.

”Ayahmu bermata awas. Ia tahu aku sedang butuh bantuan,” ucap

perempuan tua itu.

Branjang Ratus tak ingin terlalu lama menunggu jawaban dari rasa

penasarannya, yang ia lontarkan penasaran itu melalui pertanyaan yang

amat langsung ke persoalan.

”Bantuan apa yang Bibi butuhkan?”

26 Ublik, Jawa, lampu bersumbu, berbahan bakar minyak tanah.

Gajah Mada 16

Sri Yendra tidak segera menjawab. Yang ia lakukan justru memejamkan

mata agak lama. Jika dibiarkan hal itu berlalu lebih lama, bisa jadi ia akan

kebablasan tertidur. Akan tetapi, Sri Yendra tidak membiarkan Branjang

Ratus merasa gelisah berlama-lama.

”Bagaimana kabar dan keadaan ayahmu, Branjang Ratus?” tanya

Sri Yendra.

Branjang Ratus juga tak perlu menahan jawaban pertanyaan itu

terlalu lama. Dengan sangat santun dan penuh hormat, Branjang Ratus

mempersiapkan diri untuk menjawab.

”Keadaannya baik, Bibi,” jawab Branjang Ratus.

Sri Yendra tersenyum amat sejuk menebar damai.

”Ceritakan bagaimana keadaan yang baik itu untuk orang seusia

ayahmu.”

Branjang Ratus yang menunduk, kemudian mendongak. Sri Yendra

tersenyum.

”Ayah memang sudah tua, Bibi,” jawab Branjang Ratus. ”Ayah

sudah tidak mampu berjalan dengan bertumpu pada kaki sendiri.

Untuk ke mana-mana, harus ada yang menemani dan memakai tongkat.

Namun, Ayah masih mampu mengelilingi pedukuhan mengunjungi para

tetangga. Telinga dan matanya masih awas, seawas yang muda-muda,

bahkan terbukti Ayah memiliki mata yang lebih tajam yang menuntunku

menghadap Bibi sekarang ini.”

Sri Yendra yang terdiam beberapa jenak sebenarnya sedang menghitung

waktu, telah berapa tahun lamanya ia tidak pernah bertemu lagi dengan

sahabatnya itu. Demikian erat hubungan persahabatan yang terjadi, eratnya

melebihi saudara kandung. Namun, pusaran cakramanggilingan27 memisahkan

mereka. Nasib membawa masing-masing ke perjalanan hidupnya.

”Lalu, berapa jumlah anakmu?” tanya Bibi Yendra lebih lanjut.

”Empat, Bibi. Mereka sudah remaja dan beranjak mandiri menapaki

hidup masing-masing.”

27 Cakramanggilingan, idiom Jawa, pusaran nasib

Hamukti Palapa 17

Ada alasan yang sangat mendasar bagi Sri Yendra untuk mengetahui

lebih banyak bagaimana kehidupan Ki Buyut Padmaguna, juga

bagaimana dengan kabar anak keturunannya. Jika dimungkinkan untuk

menengok, tentu menyenangkan sekali. Namun, hal itu tak mungkin

dilakukan. Usianya yang makin tua serta kesehatannya yang sering

memburuk menyebabkan perempuan itu harus sering berada di biliknya.

Apa yang dilakukan justru seperti menyongsong entah kapan kematian

datang menjemput. Jika Dewa pencabut nyawa itu datang, akan diterima

kehadirannya dengan penuh ikhlas. Tak ada secuil pun isi dunia ini yang

menjadi beban hingga sayang jika harus ditinggalkan, tak juga kekasih

dan permata hati.

Pada satu kurun waktu, kematian bisa menakutkan, tetapi seiring

mengendapnya hati, kematian bahkan ditunggu kehadirannya.

Akhirnya, perempuan bertubuh kurus itu merasa telah tiba saatnya

berbicara langsung ke pokok persoalan.

”Ada sebuah hal penting yang harus kaukerjakan. Bantulah aku

untuk mencuri dua buah benda pusaka penting di Istana Majapahit,

masing-masing adalah cihna nagara28 gringsing lobheng lewih laka29, dan

songsong30 Udan Riwis.”31

Udara mendadak bergolak di ruangan itu. Branjang Ratus bingung.

Mungkin karena pembicaraan menyangkut masalah yang menakutkan,

empat ekor cecak yang melekat di dinding berhamburan bersembunyi.

Seekor tokek berukuran besar, yang selalu menemani perempuan itu

merenda waktu, terpancing rasa ingin tahunya.

Branjang Ratus segera mencuatkan alis. Perintah itu terasa sangat

aneh dan sulit dipahami. Permintaan bantuan itu ternyata untuk mencuri

lembaran kain dan sebuah payung?

28 Cihna nagara, Jawa, lambang negara, untuk zaman sekarang identik dengan lambang Garuda

Pancasila

29 Gringsing lobheng lewih laka, Jawa Kuno, pola geringsing merah

30 Songsong, Jawa, payung

31 Udan Riwis, Jawa, hujan gerimis, nama payung berdasar imajinasi pengarang

Gajah Mada 18

Cihna nagara, siapa pun punya. Orang se-Majapahit memiliki cihna

nagara yang dipasang di pendapa-pendapa rumah. Cihna Majapahit

berupa gambar buah wilwa32 bersinar dengan latar belakang kain

bercorak gringsing lobheng lewih laka. Namun, cihna pusaka bukanlah

cihna seperti pada umumnya karena memiliki nilai sejarah yang oleh

karenanya keberadaan cihna itu dianggap sebagai lambang negara yang

dikeramatkan.

Hal yang demikian karena benda itu merupakan cihna yang pertama

dibuat atas perintah Raden Wijaya,33 yang tentu sangat berbeda dari

cihna yang dibuat dalam jumlah banyak yang dibagikan kepada segenap

rakyat dengan kewajiban harus memasang lambang negara itu di rumah

masing-masing. Di samping cihna nagara, para kawula juga wajib memiliki

bendera gula kelapa. Bendera berwarna merah putih itu dikibarkan pada

hari-hari penting tertentu.

Keberadaan cihna buah wilwa berlatar gringsing lobheng lewih laka

diilhami oleh semangat yang berkobar makantar-kantar, yang terjadi ketika

Raden Wijaya dan segenap anak buahnya yang hanya mengenakan cawat

bercorak gringsing lobheng lewih laka berjuang dan memberikan perlawanan

sekuat tenaga menghadapi pasukan yang dipimpin oleh Kebo

Mundarang,34 Patih Gelang-Gelang Kediri yang menyerbu Singasari

tepat ketika negara sedang dalam keadaan kosong karena segenap prajurit

dikirim ke Melayu. Kemudian, dijadikanlah kain bercorak geringsing itu

sebagai cihna melatari gambar bulat buah maja.

Songsong Udan Riwis juga bukan songsong sembarangan. Benda

berwujud payung bertingkat tiga itu pun dianggap sebagai benda pusaka.

Setidaknya, telah tercatat betapa songsong Kiai Udan Riwis telah berjasa

memayungi Narrarya Sanggramawijaya35 ketika diwisuda menjadi Raja

32 Wilwa, Jawa, nama lain buah maja

33 Raden Wijaya, pendiri dan Raja Majapahit pertama, bergelar Sri Kertarajasa Jayawardhana.

34 Kebo Mundarang, Patih Gelang-Gelang juga disebut dengan nama Mahisa Mundarang karena mahisa

dan kebo mempunyai arti sama, yaitu kerbau.

35 Narrarya Sanggramawijaya, nama lengkap Raden Wijaya menurut piagam Gunung Butak bertarikh tahun

saka 1216 atau Masehi 1294. Dalam Negarakertagama pupuh 45/1 hanya disebut Narrarya, justru berkat

Negarakertagama diketahui ibu Raden Wijaya adalah Dyah Lembu Tal, putri dari Batara Narasinga.

Hamukti Palapa 19

Majapahit pertama pada tanggal 15 bulan Karttika dalam sengkala Ri

Purneng Karttikamasa Pancadasi36 bergelar Sri Kertarajasa Jayawardhana,

yang menggelar pemerintahan selama 16 tahun mulai dari 1293 hingga

1309.

Payung yang ditempatkan sebagai benda berharga milik kerajaan

itu juga digunakan untuk memayungi Sri Jayanegara37 saat dinobatkan

menjadi raja. Payung bertingkat tiga itu juga digunakan memayungi

pasangan temanten ketika digelar pahargyan38 perkawinan Sekar Kedaton

Sri Gitarja dengan Raden Cakradara39 dan perkawinan Sekar Kedaton

Dyah Wiyat dengan Raden Kudamerta.40 Ketika Sri Gitarja dan Dyah

Wiyat dinobatkan sebagai Prabu Putri bersama, wisuda yang dilakukan

dipayungi songsong yang sama, payung Kiai Udan Riwis.

Dua benda yang keberadaannya kemudian dianggap sebagai benda

pusaka itu disimpan dan disatukan dengan benda pusaka lainnya di ruang

perbendaharaan pusaka yang dijaga ketat siang malam oleh beberapa

orang prajurit, yang melakukan penjagaan secara bergilir dengan senjata

selalu siaga dan dalam keadaan terhunus. Di gedung pusaka itu juga

disimpan harta pusaka yang tak ternilai, mulai dari perhiasan sampai

kakawin yang ditulis oleh para pujangga, yang disimpan dalam sebuah

lemari besi dan kuncinya dipegang oleh Prabu Putri.

Tak jelas untuk keperluan apa Sri Yendra memberinya tugas mencuri

dua benda pusaka itu. Padahal, benda itu berada di lingkungan istana

yang dijaga dengan sangat ketat oleh pasukan yang bukan pasukan

sembarangan. Pasukan khusus Bhayangkara tidak hanya menjaga Istana

Majapahit dengan amat ketat untuk memberi jaminan keselamatan

36 Ri Purneng Karttikamasa Pancadasi, Jawa Kuno, tahun 1215 saka atau bertepatan dengan 12 November

sebagaimana tertera dalam Kidung Harsa Wijaya.

37 Sri Jayanegara, pengganti Sri Kertarajasa Jayawardhana, diduga sebagai anak Raden Wijaya dari Dara

Petak (Indreswari). Sumber sejarah lain menyebut Jayanegara adalah anak Permaisuri Tribhuaneswari.

Nama asli Sri Jayanegara adalah Kalagemet.

38 Pahargyan, Jawa, pesta

39 Raden Cakradara, bangsawan dari Singasari, setelah beristri Tribhuanatunggadewi Jayawisnuwardhani

bergelar Sri Kertawardhana.

40 Raden Kudamerta, bangsawan penguasa Wengker dan Pamotan, setelah beristri Dyah Wiyat Rajadewi

Maharajasa bergelar Wijaya Rajasa Hyang Parameswara.

Gajah Mada 20

kepada dua Prabu Putri dan segenap keluarganya. Akan tetapi, juga

termasuk menjamin keutuhan semua benda pusaka yang disimpan rapi

di ruang perbendaharaan pusaka itu. Maka semut pun mustahil bisa

masuk tanpa izin.

Belajar dari pengalaman masa lalu, khususnya ketika pemberontakan

yang dilakukan Ra Kuti terjadi, yang sebagian penyebabnya adalah

pengawalan terhadap istana tidak dikendalikan oleh satu tangan maka

kali ini tugas untuk mengawal istana hanya dilakukan oleh pasukan

khusus Bhayangkara.

Pendek kata, semua ruang yang ada di balik dinding yang

membentang mengelilingi istana dari ujung ke ujung, berada dalam

tanggung jawab pasukan Bhayangkara. Istana tempat tinggal Prabu

Putri Sri Gitarja Tribhuanatunggadewi Jayawisnuwardhani dan Dyah

Wiyat Rajadewi Maharajasa dijaga paling ketat dengan pengawalan

berlapis-lapis. Demikian pula dengan pengawalan istana kediaman Ibu

Suri Tribhuaneswari dan Ibu Suri Gayatri, dikelilingi para prajurit untuk

menjamin keamanan dan ketenteraman kedua janda Raden Wijaya itu.

Beradu punggung dengan Bale Gringsing, di sanalah letak sebuah

bangunan yang dijaga tidak kalah ketat. Cihna gringsing lobheng lewih laka

dan songsong Udan Riwis disimpan di tempat itu.

Tugas yang terasa aneh itulah yang untuk beberapa saat membungkam

mulut anak Ki Buyut Padmaguna. Branjang Ratus bingung, tak tahu harus

bertanya apa.

”Kamu bingung untuk alasan apa aku meminta bantuanmu

melakukan itu?” tanya Sri Yendra.

Branjang Ratus mengangguk.

”Kamu tak usah bingung, Branjang Ratus. Lakukan saja tugasmu

mencuri kedua pusaka itu. Selebihnya percayakan kepadaku. Aku akan

memberi petunjuk atas apa yang harus kaulakukan pada kedua benda itu.”

Lalu, hening yang senyap datang menyelinap menyudutkan Ki

Branjang Ratus yang tak perlu mempersoalkan mengapa tugas nista itu

Hamukti Palapa 21

harus dijalaninya. Branjang Ratus tak perlu berlama-lama berhadapan

dengan bibi yang sangat dihormatinya itu. Branjang Ratus akhirnya

merasa yakin akan melaksanakan pekerjaan yang dilakukan para maling

itu walau sesulit apa pun. Jika Bibi Sri Yendra membutuhkan sesuatu

atau memerintahkan apa pun, diperintah ambyur ke lautan api pun akan

diterjuninya.

3

Kaya bhuto non daging,41 di sebuah hari pada suatu petang ketika

udara mengalir amat mencurigakan, setidaknya itu di mata orang

yang waskita, bermata tajam, mampu melihat wilayah lain yang orang

kebanyakan tidak melihat. Paling tidak dimulai hal itu dari senja dengan

candik ala42 merah yang sangat menyilaukan. Konon, sebagian orang

percaya, kemunculan candik ala yang demikian merupakan awal dari

wabah penyakit mata, penyakit yang sangat menular melalui sentuhan

tangan, bahkan dari udara yang berembus.

Orang yang terkena penyakit itu akan merasa ada pasir di matanya,

sangat risi dan sangat pedih. Menghadapi keadaan seperti itu, siapa pun

yang terkena akan berkeinginan kuat mengusap mata. Celakanya, makin

diusap, rasa pedih itu makin menjadi.

Kemunculan candik ala itu disertai embusan angin halus. Angin yang

berembus halus itulah yang mencuri perhatian karena seperti membawa

mantra yang ditembangkan oleh dukun teluh yang pembacaan baitbaitnya

sanggup menggetarkan dedaunan.

41 Kaya butho non daging, Jawa Kuno, seperti raksasa melihat daging~candra sengkala tahun saka 1253

atau tahun Masehi 1338.

42 Candik ala, Jawa, warna langit merah terbakar di senja hari

Gajah Mada 22

Namun, tanpa candik ala sekalipun, penyakit mata sebenarnya

sedang mewabah di beberapa tempat. Hal itu secara nalar dipicu oleh

kemarau panjang yang menyebabkan debu-debu beterbangan ringan

di udara. Sakit mata kemasukan debu rupanya menjadi awal dari sakit

mata menular karena pada debu yang masuk ke mata melekat bibit

penyakit.

Lalu, getar udara yang aneh dari angin halus itu makin terasa ketika

malam datang, kehadirannya diikuti tanda-tanda yang lain.

”Kaumerasakan udara yang aneh seperti ini?” bertanya Raga

Jampi.

Pring Cluring yang merasakan adanya kejanggalan segera terlonjak.

Pertanyaan itu rupanya membuatnya kaget.

”Jadi, udara?”

Raga Jampi terkejut melihat Pring Cluring terkejut.

”Kamu sedang memikirkan apa?” tanya Raga Jampi.

Pring Cluring bagai orang yang tersadarkan atau mirip orang yang

memperoleh jawaban setelah sekian lama dibuat penasaran. Pring Cluring

mendongak mencari-cari sesuatu yang tak tampak.

Tentu Pring Cluring tidak menemukan apa pun karena apa yang

membuatnya penasaran itu teraba melalui kulitnya, bukan melalui tatapan

matanya. Atau, jika melalui mata, harusnya mata hati yang menangkap

keganjilan itu.

”Aku merasa ada yang tidak wajar. Aku bingung berusaha menandai

apa yang tidak wajar itu. Rupanya udara. Kau benar, memang ada yang

tidak wajar dengan udara kali ini,” jawab Pring Cluring.

Raga Jampi dan Pring Cluring, yang masing-masing prajurit

berpangkat bekel dari kesatuan Bhayangkara, bersama-sama memerhatikan

keadaan di sekitarnya. Raga Jampi yang dari awal diserang kantuk kembali

menguap, ditirukan perbuatan itu oleh Pring Cluring yang juga ikut

menguap.

Hamukti Palapa 23

”Aku mengantuk,” berkata Raga Jampi.

”Aneh,” jawab Pring Cluring. ”Aku juga merasakan. Jangan-jangan

udara aneh ini penyebabnya? Tak biasanya aku merasa mengantuk sejak

datangnya petang. Apalagi, aku juga tidak sedang merasa kekurangan

tidur. Kemarin aku tidak begadang.”

Ucapan Pring Cluring menggiring Bhayangkara Raga Jampi untuk

merenungkan hal yang sama. Setelah memerhatikan dengan lebih

cermat, Bhayangkara Raga Jampi tertular rasa curiga, kantuk yang

dialaminya merupakan kantuk yang tidak wajar, kantuk karena ada yang

memengaruhi.

”Udara yang mengalir ini mengandung kekuatan sirep,” desisnya.

Pring Cluring dan Raga Jampi bergegas mengambil sikap. Bahwa

kantuk yang datang dan berusaha membelitnya adalah kantuk yang tidak

wajar, dicurigai berasal dari pengaruh kekuatan sirep maka hasrat tidur

itu harus dilawan. Kesadaran itulah yang mendorong Pring Cluring

meliuk-liukkan tubuh dan berlari-lari di tempat. Upaya yang dilakukan

itu berhasil mengusir rasa kantuk yang berusaha menyelinap dan

mengusirnya jauh-jauh.

Melihat apa yang dilakukan temannya, Bhayangkara Raga Jampi

meniru. Bhayangkara Raga Jampi bahkan memerlukan lari empat putaran

mengelilingi halaman. Namun, tak hanya Bhayangkara Pring Cluring dan

Raga Jampi yang merasakan keadaan ganjil itu.

Ki Gura Gurnita yang sedang bersemadi di sanggar pamujan

terusik. Laki-laki tua penganut Syiwa itu memerhatikan keadaan di luar

rumahnya. Gura Gurnita tak hanya mengamati keadaan menggunakan

mata wadag,43 tetapi juga menggunakan ketajaman mata hati. Melalui

ketajaman mata hati itulah sesuatu yang orang lain tidak melihat, Ki

Gura Gurnita melihat.

”Akan terjadi peristiwa apa ini?” tanya Ki Gura Gurnita dalam

hati.

43 Wadag, Jawa, lahiriah

Gajah Mada 24

Melihat suaminya keluar dari sanggar pamujan, Nyai Gura Gurnita

menyusul. Perbedaan usia antara Ki Gura dan istrinya terpaut jauh. Ki

Gura berusia lebih dari empat puluh tahun ketika mengawini Nyai Pudak

Jene yang ketika itu berusia dua puluh tahun.

Perkawinan yang telah dijalani lebih dari dua puluh tahun nyatanya

Hyang Widdi belum berkenan memberi keturunan. Kini, Ki Gura

berusia enam puluh tahun surya, usia yang pantas disebut telah

kakek-kakek. Sementara itu, istrinya yang kini berusia empat puluh

tahun tampak masih muda. Kemampuan merawat diri perempuan itu

menjadikannya tampak seperti baru berusia tiga puluh tahun, usia yang

sedang penuh gelegak geliat. Sebaliknya, Ki Gura justru mulai menurun.

Sesuai kodratnya, dua orang dengan selisih usia amat jauh itu tengah

bergerak ke arah berbeda. Ki Gura makin meredup, Nyai Pudak Jene

justru makin membara.

”Ada apa?” tanya Nyai Pudak Jene.

Ki Gura Gurnita belum menjawab pertanyaan itu. Pusat perhatian

Ki Gura masih tertuju pada upaya mencari jawab keadaan janggal yang

mengalir bersama udara. Tepat di depan rumahnya, pasar Daksina44

sudah tak ada jejak geliatnya sejak siang menjelang sore.

Pasar itu sepi. Biasanya di depan pasar masih ada orang yang

berjualan penganan, di antaranya berjenis-jenis makanan yang digoreng.

Namun, sejak malam ini orang yang biasanya berjualan itu tidak bisa

berjualan lagi. Penyakit yang tidak jelas apa namanya menyebabkan

tubuhnya lumpuh sebelah. Banyak orang bertanya-tanya, ke mana

perginya, banyak pula yang merindukan.

”Kau merasakan ada sesuatu yang aneh?” tanya Ki Gura Gurnita.

Nyai Gura memandang suaminya dengan tatapan mata larut.

”Apakah ada yang aneh dengan udara ini?” balas Nyai Pudak

Jene.

44 Daksina, Jawa, selatan

Hamukti Palapa 25

Ki Gura menengadah memerhatikan bintang-bintang yang

gemerlapan di langit. Langit memang bersih dan tak ada rembulan.

Itu sebabnya, gugusan bima sakti terlihat amat jelas. Tak sulit untuk

menemukan bintang waluku45 dan menandai bintang yang disebut lintang

panjer sore46 yang berada jauh di langit barat siap untuk tenggelam itu. Di

bentang langit yang luas tanpa batas, Ki Gura Gurnita tidak menemukan

bintang yang dicarinya.

Ki Gura berharap jangan sampai bintang itu muncul karena

andaikata lintang kemukus47 pemilik ekor memanjang bercahaya itu

muncul, Ki Gura meyakini hal itu sebagai pertanda bakal muncul sebuah

bencana.

Kisah di masa silam, Ki Gura meyakini. Adalah tanah Jawa masih

berada dalam kekuasaan negeri Medang Kahuripan ketika lintang kemukus

itu muncul di tengah malam. Pengaruh buruk dan jahat dari bintang

berekor itu dimanfaatkan dengan baik oleh seorang perempuan penyihir

dari Desa Ghirah. Perempuan itu tak hanya dari perbuatannya yang

mengerikan, penampilannya juga.

Tersinggung karena anak semata wayangnya belum laku kawin, Nyai

Calon Arang menyebar tenung. Kekuatan sihir yang mengalir bersama

udara menjelma menjadi gugusan penyakit yang mematikan. Siapa yang

sakit sore hari akan mati pagi harinya. Yang jatuh sakit pagi akan mati

sore harinya. Yang sakit siang akan mati malam harinya dan yang tertular

penyakit itu malam akan mati pada siang harinya. Yang sekadar batuk

bisa menjadi malapetaka.

Prabu Erlangga dan Patih Narottama kewalahan. Namun, Empu

Barada mampu menolong dan mengatasi keadaan. Melalui salah seorang

muridnya yang bernama Empu Bahulu, yang diperintah menyelinap,

bahkan mengawini Ratna Manggali, berhasil diketahui rahasia kekuatan

45 Waluku, Jawa, arti harfiahnya alat untuk membajak sawah, sebagai nama bintang sebenarnya merupakan

gabungan dari beberapa bintang yang membentuk bajak. Posisi dan kemunculan bintang ini menjadi

pedoman bagi petani dalam menentukan saat bercocok tanam.

46 Lintang panjer sore, Jawa, planet Mars

47 Lintang kemukus, Jawa, bintang berekor/komet

Gajah Mada 26

Nyai Calon Arang yang ternyata berasal dari kitab tenung yang

dimilikinya. Melalui kekuatan rahasia itu, Nyai Calon Arang berhasil

dihancurkan.

Bersamaan dengan kematian Nyai Calon Arang, udara kembali

bersih, matahari kembali berseri, candik ala tak perlu berkunjung dengan

warna menyilaukan, dan lintang kemukus yang menakutkan tak tampak

lagi.

Ki Gura Gurnita tak perlu resah karena bintang yang dicemaskan

kemunculannya itu tak menampakkan diri. Namun, udara yang mengalir

kali ini benar-benar membuatnya curiga. Keadaan yang mampu

membangkitkan semua bulu kuduknya.

”Akan terjadi peristiwa apakah di istana?” tanya Ki Gura Gurnita.

Semula Nyai Pudak Jene menemani suaminya berdiri memerhatikan

malam yang hitam. Tak kuat berdiri terlalu lama karena lelah terperas

tenaganya di siang sebelumnya, Nyai Gura Gurnita berbaring di lincak.

Perempuan itu telentang sambil menghitung ada berapa jumlah bintang

atau mengumbar khayal.

Nyai Gura Gurnita membaringkan diri sambil mengumbar anganangan.

Akhir-akhir ini Nyai Gura Gurnita memang sering mengumbar

angan-angan. Jarak usianya yang terlalu jauh dari suaminya itulah yang

menyebabkan ia sering mengumbar angan-angan. Padahal, meski anganangan,

jika itu menyangkut lelaki lain, mengangankan orang lain yang

bukan suaminya, hal yang demikian sudah bisa dianggap perselingkuhan.

Akan tetapi, senyampang masih manusia, manusiawi manusia melakukan

kesalahan.

Ki Gura Gurnita yang melihat istrinya menguap sejenak setelah

berbaring, mencuatkan alisnya tanda curiga.

”Belum terlalu lama kamu sudah mengantuk, Nyai?” tanya sang

suami.

”Banyak sekali yang kukerjakan tadi siang. Aku lelah sekali,” jawab

Nyai Pudak Jene.

Hamukti Palapa 27

Untuk memuasi rasa curiganya, Ki Gura Gurnita turun ke jalan di

depan rumah. Di arah barat terlihat barisan obor yang ditancapkan di tepi

sepanjang jalan. Demikian pula di arah timur, barisan obor memanjang

dinyalakan untuk menerangi jalan. Bahan baku obor itu adalah cairan

minyak kental yang diambil dari sebuah sumur di daerah Tuban.

Minyak kental kehitam-hitaman macam itu banyak dijual di pasar.

Untuk keperluan menyalakan obor yang dibutuhkan dalam jumlah yang

banyak, biasanya digunakan minyak lemak atau minyak jarak. Namun,

sejak minyak hitam ditemukan dengan sengaja dari sebuah sumur

di wilayah Bojonegoro dan Tuban atau bahkan menusuk lebih jauh

ke Cepu, penggunaan minyak lemak dan minyak getah pohon jarak

dihentikan. Pembuatan minyak jarak membutuhkan pohon jarak yang

banyak. Sementara itu, bau minyak lemak amat menyengat di hidung,

pembuatannya pun dirasa menjijikkan.

”Akan terjadi peristiwa apakah malam ini? Keadaan demikian

mencurigakan?”

Hari memang senyap sejak dari awal. Kotaraja langsung sepi

demikian senja lewat. Biasanya masih ada orang lalu-lalang yang dapat

ditandai dengan obor yang dibawanya atau derap kuda yang ditunggangi

para prajurit yang melakungan tugas nganglang.48

Akan tetapi, udara aneh yang menyelimuti seluruh wilayah di atas

kotaraja menyebabkan semua orang menjadi malas. Mereka yang sudah

tidur merasa makin lelap dengan mimpi yang indah. Sementara itu, yang

bertugas jaga harus berusaha melawan rasa kantuk yang datang dengan

mati-matian.

Di lingkungan istana, beberapa prajurit bergelimpangan disergap

kantuk yang amat kuat dan beberapa yang lain dengan sekuat tenaga

memberikan perlawanan. Prabu Putri Tribhuanatunggadewi telah lelap

di pelukan suaminya yang tidur mendengkur. Tidur itu datangnya bahkan

lebih awal dari biasanya.

48 Nganglang, Jawa, berkeliling meronda menjaga keamanan wilayah

Gajah Mada 28

Pun demikian dengan keadaan Prabu Putri Rajadewi Maharajasa

yang telah merambah luasnya wilayah mimpi dengan berbantal pelukan

sang suami yang juga mendengkur keras. Rangsang kantuk yang demikian

kuat itu juga menyergap para prajurit yang menjaga keamanan Ibu Suri

Tribhuaneswari, semuanya bergelimpangan tanpa daya. Akan tetapi, sekuat

apa pun serangan kekuatan sirep itu, tak mampu menjebol pertahanan

Ibu Suri Gayatri yang demikian larut dalam pemusatan semadi.

Ibu Suri Gayatri yang semula memejamkan mata, tetapi tidak

sedang tidur justru terbangun. Dengan penuh perhatian, Ibu Suri Gayatri

memerhatikan keadaan. Tak jelas apa alasan yang ia punya, rasa penasaran

itu menggiring Ibu Suri Gayatri termangu. Di biliknya, tak seorang pun

menemani Ibu Suri Rajapatni Biksuni Gayatri.

Rasa penasaran itu mendorong Ibu Suri Gayatri bangkit dan berjalan

keluar dari sanggar pamujan untuk melihat apa yang terjadi. Ibu Suri

Gayatri segera mengerutkan kening melihat para prajurit Bhayangkara

yang melaksanakan tugas menjaga keamanan bergelimpangan, tak satu

pun yang tidak.

Tidak perlu waktu terlampau lama bagi Ibu Suri Gayatri untuk

menandai adanya sesuatu yang tidak wajar. Namun, boleh jadi Ibu Suri

Gayatri tak tahu harus bagaimana menyikapi keadaan itu atau karena

alasan lain, janda mendiang Raden Wijaya itu tidak melakukan apa pun

menyikapi keadaan yang tidak wajar itu.

Di pendapa rumahnya, Ki Gura membutuhkan istrinya untuk

diajak berbincang, setidaknya sebagai lawan bicara mengupas keadaan

yang ganjil itu. Akan tetapi, cepat sekali kantuk itu menyergap. Hanya

sejenak, Nyai Gura sudah lelap dibuai mimpi.

”Jika ini kekuatan sirep, sungguh jenis sirep yang luar biasa kuatnya,

wilayah kekuatannya sangat luas. Maling mana yang berniat mencuri di

istana?” berucap Ki Gura Gurnita untuk diri sendiri.

Sirep adalah jenis kekuatan tidak kasatmata yang konon terlahir

melalui olah batin. Sirep dilepas ke udara mempunyai pengaruh terhadap

wilayah kekuatan di sekitarnya. Rasa kantuk akan menyergap siapa pun

Hamukti Palapa 29

yang berada di wilayah itu. Karena memiliki ciri yang amat khas macam

itulah, ilmu sirep banyak dipelajari maling. Maling yang ingin berhasil

amat berkepentingan memiliki ilmu macam itu.

Konon, maling juga mempelajari ilmu menghilang yang orang

menyebut kemampuan itu panglimunan. Benar adakah kemampuan

macam itu, sejauh ini tak seorang pun yang mampu memberi bukti.

Ki Gura melepas kain penghangat tubuh yang dipakainya dan

diselimutkan ke tubuh istrinya. Ki Gura tidak berniat membangunkan

meski Ki Gura berniat pergi ke jalan untuk memerhatikan keadaan aneh

itu lebih cermat. Namun, di jalan atau bahkan yang ia rasakan ketika

sampai di depan Purawaktra tetaplah sama. Udara aneh itu mengalir di

mana-mana bagaikan sulur gurita yang merayap dan bergerak, membelit

apa pun.

Meski Ki Gura mampu menandai keadaan yang aneh itu, ia tetap

tidak mampu menebak peristiwa apa yang akan datang. Ke depan, ia

melihat gelap tanpa cahaya.

”Sepi sekali,” kata Ki Gura Gurnita dalam hati.

Meski biasanya setelah malam sedikit menukik memang sepi, sepi

kali ini terasa berbeda. Suara burung bence yang melengking menyayat

terdengar di mana-mana serasa terjemahan sebuah kegaduhan. Ki

Gura Gurnita mengelus-elus janggutnya yang putih panjang sambil

mencuatkan alis setelah sekali lagi mendengar suara ayam terdengar

gaduh di kejauhan.

”Burung bence di langit dan ayam yang gaduh itu justru lebih peka.

Mereka lebih dulu tahu sesuatu akan terjadi. Jika akan terjadi gempa,

binatang-binatang justru bisa membaca lebih awal daripada manusia,”

batin Ki Gura Gurnita.

Ki Gura Gurnita terus mengayunkan langkah kakinya sambil

memuaskan rasa ingin tahunya. Ketajaman mata batin kakek tua itu

berbenturan dengan temuan-temuan yang makin membuatnya penasaran.

Makin sempurna rasa heran Ki Gura Gurnita ketika kembali ke

rumah. Tiga ekor sapi piaraannya melenguh cemas. Ki Gura Gurnita

Gajah Mada 30

yang bergegas ke kandang mendapatkan sapi-sapinya memamerkan

kecemasannya yang secara lugas terbaca dari lenguhan dan gerakannya

ke sana kemari. Dengan obor Ki Gura Gurnita menerangi tanah karena

mungkin ada ular yang menyebabkan sapi-sapinya gelisah. Namun, ular

yang dicurigainya tak tampak geliatnya.

Ki Gura Gurnita menenangkan sapi-sapinya. Elusan di punggung

yang dilakukan pada sapi-sapi itu membuat mereka tenang. Kehadiran

Ki Gura Gurnita setidaknya menenteramkan hati mereka.

Menyadari benar ada yang tak wajar dengan kehadiran malam itu,

adanya serangan rasa kantuk yang mengalir di udara yang dicurigai

merupakan kekuatan sirep yang amat besar, juga atas nama kecurigaannya

pada tanda-tanda aneh yang ditunjukkan para binatang, Ki Gura Gurnita

dengan sengaja menunggu sesuatu yang belum diketahui, tetapi mampu

memberangus sebagian keberaniannya.

Ki Gura Gurnita cemas. Di pendapa rumahnya yang sederhana, Ki

Gura Gurnita menempatkan diri duduk di dekat istrinya yang lelap di

atas dingklik49 panjang. Ki Gura berusaha membangunkan, tetapi Nyai

Pudak Jene seperti orang mati. Dikilik-kilik telapak kakinya sekalipun,

istrinya tidak bangun, padahal telapak kaki dan pinggang merupakan

daerah yang peka geli.

Dan, malam bergerak menukik kian tajam. Ki Gura Gurnita sama

sekali tidak terpancing oleh aliran udara yang mengandung kekuatan

sirep. Kecurigaan yang begitu kuat menyebabkan Ki Gura makin

kuat pula dalam memberikan perlawanan. Makin kuat rasa kantuk itu

menekannya, makin kuat pula Ki Gura melawan.

Rupanya tak hanya Ki Gura Gurnita yang menandai keadaan sangat

ganjil itu. Empu Krewes50 yang telah tidur justru terbangun. Jika bagi

orang lain kekuatan semacam sirep yang mengundang rasa kantuk akan

49 Dingklik, Jawa, kursi panjang terbuat dari bambu

50 Empu Krewes, nama lain dari Mahapatih Amangkubumi Arya Tadah. Empu Krewes menggantikan

Mahapatih Dyah Halayudha. Sementara itu, sebelum Dyah Halayuda atau Kala Yuda, jabatan tersebut

dipangku oleh Mahapatih Nambi. Sebagian ahli sejarah menduga Dyah Halayudha tak lain adalah

Mahapati.

Hamukti Palapa 31

melelapkan dan membenamkan orang yang telanjur tidur, sebaliknya

bagi Empu Krewes. Aliran udara itu malah mencurigakan. Simpul saraf

dan mata hatinya yang peka segera membangunkan tidurnya. Mahapatih

Arya Tadah serentak bangkit.

Empu Krewes adalah orang yang sangat kenyang makan asam

garam kehidupan. Perjalanan hidup sekaligus pengalaman hidupnya

yang panjang menjadikan Empu Krewes bermata hati peka. Sesuatu

yang mengalir di udara itu dengan segera dicurigainya. Empu Krewes

bergegas menuju halaman untuk memerhatikan keadaan dengan lebih

cermat.

Arya Tadah mencuatkan alis melihat tidak seorang pun prajurit

yang bertugas menjaga keamanan wisma kepatihan yang terjaga. Semua

bergelimpangan bagai mayat.

Dalam keadaan yang demikian, jika ada pihak yang datang berniat

jahat, akan bisa berbuat apa pun dengan leluasa, bahkan jika keadaan

yang mencurigakan itu bagian dari rencana negara lain yang berniat

menyerbu. Andaikata hal itu benar terjadi, sungguh Majapahit bisa

dengan mudah digilas. Sekuat apa pun bala tentara yang dimiliki jika

sedang dalam keadaan terlena, akan mudah digilas.

Namun, Arya Tadah tidak berprasangka sejauh itu. Terlalu

berlebihan jika keadaan alam yang agak aneh itu berkaitan dengan

serangan musuh yang akan menyerbu negara. Sebagaimana Ki Gura

Gurnita, Arya Tadah juga curiga sesuatu entah apa akan terjadi.

Langit begitu bersih ketika peristiwa yang ditunggu itu akhirnya

datang. Ki Gura Gurnita sama sekali tidak menyadari sesuatu mengancam

rumahnya. Lampu ublik yang diletakkan di atas lemari bergerak liar

menggeliat-geliat seperti lidah ular yang terjulur dalam upaya menandai

udara dan memindai letak calon mangsanya. Bukan hanya lidah apinya

yang mengombak, tetapi wadahnya juga mengombak bergerak. Tentu

karena lemari tempat ia diletakkan di atasnya bergerak. Begitu keras

kekuatan yang menggoyang itu hingga lemari itu ambruk.

”Gempa bumi,” Ki Gura Gurnita berteriak.

Gajah Mada 32

Dengan sekuat tenaga, Ki Gura Gurnita membangunkan istrinya.

Pesona kantuk itu begitu kuat, membuat Nyai Pudak Jene seperti orang

mati. Barulah ketika suaminya berteriak dengan amat keras, Nyai Pudak

Jene terkejut dan bingung karena goyangan kuat yang menerpanya. Nyai

Pudak Jene mengira goyangan itu berasal dari suaminya yang sudah amat

dikenalinya. Ternyata bukan, goyangan itu bukan goyangan yang lembut

dan menggugah, tetapi goyangan yang kasar dan makin kasar.

”Ada apa?” tanya Nyai Pudak Jene.

”Gempa bumi!” teriak Ki Gura Gurnita.

Beruntung dan sekaligus bernasib sial Ki Gura dan istrinya.

Beruntung karena punya waktu sejenak untuk menyelamatkan diri karena

sejenak kemudian, pendapa yang telah lapuk itu ambruk menimbulkan

suara berderak-derak. Tanah yang bergoyang itu ternyata masih

berkelanjutan, menggoyang lebih keras, menyebabkan Ki Gura Gurnita

dan istrinya terjerembab di halaman rumahnya.

Sebuah pohon kelapa yang tidak mampu mengatasi goyangan

itu patah tepat pada pangkalnya. Pohon kelapa itu ambruk dengan

memberikan sapuan yang membahayakan jiwa. Masih beruntung Ki

Gura Gurnita punya kesempatan untuk berguling menghindar sambil

menyeret istrinya.

Dan, bibit api mulai bekerja. Api dari lampu ublik yang diletakkan

di atas lemari ambruk jatuh ke amben, minyaknya tumpah membasahi

kasur dan bantal yang berisi kapas randu. Dengan segera api itu bergerak

membakar bantal, membakar kasur, menyambar atap, dan memberangus

apa pun yang dijumpainya. Apalagi, rumah Ki Gura Gurnita beratap

rumbia, bahan yang amat mudah terbakar.

Ketika panik melanda, Ki Gura Gurnita berusaha keras menyelamatkan

sapi-sapi di kandang. Bersamaan dengan itu, secara serentak tidur

lelap yang melanda seluruh sudut kota terbangun. Ada banyak orang

yang mengalami nasib buruk, bahkan lebih buruk dari Ki Gura Gurnita.

Rumah ambruk terjadi di beberapa tempat, sebagian disempurnakan

dengan terjadinya kematian. Sebagian penduduk yang lain ada yang

kebingungan, tak paham pada apa yang terjadi.

Hamukti Palapa 33

Dan di kejauhan, kejauhan sekali yang sebenarnya tidak tampak

dari ibu kota. Dua buah peristiwa berlangsung berurutan, bahkan masih

berada dalam tabuh51 yang sama.

Adalah penduduk di Pabanyu Pindah yang terkejut bukan alang

kepalang ketika tidak ada hujan tidak ada angin, tanah tempat berpijak

bergoyang amat kasar, menyebabkan tubuh-tubuh limbung dan

berjatuhan, tanah-tanah merekah, dan tiang saka ambruk.

”Gempa bumi, ada gempa, ada gempa,” teriak seseorang.

Lindu!52 Awas lindu!”

Pontang-panting semua orang menyelamatkan diri. Ada yang

beruntung bisa selamat, ada pula yang celaka karena tak punya

kesempatan bahkan untuk menyadari apa yang terjadi. Ketika benak

belum sadar sepenuhnya, rumah yang didiami roboh menimpa.

Sebuah sungai semula mengalirkan air dengan tenang, tetapi gempa

yang terjadi telah merobek tanah di bawahnya, membelah sangat panjang.

Seketika air yang semula berlimpah tersedot dalam waktu sangat cepat,

membingungkan para ikan dan binatang lain yang tinggal di dalamnya.

Ikan-ikan yang kehilangan air sontak menggelepar dan merasakan sakit

tidak terkira. Hal itu karena kebutuhan akan air untuk bernapas tidak

diperoleh, sebagaimana orang yang dicekik lehernya, kebutuhan udara

yang tidak diperoleh sakitnya tiada terkira.

Kadya gabah den interi,53 kepanikan terjadi di mana-mana. Apalagi,

ketika gerak goyangan itu masih berlanjut beberapa lama. Rumah renta

ambruk, rumah yang kukuh pun ambruk.

Gempa amat dahsyat itu rupanya juga menggoyang kepundan

Gunung Kampud dan menyobek sebuah celah. Akibatnya, desakan

kekuatan yang mendorong-dorong dari dalam bagai menemukan

51 Tabuh, Jawa, pukul (jam). Penunjuk waktu zaman itu adalah bende dipukul, jika dipukul tujuh kali maka

kira-kira sama dengan sekarang jam menunjukkan pukul 7 pagi.

52 Lindu, Jawa, gempa

53 Kadya gabah den interi, pepatah Jawa, bagaikan gabah ditampi~gambaran tingkah polah orang yang

kebingungan.

Gajah Mada 34

celahnya. Ledakan gemuruh terjadi, melontarkan penyumbat, dan

batu-batu beterbangan. Bukan sekepalan batu-batu yang melesat ke

udara itu. Juga bukan sebesar kelapa, pun bukan seukuran kambing.

Batu-batu itu bahkan sebesar kerbau yang berubah menjadi benda

amat ringan.

Maka, bayangkanlah nasib seekor harimau dengan ukuran paling

besar dan mengaku sebagai raja hutan, nasib sial menimpa harimau

itu karena batu membara yang melesat ke langit jatuh tepat menimpa

tubuhnya. Ambyar tubuh harimau itu menyemburatkan apa pun isi

perutnya.

Warna merah meleleh keluar dari puncak Kampud. Kekuatan

mahadahsyat dari dalam bumi berhasil menjebol kepundan dan

melontarkannya hingga berserakan ke segala penjuru. Udara panas,

jauh lebih panas dari api yang mampu mendidihkan air, melesat turun

bersama lelehan bubur api dan membakar apa pun, membakar tanah,

membakar pohon-pohon, membakar sepasang ular besar yang tak pernah

bermimpi akan mati terbakar, juga landak, juga harimau yang mengintai

kijang. Harimau mati, kijangnya juga, semut-semut, luwing.

Batu-batu sebesar sapi dan gajah yang melesat ke angkasa menjadi

bukti betapa besar kekuatan itu. Debu mengepul membumbung tinggi

ke udara, menyemburkan apa saja yang berada dalam perut gunung yang

sedang murka dan hangus memberangus hutan di sepanjang lereng yang

dilewati oleh lahar merah membara. Warna merah yang mengalir tampak

sangat indah dari kejauhan, memberi gagasan bagi para kawi menulis

keadaan itu melalui bait-bait syair.

Dari pendapa wisma kepatihan, Mapatih Amangkubumi Arya Tadah

merasakan denyut jantungnya berhenti berdetak. Dengan tertatih-tatih,

Arya Tadah menuju penjagaan di depan. Beberapa orang terbangun

kebingungan, beberapa yang lain masih lelap. Terjebak antara sadar

dan tidak, beberapa prajurit terlihat berjalan terhuyung-huyung bagai

orang mabuk.

”Gempa bumi,” Arya Tadah memberi penjelasan.

Hamukti Palapa 35

Namun, bersamaan dengan itu, warta tentang hadirnya gempa itu

dengan segera menjalar. Kentongan yang dipukul berasal dari dekat

rumah Ki Gura. Itulah sebabnya, yang terdengar kentongan bernada

isyarat kebakaran. Isyarat kentongan itu dengan segera menjalar. Gayung

bersambut, warta itu merata ke seluruh sudut kota dan dengan cepat

pula menyebar ke luar dinding batas kotaraja, sahut-menyahut saling

balas.

”Ada apa?” seseorang berteriak.

”Ada kebakaran,” seseorang berteriak.

Namun, orang yang lain meneriakkan kata-kata berbeda.

”Gempa bumi, ada gempa bumi. Semua keluar, jangan ada yang

masih berada di dalam. Ayo, semua lari keluar.”

Patih Gajah Mada54 adalah salah satu dari mereka yang terjebak di

dalam pusaran kekuatan sirep yang membuatnya pulas. Gajah Mada

beruntung. Meski rumahnya ambruk, derak yang gemuruh menjelang

roboh memberinya kesempatan untuk lolos keluar. Ia lakukan itu tidak

melewati pintu, tetapi langsung menjebol dinding. Jika Gajah Mada

keluar menyelamatkan diri lewat pintu, bisa diyakini ia tidak akan selamat.

Dengan takjub, Gajah Mada mencermati apa yang baru terjadi. Kekuatan

yang mampu menggoyang pilar rumahnya sampai berantakan macam

itu tentulah kekuatan yang tak bisa diukur.

Gajah Mada yang memerhatikan rumahnya, dilibas rasa cemas.

Bukan rumahnya yang membuatnya cemas, tetapi keadaan istana. Gajah

Mada berlari kencang ke kandang kuda yang tidak ikut roboh. Sejenak

kemudian, Gajah Mada membalapkan diri membawa kudanya berderap

menyusur jalan di luar benteng yang akan membawanya langsung ke

istana.

54 Patih Gajah Mada, pada masa pemerintahan bersama yang diselenggarakan Sri Gitarja

Tribhuanatunggadewi Jayawisnuwardhani dan Dyah Wiyat Rajadewi Maharajasa, Gajah Mada ditarik ke

Kotaraja Majapahit dari kedudukannya yang semula sebagai Patih di Daha, menjadi salah seorang patih

di Majapahit, tetapi masih belum patih utama atau mahapatih amangkubumi. Hingga pemberontakan

Sadeng dan Keta berhasil ditumpas, jabatan patih utama atau mahapatih amangkubumi masih dipegang

oleh Arya Tadah.

Gajah Mada 36

Gajah Mada merasa lega melihat tak banyak rumah yang ambruk.

Setidaknya dari rumahnya berada menuju ke istana, ia hanya melihat sebuah

rumah yang ambruk. Dengan rumahnya sendiri, Gajah Mada menghitung

dua rumah. Gajah Mada merasa lega jika kemalangan yang terjadi itu

hanya kemalangan yang menimpa dirinya, tidak menimpa istana.

”Kenapa dengan rumahku?” desis Gajah Mada. ”Mengapa hanya

rumahku yang ambruk dan rumah-rumah yang lain tidak, padahal

rumahku bukan rumah yang jelek, bahan bangunan rumahku terbuat

dari kayu pilihan.”

Yang membuat Gajah Mada merasa tenang adalah Tatag Rambat

Bale Manguntur55 masih utuh. Gajah Mada merasa lebih lega lagi setelah

melihat Prabu Putri Tribhuanatunggadewi Jayawisnuwardhani dan Prabu

Putri Rajadewi Maharajasa56 dalam keadaan selamat, masing-masing

berdiri didampingi suaminya. Tribhuanatunggadewi digandeng Sri

Kertawardhana. Sedangkan, Rajadewi Maharajasa berdiri berdampingan

dengan suaminya, Wijaya Rajasa Hyang Parameswara.

Hampir tiga tahun setelah kematian Jayanegara, masing-masing

Prabu Putri masih belum dikaruniai putra. Kehamilan yang diangankan

belum datang juga. Dengan segala kesabaran, Prabu Putri berharap

Hyang Widdi akan segera mengaruniai momongan.

Di sekitar mereka, para prajurit Bhayangkara di bawah pimpinan

Senopati Gajah Enggon berada dalam kesiagaan tertinggi, yang ditandai

dari masing-masing telah menggenggam langkap di tangan kiri.

Senopati Gajah Enggon sedang menyimpan resah, tak hanya

karena terjadinya gempa, tetapi juga masalah-masalah lain yang tidak

kalah gawat. Oleh alasan itulah, Senopati Gajah Enggon merasa perlu

memerintahkan pasukan pengawal raja untuk merapatkan barisan dan

55 Tatag Rambat Bale Manguntur, sebutan untuk Balairung Istana Majapahit.

56 Ratu Tribhuanatunggadewi dan Ratu Rajadewi, masing-masing bernama asli Sri Gitarja dan Dyah

Wiyat, adalah anak Raden Wijaya dari Gayatri. Prof. Dr. Slamet Muljono dalam bukunya Menudju Puntjak

Kemegahan, berpendapat bahwa setahun setelah kematian Jayanegara, atas saran Patih Daha, Gajah Mada,

kakak beradik itu diangkat sebagai ratu menjalankan pemerintahan bersama. Akan tetapi, para ahli lain

berpendapat pemerintahan itu hanya dipegang oleh Tribhuanatunggadewi Jayawisnuwardhani.

Hamukti Palapa 37

sebagian lain diminta untuk menyebar. Di sebelah Senopati Gajah

Enggon, prajurit Bhayangkara Raga Jampi dan Pring Cluring berdiri

mengapitnya dengan sikap tegak.

”Telah terjadi gempa, Kakang Patih. Namun, kami semua selamat

tak kurang suatu apa. Demikian juga dengan di keputren, tidak ada yang

perlu Kakang cemaskan. Para Ibu Suri juga dalam keadaan selamat,”

ucap Prabu Putri Tribhuanatunggadewi.

Gajah Mada bergegas memberikan penghormatan.

”Hamba, Tuan Putri,” jawab Gajah Mada sigap. ”Hamba bersyukur

karena Tuan Putri Prabu berada dalam keadaan selamat. Namun, hamba

melaporkan, rumah hamba sendiri ambruk. Tiang-tiang yang dirancang

kuat itu ternyata tidak mampu menahan goyangan.”

Prabu Putri Tribhuanatunggadewi dan Prabu Putri Rajadewi

Maharajasa memberikan perhatiannya. Sri Kertawardhana tidak berbicara

apa pun, tetapi menyimak pembicaraan istrinya. Demikian pula dengan

Wijaya Rajasa Sang Apanji Wahninghyun, ikut menyimak apa yang akan

disampaikan oleh Gajah Mada dengan cermat.

”Tidak ada yang mengalami celaka di rumahmu?” tanya Rajadewi.

Gajah Mada merapatkan kedua telapak tangannya ditujukan kepada

Rajadewi.

”Kebetulan tidak ada siapa pun di rumah hamba, Tuan Putri.

Hamba layak bersyukur karena Hyang Widdi masih memberi umur

panjang. Hamba bisa meloloskan diri melalui menjebol dinding,” jawab

Gajah Mada.

Ratu Tribhuanatunggadewi dan Ratu Rajadewi mengarahkan

perhatiannya ke langit sisi selatan yang sedikit kemerahan. Namun, Sri

Kertawardhana segera memberi penjelasan.

”Ada rumah yang terbakar!”

Gajah Mada yang juga melihat warna merah di langit bergegas

menyembah.

Gajah Mada 38

”Hamba mohon ampun, Tuan Putri,” kata Gajah Mada. ”Hamba

tak perlu cemas lagi terhadap keadaan dan keselamatan Tuan Putri.

Selanjutnya, hamba mohon izin untuk segera melihat kerugian macam

apa saja yang diderita rakyat Majapahit setelah gempa bumi ini. Hamba

akan berkeliling dari sudut ke sudut untuk melihat keadaan.”

”Baik,” jawab Tribhuanatunggadewi. ”Segera laporkan apa pun

yang kautemukan dan kuberi kewenangan kepadamu untuk mengambil

langkah penyelamatan. Jika rakyat perlu dibantu, keluarkan dana yang

mereka butuhkan. Juga segera cari tahu apa penyebab gempa bumi kali

ini, barangkali ada gunung yang meletus. Jika gempa bumi ini terjadi

oleh gunung meletus, tentu banyak sekali kawulaku yang hidup di lerenglerengnya

yang menderita. Berikan bantuan kepada mereka. Segenap

kawula harus tahu, Majapahit memberi perhatian pada kesengsaraan

yang terjadi macam itu. Sampaikan perintahku kepada para yuwa mantri57

untuk menyiapkan pertolongan.”

Gajah Mada bertindak cekatan dan tak mau bertele-tele. Setelah

menyembah, Patih Gajah Mada berjalan mundur. Namun, Gajah Mada

masih menyempatkan bertemu dengan Senopati Gajah Enggon yang

menggelar kesiagaan tertinggi.

Di sekitar Gajah Enggon ada lebih kurang lima belas Bhayangkara

yang ikut menyimak pembicaraan yang akan terjadi. Masing-masing

Bhayangkara siaga dan memegang langkap di tangan kiri dan warastra58

di tangan kanan, hal itu memaksa Gajah Mada terheran-heran.

”Ada sebuah hal sangat penting yang ingin kusampaikan, Kakang

Gajah,” kata Senopati Gajah Enggon.

”Masalah apa?” balas Gajah Mada.

”Istana kecurian,” ucap Senopati Gajah Enggon. ”Kami para

Bhayangkara yang bertugas menjaga keamanan istana telah teledor.

57 Yuwa mantri, mantri yunior. Di samping mantri wredha (senior) termasuk di antaranya mahamenteri

katrini yang terdiri atas sirikan, halu, dan hino, terdapat pula jabatan menteri muda yang berasal dari para

tandha yang sangat berprestasi atau berasal dari prajurit.

58 Warastra, Jawa, anak panah

Hamukti Palapa 39

Kecurian ini membuatku bingung, tak tahu bagaimana melaporkan

kepada Tuan Putri Ratu.”

Gajah Mada makin mencuatkan alis.

”Istana kecurian apa?”

Cihna pusaka dan songsong Kiai Udan Riwis. Ruang perbendaharaan

pusaka dibobol orang.”

Jika ada biang rasa kaget, itulah yang dirasakan Gajah Mada

mendengar laporan itu. Gajah Mada yang mundur selangkah adalah karena

sulit menerima. Raut muka Gajah Enggon tak pernah setegang itu.

”Kamu yakin ada yang mencuri?”

”Sebaiknya mari silakan Kakang melihatnya.”

Gajah Mada bergegas menuju Bale Biru yang melekat dengan

Tatag Rambat Bale Manguntur. Itulah gedung yang juga disebut gedung

pusaka. Bangunan berdinding tebal itu sangat kuat dan memang

dirancang agar jangan sampai bisa dimasuki oleh siapa pun. Itulah

sebabnya, dindingnya dibuat lebih tebal dengan jeruji besi sebesar

jempol kaki di jendelanya.

”Pelaku memasuki gedung pusaka dengan merusak pintu yang

diungkit dengan linggis,” kata Gajah Enggon.

Gajah Mada sependapat dengan apa yang disampaikan Gajah

Enggon, pelaku yang bisa jadi lebih dari satu orang, menjebol pintu

menggunakan linggis. Namun, dengan segera hal itu mengundang

pertanyaan lain. Gajah Mada tidak berniat menahan-nahan, pertanyaan

itu langsung dilontarkan.

”Siapa yang mendapat giliran bertugas menjaga gedung ini malam

ini?” tanya Gajah Mada.

Dua orang Bhayangkara maju mendekat. Bhayangkara Haryo

Muncar dan Kebo Windet siap didamprat.

”Kami yang melakukan tugas itu, Ki Patih,” jawab Bhayangkara

Haryo Muncar.

Gajah Mada 40

Gajah Mada memerhatikan wajah Haryo Muncar yang gelisah

karena merasa amat bersalah. Di sebelahnya, Bhayangkara Kebo Windet

berada dalam keadaan yang sama.

”Kami tertidur,” ucap Kebo Windet pasrah.

Namun, Pring Cluring dan Raga Jampi memiliki kisahnya sendiri.

Laporan mereka menyelamatkan dua Bhayangkara yang tertidur itu.

Gajah Mada memberikan perhatian pada tambahan keterangan yang

disampaikan dua prajurit Bhayangkara itu. Laporan yang sebenarnya

sulit dinalar.

”Pelakunya, siapa pun orang itu, menggunakan sirep,” kata Pring

Cluring. ”Bahkan, sirep yang sangat kuat karena cakupan wilayahnya

yang sangat luas. Aku merasa sirep itu hadir sejak petang, Ki Patih.”

Gajah Mada memerhatikan wajah Pring Cluring. Gajah Mada merasa

alasan itu mengada-ada dan tidak masuk akal. Namun, ternyata Gajah

Enggon juga mengangguk. Gajah Enggon memiliki catatan sendiri atas

kemunculan sirep yang menyebabkan semua orang terlena itu. Gajah

Enggon bergeser.

”Dari senja kami merasa curiga, Ki Patih,” Pring Cluring bertutur.

”Didorong oleh rasa curiga itulah kami berdua menggagas nganglang

untuk mencermati keadaan yang kami rasakan benar-benar aneh.

Kecurigaan kami itu ternyata benar karena di mana-mana para prajurit

tertidur. Kekuatan sirep itu tidak hanya sebatas di istana, tetapi terasa

sampai ke dinding luar batas kota. Pada akhirnya kecurigaan kami

bakal ada maling itu terbukti benar karena beberapa saat sebelum

gempa terjadi, kami memergoki orang melompati dinding dan berlari

melintas alun-alun. Orang itu berlari cepat sekali dan kami makin jauh

tertinggal di belakang. Pengejaran kami terhenti ketika tubuh kami

mendadak bergoyang. Itu saat gempa terjadi. Tanah yang bergoyang

kuat menyebabkan kami membatalkan pengejaran.”

Gajah Mada menyimak.

”Sayang sekali wajah orang itu tidak jelas,” tambah Raga Jampi.

”Aku bahkan curiga orang yang berlari membawa benda panjang itu

Hamukti Palapa 41

menutupi wajahnya dengan topeng atau kain hitam. Benda panjang itu

ternyata songsong yang hilang.”

Hening yang merayap selanjutnya sangat menyita ruang, membekap

semua mulut untuk tidak berbicara. Semua menunggu apa yang akan

disampaikan Patih Gajah Mada. Keterangan yang disampaikan Pring

Cluring dan Raga Jampi mengingatkan Gajah Mada untuk tidak bertindak

gegabah menyalahkan prajurit Bhayangkara Haryo Muncar dan Kebo

Windet.

Senopati Gajah Enggonlah yang akhirnya memecah keheningan.

”Kalau aku tidak salah menebak, Kakang Gajah Mada juga tidur

lebih awal?”

Pertanyaan yang diajukan kepadanya memaksa Gajah Mada

mengenang apa yang ia lakukan di sepanjang waktu, terutama sesaat

setelah petang datang hingga terbangun oleh guncangan gempa bumi.

Gajah Mada berdesir, tetapi masih berkeyakinan bahwa tidur pulas

yang dialaminya masih merupakan tidur yang lumrah, bukan tidur karena

dilibas ilmu sirep, jenis ilmu batin yang sering digunakan para maling

untuk memperdayai pemilik rumah para calon korbannya.

”Dari awal aku telah curiga ada sirep yang dilepas ke udara.

Kecurigaanku itu yang menyebabkan aku melawan dan berusaha

bertahan jangan sampai mengantuk. Aku telah berkeliling, di mana-mana

para prajurit bergelimpangan tidur di tempat masing-masing. Apa yang

aku lakukan ternyata dilakukan pula oleh Bhayangkara Pring Cluring dan

Raga Jampi. Ternyata mereka menyimpan kecurigaan yang sama, sejak

petang kecurigaan itu muncul,” Senopati Enggon menambah.

Gajah Mada berjalan mondar-mandir sambil tangannya memegang

dagu dan tangan kiri berada di pinggang.

”Aku memang tidur lebih awal,” katanya. ”Kurasa kantukku adalah

kantuk yang wajar. Taruh kata kecurigaanmu benar, jika demikian lantas

siapa pelaku pencuriannya? Untuk kepentingan apa sampai ada orang

yang harus mencuri benda itu? Apakah ada benda yang lain yang juga

hilang?”

Gajah Mada 42

Pertanyaan itu dijawab Senopati Gajah Enggon dengan mengajak

Gajah Mada masuk ke dalam gedung pusaka.

Menggunakan obor yang dicabut dari halaman, semua benda pusaka

diteliti. Sebuah peti masih terkunci di sudut ruang. Pusaka-pusaka yang

lain juga masih tersimpan di dinding dan di tempat masing-masing.

Secara nilai jual ada banyak benda yang lain yang lebih berharga, antara

lain setidaknya ada dua keris pusaka yang sangat bagus dan sangat mahal

karena berwarangka emas mengilat. Dua buah keris masing-masing

buatan Empu Sada yang hidup sezaman dengan Empu Gandring dan

Empu Purwa, yang telah diganti warangkanya dengan warangka yang

jauh lebih bagus, bahkan bersalut emas. Keris itulah yang dikenakan

Raden Cakradara dan Raden Kudamerta pada perhelatan perkawinannya

dengan para sekar kedaton.

Benda bernilai mahal itu masih tersimpan di tempatnya. Sementara

itu, cihna yang hanya terbuat dari selembar kain dan songsong yang juga

tidak ada harganya, benda-benda macam itu justru yang dicuri. Entah

siapa orang gila yang menganggap kedua benda itu sangat berharga.

Apalagi, untuk mencurinya sang maling menggunakan cara yang tak

sembarangan, pelakunya sampai harus menggelar kekuatan sirep segala.

Jauh hari Gajah Mada memang pernah mendengar tentang ilmu sirep

itu, tetapi yang ia peroleh selalu keterangan yang tidak jelas, selalu dari

katanya dan katanya. Tidak seorang pun yang bisa menunjukkan dan

memberi bukti, ilmu penidur itu benar-benar ada. Gajah Mada tidak

pernah berurusan dengan orang yang menguasai ilmu macam itu.

Gajah Mada berbalik.

”Kauyakin pencurian ini memanfaatkan ilmu macam itu?” Gajah

Mada masih merasa penasaran.

”Aku sangat mencurigai hal itu, Kakang,” jawab Gajah Enggon.

”Sebagaimana aku yakini dari awal, aku sudah curiga. Aku pikir udara

yang mengalir aneh itu berjawab gempa yang terjadi, ternyata salah.

Pencurian dan terjadinya gempa bumi merupakan dua hal yang berbeda

sama sekali.”

Hamukti Palapa 43

Hening datang merayap, menyelinap di antara semua orang, lalu

membelit dengan sangat buas, seperti belitan ular sanca sebesar pohon

kelapa terhadap seekor kerbau besar yang ternyata menyebabkan terputus

aliran napasnya.

Gajah Mada memerhatikan raut muka Bhayangkara Haryo Muncar

dan Kebo Windet dengan pandangan yang sulit ditebak. Akan tetapi,

apa yang selanjutnya dikatakan lebih diarahkan kepada Senopati Gajah

Enggon yang dianggap sebagai pihak yang paling bertanggung jawab

terhadap hilangnya benda pusaka itu. Jika anak buah melakukan

kesalahan, cara pandang keprajuritan menempatkan pimpinan sebagai

pihak yang harus bertanggung jawab.

”Benda-benda yang dicuri itu harus ditemukan,” ucapnya tegas.

”Benda itu bisa jadi tidak memiliki harga dilihat dari nilai, tetapi

menggunakan cara pandang lain, benda yang dicuri itu justru tidak ternilai

harganya karena peran yang diberikan oleh masing-masing benda itu.

Benda-benda itu menyimpan riwayat dan sejarah. Itu sebabnya, cihna

pusaka dan songsong itu menjadi tidak ternilai harganya. Lebih dari itu,

semua benda itu harus ditemukan agar orang tak merendahkan martabat

gedung perbendaharaan pusaka.”

Gajah Enggon mengangguk.

”Telah aku perintahkan kepada para prajurit Bhayangkara untuk

menyebar, Kakang Gajah,” jawab Senopati Gajah Enggon. ”Aku

berharap maling aneh itu bisa ditangkap dan benda-benda yang dicuri

bisa ditemukan kembali. Dengan demikian, akan terkuak apa yang

menjadi latar belakangnya.”

”Juga mintalah bantuan kepada telik sandi59 pasukan Jalapati dan

Sapu Bayu untuk mendukung pencarian benda pusaka yang hilang

itu.”

”Sudah aku lakukan, Kakang!”

59 Telik sandi, Jawa, mata-mata

Gajah Mada 44

Gajah Enggon telah menjawab dengan tegas, tetapi sejatinya

Senopati Gajah Enggon tidak merasa yakin dengan janji yang dilepas.

Konon, kata orang, yang entah benar entah tidak, orang yang menguasai

ilmu sirep biasanya juga menguasai ilmu menghilang, lenyap dari

pandangan mata.

Tentu akan sulit berurusan dengan orang yang punya kemampuan

seperti itu. Andaikata ilmu menghilang itu benar ada dan ia seorang lelaki

cabul maka para gadis akan berada dalam bahaya.

4

Pagi yang datang esok harinya adalah pagi dengan warna

putih di mana-mana, di atas genting, mengotori dedaunan, dan

secara nyata melekat di daun-daun pisang. Seorang perempuan merasa

bernasib malang karena jemuran pakaian yang lupa diangkat menjadi

kotor kembali. Seseorang yang terbangun dari tidur di halaman

karena sedang menjalani laku prihatin dengan tidur semalaman

di halaman kebingungan mendapati tubuhnya putih semua penuh

dengan abu.

Supaya bersih pakaian itu harus dicuci kembali, padahal untuk

mencuci baju itu bukan perkara gampang. Musim kemarau yang

berlangsung lebih panjang dari biasanya menyebabkan sumursumur

menjadi asat. Untuk keperluan mandi harus ke sendang yang

jaraknya lumayan jauh sambil dibayangi kemungkinan sendang itu

akan asat.

Dalam keadaan biasa kolam pengaman di depan Purawaktra selalu

penuh. Namun, kemarau yang terjadi kali ini benar-benar tidak peduli

Hamukti Palapa 45

kolam siapa pun. Kolam di depan istana asat, bahkan kolam Tambak

Segaran60 yang masih dalam taraf pembuatan dan sedang dikeduk juga

asat.

”Gempa semalam rupanya karena gunung meletus,” kata perempuan

itu sambil menyeduh wedang jahe kesukaan suaminya.

Suaminya yang masih bermalas-malasan di tempat tidur memandangi

istrinya.

”Apa tadi kamu bilang?”

”Gempa semalam karena gunung meletus,” ulang sang istri. ”Di

luar penuh abu yang melapisi tanah, menempel dan melapisi daun-daun,

juga atap rumah.”

Laki-laki itu berpikir keras, terlihat dari keningnya yang berkerut.

”Gunung Kampud meletus?”

Memastikan kebenaran ucapan istrinya, laki-laki bercambang lebat

yang masih berkemul sarung itu lari ke halaman dan mendapati sejauh

mata memandang berwarna putih, warna abu yang turun merata.

Namun, laki-laki bercambang itu segera berpikir dan merasa ada yang

aneh, sedahsyat apa pun gunung meledak, gempa hanya akan terasa di

sekitarnya. Jika gempa itu terasa sampai ke ibu kota Majapahit, tentunya

berasal dari gunung dekat-dekat saja.

Di istana, keadaan itu juga menjadi perhatian kedua Prabu Putri dan

suaminya. Di istana kiri, Prabu Putri Dyah Wiyat Rajadewi Maharajasa

memandangi keadaan itu dari balik jendela. Warna putih di mana-mana

itu sangat mencemaskan. Jika hari makin siang, abu yang berasal dari

gunung meletus itu akan mengotori udara dan mengotori pernapasan.

Diyakini pasti akan banyak orang sakit tenggorokan dan pernapasan,

juga sakit mata.

60 Tambak Segaran, nama kolam peninggalan Majapahit yang masih utuh hingga sekarang, berupa kolam

buatan berdinding bata dengan panjang lebih dari 1,5 kilometer dan lebar lebih dari 500 meter sebagai

tempat berlatih armada laut Majapahit, terletak ke arah utara dari Balai Prajurit yang telah dipugar oleh

Kodam Brawijaya.

Gajah Mada 46

”Jika gempa yang menimpa semalam ada hubungannya dengan

gunung yang meletus, mungkin ada orang yang membutuhkan bantuan,”

ucap Wijaya Rajasa Hyang Parameswara, suami Dyah Wiyat.

Dyah Wiyat tidak memberi jawaban, perhatiannya masih tertuju

pada hamparan alun-alun istana yang terlihat kotor merata. Prabu Putri

Dyah Wiyat membalikkan badan dan memerhatikan suaminya.

”Menurut Kakangmas,” tanya Dyah Wiyat, ”gunung apakah yang

meletus kali ini?”

Kudamerta mencatat ada beberapa buah gunung yang menyimpan

riwayat ledakan, termasuk gunung yang berada jauh di arah timur masuk

ke kawasan Blambangan bernama Raung. Gunung itu juga sering batuk

dan mengeluarkan dahak.

Berada di dekat dan terlihat jelas dari Simping, Gunung Kampud

juga sering bersin-bersin mengeluarkan lahar membara yang berleleran

seperti besi cair yang dituangkan ke dalam cetakan. Terasa sangat aneh

karena yang mengalir itu cairan api, panasnya melebihi biang panas yang

mampu melelehkan besi.

Sri Wijaya Rajasa Hyang Parameswara juga mencatat, di Jawa

wilayah tengah, terlihat jelas jika arah pandang ditujukan lurus dari

Candi Borobudur ke timur, gunung bernama Merapi mengepulkan

asap sepanjang waktu. Jika Gunung Merapi yang bersebelahan dengan

Merbabu itu meledak, suara gemuruhnya terdengar hingga ke lerenglereng.

Gulungan asapnya mampu membakar apa pun untuk meranggas.

Jika yang dilewati adalah hutan pinus, hutan pinus itu berubah menjadi

barisan tombak jati ngarang.61

”Aku menerima banyak laporan gunung-gunung yang batuk,

Gunung Raung di bumi Blambangan katanya berasap banyak. Namun,

mungkin juga Kampud yang berulah. Namun, gunung apa pun yang

meledak dan melemparkan abunya jatuh sampai ke ibu kota, tentulah

menyengsarakan wilayah yang berada pada jarak dekat dengan gunung

61 Jati ngarang, Jawa, perumpamaan untuk pepohonan yang kering kerontang tanpa daun

Hamukti Palapa 47

itu. Penderitaan luar biasa pasti dialami mereka yang tinggal di lerenglereng,

para pertapa yang mencari ketenangan hati di gua-gua, atau

perkampungan yang dilewati lahar. Yang perlu dilakukan adalah segera

dan secepat-cepatnya mengirim orang untuk mengetahui gunung apa

yang meledak agar bisa segera dilakukan pertolongan. Menurutku,

utamakan mengarahkan perhatian ke Gunung Kampud. Gunung itu

yang selama ini banyak berulah.”

Rajadewi Maharajasa mengangguk.

”Telah diperintahkan kepada Kakang Gajah Mada untuk mengatasi

hal itu. Aku yakin, melihat tebalnya abu ini, Kakang Gajah Mada pasti

telah bertindak,” jawab Prabu Putri Rajadewi Maharajasa.

Sebenarnyalah Gajah Mada telah bertindak cekatan. Pengambilan

langkah yang dilakukan terpaksa harus melibatkan Senopati Gajah

Enggon yang memimpin pasukan khusus Bhayangkara, lalu Senopati

Haryo Teleng, pucuk pimpinan pasukan Jalapati, dan Senopati Panji

Suryo Manduro yang membawahi pasukan Sapu Bayu.

”Kalian melihat sendiri pagi ini Majapahit dilabur abu?” kata Gajah

Mada.

Gajah Enggon, Haryo Teleng, dan Panji Suryo Manduro menyimak.

”Ya,” Haryo Teleng satu-satunya yang menjawab.

”Jika gunung berapi meletus meninggalkan jejak gempa bumi dan

menyebabkan rumahku yang kukuh bisa ambruk, tentulah ada banyak

korban di wilayah kaki gunung yang meletus itu. Mungkin saja ada

penduduk yang tinggal di lereng gunung tersapu banjir lahar panas atau

tersapu hujan abu yang tebal dan pekat. Sayang, kita belum tahu gunung

apa yang meletus itu.”

Bagai bersepakat, ketiga senopati membalikkan badan dan

memerhatikan raut wajah Gunung Welirang di arah selatan sedikit ke

timur. Tampilan gunung itu hingga ke lekuk-lekuknya cukup jelas dan

sama sekali tidak ada jejak ledakan, tak ada asap dan warnanya tetap

biru sejuk.

Gajah Mada 48

”Oleh karena itu,” lanjut Gajah Mada, ”aku berikan tugas kepada

Senopati Haryo Teleng dan Gajah Enggon untuk mengirim orang

secepat-cepatnya guna mencari tahu apa yang terjadi. Kirim orang untuk

memeriksa Gunung Anjasmoro, Gunung Arjuno, Gunung Bromo,

Gunung Mahameru di dekat Lumajang, juga Gunung Raung dan

Argopuro, termasuk Welirang yang terlihat jelas itu. Kirim laporannya

secepatnya dengan menggunakan burung dara.”

Tandya,62 Adi Gajah, perintahmu aku laksanakan,” jawab Senopati

Haryo Teleng.

”Sementara itu, tugasmu,” lanjut Gajah Mada ditujukan kepada

Senopati Panji Suryo Manduro, ”siapkan pengiriman bantuan berupa

apa pun yang diperlukan. Begitu berita tentang di mana bencana

terparah itu terjadi, bantuan bisa langsung dikirim. Untuk tugas itu,

hubungi pengalasan yang mengatur urusan beras dan palawija. Hubungi

dan minta Rakrian Menteri Halu Dyah Lohak untuk kebersamaan

kerja!”

Panji Suryo Manduro mengangguk.

”Aku kerjakan.”

Gajah Mada kemudian mengarahkan pandangan matanya ke raut

muka Gajah Enggon yang berubah menjadi pendiam. Lingkungan

istana sampai dibobol maling masih meninggalkan jejak di wajah Gajah

Enggon.

”Sudah kausampaikan kepada Haryo Teleng dan Suryo Manduro

apa yang terjadi semalam?” tanya Gajah Mada.

”Sudah!” jawab Gajah Enggon sambil mengangguk.

”Lalu, langkah apa yang telah kalian ambil?” tanya Gajah Mada

kepada Haryo Teleng.

”Aku telah menyebar semua pasukan sandi yang dimiliki pasukan

Jalapati,” jawab Haryo Teleng.

62 Tandya, Jawa Kuno, siap

Hamukti Palapa 49

”Aku juga,” Panji Suryo Manduro menambah. ”Begitu aku

memperoleh berita itu, aku langsung menggelar taklimat, tanpa kecuali

segenap prajurit Sapu Bayu harus pasang mata dan telinga menjadi

kepanjangan prajurit sandi Jalapati.”

Senyap yang menyelinap membelit para perwira itu menapaki

waktu yang bergeser perlahan. Matahari yang memanjat sedikit naik

menyemburatkan cahaya yang berbeda dari biasanya, menjadi pertanda

betapa udara sedang kotor. Sebenarnyalah butir-butir abu melayang

tersapu angin ke mana pun udara bergerak. Warna putih di manamana.

Ketika Gajah Mada mengakhiri pertemuan dan menjatuhkan

perintah yang harus segera dilaksanakan. Di sela waktu yang ada, ia harus

memikirkan membangun kembali rumahnya yang ambruk. Gajah Mada

merasa penasaran, mengapa rumahnya yang dibangun megah dengan

dinding bata pilihan justru ambruk, tidak demikian dengan rumah-rumah

berdinding kayu. Meski pilih tanding di olah keprajuritan, Gajah Mada

jenis orang yang bodoh dalam rancang bangun bangunan.

Sejengkal setelah taklimat yang diberikan lewat, puluhan prajurit

berkuda berpacu kencang meninggalkan bangsal kesatrian dengan

tugas tidak sebagaimana lumrahnya. Perjalanan yang ditempuh itu bisa

memakan waktu berhari-hari, khususnya prajurit yang terpilih memeriksa

keadaan gunung paling jauh, seperti Gunung Raung di ujung timur Jawa

dan Mahameru di dekat Malang dan Lumajang. Untuk ke Lumajang harus

ditempuh dengan berkuda. Sementara itu, untuk ke Raung prajurit itu

memilih menuju ke Ujung Galuh. Dari Ujung Galuh, ia bisa langsung

mengambil garis lurus ke arah timur menggunakan perahu. Dengan

perahu berlayar lebar, jarak yang demikian jauh bisa ditempuh hanya

dalam dua atau tiga hari.

Gajah Mada 50

5

Hari demi hari berlalu hingga sang waktu menyentuh hari ke lima.

Kabar bencana yang terjadi telah diterima dengan pasti bahwa benar

sebagaimana diduga, gunung yang meletus adalah Gunung Kampud.

Yang mengherankan adalah gempa bumi yang getaran kekuatannya terasa

sampai ke Kotaraja Majapahit terjadi bersamaan dengan meletusnya

Gunung Kampud. Jika hanya Gunung Kampud yang meledak, gempa

bumi yang muncul tak akan terlalu jauh dari sekitarnya. Ratusan orang

yang tinggal di daerah Pabanyu Pindah harus menerima kenyataan pahit

karena perkampungan mereka tersapu rata dengan tanah.

Burung merpati yang terlatih membawa kabar telah kembali ke

kandangnya dengan isi berita terikat di kakinya. Dikendalikan langsung

oleh Senopati Panji Suryo Manduro bekerja sama dengan Mahamenteri

Halu Dyah Lohak, serombongan kereta kuda dan beberapa pedati penuh

bahan makanan dikirim bergerak menuju sasaran. Untuk pengamanan,

pengiriman bantuan itu dikawal oleh sejumlah prajurit dengan kekuatan

cukup. Siapa tahu ada perampok yang menghadang. Untuk melihat

bagaimana bencana yang menimpa Pabanyu Pindah, Dyah Lohak

yang mewarisi jabatan Dyah Wismanata sebagai mahamenteri halu

sebelumnya, memutuskan turun langsung mendatangi tempat itu.

Namun, hari demi hari yang berlalu membuat Gajah Enggon makin

resah gelisah karena belum ada titik terang apa pun terkait dua benda

pusaka negara yang hilang. Satu demi satu prajurit telik sandi yang disebar

telah kembali dengan tangan hampa. Merasa sebagai orang yang paling

bertanggung jawab terhadap hilangnya benda itu sekaligus terhadap

terjaminnya keamanan istana, Gajah Enggon layak merasa cemas.

Sampai hari ke sepuluh setelah gempa bumi di Pabanyu Pindah dan

Gunung Kampud meletus, Senopati Gajah Enggon masih menyimpan

rasa penasaran itu. Prajurit sandi terakhir yang pulang melaporkan bahwa

tidak ada titik terang apa pun. Ketika dibelit oleh cemas yang makin

Hamukti Palapa 51

meningkat, Gajah Enggon terpaksa berpaling pada sahabat lama. Sahabat

yang memiliki ruang, waktu, dan gerak jauh lebih lapang dari dirinya.

”Bagaimana kabarmu, Kakang Gajah Enggon?” dengan senang hati

mantan Bhayangkara Pradhabasu menerima kehadiran sahabatnya.

Pradhabasu menerima jabat tangan Gajah Enggon dengan kuat,

menandai eratnya hubungan di antara mereka. Gajah Enggon tidak

sekadar berjabat tangan, tetapi ditandainya pertemuan yang berbau rasa

rindu itu dengan pelukan. Saling tonjok yang mereka lakukan juga masih

atas alasan yang sama. Untuk pertama kali setelah tak pernah tertawa,

Pradhabasu tertawa lebar. Gajah Enggon tertawa lebih lebar. Gajah

Enggon dan Pradhabasu saling memerhatikan tubuh.

”Kedudukan sebagai senopati menyebabkan tubuhmu menjadi

gemuk,” Pradhabasu berkata dalam nada berseloroh.

Namun, pimpinan pasukan Bhayangkara itu tidak menganggap

kata-kata tuan rumah sedang berseloroh. Gajah Enggon merasakan

kebenaran kata-kata itu. Dengan tubuhnya yang seperti sekarang,

Gajah Enggon kurang gesit. Makan yang agak berlebihan menyebabkan

perutnya agak buncit.

Sejauh ini Gajah Enggon telah berusaha mengurangi berat badannya

dengan banyak melakukan olah tubuh, dengan berlari mengelilingi alunalun

di depan istana lima kali sehari, juga kegiatan olah tubuh yang lain,

tetapi Gajah Enggon merasa tubuhnya yang telanjur agak gemuk sulit

untuk dikecilkan lagi. Kelenturan dan kelincahannya agak berkurang.

Gajah Enggon yang mengedarkan pandangan, perhatiannya segera

tertuju kepada bocah yang sedang meringkuk di sudut ruang sambil

matanya sibuk memerhatikan gasing. Benda yang bisa berputar dan

memberikan suara mendengung itu hanya dipegang dan diamati. Jika

sudah demikian larut perhatian bocah itu pada sebuah benda, petir

meledak sekalipun tak akan mampu menggesernya. Gajah Enggon

juga menebar pandangan matanya mencari-cari, tetapi orang yang

dicari tidak tampak. Perempuan berwajah cantik itu selalu membuatnya

penasaran.

Gajah Mada 52

”Kau mengira ia tinggal bersamaku?” tanya Pradhabasu yang

mampu menebak apa yang ada dalam benak Gajah Enggon.

Gajah Enggon mengangguk.

”Kau berkepentingan dengannya? Barangkali kau sedang membawa

perintah Raden Kudamerta?”

Gajah Enggon menyeringai dan kemudian tertawa.

”Aku datang untuk membawa kepentinganku sendiri. Aku datang

untuk menemuimu. Kalau aku ingin tahu bagaimana kabar perempuan

itu, itu sebatas rasa ingin tahu tanpa maksud apa pun. Aku ikut bahagia

jika perempuan itu menemukan kebahagiaannya.”

Pradhabasu memerhatikan Prajaka yang sangat larut dalam

dunianya, dunia yang tidak bisa ditembus oleh orang lain. Seiring waktu

yang berlalu, akhirnya Pradhabasu pasrah, tak lagi berharap Prajaka bakal

sembuh. Maka, dibiarkan apa pun yang dilakukan dan ke arah mana

pun perkembangan kejiwaan bocah itu. Pradhabasu merasa yakin kelak

Prajaka pasti akan mampu menemukan jalan hidupnya.

”Bagaimana kabar istana sekarang?” tanya Pradhabasu.

Pertanyaan yang dilontarkan Gajah Enggon belum dijawab,

Pradhabasu justru membalas dengan pertanyaan.

”Tak ada yang luar biasa. Tuan Putri Prabu Tribhuanatunggadewi

Jayawisnuwardhani sangat menikmati kebahagiaan rumah tangganya.

Sementara itu, kebekuan Tuan Putri Prabu Rajadewi Maharajasa juga

berhasil diluluhkan oleh Raden Kudamerta. Masing-masing Prabu Putri

sedang sangat menikmati kebahagiaan rumah tangganya. Tiap hari

dijalani tak ubahnya sebuah perjalanan bulan madu.”

Pradhabasu menyimak cerita itu dengan raut muka bersungguhsungguh.

Juga ketika Gajah Enggon melanjutkan.

”Tetapi, ada kejadian luar biasa yang terjadi bersamaan dengan

terjadinya gempa bumi sepuluh hari yang lalu. Kedatanganku kemari

untuk meminta saranmu. Aku yakin kamu yang berada di luar dinding

Hamukti Palapa 53

istana banyak melihat dan mendengar. Siapa tahu bisa aku pergunakan

untuk menelusuri hilangnya cihna pusaka dan songsong Udan Riwis yang

jengkar63 dari gedung perbendaharaan pusaka.”

Raut muka Pradhabasu berubah menjadi sangat tegang.

”Dua benda itu jengkar?”

Gajah Enggon mengangguk.

”Ya,” jawabnya. ”Ruang perbendaharaan pusaka dijebol maling.”

”Bagaimana ceritanya bisa hilang?” tanya Pradhabasu dengan

sangat heran.

Dengan ringkas dan jelas Gajah Enggon menceritakan apa yang

terjadi. Kehadiran pelaku pencurian yang menggunakan kekuatan sirep

dalam membobol ruang harta pusaka membuat Pradhabasu terheranheran.

Istana yang dijaga demikian ketat ternyata bisa kemalingan,

membuatnya terheran-heran, apalagi malingnya ternyata menggunakan

ilmu sirep, hal itu makin menambah rasa gumun-nya.64

Dengan demikian, kini terbukti terlalu sombong jika Bhayangkara

beranggapan, bahkan semut sekalipun tak akan mampu menerobos

ke istana tanpa ketahuan. Siapa pun maling yang berhasil menerobos

rapatnya penjagaan istana tentu tertawa terbahak-bahak menertawakan

pasukan Bhayangkara. Jika berita itu menyebar, Bhayangkara akan

menjadi bahan tertawaan.

”Di ruang harta dan pusaka ada banyak benda berharga yang lain,

tetapi hanya dua pusaka itu yang dipilih. Maling dengan bentuk perbuatan

macam itu, apa maunya?” tanya Gajah Enggon.

Pradhabasu tidak segera menjawab. Yang terlintas di benaknya justru

bagaimana sikap Gajah Mada, tepatnya bagaimana cara pandangnya.

Keberadaan kain cihna gringsing lobheng lewih laka yang melatari buah maja

dan songsong Udan Riwis lebih dianggap sebagai lambang negara dan

63 Jengkar, Jawa, meninggalkan tempat

64 Gumun, Jawa, heran

Gajah Mada 54

benda yang diderajatkan sebagai pusaka negara. Jika benda lambang

negara itu hilang dicuri orang, bukankah yang demikian itu berkaitan

dengan perlambang pula, setidaknya ada sebuah pesan terselubung di

balik pencurian itu.

Pesan terselubung apa? Apakah ada lagi pihak yang berniat

melakukan makar setelah apa yang dilakukan Ra Kuti dan sembilan tahun

kemudian disempurnakan oleh Ra Tanca? Ada pihak yang bermimpi

mendirikan negara baru, atau bahkan ingin merebut Majapahit?

”Kauingat keris Empu Gandring?” tanya Pradhabasu mendadak

membelok.

”Kenapa dengan keris Empu Gandring?” balas Gajah Enggon.

Soal keris Empu Gandring tentulah Gajah Enggon mengetahui

sampai ke lipatan paling kecil. Keris itu dibuat dari logam yang bukan

logam sembarangan. Empu Gandring memanfaatkan bongkahan

logam yang jatuh dari langit sebagai bahan baku keris yang dibuat.

Pembuatannya pun sangat melelahkan karena logam berwarna biru

itu sangat sulit ditempa dan berjiwa. Barulah setelah dilambari dengan

tirakat, logam itu bisa dikuasai. Jiwa yang mengeram dalam logam bisa

dikendalikan.

Rupanya bongkahan batu besi itu mempunyai aura yang jahat, meski

diyakini siapa yang mampu menguasainya akan menggenggam wahyu

kekuasaan. Ken Arok memesan keris itu kepada Empu Gandring di

Lulumbang. Karena ketidaksabarannya melihat keris yang dipesannya

belum rampung, Ken Arok menggunakan keris itu untuk membunuh

pembuatnya.

Empu Gandring terhenyak, sangat tak percaya dan tak bisa

menerima keris hasil karyanya menempatkan tubuhnya sebagai sebuah

warangka. Empu Gandring mati. Namun, sempat menjatuhkan

kutukannya bahwa keris pusaka itu akan meminta banyak darah terutama

mereka yang berebut kekuasaan, termasuk Ken Arok sendiri. Kutukan

itu menjadi mimpi buruk Ken Dedes yang sangat mencemaskan anak

keturunannya.

Hamukti Palapa 55

Untuk kegelisahan Ken Dedes, ada tembang untuk itu.

Eling-eling Ken Arok, sira den eling, tibane supata piwalese awak mami,

sira nemahi palasatra. Kairing sapta janma kang sira kanthi, katiban curiga

minangka patukon mami, sira nemahi palastra!”65

Terbukti benar keris itu membunuh. Membunuh Empu Gandring,

membunuh Akuwu Tunggul Ametung, lalu membunuh prajurit Kebo

Ijo, kemudian membunuh Ken Arok, membunuh pengalasan dari Batil

utusan Anusapati, juga membunuh Anusapati. Tohjaya menyusul mati di

Katang Lumbang setelah digempur sepasang ular naga di satu sarang.66

Kutukan pembantaian itu masih ada jejak bayangnya atau

disempurnakan dengan runtuhnya semua pilar Tatag Rambat Bale

Manguntur Istana Singasari yang digempur oleh besan tak tahu diri.

Meski keris itu amat berdarah, setidaknya mulai muncul dan mekar

sebuah anggapan, keris pusaka itu tempat bersemayam wahyu kedaton.

Siapa orang yang bisa menguasainya, orang itu akan menjadi raja. Atau,

lebih mengarah lagi, siapa yang ingin menjadi raja, hendaknya harus

menguasai keris itu. Namun, di belakang keyakinan itu juga ada keyakinan

lain, siapa yang menjadi raja dengan memanfaatkan kekuatan keris Empu

Gandring, ia harus siap kehilangan nyawa sebagai penebus kutukan yang

dilepas Empu Gandring.

Ketika pemerintahan berada di tangan bersama, diselenggarakan

oleh Ranggawuni dan Mahisa Cempaka, Ranggawuni sebagai raja

dengan abiseka Sri Wisnuwardhana, sementara saudara sepupunya,

Mahisa Cempaka, sebagai Ratu Angabaya dengan nama abiseka

Narasinghamurti, saat itulah perintah untuk menghancurkan keris itu

dilakukan. Sri Wisnuwardhana dan Narasinghamurti dibayangi oleh

65 Eling-eling Ken Arok, sira den eling, tibane supata piwalese awak mami, sira nemahi palasatra.

Kairing sapta janma kang sira kanthi, katiban curiga minangka patukon mami, sira nemahi palastra,

Jawa, ingat-ingatlah Ken Arok, ingat-ingatlah, saat jatuhnya kutukanku, kau akan mati. Diikuti oleh tujuh

orang yang kaubawa (semua) terkena keris sebagai harga yang aku minta, kau mati! Kalimat di atas

adalah bunyi tembang Mas Kumambang yang ditulis oleh almarhum Ki Narto Sabdo, menggambarkan

bagaimana dahsyat kutukan Empu Gandring yang tidak rela atas kematiannya.

66 Sepasang ular naga di satu sarang, julukan untuk pemerintahan bersama yang dilakukan Ranggawuni

dan Mahisa Cempaka.

Gajah Mada 56

rasa cemas gelisah, kutukan Empu Gandring yang mewarnai perjalanan

pemerintahan negara sejak masih beribu kota di Kutaraja masih akan

hidup hingga pemerintahan beribu kota di Singasari. Oleh karena itu,

kedua raja kembar tersebut memutuskan untuk memenggal mata rantai

kutukan itu jangan sampai berkelanjutan.

Serombongan prajurit di bawah pimpinan Senopati Bungalan

ditugasi melarung keris itu ke kawah Gunung Kampud, tepat di kawahnya

yang bergolak. Di titik didih yang menyengat, meski keris itu berbahan

batu bintang yang jatuh dari langit, akan hancur dan melumer. Bungalan

yang kembali dari puncak Gunung Kampud melapor kepada dua raja

kembar yang memberi perintah bahwa tugas telah berhasil dilaksanakan,

meski dengan susah payah.

Namun, lebih kurang setahun kemudian sepasang raja itu bermimpi

bersama-sama tentang hal yang sama, tetapi dengan bentuk berbeda,

bahwa Bungalan ternyata telah berbohong. Keris itu belum dilarung.

Di hadapan raja, Bungalan bersumpah bahwa tugas benar-benar telah

dilaksanakan, keris telah hancur di kawah yang mendidih. Sumpah

Bungalan itu dikuatkan oleh para prajurit yang ketika itu menemaninya

naik ke puncak Kampud.

Akan tetapi, sejarah kemudian membuktikan, perebutan kekuasaan

terjadi bukan hanya karena kutukan-kutukan. Sebenarnya nafsulah

penyebabnya. Nafsu menggelegak, bahkan menyebabkan orang berpikir

tidak waras, pohon disembah, laut disembah, hantu disembah. Bendabenda

itu disembah karena dianggap memiliki kekuatan, disembah karena

dianggap sebagai sarang wahyu.

Untuk mendapat kekayaan, berjenis ilmu hitam digeluti. Tak hanya

binatang yang saling bantai dengan binatang, adakalanya manusia, bahkan

jauh lebih bengis. Harta, takhta, dan wanita bagi kaum lelaki, selalu

memunculkan nafsu angkara.

Demikianlah keyakinan orang berubah dan bergerak mengenai

bagaimana asal mula keris Empu Gandring yang diyakini tempat

bersemayamnya wahyu. Setelah keris Empu Gandring, kini boleh jadi

cihna nagara dan songsong Udan Riwis dicurigai sebagai sarang wahyu

Hamukti Palapa 57

keraton pula. Dengan alasan itu, benda yang hanya berwujud kain

dan payung itu dicuri. Didasari keyakinan, siapa yang bisa memiliki

dan menguasai jiwa dua benda itu bakal bisa menjadi raja. Boleh jadi,

malingnya ingin menjadi raja atau malingnya mempunyai kegemaran

mengumpulkan benda-benda yang mempunyai nilai tertentu.

”Bisa jadi, maling berkemampuan sirep itu punya keyakinan yang

keblinger,” kata Pradhabasu.

”Maksudmu?” balas Gajah Enggon.

Pradhabasu tidak mengubah arah pandangnya yang jatuh ke

halaman rumah.

”Siapa tahu ada orang yang berpendapat cihna gringsing lobheng lewih

laka dan songsong Kiai Udan Riwis merupakan pusaka keraton sarang

wahyu. Maling itu mencuri karena berharap bisa menjadi raja melalui

cara itu. Dengan memiliki dua pusaka itu, muncul anggapan wahyu akan

hinggap pada dirinya dan akan mengantar siapa pun orang itu untuk

menggenggam tampuk kekuasaan atas pemerintahan.”

Gajah Enggon merasakan permukaan jantungnya bagai dirambati

ratusan ekor semut.

”Begitu?” tanya Gajah Enggon.

”Keris Empu Gandring pernah mengalami peran macam itu. Siapa

orang yang bisa menguasai keris Empu Gandring, orang itu kewahyon akan

menguasai takhta. Melalui terbentuknya anggapan macam itu, sekarang

payung Udan Riwis dan kain lambang negara yang dianggap bertuah,

dianggaplah sebagai sarang wahyu.”

Gajah Enggon tidak menganggap kilah itu tak masuk akal. Gajah

Enggon justru menganggap kilah itu sangat masuk akal. Setidaknya,

benda-benda yang hilang itu memang pantas kalau dianggap sebagai

sarang wahyu. Cihna yang hilang merupakan lambang negara yang dibuat

pertama kali, dibatik dan digambar berdasar perintah Raden Wijaya.

Siapa pun yang mendapat tugas membuat lambang negara itu, pasti

mengerjakannya dengan tidak sembarangan. Membuat lambang negara

Gajah Mada 58

pusaka pastilah dilambari dengan pati geni, dengan laku prihatin luar biasa,

yang akhirnya menempatkan diri sebagai wadah wahyu.

Pun demikian dengan songsong Udan Riwis. Benda itu kini bukan

benda sembarangan lagi. Benda itu disembah karena dipercaya punya

kekuatan. Kekuatan yang ada pada payung itu bahkan mampu menolak

hujan agar tak turun atau sebaliknya, menghadirkan hujan ketika saatnya

dibutuhkan.

Wajar kalau muncul anggapan cihna buah maja berlatar kain bercorak

geringsing berwarna merah dan payung Udan Riwis adalah benda bertuah

yang menyimpan wahyu pinunjul, wahyu kedaton.

Gajah Enggon menengadah memandang belandar dan usuk.

”Bagaimana sikap para Prabu Putri?” tanya Pradhabasu.

Gajah Enggon yang menengadah menoleh.

”Aku telah menyampaikan hilangnya benda pusaka itu kepada Kakang

Gajah Mada, tetapi belum kepada Tuan Putri Tribhuanatunggadewi dan

Tuan Putri Rajadewi. Bahkan, Paman Mahapatih Amangkubumi pun

belum diberi tahu. Kakang Gajah Mada memberi kesempatan kepadaku

untuk bertanggung jawab terhadap hilangnya benda-benda pusaka itu

dengan batas waktu. Jika dalam waktu tiga bulan payung Udan Riwis

dan lembaran kain lambang negara itu belum ditemukan, kecurian itu

akan dilaporkan kepada kedua Prabu Putri. Aku benar-benar merasa

berada di ujung tanduk,” kata Gajah Enggon.

Tiba-tiba Pradhabasu tersenyum.

”Kau merasa berada di ujung tanduk, cemas akan kehilangan

jabatanmu yang kini membuat tubuhmu gendut itu?”

Amat ringan Gajah Enggon menggeleng.

”Sama sekali tidak seperti itu,” jawab Gajah Enggon. ”Pangkat dan

derajat bukan hal yang penting buatku. Dicopot dan andai dihukum

mati pun tidak masalah. Masalahnya adalah soal tanggung jawab. Aku

orang yang paling bersalah atas peristiwa kemalingan itu. Aku harus bisa

Hamukti Palapa 59

mengembalikan benda pusaka itu ke gedung perbendaharaan pusaka

dan mengungkap apa latar belakangnya.”

Hening dengan gesit menyelinap dan mewarnai pembicaraan

yang terjadi. Gajah Enggon menekuk-nekuk jemari dan dilanjutkan

dengan mengkucal-kucal rambut yang dibiarkan terurai. Senyap yang

merayap menemani Pradhabasu yang berjalan mondar-mandir sambil

sibuk berpikir.

Pradhabasu menuangkan air dari dalam bumbung yang penuh air

rebusan serai, yang ia suguhkan didampingi sepotong gula aren.

”Apakah kira-kira ada kaitannya dengan Keta 67atau Sadeng?” tanya

Gajah Enggon.

Pradhabasu tidak menjawab karena tidak tahu jawabnya.

”Saat ini Sadeng dan Keta secara sembunyi-sembunyi sedang

melakukan gerakan mencurigakan yang amat mungkin mengarah ke

makar. Kalau memang ke sana arah gerakan itu dan dipandang perlu

didukung oleh kekuatan wahyu, dicurilah dua benda itu. Demikian nalarnya,

bukan? Apakah kira-kira seperti itu cara pikir orang Keta dan Sadeng?”

Pradhabasu tidak menjawab, tetapi ia mencerna apa yang dikatakan

Gajah Enggon. Mengenai Sadeng maupun Keta yang secara delikan68

sedang menghimpun kekuatan, keterangan tentang itu dirinyalah yang

melaporkan pertama kali ke Majapahit. Namun, setiap kali digelar

pasewakan selalu saja penguasa Sadeng dan Keta hadir di Majapahit

sehingga sangat sulit menjatuhkan tuduhan. Apalagi, kewajiban untuk

mengirim upeti selalu dipenuhi tanpa kurang secuil pun. Namun, siapa tahu

di balik wajah orang Keta dan Sadeng itu menyembunyikan wajah lain.

Berbeda dengan kehadiran utusan yang selalu datang ke pasewakan

tahunan yang selalu menunduk dalam-dalam ketika menekuk wajah

67 Keta, di mana negara itu berada menjadi sebuah pertanyaan besar. Namun, Prof. Dr. Slamet Muljono

dalam peta rekonstruksi yang dibuatnya menempatkan Keta di Besuki (Negarakertagama dan Tafsir

Sejarahnya).

68 Delikan, Jawa, sembunyi-sembunyi

Gajah Mada 60

dalam menyembah raja. Sebaliknya, telik sandi pasukan khusus

Bhayangkara yang dikirim menyusup ke dua wilayah itu memberi

laporan berbeda.

Di tempat yang tersembunyi dan tidak dilakukan di pusat kota, geladi

perang dan upaya menghimpun kekuatan dilakukan. Sebuah lapangan

terbuka dibangun di tengah hutan yang terpencil dan tidak dirambah

siapa pun. Di tempat itu geladi dilakukan, diikuti pasukan berkekuatan

segelar sepapan69 yang mencoba mempelajari rahasia gelar perang.

”Mungkinkah Sadeng dan Keta mendalangi pencurian dua benda

pusaka itu?” ulang Gajah Enggon.

”Kemungkinan itu ada,” jawab Pradhabasu. ”Untuk menelusurinya,

bisa kaukirim telik sandi khusus untuk keperluan menemukan dua pusaka

itu. Atau, aku punya pendapat lain, cobalah kau menghadap Tuan Putri

Gayatri.

Pradhabasu tergoda oleh batuknya. Dengan wedang serai

kegemarannya, mantan prajurit pilihan dari pasukan khusus Bhayangkara

itu membasahi tenggorokannya.

”Mintalah Tuan Putri Gayatri bercerita bagaimana riwayat kedua

pusaka itu,” lanjut Pradhabasu. ”Siapa tahu dari sana kau akan

memperoleh arah yang harus kautuju untuk menemukan kembali kedua

pusaka yang hilang itu. Selanjutnya, aku mempunyai saran, sebaiknya

peristiwa kemalingan itu segera dilaporkan kepada kedua Prabu

Putri. Jika kau harus dicopot sebagai pimpinan pasukan Bhayangkara

sebagai tanggung jawab atas kecurian itu, terima saja keputusan itu dan

selanjutnya kaupunya waktu sangat luang untuk mencari kedua pusaka

itu. Kau tak mungkin punya waktu dengan keadaanmu sekarang. Kau

juga tidak mungkin mengandalkan anak buahmu.”

Gajah Enggon mengerutkan kening.

”Aku harus menghadap Ratu Gayatri?” tanya Gajah Enggon.

69 Segelar sepapan, pasukan dengan kekuatan total~zaman sekarang setara dengan penggelaran kekuatan

gabungan dari semua korps.

Hamukti Palapa 61

”Tuan Putri Biksuni Gayatri tahu persis riwayat cihna dan songsong

yang hilang itu. Kaukorek keterangan itu sampai bagian sekecil-kecilnya.

Kalau kau tak mungkin mencari sendiri, selebihnya biarlah aku yang

melacakkan untukmu.”

Senopati Gajah Enggon manggut-manggut sambil menahan

senyum tipis yang akan mengembang.

”Andai gagasanmu itu aku turuti, apakah dengan demikian kita

akan menempuh perjalanan panjang?” tanya Enggon.

”Itu amat mungkin aku lakukan. Lagi pula, sudah lama aku menahan

keinginanku untuk kembali menempuh perjalanan panjang,” jawab

Pradhabasu.

”Bagaimana dengan anakmu?” tanya Gajah Enggon.

”Tentu aku tak perlu membawanya menempuh perjalanan panjang

yang akan aku tempuh. Soal Prajaka, anakku, ada orang yang terbiasa

mengurusnya.”

Tak berkedip Gajah Enggon memandang lawan bicaranya. Senyum

yang ditahan akhirnya merekah juga.

”Selama ini aku berharap kau mengawininya, itukah yang

kaulakukan?”

Pertanyaan yang berbelok mendadak itu menyebabkan Pradhabasu

merasa lehernya agak tercekik. Wajah Dyah Menur atau Sekar Tanjung

datang melintas.

”Aku mengawini Dyah Menur Sekar Tanjung? Kau berpikir seperti

itu?”

”Ya,” jawab Gajah Enggon.

Pradhabasu tersenyum, tetapi dengan segera senyum itu muksa dari

wajahnya. Pembicaraan yang membelok mendadak itu menyebabkan

Pradhabasu tak bisa mencegah kehadiran wajah mantan Patih Daha di

benaknya. Sosok yang memberinya kecemasan sekaligus sosok yang

membuatnya selalu berangan-angan.

Gajah Mada 62

”Bagaimana dengan Kakang Gajah Mada, apa Kakang Patih Gajah

Mada juga berpikir seperti itu?”

Gajah Enggon menatap lurus mata Pradhabasu.

”Aku tidak tahu bagaimana cara pandang Kakang Gajah Mada,”

Gajah Enggon menjawab. ”Namun, aku yakin Kakang Gajah Mada

mempunyai cara melihat jauh ke depan. Dan, demi kepentingan yang

lebih besar, tidak peduli jika untuk cara pandang macam itu menyebabkan

harus ada pihak yang menjadi korban. Ibarat tangannya sendiri pun jika

perlu dipotong. Jika Kakang Gajah Mada datang ke sini dan bertanya

soal itu, lebih bagus kalau kamu mengarang cerita perempuan itu sudah

mati.”

Semula wajah Pradhabasu datar saja, tetapi beberapa jenak kemudian

senyumnya mencuat. Senyum yang oleh Gajah Enggon dibaca sinis.

”Perempuan itu memang sudah mati,” jawab Pradhabasu.

Tak berkedip Gajah Enggon.

”Perempuan itu memiliki cinta dan kesetiaan. Ia punya harga diri.

Selama ini aku sulit memahami kenapa adikku mampu mengambil

pilihan mati saat mana aku kabarkan kematian suaminya. Cinta, harga

diri, dan kesetiaan punya kekuatan yang mendorong orang melakukan

itu. Di alam kematiannya sana, adikku bahagia bisa bertemu dengan

Mahisa Kingkin.”

Wajah Gajah Enggon tegang.

”Kau berkata sesungguhnya?” tanya senopati pimpinan Bhayangkara

itu.

Pradhabasu memamerkan wajah datarnya. Jika Pradhabasu

tersenyum, itu berarti apa yang diucapkan tidak bersungguh-sungguh.

”Benarkah yang kaukatakan itu?” Gajah Enggon memberi

tekanan.

Wajah Pradhabasu tetap datar, tak ada jawaban yang keluar dari

mulutnya.

Hamukti Palapa 63

”Kalau ya,” tambah Gajah Enggon, ”mungkin aku perlu mengabarkan

kepada Raden Kudamerta supaya beliau tidak lagi memikirkannya. Juga

ada baiknya kulaporkan itu kepada Kakang Gajah Mada agar Kakang

Gajah Mada tidak terhantui adanya klilip70 yang bisa mengganggu

peralihan kekuasaan istana di waktu yang akan datang.”

Pradhabasu termangu beberapa saat. Alasan yang disampaikan

Gajah Enggon itulah sebenarnya yang menjadi penyebab ia merasa

enggan bertemu dengan Gajah Mada.

Setelah sekian lama waktu berlalu sejak kematian Sri Jayanegara,

belum sekalipun Pradhabasu datang menemui Gajah Mada. Setidaknya

dua kali Gajah Mada datang berusaha menemui, tetapi Pradhabasu

berhasil menghindar. Gajah Mada yang datang mengira dirinya sedang

menempuh perjalanan panjang dari satu daerah ke daerah lainnya

dalam rangka memuaskan diri terhadap rasa ingin tahu dan kegemaran

bertualang.

”Aku tidak keberatan,” kata Pradhabasu. ”Dengan begitu, bocah yang

tidak bersalah itu akan aman. Kakang Patih Gajah Mada menganggapnya

sebagai sumber bahaya kekuasaan istana atau mencemari garis trah.

Baiklah aku sependapat, sampaikan kepada Kakang Patih Gajah Mada

nasib buruk yang menimpa Dyah Menur. Ia telah mati lampus dengan

bakar diri bersama anaknya sebagai pilihan pahit yang harus diambil.”

Gajah Enggon tak menjawab, tetapi mengangguk membenarkan.

Dalam hati, Gajah Enggon berniat akan mengabarkan hal itu.

”Tetapi, bagaimana cerita yang sesungguhnya terjadi?” Gajah

Enggon mengejar.

Pradhabasu menggeleng dengan tegas.

”Sebaiknya aku tidak memiliki cerita lain kecuali ibu dan anak itu

memang telah mati. Itu kabar yang bagus untuk Kakang Gajah Mada

dan mungkin kabar pahit bagi Raden Kudamerta. Namun, dengan

70 Klilip, Jawa, arti harfiahnya debu, arti kiasannya sesuatu yang berpotensi mengganggu dan menimbulkan

masalah di kemudian hari.

Gajah Mada 64

mendengar cerita itu, Raden Kudamerta akan meniti tonggak baru,

mulai mengarahkan pandangan ke depan tanpa harus dibayangi wajah

Dyah Menur dan anaknya. Ia hanya boleh menatap Prabu Putri Dyah

Wiyat Rajadewi Maharajasa tanpa harus menatap wajah lain selain Prabu

Putri.”

Gajah Enggon merasa bukan bocah kecil yang bisa dibohongi,

tetapi Gajah Enggon bisa memahami alasan Pradhabasu menghapus

nama Dyah Menur dan anaknya semata-mata untuk menyelamatkan

mereka dari kejaran Gajah Mada. Demi kepentingan yang jauh lebih

besar, demi kebesaran dan keagungan negara, penyakit bernama Dyah

Menur harus dihapus keberadaannya. Bahkan, andaikata penyakit itu

melekat di tangan, Gajah Mada diyakini tidak akan segan menebas

tangannya.

Seharian Gajah Enggon berada di rumah bekas Bhayangkara

Pradhabasu. Banyak hal dibicarakan hingga akhirnya sore datang

menjelang. Gajah Enggon memutuskan pulang.

”Aku iri kepadamu,” kata Gajah Enggon.

Pradhabasu terkejut. Dahinya mencuat seiring senyumnya yang

ditahan.

”Hah, apa yang harus diirikan?” balas Pradhabasu.

”Dengan kedudukanmu sekarang, kau bisa bebas lepas terbang

seperti burung. Ke mana pun kau bisa tanpa harus terpagari waktu.”

Pradhabasu tidak menanggapi kata-kata itu. Senyumnya yang

akhirnya melebar pun bertambah lebar dengan tawanya yang berderai.

Sejenak kemudian, suara derap kuda yang ditunggangi pimpinan pasukan

Bhayangkara itu membelah udara pedukuhan yang tak begitu ramai,

meski berada cukup dekat dengan kotaraja. Sepanjang jalan yang dilintasi,

debu mengepul ke udara.

Pradhabasu akan kembali masuk ke rumahnya ketika tetangga

sebelah datang dengan bergegas.

”Ada apa, Ki Sangga?” tanya Pradhabasu dengan ramah.

Hamukti Palapa 65

Ki Sangga bernama lengkap Sangga Rugi. Orang bertubuh kurus

kering dan hanya berkemul sarung itu memandang ke jejak kuda yang

makin jauh melintas bulak panjang. Perut Ki Sangga Rugi sedang penuh

dengan rasa ingin tahu, selalu ingin tahu meskipun bukan urusannya.

Sikapnya yang demikian sering menyebabkan beberapa tetangganya

merasa sebal, tetapi Ki Sangga Rugi memang tak mengenal kata sebal.

”Siapa orang itu?”

Pradhabasu geleng-geleng kepala, lalu tersenyum.

”Pimpinan pasukan khusus Bhayangkara,” jawabnya apa adanya.

”Waah?” dengan segera alis Ki Sangga Rugi mencuat.

Pradhabasu tersenyum.

”Ia sahabatku,” Pradhabasu memberi penjelasan.

Ki Sangga Rugi terbelalak.

”Masa?” Ki Sangga Rugi tidak percaya.

”Kenapa?” balas Pradhabasu.

”Tak mungkin ia pimpinan pasukan Bhayangkara. Tidak mungkin

ia datang ke sini untuk menemuimu. Kamu itu siapa?”

Memperoleh pertanyaan itu, Pradhabasu segera tersenyum. Ia

lakukan itu sambil garuk-garuk kepala.

”Jadi, kalau seorang senopati tidak boleh datang mengunjungiku

ke sini?”

Ki Sangga Rugi merasa curiga. Tetangganya yang bernama

Pradhabasu itu sungguh keterlaluan dalam membual. Kalau bercerita

siapa saja para raja turun-temurun sejak dari zaman Singasari, seolah

Pradhabasu keturunan raja. Kalau menceritakan bagaimana sepak terjang

orang-orang Bhayangkara, seolah Pradhabasu pernah menjadi bagian

dari pasukan Bhayangkara. Sungguh sikap yang sangat menyebalkan.

Kalau bukan karena rasa belas kasihannya, tentu telah digamparnya

mulut sombong itu.

Gajah Mada 66

Begitu sombongnya, kini Pradhabasu mengarang cerita seolah

pimpinan pasukan khusus itu datang mengunjunginya. Padahal, ia yang

merasa kenal dengan Gajah Mada yang lebih sangar dan lebih terkenal,

sama sekali tidak pernah membual.

”Jangan menceritakan hal yang tidak benar,” kata Ki Sangga Rugi

memberi saran.

Pradhabasu terbelalak.

”Apa maksudmu?” tanya Pradhabasu.

Ki Sangga Rugi bahkan bertolak pinggang.

”Sudah aku bilang, janganlah membual. Coba siapa tamu itu tadi?

Tidak usahlah mengarang-ngarang cerita dengan niat menggelembungkan

kepala. Aku bukan orang bodoh. Aku bukan anak kemarin sore yang

akan gampang silau.”

Pradhabasu makin bingung. Pradhabasu sulit memahami mengapa

ada tetangga yang sikapnya aneh seperti itu.

”Maksudmu aku tidak bodoh itu bagaimana?”

”Kamu itu siapa? Tak mungkin seorang senopati, apalagi senopati

Bhayangkara datang ke sini.”

Pradhabasu akan tertawa, tetapi ditahannya keinginan untuk tertawa

itu sekuat tenaga.

”Kamu bertanya siapa orang itu, aku tidak mengundang kamu

datang untuk selalu ingin tahu urusan orang lain. Lalu kujawab, ternyata

kamu curiga jawabanku tidak benar. Terserahlah!”

”Maksudku, jujur sajalah,” jawab Ki Sangga Rugi.

”Kalau kusebut nama lain, mungkin kau masih tak akan percaya.

Bagaimana jika kusebut nama sahabatku yang datang itu Gajah Enggon?”

jawab Pradhabasu.

”Nah, begitu,” kata Ki Sangga Rugi.

Hamukti Palapa 67

Akan tetapi, sejenak kemudian Ki Sangga Rugi terbelalak.

Pradabhasu sama sekali tidak berminat meladeni tetangga yang satu itu.

Pradhabasu beranjak masuk ke rumah.

”Tunggu,” kata Ki Sangga Rugi.

Pradhabasu berhenti dan berbalik.

”Kenapa?” balas Pradhabasu.

”Kamu tadi menyebut orang itu Gajah Enggon?”

Pradhabasu tak menjawab. Hanya dipandangi dan ditunggu apa

yang akan dikatakan Ki Sangga Rugi.

”Bukankah Gajah Enggon itu nama senopati pimpinan pasukan

Bhayangkara?”

”Ya,” jawab Pradhabasu. ”Kau melihat wajahnya, bukan? Kau masih

bisa mengenali ia adalah Gajah Enggon?”

Namun, Ki Sangga Rugi punya keyakinan yang dipegang teguh

tak ubahnya agama. Bagi Ki Sangga Rugi, tidak mungkin tetangganya

bersahabat dengan pejabat penting istana.

”Sangat tidak masuk akal dan sangat mustahil orang penting di

Majapahit bersedia datang berkunjung ke rumah Pradhabasu, rumah

yang jelek, rumah yang sangat tidak pantas didatangi punggawa kerajaan

setinggi senopati. Kalau dibiarkan, Pradhabasu pasti akan membual

bahwa Prabu Putri Tribhuanatunggadewi dan adiknya akan datang

mengunjungi rumahnya yang akan ambruk itu. Sikap Pradhabasu yang

demikian harus dihadang. Jika dibiarkan, ia akan nglunjak,”71 pikir Ki

Sangga Rugi.

Dan, Ki Sangga Rugi rupanya punya cadangan bualan yang tak

akan habis dikuras.

”Kautahu Gajah Mada?” tanya Ki Sangga Rugi.

71 Nglunjak, Jawa, kurang ajar

Gajah Mada 68

”Ya,” balas Pradhabasu. ”Hampir setiap orang Majapahit tak ada

yang tak pernah mendengar nama itu. Gajah Mada adalah pahlawan

yang telah menyelamatkan Prabu Sri Jayanegara dari kejaran Ra Kuti

sampai ke Bedander yang terletak di Pegunungan Kapur Utara. Gajah

Mada juga yang berhasil meredam persaingan antara pendukung Raden

Cakradara dan Raden Kudamerta yang ingin berebut kekuasaan setelah

kematian Prabu Sri Jayanegara. Gajah Mada pernah menjadi patih di

Kahuripan mendampingi Tuan Putri Sekar Kedaton Sri Gitarja, juga

pernah menjadi patih di Daha mendampingi Prabu Putri Dyah Wiyat

ketika masih menjadi pemangku wilayah Daha. Gajah Mada pula yang

dengan tangkas membunuh Rakrian Tanca karena telah meracuni Sang

Prabu Jayanegara.”

Ki Sangga Rugi mencuatkan alis. Entah bagaimana ceritanya,

tetangga sebelahnya itu banyak tahu. Bedander pun tahu. Apalagi,

Pradhabasu masih melanjutkan bercerita apa yang diketahuinya.

”Ketika itu Gajah Mada dengan sekitar lima belas anak buahnya

membawa keluar Prabu Jayanegara dari dinding istana dengan membuang

umpan ke Krian. Ra Kuti dan para Dharmaputra Winehsuka yang lain

mengejar umpan itu ke Krian. Ternyata tidak ada siapa-siapa di sana.

Di antara pasukan Bhayangkara rupanya ada yang berkhianat dan

memberi petunjuk, Prabu Jayanegara disembunyikan di rumah Ki Buyut

Mojoagung. Untung Bekel Gajah Mada masih mampu menyelamatkan

Prabu Jayanegara sampai ke wilayah jauh di Bojonegoro dan kemudian

ditolong oleh Lurah Bedander.

Di Bojonegoro, pengkhianat bernama Singa Parepen atau Bango

Lumayang itu akhirnya dibunuh oleh Gajah Mada. Semula sangat sulit

untuk mengungkap siapa jati diri pengkhianat itu, tetapi karena pintar

dan jitunya Gajah Mada dalam bersiasat yang dibantu oleh seorang anak

buahnya maka pengkhianat itu muncul ke permukaan.”

Ki Sangga Rugi terheran-heran, nama Singa Parepen baru pertama

kali Ki Sangga Rugi mendengarnya.

”Singa Parepen? Bagaimana kamu bisa tahu semua itu?”

Hamukti Palapa 69

Pradhabasu tersenyum lebar.

”Karena aku gemar melanglang buana ke mana-mana. Aku punya

kegemaran pergi dari satu tempat ke tempat lain sehingga aku banyak

melihat dan mendengar. Terus, ada apa dengan Gajah Mada? Kenapa

tiba-tiba kau bertanya tentang Gajah Mada?”

Ki Sangga Rugi merasa memperoleh waktu untuk meledakkan isi

perutnya.

”Gajah Mada itu sahabatku, teman akrabku yang baik,” ucapnya

dengan segenap rasa puas.

Pradhabasu tersenyum.

”O, ya, bagus itu. Tak banyak orang mendapat kesempatan

bersahabat dengan Gajah Mada. Yang aku dengar, Gajah Mada itu

berwajah sangar. Yang aku dengar, Gajah Mada juga sulit tertawa. Ooo,

jadi ia sahabatmu?”

”Kalau ke rumahku,” Ki Sangga Rugi menjawab tangkas, ”ia amat

betah dan malas pulang. Kegemarannya makan ketela bakar. Aku tidak

mau menyuguhi nasi karena berapa bakul pun nasi kusediakan selalu

habis.”

Pradhabasu mendadak merasa perutnya sakit.

”Begitu?”

”Ya,” jawab Ki Sangga Rugi. ”Kalau aku ke kotaraja, Gajah Mada

selalu berharap aku singgah. Seorang prajuritnya ditempeleng Gajah

Mada karena tidak memperlakukan aku dengan baik.”

Pradhabasu mencuatkan alis.

”Kenapa Gajah Mada menempeleng anak buahnya?”

”Prajurit itu menghalang-halangi niatku bertemu dengan Gajah

Mada,” kata Sangga Rugi. ”Perbuatannya itu ketahuan oleh Gajah Mada

dan ia marah sekali. Prajurit itu lalu ditempeleng dan dipukuli sampai

babak belur.”

Pradhabasu makin termangu dan takjub.

Gajah Mada 70

”Gajah Mada menghukum anak buahnya seperti itu karena tidak

menghormati dirimu?”

”Benar!” jawab Ki Sangga Rugi. ”Kalau aku ke kota, ikut saja. Nanti

kamu akan aku perkenalkan dengan Gajah Mada.”

Pradhabasu menggeleng.

”Tidak usah,” jawabnya. ”Aku takut berkenalan dengan Gajah Mada.

Yang aku dengar Gajah Mada itu pemarah. Kepalan tangannya dua kali

besar kepalan tanganku. Aku takut.”

Ki Sangga Rugi tertawa bergelak. Tertawa dengan rasa puas yang

memenuhi rongga dadanya. Namun, Pradhabasu bukan jenis orang

yang ingin memberi pelajaran untuk urusan macam itu. Pradhabasu

sama sekali tidak memasukkan segala omong kosong dan bualan itu

ke dalam hati. Pradhabasu justru gelisah, apa yang dituturkan Gajah

Enggon memang sangat membekas dalam hatinya. Pradhabasu curiga,

pencurian terhadap dua benda yang tidak bernilai dan sekaligus tak

ternilai itu merupakan sebuah lambang. Lambang apa? Ada kaitannya

dengan rencana makar yang dilakukan penguasa Keta dan Sadeng? Atau,

karena hal lain?

”Prajaka!” Pradhabasu memanggil.

Sang Prajaka sama sekali tidak terusik.

”Prajaka, lihat aku!” Pradhabasu mempertajam warna suaranya.

Memperoleh bentakan itu, Sang Prajaka menoleh. Namun, arah

pandang bocah yang dililit sakit jiwa itu tertuju ke arah lain.

”Pandang mataku, Prajaka!” perintah Pradhabasu dengan tegas.

Sang Prajaka menggerakkan bola matanya perlahan, tertuju langsung

dan lurus ke mata Pradhabasu. Cukup lama Prajaka tidak berkedip. Hal

itu yang membuat Pradhabasu sering terheran-heran. Kemampuan tidak

berkedip itu bisa berlangsung lama. Pradhabasu sendiri pernah mencoba

untuk bertahan tak berkedip, tetapi tak mampu, hanya beberapa kejap

matanya langsung berair.

Hamukti Palapa 71

”Aku akan pergi. Kau akan aku titipkan di Bibi Tanjung, bagaimana?”

Pradhabasu bertanya.

Hanya untuk satu hal Sang Prajaka bisa tersenyum. Satu hal itu

adalah Bibi Tanjung yang amat baik dan tulus dalam menyayanginya.

Namun, itu pun hanya sejenak. Senyum yang berlepotan teka-teki

itu kemudian menghilang tidak ada jejaknya. Meskipun demikian,

Pradhabasu telah telanjur menandainya.

Sang Prajaka mengangguk, tak lebih dan tak kurang. Hanya

tiga hal yang bisa ia lakukan saat berurusan dengan orang lain, yaitu

mengangguk, menggeleng, atau diam. Jika berkenan, Prajaka akan

mengangguk. Sebaliknya, jika tidak berkenan, ia akan menggeleng,

itu pun arah pandang matanya tidak akan ditujukan kepada orang di

depannya. Selebihnya, ia pilih diam membisu. Andaikata gunung meledak

di depannya, ia akan tetap membisu.

Sang Prajaka seperti punya dunia sendiri, dunia yang tak ada

hubungannya dengan dunia wajar yang semestinya. Kembali Sang Prajaka

larut dalam tatapan matanya yang aneh. Tatapan mata yang tembus jauh

menjebol sekat antara yang kasatmata dan tak kasatmata, seolah melalui

pandangan mata yang aneh itu, Prajaka mampu melihat gerak tingkah

para hantu dan makhluk halus lainnya.

Pertemuannya dengan Senopati Gajah Enggon mendorong

Pradhabasu mengambil keputusan untuk kembali berkelana dari satu

wilayah ke wilayah lain. Hanya dengan cara seperti itu jejak dua pusaka

yang hilang itu bisa ditelusuri dengan lebih teliti. Perjalanan berkelana

seperti itu bukannya tanpa bahaya karena masih banyak wilayah yang

belum aman di pelosok Majapahit, terutama yang jauh dari kotaraja.

Kemarau panjang banyak menimbulkan kesulitan dan kesulitan sering

menjadi penyebab orang mengambil jalan pintas, maling bermunculan,

demikian juga dengan perampok atau begal.

Menghadapi bahaya itu senjata harus disiapkan, termasuk anak

panah yang amat mungkin digunakan berburu saat kehabisan bahan

makan di jalan. Untuk keperluan yang membutuhkan waktu agak lama

itu, Pradhabasu harus menitipkan anaknya. Terhadap keperluan itu, tak

Gajah Mada 72

perlu ada yang dicemaskan karena ada orang yang dengan senang hati

akan membantu mengurus. Dilakukannya itu tidak hanya dengan senang

hati, tetapi dengan ketulusan tanpa tepi.

Persoalan yang dicemaskan Pradhabasu menembus ke waktu yang

jauh ke masa depan Prajaka, yang dalam hal apa pun sangat bergantung

kepada dirinya. Jika Sang Prajaka mampu mandiri, tentu tak ada yang

perlu digelisahkan. Dengan keterbelakangan seperti itu, Pradhabasu

cemas jika kelak tiba saatnya ia mati, lalu siapa yang akan mengurus bocah

itu, siapa yang akan memberinya makan dan melindunginya jika ia berada

dalam bahaya. Dengan keterbelakangan macam itu, tidak mungkin ada

perempuan yang mau menjadi istrinya. Hidup tanpa masa depan yang

demikian sering memunculkan pertanyaan, apa gunanya hidup.

Pradhabasu meraih endong72 penuh dengan anak panah yang

digantungkan di dinding untuk dibersihkan. Kurang cermat Pradhabasu

dalam memegang endong itu hingga jatuh berserakan di lantai. Sang

Prajaka melirik sekilas dan kembali larut pada tanduk menjangan

penghias dinding. Pradhabasu memunguti anak panah itu satu per satu

dan menatanya.

”Dua puluh delapan.”

Pradhabasu tertegun dan tangannya berhenti memunguti anak

panah. Dengan muka sangat heran Pradhabasu memandang anaknya.

”Apa tadi kaubilang?” tanya Pradhabasu.

Pradhabasu terheran-heran karena jarang sekali mendengar Prajaka

berbicara. Namun, Prajaka tidak mendengar pertanyaan itu. Tubuhnya

terayun-ayun mirip orang menunggang kuda atau lebih mirip orang

menahan sakit perut yang amat sangat. Ia lakukan itu dengan alasan

hanya ia sendiri yang tahu. Gerakan itu dilakukan seperti tidak berasal

dari perintah otaknya.

Pradhabasu yang merasa heran menumpahkan anak panah yang

telah telanjur dimasukkan ke dalam endong dan menghitungnya satu

72 Endong, Jawa, wadah anak panah

Hamukti Palapa 73

per satu. Ketika pekerjaan itu tuntas, mata mantan prajurit Bhayangkara

itu terbelalak. Tak cukup hanya terbelalak, Pradhabasu kembali

menghitungnya.

”Dua puluh delapan,” desisnya. ”Bagaimana kamu bisa menghitung

secepat itu, Prajaka?”

Sang Prajaka tidak menjawab. Kesibukan mengayunkan tubuh

dengan mata tidak bergeser dari arah pandangnya baginya lebih penting

daripada menjawab pertanyaan yang diajukan ayahnya. Rasa penasaran

membelit Pradhabasu yang mendorongnya melakukan pembuktian.

Sekepal anak panah dipisahkan, sisanya dibuang berserakan ke lantai.

Pradhabasu menyentuh pundak bocah itu dan memerhatikan dengan

cermat bagaimana bahasa permukaan wajahnya.

”Dua puluh satu,” ucap Prajaka setelah melirik sekilas.

Hanya sekilas, waktu yang secara lumrah tidak cukup digunakan

menghitung.

Dengan gugup dan rasa heran, Pradhabasu memungut anak panah

yang ditebar dan segera menghitungnya. Makin terbelalak Pradhabasu.

Didorong oleh rasa tidak percaya, Pradhabasu kembali memungut semua

anak panah dan menghitung ulang.

”Kau ini pandai atau goblok?” desis Pradhabasu sambil tak mampu

menguasai diri.

Sang Prajaka terus mengayun tubuhnya, terus bergerak sambil

mendekap perut. Ia lakukan itu kali ini sambil dengan memejam mata.

Dengan tidak melihat apa-apa, Prajaka gampang larut ke dunia lain, dunia

yang bukan wilayah lumrah manusia. Barangkali di sana para hantu bisa

dilihat wujudnya secara telanjang. Barangkali melalui cara itu akan tampak

bagaimana hantu perempuan menyusui anaknya atau bagaimana para

makhluk halus bermasyarakat antara satu dan lainnya, atau bahkan bisa

melihat arwah ibunya yang telah mengambil kematian sebagai pilihan

demi cinta dan kesetiaan pada lelaki yang menjadi suaminya, Mahisa

Kingkin.

Gajah Mada 74

Pradhabasu memeras otak, mencoba mencari jawab keadaan anaknya.

Akan tetapi, sekeras apa pun Pradhabasu berpikir, ia tak memperoleh.

Sang Prajaka tetap sibuk dengan gerak ayunan berkudanya.

”Prajaka, berhentilah mengayun!” kata Pradhabasu.

Namun, Sang Prajaka tetap mengayun, mirip gerakan orang

menunggang kuda yang dilakukan tanpa henti dan tak akan pernah

berhenti jika tidak diperintah untuk berhenti. Pradhabasu melihat Sang

Prajaka sangat menikmati kegiatan yang satu itu.

”Prajaka, berhentilah dan duduklah dengan tenang!” Pradhabasu

menjatuhkan perintah.

Sang Prajaka akhirnya berhenti. Ia menoleh dengan menggerakkan

seluruh kepala amat pelan, serasa menggunakan penghayatan. Tatapan

matanya menyebabkan Pradhabasu merasa miris. Tatapan mata itu bisa

terlihat kosong tanpa cahaya dan tanpa dosa, tetapi tatapan mata itu juga

bisa lebih tajam dari pisau paling tajam.

”Aku lapar!” desis bocah itu sambil kembali mengayun.

Pradhabasu merasa tertampar wajahnya, dipeluknya bocah itu

amat erat.

6

Sang waktu bergerak melintasi malam dan menyongsong

datangnya pagi berikutnya dengan udara yang menghangat dan langit

cerah. Sebagaimana saran yang diterima dari Pradhabasu, Gajah Enggon

tidak ingin menunda waktu. Ia sempatkan di sela kesibukan yang padat

untuk menghadap Ibu Suri Rajapatni.73

73 Rajapatni, gelar yang diberikan Raden Wijaya kepada Gayatri

Hamukti Palapa 75

Sebagaimana biasa, Ibu Suri yang terlihat masih cantik itu

menampakkan raut muka yang amat sejuk. Akan tetapi, usianya memang

telah tua dan orang tua sebagian berpikir ingin segera mati. Persiapan

menjemput kematian lalu dilakukan dengan sebaik-baiknya. Itulah

kegiatan yang lebih sering dilakukan oleh anak mendiang Prabu Sri

Kertanegara74 itu, yang lebih sering berbuat baik kepada sesama,

menolong mereka yang dalam butuh pertolongan, memberi suluh

mereka yang berada dalam kegelapan, dan lebih sering berada di

sanggar pamujan.

Untuk satu hal Ibu Suri Gayatri layak merasa iri. Dalam waktu dua

tahun terakhir dengan hanya berselisih beberapa bulan, Ibu Suri kedua

dan ketiga memperoleh anugerah Hyang Widdi menyusul ke alam

langgeng bertemu dengan mereka yang telah pergi lebih dulu. Ibu Suri

yang masih hidup kini tinggal Sri Parameswari Dyah Dewi Tribhuaneswari

yang keadaan kesehatannya mulai menyedihkan. Kematian dua adiknya,

Sri Mahadewi Dyah Dewi Narendraduhita dan Sri Jayendradewi Dyah

Dewi Pradnya Paramita kembali menghadap penciptanya menyebabkan

Ibu Suri pertama itu sangat kehilangan.75

Ibu Suri kehilangan nafsu makan, tak bergairah dalam beberapa

hal menyebabkan keadaan tubuhnya kian hari kian memburuk. Ibu

Suri Tribhuaneswari juga jarang bicara dan hanya mau berbicara dengan

adiknya. Ajakan berbicara dari para emban sama sekali tidak digubrisnya,

termasuk ketika Gajah Mada datang mengunjungi, Ibu Suri melirik pun

tidak. Bahkan, ketika kedua Prabu Putri kakak beradik datang berkunjung,

Prabu Putri Sri Gitarja Tribhuanatunggadewi Jayawisnuwardhani dan

Dyah Wiyat Rajadewi Maharajasa tidak digubris.

74 Sri Kertanegara, Raja Singasari terakhir berpermaisuri Bajradewi. Kertanegara dikaruniai 6 orang

putra yang empat orang di antaranya dikawinkan semua dengan Raden Wijaya, masing-masing adalah

1. Sri Wiswarupakumara, 2. Sri Parameswari Dyah Dewi Tribhuaneswari, 3. Sri Mahadewi Dyah Dewi

Narendraduhita, 4 Sri Jayendradewi Dyah Dewi Pradnya Paramita, 5. Sri Jayendradewi Dyah Dewi Gayatri,

dan seorang anak bungsu yang dikawinkan dengan Ardaraja, anak Jayakatwang dari Gelang-Gelang yang

justru menyerbunya.

75 Terdapat catatan yang berbeda antara sumber berita yang menyebut para istri Raden Wijaya. Sumber berita

kakawin Negarakertagama dengan tegas menyebut, empat anak Kertanegara semua diperistri oleh Raden

Wijaya. Mereka adalah Tribhuaneswari, Narendraduhita, Pradnya Paramita, dan Gayatri. Sebaliknya,

sumber Pararaton dan Kidung Panji Wijayakrama hanya menyebut dua.

Gajah Mada 76

”Bagaimana kabarmu, Enggon?” tanya Biksuni76 Gayatri.

Gajah Enggon beringsut lebih mendekat sambil memperbaiki sikap

duduknya dan menyembah.

”Hamba, Ibu Suri,” jawab Gajah Enggon. ”Kabar hamba selama

ini selalu baik, tak kurang suatu apa. Selama ini hamba selalu berdoa

untuk kesehatan Ibu Suri.”

Biksuni Gayatri tersenyum dan mengangguk.

”Terima kasih untuk doa kesehatan yang kaupanjatkan, Gajah

Enggon. Aku doakan untukmu pula semoga Hyang Widdi selalu

membebaskan dirimu dari mata rantai sebab dan akibat.”

Dengan sangat santun dan menghindarkan bertatapan mata secara

langsung Gajah Enggon bersikap.

”Kedatanganmu tentu membawa sebuah keperluan, Enggon?’

Gajah Enggon teringat pada saran Pradhabasu sahabatnya, untuk

sebaiknya bicara terus terang apa adanya. Soal lenyapnya dua pusaka,

cihna nagara dan songsong Kiai Udan Riwis, tak perlu disembunyikan

lagi. Menyembunyikan hal itu dari Prabu Putri dan Ibu Suri justru

merupakan kesalahan.

”Hamba, Tuan Putri Ibu Suri,” jawab Gajah Enggon. ”Kedatangan

hamba kali ini untuk memohon petunjuk.”

Biksuni Gayatri menyimak dan menempatkan diri untuk mendengar.

Biksuni menyimak apa yang akan disampaikan Enggon.

Gajah Enggon siap melanjutkan.

”Mohon ampun, Tuan Putri, bersamaan dengan gempa bumi yang

terjadi beberapa hari yang lalu, sebenarnya istana kecurian benda yang

sangat penting. Hamba sebagai pimpinan pasukan Bhayangkara harus

bertanggung jawab atas hilangnya benda pusaka itu.”

76 Biksuni, biksu perempuan, juga sebutan bagi Ibu Suri Gayatri setelah memutuskan mengabdikan diri

secara penuh pada agama Buddha yang dianutnya.

Hamukti Palapa 77

Ibu Suri Gayatri tidak menampakkan perubahan wajah apa pun. Bagi

seorang biksuni dan para biksu pada umumnya, harta benda hanyalah

masalah duniawi yang amat menyesatkan. Harta benda merupakan

simpul awal dari munculnya nafsu keserakahan dan keserakahan adalah

pintu gerbang kegelapan.

”Benda apa yang hilang, Gajah Enggon?” tanya Gayatri.

Gajah Enggon mengambil napas lebih dalam.

Cihna lambang negara gringsing lobheng lewih laka dan payung Kiai

Udan Riwis telah jengkar dari gedung istana. Untuk melacak keberadaan

benda itu, hamba menyebar banyak prajurit, tetapi hingga kini hamba

belum berhasil menemukan titik terang di mana cihna dan songsong

itu berada. Dengan hilangnya kedua benda pusaka itu, menjadi tanda

adanya pihak yang berniat melakukan makar lagi karena maling benda

itu berpikir cihna dan songsong yang hilang tersebut merupakan benda

keramat tempat bersemayam wahyu.”

Ibu Suri Biksuni Gayatri menampakkan wajah datar. Apa yang

disampaikan Gajah Enggon itu ternyata tidak berkemampuan

mengagetkan Gayatri.

”Peristiwa itu terjadi bersamaan dengan terjadinya gempa bumi?”

Gayatri memberi tekanan.

”Hamba, Tuan Putri,” jawab Gajah Enggon.

Manakala Gayatri kemudian memejamkan mata adalah dalam

rangka mengenang apa yang bisa diingatnya pada malam terjadinya

gempa itu.

”Malam itu udara yang mengalir terasa aneh. Apakah kau mencatat

hal itu?” tanya Ibu Suri Gayatri.

”Hamba, Tuan Putri,” jawab Gajah Enggon tangkas dan terkejut

karena Ibu Suri Gayatri juga menandai udara yang terasa aneh pada

malam peristiwa itu terjadi.

”Apa yang kaurasakan saat itu?” lanjut Gayatri.

Gajah Mada 78

”Hamba menandainya sebagai kekuatan sirep,” jawab Gajah

Enggon.

Senyap dan hening menggeliat menari, menyita perhatian. Ibu

Suri Gayatri termangu dalam berpikir, atau kenangannya terlempar

kembali ke masa silam, ke lipatan kenangan yang menjadi bagian

dari sejarah yang jika tidak ada yang mencatat akan lenyap tak ada

jejaknya.

”Rasanya seperti baru kemarin,” ucap Gayatri setengah berbisik.

Gajah Enggon amat terpancing.

”Mohon Tuan Putri berkenan menceritakan asal-muasal dua benda

pusaka itu,” Gajah Enggon berkata.

Ibu Suri Gayatri termangu ketika kenangannya tergiring kembali

ke masa lalu yang terjadi seolah baru kemarin sore.

”Aku dan Nyai Pamandana yang membatik cihna itu. Aku

mengerjakan bagian bulatan wilwa, sedangkan Nyai Pamandana

mengerjakan bagian luarnya sampai tuntas. Kami kerjakan dalam waktu

berbulan-bulan dengan penuh keprihatinan.”

”Dengan istri Kiai Pamandana?” ulang Gajah Enggon.

”Ya,” Ibu Suri Gayatri menjawab tegas.

Gajah Enggon layak merasakan permukaan jantungnya bagai

dirambati ribuan ekor semut mendengar nama itu diucapkan Ibu Suri

Gayatri. Pamandana bukanlah nama yang boleh dianggap sepi atau tidak

ada. Nama Pamandana boleh dibilang sejajar dengan nama Mapatih

Nambi dan nama-nama lain, seperti Lembu Sora, Gajah Pagon, Mahisa

Pawagal, Banyak Kapuk, mantan maling Wirota Wiragati, dan Kebo

Kapetengan.

Merekalah orang-orang luar biasa yang memberikan pengorbanan

dengan jiwa dan raga terhadap Raden Wijaya, yang pontang-panting

menyelamatkan diri dari kejaran Mahisa Mundarang dari Gelang-Gelang

Kediri, yang menyerbu Singasari ketika kerajaan sedang tidak dijaga oleh

Hamukti Palapa 79

prajurit karena semua dikirim ke Sumatra. Mahisa Mundarang adalah

patih dari Raja Jayakatwang77

Nama-nama itu kemudian terpahat di benak segenap rakyat

Majapahit sebagai cikal bakal pejuang yang membangun negara baru

bernama Majapahit yang terus membesar dan berkembang. Untuk kurun

waktu lama, Pamandana diangkat menjadi pejabat penting oleh Raden

Wijaya. Berbarengan dengan kematian Sang Prabu, Pamandana lenyap

tak ada kabarnya. Konon, ia mengambil pilihan sebagai pertapa dengan

menghabiskan waktu untuk tapabrata di hutan-hutan. Menilik usianya

yang sangat tua, mungkin Kiai Pamandana sudah mati.

Seiring perkembangan waktu, nama-nama yang seangkatan dengan

Pamandana berguguran. Nambi yang menjadi korban fitnah Mahapati

gugur dalam mempertahankan benteng Pajarakan, Lembu Sora terbunuh

dalam pemberontakan bersama Juru Demung dan Gajah Biru dan juga

sebagai akibat fitnah yang ditebar oleh Mahapati. Sementara itu, namanama

lain, seperti Gajah Pagon, Banyak Kapuk, dan Pawagal tak ada

jejaknya, serasa lenyap ditelan bumi.

Di mana mereka, pertanyaan itu sungguh sangat mengganggu rasa

ingin tahu.

”Kalau songsong Kiai Udan Riwis, aku hanya mencatat cerita

yang kuterima dari mendiang Sang Prabu Kertanegara, ayahku. Bahwa

benda itu memiliki usia yang panjang sekali. Penobatan yang dilakukan

terhadap leluhurku, Prabu Ranggawuni dan Prabu Mahisa Cempaka,

sebagai Sri Wisnuwardhana dan Ratu Angabaya Narasinghamurti juga

dipayungi songsong itu. Bagaimana kisah pembuatan payung kebesaran

itu, aku tidak tahu. Yang kita lihat, songsong itu berumur panjang, awet,

dan selalu menyebarkan aroma wangi karena beberapa bagian terbuat

dari kayu cendana.”

77 Jayakatwang, baik Pararaton maupun Negarakertagama menyebut Jayakatwang adalah Raja Kediri. Akan

tetapi, prasasti Mula Malurung yang bisa lebih dipercaya menyebut Jayakatwang adalah Raja Gelang-

Gelang berkat perkawinannya dengan Nararya Turuk Bali, putri Sang Prabu Seminingrat. Prasasti Mula

Malurung juga menyebut, Jayakatwang adalah kemenakan dari Prabu Seminingrat. Dengan demikian,

antara Kertanegara dan Jayakatwang bersaudara sepupu. Akan tetapi, yang jelas pada diri Jayakatwang

mengalir darah Wangsa Kertajaya.

Gajah Mada 80

Gajah Enggon termangu.

”Jika hamba harus melacak jejak dua benda pusaka yang hilang

itu,” kata Gajah Enggon, ”ke manakah hamba harus pergi, Tuan

Putri? Hamba mohon petunjuk dan siap untuk menemukan kembali.

Bahkan, andai harus dengan menyeberang lautan api, hamba akan

lakukan!”

Ibu Suri Gayatri memerlukan memejamkan mata lebih lama untuk

jawaban yang akan diberikan. Bagaimanapun Gayatri adalah orang yang

bermata awas, bukan mata wadag-nya yang awas, tetapi mata batinnya yang

tajam melebihi mata wadag. Gajah Enggon tidak berniat mengganggu

ketika Ratu Gayatri seperti larut dalam pemusatan semadi. Sekejap demi

sekejap sang waktu bergeser menawarkan keheningan yang kental di

ruang itu.

Gayatri kembali membuka mata.

”Pergilah ke Ujung Galuh,78 mulailah pencarian yang akan kaulakukan

dari tempat itu,” ucap Biksuni Gayatri. ”Kehidupan pribadimu boleh

dikata akan berawal dari tempat itu. Jalani saja pencarianmu seperti air

yang mengalir. Jika kau harus hanyut, hanyutlah. Jika tiba saatnya harus

menepi, menepilah. Dekatilah hujan yang turun di musim kemarau yang

menyengat ini. Hujan akan membawamu menemukan jejak pusaka yang

murca79 itu.”

Gajah Enggon menyembah. Meski samar, petunjuk itu membuat

Gajah Enggon merasa lega. Baginya Ujung Galuh bukanlah tempat yang

tak jelas. Jika ada bagian yang membuat Gajah Enggon merasa heran

adalah, apa maksud Ibu Suri mengatakan hidupnya boleh dikata akan

berawal dari sana?

”Hamba mohon restu, Tuan Putri Ibu Suri,” kata Gajah Enggon.

”Dengan petunjuk yang Tuan Putri Ibu Suri berikan kepada hamba,

78 Ujung Galuh, sekarang Surabaya. Pelabuhan ini merupakan muara Kali Mas yang menjadi sempalan

Kali Brantas.

79 Murca, Jawa Kuno, lenyap

Hamukti Palapa 81

kiranya tiba waktunya hamba memulai perjalanan panjang untuk

melacak benda itu agar tidak menjadi penyebab terjadinya huru-hara

pertumpahan darah.”

Gayatri tersenyum sejuk.

”Kuberikan restuku, Gajah Enggon,” jawab Gayatri. ”Akan tetapi,

bagaimana dengan kedudukan dan jabatanmu sebagai pimpinan pasukan

khusus Bhayangkara?”

Gajah Enggon yang telah siap beringsut mundur, memberikan

sembahnya. Dalam sikap yang demikian ia menjawab.

”Hamba sudah cukup lama menjabat sebagai senopati pimpinan

pasukan khusus Bhayangkara. Hamba akan mengajukan permohonan

mengundurkan diri agar bisa dengan leluasa menelusuri jejak maling

payung dan lambang negara itu, dan memberi kesempatan kepada

prajurit di lapis bawah hamba agar mendapat kesempatan yang sama

sebagaimana yang hamba peroleh,” jawab Gajah Enggon dengan

penuh keyakinan.

Biksuni Gayatri senang mendapat jawaban seperti itu. Biksuni

Gayatri senang karena Gajah Enggon tidak terjerat oleh pangkat dan

kedudukan yang tinggi, dan tidak menganggap jabatan sebagai pesona

duniawi yang menyilaukan.

Biksuni Gayatri mengangguk manakala sekali lagi Gajah Enggon

memberikan penghormatannya. Dengan langkah lebar dan penuh

keyakinan, Gajah Enggon berniat menghadap kedua Prabu Putri di

istana.

Menggunakan salah satu ruang yang menjadi bagian tak terpisah

dari Manguntur, di sana pertemuan itu akan dilakukan.

Gajah Mada 82

7

Pasewakan diselenggarakan amat terbatas. Hal itu untuk memenuhi

permintaan Senopati Gajah Enggon yang telah menyampaikan pesan

kepada seorang pengalasan abdi dalem pelayan dalam. Gajah Mada dan

Mahapatih Arya Tadah hadir pula menghadap. Akan tetapi, masingmasing

suami Prabu Putri tidak ikut hadir di pasewakan. Dua orang emban

mendampingi Tribhuanatunggadewi Jayawisnuwardhani untuk melayani

semua kebutuhan Prabu Putri. Di sebelahnya, duduk pada dampar

yang dirancang dalam bentuk sama, Prabu Putri Dyah Wiyat Rajadewi

Maharajasa dilayani oleh Emban Prabarasmi yang siaga menjalankan

apa pun yang diinginkan.

Duduk dengan sedikit terkantuk-kantuk, Arya Tadah yang tua

memerhatikan ke arah lapangan luas di depan Bale Manguntur. Musim

penghujan yang belum juga datang menjadikan lapangan sangat tandus.

Jika ada yang tidak terusik, tetap hijau, dan tetap berdaun lebat di

sepanjang tahun adalah barisan pohon bramastana.80 Di bawah pohon

bramastana yang rindang, beberapa ekor kijang yang telah jinak karena

dipiara sejak masih kecil sedang mengais rumput kering. Sungguh

malang nasib kijang itu karena musim kemarau yang berkepanjangan,

tetapi untunglah kijang-kijang itu berada dalam tanggung jawab pekatik81

istana.

Kijang-kijang yang dilepas bebas itu menyebabkan dua ekor harimau

klangenan yang dikerangkeng di sangkar besi mondar-mandir gelisah,

gemas melihat mangsa yang begitu menggiurkan, tetapi tidak mungkin

digapai karena jeruji besi yang menghalangi. Di mata harimau dalam

kerangkeng itu, tak ada jenis makanan yang begitu lezat selain daging

dan darah kijang.

80 Bramastana, Jawa Kuno, beringin

81 Pekatik, Jawa, abdi istana yang mengurusi kandang kuda

Hamukti Palapa 83

Dulu ketika Ra Kuti memberontak dan berhasil memorakporandakan

istana, Ra Kuti pernah melemparkan mayat manusia sebagai

makanan harimau tersebut. Harimau itu mencatat, daging manusia

ternyata lebih enak daripada daging rusa dan kambing. Sudah lama

harimau itu menunggu-nunggu akan memperoleh kesempatan yang

sama, tetapi kesempatan untuk dhahar daging manusia itu belum pernah

terulang kembali.

Waktu bergeser sejenak. Gajah Mada merasa jengkel karena Gajah

Enggon belum menampakkan batang hidungnya. Padahal, pertemuan

itu diselenggarakan atas permintaan Gajah Enggon. Menempatkan

kedua Prabu Putri harus menunggu benar-benar merupakan sikap yang

tidak sopan.

Namun, kejengkelan Gajah Mada itu tidak harus berumur panjang.

Dari salah satu pintu, Gajah Enggon muncul. Dengan bergegas dan

napas sedikit terengah, Gajah Enggon naik ke pendapa dan beringsut

menempatkan diri. Bergegas pula Gajah Enggon memberi hormat

dengan menyembah kedua Prabu Putri, yang masing-masing dibalas

dengan anggukan kepala.

”Mohon ampun, Tuan Putri Prabu,” kata Gajah Enggon sigap.

”Hamba agak terlambat karena sedikit tertahan di istana Ibu Suri

Gayatri.”

Tribhuanatunggadewi Jayawisnuwardhani mengangguk dan

memberi senyum yang amat tulus. Sebaliknya, betapa tebal wajah

Gajah Mada yang menahan marah. Apa pun alasan yang diberikan,

menempatkan Prabu Putri sampai harus menunggu benar-benar

tak sopan. Perasaan yang demikian juga dirasakan oleh Dyah Wiyat.

Akan tetapi, bahwa penyebab keterlambatan itu karena tertahan

Ibu Suri Gayatri dengan segera Dyah Wiyat Rajadewi Maharajasa

membuang perasaan jengkel itu. Hanya Mapatih Arya Tadah yang

tak terbaca warna macam apa yang bersembunyi di balik raut mukanya

yang datar.

”Kami telah menerima permintaan yang kamu ajukan dan telah

kuhadirkan Paman Tadah dan Kakang Patih Gajah Mada. Silakan

Gajah Mada 84

Kakang Enggon, apa yang akan kausampaikan dalam pertemuan ini?”

tanya Prabu Putri Tribhuanatunggadewi dengan suara datar penuh

wibawa.

Gajah Enggon melirik Gajah Mada, yang dilirik sedang lurus

memandang ke depan. Perlahan Gajah Enggon merapatkan kedua

telapak tangannya dan melekatkan di ujung hidung. Sikap menyembah

itu dilakukan lebih lama dari lazimnya.

”Hamba, Tuan Putri,” jawab Gajah Enggon. ”Permohonan

hamba untuk diadakan pertemuan ini adalah karena hamba harus

mempertanggungjawabkan apa yang terjadi dua pekan yang lalu.

Hamba bersalah telah meminta Kakang Gajah Mada untuk menahan

dan menyembunyikan peristiwa yang terjadi bersamaan dengan

terjadinya gempa bumi di Pabanyu Pindah dan meledaknya Gunung

Kampud.”

Tribhuanatunggadewi Jayawisnuwardhani dan Rajadewi Maharajasa

sama sekali tidak memiliki keterangan apa pun terkait apa yang disampaikan

Enggon. Dua Prabu Putri itu saling pandang. Tribhuanatunggadewi

Jayawisnuwardhani melirik Gajah Mada, yang dilirik dengan segera

merapatkan kedua telapak tangannya.

”Ada peristiwa apa bersamaan dengan terjadinya gempa bumi?”

tanya Prabu Putri Rajadewi.

Pertanyaan itu lebih ditujukan kepada Gajah Mada. Gajah Mada

dengan segera mempersiapkan diri memberikan jawaban.

”Hamba, para Prabu Putri,” jawabnya. ”Bersamaan dengan gempa

bumi yang terjadi saat itu sebenarnya istana telah kemalingan.”

Jawaban itu mengagetkan para Prabu Putri sekaligus mengagetkan

Mahapatih Arya Tadah, yang terbaca dari perubahan sikap duduknya.

Arya Tadah bahkan merasa perlu menggeser kursi.

”Apa yang dibobol maling?” tanya Tribhuanatunggadewi.

Senyap menyelinap, mengalir, dan menggoda. Meski pertanyaan

itu ditujukan kepada Gajah Mada, mantan Patih Daha itu menyerahkan

Hamukti Palapa 85

kepada Gajah Enggon untuk menjawab. Gajah Enggon menyampaikan

jawabnya dengan kepala menunduk.

”Ampun, Tuan Putri. Gedung perbendaharaan pusaka dijebol

orang. Benda yang hilang ada dua, yaitu cihna gringsing lobheng lewih laka

dan songsong Kiai Udan Riwis. Meskipun ada benda-benda lain yang

berharga, dua benda itu yang dipilih oleh pencurinya. Pencurian yang

menurut hamba sangat aneh.”

Senyap yang merayap adalah atas nama kaget yang dialami oleh

kedua Prabu Putri dan Mapatih Arya Tadah. Rasa terkejut itu untuk

keberanian maling, siapa pun orang yang telah berani melakukan

pencurian di istana, pasti memiliki nyali luar biasa besar. Rasa kaget

berikutnya untuk benda-benda yang dicuri. Ada banyak benda lain yang

lebih berharga jika berniat dijual, ada keris-keris berlapis emas, ada pula

jambangan berharga sangat mahal karena juga terbuat dari emas dan

timang berteretes berlian, benda itu sama sekali tidak diusik. Orang yang

melakukan pencurian rupanya lebih tertarik pada nilai yang melekat pada

benda-benda pusaka itu dan sama sekali tidak silau pada benda yang lain,

meski jauh lebih berharga.

”Terhadap kecurian yang terjadi itu, hambalah yang bersalah dan

layak dihukum. Sebagai pimpinan pasukan Bhayangkara sekaligus paling

bertanggung jawab pada keamanan istana, terbukti hamba tidak berhasil

menjalankan tugas dengan baik. Istana telah kemalingan, dilakukan itu

seolah istana tidak ada yang menjaga,” lanjut Senopati Gajah Enggon.

Prabu Putri Tribhuanatunggadewi mengarahkan pandangan

matanya kepada Gajah Mada, tetapi Gajah Mada membeku.

”Hamba telah meminta kepada Kakang Gajah Mada untuk berkenan

memberi hamba waktu guna melacaknya dan memohon kepadanya

agar peristiwa itu jangan dulu disampaikan kepada Prabu Putri, tetapi

hingga dua pekan telah lewat, terbukti hamba tak mampu menemukan

dua pusaka yang lenyap itu. Kepada diri hamba sendiri, hamba telah

berjanji, apa pun yang terjadi hamba harus bisa menemukan kembali

pusaka-pusaka yang hilang. Oleh karena itu, kepada Tuan Putri Prabu

sekalian dengan disaksikan Kakang Gajah Mada dan Paman Mahapatih

Gajah Mada 86

Amangkubumi Arya Tadah, dengan ini hamba mohon Tuan Putri Prabu

berkenan melepas kedudukan dan jabatan hamba sebagai senopati

pimpinan pasukan Bhayangkara karena untuk selanjutnya hamba akan

pergi menelusuri jejak lenyapnya pusaka itu.”

Hening yang mengalir memberi kesempatan kepada Mahapatih Arya

Tadah untuk memahami duduk persoalan. Juga memberi kesempatan

kepada kedua Prabu Putri untuk mengendapkan diri dari rasa kaget

yang membelit. Sebenarnyalah Sang Prabu Putri Tribhuanatunggadewi

dan Rajadewi Maharajasa terheran-heran dan agak sulit memahami.

Berita kemalingan atas benda-benda pusaka itu memberangus perhatian

mereka.

”Yang dicuri itu hanya cihna dan payung?” Dyah Wiyat bertanya.

Senopati Bhayangkara Gajah Enggon merapatkan dua telapak

tangannya, sebuah cara membenarkan pertanyaan itu.

”Padahal, di gedung pusaka ada banyak benda lain yang lebih

berharga?”

Gajah Enggon mengangguk amat dalam.

”Lantas, apa artinya semua itu? Untuk maksud dan tujuan apa

seseorang mencuri payung dan lambang negara? Benda-benda itu sama

sekali tidak berharga kecuali jika dinilai dari sisi sejarahnya, bukankah

demikian, Kakang Gajah Mada?”

Patih Gajah Mada berniat menjawab, tetapi Gajah Enggon mendahului

merapatkan kedua telapak tangannya dan melekatkan ke ujung hidung.

Prabu Putri Sri Gitarja Tribhuanatunggadewi mendahulukan Gajah

Enggon untuk berbicara.

”Terkait dengan pencurian benda-benda lambang negara itu, hamba

telah meminta saran dan pendapat dari sahabat hamba, Pradhabasu.

Pradhabasu curiga, benda-benda pusaka itu dianggap sebagai tempat

bersarangnya wahyu sebagaimana keris Empu Gandring dahulu juga

dianggap seperti itu. Orang mencuri benda itu karena berpikir benda

itu akan bisa mengantarnya memegang kekuasaan. Artinya, secara

Hamukti Palapa 87

tersamar ada sebuah rencana makar di balik pencurian itu. Hamba lalu

berkeputusan, hamba harus turun langsung untuk melacak jejaknya.”

Kedua Prabu Putri kakak beradik itu saling pandang, disusul

kemudian masing-masing mengarahkan perhatiannya kepada Mahapatih

Arya Tadah. Arya Tadah yang dimintai pendapat segera memberikan

penghormatannya.

”Apakah hamba diizinkan mengajukan beberapa pertanyaan kepada

Enggon?” Arya Tadah bertanya.

Tribhuanatunggadewi Jayawisnuwardhani mengangguk tak

keberatan.

”Silakan, Paman Mapatih.”

Gajah Enggon beringsut dan mempersiapkan diri berhadapan

langsung dengan Patih Arya Tadah.

Bagi Tadah, persoalannya bukan hanya bagaimana istana bisa

menjadi tempat yang mudah diterobos. Jika istana telah dijaga sedemikian

ketat oleh pasukan pilih tanding dan mumpuni seperti Bhayangkara

ternyata bisa diterobos dengan mudah, lalu bagaimana jaminan

keselamatan terjadap kedua Prabu Putri. Jika gedung perbendaharaan

pusaka bisa dimasuki tanpa hambatan, boleh jadi bilik Prabu Putri yang

paling pribadi pun bisa dimasuki.

Siapa pun orang yang berniat jahat, bukankah itu sama halnya

dengan apa yang dulu dilakukan Ken Arok yang bisa memasuki bilik

Tunggul Ametung dengan leluasa tanpa ketahuan siapa pun dengan

meninggalkan jejak kematian Akuwu Tumapel, dan menimpakan lepotan

fitnah di wajah pengalasan Kebo Ijo.

”Jadi, ada maling menerobos gedung pusaka?” tanya Tadah.

”Benar, Paman,” jawab Gajah Enggon.

Tak berkedip Arya Tadah menatap wajah Gajah Enggon.

”Apa yang dilakukan Bhayangkara malam itu? Jika gedung pusaka

bisa digerayangi maling dengan leluasa, lantas bagaimana dengan

Gajah Mada 88

keselamatan para Prabu Putri? Apakah saat itu mereka tidur semua

atau bagaimana? Jika seperti itu cara bekerja prajurit pasukan khusus

Bhayangkara, untuk apa istana harus mengeluarkan uang sebagai gaji

mereka?”

Gajah Enggon berdesir. Pertanyaan dan sindiran yang sangat

menohok itu harus diakui memang mencemaskan. Gajah Mada tidak

menampakkan warna hati apa pun, tidak tersenyum andaikata sindiran

Mapatih Arya Tadah itu membuat hatinya senang. Wajah Gajah Mada

yang datar mirip tembok.

”Paman Patih benar. Aku harus mengakui kecemasan Paman Patih.

Benar pula apa yang Paman Patih sampaikan, para prajurit Bhayangkara

yang bertugas menjaga istana sejak petang telah dibelit oleh rasa kantuk

yang datang secara tidak wajar. Hal tersebut karena ada kekuatan sirep

yang sangat kuat.”

Jawaban itu membingungkan kedua Prabu Putri sekaligus

membungkam mulut Mapatih Arya Tadah. Akan halnya Gajah Mada,

ia masih belum merasa puas dengan kilah yang diajukan Gajah Enggon.

Soal maling menyebar kekuatan sirep agar para prajurit pengawal

istana terlena dan tertidur, kilah itu belum bisa ia terima sepenuhnya.

Seharusnya Bhayangkara tidak menempatkan sirep sebagai kambing

hitam. Ilmu sirep itu andaikata ada, mestinya bisa dimentahkan.

”Kekuatan sirep?” ulang Mapatih Arya Tadah.

Gajah Enggon mengangguk, membenarkan jawaban itu.

”Bagaimana kau bisa menandai sang maling menggunakan sirep?”

Gajah Enggon menunduk makin dalam. Dalam sikap itu jawaban

ia berikan.

”Bagaimana dengan Mapatih Amangkubumi sendiri?” balas Gajah

Enggon. ”Pada hari dan tepatnya menjelang gempa bumi itu datang,

apakah Paman Patih tidak merasakan sesuatu yang tidak wajar?”

Mahapatih Amangkubumi Arya Tadah bagai dipaksa mengenang

apa yang terjadi bersamaan dengan terjadinya gempa bumi dua pekan

Hamukti Palapa 89

yang lalu. Mahapatih Arya Tadah berdesir ketika harus mengakui

kebenaran apa yang disampaikan Enggon. Soal kekuatan sirep yang

menyebar, hal itu sempat ditandainya. Sebagai orang yang telah kenyang

makan asam garam kehidupan, bukanlah pekerjaan yang sulit bagi Arya

Tadah untuk menandai keganjilan seperti sirep itu.

Hadir sehalus apa pun kekuatan yang bertumpu pada ilmu hitam

itu, dengan mudah bisa ditandainya. Istana dibobol maling mungkin

mustahil dan terasa tak mungkin, lain halnya jika maling itu menggunakan

kekuatan sirep. Arya Tadah yang memang menandai hadirnya kekuatan

sirep itu menduga ada kaitannya dengan gempa bumi karena gunung

meletus.

Justru karena itu, Mahapatih Arya Tadah terbungkam. Lirikannya

diberikan kepada Gajah Mada dan dengan bergegas merapikan sikap

duduknya kembali. Wajah Gajah Mada yang datar tak memancing

Mapatih Arya Tadah bertanya sesuatu kepadanya.

Arya Tadah mengembalikan waktu kepada kedua Prabu Putri. Arya

Tadah yang manggut-manggut membingungkan mereka.

”Bagaimana, Paman?” Prabu Putri Tribhuanatunggadewi bertanya.

Arya Tadah menyembah.

”Hamba, Tuan Putri,” jawabnya. ”Hamba menandai malam ketika

menjelang gempa bumi itu memang ada sesuatu yang aneh terjadi.”

”Yang disebut sirep itu?” Tribhuanatunggadewi memberi tekanan

dengan menerkanya.

Arya Tadah mengangguk.

Baik Prabu Putri Sri Gitarja Tribhuanatunggadewi Jayawisnuwardhani

maupun Dyah Wiyat Rajadewi Maharajasa belum memiliki pemahaman

yang cukup atas ilmu sirep, mendengarnya bahkan baru kali itu. Itulah

sebabnya, rasa ingin tahu mereka tak bisa dibendung.

”Sebenarnya apa ilmu sirep itu?” tanya Sri Gitarja.

Dyah Wiyat menyimak.

Gajah Mada 90

”Hamba, Tuan Putri,” Patih Tadah menjawab. ”Ilmu sirep adalah

ilmu para maling, semacam teluh yang disebar ke udara yang akan

menyebabkan siapa pun yang berada di wilayah sebaran kekuatan sirep

itu terhantam rasa kantuk luar biasa dan tertidur. Dengan demikian,

maling itu akan bisa bertindak dengan amat leluasa. Malam itu hamba

memang menandai kehadirannya, mungkin apa yang dikatakan Enggon

benar adanya.”

Sri Gitarja dan Dyah Wiyat saling pandang. Jawaban Mapatih

Amangkubumi Arya Tadah menggiring Sri Gitarja dan Dyah Wiyat

untuk mengenang apa yang terjadi di malam terjadinya gempa bumi.

Setelah memperoleh jawabnya, raut muka Sri Gitarja berubah tegang.

Dyah Wiyat menyusul setelahnya. Melihat itu, Gajah Mada menghirup

tarikan napas lebih panjang. Dari raut muka yang dibacanya, Gajah

Mada tahu kedua Prabu Putri terkena pengaruh kekuatan sirep itu,

sebagaimana dirinya juga terkena. Dengan demikian, Gajah Mada harus

menimbang kembali, apakah masih menempatkan kemunculan sirep itu

sebagai kambing hitam.

”Bagaimana dengan Adi Prabu Putri?” tanya Sri Gitarja.

Dyah Wiyat ragu, tetapi mengangguk setelahnya.

”Aku ingat, saat itu aku memang tidur lebih awal. Suamiku mengalami

kesulitan membangunkan aku. Aku ingat, beberapa jenak setelah petang

datang, aku mengantuk sekali. Emban Prabarasmi yang memijiti aku

bahkan ikut tertidur di bilikku.”

Sri Gitarja mengarahkan pandangan matanya kepada Emban

Prabarasmi. Yang diperhatikan wajahnya menunduk, tak berani

menengadahkan kepala. Maka, Sri Gitarja mendadak disergap gelisah ketika

kenangannya sampai pada simpulan yang sama, di hari kejadian, Sri Gitarja

pun tidur lebih awal. Rasa tidak nyaman itu mekar membayangkan apa

jadinya jika maling itu tak hanya melakukan tindak perbuatan pencurian,

tetapi berbuat lebih jauh dengan mencelakainya atau melakukan tindakan

cabul. Hal macam itu mungkin saja terjadi mengingat kemampuan sirep

menyebabkan semua orang yang berada di wilayah sasarannya terlena.

Hamukti Palapa 91

”Aku tidak ingin peristiwa macam itu terulang kembali,” kata Sri

Gitarja. ”Maka, kuminta ada jaminan peristiwa itu tidak akan terulang

kembali. Kalau memang ada orang dengan kemampuan sirep macam

itu, harus dicarikan orang yang mampu menandingi. Aku tak mau ada

orang yang dengan diam-diam menyelinap ke dalam bilik pribadiku dan

melihat bagaimana aku dan suamiku tidur.”

Gajah Mada berdesir karena arah pandangan mata Prabu Putri Sri

Gitarja diarahkan kepadanya. Bergegas Gajah Mada merapatkan kedua

telapak tangannya memberikan sembah, tetapi Patih Gajah Mada merasa

tidak harus menjawab pertanyaan itu. Kewenangan atas pengamanan

istana dengan semua isinya berada di tangan pasukan Bhayangkara. Kini,

kewenangan itu tidak berada dalam tanggung jawabnya.

Mantan Breh Daha, Prabu Putri Dyah Wiyat Rajadewi Maharajasa,

mengambil alih pembicaraan, ditujukan arah pandang matanya kepada

Gajah Enggon.

”Bagaimana dengan laporan telik sandi yang Kakang sebar untuk

mencari benda-benda pusaka yang hilang itu?” tanya Dyah Wiyat.

Gajah Enggon masih dalam sikapnya, duduk agak tegak dengan

kedua telapak tangan masih saling melekat.

”Hamba, Tuan Putri, semua telah kembali tanpa hasil apa pun. Sama

sekali tidak ada jejak maling itu,” jawabnya.

”Dan, Kakang Senopati telah bertemu dengan Kakang Pradhabasu?”

Gajah Enggon mengangguk dalam.

”Hamba!”

Teringat kepada Pradhabasu menyebabkan Dyah Wiyat tergoda oleh

rasa ingin tahu yang nyaris terlontarkan. Namun, mengingat rasa ingin

tahu itu bersifat sangat pribadi maka ditahannya rasa penasarannya.

”Apa kata Kakang Pradhabasu?”

Gajah Enggon memerlukan waktu beberapa jenak untuk berpikir,

ke mana arah pertanyaan itu.

Gajah Mada 92

”Soal kedua benda pusaka yang hilang itu, apa kata Kakang

Pradhabasu?” ulang Prabu Putri.

Gajah Enggon mengangguk.

”Hamba telah meminta kepada Adi Pradhabasu membantu hamba

ikut melacak jejak dua benda pusaka itu. Pradhabasu menyanggupi akan

menemani perjalanan hamba untuk melakukan pelacakan bersamasama.”

”Lalu, apa petunjuk Ibunda Ibu Suri?” tanya Sri Gitarja.

”Ibu Suri memberi petunjuk agar hamba memulai pencarian dari

Ujung Galuh,” jawab Gajah Enggon.

”Apa alasan Ibu Suri meminta Kakang mengawali pencarian kedua

benda pusaka yang hilang itu dari Ujung Galuh?” lanjut Prabu Putri Sri

Gitarja.

Gajah Mada yang ikut terpancing rasa penasarannya, menyimak

jawaban yang akan diberikan Gajah Enggon. Namun, ternyata Gajah

Enggon memberikan jawaban yang memang menyebabkan rasa

penasaran.

”Tuan Putri Ibu Suri hanya memberi petunjuk agar hamba memulai

pelacakan dua pusaka itu dari Ujung Galuh. Hanya itu, Tuan Putri, tidak

ada penjelasan apa pun dari Tuan Putri Ibu Suri, mengapa hamba harus

memulai dari Ujung Galuh,” jawab Gajah Enggon.

Gajah Enggon merasa sebaiknya tidak menceritakan seutuhnya

pembicaraan yang terjadi dengan Ibu Suri Rajapatni Biksuni Gayatri.

Ada bagian tertentu dalam petunjuk itu yang bersifat pribadi dan

membuatnya penasaran. Apa yang diucapkan Ibu Suri Gayatri masih

terngiang-ngiang di telinganya, ”… kehidupan pribadimu boleh dikata

akan berawal dari tempat itu. Jalani saja pencarianmu seperti air yang

mengalir, jika kau harus hanyut, hanyutlah. Jika tiba saatnya harus menepi

maka menepilah. Dekatilah hujan yang turun di musim kemarau yang

menyengat ini. Hujan akan membawamu menemukan jejak pusaka

yang murca itu….”

Hamukti Palapa 93

Karena Ibu Suri menyebut dengan tegas sebagai kehidupan pribadi,

Gajah Enggon tak ingin berbagi.

Prabu Putri Sri Gitarja mengarahkan pandangan matanya kepada

Gajah Mada.

”Apa saranmu, Kakang Gajah Mada?” bertanya Sri Gitarja. ”Senopati

Gajah Enggon telah mengajukan permohonannya? Seyogianya aku

meminta saranmu!”

Sama sekali tidak ada rasa keberatan bagi Gajah Mada jika Gajah

Enggon mundur dari jabatannya sebagai pimpinan pasukan Bhayangkara.

Apalagi, Gajah Enggon punya alasan yang memang harus mendapat

perhatian. Dengan dipenuhinya permohonan Gajah Enggon itu, dengan

sendirinya memunculkan pertanyaan, siapa yang harus diangkat menjadi

penggantinya?

”Hamba bisa memahami alasan Senopati Gajah Enggon, Tuan

Putri,” jawabnya. ”Gajah Enggon memiliki alasan yang harus didukung

penuh. Masalah yang muncul adalah, siapa orang yang ditunjuk menjadi

penggantinya. Untuk itu, kiranya hamba perlu menyampaikan saran

bahwa siapa pun yang ditunjuk sebagai pengganti Enggon haruslah

prajurit yang juga berasal dari Bhayangkara.”

Prabu Putri Tribhuanatunggadewi Jayawisnuwardhani mengangguk.

”Siapa?” tanya Prabu Putri Sri Gitarja.

Gajah Mada menoleh kepada Gajah Enggon. Gajah Mada yakin,

Gajah Enggon pasti memiliki orang yang dijagokan, siapa sebaiknya

yang menggantikan kedudukannya.

”Barangkali Gajah Enggon telah memiliki calonnya, Tuan Putri,”

jawabnya.

Prabu Putri Sri Gitarja memandang Gajah Enggon yang dengan

sigap menyembah.

”Bagaimana, Kakang Gajah Enggon?” tanya Sri Gitarja.

”Jika diizinkan, hamba mencalonkan Kakang Gagak Bongol,”

jawabnya.

Gajah Mada 94

Hening sejenak menyelinap meminta perhatian, mengombak ayun

semua pemilik dada dan isinya. Arya Tadah manggut-manggut.

”Pendapatmu, Kakang Gajah Mada?” Prabu Putri Dyah Wiyat

bertanya.

Gajah Mada mengangguk.

”Gagak Bongol adalah salah seorang perintis dan memiliki

pengabdian yang panjang di pasukan Bhayangkara. Hamba sependapat

dengan Gajah Enggon. Dengan kedudukannya sebagai pimpinan

pasukan Bhayangkara maka pangkat Gagak Bongol perlu dinaikkan

menjadi pasangguhan atau senopati.”

Prabu Putri Dyah Wiyat mengarahkan pandangan kepada Mapatih

Arya Tadah. Rupanya Arya Tadah sependapat dengan usulan Gajah

Enggon yang disetujui Gajah Mada.

”Hamba mendukung, Tuan Putri,” kata Arya Tadah.

Prabu Putri Tribhuanatunggadewi Jayawisnuwardhani akan bangkit

dari tempat duduknya. Dua orang emban sigap melayani.

”Apakah masih ada lagi hal yang perlu dibicarakan?” tanya Prabu

Putri.

”Dari hamba tidak, Tuan Putri,” jawab Gajah Mada.

Gajah Enggon mengangguk perlahan.

”Demikian juga dengan hamba.”

Arya Tadah hanya menggelengkan kepala ketika Prabu Putri

mengarahkan tatapan mata kepadanya. Ketika kedua Prabu Putri

bangkit dari tempat duduk bersamaan, Arya Tadah menyusul

kemudian.

Sang waktu yang bergulir telah mengantar semua yang hadir di

pasewakan terbatas itu ikut menikmati udara yang makin menghangat

hingga akhirnya tuntas sudah semua yang dibahas. Jika masih ada rasa

penasaran, itulah yang dirasakan Dyah Wiyat Rajadewi Maharajasa,

yang memberikan perintah secara khusus kepada Emban Prabarasmi

Hamukti Palapa 95

yang selalu mengawalnya. Dengan berbisik, Dyah Wiyat mendekatkan

mulutnya ke telinga Prabarasmi.

”Cepat kaususul Kakang Gajah Enggon,” perintah Prabu Putri.

”Sampaikan kepada Kakang Senopati Gajah Enggon supaya menemui

aku.”

”Hamba, Tuan Putri,” jawab Emban Prabarasmi.

Gajah Enggon tengah melintas halaman paseban ketika melihat

Emban Prabarasmi berlari-lari sambil melambaikan tangan. Gajah

Enggon yang tanggap segera berbalik.

”Ada apa?” tanya Gajah Enggon.

”Tuan Putri Prabu Putri meminta Kakang menghadap beliau secara

khusus.”

”Sekarang?”

”Ya,” jawab Prabarasmi.

Senopati Gajah Enggon mengerutkan kening dalam menduga

hal penting apa yang mendorong Prabu Putri Dyah Wiyat Rajadewi

Maharajasa memanggilnya untuk berbicara hanya berdua. Tentu

persoalan yang Sang Prabu Putri tidak ingin ada orang lain yang ikut

mengetahui.

Pertanyaan itu tiba-tiba menggiring Gajah Enggon ke pemilik

wajah cantik yang pernah dilihatnya hampir tiga tahun yang lalu, wajah

berlepotan duka nestapa yang punya anggapan, mati mungkin lebih

baik daripada menghadapi kehidupan dunia dengan kepahitan yang

melebihi bratawali.82

82 Bratawali, Jawa, bahan jamu yang pahitnya luar biasa

Gajah Mada 96

8

Gajah Enggon berbalik dan berjalan beriringan dengan Emban

Prabarasmi. Dari tempatnya berada, Gajah Enggon melihat di halaman

Bale Manguntur tengah berlangsung pergantian prajurit pengawal istana.

Gajah Enggon mengira Prabu Putri Rajadewi akan menerimanya di

istananya, tetapi rupanya Prabu Putri menunggu di Bale Gringsing. Gajah

Enggon agak bingung menempatkan diri karena meski di tempat itu

ada sebuah kursi, tetapi Dyah Wiyat memilih berdiri. Prabu Putri Dyah

Wiyat berjalan mondar-mandir sambil tak menggeser arah pandangan

matanya dari Gajah Enggon yang datang mendekat.

Gajah Enggon akan berjongkok, tetapi Dyah Wiyat bergegas

mencegah.

”Tuan Putri berkenan menyampaikan sesuatu?” tanya Gajah

Enggon.

Dyah Wiyat yang melangkah mondar-mandir itu berhenti.

”Ada bagian penting dalam pembicaraan tadi yang mencuri

perhatianku, tetapi aku tak mungkin menyampaikan di depan orang lain,

seperti Paman Arya Tadah maupun Kakang Patih Gajah Mada, juga

tidak di hadapan Kangmbok Ayu Prabu Putri Sri Gitarja.”

Gajah Enggon mengangguk.

”Soal apa, Tuan Putri?” tanya Gajah Mada.

”Ketika kau menemui Kakang Pradhabasu, adakah Kakang

Pradhabasu bercerita sesuatu?”

Gajah Enggon langsung bisa menebak ke mana arah pertanyaan itu.

”Atas nama siapakah Tuan Putri Prabu menanyakan hal itu?” tanya

Enggon. ”Atas nama Tuan Putri Prabu sendiri atau atas nama suami

Tuan Putri Prabu?”

Hamukti Palapa 97

Dyah Wiyat terdiam agak lama, lalu mencair senyum dan sikapnya.

”Seharusnya kau bertanya bagaimana sikapku atas Dyah Menur

Sekar Tanjung.”

Sigap Gajah Enggon mengangguk.

”Bagaimana sikap Tuan Putri terhadap perempuan bernama Dyah

Menur itu?”

Rupanya masih ada semacam beban di hati Dyah Wiyat yang masih

mengganjal dan selalu mengganggu ketenangan hatinya.

”Aku akan membongkar isi hatiku dan aku tempatkan Kakang

untuk menjadi wadah dengan sebuah permintaan, hanya Kakang

Enggon yang tahu dan tidak untuk dibocorkan ke orang lain,” kata

Dyah Wiyat.

”Hamba, Tuan Putri,” jawab Gajah Enggon, ”sungguh merupakan

kehormatan tiada terkira karena Tuan Putri berkenan. Hamba bersumpah

akan menjaga isi pembicaraan ini dengan sebaik-baiknya dan tidak akan

sampai bocor ke orang lain.”

Emban Prabarasmi yang berdiri di dekat pintu tahu diri. Emban

Prabarasmi keluar dari ruangan itu dan menempatkan diri di halaman.

Untuk jangan sampai mendengar pembicaraan yang terjadi di dalam,

Emban Prabarasmi menyobek ujung kain kacunya dan memilin

sedemikian rupa hingga bisa disumpalkan ke lubang telinga.

Pintu dibiarkan terbuka untuk jangan menimbulkan fitnah

karena meski Dyah Wiyat adalah seorang Prabu Putri, ia tetap wanita.

Pertemuan yang hanya berdua dengan lelaki lain di Bale Gringsing itu bisa

menimbulkan cerita macam-macam yang tak benar. Jika cerita seperti itu

beredar dari telinga ke telinga, ketika sampai ke urutan seratus, ceritanya

telah berubah bentuk sama sekali.

”Dalam menghadapi keberadaan Dyah Menur itu,” kata Dyah

Wiyat, ”aku tidak bersikap seperti Kakang Gajah Mada yang ingin

mengenyahkannya. Tujuan Kakang Gajah Mada jelas, ia tidak ingin

kehidupan rumah tanggaku terganggu oleh kehadiran perempuan lain.

Gajah Mada 98

Apalagi, perempuan lain itu mempunyai seorang anak yang bisa menjadi

gangguan di masa depan.”

Gajah Enggon menyimak.

”Bagaimana dengan sikapku sendiri?” Dyah Wiyat melanjutkan.

”Sepatutnya aku bersikap seperti Kakang Gajah Mada. Perempuan

mana yang mau ditempatkan sebagai istri kedua karena telah ada

perempuan yang lain yang menempati kedudukan sebagai istri pertama.

Jujur aku harus mengatakan, Kakang Enggon, bahwa dulu aku memang

menyimpan perasaan seperti itu. Namun, perkenalanku dengan

perempuan itu, meski hanya dalam waktu singkat, telah membuka mataku

bahwa ia perempuan yang terlalu baik untuk disakiti, bahwa ia sama

sekali tidak bersalah dihadapkan pada sikapku yang tidak senang maupun

sikap Kakang Gajah Mada yang tidak bisa menerima kehadirannya.

Sementara aku….”

Terhenti ucapan Dyah Wiyat karena serasa ada sesuatu yang

mengganjal lorong tenggorokan, menyebabkan Sang Prabu Putri

kedua itu harus menarik napas lebih dahulu. Meski Dyah Wiyat

memang telah berniat untuk menjadikan Gajah Enggon sebagai tempat

mencurahkan isi hati, tetap saja ada masalah dan wilayah yang sulit untuk

ditumpahkan.

”Hamba akan menjaga rahasia itu rapat-rapat,” pancing Gajah

Enggon.

Dyah Wiyat kembali bulat.

”Sementara aku sendiri tidak bisa dibilang bersih. Bagaimana aku

punya hak untuk mempermasalahkan suamiku, saat aku tersadar, aku

sendiri menyimpan masalah. Aku punya cerita dan masa silam yang

membuatku sangat sadar, aku sama sekali tidak memiliki hak mengusik

keberadaan Dyah Menur. Kesadaranku atas keadaanku sendiri dan

setelah aku bertemu dengan Dyah Menur, membuat aku sama sekali

tidak keberatan andai ia bersama-sama denganku menempatkan diri

sebagai istri yang mengabdi kepada suami yang sama, bukan untuk saling

bersaing, tetapi untuk saling berbagi dan melengkapi. Soal suamiku

Hamukti Palapa 99

memiliki istri lain, bukankah Ayahanda Prabu Kertarajasa Jayawardhana

beristri lima?”

Gajah Enggon mengangguk.

”Sebelumnya hamba mohon ampun, Tuan Putri,” ucap Gajah

Enggon. ”Soal keadaan Tuan Putri, apakah hal itu berkaitan dengan

pengalasan Dharmaputra Winehsuka Rakrian Tanca?”

Dyah Wiyat tidak menoleh dan baru mengangguk setelah

terdiam.

Hening pun menyelinap. Dyah Wiyat melontarkan pandangan

matanya lewat jendela yang terbuka. Pandangan mata itu jatuh pada

ujung beberapa tombak yang bergerak. Itu berarti, di tempat itu ada

beberapa orang prajurit yang berjalan melintas. Ketika pandangan

matanya bergeser lebih jauh lagi, tampak pohon nyiur melambai-lambai.

Perhatian Dyah Wiyat agak tersita oleh adanya orang yang memanjat

pohon itu. Jika orang itu terjatuh, pasti mati. Rupanya siapa pun orang

yang memanjat pohon kelapa itu jelas orang yang sangat terampil dengan

pekerjaannya karena pekerjaan memanjat itu bisa dilakukan dengan

sangat mudah. Dyah Wiyat yang merapat ke jendela melihat puncak

bangunan Wipra sedang diberbaiki. Dyah Wiyat memutar tubuh, Gajah

Enggon menempatkan diri di belakangnya.

”Hamba sudah mendengar itu, Prabu Putri,” lanjut Gajah Enggon.

”Namun, jika Tuan Putri berkenan bercerita lebih jauh, sejauh mana

hubungan antara Tuan Putri dengan Rakrian Tanca?”

Desir tajam menggerataki punggung Dyah Wiyat. Pertanyaan itu

menyebabkan mendadak mata Dyah Wiyat terpejam. Terbukti, meski

telah diniatkan untuk berbicara blak-blakan, tetap saja ada wilayah

yang sangat sulit dibongkar. Dyah Wiyat merasa, meski Gajah Enggon

bersumpah akan menjaga rahasia, hubungan asmaranya yang telah

demikian jauh amat sulit untuk diceritakan. Haruskah bagaimana bentuk

hubungan asmara itu dibongkar pula?

Persoalan yang kini berada di depannya adalah sejauh mana ia

mampu jujur kepada diri sendiri, bukan berbicara jujur kepada Gajah

Gajah Mada 100

Enggon, mengingat apa hak Gajah Enggon mengorek wilayah yang

amat pribadi itu.

”Apakah Prabu Putri telah melakukan hubungan suami-istri dengan

Ra Tanca?” pancing Gajah Enggon.

Hening yang senyap merayap menemani Prabu Putri yang berjalan

perlahan ke arah jendela dan membuka lebih lebar. Muatan hatinya

terbelah pada gugup menghadapi pertanyaan Gajah Enggon yang

menyudutkan dan kenangan pada sebuah hari ketika ia berpura-pura

jatuh sakit. Itulah kesempatan yang ia miliki untuk bisa bertemu dengan

Ra Tanca.

Manusia hanyalah titah sawantah83 yang ketempatan hasrat dan

nafsu. Ra Tanca adalah seorang laki-laki muda yang menggenggam

hasrat dan Dyah Wiyat adalah gadis berkeinginan dijamah. Apalagi, yang

bernama manusia itu hanya makhluk yang amat gampang lupa, mudah

menggampangkan. Mereka hanyalah kayu kering yang berhadapan

dengan api yang mengeram di kedalaman hati mereka sendiri. Maka,

api pun membakar hingga tuntas tanpa sisa. Hangus yang melibas

semula hanya berasal dari sentuhan tangan. Akan tetapi, yang semula

hanya bersentuhan tangan itu merupakan awal dari semua lanjutannya,

bergerak menyeberang tuntas ke seberang sungai.

Dyah Wiyat Rajadewi Maharajasa, adakah ia seharusnya tidak

tersentuh persoalan macam itu hanya karena ia seorang sekar kedaton,

adik Raja Sri Jayanegara, anak Raden Wijaya yang menjadi cikal bakal

berdirinya Majapahit? Dyah Wiyat hanya manusia biasa, bertulang,

berdaging, dan berhasrat. Jika orang lain boleh dan berhak untuk tidak

mempu menahan diri, demikian juga dengan sekar kedaton. Ia punya

hak yang sama. Manusiawi namanya ketika manusia terantuk kekeliruan.

Manusiawi karena tak sempurna atau bahkan bisa disebut utuh dari

ketidaksempurnaannya.

83 Titah sawantah, Jawa, makhluk dengan segala kekurangannya

Hamukti Palapa 101

Bagian dari wilayah itu hanya sebatas waktu sepenginang,84 di rentang

waktu berpura-pura sakit dan diobati. Hanya sependek itu, tetapi

bekas yang ditimbulkannya amat dalam dan menumbuhkan keinginan

berkelanjutan, lagi dan lagi, yang oleh karenanya Dyah Wiyat gampang

sakit dan sakit-sakitan. Itulah alasan yang ia miliki dan paling masuk

akal untuk bertemu hanya berdua dengan Rakrian Tanca, sang kekasih

hati belahan asmaranya.

Setidaknya, akibat dari hubungan itu berbuah keadaan yang tak

nyaman. Istri Ra Tanca yang datang belakangan justru menganggapnya

sebagai perusak rumah tangga orang lain.

Rajadewi berbalik dengan pandangan mata lurus diarahkan ke raut

muka Senopati Gajah Enggon. Rajadewi hanya punya satu dari dua

pilihan, mengangguk membenarkan dugaan Gajah Enggon itu atau

menggeleng tidak mengakui. Manakah dari dua pilihan itu yang harus

diambil, mengangguk atau menggeleng?

Perlahan, amat perlahan Rajadewi…mengangguk!

Gajah Enggon mendadak merasa isi dadanya penuh dan meluap.

Namun, tidak jelas atas nama perasaan yang mana, marah karena Prabu

Putri yang dikagumi kecantikannya itu telah ceroboh tidak mampu

menjaga diri, atau iri pada kemujuran Ra Tanca yang memiliki kesempatan

untuk bisa bersama dengan Sang Putri sampai tuntas dalam arti yang

sesungguhnya. Padahal, Gajah Enggon pernah berkhayal hal yang sama.

Setidaknya, Gajah Enggon pernah memiliki keinginan serupa.

Gajah Enggon merasa napasnya menjadi sesak. Sekuat tenaga Gajah

Enggon berusaha mengendalikan diri. Namun, Gajah Enggon segera

tersadar, apa pun yang dilakukan Prabu Putri Dyah Wiyat Rajadewi

Maharajasa semasa masih sebagai sekar kedaton bukan wilayah haknya.

Bahkan, sampai sekarang pun tidak berada di wilayah haknya. Bukan hak

Gajah Enggon untuk ikut campur tangan. Apa pun atau sejauh mana

pun hubungan yang terjadi antara Sekar Kedaton Dyah Wiyat dengan

84 Sepenginang, Jawa, waktu yang dibutuhkan untuk makan sirih, maksudnya waktu pendek sekali

Gajah Mada 102

pengalasan Dharmaputra Winehsuka Rakrian Tanca, sepenuhnya hak

dan urusan mereka, berada di wilayah yang sangat pribadi yang tentu

tidak butuh ikut campur orang lain.

Apalagi, kini setelah waktu dua tahun lebih berlalu dan mendekati

tiga tahun, Ra Tanca telah menjadi bagian dari bongkahan masa lalu,

menjadi bagian dari sejarah, sudah mati. Pelampiasan rasa tidak senang

macam apa yang bisa dilakukan kepada orang yang sudah mati? Meludahi

kuburannya? Atau, membongkar dan membangunkannya untuk

ditantang perang tanding?

Semula Gajah Enggon berpikir, rasa tidak senangnya kepada

Rakrian Tanca yang terbentuk sejak lama sama sekali tidak beralasan.

Bencinya bagai muncul begitu saja hanya dari melihat raut wajahnya atau

dari caranya tersenyum meremehkan. Lalu, benci itu menjadi beralasan

setelah melihat sepak terjangnya yang bersama-sama dengan Rakrian

Kuti melakukan makar yang menyebabkan sedemikian banyak korban

jatuh.

Rasa benci itu akhirnya memperoleh pembenaran, menjadi kian

beralasan ketika sekitar tiga tahun yang lalu Ra Tanca membunuh

Jayanegara. Namun, kini setelah mendengar secara langsung pengakuan

Dyah Wiyat, rasa bencinya makin menjadi. Jika benci itu bersayap, ia

akan membubung dan membubung makin tinggi. Sadarlah kini Gajah

Enggon, alasan kebencian yang paling benar adalah cemburu, merasa

iri kepada keberuntungan orang lain. Amat sulit bagi Gajah Enggon

melihat Dyah Wiyat bisa kebablasan seperti itu, ditelan makhluk bulus

bernama Ra Tanca.

Senyap menari dan menyelinap di ruang Bale Gringsing. Sepasang

kupu-kupu tiba-tiba melintas masuk lewat jendela, tetapi barangkali

menyadari ruang Bale Gringsing itu tidak semestinya mereka masuki,

kupu-kupu itu membubung dan tidak terlihat lagi. Gajah Enggon yang

menunduk menyembunyikan wajahnya yang tebal.

Gajah Enggon tidak mendongak membalas tatapan mata Dyah

Wiyat yang dilatari raut muka sedikit pucat dan bibir bergetar. Meski

demikian, Dyah Wiyat merasa lega. Mendadak, dadanya yang semula

Hamukti Palapa 103

penuh menjadi berongga. Lega yang diperoleh setara dengan mendapat

kesempatan berteriak sekeras-kerasnya di tengah senyapnya ara-ara.85

Namun, Dyah Wiyat masih menyimpan cemas Gajah Enggon tak

mampu menjaga rahasia.

”Aku membutuhkan kekuatan yang sangat besar menceritakan hal

itu kepadamu, Kakang Gajah Enggon. Tepatilah janjimu untuk jangan

kauceritakan kepada siapa pun,” ucap Dyah Wiyat dengan suara amat

lirih.

Bagai orang yang kehilangan sesuatu yang sangat berharga

yang menimbulkan rasa demikian kecewa, Gajah Enggon kesulitan

mengangguk. Demikian berat pula ia berusaha menengadahkan kepala.

Agak bersusah payah Senopati Gajah Enggon mengendalikan diri melalui

menarik napas sangat perlahan, dihirup sampai dalam dan dibuang

dengan tuntas. Sekuat tenaga pula Gajah Enggon menghapus segala

jejak dari wajahnya.

”Hamba tidak akan pernah bercerita kepada siapa pun, Tuan Putri

Prabu. Cukuplah hamba yang mengetahui cerita itu. Namun, hamba

meminta agar Tuan Putri Prabu jangan bercerita lagi kepada orang lain,”

jawab Gajah Enggon dengan suara sedikit serak dan bergetar.

Dyah Wiyat mengangguk. Dyah Wiyat yang berdiri membelakangi

jendela melangkah mendekat, demikian dekat menyebabkan Gajah

Enggon membungkuk dan melangkah mundur mengambil jarak.

”Sekarang ceritakan kepadaku,” kata Rajadewi Maharajasa.

”Bagaimana keadaan Dyah Menur itu?”

Gajah Enggon merapatkan kedua telapak tangannya dalam sikap

menyembah dan kepala menunduk.

”Hamba, Tuan Putri,” jawabnya. ”Hamba memang menyempatkan

bertanya soal itu kepada Pradhabasu. Hamba menanyakan bagaimana

kabarnya dan di mana ia sekarang, tetapi jawaban Pradhabasu adalah

jawaban yang tuntas.”

85 Ara-ara, Jawa, bulak/sawah

Gajah Mada 104

Dyah Wiyat mengerutkan kening.

”Jawaban yang tuntas bagaimana maksudnya?” tanya Dyah

Wiyat.

”Dyah Menur sudah tidak ada. Hidupnya telah berakhir tuntas.”

Desir tajam menggerataki permukaan wajah Dyah Wiyat dan

menimbulkan rasa panas yang membakar. Dengan mata terbelalak, Dyah

Wiyat tidak mengalihkan perhatian dari wajah Gajah Enggon. Mulut

perempuan itu setengah terbuka dan agak bergetar.

”Dyah Menur Sekar Tanjung mati?” ulang Dyah Wiyat melalui

pertanyaan yang sangat hati-hati.

Gajah Enggon menyembah.

”Demikian yang disampaikan Pradhabasu kepada hamba,” jawab

Enggon dengan amat ragu.

Dyah Wiyat yang memejamkan mata adalah dalam rangka

mencermati jawaban itu, mengintip dan menimbangnya dari berbagai

sudut. Dyah Wiyat tidak dengan serta-merta bisa menerima cerita itu.

”Apakah menurut Kakang Gajah Enggon, apa yang disampaikan

oleh bekas prajurit Bhayangkara Pradhabasu itu bisa dipercaya?” bertanya

Dyah Wiyat Rajadewi Maharajasa.

Gajah Enggon menerawang.

”Hamba merasa tidak yakin, Prabu Putri,” jawab Enggon.

”Untuk mendapatkan jawabnya dan agar aku yakin, sebaiknya aku

turun menemui Kakang Pradhabasu, bagaimana menurutmu?”

Gajah Enggon menyembah dan mengangguk.

”Tak ada salahnya, Tuan Putri. Barangkali Pradhabasu memiliki

jawaban berbeda dari jawaban yang diberikan kepada hamba. Namun,

sebaiknya Prabu Putri tak perlu turun ke pedukuhan tempat Pradhabasu

tinggal karena jalan menuju rumahnya sangat buruk, kereta kuda

tidak bisa dibawa masuk ke pedukuhan itu. Sebaiknya, hamba yang

Hamukti Palapa 105

memanggil dan meminta agar Pradhabasu datang menghadap Prabu

Putri ke istana. Mantan prajurit Bhayangkara Pradhabasu pasti akan

menghadap.”

Dyah Wiyat menggeleng. Sifat khusus dari pertemuan itu dan untuk

menghargai sikap Pradhabasu yang telah berkeputusan mengambil jarak

terhadap istana, Dyah Wiyat memilih lebih baik ia yang mendatangi.

Kehadiran Pradhabasu ke istana tak mungkin bisa disimpan sebagai

sebuah rahasia. Patih Gajah Mada pasti mampu mengendusnya.

Akan berbeda jika Prabu Putri Dyah Wiyat yang mendatangi tempat

Pradhabasu tinggal.

”Sebaiknya aku yang mendatanginya. Menurutmu, kapan aku harus

melakukan itu, Kakang?” tanya Dyah Wiyat Rajadewi Maharajasa.

Gajah Enggon balas menatap pandangan mata Dyah Wiyat.

”Tentu lebih baik secepatnya, Tuan Putri, karena sebagaimana

kesepakatan antara Pradhabasu dengan hamba, kami akan pergi

menempuh perjalanan bersama dengan jangka waktu tak terbatas, sampai

kedua benda pusaka itu ditemukan.”

Dyah Wiyat menggerataki ruangan Bale Gringsing bagai

mencermati pori-pori pada lapisan dinding yang berwarna tanah itu.

Ketika pandangan matanya akhirnya jatuh di raut muka kepala seekor

menjangan yang hanya tinggal tanduk dan belulang, sejatinya ia tidak

memandang dalam memandang, apa yang berada di kelopak matanya

justru wajah yang selalu menghantuinya, wajah yang hadir di setiap mimpi

dan menyelinap di setiap kesempatan.

Sungguh amat tersiksa ketika ia mempunyai keinginan untuk

bertemu dengan orang itu, tetapi tidak kesampaian juga. Apalagi, kini

Gajah Enggon menyampaikan berita yang mencemaskan, orang itu telah

mati. Jika berita itu benar, terputuslah mata rantai kemungkinan ia akan

membawa perempuan itu ke istana dan menempatkannya di tempat

duduk yang terhormat.

Benarkah Dyah Menur, Sang Sekar Tanjung itu sudah mati? Mati

macam apa yang telah menimpanya, adakah kematian karena lampus

Gajah Mada 106

diri?86 Jika itu yang terjadi, sungguh Dyah Menur menebus nasib malang

yang menimpanya dengan harga yang sangat mahal. Dan, jika ada

penyesalan yang tak terbayar, itulah penyesalan yang dialami oleh Prabu

Putri yang disembah oleh orang se-Majapahit.

9

Sepuluh kapal besar dengan tenaga yang diperoleh dari angin

yang mendorong layar, telah berhari-hari bergerak menyusur pantai,

masing-masing diawaki oleh lima puluh orang. Sungguh barisan perahu

itu merupakan pemandangan yang langka dan jarang terjadi. Beberapa

orang penduduk, terutama para nelayan yang tinggal di sepanjang pesisir

pantai utara memerhatikan wujud perahu berukuran besar itu dengan

sangat takjub. Tak jauh dari tempat mereka tinggal, ada pelabuhan yang

banyak disinggahi kapal, tetapi kapal seperti yang kali ini lewat dalam

barisan itu sama sekali belum pernah dilihat sebelumnya.

”Ibu, Ibu, lihat itu,” seorang bocah berteriak-teriak amat gaduh

menyaksikan kapal dengan layar yang lebar sedang bergerak mengarah

ke matahari terbit.

Sang ibu yang sedang memanggang ikan hasil tangkapan suaminya

bergegas keluar. Seperti anaknya, ibu muda berambut panjang itu

terheran-heran takjub. Matanya terbelalak kaget.

Takut jika kapal itu datang dengan keperluan menculiknya, bocah

kecil itu bersembunyi di belakang ibunya. Namun, begitu ayahnya

muncul, bocah itu bergegas menempatkan diri di belakang ayahnya.

Dengan bersembunyi di punggung ayahnya, bocah itu merasa aman.

86 Lampus diri, Jawa, bunuh diri

Hamukti Palapa 107

”Apakah itu kapal culik, Ayah?” tanya bocah berusia lima tahun itu.

Namun, pertanyaan itu tidak memperoleh jawaban. Sang ayah

rupanya sedang sangat takjub menyaksikan kapal demikian besar

yang seumur-umur belum pernah dilihatnya. Apalagi, jumlah kapal

yang berbaris itu begitu banyak, sepuluh sekaligus, dengan tiang-tiang

menjulang tinggi penuh dengan tali-temali. Pada sebagian tiang dan

sebagian tali, berkibar bendara dan lambang-lambang yang tampak

gagah.

Betapa perkasa barisan kapal itu ketika tiba-tiba terdengar suara

melengking panjang sangkakala yang ditiup saling berbalas, suaranya

menggelegar menggetarkan udara.

Kecemasan bisa datang tanpa alasan. Ketakutan anaknya tiba-tiba

menular, rasa takjubnya dengan kasar berubah menjadi cemas. Lakilaki

itu segera menggelandang istrinya masuk ke dalam rumah. Pintu

segera dikunci dengan diselarak. Melalui lubang di dinding, rasa ingin

tahunya disalurkan. Dengan cermat lelaki yang tinggal di tepi pantai itu

menimbang, apakah kentongan dengan nada titir harus dipukul bertalu

atau tidak.

”Kalau kapal-kapal itu berbelok ke sini, kita harus segera bersembunyi

di belakang papringan,”87 bisik sang suami dengan jantung nyaris berhenti

berdetak.

Sang istri mencuatkan alis.

”Apa mereka akan berbelok kemari?”

”Aku pernah mendengar penculikan orang-orang yang nantinya

akan dijadikan budak atau kerja paksa. Di suatu tempat entah di mana,

orang diikat dan diperjualbelikan mirip binatang.”

Namun, ketakutan itu memang tak berasalan sama sekali. Kapalkapal

besar dengan layar lebar itu bergerak terus ke arah timur. Layarnya

yang berwarna merah dan biru mirip ikan pethek. Lambungnya berwarna

87 Papringan, Jawa, rumpun bambu

Gajah Mada 108

kecokelatan dilengkapi dengan perahu-perahu kecil yang diletakkan

menggantung. Meski di kejauhan, terlihat jelas beberapa orang yang

mengawaki kapal itu. Beberapa orang bahkan berada di puncak layar,

dengan gesit sebagian lain lagi merayapi tali layar.

Ukuran kapal nyaris sama, tetapi yang berada di tengah memang

memiliki ukuran paling besar. Tidak seperti kapal di depan maupun

di belakangnya, layar kapal itu berlapis lima, yang agaknya memang

dirancang untuk memberi daya dorong yang cukup terhadap ukuran

kapal yang sangat besar. Kapal dengan ukuran itu tentu muat banyak

orang, bisa jadi dua kali lipat kapal-kapal yang di depan maupun di

belakang.

Berbeda dengan pasangan suami istri dan anaknya yang ketakutan,

di bagian lain dari pantai yang memanjang itu justru banyak orang yang

keluar, menjadikan kapal-kapal itu sebagai tontonan yang menarik

karena seumur-umur mereka baru melihat kapal berukuran besar secara

langsung.

Beberapa nelayan ada yang menceritakan bertemu dengan kapal

besar, tetapi jauh di tengah lautan yang luas, tidak pada jarak yang dekat

dengan pantai seperti kali ini. Ketika kapal macam itu melintas pada

jarak yang sangat dekat dengan pesisir, jadilah pemandangan luar biasa

yang membangkitkan gairah dan rasa takjub.

”Kita pernah berpapasan dengan kapal besar, tetapi tidak sebesar

itu,” kata Welut Buntet.

Jalak Langes yang berdiri di sebelahnya tidak menanggapi ucapan

itu, pandangan matanya lebih cermat memerhatikan bentuk kapal yang

lewat. Ketika Jalak Langes bisa menandai adanya sesuatu yang khusus,

dengan segera alisnya mencuat. Jalak Langes bahkan berubah menjadi

sangat tegang.

”Menurutmu, itu kapal apa?” tanya Jalak Langes.

Welut Buntet memerhatikan dengan lebih cermat, tetapi ia tidak

tahu ke mana arah pertanyaan tetangga sekaligus temannya dalam

mencari ikan itu.

Hamukti Palapa 109

Setidaknya, Welut Buntet dan Jalak Langes bukanlah nelayan

sembarangan. Sebagai nelayan dengan pekerjaan mencari ikan dan

menjadikan kegiatan berlayar sebagai kegemaran, wilayah pesisir Jawa

bagian utara telah dijelajah sampai tuntas. Karena penjelajahan itu

mereka bisa tahu, nun jauh di utara sana ada sebuah pulau yang sangat

besar. Lalu, di timur setelah Jawa ada Bali dengan pemandangan yang

elok menarik. Lalu, di arah timurnya, di tempat yang sangat jauh yang

membutuhkan waktu sampai hitungan bulan berlayar untuk sampai ke

sana, mereka mengalami nasib buruk tersapu badai hingga terdampar

di sebuah pulau tanpa penghuni.

Oleh karena tak ada penduduk yang tinggal di tempat itu, apa

boleh buat diambillah langkah membuat perahu baru. Akan tetapi, siapa

sangka pulau itu banyak dihuni makhluk mengerikan mirip kadal yang

berukuran besar sampai sebesar seekor kerbau paling besar. Di tempat

itulah, mereka disuguhi tontonan yang paling mengerikan bagaimana

seekor kerbau yang sangat besar disantap beramai-ramai oleh kawanan

kadal itu.

Soal pengalaman menjelajah lautan bahkan telah membawa mereka

ke tempat yang lebih jauh lagi. Di arah timur lagi ada pulau yang dihuni

oleh orang-orang berkulit hitam melebihi hitamnya arang. Orangorang

telanjang itu bahkan berniat membantainya tanpa alasan yang

jelas. Untung Welut Buntet dan Jalak Langes masih memiliki banyak

cadangan nyawa.

Ketika dalam perjalanan kembali yang tersesat amat jauh dan bahkan

bertahun-tahun lamanya, perahu yang dinaiki membawa ke daratan

yang sangat besar. Di daratan itu tinggal orang-orang bersabit dengan

bentuk yang aneh. Sabit itu jika dilempar dengan kuat akan memutar

balik arah.

Dengan wawasan yang demikian luas, Welut Buntet dan Jalak Langes

segera membaca adanya sesuatu yang luar biasa di balik pelayaran yang

berbaris berduyun-duyun itu.

Jalak Langes yang penasaran tak perlu mengulang pertanyaannya.

”Apakah akan ada perang?” letupnya.

Gajah Mada 110

Welut Buntet mengerutkan dahi.

”Kau benar,” jawabnya. ”Kalau kapal dagang pastilah tidak akan

berbaris sebanyak itu. Itu kapal perang. Berarti, mereka sedang dalam

perjalanan menyerbu ….”

”Menyerbu ke mana?” Jalak Langes mendadak cemas.

Barisan kapal besar yang melintas itu memang kapal perang

yang telah beberapa hari berlayar menempuh perjalanan dari ranah

Swarnabhumi dengan tujuan Majapahit. Bahwa barisan kapal itu bukan

kapal niaga, terlihat dari para awaknya yang bersenjata dan lambang anak

panah yang terpasang pada gendewa yang terentang. Pada kapal yang

lain, ada lambang tombak dan trisula dalam genggaman tangan.

Di anjungan kapal utama yang paling besar, tampak seorang

pemuda gagah dengan tubuh yang gempal dan kuat. Tatapan matanya

tajam menyapu sepanjang pantai. Pemuda yang meski masih muda,

tetapi telah menjadi pucuk pimpinan armada yang berlayar itu bernama

Aditiawarman.88 Meskipun masih muda usia, Aditiawarman memiliki

masa depan yang sangat cerah cemerlang karena ia calon pewaris takhta

di Swarnabhumi.

”Masih jauhkah perjalanan kita, Paman?” tanya Aditiawarman

kepada lelaki yang berdiri di sebelahnya.

Dengan tatapan sangat khas, mata sedikit sipit dan seperti terkantukkantuk,

Pu Wira memerhatikan pulau yang samar-samar terlihat di arah

timur laut. Pulau yang ditandai dengan nama Pulau Madura itu menjadi

pertanda pelabuhan Ujung Galuh sudah dekat. Perjalanan ke Majapahit

88 Aditiawarman, saudara sepupu Jayanegara, anak dari Dara Jingga. Sumber Pararaton menyebut, Dara

Petak diperistri Raden Wijaya dan beranak Kalagemet, sedangkan Dara Jingga dikawinkan dengan seorang

”Dewa”, mempunyai anak bernama Tuan Janaka bergelar Sri Marmadewa yang kemudian menjadi raja

di Melayu dengan gelar abhiseka Aji Mantrolot, yang oleh para ahli diidentifikasi sebagai Aditiawarman.

Sebaliknya, sumber Kidung Harsa Wijaya menyebut, sebelum dikawinkan dengan seorang Dewa, Dara

Jingga juga diperistri oleh Raden Wijaya, tetapi karena tidak suka tinggal di Jawa, Dara Jingga dikembalikan

ke Melayu. Seorang Dewa yang dimaksud adalah Dyah Adwaya Brahma yang adalah salah seorang dari

14 pengiring pengiriman arca Amoghapasa berangka tahun 1286 atas perintah Kertanagera. Pengiring

pengiriman arca Amoghapasa yang lain di antaranya adalah Rakrian Sirikan Dyah Sugata Brahma, Samgat

Payanan Hyang Dipangkaradasa, dan Rakrian Demung Pu Wira.

Hamukti Palapa 111

hampir sampai ke tujuan. Bagi Pu Wira yang telah lama tinggal di

Swarnabhumi, perjalanan yang ditempuhnya kali ini bagai perjalanan

pulang kampung setelah sekian lama meninggalkan Singasari sejak

penaklukan Melayu digelar.

Ada sebuah alasan mendasar, mengapa Aditiawarman membawa

rombongan begitu besar jauh dari ranah Swarnabhumi ke Ibu Kota

Majapahit. Berita bahwa saudara sepupunya mati terbunuh menyebabkan

jiwanya terpanggil untuk datang menengok Majapahit. Lowongnya

tampuk pimpinan setelah meninggalnya Prabu Sri Jayanegara membuka

peluang baginya sebagai saudara laki-laki terdekat Kalagemet untuk

tampil karena ia adalah anak Dara Jingga.

Aditiawarman yang adalah pewaris takhta Swarnabhumi itu sama

sekali tidak merasa canggung ikut merasa memiliki Majapahit dan

merasakan sebagai tanah tumpah darah leluhur karena ditubuhnya

mengalir darah Singasari. Ayahnya, Dyah Adwaya Brahma, adalah seorang

Rakrian Mahamenteri Singasari yang mendapat tugas dari Sri Kertanegara

untuk tidak hanya mengirim arca Amoghapasa beserta Saptaratna89

yang ditegakkan di Dharmasraya, Rakrian Mahamentri Dyah Adwaya

Brahma sekaligus sebagai pejabat Singasari yang mewakili Kertanegara.

Belakangan Rakrian Mahamenteri Dyah Adwaya Brahma bahkan diambil

menantu oleh Srimat Tribhuwanaraja Mauliawarmadewa90 yang oleh

karenanya Sang Adwaya Brahma juga bergelar Mauliawarmadewa.

Di samping mengawini empat putri Kertanegara, Raden Wijaya juga

mengawini Dara Petak,91 putri boyongan yang dibawa dari Melayu yang

diberinya gelar Indreswari dengan kedudukan sebagai Stri Tinuhweng

89 Saptaratna, Jawa Kuno, berarti tujuh permata, merupakan lambang seorang cakrawartin, yang semua

ditulis pada alas arca Amoghapasa berupa kuda, cakra, permaisuri, ratna, menteri, hulubalang, dan gajah.

Sangat mungkin tak hanya sekadar lambang, Raja Kertanegara benar-benar mengirim seorang putri, dua

orang pejabat, seekor gajah, seekor kuda, senjata cakra, dan permata kepada Raja Swarnabhumi.

90 Srimat Tribhuwanaraja Mauliawarmadewa, Raja Swarnabhumi

91 Dara Petak, lebih kurang sepuluh hari setelah pengusiran tentara Tartar, Lembu Anabrang yang memimpin

ekspedisi ke Melayu pulang dengan membawa dua putri boyongan kakak beradik, Dara Petak dan Dara

Jingga. Menurut Kidung Panji Wijayakrama, Dara Petak dikatakan Sang Anwam Inapti yang artinya yang

muda diperistri oleh baginda. Dengan demikian, Dara Petak adalah adik Dara Jingga.

Gajah Mada 112

Pura.92 Dara Petak adalah salah seorang anak Raja Swarnabhumi,

Mauliawarmadewa. Seorang lagi anak Mauliawarmadewa yang diboyong

ke tanah Jawa bernama Dara Jingga yang karena merasa tidak betah

hidup di Jawa, lalu dipulangkan ke kampung halamannya.

Dari perkawinannya dengan Dyah Adwaya Brahma, Dara Jingga

berputra Aditiawarman yang dengan pertalian darah itu, Sri Jayanegara

adalah saudara sepupunya. Sri Jayanegara terbunuh, berita itu sampai

di Swarnabhumi agak terlambat karena lebih dari dua tahun lamanya

Aditiawarman menuntut ilmu pengetahuan ke India. Kematian saudara

sepupunya itu menjadi daya tarik tersendiri bagi Aditiawarman karena

bukankah sebagai saudara laki-laki terdekat, terbuka lebar kemungkinan

dirinya yang akan ditunjuk sebagai pengganti Jayanegara, siapa tahu.

Pu Wira yang telah dianggap pamannya amat meyakini hal itu.

”Apakah memang ada kemungkinan seperti itu, Paman?”

Pertanyaan itu dilontarkan Aditiawarman beberapa bulan lalu ketika

kabar kematian itu sampai di Swarnabhumi.

Pu Wira amat yakin.

”Mengapa tidak, Aditiawarman,” Pu Wira menjawab. ”Mendiang Sri

Baginda Wijaya memiliki banyak istri, yang tidak seorang pun melahirkan

putra laki-laki kecuali bibimu Dara Petak. Saudara sepupumu itu tidak

memiliki saudara lelaki dari ibu tirinya yang lain. Secara nalar, kamulah

orang yang berada pada urutan pertama yang berhak mewarisi takhta

itu setelah kematian kakakmu.”

Aditiawarman sebenarnya tak merasa tertarik dengan apa yang

disampaikan Pu Wira, tetapi rupanya masalah itu dibicarakan di ruang

sidang istana. Bagaimanapun, berita kematian yang sangat terlambat

diterima itu tetap mengagetkan. Dara Jingga yang makin tua pernah

dibuat penasaran, ingin tahu bagaimana kabar saudara kandungnya. Hal

itu karena mimpi yang datang secara beruntun dalam tiga hari.

92 Stri Tinuhweng Pura, kedudukan sebagai istri utama yang diperoleh Dara Petak karena amat dikasihi

Raden Wijaya dan memberinya putra laki-laki.

Hamukti Palapa 113

Dalam mimpi itu, Dara Jingga melihat saudaranya berada dalam

perahu yang terkatung-katung di tengah laut. Empat bulan setelah itu

berita kematian saudara kandungnya ia terima. Dara Petak ternyata

berumur lebih pendek dari dirinya. Kali ini, berita kematian Jayanegara

datang amat telat.

”Sebaiknya kamu pergi ke Jawa,” Dara Jingga memberi saran. ”Ibu

kandung Prabu Majapahit adalah bibimu. Ada banyak hal yang bisa

kaulakukan dengan perjalanan ke Jawa itu. Yang pertama, agar keluarga

istana tahu, Swarnabhumi tidak pernah kehilangan tali persaudaraan

dengan Majapahit. Dengan kaupergi ke Jawa, kau bisa menengok

kuburan bibi dan saudara sepupumu.”

Aditiawarman mengangguk. Ayahnya, Dyah Adwaya Brahma,

sedang amat larut dalam memandang gapura istana Swarnabhumi.

Aditiawarman masih dengan setia menunggu ayahnya berbicara. Dyah

Adwaya Brahma mendahului apa yang akan disampaikannya dengan

mengisi paru-parunya lebih dahulu melalui tarikan napas yang sangat

panjang, serasa tak cukup udara yang dibutuhkan untuk mengisi paruparunya.

”Aku sependapat dengan ibumu,” kata Dyah Adwaya Brahma.

”Berangkatlah ke tanah Jawa, tetapi dengan hati yang bersih. Kamu orang

Swarnabhumi maka Swarnabhumilah hakmu, bukan Majapahit. Meski

Sri Jayanegara itu saudara sepupumu dan kamu adalah saudara lelaki

paling dekat, hal itu tak berarti kamu punya hak merampas kekuasaan

para kerabat di sana.”

Setelah keputusan diambil, persiapan perjalanan sangat jauh itu

dilakukan. Untuk menyingkat waktu dan mengirit tenaga, perjalanan

lewat laut yang diambil. Apalagi, dua puluh tahun terakhir Swarnabhumi

berhasil membangun puluhan kapal dagang dengan ukuran besar. Ibu

Kota Swarnabhumi berada di tengah daratan Pulau Perca, tetapi memiliki

pelabuhan laut tak jauh dari Tumasek yang menjadi tempat lalu-lalang

berbagai jenis kapal.

Melihat kapal-kapal dagang yang lewat selat Tumasek mengilhami

mendiang Raja Mauliawarmadewa untuk membangun kapal serupa. Lalu,

Gajah Mada 114

didatangkanlah empu pembuat kapal dari tanah Tumasek sekaligus hal

itu dijadikan sebagai ajang belajar orang-orang Swarnabhumi hingga

akhirnya mampu membuat kapal yang bahkan berukuran jauh lebih

besar tanpa harus melibatkan para empu dari Tumasek.

Tahun demi tahun berlalu. Jumlah kapal yang berhasil dibuat makin

lama makin banyak, yang bisa digunakan untuk berdagang dengan

negara-negara sahabat yang berada pada jarak dekat maupun yang berada

di wilayah lebih jauh. Karena kemampuan berdagang yang sangat besar

itulah yang menyebabkan Swarnabhumi menjadi negara kaya meski

bukan negeri dengan wilayah yang luas. Sikapnya yang bersahabat dengan

negara-negara tetangga mendorong Swarnabhumi tidak membangun

kekuatan perang, tetapi lebih mengedepankan hubungan damai. Itu

sebabnya, keberadaan negeri Swarnabhumi didengar sampai ke belahan

bumi yang lain.

Angin kering yang berembus kencang dari arah belakang mendorong

barisan kapal itu makin cepat mendekati sasaran. Dari lepas laut wilayah

menjelang Gresik, wajah Pulau Madura makin terlihat jelas. Nun jauh di

depan, tampak ratusan perahu berukuran sedang tersebar di sepanjang

pantai, itulah pelabuhan yang sangat terkenal dengan nama Ujung Galuh,

yang menghubungkan Majapahit dengan dunia.

10

Kemarau yang bagai tanpa ujung itu sudah sangat menyiksa,

ditambah abu tebal sumbangan dari Gunung Kampud yang meledak,

menyebabkan sesak napas yang terjadi terasa makin mencekik leher.

Pradhabasu memerhatikan pekarangan rumahnya sambil berkhayal,

andaikata terjadi keajaiban, langit tiba-tiba berubah menjadi gelap, lalu

Hamukti Palapa 115

hujan turun dengan petir menari-nari, keadaan yang gersang itu seketika

akan berubah. Debu-debu akan tersapu habis dan rumput-rumput pun

akan tumbuh subur kembali. Orang-orang akan bekerja keras menanam

padi di sawah, bocah-bocah akan berlarian bermain hujan, dan paceklik

pun akan berakhir.

”Sedang apa kamu?” tiba-tiba terdengar sebuah sapa.

Pradhabasu tidak perlu menoleh karena telah hafal dengan suara

itu. Ki Sangga Rugi yang datang mendekat, menempatkan diri di

belakangnya. Pradhabasu mengarahkan tatapan matanya ke arah seekor

kuda milik tamunya yang diikat di bawah pohon sawo. Sang tamu yang

sedang kecapekan ia biarkan beristirahat di bilik pribadinya. Ki Sangga

Rugi memerhatikan kuda itu sekilas, tetapi kuda itu tak memancing rasa

ingin tahunya.

”Aku mau ke kota,” kata Ki Sangga Rugi.

Pradhabasu tidak menoleh.

”Kamu tidak ingin titip salam? Kalau ya, akan aku sampaikan

salammu,” lanjut Ki Sangga Rugi.

Pradhabasu masih tidak menoleh, tetapi apa yang diucapkan Ki

Sangga Rugi itu menggelitik hatinya.

”Aku menitip salam kepada siapa?”

”Kepada Gajah Mada. Aku ke kota untuk menemuinya. Bagaimana

kalau kamu ikut? Aku akan memperkenalkan kamu dengan beliau.”

Pradhabasu menoleh, dipandanginya Ki Sangga Rugi dengan penuh

perhatian.

”Jadi, kamu akan menghadap Patih Gajah Mada?” tanya Pradhabasu.

”Ya,” jawab Sangga Rugi dengan rasa bangga.

”Apakah kalau aku titip salam, Gajah Mada akan menanggapi?”

”O, tentu, Gajah Mada itu sahabatku yang baik. Ia akan memberi

perhatian. Bahkan, kalau aku mintakan pekerjaan untukmu, Gajah Mada

Gajah Mada 116

pasti akan memberi. Lebih baik, mintalah pekerjaan kepada Patih Gajah

Mada daripada menganggur tidak punya pekerjaan.”

Pradhabasu manggut-manggut, disusul senyumnya yang merekah

penuh minat, matanya bahkan sedikit agak terbelalak.

”Kebetulan aku ingin bekerja yang lebih baik. Aku sudah malas

menjadi seorang petani, apalagi dengan kemarau panjang seperti ini.

Aku ingin bekerja apa saja di istana untuk menyambung umur. Apakah

Patih Gajah Mada sahabatmu itu bisa memberiku pekerjaan?” tanya

Pradhabasu.

Ki Sangga Rugi mengerutkan kening dalam sibuk dan riuh

berpikir.

”Ya, ada pekerjaan yang bisa dihadiahkan untukmu,” Ki Sangga

Rugi meletup dengan raut muka berbinar penuh kebanggaan.

”Pekerjaan apa kira-kira yang tersedia untukku?” tanya

Pradhabasu.

”Pekerjaan sebagai gamel,93 mau? Atau, kalau kamu mau, pekerjaan

merawat pekarangannya. Gajah Mada punya pekarangan yang luas, tetapi

sayang terbengkalai karena tak ada yang mengurus. Kalau kuajukan kau

untuk pekerjaan itu, Patih Gajah Mada pasti akan menerima lamaranmu

dengan senang hati. Kalau pekerjaan itu kamu anggap berat karena kamu

pemalas, mungkin pekerjaan gamel sudah cukup baik.”

Pradhabasu terbelalak. Matanya nyaris lepas.

Gamel yang mengurus gamelan?” Pradhabasu meletup. ”Keterlaluan

kamu, masak kamu menawarkan pekerjaan sebagai pengurus gamelan?

Seumur-umur aku belum sekali pun menyentuh gamelan dan tidak tahu

bagaimana cara menabuh. Jika jadi gamel yang mengurus gamelan,

dibayar setinggi apa pun aku tidak mau. Kalau menjadi prajurit aku mau,

misalnya menjadi Bhayangkara, tolong tanyakan kepada sahabatmu, Ki

Patih Gajah Mada, apakah bisa memberiku jabatan sebagai senopati di

pasukan Bhayangkara?”

93 Gamel, Jawa, orang yang bekerja mengurus kandang kuda

Hamukti Palapa 117

Ki Sangga Rugi terbelalak.

”Apa katamu? Menjadi prajurit Bhayangkara dengan pangkat

senopati?”

Pradhabasu mengangguk.

”Ya!”

Ki Sangga Rugi tertawa terkekeh-kekeh sambil memegangi perut.

”Gila kamu!”

Pradhabasu tidak ikut tertawa.

”Jangan keras-keras kamu tertawa, nanti tamuku akan terbangun.”

Diingatkan seperti itu, Ki Sangga Rugi segera membungkam

mulut dan dengan segera matanya mencuat mewakili rasa ingin tahunya

yang seketika meluap. Kuda yang terikat di batang sawo meranggas itu

benar-benar jenis kuda yang tegar penuh dengan otot. Pemilik kuda

macam itu tentulah seorang prajurit yang pilih tanding. Siapa pemilik

kuda tegar itu?

”Siapa tamumu?” tanya Ki Sangga Rugi.

Pradhabasu tersenyum.

”Bukan siapa-siapa, bukan orang penting, hanya seorang sahabat

akrab,” jawab Pradhabasu.

Dalam hati, Ki Sangga Rugi merasa penasaran. Setidaknya sulit

memahami, mengapa tetangganya yang hanya orang biasa, tidak kaya, dan

mempunyai anak yang cacat, orang macam itu justru banyak didatangi

tamu, sedangkan dirinya yang lebih hebat dan kaya, terkenal, dan orang

penting tak pernah menerima tamu.

Andaikata sahabatnya yang bernama Gajah Mada itu mau datang

menengoknya, akan dipukulnya gong kebanggaannya atau kentongan

untuk mengundang para tetangga. Akan dipamerkannya Patih Gajah

Mada itu dengan mengajaknya berjalan dari ujung ke ujung pedukuhan

dari pagi hingga petang supaya para tetangga tahu ruang pergaulannya

Gajah Mada 118

benar-benar tidak sembarangan, kenalannya orang-orang besar di

istana, bahkan jika perlu kedua Prabu Putri juga menganggapnya

sebagai sahabat. Nah, jika tamu-tamu terhormat dari istana itu datang

berkunjung, para tetangga tidak akan menyepelekan dirinya. Semua akan

menaruh rasa hormat kepada dirinya. Semua orang akan membungkuk

memberi hormat kepadanya.

”Kamu harus mengatakan kepadaku, siapa tamumu!” desak Ki

Sangga Rugi.

”Kenapa aku harus melapor kepadamu?” balas Pradhabasu dengan

alis mencuat sebelah.

Jika Ki Sangga Rugi memahami pertanyaan yang setengah menyindir

itu, mestinya ia segera sadar untuk tidak terlalu jauh ikut campur urusan

orang lain atau mengetahui urusan orang lain. Namun, Ki Sangga Rugi

bukan orang macam itu. Ki Sangga Rugi merasa harus tahu siapa tamu

tetangganya itu. Ia menganggap sikapnya yang demikian tidak ada yang

salah.

”Pokoknya aku harus tahu,” jawabnya ngeyel.94.

Pradhabasu mendengus.

”Aku tidak pernah punya rasa ingin tahu terhadap apa pun urusanmu.

Aku bukan bawahanmu, bagaimana aku wajib menceritakan siapa tamuku

kepadamu?” jawabnya dengan sedikit geli sekaligus jengkel.

Ki Sangga Rugi tidak mampu menjawab. Ia merasa bibirnya

menebal.

”Sudah, berangkat sana kalau mau ke kotaraja,” Pradhabasu mengusir.

”Jika kamu terlambat, kamu tidak akan bertemu dengan Gajah Mada.”

”Aku tak perlu tergesa-gesa. Aku pasti bertemu dengan Gajah Mada

di rumahnya. Ia tidak pernah ingkar janji. Kalau mengundangku datang,

ia pasti berada di tempat. Yang penting sekarang, aku harus tahu siapa

pemilik kuda tegar itu.”

94 Ngeyel, Jawa, ngotot

Hamukti Palapa 119

Pradhabasu makin sulit memahami sikap tetangganya itu.

”Memang kenapa dengan kuda itu?” tanya Pradhabasu.

”Itu kuda yang bagus,” balasnya.

Soal kuda yang bagus, Ki Sangga Rugi benar adanya. Kuda yang

terikat di bawah pohon sawo itu benar-benar kuda pilihan, kekar, dan

pasti sanggup diajak menempuh perjalanan jauh. Otot-ototnya yang

bertonjolan dengan warna bulu yang putih bersih menjadi ukuran betapa

mahal harga kuda itu. Dengan musim kemarau sedang gila-gilanya, yang

dengan demikian rumput amat sulit diperoleh, berarti pemilik kuda itu

mampu memberi makan dalam jumlah yang cukup. Siapa pun pemiliknya,

tentu orang yang kaya.

Namun, rasa penasaran Ki Sangga Rugi tidak perlu berlangsung

lama. Pintu rumah Pradhabasu yang semula tertutup itu terbuka. Tamu

yang membuat Ki Sangga Rugi amat penasaran keluar sambil meliukkan

badan. Betapa terperanjat Ki Sangga Rugi melihat orang itu, orang yang

sungguh sangat dikenalinya. Mendadak datang rasa pegal yang menjalari

seluruh tubuhnya. Ki Sangga Rugi kaget bersamaan dengan lututnya

yang gemetaran.

”Hanya sebentar kautidur?” tanya Pradhabasu.

”Aku tidak bisa tidur,” jawab Gajah Mada. ”Tetapi, rasa pusingku

sudah hilang. Aku harus kembali ke istana.”

Tak banyak bicara, Gajah Mada menuju kudanya yang terikat di

pohon sawo. Juga tak perlu memerhatikan lebih cermat seorang lelaki

yang berada di belakang Pradhabasu. Penampilan Gajah Mada yang kekar

sangat sesuai dengan kuda tunggangannya yang juga kekar. Dengan

wajah membeku dan tak peduli pada orang di belakang Pradhabasu,

Gajah Mada memacu kudanya membalap, menghamburkan debu-debu

sekaligus meninggalkan jejak kegelisahan di hati tuan rumah.

Sikap dan cara pandang Gajah Mada memang membuatnya gelisah.

Ki Sangga Rugi yang bingung berusaha menguasai diri.

”Itu tadi…,” ucapnya tidak tuntas.

Gajah Mada 120

Bekas Bhayangkara Pradhabasu terus memerhatikan jejak debu yang

berhamburan memanjang melintas bulak sampai ke ujung pedukuhan,

yang di sana terdapat sebuah jalan besar yang akan membawa siapa

pun sampai ke pintu gerbang Purawaktra. Sebenarnyalah, jarak rumah

Pradhabasu dengan kotaraja tidak seberapa jauh.

”Itu tadi Patih Gajah Mada, bukan?” tanya Ki Sangga Rugi dengan

gugup.

”Ya!” jawab Pradhabasu pendek.

”Tetapi, mengapa ia berada di rumahmu?”

Pradhabasu telah cukup sabar berhadapan dengan tetangganya yang

terlalu banyak membual dan sibuk membesarkan isi dada itu. Sebenarnya

sikap yang demikian itu tidaklah masalah, tetapi ketika Ki Sangga Rugi

terlalu banyak mengganggu dan menyita waktunya, hal itu makin lama

membuatnya jengkel. Menanggapi Ki Sangga Rugi serasa membuang

waktu sia-sia.

”Memang kenapa kalau Gajah Mada datang ke rumahku? Tidak

boleh?” balas Pradhabasu.

”Tetapi….” Ki Sangga Rugi merasa ragu melanjutkan kata-katanya.

Ki Sangga Rugi menatap Pradhabasu sekaligus menapaki rasa

herannya.

”Untuk keperluan apa Gajah Mada datang ke sini?”

Pradhabasu tak mampu menahan tawa.

”Gajah Mada sebenarnya datang untuk mencarimu. Ia kemari

menanyakan di mana rumah kamu. Lalu, aku tunjukkan kautinggal di

sebelah. Melihat kamu sibuk menganyam ikrak,95 Gajah Mada merasa

tidak tega mengganggu. Jadi, ia batalkan niat menemuimu.”

Ki Sangga Rugi dengan segera menimbang, apakah yang

disampaikan tetangganya itu masuk akal atau tidak. Karena agak lama

95 Ikrak, Jawa, alat untuk mewadahi dan membuang sampah

Hamukti Palapa 121

Ki Sangga Rugi tidak berbicara, Pradhabasu segera mengayun langkah

meninggalkannya.

”Tunggu,” Ki Sangga Rugi menyela.

Pradhabasu berbalik.

”Ada apa lagi?” balasnya dengan tidak bersahabat.

”Gajah Mada tak berpesan apa-apa? Ia pasti meninggalkan pesan

untukku, bukan?”

Pradhabasu makin jengkel melihat Ki Sangga Rugi masih belum

menyadari keadaan, tetapi pilihan yang diambil adalah tetap berusaha

menguasai diri dan tidak membiarkan kepalan tangannya mengayun

menghajar wajah tetangganya itu. Justru karena itu, kepalanya serasa

mau pecah.

”Tadi kamu sudah berhadapan langsung dengan Patih Gajah Mada,

mengapa tak kautanyakan sendiri?”

Ki Sangga Rugi bingung dan merasa tidak ada lagi yang bisa

dipertahankan. Semua bualannya runtuh karena tidak ditopang kenyataan.

Dengan demikian, tidak ada gunanya lagi mengaku kenal dan bersahabat

dengan Gajah Mada, yang ternyata malah bersahabat akrab dengan

Pradhabasu. Ketahuan telah merangkai cerita bohong menyebabkan

wajah Ki Sangga Rugi menebal. Dengan segera Ki Sangga Rugi berniat

membangun kilah untuk menguruk kebohongannya dengan kebohongan

yang baru. Namun, kilah yang mana lagi yang bisa dihadapkan ke

tetangganya yang ternyata menyimpan banyak rahasia itu.

Setidaknya, kini muncul pertanyaan yang sangat mengganggu,

Pradhabasu itu sebenarnya siapa? Mengapa ia yang hanya penduduk

biasa bisa kenal dan berhubungan dengan orang-orang penting di

Majapahit? Beberapa hari yang lalu, seorang senopati pimpinan pasukan

khusus Bhayangkara datang mengunjunginya. Lalu, hari ini orang yang

memegang kekuasaan sangat tinggi, Patih Gajah Mada, juga datang

mengunjungi. Dengan latar belakang macam apa, orang-orang yang

bukan sembarangan itu datang mengunjungi Pradhabasu, ayah dari

seorang bocah yang mengalami cacat pikiran.

Gajah Mada 122

Sebodoh dan sebebal apa pun, Ki Sangga Rugi akhirnya sampai

pada simpulan bahwa tetangganya yang bernama Pradhabasu itu pasti

menyembunyikan rahasia besar, rahasia berkaitan dengan jati dirinya di

masa silam.

”Siapa sebenarnya dia?” tanya Ki Sangga Rugi untuk diri sendiri.

Namun, setidaknya Ki Sangga Rugi telah belajar dari pengalaman

untuk tidak memaksakan diri ikut campur dan mengetahui urusan orang

lain, untuk tidak perlu memaksa mengetuk dan dibukakan pintu hanya

untuk memastikan rasa penasaran seperti kali ini. Ki Sangga Rugi tak

berani melangkah mengejar Pradhabasu yang telah menutup pintu.

Yang ia lakukan hanyalah memandang pintu itu dengan semua rasa

bingungnya.

Pradhabasu berusaha menguraikan beban yang menyesakkan

dadanya melalui sebuah tarikan napas yang panjang, mengembuskan

udara yang mendekam di paru-parunya untuk digantikan udara yang

baru. Raut wajah Gajah Mada sahabatnya ketika menyampaikan

keperluannya serasa masih melekat di benaknya, masih terekam kuat

kalimat-kalimatnya.

”Tugasku adalah menjamin keutuhan kekuasaan istana,” kata

Gajah Mada. ”Untuk keperluan itu, apa pun yang menjadi perintang

haruslah disingkirkan. Hal itu perlu dipahami dengan pemikiran,

kepentingan yang lebih besar haruslah mengalahkan yang kecil. Artinya,

kepentingan negara berada di atas segalanya. Penyakit yang mengancam

dan membahayakan negara harus ditumpas. Pengalaman yang terjadi

selama ini telah membuktikan, penyakit itu bahkan harus ditumpas sejak

masih berupa bibit. Aku tidak mau terjadi sesuatu yang merepotkan di

kemudian hari karena cara penyelesaian yang kurang baik di saat ini.

Untuk hal yang satu ini, kau harus membantuku, bukannya menjadi

penghalangku.”

Kata-kata yang diucapkan Gajah Mada itu utuh lengket di benaknya

tanpa satu kata dan kalimat pun tercecer, juga bagaimana raut muka

Gajah Mada ketika mengucapkan dan matanya yang tajam dalam

mempertegas. Niat untuk memberangus bibit penyakit yang bakal

Hamukti Palapa 123

merepotkan di kemudian hari itu benar-benar dilandasi kesungguhan.

Gajah Mada benar-benar tidak main-main.

”Sekarang katakan, di mana perempuan dan anaknya itu? Jika

dibiarkan, mereka bisa menjelma menjadi bibit pemberontakan. Katakan

di mana dia?” tanya Gajah Mada.

Pradhabasu menelan pertanyaan itu dan mengulumnya. Pradhabasu

yakin bahwa kejujuran belum tentu akan berakibat baik. Adakalanya tak

mengatakan yang sebenarnya justru merupakan tindakan yang bijak.

Mengenai tamsil yang dibuat Gajah Mada sebagai bibit pemberontakan

atau makar, Pradhabasu melihat hal itu terlalu berlebihan. Ketakutan

yang berlebihan bahkan bisa disebut sakit.

”Aku tak tahu di mana ia sekarang berada. Kalau aku menggunakan

apa yang terjadi pada adikku sebagai ukuran, boleh jadi perempuan itu

sudah mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri,” jawab Pradhabasu datar.

Jawaban yang membuat Gajah Mada merasa tidak puas. Pandangan

matanya kepada Pradhabasu diliputi rasa curiga. Pradhabasu yang dulu

amat dipercayainya itu, kini menjadi orang yang pintar menyembunyikan

rahasia, bahkan untuk membungkus rapat rahasia itu, jika perlu

dilengkapinya dengan sumpah segala, sumpah akan diterjang petir

jika bohong. Namun, untuk sebuah kepentingan yang amat diyakini,

Pradhabasu merasa tak keberatan jika harus melakukan.

”Aku tidak percaya,” jawab Gajah Mada.

Pradhabasu balas memandang tatapan mata Patih Gajah Mada

seolah menusuk langsung ke gumpalan benaknya. Pradhabasu benarbenar

tak berniat mengedepankan rasa sungkan. Senyum yang mencuat

adalah senyum sinis. Patih Gajah Mada membaca kejengkelan bekas anak

buahnya itu, yang amat terbaca dari tarikan bibirnya.

”Maksudmu?” balas Pradhabasu.

”Aku tidak percaya perempuan itu bunuh diri. Penyebab yang sama

tidak berarti akan menimbulkan akibat yang sama. Apa yang terjadi pada

adik kandungmu belum tentu akan terjadi pada perempuan itu.”

Gajah Mada 124

Pradhabasu tersenyum.

”Aku tidak mengatakan perempuan itu lampus diri. Aku hanya

mengatakan kemungkinan itu ada. Beberapa tahun ini aku dicemaskan

oleh kemungkinan macam itu karena ia pernah mengungkapkannya.

Perempuan itu merasa tak ada gunanya lagi hidup di dunia ini. Aku

cemas kalau ternyata itu benar. Meski aku tidak menemukan jawaban

yang pasti, aku yakin perempuan yang kautempatkan sebagai duri dalam

daging itu telah tiada.”

Gajah Mada memandang Pradhabasu dengan tatapan mata menusuk

langsung ke ulu hati. Akan tetapi, Pradhabasu memiliki kekuatan cukup

besar dan tegar untuk memberi perlawanan. Meski orang yang berada di

hadapannya batu karang bernama Gajah Mada, Pradhabasu tak merasa

takut menghadapinya. Bahkan, andai yang bernama Gajah Mada itu

sebuah gunung sekalipun.

Pradhabasu tak merasa harus menimbang untuk berdiri berhadapan.

”Ingat, Pradhabasu,” Gajah Mada mengancam, ”bahwa aku akan

menyalahkanmu jika kelak tiba-tiba datang seseorang menghadap Prabu

Putri Dyah Wiyat dan mengaku-aku sebagai anak suaminya. Kamu harus

bertanggung jawab terhadap kemungkinan macam itu.”

Pradhabasu tersenyum. Tanpa harus merasa sungkan, Pradhabasu

memamerkan rasa jengkelnya.

”Kamu berpandangan picik dan menggunakan kebenaran

berdasarkan takaranmu. Kalau apa yang kaucemaskan itu terjadi,

mengapa aku yang harus bertanggung jawab? Mengapa bukan Sri Wijaya

Rajasa Sang Apanji Wahninghyun yang kamu tanyai? Mengapa harus

Pradhabasu, apa hubungannya dengan Pradhabasu?”

Gajah Mada berjalan mondar-mandir sambil bertolak pinggang.

Tubuhnya yang besar kekar penuh otot-otot yang melingkar,

menjadikannya tak tertandingi dalam adu okol melawan siapa pun.

Matanya tajam dengan alis yang tebal, merontokkan nyali siapa pun

yang mencoba menantang seberapa besar wibawanya.

Hamukti Palapa 125

Gajah Mada juga memiliki keyakinan amat kuat. Caranya memandang

masalah tak lagi menggunakan ukuran benar dan salah. Ukuran yang

ia gunakan adalah seberapa besar pengaruhnya terhadap negara,

apakah akan merugikan atau menguntungkan. Segala hal yang bisa

membahayakan negara disebutnya sebagai penyakit. Terhadap segala

hal yang dianggapnya penyakit harus berani memangkas meski ibarat

terhadap tangan atau kaki. Penyakit yang kecil jika dibiarkan akan

membesar dan ketika kesadaran untuk melawannya datang, keadaan

akan telanjur terlambat.

Hal seperti itu benar-benar dirasakan oleh bekas Bhayangkara

Pradhabasu. Jika ia menyebut sebuah tempat yang di sana seorang

perempuan bernama Dyah Menur Hardiningsih atau Sekar Tanjung dan

anaknya berada, Patih Gajah Mada akan mengirim pasukan berkekuatan

segelar sepapan untuk mencabut nyawa perempuan itu dan memberangus

nyawa anaknya. Gajah Mada diyakini akan sanggup melakukan itu atas

nama negara.

Memastikan perempuan itu dan anaknya tidak akan menimbulkan

bahaya di kemudian hari rupanya masih belum cukup baginya.

”Apakah Raden Kudamerta pernah datang ke tempat ini?” tanya

Gajah Mada.

Pradhabasu menggeleng.

”Kau mengatakan sejujurnya?”

Pradhabasu tertawa.

”Dengan cara bagaimana aku harus meyakinkan kamu bahwa apa

yang aku ucapkan benar apa adanya? Apa pun yang aku sampaikan, kau

tidak percaya karena jawaban yang aku berikan tidak sesuai dengan apa

yang kauharapkan. Sejauh ini aku belum pernah kedatangan tamu Raden

Kudamerta Wijaya Rajasa Sang Apanji Wahninghyun. Namun, kalau ia

datang untuk mematai-matai aku, baik secara langsung maupun dengan

menugasi orang lain, sebaiknya kautanyakan langsung hal itu kepada

yang bersangkutan. Aku tidak tahu soal itu.”

Gajah Mada 126

Jawaban blak-blakan yang diberikan Pradhabasu itu ternyata

mampu melumerkan wajah Gajah Mada yang membeku. Suara tawanya

yang kemudian berderai mencairkan keadaan, tidak lagi menyebabkan

Pradhabasu merasa sesak napas.

Pradhabasu menyeringai.

”Baiklah, aku bisa memahami jawabanmu,” kata Gajah Mada.

”Kau memang punya jawaban, tetapi bukan berarti aku bisa menerima

jawabanmu. Bagaimana keadaan yang sebenarnya, hanya kau yang tahu,

kebenarannya ada di kedalaman hatimu. Aku hanya mengingatkan,

Pradhabasu. Entah bagaimana keadaan yang sesungguhnya, aku tak

ingin di kemudian hari muncul masalah sebagai akibat keberadaan

perempuan itu dan anaknya. Jika mereka muncul, kaulah orang pertama

yang akan kugantung di alun-alun Majapahit, tepat di pintu gerbang

Purawaktra.”

Hening yang merayap bukan senyap yang menakutkan. Ancaman

itu tidak membuat Pradhabasu merasa cemas. Senyumnya yang

merekah menjadi bukti bagi Patih Gajah Mada, jawaban Pradhabasu

adalah jawaban yang sungguh-sungguh dan mewakili keadaan

sesungguhnya.

”Tiga malam aku kurang tidur, bolehkah aku mengurai rasa

kantukku barang sejenak?”

Pertanyaan Gajah Mada yang mendadak membelok itu menyebabkan

Pradhabasu mengerutkan kening.

”Apakah terjadi sesuatu?”

Gajah Mada mengarahkan pandangan matanya ke seberang

jalan.

”Ya. Aku menunggu maling itu masuk lagi,” jawabnya.

Pradhabasu mengerutkan kening, penasarannya terpancing.

”Maling?”

”Ya.”

Hamukti Palapa 127

Pradhabasu merasa belum paham seutuhnya.

”Ibu Suri Rajapatni Biksuni Gayatri memanggilku dan mengingatkan,

boleh jadi maling yang mencuri cihna gringsing lobheng lewih laka dan

songsong itu akan masuk kembali ke ruang perbendaharaan pusaka.

Aku tak percaya dengan pasukan Bhayangkara meski berkekuatan penuh

melakukan penjagaan istana. Maka, aku ikut melibatkan diri dalam

pengamanan istana secara langsung. Ternyata, perhitungan Ibu Suri

Rajapatni Biksuni Gayatri salah.”

Pradhabasu memandang Gajah Mada dengan segala keheranannya.

Manggut-manggut yang ia lakukan amat perlahan.

”Tuan Putri Ibu Suri Gayatri? Beliau?”

”Ya,” jawab Gajah Mada. ”Ramalan beliau ternyata tidak benar.

Maling yang kedatangannya akan disambut dengan meriah itu ternyata

tidak menampakkan diri.”

Pradhabasu menggeleng tegas.

”Aku tidak sependapat,” jawabnya. ”Ibu Suri adalah orang yang

sidik paninggal, orang yang waskita. Jika Ibu Suri Biksuni mengatakan

demikian, berarti benar-benar akan terjadi. Kalau sampai semalam

maling itu belum menampakkan diri, bukan berarti ia tidak datang. Ia

akan menerobos masuk ke ruang perbendaharaan pusaka menunggu

penjagaan lengah. Kurasa kau harus memerintahkan untuk melakukan

pengawalan dengan lebih ketat, dilengkapi orang-orang berkemampuan

menangkal dan mencurigai kehadiran sirep.”

Sirep yang dibicarakan mengingatkan Gajah Mada pada kantuknya.

Untuk hasrat ingin tidur kali ini tidak harus karena kekuatan sirep yang

menyihir, cukuplah karena tidak tidur tiga hari tiga malam. Untuk

keadaan yang demikian, senyampang ia masih bernama manusia pasti

punya batas kemampuan, tidak peduli orang itu adalah Gajah Mada,

pemilik nama yang sangat menggetarkan dari ujung ke ujung pelosok

Majapahit. Jika ada orang yang tidak menganggap nama itu menjulang

tinggi, hanyalah Ra Krian Kembar, putra Raja Pamelekehan, yang

entah oleh alasan apa, ia amat membenci Gajah Mada.

Gajah Mada 128

Pradhabasu mondar-mandir dari ujung ruang ke ujung ruang.

Bagaimanapun juga, sikap Gajah Mada yang telah ditumpahkan itu

meresahkannya.

”Dyah Menur harus terlindung. Jika aku tak membuka mulut, ia

cukup terlindung dari keadaan yang menyulitkan itu.”

Pradhabasu tidak berhenti mondar-mandir dari ujung ke ujung

ruang rumahnya yang sederhana. Dari jendela rumahnya yang terbuka,

ia melihat Ki Sangga Rugi masih berdiri bingung di tepi jalan, tidak lagi

di halaman. Ki Sangga Rugi pasti masih dilibas rasa kaget melihat Patih

Gajah Mada keluar dari rumah Pradhabasu. Sungguh hal itu membuatnya

bingung, tidak mampu memahami bagaimana ceritanya, Pradhabasu

yang melarat dan hanya orang biasa itu didatangi tamu-tamu terhormat,

tamu bukan sembarang tamu.

”Siapa Pradhabasu itu?” tanya Ki Sangga Rugi penasaran.

Ki Sangga Rugi mendadak merasa memang ada yang tak wajar

pada tetangga bernama Pradhabasu itu. Ia datang entah dari mana. Ia

tinggal sebagai warga baru setelah membeli sepetak tanah di pedukuhan

itu. Ia hidup sendiri dengan seorang anaknya yang mengalami cacat

jiwa. Dari mana Pradhabasu berasal, siapa saja kerabat keluarganya,

dan di mana mereka tinggal, tak ada keterangan apa pun terkait hal

itu. Kesadaran adanya rahasia yang disembunyikan oleh tetangganya itu

amat terlambat. Rasa tak nyaman yang timbul menyebabkan jantungnya

berdebar.

Ki Sangga Rugi akhirnya membawa langkah kakinya ke rumah

sebelah yang dipisahkan oleh pekarangan yang luas. Pemilik rumah

itu seorang petani yang sakit-sakitan dan bertubuh kurus serta terlihat

tua meski usianya belum genap empat puluh tahun. Meski keadaannya

demikian, ia memiliki nama yang gagah, tidak seperti Sangga Rugi yang

berarti menyangga kerugian. Sebaliknya, tetangga yang bertubuh kurus

itu bernama Jalak Mangore.

”Mau menawarkan bualan apa?” tanya Jalak Mangore melihat

kedatangan tetangga yang sangat dikenalnya itu.

Hamukti Palapa 129

Terhadap Jalak Mangore, Ki Sangga Rugi merasa tak ada gunanya

membual. Sudah cukup lama mereka bergaul, bahkan boleh dikata sejak

masih bocah. Dengan demikian, Jalak Mangore sangat tahu siapa Ki

Sangga Rugi.

Ki Sangga Rugi langsung berbicara ke masalah yang membuatnya

heran dan penasaran.

”Sudah berapa lama tetangga kita, Pradhabasu, itu tinggal di

pedukuhan kita?” tanya Ki Sangga Rugi.

”Sudah lebih dari sepuluh tahun, kenapa?”

Ki Sangga Rugi memegang kepala dan mengkucal-kucal rambutnya

yang beberapa pekan tidak dikeramasi dengan lerak dan merang yang

dibakar. Yang demikian menjadi pertanda, Ki Sangga Rugi sedang

berpikir keras. Berbeda dengan Ki Jalak Mangore yang punya kebiasaan

memegang kepala saat berpikir, tidak jarang Ki Sangga Rugi justru sambil

mengelus-elus dengkulnya saat berpikir. Apakah itu berarti Ki Sangga

Rugi berpikir memakai dengkul? Tidak juga karena otaknya tetap di

kepala, bukan di dengkulnya.

”Kautahu siapa dia? Dari mana ia berasal?” tanya Ki Sangga

Rugi.

Ki Jalak Mangore tidak memandang dengan tatapan aneh karena

ia sangat mengenal siapa Ki Sangga Rugi.

”Aku tidak tahu,” jawab Ki Jalak Mangore.

”Kok bisa sampai tidak tahu?” Ki Sangga Rugi mengejar.

Pertanyaan yang dilontarkan Ki Sangga Rugi itu menjengkelkan

hatinya, seolah tidak tahu jawabnya merupakan sebuah kesalahan.

”Tiap orang itu punya urusan sendiri-sendiri. Aku punya urusanku

sendiri, kamu juga punya urusanmu sendiri, demikian juga dengan

Ki Pradhabasu itu, memiliki urusannya sendiri. Jadi, janganlah kau

bertanya mengapa aku sampai tidak tahu siapa Ki Pradhabasu itu

karena jika aku lakukan itu, itu sama halnya dengan aku ikut campur

Gajah Mada 130

dan ingin tahu urusan orang lain. Itu sama halnya aku tidak senang jika

kamu ikut campur urusanku. Apa atau siapa Ki Pradhabasu, biarlah

itu menjadi rahasia pribadinya. Yang penting, selama berada di sini ia

bergaul dengan baik, tidak merugikan tetangganya, tidak merugikan

dirimu.”

Disindir macam itu menyebabkan Ki Sangga Rugi merasa wajahnya

menjadi amat tebal. Namun, sindiran itu tidak mampu mengalahkan

perilakunya yang telah membolot. Watuk96 bisa disembuhkan, tetapi

watak sembuhnya bersamaan dengan datangnya kematian.

”Tamu-tamu yang mendatanginya orang-orang penting,” ucap Ki

Sangga Rugi.

Ki Jalak Mangore sedikit terpancing.

”Kenapa dengan tamu-tamunya?”

”Bahkan, Patih Gajah Mada bersahabat dengannya. Beberapa hari

yang lalu, Ki Gajah Enggon, senopati pimpinan pasukan Bhayangkara

datang. Dengan ruang pergaulan seperti itu, lalu siapa Ki Pradhabasu

itu?”

Ki Jalak Mangore semula diam dan meresapi, tetapi sejenak

kemudian tawanya berderai.

”Kamu pasti terantuk batunya?”

Wajah Ki Sangga Rugi menebal.

”Yang aku dengar selama ini, kau mengaku bahwa Gajah Mada

itu sahabatmu, bahkan Tuan Putri Prabu Putri juga sahabatmu, atau

Tuan Putri Ibu Suri Biksuni Gayatri sering mengundangmu ke istana

kediamannya. Kausibuk mengarang cerita orang-orang penting itu

sahabatmu adalah karena ingin menggelembung, ingin terlihat sebagai

bukan orang sembarangan. Sekarang kau terkaget-kaget melihat tetangga

sebelah kita didatangi orang penting dari istana, bukan kamu seperti yang

kamu impikan. Bukankah seperti itu yang sedang kaurasakan?”

96 Watuk, Jawa, batuk

Hamukti Palapa 131

Ki Sangga Rugi merasa tidak senang, wajahnya memerah. Sebaliknya,

tanpa harus merasa sungkan, Ki Jalak Mangore tertawa terkekeh.

Demikian gelinya Ki Jalak Mangore dalam tertawa sambil memegangi

perut.

”Aku kemari tidak untuk mengajakmu membicarakan sahabatsahabatku.”

”Cukuplah, jangan membual lagi. Kau ini bukan siapa-siapa,” Ki

Jalak Mangore mengunci pembicaraan. ”Sebaiknya pulang saja dan

hentikanlah kebiasaanmu usil urusan orang lain.”

Diusir dengan cara itu, Ki Sangga Rugi tidak punya pilihan lain.

Ki Sangga Rugi mengayunkan langkahnya untuk pulang. Ia batalkan

rencananya untuk pergi ke kotaraja dalam rangka menyempurnakan

bualannya. Cerita tentang ia akan menghadap Gajah Mada telah rontok,

tak ada gunanya lagi dipertahankan.

Ki Sangga Rugi yang telah berada di tepi jalan terkejut saat menoleh

ke arah kanan. Tampak di sana serombongan prajurit tengah berjalan

ke arahnya. Ki Sangga Rugi yang memerhatikan dengan lebih cermat

melihat ada tandu yang dipikul oleh beberapa orang, sebagian yang

lain menuntun kuda dan bersenjata lengkap. Untuk menandai siapa

orang penting yang berada dalam rombongan itu, seorang prajurit

mengibarkan sebuah umbul-umbul, bukan sembarang umbul-umbul,

tetapi dhuaja yang memiliki makna.

Melihat Ki Sangga Rugi kebingungan, Ki Jalak Mangore

menyusulnya.

”Ada apa?” tanya Ki Jalak Mangore.

Akan tetapi, Ki Sangga Rugi tak perlu menjelaskan apa yang

dilihatnya. Ki Jalak Mangore memerhatikan pemandangan yang sama.

”Itu Prabu Putri,” ucap Ki Jalak Mangore.

”Prabu Putri?” ulang Ki Sangga Rugi.

Ki Sangga Rugi merasa jantungnya berhenti berdenyut. Lututnya

mulai gemetar, tak hanya lututnya, mulutnya juga.

Gajah Mada 132

”Bukankah ia sahabatmu?” tanya Ki Jalak Mangore. ”Barangkali ia

datang kemari untuk mengunjungimu.”

Namun, Ki Sangga Rugi tangkas dalam menjawab.

”Tidak, tidak mungkin.”

Kehadiran Prabu Putri Dyah Wiyat Rajadewi Maharajasa di

pedukuhan itu benar-benar mengagetkan. Para penduduk segera berlarian

keluar untuk menuntaskan rasa kaget dan memberikan sembahnya.

Berderet-deret para penduduk berjongkok dan menyembah.

Ki Jalak Mangore ikut berjongkok ketika rombongan itu makin

dekat, yang diikuti contoh itu oleh Ki Sangga Rugi. Di belakang

rombongan itu, puluhan orang berjalan mengikuti. Mereka adalah

penduduk yang tinggal di sepanjang jalan yang dilewati Prabu Putri.

Makin lama rombongan itu makin dekat dan akhirnya terlihat dengan

jelas siapa yang datang. Prabu Putri Rajadewi Maharajasa yang jelita tidak

merasa sungkan membagi senyumnya. Tangannya dilambaikan kepada

siapa pun yang tersapu matanya. Ki Sangga Rugi gugup membungkuk

ketika Prabu Putri menatap wajahnya.

Berhenti berdenyut jantung Ki Sangga Rugi melihat rombongan itu

membelok ke rumah Pradhabasu. Pemilik rumah yang tidak menyangka

akan kedatangan tamu agung itu gugup dan bingung menerima

kehadirannya. Betapa bingung Pradhabasu karena tidak memiliki kursi

yang pantas untuk tempat duduk Prabu Putri. Pradhabasu tidak hanya

menyembah Prabu Putri, tetapi juga menyalami beberapa prajurit yang

dikenalnya. Pradhabasu menjabat tangan Gagak Bongol dan memberikan

pelukan yang hangat seolah tak ada lagi jejak dendam yang pernah ada.

Ki Sangga Rugi melirik Ki Jalak Mangore.

”Menurutku, Ki Pradhabasu itu bukan orang sembarangan,

bukankah dalam sehari ia kedatangan dua tamu terhormat dari

istana?”

Ki Sangga Rugi tak bisa berbicara. Mulutnya terkunci. Bagaimana

cara membuka mulut, Ki Sangga Rugi lupa harus lewat mana.

Hamukti Palapa 133

Ada sekitar lima puluh orang prajurit dari kesatuan khusus

Bhayangkara yang melakukan pengawalan terhadap Prabu Putri yang

dipimpin langsung oleh pimpinan pasukan yang baru, Gagak Bongol,

yang kini pangkatnya telah dinaikkan menjadi senopati. Di antara mereka

yang menemani Prabu Putri Dyah Wiyat terlihat Senopati Gajah Enggon

yang telah melepas jabatan Bhayangkara.

Para prajurit Bhayangkara, antara lain Macan Liwung, Bhayangkara

Jayabaya, dan Bhayangkara Riung Samudra berada di dalam rombongan

itu pula. Begitu tiba di rumah Pradhabasu, dengan cekatan para prajurit

pilihan itu menyebar melindungi tempat itu dengan penjagaan yang

sangat ketat. Rumah yang sederhana itu dipagar betis depan, belakang,

dan menyamping.

Senopati Gagak Bongol menyempatkan mengitari rumah sambil

mencari-cari sosok wajah yang dirindukannya, itulah wajah Sang

Prajaka yang untuk beberapa lama pernah menjadi anaknya. Namun,

Prajaka tidak kelihatan batang hidungnya. Gagak Bongol terpaksa harus

menahan rasa ingin tahunya dan mencoba mencari kesempatan untuk

bertanya nanti jika telah mendapatkan waktu.

Kehadiran Prabu Putri Dyah Wiyat di pedukuhan itu ternyata

menyentuh hati nurani para tetangga Pradhabasu, yang dengan segera

menempatkan diri sebagai hamong tamu97 yang baik. Beberapa orang

tetangga dengan cekatan mengusung kursi-kursi yang mereka miliki.

Beberapa orang yang lain mendadak punya gagasan memanjat pohon

kelapa untuk menurunkan beberapa janjang kelapa muda. Para prajurit

dengan senang hati menikmati kelapa muda yang disuguhkan.

Di rumah Ki Jalak Mangore dengan seketika terjadi kesibukan

yang luar biasa ketika ibu-ibu pedukuhan itu juga mempunyai gagasan

membuat makanan untuk disajikan kepada para prajurit. Kebetulan

ada jagung muda dan ketela pohung. Kebetulan pula ada tetangga yang

memiliki buah nangka yang cukup layak untuk disajikan.

97 Hamong tamu, Jawa, penerima tamu, istilah ini sering digunakan dalam perhelatan perkawinan adat

Jawa.

Gajah Mada 134

”Ini rumahmu?” tanya Dyah Wiyat yang memilih berdiri dan dengan

isyarat tangan meminta kepada Pradhabasu untuk tidak perlu duduk.

”Hamba, Tuan Putri,” jawab Pradhabasu.

”Mana istrimu?” lanjut Dyah Wiyat Rajadewi Maharajasa.

Pradhabasu tersenyum jengah. Pertanyaan itu menggelitik ulu

hatinya. Mantan prajurit Bhayangkara Pradhabasu menggeleng

lemah. Prabu Putri Dyah Wiyat Rajadewi Maharajasa tersenyum dan

mengalihkan pandangan matanya kepada Gajah Enggon dan Gagak

Bongol yang berada pada jarak paling dekat.

”Aku ingin berbicara hanya berdua dengan Pradhabasu, bisakah

aku mendapatkan keleluasaan dan kerahasiaan?”

Perintah yang diberikan Prabu Putri itu dengan segera diterjemahkan

dengan baik oleh Gajah Enggon dan Gagak Bongol. Mereka keluar dari

dalam rumah dan menutup pintu. Perintah juga disalurkan kepada para

Bhayangkara yang lain.

”Selama Sang Prabu Putri berbicara dengan Pradhabasu, tidak boleh

ada yang mengganggu. Separuh yang lain perkuat belakang rumah.”

Kehadiran Sang Prabu Putri Dyah Wiyat Rajadewi Maharajasa

benar-benar membuat penduduk pedukuhan itu merasa senang dan

bangga, sebagian yang lain merasa terheran-heran melihat Pradhabasu,

tetangga mereka, ternyata mempunyai daya tarik yang penting sampaisampai

bukan hanya senopati pimpinan pasukan Bhayangkara dan

Patih Gajah Mada yang datang berkunjung ke rumahnya, bahkan Prabu

Putri Dyah Wiyat Rajadewi Maharajasa berkenan turun ke tempat itu

mengunjunginya.

”Siapa sebenarnya Paman Pradhabasu itu?” tanya seorang lelaki

kepada lelaki yang lain.

”Aku tidak tahu, tetapi agaknya ia bukan orang sembarangan,”

jawab lelaki kedua.

”Aku tahu jawabnya,” kata lelaki ketiga yang nimbrung.

Perhatian kemudian tertuju kepada lelaki ketiga itu.

Hamukti Palapa 135

”Siapa?”

”Paman Pradhabasu itu sebenarnya bukan orang sembarangan. Ia

bekas seorang prajurit Bhayangkara. Boleh dikata, Paman Pradhabasu itu

merupakan cikal bakal berdirinya pasukan Bhayangkara. Itu sebabnya,

ia bersahabat dengan Patih Gajah Mada. Bahkan, Prabu Putri menaruh

hormat dan segan kepadanya. Menurut yang aku dengar pula, Paman

Pradhabasu itu mempunyai jasa yang luar biasa terhadap keselamatan

mendiang Sang Prabu Jayanegara saat terlunta-lunta di Bedander. Paman

Pradhabasu dan Patih Gajah Mada adalah dua orang yang berhasil

mengungkap jati diri pengkhianat yang menyusup dalam pasukan

Bhayangkara.”

Para lelaki yang menggerombol itu masih penasaran. Ki Sangga

Rugi makin tak mampu menenangkan diri.

”Dari mana kautahu itu? Apakah Ki Pradhabasu menceritakan

kepadamu?” tanya salah seorang dari mereka yang menggerombol.

Lelaki pemilik keterangan penting itu ternyata menggeleng.

”Paman Pradhabasu tak akan mau menceritakan jati dirinya karena

ia bukan jenis orang sombong yang suka pamer seperti Ki Sangga Rugi,”

lanjutnya.

Wajah Ki Sangga Rugi bertambah menebal dari semula yang sudah

tebal, apalagi ketika orang-orang di sekitarnya tiba-tiba tertawa.

”Lanjutkan, dari mana kautahu Ki Pradhabasu itu mantan

Bhayangkara,” salah seorang yang menggerombol mengingatkan lelaki

itu untuk menyelesaikan ceritanya.

”Saudara sepupuku mengikuti pendadaran sebagai prajurit

Bhayangkara. Jadi, ia tahu karena ada semacam pengenalan siapa saja

orang-orang yang begitu berjasa dalam membangun pasukan khusus itu.

Hanya sayang, saudara sepupuku tidak berhasil lolos dalam penyaringan.

Untuk bisa menjadi bagian dari pasukan khusus Bhayangkara, harus

melalui penyaringan yang amat berat,” lanjutnya.

Hening yang kemudian terjadi adalah karena kenyataan yang

mengagetkan itu. Ki Sangga Rugi yang merasa bibirnya sudah tebal

Gajah Mada 136

menjadi lebih tebal lagi. Bibir sumur yang tebal dirasakan masih kalah

tebal. Itu pun masih ditambah matanya berkunang-kunang dan air liurnya

menjadi pahit. Sayangnya untuk meludahkan pun, Ki Sangga Rugi lupa

bagaimana caranya.

”Untuk keperluan apa Prabu Putri itu menemuinya?” tanya Ki

Sangga Rugi.

Orang-orang yang menggerombol itu serentak nyaris tertawa,

tetapi karena bisa dianggap tidak pantas, dengan sekuat tenaga mereka

berusaha mengusai diri.

”Sebaiknya kautanyakan langsung kepada Prabu Putri,” jawab salah

seorang di antara mereka. ”Bagaimana? Apakah perlu aku sampaikan

kepada salah seorang prajurit itu, kau mengajukan permohonan

berbicara?”

Ki Sangga Rugi amat gelisah, terlihat jelas gerakan menelan di

lehernya.

Di ruang tamu rumahnya yang sangat sederhana, Pradhabasu

yang telah menebak untuk keperluan apa Prabu Putri Dyah Wiyat

datang ke rumahnya segera mempersiapkan diri untuk menjawab.

Rasa sangat hormatnya ditampakkan lewat kedua tangannya yang

ngapurancang.98

”Aku tidak melihat anakmu? Ke mana bocah itu?”

Anak yang dimaksud tentulah Prajaka. Di mana bocah itu berada

dan sedang bersama siapa adalah hal yang tidak boleh dikatakan. Orang

yang kepadanya Pradhabasu menitipkan Sang Prajaka, orang itulah

yang sedang dicari Gajah Mada, dan kali ini dicari pula oleh Prabu

Putri Dyah Wiyat Rajadewi Maharajasa. Bahkan, kepada Sang Prabu

Putri sekalipun, Pradhabasu sanggup berbohong untuk melindunginya.

Berbohong kepada ratu mungkin sesuatu yang salah, tetapi berbohong

demi kebaikan masih bisa dimengerti.

98 Ngapurancang, Jawa, kedua tangan saling berpegang dengan posisi di perut, hampir mirip

bersedekap

Hamukti Palapa 137

”Sang Prajaka punya kegemaran baru yang sesuai dengan keadaannya.

Sore nanti hamba baru akan menjemputnya dari sungai,” jawab

Pradhabasu.

Dyah Wiyat belum paham.

”Mengapa di sungai?” kejar Rajadewi Maharajasa.

”Memancing ikan, Tuan Putri.”

Prabu Putri Dyah Wiyat Rajadewi Maharajasa memerhatikan ruang

tamu rumah sederhana itu dengan saksama dan penuh perhatian. Di

empat tiang saka utama, tergantung empat buah tanduk menjangan.

Namun, yang paling mendebarkan adalah hiasan kepala harimau lengkap

dengan kulitnya yang ditempelkan di dinding. Betapa sangar warna

loreng binatang itu.

”Kamu yang menangkap harimau itu?” tanya Prabu Putri.

Pradhabasu merapatkan dua telapak tangannya dalam sikap

menyembah.

”Empat bulan lalu, seekor harimau turun dari hutan, mengamuk

membahayakan penduduk, hamba terpaksa membunuhnya.”

”Dengan anak panah?” tanya Prabu Putri Dyah Wiyat.

”Tidak, Tuan Putri. Hamba tidak punya kesempatan mempersiapkan

anak panah. Yang hamba pegang kebetulan pisau Bhayangkara. Pisau

itulah yang hamba pakai untuk menghadapi simbah.”99

Prabu Putri melangkah lebih dekat untuk memerhatikan wujud kulit

harimau itu dengan lebih jelas. Prabu Putri merabanya dan merasakan

betapa lembut bulu binatang yang amat buas itu. Jika bulu binatang

itu bisa dibuat baju, tentu akan terasa hangat di saat udara sedang

dingin. Namun, bukan hanya kulit harimau itu yang dikaguminya, dari

ukurannya yang begitu besar dapat dibayangkan betapa Pradhabasu

harus bekerja keras dan sekuat tenaga menghadapi binatang bertubuh

99 Simbah, Jawa, kakek atau nenek, sebutan ini oleh banyak pihak sering digunakan untuk menyebut nama

harimau sebagai penghormatan sekaligus supaya jangan diganggu jika bertemu.

Gajah Mada 138

perkasa dan dipersenjatai kuku yang sanggup menyobek perut dengan

sekali ayun, dan taring yang mampu meremuk dan menyobek bagian

tubuh mana pun.

Dengan dua senjata macam itu, harimau bahkan sanggup membantai

seekor kerbau paling besar. Kerbau, meski bertubuh besar, tidak memiliki

nyali yang besar. Jika kerbau ambruk karena ketakutannya sendiri,

harimau akan dengan mudah menerkam lehernya untuk menghentikan

tarikan napasnya.

”Hyang Widdi memberi kesempatan kepada hamba berumur

panjang, Prabu Putri,” Pradhabasu menjelaskan.

”Mengerikan sekali,” gumam Prabu Putri Dyah Wiyat Rajadewi

Maharajasa.

Akhirnya, setelah berbicara yang seperti tanpa tujuan itu, tibalah

kini saatnya bagi Prabu Putri untuk mengutarakan apa keperluannya

datang mengunjungi Pradhabasu.

”Kau sudah menebak untuk keperluan apa aku datang?” tanya

Dyah Wiyat.

”Hamba, Prabu Putri. Hamba memang telah punya gambaran

keperluan apa yang Prabu Putri bawa. Tentu terkait soal yang tadi juga

dibawa oleh Kakang Gajah Mada,” jawab Pradhabasu.

Prabu Putri Rajadewi Maharajasa terkejut, dua matanya menyipit.

”Kakang Gajah Mada datang kemari?”

”Hamba, Prabu Putri,” jawab bekas Bhayangkara Pradhabasu.

”Untuk keperluan apa Kakang Gajah Mada mencari Dyah Menur?

Kakang Gajah Mada benar mencari Dyah Menur, bukan?”

Pradhabasu melekatkan dua telapak tangannya dan membawanya

ke ujung hidung.

”Hamba tak tahu apakah sikap Kakang Gajah Mada akan sama

dengan sikap Prabu Putri,” jawab Pradhabasu.

”Bagaimana sikap Kakang Gajah Mada?”

Hamukti Palapa 139

Pradhabasu dengan segera menimbang, apakah sikap Patih Gajah

Mada itu harus diceritakan kepada Prabu Putri, kalau ya, bagaimana sikap

Patih Gajah Mada, apakah ia tidak keberatan Prabu Putri tahu bagaimana

sikapnya. Sebaliknya, bagaimana andaikata Gajah Mada menyalahkannya?

Menganggapnya sebagai orang yang tumbak cucukan.100

”Kakang Gajah Mada mempunyai sikap yang bisa hamba maklumi,

Sang Prabu,” kata Pradhabasu dengan nada suara terjaga. ”Kakang Gajah

Mada tidak ingin ketenangan rumah tangga Prabu Putri terganggu.

Kakang Gajah Mada juga tidak ingin Tuan Prabu Putri direpotkan di

kemudian hari. Kedatangan Kakang Gajah Mada menemui hamba belum

lama adalah dalam upayanya menjamin hal-hal yang demikian tidak akan

terjadi. Demikian sikap Kakang Gajah Mada, Sang Prabu.”

Terdiam tak mampu berbicara Prabu Putri Dyah Wiyat Rajadewi

Maharajasa usai mendengar apa yang dikatakan bekas Bhayangkara

Pradhabasu. Jauh di kedalaman hatinya, Prabu Putri bisa memahami

sikap Gajah Mada yang demikian. Apalagi, mengingat pada dirinya

melekat kedudukan sebagai prabu yang memimpin negara, yang oleh

karenanya tak lagi memiliki kehidupan pribadi.

Namun, Prabu Putri bukanlah sejenis benda yang tidak punya

perasaan. Prabu Putri tetap berhati nurani, yang tidak semata

menggunakan apa yang berada dalam benaknya. Akan tetapi, juga apa

yang berada di dadanya. Meski seorang prabu atau raja putri, ia tetap

perempuan.

”Lalu, apa jawabmu terhadap keperluan Kakang Gajah Mada itu?”

tanya Prabu Putri Dyah Wiyat.

”Hamba sampaikan bahwa hamba telah kehilangan jejak atas

perempuan malang bernama Dyah Menur itu. Hamba sampaikan kepada

Kakang Gajah Mada, amat mungkin perempuan itu telah mati. Mati

adalah pilihan yang diambil oleh adik hamba setelah tahu suaminya

mengalami nasib malang. Mungkin saja Dyah Menur mengambil pilihan

itu karena tak melihat pilihan lain yang terasa lebih nyaman.”

100 Tumbak cucukan, Jawa, peribahasa yang ditujukan untuk orang yang gemar mengadu

Gajah Mada 140

Dyah Wiyat tersenyum getir.

”Setelah melihat suaminya dirampas perempuan lain?”

Pradhabasu terkejut ketika rangkaian kalimatnya menggiring Prabu

Putri Dyah Wiyat Rajadewi Maharajasa membalas dengan jawaban yang

menohok. Jawaban yang dengan jelas menempatkan Sang Prabu Putri

Dyah Wiyat sebagai pihak yang harus bertanggung jawab jika perempuan

bernama Dyah Menur itu sampai mati bunuh diri. Tetapi, benarkah soal

bunuh diri itu?

”Yang benar bagaimana keadaannya? Apakah benar seperti yang

kausampaikan kepada Kakang Patih Gajah Mada, perempuan itu telah

mati?”

Bahwa Pradhabasu terdiam cukup lama adalah karena bingung,

bagaimana ia harus menjawab pertanyaan itu.

”Bagaimana, Kakang Pradhabasu?” Dyah Wiyat mengejar.

Pradhabasu mengarahkan pandangan matanya ke celah pintu yang

sedikit terbuka. Di sana beberapa prajurit Bhayangkara melakukan

pengawalan dengan ketat. Terlihat Bhayangkara Jayabaya sibuk dengan

kelapa mudanya. Juga terlihat Gagak Bongol sedang beramah-tamah

dengan penduduk. Gagak Bongol mungkin menceritakan sesuatu yang

amat lucu yang menyebabkan beberapa orang tetangga Pradhabasu

tertawa terpingkal-pingkal.

Pradhabasu kembali mengarahkan perhatiannya kepada Prabu Putri.

”Jika boleh hamba tahu, sebelum hamba menjawab pertanyaan

Prabu Putri, apa yang akan Prabu Putri lakukan jika Prabu Putri bertemu

dengan perempuan itu?” Pradhabasu bertanya.

Amat perlahan dan dihayati sekali Prabu Putri mengangguk.

”Demi Hyang Widdi, aku bersumpah untuk menghapus

kecemasanmu, Kakang Pradhabasu. Aku berniat baik. Perkawinan

suamiku lebih dulu dengan perempuan itu bukanlah kesalahannya

juga bukan kesalahanku karena hal itu terjadi jauh sebelum Kakang

Kudamerta dan aku saling diikat. Bagiku tak masalah jika suamiku beristri

Hamukti Palapa 141

tak hanya aku. Mendiang Ayahanda Prabu Sri Kertarajasa Jayawardhana

memiliki lima orang istri.”

Pradhabasu maju selangkah, tetapi masih berada dalam kepatutan,

tidak terlampau dekat dengan Prabu Putri. Pada jarak yang demikian,

Pradhabasu memandang langsung ke mata Dyah Wiyat.

”Apakah Prabu Putri akan mengajak Dyah Menur ke istana dan

membangunkan untuknya sebuah istana?” tanya Pradhabasu.

Dengan sigap Dyah Wiyat menjawab, ”Kenapa tidak?”

Pradhabasu menggeleng tegas. Jika Dyah Menur dibuatkan istana

dan dengan berterang ditempatkan sebagai salah satu istri Wijaya Rajasa

Sang Apanji Wahninghyun, ia akan berhadapan dengan Gajah Mada

yang pasti tidak akan menyetujui rencana itu.

Patih Gajah Mada orang yang kukuh pendirian. Sikapnya bulat

dalam menjaga ketenteraman rumah tangga Prabu Putri yang pernah

didampingi sebagai patih saat Dyah Wiyat masih menjadi pemangku

Daha dengan gelar Breh Daha. Prabu Putri Dyah Wiyat amat mengenal

sikap Gajah Mada yang demikian itu.

Lebih jauh ke depan, karena Dyah Wiyat adalah pucuk pimpinan

Kerajaan Majapahit yang secara bersama-sama menggelar pemerintahan,

munculnya Dyah Menur yang memiliki seorang anak laki-laki dari Raden

Kudamerta boleh jadi akan menjadi sumber masalah dalam pergantian

kekuasaan kelak di kemudian hari. Gajah Mada harus menjamin hal

yang demikian tidak boleh terjadi. Ibarat sumber penyakit, sumber

penyakit itu harus dibuang. Ibarat bibit makar, mumpung masih bocah

harus ditumpas.

”Hamba mohon maaf, Tuan Putri,” jawab Pradhabasu. ”Jawaban

hamba kepada Prabu Putri sama dengan jawaban hamba kepada Kakang

Gajah Mada. Prabu Putri berhati mulia dengan memikirkan nasib Dyah

Menur. Hanya sayang, perempuan itu sudah tidak ada di dunia ini.

Sebaiknya Prabu Putri melupakannya.”

Prabu Putri Dyah Wiyat Rajadewi Maharajasa merasakan dadanya

berdesir.

Gajah Mada 142

”Aku tidak percaya dengan jawaban itu, Kakang Pradhabasu.

Beranikah Kakang menjamin jawaban itu benar dengan bersumpah di

hadapan Hyang Widdi?” Prabu Putri menyudutkan.

Pradhabasu merasa lehernya tercekik. Sebagai kawula Majapahit

yang apalagi sedang berhadapan dengan Prabu Putri, apalah haknya

untuk berbohong. Di hadapan raja wanita itu, ia harus berkata jujur.

”Sebaiknya Prabu Putri melupakannya. Andaikata Dyah Menur itu

masih hidup dan Prabu Putri membawanya ke istana, akan ada banyak

anak panah terarah ke dada perempuan itu, yang dilakukan dengan tidak

berterang. Sang Prabu Putri tak akan mampu melindunginya. Maka,

biarlah ia berada dalam kedamaiannya sekarang.”

Prabu Putri Dyah Wiyat amat memahami jawaban itu.

”Berarti ia masih hidup, bukan?” kejarnya.

”Ia sudah mati. Hidupnya sudah habis. Prabu Putri sebaiknya

melupakan perempuan itu, dan hamba menyarankan kepada Prabu

Putri untuk menghibur Raden Kudamerta agar tak berlama-lama dalam

bersedih dan melupakannya.”

Jawaban yang disampaikan Pradhabasu itu merupakan jawaban yang

mengambang dan tidak membuatnya puas.

”Aku ingin bertemu dengannya untuk sekali saja. Beri aku

kesempatan,” Dyah Wiyat meminta dengan suara memelas.

Pradhabasu yang menunduk, menengadah dan menghirup udara

memenuhi paru-parunya.

”Dyah Menur Hardiningsih sudah mati, Sang Prabu. Bagaimana

Prabu Putri akan bertemu dengan seseorang yang sudah mati?”

”Tunjukkan kepadaku, di mana kuburannya.”

Pertanyaan yang mengarah itu makin membingungkan Pradhabasu.

Berhadapan dengan Patih Gajah Mada, ia bisa berkilah. Namun, sulit

ia melakukan itu di hadapan Dyah Wiyat Rajadewi Maharajasa. Secara

tersamar jawaban yang ia berikan bermuatan isyarat, Dyah Menur masih

hidup.

Hamukti Palapa 143

”Kakang Pradhabasu,” Dyah Wiyat memberi tekanan yang lebih

tajam. ”Aku tidak ingin menggunakan hakku sebagai seorang raja putri

untuk menerima jawaban yang jujur. Aku ingin Kakang Pradhabasu

mau memberi jawaban yang jujur dengan ikhlas berlatar kedekatan

kita selama ini. Apa Kakang tega tidak mau mengatakan keadaan yang

sesungguhnya?”

Pradhabasu makin tersudut dan merasa tak punya pilihan lain.

”Hamba akan menyampaikan keadaan yang sebenarnya, tetapi

hamba mempunyai permintaan.”

”Ya,” jawab Dyah Wiyat dengan amat tangkas. ”Apa permintaan

Kakang?”

”Hamba hanya memohon Prabu Putri berkenan memahami

keadaan.”

Kerut kening Dyah Wiyat menandai bagaimana ia menimbang

keadaan.

”Bahwa hamba harus menjamin Dyah Menur berada dalam keadaan

aman. Kakang Gajah Mada dengan sikapnya yang demikian merupakan

sumber bahaya atas keselamatan perempuan itu. Mungkin hamba tak

keberatan mempertemukan Prabu Putri dengan Dyah Menur, tetapi

mohon jangan dibawa ke istana.”

Prabu Putri memandang Pradhabasu dengan raut muka berseriseri.

Bahwa Dyah Menur masih hidup, hal itu menyenangkan hatinya.

Selama ini ia berangan-angan akan mempertemukan suaminya dengan

Dyah Menur, agaknya peluang itu masih terbuka untuknya.

”Hamba juga meminta agar Prabu Putri tidak mempertemukan Dyah

Menur dengan Tuanku suami Prabu Putri,” tambah Pradhabasu.

Segera Prabu Putri mencuatkan alis.

”Mengapa?”

Pradhabasu memejamkan mata untuk mengumpulkan segenap

kekuatan karena jawaban yang akan disampaikan haruslah dilambari

dengan keberanian.

Gajah Mada 144

”Hamba punya alasan untuk itu, Prabu Putri,” jawab Pradhabasu.

”Karena baru saja dan belum lama, Dyah Menur akhirnya mau membuka

hati terhadap keinginan hamba. Dyah Menur Hardiningsih telah menjadi

istri hamba.”

11

Pradhabasu memandang tak berkedip ke arah jalan memanjang

yang akan membawa rombongan Prabu Putri yang ditandu kembali

ke Istana Majapahit. Di arah pandang matanya, bayangan rombongan

itu masih terlihat, tetapi sejenak kemudian lenyap ketika berbelok.

Ketika Pradhabasu mengarahkan pandangan matanya sedikit ke kiri,

di halaman rumah Ki Sangga Rugi, beberapa orang tetangga sedang

menggerombol.

Di halaman rumah Ki Jalak Mangore, para tetangga yang berkumpul

jumlahnya lebih banyak lagi. Yang masih berkumpul di situ termasuk

orang-orang dari pedukuhan sebelah yang ikut mangayubagya101 kehadiran

Prabu Putri di pedukuhan itu. Rupanya kabar kehadiran Sang Prabu

Putri dengan cepat menyebar dan diketahui oleh banyak orang melalui

gethok tular.

”Apa jawabmu terhadap pertanyaan yang diajukan Prabu Putri?”

tanya Senopati Gajah Enggon.

Pradhabasu berbalik dan menatap wajah Gajah Enggon tanpa

berkedip. Tak ada senyum di wajah Pradhabasu yang justru terlihat

tegang.

101 Mangayubagya, Jawa, ikut menyambut dan memberi hormat

Hamukti Palapa 145

”Menurutmu, apakah aku telah melakukan sebuah kesalahan?”

tanya Pradhabasu.

Gajah Enggon sedikit bingung.

”Kesalahan bagaimana? Karena kamu berbohong, atau justru

menjawab apa adanya? Jawaban yang mana yang kauberikan?”

Pradhabasu mencairkan sikapnya. Senyumnya mulai mencuat meski

sulit dipahami senyum itu berlatar belakang macam apa.

”Aku menjawab apa adanya,” jawab Pradhabasu. ”Akan tetapi,

jawaban yang apa adanya itu, aku sama sekali tidak tahu apakah akan

menyebabkan Prabu Putri berkenan. Lebih-lebih, jika jawabanku itu

disampaikan kepada Tuanku Wijaya Rajasa Hyang Parameswara Sang

Apanji Wahninghyun.”

Gajah Enggon menatap Pradhabasu dengan rasa penasaran yang

makin menanjak.

”Sebenarnya apa jawaban yang kauberikan, apakah Dyah Menur

itu masih hidup?”

Pradhabasu memerlukan waktu untuk termangu, seperti melamun

atas hadirnya wajah Dyah Menur Hardiningsih, Sang Sekar Tanjung,

di kelopak matanya, perempuan cantik, tetapi selalu murung. Adakah

murung di wajah perempuan itu akan terkelupas bersamaan dengan

keputusan yang telah diambil.

”Dyah Menur memang masih hidup,” jawab Pradhabasu.

”O, terus?”

”Sang Prabu Putri berniat membawa Dyah Menur ke istana dan

akan dibuatkan istana,” tambah Pradhabasu.

”Bagus itu,” jawab Gajah Enggon dengan tangkas. ”Aku tidak

menyangka, Prabu Putri ternyata berhati mulia dan mau berbagi.

Kalau kau mencemaskan sikap Kakang Patih Gajah Mada, kurasa

ketakutanmu itu tidak perlu terjadi setelah Sang Prabu Putri dengan

terang mengumumkan keberadaan Dyah Menur.”

Gajah Mada 146

Senyum Pradhabasu terasa getir, ia menggeleng.

”Apa yang masih menjadi ganjalan hatimu?”

Betapa panjang tarikan napas Pradhabasu dalam mengisi paruparunya.

”Aku keberatan karena Dyah Menur telah menjadi istriku,” jawab

Pradhabasu.

Terbelalak Gajah Enggon mendapat jawaban itu. Namun, dengan

segera Gajah Enggon tersenyum. Dijabatnya tangan sahabatnya dengan

genggaman yang amat kuat.

”Selamat!” kata Gajah Enggon.

Pradhabasu menerima jabat tangan itu sekaligus menjadi simpul

pembuka senyumnya yang lebih lebar lagi.

”Sebaiknya kita berangkat. Sebenarnya aku sudah berkemas untuk

perjalanan panjang yang akan kita tempuh. Aku tinggal mengeluarkan

kuda dan berpamitan kepada para tetangga.”

Gajah Enggon mengedarkan pandangan matanya ke pekarangan

rumah Pradhabasu yang gundul tak ada tanaman apa pun. Jika ada tanaman

yang hidup, hanyalah beberapa pohon ketela pohung yang meranggas

karena demikian parahnya keadaan. Ke depan, jika hujan belum turun

juga, boleh dikata rakyat Majapahit akan menderita. Gajah Enggon orang

yang ramah. Melihat orang-orang menggerombol di halaman rumah Ki

Sangga Rugi, Gajah Enggon justru mendatanginya.

”Bagaimana dengan kemarau panjang ini?” Gajah Enggon

membuka percakapan dengan ramah.

Beberapa orang itu berebut saling menjawab.

”Keadaan akan memburuk, Tuan Senopati. Jika bulan depan hujan

belum turun juga, masa panen berikutnya akan mundur.”

Gajah Enggon mencerna jawaban itu.

”Tetapi, bagaimana dengan bahan makanan? Apakah mencukupi

untuk beberapa waktu ke depan?” tambah Gajah Enggon.

Hamukti Palapa 147

Orang-orang itu saling pandang.

”Bagaimana dengan lumbung, apakah masih ada persediaan?”

Kembali orang-orang itu saling tengok.

”Lumbungku sudah habis, Tuan Senopati,” Ki Sangga Rugi

menjawab.

Tetangganya terkejut, kaget oleh jawaban yang ternyata jujur. Adalah

agak aneh, Ki Sangga Rugi yang selama ini sering membusungkan dada

itu ternyata mampu pamer wajah memelas.

Senopati Gajah Enggon memandang Ki Sangga Rugi dengan iba.

”Ke depan makan apa?” tanya Enggon.

Tiwul!”102

Manggut-manggut Gajah Enggon.

”Yang lain?” tanya Gajah Enggon.

”Kalau aku sedikit lebih beruntung. Semula aku menduga tahun

ini akan terjadi kemarau panjang. Jadi, aku menyisihkan panen untuk

memenuhi tumbu103 di lumbung. Dugaanku atas kemarau panjang itu

benar. Setidaknya untuk tiga bulan ke depan, keluargaku tidak akan

kelaparan. Aku bukan orang yang kaya, Senopati. Aku hanya beruntung

perhitunganku kali ini benar. Ke depan, aku juga punya ramalan

tersendiri, yaitu ketika orang-orang saling berbalap menanam padi,

aku menyisihkan pekarangan untuk kutanami cabai karena cabai akan

mengalami kelangkaan.”

Gajah Enggon amat tertarik terhadap perhitungan orang itu.

”Bagaimana cara kamu memperkirakan kemarau panjang akan

terjadi?”

102 Tiwul, Jawa, makanan yang terbuat dari gaplek. Gaplek adalah ketela pohung yang dikeringkan.

103 Tumbu, Jawa, di zaman penyimpanan gabah masih menggunakan lumbung, beras diletakkan di wadah

padi yang dibuat dari anyaman bambu dengan ukuran besar yang disebut tumbu.

Gajah Mada 148

Orang itu membalas tatapan Gajah Enggon dengan raut muka biasa

sebagai tanda keluguannya.

”Aku hanya mengandalkan ilmu titen.104 Sewindu yang lalu keadaan

seperti ini. Padahal, sewindu sebelumnya juga terjadi kemarau panjang.

Dari hitungan itu, aku menduga kemarau panjang akan datang, ternyata

benar. Aku bernasib mujur telah mempersiapkan diri menyongsong

kedatangan masa paceklik ini dengan sebaik-baiknya. Panen di

pertengahan tahun yang lalu tidak kujual seluruhnya, sebagian aku

simpan di lumbung.”

Gajah Enggon memandang orang itu dengan tatapan mata

takjub.

”Jadi, kau mengamati selama bertahun-tahun? Untuk mengetahui

apa yang terjadi sekarang ini berdasar pengamatanmu delapan tahun

lalu?”

Orang itu tersenyum, apa yang kemudian diucapkannya bukanlah

karena kesombongannya. Wajahnya menyiratkan keluguannya saat

menyampaikan pendapatnya.

”Kalau ramalanku tidak salah, Tuan,” ucapnya. ”Setelah musim

hujan nanti tiba, dimulai sejak Warsa Udan,105 Sarat Rontok,106 dan Hemanta

Dingin,107 Majapahit akan menghadapi masa bahan makanan berlimpah.

Namun, selanjutnya para petani harus berhati-hati di bulan Sisira108

yang sejuk berkabut, Basanta109 dengan dedaunan luruh sampai ke masa

Grisma110 yang panas. Bulan-bulan ini banyak sekali hama penyakit.

Sewindu yang lalu para petani padi gagal panen.”

104 Ilmu titen, Jawa, ilmu pengamatan, hafal terhadap tanda-tanda alam

105 Warsa Udan, Jawa kuno, penanggalan berdasarkan musim yang dalam setahun terdiri atas enam musim.

Warsa Udan mencakup dua bulan, yaitu Srawana dan Badra.

106 Sarat Rontok, idem 105, mencakup bulan Asuji (Aswayuja) dan bulan Karttika

107 Hemanto Dingin, idem 105, mencakup bulan Margasirsa dan bulan Posya

108 Sisira, idem 105, mencakup bulan Magha dan Palguna

109 Basanta, idem 105, mencakup bulan Cetra dan Wesakha

110 Grisma, idem 105, mencakup bulan Jyestha dan Asadha

Hamukti Palapa 149

Gajah Enggon layak merasa kagum terhadap lelaki tua itu, yang

meski hidup di desa, memiliki pengetahuan yang tidak boleh diremehkan

terhadap penanggalan berdasar musim. Bahkan, mampu menandai

adanya hal-hal khusus pada bulan-bulan itu.

Rasa ingin tahu Gajah Enggon melebar lebih jauh.

”Paman memiliki berapa putra?” tanya Gajah Enggon.

Pertanyaan yang membelok dengan tiba-tiba itu menyebabkan orang

itu mendadak tertawa lebar.

”Aku punya dua belas anak, Tuan,” jawabnya dengan mulut

menyeringai.

”Banyak sekali,” kata Enggon.

”Ya,” jawab orang itu. ”Anakku dua belas dan sudah mentas111

semua. Masing-masing telah kukawinkan dan memberiku tujuh belas

orang cucu.”

Gajah Enggon memandangi orang itu tanpa berkedip.

”Pada bulan Srawana112 kemarin, anakku yang pertama memberiku

cucu lagi. Pada bulan Badra, kukawinkan anak bungsuku. Dua bulan

setelah itu, yaitu pada bulan Karttika, Hyang Widdi berkenan memanggil

istriku untuk menghadap ke alam pangrantunan.”113

Gajah Enggon termangu dan bahkan ikut larut melihat laki-laki itu

tersenyum yang sebenarnya berusaha menghapus jejak kesedihan yang

sempat mencuat. Bagi suami mana pun, kematian seorang istri selalu

meninggalkan duka yang mendalam.

Gajah Enggon lalu mengarahkan pandangan matanya ke seorang

lagi.

111 Mentas, Jawa, mandiri atau maksudnya telah berkeluarga

112 Srawana, Jawa Kuno, bulan pertama menurut penanggalan Matahari-Rembulan, bulan selanjutnya adalah

Badra (Pada, Wada), Asuji (Aswayuja), Karttika, Margasirsa, Posya, Magha, Palguna, Cetra, Weshaka,

Jyestha, dan Asadha

113 Pangrantunan, Jawa, alam penantian setelah kematian

Gajah Mada 150

”Kalau kamu bagaimana?”

”Keadaanku lebih parah daripada Ki Sangga Rugi,” kata orang itu.

”Aku tidak punya gaplek atau jagung. Lumbungku berukuran paling

besar di pedukuhan ini, tetapi tidak ada isinya sama sekali. Masa panen

kemarin padiku rusak parah diberangus tikus. Untuk menahan lapar,

aku terpaksa menurunkan kelapa!”

Gajah Enggon mencuatkan sebelah alisnya.

”Makan kelapa?”

”Ya. Sebagian aku bawa ke pasar Daksina.”

Gajah Enggon yang melihat secara langsung kehidupan yang

menyesakkan dada itu menahan napas. Namun, ia punya cara untuk

menyelamatkan nasib buruk para tetangga Pradhabasu itu.

”Besok di hari Saniscara,”114 kata Gajah Enggon, ”cobalah kalian

ke istana dan melakukan pepe.115 Katakan bahwa kalian berasal dari

pedukuhan ini. Katakan bahwa kalian adalah tetangga Ki Pradhabasu dan

mintalah bantuan. Istana pasti mengeluarkan cadangan bahan makanan

untuk membantu kalian menyambung umur.”

Mata Ki Sangga Rugi berbinar.

”Benarkah itu, Senopati?” tanya Ki Sangga Rugi. ”Apakah bantuan

pasti akan turun diberikan kepada kami?”

”Ya,” jawab Gajah Enggon yakin. ”Katakan saja kalian adalah

tetangga Ki Pradhabasu, nasib kalian pasti akan diperhatikan.”

Tawaran yang diberikan Gajah Enggon itu sungguh menarik minat,

sekaligus hal itu memancing rasa penasaran mereka terhadap siapa

sebenarnya Pradhabasu, orang yang selama ini dianggap remeh yang

ternyata menyembunyikan jati diri.

114 Saniscara, Jawa Kuno, hari Sabtu. Nama-nama hari menurut penanggalan Jawa Kuno adalah

Radite= Minggu, Soma=Senin, Anggara=Selasa, Buda=Rabu, Wraspati=Kamis, Sukra=Jumat, dan

Saniscara=Sabtu

115 Pepe, Jawa, unjuk rasa yang diperkenankan menurut undang-undang

Hamukti Palapa 151

”Apakah aku boleh bertanya soal tetangga kami itu, Tuan Senopati?”

bertanya salah seorang dari mereka.

”Kenapa?” balas Gajah Enggon.

”Soal Ki Pradhabasu itu, siapakah sebenarnya dia?”

Gajah Enggon memandang wajah orang-orang di depannya satu

per satu.

”Apakah kalian belum tahu siapa dia?” tanya Gajah Enggon.

”Belum,” jawab orang-orang itu serentak.

”Pradhabasu tidak pernah menceritakan siapa dirinya?” tanya Gajah

Enggon lagi.

”Tidak,” kali ini yang menjawab Ki Sangga Rugi.

Gajah Enggon tersenyum.

”Pradhabasu itu bukan orang sembarangan. Andai ia tidak

mengundurkan diri dari kesatuan Bhayangkara, pangkatnya mungkin

telah menggapai senopati. Tetapi, itulah Pradhabasu, yang tidak silau

dengan gemerlapnya pangkat. Ia pilih berada di luar karena sebuah

keyakinan yang harus dipegang teguh. Itu sebabnya siapa pun orang

di Majapahit menghormatinya. Patih Gajah Mada menghormatinya,

aku menghormatinya, bahkan kedua Prabu Putri, semua menaruh rasa

hormat kepadanya. Pradhabasu memang bukan orang sembarangan.”

Hening menyibak menyeruak.

Ki Sangga Rugi yang selama ini terlalu meremehkan tetangganya

itu, yang sering meremehkannya melalui bualannya yang muluk-muluk,

atau menganggapnya sebagai orang yang tak berguna, merasa harus

segera mengakhiri kebiasaan buruknya. Tak ada gunanya membual

mengaku bersahabat dengan Gajah Mada untuk menggelembungkan

diri. Indahnya kebohongan dan khayalan, ketika berhadapan dengan

kenyataan, sungguh amat menyakitkan.

Berangan-angan punya uang banyak, berangan-angan beristri cantik,

atau menyandang jabatan dan pangkat tinggi, akan terasa nyeri di ulu

Gajah Mada 152

hati ketika tersadar bahwa semua yang indah itu hanya khayalan. Tidak

ada gunanya melakukan semua itu di hadapan Pradhabasu.

Suara kuda meringkik memecah perhatian mereka. Dari halaman

samping rumahnya, Pradhabasu menuntun kuda kebanggaannya.

”Apakah Ki Pradhabasu itu akan pergi?” bertanya Ki Jalak

Mangore.

”Ya,” jawab Gajah Enggon.

”Ke mana dan berapa lama?”

Gajah Enggon mengarahkan perhatiannya ke Pradhabasu yang

sibuk memasang pelana di atas kuda.

”Ia akan pergi bersamaku untuk melaksanakan tugas negara. Ia

memang bukan prajurit yang karenanya harus tunduk pada perintah

pimpinannya. Meski Ki Pradhabasu berada di luar, dengan senang hati

ia akan memberikan bantuan jika negara membutuhkan. Perjalanan yang

akan ditempuhnya adalah semata-mata karena panggilan jiwanya, bukan

karena panggilan isi perut.”

Penampilan Pradhabasu telah berubah dan tampak mendebarkan.

Rambutnya yang semula dibiarkan terurai kini digelung keling tepat di

atas kepala. Pakaian yang dikenakan ringkas dan ketat, menggambarkan

kelincahan dan kekuatannya. Yang paling menyita perhatian adalah

rentengan pisau yang ditata berantai pada selempang terbuat dari kulit

harimau dan persediaan anak panah di endong yang diselempangkan di

punggung dan sebagian ditata menggantung di pelana kudanya. Benarbenar

sebuah penampilan yang berubah dan mendebarkan.

Melihat Pradhabasu yang telah siap, Gajah Enggon yang berada

di halaman rumah Ki Sangga Rugi harus mempersiapkan diri. Orangorang

yang berkumpul bergeser menuju rumah Pradhabasu. Demikian

juga dengan orang-orang yang menggerombol di bawah pohon saman,

di tepi jalan, maupun yang berada di dekat pagar.

Pradhabasu memandangi mereka. Pandangan matanya juga jatuh

ke wajah Ki Sangga Rugi. Cara Ki Sangga Rugi membalas tatapan mata

Hamukti Palapa 153

Pradhabasu telah berubah. Ki Sangga Rugi tak lagi berani menengadah

dan membusungkan dada.

”Para sanak tetangga semua,” kata Pradhabasu, ”aku akan pergi

untuk waktu yang panjang. Aku menitipkan rumah ini. Kalau kayu

penopangnya doyong, bantulah dengan menegakkan kembali. Tetapi,

kalau telanjur ambruk karena diterjang angin, biarkan saja sekalian. Kelak

ketika aku pulang, aku akan merepotkan para sanak tetangga untuk

membangunnya kembali.”

Hening yang menyelinap adalah karena isi semua dada bagai

terampas dan terasa mendelong,116 dan yang paling merasakan sentakannya

adalah Ki Sangga Rugi. Bagaikan kehilangan tenaga, Ki Sangga Rugi

berusaha sekuat tenaga bertahan berdiri. Dengan sekuat tenaga pula, ia

menggerakkan kaki melangkah mendekat.

Pradhabasu memberikan perhatiannya.

”Ada apa?” tanya Pradhabasu.

Komat-kamit Ki Sangga Rugi akan bicara dengan dua telapak tangan

saling remas. Namun, betapa sulit melontarkan kata-kata dari mulutnya.

Pradhabasu sangat memahami keadaan tetangganya itu, yang rupanya

sangat terpukul manakala melihat kenyataan yang sesungguhnya.

”Aku minta maaf,” akhirnya terlontar juga sebuah ucapan dari

mulutnya.

Pradhabasu tersenyum.

”Apa yang harus dimaafkan, aku tidak melihat kesalahan apa pun

yang kaulakukan.”

”Betapa sombongnya aku selama ini dan betapa buta mataku karena

tidak melihat siapa kau.”

Pradhabasu tak henti-hentinya mengumbar senyum.

116 Mendelong, Jawa, seperti berongga

Gajah Mada 154

”Menurutku, tak ada masalah yang menyebabkan kau harus merasa

bersalah. Sudah, Ki Sangga Rugi. Janganlah kau melihatku dengan cara

berbeda dari sebelumnya. Tak ada yang berubah pada diriku, siapakah

aku, aku tetap Pradhabasu tetanggamu. Kau tak perlu mengubah

sikap.”

Ki Sangga Rugi menunduk makin dalam.

Akhirnya, Pradhabasu merasa telah tiba waktunya untuk berpamitan.

Tanpa menyangga beban, Pradhabasu naik ke punggung kuda yang telah

disiapkan. Demikian pula dengan Senopati Gajah Enggon.

Pradhabasu melambaikan tangan.

”Selamat jalan, Ki Pradhabasu,” teriak salah seorang penduduk.

Pradhabasu tersenyum lebar.

Sejenak kemudian, dua orang pilih tanding itu membalapkan

kudanya dengan meninggalkan debu di sepanjang jalan yang dilewati,

dan masih menyisakan rasa takjub yang tidak berkesudahan bagi para

tetangganya. Di langit tak ada selembar pun mendung yang dirindukan,

tak ada mega yang menjadi cikal bakal hujan.

”Ada satu hal yang tadi belum sempat aku tanyakan,” kata Pradhabasu.

”Kau sudah menghadap Ibu Suri Gayatri?”

”Sudah,” jawab Gajah Enggon sambil mempercepat gerak kudanya

agar bisa berpacu berdampingan.

”Apa kata Tuan Putri Biksuni?” lanjut Pradhabasu.

Dengan Pradhabasu sedikit memperlambat dan dengan Gajah

Enggon mempercepat laju kudanya, akhirnya kedua satria itu berderap

berdampingan.

”Ibu Suri Rajapatni memberiku petunjuk samar-samar. Aku disuruh

memulainya dari Ujung Galuh. Aku disuruh mengikuti jejak hujan.

Dengan cara itu, kita akan menemukan kembali kedua benda pusaka

yang hilang itu. Tuan Putri Ibu Suri Gayatri mengatakan, boleh dikata

hidupku bahkan baru dimulai dari tempat itu,” jawab Pradhabasu.

Hamukti Palapa 155

Pradhabasu mengerutkan kening, sebagaimana Gajah Enggon,

Pradhabasu tidak mampu menebak apa di balik pesan yang aneh itu.

Perjalanan itu rupanya dirasakan sebagai hal yang menyenangkan

bagi kuda kekar milik Pradhabasu maupun kuda milik Gajah Enggon

yang begitu bergairah. Kedua binatang itu saling membalap dengan

kecepatan tinggi, makin jauh ke timur sedikit membelok ke arah utara,

di arah sana letak pelabuhan besar bernama Ujung Galuh yang selalu

sibuk siang dan malam.

Belum berapa jengkal perjalanan itu ditempuh, dari arah berlawanan

terlihat berderap lima ekor kuda yang ditunggangi oleh orang-orang yang

pasti mumpuni dan perigel dalam olah berkuda. Bagai kesetanan dan

mungkin takut kehilangan waktu, orang-orang berkuda itu membalap

membelah angin. Karena jalan di depan menyempit dan salah satu pihak

harus mengalah, Pradhabasu memperlambat diri, bahkan berhenti.

Rombongan orang-orang berkuda itu makin dekat, makin dekat,

dan kemudian bersimpangan. Orang-orang itu tergesa-gesa sekali. Itu

sebabnya, mereka tidak mengurangi kecepatan. Rombongan orang

berkuda itu sama sekali tidak tertarik pada keberadaan mereka berdua.

”Siapa mereka?” tanya Pradhabasu.

”Entah!” jawab Gajah Enggon.

”Ada yang menarik perhatianmu?”

Gajah Enggon menggeleng.

”Apakah mereka akan membuat onar di Majapahit?” lanjut

Pradhabasu.

Pradhabasu agak cemas, tetapi tidak dengan Gajah Enggon. Jika

ada pihak yang berniat berbuat onar di Majapahit, dengan mudah akan

diketahui karena demikian rapatnya penjagaan atas keamanan istana dan

kotaraja. Telik sandi disebar di mana-mana, apalagi karena peringatan

yang diberikan oleh Ibu Suri Gayatri bahwa maling akan mencoba masuk

kembali ke lingkungan istana sehingga penjagaan benar-benar diperketat.

Segenap prajurit telah diturunkan dalam berbagai penyamaran.

Gajah Mada 156

Pradhabasu sependapat, siapa pun orang-orang berkuda itu, tak

boleh menghentikan perjalanan yang ditempuhnya. Apa pun yang

akan mereka lakukan di kotaraja, andai mereka hendak berbuat jahat,

pengawalan prajurit yang berlapis-lapis pasti akan menghadang mereka.

Prajurit sandi bahkan akan langsung memantau mereka sejak pertama

masuk di lingkungan kotaraja.

Pradhabasu menggerakkan kendali kudanya sebagai isyarat untuk

kembali berderap, debu tebal pun mengepul. Kuda Pradhabasu adalah

kuda pilihan dan sangat gemar dipacu, apalagi jika ada pesaing yang

bisa ditantang beradu balap. Pun demikian dengan kuda milik Senopati

Gajah Enggon yang bergumpal-gumpal ototnya. Bagai terbang mereka

melesat.

12

Matahari yang semula berada di puncak telah sedikit doyong

ke arah barat, menjadi penyebab semua bayangan benda apa pun,

pepohonan, batu, tiang rumah, dan orang berdiri mengayun ke sebelah

timur. Matahari yang orang memanggilnya dengan sebutan srengenge,

dipuja bagai Dewa dengan panggilan Hyang Bagaskara, juga ada yang

menyebut Batara Surya, geliatnya sungguh memeras keringat siapa

saja.

Panas menggigit itu yang menjadi penyebab air yang menguap

dari sungai-sungai, yang kemudian kering dan dari laut yang tak hentihentinya

mendeburkan ombak menggerus pantai, tidak sempat berubah

menjadi awan, seolah air yang menguap itu langsung murca tak ketahuan

jejaknya. Padahal, semua orang merindukan awan-awan itu. Semua

orang berharap-harap cemas atas kehadirannya. Tidak hanya semua

Hamukti Palapa 157

orang, tetapi cobalah dengar jerit semua pepohonan, bahkan yang paling

tangguh terhadap kebutuhan air sekalipun. Nyu danta117 meranggas

dengan daun-daun mem-belarak118 kering.

Perempuan itu yang semula sibuk mengucurkan air dari dalam

bumbung ke beberapa pohon cabai yang ditanam di pekarangan rumahnya,

mendongakkan kepala ketika terdengar derap kuda dari kejauhan.

Senyum perempuan itu akan merekah karena telanjur menduga siapa

orang yang berkuda itu. Namun, segera dibatalkan ketika pendengarannya

mampu memindai kuda yang datang itu lebih dari satu.

”Apakah itu ayahmu, Prajaka?” pertanyaan itu terlontar dari

mulutnya.

Sang Prajaka dengan penuh keyakinan mengangguk. Selebihnya,

bocah cacat jiwa itu tak pernah menggeser pandangan matanya dari

pohon nyu danta di depannya. Setidaknya, berapa jumlah lidi yang

tersisa dari satu pelepah telah ia hitung dengan tuntas. Bocah itu, entah

apakah ia layak disebut bodoh dengan kemampuannya yang langka itu.

Dengan kemampuan aneh itu, Prajaka mampu melihat sesuatu yang

orang lain tidak tahu. Namun, karena ketakmampuannya menjalin

hubungan dengan orang lain menyebabkan Prajaka dianggap sebagai

bocah bermasalah.

”Kamu yakin itu ayahmu, Prajaka?” tanya perempuan itu lagi.

Prajaka, meski diam, kembali mengangguk. Bocah itu begitu yakin,

orang berkuda yang datang itu memang ayahnya, tak peduli meski

suara derap itu berasal dari dua ekor kuda. Irama derap yang mungkin

berbeda-beda untuk setiap kuda dapat dibedakan dengan amat mudah

dan jelas oleh ketajaman mata hatinya, hal yang tidak mungkin dilakukan

orang biasa.

Perempuan itu perempuan yang berwajah cantik, paling cantik

dari para tetangga di pedukuhannya. Namun, dengan saksama

117 Nyu Danta, Jawa Kuno, kelapa gading

118 Belarak, Jawa, daun kelapa kering

Gajah Mada 158

menyembunyikan kecantikannya melalui penampilan dan pakaian

sederhana yang dikenakannya. Rambut yang hanya digelung melalui cara

paling sederhana agar tidak menarik perhatian lelaki, dilengkapi sikap

yang menutup diri agar para tetangga tidak terlalu sering datang.

Namun, bahwa pada dasarnya ia memang cantik, rambut dibuat

awut-awutan pun tetap cantik. Kecantikan yang terlalu kuat dan menonjol

itulah yang menyebabkan para laki-laki di pedukuhan itu, baik yang tua

maupun muda, banyak yang menyisihkan waktu sekadar mengangankan

dan membawanya ke alam mimpi. Akan tetapi, lelaki mana yang berani

menggoda perempuan itu karena konon suaminya yang jarang berada

di rumah, bukan orang sembarangan. Ia mantan prajurit dari pasukan

khusus Bhayangkara yang pasti akan menggilas siapa pun yang berani

menggoda istrinya. Untuk berani menggoda perempuan itu, benar-benar

diperlukan nyali yang besar.

Tubuh perempuan cantik itu tinggi semampai sepadan dengan

ukuran badannya yang langsing, tetapi padat. Wajahnya bersih dengan

tatapan yang selalu berseri. Matanya mungkin bagian yang paling indah

dan menyenangkan. Tidak tersenyum saja sudah cantik, apalagi ketika

tersenyum, ibarat lintang panjer sore yang muncul bersamaan dengan

senja datang atau lintang panjer rahina yang akan lenyap menjelang pagi

datang, begitu gemerlap dan sering menyebabkan orang salah paham.

Perempuan itu sebenarnya bersikap biasa saja, lawan bicaranyalah yang

salah mengartikan.

Di antara penduduk pedukuhan itu memang ada yang tak mampu

mengendalikan diri, Ki Draba Alit namanya. Meski ia telah beristri

dan memiliki enam orang anak, kegelisahannya menggeliat melihat

kecantikan Dyah Menur, tetangga yang tinggal di pedukuhan Payaman

belum genap empat tahun. Ki Draba Alit sering sakit meriang dan minta

dikeroki istrinya, yang bingung karena akhir-akhir ini sering mendapati

suaminya tak sehat.

Sisa nyali yang dimiliki Ki Draba Alit dalam menyalurkan hasratnya

hanyalah dengan melintas halaman rumah Dyah Menur saat pergi ke

sawah atau sepulangnya, pilihan jalan yang terasa aneh karena lebih jauh

Hamukti Palapa 159

dan melingkar. Melalui cara itu, Ki Draba Alit berharap akan mendapat

kesempatan melihat Dyah Menur menjemur pakaian atau memetik daun

singkong di pekarangan. Andaikata mungkin, sungguh menyenangkan jika

bisa menawarkan diri membantu menjemur. Bisa bertegur sapa dengan

perempuan itu sungguh berharga lebih mahal dari bongkahan emas.

Di sisa kesempatan yang dimilikinya, Ki Draba juga berandai-andai,

andaikata ia hidup sendiri, andai ia tidak punya istri yang dengan demikian

ia bebas berhubungan dengan perempuan lain, atau… andai perempuan

bernama Dyah Menur itu bisa dimiliki.

Hanya sebatas itu yang Ki Draba Alit berani. Selebihnya tidak

karena tak ingin nyawanya tercabut. Sejak datang dan bertempat tinggal

di Payaman, Pradhabasu secara blak-blakan memperkenalkan Dyah

Menur sebagai istrinya sekaligus memperkenalkan dirinya sebagai mantan

prajurit Bhayangkara. Hal itu menyebabkan para lelaki di Bulu Payaman

tak ada yang berani berbuat macam-macam kepada Dyah Menur meski

Pradhabasu sering berpergian entah ke mana.

Orang-orang lugu itu pun percaya, antara Dyah Menur dan

Pradhabasu memang merupakan pasangan suami istri. Tidak seorang

pun yang menyadari ada sebuah sandiwara rumit yang membungkus

persoalan di antara mereka.

Ki Draba Alit telah dua kali melintas di jalan depan rumah yang

terpencil itu. Ia berani melakukan karena yakin perempuan itu sedang

sendiri. Hal itu bisa ditandai dengan kosongnya kandang kuda, yang

berarti Ki Pradhabasu sedang tidak berada di rumah. Namun, suara kuda

yang datang berderap di siang itu mendorong Ki Draba Alit terbirit-birit.

Dengan sigap, lelaki yang sudah pantas disebut kakek itu melompat pagar

dan bersembunyi di balik barisan pagar pohon bersemak belukar. Dari

tempatnya, Ki Draba Alit mengintip.

Dyah Menur tersenyum senang melihat siapa yang datang. Namun,

dengan segera perempuan cantik itu menghapus jejaknya dari raut

mukanya karena Pradhabasu datang tidak sendirian. Dyah Menur

memiliki daya ingat yang tidak buruk. Wajah orang yang datang bersama

Pradhabasu itu pernah dilihatnya di Balai Prajurit beberapa tahun yang

Gajah Mada 160

lalu. Dyah Menur bahkan juga tahu nama orang itu adalah Gajah Enggon,

seorang prajurit dengan pangkat senopati yang menjadi pucuk pimpinan

dari pasukan khusus Bhayangkara.

Hampir empat tahun bagi Dyah Menur bukan waktu yang

pendek untuk sebuah luka di hati. Namun, bukan waktu yang lama

untuk sebuah kenangan, juga bukan waktu yang sudah cukup untuk

mengambil keputusan. Pada suatu hari dua tahun yang lalu, Pradhabasu

telah mengutarakan isi hatinya, mengajak melupakan masa silam dan

menawarkan untuk saling berbagi dalam merenda waktu.

Yang bisa dilakukan Dyah Menur ketika itu adalah meminta

waktu karena masih belum siap. Bukan perkara gampang bagi Dyah

Menur untuk berdamai dengan diri sendiri, melupakan lelaki kekasih

hatinya yang telah direnggut oleh wanita lain yang bukan sembarang

perempuan karena ia adalah perempuan yang kini menjadi salah satu

dari Prabu Putri. Setelah menyampaikan hasrat hatinya itu, Pradhabasu

tak pernah lagi membicarakan. Bagai orang yang lupa, Pradhabasu tak

lagi mempersoalkan.

Memenuhi permintaan Dyah Menur yang tidak ingin tinggal seatap,

Pradhabasu tinggal di rumah sendiri bertetangga dengan Ki Sangga Rugi

dengan jarak yang sebenarnya tak seberapa jauh, tak sampai setabuh

waktu yang dibutuhkan dalam berkuda. Di tempat tinggalnya yang

baru, Dyah Menur yang tak memiliki ayah dan ibu itu benar-benar

hidup sendiri. Sebenarnya masih ada beberapa sanak yang tak begitu

jauh dalam pertalian darah. Akan tetapi, Dyah Menur memang dengan

sengaja menjauhkan diri dari mereka.

Akan tetapi, bukan berarti Pradhabasu membiarkan Dyah Menur

Hardiningsih lepas dari perlindungannya. Sepekan sekali, ia muncul

menengoknya dan itulah saat yang menyenangkan bagi Sang Prajaka

yang merasa menemukan sosok ibu baru. Sang Prajaka benar-benar

mendapatkan limpahan kasih sayang yang tulus.

Waktu mungkin terasa bergerak lambat, tetapi tak pernah berhenti

meski barang sejenak. Lambat laun seiring dengan itu, Dyah Menur

mulai terbiasa dengan keadaan yang tidak bisa dielaknya.

Hamukti Palapa 161

Jika semula setiap waktu wajah Raden Kudamerta selalu menyelinap,

selanjutnya hal itu tak sering lagi. Dengan segala kesibukan yang

dilakukan, Dyah Menur yang oleh Emban Prabarasmi diberi nama lain

Sekar Tanjung, berhasil mempersempit ruang kenangan yang menjadi

hantu abadi dan selalu membayanginya.

Untuk selanjutnya, raut wajah Raden Kudamerta jarang menyelinap

di mimpi-mimpinya. Jika semula ada semacam rasa tidak rela kehilangan

suami karena harus menjadi suami perempuan lain, kini perasaan macam

itu mulai terkikis dan terganti oleh rasa ikhlas yang sesungguhnya, bukan

keikhlasan semu.

Selanjutnya dalam beberapa bulan terakhir, isi hati Dyah Menur

mulai dijejali wajah lain, wajah yang begitu sabar dan setia. Dyah Menur

sangat berharap Pradhabasu kembali mengajak berbicara soal yang dulu

pernah dibahas, tetapi tak sebagaimana yang ia inginkan, mungkin benar

Pradhabasu telah lupa pada persoalan itu. Sebagai seorang perempuan,

ia merasa tidak pantas mendahului berbicara soal itu. Maka, yang bisa ia

lakukan hanyalah menunggu dan menunggu. Berhadapan dengan waktu

yang bergerak amat lamban, menunggu bisa jadi merupakan pekerjaan

paling membosankan.

Prajaka dengan wajahnya yang datar sangat tidak peduli pada apa

pun. Namun, untuk kedatangan ayahnya, remaja dengan kelainan jiwa

itu bergerak mendekat. Kalau ada senyum, senyum itu hanya sekilas.

”Bagaimana kabarmu, Prajaka? Tidak melihatmu sepekan seperti

sudah setahun lamanya,” kata Pradhabasu.

Prajaka tidak memberi tanggapan apa pun. Tatapan matanya tetap

kosong dan jatuhnya entah ke mana. Dengan senyum dan anggukan

menghormat yang diberikan kepada Dyah Menur, Gajah Enggon

melangkah mendekat ikut memerhatikan apa yang akan dilakukan

mantan Bhayangkara Pradhabasu.

”Prajaka, lihat Ayah,” kata Pradhabasu.

Sang Prajaka mulai menggerakkan bola matanya dan memandang

lurus ke mata ayahnya.

Gajah Mada 162

Dengan senyum seperti menyembunyikan sesuatu, Pradhabasu

mengeluarkan semua anak panah dari endong di punggungnya dan

menjatuhkan anak panah itu hingga berserakan di tanah, hanya

tersisa sekepal yang tidak ikut disebar. Gajah Enggon dan Dyah

Menur mengerutkan kening karena tak memahami apa maksud

perbuatannya.

”Empat puluh satu,” kata Sang Prajaka setelah melirik sekilas.

Pradhabasu memeluk anaknya dengan erat dan selanjutnya

mengembangkan raut senyum penuh kebanggaan yang ditujukan itu

kepada Gajah Enggon.

”Meski kau seorang prajurit berpangkat senopati,” kata Pradhabasu,

”kau tak akan mampu mengalahkan kecerdasan anak ini. Mari kita hitung

bersama-sama.”

Dengan pandangan mata tak habis mengerti, Senopati Gajah

Enggon memerhatikan apa yang dilakukan Pradhabasu yang menghitung

jumlah anak panah yang semula dijatuhkan. Demikian pula dengan Dyah

Menur, memerhatikan dengan cermat.

”Empat puluh satu, nah benar, kan?”

Agak terlambat bagi Senopati Gajah Enggon untuk terbelalak.

Demikian juga amat terlambat bagi Dyah Menur untuk menyadari.

Senopati Gajah Enggon bergegas menempatkan diri di depan Sang

Prajaka, berharap akan berbalas pandang, tetapi Prajaka tidak melayani

keinginan itu. Pandangan matanya kosong tanpa isi, seolah titik jatuhnya

di tempat para jin dan hantu yang bersembunyi di alam lain.

”Menurutmu, anak ini tolol atau cerdas?”

Terbuka lebar mulut Gajah Enggon, matanya masih melotot.

”Mau diulang?” tanya Pradhabasu.

Tantangan itu langsung diterima oleh Senopati Gajah Enggon,

yang dengan bergegas mengeluarkan anak panah dari endong-nya. Anak

panah itu disebar di tanah, tetapi tidak semua. Sang Prajaka hanya

membutuhkan waktu tak lebih dari sekejap dalam melirik.

Hamukti Palapa 163

”Dua puluh tiga,” kata Sang Prajaka tanpa keraguan.

Sang Prajaka kembali sebagaimana tabiatnya, menebar tatapan

matanya yang kosong dengan titik pandang kabur karena menembus

wilayah lamunan, tidak jatuh ke pepohonan atau benda apa pun. Sang

Prajaka kembali ke dunianya yang berada di luar dunia manusia. Di

dunia lain itu, semua gerak lelembut terlihat olehnya, tidak terlihat oleh

orang lain.

Senopati Gajah Enggon yang dengan gugup memungut dan

menghitung anak panah yang ditebar, menemukan kenyataan yang

membuat jantungnya serasa berhenti berdenyut. Dengan mata

terbelalak, Gajah Enggon memerhatikan raut muka Sang Prajaka dengan

Pradhabasu tak henti-hentinya menahan senyum. Gajah Enggon bahkan

memerlukan menghitung ulang.

”Sekarang aku ulangi pertanyaanku, apakah menurutmu anakku ini

bocah tolol atau pintar?”

Gajah Enggon tidak mampu mencerna pertanyaan itu. Ia masih

terlalu sibuk dengan rasa kagetnya. Pradhabasu menyentuh pundaknya.

Gajah Enggon berbalik, raut mukanya berlepotan rasa takjub.

”Bagaimana anakmu melakukan itu?” tanya Gajah Enggon.

Pradhabasu mengangkat pundak, senyumnya terasa aneh.

”Aku tidak tahu,” jawabnya.

Gajah Enggon tak mampu meredakan rasa herannya, yang ia

puasi hal itu dengan mengulang menebar anak panah ke lantai. Kali ini

lebih banyak. Prajaka menoleh hanya sekilas. Namun, kali ini mulutnya

terkunci, pandangan matanya jatuh ke pagar yang penuh daun beluntas

di halaman.

”Berapa, Prajaka?” tanya Gajah Enggon.

Prajaka tidak menjawab. Remaja berkelainan jiwa itu lebih memilih

menjadi patung beku. Namun, Pradhabasu segera menyentuh pundak

bocah itu.

”Berapa?” tanya Pradhabasu kepada anaknya.

Gajah Mada 164

”Lima puluh tujuh,” jawab Sang Prajaka.

Gajah Enggon akhirnya merasa yakin bocah berkelainan jiwa itu

ternyata memiliki kemampuan langka. Hening yang melintas sekilas

seperti setan lewat yang menyita waktu dan perhatian.

Namun, Gajah Enggon segera menyisihkan rasa takjubnya kepada

bocah dengan kelainan jiwa itu karena ia harus memberikan perhatian

kepada pemilik rumah. Dengan ramah, Dyah Menur memberikan

penghormatan dan salamnya. Gajah Enggon membalas mengangguk

ketika Dyah Menur mengangguk sedikit membungkuk. Dari jarak cukup

dekat, kini Gajah Enggon bisa memerhatikan raut wajah Dyah Menur

yang telah membuat resah Gajah Mada, dengan cukup jelas.

”Selamat datang, Tuan Senopati,” ucapnya dengan suara lirih, tetapi

terdengar jelas.

Dengan sangat bergegas, Senopati Gajah Enggon membalas,

”Kabarku baik, Nyai. Aku berharap demikian juga dengan keadaan

Nyai.”

Dyah Menur tersenyum amat sejuk. Itulah senyum yang

menenteramkan keadaan, menyiram amarah, dan menimbulkan rasa

segan. Apalagi, betapa santun tutur kata perempuan itu, serasa semua

yang akan diucapkan telah disaring dengan teliti. Gajah Enggon merasa,

betapa beruntung Pradhabasu memiliki istri dengan kelebihan itu. Istri

yang dari tutur kata dan suaranya sangat sejuk meneduhkan hati. Yang

dari senyumnya serasa menjanjikan kedamaian tanpa batas dan yang dari

kecantikannya menyebabkan tak perlu melirik perempuan lain.

Melihat keberuntungan sahabatnya itu, Gajah Enggon kemudian

mengarahkan perhatiannya kepada dirinya sendiri. Sejauh ini nasibnya

kurang begitu bagus. Jodoh yang ditunggu-tunggu belum datang juga,

sementara waktu terus merayap mengantarkannya menuju ke makin

tua.

”Apakah Prajaka merepotkanmu?” kali ini Pradhabasu bertanya.

Dyah Menur menggeleng.

Hamukti Palapa 165

”Tentu tidak, Kakang,” jawabnya lembut, ”karena Prajaka seperti

punya dunianya sendiri. Beberapa hari ini, ia sangat menarik perhatianku.

Ia mulai menjawab dengan ucapan-ucapan yang lebih panjang meski

tatapan matanya selalu ke arah lain. Namun, yang mengagetkanku adalah

apa yang baru saja dilakukan.”

Pradhabasu tidak bisa menutupi rasa senangnya. Namun, ketika

dengan mendadak kenangannya tertuju kepada ibu bocah itu, senyum

itu mendadak hilang dan kembali berubah menjadi nyeri yang menggigit.

Akan tetapi, dengan segera Pradhabasu membuang kenangan itu.

Pradhabasu mengedarkan pandangan matanya sekilas seperti ada yang

sedang dicari.

”Di mana Kuda Swabhaya?” tanya Pradhabasu.

”Sedang tidur,” jawab Dyah Menur.

Dengan segera Gajah Enggon menduga nama yang baru saja

disebut itulah yang dipersoalkan oleh Gajah Mada, dan dicemaskan kelak

di kemudian waktu akan menjadi sumber masalah dengan kemungkinan

akan mengganggu peralihan kekuasaan.

Namun, Gajah Enggon melihat dengan bocah itu menjadi anak tiri

Pradhabasu, sebenarnya Gajah Mada tidak perlu mencemaskan apa pun

karena Pradhabasu tentu tidak akan membiarkan hal macam itu terjadi.

Sebelumnya, anak Dyah Menur dengan Raden Kudamerta itu bernama

lain, nama Kuda Swabhaya, Pradhabasulah yang memberi.

Dyah Menur tidak membiarkan percakapan yang terjadi di

halaman rumah itu berlangsung lama. Ia mempersilakan Gajah Enggon

masuk. Dyah Menur merasa tidak nyaman percakapan itu diperhatikan

tetangganya yang bersembunyi di balik pagar di seberang jalan.

Entah apa yang menarik perhatian Ki Draba Alit itu dengan tetap

bertahan di tempatnya. Barulah Ki Draba Alit beranjak ketika tidak terlihat

siapa pun kecuali Prajaka yang sedang sibuk menghitung bilah daun pada

pelepah pohon jambe. Ketika tanpa sengaja pandangan mata Prajaka jatuh

ke arah dirinya bersembunyi, dengan gugup Ki Draba Alit menyelamatkan

diri ke balik pohon, berusaha agar kakinya jangan sampai terlihat.

Gajah Mada 166

Dyah Menur berdebar-debar manakala kesempatan yang diharapkan

itu ia peroleh. Akan tetapi, sebagai perempuan, ia hanya bisa

menempatkan diri menunggu Pradhabasu yang mendahului berbicara.

Ketika Dyah Menur sedang sibuk di dapur untuk menyiapkan makan

dan minum, Pradhabasu menemuinya.

”Aku akan pergi untuk waktu cukup lama, Nyai. Itu sebabnya,

mungkin aku akan menitipkan Prajaka lebih lama. Untuk itu, telah aku

siapkan semua kebutuhan yang Nyai perlukan. Aku ada uang dalam

jumlah yang cukup untuk kebutuhan hidup yang kauperlukan selama

aku pergi.”

Hati Dyah Menur serasa terbelah, tetapi dengan sangat tidak terlihat

ia menyembunyikan warna hatinya. Senyumnya tetap sejuk dan menawan,

kepalanya tetap menunduk agar tak terbaca bahasa wajahnya.

”Ke mana Kakang akan pergi?” balas perempuan itu.

Pradhabasu menerawang.

”Istana Majapahit kehilangan dua buah pusaka amat penting. Aku

harus menemani Senopati Gajah Enggon mencarinya. Aku tak tahu

berapa lama waktu yang aku butuhkan, mungkin sebulan atau mungkin

lebih.”

Dyah Menur merasa napasnya sedikit sesak. Kini, setelah waktu

bergerak cukup lama, ia punya alasan untuk selalu memikirkan lakilaki

itu. Alasan untuk berharap apa yang dulu pernah dibicarakan akan

dibahas lagi. Namun, jangankan untuk membahasnya, kini Pradhabasu

bahkan berpamitan untuk perjalanan yang panjang.

Padahal, betapa ingin Dyah Menur memperoleh kesempatan

berbicara, membahas pinangan yang dulu pernah dilontarkan. Hanya

sayang, kedudukannya sebagai perempuan menyebabkan ia tak mungkin

melakukan itu. Sebagai perempuan, Dyah Menur hanya bisa menunggu

dan berharap. Tidak mungkin baginya mendahului berbicara karena

Dyah Menur merasa yang demikian itu saru.119

119 Saru, Jawa, tidak pantas dilakukan

Hamukti Palapa 167

Dari kampil-nya, Pradhabasu mengeluarkan segenggam uang dengan

warna kuning mengilat yang diserahkan kepada Dyah Menur. Bahwa

uang itu terbuat dari emas maka nilainya tentu sangat banyak. Namun,

perempuan itu tidak dengan segera menerima. Ia memilih menunduk

mengunyah gelisahnya. Dadanya mendadak sesak, tetapi sekuat tenaga

perempuan cantik itu berusaha mengusai diri.

”Kenapa?” tanya Pradhabasu.

Tatapan mata Dyah Menur masih jatuh ke dekat kakinya.

”Ada apa, Nyai?”

Dyah Menur yang menunduk itu mendongak dan segera menghapus

semua kesan dari wajahnya dengan tersenyum. Diterimanya uang dalam

bungkusan kain itu dan siap untuk digunakan sebagai biaya hidup lebih

dari setahun sekalipun. Dengan uang yang demikian banyak, Dyah Menur

merasa cemas perjalanan yang ditempuh Pradhabasu akan berjalan lama.

Merenda waktu amat lama dalam menunggu tentu merupakan pekerjaan

menyedihkan.

”Tidak ada apa-apa,” jawabnya lirih dengan kembali menundukkan

kepala.

Namun, Pradhabasu menangkap adanya sesuatu yang disembunyikan.

Yang ia tak tahu adalah bagaimana cara mengejar supaya Dyah Menur

mau lebih terbuka.

”Benda pusaka apa yang hilang dicuri itu?” tanya perempuan itu.

”Sebuah payung dan cihna,” jawab Pradhabasu.

Dyah Menur mengerutkan kening,

”Payung dan cihna?”

Pradhabasu mengangguk.

”Kalau kau pernah mendengar,” tambah Pradhabasu, ”payung yang

hilang adalah payung Kiai Udan Riwis yang dipergunakan memayungi

ketika diselenggarakan wisuda, antara lain terhadap mendiang Tuanku

Prabu Wijaya, juga terhadap mendiang Tuanku Prabu Kalagemet Sri

Gajah Mada 168

Jayanegara. Payung itu pula yang digunakan mewisuda Prabu Putri Sri

Gitarja dan Dyah Wiyat Rajadewi dan perkawinan beliau. Itu sebabnya,

kau bisa membayangkan betapa besar makna kehilangan yang dialami

Majapahit saat ini. Benda berikutnya cihna. Cihna itu merupakan benda

yang pertama dibuat. Itu sebabnya, dianggap sebagai cihna pusaka. Benda

itu juga ikut tercuri lenyap dari ruang perbendaharaan pusaka.”

Dyah Menur Hardiningsih menyimak penjelasan itu dengan

saksama dan bisa memahami betapa berat tugas yang diemban oleh

Pradhabasu.

”Tetapi, mengapa yang ditugasi Kakang Pradhabasu?” tanya Dyah

Menur.

Pradhabasu merasa lehernya seperti tercekik.

”Maksudmu?” balasnya.

”Mengapa harus Kakang Pradhabasu yang menjalankan tugas itu?”

tekan Dyah Menur.

Pradhabasu terheran-heran dan takjub. Pradhabasu tidak salah

mendengar bahwa ada getar yang berbeda terlontar dari ucapan

perempuan di depannya itu. Ucapan Dyah Menur bagai ucapan seorang

istri yang merajuk.

”Kenapa dengan pertanyaanmu itu?” tanya Pradhabasu.

Dyah Menur menunduk dan Pradhabasu menyimak dengan

cermat.

”Bukankah Kakang tak lagi menjadi seorang prajurit di Majapahit.

Jadi, mengapa Kakang Pradhabasu harus terbebani oleh tugas itu?”

Dyah Menur menambah dengan suara tersendat.

Pradhabasu akhirnya merasa lehernya makin kaku dan mengalami

kesulitan bernapas. Selanjutnya, Pradhabasu merasa yakin bahwa ada

semacam rasa tak ikhlas yang diungkapkan Dyah Menur melihat apa

yang akan dilakukannya. Dyah Menur tak setuju dengan perjalanan

panjang yang akan ditempuh itu. Ada semacam rasa tak rela ditinggal

Hamukti Palapa 169

pergi demikian lama. Masalahnya, bagaimana harus mengungkapkan

perasaan itu.

Namun, Pradhabasu memiliki jawabannya.

”Apa yang akan aku lakukan merupakan panggilan jiwa, Nyai,”

katanya. ”Apa yang akan aku lakukan bukan karena negara menugaskan

kepadaku untuk mencari pusaka yang hilang itu. Namun, aku merasa

terpanggil untuk melakukannya. Aku merasa ikut bertanggung jawab

untuk ikut menemukan kembali benda yang hilang itu.”

Lalu, hening. Mulut Dyah Menur terbungkam. Ketika tangannya

mengaduk bongkahan gula kelapa di dalam air jahe, ia lakukan itu dengan

kepala menunduk.

”Apakah Nyai ingin aku tidak pergi?” tanya Pradhabasu.

Meski Nyai Dyah Menur diam, sejenak kemudian ia menggeleng.

Pradhabasu menghirup tarikan napas panjang dan memenuhi

semua ruang di lorong paru-parunya. Pradhabasu berusaha menebak

latar belakang apa yang menjadi penyebab sikap berbeda perempuan itu.

Akan tetapi, apa pun latar belakang itu, Pradhabasu merasa perjalanan

yang akan ditempuhnya untuk melacak jejak dua benda pusaka negara

yang hilang tak boleh dibatalkan. Tidak ada yang bisa menghalangi

langkah yang akan ditempuh, gempa bumi yang menyebabkan tanah

terbelah sekalipun.

Namun, Pradhabasu tidak membiarkan Dyah Menur dan anaknya,

juga Prajaka yang dititipkan kepadanya berada dalam keadaan tak

terlindung. Untuk itu, ia meninggalkan uang lebih dari cukup agar Dyah

Menur tidak kekurangan. Sementara itu, untuk keamanannya, menjelang

perjalanannya, Pradhabasu menyempatkan menemui Buyut Wirasari,

mantan prajurit tua dari kesatuan pasukan Jalapati, yang terpilih menjadi

buyut menggantikan ayahnya. Atas nama hubungan persahabatan yang

pernah terjalin selama menjadi prajurit, Pradhabasu menitipkan Dyah

Menur dan anaknya, juga Sang Prajaka ke perlindungannya. Kebetulan

rumah Ki Buyut Wirasari tidak terlampau jauh, hanya berselisih tiga

rumah saja.

Gajah Mada 170

”Aku titipkan anak istriku, Kakang,” kata Pradhabasu.

Buyut Wirasari mengangguk penuh hormat. Apalagi, terhadap

Senopati Gajah Enggon yang pernah menyandang jabatan demikian

tinggi sebagai pimpinan pasukan Bhayangkara. Permintaan bantuan itu

akan dilaksanakan dengan kesungguhan hati.

Dan, ketika tiba saatnya Pradhabasu dan Gajah Enggon harus

melambaikan tangan pamitan dan perpisahan, Dyah Menur masih

mampu mengusai diri. Namun, ketika derap kuda yang membawa

mereka meninggalkan halaman untuk kemudian lenyap di balik sebuah

tikungan, Dyah Menur ternyata tak mampu mengusai diri, tak mampu

ia mencegah air mata yang bergulir.

Ki Buyut Wirasari tanggap atas keadaan.

”Berdoalah, Nyai. Semoga Ki Pradhabasu segera kembali. Selanjutnya,

selama menunggu suami Nyai kembali, kuminta Nyai tinggal bersama

kami.”

Dyah Menur mengangguk. Tak ada ucapan apa pun yang terlontar

dari mulut perempuan itu. Ketika Sang Prajaka datang mendekat dengan

raut muka yang aneh, Dyah Menur merengkuh dan memeluknya dengan

ketat. Dalam hati Dyah Menur hanya bisa meratapi rasa kecewanya

karena waktu yang digunakan Pradhabasu menengoknya dan menengok

Prajaka sangat singkat.

Sang Prajaka kali ini mengarahkan pandangan matanya ke barisan

pohon kelapa di kejauhan. Pohon-pohon kelapa itu telanjur menjulang

demikian tinggi sehingga tak ada yang berani memanjat untuk memetik

buahnya. Untuk bisa memetik buah kelapa dari pohon yang telanjur

tinggi, seorang penduduk pernah melatih seekor kera besar. Dengan

keperigelannya yang khusus itu, kera besar itu akhirnya menjadi

langganan penduduk yang membutuhkan bantuannya.

Untuk kera tersebut disediakan hadiah kerang rebus, sedangkan

pemiliknya mendapat bagian kelapa. Jika kera itu memetik sepuluh butir

kelapa, pemiliknya berhak satu butir.

Hamukti Palapa 171

Dengan sedikit memicingkan mata, Sang Prajaka menghitung ada

berapa jumlah buah dalam barisan memanjang itu.

13

Senja membayang di kaki langit ketika Pradhabasu dan Gajah

Enggon belum lama meninggalkan rumah Dyah Menur dan akan

menapaki jarak yang cukup jauh menuju Ujung Galuh. Di sepanjang

perjalanan yang ditempuh, dua orang pilih tanding dengan kemampuan

keprajuritan yang mumpuni itu melihat betapa gersang apa pun yang

mereka pandang. Kemarau kali ini memang sungguh keterlaluan, tanahtanah

sawah merekah menjadi bongkahan-bongkahan menyedihkan.

Tidak ada tanaman yang bisa tumbuh dengan keadaan tanah seperti itu.

Sungguh tak ada yang bisa dilakukan oleh para petani.

”Kalau sampai bulan depan tak juga turun hujan, sulit membayangkan

apa yang akan terjadi karena persediaan bahan makanan yang dihimpun

negara makin menipis,” kata Gajah Enggon sambil berteriak.

Pradhabasu yang berada di belakang membalap.

”Rakyat akan makan tanah,” balasnya.

”Ya,” jawab Gajah Enggon. ”Kalau rakyat makan tanah, kita tak

perlu khawatir. Ada cukup banyak persediaan tanah yang tak akan habis

untuk dimakan.”

Meski berkelakar, kelakar itu tidak menyebabkan Pradhabasu dan

Gajah Enggon harus tertawa.

”Masalahnya, bagaimana cara mengajari rakyat makan tanah agar

mereka tidak kelaparan?” lanjut Gajah Enggon.

Gajah Mada 172

Pradhabasu menyalip dan selanjutnya berada di depan.

”Kau harus memberi contoh. Kurasa kalau kau yang memberi

contoh, rakyat akan meniru. Bukankah kau Senopati Gajah Enggon

yang terkenal itu?”

Kali ini, Gajah Enggon benar-benar tertawa.

Perjalanan menuju Ujung Galuh masih jauh. Sementara itu, matahari

telah doyong ke arah barat. Serombongan burung kuntul terbang berarak

entah dengan tujuan ke mana. Keberadaan burung kuntul itu sungguh

menarik di musim kemarau yang panjang ini karena menjadi pertanda di

suatu tempat entah di mana, yang pasti di tempat itu masih ada air.

Kuda Pradhabasu terlonjak dan sontak meringkik ketika dengan

agak mengejut Pradhabasu menarik tali kendali kekang kudanya. Gajah

Enggon yang berkuda di depan segera melakukan hal yang sama. Dengan

tangkas Gajah Enggon segera memutar balik kudanya dan mengarahkan

pandangan ke tempat yang sama, nun di sana ada asap mengepul.

”Kebakaran?” desis Pradhabasu.

Pradhabasu tidak perlu mempertimbangkan apa pun untuk segera

melecut kuda yang ditungganginya menuju tempat dari mana asap

tampak membubung tinggi. Gajah Enggon membalap tidak kalah cepat.

Pradhabasu dan Gajah Enggon yang telah sampai di tempat yang dituju

segera menarik simpulan, kebakaran itu bukan jenis kebakaran yang tak

di sengaja karena ada beberapa sosok tubuh yang tergeletak dengan

penyebab yang tak ada hubungannya dengan api.

Seorang perempuan dengan luka berdarah di punggungnya terkulai

memeluk tubuh seorang lelaki yang menjadi mayat. Pradhabasu yang

datang mendekatinya mendapatkan kenyataan, perempuan itu telah tak

bernyawa. Luka yang cukup parah telah menguras darahnya. Perempuan

itu tak mau kehilangan suaminya. Itu sebabnya, ia ikut mati menemani

suaminya.

Gajah Enggon tidak melihat siapa pun di sekitar rumah itu. Hanya

ada empat buah rumah yang terbakar semuanya. Setidaknya kebakaran

Hamukti Palapa 173

itu telah terjadi cukup lama karena hanya menyisakan arang. Beberapa

tubuh yang tergeletak mungkin pemilik rumah itu, atau sebagian yang

lain mungkin melarikan diri menyelamatkan diri. Gajah Enggon yang

berlari mengitari rumah-rumah terbakar itu meyakini dugaannya.

”Orang-orang tadi pelakunya?” tanya Gajah Enggon.

Pradhabasu segera teringat pada serombongan orang yang sebelumnya

berpapasan dengannya. Pradhabasu mengerutkan keningnya.

”Apa artinya ini?” tanya Pradhabasu.

Gajah Enggon mengangkat bahu karena sama tak tahu jawabnya.

”Harus ada yang bisa menjelaskan apa yang terjadi di tempat ini,”

Pradhabasu berkata.

Gajah Enggon dan Pradhabasu segera melakukan pemeriksaan.

Semua mayat laki-laki dan perempuan, dan di antaranya bahkan ada

yang masih bocah diperiksanya dengan cermat. Yang paling menarik

perhatiannya adalah seekor kuda yang tergeletak juga ikut menjadi

mayat.

Gajah Enggon melihat salah satu rumah dilengkapi dengan kandang

kuda. Yang menjadi perhatian Enggon dan Pradhabasu, kuda itu mati

oleh anak panah yang menembus perutnya. Dengan segera disimpulkan,

kuda yang mati bukan hanya oleh api, tetapi juga oleh anak panah.

Keadaan itu dengan segera menumbuhkan pertanyaan.

Gajah Enggon mencabut anak panah itu dan memerhatikan.

”Ini jenis anak panah untuk berburu,” ucapnya.

”Kalau begitu,” kata Pradahabasu, ”kuda ini mungkin milik

pelaku pembantaian ini, sementara anak panah dilepas oleh penduduk

dari rumah-rumah ini. Sebagai gantinya, pembantai pemilik kuda itu

merampas kuda milik penduduk pedukuhan ini.”

Kembali Pradhabasu memeriksa semua mayat, tetapi tidak ada

tanda-tanda yang mengarah ke dugaan anak panah yang menembus

tubuh kuda itu berasal dari salah satu orang yang terbunuh menjadi

Gajah Mada 174

mayat itu. Mayat-mayat yang terbantai itu sama sekali tidak memberikan

tanda-tanda adanya perlawanan.

Pradhabasu menoleh ketika dari arah salah satu rumah yang terbakar

terdengar ringkik kuda. Pradhabasu yang mendekat mendapati kuda

itu tidak bisa menjauh karena lehernya terikat tali. Beruntunglah kuda

hitam itu karena api tidak sampai menyentuhnya. Andaikata kuda itu

bisa bercerita, tentulah Pradhabasu akan bertanya.

”Tak seorang pun yang bisa memberi keterangan mengenai apa

yang terjadi?”

Gajah Enggon mengangguk. Pradhabasu menerawang dan

memandang langit.

”Apakah kita kembali ke kotaraja?”

Gajah Enggon berpikir, matanya memejam. Namun, sejenak

kemudian perwira dengan pangkat senopati itu menggeleng.

”Kita sudah sejauh ini,” ucapnya. ”Jika orang itu berniat jahat di

kotaraja, ia akan terantuk batunya. Penjagaan di kotaraja demikian ketat

dengan telik sandi menyebar di mana-mana. Tak mungkin ada yang bisa

lolos dari saringan para telik sandi. Tanpa harus kita beri tahu, para prajurit

Majapahit sudah bisa menandai kehadiran mereka.”

Gajah Enggon dan Pradhabasu akhirnya harus mencuci piring

bekas pesta orang lain karena mayat-mayat itu tak mungkin dibiarkan.

Menggunakan sebuah cangkul, dibuat sebuah lubang besar yang

dilakukan itu dengan bahu-membahu. Peluh pun bagai diperas berleleran,

apalagi matahari yang sudah jauh doyong ke barat itu masih memberi

hawa panas yang menyengat.

Sebenarnya Pradhabasu tidak hanya berdua dengan Gajah Enggon

di tempat itu karena dari balik lebatnya papringan yang berada tidak jauh

dari tempat itu, seseorang sedang mengamati apa yang dilakukan. Setelah

beberapa saat memerhatikan dengan jantung berlarian, akhirnya orang

itu memutuskan keluar dari tempat persembunyiannya. Bahwa orang itu

tetap bersikap waspada, terlihat dari anak panah yang biasa digunakan

berburu tetap melekat di gendewa yang terentang.

Hamukti Palapa 175

Pradhabasu yang mulai menurunkan mayat-mayat ke liang lahat,

menghentikan pekerjaannya. Dengan alis mencuat, dipandanginya orang

yang mendekat itu. Gajah Enggon melihat betapa pemuda itu menyangga

beban yang sangat berat.

”Siapa kalian?” bertanya pemuda itu.

Pradhabasu dan Gajah Enggon tidak dengan segera menjawab.

Dengan penuh selidik, mereka memerhatikan pemuda yang merentang

langkap itu. Pemuda itulah yang kemudian menjadi tidak sabar.

”Siapa kalian?” ulangnya dengan bentakan.

Pradhabasu dan Gajah Enggon yang semula berdampingan

memisahkan diri mengambil jarak, menyebabkan pemuda dengan anak

panah itu bingung mengarahkan bidikannya.

”Apakah kau penduduk pedukuhan ini?” Pradhabasu justru balas

bertanya.

Ucapan Pradhabasu yang dilakukan dengan tenang itu menyebabkan

pemuda itu kebingungan.

”Siapa namamu?” lanjut Pradhabasu.

Pemuda itu tidak menjawab. Ia membalas pandangan Pradhabasu

dan Gajah Enggon bergantian. Kebingungan berbau panik yang dialami

menyebabkan pemuda itu tak mampu berbicara. Pandangan matanya

tertuju ke lubang galian yang telah dibuat, pada mayat-mayat yang telah

digeletakkan di dalamnya.

Beban yang teramat berat rupanya memang sedang disangga

pemuda itu. Raut wajahnya membeku ketika dengan amat perlahan ia

melangkah mendekati tepi galian dan memandang tubuh-tubuh yang

telah kehilangan nyawa. Pradhabasu dan Gajah Enggon menempatkan

diri menunggu.

”Ceritakan apa yang terjadi. Aku Senopati Gajah Enggon dari

pasukan khusus Bhayangkara dan ini sahabatku, Pradhabasu. Kebetulan

kami lewat tak jauh dari tempat ini ketika melihat sisa kebakaran yang

terjadi,” kata Gajah Enggon.

Gajah Mada 176

Pemuda itu terkulai. Langkap dan anak panah yang semula

dipegangnya dengan erat jatuh karena tak ada sisa kekuatan untuk

menggenggamnya. Sisa kekuatan yang ada rupanya dipergunakan untuk

menguasai diri. Bahwa apa yang dilakukan itu bukan hal yang mudah,

sangat terbaca dari wajahnya yang merah padam, giginya terkatup saling

menggigit.

Gajah Enggon dan Pradhabasu akhirnya memilih menempatkan

diri menunggu pemuda itu menguasai diri sambil terus melanjutkan

pekerjaannya. Mayat terakhir yang masih tersisa dengan hati-hati

dimasukkan ke dalam galian kuburan itu. Pemuda yang mengalami

kekalutan luar biasa itu seperti orang tersadar dari lamunan melihat

orang-orang di depannya mulai menguruk.

”Biarlah aku yang akan mengerjakan pekerjaan itu,” ucapnya.

Gajah Enggon dan Pradhabasu saling lirik.

”Adakah yang bisa kauceritakan, apa yang terjadi?” tanya Enggon.

Pemuda itu membalas pandangan Pradhabasu dengan mata berkilatkilat

menahan amarah, tangan kanannya gemetar seperti orang buyutan,

gemetar juga mulutnya. Kalau saja pelaku pembantaian itu berada di

depannya dan andaikata ia mempunyai kemampuan untuk mengalahkan

mereka, tentu anak panahnya yang akan berbicara mewakili dirinya.

”Aku tak tahu apa sebenarnya kesalahan kami. Mereka menyerbu

dan membakar rumah kami dengan alasan yang sama sekali tidak kami

mengerti,” jawab pemuda itu dengan suara yang amat serak.

Pradhabasu termangu.

”Kalau boleh aku tahu, siapa namamu?” tanya Gajah Enggon.

”Namaku Tumangkar,” jawabnya.

”Apakah orang-orang yang melakukan pembantaian ini sebanyak

lima orang, mereka datang dengan berkuda?” Pradhabasu bertanya.

”Ya,” jawab Tumangkar, suaranya terbata. ”Seorang di antaranya

seorang lelaki yang sudah tua dan agak buta. Meski begitu, orang itulah

Hamukti Palapa 177

yang paling bengis. Perintah-perintah yang disalurkan dan caci maki

yang diucapkan mengerikan sekali.”

Kembali Pradhabasu dan Gajah Enggon saling lirik. Pradhabasu

yang berbalik, memerhatikan jalan panjang yang semula dilewatinya.

Ketika Pradhabasu mencoba mengenang kembali rombongan orangorang

itu, memang benar salah seorang di antara mereka berusia lanjut.

Meski sudah lanjut, nyatanya masih mampu menunggang kuda dengan

perigel trengginas.

”Bagaimana kalian bisa tahu?” Tumangkar mengurai rasa

penasarannya.

”Dalam perjalanan, kami berpapasan dengan mereka,” jawab

Pradhabasu. ”Orang-orang itu sedang menuju ke kotaraja.”

Hening yang menyeruak adalah karena Pradhabasu dan Gajah

Enggon berusaha menerka latar belakang apa di balik peristiwa itu.

Sekelompok orang berkuda melakukan pembantaian tanpa latar belakang

yang jelas dan dilakukan secara acak tentulah karena menyimpan maksud

tertentu.

Raut muka Pradhabasu tiba-tiba berubah setengah terbelalak.

”Ada apa?” tanya Gajah Enggon.

”Mungkin mereka orang-orang yang dimaksud Kakang Gajah

Mada?”

Gajah Enggon melangkah mundur dan berjalan mondar-mandir.

”Orang-orang yang oleh Ibu Suri diramalkan akan kembali masuk

ke istana untuk melakukan pencurian?”

Pradhabasu mengangguk.

”Yang mereka lakukan adalah untuk memancing para prajurit agar

perhatiannya teralihkan. Dengan demikian, mereka akan leluasa masuk

ke dalam gedung perbendaharaan pusaka. Apakah ini berarti kita harus

kembali untuk memberitahukan kemungkinan itu kepada Kakang Gajah

Mada?” kata Pradhabasu.

Gajah Mada 178

Pertanyaan itu menyebabkan Gajah Enggon harus berpikir keras.

Apa yang telah dilontarkan mantan Bhayangkara Pradhabasu itu memang

masuk akal, sebagaimana sangat masuk akal lima orang berkuda yang

sebelumnya berpapasan dengannya dicurigai sebagai orang-orang yang

diramalkan oleh Ibu Suri Rajapatni Gayatri akan kembali masuk ke istana

karena merasa tak puas dengan hasil pencurian pertama.

”Kita tak perlu kembali,” jawab Gajah Enggon.

Sontak Pradhabasu mencuatkan alis.

”Apa maksudmu?” kejar Pradhabasu. ”Bukankah perjalanan yang

kita tempuh kali ini adalah dalam rangka mengejar mereka, mengejar

orang-orang yang mencuri pusaka-pusaka itu? Mengapa kau berpendapat

tak perlu kembali?”

Gajah Enggon segera teringat pada petunjuk yang diterimanya dari

Ibu Suri. Ada satu bagian dari petunjuk itu yang menjadi alasan kuat

untuk tak perlu kembali ke istana apa pun yang terjadi. Setidaknya malam

ini, apa pun yang terjadi harus sampai ke Ujung Galuh.

”Kisanak Tumangkar, kalau boleh aku tahu, siapa saja keluargamu

yang menjadi korban pembantaian ini?” tanya Gajah Enggon.

Pradhabasu mencuatkan alis makin tinggi melihat Gajah Enggon

membelokkan persoalan.

”Tidak ada satu pun,” jawab Tumangkar. ”Namun bagiku, para

tetanggaku adalah keluargaku. Bagaimana aku bisa merasa tak pernah

kehilangan dengan kematian-kematian ini?”

Gajah Enggon termangu beberapa saat lamanya. Pradhabasu

merasa makin heran melihat Gajah Enggon mengeluarkan lencana

dari balik bajunya. Itulah lencana yang hanya dimiliki oleh prajurit

yang menyandang pangkat senopati. Ketika masih menjadi prajurit

Bhayangkara, Pradhabasu juga pernah memiliki lencana macam itu.

Akan tetapi, benda itu telah lama hilang. Lagi pula, karena Pradhabasu

tak lagi menjadi prajurit Bhayangkara, ia merasa tak berhak lagi memiliki

benda itu.

Hamukti Palapa 179

”Kisanak Tumangkar,” kata Gajah Enggon. ”Kauingin membalas

perbuatan orang-orang yang telah membantai para tetanggamu ini?”

Pertanyaan itu menyebabkan Tumangkar terlonjak. Kalau mungkin,

tentu saja Tumangkar sangat ingin. Namun, kekuatan mana yang bisa

digunakan menghukum orang-orang yang tanpa alasan jelas telah

membantai para tetangganya itu?

”Kauingin orang-orang itu dihukum, bukan?”

Tumangkar mengangguk tegas. Gajah Enggon menyerahkan

lencana miliknya, menyebabkan Tumangkar bingung, demikian juga

dengan Pradhabasu.

”Pergilah ke kotaraja,” lanjut Gajah Enggon. ”Temuilah Patih Gajah

Mada dan ceritakan apa yang terjadi di tempat ini. Sampaikan pesanku

kepadanya bahwa orang-orang itu membuat kekacauan untuk mengalihkan

perhatian. Mereka adalah maling-maling yang akan melakukan pencurian

di istana. Agar kau tidak mengalami rintangan selama perjalanan yang

akan kautempuh dengan mengalami pemeriksaan yang dilakukan para

prajurit, tunjukkan lencana ini dan katakan kepada mereka kalau kau

menerima benda ini dariku. Ceritakan kepada Patih Gajah Mada apa

yang menimpa penduduk pedukuhan ini, sampaikan pula para pelakunya

memasuki kotaraja.”

Tumangkar menerima lencana itu dan mengamatinya beberapa

saat. Tumangkar mencoba mengingat nama orang-orang di depannya,

tetapi telanjur lupa.

”Kalau Ki Patih Gajah Mada bertanya, aku menerima benda ini

dari siapa?”

”Katakan, aku dan sahabatku singgah di padukuhanmu. Namaku

Senopati Gajah Enggon dan ini sahabatku, Pradhabasu.”

Tumangkar masih memerhatikan lencana yang dipegangnya dan

beralih kepada orang yang menyerahkan benda itu. Menyadari pemilik

lencana itu bukan orang sembarangan, Tumangkar segera memberikan

penghormatan. Agar tidak hilang, lencana itu disimpan di saku bajunya.

Gajah Mada 180

”Kulihat ada kuda hitam di sana, itu milik siapa?” tanya Gajah

Enggon sambil mengarahkan telunjuknya.

”Kuda milik tetanggaku,” jawab Tumangkar sambil melirik ke

galian kubur.

Gajah Enggon mengarahkan perhatiannya ke lubang galian itu.

”Kalau kau tak keberatan, berangkatlah sekarang,” kata Gajah

Enggon. ”Gunakan kuda itu untuk menempuh perjalanan ke kotaraja,

apakah kau keberatan?”

Wajah Tumangkar berkilat-kilat.

”Apakah dengan demikian orang-orang jahat itu akan mendapatkan

hukuman?”

Gajah Enggon mengangguk.

”Tentu,” jawabnya. ”Patih Gajah Mada pasti akan memburu mereka

dan memberi hukuman setimpal.”

Tumangkar yang merasa berkepentingan, tergugah semangatnya.

Tanpa banyak bicara, Tumangkar mengambil kuda hitam yang telah

ditinggal mati pemiliknya. Tanpa banyak bicara pula, Tumangkar

melompat naik dan membalapkan kudanya bak mengejar matahari yang

akan segera tenggelam di langit barat.

Pradhabasu tak mampu menahan rasa herannya.

”Aku tidak tahu cara berpikirmu, mengapa kita tidak kembali ke

kotaraja?”

Pradhabasu merasa heran karena Gajah Enggon tidak dengan

segera menjawab pertanyaan itu. Jika Gajah Enggon tidak menyediakan

jawaban yang masuk akal, sikap Gajah Enggon yang demikian layak

dipertanyakan.

”Kakang Gajah Mada pasti bisa mengatasi ulah orang-orang itu.

Janganlah berpikir keadaan tak bisa diatasi tanpa kita!”

Alis Pradhabasu tambah mencuat.

Hamukti Palapa 181

”Aku tidak paham,” Pradhabasu agak meradang. ”Kepergian kita

adalah untuk mengejar maling-maling itu, bukan? Kita telah menemukan

jejaknya. Orang-orang yang berniat kembali masuk ke lingkungan istana

kita temukan jejaknya. Akan tetapi, mengapa kita tidak mengambil

langkah kembali?”

Gajah Enggon kebingungan. Ia merasa harus terus melanjutkan

perjalanan. Namun, apa yang dipersoalkan Pradhabasu memang

memerlukan jawaban.

”Kaupercaya Ibu Suri Gayatri adalah seorang yang waskita?” tanya

Gajah Enggon.

Pradhabasu tidak menjawab, tetapi diliriknya Gajah Enggon.

”Aku berkeyakinan demikian,” lanjut Gajah Enggon. ”Karena aku

sangat percaya dengan petunjuk yang diberikan oleh Ibu Ratu, aku tak

boleh menoleh ke belakang. Aku harus memulainya dari Ujung Galuh.

Ibu Ratu berpesan, malam ini pula apa pun yang terjadi, aku harus sudah

sampai di Ujung Galuh. Bahkan, andaikata gempa bumi kembali terjadi

dan mengguncang istana, Ibu suri melarangku kembali.”

Pradhabasu yang mencuat alisnya itu menambahinya dengan

mengerutkan dahi. Pradhabasu berusaha keras memahami apa yang

disampaikan Gajah Enggon. Masih ada hal-hal yang sulit dipahami.

Pradhabasu memutar otak dan memeras ingatan. Dikenangnya kembali

apa yang dikatakan Gajah Mada kepadanya.

”Ibu Suri Rajapatni Biksuni Gayatri memanggilku dan mengingatkan,

boleh jadi maling yang mencuri cihna gringsing lobheng lewih laka dan

songsong itu akan masuk kembali ke ruang perbendaharaan pusaka.

Aku tak percaya dengan pasukan Bhayangkara meski berkekuatan penuh

melakukan penjagaan istana. Maka, aku ikut melibatkan diri dalam

pengamanan istana secara langsung. Ternyata, perhitungan Ibu Suri

Rajapatni Biksuni Gayatri salah.”

Pradhabasu termangu.

”Kau benar,” ucapnya. ”Ibu Suri Gayatri orang yang sidik paningal

dan waskita. Beliau bahkan telah meramalkan maling itu akan masuk

Gajah Mada 182

kembali dan telah memberi peringatan kepada Kakang Gajah Mada.

Kita lanjutkan saja perjalanan kita.”

Gajah Enggon menghela tarikan napas untuk mengisi rongga

paru-parunya.

”Ayo, kita selesaikan pekerjaan ini dan kita lanjutkan perjalanan,”

kata Gajah Enggon.

Pekerjaan mengubur mayat itu harus dilanjutkan karena tak mungkin

membiarkan begitu saja mayat-mayat tersebut. Ketika pekerjaan itu

selesai dan dua kesatria yang dalam darahnya mengalir darah Bhayangkara

itu melanjutkan perjalanannya, di barat matahari makin rendah. Di sejauh

mata memandang, mendung yang dirindukan tidak tampak. Namun,

Pradhabasu dan Gajah Enggon yang telah berada di atas kuda masingmasing

kembali memicingkan mata. Jauh sekali di arah barat, tampak

asap membubung tinggi.

”Orang-orang itu sedang meninggalkan jejak,” kata Pradhabasu.

14

Ombak yang menjilat pasir di tepian pantai di Ujung Galuh

tidaklah terlalu besar. Manakala tatapan mata diarahkan menyapu dari

ujung langit bagian timur hingga ujung langit bagian barat, di garis

cakrawala di arah barat Pulau Madura, bintang-bintang gemerlapan.

Bulan sepenggal yang mulai menampakkan diri di langit barat

bersamaan dengan datangnya petang hanya menyapa sebentar untuk

kemudian segera tenggelam di balik langit. Namun, agaknya bulan sabit

itu berjanji bahwa esok akan datang berkunjung lagi dengan rentang

waktu sedikit lebih lama. Esoknya lagi akan hadir lebih lama lagi dan

Hamukti Palapa 183

kelak akan menjadi purnama yang sempurna. Ketika sasadara120 manjer

kawuryan,121 anak-anak akan bersukacita dan menggelar permainan.

Tidak sebagaimana hari-hari sebelumnya, kali ini pelabuhan

Ujung Galuh tampak berbeda dari biasanya. Kapal-kapal yang datang

dari Swarnabhumi membuang sauh dan menjadi tontonan dari arah

pantai. Kapal-kapal bukan dari jenis kapal dagang itu diterima dengan

penuh persahabatan karena meski kapal perang, kedatangan mereka

ke Ujung Galuh dengan membawa perdamaian. Beberapa awak kapal

turun ke daratan untuk menjelaskan kepada penduduk apa keperluan

kedatangannya.

Ratusan prajurit yang mengawaki, masing-masing tetap berada

di dalam kapalnya karena Aditiawarman yang memimpin armada itu

memerintahkan segenap anak buahnya untuk tetap berada di dalam kapal,

untuk menghindarkan kemungkinan terjadinya salah paham. Namun,

dengan senang hati para awak kapal melayani perahu-perahu kecil yang

merapat menjual berbagai kebutuhan.

Perjalanan ke Ibu Kota Majapahit menyusur Kali Mas yang

merupakan sempalan dari Sungai Brantas tak mungkin dilanjutkan

dengan menggunakan perahu karena sungai dangkal kekurangan

air, bahkan dengan perahu yang paling kecil sekalipun tak mungkin

dilakukan.

Aditiawarman memutuskan perjalanan ke kotaraja akan dilanjutkan

esok dengan jalan darat. Apa boleh buat perjalanan itu akan dilakukan

dengan berjalan kaki atau dengan berkuda jika bisa memperoleh kuda.

Dengan uangnya, Aditiawarman siap membeli berapa pun jumlah

kuda jika ada yang menjual. Namun, keterangan yang diperoleh harus

membuatnya kecewa. Tidak ada pasar kuda atau ternak di Ujung Galuh.

Untuk membeli kuda, apalagi dalam jumlah banyak, harus dilakukan di

pasar hewan yang menusuk masuk di kedalaman Daha. Sebuah tempat

yang mengarah lurus ke selatan dari Ujung Galuh.

120 Sasadara, Jawa Kuno, bulan

121 Sasadara manjer kawuryan, Jawa, rembulan bercahaya terang benderang

Gajah Mada 184

Para nelayan di Ujung Galuh adalah orang-orang yang pintar

memanfaatkan keadaan. Dengan segera, mereka mengisi perahu-perahu

kecil mereka dengan berbagai bahan makanan dan kebutuhan lainnya.

Saling berebut para nelayan itu menjajakan dagangannya dengan merapat

ke kapal-kapal besar itu. Berapa pun jumlah beras dan minyak yang

mereka jual, diborong habis. Demikian juga dengan bumbu-bumbu dan

air yang dikirim dalam wadah kemaron.122

Dari para nelayan itulah, untuk pertama kalinya, Aditiawarman

memperoleh keterangan yang sangat penting mengenai siapa

yang kini menduduki takhta. Keterangan itu yang akhirnya harus

direnungkannya.

”Paman sudah tahu siapa yang menjadi Raja Majapahit?” tanya

Aditiawarman kepada Pu Wira.

Pu Wira yang muncul turun dari tangga yang menghubungkan lantai

atas dengan lantai bawah itu, mengerutkan dahi.

”Siapa?” tanya Pu Wira.

”Dua orang putri Bibi Gayatri, dua-duanya diangkat menjadi

raja bersama. Sri Gitarja dan Dyah Wiyat yang kini menduduki

dampar. Apakah dengan demikian, Paman Pu Wira masih akan tetap

bermimpi?”

Pu Wira terbungkam mulutnya.

”Aku harus mengubah cara pandangku, Paman. Aku tidak boleh

datang ke Majapahit dengan membawa mimpi seperti yang telanjur

Paman berikan kepadaku.”

Pu Wira gelisah. Dari raut mukanya terlihat sikap aneh, serasa tidak

bisa menerima kenyataan itu. Namun, Pu Wira masih berharap, siapa

tahu orang-orang Majapahit melihat keberadaan Aditiawarman dan

terbuka pikirannya untuk meluruskan keadaan dengan mengembalikan

dampar ke tempat seharusnya.

122 Kemaron, Jawa, tempayan

Hamukti Palapa 185

Namun, Pu Wira menyimpan isi hati itu dan tidak mengungkapkannya.

Supaya tidak terbaca raut mukanya, Pu Wira berjalan menuju pagar kapal

dan menaburkan pandangan matanya ke kegelapan daratan, ke arah nyala

di kejauhan yang sejatinya berasal dari obor yang oleh para penduduk

ditancapkan di halaman. Semula obor itu jumlahnya banyak, tetapi makin

larut makin berkurang karena kehabisan minyak.

Sebaliknya, jika dilihat dari daratan, kapal-kapal besar itu mampu

membangun mimpi mengerikan. Dalam keremangan malam, kapal itu

menjelma menjadi kapal hantu yang dihuni oleh mayat-mayat hidup, yang

berasal dari semua awak kapal yang menjadi arwah penasaran setelah

dibantai oleh hantu laut.

Dari bibir pantai yang menjilat, Gajah Enggon memerhatikan

kapal-kapal itu dengan segenap rasa cemas karena bisa menandai

rombongan kapal yang membuang sauh itu bukan milik Majapahit.

Tepatnya, Majapahit tidak punya dan bahkan belum mampu membuat

kapal perang seperti itu. Armada yang dimiliki Majapahit berukuran lebih

kecil dan ramping, yang ditempatkan di sebuah teluk yang terlindung

di Madura.

Kedatangan kapal perang entah dari mana itu sontak menimbulkan

tanda tanya dan mengundang kekhawatiran, untuk keperluan macam apa

mereka datang merapat ke Majapahit.

Gajah Enggon hanya sendiri dalam memerhatikan keadaan.

Pradhabasu tidak berada di sebelahnya karena sedang mencari

keterangan.

Pradhabasu yang pergi mencari keterangan telah kembali.

”Mereka tamu dari Dharmasraya, Swarnabhumi.”

Gajah Enggon kaget.

”Swarnabhumi?”

”Ya,” jawab Pradhabasu. ”Aditiawarman yang datang.”

”Waaah, saudara sepupu mendiang Sri Baginda Kalagemet!”

Gajah Mada 186

Pradhabasu mengarahkan perhatiannya ke arah kapal yang paling

besar, kapal yang membuatnya merasa iri karena begitu megahnya, begitu

kukuh dan kuat. Rasa khawatir yang semula menyesaki dadanya melumer

setelah mengetahui kapal-kapal itu milik Swarnabhumi. Apalagi, antara

Aditiawarman dan Patih Gajah Mada terjalin hubungan persahabatan

yang akrab.

”Kupikir, ke depan, Majapahit harus memiliki kapal-kapal seperti

itu,” ucap Pradhabasu.

”Ya,” jawab Gajah Enggon.

Gajah Enggon ingat pada apa yang pernah dikatakan Gajah Mada

tentang harapan dan mimpi besarnya atas bagaimana Majapahit di

masa depan nantinya. Gajah Mada berharap Majapahit kelak akan

menjadi sebuah negara yang besar dengan wilayah luas yang tidak

hanya berwawasan Dwipantara sebagaimana pernah dikumandangkan

oleh Prabu Sri Kertanegara yang hanya berkutat seluas Jawa. Akan

tetapi, jauh lebih luas dengan wawasan Nusantara yang merangkul

wilayah dari timur tempat matahari terbit dan di barat ke arah matahari

tenggelam.

Jauh di ujung timur, lebih dekat dengan sarang matahari, ada sebuah

wilayah yang dihuni oleh orang-orang berkulit hitam, dan di sebelah

barat, di tempat matahari tenggelam, ada sebuah wilayah bernama

Tumasek.

Konon, lebih ke barat lagi masih ada wilayah antah berantah yang

dihuni oleh orang-orang berkulit putih. Begitu putih kulit orang itu

hingga jika mereka minum, airnya terlihat melintasi leher.

Gajah Mada mengatakan, untuk bisa menggapai mimpi itu

diperlukan kekuatan yang besar. Majapahit harus memiliki kekuatan

prajurit yang mampu mengikat semua wilayah ke dalam satu kesatuan

yang tak terpisahkan. Dalam mimpi Gajah Mada, Gajah Enggon ingat,

untuk semua itu diperlukan armada laut yang besar. Maka, kapal-kapal

besar seperti yang sedang membuang sauh itu sangat dibutuhkan

Majapahit. Kapal-kapak besar itu harus didukung oleh jumlah prajurit

Hamukti Palapa 187

yang besar, kekuatan yang nggegirisi.123 Untuk meluaskan wilayah, negara

lain yang tidak mau menyatu mungkin perlu diserbu. Namun, mungkin

pula negara yang ringkih kekuatannya tak perlu diserbu, ditakut-takuti

saja sudah tunduk menyatakan takluk.

”Apakah menurutmu, kita perlu menemui tamu itu?” tanya

Pradhabasu.

Gajah Enggon berpikir.

”Ya,” jawabnya. ”Meski mereka berasal dari Swarnabhumi, kita

harus tahu untuk keperluan apa mereka datang ke Majapahit. Negara

Singasari pernah punya pengalaman buruk terhadap negara Gelang-

Gelang, Kediri. Gelang-Gelang yang telah dianggap sebagai keluarga

sendiri dan kedua rajanya saling berbesanan, nyatanya Gelang-Gelang

sanggup menusuk dari belakang. Hal itu terjadi ketika Singasari sedang

terlena mengirim semua pasukannya ke Sumatra, dipimpin langsung oleh

Lembu Anabrang. Siapa tahu Swarnabhumi membawa maksud sama.”

”Ya,” Pradhabasu menjawab. ”Aku juga berpikir demikian. Sekarang

kita harus mencari sewaan perahu dan menitipkan kuda-kuda kita ke

penduduk.”

Gajah Enggon dan Pradhabasu beranjak, tetapi tiba-tiba terjadi

sesuatu yang menyengat mereka.

Petir yang tiba-tiba hadir meledak menggelegar benar-benar

mengagetkan. Cahaya kilatnya yang muncrat benderang sekali. Dengan

gugup, Pradhabasu dan Gajah Enggon mengarahkan perhatiannya ke

langit. Maka, betapa takjub dan berdebar Gajah Enggon dan Pradhabasu

menyaksikan sebuah keganjilan yang jarang-jarang terjadi itu. Petir yang

terjadi susul-menyusul itu terjadi di tempat yang sama.

Sebenarnyalah petir yang kehadirannya di tempat yang tak tepat,

dengan keadaan yang tidak sesuai itu, menyentakkan siapa pun. Penduduk

Ujung Galuh yang berdatangan ke pantai untuk bisa menyaksikan kapal-

123 Nggegirisi, Jawa, menakutkan, mengerikan, juga berarti dahsyat

Gajah Mada 188

kapal besar itu dari dekat tersentak oleh bledek124 yang memuncratkan

cahaya, membelah udara, dan menimbulkan suara sangat keras dan

bernada tinggi.

Mereka kaget karena langit demikian bersih tak ada mendung,

bagaimana petir bisa hadir dengan keadaan yang demikian? Beberapa

nelayan yang sedang berada di atas perahu tak kalah kaget. Semua

mengarahkan pandangan matanya ke tempat yang sama dan bergegas

mengarahkan biduknya menepi. Guruh itu gemuruh, bahkan sekali lagi

dan sekali lagi. Cahayanya yang membelah angkasa mampu menjadi

penerang meski hanya beberapa kejap.

”Ibu Suri ternyata benar,” Gajah Enggon berbisik.

Pradhabasu tidak menoleh,

”Maksudmu?” balas Pradhabasu.

”Ibu Suri Rajapatni Biksuni Gayatri berpesan, untuk menemukan

jejak payung dan lambang negara yang hilang itu, ikutilah ke mana

hujan turun. Itu sebabnya, Ibu Suri berpesan begitu kukuh, malam ini

aku harus sampai di tempat ini. Ke Ujung Galuh aku harus mengikuti

jejaknya. Dengan demikian, gugurlah dugaanmu. Maling pencuri payung

dan cihna gringsing lobheng lewih laka bukanlah orang yang sama dengan

orang-orang yang membuat kekacauan tadi.”

Ucapan Gajah Enggon itu memang membuat Pradhabasu

penasaran. Akan tetapi, ada hal lain yang membuat Pradhabasu tak

pernah menggeser tatapan matanya dari sebuah arah di luasnya langit.

Nun di sana, ternyata ada sekepal mendung yang jika diperhatikan

dengan cermat, seperti sedang bergolak. Udara yang lembap dan suhu

yang dingin menjadi cikal bakal terbentuknya mendung.

Bagai diingatkan oleh sesuatu, Gajah Enggon tiba-tiba melompat

ke atas kuda. Pradhabasu kaget.

”Ke mana?” teriaknya.

124 Bledhek, Jawa, petir

Hamukti Palapa 189

”Ikuti aku, kita ke timur.”

Dengan berpacu kencang beradu balap dengan angin yang

berembus deras dari arah pantai, Gajah Enggon mengarahkan kudanya

ke timur. Namun, apa yang ia lakukan itu bukan pekerjaan gampang

karena berpacu di atas tanah padat dan di atas pasir empuk sangatlah

berbeda. Dengan rasa penasaran, Pradhabasu menempatkan diri di

belakangnya.

”Kita mencari apa?” teriak Pradhabasu.

”Benda-benda yang hilang itu ada di sini, pencurinya berada di sini,”

balas Gajah Enggon tak kalah keras.

Gajah Enggon makin bersemangat memacu kudanya manakala dari

arah bibit mendung yang makin menebal kembali terdengar ledakan petir.

Pradhabasu berdebar tegang ketika mendung yang berada tepat di atas

kepalanya itu makin menebal dan bergolak, serasa ada kekuatan yang

memengaruhi. Mendung yang terbentuk serasa melalui waktu tergesa,

dari langit yang semula bersih dengan cepat berubah menjadi gelap yang

berusaha merata.

Sebenarnyalah dugaan Gajah Enggon beralasan. Di sebuah tempat

di bagian bibir pantai yang memanjang, seseorang tengah berdiri tegak

di balik rimbunnya pandan laut dan pepohonan yang tumbuh lebat.

Orang itu berpakaian serba hitam dan memakai ikat kepala. Pakaian

yang dikenakan ringkas dengan rambut tidak digelung keling, dibiarkan

terurai menutup pundaknya.

Orang itu berdiri dengan tangan kanan memegang songsong

yang terbuka, dan menempatkan diri berlindung dari angin di bawah

payung itu. Rambutnya yang panjang berkibar, demikian juga dengan

ikat kepalanya. Ikat kepala yang dipakai orang itu bukanlah ikat kepala

sembarangan karena benda itu adalah cihna gringsing lobheng lewih laka yang

hilang dari perbendaharaan pusaka.

Orang itu tetap bertahan berdiri tegak meski angin yang deras

menyapu wajahnya dengan butir-butir pasir yang lembut. Angin yang

bertiup deras bahkan mematahkan sebuah ranting dan menerjang

Gajah Mada 190

wajahnya. Namun, ia tetap bergeming, tidak terusik dan berdiri tenang.

Juga tidak terusik ketika mendengar kuda yang berderap dari arah barat

makin lama makin dekat. Orang itu rupanya yakin, tempatnya terlindung

dan tak akan tampak dari garis pantai. Malam yang gelap melindunginya,

lebatnya semak pandan laut juga ikut melindunginya.

Kuda yang mendekat itu hanya untuk melintas terus ke arah timur.

Gajah Enggon mengalami kesulitan untuk menerka tempat maling

payung dan lambang negara itu berada karena di sepanjang pantai

banyak ditumbuhi pandan liar yang mampu menyembunyikan apa pun

dari perhatiannya. Maka, betapa kesal Gajah Enggon yang tak berhasil

menemukan orang yang dicari. Senopati Gajah Enggon dan Pradhabasu

balik arah menuju ke barat.

Petir kembali muncrat, gerimis yang turun lamat-lamat menjanjikan

harapan bagi penduduk di sepanjang pantai itu, yang di samping bekerja

sebagai nelayan mereka juga bertani.

Hujan memang sangat dirindukan kehadirannya. Namun, mendung

yang menebal ditambah gerimis yang akan berubah menjadi hujan

deras akan makin mempersulit Gajah Enggon menemukan orang

yang dicari. Di langit, bintang-bintang tak lagi kelihatan. Pekat udara

dengan segera berubah menebal dan menyebar ke mana-mana menjadi

gumpalan mendung. Pradhabasu takjub dan terheran-heran, jarak dari

petir pertama tidaklah terlalu jauh, tetapi mendung bisa menebal dan

merata dalam waktu singkat.

Gajah Enggon melompat turun.

”Bagaimana?” tanya Pradhabasu.

”Pepohonan di sepanjang pantai ini terlampau lebat,” ucap Gajah

Enggon. ”Amat sulit menemukan orang yang bersembunyi di baliknya,

kecuali kalau siang hari.”

”Kau benar-benar yakin, pencuri payung itu berada di sini?” tanya

Pradhabasu.

”Ikutilah ke mana hujan turun, itu kata Ibu Suri Rajapatni,” jawab

Gajah Enggon tegas.

Hamukti Palapa 191

Sorak-sorai riuh terjadi di bagian pantai yang lain, yang dilakukan

oleh penduduk yang menyaksikan kapal. Itu terjadi ketika hujan benarbenar

turun dan mengguyur. Anak-anak muda tidak merasa risih dengan

turunnya hujan meski malam hari. Mereka berlarian dan berbasah-basah.

Sementara itu, para orang tua telah menyelamatkan diri dengan berteduh

atau telah kembali ke rumah masing-masing.

Di sela bongkahan tanah, baik di sawah maupun di pekarangan, ular

sanca yang tidur panjang terbangun oleh air yang menyentuh tubuhnya.

Ular itu menggeliat dan siap untuk berburu. Bukankah dengan hujan

telah tiba, akan ada banyak binatang yang selama ini tidur panjang lalu

terbangun?

”Akhirnya, hujan yang kita tunggu datang juga,” ucap seorang suami

dengan rasa senang.

”Ya,” balas istrinya, ”besok kita menebar benih.”

”Apa kita masih punya benih? Benihnya sudah kita makan,

bukan?”

”Masih ada,” jawab istrinya.

Hujan yang turun deras berlaga dengan petir yang meledak susulmenyusul.

Agak menakutkan dan menyebabkan bocah-bocah segera

mencari perlindungan. Akan tetapi, bagi orang-orang tua, gelegar petir

itu dianggapnya sebagai anugerah dari Hyang Widdi setelah didera

kemarau yang berkepanjangan.

Orang-orang yang semula menyemut di sepanjang pantai akhirnya

berhamburan kembali ke rumah masing-masing. Sebagian nekat dengan

berbasah-basah, sebagian yang lain menggunakan sepelepah daun pisang

untuk melindungi diri dari hujan.

Di antara penduduk ada juga yang punya keyakinan aneh. Sebuah

mangkuk yang terbuat dari tanah liat diletakkan di halaman. Air hujan

yang terwadahi ditampung di jambangan. Baginya air hujan baik untuk

tubuh. Orang itu juga berkeyakinan, air hujan yang diwadahi kendi dan

ditempatkan di bawah tempat tidur disertai doa tertentu akan mengusir

para hantu agar tidak menyelinap di alam mimpi. Itu sebabnya, bagi

Gajah Mada 192

yang punya bayi dengan kebiasaan tidur gelisah, di bawah tempat

tidurnya selalu ada tempayan berisi air hujan. Setahun sekali air hujan

itu harus diganti karena kehilangan khasiatnya. Nantinya jika tempayan

itu diperhatikan, akan penuh jentik-jentik anak nyamuk.

Adalah Gajah Enggon yang gelisah karena setelah mondar-mandir

tak berhasil menemukan jejak orang yang dicarinya. Hujan yang turun

dengan lebat dan malam yang tak berbintang, menyebabkan jarak

pandang menjadi demikian pendek. Tak ada yang bisa diharapkan dari

keadaan yang demikian itu. Bahkan, akhirnya laut di depan pun tak

tampak. Laut bisa ditandai keberadaanya dari suara ombaknya yang tak

seberapa besar yang berusaha menggerus pantai.

Maka, apa boleh buat, yang bisa dilakukan hanyalah menunggu

meski hal itu terasa menjemukan. Akan tetapi, hujan itu ternyata

menyita waktu cukup lama dan berlangsung amat deras, membasahi

tanah yang semula berwujud bongkahan, menjadikannya bubur lumpur,

lalu merembes ke kedalamannya. Air yang berlimpah memenuhi parit,

memenuhi hamparan sawah, dan sungai. Katak-katak yang semula sedang

tidur panjang tersentak kaget begitu menyadari tubuhnya basah kuyup.

Katak-katak itu menjadi begitu gembira dan dengan segera saling sapa

dengan sesama temannya. Namun, katak sering kurang waspada karena

ular juga terbangunkan dari tidur panjang dan segera mengintai mereka.

Ular sanca berukuran besar sebenarnya malas memangsa katak. Ular

sanca lebih senang memangsa tikus atau kucing, bahkan anak babi pun

ditelannya. Akan tetapi, jika tidak ada rotan, akar pun jadi. Demikian

pula dengan ular berukuran besar itu, tidak ada tikus, katak pun jadi.

Tak sulit bagi ular untuk menentukan tempat katak berada dari suaranya

yang demikian riuh itu.

Akhirnya, hujan mereda. Seperti awalnya, demikian juga dengan

akhirnya. Hujan itu berhenti dengan tiba-tiba. Oleh sebagian orang,

kehadiran hujan itu dianggap aneh, tetapi banyak juga yang menganggap

biasa saja. Gajah Enggon memandang langit, sebagian terlihat bersih

dengan bintang-bintang yang gemerlapan, sebagian lain gelap gulita.

”Bagaimana sekarang?” tanya Pradhabasu.

Hamukti Palapa 193

”Sejujurnya aku tak tahu apa yang harus kita lakukan sekarang,”

Gajah Enggon menjawab.

Namun, jawaban itu bagai mendatanginya. Gajah Enggon terbelalak

dan sangat terlambat untuk bertindak ketika dengan tiba-tiba terdengar

suara kuda meringkik dan melesat akan melewatinya. Gajah Enggon

dan Pradhabasu berlompatan menepi karena tak ingin tertabrak oleh

penunggang kuda itu.

”Gila!” Gajah Enggon meletup.

Dalam sekelebatan dengan bertumpu pada cahaya bintang yang

mulai muncul dan kunang-kunang yang beterbangan, Pradhabasu dan

Gajah Enggon masih bisa menandai sebuah benda panjang dalam

dekapan orang berkuda itu.

”Orang itu membawa payung,” teriak Gajah Enggon.

Pradhabasu dan Gajah Enggon lari sekencang-kencangnya ke

tempat kuda-kuda mereka yang terikat pada batang pohon ambruk di

atas pasir. Dua kesatria Bhayangkara itu makin terlambat karena ikatan

tali itu saling melilit dan terikat demikian kuatnya. Saat sesuatu sedang

dibutuhkan, sikap gugup justru menjadi hambatan.

”Sial,” umpat Pradhabasu yang merasa cemas bakal kehilangan

jejak buruannya.

Ketika tali kekang yang saling membelit itu akhirnya berhasil

diurai, sungguh sangat terlambat. Jejak maling yang membawa payung

itu lenyap sebagaimana lenyap pula suara derapnya. Namun demikian,

Gajah Enggon dan Pradhabasu tak mau putus asa begitu saja. Jejak

samar itu harus dikejar, sampai ke ujung langit sekalipun, jauh ke dalam

perut bumi sekalipun.

Akan tetapi, malam yang begitu hitam memang menyulitkan. Gajah

Enggon tidak mungkin memaksakan diri. Ketika di depan menghadang

tebing dan karang dengan ombak yang menghantam susul-menyusul,

sadarlah Gajah Enggon, maling itu tidak melewati tempat itu. Orang

itu telah berbelok entah di mana.

Gajah Mada 194

”Bagaimana?” tanya Pradhabasu.

Pradhabasu memutar kudanya dan berdiri saling berdampingan.

”Apakah kau berhasil menandai sesuatu?” tanya Gajah Enggon.

”Ya,” jawab Pradhabasu. ”Aku melihat orang itu mendekap sebuah

benda panjang yang aku yakini pasti payung. Tuan Putri Ibu Suri benar

adanya.”

”Aku juga, aku yakin benda panjang yang dibawa orang itu payung,”

tambah Gajah Enggon.

Lalu hening! Kapal-kapal besar yang mengapung diam menjadi

perhatian mereka. Hanya beberapa buah obor di kapal itu yang masih

hidup, menjadikan bayangannya mirip hantu yang menakutkan.

”Kita menunggu datangnya pagi, kau sependapat?”

”Ya, kita akan mencari jejak maling payung itu besok, tak mungkin

kita lakukan sekarang,” jawab Gajah Enggon.

Basah kuyup itu sungguh sangat mengganggu dan bisa menyebabkan

demam. Namun, Gajah Enggon dan Pradhabasu tak mungkin berganti

pakaian karena basah itu tembus ke buntalan bawaannya.

Gajah Enggon yang meraba mendapati pakaian cadangan yang

dibawanya ikut basah sehingga tak ada gunanya berganti pakaian.

Dalam diam bagai kehilangan mulut, dua orang lelaki gagah itu berpikir,

terutama Gajah Enggon memeras kenangan pertemuannya dengan Ibu

Suri Gayatri. Apa yang disampaikan Rajapatni kepadanya teramat samar

dan mirip teka-teki yang menyerahkan sepenuhnya kepadanya untuk

menemukan apa jawabnya.

”Lihat itu,” Pradhabasu berbisik.

Gajah Enggon menoleh mengarahkan perhatiannya.

”Mungkin nelayan,” ucap Gajah Enggon.

Jauh dari arah timur atau dari arah mereka semula, tampak obor

bergerak yang tentu obor itu berada di tangan orang berjalan, berayunayun

seolah berasal dari tangan lunglai dan lemah.

Hamukti Palapa 195

Pemegang obor itu memang tangan yang lemah karena tubuh

penyangganya sudah tua renta. Namun, semangat kakek berambut putih

itu untuk berjalan dan terus berjalan tak kendur. Persoalan penting yang

dibawanya mendorongnya berjalan lebih lekas. Akan tetapi, selekas apa

pun tetaplah tertatih. Andaikata ia masih muda, mungkin ia akan berlari

sekencang-kencangnya.

”Kita mungkin bisa meminta keterangan kepada orang itu?” tanya

Pradhabasu.

”Tak perlu,” jawab Gajah Enggon. ”Aku yakin tak ada orang

yang bisa memberi keterangan di tempat ini. Penduduk desa ini sama

bingungnya dengan kita. Mereka tak akan bisa memahami mengapa

hujan deras turun dengan mendadak di tempat ini.”

”Atau, pendapatmu salah,” balas Pradhabasu.

”Salah bagaimana?”

”Penduduk pelabuhan ini menganggap hujan yang turun sebagai hal

yang biasa saja meski turunnya dengan mengejut tanpa kulonuwun125 lebih

dulu. Terlalu tak masuk akal hujan itu turun karena sebuah payung.”

Gajah Enggon terbungkam. Pradhabasu yang berharap siapa pun

yang membawa obor itu akan mendatangi tempatnya berada, merasa

betapa lamban pembawa obor itu berjalan, seolah tak bergeser sama

sekali. Justru karena itulah, Pradhabasu dan Gajah Enggon tergerak

untuk mendekat mendatanginya. Pradhabasu dan Gajah Enggon tidak

naik ke atas punggung kuda, kuda-kuda itu dituntun.

Betapa terperanjat Pradhabasu dan Gajah Enggon mendapati

pembawa obor itu ternyata seorang kakek yang demikian renta. Jalannya

yang tertatih, sedikit bongkok, dan rambut, kumis, serta jenggot yang

memutih menjadi pertanda usianya tentu telah lebih dari tujuh puluh

tahun. Orang tua itu rupanya juga rabun. Ia tidak melihat meski Gajah

Enggon dan Pradhabasu telah menghadangnya.

125 Kulonuwun, Jawa, permisi

Gajah Mada 196

”Selamat malam, Kiai,” Gajah Enggon menyapa.

Kakek itu rupanya juga tuli menilik tidak mendengar kuda yang

meringkik. Baru ia terlihat kaget setelah berada pada jarak yang amat

dekat.

”Kalian rupanya?” seru kakek itu dengan suara agak meletup.

Gajah Enggon dan Pradhabasu saling pandang, segera keduanya

merasa ada yang aneh.

”Kiai merasa mengenal kami?” Pradhabasu meletupkan rasa

herannya.

”Apa?” balas kakek itu yang kurang begitu jelas menangkap

pertanyaan.

Gajah Enggon mendekat.

”Apakah Kiai merasa mengenal kami?” kini Gajah Enggon yang

bertanya dengan pertanyaan yang sama.

Pertanyaan yang dilontarkan dengan suara keras itu ternyata bisa

ditangkap cukup jelas. Kakek itu menyeringai sambil mengangkat

obornya untuk mengenali wajah-wajah masih muda di depannya.

”Tentu aku mengenalmu. Aku bahkan sudah menunggu cukup lama,

salah satu dari kalian akan kuambil menantu,” jawab kakek itu.

Sungguh sebuah jawaban yang mengagetkan, yang memaksa Gajah

Enggon dan Pradhabasu terbelalak. Demikian kaget Gajah Enggon

sampai tidak mampu berbicara. Dengan mulut setengah terbuka, Gajah

Enggon memandang kakek tua itu dengan takjub dan akhirnya sedikit

geli. Mungkin kakek tua itu sangat pikun atau bisa jadi ia tidak waras.

”Ayo, kalian ikut aku,” lanjut orang itu.

Pradhabasu dan Gajah Enggon saling lirik, dan mendadak berubah

menjadi seekor kerbau yang telah diikat lehernya. Gajah Enggon dan

Pradhabasu melangkah bagai tanpa pertimbangan mengikuti langkah

kaki kakek tua yang berjalan tertatih di depannya. Rasa ingin tahu yang

menyeruak mendorong Pradhabasu dan Gajah Enggon mengikuti dari

belakang.

Hamukti Palapa 197

”Umurmu berapa, Kiai, dan kalau boleh aku tahu, namamu?”

Pradhabasu memecah keheningan.

Kakek itu tidak menjawab dan tetap terus berjalan.

”Ia tidak mendengar,” bisik Gajah Enggon.

Pradhabasu menggamit kakek itu dan memaksanya menoleh.

”Umurmu berapa dan siapa namamu?” ulang Pradhabasu.

”Umur?”

”Ya!” balas Pradhabasu.

”Dan namaku?”

Pradhabasu mengangguk dan membiarkan kakek tua itu mengobori

dirinya. Api obor itu terlalu dekat dengan wajahnya.

”Namaku Agal, sebut saja Ki Agal!” jawab kakek tua itu. ”Kalau

soal umur, aku sudah tua sekali. Orang-orang yang sepantaran denganku

banyak yang mati. Mungkin tujuh puluh atau delapan puluh tahun,

mungkin kurang mungkin lebih.”

Gajah Enggon bertambah penasaran.

”Kiai Agal,” Gajah Enggon berkata, ”benarkah seperti yang kaukatakan,

kau mengenal aku? Kau merasa menunggu kedatanganku?”

Mungkin suara Gajah Enggon tidak jelas karena kalah oleh suara

ombak yang gemericik. Lelaki tua bernama Agal itu tidak menjawab.

Dengan tertatih-tatih ia berjalan menyusuri tanah berpasir yang basah.

Pradhabasu menggamit Gajah Enggon.

”Tak ada gunanya berurusan dengan orang ini, sebaiknya kita pergi

saja,” kata Pradhabasu.

”Jangan!”

Pradhabasu tersentak, jawaban itu berasal dari mulut lelaki tua itu.

”Sebaiknya kalian ke rumahku dulu,” ucapnya.

Pradhabasu menggamit tangan orang itu. Kiai Agal berhenti.

Gajah Mada 198

”Benarkah kau merasa berkepentingan dengan kami?” tanya

Pradhabasu.

”O, tentu,” jawabnya.

”Kautahu, siapa kami?” lanjut Pradhabasu.

Kiai Agal tak hanya memandang wajah Gajah Enggon dan

Pradhabasu, tetapi mendekatkan obornya. Pradhabasu nyaris melenguh

karena obor itu begitu dekat dengan wajahnya.

”Kau sudah aku puter giling126 untuk datang ke tempat ini karena

aku ingin kau menjadi menantuku. Takdirmu berada di tempat ini,”

ucap orang itu lagi.

Pradhabasu menjadi jengkel. Pertanyaan yang dilontarkan tidak

memperoleh jawaban. Sebaliknya, lelaki tua itu lebih banyak berbicara

kepentingannya. Beranggapan orang tua itu mungkin gila, Pradhabasu

melekatkan jari miring di keningnya. Sebaliknya, Gajah Enggon mulai

merasa curiga meski tak tahu bagian mana yang harus dicurigai.

”Namamu Gajah Enggon, bukan?” tanya orang itu.

Pertanyaan yang dilontarkan dengan begitu ringan itu menjadi

sebuah palu godam yang menghantam dada. Pradhabasu merasa wajahnya

mendadak menebal melebihi tebal bibir sumur di rumahnya dan serasa

bagai air mendidih yang disiramkan ke wajahnya. Pradhabasu terkejut

bukan kepalang. Demikian juga dengan Gajah Enggon, yang sama sekali

tidak menduga orang itu mengetahui namanya. Justru oleh karena itulah,

Gajah Enggon terbungkam.

”Ayo, rumahku masih jauh,” kata Kiai Agal.

Kiai Agal kembali berjalan dengan tertatih. Ketika terlihat olehnya

sebatang kayu tergeletak, diambilnya kayu itu dan dimanfaatkan sebagai

tongkat. Batuknya datang berselang-seling dengan sendawanya sambil

sesekali melenguh menggumamkan kata-kata yang tidak jelas.

126 Puter giling, idiom Jawa, kemampuan magis yang digunakan untuk menghadirkan orang yang

dikehendaki meski berada di tempat sangat jauh.

Hamukti Palapa 199

Akan halnya Pradhabasu dan Gajah Enggon, akhirnya tak berani

meremehkan kakek tua itu, yang ternyata tahu siapa dirinya. Pertanyaan

dan rasa penasaran yang sontak menyeruak adalah bagaimana orang tua

itu bisa tahu namanya.

”Kiai Agal,” Pradhabasu tak bisa menguasai rasa heran.

”Ada apa?” balas Kiai Agal tanpa menoleh.

”Kalau usiamu sudah setua itu, berarti anakmu pasti tak bisa dibilang

muda lagi. Anakmu pasti juga sudah tua dan mungkin telah berusia enam

puluh tahun lebih. Lantas, bagaimana bisa kau mengambil temanku

sebagai menantu?”

Kiai Agal kembali bersendawa, rupanya perutnya sedang

bermasalah.

”Bukan untuk anakku, tetapi cucuku,” jawabnya. ”Jangan khawatir,

cucuku tidak akan membuatmu kecewa. Cucuku memiliki wajah yang

cantik dan amat pantas menjadi istri seorang prajurit Bhayangkara. Nama

cucuku Rahyi Sunelok.”

Sekali lagi desir sangat tajam merambati permukaan jantung Gajah

Enggon dan Pradhabasu. Kakek tua bernama Agal itu ternyata juga tahu,

mereka adalah prajurit. Boleh diyakini, orang itu memiliki ketajaman

dalam memandang, bisa disebut orang yang weruh sakdurunge winarah dan

waskita. Orang-orang tua yang banyak mengedepankan laku prihatin

memang sangat mungkin menguasai kemampuan macam itu.

Langit kembali bersih dan mendung yang semula begitu tebal lenyap

tersapu angin yang berembus demikian deras. Sejauh mata memandang

ke arah laut, yang tersaji hanya hitam malam. Sementara itu, sejauh

telinga menyimak, yang terdengar suara gemericik ombak yang tak

berkesudahan.

Akhirnya, setelah menempuh jarak yang lumayan jauh, setidaknya

untuk ukuran Kiai Agal yang serenta itu, sampailah Gajah Enggon dan

Pradhabasu di rumahnya, sebuah rumah yang terpencil dan jauh dari

rumah-rumah yang lain.

Gajah Mada 200

”Pedukuhanku ini bernama Ban Culuk,” kata Kiai Agal. ”Batasnya

sungai yang tadi kita lintasi. Pedukuhan yang rumah penduduknya padat

tadi bernama Plampang Tampu. Namun, sebutan untuk semua wilayah

daerah ini adalah Ujung Galuh. Nah, itulah rumahku.”

Rasa penasaran Gajah Enggon segera terjawab, rasa ingin tahunya

terpuasi. Gadis yang ternyata sangat cantik membukakan pintu untuknya.

Cahaya lampu ublik yang menyala kecil menerpa sebagian wajahnya,

memancing rasa ingin tahu yang lebih besar lagi. Gajah Enggon berusaha

untuk tenang, tetapi ia tak mampu menolak rasa ketertarikannya.

”Inilah cucuku, Rahyi Sunelok,” kata Kiai Agal.

Gajah Enggon dilibas rasa takjub. Sementara itu, Pradhabasu dililit

rasa penasaran.

”Bagaimana? Apakah cucuku terlalu jelek untukmu?”

Pertanyaan yang membingungkan itu memang layak membuat

Gajah Enggon tak tahu harus bersikap bagaimana. Sebaliknya, gadis

cantik bernama Rahyi Sunelok itu hanya bisa menunduk. Akan tetapi,

Pradhabasu menangkap dengan jelas bahasa wajahnya bahwa ia merasa

sangat bahagia dengan pertemuan itu. Gemerlap matanya tak bisa

menipu.

Pradhabasu tak mampu menahan diri untuk tidak merasa takjub.

”Bagaimana, Enggon?” Kiai Agal mengulang.

Gajah Enggon gugup, hatinya berdebar. Pradhabasu yang

memandang wajahnya kebingungan.

”Kalau kamu, menur utmu bagaimana? Apakah Eng gon

menganggap cucuku tak pantas menjadi istrinya?” tanya Kiai Agal, kali

ini ditujukan kepada Pradhabasu.

Pradhabasu tersenyum dan itulah untuk pertama kali Pradhabasu

merasa senyum yang merekah dari bibirnya itu senyum yang terasa

aneh. Namun, rasa takjub dan penasarannya lebih membutuhkan

jawaban. Sekilas sempat muncul rasa iri, mengapa yang bernasib mujur

seperti itu bukan dirinya. Akan tetapi, dengan segera Pradhabasu

Hamukti Palapa 201

menepis dan membayangkan wajah perempuan yang sedang menunggu

kepulangannya, Dyah Menur Hardiningsih.

”Sudah kausiapkan bilik untuk tamumu?” tanya Kiai Agal kepada

cucunya.

”Sudah, Kek,” jawab gadis bernama Rayi Sunelok itu.

”Kalian berdua istirahatlah, besok aku akan mengundang beberapa

tetangga untuk mengawinkanmu dengan cucuku. Mati pun aku rela

setelah aku melihat cucuku berada dalam perlindungan laki-laki yang

bisa diandalkan.”

Tanpa banyak bicara dan tidak memberi kesempatan untuk bertanya,

Kiai Agal dan cucunya memasuki salah satu bilik rumah yang sederhana

itu.

Gajah Enggon dan Pradhabasu saling pandang ketika beberapa

jenak kemudian mendengar bait-bait kakawin yang dibaca dengan suara

serak terbata. Pradhabasu dan Gajah Enggon yang menyimak bacaan

kakawin itu tidak mengenali apa judulnya. Pembacaan kakawin dalam

tembang itu ternyata tidak hanya dilakukan Ki Agal, Gajah Enggon

merasa hanyut di aliran air deras manakala mendengar ”calon istrinya”

juga memperdengarkan suaranya, suara yang lembut dan indah, melebihi

indahnya tembang dari bibir seorang waranggana.127

”Apa arti semua ini?” tanya Gajah Enggon yang kebingungan

dengan berbisik.

”Kau benar-benar beruntung,” balas Pradhabasu.

”Apakah menurutmu, aku harus menerima?”

”Ya, kenapa tidak. Kau harus menerima gadis itu sebagai istrimu

atau kalau menolak, kau akan menyesal seumur hidupmu karena mungkin

tawaran itu akan diberikan kepadaku. Ingat, bukankah Ibu Suri Gayatri

mengatakan bahwa dari Ujung Galuhlah hidupmu dimulai?” kata

Pradhabasu dengan suara lebih berbisik.

127 Waranggana, Jawa, pesinden

Gajah Mada 202

Gajah Enggon gelisah. Gajah Enggon saling melekatkan kedua

tangan, dengan meremas-remas jemari ia memandang ke arah bilik

tempat suara lembut dalam alunan macapat128 itu berasal.

”Jadi, ini yang dimaksud Ibu Suri Gayatri?” tanya Gajah Enggon

dengan ragu.

Perlahan, tetapi betapa mantap Pradhabasu mengangguk.

”Selamat!” ucapnya sambil mengulurkan tangan.

Namun, Gajah Enggon tidak dengan segera menerima jabat tangan

itu.

”Sekali lagi, apakah menurutmu sebaiknya aku menerima gadis itu

sebagai istriku?”

Pradhabasu tersenyum.

”Selama ini kau mengalami kesulitan dalam mencari jodoh karena

betapa kikuk kau dalam menghadapi perempuan. Kali ini ada gadis yang

demikian cantik menawarkan diri menjadi istrimu, menurutku tidak ada

alasan bagimu untuk menolak.”

Malam itu akan menjadi malam yang jauh lebih panjang dari malam

biasanya karena Pradhabasu dan Gajah Enggon terlalu banyak menelan

rasa penasaran yang tanpa jawaban. Namun, ketika Gajah Enggon

bertanya kepada diri sendiri, ia sungguh merasa bahagia. Waktu yang

terus bergerak dilaluinya dengan tersenyum tak berkesudahan.

”Aku lapar!” tiba-tiba Pradhabasu nyeletuk.

Gajah Enggon merasa seperti diingatkan.

”Aku juga!” balasnya.

128 Macapat, Jawa, seni menyanyikan tembang Jawa atau kakawin. Tembang Jawa pada mulanya berbentuk

baku, meliputi nada, irama, dan guru lagu, seperti Dandang Gula, Mas Kumambang, Asmaradana, dan

sebagainya.

Hamukti Palapa 203

15

Laporan yang masuk bertubi-tubi sehingga banyak prajurit dikirim

untuk melihat apa yang terjadi. Mundur ke waktu sebelumnya, ketika

itu hari masih belum senja, laporan kebakaran dan pembunuhan yang

dilakukan dengan cara brutal itu sungguh mengagetkan Patih Gajah

Mada dan Mahapatih Arya Tadah. Beberapa anak panah sanderan129

dilepas ke udara, menimbulkan suara mendesing, menjadi perintah bagi

para prajurit, tak hanya prajurit Bhayangkara, tetapi juga prajurit dari

kesatuan yang lain untuk waspada. Khusus untuk prajurit penyelenggara

keamanan istana, mereka berada dalam kesiagaan tertinggi.

Dari anjungan pengintai di pintu gerbang Purawaktra, Gajah

Mada yang berdiri berdampingan dengan Mahapatih Amangkubumi

Arya Tadah memerhatikan asap yang membubung tinggi dari beberapa

arah. Dari segala penjuru terdengar kentongan dipukul bertalu-talu,

merampas perhatian siapa pun untuk waspada. Untuk melihat bagaimana

api membakar beberapa rumah penduduk dengan menandai asapnya,

Arya Tadah memaksa diri untuk naik. Gajah Mada menuntunnya meniti

tangga batu merah.

”Apa artinya ini, Gajah Mada?” tanya Arya Tadah dengan gusar.

”Siapa orang yang berani membuat kekacauan macam itu?”

Gajah Mada tidak memiliki jawabnya. Dengan tidak berkedip, ia

memerhatikan asap yang membubung naik ke langit. Baik Mahapatih

Amangkubumi Tadah maupun Patih Gajah Mada memberikan

perhatiannya kepada Senopati Gagak Bongol, pimpinan pasukan

Bhayangkara yang baru, yang datang bergegas menaiki tangga. Dengan

sigap, Gagak Bongol memberikan penghormatannya.

”Apa yang akan kausampaikan, Gagak Bongol?” tanya Gajah Mada.

129 Sanderan, Jawa, anak panah berpeluit yang biasanya juga dilengkapi api sebagai penyampai perintah/

isyarat.

Gajah Mada 204

Tangkas Gagak Bongol memberikan penghormatannya.

”Orang-orang gila yang entah dengan maksud apa,” Gagak Bongol

menjawab, ”mereka melakukan pembantaian dan membakar rumahrumah

tanpa alasan yang jelas. Mereka meninggalkan jejak kematian di

mana-mana. Saat ini pengejaran besar-besaran sedang dilakukan, tetapi

masih belum ada laporan yang masuk.”

Gajah Mada memeras otak dan mencoba mencari jawab apa maksud

orang-orang yang melakukan pembantaian itu.

”Ada berapa orang pelaku perbuatan gila itu?” tanya Gajah Mada.

”Tidak jelas, Kakang Gajah,” jawab Gagak Bongol. ”Namun, jika

menilik mereka meninggalkan jejak di mana-mana, tentu dilakukan

oleh beberapa orang, bisa lebih dari lima orang atau bahkan sepuluh

orang. Mereka bertindak cepat dan langsung menghilang entah ke mana.

Pelakunya jelas bukan orang gila karena tidak mungkin lebih dari lima

orang gila secara bersama. Jelas ada alasan yang mendorong mereka

melakukan itu, entah dendam yang mana yang menjadi alasan itu.”

Gajah Mada yang mengarahkan pandangan matanya ke atap

Manguntur, kembali membalikkan badan dan memerhatikan asap yang

membubung terbawa angin, memberi tahu siapa pun yang melihatnya,

sedang ada orang tak waras menabur tembang kematian. Gajah Mada

akhirnya merasa tidak ada gunanya berlama-lama berdiri di atas anjungan

pengawasan di gapura Purawaktra itu.

”Mari kita turun, Paman,” kata Gajah Mada ditujukan kepada Tadah,

”berada di atas lama-lama kepalaku pusing.”

Tanpa bicara, Arya Tadah yang tua itu ikut turun dengan tangan

dibimbing oleh Gagak Bongol. Kekacauan yang timbul itu menyebabkan

prajurit Bhayangkara berada dalam kesiagaan tinggi. Istana tempat tinggal

Prabu Putri Tribhuanatunggadewi dijaga ketat. Demikian pula dengan

istana di sebelahnya yang menjadi tempat kediaman Prabu Putri Dyah

Wiyat Rajadewi, dipagar betis depan, belakang, dan samping.

Dibimbing oleh Gajah Mada, Mapatih Arya Tadah naik ke gedung jaga

perwira. Rupanya di sana sedang ada sesuatu yang menarik perhatian.

Hamukti Palapa 205

”Ada apa?” tanya Gajah Mada.

”Seseorang mengaku bernama Tumangkar memaksa ingin bertemu

dengan Ki Patih,” jawab seorang prajurit.

”Tumangkar?” ulang Gajah Mada. ”Apa keperluannya?”

”Ia hanya mau mengatakan kepada Ki Patih. Ia memegang lencana

Senopati Gajah Enggon,” jawab prajurit yang seorang lagi.

Patih Gajah Mada meninggalkan Mahapatih Arya Tadah yang

memilih duduk beristirahat. Menaiki dan kemudian turun dari anjungan

pengintaian di atas Purawaktra menyebabkan dadanya terasa nyeri.

Usia yang tua menyebabkan Arya Tadah tak mampu lagi melakukan

pekerjaan yang berat. Pada usia yang makin tua seperti itu, Mahapatih

Arya Tadah mulai meluangkan waktu jauh lebih banyak untuk urusan

kebajikan. Ke depan, Tadah mulai menimbang, siapa gerangan orang

yang layak dipilih sebagai penggantinya menduduki kursi kepatihan

sebagai amangkubumi.

Gagak Bongol bergegas mengikuti Gajah Mada.

Di penjagaan gerbang Purawaktra, dengan raut muka sedikit cemas,

Tumangkar menatap para prajurit yang mengelilinginya. Para prajurit

itu menyibak saat Gajah Mada datang mendekat. Gajah Mada langsung

mengarahkan perhatiannya kepada lelaki di depannya.

”Kamu yang ingin bertemu denganku?”

”Benar, Ki Patih,” jawab Tumangkar. ”Aku membawa pesan penting

yang harus aku sampaikan kepada Ki Patih. Orang yang menyuruhku

membekaliku dengan lencana ini.”

Gajah Mada memerhatikan lencana dalam genggaman tangan itu.

”Apa pesan Senopati Gajah Enggon?”

Disimak semua yang hadir, Tumangkar menceritakan apa yang

terjadi dan telah menimpa para tetangganya yang tumpes tapis130 dibantai

130 Tumpes tapis, Jawa, tumpas habis

Gajah Mada 206

oleh orang tidak dikenal. Bahwa apa yang menimpa para tetangganya

menjadi beban demikian berat menyebabkan Tumangkar agak tersendat

dalam menceritakan apa yang terjadi. Namun, Gajah Mada dan segenap

prajurit yang mengelilingi bisa menyimak dengan rinci.

”Tuan Senopati Gajah Enggon berpesan, orang-orang yang

membuat kekacauan itu para maling yang akan menyelinap masuk ke

istana. Onar yang dilakukan adalah untuk memancing para prajurit keluar

dari istana,” kata Tumangkar mengakhiri ceritanya.

Gajah Mada dan Gagak Bongol saling pandang.

”Ada lagi pesan yang lain?” tanya Gajah Mada.

Tumangkar menggeleng.

”Tidak, Tuan,” jawabnya.

Gajah Mada bertolak pinggang sambil menyebar pandangan mata

menggerataki wajah semua prajurit yang mengelilinginya dan menyimak

pembicaraan yang terjadi. Akhirnya, Gajah Mada meminta perhatian

Senopati Bhayangkara Gagak Bongol yang telah mempersiapkan diri

menunggu perintah.

”Bongol!” ucapnya perlahan, tetapi sangat berwibawa.

”Ya,” jawab Senopati Gagak Bongol.

”Kaupunya gambaran apa yang akan terjadi nanti?”

Gagak Bongol mengangguk.

”Ya,” jawabnya. ”Sirep dengan kekuatan besar mungkin akan

muncul dan terjadi lagi. Lalu, maling-maling itu akan berlompatan masuk

melalui dinding dan kembali akan memasuki gedung perbendaharaan

pusaka. Aku harus mempersiapkan penyambutan dengan menyesuaikan

diri pada apa yang akan dilakukan tamu-tamu tak diundang itu.”

Gajah Mada sependapat dan sepenuhnya percaya dengan langkah

pengamanan dan penyambutan yang akan dilakukan. Menilik perkembangan,

agaknya benar apa yang diramalkan oleh Ibu Suri Gayatri bahwa malingmaling

yang mencuri lambang negara dan payung akan masuk lagi.

Hamukti Palapa 207

Maka demikianlah, Senopati Gagak Bongol ditemani Gajah Mada

segera mengambil tindakan dan menggelar jebakan. Para prajurit

Bhayangkara tak terkecuali dipersiapkan bekerja sama dengan para

prajurit dari kesatuan lain. Hanya dalam waktu singkat, menggunakan

isyarat-isyarat tertentu yang telah disepakati, perintah itu telah tersalur

ke segenap sudut ibu kota. Para prajurit yang melakukan pengintaian

telah memahami apa yang harus dikerjakan.

Senja yang merah bergerak menuju gelap malam. Mapatih Arya

Tadah mulai menandai keganjilan itu. Gajah Mada yang kembali ke

Manguntur mendapati Arya Tadah sedang berdiri di halaman sambil

menengadah memindai sesuatu yang tak kasatmata.

”Kau merasakan dan memerhatikan itu, Gajah Mada?” tanya

Tadah.

Gajah Mada merasa tak paham.

”Apa maksud Paman Tadah?” tanya Gajah Mada.

”Perhatikan udara ini?”

Gajah Mada menyimak dengan saksama dan serasa mendadak

datangnya, bulu kuduknya bangkit. Apa yang dirasakan Patih Arya Tadah

benar, memang ada sesuatu yang mengalir di udara yang tidak wajar.

Udara yang mengalir ia rasakan terlampau sejuk meninabobokkan.

”Tanpa harus menunggu waktu begitu malam datang, kekuatan

sirep itu pun telah digelar,” kata Tadah.

Mendapati perkembangan yang demikian, Gagak Bongol bertindak

cekatan. Apa yang terjadi itu disalurkan melalui isyarat khusus yang dengan

segera menyebar ke segala penjuru hingga ke paling ujung. Dengan

demikian, segenap prajurit telah membekali diri dan mempersiapkan

diri menghadapi apa yang akan terjadi. Oleh kesadaran itu, kantuk yang

akan datang akan dilawannya dengan sekuat tenaga.

”Apakah kau merasakan?” bertanya seorang prajurit rendahan yang

berjaga-jaga tak jauh dari Bajang Ratu.

Prajurit yang ditanyai memejamkan mata. Perlahan ia menggeleng.

Gajah Mada 208

”Aku sudah berusaha,” ucapnya, ”tetapi, aku tak menemukan bedanya.

Aku merasa udara yang mengalir kali ini sama seperti sebelumnya, tak

ada yang aneh.”

”Kau merasa mengantuk?” tanya prajurit pertama. ”Coba

kauperhatikan keadaan dengan cermat, apakah kau merasa mengantuk,

kalau ya artinya harus waspada.”

Prajurit kedua itu menggeleng. Kerut wajah dan bahasa tubuhnya

menandai bahwa prajurit rendahan itu merasa cemas.

”Perhatikan saja, kalau kau merasa kantuk datang lebih awal, itu

pertanda sirep sedang disebar. Jangan tidur, kalau kau tertidur, penjahat

itu akan dengan mudah menebas kepalamu.”

Adanya kekuatan sirep yang mencemari udara telah tersebar dari

ujung ke ujung dan mendorong siapa saja yang menerima keterangan

itu untuk memerhatikan keadaan. Ada yang mengaku bisa menandai

udara aneh itu. Namun, ada pula yang tidak merasakan apa-apa. Udara

aneh itu setidaknya telah mengusik ketenangan pejabat dharmadyaksa

kasogatan,131 yang dengan langkah perlahan menemui Gajah Mada dan

Mahapatih Arya Tadah.

Kehadiran Dharmadyaksa Kasogatan Samenaka132 mudah ditandai

dari tubuhnya yang tinggi kurus serta jubahnya yang menutup seluruh

tubuhnya. Akan tetapi, yang mengagetkan Gajah Mada adalah orang

yang datang bersama pejabat agama Buddha itu. Gajah Mada menerima

kehadirannya dengan perasaan meluap. Tiga tahun sejak apa yang

terjadi dan menimpa Prabu Jayanegara, ia menghilang lagi tak ada kabar

beritanya. Kini, orang itu terlihat lagi batang hidungnya.

Gajah Mada merasa memerlukan menyapa orang itu lebih dulu.

131 Dharmadyaksa kasogatan, Jawa Kuno, jabatan untuk petinggi yang mengurusi masalah-masalah agama

Buddha yang dijabat oleh ayah Prapanca, Sang Samenaka atau mungkin Dang Acarya Kanakamuni.

Pada masa pemerintahan Prabu Hayam Wuruk, jabatan itu dipegang oleh Prapanca yang amat diduga

ia adalah Dang Acarya Nadendra. Para ahli juga mengira Prapanca adalah nama samaran dari Winada.

132 Samenaka, nama dharmadyaksa kasogatan pendahulu Prapanca, sangat diduga ayah Prapanca.

Penulusuran Prof. Dr .Slamet Muljono juga menyebut nama Dang Acarya Kanakamuni sebagai pendahulu

Dang Acarya Nadendra.

Hamukti Palapa 209

”Dari melanglang buana ke mana saja selama ini kau, Pancaksara?”

Gajah Mada bertanya.

Pancaksara tersenyum lebar. Ia merasa senang bertemu kembali

dengan sahabat yang dikaguminya itu.

”Aku baru saja kembali dari Pulau Kalimantan,” jawab Pancaksara.

”Ada banyak kisah yang akan aku ceritakan. Rasanya, meski berharihari

aku bercerita, tak akan cukup untuk menuturkan dari awal hingga

ujung.”

Gajah Mada mengangguk dan mengarahkan hormatnya kepada

Dharmadyaksa Kasogatan Samenaka.

”Hormatku, Bapa Guru Samenaka,” ucap Gajah Mada sambil

mengangguk sedikit agak membungkuk.

Dharmadyaksa Kasogatan Samenaka mengangguk membalas

penghormatan itu, juga membalas penghormatan yang diberikan

Mahapatih Arya Tadah. Pimpinan agama Buddha itu merasa tidak perlu

menunda dengan berbasa-basi. Sang Samenaka langsung mengutarakan

persoalan yang dibawanya.

”Kedatanganku untuk memberi tahu, ada yang aneh dan mungkin

sesuatu akan terjadi malam ini, Kakang Amangkubumi,” kata Dang

Acarya Samenaka.

Gajah Mada menyimak dengan saksama ucapan Samenaka.

Demikian pula dengan Gagak Bongol yang berdiri agak jauh di belakang.

Patih Amangkubumi tidak buru-buru menjawab, dilakukan itu setelah

beberapa jenak termangu,

”Mengenai adanya orang yang menyebar sirep?” Mahapatih

Amangkubumi balas bertanya.

Sang Samenaka mengangguk.

”Kami sudah tahu, Adi Dharmadyaksa Kasogatan,” jawab

Mahapatih Arya Tadah. ”Itulah sebabnya, saat ini tengah kami lakukan

persiapan penyambutan tamu-tamu itu.”

Gajah Mada 210

Sang Samenaka menatap tajam.

”Apakah ada kaitannya dengan orang-orang yang melakukan

pembantaian sore tadi?” Sang Samenaka mengejar.

Mahapatih Amangkubumi Arya Tadah mengangguk.

”Menurut dugaan yang rupanya benar, pembakaran rumah-rumah

dan pembunuhan yang dilakukan terhadap para penduduk sepanjang

sore ini adalah untuk memancing perhatian keluar. Tujuan mereka yang

sebenarnya adalah masuk ke gedung perbendaharaan pusaka. Mereka

maling yang terlalu berani dan tak tahu diri.”

Sang Samenaka tak menampakkan perubahan wajahnya. Namun,

sebenarnya agak terkejut melihat Mahapatih Amangkubumi Arya Tadah

bisa mengetahui sampai sejauh itu.

”Ibu Suri Ratu Gayatri yang memberi tahu kami,” lanjut Tadah.

”Ooo,” gumam Dharmadyaksa.

”Barangkali Adi Dharmadyaksa Kasogatan punya saran?”

Sang Samenaka yang terdiam beberapa jenak itu kemudian

menggeleng kepala.

”Benda apakah yang akan dicuri itu, Kakang Mapatih?” tanya Sang

Samenaka yang tak bisa menutupi rasa kaget.

Mahapatih Amangkubumi Arya Tadah menoleh kepada Gajah Mada

dan meminta kepadanya menjelaskan. Gajah Mada membaca isyarat

yang diberikan kepadanya itu.

”Bersamaan dengan terjadinya gempa bumi pada malam itu,”

papar Gajah Mada, ”adalah bersamaan dengan istana kecurian. Malam

itu barangkali Bapa Dharmadyaksa Kasogatan juga menandai keadaan

seperti malam ini, yaitu adanya kekuatan sirep yang disebar untuk

menidurkan para prajurit.

Istana kehilangan dua buah pusaka penting. Yang pertama adalah

lambang negara atau cihna dan yang kedua songsong Udan Riwis yang

juga lenyap dibawa maling itu. Mungkin tidak puas dengan benda-benda

Hamukti Palapa 211

yang dicuri, mereka berusaha masuk kembali malam ini. Untuk jangan

sampai peristiwa itu terulang kembali dan untuk menangkap pelakunya

serta mengembalikan benda-benda pusaka itu ke tempatnya, malam

ini telah kami siagakan pasukan yang baris pendhem133 untuk menjebak

mereka.”

Dengan gamblang Gajah Mada menceritakan apa yang diketahuinya,

yang disimak hal itu dengan penuh perhatian oleh Dharmadyaksa

Kasogatan Samenaka dan anaknya.

Bahwa sejak malam turun, bau sirep itu melayang di udara,

sangat mencuri dan menyita perhatian Dharmadyaksa Kasogatan.

Dharmadyaksa yang memiliki pemahaman yang cukup, layak merasa

cemas karena di tangan orang yang tidak bertanggung jawab, kemampuan

macam itu bisa disalahgunakan untuk berbagai keperluan.

Mahapatih Amangkubumi Arya Tadah selanjutnya menemani

Dharmadyaksa Kasogatan berbicara banyak hal. Sementara itu, Gajah

Mada dan sahabat karibnya memilih menyendiri.

”Ada sebuah berita penting yang akan kusampaikan kepadamu.

Itu sebabnya, sejak aku mendarat di Ujung Galuh, aku berpacu bagai

kesetanan,” kata Pancaksara.

Gajah Mada memicingkan mata, ada yang janggal dirasakannya.

”Kamu berkuda, sejak kapan kamu berkuda?”

Pancaksara tertawa.

”Jika aku tidak berkuda yang aku peroleh itu dari membeli milik

seorang nelayan yang kukenal dengan baik, tamu-tamu dari Swarnabhumi

itu akan tiba lebih dulu. Siang tadi serombongan kapal besar membuang

sauh di Ujung Galuh, yang aku tahu armada itu dipimpin oleh

Aditiawarman.”

Gajah Mada memandang sahabat lamanya dengan amat lekat.

133 Baris pendhem, Jawa, pasukan dalam sikap melakukan pengintaian

Gajah Mada 212

”Kauyakin, mereka tamu dari Swarnabhumi?”

”Aku sangat yakin,” jawab Pancaksara dengan tegas. ”Aku sempat

berbicara dengan salah seorang dari mereka yang turun ke daratan.

Juga kuyakini dari tulisan yang terpahat di lambung kapal, juga

benderanya. Aku juga tahu kesulitan yang mereka alami yang ingin

melanjutkan perjalanan menyusuri sungai karena sedang kering. Menurut

perhitunganku, mereka akan datang kemari besok dengan berjalan kaki

atau berkuda.”

”Mereka membawa kuda? Tentu mereka butuh banyak kuda?”

tanya Gajah Mada.

Pancaksara menggeleng.

”Kulihat tidak. Yang kuduga, mungkin mereka berbelanja kuda lebih

dulu. Satu atau dua sampai lima ekor kuda bisa didapat dengan mudah.

Namun, tidak untuk jumlah yang banyak.”

Gajah Mada berjalan mondar-mandir mencerna keterangan baru

itu. Berita yang ia terima dari Pancaksara itu sungguh merupakan berita

yang sangat penting. Persiapan penyambutan harus dilakukan untuk

menghormati tamu-tamu dari mancanagara.134

”Kedua Prabu Putri harus diberi tahu akan datangnya tamu-tamu

penting itu,” ucapnya.

Pancaksara bergeser dan memandang puncak Manguntur sambil

membelakangi Gajah Mada yang terdiam. Kepada Gajah Mada,

Pancaksara merasa harus menumpahkan cara pandangnya.

”Aku punya pendapat, mungkin kau bisa mencerna, sekadar agar

kauwaspada,” tambah Prapanca.

”Apa?” balas Gajah Mada.

”Menurutku, tak ada salahnya kau bersikap hati-hati,” tambah

Pancaksara.

134 Mancanagara, Jawa, luar negeri

Hamukti Palapa 213

Gajah Mada balas memandang Pancaksara yang berbalik dan

menatap tajam.

”Di luar sana ada banyak negeri,” kata Pancaksara, ”yang mempunyai

pendapat, raja harus berasal dari anak permaisuri dan harus lakilaki.

Siapa tahu, kedatangan tamu kita kali ini membawa cara pandang

macam itu. Apalagi, jika mengingat yang akan datang kali ini adalah

Aditiawarman. Ketika saudara sepupunya mati dan saudara sepupunya

itu tidak meninggalkan anak laki-laki atau saudara laki-laki terdekat,

mungkin Aditiawarman merasa dirinya berada dalam urutan terdekat

untuk menggantikannya. Siapa tahu!”

Gajah Mada berpikir keras mencerna kemungkinan sebagaimana

diuraikan teman dekatnya itu.

Kenangan Gajah Mada segera terputar atas peristiwa yang pernah

terjadi dan menimpa Singasari. Kurang apa Sri Kertanegara pada waktu

itu. Raja Gelang-Gelang keturunan Kertajaya, Jayakatwang, ditempatkan

di tempat yang terhormat. Anak lelakinya bernama Ardaraja diambil

menantu, dikawinkan dengan anak bungsunya.135 Akan tetapi, apakah

balasan dari kebaikan yang diberikan itu? Ketika Singasari sedang kosong

karena para prajurit dikirim ke Sumatra dan Tumasek dengan dipimpin

oleh Lembu Anabrang, Prabu Jayakatwang yang dikipasi Banyak Wide

atau Arya Wiraraja dari Sungeneb menyerbu istana dan membuat karang

abang.136

Nafsu keserakahan untuk berkuasa mendorong Jayakatwang dari

Gelang-Gelang sanggup menggempur Majapahit. Jika lengah, serbuan

memang bisa berasal dari tempat yang tak terduga. Bisa dari musuh atau

bisa pula dari sahabat yang sebelumya mengaku teman sejati. Dengan

latar belakang macam apakah tamu-tamu yang akan datang dari ranah

Swarnabhumi kali ini?

135 Tidak ada catatan sejarah yang menyebut siapa nama anak bungsu Sri Kertanegara ini. Dalam silsilah

raja-raja Tumapel-Singasari-Kediri-Majapahit-Demak-Pajang-Mataram-Surakarta-Yogyakarta (Abad

XI-XXI) yang dikeluarkan oleh ”Tri Dharma” dan disusun oleh Tjo Sugiharto, menempatkan anak

bungsu ini sebagai istri Ardaraja dan Ardaraja adalah anak Jayakatwang.

136 Karang abang, Jawa, kekacauan dengan bakar-bakaran

Gajah Mada 214

”Ada berapa jumlah kapal yang kaulihat?” tanya Gajah Mada.

”Sepuluh,” jawab Pancaksara.

”Sepuluh?” ulang Gajah Mada. ”Muat berapa orang untuk setiap

kapal? Dua ratus orang?”

Pancaksara menggeleng lemah karena merasa tak tahu jawabnya.

”Sebuah kapal bisa memuat dua ratus orang sudah cukup besar.

Atau, andai tiga ratus orang sekalipun, berarti jumlahnya tiga ribu

orang. Dengan jumlah itu, sungguh terlalu berani jika berniat menyerbu

Majapahit,” ucapnya.

Bintang-bintang di langit yang terlihat sangat gemerlapan, bersih,

dan indah, membuat gelisah karena kerinduan justru sedang tertuju

kepada mendung dan hujan. Gajah Mada yang sedang berpikir itu

mendongak ke langit karena suara cataka terdengar menyayat. Burung

yang minum dari tetes-tetes hujan itu rupanya sungguh menderita.

Akan tetapi, burung cataka itu segera menghentikan keluh-kesahnya.

Ada sebuah firasat kuat, hujan akan turun di sebuah tempat. Maka,

dengan segera ia mengayuh udara melalui kepakan sayapnya yang tak

berkesudahan. Burung cataka itu rupanya tahu di Ujung Galuh akan

turun hujan.

”Majapahit membutuhkan kapal-kapal macam itu, bahkan dengan

jumlah yang banyak,” kata Gajah Mada.

Pancaksara mengerutkan dahi.

”Untuk bisa menjadi negara yang besar,” lanjut Gajah Mada,

”Majapahit harus memiliki prajurit yang tangguh di darat maupun di

lautan. Rasanya, tak sabar aku ingin tahu seperti apa bentuk kapalkapal

dari Swarnabhumi itu. Kuucapkan terima kasih atas keterangan

yang kauberikan itu, Pancaksara. Esok akan aku minta dilakukan

geladi perang secara utuh berkekuatan segelar sepapan. Kekuatan yang

dimiliki Majapahit itu akan aku pamerkan kepada para tamu agar

mereka berpikir dua kali jika berniat seperti kecurigaanmu, termasuk

Hamukti Palapa 215

andaikata Aditiawarman merasa dirinya yang paling layak dan berhak

menggantikan saudara sepupunya.”

Pancaksara bisa menerima apa yang dikatakan Gajah Mada itu, tetapi

ada bagian yang menarik dan Gajah Mada belum menuntaskan.

”Kalau boleh aku tahu, bagaimana masa depan Majapahit yang

kauinginkan?”

Gajah Mada berbalik. Dalam siraman cahaya obor, terlihat betapa

besar semangat yang terbaca dari wajahnya.

”Kau yang punya kegemaran menjelajah ke mana-mana, seberapa

luas dunia ini menurutmu?” tanya Gajah Mada.

Pancaksara terpaksa tersenyum karena pertanyaannya tidak berjawab.

Sebaliknya, Gajah Mada malah balas bertanya.

”Luas sekali, ada banyak pulau besar dan kecil,” jawab Pancaksara.

”Seberapa banyak? Ada berapa ratus?” Gajah Mada mengejar.

”Ratus?” Pancaksara tersenyum. ”Ada banyak, ribuan, membentang

dari timur ke barat dari utara ke selatan. Di lautan luas ada banyak nusa

yang sambung-menyambung. Namun, ada pula wilayah lautan luas

yang bagai tidak berujung, mungkin di ujungnya sana air laut tumpah

ke bawah.”

Gajah Mada menyimak.

”Terus, ada berapa banyak kerajaan?”

”Tak terhitung. Di wilayah Nusantara saja ada banyak negara dengan

raja-rajanya. Belum lagi yang berada di atas angin. Konon, di daerah atas

angin, manusianya tidak seperti kita. Orang-orang di atas angin raksasa

semua dengan rambut jagung dan mata biru. Butuh puluhan bulan atau

tahun perjalanan untuk bisa bertemu dengan mereka.”

Gajah Mada menyimak cerita itu dengan amat berminat.

”Negeri apa saja yang telah kaukunjungi atau setidaknya sudah

kauketahui?” tanya Gajah Mada.

Gajah Mada 216

”Ada banyak sekali. Di Sumatra ada Jambi,137 Palembang,

Dharmasraya yang pernah menjadi sahabat Singasari, ada Kandis,

Kahwas, Siak, Rokan, Mandailing, Panai, Kempe, Haru, Temiang, Parlak,

Samudra, Lamuri, Barus, Batan, dan negeri Lampung. Semua negeri

besar dan kecil itu umumnya hidup dengan damai, berdampingan saling

melengkapi melalui hubungan perdagangan. Namun, ada juga yang

bermusuhan dan terlibat perang.”

Patih Gajah Mada takjub mendengar itu. Kegemarannya bepergian

dari satu tempat ke tempat lain, menjadikan Pancaksara mempunyai

perbendaharaan pengetahuan yang luas sekali.

”Sudah kaukunjungi semua negara-negara yang kausebut itu?”

tanya Gajah Mada.

Pancaksara menggeleng.

”Darmasraya, Jambi, dan Lampung sudah aku kunjungi. Selebihnya

kulewati atau aku tidak menyadari sedang berada di negara mana karena

tidak adanya batas yang jelas antara negara satu dengan lainnya.”

”Lalu?” tambah Gajah Mada. ”Negeri bernama apa saja yang

kautemukan di tanah Kalimantan?”

”Kita menyebutnya Kalimantan,” jawab Pancaksara. ”Namun, orang

di sana menyebut pulaunya sebagai Tanjung Pura. Aku mencatat ada

negeri, seperti Kapuas,138 Katingan, Sampit, Kota Lingga, Kota Waringin,

Sambas, Lawai, Kandangan, lalu Singkawang, Tirem, Landa, Sedu,

Barune, Sukadana, Seludung, Solot, Pasir, Barito, Sawaku, Tabalung,

Tanjung Kutai, dan Malano. Mungkin masih ada lagi negeri-negeri yang

belum kuketahui namanya karena demikian banyaknya.”

Jawaban itu memaksa Gajah Mada termangu. Tentulah membutuhkan

kerja keras dan bala tentara darat dan armada laut yang amat besar untuk

137 Jambi, Palembang, dan seterusnya, nama-nama negara di Sumatra yang nantinya dikuasai oleh Majapahit

pada zaman keemasannya sebagaimana diterangkan Negarakertagama pupuh XIII dan XIV.

138 Kapuas, Katingan, dan seterusnya, nama-nama negara di Pulau Kalimantan yang nantinya menjadi

bagian dari wilayah Majapahit sebagaimana dituturkan Empu Prapanca dalam Negarakertagama pupuh

XIII dan XIV.

Hamukti Palapa 217

bisa mempersatukan semua wilayah itu. Selebihnya adalah biaya yang

juga sangat besar dan pengorbanan melebihi kepentingan mana pun.

”Bagaimana dengan Hujung Medini?”139 tanya Gajah Mada.

”Kaumiliki pula pengetahuan tentang wilayah itu?”

Pancaksara mengangguk.

”Ada beberapa negara besar dan kecil di Hujung Medini,” Pancaksara

berkata. ”Ada Pahang,140 Langkasuka, Kelantan, Saiwang, Nagor, Paka,

Muar, Dungun, Tumasek, Kelang, Kedah, Jerai. Karena keramahtamahannya,

sifat suka damai, dan tak senang perang, nyaris semua

negeri di Hujung Medini telah kudatangi semua.”

Patih Gajah Mada mengangguk dengan tatapan mata takjub.

Minatnya terhadap apa yang diceritakan Pancaksara makin menjadi.

Meski belum memiliki gambaran, ke depan, Gajah Mada berharap

akan memiliki kesempatan mengunjungi tempat-tempat yang dimaksud

itu.

”Terakhir, bagaimana dengan wilayah di daerah tempat matahari

berasal?”

Pancaksara meliukkan badan untuk menipu penat setelah menempuh

perjalanan panjang. Orang lain mungkin jera menempuh perjalanan

hingga ke ujung dunia. Namun, tidak demikian dengan Pancaksara.

Keinginan melihat banyak negeri dari satu tempat ke tempat lain

menyebabkan Pancaksara kebal dari penat. Melihat indahnya gunung dan

ngarai, lembah dan sepanjang pantai berpasir, membuatnya bergairah

dan dipenuhi rasa ingin tahu dan mengalahkan segala rasa penat itu.

Kenangan Pancaksara tertuju pada beberapa wilayah yang dari sana

matahari muncul. Ada beberapa negeri di daerah itu yang dicatatnya,

tetapi tak semua dikunjungi. Di tempat-tempat itulah, Pancaksara

banyak melihat hal-hal tak masuk akal dan bahkan nyaris merenggut

nyawanya.

139 Hujung Medini, penyebutan Semenanjung Melayu

140 Pahang, Langkasuka, dan seterusnya, nama-nama negara di Semenanjung Melayu yang nantinya menjadi

bawahan Majapahit sebagaimana liputan Prapanca dalam Negarakertagama pupuh XIII dan XIV.

Gajah Mada 218

Di ujung paling timur perjalanannya, ia harus lari lintang pukang

kembali ke dalam kapal karena dikejar-kejar dan akan dibantai oleh orang

yang berkulit sangat hitam. Hitam warna arang sama dengan warna kulit

orang-orang itu.

Pancaksara yang menengadah mengarahkan tatapan matanya ke

sebutir kartika. Ia lakukan itu sambil mengumbar kenangannya ke masa

lalu.

”Di timur Jawa ini tentu saja ada Bali,” kata Pancaksara. ”Berturutturut

nama negeri yang ada adalah Bedahulu,141 Lo Gajah, Gurun,

Sukun, Taliwung, Dompo, Sapi, Gunung Api, Seram, Hutan Kadali,

Sasak, Bantayan, Luwuk, Makasar, Buton, Banggawi, Kunir, Galian,

Salayar, Sumbar, Muar, Solor, Bima, Wandan, Ambon Maluku, Wanin,

Seran, dan Timor.

Wilayah negara-negara di timur itu amat luas. Di wilayah paling

timur ternyata matahari masih terbit di timurnya lagi. Jika kau berlayar

berbulan-bulan lamanya, akan sampai di sebuah tempat bernama Seran.

Di sana penduduknya berambut demikian keriting sampai tak bisa disisir

memakai serit.142 Di samping rambutnya sangat keriting, orang Seran

dan Onin berkulit sangat hitam, sangat berbalikan dengan matanya

yang putih.

Di Seran aku nyaris dibantai oleh penduduk yang tak jelas apa

penyebabnya, entah sekadar salah paham ataukah mereka gemar

memangsa manusia. Namun, tidak jauh dari tempat itu, orang Onin

mempunyai sikap yang berbeda dan lebih ramah. Sebulan lamanya aku

tinggal, belajar, dan bergaul dengan orang Onin. Namun, apa pun daya

upaya yang aku lakukan, aku tak mampu memahami bahasa mereka.”

Hening menggeratak membuat senyap itu bertambah senyap. Apa

yang dituturkan Pancaksara makin memancing minat Gajah Mada untuk

141 Bedahulu, Lo Gajah, dan seterusnya, nama-nama negara di sebelah timur Jawa yang nantinya menjadi

bawahan Majapahit pada zaman keemasannya sebagaimana ditulis Prapanca dalam Negarakertagama

pupuh XIII dan XIV.

142 Serit, Jawa, jenis sisir yang begigi amat rapat biasanya digunakan membersihkan kutu rambut.

Hamukti Palapa 219

bisa mengunjungi daerah itu secara langsung dan mempersatukannya

dalam sebuah ikatan yang tidak terpisah. Angan-angan untuk bisa

menyatukan semua negara di wilayah Nusantara itu tidak sekadar

mengusik hatinya, tetapi menjadi mimpi abadi yang akan selalu

mengunjunginya setiap tidur, menyelinap tiap melamun.

Kembali Gajah Mada terdiam. Mimpi yang membenam di benaknya

membuatnya gelisah.

”Seberapa jauh kau menjelajah ke arah timur? Masih adakah timur

lagi?” tanya Gajah Mada.

”Perjalananku hanya sampai di Seran dan Onin!” Pancaksara

membalas. ”Tetapi, yang paling menarik bagiku adalah sebuah pulau

yang banyak sekali dihuni oleh kadal besar. Dari Bali ke timur ada

Penida, Lombok, dan terus ke Taliwang, dan ke timur lagi, di tempat

itulah binatang aneh itu tinggal. Tak ada manusia di sana karena habis

dimakan binatang itu.”

Gajah Mada penasaran. Seekor kadal, Gajah Mada tentu tahu, tetapi

kadal raksasa yang mampu memakan manusia, itu berarti kadal itu harus

berukuran jauh lebih besar dari manusia. Padahal, kadal-kadal yang sering

dilihat dan ditemuinya berukuran kecil saja, paling besar seukuran tokek

atau dua kali jempol kakinya.

”Adakah kadal yang lebih besar dari manusia?” tanya Gajah Mada

heran.

”Aku melihatnya sendiri. Yang paling besar bisa setinggi kerbau

berdiri dengan panjang lebih panjang dari buaya, lebih kekar dan

mengerikan dari buaya!” Pancaksara menjawab.

Seberapa hebat dan dahsyat binatang bernama komodo itu bukan

hal yang sangat menyita perhatian Gajah Mada, tetapi seberapa luas

wilayah yang ia sebut Nusantara itu. Minatnya untuk mengetahui

sebarapa luas, membentang dari mana ke mana, dan berapa waktu yang

diperlukan untuk mengelilinginya, pertanyaan-pertanyaan macam itu

yang sedang ia butuhkan jawabnya.

Gajah Mada 220

Jika menengok ke belakang, Singasari yang demikian besar ternyata

harus kelabakan menghadapi Tartar. Maka, Majapahit harus bisa lebih

besar lagi. Seluruh negara di Jawa harus disatukan. Lalu, seluruh negara

di wilayah Hujung Medini juga diikat menjadi satu kesatuan. Demikian

pula dengan semua negara yang berada di daerah matahari terbit dan

matahari terbenam. Dengan kebesaran macam itu maka negeri Tartar

atau negeri mana pun harus berpikir seribu kali jika berniat melebarkan

wilayah sampai ke wilayah Nusantara.

”Kau belum menjawab pertanyaanku, Majapahit macam apa yang

kelak kauinginkan?” Pancaksara mendahului bertanya sebelum Gajah

Mada bertanya.

Pandangan Gajah Mada menerawang serasa mengintip jauh ke masa

depan, ke wilayah mimpi yang hendak diraih.

”Tak ada salahnya aku berangan-angan,” ucap Gajah Mada.

”Kelak Majapahit akan menjadi negara yang besar, lebih dari sekadar

negara besar, tetapi sangat besar. Aku berangan-angan, Majapahit nanti

menguasai wilayah seluruh Nusantara mulai dari ujung barat ke ujung

timur, ke semua wilayah yang kausebut itu, bahkan andai masih ada lagi

wilayah yang belum tersebut. Aku bermimpi Majapahit kelak membawahi

mereka. Itulah sebabnya, Majapahit harus memiliki angkatan perang

yang kuat dan armada yang besar.”

Gajah Mada menghentikan ucapannya sejenak untuk menarik

napas.

”Jika Swarnabhumi mampu membuat kapal-kapal dengan ukuran

besar sebagaimana kaugambarkan,” lanjut Gajah Mada, ”tidak ada

salahnya Majapahit berguru ke Swarnabhumi. Jika perlu, kita datangkan

empu pembuat kapal itu, atau kita kirim para pembuat kapal kita ke

Swarnabhumi untuk belajar. Ke depan, aku bermimpi, Majapahit tidak

hanya negeri yang besar, tetapi sekaligus kaya raya yang semua rakyatnya

hidup makmur, murah sandang dan murah pangan, hidupnya tenteram,

tenang, dan damai.”

Pancaksara termangu, terjebak antara rasa takjub dan heran, atau

mungkin geli melihat Gajah Mada berangan-angan demikian tinggi.

Hamukti Palapa 221

Angan-angan yang sungguh tidak masuk di akal. Namun, Pancaksara

yang baru saja kembali dari perjalanan panjang itu tak bisa mengendalikan

rasa takjubnya oleh banyak kemajuan yang terjadi, jalan-jalan dibuat rata

dan halus dengan pembangunan saluran-saluran air dan bendungan.

Hanya sayang, kemarau panjang yang terjadi kali ini memang sulit

disiasati.

”Kulihat ada banyak kemajuan yang terjadi,” ucap Pancaksara.

”Perubahan yang mana?” balas Patih Gajah Mada.

”Kulihat pembangunan maju pesat. Yang aku dengar, hubungan

Majapahit di pusat dengan sebelas negara bawahan sangat lancar karena

jalan-jalan baru dibangun dan dipadatkan, hilir mudik perdagangan

tak seperti beberapa tahun yang lalu. Ada perubahan pejabat-pejabat

penting. Yang menempati kedudukan penting berasal dari kalangan

muda, bukan para kakek lagi kecuali ayahku!” Pancaksara mengakhiri

rangkaian ucapannya sambil tersenyum.

Pada dasarnya ketenteraman berhubungan erat dengan perdagangan.

Jika negara Majapahit dalam keadaan tenteram dan tak banyak gangguan

dari para penjahat, bukan hanya di dalam negeri saja yang lancar,

perdagangan melalui pintu gerbang pelabuhan Ujung Galuh dan Tuban

bahkan terjalin amat erat dengan para saudagar dari Jambudwipa,

Kamboja, Yawana, Cina, Siam, Goda, sampai di Karnataka.143

Di Jawa, tak habis-habisnya Gajah Mada mengupayakan hubungan

antara satu wilayah negara bawahan dengan negara bawahan yang

lain dan pusat berjalan lancar. Untuk kebutuhan hubungan itu telah

dibentuk pasukan berkuda khusus, yang bekerja sambung-menyambung

menghubungkan semua negara bawahan, atau bahkan dengan cara

yang lebih cepat lagi melalui burung merpati yang sangat berjasa dalam

menyalurkan perintah atau undangan untuk hadir di istana.

Patih Gajah Mada juga memanfaatkan jalur laut sehingga perintah

yang harus dikirim ke Blambangan yang terletak di ujung timur Jawa

143 Karnataka, Mysore, India

Gajah Mada 222

bisa sampai ke tujuan tak lebih dari dua hari. Perahu kecil dengan layar

lebar terkembang yang melesat didorong angin bisa jauh lebih cepat dari

seekor kuda yang berderap di daratan, kecuali untuk negara bawahan

yang berada di kedalaman, ke Singasari misalnya.

Majapahit memiliki sebelas negara bawahan dan lima mancanagara.144

Sebelas negara bawahan itu adalah Daha yang masih menempatkan Prabu

Putri Dyah Wiyat Rajadewi Maharajasa sebagai pemangkunya, Wengker

diperintah oleh Prabu Wijaya Rajasa, suami Prabu Putri Dyah Wiyat,

sebagai pemangku wilayah itu. Kemudian Matahun, Lasem, Pajang,

Paguhan, dan Kahuripan yang meski Sri Gitarja Tribhuanatunggadewi

Jayawisnuwardhani telah menjadi Prabu Putri, masih menjadi pemangku

wilayah tersebut.

Negara-negara bawahan yang lain adalah Singasari, Mataram,

Blambangan, Pawanuhan, dan Pamelekehan. Khusus Pamelekehan

memperoleh perhatian khusus dari Istana Majapahit karena peran

sertanya yang paling menonjol untuk urusan apa pun. Demikian pula

dengan penyerahan upeti, nilainya tak pernah tertandingi oleh negara

bawahan mana pun. Kedekatan Raja Pamelekahan dengan kedua Prabu

Putri menyebabkan anaknya, Rakrian Kembar, memperoleh kedudukan

khusus di keprajuritan. Walau ia beberapa kali melakukan kesalahan,

selalu mendapat ampunan.

Untuk mengatur pemerintahan agar berjalan lancar, dikuasakan

kepada lima orang pejabat utama yang disebut Sang Panca Ri Wilwatikta.

Dalam menunjuk siapa orang-orang yang mengisi kedudukan Sang

Panca Ri Wilwatikta, Gajah Mada yang tidak sabar ingin segera meraih

kemajuan, mengusulkan orang-orang yang masih muda dan sanggup

bekerja keras. Demikian pula pada tingkat jabatan mantri wredha145 yang

lain, yang berasal dari para tandha pilihan, termasuk para mahamenteri

144 Mancanagara, ketika hanya berkuasa di Jawa, di samping memiliki sebelas negara bawahan, Majapahit

memiliki lima wilayah khusus yang bisa disetarakan dengan provinsi pada zaman sekarang, yang dibagi

menurut arah kiblat, yaitu timur, selatan, barat, utara, dan pusat (bandingkan dengan DKI Jakarta) yang

masing-masing diperintah juru pengalasan bergelar rakrian. Di samping juru pengalasan, mancanagara

juga bisa dipimpin seorang adipati. Pada zaman sekarang mancanagara berarti luar negeri.

145 Mantri wredha, menteri senior

Hamukti Palapa 223

Katrini. Di samping jabatan-jabatan penting itu, masih ada tujuh orang

Uppapati.

”Ketika aku berangkat menempuh perjalanan panjang setelah

kematian Prabu Sri Jayanegara, yang menjabat Rakrian Menteri Hino

masih Paman Dyah Sri Rangganata, yang memangku jabatan Rakrian

Menteri Sirikan adalah Paman Dyah Kameswara. Sementara itu, yang

memangku Rakrian Menteri Halu adalah Paman Dyah Wismanata.

Saat aku pulang, semua nama itu telah lengser, padahal menurut

penilaianku, Paman Dyah Wismanata masih cukup muda dan tangkas,”

kata Pancaksara.

Gajah Mada belum segera menjawab, tatapan matanya yang

menerawang menjadi pertanda ia sedang teringat sesuatu.

”Sudah tahu siapa Rakrian Menteri Hino sekarang?” tanya Gajah

Mada.

Pancaksara mengangguk.

”Dyah Janardana,” jawab Pancaksara. ”Yang lain aku belum!”

”Kedudukan orang-orang pada jabatan penting itu memang hasil

campur tanganku dan Sang Prabu Putri menyetujui. Kepada kedua

Prabu Putri, aku menyarankan untuk menempatkan Dyah Mano sebagai

Rakrian Menteri Sirikan dan Dyah Lohak untuk menduduki kursi Rakrian

Menteri Halu. Mereka semua terbukti orang-orang yang bisa bekerja

keras. Boleh dikata, kemajuan yang kausebut karena hasil kerja keras

orang-orang itu.”

Pancaksara takjub. Pancaksara sependapat bahwa dalam beberapa

hal, orang tua lamban dalam bekerja, apalagi orang tua yang sudah terlalu

lama menduduki jabatan dengan kursi empuk, yang menjadikannya tidak

peka terhadap tuntutan perubahan dan keinginan orang banyak.

Hening yang mengalir menemani dua sahabat itu membawa sang

waktu menukik kian tajam.

Gajah Mada dan Pancaksara mendadak tersadar, suara kentongan

yang semula telah mereda kini bergema lagi. Berada pada jarak cukup

Gajah Mada 224

dekat dari Candi Brahu, tampak api menjilat-jilat, asapnya membubung

tinggi. Serpih kayu yang terbakar, apinya ikut terbang ke langit terbawa

angin.

”Malam ini kami akan kedatangan tamu tidak diundang. Jika

ingin mendapatkan bahan untuk semua catatanmu, jangan jauh-jauh

dariku.”

16

Api yang menyala membakar sebuah rumah tak jauh dari Candi

Brahu akhirnya padam dengan sendirinya. Sekitar sepuluh orang

prajurit yang mendatangi lagi-lagi hanya menemukan jejak. Gerakan

serombongan orang yang membuat kekacauan itu rupanya sangat cepat

dan trengginas dan pasti dilakukan oleh orang yang sangat terlatih.

Siapa pun mereka, yang jelas berkesanggupan melakukan tindakan yang

sangat kejam. Nyawa orang yang menjadi korban tak ada artinya. Hal

itu menumbuhkan pertanyaan, latar belakang macam apa yang dimiliki

sehingga seseorang mampu berbuat seperti itu?

”Rumah siapa yang terbakar?” tanya pimpinan prajurit yang

mendatangi.

”Rumah Ki Rangga Surya, Tuan,” jawab tetangga pemilik rumah

yang malang itu.

”Mana Ki Rangga Surya?” tanya prajurit itu lagi.

”Mati, Tuan, mayatnya dilempar ke dalam api.”

”Berapa orang pelakunya?”

”Dua orang, Tuan!”

Hamukti Palapa 225

Jawaban itu berbeda dari keterangan yang sebelumnya diperoleh

bahwa tindakan kejam itu dilakukan oleh serombongan terdiri atas lima

orang. Seorang di antaranya laki-laki yang berusia sangat tua, yang meski

tua, cukup tangkas berkuda. Menilik dugaan, orang yang paling tua

itulah yang melepas kekuatan sirep. Kemampuan sirep harus dilandasi

oleh laku kebatinan yang umumnya dikuasai oleh orang yang makin tua

usianya. Penguasaan kemampuan yang demikian membutuhkan waktu

yang lama, sampai bertahun-tahun.

Laporan itu segera sampai ke telinga Senopati Gagak Bongol yang

disimak pula oleh Gajah Mada.

”Dua orang membuat kekacauan untuk mencuri perhatian, tiga

orang yang lain mungkin berada tak jauh dari tempat ini. Apakah menurut

Kakang Gajah Mada, aku perlu mengirim makin banyak orang untuk

memburu mereka?” tanya Gagak Bongol.

Gajah Mada tak segera menjawab. Ia perhatikan suasana malam

dengan udara yang mengalir aneh itu.

”Ada dua hal yang harus kaucermati dengan baik, Gagak Bongol,”

kata Gajah Mada. ”Bahwa tujuan kekuatan sirep itu dilepas adalah agar

para prajurit tertidur. Kalau kaukirim lebih banyak prajurit keluar, orang

yang melepas getar kekuatan aneh di udara ini akan berpikir sirepnya

gagal. Kebakaran itu dilakukan untuk menguji sejauh mana kekuatan

sirep itu bekerja. Menurutku, sebaiknya kauperintahkan kepada segenap

prajurit untuk tetap baris pendhem, jangan sampai terlihat. Beberapa orang

di pintu Purawaktra dan di Waringin Lawang, tak ada salahnya berpurapura

tertidur. Kamu tidak perlu mengirim prajurit keluar.”

Gagak Bongol sependapat dan tak merasa harus menunda lagi

perintah itu. Para prajurit yang menyalurkan perintah tidak boleh

menggunakan kuda dan harus berjalan kaki agar tak tampak jejak

kehidupan sama sekali. Para prajurit penghubung itu sudah amat tahu

apa yang harus dikerjakan. Bagai bayangan hantu, mereka menyalurkan

perintah tanpa melalui membubungnya panah sanderan memanjat

langit.

Gajah Mada 226

”Ada perintah yang harus dikerjakan!” kata prajurit penghubung

yang telah tiba di gerbang Purawaktra.

”Apa?” tanya pimpinan prajurit yang mengawal pintu gerbang.

”Senopati Bongol memerintahkan supaya prajurit di pintu gerbang

berpura-pura tidur. Maksudnya supaya orang yang menyebar sirep itu

mengira kekuatan sirep yang disebar mengenai sasaran.”

”Wah, kita disuruh tidur?” prajurit yang lain nyeletuk sambil

menguap.

”Ya!”

”Kalau kebablasan bagaimana?”

”Kepalamu akan dipenggal penjahat itu!”

Sebenarnyalah di suatu tempat tak jauh dari Purawaktra, seorang

lelaki tua sedang menunggu empat lelaki lain yang menyebar. Yang

seorang kemudian datang dan disusul dengan yang seorang lagi. Lelaki

tua itu tak memiliki sisa rambut yang berwarna hitam, semuanya

telah memutih dan dibiarkan terurai tidak digelung keling. Yang agak

mengerikan dari penampilannya, bulatan mata sebelah kiri lelaki tua itu

telah memutih. Untuk melihat, ia hanya mengandalkan mata kanannya

yang agak kabur. Yang luar biasa dimiliki orang itu adalah kemampuannya

memerhatikan apa pun yang terjadi dengan menggunakan ketajaman

telinganya. Untuk menempuh perjalanan panjang dengan kuda, lelaki tua

itu harus dibantu. Berkuda sendirian tak mungkin dilakukan. Berkuda

harus ia lakukan dengan berombongan.

”Apa yang kaulihat, Bremoro?” tanya lelaki yang paling tua.

Orang kedua yang dipanggil dengan nama Bremoro tidak menunda

waktu untuk menyampaikan pendapatnya.

”Sirep yang Kiai Wiragati lepas rupanya terlalu kuat untuk dilawan.

Aku lihat beberapa prajurit di pintu gerbang barat sudah bergelimpangan.

Agaknya dengan sangat mudah istana memang sudah bisa dimasuki,”

kata Bremoro.

Hamukti Palapa 227

Lelaki tua yang dipanggil dengan nama Wiragati itu tidak dengan

segera menelan laporan itu. Perhatiannya diberikan kepada orang ketiga,

orang yang datang belakangan yang meski malam terasa dingin, tubuhnya

bersimbah keringat.

”Kamu, Udan Tahun?”

”Aku melihat di tempat lain juga demikian, Kiai,” jawab Udan

Tahun. ”Aku tidak mendengar suara anak panah, juga tidak ada isyarat

menggunakan tiruan suara burung. Kebakaran dan pembantaian yang

kita timbulkan tidak memancing para prajurit keluar. Di Waringin

Lawang, kulihat sepi sekali. Beberapa prajurit mondar-mandir, beberapa

yang lain bergelimpangan. Yang mondar-mandir itu nantinya akan segera

menyusul tertidur.”

Namun, Wiragati yang berusia lebih dari tujuh puluh tahun itu

tidak menerima laporan itu begitu saja. Wiragati tahu dan sangat yakin,

di dalam lingkungan istana ada orang yang mampu mementahkan

pengaruh sirepnya dengan mudah. Orang itu adalah Ibu Suri Gayatri,

yang dengannya ia merasa perlu berurusan.

Sirep yang dilepas akan menyebabkan orang yang menjadi sasaran

merasa mengantuk dan tertidur. Akan tetapi, jika kekuatan sirep itu

menyentuh simpul saraf perasa Ibu Suri Gayatri, hal itu justru akan

membangunkannya. Sebagai seorang biksuni yang telah terbiasa dalam

olah semadi, bukan hal yang sulit baginya untuk mementahkan sirep dan

bahkan mengembalikan dalam bentuk serangan balik.

Waktu mengalir dengan sangat lambat bagi mereka yang sedang

menunggu dan terlalu cepat bagi mereka yang sedang memadu kasih.

Di langit, bintang-bintang dengan jumlah tak terhitung beradu jernih.

Bulan sepenggal yang muncul sejak senja telah tak tampak jejaknya sama

sekali. Setelah menunggu beberapa saat lamanya, dua orang lagi yang

telah lama ditunggu datang bergabung. Menilik mereka datang berjalan

kaki, berarti kudanya disembunyikan di tempat yang aman.

Suara melengking terdengar di langit tinggi.

”Suara apa itu?” tanya Kiai Wiragati.

Gajah Mada 228

Dua orang yang baru datang, Panji Hamuk dan Lanjar Manuraha,

ikut menyimak.

”Nah, itu!” kata Kiai Wiragati sekali lagi.

”Itu cataka, Kiai!” jawab Lanjar Manuraha.

Suara yang melengking di langit itu benar milik cataka dan hal itu

menyebabkan Kiai Wiragati menjadi tidak nyaman. Cataka berteriak

karena ia memiliki mata yang amat tajam dan mungkin melihatnya.

Apalagi, cataka itu terbang sangat rendah, tidak sebagaimana

kebiasaannya. Orang yang mampu menandai kebiasaan cataka akan

segera menarik simpulan adanya orang yang melakukan perbuatan tak

sewajarnya.

Terhadap maling atau rampok yang akan menggarong orang,

cataka akan dengan senang hati memberi tahu keberadaan orang-orang

dengan niat jahat itu. Anehnya, cataka tidak akan berteriak terhadap

orang-orang yang tidak berniat jahat. Melihat orang sibuk di sawah saat

tengah malam, cataka tidak mau menyumbangkan suara lengkingannya.

Sebaliknya dengan burung bence, burung jenis ini bahkan akan berteriak

meski yang dilihat hanya seekor kucing yang sedang mengendap-endap

akan memangsa tikus.

”Bagaimana, Kiai. Sudah waktunya kita masuk ke dalam istana?”

tanya Lanjar Manuraha.

”Kita tunggu beberapa saat lagi!” jawab Kiai Wiragati.

Waktu yang bergeser sejengkal dipergunakan oleh Kiai Wiragati

untuk menguji keadaan. Kekuatan sirep yang dilepas ke udara makin

tajam. Pada ukuran itu, Kiai Wiragati yakin, tak seorang pun yang mampu

memberi perlawanan. Orang setangguh apa pun pasti ambruk.

Di dalam lingkungan istana, dengan berdebar-debar, Gajah Mada

menunggu apa yang akan terjadi. Gajah Mada yang kini berhadapan

langsung dengan jenis kekuatan sirep itu akhirnya tak lagi menyalahkan

kehilangan yang terjadi atas dua benda pusaka yang dianggap penting

beberapa hari yang lalu.

Keadaan yang dihadapi memang tidak sewajarnya.

Hamukti Palapa 229

”Ternyata ada orang yang menguasai ilmu aneh macam ini,” gumam

Gajah Mada.

Namun, Gajah Mada mampu menguasai rangsang kantuk

yang mengganggunya. Pada awalnya rangsang kantuk itu memang

mengganggu. Namun, pada akhirnya Gajah Mada mampu membebaskan

diri dengan sempurna. Jika Gajah Mada yang kukuh tanggon harus

berjuang sekuat tenaga untuk melawan, lalu bagaimana dengan prajurit

yang lain? Gajah Mada cemas memikirkan hal itu.

Dalam keadaan yang demikian, seorang berlari-lari melintas.

”Apa yang kaulaporkan?” tanya Gajah Mada.

”Aku berhasil!” jawab Bhayangkara Jayabaya.

”Berhasil bagaimana?” tanya Gagak Bongol.

”Aku berhasil menemukan orang-orang itu!” jawab Bhayangkara

Jayabaya.

”Di mana orang-orang itu?” tanya Gagak Bongol.

”Mereka terdiri atas lima orang. Masing-masing dimulai dari yang

paling tua bernama Wiragati, lalu ada anak buahnya yang bernama Udan

Tahun, Panji Hamuk, dan Lanjar Manuraha, juga ada yang bernama

Bremoro. Keterangan itulah yang aku peroleh, selebihnya apa urusan

dan latar belakang mereka menyanyikan tembang onar, aku juga ingin

segera mengetahuinya.”

Gajah Mada dan Gagak Bongol merasa takjub. Sebagai telik sandi,

Bhayangkara Jayabaya memang memiliki kemampuan mengendus

melebihi ketajaman lidah ular dan ketajaman mata jauh lebih tajam dari

mata milik kalangkyang. Sebagai seorang telik sandi, Jayabaya seolah diberi

anugerah panggrahita yang tajam.

”Bagaimana kamu bisa mengetahui sampai sejauh itu?” tanya

Gagak Bongol.

”Karena aku berhasil mendekati para pelaku onar itu sampai pada

jarak yang amat dekat. Aku bisa mendengar pembicaraan mereka dengan

amat jelas,” tambah Jayabaya dengan sikap sigap.

Gajah Mada 230

”Di mana sekarang mereka berada?” tanya Gagak Bongol.

”Di utara, di belakang pagar rumah Kakang Gajah Mada!”

Gajah Mada benar-benar terkejut.

”Di belakang rumahku?” tanya Gajah Mada.

”Ya!” jawab Bhayangkara Jayabaya.

Keterangan yang diberikan Bhayangkara Jayabaya itu benar-benar

menyebabkan Gajah Mada terkejut. Semula Gajah Mada mencoba

menerka di mana orang-orang yang akan membuat onar di lingkungan

istana itu mempersiapkan diri. Gajah Mada menduga, mereka di suatu

tempat entah di mana, tetapi bisa mengawasi pintu gerbang Purawaktra

dengan leluasa. Ternyata, justru persiapan itu dilakukan di belakang

rumahnya yang sedang dibangun kembali setelah runtuh diguncang

gempa dahsyat.

”Langkah apa yang akan kaulakukan?” tanya Gajah Mada kepada

Bongol.

”Bagaimana kalau kusiapkan pasukan untuk menyerbu?” balas

Gagak Bongol.

Gajah Mada ternyata menggeleng.

”Aku punya saran,” ucap Gajah Mada.

”Bagaimana, Kakang Gajah Mada?” balas Gagak Bongol.

”Siapkan jebakan. Biarkan orang-orang itu menganggap kita semua

tertidur dan berhasil masuk ke dalam gedung perbendaharaan pusaka.

Bikin mereka bisa masuk, tetapi tak bisa keluar.”

Gagak Bongol yang termangu itu kemudian tersenyum.

”Baik, aku salurkan perintahku.”

Perintah telah tersalurkan sampai ke ujung. Puluhan prajurit

Bhayangkara ditata bergelimpangan di mana-mana, tetapi sebenarnya

tak jauh dari gedung perbendaharaan pusaka dan bisa bergerak cepat

untuk membuat kepungan saat perintah dijatuhkan. Demikian juga para

Hamukti Palapa 231

prajurit pengawal khusus yang bertugas mengamankan istana Prabu

Putri Sri Gitarja dan istana Prabu Putri Dyah Wiyat. Penambahan

kekuatan pengamanan dua istana itu berasal dari para prajurit yang

ditarik dari Tatag Rambat dan dari beberapa tempat yang berdasar

perhitungan tidak akan didatangi oleh orang-orang yang membuat

onar itu.

Pun demikian pengawalan terhadap istana Ibu Suri Gayatri dan Ibu

Suri Tribhuaneswari, para prajurit diatur bergelimpangan sedemikian rupa

seolah-olah tidak seorang pun yang mampu bertahan tetap melek.

”Tamu itu akan segera datang?” Mapatih Arya Tadah meminta

keterangan dari Gajah Mada.

”Benar, Paman,” jawab Gajah Mada.

Rupanya ada sesuatu yang membebani pikiran Arya Tadah.

”Tiba-tiba aku mempunyai dugaan yang meresahkan atas siapakah

sesungguhnya tamu yang akan datang ini, Gajah Mada. Oleh karena itu,

kuminta tangkap semua hidup-hidup,” kata Arya Tadah.

Gajah Mada mencuatkan alis. Gajah Mada yang semula membelakangi

Mapatih Arya Tadah itu kemudian berbalik.

”Maksud, Paman?” tanya Gajah Mada.

”Aku sependapat dengan Adi Dharmadyaksa Kasogatan yang

mempunyai dugaan siapa orang yang berbuat tidak terpuji ini. Bisa jadi,

aku memang mengenalnya. Andaikata dugaanku benar, ia tamu yang

benar-benar luar biasa. Bahkan boleh dikata, ia manusia yang sudah

mati dan bangkit kembali dari kuburnya. Menurut dugaanku, ia tidak

hanya bermaksud menyusup ke dalam gedung pusaka untuk mengambil

entah pusaka apa, kau harus memperkuat pengawalan istana Ibu Suri

Gayatri melebihi yang lain. Ibu Suri Gayatri mungkin salah satu sasaran

yang akan didatangi orang ini. Orang ini dulunya pahlawan besar bagi

Majapahit, tetapi oleh sebuah alasan, sikapnya berubah.”

Gajah Mada mencuatkan alis, wajahnya berubah.

”Apa urusan orang-orang itu dengan Ibu Suri?”

Gajah Mada 232

”Ini ada kaitannya dengan sebuah kisah yang terjadi di masa silam,

apakah kau masih punya waktu untuk mendengarkan?” Mahapatih Arya

Tadah bertanya.

Namun, Gajah Mada tak punya waktu untuk menyimak apa yang

akan dituturkan Mahapatih Arya Tadah karena telah menerima

laporan bahwa tamu yang tak diundang itu akan segera memasuki

pintu gerbang Purawaktra. Dalam waktu yang sangat mepet itu,

Gajah Mada menyalurkan perintah penguatan pengamanan terhadap

istana Ibu Suri Gayatri kepada Senopati Gagak Bongol. Dengan

tergesa-gesa, penambahan kekuatan dilakukan terhadap istana Ibu

Suri Gayatri.

Beberapa orang prajurit yang ditempatkan di istana itu bergelimpangan

seolah sedang tidur. Sebagian dengan sikap duduk bersandar, sebagian

lagi berbaring meringkuk, tetapi tak seorang pun yang tangannya tidak

melekat pada gagang senjatanya, pada gagang pedang, pada gagang

trisula, gagang tombak bertangkai pendek, atau langkap dan anak

panahnya sekaligus.

Dalam siraman cahaya obor, akhirnya terlihat tamu yang kehadirannya

didahului dengan membuat onar itu berjalan memasuki pintu Purawaktra

dengan penuh keyakinan. Dari tempat persembunyiannya, Gajah Mada

melihat orang yang berada di tengah adalah seorang kakek tua yang

dalam berjalan tubuhnya agak tertekuk bungkuk. Di sebelah kiri dan

kanannya, masing-masing empat orang pengawalnya menyiagakan diri

dengan senjata yang siap mematuk. Anak panah akan lepas dari busur

empat orang itu jika ada gerakan yang mencurigakan.

Kiai Wiragati berhenti di tengah pintu gerbang.

”Mereka semua tidur lelap, Kiai!” kata Udan Tahun menerjemahkan

apa yang ia lihat dan rasakan.

”Apakah sebaiknya kita bantai mereka semua, Kiai?” pertanyaan

itu terlontar dari mulut Bremoro.

”Jangan!” jawab Kiai Wiragati. ”Bawa aku ke gedung benda-benda

pusaka.”

Hamukti Palapa 233

Udan Tahun mencabut sebuah obor yang menyala di sudut pintu

gerbang. Hal yang sama dilakukan oleh Bremoro yang memerlukan

obor untuk menerangi keadaan. Tamu-tamu tak diundang itu mendapati

kenyataan, kekuatan sirep yang disebar oleh orang yang mereka kagumi

benar-benar dahsyat. Sampai pada tingkat tertentu, ilmu maling itu

benar-benar berdampak sangat mengerikan.

”Bukan main, semua orang seperti mati,” gumam Lanjar Manuraha.

Menggunakan obor yang dipegang, Lanjar Manuraha menerangi

wajah seorang prajurit yang dengan sepenuh tenaga bertahan tetap

berpura-pura tidur. Obor yang didekatkan ke wajahnya menyebabkan

panas yang nyaris membakar kulit. Prajurit itu tak perlu bangkit

untuk memberikan perlawanan dan bersikap tetap seperti semula

setelah pemegang obor itu mengarahkan apinya ke prajurit yang lain.

Prajurit berikutnya itu mengumpat dalam hati karena panas yang harus

ditahan.

Gajah Mada dan Gagak Bongol yang telah turun dari Bale Manguntur,

meninggalkan Mapatih Arya Tadah yang dikawal beberapa orang dan

bersembunyi di balik rana146 yang membatasi dua buah ruang.

Gajah Mada dan Gagak Bongol terus mengikuti gerakan orangorang

itu dengan menempatkan diri tengkurap di lekuk tanah yang

terletak di belakang barisan mandapa di sisi jalan yang membelah antara

alun-alun dengan deretan bangunan para abdi yang melayani Breh

Wengker.

Melekat pada dinding yang berada di belakangnya, puluhan prajurit

telah menyiagakan diri siap menghadapi keadaan macam apa pun. Di

sudut yang lain, beberapa prajurit terus mengamati dengan mengubah

diri tak ubahnya gundukan batu, begitu ada kesempatan, gundukan batu

itu merayap bagai kadal.

Dengan penuh keyakinan, lima orang pembuat kekacauan itu

melintasi alun-alun menuju gedung pusaka yang berada di belakang.

146 Rana, Jawa, penyekat ruang yang terbuat dari ukir-ukiran, benda seperti ini banyak diproduksi di daerah

ukir Jepara.

Gajah Mada 234

Dengan amat bangga dan dipenuhi rasa takjub, mereka menyaksikan

tubuh-tubuh yang bergelimpangan. Empat orang pengikut dan

pendukung tindakan Kiai Wiragati itu merasa, betapa hebat peristiwa

itu. Dalam keadaan macam itu, sungguh betapa mudah untuk

menghancurkan Majapahit, semudah mijet wohing ranti.147

Namun, tiba-tiba pimpinan rombongan itu berhenti. Kiai Wiragati

menyempatkan memerhatikan keadaan.

”Ada apa, Kiai?” tanya Udan Tahun.

Kiai Wiragati menelengkan telinganya. Dengan ketajaman

panggrahita,148 laki-laki tua, tetapi masih menyimpan semangat makantarkantar149

tidak kalah dari mereka yang masih muda itu memerhatikan

keadaan.

”Benarkah keadaan di sekeliling kita senyap?” tanya pimpinan

rombongan itu.

”Keadaan benar-benar aman, Kiai,” jawab Bremoro.

Kiai Wiragati merasa tidak puas memperoleh jawaban itu.

”Coba perhatikan keadaan dengan lebih cermat!” ucap Kiai

Wiragati.

Udan Tahun memerhatikan keadaan dengan saksama. Lanjar

Manuraha sedikit mengalami kesulitan untuk menandai keadaan itu

karena pendengarannya yang kurang begitu bagus. Sebaliknya, Bremoro

merasa yakin, kekuatan sirep itu memang menidurkan orang sekotaraja.

Hanya Panji Hamuk yang curiga keadaan tidak sebagaimana diduga.

Panji Hamuk merasa ada yang aneh melihat para prajurit yang tidur

sambil memeluk senjata.

”Mengapa mereka berhenti” Gagak Bongol yang mengawasi

berbisik.

147 Mijet wohing ranti, peribahasa Jawa, semudah memencet buah tomat. Artinya, pekerjaan yang sangat

mudah yang bocah kecil pun mampu melakukan.

148 Panggrahita, Jawa, mata hati atau bisa diidentikkan dengan indra keenam

149 Makantar-kantar, Jawa, berkobar

Hamukti Palapa 235

”Tentu ada persoalan yang sedang mereka perbincangkan. Mungkin

mereka tahu kita telah menyiapkan penyambutan yang meriah setimpal

dengan onar yang mereka buat,” kata Gajah Mada.

”Bisa jadi, mereka akan membatalkan niatnya memasuki gedung

pusaka,” kata Gagak Bongol.

”Jika itu terjadi, langsung kepung mereka. Ingat apa yang

disampaikan Paman Arya Tadah, orang yang menjadi pimpinannya harus

ditangkap hidup-hidup. Kita harus tahu siapa orang itu, yang menurut

Paman Tadah, berasal dari masa silam, dan membawa latar belakang

macam apa sampai-sampai mereka sanggup melakukan tindakan bengis

tanpa menghargai nyawa sama sekali.”

Namun, rombongan berlima yang berhenti itu kembali bergerak

melanjutkan ayun kaki yang tertunda. Makin lama makin mendekati

halaman Tatag Rambat Manguntur, menyisir Paseban yang berada di

sebelah kiri Balairung. Tepat berada di belakang istana Prabu Putri

Tribhuanatunggadewi Jayawisnuwardhani, di tempat itulah gedung

penyimpan benda pusaka berada, yang berada segaris dengan Bale

Gringsing dan Bale Jene yang sama-sama menghadap ke arah barat.

Tanpa setahu rombongan lima orang itu, para prajurit yang semula

menjaga pintu gerbang Purawaktra bangkit dari tidurnya. Sebagian kecil

tetap berbaring, tetapi sebagian yang lain bergerak gesit tanpa suara,

mengendap-endap seperti kucing untuk nantinya bersama-sama dengan

yang lain akan membuat kepungan manakala maling-maling itu tidak

masuk ke dalam gedung pusaka. Di sudut yang lain, para prajurit yang

baris pendhem menyerupai onggokan tanah atau onggokan batu beringsut

seperti kadal yang siap siaga menerkam mangsanya.

Di luar dinding istana, Senopati Haryo Teleng dan Senopati Panji

Suryo Manduro, yang masing-masing adalah pucuk pimpinan pasukan

Jalapati dan Sapu Bayu, tidak mau ketinggalan. Pasukan dalam jumlah

secukupnya dikerahkan untuk memberi dukungan kepada pasukan

Bhayangkara. Namun, kewenangan pasukan dari dua kesatuan yang

berasal dari leburan pasukan Jalapati, Jalayuda, dan Jala Rananggana,

hanya boleh menempatkan diri di luar istana. Sepanjang luar dinding

Gajah Mada 236

diawasi dengan cermat tanpa memberi secuil celah pun untuk mereka

yang berniat meloloskan diri melalui memanjat atau menjebol.

Akhirnya, rombongan itu telah sampai di depan pintu bangunan

tempat penyimpanan benda-benda pusaka. Namun, pintu bangunan

penyimpan harta dan benda pusaka itu tidak hanya tertutup, pintu

itu dilengkapi dengan kunci dan rantai besi. Seorang prajurit yang

tertidur bersandar dinding dengan obor menyala di dekatnya segera

menarik perhatian karena serenteng kunci berada dalam genggaman

tangannya.

”Buka pintunya!” terdengar perintah Kiai Wiragati setelah mendengar

suara gemerincing kunci yang telah diambil.

Bremoro bertindak cekatan, menggunakan kunci yang ternyata

sesuai, pintu pun kemudian berhasil dibuka. Menggunakan obor yang

dicabut dari halaman, ruangan yang gelap itu diterangi. Bremoro

menempatkan diri masuk pertama kali, disusul oleh Kiai Wiragati.

Udan Tahun, Lanjar Manuraha, dan Panji Hamuk masih menyempatkan

memerhatikan keadaan sebelum akhirnya memutuskan masuk.

Ketika akhirnya terlihat pintu gedung pusaka itu tertutup, serentak

para prajurit yang semula melakukan baris pendhem berlarian merapat

dan melakukan kepungan. Kiai Wiragati adalah orang yang memiliki

indra pendengaran amat tajam sebagai pengganti matanya yang agak

kabur.

Kiai Wiragati menengadah.

”Kedatangan kita sudah diketahui,” ucap orang itu.

Empat orang pengiringnya terkejut. Serentak mereka memasang

anak panah ke busur. Bremoro bergegas mengintip dari celah jendela.

Bremoro terkejut.

”Gila!” desisnya.

”Bagaimana mungkin?” tambah Lanjar Manuhara.

”Ternyata kita salah, kedatangan kita sudah diketahui. Kita

terkepung sekarang,” tambah Panji Hamuk.

Hamukti Palapa 237

Empat anak buah Kiai Wiragati bergegas meyakinkan diri untuk

memastikan perkembangan yang tidak terduga itu. Mereka mengintip dari

semua celah yang ada dan mendapati kenyataan, tempat itu benar-benar

telah dikelilingi oleh para prajurit. Prajurit yang tidur bergelimpangan itu

kini tak ada jejaknya. Tempat itu pun kemudian menjadi terang benderang

karena puluhan obor telah dinyalakan untuk mengepung gedung pusaka

itu dengan amat rapat.

”Para prajurit yang bergelimpangan itu ternyata menipu kita,”

tambah Bremoro.

Namun, Kiai Wiragati tidak peduli meski tempat itu telah terkepung

dengan tidak memberi kemungkinan secuil celah pun untuk meloloskan

diri.

”Cepat cari dua benda itu, payung Udan Riwis dan cihna gringsing,”

perintahnya dengan tegas.

Cekatan empat orang pendukung Kiai Wiragati melaksanakan

tugasnya. Isi ruang itu diubek untuk menemukan benda-benda yang

dicari. Bremoro dan kawan-kawannya mendapati ada banyak benda

berharga yang amat menggoda, keris-keris bermata berlian dan timang

yang gemerlapan. Akan tetapi, benda sederhana yang dicari itu tidak

berhasil ditemukan. Udan Tahun yang tak berhasil mendapatkan benda

yang dicari mulai merasa gelisah oleh kesadaran, di luar gedung itu sudah

penuh prajurit yang membangun pagar betis, yang masing-masing telah

merentang gendewa dengan anak panah terarah.

Malam mulai berkabut meski masih lamat-lamat. Tidak ada yang

merasa aneh dengan kemunculan kabut itu menilik sudah sejauh ini

belum turun hujan.

”Bagaimana?”

”Tidak ada, Kiai,” jawab Panji Hamuk.

”Gila! Tak mungkin benda itu tidak ada. Cari sekali lagi.”

Panji Hamuk kembali melakukan pemeriksaan dengan menggunakan

obor yang dipegangnya. Demikian pula dengan Udan Tahun dan Lanjar

Gajah Mada 238

Manuraha, dengan amat bernafsu berusaha menemukan benda-benda

yang dicari. Tak ada cihna yang dicari dan tak ada pula songsong

Udan Riwis. Sebaliknya, sebuah mahkota berhias permata yang

memantulkan cahaya gemerlap ditimpa cahaya obor, dengan segera

mencuri minat.

Bremoro mengangkat benda itu.

”Mahkota milik mendiang Kalagemet,” gumam Bremoro.

Udan Tahun yang mengintip ke luar melalui jendela bergegas

melaporkan keadaan itu.

”Kiai, di luar telah dilakukan pengepungan yang amat rapat.

Bagaimana cara kita meloloskan diri dari ruangan ini? Depan, belakang,

dan samping telah dipagari prajurit yang semua memegang anak panah!”

kata Panji Hamuk.

Kiai Wiragati justru tersinggung oleh ucapan Panji Hamuk. Panji

Hamuk didorongnya hingga terjengkang.

”Kamu meremehkan aku!” bentak Kiai Wiragati dengan suara

parau. ”Janganlah coba-coba meremehkan aku kalau tidak ingin aku

kutuk menjadi butiran kacang hijau!”

Tak jelas alasan yang manakah yang langsung menyebabkan mulut

Panji Hamuk terbungkam, apakah karena segan atau karena percaya Kiai

Wiragati benar-benar mempunyai kemampuan mengutuknya menjadi

kacang hijau. Sekian lama Panji Hamuk mengabdi dan mengikuti sepak

terjang Kiai Wiragati, telah berulang kali ia mendengar caci maki kutukan

macam itu, tetapi belum sekalipun kutukan itu diwujudkan menjadi

kenyataan.

”Betapa tidak bermartabatnya kalau aku berubah menjadi kacang

hijau!” ucap Panji Hamuk hanya untuk diri sendiri dan diucapkan dalam

hati.

”Bagaimana? Ada benda itu?” tanya Kiai Wiragati.

”Benar-benar tidak ada, Kiai,” jawab Udan Tahun.

Hamukti Palapa 239

Hening yang kemudian terjadi adalah karena, baik yang berada

di luar maupun di dalam masing-masing menempatkan diri saling

menunggu. Patih Gajah Mada menempatkan diri mendampingi Gagak

Bongol dan menyerahkan sepenuhnya penyelesaian peristiwa itu kepada

pimpinan pasukan Bhayangkara. Mahapatih Arya Tadah yang semula ikut

berada dalam baris pendhem keluar dan bergabung dengan mereka yang

melakukan kepungan. Dengan penuh perhatian, Arya Tadah mengamati

apa yang akan dilakukan oleh yang muda-muda. Menerka siapa orang

yang membuat onar itu, Mapatih Arya Tadah merasa gelisah.

Dua orang prajurit penghubung terlihat berlari kencang, masingmasing

menuju ke istana Prabu Putri Sri Gitarja Tribhuanatunggadewi

Jayawisnuwardhani dan Prabu Putri Dyah Wiyat Rajadewi Maharajasa.

Didampingi oleh suami masing-masing, kedua Prabu Putri terus

memantau perkembangan yang terjadi. Pengawalan terhadap dua raja

perempuan itu sangat ketat dilakukan oleh prajurit Bhayangkara yang

telah menelanjangi semua pedang.

Di salah satu sudut, Pancaksara dengan penuh minat mengikuti

perkembangan yang terjadi, bagaimana serombongan tikus yang

masuk ke dalam lumbung itu akan ditangkap beramai-ramai. Kitab

Undang-Undang Kutaramanawa menyebut dengan tegas, siapa yang

melakukan kejahatan akan mendapatkan hukuman setimpal dengan

akibat kejahatannya. Padahal, orang-orang itu tidak hanya membakar

rumah-rumah, tetapi telah melakukan rajapati150 dengan membunuh

beberapa orang di sepanjang jejak onarnya.

”Kalian yang berada di dalam, kalian telah terkepung!” tiba-tiba

terdengar sebuah teriakan yang sangat melengking.

Suara melengking sangat keras itu menggoyang udara yang semula

datar. Burung-burung dara di mandapa151 terkejut setelah sebelumnya

gelisah karena pendengarannya yang tajam mampu menandai ada gerakan

dan ayunan langkah yang dilakukan dengan senyap. Meski teriakan itu

150 Rajapati, idiom Jawa untuk pembunuhan

151 Mandapa, Jawa Kuno, sangkar burung dara, orang Jawa sekarang menyebutnya pagupon

Gajah Mada 240

dilontarkan dengan suara sangat keras, tidak cukup memberi alasan

burung-burung itu ketakutan dan beterbangan.

Pada dasarnya para burung dara itu dibiarkan hidup bebas, tidak

boleh diganggu karena dilindungi undang-undang. Oleh karena itu,

burung-burung itu tidak takut pada manusia, bahkan akrab dengan

manusia. Hal itu bisa terjadi karena kedua Prabu Putri menjadikannya

sebagai klangenan. Di setiap pagi, bahkan Prabu Putri sendiri yang

memberi makan dengan menebarkan remah jagung, yang kemudian

diikuti oleh para prajurit dan para abdi dalem. Maka, lambat laun

terbentuklah keakraban antara manusia dan burung dara itu.

Dengan tegas Prabu Putri mengancam, ”Biarkan burung-burung

dara ini hidup dan berbagi ruang dengan kita. Jangan biarkan rasa takut

muncul, dan biarlah mereka menganggap manusia sebagai sahabatnya.

Jika ada yang mengganggu dan menyebabkan rusaknya perilaku jinak

burung itu, aku sendiri yang akan menjatuhkan hukuman!”

Akan tetapi, suara teriakan itu dijawab lain oleh pasangan harimau

yang berada dalam kerangkeng di sudut halaman. Kebetulan harimau

itu merasa belum kenyang dan membutuhkan tambahan makanan. Rasa

jengkel itu telah ditahan cukup lama dan butuh penyaluran.

Maka, ketika tiba-tiba ada teriakan yang demikian keras, dibalasnya

teriakan itu dengan suara jauh lebih menggelegar. Auman salah satu dari

pasangan harimau yang masih menyimpan kenangan memangsa mayat

manusia ketika terjadi huru-hara Ra Kuti itu menyebabkan para burung

dara yang terkejut tambah terkejut.

Harimau kedua yang sedang hamil tua ikut menyumbangkan suaranya

yang tak kalah menakutkan. Udara yang kembali datar bergetar lagi.

”Kalian yang berada di dalam gedung pusaka, segera keluar dengan

mengangkat tangan,” teriakan itu terdengar lagi.

Gajah Mada dan Gagak Bongol menunggu orang-orang yang telah

terjebak dalam kepungan rapat itu keluar sambil mengangkat tangan di

atas kepala. Ke depan, Patih Gajah Mada telah membayangkan sidang

pembunuhan yang jarang-jarang dilakukan pasti digelar.

Hamukti Palapa 241

Orang dengan kejahatan pembunuhan brutal macam itu jelas telah

tersedia ganjaran hukuman yang tidak bisa ditawar, bahkan dengan

hukuman penjara diberangus kebebasannya seumur hidup sekalipun.

Atau, hukuman untuk mereka adalah hukuman mati.

Kabut yang semula melayang tipis itu sedikit menebal. Jika para

prajurit yang mengepung gedung pusaka itu menyadari, mereka akan

merasakan udara sedikit agak dingin.

”Bagaimana, Kiai? apa yang harus kita lakukan?” tanya Bremoro

yang akhirnya merasa cemas.

Orang yang ditanya tidak menjawab. Panji Hamuk justru

menggamitnya, meminta supaya Bremoro tidak mengganggu apa yang

sedang dilakukan Kiai Wiragati. Dalam diam, rupanya Kiai Wiragati

tidak sedang diam.

”Untuk apa memperkuat kekuatan sirep itu, tidak ada gunanya?

Kekuatan sirep yang dibangga-banggakan itu telah dimentahkan,” Lanjar

Manuraha berbicara dalam hati.

Akan tetapi, Lanjar Manuraha tak berani mengeluarkan isi hatinya

melalui kata-kata yang terlontar dari mulut. Jika Kiai Wiragati mendengar

ucapan yang tidak berkenan di hatinya, segala caci maki akan terlontar

dari mulutnya, bahkan jenis caci maki yang paling tidak pantas diucapkan

manusia.

Kiai Wiragati memejamkan mata, entah apa yang sebenarnya

dilakukan. Boleh jadi, karena tidak ada lagi jalan yang bisa digunakan

untuk melarikan diri maka yang bisa dilakukan hanya menunggu sampai

para prajurit itu masuk menyerbu ke dalam gedung perbendaharaan

pusaka.

”Kalian yang berada di dalam, kalian semua pasti mendengar

suaraku. Aku Gagak Bongol, senopati pimpinan pasukan khusus

Bhayangkara yang bertanggung jawab atas keamaan istana dan semua

isinya. Apa yang kalian lakukan adalah sebuah kejahatan terhadap negara.

Oleh karena itu, harus kalian pertanggungjawabkan. Silakan kalian keluar

dengan mengangkat tangan di atas kepala tanpa senjata. Selanjutnya,

Gajah Mada 242

kalian akan diadili untuk mempertanggungjawabkan kejahatan kalian

pada negara!”

Udara yang sempat bergolak itu kembali datar. Gagak Bongol

merasa aneh karena entah apa yang ada di benak orang-orang itu, yang

tidak menjawab pertanyaan dan juga tidak keluar.

Mungkin agak terlambat bagi para prajurit Bhayangkara yang

membuat kepungan rapat melalui pagar betis itu. Juga agak terlambat

disadari oleh Gajah Mada karena pusat perhatian sedang tertuju pada

pintu gedung perbendaharan pusaka. Udara yang bergerak perlahan itu

makin jelas ke mana arahnya. Udara yang semula hangat, bahkan gerah,

bergerak ke sejuk, makin sejuk, makin sejuk, dan mengarah ke dingin.

Juga luput dari perhatian, kabut yang amat tipis itu melayang makin

merata. Meski perlahan, juga jelas arahnya. Kabut tipis itu makin menebal

dan makin menebal, membentuk lapisan dan gumpalan, sebagian tipis

sebagian tebal, sebagian tenang, tetapi di arah yang lain bergolak.

Gagak Bongollah yang justru paling awal menyadari keadaan

itu. Gajah Mada merasa heran melihat Gagak Bongol berputar dan

mendongak.

”Ada apa?” tanya Gajah Mada.

”Kakang Gajah Mada merasakan?”

Gajah Mada mengerutkan kening.

”Merasakan apa?”

Gajah Mada berusaha menandai keadaan, tetapi belum paham.

”Udara dingin,” bisik Gagak Bongol.

Gajah Mada memerhatikan keadaan, tetapi apa anehnya dengan

udara dingin? Di arah barat Ibu Kota Majapahit, ada sebuah wilayah

bernama Ponorogo. Dulu ketika berusaha menyelamatkan Prabu

Jayanegara dari kejaran Ra Kuti, Gajah Mada pernah berencana

membawa Prabu Jayanegara ke Ponorogo, tetapi karena keberadaan

mata-mata kaki tangan Ra Kuti yang belum berhasil diendus, dilakukan

Hamukti Palapa 243

perubahan rencana yang bahkan anak buahnya tidak ada yang tahu.

Perjalanan Prabu Jayanegara dibelokkan ke arah yang sama sekali

tidak terduga dan tidak masuk akal, menusuk ke kedalaman wilayah

Bojonegoro yang di sana ada Lurah Bedander yang bisa dimintai

pertolongan perlindungan.

Tempat bernama Ponorogo itu mirip dengan wilayah Tarik, tetapi

mampu menyajikan sifat udara yang aneh. Di musim kemarau, umumnya

jika siang terasa panas. Namun, malam hari biasanya menjanjikan

bediding152 yang mampu membekukan minyak klentik.153 Namun, keadaan

itu tidak tentu karena bisa pula malam pun mendidih. Jadi, apa anehnya

jika malam itu udara yang semula panas tiba-tiba berubah menjadi

dingin. Perubahan yang demikian bergantung pada udara macam apa

yang sedang mengalir di wilayah itu.

”Apakah menurutmu ada yang aneh?” tanya Gajah Mada.

Gajah Mada melihat, kabut mulai melayang di mana-mana. Kabut

itu memang tak mengganggu pandangan mata, kehadirannya justru

membuat hatinya senang karena hujan yang ditunggu akan segera

datang.

”Keluarlah kalian, ini peringatan yang terakhir,” Gagak Bongol

kembali berteriak.

Namun, sekeras apa pun Gagak Bongol berteriak, tidak ada

jawaban dari gedung pusaka yang telah dimasuki maling itu. Jawaban

yang menggelegar justru dari kandang macan karena penghuninya

yang berjalan mondar-mandir merasa lapar. Jatah daging yang harus

mengganjal perutnya masih kurang, seekor kijang pun dirasa masih

belum cukup mengganjal perut.

Sejenak kemudian, nyala api obor yang digunakan menerangi ruang

bangunan pusaka itu bahkan padam. Udan Tahun yang memegang obor

itu mematikannya.

152 Bediding, Jawa, malam yang terasa dingin di musim kemarau

153 Klentik, Jawa, minyak kelapa

Gajah Mada 244

Karena peringatan telah diberikan, tetapi maling yang memasuki

gedung pusaka itu tidak memberikan jawaban, Gagak Bongol harus

menggunakan cara lain. Jika orang-orang itu tak mau melaksanakan

perintah dengan sukarela, tinggal paksaan pilihan yang tersisa.

Gagak Bongol segera mengumpulkan pimpinan kelompok yang

menjaga depan, belakang, samping kiri, dan kanan. Kepada mereka

rancangan tindakan disampaikan dan harus diterjemahkan dengan

sebaik-baiknya. Lima orang berkemampuan amat khusus disiagakan

di bawah kendali Bhayangkara Kendit Galih. Mereka adalah pelempar

pisau yang tak pernah meleset dari sasaran dengan kemampuan lebih

cepat dan akurat daripada menggunakan anak panah.

Taklimat yang diberikan Gagak Bongol disimak dengan cermat.

”Pintu belakang dan jendela akan digedor sebagai pengalih

perhatian, seolah jendela dan pintu itu akan dibuka dengan paksa. Pada

saat demikian, kalian berlima harus bisa masuk dan melumpuhkan

mereka lewat samping kiri.”

Gajah Mada merasa perlu menambah, ”Lumpuhkan mereka, bukan

membunuh.”

Lima orang Bhayangkara itu mengangguk penuh keyakinan.

”Ayo, kita mulai,” kata Gagak Bongol.

Akan tetapi, rupanya telah tiba waktunya Gajah Mada dan

Gagak Bongol harus terkejut melihat perkembangan keadaan yang

membingungkan dan sulit dipahami. Gajah Mada berbalik, tapi kabut

berada di mana-mana. Kabut melayang di seluas tanah lapang halaman

Tatag Rambat Bale Manguntur, membelit tiang saka, dan menyelinap ke

setiap sekat antara bangunan-bangunan yang rapat, termasuk bangunan

istana kediaman raja.

”Apa yang terjadi?” tanya Gajah Mada.

Bagai kehadiran hantu yang mulai tampak di kejauhan,

kehadirannya belum menarik perhatian. Makin lama hantu itu makin

dekat dan makin dekat. Gajah Mada mulai mengernyitkan dahi ketika

Hamukti Palapa 245

menyadari betapa tebal kabut yang datang. Jika awal terbentuknya

terasa lamban, manakala telah mengarah, kabut itu bergulung menyapu

apa pun.

”Kabut, ada kabut!” seorang prajurit meletup.

Perhatian terbelah, kemunculan ampak-ampak pedhut154 berwarna

putih itu jelas menyita sebagian perhatian dan memecahnya.

”Semua siaga! Jangan ada yang bersuara!” teriak Gajah Mada.

Suara yang diteriakkan dengan keras itu amat dikenali sebagai

suara Gajah Mada. Perintah itu jauh lebih berwibawa daripada perintah

Senopati Gagak Bongol. Dengan saksama, para prajurit mempersiapkan

diri menghadapi segala bentuk kemungkinan yang bisa terjadi. Namun,

perintah itu sebagian memahami, sebagian yang lain tidak jelas dengan

maksudnya.

”Kaudengar perintah Ki Patih tadi?”

”Ya, kita diminta bersiaga!”

”Kita dilarang bersuara juga, kan?”

”Benar.”

”Apa maksudnya?”

Prajurit kedua yang memperoleh pertanyaan rupanya juga bingung.

Prajurit yang ketiga justru mampu memberi jawaban yang masuk

akal.

”Kita tidak bisa melihat apa pun, kita harus mengandalkan telinga.”

”Ooo.”

Keadaan segera berubah menjadi senyap. Lima orang prajurit yang

disiagakan untuk melakukan gempuran pertama tak bisa melaksanakan

tugasnya. Kabut yang datang itu makin lama makin tebal dan makin

tebal, yang ditandai pula dengan udara dingin yang meraba dengan

154 Ampak-ampak pedhut, Jawa, gumpalan-gumpalan kabut

Gajah Mada 246

kasar ke segala penjuru. Beberapa prajurit mulai bertanya-tanya,

adakah kabut yang datang itu kabut yang sewajarnya atau kabut yang

tidak lumrah.

”Gajah Mada!” terdengar sebuah bisikan.

Gajah Mada terkejut. Gajah Mada tidak menyangka, Arya Tadah

telah berada di belakangnya.

”Ada apa, Paman?” tanya Gajah Mada.

”Hati-hatilah dengan orang ini,” ucap Arya Tadah. ”Pengenalanku

atas orang ini, ia orang yang sangat berbahaya.”

Gajah Mada tak mampu menahan rasa ingin tahunya.

”Siapa orang ini, Paman?”

”Kalau aku tidak salah menduga, orang itu adalah Kiai Wirota

Wiragati, mantan maling yang pernah malang melintang di zaman

Singasari. Kau pernah mendengar nama itu, bukan?”

Merinding punggung Gajah Mada.

”Kiai Wirota Wiragati?” ulang Gajah Mada. ”Mengapa ia sedemikian

marah dan melakukan tindakan seperti itu? Bukankah Kiai Wirota

Wiragati adalah salah seorang pendukung mendiang Prabu Wijaya?”

”Ya, dan ia juga yang menyelamatkan Ibu Suri Gayatri. Agaknya

apa yang ia lakukan menjadi jelas jika dikaitkan dengan pergolakan yang

terjadi sekarang,” bisik Mahapatih Arya Tadah.

Gajah Mada masih merasa belum paham.

”Pergolakan yang mana?” tanya mantan Patih di Kahuripan dan

Daha itu.

”Wirota Wiragati berasal dari Keta, dan mungkin sekali menjalin

hubungan dengan Sadeng!”

Nama Keta dan Sadeng disebut, menyebabkan Gajah Mada bagai

dirambati puluhan ekor semut di sekujur tubuhnya. Gajah Mada masih

akan meminta penjelasan lebih lanjut, tetapi apa yang tengah berlangsung

Hamukti Palapa 247

di depannya lebih membutuhkan penanganan. Gajah Mada menjadi

cemas melihat kabut menghadang pandangan matanya sampai pada

jarak mengkhawatirkan. Wajah Gagak Bongol yang berada di depannya

terlihat kabur.

”Tadi kekuatan sirep, sekarang kabut tebal. Apakah semua ini

keadaan yang wajar atau dengan sengaja dibuat?” tanya Gajah Mada.

Pertanyaan itu bagai ditanyakan kepada diri sendiri. Itu sebabnya,

Gagak Bongol yang berdiri bingung di depannya tak menjawab.

”Mereka akan memanfaatkan keadaan ini,” kata Gajah Mada.

”Menurutku, kau harus merapatkan barisan sampai melekat agar jangan

sampai ada celah yang bisa dimanfaatkan untuk meloloskan diri.”

”Baik, akan aku salurkan,” jawab Gagak Bongol.

Perintah yang disalurkan diterjemahkan dengan sebaik-baiknya.

Ketika prajurit yang dibutuhkan dirasa kurang, anak panah sanderan

pun segera dilepas sebagai isyarat permintaan tambahan bantuan. Sigap

para prajurit yang masih menyebar memenuhi panggilan itu. Sigap pula

pimpinan pasukan Jalapati dan Sapu Bayu yang sedang siaga mengelilingi

istana bergerak memberi dukungan.

Waktu bergerak amat lambat, tetapi waktu pula yang dirasa bergerak

amat cepat. Udara dingin yang menyengat tulang rupanya merupakan

bahan baku terbentuk dan datangnya kabut. Gajah Mada menandai hal

itu. Udara yang terasa makin dingin menjadi penyebab kabut putih kian

menggila. Batas pandangan mata yang semula masih mampu melihat

sejengkal ke depan, makin menyempit. Gajah Mada yang berusaha

menandai telapak tangannya, diperlukan jarak yang lebih dekat.

”Gila, aku seperti orang buta!”

Waktu terus bergerak, tetapi sampai sejauh itu masih belum

terdengar suara-suara yang menandai adanya upaya meloloskan diri

dari gedung perbendaharaan harta pusaka. Gagak Bongol merasa

cemas. Dalam keadaan yang demikian, sebenarnya terlalu mudah bagi

orang-orang yang membuat onar di sepanjang siang sebelumnya untuk

Gajah Mada 248

membongkar kepungan. Para prajurit yang telah dibutakan matanya itu

pasti akan mengalami kesulitan menandai mana kawan dan mana lawan.

Sungguh sangat rawan untuk menyerang orang yang tidak jelas. Boleh

jadi, serangan itu akan mengenai kawan sendiri.

Ketika kabut menjadi tebal sempurna, tak ada lagi yang bisa

diharapkan selain menunggu. Para prajurit memanfaatkan perhitungannya

sendiri. Mereka lebih senang mengacungkan tombak yang bergagang

panjang. Jika orang-orang terkepung itu akan meloloskan diri, mereka

harus menyibak acungan tombak itu lebih dulu. Lebih celaka jika para

pembuat onar itu menyebar anak panah, menghadapi keadaan yang

demikian, tidak ada yang bisa dilakukan.

Kemungkinan terakhir itulah yang sangat dicemaskan Gagak Bongol

dan bahkan diyakini pasti akan terjadi. Masalahnya kini hanya soal

menunggu waktu, kapan hal itu akan terjadi. Menyadari kemungkinan

buruk macam itu, Gagak Bongol segera memberi perintah, yang

disalurkan melalui teriakan secara langsung.

”Lindungi diri di balik tameng. Mereka mungkin akan melepas

anak panah.”

Teriakan itu mengagetkan dan dengan segera menyadarkan segenap

prajurit untuk tidak hanya membentuk pagar betis. Tak semua prajurit

membawa tameng, tetapi hampir separuh lebih membawanya. Mereka

yang membawa tameng itu menempatkan diri di depan untuk melindungi

diri dan melindungi teman-temannya. Dalam melakukan kepungan yang

rapat, para prajurit yang semula memagar betis dengan berdiri berubah

ke berjongkok.

Sang waktu terus bergerak tanpa terjadi apa-apa. Semua jantung

dipacu seiring dengan keadaan yang tidak nyaman. Jarak pandang yang

sangat pendek menyebabkan napas menjadi sesak. Namun, sampai

sejauh itu, orang-orang yang terjebak di gedung perbendaharaan pusaka

itu belum melakukan tindakan apa pun. Dari gedung itu tidak terdengar

suara apa pun, tidak ada suara pintu yang berderit, juga tak ada cahaya

obor.

Hamukti Palapa 249

”Apa yang sedang mereka lakukan di dalam sana?” berbisik seorang

prajurit kepada prajurit yang lain.

”Buang hajat,” jawab prajurit yang lain sekenanya.

Jawaban itu memancing prajurit pertama ingin tertawa, tapi

rangsangan itu harus dikendalikan dengan sebaik-baiknya.

”Apakah menurutmu kabut ini wajar?” prajurit yang lain lagi

berbisik.

”Apanya yang aneh? Malam menjelang pemberontakan Ra Kuti,

kabut macam ini muncul. Di musim penghujan, kabut setebal ini sering

juga datang dan membungkus,” terdengar prajurit lain lagi.

”Maksudku,” ucap prajurit sebelumnya. ”Bukankah saat ini udara

sedang panas-panasnya?”

”Bisa jadi, sekarang ini merupakan awal dari musim penghujan yang

telah lama ditunggu-tunggu. Mungkin mau hujan. Kehadiran kabut ini

seharusnya disyukuri,” jawab prajurit sebelumnya.

Pembicaraan para prajurit yang saling berbisik itu terhenti, demikian

juga segenap prajurit yang lain, tersita perhatiannya oleh perkembangan

susulan. Kabut dan udara yang dingin bukanlah dua hal yang berjauhan,

termasuk dengan munculnya angin. Semua itu berlangsung dengan

alami, tak ada yang aneh. Munculnya kabut bukan hal yang aneh, udara

yang berubah menjadi dingin juga bukan hal yang aneh, termasuk

datangnya angin juga bukan peristiwa yang aneh. Manusia yang sering

menganggapnya aneh karena terjadi di saat yang dianggap aneh dan

berhubungan dengan peristiwa yang juga aneh. Apalagi, hal itu terjadi

bersamaan dengan orang-orang sedang terjebak di gedung pusaka yang

sebelumnya diriuhkan oleh hadirnya kekuatan sirep.

Angin berembus dari barat ke timur. Dari bagian muka istana ke

arah belakang, pohon kesara yang daunnya kering makin rontok, pun

daun tanjung dan bramastana, kembang-kembang semboja berguguran.

Angin berembus kencang bukan peristiwa yang luar biasa. Penduduk

Majapahit tentu telah terbiasa dengan keadaan itu. Jika terjadi hujan

Gajah Mada 250

dihiasi angin, juga bukan hal yang luar biasa, lumrah terjadi di manamana.

Termasuk di daerah dingin seperti di kaki Gunung Kawi di arah

selatan maupun lereng-lereng Gunung Lawu di Magetan arah barat. Di

wilayah Magetan atau lereng-lereng Kalisoro, kabut tebal disertai angin

jelas bukan hal yang aneh.

Akan tetapi, tidak bisa bersikap demikian Gajah Mada yang sedang

menunggu perkembangan yang terjadi. Tidak bisa menganggap sebagai

hal yang lumrah Senopati Gajah Enggon, termasuk segenap pasukan

Bhayangkara yang sedang melakukan baris pendhem, setelah beberapa kejap

kemudian suara angin itu makin keras dan makin menderu, yang disusul

oleh munculnya suara tak sewajarnya. Suara yang mampu meliuk dengan

nada tinggi. Burung-burung sejenis emprit yang bersarang di puncak

pinang berhamburan menyelamatkan diri, padahal sedang malam hari.

Mereka pasti akan mengalami kesulitan untuk mencari tempat hinggap.

Burung hantu yang terbelalak di sepanjang malam makin terbelalak

melihat sesuatu meliuk di depannya.

”Suara apa itu?” bertanya seorang prajurit.

”Entah,” jawab prajurit yang lain.

Prajurit itu, meski ia seorang prajurit, menyimpan rasa takut.

”Suara apa sebenarnya itu?”

”Gemeresak seperti puluhan orang menyeret daun kelapa yang

ditarik terbalik,” jawab prajurit di sebelahnya.

Suara itu makin keras dan makin keras, makin lama menimbulkan

suara yang melengking tinggi. Bahkan, Gajah Mada tidak mampu

menahan rasa herannya. Bahkan, Gagak Bongol pun tak bisa menduga

suara apa yang sangat menakutkan itu. Karena tak mampu melihat,

Gajah Mada dan Gagak Bongol hanya bisa menandai dengan ketajaman

telinga.

”Bongol,” panggil Gajah Mada.

”Ya,” jawab Gagak Bongol yang ternyata telah bergeser tempatnya.

”Suara apa itu?” tanya Gajah Mada.

Hamukti Palapa 251

”Aku tidak tahu,” jawab Gagak Bongol.

”Aku tahu,” tiba-tiba terdengar sebuah jawaban.

Suara itu milik Mahapatih Arya Tadah.

”Paman Tadah tahu, suara apa itu?”

”Beliung sedang mengisap kabut. Mungkin orang lain lagi pelakunya!”

jawab Mapatih Arya Tadah.

Gajah Mada dan Gagak Bongol tersadar dan mampu mengenali,

suara gemeresak yang demikian itu memang suara pusaran angin yang

lazim disebut beliung. Gajah Mada dan Gagak Bongol telah membalikkan

tubuh membelakangi gedung perbendaharaan pusaka karena suara angin

berputar yang amat deras itu berasal dari belakang. Gajah Mada tahu

karena pernah menyaksikan dengan mata dan kepala sendiri betapa

beliung memiliki kekuatan yang sangat besar.

Pusaran angin itu bahkan mampu menggilas, memorak-porandakan

sebuah rumah. Rumah diterjang rumah terlempar, kerbau diterjang

kerbau terlempar, apalagi yang sekadar kambing, ayam, angsa, dan

semut-semut kecil, semua beterbangan. Yang punya kesadaran betapa

berbahaya angin lesus itu, lari tunggang langgang menyelamatkan diri

dari pencabutan nyawa dengan cara kasar.

Akan tetapi, gerakan liar angin lesus itu rupanya berdampak. Selapis

demi selapis kabut tebal yang membatasi jarak pandang itu diisap dengan

kekuatan begitu besar dan disemburkan ke atas. Gajah Mada menyadari

hal itu dari jarak pandang yang melonggar dan mulai mampu mengenali

benda-benda pada jarak yang agak jauh.

Apa yang terjadi itu berlangsung cepat dan seolah bukan tanpa

maksud karena ketika pusaran angin itu bubar, dengan sendirinya

mengembalikan keadaan pulih seperti semula. Pada saat yang demikian,

segenap prajurit ternyata masih bergeming di tempat masing-masing,

masih samapta. Tidak seorang pun yang bergeser dari tempatnya. Semua

masih saling melekat satu sama lain dalam pagar betis yang rapat.

Gagak Bongol tak mau menunda waktu lagi dan segera

mengesampingkan pesona yang masih ditinggalkan oleh rangkaian

Gajah Mada 252

peristiwa aneh itu. Rencana yang semula tertunda pun segera

dilaksanakan.

”Kerjakan sekarang!” ucap Gagak Bongol.

”Baik,” jawab Bhayangkara Kendit Galih dengan sigap.

Tak perlu lagi tawaran susulan. Karena tawaran untuk menyerah

telah ditolak, rencana penyergapan pun dilakukan. Beberapa prajurit

dengan serentak menggedor-gedor pintu belakang dan jendela

samping kanan. Ketika kegaduhan itu terjadi, dengan cermat saksama

Bhayangkara Kendit Galih berhasil menjebol jendela menggunakan

linggis dan hanya butuh waktu sekejap untuk berlompatan masuk. Kendit

Galih dan pendukungnya tidak mengalami kesulitan memasuki setiap

ruang yang ada, pisau terbang di tangannya siap mengayun jika korban

memberi perlawanan.

Belakangan Kendit Galih bingung. Disusul Gajah Mada, Gagak

Bongol, dan para Bhayangkara bingung ketika pintu terbuka. Bhayangkara

Kendit Galih dan empat orang pendukungnya keluar tanpa siapa pun,

tanpa membawa sekelompok orang yang diduga masih bertahan di

bangunan itu.

”Ada apa?” tanya Gajah Mada.

”Mereka sudah tidak ada,” jawab Bhayangkara Kendit Galih.

Para prajurit berlompatan masuk dan melakukan pemeriksaan

menggunakan obor. Namun, empat buah ruang di gedung pusaka itu

kosong melompong. Orang-orang yang semula terjebak di tempat itu

lenyap.

Gajah Mada bergegas mendatangi Arya Tadah.

”Mereka tidak ada, Paman!” kata Gajah Mada dengan muka amat

kaku. ”Dengan cara bagaimana mereka meloloskan diri dari gedung

perbendaharaan pusaka?”

Arya Tadah tidak butuh waktu terlampau lama untuk menarik

simpulan.

”Ibu Suri Gayatri!” Mapatih Arya Tadah meletup cemas.

Hamukti Palapa 253

Gajah Mada tak perlu termangu lebih lama. Dengan langkah

lebar, bahkan dengan berlari-lari dan diikuti oleh para prajurit yang

kebingungan, semua bergegas menuju istana Ibu Suri Rajapatni Biksuni

Gayatri. Kepanikan segera terjadi dan menjadi-jadi ketika para prajurit

yang mendatangi istana Ibu Suri Gayatri tidak menemukan wanita yang

sangat dihormati itu. Patih Gajah Mada merasakan derajat kepanikannya

makin meningkat. Dengan langkah lebar dan amat bergegas, Gajah Mada

memeriksa ruangan demi ruangan di istana Ibu Suri. Bahkan, kolong

tempat tidur telah diperiksa. Ibu Suri Gayatri memang tak ada.

”Siapa yang memimpin pengawalan di sini?” tanya Gajah Mada.

”Aku,” jawab Macan Liwung sigap. ”Aku yang mengambil alih

kendali.”

”Apa yang terjadi?” tanya Gajah Mada.

”Justru aku yang butuh jawaban, apa yang terjadi?” jawab Bhayangkara

Macan Liwung.

Ibu Suri Gayatri lenyap dari istananya. Hal itu membuat Gajah

Mada benar-benar cemas. Laporan susulan segera masuk, bahwa Ibu

Suri Tribhuaneswari ternyata tidak apa-apa, bahkan sedang amat nyenyak

dalam menikmati tidurnya. Demikian pula dengan kedua Prabu Putri,

Sri Gitarja Tribhuanatunggadewi dan Prabu Putri Dyah Wiyat Rajadewi

Maharajasa dalam keadaan selamat, masing-masing didampingi oleh

suami.

Dengan bergegas, Patih Gajah Mada menyalurkan perintahnya

melalui anak panah sanderan berapi yang memanjat langit susulmenyusul

sampai lima kali. Suaranya yang melengking dan warnanya

yang kebiruan segera menarik perhatian. Segenap prajurit Majapahit

memahami apa makna perintah itu, bahwa perintah yang harus

dilaksanakan itu berasal dari Patih Gajah Mada, ditujukan tak hanya

kepada pasukan khusus Bhayangkara, tetapi juga dua bregada155 kesatuan

yang lain. Semua prajurit tidak terkecuali, siapa pun harus memerhatikan

155 Bregada, Jawa, satuan kekuatan, dalam dunia militer setara dengan korps

Gajah Mada 254

keadaan di sekelilingnya. Segenap prajurit juga diminta untuk menyebar

ke segala penjuru.

Pimpinan pasukan Jalapati dan Sapu Bayu ikut menerjemahkan

perintah khusus itu dan segera membagi perintah susulan kepada para

lurah prajurit di bawahnya. Bagai ada maleman di tanah lapang Bubat,

anak panah sanderan berapi susul-menyusul dilepas memanjat langit.

Kegaduhan segera terjadi. Prajurit berkuda disebar ke manamana.

Semua pintu gerbang ditutup dan semua orang yang lalu-lalang

di jalan langsung didekati. Akan tetapi, kekuatan sirep yang demikian

besar menyebabkan semua penduduk di kotaraja terlena. Tak seorang

pun penduduk yang masih terjaga dan berada di jalanan, kecuali ketika

isyarat-isyarat yang dilepas bergeser tak sekadar menggunakan anak

panah sanderan, tetapi juga kentongan yang dipukul bertalu-talu.

Isyarat itu segera bersambung dan membangunkan mereka yang

tidur, bersambung dan bersambung lagi, menyebabkan semua orang

keluar rumah dan saling mencari tahu. Namun, tidak seorang pun bisa

memberi jawaban yang benar.

Berita yang beredar simpang siur, tetapi hampir semua orang

menghubungkan dengan huru-hara yang terjadi di siang sebelumnya.

Apa yang terjadi sejak siang bersambung ke petang, disusul rangkaian

peristiwa yang terjadi di gedung perbendaharaan pusaka, meninggalkan

jejak kesan yang sangat mendalam dan membingungkan. Tidak seorang

pun yang mampu memberikan penjelasan berdasar nalar.

Gajah Mada yang dihantui penasaran serasa tak sabar ingin meminta

penjelasan dari Mahapatih Patih Arya Tadah. Namun, lenyapnya Ibu

Suri Rajapatani Biksuni Gayatri meminta perhatian yang amat mendesak.

Demikian cemas Gajah Mada, ia telah berada di atas punggung kudanya

dan berderap menyisir jalan.

Bhayangkara Pring Cluring dan Bhayangkara Raga Jampi adalah

Bhayangkara yang tidak ikut melakukan pengejaran karena masih

disibukkan oleh kebingungannya. Demikian kuat kesan yang tertinggal

mencekam benaknya, Pring Cluring masih berdiri bersandar dinding.

Hamukti Palapa 255

”Berilah aku penjelasan yang paling masuk akal, dengan cara

bagaimana mereka meloloskan diri?” tanya Pring Cluring.

Bhayangkara Raga Jampi juga masih sibuk dengan diri sendiri.

Bhayangkara berbadan gempal itu rupanya sedang tidak terpusat

perhatiannya. Bhayangkara Pring Cluring menggamit lengannya. Raga

Jampi yang tersesat di dunia lamunan itu menoleh.

”Ada apa?”

”Kamu tidak mendengar pertanyaanku?”

”Kamu tadi bertanya apa?”

”Beri aku penjelasan yang masuk akal,” kata Bhayangkara Pring

Cluring. ”Dengan cara bagaimana orang-orang yang sudah dipagari

kepungan rapat, benar-benar rapat dan berlapis, ternyata masih

bisa meloloskan diri? Apa mereka ambles ke bumi atau dengan cara

bagaimana?”

Amat perlahan Bhayangkara Raga Jampi menggeleng, dengan

pandangan mata jatuh di kejauhan, melintasi puncak candi Buddha yang

tampak dari tempatnya.

”Aku tak tahu,” jawabnya. ”Tetapi, tadi aku merasa seperti ada

setan lewat yang terasa dingin sekali melintas di atasku! Mereka mungkin

melarikan diri dengan cara terbang.”

Pring Cluring tidak bisa menerima kilah itu.

”Tak ada manusia yang bisa terbang,” kata Pring Cluring. ”Yang

kamu rasakan itu angin dingin.”

Demikian bingung dan takjubnya Bhayangkara Raga Jampi yang

meskipun telah memeras otak, tak mampu mendapatkan penjelasan yang

paling masuk akal. Tak ada celah karena demikian rapat kepungan yang

dilakukan, rapat berlapis, nyatanya orang-orang yang menyelenggarakan

onar itu mampu meloloskan diri.

”Mula-mula sirep itu, lalu kabut tebal, angin, terakhir muncul angin

lesus sangat deras yang mengisap kabut, serba kebetulankah semua itu?”

Gajah Mada 256

Bhayangkara Pring Cluring membeku.

”Mereka hilang karena menghilang,” bisiknya.

Bhayangkara Raga Jampi terhenyak oleh kemungkinan yang sama

sekali tidak terduga itu. Pring Cluring benar, orang-orang itu lenyap.

Lenyap itu artinya hilang, dan hilang itu bisa jadi karena menghilang.

”Adakah orang berkemampuan menghilang?” bisik Raga Jampi.

Bisik-bisik atas nama kebingungan senada dilakukan oleh para

prajurit, terutama mereka yang terlibat dalam pengepungan secara

langsung. Rasa heran itu makin menjadi manakala peristiwa susulan

telah terjadi, sungguh peristiwa susulan yang mencemaskan karena

menyangkut keselamatan Ibu Suri Gayatri. Ibu Suri Gayatri tidak

diketahui keberadaannya. Bagaimana nasib Ibu Suri Gayatri dan berada

di mana ia?

Pertanyaan itu memancing waktu bergerak terlampau cepat,

semua cemas, semua gelisah memikirkan. Cemas dan kegelisahan

yang berujung ke ketakutan adalah bahan baku yang menyebabkan

waktu terasa bergerak sangat cepat. Bagi orang yang karena tindak

kejahatannya harus menjalani hukuman mati, baginya waktu bergerak

amat cepat, kalau diizinkan orang yang dihukum mati ingin waktu

bahkan berhenti.

Sampai sejauh itu upaya untuk menemukan Ibu Suri Gayatri masih

belum menemukan titik terang. Kecemasan yang serasa merontokkan

jantung itu dialami oleh Prabu Putri Sri Gitarja Tribhuanatunggadewi

Jayawisnuwardhani dan Prabu Putri Dyah Wiyat Rajadewi Maharajasa.

Bagaimana kecemasan tidak dialami anak manakala sang ibu hilang tidak

ada kabar beritanya?

”Di mana Patih Gajah Mada?” Sri Gitarja melontarkan rasa

cemasnya.

Di depannya, Bhayangkara Lembu Pulung sigap memberikan

penghormatannya dan siap memberi keterangan apa pun yang

dibutuhkan.

Hamukti Palapa 257

”Hamba, Tuan Putri, Kakang Patih Gajah Mada saat ini sedang

memburu maling-maling itu dan segenap prajurit dikerahkan untuk

itu,” jawabnya.

Betapa cemas Prabu Putri Sri Gitarja dan Prabu Putri Dyah Wiyat.

Dua raja wanita itulah yang berada di puncak kecemasannya. Prabu

Putri Sri Gitarja yang berusaha untuk bertahan berdiri akhirnya jatuh

terduduk. Prabu Putri Dyah Wiyat rupanya memiliki daya tahan lebih

kuat dan lebih tegar, tetapi kecemasannya tetaplah kecemasan seorang

anak yang memikirkan keselamatan ibunya yang terancam dalam bahaya

dan amat mungkin merenggut nyawanya.

”Ibu harus diselamatkan,” kata Dyah Wiyat dengan rahang bergetar.

”Jika perlu, kerahkan pasukan segelar sepapan untuk mencarinya. Aku tidak

peduli alasan apa pun yang mereka punyai untuk membuat onar dan

berani-beraninya menculik ibuku. Mereka harus dihukum mati dengan

hukuman dipenggal lehernya di alun-alun. Tak perlu orang lain, aku

sendiri yang akan memimpin pelaksanaan hukuman mati itu, bahkan

aku yang akan menjadi jagalnya.”

Berdesir amat tajam dada Bhayangkara Lembu Pulung mendengar

dan melihat tindakan dan ucapan Prabu Putri Dyah Wiyat, yang dalam

banyak hal memiliki sikap lebih tegas dan lebih menonjol dari kakaknya.

Sikap yang dalam keadaan tertentu justru lebih dibutuhkan sebagai

seorang raja, yang harus tegas, yang harus mampu menempatkan diri

sebagai sumber hukum, sabda pandita ratu, tan kena wola-wali, sepisan ngucap

sepisan dadi.156

”Ada berapa ribu jumlah prajurit dari semua kesatuan yang kita

miliki, Kakang Bhayangkara Lembu Pulung?” tanya Prabu Putri Dyah

Wiyat.

Pertanyaan itu mengagetkan Bhayangkara Lembu Pulung karena

tidak memiliki jawabnya. Lembu Pulung seketika merasa bodoh dan

156 Sabda pandita ratu, tan kena wola-wali, sepisan ngucap sepisan dadi, Jawa, ucapan raja tak ubahnya

ucapan pendeta, tak boleh berubah-ubah, sekali bicara langsung jadi

Gajah Mada 258

menyesal, mengapa hanya untuk pertanyaan yang demikian sampai tidak

tahu jawabnya. Berapa jumlah prajurit dari semua kesatuan?

Jumlah prajurit kesatuan pasukan Jalapati dan Sapu Bayu, ia

tidak tahu karena pasukan itu telah menggelembung demikian besar,

mungkin lebih dari lima belas ribu orang, yang ditandai dengan alun-alun

menjadi penuh sesak ketika diselenggarakan upacara tanggap warsa157 atas

berdirinya negara, yang telah digelar belasan kali sejak ditemukannya

tanah Tarik berbarengan dengan hari didapatnya buah maja yang

dimakan terasa pahit.

Penambahan jumlah kekuatan itu terjadi sejak Patih Gajah Mada

memberi perintah penerimaan dan pendadaran prajurit baru untuk

makin memperkuat negara dan untuk keperluan menghadapi musuh

sebagaimana dulu pernah dialami Jayakatwang yang amat kewalahan

menghadapi musuh dari seberang lautan.

Jika yang ditanyakan adalah jumlah pasukan Bhayangkara, Lembu

Pulung tahu sampai ke nama-namanya, jumlah Bhayangkara saripati

kini tinggal sepuluh orang. Mereka itu adalah Bhayangkara Lembu

Pulung, Bhayangkara Panjang Sumprit, Bhayangkara Kartika Sinumping,

Bhayangkara Jayabaya, dan Pradhabasu yang meskipun telah berada di

luar, masih tetap dianggap keluarga Bhayangkara dengan pintu tetap

dibuka lebar jika sewaktu-waktu Pradhabasu mau kembali bergabung.

Lalu, masih ada lagi Bhayangkara Riung Samudra, Bhayangkara Gajah

Geneng, Bhayangkara Gajah Enggon, Bhayangkara Macan Liwung, dan

Bhayangkara Gagak Bongol yang kini menjadi pimpinan pasukan khusus

yang memiliki kemampuan luar biasa dan pilih tanding itu.

Pemekaran juga dilakukan terhadap pasukan khusus Bhayangkara,

yang dilakukan dengan menyaring melalui cara yang sangat ketat terhadap

ribuan prajurit yang berminat, juga dari para pemuda yang mengajukan

diri. Latihan pun dilakukan dengan sangat keras dan ketat yang bahkan

dalam latihan itu terpaksa harus jatuh korban. Menilik pasukan khusus

Bhayangkara memiliki kemampuan yang begitu luar biasa, agak sulit

157 Tanggap warsa, Jawa, ulang tahun

Hamukti Palapa 259

dipahami, mengapa Gajah Mada membatasi jumlah mereka hanya sekitar

seratus orang.

Sebagai pasukan khusus yang bersifat khusus, pasukan Bhayangkara

tidak dibekali beberapa jenis pakaian sebagaimana pasukan yang lain.

Mereka hanya memiliki satu pakaian seragam, yang terdiri atas jarik158

dengan corak mirip sidomukti159 dengan beskap landung160 berwarna hitam

dan udeng161 dari kain bercorak geringsing. Lencana Bhayangkara yang

terbuat dari perak bakar dipasang di dada kiri dan senjata pedang panjang

bergagang panjang tergantung di pinggang sebelah kiri. Pada setiap bilah

pedang tertulis kalimat yang menjadi sesantinya, hanyaken angkara!162

Jika dalam keadaan siaga, prajurit Bhayangkara tidak memerlukan

pakaian seragam lain. Cukuplah dengan menyingsingkan kain panjang

dan melepas pakaian luar yang menyembunyikan pakaian dalam tanpa

lengan berwarna hitam.

Bhayangkara hanya memiliki satu jenis saja pakaian yang diseragamkan.

Pakaian itu hanya untuk keperluan tertentu dan hanya boleh dikenakan di

lingkungan istana. Bahwa pasukan Bhayangkara lebih bersifat sandi dan

serangan dadakan maka di luar dinding istana, pakaian seragam itu tidak

begitu diperlukan dan mereka boleh menggunakan pakaian apa saja.

Namun, masih ada beberapa cara khusus untuk menandai

keberadaannya, yaitu dari kalimat sandi tertentu. Jika ucapan sandi yang

tiap pekan selalu diubah tidak berbalas, berarti seseorang yang ngotot

mengaku-aku Bhayangkara tidak lebih dari Bhayangkara palsu. Pada

malam hari, untuk bisa saling mengenali dan bisa berhubungan, kalimat

sandi macam itu sangat diperlukan.

”Berapa jumlah prajurit itu, Kakang Lembu Pulung?” ulang Dyah

Wiyat dengan mulut terkatup dan tangan gemetar, bukan gemetar gugup

158 Jarik, Jawa, kain panjang sebagaimana sering dipakai perempuan desa Jawa

159 Sidomukti, Jawa, nama corak batik kain panjang

160 Beskap landung, Jawa, baju khas Jawa yang masih bisa kita lihat jejaknya dalam acara adat

161 Udeng, Jawa, ikat kepala yang di zaman selanjutnya berkembang menjadi blangkon

162 Hanyaken angkara, Jawa Kuno, mengusir musuh/kejahatan

Gajah Mada 260

tangan itu. Akan tetapi, gemetar karena menahan amarah yang nyaris

meretakkan dada. Jika ada batu dalam genggaman, batu itu akan diremas

sampai hancur.

”Dua puluh lima ribu, Tuan Putri,” jawab Bhayangkara Lembu

Pulung sekenanya.

Prabu Putri Dyah Wiyat perlahan turun ke pelataran dan menebarkan

pandangan matanya ke hitam malam.

”Aku berikan perintah padamu, Kakang Lembu Pulung, dan

salurkan ke segenap prajurit yang dimiliki negara ini untuk turun semua

mencari ibuku. Mereka menerima gaji untuk pekerjaan yang demikian,

bukan? Cari ibuku sampai ketemu dan temukan orang-orang yang tidak

tahu diri itu, tangkap mereka hidup atau mati.”

Lembu Pulung sigap memberikan penghormatannya, lalu

meninggalkan tempat itu dengan membawa perasaannya yang meluap.

Jika selama ini Lembu Pulung menyimpan keraguan pada kemampuan

rajanya, sangsi itu kini mulai terkikis. Dengan langkah lebar, Lembu

Pulung meninggalkan ratu kembar yang berada dalam pengawalan

sangat ketat itu. Akan tetapi, Lembu Pulung segera bingung, dengan

cara bagaimana ia harus menyalurkan perintah itu karena kewenangan

untuk melakukannya tidak berada di tangannya.

Bhayangkara Lembu Pulung mengangkat jemparing163 dan

menyalakan ujung anak panah sanderan-nya ke obor yang menancap di

halaman. Perlahan Bhayangkara Lembu Pulung mempersiapkan diri

menarik busur dan melepas gagang warastra. Tali busur telah ditarik

sampai menekuk langkap. Jika pegangan atas gagang warastra dilepas,

akan melesat anak panah yang ujungnya menyala.

Seorang prajurit memerhatikan apa yang akan dilakukan Bhayangkara

Lembu Pulung dan menerka perintah apa yang akan dibawa anak panah

yang melesat memanjat langit itu.

”Ibu Suri telah kembali!” tiba-tiba terdengar sebuah teriakan.

163 Jemparing, Jawa, busur lengkap dengan anak panahnya

Hamukti Palapa 261

Bhayangkara Lembu Pulung terkejut dan segera membatalkan

niatnya. Suara teriakan dari kejauhan itu berasal dari pintu gerbang

Purawaktra. Maka, ke sanalah Bhayangkara Lembu Pulung berlari dengan

sekuat-kuatnya. Bhayangkara Lembu Pulung merasa lega bukan kepalang

saat melihat segenap prajurit dalam sikap jongkok, memberi hormat

kepada Ibu Suri yang melangkah perlahan.

Berita itu akhirnya sampai pula ke telinga kedua Prabu Putri. Sri

Gitarja yang lemas kehilangan kekuatan untuk berdiri malah bertambah

lemas memperoleh berita yang melegakan itu. Berbeda dengan Dyah

Wiyat yang dibimbing suaminya, Prabu Putri kedua itu justru berlari-lari

turun ke halaman.

Raden Cakradara yang bergelar Sri Kertawardhana itu berusaha

menenteramkan istrinya.

”Ayo, kita jemput Ibu,” ucap Sri Kertawardhana sambil mengangkat

bahu istrinya.

Dari tengah alun-alun, Lembu Pulung mempersiapkan lima buah

anak panah sekaligus yang memiliki sifat sangat berbeda dengan anak

panah sanderan sebelumnya. Ketika melihat isyarat panah sanderan dengan

warna kebiruan berganda, Gajah Mada yang memacu kudanya karena

merasa harus berbalap dengan waktu segera balik arah, debu mengepul

dari perputaran gerak kuda yang tegar itu.

Betapa lega Gajah Mada ketika makin mendekat ke Purawaktra

mendengar teriakan-teriakan yang diucapkan para prajurit.

”Ibu Suri telah kembali!” teriak seorang prajurit.

”Apa kaubilang?” balas prajurit yang lain.

”Ibu Suri telah kembali, Ibu Suri telah ditemukan.”

Tanpa mengurangi kecepatan, Gajah Mada melintas masuk

Purawaktra. Para prajurit jaga yang mengenalinya berloncatan menepi,

memberi jalan.

Gajah Mada 262

17

Manakala kabut demikian tebal membutakan mata, adalah waktu

mundur ketika pengepungan terhadap gedung pusaka sedang berlangsung

demikian rapat, tanpa seorang prajurit pun yang menyadari kepungan itu

sia-sia karena orang yang terjebak di dalam telah meloloskan diri. Tidak

sekadar meloloskan diri, mereka bahkan berhasil mencuri mahkota dan

melakukan perbuatan lain yang lebih dari itu.

Pintu yang terbuka perlahan adalah gerak yang tidak menimbulkan

suara, serasa ada kekuatan yang menyerap suara itu dan lenyap entah

ke mana. Itulah sebabnya, Bhayangkara Macan Liwung dan segenap

Bhayangkara anak buahnya yang mengawal istana kediaman Ibu

Suri tidak menyadari, para maling tindak durjana itu telah memasuki

bangunan istana yang paling dihormati itu.

Tak seorang pun yang menyadari ketika Ibu Suri dipaksa jengkar dari

kediamannya. Dengan kebersihan hatinya, Ibu Suri Gayatri tak merasa

perlu memberikan perlawanan, bahkan andaikata orang-orang jahat itu

berniat mengambil nyawanya. Empat orang pengikut Kiai Wiragati tidak

bisa memaksanya berjalan lebih cepat. Masalah yang mengganggu justru

berasal dari Kiai Wiragati yang tidak lagi didukung napas yang panjang.

Kiai Wiragati yang tersengal meminta berhenti beberapa kali untuk

mengendalikan denyut jantung yang melebihi batas kekuatannya.

Ke tengah lapangan Bubat yang masih jauh dari tempat kudakuda

disembunyikan, Ibu Suri Gayatri dibawa. Jika Kiai Wiragati tidak

berhadapan dengan masalah yang timbul di paru-parunya, barangkali

perjalanan itu masih harus berlanjut lebih jauh lagi.

Terus tersengal-sengal napas orang itu sehingga membutuhkan

waktu lebih panjang untuk mengendalikan diri. Dalam gelap malam,

Sri Jayendradewi Dyah Dewi Rajapatni Biksuni Gayatri memerhatikan

wajah-wajah di depannya. Salah satu di antaranya sangat ia kenali terkait

Hamukti Palapa 263

rangkaian peristiwa yang berhubungan dengan dirinya di bentangan

waktu sekitar empat puluhan tahun yang silam. Waktu yang telah

berlalu lama sekali. Ketika itu, ia masih salah seorang sekar kedaton di

Istana Singasari. Pengenalannya terhadap Kiai Wirota Wiragati tidaklah

sembarangan karena ada jalinan asmara yang mengikat dirinya dengan

orang itu. Ada janji yang tidak bisa ditepati dan muncul dendam sebagai

tebusannya.

Tidak seorang pun dari empat orang pengikut Kiai Wiragati yang

berbicara. Mereka menempatkan diri menyimak pembicaraan yang akan

terjadi antara dua orang yang amat saling mengenal di masa silam itu.

Namun, entah mengapa kali ini justru Kiai Wiragati mengalami kesulitan

untuk berbicara.

Ratu Biksuni Gayatri yang memulai.

”Bagaimana kabarmu, Kakang Maling?” tanya Gayatri yang tidak

mampu menyembunyikan semacam kerinduan.

Kiai Wirota Wiragati merasa ada bongkahan biji kedondong yang

mengganjal tenggorokan dan sulit untuk dikeluarkan maupun ditelan.

Setelah sekian lama laki-laki tua itu memendam sakit hati, inilah

kesempatan baginya untuk membongkar bongkahan dendam dan sakit

hati itu.

”Kau menculikku tentu bukannya tanpa maksud, Kakang Maling?”

tanya Gayatri dengan suara sangat sejuk.

Ternyata benar sebagaimana diduga oleh Mapatih Arya Tadah, Kiai

Wiragati adalah Wirota Wiragati, tokoh yang menyumbang peran cukup

besar dalam membantu Raden Wijaya menyelamatkan diri dari serbuan

pasukan Gelang-Gelang, yang merupakan kepanjangan perjalanan

sejarah negara Kediri. Sayang, mantan maling itu memiliki sifat kejam

dan perilaku yang sering kurang terpuji.

Kiai Wirota Wiragati yang makin tua mulai kabur pandangan

matanya. Ia mencermati keadaan di sekitarnya dengan lebih mengandalkan

ketajaman indra telinganya. Pandangan matanya tak mampu menandai

bagaimana wujud Gayatri sekarang.

Gajah Mada 264

”Kaubohongi aku, Gayatri!” Kiai Wirota Wiragati meletup.

Gayatri menghirup tarikan napas amat panjang. Gayatri merasa

harus menyesali sebuah hal, dalam usianya yang sudah sangat senja,

ternyata masih harus terbelit masalah duniawi. Terhadap laki-laki

yang kini berada di depannya, Gayatri tidak menyalahkan apa yang

diperbuatnya.

Gayatri merasa dirinya bersalah karena ia yang membuat janji,

tetapi tak mampu memenuhi. Bukan karena adanya niat mengingkari,

tetapi lebih karena suratan nasib. Hyang Widdi yang telah menggariskan

nasib semua manusia. Lebih jauh, boleh dikata, Gayatri berutang nyawa

kepada orang itu. Tak hanya menyelamatkan nyawanya, Kiai Wirota

Wiragati bahkan menyelamatkannya dari ancaman paling nista yang

akan menghantui perempuan mana pun, diperkosa.

”Bagaimana keadaanmu sekarang?”

Kiai Wirota Wiragati harus menahan sesak napasnya. Terhadap

perempuan yang kini berada di depannya dan meski empat puluhan

tahun telah berlalu, perasaannya sama sekali tidak berubah.

Dengan susah payah, Kiai Wirota Wiragati berusaha mengusai diri.

Laki-laki tua itu membiarkan Gayatri menyentuh tangannya.

”Kalian menjauhlah, jangan ada yang ikut menyimak pembicaraan

kami!” ucap Kiai Wirota Wiragati ditujukan kepada pengikutnya yang

tak hanya menempatkannya sebagai guru, tetapi sekaligus lambang

kekuatan perjuangan.

Udan Tahun, Panji Hamuk, Bremoro, dan Lanjar Manuraha tidak

perlu menunggu perintah itu diulang kembali. Keempat lelaki yang

masing-masing bertubuh kekar dan berhati beku itu menjauh dan

menempatkan diri mengamankan tempat itu. Ada sesal di hati mereka

karena tidak bisa mengikuti pembicaraan yang tengah berlangsung.

Hanya Bremoro yang mempunyai kesibukan tersendiri, tangannya

meraba mahkota yang berada dalam pelukannya. Mahkota yang

dikenakan mendiang Prabu Sri Jayanegara itu pastilah berharga mahal

karena pada bagian tertentu berhias intan permata.

Hamukti Palapa 265

”Sudah berapa lama kita tidak bertemu?” tanya Kiai Wirota Wiragati

datar.

Pertanyaan itu bagai melemparkan Gayatri ke pertemuan terakhir

yang terjadi di masa silam.

”Lama sekali!” jawab Gayatri.

”Lama sekali itu berapa tahun?” ulang Kiai Wirota Wiragati.

”Mungkin empat puluh tahun, lebih atau mungkin kurang,” jawab

Gayatri.

Kiai Wiragati memerhatikan warna hitam di depannya. Laki-laki tua

itu berdiri lurus dan tepat di depan perempuan yang selama ini dengan

begitu sempurna membuat gelisah hatinya. Namun, Kiai Wiragati yang

berusaha keras mengenang, sama sekali tidak berhasil mendapatkan

wajah yang membuatnya mampu berbuat apa pun di masa lalu itu.

Wajah cantik yang selalu menghiasi mimpinya itu bahkan melenyap. Sulit

menghadirkan kembali meski hanya di wilayah lamunan.

”Bagaimana wujudmu sekarang?” tanya Kiai Wirota Wiragati.

Pertanyaan itu sungguh membuat Ibu Suri Gayatri terhenyak. Gayatri

sangat tahu, mengapa Kiai Wirota Wiragati bertanya soal wujudnya

sekarang. Di rentang waktu yang telah demikian lama, sikap maling yang

menggegerkan di zaman Singasari itu sama sekali tidak berubah.

”Aku seorang perempuan tua, Kakang. Aku sudah disebut neneknenek

meski aku belum memiliki cucu. Usiaku berada di angka enam

puluhan tahun,” jawab Gayatri.

Jawaban itu membungkam mulut Kiai Wirota Wiragati. Ibu Suri

Gayatri tidak menolak dan membiarkan apa yang dilakukan Kiai Wirota

Wiragati yang menggerayangi wajahnya, menelusuri lekuk-lekuk keriput

kulit mukanya, dan berhenti di kepalanya yang gundul. Sebagai orang

yang terganggu pandangan matanya, hanya itulah cara tersisa yang bisa

digunakan Kiai Wiragati untuk mengenali wujud orang lain.

”Kamu tua sekali dan sekarang kamu seorang biksuni?” Kiai Wirota

Wiragati bertanya.

Gajah Mada 266

”Ya!” jawab Rajapatni Gayatri. ”Aku telah menyerahkan jiwa dan

ragaku untuk kehidupanku Sang Buddha.”

”Sebenarnya aku ingin membawamu, tetapi dengan keadaan dan

jalan hidupmu sekarang, aku tak akan membawamu.”

Kiai Wirota Wiragati termangu beberapa jenak, dan manakala

laki-laki tua itu manggut-manggut, bukanlah dalam rangka memahami

keadaan, tetapi lebih karena menyesali perjalanan waktu yang demikian

panjang dan nyaris sia-sia.

”Maafkan aku, Kakang Wirota,” ucap Gayatri yang merasa bersalah.

Kiai Wirota Wiragati merasa gatal di tenggorokannya yang akhirakhir

ini sering terasa, muncul lagi. Bagaimanapun, Kiai Wirota Wiragati

hanyalah manusia yang memiliki banyak kekurangan dan jauh dari

sempurna. Walaupun angan mumbul setinggi langit, tak ada seorang

pun manusia yang mampu menghentikan ketuaan. Di usia yang sangat

tua, orang akan akrab dengan segala macam penyakit, kesehatan pun

menurun dan rentan terhadap gangguan. Padahal, gangguan itu banyak

sekali. Hati tidak senang pun bisa menjadi gangguan.

Saat batuk, Kiai Wirota Wiragati sampai terbungkuk-bungkuk.

Melihat batuk yang demikian menyiksa, menggelitik rasa belas kasihan di

hati Ibu Suri Gayatri yang bergegas memberi pertolongan. Pijatan yang

diberikan di bagian punggung dan leher sedikit meredakan gangguan itu.

Sentuhan yang dilambari hati sangat bersih itu juga menenteramkan hati

Kiai Wirota Wiragati yang demikian lama memendam rasa kecewa.

”Mengapa kauingkar janji, Gayatri?” tanya Kiai Wirota Wiragati.

Gayatri tidak perlu mengunyah lebih dalam pertanyaan itu.

”Aku sama sekali tidak memiliki kekuatan untuk menentukan

nasibku sendiri, Kakang Wirota! Pepesthen164 yang lebih banyak bicara

dan membelitku,” jawab Gayatri.

164 Pepesthen, Jawa, takdir

Hamukti Palapa 267

Jawaban itu sungguh menyebalkan, tetapi Kiai Wirota Wiragati tidak

mungkin mengingkarinya sebagai sebuah kenyataan, bahwa sebagian

penyebab kekacauan adalah pada dirinya. Wirota Wiragati muda terlalu

lama menghilang tidak ada jejaknya. Waktu yang panjang itu ia buang

untuk memuasi rasa ingin tahunya dengan menyeberang ke beberapa

negara di seberang lautan, khususnya untuk melihat negeri Tartar dari

jarak dekat yang ternyata tidak kesampaian. Ketika Wirota Wiragati

muncul kembali, keadaan telah telanjur tak bisa diperbaiki. Gayatri

yang menunggunya dengan sebuah janji itu telah menjadi istri Wijaya,

sebagaimana tiga orang saudaranya yang lain.

”Apakah demikian mudah kau melupakan apa yang terjadi,

Gayatri?” tanya Kiai Wirota Wiragati.

Gayatri tersenyum.

”Bagian mana yang Kakang Wirota ingin aku mengenang kembali.

Apa yang aku alami ketika besan ayahku menyerbu istana dan aku

terpisah dari keluargaku? Aku tidak mungkin lupa pada semua tindakan

yang Kakang ambil untuk menyelamatkan aku. Apa yang terjadi itu

serasa baru berlangsung kemarin petang. Bau ruangan pengap Keputren

Gelang-Gelang tempat aku nyaris terjamah nista itu bahkan serasa masih

melekat di hidungku.”

Kiai Wirota Wiragati merasa punggungnya berdesir.

”Benarkah kau merasa baru terjadi kemarin petang?”

”Karena aku tak mampu melupakan sampai ke bagian-bagian yang

paling kecil, terutama apa yang akan dilakukan Mahisa Mundarang

kepadaku! Aku tidak akan lupa dengan alunan seruling yang

membingungkan itu, juga ular-ular yang bermunculan entah dari

mana yang menyebabkan lebih dari sepuluh orang prajurit kehilangan

nyawanya, juga nyaris membunuh Prabu Jayakatwang. Semua kejadian

itu menancap di benakku menjadi kenangan yang tak mungkin bisa

dihapus begitu saja.”

Kiai Wiragati tiba-tiba tersenyum. Untuk sebuah hal, Kiai Wiragati

merasa Gayatri benar.

Gajah Mada 268

”Sama, aku juga merasa seperti baru kemarin petang,” gumamnya.

”Mengenang bakar-bakaran istana yang dilakukan orang-orang dari

Gelang-Gelang, aku merasa bagai baru terjadi kemarin petang. Di

Mameling, aku membuat kekacauan luar biasa, membuat pimpinan

pasukan Gelang-Gelang bernama Jaran Guyang demikian marah.

Aku dikejar-kejar yang untunglah aku bertemu dengan Raden Wijaya,

yang kemudian menempatkan aku sebagai pahlawan dan sahabat. Aku

tidak mungkin melupakan tindakan apa saja yang aku lakukan saat itu.

Aku memanfaatkan kesempatan untuk memancing di air keruh. Aku

kuras habis harta orang-orang kaya yang melarikan diri sehingga aku

memperoleh satu peti perhiasan, sekaligus aku melaksanakan perintah

dari Raden Wijaya untuk menemukanmu. Aku berhasil menemukanmu

di saat yang tepat.”

Rajapatni Biksuni Gayatri menunduk, apa yang disampaikan Wirota

Wiragati itu merupakan wilayah kenangan yang amat buruk, bahkan

menjadi mimpi buruk abadi yang selalu menyelinap di tiap tidurnya.

Bermula dari serbuan dan bara api yang membakar istana, menjadi

penyebab kocar-kacir seluruh keluarganya. Sang Prabu Sri Kertanegara

pralaya karena berusaha mempertahankan istana, terpanggang di dalam

panasnya bara dahana.

Dalam pelarian menyelamatkan diri dari serbuan penjarah Gegelang

atau Gelang-Gelang yang menuntut balas dendam lama atas apa yang

pernah dialami Kediri, yang pernah diserbu Tumapel yang di kemudian

hari berubah menjadi Singasari, Gayatri terpisah dari para saudaranya

yang lain dan tertangkap oleh pasukan musuh.

Prabu Jayakatwang adalah besan ayahandanya karena salah seorang

anaknya yang bernama Ardaraja dikawinkan dengan adik bungsunya.165

Itu sebabnya, selama ia berada dalam kekuasaan Gegelang, ia diperlakukan

dengan baik. Akan tetapi, tidak demikian sikap Mahisa Mundarang. Patih

Gelang-Gelang itu demikian bernafsu dan berniat memperkosa dirinya.

165 Sampai sejauh ini penulis masih belum menemukan referensi siapa nama anak terakhir Prabu Kertanegara,

beberapa sumber hanya menyebut adik kandung Gayatri ini dikawinkan dengan Ardaraja, anak

Jayakatwang dari Gelang-Gelang.

Hamukti Palapa 269

Untung pada saat yang demikian genting, muncul Wirota Wiragati

yang mampu merebut dan menyelamatkannya. Ketika merasa berutang

budi dan telah diselamatkan nyawanya, dalam keadaan yang demikian

Gayatri sama sekali tidak keberatan membuka hatinya kepada maling

yang tidak pernah tertangkap itu. Hanya karena imbauan Raden Wijaya,

Wirota Wiragati menghentikan pekerjaannya yang tidak terpuji.

Namun, sebuah hal yang sulit dimengerti dan Gayatri tidak

tahu jawabnya adalah mengapa setelah peristiwa itu, Wirota Wiragati

menghilang seperti ditelan bumi untuk waktu yang demikian panjang,

menjanjikan penantian tanpa ujung yang menjadi penyebab Gayatri

menyetujui ajakan saudara-saudaranya yang lain untuk bersuamikan satu

orang yang sama, Raden Wijaya.

”Aku sudah tua dan ke manakah akan pergi orang yang makin

renta seperti aku ini? Sebaiknya aku tak perlu membangun rumah

mimpi dan segera terbangun. Kembalilah, aku tak akan memaksamu

menumbuhkan kembali rambut gundulmu!” kata Kiai Wirota Wiragati

dengan suara parau.

Ucapan laki-laki yang pernah dikecewakan dan entah mengapa

belum larut meski usianya telah merambah tua itu, menyebabkan Gayatri

merasa sangat tidak nyaman.

Rajapatni Biksuni Gayatri merasa masih belum cukup alasannya

bersembunyi di balik takdir karena seharusnya jika hatinya kukuh, tentu

masih ada kesetiaan dan oleh karenanya sebenarnya bukan masalah

pepesthen. Apa yang terjadi mungkin memang berada di bingkai garis

hidup, tetapi bisa pula tidak, karena bisa jadi hanya berada di wilayah

antara ingkar janji atau menepati janji.

”Kembalilah. Aku akan mengembalikan kesadaranku bahwa aku

telah renta. Aku sudah tidak muda lagi yang oleh karenanya tak perlu

berangan-angan, atau sejujurnya aku harus mengatakan, perasaan yang

dulu pernah meluap itu kini telah tak ada jejaknya. Keinginan orang

yang sudah renta seperti diriku tidak seperti mereka yang muda-muda.

Aku hanya ingin berbuat sesuatu sebelum kematian menjemputku. Aku

ingin masih ada orang yang mengenang namaku.”

Gajah Mada 270

Gayatri mengangguk.

”Rupanya Kakang Wirota masih menyimpan keinginan dan hasrat

dalam bentuk lain. Kalau boleh tahu, apakah Kakang mempunyai

keturunan?”

”Keturunan?” balas Kiai Wirota Wiragati terkejut.

”Barangkali,” tambah Rajapatni Biksuni Gayatri. ”Keturunan

yang akan Kakang wisuda menjadi seorang raja dengan memanfaatkan

benda-benda yang Kakang curi itu, mungkin dengan lambaran duduk

cihna gringsing lobheng lewih laka, dipayungi songsong Udan Riwis, dan

mengenakan mahkota, yang entah mengapa banyak orang menganggap

benda-benda itu bertuah.”

Kiai Wirota Wiragati tertawa karena menganggap pertanyaan

Gayatri itu lucu. Namun, justru karena itu batuknya kembali terpingkalpingkal

dan susul-menyusul. Ibu Suri Gayatri segera bertindak. Sama

sekali tidak risih, Ratu Biksuni Gayatri menelusuri leher Kiai Wirota

Wiragati melalui sentuhan simpul saraf yang meredakan batuk.

”Kau sebenarnya sudah tahu jawaban dari pertanyaanmu itu!” jawab

Kiai Wirota Wiragati.

”Jika demikian, untuk apa kau mencuri mahkota milik mendiang

Anakmas Prabu Sri Jayanegara itu? Apakah dengan demikian, Kakang

berniat mewisuda seseorang untuk menjadi raja di wilayah Majapahit?”

tanya Gayatri.

Kiai Wirota Wiragati terdiam untuk beberapa saat lamanya.

Pertanyaan itu tidak segera dijawab. Ratu Rajapatni Biksuni Gayatri

masih menunggu dengan sabar. Namun, Kiai Wirota Wiragati belum

berbicara juga.

Gayatri kembali memecah keheningan.

”Bagaimana, Kakang? Bolehkah aku mengetahui ada maksud

apakah di balik apa yang Kakang lakukan? Sekadar meminta dan

mengambil kembali benda yang dulu pernah Kakang hadiahkan atau

benda itu memang akan digunakan untuk mewisuda seseorang yang ada

Hamukti Palapa 271

kaitannya dengan suasana menghangat di Keta dan Sadeng? Jika benar,

tidakkah Kakang berpikir, hal itu akan mengoyak keutuhan negara dan

menjadi simpul penyebab terjadinya perang?”

Pertanyaan itu menyebabkan Kiai Wirota Wiragati merasa tidak

nyaman. Ada rasa jengah ketika berbicara soal itu dengan Gayatri.

Sebaliknya, Kiai Wirota Wiragati yang tua itu bisa bersemangat berkobarkobar

ketika berbicara dengan orang lain, apalagi jika yang dibicarakan

adalah masa depan Keta.

”Sebenarnya bukan mahkota itu yang mengundangku untuk datang

ke gedung perbendaharaan pusaka. Namun, dua benda yang lain yang

saat ini sedang aku butuhkan, tetapi tidak aku temukan di ruangan itu. Di

mana cihna gringsing lobheng lewih laka yang asli dan songsong Udan Riwis?

Apakah dua benda itu telah jengkar dari istana? Aku tidak merasakan

baunya di ruangan itu!” ucap Kiai Wirota Wiragati.

Ibu Suri Gayatri kembali membantu meredakan melalui pijatan di

punggungnya ketika Kiai Wirota Wiragati amat terganggu oleh batuknya

yang beruntun. Amat bersusah payah Kiai Wirota Wiragati berusaha

mengusai diri.

”Kita sudah tua, Kakang Wirota,” ucap Rajapatni. ”Di usia tua,

sebaiknya kita beristirahat dan biarlah yang muda-muda berkiprah

dengan penuh semangat. Namun, rupanya dengan kesehatan yang seperti

ini, Kakang Wirota masih memaksa diri berkuda menempuh perjalanan

jauh yang mungkin Kakang lakukan berhari-hari dari Keta menuju

tempat ini. Bahkan, mungkin Kakang juga menempuh perjalanan lebih

jauh lagi dan tak masuk akal, misalnya begitu jauhnya sampai Nusa Bali?

Aku pernah mendengar, ada prajurit yang menemukan jejak Kakang.

Konon, Kakang berada di Bali. Lupakan semua hasrat, Kakang. Tiba

saatnya kini Kakang mempersiapkan diri menunggu hari yang penting itu

tiba, menunggu kedamaian ketika raga tidak lagi dihuni oleh nyawa.”

Nasihat yang mestinya mengena ke hati yang apalagi diberikan oleh

Gayatri itu, ternyata tak menyebabkan Kiai Wirota Wiragati mengendap.

Nasihat itu malah menjadi api yang disiram oleh minyak. Dengan

bersusah payah, Kiai Wirota Wiragati berusaha mengendalikan diri.

Gajah Mada 272

”Aku tidak mau membuang waktu sia-sia. Sebelum kematian

menjemputku, aku harus mewujudkan apa yang aku inginkan,” jawabnya.

”Untuk melihat berdirinya negara baru?” pancing Rajapatni

Gayatri.

Kiai Wirota Wiragati kembali memegang tangan Gayatri dan

menelusurinya hingga ke wajah. Kiai Wirota Wiragati sangat ingin tahu,

bagaimana raut muka Gayatri ketika ia berbicara itu. Jika Kiai Wirota

menduga dari wajah tua itu akan terbaca kemarahan atau hal-hal yang

masih menyiratkan keduniawian, Kiai Wirota Wiragati salah.

Sejak memutuskan diri menjadi seorang biksuni, Rajapatni Gayatri

benar-benar tidak lagi mengikat diri terlampau kuat pada semua urusan

duniawi.

”Bagaimana, Kakang?” kejar Gayatri dengan sejuk.

”Aku ingin tahu, di mana dua benda itu disimpan?” kejar Kiai

Wiragati yang tak menanggapi pertanyaan Gayatri.

Gayatri mempersiapkan diri menjawab.

”Ingat gempa bumi yang terjadi beberapa waktu yang lalu?”

Ratu Gayatri berkata dengan suara datar. ”Bersamaan dengan malam

terjadinya gempa itu, dua benda yang Kakang persoalkan itu hilang.

Ada maling yang juga merasa berkepentingan dengan benda itu dan

mendahului mengambil. Sebelum Kakang Wirota Wiragati datang, telah

ada maling yang mendahului mencuri benda-benda itu.”

Kiai Wirota Wiragati terkejut.

”Benda itu dicuri orang?” kejar Kiai Wirota Wiragati yang masih

dibelit oleh rasa kaget.

”Kakang tidak percaya?” balas Gayatri.

”Ya, aku percaya!” balasnya. ”Aku tentu percaya, kau tidak pernah

berbohong kepadaku kecuali satu hal.”

Apa yang diucapkan Kiai Wirota Wiragati itu menyebabkan Biksuni

Gayatri harus tersenyum kecut.

Hamukti Palapa 273

Jauh-jauh dari Keta, tempat asalnya, Kiai Wirota Wiragati datang ke

Ibu Kota Majapahit untuk mencuri benda-benda yang dianggap sebagai

pusaka. Namun, rupanya telah ada orang yang mendahului mencuri dua

benda itu. Pencurian yang dilakukan oleh pihak lain mendahului apa yang

akan dilakukannya itu seketika memunculkan pertanyaan, untuk maksud

apa pihak lain itu mencuri benda-benda itu? Adakah sama dengan latar

belakang niatnya yang dibawa jauh-jauh dari pesisir Keta?

”Kau bisa menerka pihak mana yang melakukan pencurian dua

pusaka itu?” tanya Kiai Wirota Wiragati lagi.

Gayatri merasa tidak perlu menjawab pertanyaan itu.

”Yang jelas, saat ini Majapahit tengah menyebar prajurit telik sandi

ke pelosok-pelosok untuk melacak lenyapnya dua benda pusaka itu.

Namun, sampai sejauh ini belum ada prajurit yang kembali membawa

jawaban.”

Kiai Wirota Wiragati berpikir keras.

”Berarti dua benda itu sedang berkeliaran di luar istana?”

”Ya!” jawab Gayatri.

”Kalau begitu, aku akan ikut bermain dalam permainan petak

umpet yang telah digelar orang itu. Aku harus bisa merebut kedua

benda itu.”

Gayatri memerhatikan kabut yang melayang di mana-mana. Tak

seperti di dalam lingkungan istana, kabut yang turun di lapangan Bubat

itu tidak begitu tebal dan masih menyisakan jarak pandang. Gayatri

tidak mengalami kesulitan memerhatikan bintang-bintang di langit.

Meski usianya sudah tua, anak Kertanegara itu masih mampu menandai

gemerlap kartika dengan baik.

”Kalau boleh aku tahu dan mencemaskan, Kakang Wirota,”

kata Gayatri. ”Apakah Kakang akan berada di belakang gerakan yang

dilakukan oleh orang-orang di Keta dan Sadeng? Kalau dugaanku itu

benar, sungguh sangat aku sayangkan. Sekali lagi aku ingin mengingatkan,

kalau sampai terjadi perang, rakyat yang tak bersalah yang lagi-lagi akan

Gajah Mada 274

menjadi korban. Akan banyak orang yang mendendangkan tembang

tangis.”

Bahwa karena dugaan Gayatri benar adanya, Kiai Wirota Wiragati

tak menjawab pertanyaan itu. Namun, Kiai Wirota memang telah bulat

niatnya dan bergeming pada apa yang telah dimimpikan. Mimpi yang

dibangun jauh sebelumnya dan harus bisa diwujudkan sebelum ketuaan

menjemput kematian.

”Aku tak akan mundur selangkah pun. Aku telah berada sejauh

ini,” jawab Kiai Wirota Wiragati.

”Jika demikian, sungguh sangat aku sayangkan!” kata Gayatri.

Kiai Wirota Wiragati merasa tak ada lagi masalah yang masih harus

dibicarakan. Sesuatu dikeluarkan dari dalam saku bajunya dan diserahkan

kepada Gayatri.

”Ini, terimalah dan kembalilah. Aku batalkan niatku untuk

membawamu,” kata laki-laki tua itu.

Gayatri menerima sebuah benda yang tak jelas wujudnya. Gayatri

terperanjat ketika mengenali benda yang berada dalam genggamannya itu.

”Kau masih menyimpan benda ini?” tanya Gayatri dengan suara

serak.

”Tentu, dan aku merasa sebaiknya aku tidak menyimpan benda itu.

Sudah, semua sebaiknya berakhir sekarang dan kembalilah!”

Gayatri yang tua, yang segenap rakyat Majapahit menghormatinya

sebagai Ibu Suri, ibu kandung dua Prabu Putri, yang dihormati pula

sebagai biksuni, juga sebagai janda mendiang Raja Majapahit pertama

yang selalu berada dalam kenangan segenap rakyatnya, tetaplah seorang

manusia yang mempunyai masa lalu, pernah menjadi sekar kedaton dan

memiliki banyak kenangan, baik yang indah maupun pengalaman yang

mendebarkan.

Apa yang dialaminya ketika Singasari dilibas huru-hara oleh

serangan Gelang-Gelang dan menempatkannya sebagai seorang sekar

kedaton yang ditawan, semua itu menjadi simpul kenangan yang amat

Hamukti Palapa 275

indah saat muncul seorang pemuda gagah perkasa yang tampil bak

pangeran turun dari langit meski pemuda itu seorang maling dan banyak

menyimpan cerita tindak perbuatan yang tidak terpuji.

Mengenai pekerjaannya yang tidak terpuji sebagai maling, bukankah

Sri Baginda Sri Ranggah Rajasa Batara Sang Amurwabhumi juga mantan

maling, perampok, dan bahkan pemerkosa?

”Maafkan aku, Kakang,” bisik Gayatri dengan suara amat serak.

”Tidak perlu ada yang dimaafkan,” jawab Kiai Wirota Wiragati.

”Mungkin kamu tidak bersalah, mungkin akulah yang bersalah, atau

mungkin pepesthen yang bersalah. Kau benar, aku sekarang sudah tua. Aku

harus banyak merenung dan berpikir, simpulan apa yang aku peroleh

setelah menempuh perjalanan panjang hidupku.”

Rajapatni Biksuni Gayatri memaksa menggerakkan kakinya yang

serasa enggan bergerak menerobos tebalnya kabut malam yang turun

dengan cara yang aneh. Rangkaian peristiwa yang terjadi puluhan

tahun yang lalu bagai terputar kembali mengiring langkah kakinya yang

mengayun bagai kekurangan tenaga. Namun, kesadaran bahwa dirinya

tidak boleh lagi terbelenggu urusan duniawi memberi kekuatan untuk

mengayun langkah lebih lebar.

Dengan sebuah isyarat, Kiai Wirota Wiragati memanggil para

pengikutnya. Udan Tahun, Panji Hamuk, Lanjar Manuraha, dan Bremoro

sigap menunggu perintah.

”Kita pulang, ambil kuda-kuda dan aku menunggu di sini.”

Manakala beberapa saat kemudian terdengar derap kuda membelah

malam dan bergerak meninggalkan kotaraja adalah bersamaan

dengan munculnya beliung meliuk kencang, yang membelit kabut dan

membuangnya entah ke mana. Langkah demi langkah Ibu Suri Gayatri

yang telah tua itu mengayun menyusuri jalan yang membawanya ke pintu

gerbang Purawaktra.

Beberapa prajurit kaget ketika mengenalinya. Dengan gugup, prajurit

itu berteriak-teriak mewartakan apa yang diketahuinya. Dengan sigap,

puluhan prajurit menempatkan diri mengawal perempuan itu. Gajah

Gajah Mada 276

Mada yang memacu kencang kudanya menyusur jalanan, mendapatkan

berita itu pula.

18

Meski Ibu Suri Rajapatni Biksuni telah kembali, bukan berarti

Gajah Mada boleh menganggap persoalan usai. Perintah pencarian

besar-besaran untuk memburu pembuat onar segera disalurkan melalui

anak panah sanderan berapi yang dilepas membubung ke langit dengan

nada tertentu dan warna api tertentu. Tak seekor kuda pun yang masih

ada di kandang, tak ada prajurit yang dibiarkan diam tanpa melakukan

apa pun. Dengan sigap, trengginas, dan terampil, para prajurit melakukan

pengejaran dengan berpacu di atas kuda masing-masing. Melesat bagai

membelah angin, mereka memburu pembuat onar, menyusur semua

ruas jalan yang berawal dari lingkungan istana.

Dengan lega dan kepanikannya, Prabu Putri Sri Gitarja

Tribhuanatunggadewi yang didampingi suaminya menemui ibunya.

Demikian pula dengan Dyah Wiyat Rajadewi Maharajasa yang

didampingi Breh Wengker Wijaya Rajasa Hyang Parameswara Sang

Apanji Wahninghyun, dililit rasa ingin tahu untuk segera mengetahui

apa yang terjadi. Akan tetapi, sampai sejauh itu Ibu Suri Gayatri

masih belum mau menceritakan apa yang terjadi dan dialaminya. Di

dalam bilik pribadinya, Ibu Suri Gayatri hanya ditunggui oleh Ibu

Suri Tribhuaneswari yang menyempatkan diri menemuinya setelah

mendengar geger genjik166 yang terjadi.

166 Geger genjik, Jawa, arti harfiahnya panik yang dialami anak babi, sebuah perumpamaan untuk kekacauan

yang terjadi.

Hamukti Palapa 277

Semua pimpinan pasukan menemui Gajah Mada di Balai Prajurit.

Senopati Haryo Teleng yang memimpin pasukan Jalapati hadir

pertama di Balai Prajurit, disusul oleh Senopati Panji Suryo Manduro

yang membawahi pasukan Sapu Bayu. Gajah Mada belum membuka

pembicaraan sampai Senopati Gagak Bongol yang memimpin pasukan

khusus Bhayangkara hadir di tempat itu.

Dalam pembicaraan para pejabat penting itu tidak terlihat Mahapatih

Arya Tadah. Mahapatih Tadah sedang berada di istana kediaman Ibu Suri

Gayatri. Mapatih Arya Tadah yang berada di luar pintu bersama para

Prabu Putri sama penasarannya dan ingin segera mengetahui pengalaman

buruk macam apa yang menimpa Ibu Suri Gayatri.

Akhirnya, setelah agak lama ditunggu, Gagak Bongol muncul.

”Sudah dilakukan pemeriksaan sampai tuntas di gedung pusaka?”

Gajah Mada bertanya.

”Sudah, Kakang,” jawab Gagak Bongol.

”Ada benda yang hilang?” tanya Gajah Mada lagi.

”Mahkota mendiang Prabu Sri Jayanegara hilang! Selain mahkota,

tak ada benda lain yang hilang,” jawabnya.

Udara bergetar di Balai Prajurit. Senopati Panji Suryo Manduro dan

Senopati Haryo Teleng menunggu diberi kesempatan untuk berbicara.

”Ibu Suri sudah memberi keterangan apa yang menimpanya?” tanya

Gajah Mada lagi.

”Belum!” Senopati Gagak Bongol menjawab. ”Ibu Suri saat ini

masih belum bisa dimintai keterangan dan sedang mengunci diri di

biliknya dengan hanya ditemani oleh Ibu Suri Tribhuaneswari. Laporan

yang aku terima, para Prabu Putri ditemani Paman Arya Tadah sedang

menunggu di luar. Pintu terkunci dari dalam.”

Gajah Mada yang kemudian diam, menyebabkan tiga orang senopati

yang berada di depannya ikut diam.

”Apa yang terjadi ini mungkin berhubungan dengan Keta dan

Sadeng,” Gajah Mada membuka pembicaraan.

Gajah Mada 278

Senopati Haryo Teleng dan Panji Suryo Manduro saling lirik.

Keterangan yang diperoleh itu cukup mengagetkan mereka.

”Menurut dugaan, sebagaimana Paman Arya Tadah mengatakan

kepadaku, mereka yang membuat onar di sepanjang siang hingga tengah

malam ini dipimpin oleh Kiai Wirota Wiragati, yang namanya tentu

akan selalu berada dalam kenangan kita karena ia adalah salah seorang

pendukung Raden Wijaya yang sepak terjangnya luar biasa. Namun,

entah mengapa atau oleh alasan apa, Kiai Wirota Wiragati melakukan

tindakan yang tak bisa dibenarkan. Bahkan, andaikata mendiang

Tuanku Wijaya bangun dan hidup kembali, pastilah akan menyayangkan

perbuatannya.”

Gajah Mada menghentikan kata-katanya untuk mencari kesan dari

wajah-wajah senopati pimpinan pasukan itu.

”Apakah bisa diyakini orang itu adalah Kiai Wirota Wiragati?” tanya

Senopati Panji Suryo Manduro.

Gajah Mada memerhatikan wajah-wajah di depannya yang diterangi

obor mobat-mabit167 diterjang angin.

”Aku belum yakin dan untuk mendapat kepastiannya, harus

menunggu keterangan yang akan diberikan Ibu Suri Gayatri. Akan

tetapi, jika kemungkinan itu benar dan yang hilang adalah mahkota milik

mendiang Prabu Jayanegara, arahnya jelas, ke mana lagi jika bukan Keta

atau Sadeng! Dua tempat itu sedang menghangat dan sedang marak

adanya wacana memisahkan diri dari Majapahit serta mendirikan negara

sendiri. Mungkin untuk itu, diperlukan songsong Kiai Udan Riwis dan

cihna gringsing lobheng lewih laka yang mereka anggap sebagai sarang wahyu.

Disusul kemudian sekarang ikut murca mahkota milik mendiang Baginda

Jayanegara,” kata Gajah Mada.

Sejenak Gajah Mada menarik napas panjang untuk mencari kesan

dari wajah para bawahannya.

167 Mobat-mabit, Jawa, meliuk-liuk

Hamukti Palapa 279

”Semua benda itu dicuri karena diperlukan sebagai sarana

diselenggarakannya sebuah wisuda,” lanjut Gajah Mada. ”Oleh karena

itu, mulai sekarang juga aku perintahkan untuk segera dilakukan

persiapan-persiapan. Sasaran amat utama dan harus dikedepankan

adalah membatalkan niat orang-orang Keta dan Sadeng yang akan makar

dengan biaya semurah-murahnya dan jika perlu tanpa harus ada perang.

Namun, jika mereka bersikeras, menggelar kekuatan angkatan perang

boleh dilakukan untuk melumat mereka yang sebisa-bisa merupakan

pilihan terakhir ketika pilihan lain buntu.”

Dengan saksama, tiga orang senopati pimpinan kesatuan pasukan

itu menyimak taklimat yang diberikan Gajah Mada.

Gajah Mada pun melanjutkan, ”Aku yakin, tidak semua orang di

Keta dan Sadeng sependapat dengan pimpinan mereka. Orang-orang

yang tidak setuju itu yang harus kita manfaatkan. Kita bekerja sama

dengan mereka. Terkait dengan rencana itu, aku minta Pasukan Sapu

Bayu dan Jalapati mengirim telik sandi masing-masing, bekerja sama

bahu-membahu dengan telik sandi Bhayangkara melakukan gerakan

penggerogotan dan persiapan. Lakukan langkah apa pun yang dipandang

perlu, termasuk misalnya dengan melakukan penculikan. Aku amat

menghargai jika sasaran bisa diraih tanpa pertumpahan darah. Pimpinan

dan pelakunya harus bisa diseret ke Majapahit untuk diadili!”

Suasana menjadi hening. Gajah Mada memandang Gagak

Bongol.

”Bagaimana perkembangan terakhir terkait Keta? Telah masuk lagi

berita dari tempat itu?”

Gagak Bongol mengangguk.

”Belum lama ini,” ucap Gagak Bongol, ”seorang telik sandi yang

kita kirim ke Keta dan Sadeng mengirim kabar bahwa tak ada kegiatan

yang menonjol di sana. Orang Keta justru terkejut ketika ditanya

apakah akan ada pemberontakan? Rupanya rencana untuk melakukan

makar itu benar-benar dilakukan tertutup. Penggelaran latihan perang

dilakukan di tempat yang tersembunyi, yang untuk sementara diduga

Gajah Mada 280

dilakukan di Alas Larang yang terletak di tanah perdikan Bondowoso.

Telik sandi Bhayangkara berhasil menemukan tempat latihan itu. Latihan

itu dilakukan di tengah hutan, yang memang dibangun khusus untuk

latihan perang. Dua orang Bhayangkara muda kini menyusup dan terlibat

dalam latihan perang yang terus berlangsung.”

”Rencanamu?” tanya Gajah Mada.

”Dengan terjadinya peristiwa ini, akan kita kirim tambahan

kekuatan!”

Gajah Mada mengarahkan pandangan matanya kepada Senopati

Haryo Teleng.

”Bagaimana dengan pasukanmu?” tanya Gajah Mada.

Haryo Teleng membalas dengan tatapan mata tajam dan sigap.

”Akan kusiapkan berapa pun dukungan yang perlu dikerahkan.”

Gajah Mada mengangguk.

”Kuminta, kauberikan sepuluh orang telik sandi yang terbaik dan

akan bekerja bahu-membahu dengan telik sandi Bhayangkara.”

”Aku siapkan,” jawab Haryo Teleng sigap.

Gajah Mada masih mengarahkan perhatiannya kepada Haryo

Teleng.

”Dan aku minta, kau sendiri yang memimpin.”

Haryo Teleng terkejut dan mengangguk sigap.

”Aku memimpin pengintaian secara langsung?”

”Ya!” jawab Gajah Mada tegas. ”Gabungan telik sandi Bhayangkara,

telik sandi Jalapati, dan aku masih minta ditambah telik sandi dari pasukan

Sapu Bayu, akan dipimpin langsung oleh Senopati Haryo Teleng.

Sementara itu, sebagai pengganti pimpinan pasukan Jalapati selama kamu

tidak ada, akan dipimpin oleh Senopati Panji Suryo Manduro yang mulai

besok harus menggelar latihan perang segelar sepapan, terutama karena kita

akan kedatangan tamu. Kita pamerkan kekuatan kita di hadapan tamu

Hamukti Palapa 281

itu. Jika sudah bisa dipastikan benda-benda yang hilang itu memang

berada di Keta atau Sadeng, Gagak Bongol dan sejumlah prajurit sandi

yang diperlukan akan segera menyusul dengan aku sendiri yang nanti

mengambil alih kendali pasukan Bhayangkara. Persiapkan semua sejak

sekarang, dan besok kalian akan menerima berita terkait apa yang terjadi

pada Ibu Suri.”

Senopati Haryo Teleng, Senopati Panji Suryo Manduro, dan

Senopati Gagak Bongol siap melaksanakan perintah itu. Namun, masih

ada bagian yang memancing rasa ingin tahu berkaitan dengan tamu

yang akan datang. Tiga orang senopati itu sama sekali tidak memiliki

keterangan soal tamu yang disebut akan datang.

”Soal tamu, siapa tamu yang akan datang sehingga kita harus

melakukan geladi segelar sepapan?”

Segelar sepapan dan berkekuatan penuh!” tambah Gajah Mada.

”Siapa tamu itu, Kakang Gajah?” tanya Gagak Bongol.

Gajah Mada bertolak pinggang.

”Pada saat ini, di Ujung Galuh tengah sandar sekitar sepuluh kapal

besar yang datang dari Swarnabhumi. Saudara sepupu mendiang Prabu

Jayanegara yang bernama Aditiawarman dengan seribu orang prajurit

akan datang bertamu. Kita sambut kehadiran mereka dengan tontonan

yang tidak pernah mereka saksikan sebelumnya. Besok akan kita gelar

geladi Cakrabyuha!”168

Para senopati itu terkejut.

”Aditiawarman datang bertamu dengan pengawalan sedemikian

banyak?”

Gajah Mada masih menampakkan wajah beku.

”Mereka datang membawa sepuluh kapal besar yang masing-masing

kapal bisa memuat seratus orang. Kalau sepuluh kapal besar yang datang,

bukankah jumlah mereka mungkin seribu?”

168 Cakrabyuha, Jawa Kuno, Cakrabyuha, Diradameta, Supit Urang, Pasir Wutah, dan sebagainya merupakan

taktik perang yang bersumber pada kitab Mahabarata

Gajah Mada 282

”Mereka bertamu atau berniat menyerbu?” Senopati Haryo Teleng

meletup.

Pertanyaan itu sejatinya mengusik rasa curiga Gajah Mada. Namun,

Gajah Mada punya kenangan yang baik tentang sosok macam apa

Aditiawarman. Ia saudara sepupu mendiang Prabu Sri Jayanegara.

Ia pernah datang setahun sebelum Sri Jayanegara terbunuh. Dalam

perkenalan itu, Aditiawarman menjadi sahabat yang baik baginya,

teman berbincang dan bertukar wawasan yang menyenangkan.

Kedatangannya kali ini tentulah karena berniat berkunjung. Terlalu dini

untuk berprasangka buruk.

”Kedatangannya aku yakin hanya untuk bertamu!” kata Gajah Mada.

”Oleh sebab itu, kita harus menempatkan diri menjadi tuan rumah yang

baik. Menurut perhitunganku, mereka akan berangkat dari Ujung Galuh

pagi. Dengan demikian, kita bisa memperkirakan pada tabuh berapa

mereka akan sampai.”

Kedatangan tamu dari Swarnabhumi akhirnya menjadi bagian yang

juga penting untuk dibicarakan di sela mengupas habis langkah apa yang

harus dilakukan menyikapi gerakan yang dilakukan orang-orang Keta

yang akan melakukan makar. Ketika tidak ada lagi hal yang dibicarakan,

pertemuan empat orang perwira itu pun berakhir.

Senopati Panji Suryo Manduro dan Senopati Haryo Teleng kembali

ke bangsal kesatrian masing-masing dengan berkuda. Gajah Mada dan

Senopati Gagak Bongol memilih berjalan kaki. Dua orang prajurit

berpangkat rendahan ditugasi menuntun kuda mereka.

”Ada sebuah hal yang masih mengganjal hatiku, Kakang Gajah Mada,”

berkata Gagak Bongol.

”Masalah apa?” balas Gajah Mada.

”Semua kejadian tidak masuk akal mulai petang hingga tengah

malam tadi, bagaimana menurut Kakang Gajah? Penjelasan bagaimana

yang bisa dipergunakan supaya kejadian itu bisa masuk akal dan diterima

nalar?”

Hamukti Palapa 283

Gajah Mada tidak seketika menjawab. Jika Gagak Bongol merasa

penasaran oleh rangkaian peristiwa yang membingungkan itu, terlebihlebih

dengan dirinya.

”Soal maling menggunakan kemampuan sirep, menurutku itu tak

lebih dari olah batin yang diasah secara terus-menerus sehingga orang

yang menghayatinya sebagai sebuah ilmu, sebut saja ilmu maling atau

ilmu sirep atau apa pun namanya, bisa memanfaatkan untuk mengusik

rasa kantuk,” kata Gajah Mada.

Gagak Bongol menyimak pendapat itu dengan penuh minat.

”Apakah kira-kira begitu?”

”Kurasa!” jawab Gajah Mada.

”Lalu, bagaimana dengan kabut tebal yang turun itu, lalu muncul

angin lesus, lalu mereka menghilang dari kepungan yang demikian rapat?”

tanya Gagak Bongol lagi.

Kemunculan semua hal yang dipersoalkan Gagak Bongol memang

membingungkan dan seolah terjadi karena ada yang menciptakan.

”Sebenarnya tak ada yang aneh dengan semua kejadian itu,” kata

Gajah Mada. Bukankah kita sudah sering mengalami disergap kabut.

Istana Majapahit berada tidak jauh dari gunung-gunung, di depan mata

kita ada Anjasmoro, ada Welirang. Pergolakan udara di gunung-gunung

itu bisa berpengaruh sampai ke tempat ini. Jadi, apa anehnya? Bahkan,

sampai terjadi pusaran angin lesus seperti tadi, apa anehnya?”

Senopati Gagak Bongol mengalami kesulitan menerima. Kata

hatinya menyebut adanya campur tangan entah siapa dalam semua

kejadian itu, yang hadir dan bergerak jelas untuk menyelamatkan

mereka yang terjebak. Kemunculan kabut dan beliung mungkin bisa

terjadi di mana saja dan kapan saja, tetapi bisa jadi para maling yang

tersudut itu punya kemampuan mengendalikan beberapa ilmu, seperti

mengendalikan ilmu sirep dan menghadirkan kabut. Terbukti, ketika

kabut itu menyibak, mereka pun lenyap dari gedung pusaka.

”Bongol,” kata Gajah Mada.

Gajah Mada 284

”Ya?” balas Gagak Bongol.

”Berpikirlah menggunakan nalar, jangan berpikir hal-hal yang tidak

masuk akal. Sebenarnyalah banyak kejadian aneh di dunia ini, yang pasti

bisa ditelusuri menggunakan akal. Demikian pula dengan kejadian tadi.

Anggap saja apa yang terjadi itu kebetulan yang luar biasa.”

Bongol tak sependapat dengan cara pandang Gajah Mada. Namun,

Gagak Bongol tak ingin berdebat dengan pimpinannya itu.

”Pertanyaan dan rasa penasaranmu itu mengingatkanku pada sebuah

hal. Aku berikan perintah tambahan untuk kaulaksanakan. Cobalah

kausalurkan tugas kepada anak buahmu untuk melacak jejak dan mencari

semua keterangan terkait dengan orang-orang yang dulu membantu

Tuanku Baginda Sri Kertarajasa Jayawardhana. Siapa saja mereka dan di

mana sekarang mereka tinggal, siapa yang masih hidup dan siapa pula

yang sudah mati. Agaknya, untuk menemukan jawab sepak terjang Kiai

Wirota Wiragati, kita harus bertanya kepada orang-orang yang pernah

bersinggungan secara langsung dengan orang itu.”

Senopati Bhayangkara Gagak Bongol mencerna perintah itu dengan

baik dan berusaha memahami latar belakang dan pertimbangan macam

apa sampai Gajah Mada menjatuhkan perintah itu.

”Baik, Kakang!” jawab Gagak Bongol.

”Dua kali istana dibobol maling yang agaknya secara samar kita

menangkap ada kaitannya dengan orang-orang yang mendukung Raden

Wijaya di masa silam. Untuk bisa mengetahui bagaimana cara berpikir

orang macam Kiai Wirota Wiragati, mungkin perlu mendengar apa

pendapat teman-temannya. Kalau tidak salah, ada nama Pamandana,

Banyak Kapuk, Kebo Kapetengan, Gajah Pagon, dan sebagainya.

Himpun segala keterangan sebanyak-banyaknya terkait dengan semua

nama itu,” lanjut Gajah Mada.

Nama-nama yang disebut oleh Gajah Mada itu adalah nama-nama

yang menggetarkan. Nama-nama yang telah melegenda dan sudah lama

raib bagai ditelan bumi. Sudah lama muncul pertanyaan, ke mana dan

di mana mereka sekarang, siapa yang masih hidup dan siapa pula yang

Hamukti Palapa 285

sudah mati. Kalau masih hidup, di mana mereka tinggal. Sebaliknya,

kalau sudah mati, di mana pula kuburnya.

Sebagian dari mereka ada yang langsung raib setelah Majapahit

berdiri. Akan tetapi, ada pula yang lenyap setelah perang menggempur

benteng Pajarakan, sebagian lain lenyap sejak penyerbuan ke Tuban.

”Agaknya aku harus menanyai Ibu Suri Gayatri!” jawab Gagak

Bongol.

”Ya, kita menghadap bersama!” balas Gajah Mada.

19

Malam telah melampaui puncaknya dan bergulir mendekati

wilayah dini hari. Waktu yang terus bergerak sebagaimana kodratnya

itu menyajikan ruang yang gerah bagi siapa pun. Segenap penduduk,

terutama yang berada dalam dinding batas kotaraja dan wilayah di

luarnya, yang semula terpengaruh kekuatan yang merangsang kantuk,

semua terjaga dan merasakan udara yang tidak menyenangkan. Semua

orang keluar dari dalam rumah dan sibuk membicarakan atau mencari

tahu apa yang terjadi.

Di langit, bintang-bintang gemerlapan dengan gugusan bima sakti

terlihat jelas. Malam yang kering menyebabkan jerit terdengar menyayat

dari ketinggian yang berasal dari mulut cataka yang kehausan. Selebihnya

adalah suasana yang tidak menentu dan membingungkan.

”Sebenarnya apa yang telah terjadi?” tanya seseorang.

Pertanyaan itu dilontarkan oleh seorang penduduk yang bergabung

dengan orang-orang yang telah berkumpul menggerombol lebih dulu.

Gajah Mada 286

”Kamu baru bangun?” jawab salah seorang dari mereka yang

berkumpul di tepi jalan itu.

”Ya,” jawab orang yang baru bergabung itu.

”Kami semua belum ada yang tahu,” jawab seorang yang lain. ”Kami

justru akan bertanya kepadamu!”

Orang yang baru bergabung itu bingung.

”Kenapa malah akan bertanya kepadaku?”

”Bukankah kau baru saja bangun dari tidur?” jawabnya. ”Mungkin

kamu sudah tahu jawabnya yang kauperoleh dari mimpi!”

Orang-orang yang yang berkumpul lebih dulu itu tertawa karena

menganggap geli. Namun, dengan segera mulut mereka terbungkam

ketika terdengar derap kuda di kejauhan. Menilik suaranya, derap kuda

itu jelas berasal dari lebih dari seekor kuda, mungkin berasal dari tiga

atau bahkan lima ekor kuda.

Apa yang dilakukan penduduk yang baru bangun tidur itu

mengagetkan para tetangganya. Orang itu mencabut obor dan mengayunayunkannya

sebagai isyarat agar orang-orang berkuda itu berhenti. Orangorang

yang berkumpul lebih dulu terkejut, tetapi terlambat.

”He, apa yang kaulakukan itu?” tanya salah seorang dengan cemas.

Rombongan berkuda yang melihat isyarat obor yang diayun-ayunkan

itu berhenti dan terlihatlah dengan jelas ternyata mereka rombongan

prajurit. Dari selempang yang mereka pakai, juga dari senjata yang mereka

bawa berjenis tombak bergagang panjang, dapatlah diketahui mereka

bukan dari pasukan Bhayangkara.

”Ada apa?” tanya pimpinan prajurit itu.

”Namaku Rangga Paniti, Tuan,” jawab penduduk yang memegang

obor itu. ”Jika boleh kami mengetahui, kami ingin bertanya, sebenarnya

apa yang terjadi? Barangkali ada yang bisa kami lakukan untuk

membantu? Apakah ada kaitannya dengan ulah pembuat onar yang

terjadi kemarin siang, Tuan?”

Hamukti Palapa 287

Rombongan prajurit itu merasa senang dan berkenan pada tawaran

bantuan yang ditawarkan oleh penduduk yang rupanya merasa ikut

memiliki tanggung jawab terhadap keamaan dan ketenteraman.

”Kau benar, Kisanak semuanya,” jawab pimpinan prajurit itu.

”Mereka pelakunya. Orang-orang yang berbuat onar itu telah berani

memasuki benteng istana dan mencuri benda-benda pusaka. Semua

terdiri atas lima orang dan masing-masing sangat berbahaya. Jika mereka

kalian pergoki lewat sini, segera beri isyarat kentongan.”

Para penduduk itu menyimak dengan baik.

”Benda berharga apa saja yang dicuri, Tuan?” tanya Rangga Paniti

sekali lagi.

”Saat ini sedang dilakukan pemeriksaan benda apa saja yang dicuri.

Yang jelas, para maling itu telah memasuki gedung pusaka.”

Keterangan yang diberikan oleh prajurit itu mengagetkan. Seorang

penduduk yang berdiri di sebelah Rangga Paniti maju dan ikut memegang

obor.

”Tetapi, bagaimana yang demikian bisa terjadi, Tuan?” tanya

penduduk itu. ”Jika tidak salah penalaranku, bukankah istana telah dijaga

demikian ketat? Bhayangkara telah memagari istana sampai semut pun

tak bisa masuk?”

Para prajurit itu saling pandang. Oleh alasan yang tak jelas mengapa,

mereka tiba-tiba tertawa bergelak-gelak.

”Pendapatmu bagus, Kisanak. Kalau boleh kami tahu, siapa

namamu?”

”Namaku Suro Bugang, Tuan. Panggilanku Bugang,” jawabnya.

Jawaban itu rupanya malah membuat para prajurit merasa geli.

”Kamu dipanggil dengan nama Bugang, apakah sebagian gigimu

ada yang sudah tanggal?”

Tak hanya para prajurit yang tertawa, para penduduk yang

mendengarkan juga ikut tertawa.

Gajah Mada 288

”Tuan benar. Sejak aku kehilangan dua gigi depanku karena terpeleset

dan jatuh terantuk batu, namaku yang semula Suro Manggolo berubah.”

Beberapa tawa masih belum larut.

”Pendapatmu benar, Kisanak Suro Manggolo, bahwa terasa aneh

istana Majapahit yang demikian megah dan dipagar betis oleh pasukan

khusus Bhayangkara ternyata bisa dibobol maling. Itu bukti kebesaran

pasukan khusus yang digembar-gemborkan selama ini ternyata omong

kosong belaka. Kelebihan pasukan Jalapati adalah kemampuannya dalam

pasang gelar perang terbuka. Jika pasukan Jalapati menggelar Cakrabyuha,

tak akan ada kekuatan mana pun yang mampu menandinginya.

Sementara itu, kelebihan pasukan Sapu Bayu adalah dalam menggelar

Diradameta. Jika Sapu Bayu telah menjelma menjadi gajah mengamuk,

tak ada kekuatan apa pun yang mampu menghadangnya. Sementara itu,

kelebihan dari pasukan Bhayangkara adalah bagaimana mereka membual.

Jika pasukan Bhayangkara membual, tak ada pasukan dari kesatuan mana

pun yang bisa menghadang dan menandingi.”

Jika para penduduk yang memperoleh jawaban itu bingung,

sebaliknya para prajurit itu tertawa terpingkal-pingkal.

”Sudah, Kisanak penduduk semua. Kami minta pamit, kami harus

melanjutkan perjalanan kembali.”

Rangga Paniti melambaikan tangan sebagai ucapan selamat jalan.

”Jangan lupa namaku Rangga Paniti, Tuan. Jika Tuan bisa

membantu, aku ingin menjadi prajurit. Jika Tuan tidak keberatan,

bolehkah aku menemui Tuan?”

Para tetangganya terheran-heran melihat Rangga Paniti terlampau

berani. Akan tetapi, pimpinan prajurit itu merasa senang.

”Temui saja aku, namaku Ra Kembar! Kalau kamu ingin menjadi

prajurit, aku akan membantumu. Kebetulan saat ini Majapahit sedang

membutuhkan banyak prajurit.”

Pimpinan serombongan prajurit yang bernama Ra Kembar itu

menarik kendali kudanya sekaligus memberi isyarat kepada para anak

Hamukti Palapa 289

buahnya untuk berpacu. Dengan tulus para penduduk melambaikan

tangan memberi ucapan selamat jalan.

Rangga Paniti mengikuti bayangan orang-orang berkuda itu sampai

lenyap tidak terlihat lagi bayangannya. Dengan bangga, Rangga Paniti

tersenyum, seolah keinginannya untuk menjadi prajurit sudah berada

dalam genggaman tangannya. Seorang prajurit bernama Ra Kembar

telah berjanji akan membantunya menjadi seorang prajurit. Pada suatu

ketika kelak, ia akan datang menemui dan menagih janji.

”Jadi, kamu ingin melamar menjadi prajurit?” tanya tetangganya.

”Ya!” jawab Paniti.

”Dengan tubuh kurus dan akan meliuk meski hanya ditiup angin,

apakah mungkin kau bisa menjadi seorang prajurit?”

”Lihat saja nanti. Aku akan menjadi prajurit Bhayangkara. Soal

tubuh kurus, mulai sekarang aku akan makan banyak. Mulai dari sekarang

hati-hati menjaga pawon.169 Siapa tahu aku akan menyelinap. Kalau aku

sudah menjadi prajurit Bhayangkara, bahkan Kang Martawuda pun

akan kutantang gelut! Aku tak akan takut lagi, para penduduk pun tak

perlu takut lagi”

”Kok, Martawuda? Martayuda!”

”Orang sombong penyakit masyarakat seperti itu layak disebut

Martawuda, bukan Martayuda. Ia gemar wuda,170 bukan yuda!”171

Soal Martawuda, para tetangga sependapat, nama aslinya memang

Martayuda, tetapi kegemarannya mengganggu istri orang menyebabkan

nama itu diubah banyak orang tanpa diselenggarakan selamatan jenang

abang.172

”Tetapi, orang yang kaumintai bantuan tadi bukan orang Bhayangkara.

Mereka, bahkan kurang begitu suka dengan pasukan Bhayangkara.”

169 Pawon, Jawa, dapur

170 Wuda, Jawa, telanjang

171 Yuda, Jawa, perang atau berkelahi

172 Jenang abang, Jawa, bubur merah

Gajah Mada 290

”Tidak menjadi prajurit Bhayangkara tak apa-apa, asal menjadi

prajurit,” jawab Rangga Paniti dengan sigap.

Namun, tidak semua penduduk seberuntung Rangga Paniti dan

para tetangga yang memperoleh jawaban atas rasa penasaran mereka.

Di tempat lainnya, para penduduk bahkan mengunci pintu dengan rapat

dibelit rasa ketakutan yang amat sangat. Itu karena mereka tak bisa

melupakan apa yang terjadi di siang sebelumnya, ketika serombongan

orang membuat onar, membakar rumah tanpa alasan yang jelas, dan

membunuh.

Duduk persoalan yang sebenarnya masih belum jelas. Di halaman

istana Ibu Suri Gayatri makin banyak berkumpul para prajurit yang

ingin mendengar berita apa yang akan keluar dari pintu yang masih

tertutup.

Di kursi seadanya, Prabu Putri Sri Gitarja Tribhuanatunggadewi

Jayawisnuwardhani duduk berdampingan dengan suaminya. Demikian

pula tak jauh di depannya, Prabu Putri Dyah Wiyat Rajadewi Maharajasa

tak berbicara apa pun. Mahapatih Arya Tadah duduk dengan kursi

disandarkan ke dinding dan kaki diselonjorkan. Sementara itu, Gajah

Mada berdiri membeku di halaman, menyendiri. Senopati Gagak Bongol

melakukan hal serupa tanpa bicara.

Jika ada orang yang mondar-mandir mencermati keadaan dan

mencatat semua yang dilihat dan dirasakan ke dalam benak, untuk pada

suatu saat kelak akan menuangkannya ke atas rontal adalah Pancaksara

yang baru saja pulang dari kegemarannya menempuh perjalanan

melanglang buana.

Di sudut halaman, berada di bayang-bayang pohon kesara, tampak

Dharmadyaksa Kasogatan Samenaka sedang berbicara dengan pejabat

penanggung jawab kehidupan umat beragama Siwa, Dharmadyaksa

Kasaiwan.

Menyebar memenuhi semua sudut halaman, para prajurit

melaksanakan tugasnya. Namun, mereka menumpuk dalam jumlah yang

banyak lebih didorong oleh rasa ingin tahu yang sama. Kemunculan

Hamukti Palapa 291

sirep membuat mereka penasaran, kemunculan kabut lebih membuat

mereka merasa penasaran, disusul munculnya pusaran angin yang

mengisap kabut dan lenyapnya Ibu Suri Gayatri, semua itu lebih

membuat penasaran. Apalagi, semua itu masih disempurnakan dengan

hilangnya mahkota yang biasa dipakai oleh raja. Hanya karena raja kali ini

seorang perempuan, mahkota itu disimpan di gedung perbendaharaan

pusaka.

”Kamu melihat Gajah Mada?” berbisik Mapatih Arya Tadah kepada

seorang prajurit yang berjalan melintas.

”Ada, Mahapatih!” jawab prajurit itu. ”Apakah sebaiknya aku

panggilkan supaya menghadap Mahapatih?”

”Jangan!” jawab Mahapatih Arya Tadah. ”Tetapi, di mana ia?”

”Di halaman!” jawab prajurit itu.

Mahapatih berdiri dan berjalan dengan agak tertatih dibantu oleh

prajurit yang semula menjawab pertanyaannya. Gajah Mada berdiri

melihat Mapatih Arya Tadah dituntun mendekati dirinya. Gajah

Mada bergegas melepas selimut yang dikenakan dan diserahkan untuk

membalut tubuh Arya Tadah.

”Tinggalkan kami berdua!” kata Arya Tadah.

”Baik, Ki Patih,” jawab prajurit itu.

Gajah Mada menuntun Mahapatih Arya Tadah pindah dari tempat

itu karena ada banyak prajurit yang bisa mendengar pembicaraan mereka.

Lebih dari itu, Mahapatih Arya Tadah yang sudah tua itu membutuhkan

tempat duduk. Di emper bangunan yang berseberangan dengan gedung

perbendaharaan pusaka, Gajah Mada dan Mahapatih Arya Tadah duduk

berdampingan.

”Ada sesuatu yang akan Paman ceritakan kepadaku berkaitan

dengan orang-orang yang mencuri mahkota itu?” tanya Gajah Mada

langsung ke persoalan.

Empu Krewes menoleh dan memerhatikan raut muka Gajah Mada

yang samar-samar tersapu cahaya obor.

Gajah Mada 292

”Kau tak sabar ingin mengetahui persoalan itu?”

”Ya!” jawab Gajah Mada sigap.

”Akan aku ceritakan, tetapi sebelumnya ada persoalan lain yang

perlu aku sampaikan dan aku merasa kini telah tiba saatnya.”

Gajah Mada merasa heran karena rupanya ada persoalan yang oleh

Empu Krewes dirasakan lebih penting.

”Persoalan apa, Paman?” tanya Gajah Mada.

”Aku telah mengajukan permohonan untuk lengser kepada kedua

Prabu Putri dan dikabulkan. Mulai pekan depan, aku sudah tidak akan

menjabat Mahapatih lagi,” jawab Arya Tadah.

Gajah Mada terkejut. Untuk beberapa saat lamanya, Gajah Mada

dibelit pesona dan tidak mampu berbicara. Gajah Mada bahkan bangkit

dari duduknya dan menatap wajah Empu Krewes seolah baru pertama

kali melihatnya.

”Paman akan lengser dari jabatan?” ulang Gajah Mada.

”Benar!” jawab Arya Tadah. ”Aku sudah tua dan ingin beristirahat.

Aku merasa, kini sudah tiba waktunya bagiku untuk turun dari jabatanku

sekarang.”

Apa yang disampaikan Mahapatih Arya Tadah itu dengan segera

memunculkan pertanyaan atas siapa penggantinya? Meskipun demikian,

Gajah Mada tak mampu mengungkapkannya melalui bahasa lisannya.

”Oleh karena itu, bersiap-siaplah untuk memangku jabatan itu,

menggantikan aku menjadi mahapatih yang baru, Mahapatih Gajah

Mada!”

Gajah Mada mendadak merasa punggungnya bagai dirambati

oleh ratusan ekor semut. Namun, dengan segera Gajah Mada berusaha

menguasai diri dan menghapus semua kesan dari permukaan wajahnya.

Apa yang kemudian terlontar dari mulut Gajah Mada adalah suara yang

bergetar dan ditahan.

”Paman telah memutuskan untuk lengser dari jabatan dan

menunjukku menjadi pengganti, Paman?” tanya Gajah Mada.

Hamukti Palapa 293

”Ya!” jawab Arya Tadah.

Gajah Mada tak tahu apakah ia harus merasa jengkel berhadapan

dengan Mahapatih Arya Tadah yang tidak membicarakan masalah

penunjukan itu dengannya.

”Mengapa Paman tidak membicarakan lebih dulu denganku?” tanya

Gajah Mada lagi.

Arya Tadah tersenyum melihat Gajah Mada bagai menahan

gejolak.

”Apakah menurutmu ada yang salah dengan keputusan yang aku

ambil itu? Aku sudah tua dan merasa kemampuanku sudah menurun.

Aku tak melihat sosok yang layak menggantikan aku kecuali dirimu.

Oleh karena itulah, aku telah menyampaikan kepada kedua Prabu Putri

permohonan untuk beristirahat sekaligus mengajukanmu sebagai calon

penggantiku. Permohonan itu dikabulkan.”

Udara yang hening oleh Gajah Mada dirasakan bergetar.

”Bagaimana sikapmu?” tanya Mapatih Arya Tadah.

Gajah Mada melangkah mondar-mandir.

”Aku merasa belum pantas, Paman. Menurutku, beberapa tahun

ke depan, Paman Empu Krewes masih layak mengemban jabatan itu.

Aku merasa belum siap dan belum pantas untuk mengemban jabatan itu.

Lebih dari itu, mengapa harus aku? Apakah tidak ada sosok lain selain

aku? Di samping aku, masih ada orang-orang di Kementerian Katrini,

masih ada Mahamenteri Hino Dyah Janardana, Mahamenteri Sirikan

Dyah Mano, lalu masih ada Mahamenteri Halu Dyah Lohak. Belum lagi

orang-orang yang lebih wredha daripada aku.

Aku juga melihat ada beberapa orang di Panca Ri Wilwatikta yang

layak. Di barisan para Uppapati juga banyak nama yang amat layak untuk

dipertimbangkan. Di barisan pimpinan prajurit, masih ada Senopati

Panji Suryo Manduro yang pengabdian serta sepak terjangnya dalam

membela negara tidak perlu diragukan lagi, sebagaimana di Jalapati ada

Senopati Haryo Teleng. Akan timbul pergolakan yang luar biasa jika

Gajah Mada 294

Paman mengajukan aku. Aku merasa masih belum pantas menduduki

jabatan yang Paman tinggalkan.”

Arya Tadah menggeleng.

”Apa yang telah diputuskan oleh kedua Prabu Putri itu sudah harga

mati, Gajah Mada! Dan, aku tidak melihat sosok mana pun yang pantas

menggantikanku. Kau telah banyak membuat jasa. Sepak terjangmu

telah mengantarkan kembali kekuasaan ke jalur yang benar, baik ketika

kauselamatkan mendiang Prabu Sri Jayanegara ke Bedander maupun

ketika Ibu Suri Gayatri kebingungan dalam memilih, apakah Sri Gitarja

atau Dyah Wiyat yang harus diangkat menjadi Prabu Putri. Lebih dari

itu, di keprajuritan kau berada di tempat paling dituakan, tak ada lagi

yang berada di atasmu,” lanjut Mahapatih Arya Tadah.

Namun, Gajah Mada juga punya kekukuhan hati. Di depan mata,

ia melihat sebuah persoalan yang sangat mendesak untuk ditangani,

bahkan bagai tak bisa ditunda lagi.

”Belum harga mati, Paman!” jawab Gajah Mada tangkas. ”Aku

minta Paman Arya Tadah kembali menghadap Prabu Putri untuk

membatalkannya. Persoalan Keta dan Sadeng saat ini sedang berada di

depan mata dan sangat membutuhkan perhatianku. Jika aku berada di

kursi yang saat ini Paman lenggahi,173 aku harus mengurus wilayah yang

lebih melebar. Sedangkan sebaiknya aku harus mengerucut memusatkan

perhatian pada rencana makar yang akan dilakukan Keta dan Sadeng,

yang membutuhkan keterlibatanku secara langsung, mungkin dengan

berada dan terjun langsung di tempat itu.”

Arya Tadah memerhatikan wajah Gajah Mada. Cahaya obor yang

temaram tidak mampu menerangi wajah laki-laki bertubuh kekar itu

dengan cukup jelas sehingga tidak bisa dibaca bagaimana raut mukanya.

”Jadi, menurutmu belum waktunya?”

”Belum, Paman!” jawab Gajah Mada.

”Tetapi, kamu tidak keberatan menduduki jabatan itu?”

173 Lenggahi, Jawa, dari kata dasar lenggah, artinya duduk/duduki

Hamukti Palapa 295

Gajah Mada tidak segera menjawab.

”Ayolah, Gajah Mada,” kata Arya Tadah, ”cobalah jujur kepada

dirimu sendiri. Yang aku ketahui dan aku rasakan selama aku menjadi

prajurit adalah nafsuku untuk selalu menjadi yang terbaik dan meraih

keadaan yang lebih baik, bisa itu di pangkat atau jabatan. Pada saat kau

seorang prajurit rendahan, angan-anganmu adalah bagaimana kamu bisa

meraih kedudukan yang lebih tinggi. Ketika kau berada di pangkat lurah

prajurit, kau pun berangan-angan untuk bisa meraih jabatan lebih tinggi

dengan pangkat senopati, lalu temenggung, pasangguhan, dan seterusnya.

Maka, jika kau jujur, kedudukan mahapatih sebenarnya berada di angananganmu,

bukan?”

Gajah Mada tidak mengelak dengan menggeleng. Apa yang

disampaikan Arya Tadah benar dan tidak ada gunanya bersikap seolaholah

tidak pernah berangan-angan menduduki jabatan itu.

”Karena keberhasilanmu yang luar biasa, kau meraih jabatan cukup

tinggi tanpa harus melampaui tataran yang semestinya, dengan menjadi

patih di Kahuripan dan patih di Daha, menjadi pelaksana pemerintahan

para sekar kedaton saat itu. Tidak inginkah kau meraih jabatan yang

lebih tinggi lagi, berada di puncak yang bisa kau raih dengan menjadi

mahapatih amangkubumi? Jujurlah!”

Pertanyaan yang dilontarkan Arya Tadah dan semua kilahnya

memaksa Gajah Mada harus mengakui kebenarannya. Bahwa menjadi

mahapatih yang berarti berada di jabatan kedua setelah raja, sungguh

bohong besar jika ia tidak membangun mimpi mendapatkan jabatan itu.

Sekarang tawaran itu bahkan telah berada di depan mata, tinggal menerima

belaka. Jika itu yang ia lakukan, sejak pekan depan ia akan menyandang

jabatan yang sangat terhormat, mahapatih amangkubumi.

”Cepat atau lambat, jabatan itu memang akan jatuh kepadaku karena

aku tak melihat sosok siapa pun yang pantas menduduki jabatan itu

kecuali aku!” kata Gajah Mada dalam hati.

Namun, apa yang terucap berbeda warna dari apa yang berada dalam

hatinya.

Gajah Mada 296

”Apakah menurut Paman, tidak ada lagi orang lain yang layak

dipertimbangkan untuk menduduki jabatan itu?” tanya Gajah Mada.

”Menurutmu, siapakah yang punya kepantasan yang kaumaksud?

Yang memiliki kelayakan yang disyaratkan?”

Hening yang lewat adalah dalam rangka memberi keleluasaan bagi

Gajah Mada untuk berpikir. Gajah Mada memiliki cita-cita yang tinggi.

Jauh ke depan, ia mempunyai angan-angan yang ingin ia wujudkan.

Namun, bagaimana ia bisa mewujudkan mimpi dan angan-angannya

jika tidak didukung kekuasaan.

”Aku bersedia, Paman, tetapi aku minta waktu. Tolong Paman Arya

Tadah bisa memahami.”

Arya Tadah menyimak, tetapi Gajah Mada tidak melanjutkan katakatanya.

”Bagian mana yang harus aku pahami?” tanya Arya Tadah.

Gajah Mada kembali melangkah mondar-mandir dan kemudian

berhenti tepat di hadapan Empu Krewes yang menyimak dengan

cermat.

”Belum banyak jasa dan pengabdian yang aku berikan, Paman.

Apalagi, jika dibandingkan itu dengan jabatan yang aku emban. Oleh

karena itu, mohon jangan dulu. Ke depan, aku masih harus menyelesaikan

persoalan yang timbul di Keta karena Ma Panji Keta174 sedang berulah.

Di Sadeng, Adipati Sadeng juga bikin masalah. Andai dua persoalan itu

bisa aku selesaikan dengan tuntas, apalagi sekarang Majapahit sedang

diganggu oleh persoalan yang perlu penuntasan, jika masalah-masalah

itu selesai, barulah layak kiranya aku menerima anugerah jabatan itu.”

Empu Krewes mengunyah permohonan itu, lalu menimbang

menggunakan cara pandang Gajah Mada dan berusaha memahaminya.

Mahapatih Arya Tadah tersenyum dan manggut-manggut.

174 Ma Panji Keta, nama ini fiktif ciptaan penulis. Meski Keta dan Sadeng disebut-sebut melakukan

pemberontakan di zaman pemerintahan Tribhuanatunggadewi Jayawisnuwardhani dan Rajadewi

Maharajasa, dari penelusuran berbagai literatur, penulis belum menemukan nama-nama penguasa di

dua wilayah itu.

Hamukti Palapa 297

”Begitu?”

”Benar, Paman,” jawab Gajah Mada.

Mahapatih Arya Tadah menimbang dan mengunyah beberapa sisi

di balik apa yang diinginkan Gajah Mada.

”Mungkin pertimbanganmu benar,” kata Arya Tadah. ”Di pasewakan

pasti akan ada banyak orang yang berteriak saat kau diwisuda menjadi

mahapatih karena ada banyak pihak yang merasa kamu terlalu muda

untuk mengemban jabatan dan kedudukan itu. Padahal, menurutku

usia bukanlah hal yang penting, tetapi kemampuanlah yang penting.

Kau telah menjabat patih wilayah dua kali. Kedua Tuan Putri itu pernah

kaudampingi dan merasa sangat puas dengan pekerjaan dan pengabdian

yang kauberikan.

Jadi, tidak aneh kalau dengan kamu menjadi mahapatih, kedua Prabu

Putri akan merasa sreg dan cocok. Kau pun sekarang menjabat patih

Majapahit meski belum patih utama dan amangkubumi. Kau memiliki

perbendaharaan pengalaman yang cukup dan memadai untuk menduduki

jabatan sebagai patih utama. Namun, jika kau merasa perlu melengkapi

perbendaharaan pengalamanmu dengan meredam pemberontakan Keta

dan Sadeng lebih dulu, aku tak keberatan. Aku akan sabar menunggu

dan akan aku sampaikan hal itu kepada Prabu Putri Sri Gitarja dan

Dyah Wiyat.”

Gajah Mada mengangguk.

”Semoga para Prabu Putri berkenan. Akan tetapi, jika para Prabu

Putri tidak sependapat dan berkehendak lain, kamu tak bisa menolak

dari jabatan itu,” Empu Krewes menambah.

Kembali Gajah Mada mengangguk tegas. Namun, jika benar

sebagaimana yang disampaikan oleh Mahapatih Arya Tadah, Gajah

Mada merasa siap dan sanggup melaksanakan tugas berat itu. Dalam

hatinya, Gajah Mada banyak menyimpan gagasan dan mimpi, terutama

kaitannya dengan masa depan Majapahit.

Gagasan dan mimpi itu tak mungkin diraih tanpa kekuasaan.

Dengan kekuasaan di tangannya, mimpi tentang Nusantara yang tak

Gajah Mada 298

hanya sebatas Dwipantara sebagaimana dulu pernah digagas Sang Prabu

Kertanegara, akan bisa diupayakannya. Berbagai pulau dan negara yang

membentang dari timur tempat matahari muncul dan di barat tempat

matahari tenggelam akan bisa disatukan.

Seorang prajurit berjalan melintas, Gajah Mada segera melambaikan

tangan.

”Ibu Suri sudah membuka pintu biliknya?” tanya Gajah Mada.

”Belum, Ki Patih,” balas prajurit itu.

”Ya, sudah. Tolong beri tahu aku jika Ibu Suri Gayatri sudah

membuka pintu biliknya.”

”Baik! Aku laksanakan, Ki Patih!” jawab prajurit itu.

Gajah Mada merasa telah tiba waktunya untuk bertanya hal-hal

yang berkaitan dengan Kiai Wirota Wiragati. Namun, Mahapatih Arya

Tadah mendahului.

”Ada lagi sebuah saran untukmu, Gajah Mada. Sebuah hal yang

aku lihat kau tidak memerhatikan atau mengabaikan.”

Gajah Mada mengerutkan kening.

”Soal apa, Paman?” tanya Gajah Mada yang merasa heran.

Dalam menyampaikan persoalan terakhir itu, Mahapatih Arya

Tadah jelas sedang menyembunyikan senyumnya. Namun, Gajah Mada

mampu membacanya.

”Menurut pendapatku, boleh dibilang kamu terlambat untuk

memiliki istri. Jika tidak kausempatkan untuk berumah tangga, kelak

ketika kamu punya anak, kamu sudah kakek-kakek. Itu sangat tidak

bagus.”

Persoalan yang disampaikan Mahapatih Amangkubumi itu sungguh

persoalan yang tidak terduga. Karena itu, Gajah Mada tak mampu

berbicara.

”Pada umumnya, para pemuda sudah berumah tangga di usia

lebih dari dua puluh tahun. Para orang tua yang memiliki anak gadis

Hamukti Palapa 299

mulai berpikir mengawinkan anaknya di usia lima belas. Jika usia

gadis sudah lebih dari dua puluh tahun, tetapi masih belum bertemu

dengan jodohnya, orang tuanya akan panik kebingungan. Sebaliknya,

tidak demikian dengan para orang tua yang beranak laki-laki. Orang

tua tidak bingung ketika anak lelakinya sudah lebih dari tiga puluh,

bahkan empat puluh tahun belum juga bertemu dengan pendamping

hidupnya. Namun demikian, menurutku amat tidak baik kalau kamu

tidak segera berumah tangga, Gajah Mada! Aku lihat selama ini sepak

terjangmu selalu bergolak. Menurutku, harus ada seorang istri yang

mampu mengimbangi dan menjadi tempat menampung kegelisahanmu.

Apa yang menyebabkan selama ini kau belum berpikir berumah tangga,

belum sempat atau bagaimana?” 175

Hening yang lewat adalah hening yang sangat larut. Mapatih

Amangkubumi Arya Tadah merasa heran karena meski waktu telah

bergeser sedikit lama, lelaki muda dan perkasa di depannya masih belum

berbicara.

”Sedikit terbukalah kepadaku, Gajah Mada!” kata Arya Tadah.

Gajah Mada meliukkan badan, sebuah cara untuk menyembunyikan

warna hati. Kesatria mantan pimpinan pasukan khusus Bhayangkara itu

terjebak dalam suasana hati jengah dan membingungkan. Beruntung

Gajah Mada karena malam yang gelap menutup dan menyembunyikan

wajahnya yang serasa menebal. Namun demikian, Mahapatih Arya Tadah

bisa membaca.

”Apakah kamu sedang menyimpan rasa tertarik kepada lawan jenis?

Berbagilah denganku, Gajah Mada. Nanti aku yang akan mewakilimu,

bahkan menjadi wakil dari keluargamu untuk meminang gadis itu.

Siapa namanya, anak siapa, dan di mana gadis itu bertempat tinggal.

Ke ujung dunia sekalipun, Arya Tadah yang sudah tua renta ini pasti

175 Amat menarik ketika muncul pertanyaan, di mana tokoh sekaliber Gajah Mada dimakamkan, ternyata

tak tersedia jawaban untuk pertanyaan itu karena semua sumber sejarah, termasuk Negarakertagama

tidak menyebut. Demikian pula tak ada catatan apakah Gajah Mada memiliki istri. Sebagian ahli bahkan

menduga Gajah Mada tidak beristri dan mengaitkannya dengan Sumpah Palapa. Di antara para ahli

sejarah menduga, bagian dari isi Sumpah Palapa termasuk tidak menikah.

Gajah Mada 300

akan mendatanginya dan meminangnya. Jika lamaran itu ditolak, Arya

Tadah akan menyiapkan pasukan berkekuatan segelar sepapan untuk

merampasnya untukmu.”

Gajah Mada ternyata tidak tersenyum mendengar guyonan yang

dilepas Mahapatih Arya Tadah itu. Ketika yang dibicarakan adalah pilihan

hidup yang ia ambil dan telah diputuskan melalui pertimbangan dan

pengambilan keputusan yang tak mudah dilakukannya, raut muka Gajah

Mada tampak bersungguh-sungguh.

Amat perlahan Gajah Mada menggeleng. Ia lakukan itu dengan

amat yakin. Arya Tadah yang memerhatikan raut muka Gajah Mada di

bawah siraman cahaya obor, terheran-heran. Arya Tadah menyentuh

lengan pemuda itu.

”Tidak ada sebuah nama pun dalam hatimu? Nama seorang gadis,

atau seorang janda yang menarik perhatianmu?” tanya Arya Tadah.

Gajah Mada kembali menggeleng, kali ini bahkan lebih tegas dan

penuh yakin.

”Apakah selama ini belum terbersit keinginanmu untuk berumah

tangga?” bertanya Mapatih Arya Tadah lagi.

Betapa sulit menjawab pertanyaan itu, terlihat Patih Gajah Mada amat

bingung. Sesungguhnya, persoalan yang dilontarkan oleh Mapatih Arya

Tadah cukup lama menjadi renungannya. Ada beberapa orang prajurit

Bhayangkara yang menggoda dan berseloroh soal itu atau mengingatkan

dengan bersungguh-sungguh supaya Patih Gajah Mada jangan terlalu

larut dengan pekerjaannya, menyarankan supaya Patih Gajah Mada segera

memiliki seorang istri sebagai penyeimbang hidupnya. Bahkan, pertanyaan

dan saran itu juga datang dari Ibu Suri Gayatri dan Prabu Putri Sri Gitarja,

seharusnya Gajah Mada menyempatkan memikirkan urusan pribadinya

untuk segera beristri agar nantinya punya keturunan.

”Aku tidak akan menikah, Paman!” jawab Gajah Mada tegas.

Jawaban yang membuat Arya Tadah benar-benar terkejut.

”Mengapa? Ada hal yang menyebabkannya?”

Hamukti Palapa 301

Gajah Mada mengalami kesulitan menjelaskan.

”Mengapa, Gajah Mada?” ulang Mapatih Arya Tadah. ”Apakah kau

memiliki cerita buram di masa silam, sebuah pengalaman buruk yang

menyebabkan kau memutuskan tak akan mengawini perempuan mana

pun? Ada perempuan yang telah mengecewakanmu dengan menolak

ajakanmu untuk menikah? Perempuan mana yang telah berbuat demikian

bodoh itu?”

Meski perlahan, Gajah Mada ternyata menggeleng.

”Mengapa? Cobalah kaujawab, mengapa? Berilah aku penjelasan

yang paling mudah untuk memahaminya.”

Gajah Mada tidak tersenyum, wajahnya tetap datar. Matanya yang

tajam menusuk mirip mata elang, luruh jatuh ke depan.

”Perempuan adalah sumber kelemahan bagiku, Paman! Yang jika

aku layani, akan menjadi penghambat semua gerak langkahku. Ke depan,

aku tak ingin terganggu oleh hal sekecil apa pun,” jawab Gajah Mada.

Jawaban yang dilontarkan Gajah Mada benar-benar menyebabkan

Mapatih Arya Tadah terperanjat. Tak disangkanya, Gajah Mada akan

memberinya jawaban yang sangat aneh seperti itu, sebuah cara pandang

yang tidak lazim atau bahkan terasa berlebihan. Menganggap keberadaan

seorang istri sebagai pengganggu benar-benar berlebihan. Apa Gajah

Mada tak sadar, ia ada di dunia dengan terlahir melalui perempuan.

Ibunya seorang perempuan, neneknya juga seorang perempuan.

”Apa yang kamu nilai kurang pada sosok perempuan?” bertanya

Mahapatih Arya Tadah sambil berusaha tertatih berdiri.

Gajah Mada punya alasan untuk mengambil sebuah sikap dan ingin

menyimpan alasan itu sendiri, yang andaikata ia lontarkan keyakinan

itu, akan menyebabkan banyak orang akan tersinggung. Lebih-lebih,

jika yang mendengar itu kaum wanita. Mereka akan mencak-mencak.

Apalagi, jika kaum perempuan itu tahu, Gajah Mada menganggap mereka

hanya penghambat langkah para lelaki yang menyebabkan para lelaki

tidak perkasa dan perwira lagi.

Gajah Mada 302

Padahal, ke depan, Majapahit membutuhkan para lelaki perkasa,

membutuhkan laki-laki yang tangguh, tidak takut darah tumpah dari

tubuhnya, dibutuhkan laki-laki pilih tanding yang berani berkorban dan

tidak terikat oleh waktu.

Bagaimana seorang laki-laki bisa bebas dan berani meluaskan

wilayah Majapahit, yang untuk keperluan itu mungkin harus dengan

pergi bertahun-tahun jika ia terikat oleh seorang istri, terikat oleh anak

atau keluarga. Negara yang diinginkan atas Majapahit adalah negara

yang sangat luas dan perkasa, membentang dari asal sang surya terbit

hingga ke tempat bagaskara terbenam, yang untuk bisa menggapainya

dibutuhkan otot-otot besar melingkar, kaki-kaki yang kukuh, dan dada

bidang, yang mampu mengesampingkan kepentingan pribadi demi

kepentingan yang jauh lebih besar.

Gajah Mada bahkan menggagas, mungkin dibutuhkan lebih

banyak lagi orang yang berani bersikap seperti dirinya, berani tidak

kawin sebagai landasan kerja keras mewujudkan Majapahit seluas

Nusantara, tidak hanya berkutat di wawasan Dwipantara atau sebatas

Jawa. Apalagi, yang hanya sebatas tanah Jawa di bagian tengah dan

timur.

Untuk kejayaan Majapahit dibutuhkan pengorbanan. Gajah Mada

melihat, jika tak ada orang lain yang berani berkorban hingga tuntas, ia

yang akan melakukan. Ia akan memberi contoh yang kalau tak berhasil

mendorong orang lain melakukan hal yang sama, tak masalah hanya ia

sendiri yang berjalan melenggang. Untuk mewujudkan Majapahit yang

besar, jaya, dan gilang gemilang, segala hal yang bisa membuatnya terlena,

membuat mabuk, membuatnya kenyang sampai tidak mampu bergerak

harus dibuang jauh, disingkirkan.

”Bagaimana aku bisa mewujudkan semua impianku itu jika aku

terganggu makhluk perempuan bernama istri, yang merengek merajuk.

Bagaimana aku bisa mewujudkan angan-angan dan mimpiku jika aku

terganggu oleh anak yang menangis. Istri atau perempuan bagiku tidak

ubahnya rasa lapar dan haus yang harus dilawan,” ucap Gajah Mada

dalam hati dan hanya untuk diri sendiri.

Hamukti Palapa 303

Mahapatih Arya Tadah merasa penasaran. Mahapatih Arya Tadah

merasa belum puas jika Gajah Mada belum menjelaskan. Merasakan

adanya sesuatu yang sangat aneh, mendorong Mahapatih Arya Tadah

akan tersenyum. Namun, manakala merasa tidak ada alasan untuk

tersenyum, Mahapatih Arya Tadah membatalkannya. Pengganti

Mahapatih Dyah Halayuda itu akhirnya menggeleng-gelengkan kepala.

Arya Tadah meminta perhatian Gajah Mada.

”Pendapatmu yang demikian seolah tak masalah bagimu dunia ini

tanpa wanita. Bagaimana dan apa jadinya dunia ini tanpa perempuan?

Kelahiranmu ke dunia ini melalui perempuan, ibumu yang melahirkanmu

dan menjadi perantara keberadaanmu, seorang perempuan. Berbicaralah,

wahai Gajah Mada. Bagiku terasa sangat penting mengetahui, bagaimana

cara pandang yang kauyakini tidak ubahnya agama itu? Benarkah sudah

separah itu keadaanmu?” bertanya Mahapatih Amangkubumi Arya

Tadah.

Gajah Mada berputar dan menempatkan diri berhadapan langsung

dengan Arya Tadah, Mahapatih yang dengan tulus membimbing dan

memberi dorongan yang sering pula menempatkan diri sebagai orang

tuanya.

Dari tempatnya berada, Gajah Mada melihat para prajurit yang

berada di istana Ibu Suri Gayatri makin banyak. Dari tempatnya, ia

melihat suami Prabu Putri Sri Gitarja berjalan mondar-mandir.

Kembali Arya Tadah meminta perhatian Gajah Mada.

”Para lelaki ketempatan nafsu, hal yang demikian sudah merupakan

kodratnya karena melalui cara itulah manusia tumbuh, berkembang, dan

beranak pinak. Lalu, bagaimana cara pandangmu, Gajah Mada? Apakah

kamu berpikir, membangun rumah tangga tidak perlu kaulakukan?

Dengan demikian, kamu tidak harus terikat oleh perkawinan, beranak

pinak, dan berketurunan?”

Gajah Mada tidak menjawab, wajahnya tetap beku.

Mahapatih Arya Tadah melanjutkan, ”Apakah kausiap tak punya

anak keturunan karena tidak beristri. Apakah kamu siap tidak memiliki

Gajah Mada 304

trah?176 Ketika orang-orang sibuk mengupayakan adanya garis keturunan,

kamu justru dengan sengaja memangkas wangsa-mu177 sendiri.”

Untuk menjawab pertanyaan itu, Gajah Mada menggeleng dengan

tegas.

”Aku tak akan menyentuh perempuan mana pun,” jawabnya.

Arya Tadah makin mencuatkan alis.

”Apakah ada yang tak beres dengan dirimu, Gajah Mada? Kau

kehilangan hasrat pada kecantikan perempuan? Atau sebaliknya, seperti

yang aku dengar pada orang-orang yang tidak lumrah itu, saling tertarik

antara laki-laki dengan laki-laki, perempuan tertarik dengan perempuan?

Kau menghadapi masalah seperti itu, Gajah Mada?”

Gajah Mada tersenyum, tetapi tak sampai harus tertawa.

”Tentu aku tidak seperti orang-orang itu, Paman!” jawab Gajah

Mada. ”Orang berpuasa tidak makan seharian dan bahkan dilakukan

berhari-hari adalah karena adanya kesadaran atas rasa lapar. Rasa lapar

dan haus itulah yang dilawan dan dikalahkan. Aku telah banyak melihat,

merasakan, memerhatikan, dan menyimak pengalaman orang lain. Aku

melihat banyak lelaki yang mestinya punya kesempatan untuk menjadi

perkasa dan bisa berbuat sesuatu yang luar biasa, nyatanya menjadi

lembek karena perempuan. Bagiku, Paman, aku hanya bicara bagiku, dan

mungkin tidak bagi orang lain dengan tidak mengurangi rasa hormatku

kepada orang lain yang berbeda cara pandang, bahwa aku mempunyai

sebuah cita-cita, Paman. Aku ingin mengabdikan diri kepada negaraku

dengan tuntas tanpa sisa. Aku ingin mempersembahkan hidupku kepada

Wilwatikta tanpa secuil pun yang tercecer. Itulah sebabnya, aku tidak

ingin ada gangguan yang bakal menghalangi pengabdianku.

Jika aku mengawini seorang perempuan, keberadaan perempuan

yang menjadi istriku itu hanya mengganggu gerak langkahku, merupakan

perintang mimpi dan cita-citaku. Perempuan dan para istri adalah

176 Trah, Jawa, dinasti, wangsa

177 Wangsa, Jawa, dinasti

Hamukti Palapa 305

perengek yang menyita ruang dan waktu para lelaki, yang mengakibatkan

mereka tidak berotot. Ke depan, Majapahit membutuhkan orang

yang mau berkorban, termasuk untuk wadat.178 Apa salahnya jika aku

mengambil keputusan seperti itu, Paman? Tak ada yang salah karena

itu hanya sebuah pilihan dan hanya Gajah Mada saja yang melakukan,

kecuali kalau semua lelaki di dunia ini mengambil langkah yang sama

untuk tidak kawin, barulah itu salah.”

Arya Tadah memandang Gajah Mada dengan takjub. Namun, Gajah

Mada masih ingin mempertegas.

”Yang melakukan hanya seorang Gajah Mada. Dunia ini tidak akan

kehilangan kesinambungan kehidupan antara mereka yang menua dan

yang muda hanya karena Gajah Mada memutuskan untuk tidak beristri.

Manakala ada orang berpuasa, sejatinya orang itu berpuasa melawan

nafsu lapar dan haus. Hidup berumah tangga bisa disebut kodrat, tetapi

bisa pula disebut nafsu. Itulah sebabnya, aku mengambilnya sebagai salah

satu pilihan dari banyak pilihan yang tersedia, bahwa aku memutuskan tak

akan pernah hamukti wiwaha.179 Aku akan tetap berprihatin di sepanjang

hidupku dengan menjauhi hamukti wiwaha. Biarlah aku mengalami lara

lapa180 di sepanjang hidupku asal aku mampu mengantarkan negara

Majapahit ke kejayaannya yang gilang-gemilang!”

Mahapatih Arya Tadah yang terbungkam makin terbungkam

mulutnya. Jika kemudian serasa ada ribuan ekor semut yang merayapi

punggungnya adalah merupakan jejak pesona dari semua ucapan pemuda

bertubuh agak pendek, tetapi kekar itu. Untuk beberapa saat lamanya,

Mapatih Arya Tadah masih tak mampu berbicara.

”Jadi, tidak akan kawin itu merupakan kesengajaan?”

Gajah Mada mengangguk.

178 Wadat, Jawa, tidak kawin seumur hidup sebagai sebuah pilihan

179 Hamukti wiwaha, idiom Jawa untuk mereka yang benar-benar bisa menikmati hidup karena berharta

dan berpangkat. Kebalikan dari idiom tersebut adalah hamukti lara lapa yang amat mungkin merupakan

arti sebenarnya dari hamukti palapa, yang berarti dengan sengaja hidup prihatin.

180 Lara lapa, Jawa, prihatin, menderita

Gajah Mada 306

”Kamu tidak cemas nantinya tidak punya keturunan?”

Gajah Mada kembali mengangguk mantap.

”Tak ada yang aku cemaskan.”

”Kalau kamu nanti mati, habis sudah riwayatmu. Tak ada yang

menyebutmu ayah, tak ada yang memanggilmu kakek, orang-orang

di kemudian hari mungkin akan bingung menelusuri siapa saja anak

turunmu?”

”Aku benar-benar siap dengan keadaan itu!” kembali Gajah Mada

menjawab amat tegas.

”Aku hormati cara pandangmu itu, Gajah Mada, meski juga aku

sayangkan. Jika kaulakukan pengorbanan itu demi negaramu, aku makin

yakin untuk mencalonkanmu menjadi penggantiku. Aku rasa, aku

memang harus membicarakan kembali dengan para Prabu Putri untuk

menunda wisudamu menjadi mahapatih sambil menunggu kiprahmu

untuk yang kesekian kali dalam meredam pemberontakan Ma Panji Keta

dan Adipati Sadeng.”

Gajah Mada mengangguk dan kembali seorang prajurit berjalan

melintas. Prajurit itu bergegas mendekat ketika Gajah Mada melambaikan

tangan.

”Ibu Suri sudah membuka pintu?” tanya Gajah Mada.

”Belum, Ki Patih!” jawabnya.

”Ya sudah, lanjutkan tugasmu!”

Tandya!” jawab prajurit itu dengan sigap.

Gajah Mada akhirnya merasa telah sampai ke pembicaraan awal.

”Soal kejadian tadi, Paman!” kata Gajah Mada. ”Bagaimana cara

Paman menebak, orang yang berada di belakang perbuatan onar dan

upaya menerobos gedung pusaka itu didalangi oleh Kiai Wirota Wiragati?

Apakah benar, Paman menandainya dari sirep yang ditebar dan dari kabut

aneh itu? Karena orang itu memiliki kemampuan itu, Paman langsung

bisa menebak?”

Hamukti Palapa 307

Arya Tadah tidak mengangguk dan tidak menggeleng, matanya lurus

memandang ke depan, tetapi kenangannya seperti terlempar kembali

ke masa silam.

”Aku tidak menyaksikan secara langsung. Yang aku dengar berdasar

dari katanya dan katanya. Menurut kasak-kusuk yang riuh dibicarakan

orang, juga pernah disampaikan oleh Kiai Pamandana kepadaku, Kiai

Wirota Wiragati adalah maling yang pilih tanding, maling dengan

kemampuan yang tidak lumrah, maling yang belum sekalipun tertangkap.

Ia mampu menebar rangsang rasa kantuk ke udara yang menyebabkan

sasarannya akan disergap oleh rasa ingin tidur yang tak terlawan. Masih

menurut Kiai Pamandana, Kiai Wirota Wiragati juga mampu melarikan

diri dari keadaan terjepit macam apa pun dengan cara mengundang

kabut. Bahkan, ada juga yang menyebut ia tinggal melenyapkan tubuh

dari pandangan mata, menghilang!”

Gajah Mada menyimak dengan bersungguh-sungguh.

”Jadi, Kiai Wiragati punya kemampuan menciptakan kabut?”

Mahapatih Arya Tadah menggeleng.

”Menurutku, Maling Wirota Wiragati tidak punya kemampuan

menciptakan. Ia bukan Tuhan, ia hanya manusia. Yang ia lakukan

mungkin sekadar menghadirkan, seperti ibu-ibu yang menampi gabah

dan membutuhkan keterlibatan angin, yang dilakukan itu dengan bersiul.

Bukankah saat kamu masih kecil sering melakukan? Kamu mengundang

datangnya angin dengan bersiul, pernah kaulakukan itu, bukan?”

Gajah Mada memang punya kenangan itu. Bukan ia alami sendiri,

tetapi dari apa yang dilihat dilakukan oleh para tetangganya. Ketika padi

dipanen kemudian dijemur, untuk memisahkan padi yang bernas dengan

yang tidak berisi, perlu ditampi dan ditiup menggunakan mulut.

Tenaga angin dari mulut dirasa belum cukup memisahkan padi

bernas dari padi yang gabuk. Maka, diundanglah angin dengan cara

bersiul. Melihat seorang perempuan mengalami kesulitan bersiul karena

memang tak semua orang bisa bersiul, Gajah Mada kecil mewakili

perempuan itu melakukannya. Siulnya melengking mengagetkan

Gajah Mada 308

kuda milik tetangga, tetapi angin yang diharap datang itu tak pernah

menampakkan diri, apalagi yang namanya badai.

”Tolong beri aku jawaban yang tegas, Paman!” kata Gajah Mada.

”Jawaban yang mana?” balas Mahapatih Arya Tadah.

”Benarkah Kiai Wiragati mampu melakukan semua yang Paman

sebut, termasuk menghilang dari pandangan mata?” kejar Gajah Mada.

”Aku tidak pernah melihatnya secara langsung,” kata Arya

Tadah.

”Kita baru saja melihatnya secara langsung, bukan?”

”Mungkin yang kita lihat adalah sebuah kebetulan yang luar biasa.”

Gajah Mada merasa tidak puas dengan jawaban itu. Apa yang

dilihatnya sungguh sebuah peristiwa yang tidak masuk akal, mampu

menyebar rangsang kantuk yang akan memengaruhi siapa pun, mampu

mengundang kabut, mampu mengundang angin lesus, dan mampu

menghilang. Jika kemampuan macam itu benar-benar ada, sungguh

betapa dahsyatnya. Apalagi, jika dirinya yang memiliki kemampuan

itu.

”Kalau aku memiliki kemampuan-kemampuan itu, aku bisa banyak

berbuat untuk kemajuan negara. Aku bisa memaksakan kehendakku

agar semua orang dan pihak tunduk pada kehendakku. Aku akan

memanfaatkan kemampuan itu untuk melebarkan wilayah dan jajahan,”

pikir Gajah Mada.

Namun, mantan pimpinan pasukan khusus Bhayangkara itu juga

khawatir, jika kemampuan aneh macam itu jatuh ke tangan orang yang

tak sesuai, bisa berubah menjadi sarana kejahatan yang berbahaya.

Terbukti Kiai Wirota Wiragati yang diduga mengusai kemampuan itu

telah memanfaatkannya untuk tindakan jahat.

”Baru saja kita menyaksikan peristiwa itu. Jika kita beranggapan apa

yang terjadi itu hanya sebuah kebetulan, itulah kebetulan yang luar biasa.

Sebagai pembanding supaya bisa menemukan jawabnya dan meski Paman

Hamukti Palapa 309

mengutip keterangan itu dari orang lain, setidaknya benarkah peristiwa

seperti itu mirip dengan yang terjadi di masa lalu? Apakah keterangan

Kiai Pamandana bisa dipercaya?”

Mahapatih Arya Tadah bingung, memancing Gajah Mada merasa

curiga adanya bagian yang dengan sengaja disembunyikan.

”Ketika bercerita kepadaku, Kakang Pamandana mengaku

menyaksikan sepak terjang Kiai Wirota Wiragati secara langsung. Soal

bagaimana kebenarannya, apakah Kakang Pamandana jujur atau tidak,

aku tidak tahu. Itu tanggung jawab nurani Kiai Pamandana.”

Gajah Mada masih akan mengejar jawaban itu, tetapi seorang

prajurit bergegas mendatanginya. Prajurit itu datang dengan setengah

berlari.

”Pintu sudah dibuka?” tanya Gajah Mada.

”Sudah, Ki Patih,” jawab prajurit itu.

Gajah Mada bergegas bangkit dan menuntun Mahapatih Arya

Tadah. Ketika dua orang pimpinan terkemuka di Majapahit itu memasuki

bilik, di ruangan itu telah duduk melingkar Prabu Putri Sri Gitarja

Tribhuanatunggadewi Jayawisnuwardhani dan Prabu Putri Dyah Wiyat

Rajadewi Maharajasa, yang masing-masing bersebelahan dengan sang

suami. Di depan pintu, melalui isyarat matanya, Senopati Gagak Bongol

meminta izin untuk bergabung. Gajah Mada mengangguk tanda tidak

keberatan. Patih Gajah Mada duduk bersila tepat di sebelah Mahapatih

Arya Tadah. Gagak Bongol ikut menempatkan diri mengapit duduk patih

tua itu. Ibu Suri Tribhuaneswari duduk dengan mata terpejam seperti

orang tidur, tetapi sejatinya tidak.

Sementara itu, bau wangi melati memenuhi ruangan itu, menemani

semua orang yang akan menyimak apa yang disampaikan oleh Ibu Suri

Rajapatni Biksuni Gayatri.

Gajah Mada 310

20

Rombongan berkuda itu tak mungkin terus berderap membelah

malam, bukan karena kuda-kuda yang mereka tunggangi membutuhkan

istirahat, tetapi justru karena salah seorang penunggangnya membutuhkan

istirahat. Kiai Wirota Wiragati tidak hanya lelah tubuhnya, tetapi rupanya

juga lelah jiwanya. Maka, ketika ditemukan tempat yang nyaman,

rombongan pembuat onar itu berhenti.

Secara merata udara memang terasa gerah, tetapi karena baru

saja melawan angin, Kiai Wirota Wiragati kedinginan. Panji Hamuk

segera membuat perapian dengan mengumpulkan ranting-ranting

kering. Dengan batu titikan, api dibuat untuk membakar sejumput

rumput kering. Kiai Wirota Wiragati duduk mencangkung, berusaha

menghangatkan diri dengan duduk lebih dekat ke api.

Sebaliknya dengan Bremoro, begitu melihat sungai dengan air jernih,

kaki tangan Kiai Wirota Wiragati itu ambyur membasahi diri, langsung

tenggelam menahan napas melawan detak jantung yang terangsang

mengayun lebih cepat. Ketika Bremoro muncul lagi ke permukaan,

entah dengan cara bagaimana ia telah menggenggam seekor ikan yang

lumayan besar. Dilemparkannya ikan itu, menyebabkan Kiai Wirota

Wiragati yang nyaris terkena terkejut. Panji Hamuk menangkap ikan itu

dan langsung melemparkannya ke dalam api.

”Di tempat ini ada banyak ikannya!” teriak Bremoro.

Diberi contoh oleh Bremoro dan mungkin karena merasa tubuhnya

risih belum dibasahi air berhari-hari, Lanjar Manuraha dan Udan Tahun

ikut ambyur membasahi diri. Rombongan orang yang membuat onar itu

agaknya tak perlu merampok makanan untuk mengganjal perut mereka.

Di sungai ada banyak ikan yang bisa ditangkap melalui ketangkasan

tangan yang luar biasa.

Melihat ulah anak buahnya, Kiai Wirota Wiragati diam saja. Akan

tetapi, maling kondang yang pernah malang melintang di zaman Singasari

Hamukti Palapa 311

itu tidak menolak ketika Lanjar Manuraha menyerahkan seekor ikan

yang sudah dibakar. Kiai Wirota Wiragati yang telanjur menggigit ikan

itu mendadak membuangnya.

”Setan alas gila kamu, yang kamu berikan kepadaku ikan mentah?”

Lanjar Manuraha memungut ikan itu dan membakar ulang sampai

hangus. Ketika bau ikan itu menandakan sudah matang, Kiai Wirota

Wiragati bersedia memakannya sampai tak bersisa kecuali tulangnya.

Masalah timbul saat ikan itu habis dimakan, rasa hausnya belum terbayar.

Rupanya Kiai Wirota Wiragati harus mencontoh apa yang lakukan Panji

Hamuk yang minum air sungai.

Bintang-bintang di langit gemerlapan, Panji Hamuk yang telentang

bersandar buntalannya mempersiapkan diri untuk tidur. Di sebelahnya,

Bremoro sedang disibukkan memerhatikan mahkota yang berada dalam

genggamannya. Makin memerhatikan benda itu, Bremoro tahu betapa

mahal nilai benda itu karena terbuat dari emas, sebagian lagi bahkan

ditaburi permata. Bremoro tidak tahan untuk tidak mencobanya,

mahkota itu diangkat dan akan dikenakan di kepala.

”Jangan coba-coba kaulakukan itu atau akan pecah kepalamu!” Kiai

Wirota Wiragati mengancam.

Bremoro menoleh. Kiai Wirota Wiragati tidak sedang melihatnya,

pandangannya tertuju ke lidah api di depannya. Dengan cara

bagaimana Kiai Wiragati mengetahui apa yang akan dilakukan

Bremoro?

Bremoro membatalkan niatnya dan mengembalikan mahkota itu ke

dalam buntalan. Bremoro bahkan berniat menyusul Panji Hamuk, pun

demikian dengan Udan Tahun dan Lanjar Manuraha, masing-masing

mempersiapkan diri untuk tidur. Setelah kegiatan yang dilakukan yang

mengesampingkan kebutuhan tidur, kinilah saatnya untuk balas dendam

dengan tidur sepuasnya. Namun, keheningan malam itu dipecahkan

oleh Lanjar Manuraha.

”Jadi, rupanya ada hubungan khusus di masa silam, Kiai?” tanya

laki-laki bermata sangar itu.

Gajah Mada 312

Panji Hamuk masih tetap memejamkan mata, tetapi memasang

telinga, ingin tahu jawaban apa yang akan diberikan Kiai Wirota

Wiragati. Udan Tahun yang berbaring bangkit lagi, demikian pula dengan

Bremoro.

”Berceritalah, Kiai!” kata Bremoro.

Kiai Wirota Wiragati mendongak memerhatikan langit, pekerjaan

yang sia-sia karena kebutaan yang dialaminya. Namun, dari langit

terdengar suara melengking tinggi seperti menyapa. Jauh di atas sana,

seekor kalangkyang merintih dengan suaranya yang memelas.

”Apa yang harus aku ceritakan?” tanya Kiai Wirota Wiragati.

”Misalnya, hubungan macam apa yang terjadi antara Kiai Wirota

Wiragati dengan Ratu Gayatri?” pancing Panji Hamuk sambil tetap

memejam. ”Benarkah pernah terjalin hubungan asmara antara Kiai dan

Sri Jayendradewi Dyah Dewi Gayatri?”

Kiai Wirota Wiragati masih membungkam diri, tetapi sejenak

kemudian orang tua yang penglihatannya kabur itu mulai terangsang

oleh keinginan untuk tertawa, makin lama tawanya makin meledak,

yang dilakukan itu mungkin untuk sesuatu yang lucu yang terjadi di

masa lalu.

Ketika tawa bergelak itu bergerak mereda dan makin mereda,

pandangan mata Kiai Wirota Wiragati menerawang jauh menembus

ruang dan waktu, ke wilayah yang telah menjadi bagian dari masa

silam.

Bayangan yang berasal dari ruang gelap gulita itu mewujud, makin

lama bergerak menuju nyata, dari yang semula mengombak menjadi

tenang, menjadi garis-garis yang tidak gelisah. Kalau ia kabut, ia

menyibak, dan terlempar Kiai Wirota Wiragati menerobos ke wilayah

bernama kenangan karena telah menjadi bagian dari masa yang telah

lewat. Menembus ruang dan waktu. Tembus ke suatu tempat yang di

sana ada masa lalu.

Hamukti Palapa 313

21

Ombak yang berusaha menjilat pantai itu bukanlah ombak yang

terlalu besar. Demikianlah selalu yang terjadi di setiap hari. Ombak

di pesisir pantai yang membentang dari Ywangga melintasi wilayah

Keta hingga Setubondo, seperti pada umumnya Laut Jawa, tidak

menjanjikan ombak yang besar, tidak seperti pantai laut selatan Jawa

yang selalu menggemuruh, yang menyajikan gumpalan deburan besar

susul-menyusul. Belum ambyar ombak pertama menggempur tebing,

dibalap oleh ombak kedua yang lebih besar, dan belum lagi ambyar

ombak besar itu, sudah disusul lagi oleh ombak berikutnya yang jauh

lebih besar. Basah kuyup tebing dan pantai yang dihajar bertubi-tubi,

tetapi sedahsyat apa pun ombak melibas, tebing dan pantai tetap tegar

menghadapinya.

Malam itu purnama. Penduduk yang tinggal di wilayah Setubondo

menggunakan ilmu titen.181 Mereka tahu bahwa laut akan rob,182 yang

manakala ombak membesar, air akan menusuk sampai jauh ke daratan,

tetapi tak ada yang tahu bagaimana muasalnya. Kalau gempa bumi sudah

diketahui apa penyebabnya, tetapi rob belum.

Gempa bumi terjadi karena raksasa yang menyangga bumi benarbenar

merasa kelelahan dan merasa perlu berganti tangan. Menggunakan

cara pikir yang digunakan oleh orang yang paling berpengetahuan di

tempat itu, masuk akal bahwa tidak mungkin ada benda tanpa bertumpu.

Semua benda harus bertumpu karena tanpa bertumpu, semua benda akan

jatuh. Demikian pula dengan bumi, tempat mereka berdiri, mestinya juga

jatuh seperti kelapa jatuh dari pohon. Namun, hal itu tidak perlu terjadi

karena sebelah tangan raksasa menyangganya. Cara pikir itu memang

masuk akal, tanpa seorang pun yang sempat merenungkan, raksasa itu

sendiri bertumpu pada apa?

181 Ilmu titen, Jawa, hafal karena terbiasa melihat dan memerhatikan

182 Rob, Jawa, air laut pasang

Gajah Mada 314

Lebih lanjut, jika raksasa itu kacapekan, tentu karena sebentar saja

manusia mengangkat sejanjang kelapa menggunakan sebelah tangan pasti

kecapekan. Apalagi, raksasa itu harus mengangkat bumi dalam waktu

yang lama. Raksasa pun butuh berganti tangan, menjadi penyebab bumi

bergoyang. Saat itulah orang menandainya sebagai gempa bumi.

Paling ditakutkan jika raksasa penyangga bumi itu sampai bersin.

Maka, goncangannya akan lebih parah lagi. Lebih menakutkan jika raksasa

itu marah. Orang-orang di Setubondo pernah menandai kemarahan itu

dengan munculnya ombak raksasa setinggi dua hingga tiga kali tinggi

pohon kelapa, yang menyapu tanpa sisa sepanjang daratan. Saat hal itu

terjadi beberapa tahun yang lalu, banyak orang yang mati.

Agar raksasa tidak marah, pada malam-malam tertentu disiapkan

sesaji untuknya, dari jenis makanan yang enak-enak atau kepala ternak

yang dilarung menggunakan perahu dan ditenggelamkan ke tengah

laut. Orang-orang yang melepas sesaji itu sering jengkel dan merasa

kiriman sesajinya tidak sampai ke alamat karena kepala kerbau yang

dilarung menjadi santapan ikan-ikan. Seekor ikan yang sangat besar

dan menakutkan bahkan menyantap kepala kerbau itu hanya dengan

sekali telan.

Bahwa raksasa penyangga bumi itu bisa marah ada buktinya, yaitu

ketika terjadi apa yang disebut gerhana bulan. Bulan yang semula penuh

ditelan oleh raksasa sampai habis. Supaya raksasa membatalkan niatnya

menelan bulan, diganggulah raksasa itu dengan macam-macam cara,

kentongan pun dipukul bertalu-talu, semua peralatan dapur terutama

dandang183 dipukul riuh untuk menciptakan kegaduhan. Dengan

kegaduhan itu, diharap raksasa penelan bulan membatalkan niatnya.

Di tepian pantai memanjang dengan pasir berwarna putih itu ada

sebuah rumah yang sangat megah yang dimiliki oleh lelaki kaya raya,

yang dengan bangga mengaku masih berdarah bangsawan. Rumah

yang megah itu dijaga oleh puluhan orang pengawal bersenjata yang

siap melayani jika ada maling atau perampok berniat mengganggu.

183 Dandang, Jawa, alat masa tradisional yang masih menggunakan kukusan yang terbuat dari anyaman

bambu.

Hamukti Palapa 315

Keresahan bangsawan itu cukup beralasan karena akhir-akhir ini banyak

beredar cerita tentang maling yang malang melintang memasuki rumah

orang-orang kaya. Maling yang justru dikagumi dan dipuja para jelata

karena kedermawanannya. Orang-orang kaya yang geram membentuk

pengawalan yang kuat, tetapi tetap saja sampai sejauh itu maling yang

membuat resah itu masih belum berhasil ditangkap.

Rumah membelakangi pantai dan langsung menghadap jalan besar

di depannya itu berdinding bata tinggi, yang dibangun mungkin setelah

melihat Istana Kediri. Atau, barangkali bangsawan itu masih menyimpan

kenangan terhadap wujud Istana Kediri yang belakangan berubah nama

menjadi Gelang-Gelang.

Dengan dinding yang tinggi melingkar dan hanya menyediakan

satu pintu di depan, bangsawan itu berharap orang tidak bisa masuk

dengan memanjat dinding itu, sekaligus untuk menghadapi rob yang jika

menggila, bisa sampai ke jalan di depan rumahnya. Pagar tinggi itu juga

dimaksudkan sebagai perintang terhadap binatang buas.

Meski tidak ada buaya, sering muncul ular besar yang sangat

berbahaya. Harimau yang sering terdengar gelegar aumnya sering

pula berkeliaran di tempat itu. Bahkan, ketika belum dibangun pagar

tinggi, seekor harimau telah menerkam kuda di kandang dan berusaha

menyeretnya pergi. Tak seorang pun yang mempunyai keberanian

menghalau kucing besar itu.

Pada sepanjang pantai yang membelok penuh pohon bakau, dihuni

oleh binatang kegemarannya, yaitu kepiting dan rajungan yang amat

berdaging menggiurkan, juga kerang berukuran besar-besar yang hanya

dengan direbus dan ditambah sambal, lezatnya bukan main.

Jenis-jenis makanan itulah yang menyebabkan denyut jantung

bangsawan itu melaju tinggi dan malah sakit-sakitan. Namun demikian,

ketertarikan bangsawan itu terhadap kecantikan lawan jenis sungguh

layak diacungi jempol. Kawin dan cerai dilakukannya berulang kali.

Gadis-gadis dikawini, janda dikawini, dan bahkan istri orang. Seorang

janda beranak kecil dikawini dan mati di usia perkawinan belum lagi dua

tahun. Kini, anak kecil yang semula benar-benar diperlakukan seperti

Gajah Mada 316

anak itu beranjak dewasa dan mulai terlihat wujud kecantikannya. Justru

karena itu, gadis itu berada dalam bahaya.

Bangsawan itu rupanya juga penikmat pemandangan indah yang

membentang di belakang rumahnya. Untuk menikmati pemandangan amat

indah di belakang rumah itu, dibuatlah sebuah anjungan yang sekaligus

untuk menikmati cahaya bulan. Apalagi, bulan penuh seperti malam ini,

tak secuil pun Poh Wangi berniat bergeser meninggalkannya.

Bulan di langit terlihat demikian cantik dan cemerlang. Namun,

Poh Wangi tidak kalah cantik dan gemilang. Dengan rambut panjang

terurai sampai menyentuh tanah, gadis cantik anak bangsawan kaya

raya itu bagai tengah terpenjara dan menunggu datangnya pangeran.

Sebenarnyalah Poh Wangi yang telah beranjak dewasa dari remaja

itu mulai berangan-angan tentang pangeran yang akan membawanya

pergi dari tempat itu, dari rumah yang dianggapnya penjara. Poh Wangi

berharap, pangeran itu akan menyelamatkannya karena akhir-akhir ini

ayahnya sering memandangnya dengan cara yang aneh. Padahal, belum

lama ia mengawini seorang gadis yang layak dianggap sebagai anak atau

cucunya.

Manakala Poh Wangi amat berangan-angan akan datangnya seorang

pangeran, berbeda dengan ayahnya yang memagarinya dengan ketat.

Bangsawan kaya raya dari Kediri itu berpikir, kelak satu atau dua tahun

lagi Poh Wangi akan menjelma menjadi seorang gadis yang memiliki

kecantikan amat sempurna. Karena merasa telah menanam pohon

serta merawatnya, bangsawan itu merasa memiliki hak memetiknya. Itu

sebabnya, bangsawan itu akan melotot jika ada pemuda yang tinggal di

sekitar situ coba-coba dan berani menggoda Poh Wangi.

Dan, suara seruling itu memang mengagetkan. Poh Wangi bangkit

dari duduknya dan mencari-cari dari mana suara seruling itu. Demikian

juga dengan para pengawal yang menjaga pintu gerbang rumah itu,

tergoda rasa ingin tahunya.

Suara seruling itu bukannya mendorong mereka untuk menikmati.

Namun, justru menjadi penyebab mereka mencabut senjata dari

pinggang masing-masing. Hal itu karena sebelumnya mereka telah

Hamukti Palapa 317

memiliki keterangan bahwa maling yang menggegerkan dan malang

melintang di sepanjang bulan ini mempunyai kebiasaan aneh. Maling

itu bisa disebut datang dengan berterang, yang selalu ditandai dengan

suara serulingnya.

Dengan sigap, para pengawal yang dengan sengaja menunggu

kehadiran maling itu melaksanakan tugas. Seorang di antaranya segera

membangunkan majikannya.

”Ada apa?” tanya Ma Panji Raung, pemilik rumah itu yang keluar

dari kamar dengan istrinya yang cantik jelita.

Kecantikan istri Ma Panji Raung memang luar biasa, yang kalau

dilihat dari sisi umur, layak ditempatkan sebagai anak. Kecantikan Dyah

Manggari itu sangat bertolak belakang dengan wujud suaminya yang

jelek dengan muka totol-totol penuh bekas luka cacar, mirip buah nanas

dengan tubuh gendut. Karena gendutnya, Ma Panji Raung selalu merasa

gerah dan jarang berpakaian.

Matahari pesisir yang ganas menyebabkan kulit tubuh laki-laki

gendut itu gosong menghitam. Hanya bagian yang terlindung oleh apa

yang dipakai yang berwarna putih.

Pengawal rumah itu tidak menjawab dengan mulut. Ia mengangkat

jari tangannya seperti sedang menunjuk sesuatu. Wajah Ma Panji Raung

menegang.

”Kamu jangan keluar, maling itu akan mencurimu,” perintah Ma

Panji Raung kepada istrinya.

Dyah Manggari mengangguk dan bergegas menutup pintu.

Ma Panji Raung benar-benar tegang. Cukup lama Ma Panji Raung

mengikuti sepak terjang maling yang meresahkan para orang kaya di

cakupan wilayah yang amat luas itu. Nyaris semua orang kaya yang

tinggal di sepanjang pesisir antara Probolinggo hingga ke Setubondo

mendengar sepak terjang maling, yang dalam bertindak selalu menguras

habis harta kekayaan yang mereka miliki.

Ma Panji Raung merasa hanya soal waktu, cepat atau telat maling

itu pasti akan datang. Kinikah saatnya?

Gajah Mada 318

”Maling itukah yang meniup seruling?” tanya Ma Panji Raung.

Pengawal itu mengangguk.

”Jaga rumah ini rapat-rapat dan mari kita tangkap maling itu! Kalau

tertangkap, kita jebloskan ke dalam kerangkeng yang di dalamnya kita

masukkan ratusan kepiting berukuran besar-besar.”

Para pengawal itu segera menyebar melaksanakan tugasnya. Bergegas

mereka menempatkan diri mengelilingi dinding dengan bersembunyi di

balik rimbunnya belukar. Dengan jarak yang rapat, tidak akan ada orang

yang bisa masuk ke rumah itu tanpa diketahui.

Namun, suara seruling itu masih tetap mengalun dan sulit ditebak

dari arah mana asalnya. Dengan sabar, para pengawal rumah bangsawan

itu menempatkan diri menunggu hingga maling itu menampakkan diri.

Namun, rupanya persoalannya bukan sekadar siapa yang bisa lebih

sabar, para pengawal itu atau maling yang meledeknya lewat alunan

seruling yang bergerak mengombak seperti riak pantai utara yang

berbuih karena ada muatan aneh yang menumpang pada suara yang

mengalun.

Dari arah laut sebenarnya suara itu berasal. Seorang pemuda tampan

meniupnya dengan mengapung-apung di atas perahu kecil. Alunan

suaranya mendayu-dayu mewakili warna hatinya. Jika maling itu sedang

senang, alunan serulingnya terdengar riang. Sebaliknya, jika maling itu

terkenang pada ibunya yang mati belum lama, suaranya terdengar sendu

memelas.

Muatan aneh pada suara yang mengalun itu menyebabkan tangan

Poh Wangi yang semula masih memegang sandaran kursi tempat

duduknya, jatuh terkulai. Lalu, gadis cantik anak bangsawan itu bablas

tenggelam ke wilayah mimpi.

Saat para pengawal itu mulai menguap, tergoda oleh rasa kantuk,

sungguh mereka tidak menyadari kantuk itu merupakan kantuk yang

tidak wajar. Demikian kuat rangsang kantuk itu menggoda mereka hingga

akhirnya pengawal yang menjaga bagian belakang rumah bangsawan itu

ambruk duluan, disusul kemudian oleh dua orang pengawal yang menjaga

Hamukti Palapa 319

pintu gerbang. Seorang demi seorang dari mereka tak mampu melawan

serangan kantuk yang menumpang alunan seruling itu.

Ketika penumpang perahu yang mengapung di belakang rumah

itu menggerakkan perahunya menepi dan kemudian meloncat ke

tanah, bersamaan dengan pengawal terakhir yang berusaha menahan

diri akhirnya jatuh terkulai. Demikian pula dengan Ma Panji Raung,

tak mampu menahan hasrat tidurnya. Semua lelap dan tersesat di alam

mimpi masing-masing.

Dengan gesit, maling itu masuk ke dalam rumah dan memasuki

setiap bilik yang ada untuk menemukan benda berharga yang dicari.

Maling itu tersenyum ketika berhasil menemukan sebuah peti yang

disembunyikan di bawah tempat tidur, yang disamarkan di bawah

sebuah bilah papan. Ketika dibuka, isinya benar-benar gemerlap. Ada

kalung, gelang, bahkan binggel184 berteretes berlian. Di dalam peti itu juga

tersimpan keris yang pasti berharga sangat mahal. Namun, maling itu

masih merasa kurang, ada sesuatu yang belum ditemukan.

Mirip kucing dalam melangkah, gesit tanpa suara, maling yang

masih muda dan berwajah tampan itu naik ke lantai dua yang merupakan

bangunan tak terpisah, untuk menikmati pemandangan laut. Di tempat

itu, maling tampan itu terpesona oleh wajah cantik yang terkulai tak

sadarkan diri. Ketika disentuh lengannya, terbangun dan betapa terkejut

gadis itu.

”Siapa kau?” tanya Poh Wangi.

Maling itu tidak menjawab, tetapi dipandanginya pemilik wajah

cantik itu dengan rasa takjub yang tak perlu ditutup-tutupi.

”Siapa kau?” kembali bertanya Poh Wangi.

Maling itu tersenyum memamerkan deretan giginya yang putih

bersih dan wajah yang tampan.

”Namaku Wirota Wiragati,” jawab maling itu.

184 Binggel, Jawa, perhiasan gelang kaki

Gajah Mada 320

Poh Wangi terjebak antara rasa takut sekaligus penasaran karena pemuda

yang kini berada di depannya ternyata memegang sebuah seruling.

”Kau peniup seruling itu?” tanya Poh Wangi.

”Ya,” jawab Wirota Wiragati.

”Bagaimana kau bisa masuk? Apakah ayahku mengizinkanmu

menemui aku di sini?”

Maling Wirota Wiragati tersenyum pendek.

”Semua orang di rumah ini, termasuk ayahmu, sedang tidur pulas,”

jawab Wirota Wiragati. ”Ayahmu yang bertubuh gemuk itu, bukan?”

Poh Wangi mengangguk dengan tak bisa menyembunyikan rasa

herannya. Para pengawal dibayar untuk menjaga rumah itu siang malam.

Jika malam, tak boleh ada yang tidur. Namun, bagaimana semua orang

bisa tidur pulas?

”Apa yang Kakang lakukan di rumahku?” tanya Poh Wangi lagi.

Sebutan ’kakang’ membuat Wirota Wiragati senang. Gadis itu

bersikap ramah kepadanya. Wirota Wiragati tak keberatan untuk

menjawab blak-blakan tanpa ada bagian sekecil apa pun yang perlu

disembunyikan.

”Apakah kamu akan marah kalau aku katakan, aku seorang maling?

Kedatanganku ke rumahmu kali ini karena aku berniat mencuri semua

harta milik ayahmu.”

Poh Wangi terdiam, beberapa jenak ia kebingungan.

”Ayahku pasti marah hartanya kaucuri. Harta itu dikumpulkan

dengan bersusah payah,” kata Poh Wangi dengan nada khawatir.

Tidak ada perubahan di wajah Wirota Wiragati, tidak merasa kasihan

dan perlu peduli. Senyumnya menggambarkan hatinya yang ringan tanpa

terganggu beban.

”Harta itu dikumpulkan bertahun-tahun dengan cara tidak terpuji.

Orang di sekitar tempat ini tidak seorang pun yang bisa kaya karena

Hamukti Palapa 321

peluang itu diserap habis oleh ayahmu yang lintah darat, pengisap darah

melalui pinjaman dengan bunga yang mencekik leher. Nah, salahkah

apa yang kukatakan? Bagaimana penilaianmu pada jenis pekerjaan yang

digeluti orang tuamu selama ini?”

Gadis cantik itu terbungkam mulutnya. Ia tak bisa menjawab.

Jika ia harus jujur, ia harus mengakui pekerjaan ayahnya memang tak

terpuji. Bahkan, kepada pengemis pun Ma Panji Raung tak segan-segan

menawarkan pinjaman uang berbunga.

”Di mana mahkota itu disimpan?” tanya Wirota Wiragati berbelok

dengan tiba-tiba.

Poh Wangi bingung.

”Katakan di mana benda pusaka itu disimpan?”

Poh Wangi meletup, ”Mahkota apa yang kaumaksud?”

Wirota Wiragati yang memandang laut berbalik dan menempatkan

wajah amat dekat dengan gadis itu. Wirota Wiragati mengubah suaranya

menjadi lebih rendah, matanya dengan sengaja dibuat melotot. Dalam

jarak yang sedekat itu, Poh Wangi melihat pemuda maling di depannya

itu memiliki wajah tampan.

”Kautahu apa yang aku maksud. Kedatanganku ke sini untuk

mendapatkan benda itu. Katakan di mana, atau kalau kamu tak mau

menjawab, aku akan bersikap amat kasar kepadamu!”

Poh Wangi terbungkam untuk beberapa jenak lamanya. Ketika ia

memutar tubuh, berbalik membelakangi Wirota Wiragati, ia lakukan

itu sambil menimbang. Ibunya sudah tidak ada. Kecantikan yang kini

dimilikinya justru menjadi sumber bahaya karena pada suatu ketika kelak,

ayahnya pasti akan menerkam dan mencabik-cabik tubuhnya.

”Aku akan tunjukkan tempatnya, tetapi aku punya sebuah permintaan,”

jawab gadis itu.

Wirota Wiragati mengangguk.

”Katakan apa permintaanmu?”

Gajah Mada 322

”Bawalah aku pergi!” Poh Wangi menjawab.

Sebuah jawaban yang benar-benar mengagetkan. Wirota Wiragati

merasa tidak cukup dengan terbelalak, matanya yang melotot serasa

nyaris lepas dari kelopaknya. Jawaban yang diterimanya itu sungguh

amat aneh, sulit diterima nalar.

”Coba kauulangi!” kata Wirota Wiragati.

”Aku akan tunjukkan, tetapi bawalah aku pergi. Selamatkan aku!”

Wirota Wiragati mencuatkan alis. Gadis itu minta diselamatkan

dari apa? Taruh kata benar gadis itu memang butuh diselamatkan dari

sebuah bahaya mengancam, apakah itu bukan berarti lepas dari mulut

harimau jatuh ke mulut buaya? Wirota Wiragati buayanya.

”Kamu merasa terancam dari bahaya apa?” tanya maling berseruling

itu dengan segenap rasa herannya.

Poh Wangi dililit rasa ragu. Poh Wangi memandang ke belakang.

”Tak ada yang perlu dicemaskan, semua orang sedang pulas,” kata

Wirota Wiragati.

Ucapan itu lagi-lagi membuat Poh Wangi bingung.

”Semua orang sedang tidur?”

”Ya, sangat pulas,” jawab pemuda tampan itu.

”Bagaimana bisa?”

”Apa yang bagaimana bisa?”

”Bagaimana mereka bisa tidur bersamaan? Ayahku memerintahkan

jangan sampai ada yang ketiduran. Mereka semua harus berjaga-jaga

untuk menangkap maling yang akan datang ke sini. Bagaimana semua

bisa tertidur?”

Wirota Wiragati hanya tersenyum. Namun, ia merasa tidak perlu

menjelaskan mengapa orang-orang itu bisa bergelimpangan seperti itu.

Wirota Wiragati juga merasa tidak terlalu terhormat dan tersanjung,

meskipun untuk kedatangannya kali ini sampai dibentuk panitia

penyambutan segala.

Hamukti Palapa 323

”Kamu belum menjawab pertanyaanku, mengapa kamu merasa

harus pergi dari rumahmu yang megah ini?” tanya Wirota Wiragati.

”Mengapa pula kau memilih aku untuk menyelamatkanmu?”

Poh Wangi menjawab dengan kepala menunduk.

”Aku harus segera pergi karena ayahku nantinya akan mengawiniku.”

Wirota Wiragati terbelalak disergap rasa takjub yang bukan kepalang.

Dengan terheran-heran, pemuda tampan itu memandang gadis di

depannya.

”Jadi, ayahmu adalah harimau bagimu?”

Poh Wangi mengangguk.

”Bagaimana mungkin ada seorang ayah yang sanggup melakukan

itu?”

”Ia bukan ayahku yang sesungguhnya!” jawab Poh Wangi. ”Ayahku

merebut ibuku dari suaminya ketika aku masih kecil. Meski aku masih

berusia lima tahun, aku masih memiliki kenangan itu. Sekarang ketika aku

beranjak dewasa, cara ayahku memandangku berubah. Yang kurasakan

tak lagi menyayangiku, tetapi begitu lapar serasa akan menelanku bulatbulat.”

Wirota Wiragati mengangguk-angguk.

”Kamu berniat menyelamatkan diri dari terkaman seekor harimau,

harimau itu adalah ayahmu sendiri. Akan tetapi, sadarkah kamu bahwa

dengan minta tolong kepadaku, itu sama halnya dengan lepas dari mulut

harimau jatuh ke mulut buaya?”

Gadis itu terbungkam, tetapi dengan saksama memerhatikan wajah

pemuda di depannya yang menyebut diri sebagai buaya yang akan

menerkam itu.

Selama ini ia berangan-angan akan hadirnya seorang pangeran

yang turun dari langit yang akan menolong dan menyelamatkannya.

Pangeran itu kini telah datang meski mengaku sebagai buaya yang

menjanjikan bahaya karena bisa menerkamnya. Akan tetapi, bukankah

Gajah Mada 324

diterkam oleh buaya tampan itu jauh lebih baik daripada diterkam ayah

angkatnya.

”Tidak apa-apa, aku tak keberatan kauterkam,” jawabnya.

Wirota Wiragati kian terbelalak, senyumnya mewakili bingungnya.

”Bawalah aku pergi. Dengan ketulusan dan senang hati, aku akan

mengabdikan diri kepadamu sebagai seorang istri,” lanjut Poh Wangi.

Senyum yang semula mewakili rasa bingung itu berubah kembali ke

mata yang makin terbelalak. Soal istri, selama ini Wirota Wiragati belum

pernah berpikir akan memilikinya. Kini di depannya, berdiri gadis cantik

yang mau menjadi istrinya.

”Ayah kandungmu masih ada?” tanya Wirota Wiragati.

Gadis itu mengangguk.

”Di mana ayah kandungmu itu?” tanya maling itu lagi.

”Ayahku tinggal di Keta!”

Jawaban itu jelas mengagetkan karena Wirota Wiragati berasal dari

Keta.

”Di Keta?” gumam Wirota Wiragati. ”Siapa nama ayahmu?”

”Ayahku tinggal di belakang Istana Keta, namanya Jalu Para.”

Serasa tidak ada yang luar biasa pada nama yang baru disebut itu.

Maka, tidak ada perubahan apa pun di wajah Wirota Wiragati.

”Aku akan membawamu keluar dari rumah ini, tetapi tidak untuk

kujadikan istri. Maafkan aku karena aku belum pernah beranganangan

memiliki seorang istri. Akan tetapi, aku akan menolongmu

mempertemukan kamu dengan ayahmu, bagaimana?”

Poh Wangi terdiam beberapa saat lamanya, perlahan ia mengangguk.

Maka, ketika Ma Panji Raung terbangun dari tidurnya adalah untuk

terkejut bukan alang kepalang. Ia terkejut mendapati dirinya tertidur

di halaman. Ia terkejut mendapati para pengawalnya tertidur. Ia lebih

terkejut lagi ketika kehilangan besar-besaran. Satu peti emas perhiasan

yang dimilikinya lenyap. Tak hanya itu, Poh Wangi juga ikut lenyap.

Hamukti Palapa 325

Sebuah mahkota yang tiada tara harganya ikut lenyap dari tempat

penyimpanannya. Maka, retak tengkorak pelindung otak bangsawan

yang semula kaya raya itu dan kini mulai meyakini dirinya sudah jatuh

melarat. Berlarian kebingungan bangsawan gendut itu.

”Mati aku, mati aku!” orang itu mengeluh sambil menjambakjambak

rambutnya yang tak seberapa sambil berharap semua itu hanya

mimpi.

Namun, Ma Panji Raung tak sedang bermimpi. Peti besi di bawah

tempat tidurnya telah terbuka. Kalau sekadar harta emas perhiasan yang

dibawa, kalau hanya sekadar Poh Wangi yang lenyap, semua itu masih

bisa ditahannya, tetapi sebuah mahkota pusaka ikut murca, lenyap dari

penyimpanannya, sebuah mahkota yang nilainya tidak terkira.

Manakala darah mendidih dengan kepala serasa akan pecah, Ma

Panji Raung bisa tiwikrama.185 Tempat tidur ditendang menggunakan

kaki kanannya, tak peduli hal itu akan menyebabkan kakinya terluka.

Dyah Manggari yang terbangun terkejut bukan kepalang.

”Ada apa?” tanya Dyah Manggari yang masih kebingungan.

”Ada apa? Matamu ke mana?” bentak Ma Panji Raung amat kasar.

Dyah Manggari belum pernah mendapati suaminya dalam kemarahan

seperti itu. Pandangan matanya mewakili rasa takutnya.

Namun, tak hanya Dyah Manggari yang kena damprat. Para

pengawal yang berlarian datang pun terkena semburan sumpah serapah

yang langsung menusuk jantung harga diri mereka.

”Apa saja yang kalian lakukan? Kalian hanya mau uang dan upah

yang kuberikan, tetapi tak becus bekerja.”

Para pengawal itu hanya bisa saling pandang di antara mereka. Marah

dan gugup Ma Panji Raung menyadari keadaan yang demikian buruk.

185 Tiwikrama, Jawa, dicontohkan dalam kisah Mahabarata, Kresna yang menjadi duta pandawa meminta

kembalinya Astina yang dikuasai Kurawa, berubah menjadi raksasa karena kemarahan yang tidak tertahan

oleh penolakan Kurawa. Kondisi yang demikian disebut Kresna melakukan tiwikrama.

Gajah Mada 326

Dengan semua harta itu lenyap, kini ia bukan siapa-siapa, tak memiliki

apa-apa. Ia kini akan sama melaratnya dengan para tetangga.

”Mana Poh Wangi, cari Poh Wangi sampai ketemu!” ucapnya dengan

suara amat terbata.

Namun, tak mungkin mendapatkan kembali harta yang hilang

digondol maling itu, sebagaimana mustahil menemukan Poh Wangi

dengan mengubek sekitar tempat itu. Para pengawal yang memburu

dengan berkuda tidak menemukan yang dicari karena Wirota Wiragati

mengayuh dayungnya lurus ke utara, ke arah laut lepas. Dan, manakala

dirasa jarak cukup, layar dinaikkan. Dengan layar terkembang, perahu

kecil itu melesat ke arah barat. Para pengawal itu tak ada yang menduga

maling mendatangi tempat itu menggunakan perahu.

Dengan takjub, Poh Wangi memandang lelaki di depannya yang

sibuk mengatur arah perahu sambil tidak pernah berhenti berharap,

pemuda tampan yang menggeluti pekerjaan sebagai maling itu adalah

pangeran yang dirindukan dan mau mengambilnya sebagai istri.

”Apakah kau sudah beristri?” tanya Poh Wangi.

Wirota Wiragati yang memandang ke depan itu menoleh. Maling

itu lalu menggeleng.

”Belum,” jawabnya. ”Selama ini aku sedang riuh berpikir, apakah

nantinya aku memerlukan seorang istri atau tidak. Untuk saat ini, masih

banyak pekerjaan yang harus aku lakukan.”

Poh Wangi tergoda rasa ingin tahunya.

”Pekerjaan apa?” tanya gadis itu.

”Kamu akan melihatnya nanti, sebentar lagi, tak jauh lagi.”

Layar yang mengembang membawa perahu itu terus bergerak naik,

turun, mendaki, dan melembahi gelombang yang tak seberapa besar.

Poh Wangi menikmati ketakutannya. Selama ini ia dibuat penasaran

dan selalu dipenuhi oleh rasa ingin tahu, bagaimana rasa naik perahu

dan berada di tengah lautan yang sangat luas.

Hamukti Palapa 327

Cahaya bulan purnama yang terang benderang menjadikan

permukaan laut amat luas bagai benggala186 retak. Dengan keadaan yang

demikian, para nelayan justru tidak memasang layar. Sebaliknya, jika

malam gelap gulita, gerak dan polah tingkah ikan akan terlihat dengan

jelas. Ikan-ikan bercahaya di dalam air, tak hanya kunang-kunang yang

bisa mengeluarkan cahaya, sebagian ikan di dalam air juga mengeluarkan

cahaya.

Poh Wangi takut tenggelam, tetapi menikmati perjalanan menuju

kebebasannya itu. Dengan takjub, Poh Wangi memandangi tepian pantai

yang terlihat abu-abu di arah selatan. Sebaliknya, ketika ia menoleh

ke utara, di sana hanya menjanjikan garis panjang cakrawala yang

membentang tanpa ujung. Jika ada kerlap-kerlip jauh di utara, biasanya itu

lampu obor milik nelayan. Namun, juga bisa hantu laut sedang berulah,

terutama jika jumlahnya banyak dan bergerak cepat.

”Apakah kautahu, bagaimana kisah mahkota ini?” tanya Wirota

Wiragati.

Poh Wangi kembali membalikkan mukanya. Pandangan matanya

tertuju ke benda gemerlap penuh berlian di genggaman si maling tampan.

”Apakah memang benar, ayahmu adalah seorang bangsawan?”

lanjut pemuda itu.

Poh Wangi mengangguk.

”Ayahku mengaku begitu, benda itu dimiliki dengan cara turuntemurun.”

”Bangsawan dari mana?” kejar Wirota Wiragati.

”Menurut pengakuan ayahku, ia bangsawan keturunan Kediri.”

Siapakah pemilik mahkota berharga mahal itu? Apakah milik

Kertajaya, Raja Kediri terakhir yang terbunuh dalam peperangan

melawan Ken Arok, pendiri Girindrawangsa187atau Rajasawangsa?

Pertanyaan itu sangat menggoda rasa ingin tahu Wirora Wiragati.

186 Benggala, Jawa, kaca

187 Girindrawangsa, dinasti Ken Arok

Gajah Mada 328

Akhirnya, waktu sebentar lagi yang dimaksud oleh Wirota Wiragati

telah sampai. Ketika tampak gemerlap lampu-lampu di bagian pesisir

memanjang ke barat, Wirota Wiragati segera membelokkan arah

perahunya. Dorongan kuat dari angin yang berasal dari arah belakang

membawa perahu itu melesat cepat membelah ombak yang bergerak

timbul tenggelam.

”Ayo, kita turun sebentar. Nanti kita melanjutkan perjalanan lagi

setelah urusan kita di tempat ini selesai.”

”Urusan apa?” tanya Poh Wangi.

”Kita mengurangi jumlah muatan! Aku harus mengunjungi rakyatku

dan para pengagumku.”

Poh Wangi mencari-cari, tetapi tak ada muatan apa pun dalam

perahu itu. Poh Wangi sibuk menduga, di antara para nelayan pasti ada

yang kaya raya dan perlu dijebol dinding rumahnya.

Poh Wangi tidak peduli meski kain panjang yang dikenakannya

basah kuyup ketika turun dari perahu yang telah diikat. Ia bergegas

mengikuti langkah Wirota Wiragati yang lebar dan seperti kekurangan

waktu. Poh Wangi sibuk bertanya-tanya dalam hati ketika melihat lelaki

itu mengenakan topeng sebelum mengetuk pintu, tentu maksudnya

supaya wajahnya tidak dikenali.

”Siapa?” terdengar pertanyaan, suara yang berasal dari mulut

perempuan tua.

”Ini aku, Wiragati.”

Tidak berapa lama terdengar pintu berderit. Seorang perempuan

keluar tanpa harus membawa lampu ublik. Cahaya bulan purnama yang

benderang menyebabkan wajah tamu di tengah malam itu terlihat amat

jelas, yang seorang gadis yang sangat cantik, sementara yang seorang lagi

tak dikenali wajahnya karena tertutup topeng.

”Kamu, Maling Wiragati?” tanya nenek itu.

Nama maling Wirota Wiragati rupanya sangat terkenal sampai nenek

tua yang tinggal sendiri tanpa suami dan anak itu mengetahui sepak

Hamukti Palapa 329

terjangnya. Jika orang-orang kaya tak ingin didatangi Wirota Wiragati,

sebaliknya para penduduk miskin menganggap kedatangannya sebagai

sebuah anugerah.

Poh Wangi barulah memahami setelah melihat betapa perempuan

itu berterima kasih sampai terbungkuk-bungkuk ketika Wirota Wiragati

memberinya sebuah gelang emas berharga mahal.

”Semoga bisa dimanfaatkan untuk menyambung umur, Nyai!”

ucapnya.

”Terima kasih,” balas perempuan tua itu dengan suara tersendat.

”Terima kasih, anak muda. Aku doakan semoga Hyang Widdi selalu

melindungimu.”

Doa macam itu menyebabkan Wirota Wiragati tertawa geli.

Bagaimana mungkin Hyang Widdi akan melindungi orang-orang yang

melakukan perbuatan jahat seperti dirinya? Bukankah maling adalah

perbuatan yang tak bisa dibenarkan meski hasilnya untuk dibagi-bagikan

ke orang-orang miskin yang membutuhkan?

Poh Wangi melihat demikian berterima kasihnya perempuan tua

itu, yang ditandai dengan pelukan erat dan tangisnya.

”Sudahlah, Nyai, masuklah lagi. Aku akan melanjutkan langkahku

ke rumah berikutnya.”

Perempuan tua itu masuk ke dalam rumah dan bergegas menutup

pintu. Maling Wirota Wiragati tersenyum melihat Poh Wangi bingung.

Dengan isyarat tangannya, ia mengajak gadis itu kembali mengayunkan

langkah ke rumah berikutnya. Tanpa bisa mengendalikan perasaan lagi,

Poh Wangi meluap oleh pengalaman luar biasa itu.

”Kaulihat sendiri, bukan? Ada banyak orang yang hidupnya

menderita dan amat berterima kasih ketika menerima bantuan.”

Poh Wangi tidak berbicara apa pun, tetapi isi dadanya menggemuruh

seiring dengan apa yang ia lihat dan rasakan.

Rumah berikutnya yang didatangi adalah rumah seorang nelayan tua

yang lagi-lagi hidup sendiri karena anak lelakinya telah berumah tangga

Gajah Mada 330

dan hidup memisahkan diri dengan membuat rumah yang lebih bagus,

masih di pantai itu pula.

Ketukan di pintu tengah malam itu mengagetkannya.

”Siapa?” terdengar suara bertanya dari dalam rumah.

”Aku, Kiai,” jawab Wiragati.

”Aku siapa?”

”Namaku Wiragati, Kiai!”

”Maling itu?” ulangnya.

”Benar, Kiai.”

Sejenak setelah waktu yang dibutuhkan untuk turun dari

pembaringan, mencari bakiak,188 dan melangkah, pintu pun terbuka.

Meski sudah tua, orang itu punya pandangan mata yang awas.

Cahaya bulan membantunya memerhatikan dengan cukup jelas gadis

yang berada di depannya dan pemuda yang berdiri di sebelahnya.

”Jadi, kamu maling yang menggemparkan itu?” tanya orang itu.

”Ternyata benar apa kata orang, Maling Wiragati yang malang melintang

itu selalu menyembunyikan wajahnya di balik topeng!”

Di balik topengnya, Wirota Wiragati hanya tersenyum.

”Mana jatahku, ha?” tanya nelayan tua yang rambut brewoknya

telah memutih itu.

Wirota Wiragati memberi isyarat kepada Poh Wangi untuk

menyerahkan seuntai kalung yang dipegangnya. Lelaki tua itu menimang

kalung di tangannya seolah bisa mengukur berapa berat dan berapa

nilainya.

”Kamu tidak ingin menambah jatahku?” tanya lelaki tua itu. ”Kalau

kautambah lagi seberat ini, aku akan terbebas dari kesulitan hidupku.

Untuk bantuan yang kauberikan, aku percaya Hyang Widdi tidak akan

menganggap budi baikmu ini tidak ada.”

188 Bakiak, Jawa, sandal terbuat dari kayu

Hamukti Palapa 331

Wirota Wiragati ternyata tidak terpengaruh bujukan itu.

”Tidak!” jawabnya amat tegas. ”Masih banyak orang yang memerlukan

bantuan.”

Pandangan mata kakek tua itu menampakkan sedikit rasa

kecewanya.

”Boleh aku bertanya, rumah siapa yang kali ini kaudatangi?”

”Kenapa?” balas Wirota Wiragati.

”Tentu orang yang kaya sekali!”

”Benar, perolehanku malam ini memang banyak sekali. Rumah

yang kubobol milik seorang bangsawan yang memiliki emas perhiasan

yang banyak.”

Orang tua itu rupanya terkejut.

”Bangsawan?”

”Ya!”

”Bangsawan dari mana? Ma Panji Raung?”

Wirota Wiragati tertawa.

”Kau gila, kaukuras harta orang itu?”

”Lebih dari sekadar kukuras Kiai, kaulihat gadis ini?”

Kakek tua itu memandang gadis di depannya lengkap dengan

penasarannya.

”Siapa gadis ini?”

”Dia anak gadis Ma Panji Raung. Ia termasuk benda yang aku curi.”

Kakek tua itu memandang dengan takjub, geleng-geleng kepala

yang dilakukan adalah dalam rangka sulit memahami.

”Apakah kamu merasa dicuri, Nduk Cah Ayu?” tanya orang itu

ditujukan kepada Poh Wangi.

Poh Wangi tidak menjawab, tetapi senyumnya tersipu malu. Lagilagi,

membuat kakek tua itu menggeleng-geleng kepala.

Gajah Mada 332

”Sebaiknya kamu kawini dia, anak muda! Jangan kamu perlakukan

seperti benda mati.”

Pendapat kakek tua itu sangat mengena dengan isi hati Poh Wangi.

Gadis yang semula menunduk itu melirik pemuda gagah di sebelahnya

sambil berharap akan melihat laki-laki maling itu mengangguk. Namun,

Wirota Wiragati tak mengangguk, juga tidak menggeleng.

”Sudah, Kiai, aku akan melanjutkan langkahku. Silakan Kiai

beristirahat!”

Seluruh rumah di sepanjang pantai itu didatangi tanpa ada satu

pun yang tertinggal. Hal itu memberikan pengalaman luar biasa bagi

Poh Wangi yang sontak tak lagi memandang buruk pada pekerjaan

yang digeluti pemuda yang benar-benar mencuri hatinya itu. Bagi para

korbannya, perbuatan maling itu memang menimbulkan kerugian,

dikutuk dan dicaci sumpah serapahi, tetapi tengoklah orang-orang yang

amat tertolong dengan bantuan yang diberikan itu, yang rata-rata mereka

adalah orang miskin.

”Kakang tidak menyisakan sedikit pun untuk diri Kakang sendiri?”

tanya gadis itu ketika telah kembali berada di atas perahu.

Wirota Wiragati tidak menjawab. Bahwa semua harta curian itu

telah ia bagi habis tanpa sisa, sudah merupakan jawaban.

Perahu yang mereka naiki terus bergerak terbawa oleh dorongan

angin menuju arah barat, kembali ke wilayah Keta. Akan tetapi, bagai

diingatkan sesuatu, Wirota Wiragati tiba-tiba berbelok tajam ke kiri.

”Ada apa, Kakang?”

”Aku harus meladeni orang yang pernah menantangku,” jawabnya.

”Orang menantang bagaimana?”

”Aku dulu pernah menguras hartanya, tetapi masih belum habis

benar. Pemilik rumah yang kudatangi itu kemudian mengumbar tantangan,

kalau berani, supaya aku datang lagi ke rumahnya. Tentu rumah itu telah

dijaga ketat, mungkin dikawal oleh orang-orang yang merasa amat tahu

bagaimana meredam sepak terjangku. Kita ke sana,” ujarnya.

Hamukti Palapa 333

”Kakang akan melibatkan aku?” tanya Poh Wangi.

”Ya, kau harus ikut menikmati bagaimana degup jantung terjadi saat

kita harus menyelinap masuk ke rumah yang dijaga ketat.”

Poh Wangi tak bisa menolak. Ia harus menuruti atau akan ketakutan

ditinggal sendiri di atas perahu.

Sebenarnyalah Kiai Wurih Wudara yang akan menjadi sasaran kali ini

adalah orang yang menyimpan dendam sundul langit kepada maling yang

pernah memasuki rumahnya beberapa bulan yang lalu. Sejak kejadian

itu, Kiai Wurih Wudara yang sejak masih muda menggeluti pekerjaan

sebagai pedagang kuda yang membawanya menjadi kaya raya, curiga

bahwa maling yang mengunjungi rumahnya itu tak hanya menguras

kekayaan yang dimilikinya. Akan tetapi, juga menjamah istrinya.

Kiai Wurih Wudara berpendapat, tubuh istrinya adalah miliknya.

Tak boleh ada lelaki lain yang menyentuhnya. Jangankan menyentuh,

bahkan melihat tubuhnya pun dianggapnya hal itu sama dengan telah

menodainya. Oleh karena harta kekayaan yang dicuri disembunyikan di

kamar tidurnya, tentu maling itu melihat banyak hal.

Gara-gara ulah maling itu kehidupan rumah tangganya yang semula

tenang berubah menjadi goyang. Hari demi hari Kiai Wurih Wudara

uring-uringan, menempatkan istrinya hanya bisa meratap.

Dendam itulah yang menyebabkan Kiai Wurih Wudara bertindak

kepalang tanggung. Dengan sisa harta yang masih dimilikinya, pedagang

kuda itu membayar sejumlah pengawal yang ditugasi menjaga rumahnya

sekaligus membayar orang-orang khusus yang memiliki kemampuan

khusus. Orang-orang itu umumnya juga maling yang mampu menggelar

kekuatan sirep. Setelah semua siap, jebakan tak mungkin bisa diterobos,

Kiai Wurih Wudara melepas tantangan yang selalu diucapkan di mana

pun ia berada, dengan harapan tantangan itu akan sampai ke kuping

maling yang telah ngilani dadanya.189

189 Ngilani dada, idiom Jawa, menyentuh harga diri. Arti harfiahnya mengukur lebar dada menggunakan

jempol dan jari manis yang direntangkan.

Gajah Mada 334

Tantangan untuk datang lagi kalau berani akhirnya sampai juga

ke telinga Wirota Wiragati. Kini, ketika lewat lagi di pesisir tempat

kediaman Kiai Wurih Wudara, tak ada salahnya disempatkan memenuhi

tantangan itu.

Rumah Kiai Wurih Wudara masih di daerah pesisir dan cukup megah

meski tidak semegah rumah Ma Panji Raung. Akan tetapi, rumah itu tidak

berada di tepi pantai. Kiai Wurih Wudara membangun rumah barunya

di tepi jalan, berada agak ke atas bukit sehingga dari tempatnya berada

bisa menyaksikan laut luas dengan leluasa dari arah timur ke barat.

Dari balik bayangan pohon nangka yang kebetulan berbuah lebat,

Wirota Wiragati memerhatikan rumah yang akan menjadi sasarannya.

Dari pinggangnya, maling tampan berambut panjang itu mengeluarkan

seruling.

”Kakang tidak mengenakan topeng lagi?” tanya Poh Wangi.

”Aku bukan maling penakut. Setiap membobol rumah orang,

aku tak mengenakan topeng. Hanya ketika mengunjungi rakyatku, aku

mengenakan topeng. Aku tidak ingin mereka mengetahui siapa aku

dan betapa tampan wajahku,” Wirota Wiragati menjawab dilengkapi

senyum.

Poh Wangi pun tersenyum, perhatiannya lalu tertuju pada seruling

yang berada di genggaman tangannya.

”Apakah Kakang punya kebiasaan, sebelum memasuki rumah orang

merasa perlu meniup seruling lebih dulu?” tanya Poh Wangi.

Wirota Wiragati juga mengeluarkan kapuk randu.

”Tutup telingamu dan jangan perhatikan suara serulingku,” kata

Wirota Wiragati.

Poh Wangi menerima kapas randu itu. Namun, belum menyumpalkan

ke telinga.

”Kau akan terserang rasa kantuk kalau tidak menyumpal telingamu,

yang itu pun masih belum cukup, nanti kau akan tahu apa yang aku

maksud.”

Hamukti Palapa 335

Poh Wangi belum memahami, tetapi bergegas memasang kapuk

randu menutupi dua lubang telinganya. Bersamaan dengan itu, Wirota

Wiragati mulai bertindak, suara mengalun yang keluar dari serulingnya

berasal dari pemusatan pikiran berbahan baku yang diambil dari wilayah

bawah sadar. Maling itu amat menghayati apa yang dilakukan. Dengan

memejamkan mata, suara yang mengalun itu tak hanya menggetarkan

udara, tetapi bermuatan rangsangan yang akan menyebabkan siapa pun

yang mendengar tergoda ingin tidur.

Membutuhkan waktu cukup lama bagi Wirota Wiragati memusatkan

diri untuk menerobos ke wilayah bawah sadar, yang dari sana ia

membangunkan sebuah kemampuan yang tidak sembarang orang

mampu melakukan, menjadikan alunan seruling dengan nada yang indah

mendayu-dayu itu bermuatan rangsang kantuk yang akan menyebabkan

siapa pun yang menyimak ingin tidur.

Seekor burung hantu terbang melintas. Burung hantu itu sangat

tertarik pada apa yang didengar dan dilihatnya. Burung itu segera terbang

turun dan hinggap di sebuah dahan.

Dengan matanya yang lebar dan melotot serta julukan yang melekat

pada dirinya sebagai si betah melek, burung hantu itu memerhatikan apa

yang dilakukan pelantun suara yang indah itu, yang rupanya keluar dari

ruas bambu yang dipijit-pijit.

Poh Wangi yang berada dalam jarak amat dekat merasakan serangan

kantuk yang luar biasa itu. Namun, ia memiliki kesadaran atas apa yang

sedang dihadapi dan hal itulah yang justru menumbuhkan kesadaran

untuk tetap menguasai diri. Poh Wangi masih bisa bertahan, tetapi

bukannya tanpa batas. Barulah ketika Wirota Wiragati merasa telah

tuntas dan menyentuh tangannya, Poh Wangi tersadar. Seketika lenyap

pula rasa kantuknya.

Wirota Wiragati dan Poh Wangi mendapati para pengawal rumah

yang didatangi bergelimpangan, tidak seorang pun yang masih tersadar.

Mereka ambruk di tempat terakhir mereka berada. Ada yang ambruk di

pelataran, ada yang tergeletak amat dekat dengan kandang kuda, beberapa

orang tidur di luar pagar dan di depan pintu.

Gajah Mada 336

Wirota Wiragati membimbing Poh Wangi yang tidak mampu

menguasai degup jantungnya yang berlarian bagai dikejar maling. Di

samping rasa takut yang tak alang kepalang dirasakannya, Poh Wangi

juga sangat menikmati pengalaman luar biasa itu.

Tanpa rasa cemas secuil pun karena merasa telah menguasai keadaan,

Wirota Wiragati langsung menuju sebuah bilik tempat beberapa bulan

lalu maling itu menjarah harta dengan jumlah amat banyak. Namun,

tiba-tiba langkah kaki Wirota Wiragati terhenti. Rupanya Wiragati tak

menyangka, penyambutan yang dilakukan pemilik rumah benar-benar

akan merepotkannya.

Udara yang semula tenang yang bisa digambarkan dengan garisgaris

lurus itu mendadak mengombak bergelombang yang terjadi

akibat hadirnya sumber suara yang datang dengan tiba-tiba dan sangat

menyentak. Suara bende yang ditabuh amat keras dan mendadak

mengagetkannya, yang sekaligus menjadi isyarat bagi orang-orang yang

semula bergelimpangan di tempat masing-masing untuk berlompatan

dan melakukan kepungan yang rapat.

”Kakang,” bisik Poh Wangi dengan cemas.

Wirota Wiragati memerhatikan keadaan dan barulah ia merasa

cemas ketika hening malam pecah oleh suara bende yang ditabuh

sangat keras disusul oleh suara tawa yang turun berderai. Suara tawa

itu disusul oleh tawa yang lain, makin lama makin banyak orang yang

menyumbangkan tawanya.

”Sial,” desis Wirota Wiragati yang mulai dijalari rasa cemas.

”Bagaimana, Kakang?” tanya Poh Wangi.

Tambah sempurna kepanikan yang bakal dialami oleh Wirota

Wiragati karena tiba-tiba pintu dari mana semula ia masuk tertutup.

Jendela yang hanya satu-satunya diharapkan menjadi jalan melarikan

diri juga ditutup dari luar.

”Gila!” Wirota Wiragati meletup.

”Bagaimana, Kakang?” tanya Poh Wangi yang tak kalah gelisah.

Hamukti Palapa 337

Untuk pertanyaan itu, Wirota Wiragati merasa tak punya jawabnya.

Suara tawa yang terdengar dari luar masih berkelanjutan untuk kemudian

mereda. Kiai Wurih Wudara telah mengangkat tangannya, meminta

semua orang untuk diam. Di sebelah pemilik rumah, berdiri seorang

lelaki bertubuh kecil dan mengenakan jubah berwarna hitam. Mungkin

untuk menyempurnakan penampilannya, orang itu ke mana-mana selalu

membawa tongkat yang dipegang menggunakan tangan kanannya,

sementara di tangan kiri orang itu menggantung sebuah bende.

”Kita agaknya berhasil, Kiai?” ucap pemilik rumah.

Laki-laki berjubah itu tidak menjawab, tetapi sekali lagi ia memukul

bende yang langsung menggetarkan udara. Nada yang muncul akan

membangunkan orang yang tidur dan mencampakkannya dari dunia

mimpi.

”Maling Wiragati, menyerahlah!” teriak orang itu.

Wirota Wiragati terkejut, ia merasa mengenal suara itu.

”Sial!” desisnya.

”Ayo, Maling Wiragati. Keluarlah dan menyerahlah. Kamu harus

mempertanggungjawabkan apa yang telah kaulakukan di tempat ini

beberapa bulan yang lalu. Akan aku pilihkan cara kematian yang paling

baik untukmu. Pertama melalui dipenggal kepalamu dengan hanya sekali

tebas, rasa sakitnya tidak akan terlalu lama. Atau, pilihan kedua, kalau kamu

tak mau menyerah dengan sukarela, aku sediakan kematian melalui ditarik

empat ekor kuda yang diarahkan ke empat penjuru angin, ditanggung akan

sempal tubuhmu menjadi empat bagian. Bagaimana, Maling Wiragati?”

Mendengar ancaman mengerikan itu, Wirota Wiragati tersenyum.

”Apa kabarmu, Kakang Maling Handaru Pritha?”

Para pengawal yang mengepung ruang itu menyimak dengan cermat

pembicaraan yang terjadi. Bahwa ada jawaban dari kamar yang terkepung

rapat itu menjadi pertanda benar-benar ada maling yang menyusup.

”Kabarku baik, Wiragati,” jawab orang bernama Handaru Pritha

itu. ”Tak pernah aku sangka malam ini kita bertemu lagi di sini dengan

Gajah Mada 338

keadaan yang berbeda dengan apa yang pernah kita jalani bersama.

Kuminta kau menyerah.”

”Menyerah dengan pilihan seperti yang kausampaikan tadi?”

Pertanyaan itu menyebabkan Handaru Pritha tertawa.

”Baiklah, aku akan berbelas kasihan kepadamu dengan memintakan

maaf kepada pemilik rumah ini. Kiai Wurih akan memaafkanmu dan

menganggap perbuatanmu tidak pernah terjadi asal kaukembalikan

semua harta yang kaucuri.”

Wirota Wiragati tertawa pendek.

”Sayang sekali sudah habis. Semuanya telah kubagi-bagikan kepada

rakyatku, para orang miskin yang hidupnya menderita. Aku tidak

menyisakan sedikit pun untukku. Jumlah yang aku butuhkan masih

kurang. Itulah sebabnya, aku datang kemari lagi. Yang pertama untuk

memenuhi tantangan pemilik rumah ini, yang kedua mengambil hartanya

yang masih tersisa.”

Handaru Pritha itu tertawa bergelak.

”Akan tetapi, siapa sangka kau seperti ikan yang masuk ke dalam

bubu karena ketanggor Handaru Pritha di tempat ini,” kata lelaki kurus

berjubah itu.

Handaru Pritha melengkapinya dengan tertawa bergelak. Tawanya

menulari para pengawal rumah Kiai Wurih Wudara, yang ikut-ikutan

tertawa tanpa menimbang apakah pembicaraan yang terjadi itu lucu

atau tidak.

Dengan sigap, orang-orang yang menjadi pagar betis itu merapatkan

kepungan. Dengan tak ada jalan keluar, diyakini maling bernasib sial itu

akan mengangkat tangannya menyerahkan diri untuk diikat. Dengan

d