Pedang Tanduk Naga

Pedang Tanduk Naga

Karya : Sin Liong

Saduran : S.D.LIONG

Ebook pdf oleh : Dewi KZ

Source : Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Bab 1

Tetamu maut

Hwe-sian-hong atau puncak pertemuan Dewa,

merupakan puncak yang tertinggi dari gunung Tiang-peksan.

Disebut puncak pertemuan Dewa, karena puncaknya

menembus awan sehingga tak tampak, Begitu pula selalu

diselimuti oleh salju putih, Empat penjuru dikelilingi jurang

yang curam dan tebing yang terjal.

Diatas segunduk karang datar seluas beberapa tombak

dari puncak Hwe-sian-hong yang dingin itu, sesosok tubuh

tengah tegak bagaikan sebuah tonggak.

Dia seorang pemuda yang baru berumur sekitar 18

tahun. Bertubuh kekar dan berwajah cakap. Wajahnya

putih segar, dimeriahkan oleh sepasang bibir yang merah

dan disemarakkan oleh sepasang biji mata yang bersinar

terang.

Dia mengenakan pakaian ringkas, pakaian yang biasa

digunakan oleh kaum persilatan. Memakai kain kepala Buseng

kin atau ikat kepala kaum persilatan untuk menahan

angin dan hawa dingin, diapun mengenakan sehelai mantel

berwarna kuning telur.

Bahu, punggungnya menyanggul sebatang pedang

pusaka yang aneh bentuknya. Tangkai pedang berikatkan

sutera merah yang halus seperti rambut.

Pemuda itu memandang cakrawala, wajahnya tampak

sarat dan membeku. Dia tak menghiraukan tebaran salju

yang berhamburan mendera muka dan tubuhnya.

Sesaat kemudian terdengar mulutnya menghela napas,

sarat dan panjang, Seolah sedang merenungkan sesuatu

yang penting.

Memang aneh sekali, Mengapa seorang diri dia berdiri

diatas karang yang sedang dilanda angin prahara dan hujan

salju.

Tetapi dari kerut wajah dan helaan napasnya itu, jelas

dia tentu sedang menghadapi suatu persoalan yang

menggelisahkan hatinya.

Memandang cakrawala yang tengah menaburkan hujan

salju itu, mulut pemuda itu tampak bergerak-gerak, Seperti

seorang yang tengah berdoa atau bicara seorang diri.

Dan tempat seperti itu, dia tegak seorang diri diatas

karang ? Apakah yang sedang diucapkan dalam doanya ?

Mengapa ia menghela napas sedemikian sarat ?

Sekonyong-konyong matanya memancar sinar berkilat

tajam sekali. Tetapi pada lain saat, sinar tajam itupun

lenyap. Dan kerut wajahnyapun menampilkan suatu

keputusan yang kokoh. Rasanya dia telah menentukan

suatu keputusan pada persoalan yang tengah dihadapinya.

Dia telah menemukan suatu penyelesaian….

Tiba2 dibawah tebaran salju putih yang lebat,

terdengarlah dua buah suara orang berteriak nyaring:

“Liong koko…. Liong koko…”

Teriakan itu bernada cemas dan gugup, pemuda itu

terkejut lalu berputar tubuh dan berseru keras:

“Adik Lan, aku disini…!”

Sesosok bayangan putih, bagai seekor kupu2, segera

beterbangan melintas hujan salju, meluncur kearah tempat

pemuda itu.

Pemuda itu terkejut Cepat ia lari menyongsong : “Adik

Lan, jangan kemari, disini angin keliwat besar, Berbahaya

sekali !”

Tetapi bayangan putih itu tak mengurangi laju larinya

dan beberapa saat kemudian dia sudah makin dekat

Ah, kiranya dia seorang dara cantik yang baru berumur

16-an tahun. sepasang alisnya yang melengkung seperti

bulan sabit, menaungi sepasang gundu mata yang

memancarkan sinar bening. Bibirnya yang berbentuk

sepasang kelopak bunga mawar, makin menyemarakkan

wajahnya yang berbentuk bundar telur, Kulitnya yang putih

mulus makin mulus dimahkotai rambut yang hitam legam.

Dara itu juga mengenakan pakaian ringkas warna putih

dan mantel pendek penolak angin.

Melihat dara itu lari sedemikian gopoh dan wajah cemas,

sambil pesatkan larinya, pemuda itu berseru:

“Adik Lan, apakah terjadi sesuatu dalam kuil?”

Seiring dengan kata katanya maka berhadapanlah

sepasang muda mudi itu dibawah karang.

Wajah dara itu amat pucat dan sikapnya amat gelisah,

Dengan napas terengah dan suara gemetar, ia berkata:

“Liong koko, katanya banyak sekali kojiu (jago2 sakti)

yang akan datang ke kuil sore ini,Mereka hendak memaksa

Ban Hong Liong-li Ho-cianpwe yang bertapa selama lima

tahun dalam gua Kiu-kiok-tong keluar untuk menerima

hukuman mati.”

Menggigillah pemuda itu demi mendengar keterangan si

dara.

“Siapa yang bilang ?” serunya bengis.

Dara itu melonjak kaget karena mendengar suara si

pemuda yang sekeras orang membentak.

“Suhu mengatakan hal itu kepada berdua susiok-cou.”

Belum dara itu selesai bicara, tiba2 pemuda itu tertawa

nyaring, Nadanya penuh getaran dari isi hatinya.

Kumandangnya jauh menyusup keatas awan.

Setelah puas menumpahkan isi hatinya dalam tertawa

yang keras dan panjang itu, tiba2 pemuda itu meraba ke

bahu punggungnya dan tring…

Sinar merah memancar tajam, menyilaukan mata, Dan

tangan pemuda itupun sudah mencekal sebatang pedang

berwarna merah, Pedang itu panjangnya hampir satu meter.

Kilatan sinar merah dari pedang itu seolah menembus

kabut tebaran salju putih, Menimbulkan suatu cahaya

bianglala yang menakjubkan pandang mata.

Dara baju putih menjerit kaget dan loncat mundur

sampai setombak jauhnya.

Sambil lintangkan pedang, pemuda itu tertawa nyaring

pula serunya:

“Selama aku, Siau Gin Liong masih berada disini, tak

mungkin kubiarkan orang akan mengacau Tiang-pek-san !”

Seiring dengan cahaya wajahnya yang menampilkan

hawa pembunuhan maka pedang itupun segera ditabaskan

pada segunduk anak bukit salju di sampingnya.

“Bum…”

Tumpukan salju yang merupakan sebuah gunduk anak

bukit itu segera terbang berhamburan ke seluruh penjuru.

Dara baju putih menjerit dan loncat mundur beberapa

langkah lagi. Sambil menuding kearah pedang yang

dipegang si pemuda, dara itu berseru gemetar:

“Liong koko itu . . . itu apakah bukan pedang Tanduk

Naga yang tergantung pada tirai besi mulut gua Kiu-kioktong

tempat Ban Hong Liong-li lo-cianpwe bertapa ?”

“Benar,” sahut pemuda yang bernama Siau Gin Liong,”

memang inilah pedang pusaka Tanduk Naga !”

Habis berkata ia terus memasukkan pedang kedalam

kerangkanya lagi.

Tepat pada saat itu terdengar beberapa suitan nyaring

dan panjang menggema di udara, Suitan itu berasal dari

puncak disebelah muka.

Suitan itu amat kuat dan berasal dari puncak yang jauh.

walaupun salju turun lebat dapat mengumandang

sedemikian nyaring. Jelas orang itu tentu memiliki tenaga

dalam yang sakti

“Ho, biarlah aku yang akan menghadapi kawanan

pembunuh itu lebih dulu,” teriak Gin Liong dengan marah,

Laksana segulung asap, dia terus meluncur kearah suara

suitan itu.

“Liong koko, kembalilah….” belum dara baju putih itu

menyelesaikan peringatannya kepada Gin Liong, tiba2 dia

tergelincir dan jatuh jungkir balik diatas tanah salju.

Gin Liong berpaling, Kejutnya bukan kepalang. Sekali

ayunkan tubuh dalam jurus Berputar-tubuh-terbang-balik, ia

berputar-putar dan lari menghampiri.

Pemuda itu bahwa tahu sumoaynya, Ki Giok Lan itu

seorang yang berbudi halus dan berbadan lemah, sering

sakit. Dalam menghadapi peristiwa yang menggoncangkan

hati, tentulah Giok Lan tak kuat dan rubuh pingsan.

Diangkatnya tubuh Giok Lan diatas pangkuannya.

Setelah diurut-urut jalan darahnya, dara itu pelahan-lahan

membuka mata, Dua butir air mata menitik turun dari

kelopaknya…

“Liong koko, jangan pergi,” katanya sambil menatap

wajah pemuda itu dengan pandang meminta, “kata suhu

mereka adalah jago2 yang sakti.”

Gin liong mendengus geram.

“Sekalipun mereka jago2 sakti dari delapan penjuru

dunia, aku Siau Gin Liong tetap akan menghadapi mereka.”

Yok Lan gemetar pula, Dengan mata berlinang-linang, ia

memandang wajah Gin liong, serunya dengan gemetar:

“Liong koko, jangan pergi, jangan engkau pergi…”

Gin liong tahu bahwa sumoaynya itu amat sayang

kepadanya dan memikirkan keselamatan dirinya, Apabila

dia berkeras tetap pergi, kemungkinan Yok Lan tentu akan

pingsan. Terpaksa ia menekan kemarahan dan berulang kali

menganggukkan kepala, namun pandang mata tetap

berkeliaran memandang ke arah suitan itu.

Suitan sudah berhenti tetapi kumandangnya masih

bergema, jauh dibawa deru angin dingin ke ujung langit.

Setelah sukonya meluluskan tidak pergi, Yok Lan lalu

menggeliat bangun dan pelahan-lahan berdiri.

Tepat pada saat itu terdengar suara pakaian bertebaran

ditampar angin, Datangnya suara itu dari puncak disebelah

muka.

Gin liong dan Yok Lan setempat berpaling ke arah suara

itu.

Dibawah tebaran hujan salju yang lebat tampak tujuh

sosok bayangan meluncur bagai anak panah terlepas dari

busurnya.

Sepasang alis Gin Liong cepat menjungkat dan matanya

berkilat-kilat. Melihat kokonya hendak bergerak, cepat2

Yok Lan ulurkan tangan mencekal lengan Gin Liong.

Tetapi belum sempat ia membuka mulut tiba2 terdengarlah

bunyi genta raksasa yang menggema keras sehingga salju

yang hinggap diatas daun pohon2, berhamburan jatuh

kebawah.

“Hai, genta bahaya…” serempak berserulah Gin Liong

dan Yok Lan. Dan sekali ayun tubuh, kedua engkoh dan

sumoay seperguruan itu segera lari ke arah hutan pohon

siong.

Sambil berlari, Gin Liong tak lepaskan perhatiannya

kepada tujuh sosok bayangan yang menuju ke kuil di

puncak gunung.

Setelah melintasi hutan siong, badai salju agak reda, Dan

setelah beberapa saat lagi, tembok merah dari kuil Lenghun-

si itupun mulai tampak diantara celah2 pepohonan

yang tumbuh di sekitarnya.

Selekas tiba di kuil itu, kedua anak muda itupun segera

menerobos masuk ke pintu samping.

Serangkum suara bergelak tawa segera berhamburan

menggema dari pintu depan kuil.

“Liong koko, mereka sudah tiba,” kata Yok Lan agak

cemas.

Wajah Gin Liong tampak membesi. Alisnya mengerut,

dahi menampilkan hawa pembunuhan. Tanpa berkata

sepatahpun, dia terus lari ke masuk.

Kawanan paderi jubah kelabu, bergegas-gegas keluar ke

ruang muka. Gin Liong dan Yok Lan dengan gerak yang

lincah dan tak bersuara telah mencapai ujung pintu ruang

besar, Memandang ke muka ternyata di ruang besar telah

penuh dengan kawanan paderi dari berbagai tingkatan.

Kedua anak muda itu cepat2 menyelinap masuk ke ruang

samping.

Pada titian tingkat sembilan dalam ruang besar itu,

sebuah bejana pedupaan tengah menghamburkan kepulan

asap, Asap bergulung2 dihembus angin, bertebaran

memenuhi ruangan

Suasana dalam ruang besar itu sunyi senyap.

Jalan yang membentang di muka kuil telah disapu bersih

oleh paderi yang bertugas menjaga kebersihan Tetapi jalan

yang terbuat dari batu hijau mengkilap itu, sudah penuh

pula dengan salju.

Sesaat kemudian seorang paderi pertengahan umur,

bergegas melangkah masuk ke-dalam ruang besar.

Paderi pertengahan umur itu wajahnya sesuram bulan

berkabut awan. Mengenakan jubah merah berjalur kuning

emas, Tangannya mencekal sebatang hud-tim yang

tangkainya dari batu kumala.

Dengan paksakan bersenyum, ia tengah memandang ke

arah dua orang paderi yang tengah melangkah masuk dari

luar, dua orang imam dan tiga lelaki tua berpakaian ringkas,

Bergegas paderi pertengahan umur itu menyongsong

mereka.

Paderi itu bukan lain adalah Liau Ceng taysu, ketua dari

kuil Leng-hun-si digunung Tiang-pek-san. Suhu dari

pemuda SiauGin Liong dan Ki Yok-Lan.

Gin Liong dan Yok Lan yang berada di ruang samping,

dapat melihat dengan jelas keadaan suhu mereka, walaupun

mengulum senyum tetapi jidat Liau Ceng taysu itu jelas

memantulkan keriput kegelisahan.

Dua orang paderi jubah kuning, mengikuti dibelakang

Liau Ceng taysu. Kedua paderi itu berjenggot putih tetapi

wajahnya masih tampak segar dan penuh dengan sinar

welas asih.

Kedua paderi tua itu yang seorang mencekal tongkat Jiih

dan yang seorang memegang kelinting. Pada wajahnya

yang serius, tersembul suatu hawa pembunuhan.

Kedua paderi tua itu adalah susiok atau paman guru dari

Liau Ceng taysu, Mereka berdua merupakan Tiang-lo atau

sesepuh dari kuil Leng-hun-si.

Kemudian masuk pula tujuh orang lelaki yang membawa

sikap dan wajah angkuh, walaupun wajahnya berbeda dan

tinggi pendeknya tidak sama tetapi ketujuh orang itu

memiliki mata yang bersinar tajam sekali. Mereka

memandang dengan pandang penuh dendam kepada Liau

Ceng taysu.

Ketujuh orang itu berjalan dengan gegas seolah hendak

saling berlomba dahulu mendahului

Yang dimuka adalah dua orang paderi gemuk dengan

jubah yang gombrong, Yang seorang memegang tongkat

Ciang-mo-jo atau Alu-penunduk-iblis, Yang seorang

menyelip sebatang golok kwat-to pada pinggangnya.

Paderi gemuk bersenjata alu Ciang-mo-joh itu memiliki

alis yang tebal mulut lebar, hidung besar. Orang

menggelarinya dengan sebutan Ik-wi-tho atau paderi jahat,

Namanya Go Ceng.

Sedangkan paderi yang membawa golok kawat-to itu,

berkepala besar, mulut dan perut besar tetapi alisnya kecil

dan mata sipit hidung mekar.

Dia bernama Go In, digelari orang sebagai Hiong-bi-lek

atau Bi-lek-hud buas.

Go Ceng dan Go In itu merupakan paderi jahat dari kuil

Tay-ceng-si digunung Ngo-tay-san.Mereka adalah sepasang

tokoh aliran hitam yang hebat.

Sedang yang bergegas jalan disebelah kiri kedua paderi

jahat itu adalah imam Bu Tim cinjin, kepala biara Samceng-

kwan dipropinsi Hiaplam, pusat partai perguruan

Kiong-lay-pay.

Imam itu mengenakan jubah warna merah. Umurnya

lebih kurang 50-an tahun. Matanya kecil bundar, alis

jarang. Sedang rambut dan jenggotnya sudah bersemu

putih. sepintas memberi kesan bahwa dia tentu bukan

bangsa imam yang baik.

Ma Toa-kong bergelar Kim-piau atau Piau-emas dari

partai Tiam-jong-pay mengenakan pakaian ringkas kaum

persilatan dari sutera hitam, memelihara jenggot pendek.

Daun telinganya yang kiri sudah hilang.

Berjalan dibelakang kedua paderi jahat itu, wajah Ma

Toa-kong memancar kemarahan. Sebentar memandang ke

kanan, sebentar ke kiri seperti orang yang hendak

menyelidiki dan kuatir mendapat serangan gelap.

Setelah dua paderi, seorang tokoh biasa dan seorang

imam maka masih ada pula It Ceng tojin, paderi dari Kongtong-

pay, Tali terbang Ui Ke Siang dari Ciong-lam-pay dan

Golok-seriti Tio Jin Beng dari perguruan Losan.

Liau Ceng taysu yang bergegas menyambut itu,

walaupun agak kecewa setelah mengetahui siapa ketujuh

pendatang itu, namun sebagai tuan rumah ia tetap bersikap

ramah.

“Omitohud,” serunya seraya memberi hormat, “maafkan

pinceng karena tak cepat menyambut kedatangan toyu

sekalian.”

Bu Tim cinjin ketua dari biara Sam-ceng-kwan tertawa

panjang lalu mendahului berkata:

“Adalah kami yang seharusnya minta maaf kepada taysu

karena telah masuk kedalam kuil ini dengan terburu-buru

sekali,” serunya.

Liau Ceng taysu tertawa lebar.

“Sehabis melakukan perjalanan jauh, toyu sekalian tentu

lelah, Diluar turun badai salju, silahkan masuk kedalam kuil

kami.”

“Badai salju telah mengacaukan cuaca sehingga tak dapat

mengetahui jam” kata Piau-emas Ma Tay Kong, “saat ini

kemungkinan sudah lewat tengah hari. Tiga perempat jam

lagi, tentulah Ban Hong liong-li, harus melaksanakan

perjanjiannya.”

Ia hentikan kata-katanya untuk menyelidiki wajah Liau

Ceng taysu yang mulai berobah pucat.

“Sebaiknya Liau Ceng taysu segera mengundang Ban

Hong liongli untuk keluar dari gua pertapaannya agar

semua urusan yang lalu dapat selesai hari ini juga.” kata Ma

Toa Kong pula.

Liau Ceng taysu segera menyahut:

“Maksud pinceng, hendak mohon toyu sekalian duduk

didalam ruang dulu untuk merundingkan bagaimana cara

memutuskan persoalan Ban Hong liongli….”

Ok-wi-tho Go Ceng yang bermata bundar, alis tebal dan

mulut lebar, cepat deliki mata dan mendengus geram:

“Kiongcu Hun. mengapa engkau begitu banyak rewel?

Suruh wanita hina Ban Hong liongli itu keluar agar dapat

kuremukkan kepalanya dengan pentungku ini. Tak perlu

banyak membuang waktu !”

Bluk…. dia gentakkan alu Hang-mo-ngo yang beratnya

seratus kati itu ke lantai. Lantai hancur bertebaran keempat

penjuru.

Melihat tingkah laku yang liar dari paderi jahat itu, Gin

Liong tak kuat menahan kemarahannya lagi, serentak ia

terus hendak menerobos keluar….

Untunglah saat itu Liau Ceng taysu menyebut omitohud

dengan pelahan lalu berkata:

“Sejak mensucikan diri dibawah telapak sang Buddha,

pinceng sudah tak memakai nama pinceng yang dulu.

Harap Go Ceng sianyu suka menyebut pinceng dengan

nama Liau Ceng saja, peristiwa yang dulu, janganlah

dibangkitkan lagi.”

Hiongbi-lek si paderi Bi-lek yang buas, tertawa mengekeh

lalu berseru mengejek:

“Siapa yang mengurus soal namamu dahulu ataupun

namamu yang sekarang? Rasanya tiada seorangpun yang

hendak mengadakan hubungan dengan engkau Kiongcu

Hun.”

Habis berkata dia menengadahkan kepalanya yang besar

dan matanya yang kecil seperti mata tikus memandang ke

cakrawala lalu mendengus geram.

“Kiongcu Hun,” serunya, “sudahlah, jangan banyak

bicara yang tak berguna. Kami pun tak perlu minum

hidangan tehmu, Lekas engkau bawa keluar Ban Hong

liongli dari gua pertapaannya. Habis kubelah tubuh wanita

hina itu, kamipun segera hendak pulang.”

Melihat kata2 dan sikap kedua paderi jahat yang amat

sombong itu, Liau Ceng taysu tak dapat mengendalikan

kemarahannya lagi, ia menengadahkan kepala

menghamburkan kemarahannya.

Melalui tertawa yang panjang dan nyaring, lapisan salju

yang berkelompok diatas genteng, berhamburan jatuh

kebawah akibat getaran tertawa dari Liau Ceng taysu itu.

Imam jahat, paderi buas dan Ma Toa Kong bertiga,

seketika berobahlah wajahnya. Mereka serempak bersiap

untuk menghadapi setiap kemungkinan dari Liau Ceng

taysu.

Setelah berhenti tertawa, Liau Ceng taysu segera

sapukan pandang matanya ke wajah ketujuh tetamunya itu

dan berseru lantang:

“Toyu sekalian tiba di gunung ini dengan mengeluarkan

suitan panjang, sudah termasuk kurang hormat. Dan

sebelum pinceng menyambut, sicu sekalian sudah terus

masuk kedalam kuil ini. Suatu tindakan yang lebih tidak

pantas, Dan masih pula dengan sikap dan kata2 yang

congkak, toyu hendak menekan orang. Adakah toyu ini

memang sengaja hendak menganggap sepi ratusan paderi

dari kuil Leng-hun-si ini?” kata Liau Ceng taysu.

Dengan meraung keras. Ok wi-tho Go Ceng melesat

maju sambil lintangkan senjatanya alu Penunduk-iblis,

serunya:

“Apa itu segala macam kata2 kasar dan congkak tak tahu

aturan? Huh, aku tak perduli sama sekali…”

Seiring dengan kata2 yang terakhir dari Ok-wi-tho Go

Ceng itu, sekonyong-konyong sesosok tubuh dengan jubah

kuning, segera melintas keluar dari ruang samping terus

menerjang Ok-wi-tho.

Ok-wi-tho, Hiong-bi-lek dan Ma Toa Kong bertiga

terkejut sekali melihat ilmu meringankan tubuh dari

pendatang yang muncul itu. Bahkan Liau Ceng taysu

sendiri serta kedua paderi tua yang berkedudukan sebagai

tianglo pun terkesiap kaget.

Bayangan jubah kuning itu segera berhenti dibelakang

Liau Ceng taysu.

Ketika Ok-wi tho dan Hiong-bi-lek serta Ma Toa Kong

memandang dengan seksama barulah mereka mengetahui

bahwa pendatang itu tak lain hanya seorang pemuda

berparas cakap dalam pakaian warna putih perak.

“Hai, budak kecil siapa engkau ?” tegur Ok-wi-tho sesaat

setelah kejutnya reda.

Liau Ceng taysu mewakili memberi jawaban:

“lnilah muridku yang bernama Siau Gin Liong,” ia

berpaling ke belakang dan memberi perintah: “Liong-ji,

lekas memberi hormat kepada berdua taysu cianpwe.”

Gin Liong segera melakukan perintah suhunya. Dengan

menahan kemarahannya ia segera maju menghampiri ke

muka kedua paderi tua

Pada saat dia hendak memberi hormat, tiba2 Hiong-bilek

Go In deliki mata membentak: “Tunggu dulu…”

Ia melangkah maju dan menatap wajah Gin Liong

dengan matanya sipit yang berkilat-kilat seraya tertawa

mengekeh.

“Memiliki wajahmu begitu membesi, dahimu menampil

hawa pembunuhan, heh, heh, apakah engkau merasa

penasaran ?” tegurnya.

Gin Liong seorang pemuda yang masih berdarah panas,

Mendengar kata2 si paderi yang begitu congkak, tak dapat

lagi ia menahan kemarahannya, serentak ia tertawa nyaring

lalu loncat maju.

“Kalau memang sudah tahu, mengapa masih bertanya

lagi!” bentaknya dengan keras.

Mendengar itu buru2 Liau Ceng taysu membentak Gin

Liong: “Liong-ji, jangan kurang aturan ! Lekas engkau

mundur.”

Liau Ceng taysu cemas kalau muridnya sampai celaka

maka ia memberi perintah supaya anak itu mundur.

Tetapi serempak dengan itu, Ok-wi-tho Go In sudah

mendahului membentak: “Bagus, budak hina, aku hendak

menguji sampai dimanakah kepandaianmu itu !”

Habis berkata paderi jahat itu segera memutar alu Hangmo-

goh, Wut, angin menderu keras dan alu besi yang

beratnya 100 kati menyapu ke pinggang Gin Liong.

Seketika pucatlah wajah gurunya Liau Ceng taysu, ia

berseru keras seraya hendak menyerang dengan hudtim.

Tetapi sekonyong-konyong Gin Liong sudah menyelinap ke

belakang si paderi jahat Go Ceng.

Go Ceng menghantam dengan sekuat-kuatnya. Karena

hantamannya luput, tubuhnya terhuyung ke muka dan

hampir rubuh. setelah dapat memperbaiki diri, ia

celingukan kian kemari untuk mencari Gin Liong.

Alangkah kejutnya ketika melihat pemuda itu telah

berada di belakangnya, ia tertegun heran.

Memang Gin Liong telah menggunakan sebuah ilmu

langkah yang disebut Liong-li-biau. Hanya suhunya Liau

Ceng taysu yang tahu akan hal itu, ia tahu bahwa ilmu

pusaka itu adalah ajaran Banhong liongli.

Saat itu ternyata Gin Liong berada di belakang paderi

jahat Go Ceng, tapi berada di muka Go In. Pemuda itu

tegak membelakanginya.

Seketika timbullah suatu pikiran jahat pada Liong-si-kek

Go In. Dengan menyeringai iblis dan tak terduga-duga,

secepat kilat ia segera menampar batok kepala pemuda itu

dari belakang.

Semua orang yang melihat itu menjerit kaget.

Tetapi Gin Liong sudah siap, Dengan mendengus dingin

kembali ia menggunakan gerak Liong-li-biau, sebuah ilmu

meringankan tubuh yang hebat. Laksana sesosok hantu,

pemuda itu sudah menyelinap pula dibelakang Hong-bi-lek

Go In dan secepat kilat ia menampar kepala paderi gundul

yang gemuk itu.

Setitikpun Hiong-bi-lek tak pernah menduga bahwa Gin

Liong memiliki kepandaian ilmu ginkang yang sedemikian

luar biasa, Ketika melihat tabah pemuda itu lenyap dan

punggungnya disambar deru angin, seketika pucatlah wajah

Go In.

Namun dia memang lihay, setelah menundukkan kepala

untuk menghindari tamparan cepat ia loncat kemuka.

Tetapi Gin Liong tak mau memberi kesempatan lagi

kepada paderi itu “Plak…” seiring dengan tangan kanannya

menghantam kepala, Hong-bi-lek Go In menggeram

tertahan dan paderi yang jubahnya gemuk itu, bagai sebuah

bola daging yang menggelinding ke muka ruang besar.

Terdengar jeritan kaget dari para paderi yang berada di

muka ruang. Buru2 mereka menyingkir asal jangan sampai

dilanda oleh tubuhHiong-bi-lek.

Sesosok bayangan kuning melintas, salah seorang tianglo

dari kuil leng-hian-si telah ulurkan tangan untuk

menahan tubuh Hiongbi-lek yang menggelinding itu.

Dengan menggerung keras, Hiong-bi-lek melenting

bangun, Ketika berdiri, ia masih rasakan kepalanya pening

dan mata berkunang-kunang. Tring . . . . cepat ia mencabut

golok kwat-to lalu celingukan memandang kian kemari

mencari Gin Liong.

Bu Tim cinjin, Piau-emas Ma Toa Kong dan Tali terbang

Ui Ke Siang biasanya memang tak begitu memandang mata

kepada kedua paderi jahat itu. Melihat Go In mendapat

kopi pahit dari seorang anak muda, bukan ikut marah,

kebalikannya mereka malah tertawa gelak-gelak.

Kuatir akan menimbulkan kemarahan para tetamu dan

terjadi hal2 yang tak diingini, Liau Ceng taysu membentak

kepada muridnya:

“Liong-ji, mengapa engkau cari onar? Hayo, lekas masuk

!”

Melihat suhunya marah, Gin Liong mengiakan dengan

hormat lalu hendak berputar tubuh menurut perintah.

Tetapi tiba2 kedua paderi jahat itu menggembor keras,

Mereka berhamburan menyerang Gin Liong dengan senjata

alu dan golok.

Tetapi Gin Liong tak gentar, ia mendengus dingin dan

hentikan langkah.

Tiba2 sesosok tubuh melesat kemuka dan berseru :

“Harap taysu berdua berhenti dulu…”

Ok-wi-tho Go Ceng dan Hiong-bi-lek Go In tertegun.

pendatang itu bukan lain adalah imam tua yang

punggungnya menyanggul pedang atau It Ceng tojin ketua

Kong-tong-pay.

“Apa-apaan engkau melarang aku ?” teriak kedua paderi

jahat itu dengan deliki mata.

“Tidak apa2″ sahut It Ceng tojin yang bergelar Bu-songkiam

atau Pedang tiada keduanya, “hanya ingin

memperingatkan kalian bahwa tiga perempat jam lagi

mungkin kalian belum selesai bertempur.”

Go Ceng, Go In dan Ma Toa Kong terbeliak, Cepat

mereka mencurah pandang kearah Liau Ceng taysu seraya

berseru:

“Kiongcu Hun, apakah engkau berani mengulur waktu

lagi ?”

Menderita perlakuan kasar beberapa kali dari pendatang2

itu. Liau Ceng taysu marah, ia tertawa nyaring.

“Baru beberapa detik toyu sekalian datang ke kuil kami

dan baru beberapa patah kata toyu bercakap-cakap,

mengapa menuduh pinceng mengulur waktu ?” serunya

marah.

Kedua paderi jahat Go Ceng dan Go In tak dapat

menjawab.

Tiba2 Liau Ceng taysu berputar tubuh ke arah ruang

besar lalu berseru nyaring:

“Cobalah lihat kearah alat pertandaan waktu itu,

sekarang jam berapa ?”

Seorang paderi jubah kelabu yang berdiri pada titian

ruang segera lari masuk ke dalam ruang besar.

Saat itu sekalian orang tegang regang, suasana hening

sunyi Hanya deru angin yang meniup tajamdiluar kuil.

Dalam menunggu laporan tentang jam saat itu, tampak

wajah Go Ceng, Go In dan Ma Toa Kong bertiga gelisah

sekali.

Liau Ceng taysu tampak tenang, Sejam yang lalu dia

sudah duduk didepan alat waktu itu, Di-pandangnya alat

waktu itu dengan cemas. Diam2 ia bersyukur kepada Thian

bahwa saat itu turun badai salju yang lebat.

Tetapi rasa girang itu segera terhapus lenyap manakala ia

melihat sosok2 tubuh yang berlarian mendaki ke puncak,

Mereka ialah Go Ceng, Go In dan Ma Toa Kong serta

beberapa tokoh yang memusuhi Ban Hong liong-li, jelas

harapannya bahwa pada salju itu akan menghalangi

perjalanan mereka ternyata gagal.

Beberapa saat kemudian terdengar derap orang berlari

dari dalam ruang besar, paderi yang diperintah untuk

melihat waktu telah muncul, seketika suasana berobah

tegang.

Tiba di mulai titian, paderi itu memberi hormat ke

halaman dan berseru nyaring:

“Saat ini, menunjukkan waktu tepat tengah hari…”

Ok-to Go Ceng, Hiong-ceng Go In dan Ma Toa Kong

sekalian serempak menyambut dengan gelak tawa yang

gembira sekali.

Liau Ceng taysu hanya dingin2 saja memandang kearah

ketujuh tetamunya yang jumawa itu.

Gin Liong kerutkan dahi, ia mengertek geraham

menahan kegeraman Keringat dingin pun segera

membasahi tubuhnya.

Tiba2 terdengar bunyi tajam macam naga meringkik.

Datangnya dari punggung Gin-Liong. Dan sesaat kemudian

cret. . . pedang Tanduk Naga yang berada di punggung

anak muda itu mencelat keluar dari kerangkanya.

Sinar merah yang memancar dari batang pedang pusaka

itu, menyilaukan pandang mata sekalian orang.

Go Ceng, Go In, Ma Toa Kong dan kawan2, hentikan

tertawa dan menggigil melihat keperbawaan pedang anak

muda itu.

Demikian pula dengan kedua tiang-lo dan paderi2 dari

setiap paseban kuil Leng-hun-si.

“Omitohud!” seru Lian Ceng taysu, “Pedang pusaka

memberi peringatan datangnya bahaya, pembunuhan segera

akan terjadi Mayat menganak bukit, darah mengubang

sungai . . .”

Tepat pada saat Liau Ceng taysu selesai berkata maka

cuaca yang gelap tiba2 memancar sinar terang benderang

dan menyusul terdengarlah letusan halilintar yang

menggelegar dahsyat

Setelah halilintar meletus, angin berhenti, saljupun reda,

Genta dan gendang raksasa yang berada diruang, Tayhud-

tian berguncang-guncang keras sehingga berbunyi

sendiri,

Dua ratusan paderi yang berada dimuka ruang,

terbelalak menengadahkan kepala memandang ke langit,

Kedua tianglo dari kuil Leng-hun-si agak pejamkan mata

dan mengucap doa dengan bisik2.

Liau Ceng taysu pejamkan mata merangkapkan kedua

tangan kedada dan bibirnya berkomat-kamit, Rupanya ia

sudah mempunyai firasat bahwa dunia persilatan akan

mengalami pembunuhan besar-besaran,

Go Ceng, Go In, Ma Toa Kong dan lain2 kawannya,

tertegun menyaksikan pemandangan aneh itu. Wajah

mereka pucat, keringat dingin mengucur.

Halilintar dahsyat itu telah menggoncang hati seluruh

orang yang berada di muka ruang Tay-hud-tian.

Diantara mereka hanya Gin Liong seorang yang

mempunyai pemikiran lain, Tiba2 ia seperti disadarkan dan

teringat akan suatu hal yang penting,

Cepat ia sarungkan pedang kedalam kerangkanya lagi

lalu secepat kilat menyelinap diantara barisan paderi, lari

keruang samping terus menuju kepuncak di belakang kuil.

Diluar hanya badai yang berhenti, sedang salju masih

turun lagi.

Ternyata Gin Liong bergegas lari menuju ke gua Kiukiok-

tong. Tiba di puncak belakang terdengar sebuah suitan

nyaring dan tajam. Menyusul terdengar ledakan keras yang

berkumandang sampai jauh kesegenap penjuru.

“Celaka,” teriak Gin Liong, “Liong-li locianpwe hendak

pergi . . . .”

Ia cepatkan larinya dan selekas tiba di tepi sebuah karang

buntung diatas puncak gunung, dia terus hendak enjot

tubuh melompat kemuka.

Tetapi ketika ia menunduk memandang ke bawah,

jurang yang memisahkan karang disitu dengan karang

dimuka, tertutup kabut salju yang tebal sehingga tak dapat

melihat lebih dari lima tombak ke bawah.

Siau Gin Liong diam2 sering datang ke tempat dua buah

karang buntung itu. Kedatangannya itu selalu pada malam

hari untuk belajar silat Maka dalam badai dan salju yang

hebat, ia masih mencapai tempat itu, sebuah karang nonjol

yang ditumbuhi pohon siong yang condong.

Sejenak menenangkan pikiran, Gin Liong segera

ayunkan tubuh melayang ke bawah dan tepat hinggap

diatas celah2 selebar satu meter dari sebuah gunduk karang,

Ternyata setelah berada di jurang pemisah antara kedua

karang buntung, angin agak berkurang, saljupun tak begitu

deras, Kini dia berhadapan jalan yang merupakan celah2

dari gundukan karang, jalan itu sempit dan licin sekali serta

berkeluk-keluk, jika tidak memiliki ilmu ginkang yang lihay,

jangan harap dapat melintasi jalan itu.

Berkat faham tempat itu, dapatlah dalam waktu yang

singkat Gin Liong mencapai ujung jalan yang merupakan

segunduk karang seluas tiga tombak, Diatas karang itulah

biasanya Gin Liong berlatih silat.

Di sekeliling karang itu tumbuh beberapa batang pohon

Bwe, Dahan dan rantingnya tumbuh meliar, bunganya

subur,Warnanya merah dan putih menyedapkan mata.

Diatas gunduk karang itu terdapat sebuah gua selebar

dua meter, Dalam gua gelap pekat dan sunyi senyap.

Secepat melayang keatas karang, dengan wajah tegang

Gin Liong terus menerobos masuk. Tiba di muka pintu

terali besi, ia tertegun,

Terali besi yang besarnya sama dengan lengan bayi telah

dihancurkan oleh suatu tenaga sakti, Kutungan terali besi

itu bertebaran dimuka gua,

Dengan terlongong-longong Gin Liong memandang

terali besi, Airmatanya berderai-derai membasahi pipinya.

“Ah, Liong-li locianpwe telah pergi,” katanya seorang

diri dengan penuh keharuan, “pergi tanpa memberi

kesempatan kepadaku untuk mengucapkan terima kasih

dan selamat jalan, Lima tahun aku menerima budinya

mendapat pelajaran silat, akhirnya tak dapat bertemu lagi”

Sambil berkata pelahan-lahan ia melangkah maju

kedalam gua, Ruang gua gelap dan menyeramkan sekali,

Angin dingin berdesis-desis menampar muka. menambah

keseraman suasana,

Dalam mengayunkan langkah itu masih Gin Liong

mengandung harapan semoga Ban Hong Liong-li masih

berada dalam gua,. Maka berserulah dia dengan pelahan:

“Lo-cianpwe . .. . locianpwe…”

Dari sebelah dalam gua segera memantulkan gema suara

Gin Liong yang berkumandang sampai lama,

Melangkah maju beberapa tindak lagi, ruang itu

membiluk ke kiri, Gelapnya makin pekat sehingga tak dapat

melihat jari tangannya sendiri.

Gin Liong hentikan langkah dan mengerahkan pandang

matanya, Tetapi ia tak dapat menembus kegelapan itu.

Paling2 hanya dapat memandang sampai setombak

jauhnya,

Ketika berjalan lagi, kakinya berbunyi keresekan. Buru2

ia berjongkok dan meraba dengan tangannya. Ah, ternyata

setumpuk rumput kering yang halus, Makin meraba

kemuka, tumpukan rumput itu makin tebal.

“Ah, mungkin disinilah tempat peristirahatan locianpwe,

“katanya seorang diri.

Sekonyong-konyong tangannya menyentuh benda yang

menyerupai rantai besi Cepat ia menariknya, ah, ternyata

rantai itu telah dipaku pada dinding gua.

Gin Liong marah. Dilemparkannya rantai itu lalu

berseru keras : “Penjahat, mengapa kalian begitu kejam

memperlakukan Liong-li lo-cianpwe? Mengapa ? Mengapa

Dia menangis sedih dan meraung-raung marah sekali

setelah menyaksikan keadaan Ban Hong Liong-li selama

ini. Dia benci kepada musuh2 yang telah menganiaya Ban

Hong Liong-li diluar batas kemanusiaan Diikat dengan

rantai seperti binatang buas.

Raung Gin Liong kembali menerbitkan gema suara yang

berkumandang jauh, Suatu pertanda bahwa ruang gua Kiukiok-

tong itu masih dalam sekali.

Saat itu Gin Liong baru menyadari mengapa selama lima

tahun ini, Ban Hong Liong-li tak pernah melangkah

mendekati pintu tera1i.

Diapun teringat bagaimana dalam memberikan pelajaran

silat kepadanya itu. Ban Hong Liong-li hanya

menyampaikan secara lisan saja. Selama lima tahun, Gin

Liong hanya mendengar suara tetapi tak pernah melihat

orangnya, Ah. tak kira kalau Ban Hong Liong-li telah

dirantai orang . . .

Serentak timbul rasa heran dalam hati Gin Liong,

Dengan kesaktiannya Ban Hong Liong-li mampu

memutuskan tali rantai tetapi mengapa selama lima tahun

ia mandah dirinya diikat dengan rantai, Mengapa dia tak

mau lekas2 meloloskan diri ?

Siapakah yang mengikat lo-cianpwe itu ? Apakah Liau

Ceng taysu, gurunya itu ?

Ataukah kawanan Ok-wi-tao Go Ceng, Hiong-li-lek Go

In, Piau emas Ma Toa Kong dan kawan-kawannya itu ?

Jika mereka mampu merantai Ban Hong Long-Li

mengapa tidak segera saja saat itu dibunuh ? Mengapa

harus menunggu sampai lima tahun?

Mengapa pula Ban Hong Liong-li harus di penjara di

gunung Tiang-pek-san dan tidak di gunung Kiong-lay-san

atau di gunung Ngo-tay-san?

Tadi Ma Toa Kong mengatakan bahwa setelah tiga

perempat jam lewat tengah hari, Ban Hong Liong-li harus

melaksanakan janjinya sendiri janji apakah itu ?

Dan teringat pula Gin Liong bahwa setiap kali

membicarakan tentang diri Ban Hong Liong-li, wajah

gurunya (Liau Ceng taysu) tentu berobah gelap, Dan setiap

kali ia bertanya, suhunya tentu akan memberi jawaban

menghindar.

Pernah dan bahkan berulang kali Gin Liong

memberanikan diri untuk menanyakan riwayat hidup

kepada Ban Hong Liong-li, tetapi wanita sakti itu hanya

menjawab dengan helaan napas panjang.

Kemarin malam ketika menyerahkan pedang kepadanya,

Ban Hong Liong-li dengan samar2 mengatakan bahwa

hanya guru Gin Liong atau Liau Ceng taysu yang tahu

tentang asal usul dirinya, wajahnya dan semua riwayat

hidupnya yang menyedihkan itu.

Dengan nada penuh duka, Ban Hong Liong-lipun

mengatakan bahwa lewat tengah hari nanti dia akan pergi

ke suatu tempat yang jauh, Tiada seorangpun yang akan

bertemu lagi dengannya.

Adakah tempat jauh itu dimaksudkan sebagai alam baka

karena Ban Hong Liong-li akan dihukum mati oleh

kawanan pendatang itu ?

Sambil berlutut diatas tumpukan rumput kering, Gin

Liong dilanda oleh berbagai pertanyaan Namun soal2 itu

makin direnungkan makin sukar dijawab dan bertambah

banyak

Tiba2 sinar mata Gin liong berkilat, Dilihatnya diatas

tumpukan rumput kering itu sesosok bayangan hitam,

seketika tergetarlah hatinya dicengkam kejut kegirangan

serentak ia berseru:

“Lo-cianpwe, engkau.. engkau belum pergi ?” serta merta

Gin Liong terus duduk bersila Airmatanya kembali

berderai-derai membanjir keluar Airmata keharuan tetapi

haru kegirangan

Tetapi sosok tubuh itu tak memberi suatu reaksi apa2.

Suatu bayang2 yang ngeri, segera melintas dalam pikiran

Gin Liong, Dengan beringsut-ingsut ia merangkak maju

lalu ulurkan tangannya yang gemetar menjamah benda

hitam itu.

Ah … ternyata benda hitam itu tak lain hanya segulung

permadani bulu.

“Lo-cianpwe . . . . lo-cianpwe . . . . !” serentak Gin Liong

melenting bangun dan berteriak keras-keras.

Ia duga Ban Hong Liong-li tentu belum berapa lama

tinggalkan gua itu. Kemungkinan masih berada diatas

puncak gunung, ia segera lari keluar dan ketika tiba di pintu

yang berterali besi, tiba2 ia dikejutkan oleh beberapa gelak

tawa yang bermacam-macam nadanya, Suara tawa itu

terdengar tak jauh di luar gua.

Tergetarlah hati Gin Liong. ia tahu bahwa suara tertawa

itu tentu berasal dari rombongan Go Ceng, Go In dan Ma

Toa Kong yang sedang berlari menuju ke gua Kiu-kioktong.

Gin Liong menyurut mundur Setelah memeriksa ke

kanan kiri, ia dapatkan pada kedua samping dinding gua itu

terdapat banyak sekali cekungan yang cukup dimasuki

tubuh orang.

Secepat ia menyusup bersembunyi kedalam sebuah

cekung, diluar gua segera terdengar kibaran pakaian yang

dihembus angin.

Gin liong lekatkan tubuh rapat2 ke dinding gua seraya

mengeliarkan pandang mata ke mulut gua. Dari tempat

persembunyiannya itu ia melihat suatu pemandangan yang

indah, Gunduk karang yang berada diluar gua sedang dihias

dengan salju putih dan bunga Bwe yang tengah mekar

dalam warna merah dan putih yang indah.

Tetapi ia tak sempat menikmati pemandangan itu.

Hatinya tegang sekali menantikan kedatangan kawanan

pendatang yang hendak menghukum Ban Hong Liong-li.

Pada lain saat sesosok tubuh dengan pakaian yang

gombrong, meluncur ke udara dan tegak diatas gunduk

karang dimuka gua.

Gin Liong tergetar hatinya, Cepat ia dapat mengetahui

bahwa yang muncul itu adalah Ok-wi-tho atau si Paderi

jahat Go Ceng.

Menyusul berhamburan melayang ke gunduk karang itu

imam tua It Ceng, Bu Tim cinjin, Hiong-bi-lek Go In,

Golok-sayap-walet Tio Jim-beng dan Tali terbang Ui Ke

Siang,

Gin Liong mendengus geram, Darahnya mendidih dan

napasnya segera menghamburkan hawa pembunuhan

Ketujuh tokoh itu segera tegak dimuka gua, memandang

celingukan kedalam dan sibuk berbicara.

Dari pandang mata ketujuh orang itu, jelas

mengunjukkan suatu perasaan gelisah, cemas dan gentar.

Tiba2 diluar gua terdengar suara pakaian berkibar tertiup

angin,Menyusul muncul pula tiga sosok bayangan

Ketika Gin Liong mencurahkan pandang mata ke luar,

kejutnya bukan kepalang sehingga sampai menggigil.

Ketiga pendatang itu bukan lain adalah suhunya sendiri,

Liau Ceng taysu dan kedua susiok-cou atau paman – kakek

guru. Sudah tentu Gin Liong bingung sekali. Apabila

suhunya tahu bahwa dia bersembunyi dalam gua itu,

bukankah suhunya akan marah ?

Ah, tetapi dia sudah terlanjur bersembunyi disitu, Tak

dapat ia meloloskan diri lagi, Terpaksa ia hanya

memandang 1ekat ke mulut gua untuk menunggu apa yang

akan terjadi,

Tampak Liau Ceng taysu berjalan dengan gegas sekali.

Langsung ia menuju ke mulut gua, Setelah memeriksa pintu

terali besi hancur berantakan ia segera keluar lagi dan

berkata dengan wajah sarat:

“Pintu terali besi telah hancur, kemungkinan Ban Hong

Liong-li sudah tak berada dalam gua lagi.”

Ketujuh orang itu terbeliak kaget, Ma Toa Kong deliki

mata dan berteriak marah:

“Saat ini masih pagi dan batas waktu perjanjian masih

belum tiba. Wanita hina itu mengapa ingkar akan janjinya

lima tahun yang lalu ?” ia menanya It Ceng tojin dan Ui Ke

Siang, terus melangkah maju ke mulut gua, Dengan mata

berkilat-kilat, ia memandang ke arah dalam.

Gin Liong terkejut Cepat2 ia lekatkan tubuh rapat sekali

pada dinding gua.

Sesaat kemudian, Ma Toa Kong berputar tubuh dan

menggeram kepada Liau Ceng taysu:

“Ban Hong Liong-li masih berada dalam guna . . .”

Karena disindir oleh Ma Toa Kong, rupanya It Ceng

tojin tak puas, Saat itu ia merasa mendapat kesempatan

untuk membalas, Dengan tertawa mengekeh, cepat ia

menukas kata2Ma Toa Kong:

“Apakah Ma sicu melihat sendiri Ban Hong Liong-li

berada dalam gua?”

Ma Toa Kong tahu bahwa It Ceng tojin dari Kong-tongpay

itu seorang tokoh yang licin dan licik. walaupun dia

tahu kalau dirinya akan dicelakai oleh imam itu, tetapi ia

tetap harus menjaga gengsi, Sekali sudah mengatakan kalau

Ban Hong Liong-li masih berada dalam gua, ia harus

mempertahankan kata-katanya itu.

Dengan deliki mata memandang It Ceng, ia mendengus

marah: “Benar, memang kulihat wanita busuk itu masih

berada dalam guna !”

Mendengar itu tokoh2 yang lain tampak tegang dan

berobah wajahnya, Mereka berhamburan maju ke mulut

gua dan memandang dengan seksama ke arah dalam.

Sudah tentu Gin Liong makin gelisah sekali Dia tak

menyangka bahwa mata Ma Toa Kong amat tajam sekali.

Tentu Ma Toa Kong melihat gulungan permadani bulu

yang terletak diatas tumpukan rumput kering dan

menyangkanya sebagai tubuh BanHong Liong-li.

Gin Liong cepat menyusup lebih dalam ke dalam cekung

dinding gua, Kini dia hanya menggunakan sebelah mata

untuk memandang ke mulut gua.

It Ceng tojin berdiri agak jauh dibelakang beberapa tokoh

itu, Mulut tersenyum menyeringai dan sengaja dengan

suara keras ia berseru:

“Karena Ma sicu sudah melihat Ban-Hong Liong-li

masih didalam gua, rasanya tak perlu sicu sekalian

memeriksa lagi, Saat ini belum tiba waktunya, Kurasa Ban

Hong Liong-li tentu tak mau ingkar janji, Maka sebaiknya

kupersilahkan Ma sicu masuk kedalam gua menyeret Ban

Hong Liong-li keluar, silahkan Ma sicu memotong daun

telinga Ban Hong Liong-li yang kiri, untuk membalas

dendamMa sicu yang kehilangan daun telinga itu.”

Sudah tentu Ma Toa Kong tahu bahwa dirinya diejek

habis-habisan oleh imam dari Kong-tong-pay itu. Dengan

mata berapi-api ia deliki mata memandang It Ceng cinjin.

Wajah merah padam dan tubuh gemetar keras karena

dilanda kemarahan.

Bu Tim cinjin ketua biara Sam-Ceng kwan, rupanya juga

mengagulkan supaya Ma Toa Kong masuk kedalam gua.

Maka iapun segera mendukung pernyataan It Ceng cinjin:

“Apa yang dikatakan It Ceng toyu memang benar,”

katanya. “sekarang saat perjanjian belum tiba, kiranya Ma

sicu boleh masuk saja kedalam guna ini.”

Dada Ma Toa Kong serasa meledak dan memekiklah ia

sekeras kerasnya: “Huh, engkau kira aku Ma Toa Kong tak

berani masuk ?”

Dengan sikap pura2 menghormat, It Ceng cinjin berseru:

“Ah, tidak, tidak. Mana aku mempunyai anggapan begitu,

Piau-emas dari Ma sicu tiada tandingannya dan Ma sicu

seorang jantan yang berani, Masakan tak berani memasuki

gua itu.”

Ma Toa Kong benar2 tak dapat menahan ledakan

kemarahannya lagi, secepat berputar tubuh ia terus

melangkah kedalam gua.

Jelas dilihat oleh Gin Liong bahwa Ma Toa Kong itu

sedang masuk. Diam2 Gin Liongpun merapatkan tubuh ke

cekung dinding seraya kerahkan tenaga dalam bersiap-siap

menghadapi setiap kemungkinan.

Tetapi baru melintasi pintu terali besi, tiba2 Ma Toa

Kong berhenti.

Saat itu Gin Liong tak dapat melihat jelas lagi bagaimana

kerut wajah Ma Toa Kong saat itu. Tetapi dia masih dapat

melihat sinar kedua mata Ma Toa Kong yang berapi-api

menyeramkan sekali.

Tampak pula Ma Toa Kong mengambil sebatang kimpiau

dari pinggangnya. Digenggamnya senjata rahasia itu

erat2. Kaki dan tangannyapun mulai tampak gemetar.

Menyusupkan pandang ke luar gua, Gin Liong melihat

kawanan tetamu2 itu tampak tegang sekali, Mata mereka

mencurah ruah ke dalam gua dan kearah Ma Toa Kong

yang tegak di pintu terali besi.

Gin Liongpun sempat pula memperhatikan sikap suhu

dan kedua paman kakek gurunya. Dengan wajah sarat,

ketiga tokoh itu berdiri ditepi batu karang, Mereka tak

mencegah tindakan Ma Toa Kong, Mungkin mereka sudah

menduga bahwa Ban Hong Liong-li tentu sudah tak berada

dalam gua.

Sekonyong-konyong Ma Toa Kong berseru nyaring:

“Ban Hong Liong-li, hari ini hukumanmu sudah habis,

Lewat tengah hari nanti engkau harus keluar untuk

menerima hukuman mati dari sekalian enghiong (ksatrya).

Hayo, unjukkan diri-mu, jangan main bersembunyi seperti

tikus, Apakah engkau tak sayang pada kemasyhuran

namamu yang pernah menggetarkan dunia persilatan

dahulu ?”

Dari dalam gua segera menggema kumandang suara Ma

Toa Kong itu. Lama dan mengiang2 memekakkan telinga.

Sebenarnya Gin Liong sudah tak kuasa menahan

kemarahannya lagi, Tetapi karena suhunya berada diluar,

dia tak dapat berbuat apa2 dan tak tahu apa yang harus

dilakukan.

Selekas kumandang suara Ma Toa Kong itu sirap maka

Ma Toa – Kong kembali berseru dengan nyaring lagi:

“Wanita hina, apakah engkau hendak main mengulur

waktu ? Tempatmu sudah kuketahui, kalau tak percaya,

inilah buktinya . .. .”

Sring . . . .

Sepercik sinar emas yang diiringi oleh deru angin tajam

segera melayang kearah tempat Gin Liong bersembunyi.

Sudah tentu Gin Liong terkejut sekali,

Sebenarnya dia sudah cepat2 menyusupkan kepalanya ke

cekung dinding karang tetapi dia tak menyangka bahwa Ma

Toa Kong sudah mengetahui dirinya.

Tring

Senjata rahasia yang bersinar kuning emas itu meluncur

dan hinggap pada dinding gua disisi tempat Gin Liong,

Piau jatuh ke tanah, mengeluarkan bunyi gemerincing yang

berkumandang nyaring.

Dinding gua berhamburan menebar tubuh Gin Liong,

Pemuda itu marah sekali. ingin rasanya ia loncat keluar

untuk membunuh orang jahat itu. Tetapi karena suhunya

berada diluar gua, terpaksa ia tak dapat melaksanakan

keinginannya itu.

Tiba2 Hiong bi-lek Go In tertawa gelak2. Dan pada lain

saat iapun mencabut golok kwat lo dipinggangnya. Sambil

tertawa mengejek, ia melangkah masuk kedalam gua.

“Wanita hina itu masih berada didalam guha,” teriakMa

Toa Kong.

Tetapi Go In tak mempedulikan, Dia tetap lari ke dalam.

“Kurang ajar,” damprat Ma Toa Kong dalam hati,

“mungkin karena mendengar gema suara jatuhnya kimpiauku

tadi, dia tahu kalau Ban Hong Liong li sudah tak

berada dalam gua maka dengan tingkah kegagah-gagahan

dia berani menyerbu kedalam.”

Gin Liong menahan napas kencang2, Suara tertawa

berhenti tetapi derap lari Go In masih tetap melaju.

Ruang gua makin gelap dan makin gelap karena

dipenuhi oleh bayang2 tubuh Go In. suasana di dalam dan

diluar gua sunyi senyap.

Beberapa saat kemudian, menilik dari bayang2 yang

tampak, Gin Liong dapat memperhitungkan bahwa Hiongbi-

lek Go In saat itu sudah dekat sekali dengan tempatnya,

Paling banyak hanya tinggal satu tombak, Bahkan diapun

dapat mendengar suara napas si paderi yang terengahengah,

Dan pada lain saat pula, bahkan iapun dapat melihat

pancaran sinar golok dari paderi itu.

Gin Liong makin tegang, Seluruh tenaga dalam telah

dihimpun ke lengan kanannya dan mulai pelahan-lahan

diangkat.

Rupanya paderi itu dapat menangkap suara gerak tangan

Gin Liong. Dia berhenti

“Wanita hina, mengapa tak lekas keluar ? Aku sudah

dapat mendengar debur jantungmu !” teriaknya, Tiba2 ia

hantamkan goloknya.

Segera terdengar gema suara yang dahsyat ketika dinding

karang hancur berantakan karena tabasan golok itu.

Paderi itu tertawa gelak2 :

“Wanita hina, apakah engkau tetap tak mau keluar ? Aku

sudah melihat engkau duduk, apakah harus menunggu aku

sampai turun tangan ? Ha, ha, bersikaplah sedikit ksatrya

dan lekaslah keluar !”

Sambil berkata ia ayunkan langkah lagi seraya tertawa

keras :

“Wanita hina, dengarkanlah Saatnya sudah hampir tiba .

. . engkau harus melaksanakan janjimu sebelum itu, engkau

tak, boleh membunuh orang . . . .”

Demikian sambil berjalan, paderi itu tertawa dan

mengoceh dengan suara keras,

Gin Liong makin tegang, Saat itu dia sudah melihat

golok si paderi dan pada lain saat bahkan tangan paderi itu

lalu perut yang buncit,

“Wanita hina, ha, ha. tahukah engkau bahwa tengah hari

segera tiba, Engkau harus melaksanakan janjimu, Aku

sudah melihat engkau duduk . . . .”

Walaupun mulut berkata garang tetapi tangan dan tubuh

Ma Toa Kong agak menggigit Dan makin lama dia makin

mendekati ke tempat Siau Lo Seng.

“Ha, ha,” Go In tertawa dan berseru keras: “tengah hari

segera tiba,Wanita busuk, engkau harus menetapi janji, ha,

ha . . . . engkau tak boleh membunuh orang…”

Dalam pada berseru itu, paderi itu lambatkan langkah.

sekalian orang tahu bahwa gerak gerik Go In itu

menandakan rasa takut dan gelisah.

“Wanita hina itu berada disekitar celah2 dinding gua,”

seru Ma Toa Kong.

Hiong-bi-lek Go In mendengus dan hentikan langkah.

Gin Liong terkejut sekali, Pada saat mendengar Go In

berhenti, secepat kilat ia terus ayun tubuhnya melayang

keluar.

Wut . . . . karena kaget Go In memekik keras dan

kibaskan goloknya. Tetapi Gin Liong sudah bersedia.

Secepat ayunkan tubuh ia sudah berada dibelakang paderi

itu. secepat itu pula ia segera menghantam belakang

tengkuk kepala Go In.

Terdengar jeritan yang ngeri dan nyaring memancar dan

mulut Go In. Batok kepalanya pecah dan jatuhlah tubuh

paderi itu terjungkal ke belakang.

Sebuah bentakan keras mengering sesosok bayangan

hitam menyerbu Gin Liong, Untung pemuda itu dengan

sigap sudah menghindar ke samping. Ketika melihat siapa

penyerangnya itu, ternyata Ok-wi-tho Go Ceng yang

menyerang dengan Hang-mo-goh, alu yang beratnya

seratusan kilo,

Marahlah Gin Liong, Sekali lingkarkan kedua

lengannya, melangkah setengah tindak kemuka, ia segera

mendorong dengan kedua tangannya.

Terdengar jeritan ngeri di susul oleh tubuh Ok-wit-ho Go

Ceng yang terlempar keluar dari mulut gua. sekalian orang

terkejut Tetapi bukan menolong, kebalikannya mereka

malah buru2 menghindar ke belakang,

Karena tiada orang yang menolong, tubuh paderi jahat

itupun terlempar ke bawah jurang yang dalamnya ratusan

meter.

Sesungguhnya Liau Ceng taysu sudah berusaha untuk

menyambar tubuh paderi jahat itu, Tetapi sayang karena

rasa kejut dan tegun atas peristiwa itu, ia agak terlambat

bergerak sehingga Ok-wit-ho Go Ceng tetap meluncur

kebawah jurang.

Gin Liong itu juga kesima melihat hasil pukulannya.

setitikpun ia tak menyangka bahwa pukulannya ternyata

mengandung suatu tenaga sakti yang begitu dahsyat.

Cepat ia berputar memandang ke belakang. Dalam

kegelapan gua ia hanya melihat bahwa kecuali si Hiong-bilek

Go In yang terkapar menjadi mayat, tiada lain orang

lagi.

Ketika berpaling memandang ke maka lagi, hampir saja

ia menjerit kaget dan tubuhnya pun menggigil

Liau Ceng taysu, gurunya, saat itu sedang menjerit dan

tubuhnyapun gemetar. Hal itu disebabkan tak lain karena

dia melihat suhunya. Liau Ceng taysu, sedang melangkah

masuk kedalam gua.

Karena tegang dan gugup, Gin Liong cepat2 menyusup

lagi kedalam cekung dinding gua.

Tenang sekali sikap dan langkah Liau Ceng taysu.

Dengan memegang kebut Kim-si-hud-tim dia berjalan

dengan santai, Sudah tentu Gin Liong heran. Adakah

suhunya tak kuatir kalau Ban Hong Liong-li akan

menyerangnya ?

Tetapi dia tak sempat berpikir lebih lanjut karena saat itu

ketegangan hatinya makin memuncak. Dilihatnya setiap

kali melewati cekung dinding gua yang lebar dan

diperkirakan cukup dimasuki tubuh orang, suhunya tentu

berhenti dan menghamburkan pandang memeriksa,

Keringat dingin mulai mengucur deras pada tubuh Gin

Liong, Akhirnya ia memutuskan Daripada dipergoki oleh

suhunya, lebih baik ia bertindak lebih dulu,

Setelah meregangkan napas, secepat kilat ia terus melesat

lari kebagian gua yang lebih dalam Tiba di persimpangan

sebelah kiri dari ujung gua, ia berhenti Ketika mencari

kesempatan untuk berpaling ke belakang, dilihatnya

suhunya sedang menghampiri ke tempat mayat Hiong bi lek

Go In, Setelah memindahkan mayat paderi itu ke pinggir

Liau Ceng taysu lanjutkan perjalanan kedalam gua lagi,

Setiap tiba pada cekung dinding gua, ia tentu berhenti dan

mengucapkan beberapa patah kata yang tak jelas.

Gin Liong makin heran, Apakah yang diucapkan

suhunya itu ? Karena ingin tahu, ia kerahkan alat

pendengarannya untuk menangkap suara suhunya.

“Wulanasa,Wulanasa . . . .”

Mendengar itu, ketegangan hati Gin Liong bertambah

dengan suatu rasa keheranan Wulanasa ? Apakah artinya

Wulanasa itu ?

Sesungguhnya banyak sekali soal yang hendak

dipecahkannya, Tetapi saat itu dia tak mempunyai

kesempatan lagi. Saat itu Suhunya makin mendekat ke

tempat persembunyiannya.

Karena bingung, tiba2 Gin Liong loncat ke atas

tumpukan rumput kering disebelah kiri, sret . .. .

Walaupun hanya pelahan tetapi suara tertimpanya

tumpukan rumput kering dengan tubuh Gin Liong telah

menimbulkan gema suara yang berkumandang.

Gin Liong makin terkejut jantungnya mendebur keras, ia

ingin menyurut mundur tetapi kuatir akan menimbulkan

suara. Kalau tidak mundur, ia takut ketangkap basah oleh

suhunya.

Karena tegang dan gelisah, napasnya terengah2 keras. ia

kepalkan kedua telapak tangannya yang basah dengan

keringat.

Mendengar suara berkeresek tadi, Lian Ceng taysu

hentikan langkah dan berseru pelahan:

“Wulanasa, mengapa engkau tak pulang ke kampung

halamanmu . . . .”

Gin Liong tegak berdiri diatas tumpukan rumput kering

dan mendengarkan dengan penuh perhatian, Dia tak berani

mengisar kepala untuk melihat dimana suhunya berada.

Tetapi menilik suaranya, ia duga suhunya tentu berada

dekat dari tempatnya, Paling jauh hanya dua tiga tombak.

Timbul pertentangan dalam hati Gin Liong, Dia takut

tetapipun ingin tahu, Dia ingin lari tetapipun ingin

mengetahui hubungan apakah sesungguhnya yang terjalin

antara suhunya dengan BanHong Liong-li itu,

Tiba2 Liau Ceng taysu kembali berkata bisik2:

“Wulanasa, kuharap janganlah engkau keras perangai

seperti dahulu, jangan membawa kemauan . . .”

Dengan mengerahkan seluruh perhatian, Gin Liong

berusaha untuk menutup pernapasan dan menyatukan

semangat untuk mendengarkan sekonyong-konyong sebuah

benda tajam macam ungkit, menusuk tulang punggungnya,

seketika tubuhnya menggigil dan pingsanlah ia.

Entah berselang berapa lama, Gin Liong tersadar dari

suatu penderitaan sakit yang amat nyeri itu, ketika

membuka mata, ia dapatkan dirinya berada dalam sebuah

tempat yang gelap gulita dan berangin dingin.

Sejenak memperhatikan sekelilingnya ia dapatkan

dirinya masih menggeletak di tumpukan rumput. Tempat

itu segera mengingatkan ia akan peristiwa yang dialaminya.

Ia pusatkan segenap indera pendengarannya Kecuali

hanya angin dingin mendesis-desis, tiada lain suara yang

dapat didengarnya lagi.

Serentak diapun teringat akan suhunya dan kawanan Ma

Toa Kong, Dimanakah mereka saat itu ?

Dia ingin duduk, Tetapi baru hendak menggerakkan

tubuh, sakitnya bukan alang kepalang sehingga ia sampai

meringis dan kucurkan keringat dingin.

Untunglah kesadaran pikirannya masih terang. Dia

masih ingat, pada saat akan pingsan, didengarnya suhunya

berseru : “Wulanasa, pergilah, Kiongcu Hun seumur hidup

akan . . . . “

Kelanjutan dan bagaimana yang terjadi kemudian, ia tak

dapat mengetahui karena keburu pingsan.

Ia hendak gerakkan kepala berpaling kesamping, ah,

kepalanya terasa amat berat sekali, ia ingin menggerakkan

tangannya untuk meraba-raba sekelilingnya tenaganya

terasa lemah lunglai tak bertenaga sama sekali.

Dalam keadaan yang tak dapat berbuat apa2 itu akhirnya

iapun jatuh tidur lagi.

Pada saat ia bangun untuk yang kedua kalinya, kejutnya

bukan kepalang, Tempatnya yang gelap, saat itu terang

benderang. Seluruh gua terang seperti pagi hari. Keadaan

gua itu dapat dilihatnya dengan jelas bahkan sampai pada

bagian2 lekuk dan cekungnya,

Tiba2 timbullah keinginannya untuk bangun. Dan

serentak iapun menggeliat, hai . . . . mengapa tubuhnya

ringan sekali, Cepat ia kerahkan pernapasan dan dapatkan

tenaga murni dalam tubuhnya lancar sekali.

Segera ia lontarkan pandang ke arah mulut gua. Suhunya

dan mayatHong-bi-lek Go In sudah tak tampak lagi,

Lanjutkan pandang matanya keluar gua, tampak batu

karang yang menonjol di muka gua tertutup salju putih,

Bunga2 Bwe yang tumbuh ditepi karang tengah mekar

dengan indahnya.

“Ah, hari sudah terang.” serunya gembira Dan secepat

kilat ia ayunkan tubuhnya loncat ke mulut gua.

Bum . ,. .

Tiba2 ia berseru keras dan dorongkan kedua tangannya

ke batu karang di muka gua. Dan segera ia terlongonglongong

heran. Salju yang menutup permukaan batu karang

itu berhamburan bercampur dengan keping2 hancuran

karang, Tiga batang pohon bwe yang tumbuh di tepi batu

karang berhamburan gugur jatuh kedalam jurang,

Gin Liong benar2 tak menyangka bahwa saat itu ia

memiliki tenaga yang amat sakti, Dari jarak tujuh delapan

tombak jauhnya, ia masih dapat melepaskan hantaman

yang sedemikian dahsyatnya,

Menengadah ke langit, tampak mentari pagi sudah mulai

mengintip di puncak gunung, Diam2 ia heran. sebelum

pingsan, udara amat buruk, Salju turun deras, angin

menderu-deru keras. setelah sadar dari pingsan, hari sudah

cerah.

Makin melanjutkan keluar pandang matanya, tampak

puncak gunung tertutup salju putih, sepintas pandang

menyerupai lautan awan putih,

Gin Liong terkesiap dalam hati, ia merasa matanya jauh

lebih terang dan beberapa saat tadi, sebelum pingsan, Bukan

saja dapat menghadapi sinar kemilau dari cahaya salju, pun

dapat juga menerobos melihat beberapa tombak ke dalam.

Diam2 ia girang sekali, Cepat ia melayang keatas jalan

kecil lalu apungkan tubuh ke puncak karang, Dari tempat

itu ia terus lari menuju ke hutan siong disebelah muka.

Saat itu ingin sekali ia berada di kuil Leng hun-si. ia

hendak menceritakan perobahan dirinya itu kepada suhu

dan sumoaynya,

Sesaat tiba di kuil ia terus loncat melampaui pagar

tembok dan melayang ke ruang belakang.

Tetapi sesaat kakinya menginjak lantai, segera ia

merasakan sesuatu yang tak wajar, Biasanya di ruang

belakang kuil itu tentu penuh dengan kawanan paderi yang

mondar mandir mengurus pekerjaan masing2. Tetapi

anehnya, saat itu sama sekali tiada seorang paderi yang

kelihatan bayangannya,

Setelah mencurahkan pendengaran barulah ia dapat

mendengar bahwa di ruang muka kuil itu sayup2 terdengar

suara kelinting sembahyangan.

Kembali Gin Liong merasa girang. Ia tahu bahwa

telinganya makin bertambah tajam.

Ia lepaskan perhatian ke ruang belakang dan pusatkan

pendengarannya ke arah ruangan muka, Tetapi diapun

kurang memperhatikan bahwa saat itu sebenarnya

sembahyang pagi para paderi kuil sudah selesai pada dua

jam yang lalu.

Dengan hati gembira ia segera melangkah ke ruang

tengah untuk mendapatkan suhunya, ia terkejut ketika

melihat pintu ruang tempat kediaman suhunya terkancing

rapat Menandakan bahwa suhunya tak berada di dalam,

Berpaling ke ruang samping tempat tinggal sumpaynya,

pintunya tertutup tetapi daun jendela terbuka separoh.

Maka Gin Liongpun ayunkan langkah menghampiri

Begitu dekat pada ruang itu, kejut Gin Liong tak terkira,

ia mendengar suara erang kesakitan dari dalam ruang itu. ia

duga sumoaynya tentu sakit.

Melangkah ke muka pintu segera ia mendorong lalu

menerobos masuk.

Ki Yok Lan, sumoaynya yang masih dara itu, rebah

diatas tempat tidur, rambutnya terurai kusut dan tubuhnya

dibungkus selimut.

Gin Liong bergegas menghampiri Ketika memeriksa,

menggigillah tubuhnya, Yok Lan tampak pucat sekali

wajahnya dan tampaknya seperti orang limbung,

Halaman 59-60 Hilang

……….. dari guanya.”

Mendengar itu Yok Lan terkejut girang sekali.

Matanyapun berlinang-linang dan dengan suara tergetar ia

berseru: “Ah, akhirnya Liong-li lo-cianpwe telah bebas . . “

Tiba2 Gin Liong teringat akan peristiwa yang dialaminya

ketika berada dalam gua Ban Hong Liong li. Peristiwa yang

aneh dimana punggungnya seperti ditusuk oleh benda tajam

sehingga ia pingsan.

“Lan-moay, kemungkinan Liong-li locianpwe masih

berada dalam gua”, serunya sesaat kemudian.

“Benarkah itu ?” seru Yok Lan girang,” Liong koko, aku

hendak mendapatkan beliau !”

Habis berkata dara itu terus hendak turun dari tempat

tidurnya, Gin Liong terkejut, cepat2 ia memegang bahu

sumoaynya:

“Lan-moay, penyakitku belum sembuh betul, tak baik

mengeluarkan tenaga untuk berjalan. Aku hanya

mengatakan bahwa kemungkinan Liong-li lo-cianpwe

masih berada dalam gua. Adakah hal itu benar, aku juga tak

tahu.”

Karena ketegangan hati tadi, Yok Lan telah mengurangi

tenaga murni yang mulai pulih dalam tubuhnya. ia

terengah-engah, keringat dingin bercucuran dan wajahnya

pun pucat lagi,

Gin liong terkejut, buru-2 ia membantu sumoaynya tidur

lagi dan menutup tubuhnya dengan selimut.

Setelah napasnya agak tenang, sambil memandang ke

wuwungan rumah, dara itu terkenang akan peristiwa yang

lampau.

“Tahun yang lalu, diam2 aku telah menuju ke gua Kiukiok-

tong, Baru melayang ke atas batu karang, segera

terdengar Liong-li locianpwe menegur: “Apakah engkau

sumoay dari Gin Liong ?”

“Ah,” Yok Lan berkata seorang diri, “begitu ramah dan

penuh kasih sayang nada suara Liong-li lo-cianpwe, Aku

seorang gadis yang sudah sebatang kara, merasa bahwa

kata2 beliau itu penuh rasa kesayangan seorang ibu

terhadap putri2-nya. Aku tak dapat. menahan derai air

mataku yang bercucuran turun . . . .”

“Tetapi, sesaat kemudian dia memperingatkan supaya

aku jangan melanjutkan langkah menghampiri ke guanya,

Dan beliaupun melarang aku tak boleh datang ke tempat itu

lagi, Dan lagi melarang aku jangan mengganggu pedang

pusaka beliau yang tergantung pada pintu berterali besi itu .

. ,.”

Berkata sampai disitu tiba2 mata Yok Lan berkilat terang

seperti teringat sesuatu ia berpaling memandang Gin Liong.

“Liong koko, dimanakah pedang pusakamu dan baju

bulu burung itu ?”

Gin Liong terbeliak, Dia segera teringat bahwa pedang

pusaka dan baju bulu burung itu masih ketinggalan di gua,

walaupun ia masih ragu2 tentang tempat kedua benda itu

tetapi ia harus mencarinya sampai ketemu.

“Karena bergegas hendak menengok engkau dan suhu

maka kedua benda itu kutinggal di gua, Harap engkau

beristirahat, aku hendak mengambil kedua benda itu dulu,

Aku pasti segera kembali kemari lagi,” katanya kepada sang

sumoay.

Selekas keluar dari kamar, ia menuju ke halaman lalu

enjot tubuh melayang keatas genteng dan terus lari menuju

ke gunung di belakang kuil.

Pada saat melintasi hutan pohon siong, ia melihat

sesosok bayangan orang melesat di puncak gunung dan

pada lain kejap sudah lenyap, Bayangan itu luar biasa

cepatnya.

Gin Liong terkejut sekali. Puncak gunung di belakang

kuil itu, penuh dengan jurang dan tebing karang yang

curam sekali, Kecuali harus mengambil jalan dari muka

puncak gunung itu, tiada lain jalan lagi yang dapat

ditempuh.

Siapakah orang itu? Suhunya ataukah kedua paman

kakek gurunya?

Tetapi pada lain kilas cepat ia membantah dugaannya

sendiri, Karena bukankah mereka masih membaca doa di

ruang besar ?

Ia segera pesatkan larinya dan terus melayang keatas

batu karang di muka gua, Karena melihat sosok bayangan

aneh tadi, ia tak berani gegabah terus masuk kedalam gua.

Baru setelah menunggu beberapa saat tak tampak sesuatu

yang mencurigakan akhirnya ia melayang turun dan

melangkah ke dalam gua,

Gin Liong teringat akan pengalaman yang diderita

Hiong-bi lek Go In. ia tak berani terus langsung masuk

melainkan melangkah dengan pelahan dan memperhatikan

setiap cekung dinding gua.

Makin ke dalam makin gelap.

Tiba di ujung tikungan sebelah kiri, ia hampir berteriak

girang. pedang pusaka Tanduk Naga dan baju bulu burung

masih menggeletak di tumpukan rumput kering, Cepat ia

memungut kedua benda itu. Tetapi serentak iapun segera

teringat akan BanHong Liong-li.

Karena pedang pusaka dan baju bulu burung masih tetap

berada di dalam gua, jelas sosok bayangan tadi tentu tidak

masuk kesitu.

Setelah menyelipkan pedang dan mengenakan baju bulu

burung, kembali timbul bermacam pikiran dalam benaknya.

Pertama, ia mengira Ban Hong Liong-li masih berada

dalam gua. pada saat paderi Go In berteriak masuk kedalam

gua, Ban Hong Liong-li mungkin bersembunyi tak jauh dari

tempatnya.

Gin Liong percaya bahwa dengan kepandaian yang

dimilikinya, tanpa dibantu wanita sakti itu, tentu tak

mungkin sekali hantam dapat melemparkan tubuh paderi

Go In sampai tujuh delapan tombak keluar dari gua.

Dan ketika suhunya masuk kedalam gua, tak hentihentinya

berseru memanggil “wulanasa ” Mungkin kata2 itu

merupakan nama dari Ban Hong Liong-li ketika masih

gadis.

Gin Liong makin keras menduga bahwa diantara

suhunya dengan Ban Hong Liong-li, dahulu tentu

mempunyai hubungan yang istimewa.

Ban Hong Liong-li tampaknya kuatir orang lain atau

para anak muda mengetahui riwayat hidupnya. Pada saat

suhunya berbicara dengan Ban Hong Liong-li, Wanita sakti

itu tentu segera memeluknya (Gin Liong) sehingga pingsan

agar jangan dapat mendengar pembicaraan mereka.

Ia duga benda tajam yang menusuk punggungnya itu

tentulah ujung jari dari BanHong Liong-li.

Tetapi ada sebuah hal yang ia tak mengerti. Mengapa

suhunya waktu itu tak mau menolong dirinya ?. Adakah

saat itu suhunya memang tak mendengar suaranya ataukah

Ban Hong Liong-li lo cianpwe memindahkannya ke lain

tempat ?

Terlintas sesuatu dalam benaknya dan iapun

memandang ke muka, Lima tombak disebelah muka, gua

itu membiluk ke kanan.

Segera ia menuju ke tempat itu. Melongok kebawah,

ternyata sebuah jurang yang tak kelihatan dasarnya, Namun

Gin Liong sudah terlanjur tertarik hatinya, ia melayang

turun,Makin kebawah, hawanya makin dingin sekali,

Ketika tiba di dasar lembah, ia berhadapan sebuah gua

besar yang kedua dindingnya penuh dengan batu2 runcing.

Gin Liong maju menghampiri

Tiba2 ia terkejut karena mendengar suara jeritan seram

dari bagian dalam gua itu. ia hentikan langkah, Ketika

mendengarkan dengan seksama, kecuali suara benda jatuh,

tiada kedengaran apa2 lagi.

Teringat sesuatu, Gin Liong segera lari memburu

kedalam, Lorong gua berkelak-keluk, naik turun. Setelah

melintas enam buah tikungan, tibalah dia disebuah tempat

berbentuk empat persegi, panjangnya kira2 sepuluhan

tombak,

Gin Liong hentikan langkah, Memandang kemuka,

kejutnya bukan kepalang. Lima tombak disebelah muka,

terkapar sesosok tubuh yang kecil kurus.

Cepat ia loncat menghampiri. Ah, ternyata orang itu

memang seorang wanita. Rambutnya sudah usai,

mengenakan pakaian kembang potongan suku Biau,

Kepalanya pecah, wajahnya rusak mengerikan sekali.

Gin Liong menduga mayat itu tentulah Ban Hong Liongli.

serentak meluapkan kemarahannya, ia menghamburkan

tertawa keras sekali sehingga menggetarkan suluruh gua.

Puas menumpahkan kemarahannya dalam tawa yang

ngeri, serentak ia berlutut disamping mayat itu dan

menangis tersedu sedan.

“Liong-li locianpwe. murid memang berdosa besar

karena tak lekas datang sehingga lo-cianpwe sampai

dicelakai orang. Murid bersumpah, dengan pedang Tanduk

Naga pemberian lo-cianpwe itu, akan menuntut balas

kepada musuh2 lo-cianpwe itu, walaupun harus memburu

mereka sampai di ujung langit.”

Sekonyong-konyong terdengar gemericik suara air

mengalir Gin Liong serentak berdiri dan berseru : “Siapa itu

!”

Ia menghimpun tenaga dalam, siap untuk menghantam,

Tetapi ketika memandang kemuka, menggigillah sekujur

tubuhnya, Cepat ia loncat mundur sampai tiga tombak,

Pada ujung gua didepan, sayup2 seperti muncul seperti

sinar yang menembus ke puncak gua. . Cahaya itu

memancarkan sinar tujuh warna. Kilau kemilau

menyilaukan mata.

Sebuah kepala binatang yang menyerupai ular naga,

bergemercikan timbul dari dalam air lalu perlahan-lahan

merayap keatas tanah.

“Makhluk ajaib…” teriak Gin liong dengan tegang sekali.

Ia menyalangkan mata memandang dengan seksama.

Kepala binatang aneh itu berwarna hijau, tanduk merah,

sepasang matanya menyerupai bola api, hidungnya

menghambur buih dan mulutnya mendesis-desis. Dan

ketika badannya ikut terangkat tulang punggungnya

seruncing mata golok penuh dengan sisik, Mungkin karena

mendengar Gin liong tertawa keras, makhluk aneh itu

merangkak keluar dari sarangnya.

Sekonyong-konyong makhluk aneh itu meraung,

mengangkat kepala, membuka mulut lebar2, lalu meluncur

kearah mayat Ban Hong hong-li.

-ooo0dw0ooo-

Bab 2

Katak salju

Gin Liong terkejut Tetapi sesaat kemudian iapun marah

sekali, Dengan menggembor keras cepat ia mencabut

pedang pusaka, seketika berhamburan sinar merah dari

pedang Tanduk Naga itu.

Binatang aneh itu panjangnya tiga tombak. keempat

kakinya tajam seperti cakar, Melihat sinar merah dari

pedang Tanduk Naga, mayat wanita yang sudah digigit itu,

segera dilepasnya lagi. sepasang bola matanya yang

mencorong seperti lentera, tiba2 pudar dan binatang itupun

pelahan-lahan menyurut mundur.

Gin Liong pelahan-lahan mendesak maju. Melihat itu

binatang anehpun makin mempercepat gerak mundurnya.

Tampaknya dia ketakutan sekali.

Pada saat melalui mayat, Gin Liong menunduk dan

memandangnya. Alangkah kejutnya ketika melihat baju

kembang potongan wanita Biau yang dikenakan wanita itu

sudah hancur digigit binatang aneh tadi.

“Binatang, serahkan jiwamu !” Gin Liong marah dan

loncat membabat tanduk merah binatang itu. Binatang

itupun meraung keras dan meluncur mundur cepat sekali

kedalam air.

Gin Liong berhenti dan berdiri di tepi air, Kiranya

tempat itu merupakan sebuah rawa seluas lima tombak,

dikelilingi empat dinding karang hijau. Ditengahnya

terdapat dua buah guha seluas satu tombak. Separoh bagian

dari guha itu terendam air.

Binatang aneh yang menyerupai naga itu masuk kedalam

guha sebelah kiri. Dari permukaan air masih tampak kedua

bola matanya yang bersinar tajam.

Gin Liong maju menghampiri ke tepi rawa, Binatang

itupun pelahan-lahan menyelam kebawah rawa.

Tiba ditepi rawa, airpun segera memancar sinar pedang

Tanduk Naga berwarna merah.

Rawapun pelahan-lahan tenang lagi. permukaan airpun

tidak beralun, Tetapi dari dasar rawa seperti memancar

sinar warna pelangi yang menyembul ke permukaan rawa.

Tergerak hati Gin Liong, Menunduk kebawah,

dilihatnya dari dasar rawa bagian yang paling dalam,

tampak melambung sebuah benda putih macam batu

pualam bersih.

Besarnya sama dengan kepalan tangan, Benda putih itu

makin melambung ke permukaan air. sinarnya makin

terang.

Ketika memandang dengan seksama barulah Gin Liong

tahu bahwa benda putih itu seekor katak putih atau katak

salju.

Sesaat katak salju itu mengapung di permukaan air,

maka tubuhnya memancar sinar putih yang gilang

gemilang. Ketika beradu dengan sinar merah dari pedang

Tanduk Naga, maka timbullah suatu pancaran sinar yang

amat serasi dan menyilaukan mata.

Seketika Gin Liong menyadari bahwa katak salju itu

tentu termasuk sejenis binatang yang ajaib. Cepat ia

selipkan pedangnya lalu berjongkok di tepi rawa dan

ulurkan tangan hendak menangkap binatang itu.

Tiba2 air berombak keras dan muncullah binatang aneh

yang menyerupai naga tadi, Gin Liong terkejut, Cepat ia

ayunkan tubuh melayang mundur beberapa tombak.

Memang mahluk yang menyerupai naga itu merangkak

naik ke daratan lagi, sepasang matanya memandang Gin

Liong dengan berapi-api.

Gin Liong sudah mempunyai pengalaman bahwa

binatang aneh itu takut pada sinar atau mungkin pada sinar

kemilau dari pedang Tanduk Naga. Maka dia segera

mencabut pedang pusaka itu, sambil menggembor keras.

terus menerjangnya .

Binatang yang mirip naga itu amat waspada sekali. Pada

saat sinar pedang Tanduk Naga memancar tiba, cepat2

binatang itupun segera menyurut mundur masuk kedalam

guha.

Beberapa saat kemudian permukaan telaga pun tenang

lagi airnya, Katak salju itupun kembali mengapung di

permukaan air.

Gin Liong tancapkan pedangnya ke tepi telaga, lalu

berjongkok dan ulurkan kedua tangannya untuk menangkap

katak mustika itu, Dalam pada itu perhatiannyapun tak

pernah lepas ke arah binatang mirip naga yang mungkin

akan meluncur keluar dari sarangnya.

Sepasang mata katak salju itu berkilat-kilat terang,

memandang dengan sorot marah kepada Gin Liong.

Katak yang badannya seputih salju itu, segera bergerakgerak

menghampiri ke tempat pedang Tanduk Naga.

Begitu mendekati tepi, secepat kilat Gin Liong segera

menyambarnya dan berhasillah ia.

Tetapi suatu peristiwa yang tak terduga-duga telah

terjadi. Ketika menggenggam katak salju itu, seketika kedua

tangan Gin Liong membeku dingin, lengannya serasa matirasa

dilanda oleh hawa yang luar biasa dinginnya sehingga

menyusup masuk ke ulu hati.

Gin Liong terkejut sekali, cepat ia letakkan katak salju itu

diatas bulu-bulu burung.

Ketika memandang kedalam air, dilihatnya binatang

yang menyerupai naga itu tengah mementang kedua

matanya lebar2. Dari hidungnya menghembuskan

hamburan hawa yang bergulung-gulung dalam air.

Gin Liong tahu bahwa mahluk seperti naga itu tentu

marah sekali, Tetapi karena takut pada pedang Tanduk

Naga maka walaupun katak salju telah dirampas Gin

Liong, binatang itu tak berani berbuat apa2.

“Ah, lebih aku cepat2 pergi,” kata Gin Liong lalu hendak

menjemput katak salju lagi, Tetapi ketika memandangnya,

kejutnya bukan alang kepalang.

Katak salju yang semula sebesar kepalan tangan, saat itu

tiba2 berobah menyusut kecil tak lebih dari dua inci

besarnya, Dan ketika dipegang, tubuh katak itu putih

bening seperti air.

“Katak salju, ya, tentu inilah katak salju,” tiba2 ia berseru

tergetar.

Dengan mencekal katak salju ditangan kiri dan pedang

Tanduk Naga, di tangan kanan, Gin Liong segera bergegas

pergi.

Saat itu hati Gin Liong girang bukan kepalang, Sambil

berlari pesat, pandang matanya selalu mencurah kearah

katak salju itu, Diam2 ia merenungkan tentang khasiat yang

luar biasa dari binatang itu.

Katak salju merupakan suatu jenis binatang yang jarang

terdapat di dunia, Seperti halnya dengan senjata pusaka,

kitab pusaka, pun katak salju itu merupakan benda yang

menjadi incaran setiap kaum persilatan.

Apabila katak salju itu direndam dalam arak dan

diminum maka khasiatnya bagi orang yang berlatih silat,

seolah tulang-tulangnya berganti baru, tenaga dalamnya

bertambah kokoh. Bagi orang biasa, dapat menyembuhkan

segala penyakit dan menambah panjang umur.

Kegirangan Gin Liong mendapatkan katak mustika itu

bukan karena ia hendak memakannya sendiri melainkan

hendak diberikan kepada Ki Yok Lan yang sedang

mengidap penyakit itu. Apabila sumoaynya minum katak

itu, tentulah penyakitnya akan sembuh dan tubuhnya akan

sehat kuat.

Tiba di tikung kiri pada mulut guha, tiba2 Gin Liong

terkesiap, jenazah Ban Hong Liong-li yang tadi

menggeletak di tempat itu, ternyata lenyap !

Ke manakah jenazah itu ?

Tak pernah dia menyangka bahwa di guha yang setinggi

lima tombak itu, akan muncul seseorang yang membawa

pergi mayat wanita itu, Dan dia pun tak pernah

membayangkan bahwa orang itu memiliki kepandaian yang

hebat sekali.

Dia hanya terkejut atas peristiwa aneh itu maka setelah

dengan hati2 memasukkan kotak salju kedalam baju, ia

segera tingkatkan kewaspadaan siap sedia menghadapi

sesuatu yang tak diinginkan.

Tiba2 ia mendengar suara tertawa dingin pelahan dan

berasal dari belakangnya, Sudah tentu dia terkejut sekali,

Secepat kilat ia mencabut pedang Tanduk Naga dan

berputar tubuh menabas.

Ia percaya bahwa gerakan berputar seraya menabas

secepat kilat itu tentu akan mengenai sasarannya, Tetapi ah,

hanya angin belaka yang ditabasnya.

Ia tersipu-sipu malu sendiri, Mengeliarkan pandang

kesekeliling, ternyata guha itu sunyi senyap, kosong

me!ompong.

Tetapi dia merasa penasaran, jelas tadi ia mendengar

suara orang tertawa dingin. Tiba2 terlintas sesuatu dalam

benaknya dan secepat itu ia segera menengadahkan muka

memandang keatas,

Ah, ternyata dugaannya tepat pada puncak guha setinggi

tiga tombak itu, terdapat sebuah guha yang cukup lebar.

Karena gelap dan menjulang ke atas maka tak dapat di

ketahui berapa tombak tingginya.

Kini Gin Liong menyadari bahwa orang yang melepas

tertawa dingin tadi tentu sudah meluncur dari puncak guha

itu.

Mengenangkan akan nasib Ban Hong Liong-li yang

begitu mengenaskan dibunuh lalu mayatnya masih

dilarikan Gin Liong menumpahkan kemarahannya dengan

sebuah tertawa seram

Acungkan pedang pusaka Tanduk Naga ke-atas ia segera

enjot tubuh melambung kearah guha diatas puncak guha

itu.

Memang pedang pusaka Tanduk Naga benar2 sebuah

pedang pusaka yang hebat. Lorong guha yang gelap itu

segera terpancar sinar merah. Dengan setiap kali menginjak

dinding guha yang menonjol, dapatlah Gin Liong mencapai

ketinggian tujuh tombak dan tibalah dia di puncak paling

atas.

Ia berhenti seraya lintangkan pedang dan mengeliarkan

pandang ke sekeliling. Kiranya guha di puncak itu

lorongnya berkeluk-keluk macam ular, Sebuah guha yang

menjulang condong ke-atas.

Guha itu gelap gulita, anginnya keras, Tak tampak

barang seorang manusiapun disitu, Gin Liong masih

penasaran. Di amati keadaan guha itu dengan lebih cermat,

Tiada tampak barang sebuah cekungan yang dapat

dijadikan tempat per sembunyian orang, Maka dengan

siapkan pedang ditangan kanan, ia segera menyusur lorong

guha.

Hati-2 sekali ia berjalan. Setiap keluk dan cekung, tentu

ia berhenti dan mengamati dengan cermat.

Makin menuju ke atas, hawa makin dingin dan lorong

guhapun makin sempit, Dan tak berapa lama tibalah ia di

mulut guha. Disitu keadaannya tidak lagi gelap melainkan

terang benderang.

Kini dia berhadapan dengan sebuah guha berbentuk

bundar, menjulang lurus keatas, Tingginya hampir

sepuluhan tombak, pada mulut guha yang bundar seperti

mangkuk, tampak langit yang biru. Dan dekat di mulut

guha, terdapat lapisan salju.

Gin Liong kerutkan dahi. ia sangsi adakah ia mampu

loncat melambung ke mulut guha setinggi itu, Dan orang

yang tertawa tadi, adakah juga keluar dari guha diatas itu ?

Tiba2 muncul suatu pertanyaan dalam hati Gin Liong,

Benarkah Ban Hong Liong-li telah dipenjara selama lima

tahun dalam guha itu ?

Seingatnya, selama lima tahun itu dikala Ban Hong

Liong-li memberi pelajaran ilmu silat kepadanya, ada

kalanya suruh dia datang lima hari sekali. Tetapi ada

kalanya tiga hari bahkan sebulan dua bulan baru

disuruhnya datang.

Waktu itu ia tak tahu apa sebabnya, Tetapi kini setelah

menemukan jalanan keluar dari puncak guha, dia menduga

keras, selama lima tahun itu Ban Hong Liong-li tentu tidak

terus menerus berada dalam guha. ia percaya dengan

kesaktian yang dimiliknya, Ban Hong Liong-li tentu mudah

sekali keluar masuk mulut guha itu.

Ada lagi sesuatu yang mengherankan Gin Liong, jika

benar Ban Hong Liong-li dapat bergerak bebas dalam guha

itu mengapa selama lima tahun itu tak pernah ia

diperbolehkan melihat wajahnya ? Adakah Ban Hong

Liong-li berwajah buruk sehingga malu dilihat orang ?

Saat itu yang paling menyedihkan hati Gin Liong ialah

keadaan jenazah Ban Hong Liong-li,Mukanya hancur lebur

sukar dikenali lagi sehingga sukar dinilai adakah dia

seorang wanita cantik atau buruk.

Dan sesaat teringat akan kematian yang mengenaskan

dari Ban Hong Liong-li itu, darah Gin Liong segera meluap,

ia memutuskan akan mencapai puncak mulut guha itu dan

melihat bagaimana keadaan yang sesungguhnya.

Sekali enjot sang kaki, tubuh Gin Liongpun melambung

kearah mulut guha yang tingginya beberapa tombak, Dalam

dua tiga kali gerakan melambung, akhirnya berhasil juga ia

tiba ditepi mulut guha.

Ketika memandang ke sekeliling, ia tertegun, Empat

penjuru keliling dari guha itu merupakan gerumbul pohon

siong yang penuh diselimuti salju. Dan yang mengejutkan

Gin Liong, ternyata pada jarak beberapa tombak dari

tempat itu sudah merupakan dinding tembok merah dari

kuil Leng-hun-si. Dan Gin Liongpun dapat melihat ruang

kuil itu, diantaranya ruang tempat kediaman suhunya.

“Hah, apakah mulut guha ini bukan yang dikatakan

sebagai Sumur mati dibelakang kuil ?” tiba2 ia teringat

Segera ia berpaling kebelakang untuk memeriksa mulut

guha tadi lagi, Tetapi ketika berputar tubuh, bukan

kepalang kejutnya sehingga ia sampai memekik kaget dan

loncat mundur dua tombak.

Di depan sumur mati yang berada di belakangnya itu,

tegak seorang wanita cantik dalam pakaian yang indah dan

mantel bulu burung dari beludru merah.

Wanita cantik itu kira2 berusia 26-27 tahun, kulitnya

merah segar, sepasang alisnya melengkung panjang sampai

ke pelipis rambut. Dan sepasang matanya bersinar bening

bagai batu zamrud.

Kecantikan wanita itu memiliki pesona yang memikat

hati orang. Sayang wajahnya menampil kerut hawa

pembunuhan dingin.

Gin Liong terkesiap, ia duga wanita muda itu tentu yang

menyerang Ban Hong Liong-li. seketika meluaplah

kemarahannya.

“Wanita jahat, engkau harus mengganti jiwa

locianpweku…” secepat kilat ia enjot tubuh melampaui dua

batang pohon siong lalu menyerang, menusuk bahu wanita

muda itu dengan pedangnya.

Tenang2 saja wanita muda itu melihat gerak gerik Gin

Liong- Pada saat ujung pedang Gin Liong hampir

mengenai, barulah dia menggeliat mundur, bergerak-gerak

dan tahu2 lenyap.

Gin Liong terkejut. Cepat ia hentikan terjangannya,

Dengan jurus Harimau-buas-mengibas-ekor, ia taburkan

pedang Tanduk Naga menyapu ke belakang.

Krak, bum… sebatang pohon siong segera terbabat

rubuh, menimbulkan letupan yang keras ketika

menghantam tanah, Salju yang menutupi daun pohon,

berhamburan keempat penjuru,

Memandang kian kemari, Gin Liong tak melihat wanita

muda itu, Cepat ia berputar ke belakang, ah, wanita muda

itu ternyata berdiri dibelakangnya.

Gin Liong tergetar hatinya, setitikpun ia tak menyangka

bahwa wanita muda itu menguasai juga tata langkah Liongli-

biau yang pernah diajarkan Ban Hong Liong-li kepadanya

Tenang2 saja wanita muda itu memandang Gin Liong,

wajahnya menampilkan kerut keresahan dan putus asa.

“Jika dapat menguasai tata gerak Liong-li-biau, wanita

ini tentu mempunyai hubungan dengan Liong-Li

locianpwe,” pikir Gin Liong.

Menimang demikian, menurunlah kemarahan Gin

Liong. Segera ia menyimpan pedang lalu maju

menghampiri dan memberi hormat:

“Mohon tanya siapakah nama yang mulia dari cianpwe

ini ? Mengapa berada di belakang kuil Leng-hun-si ? Maaf

atas tindakanku yang kurang adat karena menyerang

cianpwe tadi.”

Wajah wanita muda itu agak berobah. Sinar matanyapun

berobah lembut ia kerutkan alis dan tiba2 menghela napas.

Kali ini Gin Liong lebih terkejut lagi. Helaan napas

wanita muda itu benar2 mirip sekali dengan helaan napas

yang sering dilakukan oleh Ban Hong Liong-li selama

berada lima tahun dalam guha.

Melihat wajah anak muda itu pucat dan tegang serta

memandang dirinya penuh keheranan, wanita muda itu

segera berseru:

“Liong-ji, engkau benar2 seorang anak yang baik. Benar,

aku memang tak menyangka bahwa kecerdasanmu jauh

melebihi aku ketika masih muda, Demikian juga hatimu

pun lebih keras.”

Mendengar nada suara yang tak asing lagi itu, tak

kuasalah Gin Liong menahan luapan hatinya. Airmatanya

berderai-derai membanjir turun, Selekas membuang

pedang, ia bergegas melangkah dan jatuhkan diri berlutut

dihadapan wanita itu seraya berkata dengan terisak-isak:

“Lima tahun lamanya Gin Liong telah menerima

pelajaran. Selama itu siang dan malam Gin Liong ingin

sekali melihat wajah cianpwe. Tadi tanpa sengaja, aku telah

berlaku kurang hormat, mohon locianpwe sudi

memaafkan.”

Wanita muda itu berlinang-linang dan menghela napas

rawan, serunya:

“Liong-ji, bangunlah, Aku tak menyalahkan engkau

melainkan memang diriku. Wulanasa sendiri yang bernasib

malang, dipenjara selama lima tahun dalam guha, Adalah

karena beberapa alasan maka selama itu aku tak dapat

mengunjukkan diri menemui orang.”

Habis berkata wanita muda itu segera mengangkat

bangun Gin Liong yang masih berlutut di tanah.

Waktu berdiri, Gin Liong tundukkan kepala tak berani

memandang wanita itu. ia tak mengira bahwa Ban Hong

Liong-li yang dipenjara selama lima tahun dalam guha -itu,

ternyata seorang wanita cantik yang baru berusia sekitar

dua-puluhan tujuh tahun.

Dengan berlinang – linang Ban Hong liong-li suruh Gin

Liong mengambil pedang pusaka itu, Gin Liongpun segera

melakukannya dan menyimpan pedang itu kesarungnya

lagi.

Ban Hong Liong-li sejenak memandang ke-sekeliling

cakrawala, Saat itu matahari sudah mulai condong ke barat,

Segera ia berkata dengan rawan:

“Liong-ji, saat ini aku harus pergi, tak dapat lebih lama

tinggal disini lagi.”

Tergetar hati Gin Liong, seketika wajahnya berobah.

“Lo . . . locianpwe hendak kemana ?” tanyanya gopoh.

Dalam menyebut nama Ban Hong Liong-li itu, memang

Gin Liong agak kikuk, Wanita yang semuda itu, apakah

harus disebut “locianpwe”. Tetapi karena selama lima tahun

sudah biasa memanggil begitu, diapun tak dapat berganti

dengan lain sebutan lagi.

Agaknya Ban Hong Liong-li tak menghiraukan soal

sebutan itu, .

“Aku harus segera kembali ke kampung halamanku di

gunung Supulawa. Dan selanjutnya aku akan tinggal di

daerah Biau sampai akhir hayatku, Aku takkan menginjak

ke Tionggoan lagi.”

Gin Liong mengembang air mata, serunya gegas:

“Mengapa locianpwe tak mau tinggal beberapa hari lagi

disini ?”

Ban Hong Liong-li memandang ke langit lagi dan

gelengkan kepala pelahan-lahan lalu menghela napas.

“Kenangan yang lampau bagaikan asap, Hanya

kehampaan yang kutemui dalam mengarungi ke ujung

langit. Menyebabkan orang putus asa, walaupun kutunggu

sampai sepuluh tahun lagi, apakah gunanya ?”

Dalam pada mengucap itu. airmatanya berderai-derai

membasahi kedua pipi dan akhirnya kerongkongannyapun

terasa tersumbat tak dapat melanjutkan kata-katanya lagi.

“Keinginan apakah yang locianpwe belum dapat

melaksanakan itu, harap memberitahukan kepadaku….”

akhirnya Gin Liong memberanikan diri untuk berkata.

Tetapi cepat Ban Hong Liong-li menukas tertawa rawan:

“Ah, hal itu sudah tiada harapan lagi. tiada gunanya

kukatakan.”

Namun Gin Liong tetap mendesak: “Mohon locianpwe

suka tinggal disini beberapa hari lagi, Liong-ji tentu akan…”

Ban Hong Liong-li gelengkan kepala, menukas:

“Tidak. demi menambah tenaga dalammu, aku sudah

menunda perjalanan selama tujuh hari, sekarang aku harus

menempuh perjalanan itu siang dan malam agar lekas tiba

di daerah Biau.”

Tiba2 Gin Liong teringat akan mayat wanita dalam

pakaian suku Biau yang rebah di dalam gua tadi.

“locianpwe, siapakah mayat wanita yang berada dalam

guha itu ?” tanyanya serentak.

Ban Hong Liong-li terkesiap, wajahnya berobah seketika.

Sesaat kemudian berkata dengan nada geram:

“Kebahagian hidupku, selama ini berada ditangannya,

Tak kukira kalau dia akan datang dari Biau-ciang dan

hendak membunuh aku secara menggelap.”

Berhenti sebentar, Ban Hong Liong-li mendengus geram

dan melanjutkan pula:

“Apabila kali ini kulepaskan dia lagi, mungkin jiwa Cu

Hunpun sukar terjamin keselamatannya.”

Gin Liong terbeliak kaget.

“locianpwe, siapakah wanita yang mengenakan pakaian

suku Biau itu ? permusuhan apakah yang terjalin antara dia

dengan suhuku ?” seru pemuda itu.

Agak tersipu merah Ban Hang Liong-li menerima

pertanyaan itu. Sesaat kemudian ia menghela napas rawan.

“Liong-ji, tanyakanlah sendiri kepada suhumu, sekarang

aku akan pergi !”

Habis berkata ia berputar tubuh.

“locianpwe, harap tunggu dulu,” buru2 Gin Liong

berseru, meminta, seraya loncat kehadapan Ban Hong

Liong-li.

“locianpwe, maukah locianpwe memberitahu tempat

kediaman locianpwe kepada Liong-ji ?”

Ban Hong Liong-li merenung.

“Daerah Biau, gunung Supulawa, puncak Paklu, lembah

Naga-beracun,” akhirnya meluncurlah beberapa patah kata

dari mulut BanHong Liong-li, memberitahukan alamatnya.

Diam2 Gin Liong mencatat dalam hati. Kemudian ia

bertanya pula:

“locianpwe, benarkah aku telah tidur selama tujuh hari

dalam guha?”

Ban Hong Liong-li mengangguk:

“Benar, kalau aku tak merawat dan tak mengurut-urut

jalan darahmu, paling sedikit engkau harus tidur sepuluh

hari lagi.”

Gin Liong terkejut.

“Mengapa aku jadi begitu ?” serunya.

“Karena engkau telah makan pil Tok-liong-wan (pil naga

beracun) milik ibuku yang diambilnya dari perut ayahku.”

Menggigillah seluruh tubuh Gin Liong mendengar

keterangan itu.

“Apa ? Pil itu berasal dari perut ayah locianpwe ?”

serunya terkejut.

Ban Hong Liong-li terpaksa tertawa: “Liong-ji. apakah

engkau merasa heran?”

Gin Liong berulang-ulang mengangguk kepala.

Ban Hong liong-li menghela napas pelahan.

Katanya pula: “cerita itu panjang sekali kalau

diceritakan, Lebih baik setelah aku pergi, engkau tanyakan

kepada suhumu !”

Gin Liong gelengkan kepala.

“Suhu tentu tak mau memberitahu kepada Liong-ji.

Mohon locianpwe saja yang memberitahu hal itu.”

Ban Hong Liong-li kerutkan alis, Ketika hendak

membuka mulut tetapi ia berpaling kearah kuil Leng-hun-si

dan membentak: “siapakah yang berada dalam tembok itu

?”

Gin Liong terkejut dan berpaling, Dilihatnya Ki Yok Lan

dengan rambut kacau tengah melompat keatas pagar

tembok kuil dan terus hendak melayang turun.

Gin Liong terkejut sekali, ia tahu sumoay-nya itu masih

sakit maka buru-2 ia berseru:

“Lan-moay, jangan….”

Tetapi sudah terlambat, Ki Yok Lan sudah terlanjur

melayang turun. Gin Liongpun cepat membentak dan

loncat menyongsong.

Juga Ban Hong Liong-li terkejut, serentak ia ayun

tumbuh melesat kearah Yok Lan. Dengan kedua tangan ia

menyambut tubuh nona itu,

Ketika Gin Liong tiba, ia melihat Sumoay-nya telah

pingsan, Anak muda itu bingung dan airmatanya

bercucuran.

“Bagaimana, lo cianpwe”.

“Dia pingsan !”

Ban Hong Liong-li kerutkan dahi. Memandang Yok Lan

yang berada dalam pelukannya, ternyata wajah dara itu

pucat lesi, kedua matanya meram. Bang Hong Liong-li

menghela napas: “Ah, tak kira anak ini bertubuh lemah

sekali.”

“Memang sumoay sedang sakit, sudah tujuh hari

lamanya…” cepat Gin Liong memberi keterangan.

Tiba2 mata Ban Hong Liong-li bersinar dan cepat

menukas : “Katak salju itu ? Lekas keluarkan !”

Gin Liong terbeliak tetapi cepat ia menyadari bahwa

selama ini ternyata Ban Hong Liong-li telah mengikuti

gerak geraknya, Segera ia mengeluarkan katak mustika itu.

Ban Hong Liong li meletakkan Yok Lan di tanah,

kepalanya disandarkan pada dadanya, ia mengambil sebuah

mangkok batu kumala hijau lalu suruh Gin Liong

masukkan katak salju ke dalam mangkuk dan suruh pula

pemuda itu lekas mengambilkan sejemput salju yang bersih.

Gin Liong buru2 melakukan perintah, “Masukkan salju

kedalam mangkuk, perintah Ban Hong Liong-li pula, Begitu

salju dimasukkan, terdengar suara mendesis pelahan ketika

salju itu lumer menjadi air.

“Liong-ji. tahukah engkau khasiat katak salju ini ?” tanya

Ban Hong Liong-..

“Tahu,” jawab Gin Liong.

“Segala apa memang sudah takdir.” kata Ban Hong

Liong-li. “tak boleh diminta dengan kekerasan. Liong-ji,

engkau mempunyai rejeki besar, kelak engkau harus

menjaga dirimu baik2 agak menjadi seorang pendekar yang

berguna.”

Serta merta Gin Liong menghaturkan terima kasih,

Memandang ke langit, kembali alis yang hampir

menyusup ke tepi rambut dari Ban Hong Liong-li berkerut

pula, Gin Liong segera tahu bahwa wanita itu tentu

bergegas hendak segera turun gunung. Dia bingung tetapi

tak tahu bagaimana harus mengatakan.

Saat itu salju sudah menjadi air. Diatas tubuh katak

salju, air itu seperti mendidih, mengeluarkan butir2

gelembung kecil. Begitu pula, tubuh katak itupun

memancarkan sinar tujuh warna yang kilau kenalan

Ban Hong Liong-li menundukkan kepala untuk meniup

mulut Yok Lan. Tubuh nona itu agak menggeliat dan

menghembus napas panjang lalu membuka mata.

Dengan wajah berhias senyum ramah. berkatalah Ban

Hong Liong-li: ”Lan-ji, minumlah air salju ini !”

Ia segera menuangkan tepi mangkuk kemulut dara itu.

Gin Liongpun cepat2 mendekati sumoay nya dan memberi

keterangan

“Lan moay, yang memeluk engkau ini adalah Liong-li

locianpwe.”

Wajah Ki Yok Lan pucat lesi seperti mayat Sinar

matanyapun redup dan kesadaran pikirannya limbung,

Mendengar dirinya di peluk Liong-li locianpwe, seketika

wajahnya memancarkan sinar kejut dan girang.

“Lan-moay, minumlah air salju yang diberikan Liong-li

locianpwe penyakitmu tentu sembuh,” kata Gin Liong pula.

Rupanya dara itu tak mendengar jelas apa yang

dikatakan suhengnya, Sepasang matanya memandang lekat

pada Ban Hong Liong-li.

Ban Hong Liong-li hanya tersenyum dan berkata pula:

“Lan-ji. lekaslah minum,”

Yok Lan pelahan-lahan membuka mulutnya tetapi

matanya tetap memandang tak berkedip ke wajah Ban

Hong Liong-li. Airmatanya berderai-derai mengalir

membasahi pipi.

Setelah air salju itu habis diminum, maka dari mulut Yok

Lan terbaur hawa harum yang sejuk.

Ban Hong Liong-li segera menyerahkan mangkuk

kumala dengan katak salju kepada Gin Liong, Setelah itu ia

menghapus airmata Yok Lan dengan ujung baju dan

dengan penuh kasih sayang menghiburnya.

“Lan-ji, jangan bersedih. Pulang dan tidur lah lagi,

engkau tentu sudah sembuh.”

Ban Hong Liong-li lalu mengemasi rambut sidara yang

kusut.

Ki Yok Lan masih terlongong-longong memandang

wajah Ban Hong Liong-li. Rupanya ia masih bersangsi

adakah wanita cantik dihadapannya itu benar2 Liong-li

locianpwe. Tetapi menilik nada suaranya yang tak pernah

dilupakan, akhirnya ia mau percaya juga.

“locianpwe. apakah engkau belum pergi ?” tanyanya

sesaat kemudian.

Ban Hong Liong-li tersenyum rawan : “Lan-ji, jika tadi

engkau tak muncul, saat ini aku tentu sudah berada di kaki

puncak Hwe-siau-hong.”

Habis berkata wanita itu memandang ke cakrawala pula,

Dengan wajah gelisah ia berkata kepada Gin Liong:

“Liong-ji. bawalah sumoaymu ini pulang agar

beristirahat sekarang aku harus pergi.”

Pelahan-lahan ia mengisar tubuh Yok Lan. Gin

Liongpun cepat menyambuti tubuh sumoay-nya.

“locianpwe. apakah engkau sungguh2 hendak

meninggalkan kami ?” seru Yok Lan dengan wajah sedih.

Ban Hong Liong-li menghela napas dan mengangguk:

“Nak, sesungguhnya aku tak ingin meninggalkan kalian,

Tetapi aku terpaksa harus pergi.”

Memandang Gin Liong, wanita itu menunjuk pada

mangkuk kumala, katanya:

“Liong-ji, mangkuk kumala hijau itu, termasuk salah

sebuah benda pusaka dari suku Biau. Aku sudah tak

memerlukannya dan kuberikan kepadamu. Harap jaga

baik2 jangan sampai jatuh ke tangan orang jahat.”

“locianpwe sudah menghadiahkan pedang pusaka

Tanduk Naga, Bagaimana Liong-ji temaha untuk menerima

pemberian locianpwe lagi ?” kata Gin Liong.

Sedangkan Yok Lan hanya memandang Ban Hong

Liong-li dengan air mata bercucuran.

Dengan berlinang-linang, Ban Hong Liong-li berkata:

“Nak, pulanglah. Beritahukan suhumu bahwa Liong-li

locianpwe sudah pergi, Dia tak akan melihat Wulanasa

lagi.”

Berkata sampai disitu, airmata wanita itupun bercucuran.

Tiba2 ia berputar tubuh dan sekali ayun kaki, ia sudah

melayang kedalam hutan.

Hampir Gin Liong dan Yok Lan serempak menangis:

“locianpwe, harap suka menjaga diri baik2. Kami tak dapat

mengantar locianpwe…”

Tetapi saat itu Ban Hong Liong-li sudah lenyap diantara

gerumbul pohon siong.

Sambil masih terisak-isak, berkatalah Yok Lan :

“Mengapa Liong-li locianpwe tak mau bertemu muka

dengan suhu sendiri…”

Setelah menyimpan mangkuk kumala dan katak salju.

Gin Liong menghapus airmatanya dan berkata:

“Biarpun suhu marah tetapi aku tetap hendak mohon

kepada beliau supaya suka menceritakan tentang riwayat

Liong-li locianpwe.”

Yok Lan gelengkan kepala.

“Ah, tak mungkin suhu mau memberitahu hal itu,”

katanya.

“Aku tentu akan memintanya mengatakan.” kata Gin

Liong berkeras, Kemudian ia memandang wajah

sumoaynya. “sumoay. bagaimana penyakit-mu sekarang ?”

“Seluruh tubuhku seperti dialiri hawa panas. Aku merasa

letih sekali,” sahut Yok Lan.

Gin Liong tahu bahwa khasiat katak salju sudah mulai

bekerja dalam tubuh sumoaynya.

“Kalau begitu mari kubawamu kembali kedalam kamar

tidur, Liong-li locianpwe mengatakan, setelah tidur barang

satu jam saja, engkau tentu sudah sembuh.”

Ia terus memondong tubuh Yok Lan, loncat ke pagar

tembok lalu melayang turun, lari menuju keruang kediaman

suhunya.

Dalam pelukan sukonya, hati Yok Lan mendebur keras,

pipinya bertebar warna merah. walaupun bukan sekali itu ia

dipondong, tetapi setiap kali berada dalam pelukan

sukonya, hatinya tentu berdebar dan mukanya merah.

Saat itu ia rasakan tubuhnya disaluri aliran hawa yang

hangat, merasa ngantuk dan pikiran kabur Entah apakah

yang diminumkan Liong-li cianpwe kepadanya ?

“Liong koko, tadi Liong-li locianpwe memberi aku…”

Tiba2 Gin Liong berhenti Saat itu mereka sudah tiba di

pintu ruang kuil, Dan pemuda itu mencurah pandang

kearah pintu kamar suhunya.

“Liong koko, mengapa berhenti ?” bertanya Yok Lan

dengan bisik2.

Gin Liong terbeliak lalu menjawab : “Ah, tak apa2.

Kuantarkan engkau kedalam kamarmu.”

Dengan bergegas pemuda itu segera menerobos masuk

kedalam ruang. Yok Lan makin heran mengapa sukonya

begitu tegang tampaknya.

Setelah meletakkan Yok Lan ditempat tidur dan

menyelimutinya, Gin Liong segera bertanya:

“Apakah hari ini suhu datang menjenguk kemari ?”

Begitu rebah di tempat tidur, mata Yok Lan sudah

kepingin tidur, ia paksakan menyahut sambil gelengkan

kepala: “Sudah tujuh hari, suhu tak pernah datang kemari.”

Habis berkata dara itu terus tertidur. Mendengar

keterangan itu seketika berobahlah wajah Gin Liong. ia

makin tegang, serunya: “Lan moay, tidurlah aku akan

keluar sebentar.”

Ia menepuk kedua bahu sumoaynya lalu melesat keluar

dan loncat ke pintu kamar suhunya, sekali dorong,

terbukalah pintu itu.

Permadani tebal yang menjadi alas tempat tidur, entah

bagaimana, saat itu ditutup dengan kain warna kuning.

Sudah tentu Gin Liong heran, Sejak dahulu tak pernah ia

melihat hal semacam itu.

Pun pedupaan dari tembaga kuno yang terletak diatas

meja, tiada mengepulkan asap lagi. Tetapi ruang itu masih

terdapat sisa asap dupa yang tipis.

Melihat keadaan itu Gin Liong seperti mendapat firasat

yang tak baik. Cepat ia keluar, mengunci pintu lalu lari

keluar ke halaman, Tiba di ruang belakang, keadaannyapun

sunyi2, tiada dijumpainya barang seorangpun.

Lari ke ruang tengah, hanya bertemu dengan dua orang

paderi kecil. Dengan wajah cemas, kedua paderi kecil itu

tengah menambahi minyak pada lampu.

Melihat Gin Liong, kedua paderi bocah itu segera

menangis dan berseru:

“Liong suko, lekaslah engkau menuju ke lapangan Kilok-

jang di muka gunung !”

Menggigillah Gin Liong, wajahnyapun membesi Tanpa

bertanya lebih lanjut, ia terus lari keluar dan menuju ke

ruang besar Tay-hud-tong.

Yang disebut lapangan Ki-lok-jang itu, adalah tempat

kuburan dari para ketua dan Tianglo kuil Leng-hun-si yang

telah meninggal Apabila seluruh paderi Leng-hun-si

berkumpul di tanah pekuburan itu, tentu menghadiri

pemakaman dari paderi Leng-hun-si yang berkedudukan

Tiang-lo ke-atas.

Suatu bayang2 yang menyeramkan segera melintas pada

benak Gin Liong, Betapa tidak ! Sudah tujuh hari lamanya

Liau Ceng taysu tidak kembali ke kuil Leng-hun si. Adakah

suhunya itu telah dicelakai oleh Ma Toa-kong dan kawankawannya

?

Teringat akan hal itu, terhuyung-huyunglah tubuh Gin

Liong sehingga hampir rubuh. Untung dia cepat2 dapat

menenangkan diri lalu menuju ke sudut ruang Toa-hudtong.

Didalam ruang Toa-hud -tian tampak asap dupa

berkepul-kepul. Seorang paderi tua yang kurus sambil

membawa seikat api tengah melangkah pelahan-lahan

keluar ruang.

Gin Liong makin gelisah sekali. Tanpa berkata apa2, ia

terus lari melampaui paderi tua itu, langsung menuju ke

pintu kuil.

Rupanya paderi tua itu mendengar kesiur angin dari

pakaian orang yang menghampirinya, Tetapi ketika

memandang orang itu, ternyata Gin Liong sudah melesat

keluar pintu kuil.

Saat itu, mentari sudah silam dibalik gunung. Cuaca

menjelang rembang petang. Puncak gunung-pun sudah

mulai bertaburan kabut Cakrawala mulai menebarkan

selimut hitam.

Gin Liong lari seperti orang kalap. Sinar matanya berapiapi,

dahinya bercucuran keringat.

Memandang kemuka, lapangan Ki-lok-jang sudah

kelihatan. Pagoda2 kecil tempat jenazah yang berjajar-jajar

berpuluh-puluh di makam itu, makin jelas diantara

gumpalan kabut.

Seluruh paderi Leng-hun-si dengan jubah warna kelabu

serempak berkumpul dimuka sebuah makam yang baru.

Mereka tegak berdiri menghadap makam baru itu.

Nyanyian duka dan mantra2 kematian, sayup2 terdengar

dibawa hembusan angin.

Melihat itu Gin Liong makin kalap, Diluar

kesadarannya, ia segera menumpahkan kegelisahan hatinya

dalam sebuah suitan panjang yang bernada sedih.

Gema suitan itu menembus awan, menimbulkan

kumandang yang bergemuruh di langit dari puncak Hwesian-

hong.

Doa- kematian di tanah makam Ki-lok-jang berhenti

seketika, Seluruh paderi serentak berpaling memandang

kedatanganGin Liong,

Seiring dengan berhentinya suitan, Gin Liong pun sudah

tiba di tepi hutan, melayang turun terus lari menghampiri.

Dalam pada berlari itu mata pemuda itu tetap melekat

kearah rombongan paderi.

Tiba2 diantara rombongan paderi Leng-hun-si itu tampil

seorang paderi berjubah merah.

Seketika berobahlah wajah Gin Liong dengan seri

kegirangan yang menyala-nyala.

“Suhu….” ia berteriak girang dalam hati seraya pesatkan

larinya.

Tetapi rasa kegirangan itu segera berobah pula rasa

kesiap yang besar, Kiranya paderi jubah merah itu bukan

suhunya melainkan ji-susiok-cou atau paman kakek guru

yang kedua.

Menggigillah hati Gin Liong, Diam2 ia bertanya dalam

hati, kemanakah suhu dan paman kakek guru yang ketiga ?

Serentak mata Gin Liongpun mencurah kearah makam

pagoda yang baru itu…

Saat itu seluruh paderi Leng hun-si tahu bahwa yang

menghambur suitan nyaring dan yang tengah lari

mendatangi itu, adalah Gin Liong yang telah menghilang

selama tujuh hari.

Kawanan paderi itu terkejut dan berlinang-linang

airmata, Merekapun tak pernah menyangka bahwa murid

dari kalangan orang biasa dari ketua mereka, ternyata

memiliki ilmu kepandaian yang sedemikian mengejutkan.

Tiang-lo jubah merah yang memegang tongkat Giok-jiih,

dengan wajah duka dan kerutkan alis memandang

kedatangan Gin Liong Diapun diam2 terkejut melihat

kepandaian Gin Liong.

Pada saat sekalian paderi masih kesima, Gin Liongpun

sudah tiba dan sekonyong-konyong ia lari menghampiri

makam pagoda yang baru dibangunkan itu seraya menjerit:

“Suhu…”

Hanya sepatah kata yang dapat diucapkan karena tubuh

anak muda itu terhuyung-huyung lalu rubuh ke tanah yang

tertutup salju. Setelah dua kali berguling-guling. iapun

pingsan.

Gemparlah sekalian paderi Leng-hun-si. Mereka hiruk

pikuk berhamburan menghampiri. Tetapi tianglo jubah

merah cepat melesat dan mengulurkan tangan mengangkat

tubuh Gin Liong supaya duduk, Diurut-urutnya jalan darah

anak itu lalu perlahan-lahan menepuk-nepuk punggungnya.

Gin Liong membuka mata. Airmatanya segera

membanjir turun, Dengan menggembor keras ia melonjak

bangun terus hendak menelungkupi makam pagoda yang

baru itu.

Tiang-lo jubah merah terkejut Cepat ia menyambar

tanganGin Liong: “Liong-ji…”

“Huak….” Gin Liong muntahkan segumpal darah segar.

Tanah yang bertutup salju putih segera bertebaran warna

merah.

Gin Liong berlutut dihadapan makam baru.

Sambil memegang meja sembahyang, ia memandang ke

arah makam yang berisi jenazah Liau Ceng taysu, suhunya

yang dicintai itu. Dengan kalap ia berteriak-teriak

memanggil suhunya.

Airmatanya bercucuran seperti banjir, Mulutnyapun

berlumuran darah,Matanya merah seperti terbakar.

Melihat pemandangan itu, tiang-lo jubah merahpun

hanya berdiri dibelakang Gin Liong. Dia tak kuasa juga

menahan cucuran airmatanya.

Juga seluruh paderi Leng-hun-si segera mendekap muka

dengan ujung lengan jubah dan menangis tertahan.

Cuaca makin gelap, Kabut dingin makin tebal.

Dilapangan makam Ki-lok-jang masih berkumandang suara

isak tangis.

Tiba2 Gin Liong hentikan tangisnya, Dengan heran ia

memandang kearah sebatang kimto (golok emas) yang

terletak diatas meja sembahyang, Kim-to itu panjangnya

tiga-puluhan senti, lebarnya satu setengah inci. Batangnya

memancarkan sinar keemasan yang menyilaukan

“Liong-ji, suhumu telah binasa oleh golok emas itu….”

tiba2 tiang-lo jubah merah berseru.

Gin Liong tegak berdiri lalu mengambil kim-to itu dan

memeriksanya, Seketika menggigil keraslah tubuhnya.

“Wulanasa…” tanpa disadari mulutnya berseru tertahan.

Seluruh paderipun berhenti menangis. Mereka serempak

memandang kearah Gin Liong dengan heran.

Demikian tiang-lo jubah merah, Bergegas ia maju dua

langkah, menunjuk golok emas dan bertanya:

“Liong-ji, tahukah engkau arti dari keempat huruf pada

batang golok itu ?”

Gin liong tak menyahut melainkan memandang ke

cakrawala dengan terlongong-longong. Mulutnya mengigau

seorang diri:

“Wulanasa… apakah yang membunuh suhu itu mungkin

Liong-li locianpwe?”

Mendengar kata2 “Liong-li”, tergetarlah hati tianglo

jubah merah. Segera ia berteriak marah:

“Liong-ji, apakah golok emas itu milik Ban Hong Liongli

?”

Tiba-2 Gin Liong menghambur tawa keras yang sedih.

Kumandangnya jauh menebar ke seluruh penjuru hutan.

Seketika berobahlah wajah seluruh paderi Leng-hun-si.

Mereka merasa darahnya bergolak keras, jantung

mendebur.

Tiang-lo baju merah terkejut. Tujuh hari menghilang,

mengapa mendadak Gin Liong memiliki tenaga dalam yang

sehebat itu.

Berhenti tertawa, Gin Liong segera berteriak keras2:

“Mengejar locianpwe, tentu dapat mengetahui siapakah

pembunuh suhu itu !”

Kata2 itu ditutup dengan sebuah loncatan ke udara.

Sekali loncat, ia sudah melayang turun sampai beberapa

tombak jauhnya, ia lari kearah jalan yang ditempuh Hian

liong Liong-li.

Segenap paderi Leng-hun-si tercengang menyaksikan

tindakan anak muda itu. sekonyong-konyong tiang-lo jubah

merah berteriak memanggil : “Liong-ji, kembali !”

Tetapi Gin Liong tak menghiraukan lagi, ia terus lari

menuju ke hutan pohon siong. Begitu masuk kedalam

hutan. keadaannya gelap sekali tetapi serempak dengan itu

golok emas yang dicekalnya itu memancarkan sinar

gemilang sampai seluas dua tombak.

Gin Liong terkejut ia baru menyadari bahwa golok emas

itu ternyata sebuah pusaka, ia teruskan larinya. Setelah

melintas keluar dari hutan, ia berhadapan dengan sebuah

puncak karang, Memandang kebawah, ia terlongonglongong.

Dibawah puncak merupakan sebuah jurang yang tak

diketahui berapa dalamnya karena permukaannya tertutup

oleh kabut tebal, Yang tampak hanya puncak pohon siong

dan batu yang menonjol.

Gin Liong bingung dan gelisah, ia bernafsu sekali untuk

mengejar Ban Hong Liong-li dan menanyakan siapakah

yang membunuh suhunya.

Keinginan yang meluap-luap itu menyebabkan dia lupa

bahaya, serentak ia ayun tubuh melayang turun ke bawah.

Karena kabut dan hari sudah gelap, maka ia lambaikan

layang tubuhnya.

Sekonyong-konyong pada saat kakinya menginjak

sebatang pohon siong, ia rasakan dadanya sakit dan hawa

murni dalam pusarnya naik sehingga pandang matanyapun

berkunang -kunang.

Gin Liong terkejut sekali wajahnya berobah pucat dan

keringat dingin mengucur deras, Tubuhnyapun makin laju

meluncur turun. jaraknya masih kurang beberapa meter dari

pohon siong. Dengan paksakan diri dan tahan kesakitan ia

bergeliatan, menghambur teriakan dan cepat tancapkan

golok emas ke pohon-pohon.

Cret

Golok emas itu luar biasa tajamnya. Sekali tabas, seperti

menabas tanah liat. Batang pohon sebesar paha orang,

segera terbabat hampir putus.

Gin Liong terkejut, karenanya tubuhpun meluncur turun

lagi, ia menjerit nyaring seraya menyambar sebatang dahan

pohon yang menjulai ke bawah.

Pohon siong itu berderak-derak jatuh ke bawah. Dan

ketika Gin Liong memandang kebawah, ia melihat

segunduk karang salju seluas satu tombak. Cepat ia

mendapat akal. Selekas lepaskan dahan pohon, ia terus

bergeliatan melayang turun ke atas karang salju itu.

Tetapi tepat pada saat hampir menginjak karang es itu,

pohon siong tadipun meluncur menimpah kearahnya. Cepat

ia bergelindingan kedalam karang es itu.

Bum, batang pohon siong menghantam permukaan

karang es lalu mencelat ke bawah lagi beserta hamburan

salju.

Tempat Gin Liong menyusup masuk itu, merupakan

sebuah cekung karang es yang luasnya hanya satu meter.

Hampir saja tempat itu hancur karena tertimpa batang

pohon.

Setelah menenangkan diri, rasa sakit pada dadanya

terasa lagi, ia menyadari bahwa tadi karena dirangsang

luapan amarah, hawa dalam tubuh telah menyerang ke ulu

hati. Dan karena dipergunakan untuk lari kencang, luka itu

makin berat.

Disekelilingnya gelap gelita, Kabut tebal sekali sehingga

ia tak tahu masih berapa tombakkan dalam dasar jurang itu.

Ia menyadari pula bahwa tiada gunanya untuk terburu

nafsu, Lebih dulu ia harus menyembuhkan luka dalamnya.

Tiba2 pula ia teringat akan katak salju yang disimpan dalam

bahunya.

Pada waktu menjamah tubuh katak, air es yang

merendam binatang itu hampir tumpah, ia tak berani

gegabah memegangnya.

“Jika katak salju itu kukulum dalam mulut entah apakah

dapat mengobati lukaku ?” pikirnya.

Maka dengan hati2 sekali ia segera mengambil katak

salju itu lalu pelahan-lahan dimasukkan kedalam mulut.

Begitu masuk kedalam mulut, Gin Liong rasakan suatu

hawa yang harum menebar dalam mulutnya, ia menelan

hamburan air dari tubuh katak salju itu, seketika dadanya

terasa hangat dan rasa sakitpun hilang.

Gin Liong terkejut. Tak pernah ia menyangka bahwa

hawa katak salju itu dapat menebarkan khasiatnya

sedemikian cepat sekali, Hawa hangat itu cepat menyalur

keseluruh anggauta tubuhnya, Tetapi iapun merasa ingin

tidur sedemikian keras rasa kantuk itu sehingga ia pejam

mata dan tertidur.

Entah selang berapa lama, ketika bangun Gin Liong

melihat kabut sudah menipis. Cuaca gelap, dilangit penuh

bertaburan bintang kemintang.

Tiba2 ia teringat akan katak salju yang dikulum dalam

mulut tadi.

“Hai. kemanakah katak salju itu ?” serunya terkejut

seraya mencabut golok emas dan duduk.

“Bum….” tiba2 salju yang dipijaknya berhamburan

hancur sehingga ia terjerumus meluncur ke bawah.

Kejut Gin Liong bukan kepalang, Dengan menggembor

keras ia gunakan jurus Burung-rajawali-hinggap-didahan.

Kepala berjungkir kebawah, kaki diatas.

Dia terus meluncur kesamping sebuah sebatang pohon

siong, Kurang satu tombak dari pohon siong itu, ia

menekuk kedua kaki dan melintang tangan.

Dengan gaya itu berhasillah ia menginjak dahan pohon

dengan sekali sehingga tak menimbulkan suatu getaran

pada dahan pohon.

Setelah menghapus keringat dingin dan menenangkan

pikiran, ia mulai teringat akan katak salju. Kemanakah

gerangan katak itu?. Apakah binatang itu meluncur

kedalam perutnya atau ketika ia tertidur, binatang itu

meluncur keluar dan mulutnya.

Ah, aneh benar. Memandang keatas, karang es tadi

sudah tak tampak lagi, Sedang ketika memandang

kebawah, ternyata dia masih memegang golok emas tadi.

Golok emas itu segera mengingatkan dia akan peristiwa

kematian suhunya. Pikiran untuk mencari katak salju segera

hapus dan saat itu ia hanya memikirkan bagaimana

mengejar jejak Ban Hong Liong-li untuk menanyakan siapa

pembunuh suhunya.

Cepat disimpannya golok emas itu lalu ia ayunkan tubuh

meluncur ke bawah, Dibawah dasar lembah itu terdapat

banyak pohon siong dan tumbuh-tumbuhan rotan, Dengan

ketangkasan macam seekor kera, ia berpindah dari satu

kelain pohon dengan cepat sekali, Akhirnya berhasillah ia

tiba di kaki puncak.

Hentikan langkah memandang keempat penjuru,

dilihatnya lembah yang penuh salju itu masih berkilaukilauan

memancarkan cahaya putih mengkilik.

Setelah puas memandang, ia segera menentukan arah

menuju ke barat daya, ia memutuskan untuk menempuh

perjalanan siang dan malam agar cepat dapat menyusul Ban

Hong Liong-li.

Entah berapa banyak lembah dan jurang, gunung dan

hutan yang telah dilintasinya dengan cepat.

Setelah lari beberapa waktu, ketegangan hatinyapun

mulai mengendap. Serempak banyak persoalan yang

memenuhi benaknya…

Bagaimana peristiwa pembunuhan suhunya itu sampai

terjadi ? Apakah didalam kuil atau didalam kamarnya atau

di guha Kiu-kiok-tong ?

Yang mampu membunuh suhunya tentu seorang yang

tinggi kepandaiannya dan ilmu ginkangnya tentu amat

sempurna. Tetapi siapakah pembunuh itu ?

Dan lagi, mengapa sam-susiokcou atau paman kakek

guru yang ketiga juga tak tampak pada pemakaman di

lapangan Ka-lok-jang ? Ataukah orang tua itu juga dicelakai

orang ?

Tetapi mengapa di makam Ki-lok-jang hanya didirikan

sebuah makam baru untuk suhunya. Mengapa tidak

didirikan lagi sebuah makam untuk paman kakek gurunya

yang ketiga ?

Seketika timbul rasa sesal mengapa ia tak minta

keterangan dulu kepada paman kakek guru yang kedua.

Bagaimana keadaan suhunya ketika berada dalam guha

tempo hari ? Kawanan Ma Toa-kong itu kemana saja

perginya?

Dan siapakah wanita Biau yang mati dalam guha itu ?

Sesungguhnya ia ingin pulang ke kuil untuk minta

keterangan kepada suhunya, Tetapi ternyata suhunya telah

dibunuh orang, lalu satunya orang yang dapat memberi

keterangan hanialah Ban Hong Liong-li.

Dia tak percaya kalau Ban Hong Liong-li yang

membunuh suhunya, Tetapi Ban Hong Liong-li tentu tahu

tentang golok emas itu dan siapa pemiliknya…

Teringat akan kematian suhunya, hati Gin Liong makin

tegang dan ingin sekali lekas2 menyusul BanHong Liong-li.

Dia ingin berteriak sekuat-kuatnya tetapi ia kuatir Ban

Hong Liong-li sudah berada seratusan li jauhnya.

Setelah melintasi beberapa puncak gunung salju dan

beberapa hutan belantara, iapun berpaling kebelakang,

puncak Hwe-sian-hong tampak tegak menjulang ke langit

dengan megah dan perkasa.

Teringat juga ia bahwa pada saat itu tentulah paderi kuil

Leng-hun-si sudah tidur. Sedang paman kakek guru yang

ke-dua mungkin masih mondar mandir di halaman kuil.

Sumoaynya yang bertubuh lemah tentu akan berduka sekali

apabila mengetahui suhunya telah terbunuh dan dia (Gin

Liong) sedang melakukan pengejaran kepada Ban Hong

Liong-li.

Ah, apabila teringat akan hal itu, berlinang-linanglah

airmata Gin Liong, Dia tak mau mengingat hal itu, tak

mau.

Sekonyong-konyong pandang matanya gelap dan angin

dingin berhembus. Ketika memandang ke depan ternyata

dia harus melintasi sebuah hutan pohon siong lagi.

Menghampiri hutan itu tiba2 hatinya tergetar, hentikan

langkah dan terlongong. Memperhatikan dengan seksama,

tampak dalam hutan pohon siong yang pendek tumbuhnya,

terdapat sebuah rumah pondok kecil. Pondok itu

memancarkan sinar penerangan yang terang.

Kemudian ia melihat pula ditengah hutan pohon siong

itu terdapat dinding rumah yang puing runtuhan dinding,

Diatas tanah masih bertebaran kutungan ranting pohon.

Heran Gin Liong di buatnya. Mengapa ditempat hutan

belantara yang jarang dijelajah manusia, terdapat sebuah

rumah pondok kecil yang memancarkan sinar penerangan

terang sekali.

Melongok dari jendela, penerangan api itu mantap

sekali, sedikitpun tidak bergoyang-goyang. Rupanya tentu

bukan dari lampu atau lilin. Didalam ruang pondok, sunyi

senyap tiada kedengaran suara apa2.

Timbullah keinginan tahu dalam hati Gin Liong, Setelah

melengkapi kedua tangan dengan saluran tenaga dalam,

pelahan2 segera ia ayunkan langkah menghampiri.

Kerucuk . . . . terdengar suara macam orang meneguk

air, Suara itu memancar diri samping Gin Liong.

Dengan terkejut Gin Liong berputar tubuh seraya

luruskan kedua tangan kemuka dada. Dan serempak

pandang matanya mengeliat kearah suara orang minum air

tadi, seketika ia hampir memetik kaget.

Dibawah sebatang pohon siong yang tak berapa tinggi

lebih kurang terpisah beberapa meter dari tempat ia berdiri

seorang pengemis tua tampak duduk sembari minum arak.

Dia mengenakan pakaian yang kumal, rambutnya putih,

pipi kempot dan tubuh kurus kering seperti tulang

terbungkus kulit, sepasang mata yang berbentuk segitiga,

memancarkan sinar yang berkilat-kilat tajam, sepasang

tangannya yang kotor tengah mencekal sebuah buli2 arak

yang besar, selesai minum seteguk, bau arak yang harum

segera berhamburan dibawa angin ke empat penjuru.

Sudah tentu Gin Liong tak pernah menyangka bahwa

ditempat yang sesunyi itu terdapat seorang pengemis tua.

seketika teganglah hati pemuda itu. Diam2 diapun bersiapsiap

untuk menghadapi setiap gerakan pengemis tua yang

akan mencelakai dirinya.

Setelah minum seteguk, pengemis yang kakinya

telanjang tak bersepatu itu, menyumbat kembali mulut buli2

arak. Sambil setengah pejamkan kedua matanya, tangannya

menggosok-gosok kotoran busuk yang melekat pada sela2

jari kakinya, sedikitpun dia tak mengacuhkan Gin Liong

yang berada dihadapannya.

Melihat pengemis itu bertelanjang kaki mampu

menempuh tempat yang penuh bertutup salju dingin,

timbullah dugaan Gin Liong bahwa pengemis itu tentu

memiliki ilmu kepandaian silat yang tinggi.

Tiba2 ia teringat akan urusannya mengejar Ban Hong

Liong-li, maka segera Gin Liong hendak berputar tubuh

tinggalkan tempat itu. ia tak mau menunda waktu hanya

karena ingin mengetahui siapa pengemis tua itu.

Tetapi baru ia berputar tubuh, kejutnya makin besar

sehingga ia sampai menyurut mundur dua langkah.

Pada bayangan gelap dari ujung dari sisa puing2 tembok

rumah pondok itu, lebih kurang hanya setombak jauhnya

dari tempat ia berdiri, tampak menggunduk sebuah

bayangan hitam yang bulat bentuknya.

Setelah tenangkan ketegangan hati dan memandang

dengan seksama, barulah Gin Liong mengetahui bahwa

gunduk bayangan hitam itu bukan lain adalah seorang

paderi bertubuh gemuk, telinga besar, mulut persegi, hidung

mekar, mata besar dan kepala bundar seperti kepala

harimau.

Paderi gemuk itu tengah duduk bersila, Kain jubahnya

yang berwarna kelabu telah menutup kedua kakinya,

sepasang matanya, berkilat2 memandang Gin Liong dengan

sorot yang dingin.

Tetapi Gin Liong mempunyai kesan bahwa walaupun

tampaknya paderi itu menyeramkan sekali tetapi dari sorot

matanya, jelas tak mengandung maksud jahat kepadanya.

Sebagai gantinya, kini timbullah rasa heran dalam hati

Gin Liong mengapa ia bertemu dengan seorang pengemis

dan seorang paderi yang pada waktu tengah malam buta,

duduk ditempat hutan belantara yang sedemikian sunyi

senyap.

“Adakah kedua orang itu tengah mengadu kesaktian

ditempat ini ?” diam2 timbul pertanyaan dalam hati Gin

Liong, iapun menduga bahwa salah satu dari kedua orang

itu mungkin pemilik dari rumah pondok itu.

Memikirkan rumah pondok, tanpa terasa matanyapun

beralih mencurah ke sebelah muka. Dilihatnya bahwa

penerangan benderang yang menembus keluar dari jendela

rumah pondok itu, kini berhias dengan warna kabut yang

lemah.

Makin terperanjatlah hati Gin Liong, “Adakah didalam

rumah pondok itu terdapat suatu benda pusaka ?” pikirnya.

Teringat akan soal benda pusaka, segera ia menduga

bahwa jika benar demikian, tentu disekitar rumah pondok

itu akan terdapat beberapa orang lagi, Bukan hanya paderi

gemuk dan pengemis tua itu saja.

Untuk membuktikan dugaannya, iapun segera keliarkan

pandang matanya kesekeliling sekitar rumah pondok.

Dan dugaannya memang benar, Pertama-tama dia segera

melihat seorang nenek tua yang buta kedua matanya.

Nenek buta itu mengenakan baju dari kain blacu,

panjang sampai menutupi kedua lututnya, celananya

terlampau besar bagi kedua kakinya yang kecil, Nenek itu

memegang sebatang tongkat Thiat-ho-ciang atau tongkat

yang tangkai menyerupai bentuk burung bangau, terbuat

daripada besi.Warnanya hitam mengkilap.

Nenek itu berdiri diam dibawah tembok rumah pondok

yang sudah separoh rubuh.

Lalu dibawah sebatang pohon siong yang aneh

bentuknya dan tumbuh kira2 lima tombak dari rumah

pondok itu, tampak pula seorang lelaki berumur sekitar 40-

an tahun. Dia memakai kopiah kulit warna hitam dan

mantel kulit yang masih berbulu. Mukanya penuh dengan

brewok, Tubuhnya yang tinggi besar, tengah disandarkan

pada pohon siong itu.

Diapun setengah memejamkan mata, mulutnya yang

agak perot, menimbulkan kesan yang menyeramkan orang,

Sinar matanya berkilat-kilat mencurah pada Gin Liong.

“Masih ada pula beberapa orang lagi, Tetapi karena

bersembunyi dibalik pohon yang gelap, sukarlah untuk

mengetahui bagaimana wajah mereka yang jelas.

Makin meningkatlah keheranan Gin Liong. Gerangan

benda apakah yang berada dalam rumah pondok itu

sehingga mengundang kedatangan sekian banyak orang2

persilatan kesitu.

Mau tak mau timbul juga rasa ingin tahu dalam hati Gin

Liong.

Sejak turun gunung, memang belum pernah Gin Liong

berkelana dalam dunia persilatan. Dan sudah tentu pula ia

tak bagaimana berbahayanya suasana dunia persilatan itu.

Ia menurutkan suara hatinya saja, Apa yang diinginkan

terus dikenakannya saja, Maka setelah bersiap-siap

mengeluarkan tenaga-dalam ke lengan dan menenangkan

semangat, dengan langkah pelahan segera ia menuju ke

rumah pondok itu.

Tindakan Gin Liong cepat menimbulkan suara berisik di

empat penjuru sekelilingnya. Suara berisik yang berhadapan

rasa takut. entah berapa puluh pasang mata, pun mencurah

ruah kepada dirinya.

Bahkan dengan serempak pula, paderi gemuk, pengemis

kurus dan lelaki tinggi besar serta nenek buta itu mulai

menggerakkan tubuh mereka.

Dua kemungkinan menyebabkan mereka mulai bergerak

itu. Pertama, mereka gelisah karena tindakan Gin Liong

hendak menghampiri rumah pondok itu. Kedua, terkejut

karena melihat ilmu kepandaian Gin Liong yang

sedemikian hebatnya.

Gin Liongpun mendengar “juga” akan suara berisik

bernada terkejut itu. Demikian pula iapun dapat

memperhatikan betapa dirinya telah dipandang dengan

sorot mata heran2 kejut dari orang2 yang bersembunyi

ditempat gelap itu.

Makin keras dugaan Gin Liong bahwa dalam rumah

pondok itu tentu terdapat sesuatu yang berbahaya.

Tetapi setitikpun ia tak menyadari bahwa langkah

kakinya pada tanah bertutup salju ditempat itu, hanya

meninggalkan bekas2 telapak yang hampir tak kelihatan.

Hal itu hanya dapat dilakukan oleh orang yang memiliki

ilmu ginkang tinggi.

Namun Gin Liong tak mengacuhkan, sambil siapkan

kedua tangan, ia lanjutkan langkahnya menuju ke rumah

pondok itu, Langkah kakinya sedikitpun tak menimbulkan

suara apa2.

Suasana sekeliling tempat itu sunyi senyap, tiada tampak

suatu gerak yang mencurigakan yang hendak merintangi

langkah Gin Liong.

Lelaki muka brewok, tidak lagi sandarkan diri pada

batang pohon tetapi sudah berdiri tegak, Nenek buta

miringkan kepala hendak mencurahkan pendengarannya.

Pengemis kurus dan paderi gemuk sama menyalangkan

mata kejut memandang kearah Gin Liong.

Keheranan Gin Liong makin besar dan makin keras

keinginannya untuk menghampiri rumah pondok dan

melihat apakah yang sesungguh berada dalam rumah itu.

Setelah melintasi sebuah runtuhan dinding tembok, tiba2

menggigillah hati Gin Liong dan serempak iapun hentikan

langkah.

Dengan pandang terkejut, perhatiannya mencurah

kearah dua sosok benda hitam yang rebah terkapar di muka

jendela.

Dan ketika memandang dengan seksama, ternyata kedua

sosok benda hitam itu adalah dua sosok mayat manusia,

Yang sebelah kiri, mayat seorang lelaki tua berambut putih.

Tubuhnya miring menghadap ke dalam rumah sehingga

wajahnya tak kelihatan jelas.

Sedang yang sebelah kanan, seorang imam tua bertubuh

kurus kering, Alis mengernyit, mata mendelik dan mulut

menganga, wajahnya pucat kekuning-kuningan. Ujung

mulutnya mengumur darah merah warna hitam.

Keadaannya mengerikan sekali.

Menilik bahwa kedua sosok mayat itu ditimbuni lapisan

salju, tentulah mereka sudah mati pada beberapa hari yang

lalu.

Sekonyong-konyong dari samping kiri yang gelap,

menghambur serangkum tawa dingin bernada mengejek.

Gin Liong merasa bahwa tertawa mengejek itu ditujukan

pada dirinya. seketika meluaplah kemarahannya, Dengan

tegakkan kepala dan busungkan dada, ia segera melampaui

kedua sosok mayat itu. langsung menuju kemuka jendela

rumah pondok.

Tempat2 gelap disekeliling penjuru rumah itu, tampak

bayang2 hitam bergerak-gerak dan percikan sorot mata

menghambur

Rupanya mereka terkejut, menyaksikan keberanian anak

muda itu sehingga mereka serempak berdiri tegak dari

tempat persembunyiannya.

Tiba di muka jendela dan melongok ke dalam ruang

pondok, kembali hati Gin Liong bergoncang keras.

Diatas sebuah ranjang batu yang berada dalam ruang

pondok itu, duduk bersila dengan mata menunduk

kebawah, seorang tua bertubuh kurus kering, dia

mengenakan jubah warna hitam.

Rambut orang tua itu kusut masai, kumisnya hanya

beberapa lembar. Dibawah hidung yang tegak menjulang

keatas bernaung sebuah mulut yang agak perot, pipinya

yang kempot mengulum tawa dingin. Wajahnya dingin

menakutkan, angkuh dan bengis.

Dimuka ranjang orang tua itu, terdapat sebuah meja

kecil yang diberi sebuah cermin bundar sebesar piring nasi,

Ternyata penerangan yang memancar ke luar jendela itu,

berasal dari kaca cermin tersebut.

Gin Liong memperhatikan cermin itu, sinarnya

menyilaukan mata, silang gemilang sekali, ia tak tahu

apakah cermin itu terbuat daripada tembaga gosok atau

perak ataukah air raksa.

Meja kecil itu terpisah dua meter dari tempat Gin Liong

berdiri, Asal ulurkan tangan, ia tentu dapat meraih cermin

aneh itu. Walaupun merasa heran tetapi setitikpun Gin

Liong tak mempunyai keinginan untuk mengambil nya.

Kemudian memperhatikan orang tua kurus itu, Gin

Liong mengerut dahi, orang tua itu seperti sebuah patung

yang tak bernyawa, sedikitpun tak bergerak, Bahkan

napasnya pun tak terdengar.

Melihat itu diam2 Gin Liong menghela napas rawan.

“Ah orang tua itu sudah tak bernyawa,” katanya dalam

hati.

Sekonyong-konyong kedua kelopak mata orang tua itu

pelahan-lahan terbuka, Gin Liong terkejut sekali sehingga

menyurut mundur setengah langkah.

Gerakan menyurut mundur dari Gin Liong disambut

dengan beberapa pekik kejut tertahan dari tokoh2 yang

bersembunyi disekeliling pondok itu.

Dengan sorot mata yang lembut, orang tua kurus itu

memandang sejenak kepada Gin Liong lalu pejamkan

matanya lagi.

Tatapan pandang mata orang tua itu, menghilangkan

rasa takutGin Liong. Kecemasannyapun lenyap.

Gin Liongpun sempat pula menyambar kesan bahwa

pada wajah orang tua yang sedingin es itu ternyata

memancarkan sinar mata yang penuh welas asih.

Dan saat itu Gin Liongpun menyimpulkan dugaan

bahwa orang2 yang mengepung secara bersembunyi di

sekeliling rumah pondok itu tentulah kawanan orang

persilatan yang tamak, yang rakus untuk memburu

keuntungan jelas mereka tentu mengatur siasat hendak

merampas kaca cermin yang terletak diatas meja dihadapan

orang tua itu.

Menilik kedua mayat yang terkapar di depan jendela itu,

Gin Liong menduga bahwa orang tua dalam pondok itu

tentu seorang sakti. Hal itu makin diperkuat dengan

kenyataan bahwa orang2 persilatan yang mengepung

pondok itu tak berani gegabah mendekati rumah pondok

tersebut.

Siapakah gerangan orang tua itu.

Gin Liong menggali ingatannya, tetapi sepanjang yang

diketahuinya, diantara sekian banyak orang2 aneh yang

sakti dalam dunia persilatan seperti yang dituturkan

suhunya, rasanya tiada terdapat orang tua kurus seperti

yang berada dalam pondok itu.

Walaupun tak tahu apakah khasiat dari kaca didepan

orang tua itu, namun Gin Liong berani memastikan

tentulah kaca itu sebuah pusaka yang tak ternilai harganya,

jika tidak demikian masakan sampai menggerakkan

perhatian sekian banyak tokoh2 persilatan ?

Serentak timbullah rasa muak terhadap orang2 persilatan

yang berada disekeliling rumah pondok itu.

Serentak Gin Liong berputar tubuh untuk mengamati

dengan seksama orang2 yang mengepung pondok itu.

Diam2 ia darat menghitung bahwa mereka itu tak kurang

dari dua puluh orang jumlahnya.

Tiba-tiba timbul keputusan dalam hati Gin Liong,

Karena dia tak mempunyai selera untuk merampas kaca

dan tak perlu membantu orang tua menghadapi kawanan

orang persilatan itu maka lebih baik ia cepat2 tinggalkan

tempat itu saja.

Setelah berpaling memandang sejenak kearah orang tua

dalam ruang pondok, iapun segera pesatkan langkah

menuju keluar hutan.

Tiba2 dari belakang terdengar suara orang membentak :

“Kembali !”

Gin Liong terkejut. Dia tahu yang dipanggil itu adalah

dirinya, Serentak ia berhenti. Dilihatnya wanita tua buta itu

tengah menghadap kearahnya. Kedua kelopak matanya

membalik sehingga tampak biji matanya yang keputihputihan

tengah menengadah memandang ke langit.

Rupanya dia tengah mencurahkan pendengaran.

Pengemis kurus, paderi gemuk dan lelaki brewok serta

beberapa orang yang bersembunyi di kegelapan itu, tampak

tertawa menyeringai dan memandang nenek buta itu.

Rupanya bukan gerak gerik Gin liong yang hendak

didengarkan nenek buta, Tongkat kepala burung hong yang

dipegangnya, tiba2 digentakkan ke tanah dan berserulah ia

sekeras-kerasnya:

“Kusuruh engkau kembali, dengar tidak !”

Melihat wajah nenek buta itu tampak membengis dan

galak, diam2 Gin Liong tak senang, Tetapi mengingat

nenek itu sudah berusia tua dan kedua matanya buta, maka

iapun bersikap sabar.

“Nenek, apakah engkau memanggil aku ?” tegurnya.

Rupanya nenek buta itu tahu bahwa dari nada suaranya,

Gin Liong itu seorang pemuda.

Tiba2 wajah nenek yang membengis itu tampak reda,

Setelah sejenak tertegun, ia berkata pula:

“Ya, memang kusuruh engkau kembali !”

“Nenek mempunyai keperluan apa kepadaku?” tanya

Gin Liong dengan nada ramah.

Mendengar nada perkataan Gin Liong seperti enggan

kembali, nenek itu berseru marah lagi:

“Kusuruh engkau kembali, engkau harus kembali, perlu

apa banyak tanya !”

Kata2 yang kasar itu tak dapat diterima lagi oleh Gin

Liong. ia tak kuasa menahan kemarahannya.

“Kalau mau bilang apa2, bilang saja, Perlu apa harus

suruh aku kembali !”

Wajah nenek buta itu seketika berobah. Matanya yang

buta seperti berkilat-kilat dan tubuhnya gemetar keras

karena marah. ia tertawa dingin tak henti-hentinya.

Gin Liong menyadari bahwa tiada gunanya untuk cari

perkara dengan nenek buta buruk muka itu. Dengan

mendengus geram ia terus berputar tubuh hendak pergi.

Tetapi baru berputar tubuh, tiba2 nenek buta itu

membentaknya: “Budak, berhenti !”

Seiring dengan teriakannya itu. tubuh nenek tua yang

buta itu sudah melayang kehadapan Gin liong.

Gin Liong terkejut sekali. Cepat ia berhenti, ia tak

menyangka bahwa nenek buta itu ternyata mahir dalam

ilmu Thing-hong-pian-wi atau Mendengar-anginmenentukan-

tempat. Bukan saja mahir tetapi dapat

menguasainya dengan hebat sekali.

Tetapi Gin Liong tetap tak puas atau sikap si nenek yang

begitu garang dan tak memandang orang, Maka Gin

Liongpun kerutkan alis dan menegur:

“Tanpa sebab apa2, mengapa engkau menghadang

jalanku ?”

Sambil tudingkan ujung tongkat ke rumah pondok,

nenek buta itu memberi perintah:

“Ambilkan cermin kaca dalam pondok itu !”

“Hak apa engkau hendak memerintah aku ?” teriak Gin

Liong marah sekali.

Nenek buta itu deliki mata dan membentak bengis:

“Kalau tidak mengambilkan kaca itu, serahkan jiwamu !”

Nenek itu menutup kata-katanya dengan menyabat

pinggang Gin Liong. Sabetannya secepat angin menderu,

sederas hujan mencurah.

Gin liong mendengus geram, Dengan bergeliatan tubuh

iapun sudah menyelinap ke belakang nenek buta itu.

“Tetapi nenek buta itu seperti mempunyai mata terang.

Sebelum kaki Gin liong tegak dibelakangnya, secepat kilat

iapun sudah berputar tubuh seraya menghantamkan

tongkatnya kepada Gin Liong.

Gerakan nenek dan tongkatnya itu benar2 mengejutkan

sekali, Cepat, ganas dan dahsyat.

Gin Liong benar2 terkejut sekali, Cepat ia gunakan tatalangkah

Liong-Li-biau ajaran Ban Hong Liong-li untuk

meluncur tiga tombak jauhnya.

Tetapi nenek buta itu memang lihay sekali, secepat

menarik pulang tongkatnya ia terus membentak:

“Hai, hendak lari kemana engkau budak !” Oh-liong-juttong

atau Naga-hitam-ke-luar-sarang, adalah jurus yang

digunakan si nenek buta untuk mengiringkan gerakan

tubuhnya yang menerjang Gin Liong.

“Berhenti !” tiba2 terdengar suara orang membentak

nyaring, sesosok tubuh melayang dan lelaki bermuka

brewok itupun sudah melayang tiba.

Nenek itu bergegas menarik tongkatnya, ia deliki mata

kearah pendatang itu:

“Brewok, engkau hendak menganggu urusanku lagi ?”

Tongkat kepala burung ho diangkat keatas lalu dengan

jurus Thay-san-ya-ting atau gunung-Thaysan-menindihpuncak,

ia menghantam kepala lelaki brewok itu.

Gin Liong yang berada tiga tombak dari tempat kedua

orang itu, kerutkan dahi, ia merasa nenek buta itu terlalu

buas, tiap orang hendak dihajarnya.

Lelaki brewok menyurut mundur dan berseru marah:

“Nenek buta, siapa yang sudi mengurusi urusanmu. Aku

hendak bertanya kepada budak kecil itu…”

Nenek buta hanya mendengus. Tanpa menunggu orang

selesai bicara, ia segera putar tongkatnya dan menyerang

lelaki brewok itu lagi.

“Biarpun engkau hendak berputar lidah memberi seribu

alasan tetapi aku tetap tak percaya !” serunya.

“Nenek buta, jangan andalkan kepandaianmu untuk

menindas orang, Aku si Brewok terbang Li Tek-gui tak

takut pada siapapun juga !”

Habis berkata ia gerakkan kedua tangannya menyerang

nenek buta itu.

Nenek buta itu memperdengarkan tertawa aneh dan tak

henti-hentinya menggeram:

“Bagus, bagus, hendak kusuruh engkau si Brewokterbang

kenal akan kelihayanku.”

Tiba2 gerakan tongkatnya berobah, Batang tongkat yang

berwarna hitam mengkilap malang melintang menyambarnyambar

seperti petir memecah angkasa.

Brewok-terbang Li Tek-gui tak mau mengalah, ia maju

menyerang seraya memekik-mekik. Makin lama makin

gencar serangannya.

“Hai, budak, apakah engkau hendak ngacir pergi ?” tiba2

dari tempat gelap terdengar seruan orang.

Gin Liong tenang2 mengikuti pertempuran itu. Dia tak

tahu, kepada siapakah orang itu menegurnya, Segera ia

keliarkan pandang mata kian kemari.

“Ah… ternyata nenek buta itu dengan melengking keras,

menyerangnya. Karena terkejut, Gin Liong menyurut

mundur setengah langkah.

Telinga nenek buta itu memang luar biasa tajamnya,

walaupun sedang bertempur tetapi ia masih dapat

menangkap langkah kaki Gin Liong. Tahu bahwa pemuda

itu hanya mundur setengah langkah, nenek buta itu

menyadari kalau ia telah tertipu oleh si Brewok-terbang.

Karena marahnya, tubuh nenek buta itu sampai gemetar

keras.

Bluk, ia hantamkan tongkat burung hong ke tanah lalu

berseru keras:

“Hai, kawanan tikus manakah yang berseru tadi ? engkau

berani mengacau ?”

Nenek buta itu menengadahkan kepala, memasang

telinga, siap untuk menyerbu orang yang berseru tadi.

Tetapi sekeliling penjuru sunyi senyap tiada suara sama

sekali.

Saat itu Gin Liongpun menyadari bahwa seruan itu

ternyata ditujukan pada dirinya, Marahlah dia seketika.

Segera ia curahkan pandang mata kearah suara tadi.

Tampak di tempat itu beberapa sosok bayangan manusia

tegak dengan mata berkilat-kilat, Entah siapakah diantara

mereka yang berseru tadi.

Sekonyong-konyong dari arah tiga tombak jauhnya

terdengar suara orang tertawa gelak2. Nadanya amat

menghina.

Cepat Gin Liong memandangnya, Tampak Li Tek-gui

merentang kedua tangan, menengadahkan kepala dan

tertawa keras, sehingga janggutnya yang penuh brewok itu

ikut berguncang2. Entah mengapa dia begitu gembira

sekali.

Nenek buta berputar tubuh, deliki mata seraya

lintangkan tongkat burung hong ke muka dada, serunya:

“Brewok-terbang, jangan gembira dulu. Pada suatu hari

aku tentu akan mencabut jiwamu anjing itu !”

Nenek itu kerutkan alis dan membalikkan kelopak mata,

Gerahamnya menggemerutuk keras tetapi dia tak

melakukan gerakan menyerang, Rupanya ia lebih kuatir

kalau Gin Liong sampai pergi.

Brewok-terbang Li Tek-gui hentikan tawanya lalu

berseru dengan nada sarat:

“Nenek buta, aku menertawakan ilmu pendengaranmu

yang begitu tinggi tiada tandingnya dalam dunia persilatan

Sekali bertempur dengan orang, engkau tentu segera

mengerti akan jurus permainan lawanmu. Pada hal gerakan

tubuh dari budak kecil yang hendak engkau tahan itu,

adalah ajaran dari musuh bebuyutanmu, wanita hina Ban

Hong Liong-li.

“Tutup mulutmu !” seketika Gin Liong membentak

marah dan terus secepat kilat menerjang Brewok terbang Li

Tek-gui.

Pada saat Gin Liong menyerbu Li Tek-gui, si nenek

butapun meraung dan menyapu tubuh pemuda itu dengan

tongkatnya.

Gin Liong belum sempat berdiri tegak. Terpaksa ia

berlincahan menghindar dan berputar tubuh, setelah

menghindari tongkat sinenek buta, ia lanjutkan serangannya

kepada Li Tek-gui.

Tongkatnya menghantam angin, si nenek buta itu

tertegun kaget, beberapa sosok bayangan, berhamburan

keluar dari tempat persembunyiannya, Mereka berteriak

kaget juga.

Melihat pemuda itu dapat menghindari tongkat nenek

buta dan terus menyerbu kepadanya, Li Tek-gui gugup.

Pada saat loncat menerjang itu. Gin Liong segera

mengangkat tinjunya, menghantam kearah Li Tek-gui

hendak menghindar

Tetapi pada saat itu juga, terdengarlah kesiur angin

mendesing kearah muka Gin Liong.

Gin Liong mendengus geram, Selekas mengisar langkah

kesamping ia terus menghantam tangan kanan Li Tek-gui

dan tahu2 jarinyapun bergerak untuk menjepit senjata

rahasia yang hendak menabur ke mukanya itu.

Ah, ternyata senjata rahasia itu sebatang Liu-yap-hui-to

atau golok terbang setipis daun Liu. Dan golok tipis itu

dilumuri pula dengan racun.

Cepat ia mengangkat muka memandang ke arah tempat

gelap yang menjadi tempat bersembunyi orang yang bicara

tadi, Tampak sesosok tubuh orang sedang membungkuk ke

tanah.

Gin Liong kerutkan dahi, ia duga tentu orang itu yang

melepas senjata rahasia beracun kepadanya. Ada ubi ada

talas. Ada budi harus dibalas.

Setelah mengerahkan tenaga-dalam, segera pemuda itu

taburkan Liu-yap hui-to kembali kepada pemiliknya.

Pada lain saat terdengarlah jeritan ngeri dari tempat

persembunyian gelap itu. Nadanya sama dengan suara

orang yang bicara tadi, Gin Liong terkesiap. Hampir ia tak

percaya bahwa golok Liu-yap-hui-to yang setipis itu, dapat

ia lontarkan dengan kekuatan yang sedemikian dahsyatnya.

Sosok2 bayangan hitam yang bersembunyi ditempat

gelap, hening lelap tiada suaranya, rupanya mereka kesima

menyaksikan kepandaian Gin Liong.

Tiba2 Li Tek-gui melangkah maju dan dengan

menggembor keras ia terus menghantam Gin Liong yang

masih termangu-mangu itu.

Serangan itu dilakukan tak terduga-duga dan jaraknya

amat dekat. Pada saat Gin Liong menyadari bahaya,

ternyata pukulan sudah tiba dimuka dadanya.

Dalam gugup, pemuda itu terus buang tubuh melayang

mundur sampai tiga tombak dan berada dimuka segunduk

runtuhan tembok.

Baru kakinya berdiri tegak, dari sudut tembok itu muncul

seseorang dan segera menghantam tengkuk anak muda itu.

Gin Liong marah sekali, masakan dia selalu diserang

secara menggelap, seketika hawa pembunuhan segera

tampil pada dahinya.

Dengan menggembor keras, ia berputar-putar deras dan

ayunkan tangan menghantam.

Orang itu menjerit dan muntah darah, pukulan Gin

Liong tepat mendarat pada punggung orang itu sehingga dia

rubuh dan berguling-guling sampai dua tombak jauhnya.

Setelah muntah darah lagi, dia menggelepar-gelepar

meregang jiwa.

Pada saat orang itu terguling-guling, Brewok-terbang Li

Tek-guipun sudah loncat ke muka Gin Liong, Dengan

diiringi gemboran keras, ia hantamkan kedua tangannya,

Anginnya dahsyat sekali.

Karena sudah terlanjur membunuh orang, kesadaran Gin

Liongpun sudah hilang, Dengan menggeram marah, diapun

songsongkan kedua tangannya yang telah disaluri tenaga

penuh.

Darrr . . . .

Terdengar letupan keras, Puing2 tembok beterbangan

keempat penjuru, saljupun berhamburan ke udara.

Sekeliling tempat gelap, sosok2 bayangan hitam

bergerak-gerak mundur dengan mengeluarkan teriakan

kejut.

Bahkan pengemis kurus, paderi gemuk yang selama itu

tetap duduk dibawah pohon di sudut tembok juga terkejut

dan mundur sampai tiga tombak.

Tubuh Li Tek-gui yang tinggi besar, terbang melayang

kearah nenek buta yang berada lima tombak jauhnya.

Kembali Gin Liong tertegun. Seketika ia teringat akan

peristiwa di guha Kiu-kiok-kiong dimana dengan sekali

dorongkan kedua tangannya ia berhasil melemparkan Okwi-

tho Go Ceng paderi yang jahat itu kedalam jurang.

Demikian pula pada saat itu, ia memandang hampir tak

percaya kepada tubuh Li Tek-gui yang terlempar karena

pukulannya tadi.

Adakah sekarang ia memiliki tenaga yang luar biasa

saktinya ?

Tampak nenek buta deliki mata dan wajahnya berobah

membesi.

“Kawanan tikus, engkau hendak mencelakai aku lagi !”

bentaknya bengis, seraya ayunkan tongkatnya ke tubuh Li

Tek-gui.

“Bluk…”

Seketika menjeritlah Li Tek-gui ngeri sekali, Tubuhnya

yang besar itupun terbanting sekeras-kerasnya ke tanah.

Mendengar jeritan ngeri dari Li Tek-gui itu, nenek buta

segera perdengarkan suara lengking tawa yang aneh.

Menusuk telinga dan menyeramkan perasaan.

Ketika memandang ke arah pohon, Gin Liong

memperhatikan bahwa pengemis kurus, paderi gemuk dan

sosok2 bayangan yang bersembunyi ditempat gelap itu

menahan napas dan memandang nenek buta.

Mereka terkejut dan ngeri, jelas mereka mendapat kesan

bahwa nenek buta itu seorang nenek yang sakti tetapi amat

ganas.

Berhenti tertawa, nenek buta itu menengadahkan

mukanya yang buruk dan balikkan matanya yang putih lalu

mengekeh:

“Heh, heh, Brewok-terbang, akhirnya dapat juga kucabut

jiwamu !”

Gin Liong hanya memandang tingkah laku nenek buta

itu dengan kerutkan alis, Tiba2 terdengar ayam hutan

berkokok sahut menyahut Gin Liong gelagapan. Dia

menyadari kalau sudah terlalu lama tertunda ditempat itu.

Dia harus lekas2 pergi.

Sekali enjot tubuh, Gin Liongpun terus lari sekencang

angin menuju keluar hutan, Tetapi nenek buta itu tiba2

melengking geram dan bagaikan segulung asap, iapun

segera melayang menghadang jalan Gin Liong.

“Siapa engkau !” bentaknya marah.

Melihat nenek buta itu berkali-kali menghadang jalan,

Gin Liongpun balas membentak keras: “Bukan urusanmu !”

Nenek buta itu balikkan matanya yang putih lalu

menggembor:

“Ho, ternyata engkau tak mau mengambil kaca itu,

jangan harap engkau dapat hidup lagi!”

Gin Liong kerutkan alis, Hawa pembunuhan meluap dan

berhamburan tawa geram:

“Jangan lagi hanya seorang nenek buta seperti engkau.

sekalipun sampai sepuluh nenek buta lagi, tak mungkin

mampu menghalangi aku !”

“Budak kecil bermulut besar Jika tak kuberimu sedikit

hajaran engkau tentu belum tahu rasa.” seru nenek buta

seraya memutar tongkat kepala burung hong bagaikan

hujan mencurah ke pinggang Gin Liong.

Wut, tiba2 Gin Liong tertawa keras dan melambung

beberapa tombak ke udara, Begitu di udara, ia segera

mencabut pedang pusaka Tanduk Naga, seketika

memancarlah sinar merah yang gilang gemilang

menyilaukan mata, Tanah berkabut itu seluas sepuluhan

tombak berubah kemerah-merahan warnanya.

Tempat2 gelap segera terang sehingga orang2 yang

bersembunyi itu memekik kaget.

Diantar dengan sebuah gemboran keras, Gin Liong

memutar pedangnya dalam jurus Liong li-hui-hoa atau

Puteri-naga-menebar-bunga. Begitu percikan sinar merah

segera berhamburan menumpah ke kepala nenek buta.

Nenek buta itu tak gentar bahkan menghambur suara

tawa yang aneh, Rambutnya yang putih mengkilap

meregang tegak, matanya yang putihpun membalik.

Tongkat kepala burung hong segera pecah berhamburan

menjadi beratus percik sinar, menyongsong curahan sinar

pedang Gin Liong.

Tring, tring, tring . . . .

Terdengar dering gemerincing suara keras saling beradu

beberapa kali, disusul dengan percik bunga api dan

kutungan besi yang bertebaran kemana-mana.

Kejut nenek buta itu bukan alang kepalang sehingga

wajahnya seperti tak berdarah. Dengan memekik aneh ia

menyurut mundur sampai tiga tombak.

Gin Liong melayang turun ke tanah dan tegak berdiri

lintangkan pedang, Dia tak mau mengejar.

Nenek buta itupun berdiri tegak, sepasang kelopak

matanya yang putih membeliak: Tangannya menahan

tangkai tongkatnya. Kepala burung-burungan hong sebesar

kepalan tangan telah lenyap.

Nenek buta itu gemetar marah sekali. “Budak hina.

dengan mengandalkan pedang pusaka wanita hina itu

engkau berani memapas senjataku.”

Mendengar Ban Hong Liong marah sekali: “Tutup

mulutmu,!” bentaknya, “sekali lagi engkau berani menyebut

“wanita hina”, aku tak dapat mengampuni jiwamu lagi.”

Nenek buta itu menyeringai seram lalu melengking

geram.

“Budak hina yang sombong, aku akan mengadu jiwa

dengan engkau !”

Kata2 itu ditutup dengan putaran tongkat yang luar biasa

cepat dan dahsyatnya menyerang Gin Liong.

Gin Liong tak gentar, ia mainkan pedang Tanduk Naga

untuk menyongsong. Dan terjadilah pertempuran yang

amat seru antara Gin Liong dengan nenek buta itu.

Gerakan kedua orang itu bagai sepasang ular yang

bergeliatan menyusup kedalam air, senjata mereka

menderu-deru bagai petir memecah angkasa. Angin

sambaran senjata mereka berhamburan dalam lingkungan

seluas sepuluh tombak.

Sinar pedang Tanduk Naga memancarkan warna merah

yang menyilaukan mata dan hawa dingin yang menusuk

tulang.

Sedang tongkatpun menderu-deru sedahsyat gunung

rubuh.

Walaupun gerak permainan ilmu pedang Gin Liong itu

sangat aneh tetapi pemuda itu tak mau dituduh merebut

kemenangan karena mengandalkan pedang pusaka, ia

hendak mengalahkan lawan dengan ilmu permainan, bukan

dengan pedangnya. Tetapi karena itu, gerakannya

terpancang dan sering dikuasai lawan.

Nenek buta itu ternyata seorang tokoh yang sakti dan

banyak pengalaman. Tongkat kepala burung hong, jarang

mendapat tanding.Makin lama, malah makin perkasa. Dan

karena sudah bertekad hendak mengadu jiwa, maka

permainan tongkat nenek buta itu luar biasa dahsyatnya.

Saat itu malam makin larut. Angin makin dingin dan

kabutpun mulai bertebaran. Sayup2 ayam hutan berkokok

sahut menyahut.

Gin Liong mulai gelisah, Kalau ia terus menerus dilibat

dalam pertempuran oleh nenek buta itu, tentu ia tak dapat

cepat2 menyusul jejak BanHong Liong-li.

Diam2 ia memutuskan untuk menggunakan ilmu

pukulan Hoan-hun-ciang (Awan bayangan) Sebuah ilmu

pukulan istimewa ajaran suhunya yang dahulu pernah

mengangkat nama suhunya menjadi termasyhur.

Dengan menggembor keras, mulailah ia menggunakan

kedua tangannya, Tangan kanan memainkan pedang

pusaka Tanduk Naga, tangan kiri melancarkan ilmu

pukulan Hoan-hun-ciang.

Telah disebut diatas bahwa nenek buta itu memang kaya

akan pengalaman. Telinganya luar biasa tajamnya sehingga

melebihi pandang mata. Dia seorang tokoh yang ganas dan

tergolong aliran Hitam.

Saat itu segera ia merasakan tekanan lawan makin

berlipat ganda kerasnya, wajahnya berobah seketika.

Teringat ia akan Giok-bin-su-seng atau Pelajar-berwajahkumala

Kiong Cu-hun.

Pada saat ia hendak bertanya, tiba2 lawan menggembor

keras dan seketika ia rasakan lengan kanannya kesemutan

sakit sekali sehingga tongkat-pun tak dapat ia kuasai lagi,

Tongkat itu terbang melayang dan tangannya.

Sudah tentu nenek buta itu terkejut bukan kepalang,

Dengan melengking keras, ia kebutkan kedua lengan

bajunya seraya menyurut mundur sampai lima tombak.

Keringat dingin bercucuran membasahi sekujur tubuh.

Mengingat bahwa sekalipun buta tetapi nenek itu masih

dapat meyakinkan ilmu kepandaian yang begitu sakti,

diam2 Gin Liong merasa kagum dan sayang,Maka setelah

dapat menghantam lepas tongkat, iapun tak mau

menurunkan tangan jahat lagi.

Sambil lintangkan pedang ia berseru lantang:

“Mengingat usiamu sudah tua dan kedudukanmu sebagai

seorang cianpwe persilatan kuharap persoalan kita ini habis

sampai disini saja, Carilah tempat yang sunyi untuk

melewatkan sisa hidup yang tenang, Sampai jumpa…!”

Habis berkata ia terus melambung ke udara. Tetapi pada

saat ia bergeliatan hendak meluncur keluar hutan, tiba2

kakinya disambar angin tajam dari senjata rahasia.

Gin Liong terkejut cepat ia mementang kedua tangan,

menekuk kedua kaki dan dengan gerak Te-hun-tong atau

mendaki Tangga-awan, tubuhnya melambung dua tombak

lagi ke atas.

Begitu menunduk kebawah, ia terkejut lagi. Dari dua

ranting pohon yang tumbuh di ujung runtuhan tembok, di

lihatnya dua buah gerombolan senjata rahasia yang

mengkilap kebiru-biruan, meluncur ke arah nenek buta yang

masih tegak terlongong-longong.

Gin Liong seorang pemuda yang berhati perwira dan

benci pada kejahatan. Dia marah orang hendak menyerang

secara menggelap kepada nenek buta, sekalipun nenek buta

itu benci kepadanya.

Dengan menggembor keras, ia segera memutar pedang

dan meluncur kebawah.

Tetapi ternyata terlambat Ketika tiba di tanah, terdengar

nenek buta itu menjerit ngeri dan rubuh berguling-guling

ketanah. Sesaat kemudian, nenek buta itu tak berkutik lagi.

Rupanya dia telah mati.

Tepat Gin Liong lari menghampiri ketempat si nenek

buta, Begitu memandang keadaan nenek buta itu, seketika

menggigillah tubuh pemuda itu.

Mayat si nenek buta penuh dengan taburan hui-to, gintan

(peluru perak) yang tak terhitung jumlahnya. Hampir

mayat nenek itu bersimbah darah semua.

Gin Liong kerutkan alis, matanya memancarkan sinar

kilat dingin. Mulutnya menyeringai marah. Sambil

lintangkan pedang Tanduk Naga ia berseru lantang:

“Siapa yang menggunakan kesempatan selagi nenek itu

lengah perhatiannya, telah melepaskan senjata gelap ?

silahkan keluar ! Aku Siau Gin liong, akan meminta

pertanggungan jawab dari saudara2 itu !”

Gin Liong memutar tubuh pelahan-lahan seraya sapukan

pandang mata ke sekeliling penjuru.

Tetapi empat penjuru tempat itu sunyi senyap, tiada

penyahutan sama sekali.

Pengemis kurus tenang2 duduk di tanah sambil mencekal

buli2 arak dan tangannya yang satu mengutik-utik lumpur

dalam cela2 kakinya. sepasang matanya yang berbentuk

segitiga, memandang tak berkesiap ke arahGin Liong.

Paderi gemukpun tetap duduk di tempatnya semula.

Alisnya yang tebal mengerut, matanya yang bundar

menyalang lebar. wajahnya mengerut kemarahan,

memandang Gin Liong.

Saat itu hari sudah menjelang terang tanah. Kabut

malampun mulai menipis. Dari tempat2 yang gelap,

memancar berpuluh sorot mata kepada pemuda itu. Kini

tiada seorangpun yang menaruh perhatian ke rumah

pondok itu.

Melihat sikap pengemis dan paderi itu, marahlah Gin

Liong. Segera ia maju menghampiri ke tempat mereka.

Pengemis kurus itu berobah tegang wajahnya, Sepasang

matanya berkilat-kilat tajam. Sedang paderi gemuk,

matanya berkeliaran kian kemari. sikapnya amat tegang

sekali.

Gin Liong makin mencurigai kedua orang itu. Setelah

tiba setombak dari tempat mereka, ia segera balikkan

genggaman pedangnya, Memandang kepada kedua orang

itu, ia sedikit membungkukkan tubuh memberi hormat.

“Taysu tentu mengikuti apa yang terjadi di tengah

gelanggang, Kiranya tentu tahu siapakah yang telah

membunuh nenek itu secara pengecut tadi !”

Dengan wajah membesi, paderi itu gelengkan kepala,

menyahut dengan nada sarat:

“Pinceng tak memperhatikannya.” Gin Liong menahan

kemarahannya, ia tertawa dingin lalu berpaling kearah

pengemis kurus, memberi hormat dan bertanya:

“Lo tui!”ko, mohon tanya, Karena terus

“Lo-tian-be sejak tadi duduk disini. Tentulah tahu siapa

penyerang pengecut itu ?”

Sepasang mata segitiga dari pengemis kurus memandang

lekat2 pada Gin Liong, ia tak menyahut melainkan

gelengkan kepala laki pejamkan mata.

Sikap pengemis itu benar2 hampir membuat dada Gin

Liong meledak karena marah, ia hendak menghardik lagi

tetapi sekonyong-konyong ia mendengar sebuah suara

orang mendengus geramdari bawah pohon sebelah kiri.

Tergerak hati Gin Liong seketika, Dengan gunakan gerak

Liong-li-biau, tiba2 ia meluncur kearah tempat itu.

Lima tombak jauhnya ditengah gerumbul pohon2

pendek, tampak membujur sesosok bayangan yang panjang.

Setelah menghampiri dekat, Gin Liong berhenti dan

memandang dengan seksama, Ah, seorang tojin atau imam

yang berjubah kelabu, Hidungnya mancung, dahi lebar dan

memelihara jenggot yang bagus, Dengan sepasang matanya

yang bersinar terang, imam itu memberi kesan yang

menyenangkan Mengundang rasa hormat orang.

Gin Liong segera menyimpan pedangnya lalu memberi

hormat:

“Wanpwe Siau Gin Liong, mohon hendak bertanya

kepada totiang. Apakah lotiang mengetahui orang yang

telah melepaskan senjata gelap kepada nenek itu ?”

Habis berkata kembali Gin Liong membungkuk tubuh

memberi hormat, Tetapi ketika ia mengangkat muka dan

memandang ke depan, kejutnya bukan kepalang.

Imam jenggot indah itu sudah lenyap dari pandang mata.

Sebelum tahu apa yang telah terjadi, tiba2 dari arah

belakang terdengar dua buah jeritan ngeri.

Gin Liong cepat berputar tubuh. Cepat pandang matanya

menuju kearah kearah pengemis kurus dan paderi gemuk

tadi. ia segera menghampiri ke tempat mereka.

Ketika mendekati, kejut Gin Liong seperti disambar

petir.

Pengemis kurus itu masih tetap duduk diam tetapi batang

lehernya telah terbenam kedalam dada. Demikian pula

dengan paderi gemuk, seolah-olah kepalanya melekat tanpa

leher diatas bahunya.

Keduanya masih menggenggam beberapa batang huito

dan beberapa butir gin-tan.

Gin Liong tegang sekali hatinya, jelas kedua orang itu

telah dibunuh dengan tenaga-dalam yang sakti sekali. Cepat

ia keliarkan matanya. Ternyata sinar penerangan dalam

rumah pondok itu sudah padam.

Tergetar hati Gin Liong. Cepat ia loncat ke-muka jendela

dan melongok ke dalam, Ah, ternyata ruang pondok itu

gelap gulita dan diatas tempat tidurpun tiada orang tua itu

lagi. juga diatas meja, kaca cermin itupun sudah lenyap.

Serta merta ia berpaling kebelakang, Ternyata sekeliling

rumah pondok itu sudah tak tampak barang sesosok

bayangan manusiapun jua.

Hati Gin Liong setegang orang berpacu, Dia benar2

kesima mengalami peristiwa seaneh ini.

Tiba2 terdengar siulan nyaring dan panjang,

Kumandangnya bergema sampai ke awan, Makin lama

makin dekat

Tetapi begitu menyusup ke telinga Gin Liong, pemuda

itu girang sekali. Cepat ia melambung ke udara dan

melontarkan pandang mata ke sekeliling penjuru.

Pada padang salju yang jauhnya beberapa li, segunduk

bayangan merah bergulung-gulung laksana segumpal awan

merah, melintasi jalan di puncak gunung dan dengan pesat

menuju ke tempat Gin Liong.

Menyaksikan benda itu, girang Gin Liong bukan

kepalang, ia tak menyangka sama sekali bahwa Ban Hong

Liong-li akan kembali.Maka sambil bergeliatan di udara, ia

segera berseru sekeras-kerasnya :

“Lo – cianpwe, Liong.-ji berada disini . . . .”

-ooo0dw0ooo-

Bab 3

Sepasang Iblis

Mendengar teriakan Gin Liong, suitan nyaring itupun

berhenti, Bayangan merah itu memancar sinar mata yang

tajam ke arah Gin Liong. Dengan kecepatan laksana anak

panah terlepas dari busur, bayangan merah itu terbang

meluncur ke arah Gin Liong.

Melihat bayangan merah yang disangka Ban Hong

Liong-li itu lari menuju ke tempatnya, girang sekali hati Gin

Liong. Diapun pesatkan larinya menyongsong. seraya

acungkan tangan berseru keras2:

“Lo-cianpwe … lo-cianpwe . .. .!”

Saat itu dia sudah masuk ke dalam sebuah lembah yang

berkabut salju, Dalam kabut yang memenuhi seluruh

lembah itu, samar2 ia melihat beberapa sosok bayangan

imam sedang lari keluar lembah.

Menduga bahwa orang2 itu tentu habis dari rumah

pondok tadi, Gin Liong tak mengacuhkan mereka dan terus

lanjutkan larinya.

Setelah melintasi lembah salju, kini ia berhadapan

dengan sebuah karang es yang tingginya sampai belasan

tombak. Karang es itu merentang panjang entah sampai

berapa li.

Setiba di muka karang es, Gin Liongpun segera enjot

tubuh melambung ke udara, Berhenti sebentar untuk

menjejakkan kakinya kebawah dan dengan meminjam

tenaga jejakan itu tubuhnya melambung naik lagi. Dengan

dua tiga kali gerakan itu, dapatlah ia mencapai puncak

karang es.

Ternyata permukaan karang es itu merupakan sebuah

dataran es yang amat luas sekali.

Dalam pada itu bayangan merah tadipun makin dekat

kan dengan jelas ia dapat mendengarkan kibaran

pakaiannya didebar angin.

Tiba2 Gin Liong kendorkan laju larinya, ada sesuatu

yang mencurigakan hatinya. Mau lari ke muka, kecurigaan

Gin Liong itu berobah menjadi rasa kecewa, Serentak ia

hentikan larinya.

Jelas sudah baginya bahwa bayangan merah yang lari

menghampiri itu, walaupun seorang wanita yang

mengenakan pakaian orang persilatan dan menyandang

mantel warna merah, tetapi dia bukan BanHong Liong-li.

Pada punggung wanita baju merah itu menonjol tangkai

pedang berpita merah, sepasang sepatunyapun merah

darah, Rambutnya yang indah dan panjang diikat dengan

tali merah. Dalam hembusan angin, tampak rambut itu

berkibar-kibar memikat mata.

Pada saat Gin Liong berhenti dan tegak terlongonglongong,

segulung sinar merah diantara deru angin keras,

segera menjelang tiba ke hadapannya.

Gumpalan sinar merah itu berputar-putar sekali

melingkari Gin Liong. Setelah itu baru tegak berdiri

hadapan anak muda itu.

Melihat pendatang itu, hati Gin Liong mendebur keras,

Orang yang berada dihadapannya itu menggunakan

pakaian serba merah yang menyilaukan pandang mata, Gin

Liong sampai tak berani memandang lekat2.

Kiranya dia seorang nona muda, berumur dua puluhan

tahun. wajahnya cantik jelita, sepasang alis yang

melengkung bagai bulan tanggal muda, menaungi dua buah

gundu mata yang bundar dan tajam. Raut wajahnya yang

menyerupai buah semangka dibelah dua, dihias sebuah

mulut yang kecil mungil,

Sambil bercekak pinggang, jelita itu menatap lekat2 pada

Gin Liong, Bibirnya yang semerah delima, mengulum

senyum yang memikat jiwa.

Gin Liong merah wajahnya, Darahnya memandang

keras, pendatang yang memiliki ilmu ginkang hebat itu

ternyata seorang nona yang cantik jelita.

Rupanya karena melihat Gin Liong terlongong kesima,

nona cantik itu tertawa mengikik, Sambil goyangkan

pinggang, ia berseru: “Adik, apakah tadi engkau yang

memanggil aku ?”

Mendengar nona itu menegur dengan kata2 yang ramah,

merahlah wajah Gin Liong. Segera ia tersipu-sipu memberi

hormat:

“Karena menempuh perjalanan siang malam, pandang

mataku sudah kabur. Dan karena kabut yang tebal, aku

telah keliru memanggil nona, Harap nona suka maafkan

kekhilafanku.”

Kembali nona cantik itu tertawa mengikik, sambil

mengambil sikap seperti pohon liu tertiup angin, dengan

ramah sekali ia tertawa, serunya:

“Ah, tak apa, tak apa. Harap adik jangan pikirkan soal

sekecil itu. Tapi tak marah kepadamu.”

Habis berkata dengan mengulum senyum manis, ia

menatap Gin Liong sambil ayunkan langkah maju

menghampiri.

Wajahnya yang cantik memikat potongan tubuhnya yang

langsing ramping, langkahnya yang jinak2 merpati, benar2

mempesonakan setiap pria yang memandangnya.

Melihat nona cantik itu sangat genit tingkahnya, Gin

Liong merasa muak. Tak seharusnya dia berdekatan dengan

nona semacam itu, ia harus lekas2 menyingkir.

Dengan wajah gelap, Gin Liong berseru:

“Karena masih ada lain urusan yang harus kukerjakan,

terpaksa aku tak dapat lama2 disini…”

Pada saat Gin Liong bicara, nona genit itupun hentikan

langkah dan tertawa:

“Apakah adik hendak mengejar seorang locianpwe yang

berpakaian merah itu ?”

Tergetar hati Gin Liong sehingga wajahnyapun berobah.

Buru2 ia bertanya:

“Apakah ketika melintasi gunung, nona melihat seorang

pendekar wanita berumur lebih kurang dua-puluh tujuh

tahun, berpakaian serba merah ?”

Nona cantik itu kenakan alis dan melengking:

“Seorang locianpwe yang masih begitu muda belia itu ?

Uh, mengelabuhi setan !”

Mendengar nada nona itu mengandung hinaan terhadap

Ban Hong Liong-li, seketika marahlah Gin Liong.

“Kalau nona tak berjumpa, akupun hendak berangkat

sekarang.”

Ia ayunkan langkah melewati samping si nona lalu lari

pesat. Tetapi nona cantik itu cepat melesat dan

menghadang di muka Gin Liong.

“Engkau mau apa?” teriak Gin Liong dengan marah.

Nona genit itu melonjak kaget karena suara bentakan

Gin Liong yang menggeledek itu sehingga ia menyurut

mundur selangkah.

“Ih, galak sekali, Benar2 hampir aku mati kaget !”

serunya, seraya mengusap-usap buah dadanya seperti orang

yang hendak menenangkan dadanya yang berombak keras.

Tanpa melihatnya lagi, Gin Liong terus lanjutkan

larinya, Tetapi nona genit itu tersenyum, Sekali tubuhnya

berayun, tahu2 ia sudah menghadang di depan Gin Liong

lagi.

Kali ini Gin Liong terkejut sekali. Namun ia lebih

dirangsang kemarahan daripada rasa heran atas kepandaian

si nona. Setelah berputar melingkar, iapun lanjutkan larinya

lagi.

Tetapi nona genit itu hanya mendengus ia ayunkan

tubuh menghadang di muka Gin Liong lagi seraya berseru

angkuh:

“Adik, apabila hari ini kubiarkan engkau lari, Mo lan

Hwa selama-lamanya takkan memakai gelar Swat-te-biauhong

!”

Swat-te-biau-hong artinya Tanah-salju merekah-merah.

Gin Liong tak dapat menahan kemarahannya lagi,

Dengan bengis ia membentak lagi:

“Menyisihlah, siapa yang engkau panggil sebagai adikmu

itu !”

ia menutup katanya seraya menampar bahu nona genit

itu dan terus menyelinap hendak loncat.

Salju-merekah-merah Mo kan Hwa tidak marah malah

tertawa mengikik. Tubuhnya berputar-putar menghindari

tamparan Gin Liong dan dengan sebuah gerakan yang

indah serta cepat, ia sudah merintangi gerak loncatan si

anak muda lagi.

Gin Liong hentikan gerakannya. wajahnya membesi dan

menggeram:

“Kalau nona hendak menghambat perjalananku lagi,

jangan salahkan kalau aku bertindak kurang ajar !”

Sambil kicup-kicupkan sepasang matanya yang bundar,

Mo LanHwa berseru:

“lh, mengapa engkau begitu tak tahu adat ? Siapa yang

memanggil suruh aku datang tadi ?”

Merahlah wajah Gin Liong, serentak ia berseru dengan

suara bengis:

“Telah kukatakan bahwa aku khilaf maka akupun sudah

menghaturkan maaf kepada nona…”

“Huh,” cepat Mo Lan Hwa menukas, “apa guna

menghaturkan maaf?”

Gin Liong hendak meledak kemarahannya “Kalau maaf

tak berguna, lalu apa kemauanmu ?” serunya dengan geram.

Salju-merekah-merah Mo Lan Hwa mendengus marah

dan melengking:

“Hm, tidak semudah itu membiarkan engkau ngacir pergi

!”

“Coba saja kalau mampu merintangi aku !” teriak Gin

Liong makin marah. Bahkan karena sudah tak kuat

menahan kemarahannya, Gin Liong terus menampar muka

nona genit itu.

“Hm, lihat saja apakah engkau mampu melarikan diri.”

seru Mo Lan Hwa seraya menangkis dengan jurus Giok-hihui-

soh atau Bidadari-melempar-tali.

Terdengar sebuah orang pelahan dan tubuh nona genit

itu terhuyung-huyung mundur sampai tiga langkah.

Gin Liong menggunakan tiga bagian dari tenaganya

untuk menampar tetapi hanya dapat membuat Mo Lan

Hwa menyurut tiga langkah saja. Segera ia tahu bahwa ilmu

tenaga dalam dan ilmu ginkang nona itu memang hebat.

Ia kerutkan dahi memandang nona genit itu dengan

tajam dan berseru:

“Jika engkau masih tetap mengganggu, jangan salahkan

aku tak kenal kasihan !”

Habis berkata ia terus berputar tubuh dan angkat kaki.

“Berhenti !” Mo Lan Hwa melengking gugup, “sebelum

kita ada yang mati salah satu, tak seorangpun boleh

tinggalkan tempat ini.”

Ia menutup kata-katanya dengan sebuah terjangan,

sepasang tangannya berhamburan menghajar seperti orang

kalap.

Gin Liong sudah hilang kesabarannya, serentak ia

berputar tubuh dan membentak keras: “Baik, kalau engkau

minta mati, akan kuantarkan engkau ke akhirat!”

Pemuda itu segera ayunkan tangan kanan menghantam.

Seketika menderulah angin pukulan yang dahsyat Salju di

tanah berhamburan ke udara sehingga mirip dengan

suasana badai dimusim salju.

Nona genit itu terkejut. Seketika pucatlah wajahnya,

serentak berhenti, dia terus songsongkan kedua tangannya

untuk menangkis.

Terdengar sebuah lengking jeritan yang ngeri dan

nyaring diiring dengan tubuh Mo Lan Hwa yang terlempar

sampai tiga tombak ke udara lalu melayang jatuh sampai

lima tombak jauhnya.

Gin Liong tertegun. Walaupun marah, tetapi ia hanya

menggunakan lima bagian dan tenaga dalamnya, Tetapi

akibatnya benar2 diluar dugaan.

Tetapi ia seorang pemuda yang baik hati, sebenarnya ia

tak kenal dan mempunyai dendam permusuhan terhadap

nona itu,Mengapa ia harus mencelakainya ?

Cepat ia enjot tubuh nona itu. Dilihatnya, sepasang mata

Mo Lan Hwa meram, wajahnya merah padam, dada

berombak keras dan napasnya terengah-engah.

Melihat keadaan nona itu tak sadarkan diri, Gin Liong

bingung juga, Tetapi menilik wajahnya yang merah itu,

jelas kalau Mo Lan Hwa tak menderita suatu luka dalam

yang berbahaya.

“Ah, kalau kugunakan tujuh atau delapan bagian tenaga

dalam pukulanku tadi, dia tentu akan muntah darah,”

diam2 Gin Liong merasa bersyukur karena tak melakukan

tindakan begitu.

Segera ia meletakkan tubuh nona itu ke tanah lalu mulai

menguruti jalan darah ditubuhnya, Tetapi diluar dugaan,

makin diurut, napas nona itu makin lemah Sudah tentu Gin

Liong terkejut sekali sehingga keringat dingin bercucuran

membasahi tubuhnya

In hentikan pengurutannya dan mulai merenung ilmu

urut yang telah dipelajarinya, ia merasa bahwa cara

pengurutan itu memang sudah benar.

Lalu ia mulai mengurut lagi dengan hati2 dan pelahanlahan,

tak berapa lama, Mo Lan Hwa tampak membuka

mata, Gin Liong girang dan hentikan urutannya. Sambil

mengulap keringat ia bertanya:

“Nona bagaimana keadaanmu ?”

Tetapi nona itu pejamkan mata lagi, Gin Liong terkejut,

ia merasa terlalu cepat menghentikan pengurutannya maka

buru2 ia lekatkan tangan kanannya ke jalan darah Gi-hay

diperut si nona, ia menunggu dengan penuh perhatian

perobahan air muka nona itu.

Tetapi Gin Liong makin gelisah, wajah nona itu makin

merah seperti bara dan napasnya makin terengah-engah.

Bibirnyapun mulai agak terbuka. Karena gugup, Gin Liong

menambahkan tenaga- murninya seraya bertanya:

“Nona, bagaimana engkau rasakan ?”

Dengan masih pejamkan mata, nona itu menyahut

lemah: ”Dingin… mati kedinginn…”

Gin Liong keliarkan mata memandang kesekeliling, ia

mengharap dapat melihat sebuah guha atau cekung karang

es yang dapat dibuat membaringkan nona itu.

Karena perhatiannya tertumpah pada empat penjuru, ia

tak tahu bahwa saat itu diam2 Mo Lan Hwa sudah

membuka mata dan tersenyum. Ia memandang dagu

pemuda cakap yang memikat hatinya itu.

Gin Liong yang polos hati, segera melihat bahwa hutan

dimana terdapat rumah pondok tadi, berada diatas puncak

sebelah muka dari lembah salju, Saat itu matahari sudah

terbit dan kabutpun menipis, Rumah pondok di puncak

salju itupun segera tampak jelas.

“Orang tua kurus itu sudah tak berada dalam pondok,

lebih baik kuangkut nona ini ke pondok itu,” pikirnya.

Kemudian ia mengangkat tubuh Mo Lan Kwa lalu

dibawanya lari menuju ke pondok, pikirannya hanya tertuju

untuk menolong jiwa si nona yang terkena pukulannya,

setitikpun ia tak mengandung pikiran yang tak senonoh.

Rupanya Mo Lan Hwa yang sesungguhnya sudah

siuman, berseru:

“Engkau . . . hendak membawa aku kemana?”

Gin Liong tersentak kaget, Saat itu juga baru ia

menyadari bahwa nona itu mengelabuhinya, jelas nona itu

tak menderita luka apa2 dan tak pingsan. Kesemuanya tadi

hanya pura2 saja.

Seketika meluaplah kemarahan Gin Liong.

“Pergi !” ia lemparkan tubuh Mo Lan Hwa ke tanah.

Tindakan Gin Liong itu diluar dugaan Mo Lan Hwa, ia

menjerit kaget ketika tubuhnya terbanting ke tanah.

Gin Liong marah sekali, Tanpa melihat keadaan nona

itu ia terus berputar tubuh dan lari kearah tenggara.

Setelah tenang, Mo Lan Hwa segera melenting bangun,

Melihat anak muda itu lari, ia bingung, Cepat iapun

gunakan ilmu berlari cepat untuk mengejar seraya berteriak

sekuat-kuatnya:

“Hai, manusia kayu ! Engkau benar2 sebuah patung !”

Gin Liong mendongkol sekali, ia tak sudi melihat nona

genit itu lagi, Tetapi ternyata Mo Lan Hwa itu memang

sakti dalam ilmu ginkang sehingga dia mendapat gelaran

sebagai Tanah-salju-merekah-merah, Karena cepatnya ia

berlari, tubuhnya berobah seperti segumpal asap merah

yang menebar diatas salju.

Tampak dua sosok bayangan, yang satu kuning dan yang

lain merah, sedang berkejaran diatas puncak gunung yang

tertutup salju putih.

Gin Liong lari mati-matian, Mo Lan Hwa mengejar

sepenuh tenaga. Rupanya nona genit itu tak mau

melepaskan anak muda yang cakap itu.

Tiba2 dari arah puncak sebelah muka, terdengar dua

buah suitan yang nyaring, Menyusul dua buah bayangan

hitam, bagaikan bintang jatuh dari udara, dari atas puncak

meluncur kebawah.

Mo Lan Hwa terkejut dan cepat2 berteriak memanggil

Gin Liong : “Manusia kayu, berhentilah ! Manusia kayu

berhentilah!”

Sambil berteriak, nona genit itu gunakan jurus Jay-honghi-

ci atau Cenderawasih-hinggap-dipohon, melayang ke

udara. ia berjumpalitan, dengan kaki diatas dan kepala di

bawah, menukik menyambar Gin Liong.

Rupanya karena sedang berlari cepat, pemuda itu tak

memperhatikan kesiur angin dari gerakan Mo Lan Hwa.

Dia tetap lari sekencang-kencangnya.

Kedua sosok bayangan hitam yang meluncur dari

puncak tadi segera tegak di tengah jalan untuk menghadang

Gin Liong.

Pada saat itu Mo Lan Hwa sudah berhasil mencapai

jarak tiga tombak di belakang Gin Liong,

“Manusia kayu, mengapa tak mau berhenti. Yang

menghadangmu disebelah muka itu adalah Sepasang iblis

dari luar perbatasan !” teriak nona itu dengan nada cemas.

Gin Liong mendengus dalam hati, Peduli apa dengan

sepasang iblis itu. Bukankah ia tak kenal mereka ?

Dalam pada berpikir itu, Gin Liongpun berpaling

kebelakang, Astaga . . . . ternyata Mo Lan Hwa sudah

ulurkan tangan hendak mencengkeram bahunya.

Kejut Gin Liong bukan alang kepalang sehingga ia

sampai kucurkan keringat dingin. Dengan gerak Liong-libiau,

cepat ia menghindar kesamping sampai tiga tombak

jauhnya lalu lanjutkan lari lagi.

Mo Lan Hwa terperanjat sekali, Tangannya yang sudah

hampir berhasil mencengkeram bahu anak muda itu tiba

hanya menemui angin kosong.

Cepat ia hentikan gerakan tubuh dan berpaling.

Ah, ternyata Gin Liong sudah berbalik lari ke arah barat

Serempak pada saat itu. dari sebelah muka terdengar

suara orang tertawa gelak2. Nyaring dan menusuk telinga.

Mo Lan Hwa berpaling dan terkejut! Ternyata kedua

iblis dari luar perbatasan itu pun telah berputar diri dan

meluncur untuk menghadang Gin Liong lagi.

Cepat Mo Lan Hwa melayang ke udara seraya berseru

gopoh: “Manusia kayu, lekas berhenti! Mereka itu sepasang

iblis dari luar perbatasan…”

Sambil berseru, nona itu tetap mengejar Gin Liong, Gin

Liong benar2 mendongkol sekali dan ingin lepaskan diri

dari libatan nona genit itu muka ia teruskan larinya dan tak

menghiraukan kedua orang yang di sebut sepasang iblis dari

luar perbatasan itu.

Tetapi ia ingin juga mengetahui dimana nona genit itu.

Begitu berpaling, ia terkejut lagi Ternyata nona itu tengah

melayang diudara dan meluncur kearahnya.

Diam2 Gin Liong mengeluh, Ternyata nona genit itu

memang sakti sekali ilmu ginkang nya, Rasanya tak mudah

untuk lepaskan diri dari kejarannya.

Sesaat tiba di tanah, Mo Lan Hwa cepat berseru gopoh:

“Awas, disebelah muka…”

Gin Liong terkejut dan memandang kemuka lagi, “Ah.

ternyata kedua orang itu sudah tiba dihadapannya,

“Sumoay, biarlah suheng mewakili engkau meremukkan

budak ini….” teriak salah seorang dan kedua iblis itu seraya

menyerang Gin Liong.

Saat itu Gin Liong baru berpaling kemuka, Sebelum tahu

bagaimana wajah orang itu, tiba2 dia sudah diserang,

Dengan menggeram marah, cepat ia loncat menghindar

sampai dua tombak jauhnya.

Dalam pada itu, Mo Lan Hwapun berteriak dan

menghantam kearah serangan orang itu.

“Bum . . .”

Gumpalan salju muncrat berhamburan ke empat

penjuru,Mo Lan Hwa dan orang yang melepaskan pukulan

itu, masing2 terhuyung mundur sampai tiga langkah.

Saat itu Gin Liong dapat melihat jelas bahwa kedua

sosok bayangan hitam itu adalah dua orang lelaki

pertengahan umur yang mengenakan pakaian ringkas orang

persilatan warna hitam. Keduanya masing2 menyanggul

pedang pada punggungnya.

Lelaki yang berdiri di sebelah kiri berwajah persegi alis

lebar mata sipit dan memelihara kumis tipis. Dia

memandang dengan mata berkilat-kilat ke wajah Mo Lan

Hwa.

Dia adalah Say-pak-jin-mo atau Manusia iblis dari

Saypak (Perbatasan Utara). Dia pula yang hendak

menyerang secara menggelap kepada Gin Liong.

Lelaki yang disebelah kanan, berwajah segi-tiga, kumis

jarang, mata bundar kecil seperti mata tikus dan alisnya

berbentuk menurun, pipinya yang kempot menyungging

senyum menyeringai.

Dia dikenal oleh kaum wanita sebagai Say-pak-ceng-mo

atau iblis Cabul dari Saypak.

Kedua iblis itu tertawa mengekeh.

“Beberapa tahun tak bertemu, ternyata sumoay sekarang

semakin cantik. Terutama dalam ilmu ginkang. sumoay

makin mencapai kemajuan yang mengejutkan. Semalam

aku bersama lo-toa berpencaran mengejar, tetapi masih tak

mampu mengejar sumoay,” seru Ceng Mo dengan tertawa

sinis.

Jin Mo juga tertawa dingin, Sebelum Ceng Mo selesai

berkata, ia sudah menggeram: “Tak kira kalau sumoay ke

daerah salju untuk mencari budak muka putih itu.”

Habis berkata kedua iblis itu serempak berpaling

memandang Gin Liong, pemuda itu masih tegak berdiri

melihat gerak gerik ketiga orang itu.

Mo LanHwa merah wajahnya.

“Tutup mulutmu !” teriaknya geram, “aku melakukan

perintah toa-suheng untuk menyelidiki asal usul orang tua

yang membawa kaca cermin itu, jangan kalian bicara tak

keruan begitu !”

Berhenti sejenak melontarkan pandang kemarahan

kepada kedua iblis,Mo LanHwa melanjutkan pula:

“Sudah lama kalian putus hubungan dengan

perguruanku. Kalian melanggar pesan suhu, melakukan

perbuatan yang tercela di luaran. Sejak suhu menutup mata,

kalian makin menggila. Jika Ji-suheng tak mengingat

pernah sama2 menjadi saudara seperguruan, masakah

kalian saat ini masih bernyawa ? Berulang kali kalian

menghadang aku dan mengucapkan kata2 yang tak

senonoh, apakah maksud kalian ? Katakanlah sekarang ini.

Kalau tetap bertingkah seperti itu, jangan kalian sesalkan

aku tak mau mengingat pernah sama2 dalam satu

perguruan.”

Rupanya Mo Lan Hwa marah sekali kepada kedua iblis

yang ternyata pernah menjadi suhengnya.

Wajah kedua iblis itu tampak memberingas tak sedap

dipandang, tiba2 keduanya tertawa gelak2 untuk

menghamburkan kemarahan mereka.

Setelah mendengar percakapan itu, barulah Gin Liong

tahu akan hubungan Mo Lan Hwa dengan kedua iblis itu,

Serentak ia merasa bahwa Mo Lan Hwa itu bukan seorang

nona yang cabul melainkan seorang gadis yang lincah dan

binal.

Seketika berkurang kesan buruknya terhadap nona itu.

Semula ia hendak tinggalkan mereka selagi Mo Lan Hwa

tengah bertengkar dengan kedua bekas suhengnya, Tetapi

setelah tahu persoalannya, dia batalkan rencananya. Dia

harus ikut membantu Mo Lan Hwa apabila nona itu

mendapat kesulitan dari kedua iblis.

Setelah puas, kedua iblis itu hentikan tawanya. Wajah

mereka tampak membesi.Matanya berkilat-kilat buas.

Jin Mo deliki mata dan berteriak marah: “Budak

perempuan yang tak punya mata ! Besar sekali nyalimu

berani memberi nasehat kepada kami berdua saudara, Lebih

baik engkau ikut kepada kami, Jangan kuatir kami tentu

takkan mengecewakan keinginanmu, Kalau tidak, heh,

heh….”

Karena marah, tubuh Mo Lan Hwa sampai menggigil

keras. Cepat ia menukas:

“Kalau tidak, mau apa engkau ?”

Ia menutup kata-katanya dengan kebutkan lengan kanan

dan tiba2 tangannya sudah bertambah dengan sebatang

pedang yang berkilat-kilat memancarkan hawa dingin.

Melihat itu Ceng Mo tertawa hina,Matanya yang seperti

mata tikus itu, segera memandang ke-arah Gin Liong yang

berdiri pada jarak dua tombak jauhnya.

“Tidak mudah engkau hendak melarikan diri bersama

budak laki itu !” serunya.

Gin Liong tertegun. Mengapa dirinya dibawa-bawa

dalam persoalanMo Lan Hwa. Dia tak kenalMo Lan Hwa,

tak tahu kedua iblis itu.

Karena marahnya, ia hamburkan tertawa dingin. Mo

Lan Hwapun merah mukanya, ia mencuri kesempatan

untuk melontar senyum kepada pemuda itu lalu

melambainya:

“Adik, kemarilah ! Masakan kita berdua tak mampu

menghajar kedua manusia jahat ini!”

Mendengar itu makin marahlah kedua iblis. Mereka iri

dan cemburu kepada Gin Liong karena Mo Lan Hwa yang

cantik itu lebih suka kepada Gin Liong daripada kepada

mereka.

Mereka tergila-gila dengan kecantikan Mo Lan Hwa.

Dan rasa iri itu segera meningkat dan meledakkan

kemarahan mereka.

“Dadaku mau meletus nih !” seru mereka seraya

berhamburan menerjangMo Lan Hwa.

Jin Mo menggunakan jurus Ji-hung-hi-cu atau Sepasangnaga

bermain-mustika, menutuk kedua mata si nona. Ceng

Mo gunakan jurus Koay bong-bi tong atau Ular nagamencari-

sarang. Dia tusukkan jarinya ke bawah buah dada

si nona, serangan itu dilakukan dengan kecepatan yang luar

biasa.

Ma Lan Hwa tertawa dingin. Setelah menghindar ke

samping dari tutukan jari Ceng Mo, segera ia taburkan

pedangnya untuk membabat tangan Jin Mo yang hendak

menutuk matanya.

Menghindar seraya menyerang itu, dilakukan Mo Lan

Hwa dalam saat dan gerak yang hampir serempak sehingga

kedua iblis itu menjerit kaget dan hentikan serangannya.

Bahkan Gin Liong sendiripun terkejut dan kagum

melihat gerakan si nona yang sedemikian lihaynya, Tanpa

disadari, ia berseru memuji : “Bagus….”

Mendengar pujian anak muda itu, girang Mo Lan Hwa

bukan kepalang, ia mencuri kesempatan untuk memandang

Gin Liong dengan senyum mesra.

Kebalikannya kedua iblis itu makin marah, Wajah

mereka berobah membesi bengis lalu menghampiri Gin

Liong, Dengan mengertek geraham sehingga terdengar

suara giginya saling bergosok keras, kedua iblis itu

membentak:

“Budak hina. rasanya engkau memang sudah bosan

hidup. Maka lebih dulu hendak kucabut nyawamu baru

nanti membereskan budak perempuan yang tak tahu malu

itu !”

Kemudian sambil menyalurkan tenaga-dalam pada

lengannya, mereka mulai maju menghampiri Gin Liong.

Melihat itu Mo Lan Hwa cepat berseru: “Adik, hatihatilah

! Lekas cabut pedangmu, Mereka sakti sekali,

engkau bukan lawannya!

Tanpa sebab dirinya telah dipukul oleh Jin Mo tadi,

sebenarnya Gin Liong sudah marah. Kini melihat kedua

iblis itu hendak menyerangnya lagi, dia segera tertawa

menghina.

Sengaja ia hamburkan sebuah tertawa yang nyaring dan

panjang sehingga kumandangnya bergema jauh sampai ke

awan.

Mo Lan Hwa terkejut Saat itu ia rasakan darahnya

mendebur keras demi tergetar oleh nada tertawa pemuda

itu. setitikpun ia tak mengira bahwa pemuda yang berwajah

cakap itu ternyata memiliki tenaga dalam yang sedemikian

dahsyat

Kedua iblis itu adalah tokoh2 yang berpengalaman

dalam dunia persilatan Mendengar hamburan tawa Gin

Liong, seketika berobahlah wajah mereka mereka.

Dengan kerahkan seluruh tenaga mereka serempak

menghantam. Angin pukulan mereka menimbulkan desus

prahara dan deru yang dahsyat, berhamburan melanda Gin

Liong.

Melihat serangan kedua bekas suhengnya itu, Mo Lan

Hwa terkejut dan tanpa disadari ia menjerit kaget.

Gin Liong memang baru pertama kali itu keluar dari

gunung, Walaupun ia sudah mendapat pengalaman dari

latihan berkelahi, tetapi ia tak tahu akan keadaan dunia

persilatan yang penuh bahaya.

Cepat ia hentikan tawanya lalu gerakkan kedua

tangannya menyongsong serangan lawan.

Tetapi sebelum tenaga pukulannya berkembang, pukulan

dahsyat dari kedua iblis itu sudah melandanya. Bum . . . .

angin menderu dahsyat, salju bertebaran keempat penjuru.

Gin Liong terhuyung-huyung sampai tiga langkah ke

belakang. Tiba2 Ceng Mo loncat menerjang hamburan salju

dan dengan menggembor sekuatnya, ia menghantam lagi

Gin Liong yang belum berdiri tegak.

Bum ., . .

Terdengar letupan keras dan kedua orang itupun tercerai,

terhuyung-huyung. Melihat itu Jin Mo-pun tak mau

memberi kesempatan ia enjot tubuhnya kemuka dan

lontarkan sebuah hantaman kepada Gin Liong.

Dengan menggeram marah, Gin Liong cepat loncat

mundur sampai tiga tombak jauhnya.

Mo Lan Hwa melengking kaget. Cepat ia memutar

pedang untuk menusuk tengkuk Jin Mo.

Pada saat Jin Mo terkejut karena sosok bayangan kuning

(Gin Liong) yang berada di hadapannya itu menghilang,

tiba2 dari belakang ia merasa disambar oleh setiap angin

yang dingin. Cepat ia memekik dan tundukkan kepala lalu

berjongkok ke tanah.

Sret . . . . mantel hitam dari Jin Mo telah tertusuk robek

oleh ujung pedangMo Lan Hwa.

Jin Mo terkejut. Dengan gunakan jurus Keledai-malasbergelundungan,

dia terus berguling-guling ke tanah sampai

dua tombak jauhnya. Kemudian cepat ia melenting bangun

lagi, wajahnya pucat lesi, keringat dingin bercucuran.

Ceng Mo yang beradu pukulan dengan Gin Liong dan

terhuyung-huyung pun segera berdiri tegak. Kedua iblis

saling bertukar pandang lalu serempak mencabut pedang

dan terus menyerang Mo Lan Hwa.

“Bunuh dulu budak perempuan ini, baru budak laki itu !”

seru mereka.

Jin Mo gunakan jurus Pok-hun-kiau-jit atau Menyibakawan-

melihat-matahari. pedangnya berhamburan mencurah

ke arah leher si nona.

Sedang Ceng Mo memainkan jurus Hok ie-jong-liong

atau Naga – hitam-mendekam – ditanah, Ujung pedangnya

melilit-lilit, menusuk kakiMo LanHwa.

Mo Lan Hwa melengking seraya ayunkan pedangnya ke

kanan kiri, membentuk sebuah lingkaran sinar untuk

menyambut serangan kedua lawan.

“Berhenti !” tiba2 dari arah tiga tombak jauhnya

terdengar suara bentakan menggeledek.

Jin Mo terperanjat dan buru2 hentikan serangannya

seraya menyurut mundur beberapa langkah.

Kedua iblis itu serempak berputar tubuh ke belakang lalu

memandang ke muka. Mereka terkesiap ketika melihat

wajah Gin Liong memancar hawa pembunuhan dan tengah

melangkah menghampiri. Tangan pemuda itu mencekal

sebatang pedang bersinar merah berkilau, Mirip dengan

senjata pusaka dari Ban Hong Liong-li dahulu.

Ternyata yang berseru menyuruh kedua iblis itu berhenti,

bukan lain adalah Mo Lan Hwa sendiri. Melihat pedang

Gin Liong, walaupun tak tahu asal usul pedang itu tetapi ia

percaya tentu sebuah pusaka yang hebat.

“Kawanan tikus buduk, menyerang secara gelap bukan

laku seorang gagah . . . . ” sambil melangkah maju, Gin

Liong memaki.

Kedua iblis itu berobah wajahnya, Tubuh mereka

gemetar keras, cepat mereka menukas dengan menghambur

tawa kemarahan. Tawa yang disaluri dengan tenaga dalam

hebat sehingga Mo LanHwa sampai mendekap telinganya.

Gin Liong hentikan langkah, membentak: “Dihadapanku

engkau berani bertingkah sedemikian congkak ? Hm, lekas

siaplah menyambut seranganku.”

Gin Liong menutup kata-katanya dengan taburkan

pedangnya, Seketika pedang Tanduk Naga berkembang

menjadi suatu lingkaran sinar merah yang gilang gemilang

menyilaukan mata.

Sepasang iblis dari luar perbatasan itu segera hentikan

tawanya,Mereka deliki mata dan mengertak gigi:

“Budak tak tahu malu, kalau tak diberi hajaran, engkau

memang belum tahu kelihaian sepasang iblis dari luar

perbatasan !”

Mereka segera melepaskan pengikat lehernya serta

melemparkan mantel hitamnya ke tanah.

Melihat itu Mo Lan Hwa tertawa, ia tahu bahwa kedua

iblis itu sudah ketakutan. Kalau tidak tentu takkan

membuka mantel. Karena bertempur dengan membuka

mantel berarti kurang sopan atau mengandung keputusan

untuk mengadu jiwa.

“Sudah, jangan banyak tingkah, hayo kalian boleh maju

semua !” seru Gin Liong.

Kedua iblis itupun segera menjawab dengan memutar

pedang, menyerang Gin Liong. Jin Mo di kanan dan Ceng

Mo di kiri.

Gin Liong hanya mendengus geram. Dengan jurus Jitgwat-

kau-hui atau Matahari-rembulan-saling-bertemu, dia

langsung membabat pedang kedua lawannya.

Sepasang iblis itu melengking aneh, nantikan langkah

menarik pedangnya. Jika yang satu maju, yang lain

berhenti. Yang satu diam. Mereka menyerang secara

bergilir. Mencari-cari lubang kesempatan dan berusaha

untuk menghindari benturan dengan pedang anak muda itu.

Gin Liong tertawa dingin. Tiba2 ia merobah gaya

permainannya dalam jurus Jiu-cui-heng-cou atau Airmusim

rontok-menghadang-sampan. Dalam bentuk seperti

sebuah busur, sinar pedang Tanduk Naga segera membabat

dada orang.

Jin Mo tertawa mengekeh. Cepat ia menarik pulang

pedang dan loncat mundur sampai dua tombak!

Tiba2 Gin Liong menarik pedang lalu tubuhnya

berputar-putar menyelinap ke belakang Ceng Mo. Lalu

dengan sebuah bentakan menggeledek, ia robah pula

pedangnya dalam jurus Heng-soh-cian-kun (membabatribuan-

laskar), Sring . . . . pedangpun melayang ke pinggang

CengMo. Cepat dan dahsyatnya bukan buatan.

Serasa terbanglah semangat Ceng Mo dilanda serangan

itu. Karena kejutnya ia sampai memekik lalu berputar tubuh

dan tangkiskan pedangnya dalam jurus Hoa-te-kau-ping

atau Menggurat-tanah-mengatur-tentara.

“Tring…”

Terdengar bunyi menggerincing tajam dan putuslah

pedang Ceng Mo menjadi dua. Tiba2 Ceng Mo menjerit

keras sekali dan rubuh ke tanah.

Gin Liong tertawa dingin lalu maju menghampiri dan

mengangkat pedangnya untuk menyelesaikan nyawa iblis

itu.

Melihat itu, Jin Mo terkejut, cepat ia ayunkan tubuh,

menggembor keras dan menusuk dada Gin Liong.

Gin Liongpun mengisar langkah ke samping, memutar

pedang dalam jurus Gong jiok-gui-peng atau Burung-gerejamembuka-

pintu. menyongsong serangan lawan.

Rupanya Jin Mo tahu bahwa pedang lawan itu sebuah

pusaka yang tiada tara tajam nya. Mengendapkan pedang

ke bawah, ia ayunkan tangan kiri menghantam muka Gin

Liong.

Tetapi terlambat, serempak dengan bunyi

menggemerincing keras, pedangnyapun telah terpapas

kutung oleh pedang Tanduk Naga.

Kali ini Jin Mo yang terbang semangatnya, Dia tak

sempat memikir untuk melukai Gin liong lagi, ia segera

jatuhkan diri berguling-guling di tanah dalam jurus Kiu-tesip-

pat-kun atauDelapan-belas kali-berguling ditanah.

“Hai tinggalkan nyawamu !” teriak Gin Liong seraya

loncat dan membabat kedua kaki Jin Mo.

Pada saat itu tiba2 Mo Lan Hwa menjerit keras sehingga

Gin Liong terkejut dan berpaling.

Sebuah benda yang berkilat-kilat meluncur deras kearah

Gin Liong, Gin Liong menggeram, Berkisar tubuh ke

samping, ia menghindari luncuran benda itu. Ketika

mengamatinya, ternyata benda itu adalah kutungan pedang

dari Ceng Mo telah menaburkan pedangnya yang hanya

tinggal separoh itu kearah Gin Liong, demi menolong Jin

Mo.

Gin Liong marah, Dengan menggembor keras. ia hendak

memburu Ceng Mo tetapi tiba2 belakang tengkuk

kepalanya disambar angin tajam.

Gin Liong tahu bahwa kali ini tentu Jin Mo yang

menyerangnya dari belakang dengan melontarkan kutungan

pedangnya, Cepat pemuda itu tundukkan kepala dan

melayanglah kutung pedang itu melalui atas kepala pemuda

itu.

Gin Liong benar2 marah sekali terhadap kedua iblis yang

licik itu, Ketika mengangkat kepala, ternyata kedua iblis itu

sudah terbirit-birit melarikan diri, jaraknya sudah berada

sepuluhan tombak jauhnya.

“Adik, lekas kejar ! jangan biarkan mereka lolos, Kalau

tidak, jangan harap engkau dapat hidup dengan tenang.”

Habis berkata nona itupun terus ayunkan langkah

mengejar lebih dahulu.

Gin Liong memang tak mau memberi ampun kepada

kedua iblis itu, sebenarnya ia hendak mengejar mereka

tetapi demi mendengar kata2 Mo Lan Hwa, ia malah tak

mau ikut mengejar.

“Ho, aku memang sengaja hendak melepaskan manusia

itu. Akan kulihat, mereka dapat berbuat apa terhadapku,”

serunya geram.

Mendengar itu, Mo Lan Hwa hentikan larinya dan

berpaling kearah Gin Liong, ia marah sehingga wajahnya

merah, Ketika mulutnya hendak meluncurkan kata2, tiba2

terdengar sebuah suara tawa yang nadanya rawan dan

aneh.

Gin Liong terkejut Menurutkan arah suara tawa itu,

dilihatnya dari belakang bukit yang jaraknya diantara empat

puluhan tombak, muncul sesosok bayangan menghadang

kedua iblis tadi.

Ketika Gin Liong mencurahkan perhatian memandang

ke muka, ternyata yang muncul itu seorang kakek tua renta

berumur delapan puluhan tahun, Rambut pendek tetapi

jenggotnya dipelihara panjang, putih mengkilap seperti

salju.

Alisnya tebal mata bundar dan kepala besar.

Mengenakan ma-kwa ( pakaian mancam ) yang menutup

kaki.

Kakek itu mencekal sebatang pipa huncwe yang

panjangnya sampai satu setengah meter, Kepala huncwe

sebesar kepalan tangan orang.

Berhadapan dengan kakek itu, seketika gemetaran kedua

iblis tadi. Serempak mereka jatuhkan diri berlutut

dihadapannya.

Gin Liong kerutkan dahi, Dia merasa pernah kenal

dengan kakek itu. Kalau tak salah dahulu suhunya pernah

mengatakan bahwa kakek itu bernama Hok To-Beng

bergelar Kim-yan-tay atau Tabung-tembakau-emas.

Dia salah seorang tokoh dari Swat-Thian Sam-yu atau

Tiga Sahabat dari langit salju, Dia lah yang memiliki ilmu

ginkang saktiMenginjak-salju-tanpa-meninggalkan-jejak.

Baru Gin Liong berpikir sampai disitu, tiba2 Mo Lan

Hwa berteriak nyaring:

“Toa-suheng, mereka berdua telah menghina aku !”

Dan nona itupun terus lari menghampiri Hok To Beng.

Saat itu tergeraklah pikiran Gin Liong. Su-heng dari Mo

Lan Hwa atau kakek Hok To Beng itu kemungkinan tahu

siapakah kakek kurus dalam pondok itu. Paling tidak, Hok

To Beng tentu tahu siapakah orang tua jenggot indah yang

berwibawa sebagai seorang dewa itu.

Dengan memiliki harapan itu, Gin Liong sarungkan

pedangnya lalu bergegas menghampiri ketempat Hok To

Beng.

Belum tiba ditempat itu, Gin Liong sudah mendengar

kedua iblis membela diri:

“Sudah banyak tahun siaute berdua tak pernah

berkunjung untuk menghaturkan selamat kepada toasuheng.

Sungguh hati kami amat menyesal. Tadi siaute

berdua bertemu dengan Mo sumoay. Belum sempat siaute

menanyakan keadaan toa-suheng, Mo sumoay sudah

marah2 dan mendamprat.

Mo LanHoa deliki mata dan melengking marah:

“Tutup mulutmu ! jangan ngaco belo tak keruan jual

kebohongan. Apa yang kalian bicarakan ketika semalam

berada dalam kota ? Apakah kalian pernah menanyakan

kesehatan toa-suheng ? Dan tadipun, apa saja yang kalian

ocehkan dihadapanku ?”

Kemudian nona itu menunjuk kearah Gin Liong yang

sedang mendatangi katanya pula:

“Tanyakanlah kepada adikmu itu, apakah kalian tadi

pernah bertanya tentang diri toa-suheng ?Hm…”

Orang tua rambut pendek kerutkan dahi, ia gerakkan

pipa huncwe untuk menyentuh lembut Mo Lan Hwa seraya

berkata:

“Sudahlah, sudahlah. Katakan lebih dulu urusanmu baru

nanti giliran mereka !”

Kemudian Hok To Beng acungkan pipanya kearah Gin

Liong yang saat itu sudah tiba dan berada satu tombak

jauhnya, bertanya pula kepadaMo Lan Hwa:

“Kapan engkau mendapatkan seorang adik laki budak itu

? siapakah she dan namanya ? Dimana tempat tinggalnya

dan berapakah umurnya ? Cobalah engkau terangkan lebih

dahulu.”

Habis mencurahkan hujan pertanyaan, orang tua rambut

pendek itu menengadah memandang langit dan pasang

telinganya untuk mendengarkan keterangan Mo Lan Hwa.

Sama sekali tak mengacuhkan kepada kedua iblis yang

masih berlutut di tanah itu.

Gin Liong mendapat kesan bahwa rambut pendek Hok

To Beng itu seorang tua yang tak mempedulikan segala adat

peraturan Dengan mempunyai seorang toa-suheng

semacam itu, sudah tentu Mo Lan Hwa menjadi seorang

nona yang suka membawa kemauan sendiri dan bebas

tingkah lakunya !

Tampak Mo Lan Hwa melongo, wajahnya merah

jengah. Sepasang biji matanya yang besar, berkeliaran

Tiba2 ia tertawa lalu melambai Gin Liong.

“Adik, kemarilah,” serunya “cobalah engkau tuturkan

satu demi satu kepada toa- suheng.”

Gin Liong terpaksa tertawa walaupun seperti orang

meringis, Demi hendak mengetahui asal usul orang tua

kurus dan orang tua jenggot indah itu, terpaksa ia tebalkan

muka menghampiri.

Melihat perawakan Gin Liong dan sepasang matanya

yang bundar bersinar, diam2 orang tua rambut pendek itu

terkejut.

“Bakat yang luar biasa bagusnya. Kelak anak ini tentu

menjadi tokoh persilatan yang cemerlang di angkasa

persilatan,” diam2 Hok Tek Bong menimbang dalam hati.

Tetapi karena melihat wajah toa-suhengnya mendadak

berobah, berdebarlah hati Mo Lan Hwa. Tetapi ia bersikap

setenang mungkin.

Berhenti pada jarak lima langkah dari orang tua rambut

pendek, Gin Liongpun memberi hormat.

“Siau Gin Liong menghaturkan hormat kepada

locianpwe,” serunya disertai dengan membungkuk tubuh.

Tiba2 Hok Tek Beng tertawa gembira, Nada tawanya

amat sedap didengar setelah berhenti tertawa, dia mengeluselus

jenggotnya yang putih dan berseru gembira:

“Saudara, apakah engkau adik lelaki dari siaumoay ku ?

Aku adalah toa-suhengnya Mengapa engkau menyebut lo

cianpwe kepadaku ? Yang benar, engkau sebut saja lokoko.”

Habis berkata ia tertawa gelak2.

Sudah tentu Mo Lan Hwa girang sekali,

Dia tahu kalau toa- suhengnya suka pada pemuda itu.

Muka segera ia berkata kepada Gin Liong:

“Adik, lekaslah engkau ceritakan apa yang terjadi tadi…”

“Toa-suheng tiba2 kedua iblis yang masih berlutut di

tanah mendahului membuka suara,” budak itu bukan adik

lelaki dariMo sumoay …”

“Tutup mulut !” bentak orang tua rambut pendek.

Suaranya seperti halilintar menyambar sehingga Gin

Liongpun sampai tergetar jantungnya.

Seketika kedua iblis itu pucat wajahnya dan keringat

dinginpun bercucuran membasahi tubuh mereka, Dengan

pandang mata penuh dendam, mereka memandangMo Lan

Hwa dan Gin Liong.

orang tua rambut pendek itu melanjutkan kata-katanya:

“Segala tingkah lakumu yang tak senonoh di luaran aku

tahu semua. Sebelum menutup mata, suhu telah memberi

pesan kepadaku supaya mencabut ilmu kepandaian kalian,

Tetapi sampai sebegitu jauh, aku masih belum sampai hati.”

Habis berkata ia kiblatkan pipanya ke muka kedua orang

itu sehingga mereka pejamkan mata, gemetar dan kucurkan

keringat dingin. Mereka diam mematung tak berani

berkutik sama sekali.

“Sudah banyak kali aku menerima teguran dari beberapa

kawan yang menuduh aku sengaja memelihara murid

khianat dan tak mau memikirkan keselamatan dunia

persilatan. Hm, hari ini, sekali lagi kuberi kalian ampun…”

Mendengar itu menjeritlah Mo Lan Hwa seraya lari ke

samping toa-suhengnya. Memegang lengan orang tua itu

dan berseru dengan gopoh:

“Toa-suheng, kali ini janganlah memberi ampun mereka,

Kalau tidak, bagaimana engkau hendak memberi

pertanggungan jawab kepada Hong dan Cui berdua lo-koko

nanti…”

Gin Liong cepat dapat menduga bahwa yang disebut

Hong (Gila) dan Cui (pemabuk) lo-koko oleh Mo Lan Hwa

itu tentulah kedua tokoh yang lain dari Swat-san Sam-yu,

Lengkapnya mereka bernama Hong-lian-sian dan Cui-sianong.

Dan Gin Liongpun cepat dapat menduga bahwa orang

tua rambut pendek yang berada dihadapannya itu pasti

Kim-yan-tay atau Tabung-tembakau-emas yang paling aneh

wataknya diantara Swat-thian Sam-yu.

Memang ketiga tokoh dari Swat-thian Sam-yu itu gemar

berkelana keseluruh penjuru. Mereka termasyhur dengan

ilmu ginkangnya yang sakti.

Serentak Gin Liongpun teringat akan nyanyian yang

tersebar dalam dunia persilatan.

Dalam ilmu ginkang. Swat-thian Sam-yu paling

menjagoi

Hong-tian-siu Kakek Gila, terbang diatas rumput.

Kim-yan-tay si Tabung-tembakau-mas menginjak salju

tanpa bekas.

Cui-sian-ong si Dewa Pemabuk, melintas sungai dengan

sebatang rumput ilalang…

Teringat akan syair itu, tergetarlah hati Gin Liong.

Sedang Mo LanHwa tetap mencekal lengan toa-suhengnya,

menghendaki supaya toa-suhengnya jangan melepaskan

kedua iblis.

Kim-yan-tay Hok To Beng bungkam. Hanya matanya

yang berkilat-kilat memancar sinar. Rupanya dia masih

ragu2 untuk mengambil keputusan.

Pipa tabung tembakau yang berada ditangannya,

pelahan-lahan bergerak di muka kedua iblis, Asal orang tua

itu sekali menutuk, kedua iblis itu pasti akan rubuh

berlumuran darah.

Kedua iblis itu berlutut tegak. Wajahnya tegang dan

cemas. Matanya berkilat-kilat mengikuti pipa tabung

tembakau. Keringat dingin bercucuran deras membasahi

mukanya.

Tiba2 Hok To Beng menggeleng kepala dan menghela

napas pelahan. Rupanya ia merasa tak enak untuk menarik

kembali ucapannya tadi.

“Kalian boleh pergi.” katanya dengan nada berat “kalau

kelak masih berani melakukan kejahatan lagi, jangan

sesalkan aku tak ingat pernah menjadi saudara seperguruan

dengan kalian.”

Kemudian jago tua itu menengadah memandang langit,

Tampaknya ia seperti minta maaf kepada arwah suhunya

yang berada di alam baka karena tak melakukan

perintahnya.

Melihat toa- suhengnya benar2 melepaskan kedua iblis

itu, karena marah,Mo Lan Hwa sampai menggigil keras.

Kedua iblis itupun segera meniarap ketanah dan

serempak berseru:

“Terima kasih atas kemurahan hati toa-su-heng. Siau-te

berdua mohon diri.”

Setelah bangun, kedua iblis itu masih menyempatkan diri

untuk memandang dengan sorot mata penuh dendam

kepada Gin Liong,Mo Lan Hwa dan Hok To Beng.

Gin Liong terkejut. Menilik muka dan sorot mata kedua

iblis itu, rupanya mereka masih penasaran Gin Liongpun

tak mau melepaskan pandang matanya kearah langsung

kedua iblis itu.

Sekonyong-konyong, baru setombak kedua iblis itu

melangkah, mereka berhenti dan secepat kilat berputar

tubuh seraya mendorongkan kedua tangan sekuat-kuatnya.

Serentak angin pukulan yang dahsyat melanda kearah

Gin Liong bertiga, Tetapi karena Gin Liong sudah

memperhatikan gerak gerik kedua orang itu, maka cepat

iapun segera menggembor keras:

“Kawanan tikus, kalian hendak cari mampus…”

Kata2 itu diserempaki dengan menyongsongkan kedua

tangannya kemuka. Dalam pada itu Hok To Bengpun

kebaskan sepasang lengan bajunya, menggembor keras dan

melambung ke udara.

“Bum . . .”

Terdengar letupan dahsyat dan deru angin

menghamburkan salju, Disusul dengan derap kaki

terhuyung-huyungpun susul menyusul terdengar.

Ketika Gin Liong memandang seksama, dilihatnya

Menginjak-salju-tanpa-bekas Hok To Beng sudah melayang

di udara dan bagaikan burung garuda dia menukik kearah

kedua iblis yang terhuyung-huyung kebelakang itu.

“Manusia berhati serigala kalian ini…” teriak Hok To

Beng. Sinar emas berkelebat dan terdengarlah dua buah

jeritan yang menyeramkan. Darah berhamburan ke udara

dan rubuhlah kedua iblis itu ke tanah untuk selamalamanya.

Ketika Gin Liong berpaling, ia terkejut sekali Ternyata

Mo Lan Hwa telah rubuh di tanah salju, Cepat ia loncat

menghampiri dan mengangkat tubuh nona itu, Dilihatnya

wajah nona itu pucat seperti kertas mata meram napas

lemah.

Gin Liong tahu bahwa kali ini, Mo Lan Hwa memang

benar2 pingsan sungguh, ia bingung, lalu merogoh kedalam

bajunya.

Saat itu Hok To Bengpun sudah melayang tiba dan

berjongkok memeriksa, Setelah meraba dada sumoaynya,

Hok To Beng agak tenang.

Mengangkat muka, dilihatnya Gin Liong sedang sibuk

merogohi bajunya.

“Eh, cari apa engkau ?” tegurnya.

“Katak salju,” sahut Gin Liong.

Hok To Beng terkesiap, serunya gopoh: “Engkau taruh

dimana ?”

“Entah bagaimana, tahu2 binatang itu jatuh,” sahut Gin

Liong hambar.

“Jatuh dimana ?” Hok To Beng makin tegang.

Gin Liong segera menerangkan:

“Semalam aku menderita luka, karena tak dapat

mengambil air, katak salju itu terpaksa kumasukkan dalam

mulut…”

“Tolol engkau,” Hok To Beng tertawa, “sudah tentu

binatang itu meluncur masak kedalam perutmu, Ai,

mengapa dicari lagi ?”

Gin Liong terbeliak, Saat itu baru ia menyadari apa

sebab tenaga dalamnya tiba2 berobah hebat sekali, Sekali

dorongkan tangan ia mampu membuat si Jenggot terbang

mencelat sampai beberapa tombak.

“Sudahlah, siau-hengte,” Hok To Beng menghiburnya,

“siaumoay-ku hanya pingsan karena menderita rasa kejut

yang berasal dari angin pukulan kedua iblis itu. Asal engkau

mau menyalurkan tenaga-dalam dengan telapak tangan

pada perutnya, dia tentu akan siuman.”

Merah wajah Gin Liong tetapi apa boleh buat. Terpaksa

ia melakukan hal itu juga. Sesaat tangan Gin Liong melekat

pada perut Mo Lan Hwa. nona itu segera terdengar

menghela napas panjang dan membuka mata.

Melihat dirinya berada dalam pelukan Gin Liong,

merahlah wajah nona itu. Jantungnya mendebur keras,

sepasang matanya memandang mesra pada wajan pemuda

tampan itu.Mulutnyapun merekah senyum manis, rupanya

ia mengharap agar pemuda itu jangan melepaskan

tangannya.

Darah Gin Liong-pun menggelora keras, jantung

berdebar-debar, Pada saat ia hendak mendorong tubuh si

nona supaya bangun, tiba- nona itu memekik dan terus

melenting berdiri.

Gin Liong terkesiap, Ah, ternyata Mo Lan Hwa dengan

wajah tersipu-sipu malu tengah lari menghampiri Hok To

Beng yang berdiri setombak jauhnya dari tempat mereka.

Ternyata sejak tadi Hok To Beng mengawasi kedua anak

muda itu sambil mengelus-elus jenggot dan tersenyum

simpul.

Gin Liongpun cepat berbangkit.

Sambil menubruk dada Hok To Beng, Mo Lan Hwa

menggentak-gentakkan kaki dan memekik-mekik manja:

“Toa-suheng tak suka kepadaku…”

Sambil memegang bahu nona itu Hok To Beng tertawa

gelak2.

“Jangan ribut, jangan ribut, Siapa bilang aku tak sayang

kepadamu ?”

“Tadi aku pingsan mengapa engkau tak menolong ?”

masih nona itu menjerit manja.

Hok To Beng tertawa gelak2 pula.

“Sudah ada seorang adik yang menolong, mengapa toasuheng

harus ikut campur ?”

Mendengar itu merahlah selembar wajah Mo Lan Hwa.

Cepat ia susupkan kepalanya ke dada Hok To Beng.

“Kalau aku mengurus dirimu, kedua manusia berhati

serigala itu tentu dapat melarikan diri,” kata Hok To Beng

menghiburnya.

Mendengar itu baru Mo Lan Hwa lepaskan diri dari

dada toa-suhengnya dan memandang ke-arah mayat kedua

iblis, ia bersyukur karena iblis perusak wanita itu sudah

mati.

Karena hari sudah petang, Hok To Beng menyerahkan

pedang milik Mo Lan Hwa kepada nona supaya

disimpannya.

Gin Liong menghampiri memberi hormat kepada Hok

To Beng, Tetapi pada saat ia hendak membuka mulut, Mo

Lan Hwa tertawa geli.

Gin Liong terkesiap sehingga kehilangan kata2 yang

hendak diucapkan Melihat itu Lan Hwa makin tertawa geli.

“Mau apa engkau ini ? Mengapa tampaknya begitu resmi

itu ?” seru si nona.

Hok To Beng tertawa gelak2, serunya:

“Rupanya sian-hengte tentu berasal dari perguruan yang

termasyhur sehingga dia masih kukuh dengan tata cara,

membedakan yang tua dengan muda. Tidak seperti lo-koko

yang begini liar. Mau bilang apa terus bilang, mau berbuat

apa, pun terus berbuat saja. Asal sesuai dengan garis

kebenaran, aku tak peduli dengan segala macam peraturan

raja.”

Berhenti sejenak tiba2 ia bertanya: “Siau-hengte, maukah

engkau memberi tahu nama perguruanmu ?”

Walaupun tahu bahwa memang tokoh2 aneh dalam

dunia persilatan itu tak menghiraukan soal tata cara adat

istiadat tetapi ia belum tahu benar akan peribadi Hok To

Beng, Maka ia tak berani sembarangan berkata, Setelah

memberi hormat ia berkata:

“Wanpwe…”

“Ih, apa-apaan itu wanpwe ? Lo-koko tetap lo-koko,

harus dipanggil lo-koko. Siau-hengtepun tetap harus disebut

siau-hengte, Mengapa engkau masih berkukuh menyebut

cianpwe dan wanpwe begitu macam ?” tiba2 Lan Hwa

melengking.

Mendengar itu merahlah muka Gin Liong, ia hendak

balas menyemprot nona itu tetapi tiba2 Hok To Beng

menukas dengan tertawa gelak-gelak:

“Siau-hengte, bersikaplah wajar saja. Tak perlu terlalu

menghormat Lo-koko tak mempersoalkan urusan begitu.”

Teringat Gin Liong akan pesan suhunya. Bila

berhadapan dengan tokoh2 aneh dalam dunia persilatan

harus hati2 dan menghormat Paling baik turuti saja mereka.

“Baiklah, lo-koko,” serunya sesaat kemudian, “siaute

akan menurut perintah lo-koko.”

Hok To Bengpun tertawa gelak2, ia puas melihat sikap

Gin Liong yang cepat dapat menyesuaikan keadaan.

Bukan kepalang girang Mo Lan Hwa. Karuan bibir

merekah tawa maka tampaklah baris giginya yang putih

seperti untaian mutiara,

“Adik, beritahukan nama perguruanmu kepada lo-koko,”

segera ia berseru.

Dengan wajah serius, berkatalahGin Liong.

“Aku menerima pelajaran silat dari guruku Liau Ceng

taysu, kepala kuil Leng-hun-si di puncak Hwe-sian-hong !”

Menginjak-salju-tanpa-bekas Hok To Beng kerutkan alis,

merenung, Pipa huncwenya bergetar2. Rupanya jago tua itu

sedang menggali ingatan tentang diri Liau Ceng taysu.

Melihat wajah toa-suhengnya, tahulah Mo Lan Hwa

bahwa suhu dari Gin Liong jitu tentu seorang paderi yang

tak terkenal. Apabila memang seorang tokoh terkenal tentu

dengan mudah toa-suhengnya dapat mengenali. Karena

boleh dikata, hampir semua tokoh2 persilatan yang

ternama, Hok To Beng itu mengenalnya, Apalagi hanya

didaerah puncak Hwe-sian-hong gunung Tiang-pek-san

yang begitu dekat.

Kuatir kalau Gin Liong gelisah, cepat2 Mo Lan Hwa

berseru: “Toa-suheng, aku sudah teringat.”

Hok To Beng terkesiap, serunya: “Siapa ?”

“Toa-suheng, mengapa makin tua engkau makin

linglung,” seru Mo Lan Hwa dengan nada sok tahu,

“apakah engkau lupa ketika naik ke Hwe sian-hong,

bertemu dengan seorang paderi tua yang mengenakan jubah

?”

Sesungguhnya Gin Liong tak peduli ketika melihat kedua

orang itu tak kenal kepada suhunya. Tetapi demi

mendengar ucapan Mo Lan Hwa, hampir ia tak dapat

menahan gelinya.

“Ih, ada2 saja nona itu. paderi tentu memakai jubah,

masakan pakai pakaian makwa seperti orang biasa,”

pikirnya.

Mo Lan Hwa memang hendak membingungkan pikiran

toa-suhengnya agar jangan melanjutkan pemikirannya

untuk mengingat-ingat nama Liau Ceng taysu itu.

“Ah, aku benar2 tak ingat lagi,” seru Hok To seraya

gelengkan kepala.

Ucapan toa-suhengnya itu benar2 membuat si nona

bingung, ia tahu bahwa Gin Liong memandangnya lekat2

sehingga ia tak leluasa memberi isyarat mata kepada toasuhengnya.

“Ah, makin tua engkau memang makin limbung,”

akhirnya sekenanya saja nona itu berkata, “apakah engkau

lupa akan lo-siansu yang wajahnya merah segar, alisnya

tebal dan mata jernih, memelihara jenggot yang begini

panjang ….”

Nona itu segera ulurkan tangannya, ditempelkan ke

dadanya sendiri seakan menunjukkan ukuran panjang

jenggot lo – siansu atau paderi tua itu.

Gin Liong terpaksa tertawa, Cepat ia menyeletuk: “Ah,

mungkin yang kalian jumpai itu su-siokcou-ku…”

Hok To Beng tak marah karena diolok-olok sinona. ia

malah tertawa sambil mengurut2 jenggotnya. Kemudian

berseru kepada Gin Liong: “Ya, ya, lo-koko memang sudah

tua sehingga tak tahu siapakah gurumu itu.”

Gin Liong hanya tertawa saja.

Tiba2 Hok To Beng berpaling dan bertanya kepada Mo

Lan Hwa: “Siau-moay, apakah engkau sudah memperoleh

kabar?”

“Sebelum tiba di tempatnya, aku sudah dihadang kedua

iblis itu.” Mo Lan Hwa bersungut-sungut.

“Kalau begitu, baiklah kita sama2 pergi kesana,” Hok To

Beng tersenyum. Lalu berpaling kearah Gin Liong.

“Siau-hengte, pernah engkau mendengar bahwa lebih

kurang sebulan yang lalu, dirumah pondok dalam tanah

lapang disebelah depan itu, muncul seorang tua membawa

kaca cermin ? tanyanya.

Gin Liong menyahut: “Belum, tetapi…”

“Kalau begitu, ayolah kita sama2 melihat ke sana !”ajak

Hek To Beng.

“Tidak, semalam aku sudah kesana…”

Hek To Beng terkesiap. Lalu bergegas tanya:

“Bagaimana caramu pergi ke sana ?”

“Sebenarnya aku tak sengaja ke tempat itu. Aku tak tahu

bahwa tempat itu merupakan sebuah tanah lapang yang tak

terurus. Dan tak tahu bahwa disitu terdapat sebuah rumah

pondok berisi seorang tua membawa cermin, Karena

kebetulan jalan melalui hutan kecil itu, baru kutahu tentang

pondok dan orang tua kurus itu,” Gin Liong memberi

keterangan.

“Ih, ketahuilah.” seru Mo Lan Hwa terkejut, “tiga

tombak sekeliling pondok itu, sangat berbahaya sekali.

orang tua pembawa kaca itu dapat melepaskan pukulan

maut.”

Gin Liong gelengkan kepala.

“Terdorong oleh keinginan tahu, aku tetap menghampiri

jendela pondok, Tetapi ternyata tak mendapat bahaya

apa.2″ kata Gin Liong,

Rupanya Hok To Beng kurang percaya, Tetapi ia

percaya Gin Liong itu bukan seorang pemuda yang suka

bohong,Maka bertanialah ia untuk menyelidik:

“Siau-hengte, apa lagi yang engkau lihat dalam pondok

itu ?”

Tanpa ragu2 Gin Liong menjawab. “Diatas meja yang

berada dihadapan orang tua kurus itu, terdapat sebuah

cermin yang gilang gemilang menyilaukan mata !”

“Adik tolol,” tiba2 Mo Lan Hwa menyeletuk,” itulah

kaca wasiat Te-kia (Kaca Bumi) dari seorang paderi sakti

yang hidup tiga ratus tahun yang lalu, Segala benda pusaka

yang tertanam di tanah, asal pada malam hari disorot

dengan sinar kaca wasiat itu, tentu benda dalam tanah itu

akan memancarkan sinarnya keluar, jika engkau sudah

menghampiri ke jendela, mengapa engkau tak mengambil

kaca wasiat itu ?”

Gin Liong tersenyum dan geleng2 kepala.

“Siau-hengte,” Hok To Bengpun ikut berkata, “kalau saat

itu engkau mengambilnya, tentu saat ini engkau, mendapat

julukan adik tolol dari tacimu itu.”

Mo Lan Hwa merah mukanya, ia hanya cibirkan

bibirnya dan tak berkata apa2 lagi.

“Lo-koko. siapakah orang tua kurus itu ?” tiba2 Gin

Liong bertanya.

Hok To Beng gelengkan kepala: “Selama belum melihat

sendiri orang itu, aku tak berani memastikan dirinya siapa,

Nanti apabila sudah melihatnya, baru kita ketahui orang

itu, Tetapi kurasa tak mungkin paderi sakti pemilik kaca

itu.”

Gin Liong kecewa.

“Ah, semalam dia sudah pergi.”

“Benarkah begitu, adik ?” teriak Mo Lan jiwa dengan

nada tegang.

Gin Liong mengangguk.

“Apa yang dikatakan siau-hengte kemungkinan benar,”

kata Hok To Beng, “ketika aku datang kemari, diatas

puncak disebelah muka itu aku bertemu dengan beberapa

tokoh persilatan. Tampak mereka lagi bergegas-gegas

menuju keluar gunung.”

“Toa-suheng, kita akan meninjau ke pondok itu atau

tidak ?” tanya Mo Lan Hwa.

“Sekarang tiada gunanya,” Hok To Beng gelengkan

kepala, kemudian ia memandang ke langit, katanya pula,

“sekarang hampir tengah hari” Dengan ilmu lari cepat yang

kita miliki, kiranya kita masih dapat mencapai kota kecil di

bawah gunung untuk makan siang.”

Karena kuatir Gin Liong akan pergi maka cepat2 Mo

Lan Hwa berseru: “Ya, baiklah, aku memang hendak

berlomba lari dengan adik.”

Gin Liong tertawa hambar.

“Ilmu ginkang taci sudah termasyhur di Say-gwa (luar

perbatasan). Sedang, Sedang ilmu ginkang lo-koko tiada

tandingnya dalam dunia persilatan. Mana aku mampu

menandingi ? Ah, aku menyerah saja.”

Mendengar dirinya dipanggil taci, hampir Mo Lan Hwa

tak percaya pendengarannya.

“Adik, engkau menyebut aku taci ?” serunya menegas.

Gin Liong terkesiap lalu menyahut: “Engkau memanggil

aku adik, apakah tak selayaknya aku menyebutmu taci ?”

Mo LanHwa mengangguk gembira, serunya:

“Ya, memang selayaknya begitu.”

Rupanya karena dilanda luap kegembiraan, nona- itu tak

tahu harus berkata apa. Tiba2 ia berputar tubuh dan

mencekal lengan kanan Hok To Beng dan diguncangguncangnya.

“Toa-suheng, layak atau tidak kalau adik itu menyebut

aku taci ?”

Hok To Beng juga gembira sekali, ia tertawa gelak2: “Ya,

ya, memang selayaknya.”

“Toa-suheng, mari, kita cepat ke kota itu. Nanti engkau

boleh minum beberapa cawan lagi, “seru Mo Lan Hwa.

“Bagus. hari ini aku boleh mabuk lagi,” Hok To Bengpun

tertawa girang, Tiba2 ia enjot tubuhnya sampai beberapa

tombak di udara, sekali mengebut lengan baju, diapun

meluncur pesat sekali.

Melihat bagaimana dengan dua kali gerakan saja, Hok

To Beng sudah berada dimuka lembah salju, diam2 Gin

Liong memuji.

“Ah, tak kecewa dia mendapat gelaran nama yang indah

“Menginjak – salju – tanpa – jejak, ilmu ginkangnya memang

luar biasa hebatnya.”

“Adik tolol, mengapa diam saja ? Lekaslah kejar, kalau

terlambat sedikit saja. engkau pasti takkan melihat

bayangan lo-koko lagi,” tiba2Mo Lan Hwa menegur Dan ia

sendiripun terus meluncur kemuka, cepatnya seperti anak

panah terlepas dari busur. Yang tampak hanya segulung

asap merah yang. bertebaran diatas permukaan salju tanah,

juga nona itu layak mendapat gelar nama sebagai Swat-tebiau-

hong atau Tanah-salju-bertebar-merah.

“Hm, jika saat ini tak kucoba ilmu ginkang Anginmeniup-

petir-menyambar ajaran suhu, apabila turun

gunung aku tentu tak mempunyai kesempatan untuk

mencobanya lagi, diam2 Gin Liong menimang.

Setelah mengerahkan seluruh hawa murni, segera ia

meluncur kemuka, pikirannya hanya tertumpah pada ilmu

lari itu dan sesaat kemudian ia mendengar angin menderuderu

disisi telinganya.

Karena kuatir Gin Liong akan tertinggal jauh maka Mo

Lan Hwa sengaja tak mau pesatkan larinya. Tak hentihentinya

ia berpaling. Tetapi setiap kali berpaling ia terkejut

karena Gin Liong telah mengejarnya dengan pesat.

Melihat itu Mo Lan Hwa segera menambah

kecepatannya. Saat itu segera ia melihat dibawah kaki

bukit, melingkar-lingkar seperti ular panjang, Orang

berjalan hilir mudik.

Melihat Mo Lan Hwa menambah kecepatan, Gin

Liongpun tersenyum. Tetapi ketika memandang Hok To

Beng, ia agak terbeliak, Tubuh Hok To Beng sudah

meluncar turun ke kaki bukit.

Sebagai seorang pemuda sudah tentu Gin Liong masih

berdarah panas, seketika timbul nafsunya untuk

memenangkan perlombaan itu. jika tadi ia menggunakan

gerak ilmu lari Angin meniup, saat itu segera ia robah

menjadi gerak Petir-menyambar

Tubuh pemuda itu segera berobah seperti segulung asap

yang meluncur seperti terbang. Ada suatu ciri aneh dalam

gerak lari Petir-menyambar itu. Bahwa sepasang kaki Gin

Liong mengeluarkan suara desis mirip kumandang petir.

Mo Lan Hwa yang tengah lari se-kencang2 nya terkejut

ketika mendengar dari arah belakang seperti bunyi

mendesis-desis, ia berpaling dan kejutnya makin bertambah

ketika melihat segumpal asap warna kuning tengah

meluncur terbang.

Karena heran ia memandang dengan seksama, Tetapi

tiba2 gumpalan asap kuning itupun sudah lenyap dari

pandang mata.

Mo Lan Hwa memandang kemuka lagi- Ah. hampir ia

tak percaya pada matanya ketika dilihatnya gumpal asap

kuning itu sudah mengejar di belakang tua suhengnya.

Hok To Bengpun mendengar juga suara mendesis itu.

Dia terkejut dan cepat berpaling kebelakang. Ah, ternyata

Gin Liong sudah berada di belakangnya Diam2 ia

meragukan diri tokoh yang menjadi suhu dari Gin Liong.

Segera ia pindahkan pipanya ke tangan kiri dan diam2

kerahkan tenaga, siap dihantamkan ke belakang.

Saat itu Gin Liong makin mendekati jaraknya dengan

Hok To Beng tidak lagi ratusan tombak tetapi hanya

puluhan tombak saja, juga dengan jalanan di kaki bukit

hanya terpisah tak sampai satu li.

Gin Liong tersenyum dan makin mendekati Hok To

Beng.

Gerakan dari Gin Liong yang menimbulkan suara desis

itu makin terdengar jelas oleh Hok To Beng, Sekonyongkonyong

setelah memperhitungkan jaraknya, Hok To Beng

meggembor keras dan secepat kilat mencengkeram siku

lengan kanan Gin Liong,

Gin Liong terkejut Segera ia gunakan gerak Liong-libiau,

menghindar dan terus melanjut turun kebawah

gunung, cengkeramannya luput, Hok To Beng. makin

terkejut, serunya: “Siau hengte, engkau memang….”

Dia terus loncat menerkam. Demikian keduanya segera

seperti orang terkam menerkam, jaraknya hanya satu meter,

Sekilas pandang menyerupai dua ekor burung rajawali yang

tengah bertarung hebat, meluncur dari udara.

Menilik nada teriakan Hok To Beng itu, tahulah Gin

Liong bahwa tokoh itu tidak mengandung perasaan dengki

terhadapnya Ketegangan hatinyapun mereda.

Mo Lan Hwa yang masih berada pada jarak seratusan

tombak tampak pucat wajahnya ketika melihat gerak gerik

toa-suhengnya.

“Toa-suheng, jangan…” ia tak dapat melanjutkan katakatanya

karena tersumbat oleh air-mata yang bercucuran

Mendengar teriakan nona itu, Sin Liong terkesiap, ia

lambatkan larinya dan membiarkan bahunya dijamah oleh

Hok To Beng.

Setelah keduanya berdiri tegak, dengan wajah

keheranan, Hok To Beng berulang menepuk-nepuk bahu

Gin Liong.

“Siau hengte, bilanglah sejujurnya…” Tiba2 Hok To Beng

tak melanjutkan kata-katanya karena dilihatnya Gin Liong

berpaling memandang ke lereng gunung dan seketika

wajahnya berobah lalu berteriak: “Taci, pelahan lahan

saja…”

Gin Liongpun terus menyelinap lari keatas lereng. Hok

To Beng terkejut dan ikut berpaling, Kejutnya bukan

kepalang Mo Lan Hwa yang lari secepat angin tidak mau

mengurangi kecepatannya ketika saat itu tiba di kaki bukit.

Gin Liongpun sudah melayang tiba lalu dengan

apungkan tubuh melambung dan menyambar pinggang Mo

Lan Kwa terus dibawa turun dari lereng.

Hok To Beng maju menyambuti dengan hati2 sekali.

Melihat toa-suhengnya, Mo Lan Hwa segera susupkan

kepala ke dadaHok To Beng dan menangis manja.

Hok To Beng mengelus-elus kepala sumoay-nya dengan

perasaan cemas. ia duga tentu terjadi sesuatu dengan Mo

Lan Hwa, Tetapi pada lain kilas, ia menyadari apa yang

menyebabkan sumoay-nya menangis. Segera ia tertawa

gelak2.

Gin Liong terbeliak mematung. Dia merasa tadiMo Lan

Hwa amat gembira ketika ia memangginya dengan sebutan

taci, Tetapi kini setelah ia memberi pertolongan agar nona

itu jangan sampai menderita bahaya, mengapa malah tak

senang dan menangis.

Tiba2 pula Gin Liong teringat sumoaynya yang ketika

ditinggali pergi masih sakit dan tidur di pembaringan.

Teringat akan diri Ki Yok Lan mengganggu hatinya, Diam2

ia berjanji kepada dirinya sendiri, tak boleh sekali-kali salah

langkah sehingga mencelakai orang, Dan selagi belum

berlarut-larut, ia harus segera meninggalkan Hok To Beng

dan Mo LanHwa.

Saat itu Hok To Beng berhenti tertawa lalu pelahanlahan

mendorong Mo Lan Hwa kesamping, mengusap

airmata gadis itu dan menghiburnya:

“Siaumoay, apakah engkau kuatir kalau aku akan

mencelakai adikmu itu ? Ha, moay tolol, aku bertiga

dengan engkohmu si Gila dan engkohmu si pemabuk itu,

tak boleh mengganggu bocah itu!”

Mo Lan Hwa girang sekali, Sejenak memandang Gin

Liong, ia tertawa gembira.

Gin Liong tersipu-sipu merah dan terpaksa ikut tertawa,

Melihat itu Hok To Bengpun tertawa gelak2. Kemudian

menatap Gin Liong dan berseru dengan serius:

“Siau hengte, bilanglah terus terang, jangan membohongi

lo-koko. siapakah sesungguhnya gurumu itu ?”

Dengan wajah serius, Gin Liongpun menjawab:

“Masakan aku berani membohongi lo-koko. Guruku

memang benar2 kepala dari kuil Leng-hun-si…”

“Aku maksudkan seseorang, apakah siau hengte tentu

tahu !” tukas Hok To Beng.

“Jika tahu masakan aku tak mau mengatakan,” kata Gin

Liong,

Sejenak memancarkan sinar kilat pada pandang

matanya, Hok To Beng menatap lekat2 pada wajah Gin

Liong yang cakap, Rupanya ia hendak menyelidiki apakah

Gin Liong itu bohong atau tidak.

“Seorang tunas muda yang menggemparkan dunia

persilatan dengan nama Pelajar-wajah-kumala Kiong Cu

Hun, tahukah siau-hengte ?”

Seketika berobahlah wajah Gin Liong. Air-matanya

berderai-derai turun. Lalu dengan nada menghormat ia

berkata:

“Memang dia adalah guruku.”

Hok To Beng mengelus-elus jenggotnya dan tertawa

gelak2.

“Seorang jago muda yang cemerlang, karena

berkecimpung dalam dunia yang penuh debu2 dosa

akhirnya masuk kedalam biara, seharusnya aku si manusia

tua yang tak mati2 ini, harus mengikuti jejaknya masuk

kedalam biara untuk mensucikan diri.”

Kemudian ia berkata pula kepada Gin Liong, “Dengan

gurumu sudah hampir sepuluh tahun tak bertemu, Lusa aku

tentu akan memerlukan berkunjung…”

Tiba2 Hok To Beng tak melanjutkan kata-katanya,

karena ia melihat Gin Liong masih berlinang-linang

airmata. Cepat ia menghiburnya: “Siau-hengte…”

Rupanya Gin Liong tak kuasa menahan luapan

kesedihannya, Dengan airmata bercucuran ia berkata:

“Beberapa hari yang lalu, guruku telah dibunuh oleh

orang jahat, Lo-koko takkan bertemu lagi selama-lamanya.”

Bukan kepalang kejut Hok To Beng mendengar

keterangan itu. Seketika seri wajahnya berobah tegang,

serunya:

“Siapakah seorang yang memiliki ilmu sedemikian

saktinya, sekalipun empat serangkai Bu-lim-su ih yang

termasyhur itu, juga sukar untuk mencelakai gurumu.”

Hok To Beng berhenti sejenak lalu melanjutkan katakatanya

pula:

“Siau-hengte, kurasa pembunuh itu tentu orang yang

dekat dengan suhumu. Entah siapakah yang menyaksikan

peristiwa itu dan apakah terdapat bukti2 yang dapat

menjadi bahan mencari jejak pembunuh itu, harap siauhengte

mengatakan dengan terus terang, Mudah mudahan

aku dapat membantu untuk memecahkan jejak rahasia dari

pembunuh gelap itu.”

Tiba2 Mo Lan Hwa mengambil sapu dan mengusap

airmata Gin Liong, Pemuda itu merasa sungkan sekali.

Tiba2 ia mencabut sebatang badik emas yang terselip

dalam pinggangnya, katanya:

“Inilah senjata yang ditinggalkan oleh pembunuh gelap

itu.”

Menyambuti badik emas itu, wajah Hok To Beng agak

berobah.

“lnilah badik Kim-wan-to yang dapat memotong besi

seperti memotong tanah, Rambut yang ditiup kearah mata

badik itu tentu putus, Yang menggunakan badik semacam

ini kebanyakan orang2 persilatan dari daerah Biau.”

Gin Liong tergetar hatinya, Dia baru sadar bahwa Hok

To Beng, pendekar yang aneh dalam dunia persilatan itu,

memang mempunyai pengetahuan dan pengalaman yang

amat luas.

Mo Lan Hwa yang ikut memeriksa, segera menuding

kearah empat buah huruf pada batang badik golok emas itu,

serunya:

“Toa-suheng, lihatlah, apa artinya keempat huruf itu?”

Hok To Beng kerutkan dahi dan berkata: “Mungkin

nama dari seorang wanita Biau.” Kembali hati Gin Liong

tergetar keras, Dia makin kagum atas penilaian yang tajam

dari Hok To Beng.

Tiba2 Mo Lan Hwa melengking gembira: “Ooo,

Wulanasa, sungguh sebuah nama yang indah !”

Segera Sin Liong memberi keterangan:

“ltulah Ban Hong liong-li lo cianpwe…”

Mendengar itu Hok To Beng berobah wajahnya, serunya

gopoh:

“Ban Hong Liong-li ? Kemarin sebelum mata hari

terbenam aku masih berjumpa dengan dia di kota kecil

muka itu. Budak itu memang tergila2 dengan Kwan Cu-hun

tetapi karena cinta dia menjadi dendam…”

Mendengar itu memancarkan mata Gin Liong, cepat ia

menukas:

“Lo-koko, apakah saat ini Ban Hong liong-li masih

berada dikota kecil itu ?”

“Entah apa masih disitu….” Terhadap urusan Gin Liong,

Mo LanHwa menaruh perhatian istimewa.

“Sudahlah, asal kita tiba di kota kecil itu tentu dapat

mengetahui,” cepat ia menyelutuk, lalu melanjutkan lari.

Gin Liong ingin sekali cepat2 tiba di kota kecil itu,Maka

iapun segera berputar tubuh dan lari.

Sambil menyerahkan badik emas kepada Gin Liong, Hoa

To Beng menyusul dan berkata:

“Siau-heng-te, Ban Hong liong-li itu tahun ini paling

banyak baru berusia 28-29 tahun, Mengapa engkau

memanggilnya sebagai locianpwe ?”

“Karena sejak pertama aku dan sumoayku Ki Yok Lan

selalu menyebut locianpwe kepadanya, sekarang sukar

untuk merobah sebutan itu,” Gin Liong menjelaskan.

Mo Lan Hwa yang berada di muka ketika mendengar

Gin Liong mempunyai seorang sumoay, diam2 hatinya

mencelos. Sekali menyehatkan tubuh, diapun sudah

melayang ke jalan.

Gin Liong yang polos, mengira Mo Lan Hwa hendak

buru2 mengejar perjalanan, Maka diapun segera berpaling

dan berseru kepada Hok To Beng:

“Lo-koko, mari kita agak cepat berlari !” sebagai seorang

tua yang sudah banyak makan asam garam kehidupan,

tahulah Hok To Beng akan gerak gerik sumoaynya, ia

hanya gelengkan kepala dan terus mengikuti Gin Liong lari.

Tepat pada saat itu terdengarlah ringkik suara kuda yang

terkejut. Suara itu asalnya dari belakang mereka.

Ketika Gin Liong bertiga berpaling, tampak beberapa li

jauhnya, dua ekor kuda sedang mencongklang pesat di

sepanjang jalan, Mereka lari menghampiri kearah Gin

Liong.

Kedua ekor kuda itu cepat sekali larinya, sebaiknya kita

menyingkir saja,” kata Gin Liong.

“Ya.” kata Hok To Beng, “kuda itu memang luar biasa

cepatnya.” iapun terus menyingkir ketepi jalan.

Tetapi Mo Lan Hwa malah mendengus dan tak ambil

peduli, Dengan cibirkan bibir dan santai, ia berjalan

seenaknya di tengah jalan.

Gin Liong kerutkan dahi dan tak mengerti maksud nona

itu.

Tiba2 terdengar suara kuda meringkik keras, Ketika Gin

Liong berpaling, dilihatnya dua ekor kuda bulu hitam

mulus yang bertubuh tinggi besar, tengah meluncur pesat

sekali. Saat itu hanya terpisah setengah li.

Penunggangnya juga dua lelaki bertubuh tinggi besar,

kepala besar dan jidat lebar. Mulutnya penuh ditumbuhi

kumis dan jenggot yang lebat, sepasang matanya berkilatkilat

amat tajam. Merekapun mengenakan jubah warna

hitam terbuat daripada kulit, Sepintas pandang kedua

penunggang kuda itu memang amat menyeramkan sekali.

“Tar, tar, tar . …”

Kedua penunggang tinggi besar itu menghardik dan

mengayunkan cambuknya ke udara. Kuda hitam tegar

itupun segera melaju keras, Mereka tak mempedulikan

orang yang berada di tengah jalan.

Riuh rendah derap kedua kuda hitam itu menabur jalan,

jalan yang dilalui tentu meninggalkan hamburan salju yang

lebat dan deru angin yang keras.

Mereka melarikan kuda kearah Gin Liong.

-ooo0dw0ooo-

Bab 4

Empat tokoh aneh

Gin Liong terkejut sekali menyaksikan kecepatan kedua

kuda hitam itu. Tetapi ia marah karena melihat tingkah

kedua penunggang kuda yang tetap melarikan kudanya

sekencang-kencangnya walaupun tahu di tengah jalan

terdapat seorang nona.

“Taci, menyingkirlah ke tepi jalan. kedua kuda itu pesat

sekali larinya !” cepat ia berseru memberi peringatan kepada

Mo LanHwa.

Tetapi nona itu tak mau mengacuhkan. Dengan

mendengus ia berseru:

“Hm, kecuali engkau loncat sejauh lima tombak, baru

engkau terbebas dari hamburan salju di jalan !”

Nona itu tetap berjalan santai di tengah jalan.

Gin Liong kerutkan dahi. Berpaling ke belakang,

dilihatnya kedua ekor kuda hitam itu makin dekat.

Bulu surai kuda meregang tegak, mulut meringkikringkik,

kakinya seperti terbang, menerjang maju dengan

dahsyat sehingga saat itu jaraknya hanya tinggal dua

puluhan tombak.

Gin Liong marah sekali. Pada saat ia hendak berseru

mencegah, sebuah gelombang asap tebal telah melanda

mukanya, sudah tentu pemuda ini menyedot juga dan

batuk2. Ketika berpaling ternyata asap itu berasal dari pipa

Hok To Beng.

Tampaknya orang tua itu tenang2 saja seperti tak terjadi

suatu apa. Seperti tak tahu bahwa dia akan diterjang dari

belakang oleh dua ekor kuda tegar.

Hok To Beng memandang Gin Liong dengan tertawa

hambar dan serunya santai:

“Kedua orang itu kebanyakan tentu berasal dari padang

Taliwang diMongolia !”

Baru Hok To Beng berkata sampai disitu, derap lari kuda

makin jelas. Sebelum kuda melanda datang, anginnya

sudah menderu.

Gin Liong makin terkejut. Berpaling ke belakang,

dilihatnya kedua ekor kuda hitam yang tinggi perkasa sudah

tiba di belakang Mo Lan Hwa.

Nona itu kerutkan alis, Tiba2 dengan diiringi teriakan

melengking, ia berputar tubuh seraya dorongkan kedua

tangannya, Seketika itu meluncurlah dua gelombang angin

dahsyat yang membawa debu dan salju, menerjang kedua

ekor kuda tegar itu.

Mo Lan Hwa telah menumpahkan kemarahannya dalam

pukulannya itu. Seketika terkejutlah kedua penunggang

kuda, Mereka menggembor keras dan meloncatkan

kudanya diatas kepala Mo Lan Hwa dan meluncur sampai

tiga tombak jauhnya.

Gin Liong hendak memburu ke tempat Mo Lan Hwa.

Tetapi nona itu sudah melambung ke udara, bergeliatan dan

meluncur turun kearah kedua penunggang kuda.

Dan serempak pada saat itu. Hok To Beng pun ayunkan

tubuh melayang ke muka kuda.

“Kembali !” bentaknya seraya taburkan pipanya ke

udara, menyongsong kedua kuda, Taburan pipa itu

menghamburkan asap tebal sehingga kuda meringkik kaget

dan berontak. Sebelum kedua penunggang tahu apa yang

terjadi, tiba2 sesosok bayangan melayang, membentak dan

menabur asap. Dan tahu2 kedua kuda itu berdiri tegak di

udara.

Menjeritlah kedua penunggang kuda karena kaget dan

buru2 mereka berusaha untuk menguasai tunggangannya.

Tetapi kuda itu sudah kalap. Setelah berputar-putar deras

lalu melayang jatuh ke tanah, membanting kedua

penunggangnya.

“Bum, bum . . . .”

Kedua penunggangnya kuda rontok giginya, mulut

pecah, kepala pusing tujuh keliling.

Saat ituMo Lan Hwapun meluncur dari udara, maju dua

langkah, membentak dan ayunkan tangan kanannya.

Melihat itu, salah seorang penunggang kuda cepat

meneriaki kawannya: “Ciliwatu, hati – hati, awaslah !”

Dia sendiri terus melenting bangun dan menghantam.

Orang yang disebut Ciliwatu itu rupanya sudah tahu

kalau dirinya diserang si nona. Pada saat kawannya

bergerak, dengan jurus Ikan Leihi melenting, diapun

melambung ke udara sampai dua tombak, lalu dengan gerak

bergeliatan, dia melayang turun.

Bum . . . .

Ketika terjadi benturan antara pukulan Mo Lan Hwa

dengan penunggang kuda yang seorang, keduanya

terhuyung-huyung mundur sampai tiga langkah.

Ciliwatu terkejut. Cepat ia bergeliat dan meluncur ke

tanah, Hampir tiada suaranya ketika kakinya menginjak

tanah.

Gin Liong cepat dapat mengetahui bahwa kedua

penunggang kuda dari Mongol itu, walaupun bertubuh

besar tetapi memiliki gerak yang lincah dan gesit sekali,

“Alihapa,” cepat Ciliwatu berkata kepada kawannya,

“anak perempuan baju merah itu jauh lebih cantik dari

anak2 perempuan di sarang kita. Hayo kita bawa pulang

untuk kita berdua !”

Habis berkata ia terus mengeluarkan sebuah rantai yang

ujungnya merupakan semacam gembolan, mirip pukul besi,

Besarnya menyamai kepalan tangan, diikat dengan rantai

sepanjang hampir satu tombak.

Gembolan besi itu dihias dengan duri2 besi mirip gigi

serigala, Ditingkah sinar matahari gembolan itu tampak

hitam mengkilap.

Karena terhuyung mundur tiga langkah, merahlah wajah

Alihapa. Alisnya mengernyit, mata mendelik dan mulut

menyeringai buas, Tangannya yang penuh bulu segera

merogoh kedalam pinggang baju dan mengeluarkan

sebatang ruyung sembilan ruas, terbuat dan rantai perak.

Segera ia tertawa aneh dan dengan geram berseru:

“Anak perempuan tenagamu hebat juga. Awas jangan

sampai tanganmu patah !” ia ayunkan langkah

menghampiriMo LanHwa.

Wajah Mo Lan Hwa tampak pucat dan tubuhnya

menggigil ketika mendengar dirinya disebut “anak

perempuan”, hampir dadanya meledak. Dengan cepat ia

mencabut pedang terus ditusukkan kearah orang Mongol

itu.

“Sring. . . .”

Alihapa kebaskan ruyung-sembilan-ruas. Bagaikan

seekor naga bercengkerama di atas laut, ruyung itupun

segera bergemerlapan melibat pedangMo Lan Hwa.

Cepat si nona turunkan pedangnya, berputar tubuh dan

melancarkan jurus Cay-hong-canki atau Burungcenderawasih-

merentang-sayap, pedang berobah menjadi

segelombang sinar pelangi dan secepat kilat memapas

lengan kanan Alihapa.

“Bagus !” seru Alihapa, Ruyung perak segera diganti

dalam gerak putaran deras sehingga mengembangkan

ratusan sinar ruyung, menyelubungi tubuh Mo LanHwa.

Segera tampak suatu pemandangan yang menyilaukan

mata, sinar perak bergemerlapan, diiringi sambaran ruyung

yang menderu-deru. Sinar pedang selebat hujan mencurah,

memancarkan sinar gemilang yang amat kemilau.

Ciliwato dengan siapkan rantai bandulan ditangan,

mengikuti pertempuran itu dengan penuh seksama. Setiap

saat, ia siap turun tangan membantu kawannya.

Tetapi Gin Liongpun diam2 melewatkan perhatiannya

kepada Ciliwato untuk menjaga jangan sampai dia

melepaskan senjata gelap kepada Mo Lan Hwa.

Pertempuran makin seru dan dahsyat. Mo Lan Hwa

memiliki kelincahan tubuh yang tinggi dan ilmu pedang

yang aneh, Alihapa memiliki tenaga yang gagah perkasa

dan ilmu permainan ruyung yang sempurna.

Cepat sekali tiga puluh jurus telah berlalu. Keduanya

masih tetap berimbang, belum tampak siapa yang lebih

unggul.

Tiba2 Gin Liong teringat Kemanakah Hok To Beng ?

Mengapa sejak tadi tak kedengaran suaranya ?

Ketika Gin Liong mengeliarkan pandang, dilihatnyaHok

To Beng sedang naik keatas punggung salah seekor kuda

hitam, tubuh merebah ke muka. Mulutnya tengah

menghembuskan asap dari pipa. Sedang tangan kiri

menjamah kepala kuda yang lain, memandang acuh tak

acuh kearah gelanggang. Rupanya dia tak begitu

memikirkan tentang siaumoay nya yang tengah bertempur

seru itu.

Melihat Gin Liong memandangnya Hok To Bengpun

mengangguk tertawa lalu menghembuskan lagi segulung

asap tebal.

Diam2 Gim Liong mengeluh dalam hati, Pendekar aneh

yang sudah tua itu memang aneh tingkah lakunya.

Masakan sumoaynya bertempur dia malah enak2

menguasai kedua ekor kuda musuh. Dan memang tak

berapa lama kemudian, ia berhasil membuat kedua ekor

kuda itu jinak.

Tiba2 terdengar lengking teriakan nyaring disusul dengan

bentak kemarahan.

Gin Liong cepat berpaling. Serentak berkobarlah

kemarahannya, Dengan menggembor keras, ia segera

lepaskan sebuah hantaman

Gelombang angin dahsyat yang menderu-deru segera

menghambur kearah Kiliwato yang menyerang gelap pada

Mo LanHwa dengan rantai gembolannya.

Ciliwato berteriak kaget. Cepat ia menarik pulang rantai

gembolannya dan terus menggembor keras seraya loncat

menghindar sampai dua tombak.

Begitu berdiri tegak, ia segera memutar rantai gembolan,

menyerang Gin Liong, Pemuda itu hanya tertawa dingin,

Selekas menggeliatkan tangan kanan, ia sudah mencekal

pedang Tanduk Naga.

Tepat pada saat itu terdengarlah jeritan yang ngeri

melengking di udara, Sebuah benda macam ular perak

meluncur ke udara, Ternyata ruyung perak dari Alihapa

telah dibabat mencelat ke udara oleh pedang Mo LanHwa.

“Tring”

Rantai gembolan yang diluncurkan Ciliwato, pun disabat

putus oleh pedang Tanduk Naga, Gembolan melayang ke

udara dan meluncur ke-mukaHok Tok Beng.

Tetapi Hok To Beng diam saja. Begitu gembolan hampir

mengenai mukanya, barulah ia gerakkan pipanya untuk

menyongsong. Tring, gembolan besi itupun meluncur ke

belakang kuda. Karena kaget, kedua ekor kuda berpencar

melonjak ke samping.

Tiba2 Hok To Beng menggembor keras lalu melambung

ke udara dan meluncur turun ke jalan.

Karena tak mengerti apa yang terjadi. Gin Liong

berpaling Ah, ternyata kedua orang Mongol tadi telah

melarikan diri sekencang kencangnya. Sedang Mo LanHwa

masih tegak berdiri dengan mengulum tawa, ia memandang

kedua orang Mongol itu tetapi tak mau mengejar.

“Hai, budak, apa enak2 saja engkau hendak pergi ?”

teriak seseorang.

Ternyata yang berteriak itu Hok To Beng, Sambil

meluncur dari udara, pipanya yang masih berapi itu

dihujamkan kebelakang tengkuk Ciliwato.

Karena kesakitan terbakar api, Ciliwato menjerit-jerit

dan mempercepat larinya, Demikian Alihapa. Dengan

bercucuran keringat dingin ia lari secepat-cepatnya.

Begitu berlari di tanah, Hok To Bengpun tertawa gelak2.

Mo LanHwa segera menghampiri dan melengking marah:

“Toa-suheng, mengapa engkau gemar membakar

tengkuk kepala orang dengan pipamu ? Kalau sampai

membakar tengkuk orang apakah tidak berbahaya ?”

Hok To Beng tertawa gelak.

“Ilmu Menyorong-api-kepada-tetamu” ini sudah

berpuluh-puluh tahun kugunakan dan belum pernah

membakar tengkuk orang!”

Kemudian ia berganti nada serius: “Terhadap manusia

yang kasar dan liar semacam mereka, harus digunakan cara

untuk mematahkan kesombongannya. Sedikit menyuruh

mereka merasa sakit pada kulit rasanya tidak menjadi soal

jangan sampai melukai atau membunuh jiwanya. Kau harus

memberi kesempatan agar mereka mau sadar.”

Sejenak memandang kepada kedua orang Mongol itu,

Hok To Beng melanjutkan pula:

“Sudah tentu terhadap manusia yang kejam dan jahat,

tak boleh diberi ampun.”

Habis berkata pipanya menjulai ke tanah dan serentak

terdengarlah rentetan bunyi mendesis. Salju yang menutup

tanah pun telah luluh.

Gin Liong dan Mo Lan Hwa tertawa geli, “Setiap kali

toa-suheng melancarkan ilmu Menyongsong-api-kepadatetamu,

orang tentu akan lari tunggang langgang,” kata Mo

Lan Hwa.

Hok To Beng tertawa gelak2. Tiba2 dari jauh terdengar

segelombang ringkik kuda yang nyaring dan panjang.

Ah, ternyata kedua ekor kuda hitam itu berada pada

jarak seratusan tombak. Kedua binatang itu ternyata tak

mau menyusul tuannya yang melarikan diri.

“Ho, kedua manusia kasar itu tak mau lagi dengan

kudanya,” Hok To Beng tertawa, Memandang kearah

kedua orang Mongol yang sudah beberapa li jauhnya itu,

dia berkata pula, ah kita terpaksa harus mengembalikan

kepada mereka lagi.”

Habis berkata dia terus songsongkan pipanya kepada

kuda itu seraya bersuit. Entah bagaimana kedua ekor kuda

itu meringkik keras dan lari pesat menghampiri. Begitu Hok

To Beng mengangkat pipanya keatas, kedua kuda itupun

lambatkan larinya, Ketika tiba di tempat Hok To Beng

kedua binatang itu berputar dua kali mengitari Hok To

Beng lalu berhenti didepannya.

Hok To Beng menyarungkan pipa ke belakang

tengkuknya lalu pelahan-lahan mengelus-elus leher kuda

itu. Kedua itu tampak jinak dan menurut sekali.

Gin Liong ingin juga meniru. ia mengajakMo Lan Hwa

untuk mengelus-elus leher kuda yang seekor Tetapi si nona

takut.

“Siaumoay, jangan takut, masak jangan memegang

pantatnya, kuda itu takkan menyepakmu.” seru Hok To

Beng. Ia memberikan kuda hitam yang keempat kakinya

putih kepada Mo Lan Hwa dan kuda yang hitam mulut

kepada Gin Liong, serunya:

“Cobalah kalian mengelus-elus, kalau sudah

dikembalikan pada yang empunya, kalian tak mempunyai

kesempatan lagi.”

Kedua anak muda itu memberanikan diri untuk

mengelus-elus kuda tegar itu.

“Lo-koko, mereka sudah tak kelihatan bayangannya lagi,

Kita harus lekas mengejar supaya jangan kehilangan jejak

mereka.

“Jangan kuatir.” Hok To Beng tertawa, “tak sampai

seperempat jam mereka tentu dapat tersusul.”

Kemudian ia menerangkan bahwa kuda hitam berkaki

putih itu disebut Oh-hun-kay-swat atau Awan hitam

menutup salju, Sedang kuda hitam mulus disebut Oh-yanma

atau kuda Hangus hitam. Kedua kuda itu merupakan

kuda yang jarang terdapat diantara ratusan ribu kuda.

“Larinya cepat dan tenang. Duduk dipunggung mereka

dengan membawa cawan berisi air, airnya takkan

menumpah.” kataHok To Beng.

“Ah, sayang sebagus ini jatuh ditangan manusia yang

tolol,” seru Mo Lan Hwa.

“Eh, jangan memandang rendah kepada kedua orang

Mongol itu, seru Hok To beng. “menilik mereka tentu

tersohor tokoh Lan-cut (kepala penternakan) di daerah

padang Taiiwo. Tokoh silat kelas satu dewasa ini, tak

mudah untuk mengalahkan mereka berdua.”

Saat itu Gin Liong tak mempunyai selera lagi untuk

mendengarkan ocehan Hok To Beng. Melihat matahari

sudah berada di tengah suatu tanda kalau sudah tengah

hari, ia gelisah.

“Siau-hengte, apa engkau kuatir tak dapat menyusul

kedua orang Mongol itu ?” tegur Hok To Beng.

“Bukan,” sahut Gin Liong, “yang kucemaskan kalau

Liong-li locianpwe sudah pergi dari kota kecil itu.”

“Baik, mari kita berangkat,” kata Hok To Beng “kalian

boleh masing2 naik kedua ekor kuda itu dan aku akan

mengikuti dari belakang.”

Gin Liong masih meragu, Tiba2 Mo Lan Hwa sudah

loncat ke atas punggung salah seekor kuda dan entah

dengan gerak bagaimana, Hok To Beng-pun sudah

melambung dan berdiri diatas pantat kuda hitam kaki putih

atau kuda Gin-hun-kay-swat.

Terpaksa Gin Liongpun terus menceplak kuda yang

seekor. Hok To Beng memutar pipa dan berseru pelahan

maka kedua ekor kuda itupun terus lari.

Diatas kuda, Gin Liong masih gelisah, Apakah ia dapat

menyusul kedua orang Mongol dan apakah Liong-li

locianpwe apakah masih berada dalam kota. Pikirnya,

apabila bertemu dengan Ban Hong Liong-li, tentu ia dapat

mengetahui siapakah pembunuh suhunya itu, Begitu pula

tentang kawanan paderi jahat dan pertempuran dalam gua

itu, tentu akan jelas semua.”

“A, ti-ti-ti, hu . . .” tiba2 terdengar Hok To Beng berseru

keras dan pada lain kejap kuda hitam kaki putih yang

dinaiki Mo Lan Hwa secepat angin telah melampau kuda

Gin Liong, Pada hal kuda hitam kaki putih itu pantatnya

memuat Hok To Beng yang berdiri jejak.

Gin Liong terkejut Cepat ia menekan kendali kudanya

dan kuda hitam mulus itupun segera meluncur pesat

melampaui kuda hitam kaki putih.

Mo Lan Hwa menjerit-jerit memerintahkan kudanya

supaya mengejar kuda hitam mulus, Melihat perlombaan

itu, Hok To Bengpun tertawa gembira.

Saat itu disebelah depan terbentang sebuah hutan lebat,

Gin Liong seperti terbang rasanya, Ketika berpaling

dilihatnya Mo Lan Hwa tertinggal tiga-puluhan tombak

dibelakang walaupun mengerti ilmu naik kuda dan sudah

beberapa kali naik kuda tetapi belum pernah ia naik kuda

yang sepesat angin itu cepatnya.

Setelah melintasi hutan ternyata di jalan sebelah muka,

bayangan Alihapa dan Ciliwato tak tampak lagi. Segera ia

lambatkan kudanya, tiba2 kuda hitam kaki putih dari Mo

Lau Hwa sudah melampauinya. Hok To Beng enjot

tubuhnya bergeliatan di udara dan melayang turun diatas

pantat kuda Gin liong.

“Siau-hengte, kepraklah kudamu !” seru Hok To Beng.

“Mengapa kedua orang itu tak tampak ?” tanya Gin

Liong.

“Nanti kita bicara lagi di kota, Memang gerak-gerik

kedua orang itu luar biasa,” sahut Hok To Beng.

Begitu tiba di pinggir kota, agar jangan mengejutkan

orang, Hok To Bengpun loncat turun, Gin Liong dan Mo

Lan Hwapun mengikuti kemudian mereka bertiga berjalan

kaki menuju ke tengah kota.

Kota itu tak berapa besar, jalannya cukup lebar dan

penuh dengan rumah2 penduduk. Selain kaum pedagang,

juga tak sedikit orang2 persilatan yang berjalan.

“Lo-koko, dimanakah engkau melihat Liong-li cianpwe

?” tanya Gin Liong.

“Di hotel itu,” kata Hok To Beng seraya menunjuk

sebuah rumah penginapan.

Rumah penginapan itu satu2 nya hotel di kota itu.

Bangunannya terdiri dua tingkat.

Dari diloteng atau tingkat kedua dari rumah makan itu

tampak suara orang tertawa dan bicara dengan gembira.

Macam sedang menghadiri suatu perjamuan makan.

“Biasanya yang tiba di kota kecil ini hanya pedagang2.

Tetapi sejak munculnya si orang tua membawa kaca wasiat

itu, banyaklah kaum peralatan yang datang ke sini,” kata

Hok To Beng.

Pada saat Gin liong keliarkan pandang mata, ia memang

memperhatikan bahwa diantara beberapa orang yang

tengah memandang kepadanya itu adalah orang2 yang

pernah dilihatnya berada di tanah lapang sekeliling rumah

pondok di hutan itu.

“Toa-suheng, kita cari kamar yang tersendiri sajalah,”

kata Mo Lan Hwa, “diatas loteng terlalu berisik sekali.”

Begitu tiba di muka rumah penginapan itu, dua orang

pelayan segera menyambut. Yang seorang menuntun kedua

ekor kuda hitam mereka terus hendak dibawa ke istal kuda.

Dan yang seorang segera memberi hormat kepada Hok To

Beng.

“Loya, mau minum arak atau ingin bermalam disini?”

tanyanya.

“Ada kamar besar ?” tanya Hok To Beng. Jongos itu

mengatakan ada dan lalu membawa ketiga tetamu menuju

kesebuah kamar besar. Hok To Beng setuju. Tak lama

kemudian seorang jongos mengantar minuman teh.

“Bung, apakah ada dua orang tinggi besar, mengenakan

pakaian kulit warna hitam, berkopiah warna hitam yang

menginap disini ?” tanya Hok To Beng.

Jongos menyatakan tak ada. Hok To Beng heran dan

memandang Gin Liong sertaMo Lan Hwa dengan pandang

bertanya,

“Tolong tanya,” kata Gin Liong kepada jongos itu pula,

“apakah ada seorang nona berpakaian warna merah, umur

lebih kurang 26-27 tahun yang datang kemari?”

“Ya, ada, ada,” kata jongos.

“Dia tinggal di kamar mana ?” Gin Liong cepat

mendesak.

“Semalam li-hiap (pendekar wanita) baju merah itu

tinggal di kamar sebelah, Setelah makan malam dia terus

pergi.”

Gin Liong kecewa sekali, Hok To Beng segera minta

jongos itu membawakan hidangan. Sesaat kemudian jongos

itu pergi maka bertanialah Hok Tu Beng kepada Gin Liong.

“Siau-hengte. apakah engkau tak menuduh bahwa yang

membunuh suhumu itu BanHong Liong-li sendiri ?”

“Tidak, Ban Hong liong-li locianpwe tentu takkan

berbuat begitu.”

“Tetapi mengapa dia begitu terburu-buru sekali sampai

menyewa hotel hanya makan terus pergi ?”

Gin Liong menerangkan: “Liong-li cianpwe pernah

mengatakan kepadaku bahwa dia harus menempuh

perjalanan siang malam…”

“Adik engkau pernah melihatnya ?” Mo Lan Hwa

terkejut.

“Bukan saja pernah melihat bahwa siau-hengte ini

pernah menerima pelajaran silat dari dia.” tukas Hok To

Beng.

“Hai, bagaimana toa-suheng tahu ?”Mo Lan Hwa makin

heran.

Hok To Beng tertawa gelak2, serunya: “Tadi sewaktu

turun tangan, apa engkau tak melihat aku telah gagal

menyambar tangan siau hengte, karena siau-hengte

menggunakan gerak Liong-li -biau ?”

Pada saat itu jongospun datang membawa hidangan

Mereka bertiga segera menyantapnya.

Mo Lan Hwa sibuk melayani, menuangkan arak untuk

toa-suheng dan Gin Liong. Dia sendiripun minum juga.

Setelah habis dua cawan, tampak pipinya kemerah-merahan

seperti bunga mawar, bibir makin segar dan sepasang bola

matanya tampak bersinar, Nona itu makin bertambah

cantik sekali.

Gin Liong terlongong-longong.

Melihat dirinya dipandang oleh anak muda itu, Mo Lan

Hwa tundukkan kepala. Hatinya amat bersuka cita.

Rupanya Gin-Liong menyadari bahwa perbuatannya itu

kurang senonoh, Maka diapun segera beralih memandang

Hok To Beng.

Hok To Beng tengah menggerogoti sebuah paha ayam

panggang. Dia tak mengacuhkan apa2 lagi.

Tiba2 terdengar derap langkah orang bergegas menuju ke

dalam kamar sebelah. Brak, terdengar suara meja ditampar.

“Bagaimana, mengapa kalian begitu cepat sudah

kembali?” seru seseorang dari kamar sebelah.

Seorang lelaki bernada kasar menyahut marah: “Ketika

kami pergi, rumah kecil itu sudah kosong, orangnya sudah

pergi.”

“Huh, kemarin sore masih kudengar orang mengatakan

bahwa ditempat itu penuh dikerumuni orang.” kata orang

yang pertama tadi.

Orang yang bernada kasar, menyahut: “Memang benar

tetapi mereka tinggal mayat yang berserakan disana sini.”

“Hai, siapa saja mereka itu ?” Lelaki bernada kasar itu

menerangkan: “Pengemis jahat – kaki- telanjang Jenggotterbang,

Nenek-buta- tongkat-burung-hong, paderi Hoa,

Lima-ular-berbisa, Kuku-garuda, seorang imam tua dan

masih terdapat pula seorang kakek tua.”

Berhenti sebentar, ia berkata pula dengan gopoh: “Mari

kita pergi, mereka sudah menunggumu diluar hotel.”

Terdengar langkah kaki orang bergegas keluar dari

kamar dan tidak lama lenyap di halaman.

Mendengar nama pengemis kaki telanjang dan paderi

gemuk yang ikut terkapar sebagai mayat, serentak

teringatlah Gin Liong akan imam jenggot indah yang

berwibawa itu.

“Lo-koko, apakah kenal dengan seorang to-tiang yang

wajahnya mirip seorang dewa?” segera ia bertanya kepada

Hok To Beng.

“Coba terangkan imam itu.” kata Hok To Beng.

Setelah mendengar keterangan dari Gin Liong, Hok To

Beng tertawa gelak2, serunya:

“Ho sungguh tak kira kalau imam hidung kerbau itu juga

tergerak nafsunya, Dari ribuan li dan melintasi gunung,

menyebrang laut, dia perlu kan juga datang ke Tiang-peksan

!”

“Lo-koko, siapakah lotiang itu ?”

Sambil mengelus-elus jenggot, Hok To Beng menatap

Gin Liong, serunya:

“Siau-hengte, pernahkah engkau mendengar tentang

keempat tokoh Bu-lim Su-ik ?”

Gin Liong mengangguk.

“Suhu pernah menceritakan kepadaku,” katanya,

“keempat Bu-lim Su-ik dan lo-koko bertiga Swat-thian Samyu

itu merupakan tujuh tokoh dunia persilatan yang disebut

Ih Iwe-jit-ki.”

Hok To Beng terbahak-bahak : “Ah, hal itu sudah usang.

sesungguhnya aku tak layak termasuk dalam Jit-ki (tujuh

tokoh aneh) itu.”

“Toa-suheng, imam itu apakah bukan yang toa-suheng

katakan sebagai Hun Ho totiang dari pulau Hong-lay-to itu

?” Lan Hwa menukas.

“Siapa lagi kalau bukan imam hidung kerbau itu.” Hok

To Beng mengangguk.

“Adakah lo-koko pernah bertemu dengan Thian-lam Ji-gi

?”

Hok To Beng tersenyum: “Mungkin tak berjodoh karena

sudah dua kali aku ke selatan tetapi tak pernah berjumpa

dengan kedua tokoh sakti dari Thian-lam itu.”

Gin Liong kerutkan dahi: “Lo-koko, apakah engkau tak

menganggap bahwa kakek yang membawa kaca wasiat itu

bukan salah seorang dari Thian Lam Ji-gi ?”

Hok To Beng merenung sejenak, “Sukar untuk

mengatakan secara pasti,” katanya sesaat kemudian,” tetapi

peristiwa itu sudah menggemparkan dunia persilatan.

Kurasa peristiwa itu tentu akan segera terungkap !”

Kemudian ia menanyakan apakah Gin Liong dan Lan

Hwa sudah selesai makan.

“Baik, mari kita segera mencari kedua kutu busuk itu,”

kata Hok To Beng setelah kedua anak-muda itu

mengangguk.

Segera mereka bertiga keluar dari kamar seorang jongos

segera menyambut dan menanyakan apakah ketiga tetamu

itu hendak keluar jalan2.

“Hari masih sore, kita akan melanjutkan perjalanan lagi,”

sahut Hok To Beng. Kemudian ia membayar rekening dan

ongkos memberi makan kedua kuda.

Pada saat mereka bertiga baik kuda, tiba2 jongos

bergegas keluar menghampiri Hok To Beng.

“Tuan, kedua kawan tuan itu sudah berlalu,” kata jongos

itu.

“Siapa ?” Hok To Beng heran.

“Yang tuan tanyakan kedua tetamu tinggi besar,

memakai jubah dan kopiah kulit, mata besar dan mulut

lebar tadi…”

Melihat gerak-gerik si jongos, Hok To Beng tertawa,

sehingga jongos itu melongo.

“Kemanakah perginya kedua orang itu ?” tegur Lan

Hwa.

“Ke barat sana !” si jongos menunjukkan jarinya ke barat

“Hayo kita berangkat,” seru Hok To Beng setelah

menghaturkan terima kasih kepada jongos itu.

Banyak sekali orang persilatan yang datang dan pergi

dari kota itu. Setiba diluar kota, Hok To Beng berpaling dan

hendak bicara tetapi ketika melihat wajah Gin Liong dan

Lan Hwa mengerut kegelisahan, ia tahu apa yang

dipikirkan kedua anak muda itu.

“Siau-hengte.” seru Hok To Beng tertawa,” jangan kuatir

kalau tak dapat mengejar Liong-Ii locianpwe itu, Setiap

orang yang hendak menuju ke selatan, tentu harus berhenti

di teluk Taylian menunggu perahu, Kalau kita agak cepat

berjalan, kemungkinan kita dapat tiba lebih dulu disana.”

Kemudian Hok To Beng berkata pula kepada Gin Liong:

“Kalau Ban Hong Liong-li tak berada di Taylian, akan

kuminta tacimu untuk menemani engkau ke Kanglam.”

Mendengar itu Lan Hwa tertawa gembira, Kebalikannya

diam2 Gin Liong kerutkan dahi.

“Adik, mari kita melanjutkan perjalanan lagi,” kata Lan

Hwa seraya loncat kepunggung kudanya. Gin Liongpun

juga loncat keatas kudanya, sedangkan Hok To Beng-pun

sudah berdiri di pantat kuda.

Kedua kuda tegar itu segera mencongklang pesat, Tetapi

tiba2 mereka mendengar suara gemuruh dari belakang,

Ketika berpaling dilihatnya berpuluh-puluh orang persilatan

yang menunggang kuda, menerobos keluar dari kota,

Mereka berteriak-teriak hendak menangkap pencuri kuda.

Di jalan itu tiada tampak lain orang lagi kecuali Gin

Liong bertiga, Sudah tentu dia marah mendengar teriakan

kawanan penunggang kuda itu, ia hentikan kudanya,

Melihat itu Lan Hwapun hentikan kuda dan berputar ke

belakang.

Tiba2 terdengar desing tajam dari sebatang anak panah

pertanyaan yang meluncur ke udara.

Melihat itu Hok To Beng tertawa, katanya kepada Gin

Liong:

“Siau-hengte, mereka adalah anak buah dari Macantertawa

Oh Thian Pa dari gunung Thian-po-san. Berhatihatilah

dengan Kau-kin-tiang-pian (cambuk dari urat naga)

mereka.”

Waktu memandang dengan penuh perhatian, Gin Liong

memang melihat berpuluh kawanan penunggang kuda itu

masing2 mencekal sebatang cambuk sepanjang satu tombak

lebih.

Saat itu kawanan penunggang kuda membentuk diri

dalam bentuk seperti busur, dan lari kencang menyerbu ke

arah Gin Liong bertiga. Sambil berdiri diatas pantat kuda

hitam mulus, Hok To Beng melambaikan pipa ke udara dan

berseru nyaring:

“Saudara dari markas Som-lim-say, dengarkanlah ! Aku

Hok To Beng, suruhlah pemimpin barisanmu tampil bicara

dengan aku.”

Saat itu kawanan penunggang kuda hanya terpisah duapuluhan

tombak, Tampaknya mereka tak mempunyai

pemimpin.

Melihat itu Gin Liong dan Lan Hwa segera mencabut

pedang. Tetapi saat itu berpuluh-puluh penunggang kuda

sudah mengepung, Wajah mereka memberingas dan

serempak mengayunkan cambuknya kearah Gin Liong

bertiga.

“Tring, tring, tring. . . . dengan tangkas Gin Liong dan

Lan Hwa segera memutar pedang untuk membabat

berpuluh-puluh cambuk itu. Ketika beradu dengan pedang

Tanduk Naga, berpuluh-puluh Kau-kin-tiang-pian atau

cambuk-urat-naga berhamburan putus..

Sedang Hok To Beng dengan tertawa gelak2

mengayunkan pipanya untuk menyapu serangan cambuk.

Terdengar pekik jeritan kejut. dan kesakitan dari

berpuluh-puluh penunggang kuda itu ketika cambuk mereka

terlempar jatuh, Dan menyusul terdengar beberapa tubuh

mereka terjungkal dari kuda.

Kembali dari arah kota kecil itu menggemuruh suara

kuda berlari, Hampir seratus penunggang kuda menerobos

keluar dan mencongklang pesat.

Dua ekor kuda berbulu hijau dan merah, dan berada

paling depan dinaiki oleh sepasang lelaki perempuan yang

mengenakan pakaian ringkas atau pakaian orang persilatan

warna kuning emas.

Dibelakang kedua orang itu, empat lelaki berpakaian

warna putih perak menunggang empat ekor kuda putih.

Rupanya keenam penunggang kuda itulah yang menjadi

pemimpin dari barisan kuda yang jumlahnya hampir seratus

ekor.

Melihat itu Hok To Beng bahkan tertawa gelak2 dan

berseru: “Hai, berhentilah kalian, lihatlah pemimpin kalian

suami isteri telah datang!”

Sambil berkata Hok To Beng ayunkan pipanya dan

rubuhlah seorang lawannya lagi, terjungkal jatuh dan

kudanya.

Berpuluh-puluh penunggang kuda yang menyerang Gin

Liong bertiga itu, sesungguhnya sudah kewalahan. Melihat

saycu atau pemimpin mereka datang, timbullah

semangatnya lagi.

Yang sudah kehilangan cambuk, berteriak-teriak

memberi bantuan semangat kepada kawan-kawannya yang

masih mencekal cambuk, serangan merekapun makin

gencar.

“Tring, tring, tring . . . .”

Terdengar dering benda keras beradu. Gin-Liong terkejut

dan berpaling. Dilihatnya seorang lelaki tua bermata bundar

bibir tipis, pakaian compang camping, tengah mengobatabitkan

sebatang tongkat bambu wulung, menghantam

kawanan penunggang kuda yang tengah menyerang Gin

Liong bertiga.

Seketika gemparlah kawanan penunggang kuda. Mereka

menjerit dan memekik, berhamburan menyingkir pergi.

“Hong koko, orang2 itu memang menjengkelkan sekali.

Hajarlah mereka !” tiba2 terdengar Lan Hwa berseru.,

Gin Liong terkejut. Segera ia mengetahui bahwa lelaki

tua yang berpakaian seperti pengemis itu adalah Hong-tiansiu

atau si Gila yang bergelar Keng-joh-hui-heng atau

Terbang-diatas-rumput.

Hok To Beng tertawa gelak2, serunya: “Gila, jangan

keliwat keras yang memukul, tuh Oh Thian-Pa sudah

datang !”

Tepat pada saat itu terdengarlah suara seseorang berseru

gopoh: “Harap lo-cianpwe berdua suka berhenti. Wanpwe

Oh Thian Pa akan menghaturkan maaf.”

Suara itu diserempaki dengan tibanya dua penunggang

kuda, Oh Thian Pa yang bergelar Siau-bin-hou atau si

Macan-tertawa, bertubuh tinggi besar dan mengenakan

pakaian kuning emas. Alisnya tebal, mata besar, wajah

empat persegi, kulitnya putih bersih tiada tumbuh kumis.

Seorang yang memberi kesan baik.

Isteri dari Oh Thian Pa bernama Toknio-nio atau

Wanita-beracun, Mengenakan pakaian kuning emas dan

membawa pedang emas. wajahnya cantik.

Sedang keempat ekor kuda putih yang mengiring

dibelakang, masih berada tiga-puluhan tombak jauhnya,

Seratus ekor barisan kuda itu, berhenti dan berjajar-jajar.

Begitu tiba dihadapan Hok To Beng dan Hong-tian-soh,

suami isteri Oh Thian Pa segera loncat turun dari kudanya.

Gin Liong dan Lan Hwapun menyimpan pedang lalu

turun dari kuda dan berdiri di belakang kedua jago tua.

“Wanpwe suami isteri Oh Thian Pa dan Pik Li-hoa

menghaturkan hormat kepada locianpwe berdua, Entah

anak buah kami melakukan kesalahan apa terhadap lo

cianpwe berdua, wanpwe mohonkan maaf.”

Mendengar pemimpinnya minta maaf, kawanan

penunggang kuda itu serentak berjongkok ditanah dan

minta ampun kepada kedua pemimpin mereka,

“Ah, Oh saycu terlalu merendah diri.” kata Hok To

Beng, “peristiwa ini hanya suatu kesalahan fahamsaja…”

“Oh Thian Pa, jangan pura2 tak tahu,” cepat Hong-tiansoh

menukas, “anak buahmu hendak merebut kedua ekor

kuda dari Setan Asap dan adik perempuannya !”

Melihat gelagat kurang baik, cepat2 Hok To Beng

memukulkan pipanya ke tongkat bambu wulung Hong-tiansoh.

“Mengapa ?” si Gila terkejut.

“Hong koko, kedua ekor kuda ini kemungkinan memang

milik mereka.” cepat Lan Hwa mendahului.

“Sekalipun kuda mereka tetapi mengapa mereka begitu

ngotot turun gunung mengejar sampai kemari ?” tukas

Hong tian-soh.

Gin Liong kerutkan dahi, ia merasa Hong- tian-soh itu

lebih gila lagi wataknya dari Hok To Beng.

Tetapi ternyata bukan saja tak marah, kebalikannya Oh

Thian Pa dan Pik Li-hoa tertawa.

Kemudian Oh Thian Pa membentak anak buahnya yang

masih bersimpuh di tanah itu suruh mereka lekas

menggabung dalam barisannya berpuluh-puluh penunggang

kuda tadi, pun segera berbangkit dan menuntun kudanya

menuju kedalam barisan.

“Sungguh berwibawa! Sungguh menyeramkan!” seru

Hong-tiah- soh.

Macan-tertawa hanya ganda tertawa dan mengucapkan

beberapa kata merendah. Kemudian ia memandang kearah

kedua kuda dari Gin Liong dan LanHwa.

Gin Liong tahu bahwa kedua ekor kuda hitam mulus dan

hitam berkaki putih itu sebenarnya milik Oh Thian Pa yang

dicuri oleh kedua orang Mongol tadi. Maka segera ia

mengatakan kepada Hok To Beng supaya kuda itu

dikembalikan saja kepadaOh Thian Pa.

Hok to Beng setuju tetapi Lan Hwa menentang: “Salah

mereka mengapa sampai dicuri orang, Dan kita

mengambilnya dari pencuri itu.”

Tiba2 Hong-tian-soh deliki mata:

“Apa? Kalau memang kita merampas dari pencuri itu,

kuda itu milik kitalah !”

Tok-mo-cu atau Wanita-berbisa Pik Li-hoa agaknya

mempunyai kesan baik terhadap Mo Lan Hwa, Maka

berkatalah ia kepada suaminya:

“Karena nona itu merebut dari si pencuri kuda, biarlah

kuda itu diambinya.”

Oh Thian Pa setuju dan menyerahkan kuda itu kepada

Gin Liong serta Lan Hwa, Lan Hwa memandang Pik Lihoa

dengan tertawa.

“Dihadiahkan atau diberi sama saja, Kelak siaumoay

sudah bosan, akulah yang akan mengembalikan kuda itu

kepada pemiliknya,” kembali Hong-tian-soh menyeletuk.

Pun Hok To Beng juga menambahkan bahwa apabila

urusan sudah selesai, kedua kuda itu tentu akan

dikembalikan lagi kepada Oh Thian Pa.

Setelah peristiwa itu selesai, Oh Thian Pa minta agar

Hok To Beng bertempat singgah di markas gunung Thianpo-

san. Tetapi Hok To Beng mengatakan lain kali saja. Oh

Thian Pa pun membawa anak buahnya pulang ke gunung.

Hok To Beng memperkenalkan Gin Liong kepadaHongtian-

soh. Gin Liong memberi hormat kepada kakek gila itu.

Melihat Gin Liong seorang pemuda cakap dan gagah,

kemudian memandang ke arah Lan Hwa, Hong-tiansohpun

tertawa gembira.

“Aha, siau-hengte ibarat mustika dari dalam telaga dan

siaumoay sebagai mutiara dari dalam laut, Sungguh

merupakan pasangan yang serasi sekali….” Hong-tian-soh

menyeletuk lagi.

Melihat si Gila itu hendak mengoceh tak keruan, cepat2

Hok To Beng menukas:

“Gila, tahukah engkau bahwa guru dari siau-hengte ini

tokoh angkatan muda yang kepandaiannya lebih tinggi dari

kita berdua ?”

“Siapa ?”

“Pelajar-berwajah-kumala Kiong CuHun!”

Hong-tian-soh agak terbeliak kaget dan memandang Gin

Liong lekat-, Tiba2 ia teringat sesuatu, serunya:

“Setan-asap, semalam aku bertemu dengan Ban Hong

Liong-li yang tergila-gila pada Kiong Cu Hun itu !”

“Dimana?” serentak Gin Liong berseru.

Hong-tian-soh kerut dahi, ia heran mengapa Gin Liong

begitu tegang, Hok To Beng segera menerangkan:

“Siau-hengte hendak mencari Ban Hong Liong-li.”

“Huh, kalau mau kejar, cepat-cepat sajalah, Budak itu

luar biasa ilmu ginkangnya…”

“Hong koko, dimanakah engkau berjumpa dengan

Liong-li locianpwe itu ?” Gin Liong makin tegang.

“Dia tengah berlari sekencang-kencangnya. Heran,

mengapa dia menempuh perjalanan pada waktu tengah

malam,” berhenti sejenak, Hong-tian-soh melanjutkan pula:

“Asal sebelum matahari terbenam engkau dapat

mencapai Hong-shia, mungkin engkau dapat mengejar Ban

Hong Liong-li”

Saat itu matahari sudah condong ke barat Gin Liong

makin gelisah.

“Toa-suheng, mari kita berangkat !” seru Lan Hwa.

“Kalau mau berangkat, silahkan berangkat dulu. Aku

dan Setan Arak berjanji pada toa-su-hengmu untuk bertemu

disini,” sahutHongtian-soh.

Hok To Bengpun mengatakan bahwa setelah urusan

selesai, ia bersama Hong-tian-soh tentu segera menyusul.

“Disepanjang jalan, tinggalkan tanda rahasia Pipa-emas.”

“Atau tanda tongkat pemukul anjing itu juga boleh,”

Hong-tian soh menyelutuk, “bukankah seratus orang yang

melihat diriku tentu akan mengatakan kalau aku seorang

tukang peminta nasi.”

Diam2 Mo Lan Hwa girang karena kedua tokoh itu tak

ikut pergi, Demikian keduanya segera naik kedua ekor kuda

hitam, Dalam waktu yang singkat mereka sudah melintasi

sebuah daerah pegunungan salju.

Sejam kemudian mereka sudah melalui beberapa desa

dan saat itu disebelah depan tampak jalan besar yang

menuju ke kota Hong-shia.

Penuh orang berjalan di jalan besar itu. Kebanyakan

mereka adalah pedagang2. Saat itu matahari sudah

condong kearah barisan puncak gunung disebelah barat.

“Adik, tahukah engkau gunung apa itu ?” tanya Lan

Hwa.

Sambil memandang ke gunung yang menjulang tinggi ke

angkasa, Gih Liong gelengkan kepala, mengatakan tak

tahu.

Lan Hwa kerutkan dahi. Dia heran mengapa Gin liong

tak tahu apa2 sama sekali. Bagaimana akan mencari orang

ke Kanglam yang begitu luas.

“ltulah puncak Mo-thian-ni. Benggolan kaum Hitam

diluar perbatasan yakni ketujuh saudara Tio, bersarang di

gunung itu,” LanHwa menerangkan.

“Adik, pelahan dulu,” sesaat kemudian Lan Hwa berseru

ketika melihat pada jarak satu li di sebelah muka tampak

mendatangi belasan penunggang kuda yang berpakaian

seperti orang persilatan. Karena debu amat tebal maka

sukar diketahui wajah mereka.

Rupanya kawanan penunggang kuda itu tahu juga akan

Gin Liong dan Lan Hwa. Penunggang kuda yang menjadi

pemimpin rombongan itu segera hentikan kudanya. Dan

saat itu Gin Liongpun sudah tiba didepan mereka.

Tanpa berkata apa2, seorang penunggang kuda

menerobos dari rombongannya dan terus lepaskan pukulan

jarak jauh kearah Gin Liong. Sudah tentu pemuda itu

terkejut dan cepat condongkan kepala kudanya lalu balas

menghantam.

“Bum . . . .”

Terdengar dengus orang tertahan, orang itu dibawa

mundur oleh kudanya dan terpelanting jatuh ke tanah,

berguling-guling dan menjerit-jerit. . .

Rombongan penunggang kuda itupun cepat mencabut

senjatanya hendak menyerang. Tetapi kuda hitam kaki

putih dari Lan Hwa tiba2 meringkik berloncatan melingkarlingkar

dengan garang sekali.

Belasan ekor kuda dari rombongan itu terkejut dan

meringkik ketakutan lalu lari berserabutan keempat penjuru.

Tetapi sebagai gantinya, Gin Liong dan Lan Hwa segera

melihat seorang penunggang kuda melintang di tengah

jalan. Penunggangnya seorang lelaki berwajah hitam,

mukanya penuh brewok, hidung dan mulut besar, alis tebal

menaungi sepasang mata yang bundar besar.

Orang itu dingin2 memandang kedua anak.

“Adik, dia adalah Bong-kim-kong Tio Tik Lok, jago

nomor empat dari ketujuh saudara Tio,” bisik Lan Hwa.

Tiba2 dari samping kanan dan kiri terdengar teriakan

gempar dan menyusul rombongan penunggang kuda tadi

segera mengepung Gin Liong, Lan Hwa dan Bong-kimkong.

Gin Liong makin gelisah, Dia hendak cepat2

melanjutkan perjalanan. Tak mau dia terlihat dalam

pertempuran yang tak berguna itu.

“Minggirlah !” serunya seraya mencongklangkan kuda

menerjang Bong-kim-kong dan ayunkan tangan kanannya

menghantam.

Bong-kim kong atau Malaekat-buas Tio Tik Lok tertawa

gelak2. ia kepitkan kedua kakinya ke perut kuda dan

melambungkan kuda itu loncat sampai satu tombak

tingginya lalu ayunkan tongkat Long-ya-pang menghantam

pantat kuda Gin Liong.

Pukulannya luput, Gin Liong terkejut. Cepat ia memacu

kudanya loncat ke muka.

Melihat Gin Liong terancam bahaya, Lan Hwapun

segera membalutkan pedangnya ke pinggang Malaekatbuas,

Tetapi jago keempat dari Tujuh saudara Tio itu

tertawa keras, lintangkan kuda seraya balikkan tongkatnya

ke pinggang nona itu.

“Budak, karena engkau tahu namaku, maka serangan ini

takkan mencabut nyawamu !”

Lan Hwapun terkejut karena serangannya gagal. Cepat ia

menyadari bahwa ketujuh penjahat dan gunung Mo-thiannia

itu memang pandai sekali bertempur dengan

menunggang kuda. Kalau mau menundukkan Malaekatbuas,

lebih dahulu harus memaksanya turun dari kuda.

Begitu tongkat Long – ya – pang tibu, nona itupun loncat

turun ke tanah.

Segulung sinar merah berkelebat membabat kaki depan

dari kuda Bong-kim-kong, Bong kim-kong menjerit kaget,

menarik kendali sehingga kuda berdiri tegak menjulangkan

kaki depannya ke atas, Lalu dengan jurus Menjolok-bulandidasar-

laut, Bong-kim-kong menyodokkan tongkat ke

pedang Lan Hwa.

Melihat babatannya tak berhasil Lan Hwa marah sekali,

ia memutar pedang untuk memapas siku lengan kanan

lawan.

Bong-kim,-kong terkejut dan tegakkan lagi tubuhnya.

Kudanya ikut berputar-putar sehingga menghampiri ke

tempat Gin Liong.

“Hayo, engkaupun harus turun !” tiba2 Bong-kim-kong

membentak dan menyapukan tongkatnya ke tubuh Gin

Liong.,

Wut. pemuda itu ayun tubuhnya melambung ke udara

sampai beberapa tombak, Sambil bergeliatan di udara ia

berseru: “Taci, menyingkirlah agak jauh !”

Serempak dengan teriakan itu. segulung sinar merah

yang menyilaukan mata segera berhamburan memancar di

udara, Belasan rombongan penunggang kuda begitu melihat

sinar itu serentak memekik keras.

Bong-kim-kong pucat seketika, ia tak sempat berbuat

apa2 lagi kecuali buang tubuh berguling jatuh dari kudanya.

Gin Liong tak mau melukai kuda orang, ia loncat turun

dari kudanya, Melihat itu dengan menggerung keras, Bongkim-

kong loncat menghantamkan tongkat long-ya-pang

kearah kepala Gin Liong.

Baru saja kaki Cin Liong menginjak tanah atau tahu2

kepalanya sudah terancam. ia marah sekali, Dengan sebuah

gerak berputar, ia sudah menyelinap di samping Bong-kimkong

lalu secepat kilat membabatkan pedang Tanduk Naga

ke lengan orang.

Serasa terbanglah semangat Bong-kim-kong melihat

gerak yang luar biasa dari anak muda itu. Cepat ia lepaskan

long-ya-pang lalu enjot tubuhnya sampai dua tiga meter ke

belakang, Dan karena kuatir pemuda itu akan

menyerangnya lagi maka lebih dahulu ia songsongkan

kedua tangannya kearah Gin Liong.

Gin Liong makin panas, ia balas menghantam dengan

tangan kiri, Bum . . . . Debu berhamburan angin menderuderu

dan tubuhpun tertatih-tatih, Bong-kim-kong Tio Tik

Lok, jago nomor empat dari persaudaraan Tio yang

menguasai gunung Mo-thian-nia, saat itu terhuyung-huyung

beberapa langkah ke belakang dan jatuhlah ia terduduk di

tanah. ia gagal untuk menguasai keseimbangan tubuhnya,

Serentak terdengarlah pekik kejut dari belasan anak buah

Bong-kim-kong yang serempak mengangkat senjata

masing2. Tetapi tak seorangpun yang berani menolong

Bong-kim-kong. karena tempat Bong-kim-kong duduk di

tanah itu hanya terpisah dua meter dari Mo Lan Hwa yang

tegak berdiri sambil lintangkan pedangnya.

Tampak jago keempat dari persaudaraan Tio itu duduk

lunglai di tanah dan pejamkan mata menunggu ajal.

Melihat sikap berpuluh anak buah Bong-kim-kong yang

memberingas itu, marahlah Lan Hwa. ia merasa terhina

karena dipandang oleh belasan anak buah Bong kim-kong.

Dia menafsirkan pandang mata anak buah Bong-kim-kong

itu menuduh bahwa ia (Lan Hwa) seorang nona yang licik

dan curang karena hendak membunuh seorang lawan yang

sudah tak berdaya.

“Huh,” ia mendengus lalu masukkan pedangnya kedalam

sarung dan sekali menggeliat ia sudah tiba di samping Gin

Liong.

Gin Liongpun sarungkan pedang dan mengajak nona itu

segera melanjutkan perjalanan lagi. Keduanya segera loncat

ke kuda masing2, Tetapi baru hendak melarikan kudanya,

tiba2 belasan anak buah Bong-kim-kong itu bersorak sorai

dengan gembira.

Ketika Gin Liong dan Lan Hwa memandang kedepan,

ternyata lebih kurang dua li jauhnya tampak berpuluh puluh

penunggang kuda tengah mencongklang cepat sekali, Orang

yang sedang berada di jalanan, buru2 lari ketakutan

menyingkir ke tepi jalan.

Yang didepan tiga ekor kuda bulu hitam putih dan

merah. Penunggangnya seorang lelaki dan dua orang

perempuan. Ketiga ekor kuda lari secepat angin dan

beberapa kejab mereka sudah berada setengah li dari tempat

Gin Liong.

Penunggang kuda hitam, seorang lelaki mengenakan

pakaian dan mantel hitam. Bertubuh perkasa, muka lebar,

dada bidang tetapi kulit hitam seperti pantat kuali,

pinggangnya menyanding sepasang pukul besi berbentuk

segi-delapan. Warnanya kuning emas dan beratnya tak

kurang dari berpuluh-puluh kati.

Rupanya dia tengah memberingas marah sehingga

tampaknya makin menyeramkan.

Penunggang kuda putih seorang nona cantik berumur

dua-puluhan tahun. wajahnya bulat telur alis melengkung

seperti busur. Bibirnya merah semerah bunga mawar,

Rambutnya yang panjang menjulai diatas bahu,

Mengenakan baju dari sutera warna biru, demikian juga

celana kun, Diatas seekor kuda putih, nona itu tampak

makin menonjol kecantikannya.

Sedang yang naik kuda bulu merah, seorang dara

berumur lima belasan tahun. Mata bundar, wajahnya

kemerah-merahan segar Rambutnya dibelah dua kuncir.

Mengenakan pakaian warna merah, sikapnya masih

kekanak-kanakan dan sepintas pandang memberi kesan

bahwa dia seorang bujang.

Rombongan anak buah Bong-kim-kong tadi makin

menggemuruh soraknya, Melihat itu Lan Hwa segera

berkata bisik2 kepada Gin Liong:

“Adik, hati-hatilah, penunggang kuda hitam itu adalah

jago nomor lima dari persaudaraan Tio. Namanya Tio Tek

Piu bergelar Thia-lo-han (Arhat besi). Seorang limbung

yang keras kepala sekali.”

Berhenti sejenak, Lan Hwa melanjutkan:

“Dan nona yang naik kuda putih itu adalah saudara

ketujuh dari persaudaraan Tio, ilmu pedang dan ilmu

ginkangnya, cemerlang sekali, ilmu kepandaiannya lebih

unggul dari keenam engkoh2-nya. Orang memberi gelaran

kepadanya Mo-thian-giok-li (Bidadari dari gunung

Mothian), Namanya Tio Li Kun dan baru berumur duapuluh

empat tahun.”

Sengaja Mo Lan Hwa memberi tekanan dengan nada

keras waktu mengucap umur 24 tahun itu.

“Budak diatas kuda merah itu, centil dan ketus sekali,

Orang memberinya nama Cabe Rawit Siau Hoan

kepadanya.”

Saat itu ketiga kuda itupun sudah hampir tiba. Bidadarigunung-

Mo-thian Tio Li Kun yang naik kuda putih,

menatap Gin Liong dengan lekat.

Begitu ketiga ekor kuda itu tiba, maka kuda hitam Gin

Liong dan kuda hitam kaki putih dari Mo Lan Hwa segera

meringkik keras sehingga ketika kuda pendatang itu terkejut

berputar-putar.

Melihat engkohnya nomor empat Bong-kim-kong duduk

di tanah, secepat kilat si cantik Tio Li Kun terus apungkan

tubuh melayang kearah Bong-kim-kong.

Gin Liong terkejut Gerakan si cantik Li Kun itu

menyerupai sekali dengan ilmu lari cepat Angin-meniupkilat-

menyambar yang dimilikinya.

“Siapa yang memukul jatuh engkohku ini ?” teriak

sebuah suara kasar.

Ketika berpaling, Gin Liong dapatkan si limbung Thiatlo-

han memandangnya dengan mata berapi-api sambil naik

seekor kuda hitamdan tak henti-hentinya berputar, Sret, dia

terus mencabut sepasang palu besi dan dibolang-balingkan

dengan keras.

Gin Liong tertawa dingin, Sesaat ia hendak membuka

mulut tiba2 si Cabe rawit Siau Hoan menuding kearahnya:

“Ngo-ya, itulah orangnya….”

“Tutup mulutmu, Siau Hoan,” tiba2 terdengar sebuah

bentakan halus.

Gin Liong dan Mo Lan Hwa berpaling. Ternyata si nona

cantik yang tengah berjongkok menolong Bong-kim-kong,

deliki mata dan membentak bujang Siau Hoan.

Ketika melihat Gin Liong berpaling memandangnya,

muka si cantik Li Kun tersipu-sipu merah dan cepat dan

cepat2 tundukkan kepala, mengangkat bangun Bong-kimkong.

“Budak, engkaupun harus turun dari kuda !” Gin Liong

terkejut Ketika berpaling, dilihatnya Thiat-Lo-han hendak

menyerangnya.

Kuda hitam meringkik dahsyat Mengangkat kaki depan

keatas tegak berdiri sambil berputaran dengan indah

terhindarlah binatang itu dari hantaman Thiat-lo han Tio

Tik Piu.

Jago kelima dari persaudaraan Tio terkejut sekali ketika

serangannya luput. Tetapi pada saat ia hendak menyerang

lagi, tiba2 Gin Liong sudah melontarkan sebuah hantaman

dahsyat sehingga senjata Thiat-lo-han terlempar lepas dari

tangannya, melayang sampai tiga tombak jauhnya.

Thiat-lo-han memekik-mekik seperti orang kebakaran

jenggot Betapa ingin ia dapat meraih senjatanya itu,

Sesosok bayangan merah berkelebat dan dengan gerak

yang indah sekali, Mo-thian-giok-li Tio Li Kun telah

menyambar tangkai pukul besi itu lalu dilemparkan kepada

engkohnya: “Terimalah !”

Seketika terdengarlah sorak sorai yang menggemuruh

dari sekalian anak buah gunung Mo-thian-nia.

Menyambuti senjata pukul besinya, Thiat-lo-han tertawa

gelak2.

Melihat peristiwa itu marahlah Gin Liong, Segera ia

kerahkan seluruh tenaga ke lengan-nya.

“Lo ngo, menyingkirlah!” tiba2 terdengar Bong-kim-kong

membentak keras.

Thiat-lo-han Tio Tek Lok memandang kearah

engkohnya nomor empat dan adik perempuannya nomor

tujuh lalu kisarkan kudanya ke samping untuk memberi

jalan.

Keenam penunggang kuda yang menghadang di tengah

jalan pun buru2 menyingkir. Demikian pula dengan

kelompok anak buah yang datang bersama Thiat-lo-han dan

Mo-thian-giok-li tadi, pun menyingkir ke-tepi jalan.

“Taci, mari kita berangkat !” Gin Liong berseru kepada

Lian Hwa. kedua muda mudi itupun segera

mencongklangkan kudanya dengan pesat.

Mendengar Gin Liong menyebut Lan Hwa dengan

panggilan “taci”, seketika merekah setitik harapan dalam

hatiMo-thian-giok-li Tio Li Kun. ia tersenyum girang.

Saat itu matahari sudah condong ke barat dan tertutup

oleh puncak gunung Mo-thian-san yang menjulang tinggi.

Sekonyong-konyong hidung Gin Liong terbaur

serangkum angin wangi, ia tergetar dan berpaling, Tampak

ditepi sebelah kiri jalan, tengah berjajar sekelompok barisan

kuda dari gadis cantik.Mereka mengenakan pakaian merah

semua dan menyanggul pedang di punggung.

Kuda hitam mulus meringkik terus menerjang ke muka,

Barisan nona2 cantik itu cepat menyingkir ke samping

jalan.

Tak berapa lama disebelah muka tampak tembok dari

kota Hong-shia. Seperminum teh lamanya, tibalah Gin

Liong berdua di pintu kota itu.

Pintu kota yang besar dan tinggi dijaga oleh beberapa

prajurit Mereka terkejut melihat kedatangan Gin Liong dan

Lan Hwa. Saat itu lampu2 rumah dan jalan mulai dipasang.

Sambil menunggang kuda, Gin Liong memandang kian

kemari, ia berharap dapat melihat Ban Hong Liong-li

berada diantara orang2 yang berada di jalan itu.

“Adik, marilah kita cari rumah penginapan dulu, Baru

nanti kita menyelidiki jejak Ban Hong Liong-Ii locianpwe,”

kata Lan Hwa.

Gin Liong setuju.

Tiba2 dari kerumunan orang disebelah belakang

terdengar sebuah lengking teriakan:

“Liong koko, Liong koko !”

Gin Liong terkejut dan berpaling, Beberapa puluh

tombak jauhnya, tampak seorang dara baju putih dan

punggung menyelip pedang, tengah menerobos dari

kerumun orang dan bergegas menghampiri Gin Liong.

Melihat dara itu bukan kepalang girang Gin Liong,

serentak ia berseru gopoh:

“Adik Lan !” serunya seraya memutar kuda

menyongsongnya.

Orang2 yang berada di jalan terkesiap memandang kedua

muda mudi itu. Ada yang menduga kalau keduanya engkoh

dan adik, ada pula yang menyangka tentu sepasang kekasih.

Begitu tiba, Gin Liong terus loncat turun dari kuda dan

mencekal tangan sumoaynya, Ki Yok Lan.

“Lan-moay, bilakah engkau tiba disini ?” tanyanya.

Melihat Gin Liong, serentak teringatlah Yok Lan akan

suhunya yang telah meninggal dicelakai orang itu. Air

matanya bercucuran membasahi kedua pipi. Betapa ingin ia

rebahkan kepala ke dada sukonya dan menangis sepuaspuasnya.

“Siang tadi,” sahutnya, seraya mengeluarkan sapu dan

menghapus airmatanya.

“Pada hari itu setelah siuman aku segera lari ke ruang

depan mencarimu. Aku bertemu dengan ji-susiokcou dan

seluruh paderi yang sudah pulang dari makam, Saat itu

baru kuketahui bahwa suhu telah meninggal dunia dan

engkau turun gunung…”

Bercerita sampai disitu, airmata Yok Lan membanjir

deras.

Gin Liongpun berlinang-linang namun ia kuatkan hati

untuk mencegah airmatanya.

Pada saat ia hendak berkata menghibur su-moaynya,

tiba2 kuda hitam mulus meringkik keras sehingga Yok Lan

melonjak kaget, Ketika mengangkat muka, baru ia tahu

kalau orang2 yang berada disekitar tempat itu tengah

memandang dirinya dan Gin Liong, Yok Lan tersipu-sipu

merah wajahnya.

Memandang ke arah Gin Liong, dilihatnya sukonya itu

tengah memandang kian kemari seperti mencari orang.

Serentak teringatlah Yok Lan akan nona baju merah yang

menunggang kuda hitam berkaki putih tadi.

“Liong koko, kemanakah nona yang berjalan bersama

engkau tadi ?” serunya bertanya.

Merah wajah Gin Liong mendengar pertanyaan itu.

segera ia menerangkan bahwa nona itu bernama Mo Lan

Hwa yang digelari orang sebagai Salju-merekah- merah.

“Aneh, mengapa tiba2 ia lenyap,” kata Gin Liong seraya

mengusap airmatanya.

“Liong koko, mungkin dia mengambek,” kata Yak Lan.

Seketika Gin Liongpun tersadar. Tentulah Lan Hwa

pergi dengan marah. Seketika ia teringat akan janjinya

bertemu dengan Hok To Beng dan Hong-tian-soh di

penyeberangan Taylian (Dairen). Bagaimana nanti akan

mengatakan kepada kedua orang itu apabila Lan Hwa tak

ikut serta.

Melihat sukonya gelisah, Yok Lan tak enak hati,

serunya: “Liong koko, kutunggu kau di hotel Ko Liong,

Susullah nona itu, ia tentu marah kepadamu.”

Sesungguhnya tak enak perasaan hati Gin Liong

terhadap Yok Lan. Tetapi karena saat itu tak sempat

memberi keterangan maka ia menyetujui saran sumoaynya,

“Baiklah sumoay, kau tunggu saja di hotel itu, aku akan

menyusulnya,” serunya lalu melarikan kudanya ke utara.

Walaupun sangat gopoh tetapi Gin Liong tak berani

melarikan kudanya keras2. Setelah keluar dari pintu utara.

malampun makin gelap, Rembulan mulai muncul.

Beberapa saat kemudian, ia masih belum melihat

bayangan Lan Hwa. Yang tampak disebelah muka hanya

gunduk2 perumahan dan pedesaan, Diam2 ia meragu

apakah keliru arahnya.

Tiba2 ia mendengar suara ringkik kuda dari sebelah barat

kota Hong-shia. serentak berserulah ia: “Kuda hitam kaki

putih…!”

Serentak ia larikan kuda hitam mulus kearah tempat itu,

Beberapa waktu kemudian, ia tiba dijalan yang merentang

kearah barat.

Jalan itu sunyi senyap, Kuda hitam mulus jari secepat

angin, Kota Hong-shiapun sudah tertinggal jauh beberapa li

dibelakang.

Memandang ke muka, tampak gunung Mo-thian-san

menjulang tinggi ke langit Diam2 Gin Liong heran

mengapa Mo Lan Hwa mendaki ke gunung itu.

Setengah jam kemudian, kaki gunung Mo-thian-san

sebelah timur hanya sejauh tiga li jauhnya.

Dikaki gunung itu terbentang sebuah hutan batu yang

berbentuk aneh. Pohon siong yang pendek dan pohon2 lain

yang gundul daunnya. Tetapi Lan Hwa tak tampak sama

sekali.

Menyadari bahwa gunung Mo-thian-san itu menjadi

sarang dari ketujuh persaudaraan Tio, diam2 Gin Liong

meningkatkan kewaspadaan.

Jalanan menyusur sepanjang kaki gunung, melingkar ke

selatan. Kuda bulu hitam masih keras larinya dan tak

tampak letih.

Tiba2 di sebelah muka jalan. muncul beberapa benda

hitam.

“Apakah kawanan anak buah Mo thian-nia sedang

meronda !” pikir Gin Liong.

Ketika terpisah setengah li, barulah Gin Liong tahu

bahwa benda2 hitam ini ternyata beberapa orang yang

tengah bergegas menempuh perjalanan. Mereka orang2

desa yang hendak menuju ke kota.

Gin Liong hentikan kuda, bertanya seraya memberi

hormat.

“Tolong tanya, apakah paman sekalian berpapasan

dengan seorang nona baju merah menunggang seekor kuda

bulu hitam ?”

Orang2 itu menggelengkan kepala, Salah seorang yang

berumur tua, menjawab: “Kami orang desa setiap pagi tentu

pergi ke kota. Sejak tadi tak pernah melihat nona itu.”

“Aneh, kemanakah gerangan perginya ?” gumam Gin

Liong seorang diri.

Tiba2 angin malam sayup2 seperti mengantar lengking

bentakan orang marah, Dan sesaat kemudian terdengar

gemerincing suara senjata beradu.

Gin Liong cepat berpaling memandang ke-arah suara itu.

Tetapi kaki gunung sebelah timur tetap sunyi senyap,

Hanya pohon2 siong yang bergoncang tertiup angin.

“Apakah karena hendak bersembunyi nona itu telah

kesasar masuk kedaerah terlarang dari kawanan gunung

Mo-thian-nia dan kepergok dengan anak buah mereka lalu

bertempur ?” kembali Gin Liong menimang-nimang.

Segera ia larikan kudanya menyusur jalan kearah suara

itu. Tiba2 ia mendengar ringkik kuda berkumandang makin

jelas, Asalnya dari kaki gunung sebelah timur laut.

Gin Liong segera memacu kudanya dan larilah kuda

hitam mulus itu secepat angin.

Dari ujung gunung sejauh beberapa li, seekor kuda hitam

mencongklang menuju kearah Gin Liong.

Melihat kuda hitam itu, kuda Gin Liong serentak

melonjak keatas lalu mencongklang lebih cepat, Gin Liong

girang sekali karena tahu bahwa kuda hitam yang

mendatangi itu adalah kuda Kay-swat atau kuda hitam kaki

putih.

Cepat ia hendak berteriak memanggil Lan Hwa tetapi

secepat itu pula ia batalkan maksudnya karena melihat

bahwa yang berada diatas kuda hitam kaki putih itu jelas

bukan LanHwa.

Beberapa saat kemudian kedua kuda itu makin

mendekati Tahu bahwa Lan Hwa telah tertimpa bencana,

Gin Liongpun bersiap-siap,

Saat itu Gin Liongpun melihat sebuah jalan kecil yang

mencapai dimuka gunung, Segera ia menduga bahwa dari

jalan kecil itulah Lan Hwa telah menyelinap dan masuk ke

daerah terlarang dari kawanan gunung Mo-thian-san.

Tiba disebuah hutan, kuda hitam meringkik dan

berputar-putar tak mau berlari lagi. Gin Liongpun segera

hentikan kudanya, Memandang kemuka, ia melihat di

tengah jalan kecil ditengah hutan, melintang beberapa tali

kendali kuda. Dan diatas puncak pohon dipasang jaring.

Saat itu hutan sunyi senyap, Kuda bulu hitam kaki putih

yang tiada penunggangnya itupun meringkik dan berputarputar

ketika tiba di muka hutan.

Gin Liong menduga, tali kendali dan pelana kuda Lan

Hwa tentu telah dirampas orang, Gin Liong marah.

Mencabut pedang Tanduk Naga, ia memutarnya seraya

menerjangkan kuda kemuka.

Begitu menerobos keluar dari hutan, sebatang anak

panah mendenging tiba, Gin Liong cepat menabas anak

panah itu dengan pedang Tanduk Naga.

Kembali anak panah yang kedua meluncur di udara dan

tepat tiba dibelakang kedua kuda. Kuda hitam mulus dan

kuda hitam berkaki putih lari makin pesat dan tak berapa

lama tiba di jalanan batu, Jalan dan batu itu mendaki keatas

dan terus masuk kedalam lembah.

Kedua samping jalan batu itu merupakan lereng gunung

yang curam. Sedang diatasnya penuh dengan batu2 yang

aneh bentuknya, Makin masuk ke dalam makin berbahaya

keadaannya.

Gin Liong tetap larikan kudanya masuk kedalam lembah

sempit itu. Segera terdengar suitan nyaring berkumandang

di udara, Dan menyusul turunlah hujan anak panah yang

deras kearah Gin Liong dan kudanya.

Gin Liong makin marah melihat cara2 yang licik dan keji

itu. ia memutar pedang Tanduk Naga sederas hujan, sedang

kedua ekor kuda lari seperti terbang.

Kira2 berpuluh tombak jauhnya, terdengar pula suitan

nyaring dan kembali hujan anak panah gelombang kedua

mencurah kearah Gin Liong. Tetapi dengan pedang Tanduk

Naga dan kedua kuda sakti itu, dapatlah Gin Liong

terhindar dari bahaya dan saat itu telah memasuki lembah.

Jalanan makin sempit dan makin berbahaya Kali ini

terdengarlah suara tambur dari lamping gunung. Lalu

terdengar pula suara menggemuruh.

Gin Liong hentikan kudanya dan menengadah

memandang keatas, diatas karang tinggi pada lamping

gunung, tampak sosok2 bayangan hitam berhamburan kian

kemari dan pada lain saat terdengarlah suara yang sangat

gemuruh. Beratus-ratus batang pohon besar berhamburan

menggelinding dan lamping gunung.

Kali ini Gin Liong terkejut Demi menjaga keselamatan

jiwanya terpaksa ia larikan kuda kembali keluar dari

lembah.

Penjaga pos pada kedua lamping gunung ditepi jalan,

berteriak gempar ketika melihat Gin Liong muncul keluar,

Ternyata di mulut lembah saat itu tampak berpuluh puluh

orang sedang meletakkan beberapa tali kendali kuda.

Begitu melihat Gin Liong muncul, mereka serempak

menghunus senjata dan menghadang di tengah jalan.

Dengan menggembor keras. Gin Liong putar pedang

Tanduk Naga, membabat putus tali kendali yang direntang

ditengah jalan itu.

Ketika para penjaga hendak menyerbu, kuda bulu hitam

mulus sudah meluncur berpuluh tombak jauhnya, Kuda

hitam kaki putihpun mengikuti jejak kawannya.

Melihat kuda kaki putih itu, serentak timbul pula

kegelisahan Gin Liong karena mencemaskan nasib Lan

Hwa, ia memutuskan untuk menyerbu ke gunung.

Diamatinya keadaan lembah gunung itu memang

berbahaya sekali, ia memperhitungkan bahwa pada tempat2

yang berbahaya tentu tak begitu dijaga ketat, Maka ia

segera larikan kudanya di sepanjang kaki gunung menuju ke

barat laut.

Tiba disebuah tempat yang berbahaya, ia berhenti dan

turun dari kudanya. Saat itu baru ia mengetahui bahwa

kedua ekor kuda itu seperti mandi keringat, Gin Liong

sayang kepada kuda itu, Dielus-elus kepalanya beberapa

kali dan kedua ekor kuda itupun seperti mengerti bahasa

manusia, terus lari menuju ke gundukan batu yang tinggi.

Saat itu rembulan sudah ditengah Cakrawala terang

benderang Mo-thian-hong atau puncak gunung Pencakar

Langit, menjulang tinggi menyusup ke dalam awan.

Bermandikan cahaya rembulan, gunung itu tampak

perkasa.

Dengan beberapa loncatan, Gin Liong tiba dimuka

sebuah karang yang tegak melandai, sepanjang karang itu

penuh dengan pohon rotan dan batu2 yang menonjol.

serentak ia enjot tubuh melambung ke udara.

Dengan setiap kali hinggap pada batu karang atau pohon

untuk menggunakannya sebagai landasan melambung lagi

ke atas, akhirnya berhasillah ia tiba di puncak karang.

Tetapi belum lagi ia berdiri tegak, tiba2 terdengar sebuah

bentakan keras:

“Hai, siapa itu !”

Sebatang anak panah segera meluncur. Gin Liong

terkejut. Untung ia masih dapat miringkan tubuh

menghindari anak panah itu.

Lima tombak disebelah muka, muncul seorang lelaki

baju biru yang memutar golok dan lari menyerbu Gin

Liong, Sedang seorang lelaki mencekal anak panah dan

busur tengah tegak berdiri dimuka sebuah genderang

tembaga.

Gin Liong segera menyongsong penyerbu itu, Setelah

menghindari tabasan golok, secepat kilat ia menyelinap

kebelakang dan menutuk punggung orang itu, Bluk, golok

terlepas dan orangnyapun rubuh.

Cepat pula Gin Liong loncat menyerang penyerang

bergolok itu, menjerit dan rubuh, Gin Liong tertawa dingin,

Secepat kilat ia menyerbu kearah orang yang bersenjata

panah.

Orang itu terkejut, cepat ia hendak memukulkan busur

pada genderang, Gin Liong cepat menerkam lengan orang

itu. Tetapi pada saat ia mencengkeram lengan orang

busurpun sudah membentur genderang dan menimbulkan

bunyi yang berkumandang nyaring.

Gin Liong marah. Sekali ayunkan kaki, tubuh orang

itupun terlempar sampai dua tombak jauhnya.

Tetapi genderang telah terlanjur berkumandang dan pada

lain saat sebatang panah api meluncur ke udara, panah api

itu berarti dari sebuah puncak di sebelah muka. Di udara

anak panah api itu meletup dan menghamburkan bunga api.

Dalam beberapa kejap, terdengarlah suara pekik teriakan

yang dahsyat, menyusul tampaklah seratusan buah lentera

bergerak-gerak disegenap penjuru gunung.

Gin Liong tahu bahwa jejaknya telah diketahui, namun

dia tetap tertawa dingin dan lari menuju ke puncak.

Pos penjagaan segera mengetahui gerak gerik Gin Liong,

sebatang anak panah berapi meluncur ke udara dan

muncullah tiga orang menghadang jalan.

Gin liong berputar arah menuju ke sebuah puncak lain,

Tetapi kembali melayang sebatang panah berapi dan

muncul empat orang menghadang jalan.

Gin Liong menggeram. Dengan sekuat tenaga ia berlari

kearah puncak yang tertinggi.

Suara teriakan berhenti, lentera2-pun tak lagi

berguncang-guncang. Tujuh orang yang sedianya

menghadang Gin Liong, terpaksa hentikan langkah.

Rupanya seluruh anak buah gunung Mo-thian-nia

tercengang melihat ilmu ginkang Gin Liong yang luar biasa,

Tiba2 terdengar suitan orang. Sesosok tubuh berpakaian

gerombyong, muncul dari puncak yang pendek tadi dan

berlarian menuju ke arah Gin Liong.

Gin Liong terkejut ia duga orang itu tentu salah seorang

anggauta dari persaudaraan Tio. Ketika Gin Liong tiba di

sebuah jalan melintang, orang itupun sudah tiba di tanah

lapang sebelah muka.

Dibawah sinar rembulan, dapatlah Gin Liong

mengetahui bahwa pendatang itu seorang tua berumur

antara tujuh puluhan tahun, Gin Liong duga orang itu tentu

lotoa atau saudara yang tertua dari persaudaraan Tio.

Saat itu Gin Liong sudah tiba di tanah lapang

demikianpun dengan orang tua itu.

Berpuluh-puluh orang baju biru bersorak-sorai membawa

lentera dan mengepung tanah lapang.

“Hai, budak liar dari mana itu berani tengah malam buta

masuk ke gunung ini !” seru orang tua itu seraya

menghantam,” terimalah dulu pukulanku ini!”

Begitu tiba, orang tua itu harus gunakan jurus Lat-biat -

hoa – san atau Menghantam-gunung Hoa-san, menghantam

kepala Gin Liong.

Gin Liong cepat menghindar dan menyelinap ke

belakang orang itu. Tetapi orang tua itupun dengan tangkas

berputar tubuh dan menghantam bahu kiri Gin Liong.

Gin Liong marah sekali, ia tangkiskan tangan kiri, Bum,

orang tua itu terhuyung-huyung sampai tiga langkah

kebelakang.

Sekalian anak buah gunung Mo-thian-san tercengang

menyaksikan peristiwa itu. Bahkan Gin Liong sendiri juga

kesima mengapa persaudaraan Tio yang begitu termasyhur,

ternyata hanya begitu saja kepandaiannya.

“Budak, sambutlah sekali lagi !” seru orang tua itu seraya

menghantam lebih dahsyat.

Kembali Gin Liong menangkis dengan tangan kiri, Bum,

kembali orang tua itu terhuyung.

“Bunuh!” terdengar pekik sorak dari sekeliling lapangan

dan serempak para anak buah kawanan baju biru itu

serempak mencabut senjata dan siap menyerbu.

Bluk, lelaki tua itu jatuh terduduk di tanah, Tiga sosok

bayangan menerobos keluar dari barisan baju biru, lari

menghampiri si orang tua.

Tetapi sejenak menyalurkan napas, orang tua itupun

segera melonjak bangun. Lalu tertawa gelak2.

Ketiga orang tadi terkejut dan buru2 balik kembali

kedalam barisannya.

Tiga ratus anak buah gunung Mothian-nia yang saat itu

sudah mengepung Gin Liong, bersorak gembira ketika

melihat orang tua itu tak kurang suatu apa.

Orang tua itu hentikan tertawanya, mencabut tongkat

besi yang terselip pada pinggangnya dan berseru nyaring:

“Aku situa ini. Tongkat-halilintar Cu Ceng Hian. sudah

berpuluh-puluh tahun mengembara dalam dunia persilatan,

belum pernah ada orang yang mampu membuat aku jatuh

terjungkir balik….”

Ia tertawa gelak2 lagi dan berseru kepada Gin Liong:

“Budak, engkaulah orang yang pertama…” ia menutup

kata dengan sebuah loncatan kemuka seraya memutar

tongkatnya menghantam pinggang Gin Liong.

Mendengar nama orang tua itu bukan dari persaudaraan

Tio, Gin Liong tak mempunyai selera untuk menempurnya

lagi. serentak ia loncat menyingkir tiga tombak dan berseru:

“Berhenti, lekas panggil saycu keluar !”

“Apabila engkau mampu menangkan tongkat-ku ini,

saycu pasti akan keluar,” sahut orang tua Gu itu, ia terus

memutar tongkat dan maju menyerang Gin Liong.

Gin Liong marah. Ia bergeliatan menyusup kedalam

gulungan sinar tongkat.

Di bawah penerangan seratus buah lentera, tiba2

terdengar Gin Liong berseru:

“Lekas panggil saycu-mu !”

Bentakan itu disusul dengan melayangnya tongkat

kearah kawanan anak buah gunung Mo-thian-nia. Dengan

sebuah pukulan, Gin Liong berhasil menghantam tongkat

Cu Ceng Hian sehingga terlepas dari tangannya.

Ketika kawanan anak buah itu hiruk pikuk menyingkir

dari ancaman tongkat, beberapa sosok tubuh lari

menghampiri ke gelanggang pertempuran. Kembali

terdengar sorak sorai menyambut kedatangan orang itu.

Tetapi Cu Ceng Hian sudah tak menghiraukan suatu

apa. Seperti orang gila, dia segera menyerang Gin Liong

dengan tangan kosong.

“Cu Ceng Hian berhenti. Aku hendak menghadapi budak

itu lagi!” seru pendatang itu.

Gin Liong cepat dapat mengenali orang yang loncat

kehadapannya itu sebagai si Thiat-lo han.

Saat itu Gin Liong berhasil mencengkeram tangan

Tongkat-halilintar Cu Ceng Hian. Tetapi orang tua itu

masih penasaran, Tiba2 ia ayunkan kaki menendang bawah

perut Gin Liong.

Melihat orang tua itu begitu keras kepala, Gin Liong

marah lalu mendorongnya ke muka. Cu Ceng Hian

terhuyung-huyung seperti layang2 putus tali dan tepat

menyongsong kedatangan Thiat-lo-han.

“Celaka….” teriak Thiat-lo-han yang kasar dan

berangasan Tetapi benturan tepat tak dapat dihindarkan,

Bluk, kembali Cu CengHian harus terbanting ke tanah lagi.

“Huh, salahmu, salahmu, bukankah aku sudah suruh

engkau menyingkir Nah, akhirnya kita benturan sendiri !”

seru Thiat-Io-han bersungut-sungut.

Melihat ituGin Liong hampir tak kuat menahan gelinya.

Kali ini Cu Ceng Hian benar2 menderita. Tubuhnya

gemetar, keringat dingin mengucur dan ia terduduk di tanah

tak dapat bangun,

“Cu tua,” seru Thiat-lo-hian simuka hitam sambil

menyeringai” jangan engkau penasaran kepadaku tetapi

salahkan budak itu karena telah mendorong tubuhmu

begitu deras, Lihatlah, akan kupukulnya untuk

membalaskan penasaranmu !”

Habis berkata si muka hitam Thiat-lo-han terus berputar

tubuh dan berseru nyaring:

“Budak liar, apa engkau tak mengerti aturan

menghormat orang tua ? Mengapa engkau mendorong si

tua Cu ?”

Tring ia benturkan sepasang senjatanya yaitu pukul besi

segi-delapan, lalu melangkah ke tempat Gin Liong.

Tiba2 dari luar gelanggang terdengar derap lari empat

orang menuju ke tempat pertempuran itu, serentak suasana

hening karena berpuluh-puluh anak buah Mo-thian-san itu

tak berani buka suara lagi.

Si limbung Thiat-lo-han hentikan langkah dan berpaling.

Demikianpun Gin Liong, Segera ia melihat empat orang,

tiga lelaki dan seorang wanita, tegak berdiri pada jarak lima

tombak dari gelanggang.

Lelaki yang berdiri ditengah, berumur sekitar 45-46

tahun, Mengenakan jubah warna emas dan topi dari kulit

harimau tutul. Alis melengkung seperti pedang, mata

menyala, hidung pesek, bibir tipis dan jenggotnya menjulai

sampai ke dada, sepintas pandang menyerupai seorang

hartawan, bukan orang persilatan

Dia adalah pemimpin dari golongan tokoh2 silat aliran

hitam dari Saywa (luar perbatasan), bernama Tio Tok Beng,

gelar Siau-yau-ih-su atau pertapa bebas.

Berdiri disebelah kirinya, seorang lelaki beralis lebat,

mata tajam, hidung panjang dan jenggotnya tebal menjulai

ke dada. Umurnya sekitar 41-42 tahun. Berpakaian ringkas

warna hijau, kopiah kulit bajing, punggungnya menyanggul

sepasang senjataHou-jiu-kong-kau atau sepasang kait baja.

Dia adalah jago nomor tiga dan persaudaraan Tio,

bernama Tio Tok Giam gelar Say-ni-tun. Sepasang kaitnya

sangat dimalui oleh seluruh kaum Lioklim atau Rimba

Hijau, istilah untuk menyebut dunia penyamun.

Dibelakang kedua orang itu adalah Mo-thian-giok-li atau

Bidadari dari gunung Mo-thian-san Tio Li Kun.

Disampingnya, adalah engkohnya si Bong-kim- kong.

Melihat bahwa yang menyelundup keatas gunung itu

bukan lain pemuda cakap siang tadi, Tio Li Kun tertegun

dan memandang lekat pada Gin Liong.

“Toako,” seru si limbung Thiat-lo-han demi melihat Tio

Tek beng, “yang memukul suko santai jatuh dari kuda

adalah budak ini !”

Su-ko yang dimaksud ialah engkoh nomor empat atau

Bong-kim-kong. Sudah tentu Bong-kim-kong merah

mukanya dan cepat berseru marah: “Toako sudah tahu!”

Melihat engkohnya marah, si limbung Thiat-lo-han

menyengir dan tak berani buka suara lagi.

Gin Liong segera mengetahui bahwa yang disebut toako

itu tentulah lelaki yang dandanannya mirip orang hartawan

itu. Cepat ia memberi hormat, serunya:

“Aku yang rendah ini Siau Gin Liong bersama Hoa cici

kebetulan melalui gunung ini. Karena kuda membinal Hoa

cici sampai dibawa kedaerah terlarang dan jatuh dalam

perangkap anak buah markas Mo-thian-nia. Mengingat

kami tak sengaja telah memasuki daerah terlarang dan

gunung ini, maka kumohon saycu suka membebaskan taci

itu, sebelumnya kuhaturkan banyak terima kasih.”

Tampak Tio Tek Beng agak tertegun seperti tak tahu

akan peristiwa itu. Kemudian ia berpaling memandang

kearah Cu Ceng Hian yang masih duduk ditanah, serunya:

“Dimana taci siauhiap telah terjatuh dalam perangkap ?”

“Sebelah timur dari mulut lembah ini,” sahut Gin Liong.

Tio Tek Giam, jago ketiga, segera berseru: “toako,

menurut laporan dari pos timur bukit, seorang dengan naik

kuda hitam telah masuk kedalam lembah, Karena barisan

panah tak mampu merintangi, terpaksa dilakukan hujan

balok…”

“Yang masuk kedalam lembah itu, adalah aku sendiri !”

seru Gin Liong.

Tio Tek Giam kerutkan dahi, serunya. “Tanpa menurut

peraturan kaum persilatan terus menerobos masuk ke

markas. Tidak menghiraukan segala peringatan yang

diberikan . . .”

Mendengar itu Tio Li Kun gelisah, Kuatir kalau sampai

terbit salah faham, maka cepat2 ia menukas ucapan

engkohnya:

“Sam-ko, kuda dari Siau sauhiap itu seekor kuda

istimewa yang luar biasa pesatnya, Mungkin Siau sauhiap

hendak buru2 menghadap toako…”

“Kuda memang tak kenal aturan, tetapi masakan

demikian juga penunggangnya !” dengus Tio Tek Giam.

Tio Li Kun terkejut ia kuatir Gin Liong tentu marah.

Dan memang benar, Gin Liong berteriak keras seraya

loncat ke muka dan menuding Tio Tek Giam:

“Tutup mulutmu ! Siapa yang engkau katakan tak tahu

aturan itu ?”

Tio Tek Giam jago ketiga dari gunung Mo-thian-san

deliki mata dan membentak:

“Memukul suteku sampai jatuh dari kuda, tengah malam

menyelundup ke gunung, melukai saycu dari puncak timur,

jelas bukan hendak mencari orang tetapi hendak mencari

onar.”

Ia berhenti dan tertawa mengekeh: “Kalau saat ini tak

mau mengatakan terus terang, jangan harap engkau dapat

tinggalkan tempat ini.”

Mendengar itu Gin Liong menengadahkan kepala dan

menghamburkan kemarahannya dalam sebuah tertawa

yang nyaring dan panjang.

Para anak buah terkesiap bahkan Bong-kim-kong dan

Thiat-lo hanpun tergetar hatinya lalu bersiap-siap turun

tangan.

Diantara kelima persaudaraan Tio yang berada disitu,

hanya Tio Li Kun seorang yang berobah cahaya mukanya,

Dia bingung melihat toakonya diam saja. Padahal ia tak

tahu bahwa sebenarnya toakonya itu sedang

memperhatikan dengan tajam anak muda yang gagah itu.

“Jangankan ratusan anak buah kalian, pun semua alat2

perangkap dari gunung Mo-thian-san ini, tak mungkin

mampu menahan kepergianku.” seru Gin Liong.

“Budak bermulut besar…!” teriak Tio Tek Giam seraya

dorongkan kedua tangannya yang telah disaluri dengan

tenaga penuh,

Gin Liong pun menggembor dan ayunkan tangannya

menghantam.

Terdengar suara benturan keras dan tubuh jago ketiga

dari gunung Mo-thian-nia itu terhuyung-huyung beberapa

langkah kebelakang. Tio Li Kun melengking dan loncat

menyanggupi tubuh engkohnya. Dipandangnya Gin Liong

dengan sorot mata tajam.

Tio Tek Beng saudara tertua dari ketujuh jago gunung

Mo-thian-san terkejut, Dilihatnya Gin Liong masih tegak

berdiri dengan wajah tenang.

Ia tak mengira sama sekali bahwa hanya dengan pukulan

sebelah tangan, pemuda itu dapat melemparkan Tio Tek

Giam.

Tio Tek Giam sendiri cepat2 menyalurkan napas, Tetapi

ia dapatkan dirinya tak terluka sama sekali,Mau tak mau ia

memandang jitmoaynya Tio Li Kun dengan terlongong,

“seperti hendak mengatakan: “Eh, mengapa aku tak

menderita luka apa2 !”

“Budak, terimalah palu besiku ini lagi !” tiba2 si limbung

Thiat-lo-han berseru seraya loncat dan menghantam dengan

kedua palu besinya.

Yang kiri menghantam lambung Gin Liong, palu besi

yang kanan menghantam kepala pemuda itu. sekaligus ia

lancarkan dua jurus serangan.

Gin Liong hanya tertawa dingin, Sekali bergeliat ia

sudah menyelinap dibelakang orang limbung itu. Tetapi dia

tak mau menyerangnya.

Si limbung Thiat-lo-han terlongong-longong karena

sasarannya tiba2 hilang. Dia baru terkejut ketika engkohnya

nomor empat yakni Bong-kim-kong berteriak: “Lo Ngo,

dibelakangmu…!”

Thiat-lo-han gelagapan dan cepat memutar sepasang

palu besi dihantamkan ke belakang, seraya berseru angkuh:

“Aku memang sudah tahu….”

Tetapi alangkah kejutnya ketika Gin Liong tak berada

dibelakang.

“Kurang ajar, engkau sembunyi di belakang lagi….” kali

ini dia tak mau berputar tubuh melainkan lontarkan palu

besi sebelah ke belakang.

Entah bagaimana terhadap orang limbung itu Gin Liong

tak sampai untuk turun tangan, Begitu ia loncat ke belakang

si limbung dan baru saja berdiri tegak, tiba2 palu besi sudah

menyambar ke mukanya. Dalam kejut Gin Liong pijakkan

kaki ke tanah dan melambung sampai tiga tombak ke udara.

Mo thian-giok-li Tio Li Kun berteriak kaget.

Seluruh anak buah gunung Mo-thian sanpun memekik

gempar.

Masih di tengah udara, Gin Liong sempatkan diri untuk

melihat apa yang terjadi, Ternyata palu besi yang dilontar si

limbung Thiat-lo-han tadi karena luput mengenai Gin

Liong, melayang kearah Tongkat-halilintar Cu Ceng Hian

yang masih duduk ditanah.

Tongkat-halilintar mendelik ketika melihat mukanya

akan disambar palu besi. Cepat ia gunakan ilmu Kiu-te-sippat-

kun atau Delapan belas kali berguling guling di tanah.

Dia berhasil bergelundungan sejauh tiga tombak, Lalu

hantamkan kedua tangannya ke tanah dengan meminjam

tenaga pukulan itu tubuhnya melambung dua tombak ke

udara. Berhasillah ia menghindar palu besi dengan indah

sekali.

Bum . . . . palu besi itu tepat menghantam tempat bekas

diduduki Cu Ceng Hian tadi. Tanah muncrat, pasirpun

berhamburan ke empat penjuru.

Ketika melayang turun ke tanah, Cu Ceng Hian berdiri

dengan wajah pucat, keringat mengucur deras.

Mendengar teriakan gempar tadi, si limbung Thiat-lo-han

mengira kalau timpukan palu besinya mengenai Gin Liong.

Cepat ia berpaling dan . . .

“Hua, hua, hua . . . .” si limbung memekik-mekik seperti

orang kalap ketika melihat apa yang terjadi.

“Lo-naynay datang !” tiba2 kelompok anak buah Mothian-

san sebelah selatan berseru. serentak merekapun

menyingkir kesamping untuk memberi jalan.

Siau-yau-ih-su Tio Tek Beng, Say-ni-tun Tio Tek Giam

serentak terkesiap, Thiat-Io-hanpun berhenti memekikmekik.

Tio Li Kun dan Cong-kim-kong lari menyambut!

Gin Liong hanya memandang dengan penuh keheranan,

jauh di sebelah selatan, tampak tiga sosok bayangan berlari

pesat seperti terbang.

Yang dimuka, seorang wanita tua berumur 80-an tahun,

wajahnya ramah, memegang sebatang tongkat perak.

Dibelakangnya, seorang pemuda berumur 26-27 tahun,

berwajah cakap dan mengenakan pakaian sutera putih.

Pemuda itu adalah engkoh keenam dari Tio Li kun.

Namanya Tio Tek Cun bergelar Siau-bun-hou.

Sedang yang seorang lagi seorang budak perempuan

yang lincah dan masih kekanak-kanakan Berpakaian warna

merah tua.

Begitu wanita tua itu tiba maka ratusan anak buah

gunung Mo- thian-san segera bersorak riuh: “Lo-naynay,

terimalah hormat kami…”

Wanita tua itu tersenyum seraya mengangkat tangannya

memandang ratusan anak buah Mo-thian-san, lalu memberi

anggukan kepala.

Tio Li Kun dan Bong-kim kong serta merta berseru :

“Mah . . .”

Demikian pula dengan Tio Tek Beng dan Tio Tek Giam.

Mereka bergegas menghampiri dan memberi hormat

kepada mamahnya dan Cu CengHian demikian juga.

Si Limbung Bong-kim kong lalu menghampiri wanita tua

itu dan berseru: “Mah mengapa engkau tak membaca kitab

saja tetapi datang kemari ?”

Wanita tua itu berpaling memandang puteranya yang

tolol, tertawa ramah:

“Kudengar kalian sedang ribut2 dengan orang, Maka

kuajak adikmu Tek Cun dan Siau Hoan menjenguk

kemari.”

Kemudian wanita itu berpaling dan bertanya kepada

puteranya yang paling tua:

“Beng-ji, apakah yang terjadi disini?” Tio Tek Beng

segera memberi keterangan bahwa malam itu seorang nona

telah tersesat masuk ke daerah terlarang gunung Mo-thiansan

dan tertangkap, sekarang adiknya datang ke sini.

“Mah, itulah Siau sauhiap,” cepat Tio Li Kun menukas

seraya memeluk tubuh ibunya dan menunjuk Gin Liong.

Gin Liong mempunyai kesan baik terhadap wanita tua

yang berwajah ramah itu. Waktu dirinya ditunjuk Tio Li

Kun, ia terus berjalan menghampiri wanita tua itu.

Terkesiap wanita tua itu demi melihat seorang pemuda

berwajah cakap dan terang, menghampiri ke tempatnya. ia

mempunyai kesan baik lalu memandang Tio Li Kun, puteri

tunggalnya, Dilihatnya puterinya tersipu-sipu merah

mukanya. Diam2 wanita tua itu girang hatinya, ia

tersenyum.

“Budak perempuan, bukan saja engkau, tetapi mamah

pun ingin lekas2 melaksanakan harapanmu,” katanya dalam

hati.

Rupanya Tio Tek Beng tahu akan gerak-gerik adik

perempuannya, segera ia berpaling dan mengisiki Tongkathalilintar

Cu Ceng Hian. Orang she Cu itu mengangguk

lalu melangkah masuk ke-dalam barisan anakbuahnya.

“Boanpwe Siau Gin Liong menghaturkan hormat

kehadapan locianpwe,” seru anak muda itu manakala sudah

tiba dihadapan wanita tua.

“Ah, harap Siau sauhiap jangan pakai banyak

peradatan,” kata wanita tua seraya tertawa gembira.

Kemudian mata nyonya Tio tua itu menelusuri tubuh

Gin Liong dengan penuh perhatian, seolah-olah seperti

seorang mertua yang sedang menaksir-naksir seorang

menantu.

Si limbung Thiat lo-han maju selangkah dan berkata:

“Mah, yang memukul suko jatuh dari kuda adalah

pemuda ini.”

Melihat dirinya dilaporkan pada mamahnya, sudah tentu

Bong-kim-kong marah. ia mendengus geram: “Hai. sute,

mana palu besi milikmu!”

“Huh, inilah,” seru si limbung seraya menunjukkan

kedua palu besinya. Tetapi ketika melihat palu besinya itu

berlumuran lumpur, baru2 ia membersihkan dengan ujung

bajunya seraya menggerutu: “Huh, si Cu tua itu hanya

mengambilkan palu besi ini tetapi tak mau membersihkan.”

Melihat tingkah laku dan ucapan si limbung, Gin Liong

tak kuasa menahan gelinya.

Tio Li Kun tersipu-sipu malu, ia mengira Gin Liong

menertawakan dirinya karena pemuda itu sudah dapat

mengetahui isi hatinya.

Rupanya nyonya Tio tua amat sayang kepada puteranya

yang limbung itu, ia tak mau mendampratnya melainkan

berpaling memandang Gin Liong lagi.

“Siapakah nama yang mulia dari suhu Siau sauhiap ?”

tanyanya,

Dengan sikap menghormat Gin Liong memberitahu

nama gurunya, Karena nyonya Tio tua itu sudah

mengundurkan diri dari keramaian hidup dan tekun

membaca kitab suci, ia girang mendengar guru Gin Liong

itu juga seorang paderi, Liau Ceng taysu.

Tiba2 Gin Liongpun teringat akan kematian yang

mengenaskan dari suhunya. Ingin sekali ia cepat2 menuju

ke Hong-shi untuk menemui Ban Hong Liong-li.

Serentak ia menyatakan kepada nyonya Tio tua bahwa ia

masih mempunyai suatu urusan penting sehingga tak dapat

tinggal lebih lama disitu. ia minta agar Mo Lan Hwa

dibebaskan.

“Setelah urusan selesai, boanpwe tentu akan

mengunjungi gunung ini lagi untuk mengaturkan hormat

kepada locianpwee dan minta maaf kepada para saycu

disini.” katanya. Sebagai penutup, ia membungkukkan

tubuh memberi hormat.

Mendengar sikap Gin Liong begitu berduka atas

kematian suhunya tahulah nyonya Tio bahwa pemuda itu

seorang yang berbudi luhur. Diam2 wanita tua itu makin

puas.

Demi mendengar Gin Liong hendak buru2

menyelesaikan urusannya, walaupun tahu Tio Li Kun tentu

akan kecewa, tetapi nyonya Tio tak mau mempersulit

pemuda itu.

“Beng ji, dimanakah taci Siau sauhiap sekarang ?”

tanyanya kepada Tio Tek Beng.

“Mah, soal itu harus ditanyakan kepada Cu hun-saycu.

Toako tak tahu nona Siau berada di mana,” tiba2 Tio Li

Kun menyeletuk.

Mendengar itu Gin Liong tampil ke depan dan

menjelaskan: “Taci Hoa itu bukan orang she Siau. Dia she

Mo, namanya Lan Hwa.”

Mendengar itu Tio Tek Cun yang sejak datang tak

pernah buka suara, serentak maju ke muka dan berseru:

“Siau sauhiap, Mo Lan Hwa itu apakah bukan siau -

sumoay dari Pipa-emas Hok To Beng?”

“Ya, benar memang nona itu,” seru Gin Liong berseri

girang.

Tetapi ketujuh saudara Tio serentak berobah mukanya,

Tio Tek Cun serentak berpaling mencari Cu Ceng Hian,

Kebetulan orang she Cu itu tengah bergegas muncul dari

barisan anakbuahnya.

“Mo Lan Hwa?” seru Tio Tek Cun.

Cu Ceng Hian tertegun.

“Nona yang keliru memasuki daerah terlarang itu adalah

siau-sumoay dan Pipa-emas Hok To Beng ialah nona Mo

Lan Hwa…” seru nyonya Tio tua pula.

Cu Ceng Hian tenangkan diri dan memberi keterangan:

“Tadi ji-saycu Tin Kwun Tong kebetulan datang ke gunung

timur, Demi melihat nona itu berada dalam jaring, ia

berteriak menyebut “siau-moay” lalu membuka jaring itu

sendiri dan mengajak si nona pulang ke markas.

“Mah, aku hendak pulang memeriksanya,” bergegas Tio

Tek Cun berkata lalu lari menuju ke puncak di sebelah

muka.

Melihat ke tujuh saudara Tio itu agak gugup ketika

mengetahui Mo Lan Hwa itu adik seperguruan dari Pipaemas

Hok To Beng, Gin Liong segera memberi penjelasan:

“Adalah karena kudanya binal maka taci Hwa sampai

masuk daerah terlarang dan terjerumus dalam jaring

perangkap, Soal itu tak dapat menialahkan siapa2…”

“Mungkin Siau sauhiap belum jelas akan keadaan yang

sebenarnya. Nona Mo itu sangat disayang sekali oleh ketiga

tokoh Swat-thian Sam-yu. Mereka menurut saja apa yang

nona itu minta. Apabila peristiwa ini sampai terdengar oleh

Swat-thian Sam-yu, wah, runyam juga, Pipa-emas dan

Kakek Pemabuk, masih dapat dilayani, Tetapi si gila Hongtian-

soh itu paling sukar dihadapi. Dia paling sayang

kepada siau-sumoaynya nona Mo Lan Hwa,” Siau-yau ihsu

Tio Tek Beng cepat menjelaskan.

“Maka setiap orang yang tahu akan hubungan mereka,

tak ada yang berani mengganggu nona Mo,” ia

menambahkan pula.

Gin Liong termenung. Tiba2 ia melihat wajah Tio Li

Kun tidak senang tadi, Iapun mendapat kesan bahwa nona

jelita itu lebih anggun wajahnya dari Ki Yok Lan.

Rupanya si limbung Thiat-lo-han tak puas mendengar

keterangan toakonya, ia membenturkan sepasang palu

besinya dan mendengus marah:

“Hm, apa itu Pipa-emas, Pipa-perak dan Swat-thian Samyu.

Begitu berjumpa dengan aku si Thiat-lo-han ini tentu

akan kuhajar dengan sepasang palu besiku ini !”

“Tolol, jangan menggila. Mari kita lekas pulang untuk

menjenguk nona Mo itu. Sudahlah, apabila peristiwa ini

terdengar Swat-thian San-yu akulah yang akan

menghadapinya,” kata nyonya Tio tua.

Kemudian dengan wajah yang ramah, nyonya tua itu

mengajak Gin Liong ke markas karena Mo Lan Hwa sudah

berada disana.

Gin Liong meragu. ia teringat akan sumoaynya, Ki Yok

Lan. yang menunggu di hotel dalam kotaHong-shia.

“Apakah Siau sauhiap masih ada urusan lain lagi ?”

tanya Tio Tek Beng.

Dengan terus terang Gin Liong menerangkan tentang

sumoaynya yang menunggu di hotel kota Hong-shia,

Apabila besok pagi2 ia tak datang, sumoaynya tentu

gelisah.

“Menginap di hotel apakah sumoay Siau sauhiap itu ?”

tanya Tio Tek Giam.

“Hotel Ko Liong.” sahut Gin Liong.

Mendengar itu Tio Tek- Giam segera minta kepada

toakonya supaya melepas burung dara pembawa surat,

memberitahu kepada ketua cabang di kota Hong-shia

supaya besok pagi2 mengirim orang menemui nona Ki dan

memberitahukan bahwa Siau Gin Liong berada di markas

persaudaraan Tio di gunung Mo-thian-san.

Tio Tek Beng menyetujui Gin Liong menghaturkan

terima kasih kepada persaudaraan Tio atas bantuan mereka.

Demikianlah nyonya Tio dengan diiringi oleh putera

puterinya dan seluruh anak buah gunung Mo-thian-san

segera membawa Gin Liong menuju ke markas besar.

Markas itu terletak dalam lembah. Terdiri dari beberapa

bangunan gedung yang indah, setelah melalui beberapa

bangunan dan lorong akhirnya masuklah mereka kedalam

sebuah gedung. Disitu telah menunggu para menantu dari

nyonya Tio tua.

Ternyata memang Mo Lan Hwa sudah menunggu dalam

ruang itu. pertemuan itu amat menggembirakan sekali.

Tengah mereka bercakap-cakap, tiba2 masuklah si

limbung Thiat-lo-han terus langsung menunjuk kepada Mo

Lan Hwa:

“Mah, nona ini mengendarai kuda menerobos penjagaan

anak buah kita, Kelak dia tentu akan menjadi seorang

nyonya gila !”

“Lo Ngo, mengapa engkau begitu kurang adat terhadap

nona Mo !” seru nyonya Tio tua seraya gentakkan

tongkatnya ke lantai, “hayo, lekas minta maaf kepada nona

Mo !”

Melihat mamahnya marah, si limbung Thiat-lo-han

termangu-mangu. ia segera minta maaf kepada Mo Lan

Hwa.

Nyonya Tio tuapun segera menyuruh menyediakan

hidangan untuk menghormat kedua tetamunya.

Gin Liong tahu bahwa nyonya Tio tua itu dahulu adalah

pendekar wanita Lok-yang li-hiap yang termasyhur ia

makin menaruh hormat kepada nyonya tua itu.

Demikian pula dengan nyonya Tio tua. Tahu bahwa Gin

Liong itu murid dari Pelajar-muka-tertawa Kiong Cu Hun,

ia semakin berkenan dalam hati.

Diam2 putera2 juga tahu bahwa mamahnya itu amat

setuju dengan Gin Liong. Bahkan si limbung Thiat-lo-han

yang suka bicara secara blak-blakan pun tahu kalau

mamahnya suka kepada pemuda itu.

“Mah, kulihat engkau malam ini sangat gembira sekali,

mulut terus terbuka tertawa-tawa saja. Kalau memang suka,

mengapa tak memungut budak laki itu sebagai putera

angkat ?”

Mendengar itu gemparlah suasana perjamuan. Semua

mata mencurah kearah si limbung.

Si limbung melongo.

Sekonyong-konyong dengan muka berseri tawa, Gin

Liong berbangkit dan melangkah kehadapan nyonya Tio

tua lalu memberi hormat:

“Mah, terimalah hormat dari Liong-ji,” katanya seraya

terus berlutut dan menghaturkan hormat sampai empat kali.

Nyonya Tio tua sangat gembira sekali sehingga ia

tertawa mengucurkan airmata.

Nyonya itu segera minta Gin Liong bangun dan berdiri

disampingnya. Putera2nya gembira sekali dan memberi

selamat kepada mamahnya.

Demikian upacara pengangkatan putera itu berlangsung

dalam suasana yang menggembirakan.

Saat itu hari sudah menjelang terang tanah dan Gin

Liongpun segera minta diri hendak kembali ke kota Hongshia.

“Ah, engkau masih muda belia, belum berpengalaman

dalam dunia persilatan. Aku sungguh kuatir engkau seorang

diri berkelana dalam dunia persilatan itu.” kata nyonya Tio

tua.

“Mah, sudah lama aku tak keluar dari gunung. Aku ingin

menemani Liong-te turun ke dunia persilatan,” tiba2 si

cantik Tio Li Kun berkata.

Tio Tek Beng segera mendukung: “Jika demikian mamah

baru legah pikirannya.”

Mendengar itu nyonya Tio tua mengangguk setuju.

“Mah, aku juga kepingin bersama-sama Liong te…” seru

si limbung Thiat-Io han.

Tetapi nyonya Tio menolak.

Mendengar mamahnya setuju, Tio Li Kun girang sekali.

Segera ia suruh pelayan menyediakan kuda.

“Adik Liong, turunlah dulu mencari kedua ekor kuda

kita, Aku dan taci Li Kun akan menunggumu di mulut

lembah,” kata Mo Lan Hwa.

Tiba2 Tio Tek Cun masuk dengan membawa sehelai

kertas, serunya: “Toako, celaka !”

“Mengapa, Liok-te?” seru Tio Tek Beng.

Tio Tek Cun menyerahkan surat kepada toa-konya lalu

berpaling kearah Gin Liong:

“Liong-te, sumoaymu itu apa bukan dara yang berumur

17 tahun.”

“Ya, kenapa?” tanya Gin Liong.

Sambil menunjuk kearah surat yang dipegang toakonya,

Tio Tek Cun berkata cemas:

“Menurut surat dari ketua cabang kita di Hong-shia,

semalam seorang dara baju putih yang bermalam di hotel

Ko Liong telah berkelahi dengan Hun-tiap Sam-long, salah

seorang tokoh dari kedelapan Thiat-san Patkoay, Pagi tadi

jongos hotel mengatakan bahwa dara baju putih sudah

menghilang.”

Setelah selesai membaca surat, berkatalah Tio Tek Beng:

“Rupanya nona Ki tentu ditawan oleh penjahat cabul itu.”

Mendengar itu merah padamlah muka Gin Liong,

Segera ia menghampiri ke harapan nyonya Tio dan mohon

diri.

Setelah memberi hormat, ia terus melesat keluar.

“Liong-te, tunggu,” seru Tio Tek Beng, Gin Liong

hentikan langkah, “Harap Liong-te jangan gegabah, Thiatsan

itu sangat berbahaya, Kedelapan Thiat-san Pat-koay

itupun teramat ganas sekali…”

“Baiklah, harap toako jangan kuatir,” kata Gin Liong,

“sekalipun Thiat-san itu sebuah neraka, aku tentu dapat

mengobrak abriknya.”

Habis berkata Gin Liong terus melesat pergi “Liong-ji,

hati-hatilah,” nyonya Tio seraya menyuruh Tio Li Kun

segera menyusul pemuda itu, “lekas kalian berdua

menemani Liong ji.”

Tio Li Kun dan siau Hoan girang sekali. Sambil menarik

tangan Mo Lan Hwa, Tio Li Kun berseru kepada Tio Tek

Cun : “Liok-ko, mah kita segera berangkat.”

Mereka bertiga segera melesat keluar.

Melihat liong-te dan jit-moaynya pergi, si limbung Thiat-

Io hanpun minta ijin kepada mamahnya.

Karena kuatir Gin Liong tak cukup tenaganya. nyonya

Tiopun mengijinkan si limbung Thiat-lo-han ikut.

Tek Cun naik kuda merah dan sijelita Tio Li Kun naik

kuda putih, Sedang Mo Lan Hwa mengikuti dibelakang

kuda putih itu. Setelah menunggu beberapa saat, akhirnya

Gin Liong pun tiba dengan naik kuda hitam dan kuda

hitam kaki putih.

Mereka segera berangkat turun gunung, Rupanya Gin

Liong terburu-buru sekali hendak mengetahui berita

sumoaynya, ia mencongklangkan kuda hitamnya dan

meninggalkan ketiga kawannya di belakang.

Tiba di kota Hong-shia.Mo Lan Hwa bertiga tak melihat

bayangan Gin Liong lagi, Mereka segera mencari rumah

penginapan Ko Liong.

Ternyata Gin Liong memang sudah berada disitu, Gin

Liong menerangkan bahwa laporan kepala cabang itu

memang benar, Ki Yok Lan sudah lenyap.

Mereka berempat segera meninggalkan kota Hong-shia.

Tetapi mereka dikejutkan oleh munculnya si limbung Thiat

lo-han. Si limbung tertawa-tawa girang sekali karena dapat

bertemu dengan keempat anak muda itu.

“Hai, siapa yang suruh engkau menyusul ?” tegur Tio Li

Kun.

“Mamah,” sahut si limbung, “bukankah kalian hendak

menuju ke gunung Thiat-san ? Hayo, aku yang menjadi

penunjuk jalan.”

Tengah hari mereka tiba di Pak-kwan. Si limbung

menggerutu panjang pendek karena perutnya lapar,

Akhirnya Gin Liong setuju untuk beristirahat mengisi perut

disebuah rumah makan.

Si Limbungpun segera pesan beberapa macam hidangan

yang lezat. Dalam pada itu Gin Liong memperhatikan

bahwa para tetamu rumah makan itu kebanyakan adalah

orang2 persilatan dan kaum pedagang.

“Orang tua itu memang aneh sekali. Beberapa hari yang

lalu katanya berada di sebuah lembah gunung Tiang-peksan,

kemarin sudah lari lagi ke Tay-sip-kiau . .. .” kata

seorang tetamu.

Gin Liong tertarik perhatiannya dan melirik. Disebelah

meja di tengah ruangan, penuh diduduki orang2 persilatan.

Ada yang tua ada yang muda. Dan yang bicara itu adalah

seorang lelaki pertengahan umur, berwajah merah.

“Keadaan orang tua itu memang aneh, Asal jangan

mengganggu cermin pusakanya, dia pun diam saja. Tetapi

kalau cermin itu di ganggu, baru dia akan membunuh.”

Kemudian orang itu berkata kepada siorang tua: “Tio

lopeh, kalau pergi ke sana kita hanya melihat-lihat saja,

jangan sekali2 ikut turun tangan.”

Yang dipanggil paman Tio itu tertawa : “Peristiwa itu

sebenarnya sudah diketahui oleh dunia persilatan. Hanya

saja, sampai saat ini belumlah seorangpun yang tahu siapa

sesungguhnya orang tua pembawa cermin itu. Yang mati

tempo hari ialah si Pengemis-jahat-kaki-telanjang, paderi

Hoa dan nenek buta Tongkat-burung-bangau.”

Ia menghela napas, kemudian melanjutkan “Kabarnya

saat ini Kim-piau Ma Toa Kong dari partai Tiam-jong-pay,

Bu Tim cinjin dari Kiong-lay-pay dan seorang lotiang dari

Kong-tong-pay menuju ke Tay-sip-kiau.”

Tertarik hati Gin Liong akan percakapan itu. Asal

menuju ke Tay-sip-kiau, ia tentu dapat menemukan orang

itu, Tetapi saat itu ia harus ke gunung Thiat-san untuk

membebaskan sumoay nya.

Pembicaraan orang2 yang berada di meja tengah itu,

kebanyakan berkisar tentang diri orang tua pembawa

cermin Gin Liong dapatkan Mo Lan Hwa dan kawan2,

juga mendengarkan dengan penuh perhatian. Hanya si

limbung Thiat-lo-han yang masih enak2 melahap ayam

panggang dan arak.

Tiba- Gin liong terkejut karena melihat Siau-bun-hou Tio

Tek Cun tengah memandang kebelakang tubuhnya dengan

mata berapi-api. Ketika Gin Liong berpaling dilihatnya tak

jauh dari tempat duduknya, dua orang paderi dan imam

sedang duduk menghadapi pinggang dan cawan arak yang

sudah kosong, Rupanya mereka sudah kenyang makan

minum.

Si paderi mengenakan jubah hitam, punggungnya

menyanggul sebatang senjata macam sekop yang diikat

dengan gelang. Alis tebal mata besar,Matanya berkilat-kilat

jahat.

Si imam mengenakan jubah bersulam patkwa,

menyanggul pedang pada punggungnya, Sepasang matanya

yang jelalatan menandakan dia seorang yang licik dan

ganas.

Kedua paderi dan imam itu memandang tak berkedip

kearah Mo Lan Hwa. Mulutnya berkomat-kamit seperti

menelan air liur.

Sudah tentu Gin Liong marah tetapi karena ia tak ingin

menimbulkan onar, maka memberi isyarat mata kepada

Tek Cun supaya bersabar.

“Hm…” walaupun menurut tak urung Tek Cun

mendengus geram untuk menyalurkan kemarahannya.

Mendengar itu Thiat-lo-han berpaling, Tetapi saat itu

Gin Liong cepat menuang arak pada keempat kawannya.

Melihat arak, Thiat lohan lupa malah. Segera ia

menyambar dan terus meneguknya

Tio Tek Cun serta mertapun segera menghaturkan arak

kepada Mo Lan Hwa. Nona itu diam2 memperhatikan

sikap Tek Cun yang begitu hangat dan mesra kepadanya.

Diam2 Gin Liongpun memperhatikan bahwa sejak

kemarin malam, memang Tek Cun sangat menaruh

perhatian istimewa terhadap Lan Hwa, ia membayangkan

bahwa kedua muda mudi ini memang merupakan sejoli

yang amat cocok sekali. Apabila keduanya dapat terangkap

jodoh, wah, iapun ikut gembira.

Memikir sampai disitu, diam2 Gin Liong seperti terlepas

dari suatu tindihan asmara.

Bidadari-Mo thian-san Tio Li Kunpun memperhatikan

betapa mesra engkohnya Tek Cun itu bersikap terhadap

Lan Hwa. Pun ia memperhatikan bahwa dalam soal itu

ternyata Gin liong malah mendukung. Dengan demikian

timbullah harapan makin besar hati bidadari dari gunung

Mo-thian-san itu terhadap Gin Liong.

Tetapi dikala membayangkan betapa girang Gin Liong

memikirkan sumoaynya, diam-diam hati Tio Li Kun agak

rawan.

Setelah seusai makan dan membayar rekening, mereka

dapatkan kedua paderi itu sudah pergi.

“Kedua paderi dan imam itu tentu murid2 perguruan

agama yang bejat,” kata Gin Liong.

“Kita masih mempunyai urusan penting yang harus

dikerjakan lebih baik, jangan cari perkara lain,”

“tiba2 si jelita Tio Li Kun menyeletuk.

“Hai, urusan apa ?” tiba2 si limbung Thiat-lo-han

berseru.

“Bukan urusanmu !” tukas Tio Li Kun.

Gin Liong segera mengajak kawan-kawannya berangkat.

Kelima kuda mereka lari secepat angin. Baru melintasi dua

buah puncak gunung, kuda hitam yang dinaiki Gin Liong

meringkik keras. Ternyata tak jauh di sebelah muka,

tampak dua ekor kuda sedang berjajar menghadang jalan.

Siapa lagi kalau bukan kedua paderi dan imam yang makan

di rumah makan tadi.

“Kedua manusia itu rupanya memang sudah bosan

hidup,” kata Tek Cun.

“Aku saja yang mengantar mereka pulang ke akhirat,”

tiba2 si limbung Thiat-lo-han berseru, mencabut sepasang

palu besi.

Paderi dan imam itu tertawa gelak2, serunya: “Aha,

ternyata Budha telah memberi kemurahan kepada kami

berdua untuk mendapatkan apa yang kita ingini”

Mereka mencabut senjata dan memutar-mutar jual

kegarangan.

Kuda hitam, kuda hitam kaki putih dan kuda putih tiba2

meringkik keras dan menerjang kemuka dan wut, wut, wut,

ketiga ekor kuda itupun loncat ke udara melayang

melampaui kepala kedua paderi dan imam,

Kedua paderi dan imam itu pucat wajahnya menjerit dan

tundukkan kepala, Keringat dingin mengucur deras.

“Hai, lihatlah pusakaku !” teriak si limbung Thiat-lo-han

seraya melemparkan kedua palu besi kearah kedua orang

itu.

Paderi dan imam makin menjerit kaget dan loncat dari

kuda, berguling-guling ke tepi jalan.

Bum, sepasang palu besi itu menghantam tanah,

menimbulkan debu dan pasir yang menutupi pemandangan.

Tar, tar . . . . kembali terdengar cambuk menggelegar di

udara, Kedua paderi dan imam itu terkejut tetapi mereka

tak dapat menghindar dari cambuk lagi. Cambuk si limbung

Thiat-lo-han dan Tek Cun masing2 telah menghajar kepala

kedua paderi dan imam itu sehingga mereka berkunangkunang

matanya, menjerit-jerit lari menghampiri kuda, lalu

melarikan diri.

Tetapi kembali mereka harus berhadapan dengan dua

orang penghadang. Hanya saja, kali ini mereka tidak

terkejut ketakutan melainkan tertawa gembira sekali.

Kedua penghadang itu bukan lain adalah Mo Lan Hwa

yang naik kuda hitam kaki putih serta Tio Li Hwa yang

naik kuda putih.Mo Lan Hwa dan Tio Li Kun memainkan

pedangnya dengan gencar dan tengah mengancam kedua

paderi dan imam itu.

Jika tadi dalam rumah makan mereka begitu bernafsu

sekali melihat Mo Lan Hwa yang cantik, Saat itu mereka

rontok nyalinya ketika melihat ilmu permainan pedang

kedua jelita yang begitu hebat.

“Li-posat, ampunilah jiwa kami . . . .” belum selesai

mereka berkata, dua sinar pedang melayang dan menjeritlah

mereka karena kepala mereka terbang dari tubuhnya.

“Ho, mereka sudah pulang ke akhirat, tetapi kita belum

tahu namanya. Bagaimana kalau kelak kita akan

menyambangi mereka?” sambung Thiat-lo-han menggerutu.

“Sudahlah ngo-ko,” seru Tek Cun, “lain kali jangan

mengeluarkan pusakamu lagi, jangan sekali-kali suka

melemparkan senjatamu. Kalau lawan dapat menghindar

dan menyerangmu, bukankah engkau akan menghadapi

kesulitan ?”

Si limbung turun dari kuda, memungut sepasang palu

besinya dan tanpa berkata terus lompat keatas punggung

kudanya lagi.

Dikala baru saja matahari terbenam, mereka tiba di desa

Ban hok-cung.

Walaupun sebuah desa, tetapi Ban-hok-cung amat ramai.

Demikian pula pada waktu malam, ramai sekali.

Tek Cun memilih sebuah rumah penginapan besar dan

memilih tiga buah ruang, Ruang tengah ditempatinya

bersama Gin Liong, Kamar samping kanan oleh Tio Li Kun

dan Lan Hwa. Sedang kamar kiri ditempati si limbung

Thiat-Io-han sendiri.

Malam itu mereka berlima tidur dengan kenangan

masing2.

Gin Liong gelisah memikirkan pembunuh suhunya,

keselamatan sumoaynya dan tempat beradanya Ban Hong

Liong-li.

Siau-bun-hou Tio Tek Cun gelisah dirangsang getar2

asmara. Sudah dua tahun ia memendam asmara kepada Mo

Lan Hwa.

Bidadari gunung Mo-thian-san Tio Li Kun gulak-gulik

tak enak tidur karena memikirkan Gin Liong, pemuda yang

telah mencuri hatinya, kini pemuda itu berada dekat sekali

tetapi bagaimanakah ia dapat mengutarakan perasaan

hatinya.

Mo Lan Hwapun menyesali nasibnya, Dia marah karena

Gin Liong bersikap dingin kepadanya, Karena dendam

cemburu, maka ia sampai hati merancang rencana sehingga

sidara cantik Ki Yok Lan jatuh ke tangan orang jahat, Kini

ia menyesal dan menangis.

Keesokan harinya ketika melihat mata Mo Lan Hwa

membendul bekas menangis, Gin Liong heran dan tak enak

hati.

Tek Cun ingin menghibur tetapi tak tahu bagaimana cara

memulai kata-katanya. Demikian pula dengan Tio Li Kun.

Waktu makan pagi hanya si limbung Thiat-lohan yang

kurang tidur nyenyak semangatnya segar, makan paling

banyak sendiri.

Singkatnya, mereka telah tiba di gunung Thiat-san. Tiga

penjuru gunung itu merupakan laut sehingga sukar untuk

mendaki keatas. Secara terang-terangan datang berkunjung

melalui pintu muka, tentu sukar diterima. Dan hal itu

hanya akan mengejutkan lawan saja. Maka diputuskan

akan naik pada waktu malam, Setelah menolong Ki Yok

Lan, baru nanti membasmi kawanan penjahat gunung itu.

Untuk menghilangkan kecurigaan musuh, mereka

mereka mengambil jalan kecil di sebuah desa. Petang hari

mereka sudah tak jauh dari kaki gunung. Dan pada waktu

malam itu mereka memasuki sebuah desa kecil yang terdiri

hanya beberapa buah rumah. Saat itu sepi sekali, penduduk

disitu sudah tidur.Mereka berhenti di sebuah rumah batuan

dan mengetuk pintu. Seorang kakek tua berumur 70-an

tahun membuka pintu. Tok Cun menyatakan bahwa dia

bersama beberapa saudaranya hendak minta tolong

meniupkan kuda.

Melihat kelima tetamunya itu bersikap sopan dan

menghormat, orang tua itu mempersilahkan mereka masuk.

Lima orang pemuda muncul dengan membawa lentera.

“Bawalah kelima ekor kuda tetamu kita ini ke belakang

dan beri makan secukupnya,” kata orang tua itu.

Setelah menghaturkan terima kasih, kelima pemuda

itupun segera pergi dalam malam gelap, Setelah berunding

sejenak, mereka segera gunakan ilmu lari, dan tak berapa

lama tiba di kaki gunung sebelah utara.

Gunung Thiat-san mempunyai bentuk seperti seorang

raksasa hitam. Sejenak merenung, diam2 Gin Liong

teringat akan peringatan Swan yau-ih-sa Tio Tek Beng

bahwa gunung Thiat-san itu amat berbahaya sekali.

Kemudian mereka mulai mendaki. Gin Liong dan Tek

Kun di muka, Lan Hwa dan Li Kun di tengah, sedang si

limbung Thiat-Io-han di belakang.

Mereka tiba disebelah karang terjal yang menjulang

tinggi. Udara berselimut kabut tebal sehingga sukar melihat

diatas jarak empat puluh tombak.

Untuk menghindari serangan senjata gelap, mereka satu

demi satu melambung ke atas puncak. Pertama tama yang

enjot tubuh ke udara adalah Gin Liong. Karena

pengalaman di gunung Mo-thian-nia, begitu tiba dipuncak

karang itu segera ia bersembunyi dibalik segunduk batu.

Baru tiba dibelakang batu, hidungnya sudah terdampar

bau yang harum, Ketika berpaling ternyata si jelita Tio Li

Kun sudah berada di sampingnya Keduanya saling

mengangguk tertawa.

Setelah itu baru Mo Lan Hwa. Tek Cun dan terakhir si

limbung Thiat-lo-han.

Sampai pada jarak dua-puluhan tombak di sebelah muka,

hanya gunduk2 batu yang aneh bentuknya, suara ombak

mendebur yang terdengar.

Mereka segera berjalan ke muka, Li Kun tetap mengikuti

di belakang Gin Liong, Tek Cun mengikuti di belakang Mo

Lan Hwa dan si limbung yang mengekor di belakang

sendiri.

Tak berapa lama mereka tiba dimuka sebuah puncak

kecil. Mendaki puncak itu, suasana amat menyenangkan.

Penuh dengan pohon2 hijau, kabut berair yang

menyegarkan muka, Makin masuk ke depan, keadaan

gunung makin berbahaya dan makin terdengar jelas debur

ombak laut.

Karena malam gelap, tanpa sengaja mereka telah tiba

disebuah lembah. Lembah itu penuh dengan rumput dan

bunga2 tintan. Rupanya telah dibangun oleh kawanan

gunung Thiat-san menjadi sebuah tempat yang indah.

“Liong-te.” kata Tek Cun, “kalau tak salah kita sudah

berada di tengah2 gunung Thiat-san. Rasanya markas

mereka sudah tak berapa jauh.”

“Liong-te.” tiba2 pula si jelita Li Kun berkata,”

mungkinkah terjadi suatu perobahan dalam markas mereka

?”

Belum Gin Liong menjawab, Tek Cun sudah

mendahului: “Kurasa tidak, Selama dalam perjalanan kita

tak melihat bekas2 pertempuran.”

Mo Lan Hwa mendengus tak puas: “Tetapi mengapa

selama dalam perjalanan kita tak bertemu barang seorang

manusia ?”

Karena tubuhnya tinggi besar dan ilmu ginkangnya agak

rendah, maka begitu tiba, napasnya terengah-engah dan

keringat bercucuran deras.

“Keparat, Thiat-san Pat-koay mungkin sudah mampus !”

ia mengomel panjang pendek.

Tek Cun berempat terkejut ia hendak memberi

peringatan agar engkohnya kelima itu jangan bicara Keras2.

Tetapi tiba2 terdengar suara tertawa seram, mengalun di

udara.

Jika Gin liong terkejut dan marah karena merasa

jejaknya telah diketahui musuh, tidaklah begitu dengan si

limbung Thiat-lo-han yang malah menantang:

“Ngo-ya telah datang, hayo suruh Pat-Koay keluar

menerima kematiannya !”

Malam sunyi, suara teriakan Thiat-lo-han itu

berkumandang jauh, sampai ke langit Tiba2 terdengar suara

orang tertawa gelak2. Gin liong berlima terkejut. Jelas dari

nada tertawanya dapat diketahui bahwa orang itu memiliki

ilmu tenaga-dalam yang hebat. Tentu salah seorang

anggauta dari kedelapan Pat-koay.

“Budak, kalian datang terlambat ?” Rajawali-gundullengan-

besi sudah lama menunggu disini!” seru orang itu

pula lalu tertawa.

Tring, karena marah, si limbung benturkan sepasang palu

besinya dan berteriak: “Kalau sudah lama menunggu,

mengapa tak lekas keluar !”

“Budak bermulut besar, apa engkau kira kami Pat-koay

ini sungguh2 takut kepada kalian bertujuh?” sahut orang itu

lalu berseru memberi perintah: “Barisan obor kanan kiri…”

Dari samping kanan dan kiri segera terdengar gelombang

teriakan yang menggemparkan. Menyusul hampir seratus

buah obor segera menyala.

Lebih kurang tiga-puluh tombak disebelah kanan dan

kiri, tampak beratus-ratus anak buah gunung Thiat-san yang

mengenakan pakaian hitam. Yang seratus orang memegang

obor dan sisanya mencekal senjata golok.

Dan ketika Gin Liong berlima memandang ke muka,

ternyata diantara gunung2 batu sejauh tiga-puluh tombak,

tegak delapan lelaki berwajah seram. Ada yang berkepala

gundul, yang berambut panjang berwajah pucat, bertubuh

gemuk, kurus kering dan tinggi pendek serba menyeramkan.

Dibelakang berpuluh tombak dan kedelapan manusia

aneh atau Pat-koay itu, tampak dinding tembok markas

mereka yang tinggi.

Dengan mata berapi-api buas, kedelapan orang itu secara

pelahan-lahan maju menghampiri ke tempat Gin Liong

berlima.

“Liong-te, mereka itulah Pat-koay.” Li Kun melesat ke

samping Gin liong dan membisiki.

Yang didepan dari rombongan Pat-koay itu kepalanya

gundul, rambut putih, hidung bengkok, umurnya 70-an

tahun, mengenakan jubah yang panjang sampai menyapu

tanah. Dia adalah Rajawali-gundul-lengan-besi Gui Se

Leng, jago pertama dari Pat-koay.

Dibelakang dua orang, yang satu rambut dan jenggotnya

kelabu, matanya tinggal satu, alis panjang mengenakan

pakaian warna kelabu, namanya Li Ko Ceng bergelar Tokgan-

liong atau Naga-mata-satu, Dan yang satunya adalah

seorang paderi bermata besar, alis tebal, dada penuh rambut

lebat Toa To hwesio atau paderi perut Besar demikian

nama gelarannya.

Dua orang di belakangnya lagi, yang satu bermuka

pucat, mengenakan baju dari kain kasar, Dia adalah jago

keempat dari Pat-koay. julukannya Hwat-kiang-si atau

Mayat Hidup, Dan yang seorang, beralis naik, mata cekung

mengenakan pakaian hitam. Dia adalah Ngokoay atau jago

kelima, bergelar Hek-bu-siang atau setan hitam.

Disamping kiri dari kelima Pat-koay itu, seorang lelaki

yang rambutnya terurai ke belakang, pakaian compang

camping, Dia adalah Lak-pian-seng atau Manusia Kotor.

Sebelah samping kanan, seorang wanita yang dandanannya

menyolok selain Hoa-ciau-hong atau Bunga-mengundangkumbang

demikian gelaran wanita cabul itu.

Dan paling belakang sendiri seorang lelaki berumur 30-

tahun lebih, mengerjakan pakaian warna meraih mukanya

berbedak, rambut kelimis, tubuhnya kurus. Dia adalah

Hun-tiap-sam-long atau pemuda Kupu-berbedak, yang baru

dua jam berselang kembali ke gunung.

Demi melihat Gin Liong dan Mo Lan Hwa yang pernah

dilihatnya didalam kota Hong-shia seketika berobahlah

wajah Hun-tiap Sam-long, ia segera tahu maksud

kedatangan kelima pemuda itu. Maka dia tak berani unjuk

diri di muka melainkan berada di belakang rombongannya.

Saat itu rombongan Pat-koay sudah tiba pada jarak tujuh

tombak. Serentak Bidadari gunung Mo-thian-san Tio Li

Kun menunjuk ke arah Hun-tiap Sam-long.

“Liong-te, yang dibelakang sendiri itu adalah Hun-tiap

Sam-long . . .”

Gin Liong serentak berteriak gusar: “Penjahat cabul,

serahkan jiwamu . . . .” – ia terus meluncur maju untuk

menyerang.

“Liong-te, jangan . . . ,” teriak Tio Li Kun. Tetapi

terlambat, Gin Liong sudah menyerbu diantara Hek – bu -

siang dan wanita cabul Hoa -ciau-hong.

Yang dipandang sebagai lawan berat oleh Pat-koay,

hanialah Tek Cun dan si jelita Li Kun dari ke tujuh

persaudaraan Tio. Gin Liong dan Mo Lan Hwa tak

dipandang mata.

“Budak, berhenti . . . !” bentak Rajawali-gundul-lenganbesi.

Tetapi saat itu Gin Liong sudah berada di depan Hek -

bu – siang danHoa-ciau-hong.

Hek-bu-siang cepat tutukkan jarinya yang kurus ke

pinggang Gin Liong. Tetapi tanpa menghiraukannya, Gin

Liong menyelinap dan meneruskan serbuannya kepada Hun

tiap Sam long.

Apabila Hek-bu-siang tercengang adalah Hoa-ciau-hong

sudah menghantam muka Gin Liong.

“Enyah !” bentak Gin Liong segera balas menghantam

bahu kiri wanita itu, Dan serempak iapun terus menyelinap

ke arah Hun-tiap Sam-long.

Melihat gerakan yang begitu tangkas dari Gin Liong,

Hun-tiap Sam-long menjerit dan buru2 loncat ketempat Toa

To hweshio, Tetapi Gin Liong lebih cepat Sekali loncat ia

ayunkan tangannya ke ubun2 kepala orang.

“Liong-te, jangan dibunuh !” teriak Tio Li Kun.

Rupanya Gin Liong tahu apa yang dimaksud si jelita itu.

Cepat ia turunkan tangan untuk mencengkeram dada Huntiap

Sam-long.

Paderi Perut Besar mengurung dan cepat menghantam

punggung Gin Liong. Tetapi pemuda itu hanya tertawa

dingin, mendorong tubuh Hun-tiap Sam-long lalu berputar

tubuh dan mendorongkan tangan kanannya.

Terdengar letupan keras diiring oleh jeritan aneh ketika

tubuh dari paderi itu terlempar berguling sampai tiga

tombak jauhnya.

Tek Cun berempatpun sudah loncat ke belakang Gin

Liong Sedang si Manusia – kotor segera lari menghampiri

Toa To hweshio paderi itu duduk sandarkan tubuh pada

kaki Manusia-kotor, Pandang matanya berkunang2, mulut

menganga terengah-engah keras.

Suasana serentak sunyi senyap, Thiat-san Pat-koay

terkejut memandang Gin Liong, Mereka tak menyangka

kalau pemuda tak terkenal itu memiliki tenaga-dalam yang

sedemikian saktinya. Hanya sekali hantam, Toa To

hweshio, pemimpin ketiga dari kawanan Pat-koay telah

terlempar sampai tiga tombak.

“Penjahat cabul yang tak tahu malu. Lekas bilang,

dimana sumoayku engkau sembunyikan !” bentak Gin

Liong seraya menuding Hun-tiap Sam-long..

Rajawali-gundul bertambah angkuh:

“Budak bermulut tajam, jelas engkau hendak jual jiwa

bekerja pada persaudaraan Tio untuk merampok gunung

ini, mengapa engkau cari alasan segala macam . . .”

“Bangsat tua, tutup mulutmu !” bentak Tek Cun,

mencabut trisula pendek terus menyerang.

Serangan Tek Cun itu cepat disambut oleh Hua – ciau -

liong yang sejak tadi marah melihat tingkah laku Gin Liong

dan Tek Cun. Tetapi wanita cabul itupun segera disongsong

oleh Mo Lan Hwa yang membabat lambungnya Tiba2 Toa

To hweshio loncat berdiri terus menggerung dan menyerang

Gin Liong. Melihat Tek Cun sudah melayani Hoa-ciauhong,

Mo Lan Hwa segera beralih menyerang kepala Toa

To hweshio.

Tetapi paderi perut Besar itu tak mau menangkis atau

menghindar melainkan tetap ulurkan tangannya hendak

meraih leherMo LanHwa.

“Tring…”

Mo Lan Hwa terkesiap, Ternyata gundul Toa To

hweshio itu sekeras baja, Dan dalam pada itu tangan si

paderipun hampir tiba di leher si nona.

-ooo0dw0ooo-

Bab 5

Lima nyonya menantu

Gin liong terkejut Cepat ia meluncur maju menyambar

siku lengan paderi itu:

“Bangsat gundul, engkau cari mati . . . “

Tay To hweshio atau paderi perut Besar terkejut juga

melihat serangan anak muda itu. Dengan nekad ia

tundukkan kepala lalu membentur dada Gin Liong.

Dalam kesempatan itu Mo Lan Hwapun segera

menggeliat ke tempat Li Kun yang tegak dengan pedang

melintang.

Tetapi Gin Liong tak mau melayani kenekadan paderi

itu, Cepat ia menyelinap kesamping dan menyusup ke

belakang si paderi lalu mengirim sebuah tendangan.

Karena serudukannya luput, paderi itu meluncur ke

muka, Dan kaki Gin Liong mempercepat laju tubuhnya

menyusur ke tempat Thiat-lo-han.

Si limbung Thiat-lo-han menyengir Cepat ia mengangkat

tinjunya yang besar untuk dihantamkan kebatok kepala

paderi itu.

Hwat-kiang-si dan Hek-bu-siong terkejut sekali, Dengan

memekik keras mereka serempak hendak menerjang Thiat-

Io-han.

Prakk . . . .

Terlambat Tinju si limbung yang besarnya hampir sama

dengan buah kepala, telah terlanjur menimpali kepala Tay

To hweshio, Batok kepala paderi Perut Besar yang keras,

akhirnya hancur berantakan juga terhunjam tinju si limbung

Thiat-lo-han.

Rubuhlah paderi itu. sepasang tangannya yang berbulu

lebat mencengkeram tanah keras2. Rupanya paderi itu

tengah meregang jiwa dengan penasaran.

Sudah tentu Rajawali-gundul-lengan-besi Gui Se Leng,

kepala dari Pat-koay, marah sekali. Dengan menggerung

keras ia segera menerjang Thiat-lo-han.

Tetapi serempak dengan itu, terdengar pula jeritan ngeri.

Rajawali-gundul terkejut dan berpaling. Ah . . .

Tampak Siu-bun-hou Tek Cun dengan mencabut

trisulanya yang pendek dari dada wanita cabul Hoa ciau -

ling. Bluk, wanita cabul itu lepaskan pedang dan terkulai

rubuh, Darah mengalir dari dadanya

Melihat itu bukan kepalang marah Hun tiap sam long,

dengan meradang dahsyat ia telah menerobos dari sela2

Tok-gan liong serta menerjang Tek Cung.

Tetapi cepat2 Gin Liong menyambar lengan Hun tiap

sam long sehingga dia menjerit kesakitan.

Melihat itu Rajawali gundul Gui Se Liang segera

lepaskan pukulan Lat hiat Hoa-san atau menghantam

gunung Hoa san kepada Gin Liong, sedang tangan kirinya

serempak menyambar siku lengan pemuda itu.

Sekaligus ketua dari Pat-koay itu melancarkan serangan

yang dahsyat.

Bidadari dari gunung Mo-thian, Tio Li Kun terkejut,

buru2 ia loncat menusukRajawali gundul.

Lak pian-seng atau si Manusia kotor kebutkan lengan

bajunya dan sebuah kipas besi telah menyembul di

tangannya. Secepat ditaburkan, secepat itu pun ia terus lari

menerjang Tio Li Kun.

Setelah dapat menangkap si penjahat cabul Hun-tiap

sam-long, sudah tentu Gin -Liong tak mau melepaskannya.

Cepat ia loncat membawa Hun-tiap sam long sampai dua

tombak jauhnya.

Pada saat Gin liong tegak itulah, sebuah pekikan dahsyat

dari sesosok bayangan biru sudah menerjangnya.

Gin Liong terkejut dan berpaling. Tampak Pat-koay

nomor dua ialah Naga-mata-satu, rambutnya meregang

tegak, biji matanya yang tinggal satu bersinar buas, golok

hian-to yang berkilat-kilat tajam mendesing kearahnya.

Dalam pada itu pukulan Rajawali-gundul tadipun

mengancam kearah kepala Gin Liong.

Melihat itu memancarlah hawa pembunuhan pada dahi

Gin Liong, Dengan membentak keras ia mendorong tubuh

Hun-tiap-sam-long. Kemudian cepat berputar tubuh,

membentak keras seraya menangkis pukulan Rajawaligundul

yang termasyhur memiliki Thiat pi atau lengan besi.

Tiba2 terdengar jeritan melolong yang amat ngeri sekali

Ternyata karena tubuh Hun-tiap-sam-long didorong

ketempat Naga-mata-satu, si Naga-mata-satu tak sempat

lagi untuk menarik atau menghentikan gerakan goloknya

yang hendak disabetkan padat Gin Liong.

Golok bunto adalah sebuah golok yang amat tipis dan

tajam luar biasa. Tak ampun lagi tubuh Hun-tiap-sam-long

telah terbelah menjadi dua, darah menyembur dan isi

perutnyapun berhamburan keluar.

Krak…

Saat itu terjadilah benturan antara tangan Gin Liong dan

tangan Rajawali-gundul.

Sepasang bahu Gin Liong bergetar tetapi Rajawaligundul

tergempur kuda2 kakinya sehingga terhuyunghuyung

mundur sampai tiga langkah.

Terdengar pekik melengking segumpal asap merah

meluncur dan Mo Lan Hwa menghadang si Naga-mata

satu, Pat-koay nomor dua yang telah salah tangan

membunuh Hun-tiap-sam-long.

Gin Liong menyempatkan diri untuk memandang ke

sekeliling, Dilihatnya si limbung Thiat-lo-han tengah

bertempur melawan Hek-bu-siong. Si jelita Tio Li Kun

tengah melayani Lak-pian-seng si Manusia-kotor, Tek Cun

bertanding lawan Hi-kiang-si atau si Mayat-hidup. Keenam

orang yang bertempur dalam tiga partai itu, tampak sedang

bertempur mati-matian.

Sedangkan beratus-ratus anak buah Pat-koay tampak

berjajar-jajar di sekeliling gelanggang bertempur dengan

membawa obor, Mereka terlongong-longong menyaksikan

pertempuran yang dahsyat itu.

Tiba2 dari tengah lereng gunung disebelah muka,

terdengar lima buah letusan bunga api. Percikan bunga api

itu menimbulkan pemandangan indah di malam yang gelap.

Tetapi lokoay Rajawali – gundul serentak berobah seri

wajahnya, Beratus – ratus anak buahnyapun segera bersorak

nyaring lalu berhamburan lari menuju ke gunung di muka

itu.

Gin liong segera tahu bahwa tentu ada pula kawanan kojiu

(tokoh sakti) yang menyerbu gunung.

Tiba2 Rajawali gundul tertawa nyaring dan seram.

Selekas berhenti, ia menghardik sekeras-kerasnya :

“Berhenti semua !”

Serentak pertempuranpun berhenti, Hek-bu siong, Hwatkiang-

si, Lak-pian-seng dan Naga-mata-satu segera

berhamburan loncat ke belakang Rajawali-gundul. Wajah

mereka tampak tegang sekali dan memandang ke arah

gunung disebelah muka.

Pun Tek Cum, Thiat-lo-han. Tio Li Kun dan Mo lan

Hwapun segera meluncur ke muka Gin Liong, Mereka tat

tahu apa yang terjadi.

Dengan mata berkilat-kilat, Rajawali-gundul membentak

Tek Cun:

“Siau bun-hou, kami dari gunung – Thiatsan tak merasa

mempunyai dendam permusuhan kepadamu Tetapi

mengapa ketujuh saudaramu malam ini menyerang gunung

kami? Apa maksudnya, katakanlah !”

Tek Cun kerutkan dahi dan menyahut marah sekali:

“Kedatangan kami bersaudara bersama Siau sauhiap

kemari, tak lain hendak meminta kembali nona Ki yang

telah dirampas Hun-tiong-sam-long di rumah penginapan

kota Hong-shia ….”

“Kalau mau minta orang mengapa tak secara terangterang

datang ke gunung ?” tukas si Naga-mata-satu dengan

marah.

Karena dirinya tak di tanya. Thiat-lohan merasa terhina.

ia marah. sebelum Tek Cun menyahut ia sudah mendahului

membentak dengan deliki mata:

“Ke gunung mau cari siapa ? sepanjang jalan aku tak

ketemu dengan seorang manusiapun juga. Kukira sekalian

sudah mati semua.” .

Naga-mata-satu tak dapat menjawab, dari malu ia

menjadi marah, bentaknya:

“Budak kecil yang bermulut besar…” golok bian-to

berhamburan mencurah kearah Thiat-lo-han.

Tahu kalau engkohnya yang nomor lima tak dapat

menandingi kesaktian Naga-mata-satu. Bidadari-gunung-

Mothian Tio Li Kun segera melengking seraya taburkan

pedangnya menyongsong golok bianto.

Naga-mata-satu tertawa gelak2 :

“Bagus, bagus ! Dengan membunuh kalian bertujuh Jithiong,

tentu bakal menjadi enghiong (jago)!”

Tiba2 permainan golok bian-to dirobah, Golok itu

bergeliat membolak-balik seperti seekor ular, Naga-matasatu

telah mengerahkan seluruh tenaga dan kepandaiannya

untuk menyerang

Si cantik Tio Li Kun hanya tertawa dingin. ia salurkan

hawa murni ke batang pedang dan menggunakan cara

kekerasan untuk menangkis dan adu benturan senjata. Dia

sengaja tak mau menghindar maupun menarik pedangnya.

Dengan kelincahannya yang mengagumkan, si cantik Tio

Li Kun dengan pedangnya itu benar2 menyerupai seorang

bidadari yang sedang bermain-main dalam taman bunga.

Lama kelamaan mata si Naga-mata-satu yang tinggal

sebuah itu mulai berkunang-kunang. Makin lama ia makin

merasa gentar, Saat itu baru ia membuktikan bahwa si jelita

Tio Li Kun yang disohorkan memiliki kepandaian silat dan

ilmu pedang sakti itu, ternyata memang benar.

Lak-pian-seng atau si Manusia-kotor yang menyaksikan

pertempuran itu dari samping, diam2 pun merasa gentar

dalam hati. Saat itu baru ia menyadari bahwa tadi ternyata

si cantik itu memang sengaja tak mau mendesak kepadanya.

“Jite, mundurlah !” melihat Naga-mata-satu tak dapat

bertahan, cepat Rajawali-gundul berseru memangginya.

“Jit-moay, mundurlah !” Thiat lo-han si limbung pun tak

mau kalah suara, ia menyuruh adiknya yang nomor tujuh.

Mendengar teriakan itu, kedua pihakpun berhenti

bertempur.

Sementara di gunung sebelah muka, terdengar letusan2

keras dan pekik jeritan pembunuhan.

“Siau bun-hou, sebenarnya berapa banyak orangmu yang

datang kemari ?” teriak Rajawali-gundul Gui Se Ling

kepada TekCun.

Tek Cun mendengus marah.

“Sekali lagi kukatakan, bahwa kami hanya datang

berlima. Orang2 yang di gunung sebelah muka itu, bukan

orang kami.”

Melihat sikap dan wajah kelima pemuda itu, Rajawaligundul

percaya bahwa mereka memang tak bohong, Segera

ia berpaling memberi perintah kepada Hwat kiang si dan

Hek bu-siong supaya lekas ke gunung disebelah muka.

Kedua orang itupun segera lari pesat menuju ke gunung

disebelah mula, Mereka bercuit aneh dan nyaring. Segera

terdengar teriak sambutan dari gunung di muka, Rupanya

mereka girang karena mendapat bala bantuan.

Pun lebih dari separoh anak buah gunung Thiat- san

yang segera tinggalkan tempat itu menuju ke gunung di

muka.

Melihat itu Gin Liong makin gelisah, ia mencemaskan

Ki Yok Lan

Rupanya Mo Lan Hwa tahu apa yang dipikirkan Gin

Liong, Segera ia menuding Rajawali-gundul dengan ujung

pedang dan berseru:

“Lekas bawa kami ketempat nona Ki. Kalau tidak,

jangan sesalkan aku bertindak kejam.”

Rupanya sejak kalah dengan Tio Li Kun tadi, si Nagamata-

satu tetap malu dan mendongkol, Melihat Mo Lan

Hwa berani menuding dan membentak Rajawali-gundul, ia

tak dapat menahan kemarahannya lagi.

“Tutup mulutmu, budak hina . . . “

“Sejak berumur delapan tahun terjun kedunia persilatan,

sampai sekarang belum pernah ada orang yang berani

memaki aku, Salju-bertebar-merah seorang budak hina !”

Ia menutup kata-katanya dengan tebarkan pedang kearah

Naga-mata-satu.

Mendengar nona itu ternyata Salju-bertebar merah Mo

Lan Hwa, seketika Rajawali-gundul, Naga-mata-satu dan

Lak-pian-seng berobah wajahnya.

“Harap nona suka berhenti,” cepat Rajawali gundul

berseru.

Mo Lan Hwapun hentikan pedangnya, “Jite, mari lekas

pergi, yang datang di gunung sebelah muka itu mungkin

Swat-thian Sam-yu !”

Ketua Pat-koay itu terus melambung ke udara dan

melayang sampai beberapa tombak jauhnya, ia hendak

menuju ke gunung di muka.

Mendengar nama Sam-yu, Naga-mata-satu dan Lakpian-

seng tergetar hatinya. Segera keduanya mengikuti jejak

Rajawali-gundul, menuju ke gunung di muka.

Demikian keadaan dalam lembah pun tampak sibuk

sekali. Anak buah gunung Thiatsan berbondong-bondong

menyerbu ke gunung di sebelah muka.

Keadaan di gunung itu makin kacau, Jerit lolong, pekik

teriak, susul menyusul memecah kesunyian malam.

Gin Liong sibuk juga. Dia tak menghiraukan apa yang

terjadi di gunung sebelah muka. Yang penting ia harus

menyelamatkan sumoaynya.

“Liongte,” tiba2 Tek Gun berkata, “selagi mereka kacau

balau, mari kita masuk kemarkas mereka.”

Tetapi ketika memandang kearah markas gunung Thiatsan,

mereka terkejut.

“Markas Thiat-san dibakar orang !” serempak mereka

berseru kaget.

Markas kawanan Pat-koay telah dimakan api. anak

buahnya menjerit dan berteriak-teriak kacau balau.

“Celaka, apakah nona Ki masih berada dalam markas

mereka,” tiba2Mo Lan Hwa berseru cemas,

Gin Liong terkejut, Tetapi karena Hun-tiap-sam-long

sudah mati, sukar untuk mencari keterangan.

Saat itu letusan2 terdengar makin meluas, Hampir

seluruh lembah dan gunung telah dimakan api.

Tiba2 dari arah belakang terdengar suitan nyaring yang

penuh bernada kemarahan. Cepat Gin Liong berlima

berpaling kebelakang. Tampak Rajawali gundul. Nagamata-

satu dan Lak pian-seng berlari-lari mendatangi seperti

orang gila. Rambut mereka terurai kusut, pakaian lusuh.

Mereka lari menuju ke markas yang tengah dibakar api.

Seorang lelaki pun tengah berlari mengejarnya. Rupanya

dia adalah penyerang dari gunung di sebelah muka.

“Adik Liong, mari kita ikuti mereka, Mungkin nona Ki

masih berada dalam markas,” kata Mo Lan Hwa.

Gin Liong mengangguk. Mereka berlima segera

mengejar dibelakang mereka.

Markas seperti berobah menjadi lautan api. Keadaan

sekitar gunung itu terang benderang seperti siang hari.

Dinding tembok markas dibangun setinggi lima tombak,

terbuat dari batu yang kokoh, Diatas tembok dipasangi

pagar kayu yang ujungnya diberi pisau tajam.

Tetapi kelima pemuda itu tak menjumpai rintangan apa2

ketika mereka loncat keatas pagar tembok itu. Tampak

markas itu penuh dengan bangunan2 rumah, Yang paling

besar, sebuah bangunan bertingkah Di tengahnya terdapat

sebuah ruang besar.

Api berasal dari belakang markas dan saat itu tengah

meranggas kebagian muka.

Setelah melihat keadaan markas itu sunyi senyap, Gin

Liong memberi isyarat untuk bergerak, ia mendahului

melayang turun, Tetapi baru kakinya tiba di tanah, tiba2

terdengarMo LanHwa menjerit tertahan.

Gin Liong terkejut dan cepat berpaling, Ternyata Mo

Lan Hwa dan Tio Li Kun sudah menyerbu kederetan

rumah disebelah kiri.

Bekas tempat yang ditempuh kedua nona itu tampak tiga

anak buah Pat-koay sedang terkapar tidur nyenyak.

Si limbung Thiat-Io han yang sudah loncat turun

bersama Tek Cun, terus langsung menghampiri ketiga anak

buah itu dan mencongkel tubuh mereka dengan kakinya,

Tetapi rupanya ketiga orang itu tidur pulas sekali.

“Ah, mungkin mereka telah ditutuk jalan darahnya oleh

orang yang melepas api,” kata Gin Liong.

Tek Cun segera membuka jalan darah mereka. Seketika

menjeritlah dan melonjak bangunlah ketiga orang itu.

Bahkan terus hendak menabas dengan goloknya,

Tetapi ketika melihat sikap kelima pemuda itu tenang2

saja, merekapun tertegun.

“Apakah kalian bertemu dengan orang sakti?” tegur Gin

Liong.

Melihat Gin Liong seorang yang cukup sopan, ketiga

orang itupun segera memberi keterangan: “Entahlah, kami

hanya merasa dihembus angin dan tahu2 rubuh tak

sadarkan diri lagi.”

Gin Liong berlima diam2 terkejut, jelas malam itu

markas gunung Thiat-san telah kedatangan seorang tokoh

yang sakti.

“Apakah paman bertiga mengetahui jit-saycu Hun-tip

sam-long dikala pulang ke gunung, membawa apa saja ?”

tiba2Mo LanHwa bertanya.

“Kami tak melihat Jit saycu pulang,” kata mereka.

Rupanya percuma saja bertanya dengan ketiga orang itu.

Gin Liong dan kawan-kawannya segera loncat ke atas

rumah dan lari menuju ketempat kebakaran.

Saat itu api makin besar, Anak buah Pat-koay

berbondong-bondong menuju ke markas belakang.

Gin Liong berunding dengan keempat temannya dan

memutuskan untuk menangkap beberapa anak buah markas

yang tahu tentang keadaanHun-tiap-sam-long.

Mereka segera menuju ke markas belakang. Tampak

beratus-ratus anak buah “Thiat-san hanya berteriak-teriak

kalap menyaksikan lautan api tanpa dapat berbuat apa2.

Demikian pula Rajawali-gundul, Naga-mata-satu dan Lakpian-

seng hanya bingung tak keruan menyaksikan

markasnya dimakan api.

Tiba2 dari jendela tingkat kedua dari sebuah bangunan

disebelah kiri, tampak menyala terang.

Gin Liong tertarik Cepat ia lari menuju ke rumah tingkat

itu. Tek Cun berempat pun segera mengikuti Gin Liong

loncat ke atas wuwungan sebuah rumah tetapi masih

kurang tujuh tombak tingginya dari tempat yang menyala

itu. Setelah mengempos semangat, Gin Liong segera enjot

tubuhnya ke udara. Ditengah udara ia bergeliatan

merentang kedua tangan dan langsung melayang ke-arah

jendela ruang bertingkat itu.

Tiba2 jendela terbuka dan dua kepala wanita muda

menyembul keluar, Gin Liong pun menuju ke jendela itu.

Dalam pada itu karena takut terjadi apa2 pada Gin Liong,

Mo LanHwa dan Tio Li Kunpun menyusul.

Kedua wanita itu terkejut dan melarikan diri karena

takut Gin Liong cepat mengejar mereka, Kedua wanita itu

segera jatuhkan diri berlutut dan menangis.

“Jangan takut, kami hendak bertanya kepada kalian,”

Mo Lan Hwa berkata dengan ramah, ia tahu kedua wanita

itu tak mengerti ilmu silat.

Dengan tubuh gemetar mereka mengangguk

“Kali ini Hun-tiap-sam-long jit-saycu pulang dengan

membawa seorang gadis. Tahukah kalian dimana nona

itu?” tanya Mo Lan Hwa.

“O, nona Ki tidak berada dalam markas,” sahut salah

seorang yang lebih tua.

“Dimana ?” seru Gin Liong.

Wanita itu menghampiri jendela lalu menunjuk sebuah

puncak gunung di sebelah tenggara dan memberi

keterangan:

“Karena takut pada li-saycu Hoa-ciau-hong, maka jitsaycu

Hun-tiap-sam-long telah menempatkan nona Ki di

puncak itu. Salah seorang kawan kami ditugaskan untuk

membujuk agar nona Ki mau meluluskan menikah dengan

jit-saycu.”

Gin Liong girang, Setelah menghaturkan terima kasih

segera ia ajak kedua nona melayang turun lagi ketempat

Tek Cun dan Thiat-lo-han menunggu, Mereka berlima

segera menuju ke puncak itu.

Tetapi tiba2 pada saat itu Rajawali-gundul, Hek-bu-siong

dan Lak-Pian-seng berlima menghadang jalan.

“Serahkan jiwa kalian berlima !” teriak Rajawali- gundul

seraya menyerang dengan kalap.

Karena hendak cepat2 menuju ke puncak di sebelah

tenggara, Gin Liong tak bernafsu untuk melayani lebih

lama. Segera ia songsongkan kedua tangannya, Terdengar

letupan keras dan Rajawali-gundulpun terhuyung-huyung

mundur. Atap rumah yang dipijaknya berhamburan pecah.

Naga mata-satu cepat loncat untuk memapaki tubuh

Rajawali-gundul.

Beberapa anak buah Thiat-sanpun segera berdatangan ke

tempat itu. Tetapi pada lain saat dari pagar tembok markas

yang tinggi, meluncur lima sosok tubuh kecil yang terus lari

menghampiri ke tempat Gin Liong.

Gin Liong terkejut. Kelima sosok tubuh kecil itu tak lain

adalah kelima ensoh atau taci ipar dari Tek Cun. Mereka

mengenakan pakaian ringkas dan masing2 menyanggul

pedang pada belakang bahunya.

Toasoh atau taci ipar yang paling besar, mengenakan

baju warna kuning muda. Ji – soh atau yang nomor dua

mengenakan baju biru, ensoh yang ketiga baju wungu

muda, yang ke empat baju hijau. Sedang isteri si limbung

Thiat-lo han yang juga ikut datang, memakai baju hijau tua.

Jika Gin Liong heran, tidaklah demikian dengan Thiat-

Io-han yang tertawa karena melihat isterinya datang.

“Ensoh sekalian, mengapa kalian kemari ?” tegur Tio Li

Kun.

“Mamahlah yang menyuruh kami menyusul karena tak

tega dan kuatir kalian akan mendapat kesulitan dari Patkuay,”

sahut ensoh yang tertua.

“Hai, Siau Bun hou, apakah wanita2 busuk itu tak

mempunyai hubungan dengan engkau ?” teriak Rajawali

gundul marah.

Mendengar ensohnya dihina, Tek Cun marah dan terus

hendak menyerang tetapi tiba2 ensoh yang nomor tiga

sudah mendahului:

“Bangsat tua, engkau memang sudah bosan hidup !”

Wanita baju wungu muda itu mencabut pedang lalu

menusuk dada Rajawali-gundul.

“Perempuan busuk, aku akan menerima beberapa jurus

seranganmu lagi !” Hek-bu siong cepat loncat menyongsong

dengan gunakan senjata Kou-hun-pay atau perisai

pemburu-jiwa untuk menangkis.

“Ho, engkau berani maju lagi ?” wanita itu

menggelincirkan pedang ke samping lalu membabat lutut

Hek-bu-siong.

Setitikpun Hek-bu-siong tak mengira wanita itu memiliki

permainan pedang yang sedemikian cepat dan aneh,

Dengan memekik aneh ia segera menyurut mundur sampai

setombak.

Sam-soh tidak mau mengejar melainkan memandang

Hek-bu-siong seraya mendampratnya:

“Tadi di gunung sebelah muka sudah kuampuni jiwamu,

sekarang engkau masih berani unjuk tingkah lagi.”

Kemudian wanita itu beralih memandang pada Rajawaligundul

dan berseru:

“Ah, tak kira Pat-koay dari gunung Thiat-san yang begitu

termasyhur ternyata hanya kawanan manusia yang tak

berguna !”

Lo-koay Rajawali-gundul pucat wajahnya, Karena

menahan kemarahan gerahamnya sampai bergemerutukan.

sedangkan ji-koay si Naga-mata-satu menengadahkan

muka, tertawa geram:

“Perempuan hina yang bermulut lancang, aku hendak

menguji sampai dimanakah kepandaianmu itu !”

Habis berkata ia terus putar golok bianto dan menyerang

maju.

“Jite, kembalilah !” cepat Rajawali-gundul mencegah. ia

tahu bahwa kekuatan pihak lawan lebih unggul.

Naga-mata-satu hentikan langkah, Dengan mendengus

geram ia memandang kearah Gin Liong dan kawankawannya.

Toa-soh atau taci ipar yang paling besar, tertawa hambar,

serunya: “Lo-koay, mengapa engkau begitu marah, Kalau

tidak karena beberapa saudaramu bermata keranjang

merampas wanita, sekalipun engkau mengirim undangan,

belum tentu kami akan datang ke gunung Thiat-san ini,

apalagi bermaksud hendak merebut markasmu.”

Lo-koay atau Pat-koay nomor satu, deliki mata: “Siapa

yang kami rampas ? Apa buktinya ? Dimanakah orang itu ?”

“Mau bukti? ikutlah aku !” teriak Gin Li-ong yang tak

kuasa lagi menahan kemarahannya ia terus mendahului lari

kemuka, Tio Li Kun dan kawan segera mengikutinya.

Melihat itu terpaksa Lo-koay dan kawan-kawannyapun

segera menyusul.

Saat itu api makin besar sehingga langit seolah berobah

merah warnanya. Anak buah gunung Thiat-san menjeritjerit

hiruk pikuk namun tak berdaya untuk menolong

hancurnya lima deret bangunan gedung besar dari bahaya

api.

Setelah keluar dari markas, Gin Liong lari menuju ke

tenggara dan dalam beberapa kejab tiba dibawah puncak

gunung, ia segera mendaki ke atas puncak.

Lo-koay berlima berusaha untuk mendahului mencapai

puncak, Mereka hendak menggerakkan alat2 rahasia untuk

mencelakai kawanan anak muda itu, Tetapi ternyata kalah

cepat. Gin Liong dan kawan2 sudah tiba lebih dulu di

puncak yang merupakan hutan pohon siong dan hutan

bambu, Hutan2 itu pun telah dimakan api. Gin Liong, Tio

Li Kun dan Mo Lan Hwa menerjang ke hutan itu, Pada

sebuah batu besar, mereka menemukan lima orang baju

hitam terkapar malang melintang di tanah.

Gin Liong terkejut, Diam-2 ia menduga tempat itupun

telah didatangi oleh tokoh sakti yang belum diketahui itu.

Ketika menghampiri ternyata kelima orang itu bukan mati

melainkan tidur mendengkur keras.

Memandang ke muka Gin Liong melihat didalam hutan

siong seperti memancar sepercik api penerangan ia segera

mengajak kedua nona untuk menuju ke tempat itu.

Sebuah rumah batu berbentuk persegi panjang lampunya

terang benderang, pintu terbuka tetapi dalam rumah itu

tampak sunyi. Pada ujung sebelah kiri dari rumah itu,

terdapat dua orang baju hitam lagi yang terkapar tidur di

tanah.

Gin Liong melangkah masuk. ia terkesiap heran karena

dalam rumah itu hanya terdapat sebuah meja dan sebuah

tempat tidur, lampu masih menyala terang di atas meja.

Sedang tempat tidur tampak acak-acakan. Seorang

perempuan muda tampak tidur dilantai muka ranjang itu.

Gin Liong makin gelisah karena tak dapat menemukan Ki

Yok Lan.

Saat itu Tek Cun dan saudara-saudaranya pun tiba,

Mereka juga tertegun melihat keadaan rumah itu.

Tak lama kemudian Lo-koay berlimapun tiba, Bermula

Lo-koay menduga pasti ketujuh saudara Tio atau Jit-hiong

yang membakar markas gunung Thiatsan. Tetapi saat itu

setelah melihat sikap Gin Liong dan kawan-kawannya serta

perempuan muda yang tertidur di lantai, iapun ikut

terkesiap.

Li Kun membangunkan perempuan muda itu dengan

membuka jalan darahnya yang tertutuk.

“Mengapa engkau berada disini !” bentak Rajawaligundul

kepada perempuan muda itu.

Pucatlah wajah perempuan itu melihat Lo-koay marah,

Dengan gemetar ia memberi keterangan bahwa Jit-koay

Hun-tiap-sam-long yang menyuruhnya jaga disitu.

Tiba2 Naga-mata-satu membentak: “Jangan ngaco belo,

perempuan hina !” – ia terus loncat ke muka perempuan itu

dan hendak menghantamnya.

“Bangsat, engkau cari mati !” teriak Gin Liong seraya

ayunkan tangannya, Segelombang angin keras segera

melanda dadaNaga-mata-satu.

Naga-mata-satu mendengus geram, Cepat ia balikkan

tangan untuk balas menghantam. Terdengar letupan dan

diiring dengan jeritan ngeri tubuh Naga-mata-satupun

terlempar keluar pintu.

Hwat-kiang-si loncat hendak menolong tetapi tak keburu,

Naga-mata-satu terlempar tiga tombak dan jatuh di hutan

bambu, Huak, ia muntah darah. sejenak meregang jiwa,

akhirnya putuslah napasnya.

“Aku hendak mengadu jiwa dengan engkau budak!” Lo

koay Rajawali-gundul dengan marah serentak

mendorongkan kedua tangannya kearah Gin Liong.

Gin Liongpun marah. Dengan menggembor keras ia juga

dorongkan kedua tangannya. Angin yang timbul dari kedua

gerakan tangan Rajawali-gundul dan Gin Liong

menimbulkan getaran yang dahsyat sehingga genteng terasa

berguncang keras, semua orang menahan napas.

Rajawali-gundul terdampar ke dinding, kepala pecah dan

napasnyapun berhenti. Melihat itu, Hek-bu-siong dan Lakpian-

seng segera melarikan diri. Demikian pula Hwat-kiangsi.

Mereka tahu percuma saja melawan kawanan anak

muda itu.

Gin Liong terlongong-longong sendiri. ia tak mengira

bahwa dua kali pukulannya telah menimbulkan akibat yang

sedemikian mengerikan ia heran mengapa sekarang

tenaganya begitu dahsyat.

Dalam pada itu Mo Lan Hwa memberi pertolongan

kepada perempuan tadi, Ternyata perempuan itu menderita

luka parah, Setelah diurut jalan darahnya perempuan

itupun dapat memberi keterangan walaupun suaranya amat

lemah sekali: “Nona Ki telah dibawa oleh seorang imam !”

“Imam yang mana”?” teriak Gin Liong, Tetapi bujang

perempuan itu makin pucat wajahnya, Melihat itu Gin

Liong cepat bertanya pula: “Apakah seorang imam berjubah

kelabu, berjenggot panjang ?”

Bujang itu paksakan diri membuka mata dan

memandang Gin Liong, Tetapi ia tak dapat berkata lagi

karena kepalanya segera melentuk dan putuslah jiwanya.

Dari pandang mata bujang perempuan itu Gin Liong

mendapat kesan kalau bujang itu mengiakan

pertanyaannya.

“Rupanya yang kuduga itu memang benar.” katanya

sesaat kemudian,

“Liong-te, kenalkah engkau kepada imam itu ?” tanya

Tek Cun.

“Ya.” sahut Gin Liong, “aku pernah berjumpa

dengannya di sebuah lembah salju di gunung.”

“Engkau maksudkan Hun Ho siantiang ?” seru Mo Lan

Hwa.

Kukira dalam dunia persilatan dewasa ini seorang imam

berjenggot bagus dan berjubah kelabu, kecuali Hun Ho

siantiang rasanya tak ada lain orang lagi,” sahut Gin Liong.

Tiba2 Tio Li Kun berseru girang: “Jika benar demikian,

nona Ki bakal mendapat rejeki besar, ilmu pedang Hun Ho

siantiang menjagoi dunia persilatan, apabila nona Ki dapat

menerima pelajaran dari Hun Ho sian tiang, tentu kelak dia

akan menjadi seorang pendekar pedang wanita yang

cemerlang.”

“Kalau begitu marilah kita lekas tinggalkan tempat ini.

Kalau sebelum terang tanah kita dapat mencapai tempat

penyeberangan di Dairen, kemungkinan kita akan dapat

berjumpa dengan Hun Ho sian-tiang bersama ketika kokoku,

“Mo LanHwa juga gembira.

Demikian mereka segera beramai-ramai turun gunung,

Ternyata kuda dari kelima nyonya menantu keluarga Tio

ditambatkan di hutan. Kesepuluh orang itu segera naik

kuda menuju ke sebuah desa yang terletak sepuluh li

jauhnya.

Saat itu hampir menjelang dini hari, Ayam mulai

berkokok bersahut-sahutan. Cepat sekali mereka tiba di desa

itu. Hanya Tek Cun dan Thiat-Io-han yang masuk ke desa,

sedang yang lain menunggu diluar desa.

“Jit moay.” kata Toa-soh kepada Tio Li Kun. “mamah

sudah rindu dengan Ngo-te, setelah urusan disini selesai,

suruhlah dia pulang.”

Tetapi Tio Li Kun mengatakan sebaiknya toa-sohnya itu

mengatakan sendiri kepada Ngo-ko atau si Thiat-lo-han.

Gin Liong merasa tak enak dalam hati. Adalah karena

urusannya sampai merepotkan sekian banyak orang.

Andaikata ia tak berjumpa dengan Mo Lan Hwa tentu saat

itu ia sudah dapat menyusul Ban liong liong-li.

Melihat wajah pemuda itu mengerut, kedua gadis cantik.

Mo LanHwa dan Tio Li Cun, serempak bertanya:

“Adik Liong, apakah ada suatu yang hendak engkau

katakan?”

Dengan terbata-bata Gin Liong menjawab: “Kurasa

urusan ini memang sudah selesai, Karena urusanku….

sesungguhnya tak harus membikin repot saudara2

sekalian….”

Mendengar itu kelima ensoh segera menghampiri dan

toasohpun serentak berkata:

“Liong-te, engkau adalah adik kami yang paling bungsu.

Sudah seharusnya kami membantumu. Apalagi mamah tak

tega kalau engkau berkelana seorang diri.”

Tengah mereka bicara dari arah desa tampak Tek Cun

dan Thiat-lo-han mengendarai kuda dengan diikuti oleh

ketiga ekor kuda yakni kuda hitam bulu mulus, kuda hitam

berkaki putih dan kuda Siau-pik milik Tio Li Kun.

“Hayo, kita lekas berangkat !” teriak si limbung Thiat-lohan

dengan bersemangat.

Toa-soh tertawa, serunya: “Aya, sudahlah, jangan

mengurusi mereka,Mari kita pulang…”

Thiat-lo-han terbelalak dan menggerung: “Siapa yang

suruh ?”

“Mamah !”

Thiat-lo-han lemas seperti gelembung karet yang habis

anginnya, ia memandang Gin Liong, Mo Lan Hwa, Tio Li

Kun dan Tek Cun dengan pandang kecewa.

Kelima pemuda itu segera naik kuda dan ber seru: “Ngoko

dan kelima ensoh, selamat tinggal.”

Demikian mereka segera mencongklangkan kudanya dan

tak sampai sejam kemudian tibalah di kota penyeberangan.

Begitu masuk ke kota, Mo Lan Hwapun menjerit kaget

seraya menunjuk kesebatang pohon besar : “Ah, lo-koko

sudah tiba di sini.”

Memang pada pohon itu terukir sebuah lukisan pipa

emas, Segera mereka menuju ke selatan. Di tempat

penyeberangan penuh orang, Barang2 menumpuk di tepi

laut, Di tengah laut tampak beberapa kapal dan perahu2.

Pada tumpukan peti setinggi tujuh tombak Gin Liong

melihat sebuah lukisan pipa yang menghadap ke arah

selatan.

“Ah, rupanya lo-koko sekalian sudah datang dan sudah

menyeberangi lautan” katanya.

Mo Lan Hwa bersungut-sungut: “Mengapa mereka tak

mau menunggu kita ?”

Tek Cun mengatakan hendak menyewa sebuah perahu

besar karena hari itu anginnya besar. Tetapi Gin Liong

mencegahnya, ia mengatakan hendak menyelidiki ke dalam

kota dulu barangkali ada Ban Hong liongli. Bahkan

mungkin ketiga suheng dariMo Lan Hwa.

Mo Lan Hwa juga mempunyai pikiran begitu. ia

mengusulkan akan pergi bersama Tio Li Kun kedalam kota

sedang Gin Liong yang melakukan penyelidikan disekitar

tempat penyeberangan

“Dan engkoh Tek Cun yang menyewa perahu” katanya,

“dengan begitu kita dapat menghemat waktu.”

Mendengar si cantik menyebutnya “engkoh Tek Cun”

diam2 Tek Cun girang sekali.

Demikian mereka segera membagi tugas, Dengan naik

kuda bulu hitam, Gin Liong menuju ke tempat

penyeberangan. Tiba2 ia mendengar orang ramai

membicarakan sesuatu yang menarik perhatiannya.

Pusaka dunia persilatan hanya layak berada di tangan

orang yang berbudi luhur. Orang tua yang tangannya

berlumuran darah semacam itu, tak seharusnya memiliki

cermin pusaka Te-kin . . “

Gin Liong terkejut Ketika memandang dengan seksama

ia melihat enam orang persilatan dengan pakaian ringkas

dan membekal senjata tengah mengobrol. Yang bicara

adalah seorang tua berumur lima puluhan tahun.

Kawannya yang beralis tebal berseru dengan suara

nyaring:

“Belum satu bulan saja sudah berpuluh-puluh jago- silat

baik dari aliran Hitam maupun Putih yang mati di tangan

orang tua itu. Kabarnya di Tay sik-kiau dia telah

membunuh tokoh Bu Tim cinjin dari partai Kiong-lay-pay

dan sepasang tokoh Bu-siang-kiam dari partai Kong-tongpay.”

Gin Liong terkejut entah apakah Ma Toa Kong masih

berada di Tay-sik-kiau. Kalau dia juga sudah mati,

bagaimana keadaan guha Thian-kiu jiok baru dapat ia

ketahui setelah ia pulang ke kuil Leng-hun-si.

Lanjutkan perjalanan ke muka, dari kerumunan orang di

sebelah kiri, tampak beberapa orang persilatan juga tengah

membicarakan tentang orang tua yang membawa cermin

pusaka itu.

“orang tua itu sering berpindah tempat, entah apakah

maksudnya?” kata seorang lelaki pertengahan umur yang

menyanggul pedang.

“Dua hari dua malam meninggalkan Tay-sik-kiau dia

lalu lari ke gunungHoksan di seberang laut ini.”

Memang Gin Liong sendiri juga heran. Siapakah

sesungguhnya orang tua bertubuh kurus itu ? Apakah dia

memang hendak mencuri pusaka ataukah hanya hendak

mempermain-mainkan orang persilatan saja ?

Seorang tua berambut putih berkata: “Soal ini memang

sudah menarik perhatian para ketua partai persilatan.

Mereka pun telah mengirim para ko-jiu (jago sakti) untuk

mengikuti jejak orang tua itu dan menyelidikinya. Kabarnya

Tujuh-tokoh-aneh-dari-dunia (lh-Iwe-jit-ki) yang sudah

lama tak muncul di dunia persilatan, juga diam2 ikut

campur dalam peristiwa itu”

Makin tergerak hati Gin Liong, Pikirnya, apakah bukan

karena orang tua pembawa cermin pusaka itu maka lo-koko

Hok To Beng bergegas menyeberangi laut ini ?

Tiba2 terdengar suara kuda meringkik. Ternyata Tek

Cun dengan mengendarai kuda bulu coklat tengah

mendatangi.

Karena sampai sekian lama tak memperoleh keterangan

tentang Hun Ho sian-tiang dan Ban Hong liong-li. akhirnya

Gin Liongpun tinggalkan tempat itu dan larikan kudanya

menyongsong Tek Cun.

Saat itu kedua gadis Mo Lan Hwa dan Tio Li Kunpun

juga muncul dan mendatangi.

“Memang benar, tua-suheng bersama kedua lo-koko

sudah melintasi laut,” seru Mo Lan Hwa agak gopoh, “dan

menurut keterangan seorang jongos hotel, memang ada

seorang wanita muda cantik lewat dimuka hotel terus

menuju ke tempat penyeberangan Wanita itu tidak singgah

makan Entah apakah dia Ban Hong lo cianpwe atau bukan

?”

“Ya, ya, memang Ban Hong lo cianpwe,” kata Gin

Liong, “ah, tak kira dia begitu cepat sekali Kemungkinan

dia menempuh perjalanan siang malam untuk pulang ke

daerah Biau.”

Mo Lan Hwa dan Tio Li Kun menghibur pemuda itu

supaya tak perlu cemas, Tentu mereka akan dapat

menyusul BanHong liong-li.

Ternyata Tek Cun sudah dapat menyewa sebuah perahu

besar yang lengkap menyediakan makanan dan minuman.

Anak perahu memandang sepasang muda mudi itu

dengan rasa kagum. Tak lama seorang tua berambut putih

bergegas keluar dari pintu ruang perahu dan

mempersilahkan keempat anak muda itu naik.

Keadaan perahu itu amat bersih, Juga makanan yang

dihidangkan cukup lezat, Setelah makan mereka mandi lalu

masing2 masuk kedalam kamar untuk beristirahat.

Walaupun berbaring ditempat tidur tetapi Gin Liong tak

dapat tidur, ia masih memikirkan su-moaynya. walaupun

sudah ditolong oleh Hun Ho sian-tiang tetapi untuk

mengambil dan mengantarkannya, tentu makan waktu. Hal

itu berarti harus menangguhkan perjalanan untuk menyusul

Ban Hong liongli.

Pada malam hari, angin bertambah kencang sehingga

perahu agak bergoncang keras, Gelombang mendampar

hampir masuk ke geladak perahu. Gin Liong bangun dan

melakukan pernapasan Ternyata ia merasa sehat tak sampai

mabuk laut, Tetapi dari kamar sebelah ia mendengar suara

orang merintih. Cepat ia keluar dari kamar dan ternyata Tio

Li Kun yang mengeluarkan suara rintihan sakit itu. ia

hendak masuk tetapi agak ragu, Lebih baik ia meminta Mo

Lan Hwa saja yang masuk, tetapi berulang kali dipanggil,

Mo Lan Hwa tetap tak menyahut, kamarnya sunyi senyap.

Mencari ke kamar lain, ternyata Tek Cun juga tak ada, pada

hal Li Kun makin merintih keras, akhirnya terpaksa Gin

Liong memberanikan diri masuk.

“Cici, engkau kenapa ?” tegurnya. Melihat Gin Liong,

diam2 berdeburlah hati si jelita, wajahnya yang pucat

bertebar warna merah

“Ah, tak apa2….” katanya, lalu berusaha duduk.

“Cici tak enak badan, tak perlu duduk,” Gin Liong

mencegahnya.

Si jelita membuka sepasang matanya yang indah dan

menatap Gin Liong dengan gelengkan kepala: “Aku hanya

merasa pening dan ingin muntah….”

Tiba2 kata2 Li Kun itu terputus oleh setiap gelombang

besar yang mendampar perahu. Perahu oleng dan Li

Kunpun sampai terperosok jatuh ke lantai.

Gin Liong terkejut, Cepat ia memeluk tubuh jelita itu, ia

dapatkan tubuh Li Kun lemas sekali seperti tak bertulang.

Diluar dugaan, kedua tangannya yang memeluk tubuh Li

Kun itu tepat menjamah dibagian dada sijelita. Gin Liong

seperti terbang semangatnya.

“Cici, engkau bagaimana ?” tegurnya, Tetapi jelita itu

diam saja, Ketika memandang kebawah ternyata mata Li

Kun mengatup rapat, mulut yang mungil dan sepasang

alisnya yang melengkung bagai bulan tanggal satu, makin

mempercantik wajahnya yang saat itu seperti orang tidur.

Gin Liong makin bingung, ia kira Li Kun tentu pingsan.

Terpaksa ia lekatkan telinganya ke hidung si jelita, Ternyata

pernapasan Li Kun kedengaran lemah, Bibirnya merekah

merah, pipinya yang halus menyiarkan bau harum,

menampar hidung Gin Liong.

Rambut yang indah, bertebaran hinggap di pipi Gin

Liong sehingga membuat pemuda itu benar2 terbang

semangatnya, jantungnya mendebur keras, darah tersirap

serasa berhenti Kedua tangan yang memeluk tubuh jelita

itupun gemetar.

Memandang wajah si nona, tampak jelita itu makin

cantik, Serentak terbayang, bagaimana mesra sekali Tio Li

Kun bersikap kepadanya, betapa cantiklah gadis itu

sesungguhnya . . . .

Tiba2 terlintas wajah Ki Yok Lan pada pelupuknya, Gin

Liongpun tergetar hatinya, Dan serentak itu iapun segera

malu dalam hati, semangatnya tenang kembali. Segera ia

meletakkan Tio Li Kun keatas ranjang pula.

Tiba2 si jelita mengerang pelahan dan memeluk Gin

Liong, susupkan kepalanya kedada pemuda itu dan terisakisak.

Sudah tentu Gin Liong makin gugup. ia belas

memeluk Li Kun dan duduk disampingnya.

“Cici, engkau…?” serunya tetapi ia tak tahu bagaimana

harus menghiburnya.

“Adik Liong…” hanya sepatah kata yang Li Kun dapat

mengatakan karena ia terus memeluk pemuda itu makin

erat.

Gin Liong makin resah, Bukan ia tak tahu bagaimana

perasaan si jelita kepadanya, tetapi bayangan sumoaynya

yang halus pendiam bagai seorang dewi, selalu memenuhi

kalbunya, Tak pernah sedetikpun ia dapat melupakan.

Apalagi suhunya pernah memberi pesan bahwa asal usul

Ki Yok Lan itu sangat menyedihkan sekali maka Gin Liong

supaya berusaha melindunginya. Begitu pula berulang kali

suhunya secara halus memberi petunjuk kepada Ki Yok

Lan bahwa hendaknya Ki Yok Lan kelak dapat

menganggap sebagai suami isteri dengan Gin-Liong.

Teringat akan hal itu, tergetarlah hati Gin Liong, ia

menunduk memandang wajah Tio Li Kun Tampak wajah

jelita itu berlinang airmata sehingga menimbulkan rasa

sayang, Tanpa terasa Gin Liong segera mengusap airmata

nona itu, Tetapi airmata sijelita laksana sumber air yang

terus menumpah tak henti-hentinya.

Saat itu pikiran Gin Liong sudah sadar, ia tak boleh

menyiksa perasaan Li Kun lebih lanjut Tetapi ia tak sampai

hati untuk menolaknya secara getas, ia tak ingin menjadi

pembunuh hati anak gadis.

Akhirnya ia memutuskan hendak memberi penjelasan

secara halus, Bahwa ia sangat mengindahkan Tio Li Kun

tetapi terpaksa tak dapat menerima cintanya, Pada saat dia

hendak mengatakan tiba2 ia kehilangan faham tak tahu

bagaimana harus memulai.

Tetapi pada saat itu Tio Li Kun sudah tak kuat menahan

gejolak hatinya . . Pelahan-lahan ia ajukan kepalanya,

menyongsongkan sepasang bibir yang semerah bunga

mawar.

Gin Liong gugup: “Cici, jangan . . ” Tiba2 mulut Gin

Liong tak dapat melanjutkan kata2 karena mulutnya

tertutup oleh sepasang bibir si jelita, semangat Gin Liong

serasa terbang melayang-layang ke suatu alam yang belum

pernah ia nikmati sepanjang hidupnya.

Demikian sepasang muda mudi yang sedang dimabuk

asmara itu telah terbuai dalam lautan sari madu, Keduanya

telah tenggelam kedasarnya….

Badai dan gelombang masih mengamuk dilautan.

Bahkan makin dahsyat, sedahsyat itu pula badai yang

melanda kehangatan cinta- dan kedua muda mudi itu.

Beberapa saat kemudian tiba2 terdengar suara helaan

napas, Gin Liong terkejut, Segera ia meletakkan tubuh Li

Kun terus loncat keluar ruang. Tetapi keadaan di perahu itu

tetap sunyi senyap KamarMo Lan Hwa dan Tek Cun tetap

kosong tiada orangnya.

Gin Liong terus menuju ke geladak, Tiba- ia hentikan

langkah dan merapat pada papan.

ia melihat Mo Lan Hwa dan Tek Cun berdiri pada pintu

ruang perahu dan tengah memandang ke laut, Tek Cun

kerutkan alis dan menengadah memandang kelangit.

Tiba2 kedengaran Mo Lan Hwa menghela napas serunya

rawan:

“Engkoh Tek Cun, harap jangan bersedih Mo Lan Hwa

takkan melupakan perasaan hatimu yang tertumpah

kepadaku, Sejak saat ini aku pasti akan menganggapmu

sebagai engkohku sendiri.”

Tek Cun juga menghela napas.

“Kuharap engkaupun jangan bersedih. Kurasa Liong-te

pasti akan mencintaimu dengan segenap hati.”

Mo LanHwa gelengkan kepala.

“Ah, tak mungkin, Dalam pandangannya, aku ini

seorang gadis yang manja dan liar, Kesan yang kuberikan

kepadanya memang kurang baik”, katanya.

“Sekarang adalah karena aku maka nona Ki sampai

menderita kesulitan, Adik Liong tentu akan membenciku.

Engkoh Cun, apakah engkau tak memperhatikan betapa

dingin sikapnya kepadaku?”

Airmata bercucuran membasahi pipiMo Lan Hwa.

“Jangan engkau berbanyak hati”. kata Tek Cun, “saat ini

dia sedang gelisah memikirkan keselamatan sumoaynya.

Apabila nona Ki sudah dapat diketemukan dan sudah

memperoleh keterangan dari Ban Hong liong-li cianpwe

serta menghimpaskan dendam kematian suhunya, dia pasti

akan memperhatikan engkau.”

“Setelah ia berhasil membalas sakit hati suhunya, aku

akan segera meninggalkannya dan mengasingkan diri di

sebuah kuil dipegunungan sunyi. Seumur hidup aku akan

mengabdi Buddha sampai pada akhir hayatku..”

Mendengar kata2 itu Tek Cun ikut terharu dan tak dapat

mengeluarkan kata2 lagi, ia lalu mengajak jelita itu masuk.

Gin Liong terkejut. Cepat ia masuk kedalam kamar dan

terus rebah di tempat tidur, Benar2 dia seperti orang yang

kehilangan diri, Mo Lan Hwa mencintainya dengan

segenap jiwa raga,Tio Li Kun telah menyerahkan

kehangatan bibirnya dan Ki Yok Lan tetap menunggunya

dengan penuh harapan. ia benar2 bingung, Bagaimana

nanti kalau ia berjumpa dengan Ki Yok Lan.

Entah selang berapa lama, ia mendengar derap langkah

orang di geladak, Ah, ternyata hari sudah pagi, Anak buah

perahu sibuk melakukan pekerjaannya.

Tek Cun sudah berdiri di geladak ketika Gin Liong

keluar Tak lama kemudian Mo Lan Hwa dan Tio Li

Kunpun menyusul keluar.Kedua jelita itu sama

mengenakan pakaian baru. Li Kun berbaju biru muda,

celana kembang dan mantel biru benang perak, menyanggul

sebatang pedang, mengulum senyum berseri.

Sedang Mo Lan Hwa mengenakan pakaian serba merah

sehingga wajahnya yang cantik makin tampak menonjol.

Rambutnya terurai panjang, menyanggul sebatang pedang.

Kedua jelita itu berjalan seiring. sekalian anak perahu

terbeliak dan terlongong-longong memandangnya.

Mereka seperti melihat sepasang bidadari turun dari

khayangan, Yang seorang bagai sekuntum mawar yang

gemilang.

Melihat Li Kun, agak merah wajah Gin Li-ong. Tetapi

ketika melihat Lan Hwa, ia tersipu2 rawan.

Sambil menunjuk ke deretan puncak gunung Li Kun

bertanya kepada anak perahu: “Gunung apakah itu?”

“Gunung Hok-san.”

Gin Liong terkejut ia meminta keterangan benarkah

untuk menuju ke pulau Hong-lay-to harus melalui

pegununganHok-san itu.

“Benar.” sahut pemilik perahu, “harus melalui puncak

Hok-san yang sebelah utara, walaupun luasnya hanya 30-an

li tetapi gunung itu berbahaya sekali keadaannya Tak dapat

menggunakan kuda tetapi harus jalan kaki.”

Karena terlambat selangkah, Mo Lan Hwa tak dapat

melihat orang tua pemilik cermin pusaka ketika berada di

gunung Tiang-pek-san. Kali ini ia tak mau melewatkan

kesempatan lagi.

“Karena sudah melewati Hok-san. mengapa kita tak

melihat-lihat keadaannya,” kata nona itu.

Gin Liong diam saja dan Tek Cunpun tak membeli suatu

tanggapan sedang Tio Li Kun, asal Gin Liong pergi,

sekalipun ke sarang naga, ia tetap akan mengikuti.

Tak berapa lama, perahu berlabuh dan ke-empat pemuda

itupun turun bersama kudanya, Mereka hanya berhenti

makan dikota Mopeng, setelah itu terus melanjutkan

perjalanan ke Hoksan, Tengah hari merekapun sudah tiba

di puncak Hok-san sebelah utara.

“Liok-ko. menilik keadaannya, memang tak mungkin

kita mendaki dengan naik kuda,” kata Gin Liong setelah

memandang kepuncak itu.

“Kita mendaki dulu, kalau memang tak dapat dengan

naik kuda, kitapun jalan,” kata Mo Lan Hwa.

Ternyata keempat ekor kuda mereka itu kuda yang hebat

semua. Setelah melalui beberapa tempat yang penuh batu

aneh, akhirnya mereka tiba di sebuah lembah yang terletak

dibawah kaki gunung.

Jalan kearah lembah itu sempit dan lembah penuh

dengan gunduk2 batu yang tinggi dan runcing serta rumput

yang subur.

“Mungkin disebelah muka itu adalah mulut lembah, kita

turun saja disini.” kata Gin Liong.

Setelah turun, kuda mereka dilepaskan di sebuah aliran

air kecil Dan keempat pemuda itupun segera menuju ke

mulut lembah sempit.

Keadaan dalam lembah memang berbahaya dan sulit

dilalui penuh dengan batu2 yang aneh dan runcing serta

rumput, rotan yang lebat, Gin Liong ragu2 tetapi Tek Cun

mengatakan bahwa lembah itu memang yang disebut Hiutkoh

atau lembah sempit

Mereka lalu gunakan ilmu lari cepat untuk memasuki

lembah, Lembah itu tak kurang dari lima enam li

panjangnya Kedua samping dinding karangnya setinggi

ratusan tombak,Makin kebagian dalam makin berbahaya.

Tiba-2 dari balik segunduk batu aneh di tengah gerumbul

pohon siong pendek, muncul tiga sosok tubuh, Sekali loncat

mereka melayang kearah Gin Liong berempat Dalam

sekejab mata mereka sudah tiba hanya terpisah sepuluhan

tombak dari tempat Gin Liong.

Ketiga orang itu terdiri dari seorang tua berumur lebih

kurang tujuh puluh tahun dan dua orang lelaki pertengahan

umur yang berpakaian ringkas.

Ketiga lelaki itu tampak marah. Tanpa melihat pada Gin

Liong berempat, mereka terus lari keluar lembah.

Gin Liong heran melihat gerak-gerik ke tiga orang itu.

Tetapi iapun tak mau menghiraukan dan mengajak

kawannya melanjutkan masuk kedalam lembah.

Pada saat tiba disebuah gerumbul hutan yang penuh

dengan batu2 aneh, sekonyong-konyong terdengar suara

orang berseru Bu-liung siu-hud. Dan muncullah enam orang

imam. Yang tiga berjubah kelabu, yang tiga berjubah hitam.

wajahnya angkuh, masing2 menyanggul pedang dibelakang

bahunya.

Yang dimuka dua orang imam tua, rambutnya putih,

umur diantara lima puluh tahun, sebelah kirinya seorang

imam tua, bertubuh kurus mengenakan jubah hitam.

Sebelah kanan juga seorang imam tua berjubah kelabu,

bermuka bopeng, Dibelakang mereka, dua orang imam

pertengahan umur yang berwajah seram.

Imam tua jubah hitamsegera berseru.

“Pinto bernama Biau liang, menerima perintah dari

kedua tianglo perguruan kami untuk membawa murid

perguruan kami Jing Hun dan Jing Gwat, Hian Leng

totiang dari partai Kiong-lay-pay beserta Kong Beng dan

Ceng Beng berdua toyu…”

Sejak ke enam imam itu muncul dengan jual lagak, Mo

Lan Hwa sudah mengkal, Mendengar si imam tua Biau

Liang jual omongan garang, Lan Hwa segera

membentaknya:

“Kalau mau mengatakan apa2, lekaslah katakan, jangan

jual nama dan gelaran !”

Imam tua berwajah bopeng tertawa dingin:

“Li-pohsat ini, masih muda usia tetapi keras sekali

ucapannya, berani omong sembarangan terhadap Biau

Liang lotiang dari partai Kong-tong-pay”

“Siapakah engkau ? Mengapa engkau berani banyak

mulut” bentak Tek Cun.

Merahlah muka imam tua itu.

“Pinto adalah Hian Leng lotiang dari Kiong lay-pay,”

serunya dengan marah.

“Hm, kiranya kawanan manusia yang tak ternama,” Mo

Lan Hwa mendengus.

Karena marahnya, imam tua itu menengadahkan muka

dan menghambur tertawa keras.

Imam tua Kong Beng yang berada dibelakang Hian Leng

totiang, segera memekik keras dan maju menghantam si

nona.

“Kawanan tikus, engkau cari mampus” teriak Tek Cun

seraya maju dan mendahului untuk menyambar tangan

imam Kong Beng.

Tujuan Gin Liong kelembah itu adalah hendak mencari

Ma Toa Kong dan sekalian mencari tahu apakah Swatthian

Sam Yu juga datang ke lembah itu. Untuk mengejar

waktu, ia tak mau terlibat dalam perkelahian.

“Liok-ko, jangan melukainya,” cepat ia mencegah Tek

Cun.

Tetapi Tek Cun sudah terlanjur mencengkeram lengan

imam itu. Mendengar permintaan Gin liong ia segera

mendorong imam itu: “Enyah !”

Imam Kong Beng terhuyung-huyung beberapa langkah

dan jatuh terduduk di tanah.

Hian Leng dan Biau Liang terkejut Tak kiranya hanya

sekali bergerak, pemuda itu telah mampu mendorong rubuh

imam Kong Beng, murid pilihan dari partai Kiong-lay-pay.

Kedua imam itu tak berani memandang rendah kepada

kawanan pemuda itu lagi.

“Sicu sekalian ini dari perguruan mana dan siapakah

nama suhu sicu yang mulia ? Harap lekas katakan, siapa

tahu kemungkinan antara perguruan kita masih terdapat

hubungan,” cepat Biau Liang berseru dengan nada sarat.

Karena harus mengejar waktu, Gin Liong mengatakan

kalau dirinya dan kawan2 itu tidak termasuk murid dari

suatu partai persilatan.

“Kami mohon tanya, mengapa totiang menghadang

perjalanan kami ” tanyanya kemudian

Imam Biau Liang tertawa dingin, tubuhnya gemetar

karena menahan kemarahan.

“Perguruan pinto dan partai Kong-tong-pay masing2

telah mengutus dua orang tiang-lo untuk memimpin para

murid datang kemari mencari jejak orang tua pemilik

cermin pusaka, Untuk menghimpaskan dendam kematian

dari Bu Tim sute serta kedua Bu-song-kiam It Jeng toyu dari

partai Kong-tong-pay. Pinto bersama Biau Liang toyu telah

ditugaskan menjaga tempat ini, siapapun juga, baik dari

kalangan Hitam maupun Putih, tak dibenarkan masuk ke

dalam lembah Hiap-koh sini. Jika ada yang berkeras masuk,

heh, heh…” seru imam Hian Leng dari Kiong-lay-pay.

“Kalau berkeras masuk, lalu bagaimana ?” akhirnya Gin

Liong geram juga atas sikap kawanan imam yang

mengandalkan jumlah banyak itu.

“Berarti hendak bermusuhan dengan partai Kong-tongpay

dan Kiong-lay-pay” seru Biau Liang seraya deliki mata.

Tring, Mo Lan Hwa cepat mencabut pedang dan

melengking: “Sebagai alasan hendak membalas dendam

tetapi pada hakekatnya kalian hendak mengincar cermin

pusaka itu sendiri dan mencegah lain2 partai persilatan tak

dapat masuk dalam lembah ini.”

Berhenti sebentar untuk tertawa, si cantik berseru pula:

“Kalian hanya dapat menggertak orang yang bernyali

kecil, Tetapi kalian sial telah bertemu dengan aku. Coba

saja hendak kulihat sampai di mana kemampuan kalian

hendak merintangi rombonganku !”

Imam Ceng Hun yang berada di belakang imam Biau

Liang mencabut pedang dan loncat ke muka seraya berseru

keras:

“Besar sekali mulutmu, budak perempuan ! Akupun

ingin menguji sampai di mana tingginya ilmu pedangmu

sehingga engkau berani bermulut sebesar itu !”

Tek Cun cepat mencabut trisula pendek dan membentak:

“Kawanan kunang2, engkau berani menerjang api, huh,

sungguh tak tahu diri.”

Pemuda itu terus gerakkan senjatanya untuk

menyongsong pedang imam Ceng Hun.

Imam itu belum pernah mengenal kelihayan senjata

trisula, Cepat ia merobah gerak pedangnya dalam jurus

Toa-peng-can-ki atau Burung rajawali merentang-sayap,

membabat lengan TekCun.

Pemuda itu tertawa dingin, kebaskan trisula melingkar,

ia membentak: “Lepaskan !”

Tring, terdengar gemerincing tajam diiringi pancaran

sinar kemilau ke udara, Pedang dari imam Ceng Hun telah

terlepas dari tangannya.

Ceng Hun terkejut semangatnya serasa terbang dan cepat

ia membuang tubuh ke belakang, berguling sampai

setombak jauhnya.

Kuatir Tek Cun akan menyusuli serangan, imam Ceng

Gwatpun membentak dan menyerang anak muda itu.

Kini Mo Lan Hwa yang menghadang. Ujung pedang

nona itu segera menusuk ke bahu Ceng Gwat, Imam itu

marah sekali, Dengan mendengus dingin, ia menghindar

lalu balas menusuk dada si nona,

Mo Lan Hwa tersipu-sipu merah, Cepat ia membentak

dan secepat kilat tubuhnya berputar, pedang menabas,

Terdengar jeritan ngeri. Sambil menyurut mundur, imam

Ceng Gwat mendekap telinganya yang berdarah, Ternyata

sebelah daun telinga kiri imam itu telah hilang.

Wajah Biau Liang si imam dari Kong-tong-pay, pucat

seperti kertas, Tiba2 ia tertawa keras, mencabut pedang lalu

bergegas lari menuju ketempat Mo LanHwa.

Gin Liong menyadari bahwa tak mungkin lagi ia dapat

menghindari pertempuran ia memutuskan untuk

mengakhiri pertempuran itu secepat mungkin.

“Telah lama kudengar bahwa ilmu pedang dari partai

Kong-tong-pay itu tiada tandingannya dalam dunia

persilatan. Hari ini sungguh beruntung sekali aku dapat

berjumpa dengan totiang, Sukalah totiang bermurah hati

untuk memberi pelajaran kepadaku,” serunya dengan

tertawa hambar, serentak ia mencabut pedang.

Ditingkah sinar matahari, pedang itu memancarkan sinar

warna merah, Pedang Tanduk Naga kembali muncul

hendak mengunjuk kesaktian.

Seketika pucatlah wajah Biau Liang tojin, ia cepat dapat

mengenal pedang itu sebagai pedang Tanduk Naga. pedang

pusaka yang termasyhur dari daerah Biau, ia hentikan

langkah.

Walaupun tahu bahwa Gin Liong itu memiliki ilmu

kepandaian yang tinggi, tetapi selama ini belum pernah Tio

Li Kun melihat pemuda itu bertempur dengan orang,Maka

cepat ia loncat kesisi Gin Liong dan berkata dengan bisik2:

“Liong-te, harap menyingkir ke samping, biar aku saja

yang menghadapinya.”

Habis berkata jelita itu terus mencabut pedangnya.

Imam Hian Leng dan Biau Liang kembali terkesiap,

Mereka tahu bahwa pedang pendek yang berada di tangan

nona cantik itu tentu juga sebuah senjata yang hebat.

Saat itu Tio Li Kunpun sudah melangkah maju

menghampiri imam Biau Liang.

Sebagai sute dari Biau It cinjin ketua partai Kong-tongpay,

Biau Liang sangat dihormati oleh anak murid Kong

tong-pay. Dengan ilmu pedangnya yang sakti. Biau Liang

selalu bersikap angkuh tak memandang mata pada orang.

Sudah tentu saat itu ia tak mau unjuk kelemahan

terhadap seorang nona, Apalagi dilihat oleh imam Hian

Leng dari partai Kiong-lay-pay dan dua orang muridnya.

“Jika li-sicu berminat hendak adu ilmu pedang dengan

pinto, pintopun bersedia melayani” kata imam Biau Liang,

“tetapi pedang itu tak bermata, Begitu melancar tentu tak

dapat terhindar dari melukai orang, jika terjadi peristiwa

semacam ini, harap jangan mengatakan pinto menghina

orang yang lebih muda.”

Tio Li Kun hanya tertawa hambar dan tetap melangkah

maju, sedikitpun ia tak mengacuhkan peringatan tokoh

Kong-tong-pay itu.

“Huh, batang kepala sendiri belum tentu dapat

melindungi masakan masih sibuk mengurus lain orang,”

dengusMo Lan Hwa.

Mendengar itu serasa meledaklah dada imam Biau

Liang, Serentak pedang ditaburkan dalam tebaran sinar

yang segera menimpali tubuh Mo Lan Hwa.

Melihat ilmu permainan imam dari Kong-tong pay itu,

Tek Cun dan Mo Lan Hwa diam-diam terkejut Ternyata

imam Kong-tong-pay itu memiliki ilmu pedang yang hebat

sekali jauh lebih lihay dari imam Ceng Hun, Ceng Gwat

berdua.

Tetapi si jelita Li Kun tetap tenang saja. Tubuhnya

bergeliatan dengan lemah gemulai dan berlincahan seindah

kupu2 terbang diatas kuntum bunga. Tiba2 ia memekik

nyaring sehingga kumandangnya sampai menembus jauh

kedalam awan.

Pandang mata Biau Liang serasa kabur dan serangan

pedangnyapun menemui angin kosong, Serentak ia

mendengar pekik si jelita yang berada di belakangnya, ia

berteriak kaget dan cepat balikkan tangannya menabas

kebelakang, sedang tubuhnya meluncur deras ke muka.

Ternyata hilangnya Tio Li Kun itu karena ia melambung

ke udara. ia memang tak bermaksud hendak melukai orang.

Gerakannya itu hanya sekedar untuk menggertak saja.

Ketika Biau Liang meluncur ke muka iapun segera

bergeliatan di udara dan mengejar di belakang lawan.

Setelah mencapai tiga tombak, cepat2 Biau Liang cinjin

berputar tubuh ke belakang, Sepasang matanya berkilat-kilat

mencari tempat beradanya lawan.

Tetapi pada saat ia berputar tubuh tadi Tio Li Kunpun

sudah melayang kebelakangnya, Sudah tentu Biau Liang

tak melihat nona itu. Tetapi cepat ia menyadar, apa yang

terjadi. Dengan memekik keras ia balikkan pedang

menghantam ke belakang.

Melihat Biau Liang masih berkeras kepala, marahlah Li

Kun. Dengan bersuit nyaring ia gunakan jurus Hay te-juiciam

atau didasar laut mencari jarum. Cepat laksana kilat ia

membabat pedang siimam.

Tring, terdengar dering yang tajam sekali diiringi dengan

pekik kejut dari Biau Liang yang terus loncat mundur

setombak jauhnya. Ternyata pedangnya telah terbabat

kutung oleh pedang si jelita.

Sebelum imam itu sempat menenangkan diri, Mo Lan

Hwapun sudah melesat dan secepat kilat menutuk tubuh

imam itu.

Biau Liang masih tercengang karena pedangnya putus,

atau sudah diserang lagi oleh Mo Lan Hwa. ia tak keburu

menghindar lagi, bluk, jatuhlah ia ke tanah.

Melihat itu imam Hian Leng cepat membentak dan maju

menerjang, Demikian pula dengan keempat imam yang

lain, Mereka menggembor kalap dan terus lari menyerbu.

Tetapi Gin Liong, Lan Hwa dan Tek Cun sudah siap

menyambut.

Tek Cun menghadang imam Ceng Hun dan Ceng Gwat,

Mo Lan Hwa mencegat imam Kong Beng dan Ceng Beng.

Sedang Gin Liong segera menyerang imam Hian Leng.

Tio Li Kun masih berdiri tiga tombak di luar gelanggang,

Sambil lintangkan pedang ia memandang langit. Tiba2 ia

berseru memberi peringatan kepada kawan-kawannya

bahwa hari sudah menjelang petang dan lembah masih

belum diketahui berapa dalamnya.

Tio Li Kun cepat bergerak, Tring, terdengar dering

senjata yang keras disusul dengan suara erang tertahan

imam Hian Leng lepaskan pedang dan terjungkir tujuh

langkah ke belakang.

Gin Liongpun cepat menutuk jalan darah imam tua itu,

Kemudian kedua muda mudi itu menghampiri ke tempat

Lan Hwa dan TekCun.

Melihat Hian Leng dan Biau Liang tojin kena tertutuk,

buyarlah semangat keempat imam yang lain, Berputar

tubuh mereka terus melarikan diri.

Gin Liong berempat tak mau melepaskan Mereka

berhamburan melayang ke udara dan terus meluncur

menghadang di muka keempat imam itu. Keempat itu

makin gugup, Mereka berputar dan lari balik, Tetapi

dengan cepat Gin Liong dan kawan2 telah dapat menutuk

rubuh mereka.

Keenam imam itu dibawa ke belakang sebuah batu besar

dan diletakkan disitu, Setelah itu Gin Liong dan kawan2

segera hendak melanjutkan langkah masuk kedalam

lembah. Tetapi alangkah kejut mereka ketika melihat di

muka sebuah hutan, lebih kurang tiga-puluh tombak dari

mulut guha, telah penuh dengan rombongan orang

persilatan yang terdiri tak kurang dari empat lima puluh

orang. Tua. muda, imam dan paderi, Mereka memandang

terkejut kearah Gin Liong.

“Tak perlu menghiraukan mereka,” kata Tek Cun seraya

menyarungkan trisula, Merekapun melanjutkan masuk

kedalam lembah, Ketika berpaling kebelakang, Gin Liong

melihat rombongan orang persilatan tadipun berhamburan

lari masuk kedalam lembah.

Setelah melewati dua buah hutan bambu, lembahpun

berkelok kesebelah kiri, Dan setelah melalui ujung puncak,

mereka melihat sebuah air terjun raksasa yang mencurah

kedasar lembah, membentuk sebuah telaga kedalam 30-an

tombak.

Ada suatu pemandangan yang cepat menarik perhatian.

Bahwa air telaga itu ternyata memantulkan sinar yang

gilang gemilang menyilaukan mata.

Gin Liong cepat dapat mengetahui bahwa sinar kemilau

itu adalah sinar cermin yang ditingkah cahaya matahari.

“Hai lihatlah, itulah cermin pusaka dari si orang tua !”

teriak Gin Liong seraya menunjuk ke muka, Kemudian ia

memandang kesekeliling tetapi tak melihat orang tua itu.

Cermin itu diletakkan diujung atas dari batu runcing

yang tepat berada di tengah2 curahan air terjun, Entah

bagaimana cara orang tua itu meletakkannya.

Gin Liong dan kawan2 hentikan langkah dan

memandang ke sekeliling. Tiba2 mereka terkejut sekali

ketika melihat diantara gerumbul semak dan batu yang

berada di sebelah muka, terkapar malang melintang belasan

sosok mayat manusia.

Keadaan mayat2 itu menyedihkan sekali. Ada yang

kakinya hilang, lengan buntung, mulut berlumuran darah,

Mereka terdiri dari orang tua, rahib wanita ada pula yang

dandanan seperti sasterawan.

Diam2 Gin Liong nyeri melihat keganasan orang tua

pemilik cermin itu.

“Hm, sungguh kejam sekali orang tua itu,” Mo Lan Hwa

juga penasaran, “huh, kemanakah dia bersembunyi ? Biar

dia bagaimana saktinya, tetapi aku ingin menempurnya

juga !”

“Cici, jangan marah, “seru Gin Liong,” turut yang

kulihat ketika didalam rumah gubuk yang lalu, dia hanya

memiliki cermin pusaka itu saja dan tak punya senjata

lainnya”.

Berpaling ke belakang, ia melihat rombongan orang

persilatan itu pun berhenti padat jarak tiga-puluhan tombak,

Dia heran mengapa mereka tak mau melanjutkan maju ke

muka lagi.

“Liongte, menurut keterangan imam Hian Leng dan Biau

Liang tadi, mereka masih ada empat orang tianglo yang

berada disini, tetapi mengapa tak kelihatan ?” tiba2 Tio Li

Kun berkata.

“Hm, mungkin sudah mampus,” gumamMo Lan Hwa.

Tetapi serempak dengan ucapan nona itu tiba2 dari balik

sebuah batu besar di sebelah kiri terdengar suara orang

tertawa mengekeh.

“Siapa !” bentak TekCun, terus melayang ke tempat itu.

“Liok-ko, jangan…” cepat Gin Liong mencegah karena ia

tahu akan kesaktian orang tua pemilik cermin pusaka, iapun

segera loncat menyusul Tek Cun, Mo Lan Hwa dan Tio Li

Kun juga mengikuti.

Baru tiba dimuka batu besar dan belum lagi dapat berdiri

tegak, seorang imam tua telah loncat keluar dari balik batu

itu dan terus lepaskan hantaman.

Walaupun sudah bersiap tetapi jarak begitu dekat dan

pukulan dilancarkan secara tiba tiba sekali, Tek Cun

terkejut dan cepat cepat dorongkan tangannya kemuka.

Gin Liong terkejut ketika melihat kesaktian tenaga

pukulan imam tua itu. ia kuatir Tek Cun tak mampu

bertahan. Dengan menggembor keras, iapun segera

menghantam.

Tetapi tepat pada saat Gin Liong lepaskan pukulan, dari

balik batu besar itu muncul pula seorang imam tua lagi yang

sambil berteriak keras juga lantas lepaskan hantaman

kearah pukulan Gin Lang.

Terdengar letupan keras diiring dengan debu dan batu

bertebaran dihembus angin, imam tua kurus yang pertama

muncul tadi serta Tek Cun sama2 terhuyung-huyung

mundur, imam kurus itu termakan pukulan Gin Liong

sehingga terhuyung ke belakang, punggungnya membentur

batu besar itu.

Mo Lan Hwa menjerit kaget seraya loncat menyambar

tubuh Tek Cun pemuda itu muntahkan segumpal darah

segar. Tio Li Kunpun menghampiri lalu membawa

engkohnya duduk ditanah.

Gin Liong melihat peristiwa itu.

“Hm, terimalah pukulanku sekali lagi..!” serunya seraya

maju tiga langkah lalu ayunkan tangannya.

Imam tua yang muncul belakang itu mempunyai raut

muka seperti kuda, ia tahu pemuda itu memiliki tenaga

yang sakti, Cepat ia kerahkan tenaga-dalam dan

menyongsong dengan pukulan juga.

Terdengar letupan lagi dan langkah kaki si imam

bermuka kuda yang terhuyung-huyung kebelakang. Setelah

muntah darah, iapun rubuh terkapar.

Pada saat itu dua sosok tubuh loncat ke luar lagi dari

balik batu besar. Dua orang imam tua berambut putih itu

segera menolong imam bermuka kuda.

Yang mengenakan jubah hitam dan berumur enam

puluhan tahun, berwajah persegi, alis tebal dan mata tajam

segera loncat menghampiri ketempat si imam kurus yang

terluka tadi.

Gin Liongpun juga memandang kearah Tek Cun.

Dilihatnya pemuda itu kerutkan dahi, pejamkan mata.

wajahnya pucat lesi, mulut masih membekas noda darah,

Mo Lan Hwa memberinya minum sebutir pil warna hijau,

Sedang Tio Li Kun duduk di belakang engkohnya,

melekatkan telapak tangannya ke punggung Tek Cun

hendak memberi saluran tenaga-dalam.

Makin meluaplah kemarahan Gin Liong. ia marah

kepada kawanan imam tua yang dalam kedudukan sebagai

tiang-lo telah menyerang seorang anak muda tanpa

bertanya suatu apa lebih dulu,

Tiba2 pula Gin Liong teringat mengapa orang tua

pemilik cermin pusaka itu tak tampak ? Apakah orang tua

itu juga sudah mati dibunuh keempat imam tua yang ganas

itu ? Dan jangan2 korban2 yang jatuh berserakan di tanah

itu juga keempat imam itu yang membunuhnya.

Gin Liong memandang sesosok mayat yang berada di

dekatnya,

“Hai, Ma Toa Kong !” serentak ia memekik kaget dan

terus loncat menghampiri Ternyata perut Ma Toa Kong

telah robek sepanjang delapan inci, ususnya berhamburan

keluar.

Gin Liong cepat beralih memandang ke arah empat

imam tua itu dan membentak: “Kim-piau Ma Toa Kong,

apakah kalian yang membunuh ?”

Imam tua berjubah kelabu yang berada di samping imam

bermuka kuda, pelahan-lahan berbangkit dan deliki mata

lalu tertawa dingin:

“Ya. memang toya yang menyempurnakan ia engkau

mau apa ?”

Gin Liong tertawa keras untuk menghamburkan

kemarahannya.

“Bagus, akupun akan menyusulkan engkau ke akhirat.”

serunya seraya mencabut pedang Tanduk Naga. Tiba2 ia

mendengar suara erang pelahan. Ah. ternyata suara itu

berasal dari mulut Ma Toa Kong.

Gin Liong cepat berjongkok dan memegang pergelangan

tangan Ma Toa Kong. Ternyata detak jantungnya masih

berjalan lemah.

Segera ia menutup luka Ma Toa Kong dengan

pakaiannya lalu lekatkan telapak tangan ke-perutnya untuk

memberi penyaluran tenaga dalam, Walaupun wajahnya

pucat seperti kertas tetapi bibir Ma Toa Kong mulai

bergerak-gerak.

“Ma lo cianpwe, bagaimana engkau rasakan ?” seru Gin

Liong.

Ma Toa Kong hendak mengucap kata2 tetapi tenaganya

lemas sekali, ia pejamkan mata lagi, Tak berapa lama

terbuka lagi dan bibirnyapun bergerak-gerik. Beberapa saat

kemudian kedengaran ia dapat menghela napas dan

memandang Gin Liong:

“Ah . . . tak kira . . . bukan di . . . guha Kiu-kiok-tong . . .

. tetapi . . . aku mati disini . . .”

“Ma lo cianpwe bagaimana meninggalkan guha Kiukiok-

tong ?” seru Gin Liong cepat.

Dengan napas terengah-engah Ma Toa Kong paksakan

diri berkata:

“Pada waktu itu . . . gurumu masuk guha, . . lama tak

keluar . . . pertama It Ceng . . . kuatir Ban Hong liong-li

keluar . . . . yang pertama-tama lalu . . . kemudian . . . .

semua pergi . . . .”

Tiba2 dari jauh terdengar suara orang berseru memanggil

: “Ma susiok . . . .” Nampak sosok bayangan berlarian

mendatangi ketempat Ma Toa Kong. Mereka dua lelaki

berpakaian hitam, bertubuh gagah perkasa dan masing2

menyanggul golok besar.

Gin Liong duga kedua orang itu tentu orang Tiam-jongpay-

Mungkin karena mendengar ia menghardik keempat

iman tua tadi, kedua orang itupun segera bergegas

mendatangi.

“Ma susiok, siapakah yang membunuh engkau ?” kedua

orang itu menangis.

Dua butir airmata menitik dari pelupuk mata Ma Toa

Kong, kemudian berkata : “Hong Tim. .. dan . . . Ceng . . .

.” – ia tak dapat melanjutkan kata-katanya lagi karena saat

itu lidahnya kaku.

Melihat itu Gin Liong cepat salurkan tenaga-dalam lagi

ke tubuh Ma Toa Kong, Tetapi percuma, Ma Toa Kong

telah putus jiwanya, Gin Liong meluap darahnya.

Berpaling ke belakang dilihatnya Mo Lan Mwa berdiri

dengan lintangkan pedang menjaga Tio Li Kun dan Tek

Cun yang tengah duduk menyalurkan pernapasan. Sedang

imam tua bermata tikus, berada dua tombak dari mereka,

imam tua berjubah hitam pun tengah berjalan

menghampiri.

Gin Liong segera dapat menduga apa yang telah terjadi.

Ketika Tio Li Kun sedang merawat engkohnya yang terluka

dan dia sedang menolong Ma Toa Kong, kedua imam itu

tentu berusaha hendak turun tangan.

Segera ia berseru nyaring : “Hai, siapakah diantara kalian

yang bernama Hong Tim lo-to, lekas kemari terima

kematian !”

Sambil berkata, pemuda itu loncat ke tengah gelanggang,

imam yang bermata kecil seperti mata tikus dan bermuka

persegi segera berhenti terkejut melihat ilmu meringankan

tubuh dari Gin Liong yang begitu hebat.

Gin Liong berhenti setombak dihadapan kedua imam itu

dan menghardik lagi: “Siapa? Siapa yang bernama Hong

Tim ?”

Setelah tenangkan semangat kedua imam itu

menguarkan pandang kearah jago2 persilatan yang berada

dalam lingkungan dua puluh tombak disekelilingnya.

Merahlah muka mereka, Kemudian menatap Gin Liong,

kedua imam itu tertawa dingin.

Tiba2 kedua orang yang menangis disisi mayat Ma Toa

Kong tadi, serentak berbangkit mencabut golok dan

menggerung: “Keparat Hong Tun, bayarlah jiwa susiokku !”

Keduanya melalui Gin Liong dan terus langsung

menyerbu siimam mata tikus, Gin Liong terkejut ia tahu

kedua orang itu tentu bukan tandingan Hong Tim, Tetapi ia

tak leluasa untuk mencegah kedua orang yang hendak

membalaskan dendam kematian susioknya.

Ternyata imam bermata seperti mata tikus itu memang

Hong Tim. Segumpal jenggotnya yang putih tampak

berguncang-guncang dibawa tertawanya. Tahu2 dia sudah

loncat melayang dua tombak jauhnya.

“Tikus2 kecil, kalian berdua cari kematian sendiri, jangan

salahkan aku Hong Tim toya berhati kejam !” habis berkata

imam tua itu terus mencabut pedangnya.

Melihat sikap siimam yang begitu congkak, marahlah

Gin Liong, Segera ia berseru menyuruh kedua orang itu

berhenti

Tetapi sudah terlambat. Kedua orang itu tak mau

menghiraukan lagi dan terus menyerbu laksana harimau

melihat darah

Tiba2 seorang imam tua berjubah hitam, loncat

menyongsong dan lepaskan hantaman kearah kedua orang

itu:

“Tikus kecil, terimalah pukulanku dulu.”

Melihat itu Gin Liong marah sekali. Cepat ia ayunkan

tangannya kearah imam jubah hitam atau imam tua Ceng

Hian.

Terdengar jeritan ngeri dan tubuh imam tua Ceng Hian

itupun terlempar sampai empat tombak jauhnya,

membentur sebuah batu besar.

Melihat itu imam kurus yang baru saja selesai

menyilangkan tenaga cepat loncat untuk menanggapi tubuh

Ceng Hian, Tetapi ketika memeriksanya ternyata imam tua

CengHian sudah putus nyawanya.

Pada saat itu berpuluh jago2 silat yang berada dua puluh

tombak dari tempat Gin Liong berdiri, tiba2 bersorak keras.

Gin-Liong berpaling dan tampak wajah jago2 silat itu

terkejut memandang kearah belakangnya. Menurut arah

pandang mereka, Gin Liong segera mengetahui bahwa

lelaki berpakaian ungu tadi sudah dibelah dua oleh pedang

imam tua Hong Tim. Dan saat itu Hong Tim meneruskan

pedangnya ke arah lelaki berpakaian hitam.

Saat itu Gin Liong menyadari bahwa teriakan jago2 silat

tadi adalah sebagai peringatan kepadanya bahwa kedua

orang murid keponakan dari Ma Toa Kong terancam

bahaya.

Gin Liong tak dapat menahan kemarahannya lagi.

Serentak ia mencabut pedang Tanduk Naga dan terus

loncat membabatHong Tim.

Melihat kedahsyatan gerak Gin Liong dan pedang

Tanduk Naga, imam tua Hong Tim terkejut sekali, Buru2 ia

loncat mundur beberapa langkah.

Tetapi Gin Liong sudah terlanjur diamuk amarah,

Terutama setelah tahu bahwa imam tua Hong Tim itulah

pembunuh dari Ma Toa Kong, Dengan mengaum laksana

harimau melihat darah, ia menerjang maju dan menusuk

perut Hong Tim.

imam kurus meletakkan mayat imam Ceng Hian lalu

loncat menerjang Gin Liong: “Bangsat, kembalikan jiwa jisuhengku…”

Serangan imam kurus itu disertai dengan hud tim atau

kebut pertapaan yang berbulu kawat perak, menyabet

lambung Gin Liong.

Lelaki baju hitam yang hendak diserang Hong Tim tadi

karena melihat kawannya, lelaki baju ungu mati begitu

mengenaskan, marah dan kalap, ia segera menyerang imam

kurus dengan sebuah tabasan golok.

Dengan demikian serangan imam kurus kepada Gin

Liongpun tertahan, Dan Gin Liong dapat melanjutkan

tusukannya keperutHong Tim.

Hong Tim cepat menangkis dengan pedang tetapi begitu

berbentur dengan pedang Tanduk Naga, pedangnyapun

putus, Sebelum Hong Tim sempat menghindari ujung

pedang Tanduk Naga sudah bersarang di perutnya.

Darah mengucur deras, Hong Tim lepaskan pedangnya,

mendekap perut dan terhuyung-huyung kebelakang dan

rubuh ke tanah. Ususnya berhamburan, kematiannya

sengeri kematian Ma Toa Kong.

Setelah berhasil membunuh Hong Tim, Gin Liongpun

berpaling. Dilihatnya imam kurus sedang bertempur seru

dengan lelaki baju hitam, imam kurus dengan permainan

kebut hud-timnya yang cepat dan dahsyat dapat mendesak

lawan sehingga orang itu mandi keringat, permainan

goloknyapun makin kacau, Tetapi rupanya dia sudah kalap

dan hendak mengadu jiwa, Dengan nekad ia balas

melakukan serangan sehingga mampu juga mendesak imam

kurus.

Dalam pada itu, imam tua bermuka seperti kuda yang

tengah pejamkan mata memulangkan tenaga tadi,

membuka mata dan dengan menggerung ia ayunkan kedua

tangannya.

Benda halus macam sutera perak mendesis-desis kearah

Siau-bun-hau Tek Cun yang saat itu masih pejamkan mata

memulangkan tenaga.

Mo LanHwa menjerit kaget dan cepat loncat ke samping

Tek Cun seraya memutar pedangnya dalam sebuah

lingkaran untuk melindungi anak muda itu.

Melihat itu Gin Liong marah sekali, sambil meraung ia

loncat ke udara dan bergeliatan untuk meluruskan tubuh.

Ketika ia hendak melepaskan hantaman tiba2Mo Lan Hwa

menjerit kaget pedangnya terpental jatuh dan nona itupun

jatuh terjungkir balik ke belakang.

Gin Liong terkejut, ia tahu bahwa nona itu tentu terkena

senjata rahasia berbentuk seperti sutera perak tadi. Cepat ia

ayunkan kaki keatas dan berjumpalitan Dengan kaki di atas

dan kepala di bawah ia melayang ke arah tempat Mo Lan

Hwa.

Pada saat ia hendak menyambar tubuh Mo Lan Hwa

tiba2 matanya terpancar oleh cahaya keras yang

dipancarkan dari kaca wasiat tadi. Seketika pandang

matanya silau, ia tak dapat melihat benda disekelilingnya

lagi, Empat penjuru terasa gelap gelita,

Untung Gin Liong masih sadar pikirannya. ia bergeliatan

dan melayang turun ke tanah, Tetapi ia terkejut sekali

ketika matanya tetap gelap tak dapat melihat apa2.

Serempak pada saat itu ia mendengar pula suara

mendesis-desis halus menuju ketempatnya, ia tahu bahwa

musuh telah menyerangnya dengan senjata rahasia, Cepat

ia putar pedang Tanduk Naga dan berhasil membuyarkan

benang2 perak itu jatuh ke tanah.

Tiba2 para jago silat diluar gelanggang kembali berteriak

pula, Gemuruh dan gempar. Bahkan mereka bukan

melainkan bersorak tetapi pun menyisih ke belakang,

membuka sebuah jalan.

Gin Liong cepat berpaling untuk melihat. Tetapi ia tetap

tak dapat melihat apa2, matanya tetap gelap, ia hanya

mendengar di antara suara hiruk pikuk itu samar2 terdengar

suara kibaran pakaian beberapa orang yang tengah

mendatangi.

Imam bermuka kuda, karena melepaskan senjata rahasia

sutera perak yang selembut bulu kerbau. telah kehabisan

tenaga-dalam, Luka dalamnya kambuh lagi, berulang kali ia

muntah darah

Saat itu terdengar si cantik Tio Li Kun melengking kaget,

Rupanya setelah selesai menyalurkan tenaga, Tio Li Kun

tahu apa yang terjadi pada diri Mo Lan Hwa. Cepat ia

loncat memeluk tubuh Mo Lan Hwa, Wajah Mo Lan Hwa

pucat lesi, matanya meram dan dahinya mengerut menahan

kesakitan. Memandang kesebelah muka, hati Tio Li Kun

makin tergetar keras. Dilihatnya Gin Liong terlongong2

memandang kearah jago2 silat yang tengah hiruk dan sibuk

menyisih kesebelah samping.

Tio Li Kun segera hendak menegur tetapi tiba2

dilihatnya tiga orang tua lari menerobos ke luar dari

kerumun jago2 silat itu- Yang paling depan umurnya lebih

kurang delapan puluh tahun, berambut pendek berjenggot

panjang, putih seperti perak, wajahnya lebar, alis tebal mata

bundar. Mengenakan pakaian dari kain kasar, Tangannya

mencekal sebatang pipa hun-cwe, gembung pula sebesar

kepalan tangan orang, memancarkan sinar keemas2 an.

Di sebelah kiri dari orang tua itu, seorang tua yang

sikapnya seperti orang sinting, Dia membawa sebatang

tongkat bambu wulung dan pakaiannya compang-camping

seperti pengemis.

Di sebelah kanan orang tua tadi, juga seorang lelaki tua

berumur lebih kurang delapan puluh tahun, Rambut dan

jenggotnya putih, matanya kuyu seperti seorang pemabok.

Mulutnya besar dan lebar sekali, Mengenakan pakaian

warna kelabu yang memanjang menutupi kedua kakinya,

punggungnya memanggul tiga buah buli2 arak yang

berkilat-kilat menyilaukan.

Ketiga orang tua itu lari pesat sekali, Tio Li Kunpun

cepat mengenali ketiga orang itu sebagai Swat-thian Samyu.

Maka ia segera menggolek-golekkan kepala Lan Hwa

dan memberitahu: “Adik Hwa, adik Hwa, lihatlah, ketiga

suhengmu datang.”

Mendengar itu Mo Lan Hwa paksakan diri membuka

mata. Setelah melihat memang ketiga suhengnya datang, ia

pejamkan mata pula.

Saat itu pandang mata Gin Liongpun sudah sembuh. ia

dapat melihat kedatangan Swat-thian Sam-yu itu, Cepat2 ia

berseru : “Lo-koko berdua, harap segera kemari !”

Melihat Gin Liong, Hok To Beng dan Hong-tian-soh

(siorang tua sinting) tertawa gelak2. Tetapi wajah mereka

cepat mengerut gelap ketika melihat Mo Lan Hwa

menggeletak ditanah dipeluk Tio Li Kun. Cepat mereka lari

menghampiri. Lebih terkejut pula mereka ketika memeriksa

keadaan sumoaynya itu.

Hok To Beng sibuk memanggil-manggil sumoaynya

tetapi nona itu tetap diam saja. Didapatinya lengan Mo Lan

Hwa membengap, jelas nona itu tentu terkena senjata

rahasia yang amat beracun.

“Siapa yang berani mencelakai sumoay dengan senjata

rahasia beracun itu !” Hong-tian-soh berbangkit dan

berteriak keras.

Sebelum Gin Liong memberi keterangan, Mo Lan

Hwapun paksakan diri membuka mata dan menuding

kearah siimam potongan muka kuda.

Menurutkan arah yang ditunjukkan si nona, Hong-tiansoh

segera membentak keras:

“Hai, kurcaci tua dari mana berani menggunakan senjata

rahasia yang begitu ganas !”

Dengan mengangkat tongkat bambu wulung, Hong-tiansohpun

segera lari kearah siimam muka kuda yang masih

duduk di tanah.

Ketika Cui-sian-ong atau Dewa Pemabuk merentang

mata, segera ia berseru: “Hai, sinting, jangan menghajar, dia

Ih Tim tianglo dari partai Kiong-lay-pay.”

Hong-tian-soh sudah terlanjur angot gilanya. Sudah tentu

ia tak menghiraukan peringatanDewa Pemabuk.

“Tak peduli dia tianglo dari partai mana, yang penting

harus dihajar dulu !” seru orang sinting itu, ia tetap

lanjutkan larinya ketempat imam tua itu.

Mendengar keterangan Dewa Pemabuk, Hok To Beng

terkejut dan berpaling ikut mencegah: “Sinting . … “

Tetapi terlambat Terdengar suara bambu menghantam

benda keras disusul dengan jeritan ngeri. Batok kepala dari

Ih Tim tianglo partai persilatan Kiong-lay-pay telah hancur

lebur, berhamburan keempat penjuru.

Baik Hok To Beng maupun Dewa Pemabuk berobah

wajahnya seketika. Mereka menganggap peristiwa

pembunuhan itu, akan menimbulkan akibat besar, Partai

Kiong-lay-pay pasti akan mencari balas kepada Swat-thian

Sam-yu.

Tidak demikian dengan Gin Liong. pemuda itu tak puas

melihat kekuatiran kedua tokoh itu. Sejenak ia keliarkan

pandang kearah sosok2 mayat yang menjadi korban

keganasan keempat imam tua dari Kiong-lay-pay itu.

Baru ia hendak berkata, tiba2 Hong-tian-sohpun sudah

berteriak keras lagi: “Hai, masih ada seorang kurcaci tua

lagi !”

Habis berkata ia terus mengangkat tongkat bambunya

hendak dikemplangkan ke kepala imam kurus yang tengah

bertempur dengan orang yang berpakaian hitam tadi.

Kali ini Hok To Beng berbangkit dan berteriak marah:

“Hai, sinting, itu Ceng Cin tianglo dari Kong-tong-pay !”

Mendengar itu imam kurus terkejut Cepat menggembor

keras dan menyelinap ke samping. Ketika berpaling

kejutnya bukan kepalang, Cepat2 ia ayunkan kebut hudtimnya.

“Bagus, ha, ha, ha,” teriak Hong-tian-soh yang tanpa

merobah gerak jurusnya, tetap ayunkan tongkat bambu

mengemplang kepala imam itu.

Waktu mengetahui bahwa yang menyerangnya itu si

sinting dari Swat-thian Sam-yu, berobahlah wajah Ceng Cin

tianglo, ia tahu bahwa jurus Pang-ta-lian-hoa yang

dimainkan tokoh sinting itu penuh perobahan yang sukar

diduga. Dengan menggembor keras. Ceng Cin segera buang

tubuhnya bergelundungan ke tanah dengan ilmu Kiu-te-sippat-

kun.

Rupanya Hong-tian-soh tak mau mengejar Berpaling

memandang kearah lelaki baju hitam yang masih tegak

terlongong. ia membentak :

“Karena bertempur mati-matian di tempat ini, engkau

tentu bukan manusia baik !”

Habis berkata orang sinting itu terus ayunkan tongkat

bambunya, ke pinggang orang.

Karena hendak diserang, lelaki baju hitam itupun

menangkis dengan goloknya, Melihat itu Gin Liong cepat

berteriak:

“Hong koko, dia bukan…”

Tetapi belum selesai Gin Liong berseru, golok lelaki baju

hitam itupun sudah mencelat ke udara, Untung karena

mendengar peringatan Gin Liong, Hong-tian-soh segera

hentikan tongkatnya, Memandang kepada orang itu ia

tertawa mengekeh lalu berputar tubuh dan melangkah ke

tempat Mo Lan Hwa lagi dan berjongkok. Rupanya sayang

sekali dia akan sumoaynya.

Saat itu Dewa pemabuk berhasil mendapat sebuah botol

kecil dari kumala putih, Setelah menuangkan pil dari botol

itu, terus disusupkan ke mulut Mo LanHwa.

Tek Cunpun sudah kuat berdiri tetapi semangatnya

masih lelah, Dalam kesempatan ituHok To Beng suruh Gin

Liong berkenalan dengan Dewa Pemabuk, Demikian pula

dengan Tio Li Kun dan Tek Cun.

Ternyata Swat-thian Sam-yu juga naik perahu bersamaan

waktunya dengan Gin Liong, Tetapi karena penumpangnya

banyak, perahu agak pelahan jalannya hingga Gin Liong

dan rombongannya tiba lebih dulu setengah jam.

Jago2 persilatan dari berbagai aliran makin banyak tiba

di tempat itu, Tetapi mereka tak berani mendekat dan

hanya berdiri dua-puluh tombak jauhnya, Mereka kasak

kusuk dengan kawan2nya. Dengan munculnya Swat-thian

Sam-yu di tempat itu, tak seorangpun yang berani

melanjutkan perjalanannya ke muka.

Sejenak memandang kesekeliling, Hok To Beng kerutkan

dahi, lalu bertanya kepada Gin Li-ong: “Orang tua itu

mengapa tak tampak ?”

Memandang kearah cermin pusaka di tengah telaga, Gin

Liong juga menyatakan keheranannya: “Sejak kami datang,

orang tua itu tak pernah kelihatan.”

“Lalu siapa yang membunuh korban2 itu ?” seru Hongtian-

soh seraya memandang sosok2 mayat yang berserakan

di tanah,

Gin Liong kerutkan alis, Tiba2 ia teringat akan kematian

Ma Toa Kong.

“Kemungkinan mati di tangan keempat imam tua itu !”

akhirnya ia menyahut.

Sudah tentu Swat-thian Sam-yu terkejut. Mereka

mendesuh dan serempak berpaling ke arah imam tua Ceng

Cin.

Tampak imam tua Ceng Cin tengah memondong mayat

CengHian dibawa lari keluar dari lembah itu.

“Hm, hari ini kurcaci tua itu mendapat kemurahan,”

dengusHong-tian-soh geram.

Mo LanHwa sudah dapat bangun.

“Bagaimana ? Apakah lenganmu sudah tak sakit ?” seru

ketiga Swat-thian Sam-yu.

Dengan manja sekali Mo Lan Hwa mengatakan kalau

sudah sembuh, ia singsingkan lengan baju dan tampaklah

sebatang sutera perak selembut bulu kerbau menyusup

kelengan nona itu.

Dewa Pemabuk mengambil buli2 araknya meneteskan

dua tetes arak ke bulu perak itu lalu mencabutnya.

“Untung Ih Tim loto sudah menderita luka-dalam,

sehingga tenaganya berkurang, Kalau tidak sutera perak itu

tentu akan menyusup lebih dalam lagi ke tulang,” kata Tio

Li Kun.

Dewa Pemabuk merentang mata dan bertanya siapakah

yang melukai Ih Tim loto itu.

Gin Liong mengaku bahwa dialah yang melukai imam

tua itu karena melihat imam itu mengganas Tek Cun

dengan pukulan yang dahsyat ia menunjuk ke arah Tek Cun

yang wajahnya masih pucat.

Dewa Pemabuk mendesis, Rupanya ia seperti kurang

percaya kalau seorang anak semuda Gin Liong mampu

melukai Ih Tim yang berkepandaian tinggi.

“Lalu siapakah yang membunuh Ceng Hian loto ?”

tanyanya pula.

“Juga siaute” kata Gin Liong, “karena dia berlaku curang

menyerang dari belakang.

Sudah tentu Dewa Pemabok makin terkejut Dengan

matanya yang redup menatap Gin Liong.

“Siau-hengte” serunya dengan sikap serius, “begitu keluar

dari perguruan, engkau sudah mengikat permusuhan

dengan dua partai persilatan. Kemungkinan engkau akan

menghadapi bermacam macam kesulitan nanti.”

Gin Liong hanya tertawa hambar, “Dalam terjun

kedunia persilatan siaute hanya berpijak pada kebenaran

dan keadilan Memberantas yang lalim dan jahat, menolong

yang lemah dan benar. Apapun bahaya yang akan

menimpali pada diri siaute, siaute tak dapat menghindari

lagi.”

Dewa Pemabuk terkesiap, Setelah berbicara beberapa

saat lagi, diam2 ia mengagumi pendirian dan sikap Gin

Liong yang perwira.

“Bagus, bagus, siau-hengte.” bahkan Hong-tian-soh si

Sinting menepuk-nepuk bahu Gin Liong “tak kecewa

engkau menjadi adik dari aku si Sinting ini Hong-tian-soh.

Berani dan perwira, Tak gentar menghadapi ancaman, tak

menindas yang lemah dan tak melakukan pekerjaan yang

melanggar hukum Allah, Aha, aku si sinting Hong-tian-soh,

sekarang sudah mempunyai adik sealiran.”

Habis berkata tokoh sinting itu tertawa gelak2 dengan

gembira sekali.

Walaupun menahan sakit karena ditepuk-tepuk bahunya

itu, terpaksa Gin Liong harus tersenyum.

Tio Li Kun dan Tek Cun tergerak hatinya mendengar

pernyataan si sinting yang begitu perwira. Mereka tak

mengira kalau tokoh yang tampak seperti orang sinting

ternyata mempunyai pendirian seorang pendekar besar.

Melihat Gin Liong tertawa meringis, Mo Lan Hwa

berseru : “Hong koko, engkau boleh saja bergembira tetapi

dengan menepuk-nepuk bahu begitu, orang harus meringis

kesaktian untuk memuaskan kegembiraan hatimu.”

Hong-tiang-soh menyadari dan cepat hentikan

tangannya.

Tiba2 terdengar suitan nyaring dari arah puncak gunung

yang jauh dari situ, Gin Liong terkejut Demikian pula

dengan sekalian tokoh yang berada disitu. Mereka

serempak memandang kearah suara suitan itu.

Suitan itu seolah menembus udara, memenuhi lembah

dan makin lama makin dekat ke lembah.

Sekonyong-konyong dari arah dua-puluh tombak

jauhnya terdengar suara orang berteriak keras: “Lekas- lari,

orang tua pemilik kaca wasiat itu datang !”

Mendengar itu para jago silat yang berkumpul diluar

lembah segera desak mendesak berebut lari. Mereka seperti

akan diserang bencana.

Gin Liong kerutkan alis, Dari berbagai tempat yang jauh

mereka datang, bukankah karena hendak melihat orang tua

pemilik kaca wasiat itu ? Mengapa sekarang orang tua itu

datang, mereka malah melarikan diri ? Pikir Gin Liong

penuh keheranan.

Suitanpun berhenti dan beberapa jago silat yang sudah

membiluk di puncak gunung sebelah muka itupun berhenti

Mereka berpaling memandang ke telaga, cemas dan sangsi.

Tiba2 sebuah suara suitan yang aneh dan parau,

mengiang di telinga Gin Liong. Gin Liong terkejut dan

cepat berpaling.

Hong-tian-son meregang rambutnya, muka menengadah

dan mulut ternganga, Tengkuk lehernya menjulur ke muka.

Ah, dialah yang bersuit aneh itu.

Luka Tek Cun baru saja baik, Mendengar suitan aneh

itu, wajahnya pucat dan keringat dinginpun mengucur lagi,

Melihat itu Gin Liong, Tio Li Kun cepat loncat ke samping

Tek Cun dan serempak memegang punggung Tek Cun.

Tampak Hok To Beng dan Dewa pemabuk serius sekali

wajahnya. Kedua tokoh itu tengadahkan muka untuk

menanti jawaban dari suitan aneh yang dipancarkan Hongtian-

soh tadi.

Memandang ke puncak gunung sebelah muka, Gin

Liong tak melihat lagi rombongan jago2 silat yang berdiri

disitu, Rupanya karena mendengar suitan Hong-tian-soh,

mereka ketakutan melarikan diri.

Setelah bersuit, Hong – tian – soh merentang mata dan

memandang ke puncak sebelah muka, Tiba2 suitan nyaring

tadi terdengar pula, jelas berasal dari balik puncak gunung

yang tingginya beratus-ratus tombak,Menyusul muncul dua

sosok tubuh warna kelabu dan putih meluncur turun bagai

dua buah bintang jatuh dari langit.

Baik Gin Liong maupun Swat-thian Sam-yu terkesiap

melihat kesempurnaan ilmu meringankan tubuh dan kedua

pendatang itu.

Seiring dengan suitan berhenti, kedua sosok tubuh itupun

sudah mencapai tengah2 lereng gunung. Tetapi kumandang

suitannya masih berkumandang jauh ke angkasa.

Saat itu Gin Liong dapat melihat bahwa kedua

pendatang itu terdiri dari seorang lelaki dan seorang wanita.

“Sepasang lelaki dan wanita,” serunya, Swat-thian Samyu

terkejut Mereka sendiri belum dapat melihat jelas kedua

pendatang itu. Terutama Dewa Pemabuk, Dia sampai

mendesuh kejut karena heran atas ketajaman mata anak

muda itu.

Dalam pada itu kedua pendatang itupun sudah tiba di

kaki gunung dan lari menghampiri kearah lembah.

Swat-thian Sam-yu memperhatikan bahwa walaupun

tampaknya pelahan tetapi sesungguhnya kedua pendatang

itu lari cepat sekali

Pada lain saat tiba2 Gin Liong berteriak kaget: “Sumoay,

sian-suang . .. . !” iapun terus loncat dan lari menyongsong

kedatangan bayangan putih itu.

Mendengar itu berdebarlah hati si jelita Tio Li Kun.

Apabila tokoh yang disebut sian-tiang telah datang, dia

tentu dapat membuka rahasia siapa sesungguhnya suhu dari

Tio Li Kun itu.

Beda dengan engkohnya, Tek Cun, Pemuda itu gembira

sekali, ia merasa hari itu benar2 luar biasa sekali karena

dapat berjumpa dengan empat tokoh dari Ih-lwe-jit-ki atau

Tujuh tokoh aneh dalam dunia.

Sedangkan Mo Lan Hwa merasa cemburu karena

mendengar Gin Liong begitu girang sekali menyambut

kedatangan sumoaynya.

Saat itu Swat-thian Sam-yu dapat mengetahui jelas

bahwa salah seorang pendatang itu bukan lain adalah Hun

Ho sian-tiang bersama seorang gadis cantik baju putih yang

umurnya sekitar 16-17 tahun, Ketiga tokoh itu segera dapat

menduga bahwa gadis baju putih itu tentu sumoay dari Gin

Liong,Mereka tertawa ikut gembira atas pertemuan itu.

Terpisah tujuh tombak jauhnya, Gin Liong berhenti dan

memberi hormat kepada Hun Ho sian tiang.

“Liong koko . . ” teriak gadis baju putih dengan penuh

haru. ia berlinang-linang airmata melihat Gin Liong.

“Harap siau-sicu tak memakai banyak peradatan,” begitu

tiba di hadapan Gin Liong, Hun Ho siantiang mencegah

anak muda yang hendak membungkuk tubuh

menghaturkan hormat ia ulurkan tangan untuk mencekal

tangan Gin Liong, Seketika Gin Liong merasa seperti

terangkat ke atas dan terus melayang kearah Swat-thian

Sam-yu.

“Bertahun-tahun tak berjumpa, toheng bertiga masih

segar bugar seperti yang lalu” seru Hun Ho sian-tiang yang

menyusul tiba di hadapan Swat-thian Sam-yu.

Hok To Beng dan Dewa pemabuk tertawa dan serempak

menegur: “Imam hidung kerbau, angin apakah yang

meniup engkau sampai ke lembah ini ?”

“Bukan angin tetapi keinginan nafsu hati yang serakahlah

yang membawanya kemari” tiba2 Hong-tiang-soh

menyelutuk tertawa.

Sambil mengurut-urut jenggotnya, Hun Ho sian-tiang

tertawa:

“Ah, Hong toheng masih gemar berolok-olok. Ketika

pergi ke gunung Tiang-pek-san mencari tanaman obat,

kebetulan kita saling bertemu dan secara kebetulan pula

berjumpa dengan orang tua pemilik kaca wasiat tadi bukan

sengaja khusus mencarinya . . . “

“Dan kali ini ? Apakah kedatanganmu kemari juga

hendak mencari daun obat ?” tukasHong-tian-soh.

“Tadi kalau tak mendengar suitan yang memecah

angkasa dari mulut Hong to-heng, mungkin saat ini aku

sudah tinggalkan gunung Hok-san ini sahut Hun Ho siantiang.

Swat-thian Sam-yu dan Gin Liong tertawa, Dalam pada

itu si cantik Tio Li Kun, Mo Lan Hwa dan Tek Cunpun

menghampiri dan memberi hormat kepada Hun Ho siantiang,

Melihat Tio Li Kun, HunHo sian-tiang segera tertawa:

“Nona Tio, apakah suhumu Ceng Hun suthay baik2 saja

?” tegurnya.

Merah wajah Li Kun, Dia gugup mendapat pertanyaan

itu tetapi karena tak dapat ditutupi lagi akhirnya ia

menyahut juga.

“Berkat restu sian-tiang, suhu tak kurang suatu apa.”

Swat-thian Sam-yu terkesiap, Mereka memang pernah

mendengar kabar orang bahwa kepandaian si cantik Li Kun

jauh di atas saudara2 nya, Saat itu baru mereka mengetahui

bahwa suhu dari si cantik itu ternyata rahib Ceng Hun,

murid pewaris dari Bong-.san loni atau rahib tua dari

gunung Bong-san salah seorang dari Bu-lim Su-ik atau

Empat-luar-biasa dalam dunia persilatan.

Jangankan Swat-thian Sam-yu, bahwa Tek Cun engkoh

nomor enam dari si jelita Li Kun sendiri, juga terlongonglongong

heran. walaupun sebagai saudara tua, tetapi ia tak

tahu bahwa adiknya itu ternyata murid dari rahib tua Bongsan

lo ni. Dia kira kalau kepandaian adiknya itu berasal dari

mamahnya.

Karena lama tak berjumpa maka pertemuan antara Swatthian

Sam-yu dengan Hun Ho sian-tiang itu amat

menggembirakan sekali Mereka ber cakap2 dengan riang

dan asyik.

Melihat Ki Yok Lan. Tek Cun benar2 terkesiap, ia tak

menyangka bahwa sumoay yang sering diucapkan oleh Gin

Liong itu ternyata seorang gadis yang agung dan cantik,

wajahnya yang cantik berseri, makin memancarkan

kecantikan yang syahdu dalam pakaiannya yang berwarna

putih. Sepintas pandang menyerupai seorang bidadari.

ia memperhatikan bahwa adiknya, Mo Lan Hwa dan Ki

Yok Lan dalam waktu yang singkat tampak akrab sekali,

Tetapi diam2 iapun memperhatikan juga bahwa pada wajah

adiknya, Tio Li Kun tampak memancarkan sinar cemburu.

Sedang wajah Mo Lan Hwa mengunjuk rasa putus asa.

Sedang Ki Yok Lan sendiri tampak tenang dan wajar.

Secara tak disadari, ia telah membuat perbandingan

untuk menilai ketiga gadis cantik itu.

Ki Yok Lan, berwajah agung cantik dan alim. Memberi

kesan bahwa dia seorang dara yang berhati bersih dan suci.

Mo Lan Hwa cantik berseri, meriah dan gagah sehingga

orang tak berani main2 kepadanya Seorang dara yang

bersemangat

Adiknya, Tio Li Kun, cantik laksana sekuntum bunga

mekar di pagi hari, Memiliki sikap yang berwibawa, cerdas

tetapi angkuh.

Diam2 Tek Cun mencemaskan adik perempuannya itu.

jika Tio Li Kun tak mau berlapang dada, menerima dan

memberi dalam soal asmara, dikuatirkan dia akan

menderita.

Tiba2 suara tertawa gelak2, menghentikan pikiran Tek

Cun yang tengah melamun itu. Ah, ternyata Hun Ho siantiang

bersama Swat-thian Sam yu telah menuju ke tepi

telaga.

“Liok-ko, mari kita kesana juga,” tiba2 Gin Liong

mengajak, Tek Cun mengiakan dan segera kedua pemuda

itu menuju ke tepi telaga juga, Melihat itu ketiga gadispun

mengikuti pula.

Rombongan Swat-thian Sam-yu beristirahat di sebuah

tempat yang jauh dari hamburan air terjun.

“Imam hidung kerbau” tiba2 Hong-tian-soh bertanya,

“apakah engkau tak menduga bahwa orang tua pembawa

kaca wasiat itu bukan salah seorang dari Thian lam Ji-gi ?”

Hun Ho sian-tiang gelengkan kepala pelahan sahutnya:

“Kedua tokoh Thian-lam Ji-gi itu sudah lama menutup

pintu tak mau bertemu orang. Tahun muka baru mereka

menyudahi persemedhiannya”

Berhenti sejenak, Hun Ho siantiang melanjutkan pula:

“Ketika Siau sicu hendak memberi hormat kepadaku di

tanah lapang lembah salju gunung Tiang pek-san, dari

rumah pondok itu tiba2 memancar sepercik sinar dan

menyusul segulung asap putih melintas di atas kepala si

pengemis jahat dan Hoa hweshio, Kedua orang itu menjerit

ngeri. Ketika kuburu keluar hutan. ternyata asap itu sudah

lenyap.”

“Imam hidung kerbau” Dewa Pemabuk tak percaya,

“jangan membual, Dengan ilmu meringankan tubuh Kihong-

hui-heng-sut yang sakti itu, masakan orang tua

pembawa kaca wasiat itu mampu lolos dari pengawasanmu

?”

Hun Ho sian-tiang menghela napas panjang, “Ketika aku

melambung ke udara, kulihat berpuluh sosok tubuh kaum

persilatan yang bersembunyi di sekeliling hutan itu,

berhamburan lari ke segenap penjuru, Sukar bagiku untuk

mengejar yang mana.”

Hok To Beng memandang kearah kaca wasiat di telaga

dan bertanya:

“Menurut pandanganmu apa maksudnya orang tua itu

meletakkan kaca wasiat di tempat yang sedemikian

berbahaya ?”

Hun Ho sian-tiang kerutkan alis.

“Rupanya orang tua itu bermaksud hendak membunuh

orang yang berhati temaha, Sejak dia muncul, entah sudah

berapa banyak jiwa kaum persilatan yang binasa di

tangannya.”

Berhenti sejenak Hun Ho sian-tiang melanjutkan pula:

“Menurut dugaanku, dengan menaruh kaca wasiat di

tengah telaga, dia bermaksud hendak memancing nafsu

keinginan orang agar jago2 silat itu saling bunuh

membunuh sendiri dan dunia persilatan berkurang

jumlahnya manusia2 yang berhati temaha.”

“Huh, apakah itu bukan berarti hendak menciptakan

suatu pembunuhan besar-besaran ?” teriak Hong-tian-soh

tak puas, “jika tiada kaca wasiat itu orang tentu takkan

timbul nafsu temahanya.”

Kemudian tokoh sinting dari Swat-thian Sam yu itu

menggeram: “Lebih baik menghancurkan kaca itu agar

jangan menimbulkan peristiwa berdarah !”

Habis berkata ia terus menjemput sebuah batu kecil dan

hendak dilontarkan. Sudah tentu Hok To Beng, Dewa

Pemabuk terkejut, membentak dan mencengkeram tangan

si sinting.

-ooo0dw0ooo-

Bab 6

Tiga durjana

Hun Ho sian-tiangpun berkata dengan wajah serius:

“janganlahHong toheng bertindak gegabah. Kaca wasiat itu

adalah benda peninggalan seorang paderi suci pada jaman

dulu. Benar2 sebuah benda pusaka dalam dunia persilatan,

kegunaan kaca itu bukan melainkan hanya mencari benda2

pusaka yang tertanam dalam tanah saja…”

“Kemungkinan orang tua itu bersembunyi di sekeliling

tempat ini !” tiba2 Hok To Beng menyelutuk.

Hong-tian-soh keluarkan biji matanya dan

menggentakkan tongkat bambunya ke tanah lalu berseru

keras2:

“Tindakanku tadi, bukankah suatu siasat untuk

memancing supaya dia keluar dari tempat

persembunyiannya ?”

Tetapi sekeliling penjuru tenang2 saja, Tiada

penyahutan, Keadaan itu memberi kesan kepada sekalian

orang bahwa orang tua pemilik kaca wasiat itu memang tak

berada di sekeliling situ. Kalau tidak, dia pasti akan keluar

untuk menemui Hong-tian-soh.

Akhirnya Hun Ho sian-tiang menghela napas “Karena

jelas toheng sekalian tak menginginkan kaca itu, lebih baik

kita lekas2 tinggalkan tempat ini agar terhindar dari

kekeruhan.”

Sekalian orang termenung diam, Saat itu matahari sudah

condong ke barat. Di telaga itu secara kebetulan, Gin Liong

telah menemukan Ma Toa Kong, berjumpa dengan Swatthian

Sam-yu dan bertemu pula dengan sumoaynya Ki Yoklan

sertaHu Ho sian-tiang. Dia gembira sekali.

Kini tinggal satu tujuan lagi ialah mengejar jejak Ban

Hong liong-li untuk meminta keterangan siapakah

sesungguhnya yang telah membunuh suhunya.

Setitikpun Gin Liong tak mengandung hasrat untuk

memiliki kaca wasiat itu, ia masih mempunyai lain tugas

penting, Ketika ia hendak menghaturkan terima kasih

kepada Hun Ho sian-tiang yang telah menolong

sumoaynya, tiba2 orang tua itu menengadahkan

memandang ke langit.

“To-heng” katanya, hari sudah menjelang petang, mari

kita pergi”

Swat-thian Sam-yu mengangguk dan mengikuti langkah

Hun Ho sian-tiang. Gin Liong berlima baru mengetahui

bahwa Hun Ho sian-tiang mengundang Swat-thian Sam-yu

ke pulau Hong-lay-to.

Sambil mengurut jenggotnya yang indah, Hun Ho siantiang

berkata kepada Ki Yok Lan:

“Lan-ji, kebetulan sekali ditempat ini engkau dapat

menemukan suhengmu, Lebih baik kalian pergi bersamasama.”

Kemudian dengan wajah serius, tokoh itu memberi

pesanan kepada Yok Lan: “Harap engkau ingat baik2

pelajaran itu dan berlatihlah dengan tekun, Kelak tentu

berhasil.”

Dengan berlinang-linang airmata, Ki Yok Lan segera

berlutut menghaturkan terima kasih atas budi kebaikan

orang tua sakti itu.

“Bangunlah !” seru Hun Ho siantiang seraya kebutkan

dengan jubahnya, Tahu2 tubuh Yok Lan terangkat berdiri.

Melihat itu diam2 Gin Liong girang sekali, ia tahu

bahwa sumoaynya telah diterima sebagai murid tak resmi

oleh HunHo sian-tiang.

Swat-thian Sam-yu juga memberi pesan kepada Gin

Liong dan Yok Lan agar berhati-hati dan waspada dalam

perjalanan ke selatan itu.

Demikian keempat tokoh sakti itu segera berpisah

dengan rombongan anak muda dan menuju ke puncak

gunung sebelah kiri.

Setelah mereka lenyap dari pandang mata, Gin Liong

pun bertanya kepada Tek Cun:

“Liok-ko, apakah engkau masih kuat untuk

menggunakan ginkang ?”

Tek Cun mengatakan hendak mencobanya. Tetapi ketika

berjalan, Yok Lan cepat dapat melihat bahwa pemuda itu

terlalu maksa diri.

“Liok-ko,” seru Yok Lan,” biarlah aku bersama Liong

koko memapahmu berjalan, Lukamu baru sembuh, tak

boleh terlalu banyak menggunakan tenaga.”

Tetapi Tek Cun menolak: “Lebih baik kucobanya dulu,

Apalagi diluar lembah masih ada kuda kita, Asal jangan

terlalu cepat, aku masih dapat mengimbangi kalian.”

Pada saat itu Tek Cun mendapatkan dalam diri Yok Lan

sifat2 kehalusan budi, kesungguhan hati, kejujuran dan

kepolosan. Suatu sifat yang tak dimiliki adiknya, Tio Li

Kun.

Waktu berjalan, Gin Liong menyempatkan diri untuk

berpaling. Di tengah telaga tampak sinar kaca wasiat itu

masih memancar terang.

Kemudian waktu tiba ditempat pertempuran antara Hian

Leng dan Biau Liang, ternyata ke-enam imam tua yang

ditutuk jalan darahnya itu sudah tak kelihatan berada disitu

lagi.

“Hm, kawanan imam hidung kerbau itu memang tak

tahu diri. Kepandaiannya begitu rendah tetapi berani

menghadang kita,” Mo Lan Hwa mendengus.

Gin Liong hanya tertawa ketika mendengar jelita itu juga

menggunakan sebutan “imam hidung kerbau” seperti yang

dilakukan Swat thian Sam-yu terhadap Hun Ho sian tiang.

Huak, tiba2 Tek Cun muntahkan segumpal darah segar

dan terhuyung-huyung rubuh ke tanah. Mo Lan Hwa yang

berada paling dekat, cepat loncat menyanggupinya. Tek

Cun gemetar tubuhnya dan lunglai tak bertenaga.

Sudah tentu Gin Liong beramai-ramai sibuk memberi

pertolongan Mereka membantu supaya Tek Cun yang saat

itu rebah dipangkuan Mo Lan Hwa dapat duduk tegak,

kemudian Gin Liong segera menyalurkan tenaga-dalam ke

pinggang Tek Cun, sedang ketiga gadis itu menjaga

disamping kanan kirinya.

Setelah wajah Tek Cun tampak merah barulah Tio Li

Kun menyuruhnya supaya menyalurkan pernapasan untuk

menyambut saluran tenaga-dalam dan Gin Liong.

Tiba2 terdengar suara langkah orang berlari dari arah

lembah. Li Kun, Yok Lan terkejut dan serentak berpaling.

Tiga sosok tubuh muncul dari bagian dalam lembah dan

dengan gerak yang amat cepat mereka telah melintasi hutan

menuju kearah rombongan anak2 muda itu.

“Taci Kun, kurasa mereka tentu bermaksud tak baik,”

kata Lan Hwa.

“Bagaimana tandanya ?” tanya Li Kun seraya berbangkit

dan memandang kearah ketiga pendatang itu.

Lan Hwa sejenak memandang dengan seksama lalu

berkata lagi : “Taci Kun, lihatlah sinar mata mereka yang

begitu berkilat-kilat seperti mencari sesuatu…”

“Ya, lebih baik kita berhati-hati,” kata Li Kun, “menilik

sinar mata dan ginkang mereka, tentulah bukan jago silat

sembarangan Apabila sampai bertempur, supaya hati2.”

Kemudian ia minta Lan Hwa dan Yok Lan menjaga Tek

Cun. Dia sendiri yang akan menghadapi ketiga pendatang

itu.

Ketiga sosok bayangan itu dengan cepat telah tiba,

sebenarnya Li Kun sudah mau duduk kembali dan

menghiraukan mereka tetapi tiba2 mereka berseru: “Hai,

berhenti !”

Karena disekeliling tempat itu tiada lain orang lagi, Li

Kun dan Lan Hwa tahu kalau seruan orang itu ditujukan

kepada mereka berdua, Kedua nona itu marah dan cepat

berputar tubuh.

Ternyata ketiga pendatang yang lari mendatangi itu

terdiri dari orang lelaki yang berbeda umurnya satu sama

lain.

Yang disebelah tengah, seorang tua berambut dan

jenggot putih, beralis panjang menjulai ke bawah. Matanya

hanya satu dan mulut perot, Mengenakan pakaian warna

biru dan memegang sebatang tongkat berkepala naga.

Sambil memerotkan mulut, matanya yang tinggal satu itu

berkilat2 memandang rombongan anak2 muda.

Yang sebelah kanan berumur empat puluh lima – empat

puluh enam tahun. rambut dan jenggotnya kelabu,

mulutnya lancip, hidung besar dan kedua telinganya hilang,

wajahnya hitam, mata bundar mengenakan kain hitam dan

memegang sebatang kait baja yang dilumuri racun. Seram

dan menakutkan orang.

Yang sebelah kiri seorang lelaki berumur tiga-puluhan

tahun lebih, Alisnya seperti daun liu, mata seperti bunga

tho dan kulitnya putih seperti salju, Rambutnya berminyak,

pipi berbedak dan rambut memanjang sampai ke bahu,

Mengenakan baju sutera kembang dan menyanggul

sebatang pedang pedang bengkok, sepintas menyerupai

seorang banci, menimbulkan kesan yang memuakkan.

Ketiga pendatang itu dengan wajah gusar memandang

kedua nona LanHwa dan Li Kun.

“Cici, ketiga orang itu mungkin Ce-tang Sam sat”

“Bagaimana engkau tahu ?” tanya Li Kun.

“Pernah kudengar dari toa-suheng tentang pakaian,

wajah dan umur mereka, Apalagi tokoh yang ketiga, laki2

bukan, perempuanpun bukan.

Saat itu Ce-tang Sam-sat sudah tiba tiga tombak di depan

mereka,

Toa-sat atau tokoh kesatu dari Ce-tang Sam sat yang

bergelar Boan-liong-kun atau Tongkat-naga melingkar,

tertawa mengekeh,

“Heh, heh. menilik pakaianmu, kalian ini tentu datang

dari Kwan-gwa…”

Mendengar itu Mo Lan Hwa marah dan cepat menukas:

“Tutup mulutmu ! Apa pedulimu dengan asal usulku ?”

Ji-sat atau tokoh nomor dua yang bergelar Toh-beng-kau

atau Kait-pencabut nyawa, menyeringai lalu membentak

keras:

“Budak hina, jangan banyak omong ! Lekas serahkan

kaca wasiat itu agar jangan menimbulkan kemarahanku.”

Sudah tentu Li Kun dan Mo Lan Hwa marah bukan

main, Gin Liong yang tengah duduk bersila pejamkan

mata, pun sejenak membuka mata memandang ketiga

pendatang itu lalu pejamkan mata lagi.

Ki Yok Lan serentak bangun dan terus menyahut:

“Kalian salah alamat, Kaca wasiat itu berada di atas batu di

tengah telaga”

Belum Yok Lan selesai bicara, ketiga durjana itu sudah

tertawa gelak2: “Ha, ha, kalau menilik wajahmu, engkau ini

seorang budak perempuan yang halus tapi tak kira kalau

mulutmu begitu tajam.”

Merah wajah Yok Lan. Baru pertama kali itu ia

mendengar orang memaki dirinya, Mo Lan Hwa tak kuasa

menahan kemarahannya lagi, Sambil menuding pada Banliong-

kun ia memaki:

“Engkau anjing tua, jelas bermulut tajam. tak tahu malu

dan berkulit tebal!”

Toa-sat Ban-liong-kun marah dan membentak “Budak

hina, engkau berani memaki aku . .” Tetapi sebelum dia

bertindak, Sam-sat atau tokoh nomor tiga yang seperti

orang banci itu segera melesat maju dan melengking:

“Budak hina, kalau tak mau menyerahkan kaca wasiat,

kalian tentu akan kucincang.”

Habis berkata ia terus melepaskan sebuah hantaman

kearah Mo Lan Hwa. Mo Lan Hwa membentak dan

menangkis. Tetapi seketika itu wajahnya pucat dan menjerit

kaget. Pada lain saat ia terhuyung2 ke belakang sambil

mendekap dadanya Huak . . ia muntah darah.

Peristiwa itu berlangsung cepat sekali sehingga Li Kun

tak sempat menolong, Yok Lan cepat loncat untuk

menyanggupi tubuh Mo Lan Hwa. Tetapi nona itu sudah

tak kuat berdiri lagi, ia duduk bersila dan dengan paksakan

diri menuding kedadanya, Yok Lan dapat menangkap

maksudnya. ia segera mengambil pil dari baju Lan Hwa dan

dimasukkan ke mulut nona itu.

Tiba2 terdengar suara gemuruh disusul batu-batu dan

pasir bertebaran, asap dan debu bergulung2.

Memandang kemuka, Yok Lan dapatkan Li Kun dan

Sam-sat masing2 mundur tiga langkah, Wajah si jelita

tampak membeku dingin dan dahinya memancar hawa

pembunuhan. Dengan melengking ia segera mencabut

pedang dan pelahan2 maju menghampiri kearah ketiga

durjana itu.

Sam-sat tertawa mengikik.

“Nona kecil, kalau engkau mampu menangkan aku,

kepalaku boleh engkau potong, Tetapi kalau engkau kalah,

engkau harus menurut kuajak pulang menjadi isteriku”

Sam-sat atau tokoh ketiga yang bergelar Go kau-kiam si

Pedang-bengkok segera mencabut pedang go-kau-kiam.

“Kawanan tikus, engkau cari mati…!” bentak Li Kun

seraya loncat menyerang dengan jurus Tiang-ho-hong-ping

atau sungai Tiang-ho menutup salju… segulung sinar perak

segera membabat ke dada Sam-sat.

Sam-sat tahu kalau ilmu pedang nona jelita itu lihay.

Dengan tertawa ia mengisar langkah ke samping lalu

tusukkan ujung pedang ke pinggang sinona.

Pada saat itu dengan tertawa mengekeh, toa-sat Boanliong-

kiam dan ji- sat Toh-beng-kau masing2 lari

menghampiri Gin Liong dan Tek Cun.

Melihat itu berobahlah wajah Yok Lan. Gin Liong dan

Tek Cun sedang menyembuhkan lukanya, jangan lagi

diserang, cukup di dorong pelahan2 dengan tongkat saja,

kedua anak muda itu tentu akan rubuh, mungkin akan

terjadi suatu akibat yang berbahaya dalam penyaluran

napas mereka.

“Berhenti, atau akan kupaksa kalian mundur.” bentaknya

kepada kedua durjana itu, seraya mencabut pedang Cengkong-

kiam.

Tetapi Boan-liong- kiam dan Toh-beng-kiam tertawa

gelak2. Mereka tak mengacuhkan peringatan Yok Lan lagi

dan tetap melangkah maju.

Li Kun terkejut mendengar suara tertawa mereka ia

menyempatkan diri untuk berpaling. Tetapi walaupun

terdesak, sam-sat Go-kau-kiam tak mau melepaskan si

jelita. Li Kun marah sekali, Dengan melengking ia

lancarkan tiga buah serangan pedang sehingga sam-sat

kelabakan.

Tetapi pada saat itu tiba2 toa-sat dan ji-sat hentikan

tawanya, Yang satu mengangkat tongkat dan yang satu

mengangkat kait untuk mengemplang Gin Liong dan Tek

Cun.

Melihat itu Yok Lan pun bertindak. Dengan sebuah

loncatan ia segera lancarkan jurus Liong-hok-song-hou atau

Naga-mendekam-sepasang-harimau. Pedang berhamburan

menjadi beratus2 sinar perak bagai seekor naga marah.

Keatas menghantam tongkat boan-liong-kiam, kebawah

menangkis toh-hun-kau. Ujung pedang menusuk tangan

kedua lawan.

Toa-sat dan Ji-sat banyak pengalaman dalam

menghadapi musuh2 tangguh, Entah sudah berapa banyak

jago2 lihay yang jatuh ditangan mereka. Tetapi selama itu

belum pernah mereka melihat ilmu pedang seaneh dan

sedahsyat yang dimainkan Yok Lan. Mau tak mau kedua

durjana itu berteriak keras dan menyurut mundur.

Yok Lan sendiripun terkejut dalam hati, ia melancarkan

salah sebuah jurus ilmu pedang ajaran Hun Ho siantiang,

Hasilnya ternyata sedemikian hebat.

Begitu kedua durjana itu mundur, Yok Lan pun tak mau

mengejar Tampak kedua durjana itu pucat wajahnya,

keringat dingin bercucuran membasahi tubuh mereka,

Mereka memandang sinona dengan terkejut heran. Mereka

benar2 tak menyangka bahwa seorang nona yang masih

begitu muda belia ternyata memiliki ilmu pedang yang

sedemikian luar biasa. Kecongkakan dari kedua durjana itu

lenyap seperti awan dihembus angin, Tampak wajah

mereka seperti kunyuk kepedasan.

“Cici, jangan membunuh.” tiba2 Yok Lan berteriak,

Tetapi terlambat Terdengar jeritan ngeri disertai dengan

hamburan darah dari sam-sat yang lepaskan pedang dan

rubuh ketanah.

Melihat itu, toa-sat yang nyalinya sudah pecah, timbul

pula kemarahannya Dengan menggembor keras ia dan ji-sat

terus lari menyerbu Li Kun. Tetapi jelita itu tak gentar

Dengan melengking keras, ia segera menyambut kedua

durjana itu.

“Berhenti” tiba2 terdengar bentakan sedahsyat halilintar.

Yok Lan tergetar dan berpaling, Tampak dengan wajah

gusar Gin Liong sudah berdiri disamping. Toa-sat, ji-sat dan

Li Kunpun terkejut mendengar bentakan keras itu. Mereka

serempak berpaling,

Melihat Gin Liong sudah selesai menyalurkan tenagadalam,

Li Kun serta merta loncat ke hadapannya, katanya:

“Mereka bertiga adalah Ce-tang-sam-sat yang

bersimaharajalela, mengganas dan melakukan perbuatan2

jahat jangan kita biarkan mereka lolos.”

Habis berkata ia terus menyimpan pedang dan bersama

Yok Lan menghampiri ke tempat Mo Lan Hwa yang masih

duduk bersila di tanah.

Melihat sam-sat mati kedua durjana itu marah. Lebih-2

ketika mendengar kata2 Li Kun mereka seperti orang

kebakaran jenggot Kedua durjana itu tertawa keras.

“Tutup mulut kalian!” bentak Gin Liong seraya maju.

Toa-sat dan ji-sat tergetar sehingga menyurut mundur,

Sambil menuding, Gin Liong berseru : “Apakah maksud

kalian menyerang rombonganku? Kalau tak mau bilang

sejujurnya, jangan harap kalian mampu tinggalkan tempat

ini !”

“Budak sombong !” teriak toa-sat seraya maju

menghantam bahu pemuda itu, Gin Liong tertawa dingin,

ia gerakkan tangan kiri untuk menangkis. Krak, toa-sat

mendengus tertahan dan mundur sampai tiga langkah,

Sedang Sin Liong tetap berdiri tegak di tempat

Melihat itu ji-sat terlongong-longong, Tetapi rupanya

Toa-sat masih belum jera, Begitu berdiri tegak ia terus

mencabut tongkat boan liong-kun terus diayunkan kearah

kepala Gin Liong.

Gin Liong mendengus, Dengan gerak yang luar biasa ia

sudah menyelimpat ke belakang lawan. Toa-sat ayunkan

tongkatnya menghantam kebelakang, tetapi Gin Liong

sudah loncat keudara dan turun dibelakangnya lagi.

Melihat itu ji-sat segera memutar kaitnya, menyambar

Gin Liong yang baru saja berdiri, Yok lan yang berada di

sisi Mo Lan Hwa selalu mengikuti pertempuran itu, ia

menjerit kaget ketika melihat Gin Liong terancam bahaya.

Mendengar jeritan itu, Gin Liong terkejut, secepat kilat

ia mendekam ke tanah dan senjata kait itupun meluncur di

atas punggungnya.

Gin Liong makin marah. setelah menekuk ke dua lutut ia

melambung ke belakang ji-sat, Sekali membentak ia

menyerempaki dengan menghantam punggung orang itu,

duk . .

Seketika ji-sat muntah darah dan terus melesat kemuka

toa-sat. Toa-sat buru2 menarik tongkatnya dan melangkah

maju. Tetapi ji-sat sudah terhuyung2 dan muntah darah

lagi, lepaskan senjata kaitnya dan terus rubuh ke tanah,

Kedua kakinya menelikung dan jiwanyapun melayang.

Melihat itu toa-sat menjerit kalap: “Aku akan mengadu

jiwa dengan engkau . . ” tongkat boan-liong-kun diputar

laksana hujan mencurah, maju menyerang Gin Liong,

Melihat kekalapan toa-sat, Yok Lan ngeri dan serentak

berbangkit. Tetapi Gin Liong tak gentar ia mainkan tatalangkah

Liong-li-biau untuk menghindar lalu mencabut

pedang pusaka Tanduk Naga.

Toa-sat, sudah terlanjur diamuk kekalapan. ia tak peduli

lagi bagaimana pedang yang berada di tangan anak muda

itu. Dengan menggembor keras ia tetap menyerang.

Tring, tring, tring, terdengar beberapa kali dering senjata

beradu keras, diiring dengan hamburan bunga api dan

kutungan baja berterbangan ke udara.Walaupun tahu kalau

tongkatnya telah terpapas kutung namun toa-sat tetap tak

hentikan serangannya, ia menyerang dengan jurus Ko jiuboan-

kin atau pohon-tua-melingkar- akar, menyerang lutut.

Tring, kembali pedang Tanduk Naga berkelebat

memapas kutung tongkat itu. Namun toa-sat tetap nekad

dan menusuk perut Gin Liong. Tetapi kembali pedang

Tanduk Naga membelah tongkat lawan menjadi dua

kutung, Keadaan toa-sat saat itu benar2 seperti orang gila,

wajahnya makin menyeramkan, matanya yang tinggal satu

itupun merah berdarah, rambutnya yang putih meregang

tegak dan napasnya terengah-engah keras.

Gin Liong tegak ditempatnya sambil lintangkan pedang

didada untuk melindungi diri. Rupanya ia tak mau

membunuh orang tua mata satu yang sudah tak berdaya itu.

Ditangan toa-sat kini hanya tinggal memegang kutungan

tongkat sepanjang setengah meter, Dia berdiri dimuka Gin

Liong pada jarak tujuh langkah, Dia memandang Gin

Liong dengan mata kemerah-merahan.

Beberapa saat kemudian ia mendengus marah dan

berseru geram: “Budak, karena engkau mengandalkan

pedang pusaka, aku masih penasaran dan tak mau

menyerah.”

Gin Liong kerutkan alis dan menggeram: “Engkau

hendak mengajak bertanding dengan cara apa, aku bersedia

melayanimu semua !”

Toa-sat rentangkan matanya yang tinggal satu lebar2,

serunya menggeledek:

“Aku hendak mengajakmu bertanding ilmu pukulan.”

Habis berkata ia terus melontarkan tongkatnya yang

tinggal dua jari ke tanah, Setelah mengejang kedua

tangannya, iapun pelahan lahan maju menghampiri Gin

Liong.

Yok Lan pernah merasakan betapa kuat tangan toa-sat

tadi. Ketika melihat durjana bermata satu itu hendak

mengadu kepalan dengan Gin Liong, iapun gelisah.

Tiba2 Li Kun dan Lan Hwa loncat ke sisi Yok Lan.

Ternyata Lan Hwa sudah sembuh. Sekarang ketiga nona

jelita itu berdiri berjajar Demi melihat keadaan di

gelanggang pertempuran, Li Kun merasa heran mengapa

Gin Liong tak mau cepat2 menyelesaikan toa-sat.

Saat itu toa-sat sudah tiba lima langkah dihadapan Gin

Liong, Dia berhenti dan memandang Gin Liong dengan

pandang berkilat-kilat Gerahamnya bergemurutukan keras

menahan kemarahannya yang meluap-luap.

Tetapi Gin Liong tetap tenang2 saja. Tetapi diam2 iapun

kerahkan tenaga-dalam ke lengan kirinya.

Melihat sikap si anak muda yang begitu tenang, diam2

toa-sat memaki dalam hati: “Bangsat engkau terlalu

memandang rendah diriku !”

Tetapi ia masih memegang gengsi, sebelum menyerang

ia masih menegur: “Hai, mengapa eng kau tak bersiap ?”

“Silahkan engkau turun tangan sajalah !” sahut Gin

Liong dengan nada tawar.

Toa-sat segera mengiakan Setelah bersiap, lalu dengan

menggembor keras ia dorongkan kedua tangannya.

Gin Liong tahu akan kelihayan orang. ia tak berani

memandang rendah, pada saat toa-sat bergerak iapun agak

mengendapkan tubuh kebawah dan tangan kirinya yang

sudah disiapkan tadipun segera menyongsong kemuka.

Jarak amat dekat maka pukulan kedua orang itupun

hampir berbenturan Bum, terdengar bunyi letupan keras

diiringi deru angin yang menghamburkan batu, debu dan

pasir keempat penjuru, Dalam kepulan debu yang

bergulung debu yang tebal terdengar berulang suara

mengerang tertahan.

Tubuh toa-sat bergelundungan ke tanah sampai tiga

tombak jauhnya, sedangkan lengan Gin Liong bergetar

keras dan tubuh ikut bergoncang sampai beberapa saat baru

ia dapat berdiri tegak lagi. Ketika menggerakkan tangan

kirinya, ia rasakan agak sakit.

Terkena pukulan sakti dari Gin Liong, toa-sat bergulingguling

sampai tiga tombak lebih, baru berhenti, Secepat

kilat ia terus melenting bangun dan duduk. Pakaian

compang camping, berlumuran tanah,Maya berbinar-binar,

kepala pusing, segala benda diempat penjuru dirasakan

berputar-putar, Lama sekali baru ia dapat melihat jelas Gin

Liong masih tegak berdiri ditempat semula.

Dengan paksakan diri segera ia berseru: “Hai budak

kecil, tinggalkan namamu dan perguruanmu. Asal masih

belum mati, kelak aku tentu akan mencarimu untuk

menghimpas hutang hinaan yang engkau berikan kepadaku

hari ini…”

Gin Liong tertawa dingin, serunya:

“Aku Siau Gin Liong, tak punya perguruan tak punya

partai persilatan, Siapa suhuku, engkaupun tak perlu

bertanya, Kapan saja engkau hendak mencari balas

kepadaku, asal engkau sebarkan berita di dunia persilatan,

aku tentu akan menemui mu.”

Habis berkata ia terus melangkah menghampiri ketempat

Li Kun bertiga.

Dengan paksakan diri pula, mulut toa-sat mengiakan lalu

pejamkan mata untuk menyalurkan napas, Tetapi tiba2 ia

terjungkal kebelakang dan tak sadarkan diri.

Gin Liong tak menghiraukan. Setelah tiba di tempat Li

Kun dan Yok Lan, ia memandang ke arah Tek Cun dan

Lan Hwa yang masih duduk pejamkan mata.

“Rupanya luka yang diderita liok-ko dan cici Lan tak

dapat sembuh dalam waktu singkat. Kita harus membawa

mereka ke tempat yang aman. Kalau kita melanjutkan

perjalanan, lukanya tentu kambuh dan akibatnya sukar

dilukiskan.” kata Gin Liong. Memandang ke langit,

ternyata matahari sudah berada di belakang puncak barat

dan lembahpun sudah meremang gelap.

Li Kun mengusulkan untuk mencari sebuah desa. Dan

Yok Lanpun serempak mengatakan dia dan Li Kun yang

memapah Lan Hwa. Gin Liong yang memapah Tek Cun

Demikian ketika tiba di luar lembah, Gin Liong bersuit

keras. Beberapa saat kemudian terdengar suara kuda

meringkik.

“Bagus, kuda bulu hitam patuh sekali kepadamu” seru Li

Kun.

“Ah, aku hanya coba2 saja, tak kira kalau kuda itu begitu

menurut” kata Gin Liong.

Tetapi belum sempat mereka menuju ketempat suara

kuda itu tiba2 terdengar suara derap kuda lari yang

gemuruh, Empat ekor kuda mencongklang pesat kearah

lembah. Gin Liong cepat memeluk tubuh Tek Cun,

demikian pula Li Kun dan Yok Lan segera memondong

Lan Hwa. Rupanya Tek Cun lebih parah, ia terus menerus

pejamkan mata.

Ternyata yang berlari mendatangi itu empat ekor kuda

milik mereka, Kuda hitam berkaki putih yang dinaiki Lan

Hwa, kuda merah milik Tek Cun, kuda hitam mulus milik

Gin Liong dan kuda bulu kuning dari Li Kun.

Kuda bulu merah terus menghampiri Tek Cun dan

menjilat-jilat pakaian tuannya seperti ikut sedih karena

tuannya terluka, Melihat itu tergeraklah hati Yok Lan. ia

mengelus-elus kepala kuda itu.

Sumoay, kuda merah ini memang lebih halus sifatnya,

engkau naik dia sajalah,” kata Gin Liong yang terus

membawa Tek Cun bersama naik kuda bulu hitam.

Demikian setelah sama naik kuda, mereka pun segera

berangkat Dalam waktu singkat mereka telah melintasi dua

buah puncak gunung lalu mulai mendaki sebuah gunung

yang membujur luas.

Dari atas lereng gunung, Gin Liong dapat melihat di

bawah kaki gunung sebelah selatan terdapat sebuah kota.

“Cici, disebelah depan kemungkinan kota Hok san-shia”

katanya kepada Li Kun.

Tio Li Kun mengiakan dan segera mengajak

rombongannya menuruni gunung menuju ke kota itu. Tak

berapa lama mereka tiba di jalan besar yang tiba dikota

Hok-san-shia.

Jalan sepi orang sehingga dengan leluasa mereka dapat

mencongklangkan kudanya, Tak berapa lama gedung2

bertingkat dari kota Hok-san-shia mulai tampak,

Tiba2 dari arah muka tampak dua penunggang kuda

mencongklang pesat, menimbulkan kepul debu yang tebal

sehingga sukar diketahui wajah mereka,

Gin Liong dan rombongannya dengan cepat dapat

mengejar kedua penunggang itu. Rupanya kedua

penunggang itu tahu kalau dibelakangnya akan dilanggar

oleh rombongan penunggang kuda maka mereka berdua

segera menyisih ke tepi jalan.

Saat itu Gin Liong sempat memperhatikan wajah

mereka, Yang naik kuda bulu kuning, seorang wanita

berumur 27 – 28 tahun, Mengenakan pakaian ringkas dari

kaum persilatan punggung menyanggul sebatang pedang,

sepasang mata yang ditaungi oleh alis yang melengkung

indah makin menonjolkan kecantikan wajahnya yang

berpotongan bulat telur dan berbedak tipis.

Sedang yang naik kuda kembang, seorang yang

dandanannya seperti sastrawan, berumur sekitar 35-an

tahun, rambut lebat alis tebal dan wajah cakap, Mencekal

cemeti kuda yang bertabur mutiara, sikapnya gagah.

Sasterawan dan wanita muda itu menarik kendali kuda

dan berpaling. Gin Liong menduga keduanya tentu

sepasang suami isteri.

Ketika rombongan Gin Liong lewat disisi mereka, tiba2

kedua penunggang kuda itu berteriak kaget : “Nona Kun,

Nona Kun !”

Tio Li Kun terkejut dan cepat hentikan kudanya,

Demikian pula Gin Liong dan Yok Lan. Sasterawan dan

wanita muda itu segera menghampiri.

Saat itu Li Kun baru mengetahui bahwa ke dua

penunggang kuda itu bukan lain adalah Hut-soh-su-Seng

atau Sasterawan-tali-terbang Suma Tiong dan isterinya Lok

Siu Ing.

“Nona Kun, mengapa liok-saycu dan nona itu ?” melihat

Tek Cun dan Lan Hwa. Suma Tiong segera menegur

cemas.

“Terluka . . ” sahut Li Kun tersenyum. Lok Siu Ing

kerutkan dahi serunya:

“Kalian tak boleh melanjutkan perjalanan dan harus

lekas2 singgah di desa untuk berobat, Desa kami tak jauh

dari sini” ia menunjuk ke sebelah timur.

Lebih kurang lima li jauhnya, tampak gerumbul pohon

yang menggunduk hitam.

“Ah, harap nona jangan berkata begitu. Kalau tempo

hari tak mendapat bantuan dan engkoh nona, kami berdua

suami-isteri-tentu sudah mati di tangan musuh” kata Suma

Tiong, Sejenak memandang ke muka dan belakang, ia

segera meminta Li Kun. “Harap nona suka ikut ke desa

kami dulu baru nanti bicara lagi”

Hutan pohon liu itu merupakan kampung kediaman

Suma Tiong, Rumah2 sudah menyalakan lampu. Suma

Tiong langsung menuju ke sebuah gedung yang berpintu

hitam dan diterangi oleh empat buah lentera besar.

Beberapa orang tampak bermunculan keluar untuk

menyambut kedatangan rombongan Gin Liong.

Suma Tiong segera mengajak rombongan tetamunya

masuk ke ruang besar dan isterinya segera memerintahkan

bujang untuk menyiapkan kamar2. Demikian dengan sibuk

dan akrab kedua suami isteri itu menyambut rombongan

tetamunya dan menempatkan Tek Cun serta Lan Hwa

masing di sebuah kamar terpisah, setelah itu mereka sibuk

menjamu rombongan tetamu dengan hidangan yang lezat

dan arak wangi.

Dalam kesempatan itu mereka menjelaskan tentang hal

ihwal Tek Cun dan Lan Hwa sampai menderita luka. Pun

tentang orang tua aneh pemilik kaca wasiat juga

dibicarakan

Malamnya diputuskan Yok Lan tidur menjaga Lan Hwa

dan Li Kun menjaga engkohnya,

Waktu telentang di ranjang, pikiran Gin Liongpun mulai

gelisah lagi, ia tak tahu sampai kapan luka Tek Cun dan

Lan Hwa akan sembuh. Sejak turun gunung untuk

menyusul Ban Hong liong-li dan menanyakan tentang

pembunuh dari suhunya ia selalu mendapat rintangan dari

peristiwa yang dihadapinya.

Bila terus menerus begitu, entah sampai kapan ia dapat

menyusul jejak Ban Hong liong-li. Makin merenung makin

gelisah dan akhirnya Gin Liong memutuskan, ia tak mau

terhambat oleh urusan apa saja dan akan langsung

melanjutkan perjalanan untuk menyusul Ban Hong Liongli.

Sekonyong-konyong di tengah suasana malam yang

sunyi, terdengar suara orang tertawa gelak2. Gin Liong

terkejut dan cepat bangun, Suara tertawa itu makin lama

makin dekat, ia duga tentu orang jahat hendak mengganggu

desa itu atau dirinya. Cepat ia membuka jendela, loncat

keluar dan terus ayunkan tubuh melayang keatas

wuwungan rumah.

Langit bertabur bintang kemintang, rembulan pudar dan

salju tipis mulai berhamburan mencurah dari langit. Angin

berhembus membawa hawa dingin, Empat penjuru sunyi

senyap.

Tiba2 terdengar suara orang tua yang parau

berkumandang di telinganya:

“Hai, budak, apakah engkau masih berani datang ke

lembah Hok-san lagi ?”

Gin Liong tergetar hatinya dan tanpa tersadar menyurut

mundur setengah langkah, Mengeliarkan pandang matanya

ia segera melihat diujung hutan sebelah luar desa, tegak

sesosok bayangan kurus kecil yang tengah melambaikan

tangan kepadanya.

Gin Liong tercengang, ia tak kenal siapa orang itu dan

tak tahu apa maksudnya mengapa orang itu memangginya

datang, Menilik potongan tubuhnya, orang itu menyerupai

seorang wanita. Tetapi kalau mendengar nada suaranya

yang parau seperti seorang yang sudah lanjut usianya.

Tiba2 timbul pikiran lain. Di tengah malam sepi orang

itu berani masuk ke desa dan memperdengarkan suara tawa

yang nyaring, Mengapa ? Apakah bukan karena hendak

mencari Suma Tiong suami isteri dan mengira ia itu Suma

Tiong ?

Ketika mengobarkan pandang Gin Liong terkesiap,

Lentera yang menerangi rumah2 di pedesaan itu padam

semua, sepintas pandang memberi kesan bahwa penduduk

telah mengetahui akan kedatangan musuh dan sedang

bersiap2. Tetapi mengapa mereka tak tahu sama sekali akan

masuknya orang itu ke dalam desa ? Bukankah hal itu

menunjukkan bahwa mereka tak bersiap dan berjaga2.

Setelah merenung beberapa jenak, baru Gin liong

menyadari Teringat ia bahwa panggilan orang tua

kepadanya dengan menyebut “budak kecil” dan

melambaikan tangan kepadanya jelas bukan ditujukan

kepada Suma Tiong suami isteri, melainkan kepada dirinya.

Tiba pada pemikiran, itu, seketika marahlah ia. Ketika ia

hendak berseru menegur, tiba2 telinganya terbaur pula oleh

suara tertawa dingin yang bernada menantang.

Dilihatnya bayangan tubuh kecil itu, berloncatan dengan

santai antara dahan pohon yang satu kelain dahan pohon.

sikapnya jumawa sekali.

Gin Liong tak kuat menahan kemarahannya lagi,

Seketika ia lupa pada apa yang diputuskan tadi didalam

kamar, Dengan mendengus dingin, dia segera ayun

tubuhnya ke tempat orang kecil itu.

Melihat Gin Liong lari menghampiri orang bertubuh

kecil itu berputar diri terus lari ke arah utara.

Mengejar sampai diluar desa, baru Gin Liong tersadar,

pikirnya: “Tadi dia tertawa begitu keras dan panjang, Tetapi

mengapa Suma Tiong suami isteri, Yok Lan dan Li Kun tak

tampak bergerak muncul ?”

Menyadari kalau dirinya telah terpancing ia segera

berhenti, iapun segera menyadari bahwa kata2 orang tua

yang ditujukan kepadanya tadi termasuk ilmu Menyusup

suara tingkat tinggi maka timbullah keheranannya Dalam

dunia persilatan hanya beberapa saja jumlah tokoh

persilatan yang menguasai ilmu itu. Lalu siapakah dia ?

Begitu menampakkan diri, orang bertubuh kecil itu

segera mendengus dingin, suaranya penuh bernada

mencemoh. Dan langkahnyapun mulai kendor.

Gin Liong mulai menyadari bahwa orang itu memang

sengaja hendak mempermainkan dirinya, serentak naiklah

darah mudanya, serentak ia mempercepat larinya untuk

mengejar.

Kembali terdengar orang bertubuh kecil itu tertawa

gelak2. iapun kencangkan larinya lagi menuju ke arah

gunung sebelah utara.

Gunung Hok-san makin tampak jelas, Betapa tingginya,

betapa jauhnya, Berulang kali orang bertubuh kecil

berpaling ke belakang seperti kuatir Gin Liong tak

melanjutkan pengejarannya.

Karena tak mampu mengejar, Gin Liong makin marah.

ia tambahkan tenaganya lagi untuk lari sekencang mungkin,

Tetapi beberapa waktu kemudian, tetap orang bertubuh

kecil itu masih tetap jauh dimuka sehingga sukar untuk

melihat wajahnya.

“Hm, sekalipun engkau lari ke neraka, akan tetap

kukejarmu juga !” dengus Gin Liong dalam hati, Habis itu

ia segera merobah ilmu larinya dengan suatu ilmu lari cepat

atau ginkang yang luar biasa ialah ilmu lari Angin-puyuh.

Seketika tubuhnya berobah seperti segulung asap yang

terbang menderu-deru seperti angin.

Kali ini si orang bertubuh kecil agak terkejut Cepat ia

kebutkan kedua lengan bajunya, serempak tubuhnya

terangkat beberapa jari dari tanah dan sekali berayun

kemuka, larinya seperti kilat menyambar.

Saat itu orang bertubuh kecil dan Gin Liong sama2

menggunakan ilmu meringankan tubuh yang jarang

terdapat di dunia persilatan, Dibawah sinar rembulan

remang, yang tampak hanya dua gulung asap berkejaran,

bukan lagi sosok2 tubuh manusia.

Gin Liong terkejut juga ketika melihat kecepatan lari

orang tak dikenal itu jelas orang itupun menggunakan

imbangan dari ilmu lari yang digunakannya, Kalau ia

menggunakan ilmu lari Angin-puyuh adalah orang itu

menggunakan ilmu lari Angin-terbang-diatas-tanah, Jelas

bahwa ilmu lari cepat orang tak dikenal itu jauh melebihi

dari Hok To Beng, tokoh kesatu dari Swat-thian Sam-yu.

Tak berapa lama tibalah mereka di kaki gunung Hok-san

sebelah selatan, jarak antara kedua orang itu makin jauh.

Gin Liong makin menggeram dan makin tak tahu apa

maksud orang itu hendak memancingnya ke gunung Hoksan.

ia tak tahu pula siapakah orang itu, kawan atau lawan.

Setelah melintasi puncak bukit, orang itu terus lari masuk

kedalam hutan di pedalaman,Melihat itu Gin Liong gugup,

Kuatir akan kehilangan jejak orang itu. serentak ia bersuit

nyaring dan terus kerahkan seluruh tenaga-dalam untuk lari

lebih cepat.

Suitan itu bergema jauh sampai seperti menyeluruh ke

segenap daerah gunung dan hutan. Dan saat itu Gin

Liongpun sudah melintasi puncak bukit, terus lari kedalam

hutan, Tetapi dilihatnya, saat itu siorang bertubuh kecil

sudah tiba dipuncak yang melintang disebelah muka. Gin

Liong makin marah, Sejak turun dari gunung Hwe-sianhong,

baru pertama kali itu ia mendapat saingan berat

dalam ilmu lari cepat.

Orang bertubuh kecil itu tiba2 berpaling ke-belakang

memandang Gin Liong dengan pandang kata berkilat-kilat

tajam sekali.

Gin Liong terkesiap. Kini ia menyadari ilmu tenagadalam

orang itu amat tinggi sekali, jauh melebihi kelompok

tujuh tokoh jagad atau Ih-lwe-jit-ki yang termasyhur itu.

Kini sadarlah Gin Liong bahwa ia sedang berhadapan

dengan seorang sakti, ia tak berani memandang rendah dan

harus mempertinggi kewaspadaan.

Tak berapa lama merekapun tiba di luar mulut lembah.

Orang itu terus saja masuk kedalam lembah, Kemudian

tiba2 pula orang itu tertawa gelak2. Nadanya luar biasa

keras, mengandung keangkuhan, kegembiraan dan

kecongkakan, Dan serentak pada saat berhenti tertawa

orang bertubuh kecil itupun menghilang dari pandang mata.

Gin Liong terkejut sekali, serentak ia hentikan lari dan

memandang kedalam lembah, Dalam kesunyian malam

yang ditingkah rembulan suram, tampak lembah itu makin

seram, penuh dengan barisan semak belukar, pohon2 dan

batu karang yang curam.

Angin malam yang berhembus keluar dari lembah,

bersuit-suit tajam macam barisan setan meringkik-ringkik.

Air-terjun terdengar makin bergemuruh, macam gunung

rubuh.

Melihat itu timbullah rasa gentar dalam hati Gin Liong,

ia memperhatikan dengan jelas bahwa orang bertubuh kecil

tadi telah lenyap ke!empat tadi siang ia bertempur melawan

Ce-tang Sam-sat, Timbul pertanyaan dalam hatinya,

Adakah orang itu seorang gerombolan dari ketiga Samsat

itu?

Ah, karena sudah terlanjur mengejar sampai disitu, ia

harus tetap melanjutkan pengejarannya. Dengan siapkan

tinju yang sudah disaluri tenaga-dalam, ia segera melangkah

ke dalam lembah Segenap perhatian tertumpah pada

pandang matanya yang dicurahkan kesetiap tempat yang

gelap.

Asal melihat bayangan siorang bertubuh kecil, segera ia

akan menghajarnya, Tetapi sampai sebegitu jauh, belum

juga ia melihat sesosok bayanganpun juga.

Membiluk ke tikungan puncak, air-terjun di dasar

lembah tampak seperti leburan perak yang mencurah ke

bawah tanah. Tetapi di permukaan telaga penampung airterjun

itu, ia tak melihat lagi sinar kaca yang memancar

keudara.

Beberapa langkah lagi, butir2 air dari udara makin

gencar dan deras, Terpaksa dia hentikan langkah. Saat itu ia

baru melihat jelas bahwa kaca wasiat yang terletak di atas

batu runcing di tengah telaga sudah tak ada, ia duga siang

tadi selekas ia bersama rombongannya tinggalkan tempat

itu, orang tua aneh itupun tentu terus mengambil kaca

wasiatnya.

Buktinya, ketiga durjana Ce-tang Sam-sat menuduh

dialah tentu yang mengambil kaca wasiat itu, jika benar

demikian, tentulah orang tua aneh itu masih berada di

sekitar telaga, Tetapi mengapa ketika si sinting Hong-tiangsoh

berteriak keras merintangnya. orang tua itu tak mau

menampakkan diri ? Apakah dia takut kepada Hong-tiansoh

?

Ah, tetapi peristiwa yang terjadi di tanah lapang dalam

hutan tempo hari, dimana tokoh2 seperti Pengemis-kakitelanjang,

dan hweshio terbunuh mati, serta Hun Ho

siantiang yang didesak untuk segera datang, menandakan

bahwa orang itu jauh lebih sakti dari si sinting Hong-tiansoh.

Tetapi mengapa ia tak keluar menyambut tantangan

Hong-tian-soh ? Oh, mungkinkah dia kenal dengan Hun Ho

siantiang dan bersahabat dengan salah seorang dari Swatthian

Sam-yu sehingga dia sungkan untuk unjuk diri ?

Kalau begitu apakah dia benar2 tokoh Thian-lam Ji gi atau

sepasang pendekar budiman dari Thian-lam ? Tetapi Hun

Ho sian-tiang mengatakan bahwa Thian-lam Ji-gi saat ini

sedang menutup diri untuk memperdalam ilmunya.

Sejenak keliarkan pandang, kejut Gin Liong bukan

kepalang, Sosok2 tubuh jago silat yang terkapar di tepi

telaga tampak seperti bergerak2 kerut wajahnya.

Gih Liong pusatkan perhatian dan mengendapkan

pikirannya yang merana, Akhirnya ia menyadari bahwa apa

yang dilihatnya itu hanya pantulan sinar rembulan yang

mencurah kepermukaan telaga, berbalik menimpah muka

mayat2 itu. Bukan karena wajah mereka bergerak-gerak

masih sebagai orang hidup,

Dalam kesunyian suasana malam yang kelam, samar2

Gin Liong seperti menangkap suara pakaian ditebar

hembusan angin. Gin Liong terkejut dan cepat berpaling.

Tampak lembah di sebelah belakang masih diselubungi

suasana seram seperti tadi. Keadaannya sunyi senyap tak

ada orang yang muncul disitu.

Tetapi jelas ia mendengar suara pakaian orang ditebar

hembusan angin. siapakah orang itu ?

Cepat ia tengadahkan kepala memandang ke atas dan

segera ia mendengus dingin. Diatas puncak sebelah kiri,

tampak tiga sosok bayangan tubuh orang sedang meluncur

turun. Salah satu diantaranya ialah orang bertubuh kecil

tadi,Mereka jelas meluncur ke dalam lembah.

Gin Liong tekan kemarahannya, Selekas ketika orang itu

tiba di tempatnya iapun segera membentak keras:

“Sudah lama aku menunggu disini, Apakah kalian kira

aku takut karena harus menghadapi keroyokan kalian ?”

Habis berkata ia terus maju menyerbu mereka.

Mendengar seruan Gin Liong itu, rupanya ketiga

pendatang itu terkejut Mereka serempak berhenti.

Dalam lari menghampiri itu, Gin Liong memandang

tajam kearah ketiga orang itu.

Yang berdiri ditengah, seorang tua berumur lebih dari 70

tahun. Alisnya yang sudah memutih memanjang masuk

kedalam rambut samping, Rambutnya pun sudah putih

mengkilap seperti perak, mukanya merah segar, sepasang

matanya tajam berwibawa. Tulang kedua keningnya

menonjol, menandakan betapa tinggi ilmu tenaga-dalam

yang dimilikinya.

Mengenakan pakaian tiang-shan (panjang) dari kain

belacu kasar. Ketiaknya mengempit sebatang tongkat besi

yang berkilat-kilat hitam legam. Ternyata kakinya tinggal

yang sebelah kanan, Dia berdiri dengan satu kaki itu.

Orang tua itu bukan lain adalah tokoh yang paling

termasyhur diwilayah Lulam yaitu Ik Bu It bergelar si Kaki-

Satu-bertongkat besi.

Disisi kanan kakek berkaki satu itu, ternyata seorang

nenek yang hanya berlengan satu dan mencekal sebatang

tongkat Peng thiat- ciu thau-ciang (tongkat bertangkai

kepala burung alap2). wajahnya dingin dan angkuh.

Nenek itu bukan lain adalah Tuk-pi Ban thaypoh atau si

Lengan-satu-nenek Ban yang pernah menggegerkan dunia

persilatan beberapa puluh tahun yang lalu karena dengan

tongkat berkepala burung alap2 itu, ia dapat menyapu

rubuh banyak tokoh-2 silat yang sakti.

Nenek Ban itu adalah isteri kakek Kaki-satu bertongkal

besi Ik Bu It. Kalau isterinya berlengan satu, suaminya

berkaki satu. Keduanya berjalan dengan tongkat.

Di belakang kedua suami isteri tua itu baru sosok orang

yang bertubuh kecil tadi, ialah yang memancing Gin Liong

datang ke lembah itu. Ketika Gin Liong melekatkan

pandang mata ia agak terkesiap.

Ternyata orang bertubuh kecil yang hebat ilmu larinya

itu hanya seorang dara yang berumur enam belas – tujuh

belas tahun, wajahnya berpotongan bundar telur, sepasang

alisnya melengkung seperti bulan tanggal satu.

Mata bundar terang laksana bintang kejora. Hidungnya

yang mancung menaungi sepasang bibirnya yang merekah

merah delima,Mengenakan baju warna hijau muda dengan

celana kun warna putih, Pada kedua bahunya tampak

menyanggul dua batang pedang yang bertangkai warna

hijau.

Walaupun hanya berbedak tipis sekali, tetapi kulitnya

tampak memancar warna putih halus, Dari pancaran

keningnya menunjukkan bahwa dia masih seorang anak

dara yang kekanak2an dan manja, menimbulkan kesan

bahwa dia itu seorang anak perempuan yang nakal.

Dara baju hijau itu adalah puteri satu-satunya dari kedua

suami isteri Ik Bu It.

Namanya Ik Siu Ngo.

Saat itu kedua orang tua dan anak gadisnya tengah

memandang Gin Liong dengan perasaan terkejut juga Gin

Liong bersangsi setelah melihat mereka bertiga. Ia segera

hentikan terjangannya dan tegak sejauh tiga tombak dari

tempat mereka

Melihat Gin Liong seorang pemuda yang cakap dan

gagah, makin terkejutlah hati Ik Bu It si kakek berkaki satu,

Hampir ia tak percaya bahwa anak yang masih semuda itu

ternyata memiliki ilmu tenaga-dalam yang sedemikian

hebatnya, juga tak ketinggalan rasa kejut yang

menghinggapi nenek Ban, sebaliknya ketika melihat wajah

Gin Liong, merahlah selebar muka si dara Siu Ngo.

Gin Liong berdiri dengan sikap seperti orang menyesal.

ia menyadari kesalahannya, ia mendapat kesimpulan bahwa

dara itu memang bukan orang yang memikatnya datang ke

lembah itu.

Melihat Gin Liong memandang lekat2 pada gadisnya,

marahlah si nenek Ban, ia berpaling ke belakang dan

membentak puterinya: “Budak perempuan, hayo, kasihlah

hajaran pada budak hina itu”

Siu Ngo terkesiap dan bersangsi.

Sebenarnya Gin Liong mempertimbangkan hendak

minta maaf kepada kedua suami isteri tua itu. Tetapi ketika

melihat sikap dan tingkah si nenek yang begitu angkuh,

diam.2 ia menggeram dalam hati.

Rupanya Kakek Kaki-satu-bertongkat-besi Ik Bu It tahu

bahwa Gin Liong itu seorang pemuda yang berisi. Maka ia

segera mencegah puterinya yang masih ragu2 itu: “Budak

perempuan, tunggu…”

Belum selesai kakek Ik bicara, nenek Ban

menghunjamkan tongkatnya ke tanah dan menggembor

keras: “Budak itu menurut perintahmu atau perintahku ?”

Ia memandang dengan marah kepada suaminya, Kakek

Ik merah mukanya tetapi tak mau menyahut sepatahpun

juga.

Mendengar pembicaraan itu, Gin Liong segera tahu

bahwa kedua kakek nenek itu adalah sepasang suami isteri

serta puterinya.

“Lekas, kasih sedikit hajaran pula budak liar itu !” nenek

Ban memberi perintah lagi, seraya menudingkan tongkat ke

arah Gin Liong.

Gin Liong marah karena diperlakukan begitu “Apakah

begitu mudah untuk memukul aku?” serunya seraya

menatap Ban thaypoh dan si dara cantik Ik Siu Ngo.

Ban thay-poh menggeram sedang si dara Siu Ngo sudah

terus loncat melengking dan ayunkan tangan kanan dan

kirinya, Yang satu menutuk kepala, yang lain menutuk

perut. cepatnya bukan kepalang.

Gin Liong terkejut melihat gerakan si dara cantik yang

begitu tangkas, ia tak berani memandang rendah dan cepat

menggerakkan tubuh berputar seperti angin puyuh, Tahu2

ia sudah berada di belakang si dara tetapi tak mau turun

tangan.

Walaupun sidara Siu Ngo telah mewarisi kepandaian

kedua orang tuanya tetapi ia belum sempurna latihannya

dan kurang pengalaman.

Saat itu ia merasa matanya berkunang dan pemuda yang

hendak diserangnya itu tiba2 lenyap dari hadapannya,

Karena serbuannya luput iapun terlongong.

“Burung cendrawasih berpaling kepala !” tiba2 nenekBan

gentakkan tongkat ke tanah seraya berseru keras.

Siau Ngo tersadar. Dengan melengking cepat ia

mengeliatkan pinggangnya yang ramping berputar tubuh,

Ternyata Gin Liong memang berdiri dibelakangnya.

Kembali dara itu terkesiap, Rupanya baru pertama kali itu

ia berhadapan dengan seorang manusia yang memiliki

gerak secepat setan.

“Budak tolol !” kembali nenek Ban berteriak marah,

“pertama kali keluar sudah membikin malu. Setelah

Cendrawasih-berputar-kepala, harus dilanjutkan dengan

jurus Awan-musim semi muncul, Tangan kanan menyapu

bahu orang jari tangan kiri menutuk jalan darah di dadanya

!”

Dengan deliki mata nenek itu kembali memekik marah:

“Mengapa masih berdiri seperti patung, Hayo kembali

kemari, lihat mamah menghajarnya!”

Sudah tentu Gin Liong makin marah. Masakan dirinya

hendak dijadikan bulan2 percobaan latihan. Tetapi ia tak

sempat bertindak apa2 karena saat itu si dara sudah loncat

menerjang.

Gin Liong mendengus, Sekali bergerak ia sudah

menyelimpat ke belakang dara itu lagi, Tetapi kali ini

tidaklah ia sesantai tadi, Belum kaki berdiri tegak, terdengar

dara itu melengking dan menaburkan kedua tangannya.

Tangan kanan menutuk kepala, tangan kiri menutuk dada.

Gin Liong terkejut juga. ia merasa tindakan Siu Ngo itu

ganas tetapi tepat sekali, ia ingin hendak mencekal tangan si

dara tetapi entah bagaimana tubuhnya telah mencelat

kebelakang sampai beberapa langkah.

Melihat itu nenek Ban tertawa gelak2. Karena mendapat

hasil, Siu Ngopun menyerang lagi, Tetapi cepat nenek Ban

lintangkan tongkat mencegahnya.

“Budak, menyingkirlah, Lihat mamah akan memberinya

hajaran yang lebih keras !”

Habis berkata ia terus memutar tongkat dalam jurus

Heng-soh-cian-kun. Tongkat seketika berhamburan menjadi

segulung sinar yang menderu-deru menyambar Gin Liong.

Melihat mamahnya turun tangan, Siu Ngo pun loncat

mundur dan berdiri mengawasi. sedangkan ayahnya, kakek

Kaki-satu-bertongkat-besi pun berdiri dengan penuh

perhatian, ia tahu bahwa sekalipun istrinya turun

gelanggang, tetap takkan mampu menghajar anak muda itu.

Melihat tingkah laku si nenek, timbullah sifat dari

kanak2 Gin Liong. ia marah, iapun tahu bahwa jurus Hengsoh-

cian-kun atau Membabat-seribu-laskar yang

dilancarkan si nenek itu merupakan serangan yang sukar

dihadapi jurus itu dapat menjadi serangan yang sungguh

tetapipun dapat juga hanya sebagai serangan kosong.

Maka dengan menggembor keras, Gin Liong goyangkan

tubuh namun masih tetap berdiri ditempatnya.

Rupanya si nenek sok tahu. Melihat tubuh Gin Liong

bergerak cepat ia menyentaknya:

“Bagus budak, lihat bagaimana kupatahkan pahamu !”

serunya, Tongkat tiba2 dirobah dalam jurus Liat-biat hoasan

atau menghantam-hancur-Hoasan, menghantam ke

belakang.

Gin Liong tersenyum, Cepat ia loncat kesamping dan

bersembunyi dibelakang sebuah batu besar.

Siu Ngo tercengang sedang ayahnya hanya berseri tawa.

Ketika belakangnya tiada orang, kejut nenek Ban bukan

kepalang. Wajahnya serentak berobah, Dengan memekik

keras, ia gunakan jurus Heng-soh-ngo gak atau Menyapu

lima-gunung, ia hantamkan tongkat ke belakang lagi.

Ketika berputar tubuh dan tak melihat Gin Liong,

mulailah ia bingung. Keringat dingin bercucuran, serentak

ia menaburkan tongkatnya dilain jurus Su- hay-tehng-hun

atau Empat-lautan timbul-awan.

Tongkat berkepala ukiran burung alap2 itu segera

menyambar2 laksana badai menderu dan mencurah

bagaikan hujan deras, Menghantam ke kanan, menyapu ke

kiri, ia merasa anak muda itu seolah mengelilinginya. Debu

dan pasir bertebaran memenuhi empat penjuru.

Melihat lsterinya ngamuk tak keruan itu, kakek Ik Bu It

segera berseru kepada puterinya. “Hai, budak perempuan,

lekas kasih tahu mamah mu, apakah budak itu masih

berada dibelakangnya?”

“Mah, dia tak berada dibelakangmu,” akhirnya Siu Ngo

berseru dengan nada kekanak-kanakan.

Mendengar itu si nenek segera hentikan tongkatnya,

menuding Siu Ngo dan berseru tegang: “Dimana budak

itu?”

Nenek ini keliarkan pandang matanya ke empat penjuru,

rupanya ia hendak mencari Gin Liong, Demi melihat wajah

suaminya tersenyum gembira, ia segera deliki mata dan

membentaknya. “Tua bangka, dimana budak itu ?”

Dengan berseri tawa, kakek Ik Bu It segera menunjuk ke

sebuah batu besar kira-2 setombak jauhnya dan berseru

pelahan:

“Karena ketakutan budak itu bersembunyi dibalik batu

itu !”

Tiba2 terdengar suara tertawa gelak2 dan muncullah Gin

Liong dari balik batu itu dan melangkah menghampiri.

Melihat itu merahlah wajah si nenek, Tetapi pada lain saat

iapun ikut tertawa.

“Budak kecil, engkau sungguh nakal, Kali ini kuberimu

ampun.” serunya sesaat kemudian.

Melihat mamahnya sudah tak marah lagi, si dara Siu

Ngo gembira sekali, segera ia lari menghampiri.

Kakek Ik Bu It tertawa gembira pula, serunya: “Ha, ha,

peribahasa mengatakan kalau tidak berkelahi tentu tidak

kenal. Rupanya siauhiap ini datang dari daerah Kwan-gwa

(luar perbatasan). Maukah engkau memberitahukan

namamu dan mengapa datang kemari ?”

Jika tadi Gin Liong keras kepala dan liar, saat itu tampak

ramah dan menghormat. Segera ia memberi hormat dan

memperkenalkan dirinya, ia mengatakan kalau datang dari

gunung Tiang-pek-san. Ketika tiba di gunung Hok-san,

kebetulan ia berjumpa dengan kedua suami isteri tua itu.

“Ah, kiranya kita ini orang sendiri, Siau hiap ini sahabat

dari Suma tayhiap.”

“Mohon tanya nama locianpwe berdua yang mulia dan

maafkanlah tingkahku yang liar tadi.” Gin Liong meminta

maaf.

Dengan terus terang kakek itu segera memperkenalkan

dirinya, kemudian isteri dan puterinya.

Gin Liong serta merta memberi hormat kepada nenek

Ban. Nenek itu tertawa gembira.

“Siau siacu, jangan enak2 memukul baru minta maaf, ya.

Tadi karena tingkahmu, aku sampai ngos-ngosan napasku.”

Mereka tertawa mendengar ucapan nenek itu. Setelah

bercakap-cakap beberapa saat barulah Gin Liong tahu

bahwa ketiga ayah beranak itu haru saja tiba di tempat itu,

Gin Liong segera menuturkan tentang orang bertubuh kecil

yang telah memikatnya datang sampai disitu.

Mendengar penuturan itu, kakek Ik Bu It menyadari

bahwa orang tua pemilik kaca wasiat telah berlalu, maka

iapun memutuskan untuk kembali pulang saja.

“Apabila siau siauhiap pulang, tolong sampaikan

hormatku kepada Suma tayhiap suami isteri. Dan harap

siauhiap hati2 dalam perjalanan” kata kakek itu.

Demikian Gin Liong segera berpisah dengan kedua

suami isteri dan puterinya itu, ia lari menuju ke luar

lembah. Diam2 ia mengkal karena lelah dipermainkan oleh

orang bertubuh kecil itu.

Selepas dari tikungan puncak gunung, kembali ia melihat

suatu pemandangan yang membelalakkan matanya,

Sepuluh tombak di sebelah muka pada gunduk2 batu yang

berserakan tampak tegak siorang bertubuh kecil tadi.

Tetapi karena sudah mendapat pengalaman dari suami

isteri Ik Bu It, kali ini Gin Liong tak berani sembarangan

bertindak. Sejenak ia memperhatikan dan memang orang

itu ialah siorang bertubuh kecil yang telah memikatnya ke

dalam lembah tadi. Seketika meluaplah kemarahannya,

dengan memekik keras ia segera lari menghampiri.

Tetapi ketika hampir dekat, seketika tergetarlah hatinya

dan iapun hentikan langkahnya.

Orang bertubuh kecil yang saat itu berdiri pada jarak

setombak di sebelah muka, ternyata adalah orang tua kurus

yang dilihatnya berada dalam rumah pondok di lembah

salju gunung Tiang pek san tempo hari.

Saat itu orang tua aneh itu mengenakan jubah hitam,

rambutnya kusut masai. Pada wajahnya yang dingin dan

angkuh memancar sinar welas asih.

Setelah menenangkan semangat, Gin Liong segera maju

tiga langkah mengangkat tangan dan membungkukkan

tubuh memberi hormat.

“Murid Siau Gin Liong dengan hormat menghadap

locianpwe.”

Habis berkata ia terus hendak berlutut menjalankan

penghormatan. Tetapi tiba-2 segulung hawa kuat menguap

dari bawah lutut merintangi gerakannya hendak berlutut.

Menyusul terdengar suara orang tua itu berseru dengan

nada ramah:

“Gin Liong tak usah banyak peradatan, Kita bicara

sambil berdiri saja.”

Gin Liong memberi hormat pula lalu bangkit.

“Mohon locianpwe memberi petunjuk, mengapa

locianpwe memerintahkan aku datang ke lembah ini.”

Wajah orang tua yang berseri ramah tiba2 mengerut

dingin dan angkuh lagi, ujarnya dengan nada serius:

“Musibah dalam dunia persilatan segera akan tiba,”

katanya, “tampaknya tugas untuk mengatasi bencana itu

terletak di bahumu. Mulai besok pagi bahkan mungkin

nanti, tentu engkau akan di hadang oleh kawanan manusia

yang berhati temaha, jika engkau dapat menghadapi dengan

selayaknya, bahaya itu tentu akan surut. Tetapi kalau

engkau tidak hati2, tentu akan menimbulkan bencana darah

yang tak terperikan akibatnya.”

Habis berkata orang tua itu sejenak memandang ke arah

lembah, Mulutnya mengulum senyum. Kemudian ia

mengeluarkan kaca wasiat, seketika memancarlah sinar

gilang gemilang menerangi seluruh lembah.

Teganglah hati Gin Liong melihat kaca wasiat itu.

Dipandangnya orang tua kurus itu dengan penuh

keheranan.

Sambil memegang kaca, berkatalah orang tua kurus

dengan nada bersungguh:

“lnilah benda dari paderi sakti yang disebut Goa-po-tekia.

Bukan saja dapat digunakan untuk menentukan letak

benda berharga dalam tanah, pun kaca wasiat ini

mengandung ilmu yang tak ternilai hebatnya.”

Berhenti sejenak, orang tua kurus itu memandang Gin

Liong dan berkata pula:

“Sekarang hendak kuberikan kaca ini kepadamu, harap

engkau baik2 menjaganya jangan sampai jatuh orang jahat.”

Habis berkata, sepasang matanya tampak berkilat2

tajam, Melihat wajah Gin Liong mengerut serius, wajah

orang tua kurus yang dingin segera merekah seri tertawa.

“Adakah engkau dapat menyelami ilmu yang terkandung

dalam kaca ini, tergantung sampai dimana jodoh dan

rejekimu dengan benda itu.”

Orang tua kurus itu menyorongkan kedua tangannya ke

muka dada dan dengan suara bengis berseru:

“Gin Liong, mengapa tak lekas berlutut menerima kaca

wasiat dan Seng-ceng !”

Tahu bahwa menolakpun percuma saja, Gin Liong

terpaksa berlutut memberi hormat.

“Murid Siau Gin Liong dengan sungguh hati menerima

pemberian kaca dari Seng-ceng (paderi sakti), Sejak saat ini

murid akan menjalankan titah Seng-ceng untuk menyebar

kebaikan, berkelana dalam dunia persilatan, menjunjung

kebenaran membasmi kejahatan melakukan dharma

kebajikan. Kecuali terhadap orang yang keliwat jahat murid

takkan membunuh orang…”

Tiba2 orang tua kurus itu tertawa menukas: “Soal

membunuh orang, terserah pada pertimbanganmu.”

“Murid akan melakukan dengan sepenuh hati.” Orang

tua kurus itu menghela napas: “Hati manusia tak pernah

layu, nafsu keinginannya tak pernah puas, Sekali tersesat,

sampai mati tak mau sadar, Jika engkau menghendaki

manusia budak nafsu itu supaya sadar, mungkin akan

menghabiskan waktumu saja.”

Habis berkata ia memandang sejenak kearah deretan

pohon siong yang tumbuh lima tombak jauhnya, kemudian

menyerahkan kaca wasiat kepada Gin Liong. Dengan

kedua tangan Gin Liongpun menyambuti dan

menyimpannya dalam baju.

Tiba2 terdengar suara orang tertawa seram. Asalnya dari

arah deretan pohon siong itu. Gin Liong tergetar, cepat ia

berdiri dan berputar tubuh.

Dari balik deretan pohon siong sejauh lima tombak,

muncul dua orang. Seorang tua dan seorang imam tua,

Kedua berumur delapan puluhan tahun.

Orang tua itu berwajah persegi, mulut besar alis

gompyok, sepasang bola matanya seperti kelinting, jenggot

putih menjulai sampai ke perut.Mengenakan jubah panjang

yang tepinya disalut sutera kuning emas.

Siimam tua bermuka tirus, mulut lancip, mata sipit dan

tubuh tinggi, memegang sebatang hud tim jubahnya dari

sutera biru, memakai kain pinggiran sutera kuning emas,

punggungnya menyanggul sebatang pedang.

Siimam tua dan siorang tua mulut lebar melangkah maju

sambil tertawa seram, Gin Liong kerutkan alis.

Orang tua kurus yang berada di belakang Gin Liong

tertawa gelak2, serunya:

“Yang di sebelah kiri itu kepala dari pulau Cui-leng-to.

Yang sebelah kanan Long Ya cinjin. Keduanya termasyhur

sebagai durjana jahat. Coba saja bagaimana cara engkau

hendak menasehati mereka supaya kembali ke jalan yang

benar.”

Suara Orang tua kurus itu makin lama makin jauh. Dan

ketika Gin Liong berpaling ternyata orang tua kurus itu

sudah berada pada jarak dua puluh tombak jauhnya dan

pada lain saat terus menyusup ke dalam hutan bambu.

Sudah tentu Gin Liong bingung.

“Locianpwe, apakah locianpwe tak mau beritahu nama

locianpwe kepada murid ?”

Telinga Gin Liong segera terngiang suara orang tua itu:

“Tak usah memikirkan hal itu kelak engkau tentu tahu

sendiri.”

Gin Liong terkesiap, Sambil memandang bayang orang

tua kurus yang lenyap ke dalam hutan bambu ia mendesah:

“Ah, orang tua itu benar2 aneh sekali.”

Tetapi ia segera dikejutkan oleh suara tertawa mengekeh

dan kedua orang yang sudah tiba di belakangnya, segera ia

berbalik tubuh pula. Kedua pendatang itu sudah berada

setombak di hadapannya.

Kepala Cui-leng-to mengekeh:

“Heh, heh, budak, setan tua itu takut mati dan melarikan

diri, Sampai pecah sekalipun kerongkonganmu, tak

mungkin dia akan mendengar teriakanmu.”

Long Ya cinjinpun ikut tertawa seram.

“Budak, lekas serahkan kaca wasiat itu kepadaku,

mungkin aku dapat berbuat kebaikan untuk tak

membunuhmu.”

“Heh, heh, budak” kembali kepala Cui-leng-to mengekeh

lagi, “serahkan kepadaku, jangan kepada imam hidung

kerbau ini.”

Ia terus ulurkan tangan kanannya yang kurus kering

mirip cakar baja ke muka.

“Berikan kepadaku” Long Ya cinjin juga ulurkan

tangannya meminta.

Melihat tingkah laku kedua orang itu, Gin Liong merasa

muak. Dan mendengar kata2 mereka yang begitu temaha,

marahlah Gin Liong.

“Atas dasar apa ?” bentaknya, Dipandangnya kedua

orang itu dengan mata berkilat-kilat.

Kepala Cui-leng-to tertawa gelak2. Tetapi Long Ya cinjin

marah dan terus menerkam dada Gin Liong, Pemuda itu

tertawa dingin, serentak ia hendak menyambar pergelangan

tangan cinjin itu tetapi tiba2 kepala Cui-leng-to atau Cuileng-

to-cu menyentaknya.

“Anak jadah, engkau berani . .” Cepat laksana kilat dia

mendorong lengan Long Ya cinjin ke samping.

Gin Liong terkejut dan menyurut mundur selangkah,

tepat pada saat itu, kedua orang itupun menggembor keras,

Long Ya cinjin mengangkat lengannya untuk menghindari

tangan Cui-leng-to-cu, tangan kiri maju untuk

mencengkeram leher baju Gin Liong.

Cui-leng-to-cu juga menurunkan lengan kanan maju

setengah langkah dan ulurkan tangan kiri untuk

mencengkeram dada Gin Liong,

Kedua orang itu bergerak luar biasa cepatnya dan disertai

dengan tenaga penuh. Gin Liong terkejut dan segera

gunakan gerak tata langkah Liong-li-biau untuk menghindar

dan loncat sampai tiga tombak jauhnya.

Cui-leng tocu tertawa seram. Entah dengan gerak

bagaimana, ia sudah membayangi Gin Liong, sedangkan

tangan kirinya tetap mengancam lambung Gin Liong.

Long Ya cinjin lebih lihay lagi. Dengan tertawa seram ia

menyerang dari samping, kebut hud tim ditaburkan kedada

Gin Liong.

Melihat itu Cui leng-to-cu terkejut juga. Kalau Long Ya

cinjin berhasil menampar dada Gin Liong, kaca wasiat

tentu akan menumpah keluar. Dan apabila disusuli dengan

gerakan hudtim sekali lagi, kaca wasiat itu tentu akan jatuh

ke tangan cinjin itu, maka dengan menggembor keras, ia

segera menghantam bahu kiri Long Ya cinjin.

Melihat kaca yang jelas sudah akan jatuh ke tangannya

hendak digagalkan kepala pulau Cui-leng to, marahlah

Long Ya cinjin.

“Anjing tua, engkau cari mampus” bentaknya seraya

gerakkan tangan kiri untuk menangkis dan tangan kanan

untuk membabat kedua lutut kaki orang.

Tetapi Cui-leng-to-cu tertawa gelak2, sekali kebutkan

lengan jubah, tubuhnya melambung sampai tiga tombak ke

udara.

“Tua bangka buduk, engkau hendak merebut kaca wasiat

itu ? Hm, mari kita adu jiwa dulu ” serunya sambil julurkan

tangan kanan untuk mencengkeram belakang kepala Long

Ya cinjin.

Long Ya cinjin marah, cepat ia balikkan tubuh dan

menampar dengan kebut hudtim, Cui-leng to-cu tertawa

gelak2. ia bergeliatan kebutkan kedua lengan baju di udara

dan gunakan ujung kaki kanan untuk mendupak kepala

orang.

Demikian kedua orang itu saling bertempur kematimatian

sendiri, Long Ya cinjin menghantam dengan tangan

kiri dan memutar kebut hudtimnya gencar sekali,

sedangkan kepala dari pulau Cui-leng-to mainkan lengan

bajunya yang dikebutkan dan ditamparkan laksana

gelombang laut yang dahsyat sekali.

Mereka muncul bersama, menghampiri bersama dan

meminta kaca wasiat dari Gin Liongpun bersama. Akhirnya

mereka bersama pula berbaku hantam, seru dan dahsyat.

Sedangkan Gin Liong malah berada tiga tombak dari

tempat pertempuran itu, melihat kedua orang itu bertempur

mengadu jiwa, ia kesima. Tetapi pada lain saat ketika

teringat bahwa kedua orang itu hendak meminta kaca

wasiat, marahlah Gin Liong.

Tepat pada saat itu, kedua orang itupun tampak

berputar-putar dan tiba2 pula menyerbu Gin Liong.

Cui-leng-to-cu mendahului untuk mengangkat tangan

kanan dan menghantam Gin Liong. Kemudian Long Ya

cinjinpun tiba dengan tangan kiri mencengkeram dada anak

muda itu.

Gin Liong menggembor keras, Dengan jurus Liat-hunsong-

hou atau dengan-kekuatan-menyiak-sepasangharimau.

“Bum….” sepasang tangan yang menghantam kekanan

dan kiri itu tepat mengenai tangan kedua orang itu. Cuileng-

to-cu menjerit kaget lalu menyurut kesamping

selangkah terus loncat lagi setombak jauhnya, Long Ya

cinjin mendesuh pelahan dan terhuyung-huyung sampai

delapan langkah ke belakang. Tetapi Gin Liong sendiri juga

bergetar bahunya, kedua lengannya terasa linu kesakitan

Cui- leng-to-cu berobah wajahnya dan terlongonglongong,

Long Ya cinjingpun tercengang. Keduanya tak

pernah menyangka bahwa pemuda itu ternyata memiliki

tenaga-sakti yang mengejutkan orang.

Tetapi Gin Liong juga kaget dalam hati, ia menyadari

bahwa kedua durjana itu memang hebat sekali

kepandaiannya, ia tak berani memandang rendah lagi.

Serentak ia segera kerahkan tenaga-dalam dan ketika

melihat kedua durjana itu masih termangu-mangu,

timbullah pikirannya untuk menyadarkan mereka supaya

kembali ke jalan yang benar.

“Kalian tentulah tokoh2 sakti yang mengasingkan diri

tinggal diseberang laut. Bukankah lebih baik menghapus

keinginan2 yang jahat dan lanjutkan tindakan kalian untuk

mencari ilmu penerangan hatin yang tinggi…”

Kedua orang itu cepat tertawa keras menukas ucapan

Gin Liong, Sudah tentu Gin Liong marah.

“Soal itu mengapa perlu engkau seorang budak kecil

yang harus memberi nasehat ? Sudah lima puluh tahun

lamanya entah sudah berapa ribu kali kudengar ucapan2

kosong semacam itu,” seru kepala pulau Cui-leng-to.

Sepasang gundu mata Long Ya cinjin berkeliaran seperti

teringat sesuatu lalu tertawa parau.

“Budak kecil, ketahuilah, kenal pada gelagat dan dapat

mengetahui suasana, barulah dapat menjadi seorang gagah,

Engkau budak, jika mau mengangkat aku sebagai guru dan

menyerahkan kaca wasiat itu, kita guru dan murid dapat

bersama2 mempelajari ilmu sakti yang tertera pada kaca

wasiat itu. Kelak tentu akan menguasai dunia persilatan…”

Belum Long Ya cinjin selesai berkata, Cui-leng-to-cu

sudah tertawa gelak2, serunya:

“Tua bangka, pikiranmu sungguh murni sekali,

ucapanmupun enak didengar. Apakah engkau tak tahu

bahwa aku memang bermaksud hendak mengambil budak

itu sebagai murid pewarisku !”

Mendengar kedua orang itu seenaknya sendiri mengoceh

tak keruan hendak mengambil dirinya sebagai murid,

marahlah Gin Liong. ia kecewa dan putus asa. Untuk

menasehatkan kedua orang itu tak ubah seperti meniup

seruling di hadapan seekor kerbau belaka.

Seketika meluaplah kemarahan Gin Liong dan serentak

iapun maju menghampiri

Tanpa menghiraukan Cui-leng-to-cu lagi, Long Ya cinjin

terus berseru lagi kepada Gin Liong:

“Berhenti engkau ! Engkau harus tenang dan jangan

gugup, Kita berdua tentu dapat membasmi anjing tua dari

Cui-leng-to itu”

Sudah tentu marah Cui-leng-to-cu bukan kepalang

sehingga rambutnya meregang tegak, dengan meraung

keras ia segera menampar muka Long Ya cinjin.

Rupanya Long Ya cinjin sudah bersiap. sesaat Cui-lengto-

cu menggerakkan tangan, iapun cepat mendahului untuk

menutuk perutnya. Oleh karena jelas kedua tokoh itu

hendak saling membasmi maka setiap gerak yang

dilancarkan tentu merupakan jurus maut yang mengerikan.

Tiba2 terdengar suara ayam berkokok, Gin Liong

menyadari bahwa hari segera akan terang tanah, ia harus

lekas2 kembali ketempat Suma Tiong, kalau tidak Yok Lan

dan kawannya tentu akan bingung mencari dirinya.

“Hari segera terang tanah, aku masih mempunyai lain

urusan tak dapat menemani kalian lagi” serunya kepada

kedua tokoh yang sedang bertempur itu, kemudian ia terus

berputar tubuh dan lari ke luar lembah.

“Hai, budak, jangan lari tinggalkan kaca itu” kedua tokoh

itu berhenti bertempur dan berteriak seraya loncat

berhamburan mengejar Gin Liong, Begitu tiba di tanah,

mereka melambung ke udara lagi dan tiba lima tombak di

belakang Gin Liong.

Ketika berpaling, terkejutlah Gin Liong. ia segera

kerahkan tenaga untuk mempercepat larinya. Tetapi kedua

tokoh durjana itu tak mau melepaskan Gin Liong,

Merekapun tancap gas untuk mengejar

Sesaat Gin Liong berpaling, tampak Long Ya cinjin

dengan memegang kabut hudtim dan pedang berputar

melayang di udara lalu meluncur kearah Gin Liong. Sambil

meluncur, cinjin itu membentak “Hai budak, tinggalkan

batok kepalamu !”

Gin Liong makin marah, ia hendak mempertunjukan

kepada cinjin itu bahwa ia dapat lari lebih cepat, ia

kerahkan tenaga-dalam lagi untuk merubah dirinya menjadi

segulung asap yang menderu-deru meluncur keluar lembah.

Long Ya cinjin terkejut dan meluncur turun, Cui-lengtocupun

kesima, laju larinya menurun dan orangnyapun

segera berhenti. Hanya segulung asap warna kuning yang

meluncur ke mulut lembah dan pada lain saat pemuda

itupun sudah lenyap dari pandang mata.

Gin Liong menggunakan ilmu lari Angin-puyuh yang

hebat, setelah mendaki puncak dan melintasi hutan,

beberapa saat kemudian ia tiba disebuah tanah datar. Ketika

berpaling, ia tak melihat kedua pengejarnya lagi. Segera ia

percepat larinya menuju ke desa tempat kediaman Suma

Tiong,

Tak berapa lama tibalah ia dimulut desa, Desa sunyi

senyap, setelah masuk ke halaman dengan hati2 iapun

menyerupai masuk kedalam kamar, duduk bersila diatas

ranjang dan mulai menyalurkan pernapasan.

Tak berapa lama ia mendengar derap langkah orang

berjalan di halaman, Ternyata hari sudah terang tanah dan

para bujang2 sudah mulai bekerja, iapun segera turun dan

mandi kemudian menghampiri ke kamar Tio Li Kun.

Gin Liong terkejut sekali melihat wajah nona itu makin

pucat dan lemah.Melihat si anak muda terkejut, Li Kunpun

hampir mengucurkan airmata, ia segera berputar tubuh dan

menuju ke kamar Tek Cun. Gin Liong bergegas

menyusulnya.

“Taci Kun, lekaslah engkau tutuk jalan darah liok-ko,”

kata Gin Liong demi melihat keadaan Tek Cun makin

payah.

Tio Li Kun melakukan perintah, Gin Liong-pun

memeriksa luka Tek Cun. Ternyata wajahnya sudah

tampak segar dan napasnyapun teratur, sudah lebih sehat

daripada kemarin.

“Taci Kun, apakah semalam engkau tak tidur?” tegur Gin

Liong, Li Kun tak menjawab kecuali bercucuran airmata.

Gin Liong makin gugup, ia menghampiri dan menghibur

nona itu: “Sudahlah taci, jangan sedih. Beberapa hari lagi

luka liok-ko tentu sembuh.”

Tiba-2 Li Kun memeluk tangan Gin Liong dan berkata

dengan rawan: “Adik Liong, kurasakan makin lama engkau

makin menjauhi aku.”

Nona itu mulai terisak, jelas ia amat bersedih hati,

sesungguhnya Gin Liong seorang pemuda yang berhati

lembut. Tetapi karena dalam hatinya sudah terisi dengan

sumoaynya, apalagi suhunya telah meninggalkan pesan,

maka terpaksa ia tak dapat menerima persembahan hati Li

Kun.

Tetapi karena itu ia dipeluk si jelita, hatinyapun tergerak

dan tanpa disadari iapun membelai-belai rambut si jelita

seraya menghiburnya : “Ah, janganlah berpikir terlalu

banyak.”

“Adik Liong, harapanku janganlah engkau memandang

diriku hanya sebagai pohon liu yang tumbuh di tepi jalan…”

Rupanya Gin Liong tahu bahwa Li Kun hendak

memperingatkannya tentang peristiwa yang terjadi dalam

ruang dalam perahu yang lalu. Maka cepat ia menukas:

“Kutahu taci seorang gadis yang luhur hati, hanya Thian

yang tahu bagaimana perasaan hatiku kepada taci.

Sudahlah, jangan memikir yang tidak2 dan hanya

mengganggu kesehatan taci saja.”

Kemudian sambil mengelus-elus bahu si jelita, ia

menambahkan pula: “Yok Lan sudah sejak kecil belajar

ilmu bersama aku. Hati budinya halus dan lembut, harap

taci Li Kun suka melindunginya…”

“Jangan kuatir adik Liong” cepat Li Kun menukas, “aku

anak yang paling bungsu, tentu akan kuperlakukan adik

Lan sebagai adik kandungku sendiri.”

Tergetar hati Gin Liong dengan rasa bahagia maka iapun

segera berbisik mesra: “Jika demikian kelak kita akan

bersama-sama menjelang hari bahagia.”

“Sungguhkah itu, adik Liong ?”

Gin Liong tertawa mengangguk, ia segera mengusap

airmata Li Kun yang tak henti-hentinya mengucur itu,

Kemudian Gin Liong mengajaknya untuk menjenguk

keadaan Mo Lan Hwa.

Ketika masuk ke kamar, tampak Yok Lan menyambut

dengan wajah berseri, ia duduk di tepi ranjang menunggu

Lan Hwa ia hendak bangun untuk menyambut tetapi Li

Kun mencegahnya.

“Adik Hwa, lukamu masih belum sembuh, jangan

paksakan diri bangun” kata Li Kun.

Memperhatikan mata Li Kun membenjul bekas

menangis, Lan Hwa bertanya: “Taci Kun, engkau habis

menangis ?”

Li Kun tersipu-sipu merah, sesaat ia tak dapat menjawab.

“Apakah luka Tek Cun koko makin parah?” tanya Lan

Hwa cemas.

“Mungkin liok-ko harus beristirahat beberapa hari lagi

baru sembuh” akhirnya Li Kun memberi jawaban

sekenanya.

Yok Lan mengatakan ia ingin menjenguk Tek Cun, Gin

Liong mencegah mengatakan kalau Tek Cun sedang tidur.

Saat itu bujang muncul dengan membawa dua mangkuk

kuah Jin-som-lian-cu: “Nyonya besar mengutus hamba

mengirim kuah ini untuk Liok ya dan nona Mo.”

“Taci Kun, mari kita antarkan kepada liok ko”, kata Yok

Lan, Kedua nona itupun segera keluar.

Kini tinggal Gin Liong berdua dengan Lan Hwa,Melihat

luka nona itu masih payah, Gin Liong segera menghampiri,

mengangkat tubuh nona itu dan memberinya bantal yang

tinggi. Kemudian ia mengambil mangkok jin-som dan

meminumkan ke mulut LanHwa.

Gemetar tubuh Lan Hwa, gemetar pula hatinya karena

duduk merapat dengan Gin Liong, pemuda yang mencuri

hatinya. Tepat pada saat itu muncullah Yok Lan, Lan Hwa

dan Gin Liong tertegun. Tetapi Yok Lan seorang dara yang

polos, setitikpun ia tak cemburu atau marah bahkan segera

menghampiri dan membujuk: “Taci Hwa, kuah jin-som itu

harus dihabiskan agar taci lekas sembuh.”

Terharu hati Lan Hwa mendengar kata2 dara itu, ia

segera meneguknya habis. Dalam pada itu diam2 ia

bersumpah, rela mengorbankan diri daripada

menghancurkan hati seorang dara berhati emas seperti Yok

Lan, Lan Hwa menangis dalam hati.

Setelah membaringkan Lan Hwa ditempat semula lagi,

Yok Lan segera mengikuti Gin Liong keluar untuk makan

pagi. Tak lama Li Kunpun pun datang, Tiba2 suami isteri

Suma Tiong bergegas masuk, wajahnya mereka tampak

tegang.

Begitu duduk, Suma Tiong tak menanyakan keadaan

Tek Cun maupun Lan Hwa, terus langsung berkata kepada

Gin Liong dengan wajah serius:

“Dari laporan bujang yang kembali dari kota mengatakan

bahwa dalam kota Hok-san-shia telah gempar tersiar berita

bahwa Siau siauhiap telah mendapat kaca wasiat dari Bulim

Seng-ceng. Benarkah itu ?”

Mendengar itu tergetarlah hati Gin Liong, ia menghela

napas: “Apakah sungguh tersiar berita begitu ?”

Li Kun kerutkan dahi dan ikut bicara: “Tentulah

perbuatan Ce-tang Sam-sat yang tertua, lari ke Hok-san-shia

lalu menyiarkan berita bohong itu untuk membalas

dendam.”

“Atau memang kesalahan Liong koko sendiri. Orang

meminta kaca wasiat kepadanya, dia mengatakan kaca

wasiat itu memang ada padanya.” Yok Lan menyeletuk.

“Lebih baik peristiwa ini segera diberantas”, kata Lok Siu

Ing isteri Suma Tiong, “jika tidak tentu akan menimbulkan

peristiwa yang lebih berbahaya, Tokoh2 silat yang tamak

tentu berbondong-bondong mendesak Siau siauhiap.”

Suma Tiong setuju pendapat isterinya.

“Harap Siau siauhiap jangan meremehkan soal ini,

Kemungkinan besar hal itu akan mendatang bahaya pada

siauhiap.”

“Ah, aku tak pernah menduga sampai begitu jauh” kata

Gin Liong,

Li Kun dan Yok Lan menanyakan pendapat kedua

suami isteri itu bagaimana sebaiknya langkah yang harus

diambil.

“Sebaiknya mengirim orang untuk memberantas desasdesus

itu dan membuka kedok muslihat Ce-tang Sam-sat”

kata Suma Tiong.

Li Kun setuju dan meminta kepada Suma Tiong untuk

mengatur orang, Gin Liong gelisah dan hendak mencegah,

Rupanya Yok Lan tahu isi hati sukonya maka cepat ia

mendahului.

“Jika demikian kita harus menunggu sampai beberapa

hari lagi, Lalu kapankah kita mulai mengejar jejak Liong-li

locianpwe ?” serunya.

“Ya, kita hanya membikin repot Suma tayhiap berdua

saja.” kata Gin Liong.

Tetapi Suma Tiong mengatakan bahwa hal itu memang

sudah menjadi kewajiban dalam persahabatan, iapun

mengajak isterinya keluar.

Setelah kedua suami isteri itu pergi, Li Kun setengah

menyesali tindakan Gin Liong yang telah memberi ampun

kepada Ce-tang Sam-sat.

“Ya, memang Liong suko salah,” Yok Lan ikut

menyesal.

“Sekarang bukan soal desas desus itu yang harus kita

layani tetapi bagaimana dan bilakah kita segera

melanjutkan perjalanan menyusui Liong-li locianpwe.”

Mendengar itu Yuk Lan segera mengajak Li Kun untuk

menjenguk keadaan Tek Cun.

“Liong koko,” kata Yok Lan, “menilik luka liok-ko dan

taci Hwa, Mungkin dalam empat lima hari kemudian baru

sembuh. Aku bersama taci Kun akan menjaga mereka disini

dan engkau seorang diri boleh segera berangkat…”

“Akau kupertimbangkan,” cepat Gin Liong menukas.

Setelah kedua gadis itu pergi, Gin Liong merenungkan

langkah untuk mengejar jejak Ban-liong Liong li dengan

cara bagaimana ia dapat menghindarkan diri dari libatan

tokoh-2 silat yang berhati temaha hendak merebut kaca

wasiat itu.

Tiba2 ia teringat akan orang tua pemilik kaca wasiat dan

kaca wasiat itu yang pada permukaannya tertera tulisan

tentang ilmu silat yang sakti.

Serentak timbullah keinginannya untuk meneliti kaca

wasiat itu. Segera ia masuk kedalam kamar dan

mengeluarkan kaca itu. seketika terang benderanglah kamar

karena cahaya kaca wasiat. Cepat2 Gin Liong menutup

dengan baju luarnya, ia memasang telinga, suasana diluar

sunyi senyap.

Setelah itu baru ia mulai memeriksa. Didapatinya dibalik

kaca itu terdapat beberapa huruf kecil2. Entah diukir

dengan alat apa. Setelah diteliti ternyata huruf2 itu

merupakan nama pemiliknya.

Pada baris kesatu berbunyi: Thian It lo-jin pada waktu

malam hari pertengahan musim rontok, menyerahkan kaca

wasiat ini kepada Gin-si- khek.

Melihat itu, barulah Gin Liong tahu bahwa pemilik kaca

wasiat itu bukan Bu-lim Seng-ceng tetapi Thian It lojin.

Baris kedua berbunyi: Gin-si-khek pada senja musim

semi, menyerahkan kepada Ik-wan-tay-hiap Lu Gik Tiong.

Gin Liong terus membaca sampai pada baris kelima.

Disitu tertulis: Tio Su Le pada suatu hari dingin,

menyerahkan kaca wasiat kepada Langlang-buana Gui Hin

Kiong.

Kemudian baris keenam berbunyi Gui Hin Kiong pada

hari yang cerah, menyerahkan kepada Siau Gin Liong.

Seketika itu sadarlah Gin Liong bahwa yang disebut Bu -

lim Seng – ceng atau Paderi – sakti dalam dunia persilatan

itu, bukan lain adalah Thian It lojin. Sedang orang tua

kurus yang menyerahkan kaca wasiat kepadanya itu

bernama Langlang-buana Gui Hin-Kiong. Gui Hin Kiong

merupakan orang keenam yang menerima penyerahan kaca

wasiat itu.

Tetapi sepanjang ingatannya, dalam dunia persilatan ia

tak pernah mendengar tentang nama tokoh Langlang-buana

Gui Hin Kiong. ia menarik kesimpulan bahwa Gui Hin

Kiong tentu seorang sakti yang tak mau melibatkan diri

dalam pergolakan dunia persilatan.

Selanjutnya menurut catatan itu, sudah lima belas tahun

lamanya kaca itu berada di tangan orang tua kurus Gui Hin

Kiong. Selama itu, mungkin dia sudah mempelajari ilmu

sakti yang tertera pada kaca wasiat itu.

Dari Thian It lojin hingga temurun pada Gui Hin Kiong,

diantaranya empat orang pewaris tak seorangpun yang

mempunyai nama dalam dunia persilatan. Apakah mereka

tak berhasil mempelajari ilmu sakti pada kaca wasiat itu ?

Atau mungkinkah karena mereka sudah menemukan

penerangan hatin, mereka tak mau terjun dalam dunia

persilatan ?

Akhirnya Gin Liong menarik kesimpulan, ia akan

mencontoh jejak keempat cianpwe itu, takkan menonjolkan

ilmu kepandaian yang diperoleh dari kaca wasiat itu kepada

siapapun juga.

Segera ia meneliti lebih cermat dan akhirnya

menemukan, diantara sinar pelangi yang terpancar dari

kaca itu, samar2 menyembul sebuah huruf berbunyi

“Kitab”, Tetapi pada lain kilat, huruf itupun tak tampak

lagi.

Gin Liong mencoba untuk menggoyangkan kaca

pelahan-lahan. Dan benar juga, huruf merah Kitab itu

timbul lagi. Pelahan-lahan ia mengisar baju luar yang dibuat

menutup dan tampaklah tujuan buah huruf yang berbunyi:

Liong Hou liong Kau Kun Ciang Bu. Atau, kitab ilmu

pukulan Naga, harimau, burung hong, ular.

Tergerak hati Gin Liong, Girangnya bukan kepalang

sehingga tangannya gemetar, Dibawah huruf Kun-hu atau

Kitab ilmu pukulan itu, tampak pula huruf2 Hang liong

atau Ilmu-menaklukkan-naga, Hok-hou atau Harimau

Mendekam, Lin-hong atau Menangkap-cenderawasih, Pokkau

atau menjerat ular, empat macam pelajaran ilmu

pukulan.

Setelah membaca dengan teliti, ternyata dalam tempat

macam pelajaran ilmu pukulan itu mengandung ilmu

pukulan, ilmu tebasan dan ilmu menangkap atau

menyambar

Ilmu pukulan, cepat dan dahsyat ilmu tebasan, tangkas

dan ganas, ilmu menyambar dan menangkap. luar biasa

hebatnya. Apabila digunakan keempat macam ilmu itu

merupakan gabungan tipu silat lihai penuh dengan

perobahan.

Gin Liong memiliki otak yang cerdas dan daya ingat

yang kuat. Cepat sekali ia dapat mengingat semua

pelajaran2 itu dan setelah merenungkan ia segera tahu dayagunanya.

Pada saat ia hendak melanjutkan membaca di halaman

terdengar langkah kaki orang. Buru2 ia menyimpan kaca itu

ke dalam baju lagi Kemudian ia keluar.

Saat itu hampir tengah hari. Suma Tiong dan isterinya

berjalan menghampiri, Gin Liong segera menyambut.

Demikian pula Yok Lan dan Li Kunpun keluar dari kamar

ikut menyongsong.

Suma Tiong suami isteri melaporkan bahwa dia sudah

mengirim dua puluh orang menuju kekota. Gin Liong

menghaturkan terima kasih atas bantuan tuan rumah.

Tak lama bujangpun segera menyiapkan hidangan siang.

Waktu makan. Li Kun mengatakan kepada tuan rumah

bahwa karena mempunyai urusan penting maka Gin Liong

akan melanjutkan perjalanan lebih dulu, sebenarnya dalam

suasana seperti saat itu, memang tak leluasa kalau Gin

Liong menempuh perjalanan seorang diri. Tetapi

dikarenakan harus merawat Tek Cun dan Lan Hwa

terpaksa Yok Lan dan Li Kun harus tinggal.

Mendengar itu Suma Tiong menyatakan kesediannya

untuk merawat kedua orang yang sakit itu dan minta kedua

nona itu menemani Gin Liong.

Karena Li Kun setuju terpaksa Gin Liong pun

menyetujui juga.

Waktu Tek Cun dan Lan Hwa diberitahu tentang

persetujuan itu, keduanyapun setuju. Demikian setelah

berkemas, Gin Liong dan kedua nona segera berangkat

siang itu juga, Gin Liong naik kuda hitam kaki putih, Yok

Lan naik kuda bulu merah milik Tek Cun dan Li Kun naik

kuda putih.

Pada saat Suma Tiong dan isteri mengantar ketiga anak

muda itu sampai keluar pintu, tiba2 seorang lelaki bergegasgegas

masuk ke dalam desa.

“Apa yang terjadi di luar desa ?” seru Suma Tiong

kepada orang itu.

“Toaya, celaka…” seru orang itu, “dari Hok-san-shia

telah berbondong-bondong sejumlah besar penunggang

kuda menuju ke desa ini.”

Mendengar itu Gin Liong seperti merasakan suatu

ancaman bahaya, serunya : “Mereka tentu akan cari perkara

disini.”

“Sejak diam disini, baru pertama kali ini aku mengalami

peraturan desa ini dilanggar orang” kata Suma Tiong.

“Tak peduli siapapun yang datang, kita harus

menyongsongnya,” kata Lok Siu Ing.

Kelima orang itu segera bergegas menuju ke mulut desa,

sepuluh penunggang kuda tampak sedang

mencongklangkan kudanya menuju ke desa itu. Orang2 itu

mengenakan pakaian ringkas sebagaimana dikenakan oleh

kaum persilatan dikala sedang menjalankan tugas, Saat itu

mereka sudah berada pada jarak setengah li dari desa.

“Menilik sikapnya, mereka memang hendak melakukan

sesuatu,” kata Suma Tiong.

“Jika tanpa alasan, jangan beri ampun kepada mereka,”

seru Lok Siu Ing.

Pada saat rombongan pendatang itu tiba pada jarak tiga

puluhan tombak dari tempat Gin Liong, tiba2 kuda hitam

mulus meringkik keras sehingga rombongan kuda yang

datang itu terkejut dan panik, Ada yang Mengangkat kaki

depan, ada pula yang merontak kaget, Penunggangnya

berusaha keras untuk mengatasi kudanya dan melanjutkan

lari ke muka.

Penunggang yang paling depan, seorang tua bertubuh

kurus, muka hitam, brewok dan rambut memanjang sampai

ke bahu. Mengenakan pakaian warna hitam. Umurnya

diantara 60-an tahun. Di belakang punggungnya

menyanggul sebatang tongkat berkepala ular, batangnya

penuh berhias gelang besar kecil, sepasang matanya yang

bundar memancarkan sinar berkilat-kilat dingin.

Disebelah kanan dan kirinya, seorang lelaki berpakaian

kuning dan yang satu berpakaian kelabu. Keduanya

berumur lebih dari 40 tahun.

Lelaki yang berpakaian kuning itu, mukanya penuh

rambut, alis tebal mata bundar dan perawakan gagah

perkasa, punggungnya menyelip Kim-kong senjata gada

berbentuk orang-orangan. Gagah menyeramkan sekali.

Sementara lelaki yang berpakaian kelabu, mukanya

kuning pucat, jenggot tipis, mata sipit tak berbulu mata.

Tubuhnya kurus, menyanggul sebatang sayap.

Sedang ketujuh orang yang mengikuti dibelakang, terdiri

dari lelaki2 yang bertubuh gagah. Masing2 membekal

golok.

“Hm. kiranya Tiga-jahat dari Losan.” geram Loh Siu Ing.

Suma Tiongpun cepat tertawa dan berserunya ringan:

“Kukira siapa, ternyata tiga pendekar dari Losan yang

berkunjung.Maaf, karena terlambat menyambut.”

Sejenak berhenti ia melanjutkan pula dengan nada

nyaring: “Entah apakah maksud kedatangan saudara bertiga

ke desaku ini ?”

Rombongan penunggang kuda itu tiba pada jarak lima

tombak, Orang tua baju hitam mengangkat tangan keatas

dan kesepuluh ekor kuda itupun serentak berhenti.

Kemudian orang tua itu tertawa mengekeh.

“Kukira siapa yang tinggal didesa ini, kiranya Suma

tayhiap, Aku Tongkat – ular – bergelang In Po Tin bersama

kedua saudaraku Gada-pencabut nyawa dan Golokpelenyap-

jiwa, memberanikan diri datang kemari, mohon

saudara suka memaafkan kelancangan kami,”

Bahkan orang tua yang merupakan tokoh pertama dari

tiga Jahat gunung Losan itu segera memberi hormat. Kedua

saudaranya hanya terlongong2 memandang Gin Liong.

Suma Tiong tertawa nyaring.

“Harap saudara suka menjelaskan apa maksud

kunjungan saudara bersama rombongan kemari. Apabila

dapat kami lakukan tentu dengan senang hati kami akan

menghaturkan bantuan.”

Tongkat-ular In Po Tin tertawa juga.

“Kedatangan kami ini tak lain hanya perlu sekedar

hendak minta keterangan kepada Siau siauhiap adakah kaca

wasiat itu benar berada padanya ?” kata In Po Tin sambil

menunjuk Gin Liong.

Melihat sikap ketiga orang yang begitu congkak, si jelita

Li Kun sudah muak. Dan sesaat mendengar maksud

kedatangan mereka, serentak marahlah ia, serunya: “Sudah

makan nasi sampai berpuluh tahun mengapa dalam soal

sekecil itu saja kalian tak dapat menilai dengan tepat.

Huh…”

“Budak hina, siapa suruh engkau campur mulut !” bentak

si baju kuning Gada-pelenyap nyawa.

Mendengar itu Lok Siu Ing tak dapat menahan

kemarahannya lagi. Dengan melengking ia melompat maju

ke muka dan menuding Gada-pelenyap nyawa: “Kalau

memang berani, hayo, turunlah engkau. Hendak kuuji

sampai dimana kepandaianmu sehingga gegabah berani

menghina orang!”

Nyonya itu menutup kata2nya dengan mencabut pedang.

Dengan tertawa dingin Gada-pelenyap nyawa pun

ayunkan tubuh loncat turun dan siapkan senjatanya:

“Engkau sendiri yang cari mati, jangan salahkan aku berhati

kejam !”

Sambil tertawa mengekeh ia pelahan-lahan maju

menghampiri.

Gin Liong kerutkan alis dan tertawa dingin ia berdiri di

samping Suma Tiong dengan tenang, Tak habis herannya

mengapa Lo-san Sam-ok atau Tiga jahat dari gunung Losan

tahu bahwa ia telah mendapat kaca wasiat itu.

“Berhenti !” cepat ia berteriak ketika Gada-pelenyap

nyawa hendak bertempur dengan Lok Siu Ing. Walaupun

pelahan teriakan itu dihamburkan tetapi telinga sekalian

orang yang berada disitu serasa mengiang-ngiang. Toa-ok

atau si jahat Kesatu In Po Tin diam2 terkejut juga. Dan

Gada-pelenyap nyawapun hentikan langkah.

“Kalian kesepuluh orang ini sudah melanggar peraturan

memasuki desa ini. Bukannya kalian bersikap sopan

kebalikannya malah mengumbar kecongkakan, jelas dapat

diketahui bagaimanapun tingkah laku kalian selama ini.

Dan jelas pula bahwa kalian hendak merebut kaca wasiat

itu.”

Gin Liong berhenti sejenak menatap ketiga tokoh jahat

dari gunung Losan itu. serunya pula: “Andaikata kaca

wasiat itu berada padaku, apa dasarnya kalian hendak

merebut benda itu ?”

Gada-pelenyap nyawa jago kedua dari Losan deliki mata

dan membentak: “Budak yang sombong engkau berani cari

perkara dengan kami bertiga?”

Pah-ong-kan-san atau raja Pah-ong-mengejar gunung,

adalah jurus yang digunakannya untuk menyerang Gin

Liong, Tetapi Lok Siu Ing yang sudah sejak tadi siap, segera

menangkis dengan jurus Mengepak-rumput-memburu-ular,

ia menyabetkan pedang memapas lambung orang.

Gada-pelenyap nyawa marah. ia hentikan gerakannya

untuk menangkis pedang Lok Siu-ing, tetapi nyonya itupun

merobah gerak pedangnya untuk menusuk alis lawan.

Gerak perobahan itu dilakukan teramat cepat sekali.

Jago kedua dari Losan itu memang hebat juga. Cepat ia

songsongkan senjata tegak ke atas untuk menahan pedang

lawan. Tetapi di luar dugaan Lok Siu Ing dengan gerak

secepat kilat, telah memapaskan pedang ke celana lawan.

Cret, celana jago kedua gunung Losan telah terpapas

kutung.

Gada-pelenyap nyawa menjerit kaget dan menyurut

mundur beberapa langkah. Melihat kebawah mukanya

berubah dan keringat dingin mengucur, Kedua kaki

celananya telah robek sehingga lututnyapun kelihatan.

Lok Siu Ing tertawa dingin. “Hm, begitu tak berguna,

masih berani cari perkara, Sungguh tak tahu diri.”

Toa-ok In Po Tin menggeremutukkan geraham, wajah

membesi dan tubuh gemetar. Tokoh ketiga Toat-beng to

atau golok Pencabut nyawa loncat dari kuda dan terus

memutar golok menyerang Lok Siu Ing.

Melihat itu Tio Li Kunpun loncat turun dari kuda, Tring,

iapun sudah mencabut pedang yang memancarkan sinar

berkilau-kilauan. Dan sekali bergerak, pedang itupun segera

meluncur ke muka untuk menusuk gulungan sinar golok

lawan.

“Lo-sam . . ” melihat Pedang-Pencabut nyawa hendak

mengadu kekerasan dengan pedang si jelita, buru2 Toa-ok

berseru mencegah.

Mendengar itu Pedang-Pencabut nyawa terkejut, cepat

mengendapkan pedang kebawah cepat pula loncat ke

samping.

Li Kun mendengus dingin. Sekali ayun tubuh ia loncat

memburu dan taburkan pedangnya, Terdengar jeritan kejut

dan darah menyembur keluar. Tahu2 daun telinga kiri si

Pedang-Pencabut nyawa sudah terpapas hilang.

Melihat itu Gada-pelenyap nyawa menggembor keras

dan terus menyerbu Li Kun.

“Tadi sudah diberi ampun mengapa sekarang masih cari

mati lagi?” bentak Lok Siu Ing seraya tebarkan pedang dan

tahu2 ujungnya sudah melekat kedada orang itu.

“Ing-moay, jangan membunuhnya!” buru2 Suma Tiong

melarang isterinya.

Lok Siu Ingpun menurut, Tetapi dikala ia menarik

pedangnya, sekonyong konyong Gada-pelenyap nyawa

menggembor keras dan dengan jurus Tiang-menyanggahlangit,

ia menghantamkan gadanya pada pedang Lok Siu

Ing.

Nyonya itu menjerit kaget karena tangannya terasa terasa

linu lunglai sehingga pedangpun terlempar ke udara. Dan

Gada-pelenyap nyawa menyusul pula dengan menghantam

ubun2 kepala nyonya itu.

Suma Tiong dan Gin Liong serempak loncat

menghampiri, Li Kun dan Yuk Lanpun menjerit kaget.

“Lo-ji, jangan !” teriak Toa-ok In Po Tih mencegah

saudaranya, ia tahu Suma Tiong itu tak boleh dibuat main2.

Tetapi sebelum jago kedua melakukan perintah toa-ok, ia

menjerit kaget karena siku lengan kanannya dicengkeram

Gin Liong dan sekali ayun tangan, Gin Liong menampar

muka jago kedua dari Losan itu.

Tetapi karena mendengar seruan Toa-ok tadi, Gin Liong

cepat merobah arah tamparannya. Tidak pada muka tetapi

gada orang.

“Bum . . . .” tangan jago kedua dari Losan itu linu

kesemutan dan gadanyapun terlempar keudara, “Enyahlah

!” seru Gin Liong seraya mendorong.

Tubuh jago kedua dari Losan yang tinggi besar seketika

terhuyung-huyung beberapa langkah. Melihat kesaktian si

anak muda, Toa-ok Tin Po Tin terlongong pucat sehingga

ia lupa untuk menyanggupi tubuh saudaranya yang kedua.

Bluk, ji-ok Pedang-Pencabut nyawa terjatuh duduk ditanah.

Toa ok terkejut dan gelagapan, Cepat ia loncat

menolongnya. Saat itu jago kedua si Gada-pelenyap nyawa

masih berputar-putar untuk mencari daun telinganya yang

terpotong, Sedang Yok Lan dan Li Kun segera

menghampiri Lok Siu Ing yang tengah diperiksa tangannya

oleh Suma Tiong. Dibelakang mereka telah dijaga oleh

anak buah yang bersenjata golok.

Gin Liong sudah loncat kesamping untuk menjemput

pedang Lok Siu Ing yang jatuh, Tiba2 kuda bulu hitam

meringkik keras lagi. Ketika berpaling, Gin Liong melihat

empat penunggang kuda tengah mencongklang pesat datang

menghampiri jauh dibelakang keempat penunggang kuda

itu diantara kepulan debu yang gelap, samar2 masih tampak

lagi beberapa penunggang kuda.

“Aneh,” gumam Yok Lan, “mengapa mereka tahu Liong

koko berada disini ?”

Setelah menolong saudaranya yang kedua, Toa-ok segera

menyahut: “Kalau tidak anak buahmu yang menyiarkan

berita itu di rumah makan, mana mereka tahu tentang soal

dirimu berada disini.”

Seketika Suma Tiong tersadar persoalan telah menjadi

salah urus, sehingga malah tak keruan “Hm, mengapa

kalian tak mau berpikir, Apakah sedemikian mudah kaca

wasiat itu berada di tangan kita ?” Yok Lan melengking.

Dalam pada itu keempat penunggang kuda tadipun

sudah kira2 setengah li jauhnya, Tiga penunggang kuda

yang berjajar di sebelah kiri terdiri dari tiga imam

pertengahan umur, mengenakan jubah putih dan masing2

mencekal hudtim besi bertangkai baja.

Yang seorang bermata segitiga, mengenakan ikat

pinggang sutera wungu, Yang seorang berhidung bengkok

dan yang seorang berwajah persegi, membawa sebuah buli2

kecil. Mereka mengulum senyum sinis, sikapnya congkak

sekali.

Penunggang kuda sebelah kanan bukan lain adalah jago

kesatu dari Lo-san Sam-ok, si Tongkat ular yang telah diberi

ampun oleh Gin Liong. Sudah tentu Gin Liong marah

sekali.

Li Kun tertawa dingin, Pedang yang baru saja hendak

disarungkan cepat ditarik keluar lagi.

“Kali ini pasti takkan kuampuni jiwanya” seru geram.

Keempat penunggang kuda itu tiba dan dengan tertawa

gelak2 mereka loncat turun dari kudanya.

“Ya, budak itu ! Kaca wasiat berada di tangannya !” seru

Toa-sat seraya menunjuk Gin Li-ong.

“Anjing yang suka menggonggong kabar palsu, serahkan

jiwamu” teriak Li Kun seraya taburkan pedang menusuk

dada Toa-sat.

Toa-sat tertawa hina terus loncat ke belakang ketiga

imam itu. Melihat si jelita Li Kun yang sedemikian

cantiknya, ketiga imam itu tertawa mengekeh dan terus

merintangi.

Li Kun makin marah, Pedang dihamburkan dalam seribu

sinar dan berhamburan menusuk ketiga imam itu.

Ketiga imam terkejut bukan kepalang, mereka menjerit

kaget dan tak berani memandang rendah kepada nona jelita

itu. Kebut besi segera ia gerakkan untuk menangkis.

Karena serangannya tak berhasil, Li Kun makin meluap

kemarahannya. Dengan melengking ia gentakkan pedang,

Seketika tiga kuntum sinar pedang menusuk kearah ketiga

imam itu.

Melihat ketiga imam itu kewalahan menghadapi seorang

nona saja, gemetarlah hati Toa-sat. Ketika memandang ke

arah lain, seketika pucatlah wajahnya, Tampak Gin Liong

tengah maju menghampirinya dengan sikap yang

menyeramkan.

“Budak she Siau” serunya untuk menutupi kegelisahan

hatinya, “lekas serahkan kaca wasiat kepada ketiga toya

itu…”

Mendengar kata Toa-sat, seketika bersinarlah mata

ketiga imam itu. Mereka serempak melirik kearah Toa sat.

Tepat pada saat itu. Gin Liongpun secepat kilat loncat

menerkam bahu Toa-sat.

Suma Tiong dan isterinya serta Yok Lan, terkejut sekali

melihat Gin Liong menggunakan cara bertempur yang

paling kasar semacam itu.

Tetapi tiba2 pula ketiga imam itupun tinggalkan Li Kun

dan terus menyerbu Gin Liong, Anak muda itu membentak

keras, kedua tangan yang tengah dijulurkan kemuka untuk

mencengkeram Toa-sat sekonyong-konyong dirobah dalam

gerakan menampar. Plak, plak, plak . . . terdengar ketiga

imam itu mengerang tertahan dan terhuyung-huyung

kebelakang.

Apa yang terjadi itu benar2 mengejutkan sekalian orang

yang berada disitu, Gin Liong telah memainkan salah

sebuah jurus dari ilmu sakti yang tertera pada kaca wasiat,

jurus itu disebut Jip-hay-pok-kau atau Menyelam-lautmenjaring-

ular.

Cepat sekali tangan Gin Liong mengenai tubuh ketiga

imam itu. Menebas, menyikut, menampar dan menutuk.

Habis menyebutkan ketiga macam, secepat kilat Gin

Liongpun mencengkeram siku lengan Toa sat dan sebelah

tangannya menampar muka Toa-sat. Toa-sat menjerit ngeri.

Tergetar hati Gin Liong, ia teringat sesuatu dan hentikan

tamparannya.

Tiba2 dari belakang Li Kun menusuk, Gin Liong hendak

mencegah tetapi tak keburu, Cepat ia membentak dan

menyiak sehingga Toa sat terhuyung-huyung ke samping,

Dengan begitu ia lolos dari tusukan pedang Li Kun. Tetapi

karena menahan kesakitan keringat dingin bercucuran

membasahi tubuh.

Li Kun tertegun, ia memandang Gin Liong dengan

pandang penuh tanya mengapa Gin Liong masih

melindungi jiwa Toa-sat.

“Taci Kun, berilah dia ampun sekali lagi, agar dia

mempunyai kesempatan untuk memperbaiki

kesalahannya.” seru Gin Liong.

Hampir Li Kun tak percaya apa yang didengarnya,

mengapa aneh sekali sikap Gin Liong itu.

Bluk, karena tak dapat mempertahankan keseimbangan

tubuh, Toa sat jatuh terduduk di tanah. Sambil mendekap

siku lengan kirinya, mulutnya menyeringai kesakitan, napas

terengah-engah dan wajahnya tak menyeramkan lagi.

Empat penjuru sunyi senyap, Tetapi berpuluh

penunggang kuda yang sudah mencapai satu li jauhnya dari

desa itu masih tetap mencongklang pesat menuju ke desa.

Ternyata pendatang itu rombongan wanita yang berpakaian

indah dan membekal senjata pedang dan golok.

Gin Liong mendengus lalu berpaling kepada Toa-sat,

serunya: “Poan liong kun. kali ini kuampuni lagi jiwamu.

Kuharap engkau dapat menyadari kesesatanmu, jangan

melakukan perbuatan2 jahat dan berbuatlah amal

kebaikan.”

Kemudian ia berpaling kepada ketiga imam, Muka

mereka bengap biru dan sikap merekapun tak congkak lagi.

“Dan kalian bertiga” serunya, “sebagai seorang agama

kalian harus membebaskan diri dari pergolakan urusan

dunia dan harus dapat melepaskan nafsu keinginan yang

tamak, Lekas kalian kembali ke biara dan jangan turun ke

dunia persilatan lagi.”

Ketiga imam itu tak mau bicara apa2. Rupanya mereka

masih penasaran.

Hanya dalam semalam mengapa perangai Gin Liong

tiba2 berobah begitu sabar, Pikir Li Kun. Juga Yok Lan

heran mengapa dalam semalam saja, kepandaian Gin Liong

bertambah maju sedemikian hebatnya.

Memang kedua suami isteri Suma Tiong tahu bahwa dari

sinar matanya yang berkilat-kilat tajam, tentulah Gin Liong

itu seorang pemuda yang berilmu tinggi. Tetapi setitikpun

mereka tak mengira bahwa Gin Liong akan sedemikian

saktinya.

-ooo0dw0ooo-

Bab 7

Dewi Bayangan

Rombongan wanita cantik berkuda itupun sudah tiba.

Mereka ternyata dara2 cantik yang muda belia. Ditengah,

tampak seorang wanita cantik berumur 25-an tahun, rambut

disanggul tinggi, mengenakan perhiasan tusuk konde kinhong

atau cendrawasih emas. pakaian dan bulu burung

yang indah, dadanya berhias tiga butir kumala dan sabuk

pinggangnya warna pelangi. Tubuhnya makin tampak

montok dalam pakaiannya yang amat ketat.

Wajahnya putih cemerlang, alisnya merebak hitam dan

bibir merah, sepasang biji matanya bening, memancarkan

sinar yang mesra sehingga orang yang melihatnya pasti

akan terpikat.

Begitu tiba nyonya cantik itu mengangkat cambuknya

keatas memberi isyarat kepada rombongannya berhenti.

Kuda meringkik, debupun mengepul tebal ketika berpuluh

nona penunggang kuda itu hentikan kuda masing-2.

Sikap dan ulah wanita cantik itu tak beda dengan

seorang ratu, Sekalian orang yang berada ditempat itu

terpesona melihatnya.

Suma Tiong kerutkan dahi, ia tahu bahwa nyonya cantik

itu memiliki senjata sapu tangan yang mengandung minyak

wangi berbius. Segera ia menyuruh isterinya memberitahu

kepada Yok Lan dan Li Kun supaya berhati-hati.

Nyonya cantik itu keliarkan matanya yang tajam. Begitu

tertumbuk papa wajah Gin Liong yang cakap dan gagah,

seketika memancarlah mata wanita itu, pipinya merah.

Tiba-2 terdengar bentakan keras: “Perempuan busuk Hi

Hoan siancu, apakah engkau masih kenal aku !” sesosok

bayangan melesat menerjang wanita cantik itu.

Kiranya orang itu adalah si Tongkat-ular In Po Tin,

tokoh kesatu dari Lo-san Sam-ok, ia menyerang dengan

tongkatnya.

Melihat si wanita yang disebut Hi Hoan siancu atau

Dewi Bayangan itu tertawa mengikik:

“Tua bangka yang tak berguna, engkau hendak

mengantar jiwamu.”

Seorang dara baju hijau yang berada di belakangnya

segera ayun tubuh loncat turun dari kudanya dan

menghantam kepala In Po Tin dengan cepat.

In Po Tin menggerung marah, Dengan jurus Thiankiong-

shia-jit atau Memanah-matahari, ia putar tongkatnya

menyerang dara itu. Tring, dengan meminjam tenaga

benturan senjata itu, si dara baju hijau melenting ke udara

lagi.

Gin Liong terkejut, hanya salah seorang bujang dari

Dewi Bayangan tetapi sudah sedemikian lihaynya. jika

demikian alangkah hebatnya kepandaian Dewi Bayangan

itu.

Begitu di udara, dara itu berjumpalitan dan melayang

turun di belakang In Po Tin, sampai dua tombak jauhnya.

In Po Tin menggerung keras dan berputar tubuh lalu

loncat menerjang lagi dengan jurus Heng-sau-ngo-gak atau

Membabat-lima-gunung di babatnya kaki si dara yang

belum berdiri tegak itu.

Si dara menjerit kaget, cepat2 ia turunkan golok

menangkis, Tring . . dara itu menjerit lagi dan goloknyapun

terlepas dari tangan.

In Po Tin tak mau memberi ampun lagi, ia segera

menutuk dada dara itu dengan jurus Koay-bong-jut-tong

atau Ular-naga-keluar-guha.

Melihat itu berobahlah wajah Dewi Bayangan. Berpuluh

dara pengiringnyapun menjerit kaget, Tetapi mereka tak

sempat berbuat apa2.

Gin Liong tak senang melihat perbuatan In Po Tin yang

main bunuh itu. Dengan menggembor keras ia ayun tubuh

ke udara seraya lepaskan sebuah pukulan. Angin pukulan

itu melanda lambung In Po Tin. In Po Tin terkejut.

Terpaksa ia tarik tongkatnya dan loncat ke samping, Tetapi

pada saat In Po Tin loncat menghindar itu, berpuluh-puluh

benda kecil menyerupai bintang emas telah berhamburan

mencurah ke arah kepalanya.

In Po Tin terkejut Cepat ia putar tongkatnya, Tring,

tring, tring . . benda2 berwarna emas itu berhamburan jatuh

ke empat penjuru.

Ternyata benda2 berwarna emas itu adalah senjata

rahasia Uang-emas yang ditaburkan Dewi Bayangan.

“Perempuan hina, hari ini kuampuni jiwamu. Tetapi

pada suatu hari aku pasti akan mengambil batang kepalamu

!” sambil menuding Dewi Bayangan, In Po Tin berteriak

marah,Matanya memancarkan sinar dendam kesumat yang

bernyala-nyala. Rupanya diantara kedua itu pernah terjadi

suatu dendam yang hebat.

Dewi Bayangan masih tetap berada di punggung kuda,

Dengan matanya yang bersinar cabul, ia tertawa santai:

“Tua bangka, engkau sendiri yang tak berguna, mengapa

engkau salahkan aku mendepakmu.”

Merah padam wajah In Po Tin. Cepat ia menukas:

“Perempuan busuk yang tak tahu malu”

Rupanya tak tahan lagi In Po Tin menahan luapan

kemarahannya, Segera ia loncat menerjang Dewi

Bayangan.

Tetapi dari barisan dara pengiring Dewi Bayangan,

segera berhamburan hujan bintang-emas menyongsong In

Po Tin. In Po Tin tak berdaya mendekati Dewi Bayangan,

ia harus loncat dua tombak ke belakang.

“Perempuan busuk, apakah engkau berani bertempur

sampai mati dengan aku ?” teriaknya menantang.

Dewi Bayangan kerutkan dahi dan mencemoh “Siapa

sudi melayani seorang tua bangka seperti engkau? Hanya

mengotorkan tanganku sajalah”

Karena selalu dimaki tua bangka, gemetarlah tubuh In

Po Tin karena marahnya.

Dewi Bayangan tak menghiraukannya ia loncat turun

dari kuda dan menghampiri ke tempat Gin Liong, Gin

Liong tahu bahwa wanita yang bertingkah genit itu tentu

bukan wanita baik, ia mendengus muak melihatnya.

Tiba2 Dewi Bayangan membentak ketiga Lo-san Samok:

“Enyah !”

Entah bagaimana ketiga jago jahat dari Lo-san itu hanya

deliki mata kepada Dewi Bayangan tetapi mereka tak berani

berbuat apa2 dan terus menghampiri kuda dan

mencongklang pergi.

Dewi Bayanganpun melanjutkan langkahnya ke tempat

Gin Liong.

“Siauhiap” serunya dengan nada genit, “usia mu masih

begitu muda dan tampan sekali, Kalau tak salah engkau

tentu siau Gin Liong yang mendapat kaca wasiat dari Bulim

Seng-ceng itu”.

Melihat wajah Gin Liong mengerut kemarahan wanita

itu tertawa mengikik: “Peribahasa mengatakan manusia

tentu akan saling berjumpa, Dan kalau berjumpah itu

berarti jodoh, Perlu apa engkau memberingaskan wajahmu

yang tampan ?”

“Sungguh tak tahu malu…” si jelita Li Kun yang sejak

tadi muak melihat tingkah ulah Dewi Bayangan, sambil

membentak dia terus loncat menyerang.

Dewi Bayangan tertawa. Sekali gerakkan tubuh ia dapat

menghindari tusukan Li Kun.

Serangannya luput, Li Kun makin marah, Pada saat ia

hendak menyerang lagi, tiba2 ia rasakan dadanya terbaur

suatu angin lembut. ia terkejut dan cepat loncat mundur

sampai setombak.

“Siapa yang suruh engkau turut campur urusanku, Siau

siauhiap toh bukan suamimu.” serunya.

Merah wajah Li Kun mendengar kata2 itu, ia

melengking dan menerjang lagi, walaupun tahu bahwa

pedang si jelita itu sebuah pusaka yang hebat, tetapi karena

mengandalkan ilmu kepandaiannya yang tinggi, Dewi

Bayangan tak gentar.

“Engkau sendiri yang cari mampus, jangan sesalkan

Dewi Bayangan bertindak kejam,” serunya seraya berputar

tubuh. seperti angin puyuh, tahu2 ia sudah berada di

belakang Li Kun.

Tetapi Li Kunpun cepat gunakan jurus Jay hong-hwe-lu

atau Burung hong-berputar-kepala, membabat ke belakang,

Kali ini Dewi Bayangan terkejut, ia tak menyangka nona

yang cantik itu memiliki gerak yang sedemikian hebat,

Sekali kebutkan lengan baju, tubuhnyapun menyurut

mundur.

Li Kunpun tak mau unjuk kelemahan sekali kaki

berayun, tubuhnya meluncur kemuka dan tahu2 ujung

pedangnyapun sudah menuju ke dada Dewi Bayangan.

Dewi Bayangan benar2 terkejut sekali, Dengan

melengking nyaring. Cepat ia geliatkan tubuh dan kebutkan

lengan baju lalu berputar putar cepat sekali.

Saat itu Li Kunpun sudah mendekat. Dengan jurus Giokhong-

can-ki atau Burung-hong-merentang-sayap, ia segera

memapas bahu kiri Dewi Bayangan.

Beberapa kali menerima serangan yang tak terduga-duga,

kejut Dewi Bayangan makin menjadi-jadi. Dengan

melengking keras ia segera ayun tubuhnya melambung ke

udara.

Sring, pedang memapas dan menjeritkan berpuluh gadis

pengiring Dewi Bayangan, Dewi Bayangan sendiri sudah

melayang turun ke tanah. Ketika menunduk, ia melihat

ujung pakaiannya telah terpapas kutung oleh pedang Li

Kun. Keringat dingin bercucuran membasahi lehernya.

Li Kun masih penasaran. Dengan melengking ia

memburu lagi. Kali ini setelah menenangkan semangat,

Dewi Bayanganpun marah, serentak ia tertawa keras dan

berseru: “Budak kini, kalau aku tak mampu membunuh,

aku akan bunuh diri !”

Ia menutup kata-katanya dengan menggerakkan tubuh,

seketika tubuhnya berputar-putar menyerupai segulung asap

yang mengelilingi Li Kun.

Li Kun tetap memutar pedangnya dengan deras. Tetapi

setiap kali ia menusuk atau menabas, tentu hanya angin

kosong yang ditemui. Lama kelamaan, ia gugup juga,

Pandang matanya mulai berkunang-kunang, Terpaksa ia

mainkan pedang untuk melindungi diri. Tak mau ia

melancarkan serangan lagi.

Melihat itu Suma Tiong terkejut ia tahu bahwa wanita

cabul itu sedang menggunakan ilmu Hi hoan-sut atau

Bayangan kosong, yang termasyhur. Cepat ia mengeluarkan

seutas tali besi yang panjangnya satu meter.

Gin Liongpun melihat juga keadaan Li Kun yang

terdesak, Dengan menggembor keras ia terus loncat

menyerbu. Tetapi pada saat itu, Dewi Bayangan tertawa

genit dan tiba2 berputar-putar tubuh menyongsong Gin

Liong. Dan sebelum anak muda itu sempat bertindak Dewi

Bayanganpun sudah menamparkan sehelai sapu sutera

merah ke muka Gin Liong.

Karena tak menduga-duga, Gin Liong tak sempat

menghindar Sapu tangan sutera merah itu telah menampar

muka Gin Liong.

“Perempuan siluman engkau cari mampus…!” Suma

Tiong membentak dan terus menaburkan rantai besi.

Serempak dengan itu, Li Kunpun menyerang pinggang

Dewi Bayangan.

Tetapi wanita itu tak gentar ia tertawa genit lalu

melambung ke udara dan taburkan sapu ke muka Suma

Tiong.

Setitikpun Suma Tiong tak menyangka bahwa Dewi

Bayangan memiliki gerakan yang sedemikian cepatnya,

serentak ia mencium bau yang luar biasa aneh dan

wanginya.

“Celaka,” ia menjerit, lepaskan rantai besi dan rubuh.

Walaupun tak langsung ditampar sapu tetapi tebaran bau

harum itu tercium juga oleh Li Kun. ia terkejut dan cepat

loncat mundur sampai tiga tombak.

Tetapi suatu keanehan telah terjadi dan menyebabkan

Dewi Bayangan tercengang heran, Gin Liong yang

terdampar sapu itu tampak masih tegak berdiri, seolah tak

menderita pengaruh apa2. Bahkan Gin Liongpun heran

karena melihat Suma Tiong terjungkal rubuh. Tetapi karena

jelas yang membidikan itu Dewi Bayangan, maka Gin

Liongpun marah terus loncat menerjangnya.

Pucatlah seketika wajah wanita cabul itu. Senjata dupa

wangi Bi hun-soh-jun-hiang yang tak pernah gagal

merubuhkan lawan, ternyata tak mempan terhadap anak

muda itu. Terpaksa ia gunakan gerak Hi-hoan sut untuk

berlincahan menghindari serangan Gin Liong.

Gin Liong tertawa dingin, Setelah mengerahkan tenagadalam,

ia menekuk kedua lengan dan terus mendorong ke

muka.

Sebuah gelombang angin tenaga dahsyat serentak

melanda Dewi Bayangan yang tengah berlincahan laksana

seekor kupu.

Dewi Bayangan menjerit kaget Belum pernah ia melihat

pukulan yang sedahsyat itu. Cepat ia melambung beberapa

tombak ke udara, Karena tak mengenai sasaran, angin

pukulan Gin Liong tetap melanda ke muka kearah barisan

pengiring Dewi Bayangan, Rombongan gadis2 itu menjerit

kaget dan serentak berhamburan menyingkir ke samping.

Dalam pada itu Gin Liong loncat untuk mengejar Dewi

Bayangan Wanita itu makin terkejut, Cepat ia tamparkan

lengan baju untuk bergeliatan dua tombak 1agi. Tetapi Gin

Liongpun cepat genjot tubuh melayang ke udara, Dewi

Bayangan makin gugup, ia hendak meluncur turun.

Gin Liong mencoba menggunakan salah sebuah jurus

dari ilmu yang didapatnya dari kaca wasiat yang yang

disebut Leng-siau-kim-hong atau Malam-hari-menangkapburung

hong, Tubuh bergeliatan dan sepasang tangan

mengulur menyambar siku lengan Dewi Bayangan.

Dewi Bayangan menjerit kaget semangatnya serasa

terbang, Seperti seorang anak kecil, ia menyerah saja ketika

tubuhnya dibawa melayang turun ke tanah olehGin Liong.

Selekas tiba di tanah, Gin Liong membentak: “Lekas

berikan obat penawar agar engkau jangan menderita

kesakitan !”

Setelah menenangkan semangat Dewi Bayangan

menghela napas.

“Ah, Bi-hun soh-jun-hiang itu tak ada penawarnya.”

“Engkau mau mengeluarkan atau tidak!” bentak Gin

Liong seraya memperkeras cengkeramannya.

Wajah Dewi Bayangan pucat dan dahinya mengerut

kesakitan, Keringat dingin bercucuran, giginya

bergemerutukan keras.

Gin Liong kerutkan alis lalu membentaknya lagi: “Lekas

berikan obat itu !”

Tetapi wajah wanita itu makin membiru, napas terengahengah,

Mulutnya tak dapat berkata lagi karena menahan

kesakitan hebat.

Dara baju hijau yang ditolong Gin Liong tadi segera

menghampiri dan memberi hormat kepada Gin Liong.

“Siauhiap, memang Dewi kami tak mempunyai obat

penawar,” katanya dengan nada bersungguh.

“Lalu bagaimana cara menolong Suma tayhiap?” masih

Gin Liong tak percaya.

Merah muka dara itu. Bibirnya bergetar-getar tetapi

sampai beberapa saat tetap tak dapat mengeluarkan kata2.

“Bagaimana cara menolongnya? Apakah sudah tidak

dapat ditolong lagi !” hardik Gin Liong, Karena marah ia

telah memperkeras cekalannya.

Dewi Bayangan menjerit dan pingsan, Untung dara baju

hijau itu cepat dapat menyanggupi tubuh Dewi Bayangan

yang rubuh.

Gin Liongpun mengendorkan cengkeramannya, Li Kun

dan Yok Lan loncat kesamping Gin Liong.

“Mengapa nyonyahmu tak mau memberi pertolongan

kepada orang yang dicelakainya ?” teriak Yok Lan kepada

dara baju hijau itu.

Wajah dara itu tampak tegang dan akhirnya dengan

suara yang sarat ia berseru : “Nyonya Suma, mempunyai

obat penawarnya”,

“Ngaco !” bentak Gin Liong, Tetapi Yok Lan dan Li Kun

sudah terus berputar tubuh dan Rombongan dara

pengiringpun segera mengangkut pergi Dewi Bayangan,

Gin Liong terlongong heran, Ketika berpaling, dilihatnya

dara baju hijau itu tengah berbisik-bisik kepada Lok Siu Ing,

Entah bagaimana wajah Lok Siu Ing yang tegang,

bertebaran merah.

Berpaling ke lain arah. Gin Liong tak melihat lagi ketiga

imam jahat dari Losan,Mereka diam2 sudah angkat kaki.

“Huh, sudah menang mengapa masih cemas.” ketika

berjalan lewat disisi Gin Liong, dara baju hijau memandang

dan berseru pelahan.

Gin Liong termangu, ia tak tahu siapakah dara itu.

Tetapi setelah merenungkan beberapa saat, ia menyadari.

Dilihatnya Lok Siu Ingpun sudah memerintahkan beberapa

orangnya untuk membawa pulang Suma Tiong.

Diam-2 Gin Liong menyesal dalam hati, Hanya semalam

tinggal didesa itu tetapi telah membawa banyak kesulitan

Segera ia loncat hendak menghaturkan maaf kepada Lok

Siu Ing. Tetapi Lok Siu Ing malah berputar tubuh dan terus

lari.

Dalam pada itu rombongan gadis pengiring Dewi

Bayangan membawa wanita itu pergi.

“Ah, kitapun harus melanjutkan perjalanan,” Kata Li

Kun. Saat itu matahari sudah condong ke barat, Gin Liong

dan kedua gadis segera mencongklangkan kuda menuju ke

selatan

Tak berapa lama, matahari sirna dan seluruh penjuru

mulai gelap, Samar2 disebelah muka tampak sebuah desa,

Beberapa rumah penduduk memancar sinar penerangan.

“Malam ini terpaksa kita menginap di desa itu,” kata Li

Kun.

Masuk kedalam desa, mereka disambut dengan kawanan

anjing menyalak. Kuda hitam mulus meringkik keras dan

kawanan anjing itupun terkejut tetapi pada lain saat mereka

malah lebih keras menyalak.

Penduduk yang belum tidur berbondong-bondong keluar.

Seorang kakek menyambut dan setelah mendengar

keterangan Gin Liong, iapun menerima ketiga anak muda

itu bermalam didesa itu. Mereka bertiga di bawa kesebuah

rumah besar dan dijamu.

Masakannya enak dan ketiga anak muda itu minum juga

arak yang disuguhkan. Setelah makan, kedua nona itu

tampak lebih cantik. jika Li Kun seperti bunga tho, Yok

Lan seperti bunga mawar.

Melihat kecantikan kedua gadis itu, timbul rangsang

dalam hati Gin Liong, Dia memandang kedua gadis itu

dengan tak berkedip, Li Kun berdebar keras hatinya dan

darahnyapun meluap sukar ditindas.

Baru pertama kali sepanjang hidupnya, Yok Lan minum

arak maka cepat sekali ia menjadi mabuk.

“Liong koko, mungkin aku mabuk, Taci Kun aku hendak

tidur dulu” ia terus terhuyung-huyung masuk ke dalam

kamar.

Gin Liong dan Li Kun hanya tertawa melihat langkah

kaki Yok Lan yang terhuyung itu. Li Kun pun segera

berbangkit masuk kedalam kamar, Ketika berpaling,

hatinya berguncang keras, Karena saat itu dilihatnya Gin

Liong masih memandangnya dengan senyum hangat.

Entah bagaimana pemuda itu merasa membutuhkan

dekat dengan Li Kun. ia rasakan darahnya makin panas dan

merangsang, Teringat pula akan peristiwa bersama Li Kun

didalam perahu tempo hari, Dan tanpa disadari mulutnya

segera berseru memanggil: “Taci…”

Panggilan bagi Li Kun dirasakan suatu daya tarik yang

kuat sekali sehingga iapun menghampiri ketempat pemuda

itu. ia duduk disisi pemuda itu. Melihat sinar mata Gin

Liong yang membara, hati Li Kun makin berdebar keras,

ternyata sisa bebauan wangi yang ditaburkan Dewi

Bayangan mulai bertebar lagi.

Tetapi ia tak ingat lagi hal itu. Setelah minum arak, daya

asap wangi itu makin bergolak dan merangsang. Demikian

pula Gin Liong Karena minum arak maka khasiat dari

katak salju, mulai hilang daya tahannya.

Pada lain kejap Gin Liong segera memeluk Li Kun dan

Li Kunpun menyerah dengan serta merta. Keduanya makin

terangsang dan mulut merekapun segera saling bertaut

rapat. Mereka tenggelam dalam kehangatan bibir yang

semanis madu. Tetapi hal itupun masih tak dapat

memuaskan rangsangan yang makin meluap-luap dalam

hati kedua insan muda itu.

Pengaruh dupa wangi yang ditebarkan Dewi Bayangan

mulai bekerja. Gin Liong sudah kehilangan kesadarannya

lagi, perasaannya telah dikuasai oleh rangsangan nafsu, ia

tak puas dengan ciuman itu, Ada sesuatu yang

menghendaki kepuasan Gin Liong segera mengangkat

tubuh Li Kun terus dibawa masuk ke dalam kamar. Apa

yang terjadi adalah di luar kesadarannya, Keduanya telah

tenggelam dalam lautan madu . . .

Tiba2 Yok Lan terjaga. Rasa pening kepalanya sudah

hilang, ia segera bangun, Dilihatnya Li Kun tak berada di

ranjang sebelahnya, Samar2 ia mendengar erang pelahan

dari rasa kepuasan. Suara semacam itu belum pernah

didengarnya dan tak tahulah ia siapa yang mengerang2

penuh kenikmatan itu.

Jilid 8 Halaman 63/64 Hilang

Yok Lan terkejut dan cepat menyurut mundur lalu diam2

membaca dalam hati ilmu rahasia ajaran dari Hun Ho

siantiang yang disebut Mo-kiap-ban-wi-tmg-sim-hian-kang

atau ilmu menenangkan pikiran menghadapi ancaman dan

bujukan iblis.

Seketika hatinyapun jernih kembali Dan saat itu ia segera

mencari apa yang terjadi Tentulah karena terkena tamparan

sapu merah dari Dewi Bayangan maka Gin Liong sampai

lupa daratan dan melakukan perbuatan yang tak senonoh.

Saat itu iapun teringat akan dara baju indah yang

mengatakan kepada nyonyah Suma Tiong, bahwa obat dari

suaminya yang terluka itu hanya terdapat pada diri

nyonyah itu sendiri.

Saat itu kamarpun hening sunyi, Didengarnya Gin Liong

tidur mendengkur karena lelah dan isak tertahan dari Li

Kun, jelaslah apa yang terjadi Gin Liong seperti seekor

harimau lapar dan Li Kun terpaksa menyerah seperti seekor

kelinci.

Diam2 Yok Lanpun menggigil dalam hati, Jika ia tak

lebih dulu tidur, kelinci dalam terkaman Gin Liong itu

tentulah bukan Li Kun tetapi ia sendiri.

Merenungkan hal itu, ia segera kembali ke dalam

biliknya, ia takut Gin Liong akan mencarinya. Teringat

akan peristiwa tadi, diam2 ia menyadari bahwa Li Kun

telah menjadi korban dan mewakili dirinya. Memikir

sampai disitu, ia tak marah lagi kepada Gin Liong, bahkan

terhadap Li Kun-pun ia merasa kasihan.

Beberapa saat kemudian ia mendengar kamar disebelah

muka terbuka pintunya dan terdengar derap kaki orang

melangkah keluar, Namun ia tak berani keluar. Dari balik

selimutnya ia melihat Li Kun masuk, jelita itu mengemasi

pakaian dan rambutnya lalu mengusap airmatanya.

Yok Lan gelisah sekali, ingin ia bangun dan memeluk Li

Kun. ia memutuskan untuk berkorban dan membahagiakan

Li Kun.

Tetapi pada lain saat ia menimang, tindakan itu mungkin

akan mengejutkan dan menyinggung perasaan Li Kun.

Ketika Li Kun selesai berdandan dan masuk ke dalam

kamar, Yok Lan makin tegang dan buru2 pejamkan mata.

Li Kun lebih dulu duduk ditepi ranjang. Terdengar jelita

itu menghela napas kemudian baru naik ke ranjang dan

tidur disisinya,

Tak tahu bagaimana perasaan Li Kun saat itu, Mungkin

ia sedih dan marah terhadap tingkah laku yang liar dari Gin

Liong. Mungkin juga ia dapat memaafkannya karena tahu

bahwa Gin Liong telah terkena bubuk perangsang dari

Dewi Bayangan.

Karena tak tahan, Yok Liong membuka mata melirik Li

Kun yang tidur disisinya, Dilihatnya Li Kun tidur telentang

dengan kedua tangan ditempelkan ke dada.

Kedua matanya mengucurkan air mata, Melihat itu

ibalah hati Yok Lan. ia dapat memaafkan keadaan nona itu

dan bahkan ikut mengalirkan airmata.

Tak berapa lama, Li Kun tertidur. Dalam tekanan hatin

yang tak keruan rasanya, akhirnya Yok Lanpun tidur juga.

Entah selang berapa lama, ayampun terdengar berkokok

sahut menyahut, cuaca di luar tampak terang, Yok Lan

membuka dan melihat Li Kun masih tidur pulas. Dia segera

turun dari ranjang melangkah keluar, Di ruang depan lilin

sudah padam dan pintu terbuka. ia terkejut lalu lari ke luar.

Ia makin terkejut ketika melihat Gin Liong berdiri

dihalaman. memandang ke timur yang mulai merekah

mentari pagi, Di jalanpun sudah terdapat orang2 desa yang

berjalan menuju ke pasar dan ke sawah.

Dengan hati gundah, Yok Lan segera menghampiri Gin

Liong terkejut seraya berputar tubuh Tampak wajahnya

merah kemalu-maluan ketika melihat Yok Lan, bibirnya

gemetar hendak mengucap perkataan tetapi tak keluar.

Melihat keadaan Gin Liong yang jauh sekali bedanya

dengan kemarin, menangislah hati Yok Lan, Tetapi ia tetap

tenang, menghampiri kemuka pemuda itu dan bertanya

dengan lembut:

“Liong koko, apakah yang tengah engkau pikirkan ?”

Betapa derita hatin yang menyiksa Gin Liong sukar

dibayangkan, kalau tak mengingat masih harus melakukan

pembalasan dendam atas kematian suhunya, maulah

rasanya saat itu ia bunuh diri saja.

Apabila teringat akan perbuatannya semalam, ia hampir

tak percaya mengapa sampai dapat melakukan perbuatan

yang sehina itu. Tetapi saat itu pun ia menyadari bahwa

dirinya telah dicelakai oleh Dewi Bayangan sehingga tak

kuasa menguasai dirinya lagi, ia benci sekali kepada Dewi

Bayangan.

“Liong koko, engkau sedang memikirkan apa Mengapa

engkau tak mempedulikan aku ?” ulang Yok Lan karena

sampai lama Gin Liong diam saja.

Airmata dara itupun bercucuran.

Dengan suara sarat penuh rasa malu Gin Liong berkata:

“Aku tengah berpikir apabila aku telah melakukan suatu hal

yang berdosa kepadamu.”

“Tidak, Liong koko, engkau takkan berbuat salah

kepadaku…” cepat Yok Lan menukas.

Hati Gin Liong seperti disayat sembilu.

“Lan-moay, kalau aku benar2 berbuat salah kepadamu.”

“Tentulah bukan karena kehendakmu sendiri, tentu

karena terpaksa atau terkena suatu pengaruh yang sukar

engkau atasi. Dalam keadaan begitu, apapun kesalahan

Liong koko, aku takkan menyesalimu” kata Yok Lan

dengan tegas.

Hampir Gin Liong tak percaya pada pendengarannya,

semula ia kira Yok Lan tentu tak mau memaafkannya,

sekalipun begitu hatinnya tetap tersiksa.

Melihat Gin Liong mulai tegang, Yok Lan segera

mencekal kedua tangan sukonya, Tak tahan lagilah hati Gin

Liong, airmatanya bercucuran.

Tiba2 pintu terbuka, Gin Liong dan Yok Lan pun cepat

loncat masuk kedalam kamar, Yok Lan terus masuk

kedalam kamarnya sendiri. Dilihatnya Li Kun masih tidur,

Tetapi ketika menghampiri dan melihat keadaannya,

menjeritlah dara itu: “Liong koko, kemarilah lekas !”

Gin Liong terkejut dan cepat lari menghampiri

Dilihatnya mata Li Kun menutup rapat muka merah, bibir

seperti darah. Kening dan rambutnya basah kuyup dengan

keringat, tubuhnya memancarkan bau harum yang aneh.

Cepat Yok Lan membaca ilmu Hian-kang dalam hati dan

bau wangi itupun lenyap.

Gin Liong juga terkejut sekali, ia tak kira bubuk wangi

dari Dewi Bayangan itu mempunyai daya pengaruh yang

begitu hebat, Diam2 ia mengambil keputusan untuk

membasmi wanita siluman itu

Teriakan Yok Lan telah menyadarkan Li Kun Begitu

melihat Yok Lan, airmata jelita itu berhamburan keluar dan

berkata dengan nada gemetar: “Adik Lan..!”

“Taci Kun, engkau sakit !” seru Yok Lan dengan lembut.

Li Kun tak dapat berkata apa2 kecuali hanya bercucuran

airmata,

“Taci Kun, badanmu panas sekali, jangan banyak bicara,

tidurlah saja,” kata Yok Lan pula.

Li Kun menghela napas, Ketika melihat Gin Liong

berdiri di muka ranjang, iapun terbeliak. Begitu pula Gin

Liong. hatinya makin tersiksa, ia merasa berdosa telah

merusak kehormatan seorang gadis yang suci, iapun merasa

tak layak menjadi seorang pendekar karena dirinya sudah

melakukan perbuatan yang serendah binatang.

Wajah Li Kun makin meraih keringat makin mengucur

deras. Tiba- Yok Lan teringat sesuatu.

“Liong koko, manakah mangkuk kumala hijau yang

tempo hari Liong-li locianpwe memberikan kepadamu itu ?”

tanyanya.

Walaupun tak tahu apa maksudnya, tetapi Gin Liongpun

segera mengambil keluar benda itu dan menyerahkan

kepada Yok Lan, Yok Lan memeriksa mangkuk itu. Sebuah

mangkuk batu kumala hijau yang memancarkan beribu

sinar, jelas mangkuk itu sebuah benda pusaka yang jarang

terdapat di dunia.

Kemudian dara itu suruh Giu Liong mengambilkan air.

Gin Liong menurut, setelah mengambil air lalu dituangkan

kedalam mangkuk kumala itu.

“Lan-moay, apakah maksudmu ?” tanya Gin Liong.

“Bukankah tempo hari Liong-li locianpwe juga memberi

minum aku katak-salju direndam air ?” balas Yok Lan.

“Ya, karena saat itu masih punya…” belum sempat Gin

Liong mengatakan “katak-salju”, tiba2 air dalam mangkuk

itu mendidih dan mengeluarkan busa kecil2 lalu berobah

warnanya seperti susu.

Gin Liong terbeliak lalu bergegas menyuruh Yok Lan

segera meminumkan air itu kepada Li Kun. Yok Lanpun

segera minta Li Kun minum air dalam mangkuk kumala

itu, Tanpa ragu2 jelita itupun terus meminumnya.

Bermula ia kira air itu hanya dari pil atau obat pemunah

racun tetapi demi melihat wajah Yok Lan dan Gin Liong

begitu tegang, iapun lantas meminumnya sampai habis.

Serentak ia rasakan badannya makin dingin, Kepalanya

yang peningpun makin jernih, kesadaran pikirannya makin

terang.

Bermula Gin Liong masih cemas dan menanyakan

bagaimana perasaan Li Kun saat itu. Si jelita terus duduk

dan berseru : “Ah. sungguh obat dewa yang mujarab sekali,

Bukan saja hawa panas telah hilang, pun tubuhku serasa

segar sekali.”

Mendengar itu Yok Lan tercengang, serunya:

“Aneh, tempo hari sehabis minum, badanku terasa panas

sekali, pikiranku kabur dan mataku ngantuk sekali dan terus

tidur sampai hampir dua jam, Tetapi mengapa keadaan taci

Kun berlawanan dengan aku…”

“Karena air itu direndam dengan katak-salju,” Gin Liong

menjelaskan.

“Katak-salju”?” teriak Yok Lan, “mana binatang itu!”

“Kumakan !” sahut Gin Liong,

“Bagaimana engkau dapat memakannya ?” Gin Liong

segera menceritakan tentang peristiwa dilereng gunung

Hwe-sian-hong dulu.

Mendengar itu, Li Kun berkata: “Oh, itulah sebabnya

mengapa engkau mampu memukul mundur sam-ko.

Memang toako saat itu sudah menduga kalau engkau tentu

mendapat suatu penemuan yang luar biasa. Seorang

pemuda seumurmu, tak mungkin dapat memiliki tenaga

yang sedemikian saktinya.”

Demikian ketiganya lalu makan, Setelah itu, pak tuapun

menyiapkan kuda mereka. Nenek tua dan gadisnyapun

berada di halaman, singkatnya Gin Liong bertiga segera

melanjutkan perjalanan lagi.

Menjelang tengah hari mereka tiba disebuah kota sebelah

timur dan kecermatan Ki-he-koan. Mereka mencari rumah

makan besar yang mempunyai tempat untuk kuda. Setelah

jongos menyambut kuda, merekapun lalu masuk.

Tak banyak tetamu di rumah makan itu. Kebanyakan

mereka hanya pedagang2 biasa, jarang tetamu orang

persilatan Gin Liong bertiga duduk di meja yang dekat

dengan jendela. Dari situ mereka dapat melihat di jalanan.

Ketika Yok Lan memandang keluar, ternyata dimuka

rumah makan itu juga sebuah rumah makan. Dan pada

meja dekat jendela ia melihat empat orang imam tua

berjubah kelabu, Yang ditengah seorang imam berumur 50

an tahun, rambutnya sudah menjunjung uban, alis gundul,

muka bopeng, sikapnya gelisah dan matanya memandang

kearah tempat Yok Lan bertiga.

Sedang ketiga imam yang lain masih sibuk membuat

perhitungan rekeningnya. Rupanya mereka bergegas

hendak meninggalkan rumah makan itu.

Yok Lan curiga lalu membisiki suko dan Li Kun:

“Cobalah kalian lihat, imam tua yang duduk di rumah

makan sebelah muka itu !”

Ketika Gin Liong dan Li Kun memandang keluar

jendela ternyata keempat imam itu sudah turun dari loteng.

“Lan-moay, apakah engkau anggap mereka

mencurigakan ?” tanya Li Kun.

Sambil memandang Gin Liong, Yok Lan bertanya:

“Apakah bukan imam tua Hian Leng dari partai Kiong-laypay

?”

“Mungkin” kata Gin Liong.

“Taci Kun, mengapa kalian kenal mereka ?” tanya Yok

Lan.

Li Kun segera menceritakan peristiwa di gunung Hoksan

dimana mereka telah berjumpa dengan imam itu.

Demikian setelah selesai makan mereka bertigapun

segera melanjutkan perjalanan lagi, Dengan adanya imam

yang mencurigakan itu, mereka pun berlaku hati2.

Dengan ketiga ekor kuda yang pesat larinya, dalam

beberapa waktu saja mereka sudah mencapai 10-an li.

Disitu terdapat sebuah gunung yang hanya berpuncak satu

dan luasnya tak sampai sepuluh li.

Mereka berkuda disepanjang kaki gunung itu. Tak

berapa lama mereka melihat disebelah muka sebuah

bangunan yang merah gentengnya.

Gin Liong menghela napas dan berkata seorang diri:

“Walaupun tak tinggi tetapi gunung tentu indah

pemandangannya. walaupun tak dalam, telaga tentu ada

raganya. Membangun biara di gunung ini, setiap hari

membaca kitab suci, pikiran akan jernih, hatin pun

mendapat penerangan. Tentu tak sukar akan mendapat

kesucian dan jalan mencapai kedewaan.”

Mendengar itu wajah Yok Lan serentak berobah dan

berpaling memandang sukonya dengan pandang rawan.

Juga Li Kun terkejut, matanya berlinang-linang hendak

menitikkan airmata, ia mempunyai perasaan bahwa Gin

Liong sudah jemu akan dunia yang penuh lumpur kedosaan

ini. Diam2 iapun ber janji dalam hati, Apabila Gin Liong

benar hendak masuk menjadi murid biara, iapun akan

mencari sebuah biara yang sunyi dan menjadi rahib.

Saat itu mereka tiba di muka gunung, Ternyata gunung

itu walaupun tak berapa tinggi tetapi puncaknya tak kurang

dari seratusan tombak luasnya. Gunung penuh dengan

hutan pohon siong, Biara itupun sudah terlihat pintunya.

Memandang kemuka, lebih kurang setengah li jauhnya

tampak tiga orang tegak berjajar menghadang jalan.

Ketika memandang dengan seksama Gin Liong tertawa

dingin.

Yok Lanpun tahu bahwa yang di tengah itu adalah imam

tua bermuka bopeng yang berada di rumah makan tadi,

demikian pula yang dua. Tetapi yang seorang lagi ia belum

tahu.

Gin Liong bertiga hentikan kudanya pada jarak lima

tombak dari rombongan imam itu dan berseru: “Totiang

bertiga, mengapa tiada sebab apa2 menghadang jalan kami

?”

Imam tua bermuka bopeng itu memang Hian Leng loto,

segera ia menyahut: “Pinto Hian Leng telah menerima

perintah dari kepala biara Ki-he-kwan, Tiau Ing totiang

untuk menunggu tempat ini. Harap siau-sicu bertiga suka

singgah minumteh ke dalam biara.”

Karena ingin cepat2 melanjutkan perjalanan, Gin Liong

segera memberi hormat: “Aku masih mempunyai urusan

penting, tak berani membuang waktu. Harap lotiang bertiga

suku menyampaikan terima kasih kami kepada kepala biara

Ki-he-kwan atas kebaikannya”.

Hian Leng totiang tertawa: “Walaupun bagaimana

penting urusan sicu, namun kalau hanya berhenti sebentar

untuk minum teh, tentu tak akan menghambat perjalanan

sicu. Apalagi sicu bertiga menaiki kuda yang hebat, dalam

waktu singkat tentu dapat mencapai kota Ki-he-koan Tua

Ing totiang sudah lama mendengar sicu memiliki

kepandaian yang tinggi dan ilmu pedang yang tiada

tandingannya.”

Li Kun tahu bahwa Hian Leng totiang hendak mengulur

waktu saja, maka iapun marah dan terus membentak :

“Tutup mulutmu”

Cepat ia mencabut pedang dan mendamprat pula: “Jelas

hendak menuntut balas pada peristiwa di lembah gunung

Hok san, mengapa pakai alasan suruh singgah ke dalam

biara. Kalau mempunyai kepandaian lekaslah engkau cabut

pedangmu, tak usah banyak bicara. Kalau merasa tak punya

kepandaian lebih baik kalian menyingkir jika masih ribut,

pedang Pek-soang-kiam ditanganku ini akan mengantar

jiwa kalian ke akhirat.”

Mendengar nama pedang Pek-soang-kiam atau pedang

Salju-putih, berobahlah wajah Hian Leng seketika, ia tak

sangka bahwa nona jelita itu ternyata murid dari rahib tua

Liong San loni.

Gin Liong dan Yok Lanpun baru tahu kalau Li Kun

mempunyai pedang yang disebut Pek-soang kiam. Menilik

wajah Hian Leng berubah pucat, jelas pedang itu tentu

sebuah pedang pusaka yang hebat.

Imam Kong Beng dan Ceng Beng yang berdiri disisi

Hian Leng, sudah pucat,Matanya memandang kearah biara

Ka-hian-kwan di lereng gunung.

Hian Leng tertawa mengekeh.

“Heh… heh, kalian budak2 kecil berani membunuh dua

orang tianglo kami. Dendam itu tidak mungkin kami

maafkan. walaupun kepandaianku rendah, tapi aku tetap

hendak mengadu jiwa dengan kalian. Demikian pula kepala

dari biara Ki-he-kwan itu adalah sahabatku yang tak akan

memberi jalan kepada kalian.”

Habis berkata ia terus mencabut pedang, Melihat itu Li

Kun makin marah, teriaknya:

“Aku tak mempunyai waktu untuk meladeni kalian,

Ayoh, majulah saja tiga orang serempak.”

Mendengar itu Hian Leng tertawa nyaring. Sebaliknya

imam Ceng Beng dan Kong Beng makin pucat. Tetapi

karena Hian Leng sudah mengeluarkan pedang, terpaksa

kedua imam itupun mencabut pedangnya.

“Kalau kalian tak lekas menyerang, akulah yang akan

menyerang” seru Li Kun, seraya loncat turun dari kuda

terus dengan jurus Yan-swat-hui-hwa atau Salju-berlebarbunga-

berhamburan, menyerangHian Leng.

Kong Beng dan Ceng Beng membentak dan menyerang

dari kanan kiri, Sedang Hian Lengpun segera bergerak

maju.

Yok Laupun sudah loncat turun dari kuda, ia terkejut

karena ketiga imam itu benar2 maju bertiga, Berpaling ke

belakang dilihatnya Gin Liong masih tetap duduk diatas

kudanya.

Li Kun mendengus, ia segera mainkan jurus Ce-gwatkiau

hui atau Bulan-bintang-beradu-cahaya, berpencar

menyongsong Kong Beng dan Ceng Beng. Karena tahu

akan kelihayan pedang si jelita. kedua imam itupun

menyurut mundur lima langkah.

Saat itu pedang Hian Leng lotopun sudah tiba di muka

Li Kun, Ternyata serangan pada kedua imam tadi hanya

suatu gerak kosong untuk memikat Hian Leng, Selekas

Hian Leng benar2 menyerang, Li Kun berteriak nyaring,

menengadahkan tubuh dan secepat kilat pedang segera

diganti dengan jurus It-cut-keng-thian atau Sebatang-tiangmenyanggah-

langit.

Rupanya Hian Leng memang benar2 hendak mengadu

jiwa, Dia tak mau meroboh jurusnya, Tring, pedangnyapun

segera terpapas kutung, Tetapi sedikitpun imam tua itu tak

terkejut. Bahkan dengan meraung keras, tangannya

mengendap kebawah dan tusukkan kutungan pedang ke

perut sinona.

Dalam pada itu Kong Beng dan Ceng Beng tadipun

serempak membacok kedua bahu Li Kun, diserang dari tiga

jurusan itu, keadaan Li Kun memang berbahaya.

Gin Liong membentak keras terus loncat dari kuda,

sedang Yok Lanpun loncat menerjang.

Tiba2 Li Kun melengking keras. Tubuh condong ke

muka, menahan pedang kutung lawan dengan pedangnya

lalu dengan meminjam tenaga benturan itu, ia enjot

tubuhnya berjumpalitan kebelakang.

Gin Liong terkejut dan hentikan gerakannya Demikian

pula Yok Lan.

Karena penghindaran yang luar biasa dari Li Kun itu

maka bacokan Kong Beng dan Ceng Beng mengenai angin

kosong ,Tetapi Hian Leng tetap tak berhenti, dengan kalap

ia tetap menusuk kemuka. Sudah tentu kedua kawannya

menjerit kaget dan menangkis.

“Tring . .” mereka bertiga saling berhantam pedang

sendiri, Dan karena sama-2 menggunakan kekuatan,

benturan itu menyebabkan mata mereka berkunang-2. Dan

karena takut kalau Li Kun menyerang, cepat mereka

berputar diri lalu membolang-balingkan pedang kekanan

kiri.

Tiba2 pada saat itu dari lereng gunung terdengar sebuah

suitan nyaring, Mendengar itu semangat ketiga imam itu

bangun kembali.

Gin Liongpun memandang kearah gunung, Tampak

sesosok bayangan berlari secepat terbang menuruni gunung,

Ternyata yang datang itu seorang imam tua yang

rambutnya putih mengenakan jubah kelabu, punggungnya

menyanggul sebatang pedang.

Gin Liong cepat menduga bahwa imam itu tentulah

imam Tiau Ing, kepala dari biara Ki-he-kwan.

Pada saat imam Tiau Ing tiba di kaki gunung, dari arah

biara itupun segera muncul berpuluh imam jubah kelabu.

Saat itu Tiau Ing sudah melayang tiba di tengah Hian

Leng, Lebih dulu ia memandang muka muka Hian Leng

yang bengap karena saling bentur dengan kawannya sendiri

tadi.

“Kwan-cu”, segera imam Hian Leng memberi

keterangan, “yang membunuh kedua tianglo dari

perguruanku tempo hari, ialah budak itu.” ia menuding Gin

Liong yang berdiri diapit oleh dua nona.

Sejenak memandang Gin Liong bertiga, imam Tiau Ing

itu tertawa nyaring lalu berseru lantang:

“Kukira seorang manusia yang berkepala tiga berlengan

enam kiranya hanya seorang budak yang belum hilang bau

pupuknya.”

Nadanya congkak sekali seolah tak memandang mata

kepada Gin Liong yang dapat merubuhkan dua orang

tianglo partai Kiong-lay-pay. Dengan sikapnya itu, orang

menduga ia tentu memiliki kepandaian yang sakti.

Gin Liong kerutkan alis dan tertawa dingin: “Sebagai

kepala dari biara Ki-he-kwan, lotiang tentulah seorang

imam yang berilmu tinggi dan dapat membedakan

kejahatan dan kebaikan, salah dan benar. Melanggar

pantangan bagi kaum imam yakni temaha, congkak,

bohong.”

Imam Tiau Ing cepat tertawa menukas.

“Budak yang tak kenal tingginya langit dalamnya lautan,

berani benar engkau menilai diriku!”

Li Kun tak sabar lagi. Tanpa menunggu imam itu

menyelesaikan kata2nya, ia terus tampil ke muka dan

menggeram, “Karena engkau memang seorang imam yang

tak mengerti nalar dan tak kenal sifat manusia, mengapa

banyak mulut. Lekas cabut pedangmu agar jangan banyak

pejalan yang keburu datang di tempat ini”

Imam tua Tiau Ing melihat bahwa di sekeliling tempat

itu memang telah banyak pejalan-2. Anak buah biara Ki-hekwanpun

juga banyak yang datang, ia tertawa makin

angkuh.

“Sudah berpuluh tahun aku tak pernah menggunakan

pedangku Untuk melayani seorang budak perempuan

seperti dirimu, mengapa aku perlu memakai senjata”

Li Kun tak mau banyak bicara lagi. ia terus maju

menyerang Cepat dan dahsyat, dengan tertawa gelak2. Tiau

Ing kebutkan lengan jubah seraya menghindar ke samping.

Li Kun tertawa dingin. ia robah jurus ilmu pedangnya

dengan jurus Pok-coh-hun-coa atau Memukul-rumputmencari-

ular, segulung sinar pedang segera berhamburan

menimpah lawan.

Baru kaki tegak, pedang sudah memburunya lagi, benar-

2 membuat imam tua itu terkejut.

Dengan membentak keras, ia menyurut mundur tiga

langkah, kemudian maju lagi merebut senjata lawan dengan

ilmu Gong jiu-peh-jiu atau dengan tangan kosong merebut

senjata.

Li Kun mendengus geram. Setelah menyalurkan tenagadalam

ke pedang, ia berturut-turut menyerang tiga kali.

Selama ini belum pernah kepala biara Ki-he-kwan itu

menyaksikan suatu ilmu pedang yang sedemikian hebatnya.

Apabila ia tak menguasai ilmu pedang dan pukulan,

mungkin saat itu perutnya sudah pecah berhamburan.

Tetapi Li Kun sendiri juga terkejut ketika tiga kali

serangannya itu musuh dapat menghindarnya, tak berani

memandang rendah lagi.

Juga Gin Liong yang terus memperhatikan pertempuran

itu, diapun juga terkejut melihat kepandaian ketua biara Ki

he-kwan itu. hanya dengan tangan kosong ia mampu

melayani serangan pedang Li Kun.

Sedangkan Yok Lan hanya tegak dengan cemas, ia kuatir

kalau imam itu menggunakan pedang, kemungkinan Li

Kun tentu kalah.

Bertempuran berjalan makin seru, bayangan pukulan

sederas hujan mencurah, sinar pedang bagaikan kilat

menyambar, walaupun dengan tangan kosong tetapi

tamparan lengan jubah Tiau Ing itu seperti gelombang

mendampar, secepat angin melanda.

Li Kunpun tak kurang gesitnya, ia berencana dengan

tangkap selincah burung sikalam Makin lama makin gagah

sehingga sukar untuk mengenali kedua orang itu.

Diam2 Yok Lan menimang bahwa setelah menghadapi

kelima imam, seharusnya beristirahat dulu, Diam2 ia

memutuskan untuk menggantikannya.

Setelah mengambil keputusan, diam2 ia segera

menghafalkan beberapa jurus ilmu pedang ajaran Hun Hu

siantiang. Setelah itu baru berseru: “Taci Kun, harap

beristirahat dulu, Biarlah aku yang menggantikan.”

Sehabis berkata dengan gerak laksana burung hong, ia

melayang ke muka.

“Lan-moay, kembalilah . . ..” Gin Liong berseru kaget.

Tetapi serempak dengan itu Hian Leng loto sudah

merebut pedang imam Kong Beng dan terus menerjang Yok

Lan. Nona itupun hentikan gerakannya, balikkan tangan

dan tusukkan ujung pedangnya ke batang pedang Hian

Leng.

Hian Leng mengerang tertahan karena pedangnya tersiak

ke samping. Secepat itu pula Yok Lan meneruskan

membacok siku lengan kanan lawan.

Hian Leng menjerit kaget, ia lepaskan pedang dan loncat

mundur, keringatnya bercucuran deras.

Setelah mengundurkan Hian Leng, Yok Lan-pun

lanjutkan gerakannya menerjang imam Tiau Ing. Melihat

kedatangannya, Tiau Ing tertawa gelak2.

“Ha, ha, bagus, aku hendak menguji sampai mana

kepandaian ilmu pedangmu !” serunya, ia tinggalkan Li

Kun dan lari menyongsong Yok Lan. juga seperti

menghadapi Li Kun, imam itu tetap menggunakan kibasan

lengan jubahnya.

Li Kun marah, dengan memekik nyaring ia hendak

menerjang lagi. tetapi saat itu Yok Lan malah

menghentikan permainan pedangnya, imam Tiau Ing

tertawa dingin, kedua tangannya menampar dengan cepat

kearah lengan dan bahu dara itu.

Gin Liong dan Li Kun terkejut. Keduanya serempak

menjerit kaget.

Melihat si dara tak menangkis pun tak meng hindar,

dengan mendegus geram Tiau Ing lanjutkan kedua

tangannya menjadi suatu pukulan yang sungguh2.

Dalam detik2 yang berbahaya itu, tiba2 Yok Lan

gerakkan pedang menusuk tenggorokan si imam.

Kecepatannya bagaikan kilat menyambar.

Tiau Ing terkejut sekali, Dengan gopoh ia kebutkan

lengan jubah seraya menyurut mundur. Tetapi Yok Lan tak

mau memberi kelonggaran lagi, ia loncat maju dan

menabas, cres . . . . lengan baju kepala biara Ki-he-kwan

seketika terpapas kutung.

Yok Lan hentikan serangannya dan berdiri tegak. Saat

itu baru Gin Liong dan Li Kun mengakui bahwa apa yang

diagungkan orang persilatan bahwa ilmu pedang Hun Hu

siantiang itu merajai dunia persilatan memang bukan suatu

pujian kosong.

Dua buah gerakan Yok Lan tadi, menunjukkan suatu

jurus ilmu pedang yang luar biasa, penuh perobahan yang

tak terduga, tenang laksana air telaga, cepat laksana kilat

menyambar, lincah bagai ular terkejut, ringan bagai daun

kering gugur di tanah. Sungguh suatu ilmu pedang yang

jarang terdapat didunia persilatan.

Hian Leng dan berpuluh anak murid biara Ki he-kwan,

terlongong-longong heran. Diam-2 mereka menggigil dalam

hati. Kepala biara Ki-he-kwan memiliki ilmu permainan

pedang dan pukulan yang hebat, jarang orang dapat

menandinginya.

Tetapi menghadapi seorang dara baju putih yang tak

terkenal, kepala biara itu dipaksa harus mengucurkan

keringat dingin.

Diantara orang2 yang berkerumun di jalan itu terdapat

juga orang2 persilatan. Tanpa disadari mereka berteriak

memuji.

Ketika imam Tiau Ing berdiri dan melihat jubahnya

terbabat rompal, seketika wajahnya membesi, jenggotnya

sampai gemetaran. Sepasang matanya memandang Yok

Lan dengan pandangan kejut keheranan.

Sesaat mendengar sorak sorai orang yang menyaksikan

pertempuran itu, Tiau Ing makin merah padam mukanya,

serentak ia menengadahkan kepala dan tertawa nyaring lalu

berseru dengan congkak.

“Selama aku menggunakan pedang, jarang aku bertemu

dengan orang yang mampu menandingi. Sejak berpuluh

tahun, tiada seorang yang mampu melayani pedangku

sampai sepuluh jurus.”

Habis berkata ia memandang Gin Liong bertiga dan

berseru nyaring: “Diantara kalian bertiga barang siapa

mampu melayani aku sampai satu setengah jurus, kalian

bebas melanjutkan perjalanan…”

“Hm apakah engkau yakin dapat menghalangi kami”

tukas Li Kun yang marah terhadap kesombongan imam tua

itu.

Dengan mata memancar dendam, Tiau Ing memandang

ketiga anak muda itu lalu tertawa dingin. Kemudian

mengangkat tangannya dan tahu2 sudah mencabut pedang

dari bahunya.

Wajah Gin Liong berobah seketika, ia tahu bahwa

pedang imam itu sebuah pedang pusaka, ia meragu,

demikian pula Li Kun.

Tetapi Yok Lan yang sudah gemas segera menantang:

“Totiang sebagai seorang kepala biara, apa yang lotiang

ucapkan tentu dapat kita percaya. Baik, akulah yang akan

menerima pelajaran barang beberapa jurus dari lotiang . . .”

ia tersenyum-senyum sambil siapkan pedang, menunggu

serangan.

Kepala biara Ki-he-kwan sudah berpuluh tahun

meyakinkan ilmu pedang, Melihat sikap dara itu, seketika

berubah wajahnya. Dilihatnya dara itu mencekal pedang

lurus kemuka, semangat dan hawa murni telah dipusatkan

satu.

Kesemuanya itu merupakan sikap dari ilmu pedang

tingkat tinggi, Benar2 imam itu tak habis mengerti mengapa

dalam dunia persilatan telah muncul seorang dara yang

memiliki ilmu pedang sedemikian saktinya.

Diam-2 imam Tiau Ing mengeluh dalam hati karena

hilang kepercayaan pada dirinya, adakah ia mampu

memenangkan dara itu. seketika terlintas suatu pemikiran

dalam benaknya, ia tertawa gelak2, serunya:

“Jangan kuatir nona, pintu tak nanti menelan kata2 pinto

lagi. Asal engkau mampu melayani sampai sepuluh jurus,

pintu tentu akan melepaskan kalian bertiga.”

Diam2 Yok Lan sudah dapat membaca isi hati lawan,

jika tadi imam itu mengatakan hanya satu setengah jurus,

sekarang dia menghendaki sepuluh jurus, tetapi sebagai

seorang dara yang masih berdarah panas, Yok Lan pun tak

menyangkal.

“Baiklah, janji telah kita sepakati, silahkan lotiang segera

mulai !”

Tiau Ing tertawa gelak, serunya: “Pinto sudah berumur

80 tahun. rambut sudah putih semua, sudah tentu tak layak

untuk menyerang lebih dulu, Engkaulah yang menyerang

lebih dulu !”

Walaupun nadanya tenang tapi wajah imam itu memang

tegang, kerut kesombongannya sudah tak terlihat lagi.

Mendengar Tiau Ing bermula menyebut diri sebagai

kwan-cu atau kepala biara kemudian turun dalam sebutan

pinto, tahulah Gin Liong dan Li Kun bahwa imam itu

sudah terdesak dalam keadaan sulit, ibarat orang naik di

punggung harimau.

Bahwa dalam sekali gebrak saja, dara baju putih itu

sudah dapat mengalahkan Hian Leng, tahulah Gin Liong

bahwa imam Tiau Ing itu sudah tak mempunyai harapan

untuk menang, ia hanya berharap tidak sampai kalah saja.

Yok Lan yang cerdas, cepat dapat mengetahui isi hati

kepala biara Ki he-kwan itu. ia tertawa hambar, sebelah

mengiakan ia terus taburkan pedangnya dalam jurus burung

hong-keluar-sarang. Dua sinar pedang sekali berhambur

mengarah kedua bahu Tiau Ing.

Kepala biara Ki-he-kwan itu menyadari bahwa hal itu ia

berhadapan dengan seorang lawan yang tangguh, ia tak

berani memandang rendah lagi, Diam2 ia segera kerahkan

tenaga-dalam kelengannya lalu mengalir ke batang pedang.

Dengan mengandalkan pedang pusakanya ia hendak

coba merebut kemenangan.

Selekas Yok Lan menyerang kedua bahunya, Tiau Ing

lalu gunakan jurus Hun-hoa-hud-liu untuk membabat

pedang dara itu.

Yok Lan menyaksikan selainkan cepat pun gerakan

pedang imam itu mengandung tenaga dalam yang kuat

sekali, Mau tak mau, iapun harus berhati-hati untuk

menghadapinya.

Berputar tubuh dan mengisar langkah, ia endapkan

pedang dan menabas pinggang lawan. Melihat dua buah

jurus yang dimainkan dara itu merupakan jurus biasa,

semangat Tiau Ing bangkit kembali, demikian pula dengan

kesombongannya-pun timbul.

Dengan membentak keras, tiba ia robah gerakan

pedangnya, Dengan ilmu pedang yang dipelajari selama

berpuluh tahun, ia segera melancarkan serangan yang deras

dan dahsyat. Setiap gerakan pedangnya tentu merupakan

serangan maut dan mematikan

Demikian terjadilah suatu pertempuran pedang yang

dahsyat dan mengagumkan Deru angin dan sinar pedang

yang menyilaukan mata. segera melihat tubuh Yok Lan

dalam lingkaran sinar pedang yang ketat.

Dalam kepungan sinar pedang maut itu, tak hentinya

mulut Yok Lan melengking dan menjerit mengiring

permainan pedangnya untuk menangkis, Beberapa saat

kemudian sinar pedang imam Tiau Ing itupun makin

menyurut sekalian orang yang menyaksikan pertempuran

itu terkejut sekali.

Di lain pihak pedang Yok Lan masih tetap melancar

bagaikan air bengawan yang mengalir tiada hentinya, Setiap

kali tentu terdengar suara mendering ketika ujung pedang

dara itu menutuk batang pedang lawannya.

Pedang kepala biara Ki-he-kwan itu makin lamban

gerakannya, gulungan sinarnyapun makin pudar, sambil

berlincahan ke kanan kiri, ia terus menerus terdesak

mundur Dari menyerang ia berbalik diserang habis-2 an

oleh sidara, sehingga keadaannya pontang panting tak

keruan.

Terdengar desuh dan desah disertai seruan tertahan dari

orang2 yang menyaksikan di tepi jalan Berpuluh-puluh

imam anak buah biara Ki-hian-kwan serempak berobah

pucat wajahnya dan berdebar-debar keras.

Tak kecewa kepala biara Kai-he-kwan itu sebagai

seorang jago pedang yang telah mempelajari ilmu pedang

selama berpuluh tahun walaupun terdesak dan berlincahan

menghindar mundur tetapi dia tetap dapat menutup diri

dengan ketat sedikitpun tak terpengaruh suara hiruk dari

penonton.

Tujuan Yok Lan hanialah menyelesaikan sepuluh jurus

dengan cepat. Tetapi karena lawan telah berganti dengan

sikap bertahan, maka iapun memperlambat serangannya.

Sebagai seorang jago pedang kawakan, sudah tentu

kepala biara Ki-he-kwan itu dapat mengetahui isi hati si

dara, Tetapi ia tak berdaya untuk merobah situasi karena

pedang si dara itu masih tetap melancar dengan ketat. tanpa

memberi kesempatan lawan untuk mengisi lubang

kelemahannya.”

Demikian dalam beberapa kejap saja, pertempuran telah

berlangsung sepuluh jurus, Tiba-2 imam Tiau Ing tertawa

gelak2 dan terus loncat mundur sampai dua tombak.

Yok Lanpun hentikan pedangnya.

“Ilmu pedang totiang, benar2 jarang terdapat dalam

dunia, Terima kasih atas pelajaran berharga yang totiang

berikan.” seru dara itu.

Puas tertawa, kepala biara Ki-he-kwan itu berseru

nyaring: “Selama berpuluh tahun, baru kali ini pinto

bertemu dengan orang yang mampu melayani pedang pinto

sampai sepuluh jurus.”

Yok Lan geli dalam hati. Imam tua itu masih besar

mulut, tak menyadari bahwa sesungguhnya ia memang tak

mau menyerang lebih dahsyat lagi.

Kepala biara Ki-he-kwan berputar tubuh dan berseru

kepada anak buahnya: “Beri jalan dan pulang ke biara.”

Selekas menyimpan pedang tanpa menunggu

penyahutan Yok Lan lagi, imam itu terus kebutkan lengan

jubah dan terbang lari ke lereng gunung.

Karena pemimpinnya sudah pergi, kawanan imam

itupun segera berbondong-bondong lari mengikuti.

Karena gelagatnya jelek, Hian Leng, Kong Beng dan

Ceng Beng ketiga imampun ikut rombongan mereka.

Yok Lanpun cepat mengajak Gin Liong dan Li Kun:

“Mari kita lekas pergi, orang2 berbondong-bondong

kemari.”

Gin Liong dan Li Kun tertawa.

“Mereka sudah bubar, yang dari utara menuju ke selatan,

yang dari selatan menuju ke utara, Apabila lewat disini.

merekapun hanya ingin memandangmu sejenak.” kata Li

Kun tertawa.

Demikian mereka bertiga segera naik kudanya pula, Saat

itu matahari sudah mulai condong ke barat, Diam-2 Gin

Liong berkata dalam hati: “Ah, mungkin akan terjadi

sesuatu lagi.”

Berpaling ke belakang dilihat Li Kun berkuda di

belakang tetapi ketika memandang ke belakang lagi, ia

terkejut.

Di belakang ketiga ekor kuda mereka, tak berapa jauh

jaraknya, tampak seorang rahib menunggang seekor kuda

putih kembang. Rahib itu masih muda dan berparas cantik,

Usianya diantara dua-puluh empat – dua-puluh lima tahun,

mukanya berbentuk seperti buah tho kulit putih halus, alis

melengkung rebah seperti bulan tanggal satu, mata jeli

bersinar bening, bibir merekah merah, hidung mancung,

mulut mengulum senyum madu, menimbulkan kesan yang

memikat hati.

Rambutnya yang dikonde keatas menurut seorang rahib,

berhias dengan sebuah tusuk kundai kumala, jubahnya

berwarna kuning susu, mengenakan pakaian luar warna

jambon. Bahu menyanggul sebatang hud-tim atau kebut

pertapaan. Ia memandang Gin Liong lekat2.

Tergetar hati Gin Liong ketika beradu pandang dengan

rahib muda itu. Wajahnya bertebar merah, Buru2 ia

tenangkan hati dan berkata kepada Li Kun.

“Taci Kun, hari sudah gelap, mari kita percepat

perjalanan.”

Mereka bertiga segera mencongklangkan kuda lebih

pesat. Tetapi rahib itu masih tetap mengikuti

Tiba2 Gin Liong membaui tebaran angin yang

membawa bau harum yang aneh. Li Kun yang pertama

dapat mencium bau aneh itu,ia mendengus dan deliki mata

kepada rahib itu.

Sejak tadi Yok Lan tak memperhatikan soal rahib itu,

Ketika mendengar Li Kun mendengus geram, barulah ia

melihat rahib yang terus menerus memandang Gin Liong

itu.

Entah bagaimana hati Gin Liong makin berdebar keras,

ia tak berani memandang rahib itu lagi. Li Kun heran

melihat kegelisahan Gin Liong, Demikian pula Yok Lan.

Diam-2 Yok Lan menilai rahib itu. Seorang rahib itu

seorang biarawan yang sudah mensucikan diri.

Mengenakan pakaian warna yang begitu menyolok

sudahlah tidak pantas, Begitu pula naik seekor kuda yang

begitu tegar, ia mendapat kesan bahwa rahib itu tentu

seorang murid agama yang murtad.

“Taci Kun, mari kita cepatkan kuda !” karena muak, Yok

Lan segera mengajak Li Kun. Li Kun kembali mendengus

geram lalu melarikan kudanya.

Rahib itu memandang Li Kun lalu tertawa dingin,

walaupun mendengar, tetapi Li Kun dan Yok Lan tak ambil

peduli. Demi melanjutkan perjalanan keduanya tak mau

cari urusan.

Gin Liong tak mau melihat rahib itu, pun tak mau

memandang Li Kun, ia segera memacu kudanya.

Tiba2 rahib muda itu tertawa, serunya: “Siau-siangkong,

setelah mempunyai kawan perjalanan dua nona cantik, lalu

tak kenal lagi padaku?”

Mendengar itu Gin Liong tertegun. juga Yok Lan

terkesiap, Hanya Li Kun yang tak dapat menahan

kemarahannya lalu mendampratnya. “Sungguh tak tahu

malu, siapa yang kenal padamu ?”

Rahib cantik itupun berobah wajahnya dan menjawab

dengan nada dingin: “Entah siapa yang tak punya malu,

hm, tak tahu diri.”

Sudah tentu Li Kun merah padam mukanya. Dengan

menjerit keras ia segera mencabut pedang Pek song-kiam.

Rupanya rahib cantik itu juga marah, serunya: “Hm,

kalau tak diberi sedikit pelajaran, engkau tentu belum kenal

kelihayanku ” Habis berkata ia terus terjangkan kudanya

kemuka.

Orang-2 dijalan yang sudah terlanjur bubar memang

terus pergi. Tetapi yang belum berapa jauh, kembali lagi

untuk melihat ramai-ramai.

Melihat rahib itu melarikan kuda kearahnya, Li Kun

hentikan kuda, lintangkan pedang untuk menunggu.

Selekas tiba, rahib cantik itu segera mencabut hud-tim

lalu ditampar kearah dada Li Kun.

Li Kun benar2 marah terhadap tingkah rahib itu. Kuda

putih dikisarkan menghindar kesamping lalu diputar

kebelakang kuda si rahib, dengan diantar teriakan

melengking, ia balas menusuk rahib itu.

Rahib itu terkejut sehingga ia loncatkan kuda kemuka.

Kuda putih yang bernama si Putih milik Li Kun itu

memang seekor kuda yang tegar, ditambah pula Li Kun

mahir mengendarainya, Cepat ia pun memacu kudanya

memburu kemuka. Dengan jurus Pek hun kian jit atau

Menyingkap-awan-memandang-matahari, ia membabat

pinggang rahib itu.

Ketika berpaling terkejutlah rahib itu, Dengan

melengking keras ia ayun tubuhnya loncat dari kudanya

dan melayang ketempat kerumunan orang2 yang

menonton. Karena orang2 itu berjumlah banyak, Li Kun

tak leluasa mengejar, ia hentikan kuda dan mendamprat:

“Cis, tak tahu malu, tak pegang kesucian . . .”

Ternyata rahib cantik itu masih berada ditengah orang

banyak, Dengan santai ia menukas kata Li Kun:

“Perempuan hina, pada suatu hari engkau pasti akan kenal

keliehayan Biau Biau sian-kho tunggu saja !”

Saat itu Yok Lan menghampiri dan meminta Li Kun tak

usah meladeni rahib semacam itu, sedangkan Gin Liong

menganggap rahib itu tentu kurang waras pikirannya. Kalau

tidak masakan memanggil-manggil orang lelaki.

Demikian mereka bertiga segera melanjutkan perjalanan

lagi.

“Adik Liong, apakah rahib itu benar2 kenal padamu ?”

tanya Li Kun.

“Eh, jangan omong sembarangan aku tak pernah

melihatnya,” kata Gin Liong.

“Mengapa dia tahu engkau orang she Siau ?” Gin Liong

kerutkan dahi : “Ya, aneh, mengapa dia tahu she-ku ?”

Melihat sikap Gin Liong yang heran sendiri, Li Kunpun

tak mau mendesak lebih lanjut.

Dengan cepat mereka melalui tiga buah kota. Walaupun

ketiga ekor kuda mereka sudah basah kuyup dengan

keringat tetapi kecepatan larinya masih tak berkurang.

Saat itu matahari sudah tenggelam di sebelah berat.

Kabut malam mulai bertebar, jauh disebelah muka samar2

tampak pintu kota Lay- yang-koan.

“Taci Kun, lebih baik. kita ambil jalan besar saja, Kalau

mengambil jalan mengitar tentulah akan kehilangan jejak

Liong-li locianpwe.”

Kedua nona itu setuju. Begitu mereka segera menuju ke

kota Lay-yang-koan. Empat buah lentera besar tergantung

pada pintu kota.

Memang Lay-yang-koan sebuah kota yang besar dan

ramai. Tiba dipintu utara, tampak prajurit penjaga pintu

siap dengan senjatanya.

Gin Liong bertiga turun dari kuda dan masuk kedalam

pintu, Melihat ketiga anak muda itu mengenakan pakaian

orang persilatan dan menyanggul pedang, segera penjaga itu

tahu kalau mereka tentu berasal dari daerah Kwan-gwa atau

luar perbatasan.

Demikian Gin Liong dan kedua kawannya terus masuk

ke dalam kota, Kota itu memang benar2 ramai, penuh

dengan toko2 dan orang2 yang berjalan memenuhi

sepanjang jalan. Kehidupan malam, tampak meriah.

“Siau siauhiap !” tiba2 terdengar seruan seseorang.

Li Kun dan Yok Lan terkejut lalu hentikan kuda dan

berpaling kearah suara itu. Diantara kerumun orang,

tampak seorang nona baju hijau tengah melambaikan

tangan ke arah Gin Liong.

Usia nona itu baru diantara enam belas-tujuh belas

berwajah cantik dan masih bersikap seperti kanak2.

Melihat Gin Liong terkejut tetapi tak menyahut, dara itu

berseru pula dengan kurang senang: “Siau siauhiap, apakah

engkau tak kenal padaku?”

Tak pernah Gin Liong menduga bahwa di kota itu ia

bakal bertemu dengan dara yang nakal, setelah tenangkan

diri ia tertawa:

“O, kiranya nona ik, bagaimana dengan kedua orang tua

nona ?”

Dara itu memang Ik Siu Ngo. Melihat Gin Liong sudah

mengenalinya, ia tertawa. “Mereka juga disini, berada

dirumah penginapan itu” ia menunjuk sebuah hotel di

belakangnya, Kemudian bertanya: “Siau siauhiap, apakah

engkau tak mau ber temu dengan ayah-bundaku? Mamah

tetap teringat kepadamu, ia mengatakan kau nakal tetapi

menyenangkan”

Gin Liongpun teringat akan peristiwa ia bersembunyi

dibalik batu untuk mempermainkan nenek Ban atau ibu dari

Siu Ngo tempo hari, ia pun tertawa geli.

“Nona Ik, sungguh menyesal sekali, karena kami masih

mempunyai urusan penting, terpaksa kami akan

melanjutkan perjalanan. Lain hari kami tentu akan

menemui locianpwe berdua,” tiba2 Li Kun menyelutuk.

Gin Liong terkesiap, Terpaksa ia minta maaf kepada Siu

Ngo agar menyampaikan salam dan hormat kepada kedua

orang tuanya.”

“Eh, mengapa engkau tak memperkenalkan ke dua nona

yang naik kuda itu kepadaku ?” SiuNgo tertawa.

Gin Liong tertawa, Menunjuk pada Li Kun dan Yok

Lan, ia memperkenalkan : “lnilah nona Tio Li Kun dari

gunung Mo-thian-san. Dan ini adalah sumoayku Ki Yok

Lan”

Kepada kedua nona itu dengan tertawa kekanakan Siau

Ngo memberi hormat Li Kun dan Yok Lanpun balas

menghormat.

“Nona Ik” kata Yok Lan, “kami hendak melanjutkan

perjalanan ke selatan Apabila kalian juga ke selatan, kelak

kita tentu masih banyak kesempatan untuk berjumpa lagi”

Siu Ngo girang: “Baik, kalau begitu kelak kita pasti

berjumpa lagi. sekarang silahkan kalau kalian hendak

melanjutkan perjalanan.”

Setelah minta diri, Gin Liong bertiga menuju kepintu

selatan sekeluarnya dari pintu kota itu. mereka tiba

disebuah hutan kecil yang gelap. Sekeliling penjuru sunyi

senyap, Tetapi pada jarak belasan li disebelah muka tampak

cahaya lampu berkelipan. Tentulah sebuah rumah makan.

Karena lapar mereka segera menuju ke tempat itu.

“Kita berhenti di rumah makan ini.” kata Yok Lan

setelah tiba di tempat itu. Jongos cepat menyambut kuda

mereka.

Atas pertanyaan Gin Liong jongos menerangkan bahwa

kota ini adalah Lay-yang-koan. Dua belas li disebelah

selatannya adalah kota Lay-hok-tin.

Bertanya pula Gin Liong, apakah dalam beberapa hari

ini pernah kedatangan seorang li-hiap (pendekar wanita)

yang mengenakan mantel merah.

“Tak pernah terdapat lihiap semacam itu yang lalu

disini” menerangkan jongos.

Ternyata rumah makan itu juga sebuah rumah

penginapan Gin Liong menempati sebuah kamar dan Li

Kun berdua dengan Yok Lan sebuah kamar. Selesai makan

malam, merekapun masuk kamar masing2.

Tengah tidur, tiba2 Gin Liong dikejutkan oleh kesiur

angin halus dari kibaran pakaian ia terkejut, cepat turun

dari pembaringan terus membuka jendela dan loncat

kehalaman belakang lalu melayang keatas atap dan

bersembunyi ditempat gelap.

Memandang kesekeliling penjuru, ia melihat sesosok

bayangan kecil sedang berlompatan ke atap deretan kamar

di sebelah muka, Gerak orang itu hampir tak menimbulkan

suara apa2. Gin Liong terkejut atas kelihayan ilmu ginkang

orang itu. ia duga, orang itu tentu mempunyai maksud

tertentu.

Sejenak berhenti tiba2 bayangan itu lari kearah tempat

Gin Liong bersembunyi Sudah tentu Gin Liong kaget,

Buru2 ia menyurut kebalik talang.

Ah, ternyata bayangan itu bukan lain adalah rahib cantik

Biau Biau siankho siang tadi, seketika timbullah rasa muak

dan geram dalam hati Gin Liong.

Sambil berdiri di atas tembok halaman,

Matanya memandang lekat2 pada pintu kamar. Ketika

melihat pintu belum bertutup, wajahnya berseri girang,

Cepat ia melayang turun ke halaman dan sekali loncat ia

sudah berada di muka pintu.

Rahib itu mengintip kedalam kamar, hendak masuk tapi

ragu2. Tetapi akhirnya masuk jugalah ia.

Gin Liongpun cepat melayang turun ke halaman Dari

celah jendela ia mengintai dan melihat Biau Biau sian-kho

menghampiri tempat tidur. Wajahnya penuh memancar

hawa kecabulan

Seketika Gin Liong tahu apa maksud rahib itu. ia hendak

menghajar rahib itu tetapi tiba2 ia teringat akan ikrarnya

ketika di lembah gunung Hoksan, seketika hawa

pembunuhan, pun mengendap.

Tetapi ketika mendapatkan ranjang itu kosong Biau Biau

sian-kho kecewa sekali, wajahnya segera menampil

kemarahan. Cepat ia keluar dan melayang keatas rumah

pada deretan kiri. Gin Liong tetap bersembunyi di balik

talang.

Saat itu Biau Biau sian-kho menggunakan ilmu

bergelantungan kaki dikaitkan pada tiang penglari dan

kepala menjulai kebawah untuk melihat keadaan dalam

kamar itu.

Ternyata rahib cantik itu hendak mencari Gin Liong

tetapi karena tak dapat menemukannya terpaksa

mengangkat tubuh keatas atap lagi Ketika berpaling,

kejutnya bukan alang kepalang, pemuda yang dicarinya itu

ternyata tegak dibelakangnya.

Memang tadi setelah melihat gerak gerik rahib itu,

dengan menggunakan ilmu meringankan tubuh, Gin Liong

loncat di belakang rahib itu.

Karena kejutnya, Piau Biau sian-kho menjerit dan

menyurut mundur, Tetapi alangkah kagetnya ketika

kakinya menginjak angin, ia tahu kalau akan jatuh maka

cepat ia kebutkan lengan baju dan selekas menginjak tanah

ia melayang lagi keatas atap rumah sebelah barat lalu lari.

Saat itu Li Kun dan Yok Lan berhamburan loncat keatas

wuwungan. Melihat Gin Liong memandang kemuka

dengan marah, kedua nona itupun memandang ke muka

juga. Dilihatnya Biau Biau sian-kho sudah melewati dua

deret kamar dan tengah melarikan diri ke arah barat.

Li Kun marah. Cepat ia loncat mengejar, Gin Liong dan

Yok Lan terpaksa menyusul. Tetapi melihat dirinya dikejar,

Biau Biau sian-kho mempercepat larinya, Dalam sekejab

mata sudah tiba di luar kota.

“Liong koko, mengapa engkau tadi tak menghadang

rahib itu ?” seru Yok Lan setengah heran melihat sikap Gin

Liong.

“Tak leluasa bertempur dalam kota, lebih baik

menghajarnya diluar kota.” jawab Gin Liong, ia terus

pesatkan larinya mengejar rahib itu.

Tiba2 rahib itu berhenti, melengking dan taburkan

kebutnya ke arah Li Kun yang datang paling dulu, Li Kun

mendengus dingin, ia membabatkan pedangnya kearah

kebut rahib itu.

Melihat tadi Gin Liong tak turun tangan, Biau Biau Siankho

mempunyai tafsiran kalau pemuda im takkan

mencelakainya. Maka besarlah nyalinya, Berputar tubuh ia

menyelinap ke belakang Li Kun dan mengebut lengan nona

itu.

Li Kun sudah terlanjur membenci setengah mati kepada

rahib cabul itu, Dengan tangkas ia segera gunakan jurus

Heng-toan-kiang-ho atau Memotong-sungai-bengawan,

menabas pinggang Biau Biau sian-kho.

Rahib itu menggeliat mundur, kebutnya ditutukkan ke

muka Li Kun, Kembali Li Kun tertawa dingin, Sambil

condongkan kepala kesamping lalu menusuk, cret . .

pakaian bagian bawah dari Biau Biau sian-kho rompal,

Rahib itu menjerit kaget dan menyurut mundur.

Li Kun mengejar, pedangnya secepat kilat menabas

batang leher Biau Biau sian-khi.

“Taci, jangan membunuhnya . . ” teriak Gin Liong. Li

Kun terkejut, gerakannyapun agak lambat dan rahib itupun

tundukkan kepala menyurut mundur, Cret . . sanggul

rambut rahib itu terpapas jatuh.

Serasa terbang semangat rahib itu, ia menjerit nyaring

dan lari kearah utara, Gin Liong, Yok Lan dan Li Kun tak

mau mengejar.

“Biau Biau sian-kho, harap engkau dapat merobah

kelakuan dan kembali ke jalan yang benar.” seru Gin Liong.

Dari jauh kedengaran rahib itu berseru menjawab: “Hm,

jangan kalian pura2 menjadi orang baik. Pada suatu hari

aku tentu akan mencincang tubuh kalian”.

Li Kun menggeram: “Rahib itu memang sudah gelap

pikiran, Lain kali kalau bertemu lagi, aku tak mau

mengampuninya.”

Saat itu sudah lewat tengah malam. Lonceng genta di

kota berbunyi tiga kali, Tiba2 dari arah barat laut terdengar

derap kuda berlari cepat sekali dan tak berapa lama samar2

tampak empat sosok bayangan hitam lari mendatangi.

“Tengah malam berkuda melintasi hutan, tentulah

kawanan orang persilatan, Lebih baik kita bersembunyi.”

kata Li Kun.

Ternyata keempat kuda itu memang sangat cepat sekali,

Dalam beberapa kejab, mereka sudah tiba pada jarak

puluhan tombak.

Gin Liong memandang ke sekeliling. Sepuluh tombak

disekeliling tempat itu tiada tempat untuk menyembunyikan

diri. Selagi ia masih meragu, keempat penunggang kuda itu

sudah tampak, Untuk menyembunyikan diri jelas sudah tak

keburu lagi.

Keempat ekor kuda itu tegar dan perkasa, berbulu hitam

dan putih, Keempat penunggangnya mengenakan pakaian

ringkas kaum persilatan. Yang dimuka, seorang tua

berumur 50 tahun, pendek gemuk, muka brewok, mulut dan

hidung besar, tulang keningnya menonjol, pertanda seorang

tokoh yang tinggi ilmu lwekangnya. punggungnya

menyanggul sepasang senjata poan-koan-pit, matanya

bersinar tajam sikapnya angkuh sekali. Dia tentulah

pemimpin dan rombongannya.

Sedang yang tiga orang, mengenakan pakaian persilatan

warna biru, rata-2 berwajah bengis. Yang disebelah kiri,

bertubuh kurus, muka kuning dan menyanggul pedang.

Yang di sebelah kanan, bermuka hitam, brewok dan

menyelip sepasang kapak pada pinggangnya Sedang orang

yang dibelakang, telinga kirinya hilang, pinggang menyelip

sebatang golok bian-to.

Secepat angin keempat penunggang kuda itu melewati

tempat Gin Liong. Mereka dapat pula untuk memandang

Gin Liong bertiga.

Untuk menyingkir dari taburan debu, Gin Liong bertiga

segera menyurut mundur sampai dua tombak. Melihat itu

ketiga penunggang kuda yang dibelakang tertawa gelak. Li

Kun marah, ia segera hendak mencabut pedang, Tetapi

sesaat itu terdengar lelaki bertelinga satu berseru.

“Yu thancu, menilik pakaiannya, seperti kawanan budak

yang diceritakan orang itu,” katanya.

Orang tua pendek gemuk yang berada di muka

mendengus dan berpaling, hentikan kuda lalu berputar

kembali.

Gin Liong jengkel, ia tak ingin terlibat urusan tetapi

selalu dikejar-kejar urusan saja. Sedang Li Kun diam2

gembira karena ia memang muak dengan keempat

penunggang kuda nu. Tring, ia mencabut pedang.

Lebih kurang tujuh tombak jauhnya, keempat orang itu

loncat turun dari kuda lalu menghampiri ke tempat Gin

Liong. Orang tua itu tak mengacuhkan Li Kun yang sudah

menghunus pedang, ia berjalan dengan dada membusung.

Yok Lan cepat menduga bahwa keempat orang itu tentu

bukan orang baik. Sedang Gin Liong tetap tegak dengan

tenang, Hawa pembunuhan meluap, sesaat ia lupa akan

ikrarnya.

Setelah dekat, orang tua pendek gemuk itu berseru :

“Aku adalah thancu ketiga dari perkumpulan Thian-leng

kan, namaku Yu Ting Su bergelar Gun-se-poan-koan.

Menerima perintah kaucu, aku hendak mencari jejak orang

tua pemilik kaca wasiat yang konon berada dilembah

gunung Hok-sau. Menurut kabar2 yang tersiar di kota

Hoan-san-koan, kaca wasiat itu telah diberikan oleh seorang

pemuda baju putih yang membawa pedang, pemuda itu she

Siau nama Gin Liong.”

Sejenak berhenti untuk memandang wajah Gin Liong,

orang tua pendek itu bertanya:

“Menilik pakaianmu tampaknya engkau mirip dengan

pemuda itu, Benar atau tidak, lekas engkau kasih tahu

kepadaku Aku hendak lekas2 pulang melapor pada kaucu.”

Gin Liong tak sabar lagi melihat sikap dan kata2 orang

tua yang begitu congkak, cepat ia menyahut : “Benar,

memang akulah Siau Gin Liong.”

Tiba2 lelaki yang bertelinga satu tertawa gelak2, serunya

: Yu thancu, bukankah pandanganku tepat ? Mohon thancu

memberi ijin kepadaku untuk menangkap budak itu.”

Tanpa menunggu jawaban, dia terus melangkah maju

dan mencabut golok bian-to lalu ditaburkan menjadi

segulung sinar perak yang menyilaukan mata.

“Tio Hiangcu, tunggu dulu,” seru Yi Ting Su. “biarlah

dia menyerahkan sendiri pusaka itu agar kita jangan

membuang waktu harus turun tangan.”

Gin Liong marah sekali, ia tertawa nyaring: “Benar, kaca

wasiat itu memang berada padaku, jika kalian mampu,

silahkan mengambil.”

Berobahlah wajah Yu ling Su seketika.

“Budak yang tak tahu tingginya gunung Thaysan,

Engkau berani bersikap kurang adat dihadapanku !”

Habis berkata ia terus memberi perintah kepada lelaki

bertelinga satu untuk menangkap Gin Liong.

“Budak,” seru lelaki bertelinga satu, “jika raja Akhirat

memanggilmu tengah malam, siapa yang berani menahan

engkau sampai esok hari ? Engkau cari mati sendiri, jangan

persalahkan aku Tio toaya seorang ganas, Baiklah engkau

serahkan saja kaca wasiat itu agar jangan engkau menderita,

heh, heh . . .”

“Kalian telah ditipu orang.” seru Yok Lan, “cobalah

kalian pikir, jika sekian banyak jago2 silat ternama tak

mampu memiliki kaca wasiat itu, bagaimana kita dapat

memperolehnya ?”

Lelaki bertelinga satu itu deliki mata.

“Tuanmu tiada waktu untuk adu lidah, lekas engkau

menyingkir !” serunya. ia terus membabatkan dengan golok.

Li Kun yang sejak tadi muak melihat tingkah laku

keempat orang itu, segera loncat menyongsong dan

membentak: “Siapa sudi bicara dengan engkau, enyahlah.”

Li Kun menutup katanya dengan taburkan pedang ke

siku lengan lelaki bertelinga satu itu, walaupun tahu

permainan pedang nona itu lihay tetapi si lelaki bertelinga

satu tak menghiraukan Dengan tertawa dingin ia

menghindar lalu secepat kilat membacok bahu Li Kun.

Li Kun cepat merapat maju menusuk muka lawan,

Lelaki bertelinga satu itu menjerit kaget, ia tak menyangka

sinona dapat bergerak begitu cepat serentak ia menyurut

mundur. Tetapi Li Kun sudah dirangsang kemarahan.

Dengan tertawa geram ia tetap memburu maju dan

menabas.

“Aduh…” terdengar lelaki itu menjerit kesakitan karena

telinganya sebelah kanan terpapas jatuh, Dengan begitu ia

tak mempunyai telinga sama sekali, Lelaki itu kucurkan

keringat dingin.

Setelah memapas daun telinga, Li Kun tak mau

menyerang lagi, ia hanya tertawa dingin.

“Hm, kantong nasi yang tak berguna, masih berani cari

perkara” serunya.

Wajah Yu Ting Su berobah seketika, setitik pun ia tak

menyangka bahwa hanya satu gebrak saja, Tio hiangcu

sudah kehilangan daun telinga lagi.

Tiba2 kedua anak buahnya berteriak keras dan hendak

maju menyerang. Tetapi cepat Yi Ting Su mencegah:

“Kembalilah, kalian”

Kedua orang itu terpaksa hentikan langkah dan mundur

kembali.

“Kita hanya diperintah untuk menyelidiki jejak orang tua

itu, bukan untuk berkelahi. Tugas kita hanya melaporkan

kepada kaucu, jangan engkau kotorkan tangan berkelahi

dengan kawanan budak tak ternama.” serunya, ia terus

berputar tu huh dan mengajak ketiga kawannya

menghampiri kuda.

Li Kun tertawa dingin: “Enak saja kalian ngomong,

mengatakan pergi terus mau angkat kaki begitu saja”

“Engkau mau apa ?” tiba2 kedua lelaki berputar tubuh

dan membentak.

“Sudah tentu meminta pertanggungan jawab kalian” seru

Li Kun,

Yu Ting Su menengadahkan kepala dan tertawa nyaring:

“Benar2 seorang budak perempuan yang bermulut besar

Aku tak mau cari perkara, kalian malah cari mati. Baik,

akan kusuruh engkau tahu kelihayanku.”

Segera ia menghampiri Li Kun.

“Baik, akulah yang akan mencoba sampai dimana

kelihayanmu itu” seru Gin Liong.

Ilmu pedang Li Kun, Yu Ting Su sudah menyaksikan

tapi ia belum tahu sampai dimana kepandaian Gin Liong,

Dengan deliki mata ia segera hantamkan kedua tangannya

kearah pemuda itu. segulung angin dahsyat yang mampu

menghancurkan batu, segera melanda Gin Liong.

Pemuda itu tertawa dingin lalu menghindar kesamping,

menyelinap ke belakang Yi Ting Su. Tetapi baru ia berdiri

tegak, tiba2 lelaki yang bersenjata ruyung segera hantamkan

senjatanya ke kepala Gin Liong.

Gin Liong marah. Menghindar kesamping, dengan

menggembor keras ia gunakan jurus Liong-hok-song-hou

atau Naga-mendekam-sepasang-harimau, ia hantamkan

kedua tangannya kedua orang yang menyerang itu.

Bum . . lelaki bersenjata ruyung, mengerang tertahan,

terhuyung2 beberapa langkah lalu rubuh Lelaki bersenjata

kapak menjerit kaget karena kapaknya terlempar ke udara.

Maju selangkah Gin Liong menyusuli dengan sebuah

tamparan ke muka lelaki itu, Orang itu menjerit terhuyung2

dan muntahkan segumpal darah segar.

“Hai, budak, mengapa tak berani menyambut pukulanku

?” teriak Yu Ting Su, ia lontarkan sebuah hantaman dahsyat

pula.

Gin Liong tertawa nyaring. Setelah menghimpun tenagadalam

kearah lengan, ia segera menghantam.

Bum terdengar letupan keras disusul dengan hamburan

debu dan percikan batu yang bertebaran keempat penjuru.

Gin Liong tersurut dua langkah ke belakang, kedua

bahunya tergetar, sedang Yu Ting Su bergeliatan

meregang2 ketika tubuhnya terlempar ke belakang. Bum,

tubuhnya yang kate dan gemuk itu terbanting ke tanah,

jatuh terduduk.

Ketiga anak buahnya walaupun tahu, tetapi tak berani

menolong.Mereka takut kepada pukulan Gin Liong.

Wajah Yu Ting Su pucat, keringat dingin bercucuran,

pejamkan mata dan berusaha untuk mengambil pernapasan

Ketika mendapatkan tubuhnya tak menderita luka, ia

tercengang, Memandang ke muka dilihatnya Gin Liong

masih tegak berdiri dengan santai.

Yu Ting Su penasaran, serentak ia loncat bangun dan lari

menghantam Gin Liong : “Aku akan mengadu jiwa dengan

engkau”

“Hm, kalau sudah bosan hidup, akan kuantarkan ke

akhirat .” Gin Liong geram sekali melihat orang tua yang

tak tahu diri itu. ia menghindar terus menyelinap ke

belakang Yu Ting Su.

Tetapi rupanya Yu Ting Su sudah bersiap, cepat ia putar

tubuh, menggembor keras dan kakinya segera menyapu.

Gin Liong juga ingin menggunakan kaki, setelah

menghindar dari kaki lawan, ia mengirim tendangan yang

tepat mengenai pantat orang. Tubuh pendek gemuk dari Yu

Ting Su seperti bola yang ditendang melambung ke udara.

ia menjerit-jerit dan meluncur ke tempat ketiga kawannya.

Ketiga orang itu terkejut lalu beramai-ramai menanggapi

tubuh Yu Ting Su. Kemudian diletakkan di tanah.

Sambil mendekap pantat, Yu Ting Su meringis, pandang

matanya serasa kabur, kepala pening.

Melihat tingkah laku si pendek gemuk itu, Yok Lan

tertawa geli,

Sambil memandang kepada Gin Liong, Yu Ting Su

berseru: “Budak, kali ini aku mengaku kalah, Tetapi

janganlah kalian bergirang dulu, Pada suatu hari kalian

tentu harus merasakan kelihayan dari partai Thian lengkau.”

Gin Liong tertawa hambar.

“Jangankan hanya gerombolan tak ternama seperti

Thian-leng-kau. sekalipun partai persilatan besar yang

manapun juga kalau tindakannya jahat, aku tentu akan

menggempurnya !”

Yu Ting Su marah tetapi ia terpaksa menahan diri,

serunya: “Apakah kalian berani datang ke gunung Ke-kongsan

?”

“Gunung sekecil Ke-kong-san, masakan kami takut.

Hanya kalau aku kesana, dikuatirkan kalian tentu tiada

mempunyai batang kepala lagi.”

Berhenti sejenak ia berseru dengan bengis: “Lekas kalian

enyah, Paling lama dalam waktu sebulan lagi, aku tentu

akan datang ke Ke-kong-san untuk meminta batang kepala

yang kutitipkan diatas tubuhmu itu.”

Hampir pecah dada Yu Ting Sun mendengar kata2 itu.

Tubuhnya menggigil keras. Tetapi ia tak dapat berbuat

apa2, kecuali deliki mata lalu ngeluyur menghampiri kuda

dan terus kabur.

“Mari kita kembali rumah penginapan lagi.” kata Yok

Lan.

“Dimanakah letak gunung Ke kong-san itu?” tanya Gin

Liong.

Tetapi kedua nona itu mengatakan tak tahu.

“Baik, besok kita tanyakan pada jongos rumah

penginapan,” kata Gin Liong,Merekapun segera pulang.

Keesokan harinya, Gin Liong bertanya pada jongos

tentang gunung Ke-kong-san. Jongos itu gelagapan,

rupanya dia juga tak tahu.

“Hai, siapakah yang bertanya tentang gunung Ke-kongsan

itu ?” tiba2 terdengar suara orang berseru nyaring dari

sebuah kamar.

Seorang lelaki berwajah merah, kepala besar dan

mengenakan pakaian orang persilatan warna hijau muncul

dan tegak dengan sikap congkak diambang pintu sebuah

kamar. Tubuhnya kekar, tampaknya gagah perkasa.

“O, selamat pagi, toaya,” kata jongos, “tuan inilah.” ia

menunjuk Gin Liong.

Setelah memandang Gin Liong beberapa saat, orang itu

berkata: “Ke-kong-san terletak di karesidenan Kong-ciukoan

propinsi Holam, dengan naik kuda yang tegar,

setengah hari dapat mencapai gunung itu.”

Habis berkata ia terus masuk lagi kedalam kamar.

“Terima kasih, toaya,” seru si jongos, Kemudian ia minta

Gin Liong kembali kedalam kamar, ia hendak

mempersiapkan kuda dan makanan pagi.

Sambil makan, Gin Liong menceritakan tentang orang

lelaki tegar yang memberitahu tentang letak gunung Kekong-

san tadi.

Demikian telah selesai membayar rekening, Gin Liong

bertiga segera keluar. Ketiga ekor kudapun sudah siap.

Ketika hendak pergi, Giu Liong bertanya kepada jongos

apakah dalam beberapa hari yang lalu, pernah melihat

seorang wanita muda baju merah yang tiba dikota sini.

“Ada !” seru jongos,” bajunya merah, umurnya diantara

26-27 tahun . . .”

“Berapa lama?” cepat Gin Liong menukas, “Pagi tadi,

Rupanya semalam dia menginap dalam kota,” kata jongos.

Mendengar itu girang Gin Liong bukan kepalang.

Hampir ia tak percaya apa yang didengarnya, Kalau malam

ini tak berhasil, besok pagi tentu dapat juga menyusul

Liong-li locianpwe Pikirnya.

Ketika melanjutkan perjalanan, hari masih pagi sekali,

Beberapa li jauhnya disebuah muka, terdapat sebuah

rumah. Samar2 mereka mendengar suara orang

membentak. Kemudian disusul dengan gelak tawa yang

nyaring.

“Liong suko,” kata Yok Lan, “rasanya dalam hutan itu

terjadi pertempuran dari dua tokoh yang berilmu tinggi,

Lebih baik kita berjalan mengitari saja.”

Gin Liong dan Li Kun setuju tetapi sekeliling tempat itu

hanya daerah persawahan. Kasihan kalau sampai

merusakkan sawah2 petani.

Memandang ke muka, Gin Liong melihat dua sosok

bayangan tengah berhantam dahsyat. Tiba2 terdengar suara

teriakan nyaring, Segulung asap tebal berhamburan dari

hutan itu dan kedua sosok tubuh itupun tercerai, terhuyunghuyung.

Rupanya keduanya habis beradu pukulan.

“Anjing, mengapa engkau terus menerus mengikuti

perjalananku seperti seekor lalat ? Apa maksudmu ?” seru

sebuah suara.

Gin Liong terkejut ia serasa kenal dengan nada suara itu.

Tetapi ia lupa.

Kembali terdengar suara orang itu tertawa keras.

“Tua bangka, engkau hendak mencari budak itu ? Terus

terang saja. tak semudah itu, Kalau aku tak bisa

mendapatkannya, jangan harap engkau-pun

memperolehnya !”

Orang itu tertawa pula.

“Soal ini hanya kita berdua yang tahu. Agar rahasia itu

jangan sampai ketahuan lain orang, salah satu dari kita

berdua harus mati”

“Anjing tua, mengapa engkau tak mau bunuh diri dulu ?”

bentak suara yang melengking tajam penuh kemarahan.

Tiba-2 suasana dalam hutan itu diam. Mungkin karena

mendengar derap lari ketiga ekor kuda Gin Liong dan

kedua nona.

Saat itu ketiga pemuda itu hanya terpisah setengah li dari

hutan. Tiba2 terdengar suara melengking tajam lagi: “Lekas

hadang, yang datang tiga ekor kuda bagus !”.

Dua sosok tubuh meluncur keluar dan hutan dan

menghadang di tengah jalan.

“Hai kedua orang itu hendak merampas kuda kita.” seru

Yok Lan, Li Kunpun cepat mencabut pedangnya.

Kembali kedua orang itu saling berebut “Tua bangka,

engkau sudah memiliki pedang pusaka Oh-kim-cek-bakkiam.

Kali ini akulah yang berhak mendapat pedang

mereka.”

Melihat kedua orang itu, Gin Liong mendengus geram:

“Kedua manusia jahat itu memang sukar diperbaiki kali ini

tak dapat diberi ampun lagi.”

Ternyata kedua orang yang menghadang di tengah jalan

itu seorang imam tua dan seorang lelaki tua. Si imam

berwajah monyet, mulut lancip, mata kecil, mengenakan

jubah biru, mencekal sebatang hudtim bahunya menyanggul

sebatang pedang.

Sedang orang tua itu bermuka persegi, alis gombyok,

mata bundar, jenggot bercampur uban, mengenakan

pakaian biru langit.

Saat itu Li Kun dan Yok Lan sudah tiba pada jarak tujuh

tombak dari kedua orang itu, tetapi mereka tetap tak kenal,

Tetapi Gin Liong dapat mengenali mereka sebagai kepala

dari pulau Cui-leng-to dan pertapa Long Ya cinjin, ia

memberi isyarat agar kedua nona berhenti.

Melihat Gin Liong, kedua orang itu terkesiap lalu

tertawa gembira.

“Sungguh besar sekali rejeki kita, Menyusur ujung langit

tak ketemu, tanpa banyak membuang tenaga ternyata sudah

datang sendiri, Rupanya Kaca wasiat itu memang sudah

ditakdirkan menjadi milikku.” seru Long Ya cinjin. ia terus

maju menghampiri Gin Liong.

Yok Lan heran mengapa begitu melihat Gin Liong

mereka terus tahu kalau Gin Liong memiliki kaca wasiat

itu.

“Tua bangka, berhenti.” seru kepala pulau Cui-leng-to,

“tahukah engkau betapa hebat ilmu Meringankan-tubuh

dari budak itu ? Hati2, jangan sampai dia lolos lagi, Lebih

baik engkau terima usulku tadi. Lebih dulu kita berserekat

untuk menangkap budak itu lalu kita adu kesaktian lagi

siapa yang berhak hidup dan siapa yang pantas mati, untuk

menentukan siapa yang harus memiliki benda pusaka itu.”

Long Ya cinjin keluarkan mata dan hentikan langkah.

Rupanya ia terpengaruh juga atas ucapan kepala pulau Cuileng-

to.

Dengan masih naik kuda, Gin Liong muak terhadap

kedua manusia itu, Percuma saja ia hendak menasehati

mereka, Lebih baik ditindak dengan kekerasan ia segera

ajukan kuda menuju ke tempat Long Ya cinjin.

Bukan takut kebalikannya Long Ya malah tertawa

gembira karena ia mempunyai kesempatan untuk

merampas kaca wasiat dari Gin Liong. Kepala pulau Cuileng-

to tahu isi hati Long Ya cinjin, ia segera berdiri

dibelakang cinjin itu. Jika dapat biarlah Long Ya bertempur

dengan Gin Liong dulu, baru ia nanti turun tangan untuk

menyelesaikan mereka.

Yok Lan segera mencabut pedang dan berdiri di samping

Li Kun, Karena melihat sikap Gin Liong yang begitu hati2,

kedua nona itu menduga musuh tentu tokoh yang berat.

Kepala pulau Cui-leng-to hanya tahu bahwa Gin Liong

hebat dalam ilmu ginkang. Tetapi ia tak tahu sampai

dimana kepandaian silat pemuda itu. Maka iapun tak

memandang mata terhadap Gin Liong.

Gin Liong tetap ajukan kudanya ke muka. Tiba-2 Long

Ya cinjin menggerakkan kedua tangannya mendorong

kearah Gin Liong Segulung dingin pukulan yang dahsyat

segera melanda dada pemuda itu.

Gin Liong mendengus dingin, iapun segera songsongkan

kedua tangannya kemuka, sebuah gelombang angin

pukulan yang dahsyat segera meluncur. Melihat itu kepala

pulau Cui-leng-lo terkejut cepat kebutkan lengan baju dan

melayang setombak ke samping.

Bum, terdengar letupan dahsyat, disusul dengan debu

dan batu yang beterbangan ke segenap penjuru, Long Ya

cinjin dan Gin Liong sama2 terhuyung mundur sampai tiga

langkah.

Secepat kilat kepala pulau Cui-leng-to segera melangkah

maju sambil mengendapkan tubuh dan membentak:

“Budak, sambutlah sebuah pukulanku lagi . . .”

Karena melihat Gin Liong yang baru berdiri tegak sudah

dihantam lagi, Yok Lan dan Li Kun melengking kaget.

Melihat itu Gin Liong marah sekali, bentaknya: “Apa

susahnya menerima sepuluh kali pukulanmu lagi !”

Ia gerakkan kedua tangan untuk melepaskan sebuah

tamparan yang dahsyat, Kembali terdengar letupan yang

disertai dengan debu dan percikan batu yang tebal.

Kepala pulau Cui-leng-to terhuyung mundur sampai

beberapa langkah, wajahnya merah padam

Tetapi Gin Liong juga terhuyung2 ke belakang, ia

merasa tenaga pukulan kepala pulau Cui-leng-to itu lebih

hebat dari Long Ya cinjin.

“Terima sebuah lagi !”, Gin Liong berteriak dan

melangkah maju, Pada saat ia hendak menghantam tiba2 ia

dikejutkan oleh jerit teriakan keras. Ketika berpaling

dilihatnya Long Ya cinjin menerjang Yok Lan.

Rupanya hendak menjadikan nona itu sebagai sandera,

Cepat Gin Liong tinggalkan kepala pulau Cui-leng-to untuk

menyerang Long Ya cinjin.

Long Ya cinjin tertawa dingin lalu enjot tubuh melayang

beberapa tombak, Rupanya ia bermaksud hendak memikat

Gin Liong ke lain tempat.

Tepat pada saat itu kepala pulau Cui-leng to menyelinap

ke belakang Li Kun, terus menerkam bahu nona itu.

Yok Lan terkejut. Dengan melengking keras ia gunakan

jurus Pek-coa-tho sin atau Ular-putih menjulur lidah,

menusukkan ujung pedangnya ke siku lengan kanan kepala

pulau itu.

Tetapi kepala pulau Cui-leng-to tertawa dingin, tangan

yang sedianya diterkamkan ke bahu Li Kun secepat kilat

diputar, dengan tiga buah jari tangan ia menjepit batang

pedang Yok Lan.

Li Kun melengking seraya melangkah maju dan Yok

Lanpun cepat menarik pulang pedangnya, Gin Liong loncat

menerjang pertapa itu, Long Ya cinjin tertawa mengekeh

dan menghindar.

Walaupun Yok Lan cepat menarik pedang tetapi masih

kalah cepat dengan kepala pulau Cui-leng-to yang lebih

dulu berhasil menjepit pedang nona itu lalu sekali kerahkan

tenaga, pedang Yok Lanpun putus jadi dua. Kemudian

dengan tertawa keras, ia taburkan ujung kutungan pedang

kemuka Gin Liong.

Gin Liong mendengus geram, ia condongkan bahu ke

samping, lontaran kutungan pedang itu luput dan

menghantam Long Ya cinjin yang berada di belakang Gin

Liong.

Saat itu Long Ya cinjin memang hendak menerkam bahu

Gin Liong dari belakang, Terkaman luput ia tak sempat

memperhatikan lontaran pedang kepala pulau Cui-leng-to.

Untung ia masih dapat miringkan kepala sehingga hanya

jenggotnya yang terpapas habis, Ketika tangan merabah,

ternyata dagunya juga berdarah ia marah sekali.

Saat itu Gin Liong sudah menyerbu kepala pulau Cuileng-

to sehingga orang itu kelabakan dan memekik-mekik.

ia menghantam kalang kabut sekuat tenaganya, Gin Liong

enjot tubuh melambung ke udara melampau kepala lawan.

Pada saat kepala pulau Cui-leng-to menengadah

memandang ke atas. dengan suatu gerak yang cepat dan tak

terduga-duga. Gin Liong dapat menangkap kedua siku

lengan lawan. Kepala pulau Cui-leng to berontak sekuatkuatnya.

“Enyah !” dengan meminjam tenaga dari kepala pulau

Cui leng-to itu. Gin Liong yang sudah turun ketanah segera

mendorong sekuatnya.

Tubuh kepala pulau Cui-leng-to itupun seperti layang2

putus tali, terlempar ke tempat Long Ya cinjin.

Pertama karena ingin merebut sendiri kaca wasiat yang

berada pada Gin Liong, Kedua, karena marah jenggotnya

ditabur kutungan pedang tadi, melihat kepala pulau

melayang ketempatnya Long Ya cinjin, diam2 mencabut

pedang dan selekas kepala pulau Cui leng-to tiba

dihadapannya, ia segera menabas pinggangnya.

Terdengar jeritan ngeri, diiring dengan hamburan darah

dan rubuhlah tubuh kepala pulau Cui leng-to. Karena

terpapas kutung menjadi dua . . .

Sehabis menyelesaikan kepala pulau Cui-leng to, Long

Ya cinjin tengadahkan kepala tertawa nyaring.

Nadanya penuh dengan kebanggaan dan keganasan yang

menyeramkan. Kumandangnya sampai jauh menyusup

kelangit….

Yok Lan dan Li Kun tercengang. Karena tak menduga

dan dilakukan cepat sekali Gin Liongpun tak sempat lagi

menolong kepala pulau Cui-leng-to

Gin Liong marah melihat sikap dan tindakan Long Ya

cinjin yang ganas dan sombong. Cepat ia menggerung dan

loncat menerjang.

Long Ya cinjin terkejut. Dengan menggembor keras ia

membabatkan pedangnya kearah Gin Liong.

Anak muda itu terkejut juga, Cepat ia loncat ke samping

sampai dua tombak, sekalipun demikian mukanya terasa

perih seperti tertusuk jarum karena dilanda angin pedang

lawan.

Long Ya cinjin tertawa bangga, setelah menyelipkan

hudtim ke belakang punggung, ia terus menghampiri Gin

Liong.

Gin Liong tak mau memberi hati lagi, Serentak iapun

mencabut pedang Tanduk Naga, seketika di sekeliling

tempat itu terbaur oleh cahaya merah.

Tanduk Naga, Oh-bak dan Pek-soang-kiam, tiga buah

pedang pusaka serempak muncul di tempat itu.

Sesaat pedang Tanduk Naga keluar maka pedang Ohbak-

kiam atau pedang Hitam-mulus yang dipegang Long

Ya cinjin segera memancarkan dering yang melengkinglengking.

seketika berobahlah wajah Long Ya cinjin. ia

mengenali pedang Tanduk Naga itu sebagai pedang pusaka

nomor satu dari suku Biau, Langkahnyapun lambat dan

matanya memandang lekat2 pada pedang Gin Liong.

Kini Gin Liongpun maju menyongsong Long Ya cinjin,

ia anggap Long Ya itu seorang manusia ganas yang wajib

dilenyapkan.

Rupanya Long Ya cinjin hendak mendahului

menyerang. Dengan jurus Liong-hi-song-cia-tau Nagabermain-

sepasang-mutiara, pedang Oh-bak-kiam segera

ditaburkan menusuk kedua bahu Gin Liong.

Tetapi pemuda itu secepat kilat melancarkan jurus Hengtoan-

kiang-ho atau membabat-sungai-bengawan.

Long Ya cinjin terkejut, sambil mengendapkan

tangannya yang hendak diserang lawan, ia terus meluncur

mundur sampai dua meter.

Tetapi Gin Liong tak mau memberi kelonggaran lagi.

Sret, sret, sret, ia maju dan menabas tiga arah, alis, lutut

kaki dan menusuk perut. Gerakan yang dahsyat dari pedang

Tanduk Naga itu diiring dengan deru angin yang keras.

Long Ya cinjin menjerit2 seraya berlincahan menghindar

kian kemari. Tetapi ia tampak sibuk sekali dan terdesak

mundur.

Setelah dapat menguasai lawan, Gin Liong

memperkembangkan permainan pedangnya makin gencar,

Membabat, menusuk dan menabas. Gerak pedangnya tak

ubah seperti arus sungai yang mengalir tiada putus2nya.

Long Ya cinjin hanya mengandalkan kelincahan untuk

bertahan diri, kecongkakannya lenyap, tubuhnya mandi

keringat.

Saat itu kaki Gin Liong kebetulan akan membentur

mayat kepala pulau Cui-leng-to. Dia harus berkisar

kesamping, pada saat ia melakukan gerak mengitar itu,

pedangnyapun agak lambat.

Kesempatan itu tak disia2kan Long Ya cinjin, cepat ia

lancarkan serangan. Sinar pedang hitam bertaburan

mengarah dada dan perut Gin Liong.

Keduanya sangat hati2 sekali kepada pedang nya, Maka

mereka tak mau membenturkan pedang dengan pedang

lawan karena kuatir akan merusakkan pedang pusakanya.

Oleh karena itu maka Gin Liongpun terpaksa harus

mundur.

-ooo0dw0ooo-

Bab 8

Menaklukkan Ceng Jun sian-ki

Walaupun dalam ilmu pedang, Li Kun telah mendapat

gemblengan dari Bong-san loni tetapi ia belum pernah

menyaksikan pertempuran pedang yang sedemikian

dahsyatnya, Diam2 ia mengakui bahwa ia masih kalah

dengan Long Ya cinjin.

Sementara Yok Lan yang mengikuti jalannya

pertempuran itu, hatinya gelisah sekali sehingga tangannya

berkeringat. ia sudah dapat mengetahui kelemahan dari

ilmu pedang Long Ya cinjin jika di lawan dengan ilmu

pedang ajaran Huan Ho sian-tiang, seharusnya tangan

kanan Long Ya tadi sudah terpapas kutung, ia gelisah

karena saat itu ia tak mempunyai pedang.

Tiba2 terdengar Gin Liong memekik keras dan pedang

Tanduk Naga menghindar ke samping untuk sengaja

membuka sebuah lubang kelemahan.

Sudah tentu Long Ya cinjin tak mau mensia-siakan

kesempatan itu, bagaikan kilat menyambar, pedangOh-bakkiam

segera menusuk perut pemuda itu.

Gin Liong menggembor keras dan tahu2 pedang Tanduk

Naga sudah tiba dileher lawan, Gerak lingkaran pedang itu

bukan olah2 cepatnya sehingga Long Ya cinjin menjerit

kaget dan meluncur mundur.

“Cret . . . .” secarik jubah yang terbuat dari sutera biru

terbabat rompal, serentak dengan jurus Sun-cui-hui-coh

pula maka Gin Liong pun menusuk dada cinjin itu.

Kali ini Long Ya cinjin rasakan semangatnya benar2

seperti terbang. Dengan memekik keras ia tabaskan

pedangnya, Dalam keadaan terdesak seperti saat itu, ia

nekad hendak mengadu pedang.

Gin Liong tahu maksud orang, ia tertawa keras,

mengendapkan pedang Tanduk Naga dan sekonyongkonyong

terdengarlah jerit Long Ya cinjin yang nyaring dan

ngeri.

Sinar hitam dari pedang Oh-bak-kiampun lenyap, pedang

itu terlempar ke udara karena tangan kanan Long Ya

terbabat kutung.

Tetapi Gin Liong sudah terlanjur mengumbar

kemarahan. Sekali pedang Tandu Naga berputar lagi maka

batang kepala Long Ya cinjinpun terlepas dari tubuhnya,

dan darah merah yang menyembur keras.

Sambil mengawasi tubuh Long Ya cinjin yang masih

berkelejotan, teringatlah Gin Liong akan kata2 orang tua

kurus di gunung Hoksan tempo hari.

“Dalam keadaan terpaksa membunuh orang, mungkin

engkau tak dapat menghindari lagi.”

“Adik Lan,” tiba2 Li Kun berseru gembira, “engkau yang

ambil pedang di tegalan dan aku yang akan mengambil

kerangkanya di tubuh imam jahat itu”

Yok Lan melesat ke tegal untuk menjemput pedang Ohbak-

kiam yang sudah menancap hampir masuk semua ke

dalam tanah.

Kemudian setelah Yok Lan kembali dengan membawa

pedang itu, Li Kunpun sudah siap dengan kerangkanya.

Ketika dipadu dengan Tanduk Naga, ternyata pedang Ohbak-

kiam itu hampir tak ada bedanya. Hanya kalau pedang

Oh-bak-kiam itu memancarkan sinar hitam, pedang Tanduk

Naga bersinar merah.

Ketika memeriksa kerangka, ternyata kerangka pedang

itu terdapat ukiran seekor naga terbang yang ditabur dengan

batu permata.

“Benda pusaka, senjata pusaka harus dimiliki orang yang

berbudi jika pedang ini jatuh ke tangan adik Lan, barulah

mendapat pemilik yang sesuai” kata Li Kun tertawa.

Tetapi Yok Lan menolak, Kemudian sambil memandang

ke mayat Long Ya cinjin, ia berkata lebih lanjut:

“Walaupun pedang ini hebat sekali tetapi aku tak suka

memakainya.”

Li Kun heran tetapi Gin Liong tertawa, serunya: “Jika

adik Lan tak mau, kasih saja padaku”.

Ia segera mengambil pedang dari Yok Lan dan kerangka

dan Li Kun. Tetapi Li Kun tak puas.

“Engkau sudah punya pedang Tanduk Naga mengapa

masih menginginkan Oh-bak-kiam lagi ?” serunya.

Gin Liong tertawa: “Sudah tentu pedang Tanduk Naga

pemberian Liong-li locianpwe itu dapat kuhaturkan kepada

Lan-moay.”

“Tidak, itu pemberian dari Liong-li locianpwe

kepadamu.” Yok Lan menolak.

“Tetapi engkoh Liong berhak juga memberikan

kepadamu,” kata Li Kun tertawa, Tanpa berkata apa2 lagi

ia terus menyambar pedang Tanduk Naga dari punggung

Gin Liong lalu hendak dicabutnya, Tetapi karena dicabut,

kain pembalut kerangka pedangpun ikut terbuka, Dan

ketiga anak muda itupun terkejut.

Sejak menerima pedang Tanduk Naga, Gin Liong tak

pernah memeriksa dan disanggulkan dibelakang bahu, Kini

baru ia mengetahui bahwa kun pembungkus kerangka

pedang itu ternyata bertabur lukisan burung cenderawasih

dari batu permata.

“Ah. rupanya sudah kehendak Thian bahwa pedang ini

harus menjadi milik adik Lan” kata Li Kun gembira. ia

mencabut pedang itu dan seketika memancarlah sinar

gilang gemilang yang menyilaukan mata, Samar2 pedang

itu seperti mengulumdering suara.

“Aaah kedua pedang ini memang dicipta berpasangan.”

akhirnya Li Kun menarik kesimpulan.

Merah wajah Yok Lan mendengar keterangan itu.

“Mungkin Cici Kun benar,” kata Gin Liong, “baiklah

kita nanti tanyakan kepada Liong-li locianpwe, tetapi

Liong-li locianpwe mengatakan bahwa pedang Tanduk

Naga itu merupakan pedang nomor satu dari daerah

Biau….”

“Sudah tentu yang nomor satu,” seru Li Kun, “karena

kata2 Ci Hiong (betina-jantan) itu, huruf Ci yang didepan,

baru Hiong, Sejak dulu orang mengatakan Ci hiong-kiam

bukan Hiong-ci-kiam.”

Gin Liong dan Yok Lan tertawa, Tiba2 Gin Liong

berseru kaget: “Hujan !”

Merekapun cepat naik kuda lagi dan terus mencongklang

kedalam hutan, Hutan itu gelap sekali, Tak berapa lama

mereka dapat melintas keluar dari hutan itu. Hujanpun

mulai berkurang.

Mereka girang karena tak berapa jauh di sebelah depan

tampak sepercik sinar api. Segera mereka menuju ke tempat

itu, Ternyata percik sinar api itu berasal dari lereng sebuah

gunung karang, Dan mereka girang sekali setelah tiba

ditempat itu, mereka berhadapan dengan halaman sebuah

rimba panjang pohon liu, akhirnya mereka tiba di sebuah

pintu besar bercat merah. Belum sempat apa-apa, hujan

mencurah keras lagi. Terpaksa mereka larikan kuda naik ke

titian, menuduh dibawah payon pintu.

Ketika sepercik kilat memancar, mereka sempat

membaca papan nama yang tergantung diatas pintu,

seketika ketiga anak muda itu terkejut sampai menyurut

mundur setengah langkah.

Empat buah huruf besar warna merah yang tertera pada

papan nama itu berbunyi: Sian Ki Lok Wan atau Taman

hiburan dari dewa dewi.

Ditengah huruf2 itu tertancap empat batang badik yang

berkilau- kilauan, Ketiga ekor kuda itu pun terus menerus

mendesus tak tenang. Juga ketiga anak muda itu tak

tenteram perasaannya.

“Liong koko,” seru Yok Lan pelahan,” lebih baik kita

lekas lanjutkan perjalanan lagi. Tempat ini mungkin apa

yang disebut dunia persilatan sebagai Liu-to-hun jiu….”

Liu to-hun-jiu artinya meninggalkan golok hendak

membalas dendam.

Pembunuhan dalam dunia persilatan, kebanyakan

dilakukan secara menggelap, Masing2 fihak sering

membasmi juga orang yang mengetahui rahasia dirinya.

Kita tak boleh berada disini, agar jangan terlibat. Menilik

gelagatnya, orang yang mencari permusuhan itu tak sedikit

jumlahnya.” kata Li Kun.

Sambil memandang tulisan di papan itu ia menyatakan

pula. “walaupun kita tak takut tetapi tiada gunanya kita

harus terlibat urusan mereka, Apalagi kita harus lekas2

mengejar jejak Liong-li locianpwe.”

“Tetapi hujan lebat sekali, bagaimana kita akan

melanjutkan perjalanan ?” jawab Gin Liong.

Kedua gadis itupun terdiam. Memang hujan lebat sekali,

sukar untuk melakukan perjalanan. Sambil memandang ke

papan nama, berkatalah Gin Liong: “Rupanya orang yang

hendak mencari permusuhan itu sudah pergi dan

meninggalkan badik pada papan nama.”

Baru berkata begitu, dari atas loteng pintu besar itu

berhamburan angin berbau anyir (amis).

Gin Liong terkejut dan menanyakan kedua nona apakah

juga mencium bau darah. Kedua itu mengangguk,

Ketiganya segera menarik kesimpulan bahwa pemilik

bangunan itu tentu bukan. juga mereka melihat sepasang

thong-hoan (gelang baja).

“Kemungkinan besar orang yang mencari balas itu

apakah sudah berhasil.” kata Gin Liong.

Tetapi kecuali kilat yang menyambar, di sekeliling

penjuru itu sunyi senyap, Tiba2 Li Kun berteriak: “Lihatlah

!”

Menurutkan arah yang ditunjuk nona itu. Gin Liong dan

Yok Lan melihat di ujung pintu terdapat sebuah benda dan

ketika mereka menghampiri ternyata benda itu sebuah

tangan manusia yang kutung dan masih bercucuran darah.

Mereka anggap kesimpulan Gin Liong tadi benar, orang

yang menuntut batas itu tentu sudah berhasil dan pergi.

Mereka segera memasuki pintu itu. Ternyata merupakan

sebuah lorong panjang menuju kelereng gunung, sebelah

kiri dari lorong itu merupakan sebuah taman bunga yang

merentang sampai ke gunung, Di tengah taman bunga

dihias dengan gunung2an, pagoda dan cemara kate.

Saat itu- hujan sudah berhenti dan Yok Lan segera

mengajak melanjutkan perjalanan lagi, Tetapi saat itu Gin

Liong sudah loncat ke sebuah tikungan kiri.

Li Kun dan Yok Lan melihat di sebelah muka

menggeletak sesosok tubuh manusia tanpa kepala.

Keduanya terpaksa menghampiri ketempat Gin Liong,

Kepala orang itu terhampar di luar lorong, ditingpah air

hujan, Di pagoda kecil di tengah taman itupun seperti

terbaring dua sosok mayat, Ke tiga anak muda itu segera

menghampiri. Ternyata kedua mayat itu dari dua orang

gadis yang dadanya berlubang menganga lebar, mengerikan

sekali.

“Pembunuhnya benar2 seorang manusia ganas. Bahkan

dua orang gadis yang lemah, pun dijagal begitu kejam” kata

Gin Liong.

“Jika begitu jelas kita takkan menemukan manusia yang

hidup ditempat ini” kata Yok Lan.

“Begitulah tingkah orang persilatan. Untuk membasmi

saksi hidup mereka tentu mencabut sampai ke akarnya.”

kata Li Kun.

“Kita masuk kedalam bangunan ini, mungkin masih

terdapat korban yang dapat kita tolong.” kata Gin Liong

terus hendak loncat keluar dari pagoda kecil itu, tetapi tiba2

beberapa percik sinar penerangan di lereng gunung itu

padam semua sehingga suasana gelap sekali,

“Cepat, penjahat itu tentu masih berada digunung” seru

Gin Liong terus lari menuju ke lereng, Kedua nona itupun

mengikutinya.

Dalam beberapa kejap mereka sudah tiba di tengah

lereng. Mereka tak berani langsung menyerbu melainkan

bersembunyi dimuka sebuah gunungan palsu.

Di sebelah muka tampak sebuah ruang besar dimuka

ruang terbentang sebuah panggung yang lebar dan

berbentuk persegi, di atas panggung dikelilingi oleh pagar

batu dan bertingkat sampai belasan titian, Titian panggung

itu menuju kesebuah pintu besar mencapai ruang besar.

Di muka ruang besar itu penuh di hias dengan lentera

model keraton yang bergoncang2 tertiup angin. Ruang

gelap gelita, hanya tampak bayang2 lentera itu, Karena

letaknya tinggi, Gin Liong bertiga tak dapat melihat

keadaan ruang itu.

Gin Liong menjemput sekeping batu kecil lalu

dilontarkan ke arah ruang besar, Bluk, batu itu jatuh ke

tubuh manusia atau mungkin pada lembar kulit tebal.

Setelah tak ada reaksi apa2, Gin Liong melesat kemuka

panggung, serentak hidungnya terbaur bau anyir dari darah

manusia yang berasal dari ruang diatas.

Mereka bertiga segera mendaki naik ke arah pintu, Gin

Liong siap dengan pedang Oh-bak-kiam, Demikian pula

dengan Li Kun dan Yok Lan.

Ketiga pedang pusaka itu memancarkan sinar berkilat

yang menerangi sekitar tempat itu. Tetapi serempak itu Li

Kun dan Yok Lan menjerit dan mundur dua langkah,

Ternyata ruang besar itu penuh dengan tumpukan mayat.

Darah mengalir sampai keluar ruang.

Gemetar tubuh Gin Liong karena marah menyaksikan

pembunuhan terkutuk itu. Ternyata mayat2 itu terdiri dari

gadis2 berpakaian indah. Hanya terdapat empat lima orang

lelaki yang mengenakan baju bersulam benang emas,

Korban2 itu kebanyakan dada dan perutnya berhamburan

dan yang lelaki tangan dan kepalanya hilang.

“Ah, tak kira didunia terdapat manusia yang begini

kejamnya,” Gin Liong menggeram, ia terus melangkah

masuk kedalam ruang, Yok Lan dan Li Kun melindungi

dibelakangnya, Mereka teruskan masuk ke dalam dan

mendorong pintu tengah. Tetapi tak melihat barang seorang

manusiapun juga.

Yok Lan mendapat akal, ia menyulut sebuah lentera

ternyata minyaknya habis.

Tiba2 mereka mendengar tebaran pakaian didera angin,

Setelah diperhatikan, ternyata bunyi itu berasal dari seorang

yang memiliki ilmu ginkang hebat tengah lari keatas

gunung, Menilik suaranya tentu bukan hanya seorang saja,

Entah siapa pendatang itu, lebih baik bersembunyi dulu,

Mereka bertiga segera bersembunyi dibalik pintu tengah.

Tetapi pada lain saat Gin Liong merasa, pendatang itu

tentu akan curiga dan tentu akan mudah mengetahui

persembunyiannya. ia hendak mendorong Yok Lan keluar

tetapi terlambat, Kawanan pendatang itu benar2 cepat

sekali,Mereka sudah memasuki ruang, Terpaksa Gin Liong

batalkan maksudnya.

Beberapa saat kemudian tiba2 terdengar jeritan seorang

gadis, Ternyata dalam rombongan pendatang itu terdapat

juga seorang anak perempuan yang tentu ngeri melihat

pemandangan dalam ruang itu.

Yang datang ternyata tiga orang, Terdengar mereka

berbisik2 merundingkan rencana, Gin Liong hanya dapat

menangkap pembicaraan mereka terputus-2

Seorang bersuara kering kedengaran berbisik: . . jangan

kuatir . . kepandaian tinggi , . benda itu . . bukan tandingan

.

Seorang bernada dingin rupanya penasaran : ” . . apabila

. . dan tak siap . .”

Gadis tadi menangis terisak-isak.

Orang bersuara parau seperti menghibur: ” , . . . jangan

menangis . . . mereka . . . tidak disini. atau . . . kelain

tempat. . .”

Orang yang bersuara dingin tadi berkata : ” . . . . ke lain ..

. menyelidiki . . . dapat. . . bertemu mereka.”

Tetapi gadis itu rupanya bertabiat keras kepala, ia

menangis : “Tidak, aku akan .. . . melihat… tadi . . . , ada

lentera…”

Pembicaraan mereka terhenti dan suasana diluar

ruangpun sunyi lagi.

Tuk, tuk, tuk . . . terdengar tongkat besi mendebur lantai

disertai derap langkah kaki orang,Mereka memasuki ruang,

“Korek !” kata orang yang bersuara dingin, Pada lain saat

ruang itupun terang benderang, Terdengar orang bersuara

parau menghela napas.

“Hm, Golok-terhang Ui It Liong benar2 berhati buas

sekali ?” serunya.

Gin Liong terkejut, Rasanya ia pernah kenal dengan

nada suara orang itu, ia hendak menyiak tubuh Yok Lan

untuk melongok keluar, Tetapi saat itu ruang terdebur

tongkat dan langkah kakipun berderap-derap kian kemari.

“Budak perempuan, mana budak laki itu ?” seru orang

yang bersuara dingin.

Kini tak sangsi lagi Gin Liong siapa orang itu, cepat ia

berseru: “Apakah diluar itu bukan Ik locianpwe berdua ?”

Terdengar suara orang tertawa gelak2. Dia bukan lain

adalah Kaki-tunggal-bertongkat-besi Ik Bu It yang

menggetarkan wilayah Lulam.

“Bagus budak, mengapa engkau tak keluar dari tempat

persembunyianmu ? Budak perempuan kami selalu ribut

memikirkan dirimu kalau sampai dimakan oleh siluman2

rubah disini !” seru isterinya atau nenek Ban yang berlengan

satu.

Gin Liong tertawa lalu keluar bersama Yok Lan. Li Kun

juga ikut keluar, Melihat Gin Liong bertiga, gadis yang

menangis atau Siu Ngo segera tertawa. Ketiga nona itu

saling berpelukan girang.

Gin Liong perkenalkan Yok Lan dan Li Kun kepada

kedua suami isteri Ik Bu It. Setelah kedua nona itu memberi

hormat, Ik Bu It mengatakan bahwa mereka segera akan

melanjutkan perjalanan lagi.

“Diantara tumpukan korban2 ini tak terdapat siluman

rase itu, mungkin dia masih dapat lolos atau masih belum

pulang dari pengembaraannya,” kata nenek Ban, ia terus

melangkah keluar

Atas pertanyaan Gin Liong, Ik Bu It mengatakan:

“Melintasi gunung karang, tujuh delapan li lagi kami akan

tiba di tempat itu.”

“Ih, apa engkau hendak mengunjungi rumah Li Ka Tun

atau Li jenggot itu ?” seru nenek Ban.

Ik Bu It mengiakan. Kemudian ia mengajak ketiga anak

muda itu,

“Siau sauhiap, kalian naik kuda dan tunggu kami di jalan

besar, Kuda kami berada di kuil bawah gunung, Kami akan

mengambilnya dulu.” kata Ik Bu It. la, isteri dan anaknya

segera lari menuju ke kaki gunung.

Demikian setelah bertemu di jalan besar lagi, mereka

segera bersama-sama melanjutkan perjalanan. Kuda Ik Bu

It dilarikan sepesat angin Melihat itu nenek Ban berkata

kepada Gin Liong : “Budak, aku hendak menguji sampai

dimana tenaga kudamu !”

Nenek itu dan Siu Ngo segera menconglangkan kudanya,

Gin Liong tersenyum lalu jalankan kudanya juga diikuti

Yok Lan dan Li Kun.

Nenek Ban tertawa gembira, Tetapi alangkah kejutnya

ketika berpaling ke belakang ia melihat kuda Gin Liong

sudah berada tiga tombaK dibelakangnya.

Nenek itu menggeram. ia memacu kudanya makin cepat,

Kuda suaminya, dilaluinya juga, Siu Ngo tertinggal di

belakang.

Yok Lan dan Li Kun tertawa melihat nenek Ban masih

beradat seperti orang muda yang ingin menang.

Gin Liong saat itupun sudah menyusul Siu Ngo tetapi

karena ia sungkan melampaui Ik Bu It, terpaksa ia

lambatkan kudanya.

Ik Bu It mendongkol karena dilampaui isterinya.

“Hai, perempuan tua. engkau gila ? Hati-hati kusambar

pinggangmu !” serunya,

Tar, ia terus mencambuk kudanya, Bagai anak panah

dilepas dari busur, kuda Ik Bu It segera meluncur kearah

kuda nenek Ban.

Enam ekor kuda tegar seolah berlomba dan dalam

beberapa kejab saja mereka sudah beberapa li jauhnya dari

gunung karang itu, Beberapa li disebelah muka samar2

tampak sebuah perkampungan Tetapi kakek ik Bu It masih

ngotot melarikan kudanya. Dan belum satu li, ia sudah

dapat menyusul kuda isterinya. Ketika berpaling dan

melihat Gin Liong masih dibelakang ia tertawa.

Mereka segera memasuki perkampungan itu.

“Kepala desa disini sahabatku lama, Seorang yang jujur

dan suka blak-blakan, Karena memiliki jenggot lebat orang

menggelarinya sebagai Li Jenggot terbang . . .”

Saat itu mereka tiba di muka pintu, Nenek Ban pesan

supaya Gin Liong bertiga menunggu di luar pintu, habis

berkata nenek itu terus menghampiri pintu dan mendebur

dengan tongkatnya.

“Hai, kalau masuk semua saja masuk, jangan engkau

seorang diri saja,” seru Ik Bu It seraya turun dari kuda. Siu

Ngopun mengikuti.

Begitu pintu didebur, terdengarlah suara sahutan seorang

pemuda.

“Lekas keluar menyambut kuda kami !” bentak nenek

Ban seraya menyerang dengan tongkatnya.

Rupanya pemuda baju hitam sudah tahu siapa yang

datang. Sambil menghindar ia berseru girang: “Ah, kiranya

Ik toama . . . .”

Tetapi nenek Ban sudah menyapukan tongkatnya ke

perut sehingga pemuda itu terkejut dan loncat mundur lagi.

“Li Cun koko, lekas turut perintah mamah, bawalah

kuda ke samping gedungmu !” teriak Siu Ngo kepada

pemuda baju hitam itu,

Melihat dara itu, gembira sekali pemuda baju hitam itu,

Dari dalam ruang memancar sinar lampu dan serentak

terdengar seorang nenek yang kuat nadanya : “Apakah Ban

lomoay yang datang ? hayo. lekas keluar !”

Pintu terbuka dan seorang lelaki tua berjanggut lebat dan

seorang nenek muncul keluar.

Kakek itu bermata bundar, wajah hitam dan

mengenakan pakaian warna hitam sehingga tampak

menyeramkan, sedang si nenek bertubuh kurus rambut agak

kusut.

Ik Bu It dan nenek Ban serempak tertawa gelak2:

“Malam ini akan kuperkenalkan tiga tetamu kepada kalian.”

Demikian Gin Liong dan kedua nona, diperkenalkan

kepada tuan rumah, Tuan rumah mengajak tetamunya

masuk kedalam. Setelah duduk, maka si Jenggot-terbang Ki

Heng bertanya:

“Tok gan lote, mengapa pada saat begini engkau baru

datang kemari ? Apakah terjadi sesuatu di tengah jalan ?”

Ik Bu It tertawa: “Karena aku hendak memberi tahu

tentang suatu peristiwa yang mengejutkan kepadamu.”

“Istana Sian-ki wan di gunung karang itu telah dibasmi

oleh Golok-terbang Ui It Liong, apakah tidak mengejutkan

?” seru nenek Ban.

“Benarkah itu ?” suami isteri Li Heng terkejut.

Gin Liong segera menuturkan peristiwa yang dilihatnya

dalam Sian-ki-wan itu. Li Heng menghela napas: “Ah,

Golok-terbangUi It Liong memang terlalu ganas sekali.”

Tiba2 pemuda baju hitam tadi muncul, Nenek Ban

segera memperkenalkan pemuda itu kepada Gin Liong

bertiga.

Sejenak memandang pemuda baju hitam. nenek Li

segera berkata dengan hati longgar: “setelah Hian-ki-wan

diobrak-abrik, Ah Cunpun tak perlu bersembunyi dalam

rumah lagi.”

Gin Liong heran, ia hendak bertanya tetapi nenek Ban

sudah mendahului tertawa, serunya “Jangan bergirang dulu

kalian ini.”sekalipun sarangnya diobrak-abrik, tetapi

siluman rase itu masih hidup.”

“Siapakah yang Ban locianpwe sebut sebagai siluman

rase itu?” Gin Liong bertanya.

“Budak, apakah engkau benar2 tak tahu?” nenek Ban

balas bertanya.

“Siau siauhiap,” seru kakek Ik Bu It, “apakah engkau tak

tahu bahwa ditiga wilayah Ik, Lu dan Wan (propinsi

Holam-Hopak, Shoatang, An-hwe) telah muncul tiga

mahluk indah ?”

Gin Liong mengatakan bahwa dia baru saja turun

gunung tak tahu pedalaman apa2.

“Ketiga mahluk cantik itu, yang satu adalah Dewi

Bayangan, yang seorang Bian sian-kho dan yang ketiga

ialah kepala dari Sian-ki-wan yakni Ceng Jun sian-ki . . ..”

Melihat wajah Gin Liong agak berkerut, Ik Bu It

bertanya: ” Eh, apakah Siau siauhiap sudah pernah

berjumpa dengan Ceng Jun sianki ?”

Merah muka Gin Liong, serunya: “Tidak, tetapi pernah

bertemu dengan Dewi Bayangan dan Biau Bian siankho . .

.”

“Eh, budak, kalau melihat wajahmu merah, mungkin

engkau pernah menderita sesuatu dari siluman-siluman rase

itu,” seru nenek Ban.

Teringat akan peristiwa Dewi Bayangan, seketika

meluaplah kemarahan Gin Liong sehingga hawa

pembunuhan menampil pada wajahnya. Suami isteri Li

Heng terkejut dan diam2 memuji anakmu itu benar2

memiliki ilmu tenaga-dalam yang hebat.

Melihat sikap Gin Liong, nenek Banpun terkejut dan tak

berani bertanya lebih lanjut.

“Siau siauhiap, dimanakah engkau berjumpah dengan

Dewi Bayangan dan Biau siankho?” tanya kakek Ik Bu It.

Gin Liong menyadari kalau ia terlanjur tak dapat

menekan emosi, maka buru2 ia menenangkan perasaannya

dan berkata: “Ketika bermalam di rumah Suma Tiong

tayhiap, aku pernah bertemu dengan Dewi Bayangan.

Karena tak tahu bahwa wanita itu banyak dosanya, maka

telah kubiarkan lolos, Dan ketika di biara Ki-he-kwan telah

bertemu dengan Biau Biau siankho . . . .”

Li Heng menghela napas.

“ilmu Bi-jin-sut (make up atau berhias) dari Biau Biau

siankho memang lihay sekali. lebih lihay dan ilmu Loan-sin

biang (harum pemabuk semangat) dari Ceng Jun sianki dan

Bi-lim-poh (sapu tangan pengikat jiwa) dari Dewi

Bayangan, Entah berapa banyak jago2 silat yang telan

terpikat oleh wanita itu sehingga hancur namanya.”

“Rasanya mereka tak perlu disayangkan,” kata nyonya li

Li Heng, “walaupun Biau Biau siankho memang lihay,

tetapi asal hatimu lurus dan bersih, ilmu Bi-jin-sutnya tentu

tak mempan.”

Li Heng dan Ik Bu It mempunyai kelemahan yang sama.

Keduanya takut isteri.

Nenek Ban juga ikut bicara: “Biau Biau siankho ibarat

tukang pancing ikan. Siapa yang mau dipancing, itu

salahnya sendiri.”

“Tetapi sampai dimanakah kelihayan dari bau wangi

Loan-sin-hiang itu ?” tanya Gin Liong.

Sebelum Ik Bu It menyahut, Li Heng sudah mendahului

memberi keterangan: “Jika kelak Siau siauhiap bertempur

dengan Ceng Jun sianki, jangan sampai siauhiap kalah

angin kalau tidak apa bila terkena racun dari Loan-sin-hiang

itu, tentulah . . “

“Tentu bagaimana ?” desak Gin Liong.

“Kesadaran pikiranmu tentu limbung dan terus

mengikuti dia, pasrah diri akan diapakan saja olehnya”,

kata Ik Bu It tertawa gelak2.

Gin Liong teringat akan sapu dari Dewi Bayangan yang

membangkitkan rangsang nafsu, iapun segera berkata: “Jika

berhadapan dengan Ceng Jun sianki, kita harus menutup

pernapasan”

Li Heng dan Ik Bu It tertawa gelak2.

“Loan-sin-hiang dari Ceng Jun sianki itu tak

mengeluarkan suatu bau apa dan tak berwarna, ia

melancarkan serangan dikala engkau lengah. Asal dia

berada di atas angin atau memikat engkau dengan

pembicaraan dan senyuman, tanpa engkau sadari, dia telah

melancarkan serangan Loan-sin-hiang” kata Li Heng.

“Dengan begitu Loan-sin-hiang dari wanita siluman itu

merupakan senjata yang tiada tandingnya di dunia

persilatan ?” tanya Li Kun.

“Loan-sin-hiang itu memang aneh, terhadap kaum

wanita tidak dapat mengeluarkan khasiat, terhadap orang

tua yang sudah berumur tujuh puluhan tahunpun tak

mempan.

“Jika demikian, mengapa para cianpwe tidak bersatu

untuk membasmi kawanan siluman itu ?” tanya Yok Lan.

“Ah, nona Yok Lan belum tahu,” sahut nenek Ban,

“ketiga siluman itu selain memiliki senjata lihay juga

berkepandaian tinggi sekali, Jago2 silat biasa tentu sukar

mengalahkannya, paling banyak hanya dapat melayani

sampai sepuluh jurus saja.”

Sejenak melirik pada Li Kun, berkata pula nenek itu :

“Bukan aku menjunjung junjung siluman itu tetapi apabila

nona berdua bertemu mereka, baiklah menghindari supaya

jangan sampai bertempur dengan mereka saja.”

Tahu bahwa nenek itu memang bersungguh hati

memberi nasihat, Yok Lanpun menghaturkan terima kasih,

Tetapi Li Kun yang berhati tinggi, wajahnya pucat dan

tubuh menggigil karena menahan kemarahan.

“Lo-moay.” seru nenek li dengan cepat, “kalau engkau

mengatakan siluman rasa itu lihay sekali, mengapa kalian

bersama rombongan, Siau siauhiap berani memasuki

serangannya di Siang-ki wan ?”

Kemudian menunjuk pada Ik Bu It, ia berseru pula

dengan tertawa: “Apakah engkau tak takut milikmu yang

tua akan hilang, bukankah Tokgan be belum tujuh puluh

tahun umurnya ?”

Terdengar orang tertawa gelak2.

“Kita hanya menguatirkan Siau sihiap kalau sampai

dicelakai siluman rase itu, barulah kami bergegas-gegas

menyusulnya.”

“O, kalian tidak bersama-sama Siau siauhiap ?” tanya

nyonya Li Heng.

Gin Liong lalu menuturkan pengalamannya, Tiba2 ia

hentikan penuturannya dan memberi isyarat agar sekalian

orang diam.

Saat itu terdengar sebuah suitan panjang yang berasal

dari tempat sejauh tujuh delapan li. Rupanya kumandang

suara suitan itu pelahan-lahan menuju ke rumah kediaman

Li Heng.

Li Heng segera memadamkan lampu, loncat keluar dan

terus melambung ke atas rumah. Gin Liong dan sekalian

orangpun segera menyusul tindakan tuan rumah.

Gin Liong melihat wajah suami isteri Li Heng tegang

sekali demikian pula Ik Bu It dan nenek Ban. Dan suitan itu

terus menerus berkumandang di angkasa, menghampiri ke

tempat kediaman Li Heng.

Tiba2 Gin Liong berkata kepada pemuda baju hitam:

“Saudara Li, dimanakah kuda kami ? Harap saudara bawa

kemari.”

Sekalian orang terkejut dan memandang Gin Liong,

Pemuda itu menjelaskan: “Yang datang itu tentulah orang2

dari Sian-ki-wan yang setelah tahu sarangnya dibasmi

habis2an, mereka lalu mengejar kemari, Kita harus

menyongsong di luar perkampungan agar jangan

melibatkan Li locianpwe.”

Sekalian orang menyetujui dan nenek Banpun segera

memerintahkan pemuda baju hitam untuk lekas2

mengeluarkan kuda mereka, Bahkan Gin Li-ong, Yok Lan

dan Li Kun segera mengikuti pemuda baju hitam itu untuk

mengambil kuda. Ik Bu It dan Siu Ngo juga menyusul.

Begitu tiba di kandang kuda, nenek Ban sudah

mencongklangkan kudanya menerobos dari rumah

belakang. Kemudian Ik Bu It dan Siu Ngo. Gin Liong

bertiga cepat loncat ke kuda masing2 dan melarikan

menyusul kedua suami isteri Ik Bu It.

Ketika Gin Liong bertiga tiba di luar desa tampak nenek

Ban sudah turun dari kudanya dan tegak berdiri di bawah

sebatang pohon, Ik Bu It pun menambatkan kuda berdiri di

dekat isterinya, sedang Siu Ngo tegak disamping ayahnya.

Saat itu suara suitan sudah berhenti. Pada saat Gin

Liong bertigapun sudah loncat dari kudanya dan

menghampiri mereka, Kini mereka berdelapan tegak

menunggu kedatangan orang yang bersuit itu dengan penuh

pertanyaan, lawankah atau kawan.

Pada saat itu segera terdengar kibaran pakaian dideru

angin, Nenek Ban serentak bersiap dengan tongkat kepala

burung hong.

Ternyata yang datang itu hanialah Li Heng dan isteri

serta puteranya. Mereka segera bertanya apakah musuh

sudah datang.

“Belum,” sahut Ik Bu It, “nanti apabila terjadi

pertempuran harap saudara Li berdua dengan putera

bersembunyi di tempat gelap”

Tetapi sampai beberapa saat suasana masih tetap sunyi,

Yang terdengar hanya lolong kawanan anjing di

perkampungan.

“Oh, mungkin karena takut kepadamu, mereka tak jadi

datang kemari, “nyonyah Li Heng berseru dan tertawa

kepada nenekBan.

Li Hengpun mengatakan bahwa karena hari sudah

hampir terang tanah, lebih baik mereka kembali ke

rumahnya untuk makan pagi. Tetapi Gin Liong dan kedua

nona menolak karena hendak melanjutkan perjalanan. Juga

Ik Bu It mengatakan memang Gin Liong mempunyai

urusan penting yang harus segera diselesaikan

“Hendak kemanakah Siau siauhiap ini ?” tanya Li Heng,

“Untuk membalas dendam kematian suhuku, aku

hendak memburu jejak seseorang, maka sukar untuk

menentukan arah yang hendak kutuju.” Gin Liong memberi

keterangan Dan Li Hengpun dapat mengerti

“Nona Yok Lan, kalian hendak menempuh jalan mana

saja ?” tanya nenekBan kepada Yok Lan.

“Lebih dulu ke Ciau-koan lalu ke gunung Cin-san,

setelah itu baru menentukan arah yang akan kita tempuh,”

sahut Yok Lan.

“Jika begitu kita seperjalanan. Kami juga pulang ke

Thay-san” seru Siu Ngo gembira.

Yok Lan tak keberatan. Demikian mereka berenam

segera berangkat Pada waktu terang tanah, mereka melihat

sebuah kota di sebelah depan, kira2 hanya beberapa li

jauhnya.

Ik Bu It menerangkan bahwa mereka lebih dulu akan

melintasi sebuah sungai, Setelah menyeberang sungai, baru

kita nanti berhenti makan.

Gin Liong walaupun tak lapar tetapi terpaksa menurut,

Setelah menyeberang sungai, mereka segera mencari rumah

makan.

“Nona, nona . . “, tiba2 terdengar suara orang memanggil

Li Kun. Li Kun berpaling dan terkejut melihat dua orang

berpakaian seperti pedagang, lari dari sebuah rumah

penginapan, menghampirinya.

“Ah, engkau Tio hiang . . Mengapa kalian disini?” tegur

Li Kun terkejut. Kedua orang itu adalah anak buah dan

keluarga Tio di gunung Thiat san.

Kedua orang itu mempersilahkan Li Kun dan

rombongannya kedalam rumah penginapan mereka.

Mereka juga menyewa kamar disitu, Ternyata Siu Ngo

sudah menyediakan air hangat dan meminta Gin Liong

serta Yok Lan cuci muka, Ketika melalui sebuah kamar di

sebelah, keduanya terkejut mendengar Li Kun menangis

dalam kamar itu. Buru2 mereka masuk menjenguknya.

Setelah didesak dan dihibur, barulah Li Kun mau

memberi keterangan bahwa kedua anak buahnya itu

memang mencarinya untuk menyampaikan berita penting.

“Hwat-kiang-si, Hek Bu Siong dan Lak-ti-seng dari

kawanan Thiat-san-pat-koay telah mengundang beberapa

tokoh silat sakti, menyiarkan berita bahwa nanti tanggal

lima bulan lima akan menghancurkan Mo-thian-nia dan

membasmi ketujuh saudara Tio.

Gin Liong terkejut. Adalah karena dirinya maka Thiatsan-

pat-koay dan ketujuh saudara Tio telah bermusuhan.

“Harap taci Kun jangan kuatir, sebelum tanggal itu aku

tentu sudah datang ke gunung Thiat-san. Taci Kun dan

Lan-moay pulang dulu ke puncak Mo thian-nia, setelah

dapat mengejar Liong-li locianpwe, aku segera kembali ke

Mo thian-nia.”

Tetapi Li Kun menolak, ia akan kembali pulang sendiri

dan Yok Lan biar ikut pada Gin Liong.

Ringkasnya setelah makan, Li Kun segera berangkat

pulang dengan kedua anak buah.

Setelah itu Gin Liong meminta keterangan ke pada

suami isteri Ik Bu It tentang perkumpulan Thian-leng-kau

yang bermarkas digunung Ke-kong-san.

“Ya, memang terdapat perkumpulan itu di Ke kong-san.

Kabarnya didirikan oleh dua kakak beradik” kata nenek

Ban.

“Baru setengah tahun ini Thian-leng-kau bergerak di

dunia persilatan,” kata Ik Bu It, “mereka menerima

anggauta dari kalangan hitam. Bahkan ada beberapa tokoh

hitam yang telah masuk.”

“Kabarnya, kedua kakak beradik itu mempunyai

kepandaian yang luar biasa,” kata nenek Ban pula, ” setiap

orang yang hendak masuk, lebih dulu tentu diuji ilmu

silatnya. Siapa yang mampu mengalahkan keduanya, akan

diangkat sebagai ketua”

“O, dengan begitu tentu akan menarik perhatian tokoh2

yang temaha kedudukan tinggi” kata Gin Liong.

“Eh, apakah engkau juga hendak merebut kedudukan itu

?” seru Ik Bu It tertawa.

“Ah, mungkin kursi mereka tak enak,” Gin liong tertawa,

Nenek Ban memperhatikan bahwa ada sesuatu yang

tersembunyi dalam hati Yok Lan, maka iapun bertanya:

“Apakah kalian juga hendak adu kepandaian ke sana?”

“Tidak,” kata Yok Lan, “tetapi karena marah taci Li Kun

telah menerima tantangan dari seorang thaucu Thian-leng

kau untuk datang ke Ke-kong-san nanti satu setengah bulan

lagi, Walaupun taci Li Kun pulang tetapi kita akan

mewakilinya datang kesana.”

Menduga bahwa kepandaian Yok Lan tentu takkan

mampu mengalahkan orang Thian-leng-kau, maka nenek

Ban segera berseru: “Ih tidak. jangan terlalu membanggakan

kepandaianmu dan gegabah membawa nona Yok Lan

kesana. Walaupun bukan sarang naga dan harimau, tetapi

markas Thian-leng-kau itu penuh dengan tokoh2 yang

sakti….”

“Ucapan seorang lelaki harus ditepati.” Ik Bu It

menyelak. “sekali sudah menerima tantangan, harus

dipenuhi, Kalau engkau kuatir, mengapa engkau tidak ikut

pergi kesana ?”

Sengaja ia hendak membakar hati isterinya lagi: “Huh,

engkau sendiri bernyali kecil, pura2 memberi peringatan

kepada orang . . .”

Sudah tentu nenek Ban marah sekali. Bluk, ia gentakkan

tongkat ke lantai dan berseru:

“Hmm, sekalipun Thian-leng-kau di Hu kong-san itu

tempat Raja Akhirat, akupun tetap akan kesana.”

“Bagus, bagus !” seru Ik Bu It, “aku ingin melihat engkau

menduduki kursi ketua Thian-leng-kau”

Nenek Ban deliki mata kepada suaminya dan

mendengus: “Huh, aku sih tidak kepingin kursi

perkumpulan semacam itu.”

Kuatir kalau kedua orang tuanya bertengkar lebih hebat,

Siu Ngo segera alihkan pembicaraan kepada Yok Lan:

“Berapa lama taci Li Kun tiba di rumah ?”

“Kalau menempuh perjalanan siang malam, enam tujuh

hari tentu dapat” kala Yok Lan.

“Eh, dimanakah rumahnya ?”

“PuncakMo-thian-nia gunung Thiat-san,” kata Yok Lan.

“O, kiranya nona Li Kun itu salah seorang dari ketujuh

saudara Tio, bukan ?” seru Ik Bu It.

Gin Liong mengiakan.

“Oh, makanya kuperhatikan wajahnya kurang senang

ketika kuceritakan bahwa Ceng Jun sianki itu tinggi

kepandaiannya. Memang dalam ketujuh persaudaraan Tio,

ialah yang paling menonjol sendiri kepandaiannya.” kata Ik

Bu It.

Demikian setelah beromong-omong beberapa waktu lagi,

mereka berlima segera masuk ke dalam kamar masing-2

untuk beristirahat.

Menggunakan kesempatan itu Gin Liong mengambil

kaca wasiat dan diperiksanya, Dalam pancaran sinarnya

yang kemilau, tampak beberapa huruf kecil2 warna merah.

Ternyata suatu pelajaran ilmu pernapasan tenaga-dalam, ia

mengisar lagi kaca itu dan melihat tulisan berbunyi Kitab

pelajaran ilmu pukulan Naga-harimau, cenderawasih-ular.

Memutarnya ke bawah ia melihat beberapa telapak kaki

warna merah yang malang melintang tak keruan. Ketika

memeriksa hurup-2 merah pada sampingnya ia terkejut.

Ternyata terdapat tulisan berbunyi Sing-hoan-cek-kiong

poh atau gerak langkah bayangan dari Istana-wungu. Tetapi

sampai lama sekali belum juga ia mengerti apa yang tertera

disitu, Setelah merenungkan dan membayangkan tentang

gerak langkah Liong li-biau ajaran Ban Hong Liong-li,

serentak ia menyadari, perhatiannya makin terpikat.

Setelah menghafalkan beberapa dalam hati, ia akan

turun dari tempat tidur, Maksudnya hendak berlatih ilmu

yang dipelajarinya itu. Tetapi alangkah kejutnya ketika

melihat Yok Lan tahu2 sudah tegak diambang pintu.

Buru-2 Gin Liong menyimpan kaca wasiat dan

melambai kearah Yok Lan: “Kemarilah, Lan-moay.”

Yok Lan heran mengapa saat itu Gin Liong tampak

gembira sekali. Iapun melangkah masuk.

“Lan-moay lihatlah.” seru Gin Liong seraya menyingkap

baju luarnya.

“Hai kaca wasiat!” seru Yok Lan terkejut. Menyusul ia

segera bertanya dari mana Gin Liong mendapatkannya.

Gin Liong dengan terus terang menceritakan tentang diri

orang tua aneh yang memiliki kaca wasiat itu dan telah

menyerahkannya kepadanya.

“Apakah Ik locianpwe dan Siu Ngo tahu ?” tanya Yok

Lan.

“Tidak.” sahut Gin Liong, Kemudian ia membuka baju

luarnya lagi dan suruh Yok Lan memeriksa dengan teliti.

Yok Lan terkejut karena melihat tanda2 telapak kaki

yang malang melintang tak keruan.

“Liong koko, apakah ini bukan gerak langkah Cek kiongpoh

yang termasyhur dalam dunia persilatan itu ?”

Gin Liong mengiakan: “Setelah kupadu dengan ilmu

gerak langkah ajaran Liong-li locianpwe, ternyata Cekkiong-

poh ini lebih hebat.”

“Coba engkau katakan apa pelajaran dari liong-li

locianpwe itu” kata Yok Lan.

Gin Liong menurut. Tetapi ketika ia mengucapkannya,

Yok Lan menunduk untuk memeriksa kaca wasiat itu,

sikapnya seolah meremehkan ilmu gerak langkah Liong-libiau.

Ia ulurkan tenaga hendak menyambar tubuh Yok Lan

tetapi ternyata nona itu sudah lenyap.

Gin Liong terkejut menyaksikan gerakan yang

sedemikian cepatnya dari sumoaynya. Setelah direnungkan

barulah ia tahu bahwa gerakan Yok Lan itu merupakan

langkah pertama dari ilmu langkah Cek-kiong-poh. Ia

menyimpan kaca lalu melesat keluar, Dilihatnya Yok Lan

berdiri tegak ditengah halaman, Mata terbeliak, mulut

menganga. Rupanya dia juga terkejut membaca ilmu gerak

langkah Cek-kiong-poh yang hebat itu.

Gin Liong menuding kedalam bajunya dan melambaikan

tangan kearah Yok Lan dapat menangkap artinya tetapi

ketika ia hendak menghampiri ternyata SiuNgo muncul.

“Taci Lan, apa engkau tak beristirahat?” seru gadis itu,

“Sudah,” kata Yok Lan. sementara itu Gin Liong sudah

menyusup masuk kedalam kamarnya.

Ik Bu Itpun keluar dan menanyakan kapan hendak

berangkat.

“lk locianpwe, kalau sekarang kita menyeberang sungai

apakah sebelum petang kita sudah dapat mencapai kota

Ciau-koan ?” tanya Yok Lan.

“Kota itu seratusan li jauhnya, mungkin tengah malam

baru tiba disana.” sahut Ik Bu It.

Kemudian kakek itu memerintahkan Siu Ngo supaya

menyiapkan hidangan.

“Kami tahu bahwa nona berdua dengan Siau siauhiap itu

saudara seperguruan tetapi kami belum tahu siapakah

sesungguhnya suhu nona itu ?” tanya Ik Bu It.

Dengan nada sarat, Yok Lan mengatakan bahwa dia tak

mempunyai perguruan dan tak tergolong pada suatu aliran

persilatan Yang mengasuhnya hanya Liau Ceng taysu,

kepala gereja Leng-hun-si di gunung Hwe-siang-hong.

Nenek Ban kerutkan dahi dan bertanya kepada suaminya

apakah pernah mengenal Liau Ceng taysu.

Rupanya Ik Bu It dapat menangkap arti kata-kata

isterinya maka ia berkata kepada Yok Lan: “Mungkin suhu

nona itu tentu seorang paderi yang mengasingkan diri.

Apalagi kami sering pergi ke luar perbatasan sehingga tak

beruntung mengenal suhu nona, Apabila nona dapat

menyebutkan namanya sebelum menjadi paderi,

kemungkinan kami tentu tahu.”

Yok Lan mengatakan bahwa sejak belajar silat, ia tahu

suhunya itu sudah menjadi paderi dan iapun tak berani

menanyakan asal usulnya.

Saat itu Gin Liong muncul bersama empat pelayan yang

membawa hidangan Mereka segera melahap hidangan

Kemudian mereka berangkat lagi, Mereka naik perahu

besar menyeberang.

Setelah tiba di seberang tepi, mereka lanjutkan

perjalanan lagi, Dalam beberapa kejap sudah mencapai

belasan Ii. Tiga li lagi mereka melihat orang2 berkerumun

melihat dua sosok bayangan bertempur.

“Ada orang bertempur, mari kita lihat,” seru nenek Ban

terus larikan kuda menghampiri.

“Hai, tak perlu, jangan sampai menelantarkan urusan

Siau siauhiap,” Ik Bu It mencegah.

Mendengar itu nenek Ban lambatkan kudanya. jaraknya

hanya terpisah satu li dari tempat pertempuran itu. Ternyata

kedua orang itu bertempur disebuah tanah lapang di tepi

jalan besar, Para penonton berkeliling pada jarak beberapa

tombak jauhnya, Gin Liong heran mengapa mereka harus

menyingkir sedemikian jauhnya dari tempat pertempuran.

Ternyata salah seorang yang bertempur itu seorang

wanita yang berpakaian merah menyala dan lawannya

seorang paderi tua berjubah kelabu.

Gerakan wanita baju merah itu luar biasa anehnya,

berlincahan bagai kupu2 hinggap di bunga, Dengan

sepasang tangan ia menghadapi serangan tongkat si paderi,

Tampaknya wanita itu belum mengeluarkan seluruh

kepandaiannya.

Paderi itu juga bukan tokoh yang lemah, Tongkatnya

menyambar-nyambar laksana halilintar, dahsyatnya bukan

kepalang, tetapi tetap ia tak dapat merubuhkan wanita yang

memiliki gerakan luar biasa itu.

Gin Liong mendapat kesimpulan bahwa sesungguhnya

wanita itu memang sengaja hendak mempermainkan

kawannya.Marahlah Gin Liong, ia hendak bertindak tetapi

segera ia teringat akan peringatan Ik Bu It kepada nenek

Ban tadi, Terpaksa ia tak menghentikan kudanya,

Tetapi ketika makin dekat, makin jelaslah ia siapa paderi

itu, serentak berubahlah wajahnya dan segera ia berseru

nyaring: “Berhenti!”

Kuda terus diarahkan ketempat pertempuran. Bentakan

Gin Liong amat kuat sekali sehingga kedua orang yang

bertempur itupun berhenti karena terkejut.

Yok Lanpun segera dapat mengenali paderi itu, seketika

wajahnya berubah dan terus berseru rawan: “Sam-sucou !” -

iapun larikan kudanya menghampiri.

Saat itu Gin Liong sudah tiba dan terus loncat dari kuda

lalu lari kearah paderi tua.

Melihat Gin Liong, paderi tua itu merah mukanya. ia

menuding wanita baju merah dan berseru: “Liong-ji, inilah

Ban liong liong-li yang telah membunuh gurumu.”

Gin Liong hentikan langkah dan tertegun Yok Lanpun

tiba lalu lari menghampiri paderi tua itu seraya menangis

dan memangginya sebagai sam-sucou atau kakek guru yang

ketiga.

“Siau siauhiap, hati-hatilah, Wanita itu adalah Ceng Jun

sian – ki !” tiba2 nenek Ban isteri Ik Bu It berseru.

Gin Liong terkejut dan menyadari mengapa para

penonton tak berani menyaksikan dari dekat. Di lain pihak,

sam-sucounya itu belum pernah melihat Ban Hong Liong-li.

Dia tentu salah duga. Kiranya pada hari setelah Liau Ceng

taysu terbunuh, sam-sucounya menghilang dari gunung

karena marah, ia hendak menuju ke daerah Biau untuk

membuat perhitungan dengan BanHong Liong-li.

Sejak kecil Yok Lan memang disayang oleh samsucounya.

Maka dara itu menangis ketika ber temu dengan

sam-sucounya.

Saat itu Ik Bu It, nenek Ban dan Siu Ngo sudah loncat

turun dari kuda, Dan nenek Banpun segera membentak:

“Siluman rase engkau cari mampus . . !”

Ia memutar tongkat kepala burung hong lari menerjang

wanita baju merah itu.

Gin Liong cepat tersadar untuk menutup pernapasannya,

Diam2 ia kerahkan tenaga-dalam apakah telah terkena

racun. Dilihatnya pula mulut Ceng lun sian-ki mengulum

senyum, sebelah tangannya yang putih mengulap ke

janggut, sikapnya seperti hendak melepas racun.

Ceng Jun sian-ki atau DewiMusim Semi itu baru berusia

25-27 tahun. Memiliki kecantikan wajah yang dapat

menjatuhkan iman seorang dewa dan potongan tubuh yang

menggiurkan. Dia benar2 seorang insan yang diberkahi

dengan kecantikan seperti seorang dewi, Diam2 Gin Liong

heran mengapa sam sucounya sampai salah menduganya

sebagai Bab Hong Liong-li.

Melihat nenek Ban mengamuk, Ceng Jun sianki tenang

saja, Bahkan malah tertawa mengikik,

“Hai induk kukuk-beluk, mukamu seperti ayam, matamu

seperti tikus, Benar2 menakutkan orang !” serunya, sambil

berputar-putar seperti angin puyuh.

Sudah tentu nenek Ban marah sekali sehingga

gerahamnya sampai bercaterukan: “Ketahuilah, waktu

muda aku secantik bidadari, tak kalah dengan wajahmu

yang seperti siluman rase itu”

Dihadapan umum dirinya dimaki sebagai siluman rase

marahlah Ceng Jun sian-ki : “Nenek jelek, engkau benar2

sudah bosan hidup !”

Habis berkata tangan kiri menampar dalam gerakan

kosong tangan kanan meluncurkan semacam rantai putih

yang melingkar2 melibat tongkat nenek Ban.

Ik Bu It terkejut. Dengan menggerung keras ia segera

loncat menerjang, Dengan jurus Thay-san ya-ting atau

gunung-Thaysan-menindih-puncak, ia menghantamkan

tongkat kearah Ceng Jun sian-ki.

Melihat serangan tongkat sedahsyat itu, Ceng Jun sian-ki

cepat berputar menarik tangan kanannya yang melibat

tongkat nenek Ban dan tahu-tahu sudah berada di belakang

Ik Bu It.

Sesungguhnya ilmu silat Ik Bu It itu bukan olah2

hebatnya, Pada saat Ceng Jun sian-ki berputar tubuh,

tongkatnya segera berganti dengan jurus Heng-soh-ngo-gak

atau Membabat-lima-buah-gunung menyapu tubuh Ceng

Junsian-ki.

Sebelum wanita itu sempat berdiri tegak, tongkat Ik Bu It

sudah tiba, Dalam pada itu, tongkat nenek Banpun

menusuk pinggangnya, Ceng Jun sian-ki terkejut, menjerit

dan melambung ke udara.

Karena tak mengenai sasarannya. kedua tongkat suami

isteri tua itu hampir saja saling berbentur sendiri.

Sebenarnya Ceng Jun sian-ki tahu siapa ke dua suami

isteri tua itu. Tetapi ia tak memandang mata kepada

mereka, Setelah serangan itu, baru ia tak berani

meremehkan Maka selagi melayang di udara ia kebutkan

sepasang lengan bajunya, untuk menampar bahu Ik Bu It

dan nenek Ban.

Ik Bu It dan isterinya menyadari bahwa lawan itu

seorang tokoh yang hebat, Maka mereka pun menyerang

dengan jurus yang hebat.

Gin Liong, Yok Lan dan sam-sucounya berdiri

disamping, mengikuti pertempuran itu dengan penuh

perhatian, Tetapi Siu Ngo tampak gelisah, Bahkan dahinya

sudah menghamburkan keringat dingin.

Gin liong memperhatikan gerakan Ceng Jun sian-ki dan

dapatkan bahwa sesungguhnya kepandaian wanita itu tak

jauh terpautnya dengan suami isteri Ik Bu It. Tetapi karena

ia pernah menderita dari Dewi Bayangan, maka iapun tak

berani tak mempercayai keterangan kedua suami isteri tua

tentang Loan-sin-hiang yang luar biasa hebatnya dari

wanita itu.Maka iapun tak berani gegabah turun tangan.

Yok Lan sudah dapat mengetahui isi hati Gin Liong,

iapun kuatir dirinya tak mampu menandingi wanita itu,

Maka ia juga diam saja.

Karena percaya dirinya tak mungkin terkena Loan-sinhiang,

begitu pula lk Pu Itpun merasa umurnya sudah

cukup tua. dan kuatir kalau kalah, maka kedua suami isteri

itupun mendahului menyerang dengan jurus yang dahsyat.

Tetapi ternyata untuk mengalahkan Ceng Jun sian-ki, tak

semudah yang diperkirakan mereka.

Melihat itu akhirnya Yok Lan tak dapat menahan diri

lagi, Segera ia berseru kepada suami isteri Ik Bu It: “Harap

lo cianpwe berdua mundur dulu, biarlah wanpwe

menghadapi Ceng Jun sian ki yang termasyhur itu”

Tring, ia segera mencabut pedang Tanduk Naga dan

terus maju ke tengah gelanggang.

Tahu kalau sukar merebut kemenangan kedua suami

isteri itupun menurut untuk mundur. Dan begitu melihat

wajah Gin Liong, seketika timbul keinginannya untuk

menggaet pemuda itu.Maka iapun juga berhenti.

Ik Bu It dan isterinya terkejut melihat Yok Lan masuk

kedalam gelanggang dengan membawa pedang, Tetapi

karena Gin Liong tenang2 saja, kedua suami isteri itupun

tak mau mencegah.

“Nona Lan, harap hati2 !” seru Ik Bu It karena kuatir

nona itu memandang rendah kepandaian lawan.

Ceng Jun sian-ki luas sekali pengalamannya dalam dunia

persilatan. Sudah banyak tokoh2 sakti yang dihadapinya,

Melihat Yok Lan begitu tenang, ia duga nona itu tentu

memiliki kepandaian yang mengejutkan. Dan ketika

melihat pedang yang berada ditangan Yok Lan itu

memancarkan sinar merah, dia makin terkejut.

Beberapa penonton yang bernyali besar, segera maju

mendekat. Mereka saling berbisik-bisik menilai

pertandingan itu…

Yok Lan berhenti pada jarak setombak dihadapan Ceng

Jun sian-ki.

“Lama kudengar Sian-ki memiliki kepandaian yang

hebat, Hari ini sungguh beruntung sekali aku dapat

bertemu, harap Sian-ki suka memberi pelajar an barang

beberapa jurus saja . . . .” seru Yok Lan.

Ceng Jun sian-ki tahu bahwa ia sedang berhadapan

dengan seorang lawan yang tangguh, Tetapi ia tetap tenang

bahkan karena percaya akan ilmu kepandaiannya yang

tinggi. ia agak memandang rendah lawan.

“Budak hina, jangan bermulut tajam,” tukasnya, “menilik

engkau seorang wajah yang cantik, mungkin dapat

kuberimu ampun dan kujadikan engkau sebagai

pengawalku, Kalau berani menolak, jangan sesalkan aku

akan bertindak kejam terhadapmu menghancurkan

wajahmu yang cantik itu.”

Berhenti sejenak, diam2 ia salurkan tenaga dalam dan

tertawa dingin: “Dalam tiga jurus engkau boleh menyerang,

aku takkan membalas. Keluarkanlah seluruh kepandaianmu

!”

Sudah tentu marah juga Yok Lan mendengar

kesombongan wanita itu, ia tertawa hambar.

“Sian-ki, apabila sedikit saja engkau dapat menang angin,

aku bersedia menjadi bujangmu selama-lamanya !” seru

Yok Lan.

Sekalian penonton gempar. Mereka anggap dara itu

terlalu tekebur juga suami, isteri Ik Bu It terkejut dan saling

berpandangan.

Ceng Jun sian ki sendiri pucat wajahnya karena

menahan kemarahan. Tubuh agak gemetaran alis berkerut,

serunya:

“Budak hina, mengapa engkau tak lekas menyerang ?

Jika masih banyak mulut, aku tak dapat mengampuni

jiwamu lagi ! “

Yok Lan mengiakan Dengan jurus Jay-hong-tiau-yang

atau Cenderawasih, menghadap – surya, ia membuka

serangan pertama.

Walaupun congkak tetapi Ceng Jun sian-ki tak berani

memandang rendah lawan. Dengan melengking keras ia

berputar ke belakang Yok Lan, Yok Lan tertawa dingin.

Segera ia mainkan ilmu gerak Sing-hoan-cek-kiong-poh

yang istimewa. Tubuhnya berkelebat dan tahu2 ia sudah

berada di belakang Ceng Jun.

Ik Bu It dan nenek Ban tercengang melihat gerakan yang

luar biasa anehnya dari dara itu, juga Ceng Jun sian-ki tak

kurang kejut nya, Dan lebih terkejut lagi ketika saat itu

kepalanya seperti disambar angin dingin.

Cepat ia tundukkan kepala dan tubuh, sembari

melengking nyaring pinggangnya bergeliatan dalam jurus

Hwe-tiau-ong-gwat atau Berpaling-memandang-rembulan.

Tangan kanannya serentak menampar. Tetapi alangkah

kejutnya ketika tamparannya itu hanya menemui tempat

kosong dan ia tak melihat tubuh lawan dibelakang. Tetapi

belakang kepalanya masih tetap didera angin dingin.

Dengan menjerit kaget, Ceng Jun Sian ki segera ayun

tubuhnya loncat kemuka sampai tiga tombak. Ketika

berpaling, semangat pun serasa terbang. Saat itu ujung

pedang lawan sudah mengancam mukanya. Karena gugup,

ia kebutkan kedua lengan bajunya untuk menghalau.

Yok Lan berkisar kesamping, pedang segera melamur

menabas sepasang lengan baju lawan.

Ik Bu It tahu bahwa lengan baju wanita itu tak mempan

ditabas senjata tajam, maka cepat2 ia berseru memberi

peringatan: “Nona Lan, jangan.”

Rupanya Yok Lan tahu apa yang dikandung dalam

peringatan kakek itu, Cepat ia salurkan tenaga-dalam ke

batang pedang, kemudian dengan menggunakan jurus Guikim-

cui-giok atau membelah-emas-menghancurkan zamrud,

ia taburkan pedang Tanduk Naga dalam lingkaran sinar

yang deras, membabat sepasang lengan baju Ceng Jun sianki.

Ceng Jun sian ki tertawa sinis. Segera ia gentarkan

tangan untuk melibatkan lengan baju ke pedang Yok Lan.

Cret. . . . sepasang lengan baju Ceng Jun sianki kutung

dan berhamburan jatuh ke tanah, Sedang orangnya menjerit

kaget terus enjot tubuh melambung ke udara, lalu meluncur

ke barat hendak melarikan diri.

Yok Lan tahu bahwa dengan menderita kekalahan itu

Ceng Jun sian-ki tentu masih penasaran, ia hendak memberi

pelajaran, menghancurkan kesombongan wanita itu.

Serempak dengan melengking nyaring ia gunakan jurus

bianglala-merentang-diudara, secepat kilat tubuhnya loncat

mengejar.

Yok Lan tak mau membunuhnya melainkan hendak

menghancurkan kecongkakannya saja, ia tidak membacok

melainkan hanya menyambar diatas kepala saja.

Ceng Jun sian-ki menjerit-jerit minta ampun seraya lari

menyusup ke dalam hutan, Yok Lanpun hentikan larinya

dan berseru :

“Ceng Jun sian-ki, harap engkau suka merobah kejahatan

dan kembali ke jalan benar, jangan engkau mengecewakan

harapan suhumu yang bersusah payah memberi pelajaran

kepadamu !”

Tanpa berpaling lagi, Ceng Jun sian-ki terus lari masuk

kedalam hutan, sekalian penonton terlongong-longong

menyaksikan peristiwa yang tak terduga-duga itu, Ceng Jun

sian ki yang termasyhur telah dikalahkan oleh seorang nona

yang tak terkenal .

Demikian pula Ik Bu It dan isterinya. Keduanya sudah

berpuluh tahun terjun dalam dunia persilatan tetapi belum

pernah mereka melihat permainan ilmu pedang yang

sedemikian luar biasa seperti yang dimainkan Yok Lan.

Mereka menyadari bahwa tiada guna mereka menemani

kedua anak muda itu ke markas Thian-leng-kau karena

ternyata kedua anak muda itu sudah cukup tangguh untuk

menghadapi jago2 Thian-leng-kau.

Merekapun menyayangkan mengapa Yok Lan memberi

ampun kepada wanita yang berlumuran kejahatan itu.

Paderi tua atau sam-sucou dari Yok Lan girang bukan

kepalang ia tak tahu dari mana Yok Lan dapat mempelajari

ilmu pedang yang sedemikian hebatnya itu.

Demikian pula dengan Gin Liong, ia memang percaya

bahwa Yok Lan tentu dapat menghadapi Ceng Jun sian-ki

tetapi ia tak pernah menduga bahwa sumoaynya telah

memiliki ilmu pedang yang sedemikian mengejutkan.

Yok Lan sendiri ter-sipu2 merah wajahnya karena

sekalian orang memandangnya dengan rasa kagum Gin

Liongpun lalu memperkenalkan sam-sucounya kepada

suami isteri Ik Bu It.

Maka bertanyalah Ik Bu It mengapa paderi itu tadi telah

salah menduga Ceng Jun sian-ki se bagai Ban Hong Liongli.

Paderi tua itu menerangkan bahwa ketika bertemu

dengan Ceng Jun sian-ki, karena wajah dan umurnya masih

muda, ia bertanya apakah wanita itu bernama Ban Hong

Liong-li. Dan wanita itu pun mengiakan.

“Karena marah, aku segera menyerangnya,” kata paderi

tua, “ternyata dia sangat lihay sekali kalau Ik sicu dan Gin

Liong serta Yok Lan tak keburu datang, entah sampai

berapa lama pertempuran itu akan berlangsung.”

“Lo-siansu mengatakan bahwa Ban Hong Li ong-li itu

adalah pembunuh dari suhu Siau siauhiap dan nona Lan . .

” sebelum nenek Bun melanjutkan kata2nya, paderi tua

sudah menukas.

“Karena cinta maka Ban Hong Liong-li di rangsang

dendam kebencian dan pembunuhan. Walaupun Liau

Ceng- sutit sudah masuk menjadi paderi tetapi Ban Hong

Liong-li masih tetap tak mau melepaskannya . .”

“Jika demikian bukankah sutit dari lo-siansu itu Pelajarberwajah-

kumala Kiong Tayhiap yang namanya

menggetarkan dunia persilatan dan pernah menundukkan

daerah Biau?” seru Ik Bu It seketika.

Sambil mengusap-usap jenggot, paderi tua itu mengiakan

Ik Bu It dan nenek Ban menghela napas.

“Memang Ban Hong Liong-li sangat mencintai Kiong

thayhiap, peristiwa itu telah diketahui oleh semua kaum

persilatan. Bahwa akhirnya harus terjadi peristiwa yang

sedemikian menyedihkan sungguh diluar dugaan orang.

Menilik kepandaian Kiong tayhiap yang begitu tinggi,

kecuali orang yang paling dekat dan karena dia lengah

maka baru dia dapat dibunuh.Dengan demikian, tak salah

lagi tentulah Ban Hong Liong-li yang telah melakukan

pembunuhan itu”

Ik Bu Itpun meminta paderi tua itu menuturkan

peristiwa2 yang terjadi dalamdunia persilatan selama ini.

Dalam pada berbicara itu orang2 yang berkerumun

menyaksikan pertandingan tadi, pun sudah bubar.

Tiba2 nenek Ban memerintahkan Siu Ngo mengambil

kutungan lengan baju Ceng Jun sian-ki.

Setelah melihat kutungan lengan baju itu, berkatalah Ik

Bu It: “Kabarnya lengan baju dari Ceng Jun sian-ki itu

terbuat dari ulat sutera yang kebal senjata tajam, Khusus

digunakan untuk melibat senjata lawan dan merampasnya.”

Ternyata lengan baju itu terasa dingin dan lemas sekali.

beratnya hanya dua tail, setelah dibuka panjangnya antara

setombak lebih, Tipis dan berkilau-kilauan.

“Ah, benar2 ulat sutera yang luar biasa,” kata Ik Bu It.

Gin Liong tak percaya, ia segera menabas dengan

pedangnya tetapi tak mempan.

“Ah, kini sudah jelas,” seru Ik Bu It, “bahwa bukan

pedang nona Lan yang tajam tetapi adalah ilmu pedangnya

yang luar biasa itulah yang dapat memapas kutung lengan

baju Ceng Jun sianki.

Ik Bu It suruh Siu Ngo menyerahkan benda itu kepada

Yok Lan tetapi Yok Lan menolak dan minta Siu Ngo

menggunakannya sebagai pakaian yang kebal senjata.

Tetapi Siu Ngo dan nenek Ban tak mau dan tetap

menyerahkan kepada Yok Lan. Akhirnya Gin Liong

memberi isyarat supaya Yok Lan menerimanya.

Kemudian Ik Bu It menyatakan bahwa ia terpaksa tak

dapat menemani Gin Liong lebih lanjut karena ia percaya

Gin Liong berdua tentu mampu untuk menghadapi orang2

Thian-leng-kau.

Gin Liong menghaturkan terima kasih atas bantuan

kedua suami isteri itu, Demikian mereka dengan berat hati

segera berpisah, Setelah Ik Bu It dan kedua isteri serta

puterinya pergi, paderi tua menanyakan tentang hasil

pengejaran Gin Liong terhadap Ban Hong Liong-li.

Gin Liong menyatakan belum mendapat hasil apa2.

Akhirnya paderi tua itu membagi pekerjaan, ia akan

mencari ke Kiangsu dan Anhui, sedang Gin Liong dan Yok

Lan menyelidiki di daerah Ho lam dan Hopak.

“Soal Thian-leng-kau di gunung Ke-kong-san itu” kata

paderi tua itu pula, “jika dapat tak usah pergi kesana,

Kalian belum banyak mengetahui tentang tipu muslihat

berbahaya dari dunia persilatan. Tak perlu memperluas

permusuhan yang kelak hanya akan mendatangkan bahaya

saja.”

Gin Liong mengiakan Kemudian ia menggunakan

kesempatan saat itu untuk menanyakan tentang keadaan

pada waktu suhunya terbunuh.

“Ketika aku sedang berada di guha” kata paderi tua itu,

Kudengar suara genta dari biara, aku segera kembali ke

biara, Ketika kutinggalkan guha Kiu-kiok-tong, suhumu

masih berada dalam guha, Demikian pula Ma Toa Kong,

Bu Tim cinjin dan lain2 orang juga masih disitu,

menerangkan paderi tua itu.

“Saat itu aku pingsan di ruang samping dan tak tahu

suatu apa,” kata Yok Lan.

“Begitu tiba di biara, paderi ti-khek-ceng memberi tahu

bahwa sesosok tubuh kecil telah melenyapkan diri diruang

belakang, Dia memastikan bayangan itu tentu seorang

wanita . . . .” kata paderi tua pula.

“Apakah sam-sucou menyelidiki wanita itu ?” tanya Gin

Liong.

Paderi tua gelengkan kepala.

“Hampir seluruh biara dan puncak kujelajahi semua

tetapi tak berhasil menemukan bayangan kecil itu. Petang

hari baru aku kembali dan memberitahukan peristiwa itu

kepada ji sucou kalian Menurut dugaan ji-sucoumu, wanita

itu jika bukan orang yang datang hendak membunuh Ban

Hong Liong-Li tempo hari, tentulah Ban Hong Liong-li

sendiri.”

Sejenak berhenti menghela napas, paderi tua itu

melanjutkan pula:

“Keesokan harinya, seorang murid paderi telah

mengumumkan bahwa suhumu tak dapat hadir dalam

pelajaran pagi, Saat itu baru ketahuan bahwa suhumu telah

meninggal dunia diatas tempat pembaringannya.”

“Ketika aku dan ji-sucoumu datang ternyata suhumu

telah mengalami peristiwa yang menyedihkan. Sebatang

golok emas telah menancap pada perutnya, Golok itu

adalah khusus buatan suku Biau yang disebut Kim-wan-to.

Tentulah sebelum pergi, Ban Hong Liong-li telah masuk

kedalam tempat tinggal suhumu, menangis dan meratap

supaya suhumu suka kembali menjadi orang biasa lagi,

Tetapi karena suhumu tak meluluskan akhirnya baru

menggunakan kesempatan suhumu lengah, dia terus turun

tangan membunuhnya.”

“Adakah sam-sucou tidak mempunyai lain dugaan

bahwa pembunuh suhu itu bukan Ban Hong Liong-li

locianpwe ?” tanya Gin Liong.

Paderi tua merenung dan sampai lama baru dapat

membuka mulut. “Siapakah kiranya orang itu?”

“Soal itu pada suatu hari aku tentu dapat menyingkap

tabir kegelapan,” kata Gin Liong.

“Jika bukan dia lalu siapakah yang mampu membunuh

suhumu ? Siapa yang berlutut memeluk lutut suhumu ?”

tanya paderi tua.

Melihat sam-sucounya agak tak senang hati, terpaksa

Gin Liong hanya mengiakan dan tak berani membantah

lagi.

“Kemungkinan tentu masih terselip suatu rahasia,

Kuharap kalian dapat menyelidiki hal itu hingga dapat

diketahui siapakah sebenarnya pembunuh yang kejam itu,”

kata paderi tua pula.

“Gin Liong dan Yok lan,” kata paderi tua, “setelah dapat

mengejar Ban Hong Liong-li kalian harus dapat mengetahui

siapa pembunuhnya, Setelah itu carilah dia sampai ketemu

lalu potong kepalanya untuk engkau sembahyangkan

dipusara suhumu.”

Demikian setelah memberi pesan, akhirnya paderi tua

itupun segera melanjutkan perjalanan sesuai yang

direncanakan.

“Liong koko, kemanakah rencana kita sekarang ?” tanya

Yok Lan setelah sam-sucounya pergi.

“Ke Ciau-koan dulu.” kata Gin Liong.

Dengan menunggang kuda, tak berapa lama mereka

sudah mencapai 30-an li. Tak berapa lama mereka melihat

sebuah puncak menara.

“Lan-moay, lihatlah, di bawah menara itu tentu sebuah

kota” kataGin Liong,

Merekapun segera pesatkan kudanya, Setelah dua-puluh

li jauhnya, Gin Liong berkata agak kecewa: “Menilik

keadaannya kita mungkin harus melanjutkan perjalanan

lagi.”

Saat itu udara mendung dan kilatpun berulang kali

memancarkan sinar, Menara itu tinggi menjulang ke

angkasa, sekitarnya ditumbuhi pohon siong kate.

Hujan mulai mencurah, Untung saat itu keduanya sudah

tiba pada jarak enam tujuh puluh tombak dari menara itu.

Cepat2 mereka larikan kudanya dan meneduh di bawah

menara itu.

Dari pancaran sinar kilat yang menyambar, seketika Gin

Liong dapat mengetahui bahwa pintu pagoda itu tingginya

dua tombak, lebar beberapa depa, Bagian bawah luasnya

hampir tiga tombak, Keadaan pagoda sudah banyak rusak,

pintunya sudah berlubang, ujung dinding penuh

bergelantungan kelelawar.

“Pagoda itu tak kurang dari seratus tahun umurnya” kata

Gin Liong setelah meninjau keadaan pagoda tua itu.

“sayang tiada orang yang merawatnya. sehingga rusak dan

terlantar.”

Rupanya Yok Lan ketakutan melihat suasana di

sekeliling tempat yang begitu seram ia menanyakan berapa

lama hujan akan berhenti.

“Rasanya malam ini hujan tentu turun terus” kata Gin

Liong, Kemudian ia mengajak Yok Lan naik ketingkat atas

untuk melihat sebelah muka. Apabila terlihat suatu desa

atau kota, mereka segera akan melanjutkan perjalanan lagi.

Keadaan tingkat ketiga masih lumayan Terdapat tangga

untuk naik ketingkat keempat, Benar juga perhitungan Gin

Liong, Lebih kurang dua-puluh jauh di sebelah muka,

tampak berkerlipan cahaya lampu.

“Kemungkinan itulah kota Ciau-koan” kata Gin Liong.

Halilintar meletus dahsyat. Ruang pagoda itu berguguran

debu dan kotoran, Yok Lan makin ketakutan, ia mengepal

tangan Gin Liong erat-2, Gin Liongpun memeluk pinggang

Yok Lan dan memandang, Pada saat itu terkenanglah ia

pada empat tahun yang lampau. Saat itu ia berada dalam se

buah guha bersama sumoaynya. Diluar salju turun lebat, ia

masih ingat jelas, kala itu mereka duduk merapat dan ia

telah mencium sumoaynya . . .

Gin Liong tersentak dari lamunan, ia mengusap kepala

Yok Lan dengan lengan bajunya. Adegan tiga belas tahun

yang lampau terulang kembali, Keadaan saat itu, benar- tak

ubah seperti belasan tahun yang lampau, Bedanya dulu

yang turun salju, sekarang hujan.

Seperti dahulu, saat itu Yok Lanpun diam saja dan

membiarkan sukonya mengusap titik air hujan pada

kepalanya, Bahkan ia merasa bahwa hanya apabila dalam

pelukan sukunya ia baru merasa bahagia dan aman.

Gin Liong tak kuat menahan keinginannya untuk

mencium sumoaynya tetapi ia tak melakukan hal itu

melainkan berkata: “Lan-moay, malam ini terpaksa kita

harus menginap disini.”

Yok Lan hanya mengangguk Gin Liong mengajaknya

turun untuk mengambil selimut dan per bekalan yang

ditinggalkan pada pelana kuda, Setelah itu mereka kembali

naik ke tangga pagoda, sampai ke tingkat yang keenam.

Disini ruang dan lantainya cukup bersih.

Yok Lan menyalakan koreknya habis dan Gin Liong

usulkan supaya mencabut pedang Tanduk Naga dan Ohbak-

kiam, Ternyata kedua pedang pusaka itu dapat

memancarkan sinar yang cukup terang.

“Liong koko, mari kita pelajari lagi ilmu pusaka yang

terdapat pada cermin wasiat itu.” seru Yok Lan.

Gin Liong setuju. Demikian keduanya dengan

berdampingan segera mempelajari lagi huruf2 pada kaca

wasiat yang mengandung ilmu silat yang sakti.

Beberapa saat kemudian Yok Lan berseru: “Liong koko,

mari kita berlatih gerak langkah Sing-hoan-cek-kiong-poh ?”

Ia terus loncat bangun dan segera bergerak2 diatas lantai,

Gin Liong terlongong-longong dan tanpa disadari ia telah

ulurkan tangannya.

Tiba-2 Yok Lan melengking dan loncat ke sudut seraya

berseru marah: “Liong koko, makin lama engkau makin tak

baik.”

Gin Liong tertawa lalu loncat menerkamnya. Yok Lan

tertawa lalu menghindar. Demikianlah, merekapun berlatih

ilmu gerak yang luar biasa seperti yang terdapat pada kaca

wasiat

Setelah berulang kali tak dapat menangkap akhirnya Gin

Liong menyadari sesuatu, ia tertawa, Sebelah kakinya

diangkat dan dengan hanya sebuah kaki ia berputar-putar

sembari menyambar tubuh Yok Lan.

Yok Lan terkejut ketika pinggangnya tertangkap tangan

Gin Liong, ia meronta sekuatnya sehingga keduanya jatuh

ke lantai, Gin Liong segera memeluk sumoaynya.

“Liong koko, lepaskan Mari kita mempelajari ilmu sakti

pada kaca itu lagi . . “

Tetapi saat itu Gin Liong seperti kena pesona melihat

kecantikan wajah sumoaynya, ia mencium bibir Yok Lan,

Dara itupun diam saja, ia terkenang dulu ketika masih kecil,

memang sering sukonya itu mencium pipinya, Tetapi baru

saat itu mencium bibirnya, ia merasa bahagia sekali.

Gin Liong menyelimuti tubuh Yok Lan dan

keduanyapun segera tidur, Entah berapa lama ketika

membuka mata, hujanpun sudah berhenti Yok Lan juga

bangun. Ternyata saat itu hari sudah terang tanah. Mereka

lalu berkemas2 melanjutkan perjalanan lagi.

Hari masih pagi sekali, jalan masih sepi orang. Setelah

matahari terbit, merekapun memasuki kota Ciau-koan.

Setelah makan, mereka melanjutkan perjalanan lagi,

Menjelang petang mereka tiba dikota Ik-ciu.

Ketika hendak mencari rumah makan mereka terkejut

karena melihat sesosok bayangan kecil dalam pakaian

merah melesat melenyapkan diri ke luar dari sebuah rumah

makan.

Tetapi kedua anak muda itu tak menaruh perhatian,

keduanya segera masuk kerumah penginapan setelah

makan mereka keluar untuk mencari berita tentang jejak

Ban Hong Liong-li. Tetapi tak berhasil Akhirnya mereka

kembali ke rumah penginapan lagi.

“Liong koko, lihatlah ini !” tiba2 Yok Lan berseru

sembari menunjuk sebuah poci teh di meja nya.

Gin Liong terkejut ketika mendapatkan dibawah poci teh

itu tertindih secarik kertas, Ketika diambil ternyata kertas

itu berisi tulisan.

“Liong koko, kenalkan engkau pada Siok Lian suthay ?”

tanya Yok Lan seraya serahkan kertas itu kepada Gin

Liong.

Gin Liong membacanya:

“Harap segera datang ke biara Koan Im perlu bicara, Di

tepi telaga telah tersedia perahu kecil untuk menyeberang.

Siok Lian suthay.”

Gin Liong cepat loncat keluar, Saat itu langit cerah,

rembulan terang, Sesosok bayangan melesat dari tempat

gelap terus lenyap, Gin Liong hendak mengejar tetapi dua

jongos, kebetulan muncul, Yok Lan mencegah sukonya

mengejar.

Gin Liong terpaksa masuk lagi.

“Liong koko, kurasa surat itu mempunyai hubungan

dengan orang yang menghilang tadi”, kata Yok Lan.

Gin Liong mengiakan: “Aku tak kenal dengan Siok Lian

suthay”,

“Atau sengaja hendak mempermainkan kita, atau

memang Siok Lian suthay itu tokoh dari perkumpulan

Thian-leng-kau” kata Yok Lan,

Mereka bertanya tentang biara Koan-im-yan kepada

seorang jongos, “Ya, memang ada, biara itu sangat terkenal,

jika tuan hendak berkunjung ke sana, boleh naik perahu

melintasi telaga Tok-san-ou, setengah jam saja tentu

sampai,” jongos memberi keterangan

“Apakah dalam biara itu terdapat seorang rahib yang

bernama Siok Lian suthay ?” tanya Gin Liong pula.

“Ada”, kata si jongos, “Siok Lian suthay adalah kepala

dari Lian-hoa-yan”.

Gin Liong segera mengajak Yok Lan keluar, Mereka

menuju ke utara, Ketika tiba di telaga mereka terkejut

karena di tepi telaga telah menunggu sebuah perahu,

Sesosok tubuh kecil yang berada di haluan perahu tengah

membelah kayu bakar.

Menilik pakaiannya bercorak jubah paderi, Gin Liong

menduganya tentulah Siok Lian suthay. Orang itu

mengenakan caping dan kepalanya dibungkus dengan kain

sehingga tak kelihatan bagaimana wajahnya. Hanya yang

menonjol sepasang mata orang itu berkilat2 tajam.

Dengan memberi hormat Gin Liong menegur tetapi

rahib itu menyahut dengan nada dingin: “Si cu berdua

sungguh memegang janji”, Kemudian ia mempersilahkan

Gin Liong dan Yok Lan naik ke atas perahu,

Ketika kedua anak muda itu loncat ke geladak perahu,

sedikitpun kakinya tak mengeluarkan suara apa2. Tetapi

rahib itu tak terkejut ia segera mendayung ke tengah,

sikapnya tak mempedulikan kedua anak muda itu. perahu

meluncur cepat sekali.

Pemandangan telaga di waktu malam memang indah.

Tak berapa lama disebelah muka tampak menggunduk

hitam, Ketika tiba ternyata merupakan sebuah kelompok

bunga teratai yang luasnya beberapa meter, Menilik

bentuknya menyerupai sebuah jalan diatas air, jelas bunga

teratai itu tentu dipelihara orang.

Yok Lan dan Gin Liong tertarik melihat pemandangan

itu. Dalam pembicaraan selanjutnya Gin Liong berkata:

“Jika pemandangan disini tak indah, tentulah Siok Lian

suthay takkan meninggalkan surat rahasia mengundang

kami datang ke mari !”

Baru Gin Liong berkata begitu, dari arah belakang

terdengar orang mendengus geram, dan ketika berpaling,

kedua anak muda itu terkejut sekali.

Rahib yang mukanya tertutup kain itu tidak lagi

melanjutkan mendayung melainkan tengah mengayunkan

kayuh menyerang dengan jurus Heng-soh-ngo-gak atau

Menyapu-lima-gunung, sebelum kayuh tiba, anginnya

sudah menderu-deru menyambar ke arah Gin Liong.

Peristiwa itu tak terduga2 dan jaraknya amat dekat

sekali, apalagi berada di tengah telaga.

Gin Liong dan Yok Lan berteriak kaget. Ke duanya tak

sempat lagi untuk menghindar. Dalam gugup kedua anak

muda itu loncat kedalam telaga

Rahib itu tertawa gembira sekali.

Pada saat rahib yang mukanya berselubung kain cadar

itu tertawa gembira, Gin Liong dan Yok Lan segera bersuit

nyaring, dengan gunakan ilmu tata-langkah Sing-hoan-poh,

kedua muda-mudi itu menginjak daun teratai lalu dengan

meminjam tenaga-pijakan itu keduanya melayang keperahu

lagi.

Rahib berselubung muka itu terkejut bukan kepalang,

itulah suatu ilmu meringankan tubuh yang bukan kepalang

hebatnya, Cepat ia ayunkan kayuh untuk menyapu kedua

pemuda itu.

Tetapi Yok Lan lebih gesit, Sebelum kayuh menyapu, ia

sudah tiba di haluan perahu lalu enjot tubuhnya loncat

menghindar ke sebatang teratai lagi.

Saat itu Gin Liongpun sudah tiba di buritan perahu.

serentak ia menghantam bahu kiri rahib itu.

Rupanya rahib itu juga lihay, Tahu kalau bahunya

disambar angin, ia segera memutar kayuh menghantam Gin

Liong, Gin Liong terkejut terpaksa ia loncat menghindar ke

atas.

Yok Lan loncat lagi ke perahu seraya taburkan pedang

Tanduk Naga kearah kepala rahib jahat itu, Rahib itu

menjerit kaget dan buru2 tundukkan kepala. Cret …. caping

dan rambut rahib itu terbabat pedang dan berhamburan

jatuh.

Ah… Yok Lan tertegun Rahib itu ternyata memelihara

rambut bagus, Dalam pada itu ketika masih berada di

udara, Gin Liongpun lepaskan sebuah hantaman. Tetapi

rahib itu cepat loncat ke-dalam air.

Setelah meluncur didalam perahu, Gin Liong pun

berseru : “Lan moay, celaka !”

Yok Lan tahu bahwa rahib itu tentu hendak

membalikkan perahu, ia tak pandai berenang. cepat ia

berteriak dan memegang tangan Gin Liong, Gin Liong

menggembor keras lalu menghantam sekuat-kuatnya ke

permukaan air, bum .. . . air muncrat, menimbulkan

gelombang besar dan perahu Gin Liongpun meluncur

mundur.

Setelah gelombang reda, tampak di permukaan air dua

buah tangan halus yang berenang lalu menyelam lagi.

Hantaman Gin Liong tadi telah membawa perahunya

menyurut mundur sampai beberapa tombak, masuk

kedalam gerumbul rumpun teratai, Yok Lan mendapatkan

kayuh perahu, Gin Liong meminta kayu itu, ia yang akan

mendayung.

“Liong koko, dia datang lagi!” tiba-2 Yok Lan berseru,

menunjuk ke permukaan air.

Dibawah sinar rembulan, tampak permukaan telah

tersiak keras, sesosok tubuh berenang menuju ke perahu

Gin Liong,

Gin Liong terkejut melihat kepandaian berenang rahib

berambut itu yang begitu hebat, ia terus mendayung perahu

keluar dari rumpun teratai. Saat itu rahib sudah tiba pada

jarak dua tombak dari perahu, Yok Lan berseru suruh Gin

Liong cepat mendayung.

Tetapi rahib itu lebih cepat, Saat itu sudah tinggal satu

tombak jaraknya, Tetapi Gin Liong dengan tertawa dingin

segera mendayung dan perahu itupun mundur lagi sampai

dua tombak dari rahib.

“Liong koko, dia nanti mati tenggelam,” Yok Lan

mencemaskan rahib itu.

“Jangan menghiraukannya, dia dapat menyelam dalam

air selama lima hari,” kata Gin Liong. la lanjutkan

mendayung perahu menuju ke tepi.

“Liong koko,” kata Yok Lan, “apakah kita jadi ke kuil

Koan-im-yan ?”

Gin Liong mengangguk. Dari tepi kuil itu hanya terpisah

beberapa li, Gin Liong menerangkan lalu berpaling ke

belakang, rahib itu terpisah belasan tombak jauhnya. Tak

berapa lama merekapun tiba di tepi telaga, Sebuah hutan

bambu yang luasnya berpuluh tombak, kuil Koan-im-yan

berada didalam hutan itu.

Gin Liong dan Yok Lan terus masuk kedalam hutan itu.

Mereka menemukan sebuah jalan yang lebarnya satu

tombak dan dialas dengan batu hijau, dari tepi telaga

sampai kedalam hutan.

Sepanjang menyusuri jalan itu, keadaannya bersih, tiada

daun yang berhamburan di jalan. Tentulah para rahib kuil

yang rajin membersihkannya.

Apa yang diceritakan jongos penginapan itu memang

benar Kuil Koan-in-yan memang sebuah tempat yang indah

alamnya.

Pintu kuil itu dicat hitam dan terkancing rapat2. Grendel

pintu amat kokoh dan bersinar remang. Dimuka pintu

dihias dengan sepasang singa dari batu.

Tiba diujung penghabisan dari hutan bambu, ternyata

masih terpisah beberapa tombak dari kuil. Tiba dimuka

pintu, mereka melihat papan nama tergantung diatas pintu

dan berbunyi: Koan-im-yan.

“Liong koko, apakah kita akan melompati tembok ?”

Yok Lan.

“Tidak, kita akan masuk lewat pintu,” kata Gin Liong

lalu menghampiri pintu dan mendebur. Karena tiada

penyahutan, Gin Liong hendak mendebur lagi, Tetapi tiba2

ia mendengar derap langkah kaki berlari-lari dari dalam

kuil.

Begitu pintu terbuka, muncullah seorang rahib sekira

berumur 21-22 tahun. Gin Liong dan Yok Lan terkesiap.

Ternyata rahib itu berkepala gundul tidak seperti rahib

didalam perahu tadi.

“Ada keperluan apakah sicu berdua mengetuk pintu kuil

kami ? Apakah sicu tersesat jalan. Maaf, peraturan kuil itu

tak dapat menerima tetamu pria. Harap sicu cari lain

tempat saja,” kata rahib itu, terus hendak menutup pintu

lagi.

“Tunggu,” seru Gin Liong, “mohon suhu suka

memberitahukan kepada Siok Lian suthay bahwa aku Siau

Gin Liong dan Ki Yok Lan datang hendak menghadap.”

Rahib itu terkesiap: “Bilakah sicu berdua menerima

undangan dan suthay kami?”

“Sore tadi.” kata Gin Liong.

Rahib itu makin terkejut, gumamnya: “Apa-kah mungkin

mempunyai hubungan dengan sam-suci kami yang baru

kembali . . ..”

“Ya, benar, memang suhu itu,” cepat Gin Liong

menukas.

Mendengar itu wajah rahib agak berobah, serunya:

“Harap sicu tunggu dulu, aku hendak memberi laporan

kepada suthay.

“Baiklah, harap sicu tunggu,” kata rahib itu seraya

berputar tubuh dan melangkah masuk. Diam2 Gin Liong

memperhatikan bahwa rahib itu memiliki ilmu silat.

Tak berapa lama rahib itu bergegas keluar dari ruang

besar lagi dan mempersilahkan Gin Liong berdua masuk,

menunggu di ruang tamu. Tak berapa lama seorang rahib

muda menghidangkan minuman teh. Kemudian muncullah

seorang rahib tua berwajah segar dan ramah, mengenakan

jubah warna kelabu, tangannya memegang kalung tasbih.

Berwibawa dan menimbulkan rasa hormat orang.

Begitu masuk rahib tua itu segera meminta maaf karena

tak lekas datang menyambut, lalu menanyakan maksud

kedatanganGin Liong berdua.

Gin Liong dan Yok Lan segera menduga bahwa rahib

tua itu tentulah Soh Lian suthay, Keduanya tersipu-sipu

memberi hormat.

Demikian setelah dipersilahkan, Gin Liong lalu

menyerahkan surat dari Soh Lian suthay yang

mengundangnya datang, Tentang rahib yang

mencelakainya di perahu, ia masih belum mau mengatakan

Melihat surat itu, Soh Lian suthay tertawa lalu berpaling

kepada rahib gundul yang berdiri disampingnya. “cobalah

tengok sam -sucimu apakah sudah berganti pakaian dan

undanglah dia kemari.”

Setelah rahib muda itu pergi maka Soh Lian suthay

bertanya pula: “Apakah selama dalam perjalanan kemari,

sicu berdua tak mengalami sesuatu ?”

Terpaksa Gin Liong menceritakan pengalaman yang

dideritanya dalam perahu, Saat itu rahib gundul masuk pula

bersama seorang rahib berwajah terang, umur sekira 25-26

tahun,

“Liau In, ceritakan pengalamanmu malam tadi kepada

kedua sicu ini,” kata Soh Lian suthay

Rahib muda berwajah cerah itu bernama Liau In.

Dengan agak merah mukanya, ia memberi hormat kepada

Gin Liong dan Yok Lan lalu menutur: “Menjelang sore,

pinni ke kota membeli minyak, setengah li dari pintu kota

Ik-ciu, tampak seorang rahib berjalan dengan gopoh…”

“Berapakah umur rahib itu ?” tukas Yok Lan.

Lian In merenung, ujarnya: “Saat itu cuaca sudah

petang, aku tak dapat melihat jelas, Tetapi rasanya belum

ada tiga-puluh tahun.”

Berhenti sejenak ia melanjutkan: “Rupanya rahib itu

gelisah sekali, Pada saat lewat di sampingku setelah

memandangku sejenak, tiba2 ia terus menyerang. Karena

tak menduga-duga, aku kena diringkus oleh rahib cantik

itu.”

Bercerita sampai disitu, wajah rahib Liau In perlebar

merah lagi, Rupanya Gin Liong dapat menduga, Waktu ia

hendak bertanya, Liau In sudah melanjutkan lagi..

“Rahib cantik itu menyeret aku ke tempat sepi lalu

menutuk jalan darahku dan melucuti pakaianku, untunglah

saat itu muncul seorang tua berilmu yang menolong aku

dan mengantarkan sampai ke tepi telaga, Tetapi perahu

yang tersedia disitu sudah tak ada.”

“Apakah jubahnya berwarna kuning telur dan

mengenakan baju lengan pendek warna merah ?” seru Yok

Lan.

“Benar, dan membawa sebatang kebut Giok-hud-tim,”

seru Liau In.

“Tak salah lagi, dialah Biau Biau sian kho yang gemar

mencelakai orang,” seru Gin Liong.

Mendengar nama Biau Biau sian-kho, wajah Liau In

serentak berobah lalu berpaling ke arah Soh Lian suthay.

Soh Lian suthay menyebut “omitohud” dan dengan

tenang berkata: “Sungguh tak kira kalau binatang itu lagi…”

Rahib gundul serentak melangkah maju memberi hormat

kepada Soh Lian suthay: “Mohon suthay mengiijinkan

murid ke telaga untuk menghukum murid murtad itu.”

Tetapi Soh Lian suthay dengan wajah bersungguh segera

berkata: “Orang jahat tentu dibasmi orang jahat. Kejahatan

Biau Biau sian-kho sudah melewati batas, akhirnya dia

tentu akan terbasmi hanya saatnya belum tiba. jangan

engkau terperangsang sehingga kejernihan hatimu

terganggu.”

Rahib gundul itu mengiakan dan segera mundur. Dalam

pada itu setelah tahu duduk perkaranya Gin Liong dan Yok

Lanpun segera minta diri.

Soh Lian suthay mencegah, mengatakan hari sudah

malam dan hendak menjamu mereka tetapi Gin Liong tetap

pamit pulang, Akhirnya Soh Lian suthay menitahkan dua

orang rahib gundul mengantar.

Dengan perahu yang lebih besar, kedua rahib itu segera

mengantarkan Gin Liong dan Yok Lan. Cepat sekali perahu

itu sudah keluar dari gerumbul taman teratai, Dan setengah

jam kemudian sudah tiba di tepi, Diam2 Gin Liong

membatin, anak murid Soh Lian suthay itu berkepandaian

tinggi, jika tidak diserang secara tiba2, tak mungkin dapat

diringkus Biau Biau sian-kho.

Gin Liong dan Yok Lan kembali ke rumah penginapan

lagi, Setelah siang, baru tetamu2 meninggalkan rumah

penginapan.

“Liong koko,” kata Yok Lan, “kebanyakan tetamu yang

menginap disini, tak terburu-buru menempuh perjalanan,

Yang terburu-buru, tentu menginap di rumah penginapan

luar kota, Mari kita periksa rumah2 penginapan itu,

mungkin Liong Li locianpwe berada disana.”

Gin Liong setuju. Keduanya segera menuju ke pintu kota

selatan. Setelah keluar dari pintu kota, mereka mulai

bertanya kepada setiap rumah penginapan Tetapi sampai

tiga rumah penginapan mengatakan tak ada. Terakhir pada

rumah penginapan yang paling selatan sendiri, Gin Liong

mendapat keterangan yang mengejutkan.

Jongos menerangkan bahwa memang ada seorang

wanita seperti yang dilukiskan Gin Liong itu, menginap di

rumah penginapan situ, Wanita memiliki sepasang mata

yang terang, berwarna agak kecokelat-cokelatan.

Gin Liong dan Yok Lan girang sekali, Menurut

keterangan jongos, tetamu wanita itu sudah pergi lima hari

yang lalu. Gin Liong memberi persen kepada jongos itu lalu

mengajak Yok Lan melanjutkan perjalanan Kini dia sudah

memperoleh jejak Ban Hong Liong-li.

Tiap tiba di kota, keduanya segera mencari keterangan ke

hotel2. Beberapa hari kemudian walaupun belum berhasil

menyusul, tetapi mereka sudah memperoleh keterangan

yang pasti, Tiap dua hari sekali, Bang Hong Liong-li tentu

bermalam di hotel, kebanyakan hotel2 diluar kota, jarang

Ban Hong Liong-li makan di rumah makan besar,

kebanyakan hanya di rumah makan kecil. Mungkin untuk

menghindari perhatian orang.

Gin Liong memperhitungkan bahwa Ban Hong Liong-li

tentu berada di muka, sedang rumah penginapan pada

perjalanan yang akan tiba adalah rumah penginapan Liulim-

tiam. Tetapi dari kota Sin-ca-koan ke Liu-lim-tian itu

harus melalui gunung Ke-kong-san, markas besar Thianleng-

kau.

Diperhitungkan pula, bahwa cara yang terbaik untuk

menyusul Ban Hong Liong li ialah mendahului untuk

menunggu disuatu tempat yang diperkirakan Ban Hong

Liong-li akan berhenti.

Jika menuju ke Ke-kong-san untuk memenuhi tantangan

Thian-leng-kau, ia harus menggunakan waktu satu hari, itu

berarti masih setengah hari dapat lebih dulu datang ke Liulim

tiam daripada Ban Hong Liong-li.

Setelah dipertimbangkan akhirnya Gin Liong dan Yok

Lan memutuskan untuk memenuhi tantangan orang Thianleng-

kau kepada Li Kun dulu.

Menjelang sore, mereka sudah tiba dikota Tiang-siu,

kira2 dua-puluh li dari gunung Ke-kong-san, Keduanya

bermalam disebuah hotel.

Di kota Tiang-siu, pun terdapat cabang Thian-leng-kau.

Kabarnya, yang menjadi kepala cabang adalah seorang

wanita muda yang cantik.

Setelah mandi dan ganti pakaian, Gin Liong dan Yok

Lan duduk di serambi untuk merunding rencana perjalanan.

Tiba2 muncul dua orang menghampiri mereka, Yang satu

bertubuh gemuk, satu kurus, Keduanya berjalan dengan

sikap congkak, Setelah melihat Gin Liong dan memandang

Yok Lan, si kurus memberi hormat.

“Saudara berdua hendak ke mana, mengapa bermalam

disini, Siapa nama saudara, perguruan dan guru saudara.

Harap suka memberi tahu agar aku…”

Melihat ulah kedua orang itu, Gin Liong sudah muak,

cepat ia menukas: “Aku menuju ke seluruh penjuru,

menginap hotel dengan membayar, bukan bangsa

penyamun juga bukan pesakitan, Mengapa kalian hendak

menanyakan diri kami ?”

Si gemuk mengerut dahi lalu membentak keras: “Tutup

mulutmu, budak hina. Ketahuilah, tempat ini adalah darah

kekuasaan partai kami !” Habis berkata ia terus loncat

masuk.

“Kawanan tikus, engkau hendak cari mampus ? Hayo,

enyahlah!” Gin Liong marah dan menghantam.

“Jangan, koko,” cegah Yok Lan, ia kuatir tindakan

sukonya itu akan mengejutkan orang2 Thian-leng-kau.

Tetapi tangan Gin Liong sudah terlanjur berayun,

seketika terdengar suara orang mengerang disusul dengan

derap gemuruh dari kaki yang terhuyung-huyung.

Si gemuk telah terlempar keluar. Wajahnya pucat, kedua

tangannya mendekap perut, Rupanya untuk memeriksa

pernapasannya apakah terluka, Ternyata ia tak menderita

luka. Dia terlongong-longong heran.

Yok Lan segera keluar dan berkata kepada kedua orang

itu.

“Kami hendak memenuhi undangan dari Pit-pengacaudunia

Yu Ting-su, pemimpin ketiga dari Thian-leng kau.

Karena sudah malam, kami terpaksa menginap disini, Lalu

apa yang kalian kehendaki dari kami.”

Mendengar itu si kurus segera merobah sikapnya.

Dengan hormat ia berkata: “Maaf, kami tak tahu kalau

saudara berdua sahabat dari pemimpin kami.”

Saat itu jongos muncul membawa hidangan, Si kurus

meminta Gin Liong berdua supaya mengganti dengan

hidangan yang lebih mahal, semua biaya akan ditanggung

mereka, Tetapi Gin Liong menolak.

Kemudian si kurus menerangkan bahwa kepala cabang

dikota itu, Busur-emas-pelor-perak Long Ci Ing karena

sudah menuju ke markas maka tak dapat menyambut.

Gin Liong mengucapkan beberapa kata terima kasih,

Masih si kurus hendak mengunjuk jasa, menawarkan untuk

memberitahu lebih dulu ke markas besar agar dapat

menyambut kedatangan Gin Liong. Tetapi Gin Liong

menolaknya.

Masih pula si kurus menawarkan jasa untuk mengantar,

Yok Lan terpaksa menerima: “Baiklah, karena saudara

bersungguh hati hendak mengantar, baiklah besok pagi

harap datang kemari.”

Keesokan harinya ternyata si kurus sudah siap

menunggu. Mereka bertiga segera naik kuda menuju ke

gunung Ke-kong-san, Tiba di kaki gunung sebelah utara, si

kurus lalu mengeluarkan bendera merah kecil dan

diacungkan keatas kepala.

Ketika mendaki ke lereng, mereka terkejut mendengar

suara gemuruh. Ketika menanyakan, si kurus menerangkan:

“Sungguh kebetulan sekali sau dara datang pada saat ini,

inilah untuk yang pertama kali Thian-leng-kau mengadakan

pertandingan pi-bu. Dan hari ini merupakan hari terakhir,

Besok sudah akan ditetapkan kedudukan dan jabatan

masing2. Jika Long thocu kami menang, aku akan ikut

pindah ke cabang di Kong-ciu.”

Rupanya si kurus ingin membanggakan

perkumpulannya, ia melanjut lagi, Menerangkan bahwa

anggauta2 Thian – leng – kau rata2 memiliki ilmu tinggi

sekali. Akan mempersatukan kaum persilatan untuk diajak

menjalankan keadilan dan kebenaran, membasmi

kejahatan.

“Siapakah kiranya nama suhu dari pemimpin partai

saudara itu ?” tanya Gin Liong.

“Entahlah,” si kurus gelengkan kepala, “yang kami

ketahui hanialah kaucu kami itu bernama Hong-hu Ing dan

adik perempuannya bernama Hong-hu Yan, kedua kakak

beradik itu berilmu tinggi sekali. Sampai sekarang belum

terdapat orang yang mampu melayani mereka sampai

sepuluh jurus…”

Saat itu suara sorak sorai makin bergemuruh. Si Kurus

menerangkan bahwa tentu ada orang yang menenangkan

pertandingannya.

Yok Lan kerutkan alis dan bertanya heran: “Diatas

kepala cabang hanya kaucu. Lalu siapa sajakah kepala2

cabang itu.”

“Setiap orang hanya untuk sementara ditetapkan

kedudukannya, bahkan termasuk diri kaucu sendiri juga,”

kata si kurus. ia berhenti, sejenak lalu berkata pula:

“Menurut keterangan Long thocu, dibawah kaucu

terdapat tiga kepala bagian dalam, dan tiga kepala kepala

bagian luar, Setelah itu baru kelima lohu-cu dan kepala

cabang.”

Baru Yok Lau hendak bertanya, tiba2 si kurus sudah

berseru: “Disebelah depan itu adalah markas besar kami!”

Memandang ke muka, tampak sebuah pintu gapura yang

tinggi besar dan sebuah bangunan luas yang dikelilingi

tembok tinggi, Dikedua samping pintu, dijaga oleh berpuluh

penjaga bersenjata golok dan mengenakan pakaian seragam

yang ringkas.

Di sebelah muka agak keluar dari pintu itu terdapat

tempat lelaki yang menuntun kuda, Salah seorang

diantaranya seorang tua baju panjang dan yang tiga

mengenakan pakaian ringkas.Mereka membawa senjata.

Thio Su demikian nama si kurus, segera menerangkan

bahwa keempat pendatang itu juga hendak ikut dalam pibu.

Harap saudara berdua nanti jangan bicara apa2. biarlah

aku yang menghubungi para penjaga pintu itu.

Benar juga setelah tiba di muka pintu besar, Thio Su

segera mengambil sekeping lencana tembaga dan

diserahkan kepada penjaga.

Tiba2 penjaga yang berdiri di tengah, setelah memeriksa

lencana, lalu mengembalikan kepada Thio Su, katanya:

“Walaupun kedua tuan ini sahabat dari Yu tancu tetapi Yu

thancu belum memberitahu kepada kami. Sekarang

silahkan engkau sendiri yang masuk untuk mengundang Yu

tancu keluar . . .”

Thio Su deliki mata, serunya: “Yu thancu tiap hari sibuk

melakukan tugas, kemungkinan tentu lupa memberitahu.

Tetapi beberapa hari yang lalu Yu thancu telah

memberitahu kepada Long thocu supaya menunggu

kedatangan Siau siauhiap dan diajak kemari ikut dalam

pertandingan pi-bu. Apabila sampai tertunda sehingga

pertandingan sudah bubar, siapakah diantara saudara yang

berani bertanggung jawab ?”

Penjaga2 itu saling bertukar pandang tetapi tak ada yang

menyatakan apa2. Penjaga yang di tengah tadi juga tampak

bimbang.

Saat itu dari dalam markas terdengar pula sorak sorai

yang gemuruh. Tentu ada yang menang dalam

pertandingan

“Saudara,” seru Thio Su makin gugup, “pertandingan pibu

diantara thancu sudah mulai. Kalau saudara tak berani

bertanggung jawab, maka aku akan membawa Siau sauhiap

masuk, Segala perkara, akulah yang tanggung, takkan

melibat saudara2.”

Setelah berkata si kurus mengajak Gin Liong dan Yok

Lan masuk, Penjaga2 itupun memberi jalan.

-ooo0dw0ooo-

Bab 9

Menghadiri Phibu di Thian-leng-kau

Saat itu matahari sudah naik di puncak gunung, Puncak

di sebelah kanan kiri penuh tertutup pohon siong dan rotan

liar. Ternyata markas itu merupakan sebuah lembah

gunung yang luas, penuh dengan bangunan2 dan pohon2.

Berpuluh tombak yang disebelah muka, terdapat sebuah

hutan lebat, Di tengah hutan itu tampak beberapa buah

bangunan gedung yang besar.

Sesudah masuk, Yok Lan dapatkan beberapa anak buah

Thian-leng kau masih memandang dan kasak kusuk.

“Agaknya, tiada yang mengepalai penjagaan di pos pintu

markas perkumpulan saudara,” kata Yok Lan kepada Thio

Su.

Thio Su hanya mengatakan bahwa mungkin mereka ikut

dalam pertandingan pi-bu. Akhirnya mereka disebuah

gedung bangunan yang mempunyai ruangan besar sekali,

Beribu-ribu anak buah Thian-leng-kau berada ruang besar

itu dari tengah memandang ke arah halaman, sebuah

lapangan luas yang merupakan tempat adu pi-bu saat itu.

Terdengar suara gemboran keras dan disambut dengan

tampik sorak dan sekalian anak murid Thian-leng-kau.

Gin Liong bertiga tiba tak jauh dibelakang mereka,

Tampak seorang lelaki berpakaian kelabu dengan muka

merah padam sedang masuk kedalam rombongan anak

murid Thian-leng-kau. Sedang seorang lelaki lain dengan

wajah yang congkak berjalan mendatangi.

Thio Su mempersilahkan Gin Liong dan Yok Lan turun

dari kuda, kemudian mengajaknya masuk kedalam

ruangan. Banyak sekali anak buah Thian-leng-kau yang

berpaling dan memandang ketika Gin Liong bertiga tiba.

Tetapi dengan sikap yang angkuh, Thio Su berjalan paling

depan untuk menunjukkan jalan kepada kedua pemuda itu.

Tiba2 diatas titian yang akan menuju ke panggung

kehormatan dua orang penjaga dengan senjata golok di

pinggang segera tampil menghadang. Thio Su dengan

angkuh segera menunjukkan lencana dan kedua anak buah

Thian-leng-kau itu pun segera menyisih.

Ternyata panggung itu merupakan tempat duduk dari

mereka yang akan turun ke gelanggang untuk menunjukkan

kepandaiannya, Saat itu panggung penuh dengan jago2

bahkan terdapat pula paderi dan imam. Ketika Gin Liong

masuk, sekalian mata hadirin segera mencurah kepadanya,

Ada yang terkejut tetapi tak kurang yang tak mengacuhkan.

Rupanya tempat duduk diatur menurut tinggi rendahnya

kedudukan. Dibagian atas sudah penuh tetapi dibagian

bawah atau yang di muka masih terdapat tempat yang

kosong Gin Liong dan Yok Lan dipersilahkan duduk di

deretan pertama.

Saat itu di gelanggang mulai diadakan pertandingan oleh

dua orang jago.

Gin Liong dan Yok Lan mendapatkan bahwa semua

orang yang duduk di panggung itu sama memperhatikan

dirinya. Panggung dan sekeliling arena pertandingan diatur

dengan megah dan meriah. Ruang besar itu di hias dengan

indah.

Dimuka ruang disiapkan dua deret tempat duduk. Yang

ditengah-tengah, tiga buah kursi besar bercat kuning emas.

Yang tengah, duduk seorang anak muda berumur 28-29

tahun mengenakan pakaian warna biru seperti seorang

sasterawan.

Sasterawan muda itu berwajah tampan dan gagah,

alisnya tebal, mata bercahaya tajam dan mulut

menyungging senyum.

Segera Gin Liong dan Yok Lan menduga bahwa

sasterawan muda itu tentulah Honghu Ing, jago muda yang

menggemparkan dunia persilatan dan kini menjadi ketua

perkumpulan Thian-leng kau.

Disebelah kiri dari Honghu Ing duduk seorang tua

berumur 60 an tahun, Sedang disisi kanan Honghu Ing,

seorang gadis cantik berpakaian ungu muda. Dibelakang

gadis cantik itu duduk dua orang dara, berpakaian ringkas

dan menyanggul pedang di punggung, Rupanya kedua dara

itu adalah bujang pelayan dari si gadis cantik.

Gin Liong dan Yok Dan tahu bahwa gadis cantik itu

tentulahHonghu Yan, adik danHonghu Ing. Tetapi mereka

tak tahu siapakah orang tua berjubah kuning itu.

Disebelah kanan dan kiri dari ketiga kursi kehormatan

itu, masih terdapat enam orang. Ada yang berumur 40-70

tahun, yang termuda berumur 40-an tahun, Menilik wajah

mereka yang merah segar dan tulang pelipisnya yang

menonjol keluar, jelas mereka tentu jago2 yang hebat

tenaga dalamnya.

Kemudian pada deretan kursi yang kedua, tampak diisi

oleh delapan orang, Pit-pengacau-dunia Yu Ting Su, duduk

disalah satu dari tiga kursi yang paling tengah.

Yu Ting Su mengenakan pakaian ringkas, punggungnya

menyelip sebatang poan koan-pit dan tengah memandang

dengan perhatian ke tengah gelanggang.

Dibelakang kedua deret kursi itu, penuh berdiri berpuluhpuluh

orang. Diantaranya tampak Tio hiang cu yang telah

dipotong daun telinganya oleh Tio Li Kun tempo hari.

Tiba2 beberapa jago berpakaian biru, berpaling

memandang Thio Su yang saat itu tengah menghampiri ke

tempat Yu Ting Su. Yu Ting Su berpaling dan terkesiap,

Thio Su membisiki ke dekat telinga Yu Ting Su tetapi orang

she Yu itu gelengkan kepala.

Ketika memandang ke deretan muka tempat Gin Liong

dan Yok Lan duduk, wajah Yu Ting Su serentak berobah,

ia mendorong Thio Su lalu berbangkit dan bergegas

menghampiri ke kursi ketua. sikapnya tegang sekali.

Saat itu terdengar sorak sorai bergemuruh dan kedua

orang yang bertanding, pun sudah tinggalkan lapangan.

Gin Liong berpaling ke belakang. Tampak Yu Ting Su

tengah berdiri dibelakang Honghu Ing dan membisiki

beberapa patah kata,Wajah Honghu Ing berobah serius.

Rupanya gerak gerik Yu Ting Su itu menimbulkan

perhatian segenap orang yang hadir disitu, setelah

mendapat laporan, mata Honghu Ing pun segera mencurah

kearah Gin Liong dan Yok Lan. Sekalian orangpun

mengikuti memandang kearah yang dipandang ketua

mereka, Gin Liong dan Yok Lan menjadi pusat perhatian

seluruh anak buah Thian leng-kau. .

Tatkala memandang kearah Yok Lan, Honghu Ing

terkesiap melihat kecantikan nona itu, Setelah

menenangkan hatinya barulah ketua Thian-leng-kau itu

beralih memandang Gin Liong.

Rupanya Honghu Ing tak mau suasana akan terganggu.

Segera ia membeli isyarat tangan kepada seorang lelaki baju

putih yang berdiri di ujung deretan depan, Orang itupun

mengangguk lalu melantangkan pengumuman.

“Pui Kong Cin, sesuai dengan pertandingan yang terdiri

dan tiga-puluh jurus, telah dapat mengalahkan Li Tiang Su,

maka sekarang diangkat sebagai kepala cabang di Sin-an,”

serunya.

Selesai pengumuman, lelaki baju kelabu yang berdiri di

titian bawah panggung, segera memberi hormat kepada

Honghu Ing lalu menuju ke panggung sebelah muka.

Ia menulis dalam sebuah buku, kemudian berseru

melayangkan pengumuman lagi : “Pertandingan selanjutnya

antara kepala cabang di kota Tiang-siu, Busur-emas-pelorperak

Long thocu, lawan ke tua cabang dari Kong-ciu yang

Tongkat-besi-tua Cia thocu.”

Pada deretan tempat duduk yang tak berapa jauh dari

tempat Gin Liong, bangkit seorang lelaki tua berumur 50-an

tahun, mengenakan pakaian ringkas warna abu2,

memegang sebatang tongkat besi yang berat, lalu berjalan

menuju ke lapangan.

Kemudian seorang wanita muda cantik berusia 26-27

tahun dalam pakaian ringkas warna hijau, membawa busur

warna kuning emas, segera loncat turun ke gelanggang.

Pada saat itu Yu Ting Su-pun menghampiri tempat Gin

Liong dan Yok Lan, memberi salam dan berkata dengan

tertawa: “Atas titah kaucu, saudara berdua diminta duduk

di panggung kehormatan.”

Ketika Gin Liong berpaling memandang ke atas

panggung, ketua Thian-leng kau Honghu Ing dan adik

perempuannya Honghu Yan memberi anggukan kepala

kepadanya, Gin Liongpun balas mengangguk lalu mengajak

Yok Lan naik titian keatas panggung kehormatan.

Sambil menyertai, Yu Ting Su berkata: “Saudara berdua

benar2 pegang janji. Kaucu tak mengira kalau saudara akan

datang begini cepat. Lalu mana nona yang seorang itu ?”

“Ah, nona Tio terpaksa pulang dulu karena ada urusan,”

kata Gin Liong.

Selekas masuk ke panggung kehormatan, berpuluh2 jago

Thian-leng-kau serentak menyisih memberi jalan, Honghu

Ing sendiripun segera berbangkit, diikuti oleh seluruh anak

buah Thian-leng-kau.

“Aku yang rendah Honghu Ing, tak tahu kalau Siau

sauhiap dan nona Ki berkunjung kemari sehingga tak keluar

menyambut sendiri, harap suka memaafkan,” kata Honghu

Ing menyambut kedua tetamunya.

Gin Liong balas menghormat seraya mengucapkan

beberapa patah merendah.

Kemudian Honghu Ingpun memperkenalkan jago2 yang

berada disitu kepada Gin Liong, Karena banyaknya, Gin

Liong tak dapat mengingat satu per satu, Hanya ia ingat,

orang tua baju kuning bernama The Hai Hin itu adalah

ayah-angkat Honghu Ing. Sedang yang lain2 adalah para

pimpinan partai Thian-leng-kau.

Selesai memperkenalkan Honghu Ing berkata pula:

“Sungguh kebetulan sekali kedatangan Siau sauhiap ini,

Saat ini merupakan hari terakhir dari pertandingan pi-bu

Thian-leng-kau. Menurut keterangan Yu thancu, saudara

berdua memiliki kepandaian yang sakti. silahkan saudara

duduk dulu, nanti apabila tiba giliran acara pi-bu untuk

memilih ketua, kami hendak mohon saudara yang menjadi

wasit.”

Nona baju ungu Honghu Yanpun segera memberikan

tempat duduk yang kosong disebelahnya.

Gin Liong kerutkan alis dan berkata: “Kepandaian kaucu

sudah termasyhur di dunia persilatan. Sudah lama aku

sangat mengagumi Hari ini kedatanganku ialah hendak…”

Honghu Ing cepat menukas tertawa: “silahkan duduk,

pertandingan segera akan dimulai.”

Di gelanggang tampak Tongkat-besi dan Busur-emas

tegak menunggu komando untuk mulai mengadu

kepandaian.

Melihat itu Gin Liong dan Yok Lan terpaksa duduk

dideretan muka. Mata Honghu Yan yang cantik senantiasa

mencurah kepada Gin Liong.

Gin Liong segan terlalu lama berada di markas Thianleng-

kau, Tetapi demi menghindarkan diri bertempur

dengan orang, terpaksa untuk sementara ia harus tinggal

disitu. Demikian pula karena melihat kedua saudara

Honghu itu bersikap sopan dan tergolong kaum ksatrya,

Gin Liong memutuskan persoalan Li Kun dengan mereka.

Demikian setelah Honghu Ing dan jago2 lainnya duduk,

ketua Thian-leng kau itu segera memberi tanda supaya

pertandingan dimulai.

“Pertandingan dimulai !” seru orang baju putih yang

bertindak sebagai pembawa acara.

Kedua jago di gelanggang memberi hormat kearah

panggung kehormatan lalu melangkah ke-tengah

gelanggang.

Jago tua Tongkat-besi dengan rambutnya yang putih dan

mata berkilat kilat tajam melangkah dengan mantap,

sedangkan wanita muda Busur-emas dengan mengulum

senyum, maju sambil membawa busur. Tampaknya ia yakin

tentu dapat mengalahkan lawan.

Dengan menggembor keras, tiba2 Tongkat-besi memutar

tongkatnya dan menyerang Busur-emas Long Ci Ing.

Long Ci Ing memekik keras, bergeliatan dan

menghindari serangan tongkat lalu balas menghantam

dengan busur

Serangan pertama luput, Tongkat-besi Cia Ki segera

berputar tubuh dan menyerang lagi.

Pada saat itu Yok Lan benturkan siku lengannya kearah

Gin Liong, Pemuda itu tahu dan mengerlingkan pandang,

Dilihatnya Yu Ting Su tengah kasak kusuk dengan

beberapa jago Thian-leng-kau. Sedang beberapa jago

lainnya juga memperhatikan Gin Liong, Gin Liong hanya

tertawa dingin lalu memandang ke arah gelanggang lagi.

Pertempuran berjalan seru. Masing2 telah mencurahkan

seluruh kepandaiannya. Cia Ki memainkan tongkatnya

sederas angin puyuh.

Sekeliling tempat seluas lingkungan dua tombak, debu

berhamburan tebal. Tetapi Busur-emas Long Ci Ingpun

teramat gesit sekali, Busur diputar menjadi beratus

lingkaran sinar kuning, menyambut serangan tongkat dan

mencari kesempatan untuk balas menyerang.

Sekalian jago2 yang menyaksikan pertempuran itu

geleng2 kepala dan tak henti-hentinya memuji.

Dalam beberapa kejab saja pertempuran itu sudah

berlangsung lebih dari lima puluh jurus Gin Liong kerutkan

dahi.

Rupanya Honghu Yan tahu apa yang dipikirkan Gin

Liong, segera ia tertawa: “pertandingan itu untuk

menentukan jabatan, sebenarnya dibatasi sampai tiga-puluh

jurus, Tetapi kedua orang itu tergolong ketua cabang,

mereka bertempur sampai ada yang kalah.”

Merah wajah Gin Liong karena merasa bahwa nona itu

selalu mengawasi dirinya. ia berpaling dan tertawa,

meminta keterangan: “Mohon tanya, bukankah mereka

berdua sudah menjabat kedudukan sebagai ketua cabang ?”

Dipandang oleh Gin Liong, nona cantik itu berdebar

hatinya. wajahnya bertebar merah lalu menyahut:

“Walaupun sama2 menjadi ketua cabang tetapi

tingkatannya tidak sama, Cia thocu lebih tinggi setingkat

dari Long thocu.”

“Ooh, kalau begitu mereka hanya memperebutkan

tingkat saja?”

Honghu Yan tersenyum mengiakan

“Kalau misalnya Long thocu menang, apakah dia akan

dipindah sebagai ketua cabang di Kong-ciu.”

“Ya, dan Cia thocu akan turun tingkat, di pindah ke

Tiang-siu,” kataHonghu Yan.

“Apakah Cia thocu akan mandah menerima hinaan itu ?

Apakah dia takkan mendendam terhadap Long thocu?

Misalnya pula, sampai ada yang mati dalam pertempuran

itu, tidakkan sahabat dan anak buahnya akan melakukan

pembalasan ?” tanya Gin Liong, Honghu Yan merah

mukanya tak dapat menjawab.

Rupanya Honghu Ing mendengar percakapan itu, ia

segera bertanya: “Kalau menurut pendapat Siau sauhiap,

dengan cara bagaimanakah pertandingan yang

dimaksudkan untuk mencari kemajuan di kalangan ketua2

cabang itu, akan diatur ?”

“Menurut pendapatku,” kata Gin Liong, “pertandingan

harus diberi batas, Apabila pada batas yang ditentukan,

tingkat ketua cabang yang lebih rendah itu tak dapat

dikalahkan oleh yang tongkatnya lebih atas, maka

pertandingan itu harus dihentikan dan kepada ketua cabang

yang tingkat bawah itu supaya dinaikan sama tingkatnya

dengan lawannya. Dengan demikian tanpa mengurangi

dorongan agar mereka giat berlatih, pun dapat dicegah

terjadinya salah seorang akan mati terbunuh dan timbulnya

akibat2 dendam permusuhan dikalangan mereka2 yang

bertanding. Untuk ketua cabang yang tingkatnya lebih atas

itu, boleh diberi kesempatan sekali lagi untuk bertanding

dengan lain ketua cabang yang tingkatnya lebih rendah.”

Orang tua baju kuning atau ayah-angkat dari Honghu

Ing berseru memuji pendapatGin Liong.

Pun Honghu Ing serentak berseru kepada kedua jago

yang sedang bertempur itu: “Harap Cia thocu dan Long

thocu hentikan pertempuran !”

Mendengar itu Tongkat-besi Cia Ki dan Busur-emas

Long Ci Ing segera loncat ke belakang.

Kemudian Honghu Ing bertanya kepada pembawa-acara

baju putih: “Sudah berapa banyakkah mereka bertempur ?”

“Delapan puluh satu jurus !”

Segera Honghu Ing pertandingan sesuai seperti yang

diucapkan Gin Liong tadi dan suruh pengacara mencatat

dalam buku.

Gin Liong terkejut ia hanya mengemukakan pendapat

dan mengharap agar ketua Thian-leng-kau

mempertimbangkan lagi. Siapa tahu ternyata pendapatnya

itu keseluruhannya telah diterima dan dijadikan keputusan.

Ia hendak mengucapkan kata2 kepada Honghu Ing tetapi

orang yang mencatat dalam buku tadi sudah berbangkit dan

melayangkan pengumuman sesuai seperti yang

diperintahkanHonghu Ing tadi.

Pengumuman itu disambut dengan sorak gegap gempita

oleh sekalian anak buah Thian-leng-kun. Bagi jago2

tingkatannya lebih rendah, mereka tidak lagi kuatir akan

kehilangan jiwanya apabila bertempur dengan tokoh yang

lebih tinggi tingkatannya.

Long thancu gembira karena mendapat kenaikan tingkat,

ia segera memberi hormat kepada ketua Thian-leng-kau dan

kepada lawannya si Tongkat-besi Cia Ki.

Melihat masih ada waktu, Honghu Ing memberi isyarat

kepada pengacara baju putih bahwa pertandingan pi-bu

masih boleh dilanjutkan.

“Sekarang dimulai acara pibu antara tingkat pimpinan

dari tancu keatas, Jika tak ada yang hendak mengadu pi-bu

maka pembagian jabatan segera akan ditetapkan,” seru

pengacara baju putih pula.

Orang tua yang duduk di dideretan muka dari para jago2

yang duduk dideretan kedua, serempak berbangkit dan

membenahi pakaian serta senjata masing2. Suasana

seketika berobah tegang lagi.

Tiba2 sesosok tubuh melesat dan tegak di muka ruang.

Seorang lelaki berwajah kuning, memelihara kumis pendek,

mata berkilat-kilat tajam dan pinggang bersabuk rantai besi.

Setelah memberi hormat kepadaHonghu Ing dia berseru:

“menghaturkan laporan kepada kaucu, Hamba Rantai

terbang Kwan It Ceng menjabat kepala paseban keempat,

ingin mohon pelajaran beberapa jurus dari Yu thancu.”

Gemuruh sekalian orang mendengar ucapan lelaki muka

kuning itu. Mereka tak menyangka dia berani menantang

Yu Ting Su yang menjagoi dalam ilmu pukulan.

Sejenak memandang si Rantai-terbang, Honghu Ing lalu

mencari Yu Ting Su tetapi ternyata jago itu tak berada di

ruang situ.

Pertandingan itu untuk menetapkan jabatan bukan untuk

kenaikan tingkat. Kaucu tak dapat menunjuk orang sebagai

wakil, Kepala Paseban ke tiga itu hanya dijabat seorang.

Tiba2 Yu Ting Su muncul dari sebelah kanan panggung

dan berlari mendatangi. Begitu tiba di muka ruang ia deliki

mata kearah Rantai-besi kemudian baru memberi hormat

kepada Honghu Ing: “Hamba akan menerima tantangan

Kwan thancu.”

Honghu Ing: “Cukup asal menutuk saja, jangan sampai

ada yang terluka.”

Seluruh anak buah Thian-leng-kau tegang-tegang, Tiba di

gelanggang, kedua jago itu saling berhadapan terpisah satu

tombak jauhnya, Sambil melepaskan sabuk rantai, Rantai

besi Kwan It Ceng memberi hormat.

“Sudah lama kudengar sepasang pit dari Yu thancu

teramat sakti. Hari ini sungguh beruntung sekali aku dapat

mohon pelajaran dari thancu,” serunya.

Yu Ting Su kerutkan dahi, memicingkan mata dan

tertawa dingin: “Budak, ternyata engkau memandang tinggi

kepadaku, heh…” pelahan-lahan ia mencabut sepasang pit

atau pena yang terselip pada bahunya.

“Aku hanya ingin mendapat pelajaran barang beberapa

jurus dari thancu, sama sekali tak ingin merebut kedudukan

thancu…”

“Tutup mulutmu !” bentak Yu Ting Su lalu gerakkan pit

di tangan kanan untuk menutuk batok kepala dan pit di

tangan kiri menutuk bawah perut orang. Cepat dan ganas

sekali kedua serangan itu dilancarkan.

Rantai-besi kerutkan alis lalu melesat kebelakang, setelah

menghindari kedua pit, ia segera sabetkan rantai besi ke

pinggang lawan.

Gin liong memperhatikan bahwa Yu Ting Su terlalu

ganas sekali, tidak seperti orang yang bertanding pi-bu. ia

berpaling memandang Honghu Ing tetapi ternyata Honghu

Yan duduk disisi engkohnya tengah memandang dirinya.

Tersipu-sipu Gin Liong memandang kearah gelanggang

pertempuran lagi.

Memang saat itu Yu Ting Su melancarkan serangan

ganas dengan bernapsu sekali, Tetapi Rantai – besi Kwan It

Cengpun tetap melayaninya dengan tenang. Beribu anak

buah Thian-leng-kau dan jago ko-jiu dari dua bangsal,

mengikuti pertempuran itu dengan penuh perhatian suasana

sunyi senyap.

Hanya deru angin dari sepasang pit dan mulut Yu Ting

Su yang menggembor kemarahan yang terdengar

memenuhi gelanggang, Rantai-besi Kwan It Ceng tak

mengeluarkan suara apa2.

Pelahan tetapi tertentu, serangan rantai dari Kwan It

Ceng makin keras dan gencar. Teriak kemarahan dari Yu

Ting Supun mulai mereda.

Gin Liong cepat dapat menilai. Kelemahan dari Rantaiterbang

Kwan It Ceng adalah hanya karena kurang

pengalaman. Kalau tidak, sejak tadi dia tentu sudah

menang.

Tiba2 terdengar bentakan keras, Pit ditangan kiri Yu

Ting Su menusuk rantai lawan lalu pit di tangan kanan

melakukan suatu gerak siasat seolah-olah pertahanannya

terbuka.

Melihat itu, bersinarlah mata Rantai-terbang Kwan It

Ceng, ia tak menyadari kalau lawan memang sedang

memasang perangkap, serentak rantai diayunkan untuk

menghantam bahu kiri lawan.

Melihat itu Gin Liong kerutkan alis, Orang tua baju

kuning atau ayah-angkat dari Honghu Ing geleng-2 kepala

dan banyak jago2 ko-jiu yang menghela napas.

Saat itu Yu Ting Su tertawa dingin, Pit ditangan kiri

cepat digerakkan melingkar sehingga rantai terkunci.

Menyadari masuk dalam perangkap, Rantai-terbang Kwan

It Ceng berteriak kaget, lepaskan rantai dan cepat loncat

mundur.

Tetapi Yu Ting Su tak memberi ampun. serentak ia

loncat memburu, sebelum Rantai-terbang sempat berdiri

tegak, pit sudah menyambar dadanya.

Rantai-terbang Kwan It Ceng tak keburu menghindar

lagi, Dengan sekuat tenaga ia miringkan tubuh, Cret . …

bahunya sebelah kiri termakan tutukan pit, darah

menyembur keluar.Wajah Rantai-terbang berobah seketika,

ia terhuyung-huyung beberapa langkah ke belakang dan

hampir saja rubuh.

Yu Ting Su hentikan serangan, namun ia masih

memandang Rantai-terbang dengan geram. Kemudian

dengan pandang mata yang angkuh ia memandang

keseluruh hadirin, Tampak beribu anak-buah dan jago2

Thian-leng-kau serempak berdiri dengan wajah marah,

Rupanya perbuatan Yu Ting Su telah membangkit

kemarahan sekalian orang,Mau tak mau ia gugup juga.

Berpaling memandang ke arah Honghu Ing, dilihat ketua

Thian-leng-kau yang masih muda itu pucat wajahnya, mata

berkilat-kilat, mulut mengulum senyum dingin.

Tergetar hati Yu Ting Su. wajahnya seketika berobah,

Kakinya tak berani melangkah lebih lanjut.

Sekonyong-konyong terdengar suara bentakan keras,

Dari samping panggung sebelah kiri, melayang turun

seorang tua berambut putih, ia terus berlari-lari ke muka

ruang.

Gin Liong dan Yok Lan segera mengetahui bahwa orang

tua itu adalah orang yang menuntun kuda dimuka markas

tadi.

Seketika suasana hening, Tiba dibawah titian panggung,

orang tua itu segera memberi hormat ke pada Honghu Ing.

“Aku siorang tua bernama Ong Gi Tiong, Mendengar

hari ini berkumpulan Thian-leng-kau menyelenggarakan

pertandingan pi-bu, maka dari Saypak kuperlukan datang

kemari, Mohon tanya kepada pangcu, apakah orang tua

seperti diriku ini diperbolehkan mohon pelajaran pada

thancu yang memenangkan pertandingan tadi ?”

Melihat Ong Gi Tiong itu bukan jago dari Thian-leng

kau, Honghu Ingpun serentak bangkit membalas hormat. .

“Atas perhatian Ong lo-enghiong yang telah sudi

memerlukan datang ke markas kami, aku dan seluruh anak

murid Thian-leng-kau menghaturkan banyak terima kasih,

Walaupun perkumpulan kami terdiri dari orang2 yang

kasar, tetapi selama ini kami merasa telah bergerak menurut

ketentuan yang tak menyimpang dari kaum hiap-gi (kaum

persilatan yang menegakkan kebenaran). persiapan2 dalam

Thian-leng-kau belum teratur sempurna oleh karena itu

apabila Ong lo-enghiong suka membantu dalam Thian-lengkau,

kami segenap anggauta Thian-leng-kau akan

menyambut dengan gembira sekali.”

Kemudian ia beralih memandang kearah Yu Ting Su

yang masih berada di gelanggang, lalu melanjutkan pula:

“Jika Ong lo-enghiong mempunyai kegembiraan untuk

mengadakan pertandingan persahabatan dengan Yu thancu,

karena pertandingan resmi sudah selesai, hal itu dapat

dilaksanakan tanpa melanggar peraturan perkumpulan

kami. Sudah tentu kami meluluskan.”

“Terima kasih, jika begitu aku siorang tua ini akan

mempertunjukkan kepandaian yang jelek dihadapan

pangcu,” kata Ong Gi Tiong seraya memberi hormat lalu

melangkah ke tengah gelanggang.

Pada saat itu Gin Liong segera bertanya kepada orang

tua baju kuning atau ayah-angkat dari Honghu Ing: “The

locianpwe, bolehkan aku mohon keterangan tentang diri

Ong lo-enghiong itu ?”

Orang tua baju kuning The Tjay Hin, mengelus jenggot

dan merenung sejenak lalu gelengkan kepala.

“Ong lo-enghiong itu tentu seorang tokoh yang sakti.

Tetapi dia tidak mau berterus terang, kemungkinan

namanya tentu juga tidak aseli, Oleh karena itu akupun tak

tahu tentang dirinya.”

Gin Liong mengangguk kemudian memandang kearah

gelanggang. Saat itu Ong Gi liong sudah berhadapan

dengan Yu Ting Su. Sembari memberi hormat, jago tua itu

berkata: “Aku yang rendah siorang tua Ong Gi Tiong,

sengaja menghadap kemari untuk meminta sedikit pelajaran

dan Yu thancu.”

Dengan pandang mata yang berkilat kilat Yu Ting Su

menyahut dingin: “Engkau orang tua, apakah karena

melihat aku melukai Kwan It Ceng, lalu merasa penasaran

?”

Ong Gi liong tertawa hambar.

“Itu salah dia sendiri tak memiliki kepandaian tinggi,

kurang pengalaman dan lagi terlalu bernafsu sehingga tak

sempat membela diri. Rupanya, engkau Yu thancu,

memang tak bermaksud hendak melukainya,” sahut Ong Gi

Tiong.

Yu Ting Su tertawa dingin: “Sudahlah jangan banyak

cakap, silahkan engkau mencabut senjatamu !” – ia terus

bersiap dengan sepasang pit.

Sambil mengurut jenggot, Ong Gi Tiong

menengadahkan kepala dan tertawa keras.

“Sejak berkelana puluhan tahun di dunia persilatan tak

pernah aku bertempur dengan menggunakan senjata, Maka

saat ini, akupun tak mau mengenakan pengecualian dan

tetap akan menggunakan sepasang tangan untuk melayani

bermain beberapa jurus dari Yu thancu.”

Ucapan Ong Gi Tiong itu telah menimbulkan

kegemparan Para jago2 ko-jiu yang mendengar kata2 itu

tergetar hatinya.

Wajah Yu Ting Su berobah seketika, Marahnya bukan

kepalang, serentak ia taburkan sepasang pit, cret, cret,

senjata berbentuk pena itu segera menancap ke tanah,

Kemudian ia tertawa nyaring.

“Tua bangka yang bermulut besar,” serunya, “Aku

Pengacau-dunia Yu Ting Su, hari ini akan mencoba sampai

dimanakah kehebatan dari sepasang pukulanmu !”

Ia menutup kata-katanya dengan menekuk lengan seraya

mengendapkan badan, tiba2 tangan kanan didorongkan

kemuka- Segulung angin pukulan yang dahsyat segera

melanda orang tua itu.

Ong Gi Tiong kerutkan alis lalu tertawa gelak2. Tangan

kanan dibalikkan untuk melepas sebuah pukulan yang

dahsyat juga.

“Bum…”

Terdengar letupan disusul dengan asap dan debu

bertebaran memenuhi sekeliling. Terdengar pula derap

langkah kaki terhuyung-huyung. Ternyata Yu Ting Su yang

menjagoi dalam ilmu pukulan tangan kosong, saat itu

terhuyung-huyung sampai tiga langkah ke belakang.

Sedang Ong Gi Tiong masih tegak di tempat nya, Hanya

kedua bahunya yang tampak tergetar dan pakaiannya

tertebar-tebar.

Anak buah Thian-leng-kau yang hampir mendekati

jumlah ribuan itu serentak tercengang.

Setelah tegak, Yu Ting Su merah mukanya, Tentulah ia

terkejut dan marah. Dengan merentang matanya yang sipit,

ia membentak lagi: “Tua bangka, aku hendak mengadu jiwa

dengan engkau !”

Ia terus loncat secara kalap dan menyerang Ong Gi

Tiong.

Ong Gi Tiong mengisar ke samping lalu gerakkan kedua

tangannya sehingga serangan Yu Ting Su tertahan, Yu Ting

Su terdesak mundur, Mulutnya berulang-ulang

menggembor sepasang matanya merah membara.

Tiba2 Yu Ting Su berjongkok untuk menjemput

sepasang pitnya tadi, Kemudian dengan menggerung ia

terus menyerang kalap lagi.

Melihat keganasan Yu Ting Su rupanya Ong Gi Tiong

marah juga. Cepat ia mengganti gerak pukulan dengan ilmu

meringankan tubuh untuk berlincahan menghindar

serangan lawan Dan dalam sebuah kesempatan tiba2 ia

membentak keras lalu secepat kilat menghantam dada Yu

Ting Su.

Karena terlalu bernafsu menyerang, Yu Ting Su tak

sempat menghindar. Bum .. .. ia mengerang tertahan, tubuh

terhuyung lalu jatuh, muntah darah dan tak ingat diri lagi.

Ong Gi Tiong menghampiri mengangkat Yu Ting Su

duduk lalu menepuk jalan darah di perutnya.

Wajah Yu Ting Su pucat pasi, ia membuka mata lalu

mengatupkannya lagi, Rupanya ia menderita luka yang

cukup parah.”

Seketika gemuruhlah seluruh gelanggang, Tetapi bukan

suara orang bersorak, melainkan hanya hiruk pikuk, empat

orang lelaki berpakaian ringkas berlari-lari menghampiri ke

tempat Yu Ting Su dan menggotongnya keluar gelanggang.

Setelah itu Ong Gi Tiongpun kembali menghadap ke

muka paseban, Ketua Thian-leng-kau, Honghu Ing serentak

berbangkit menyambut dengan tersenyum.

“Maaf, kaucu, karena kesalahan tangan, aku telah

melukai Yu thancu.” kata Ong Gi Tiong seraya mengangkat

tangan.

Honghu Ing tertawa nyaring.

“Meminjarn ucapan lo-enghiong tadi. Kupercaya loenghiong

tentu tak mempunyai maksud untuk melukai Yu

thancu,” serunya.

Ong Gi Tiongpun ikut tertawa, serunya: “Kaucu

memiliki kepandaian yang sakti, sekali lihat tentu tahu

keadaannya tak perlu aku siorang tua harus menjelaskan . .

.”

Honghu Ing cepat tertawa menukas : “Pi-bu telah selesai,

harap lo enghiong suka duduk diatas sini.”

Honghu Ing mempersilahkan dengan menunjuk kearah

sebuah tempat duduk yang kosong, Ternyata tempat duduk

itu adalah bekas tempat Yu Ting Su.

Melihat itu Ong Gi Tiong tertawa: “Sesungguhnya aku

tak mempunyai maksud untuk menjabat kedudukan dalam

perkumpulan kaucu, Kedatanganku kemari membawa dua

tujuan. Pertama, akan menambah pengalaman Dan Kedua,

pada waktu yang sesuai hendak menghaturkan beberapa

patah kata kepada kaucu . . .”

Gin Liong segera menduga bahwa orang tua itu tentu

hendak menantang Honghu Ing bertempur. Tetapi melihat

sikap ketua Thian-leng-kau tenang2 saja, Gin Liongpun tak

perlu bingung.

Honghu Ing mengangkat tangan memberi hormat,

serunya: “Kalau begitu, silahkan lo enghiong duduk di atas

atas sini dulu, Setelah acara pi-bu selesai, Honghu Ing tentu

bersedia menerima petunjuk lo-enghiong ,. . .”

“Menurut peraturan perkumpulan kaucu, seharus aku

siorang tua ini akan mendapat tantangan dari seorang

saudara lain,” Ong Gi Tiong cepat menukas. Habis berkata

ia alihkan pandang kearah Gin Liong.

Gin Liong terkejut. ia duga Ong Gi Tiong tentu salah

menduga kalau ia bersahabat dengan Yu Ting Su. Maka ia

hanya tertawa hambar dan tak menaruh perhatian.

Rupanya Honghu Ing juga tahu isi hati Ong Gi Tiong,

serentak ia tertawa, serunya: “Karena lo-enghiong tak

berminat untuk menjabat kedudukan dalam perkumpulan

ini, maka tak perlulah loenghiong harus menerima

tantangan lagi.”

Kemudian ia menunjuk kearah Gin Liong dan

menerangkan: “Siau sauhiap datang kemari, kebetulan saja

Thian-leng-kau sedang menyelenggarakan pertandingan pibu.

Sama – sekali tak bermaksud ikut dalam pertandingan.”

Melihat dirinya diperkenalkan, Gin Liongpun segera

memberi hormat kepada Ong Gi Tiong, jago tua itu tertawa

lalu melangkah masuk dan duduk di paseban, Seorang tua

yang duduk disebelah Yok Lan memberikan tempatnya

kepada Ong Gi Tiong, sedang ia sendiri lalu mengambil

tempat duduk Yu Ting Su.

Honghu Ing ulurkan tangan menggandeng sendiri jago

tua itu duduk ditempat yang disediakan, karena jago tua itu

berumur delapan puluhan tahun maka anak2 muda seperti

Honghu Yan, Yok Lan dan Gin Liong berdiri untuk

memberi hormat.

Pada saat Ong Gi liong duduk, tiba2 dari belakang

terdengar suara orang tertawa dingin yang pelahan sekali.

Gin Liong berpaling dan melihat beberapa thancu tengah

kasak kusuk, memandang kepadanya dengan tertawa

dingin, Terutama Beng thancu yang berkulit hitam dan Ji

thancu yang bertubuh kurus, Keduanya memandang

dengan wajah marah.

Gin Liong kerutkan dahi, ia tahu bahwa mereka marah

kepada dirinya karena mengira dia tentu sahabat dari Yu

Ting Su, mengapa tak mau menerima tantangan dari Ong

Gi Tiong.

“Hai, mengapa kalian tertawa begitu ?” tegur Honghu

Ing.

Beberapa thancu itu serempak berdiri dan si kurus Ji

thancu segera menyahut: “Menurut keterangan Yu thancu.

Siau sauhiap itu berasal dari perguruan Ceng-pay, memiliki

ilmu kepandaian yang sakti dan bersahabat dengan Yu

thancu. Kedatangannya kemari tentulah hendak

menunjukkan kepandaian bahkan kalau dapat akan

merebut kedudukan kaucu, Tetapi mengapa tadi ketika

seorang lo-enghiong menantangnya dia tak berani

menyambut ? itulah sebabnya kami sekalian tak mengerti

dan sampai mengeluarkan tertawa.

Begitu mendengar kata2 itu, enam orang pimpinan

Thian-leng-kau yang terdiri dari tiga orang penilik dan tiga

orang kepala paseban, berpuluh hiangcu yang berpakaian

biru, serempak memandang Gin Liong dengan marah.

Melihat suasana berobah tegang, Yok Lan-pun serentak

berbangkit. Honghu Ing dan adiknya, Honghu Yanpun

memandang Gin Liong dengan pandang bertanya.

Tenang2 Gin Liong berbangkit tertawa hambar dan

berkata kepada Ji thancu: “Tolong tanya siapakah yang

mengatakan hal itu ?”

“Yu thancu sendiri.” sahut Ji thancu.

Kembali Gin Liong tertawa hambar: “Kebetulan tadi

Ong lo-enghiong tak menghantam mati Yu thancu, kalau

tidak tentu aku tak dapat menyangkal lagi.”

Kemudian ia mengerling pandang ke segenap hadirin

dan berseru pula:

“Jika kedatanganku kemari untuk memenuhi janji, itu

memang benar, Tetapi sama sekali tak bermaksud hendak

merebut kedudukan apa2, lebih2 kedudukan sebagai kaucu,

Mengapa Ong lo-enghiong hendak menantang aku adalah

karena lo-enghiong itu salah duga kalau aku ini sahabat

baik dari Yu thancu, Karena salah duga, akupun tak harus

melayani Yu thancu mengatakan bahwa aku memiliki

kepandaian sakti, tak lain karena dia bermaksud hendak

membangkitkan rasa penasaran saudara2 se kalian kepada

diriku . .”

“Karena engkau mengakui datang kemari hendak

memenuhi tantangan, tentulah engkau memiliki kepandaian

sakti sehingga tak memandang mata kepada kaucu,” tukas

Beng thancu si hitam.

Gin Liong kerutkan dahi dan menampilkan kemarahan,

Namun ia menekan perasaannya dan menjawab: “Jika aku

tak datang, bukankah aku akan ditertawakan sebagai orang

yang tak pegang janji ?”

Baru kata2 itu diucapkan dari panggung sebelah kanan

terdengar suara orang menantang:

“Kalau sudah berani datang tentu sudah membekal

kepandaian Jika saudara2 tak puas, lebih baik turun

kegelanggang untuk mengukur kepandaian Perlu apa harus

bertengkar mulut ?”

Mendengar itu marahlah Gin Liong, Memandang orang

yang berkata ia melihat lima orang imam tua berjubah

kelabu, menyanggul pedang dan duduk di deretan paling

muka. Wajah mereka menunjukkan sikap yang licik,

hampir serupa bentuknya, Jika tak melihat tangkai pedang

mereka yang diikat dengan tali sutera warna hitam, merah,

biru, cokelat, hijau, tentu sukar untuk membedakan mereka.

Tiba2 terdengar suara bentakan keras diiringi dengan

sesosok tubuh yang melesat ke muka ruang memberi

hormat kepada Honghu Ing.

“Hamba Beng Kong Ih, mohon kepada kau-cu supaya

memberi perintah, mengijinkan hamba untuk meminta

beberapa jurus pelajaran dari Siau sauhiap,” seru orang itu.

Dia adalah si hitam Beng thancu.

Honghu Ing bersangsi, ia segera berpaling kearah orang

tua baju kuning The Tjai Hin.

Gin Liong menyadari bahwa ia tak dapat menghindari

pertempuran lagi, Diam2 ia mendongkol kepada kelima

imam tua tadi. Kemudian berpaling kearah Honghu Ing,

serunya.

“Mohon tanya kaucu, siapakah kelima lotiang yang

duduk di deretan depan itu ? Adakah mereka kojiu dari

Thian-leng-kau ?”

Honghu Ing gelengkan kepala : “Bukan, mereka adalah

Lo-san Ngo-to (lima imam dari gunung Losan), Yu thancu

pernah mengusulkan supaya menerima mereka sebagai

kepala cabang gunung Lo san. Tetapi aku masih

mempertimbangkannya.”

“Aku ingin berhadapan dengan mereka lebih dulu,” kata

Gin Liong.

Tetapi Beng thancu mendesak dan minta kepada

Honghu Ing agar ia diijinkan yang lebih dulu menghadapi

Gin Liong, kemudian baru kelima imam tua itu.

Rupanya kelima-imam itu mendengar kata2 si hitam

Beng thancu,Mereka tertawa gelak2 lalu melayang turun ke

gelanggang.

Rupanya Honghu Ing juga ingin mengetahui kepandaian

Gin Liong, Maka ia segera berpaling kearah pemuda itu:

“Karena mereka memohon dengan sangat, terpaksa harap

Siau sauhiap suka melayani mereka untuk beberapa jurus.”

Gin Liong tertawa hambar: “Baiklah, terpaksa aku harus

mengunjukkan kepandaian yang jelek di hadapan kaucu.”

Si hitam Beng thancupun terus bergegas hendak turun ke

gelanggang tetapi Gin Liong berseru memangginya: “Harap

Beng thancu suka bersabar. Tunggulah beberapa belas jurus

lagi, aku tentu kembali disini.”

Beng thancu makin marah mendengar kata2 Gin Liong,

ia anggap pemuda itu keliwat jumawa sekali.

Saat itu suasana hening lelap, Sambil berjalan menuruni

titian, diam2 Gin Liong menimang, bagaimana ia harus

bertindak untuk menindas nyali orang2 Thian-leng-kau agar

dapat meneruskan perjalanan lagi.

Rupanya Beng thancu masih hendak menumpahkan

kemendongkolannya kepada Gin Liong, ia berseru:

“Tempat di muka ruang ini terlalu sempit, mungkin Siau

sauhiap tak leluasa bergerak, dengan begitu kita tak dapat

menikmati kepandaian sauhiap yang hebat itu.”

Gin Liong hanya tertawa dingin.

“Jangan kuatir,” serunya, “orang yang sudah tinggi

kepandaiannya, tentu lekas ketahuan, Begitu turun tangan

tentu segera diketahui isi atau kosong. Hanya orang yang

belum sudah merencanakan hendak melarikan diri baru

meributkan soal tempat pertempuran !”

Ucapan itu seperti hendak mengatakan bahwa orang

yang semacam Beng thancu sajalah yang menimbulkan soal

tempat bertanding karena Beng thancu termasuk orang yang

akan melarikan diri.

Sudah tentu Beng thancu tak dapat menahan

kemarahannya lagi, serentak ia loncat melayang ke muka

ruang dan dengan napas ter-engah2. Segera-berteriak:

“Mulutmu sungguh lancang, lihat serangan”

Ia segera menyerang Gin Liong dengan kalap. Melihat

itu tenang2 saja Gin Liong mengangkat tangan dan berseru

: “Tunggu dulu!”

Jika seorang ahli, tentulah Beng thancu segera akan

mundur, Tetapi ternyata ia tak tahu bahwa gerakan tangan

Gin Liong itu telah menimbulkan gelombang halus dari

tenaga dahsyat yang hampir tak menerbitkan suara apa2.

Rupanya Beng thancu memang tak tahu. ia membentak:

“Bagaimana ? Masih mau bertingkah apa lagi ?”

Dengan berdiri tenang, Gin Liong memberi hormat:

“Kedudukanku adalah sebagai tetamu. Naga yang kuat

takkan menindas ular kecil. Aku akan mengalah sampai

tiga jurus.”

Habis berkata tanpa menunggu jawaban Beng thancu ia

terus memberi hormat kepada Honghu Ing: “Kaucu, maaf,

aku telah bertindak kurang sopan”

“Besar sekali mulutmu, engkau juga tak memandang

mata kepadaku ” seru Beng thancu.

Saat itu sekalian anak buah Thian-leng-kau juga

kedengaran berisik sekali, Mereka merasa Gin Liong

memang terlalu sombong.

Tetapi Honghu Ing, Honghu Yan dan ayah-angkatnya

siorang tua baju kuning tahu akan keadaan pemuda itu.

Mereka memberi anggukan kepala.

Honghu Ing berbangkit mengangkat kedua tangan dan

berseru lantang kepada sekalian anak buah Thian-leng-kau.

“Saudara sekalian ! Saling memuji kepandaian

merupakan suatu peristiwa yang lumrah di dunia persilatan

Kalian tak boleh membuat gaduh tetapi saksikan saja

dengan tenang !”

Kemudian iapun berseru juga kepada Beng thancu:

“Beng thancu, jangan merusak nama baik perkumpulan

kita, agar jangan sampai ditertawakan orang !”

Oleh karena Beng thancu itu seorang thancu dari Thianleng-

kau maka Honghu Ingpun terpaksa memberi anjuran

begitu walaupun dalam hati ia tak senang melihat

kekasaran dari Beng thancu.

Tetapi Beng thancu telah salah tafsir, ia mengira ketua

Thian-leng-kau benar2 menyuruh dia harus berjuang

sungguh2, jangan lepaskan Gin Liong begitu saja, Maka

besarlah nyalinya. Ia merasa telah mendapat dukungan dari

Honghu Ing.

“Baiklah, kaucu,” serunya.

Habis berkata ia terus pasang kuda2 dan menyerang Gin

Liong, walaupun dalam ilmu pukulan Beng thancu belum

mencapai tingkat sempurna tetapi dikalangan anak buah

Thian leng-kau, dia termasuk tokoh yang menonjol. Dalam

serangan itu ia menggunakan delapan bagian tenaga, Sudah

tentu hebatnya bukan olah2.

Tetapi Gin Liong masih tetap santai dan mengulum

senyum.

Saat itu serangan Beng thancu tampaknya sudah

mendekati selesai dan tiba2 Gin Liongpun berseru: “Jurus

kesatu !”

Sambil berkata ia terus menyelimpat dengan gerak yang

cepat ke belakang Beng thamcu. Beng thancu terkejut ketika

tiba2 lawan menghilang dari pandang-mata dan tahu2

sudah berada di belakang nya. Dengan menggembor keras,

ia gunakan jurus Koay- bong-hoan-siin atau Ular-anehmembalik-

tubuh, diserempaki dengan gerak pukulan dari

kedua tangannya dalam jurus Lui-yan-kiau-ka atau Gunturkilat-

saling-berhamburan. serangan jurus kedua itu jauh

lebih cepat dari yang tadi.

“Jurus kedua !” seru Gin Liong seraya bergeliatan dengan

indah dan lincah.

Dua kali serangannya tak berhasil, membuat Beng

thancu marah bukan kepalang, wajahnya yang hitam makin

seperti pantat kuali, Dengan menggemeretukkan geraham ia

membentak keras:

“Orang she Siau, engkau benar2 terlalu sombong !”

Setelah memperhatikan posisi Gin Liong, ia loncat

seraya menghantam dengan jurus Bong-hou-Jut-ku atau

harimau-buas-keluar-sarang. Menampar, mendorong,

menyodok dan menabas. Gerakannya sudah tak

menyerupai jurus2 ilmu silat lagi.

Melihat itu diam2 Gin Liong kerutkan dahi. Pikirnya,

kalau ia mau balas menyerang, sudah tentu batok kepala

lawan akan hancur, Cepat ia salurkan tenaga-dalam ke

tangan. Tetapi tiba2 ia teringat bahwa jurus ketiga dari

serangan lawan belum selesai. Terpaksa ia tarik kembali

persiapannya dan tertawa geli sendiri.

Bahwa dalam menghadapi serangan kalap dari Beng

thancu, Gin Liong masih enak2 saja, sekalian anak buah

dan jago2 ko-jiu yang berada di se keliling tempat itu dapat

melihat jelas. Hatinya Beng thancu sendiri yang masih tak

menyadari dan nekad melancarkan serangan dengan kalap.

Tiba2 terjadi suatu peristiwa yang menegangkan Saat itu

angin pukulan Beng thancu sudah melebarkan ulung

pakaian Gin Liong. Tangannya-pun hanya terpisah tiga inci

dari jalan darah anak-muda itu.

Ong Gi Tiong saking terkejutnya sampai berbangkit

Honghu Ing sendiripun berobah wajahnya, Telapak

tangannya sampai mengucurkan keringat dingin, Semua

jago2 ko-jiu yang berada di kedua bangsalpun ada yang

berteriak tertahan. Hanya Yok Lan seorang yang tetap

tersenyum duduk ditempat nya, ia sudah faham akan gerak

langkah sukonya.

Tiba2 puncak dari ketegangan itu meletus dikala

terdengar Beng thancu berteriak: “Maaf, Beng Kong in

berlaku kurang adat!”

Serempak pada saat itu juga terdengar Gin Liongpun

menyahut: “Tak apa, kita anggap saja jurus ini jurus yang

ketiga !”

“Bum…”

Karena yakin akan dapat mengenai tubuh lawan maka

dengan sekuat tenaga Beng thancu terus gunakan kedua

tangannya untuk menampar dengan sekuat tenaga, Bum . . .

. sederet pot bunga yang menghias samping kiri dari titian

paseban hancur berantakan. Beng thancu sendiri terhuyunghuyung

jatuh dalam keping2 pot yang hancur itu, Ketika

bangun, mukanya berlumuran darah dan tubuhnya

menggigil keras.

Melihat itu Gin Liong terkejut. Cepat2 ia menghampiri,

mengangkatnya seraya meminta maaf, Tetapi sekonyongkonyong

Beng thancu membentak keras dan ayunkan kaki

kanannya menendang.

Jarak keduanya amat dekat sekali sehingga tanpa

disadari, Yok Lan serentak menjerit: “Liong koko…”

Gin Liong sendiri memang terkejut. Untung ia dapat

berkelit ke samping lalu mendorongkan tangannya yang

memegang tubuh orang: “Eh, apa-apaan ini?”

“Bum…” bagaikan sebuah layang2 putus tali tubuh si

hitam Beng thancu terlempar sampai beberapa tombak dan

jatuh ke tanah. ia muntah darah beberapa kali, tubuh

meregang-regang, jelas dia tentu menderita luka yang tak

ringan. Melihat itu Gin Liong cepat loncat menghampiri

dan cepat melekatkan telapak tangan keperut orang untuk

menyalurkan tenaga-dalamnya.

Tetapi rupanya keadaan Beng thancu sudah tak tertolong

lagi, wajahnya hitam tampak pucat lesi, mata mendelik dan

mulut masih mengumur darah hitam yang sudah

mengental.

Gin Liong menghela napas, Terpaksa ia berbangkit dan

menghadap ke muka ruang meminta maaf kepada Honghu

Ing.

Honghu Ing merah mukanya, ia merasa bahwa

kesalahan terletak pada Beng thancu sendiri. Cepat ia

berdiri dan membalas hormat seraya tertawa: “Ah, Siau

siauhiap terlalu merendah diri, Beng thancu tak tahu

kekuatan diri sendiri Bagaimana harus mempersalahkan

Siau sauhiap . . .”

Tiba2 enam sosok tubuh berhamburan menuju ke muka

ruang paseban dan serempak berseru:

“Hamba sekalian mohon diperkenankan untuk meminta

beberapa jurus pelajaran dari Siau sauhiap !”

“ilmu kepandaian Siau siauhiap memang hebat sekali,

boleh dikata sudah mencapai tataran yang tinggi, jangan

kalian cari penyakit sendiri!” seru Honghu Ing.

Thancu kelima Lui-tian-pat-ciang, Ji thancu tampil

selangkah, serunya : “Hanya dengan demikian barulah kami

sekalian mendapat kesempatan untuk menambah

pengalaman Mohon kaucu suka memberi ijin !”

Keenam thancu itu memandang Gin Liong dengan

geram, juga berpuluh-puluh hiangcu kasak kusuk

memperbincangkan Gin Liong.

“Tenang !” teriak Honghu Ing lalu berbangkit dan

menghampiri keenam thancu itu.

“Adalah Beng thancu sendiri yang salah, apakah kalian

tak melihat ? Apalagi yang dipertunjukkan Siau siauhiap itu

masih belum seluruh kepandaiannya !” serunya.

Keenam thancu itu tundukkan kepala namun mereka

masih membantah, menyatakan bahwa soal mati bagi

mereka itu soal kecil Tetapi mereka hendak menjaga

keluhuran nama Thian-leng-kau agar jangan sampai

diremehkan orang. Apabila peristiwa Beng thancu itu

tersiar keluar, orang tentu akan menertawakan Thian-lengkau.”

Honghu Ing tertawa nyaring: “Dunia persilatan hanya

membicarakan tentang soal kekuatan dan kelemahan tetapi

orang persilatan sendiri sesungguhnya harus menjunjung

Kebenaran dan Kesalehan, mengapa…”

Baru Honghu Ing berkata sampai disini, tiba2 terdengar

suara orang tertawa dingin.

Ketua Thian-leng-kau itu cepat berseru nyaring: “Hai,

sahabat manakah yang tak dapat memahami penjelasanku

itu ?”

“Kaucu memang berhati lapang tetapi karena orang telah

datang hendak menyelesaikan urusan darah, kiranya tentu

takkan terhindar dari pertempuran”.

Ternyata yang bicara itu adalah kelima imam dari Losan.

“Totiang, apakah maksud ucapan totiang itu” seru

Honghu Ing dengan wajah bersungguh2.

Imam tertua dari Losan Ngo to, ialah yang bergelar

Pedang-darah, serentak berbangkit dan berseru tajam:

“Sambutlah serangan ini !”

Ia taburkan pedang ke udara, sehingga menimbulkan

desis angin yang tajam, kemudian berseru pula: “Budak,

lihat pedangku !”

Gerakan imam itu diserempaki pula oleh ke empat

kawannya. Mereka maju dan menyerang Gin Liong dari

empat penjuru.

Gin Liong menengadah, bersuit nyaring lalu bergerak

berlincahan dalam tata langkah Sing-hoau cek-kiong yang

digabung dengan gerak Liong-li-biau.

Kelima pedang berhamburan laksana hujan mencurah

tetapi Gin Liong tetap berlincahan menyusup di tengah2

hujan sinar pedang itu.

Yang berada di paseban dan bangsawan, kecuali jago-2

silat golongan ko-jiu juga terdapat para ahli pedang,Mereka

heran dan kagum menyaksikan pertandingan itu. Mereka

kagum akan ilmu permainan pedang kelima imam tetapi

lebih kagum lagi akan gerakan Gin Liong yang luar biasa

anehnya.

Sepeminum teh lamanya tiba2 gerakan Gin Liong makin

pesat dan beberapa saat kemudian terdengar dia

membentak: “Lepaskan !”

Tring, tring . . terdengar dering melengking dan kelima

batang pedang berhamburan melayang ke udara, Empat

dari kelima imam itu menjerit ngeri.

Tampak Gin Liong mencengkeram pergelangan tangan

imam Pedang-darah dan dengan wajah berseri tawa,

berseru : “Aku hanya menyangka bahwa kalian berlima

imam ini mempunyai kepandaian yang hebat sekali.

Kiranya hanya kawanan kantong nasi belaka !”

Sekalian ko-jiu dan anak buah Thian-leng-kau

tercengang2 menyaksikan peristiwa itu.

Melihat Pedang-darah dikuasai Gin Liong ke empat

kawannya terus hendak menyerang, Tetapi cepat Gin Liong

memperkeras cengkeramannya dan membentak: “Siapa

yang berani maju cari mati?”

Tangan imam Pedang-darah seperti dijepit baja, sakitnya

bukan kepalang, ia me-maki2 kalang kabut: “Budak, engkau

tak menggunakan ilmu kepandaian sesungguhnya, aku

tetap tak menyerah !”

“Apa yang engkau maksudkan dengan ilmu kepandaian

yang sesungguhnya itu ?” bentak Gin Liong.

“Engkau menggunakan ilmu Mengaburkan mata dan

gerakan langkah setan, sungguh bukan kepandaian dari

seorang gagah !” seru keempat imam.

Marah Gin Liong bukan kepalang, jika tak bertindak

keras, ia tentu tak dapat menundukkan kelima imam itu

demikian pula tak dapat menundukkan kelima imam itu

demikian pula tak dapat pula merontokkan nyali sekalian

anak buah Thian-leng-kau.

Akhirnya ia memutuskan untuk melaksanakan hal itu

kepada kelima imam.

“Baik, akan kuberimu kesempatan sekali lagi untuk

menyaksikan ilmu kepandaian yang sesungguhnya,” seru

Gin Liong seraya terus melesat memungut pedang kawanan

imam lalu melemparkan kepada pemiliknya, Setelah itu

iapun mencabut pedangOh-hek-kiam.

Melihat itu kelima imam mengira Gin Liong tentu akan

mengajak bertanding pedang, Maka tanpa memperhatikan

pedang apa yang dipegang sianak muda, mereka terus

berhamburan mengambil pedang masing2.

Gin Liong tertawa dingin.

“Sebenarnya aku hendak mengajak kalian bertanding

ilmu pedang, tetapi kulihat kalian hanya kawanan kantong

nasi dan pedang kalian hanya besi cor saja maka aku

hendak merobah acara, lihatlah !”

Ia segera gunakan ujung pedang untuk membuat sebuah

garis lingkaran di tanah, kemudian loncat kedalam

lingkaran itu dan tertawa:

“Hayo, siapa yang mampu masuk ke dalam garis

lingkaran ini atau dapat mendesak aku setengah tapak saja

keluar dari garis, aku orang she Siau, akan berjalan dengan

setiap langkah soja (memberi hormat) ke arah Ke-kong-san.

Tetapi kalau kalian tak mampu, hm . . .”

Baru Gin Liong mengucap begitu tiba2 dari atas

panggung melayang turun empat sosok bayangan. Salah

seorang diantaranya, ketika masih melayang di udara,

sudah berseru : “Toyu berlima, ijinkan kami Empat-iblis

gunung Hong-san mewakili toyu untuk melampiaskan

penasaran toyu berlima !”

Empat orang lelaki pertengahan umur yang tulang

mukanya menonjol dan bengis, tubuh gagah perkasa segera

mengepung Gin Liong.

Gin Liong cepat dapat mengetahui bahwa ke empat iblis

itu ahli dalam tenaga gwa-kang (luar), tetapi mengapa

mereka mau membantu kelima imam itu ?

Ternyata keempat iblis itu mempunyai perhitungan

sendiri, Mereka merasa sanggup untuk mendesak Gin

Liong keluar dari garis lingkaran.

Dihadapan jago-2 silat dan tiga belas propinsi, nama

mereka tentu akan termasyhur Andaikata tak berhasil,

merekapun dapat meloloskan sendiri tak sampai kehilangan

jiwa.

Karena melihat keuntungan itu, keempat iblis terus

lancarkan serangan dengan pukulan: “Budak she Siau,

terimalah pukulan kami !”

“Bagus !” seru Gin Liong geli dan marah, Tanpa bergerak

tetapi cukup dengan melingkarkan tangan kirinya dalam

gerak yang terdapat pada kaca wasiat ialah tangan kiri

mendorong tangan kanan menggurat, ia menyambut

serangan mereka.

Terdengar angin menderu keras dan rubuhnya empat

sosok tubuh ke tanah. Tidak terluka, juga tidak berdarah

tetapi hanya menggeletak kaku di luar garis lingkaran.

Seketika gemparlah sekalian anak buah Thian-leng-kau

dan para ko-jiu. Saat itu sesosok bayangan putih melesat

dan melengking: “Liong koko, jangan . .”

Ternyata yang berseru itu Yok Lan, ia hendak mencegah

Gin Liong supaya jangan keliwat ganas tetapi terlambat

Keempat iblis itu sudah menggeletak.

Gin Liong tak kira karena keempat orang itu begitu tak

berguna. setelah melepaskan pukulan baru ia menyesal

tetapi sudah terlanjur,

“Mereka terlalu mendesak aku !” sahutnya, Yok Lan

masih menyesalinya, mengatakan bahwa mereka berdua tak

mempunyai dendam permusuhan dengan keempat iblis itu.

Dalam pada itu tiba2 kawanan imam Losan Ngo lo

sambil menghunus pedang berpaling ke arah ruang paseban

dan memaki Honghu,Ing:

“Katanya Thian-leng-kau hendak mengadakan pi-bu

untuk pergantian jabatan tetapi ternyata diam2 telah

menyembunyikan jago sakti untuk membasmi jago2 dari

ketiga belas propinsi.”

Ucapan kawanan imam itu telah membangkit jago yang

duduk di deretan panggung sudah hendak bergerak.

“Totiang salah !” seru Honghu Ing dengan wajah serius.

“Kalau tidak begitu mengapa membiarkan saja budak itu

melukai orang ditempat ini ?” teriak imam Pedang-darah.

Kali ini anak buah Thian-leng-kau yang terbakar

kemarahannya.

Melihat Honghu Ing terjepit dalam kesulitan segera Gin

Liong loncat kehadapan kelima imam itu dan berseru.

“Dalam urusan ini, Thian-leng kau tak ada sangkut

pautnya, jangan kalian membuka mulut tak keruan !”

Melihat siasatnya untuk membangkitkan kemarahan

sekalian jago dan anak buah Thian leng-kau akan berhasil,

imam Pedang-darah tak mau melepaskan. Dengan tertawa

mengejek, ia berseru : “Peristiwa ini terjadi dalam markas

Thian-leng-kau, bagaimana Thian leng kau tak tersangkut ?”

Kemudian dengan lagak sombong, ia berkata kepada

Honghu Ing, “Honghu kaucu, omongan budak she Siau itu

apakah bukan meremehkan Thian-leng-kau ?”

Gin Liong benar2 marah sekali, ia bergerak tangan

hendak menyambar imam Pedang-darah itu: “Imam

keparat, mengapa waktu cari perkara menantang aku,

engkau tak tunduk pada perintah Thian-leng-kau ?”

Yok Lan cepat mencegah lalu berkata kepada kelima

imam itu: “Apakah lotiang berlima masih penasaran dalam

adu kepandaian tadi ?”

Melihat dara cantik itu juga menyanggul pedang, imam

Pedang-darah segera getarkan pedangnya dan tertawa

mengejek: “Dengan membawa pedang, nona tentu juga

seorang jago pedang yang hebat.”

Merah muka Yok Lan, ia mengangguk pelahan.

“Ah, ilmu pedang itu dalamnya sukar dilukiskan dan

sumbernya dari kalangan agama, Aku sih hanya tahu

sedikit kulitnya yang tak berharga, sudah tentu tak layak

disebut ahli pedang.”

Imam Pedang-darah makin besar nyalinya, ia anggap

Yok Lan tentu seorang nona yang biasa saja dalam ilmu

permainan pedang, ia mengejek.

Kalau tak mengerti ilmu pedang, perlu apa membawa

pedang dan gegabah berani buka mulut mengganggu

pembicaraanku ?”

“Bedebah, engkau berani menghina ?” bentak Gin Liong,

Tetapi Yok Lan mencegahnya: “Liong koko, kembalilah ke

tempat dudukmu dulu !”

Dara itu memberi kedipan mata dan Gin Liongpun

menurut: “Hati-2″ pesannya.

Setelah Gin Liong kembali keatas paseban barulah Yok

Lan tersenyum mengeliarkan pandang mata kepada kelima

imam gunung Losan, serunya:

“Apabila totiang berlima berminat, aku bersedia untuk

melayani sampai beberapa jurus dari serangan totiang . . “

Seketika siraplah suasana saat itu, sekalian orang terkejut

mendengar kata2 dara itu.

Imam Pedang-darah Say Tun Yang, kepala dari Lo-san

Ngo-to atau lima imam gunung Lo-san berseri2 gembira.

serentak ia berpaling dan berseru kepada keempat sutenya:

“Sute, mundurlah kalian, aku . . “

“Totiang, tunggu dulu,” cepat Yok Lan berseru. “jika

bertempur satu lawan satu, hambar rasanya…”

Imam Pedang-darah terbeliak: “Nona maksudkan . .”

“Totiang berlima maju serempak, agar lebih meriah.”

cepat Yok Lan menukas pula.

“Kalau kita berlima maju, apakah engkau dapat menelan

habis ?” teriak salah seorang imam dalam nada yang cabul.

Yok Lan merah-mukanya, tanpa banyak bicara lagi ia

terus mencabut pedang Tanduk-naga seraya berseru:

“Jangan menghina, sekalipun aku seorang anak perempuan

tetapi pedangku tak pernah mengenal kasihan !”

Kelima imam itu serempak terbeliak, Dan seluruh

hadirinpun bersorak gempar menyaksikan seorang dara

yang cantik tengah mencekal sebatang pedang pusaka

bersinar merah, Diam2 timbullah keserakahan imam

Pedang-bayangan untuk memiliki pedang Tanduk Naga itu.

“Kalau kami berlima maju, apakah engkau mau

menyerah ?” serunya.

“Jangan banyak bicara, silahkan maju !” bentak Yok

Lan.

Imam Pedang-darahpun segera memberi isyarat kepada

keempat sutenya : “Maju serempak !”

Dia sendiripun segera taburkan pedangnya untuk

menyerang.

Sejak menerima ilmu pelajaran pedang dari Hun Ho

sian-tiang, kemudian bersama Gin Liong mempelajari ilmu

pedang pada kaca wasiat itu, ilmu pedang Yok Lan telah

mencapai tataran yang puncak, Kelima imam dari Lo-san

itu tak dianggap berat.

Tapi karena kuatir akan menimbulkan rasa tak puas dari

kedua saudara pemimpin Thian-leng kau, maka sejak tadi

iapun tak mau unjuk diri. Maka ketika kelima imam itu

maju menyerang iapun gunakan tata langkah Cek-kiongpoh

(langkah istana Ungu), loncat mundur sampai dua tiga

meter.

Sudah tentu kelima imam itu tak tahu dan mengira nona

itu sudah ketakutan maka mereka pun berhamburan loncat

menerjang lagi.

“Bagus !” seru Yok Lan seraya memutar pedang,

Terdengar dering gemerincing dari senjata beradu, disusul

dengan lengking teriak terkejut dan berhamburan sosok2

tubuh loncat mundur, tiba2 tampak Yok Lan sudah berdiri

tegak mengulumsenyum.

Ternyata yang loncat mundur itu adalah kelima imam,

pedang mereka terbabat kutung semua hanya tinggal

separoh yang masih dicekalnya.Mereka terlongong2 seperti

patung.

Kembali terdengar sorak gempar dari sekalian hadirin

menyaksikan kesudahan pertempuran itu! Yok Lan

menundukkan kepala selaku membalas hormat kepada

mereka.

“Nona Ki, lekas menyingkir !” se-konyong2 Honghu Ing

ketua Thian-leng-kau berseru nyaring.

“Imam bangsat, kalian berani curang !” Gin Liong pun

berteriak marah.

Dua sosok tubuh melayang turun seraya kebutkan lengan

bajunya.

Yok Lanpun cepat gunakan tata langkah ceng-kiong-poh

melayang tiga tombak kebelakang.

Ternyata kelima imam itu karena marah dan malu,

nekad menaburkan kutungan pedang ke arah Yok Lan.

Habis menabur, mereka terus menerobos lari keluar dari

gunung.

Ternyata kedua sosok yang melayang di udara itu,

Honghu Ing dan Gin Liong, keduanya menamparkan

lengan baju untuk menghantam kutungan pedang.

Kemudian Gin Liong lanjutkan melayang jauh dan turun

menghadang jalan kelima imam makin ketakutan. Mereka

mati2an lari.

Gin Liong paling benci kepada orang yang menggunakan

senjata rahasia untuk mencelakai orang, ia enjot tubuhnya

lagi melayang melampaui kepala kelima imam itu.

“Liong-ko, biar aku yang menghajar kelima imam busuk

itu.” seru Yok Lan.

“Tidak, Lan-moay, aku harus mempontang-pantingkan

mereka sampai mati kehabisan tenaga.” seru Gin Liong

seraya menyerbu kelima imam.

Kelima imam itu benar2 tak berdaya, Mereka harus

pontang panting menjaga serangan Gin Liong yang

bergerak cepat laksana bayangan, Tak berapa lama kelima

imam itu ter-engah2 napasnya, basah kuyup mandi

keringat. Rambut dan pakaiannya kusut tak keruan.

Memang Gin Liong sengaja mempermainkan mereka.

Tak mau merubuhkan tapi menyerang gencar dan memaksa

orang harus mengikuti berputar2.

Melihat itu akhirnya Yok Lan berseru memperingatkan

bahwa hari sudah sore, harus lekas kembali kerumah

penginapan.

Gin Liong terkejut dan membenarkan. Sekali terdengar

dering tajam, Gin Liongpun berseru nyaring : “Imam

hidung kerbau, terimalah sedikit tanda mata.”

Sinar pedang memancar, sirap dan tampak Gin Liong

berdiri tegak mengulum senyum. Kelima imam itu benar2

seperti copot nyawanya. Rambut mereka yang

menggerumbul lebat saat itu hanya tinggal segenggam

rambut pendek di tengah2 kepala.

Yok Lan tertawa geli : “Liong-ko, engkau memang . .”

Honghu Ing yang masih berdiri tegak dan menyaksikan

peristiwa itu, diam2 cemas: “Siau siauhiap itu memang suka

berolok2 keliwat batas, kemungkinan kelima imam itu tentu

takkan melupakan hinaan semacam itu.”

“Orang she Siau, bagaimana engkau hendak menghukum

aku ?” seru imam Pedang-darah dengan geram.

“Cukup sampai disini saja, kalian boleh lari membawa

gundul kepala kalian masing2″ sahut Gin Liong.

Imam Pedang-bayangan menggeram.

“Baik, selama gunung masih menghijau, bengawan

masih mengair, ingatlah, Lo san Ngo-to pada suatu hari

pasti akan mencarimu lagi.”

Habis berkata imam Pedang-darah itu segera mengajak

keempat sutenya pergi.

Sekalian tamu2 persilatan, setelah menyaksikan

permainan ilmu pedang Yok Lan dan gerakan Gin Liong,

merekapun kuncup nyalinya dan diam2 segera tinggalkan

gelanggang, Pada saat Gin Liong selesai menghajar kelima

imam, tetamu2 itupun sudah bersih semua.

“Koko, pertandingan sudah selesai mengapa masih

terlongong2 di gelanggang ?” tiba2 Honghu Yan menegur

saudaranya.

Honghu Ing gelagapan dan segera mempersilahkan Gin

Liong dan Yok Lan minum teh dalam ruangan, Tetapi Gin

Liong menolak dan menghaturkan terima kasih.

“Ah, Siau-heng terlalu sungkan. Sesama kaum persilatan,

sudah tentu kita harus bergaul seperti kawan. Aku merasa

berterima kasih sekali apabila dapat dapat menyambut Siauheng.

Nona Lan…” tiba2 ia berhenti, wajahnya merah

karena tak tahu harus mengatakan apa-2.

Untung saat itu Honghu Yan segera datang dan menarik

tangan Yok Lan: “Lan moay-moay tentu sudah lapar, mari

kita nikmati hidangan sambil berbincang2″

Walaupun berkata kepada Yok Lan tetapi memandang

kearah Gin Liong. Sudah tentu pemuda itu ter-sipu2

menghaturkan terimakasih atas kebaikan Honghu Yan.

Tetapi ia terpaksa harus lekas2 menuju ke rumah

penginapan karena mempunyai urusan penting.

“Ya lain hari kami tentu akan memenuhi undangan,

taci.” kata Yok Lan.

Tetapi rupanya Hongyu Yan tetap memaksa: “Ah,

masakan begitu penting. Kalau hanya beberapa jenak saja,

tentu takkan menjadi halangan, Masakan nanti di rumah

penginapan kalian tak dahar.”

Honghu Ing juga menambahkan bahwa rumah

penginapan Liu-lim-tian itu tak berapa jauh. Dengan ilmu

lari cepat, kedua saudara itu tentu dapat mencapainya.

Tanpa menunggu jawaban Gin Liong, ketua Thian-lengkau

itu terus berpaling dan memberi perintah:

“Pertandingan hari ini telah selesai. Para thancu dan semua

anak buah Thian-leng-kau harap bersiap untuk mengantar

tetamu kita.”

Sambil memandang Gin Liong, Honghu Yan berbisik:

“Engkau dengar itu ? Engkohku telah memerintahkan

semua anak buah Thian-leng-kau untuk mengantar

keberangkatannya. Kemungkinan tentu upacara itu

memakan waktu.”

“Ah, sungguh . . membuat repot . . ” Gin Liong

tersenyum datar.

Honghu Yan tersenyum lalu menarik tangan Yok Lan

menuju keruang besar. Gin Liong-pun terpaksa mengikuti.

Ruang besar itu dihias mewah sekali seperti sebuah gedung

kediaman seorang pangeran.

Hidangan yang bermacam2 dan lesat, segera

dihidangkan Semua orang yang berada dalam ruang

serempak berbangkit ketika Honghu Yan,Yok Lan dan Gin

Liong masuk.

Honghu Ing mengumumkan bahwa sekalian anak buah

Thian-leng-kau boleh berpesta se-puasnya demi menyambut

kedatangan kedua orang tetamu terhormat dan merayakan

selesainya pertandingan adu kepandaian.

Pesta berlangsung dengan meriah dan gembira. Untuk

menghaturkan terima kasih kepada Thian leng-kau, Gin

Liong berjanji apabila mereka memerlukan bantuan

tenaganya. dia pasti sanggup datang.

Selesai perjamuan Gin Liong dan Yok Lan minta diri,

Dengan diantar oleh Honghu Ing dan Honghu Yan.

keduanya melangkah keluar dari ruang, sepanjang jalan

menuju pintu markas, mereka melalui barisan kehormatan

Thian-leng-kau yang tegak berjajar dengan rapih.

Honghu Ing dan Honghu Yan sendiri mengantar sampai

keluar markas, Honghu Yan tampak berat hati untuk

melepaskan kedua tamunya pergi, untunglah ia minta agar

Yok Lan setelah selesai dengan urusannya, kembali ke

markas Thian-leng-kau lagi. Pun Honghu Ing mendukung

permintaan adiknya itu dengan meminta Yok Lan

sungguh2 memerlukan datang kembali ke markas Thianleng-

kau karena adiknya, Honghu Yan tak mempunyai lain

saudara lagi.

Demikian setelah berbasa basi, akhirnya Gin Liong dan

Yok Lan tinggalkan markas Thian-leng kau di gunung

Kong-kesan itu.

“Liong-ko, tampaknya Honghu Yan menaruh hati

kepadamu.” dalam perjalanan Yok Lan berkata.

“Ah, Lan-moay, menyapa engkau berkata begitu ?

Apakah engkau masih kurang percaya kepada hatiku ?”

tanya Gin Liong, “kalau hatiku bercabang, biarlah aku. .”

“Sudahlah…” cepat Yok Lan memutus dari atas

kudanya, “sekarang sudah menjelang malam, entah kapan

kita baru dapat mengejar Liong-li locianpwe ? Ayo, cepat

sedikit.”

-ooo0dw0ooo-

Bab 10 (Tamat)

Berjumpa Ban Hong Liong-li

Gin Liong segera memacu kudanya, sepanjang jalan

mereka tak bicara, seluruh perhatian tercurah untuk

mencongklangkan kudanya.

“Lan-moay. apakah disana itu ?” tiba2 Gin Liong menuju

jauh ke muka.

“Ah, mengapa ribut2 saja ?” sahut Yok Lan.

“Apa engkau tak melihat apa?”

“Tidak” sahut Yok Lan. Tiba2 nona itu meloncatkan

kudanya sampai tiga tombak tingginya dan memandang

kemuka “hai, apakah bukan seutas aliran panjang warna

merah meluncur kemuka”

Gin Liong juga loncat keatas pohon lalu berteriak girang:

“Cepat, itu tentulah Liong Li locianpwe yang menempuh

perjalanan pada malam hari.”

Kemudian setelah loncat turun ke atas punggung kuda,

ia segera mencongklangkan sekencang angin.

Dalam beberapa waktu kemudian kota Liu-lim sudah

tampak, Tetapi kuda hitam itu tak menuju ke kota

melainkan ke timur laut kota Liu lim melintas hutan. Tetapi

ketika Gin Liong memandang kearah hutan itu, girang

bukan kepalang. Cepat ia loncat turun dan terus lari menuju

kedalam hutan seraya berteriak tegang: “Cianpwe, cianpwe

betapa Liong-ji menderita susah payah mencarimu.”

Gin Liong terus menubruk haribaan Ban Hong Liong-li

yang tengah duduk di sebuah persada makam yang

menggunduk besar.

Ban Hong Liong-li berlinang2 airmata, serunya terharu:

“Liong-ji nak . .”

“Cianpwe . . ” Gin Liong ter-isak2.

Saat itu Yok Lanpun datang dan terus memeluk Ban

Hong Liong-li.

“Ah, kalian tentu menderita . . aku . .” Ban Hong Liong

li tak dapat melanjutkan kata2. ia memeluk kedua anak

muda itu dan menangis.

Beberapa saat ketiga orang ini terbenam dalam keharuan,

Setelah masing2 puas menumpahkan perasaan hatinya

selama ini, berkatalah BanHong Liong-li.

“Liong-ji, kaca wasiat yang engkau peroleh itu

merupakan suatu pusaka yang tiada duanya dalam dunia

persilatan. Sejak kini hidup mati. bangkit runtuhnya dunia

persilatan terbeban di bahumu. Engkau harus belajar

dengan tekun dan mengamalkan ilmumu itu demi

kepentingan dunia persilatan.”

Diam2 Gin Liong terkejut dalam hati karena ternyata

Ban Hong Liong li tahu peristiwa itu.

“Murid tentu akan mengindahkan nasehat cianpwe

hanya saja . .” sampai disini Gin Liong tak dapat

melanjutkan kata2nya. Dalam perasaannya ia tak percaya

kalau Ban Hong Liong-li itu yang membunuh gurunya.

Tetapi sudah berpuluh ribu li ia menempuh perjalanan,

bukankah tujuannya akan mengejar jejak Ban Hong Liongli

? Bukankah ia hendak meminta penjelasan tentang

peristiwa pembunuhan suhunya itu ?

Rupanya Yok Lan tahu apa yang hendak di katakan Gin

Liong, cepat ia berseru: “Liong-ko. lekas engkau tunjukkan

bukti supaya cianpwe dapat memeriksa.”

Gin Liong tersadar, serentak ia berkata.

“Cianpwe, adakah cianpwe mengetahui juga tentang

peristiwa sedih yang telah menimpa suhu?”

Mendapat pertanyaan itu, seketika wajah Bang Hong

Liong li berobah pucat, Airmatanya bercucuran deras dan

dengan ter-isak2 ia berkata: “Aku . . ta . . hu . .”

Gin Liong terkejut. Diam2 ia membatin apakah wanita

itu yang membunuh suhunya. Segera ia mengeluarkan

badik Kim-wan-jak lalu dipersembahkan kehadapan Ban

Hong Liong-li.

“Inilah . . senjata . . yang telah . . merenggut . . jiwa suhu

. . ” kata Gin Liong dengan ter-sendat2.

Melihat senjata itu pecahlah tangis Ban Hong Liong-li.

Segera ia menyambar badik emas dari suku Biau itu,

menengadahkan kepala dan berseru dengan pilu.

“Wulanasa ! Wulanasa ! Apa artinya engkau hidup,

engkau . . “

Melihat Ban Hong Liong-li menangis seperti anak kecil,

Yok Lanpun ikut menangis. sedangkan dengan air mata

bercucuran Gin Liong masih dapat mengajukan

pertanyaan: “Cianpwe apakah engkau tahu senjata itu ?”

Se-konyong2 Ban Hong Liong-li deliki mata dan

terlongong sampai lama, Setelah itu ia menunjuk pada

empat huruf kecil pada batang badik itu.

“Wulanasa adalah nama kecilku.” serunya.

Gin Liong makin tergetar serunya tak percaya: “Apakah .

.”

“Dengan membawa bukti badik itu engkau hendak

menuduh bahwa aku yang membunuh suhumu?” Ban Hong

Liong li menukas tiba2.

“Liong-ji . . tidak . . berani . . ” sahut Gin Liong terbata2.

Wajah Ban Hong Liong-li makin marah, serunya geram:

“Tidak berani . . ? Mengapa engkau tidak menyatakan

“bukan” ? Begitu berjerih payah engkau mengejar aku,

apakah maksudmu bukan karena hendak menunaikan balas

untuk si Hati batu Kiong Cu-hun itu ?”

Nada dan kata2 Ban Hong Liong-li penuh ketegangan

yang memuncak. Gin Liong sampai mundur dua langkah

dan berseru: “Walaupun memiliki keberanian sebesar

langitpun, aku tentu tak berani menuduh begitu. Aku hanya

hendak mohon keterangan kepada cianpwe.”

Dengan nada masih mendendam kemarahan Ban Hong

Liong li berseru : “Baik, akan kuberimu sebuah keterangan

!”

Habis berkata ia terus mencabut sebatang badik dari

pinggangnya. Sebuah badik emas yang sama bentuknya

dengan badik yang dibawa Gin liong tadi, kemudian badik

itu dilempar ke muka Gin Liong: “Sambutlah, periksa dulu

badik ku ini, baru nanti kita bicara lagi !”

Gin Liong tak tahu apa yang harus dilakukan. Terpaksa

ia melakukan perintah. Setelah diperiksa dengan teliti jelas

badik itu sama benar dengan badik emas yang dibawanya

tadi, Lalu ia menghadap pandang kearah Ban Hong Liongli

dan berkata dengan bingung : “Cianpwe.”

“Masih belum jelas, bukan ? Ah . .” Ban Hong Liong-li

menghela napas rawan, kemudian berpaling dan berkata

kepada dua buah batu besar yang berada di sampingnya:

“ceritanya panjang sekali, Duduklah, aku akan membuat

kalian mengerti duduk perkaranya”

Gin Liong dan Yok Lan lalu duduk dikanan kiri Ban

Hong Liong-li. Tampak wanita itu memandang jauh ke

cakrawala, baru mulai membuka mulut.

“Liong-ji, tahukah engkau apa arti dari huruf “Sian-nokim-

te” yang terukir pada batang badik emas itu ?”

Sahut Gin Liong. “Jika murid tak salah terka, huruf itu

merupakan nama dan seorang gadis Biau.”

Ban Hong Liongli mengangguk: “Benar, memang nama

seorang gadis Biau, Dan gadis itu engkaupun pernah

melihatnya”

“Aku pernah melihat…” Gin Liong terkejut.

“Hm . .”

“Cianpwe . .”

“Dengarkan aku bicara lebih lanjut !” kata Ban Hong

Liongli lalu melanjutkan ceritanya.

“Menurut adat istiadat suku kami Biau, pada waktu

melahirkan anak baik perempuan atau lelaki, pada waktu

selamatan hari yang ketiga, sanak famili dan handai taulan,

tentu datang memberi selamat dan membawa barang

bingkisan.”

“Bingkisan apa ?” seru Yok Lan.

“Setiap orang harus membawa logam.”

“Logam sebagai bingkisan?” Gin Liong terbelalak heran.

“Setiap orang Biau tentu memiliki sebatang golok. Golok

itu sesungguhnya diperuntukkan barang bingkisan pada

setiap hari ketiga bilamana ada yang melahirkan anak. Oleh

karena itu yang keluarganya banyak, bingkisan logam yang

diterimanyapun makin banyak, Golok yang dibuatnyapun

makin lebih tajam. Oleh karena itu golok Biau terkenal

tajam sekali.”

“Kedua batang golok ini apakah dengan cara itu

dibuatnya ?” tanya Gin Liong.

Ban Hong Liong-li mengangguk, kemudian melanjutkan

pula:

“Kedua badik Kim-wan-jau ini. adalah dibuat dari beribu

kati logam bingkisan untukku dan gadis Biau yang bernama

Sanukim. Oleh karena keluarga kami merupakan dua

keluarga yang terkemuka dalam suku Biau. Hampir sepuluh

tahun lamanya logam itu dibuat, sehingga setelah kami

berumur sepuluh tahun barulah dapat menerima golok itu.

Dengan begitu, golok itu luar biasa tajamnya, jarang

terdapat tandingannya didaerah Biau.”

Berhenti sejenak menghela napas, Ban Hong Liong-li

melanjutkan pula:

“Kebetulan aku dan Sanukim lahir pada tahun, bulan

dan hari yang sama. upacara penerimaan golok dilakukan

dalam sebuah paseban. Semua hadirin memuji kami berdua

seperti sepasang kakak beradik. Dalam upacara itu selain

mengangkat saudara pun kami berdua saling bertukar golok

sebagai tanda pengukuh !”

Serentak Gin Liong sadar, serunya: “Ah, jika demikian,

Sanukim itulah yang membunuh suhu.”

“Tetapi mengapa ia harus membunuh suhu?” Yok Lan

memberi tanggapan lain.

Ban Hong Liong-li kembali menghela napas panjang.

sepasang matanya berlinang2 mengambang airmata,

mulutnya berkata pelahan:

“Hmmm !”

“Cianpwe, Sanukim . “

Ban Hong Liong-li cepat mencegahnya bicara lalu

melanjutkan penuturannya:

“Aku dan Sanukim sama berangkat dewasa dan

hubungan kami sudah seperti saudara kandung. karena ia

dari keluarga orang persilatan maka diapun mempelajari

ilmu silat. Sedang karena aku memiliki bakat dan

kecerdasan maka akupun memiliki ilmu silat juga, Entah

sudah berapa puluh pemuda Biau yang putus asa dan patah

hati terhadap kami berdua tetapi kami berdua memang

sudah bertekad takkan menikah dengan pemuda Biau yang

biasa.”

Sejenak berhenti, Ban Hong liong-li melanjutkan lagi:

“Daerah Biau yang selama ini aman tenang, pada suatu

masa telah dilanda oleh pergolakan. Pada waktu itu

muncullah seorang pemuda suku Han, seorang berbakat

cemerlang dan memiliki ilmu silat yang sukar diukur

tingginya. Selama beberapa bulan, dia telah menggetarkan

daerah Biau dan tak ada seorangpun yang mampu

menandinginya.”

“Cianpwe, apakah engkau dan Sanukim tidak muncul

untuk menghadapi pemuda Han itu?” tiba2 Yok Lan

menukas.

Ban Hong Liong-li berobah cahaya mukanya dengan

berkata dengan geram: “Justeru pertempuran itulah yang

merusak . .”

“Cianpwe, apakah engkau kalah ?” seru Gin Liong.

“Tidak.”

Ban Hong Liong-li gelengkan kepala: “Badik Kim-wan-ja

dari Sanukim dapat dipentalkan jatuh olehnya tetapi aku

dapat menghadapinya selama tiga hari tiga malam,

walaupun sudah melangsungkan seribu jurus namun tetap

belum ada yang kalah dan menang !”

Yok Lan sangat tertarik sekali sehingga ia mendesak :

“Lalu ?”

“Kemudian kita damai dan bahkan menjadi sahabat baik,

Kita bertiga berkelana menikmati alam pemandangan yang

indah di daerah Biau, berenang2 ditelaga, bernyanyi2 di

bawah sinar rembulan, berlatih ilmu pedang sehingga tanpa

terasa telah berjalan sampai berbulan2.”

Tiba2 muka Yok Lan tersipu merah, serunya “Pergaulan

antara pria dan wanita yang sedemikian akrabnya mungkin

akan menimbulkan untaian tali asmara.”

“Engkau benar, nak.” Ban Hong Liong-li berseru rawan,

“sang waktu memang dapat menumbuhkan asmara. Tanpa

disadari aku dan Sanukim telah sama2 jatuh hati kepada

pemuda suku Han itu”

“Ah, itupun mudah,” tiba2 Gin Liong menyeletuk,

“diakan dapat menentukan pilihannya.”

Ban Hong Liong-li menghela napas dalam2, ujarnya:

“Dia memang memilih. Setelah tahu bahwa kami berdua

mencintainya, ia lalu memutuskan memilih yang terbaik

daripada tiga-puluh enam cara ialah dengan diam2 ia telah

tinggalkan daerah Biau, kembali ketanah Tionggoan lagi.”

“Mengapa cianpwe tak menyusulnya ke Tionggoan dan

menjelaskan kepadanya?” tanya Yok Lan.

“Ya,” sahut Ban Hong Liong-li dengan tegang

“kutinggalkan ibuku dan tanpa memberitahu kepada

Sanukim, seorang diri aku menuju ke Tionggoan Aku

menjelajah tiga belas propinsi, namun ia tetap menghilang

seperti segunduk batu yang silam di tengah laut”

“Karena dia seorang persilatan, asal cianpwe menyelidiki

pada orang2 persilatan masakan tak dapat bertemu ?” kata

Gin Liong.

“Hm,” dengus Bang Hong Liong-li, “setelah berjerih

payah mengembara di empat penjuru, perangaikupun

bertambah keras, Aku suka marah2 dan suka pula melukai

orang, Terutama jago2 silat yang namanya jahat, entah

berapa jumlahnya yang mati di tanganku, Tiga tahun aku

berkelana dengan berlumuran darah . .”

Yok Lan menghela napas: “Tindakan cianpwe itu tentu

didasarkan karena rasa geram dan kedua kali untuk

memancing supaya pemuda itu keluar dari tempat

persembunyiannya.”

“Tetapi adakah pemuda Han itu akhirnya mau keluar?”

tanya Gin Liong.

Ban Hong liong Ii gelengkan kepala.

“Ia tak mau muncul.” kata Ban Hong Liong-li, “dalam

pada itu Sanukimpun juga tahu tindakanku dan akhirnya ia

juga mencari ke Tionggoan Dia melakukan pembunuhan di

dunia persilatan dan liciknya, ia tak mau menggunakan

namanya sendiri melainkan memakai nama Ban Hong

Liong-li. Tak peduli tokoh aliran Hitam atau Putih,

dibunuhnya semua. Dengan begitu jadilah Ban Hong Liong

li seorang momok wanita yang dibenci dan ditakuti dunia

persilatan.”

“Ia tentu marah karena putus asa, ia melakukan

pembunuhan itupun tentu hendak memancing pemuda itu

supaya keluar dari tempat persembunyiannya” kata Yok

Lan.

Tampak wajah Ban Hong Liong-li agak tenang dan

berkatalah dia dengan rawan: “Rupanya Allah menaruh

kasihan juga atas jerih payahku, Akhirnya aku berhasil

menemukan tempat persembunyiannya.”

“Omitohud ” teriak Yok Lan girang, “apakah cianpwe

sudah menemukan dia ?”

“O, dimanakah ia bersembunyi ?” seru Gin Liong ikut

gembira juga.

Dengan nada hambar berkatalah Ban Hong Liong-li: “Di

kuil Leng-hun-si di puncak Hwe-sian-hong gunung Tiangpek-

san.”

Serentak menggigillah Gin Liong. ia melonjak bangun

dan menjerit: “Cianpwe, pemuda Han itu . .”

“Giok-bin-su-seng Kiong Cu Hun.” tukas Ban Hong

Liong-li, Gin Liong dan Yok Lan seperti di sambar petir

dan terlongong2. Beberapa saat kemudian baru Ban Hong

Liong-li berkata:

“Pemuda Giok-bin-su-seng yang dulu sudah berobah

menjadi Liau Ceng taysu, Bukankah nasib memang hendak

mempermainkan orang.”

Airmata Yok Lan bercucuran ia ikut merasakan

kesedihan hati Ban Hong Liong-li, tanyanya dengan nada

rawan: “Pada waktu itu bagaimana suhu memberi

keterangan ?”

“Bukan saja dia berkeras tetap hendak menjadi biarawan

pun dia menganggap bahwa peristiwa yang lampau itu

sebagai suatu impian saja. Diapun menyesalkan

perbuatanku main bunuh dalam dunia persilatan.”

Gin Liong kerutkan alis, berkata : “Seharusnya cianpwe

memberi keterangan tentang tindakan Sanukim dan juga

menerangkan bahwa yang cianpwe bunuh itu hanialah

orang2 jahat saja.”

“Sudah tentu aku menjelaskan begitu tetapi dia tetap tak

percaya.” Ban Hong Liong-li gelengkan kepala.

“Aneh, mengapa suhu begitu keras kepala ?” gumam Yok

Lan.

“Ah hal itu tak dapat mempersalahkan dia” kata Ban

Hong Liong-li, “karena dia ketahui perangai Sanukim itu

lebih tenang dan alim dari aku. Begitu pula dia menduga

bahwa aku dan Sanukim tentu sudah bersepakat untuk

mengadakan pembunuhan di Tionggoan itu.”

Tiba2 Gin Liong teringat soal Ban Hong Liong-li telah

dikurung dalam guha Kiu-kiok-tong, maka ia bertanya:

“Kemudian bukankah suhu telah memenjarakan cianpwe di

guha Kiu-kiok-tong selama lima tahun ?”

Ban Hong Liong-li gelengkan kepala.

“Tidak, suhumu hanya menasehati aku supaya kembali

ke Biau-ciang, mensucikan diri untuk menebus dosa.”

“Lalu siapakah yang mengurung cianpwe dalam guha

Kiu-kiok-tong itu?” tanya Gin Liong pula.

Ban Hong Liong-li tertawa hambar.

“Aku sendiri.”

“Cianpwe sendiri ?” Gin Liong terkejut.

“Demi untuk menyatakan kesungguhan hatiku di

hadapan suhumu dan hud-cou, aku rela mengurung diri

selama lima tahun sebagai penebus dosa. Dan aku

bersumpah bahwa selama lima tahun itu aku takkan

membunuh. Kupilih gua Kiu-kiok-tong agar suhumu datang

kesitu untuk mencegah, kedua kalinya . .” berkata sampai

disitu Ban Hong Liong-li tersipu2 malu.

Tiba2 teringatlah Gin Liong bahwa pada ujung keluar

guha itu dapat tembus kekuil Leng-hun si, tepat dibelakang

kebun dari tempat tinggal suhu nya.

“Agar dapat bertemu dengan suhu, bukan ?” cepat Gin

Liong berkata.

Ban Hong Liong-li mengangguk : “Benar ! setiap malam

aku menuju ke hutan siong memandang kearah tempat

tinggal suhumu. Bermula suhumu tak tahu. Tak peduli

hujan angin ataupun turun salju, selama dua tahun, tak

pernah aku tak datang ke hutan siong itu. Pada suatu

malam karena kurang hati2. begitu keluar dari guha, aku

telah menginjak salju sampai pecah sehingga menimbulkan

suara dan kepergok.”

“Seharusnya suhu dapat menerima cianpwe.” kata Gin

Liong dengan hati tergerak.

“Ah. mana begitu sederhana” Ban Hong Liong-li berkata

tawar, “suhumu meluluskan aku setiap malam pada hari2

yang bertanggal 3, 6, 9, boleh datang ke kamar tinggalnya

satu kali. Setiap kali datang, dia suruh aku berlutut di

kakinya untuk mendengarkan ia membaca kitab Kim-kongkeng

sampai tujuh kali sebagai doa mohon pengampunan

atas dosaku. Setelah itu dia akan memberi pelajaran tentang

penerangan batin dan membimbing aku menuju kepintu

Buddha.”

Yok Lan menghela napas “Apakah kesudahannya hanya

begitu saja ?”

“Begitu saja, pun aku sudah puas” kata Ban Hong Liongli

dengan rawan, “dan hal itu berjalan sampai tiga tahun

tetapi pada saat itu masa aku mengurung diri dalam guha

selama lima tahunpun sudah habis”

“Itulah sebabnya mengapa jago2 golongan Hitam

berbondong2 datang hendak menuntut balas kepada

cianpwe” seru Gin Liong.

“Mengapa selama lima tahun itu mereka tak mau

mencari cianpwe ?” Yok Lan menyelutuk.

Ban Hong Liong-li tertawa hambar:

“Selama lima tahun itu entah berapa puluh kali mereka

mencari aku tetapi telah dihalau pergi oleh suhumu.

Dengan bengis, suhumu menandaskan bahwa selama lima

tahun aku mensucikan diri dalam guha itu. tiada seorang

persilatanpun yang diperbolehkan datang cari perkara,

Mereka gentar akan kesaktian suhumu sehingga tak berani

datang.”

Gin Liong pejamkan mata seperti merenungkan sesuatu.

“Liong-ji apa yang engkau pikirkan ?” tiba2 Ban Hong

Liong-li menegurnya.

Gin Liong membuka mata dan memandang Ban Hong

Liong-li tapi sampai lama tak bicara.

“Ai, mengapa engkau tak bicara ?” seru Ban Hong Liongli.

Sambil tundukkan kepala, Gin Liong menyahut enggan:

“Kesimpulan dari keterangan cianpwe tadi memberi kesan

bahwa cianpwelah yang membunuh suhuku.”

Ban Hong Liong-li tertawa dingin:

“Ceritaku belum selesai, bagaimana engkau berani

mengatakan begitu ?”

“Ya, cianpwe belum selesai bercerita, mengapa engkau

terburu nafsu ?” Yok Lan ikut menyesali.

Merah wajah Gin Liong. Memandang ke cakrawala ia

berkata tersipu2 : “Rembulan sudah condong ke barat

kemungkinan malam sudah makin larut”

Ban Hong Liong-li tak menghiraukan dan melanjutkan

ceritanya.

“Dari muka guha muncul Ma Toa Kong dan kawan2,

sedang dari belakang datang benggolan yang lebih besar

lagi.”

“Oh, siapa ?” Gin Liong terkejut.

Dalam kerut wajah yang sukar diterka sedih atau marah,

Ban Hong Liong-li memandang badik Kim-wan-ja yang

berada dimukanya dan berkata dengan nada gemetar:

“Pemilik badik ini Sanukim.”

Yok Lan terperanjat.

“Ketika mendengar aku masih hidup dan menjalani

derita mengurung diri dalam guha selama lima tahun, sikap

Kiong Cu Hun yang berkeras tak mau merobah

pendiriannya, maka timbullah kemarahannya. Dia

mendesak supaya aku mau diajaknya membunuh suhumu.

Cobalah kalian pikir, bagaimana mungkin aku sampai hati

untuk membunuh suhumu.”

Darah Gin Liong bergolak keras sehingga badik yang

dipegangnya itu ikut gemetar.

“Saat itu engkau, Liong-ji, sedang minum pemberianku

pil Tok-liong-tan. Aku tak dapat meninggalkan tempat itu

dan harus melindungi engkau, Sanukim menerobos keluar

dari guha, Sejam kemudian ia kembali lagi keguha,

menangis sampai matanya membenjul. Dia memberitahu

kepadaku bahwa dia . . telah membunuh . . . Cu Hun . . “

sampai disini Ban Hong Liong-li tak dapat menahan

tangisnya. Yok Lanpun ikut menangis.

“Apakah suhu membiarkan saja dirinya ditusuk dengan

badik itu ?” tiba2 Gin Liong bertanya.

Sambil bercucuran airmata, Ban Hong Liong li berkata:

“Kebetulan saat itu tanggal sembilan belas hari dimana aku

boleh bertemu dengan Kiong Cu Hun.Melihat yang datang

Sanukim, suhumu pun menggunakan cara seperti yang

dilakukan terhadap diriku. Tetapi Sanukim tak

mengacuhkan bahkan menasehatkan supaya suhumu

menanggalkan baju pertapaan dan kembali menjadi orang

biasa lagi, bersama2 kembali ke Biau-ciang untuk

menikmati sisa hari tua. .”

“Ah, itu suatu perasaan yang wajar dari setiap wanita.”

kata Yok Lan.

“Suhumu seorang lelaki yang berhati teguh sudah tentu

dia tak mau menerima permintaannya ? Karena cinta,

Sanukim membenci Karena benci timbullah rasa dendam.

Menggunakan kesempatan disaat suhumu sedang pejamkan

mata melantangkan doa mantra, Sanukim mencabut badik

Kim wan-ja dan menikamnya . .”

Sampai disini Ban Hong Liong-li tak dapat melanjutkan

kata2nya karena terbenam dalam tangis tersedu sedan. Yok

Lan dan Gin Liong pun ikut menangis.

Sesaat kemudian Ban Hong Liong-li melanjutkan pula:

“Pada saat kudengar pengakuan Sanukim telah

membunuh suhumu, seketika meluaplah kemarahanku.

Aku kalap dan tak ingat apalagi, ku-hantam dia dengan

pukulan Toa-lat-jiu-hwat sehingga kawan sepermainanku di

masa kecil dan Sanukim yang telah kuanggap sebagai

adikku sendiri tewas..”

Pada saat itu teringatlah Gin Liong akan mayat seorang

wanita yang berada dalam guha, Kiranya dia Sanukim.

Pada saat itu Ban Hong Liong-li berkata pula dengan

nada haru:

“Nasibku memang malang. Sejak kecil aku tak

mempunyai ayah, Kekasih yang paling kucintai didalam

dunia akhirnya binasa dibawah badik Kim-wan ja. Kawan

satu2nyapun mati ditanganku. Apakah masih punya gairah

untuk hidup dalam masyarakat ramai ? untunglah aku telah

mendapat banyak wejangan dan penerangan batin dari Cu

Hun, bahwa segala apa itu memang sudah terlingkup dalam

hukum Karma. Aku menyadari hal itu, Maka kuharap

kalian . .”

Tiba2 Ban Hong Liong-li ayunkan badik Kim wan-jak

kearah kepalanya sendiri.

“Hai…” Gin Liong dan Yok Lan menjerit kaget dan

cepat menyambar tangan Ban Hong Liong-li Tring . . badik

tertampar jatuh tetapi tangan kiri telah menggenggam sutera

warna hitam, mengusap airmata, wajahnya pucat dan

tegang.

“Cianpwe ! cianpwe ! Mengapa engkau berbuat begitu !”

Yok Lan menjerit dan memeluk tubuh ibu gurunya.

Dengan airmata bercucuran, Ban Hong Liong li

memandang sutera hitam di tangannya dan berkata dengan

tersendat2: “Tali pelenyap kesedihan hati, seumur hidup

tiada pernah mengenyam ketenangan, peristiwa di dunia ini

laksana air mengalir budi dan cinta bagai bunga gugur . .”

Setiap patah kata diucapkan dengan iringan air mata.

“Cianpwe, kini segala peristiwa telah terang, mengapa

cianpwe masih begitu berduka ?” kata Gin Liong.

Ban Hong Liong-li tertawa rawan:

“Suku Biau hanya percaya pada dukun. Walaupun aku

belum dalam meresapi arti daripada pelajaran yang telah

diberikan suhumu selama beberapa tahun itu, tetapi sedikit

banyak aku telah mendapat kesadaran. Hidup itu tak lebih

hanya impian hampa belaka, Aku sudah memutuskan

untuk mencukur rambut masuk menjadi rahib. Aku akan

mengabdikan hidupku dalam dunia yang telah dibukakan

oleh Budha, Aku hendak melangkah kejalan yang ditempuh

suhumu, mungkin kelak aku dapat . . . bertemu dia.”

Gin Liong dan Yok Lan hanya mendengarkan dengan

pilu. Tetapi kedua anak muda itu menyadari dan merasakan

betapa penderitaan hati yang di alami Ban Hong Liong-li.

Keputusan wanita yang berilmu tinggi itu, memang

merupakan jalan yang sudah menjadi arah hidupnya.

Sayup2 terdengar ayam berkokok. Hari sudah mulai

memancarkan penerangan. Ban Hong Liong-li

membungkus benda hitam yang ternyata rambut kepalanya,

lalu diberikan kepada Yok Lan dan Gin Liong.

“Liong-ji, Lan-ji ! Suhumu memperlakukan kalian

berdua seperti putera puterinya sendiri, walaupun aku tak

pernah melepas budi, tetapi perasaan hatiku kepada kalian

berdua juga seperti suhu-mu.”

Gin Liong dan Yok Lan serempak berlutut dihadapan

Ban Hong Liong li: “Budi cianpwe kepada murid berdua,

laksana samudra dalamnya. Walaupun tubuh hancur,

namun murid berdua tetap akan berusaha untuk membalas

budi cianpwe”.

“Sepuluh tahun bersama suhumu, aku tak mempunyai

peninggalan apa2, segulung rambutku ini apabila nanti

kalian pulang ke Leng-hun-si supaya engkau

sembahyangkan di depan jenasah suhumu dan tanamlah

disamping Cu Hun. Anggaplah sebagai . . tanda . .

perkenalan.”

Selekas melemparkan gulungan rambut kepada Gin

Liong, Ban Hong Liong-li terus loncat ke udara dan berseru

terisak2: “Liong-ji Lan-ji ingatlah baik2 pesanku.”

Gin Liong dan Yok Lan terkejut. Keduanya mengejar

seraya memangginya: “Cianpwe . .”

Tetapi Ban Hong Liong-li seorang pendekar wanita yang

sakti Gerakannya luar biasa cepatnya. Hanya segulung

sinar merah tampak melintas dalam keremangan fajar dan

tak lama sudah jauh sekali. Betapapun hendak mengejar

namun sia2 saja usaha Gin Liong dan Yok Lan.

Rupanya Ban Hong Liong-li iba juga melihat

kesungguhan hati kedua anak muda itu. Di sebuah tanah

datar ia berhenti dan menghela napas.

“Di dunia tiada suatu perjamuan yang takkan berakhir.

Kalian mempunyai jalan hidup sendiri dan akupun hendak

menuju ke tujuanku sendiri. Masing2 sudah mempunyai

garis perjalanan hidup sendiri, Hanya kuharap kalian, dapat

selalu mengingat peristiwaku dengan suhumu, agar dapat

bertindak hati2, jangan sampai..”

Sebenarnya hati Ban Hong Liong-li sedang mengalami

ledakan yang dahsyat tetapi dengan sekuat kemampuan ia

berusaha menekannya. Kemudian sambil gelengkan kepala,

ia dorongkan kedua tangannya.

“Aku tak dapat tinggal di dunia persilatan yang penuh

derita batin.” serunya seraya melayang sampai 7-8 tombak

dan pada lain kejap lenyap dalam kabut gelap.

Kedua anak muda itu tegak ter-Iongong2 sampai lama

sekali, Kuatir sukonya berduka, Yok Lan segera membuka

mulut: “Liong koko, locianpwe sudah pergi jauh.”

Gin Liong seperti terjaga dari mimpi, ia menghela napas.

“Ah, tak kira kalau suhu seorang yang berhati keras begitu,

Dia memutus asmara hati seperti memutus tali saja. Tetapi

dia tentu tak tahu bagaimana penderitaan Ban Hong Liongli

lo cianpwe, yang walaupun hidup tetapi lebih sengsara

daripada mati.”

Yok Lan tak mau bicara berkepanjangan, ia segera

mengajak sukonya untuk mencari tempat istirahat Mereka

menuju ke penginapan Liu-lim tian, Hari masih pagi,

jongos rumah penginapan menyambut keluar tetapi demi

melihat kedua anak muda itu menyelip pedang, buru2 ia

mengatakan kalau tak ada kamar.

“Jangan takut, bung, pedang ini hanya untuk pelindung

diri dalam perjalanan.” kata Gin Liong seraya

mengeluarkan sekeping uang perak dan diserahkan kepada

jongos itu: “Lekas sediakan dua kamar, teh, hidangan pagi

dan makanan untuk kuda kami, Kalau kurang kutambah

lagi.”

Jongos itu silau melihat uang sekian banyak, Serta merta

ia mempersilahkan kedua tetamunya masuk. Begitu masuk

kamar, Yok Lan terus tidur.

Tak berapa lama hari sudah pagi dan ramailah para tamu

bangun, Diantaranya terdengar orang berkata kepada

kawannya. Dari nada suara orang itu. Gin Liong seperti

sudah pernah kenal.

“Saudara2″ seru orang itu. “kita harus lekas melanjutkan

perjalanan ke Hoksan agar toako-ku jangan kepayahan

menunggu.”

“Sam-tiangke” seru seorang yang nadanya melengking

seperti orang banci, jangan kuatir urusan itu kami juga

harus ikut campur, Menilik harta karun yang berada

dipunggung kuda nya, tentu kami takkan melepaskannya.”

Dari nada suaranya jelas mereka kawanan jago aliran

hitam. Gin Liong tak menghiraukan karena menganggap

mereka tentu hanya jago2 silat tak berarti.

“Sam tiangke” tiba2 suara orang banci itu melengking

pula, “lo toa kalian itu hendak merencanakan secara terang

atau secara diam2.”

“Jika sukar menggunakan cara terang, terpaksa kita

menggunakan jalan gelap.” sahut orang yang ditanya.

Dalam berkata itu, orang tersebut telah berjalan melalui

jendela kamar Gin Liong, Gin Liong mengintip dari celah

jendela dan dua lelaki tinggi dan seorang pendek,

menggendong buntalan warna kuning, rupanya buntelan

senjata.

Mereka bertubuh kekar, mata berkilat2 tulang pelipisnya

menonjol dan berjalan dengan gagah. Gin Liong tak tahu

siapa mereka. Kemudian yang paling akhir, tampak seorang

lelaki berumur 40-an tahun, muka kurus, menyanggul

sebatang go lok Gan-leng-to, Ciri satu2nya, sebelah kiri

daun telinganya hilang.

Gin Liong seperti pernah melihat tetapi lupa di mana.

“Liong koko” tiba2 ia terkejut dan berpaling, Ternyata

Yok Lan sudah berada dibelakangnya.

“Apa yang engkau lihat di luar itu sehingga engkau tak

mendengar kalau aku masuk ke kamar ini.”

Agak merah muka Gin Liong. sahutnya: “Sekawanan

orang persilatan hendak melanjutkan perjalanan.”

“Mengapa sampai begitu asyik sekali engkau melihat

mereka ?” Yok Lan menggerutu, “Liong koko, sejak

bertemu dengan Liong-li locianpwe, tampaknya engkau

berduka. Kalau sampai mengganggu kesehatanmu

bukankah sayang ?”

“Ah, tidak . .” Gin Liong hanya dapat menjawab

sekenanya.

“Hm, Liong koko, jangan engkau mengelabui aku. Coba

lihat, kasur dan selimut tidak kumal, jelas engkau tidak

tidur Hm, dalam beberapa bulan ini kulihat engkau tak

tenang tidur dan tak enak makan. seharusnya engkau

banyak beristirahat.”

Tahu bahwa semuanya itu memang amat cintainya, Gin

Liong hanya menjawab: “Banyak pesanan BanHong Liongli

yang belum kita laksanakan. Sudah tentu aku gelisah,

Apabila segalanya sudah selesai, pada waktu itu

kemungkinan aku akan mengikuti jejak suhu. .”

“Liong koko, jangan berkata begitu !” Yok Lan menjerit

dan tutupkan jarinya ke mulut Gin Liong.

Dalam keadaan begitu, tiba2 diluar kesadarannya Gin

Liong terus memeluk tubuh Yok Lan, Yok Lan pun

menyerah. Dia menengadahkan muka, menanti.

Dalam detik2 seperti saat itu, lupalah sudah Gin Liong

akan segala kesadaran, Gin Liong segera mereguk bibir Yok

Lan, bagaikan seorang musafir yang kehausan

Lama sekali barulah Yok Lan berusaha untuk meronta

dan setelah melepaskan diri lalu melengking: “Huh, tak

malu, Baru saja mengatakan hendak masuk menjadi paderi,

tahu2 sudah menggigit bibirku !”

Gin Liong tak meladeni katanya: “Ah, lebih baik kita

segera melanjutkan perjalanan.”

“Tetapi kemanakah kita hendak pergi ?” tanya Yok Lan.

“Karena tugas kita untuk mencari jejak pembunuh suhu

sudah selesai, lebih baik kita pulang untuk segera mengurus

penguburan jenasah suhu dan sekali melaksanakan pesan

Liong-li locianpwe.” kata Gin Liong.

Begitulah mereka pulang ke gunung Tiang-pek-san,

Tetapi ditengah jalan tiba Yok Lan mengingatkan Gin

Liong akan Tio Li Kun yang tentu mengharap

kedatangannya di gunung Mo-thian-san.

“Teringat taci Li Kun dipanggil pulang, tentulah gunung

Mo-thian-san sedang menghadapi bahaya. Baiklah kita

singgah dulu kesana, koko”, kata Yok Lan.

Gin Liong setuju, Tiba di gunung Mo thian-san, mereka

disambut oleh barisan obor. Seekor kuda melesat keluar

dari mulut gunung, penunggangnya ternyata Siau-bun-Tio

Tek Cun, orang keenamdari ketujuh saudara Tio.

Pertemuan itu sangat menggirangkan sekali Gin Liong

dan Yok Lan segera diajak masuk ke-dalam markas.

“Ai, Liong-ji, kalian tentu letih, silahkan engkau

beristirahat diruang perpustakaan dan nona Ki di kamar

tidur,” kata nyonyah Tio tua setelah menerima dan

menjamu kedatangan kedua anak muda itu.

Didalam ruang peristirahatannya, Gin Liong tidak tidur

melainkan duduk bersemedhi menyalurkan tenaga murni, ia

mendapat keterangan dari ibu angkatnya, nyonyah Tio tua,

bahwa Patkoay atau Delapan manusia aneh, akan

menyerang gunungMo thian-san.

Tetapi ternyata sampai tengah malam, tiada terdengar

suara apa2. Pada saat Gin Liong merasa heran, tiba2 daun

pintu bergerak dan tahu2 sesosok tubuh hitam telah

menubruknya.

Gin Liong terkejut dan cepat hendak tutukkan kedua

jarinya ke perut penyerang itu, Tetapi orang itu tak mau

menghindar melainkan merentang kedua tangan dan

berteriak: “Hm, apakah engkau benar2 hendak membunuh

jiwaku !”

Gin Liong terkejut: “Ah, taci Kun, engkau mengejutkan

aku !”

“Huh, masih bisa bilang begitu ?” si jelita Li Kun

menggumam, “bukankah aku hampir mati ditanganmu ?”

Gin Liong tersipu-sipu: “Tetapi mengapa engkau tak

mau bilang sehingga hampir saja aku berdosa ?”

“Mati ditanganmu, aku puas,” kata Li Kun.

Betapapun Gin Liong seorang pemuda yang masih

berdarah panas, Sudah tentu ia tergerak mendengar ucapan

si jelita.

“Liong koko,” kata Li Kun, “sejak berpisah dengan

engkau, aku selalu terkenang padamu, cobalah pikirkan,

aku sudah . .” ia tak melanjutkan kata2nya melainkan

tundukkan kepala kedada Gin Liong,

Gin Liong tahu bahwa yang akan dikatakan si jelita itu

tentu buah dari hubungan mereka tempo hari.

“Taci Kun, apakah . . . . engkau sudah memberitahu hal

itu kepada mamah ?” tanya Gin Liong.

“Masakan aku berani bilang ? Kalau mau bilang, engkau

yang wajib bilang.”

“Tetapi bagaimana aku dapat membuka mulut ?” Gin

Liong tersipu-sipu merah mukanya.

“Kalau engkau malu, masakan aku tidak ?”

“Tetapi engkau dapat mengatakan kepada ke lima ensoh,

karena kalian… Kalian sama2 kaum wanita, apalagi

hubungan di antara ipar sendiri…”

“Aku tak peduli,” kata Li Kun, “pokok aku sudah

menjadi orangmu, terserah saja engkau hendak

mengapakan diriku, Kalau tak dapat hidup bersama, lebih

baik aku mati !”

Berkata sampai disitu airmata Li Kun berderai2

membasahi pipinya.

Gin Liong tergopoh menghiburnya: “Taci Kun mengapa

engkau berkata begitu ? Aku bukan seorang lelaki yang

rendah budi, Apalagi kita sudah . . . mempunyai . .

hubungan darah, walaupun tak dapat hidup bersama tetapi

kita akan mati seliang, inilah janjiku”

“Liong . . ” cepat Li Kun menukas, “ucapan mu itu akan

menjadi pedoman hidupku !”

Aku . . ” belum selesai berkata tiba2 Gin Li ong terbeliak,

mendorong Li Kun, meniup padam lampu dan berseru:

“Hai, siapa ituIa

terus melesat keluar, loncat keatas genteng, Tetapi

empat penjuru, tak tampak suatu apa.

“Apa yang engkau lihat?” tegur Li Kun yang menyusul.

“Orang” kata Gin Liong, “ilmu meringankan tubuhnya

luar biasa hebatnya.”

“Benar ? Apa tak salah lihat ?”

“Tidak” sahut Gin Liong. “kulihat orang itu berkelebat di

luar jendela.”

Tiba2 rombongan anak buah yang dipimpin oleh isteri

engkoh Li Kun-yang kelima muncul dan menanyakan Gin

Liong, Gin Liong agak sukar menjawab.

“Kita seperti melihat bayangan orang lewat di genteng,

maka . . .” baru Li Kun menerangkan begitu, isteri

bersaudara Tio yang ke tiga sudah menyeletuk tertawa “Ih,

kita ini mengganggu kalian yang sedang berdua.

Mereka berjumlah lima orang, isteri dari kelima saudara

Tio. Yang lalu2 tertawa mendengar olok2 itu. Gin Liong

dan Li Kun tersipu-sipu malu.

“Ah, mari kita pergi,” kata yang seorang.

“Kita berlima bersembunyi ditempat gelap, tetapi sejak

tadi kita tak melihat apa2,” kata isteri persudaraan Tio yang

tertua.

Akhirnya isteri jago Tio yang keempat tertawa: “Liongte,

harap engkau menemani adik Li Kun untuk mencari

bayangan itu !” habis berkata kelima nyonya muda itu

segera pergi.

“Ai, karena engkau, mereka sampai datang mengolokolok

kita,” Li Kun menggerutu.

“Taci Kun, apakah dalam markas juga diadakan ronda ?”

tanya Gin Liong.

“Dalam markas hanya tinggal mamah seorang, yang

lain2 engkoh dan ensoh semua berada di luar untuk

menjaga kemungkinan Pat-koay menyerang.”

Tiba2 Gin Liong teringat seseorang.

“Ki sumoay . . . .” serunya.

Li Kun tertawa: “Oh, aku tolol. Kiranya engkau sedang

memikirkan adik Lan, Mungkin dia masih tidur nyenyak

dikamarnya, cobalah engkau jenguk.”

“Aku hanya bertanya saja,” kata Gin Liong seraya loncat

turun, Li Kun tetap mengikuti dibelakangnya, Ketika Gin

Liong lewat di jendela dia masih membau hawa yang

harum: “Taci Kun bayangan tadi tentu seorang wanita.

Cobalah engkau rasakan baunya masih harum.”

Li Kun juga membau keharuman itu, ia terkejut: “Benar,

mungkin bau harum dari adik Lan.”

Mereka berjalan terus dan tiba2 terdengar bunyi

terompet, Li Kun mengatakan kalau terompet itu itu

sebagai pertandaan untuk mengumpulkan anak buah yang

melakukan penjagaan disekeliling gunung. Saat itu hari

memang menjelang terang

Li Kun kembali ke tempatnya sendiri sedang Gin

Liongpun masuk lagi ke kamarnya, Tak berapa lama

fajarpun tiba, Surya pagi mulai memancarkan sinar.

Tiba2 terdengar gemuruh derap kaki orang dan sesaat

kemudian muncullah Tio Tek Cun dengan wajah tegang :

“Liong-te, celaka!”

Gin Liong terkejut dan bergegas lari keluar: “Mengapa ?”

“Nona Ki telah pergi tanpa pamit!” seru Tek Cun.

“Liok-ko, apa katamu ?” teriak Gin Liong seperti

disambar halilintar.

“Entah bagaimana nona Ki telah pergi dari gunung ini.

Dia meninggalkan surat.”

“Mana suratnya ?”

“Berada di tangan mamah.”

“Apa bunyi surat itu ?”

“Sampulnya ditulis, diberikan kepadamu, maka tak ada

yang tahu apa isinya . . .”

Gin Liong cepat menyeret tangan Tek Gun. walaupun

Tek Cun tergolong jago yang menonjol diantara ketujuh

saudara Tio, tetapi ketika tangannya dicekal Gin Liong, ia

tak berdaya lagi, Gin Liong mengajaknya menuju ke

markas besar menemui nyonyah Tio tua.

Tampak nyonya Tio tua marah2: “Tentu kita semua

orang2 Mo-thian-san ini tidak melayani dengan baik2

sehingga nona Ki pergi . . .”

Begitu melihat Gin Liong, nyonyah tua itu segera

berkata dengan nada tenang: “Liong-ji, Ki sumoay entah

bagaimana . ..”

“Mah, manakah surat yang ditinggalkannya ?” cepat Gin

Liong menukas.

Nyonyah Tio tuapun segera memberi sebuah sampul dan

buru2 Gin Liong membacanya:

Kepada Siau Gin Liong suko,

Mendoakan agar suko dapat hidup bahagia sampai

dihari tua dengan taci Li Kun. setelah mempersembahkan

hormat kepada suhu, aku akan mengikuti Liong-li

locianpwe. Tak usah menguatirkan diriku. Yok Lan.

Gin Liong tampak gugup, Setelah menyimpan surat ia

segera berkata kepada nyonyah Tio tua: “Mah, Ki sumoay

pulang he Leng-hun-si, dan akupun mohon diri hendak

menyusulnya.”

Habis berkata ia terus melesat keluar. sekalian orang

terkejut melihat gerak gerik Gin Liong yang biasanya selalu

tenang, Tetapi tak ada orang yang mengetahui kecuali Li

Kun. ia mendekati mamahnya dan berbisik: “Mah, engkau

harus mengambil keputusan.”

Tiba2 muncullah Mo Lan Hwa kedalam markas, Sudah

tentu sekalian orang menyambutnya dengan gembira, Mo

Lan Hwa mengatakan telah berjumpa dengan Gin Liong

tetapi ia tak tahu mengapa pemuda itu begitu tegang sekali.”

“Nona Mo, aku hendak menyusul mereka, maukah

engkau menemani aku ?”

“Sudah tentu mau,” kata Mo Lan Hwa. “Aku juga ikut,

mah,” seru Li Kun. “Jangan, engkau jangan ikut,

dikuatirkan nanti nona Ki . . ..”

Tek Piu, saudara kelima dari gunung Mo-thian-san.

serentak berseru: “Mah, jangan pergi. Aku sanggup

mengundang mereka kemari. Kita tak ada yang

menialahinya, mengapa dia pergi tanpa pamit”

Memang Tek Piu itu kasar dan tolol tetapi jujur. Sekalian

orang tertawa mendengar kata2nya.

“Tolol, jangan banyak bicara !” bentak nyonyah Tio tua.

“Tetapi akukan tak bicara salah ?” bantah Tek Piau.

“Semalam Pat-koay tak jadi datang, tentu ada sebabnya,

Tetapi penjagaan markas harus tetap diperketat, Nona Mo,

mari kita berangkat ” kata nyonyah Tio tua pula.

walaupun sudah tua tetapi kepandaiannya jauh lebih

hebat dari kelima menantu perempuannya Mo Lan

Hwapun mengikuti.

Pada hari ketiga mereka sudah tiba digunung Tiang-peksan.

Dari jauh sudah tampak puncak Hwe-sian-hong yang

menjulang tinggi.

Gin Liong lebih dulu sudah tiba di gunung dan terus

bergegas mendaki kepuncak, Telinganya yang tajam segera

dapat menangkap suara orang menangis, Tetapi ketika ia

mendekat gereja Leng-hun-si, suara tangis itu sirap, ia

terkejut, Tak mungkin Yok Lan yang belum lama pergi,

dapat mencapai gereja dalam waktu yang sedemikian

cepatnya,

Cepat ia berlari menuju ketempat penyimpan jenasah

gurunya. Di depan peti jenasah Lau Ceng taysu, ia melihat

sesosok tubuh rebah tak berkutik, Ah, siapa lagi kalau

bukan Ki Yok Lan,

Kedua mata dara itu memejam, masih terlihat bekas

airmatanya yang belum kering. wajahnya pucat, mulut

mengancing rapat, kaki tangan dingin seperti es. Dia tentu

pingsan,

“Sumoay ! Sumoay ! Mengapa engkau senekad itu ?”

seru Gin Liong berisak2. Tetapi saat itu Yok Lan tak ingat

apa2 1agi.

Karena berulang kali meneriaki tetap tak bangun, Gin

Liong memegang pergelangan tangan sumoaynya untuk

memeriksa denyut nadinya, Lemah sekali, Gin Liong cepat

mendudukkan tubuh sumoaynya, ia sendiri duduk

dibelakangnya dan melekatkan telapak tangannya ke

punggung Yok Lan, lalu mulai menyalurkan hawa

murninya.

Tetapi ia tahu bahwa tubuh sumoaynya itu sejak kecil

memang lemah maka iapun tak berani terlalu keras

menyalurkan hawa-murni. Dengan demikian sampai

berselang beberapa saat barulah tampak Yok Lan mulai

dapat bernapas,

“Lan moay, Lan-moay . . ,” Gin Liong berbisik di dekat

telinga si dara. Tetapi Yok Lan tetap tak berkutik

Setengah jam kemudian barulah tampak dada Yok Lan

berombak. Gin Liong gembira karena tahu bahwa detik

yang krisis dari keadaan sumoaynya sudah lewat

Walaupun tenaga dalam Yok Lan tak sehebat Gin Liong

tapi ia juga memiliki dasar tenaga dalam yang cukup baik,

Maka setelah sadar, ia tahu kalau ada orang yang

menolongnya,

“Lan-moay hati2lah, gunakan hawa murni dalam

tubuhmu untuk menyambut tenaga dalam dari telapak

tanganku!” seruGin Liong,

Airmata Yok Lan membanjir deras serunya tersendat” :

“Liong . . suheng . . engkau . . mau apa . . kemari . .”

“Sudahlah nanti kita bicara lagi sekarang bersiaplah

menyambut saluran tenaga dalamku,” Gin Liong cepat

menukas,

Tetapi Yok Lan gelengkan kepala dan menghela napas

lalu pejamkan mata lagi, Tetapi Gin Liong tetap berusaha

untuk menyalurkan tenaga-dalamnya,

“Ah, Liong suko, engkau ini . . “

“Jangan bergerak, lekas gerakkan hawa murni”

Yok Lan terkejut jelas Gin Liong nekad hendak

menyalurkan tenaga dalamnya. jika ia tetap tak

menghiraukan kemungkinan keduanya tentu akan

terjerumus kearah apa yang disebut Co-hwe-jip-mo atau

saluran tenaga-dalam yang tersesat sehingga membuat

tubuh cacad selamanya,

Yok Lan terpaksa melakukan perintah, Tak berapa lama

tubuhnya terasa hangat dan segar 1agi.

“Liong . . ah, suheng, terima kasih atas pertolonganmu,

Kini bukan saja tenagaku sudah pulih tetapi bahkan malah

bertambah kuat, pulanglah ke Mo-thian-san agar taci Kun

tak bersedih hati “

Pucatlah wajah Gin Liong, katanya dengan teriba2 :

“Lan-moay, apakah engkau tak tahu isi hatiku. Aku dengan

. . taci Kun . . peristiwa itu diluar . . diluar . . “

“Tidak, kutahu, malam itu aku memang sudah tahu”

Merah wajahGin Liong “Oh, engkau . .”

“Lepas dari benar tidaknya karena pengaruh obat dari

Dewi Mega, tapi kalian berdua memang merupakan

pasangan yang serasi, Tak usah menyesal”

“Lan-moay, dalam peristiwa terkutuk itu. bagaimana aku

harus meminta maaf kepadamu dan kepada mendiang suhu

?”

“Liong suko, apakah taci Kun tak sembabat dengan

engkau ?”

“Lan-moay, kalau engkau dapat memaafkan, engkau

harus . . ” ,

“Setitikpun aku tak mendendam bahkan aku mendoakan

kebahagian kalian berdua”

“Lalu mengapa engkau pergi ?”

“Karena kuatir taci Kun tak leluasa bertemu dengan

engkau ” kata Yok Lan lalu berputar tubuh mengucurkan

airmatanya dan berkata :

“Liong koko, pernikahanmu dengan taci Li Kun sudah

jelas.” katanya, “aku tak menyangkal bahwa memang aku

pernah mencintaimu tetapi sekarang sudah tak mungkin

lagi, Harap engkau jangan memikirkan diriku lagi, Kini aku

sudah menyadari sepasang syair yang tergantung dalam

ruangan suhu : “Jika hendak meniadakan keresahan hati,

haruslah menghilangkan ke-Aku-an masing2 mempunyai

garis hidup sendiri jangan iri pada orang, Kedua barisan

syair itu tepat sekali, pergilah pergilah !”

Habis berkata Yok Lan terus lari masuk ke dalam biara

Leng hun-si.

“Lan-moay !” Gin Liong menjerit kaget melonjak bangun

dan terus mengejar

Tiba2 dari arah Leng-hun-si muncul dua sosok

hayangan, Salah seorang segera berseru memanggil Gin

Liong,

“Mah !” Gin Liong segera mengenali suara itu sebagai

suara mamah angkatnya, nyonya Tio tua yang datang

bersama Mo Lan Hwa.

“Mana nona Ki,” tanya nyonyah Tio tua.

“Dia . . dia lari kedalam biara”, habis berkata Gin Liong

terus lanjutkan larinya, Terpaksa nyonya Tio tua dan Mo

Lan Hwa mengikuti. Tetapi di dalam biara walaupun sudah

dicari kemana2 Yok Lan tak tampak.

“Heran, kemanakah dia ?” seru Gin Liong,

Nyonyah Tio tua dan Mo Lan Hwa juga terkejut

Nyonyah Tio tua bertanya apakah yang telah terjadi pada

diri Yok Lan.

Tanpa malu2 Gin Liong lalu menuturkan hubungannya

dengan Yok Lan dan pesan dari mendiang suhunya agar

kelak ia dan sumoaynya itu dapat terangkap sebagai suami

isteri,

“Lalu mengapa dia tampak putus asa dan marah ?” desak

nyonyah Tio tua.

Karena didesak pertanyaan itu, apa boleh buat terpaksa

Gin Liong membuka rahasia hubungannya dengan Tio Li

Kun, Nyonyah Tio tua danMo Lan Hwa tertegun.

“Mah, dalam melakukan hubungan dengan taci Kun,

aku benar2 terpengaruh oleh obat bius dari Dewi Megah,

sehingga di luar kesadaran aku telah melakukan perbuatan

yang tak senonoh kepada taci Kun, Untuk itu aku sanggup

untuk menerima hukuman apa saja yang hendak kalian

jatuhkan kepada diriku.” kata Gin Liong,

Nyonyah Tio tua tampak merenung, Sedang Mo Lan

Hwa mengucurkan air mata, ia menangis dalam, hati,

Harapannya untuk mendampingi Gin Liong, bagai awan

tertiup angin,

Tiba2 wajah nyonyah Tio tua tampak cerah katanya :

“Liong-ji, janganlah engkau berduka untuk hal itu, Li Kun

telah memberitahu hal itu kepadaku juga. Bahwa sekarang

di antara kalian sudah menjadi suami istri, itu memang

sudah menjadi akibat dari perbuatan kalian, Tidak hanya

engkau, tetapi anakku si Li Kun itupun bersalah. Dan yang

paling bersalah adalah si DewiMega yang telah melebarkan

obat perangsang kepada kalian, Ku percaya bahwa apabila

dalam keadaan sadar, engkau dan Li Kun tentu takkan

bertindak begitu . .”

Gin Liong terdiam.

“Setiap kesalahan harus kita perbaiki. Oleh karena hal itu

sudah menjadi kenyataan maka kita harus menerimanya.

Engkau harus menikah dengan Li Kun demi

menyelamatkan kepentingan bibit yang telah terkandung

dalam perut Li Kun.”

“Sudah tentu aku akan bertanggung jawab sepenuhnya,

mah,” Gin Liong memberi penegasan,

“Tetapi belum cukup begitu, Liong-ji,” kata nyonyah Tio

Tua pula, “engkaupun harus melaksanakan pesan suhumu.

Dalam hal itu aku dan Li Kun telah mengambil keputusan,

akan menyambut pernikahanmu dengan Yok Lan secara

gembira. Biarlah Li Kun mendapat saudara perempuan

yang dapat bersama2 mendampingi engkau . . “

“Mah . . ” teriak Gin Liong terkejut.

“Dan masih ada keputusan lain, Liong-ji,” kata nyonyah

Tio tua lebih lanjut, “bahwa kulihat hubunganmu dengan

nona Mo Lan Hwa sudah meningkat sedemikian rupa

sehingga kasihan apabila nona Mo sampai kecewa, Oleh

karena itu. biarlah sekalian nona Mo menjadi isterimu agar

kalian berempat dapat hidup dengan rukun dan bahagia . . “

“Mah !” kembali Gin Liong menjerit kaget, Tak pernah

ia menyangka bahwa nyonyah Tio tua dan Tio Li Kun akan

mempunyai hati yang selapang itu.

“bukankah . . hai !” tiba2 nyonyah Tio tua menjerit

kaget, Ternyata Mo Lan Hwa yang sejak tadi berada di

belakangnya tahu2 entah kapan sudah lenyap, “mana nona

Mo LanHwa ?”

Gin Liong sejak tadi dicekam oleh perasaan terkejut yang

melandanya. Ucapan nyonyah Tio tua memang benar2 tak

pernah disangka2nya. Karena perhatiannya tercurah kearah

itu maka iapun tak sempat lagi memperhatikan gerak gerik

Mo LanHwa yang berada di belakang mereka,

“Nona Mo , , !” tak kalah kejutnya ia menjerit kaget,

memandang ke segenap penjuru tetapi tak melihat

bayangan nona itu, Dia terus lari mengelilingi biara Lenghun-

si tetapipun sama saja. Bayangan nona itu hilang

seperti di telan bumi,

“Bagaimana ?” tegur nyonyah Tio tua seraya

menghampiri Gin Liong yang tampak tegak termenung

diluar biara,

“Dia menghilang seperti bayangan . . “

“Aneh.” gumam nyonyah Tio tua, “mengapa nona Yok

Lan dan nona Lan Hwat dapat melarikan diri sedemikian

cepat ?”

“Adakah dalam biara ini terdapat suatu jalan rahasia

yang menembus keluar?” tiba2 nyonyah Tio bertanya,

Gin Liong seperti disadarkan, Memang di belakang

taman tempat kediaman mendiang suhunya terdapat

sebuah jalan rahasia yang dapat menembus ke tempat guha

persembunyian Ban Hong Liong li dulu. Adakah kedua

nona itu menggunakan jalan rahasia itu ?

“Tetapi Yok Lan memang mungkin karena tahu akan

jalan rahasia itu. Lalu bagaimana dengan Mo Lan Hwa,

bukankah dia tak tahu jalan itu ? Lalu bagaimana dia dapat

menghilang secara tak berbekas itu ?” Gin Liong

membantah pikirannya sendiri,

Akhirnya ia memutuskan untuk menyusur Yok Lan ke

jalan rahasia itu, Tetapi baru ia hendak bergerak tiba2

muncullah Swat-san Sam-yu atau tokoh gunung Es, yakni

Kim-yan-tay atau Tabung-pipa mas Hok To Beng, Hongtiau-

siu si Kakek Gila dan Cui-sian-ong si Raja Pemabuk,

“Hai engkoh kecil” seru Hok To Beng ketika melihat Gin

Liong agak terkejut melihat kemunculan ketiga tokoh itu.

“mengapa engkau terkejut ?”

“Tak apa2, Hok-heng, hanya . . ” agak tersekat Gin

Liong hendak berkata “adakah Hok-toako berjumpa dengan

taci Lan Hwa ?”

“Sudah tentu” sahut Hok To Beng, “kedatanganku

kemari memang disuruh dia”

“Disuruh taci Lan Hwa ?” Gin Liong menegas kaget,

“Ya,” sahut Hok To Beng seraya menyerahkan sebuah

sampul surat kepada Gin Liong. Gin Liong cepat membuka

dan membacanya :

Adik Liong,

Rupanya adik Yok Lan memang benar, Terus terang aku

memang mencintaimu tetapi kini aku sadar bahwa cinta itu

tidak boleh bersifat egois, jika engkau dapat melepaskan

adik Lan yang telah dipesan mendiang suhumu, mengapa

tak dapat melepaskan diriku ? Bunga gugur mempunyai arti

tetapi air mengalir tiada tujuan artinya, Akupun harus tahu

diri, Kudoakan engkau hidup bahagia dengan nona Li Kun

sampai dihari tua.

Aku yang pernah singgah dalam kenangan hatimu:

Lan Hwa

Habis membaca pandang mata Gin Liong terasa

berkunang2, kepalanva pening, Bumi yang di pijaknya

serasa ambroll. dia terhuyung2 hendak rubuh. untunglah

Hok To Beng cepat menyambarnya.

“Mengapa engkau, siauheng?” tegar jago tua itu.

Gin Liong ngelumpruk duduk di tanah dan menyerahkan

surat kepada Hok To Leng, Setelah membaca tampak Hok

To Leng kernyitkan alis.

“Mengapa ?” tegur Hong-tiau-soh.

“Celaka, sumoay kita terluka ” seruHok To Beng

“Siapa yang mencelakai ?” Hong-tiau-soh lalu

memandang kearah Gin Liong dan menegur, “he apakah

engkau yang telah mencelakai sumaoy-ku?

Habis berkata ia terus menghantam. Memang Kakek

Gila itu terlalu aneh wataknya dan sayang sekali kepada

Mo Lan Hwa. Mendengar sumoaynya terluka ia menduga

tentulah Gin liong yang mencelakai. Maka tanpa banyak

urus, ia terus menghantam.

Hok To Leng terkejut ia hendak mencegah tetapi tak

keburu lagi. Bluk, dada Gin Liong termakan pukulan.

Rupanya pemuda itu tak mau menangkis atau menghindar

dan seolah menyerahkan diri. ia terpental beberapa langkah

lalu muntah darah.,,

“Gila” bentak Hok To Beng seraya loncat menolong Gin

Liong, “engkau memang kakek gila Mengapa engkau

memukulnya ?”

“Dia melukai sumoay “

“Siapa bilang ?” bentak Hok To Beng, “aku hanya

mengatakan sumoay kita terluka tapi bukan terluka

tubuhnya melainkan terluka hatinya.

“Ah . . ” seru Hong-tiau-soh seraya bergopoh

menghampiri Gin Liong, “maafkan aku, siau-heng.”

“Hong jiko tak bersalah” kata Gin Liong, “memang aku

sudah tak ingin hidup di dunia lagi, Aku banyak berhutang

dosa kepada orang sehingga membikin patah hati mereka.”

“Liong-ji !” tiba2 nyonyah Tio tua berseru, “jangan

engkau berkata begitu, Bagaimana pertanggung jawabmu

terhadap Li Kun ?”

Tanpa menunggu penyebutan Gin Liong, nyonya Tio

Tua membentak kepada Hong-tia-soh: “He kakek gila,

kalau Liong-ji sampai kena apa2 jangan engkau tanya dosa,

tentu aku akan mengadu jiwa dengan engkau.”

Nyonyah Tio tua tahu bahwa Swat-san Sam-yu itu

termasuk tokoh persilatan yang diagungkan kesaktiannya,

Tetapi ia tak gentar.

“Aku tak mengerti duduk perkaranya” bantah Hong-tiansoh

maka aku telah kesalahan tangan untuk itu aku sudah

meminta maaf dan bersedia untuk menolong jiwanya,

Tetapi eh. mengapa engkau begitu garang sekali ?

Andaikata aku tak merasa bersalah, kata2mu itu cukup

menjadi alasan untuk menggerakkan tanganku menghajar

mulutmu yang lancang itu.”

Karena sudah terlanjur berkata keras nyonya Tio tuapun

tak mau mundur. Jawabnya: “Hm kudengar Swat-san Samyu

diagungkan sebagai dewa persilatan Tetapi aku si nenek

tua Tio, takkan mundur menghadapi mereka . .”

“Ha, ha, nyonya tua, engkau hendak menantang aku ?”

seru Hong-tian-soh.

“Aku tak menantang tetapi aku tak gentar apabila harus

mempertahankan kehormatanku terhadap orang yang

menghina aku.”

“Hong tiau-soh, maukah engkau menutup mulutmu”

tiba2 Hok To Beng menyeletuk, Kemudian ia berkata

kepada nyonya Tio tua: “Nyonyah Tio sebenarnya

bagaimanakah hubunganmu dengan adik ini sehingga

engkau begitu mati2an hendak membela jiwanya ?”

Nyonya Tio tua menganggap kata2 Hok To Beng itu

beralasan ia menerangkan bahwa Gin Liong itu anak

angkatnya: “Di samping itu diapun calon suami anakku

perempuan . .”

“Hai…” tiba2 Cui-siang-ong si Dewa Pemabuk menjerit

“dia calon menantumu ? Pantas, pantas sumoayku terluka

hatinya. Kiranya dia sudah menjadi calon menantumu,

hmm . .”

“Eh, apa hubungannya dia calon menantuku dengan

engkau ?” nyonya Tio tua marah juga.

“Sudah tentu mempunyai hubungan,” sahut Cui-sian-ong

tak kurang getasnya, “adalah karena dia engkau rebut

hendak engkau jodohkan pada anak perempuanmu, maka

sumoayku sampai terluka hatinya, Jadi jelas engkaulah

yang menjadi gara2 dari hancurnya hati sumoayku !”

“Apa katamu2 Aku merebut putera angkatku? Andai

kata benar, apa pedulimu ?” sebenarnya nyonya Tio tua

bermaksud juga hendak menjodohkan Mo Lan Hwa kepada

Gin Liong tetapi demi mendengar kata2 yang kasar dari

Cui-sian-ong ia marah sekali.

“Jika begitu, engkau harus kuhajar !” seru Cui-sian-ong

seraya maju menghampiri. Nyonya Tio tuapun bersiap-siap.

Tiba2 terdengar derap kuda lari mendatangi dan tak

berapa lama, muncullah enam penunggang kuda ke biara

Leng-hun-si. Dua orang penunggang kuda yang paling

depan, terdiri dari seorang pemuda cakap yang gagah, naik

kuda hitam dan seorang pemudi cantik naik kuda putih,

sementara empat orang dibelakangnya terdiri dari lelaki

setengah tua.

“Itulah Siau siauhiap, koko !” tiba2 gadis berkuda putih

itu berseru seraya menunjuk kearah Gin Liong yang masih

duduk pejamkan mata, wajahnya pucat.

Sepasang muda mudi dan keempat pengiringnya

serempak melayang turun dalam gerakan yang gesit dan

ringan, kedua muda mudi itu langsung menghampiri ke

tempat Gin Liong.

Kemunculan rombongan penunggang kuda itu telah

menghentikan ketegangan diantara Cui-sian-ong dengan

nyonya Tio tua.

“Siau sauhiap, kenapa engkau ?” teriak pemuda cakap itu

seraya lari menghampiri Gin Liong.

“Jangan memegangnya !” bentak Hong-tiau-soh dengan

deliki mata, pemuda dan pemudi itu terkejut. Mereka

berpaling memandang Hong-tiau soh dan menegurnya

“Siapakah lo-tiangke ini ?”

“Pantasnya aku yang harus bertanya, mengapa malah

ditanya ?”Hong-tiau-soh menyindir.

“Apa yang hendak lo-tiangke tanyakan ?” pemuda itu

rupanya berperangai sabar.

“Siapa engkau dan mengapa engkau hendak

mengganggu engkoh kecil itu ?” tanya Hong-tiau-soh.

“Dia adalah Siau Gin Liong sauhiap, kenalanku, Dia

sudah berjanji hendak singgah digunungku tetapi sampai

sekian lama belum muncul kemudian kami mendapat berita

bahwa dia sudah kembali ke biara Leng-hun-si disini.Maka

kamipun segera menjenguknya.”

“Dimana gunungmu dan siapakah namamu ?” tanya

Hong-tiau-soh.

Si gadis merah mukanya. ia tak puas melihat sikap

Hong-tiau-soh yang tak memandang mata kepada si

pemuda. Tetapi untunglah pemuda itu mendahului berseru:

“Aku tinggal di gunung Ke-kong- san . . ..”

“Itulah markas Thian-leng-kau,” cepat Hong-liau-soh

menukas. “apakah engkau orang Thian-leng-kau ? siapakah

namamu ?”

“Ya.” pemuda itu mengiakan, “aku Honghu Ing dan

adikku Honghu Yan ini memang anggauta Thian-leng-kau .

.”

“Honghu Ing ?” tiba2 Hok To Beng yang sejak tadi tak

bicara, saat itu membuka mulut.

Pemuda itu mengiakan.

“Oh, tak kira kalau ketua Thian-Ieng-kau yang bernama

Honghu Ing itu ternyata masih begini muda” seru Hok To

Beng.

“Ah. lo-tiangke terlalu memuji ” Honghu Ing merendah.

Memang Thian-leng-kau walaupun baru berdiri tetapi

namanya sudah cukup dikenal orang, Honghu Ing dan

Honghu Yan termasyhur sebagai sepasang kakak beradik

yang lihay.

Ketiga Swat-san Sam-yu dan nyonyah Tio tua terkejut,

Mereka tak menyangka bahwa pimpinan Thian-leng-kau

yang begitu termasyhur ternyata masih seorang pemuda dan

pemudi yang muda belia dan cakap.

Kemudian Honghu Yan balas bertanya, setelah

mendengar bahwa ketiga lelaki tua itu ternyata Swat-san

Sam Yu, iapun buru2 menghaturkan maaf, demikian juga

kepada nyonyah Tio. setelah saling berkenalan, Honghu Ing

memberi hormat juga.

“Hok cianpwe” kata Honghu Ing, “apakah yang telah

terjadi pada Siau sauhiap ?”

Hok To Beng menjelaskan kesemuanya, Mendengar itu

kejut Honghu Ing bukan kepalang.

“Jika begitu, aku harus berusaha untuk menemukan nona

Yok Lan lagi” kata Honghu Ing cemas.

“Aku ikut koko” seru Honghu Yan.

Berpikir sejenak, Honghu Ing berkata: “Jangan lebih baik

engkau disini merawat Siau sauhiap yang terluka itu.

Setelah itu ajaklah dia pulang ke Ke-kong-san”

Nyonyah Tio tua mendesah : “Soal diri Liong-ji,

puteraku angkat itu, akulah yang wajib merawatnya. Akan

kubawa dia pulang ke gunung Mo thian-san.”

Honghu Yan terkesiap dan memandang ke arah

kokonya, Honghu Ing berkata: “Jika demikian setelah

engkau beri pertolongan seperlunya, engkau boleh

mengantarkan Siau sauhiap ke gunung Ke-kong-san”

“Ya, jika nona suka, silahkan mengunjungi gunungku,

Anak perempuan. Li Kun tentu gembira sekali menerima

kedatangan nona,” kata nyonyah Tio tua.

Karena sikap nyonya Tio yang ramah, Hong hu Yanpun

mau menerima undangan itu, Diam2 ia pun hendak melihat

bagaimanakah gadis Li Kun itu dan apakah mempunyai

hubungan dengan Gin Liong.

Setelah memasrahkan adiknya, Honghu Ing segera

mengajak ke empat thancu pengiringnya tinggalkan tempat

itu.

“Jika begitu. hayo kita cari sumoay” seru Hong-tiau-soh

seraya melangkah pergi, Terpaksa Hok To Beng dan Cuisian-

ong mengikuti jejak mereka.

Setelah orang2 itu pergi. barulah nyonyah Tio tua

menghampiri Gin Liong, ujarnya : “Liong-ji, jangan engkau

kelewat berduka, Aku akan mengatur urusanmu sehingga

beres, Takkan ada pihak yang rugi dan tersiksa hatinya.”

Honghu Yan mendengarkan dengan penuh perhatian. Ia

ingin tahu hubungan Gin Liong dengan Tio Li Kun,

Dengan tutur kata yang halus, ia minta keterangan kepada

nyonyah Tio tua tentang keadaan Gin Liong.

Nyonya Tio tua menuturkan dengan terus terang apa

yang telah terjadi pada diri Gin Liong pada akhir

penuturannya ia menambahkan bahwa tiada keputusan

yang lebih bijaksana daripada menjodohkan ketiga nona itu

kepada Gin Liong. Ketiga nona itupun tentu tak keberatan

mengingat hubungan mereka sangat akrab seperti saudara

sendiri.

Diam2 Honghu Yan hancur hatinya, Dengan keadaan

itu, jelas ia tiada mempunyai harapan lagi untuk menjadi

teman hidup Gin Liong, Namun ia memutuskan bahwa ia

harus berani berkorban juga. Ia harus merawat pemuda itu

sampai sembuh baru nanti meninggalkannya dengan

membawa hati yang hancur.

“Liong-ji” kata Nyonyah Tio tua. “mari kita pulang ke

Mo-thian-san biar mamah dan saudara2 dapat merawat

lukamu.”

Gin Liong saat itu sudah tampak lebih baik keadaannya,

ia menghela napas: “Mah, hatiku masih bingung. Ijinkanlah

aku untuk beberapa hari beristirahat disini, Soal lukaku,

kiranya tak menjadi soal. Harap mamah bersama nona

Honghu pulang dulu dan tolong sampaikan kepada taci

Kun supaya baik2 menjaga diri. .” dalam mengucap kata2

terakhir itu, tampak mata Gin Liong berlinang2 dan

suaranya tak lampias.

Dalam beberapa saat saja, Gin Liong sudah banyak

berobah, jika tadi ia seorang pemuda yang penuh semangat

dan gesit, saat itu sudah seperti orang yang kehilangan

semangat hidupnya,

“Liong-ji, engkau harus percaya kepadaku” kata nyonya

Tio tua pula. “aku tentu akan mengatur semua urusan itu

sampai menyenangkan hatimu”

“Terima kasih mah” kata Gin Liong dengan nada sukar

ditebak.

“Baiklah, Liong-ji” akhirnya nyonya Tio tua berkata,

“aku akan mengajak nona Honghu pulang dulu. Tiga hari

kemudian apabila engkau belum pulang, akan kusuruh

engkohmu datang menjemput kemari.”

Setelah kedua wanita itu pergi, Gin Liong menghela

napas panjang, ia merasa telah kehilangan diri, kehilangan

pegangan, ia mencintai Yok Lan tapi ia telah mempunyai

kewajiban terhadap Li Kun. iapun tahu bahwa Mo Lan

Hwa dan Honghu Yan juga menaruh hati kepadanya,

Apabila ia menolak mereka tentu akan patah hati dan

menderita batin. Namun kalau ia menerima, tak mungkin ia

dapat menerima semuanya.

Sampai lama ia duduk tepekur menyalurkan pernapasan

dan mengheningkan cipta. Entah berselang berapa lama,

ketika membuka mata ternyata hari sudah larut malam.

Seluruh penjuru gelap dan sunyi senyap.

Pelahan2 ia berbangkit menuju ke tempat ruang

penyimpan jenasah suhunya. Sebuah peti mati diletakkan di

tengah ruangan, hanya dipasangi penerangan sebatang lilin.

Pelahan2 ia menghampiri ke muka peti dan berlutut, ia

pejamkan mata se-olah2 hendak berbicara dengan arwah

suhunya.

“Suhu, murid bingung menghadapi persoalan hidup

murid,” katanya dalam menyampaikan doa “mohon suhu

suka memberi petunjuk kepada murid, agar murid dapat

melaksanakan semua pesan dan harapan suhu . .”

Namun sampai lama, tak pernah Gin Liong merasa

menemukan jawaban, Tiba2 ia teringat akan pesan Ban

Hong Liong-li untuk meletakkan gumpal rambutnya yang

telah dipotong disisi jenasah suhunya, Maka iapun segera

melakukannya.

Setelah selesai, pilihannyapun teringat akan Ban Hong

Liong li yang bernasib malang itu, ia heran mengapa

suhunya begitu getas terhadap wanita.

“Ah . .” tiba2 ia tersentak dari lamunan, Ada sesuatu

dalam pertanyaan itu yang memancarkan sesuatu. Dan

sesuatu itu dirasakan sebagai jawaban dari suhunya

terhadap pertanyaan yang di sampaikan dalam doanya tadi.

“Ah, tentulah suhu seorang yang berbudi luhur. Dia tahu

kedua wanita itu sama2 mencintainya, jika ia menerima

yang satu, yang lain tentu akan menderita. Maka lebih baik

ke-dua2nya tidak sama sekali maka suhu rela melepaskan

keduniawian dan mensucikan diri sebagai seorang paderi. .”

berkata Gin Liong seorang diri.

“Tetapi ah, mengapa tidak kedua wanita itu diperisteri

semua ? Bukankah hal itu akan membahagiakan semua

pihak ?” ia membantah pikirannya sendiri.

Gin Liong tak dapat menjawab pertanyaan itu. Namun

ia percaya bahwa suhunya itu seorang lelaki jantan yang

berbuat luhur, bijaksana dan berhati welas asih. Tentu ada

sebabnya mengapa dia tak mau melakukan hal itu,

Kemungkinan besar, dia hanya menginginkan satu tetapi

tak ingin menyakiti yang lain.

“Ah, keadaan suhu terbalik dengan diriku, jika memang

mereka mau menerima, akupun terpaksa harus menerima

mereka demi membahagiakan mereka semua. Tetapi

ternyata Lan-moay rela berkorban. Dia ingin mengikuti

jejak suhu, Juga Mo Lan Hwa mengikuti langkah Lanmoay,

Ah, jika gadis2 itu berani berkorban demi

kebahagianku, mengapa aku sebagai seorang lelaki tak

berani berkorban demi mereka ?” – jawaban itu makin

menonjol dan mengendap sebagai suatu keputusan

“Baik, aku akan mencari Lan-moay dan memberi

penjelasan kepadanya, Tetapi jika dia tetap hendak

meninggalkan keduniawian akupun akan masuk menjadi

paderi juga . . .” tiba2 ia hentikan pikirannya ketika teringat

akan Li Kun yang telah mengandung bibit anaknya. jika ia

mengambil keputusan begitu, anak itu kelak akan menderita

batin seorang anak tanpa ayah.

“Ah . .. .” ia mengeluh “anak itu tak berdosa apa2,

mengapa dia harus memikul kesalahanku?”

Setelah agak lama merenung, akhirnya ia mengambil

keputusan, Pertama, ia akan mencari Yok lan? Kalau

bertemu ia akan memberi penjelasan. Apabila Yok Lan

menerima, segala apa akan berlangsung seperti yang

dikatakan nyonya Tio tua. Tetapi kalau Yok Lan menolak,

iapun akan masuk gereja menjadi pendeta.

Dan demikian pula apabila ia tak berhasil menemukan

sumoaynya itu. Demi menyelamatkan muka Li Kun, demi

kepentingan anak itu, ia harus kembali kepada Li Kun.

Setelah anak itu lahir, barulah ia akan meninggalkan

mereka dan mengasingkan diri jauh dari pergaulan umum.

“Ya, demikianlah keputusan yang harus ku ambil,”

akhirnya ia segera tinggalkan gunung Tiang-pek-san untuk

memulai pencariannya kepada Yok Lan.” Tetapi dunia

begitu luas, kemanakah ia harus mencarinya ?

Yok Lan sejak kecil sudah sebatang kara, tak mungkin

dia menuju ke tempat sanak keluarganya, Yok Lanpun tak

mempunyai sahabat kenalan diluaran. Satu-satunya tempat

yang kemungkinan besar ditujunya ialah ke daerah Biau

mencari Ban Hong Liong-li. Ya, ia akan menuju ke daerah

Biau.

Ternyata dugaannya memang benar. Setelah susah

payah tiba didaerah Biau dan menyelidiki akhirnya ia dapat

menemukan tempat kediaman Ban Hong Liong-li disebuah

puncak bukit yang dikelilingi pemandangan alam yang

permai. Disitu terdapat sebuah biara disebut Bang-hong

kwan. di ketuai oleh rahib BanHong sin-ni.

Pertemuan itu memberi kesan yang mengejutkan sekali

pada Gin Liong, Tampak wajah Ban Hong Liong-li sayu

tapi tenang, Terutama sinar matanya terasa sejuk, Suatu

pertanda bahwa wanita itu sudah menemukan ketenangan

hatinya dalam melewati sisa hidupnya.

“Oh, engkau Liong-ji” seru Ban Hong sin-ni dengan

tenang, “bukankah engkau hendak mencari Lan-ji ?”

“Benar. cianpwe” kata Gin Liong. “apakah Lan-moay

berada disini ?”

Ban Hong sin-ni mengangguk.

Setelah menghaturkan terima kasih bahwa Yok Lan

sudah diterima oleh Ban Hong Liong-li, Gin Liong

meminta ijin untuk menemui Yok Lan.

Ban Hong sin-ni menghela napas: “Memang hanya yang

mempunyai jodoh baru dapat diterima Hud, Lan-ji telah

menemukan dunianya, kehidupan dan kebahagiannya

disini . .”

“Cianpwe ” Gin Liong berteriak kaget “adakah . . adakah

Lan-moay sudah . . mengikuti jejak cianpwe ?”

“Anak itu memang keras sekali hatinya” kata Ban Hong

sin-ni, “pada hari itu entah mengapa aku ingin ke Tiangpek-

san. Terus terang aku ingin melihat wajah suhumu

yang terakhir kalinya sebelum aku memasuki kehidupan

sebagai seorang rahib.”

Gin Liong menghela napas.

Tetapi di tengah jalan aku bertemu dengan gerombolan

penyamun yang telah menawan seorang gadis, Aku terkejut

karena gadis itu bukan lain adalah Yok Lan. Segera kuhajar

kawanan penyamun itu dan kutolong Lan-ji. Lan ji

mengatakan bahwa ia hendak ke daerah Biau mencari aku.

Sudah tentu aku terkejut dan meminta keterangan apa yang

telah terjadi pada dirinya.

Dengan terus terang ia menceritakan tentang kisah

hidupnya bersama engkau dan memutuskan akan masuk

menjadi rahib, Aku terkejut dan berusaha menasehati

supaya jangan ia meneruskan keinginannya.

Dari halus sampai kasar, tetap anak itu menolak, jika aku

tak mau menerimanya, ia akan mencari biara di lain

tempat. Akhirnya kululuskan juga permintaannya itu.

Kubawanya pulang kemari dan pada hari itu juga ia telah

memotong rambutnya resmi menjadi rahib”

Kembali Gin Liong terkejut.

“Dimanakah Lan-moay saat ini ?” tanya Gin Liong.

“Lebih baik engkau jangan menemuinya, Liong-ji. Apa

guna engkau bertemu jika pertemuan itu hanya akan

membawa kenangan yang pahit? Saat ini dia sedang

melakukan semedhi menutup diri di ruang semedhi. Dia

baru akan keluar setelah mencapai penerangan batin, ia titip

pesan kepadaku, janganlah engkau menemuinya lagi demi

ketenangan hatinya dan kebahagianmu, Liong-ji.”

Gin Liong tak dapat berkata apa2 kecuali mengucurkan

airmata: “Cianpwe, berilah petunjuk ke pada Gin Liong,

bagaimana aku harus hidup?”

Tenang2 Ban Hong sin-ni menjawab: “Hiduplah

menurut kodrat hidupmu. Jangan paksakan dirimu

melakukan hal yang bukan menjadi garis hidupmu.

Kembali dan menikahlah dengan nona Li Kun, demi

kepentingan anakmu.”

Gin Liong termenung2. Beberapa saat kemudian baru ia

berkata: “Baiklah, cianpwe aku hendak melakukan petunjuk

itu. Tetapi tolong cianpwe sampaikan pada Lan-moay,

bahwa setelah kewajibanku sebagai seorang suami dan ayah

selesai aku tentu akan menyusul jejak Lan-moay . .”

“Liong-ji” cepat Ban Hong sin-ni berseru, Tetapi Gin

Liong setelah memberi hormat terus lari keluar.

Ban Hong sin-ni menghela napas: “Dunia memang suatu

derita, Aku dan suhunya harus menderita sepanjang hidup,

kini mereka berduapun akan menuju kearah itu juga, Entah

berapa ratus ribu muda mudi yang akan tergelincir dalam

lembah penderitaan itu . .”

Kembali ke gunung Mo-thian-san, ternyata Honghu Yan

sudah pulang. Gin Liong melaksanakan rencananya juga, ia

menikah dengan si jelita Li Kun dan tinggal di gunung Mo

Thian san.

Pada suatu hari Swat-san Sam-yu berkunjung ke gunung

Mo-thian-san. Ketiga tokoh itu menerangkan bahwa

sumoay mereka, Mo Lan Hwa, telah mensucikan diri

sebagai seorang rahib.

“Apakah toako bertiga akan menuntut balas kepadaku ?”

tanya Gin Liong,

“Tidak, siau-hengte” kataHok To Beng, “hal itu memang

menjadi kehendak sumoay sendiri, Begitu pula dia minta

dengan sangat agar kami bertiga jangan melakukan

tindakan apa2 ketiga jangan melakukan tindakan apa2

kepadamu. Semua kesalahan adalah tanggung jawab

sumoay sendiri.”

Gin Liong menghaturkan terima kasih, Setelah

beristirahat beberapa waktu, Swat-san Sam Yu pun

tinggalkan gunung Mo-thian-san.

Beberapa bulan kemudian, Li Kun telah melahirkan

seorang bayi laki2 yang diberi nama Hui Seng atau Cahaya

Hidup.

Setelah anak itu genap berumur satu tahun, tiba2 seluruh

penghuni gunung Mo-thian-san gempar dan bingung. Gin

Liong telah lenyap dan hanya meninggalkan sepucuk surat

untuk nyonya Tio tua.

Isi surat mengatakan bahwa ia telah menyelesaikan

kewajibannya sebagai seorang suami dan seorang ayah,

Sekarang dia hendak menunaikan kewajibannya terhadap

diri sendiri. ia akan mencari penerangan batin dan

tinggalkan kehidupan ramai. ia minta maaf kepada nyonyah

Tio tua, Li Kun dan puteranya.

Walaupun nyonyah Tio tua mengerahkan anak buah

Mo-thian-san dan beberapa puteranya, untuk mencari jejak

Gin Liong namun sia2 saja.

Gin Liong seperti hilang lenyap ditelan bumi. Beberapa

tahun kemudian, dunia persilatan mulai ramai

membicarakan tentang diri seorang paderi muda yang

memiliki ilmu silat tinggi.

Paderi muda itu sering muncul dan setiap

kemunculannya tentu menimbulkan kegemparan Jago

golongan hitam yang jahat, banyak yang cacad kehilangan

ilmu kepandaiannya sedemikian besar perbawa dari paderi

aneh itu, hingga orang persilatan gentar.

Tunas2 muda yang menjadi harapan para cianpwe

persilatan, karena soal asmara telah tenggelam dalam laut

kesunyian. Namun mereka masih memancarkan pengaruh

untuk menjaga kelangsungan dan ketenangan dunia persilatan.

Tamat

About these ads

~Semoga Postingannya Bermanfaat. Silahkan meninggalkan komentar walaupun hanya sepatah kata~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )