Seri Kesatria Hutan Larangan – Pertarungan Terakhir (Seri III)

Seri Kesatria Hutan Larangan

Pertarungan Terakhir  (Seri III)

Lahirnya Sang Kesatria

Karya : Saini KM

Sbook Oleh Manise di Dimhad Website

Ebook oleh : Dewi KZ

Source : Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Synopsis :

Menggabungkan diri pada gerombolan penjahat si Colat

merupakan pilihan yang masuk akal bagi Banyak Sumba.

Sebagai musuh kerajaan, gerombolan si Colat diburu oleh

pasukan puragabaya. Dengan begitu, Banyak Sumba berharap

bisa bertemu Pangeran Anggadipati dan membalaskan

kematian kakaknya. Selain itu,dia juga bisa belajar kesaktian si

Colat yang konon setara dengan para puragabaya itu.

Akhirnya, Banyak Sumba memang berhasil bertemu

kembali dengan Pangeran Anggadipati. Sudah lama Banyak

Sumba menantikannya. Dendam kesumat yang berlipat-lipat

sudah demikian memuncaknya hingga tak sanggup lagi

ditahankan. Darah yang tertumpah harus dibayar dengan

darah. Nyawa harus dibayar dengan nyawa. Akankah dendam

Banyak Sumba terlunaskan dalam pertarungan terakhirnya?

Bagaimana pula kisah cintanya dengan Emas Purbamanik yang

tertahan oleh dendam yang belum terlunaskan?

Komentar :

“Karya Saini K.M. ini memiliki orisinalitasnya sendiri.” —

Jakob Sumardjo akademisi dan pengamat sastra

“Saya merasakan adanya penceritaan yang mengalir

tenang, sabar, dan matang yang pada gilirannya menjelma

kejernihan.” —Seno Gumira Adjidarma, pertulis dan jurnalis

Biodata Singkat Penulis :

Saini K.M. dilahirkan di Sumedang pada 16 Juni 1938. la

merupakan salah satu pemrakarsa berdirinya Jurusan Teater

di Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Bandung, la pernah

memenangkan Sayembara Dewan Kesenian Jakarta (DKJ),

sayembara yang diadakan oleh Direktorat Kesenian

Depdikbud, penghargaan sastra dari Pusat Pembinaan dan

Pengembangan Bahasa, Anugeiah Sastra dari Yayasan Forum

Sastra Bandung pada 1995, dan penghargaan SEA Write

Award pada 2001.

Isi Buku :

Bab 1 Kesempatan

Bab 2 Si Rambeng

Bab 3 Diikuti Orang-Orang Tak Dikenal

Bab 4 Tidak Jadi Digantung

Bab 5 Aki Gombal Tukang Pantun

Bab 6 Padepokan Sirnadirasa

Bab 7 Raden Madea Calon Puragabaya

Bab 8 Hampir Tersesat

Bab 9 Kesasar ke Padepokan Tajimalela

Bab 10 Bersepakat dengan Si Colat

Bab 11 Penyesalan

Bab 12 Malakal Maut

Bab 13 Jasik

Bab 14 Burung Senja

Bab 1

Kesempatan

Banyak Sumba memandang wajah Pangeran Anggadipati

beberapa lama, hatinya terhenyak. Kebencian dan dendam

yang disangkanya akan meluap dan mengguncangkan

jiwanya, ternyata tidak dirasakannya. Hatinya kosong.

Kalaupun ada perasaan, hanyalah perasaan duka-cita. Ia raguragu

dan tidak percaya, mana mungkin seorang kesatria yang

begitu halus, yang dari wajahnya memancarkan sifat pendeta

dan ketenteraman jiwa, dapat menjadi pembunuh keji seperti

yang digambarkan oleh pembawa berita ke Kota Medang?

Akan tetapi, hatinya berkata pula, justru siluman sering

menempati hati orang yang tidak disangka-sangka. Dengan

mempergunakan orang-orang yang tidak disangka-sangka

seperti itu, siluman dapat menimpakan malapetaka yang

sebesar-besarnya kepada manusia. Jadi, mengapa harus raguragu?

Banyak Sumba bermaksud mengeraskan hati, ia tidak mau

lagi memandang wajah Pangeran Anggadipati. Ia memandang

ulu hati puragabaya itu, ulu hati yang akan dijadikan sasaran

pisau beracun yang ada di pinggangnya. Tetapi, matanya

tertarik oleh Putra Mahkota. Banyak Sumba terpukau melihat

wajah Putra Mahkota yang sangat bermuram durja itu. Di

samping itu, tampak Putra Mahkota sangat pucat dan lemah.

Teringatlah Banyak Sumba akan cerita orang-orang bahwa

Putra Mahkota di samping mengelilingi kerajaan untuk

menyampaikan belasungkawa kepada rakyat, beliau pun

berpuasa. Beliau beriktikad mengunjungi seluruh kuil yang ada

di kerajaan, seandainya hujan tidak turun juga.

Melihat wajah Putra Mahkota yang sedang tersenyum dan

melambai-lambaikan tangan, mendengar rakyat yang berseruseru

bahagia karena dapat melihat wajah.junjungannya,

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

mencairlah tekad Banyak Sumba. Ia termenung dan terharu.

Rasa kasih sayang meluap dari hatinya. Ia ragu-ragu sejenak.

Tidak disadarinya, ia kemudian berseru-seru seperti rakyat

yang lain, “Hidup Putra Mahkota! Hidup Pajajaran!”

Dengan Jasik dan Arsim, Banyak Sumba bertemu di suatu

tempat yang telah dijanjikan, yaitu di bawah benteng yang

bersemak. Jasik dan Arsim sudah menumpuk jerami agar

Banyak Sumba tidak akan cedera jika melompat dari atas

benteng. Ternyata, Banyak Sumba tidak perlu turun

melompati benteng. Ia datang menemui kedua orang

panakawannya melalui pintu gerbang kota. Melihat

kedatangannya tidak menurut rencana, kedua orang

panakawan itu memandangnya penuh tanda tanya.

“Saya menangguhkan rencana itu, Sik,” kata Banyak Sumba

dengan nada minta maaf. Panakawannya tidak berkata apaapa,

mereka tetap memandang kepadanya, seolah-olah

meminta penjelasan. Banyak Sumba terdorong untuk berkata,

“Saya tidak dapat melakukan pembunuhan selagi Putra

Mahkota berada di sini. Sang Hiang Tunggal akan

mengutukku, seandainya upacara suci dinodai dengan darah.

Apa pula kata orang tentang keluargaku, seandainya sampai

kulakukan pembunuhan yang keji itu,” katanya.

Mendengar penjelasan itu, kedua orang panakawannya

tetap membisu. Arsim melihat ke langit, sementara Jasik

menunduk, memerhatikan rerumputan. Sikap mereka itu

dirasakan oleh Banyak Sumba sebagai sikap menyesali. Ia

malu karena sebelumnya begitu panjang lebar menerangkan

rencana pembunuhan itu. Di samping itu, betapa berkobarkobar

cara ia menerangkan rencana itu. Karena itu, Banyak

Sumba terdorong untuk menambahkan penjelasan lagi.

“Di samping itu,” katanya, “saya tak sampai hati melakukan

serangan secara licik, Sik, Kang Arsim, betapapun kejinya

Anggadipati. Sebagai kesatria, kita harus menghadapinya

secara kesatria. Saya malu oleh diri sendiri kalau harus

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

membunuh sembunyi-sembunyi, mempergunakan pisau

beracun, lalu melarikan diri seperti pengecut. Oleh karena itu,

saya putuskan menangguhkan rencana dan membuat rencana

lain yang pantas bagi kehormatan wangsa Banyak Citra. Saya

akan melakukan hal itu, walaupun tentu akan memakan waktu

lebih lama daripada kalau saya membunuh Anggadipati

dengan pisau beracun ini,” katanya sambil memegang ikat

pinggangnya yang lebar itu. Ia teringat bahwa saat hendak

mencabut pisau dan melemparkannya, ia tidak berpikir

tentang kelicikan atau kehormatan seorang kesatria, tetapi ia

silau oleh sorot wajah Pangeran Anggadipati yang begitu

agung dan mulia.

“Kalau begitu, marilah kita pulang saja dahulu,” kata Arsim.

Akhirnya, mereka bertiga menuntun kuda masing-masing,

menyusuri sungai kecil yang melingkari benteng di tempat itu.

Di suatu tempat, Banyak Sumba berhenti. Kedua orang

panakawannya pun berhenti. Banyak Sumba mengambil

pundi-pundi dari balik bajunya. Dibukanya tutup pundi-pundi

itu, lalu dilemparkannya ke sungai.

Tiba-tiba, suatu hal yang aneh terjadi. Air dari tempat

jatuhnya pundi-pundi itu bergejolak, dan naiklah uap

berwarna nila. Air menjadi kehitaman. Ikan-ikan kecil

bergelepar dan mati, demikian juga yang besar-besar,

menggeliat-geliat kemudian terapung. Melihat kejadian itu,

melongolah Jasik dan Arsim. Banyak Sumba tertegun sejenak,

kemudian berkata, “Isi pundi-pundi itu terkutuk, diambil oleh

tukang-tukang tenung dari sungai-sungai Buana Larang,

tempat para siluman memandikan tubuh mereka yang busuk,”

katanya.

Para panakawan memandang kepadanya. Tidak seorang

pun mengatakan apa-apa. Kejadian-kejadian yang aneh dan

hebat biasa berlaku pada anggota-anggota wangsa Banyak

Citra yang termasyhur itu.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Tak lama kemudian, mereka pun telah berada di atas

pelana kuda masing-masing, lalu memacunya ke arah selatan

menuju Perguruan Gan Tunjung. Sepanjang jalan itu, Banyak

Sumba tidak berkata-kata. Pikirannya dipenuhi oleh masalah

yang makin lama makin mencekamnya. Makin jelas bahwa

masalah yang dihadapinya bukanlah bagaimana ia harus

berusaha menjadi pendekar yang tangguh dan dapat

mengalahkan seorang puragabaya. Untuk itu, ia bertekad

menambah ilmunya dan keyakinan serta kepercayaan akan

kemampuan dirinya makin baik. Ia tidak takut melawan siapa

pun. Akan tetapi, ternyata, ia berulang-ulang menghadapi

kebimbangan.

Kebimbangan itu mencapai puncaknya pada saat yang

sangat penting. Ia tidak dapat melaksanakan tugasnya ketika

kesempatan untuk membunuh Anggadipati tiba. Itu bukanlah

disebabkan ia takut, tetapi ada sesuatu yang menyebabkannya

bimbang. Ada masalah-masalah yang tidak dapat dijawabnya,

dan itulah sebabnya ia termenung.

Setelah mereka tiba di Perguruan Gan Tunjung, Banyak

Sumba masih tetap tidak banyak berbicara. Rupanya, Jasik

melihat kemurungan Banyak Sumba. Ia mendekat dan

bertanya, “Raden bersusah hati, apakah saya dapat menolong

Raden? Walaupun saya tidak cerdas, biasanya saya punya

cara lain yang dapat Raden pergunakan.”

“Ya, Sik. Kautahu, saya bukanlah penakut. Tetapi ketika

saya melihat Anggadipati mendekat, seolah-olah ada cahaya

yang menyilaukan mata hati saya. Saya menghindari sorot

wajahnya dan hanya melihat sasaran pisau saya. Namun

demikian, saya masih juga tidak dapat bertindak. Putra

Mahkota yang … juga saya sayangi, walaupun saya baru

melihatnya juga menolong nyawanya. Saya tidak menganggap

bahwa Anggadipati memiliki kesaktian atau hal-hal gaib yang

melindunginya. Saya menganggap, diri saya yang memiliki

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

cacat. Kau tahu saya bukan penakut, tetapi saya bimbang

ketika itu.”

“Apa rencana Raden sekarang?” tanya Jasik.

“Saya tidak tahu, Sik. Saya akan kembali ke kampung si

Gojin mengembalikan kuda kepada Aria Banga. Selanjutnya,

mungkin saya akan mencari tempat yang baik untuk bertapa,

untuk menemukan jawaban dari pertanyaan saya. Saya akan

memohon petunjuk kepada Sang Hiang Tunggal.”

“Raden, ada tugas yang pasti tidak menimbulkan keraguraguan

Raden. Siapa pun akan sependapat bahwa abu

Kakanda Jante adalah hak wangsa Banyak Citra. Itulah

sebabnya, kita dapat memulai tugas kita dari yang ringan itu.

Soal Anggadipati, kita tangguhkan dahulu. Soalnya… sudah

hampir tiga tahun kita mengembara.”

“Benar, Sik. Saya sependapat denganmu. Tetapi saya akan

tetap gelisah kalau pertanyaan-pertanyaan saya tidak

terjawab. Saya akan pergi dulu kepada si Gojin. Saya akan

bersemedi di dalam hutan, kemudian segera kembali ke sini.

Rencana yang pertama adalah mengambil abu Kakanda dan

kita dapat kembali ke Kota Medang, meminta restu Ayahanda

untuk melakukan tugas selanjutnya. Tugas yang pertama

adalah belajar, kedua membalas dendam dan membela

kehormatan keluarga.”

“Tidakkah Raden kekurangan biaya?” tanya Jasik sambil

memegang pinggangnya, tempat dia menyimpan uangnya.

“Tidak Sik, saya dapat berhemat di luar Kota Kutaba-rang.

Barangkali, pada masa-masa yang akan datang, saya akan

perlu bantuanmu. Simpanlah uang itu.”

“Baik, Raden. Kita akan segera pergi ke Pakuan untuk

mengambil abu Kakanda Jante,” lanjut Jasik. Banyak Sumba

tahu bahwa Jasik sudah rindu sekali untuk pulang. Ia pun

lebih sangat rindu.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

KEESOKAN harinya, pagi-pagi sekali Banyak Sumba

berangkat seorang diri menuju kaki Gunung Mandalagiri, ke

kampung si Gojin. Ketika ia tiba di kampung si Gojin keesokan

harinya, hari telah senja. Diucapkannya terima kasih kepada

Raden Aria Banga yang telah meminjamkan kudanya, lalu ia

beristirahat. Pagi-pagi keesokan harinya, ia berlatih seperti

biasa. Sementara itu, ia pun bertanya kepada para petani

yang ditemuinya, apakah mereka mengetahui padepokan atau

pertapaan yang dapat dikunjunginya. Banyak keterangan yang

diterimanya, tetapi umumnya tempat orang-orang berilmu itu

sangat jauh. Bahkan, banyak yang berada di luar wilayah

Kuta-barang. Ia pun merencanakan untuk pergi ke

Kutabarang, lalu dengan Jasik berangkat ke Pakuan Pajajaran.

Menurut berita, abu Kakanda Jantejaluwuyung disimpan di

sana. la bermaksud mengambil abu itu, lalu kembali ke Kota

Medang untuk menengok keluarga yang sangat dirindukannya.

Selama perjalanan, akan dicarinya keterangan-keterangan

tempat pertapa yang termasyhur bijaksana dan dapat

menjawab rahasia hati manusia.

Rencananya itu ternyata tidak dapat dijalankannya.

Keesokan harinya, suatu peristiwa terjadi di kampung si Gojin.

Pagi-pagi sekali terdengar suara si Gojin mencaci-maki dan

menantang. Banyak Sumba segera keluar dari gubuknya, lalu

berdiri di depan serambi. Si Gojin bertolak pinggang,

menghadapi tiga orang asing yang baru tampak hari itu. Di

antara ketiga orang pendatang itu, seorang sudah sangat tua

berpakaian perjalanan yang terdiri dari pangsi dan salontreng

nila. Dari pakaiannya itu, Banyak Sumba tidak dapat menduga,

apakah orang tua itu seorang petani atau seorang pendeta.

Dua orang yang lain sangat mudah diperkirakan. Mereka yang

sangat muda ini berpakaian seperti santri-santri padepokan.

Mereka mengenakan salontreng putih, celana pangsi, serta

sarung terikat di pinggang. Ketiga orang itu mengenakan

terompah yang sama potongannya, yaitu terompah kulit kasar

yang tidak disamak dan tanpa hiasan apa-apa.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Perhatian Banyak Sumba terhadap ketiga orang pendatang

itu tidak terputus karena si Gojin berteriak, “Kalian tidak dapat

memaksa aku menyuruh Raden Aria Banga pergi dari sini. Ia

datang ke sini dengan kehendaknya, ia akan kubiarkan pergi

dari sini kalau dia menghendaki.”

“Saya mendapat keterangan dari ayah orang muda itu, kau

mendapatkan keuntungan karena adanya Raden Aria Banga di

sini,” kata orang tua itu dengan tenang.

“Apa pedulimu? Ia datang ke sini karena tertarik oleh

ayam-ayamku. Kalau dia membeli ayam itu, aku menjual

dengan harga yang disetujui bersama.”

“Kau tahu Raden Aria Banga masih sangat muda. Engkau

tidak berhak mengambil kesempatan dari kemudaannya.

Orang muda belum dapat bertanggung jawab atas

perbuatannya. Engkau tidak boleh mempergunakan

kelemahan anak muda itu demi kepentingan sendiri. Oleh

karena itu, izinkan kami membawanya pulang,” kata orang tua

itu, tetap tenang.

“Ia tidak mau pulang dan menyuruhku menghadapi kalian.”

“Kami diminta oleh ayahnya untuk memaksa dia pulang,

kalau perlu,” kata orang tua itu. Kedua orang pengiringnya

diam saja.

“Ia mewakilkan kepadaku, juga untuk dipaksa kalau perlu,”

kata si Gojin sambil tertawa.

“Kalau perlu, kami pun akan memaksamu untuk

melepaskan Raden Aria Banga,” kata orang tua itu, tidak

disangka-sangka.

Si Gojin tertegun, lalu tertawa. Ia bertolak pinggang,

kemudian tertawa kembali. Orang tua itu melangkah ke

arahnya, walaupun gerakannya halus, tampak sekali ia tidak

takut kepada si Gojin. Orang tua itu berjalan menuju si Gojin.

Setelah berdekatan, ia memandang mata si Gojin. Si Gojin

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

bingung, kemudian tertawa kembali, walaupun tidak sekeras

sebelumnya.

Tiba-tiba, si Gojin menangkap leher orang tua itu. Tapi

entah bagaimana, dengan secepat kilat, si Gojin telah

terbaring. Si Gojin segera bangun. Ketika bangun, ia melihat

Banyak Sumba. Setelah berdiri kembali, si Gojin bersiap.

Rupanya, ia sangat marah dan malu dengan Banyak Sumba.

Dari sikap kakinya, Banyak Sumba tahu bahwa si Gojin

bermaksud memukul orang tua itu sampai mati. Akan tetapi,

orang tua itu dengan cepat maju, dan kedua tangannya

memegang tangan si Gojin. Ia tidak memegang dengan

seluruh jarinya melingkar, tetapi melekatkan kedua tapak

tangannya pada kedua tangan si Gojin.

Si Gojin mengibaskan kedua tangan itu dengan keras ke

samping Tiba-tiba, ia terjatuh kembali dan telentang. Ia

segera bangkit dan menghambur, menubruk orang tua itu.

Orang tua itu menggerakkan tangannya sedikit, sambil

memindahkan kedua tapak kakinya. Si Gojin melesat lalu

tersungkur, kira-kira tiga langkah di belakang orang tua itu.

“Lebih baik kaukatakan kepada Raden Aria Banga agar dia

mengikuti kami, pulang ke Kutabarang.”

“Tidak!” seru si Gojin. Ia bangkit, sambil terengah-engah

bersiap-siap kembali melakukan serangan.

Orang tua itu diam saja. Si Gojin mendekat,

mengembangkan kedua tangannya hendak menangkap orang

tua itu. Banyak Sumba dapat meramalkan, si Gojin akan

mengambil keuntungan dari tenaganya yang besar. Si Gojin

tentu bermaksud menangkap orang tua itu, lalu mengangkat

dan membantingnya. Serangan itu akan sukar sekali

dihindarkan. Si Gojin adalah orang yang tinggi dan besarnya

hampir dua kali tinggi orang tua itu. Akan tetapi, orang tua itu

tenang saja dan tidak menghindarkan diri, walaupun si Gojin

makin lama makin dekat.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Seru ibu-bapakmu yang ada di Buana Larang, hai Tua

Bangka!” seru si Gojin.

Ketika dilihatnya orang tua itu tidak bergerak, tampak si

Gojin bimbang. Ia mendekat, mendekat. Lalu ditangkapnya

leher orang tua itu. Tangan si Gojin mulai mengeras, orang

tua itu meraba tengkuknya. Kemudian, ia memegang

kelingking si Gojin dan melipatnya ke belakang. Si Gojin

terpaksa melepaskan pegangannya dan mencoba memukul

dengan sisi tangan kanannya yang masih bebas. Orang tua itu

mengendalikannya dengan terus melipat kelingking si Gojin

dan mengikuti gerak lengan si Gojin yang hendak melepaskan

kelingkingnya. Mereka melingkar-lingkar sejenak, kemudian si

Gojin jatuh kembali. Banyak Sumba tidak tahu dengan cara

apa orang tua itu menjatuhkan si Gojin.

“Sekarang, suruh Raden Aria Banga keluar,” kata orang tua

itu. Si Gojin tidak menjawab. Dengan terengah-engah, ia

duduk di tanah sambil memegang kelingking tangan kirinya.

“Suruh dia keluar,” kata orang tua itu.

“Tidak, Tua Bangka!” seru si Gojin, mendelik.

“Bawa keluar dia, Anak-anak!” kata orang tua itu kepada

kedua anak muda yang mengiringnya.

“Awas kalau berani!” seru si Gojin.

Santri-santri itu melangkah ke gubuk terbesar tempat

tinggal Aria Banga. Mereka tidak perlu masuk karena Raden

Aria Banga keluar. Tampak ia menyerah kepada suruhan-suruhan

ayahnya. Ketika Banyak Sumba masih terpukau,

keempat orang itu telah pergi meninggalkan kampung si

Gojin.

Banyak Sumba tidak rrienunggu mereka menghilang dari

pandangannya untuk segera bersiap-siap mengikuti

rombongan itu. Ia mengambil barang-barangnya yang sedikit,

lalu berjalan ke arah si Gojin. Banyak Sumba berkata, “Paman,

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

saya sudah cukup lama belajar kepada Paman dan saya

beranggapan sudah dapat menguasai apa yang Paman

ajarkan kepada saya. Saya mengucapkan terima kasih dan

menyatakan rasa utang budi yang sebesar-besarnya. Saya pun

ingin menyampaikan pernyataan terima kasih itu secara

perlambang karena sebenarnya saya tidak akan dapat

membayar utang budi itu.”

Sambil berkata demikian, Banyak Sumba menyodorkan

sepasang pakaian hitam yang terbuat dari sutra Katai. Ia pun

memberikan beberapa keping uang emas dalam kantong kecil

yang terbuat dari kulit halus yang disamak. Si Gojin

memandangnya sebentar, tampak wajahnya kelam.

Kemudian, ia menarik napas panjang, tersenyum. Ia

menerima pemberian itu sambil menepuk-nepuk bahu Banyak

Sumba.

“Kau murid yang tabah dan tangguh, Raden,” katanya.

Banyak Sumba segera mohon diri, lalu bergegas

meninggalkan lawang kori kampung kecil itu. Samar-samar

tampak rombongan yang hendak dikejarnya. Banyak Sumba

pun berlari mengejar empat orang penunggang kuda yang

melarikan kudanya perlahan-lahan karena harus melalui jalanjalan

sempit dan naik-turun lembah-lembah kecil di kaki

Gunung Mandalagiri.

Bab 2

Si Rombeng

Banyak Sumba berlari dan terus berlari. Ia berharap dapat

mendekati para penunggang kuda itu hingga dapat memanggil

mereka. Ia akan meminta untuk diterima sebagai siswa kakekkakek

itu dan menanyakan tempat tinggalnya. Akan tetapi, ia

kelelahan. Betapapun lambatnya penunggang kuda melarikan

kuda mereka, jalan di semak-semak itu sukar dilalui. Banyak

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Sumba menghadapi banyak sekali hambatan. Untung, suatu

ketika, para penunggang kuda itu berhenti. Ternyata mereka

sudah tiba dijalan besar yang bercabang ke dua arah. Satu

arah ke utara, menuju Kutaba-rang, arah lain ke selatan

menuju ke daerah berhutan. Banyak Sumba mempercepat

larinya.

Para penunggang kuda itu bergerak kembali. Penunggang

kuda yang muda-muda ke utara, sementara orang tua itu ke

selatan. Banyak Sumba hampir putus asa, tetapi terpikir

olehnya suatu gagasan. Jalan ke selatan itu lengang

dibandingkan dengan ke utara. Artinya, tidak akan banyak

jejak kuda di jalan itu. Banyak Sumba dapat membuntuti

kakek-kakek itu dengan mengikuti jejak kudanya. Kalau perlu,

ia akan melupakan kelelahannya dan terus mengikuti jejak

kuda itu hingga ia dapat menemukan kuda yang dapat

dibelinya. Dengan timbulnya gagasan itu, bangkit kembalilah

semangatnya. Ia mulai berjalan di jalan besar itu seraya

memandang ke arah kakek-kakek yang mulai menghilang di

belokan.

Sepanjang hari, Banyak Sumba berjalan. Ia tidak

menghiraukan kelelahannya. Sambil berjalan, ia berulangulang

menundukkan kepala mengawasi jejak kaki kuda yang

jelas di atas jalan berdebu itu. Sambil terus melangkah, ia

berdoa, mudah-mudahan ia dapat menemukan kampung

besar agar dapat membeli atau meminjam kuda. Ia terus

berjalan hingga hari bertambah panas.

Pada suatu ketika, ia terkejut. Ia kehilangan jejak kuda itu.

Ia bingung sebentar, lalu kembali tergesa-gesa. Ternyata,

kakek-kakek itu membelok ke kiri, memasuki semak-semak,

kemudian melintasi sungai kecil dan masuk ke hutan. Banyak

Sumba bimbang sejenak. Kalau ia terus berjalan dan

kemalaman di hutan yang tidak dikenalnya, mungkin ia akan

menghadapi bahaya. Siapa tahu hutan itu dihuni oleh

binatang-binatang buas yang sukar dihindari, seperti ular

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

sanca. Hal seperti itu sangat mungkin karena Banyak Sumba

melihat kedua sungai yang diseberangi berawa-rawa. Di sana

pun dilihatnya banyak sekali jejak babi hutan dan bin&tang

lainnya. Di tempat-tempat seperti itu, biasanya hidup ular-ular

besar yang sukar dilawan.

Kalau kakek-kakek itu masuk hutan, mungkin karena ia

mengambil jalan pintas. Dengan berkuda, kakek-kakek itu

mungkin akan sampai ke daerah yang lebih aman selagi hari

masih siang. Lain halnya dengan Banyak Sumba yang berjalan

kaki. Ia mungkin akan kemalaman di hutan berawa-rawa yang

berbahaya itu. Pikiran-pikiran seperti itulah yang membuatnya

bimbang. Akhirnya, ia mengambil keputusan. Ia akan

memasuki hutan itu. Kalau diperkirakan hutan itu luas dan

tidak dapat ditembus sebelum senja, ia akan kembali ke jalan

besar atau ke daerah yang lebih aman. Ia pun berjalan

kembali. Ternyata, ketika mengikuti jejak kuda itu, ia mendaki

punggung gunung yang landai yang makin lama makin tinggi.

Ia merasa lega ketika menyadari hutan itu makin berubah

sifatnya.-Rawa-rawa dengan sifat-sifatnya makin jauh

ditinggalkan. Ia berjalan di daerah yang kering dan bercadascadas.

Ia tahu bahwa daerah itu cocok sekali sebagai tempat

tinggal harimau tutul, tetapi ia tidak menganggap binatang itu

berbahaya.

Namun, kelegaan hatinya itu tidak lama. Jejak kuda itu

makin sukar ia temukan di antara semak-semak di tanah yang

keras. Berulang-ulang ia kehilangan jejak dan berulang-ulang

pula ia harus kembali ke tempat yang telah dilaluinya. Ia

hampir putus asa ketika tiba di suatu tempat, yaitu bagian

hutan yang bertebing-tebing.

“Berhenti!” tiba-tiba ia mendengar orang berkata. Banyak

Sumba berpaling ke arah datangnya suara itu’dan dilihatnya

empat orang pemuda datang mengelilinginya. Banyak Sumba

tidak bersiap-siap, bukan saja karena pemuda-pemuda itu

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

tidak kelihatan mengancam, tetapi ia pun tidak merasa

bersalah.

“Saudara datang dari mana dan ada maksud apa?”

“Saya mengikuti seorang kakek yang menuju ke tempat ini.

Saya bermaksud belajar kepadanya,” jawab Banyak Sumba.

“Saudara… Saudara Banyak Sumba?” seorang di antara

pemuda itu bertanya.

Banyak Sumba berpaling kepadanya, “Saudara Girilaya!”

seru Banyak Sumba dengan gembira seraya memegang

tangan Raden Girilaya, bekas guru keperwiraan di Puri

Purbawisesa.

Raden Girilaya memegang bahunya dan sambil tersenyum

berkata, “Sungguh tidak saya sangka kita akan bertemu di

sini!”

“Saya pun menyangka Saudara berada di Pakuan Pajajaran,”

ujar Banyak Sumba.

“Wah, itu cerita yang panjang, saya pergi ke sana, tetapi

akhirnya terdampar di sini.”

“Saya datang ke sini dengan susah payah, dengan maksud

belajar kepada seorang tua yang

“Oh, Eyang Resi,” kata seorang di antara pemuda itu. “Kita

akan membawa Saudara menghadap beliau nanti. Sekarang,

marilah ke tempat saya dulu,” kata Raden Girilaya sambil

menuntun Banyak Sumba. Yang lain minta diri untuk kembali

ke tempat masing-masing. Raden Girilaya mengacungkan

tangannya, lalu mereka berpisah.

Banyak Sumba mengikuti Raden Girilaya melewati semaksemak

yang tumbuh di antara bongkah-bongkah cadas yang

besar-besar. Ternyata, di beberapa tempat di bagian gunung

yang bercadas-cadas itu terdapat bangunan-bangunan kecil

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

terbuat dari kayu dengan atap ijuk dan serasi dengan alam

sekitarnya, hingga Banyak Sumba sukar melihatnya.

Setelah beberapa lama berjalan dan bertemu dengan

beberapa orang kawan Raden Girilaya, mereka tiba di tempat

yang agak lapang di bawah sebuah tebing yang tinggi. Raden

Girilaya menyelinap di celah cadas, lalu ia masuk ke gua diikuti

Banyak Sumba. Ternyata, gua itu cukup luas. Di dalamnya

bersih dan terang oleh cahaya yang datang dari celah-celah

yang tidak kelihatan. Sementara itu, di sudut ruangan

dinyalakan sebuah lampu minyak kelapa. Banyak Sumba

melihat kotak-kotak lontar bertumpuk, kotak pakaian dari

rotan, cerek air dari tanah, dan dua helai kulit kambing

sebagai alas, mengilap di bawah cahaya yang datang dari luar

itu. Banyak Sumba dipersilakan duduk. Mereka pun mulai

saling bertanya tentang keadaan masing-masing, tentang

pengalaman mereka, tentang Pakuan Pajajaran, dan Puri

Purbawisesa.

Ternyata, Raden Girilaya tidak dapat memenuhi

keinginannya untuk belajar ilmu kenegaraan di Pakuan

Pajajaran. Ia sudah terlalu tua, demikian keterangan

pamannya yang ada di Pakuan Pajajaran. Di samping itu, ia

sudah cukup berilmu sebagai perwira. Oleh karena itu,

bangsawan itu menganjurkan agar dia melanjutkan pelajaran

keperwiraannya. Ia diberi nasihat untuk menjadi murid Resi

Sirnadirasa, tempatnya tidak jauh dari Kota Kutabarang

walaupun tidak banyak diketahui orang. Dan, kembalilah

Raden Girilaya ke Kutabarang hingga akhirnya tiba di

Padepokan Sirnadirasa.

Banyak Sumba menceritakan pengalamannya sejak

menggantikan Raden Girilaya sebagai pengajar ilmu

keperwiraan. Walaupun demikian, ia merahasiakan perkenalan

dan hubungannya dengan Putri Purbamanik.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Tampaknya Saudara begitu berhasrat menguasai ilmu

keperwiraan, sampai Saudara tiba di tempat ini,” kata Raden

Girilaya tersenyum.

“Seperti Saudara juga, ilmu keperwiraan adalah jalan hidup

saya. Dan, saya merasa senang sekali dapat bertemu dengan

Saudara di sini. Besar harapan saya untuk mendapat

pertolongan Saudara agar maksud saya dapat terlaksana,”

lanjut Banyak Sumba.

“Eyang Sirnadirasa akan senang menerima Saudara di sini.

Saya akan menjelaskan semua yang saya ketahui tentang

Saudara, terutama bahwa Saudara pernah bekerja di Puri Purbawisesa.

Ada syarat yang harus dipenuhi oleh calon-calon

siswa, yaitu setiap calon harus mengucapkan sumpah terlebih

dahulu. Akan tetapi, sumpah itu bukanlah hal yang berat

karena sebenarnya setiap orang baik bersumpah demikian

kepada dirinya sendiri,” demikian Raden Girilaya menjelaskan.

“Dapatkah saya mengetahui isi sumpah itu sekarang?”

tanya Banyak Sumba dengan keingintahuan yang keras. Ia

merasa cemas kalau sumpah yang harus diucapkan akan

memaksa dia membuka rahasianya, terutama alasan dia

belajar ilmu keperwiraan itu.

“Tidak banyak,” jawab Raden Girilaya, “Saudara cukup

menyatakan di hadapan Eyang Resi dan para siswa lain bahwa

demi Sang Hiang Tunggal, Saudara tidak akan

mempergunakan ilmu yang didapat dari Eyang Resi untuk

kejahatan dan kepentingan diri sendiri. Saudara hanya

mempergunakan ilmu itu dalam mengagungkan Sang Hiang

Tunggal. Di samping itu, Saudara bersedia menerima

hukuman seberat-beratnya sebagaimana yang ditetapkan oleh

Dewan Perguruan, seandainya Saudara merasa berbuat salah

dan melanggar sumpah Saudara sendiri.”

Banyak Sumba terdiam, ia merasa gamang menghadapi

sumpah itu. Apakah ia akan sanggup mengucapkan sumpah

itu tanpa bimbang? Apakah membalas dendam demi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

kehormatan keluarga dianggap kejahatan atau tidak? Banyak

Sumba kembali menghadapi masalah yang tidak pernah dapat

dijawabnya sendiri. Ia menarik napas panjang, lalu berkata,

“Saya bersedia mengucapkan sumpah itu,” katanya tanpa

diketahuinya apa yang mendorongnya mengatakan hal itu.

Raden Girilaya tampak tidak merasakan kebimbangan

Banyak Sumba karena ia terus berkata, “Sekarang

beristirahatlah dulu di sini, saya akan memberitahukan

kedatangan Saudara kepada Eyang Resi,” katanya.

“Sungguh, saya malu oleh kebaikan Saudara,” ujar Banyak

Sumba.

“Tak ada kebaikan saya kepada Saudara. Apa yang saya

lakukan demi Sang Hiang Tunggal juga. Setiap tamu akan

saya perlakukan seperti Saudara,” katanya sambil tersenyum.

Banyak Sumba memandang pemuda yang bangkit untuk

pergi itu. Dalam hatinya ia berkata, Raden Girilaya adalah

contoh terbaik dari kesatria Pajajaran. Ia tiba-tiba merasa

terharu. Ia tidak tahu, apakah ia cukup berharga untuk

bergaul dengan kesatria-kesatria Pajajaran. Ia tahu, dengan

tugas membalas dendam yang diembannya, sukar sekali

baginya untuk dapat menempatkan diri di antara mereka.

Sambil memandang berkeliling di dalam ruangan gua yang

terang oleh cahaya lampu dan cahaya matahari, ia terus

termenung. Kesatria Pajajaran menyediakan dirinya untuk

kepentingan kerajaan, kepentingan sang Prabu yang berarti

kepentingan warga kerajaan seluruhnya. Kepentingan

kerajaan berada di atas segala-galanya bagi para kesatria

seperti Raden Girilaya dan kawan-kawannya. Akan tetapi,

bagaimana kalau mereka menghadapi nasib seperti yang

dihadapinya? Kalau kakak Raden Girilaya dibunuh orang

dengan keji, apakah yang akan dilakukan kesatria itu? Banyak

Sumba tidak dapat menjawab pertanyaannya. Karena lelah, ia

tidak berusaha menjawabnya.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

MALAM itu, Banyak Sumba dibawa oleh Raden Girilaya ke

tempat Resi Sirnadirasa. Seperti juga dalam gua Raden

Girilaya, di sana terdapat kotak-kotak lontar, beberapa helai

kulit kambing sebagai tikar, lampu minyak kelapa yang

cahayanya terang, cangkir-cangkir dari tanah dan kotak-kotak

besar tempat menyimpan pakaian, senjata dan barang-barang

berharga. Eyang Resi yang berpakaian putih, sedang

membaca-baca tulisan pada janur kelapa yang tergulung.

“Ketika kedua pemuda itu datang, orang tua itu mengangkat

mukanya dan mempersilakan mereka masuk dan duduk

dengan ramah.

“Maaf, Anak-anak, ada yang kurang jelas dalam tulisan ini,”

katanya ketika kedua orang pemuda itu sudah duduk di atas

kulit kambing yang tergelar.

“Silakan, Eyang,” ujar Raden Girilaya. Kemudian, Raden

Girilaya berbisik, tulisan yang ada pada janur kelapa itu adalah

surat yang diterima Eyang Resi dari bekas murid beliau di

Pakuan Pajajaran.

“Raden,” tiba-tiba orang tua itu berkata kepada Girilaya,

“kita akan menerima tamu bulan depan atau akhir bulan ini.

Seorang calon puragabaya berada dalam perjalanan menuju

perbatasan timur kerajaan. Perwira itu bermaksud berkenalan

dengan siswa-siswa di sini.”

“Kami sangat senang mendengar berita itu, Eyang.” “Ya,

siapa tahu kalian akan menjadi pembantu perwira itu di

kemudian hari.”

Aneh, hati Banyak Sumba berdebar-debar mendengar

berita itu. Sementara itu, dalam hatinya dijalinlah sebuah

rencana. Tapi, ia segera mendesak rencana itu ke bawah

kesadarannya. Ia mulai mendengarkan kembali percakapan

guru dan murid itu.

“Raden, dari mana kau datang?” tanya Eyang Resi kepada

Banyak Sumba.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Dari daerah Medang, Eyang Resi.”

“Alangkah jauhnya!” seru Eyang Resi.

“Saya sudah lama tinggal di Kutabarang, Eyang Resi.”

“Oh, memang banyak sekali orang Pajajaran yang menetap

di Kutabarang. Ya, dari seluruh kerajaan datang ke

Kutabarang dan menjadi kaya di sana. Atau, menjadi orang

berilmu.”

“Raden Banyak Sumba ini masih merasa kekurangan ilmu,

Eyang,” sela Raden Girilaya.

“Bagus, ilmu tidak akan ada habisnya. Kalaupun seluruh

lontar, janur, dan daun-daunan lain dikeringkan untuk

dijadikan surat dan seluruh senjata diubah menjadi pisau pangot,

tidak akan tertuliskan ilmu yang diturunkan oleh Sang

Hiang Tunggal. Jadi, janganlah kau puas, Raden.”

“Saya datang ke sini karena alasan itu, Eyang.”

“Baiklah, Raden Girilaya sudah menceritakan maksud

Raden. Besok pagi kita laksanakan upacara itu.”

Sesuai yang dijanjikan, keesokan harinya ketika matahari

terbit, Banyak Sumba disumpah. Isi sumpah tidak banyak

bedanya dengan yang diceritakan Raden Girilaya. Akan tetapi,

Banyak Sumba kurang memerhatikan kata-kata dan isi

sumpah itu. Hatinya gelisah dan bimbang. Upacara itu

akhirnya selesai juga.

Siswa-siswa memberi salam kepada Banyak Sumba,

menyatakan bahwa Banyak Sumba adalah saudara mereka,

lebih dekat daripada saudara sekandung karena mereka

bersaudara dalam penyerahan diri kepada kebaikan dan

kepada Sang Hiang Tunggal. Banyak Sumba tidak gembira

oleh uluran persaudaraan ini. Harinya bimbang dan gelisah.

KEESOKAN harinya, pagi-pagi sekali Raden Girilaya yang

menjadi teman seguanya membangunkan. Tak lama

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

kemudian, semua santri di bawah pimpinan Eyang Resi telah

berlari-lari melompati cadas-cadas dan jurang-jurang sempit,

mendaki punggung gunung, menuruni lembah, menaiki

pohon, dan menuruni tebing dengan berpegang pada akarakar.

Sebagai siswa baru, Banyak Sumba hampir tak dapat

mengikuti mereka karena kelelahan. Akan tetapi, kemauannya

yang keras tidak mengizinkan dia menyerah. Ia terus

mengikuti kawan-kawannya. Akhirnya, tibalah mereka di

lapangan kecil di dalam hutan. Para santri mulai berlatih dan

Raden Girilaya mendekati Banyak Sumba. Pemuda itu

tersenyum.

“Saudara Sumba,” katanya, “suatu yang lucu terjadi.”

“Apakah itu?” tanya Banyak Sumba. “Saya diberi tugas oleh

Eyang Resi untuk mengajar Saudara,” kata pemuda itu sambil

tetap tersenyum, lalu melanjutkan kata-katanya, “Padahal,

dulu Saudara dapat mengalahkan saya dengan mudah,

bukan?”

Banyak Sumba tidak tahu apa yang harus dikatakannya. Ia

hanya tersenyum.

“Baiklah, saya akan mencoba memenuhi perintah Eyang

Resi. Kalau saya dikalahkan, saya akan menyerahkan tugas

saya itu kembali.”

Kemudian, Raden Girilaya mengajak Banyak Sumba untuk

bertanding. Dalam beberapa gerakan saja, Banyak Sumba

sudah terjatuh. Raden Girilaya sudah berubah. Ia sudah

sangat maju. Dalam pertandingan itu, tubuh dan tangan

Raden Girilaya seolah-olah licin. Pukulan-pukulan Banyak

Sumba yang dilakukan dengan terkendali, semuanya meleset.

“Saya menyerah dan bersedia menjadi siswa Saudara,” kata

Banyak Sumba sambil tersenyum dan bangkit dari rumput

tempatnya terjatuh. Ia sangat penasaran dan ingin sekali

segera mengetahui rahasia ilmu dari Padepokan Sirnadirasa

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

itu. Ketika mereka beristirahat, mulailah Raden Girilaya

menjelaskan ilmu itu.

“Dulu, saya melihat lawan sebagai benda yang menjadi

sasaran pukulan dan tendangan. Setelah datang ke sini,

pandangan saya berubah. Di samping sebagai sasaran

pukulan dan tendangan, saya pun menganggap lawan sebagai

tenaga, kekuatan, atau tekanan yang dalam perkelahian

bergerak ke berbagai arah, khususnya pada tubuh kita. Kalau

kekuatan ini mengenai kita, mungkin kita cedera. Sebaliknya,

kalau tenaga itu tidak mengenai kita, tenaga itu akan

mengganggu keseimbangan tubuh lawan. Nah, dalam

keadaan tidak seimbang ini, kita menyerang lawan. Kita

mendorong atau menarik ke arah mana berat badan atau

tenaga lawan akan jatuh. Maka, tanpa mempergunakan

tenaga banyak, kita akan menjatuhkan lawan,” katanya.

“Apakah kita tidak boleh mempergunakan pukulan?” tanya

Banyak Sumba setelah termenung, “bukankah dengan pukulan

yang tepat mengenai sasaran, lawan akan jatuh?”

“Ya, tapi kita berkelahi tidak selalu untuk menyakiti lawan.

Mungkin kita melawan seseorang hanya untuk meyakinkan dia

bahwa sebaiknya dia tidak usah melawan kita. Kita harus

mengasihi lawan.”

Banyak Sumba termenung. Ia tidak mengerti maksud

kawan seperguruannya itu, tetapi ia diam saja. Kemudian, ia

minta diberi contoh tentang cara-cara yang diterangkan Raden

Girilaya itu. Mulailah mereka berlatih kembali, bersama dengan

siswa-siswa lain. Berulang-ulang Banyak Sumba jatuh, tetapi

samar-samar ia mulai mengerti inti ilmu dari Padepokan

Sirnadirasa. Hari itu, sebelum latihan selesai dan para siswa

mulai mengerjakan huma padepokan, dua kali Banyak Sumba

dapat menggagalkan serangan Raden Girilaya. Eyang

Sirnadirasa yang memerhatikan mereka berlatih, berkata

kepada Banyak Sumba, “Engkau sangat berbakat, Raden,

cepat sekali kau mengerti.”

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Tapi, begitu sering saya jatuh, Eyang, berpuluh-puluh kali.

Saya belum sanggup menjatuhkan Raden Girilaya.”

“Tapi kau dapat menghindari serangannya, Raden,” ujar

Eyang Sirnadirasa.

“Raden Sumba sangat berbakat, Eyang. Dulu, dalam dua

gerakan saya dijatuhkannya dengan ilmu keras. Sekarang

mulai licin, Eyang.”

“Ya, Eyang melihatnya. Besok coba lagi, Raden,” katanya.

Dua hari, seminggu, dua minggu di padepokan itu, Banyak

Sumba berlatih, semedi merenungkan ilmunya, bercakapcakap,

dan bertanya kepada siswa-siswa lain. Akhirnya, ia

jarang dijatuhkan Raden Girilaya. Bahkan, beberapa siswa lain

dapat dijatuhkannya. Ia makin keras berlatih, makin sering

termenung, memikirkan dan memecahkan masalah-masalah

yang dihadapinya dalam latihan, la harus cepat menguasai

ilmu itu, kewajiban keluarga memanggilnya. Ia pun telah rindu

kepada ayah-bunda, kakak, dan adik-adiknya.

Pada suatu hari, bertanyalah Banyak Sumba kepada Raden

Girilaya, “Saudara, kapankah seorang siswa padepokan

dianggap tamat belajar di sini ?”

“Saudara Sumba, Padepokan Sirnadirasa ada hubungannya

dengan Padepokan Tajimalela, tempat calon-calon puragabaya

dilatih,” sahut Raden Girilaya. Mendengar itu, ber-debarlah

hati Banyak Sumba. Akan tetapi, ia berusaha

menyembunyikan apa yang terjadi dalam hatinya. Ia

menunduk. Kemudian, Raden Girilaya melanjutkan

penjelasannya, “Padepokan ini bukan saja diketahui, bahkan

direstui oleh sang Prabu. Siswa-siswa di sini dianggap

setingkat lebih rendah daripada para puragabaya. Akan tetapi,

hendaknya Saudara tidak salah mengerti. Kalau kita setingkat

lebih rendah, bukan berarti kita ini hebat-hebat. Sama sekali

tidak. Dalam ilmu lahiriah, mungkin kita tidak jauh daripada

para puragabaya. Tetapi dalam hal-hal yang bersifat ruhani,

kita bukan apa-apa dibandingkan dengan mereka. Saudara

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

ketahui bahwa para puragabaya sebenarnya pendeta-pendeta

yang memuja Sang Hiang Tunggal dengan otot-otot dan

tulang-tulang mereka. Tentu saja di samping dengan caracara

biasa, yaitu dengan hidup suci dan menguasai mantramantra.

Kalau siswa-siswa di sini dianggap baik, itu karena

tugas-tugas kepuragabayaan sering sekali diserahkan kepada

kita, kalau tugas itu tidak terlalu berat.”

“Tugas-tugas macam apakah itu?” tanya Banyak Sumba

penasaran.

“Misalnya, kalau ada orang jahat yang harus ditangkap.

Kalau orang jahat itu sudah merajalela dan para jagabaya

kewalahan, Resi Tajimalela biasanya mengerahkan calon-calon

puragabaya. Pertama, untuk mengendalikan perampok itu;

kedua,. untuk menguji keberanian, ketabahan, dan

keterampilan calon-calon puragabaya itu. Akan tetapi,

perampok-perampok itu sering tidak begitu tangguh untuk

dihadapi oleh para calon puragabaya. Biasanya, Resi

Tajimalela mengutus seseorang untuk menghubungi Eyang

Sirnadirasa dan menyerahkan tugas-tugas menumpas orang

jahat kepada padepokan kita ini.”

“Sudah seringkah padepokan ini mendapat tugas?”

“Menurut keterangan siswa-siswa yang lebih tua dahulu

memang sering, tetapi sekarang makin jarang. Hal itu

disebabkan mutu para jagabaya makin lama makin baik. Di

samping itu, kemakmuran terus-menerus meningkat, hingga

orang-orang tidak lagi perlu hidup dari kejahatan.”

Mendengar keterangan itu, Banyak Sumba agak kecewa.

Ingin benar ia ikut melaksanakan salah satu tugas itu.

Sementara ia termenung, Raden Girilaya berkata kembali,

“Saya ingin sekali mendapat tugas seperti itu. Belum lama ini,

si Gojin, tukang sabung ayam yang kampungnya tidak berapa

jauh dari Kutabarang, membujuk salah seorang putra

bangsawan untuk berboros-boros di rumahnya. Kebetulan,

Eyang Sirnadirasa perlu memberi penjelasan kepada dua

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

orang siswa di sini tentang beberapa cara menjatuhkan lawan

dalam perkelahian yang sungguh-sungguh. Sebenarnya, saya

sudah mengusulkan agar si Gojin dihadapi oleh siswa-siswa

yang lebih lanjut. Akan tetapi, setelah dipertimbangkan si

Gojin dianggap terlalu sepele untuk dihadapi oleh siswa-siswa.

Jadi, si Gojin ini diperlakukannya sebagai contoh untuk

percobaan saja. Eyang Resi memberikan contoh cara

menjatuhkan orang yang bertenaga besar seperti si Gojin.

Sebelumnya, Eyang Resi menjelaskan bahwa makin besar

tenaga seseorang, makin besar amarahnya, dan makin mudah

pula ia dijatuhkan. Menurut kawan-kawan yang mengikuti

Eyang Resi, penjelasan Eyang Resi telah diberikan dengan

baik sekali melalui si Gojin itu.”

“Mungkinkah ada tugas-tugas semacam itu dalam waktu

dekat ini?” tanya Banyak Sumba yang ingin sekali ikut

mengambil bagian. Raden Girilaya termenung, kemudian

berkata, “Beberapa waktu yang lalu, Eyang Resi mengatakan

kepada kami, siswa-siswa yang lebih lama di sini, bahwa

seorang penjahat besar telah membunuh beberapa orang

bangsawan di Kutawaringin. Nama orang itu si Colat.”

Mendengar kabar itu, berdebarlah hati Banyak Sumba.

Dapatkah ia menghadapi si Colat yang luar biasa itu?

Bukankah lebih baik kalau ia berguru kepada si Colat setelah

berguru kepada Resi Sirnadirasa? Sebelum pertanyaanpertanyaan

itu terjawab, Raden Girilaya berkata, “Tapi, si

Colat ini tinggi sekali ilmunya. Eyang Resi mengatakan bahwa

kemungkinan diserahkan kepada kita tipis sekali. Resi

Tajimalela tidak akan sampai hati kalau siswa-siswa di sini

menjadi korban. Akan tetapi, menurut Eyang Sirnadirasa,

bukan tidak mungkin diadakan tugas gabungan, yaitu para

calon puragabaya ditugaskan menghadapi si Colat, sementara

siswa-siswa dari sini ditugaskan menghadapi anak buahnya.

Mereka ini dikabarkan berilmu lumayan tinggi. Di samping itu,

umumnya mereka tega membunuh, seperti juga si Colat yang

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

meremehkan nyawa manusia dan tidak takut lagi akan Sang

Hiang Tunggal.”

Sore itu, ketika Banyak Sumba seorang diri dalam gua,

timbullah pikiran yang dianggapnya baik. Lebih baik tidak

terpengaruh oleh kesempatan-kesempatan yang tidak ada

dalam rencananya semula. Lebih baik ia berpegang pada

rencananya semula, yaitu mencari guru yang tinggi ilmunya,

mencoba ilmunya itu, kemudian mempergunakannya bagi

kepentingan kehormatan keluarganya. Ia bertekad belajar

hingga tamat di Padepokan Sirnadirasa, kemudian mencari si

Colat dan belajar kepadanya. Belajar kepada si Colat ini sangat

penting baginya karena si Colat-lah salah seorang yang

dikabarkan menguasai ilmu kepuragabayaan. Apakah orang itu

jahat atau tidak, tidak masalah baginya. Yang menjadi

persoalan, bagaimana caranya agar ia secepat mungkin dapat

menguasai ilmu setinggi-tingginya, lalu dengan secepatcepatnya

membunuh Anggadipati, Jakasunu, dan Wiratanu

dengan begundal-be-gundalnya.

Tanpa diketahuinya, Raden Girilaya memasuki ruangan, lalu

duduk di dekatnya.

“Rupanya ada masalah berat yang sedang Saudara

pikirkan,” kata Raden Girilaya sambil tersenyum.

“Tidak,” ujar Banyak Sumba dengan kikuk karena merasa

kepergok.

“Kalau begitu, barangkali ada seorang gadis di suatu

tempat yang dengan harum rambutnya menghimbauhimbau?”

lanjut Raden Girilaya sambil tersenyum.

Perkataannya tiba-tiba membawa ingatan Banyak Sumba ke

Puri Purbawisesa. Kerinduan kepada gadis itu tiba-tiba

mendesak dalam dadanya. Ia menunduk. Ketika ia

mengangkat mukanya, Raden Girilaya sedang

memandangnya. Tiba-tiba saja, Banyak Sumba menyadari

bahwa raut muka Raden Girilaya sama dengan raut muka Nyai

Emas Purbamanik. Bagaimanapun, Nyai Emas Purbamanik ada

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

hubungan darah dengan Raden Girilaya. Maka, perasaan

persaudaraan yang selama ini terjalin antara dia dan pemuda

itu menjadi lebih erat.

“Saudara Sumba, kita sudah cukup dewasa untuk punya

kekasih, mengapa harus bingung kalau saya mengatakan halhal

seperti itu?” tanya Girilaya sambil tersenyum. “Saudara ini

alim sekali rupanya, apakah Saudara bermaksud menjadi

pendeta?” tanya Girilaya pula dengan nada bersenda gurau.

Nada senda gurau ini meringankan perasaan Banyak

Sumba. Ia berterima kasih kepada Raden Girilaya yang sangat

pandai menenggang rasa. Ia mulai tersenyum.

“Sudah lama kita bersahabat, Saudara Sumba. Tidak ada

salahnya kita menceritakan tentang diri kita masing-masing.

Ada peribahasa bahwa dukacita akan menjadi lebih ringan

kalau ditanggung bersama, demikian pula kebahagiaan akan

lebih semarak kalau dibukakan. Nah, berceritalah tentang diri

Saudara, tentang gadis-gadis, dan pengalaman-pengalaman.

Jangan dipendam sendiri pengalaman dan lain-lainnya itu,”

lanjutnya.

“Tapi tidak ada yang harus saya ceritakan, kecuali yang

telah Saudara ketahui sendiri,” ujar Banyak Sumba.

“Ah, Saudara Sumba ini sangat pemalu. Jadi, saya yang

harus memulai memberi contoh,” lanjutnya pula sambil

tersenyum.

“Senang sekali saya kalau dapat mendengar cerita-cerita

dari Saudara,” kata Banyak Sumba.

“Tapi, Saudara harus menukarnya nanti. Saudara Sumba

sudah pernah mengunjungi ibu kota Pakuan Pajajaran?”

“Belum.Justru mengunjungi Pakuan merupakan keinginan

saya yang sampai sekarang belum terpenuhi.”

“Oh, Saudara Sumba harus, sekali lagi harus

mengunjunginya. Pakuan Pajajaran sungguh-sungguh kota

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

yang memesonakan. Gerbangnya dapat dimasuki delapan

kereta bersama-sama. Di dalamnya, kita akan melihat

bangunan-bangunan yang besar dan indah. Setiap kali saya

melihat bangunan besar, saya langsung menganggapnya

istana Sang Prabu. Akan tetapi, sangkaan saya meleset. Apa

yang saya sangka istana bukan apa-apa kalau dibandingkan

dengan istana Sang Prabu. Saya belum pernah melihat orang

sebanyak di ibu kota Pakuan. Menurut perhitungan kerajaan,

Pakuan Pajajaran berpenduduk 50.000 orang. Bayangkan,

Saudara Sumba! Kota-kota yang kita anggap besar

penduduknya, kebanyakan tidak lebih daripada lima ribu

orang. Pakuan Pajajaran sepuluh kali lebih besar daripada

kota-kota yang biasa kita temukan di dataran utara ini.

DanRaden Girilaya tersenyum sebelum melanjutkan ceritanya.

“Bukankah tidak sukar diduga bahwa di antara lima puluh ribu

orang itu ada gadis cantik yang menyebabkan kita mabuk

kepayang?”

“Tidak usah di antara lima puluh ribu orang, di antara

sepuluh orang saja mungkin seorang pemuda dapat mabuk

kepayang,” ujar Banyak Sumba, juga sambil tersenyum.

“Tapi, saya bukanlah orang yang mudah mabuk kepayang,

Saudara Sumba. Ketika itu, saya berjalan-jalan melihat-lihat

pemandangan kota. Dari suatu tingkap yang tinggi, pada

sebuah rumah besar, tampak tiga orang gadis. Salah seorang

di antaranya memandang ke arah saya. Dan seperti monyet

yang dipandang oleh ular besar, saya tidak dapat

memalingkan muka. Sejak itulah, saya bukan saya yang dulu

lagi, Saudara Sumba. Coba, apakah yang akan Saudara

perbuat kalau tiba-tiba hati Saudara terjatuh atau tertinggal di

dalan rumah asing tempat gadis itu berada?”

Banyak Sumba termenung sambil memandang kepada

Raden Girilaya yang tersenyum di hadapannya. Terbayang

olehnya bagaimana dia mengalami hal yang sama ketika

melihat Putri Purbamanik di atas benteng memandang

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

kepadanya. Seperti yang dikatakan Raden Girilaya, ia pun

seperti seekor monyet yang ditatap ular sanca yang besar,

tidak bisa bergerak dan beranjak dari tempatnya.

“Ah, mengapa Saudara Sumba begitu lama memikirkan

pertanyaan saya itu?” tanya Raden Girilaya agak keheranan.

“Karena … karena saya tidak tahu apa yang akan saya

perbuat kalau ada gadis yang menyebabkan saya mabuk

kepayang seperti itu,” katanya berbohong. Kemudian, berhenti

sejenak, untuk mengambil napas. Banyak Sumba melanjutkan

kata-katanya, “Kalau ada gadis yang punya kekuatan untuk

menggerakkan hati saya seperti itu, saya akan menaiki tingkap

atau benteng rumahnya,” katanya. Mendengar itu, Raden

Girilaya agak terkejut.

“Wah, tapi itu sangat berbahaya. Siapa tahu ada badega

atau ponggawa yang melihat kita dan berteriak seolah-olah

kita pencuri dan kita dikeroyok,” katanya.

“Bukan kita pencuri, tapi gadis itu yang mencuri hati kita,”

jawab Banyak Sumba bercanda.

“Saudara Sumba yang berani menaiki benteng seperti itu

hanya ada dalam cerita, yaitu cerita Puragabaya Anggadi-pati

ketika perwira hebat itu jatuh cinta kepada seorang gadis di

Kota Medang yang bernama Yuta Inten, kabarnya cantik luar

biasa. Oh, apakah Saudara pernah melihat dan mengenal

gadis termasyhur itu yang sekarang menghilang entah ke

mana?”

“Saya … saya pernah mendengarnya … tapi saya tidak tahu

… oh … saya tidak tinggal di dalam kota. Keluarga saya

memiliki puri agak jauh dari kota,” katanya berbohong.

“Baiklah, mari kembali pada masalah yang sedang kita

hadapi. Tentu saja saya tidak melompat ke jendela rumah

gadis itu. Saya mencari Mak Comblang yang tidak sedikit

jumlahnya di Pakuan Pajajaran. Dan tidak selang beberapa

hari, saya sudah dapat berhubungan dengan gadis itu.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Namanya Pembayun Wungu, putri sulung keluarga besar

bangsawan di sana dan sayaRaden Girilaya terus

menceritakan pengalamannya, tetapi pikiran Banyak Sumba

terbang ke Puri Purbawisesa, membayangkan Nyai Emas

Purbamanik. Alangkah rindu ia bertemu dengan gadis itu, dan

alangkah jauh rasanya gadis itu sekarang Bukan saja jarak

antara Padepokan Sirnadirasa memang jauh, tetapi nasibnya

yang belum menentu terasa memberikan jarak yang lebih jauh

dan belum tentu dapat ditempuhnya. Ia menundukkan

kepalanya dan sadar bahwa penderitaan Ayunda Yuta Inten

sekarang menimpa dirinya, walaupun tidak tepat benar.

Bagaimanapun, Ayunda terpaksa tidak dapat berhubungan

dengan Pangeran Anggadipati karena permusuhan yang

terjadi antara keluarga Banyak Citra dan keluarga Anggadipati

akibat tindakan kejam Anggadipati sendiri. Ternyata, tindakan

itu mengambil korban lain, yaitu dia sendiri. Seandainya

segalanya tidak terjadi, hubungannya dengan Nyai Emas

Purbamanik tentu akan lancar dan tidak terhambat.

“Saudara Sumba, mengapa Saudara bersedih?” Banyak

Sumba terkejut dan mengangkat kepalanya malu-malu. Raden

Girilaya tidak berkata apa-apa, tetapi pandangan matanya

terus bertanya, “Saya mencintai seorang gadis. Karena

sesuatu, sekarang cinta kami tidak menentu. Itulah sebabnya,

mengapa saya sekarang berada di sini?”

“Oh, jadi Saudara berkelana dan jadi guru ilmu keperwiraan

untuk melupakan kesedihan itu?”

“Ya,” jawab Banyak Sumba setelah tertegun sebentar.

Sampai disitulah percakapan mereka ketika itu karena

seseorang datang memasuki gua mereka.

DI PADEPOKAN Sirnadirasa, Banyak Sumba terus berlatih

dengan yang lain. Karena ketekunannya, ilmu baru dari

padetang ilmunya yang baru itu. Banyak Sumba menyadari hal

itu, lalu berkata, “Dari ayahmu, saya belajar kecepatan dan

ketepatan. Dengan bantuan ayahmulah, saya mulai menyadari

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

bahwa hidup kita sehari-hari dapat menyebabkan semua

anggota badan kita tidak bekerja sesuai dengan

kemampuannya. Oleh karena itu, ketika kita mulai

mempelajari ilmu berkelahi, ayahmu menyuruh kita bergerak

dan mempergunakan seluruh anggota badan kita sebanyak

mungkin. Kita harus melompati jurang-jurang rendah,

menyelundup di bawah dahan-dahan pohon perdu, memanjat,

berguling, merangkak, dan lain-lain. Tanpa kita sadari, kita

menjadi lebih cepat dan lebih lincah daripada kebanyakan

orang. Kita sudah membuktikannya berulang-ulang. Kau pun

tahu, betapa mudahnya kaukalahkan orang-orang di

gelanggang Kutabarang dulu. Itu semua berkat pengajaran

dan latihan ayahmu, Paman Wasis.

“Akan tetapi, kita pun menyadari bahwa pukulan kita paling

kuat hanya sampai membuat orang pingsan, itu pun kalau

mengenai sasaran yang baik. Berbeda halnya dengan pukulan

si Gojin, bukan saja dapat membuat orang pingsan tetapi

dapat meremukkan, bahkan dapat membunuh. Itulah yang

berbulan-bulan, siang malam kupelajari di tempat si Gojin.

Nanti, kalau ada kesempatan, kau pun dapat mempelajarinya

dariku, Sik, juga Kang Arsim, kalau mau.”

“Tentu saja saya mau, Raden,” ujar Arsim sambil

mendekat.

“Nah, suatu hari, dengan keheranan saya melihat

bagaimana Gojin yang tinggi besar itu dijatuhkan berulangulang

oleh seorang kakek-kakek. Ternyata, kakek-kakek ini

adalah seorang resi yang bernama Sirnadirasa. Maka,

kususullah dia ke padepokannya. Di sana, saya mempelajari

tentang tenaga dan keseimbangan. Secara kasarnya,

kupelajari adanya tiga macam tenaga atau penggunaan

tenaga. Pertama tenaga besar, seperti kalau kita sedang

mengangkat batu besar atau mengunci lawan. Tenaga kedua

adalah tenaga ledak, yaitu seperti yang kita pergunakan kalau

kita menyentik telinga anak. Ketiga, tenaga yang mengalir,

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

seperti yang kita gunakan kalau mengikuti tekanan lawan,

bukan untuk menyerah tetapi mengarahkannya ke arah yang

kita inginkan.”

“Lebih baik kita lakukan, Raden, saya ingin sekali

mencoba,” kata Jasik.

“Baiklah, Sik, tapi ingin saya simpulkan bahwa dua hal yang

saya dapatkan dalam pengembaraan ini, yaitu di samping

kecepatan dan ketepatan yang saya dapat dari ayahmu, saya

telah mempelajari dan melaksanakan ilmu pukulan dan ilmu

penggunaan tenaga.”

Sore itu, ketika para siswa di Perguruan Gan Tunjung

sudah beristirahat, kedua orang panakawannya berjalan ke

tempat-tempat sekitar perguruan. Di tanah lapang yang biasa

dipergunakan oleh siswa-siswa Gan Tunjung berlatih, mulailah

ketiga orang itu bersabung. Kedua orang panakawan itu tidak

berdaya menghadapi tuannya. Seperti permainan, Jasik dan

Arsim dengan mudah dilemparkan atau dikunci oleh Banyak

Sumba. Juga ketika mereka menyerang Banyak Sumba

bersama-sama, keduanya tak mampu merobohkan Banyak

Sumba.

Suatu ketika, berhentilah Jasik dan sambil terengah-engah

berkata, “Saya bersyukur kepada Sang Hiang Tunggal yang

telah memberi Raden segala kepandaian itu.”

Banyak Sumba duduk di bawah sebatang pohon rindang di

tepi lapangan, diikuti kedua orang panakawannya. “Sekarang,

marilah kita membuat rencana, Sik.”

“Kita segera pergi ke Pakuan Pajajaran, mengambil abu

jenazah Raden Jante. Pulangnya kita lewat Kutawaringin,

kalau mungkin melakukan sesuatu,” kata Jasik.

“Itulah yang ada dalam hati saya,” kata Banyak Sumba,

“dan kita akan segera ke Panyingkiran.” “Ya,” ujar Jasik

dengan bersemangat. “Bagaimana dengan Kang Arsim?” “Saya

sudah berkata kepada Jasik, saya tidak usah pergi ke Pakuan

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Pajajaran. Saya lebih baik membekali Raden dengan apa yang

mampu saya berikan.” -”Sayang sekali, Kang Arsim.”

“Saya rasa, saya akan lebih berguna kalau tinggal di sini,

Raden,” kata Arsim. Banyak Sumba mengerti dan menghargai

sekali kebijaksanaan panakawannya itu.

“Raden dapat memilih, membawa uang atau saya belikan

kuda,” lanjut Arsim.

“Terima kasih atas kebaikanmu, Kang Arsim. Soal itu,

Jasik akan lebih tahu. Bagaimana, Sik?” Jasik termenung.

SELANG sehari setelah percakapan di lapangan dekat

Perguruan Gan Tunjung, pada subuh berembun, berangkatlah

Banyak Sumba dan Jasik dari perguruan itu. Arsim

mengantarnya sampai lawang kari, lalu melambai sambil

mengucapkan doa. Kedua orang pengembara itu melambai,

lalu memacu kuda mereka masing-masing menuju Kota

Kutabarang. Ketika matahari terbit, mereka berada di dalam

kota. Beberapa perlengkapan dibeli Jasik, lalu kedua orang

penunggang kuda itu berangkat lagi. Dengan melalui gerbang

kota sebelah barat, mereka meninggalkan kota pelabuhan

yang mulai sibuk.

Mula-mula jalan lurus ke barat melalui hutan kecil, humahuma,

dan kelompok kampung-kampung. Ketika hari mulai

panas, jalan mulai membelok ke selatan. Pendakian-pendakian

landai mereka lalui. Sementara itu, kampung-kampung mulai

berpagar tinggi. Hutan-hutan mulai lebat, kadang-kadang

menjangan atau babi hutan melintasi jalan walaupun di siang

bolong. Ketika sore tiba, mereka singgah di sebuah kampung

untuk menginap. Keesokan harinya, pagi-pagi sekali mereka

berangkat lagi. Pada hari kedua, tengah hari, mereka tiba di

pasar buah-buahan yang letaknya tidak jauh dari Puri

Purbawisesa.

“Sik, kita akan menginap di kampung dekat puri,” kata

Banyak Sumba sambil memandang ke menara-menara di atas

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

benteng Puri Purbawisesa. Kerinduannya mulai memberati

hatinya. Dan ketika mereka berjalan mendekati puri itu, berdebar-

debarlah hadnya.

Apakah kekasihnya masih seperti dulu? Mungkinkah ketika

ia tidak berada di dekatnya, gadis itu berubah pendiriannya?

Hal itu tidak mustahil, pikir Banyak Sumba. Siapakah yang

mau bertunangan dengan seorang buronan seperti dia?

Mungkinkah gadis itu telah membocorkan rahasianya sehingga

Puri Purbawisesa yang penuh dengan kenang-kenangan itu,

sekarang menjadi perangkap baginya? Mungkinkah puri itu

sekarang menjadi tempat malapetaka? Banyak Sumba tidak

dapat menjawab pertanyaan-pertanyaannya sendiri, tetapi ia

bertekad untuk memasuki puri, apa pun yang akan terjadi.

Kenangannya pada kejadian-kejadian sebelum ia

meninggalkan puri itu, membuatnya seperti mabuk. Ia

mengabaikan segala bahaya yang mungkin menunggunya di

puri itu.

Puri itu makin lama makin dekat, akhirnya tibalah Banyak

Sumba danjasik di bawah bayangan dinding yang tinggi.

Ketika itu, matahari sudah condong ke barat. Banyak

Sumba menghentikan kudanya, memandang seluruh puri.

Jasik pun menghentikan kudanya dan berdiri di samping

tuannya.

“Kita akan tidur di kampung sebelah selatan itu, Sik. Nanti

malam saya akan memasuki puri setelah saya menyelidiki

apakah orang-orang sudah mengetahui rahasia kita di sini.”

“Saya akan menemani Raden,” kata Jasik. “Jangan Sik,” ujar

Banyak Sumba sambil memandang mata Jasik, menyelidiki

apakah Jasik mencurigai sesuatu. Tampak cahaya mata Jasik

penuh dengan pertanyaan. Banyak Sumba tidak sanggup

berterus terang kepada panakawannya. Kalau ia mengatakan

bahwa ia ingin berjumpa dengan seorang putri, dan untuk itu

menantang bahaya yang mungkin menunggu di sana,

panakawannya akan menyesalinya. Bagaimanapun, berulangTiraikasih

Website http://kangzusi.com/

ulang Banyak Sumba menyimpang dari rencana semula karena

hal-hal yang sebenarnya tidak ada hubungannya dengan

tugasnya. Banyak Sumba merasa malu oleh panakawannya

itu. Akan tetapi, hatinya berat untuk tidak mengunjungi puri

itu terlebih dahulu sebelum pergi ke Pakuan Pajajaran yang

jauh.

“Kalau berbahaya, lebih baik saya ikut.” “Tidak, Sik, saya

hanya berkunjung kepada Paman Salti-win,” kata Banyak

Sumba berbohong. Memang ia akan berkunjung kepada

Paman Saltiwin, orang tua yang baik hati dan sayang

kepadanya, tetapi bukan Paman Saltiwin yang menariknya

memasuki puri itu. Jasik pun tidak memaksa untuk

menemaninya, walaupun dari cahaya matanya tampak

kecemasan.

Tak lama kemudian, mereka melarikan kudanya kembali,

menuju kampung yang tidak jauh letaknya dari puri itu. Di

kampung itu, Banyak Sumba cukup dikenal karena pernah

lama tinggal di sana sambil mengajar anak-anak ponggawa

ilmu berkelahi. Banyak Sumba bertanya tentang berbagai hal

mengenai berbagai peristiwa dan isi puri, tetapi para petani

yang hidup dengan damai itu tidak mengetahui berita-berita.

Mereka tidak tahu apa-apa tentang kejadian-kejadian di dalam

puri. Oleh karena itu, ketika malam tiba dan Banyak Sumba

berjalan ke arah puri, ia tidak tahu, apakah bahaya

menunggunya atau tidak.

Walaupun tidak tahu apa-apa tentang bagaimana sikap

orang di dalam puri itu, Banyak Sumba merasa lebih baik

berhati-hati daripada ceroboh. Ditunggunya malam menjadi

gelap, kemudian ia menyelundup bersama-sama dengan para

pamagersari yang datang paling belakang, memasuki gerbang

yang terbuka sedikit. Ia segera menuju rumah Paman Saltiwin.

Hatinya berdebar-debar, bukan karena merasa berada dalam

bahaya, tetapi karena ia berada di tempat kekasihnya berada.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Paman Saltiwin merangkulnya dan bertanya dengan suara

nyaring, Banyak Sumba berbisik dan meminta agar mereka

bicara perlahan-lahan. Banyak Sumba menerangkan

kedatangannya, kemudian bertanya keadaan di puri

sepeninggalnya. Ia bertanya tentang Tuan Putri.

“Tak ada perubahan, Raden. Tak ada yang perlu Raden

takuti di sini, walaupun Raden sedang melaksanakan tugas

rahasia. Mengenai Tuan Putri, segera setelah Raden pergi,

beliau juga berangkat ke Pakuan Pajajaran. Asih beliau bawa.

Dari Asihlah, Paman tahu bahwa … antara Raden dan Tuan

Putri telah terjalin kasih sayang.”

Perkataan orang tua itu menyenangkan hati Banyak

Sumba, tetapi juga menggugah kerinduan dan sedikit

kekecewaan.

Walaupun begitu ia tetap bertanya, “Paman, tahukah

Paman mengapa Tuan Putri berangkat ke Pakuan Pajajaran?”

“Sama sekali tidak tahu, Raden. Tuan Putri tidak

mengatakan apa-apa. Yang Paman tahu, Ayahanda Pangeran

Pur-bawisesa berada di sana.”

Mendengar penjelasan itu, Banyak Sumba termenung.

Mungkinkah gadis yang dicintainya itu pergi ke Pakuan

Pajajaran untuk memberitakan tentang dia, tentang di mana

dia berada, dan apa yang hendak dilakukannya? Pertanyaan

itu mulai menyiksanya. Mungkinkah kekasihnya, gadis yang

selama ini dicintainya, mengkhianatinya dengan menyebarkan

berita tentang dirinya di kalangan bangsawan-bangsawan

tinggi di Pakuan Pajajaran? Pertanyaan-pertanyaan itu bagai

pukulan yang bertubi-tubi menimpa kepalanya. Banyak Sumba

menunduk.

“Raden, jangan berkecil hati. Tidak sukar mencari tempat

Pangeran Purbawisesa, walaupun Pakuan Pajajaran sangat

luas dan orang sangat banyak di sana,” kata Paman Saltiwin

ketika melihat Banyak Sumba murung oleh penjelasannya

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Terima kasih, Paman. Saya akan menemukannya di

Pakuan Pajajaran,” ujar Banyak Sumba, seolah-olah katakatanya

meluncur dengan sendirinya. Lalu, mereka pun

bercakap-cakap tentang itu dan ini. Larut malam Banyak

Sumba diantar ke gerbang puri, lalu keluar melalui pintu kecil.

Malam itu, Banyak Sumba sukar memicingkan matanya.

Subuh-subuh ia membangunkan Jasik. Mereka pun segera

berangkat.

SETELAH empaj hari berada di perjalanan, termasuk satu

hari untuk istirahat kuda mereka, pada hari kelima, tampak

menara-menara jaga Kota Pakuan Pajajaran yang tingginya

melebihi pohon kelapa. Banyak Sumba mempercepat lari

kudanya dijalan yang lebar, diikuti Jasik yang juga tidak sabar

untuk segera memasuki kota. Akan tetapi, perjalanan mereka

tidak dapat dilakukan dengan cepat karena makin dekat

dengan kota, makin banyak orang yang lalu-lalang. Demikian

juga, berbagai macam kendaraan, kereta, dan pedati beriringiring

ke segala arah, yang pusat perjalanannya adalah kota

yang megah dan besar.

Setelah beringsut-ingsut, akhirnya kedua orang

pengembara itu dapat juga mencapai gerbang kota. Mereka

masuk ke tengah-tengah kesibukan kota yang menyebabkan

mereka keheranan.

Begitu banyak orang, jalan-jalan yang lebar, kendaraan,

dan bangunan-bangunan dari batu bata atau kayu yang

megah. Entah berapa lama mereka menjelajahi jalan lebar itu.

Banyak Sumba berkata, “Sik, sudah saatnya kita mencari

tempat menginap.”

“Ya, Raden. Kita punya banyak kesempatan melihat-lihat

kota nanti,” ujar Jasik yang tampak masih belum puas

menikmati tamasya kota itu. Setelah itu, mereka menepi,

turun dari kuda masing-masing. Banyak Sumba bertanyatanya

kepada orang-orang yang berada di dekatnya tentang

tempat menginap di dalam kota. Beberapa tempat ditunjukkan

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

orang, tetapi ketika Banyak Sumba dengan panakawannya ke

tempat-tempat menginap itu, semuanya sudah penuh.

Akhirnya, Banyak Sumba memutuskan untuk menginap di

kampung di luar kota. Jasik tampak kecewa, tetapi tak ada

pilihan lain kecuali meninggalkan kota itu untuk sementara.

Maka, kedua orang pengembara itu pun berangkat ke arah

gerbang kota sebelah utara, lalu menuju kampung terdekat.

Tidak sukar bagi mereka untuk menemukan tempat menginap

dan menitipkan kuda.

Akhirnya, beristirahatlah mereka. Banyak Sumba

merenungkan bagaimana cara mereka mengambil abu jenazah

Jante Jaluwuyung.

Sambil duduk-duduk di serambi rumah tempat mereka

menginap, Banyak Sumba berkata kepada Jasik, “Sik,

sebaiknya kita mengetahui terlebih dahulu di mana abu

jenazah Kakandajantc diletakkan di dalam kuil itu. Kalau tidak,

saya takut kita akan membuang waktu lebih banyak. Itulah

sebabnya, kita akan menyelidiki dulu bentuk kuil itu.”

”Tidakkah hal itu akan menimbulkan kecurigaan?” tanya

Jasik.

“Tentu saja kita harus berusaha agar tidak menimbulkan

kecurigaan. Di samping itu, kita tidak akan bertanya kepada

orang-orang yang mungkin mencurigai kita.”

“Kalau perlu, saya saja yang memasuki kuil itu, Raden.

Raden dapat berjaga-jaga di luar.”

‘Justru sebaliknya, Sik. Sayalah yang masuk, kau yang .

berjaga di luar,” kata Banyak Sumba.

“Baiklah, saya akan mencoba mengobrol dengan penjaga

kuil itu. Kalau dia lengah, Raden segera memasuki kuil.”

“Mungkin saya tidak akan memasukinya dari jalan biasa,

Sik. Kalau perlu, saya akan masuk dari atas, melalui pohon,

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

seandainya di sana ada pohon tinggi yang dapat saya jadikan

jembatan.”

“Baiklah, kalau begitu, akan lebih mudah tugas saya,

Raden.”

“Mudah-mudahan,” kata Banyak Sumba. Hatinya mulai

berdoa. Tiba-tiba ia tertegun, teringat kepada Putri

Purbamanik. Kesadaran bahwa ia berada di dekat gadis yang

dicintainya itu, menyebabkan kerinduan menyesak dalam

dadanya.

“Kita akan memasuki kota pada sore hari, ketika orangorang

mencari hawa, Sik,” katanya. Setelah tertegun sebentar,

ia melanjutkan perkataannya, “Kita akan melihat-lihat tamasya

kota sambil menyelidikinya.” Dalam hatinya, Banyak Sumba

berdoa, mudah-mudahan ia dapat bertemu dengan

kekasihnya. Sore itu, sebelum matahari dekat benar ke

puncak-puncak bukit di sebelah barat, kedua orang

pengembara itu berangkat dari kampung tempat mereka

menginap dan memasuki ibu kota kerajaan melalui gerbang

sebelah utara.

Ketika menikmati tamasya kota dan orang-orang yang hilir

mudik di sana, tak henti-hentinya mata Banyak Sumba

mencari-cari, kalau-kalau ia dapat bertemu dengan gadis yang

dirindukannya. Akan tetapi, di antara begitu banyak orang ia

tidak melihat gadis yang dicintainya itu.

“Sik, mari kita melihat-lihat istana sang Prabu,” katanya

kepada Jasik. Ia berharap dapat bertemu Putri Purbamanik di

sekitar istana itu.

“Mari, Raden, saya pun ingin sekali melihat istana untuk

saya ceritakan nanti kepada orang-orang di kampung kita,”

kata Jasik.

Mereka bergegas mengikuti jalan besar menuju pusat kota

karena di sanalah istana sang Prabu berada. Makin mendekad

tengah-tengah kota, makin banyak orang yang sedang

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

beristirahat dan menghibur diri. Dan ketika mereka berada

beberapa ratus langkah lagi dari istana, begitu banyaknya

orang di lapangan luas sekitar istana, hingga Banyak Sumba

bertabrakan dengan pejalan-pejalan yang lain. Akhirnya,

tibalah kedua orang pengembara itu ke suatu tempat yang

batasnya dibuat dari pohon bunga-bungaan. Dari seberang

batas itu terdapat taman yang indah sekali, di belakang taman

menjulang bangunan besar yang atapnya terbuat dari batu

berukir, bata, dan kayu. Pada bagian-bagian tertentu, kayukayu

berukir itu kayu cendana yang harum baunya. Banyak

Sumba memandang bangunan itu dari jauh dengan penuh

kekaguman.

Ia tidak berani melangkahi batas yang terdiri dari pohon

bunga-bungaan itu. Bukan karena taman di seberang batas itu

begitu indah, tetapi tidak ada orang lain yang berani

menyeberangi batas itu. Banyak Sumba termenung saja,

kagum memandangi istana yang ada di seberang batas itu.

Jasik terdengar bercakap-cakap tidakjauh dari tempatnya

berdiri. Jasik terdengar bertanya, ‘Apakah tidak diperbolehkan

orang memasuki daerah di dalam batas kebun bunga itu?”

tanya Jasik.

“Rupanya Saudara pendatang,” ujar yang ditanya.

“Ya, kami datang dari Kota Medang,” kata Jasik.

“Oh, alangkah jauhnya. Tentu Saudara tidak tahu soal

batas ini. Memang, kebun bunga yang melingkari taman yang

lebih dalam ini batas. Akan tetapi, tidak berarti orang dilarang

mendekati istana. Bagaimanapun, istana itu milik seluruh

warga kerajaan. Saudara tahu, kayu-kayu, batu-batu, dan

bata-bata itu diambil dari seluruh kerajaan. Setiap sungai di

seluruh Pajajaran memberikan batunya, setiap hutan

memberikan kayu-kayunya, sedangkan bumi Pajajaran

memberikan tanahnya yang dibuat jadi batu bata. Mengapa

orang tidak mau mendekati istana dan merasa puas berjalan

di dalam jarak tertentu? Karena rakyat tahu, di istana orang

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

tidak sedang bersenang-senang. Di sana, orang bekerja

karena banyak urusan. Orang-orang tidak mau berisik di

tempat-tempat yang terlalu dekat ke istana. Kalau sang Prabu

sedang beristirahat, mereka akan merasa menyesal kalau

mengganggu dengan tidak sengaja. Saya pun tidak mau

melintasi kebun bunga ini kalau tidak terpaksa. Saya cukup

puas kalau mengunjungi istana pada hari-hari upacara saja,”

kata orang itu. Setelah itu, Jasik berkata lagi, “Kami ingin

sekali mengetahui tempat kuil penyimpanan abu jenazah.”

“Oh, di sebelah barat. Nah, puncaknya dapat Saudara lihat

dari sini, di belakang pohon pakis haji itu.”

“Terima kasih,” kata Jasik. Ia mendekati Banyak Sumba,

lalu berkata, “Raden, hari makin senja.”

Mereka berpandangan. Banyak Sumba masih penasaran

untuk dapat bertemu dengan Nyai Emas Purbamanik, tetapi

hari memang sudah menuju senja, tugas berat menunggunya.

Maka, tanpa berbicara, ia melangkah ke arah barat diikuti

panakawannya yang setia.

Tak lama kemudian, mereka tiba di kuil itu. Banyak Sumba

kecewa melihat kuil itu dijaga ketat sekali. Di gerbang depan,

berdiri empat orang bersenjata tombak, sementara pintu-pintu

kecil kalau tidak tertutup, masing-masing dijaga oleh seorang

gulang-gulang. Banyak Sumba berpaling kepada Jasik.

“Heran, Raden, seharusnya tidak perlu penjagaan ketat,

apalagi pada senja hari, ketika orang-orang membawa sajen,”

kata Jasik.

Banyak Sumba melangkah mendekad Jasik, lalu dengan

setengah berbisik ia berkata, “Bagaimana kalau kita pura-pura

membawa sajen dan masuk kuil setelah agak remangremang?”

“Itu tidak mungkin, Raden. Menurut keterangan bapak

tempat kita menginap, hanya orang-orang yang dikenal

penjaga yang diizinkan masuk.”

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Aneh,” ujar Banyak Sumba, “apakah bapak tempat kita

menginap mengatakan hal-hal lain, misalnya apa sebabnya

penjagaan begitu ketat?”

“Saya tidak berani bertanya lebih banyak, Raden. Saya

takut si Bapak menjadi curiga karena pertanyaan-pertanyaan

saya itu.”

Banyak Sumba diam, kemudian mereka melangkah.

Beberapa kali mereka berjalan mengelilingi kuil yang besar itu.

Mereka berjalan di antara orang-orang yang sedang

menikmati udara senja yang sejuk. Mereka bertindak seperti

orang lain, pura-pura jalan-jalan agar tidak menimbulkan

kecurigaan. Ketika melihat balai-balai yang kosong di taman

sebelah kiri kuil, mereka duduk di sana sambil melihat-lihat

orang-orang yangjuga duduk-duduk di balai-balai sambil

beristirahat atau bercengkerama. Tak berapa lama kemudian,

datang seorang kakek-kakek tua menuntun anak kecil,

mungkin cucunya. Kakek-kakek itu berdiri sejenak dekat

mereka, kemudian berkata. “Maaf, Anak-anak Muda, lutut

kakek gemetar kalau terlalu banyak berjalan, bolehkah ikut

duduk?”

“Silakan, Kakek,” kata Banyak Sumba dan Jasik bersamaan.

Orang tua itu membiarkan cucunya berlari-lari di lapangan,

sementara ia duduk di balai-balai tempat kedua orang

pengembara itu duduk. Setelah beberapa lama terdiam,

berkatalah kakek-kakek itu. “Di masa kakek muda, penghuni

Pakuan tidak sebanyak ini. Sekarang, hampir tidak ada jalan

yang aman untuk orang tua, kereta-kereta simpang siur,

pejalan-pejalan yang tergesa-gesa mungkin menyenggol dan

menyebabkan orang tua terjatuh.”

“Kakek, apakah dulu kuil ini dijaga seperti sekarang?” tanya

Jasik. Kakek itu berpaling kepada Jasik, lalu mendekatkan

telinganya. Jasik mengulang pertanyaannya, “Apakah waktu

Kakek muda, kuil ini dijaga seperti sekarang?”

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Oooh, tidak, tidak, Anak Muda. Belum lama kuil ini dijaga.

Biasanya hanya kuncen yang ada di sana. Kira-kira, musim

panen yang lalu terjadi keributan, tentu Anak Muda tidak tahu.

Anak Muda datang dari mana?”

“Dari Kota Medang, Kakek.”

“Oooh, pantas. Beberapa bulan yang lalu, ada orang yang

mencoba mencuri pundi-pundi abu jenazah. Oleh karena itu,

sekarang kuil dijaga ketat,” kata kakek-kakek itu. Banyak

Sumba hampir tersentak dari duduknya.

“Mencuri abu jenazah? Bagaimana hal itu terjadi, Kakek?”

“Oooh, begini Anak Muda. Barangkali engkau pernah

mendengar ada seorang puragabaya yang gila. Puragabaya ini

menjadi gila dan membunuh banyak bangsawan di hutan

dekat Kutabarang. Nah, terpaksa kawan-kawannya dari

Padepokan Tajimalela menangkapnya. Tetapi ketika hendak

ditangkap, puragabaya gila ini melawan dan terjatuh ke dalam

jurang. Sahabat-sahabatnya sangat bersedih, lalu dengan

segala upacara besar membakar dan menyimpan abu

jenazahnya dalam kuil para pahlawan ini. Tapi, tentu saja ada

orang yang tidak setuju abu jenazah puragabaya itu disimpan

dalam kuil sebagaimana haknya, walaupun puragabaya itu

gila. Dalam adat kerajaan, setiap puragabaya—tidak

disebutkan waras atau gila—kalau meninggal, abunya berhak

disimpan dalam kuil agung ini. Tapi tentu saja, keluarga

bangsawan-bangsawan yang terbunuh oleh puragabaya itu

tidak setuju. Mereka beranggapan bahwa puragabaya yang

pernah membunuh bangsawan Pajajaran, tidak berhak abunya

disimpan dalam tempat yang mulia. Itulah sebabnya,

beberapa bulan yang lalu, ada serombongan pemuda yang

mencoba mengambil guci abu jenazah puragabaya itu.

Untung, kuncen berteriak-teriak dan banyak jagabaya di

tempat ini, hingga maksud itu dapat digagalkan.”

Sementara kakek-kakek itu berkata-kata, berulang-ulang

Jasik dan Banyak Sumba berpandangan. Banyak Sumba baru

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

menyadari bahwa semua yang diceritakan kakek-kakek itu

benar-benar suatu hal yang tidak mustahil. Di samping itu, ia

pun menyadari, ternyata tugasnya yang pertama itu tidak

dapat dipandang sebagai tugas yang enteng. Sekarang, kuil

itu dijaga dengan ketat. Ia pun menyadari, ancaman Wangsa

Wiratanu untuk menghinakan abu jenazah Kakanda Jante

Jaluwuyung bukan sekadar ancaman. Ternyata, ancaman itu

hampir terlaksana.

Seraya termenung, Banyak Sumba terkenang

pengalamannya ketika Raden Bungsu Wiratanu merebut

kudanya di Kutawaringin. Tentu kesatria berandalan semacam

itu yang memimpin usaha pengambilan abu jenazah Kakanda

Jante. Rupanya, dinasibkan baginya untuk berhadapan dengan

keluarga Wiratanu, demikian pikir Banyak Sumba. Ia ingin

sekali dapat kesempatan berhadapan dengan Raden Bungsu

Wiratanu untuk mengembalikan penghinaannya. Bukan saja

karena orang itu telah merebut kudanya, tetapi juga telah

berani hendak menghinakan abu jenazah anggota keluarga

wangsa Banyak Citra. Banyak Sumba mendengus. Jasik melirik

kepadanya.

“Kakek,” kata Jasik, “Adakah di antara pencuri abu jenazah

itu tertangkap?”

“Wah, sialnya tidak ada yang tertangkap. Mereka rupanya

orang-orang yang biasa melakukan pekerjaan itu. Mungkin

mereka pencuri-pencuri yang disewa,” lanjut kakek-kakek itu.

Setelah termenung, kakek-kakek itu berkata, “Ya, mungkin

mereka pencuri-pencuri yang dibayar. Orang yang menyuruh

mereka sebenarnya hanya perlu dengan isi guci, yaitu abu

jenazah. Mungkin sekali gucinya akan diambil oleh pencuripencuri

itu dan dijual. Saya tahu, guci abu jenazah

puragabaya itu bagus sekali. Kata orang, dibuat di negeri

Katai. Sengaja didatangkan ke sini oleh Pangeran Anggadipati,

sahabat karib puragabaya yang gila itu. Kakek pernah melihat

guci yang indah itu dengan tulisan pada landasan kayu yang

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

menjadi tatakannya. Kalau tidak salah, tulisan itu menyatakan

tanda kasih sayang dari Pangeran Anggadipati kepada si mati.

Memang, Pangeran Anggadipati ini sering sekali datang ke kuil

untuk berdoa dan membawa bunga-bunga yang segar.

Menurut berita, sebenarnya si mati itu calon ipar Pangeran

Anggadipati ini, tapi Kakek lupa lagi bagaimana ceritanya. Tapi

cerita-cerita tentang Pangeran Anggadipati dan si mati sering

sekali dinyanyikan oleh juru-juru pantun.”

Percakapan antara kakek-kakek itu dan Jasik terus

berlangsung. Akan tetapi, Banyak Sumba mulai terpecah

perhatiannya. Ia sangat tertarik oleh keterangan-keterangan

kakek-kakek itu, tetapi suatu persoalan mulai mengganggu

pikirannya. Benarkah Anggadipati telah menyediakan guci

yang bagus dan mengunjungi kuil untuk membaca doa-doa

dan membungai abu jenazah Kakanda Jante? Seandainya hal

itu benar, tidakkah hal itu bertentangan dengan anggapan

Ayahanda dan ia sendiri bahwa Anggadipati sebenarnya iri dan

benci terhadap Kakanda Jante?

Ketika peristiwa yang menyedihkan itu terjadi, yaitu ketika

Kakandajante terbunuh, datang dua rombongan keluarga

Banyak Citra. Kedua rombongan itu membawa berita yang

berbeda. Rombongan yang pertama menyatakan Kakanda

Jante dibunuh dengan keji. Rombongan kedua menyatakan

Kakanda jante tidak sengaja terbunuh. Ayahanda memilih

berita yang pertama dan upacara ikrar pembalasan dendam

pun dilakukan di lapangan Kota Medang. Semenjak itu,

Banyak Sumba beranggapan bahwa Kakanda jante dibunuh

karena akan menjadi puragabaya yang terlalu perkasa. Akan

tetapi, berulang-ulang ia mendengar kisah yang lain dari

tukang pantun ataupun dari rakyat biasa. Umumnya, ceritacerita

itu menyatakan bahwa Pangeran Anggadipati sangat

kasih kepada Kakanda jante dan kematian itu karena

kecelakaan. Ia mencoba untuk tidak memercayai cerita-cerita

itu, akhirnya ia pun bimbang. Sekarang, cerita itu terdengar

lagi dari kakek-kakek itu. Cerita terakhir tentang perhatian

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Anggadipati pada abu jenazah Kakandajante sungguhsungguh

mengguncangkan keyakinannya. Ia benar-benar

bimbang. Siapa tahu Anggadipati memang benar-benar

seorang kesatria budiman, seperti dikisahkan dalam nyanyian

tukang-tukang pantun dan cerita-cerita rakyat kerajaan yang

mencintai puragabaya itu.

“Raden,” kata Jasik. Banyak Sumba bangkit dari

renungannya. Hari menuju malam, cuaca remang-remang,

orang-orang mulai beranjak untuk pulang. Obor-obor mulai

dipasang di sepanjang jalan. Lampu-lampu minyak

bergantungan di depan rumah.

“Mari kita pergi dari sini, Sik,” kata Banyak Sumba seraya

berdiri. Jasik mengucapkan selamat berpisah dan terima kasih

kepada kakek-kakek yang mulai memanggi1 cucunya. Mereka

berjalan ke suatu jalan agak sunyi, tidak jauh dari kuil itu. Di

tempat itu, Banyak Sumba berhenti dan untuk pertama kalinya

menyatakan kebimbangannya kepada panakawannya, “Sik,

saya sungguh-sungguh menjadi bimbang sekarang. Kau tahu

bahwa salah satu tugasku adalah membunuh Anggadipati.

Akan tetapi, kau pun mendengar bagaimana orang bercerita

tentang kisah kematian Kakanda Jante. Kisah itu umumnya

bertentangan dengan anggapan Ayahanda dan anggapanku.

Anggadipati tidak bersalah, Anggadipati sayang kepada

Kakanda. Saya tidak percaya, tetapi cerita kakek-kakek itu

sungguh mengguncangkanku, Sik.”

“Kita dapat menyelidiki kebenaran kisah itu, Raden. Masih

ada waktu bagi kita untuk menyelidikinya setelah tugas

pertama kita selesai. Marilah kita ambil dulu abu jenazah itu.

Siapa tahu, dari tulisan pada guci abu jenazah, kita akan

mendapat keterangan lebih lanjut tentang kisah itu.”

Setelah termenung sebentar, berkatalah Banyak Sumba,

“Saya tidak merasa menyesal dengan gagalnya rencana saya

membunuh Anggadipati dengan pisau itu, Sik. Siapa tahu

kalau saya berhasil membunuhnya, ternyata saya membunuh

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

orang yang tidak bersalah. Kalau begitu, apa yang akan terjadi

pada Ayunda Yuta Inten?”

Banyak Sumba menarik napas panjang karena lega. Dalam

hatinya, ia bersyukur tidak jadi membunuh puragabaya itu. Ia

tahu, Ayunda Yuta Inten mencintai Pangeran Anggadipati

dengan seluruh jiwa raganya, dengan seluruh hidupnya, apa

pun yang dikisahkan orang tentang puragabaya itu. Ia tahu

bahwa Ayunda Yuta Inten terus-menerus bertapa demi

kepentingan keluarga dan juga orang yang dikasihinya itu.

Alangkah sengsara hidup Ayunda Yuta Inten dan alangkah

tabahnya wanita yang disayanginya itu. Ia merasa hormat dan

rindu kepada ayundanya. Ia ingin berbuat sesuatu yang

membahagiakan Ayunda, tetapi selama ini, dukacita wanita

itulah yang dicarinya.

Sekarang, ia mulai bimbang. Tanpa disadarinya, ia mulai

berharap semoga kakek-kakek itu yang benar supaya ia tidak

harus membunuh Pangeran Anggadipati dan Ayunda Yuta

Inten tidak harus berdukacita. Semangatnya bangkit untuk

segera mengambil abu jenazah itu dan ia berpaling kepada

Jasik yang dengan teliti mengawasi kuil itu dari tempat gelap.

“Sik, barangkali Sang Hiang Tunggallah yang

menghalangiku ketika pisau beracun itu akan kulemparkan

terhadap puragabaya itu,” kata Banyak Sumba, kemudian ia

melanjutkan perkataannya, “Mudah-mudahan, tulisan pada

guci itu membesarkan harapan-harapanku.”

“Raden, penjaga-penjaga di samping kiri meninggalkan

tempatnya,” kata Jasik. Banyak Sumba memandang ke arah

itu.

‘Sik, janganlah kau terlalu memikirkan penjaga-penjaga itu,

mereka bukan persoalan yang berat. Yang perlu kita pikirkan,

ke mana kita akan lari setelah menemukan guci itu?”

Jasik memandang Banyak Sumba dengan penuh

pertanyaan. Banyak Sumba terdorong untuk menjawab,

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Begini, Sik. Saya terpaksa akan memukul salah seorang atau

dua orang penjaga sampai pingsan, lalu kita memasuki kuil.

Kita akan mengambil guci itu, lalu melarikan diri. Yang penting

sekarang adalah menentukan jalan-jalan yang akan kita lalui

ketika melarikan diri.”

“Tapi…”kata jasik. Ia tidak melanjutkan perkataannya.

Sebagai seorang yang telah biasa bergaul dengan anggota

wangsa Banyak Citra, ia percaya bahwa anggota wangsa

Banyak Citra dapat melakukan hal-hal yang luar biasa. Ia

percaya kepada Banyak Sumba dan siap menuruti

perintahnya.

“Sekarang, ikutilah saya,” kata Banyak Sumba. Mereka pun

berjalan, tidak menuju kuil, tetapi mengelilingi kuil. Di suatu

mulut lorong, Banyak Sumba berhenti. Ia berkata, “Lorong

inilah yang paling sepi. Kalau kita melarikan diri ke sini, tidak

akan-terlalu banyak orang yang melihat kita.”

Jasik memandang ke arah lorong itu. Dilihatnya hanya

beberapa pintu rumah yang masih terbuka dan memancarkan

cahaya lampu ke arah jalan. Sementara itu, beberapa orang

tua masih bercakap-cakap di halaman.

“Raden, kalau rencana kita undurkan waktunya sebentar,

mungkin lorong ini akan lebih sepi lagi.”

“Tidak, Sik. Saat ini tidak disangka orang sebagai waktu

untuk melakukan pencurian guci itu. Kalau malam sudah

sedikit larut, para jagabaya mulai meronda. Kita akan mudah

disergap oleh orang-orang yang bersenjata seperti para

jagabaya. Orang-orang yang tidak bersenjata merupakan

persoalan yang lebih kecil bagi kita.”

Jasik rupanya mengerti. Banyak Sumba pun mulai berjalan

menuju salah satu pintu kuil sebelah kiri, tempat berdiri dua

orang penjaga.

“Raden, apakah yang akan Raden lakukan?” “Saya akan

memukul penjaga-penjaga itu sampai pingsan lalu kita masuk

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

ke dalam kuil. Mungkin kau akan menunggu di luar untuk

berjaga, tetapi kalau tidak perlu, kau boleh masuk bersama

saya.”

Jasik tidak menjawab, ia mengikuti majikannya yang

melangkah dengan tenang ke arah pintu kuil di sebelah kiri

itu.

Setiba mereka di sana, kira-kira beberapa langkah lagi dari

para penjaga, salah seorang dari para penjaga itu mendekati

mereka sambil mengawasi wajah mereka dalam cahaya

remang lampu-lampu minyak.

“Hai, siapakah Ki Silah ini?” katanya.

“Kami pengembara,” sahut kedua orang pengembara itu.

“Mau ke mana, Saudara-saudara? Tidakkah Saudarasaudara

beristirahat di malam yang gelap ini?”

“Kami pendatang dan tidak menginap di dalam kota,”

jawab Banyak Sumba.

“Tapi, sebentar lagi gerbang kota ditutup,” kata penjaga

itu, kecurigaannya mulai berkurang.

“Kami berjanji untuk bertemu dengan teman di sini, lalu

kami ke luar kota bersama-sama. Teman kami sedang ada

urusan dengan saudaranya di sebelah barat.”

Penjaga itu sudah kehilangan curiganya, rupanya, terutama

karena tampak Banyak Sumba seorang yang sangat lemah

lembut sikapnya.

“Sudah lamakah Saudara menjadi penjaga di kuil ini.”

“Ah, baru musim panen yang lalu, semenjak ada usaha

pencurian guci puragabaya Jante Jaluwuyung.”

“Pencurian?” kata Banyak Sumba, pura-pura heran.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Ya, tapi tentu saja gagal. Pencuri-pencuri yang akan

menghinakan abu jenazah akan terkutuk untuk selamalamanya,”

kata penjaga itu.

“Untuk apa pencuri-pencuri itu menghinakan abu jenazah?”

tanya Banyak Sumba untuk lebih menghilangkan kecurigaan

penjaga itu.

Ketika itu, penjaga yang lain mendekat dan ikut mengobrol.

Penjaga baru itu berkata, “Wah, tentu Saudara pendatang.”

“Memang,” kata Banyak Sumba, “dan kami merasa aneh

kalau ada orang yang mencoba mencuri abu jenazah.”

“Kisahnya begini. Puragabaya Jante Jaluwuyung ini seorang

puragabaya yang hebat. Ia membunuh beberapa orang

bangsawan. Di antara yang terbunuh adalah anggota wangsa

Wiratanu dari Kutawaringin dan satu keluarga bangsawan di

Kutabarang. Nah, saudara-saudara korban ini tentu saja ingin

membalas dendam. Mereka berusaha membalas dendam

terhadap saudara-saudara dan anggota keluarga puragabaya

Jante Jaluwuyung. Akan tetapi, menurut cerita orang, keluarga

puragabaya ini menghilang. Itulah sebabnya, pembalasan

dendam mereka lakukan terhadap abu jenazah puragabaya

itu. Mereka mencoba mencuri abu jenazah ini untuk

menghinakannya. Sayang mereka tidak tertangkap. Kalau

tertangkap, kita akan mengetahui, apakah pencuri itu datang

dari Kutawaringin atau Kutabarang.”

“Tapi, bagaimana saudara tahu bahwa pencuri-pencuri itu

akan menghinakan abu jenazah … puragabaya itu?”

“Kuncen kuil mengatakan, ketika mereka dba di tempat

guci itu, salah seorang pencuri itu berseru kepada kawankawannya.

Ini dia, abu si Jahanam itu!”

“Oh!” kata Banyak Sumba. Ketika itu, kedua orang penjaga

berdiri berdampingan satu sama lain, tapi tidak terlalu dekat.

Banyak Sumba mengharapkan mereka berdiri lebih

berdekatan. Ia bertanya, “Apakah ada anggota-anggota

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

keluarga puragabaya itu yang sering datang menjenguk abu

dan berdoa di sini?”

“Saya sudah katakan tadi, anggota keluarga si mati itu

menghilang, mungkin karena takut oleh pembalasan dendam.

Akan tetapi, Pangeran Anggadipati selalu datang ke sini.

Setiap hari besar, beliau datang membawa bunga dan berdoa

di sini,” katanya.

“Saya pernah melihat beliau menangis di depan guci itu,”

kata penjaga yang lain.

“Mereka bersahabat karib dan sudah seperti saudara ketika

Puragabaya jante Jaluwuyung ini hidup. Bahkan, saya dengar,

Pangeran Anggadipati sudah bertunangan dengan adik

perempuan Puragabaya jante Jaluwuyung itu. Kasihan kalau

saya melihat Pangeran Anggadipati datang ke sini. Begitu

bermuram durja beliau. Saya pernah mendengar Pangeran

Anggadipati berkata kepada Puragabaya Rakean. Pangeran

Anggadipati menyatakan, kalau saja ia tahu di belakangnya

ada jurang, ia tidak pernah akan menghindarkan diri waktu

diserang oleh Jante Jaluwuyung yang sedang kemasukan itu.

Ketika itu, Puragabaya Rakean berkata kalau Pangeran

Anggadipati menahan serangan Jante Jaluwuyung, yang akan

menjadi korban akan lebih dari seorang, bukan Jante saja

tetapi juga Pangeran Anggadipati. Memang, peristiwa itu suatu

kecelakaan yang menyedihkan sekali. Saya mengerti mengapa

Pangeran Anggadipati begitu bersedih hati.”

“Saya mendengar bahwa guci tempat abu jenazah

puragabaya yang mati itu sangat indah,” kata Banyak Sumba.

“Memang, yang paling indah di antara guci-guci

puragabaya yang lain. Pangeran Anggadipati mendapatkannya

dari sahabatnya yang mengembara ke negeri Katai,” kata

penjaga itu.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Saya belum pernah melihat cinta seorang sahabat seperti

diperlihatkan Pangeran Anggadipati kepada si mati,” kata

penjaga yang lain.

“Pangeran Anggadipati seorang budiman. Ia selalu baik

terhadap orang-orang di sekelilingnya. Bahkan ketika ia

mendapat laporan abu jenazah akan dicuri, tidak marah. Ia

hanya berkata bahwa usaha pencuri-pencuri itu dapat

dimengerti. Walapun begitu, katanya, para pencuri itu akan

mengurungkan maksudnya kalau mereka tahu bahwa Jante

Jaluwuyung tidak bersalah karena puragabaya itu membunuh

dalam keadaan tidak sadar. Dan, kata Pangeran Anggadipati,

sebenarnya tidak sepantasnya mereka meneruskan balas

dendam kepada orang yang tidak berdaya seperti si mati yang

sudah tidak akan melawan. Pembalasan dendam itu hanya

akan mengotorkan tangan mereka di mata Sang Hiang

Tunggal.”

“Ya, Pangeran Anggadipati itu sangat pengampun,” kata

penjaga yang satu.

“Ia seorang pendeta yang perwira atau ia seorang

pahlawan yang juga bersifat pendeta.”

“Ia seorang puragabaya sejati,” kata kawannya. “Saya

mengerti sekarang, mengapa beliau begitu banyak

dinyanyikan oleh tukang-tukang pantun dan dipuja-puja dalam

cerita-cerita rakyat.”

Kedua orang penjaga itu sekarang duduk berdampingan.

Sebenarnya, Banyak Sumba kasihan kepada penjaga-penjaga

itu, dua orang baik yang ramah kepadanya. Sambil meminta

maaf kepada kedua orang penjaga itu, Banyak Sumba

menghantamkan tinju kanannya ke ulu hati yang satu,

sedangkan tinju kirinya menyusul menghantam ulu hati yang

lain. Pelajaran yang diterimanya dari si Gojin tidak

mengecewakannya. Kedua orang penjaga itu terjatuh dan

tidak bergerak lagi. Mereka pingsan sebelum menyadari

bahwa mereka diserang.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Sik, sembunyikan di tempat gelap,” kata Banyak Sumba

seraya mengangkat salah satu korbannya dan membawanya

ke bawah bayangan kuil, lalu membaringkannya. Jasik yang

kagum melihat daya pukul tuannya, tertegun sejenak, lalu

segera mengikuti tindakan tuannya. Kedua penjaga itu

dibaringkan di tempat tersembunyi. Untuk lebih

menyembunyikan keduanya, sarung hitam yang mereka pakai

ditutupkan pada mereka. “Mari kita masuk, Sik.”

“Tidakkah lebih baik saya menunggu di luar?” “Tidak perlu,

Sik.”

“Bagaimana kalau penjaga lain datang ke pintu itu?”

“Mereka tidak akan segera menemukannya dan kita sudah

akan menemukan guci itu,” ujar Banyak Sumba sambil

menyeret tangan Jasik.

Jasik menurut dan mereka mengendap-endap memasuki

kuil. Mereka berjalan di lorong yang remang-remang diterangi

lampu-lampu minyak. Lampu kecil yang berkelap-kelip itu

makin suram cahayanya karena asap dupa yang tebal

mengalun memenuhi ruangan. Dalam cahaya remang itu,

Banyak Sumba melihat bunga-bunga rampai berserakan di

lantai, sementara dinding lorong kuil dipenuhi guci-guci indah

tempat jenazah.

Sebagai seorang bangsawan, Banyak Sumba mengetahui

bahwa guci-guci pada lorong pertama adalah tempat abu

jenazah para ponggawa kerajaan yang berjasa. Guci-guci para

puragabaya terdapat pada dinding lorong tingkat kedua dari

kuil itu, sedangkan abu jenazah keluarga sang Prabu terdapat

pada puncak kuil dalam ruangan pualam yang berada di pusat

kuil. Di sanalah Kuncen berada. Karena Banyak Sumba tidak

akan memasuki ruangan itu, kemungkinan untuk kepergok

tidak besar, kecuali kalau penjaga-penjaga yang pingsan itu

siuman. Dan karena mengejar waktu, Banyak Sumba bergegas

memasuki tingkat kedua kuil itu, lalu berjalan sambil

memeriksa guci-guci di sana. Ia mengambil salah satu lampu

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

yang terletak di dinding lorong, lalu dipergunakannya untuk

menerangi guci-guci yang diperiksanya.

Akhirnya, dilihatnya sebuah guci yang indah buatannya dan

dihiasi untaian bunga yang masih segar. Banyak Sumba

segera melangkah ke sana, lalu mempergunakan lampu.

Dalam remang-remang itu, ia melihat nama Jante Jaluwuyung

Jantungnya terhenyak, denyutnya seolah-olah berhenti. Akan

tetapi, hanya sebentar ia tertegun. Ia merangkul guci itu, lalu

mengangkatnya. Ia melepaskan sarungnya, lalu dibungkuskannya

pada guci itu. Kemudian, disandangnya guci itu

dengan sarung. Sebelum melangkah dari tempat itu, ia

mendengar desir langkah orang.

Kedua orang pengembara itu saling memandang. Banyak

Sumba memberi isyarat kepada Jasik untuk menyelinap di

sudut lorong. Kemudian, dipadamkannya lampu-lampu yang

ada di dekatnya. Mereka berdiri melekatkan dada mereka ke

dinding lorong yang penuh dengan guci. Tak lama kemudian,

terdengar langkah mendekat dan muncul tiga sosok tubuh

dalam remang-remang itu. Banyak Sumba dan Jasik lebih

merapatkan tubuh mereka pada dinding lorong kuil sambil

tetap mengawasi para pendatang, “Penjaga,” bisik Jasik.

“Tapi mereka tidak bersenjata panjang,” ujar Banyak

Sumba.

Ketika Jasik hendak berkata lagi, Banyak Sumba menutup

mulut Jasik karena salah seorang di antara ketiga pendatang

itu berjalan ke arah mereka.

“Di sini tempatnya,” bisik orang itu agak keras. Kedua

temannya mengikuti. Ternyata, mereka berjalan menuju

tempat guci abu jenazah Kakandajante yang sekarang sudah

kosong.

“Bawa lampu,” kata orang itu kepada salah seorang

temannya.

“Tidak usah pakai lampu, kau kan, sudah hafal?”

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Bawalah lampu. Daripada keliru lebih baik kita hati-hati.

Jangan takut karena Sang Hiang Tunggal merestui usaha kita.

Bukankah restu Sang Hiang Tunggal juga kalau penjaga pintu

kiri itu meninggalkan kewajibannya?”

“Tapi kita harus hati-hati. Kalau mereka kembali akan

melihat gerak-gerik kita di dalam,” bisik yang lain.

“Hai!”

“Apa?”

“Guci itu tidak ada.”

“Hah?!”

‘Jahanam! Penjaga-penjaga itu lebih pintar daripada kita.

Mereka meninggalkan tugas, tetapi guci itu mereka bawa,

jahanam!”

“Mari kita pergi ke pintu dan kita tunggu mereka. Kita

potong kepala mereka untuk kenang-kenangan,” kata salah

seorang di antara mereka.

Mendengar percakapan mereka itu, sadarlah Banyak Sumba

bahwa orang-orang itu datang dengan maksud yang sama

dengan dia, yaitu mencuri abu jenazah Kakanda jante. Tibatiba,

kemarahannya meluap, hingga napasnya hampir terhenti.

Ia mengeratkan sarungnya yang juga membungkus guci di

pinggangnya. Ia berkata kepada Jasik dengan nyaring, “Sik,

orang-orang ini harus diajar tahu diri!” katanya. Ketiga

pendatang itu tampak terkejut mendengar suara yang datang

dari sudut lorong. Mereka hendak lari atau bersiap, tetapi

seperti seekor harimau lapar Banyak Sumba menghambur

menghantamkan tangan dan kakinya ke arah tubuh mereka.

Jasik pun memilih mangsanya dan menerkamnya tanpa

ampun. Teriakan-teriakan terdengar, bunyi guci-guci yang

berjatuhan dan pecah pun menambah ingar-bingar suara

perkelahian. Dari luar terdengar lenguh trompet tiram tanda

bahaya dan suara kaki-kaki terdengar menyerbu ke dalam kuil.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Ikuti saya!” seru Banyak Sumba kepada Jasik yang baru

saja memukul lawannya hingga pingsan. Banyak Sumba

berlari ke arah pintu kuil sebelah kiri, tempat tadi mereka

masuk. Sepanjang jalan, ia memukul lampu-lampu yang

terletak di tiap sudut lorong kuil itu. Akan tetapi, sebelum

mereka dapat mencapai pintu itu, mereka melihat penjagapenjaga

berlari dengan pedang terhunus ke arah mereka.

Banyak Sumba ber-balik, demikian juga Jasik. Mereka menuju

pintu kuil yang lain, tapi baru saja mereka melangkah, datang

kira-kira empat atau lima orang penjaga. Kedua orang

pengembara itu terpaksa berlari menuju pusat kuil.

“Padamkan lampu-lampu!” seru Banyak Sumba kepada

Jasik, sementara ia sendiri memukuli lampu-lampu yang ada

didekatnya. Maka, kuil pun jadi gelap gulita. Akan tetapi, tak

lama kemudian, mereka dapat melihat kembali, setelah

terbiasa dalam gelap itu.

“Bawa obor! Bawa obor!” terdengar penjaga-penjaga

berteriak dari tingkat dua kuil itu. Banyak Sumba kebingungan

sejenak, kemudian dilihatnya cahaya dari atas.

“Sik, kita hanya dapat meloloskan diri melalui lubang itu,”

katanya sambil tengadah.

“Tapi, lubang itu terlalu tinggi, Raden,” ujar Jasik. “Ambil

sarung bajingan-bajingan itu!” seru Banyak Sumba. Jasik

melepaskan sarung-sarung korbannya yang bergelimpangan di

lantai lorong. Sementara itu, para penjaga ribut di luar.

“Hai, para penjaga yang sial, siapa berani naik ke tingkat

dua akan menjadi korban pertama,” kata Banyak Sumba.

Suaranya bergema dalam kuil itu.

“Obor! Obor!” terdengar suara dari luar.

“Coba naik ke tingkat dua, siapa yang mau jadi korban

pertama?” seru Banyak Sumba. Kemudian berbisik, “Sik,

gunakan pisaumu, jadikan sarung-sarung itu kain panjang. “

Jasik melakukan perintah itu. Sementara itu, terdengar

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

langkah mendekat dari arah bawah. Banyak Sumba

mengendap, lalu memegang salah satu dari orang-orang yang

pingsan itu.

“Keluar atau kalian kami bunuh seperu tikus!” seru orang

dari luar. Banyak Sumba menyeret orang pingsan itu ke

tikungan lorong, ia berseru, “Coba naik kalau berani!”

Sambil berkata demikian, dilemparkannya orang pingsan itu

ke bawah, ke arah suara penjaga-penjaga.

“Si Iba, bawa keluar!” seru penjaga-penjaga itu, mungkin

mereka menyangka orang yang dilemparkan itu kawankawannya,

penjaga pintu kiri.

“Siapa yang mau jadi mayat pertama, naiklah!” seru

Banyak Sumba. Ia berlari ke arah Jasik, lalu berkata,

“Siap, Sik?”

“Sudah, Raden.”

“Sekarang, naiklah ke pundakku, lalu melompatlah kau ke

lubang itu!”

“Lebih baik Raden yang naik ke pundak saya, saya yang

ditarik.”

“Tidak, Sik, saya lebih besar. Kau dapat menyangkutkan tali

itu ke satu dinding kuil.”

“Baik, Raden, maaf,” katanya. Jasik naik ke pundak Banyak

Sumba yang berdiri tegak. Tapi, Jasik tidak bisa mencapai

lubang itu.

“Melompat!” seru Banyak Sumba. Jasik melompat dan

bergantung untuk beberapa lama. Banyak Sumba tidak segera

menolongjasik mendorong kakinya, ia berlari ke tikungan

lorong. Begitu ia tiba di sana, dilihatnya sesosok tubuh muncul

mengendap. Ia menghantamkan kakinya ke tubuh orang yang

menjerit dan bergelundung ke bawah, kc tingkat pertama kuil,

melalui tangga itu.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Siapa lagi?!” seru Banyak Sumba sambil berlari ke arah

Jasik. Akan tetapi, dengan tangannya yang kuat, Jasik sudah

dapat naik dan mulai mengulurkan tali yang terbuat dari kain

sarung yang disambung-sambungkan.

“Sangkutkan, Sik, kalau-kalau kau tidak kuat menarik

tubuhku.”

“Baik, Raden.”

Banyak Sumba menangkap ujung tali itu dan dengan

mudah memanjat. Ketika ia bergantung, dilihatnya sesosok

tubuh keluar dari tikungan dan menghambur kepadanya. Ia

berusaha menggunakan kakinya sambil bersiap

menghindarkan serangan yang berbahaya dari pedang yang

ada di tangan penyerang. Akan tetapi, orang itu tersandung

pada tubuh yang bergelimpangan dalam gelap. Banyak Sumba

mempergunakan kesempatan itu sebaik-baiknya dengan

memanjat lebih cepat. Penyerang baru datang. Ia bersiap

menghindar, walaupun kedudukannya sangat tidak

menguntungkan. Penyerang itu menghantamkan pedangnya,

tepat ketika Jasik menarik Banyak Sumba. Hanya suara

pedang mengenai batu yang terdengar dalam gelap. Dan,

kedua pengembara itu sekarang sudah berada di atap kuil.

“Kita lari lewat pohon,” kata Banyak Sumba, “selamatkan

dirimu, kita bertemu di tempat menginap.”

Sambil berkata begitu, Banyak Sumba merangkak

mendekat ke cabang pohon yang menjulur.

“Cegat! Cegat! Mereka keluar kuil! Obor! Obor!”

“Mereka lewat atap!” terdengar suara lain berseru. Banyak

Sumba melompat ke pohon, untung-untungan dalam gelap

itu. Terdengar suara ranting-ranting patah dan risik daun.

Jasik didengarnya pula mengikuti langkahnya, sementara itu di

sekeliling kuil makin banyak obor menyala. Banyak Sumba

menuruni pohon, lalu melompat ke dalam gelap, menyelinap

lalu berjalan. Ia tertegun ketika melihat beberapa orang lari ke

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

arahnya, ia bersiap-siap, “Ada apa ribut-ribut di kuil?” tiba-tiba

salah seorang dari pendatang itu bertanya kepadanya.

‘Ada yang mencoba mencuri abu jenazah,” kata Banyak

Sumba, “tapi pencuri-pencurinya sudah terkepung di dalam,”

lanjutnya setelah ragu-ragu.

Tiga orang rakyat itu berlari ke kuil. Yang seorang lari, tapi

kemudian berhenti, “Kau siapa?” orang itu bertanya sambil

mencoba melihat wajah Banyak Sumba dalam remang-remang

yang diterangi cahaya obor dari jauh itu. Banyak Sumba

tertegun, tetapi tidak ada jalan lain baginya kecuali

menyelamatkan diri. Ditendangnya ulu hati orang itu hingga

terpental dan tidak berkutik lagi. Rupanya, perbuatannya itu

dilihat orang karena tak lama kemudian, terdengarlah

teriakan-teriakan dan orang-orang berlari ke arahnya. Banyak

Sumba segera berlari kembali, menjauh dari tempat itu seraya

memanfaatkan gelap malam.

Sepanjang gelap malam itu, Banyak Sumba mengembara

dalam kota. Dicarinya jalan-jalan yang menuju arah dinding

kota sambil berhati-hati dan menghindari para jagabaya yang

meronda. Kadang-kadang didengarnya derap kaki kuda dan

seruan-seruan perintah di jalan-jalan besar. Banyak Sumba

menyadari bahwa kejadian di kuil telah diketahui jagabaya dan

mereka meningkatkan kegiatannya cepat sekali. Ketika subuh

hampir tiba, Banyak Sumba memutuskan untuk meninggalkan

kota setelah gerbang dibuka. Sambil menunggu pagi, ia

berjalan ke arah pasar karena di sana ia dapat beristirahat

dengan aman, di antara para petani yang kemalaman. Setiba

di sana, dibaringkan tubuhnya di antara tumpukan sayuran

segar. Ia berbuat demikian agar tidak menimbulkan

kecurigaan.

Akan tetapi, ia tidak berani tidur, betapapun ia lelah dan

mengantuk. Ia berjaga-jaga menantikan fajar. Sementara itu,

ia berdoa, mudah-mudahan Jasik selamat. Seandainya Jasik

tertangkap dan dipaksa membuka rahasia, mungkin kesukaran

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

akan bertambah. Walaupun demikian, ia yakin, apa pun yang

terjadi, Jasik tidak akan membocorkan rahasia. Ia tahu

tentang kesetiaan panakawan-panakawan wangsa Banyak

Citra.

Ketika ia sedang berdoa, terdengarlah kokok-kokok ayam

jantan. Ia berpaling ke arah timur, langit sudah memerah. Tak

lama kemudian, terdengar satu-dua orang di antara petanipetani

yang kemalaman itu, bangun. Lalu, dari arah gerbang

kota, terdengar trompet tiram ditiup mendayu-dayu, pertanda

gerbang mulai dibuka.

Banyak Sumba bergegas bangun, lalu berangkat ke arah

gerbang kota yang cukup jauh dari pasar. Sementara itu, hari

makin terang dan Banyak Sumba melihat kesibukan kota mulai

ramai. Jagabaya-jagabaya berkuda berulang-ulang lewat di

jalan-jalan yang luas itu. Mereka mengawasi orang-orang

dengan teliti. Banyak Sumba terpaksa berulang-ulang masuk

lorong. Ia kecewa ketika di gerbang kota ia melihat orangorang

berkerumun dan jagabaya-jagabaya sibuk memeriksa

dan menggeledah mereka. Banyak Sumba segera menjauh

dari gerbang dan berjalan sambil berpikir.

Setelah beberapa lama berjalan, ia memasuki sebuah

warung dan meminta setempurung air. Kepada orang-orang

yang duduk-duduk dan sama-sama minum bersamanya, ia

bertanya, “Apakah yang terjadi hingga penjagaan dalam kota

ditingkatkan dan orang-orang yang keluar kota diperiksa?”

“Kuil penyimpanan abu jenazah diserobot orang dan

jenazah Puragabaya Jaluwuyung dicuri orang.”

“Tiga orang dari pencurinya tertangkap, tapi orang malah

jadi bingung,” kata laki-laki yang lain.

“Mengapa?” tanya Banyak Sumba.

“Mereka tertangkap dalam keadaan pingsan. Padahal,

menurut keterangan para penjaga, mereka tidak pernah

berkelahi dengan pencuri-pencuri itu. Justru mereka mengejar

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

dua orang yang melarikan diri lewat atap kuil. Mereka tidak

tahu hubungan antara pencuri yang tertangkap dengan yang

melarikan diri. Ketiga orang pencuri yang tertangkap bungkam

dan mengatakan tidak tahu-menahu tentang kawan-kawannya

yang lari. Rupanya memang ada dua kelompok pencuri, satu

kelompok tiga orang dan yang lain dua orang.”

“Mengapa Saudara berpendapat demikian?” tanya Banyak

Sumba sambil meraba guci jenazah yang tersembunyi di balik

sarungnya.

“Demikianlah pengakuan ketiga orang pencuri yang

tertangkap. Di samping itu, menurut kawan saya, seorang

jagabaya, ditemukan lima ekor kuda. Tiga ekor kuda jelas

milik pencuri yang tertangkap itu, sedangkan dua ekor kuda

yang dititipkan di tempat lain, belum ada yang mengambil.

Itulah sebabnya, para jagabaya beranggapan bahwa pencuri

yang dua orang lagi yang membawa lari guci tempat jenazah,

masih berada dalam kota.”

Mendengar itu, Banyak Sumba cemas. Ia masih berada

dalam bahaya. Ia termenung, memikirkan bagaimana ia akan

menyembunyikan benda yang tidak ternilai harganya itu. Ia

berpikir sekeras-kerasnya.

“Saya heran, mengapa orang-orang itu berusaha mencuri

abu jenazah puragabaya itu.”

“Mungkin gucinya yang mahal harganya. Menurut kabar,

Pangeran Anggadipati adalah sahabat puragabaya yang

meninggal itu dan pangeran yang budiman itu mencarikan

guci yang sangat indah untuk abu sahabatnya. Dan guci itu

didapatkan dan dikirimkan dari negeri Katai. Mungkin, guci

itulah yang diinginkan para pencuri, walaupun tidak besar.”

“Menurut pendapat saya, bukan itu alasannya,” kata yang

lain. “Orang tidak akan mempertaruhkan nyawanya untuk

sebuah benda berharga seperti guci itu. Ada alasan lain.

Menurut keterangan kenalan saya, itu karena dendam. Ada

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

orang-orang yang dendam terhadap puragabaya yang telah

meninggal itu dan bermaksud menghinakan abunya. Untuk

dendam atau perasaan tersinggung inilah, orang

mempertaruhkan nyawanya. Memang itu perbuatan gila, tapi

apa hendak dikata, orang bisa jadi buta tuli karena dendam.”

Setelah minum dan mencicipi makanan paginya, Banyak

Sumba membayar, lalu meninggalkan tempat itu. Ia masuk

keluar lorong sambil berpikir, akhirnya diputuskan untuk

membeli sekeranjang besar buah pepaya. Ia kembali lagi ke

pasar. Di sana, dibelinya sekeranjang pepaya, lalu ia

membawanya dengan mengusung di pundaknya. Untuk tidak

menarik kecurigaan, dilepasnya hiasan-hiasan yang

memperlihatkan kebangsawanannya. Ia mengusutkan

pakaian-pakaiannya, lalu berjalan meninggalkan pasar. Untuk

beberapa lama, ia mengusung keranjang pepaya itu seolaholah

ia tukang dagang keliling. Beberapa orang

memanggilnya, ia menjawab bahwa pepaya itu tidak dijual. Ia

berjalan mencari bagian kota yang sepi. Setelah lama berjalan,

akhirnya ditemukanlah tempat itu.

Ia duduk di sebuah lapangan kecil, di dekat rumpun bunga.

Ia melihat ke kanan dan ke kiri, lalu mengambil pepaya yang

besar. Dibelahnya pepaya itu, sebagian isinya dikeluarkan. Ia

mengeluarkan guci yang indah itu dari balik sarungnya, lalu

memasukkannya ke pepaya. Ia merapatkan kedua belahan

pepaya itu, mengambil tali dari keranjangnya, kemudian

diikatkannya pada pepaya itu agar tidak terbuka.

Dipandangnya beberapa lama pepaya tempat

menyembunyikan abu jenazah itu. Akhirnya, ia pun menarik

napas panjang.

Setelah itu, ia bangkit, berjalan kembali menuju pintu

gerbang kota. Akan tetapi, kemudian ia tertegun. Dilihatnya

tiga orang jagabaya berkuda menuntun dua ekor kuda tanpa

penunggang. Banyak Sumba segera mengenali kudanya dan

kuda Jasik. Ia segera menghindar, cemas kalau-kalau kuda itu

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

membauinya, lalu membuat ulah hingga ia ditemukan.

Pertemuan dengan kuda-kudanya menyebabkan ia menyadari

satu masalah lagi. Kalau ia sudah dapat lolos dari kota,

bagaimana ia akan mendapatkan kuda untuk menghindarkan

diri dari jagabaya yang banyak itu? Ia terus berjalan sambil

berpikir. Akhirnya, ia berkata dalam hatinya, asal ada seekor

kuda di dekatnya, ia akan mengambil risiko.

Sambil berjalan, ia mengusung keranjang pepaya di bahu

kirinya. Tangan kanannya memegang dua buah pepaya, yang

satu berisi guci kecil itu. Setiba di pintu gerbang yang luas, ia

berjalan dalam barisan orang-orang yang hendak

meninggalkan kota. Mereka para pedagang dan petani-petani

yang tinggal dalam kota. Ketika Banyak Sumba menyadari

tidak ada di antara mereka yang membawa buah-buahan ke

luar kota, sadarlah ia akan kecerobohannya. Bukankah

biasanya buah-buahan dibawa dari luar ke dalam kota?

Tidakkah usahanya membawa buah-buahan ke luar kota

justru akan menimbulkan kecurigaan? Ia bimbang, berulangulang

ia akan keluar dari barisan itu, tetapi orang-orang

mendesak dari belakang. Bagaimanapun, mereka tergesagesa.

Akhirnya, diputuskannya untuk mengambil risiko. Ia

menghitung jagabaya yang bertugas dan kuda-kuda yang

ditambatkan di dekat gerbang kota. Kalau keadaan gawat, ia

dapat menyerang jagabaya-jagabaya itu, lalu menghambur ke

arah kuda-kuda, memutuskan kendali dan sanggurdinya, lalu

melompat ke punggung salah satu kuda yang paling besar.

Segalanya telah disiapkan dalam hati. Ia yakin, betapapun

banyaknya pengejar, kalau tanpa sanggurdi dan harus

menyambung kendali dulu, akan terlambat. Akhirnya, tibalah

gilirannya untuk diperiksa. “Turunkan pepaya itu,” kata

seorang di antara jagabaya yang menjaga paling dekat.

Banyak Sumba tidak saja menurunkan keranjangnya, tetapi

segera mengeluarkan beberapa pepaya seolah-olah membantu

jagabaya-jagabaya itu. Jagabaya yang seorang memerhatikan,

yang lain mengeluarkan pepaya itu hingga keranjang kosong.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Kemudian, ia memberi isyarat agar Banyak Sumba

memasukkan kembali pepaya-pepayanya.

“Cepat, yang lain menunggu!”

Tiba-tiba, seorang jagabaya mendekat. Ia memandang

beberapa lama, lalu berkata, “Mau di bawa ke mana pepaya

muda ini?”

“Ya?” tanya Banyak Sumba pura-pura tidak mendengar

seraya mencari jawaban yang paling baik.

“Mau dibawa ke mana?”

“Untuk makanan kuda,” jawab Banyak Sumba sambil

berjalan ke luar gerbang. Sesampai di sebuah pasar di

perkampungan yang terletak tidak jauh dari gerbang, ia

mencari penjual kuda di tempat itu dan tak lama kemudian

menemukannya.

“Saya memerlukan kuda yang baik,” katanya kepada

penjual kuda.

“Ini atau itu?” tanya penjual kuda.

“Berapa yang hitam ini?”

“Dua keping emas.”

“Satu keping emas dan lima keping perak,” kata Banyak

Sumba. Ia bukan tidak berani membeli kuda dengan harga

yang diusulkan pedagang itu, tetapi ia tidak mau dicurigai

dalam keadaan tergesa.

“Saudara tahu harga kuda, bukan? Saya tidak menjual lebih

dari harga kuda yang baik,” kata pedagang itu sambil berjalan

ke arah kuda hitam.

“Kalau setuju, saya pasangkan pakaiannya.”

“Kalau begitu, baiklah,” kata Banyak Sumba sambil

merogoh saku bajunya.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Saya diminta melaporkan setiap orang yang membeli

kuda, jadi tunggu sebentar. Seorangjagabaya akan memeriksa

Saudara dulu. Saudara tahu, malam tadi terjadi lagi

penyerobotan terhadap kuil penyimpanan abu jenazah, dan

pencurinya berhasil membawa lari abu jenazah puragabaya

itu.”

Penjelasan itu sungguh mengejutkan Banyak Sumba. Tapi,

ia tidak kehilangan akal. Ia segera berkata, “Ambillah dulu

uang ini, saya sudah kepalang mengeluarkannya.”

“Nanti saja.”

“Ambillah!” kata Banyak Sumba sambil menyodorkan uang

emas itu. Penjual kuda itu menerimanya, lalu melangkah

dengan tenang ke arah gerbang kota. Banyak Sumba tidak

melihat jalan lain kecuali mengambil risiko. Kuda yang telah

dibelinya itu belum berpelana. Kebetulan, ia melihat banyak

pakaian kuda bergantungan di sana, lalu dipasangnya sendiri.

Setelah pepaya yang berisi guci dimasukkan ke balik

sarungnya, ia melompat ke atas punggung kuda yang baru

dibelinya, melecutnya, lalu memacunya. Untuk beberapa lama

tak ada yang terjadi, tetapi tak lama kemudian, terdengar

teriakan-teriakan. Ia tidak berpaling, tapi terus memecut

kudanya sambil berpikir keras, mencari jalan-jalan yang paling

baik untuk melarikan diri. Ia tidak mengambil jalan besar,

tetapi segera berbelok-belok, memasuki lorong-lorong kecil

yang simpang siur di sekeliling benteng ibu kota itu. Ketika ia

berbelok, sempat diliriknya arah gerbang kota. Tampak

beberapa penunggang kuda mengejarnya. Ia mempercepat

kudanya. Berulang-ulang ia berpapasan dengan pejalanpejalan

yang melompat ke pinggir. Beberapa kereta berhenti,

kusirnya memaki-maki. Beberapa orang wanita menjerit

ketakutan. Banyak Sumba berusaha secepat-cepatnya

menjauhi ibu kota.

Akhirnya, sampailah ia ke tempatnya menginap. Setelah

menyembunyikan kudanya, ia segera masuk. Sayup-sayup

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

terdengar teriakan para pengejar, tapi Banyak Sumba tidak

khawatir. Ia mengganti pakaiannya, lalu keluar ke tepi jalan.

Para pengejar lewat sambil melihat ke kanan dan ke kiri

seraya bertanya-tanya, mereka tidak mengenal Banyak Sumba

yang telah mengenakan- pakaian kebangsawanannya.

RASA lega hanya sebentar ada dalam hatinya. Ia segera

sadar bahwa nasib Jasik belum diketahuinya. Ia pun tahu,Jasik

masih berada dalam benteng dan siapa tahujasik tertangkap.

Ia tahu bahwa kalaupun Jasik tertangkap, rahasianya tidak

akan terbuka. Jasik tidak akan menyebut-nyebut keluarga

Banyak Citra. Akan tetapi, ia merasa tidak berhak merelakan

Jasik menjadi korban demi kepentingan keluarganya. Banyak

Sumba mulai gelisah, la bertanya dalam hati, apa yang akan

dilakukannya? Ia termenung sebentar, kemudian kembali ke

tempatnya menginap untuk mengambil beberapa barang

pentingnya. Setelah itu, ia kembali, menghentikan sebuah

kereta yang kebetulan lewat.

“Paman, dapatkah saya ikut ke kota?” Kusir kereta itu

memandangnya. Rupanya, kusir itu segera menyadari bahwa

yang meminta tolong seorang bangsawan. Dengan hormat, ia

menjawab, “Raden, sebenarnya saya tidak mendapat izin

membawa siapa pun. Akan tetapi, kalau Raden mau

mengucapkan terima kasih kepada Pangeran Ranggawesi,

beliau tidak akan keberatan dan tidak akan memarahi saya.”

Tanpa pikir panjang karena pikirannya terpusat pada nasib

Jasik, Banyak Sumba segera naik.

“Terima kasih, Paman. Kalau tidak perlu, saya tidak akan

minta tolong. Saya berjanji akan menemui Pangeran Ranggawesi

setelah ada kesempatan.”

“Tampaknya, Raden orang asing di ibu kota ini,” kata kusir

itu setelah beberapa lama mereka berjalan.

“Ya, Paman. Saya sedang melihat-lihat ibu kota yang

banyak diceritakan orang Saya datang dari Kota Medang.”

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Cerita itu akan bertambah sekarang, Raden.”

“Ya? Mengapa?” tanya Banyak Sumba.

“Tadi malam, satu peristiwa yang menggemparkan terjadi.

Mungkin Raden belum mengetahui bahwa dalam kuil abu

jenazah, di antara beratus-ratus guci abu jenazah pahlawan

terdapat abu jenazah seorang puragabaya. Puragabaya ini

bernama Jaluwuyung, sahabat Pangeran Anggadipati. Sudah

lama sekali abu jenazah ini diincar oleh para pencuri. Menurut

keterangan, mereka adalah pencuri-pencuri yang disuruh oleh

bangsawan-bangsawan yang dendam terhadap si mati.

Pangeran Anggadipati berusaha melindungi abu jenazah itu, di

antaranya dengan menambah penjaga-penjaga, yaitu

pengiring-pengiring yang didatangkan dari Puri Anggadipati, di

sebelah selatan timur Kutabarang. Berulang-ulang percobaan

pencurian digagalkan. Akan tetapi, tadi malam, menurut cerita

orang-orang, datang seorang yang ketangkasan dan

keperwiraannya begitu tinggi hingga para penjaga itu

kewalahan. Orang itu seolah-olah dapat terbang dan

menghilang. Sedangkan pukulan dan tendangannya,

bayangkan! Lima orang pingsan, dua penjaga dan tiga pencuri

lain.”

“Wah! Bagaimana pencuri itu memukul kawan-kawannya?”

tanya Banyak Sumba, pura-pura.

“Raden, Puragabaya Jaluwuyung ini banyak sekali

musuhnya. Itulah sebabnya, yang hendak menghinakan

abunya pun banyak. Rupanya, mereka berebut abu jenazah

itu.”

“Bagaimana dengan tiga orang pencuri yang lain?”

“Mereka tertangkap, mereka suruhan dari Kutawaringin.”

“Orang yang memukulnya, sudahkah diketahui orang, siapa

dan dari mana?”

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Itulah yang ramai dipercakapkan dan diperdebatkan

orang. Ada yang berpendapat bahwa orang itu suruhan

keluarga Jaluwuyung yang dikabarkan menghilang setelah

Jaluwuyung meninggal dunia. Yang lain berpendapat,

walaupun tidak terus terang, bahwa orang itu sebenarnya

Puragabaya Anggadipati sendiri yang dengan cerdik

mengambil abu jenazah untuk menyembunyikannya di tempat

yang tidak diketahui oleh lawan-lawan Jaluwuyung. Dengan

menyembunyikannya sendiri, Pangeran Anggadipati akan

merasa tenteram dan puas menghormati abu jenazah

sabahatnya itu. Barangkali Raden mendengar, betapa besar

cinta Pangeran Anggadipati kepada si mati. Saya pernah

melihat beliau berlinang air mata sehabis menabur bunga di

dalam kuil.”

“Oh, jadi Paman sudah pernah bertemu dengan pangeran

yang terkenal itu?”

“Wah, sering sekali, Raden!”

“Di mana Paman sering bertemu dengan pangeran itu?”

“Beliau sering datang ke rumah Pangeran Ranggawesi,

majikan Paman. Ayunda beliau, Putri Ringgit Sari menikah

dengan majikan Paman, Pangeran Ranggawesi.”

Banyak Sumba tertegun sejenak. Ia melirik, melihat-lihat

keadaan kereta itu. Ditatapnya tempat duduk beledu, alas kaki

berupa permadani kecil, tali kendali kulit lembut berhiaskan

bunga-bungaan dari perak, kuda berwarna gambir yang kuat

dan gagah. Dalam hatinya berkata, tentu Anggadipati, orang

yang telah begitu banyak menentukan perjalanan hidupnya,

sering duduk di tempat duduknya sekarang

“Saya akan mengucapkan terima kasih secara pribadi

kepada Pangeran Ranggawesi, Paman. Adakah Pangeran

Anggadipati sering berada dengan Pangeran Ranggawesi?”

tanyanya.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Sebelum Putra Mahkota meminta beliau tinggal dalam

istana, Pangeran Anggadipati tinggal bersama Pangeran

Ranggawesi, Raden.”

“Mungkinkah saya dapat bertemu dengan beliau kalau saya

ada kesempatan mengunjungi Pangeran Ranggawesi untuk

mengucapkan terima kasih?”

“Siapa tahu, Raden,” ujar kusir itu. Banyak Sumba

membayangkan pertemuan itu, tetapi ia ragu-ragu, ia tidak

tahu apa yang akan diperbuatnya kalau kesempatan itu

datang. Ia ragu-ragu, apakah benar Pangeran Anggadipati

berdosa, seperti yang diyakini oleh Ayahanda Banyak Citra?

Bukankah sekarang kisah terbunuhnya Kakanda Jante.

menjadi simpang siur, hingga ia tidak tahu lagi, siapa yang

bersalah dalam peristiwa tersebut? Di samping itu, kalau

Anggadipati membenci Kakandajante, untuk apa dia berbuat

begitu banyak untuk abu jenazah Kakandajante?

“Paman,” tiba-tiba Banyak Sumba berkata, “apakah

Pangeran Anggadipati sudah menikah?”

“Belum, Raden. Begitu banyak bangsawan tinggi yang

mengingininya sebagai menantu, begitu banyak putri yang

mabuk kepayang, tetapi setelah peristiwa yang menyedihkan

itu, hatinya seolah-olah menjadi dingin. Di samping itu,

menurut yang Paman dengar dari percakapan Pangeran

Ranggawesi dengan Putri Ringgit Sari, hati Pangeran

Anggadipati tidak dapat dilepaskan lagi dari ikatannya

terhadap Putri Yuta Inten, adik Jaluwuyung yang meninggal

itu. Raden mungkin pernah mendengar bahwa Jaluwuyung itu

calon iparnya. Akan tetapi, peristiwa yang menyedihkan itu

terjadi dan Putri Yuta Inten bersama seluruh keluarganya

menghilang. Walaupun kerajaan, atas titah sang Prabu,

berusaha mencarinya, tidak ada berita tentang bangsawanbangsawan

yang menghilang itu.

“Banyak orang yang menduga bahwa seluruh keluarga

bangsawan itu dibunuh oleh bekas lawan Jante Jaluwuyung.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Raden barangkali tahu, Jante Jaluwuyung pernah membunuh

Raden Bagus Wiratanu, keluarga bangsawan yang kuat dan

besar dari Kutawaringin. Orang menduga, keluarga

Tumenggung Wiratanu dari Kutawaringin ini telah berhasil

membunuh seluruh keluarga Jante Jaluwuyung sebagai balas

dendam.”

“Apakah kalangan istana percaya akan kemungkinan itu?”

tanya Banyak Sumba.

“Kebanyakan percaya dan keluarga Banyak Citra umumnya

dianggap sudah musnah dari muka bumi. Sayang, padahal

keluarga itu punya sejarah yang panjang sekali dalam

kehidupan Pajajaran. Banyak anggotanya yang termasyhur,

sebagai menteri atau sebagai panglima. Hanya, ada yang tidak

mau percaya akan kemusnahan keluarga itu, yaitu Pangeran

Anggadipati. Saya pernah mendengar Pangeran Anggadipati

berkata, walaupun tidak ada bukti-bukd, hatinya seolah-olah

berkata bahwa keluarga itu masih hidup.”

“Itukah sebabnya, mengapa beliau tidak mau menikah

dengan putri bangsawan Pakuan Pajajaran?”

“Bukan. Seandainya keluarga itu terbukti musnah,

Pangeran Anggadipati tidak akan menikah. Beliau sudah

berjanji tidak akan menikah kalau tidak dengan Putri Yuta

Inten. Soal itu berulang-ulang menjadi pembicaraan keluarga

beliau, termasuk majikan Paman, Pangeran Ranggawesi dan

Putri Ringgit Sari.”

Mendengar cerita itu, beratlah hati Banyak Sumba, la

menyadari kalau cerita kusir itu benar. Ia harus meneliti

kembali segala pendapatnya tentang Anggadipati. Ia benarbenar

gundah ….

“Raden! Raden!” terdengar suara Jasik.

“Paman, berhentilah sebentar, saya turun di sini. Itu kawan

yang saya cari,” kata Banyak Sumba sambil berpaling ke arah

suara.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Jasik berlari menyusul kereta itu. Kusir menghentikan

kereta. Banyak Sumba mengucapkan terima kasih, lalu

berkata, “Saya akan berusaha untuk mengucapkan terima

kasih secara pribadi kepada Pangeran Ranggawesi, Paman.”

“Terima kasih kembali, Raden,” ujar kusir itu. Ketika itu,

Banyak Sumba sudah memegang bahu Jasik dengan gembira.

“Betapa lega hati saya, Sik.”

“Saya pun lega, Raden. Tentu Raden cemas,” ujar Jasik.

“Saya benar-benar cemas, Sik,” kata Banyak Sumba, “ketika

kebetulan melihat kuda kita dituntun oleh jagabaya. Saya

menyangka kau telah tertangkap. Saya agak heran, mengapa

mereka tidak mengumpankan kuda itu dan menangkap kita

ketika kita hendak mengambilnya.”

“Mereka melakukan hal itu, Raden. Ketika saya sedang

menghadapi tukang tunggu penyimpan kuda, tiba-tiba saya

ditodong oleh beberapa mata tombak dari belakang dan dari

samping saya. Mula-mula saya benar-benar ketakutan, tetapi

kemudian terpikir oleh saya bahwa mereka tidak akan

membunuh saya. Pasti kerajaan memerlukan keteranganketerangan

saya tentang pencurian abu Raden Jante

Jaluwuyung. Maka, tenanglah saya. Ketika saya digiring ke

arah asrama jagabaya dan ketika kami melewati bagian kota

yang sangat ramai, saya nekat mengibaskan todongan tombak

di punggung saya dengan tiba-tiba. Saya serang kelima orang

jagabaya yang mengiring saya itu. Mereka terkejut dan tidak

dapat menyerang ketika saya melarikan diri ke tengah orang

banyak. Beberapa orang rakyat mencoba membantu jagabaya

dengan menghalangi saya. Akan tetapi, mereka harus

membayar untuk itu. Beberapa orang kena pukul dan kena

tendangan saya. Setelah memanjati beberapa benteng rendah

dan memasuki halaman orang, saya turun dijalan besar lain,

lalu berjalan tenang agar tidak menimbulkan kecurigaan.

“Sang Hiang Tunggal melindungi kita, Sik.”

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Ya, Raden. Di jalan besar, ketika berjalan, saya

mengucapkan syukur dan berdoa semoga tidak terjadi hal

yang tidak diharapkan terhadap Raden.”

“Kita harus bergerak cepat sekarang, Sik.”

“Kuda kita dirampas, Raden.”

“Oh, biarlah, Sik. Apalah artinya kuda itu dibandingkan

dengan abu jenazah yang telah kita dapat?”

“Oh, syukurlah, Raden,” ujar Jasik dengan mata bersinarsinar.

Banyak Sumba menepuk bahu Jasik kembali, lalu

mereka meninggalkan bayangan benteng ibu kota Pakuan

Pajajaran. Beberapa kali mereka melihat pasukan-pasukan

jagabaya berkuda. Kesibukan jagabaya ini tampak lebih

daripada biasanya. Banyak Sumba berpaling memandangjasik.

Mereka.saling mengerti.

Tiga hari setelah itu, pada suatu subuh, kedua orang

pengembara itu sudah mengendarai kuda mereka yang baru,

menuju timur. Di atas pelana, mereka membawa kantongkantong

dari kulit, berisi obat-obatan dan perbekalan

sekadarnya. Mereka akan melakukan perjalanan jauh, menuju

daerah Medang.

Perjalanan antara Pakuan Pajajaran dengan Kota Medang

akan memerlukan waktu satu minggu. Akan tetapi, perjalanan

itu akan diperlambat karena mereka berulang-ulang harus

menghindar dari jalan-jalan tertentu, tempat para jagabaya

dengan giat memeriksa perbekalan pengembara-pengembara

untuk menemukan abu jenazah yang hilang. Di samping itu,

kedua orang pengembara itu menyimpang ke arah tenggara

setelah mereka melalui Kutabarang. Mula-mula, mereka

mengunjungi Perguruan Gan Tunjung untuk menemui Arsim

yang tentu saja cemas setelah mereka pergi tanpa berita.

Setelah itu, mereka menyimpang kembali, menuju Padepokan

Sirnadirasa. Banyak Sumba menghadap Eyang Resi, mohon

restu untuk pulang ke tempat kelahirannya. Setelah itu,

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

berbincang-bincang dengan kawan seperguruannya, terutama

Raden Girilaya yang sangat gembira menyambut

kedatangannya. Pada liari ketiga, Banyak Sumba diiringi Jasik

memacu kuda mereka ke arah timur.

Pada hari keenam, mereka tiba di Kutawaringin. Karena

kuda-kuda mereka lelah dan perbekalan berkurang, Banyak

Sumba memutuskan untuk beristirahat sehari di kota yang

ramai itu.

Kita perlu mengganti kuda dengan yang masih segar Nk-

Kita dapat menjual yang sekarang. Di samping itu, kita «lapat

mencari keterangan tentang kota ini,” katanya

Jasik mengerti maksud Banyak Sumba yang terakhir, ia

tersenyum, lalu berkata, “Orang pernah mengambil kuda

Raden di sini, siapa tahu sudah tiba saatnya orang itu

mengembalikannya sekarang, Raden.”

“Akan tiba saatnya setiap orang harus menempatkan

segalanya di tempatnya semula, Sik,” kata Banyak Sumba,

juga tersenyum.

Sore harinya, mereka berjalan-jalan di kota. Mereka

mencoba mendengar keterangan-keterangan tentang berbagai

hal sekitar wangsa Wiratanu. Akan tetapi, tidak ada

keterangan berharga yang didapat. Justru cerita-cerita tentang

pencurian abu jenazah itulah yang banyak tersebar. Pencuri

sakti yang dapat menghilang, dapat terbang dan pukulannya

merobohkan lima orang sampai pingsan, menjadi buah

pembicaraan yang hangat di Kutawaringin.

“Saya baru percaya bahwa kata-kata itu bersayap, Sik,”

kata Banyak Sumba setelah mendengar cerita-cerita itu.

“Saya malah akan sukar memercayai kata-kata, setelah

mendengar dusta-dusta yang hebat itu.”

“Mereka tidak berdusta, Sik. Mereka menerima cerita-cerita

itu dalam bentuknya yang telah lusuh, lalu mereka terpaksa

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

mencelupnya lagi ke dalam khayal mereka supaya cerita

mereka itu bagus.”

“Ya, barangkali mereka mendengar cerita itu dari tukang

pantun, pangeran-pangeran dari kerajaan dusta yang indah.”

“Dan karenanya, kita jadi termasyhur bukan, Sik.”

“Ya, Raden, dikatakan mereka bahwa saya, panakawan

kesatria hitam yang dapat terbang itu, melayang mengikuti

Raden sambil menyepak-nyepak hingga para penjaga kuil

bergelimpangan jatuh di bawah tangga.”

Begitulah mereka bercakap-cakap di jalan-jalan

Kutawaringin hingga pada suatu saat, mereka tidak sengaja

mendengar berita bahwa beberapa anggota keluarga Wiratanu

baru saja dibunuh dalam suatu peristiwa perampokan.

“Dibunuh? Oleh siapa?”

Orang yang ditanya melihat ke kanan ke kiri, lalu berbisik,

“Oleh siapa lagi kalau bukan oleh si Colat?”

“Si Colat?!” tanya Banyak Sumba terkejut.

“Ssst,” kata orang itu. Ia tampak ketakutan dan ketika

Banyak Sumba hendak bertanya lagi, orang itu segera

menghindar.

“Sik,” kata Banyak Sumba, “rupanya benar, si Colat telah

mengganas di Kutawaringin ini. Saya dengar, anggotaanggota

keluarga Wiratanu yang dibunuhnya dan bukan

anggota-anggota keluarga bangsawan lain. Saya ingin sekali

mengetahui, mengapa si Colat berbuat demikian.”

“Raden, rupanya orang yang merebut kuda kita dulu itu

punya utang pula kepada si Colat,” ujar Jasik. Setelah

termenung, ia berkata, “Sayang.”

“Mengapa sayang Sik?” tanya Banyak Sumba agak heran.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Kalau utangnya begitu besar kepada si Colat, hingga orang

itu harus membayar dengan nyawanya, mungkin ia tidak akan

sempat membayar dulu kepada Raden.”

“Oh, Bungsu Wiratanu, Sik?”

“Ya, Raden, bangsawan berandalan itu.”

“Saya sebenarnya tidak hendak berurusan dengan dia, Sik.

Saya hanya hendak berurusan dengan orang yang membunuh

atau terlibat dalam pembunuhan Kakanda Jante. Ternyata,

kita terpaksa harus berhadapan dalam banyak hal dengan

keluarga Wiratanu ini. Mula-mula ia merebut kudaku,

kemudian keluarga ini mencoba pula hendak menghinakan

abu Kakanda jante. Saya didesak untuk berurusan dengan

mereka, Sik.”

“Tapi, tentu saja tidak sekarang, Raden.”

“Ya, Sik. Kita harus segera bertemu dengan keluarga.”

Mereka segera meninggalkan kota. Mereka pergi ke sebuah

kampung tempat mereka menitipkan kuda dan barang-barang

mereka. Dari orang tua di tempat mereka menginap, Banyak

Sumba mendapat keterangan lebih banyak tentang kisah

pembunuhan yang dilakukan terhadap anggota-anggota

Wangsa Wiratanu.

“Si Colat melakukan pembunuhan-pembunuhan itu secara

berencana. Ia tidak pernah membunuh beberapa orang

sekaligus. Ia membunuh pada tanggal-tanggal tertentu.

Biasanya, ia membunuh pada tanggal kelahirannya, ketika

bulan sabit, bulan ketujuh, kemudian pembunuhan terjadi

pada tanggal peristiwa pengeroyokan yang dilakukan

terhadapnya, yang menyebabkan si Colat luka. Kemudian,

pada tiap hari kelahiran Tumenggung Wiratanu.”

Banyak Sumba tertegun mendengar cerita itu. Ia mendekat

kepada orang tua itu, lalu bertanya, “Bagaimana Bapak dapat

mengetahui hal itu? Bukankah cerita-cerita tentang si Colat

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

sangat berbahaya dibicarakan di Kutawaringin ini?” Orang tua

itu tertawa, lalu berkata, “Berbahaya? Setiap orang sudah

tahu cerita itu.”

“Tapi, orang yang tadi menceritakan hal itu seperti takut.”

“Memang, Raden. Dalam kota, orang takut menceritakan

hal itu. Akan tetapi, di luar kota, orang bebas. Di dalam kota,

banyak jagabaya dan badega Tumenggung Wiratanu atau

bangsawan berandal kawan Bungsu Wiratanu. Di luar kota,

anak-anak buah si Colat-lah yang banyak dan orang berpihak

kepada si Colat,” kata orang tua itu.

“Saya tidak mengerti, Bapak?”

“Tentu saja, Raden orang asing, orang Medang,” kata

orang tua itu. Ia menarik napas, lalu berkata, “Begini, Raden.

Ketika Tumenggung Wiratanu masih muda dan sedang belajar

di Kutabarang, ia jatuh cinta kepada seorang putri bangsawan

rendah di sana. Ia menikahinya, kemudian menceraikannya

kembali setelah istrinya yang berada di Kutawaringin

mengetahui. Istri yang di Kutabarang melahirkan seorang

putra laki-laki, tampan, lemah lembut, dan budiman. Akan

tetapi, ketika putranya ini telah dewasa dan memperlihatkan

bakat-bakat kebangsawanan yang tinggi, terjadilah keributan.

Raden Bagus Wiratanu, putra sulung Tumenggung Wiratanu

yang telah meninggal, beranggapan bahwa putra ayahanda

dari selir ini ingin merebut kedudukannya sebagai calon

penguasa Kota Kutawaringin. Perdamaian diadakan. Putra dari

selir itu bersumpah tidak mengingini kedudukan itu. Namun, ia

sangat disukai bangsawan-bangsawan di sini, kabarnya

mungkin karena kebu-dimanan dan ketampanannya. Atau

mungkin juga karena Raden Bagus Wiratanu tidak disukai

sebab sifat berandalnya. Raden tidak sukar untuk

membayangkan keberandalannya, dengarlah kabar-kabar

perbuatan adiknya Bungsu Wiratanu. Begitu adiknya, lebihlebih

kakaknya. Nah, karena bangsawan-bangsawan

Kutawaringin sangat suka kepada putra dari selir ini, Bagus

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Wiratanu rupanya tetap takut. Pada suatu hari, didengar berita

bahwa putra dari selir itu meninggal karena dikeroyok

perampok di luar Kota Kutabarang. Setelah itu, lahirlah si

Colat. Ia adalah orang lain, masih lemah lembut, masih

tersenyum, tetapi bukan yang dulu. Kalau bertemu

dengannya, saya sering merasa sedih melihat bekas lukanya

yang memanjang dari ujung bibir ke telinga, bekas golok.

Saya masih melihat senyumnya yang manis, tetapi bulu roma

saya sering berdiri. Apakah karena melihat bekas lukanya

yang mengerikan itu atau karena hal lain, saya tidak tahu.”

“Paman! Oh, Bapak!” seru Banyak Sumba menyela. ‘Apakah

Bapak sering berjumpa dengan si Colat?”

“Raden, Kota Kutawaringin dan desa-desa di sekitarnya

berada di bawah kekuasaan Tumenggung Wiratanu di siang

hari, tetapi malam hari adalah kerajaan si Colat.”

“Mungkinkah suatu hari nanti saya dapat bertemu dengan

si Colat?”

“Kemungkinan itu tidak terbatas, Raden. Kerajaan si Colat

pun tidak terbatas. Kampung-kampung dan hutan-hutan yang

membentang antara Kutawaringin dan Kutabarang adalah

wilayah kekuasaannya. Siapa tahu, pada suatu hari, Raden

melihat dia menunggangi kuda-kuda hitam yang terkenal,

yang dinamai si Mega Wulung. Ah, begitu tampan, tetapi

begitu menakutkan; begitu lemah lembut, tetapi begitu buas

terhadap lawan-lawannya. Sampai kini, belum terdengar dia

mengganggu rakyat. Bahkan, saya mendengar anak buahnya

yang mengganggu rakyat dihukumnya dengan berat.”

Banyak Sumba termenung mendengar cerita itu. Sang

Hiang Tunggal menjalankan kehendak-Nya dengan penuh

rahasia untuk menghukum keluarga Wiratanu yang berdosa

itu. Ia tidak tahu, apakah ia harus berlega hati atau menyesal

mendengar cerita itu. Yang jelas dalam hatinya hanyalah,

Sang Hiang Tunggal akan menjalankan segala kehendak-Nya

yang hanya dimengerti oleh orang-orang bijaksana.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Raden, kita tidak akan mencari si Colat sekarang, bukan?”

tanya Jasik yang sudah rindu dengan keluarganya. Rupanya,

ia cemas kalau-kalau Banyak Sumba mengambil kepu-tusan

lain, yaitu mencari si Colat. Jasik mengetahui bahwa kemauan

Banyak Sumba sangat keras untuk menguasai ilmu

keperwiraan. Mungkin saja Banyak Sumba memutuskan untuk

mencari si Colat dulu sebelum pulang. Akan tetapi, ketika itu

Banyak Sumba mengerti akan isi hati Jasik dan isi hatinya

sendiri. Banyak Sumba pun telah rindu untuk bertemu dengan

keluarganya.

Keesokan paginya, pagi-pagi sekali, mereka berangkat

menuju timur, ke arah Kota Medang.

TAK BANYAK halangan di perjalanan, selain jagabayajagabaya.

terpaksa harus dihindari agar tidak memeriksa

barang-barang mereka. Ternyata, kisah pencurian abu jenazah

Kakanda Jante itu tidak saja tersebar dari mulut ke mulut,

tetapi juga memengaruhi kegiatan para jagabaya. Mereka

menahan dan memeriksa barang-barang orang-orang yang

dicurigai. Itulah sebabnya, mengapa cerita pencurian itu

begitu cepat tersebar dan berkesan dalam hati anak negeri.

Akan tetapi, hal itu tidak menguntungkan kedua pengembara.

Mereka terpaksa menghindari jalan besar dan melalui humahuma

atau hutan-hutan. Baru setelah empat belas hari

perjalanan, mereka tiba di pinggiran wilayah Kota Medang.

Kedua orang pengembara langsung menuju Padepokan

Panyingkiran. Dengan berdebar-debar, mereka berjalan antara

semak-semak karena kuda mereka telah mereka tinggalkan di

kampung yang jauh dari sana. Makin dekat, makin tergesagesa

mereka berjalan. Akan tetapi, mereka terpukau ketika

mengetahui bahwa kampung kecil yang tersembunyi di puncak

gunung itu sudah kosong.

Untuk beberapa lama, Jasik dan Banyak Sumba

berpandangan. Jasik menunduk. Banyak Sumba tahu, Jasik

menyembunyikan air mata yang tidak tertahan meluapi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

kelopak matanya. Banyak Sumba memegang bahu Jasik tanpa

berkata apa-apa. Dukacita hampir meremukkan dadanya.

Mereka bergerak, berjalan tidak tentu arah dalam kampung

yang lengang dan sunyi itu.

“Raden! Sik!” tiba-tiba dari dalam semak terdengar seruan.

Banyak Sumba melihat Iba berlari dan merangkulnya.

“Iba, di mana mereka?” tanya Banyak Sumba dan Jasik

bersama-sama.

“Raden, baik-baik? Mereka di sana.”

“Di sana, di mana?”

“Kita akan pergi ke sana,” kata Iba.

“Kita ke sana sekarang, Iba, mari!” kata Banyak Sumba.

Mereka segera memasuki hutan menuju selatan. Sepanjang

jalan, Iba bercerita bahwa semuanya sehat, tetapi karena

sering diketahui adanya pengintai-pengintai yang mendekati

Padepokan Panyingkiran, Ayahanda akhirnya memutuskan

untuk memindahkan persembunyian mereka ke hutan yang

lebih lebat.

Perjalanan untuk mencapai hutan itu, ternyata sukar dan

lama. Hutan makin lebat, harimau-harimau mengaum, badak

bergerobas di bagian hutan yang basah, monyet ingar-bingar

di atas dahan. Tapi, semuanya tidak mereka hiraukan. Hati

mereka sudah berada di tengah-tengah keluarga. Dan ketika

hari mulai sore, serta Banyak Sumba melihat pagar tinggi yang

terbuat dari batang-batang pohon sebesar paha, berlarilah

ketiga orang kawan seperjalanan itu. Sementara itu, Iba

berteriakteriak dengan gembira, memberitakan kedatangan

mereka. Ketika Banyak Sumba tiba, lapangan kecil di tengahtengah

kampung penuh oleh para gulang-gulang dan

keluarganya. Di tengah-tengah mereka, tampak Ayahanda,

Ibunda, Ayunda, dan adik-adik. Banyak Sumba bersujud di

hadapan orangtuanya, air matanya bagai hujan deras tak

tertahan. Kemudian, dirasanya Ibunda merangkulnya,

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

sementara Ayahanda berdiri, tapi tak sepatah kata pun

dikatakannya. Orangtua itu menekan hatinya, walaupun di

sekelilingnya para gulang-gulang dan emban-emban menangis

karena terharu dan gembira.

Malam harinya, dengan segala upacara, Banyak Sumba dan

Jasik menyerahkan guci tempat jenazah Kakanda Jante

disaksikan seluruh isi kampung pengungsian itu. Hujan air

mata berulang kembali ketika Ayahanda menyampaikan katakata

penerimaannya.

“Semoga Jante Jaluwuyung tidur nyenyak karena ia tahu

bahwa ia meninggalkan adik yang berbakti.”

Banyak Sumba melihat dalam cahaya obor, betapa orang

tua yang keras itu telah sangat tua oleh penderitaan. Dalam

tiga tahun itu, rambutnya menjadi putih, sementara matanya

cekung, walaupun cahayanya masih tetap menyala-nyala oleh

api dendam.

Melihat akibat penderitaan yang tampak pada Ayahanda,

Ibunda, dan Ayunda, meluap kembali kemarahan dan dendam

Banyak Sumba terhadap siapa saja yang terlibat dalam

peristiwa terbunuhnya Kakanda Jante. Mereka yang ambil

bagian dalam peristiwa itu dan secara langsung atau tidak

menyebabkan terbunuhnya Kakanda Jante, harus membuat

perhitungan dengannya. Akan tetapi, berbeda dengan dahulu,

kemarahan sekarang bercampur dengan kebimbangan. Ia

menyadari bahwa siapa yang terlibat dan bagaimana

pembunuhan itu terjadi, tidaklah sederhana seperti yang

digambarkan oleh Ayahanda tujuh tahun yang lalu, sebelum

mereka meninggalkan Kota Medang.

Renungannya tidak mengganggunya ketika itu. Tidak saja

pertemuan dengan mereka kembali menyebabkan

kebahagiaan dalam dirinya, tetapi selesainya tugas pertama,

yaitu mendapatkan abu jenazah Kakandajante, menyebabkan

rasa berharga dalam dirinya.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Walaupun tidak banyak berkata, Banyak Sumba

mengetahui bahwa Ayahanda bangga akan perbuatannya.

Demikian juga para gulang-gulang, badega, dan para emban

yang ikut mengungsi. Mereka -bangga dan kagum terhadap

segala sesuatu yang telah dilakukan Banyak Sumba. Jasik pun

tak kurang pula mendapat pujian mereka. Jasik terus-menerus

dikelilingi mereka, diminta menceritakan tentang segala hal

yang mereka lihat selama mengembara, terutama tentang

perkelahian ketika merebut guci abu jenazah itu. Kepada

Banyak Sumba tak ada yang mau bertanya tentang hal itu,

kecuali adik laki-lakinya yang bernama Tohaan Angke. Sudah

berumur tiga belas tahun.

“Kakanda, berapa orang yang menjaga kuil tempat abu

jenazah itu?” tanya Angke ketika mereka berjalan-jalan di

hutan.

“Aku tidak menghitungnya, Angke.”

“Kata mereka, paling sedikit dua puluh orang” ujar Angke.

“Kata siapa?”

“Kata Iba dan gulang-gulang lain. Mereka sering

menanyakan tentang perkelahian itu kepada Jasik.”

“Mungkin, Angke, tidak sempat kuhitung mereka. Hanya

dua orang kupukul, yang lainnya, tiga orang, suruhan dari

Kutawaringin.”

“Bagaimana Kakanda memukul mereka?” tanya Angke.

“Engkau tidak akan mengerti kalau kujelaskan, Angke,” ujar

Banyak Sumba.

“Kata mereka, Kakanda memiliki ilmu pukulan yang luar

biasa hingga seluruh Pajajaran mengetahuinya.”

“Kata siapa, Angke?” tanya Banyak Sumba, tetapi kemudian

ia menjawab pertanyaan itu dalam hatinya. Tentu gulangTiraikasih

Website http://kangzusi.com/

gulang menceritakannya. Ia mengulangi perkataannya,

“Engkau tidak akan mengerti, Angke.”

“Tapi Kakanda, Ayahanda mengatakan, sebentar lagi saya

belajar kepada Kakanda,” katanya.

“Ayahanda sudah mengatakan demikian?”

“Ya,” jawab Angke.

“Lebih baik, kau belajar tentang kenegaraan. Menjadi

perwira cukuplah aku seorang” kata Banyak Sumba seraya

termenung Kemudian, ia berpaling kepada Angke, betapa

mirip adiknya dengan dirinya. Haruskah adiknya mengemban

tugas seperti dia? Kesedihan menyelinap ke hatinya.

“Seharusnya, engkau mempelajari ilmu kenegaraan,” kata

Banyak Sumba sekali lagi, seolah-olah berkata kepada dirinya

sendiri.

‘Akan tetapi, Ayahanda mengatakan, seluruh keluarga

Wiratanu dan seluruh keluarga Anggadipati harus

menanggung akibat dari kematian Kakanda Jante. Saya dan

Galih Wungu harus membantu Kakanda kalau sudah cukup

besar.”

“Tidak, Angke,” ujar Banyak Sumba, “kalian tidak perlu

mengikuti jejakku. Masalahnya akan kuselesaikan sendiri dan

jangan takut, masalahnya akan dapat kuselesaikan sendiri

tanpa bantuan kalian.” Sambil berkata demikian, Banyak

Sumba memandang adiknya. Hatinya menjadi sayu.

Dengan Ibunda, Banyak Sumba tidak pernah banyak

bercakap-cakap. Wanita yang rambutnya mulai ditaburi uban

karena derita itu memandang diam-diam dengan kasih

sayang.

“Hamba akan menjaga diri hamba,” demikian kata Banyak

Sumba kepada Ibunda, tanpa ditegur terlebih dahulu oleh

wanita itu.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Doaku bersamamu selalu, Sumba,” ujar Ibunda.

Sementara itu, Banyak Sumba jarang berkesempatan

bercakap-cakap dengan Ayunda Yuta Inten. Kakak

perempuannya itu menyibukkan diri dalam pekerjaan

kewanitaan, meramu bumbu masakan di dapur dengan emban

pada pagi hari, siang harinya menyulam. Sementara sore dan

malam hari, gadis itu terus-menerus berdoa. Kadang-kadang,

sampai larul malam lampu minyak di ruangannya masih

berkelip-kelip.

Pada suatu kesempatan bertemu, tiba-tiba saja Ayunda

Yuta Inten berkata, “Sumba, Pangeran Anggadipati tidak

berdosa.”

Banyak Sumba tidak berkata apa-apa. Ia termenung,

bimbang.

“Kalau kau bertemu dengan Pangeran Anggadipati, berilah

kesempatan kepadanya untuk menjelaskan persoalannya, kau

akan percaya atau tidak, terserah hati nuranimu.”

‘Ayunda,” ujar Banyak Sumba, “saya pun mendengar ceritacerita

dan melihat kenyataan-kenyataan yang menyebabkan

saya bimbang.”

“Kulihat amarah dan kebencian selalu menyala-nyala dari

matamu kepada orang yang tidak berdosa itu. Janganlah kau

membujuk hati kakakmu untuk melakukan pembalasan

dendam yang tanpa alasan itu.”

Banyak Sumba sungguh-sungguh terpukau oleh perkataanperkataan

Ayunda Yuta Inten. Belum pernah Ayunda yang

lemah lembut berkata setegas dan sepahit itu. Banyak Sumba

merasa terdorong untuk menjelaskan sikapnya. Ia memang

memendam amarah dan dendam, tetapi amarah dan dendam

itu wajar baginya karena ia adik dari seorang yang dibunuh.

Akan tetapi, arah amarah dan dendam itu sekarang menjadi

kabur. Pangeran Anggadipati tidak lagi menjadi pusat segala

usahanya. Ia berulang-ulang bimbang. Ia ingin menyatakan

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

hal itu kepada Ayunda Yuta Inten, tetapi tidak dapat memulai

kalimatnya.

“Ayunda, hamba pun bimbang. Hamba hanya berduka-cita

dan marah pada nasib kita yang buruk, tidak kepada siapa

pun, apalagi pada Pangeran Anggadipad. Hamba sendiri jadi

kebingungan sekarang, siapa sebenarnya yang harus

menerima hukuman karena kematian Kakanda Jante. Akan

tetapimudah-mudahan Sang Hiang Tunggal memberikan jalan

yang sebaik-baiknya untuk menjawab persoalan hamba,

persoalan kita bersama. Percayalah bahwa hamba… tidak

akan berbuat seperti orang yang tidak beradab.”

Banyak Sumba tidak tahu, bagaimana ia harus

mengungkapkan isi hatinya kepada gadis yang berdukacita itu.

Mereka diam sejenak, Banyak Sumba merasakan betapa berat

keheningan di antara mereka itu. Ia harus mengatakan

sesuatu untuk meringankan suasana yang menekan itu. Ia

berkata, “Guci indah tempat abu jenazah Kakanda Jante itu,

disediakan oleh Pangeran Anggadipati. Sengaja

didatangkannya dari negeri Katai. Setiap senja, kalau tidak

Pangeran Anggadipati sendiri, selalu ada suruhannya yang

datang untuk menebarkan bunga di atas dan di sekitar guci

itu. Sering Pangeran Anggadipati datang ke kuil untuk berdoa

bagi ruh Kakanda Jante. Cerita orang kebanyakan

menyatakan, Pangeran Anggadipati tidaklah berdosa dan

Kakanda jante dicintainya. Hamba pun jadi bimbang.”

Ayunda Yuta Inten tidak berkata apa-apa. Gadis itu

menunduk dan dari guncangan badannya, Banyak Sumba tahu

Ayunda Yuta Inten menangis. Tiba-tiba saja, Banyak Sumba

ingat kepada gadis yang dicintainya, nun jauh di ufuk barat, di

Pakuan Pajajaran. Ia mengerti dan dapat merasakan apa yang

dirasakan oleh Ayunda Yuta Inten karena ia pun telah

merasakan sendiri pengalaman yang dijalinnya dengan Nyai

Emas Purbamanik. Kesedihan yang dalam mengembang dalam

hatinya.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Banyak Sumba menyadari bahwa perubahan yang sangat

besar terjadi dalam dirinya. Ia menyadari sekarang, berbagai

masalah yang dihadapinya tidak semudah yang

dibayangkannya semula, atau seperti digambarkan oleh

Ayahanda. Ia seorang perenung dan pembimbang sekarang.

Ia berubah.

Akan tetapi, Ayahanda tetap tidak berubah. Matanya

menyala-nyala seperti dulu, sedangkan pandanganpandangannya

tentang berbagai soal tiada satu pun yang

berubah. Banyak Sumba berkata pada suatu kali kepada

Ayahanda, “Guci itu Pangeran Anggadipati yang menyediakan,

guci terindah yang hamba temukan di tempat abu jenazah

para perwira. Pangeran Anggadipati membungainya setiap

hari dan sering datang untuk berdoa atau menangisinya.”

Tidak disangka-sangka, Ayahanda tertawa, “Tidak

kepalang, penjahat itu selain berhati busuk pandai juga main

sandiwara. Sumba, kewajibanmulah, walaupun misalnya tidak

ada urusan dengan dia, untuk membersihkan orang-orang

munafik seperti itu dari bumi Pajajaran.”

“Akan tetapi, Ayahanda, masih ada Sumba, janganlah kau

mudah ditipu. Mereka tahu, wangsa Banyak Citra bukanlah

wangsa yang enteng, yang mudah saja diperlakukan tidak

adil. Mereka tahu, siapa wangsa Banyak Citra itu, siapa aku,

dan siapa engkau. Mereka tahu bahwa keperwiraanmu sukar

tandingnya. Mereka tahu, kalau seorang anggota wangsa

Banyak Citra mau, ia dapat menjadi negarawan yang tidak

terkalahkan atau perwira yang tidak akan dapat disentuh.

Mereka sudah tahu, kau telah menjadi perwira yang tangguh.

Mereka takut. Lalu, mereka mengadakan usaha-usaha lain

yang tidak bersifat melawan dengan kekerasan. Sumba,

tahukah engkau, Pamanmu Galih Wangi sekarang diserahi

kekuasaan untuk mengurus Kota Medang?”

“Ayahanda …,” kata Banyak Sumba keheranan. Ia tidak

tahu apa yang harus dikatakannya tentang peristiwa itu.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Seorang wangsa Banyak Citra lain, adik kandung Ayahanda

ditempatkan sebagai pengganti Ayahanda.

“Galih Wangi didudukkan di sana dengan pangkat sebagai

wakilku, demikian keterangan orang-orang kita di sana. Tapi,

hati-hati, Sumba. Mereka mau menjinakkan kita. Mereka,

orang-orang di Pakuan Pajajaran tahu bahwa kita tidak akan

berlembut hati sebelum kita mendapatkan kepala Anggadipati.

Kalau mereka tidak memberikan kepala Anggadipati di atas

baki kepada kita, kita keluarga Banyak Citra akan

mendapatkannya sendiri. Dan, itu tidak sukar bagi keluarga

kita. Sumba, ajarilah adikmu Angke ilmu keperwiraan. Paman

Wasis telah melatihnya dan sebelum kau berangkat,

berikanlah asas-asas ilmumu kepadanya.”

Banyak Sumba tidak dapat berkata apa-apa mendengar

perkataan Ayahanda itu. Ia bingung, ia bersedih hati. Ia tidak

tahu apa yang harus dikatakannya, ia tidak tahu apa yang

harus diperbuatnya. Akhirnya ia berdoa dalam hatinya

memohon kepada Sang Hiang Tunggal untuk melaksanakan

kehendak Nya. Apa pun kehendak-Nya itu, ia akan

menenmanya.

Bab 3

Diikuti Tak Dikenal

Waktu tidak boleh terbuang percuma, hukum Sang Hiang

Tunggal harus segera dilaksanakan, demikian ujar Ayahanda.

Dan pada permulaan bulan kedua sejak berada di tempat

pengungsian, persiapan kebe-rangkatan dilakukan Banyak

Sumba dan Jasik. Pada hari baik, diantar oleh derai air mata

dan doa, kedua anak muda itu berangkat.

Tiga hari mereka di perjalanan. Pada hari keempat,

tampaklah menara-menara jaga benteng Kutawaringin.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Sik, kita singgah di Kutawaringin untuk berlatih,” kata

Banyak Sumba melirik kepada Jasik.

“Kalau ada kesempatan, kita tagih orang yang membeli

kuda Raden dulu itu,” jawab Jasik sambil tersenyum. Mereka

membelokkan kuda, lalu melecutnya. “Ha! Ha!”

“Bapak, kami kembali,” kata Banyak Sumba kepada orang

tua yang menerima mereka menginap pada kunjungan

terdahulu. Orang tua itu mengenali mereka, lalu menyilakan

mereka duduk.

“Bagaimana Kutawaringin, Bapak?” tanya Banyak Sumba.

“Buruk, Raden,” sahut orang tua itu.

“Buruk?’ kata Banyak Sumba dengan penasaran.

“Beberapa orang bangsawan ditangkap oleh penguasa

kota, mereka mencoba menjatuhkan penguasa kota. Kota

terpecah-pecah, rakyat tidak tenteram. Sewaktu-waktu dapat

saja terjadi perkelahian.”

“Mengapa sampai terjadi begitu, Bapak?”

“Raden, banyak bangsawan tidak puas terhadap

kepemimpinan Tumenggung Wiratanu. Sekarang, wangsa

Wiratanu sedang mendapat kesukaran karena si Colat sedang

membalas dendam dengan teratur. Tiap ulang tahun

Tumenggung Wiratanu, diletakkan kepala seorang bangsawan

di halaman atau di tengah-tengah pendapa. Wangsa Wiratanu

berada dalam kesukaran dan bangsawan-bangsawan yang

tidak puas mulai bergerak. Wangsa Wiratanu yang terpojok

menghadapinya dengan tangan besi. Penangkapan,

pembuangan. Rakyat takut memasuki kota untuk berdagang,

pasar sepi, banyak saudagar yang mengalihkan usahanya ke

Kutabarang.”

“Rupanya, keluarga ini banyak utangnya,” katajasik,

menyela dengan tidak sengaja.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Di pihak lain, rakyat pun merasa lega dengan keadaan

sekarang, asal saja tidak berlarut-larut. Telah lama mereka

diperlakukan sewenang-wenang. Bungsu Wiratanu seenaknya

saja mengambil gadis-gadis petani, bahkan gadis bangsawan

diculiknya di siang bolong. Kawan-kawannya berandal belaka.”

“Bagaimana terhadap kuda orang lain, Bapak?” tanya Jasik

yang menjadi gembira mendengar keluarga Wiratanu dalam

kesukaran.

“Mengenai kuda jangan dikata, bahkan kereta orang boleh

saja dimintanya. Dan orang tidak berani menolak. Daripada

kehilangan kemerdekaan atau nyawa, lebih baik kehilangan

harta. Sering terjadi, orang-orang yang berani menentang,

menghilang begitu saja.”

Sore itu, ketika beristirahat di tempat mereka menginap,

Banyak Sumba berkata, “Sik, kiranya tidak ada saat yang lebih

baik bagi kita untuk menyelesaikan perhitungan dengan

keluarga Wiratanu. Sekurang-kurangnya, kita memberikan

pelajaran kepada pencuri kuda itu.”

Mendengar usul yang sungguh-sungguh itu, Jasik

termenung. Setelah beberapa lama tidak ada jawaban, Banyak

Sumba berkata kembali, “Seandainya kita dapat membunuh

orang jahat itu, dua hal yang telah kita lakukan, Sik. Pertama,

kita membalaskan dendam Kakanda Jante. Kedua, kita

melaksanakan tugas Sang Hiang Tunggal, yaitu menumpas

kejahatan. Bukankah Sang Hiang Tunggal bersabda bahwa

dengan menumpas kejahatan, kita melindungi rakyat banyak?

Tidak ada saat yang paling baik daripada sekarang.”

Untuk beberapa lama, Jasik tetap berdiam diri, lain

daripada biasanya. Akan tetapi, akhirnya ia berkata, “Saya

beranggapan bahwa akhirnya Bungsu Wiratanu akan menjadi

mangsa si Colat juga, Raden. Oleh karena itu, kita ddak usah

bersusah-susah menghadapi bahaya,” katanya.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Banyak Sumba termenung sebentar. Ia bertanya dalam

hati, apa yang akan dikatakan Ayahanda kalau ia tidak sempat

membalas dendam terhadap keluarga Wiratanu. Kalau

keluarga Wiratanu ditumpas oleh si Colat terlebih dahulu,

tidakkah Ayahanda akan murka terhadapnya dan

menganggapnya lalai? Banyak Sumba termenung. Akhirnya, ia

beranggapan bahwa bertindak lebih baik daripada tidak. Lebih

baik ia mencoba, lepas dari berhasil atau tidak usahanya itu.

Bagaimanapun, Ayahanda akan senang kalau ia berbakti, yaitu

mencoba dan berusaha sekuat tenaga membunuh para

anggota keluarga Wiratanu.

“Begini, Sik. Bukankah kita akan berlaku curang kalau kita

mempergunakan tangan orang lain dalam membalas dendam?

Si Colat punya perhitungan sendiri, seperti juga kita. Oleh

karena itu, usaha si Colat tidak usah dihubung-hubungkan

dengan usaha kita. Kakandajante tidak akan senang kalau

adiknya menyerahkan lawan kepada orang lain,” katanya.

Dalam hatinya, Banyak Sumba pun berkata bahwa Ayahanda

tidak akan senang kalau ia tidak membalas dendam dengan

tangannya sendiri.

‘Akan tetapi, Raden, bagaimana kalau kita mencapai tujuan

yang terpenting dahulu, yaitu Pangeran Anggadipati?” tanya

Jasik.

“Lebih baik Bungsu Wiratanu dulu, Sik. Bukankah orang ini

dapat dianggap latihan bagi kita?”

“Kalau begitu kehendak Raden, saya setuju. Tadinya saya

ingin menyatakan, lebih baik kita menghindar dari bahaya,

seandainya bahaya yang kita hadapi hanya akan sedikit

hasilnya. Lebih baik menghadapi bahaya yang lebih besar

dengan hasil yang lebih besar. Soal Bungsu Wiratanu ini soal

nomor dua.”

“Kali ini, kesempatan sangat baik, Sik. Di samping itu, saya

takut si Colat mendahului kita.”

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Jasik tidak berkata apa-apa lagi, walaupun tampak ia belum

yakin benar.

Sore itu, ketika malam hampir turun, kedua orang

pengembara keluar dengan pakaian serbahitam. Mereka

bergegas menuju gerbang kota yang dalam waktu tidak lama

lagi akan ditutup karena malam tiba dan keadaan sangat tidak

aman. Ketika mereka tiba di gerbang, para jagabaya tampak

mengawasinya dengan tajam, tetapi tidak ada yang

menghalangi mereka masuk karena Banyak Sumba dan Jasik

tidak bersenjata sama sekali.

“Sungguh keliru, Sik, kalau mereka beranggapan bahwa

orang yang tidak bersenjata adalah orang yang tidak

berbahaya.”

“Ya,” ujar Jasik.

“Saya yakin, si Colat membunuh tanpa mempergunakan

senjata sama sekali. Ia seekor harimau yang dengan

tangannya yang telanjang dapat mematahkan leher lawannya

dalam satu kali gerakan.”

“Ya,” ujar Jasik, ketegangan mulai terdengar dalam

suaranya.

Ketika mereka sedang berjalan, tiba-tiba terdengar dari

belakang mereka suara gerbang yang ditutup. Gemanya

menggetarkan udara dan juga hati Banyak Sumba. Tiba-tiba

saja Banyak Sumba menyadari bahwa mereka sekarang

terkurung di sarang lawan. Banyak Sumba melihat ke kanan

dan ke kiri dan baru disadarinya, bagaimana jagabaya yang

bersenjata lengkap banyak sekali berkeliaran dan waspada.

Kadang-kadang, lewat jagabaya berkuda, yaitu para petugas

dari Pakuan Pajajaran yang dikerahkan oleh sang Prabu untuk

melindungi penguasa-penguasa bawahannya. Banyak Sumba

tidak gentar menghadapi para jagabaya itu. Dalam hati ia

berkata, “Tak ada pekerjaan bagi Saudara-saudara karena

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

saya tidak akan melibatkan Saudara-saudara pada urusan

pribadi saya ini.”

Sambil berbicara demikian, ia mengatur siasat. Ia harus

memanjati beberapa benteng. Itu dapat dilakukannya dengan

mempergunakan tambang. Mula-mula ia akan menaiki pundak

Jasik, lalu melompati benteng, dari seberang ia akan

melemparkan tambang dan menarik Jasik ke dalam dengan

bantuan pohon-pohon yang biasa ada di dalam taman-taman

di bagian benteng sebelah dalam. Ia telah menyediakan

tambang besar yang dipergunakannya sebagai ikat pinggang.

Seandainya ada jagabaya yang memeriksanya tadi di gerbang

kota, jagabaya itu tidak akan mencurigainya karena tidak

banyak orang yang akan menyangka bahwa ada cara yang

baik untuk melewati benteng, seperti yang akan dilakukannya.

“Raden, inilah rupanya istana,” ujar Jasik tiba-tiba. Dalam

keremangan senja, tampak oleh Banyak Sumba atap

bangunan besar yang menjulang tinggi. Di sekeliling bangunan

besar itu, tampak pula cahaya obor yang banyak dipasang di

sana. Barulah Banyak Sumba menyadari bahwa memasuki

bangunan besar itu bukan suatu hal yang mudah karena para

penjaga dan badega-badega wangsa Wiratanu akan lebih

waspada. Mereka tidak akan mau menjadi mangsa si Colat di

dalam kandangnya sendiri. Itu tidak saja akan menyedihkan,

tetapi akan sangat merendahkan nama baik wangsa Wiratanu.

Banyak Sumba baru menyadari bahwa pendapat-pendapat

Jasik banyak benarnya. Akan tetapi, ia tidak boleh mundur,

bukankah ia anggota wangsa Banyak Citra yang tidak pernah

menyerah dan kata orang tidak kenal takut? Bukankah ia

anggota suatu wangsa bangsawan yang terkenal dan

disegani? Bahaya yang lebih besar berarti tantangan yang

lebih besar. Wangsa Banyak Citra senang kalau mendapat

tantangan. Demikianlah Banyak Sumba berkata-kata dalam

hatinya ketika mereka membelok dan menuju kelompok

warung-warung di dalam kota yang masih terang dan banyak

dikunjungi laki-laki.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Di depan sebuah kedai tuak, kedua orang pengembara ikut

berhenti dan Banyak Sumba berkata, “Kita mencari-cari

keterangan dulu, Sik.”Jasik tidak menjawab. Mereka

melangkah dan memasuki ruangan yang cukup terang di

bawah beberapa buah lampu minyak. Mereka langsung duduk

di atas bangku yang ditilami dengan tikar-tikar. Dan begitu

mereka duduk, seorang gadis yang berpupur tebal segera

menyodorkan kendi tuak dengan dua buah cangkir tembikar

kasar.

“Selamat datang dan selamat malam, Tuan-tuan,” kata

gadis itu sambil tersenyum. Banyak Sumba duduk, lalu

menuangkan tuak ke dalam cangkirnya. Ia mencicipinya, tapi

tidak meminumnya. Ia tidak ingin menarik kecurigaan orang

yang banyak berkumpul di sana. Ia berlaku seolah-olah ia

bermaksud minum-minum seperti yang lain. Akan tetapi,

tampaknya orang-orang yang ada di sana tak urung tertarik

olehnya. Mereka rupanya menyadari bahwa Banyak Sumba

dan Jasik adalah orang asing. Orang-orang melihat ke arahnya

dengan penuh selidik. Banyak Sumba dan Jasik segera

meminum tuak mereka dan memakan penganan yang

disajikan oleh gadis yang berpupur tebal itu.

Mereka makan penganan diam-diam dan kalau berbicara,

terpaksa mereka berbisik.

“Sik, salah benar kita masuk ke sini. Orang-orang

tampaknya curiga,” ujar Banyak Sumba.

“Tapi, mereka tidak akan berbuat sesuatu terhadap kita

dan dalam gelap seperti ini, mudah sekali kita meloloskan

diri,” ujar Jasik.

“Kita harus segera meninggalkan tempat ini, Sik.”

“Baik, Raden,” katajasik sambil menyeka bibirnya dengan

selampai yang dibawanya. Akan tetapi, sebelum mereka

bangkit, dua orang laki-laki yang semula duduk di sudut,

bangkit dan berjalan ke arah mereka duduk. Kedua orang lakiTiraikasih

Website http://kangzusi.com/

laki itu memberi salam, lalu duduk di hadapan Banyak Sumba

dan Jasik.

“Saudara, orang asing?”

Sebelum menjawab, Banyak Sumba menarik napas dulu.

Akan tetapi, tak ada jawaban lain yang dapat diberikan

kepada orang itu, kecuali “Ya”. Banyak Sumba berkata, “Ya”

sementara dalam hatinya ia berkata, ia dapat memukul kedua

orang itu sampai pingsan sekaligus. Kalau mau, ia dapat

mematahkan lehernya satu per satu.

“Ada keperluan dagang?” tanya orang yang lebih tua di

antara kedua orang itu.

“Ya,” Banyak Sumba menjawab, senang, karena ia diberi

peluang untuk mendapatkan dusta yang baik. Ia tidak dapat

berdusta lebih baik selain mengaku sebagai pedagang.

“Saudara penjual barang-barang perhiasan?”

“Mengapa Saudara bertanya demikian?” tanya Banyak

Sumba sambil tersenyum untuk menghapus kekasaran

pertanyaannya.

“Saya melihat kulit dan tangan Saudara-saudara halus dan

bersih. Biasanya, tukang-tukang emas atau orang-orang yang

bekerja dalam ruanganlah yang bersih seperti Saudara.”

“Petani pun dapat bersih kalau rajin mandi,” ujar Banyak

Sumba mencoba berkelakar untuk menghilangkan

ketegangan.

“Jadi, benarkah Saudara tukang emas?”

“Oh, sama sekali tidak,” ujar Banyak Sumba. “Saya hendak

menagih kepada seseorang yang … membeli kuda saya di sini,

beberapa tahun yang lalu.”

Kedua orang itu berpandangan. Banyak Sumba terkejut dan

sadar bahwa ia telah mengatakan hal yang sangat berbahaya.

Ia sadar sekarang, kedua orang itu mencurigai sesuatu. Yang

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

lebih tua mencoba tersenyum, kemudian setelah mencari-cari

kata-kata dan tidak berhasil, ia tertawa.

“Wah, rupanya ada suatu hal lucu yang saya tidak tahu,”

kata Banyak Sumba, menutup ketegangan yang dirasakannya.

‘Jawaban Saudara tadi sangat lucu.”

“Mengapa?”

“Saudara mengatakan bahwa ada orang yang membeli

kuda Saudara beberapa tahun yang lalu dan sekarang akan

Saudara tagih. Bukan Saudara saja yang pernah berkata

begitu,” kata orang itu.

Banyak Sumba makin curiga dan ia bersiap siaga dengan

seluruh tubuhnya. Sambil bersila ia bergeser, pasang kudakuda.

Seandainya orang-orang itu bergerak menyerangnya,

kaki kanannya akan menghantam ulu hati orang yang sebelah

kanan, yang kiri bagian orang yang sebelah kiri. Kemudian,

Banyak Sumba akan berdiri di bangku, menjambak rambut

kedua orang itu dan mengadukan kepalanya.

“Begini Saudara, jangan merasa saya permainkan. Di kota

ini, bangsawan-bangsawan muda biasa mengambil kuda yang

baik dari rakyat atau pedagang. Mereka berkata membelinya

dan akan dibayar kemudian. Tapi janganlah percaya ‘ lidah

mereka. Saudara rupanya orang asing yang sial, berdagang

kuda ke sarang pencuri kuda. Mudah-mudahan saja tidak

begitu dan orang yang hendak Saudara tagih itu bukan para

pencuri itu.”

Seluruh ruangan terdengar tertawa dan Banyak Sumba

sadar bahwa setiap orang dalam ruangan itu memerhatikan

mereka dan mendengarkan percakapan yang mereka lakukan.

“Kebetulan bukan, kebetulan orang biasa saja yang membeli

kuda saya dulu,” kata Banyak Sumba setelah sejenak

berdiam.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Untung,” kata orang itu. Banyak Sumba meminum

tuaknya, tapi tidak banyak karena ia takut mabuk. Jasik

mengikutinya. Rupanya, Jasik sadar pula bahwa warung yang

mereka masuki tidaklah seaman yang disangka semula. Tak

lama kemudian, mereka bangkit dan setelah membayar,

mereka keluar. Mereka berjalan sambil berdiam diri. Banyak

Sumba termenung, mematangkan siasat yang telah

direncanakan sejak semula.

“Sik, saya akan mempergunakan pundakmu dan memasuki

benteng Istana Wiratanu. Kau akan saya tarik dari dalam

setelah saya mengikatkan tambang pada pohon-pohonan di

sana.”

“Raden, lebih baik saya yang masuk, Raden yang mengikuti

saya mempergunakan tambang. Saya tidak segan

mempergunakan pundak Raden. Bahaya lebih berarti bagi

saya daripada sopan santun.”

“Bukan begitu, Sik,” ujar Banyak Sumba, “seorang

bangsawan tidak boleh mengorbankan anak buahnya. Itu

keluar dari sifat kesatriaan. Jadi, kita melakukan segalanya

sesuai dengan rencana semula.”

“Raden!” ujar Jasik dalam bisik yang tertahan, “kita diikuti!”

“Sial!” bisik Banyak Sumba, “rupanya setiap warung diisi

dengan mata-mata di Kutawaringin!”

“Empat orang, Raden.”

“Jangan takut, Sik.”

“Saya tidak takut Raden. Soalnya, rencana kita akan

terganggu.”

“Tapi, kita tidak boleh lari, Sik. Mungkin melarikan diri lebih

berbahaya. Saya belum hafal benar jalan-jalan di kota ini,”

lanjut Banyak Sumba. Didengarnya langkah orang mendekat

dari belakang.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Jalan perlahan Sik, nanti kita berhenti, seolah-olah ada

benda jatuh. Saya akan menunduk seolah-olah saya mencari

sesuatu, lalu kita akan menyerang.”

“Baik,” ujar Jasik yang segera mengerti siasat yang

direncanakan oleh tuannya. Jasik memandang Banyak Sumba

dalam gelap itu dengan penuh kekaguman. Ia selalu

mengagumi Banyak Sumba yang sangat cepat dalam mencari

siasat. Ia kagum ketika mendengar cara yang diusulkan

Banyak Sumba untuk melewati benteng. Sekarang, ia kagum

oleh rencana penyerangan yang begitu baik.

Banyak Sumba melambatkan jalannya, menunggu suara

langkah kaki yang makin mendekat dalam lorong lebar itu.

Kemudian, ia berhenti dan berkata kepada Jasik.

“Batu apiku jatuh, Sik. Gandawesiku jatuh,” katanya sambil

membungkuk. Seraya membungkuk itu, Banyak Sumba

melihat bayangan empat orang mendekat. Jasik tidak berkata

apa-apa. Ia menghadap kepada Banyak Sumba. Banyak

Sumba pun merasa bahwa Jasik sudah siap.

Ketika orang-orang yang mengikuti sekira tiga langkah l.igi

dari mereka dan sambil mendekat berdeham-deham,

menghamburlah Banyak Sumba. Dengan melompat, ia

mempergunakan tendangannya ke arah ulu hati orang yang

terdepan. Orang itu terpental dan tidak bangun lagi. Jasik

mulai pula menghantam yang terdekat kepadanya yang

sempat mengelak dan mundur jauh-jauh.

“Tenang Saudara, tenang, kami bukan musuh!” kata

seseorang tiba-tiba ketika Banyak Sumba sedang memilih

mangsa baru.

“Kalian mata-mata, jangan lari,” ujar Banyak Sumba.

“Kami menyerah, boleh Saudara pukul atau bunuh, kalau

Saudara tidak percaya bahwa kami tidak bermaksud jahat,”

kata seorang di antara mereka sambil berjalan, mengangkat

tangan.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Banyak Sumba bingung, demikian juga Jasik, yang berhenti

menyerang.

“Tenang, kami tidak bermaksud jahat, kami menyerah,”

kata orang itu pula yang segera dikenal oleh Banyak Sumba

sebagai laki-laki yang mengajaknya mengobrol di warung tuak

tadi. Banyak Sumba tidak menyerang kembali walaupun tetap

siaga.

“Kalian mengikuti kami,” kata Banyak Sumba.

“Ya, tapi bukan untuk maksud jahat,” kata orang itu,

sekarang telah menurunkan tangannya dan berdiri di depan

Banyak Sumba.

“Apa maksud kalian?”

“Kami ingin tahu lebih banyak tentang Saudara. Kami tahu

Saudara bukan tukang emas atau kuda. Saudara seorang

bangsawan dan datang ke sini untuk maksud yang ingin kami

ketahui.”

“Saya tidak takut kepada kalian karena itu saya tidak

pernah merahasiakan sesuatu kepada kalian. Akan tetapi,

kalian harus menjelaskan dulu siapa kalian. Kalian mata-mata,

bukan?”

“Kami pendatang seperti Saudara juga, dan mungkin

menanggung nasib yang sama, menderita dukacita yang

sama.”

Banyak Sumba tertegun mendengar penjelasan itu. Ia

berpaling kepada Jasik yang juga tampak bingung.

“Terangkan maksud kalian atau biarkan kami pergi.” “Kami

mau menerangkannya, tetapi tidak di sini,” kata orang itu.

Banyak Sumba tahu, betapa besar bahayanya kalau mengikuti

kehendak orang itu. Akan tetapi, ia penasaran juga. Ia ingin

tahu tentang orang-orang itu, sedangkan mengenai bahaya,

bukankah ia bisa menghadapinya sebagai latihan?

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Jangan percaya, Raden, marilah kita menghindar atau kita

hantam mereka,” kata Jasik berbisik.

‘Jangan, Sik, marilah kita selidiki mereka ini. Kita pukul

mereka pada saat yang tepat,” bisik Banyak Sumba. Jiwa

petualangnya mengalahkan kehati-hatiannya.

“Raden, bagaimana dengan rencana kita?” kata Jasik agak

keras. Rupanya, laki-laki yang ada di depan mereka

mendengar kata itu. Ia berkata, “Saya tahu, Saudara-saudara

punya rencana. Siapa tahu rencana kita sama. Kami datang

dari Kutabarang, mungkin dengan rencana yang sama. Kita

pun berpura-pura sebagai pedagang perhiasan, siapa tahu kita

akan menagih orang yang sama.”

Mendengar itu, makin penasaranlah Banyak Sumba. Ia

berkata kepada Jasik, ‘Jangan takut, Sik, rencana kita akan

kita selesaikan juga pada waktunya.”

Setelah mereka terdiam, Banyak Sumba berkata,

“Terangkan lebih lanjut apa yang kalian inginkan.”

“Kami tidak dapat menerangkannya di sini dan kalau ada

jagabaya lewat, kita akan dicurigai,” kata laki-laki itu.

Banyak Sumba menyadari kebenaran perkataan orang itu.

Ia memberi isyarat kepada Jasik untuk menuruti kehendak

orang itu.

“Jalanlah duluan, kami mengikuti dari belakang,” kata

Banyak Sumba. Ketiga orang asing itu berjalan dan

mengangkat kawannya yang terbaring kena tendangan

Banyak Sumba. Ternyata, orang itu pingsan.

“Angkat!” kata orang muda yang berdiri tidak jauh dari lakilaki

itu. Banyak Sumba tahu bahwa orang muda itu adalah

orang muda yang sebelumnya duduk di samping laki-laki

tersebut, ketika mereka berada di warung tuak. Kedua orang

yang belum dikenal Banyak Sumba mengangkat temannya

yang pingsan, lalu mencoba membuatnya siuman dengan

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

memanggil-manggil namanya. Setelah beberapa lama, baru

orang itu bergerak dan mengeluh. Banyak Sumba

memerhatikan mereka seraya merasakan kesedihan dan rasa

kasihan terhadap orang yang ditendangnya itu.

Tiba-tiba, terdengar bunyi kaki kuda yang banyak. Orangorang

itu bersiap untuk lari, juga Jasik dan Banyak Sumba.

Laki-laki yang tertua tadi berseru, ‘Jangan lari, tenang!”

Mereka kemudian mencoba tenang, sementara tiga orang

asing membangunkan si pingsan. Banyak Sumba melihat

cahaya obor para jagabaya penunggang kuda dan mendengar

percakapan mereka yang keras. Beberapa orang penunggang

kuda membelok, menuju kepada mereka. “Hai, mengapa dia?”

tanya jagabaya sambil mengangkat obornya tinggi-tinggi.

“Kebanyakan minum tuak, Juragan!” kata laki-laki yang

paling tua. Para jagabaya mengawasi mereka seorang demi

seorang. Karena tampak mereka tidak bersenjata dan

berpakaian baik-baik, para jagabaya itu pun mengundurkan

diri dan memecut kuda mereka mengikuti rombongan.

Banyak Sumba menarik napas panjang karena merasa lega.

Ketika itulah, tiba-tiba ia merasakan persahabatan terhadap

keempat orang asing itu. Ketika itu pula timbul

keingintahuannya tentang orang-orang itu, dari mana mereka

datang dan apa maksud mereka. Dengan perubahan suasana

hatinya itu, Banyak Sumba mengubah sikapnya terhadap

keempat orang asing itu. Ia tidak memperiihatkan kecurigaan

lagi, ia malah mendekati mereka dan mulai bertanya tentang

orang yang pingsan itu.

“Tak apa-apa, Saudara,” kata yang tertua.

“Maaf, saya hanya bermaksud mempertahankan diri.”

“Kami bisa memahami tindakan Saudara,” kata orang tua

itu pula.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Banyak Sumba memegang bahu orang yang baru siuman

itu sambil tersenyum kepadanya. “Maaf,” katanya. Orang yang

baru siuman itu mengangguk. Kemudian, rombongan yang

terdiri dari enam orang itu berjalan.

Mula-mula mereka menuju pusat keramaian malam di kota

itu, yaitu suatu jalan besar yang di kiri kanannya penuh

dengan warung minuman dan buah-buahan. Di ujung jalan itu

terdapat pula lapangan. Di suatu tempat, rombongan

sandiwara sedang bermain. Cahaya obornya yang besar

mempermainkan bayangan-bayangan orang di dinding-dinding

rumah sekitarnya, sedangkan suara tabuh-tabuhannya

bergema dengan meriah. Orang banyak sekali berkerumun di

dekat tempat itu dan di situ sukar sekali orang melangkah,

bukan hanya karena banyak orang, tetapi karena para

pedagang menebarkan dagangan yang bermacam-macam

sepanjang pinggir jalan. Akhirnya, setelah menyelinap di

tengah-tengah orang banyak, mereka sampai di sebuah

warung kecil yang diterangi lampu minyak yang berkelapkelip.

“Di sinilah kita akan mengobrol, Saudara,” kata orang yang

tertua. Maka, sambil menundukkan kepala karena rendahnya

pintu warung itu, mereka masuk. Seorang perempuan

setengah baya segera menyediakan minuman dan makanan

kecil bagi mereka. Banyak Sumba dan Jasik sengaja duduk di

atas bangku di dekat pintu untuk kehati-hatian. Akan tetapi,

karena kenalan-kenalan baru mereka tidak mempedihatkan

gerak-gerik yang mencurigakan, mereka menjadi tenang juga

akhirnya. Sementara itu, salah seorang dari keempat orang

asing itu meminta kepada pemilik warung supaya menyalakan

lampu lagi. Setelah ruangan menjadi lebih terang, tampaklah

kepada Banyak Sumba bahwa orang asing yang paling tua

kira-kira sebaya dengan Paman Wasis, sementara yang

termuda, yang tampak sebagai seorang bangsawan, sebaya

dengan dia dan Jasik. Yang dua orang lagi adalah badegaTiraikasih

Website http://kangzusi.com/

badega biasa, bertindak sebagai pengawal bangsawan muda

itu.

“Begini, Raden,” tiba-tiba yang paling tua berkata kepada

Banyak Sumba, “kami yakin, Raden bukanlah pedagang kuda.

Tampaknya, Raden terlalu kaya dan terialu halus untuk

menjadi pedagang kuda. Itulah sebabnya, kami penasaran

dan tadi menyusul Raden. Kami ingin lebih mengetahui banyak

tentang Raden,” katanya. Setelah itu, orang tua itu diam

sambil tersenyum memandang Banyak Sumba. Banyak Sumba

tidak berkata apa-apa. Akhirnya, orang tua itu melanjutkan

lagi kata-katanya.

“Baiklah, tentu saja Raden tidak mau membukakan hal-hal

yang Raden rahasiakan. Kami sendiri tidak berkeberatan

membuka rahasia kami karena tempat ini aman. Begini, kami

berempat sebenarnya bermaksud menagih kepada seseorang

pula di tempat ini. Ia tidak membeli tapi merampas, bukan

kuda tapi manusia. Kami harus menagihnya, bukan?”

Banyak Sumba tidak berkata apa-apa. Orang tua itu

melanjutkan perkataannya, “Raden Sungging ini, jauh-jauh

datang dari Kutabarang untuk menagih kepada seseorang

yang mengambil orang begitu saja darinya.”

‘Apakah yang diambilnya itu seorang budak belian?”

“Kalau budak belian yang diambil, kami tidak usah jauhjauh

menyusul kemari.”

“Seorang…?”

“Ya, seorang gadis, seorang gadis yang cantik jelita,

walaupun bukan keturunan bangsawan Kutabarang,” kata

orang tua itu.

Banyak Sumba sudah dapat meraba-raba tentang kisah

yang terjadi di balik kedatangan orang-orang itu ke

Kutawaringin. Gadis Raden Sungging ini rupanya direbut oleh

Bungsu Wiratanu atau oleh salah seorang pengiring Bungsu

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Wiratanu yang juga tak kalah berandal dari tuannya. Banyak

Sumba melirik kepada pemuda yang duduk di samping orang

tua itu. Pemuda itu, Raden Sungging, menundukkan kepala.

“Baiklah,” kata Banyak Sumba sambil menarik napas

panjang. “Sebaiknya, kita berterus terang. Saya akan berterus

terang karena saya tidak takut oleh siapa pun, kecuali oleh

pengkhianatan. Saya pun datang ke sini untuk membuat

perhi-lungan dengan seseorang, seperti Saudara-saudara.”

“Syukurlah dan kita harus segera mempertemukan Saudara

dengan yang lain. Begini, bagaimana kalau besok kita bertemu

di sebelah selatan benteng? Di sana, kita akan bertemu

dengan kawan-kawan lain. Raden, bukan kita saja yang

berurusan dengan bangsawan-bangsawan Kutawaringin.”

“Ya,” kata Banyak Sumba, “juga si Colat.”

“Ya,” kata orang tua itu, “tetapi si Colat ini menyusahkan

kita. Karena pembunuhan-pembunuhan yang sembarangan,

orang yang menjadi sasaran kita jadi terjaga ketat.”

“Kami tidak tahu tentang hal-hal yang berhubungan dengan

si Colat,” kata Banyak Sumba berpura-pura dengan harapan

akan mendapat keterangan lebih banyak.

“Sebenarnya, si Colat ini berurusan dengan anjing tua dan

bukan dengan anjing muda. Akan tetapi, anjing muda yang

kita cari jadi terjaga dengan baik,” kata orang yang tua.

Setelah berkata demikian, orang tua itu melanjutkan

pembicaraannya.

“Tapi, marilah kita kembali kepada pembicaraan pokok.

Raden, bukan hanya kita yang datang ke sini. Ada empat

rombongan datang ke sini untuk menagih, di luar si Colat yang

menagih kepada anjing tua. Sekarang, kami ingin

mendengarkan masalah Raden, siapa yang akan Raden tagih

dan berapa jumlah utang orang itu.”

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Banyak Sumba termenung sebelum berkata, Jasik

memberikan isyarat supaya hati-hati. Kemudian, Banyak

Sumba berkata, “Lebih baik besok, di tempat yang kita

janjikan. Saya akan menjelaskan semuanya.”

Orang tua itu tersenyum, lalu berkata setuju akan kehatihatian

Banyak Sumba. Mereka pun berunding untuk bertemu

keesokan harinya di sebuah kampung di sebelah selatan

benteng Kutawaringin. Orang-orang asing itu tampaknya tidak

menyadari bahwa Banyak Sumba dan Jasik mempunyai

rencana malam itu juga. Mereka menyangka bahwa Banyak

Sumba baru dalam taraf menyelidiki kota. Sangkaan macam

itu bisa dimengerti karena keempat orang itu sudah berada di

Kutawaringin empat bulan lamanya. Mereka menyelidiki kota

dan selama itu juga bertemu dengan orang-orang lain yang

datang ke sana untuk tujuan membuat perhitungan dengan

Bungsu Wiratanu. Memang tidak sukar untuk menemukan

orang-orang yang hendak membalas dendam karena ternyata

rakyat Kutawaringin sendiri membenci penguasa dan

keluarganya. Bahkan, sepanjang cerita orang tua itu,

penduduk Kutawaringin berharap agar terjadi sesuatu

terhadap keluarga penguasanya hingga wangsa Wiratanu

diganti dengan wangsa bangsawan lain yang lebih bijaksana

dan adil terhadap rakyatnya.

Mereka bercakap-cakap sambil mencicipi penganan dan

minuman. Dari luar terdengar nyanyian dan bunyi tabuhtabuhan

yang meriah dari rombongan sandiwara rakyat.

Cahaya obor berkobar-kobar dan bayangan bergerak-gerak di

dinding sebelah dalam warung. Tiba-tiba, seseorang tiba

sambil terengah-engah. Ia langsung menuju orang tua itu.

“Mereka datang, cepat menghindar,” kata pendatang itu

berbisik, tetapi cukup keras untuk dapat didengar oleh seluruh

isi warung yang kecil itu.

“Sial, mari kita pergi. Raden, menghindarlah. Sampai

besok.”

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Mereka tergesa-gesa keluar, demikian juga Banyak Sumba

dan Jasik. Setiba di luar, mereka terpencar ke segala arah.

Banyak Sumba dengan Jasik berjalan bersama-sama, tidak

tergesa-gesa dan menyelinap seperti yang lain. Mereka

berjalan menuju keramaian dan ketika mereka tiba di dekat

gelanggang tempat sandiwara itu bermain, berkatalah Jasik,

“Raden, saya merasa kita diikuti.”

‘Jangan takut, Sik. Kita mudah lolos di tempat keramaian

ini. Walaupun ada janji dengan orang-orang yang tadi, kita

pun akan melanjutkan rencana kita. Sebentar lagi malam

larut.”

Jasik tidak berkata apa-apa. Setelah sejenak menonton

pertunjukan, berjalanlah kedua orang pengembara itu menuju

ke selatan, mendekati benteng Istana Wiratanu yang tampak

lebih tinggi daripada benteng rumah-rumah bangsawan yang

lain. Makin dekat ke tempat itu, makin terang obor-obor.

Banyak Sumba tidak berkecil hati karena bayangan pohon

tanjung cukup gelap untuk menyembunyikan diri pada malam

yang gelap seperti itu.

“Raden, kita diikuti. Ketika berpaling, saya melihat orang

berkelebatan menyembunyikan diri di balik pohon sebelah kiri

jalan,” bisik Jasik. Banyak Sumba tertegun, tapi ia tidak

menghentikan langkahnya.

‘Jalan terus, kita cari tempat yang baik untuk melawan,”

bisik Banyak Sumba. Mereka mempercepat langkahnya. Tidak

beberapa lama kemudian, Banyak Sumba melihat bayangan

hitam berkelebat di bawah salah sebuah rumah di pinggir jalan

yang sunyi itu. Dan ketika jalan membelok, tiga orang

berpakaian hitam berdiri di hadapan mereka.

“Berhenti!” seru salah seorang di antara mereka. Banyak

Sumba tidak berhenti, ia melangkah karena menurut

perhitungannya ketiga orang itu akan mudah saja

dirobohkannya. Kemudian, ia berhenti karena dilihatnya dua

orang lagi keluar dari bawah bayangan pohon tanjung yang

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

tumbuh di pinggir jalan. Dari arah belakang terdengar langkah

dan ketika Banyak Sumba berpaling, tiga orang lagi datang.

Tujuh orang, pikir Banyak Sumba. Ia harus licin dan tidak

boleh memperiihatkan akan melawan. Tapi, ia cemas karena

ia tidak dapat berbisik lagi kepada Jasik untuk mengatur

siasat.

Akhirnya, ia memaksakan diri berkata sebelum kesempatan

hilang.

“Kita tidak bersalah, Sik, jangan melawan dulu.”

“Ya, kita tidak bersalah,” kata Jasik. Mungkin ia mengerti

maksud Banyak Sumba. Ketika Banyak Sumba melirik, tampak

Jasik tidak memperlihatkan sikap bersiap. Tapi, itu hanyalah

tipuan.

“Berhenti, jatuhkan senjata!”

“Kami tidak membawa senjata,” kata Banyak Sumba.

“Bohong!” kata orang itu, mereka mulai mengelilingi.

“Kami tidak bersalah,” kata Jasik sambil berbalik,

punggungnya hampir melekat pada punggung Banyak Sumba.

Banyak Sumba gembira, Jasik begitu cerdas dan pandai

mengatur kedudukan dalam menghadapi pengeroyokan itu.

“Kami tidak bersalah,” kata Jasik sekali lagi untuk

mengambil perhatian lawan.

“Bohong kalian …”

Itulah yang ditunggu Banyak Sumba. Ketika lawan

mengajak berdebat, mereka lengah. Karena yang di hadapan

Banyak Sumba berada dalam jangkauan tendangan, dengan

teriakan Banyak Sumba menghambur diikuti oleh Jasik. Orang

yang berada di hadapan Banyak Sumba terpental, sedangkan

yang sebelah kanan segera menerima pukulan, tetapi sempat

menghindar. Kaki kiri Banyak Sumba menyambar yang di

samping kiri dan masuk perutnya. Orang itu mengaduh sambil

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

sempoyongan. Banyak Sumba mengejar yang sempat

menghindar, tetapi bayangan hitam menyerang dari arah

kanan. Banyak Sumba menundukkan kepalanya, menjauhi

penyerangan. Suara orangjatuh terdengar di belakangnya,

mungkin dibanting oleh Jasik. Banyak Sumba berhadapan

dengan orang yang datang dari kanan, sementara yang

sempat menghindar mulai mendekat dari sebelah kiri. Suara

kaki kuda terdengar dari jauh. Banyak Sumba sadar, keadaan

sangat gawat, apalagi ketika didengarnya salah seorang di

antara pengeroyok berteriak-teriak memanggil jagabaya.

Maka, Banyak Sumba tidak lagi menunggu serangan, ia

mendekat dan menyerang yang sebelah kanan sebagai

umpan. Dan ketika yang sebelah kiri menyerang, kaki Banyak

Sumba sebelah kiri sudah menunggunya. Orang itu mengaduh

dan mundur sambil memegang ulu hatinya. Ketika itulah,

entah dari mana datangnya, suatu benda keras menyambar

kepala Banyak Sumba dari samping kiri. Tiba-tiba obor-obor

seolah-olah padam, tanah yang dipijak seolah-olah

menghilang. Banyak Sumba lupa akan dunia sekelilingnya.

Bab 7

Tidak Jadi Digantung

Kesadarannya perlahan-lahan kembali. Yang pertama

dirasanya adalah rasa sakit yang tajam menusuk kepalanya

sebelah kiri. Banyak Sumba mengerang, setelah itu

didengarnya suara berbisik. “Raden?” Banyak Sumba hendak

menjawab, tetapi pundaknya terasa sakit. Ia diam tidak

bergerak. Dirasanya benda dingin dan berat membelit kedua

belah pergelangan kakinya. “Raden?” terdengar pula bisikan

itu. Kesadaran Banyak Sumba berusaha melawan kesakitan

dan kelemahan yang terasa menghimpit dan menggelapkan

dunia. Perlahan-lahan, dengan rasa sakit, rasa dingin di kedua

belah pergelangan kakinya, dan cahaya yang perlahan-lahan

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

menembus kelopak matanya, kesadarannya bertambah kuat.

Akhirnya, ia membuka matanya.

Samar-samar, tampaklah wajah seseorang yang makin

lama makin jelas baginya. “Sik?”

“Ya, Raden,” kata Jasik. Banyak Sumba menutup matanya

kembali. Bagai sebuah paku besar, rasa sakit menusuk

kepalanya di bagian kiri. Ketika rasa sakit itu mereda, ia

membuka matanya kembali. Bukan wajah Jasik sekarang yang

diperhatikannya, melainkan sekeliling tempatnya berbaring.

Sadarlah Banyak Sumba bahwa dia dan Jasik berada dalam

terungku yang terbuat dari batu bata.

Banyak Sumba hendak bangkit, tetapi badannya sangat

berat. Ia melihat ke sekelilingnya, ke jeriji-jeriji besi, tembok

batu-bata yang hitam warnanya karena tua, lapangan kecil

yang berada di hadapan pintu penjara yang berjeriji itu. Suatu

hal memukau Banyak Sumba hingga ia benar-benar menjadi

sadar. Sebuah tiang gantungan berdiri di tengah-tengah

lapangan kecil, yaitu sebuah tiang kayu jati besar dan di

atasnya mengusung palang kayu lain yang kuat. Teringadah

akan peristiwa sebelumnya. Ia dikeroyok dan dikalahkan. Ia

tidak merasa apa-apa, kecuali kesedihan karena semua yang

dialaminya itu sebenarnya bukanlah tidak dapat dihindari.Jasik

lebih bijaksana dan Jasik telah memberinya peringatan.

Sekarang segalanya terjadi dan yang lebih menyedihkannya

adalah Jasik ikut menjadi korban kecerobohannya.

“Maafkan saya, Sik.”

Jasik tidak segera menjawab, kemudian terdengar ia

berbisik, ‘Janganlah memikirkan saya, Raden. Marilah kita

berdoa, semoga Sang Hiang Tunggal menjalankan keadilan

dan kasih sayang-Nya.”

Akan tetapi, Banyak Sumba tidak dapat lagi berdoa. Ia

mengutuk dirinya sendiri. Apakah artinya doa kalau

malapetaka yang seharusnya dapat dihindari tidak ia hindari?

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Orang-orang yang diterima doanya hanyalah orang-orang

yang berhati-hati, bijaksana, dan memperhitungkan segalagalanya.

Orang-orang yang ceroboh seperti anak-anak manja yang

terus-menerus meminta kepada Sang Hiang Tunggal. Sang Hiang

Tunggal sudah menyediakan berbagai malapetaka bagi

orang-orang macam ini dan Banyak Sumba salah seorang di

antara mereka, pikirnya.

“Maafkan saya yang menimpakan kesialan ini kepadamu,”

sekali lagi Banyak Sumba berkata, sementara itu ia mencoba

mengangkat tubuhnya yang berat.

“Jangan pikirkan, Raden, keluarga kami sudah bersumpah

untuk mengabdi kepada keluarga Raden karena keluarga

Raden pun dulu, pada zaman leluhur saya, telah

mengorbankan segala-galanya demi keselamatan dan

kesejahteraan keluarga kami.”

“Seharusnya, saya melindungimu dari hal-hal yang tidak

perlu seperti ini,” ujar Banyak Sumba.

“Raden pasti dapat melindungi kita, seandainya mereka

tidak mempergunakan pelanting.”

“Ya, ketika Raden tidak dapat diserang secara kesatria,

mereka mundur dan mengambil pelanting dari sarung mereka.

Itulah yang mengenai Raden dan juga pundak saya.”

“Salahku, Sik. Seandainya kita bertempur sambil lari,

mereka tidak akan berkesempatan mengenai kita secara

demikian. Soalnya, saya belum hafal benar jalan-jalan kota

ini.”

“Beberapa orang dari kawan-kawan kita yang berunding di

ruangan itu tertangkap pula. Mereka disimpan di penjara

sebelah. Mereka tertangkap lebih dulu. Saya melihat mereka

ketika diseret ke sini oleh para badega.”

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Mendengar perkataan Jasik yang terakhir, Banyak Sumba

melirik ke arah Jasik. Dilihatnya siku dan lutut Jasik berdarah,

muncul dari balik celana pangsi dan siku salontreng hitamnya.

“Jadi, kau diseret ke sini, Sik?”

“Mula-mula ya, tetapi saya berkata kepada mereka bahwa

mereka akan membayar mahal seandainya Raden mereka

cederakan.” Banyak Sumba termenung mendengar perkataan

Jasik itu.

“Apa maksudmu?”

“Raden pun ketika itu diseret. Saya berteriak walaupun

sudah terikat. Saya berkata, orang yang mereka seret itu

bukan sembarangan dan seluruh Pajajaran akan gempar oleh

kejadian itu. Para badega itu rupanya ketakutan, lalu

menaikkan Raden dan saya ke dalam pedati.”

“Apa maksudmu dengan perkataan itu, Sik?”

“Raden, saya cuma menakut-nakuti mereka. Saya sendiri

tidak tahu, mengapa saya berkata begitu dalam keadaan yang

sangat gawat itu.”

“Sang Hiang Tunggal memfasihkan lidahmu, Sik.”

“Ada suatu hal penting yang perlu Raden ketahui,” kata

Jasik. Sebelum melanjutkan perkataan, ia melirik ke luar jeriji,

ke arah cuaca siang hari yang terang benderang.

“Apakah itu, Sik?”

“Bungsu Wiratanu datang ke sini ketika Raden masih

pingsan. Ia berdiri di depan pintu dengan beberapa orang

ponggawa, mereka lama bercakap-cakap, berbisik-bisik. Ada

orang yang mengeluarkan kain dari dalam sakunya, seolaholah

ia meneliti Raden. Mungkin di atas kain itu ada gambar

atau huruf atau … saya tidak tahu. Apakah kira-kiranya arti

perbuatan Bungsu Wiratanu dengan para pembantunya itu,

Raden?”

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Bagaimana saya tahu, Sik? Tapi… mudah-mudahan ia

tidak tahu tentang kita. Saya akan mengatakan kepadanya

bahwa saya datang tidak bermaksud apa-apa. Saya akan

mengatakan bahwa kita melawan badega-badega Bungsu

Wiratanu karena kita menyangka mereka akan merampok kita,

Sik.”

“Baiklah, Raden. Saya pun kalau ditanya akan berkata

begitu.”

“Baik, Sik, kita akan tetap berkata begitu kalaupun disiksa.”

“Ya, Raden. Oh, tapi bagaimana dengan kawan-kawan kita

yang tertangkap itu?” tanya Jasik.

“Kawan kita?” tanya Banyak Sumba.

“Maksud saya, mereka yang berkumpul di warung dengan

kita itu?”

“Mengapa?”

“Saya mendengar mereka disiksa dan yang seorang

mengaku bahwa ia bermaksud membunuh Bungsu Wiratanu

karena kekasihnya diculik.”

‘Apakah ia mengaku karena siksaan?”

“Tidak, Raden. Ia dengan gagah berani berteriak mengutuk

dan menantang Bungsu Wiratanu untuk perang tanding.”

Mendengar itu, Banyak Sumba termenung. Rasa hormatnya

timbul terhadap orang yang gagah berani dan bersifat kesatria

itu. Ia termenung dan bertanya dalam hatinya, apakah yang

akan dilakukannya kalau badega-badega Bungsu Wiratanu

menyiksanya? Apakah ia akan berdusta sebagai pengecut atau

menghadapi hukuman yang paling berat sebagai seorang

kesatria?. Ia termenung dan tidak dapat mengatakan apa-apa

kepada Jasik. Ia menggerakkan kakinya dan insaflah ia,

kakinya dihubungkan dengan rantai besar yang pendek. Ia

melirik pada kaki Jasik. Panakawannya itu juga dirantai

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

kakinya, rantai besar yang hanya dapat dibuka oleh pandai

besi dengan alat-alatnya yang lengkap.

“Raden!” tiba-tiba Jasik berseru dengan suara tertahan.

Dari suatu arah, berjalan rombongan kecil ke tengahtengah

lapangan. Rombongan itu terdiri dari tiga orang

badega yang mengawal seorang tawanan. Banyak Sumba

segera mengenal tawanan itu. Ia anak muda yang ditemuinya

dua kali, di warung kecil di salah satu lorong kota dan warung

tempat mereka berkumpul setelah itu. Pemuda itu dirantai

kakinya dengan rantai besar. Ia didorong oleh ketiga orang

badega itu ke tengah-tengah lapangan. Sayup-sayup

terdengar ia berkata, “Tak usah kalian dorong, saya masih

berkaki,” katanya dan dengan gagah ia berjalan, menuju tiang

gantungan. Banyak Sumba dan Jasik memandangnya dengan

terpukau. Dalam waktu yang singkat sekali, peristiwa itu

terjadi. Anak muda yang dirantai tangan dan kakinya dengan

gagah naik ke panggung yang ada di bawah tiang gantungan.

Ketika badega-bade-ga mempersiapkan pelaksanaan

hukuman, berteriaklah anak muda itu, “Bungsu Wiratanu, kau

akan segera menyusulku. Badanmu akan diberikan kepada

anjing dan kepalamu sebelum teriakannya selesai, salah

seorang badega menutupkan kain hitam di kepala anak muda

itu. Banyak Sumba mendengar nama si Colat diserukan oleh

anak muda itu, kemudian peristiwa selanjutnya Banyak Sumba

tidak mau lagi melihatnya.

Segalanya berjalan dengan cepat. Sebuah pedati datang ke

tengah-tengah lapangan, seorang badega memutuskan

tambang dengan goloknya. Tubuh yang tak bernyawa lagi

diseret dan diangkat ke atas pedati. Kemudian, lapangan sepi

kembali. Banyak Sumba dan Jasik kehilangan kata-kata.

Mereka membisu.

Tiba-tiba, suara beberapa pasang langkah terdengar.

Bayangan beberapa sosok tubuh menggelapkan ruangan

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

penjara tempat Banyak Sumba danjasik berada. Empat orang

badega berbaju hitam membuka pintu besi yang berjeriji.

“Bangun!” kata seorang kepada Banyak Sumba danjasik.

“Yang ini,” kata seorang kepada yang pertama sambil

melirik Banyak Sumba. Dengan kasar, tiba-tiba Banyak Sumba

diangkat.

“Saya bisa berdiri, tidak usah diangkat,” Banyak Sumba

berdiri.

“Raden!” tiba-tiba Jasik berseru. Ia berdiri dengan

tangannya yang dirantai menerjang ke arah mereka yang

datang. Badega itu serempak menghantam Jasik yang dengan

mudah dijatuhkan.

“Kalian tidak tahu siapa yang akan kalian hukum! Seluruh

Pajajaran akan gempar dan kalian tidak akan dapat tidur

nyenyak lagi!” teriakan Jasik bergema. Teriakan itu

merupakan kutukan yang bercampur tangis putus asa. Banyak

Sumba terharu, tapi kesadarannya mulai memudar. Ia

membisu membeku.

Ketika orang-orang itu hendak menyeretnya ke luar, ia

berkata, “Tidak usah kalian paksa, saya dapat berjalan.”

Sementara itu, didengarnya Jasik berteriak-teriak menyeru-

nyeru namanya di antara denting kunci pintu besi itu.

Banyak Sumba tidak berani berpaling untuk mengucapkan

selamat tinggal kepada Jasik untuk selama-lamanya. Ia tahu

bahwa Jasik akan segera pulang untuk memberitahukan

nasibnya kepada seluruh keluarganya. Ia membayangkan

bagaimana adiknya, Tohaan Angke, akan mulai belajar

keperwiraan dan bagaimana Ayahanda akan bersumpah

membalas dendam. Ia melangkah di belakang seorang badega

yang sebelumnya memutuskan tambang bekas menggantung

pemuda itu menggiringnya. Di belakangnya terdengar langkah

tiga orang badega lain. Ketika berjalan menuju tiang

gantungan, ia merenungkan rantai tangan dan kakinya yang

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

berat. Pikirannya tiba-tiba melayang kepada suatu hal yang

aneh baginya sendiri. Seharusnya ia minta izin untuk mandi

dulu dengan air bunga-bungaan dan minta pakaian bersih.

Bukankah ia akan menghadap kepada Sang Hiang Tunggal

dan Sunan Am-bu? Ingatannya tiba-tiba meloncat kepada

Putri Purbamanik. Ia mengigit bibirnya.

Pikiran-pikiran itu segera lenyap ketika ia menaiki tangga

panggung tiang gantung. Ia memasangkan tambang ke

lehernya, tangannya yang berantai membantu badega-badega

itu sebelum tangannya diikat ke tubuhnya. Ia ingin berteriak

kepada Bungsu Wiratanu, seperti pemuda yang baru saja

meninggalkan dunia fana ini. Akan tetapi, ia tidak

melakukannya karena Jasik berteriak-teriak mengutuk seperti

orang gila dalam ruangan yang baru ditinggalkannya.

Kalaupun ia berteriak mengutuk Bungsu Wiratanu dan seluruh

wangsa Wiratanu, kutukannya tidak akan terdengar,

walaujasik berteriak sangat keras. Ia ingin berdoa dan ia pun

berdoa sambil memejamkan mata. Ia minta ampun kepada

Sang Hiang Tunggal akan segala dosanya dan memohon

kepada Sang Hiang Tunggal agar seluruh keluarganya

dilindungi….

Tambang mulai dicoba oleh badega yang bertugas. Ijuk

tambang besar itu terasa kasar di lehernya. Tapi aneh,

berulang-ulang badega-badega itu menghentikan usahanya.

Mereka berulang-ulang mengelilingi panggung kecil untuk

memeriksa persiapan-persiapan itu.

“Hai, Orang Muda! Berdoalah!” kata badega yang tertua.

“Cahaya yang kau lihat adalah cahaya dunia yang

penghabisan, berdoalah!”

Tambang perlahan-lahan ditarik dan menjadi erat. Tinggal

beberapa saat lagi ketika seorang badega mencabut papan di

bawah kakinya ….Jasik berteriak-teriak bagai gila dari arah

ruangan. Tiba-tiba, terdengar suara derap kuda dan teriakanteriakan.

Para badega berhenti. Pintu gerbang kecil yang

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

menuju lapangan kecil itu dibuka dengan paksa bersama

geme-rincing genta-genta kuda, masuklah Bungsu Wiratanu

dengan para pengiringnya yang berpakaian megah. Banyak

Sumba memandang wajah Bungsu Wiratanu dengan tajam.

“Berhenti! Berhenti!” seru Bungsu Wiratanu dengan keras

sambil memandang ke arah badega-badega yang hampir

melaksanakan hukuman mati itu. Rombongan Bungsu

Wiratanu yang berpakaian serba gemerlap itu hampir

memenuhi lapangan. Bungsu Wiratanu turun dari kudanya

diikuti oleh orang lain. Ia berjalan ke panggung, lalu naik

tangga tempat penggantungan. Sambil melepaskan tali

gantungan dari leher Banyak Sumba, berkatalah ia dengan

ramah, “Selamat datang di Kutawaringin, Raden Banyak

Sumba. Mohon maaf karena salah paham yang hampir saja

mendatangkan malapetaka terhadap keluarga kita berdua.”

Banyak Sumba tidak dapat berkata apa-apa. Ia tercengang

mengalami peristiwa yang tiba-tiba itu. Matanya berkunangkunang

ketika badega-badega membuka ikatan rantai tangan

dan kakinya. Sementara itu, Bungsu Wiratanu memandangnya

sambil tersenyum. Banyak Sumba tidak tahu apa yang harus

dikatakan atau dilakukannya. Dan ketika ia kebingungan

seperti itu, Bungsu Wiratanu memegang tangannya, lalu

membimbingnya turun dari panggung tempat orang terhukum

itu. Ia dibimbing, lalu dibawa ke arah seekor kuda yang

tampan dan dipersilakan menungganginya. Ketika itulah,

Banyak Sumba dapat berkata.

‘Jasik,” katanya, suaranya gemetar.

“Oh,” kata Wiratanu, lalu pangeran yang berpakaian megah

itu menepukkan tangannya. Seorang badega segera datang.

“Panakawan Raden Banyak Sumba, lepaskan dan

persalinkan. Cepat!” Bungsu Wiratanu tersenyum kepada

Banyak Sumba yang telah duduk di atas pelana kuda. Ia

memandang ke arah mata Banyak Sumba yang penuh dengan

pertanyaan.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

‘Jangan bertanya dahulu, Raden, segalanya akan menjadi

jelas nanti, setelah kami menghormati Raden seperti tamu

yang layak.”

Banyak Sumba tidak berkata apa-apa. Ia memandang

pakaiannya yang kotor dan robek-robek, lalu melihat darah

pada pakaian dalamnya yang putih. Ketika seorang badega

menuntun kudanya, rasa sakit di kepalanya sebelah kiri mulai

menusuk lagi.

KETIKA itu, matahari telah menjalani seperempat

perjalanannya. Udara masih sejuk, burung-burung bernyanyi

di pohon-pohon yang ada di taman dalam benteng

Kutawaringin. Cuaca terang benderang, tetapi hati Banyak

Sumba benar-benar kalang kabut. Baru saja ia menghadapi

ancaman kema-tian, tambang ijuk terasa kasar di lehernya di

panggung penggantungan itu, sekarang ia dikawal oleh orangorang

bangsawan yang berpakaian serbagemerlapan. Bungsu

Wiratanu begitu ramah dan hormat kepadanya. Apakah ia

bermimpi? Atau, mungkinkah ia bermimpi dalam kematiannya?

Apakah orang mati pernah bermimpi? Banyak Sumba meraba

tangannya sendiri, lalu menarik kendali kuda tunggangannya.

Segalanya terasa dan segalanya bukan mimpi.

Belum pertanyaan-pertanyaannya itu terjawab, rombongan

telah tiba di depan Gerbang Kesatrian, tempat Raden Bungsu

Wiratanu dengan para pengiring dan sahabat-sahabatnya

tinggal di dalam istana itu. Gerbang dibuka oleh penjaga. Dan

begitu Taman Kesatrian tampak, berjajar gadis-gadis cantik

mengelu-elukan rombongan. Bungsu Wiratanu melompat dari

atas kudanya, lalu berjalan ke arah Banyak Sumba sambil

berkata, “Selamat datang di Kesatrian Kutawaringin, tempat

Saudara dapat beristirahat dan menginap sesuka Saudara.

Silakan turun, jangan ragu-ragu, masuklah.”

Banyak Sumba tidak punya pilihan lain, kecuali menurut.

Sebelum ia melangkah memasuki Taman Kesatrian, ia

berpaling mencari Jasik. Ternyata, panakawannya itu

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

dipersilakan pula untuk mengikutinya. Begitu Banyak Sumba

memasuki Kesatrian, gadis-gadis cantik yang bersolek

berlebih-lebihan segera menjemputnya, seorang di antara

gadis itu membawa bokor tembaga yang berisi air hangat dan

jernih. Di sampingnya membawa kain-kain tebal untuk

mengeringkan air. Setiba di tangga dan sebelum memasuki

ruangan tamu di Kesatrian, gadis-gadis itu menghentikan

Banyak Sumba dan membersihkan tangan dan kakinya dengan

air hangat, lalu mengeringkannya. Bangsawan-bangsawan

muda lain diperlakukan demikian pula. Begitu Banyak Sumba

duduk di atas bangku pendek dan lebar, di atas permadani

yang tebal, gadis lain datang menyerahkan setumpuk kain

tebal di atas baki kayu. Sambil tersenyum, gadis itu berkata,

“Pangeran dipersilakan mempergunakan kain-kain yang telah

diuapi untuk membersihkan wajah, tangan, atau apa saja.”

“Terima kasih,” kata Banyak Sumba. Itulah perkataan yang

pertama-tama diucapkannya setelah sekian lama membisu.

Sementara di dalam ruangan sibuk belaka, gadis-gadis

yang menjadi pelayan hilir mudik ke sana kemari. Banyak

Sumba tak melihat seorang laki-laki pun, kecuali para

bangsawan muda dan dua orang gulang-gulang yang menjaga

gerbang. Akan tetapi, betapapun cantik seorang gadis yang

ada di sana, Banyak Sumba merasa ada sesuatu yang salah

dengan mereka itu. Senyum mereka tidak seperti senyum

gadis-gadis petani atau putri-putri yang biasa ditemukannya.

Sementara itu, cara mereka berdandan sangat berlebihan.

Kalau mereka berkata, mereka mempergunakan lagak lagu

yang agak aneh bagi Banyak Sumba. Cara mereka berkata

mengingatkan Banyak Sumba pada cara berkata pemain

sandiwara keliling yang rendah mutunya. Dilayani oleh gadisgadis

akan sangat menyenangkan kalau saja itu wajar. Akan

tetapi, kewajaran itu tidak ada pada penghuni Kesatrian.

Sementara Banyak Sumba termenung, datang makanan

yang bermacam-macam jenisnya. Daging-daging bakar yang

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

dibumbui, ada daging kambing, menjangan, dan lain-lain.

Sayur-sayuran tak terhitungjumlahnya dan setelah nasi

tersedia, datang pula pembawa buah-buahan yang tak

terhitung jenisnya.

“Raden Banyak Sumba, sebelum persiapan makan selesai,

ingin saya perkenalkan dulu kawan-kawan ini. Yang paling

ujung itu Ginggi, Rahiyang Watu, Loring, Rangga, Aria

Sabrang, dan saya sendiri, Raden sudah mengenal saya,

bukan?”

Banyak Sumba melihat berkeliling pada bangsawan muda

yang berpakaian mewah itu. Ia menganggukkan kepala sambil

tersenyum. Sementara itu, datang seorang laki-laki setengah

baya, berbadan kurus berhidung besar melengkung.

“Oh, Paman Guru. Ini Raden Banyak Sumba.”

Orang tua setengah baya itu segera mendekati dan

memberi salam, kemudian sambil menggeleng-geleng kepala

berkata kepada Banyak Sumba, “Sang Hiang Tunggal sangat

kasih kepada para anggota wangsa Banyak Citra. Hampir saja

malapetaka yang menimpa kita, menimpa wangsa Banyak

Citra dan wangsa Wiratanu yang jaya. Mengapa Raden

berkunjung tanpa memberi tahu terlebih dahulu dan

berhubungan pula dengan penjahat-penjahat itu?”

“Paman Guru,” kata Bungsu Wiratanu, “duduklah. Mari kita

makan dulu, nanti kita mengobrol dengan Raden Banyak

Sumba,” kata Bungsu Wiratanu.

“Oh, baiklah, tapi Paman masih harus menghadap

Ayahanda. Silakan, Anak-anak Muda, Paman pergi dulu, nanti

kembali kemari,” sambil berkata demikian, ia tersenyum, lalu

manggut rendah sekali dan meninggalkan ruangan.

Ketika Banyak Sumba membetulkan letak duduknya, di

hadapannya telah tersedia berbagai makanan yang sangat

mewah. Sementara itu, di samping kiri dan kanannya, dua

orang gadis bersiap-siap menunggu perintahnya.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Marilah kita mulai,” kata Bungsu Wiratanu. Bangsawanbangsawan

muda itu mulai mengambil makanan. Banyak

Sumba ragu-ragu sebentar, tetapi dengan tersenyum-senyum

gadis-gadis itu segera memotong daging berbumbu, lalu

menaruhnya di atas piring yang ada di hadapannya.

Betapapun laparnya, Banyak Sumba tak dapat menikmati

makanan itu. Di samping itu, perhatiannya terganggu pula,

gadis-gadis yang berada di kiri dan kanannya mendesakdesak,

mereka begitu ingin melayani, seolah-olah mereka

bersedia menyuapi Banyak Sumba. Pemandangan di

sekelilingnya mengganggunya. Bangsawan-bangsawan muda,

termasuk Bungsu Wiratanu, memperlakukan gadis-gadis itu

dengan cara-cara yang menurut pandangan Banyak Sumba

tidak terhormat. Banyak Sumba lebih banyak menunduk

daripada memandang ke arah kejadian-kejadiar yang asing

baginya.

Setelah acara makan selesai, Banyak Sumba dipersilakan

beristirahat. Dua orang gadis yang lain mengantarnya ke

ruangan tempatnya beristirahat, kemudian dengan susah

payah gadis-gadis itu dipersilakan ke luar oleh Banyak Sumba.

Akan tetapi, gadis-gadis itu sambil tertawa-tawa kecil

berusaha untuk tetap tinggal dalam kamar dengan Banyak

Sumba.

“Kami mendapat tugas untuk menemani Raden,” kata

mereka.

“Saya harus beristirahat, terima kasih atas perhatiannya,”

kata Banyak Sumba. Ia melihat ke kanan ke kiri, mencari

perlengkapan membersihkan diri. Gadis-gadis itu rupanya

mengerti. Mereka berlomba-lomba mengambil bokor-bokor

besar, kain-kain tebal, dan pakaian bersih. Mereka, tanpa

berkata itu dan ini terlebih dahulu, segera membuka pakaian

Banyak Sumba. Banyak Sumba menolak dengan halus. Tapi,

mereka mendesak seperti dua ekor kucing yang kedinginan.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Raden ini sangat pemalu,” kata salah seorang gadis itu,

rambutnya yang tebal menutup hidung Banyak Sumba hingga

Banyak Sumba sukar bernapas. Tangan mereka pun bagai dua

pasang ular. Terpaksa Banyak Sumba mengibaskannya.

Akhirnya, kesabaran Banyak Sumba habis. Dengan agak

kasar, didorongnya kedua orang gadis itu keluar ruangan, lalu

ditutupkannya pintu dan dipalang dari dalam. Ia duduk di atas

tempat tidur yang ada dalam ruangan dan tiba-tiba ia

terkenang kepada Nyai Emas Purbamanik. Rasa rindunya

meluap. Ia menyadari, alangkah halus, lemah lembut, dan

sopan santun kekasihnya itu dibandingkan dengan gadis-gadis

di Kesatrian Wiratanu itu. Ia sadar bahwa ia telah masuk ke

tempat yang tidak baik dan memutuskan untuk secepat

mungkin meninggalkan tempat itu dan pergi ke Pakuan

Pajajaran. Ia harus bertemu dengan gadis yang dicintainya.

LAMUNANNYA terputus karena tiba-tiba pintu diketuk.

“Raden?” terdengar Jasik memanggil. Banyak Sumba

membuka pintu. Dengan keheranan, ia melihat Jasik berurai

air mata sambil merangkulnya. Sebelum Banyak Sumba dapat

bertanya, Jasik telah berkata, “Sang Hiang Tunggal telah

menunjuk kasih sayang dan keadilannya. Raden selamat.”

Begitu bertumpuk pengalaman yang aneh-aneh, hingga

Banyak Sumba tidak peka menerimanya. Ia baru menyadari

bahwa ia baru saja lolos dari kematian. Ia pun baru bertanya

dalam hati mengapa ia tidak jadi dihukum gantung. Terasa

kembali tambang yang kasar pada lehernya. Ia bertanya

dalam hati apakah segala yang terjadi itu impian belaka, suatu

impian buruk? Tapi segalanya nyata. Jasik ada di hadapannya

dan menangis gembira. Mereka berada dalam suatu ruangan

yang lengkap dan mewah.

“Kita akan pergi ke kuil dan menyerahkan persembahan di

sana untuk keselamatan kita ini, Sik,” kata Banyak Sumba

setelah beberapa lama termenung.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Betapa bersyukur hati saya, Raden. Makin yakin saya

bahwa wangsa Banyak Citra dilindungi Sang Hiang Tunggal.

Begitu banyak bahaya mengepung, tapi Raden selalu dapat

mengatasinya. Dan terakhir sekali, maut sudah

mencengkeram, nyatanya Raden sekarang sehat dan segar.

Akan tetapi, saya tetap tidak mengeti, Raden, sungguh saya

tidak mengerti,” kata Jasik.

“Saya pun tidak, Sik. Akan tetapi, kita akan tetap waspada

dan siaga,” ujar Banyak Sumba.

“Juga ada peristiwa lain yang sungguh-sungguh

memalukan dan mengherankan, Raden,” lanjut Jasik.

Banyak Sumba bertanya dengan cahaya matanya.

“Begini, Raden,” kata Jasik, kemudian setelah ragu-ragu ia

berkata, “setelah saya diambil dari penjara itu, saya dibawa ke

dalam sebuah ruangan yang bagus. Di sana ada dua orang

emban yang muda-muda dan … cantik-cantik. Aneh, kedua

orang emban itu memaksa hendak memandikan saya.

Bayangkan, Raden, setua ini saya masih hendak dimandikan

oleh gadis-gadis yang cantik-cantik pula. Bayangkan, tentu

saja saya menolak dan mengusir kedua emban itu.”

“Pengalamanku juga demikian, Sik,” kata Banyak Sumba

sambil memandang Jasik yang telah bersih dan berpakaian

bagus. Hidung Banyak Sumba mencium wangi bungabungaan.

Ia tersenyum.

“Raden, ketika saya habis mandi dan keluar hendak

menanyakan tempat Raden, ternyata kedua orang emban itu

menunggu di depan pintu. Begitu saya membuka pintu,

mereka langsung menyerbu saya dan memerciki baju saya

dengan air bunga-bungaan. Pening kepala saya oleh baunya,

Raden. Sungguh-sungguh tidak biasa dan tidak betah saya di

tempat ini, walaupun serbamewah, Raden.”

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Jasik berkata demikian dengan sungguh-sungguh. Banyak

Sumba tersenyum, lalu berkata, ‘Jangan takut, Sik, kita masih

banyak tugas.”

Sementara berkata demikian, Banyak Sumba berjalan ke

tempat mandi yang sudah tersedia. Jasik membantu membuka

pakaiannya, lalu menyusunnya. Ketika Banyak Sumba sedang

mandi, Jasik berjalan dan membuka tempat pakaian yang

terbuat dari kayu cendana berukir. Ketika peti pakaian itu

dibuka, tercenganglah Jasik melihat isinya yang sangat indah.

Bermacam-macam baju salontreng terbuat dari sutra hijau

muda, kuning, dan putih keperak-perakan. Ikat-ikat pinggang

dari kulit halus yang dihiasi. Ikat kepala pun ada setumpuk,

bermacam-macam pula warnanya. Yang lebih mengherankan

Jasik adalah beberapa buah badik yang bagus-bagus, di

antaranya ada yang sarungnya terbuat dari gading.

Selesai membersihkan badan, Banyak Sumba berjalan ke

arah Jasik yang sedang memandangi barang-barang yang

indah-indah itu.

“Pakaian bagi berandalan dan pesolek, Sik.”

“Raden, tapi Raden terpaksa harus memilih salah satunya

karena yang lama sudah robek-robek.”

“Tentu, Sik, tapi kau tahu mana yang cocok bagiku.”

“Raden, pakaian yang ada dalam peti ini cukup untuk satu

pasukan pengawal,” ujar Jasik.

‘Ambil saja yang perlu, Sik,” kata Banyak Sumba. Jasik

berjalan menyerahkan sepasang pakaian. Banyak Sumba

dengan cepat mengenakannya karena tak ada perhiasan emas

yang dikenakannya, ia lebih menyerupai seorang santri dari

sebuah padepokan daripada seorang putra bangsawan

Pajajaran.

“Saya ditunggu di ruangan tengah, Sik,” kata Banyak

Sumba.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Saya pun ditunggu di ruangan lain. Sampai nanti, Raden.”

Mereka keluar dari ruangan, lalu berpisah.

Banyak Sumba segera didekati dua orang pengawal yang

menghaturkan sembah kepadanya, “Pangeran Muda ditunggu

oleh Tuan Muda di dalam untuk bercengkerama.”

Banyak Sumba mengikuti mereka. Setelah beberapa lama

berjalan dari lorong ke lorong dalam istana dan benteng itu,

tibalah Banyak Sumba di sebuah taman yang sangat luas. Di

tengah-tengah taman itu ada sebuah bangunan kecil. Ke

sanalah Banyak Sumba berjalan dan di tempat itu sudah

menunggu Bungsu Wiratanu dengan kawan-kawannya yang

Banyak Sumba telah lupa lagi namanya.

“Raden kelihatannya sudah segar kembali sekarang,” kata

orang tua setengah baya yang dipanggil Paman Guru oleh

Bungsu Wiratanu.

“Silakan duduk, kami ingin sekali dapat membantu Raden

untuk perjalanan yang sedang Raden lakukan,” kata Paman

Guru itu pula. Banyak Sumba duduk di atas bangku rendah

yang dihampari permadani yang bagus. Seorang gadis segera

menyodorkan baki yang berisikan penganan dan minuman.

Belum selesai Banyak Sumba membenahi duduknya, orang tua

setengah baya itu mulai berkata, “Sekarang, ceritakan kepada

kami, apa yang dapat kami lakukan untuk Raden.”

“Ya, Saudara Banyak Sumba, kami akan senang sekali

kalau dapat membantu salah seorang anggota wangsa Banyak

Citra yang termasyhur itu. Tukang-tukang pantun di masa

yang akan datang akan menyanyikan cerita yang mengisahkan

tentang kunjungan Saudara ke sini dan apa yang kami

persembahkan sebagai bantuan perjalanan Saudara.”

Menghadapi pertanyaan yang bertubi-tubi itu, Banyak

Sumba tenang-tenang saja dan setelah berbenah, barulah ia

berkata, “Justru saya yang diliputi pertanyaan. Saya sudah

hampir meninggalkan dunia yang penuh dengan kesusahan

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

ini, tetapi tiba-tiba saya diselamatkan. Rupanya, pertanyaan

itulah yang lebih penting mendapat penjelasan karena

mengenai diri saya sendiri tidak ada yang perlu dijelaskan.

Saya seorang pengembara, sedangkan mengembara adalah

pekerjaan putra-putra bangsawan Pajajaran yang

menganggur,” katanya.

“Tidak benar, Raden. Kisah-kisah pengembaraan Raden

sudah banyak kami ketahui dan pengembaraan itu bukanlah

pengembaraan putra seorang bangsawan yang tidak punya

kerja.”

“Paman Guru, Raden Banyak Sumba orang yang tidak suka

berbicara tentang dirinya sendiri. Paman Guru harus

menceritakan apa yang telah kita ketahui tentang Raden

Banyak Sumba,” kata Bungsu Wiratanu sambil mengusap-usap

rambutnya yang mengilap dan terurai ke pundaknya bagai

rambut seorang gadis.

“Tidak, Raden Bungsu. Kita sangat ingin tahu, bukan?”

“Jangan memaksa, Paman Guru. Raden Banyak Sumba

menjadi tamu kita untuk dihibur, bukan untuk menghibur kita

dengan kisah-kisah perjalanannya yang menarik hati.”

“Wah, kalau begitu, memang pada tempatnya Raden

Bungsu yang bercerita,” kata Paman Guru.

“Saya pun bukanlah tukang cerita. Kalau Raden Banyak

Sumba menghendaki, kita dapat memanggil tukang pantun,”

sambil berkata demikian, Bungsu Wiratanu menepuk

tangannya, lalu muncullah para badega yang seram-seram

rupanya.

“Panggil Aki Gombal. Cepat!”

Mereka segera meninggalkan ruangan.

“Saya mengucapkan terima kasih untuk segala

penghormatan yang telah disampaikan kepada saya dan

panakawan saya,” kata Banyak Sumba, “tetapi janganlah

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

bersusah-susah memanggil tukang pantun karena justru saya

ingin mendengar, bagaimana sampai saya lolos dari kematian

itu.”

“Tidak benar Raden lolos dari kematian karena memang

Raden tidak pada tempatnya untuk dihukum,” kata Paman

Guru.

“Saya tidak mengerti maksud Paman.”

“Raden Bungsu akan menceritakannya,” kata Paman Guru.

“Tidak usah diceritakan lagi, Paman. Itu sudah lampau dan

memang tidak menyenangkan untuk menceritakan bahaya

yang baru saja kita hindarkan.”

“Tapi ini penting, Raden Bungsu. Raden Banyak Sumba

ingin tahu,” kata Paman Guru.

“Tapi saya tidak pada tempatnya menceritakan, Paman.

Karena kalau begitu, orang akan menganggap saya berbuat

hal itu dengan harapan mendapat ucapan terima kasih.”

Banyak Sumba mendengarkan percakapan mereka dengan

penuh perhatian.

“Tidak, Raden. Paman tahu Raden berbuat demikian keluar

dari hati murni, tanpa pamrih. Oleh karena itu, tidak ada

salahnya kalau Paman menceritakannya.”

“Saya tidak setuju, Paman,” kata Bungsu Wiratanu.

“Tapi Raden Banyak Sumba ingin mendengarkannya dan

Raden Banyak Sumba tamu kita. Jadi, kalau kau tidak mau

bercerita, Pamanlah yang akan bercerita.”

“Kalau begitu, saya tidak ikut campur,” kata Bungsu

Wiratanu, lalu meraih pinggang gadis yang ada di

sampingnya, ia membisikkan sesuatu kepada gadis itu,

mukanya tenggelam di rambut gadis yang tertawa cekikikan.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Begini, Raden,” kata Paman Guru. “Sudah lama diketahui

bahwa dalam kota terdapat orang-orang yang berniat jahat

kepada penguasa dan keluarganya. Para badega dan jagabaya

sudah mengetahui orang-orang itu, tinggal menunggu waktu

untuk bertindak. Kebetulan, malam tadi adalah saat yang

ditentukan untuk bertindak dan dalam usaha itu secara tidak

sengaja Raden ditangkap. Pagi-pagi hukuman dilaksanakan,

ternyata Raden tidak dikenal. Para jagabaya dan badegabadega

memutuskan Raden akan dihukum juga karena

mereka menganggap Raden sebagai anggota gerombolan

penjahat itu. Tentu saja, Raden Bungsu Wiratanu tidak setuju.

Ia menangguhkan niatnya untuk pergi berburu karena ia tidak

mau seorang yang tidak bersalah dihukum. Ia sudah

berangkat ketika mendapat kabar bahwa ada orang yang tidak

dikenal ikut tertangkap dan akan dihukum. Ia menangguhkan

perburuannya, lalu kembali ke sini untuk melihat sendiri orang

yang tidak dikenal itu. Pagi-pagi kami menengok ke penjara,

Raden Bungsu Wiratanu mengenal Raden, lalu

membuktikannya, yaitu dengan melihat gambar Raden yang

dibuat Raden Laya.”

“Gambar saya?” tanya Banyak Sumba keheranan.

“Ya, kami memiliki gambar-gambar orang terkenal di sini,

termasuk Raden.”

“Dari mana Raden Laya mengenal dan mengetahui wajah

saya?”

“Seorang pelukis adalah orang ajaib. Ia dapat

menggambarkan wajah seseorang hanya dari obrolan orang

lain. Tapi baiklah, nanti Raden akan mengetahui mengapa

Raden dapat digambar oleh Raden Laya.”

“Saya tidak percaya bahwa saya dapat digambar tanpa

dilihat lebih dahulu.”

“Nanti Paman membuktikannya,” kata Paman Guru. Akan

tetapi, ketika itu juga datang seorang badega membawa

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

sehelai kain sutra. Paman Guru mengambil kain sutra yang

tergulung itu, lalu membukanya di hadapan Banyak Sumba.

Banyak Sumba terpukau oleh gambar wajahnya sendiri.

Memang tidak tepat benar, tetapi orang akan segera

mengenalnya dengan melihat gambar itu.

“Nah, sekarang Raden percaya. Baiklah akan Paman

terangkan kemudian bagaimana gambar itu dibuat, tetapi

sekarang Paman menerangkan dulu, mengapa Raden lolos

dari hukuman yang tidak adil itu. Begitu Raden Bungsu

mengenal Raden, segera diperintahkan olehnya tentang

pembebasan Raden. Diperintahkan pula agar secara resmi

pemerintah Kota Kutawaringin minta maaf kepada penguasa

Kota Medang yang sah tentang kejadian itu.”

“Saya masih belum mengerti, terutama tentang gambar itu.

Di samping itu, saya pun tidak mengerti, mengapa saya

diselamatkan. Bukankah mungkin saya yang bermaksud jahat

seperti yang lain? Dan bukankah …” Banyak Sumba ragu-ragu

mengatakannya, tetapi kemudian dia mengatakannya juga,

“… Bukankah saya telah memukul dan bahkan membuat

cedera jagabaya atau badega-badega?”

“Itu soal kecil, Raden,” kata Paman Guru. “Paman Guru,

sekarang terpaksa saya menerangkannya kepada Saudara

Banyak Sumba karena ternyata Paman bingung sekali

menghadapi pertanyaan-pertanyaan Saudara Sumba,” kata

Raden Bungsu Wiratanu sambil menurunkan gadis dari

pangkuannya.

“Baiklah saya terangkan, Raden,” kata Bungsu Wiratanu. Ia

menepuk tangannya tiga kali dan pergilah para badega,

embanemban, gadis, juga bangsawan-bangsawan muda yang

duduk di sana. Hanya mereka bertiga yang tinggal dalam

ruangan itu, yaitu Banyak Sumba, Bungsu Wiratanu, dan

Paman Guru.

“Begini, Saudara Banyak Sumba. Sebenarnya, keluarga kita

menghadapi masalah yang sama dari lawan yang sama. Itulah

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

sebabnya, dari dulu saya mencari-cari Saudara dan keluarga

Saudara. Segala berita tentang Saudara dan keluarga Saudara

kami catat, mereka yang kenal dengan Saudara kami tanyai.

Akhirnya, kami beruntung dapat menggambar wajah Saudara.

Laya-lah sebenarnya yang menyelamatkan Saudara, bukan

saya. Dengan adanya gambar yang dibuat Laya itulah,

Saudara kami kenal dan kami selamatkan.”

Bungsu Wiratanu meneguk tuak yang ada di hadapannya,

lalu membersihkan bekasnya dengan saputangan sutra

keemasan.

“Begini Saudara Banyak Sumba. Tadi saya mengatakan

bahwa kita sebenarnya menanggung nasib yang sama,

menghadapi lawan yang sama. Lawan yang sama itu tidak lain

Anggadipati. Kakak saya, Bagus Wiratanu meninggal, bukan

karena kakak Saudara Jante jaluwuyung Kakak Saudara

hanyalah alat yang tidak tahu-menahu. Saudara Sumba perlu

mengetahui, sebelumnya Anggadipati pernah merusak muka

Kakanda Bagus, yaitu dengan melemparnya ke dalam semaksemak

duri. Itu terjadi ketika Anggadipati masih siswa di

Padepokan Tajimalela. Dendam antara kedua orang ini, yaitu

Kakanda Bagus dan Anggadipati, rupanya tidak padam-padam.

Nah, pada suatu waktu, kami mendengar adanya-persaingan

yang tersembunyi antara Anggadipati dengan Kakak Saudara

Sumba. Kita sama-sama mengetahui bahwa puragabaya yang

paling hebat dan paling besar untuk segala zaman adalah

Jante Jaluwuyung, Kakak Saudara Sumba. Itu diakui oleh

siapa pun. Nah, hati Anggadipati yang jahat tentu saja tidak

senang, dicarinya alasan untuk memusnahkan orang yang

dianggap saingannya. Dan, kesempatan itu tidaklah lama

ditunggu. Seperti diketahui, Kakanda Bagus mencintai seorang

gadis di Kutabarang. Nah, ketika kakak Saudara Sumba

bertugas di Kutabarang, dibawalah kakak Saudara ke rumah

gadis itu. Dengan tipu muslihat dan akalnya yang cerdik,

diusahakannya agar seolah-olah antara kakak Saudara dan

gadis itu ada pertalian batin. Ini tentu saja menyebabkan

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

kakak saya tersinggung. Ia yang tidak banyak tahu tentang

tipu muslihat, langsung mencari kakak Saudara. Begitu

bertemu, ia menyerang, tidak tahu bahwa yang diserangnya

adalah seorang puragabaya yang tidak ada tandingannya di

Buana Pancatengah ini. Hasilnya yang menyedihkan sudah

sama-sama kita ketahui. Tapi ada akibat yang lebih

menyedihkan lagi, yaitu timbul alasan bagi Anggadipati untuk

menghancurkan Jante Jaluwuyung. Dikatakan kepada

puragabaya yang lain bahwa Jante Jaluwuyung telah

melanggar tata krama kepuragabayaan, dan yang lebih busuk

lagi, dikatakan kepada kawan-kawannya bahwa Jante

Jaluwuyung telah gila. Karena mulutnya yang manis dan

senyumnya yang meruntuhkan keragu-raguan, akhirnya Resi

Tajimalela percaya akan laporannya, lalu diburulah Jante

Jaluwuyung seperti seekor babi hutan. Betapapun hebatnya,

kalau dikeroyok oleh tujuh orang puragabaya, ia akan kalah

juga. Ia dilemparkan ke dalam jurang yang dalam. Itulah

kisahnya, dan kisah yang sebenarnya itu tidak diketahui

orang, ya, bahkan Saudara sendiri baru mendengarnya

sekarang dari saya. Itulah yang menyedihkan, ternyata

kebenaran tidak mudah dimenangkan dalam kehidupan ini.”

Mendengar kisah itu, berdebar-debarlah hati Banyak

Sumba. Jantungnya berdetak dengan keras, keringat dingin

membasahi dahinya. Untuk beberapa lama ia terdiam,

kemudian bertanya, “Dapatkah Saudara Bungsu menceritakan

tentang abu Kakanda Jante?”

“Nah, benar. Abu itu telah dicuri oleh badega-badega

Anggadipati dan perbuatan yang keji itu dituduhkannya

kepada kami. Katanya, kami hendak menghinakan abu kakak

Saudara. Ia sendirilah yang bermaksud demikian!” seru

Bungsu Wiratanu seperti marah. Banyak Sumba menundukkan

kepala.

Setelah beberapa lama menundukkan kepala, berkata pula

Banyak Sumba, “Tapi saya dengar, justru Anggadipati yang

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

menambah jumlah penjaga-penjaga kuil tempat menyimpan

abu jenazah itu.”

“Ya,” kata Bungsu Wiratanu sambil tersenyum, “dan juga ia

terus-menerus mengunjungi kuil, ketika orang ramai-ramainya

lalu-lalang, lalu menitikkan air mata buaya di hadapan guci

abu jenazah Jante Jaluwuyung. Saudara Sumba, orang yang

sama-sama menjadi musuh kita ini halus seperti seekor kupukupu,

licin seperti belut, berbisa seperti seekor ular, cerdik

seperti kancil, dan ….” Sebelum Bungsu Wiratanu

menyelesaikan kata-katanya, tertawalah Paman Guru.

“Mengapa tertawa, Paman?” tanya Bungsu Wiratanu.

“Perbandingan-perbandinganmu sungguh bagus, Raden.

Memang Anggadipati ini bukan manusia. Ia siluman yang lolos

dari Buana Larang. Sayang, dulu waktu Kakanda Bagus

menangkapnya, tidak langsung membunuhnya. Kakanda

Bagus terlalu berperikemanusiaan hingga pemuda yang

sengaja mencari gara-gara itu tidak dihukumnya.”

“Pernahkah Anggadipati ditangkap di sini?”

“Ya, pernah, oleh Raden Bagus Wiratanu dulu. Ia pernah

dihajar babak belur oleh Raden Bagus dulu. Dan, itulah salah

satu peristiwa yang menyebabkan dia memilih Raden Bagus

sebagai umpan bagi kakak Raden, Raden Jante Jaluwuyung.

Sungguh luar biasa cerdiknya Anggadipati ini.”

“Saya menyesal tidak membunuhnya ketika mendapat

kesempatan dulu,” tiba-tiba Banyak Sumba berkata. Kedua

orang kawan bercakapnya memandang kepada Banyak

Sumba, seolah-olah mereka penasaran ingin mengetahui kisah

pertemuan dengan Anggadipati. Akan tetapi, Banyak Sumba

membisu. Ia berkata dalam hati, kalau kisahnya demikian, ia

dapat mengerti mengapa ia diselamatkan dari geraham maut

oleh Bungsu Wratanu. Ia berkata, “Saya berterima kasih

kepada Saudara yang telah menyelamatkan saya dari

kematian. Dengan demikian, saya masih dapat melaksanakan

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

tugas saya, yaitu berbakti kepada orangtua dengan membalas

dendamnya. Di samping itu Banyak Sumba berdiam diri

sejenak, kemudian melanjutkan perkataannya. “Sebenarnya,

saya harus minta maaf kepada Saudara karena saya datang ke

Kutawaringin ini sebenarnya bermaksud jahat terhadap

Saudara. Saya bermaksud mencelakakan Saudara karena ….”

Sebelum Banyak Sumba melanjutkan perkataannya,

Bungsu Wratanu tersenyum sambil memegang pundaknya.

“Karena badega-badega saya telah merampas kuda

Saudara dulu. Sayalah yang harus minta maaf. Saya masih

ingat, beberapa bulan yang lalu saya melihat kuda yang

bagus, dituntun oleh seorang pemuda tampan. Saya ketika itu

berkata, alangkah bagusnya kuda yang dituntun oleh pemuda

itu dan badega-badega saya menganggap saya menginginkan

kuda itu. Mereka merampas kuda Saudara, bukan? Saya

benar-benar menyesal dan minta maaf pada kesempatan yang

baik ini.”

“Kuda tidak ada artinya dibandingkan dengan nyawa.

Saudara sebenarnya dapat saja menghukum saya. Saya

memang bermaksud jahat terhadap Saudara karena salah

paham juga”

“Ya, semuanya karena Anggadipati.”

“Ya, semuanya karena Anggadipati. Anggadipati yang ada

di belakang segalanya. Segala kesusahan keluarga Wiratanu

dan keluarga Banyak Citra disebabkan oleh seorang

Anggadipati ini,” kata Paman Guru sambil memandang kepada

Banyak Sumba. Entah perasaan apa yang bergerak dalam hati

Banyak Sumba. Ia mendengus, seperti yang biasa dilakukan

oleh anggota laki-laki wangsa Banyak Citra kalau marah.

-ooo00dw00oooTiraikasih

Website http://kangzusi.com/

Bab 5

Aki Gombal Tukang Pantun

Siang itu, Banyak Sumba dibawa berkeliling kota, melihatlihat

keindahan taman-taman dan bangunan-bangunan di

Kutawaringin yang terkenal makmur itu. Setelah puas

berkeliling kota, ketika mereka sedang menuju istana,

bertanyalah Bungsu Wiratanu, “Saudara Sumba, apakah

Saudara akan beristirahat dulu atau kita pergi melihat kuda?”

Banyak Sumba yang belum merasa lelah berkata, baginya

melihat kuda Bungsu Wiratanu lebih baik daripada beristirahat.

Bungsu Wiratanu memutuskan untuk pergi ke tempat kudakuda.

Setelah mereka memacu kereta dan sepanjang jalan kusir

meledak-ledakkan pecut besar, yang kadang-kadang

diarahkan kepada orang yang duduk terlalu tengah atau tidak

mau duduk di tepi jalan, berbeloklah kereta kecil yang mewah

itu ke suatu lapangan di dalam kota. Begitu masuk lapangan,

tampak oleh Banyak Sumba berpuluh-puluh ekor kuda yang

bagus-bagus.

“Pilihlah, satu, dua, atau sepuluh ekor kuda. Saudara dapat

membawanya sebagai milik Saudara sendiri.”

“Ah, tidak, Saudara Bungsu. Saudara terlalu baik kepada

saya.”

“Bukan begitu, Saudara Sumba, saya hanya ingin

mengganti kuda yang dirampas dari tangan Saudara dulu.

Kuda itu bagus sekali, sayang sekali sudah tidak ada di sini.

Saya merasa berkewajiban mengembalikannya, satu, dua,

tiga, atau sepuluh. Yang lain sebagai tanda permintaan maaf.

Ambillah dan pilihlah sesuka Saudara.”

Banyak Sumba turun dari kereta, lalu melompati pagar

yang terbuat dari batang-batang bambu yang tidak dibelah

dan diletakkan melintang. Dengan heran dan gembira, ia

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

melihat kuda yang tampan-tampan dan besar-besar. Belum

pernah ia melihat kuda bagus sebanyak itu di satu tempat.

Sementara itu, tanpa diketahuinya, Bungsu Wiratanu berdiri di

sampingnya sambil tersenyum.

“Saudara Sumba, ambillah yang mana saja, berapa saja

jumlahnya. Atau, lebih baik anggaplah kuda saya ini adalah

milik Saudara juga. Setiap waktu, kalau Saudara memerlukan,

ambillah. Kapan saja, kalau memerlukan kuda, datanglah ke

sini.”

“Saudara Bungsu terlalu baik,” kata Banyak Sumba dengan

rasa terima kasih yang tulus. Setelah ragu-ragu sebentar, ia

berkata, “Saya menyesal mengatakannya di sini bahwa

sebenarnya saya bermaksud jahat terhadap Saudara.

Sebenarnya saya pantas dihukum. Tapi, Saudara malah

menyelamatkan dan menghormati saya. Saya tidak berhak

meminta ganti untuk kuda yang dirampas beberapa tahun

yang lalu. Saya tidak bermaksud meminta ganti. Bahkan

sebaliknya, saya merasa berutang, bukan berutang budi yang

memang tidak ternilai, tetapi lebih dari itu. Saya telah

berutang nyawa kepada Saudara.”

“Janganlah berkata begitu. Bukan saya yang

menyelamatkan Saudara, tetapi Sang Hiang Tunggal dan

Saudara sendiri. Kalau Saudara bukan Raden Banyak Sumba,

Saudara sudah tergantung di tali ijuk yang kuat itu. Saya tidak

akan berbuat apa-apa karena orang asing yang masuk ke

Kutawari-ngin lalu mengacau harus dihukum, walaupun tidak

harus dihukum gantung. Akan tetapi, Saudara bernama

Banyak Sumba dan antara keluarga Saudara dengan keluarga

Wiratanu ada persamaan nasib. Keluarga kita menderita,

kehilangan orang yang dicintai, dicurigai oleh sang Prabu

karena satu orang yang bernama Pangeran Anggadipati.

Saudara lebih beruntung daripada saya. Saudara dibolehkan

pergi mencari Anggadipati dan mencari kesempatan untuk

membalas dendam. Saya, sebagai anak lelaki Ayahanda yang

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

terakhir, tidak diperkenankan pergi untuk membalas dendam.

Ayahanda hanya berdoa, semoga Sang Hiang Tunggal segera

melaksanakan keadilan-Nya.”

“Mudah-mudahan, dalam waktu singkat hal itu akan

berlaku,” ujar Banyak Sumba. Pikirannya telah melayang ke

ibu kota Pakuan Pajajaran. Ia sungguh-sungguh menyesal,

mengapa ia tidak mempergunakan pisau beracun itu dulu,

ketika ada kesempatan untuk melemparkannya ke arah

Pangeran Anggadipati. Sementara itu, perasaan persaudaraan

berkembang dalam hatinya.

“Pilihlah seekor atau dua ekor, berapa saja,” kata Bungsu

Wiratanu seraya membentangkan tangannya sambil melihat

kuda yang tampan-tampan yang berkeliaran di lapangan di

sekeliling benteng dan sebagian dibatasi dengan pagar

bambu.

“Saya merasa tidak berhak, Saudara Bungsu. Di samping

itu, ada kuda yang saya titipkan di luar benteng.”

“Baiklah, tapi bagaimana kalau saya berkeinginan

menghadiahkan kuda kepada Saudara. Bukankah akan lebih

baik memiliki lebih dari seekor kuda? Di samping itu,

perjalanan ke ibu kota Pajajaran bukanlah perjalanan dekat.

Sekurang-kurangnya, Saudara harus mengganti dua kali.”

“Saudara Bungsu terlalu baik, saya tidak akan dapat

membalas budi Saudara.”

“Pada suatu kali dan mudah-mudahan itu terjadi, Saudara

akan melakukan sesuatu yang tidak akan terbayar oleh

keluarga Wiratanu.”

“Ya?” ujar Banyak Sumba, tidak mengerti perkataan

Bungsu Wiratanu. .

“Saudara akan membalaskan dendam kami, keluarga

Wiratanu terhadap Pangeran Anggadipati.”

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Banyak Sumba termenung, lalu berkata, “Tapi sama sekali

saya tidak bermaksud mengutangkan budi. Hanya kebetulan,

keluarga kami pun mempunyai perhitungan yang harus

diselesaikan dengan orang itu.”

MALAM itu, Banyak Sumba menginap di istana. Bungsu

Wiratanu sengaja mengundang kawan-kawannya untuk

memeriahkan suasana. Suatu pesta anak-anak muda

bangsawan diselenggarakan di Kesatrian. Makanan yang tidak

terhitung macamnya dan tidak terkira banyaknya tersedia di

ruangan tengah Kesatrian yang terang oleh obor-obpr yang

terbuat dari perak.

“Pesta ini diadakan untuk beberapa maksud sekaligus.

Pertama, untuk mengucapkan syukur kepada Sang Hiang

Tunggal yang telah menghindarkan dua keluarga, yaitu

keluarga kami dan keluarga Banyak Citra dari malapetaka.

Kedua, sebagai pernyataan dan ucapan selamat datang di

Kutawaringin kepada Saudara Banyak Sumba. Ketiga, untuk

mengeratkan persahabatan dan saling pengertian antara

keluarga kami.”

Setelah berkata demikian, Raden Bungsu Wiratanu

mengacungkan piala tuak yang terbuat dari emas, lalu

meminumnya sedikit. Setelah itu, ia menyodorkan piala emas

itu kepada Banyak Sumba supaya diminumnya pula sebagai

tanda persahabatan. Banyak Sumba dengan senang hati

melakukan hal itu.

Setelah itu, acara makan dimulai. Juru hibur masuk,

memainkan musik yang gembira, menyanyi, dan menari, di

tengah-tengah ruangan yang dipenuhi oleh para bangsawan

yang sedang bersantap. Kalau seorang habis menari,

bangsawan yang senang biasanya berdiri sambil membawa

piala tuak, lalu menyuruh pemain itu minum. Kadang-kadang

diberikan paha kambing atau menjangan, kadang-kadang

dilemparnya uang logam. Bunyi-bunyian, tepuk tangan, dan

orang-orang tertawa bergelak membisingkan seluruh ruangan

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Sementara itu, gadis-gadis simpang siur melayani para

bangsawan muda. Kadang-kadang mereka tertawa cekikikan,

kadang-kadang dengan genit berpura-pura marah terhadap

bangsawan yang mengganggunya. Bau wangi-wangian dari

tubuh mereka mengharumkan seluruh ruangan. Akan tetapi,

karena bercampur dengan bau makanan, memusingkan kepala

Banyak Sumba. Sementara itu, makin lama pesta makin

meriah.

Dua orang gadis yang sejak lama duduk di samping Banyak

Sumba dan melayaninya makan, makin mendesaknya dan

merapatkan duduknya ke arah Banyak Sumba.

“Raden Banyak Sumba, Saudara bukan seorang pendeta,

bukan?” kata seorang pemuda bangsawan yang melihat

Banyak Sumba kikuk menghadapi tingkah laku kedua orang

gadis itu.

“Kawan-kawan, barangkali obor-obor terlalu terang bagi

Raden Banyak Sumba!” kata bangsawan muda lain.

Mereka tertawa tergelak-gelak. Sambil tertawa gembira,

beberapa orang bangsawan muda berdiri, lalu berjalan ke arah

obor-obor yang menempel di tiang-tiang ruangan. Mereka

tidak memadamkan obor-obor itu, tetapi menuangkan tuak

mereka ke atasnya. Kebanyakan obor-obor yang dituangi tuak

itu padam seketika. Akan tetapi, ada yang malah menjadi

berkobar-kobar dengan nyalanya yang kebiru-biruan. Ruangan

pun akhirnya menjadi remang-remang. Tabuh-tabuhan makin

menggila dan beberapa bangsawan yang setengah mabuk

telah mulai menari-nari, sempoyongan bagai orang

kemasukan siluman. Bayangan mereka di dinding bergerak

lebih menggila lagi.

Beberapa orang gadis mulai memasuki gelanggang.

Alangkah tidak senonoh tingkah laku gadis-gadis di sini, pikir

Banyak Sumba yang baru melihat gadis-gadis berani

bertingkah seperti itu. Keheranannya tidak sampai di sana.

Bungsu Wiratanu bertepuk tangan dan ruangan segera

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

dikosongkan. Setelah ruangan kosong, seorang gadis berlari

ke tengah-tengah ruangan, lalu menari.

Gadis itu menari, menggeliat-geliatkan tubuhnya seperti

seekor ular. Mula-mula dilemparkannya selendangnya,

sanggulnya yang besar diuraikannya, kemudian ….

Banyak Sumba melirik ke kiri dan ke kanan, tidak betah lagi

duduk di dalam ruangan yang bersuasana asing itu.

“Kalau Raden tidak senang di sini, marilah ke luar dengan

Paman,” kata Paman Guru yang tiba-tiba duduk di dekatnya.

Banyak Sumba senang akan ajakan itu. Ia berdiri dan minta

izin untuk keluar kepada Bungsu Wiratanu. Bungsu Wiratanu

tidak mendengarnya karena asyik menonton penari yang

berani itu.

Dengan mengikuti Paman Guru dari lorong ke lorong,

akhirnya sampailah mereka ke sebuah bangunan kecil di

taman istana.

Setibanya di ruangan kecil itu, berkatalah orang setengah

baya yang disebut Paman Guru itu, “Raden mendapat

pendidikan santri, rupanya. Tentu tidak biasa menghadiri

pesta-pesta seperti yang dilakukan oleh anak-anak muda tadi.

Tapi jangan berkecil hati, Paman tahu apa yang Raden

senangi.”

Sementara berkata demikian, mereka sudah duduk di

bangku rendah yang dihampari tikar pandan yang indah. Di

ruangan kecil itu ada beberapa badega yang mulai

menyalakan lampu-lampu minyak. Paman Guru menepukkan

tangannya, seorang badega menyalakan lampu minyak.

Paman Guru menepukkan tangannya lagi, seorang badega

mendekat dengan membungkukkan badan.

“Aki Gombal sudah tidur? Kalau belum, panggil dia kemari.”

Badega itu segera pergi. Sementara menunggu, Paman

Guru berkata lagi.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Raden akan mendengar juru pantun yang paling baik dan

paling jujur di seluruh Pajajaran, namanya Aki Gombal,”

katanya.

“Apakah ada tukang pantun yang tidak jujur?”

“Wah, Raden ini rupanya benar-benar masih muda. Masih

belum banyak makan garam. Mencari tukang pantun yang

jujur dewasa ini sama sukarnya dengan mencari gigi ayam.

Mereka, bukan saja tidak lagi mengetahui tata krama kejurupantunan,

tetapi mereka mempergunakan kesenian itu untuk

kemewahan dan kehormatan. Inilah yang merusak kesenian

mereka. Raden tahu bahwa pada zaman dulu tukang pantun

hanya menyanyi di tempat-tempat upacara. Sekarang, di

sembarang tempat mereka mau saja menyanyi. Inilah yang

merendahkan derajat mereka.”

Banyak Sumba belum dapat menangkap maksud Paman

Guru, tetapi ia tidak bertanya-tanya karena seorang kakekkakek

buta datang dituntun oleh anak kecil dan diiringkan

badega yang disuruh Paman Guru sebelumnya.

“Nah, kebetulan Kakek belum tidur. Kakek, coba

menyanyikan cerita yang sangat disenangi oleh Gusti

Tumenggung itu. Kita punya tamu terhormat dari Kota

Medang. Nyanyikanlah tentang kematian seorang pahlawan

Kakek-kakek itu duduk dan meletakkan kecapi di depannya.

Ia berdiam diri untuk beberapa lama, bersemedi atau berdoa.

Banyak Sumba tidak dapat melihat dengan jelas apa yang

dilakukannya karena ruangan remang-remang. Tak lama

kemudian, tali-tali kecapi dipetik, nada-nada pertama

berkumandang, sementara tukang pantun itu merajah, minta

izin kepada para Bujangga dan Pohaci karena ia akan

menyanyi dan bercerita.

Selesai upacara, mulailah tukang pantun itu bercerita.

Banyak Sumba terheran-heran karena cerita itu adalah

tentang keluarganya dan keluarga Wiratanu. Banyak sekali

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

cerita itu yang sama dengan semua yang dialaminya. Satu hal

yang sangat berbeda dengan cerita lain yang biasa

dinyanyikan oleh tukang pantun lain yaitu, tak ada satu pujian

pun diberikan kepada Pangeran Anggadipati. Justru kelicikan,

kecurangan, dan kekejaman Pangeran Anggadipati-lah yang

ditonjolkan.

Diceritakan, bagaimana untuk menutupi maksudnya yang

jahat, Pangeran Anggadipati pura-pura jatuh cinta kepada

Ayunda Yuta Inten. Agar tidak ada kecurigaan terhadapnya, ia

menempatkan badega-badeganya sebagai penjaga guci abu

jenazah. Sementara itu, ia menyuruh badega-badega lain

untuk menyerbu dan merampas abu jenazah itu. Diceritakan

pula bagaimana sebenarnya Pangeran Anggadipati sangat

suka bermain perempuan. Tak ada putri Pajajaran yang tidak

diganggunya. Wajahnya yang tampan, senyumnya yang

manis, budi bahasanya yang halus, dan keturunannya yang

terkenal adalah umpan berbisa bagi gadis-gadis itu.

Tiba-tiba, Banyak Sumba teringat kepada Nyai Emas

Purbamanik. Ia bertanya dalam hatinya, mungkinkah

Anggadipati telah pula melihat gadis yang sangat cantik itu? Ia

harus segera berangkat ke Pakuan Pajajaran, katanya di

dalam hati. Ia akan menerima hadiah berupa kuda dari Raden

Bungsu Wiratanu agar perjalanannya dapat dilaksanakan

dengan cepat. Ia akan terus-menerus berlatih dan mengasah

ilmunya itu sambil mampir di Padepokan Sirnadirasa. Ia akan

berterus terang kepada Raden Girilaya bahwa ia mencintai

Nyai Emas Purbamanik. Sementara pikirannya melayanglayang,

ia tidak lagi mendengar nyanyian tukang pantun

ataupun gema riuh rendah dari ruangan pesta Kesatrian.

ENTAH berapa lama Banyak Sumba mengikuti

renungannya. Suara tukang pantun, nyanyiannya yang serak,

nada-nada kecapi yang berkumandang turun naik dengan

gelombang perasaan tukang pantun itu, timbul tenggelam

dalam kesadarannya. Ia tidak dapat lagi memusatkan

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

perhatiannya pada kisah yang dinyanyikan oleh tukang pantun

itu, tetapi ia pun tidak dapat melepaskan diri untuk

mendengarkan karena cerita tukang pantun itulah yang

merangsang renungan-renungannya.

“Raden, rupanya Raden sudah terlalu lelah?” tiba-tiba

Paman Guru bertanya kepada Banyak Sumba. Sebelum

Banyak Sumba menjawab, Paman Guru menepukkan

tangannya dan tukang pantun itu pun melambatkan petikan

kecapinya, kemudian berhenti sama sekali.

“Raden sudah terlalu lelah. Aki, nanti dalam kesempatan

lain kita lanjutkan.”

“Biarlah Aki meneruskannya, bukankah ia harus menyanyi

sampai pagi? Jangan terganggu oleh saya, badega-badega

dan emban dapat mendengarkan ceritanya yang bagus itu,

Paman Guru,” ujar Banyak Sumba.

“Ah, tidak perlu sampai pagi, Raden. Tadi juga Aki mulai

terlambat. Jadi tidak usah sampai selesai. Kalau tadi Aki

bermain, itu hanya karena Raden tidak betah di ruangan

besar.”

“Oh, baiklah kalau begitu. Saya memang perlu istirahat,”

kata Banyak Sumba walaupun sebenarnya ia tidak mengantuk.

“Mari Paman antar, kebetulan udara malam nyaman sekali,”

kata Paman Guru sambil memegang tangan Banyak Sumba.

Ketika mereka sudah ada di luar ruangan, Paman Guru

bertanya, “Bagaimana pendapat Raden tentang permainan Aki

Gombal?”

“Bagus sekali, Paman,” ujar Banyak Sumba.

“Ia tukang pantun terbaik di seluruh Pajajaran. Bukan

hanya karena dapat menggambarkan setiap kejadian dengan

tepat, bukan karena iringan kecapinya dapat mengungkapkan

suasana kejadian-kejadian itu saja, tetapi karena ia seniman

sejati. Ia tidak mau berdusta seperti tukang pantun lain.”

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Apakah tukang pantun lain suka berdusta?” tanya Banyak

Sumba.

“Memang!” ujar Paman Guru.

“Saya baru mendengar tentang hal itu,” kata Banyak

Sumba pula.

“Wah, Raden ini sungguh-sungguh masih muda. Raden

harus mengetahui, seperti juga orang-orang biasa, tukang

pantun itu banyak kebutuhannya. Mereka butuh harta benda,

butuh kehormatan, dan terutama periindungan dari para

bangsawan agar kebutuhan mereka dapat terpenuhi,” lanjut

Paman Guru.

“Tapi saya mengetahui ada tukang pantun yang untuk

keseniannya berani meninggalkan keduniawian. Mereka hidup

untuk menyanyi dan menceritakan kisah-kisah yang indah dan

memperkaya sastra. Banyak tukang pantun yang sebenarnya

berjiwa pendeta. Mereka resi-resi yang menyebarkan perintah

Sang Hiang Tunggal melalui kesenian mereka,” kata Banyak

Sumba.

Paman Guru tersenyum mendengar perkataan Banyak

Sumba itu, kemudian mengangguk-angguk sebelum berkata

kembali.

“Raden ini terlalu baik, tidak pernah curiga. Mungkin tukang

pantun yang Raden ketahui memang tukang pantun yang

baik. Tapi sekarang ini, beratus-ratus tukang pantun tersebar

untuk mendustai rakyat Pajajaran.”

Banyak Sumba menghentikan langkahnya dan melihat ke

wajah Paman Guru yang tersenyum kepadanya.

“Begini, Raden. Pernahkah Raden mendengar kisah tentang

Anggadipati dari tukang pantun?”

“Sering,” ujar Banyak Sumba.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Bagaimana cerita mereka tentang pangeran yang jahat

itu?”

“Umumnya berupa pujian setinggi langit kepada

Anggadipati,” ujar Banyak Sumba.

“Bagaimana dengan kisah Aki Gombal tadi?”

“Kisah Aki Gombal justru bertentangan dengan kisah-kisah

yang lain. Kisah Aki Gombal banyak menceritakan hal-hal yang

baru bagi saya,” kata Banyak Sumba.

“Dan hal-hal itu benar belaka, yang lain adalah dusta,” kata

Paman Guru. Banyak Sumba sekali lagi menghentikan

langkahnya.

“Dusta bagaimana?”

“Tukang pantun yang memuji-muji Anggadipati adalah

orang-orang Anggadipati sendiri. Mereka sebelumnya

dipanggil, diberi uang emas berpuluh-puluh keping setiap

orangnya, kemudian disuruh menceritakan kisah-kisah yang

hebat tentang diri Anggadipati. Maksudnya jelas, supaya

rakyat jadi bingung, dan kita tidak berdaya mengangkat

tangan terhadapnya.”

Banyak Sumba menundukkan kepala.

“Kalau begitu, memang benar-benar cerdik Anggadipati

ini.”

“Cerdik bagai siluman dan kita, keluarga Wiratanu serta

keluarga Banyak Citra yang jaya, dipermainkannya selama ini.”

“Ya,” ujar Banyak Sumba, suaranya keras tanpa disengaja.

“Itulah sebabnya, mengapa tadi Paman mengatakan bahwa

Aki Gombal satu-satunya tukang pantun yang terbaik. Ia jujur

dan tidak mau disuap.”

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Saya ingin bertemu kembali dengan Aki Gombal. Saya

perlu keterangan lebih lanjut bagaimana cara Anggadipati

menyuap tukang-tukang pantun lain.”

“Tidak perlu, Raden. Paman sendiri sudah cukup

menanyainya. Dan kisahnya demikian, tukang-tukang pantun

dikumpulkan, diberi uang, dan disuruh memuji-muji

Anggadipati.”

“Alangkah rendahnya tukang-tukang pantun itu,” ujar

Banyak Sumba.

“Kalau bertemu dengan yang memuji-muji Anggadipati,

patahkanlah lehernya.”

“Saya pernah melemparkan seorang tukang pantun dari

atas panggung.”

“Wah, Raden masih kalah oleh Raden Bungsu. Mungkin,

ada lima belas atau dua puluh tukang pantun yang telah

dilemparnya dari atas panggung.”

“Tapi, saya perlu menanyai Aki Gombal.”

“Tidak usah, Raden.”

“Mengapa?” tanya Banyak Sumba.

“Ia begitu sedih karena teman-temannya dianggapnya

mengkhianati tugas suci sehingga kalau ditanyai tentang itu,

ia akan bungkam.”

Banyak Sumba bisa mengerti keterangan itu. Ia sendiri

hampir tak bisa berkata-kata lagi mendengar keterangan yang

mengejutkan itu. Setelah lama termenung dan sebelum

berpisah, berkatalah Banyak Sumba kepada Paman Guru,

“Sampaikan terima kasih saya kepada Raden Bungsu, maaf

saya tidak dapat mengikuti pesta sampai selesai karena harus

berangkat besok subuh-subuh benar.”

“Baiklah, Raden,” kata Paman Guru sambil mengundurkan

diri.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Malam itu, Banyak Sumba hampir tak bisa tidur. Di dadanya

seolah-olah berkobaran nyala api. Dan Banyak Sumba tahu,

kobaran api itu harus dipadamkan dengan semburan darah,

darah seseorang.

Keesokan harinya, sebelum matahari menyembulkan

kepalanya di atas bukit-bukit sebelah timur, Banyak Sumba

sudah siap di lapangan kecil depan istana keluarga Wiratanu.

Raden Bungsu Wiratanu, Paman Guru, dan beberapa orang

badega sudah siap pula di sana.

“Saya tidak hanya berutang budi, tetapi berutang nyawa

pula kepada Saudara,” kata Banyak Sumba sambil memegang

tangan Raden Bungsu setelah mereka bersalaman.

‘Jangan berkata begitu, saya tahu Saudara akan dapat

membayarnya. Di samping itu, kita bersaudara karena nasib

yang sama. Di antara saudara tidak ada utang-mengutangi.”

“Tetap saya akan merasa berutang kepada Saudara,” kata

Banyak Sumba pula. Raden Bungsu hanya tersenyum,

kemudian berkata tentang hal lain, “Saudara tidak akan

mendapat kesukaran tentang kuda. Bawalah kotak lontar ini

dan perli-hatkanlah isinya kepada orang-orang yang namanya

tertulis di dalamnya. Mereka akan menyediakan Saudara

penginapan, kuda, dan apa saja yang Saudara minta. Di

Kutabarang, mereka memiliki banyak kuda yang bagus dan

Saudara dapat meminta lebih daripada yang diperlukan. Di

Pakuan, Saudara akan dibantu, bukan saja dengan kuda,

melainkan dengan badega. Kalau Saudara memerlukan

pasukan, katakanlah kepada badega-badega saya di sana.

Mereka orang-orang terlatih.”

Sekali lagi, Banyak Sumba mengucapkan terima kasih. Ia

gembira karena ternyata, bukan dia sendiri yang harus

mengemban tugas yang berat dan mengorbankan masa

remajanya itu. Ia punya banyak kawan dalam perjuangan itu

dan kawan-kawan itu akan menunggunya di Pakuan Pajajaran

untuk dipimpinnya dalam menyelesaikan tugas itu. Beberapa

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

saat sebelumnya, Raden Bungsu menjelaskan kepadanya

bahwa seratus empat puluh orang badeganya sudah siap di

Pakuan Pajajaran dengan maksud menangkap atau

membunuh Anggadipati dan orang-orang itu akan senang

sekali menerima Banyak Sumba sebagai pemimpin. Banyak

Sumba makin bersemangat. Dalam hati, ia berjanji akan

membalas utang budinya kepada Bungsu Wiratanu dengan

kepala Anggadipati.

Tak lama kemudian, saat perpisahan pun tiba. Dengan

diiringi beberapa orang badega yang menunggang kuda

hingga gerbang, Banyak Sumba melambai-lambaikan

tangannya di samping Jasik, yang juga kelihatan gagah dan

gembira. Setelah melewati jalan-jalan kota yang masih sepi,

sampailah mereka di gerbang Kota Kutawaringin. Tak lama

kemudian, mereka telah melarikan kuda di jalan-jalan berdebu

di luar benteng kota. Mereka melarikan kudanya dengan cepat

selagi jalan-jalan masih sepi. Ketika matahari mulai hangat

dan kuda mereka berkeringat, sampailah mereka di puncak

sebuah bukit. Banyak Sumba memberi isyarat kepada Jasik

yang mengejar di belakangnya supaya berhenti. Mereka

berhenti di atas bukit sambil memandang ke sekelilingnya.

Kota Kutawaringin tampak dengan atap ijuknya yang

keabu-abuan, dengan sungai kecil yang lewat di sebelah timur

dan barat, serta sungai buatan yang mengelilingi benteng. Ke

sebelah utara, dataran rendah Tatar Sunda; kemudian akan

berujung di laut yang tidak tampak. Ke sebelah selatan hutanhutan

lebat yang menggelap di atas gunung-gunung yang

tinggi, tempat para guriang bersemayam dan pertapa menyepi

di tengah binatang-binatang buas. Ke sebelah barat adalah

Kuta-barang yang tak mungkin tampak dari atas bukit itu

karena jauhnya tiga hari perjalanan.

“Raden,” tiba-tiba Jasik berkata. Banyak Sumba berpaling.

“Raden, pada kuda saya terdapat kantong kulit yang bagus

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

dan ketika saya buka talinya, ternyata penuh dengan uang

emas.”

Banyak Sumba melihat ke arah kantong yang dikatakan

Jasik. Tiba-tiba, ia menyadari bahwa di samping kanan pelana

kudanya, agak ke depan, terdapat pula kantong yang lebih

besar dan lebih indah.

Banyak Sumba meraba kulit yang halus itu dan dapat

menduga bahwa kantong besar itu berisi uang. Ia menyadari,

Bungsu Wiratanu telah membekali dengan uang yang sangat

banyak, lebih banyak daripada uang yang dibawanya dari

Medang.

“Ini utang kita, Sik. Kita harus segera menyelesaikan tugas

kita. Dengan cara itulah, segala utang kita akan terbayar.”

“Raden, menurut badega-badeganya, Bungsu Wiratanu pun

ingin sekali membunuh Pangeran Anggadipati, tapi mengapa

Bungsu Wiratanu tidak berangkat ke Pakuan Pajajaran seperti

kita?”

Banyak Sumba termenung sebentar. Kemudian, tiba-tiba ia

berkata, “Si Colat, Sik. Kalau ia keluar terlalu jauh dari

kotanya, penjagaan terhadap dirinya menjadi sukar. Si Colat

akan mudah membunuhnya.”

Jasik tidak berkata apa-apa dan mereka pun segera

memacu kudanya kembali, menuju barat, ke Kutabarang.

Setelah tiga hari di perjalanan, pada suatu persimpangan

mereka berhenti. Banyak Sumba berkata kepada Jasik,

“Sampaikan salamku kepada Kang Arsim, Sik. Lalu, sediakan

bekal perjalanan kita ke Kutabarang. Dalam tiga hari, kita

akan bertemu di Kutabarang.” Mereka berpisah. Jasik

langsung ke Kutabarang, sedangkan Banyak Sumba

membelokkan kudanya ke arah selatan, menuju Perguruan

Sirnadirasa. Kalau Jasik akan menyusuri jalan besar yang

ramai, Banyak Sumba akan berjalan seorang diri, menyusuri

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

jalan kecil yang hanya dapat digunakan berpapasan dua ekor

kuda atau dua orang pejalan kaki.

Ia tiba-tiba saja merasa, betapa besar arti Jasik dalam

hidupnya. Sejak malapetaka menimpa keluarganya, Jasik tidak

pernah berpisah dengan dia. Anak muda itu tidak pernah

merasa takut, tidak pernah mengeluh selama dalam

pengembaraan yang penuh dengan bahaya dan kekurangan.

Seandainya tidak ada Jasik, Banyak Sumba yakin, betapa akan

lebih sukar hidup yang dihadapinya. Pikiran Banyak Sumba

melayang jauh ke Kota Medang yang menjadi tempat masa

kanak-kanaknya, ke Padepokan Panyingkiran yang telah

menjadi sunyi kembali, dan Kutabarang—tempat Kang Arsim

mengajar di Perguruan Gan Tanjung. Akhirnya, kepada Nyai

Emas Purba-manik.

“Saya akan datang kepadamu, apa pun yang terjadi,” tibatiba

ia berkata kepada seseorang yang tidak ada di

hadapannya, tetapi begitu jelas tergambar dalam hatinya yang

merindu.

-ooo00dw00ooo-

Bab 6

Padepokan Sirnadirasa

Ketika langit sebelah barat merah bagai tirai api, tampaklah

punggung gunung yang pohon-pohonnya tcr-atur seperti

sebuah taman yang besar. Itulah Padepokan Resi Sirnadirasa,

ujar Banyak Sumba dalam hatinya dengari lega. Ia tidak akan

kemalaman dalam hutan dan ia dapat beristirahat dengan

tenang malam itu juga, seraya mencurahkan kerinduan

kepada Nyai Emas Purbamanik melalui Raden Girilaya. Maka,

dipercepatlah lari kudanya yang dengan kelelahan, mendaki

dan melompati cadas-cadas. Tak lama kemudian, tibalah

Banyak Sumba di pinggir hutan yang indah itu, lalu ia turun

dari kudanya dan membelok ke kampung kecil tempat badegaTiraikasih

Website http://kangzusi.com/

badega tinggal. Ia menitipkan kuda di sana. Setelah

membersihkan badan, ia berjalan kaki mendaki punggung

gunung menuju Padepokan Sirnadirasa. Raden Girilaya

menyambutnya ketika ia tiba.

“Betapa cemas kami akan nasib Saudara. Tidak pernah ada

siswa yang meninggalkan padepokan begitu lama.”

“Tidak ada bahaya yang akan menimpa saya,” kata Banyak

Sumba, walaupun ia tahu bahwa perkataannya itu tidak benar

dan baru saja ia lepas dari ancaman kematian.

“Bukan begitu,” kata Raden Girilaya, “tapi kami cemas,

Saudara tidak betah di sini, di tempat yang sunyi ini.”

“Saya akan selalu kembali ke tempat saya mempelajari ilmu

keperwiraan karena itulah yang menjadi panggilan hidup

saya,” kata Banyak Sumba seraya mereka berjalan menuju

gua tempat Resi Sirnadirasa tinggal. Banyak Sumba

menghaturkan sembah ketika mereka sudah duduk di

hadapan sang Resi. Sementara itu, para siswa yang

mengetahui kedatangannya menunggu di luar.

“Selamat datang kembali di padepokan, Raden. Bagaimana

orangtuamu?” tanya sang Resi.

“Mereka menyampaikan sembah kepada Eyang.”

“Syukurlah, dan bagaimana engkau sendiri? Tampaknya

sehat dan segar.”

“Tak kurang suatu apa, Eyang,” ujar Banyak Sumba.

“Sudahkah kau beristirahat?”

“Saya sempat beristirahat sebentar di perkampungan

badega-badega di bawah, Eyang,” kata Banyak Sumba dengan

agak keheranan.

“Raden datang pada saat yang tepat,” ujar sang Resi,

kemudian sang Resi berpaling kepada Raden Girilaya dan

berkata, “Sore ini, kita akan berkumpul. Ada berita yang

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

sebenarnya sudah Eyang sampaikan kepada kalian. Tapi,

rupanya Sang Hiang Tunggal menghendaki Raden Banyak

Sumba ikut menghadiri pertemuan kita.”

“Baik, Eyang, saya akan mengumpulkan kawan-kawan,”

ujar Raden Girilaya sebelum Eyang Resi meminta untuk

mengumpulkan para siswa yang lain. Maka, setelah

membicarakan hal-hal kecil dan setelah Eyang Resi bertanya

tentang berbagai hal yang tidak penting di Kota Medang dan

Kutabarang, Banyak Sumba dan Raden Girilaya pun mohon

izin mengundurkan diri.

Malam itu, ketika bulan berayun antara gumpalangumpalan

awan yang putih bersih, berkumpullah para siswa

Padepokan Sirnadirasa di lapangan kecil, duduk di atas lumut

tebal tempat mereka beristirahat pada hari panas terik.

Setelah seluruh siswa siap di lapangan kecil itu, datanglah

Eyang Resi diiringi oleh Raden Girilaya dan Bagus Setra.

Setelah Eyang Resi duduk, menyembahlah seluruh siswa

kepada beliau. Angin bertiup semilir, hutan sepi, hanya suara

air terjun sayup-sayup di sebelah utara padepokan. Eyang

Resi berdeham, kemudian berkata, “Anak-anakku, tentu kalian

merasa agak heran, mengapa Eyang mengumpulkan kalian.

Sebenarnya, sudah dua hari berita datang ke padepokan.

Akan tetapi, Eyang tidak segera memberitahukan tentang

berita itu kepada kalian. Pertama, karena Eyang harus

memikirkan, bagaimana cara Eyang menanggapi berita itu.

Kedua, mungkin kehendak Sang Hiang Tunggal bahwa berita

itu harus Eyang sampaikan setelah saudaramu, Raden Banyak

Sumba, datang. Seperti kalian ketahui, Raden Banyak Sumba

sudah berada di antara kalian lagi.”

Setelah berkata demikian, Eyang Resi tengadah ke arah

bulan purnama. Lalu, beliau berkata pula, “Mungkin pula Sang

Hiang Tunggal menghendaki bahwa berita,itu disampaikan

kepada kalian di kala bulan purnama supaya dalam

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

perundingan kita nanti, segalanya menjadi terang, seperti

terangnya bulan purnama ini.”

Semuanya hening dan ingin segera mengetahui, berita apa

sebenarnya yang hendak disampaikan Eyang Resi.

“Anak-anakku,” kata Eyang Resi melanjutkan, kemudian

termenung. “Sesuatu hal yang mengguncangkan kerajaan

telah terjadi. Seseorang yang bernama si Colat, putra

bangsawan Kutawaringin dari gadis bangsawan Kutabarang,

karena suatu hal dan lainnya, kini telah menyebabkan

kecemasan dan ketakutan. Menurut berita yang dibawa

badega-badega, yang ditulis oleh Eyang Resi Tajimalela,

bangsawan yang digelari si Colat ini seorang yang

kepandaiannya dalam ilmu keperwiraan mendekati kepandaian

seorang puragabaya. Itulah sebabnya, para bangsawan di

Kutawaringin serta beberapa pihak di Kutabarang sangat

ketakutan, dan sudah lama menyampaikan jerit hati mereka

kepada sang Prabu.

“Selama ini, sang Prabu tidak tergesa-gesa bertindak

karena persoalan antara si Colat dengan para bangsawan

Kutawaringin, serta beberapa bangsawan di Kutabarang,

belumlah jelas bagi beliau. Beliau tidak tergesa-gesa bertindak

agar tidak menghukum orang yang tidak berdosa. Akan tetapi,

belakangan ini si Colat berbuat melebihi batas yang dapat

dibayangkan. Beberapa orang bangsawan dibunuhnya dan

kepala mereka diantar kepada penguasa Kutawaringin.

Terakhir sekali, si Colat telah mengambil abu seorang

pahlawan dari kuil Pajajaran. Itu dilakukannya hanya untuk

menyakiti keluarga Wiratanu dari Kutawaringin. Seperti

diketahui, wangsa Wiratanu menaruh dendam terhadap

wangsa Banyak Citra karena putra sulungnya terbunuh dalam

perkelahian dengan puragabaya yang gila bernama Jante

Jaluwuyung. Jante Jaluwuyung ini putra sulung dari wangsa

Banyak Citra. Nah, wangsa Wiratanu sangat menginginkan

abu ini untuk menghinakannya. Rupanya, si Colat selain

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

hendak menghancurkan wangsa Wiratanu secara jasmaniah,

juga bermaksud menyakiti dengan berbagai cara.

“Sang Prabu yang semula mencoba tidak berpihak sebelum

persoalannya jelas, menganggap bahwa kekejamankekejaman

si Colat sudah melebihi batas. Di samping itu, si

Colat pun sudah tidak menghormati abu jenazah seorang

pahlawan. Bagaimanapun, mempergunakan abu jenazah

orang lain untuk kepentingan apa pun melanggar susila. Itulah

sebabnya, sang Prabu membicarakan masalah ini dengan

Eyang Resi Tajimalela. Dalam pembicaraan itu, diputuskan

agar si Colat dihentikan dari tindakan-tindakannya.

“Menurut Eyang Resi Tajimalela, si Colat ini mempunyai

banyak anak buah. Paling sedikit tiga puluh lima orang,

sebanyak-banyaknya lima puluh orang. Mereka ini memiliki

ilmu keperwiraan yang lumayan tinggi, berkat pelajaran yang

diberikan si Colat kepada mereka. Itulah sebabnya, Eyang Resi

Tajimalela mengirim berita kepada Eyang di sini. Eyang Resi

Tajimalela beranggapan bahwa tugas menangkap dan

menghentikan kegiatan si Colat itu akan baik sekali untuk

pendidikan kalian di sini. Padepokan Tajimalela akan mengirim

seorang puragabaya dengan lima orang calon, sisa pasukan

akan diambil dari berbagai perguruan yang direstui oleh sang

Prabu. Di antaranya dari padepokan kita ini. Eyang Resi

Tajimalela mengharapkan padepokan kita dapat mengambil

bagian dalam gerakan pengamanan kerajaan ini.”

Setelah berkata demikian, Eyang Resi Sirnadirasa

memandang berkeliling, kemudian menyambung pembicaraan

beliau, “Tentu saja tak ada keharusan bagi kalian untuk

mengikuti gerakan pengamanan ini. Peserta gerakan itu

sukarelawan belaka. Dan kalau ada yang tidak bermaksud

pergi, mereka dapat tinggal di sini, belajar terus, tidak perlu

merasa malu atau tidak senonoh. Tak ada keharusan.”

Seperti biasa, Eyang Resi memberikan isyarat supaya setiap

orang mengemukakan pendapat masing-masing secara

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

bergiliran. Mula-mula Ginggi, Girang, dan Kunten memberikan

pendapatnya. Mereka dengan penuh gairah bermaksud

menjadi sukarelawan dalam gerakan pengamanan itu.

Mendengar gairah itu, menyelalah Eyang Resi, “Anak-anakku,

pertimbangkanlah sebaik-baiknya. Kalian tidak perlu

memberikan jawaban malam ini juga. Perlu diketahui bahwa si

Colat itu bukanlah perwira biasa. Demikian pula pengikutpengikutnya.

Mereka para perwira yang mahir dan tidak

segan-segan melakukan hal-hal yang tidak disenangi Sang

Hiang Tunggal. Itulah sebabnya, kalian diharapkan hanya

sebagai sukarelawan. Di samping itu, Padepokan Sirnadirasa

tidak terikat oleh kewajiban menyumbang tenaga kepada

kerajaan. Padepokan Sirnadirasa bukanlah Padepokan

Tajimalela. Di sana siswa-siswanya diserahkan oleh orangtua

mereka sebagai jaminan bagi keamanan kerajaan. Kalian

datang ke sini sebagai siswa yang belajar atas kemauan

sendiri. Tak ada kewajiban tambahan terhadap kerajaan,

selain tunduk pada undang-undangnya. Kalian berbeda

dengan puragabaya yang terikat oleh sumpah untuk hidup dan

mati sebagai pelindung sang Prabu dan anak negeri.”

“Tapi, tak ada di antara kami yang hendak melewatkan

kesempatan baik ini, Eyang,” ujar Kuten, “Benar, kami tidak

terikat kewajiban untuk ikut dengan gerakan pengamanan ini.

Akan tetapi, sebagai warga negara kerajaan, kami ingin sekali

melakukan sesuatu untuk kepentingan umum. Apalagi kalau

tindakan itu ada hubungannya dengan pendidikan yang telah

kami ikuti selama ini.”

“Kalau begitu, Eyang merestui, tetapi janganlah kalian

merasa terpaksa. Kalau ada yang tidak bermaksud,

katakanlah.”

Tak ada seorang pun yang tidak hendak ikut. Semuanya

dengan penuh gairah menyatakan bermaksud menjadi

sukarelawan. Banyak Sumba saja yang diam. Akan tetapi, tak

seorang pun memerhatikannya. Mereka menganggap Banyak

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Sumba bersiap-siap pula seperti orang lain. Akhirnya,

berkatalah Eyang Resi, “Kalau begitu, baiklah, Eyang akan

menyampaikan berita kepada Eyang Resi Tajimalela bahwa

semua siswa di sini bersedia ikut secara sukarela. Setelah

surat itu tiba di Padepokan Puragabaya, Eyang Resi Tajimalela

akan segera mengirim seorang calon puragabaya yang akan

menjadi pemimpin kalian. Ia akan datang untuk

menyampaikan penjelasan-penjelasan lebih lanjut tentang

berbagai hal. Dan sebelum calon puragabaya itu tiba, kalian

akan berlatih lebih keras daripada biasa.”

Mendengar berita terakhir itu, berdebar-debarlah hati

Banyak Sumba. Ia berdebar-debar bukan karena akan

berhadapan dengan si Colat, tetapi karena calon puragabaya

akan datang ke Padepokan Sirnadirasa. Peristiwa inilah yang

dinanti-nantikannya karena ia harus menyelidiki ilmu

kepuragabayaan sebelum berhadapan dengan Anggadipati. Ia

merasa bahwa selama ini telah mengumpulkan ilmu banyak

sekali. Akan tetapi, arti ilmu tersebut bagi tugasnya baru akan

diketahui setelah ia berhadapan dengan seorang calon

puragabaya atau puragabaya.

Di samping berdebar-debar, ia pun tersenyum dalam hati.

Betapa simpang siurnya dugaan orang tentang kejadian di Kuil

Abu Pahlawan. Pihak Wiratanu beranggapan, Anggadipati-lah

yang berbuat itu, sedangkan pihak kerajaan beranggapan si

Colat-lah pelakunya. Dugaan-dugaan yang simpang siur

tampak pula membawa akibat yang lebih lanjut. Siapa tahu

karena peristiwa itu, banyak orang yang akan menanggung

akibatnya tanpa disengaja.

Perundingan selesai dan para siswa bangkit mengiringi

Eyang Resi yang berjalan ke gua.

Setiap kali ada waktu senggang dan bahkan ketika berada

di atas kuda, Banyak Sumba terus-menerus merenungkan

ilmu-ilmu yang telah didapatnya. Sering sekali tengah malam

ia membangunkan Jasik, lalu mengajaknya berlatih. Itu

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

dilakukannya berulang-ulang kalau renungannya tiba pada

masalah atau kesimpulan tertentu.

Banyak sekali hal yang ditemukan Banyak Sumba dalam

renungannya. Itulah salah satu pendorong baginya untuk

mendatangi kembali Padepokan Sirnadirasa. la ingin mencoba

hasil-hasil renungannya kepada siswa-siswa Padepokan

Sirnadirasa. Dan pada suatu malam, ia mendapat kesempatan

itu.

Di sekeliling lapangan kecil itu, para siswa bersila, Eyang

Resi Sirnadirasa berada di antara mereka. Sebelum mereka

mulai, berkatalah Eyang Resi, “Kalian sekarang berbaju putih

semua. Nanti, kalau ikut dengan gerakan itu, kalian akan

berbaju hitam. Hanya para calon puragabaya dan para

puraga-bayalah yang akan berbaju putih. Sekarang mulailah.

Seperti biasa, yang menang harus menghadapi lawan

berikutnya. Mulai dari samping kiriku.”

Siswa yang ada di samping kiri Eyang Resi bangkit, diikuti

oleh siswa yang ada di samping kirinya. Mereka mulai saling

menyerang dan Banyak Sumba melihat dengan penuh

pengertian, bagaimana siswa-siswa Sirnadirasa saling tarik

dan saling dorong, berusaha menggunakan tenaga sekecilkecilnya

serta berusaha pula agar mereka tidak kena pukulan

lawan dengan jalan mendekatkan tubuh mereka kepada

lawan. Melihat gaya berkelahi siswa-siswa itu, tak sabarlah

Banyak Sumba untuk segera turun ke lapangan.

Ia menyadari bahwa banyak yang tidak dimiliki siswa-siswa

Resi Sirnadirasa. Pertama, mereka cenderung menangkap

tangan, menariknya, atau membelokkan arah pukulan atau

dorongan. Mereka umumnya melupakan jari-jari lawan. Di

samping itu, mereka tidak pernah menggunakan otot sebagai

alat penyerang. Padahal, menurut Banyak Sumba, otot-otot itu

dapat dipergunakan sebagai senjata yang ampuh. Sementara

itu, Banyak Sumba pun sadar bahwa para siswa Sirnadirasa

biasanya menghilangkan keseimbangan lawan, lalu

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

memukulnya atau mendorongnya hingga jatuh. Bentuk

serangan untuk membatasi gerakan lawan atau mengunci

hingga lawan tidak dapat berkutik, hampir tak kelihatan pada

mereka. Itulah yang menyebabkan Banyak Sumba tidak sabar

untuk mencoba pendapat-pendapatnya di tengah-tengah

lapangan kecil itu.

Selagi dengan penuh perhatian Banyak Sumba

memerhatikan perkelahian itu, bulan masuk ke awan.

“Berhenti dulu,” seru Eyang Resi. Beliau berdiri, lalu

berjalan ke tengah-tengah lapangan. Beliau berkata, “Kalau

malam gelap dan lawan berpakaian hitam, akan sukar bagi

kalian untuk melihat sasaran yang tepat. Oleh karena itu,

kalian harus merendah. Dengan demikian, kalian akan melihat

lawan dengan latar belakang langit. Langit memiliki cahaya,

itulah sebabnya kalian akan lebih jelas melihat lawan.

Sekarang mulai lagi,” kata Eyang Resi seraya berjalan kembali

ke tempat duduk beliau.

Keterangan itu sangat menarik hati Banyak Sumba. Banyak

Sumba menyadari betapa pentingnya keterangan yang

diberikan secara singkat itu. Sementara ia merenungkan

keterangan itu, Raden Girilaya bangkit melawan pemenang

yang terakhir. Dengan mudah, lawan-lawannya dilemparkan

ke tepi lapangan atau dijatuhkan. Setelah jatuh, biasanya

dianggap kalah dan lawan yang baru, bangkit dari duduknya.

Ia melawan Raden Girilaya. Ternyata, Raden Girilaya

merupakan calon perwira yang luar biasa kecerdasan serta

kecekatannya. Di bawah sinar bulan itu, dilemparkan atau

dijatuhkannya lawan-lawan itu seperti melempar atau

menjatuhkan barang-barang ringan. Akhirnya, tibalah giliran

Banyak Sumba untuk menggantikan siswa yang kalah oleh

Raden Girilaya.

Ia maju, mendekat, la mengulurkan tangan kanannya,

sementara kaki kirinya maju. Pasangan macam ini akan

mudah sekali diserang oleh lawan. Dengan dorongan yang

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

tidak kuat saja akan hilang keseimbangan Banyak Sumba.

Raden Girilaya tahu bahwa itu hanyalah pancingan. Ia

menyerang, tapi tidak mendorong Banyak Sumba, melainkan

menarik. Akan tetapi, begitu tangan kirinya memegang lengan

Banyak Sumba pada sikut dan tangan kanannya melayang

hendak menarik belikat Banyak Sumba, tangan kiri Banyak

Sumba melindungi dan mengarah pada muka Raden Girilaya.

Sementara lekuk sikutnya tiba-tiba menjepit empat jari tangan

Raden Girilaya dengan keras. Raden Girilaya terkejut. Banyak

Sumba melepaskannya dan tidak menjatuhkannya, la

menunggu sekarang. Raden Girilaya yang masih belum

mengerti cara-cara Banyak Sumba mulai menyerangnya, yaitu

mengibaskan kedua tangan

Banyak Sumba dengan tangan kiri, sedangkan tangan

kanannya menangkap leher Banyak Sumba. Serangan itu akan

diikuti dengan sapuan kaki dan Banyak Sumba akan terbaring

dengan punggung rata dengan tanah. Akan tetapi, peristiwa

itu tidak terjadi karena begitu tangan Raden Girilaya tiba di

leher, dagu Banyak Sumba turun dengan cepat dan otot-otot

lehernya mengerut. Tulang dagu dari atas, tulang selangka

dari bawah, menjepit dan meregangkan jari-jari Raden

Girilaya; teriakan tak tertahan terdengar. Dan selagi Raden

Girilaya terkejut itulah, Banyak Sumba memajukan berat

badannya. Yang semula bermaksud menyapu kaki,

sekarangjadi tersapu. Telentanglah Raden Girilaya di atas

rumput sambil memegang jari-jari tangan kirinya. Eyang Resi

tampak berdiri keheranan, demikian juga beberapa orang

siswa. Mereka tidak mengerti, mengapa Raden Girilaya yang

berada dalam kedudukan yang menguntungkan dapat

dijatuhkan Banyak Sumba.

Eyang Resi segera duduk kembali. Diikuti oleh siswa-siswa

yang keheranan. Sementara itu, Ginggi bangkit, lalu maju

menghadapi Banyak Sumba. Begitu ia menyodorkan tangan

kanannya, Banyak Sumba dengan cepat mengangkat tangan

kanan lawan. Karena kebiasaan bersiap-siap untuk mendapat

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

dorongan atau tarikan, Ginggi mengambangkan berat

badannya di antara kedua telapak kakinya dan siap-siap untuk

mundur atau maju. Akan tetapi, sangkaannya itu meleset.

Banyak Sumba tidak melakukan gerakan yang diharapkan

lawan. Dengan keras, diremasnya jari-jari Ginggi, lalu

diputarkan. Ginggi yang terkejut mempergunakan kakinya

hendak menghantam perut Banyak Sumba. Dengan

mempergunakan perasaan yang tajam terhadap gerak-gerik

dan aliran tenaga lawan, Banyak Sumba dengan mudah

memilin tangan Ginggi ke arah yang menyilang arah kaki

Ginggi. Kaki Ginggi mendesing di udara hampa, tapi tidak

bertenaga karena keseimbangan badannya sudah dipegang

Banyak Sumba. Sekarang, seperti dua orang yang sedang

bersalaman mereka berhadapan, tetapi kaki Ginggi sudah

tidak lagi mengusung berat badannya. Setiap kali Ginggi

hendak menyelaraskan kedudukannya, Banyak Sumba segera

memilin atau mengubah letak tangan Ginggi yang dipegang

dan diputarkannya. Untuk beberapa lama, Ginggi berputarputar

mengelilingi Banyak Sumba, tetapi ia tidak dapat lagi

berpijak kukuh. Eyang Resi serta para siswa sama-sama

berdiri, keheranan melihat kejadian itu. Sadar akan perhatian

mereka dan kasihan terhadap Ginggi yang terlalu lama

kesakitan, Banyak Sumba memilin tangan Ginggi agak keras

sehingga untuk menahan sakit dan patah, Ginggi mengubah

berat badannya yang sudah tidak seimbang itu. Ketika Ginggi

sangat condong, dengan mempergunakan kakinya, Banyak

Sumba merobohkan Ginggi.

Siswa-siswa lain bergiliran datang. Setiap kali mereka

meraba tubuh atau anggota badan Banyak Sumba, tangan

mereka terpaksa mereka tarik kembali. Banyak Sumba

mempergunakan hampir seluruh otot dan sendi-sendi

badannya untuk menggencet dan seakan hendak meremukkan

jari-jari atau mematahkan sendi-sendi lawan. Akhirnya, Eyang

Resi berdiri karena tampak beliau berpendapat, tak ada lagi

siswa yang akan dapat melawan Banyak Sumba.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Mereka berhenti berlatih dan bergerak ke gua. Semua

berkumpul.

“Kami ingin sekali mempelajari ilmu yang Raden perlihatkan

tadi,” ujar Eyang Resi.

Banyak Sumba menceritakan pengalamannya belajar dari

seorang guru yang tidak ia katakan namanya. Kemudian, ia

menceritakan renungan-renungan, latihan, dan percobaanpercobaannya

dengan panakawannya yang setia, Jasik.

Akhirnya, ia mengatakan, “Sekarang, saya mengetahui bahwa

tanpa mempergunakan berat badan seperti yang dilakukan

oleh siswa-siswa di sini, saya dapat mematahkan pegangan

lawan. Itu hanya dengan mempergunakan otot-otot belaka.

Saya menyadari bahwa di Padepokan Sirnadirasa telah

dikembangkan suatu ilmu yang sangat ampuh, yaitu ilmu

mengendalikan, mempermainkan, dan mempergunakan berat

badan lawan. Akan tetapi, hal itu hanya dapat dilakukan kalau

kita dapat memegang lawan. Saya mencari cara-cara—

bagaimana supaya walaupun terpegang;—saya dapat

melumpuhkan tangan lawan yang memegang saya, yaitu

dengan menyakitinya. Saya melakukannya dengan otot-otot

saya, terutama otot-otot yang menggerakkan dua buah tulang

atau lebih.”

Banyak Sumba menjelaskan semuanya itu dengan

sederhana. Ia tidak takut bahwa siswa-siswa Padepokan

Sirnadirasa akan segera merebut ilmunya, kemudian

mempergunakannya untuk menghambat pelaksanaan maksudmaksudnya.

Tampaknya, ilmu barunya itu sederhana saja.

Akan tetapi, penjelasan yang sedikit itu memerlukan latihanlatihan

untuk menguasai dan mempergunakannya dengan

waktu yang tidak bisa dibilang singkat.

“Eyang harap, Raden bersedia mengajar di padepokan ini

hingga kawan-kawan dapat menguasai ilmu yang baru itu,”

ujar Eyang Resi.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Itu kehormatan bagi hamba, Eyang,” jawab Banyak

Sumba, walaupun pikirannya segera melayang ke arah lain.

-ooo00dw00ooo-

Bab 7

Raden Madea Calon Puragabaya

Sejak malam itu, Banyak Sumba memberikan pelajaran di

Padepokan Sirnadirasa. Akan tetapi, siswa-siswa padepokan

itu telah bertahun-tahun mempergunakan tenaga dengan cara

tertentu, sehingga otot-otot mereka sudah terbiasa dan sukar

mengubah cara kerjanya. Banyak Sumba menyadari bahwa

Jasik lebih cepat menguasai ilmu itu karena tubuh Jasik tidak

terikat oleh kebiasaan yang ketat. Sebaliknya, karena

kebiasaan yang sudah membeku di dalam otot-ototnya,

banyak di antara siswa padepokan yang tidak lagi menguasai

ilmu baru itu. Terutama, para siswa yang telah lanjut dan

mahir mempergunakan ilmu Padepokan Sirnadirasa.

Walaupun begitu, tak ada seorang pun di antara siswa yang

menyerah dan .menghentikan latihan. Yang termasuk tekun

dan cerdas adalah Raden Girilaya. Karena mereka berada

dalam satu padepokan, sering sekali sampai larut malam

mereka bercakap-cakap dan bertukar pikiran tentang ilmuilmu

keperwiraan. Saat itu, berulang-ulang Banyak Sumba

teringat kepada Nyai Emas Purbamanik yang raut wajahnya

sama dengan pemuda di hadapannya. Berulang-ulang Banyak

Sumba hampir menerangkan hubungannya dengan gadis itu,

tetapi ia tidak juga menyampaikannya. Setiap terasa dorongan

untuk menerangkan hal itu, setiap kali pula sesuatu

memberati lidahnya.

Dorongan untuk menjelaskan segala hubungannya dengan

Nyai Emas Purabamanik kadang-kadang hampir tidak

tertahankan. Ia ingin mencurahkan kerinduannya kepada

gadis itu dengan jalan mempercakapkannya dengan

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

saudaranya, Raden Girilaya. Pada suatu malam, ketika mereka

selesai bersemedi senja dan mulai duduk beristirahat,

berkatalah Banyak Sumba kepada kawannya, “Berulang-ulang

saya akan mengatakan sesuatu kepada Saudara, tetapi

berulang-ulang saya tidak dapat mengatakannya.”

Raden Girilaya berpaling kepadanya, lalu berkata, “Raden

Banyak Sumba, kita sudah bersaudara, bukan saja karena

sama-sama menjadi siswa di padepokan, tetapi ternyata kita

sangat cocok satu sama lain. Seandainya ada sesuatu yang

dapat kita lakukan bagi saudara, saya akan berusaha sebaikbaiknya

untuk memenuhinya.”

“Bagaimana Saudara Girilaya dapat menduga bahwa ada

sesuatu yang saya perlukan?” tanya Banyak Sumba agak

keheranan.

“Saya sering melihat Saudara termenung. Saya menduga

ada kesusahan atau hal lain yang mengganggu hati Saudara.”

Banyak Sumba tertegun, kemudian keberaniannya untuk

menerangkan hubungannya dengan Nyai Emas Purbamanik

mulai berkurang. Ia ragu-ragu apakah keterangan yang akan

disampaikannya kepada Raden Girilaya akan baik akibatnya,

atau sebaliknya? Apakah ia akan mengatakan hal yang

sebenarnya tidak perlu dikemukakan, kalau hanya disebabkan

dorongan oleh kerinduan terhadap gadis itu? Banyak Sumba

bimbang dan ketika ia berkata, apa yang dikatakannya

bukanlah mengenai hubungannya dengan Nyai Emas

Purbamanik. Ia berkata, “Saya pun sering melihat Saudara

termenung dan saya tidak menganggap Saudara mendapat

kesusahan,” kata Banyak Sumba sambil tersenyum. Sekarang,

Raden Girilaya berpaling kepadanya dengan penuh perhatian.

Tampak ia akan menyatakan sesuatu. Ia kemudian berkata,

“Saudara Sumba, memang saya sering termenung dan

memang ada persoalan yang sering menjadi bahan renungan

saya. Bahkan, telah pula saya bicarakan persoalan ini dengan

Ginggi.”

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Persoalan apakah itu?” tanya Banyak Sumba, perhatiannya

sekarang mulai tertarik.

“Bukan persoalan pribadi saya, tetapi persoalan ini harus

menjadi bahan renungan kita semua. Saudara Sumba,

keterangan Eyang Resi mengenai rencana kerajaan untuk

menundukkan si Colat menyebabkan saya sering termenung.”

“Mengapa?” tanya Banyak Sumba, makin tertarik.

“Selagi masih sangat muda, saya telah menjadi pengagum

si Colat ini. Bayangkan, Saudara Sumba, seorang kesatria

yang berbudi dan berilmu itu dalam pandangan saya pantas

untuk dijadikan teladan. Sebagai orang yang memutuskan diri

untuk menjadi perwira, tentu saja sejak dulu mengenal nama

dan kemasyhurannya. Saya pernah bertemu dengan dia di

Kutabarang,. waktu saya masih berumur tiga belas tahun. Ia

lewat di atas kudanya, seorang kesatria yang sangat tampan

dan lemah lembut. Saya memandangnya dengan penuh

kekaguman, penuh rasa memuja. Tak lama kemudian, saya

mendengar dia meninggal dibunuh orang, lalu tampillah si

Colat yang sekarang. Oh, dulu namanya bukan si Colat, Raden

Geger Malela nama sebenarnya.”

Raden Girilaya termenung untuk beberapa lama. Lalu

berkata kembali, “Gambaran tentang seorang kesatria

sempurna sukar dihilangkan dari hati saya. Saya belum

melihatnya lagi semenjak itu. Tentu sekarang ia telah

berubah, seorang buas yang tak kenal rasa kasihan. Akan

tetapi, saya tetap tidak dapat menghilangkan kebimbangan

saya. Saya sering bertanya, bukankah ia menjadi buas karena

tindakan orang juga? Dan bukankah yang bersalah dalam hal

ini bukan dia, tetapi orang-orang yang memperlakukannya

dengan kejam?” kata Raden Girilaya seperti bertanya kepada

dirinya.

“Saya yakin, sang Prabu tidak sembarangan mengambil

kebijaksanaan. Akan tetapi, gambaran saya tentang si Colat

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

dulu tidak meyakinkan saya bahwa dia sebuas yang

digambarkan oleh berita-berita yang saya dengar.”

“Memang, kenangan masa kecil sukar sekali dihapuskan,

Saudara Girilaya,” ujar Banyak Sumba.

“Di samping itu, saya tahu banyak tentang keluarga

Wiratanu ini,” ujar Raden Girilaya. “Dulu, di Kutabarang sering

sekali terjadi huru-hara, yaitu terjadinya perkelahianperkelahian

antara bangsawan muda. Di belakang semua

perkelahian ini selalu disebut-sebut nama Bagus Wiratanu,

putra sulung penguasa Kutawaringin yang sedang belajar di

Kutabarang. Saya pernah melihat orang ini dan langsung tidak

menyukainya. Begitu angkuh, begitu mewah, dan kasar.

Saudara Sumba, kalau kita akan ikut mengepung si Colat, saya

merasa seolah-olah akan memenangkan orang ini, Bagus

Wiratanu yang berandalan itu.”

“Sang Prabu bijaksana,” kata Banyak Sumba karena tidak

ada kata-kata lain yang hendak diucapkannya.

“Ya, saya yakin akan hal itu. Dan mungkin kalau nanti kita

menemukan si Colat, perasaan saya terhadapnya langsung

akan berubah.”

“Perasaan Saudara akan berubah. Saya pernah melihatnya

dan meremang bulu roma saya melihat senyumnya,” kata

Banyak Sumba, telanjur berkata.

“Saudara pernah bertemu dengan dia?” tanya Raden

Girilaya penasaran.

“Ya” kata Banyak Sumba.

“Di mana?” tanya Raden Girilaya.

“Di sebuah hutan,” jawab Banyak Sumba. Raden Girilaya

memandangnya dengan penasaran. Banyak Sumba sekarang

agak gugup. Ia baru menyadari bahwa percakapan itu

mungkin akan membahayakan rahasianya. Ia berpikir keras

untuk membelokkan percakapan.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Saya kira, sikap orang-orang Medang, seperti Saudara,

akan seperti sikap saya sekarang,” kata Raden Girilaya.

“Mengapa?” tanya Banyak Sumba.

“Saudara Sumba pun tahu bahwa rakyat Medang dengan

sendirinya membenci penguasa Kutawaringin karena orangorang

Kutawaringin ini bukan saja bermaksud menghinakan

abu jenazah Jante Jaluwuyung, tapi diketahui pula bermaksud

menumpas keluarga wangsa Banyak Citra.”

Banyak Sumba-lah sekarang yang penasaran. Ia hendak

bertanya, tetapi tiba-tiba terkilas pikiran cerdik yang segera

akan membelokkan percakapan. Ia berkata, “Ya, tapi

janganlah diharapkan keluaraga Wiratanu akan menemukan

keluarga pangeran kami yang menghilang. Kami sendiri sudah

lama mencari jejaknya, tapi tidak menemukannya. Apalagi

mereka yang bermaksud jahat. Kami yakin bahwa Sang Hiang

Tunggal akan melindungi mereka.”

Permainan sandiwara Banyak Sumba berhasil karena

tampak bahwa Raden Girilaya memperlihatkan pengertiannya.

Ia berkata, “Saya tahu bahwa Saudara dan rakyat Kota

Medang akan sangat prihatin dengan menghilangnya

Pangeran Banyak Citra itu,” katanya.

“Saya ingin mengetahui lebih banyak, bagaimana Saudara

dapat bertemu dengan si Colat,” tanya Raden Girilaya.

“Kami berada dalam perjalanan, maksud saya, saya dan

panakawan saya, Jasik. Kami melihat rombongannya dan kami

melihat kesatria tampan, tetapi dari ujung bibir sampai

telinganya melintang bekas luka yang mengerikan.”

Banyak Sumba berdusta. Yang terbayang dalam hatinya

adalah peristiwa bagaimana si Colat menyelamatkan Raden

Jimat, putranya yang berumur delapan tahun, yang diculik

oleh kepala jagabaya di sebelah barat Kutabarang. Terbayang

olehnya bagaimana si Colat, seperti seorang yang menari,

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

merobohkan lawan-lawannya dengan mudah, lalu menghilang

dalam gelap.

Dengan jawaban yang bertentangan dengan isi hati Banyak

Sumba, Raden Girilaya rupanya puas. Mereka kemudian

bercakap-cakap tentang itu dan ini. Ketika bintang-bintang

mulai banyak bertaburan, mereka pun membaringkan diri di

dalam gua yang diterangi oleh lampu minyak.

BEBERAPA hari setelah percakapan malam itu, pada suatu

tengah hari yang panas, datanglah calon puragabaya yang

dinanti-nantikan itu. Ketika itu, Banyak Sumba sedang

beristirahat di bawah sebatang pohon yang rindang dan

berbincangbincang dengan Raden Girilaya tentang ilmu baru

yang ditemukannya. Seorang badega beriari-lari di depan

mereka. Ketika dipanggil, bandega itu mengatakan bahwa ia

melihat dua orang penunggang kuda, yang seorang kesatria

atau pendeta dan yang lain panakawannya.

Banyak Sumba memandang ke dalam mata Raden Girilaya

dengan hati berdebar-debar.

“Calon itu,” kata Raden Girilaya sambil tersenyum gembira.

Sebaliknya, hati Banyak Sumba menjadi tegang karena ia

tahu, suatu hal yang sangat penting akan terjadi. Dan,

kejadian itu akan membawa pengaruh buruk atau pengaruh

baik terhadap hidup dan tugasnya.

“Tidakkah kita menyambutnya sekarang juga?” tanya

Raden Girilaya seraya memandang Banyak Sumba yang

tampak tidak bergairah oleh kedatangan calon puragabaya itu.

“Saudara Girilaya, saya ingat kepada si Colat,” kata Banyak

Sumba mengalihkan percakapan. Raden Girilaya tampak

tertegun, tersenyum kembali, lalu berkata, “Si Colat pernah

menjadi pujaan masa remaja saya, Saudara Sumba. Akan

tetapi, yang saya puja dulu bukanlah si Colat sekarang. Saya

sudah memutuskan untuk mencoba menangkapnya dan saya

yakin, sang Prabu telah mengambil kebijaksanaan yang tepat.”

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Mendengar perkataan itu, berdirilah Banyak Sumba. Kedua

orang anak muda itu pun tergesa menuju ke tanah lapang

tempat penghuni Padepokan Sirnadirasa menerima tamu-tamu

penting dengan segala upacara.

Di lapangan kecil itu telah berkumpul penghuni padepokan

dengan Eyang Resi berdiri di tengah-tengah. Di hadapan

beliau berdiri dua orang asing, seorang pemuda yang berumur

kira-kira dua atau tiga tahun lebih muda daripada Banyak

Sumba. Pemuda yang tampan itu berpakaian putih-putih

seperti pakaian seorang pendeta. Tubuhnya yang semampai

sekali-kali tidak memperlihatkan bahwa ia seorang calon

perwira tinggi dari Padepokan Tajimalela. Otot-ototnya halus,

tidak gempal-gempal seperti kebanyakan otot siswa-siswa di

Padepokan Sirnadirasa. Walaupun tinggi, pemuda itu sama

tinggi dengan Banyak Sumba. Kalau ditilik dari besarnya,

mungkin berat pemuda itu hanya tiga perempat berat badan

Banyak Sumba. Begitu pula pergelangan tangan pemuda itu,

paling besar hanyalah dua pertiga pergelangan tangan Banyak

Sumba. Semua itu tidak lepas dari perhatian Banyak Sumba,

yang dalam pertemuan pertama telah mengukur kekuatan

calon perwira tinggi itu.

Panakawan calon itu seorang yang umurnya kira-kira sama

dengan Kang Arsim, antara tiga puluh dan tiga puluh lima.

Tampaknya, orang ini berlainan sekali dengan tuannya.

Pendek, gempal, kocak, dan berpakaian nila. Dari ototototnya,

Banyak Sumba melihat bahwa orang ini memendam

tenaga yang besar. Otot-ototnya mengingatkan Banyak

Sumba pada bentuk otot-otot si Gojin.

Ketika kedua orang tamu itu bersujud menghaturkan

sembah kepada Eyang Sirnadirasa, berkatalah Eyang Resi,

“Selamat datang di padepokan kami, Raden. Semoga

tenanglah Raden tinggal di sini untuk beberapa lama dan

semoga terlaksanalah tugas Raden dengan baik.”

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Terima kasih dan terimalah sembah sujud hamba, Eyang.

Terima pula salam Eyang Resi Tajimalela yang saya bawa

untuk Eyang.”

“Terima kasih, Raden. Sekarang, marilah kita memasuki

ruangan,” ujar Eyang Resi sambil mengangkat calon

puragabaya itu dari tempatnya berlutut. Seraya berjalan,

Eyang Resi memperkenalkan siswa-siswa padepokan kepada

calon puragabaya itu, sambil memperkenalkan kembali calon

puragabaya kepada para siswa. Ternyata, gelar calon

puragabaya itu Ma-dea. Nama aslinya sudah ditiadakan untuk

menghilangkan asal usul kebangsawanan yang tidak boleh

dibawa-bawa dalam kedudukan kepuragabayaan.

Setiba di ruangan besar, yang sebagian terdiri dari ruangan

gua dan sebagian lagi ruangan bangunan beratap ijuk,

duduklah semua hadirin, berkeliling. Eyang Resi duduk di

samping calon puragabaya yang sekarang tidak lagi ditemani

panakawannya.

“Anak-anakku, inilah tamu yang kalian nanti-nantikan

selama ini. Mengenai tugas tamu kita ini, Raden Madea akan

menjelaskannya sendiri kepada kalian nanti. Sekarang, sambil

Raden Madea beristirahat di tengah-tengah kalian, berbincang-

bincanglah kalian di sini dan nanti malam kita akan

berkumpul kembali.”

Setelah berkata demikian, Eyang Resi mengundurkan diri.

Sementara itu, Raden Madea dijamu dengan buah-buahan

yang banyak didapat di hutan-hutan dekat padepokan. Para

siswa mengelilingi tamu itu dan bercakap-cakap dengannya.

Banyak Sumba duduk di tempat yang agak jauh, termenung

memikirkan rencana-rencananya. Tak lama setelah itu, Raden

Madea dipersilakan untuk beristirahat. Demikian pula para.

Mereka siswa segera mengundurkan diri ke tempat masingmasing.

Malam itu, setelah bersemedi senja, mereka berjalan ke

arah lapangan kecil yang ditumbuhi lumut. Bulan terbit agak

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

larut, tetapi karena udara jernih, cahayanya cukup menerangi

mereka. Di lapangan kecil itu, mereka duduk. Setelah Eyang

Resi mempersilakan, berkatalah calon puragabaya itu. Ia

menerangkan maksud kedatangannya dan menjelaskan

sebagian tugas yang diembannya.

“Saudara-saudara,” kata calon puragabaya, Raden Madea,

“tentu saja Eyang Resi telah menjelaskan kedatangan saya ini

karena sebelumnya dari Pakuan Pajajaran telah diutus dua

orang badega untuk membawa berita. Akan tetapi, pada

tempatnya jika saya memberikan uraian lebih lanjut sesuai

dengan tugas saya dan agar Saudara mendapat gambaran

yang lebih tegas lagi tentang tugas yang akan kita emban

bersama dalam waktu dekat.”

Raden Madea berhenti sejenak, seluruh hadirin sunyi

sehingga angin yang lewat di daun-daun hutan terdengar

berdesir. Lalu, Raden Madea melanjutkan penjelasannya.

“Saudara-saudara, dengan dukacita, sang Prabu terpaksa

menetapkan bahwa seorang anak negerinya yang bernama si

Colat, terpaksa harus diperlakukan sebagai binatang buas. Ia

harus diburu seperti seekor harimau yang merusak ternak,

seperti babi hutan yang merusak palawija, seperti ular besar

yang menelan pendeta di pertapaannya.

‘Apakah dosa si Colat sehingga ia harus diperlakukan

seperti seekor binatang buas? Bukankah ia seorang manusia

yang mempunyai budi dan karena itu dapat memimpin dirinya

hidup secara layak sebagai manusia yang beradab? Saudara,

dari sinilah titik tolak masalahnya. Karena riwayat hidupnya

yang menyedihkan, si Colat ini telah berubah sifat-sifatnya

sehingga akal budinya tidak dapat lagi menjadi

pembimbingnya. Ia sangat berdukacita. Saudara-saudaranya

tidak mau mengakui dan bahkan menghinakannya, kemudian

saudara-saudara seayahnya hampir mencabut nyawanya

dalam suatu pengeroyokan oleh para badega. Ia dilukai dan ia

tidak mau kembali kepada istri yang dicintainya, seorang putri

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

cantik lagi budiman yang telah memberinya seorang putra

yang sehat dan tampan, yang dinamai Raden Jimat. Ia

mengirim berita kepada istrinya lewat badega-badeganya

bahwa ia telah gugur dalam pengeroyokan itu. Sebenarnya, ia

masih hidup, tetapi tidak dapat bertemu dengan istrinya

kembali karena bekas luka yang mengerikan, melintang dari

sudut bibir hingga telinganya. Saudara-saudara dapat

membayangkan. Betapa besar penderitaan orang yang

dianiaya secara lahir dan batin seperti si Colat ini.

“Seorang yang terlunta-lunta dan berdukacita seperti si

Colat dapat bergantung dengan tangan kanannya kepada para

Bujangga dan Pohaci. Ia terpanggil untuk menjadi pertapa.

Akan tetapi, karena kelemahannya, ia dengan tangan kirinya

bergantung kepada siluman. Ia mengembara mencari Gerbang

Buana Larang yang kemudian dapat ditemukannya. Dari sana,

dibawanya ilmu yang berbahaya. Ia seorang perwira yang

sukar tandingannya. Dan, keperwiraannya itu

dipergunakannya untuk membalas dendam.

“Tiga orang bangsawan tinggi Kutawaringin dan dua orang

bangsawan di Kutabarang telah dibunuhnya. Kepala

bangsawan-bangsawan ini dikirimkan di atas baki kepada

Tumenggung Wiratanu di Kutawaringin. Sang Prabu dapat

memahami dan meraba perasaan si Colat yang selama ini

telah begitu banyak menderita. Akan tetapi, kalau kekejaman

yang luar biasa ini dibiarkan, anak negeri Pajajaran akan

melihat contoh yang buruk. Usaha-usaha dan cara-cara yang

halus telah dijalankan. Utusan-utusan telah dikirim untuk

bertemu si Colat, dengan pesan sang Prabu. Pertama, agar si

Colat menghentikan tindakan balas dendamnya; kedua, agar

ia mau datang menghadap supaya persoalannya dapat diadili.

Akan tetapi, si Colat tak pernah menuruti panggilan itu. Ini

pun contoh yang tidak baik. Bukankah seorang anak yang

marah tidak berhak membangkang terhadap ayah yang

menyayanginya. Akhirnya, dengan rasa penuh dukacita, sang

Prabu terpaksa mengambil kebijaksanaan lain.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Kebijaksanaan untuk menjalankan kekerasan ini didorong

pula oleh peristiwa-peristiwa belakangan ini, yaitu oleh

perbuatan-perbuatan anak buah si Colat. Mereka mulai

merusak dan menganiaya anak negeri yang tidak berdosa,

yang tidak ada hubungannya dengan pihak-pihak yang punya

perhitungan dengan si Colat. Dua orang rakyat meninggal,

sebelas orang pernah dianiaya, dan seorang gadis petani

hilang diculik. Sang Prabu memerintahkan agar para jagabaya

bergerak.

“Namun, gerakan ini tidak segera mendatangkan hasil

karena si Colat bukan lawan yang lemah. Oleh karena itu,

sang Prabu mengutus seorang ponggawa ke Padepokan

Tajimalela untuk membicarakan hal itu dengan Eyang Resi.

Hasilnya, saya berada di sini sekarang.”

Demikian akhir kata Raden Madea sambil tersenyum.

Kemudian, ia menyembah kepada Eyang Resi yang berkata,

“Anak-anakku, kalian sudah tahu tugas-tugas kalian, yaitu

membantu usaha kerajaan untuk mengembalikan keamanan

dan ketenteraman hidup anak negeri ini. Raden Madea dipilih

menjadi pemimpin kalian dalam gerakan ini. Sebenarnya,

gerakan ini dipimpin oleh seorang puragabaya dan empat

calon puragabaya. Anak buah pasukan yang terdiri dari lima

puluh orang yang diambil dari berbagai perguruan. Perguruan

kita mendapat kehormatan.”

Eyang Resi berpaling kepada tamu yang mengangguk dan

tersenyum kepada beliau.

“Tentu saja kehormatan itu harus kita buktikan dulu, Anakanakku,”

ujar Eyang Resi sambil tersenyum pula. “Malam ini,

kita akan memperlihatkan kepada Raden Madea apa-apa yang

kita miliki di sini. Kalian akan berkelahi berpasang-pasangan,

kemudian kalian akan berkelahi melawan kero-yokankeroyokan

dan selanjutnya.”

Banyak Sumba menajamkan pendengarannya. Ia berharap

mendengar Raden Madea akan memperlihatkan

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

keperwiraannya dengan melawan mereka, tetapi Eyang Resi

tidak mengatakan hal itu. Banyak Sumba berbisik kepada

Raden Girilaya yang duduk di sampingnya, apakah Raden

Madea akan menunjukkan kepandaiannya. Raden Girilaya

berbisik, “Tidak mungkin, Saudara. Para puragabaya dan calon

puragabaya dilarang berkelahi, kecuali demi kepentingan

pendidikan mereka dan demi kepentingan kerajaan, misalnya

menyelamatkan anak negeri dan dirinya sendiri, atau

menyelamatkan sang Prabu. Raden Madea akan melihat kita,

mungkin memberikan nasihat-nasihat, mungkin juga tidak.

Yang pasti dikemukakannya adalah hal-hal yang lebih

terperinci mengenai si Colat.”

“Sayang,” ujar Banyak Sumba, setengah sadar.

“Ya?” kata Raden Girilaya.

“Sayang, kalau dapat melihat gaya berkelahinya, mungkin

kita sedikit banyak akan dapat mempelajari ilmu

kepuragabayaan,” kata Banyak Sumba pula.

Raden Girilaya memandang Banyak Sumba dengan

keheranan. Banyak Sumba terkejut ketika ia menyadari bahwa

ia telah berbuat yang tidak senonoh. Bagaimanapun, ingin

mengetahui sesuatu yang dilarang kerajaan adalah tidak

senonoh, apalagi kalau keinginan itu ada pada hati seorang

kesatria seperti dia. Ia dengan gugup berkata kepada Raden

Girilaya, “Oh, saya hanya main-main, Saudara,” katanya.

Raden Girilaya menarik napas panjang, lalu berpaling ke arah

Eyang Resi dan calon puragabaya.

Banyak Sumba termenung, meninjau kembali rencanarencana

yang sudah lama digariskan dalam pikirannya.

Setelah acara pembicaraan selesai dan calon puragabaya

itu memberitahukan tentang waktu keberangkatan para siswa,

mereka pun berdiri, lalu berjalan ke arah lapangan tempat

berlatih. Di sana, mereka memperlihatkan cara-cara

perkelahian berpasang-pasangan, lalu cara pengeroyokan dan

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

perlawanannya. Banyak Sumba mencoba menyelami kesankesan

yang tergambar pada wajah Raden Madea tentang

cara-cara perkelahian siswa-siswa itu. Akan tetapi, Raden

Madea tidak memperlihatkan kesan-kesan khusus. Ia

tersenyum, tapi apakah senyumnya itu memperlihatkan

kepuasan atau bukan, Banyak Sumba tidak dapat

menduganya.

Keesokan harinya, pagi-pagi setelah latihan, mereka

berkumpul kembali. Raden Madea membuka kain sutra tempat

peta kerajaan tergambar dengan indah. Ia menunjukkan

tempat yang akan mereka tuju, yaitu daerah-daerah

pegunungan dan hutan-hutan lebat yang diketahui sebagai

tempat persembunyian si Colat dengan anak buahnya. Setelah

menerangkan beberapa hal lain tentang persenjataan anak

buah si Colat, cara-cara mereka menyerang, dan tokoh-tokoh

utama di samping si Colat, mereka pun bubar. Banyak Sumba

mengharapkan Raden Madea akan mengikuti latihan mereka,

tetapi Raden Madea memilih berkunjung ke gua tempat Eyang

Resi. Banyak Sumba ikut berlatih dengan perasaan kecewa.

SEMENJAK Raden Madea berada di Padepokan Sirnadirasa,

semenjak itulah Banyak Sumba sering termenung. Berulangulang

ia meninjau kembali rencana yang ada dalam pikirannya

dengan maksud menggagalkan rencana itu, tetapi selalu ia

mengatakan kepada dirinya bahwa kesempatan yang lebih

baik belum tentu akan muncul seperti ketika itu.

Pada suatu siang, tibalah Jasik di Padepokan Sirnadirasa.

Maka, segalanya jadi berubah. Banyak Sumba berketetapan

hati untuk melaksanakan rencananya itu. Ketika Banyak

Sumba berkunjung ke tempat para badega di tempat Jasik

menginap, berundinglah mereka secara sembunyi-sembunyi.

“Sik, di padepokan ini ada seorang calon puragabaya,” kata

Banyak Sumba.

Jasik segera menyela, “Sudahkah Raden mencoba

keperwiraannya?”

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Itulah soalnya, Sik. Sukar sekali bagiku untuk mengorek

ilmu yang sangat berguna itu darinya. Ia tidak akan berani

melanggar peraturan Padepokan Tajimalela. Kau tahu, Sik,

para calon puragabaya dan puragabaya dilarang keras

berkelahi kalau tidak sedang mengemban tugas untuk itu.

Peraturan yang keras ini mudah dimengerti karena ilmu

kepuraga-bayaan merupakan senjata yang luar biasa

ampuhnya sebagai alat untuk melindungi anak negeri,

kerajaan, dan sang Prabu. Itulah sebabnya, jalan satu-satunya

….”

“Raden menyerangnya?”

“Ya, Sik, walaupun saya tidak yakin, apakah cara itu akan

berhasil, tetapi itu cara satu-satunya.”

Jasik termenung. Tampak ia pun melihat akibat besar dari

cara itu. Tak lama kemudian, ia bertanya, “Seandainya Raden

menyerangnya, bagaimana kira-kira sikap Padepokan

Sirnadirasa terhadap Raden?”

“Itulah soalnya, Sik. Mereka tentu menyesali saya dan saya

tidak mungkin lagi jadi siswa di padepokan ini.”

“Apakah menurut pendapat Raden masih banyak ilmu yang

harus dipelajari di padepokan ini?”

Banyak Sumba ragu-ragu sebelum menjawab. Pertanyaan

itu berulang-ulang ia tanyakan kepada dirinya. Akan tetapi, ia

takut menjawabnya karena ia tahu, masalahnya bukan

terletak pada jawaban pertanyaan itu, melainkan pada

pertanyaan selanjutnya. Setelah lama termenung, ia berkata,

“Tidak banyak lagi yang harus kupelajari di sini, Sik. Bahkan,

sekarang saya mulai mengajar ilmu yang saya temukan ketika

kita berjalan antara Kota Medang dan Kutawaringin,” ujar

Banyak Sumba.

“Kalau begitu, apakah salahnya kalau Raden diusir dari

padepokan ini. Bukan Raden yang rugi, tetapi padepokan yang

akan kehilangan Raden.”

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Bukan begitu, Sik. Soalnya, saya dulu berjanji bahwa saya

akan mempergunakan ilmu saya secara baik dan untuk

kebaikan.”

“Lha, bukankah dengan mencoba keperwiraan puragabaya

itu Raden akan menguji ilmu Raden sendiri, kemudian akan

dipergunakan untuk menegakkan kehormatan keluarga?”

Sekali lagi, Banyak Sumba termenung, la tidak berani

mengemukakan masalah sebenarnya yang terletak pada

Raden Girilaya. Raden Girilaya adalah saudara Nyai Emas

Purbamanik. Seandainya Banyak Sumba melakukan apa-apa

yang dianggap buruk Raden Girilaya, bukankah mungkin ia

akan kehilangan gadis yang dicintainya itu? Ia ingin

mengatakan hal itu kepada Jasik, tetapi ia merasa malu. Ia

tentu saja dianggap Jasik sebagai anggota wangsa Banyak

Citra yang tidak pantas, yang mementingkan diri sendiri

daripada kehormatan keluarga. Jasik tentu menganggap

Banyak Sumba sebagai kesatria yang lemah, mendahulukan

wanita daripada tugas kesa-triaan. Itulah sebabnya, Banyak

Sumba terdiam. Ia tahu, Jasik yang belum pernah tertarik oleh

gadis-gadis yang ditemukannya, tidak akan dapat merasakan

apa yang dirasakannya. Terasa olehnya bahwa tidaklah mudah

memecahkan pertentangan antara kepentingan keluarga

dengan kepentingan dirinya.

Setelah menarik napas panjang, berkatalah Banyak Sumba,

“Rupanya, cara itu memang cara satu-satunya, Sik, dan saya

mengambil segala akibatnya.”

Setelah berkata demikian, terkenanglah segala kejadian di

Puri Purbawisesa, ketika Banyak Sumba hendak meninggalkan

puri itu. Alangkah indahnya pengalaman malam itu. Dengan

kenangan yang indah itu, menyusup pulalah kesedihan ke

dalam hatinya. Mungkin ia tidak dapat menikmati keindahan

itu lagi untuk selama-lamanya karena ia seorang kesatria.

Seorang kesatria harus mendahulukan tugas daripada

kepentingan dirinya. Ia berpaling kepada jasik seraya berkata

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

dalam hatinya, alangkah baiknya kalau ia jadi orang biasa, jadi

pemuda kampung dan tidak sebagai kesatria. Ia tersenyum

karena hatinya kemudian berkata, ia tidak boleh lemah, Nyai

Emas Purbamanik mungkin saja suatu godaan yang

dijatuhkan-Sang Hiang Tunggal di tengah-tengah

perjalanannya. Agar ia mendapat kesukaran dalam usaha

membalas dendam terhadap pembunuh Kakanda Jante dan

menegakkan kembali kehormatan keluarga.

Sekali lagi ia menarik napas panjang, kemudian berkata,

“Baiklah, Sik. Saya akan mengambil segala akibatnya. Saya

akan menyerangnya, lalu melarikan diri dari padepokan karena

saya tahu, saya akan ditangkap. Bagaimanapun, saya akan

dianggap mencemarkan nama padepokan. Untuk itu, besok

pagi-pagi, tunggulah saya di kaki bukit sebelah timur.

Sediakan kudaku, janganlah mencurigakan orang-orang di

tempat para badega.”

“Apakah Raden akan menyerang malam hari?”

“Tidak, Sik, besok pagi-pagi. Raden Madea calon

puragabaya itu, biasa berlari-lari mendaki dan menuruni

tebing gunung. Ia biasa melompati beberapa cadas, kemudian

beristirahat di suatu tempat. Sebelum atau sesudah

beristirahat itulah saya akan menyerangnya. Setelah itu, saya

akan menjumpaimu. Tunggulah di sana sebelum matahari

terbit karena Raden Madea biasa berlatih subuh.”

“Baiklah, Raden. Apakah segala perbekalan perlu pula

disiapkan?”

“Saya kira tidak usah, Sik. Kita harus cepat-cepat melarikan

diri dari padepokan, kuda harus ringan. Perbekalan akan kita

cari di Kutabarang nanti.”

“Baiklah, Raden,” ujar Jasik.

Mereka berpisah dan Banyak Sumba memerinci rencana

yang akan dilaksanakannya keesokan harinya.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

KEESOKAN harinya, subuh-subuh Banyak Sumba sudah

bangkit.

“Hari masih subuh, Saudara Sumba,” kata Raden Girilaya

dari tikar tidurnya.

“Saya harus pergi ke kali,” kata Banyak Sumba sambil

mengenakan pakaian luarnya. Ia melirik Raden Girilaya dan

merasa lega karena Raden Girilaya bermaksud tidur kembali.

Dengan hati-hati, Banyak Sumba mengambil beberapa buah

kotak lontar kecil tempat ia mencatat berbagai hal mengenai

ilmu keperwiraan yang sedang menjadi bahan renungannya.

Diambilnya pula badik kecil, lalu disisipkan di pinggangnya.

Setelah melekatkan ikat kepala, ia pun bangkit, lalu membuka

tabir pintu gua. Sementara udara segar memasuki gua, ia

keluar.

Matahari belum terbit, tetapi burung-burung kecil sudah

terjaga dan berbunyi. Banyak Sumba berjalan di antara

semak-semak. Alas kakinya yang terbuat dari kulit kasar

segera basah karena embun dari rumput. Ia berjalan mendaki

punggung gunung. Agar segera tiba di tempat tujuannya, ia

mulai berlari kecil. Ditirunya perbuatan calon puragabaya,

sepanjang jalan dilompatinya bongkahan-bongkahan cadas

yang menonjol di sana sini. Belum lama ia berlari, napasnya

sudah memburu. Ia tertegun, termenung.

Tiba-tiba, ia sadar bahwa semua yang dilakukan oleh calon

puragabaya setiap subuh itu bukanlah permainan. Ternyata,

perbuatan yang aneh itu ada artinya, pikir Banyak Sumba.

Kalau saja ia saban hari berlari seperti itu, sudah barang tentu

napasnya menjadi panjang. Bukankah otot-ototnya menjadi

kuat karena dulu ia biasa mengangkat batu-batu besar ketika

sedang belajar kepada si Gojin? Paru-paru harus diperkuat,

caranya dengan berlari di udara, terbuka. Terasa olehnya,

dadanya agak sakit karena ia tidak biasa melakukan perbuatan

yang memerlukan bernapas kuat-kuat. Biasanya ia

beranggapan bahwa dalam perkelahian, lawan harus

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

dirobohkannya dalam waktu singkat. Dengan demikian, kalau

memang lawan lemah, napas yang panjang tidaklah

diperlukan benar. Akan tetapi, bagaimana kalau lawan tidak

cepat roboh? Ia menyadari bahwa ia telah menemukan suatu

hal yang penting, suatu bagian dari ilmu kepuragabayaan,

yaitu cara memperkuat paru-paru dan memperpanjang napas.

Sambil termenung, ia terus berjalan mendaki punggung

gunung, menuju lorong di antara semak-semak yang biasa

dipergunakan Raden Madea berlari pagi-pagi. Tiba-tiba, ia

melihat Raden Madea tidak berapa jauh darinya. Ketika ia

masih ragu-ragu, Raden Madea sudah melewatinya dan berlari

ke arah puncak gunung. Banyak Sumba termenung, ia

bingung. Ia harus memanggilnya, tetapi itu akan menarik

perhatian padepokan. Kalau ia menunggu dan kemudian

menghadangnya ketika calon puragabaya itu turun,

perkelahian akan tidak seimbang. Mungkin Raden Madea

ketika itu sudah kelelahan. Tak ada jalan lain, ia harus

mengejar dan menyerangnya. Supaya Raden Madea marah

dan mau berkelahi, ia harus menyerangnya dari belakang.

Dengan pikiran demikian itu, berlari pulalah ia mengejar

Raden Madea. Mula-mula, Raden Madea terus berlari, tetapi

tiba-tiba berhenti, lalu berpaling. Ia tersenyum kepada Banyak

Sumba, lalu berkata, “Marilah berlomba sampai puncak,

kemudian kita berlomba menuruni gunung ini, turun lebih

sukar, apalagi bagi Saudara yang bertubuh lebih besar

daripada saya. Mari!” sambil berkata demikian, Raden Madea

berlari dengan cepat sekali.

Banyak Sumba mengejarnya. Ketika Raden Madea menjadi

lambat larinya karena semak-semak yang semakin lebat,

Banyak Sumba sudah ada di belakangnya. Begitu berada di

belakang Raden Madea, Banyak Sumba mempergunakan kaki

kanannya untuk menyapu kedua kaki Raden Madea. Dengan

mudah, tubuh Raden Madea yang semampai itu terangkat dari

tanah dan jatuh ke depan, tetapi tidak tersungkur. Dengan

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

mengherankan, Raden Madea berjungkir dan segera berdiri

kembali, lalu beriari lagi sambil tertawa dan berseru, “Jangan

terlalu dekat larinya, ambillah lorong lain supaya Saudara tidak

terhambat kalau saya lambat.”

Banyak Sumba yang terheran-heran mulai mengerti bahwa

calon puragabaya itu menyangka dia melibat kakinya secara

tidak sengaja. Ia menggertakkan giginya karena kesal dan

mendengus, seperti yang biasa dilakukan anggota laki-laki

wangsa Banyak Citra kalau marah. Napasnya mulai tersengalsengal,

tapi ia terus berlari. Ia bertekad melakukan apa yang

telah diperbuatnya sekali lagi dan berulang-ulang sampai

Raden Madea mengerti.

Tak lama kemudian, kesempatan itu datang kembali.

Banyak Sumba menjangkau ujung ikat pinggang Raden

Madea, lalu menariknya ke belakang. Raden Madea terjungkir

ke belakang, lalu berdiri kembali dan terus lari sambil tertawa,

“Saudara licik!” serunya sambil tertawa-tawa. “Tapi baiklah,

kejarlah saya.”

Banyak Sumba kehabisan akal, napasnya sudah hampir

habis, sedangkan Raden Madea ternyata begitu ringan dan

lincah mendaki lereng gunung yang terjal itu. Banyak Sumba

berhenti, menunggu orang yang diburunya itu. Ia akan

mempergunakan siasat lain. Ia akan langsung menyerang,

tidak melibat kakinya, tetapi akan menangkap dan

membantingnya.

Sementara itu, tampak Raden Madea mulai turun. Banyak

Sumba bersiap-siap. Ketika Raden Madea tinggal beberapa

langkah lagi darinya dan Banyak Sumba hendak

menerkamnya, tiba-tiba pinggangnya dipegang orang.

Sepasang tangan yang pendek-pendek tapi besar-besar

mengunci pinggangnya.

Banyak Sumba mempergunakan sikutnya. Terdengar orang

itu mengaduh ketika ujung sikutnya itu mengenai benda

keras. Ternyata, kedua pasang tangan makin erat mengunci

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

perutnya. Akhirnya, Banyak Sumba memilih salah satu jari,

membuka jarinya itu dengan susah payah, kemudian akan

mematahkannya. Sebelum Banyak Sumba sempat

mematahkan jari itu, si pemegang telah melepaskan

tangannya dan menyapu kaki Banyak Sumba dengan tangan

kanannya. Banyak Sumba tidak punya pilihan lain. Ia

menjatuhkan diri ke depan, tapi sambil memutar badannya.

Ketika ia jatuh telentang, lawannya yang menyerang dari

belakang tampak hendak menggulatnya. Dengan cepat,

Banyak Sumba menarik lututnya ke atas dan kaki kanannya

menjejak ke depan, ke arah tubuh yang menubruknya.

Jejakan mengenai sasarannya. Orang itu terpental, memegang

ulu hatinya. Seraya sempoyongan mulutnya menganga,

mencari napas. Ternyata, orang itu badega Raden Madea.

Banyak Sumba berdiri menghadap kepada Raden Madea. Ia

keheranan.

“Ada apa?” tanya Raden Madea.

“Awas, Raden!” seru panakawannya seraya menyerang

Banyak Sumba dari samping. Sambil menangkap tangan

kanan Banyak Sumba dan berusaha melipatnya, panakawan

itu berseru, memberi tahu tuannya bahwa Banyak Sumba

bermaksud mencelakakannya.

Merasa tangannya akan dikunci, Banyak Sumba tidak dapat

berbuat lain, kecuali melawan. Ia berbalik. Dengan

mempergunakan tinju kirinya, ia menghantam muka

panakawan itu dengan keras. Darah memancar dari hidung

panakawan yang berwajah bulat itu. Akan tetapi, panakawan

itu tidaklah mundur. Dengan cepat, ia menubruk, mendorong

dada Banyak Sumba dengan maksud menjatuhkannya ke

lereng gunung. Banyak Sumba mempergunakan dadanya

untuk mematahkan pergelangan panakawannya itu. Bunyi

jaringan otot yang meregang terdengar, raungan yang keras

keluar dari mulut panakawan yang sambil mundur memegang

pergelangan tangan kirinya.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Tangan kirinya terkilir, Saudara, marilah saya urut,” kata

Raden Madea seraya mendekati panakawannya. Akan tetapi,

Banyak Sumba tidak memberinya kesempatan. Begitu ia

lewat, Banyak Sumba yang lebih besar menangkap leher

Raden Madea, tapi ternyata ia menangkap udara. Begitu cepat

Raden Madea menghindar hingga suara tangan Banyak Sumba

keras terdengar, seperti orang yang bertepuk. Banyak Sumba

tidak mundur. Ia menyerang dengan kakinya, tetapi Raden

Madea lincah seperti kucing.

“Saudara kehilangan akal sehat,” kata Raden Madea sambil

menghindari serangan Banyak Sumba yang bertubi-tubi.

“Saya bermaksud membunuh Saudara,” ujar Banyak

Sumba, memancing kemarahan dan perlawanan calon

puragabaya itu.

“Saya tidak punya kesalahan terhadap Saudara,” kata calon

itu.

Banyak Sumba berhasil menangkap tangan lawannya yang

masih keheranan, lalu melipat dengan maksud

membantingnya. Dengan cepat, kedua belah matanya menjadi

gelap, tertutup telapak tangan kiri calon itu. Ketika Banyak

Sumba mengibaskan mukanya, tiba-tiba saja kakinya sudah

tidak berpijak lagi dan dia terbaring di atas semak. Raden

Madea berdiri di dekatnya, memerhatikannya seperti

keheranan.

“Bacalah mantra-mantra pengusir siluman, mungkin

Saudara kerasukan,” kata calon puragabaya itu.

Banyak Sumba bangkit, lalu menyerangnya dengan kaki.

Akan tetapi, dengan mudah kakinya ditepuk calon puragabaya

itu dengan kedua tangannya yang halus dan lemah, seolaholah

ia mengibas sehelai saputangan. Banyak Sumba

sempoyongan oleh tangannya sendiri yang terbuang. Akan

tetapi, ia merasa senang karena telah membaca beberapa hal

yang tidak akan pernah dibacanya dalam buku ilmu

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

keperwiraan mana pun. Sambil terengah-engah, ia maju. Ia

akan mempergunakan keuntungan yang dimilikinya, yaitu

tubuhnya yang besar. Ia akan mencoba mendesak calon

puragabaya itu ke kedudukan yang berbahaya hingga ia akan

terpaksa mengeluarkan ilmu yang dirahasiakannya. Ia

mendekat, tetapi Raden Madea menghindar dengan melompat

ke belakang. Dengan sekali lompat saja, sekurang-kurangnya

tiga langkah terbentang antara tempat berdiri semula.

Banyak Sumba mengejarnya sekali lagi. Raden Madea

melompat, sekarang makin jauh. Banyak Sumba berlari dan

kadang-kadang melompat. Raden Madea menghindar, menuju

arah padepokan. Banyak Sumba mulai cemas, kalau-kalau

usahanya akan menghasilkan sedikit. Maka, dipercepat-lah

pengejarannya. Karena ia lebih hafal jalan di semak-semak itu,

akhirnya ia dapat mencegat Raden Madea. Raden Madea

terpojok dengan di belakangnya semak yang tinggi. Banyak

Sumba beranggapan bahwa sekarang calon itu terpaksa

melawan. Ia menyerangnya. Akan tetapi, Raden Madea

melompati semak itu dan ketika kakinya terkait, ia berjungkir

dan tiba di seberang semak itu dengan berdiri mantap,

“Barangkali Saudara sudah gila,” kata Raden Madea di

seberang semak.

“Kubunuh kau,” kata Banyak Sumba, melompati semak dan

tiba di hadapan Raden Madea. Raden Madea memandangnya

dengan bingung dan heran.

“Serulah ayah dan ibumu karena sebentar lagi nyawamu

akan terbang ke Buana Larang,” kata Banyak Sumba.

Ia menangkap baju Raden Madea, menariknya ke depan

dengan maksud merangkulnya, lalu melipatnya bagai seekor

ular besar meremukkan mangsanya. Hal itu dilakukannya

untuk memancing perlawanan belaka dan tidak untuk

membuat calon itu cedera. Akan tetapi, begitu berada dalam

jarak pukul, tiba-tiba calon puragabaya itu memukul ulu

hatinya. Tampaknya seperti perlahan, tetapi pandangan mata

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Banyak Sumba menjadi gelap dan napasnya hampir terhenti.

Waktu ia sempoyongan dan jatuh, satu hal terlintas dalam

pikirannya, yaitu bahwa ilmu pukulan yang dimilikinya belum

apa-apa dibandingkan dengan ilmu pukulan yang dikuasai

calon puragabaya itu. Ia menyadari bahwa ia merobohkan

lawan sampai pingsan dengan pukulan-pukulan yang

mempergunakan banyak tenaga. Calon puragabaya itu

melakukannya seperti sambil bermain-main. Dengan pikiran

itu, ia segera bangkit, lalu kembali pasang kuda-kuda. Ia

melihat ke arah calon puragabaya itu. Ternyata, lawannya

tidak bersiap-siap, ia berdiri biasa.

“Kalau nanti saya diadili karena saya melawan Saudara,”

kata Raden Madea, “bersedialah menjadi saksi dan berkatalah

benar. Katakanlah bahwa saya terpaksa melawan karena

Saudara bermaksud buruk terhadap saya.”

Banyak Sumba mendekati Raden Madea dengan kaki kiri di

belakang kukuh tertanam pada bumi, sedangkan kaki kanan

mengangkang. Ini memberi dua keuntungan dalam

menghadapi Raden Madea yang berdiri tegak di depannya.

Kaki kiri maupun kaki kanan Banyak Sumba akan dapat

menyerang dengan leluasa. Serangan itu dilakukannya. Mulamula,

kaki kiri Banyak Sumba menderu, tetapi dengan mudah

ditepuk oleh Raden Madea. Kaki kanan yang menyusul, tidak

beruntung pula. Kaki kanan yang mempergunakan tenaga

besar ini tidak ditepuk ke bawah, tetapi ke samping. Tubuh

Banyak Sumba mengambang sejenak, kehilangan

keseimbangannya. Dengan suatu sentuhan, terjatuhlah ia.

Akan tetapi, begitu jatuh, Banyak Sumba bangkit dan bersiap

lagi karena takut mendapat serangan. Ternyata, Raden Madea

tidak menyerangnya. Ia berdiri saja sambil memandang

Banyak Sumba dengan keheranan.

“Bacalah mantra, Saudara. Saya yakin, Saudara akan

dikeluarkan dari perguruan. Sudah bersediakah Saudara diusir

dari perguruan yang sangat baik itu?” tanya Raden Madea.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Banyak Sumba tidak berkata apa-apa. Ia maju. Dalam

hatinya, ia menyiapkan siasat lain. Kalau serangan terhadap

tubuh dari dekat dan dari jauh tidak mempan, barangkali

calon puragabaya ini harus diserang pada bagian-bagian

anggotanya yang lemah. Ia akan berusaha menyerang jari

tangan calon itu atau pergelangan serta sikutnya. Ia maju

dengan pandangan ke arah lawannya. Ketika mereka

berdekatan, tangan Banyak Sumba segera menangkap kedua

tangan lawan. Banyak Sumba segera memutar tangan Raden

Madea yang kanan. Aneh, tangan itu berputar, tetapi tak

tampak bahwa Raden Madea kesakitan. Ketika ia keheranan

itulah, tiba-tiba kaki kanannya yang maju ke depan disapu

Raden Madea. Sekali lagi, Banyak Sumba terbaring di semaksemak.

Ia bangkit dan segera menghambur, tetapi ia

menubruk udara kosong dan dengan tunggang langgang ia

terjatuh menuruni tebing. Tangan kirinya terkilir dan untuk

beberapa lama, ia tidak dapat bangkit karena kesakitan.

Ketika ia bangkit dan melihat ke bawah, tampaklah

panakawan Raden Madea berlari-lari mendaki, diiringi hampir

seluruh siswa Padepokan Sirnadirasa.

Lari! demikian terlintas dalam pikiran Banyak Sumba. Ia

pun berlari, tetapi sambil membungkuk, menyembunyikan diri.

“Ke timur! Ke timur!” seru panakawan Raden Madea. Suara

semak-semak yang terlanda dan diterobos terdengar dari

bawah.

Banyak Sumba membelok, mendaki gunung. Ia menyadari,

sebagai orang yang berada di tempat yang lebih tinggi dan

semak-semaknya lebih pendek, sukar sekali baginya untuk

bersembunyi. Itulah sebabnya, ia harus menjauhkan diri

secepat-cepatnya dan masuk hutan yang ada di sebelah timur

atau selatan. Ia berlari terus, walaupun agak sempoyongan,

karena tangan kirinya yang terkilir mulai kesemutan dan ngilu.

Ia terus berlari, berbelok-belok, dan berusaha

menyembunyikan diri sebelum mencapai hutan.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Dari bawah terdengar seruan-seruan. Napasnya sendiri

berdengus-dengus dan mulai tersengal-sengal. Pandangannya

kabur oleh keringat yang turun dari dahinya. Ia terus berlari.

Pada suatu ketika, kakinya tersandung akar, ia terjatuh

berguling-guling, tangan kirinya tertindih dan ia mengaduh.

Betapapun sakitnya, ia bangkit lagi dan terus berlari. Ia tahu

bahwa kalau tertangkap, ia akan mendapat malapetaka besar.

Siapa tahu ia akan dibunuh. Itulah sebabnya, ia harus berlari.

Akhirnya, pohon-pohon tinggi mulai tampak. Ia makin

mempercepat larinya.

Ketika ia mulai masuk hutan, hatinya mengucapkan doa

syukur kepada Sang Hiang Tunggal yang telah melindunginya.

Dalam hutan itu, ia akan lebih mudah meloloskan diri. Ia

memperlambat larinya, sambil mengurut-urut pergelangan

tangan kirinya yang mulai membengkak. Ia terus beriari,

makin lama hutan makin lebat dan udara makin sejuk.

Akhirnya, ia berjalan, walaupun telinganya terus-menerus

mendengarkan setiap suara, waspada terhadap kemungkinan

adanya pengejar yang membuntuti. Akhirnya, karena

segalanya sunyi, kecuali suara beberapa ekor burung yang

bernyanyi di atas dahan-dahan kayu yang tinggi dan rindang,

ia pun menjatuhkan diri di atas daun-daun kering di sela-sela

semak.

Ia hampir kehabisan napas, keringatnya membasahi

seluruh tubuhnya, sementara itu pergelangan tangan kirinya

makin berdenyut juga. Ia menarik tangannya itu. Ketika rasa

sakitnya menusuk, teringatlah ia kepada Jasik. Seandainya

Jasik ada di dekatnya, panakawannya yang setia dan sayang

kepadanya itu akan mengurutnya. Dalam waktu singkat, akan

pulihlah tangannya itu. Ia ingat bahwa berulang-ulang ia

terkilir dan Paman Wasis dengan mudah membetulkan tulangtulang

atau urat-uratnya yang salah tempat. Akan tetapi,

karena biasa menggantungkan diri pada pertolongan Jasik,

sekarang ia tidak tahu bagaimana harus membetulkan

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

tangannya sendiri. Ia hanya merasakan sakit amat sangat

yang hampir menghentikan napasnya.

Tiba-tiba, suara berisik terdengar. Ia segera bangkit dan

lari merunduk-runduk menjauhi suara itu sambil makin dalam

memasuki hutan belantara. Setelah merasa aman, ia berhenti

dan duduk di akar sebatang pohon yang besar. Kembali ia

mencoba mengurut-urut tangannya sambil mengerang-erang.

Kemudian, terpikir olehnya bahwa tulang pergelangan tangan

kirinya yang bengkak itu tidak tepat letaknya, tidak seperti

yang kanan. Ia mencoba mengubah kedudukan tulang

tangannya yang tidak tepat itu. Ketika rasa sakitnya amat

sangat, ia mengaduh dengan keras. Dari arah bawah

terdengar suara berisik ke arahnya. Ia bangkit dan berlari

dengan cepat, tetapi berusaha tidak menimbulkan suara.

Tiba-tiba, kakinya kehilangan pijaknya. Ia tidak melihat

bahwa di samping kanannya terdapat jurang. Ia terjatuh dan

berusaha secara naluriah menangkap pegangan. Tangan

kanannya menggapai, tangan kirinya yang sakit menangkap

cabang semak. Bersamaan dengan tubuhnya yang mulai

bergantung, berbunyilah pergelangan tangannya itu. Rasa

sakit menusuk seluruh tubuhnya. Banyak Sumba memejamkan

mata sambil menangkap cabang lain dengan tangan

kanannya. Air matanya keluar karena kesakitan yang amat

sangat. Akan tetapi, terasa olehnya bahwa betapapun masih

sakit, tangan kirinya mulai mereda sakitnya. Ia melihat ke

tangan kirinya. Di bawah bengkaknya, ia dapat menduga

bahwa tulang-tulangnya sudah kembali pada tempatnya

semula.

“Terus, ke atas!” terdengar suara di bibir jurang.

“Saya lihat ia kemari.”

“Tapi ia tidak ada di sini, tentu di tempat lain,” kata

temannya.

“Ini ada bekasnya.”

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Banyak Sumba menahan napasnya sambil berdoa. Kalau

saja ada orang yang melihat ke dalam jurang, siapa tahu ia

akan ditemukan. Dan membunuh orang yang berada di dalam

kedudukan seperti dia tidaklah sukar. Lemparkanlah batu yang

cukup besar dan ia akan jatuh bersama batu itu ke dalam

jurang. Itulah sebabnya, ia berdoa, memohon lindungan Sang

Hiang Tunggal.

Suara-suara makin menjauh. Setelah segalanya sunyi

kembali, Banyak Sumba bergerak, melihat ke dalam jurang.

Ternyata, jurang itu dalam sekali. Dasarnya tidak kelihatan

karena ditutupi pohon-pohon yang besar. Ia memejamkan

matanya, lalu mulai mempergunakan tangan kanan dan kedua

belah kakinya untuk menaiki tebing itu. Kadang-kadang, ia

mempergunakan giginya untuk berpegangan. Kalau keadaan

sangat berbahaya, ia terpaksa mempergunakan tangan

kirinya, walaupun sambil mengerang-erang kesakitan. Kalau di

atas terdengar berisik, ia menghentikan usahanya sambil

menahan napasnya.

Ketika sunyi mulai menguasai hutan, ia mulai lagi

merangkak ke atas. Akhirnya, tiba juga ia di bibir jurang,

walaupun seluruh tenaganya terasa telah meninggalkan

tubuhnya. Maka, berbaringlah ia di sana untuk beberapa lama.

Setelah napasnya pulih kembali, ia bangkit. Sambil

mengendap-endap, ia berjalan tak tentu arah.

Entah sudah berapa lama ia berjalan. Ia tidak dapat

mengira-ngira panjangnya waktu. Matahari sudah berada di

puncak langit, dahaga mulai membakar dadanya. Ia duduk di

bawah sebatang pohon sambil mengurut-urut tangan kirinya

yang bengkak, “Saudara Sumba, menyerahlah!” tiba-tiba

terdengar suara Raden Girilaya. Banyak Sumba segera berdiri

dan bersiap untuk berlari. Ternyata, di sekelilingnya sudah

berdiri para siswa padepokan.

“Saya sungguh-sungguh prihatin dan bersedih hati karena

perbuatan Saudara yang tidak saya mengerti. Sungguh saya

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

tidak mengerti,” kata Raden Girilaya, “Saudara saya hormati,

saya jadikan teladan, tetapi ternyata Saudara berjiwa kerdil.

Sekarang, menyerahlah. Kami akan memperlakukan Saudara

baik-baik,” katanya, pada wajahnya terbayang kesedihan dan

kebingungan. Hampir saja Banyak Sumba menyerahkan diri

ketika ia melihat kesedihan terbayang di wajah yang

mengingatkannya kepada Nyai Emas Purbamanik. Akan tetapi,

tiba-tiba terngiang dalam hatinya pelajaran Paman Wasis,

“Kalau dikeroyok, berusahalah supaya lawan tidak mengurung

Raden. Rencanakanlah ke mana Raden akan melarikan diri

atau mencari kedudukan lain yang lebih baik. Seranglah lawan

yang Raden anggap paling kuat!”

Kenangan pada pengajaran Paman Wasis menyalakan

matanya kembali. Sifat keras hatinya tumbuh lagi, keberanian

berkobar. Ia berdiri tegak, lalu berkata, “Saya sudah

meramalkan bahwa Saudara-saudara akan menyesali

perbuatan saya. Akan tetapi, saya tidak menyesal karena

perbuatan itu saya lakukan untuk tujuan mulia yang tidak

dapat saya jelaskan kepada Saudara-saudara. Sebagai

seorang kesatria, saya tidak boleh menyerah karena dengan

demikian, berarti saya tidak yakin lagi kemuliaan cita-cita yang

saya junjung. Oleh karena itu, tangkaplah saya,” kata Banyak

Sumba.

“Saudara Sumba, Saudara telah melanggar kesatriaan

Saudara, yaitu dengan menyerang calon puragabaya. Saudara

hanya dapat mempertahankan kesatriaan Saudara dengan

mengakui kesalahan Saudara. Pengakuan kesalahan itu hanya

dapat Saudara lakukan dengan perbuatan, yaitu dengan

menyerahkan diri dan meminta maaf serta bersedia dihukum,”

kata Raden Girilaya dengan nada sedih yang keluar dari lubuk

hatinya.

“Saudara Sumba, bacalah mantra-mantra, sadarlah” ujar

Raden Girilaya dengan sedih.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Pikiran saya jernih, saya tidak gila. Kakanda..” ia akan

mengatakan bahwa Kakanda Jante Jaluwuyung juga disebut

gila sebelum dibunuh dan ia tidak mau diperlakukan demikian.

Ia tidak berkata lagi, ia bergerak, bersiap siaga. Para

pengurung bergerak mengecilkan kurungannya, kecuali di

belakang Banyak Sumba yang terhalang oleh sebatang pohon

besar.

“Saudara Sumba..”

Banyak Sumba maju, mendekat ke arah Ginggi yang

terdekat. Itu hanyalah pancingan. Ia tahu bahwa yang terkuat

di antara mereka adalah Raden Girilaya, tetapi ia harus

menipu mereka. Kurungan makin ketat. Banyak Sumba

merasa, tangan kirinya berdenyut perlahan-lahan. Ia tahu

bahwa ia akan repot sekali dengan mempergunakan tangan

itu. Ia harus memercayakan nasibnya terutama pada kedua

belah kakinya. Ia menghambur ke arah Ginggi yang segera

menghindar.

Tanpa mempergunakan matanya, Banyak Sumba dapat

meramaikan bahwa Raden Girilaya bergerak ke depan hendak

menangkapnya, ketika ia berpura-pura menyerang Ginggi.

Banyak Sumba mendengar suara gerakan itu. Tanpa

membalikkan badannya, ia menendang dengan kaki kirinya ke

arah suara itu. Tendangan yang keras menemukan sasaran

yang tidak menduga. Gedebuk suara tendangan diikuti dengan

suara tubuh jatuh di atas semak-semak. Sambil berteriak,

Banyak Sumba melompat ke arah tempat lowong yang

ditinggalkan oleh Raden Girilaya yang terbaring di dalam

semak dan mencoba bangkit. Dua orang mencoba

mencegatnya, tetapi tangan kanan dan kaki kiri Banyak

Sumba berdesing ke arah mereka.

Banyak Sumba berlari berbelok-belok, menyelinap

mengendap. Tiba-tiba, Kunten sudah berdiri di hadapannya

sambil berteriak-teriak, “Di sini! Di sini!”

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Banyak Sumba pura-pura kembali melarikan diri. Akan

tetapi, ketika didengarnya suara Kunten mengejarnya, ia

segera berbalik mengirimkan tendangan ke muka Kunten yang

kurang waspada. Kunten jatuh ke samping, ke semak. Banyak

Sumba berbelok. Di sekelilingnya ia melihat semak-semak

bergerak dan pakaian hitam berkelebatan. Tiba-tiba, dari

dalam semak, melompatlah seseorang dan melibat kakinya.

Banyak Sumba jatuh berjungkir. Akan tetapi, karena ia

melindungi tangan kirinya, tangannya itu tidak tertindih.

Begitu ia bangkit dengan mempergunakan tangan kanannya,

sebuah tendangan menuju mukanya. Ia sempat menghindar

dan menjatuhkan diri bergelundung ke bawah lereng Ketika ia

berdiri, sebuah tinju mendesing dan mengenai pundak

kanannya. Ia mempergunakan kaki kanan untuk merobohkan

penyerang yang kemudian terpental dan berguling-guling di

lereng yang semaknya pendek itu.

Banyak Sumba berbalik karena kalau turun dari gunung, ia

akan menuju padepokan. Dari atas, seseorang berlari

memburunya. Banyak Sumba membelok ke sebelah timur.

Semak-semak bergerak sekelilingnya. Mereka mencegat,

pikirnya. Ia membelok mendaki. Galih berdiri di hadapannya,

siap. Banyak Sumba membelokkan badannya seolah-olah akan

berlari ke kiri. Galih melompat ke sebelah kiri, hendak

mencegatnya. Banyak Sumba menyepak dengan kaki kirinya

ke arah itu. Galih menghindar, tetapi karena kakinya

tersangkut akar, walaupun tidak kena tendangan, Galih

terjatuh berguling-guling ke bawah.

Tiba-tiba, orang mencegatnya dari kiri dan kanan,

serempak keluar dari dalam semak. Banyak Sumba yang

sudah kelelahan menyerusuk ke sebelah kanan sambil

memukul dengan pinggir tangan kanannya. Pukulan itu

tertangkis, tetapi berat badan Banyak Sumba melanggar orang

itu. Ketika mereka jatuh, seseorang menangkap pinggang

Banyak Sumba. Banyak Sumba mengibaskan tubuhnya yang

besar dan berat, lalu menggelundungkan diri ke bawah.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Sementara itu, tangan kanannya mencari-cari jari orang yang

memegang pinggangnya. Ia membuka sebuah jari

penangkapnya, lalu berusaha berdiri, tetapi kakinya ditangkap

lawan. Ia mempergunakan kaki kiri menyepak pundak lawan

yang berada di tempat yang lebih rendah di lereng bersemak

itu. Ia bangkit dan sadar, para pemburu telah mengurungnya.

Ia hampir berputus asa karena ia sudah telalu lelah.

Dengan keputusasaannya itu, timbullah keberanian yang

nekat. Dengan teriakan, ia berlari menuju salah seorang

penge-pung yang berdiri di sebelah kirinya. Tampak Hariang

yang ditujunya gentar, ia berpaling ke kiri dan ke kanan.

Ketika itulah, Banyak Sumba membelok, menyerang orang

yang berdiri di samping Hariang, beberapa langkah di dekat

pengepung itu. Pukulan tangan kanan yang dipelajarinya dari

si Gojin menghantam pengepung itu yang kemudian tidak

bangkit lagi. Banyak Sumba berlari terus menuju ke timur, ke

hutan lebat.

-ooo00dw00ooo-

Bab 8

Hampir Tersesat

Matahari telah miring ke barat ketika napasnya seolah-olah

hampir menyumbat tenggorokannya. Ketika itulah, ia

menghentikan larinya, lalu sekali lagi menjatuhkan diri dalam

semak-semak. Telinganya mendengarkan, kalau-kalau suara

pengejar itu mendekat, walaupun ia tahu, tidak akan dapat lari

lagi seandainya mereka mengejarnya. Ia berbaring saja,

seluruh tubuhnya gemetar karena kelelahan. Akan tetapi, tidak

didengarnya suara apa-apa, selain suara angin dan burungburung.

Itulah sebabnya, ia berbaring berdiam diri,

merentangkan badan seenak-enaknya untuk mengembalikan

tenaga.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Entah berapa lama ia berbaring demikian, kemudian ia

merasa sangat dahaga dan lapar. Banyak Sumba duduk, lalu

melihat ke atas pohon, mencari buah-buahan yang mungkin

dapat dimakannya. Akan tetapi, pohon-pohonan di tempatnya

berhenti itu umumnya tidak berbuah. Ia bangkit dan dengan

hati-hati mengawasi sekelilingnya, kemudian berjalan sambil

merunduk. Tiba-tiba, didengarnya suara burung kutilang. Ia

merasa gembira karena adanya burung-burung itu berarti ada

buah-buahan.

Ia terus berjalan menuju suara burung-burung kutilang dan

kucica yang makin ramai terdengar. Tak lama kemudian,

terlihat olehnya bagian hutan yang terbuka, yang ditumbuhi

semak-semak harendong, pohon-pohon duwet, dan pohon

buah-buahan kecil lainnya. Ia sadar bahwa daerah itu pernah

didatangi orang-orang yang berhuma, itulah sebabnya ia

harus berhati-hati. Dengan melihat ke kiri ke kanan dan

sekelilingnya, ia mulai memetik buah-buahan yang ranum, lalu

memakannya. Banyak Sumba tersenyum sendiri, teringat akan

masa kanak-kanaknya di wilayah Medang. Ketika itu, ia sering

naik si Dawuk pergi ke luar tembok kota, mengembara di

padang-padang dan semak-semak, untuk menikmati buahbuahan

kecil yang sekarang dimakannya sebagai makanan

utama.

Tiba-tiba, ia tertegun. Ia teringat bahwa Jasik akan

menunggunya. Apakah Jasik sudah melarikan diri atau

ditangkap? Banyak Sumba termenung sejenak, kemudian

diputuskannya agar pada hari itu juga, ia menemui Jasik. Akan

tetapi, jalan mana yang harus ia lalui? Ia yakin bahwa segala

jalan menuju ke Kutabarang dan Kutawaringin timur akan

tertutup oleh para siswa yang mengepungnya. Mungkin,

sekarang para jagabaya telah diberi tahu dan diminta untuk

menangkapnya. Banyak Sumba termenung. Akhirnya,

diputuskannya untuk mencoba menerobos para pengepung,

lalu menemui Jasik. Ia kembali memasuki hutan yang baru

ditinggalkannya, terus berjalan. Hutan makin lama makin

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

lebat. Ia kembali mencari buah-buahan kecil, tetapi suara

burung kutilang tidak didengarnya. Makin lama, hutan yang

dimasukinya makin tidak dikenalnya. Ia mencoba melihat

matahari, tetapi tidak dapat memastikan dari arah mana ia

dapat melihat matahari. Ia mengira akan menemukan arah

kembali kalau matahari telah berada di atas bukit. Akan tetapi,

hal itu berarti bahwa ia akan kemalaman. Itulah sebabnya, ia

berjalan terus. Kemudian, hutan bertambah lebat. Matahari

tidak dilihatnya lagi, ternyata ia tersesat. Ketika kakinya sudah

tidak mau dilangkahkan lagi, ia duduk termenung.

Manakah yang lebih sial, ditangkap oleh para siswa

padepokan atau tersesat di dalam hutan yang belum pernah

diinjak manusia? Tapi bukan itu masalahnya, yang penting ia

harus menemukan jalan keluar. Ia pun bangkit dan kembali

berjalan. Matahari bertambah condong. Akan tetapi, ia tidak

dapat melihatnya, di bawah kerindangan pohon yang besarbesar

itu. Banyak Sumba hanya dapat melihat cahaya, tetapi

ia tidak tahu dari mana sumber cahaya itu. Ia sering tidak

dapat melihat cahaya sama sekali, hutan yang lebat itu

remang-remang belaka. Karena terasa perjalanan semakin

berat, kakinya sudah tidak dapat dilangkahkan lagi. Akhirnya,

ia memutuskan untuk mencari Jasik keesokan harinya.

Ia pun mencari tempat beristirahat. Ia tengadah, mencari

pohon yang dapat dijadikannya tempat menginap malam itu.

Setelah dilihatnya sebatang yang agak berjauhan letaknya

dengan yang lain, ia mulai memanjat pohon itu. Akan, tetapi,

perbuatan itu tidak mudah dilakukannya. Tangan kirinya

hampir tidak dapat dipergunakannya, setiap pergelangan itu

meregang, rasa sakit menusuk hingga ke pundaknya. Akan

tetapi, dengan susah payah, akhirnya dicapainya juga dahan

yang dapat dijadikannya tempat beristirahat. Ia duduk di atas

dahan itu seperti di atas punggung kuda, kepalanya

diletakkan, seperti meletakkan kepala di leher kuda, di atas

surainya. Sementara itu, ikat pinggangnya yang terdiri dari

kain hitam yang panjang dibelitkan ke batang pohon dan

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

diikatkannya ke pinggangnya agar kalau tertidur, ia tidak

jatuh. Karena lelahnya, tak lama kemudian, ia pun tertidur.

Ia baru terbangun ketika didengarnya suara seperti guntur

yang menggetarkan isi hutan itu. Ia membuka matanya,

terkejut. Sekelilingnya sudah gelap dan ketika ia melihat ke

bawah, berpasang-pasang mata berwarna hijau

memandangnya, sedangkan tubuh-tubuh yang besar dan

belang, membayang kehitaman di malam remang-remang itu.

Ia bersyukur telah memilih pohon yang tinggi dan kecil,

hingga raja-raja hutan itu tidak dapat mencapainya.

Tiba-tiba, ia terkejut karena terdengar jeritan babi hutan

tidak jauh dari tempat itu. Mendengar jeritan babi hutan itu,

raja-raja hutan sebagian menyelinap, meninggalkan tempat

itu, sebagian lagi tetap berdiri seraya memandang seolah-olah

menunggu ia turun. Akhirnya, Banyak Sumba tidak peduli. Ia

memejamkan matanya kembali, setelah mempererat ikat

pinggangnya. Malam pun berlalu dan ia hanya beberapa kali

terbangun karena jeritan binatang yang menjadi mangsa

binatang buas atau karena aum binatang-binatang buas yang

sedang membunuh mangsanya.

KEESOKAN harinya, ia terbangun di saat fajar, waktu

burung-burung mulai bernyanyi. Begitu ia tersadar, begitu

dilepaskannya ikal pinggangnya, lalu ia menuruni pohon

tempatnya bermalam. Ia bergegas dengan tekad mencari

jalan untuk mengunjungi tempat Jasik seharusnya menunggu.

Berulang-ulang didengarnya gemersik daun-daun semak,

berulang-ulang ia berhenti dan mendengarkan suara itu

dengan penuh kecurigaan. Mungkinkah ia masih dikejar para

siswa padepokan?

Ia berjalan terus, tetapi tidak tenang seperti saat-saat

sebelumnya. Hutan makin lama makin lebat juga, pohonpohon

makin lama makin besar. Bahkan, mulai tampak pohonpohon

yang batangnya sebesar-besar tubuh kerbau. Tak lama

kemudian, tampak pohon yang lebih besar dan lebih tinggi.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Sementara itu, semak-semak di bawahnya mulai rapat hingga

Banyak Sumba tidak lagi dapat menembusnya. Akhirnya,

Banyak Sumba berhenti berjalan, kemudian beristirahat sambil

berpikir, “Walaupun menuju ke utara, kalau hutan bertambah

lebat, berarti menjauhi dunia manusia dan mulai memasuki

dunia binatang-binatang buas dan para siluman,” demikian

bisik hati Banyak Sumba. Ia memutuskan untuk kembali. Agar

cepat menuju tempat semula, ia bermaksud menuruti jalanjalan

binatang yang banyak bersimpang siur dalam semaksemak.

Sewaktu beristirahat itu, terpikir pula olehnya untuk

memiliki senjata, untuk melindungi dirinya terhadap binatangbinatang

yang menyerangnya. Badik yang tersisip dalam ikat

pinggangnya terlalu kecil untuk melawan babi hutan, apalagi

harimau yang mungkin mencegatnya. Itulah sebabnya, ia

mencari dahan-dahan kayu yang cukup besar. Dengan

kekuatan yang ada padanya, dipatahkannya sebatang dahan

kaliage, kemudian dibuatnya senjata untuk menghadapi

binatang buas.

Setelah senjatanya itu siap, berjalanlah Banyak Sumba,

menuju arah yang menurut dugaannya selatan. Tak lama

kemudian, ditemukannya jalan yang biasa dilalui binatang. Di

sana, ia melihat banyak sekali bekas kaki menjangan dan babi

hutan. Ia menuruti jalan binatangku, selama tidak membelok

ke arah yang bertentangan dengan yang dianggapnya selatan.

Ia akan sampai ke tempat yang ditinggalkannya pagi-pagi,

demikian pikirnya.

Makin lama, ternyata lebat hutan makin berkurang, bahkan

terdapat semak-semak rendah yang rupanya bekas-bekas

huma yang sudah lama ditinggalkan. Itulah sebabnya, Banyak

Sumba berjalan lebih cepat lagi. Ketika ia berjalan dengan

tergesa-gesa, sayup-sayup terdengar olehnya jeritan binatang.

Banyak Sumba terhenti, lalu mendengarkan dengan lebih teliti.

Segalanya sunyi, kecuali angin. Akan tetapi, ia melangkah

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

lebih lanjut, jeritan binatang itu dengan keras terdengar

kembali. Kemudian, ingar-bingar suara aum dan jeritan

binatang terdengar, diiringi oleh tangisan binatang yang

memilukan. Lalu, sepi kembali.

Banyak Sumba melangkah, tetapi tidak secepat

sebelumnya. Ia harus waspada, pikirnya. Ia pun berjalan

dengan gada siap di tangan. Setelah beberapa lama berjalan,

tahulah ia apa yang telah terjadi. Rupanya, segerombolan babi

hutan telah diserang harimau karena di suatu tempat terlihat

titik-titik darah. Di sekitar tempat itu terdapat bekas-bekas

perkelahian. Darah makin banyak berceceran. Dari suatu

tempat, Banyak Sumba melihat bagian semak yang roboh

seakan-akan ada benda berat yang diseret lewat di sana. Tibatiba,

detak jantungnya seakan-akan terhenti karena tidak jauh

darinya dua ekor harimau besar sedang menggerogoti bangkai

babi hutan yang besar. Ketika ia tiba di sana, tampak kedua

ekor binatang itu memandangnya, tapi tidak bergerak. Banyak

Sumba terpaku sejenak. Setelah ketenangannya kembali, ia

mundur perlahan-lahan tanpa mengeluarkan bunyi. Setelah

merasa cukup jauh, barulah ia bergerak dengan lebih cepat.

Sementara berjalan itu, ia bersyukur kepada Sang Hiang

Tunggal. Seandainya tidak didahului oleh gerombolan babi

hutan itu, mungkin ia yang dihadang oleh kedua ekor harimau

itu.

Ia berjalan dengan cepat. Senjata siap di tangan dan tetap

waspada. Ia harus berada dekat dengan gerombolan babi

hutan yang akan menjadi pelindung di depan. Ia berlari

sepanjang jalan binatang itu, kadang-kadang melalui semaksemak

yang pendek. Sekali-sekali melalui semak-semak yang

bercampur dengan pohon-pohon yang agak tinggi tapi jarang.

Di sana sini terdapat pohon besar yang daunnya sangat

rimbun. Banyak Sumba terus berlari.

Ketika ia sedang berlari dan memandang ke muka, tiba-tiba

dilihatnya seolah-olah ada cabang pohon besar yang jatuh ke

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

arah jalan binatang itu. Akan tetapi, tidak terdengar suara

berdebum, yang terdengar adalah jerit seekor babi hutan.

Banyak Sumba terus berlari karena disangkanya memang ada

cabang pohon besar yang jatuh menimpa babi hutan. Ketika ia

makin dekat ke arah pohon itu, dilihatnya cabang pohon itu

bergerak-gerak. Banyak Sumba berhenti berlari dan berdiri

tidak jauh dari pohon itu. Suatu pemandangan yang

menyipratkan darah disaksikannya dengan mata terbelalak.

Seekor ular sanca besar, hampir sebesar pohon kelapa,

dengan setengah badannya bergantung—ekor di atas dan

kepala di bawah—sedang mengangkat seekor babi hutan ke

atas pohon. Babi hutan itu masih bergerak-gerak, tetapi

karena besarnya, ular itu dengan tenang mengangkatnya. Tak

lama kemudian, seluruh badan ular itu menghilang di balik

daun pohon besar yang gelap karena rimbunnya. Kadangkadang

saja tampak pohon besar itu bergerak-gerak karena

dihuni oleh makhluk yang besar dan berat.

Setelah beberapa lama terpaku dan seolah-olah membeku

karena terkejut dan ketakutan, barulah Banyak Sumba dapat

bergerak. Sambil mengucapkan syukur kepada Sang Hiang

Tunggal yang telah dua kali menyelamatkannya, ia mulai lagi

berlari, tapi tidak mengikuti jalan binatang itu. Ia menyimpang

merambah semak-semak yang pendek. Arah tidak lagi

dipersoalkannya. Yang penting baginya adalah ia segera

menjauhi tempat binatang yang tidak terkalahkan oleh apa

pun itu.

Semenjak dua kejadian itu, ia lebih berhati-hati, tidak

pernah berlari lagi. Berulang-ulang ia berhenti, mengawasi

daerah yang akan dilaluinya. Ia tidak berani lewat di bawah

pohon-pohon besar atau terlalu rimbun hingga dapat

menyembunyikan binatang-binatang buas. Ia pun mulai

berusaha tidak menuju suatu tempat dengan mengikuti arah

angin. Ia berusaha supaya selalu menentang arah angin agar

bau tubuhnya tidak tercium oleh binatang-binatang buas.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Dengan begitu, berarti ia tidak dapat mengikuti arah yang

dikehendaki dengan leluasa. Pada hari kedua itu, ia tidak

menemukan hutan-hutan yang dikenalnya. Akhirnya, ia pun

memutuskan untuk menginap kembali di dalam hutan.

Dipilihnya tempat yang dianggapnya paling aman, yaitu

sebatang pohon yang berada di tengah-tengah semak-semak

pendek yang terbuka.

Di sanalah ia menginap, duduk di atas cabang pohon dan

mengikat diri agar tidak jatuh kalau tertidur. Akan tetapi,

semua pengalaman pada hari sebelumnya yang menakutkan

itu tidak mengizinkannya tidur nyenyak. Di samping itu, makin

gelap hutan, makin ramai dengan suara dan bunyi kaki

binatang. Aum harimau, salak ajag, teriakan-teriakan yang

me-remangkan bulu roma, mungkin teriakan siluman,

meramaikan hutan yang remang-remang di bawah cahaya

bintang.

HARI ketiga, keempat, kelima, keenam … akhirnya hari-hari

tidak terhitung lagi. Dengan sedih, disadarinya bahwa ia

tersesat di dalam hutan yang tidak pernah diinjak kaki

manusia. Mula-mula, ia tidak mengerti mengapa sampai

tersesat. Akan tetapi, setelah diingat-ingat kembali bagaimana

harus berjalan, sadarlah ia bahwa karena terlalu banyak

menyimpang untuk menghindari bahaya, makin lama makin

menyimpang dari arahnya sehingga akhirnya memasuki hutan

itu.

Hutan itu tidak begitu lebat karena tanahnya tidak subur

dan sebagian terdiri dari cadas dan batu. Pohon-pohonan tidak

terlalu tinggi pula. Di samping itu, semak-semaknya pun tidak

segelap di hutan yang pernah dikunjunginya. Buah-buahan

cukup banyak, yang kecil-kecil hingga yang besar-besar. Itulah

sebabnya, burung dan binatang pemakan buah-buahan sangat

banyak di sana. Monyet dan lutung meramaikan pohonpohonan.

Di dalam semak-semak itu pun terdapat pula silang

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

jalan-jalan binatang lain, seperti babi hutan, rusa, dan

binatang-binatang lain yang bekas kakinya tidak dikenalnya.

Di hutan itulah Banyak Sumba tinggal, entah berapa bulan.

Ia tidak lagi dapat menghitung hari-harinya. Pakaiannya sudah

mulai robek-robek, bukan saja karena tua, tetapi juga karena

sering tersangkut duri selagi ia mengembara di hutan itu.

Untuk menghilangkan laparnya, ia memungut atau memetik

buah-buahan, kemudian memanjat pohon yang tinggi.

Kadang-kadang, dijeratnya binatang menggunakan rotan atau

kulit kayu yang dianyamnya menjadi tambang. Kadangkadang,

binatang itu dikejarnya, lalu dipukul dengan gadanya.

Di saat-saat beristirahat, bila sudah terlalu lelah mencari

jalan keluar dari hutan itu, ia sering termenung memikirkan

segala kemungkinan dalam ilmu keperwiraannya. Pada

saatsaat seperti itu, Jasik, panakawannya yang baik dan setia

itu, sering terkenang olehnya. Alangkah akan lebih baiknya

kalau ia tersesat bersama Jasik. Ia akan dapat terus-menerus

berlatih dan mengadakan percobaan-percobaan dengan hasil

renungan-renungannya itu.

Ia pun berulang-ulang teringat keluarganya. Dalam

keadaan demikian, kadang-kadang tidak tertahan air matanya.

Berulang-ulang pula ia teringat kepada Nyai Emas

Purbamanik. Akan tetapi, harapannya untuk mendapat gadis

yang dicintainya itu makin lama makin menipis. Bukan saja

karena ia tidak tahu lagi bagaimana sikap gadis itu sekarang,

setelah begitu lama mereka berpisah. Lebih-lebih, karena

perbuatannya belakangan ini dianggapnya makin menjauhkan

dia dari gadis itu. Ia harus menunaikan tugasnya. Gadis itu

belum tentu mengerti segala perbuatan yang sebenarnya

tugas keluarga.

Kalau kesedihan menusuk hatinya, ia segera mengalihkan

renungan ke masalah-masalah ilmu keperwiraan. Karena

heningnya hutan itu dan karena ia terpaksa harus berpikir

untuk menghindari kesunyian dan kesedihannya, hasil dari

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

renungan-renungannya cukup banyak. Yang menjadi

persoalannya adalah bagaimana membuktikan kebenaran apaapa

yang ditemukannya itu. Ia harus punya teman berlatih,

tapi Jasik hanya ada dalam kenangannya. Itulah sebabnya,

Banyak Sumba hanya dapat berlatih seorang diri. Oleh karena

itu, ia tidak dapat membuktikan, apakah hasil-hasil

renungannya tentang ilmu keperwiraannya itu benar atau

tidak. Hatinya gemas belaka kalau ia merasa mendapatkan

suatu kesimpulan tentang renungan-renungannya.

Pada suatu senja, ketika ia sedang berjalan mencari pohon

yang baik untuk bermalam, tiba-tiba terdengar raung harimau

tidak jauh darinya. Banyak Sumba mula-mula bermaksud

melarikan diri dari tempat itu dan segera mencari pohon

terdekat. Akan tetapi, dari balik semak-semak terlihat olehnya

dua ekor harimau besar sedang berkelahi. Sebagai seorang

yang sedang mempelajari ilmu keperwiraan, akhirnya rasa

ingin tahu dan hasrat menyelidiki mengalahkan rasa takut dan

gentarnya. Banyak Sumba mendekati tempat terdengarnya

geram dan raung kedua ekor makhluk perkasa yang berkelahi

itu, serta semak-semak yang belingsatan ke sana kemari.

Makin dekat ke tempat pertarungan itu, semak-semak seolaholah

sedang diamuk angin puting beliung. Banyak Sumba

gentar sejenak, ketika raungan yang sangat keras seolah-olah

mengguncangkan bumi. Rasa penasaran mendorong dia untuk

melanjutkan niatnya. Ia berlari-lari, kemudian memanjat

sebuah pohon kecil. Karena setiap hari ia harus memanjat,

pekerjaan itu dilakukan seperti ia berjalan di tanah. Dalam

sekejap mata, seperti seekor monyet, ia telah mencapai

puncak pohon itu. Dengan jelas, ia dapat melihat dua ekor

harimau yang sedang berhadapan.

Dengan mata yang tidak berkedip, Banyak Sumba

memerhatikan kedua ekor binatang itu saKng mengintip,

saling menunggu kesempatan. Dengan raungnya yang

dahsyat, keduanya menghambur. Masing-masing berusaha

membinasakan lawannya dengan dua belah kaki kanannya

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

yang kuat dan berkuku tajam itu. Kemudian, mereka berpisah

karena yang seekor menolak lawannya. Dengan kaki

belakangnya yang kuat, keduanya berhadapan kembali.

Banyak Sumba memerhatikan bagaimana sikap kaki depan

dan kaki belakang serta sikap tubuh kedua ekor binatang itu.

Ia pun memerhatikan setiap perubahan, bagaimana sikap

yang satu diikuti lawannya. Tiba-tiba, mata Banyak Sumba

menyala-nyala karena apa-apa yang pernah direnungkannya

dapat dilihatnya dari kedua ekor binatang buas yang sudah

biasa berkelahi itu.

Setiap kali yang seekor menempati kedudukan serangan

dapat dilakukan, lawannya segera memindahkan

kedudukannya, sambil mencari kedudukan ia dapat

menyerang dengan leluasa. Akan tetapi, baru saja ia bergerak,

lawannya sudah bergerak kembali, mengambil kedudukan lain.

Karena keduanya tidak menemukan celah kelemahan pada

sikap lawan, kecepatanlah yang dipergunakan. Seekor di

antara harimau itu begerak, mengubah sikap. Ketika lawannya

akan menyesuaikan diri pada sikapnya, melompatlah ia

dengan raungnya yang hebat. Kedua ekor binatang itu mulai

saling cakar dan saling desak, seraya kedua-duanya bersiapsiap

dengan taringnya kalau-kalau ada kesempatan

membenamkan senjata yang hebat itu ke leher atau tengkuk

lawannya.

Pergumulan berlangsung beberapa saat. Selama itu,

Banyak Sumba mempelajarinya dengan melupakan alam

sekelilingnya. Ia memerhatikan bagaimana binatang-binatang

itu mempergunakan tenaga, bagaimana melaksanakan

serangan dengan kaki depan atau kaki belakang. Hingga

akhirnya, geraham yang seekor berhasil menangkap kaki

depan lawannya, lalu dengan gertakan yang keras, menerkam

dan mematahkannya. Raungnya yang meremangkan bulu

roma terdengar. Kemudian, lawan yang kalah melompat

menjauhi, lari terpin-cang-pincang dikejar lawannya. Tapi,

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

pemenang yang kelelahan tidak dapat mengejarnya. Ia

berhenti, berdiri sambil meraung-raung dan memandang ke

arah semak-semak tempat lawannya menghilang.

SETIAP pagi, bersama dengan terbitnya matahari, Banyak

Sumba turun dari pohon tempatnya bermalam. Ia langsung

berjalan seraya memetik buah-buahan sebagai makanan pagi,

Kalau kebetulan ditemukannya telaga kecil, ia mandi dan

minum sepuas-puasnya untuk kemudian berjalan kembali

dengan selalu bersiap siaga menghadapi segala bahaya,

terutama dengan mengandalkan gada kayunya yang berduriduri

itu. Jalannya tidak selalu laju. Sebentar-sebentar ia

berhenti, merasakan angin atau mendengus-dengus, mencoba

membaui udara, kalau-kalau ada bau yang mencurigakan yang

harus dihindarinya. Bau kemenyan datang dari harimau,

sedangkan bau pesing dari ular sanca. Kedua binatang buas

itulah yang dihindarinya, sedangkan banteng, badak, dan babi

hutan, apalagi rusa, tidak dihiraukannya. Bukan saja karena

mereka tidak memakan daging, tetapi biasanya mereka tidak

mengganggu kalau tidak diusik.

Sering sekali Banyak Sumba berhenti berjalan, kemudian

dengan sigap berlari menuju pohon terdekat dan

memanjatnya seperti seekor kera kalau dirasanya bahaya

sedang mendekat. Perasaannya yang menjadi tajam berulangulang

menyelamatkannya. Berulang-ulang binatang buas yang

menghadangnya tidak berhasil mencelakakan karena Banyak

Sumba telah waspada terlebih dahulu. Gerakan kecil dalam

semak bisa menghentikan langkahnya. Bau yang

mencurigakan menyebabkan ia lari terbirit-birit mendekati

pohon untuk sewaktu-waktu dipanjatnya seandainya bahaya

memang benar-benar mengancamnya. Akan tetapi,

seandainya tertambat menyelamatkan diri dengan lari, ia

mempunyai kemampuan lain untuk mempertahankan dirinya,

yaitu kepandaiannya dalam ilmu keperwiraan dan senjatanya

yang berbahaya, yaitu gada kayunya yang sebesar betisnya

serta berduri-duri.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Dari hari ke hari, Banyak Sumba berjalan dengan tujuan

untuk menemukan jalan ke dunia yang dihuni manusia.

Hidupnya tidak teratur lagi. Kadang-kadang, berhari-hari ia

tidak menemukan air. Kadang-kadang, berhari-hari pula ia

tidak menemukan buah-buahan. Kalau keadaan demikian, ia

terpaksa memburu binatang dengan mengintainya,

menjeratnya dengan rotan atau melemparnya. Kadangkadang,

mengejar dan memukulnya dengan gada. Ia

menyalakan api dengan jalan menggosokkan dua batang

ranting kering yang dilekati daun kering pula. Di atas api

unggun yang dibuatnya itulah, ia membakar daging binatang.

Begitulah ia hidup, mengembara dalam hutan belantara itu

dengan sedih mencari-cari jalan keluar. Kadang-kadang, ia

begitu sedihnya dan sangat mencekam rasa kesepiannya

hingga air matanya tidak tertahan lagi. Sering ia menangis,

tetapi kemudian ia meredakan dukacitanya dengan berdoa,

Sang Hiang Tunggal Yang Mahaadil tidak akan menghukum

orang yang tidak berdosa. Ia merasa yakin bahwa tak ada

kesalahan yang dilakukannya dengan sadar. Kalau ia bersalah,

pikirnya, hal itu karena mencintai Ayahanda, Ibunda, dan

keluarganya. Mencintai keluarga adalah perintah Sang Hiang

Tunggal juga. Demikianlah, ia berjalan, memanjat pohon kalau

malam tiba, termenung memikirkan ilmu keperwiraannya, dan

menangisi nasibnya. Iajuga membayangkan wajah Nyai Emas

Purbamanik. Akhirnya, ia mengenangkan dunia yang dihuni

manusia dengan kerinduannya.

Akan tetapi, bukanlah watak Banyak Sumba untuk selalu

merenungkan nasibnya. Setiap kali kemurungan menyerbu ke

dalam hatinya, cepat-cepat ia merenungkan ilmu keperwiraan.

Ilmu keperwiraanlah yang dijadikannya obat untuk melupakan

apa-apa yang dideritanya. Dengan ilmu keperwiraan yang

selalu di pikirannya itulah, ia mengusir keprihatinan,

kerinduan, dan kesepiannya. Tanpa disadarinya, ilmunya

makin lama makin bertambah juga. Banyak hal baru yang

selama ia berada di tengah-tengah masyarakat tidak sempat

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

dipikirkannya. Sekarang, ketika hari-hari lewat tanpa

kesibukan, ia dapat memikirkannya. Banyak masalah ilmu

keperwiraan yang sebelumnya tidak terpikirkan

penyelesaiannya, dalam kesepian hutan itu dapat

dipecahkannya. Keheningan hutan, udara yang bersih, dan

langit yang membiru di sela-sela daun menjernihkan

pikirannya.

PADA suatu sore, ketika ia mencari pohon untuk dijadikan

penginapan malam itu, terlintaslah suatu pemecahan masalah

yang selama ini menjadi bahan pemikirannya. Ia terhenti

berjalan, cahaya matanya menyala-nyala seperti biasanya

kalau ia menemukan ilham. Ia tersenyum seorang diri seraya

bergegas ke arah pohon kecil yang hendak dijadikannya

tempat menginap malam itu. Sepanjang malam, ia terus

merenungkan ilhamnya. Ia merasa gembira karena suatu

masalah yang bertahun-tahun jadi buah renungannya telah

ditemukan jawabannya. Akan tetapi, ia tertegun, tidak dapat

membuktikan apakah pendapatnya itu benar atau tidak. Ia

teringat kepada Jasik yang entah berapa bulan tidak

dilihatnya.

Karena yakin bahwa ilhamnya itu benar, tetapi tidak ada

cara dan kawan untuk membuktikan kebenaran

penemuannya, hatinya pun jadi gelisah. Ia kehabisan, akal

bagaimana akan mencobakan ilmunya itu. Masyarakat entah

kapan dimasukinya kembali. Sebagai seorang yang baru

menemukan sesuatu yang telah bertahun-tahun dicarinya, ia

tidak cukup sabar untuk tidak segera mencoba penemuannya

itu.

“Bagaimana kalau dicoba terhadap binatang buas?”

tanyanya dalam hati. Bagaimana kalau ia menghadang

beruang atau harimau? Itu akan baik sekali, tetapi tentu saja

besar bahayanya. Bagaimana kalau ia dikalahkan, bukankah ia

harus menyelesaikan tugasnya dan tidak boleh menyianyiakan

hidup secara sembarangan dengan menentang maut

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

demi penemuannya yang belum tentu benar? Banyak Sumba

terus merenung, kemudian karena kantuknya, akhirnya ia

tertidur.

Baru ketika matahari panas keesokan harinya, ia terjaga,

lalu turun. Selama berjalan, penemuan malam sebelumnya

terus-menerus mengganggu pikirannya. Penemuannya itu

akan dicoba terhadap binatang buas ataukah lebih baik

bersabar hingga ia memasuki masyarakat kembali? Berulangulang

ia memutuskan untuk tidak mencoba ilmu itu terhadap

binatang buas, untuk tidak menghadapi bahaya yang terlalu

besar. Akan tetapi, berulang-ulang hatinya berkata bahwa

penemuan itu harus segera dibuktikan. Maka, terombangambinglah

pikirannya dan ia tidak dapat mengambil

keputusan.

Suatu ketika, Banyak Sumba merasa lapar. Setelah

beberapa lama berjalan, ternyata di sana tidak ada pohon

buah-buahan. Umumnya, pohon-pohonnya jarang diselangseling

dengan semak-semak. Di beberapa tempat, Banyak

Sumba menemukan tanah lembap. Untuk beberapa lama,

Banyak Sumba berdiri termenung. Ia harus berburu, pikirnya.

Kemudian, ia berjalan. Dengan tangannya yang kuat,

dipatahkannya cabang-cabang pohon yang cukup besar dan

lurus. Setelah mendapat beberapa batang, dibuanglah daundaunannya,

lalu pangkalnya yang besar diruncingkan. Tak

beberapa lama kemudian, Banyak Sumba telah bersenjatakan

beberapa batang tombak di samping gada yang dijinjing di

tangan kirinya.

Ia mulai mendengus-dengus, membaui udara, kemudian ia

berjalan. Di suatu tempat, ia menunduk, memeriksa jejak

binatang. Ia berjalan kembali sambil berulang-ulang

menunduk. Kadang-kadang, ia berlutut, lalu berjalan lagi.

Tiba-tiba, ia menjatuhkan diri, lalu merangkak. Tak berapa

jauh darinya terdapat sebuah telaga kecil. Di tepi telaga itu

biasanya terdapat banyak binatang. Itulah sebabnya, ia

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

mengendap-endap dan merangkak bagai seekor harimau.

Sangkaannya tidaklah meleset karena setelah beberapa lama

merangkak, dari jauh, di tepi telaga di seberang yang

bertentangan dengan tempatnya bersembunyi, tampaklah

sekelompok besar menjangan. Binatang-binatang tersebut

sebagian sedang minum, sementara yang lain berjaga-jaga,

menghadap ke semak-semak yang ada di sekeliling tempat

terbuka. Melihat kelompok binatang itu, senanglah hati Banyak

Sumba; ia merasa mujur pula karena ia menentang angin.

Maka, ia menyelinap kembali dan sambil mempergunakan

loncatan melambung, mendekati tempat binatang-binatang

tersebut.

Karena pekerjaan seperti itu sudah biasa dilakukannya, ia

bergerak hampir tidak mengeluarkan bunyi. Di samping itu,

pancaindranya sekarang menjadi tajam sekali.

Ia dapat membaui binatang-binatang itu, sedangkan suara

yang selemah-lemahnya, dapat ia bedakan dari suara

gemerisik daun-daunan. Pancaindranya tidak saja terasah

karena ia perlu mendapat binatang buruan untuk hidupnya,

tetapi karena di hutan itu banyak binatang buas. Ia pun sering

merasa menjadi binatang buruan. Itulah sebabnya,

pancaindranya selalu siap siaga. Suara sekecil-kecilnya, gerakgerik

selemah-lemahnya, bau asing yang menyentuh

hidungnya harus ditangkapnya. Kalau tidak, ia akan kelaparan

atau akan menjadi mangsa binatang buas. Dengan ketajaman

pancaindranya itu, bertambah kuat pula tubuhnya. Ia jadi

terbiasa hidup secara liar di alam terbuka. Otot-ototnya

menjadi kenyal dan kuat, anggota badannya yang terusmenerus

dipergunakan secara teratur dan sesuai dengan

kehendak alam, menjadi lebih lincah dan lebih terampil

kerjanya. Ia sekarang dapat bergerak tanpa mengeluarkan

bunyi seperti seekor harimau atau seekor ular. Ia dapat

memanjat dengan cepat dan lincah seperti seekor monyet,

melompat dari dahan ke dahan tanpa takut dan ragu-ragu.

Dengan kelincahan dan keterampilannya itu, ia tidak saja

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

dapat menyelamatkan diri dari bahaya, tetapi dapat hidup

dengan berkecukupan makanan.

Sementara itu, tak ada binatang yang dapat

mengalahkannya karena sebagai manusia, ia dianugerahi

suatu hal yang tidak ada taranya oleh Sang Hiang Tunggal,

yaitu akal yang cerdas. Karena akalnya itulah, ia dengan

mudah dapat menangkap menjangan-menjangan.

Ia membuat perangkap, banderingan dari rotan yang

ujungnya diikatkan pada bongkah-bongkah cadas. Untuk

menakut-nakuti harimau, ia dapat menyalakan api.

Kemampuannya sebagai manusia dan keampuhan barunya

karena lama hidup di dalam hutan adalah modal yang luar

biasa baginya. Karena modal itulah, ia merasa leluasa

bergerak di hutan, seperti sebelumnya ia merasa leluasa

bergerak di tengah-tengah masyarakat di wilayah Kerajaan

Pajajaran.

Dengan segala kemampuannya itulah, ia bergerak

mendekati rombongan menjangan itu. Makin lama, makin

dekat ia ke tempat binatang berkumpul di pinggir telaga itu.

Setelah beberapa puluh langkah lagi, ia muncul dari semak,

lalu berteriak dengan keras. Binatang-binatang itu terkejut dan

lari dengan cerai-berai. Banyak Sumba mengawasi seekor rusa

jantan, lalu melemparkan tombak kayunya ke arah binatang

itu. Karena pekerjaan itu biasa dilakukannya, dengan tepat

paha belakang rusa itu dikenainya. Akan tetapi, karena jarak

antara Banyak Sumba dan binatang itu cukup jauh, sedangkan

tombak kayu itu ujungnya tidak terlalu tajam karena belum

sempat dibakar, binatang itu tidak roboh. Rusa jantan yang

kuat itu walaupun timpang terus lari. Banyak Sumba tertawa

karena ia merasa ditantang untuk mengadu kekuatan. Ia

berlari mengejar binatang itu. Tiga buah tombak kayu

dibuangnya, tinggal gadanya yang ia acung-acungkan di udara

sambil berteriak-teriak kegirangan seperti anak-anak.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Binatang itu menerobos semak-semak. Banyak Sumba

dengan lincah melompat-lompat atau menyelinap antara

semak-semak, makin lama makin dekat ke arah binatang itu.

Kemudian, di depan binatang itu terdapat tempat yang sedikit

terbuka, di antara semak-semak gelagah yang tinggi. Banyak

Sumba mempercepat larinya karena di tempat terbuka itulah

ia bermaksud menghabisi binatang itu.

Suatu kejadian yang tidak disangka-sangkanya terjadi

dengan cepat sekali. Ketika binatang itu berada di tengahtengah

tanah terbuka dan ketika Banyak Sumba melompati

semak terakhir memasuki pinggiran tanah lapang kecil itu, dari

sebuah semak di sebelah kiri binatang itu melompatlah seekor

harimau. Dengan secepat kilat, harimau mematahkan leher

rusa itu dan membantingnya ke tanah.

Banyak Sumba dengan cepat menghentikan larinya. Kalau

tidak, ia akan menubruk kedua ekor binatang yang masih

bergumul di tanah itu dan akan tersandung serta jatuh. Ia

berdiri, gada siap di tangan kanannya. Tak lama kemudian,

rusa itu tidak bergerak-gerak lagi dan harimau itu sudah

berdiri di atasnya, memandang ke arah Banyak Sumba dengan

curiga dan bersiap-siap untuk menyerang.

Banyak Sumba menghentikan napasnya. Ia tidak bergerak

karena tahu, begitu ia bergerak, binatang buas itu akan

langsung menyerang. Secepat kilat, terlintas dalam hatinya

bahwa ketika itulah ia akan mencoba penemuan tentang ilmu

keperwiraan. Ia memandang harimau itu, memerhatikan letak

kaki muka dan kaki belakangnya. Ia meramalkan bahwa kalau

harimau itu menyerang, berat badannya terutama akan

tumpah ke sebelah kiri dan ia akan membelok ke sebelah

kanan. Jadi, Banyak Sumba harus memukulkan gadanya ke

sebelah kiri. Ia pun tidak boleh menentang tenaga lawan yang

langsung tumpah ke arahnya. Kalau begitu, ia yang lebih

ringan daripada harimau itu akan dirobohkan. Itulah

sebabnya, Banyak Sumba harus memukul harimau itu dari

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

samping, kalau perlu terus melompat. Pikiran itu secepat kilat

bergerak dalam otaknya. Sementara itu, ia berpandangan

dengan binatang buas itu dalam jarak beberapa langkah saja.

Keduanya sama-sama menunggu. Harimau itu akan

bergerak kalau saja Banyak Sumba menggerakkan ujung

jarinya atau mengejapkan matanya. Harimau itu pun tidak

menggeram. Ia memendam suaranya seperti ia memendam

tenaga yang akan dicurahkannya pada saat menyerang

Banyak Sumba. Begitu mereka berdiri berhadapan, tak ada

suara maupun gerakan antara mereka.

Banyak Sumba memindahkan letak gadanya ke sebelah

kanan dan pancingan itu dijawab harimau itu dengan

serangan yang dibarengi auman yang mengguncangkan

seluruh hutan. Banyak Sumba mengerahkan seluruh

tenaganya untuk memukul ke samping kiri dari arah harimau

datang. Betapapun kukuh kuda-kudanya, ketika gada itu

mengenai tubuh harimau, ia terguncang juga. Begitu pukulan

mengena, ia menghambur menuju tubuh harimau yang

menyeleweng karena pukulan. Ia tidak memberikan

kesempatan kepada binatang itu. Ia memberikan pukulan

yang kedua ke arah kepala harimau itu. Akan tetapi, dengan

cepat dan tepat, gada itu ditangkis oleh binatang itu seraya

menghambur ke depan mencengkeram kaki kanannya ke arah

Banyak Sumba. Banyak Sumba menghindar sambil memukul,

kemudian maju lagi dengan gada berdesing-desing. Beberapa

pukulan mengenai kepala dan tubuh harimau, beberapa

pukulan mengenai pula tubuh Banyak Sumba.

Kemudian, harimau itu tidak selincah semula. Mereka

berhadapan sejenak. Banyak Sumba menghambur menyerang.

Harimau itu menghindar. Akan tetapi, dari sikapnya sudah

diramalkan Banyak Sumba, dari arah mana binatang itu akan

menyerang. Itulah sebabnya, harimau itu menghindar. Derak

tulang dan auman yang keras terdengar serentak, kemudian

harimau itu roboh, berputar-putar di tanah. Banyak Sumba

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

mengangkat gadanya tinggi-tinggi, kemudian dengan

dengusan, dihantamnya kepala harimau itu. Ia terjatuh

menimpa tubuh harimau yang gemetar dan panas.

Banyak Sumba terduduk, entah berapa lama ia terengahengah.

Berulang-ulang ia melihat harimau yang dibunuhnya.

Badan binatang itu hampir dua kali lebih besar daripada tubuhnya.

Sementara itu, Banyak Sumba menyadari pula bahwa

harimau itu masih muda, justru sedang berada di puncak

kekuatannya. Ia merasa lega, bukan karena telah selamat dari

bahaya maut, tetapi pendapat-pendapat yang ditemukan

dalam renungannya tentang ilmu perkelahian ternyata benar.

Semua pendapat itu dapat dibuktikannya dan bukti yang

paling baik adalah binatang yang lebih besar dan lebih hebat

senjatanya itu dapat dilumpuhkannya.

Tiba-tiba, Banyak Sumba merasa tusukan pedih di rusuk

kirinya. Ia melihat ke bawah, tampaklah bajunya yang sudah

lusuh tidak keruan, tercabik-cabik oleh jambretan kuku

harimau itu. Di beberapa tempat, kain yang tercabik-cabik itu

basah. Ketika Banyak Sumba membuka kain itu, tampaklah

luka-luka yang mengerikan di beberapa bagian tubuhnya.

Untung luka-luka itu tidak dalam. Akan tetapi, Banyak Sumba

cemas juga karena luka akibat serangan harimau sering

membunuh karena racunnya. Ia segera berdiri, lalu berpikir.

Kemudian, ia mencabut belatinya, menguliti harimau itu.

Karena pekerjaan itu sering dilakukannya, dalam sekejap kulit

harimau itu telah terkelupas. Ia mengambil hati harimau itu,

kemudian menggarap pekerjaan yang lain, yaitu menguliti

rusa yang terbaring tidak jauh dari tempat itu. Diambilnya hati

dan jantung serta kedua paha binatang itu. Setelah itu, dinyalakannya

api. Ia memasang cabang-cabang pohon yang

bercagak di atas api. Daging dan hati itu dipanggangnya di

atas api unggun yang dibuatnya. Sementara itu, ia mengambil

daun-daunan tertentu yang dijadikannya obat luka. Tak lama

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

kemudian, terciumlah bau sedap dari arah api. Daging dan

hati binatang itu sudah masak.

Banyak Sumba duduk sambil memakan daging yang tidak

digarami. Pikirannya melayang kembali ke arah pengalaman

yang baru saja dilaluinya. Tiba-tiba, hatinya berkata bahwa ia

tidak takut kepada siapa pun, kepada binatang maupun

manusia. Ia telah menemukan suatu rahasia yang sangat

berharga di bidang ilmu keperwiraan. Ia dapat meramalkan

gerakan lawan dan oleh karena itu, ke mana pun.lawan

bergerak, ia sudah siap siaga. Ia teringat kepada Jasik, ia

membayangkan bagaimana Jasik akan menggeleng-gelengkan

kepalanya karena kagum kepadanya.

Selesai makan, Banyak Sumba membersihkan diri di telaga

yang tidak jauh letaknya dari tempat ia menyalakan api

unggun. Ia mengobati lukanya, kemudian kembali ke

jemurannya, kulit harimau yang indah. Ia bermaksud

membuat baju dari kulit harimau itu karena bajunya sudah

hancur. Ketika ia membersihkan kulit harimau itu, matahari

menggelincir ke barat.

DARI hari ke bulan, dari bulan ke tahun, Banyak Sumba

tidak tahu lagi sudah berapa lama ia tersesat dan

mengembara mencari jalan keluar dari hutan belantara itu. Ia

disiksa oleh kesedihan dan kesunyiannya, dikepung oleh

bahaya dari saat ke saat. Akan tetapi, penderitaannya itu

ditahannya dengan tabah. Pertama, karena menyadari bahwa

ia menderita untuk tujuan yang mulia. Oleh karena itu, ia pun

yakin bahwa suatu hari ia dapat keluar dari hutan belantara

itu. Kedua, setiap kali kesedihan dan kesepian menghimpit

jiwanya, ia segera mengalihkan perhatiannya pada masalahmasalah

ilmu keperwiraan. Di samping itu, ia terus-menerus

berusaha mencari jalan ke luar hutan itu.

Ia tidak pernah tinggal diam di suatu tempat di hutan. Ia

terus berjalan, mendaki gunung-gunung, menuruni lembah,

menyeberangi sungai. Pada suatu kali, tibalah ia di sebuah

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

hutan yang ajaib. Hutan itu terletak di atas gunung yang

sangat tinggi. Kabut tidak pernah jauh dari atas kepala Banyak

Sumba. Oleh karena itu, angkasa selalu suram. Banyak Sumba

terus mendaki gunung yang berhutan lebat itu. Ia berharap,

semoga ia dapat melihat ke arah dunia manusia dari puncak

gunung itu. Itulah sebabnya, ia berjalan terus, walaupun

kadang-kadang pendakian sangat terjal hingga ia harus

merayap bagai seekor cecak, berpegang pada akar pohonpohonan.

Ketika habis merayap itulah, tiba-tiba ia berdiri di tepi

hutan yang aneh. Pohon-pohon di hutan itu tampak tidak

subur, bahkan semak-semaknya sedikit sekali. Seolah-olah,

hutan itu sebuah borok besar di tengah-tengah hutan-hutan

lain yang sehat. Di samping itu, Banyak Sumba mendengar

suara-suara yang aneh, sayup-sayup kadang-kadang seperti

jauh, kadang-kadang dekat sekali. Melihat pohon-pohonan

yang dalam remang seperti rangka-rangka yang hitam

terbakar dan mendengar suara yang aneh-aneh, yang

mendekati suara manusia, meremanglah bulu roma Banyak

Sumba. Akan tetapi, ia tidak mundur. Ia melangkah terus

dengan gada siap menghadapi segala kemungkinan. Ia

berjalan, angin bertiup dari arah mukanya. Angin sangat

dingin, tetapi baju kulit harimaunya cukup tebal untuk

melindungi kulitnya. Ia melangkah terus dengan tujuan tetap,

yaitu mendaki gunung itu lebih tinggi lagi agar mencapai

puncaknya. Dari sana diharapkannya akan melihat dunia

manusia.

Tiba-tiba, ia melihat kabut yang tebal sekali merendah ke

arah gunung itu. Bagai lidah besar, kabut itu menjilat

beberapa bagian hutan yang aneh itu. Mula-mula, Banyak

Sumba tidak acuh saja. Kemudian, angin bertiup ke arahnya.

Banyak Sumba terkejut karena tiba-tiba ia sudah terkurung

oleh kabut yang sangat tebal sehingga pemandangannya

remang-remang belaka. Dalam keremang-remangan itu,

pohon-pohonan makin menyeramkan.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Banyak Sumba tidak peduli, ia terus berjalan ke arah

puncak gunung yang tinggi yang pernah dilihatnya itu. Akan

tetapi, makin lama kabut makin tebal juga. Akhirnya, ia hanya

melihat tabir kumal yang membentang di hadapannya. Ia tidak

dapat melihat apa-apa. Ia berdiri dan dengan kesal menunggu

kabut itu pergi. Tiba-tiba, dekat sekali di sampingnya, ia

mendengar teriakan seorang perempuan yang keras, lalu

tertawa cekikikan. Bulu roma Banyak Sumba meremang. Ia

tahu bahwa yang tertawa itu bukanlah manusia, melainkan

makhluk yang ditakuti manusia. Banyak Sumba bersiap-siap

dengan gadanya dan melihat ke sekelilingnya. Selintas, dia

seolah-olah melihat seorang perempuan beriari, rambutnya

terurai, tubuhnya tidak ditutup oleh sehelai benang pun. Aneh,

perempuan itu berlari cepat sekali di dalam kabut yang tebal

itu. Makin yakin Banyak Sumba bahwa ia berada di wilayah

kerajaan Siluman. Ia membaca mantra-mantra, mohon

perlindungan kepada Sang Hiang Tunggal dan Sunan Ambu,

sementara tangannya erat-erat memegang gada.

Suara jeritan terdengar dari dalam semak yang ada di

dekatnya. Ia mendengar orang dipukuli, tangisan, jeritan, dan

caci maki bergalau dalam keributan itu. Banyak Sumba mulamula

hendak bergerak mendekati semak itu, tetapi ia segera

sadar bahwa hal itu tidak boleh dilakukannya. Ia selalu akan

digoda oleh makhluk-makhluk terkutuk itu. Itulah sebabnya, ia

mengurungkan maksudnya untuk mendekati tempat itu,

walaupun suara orang yang disiksa dan bunyi tindakantindakan

penyiksaan berjalan terus, balikan makin lama makin

hebat terdengar.

Kemudian, terdengar suara tangis bayi dari suatu arah.

Terdengar pula geram harimau. Hampir saja Banyak Sumba

bergerak ke arah suara bayi itu, tetapi ia pun segera sadar

dan terus membaca mantra-mantra. Ia tahu bahwa ia sedang

digoda agar jatuh ke dalam malapetaka. Ia berdoa, mudahmudahan

kabut segera pergi dan matahari bersinar kembali.

Ternyata, doanya tidak segera dijawab. Lama sekali kabut itu

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

bergayut di sana, sedangkan angin bertiup lemah sekali.

Maka, ia pun terpaksa menulikan telinganya terhadap suarasuara

yang meremangkan bulu romanya itu. Ia pun tidak

peduli pada pemandangan yang aneh-aneh yang berkelebatan

di sekelilingnya. Ia siap dengan gadanya. Apa pun yang

mendekati, akan dipukul dengan senjatanya yang ampuh itu.

Kabut menipis, tetapi pemandangan hanya remangremang.

Banyak Sumba mulai berjalan. Ia sadar bahwa

tempat dari arah suara bayi terdengar tadi adalah sebuah

jurang yang dalam sekali. Seandainya bergerak ke sana,

niscaya ia sudah terbaring remuk di dasar jurang itu. Ia

mengucap syukur atas keselamatannya.

Setelah beberapa lama ia berjalan, kabut pun menjadi tipis

sekali. Ia bergegas, meninggalkan hutan yang menakutkan

itu. Ia siap dengan gadanya. Tibalah ia di tepi sebuah jurang.

Banyak Sumba tertegun. Dari dalam jurang, keluar asap yang

berbau busuk. Dan ketika Banyak Sumba melihat ke bawah,

tampak sebuah lubang besar yang berasap. Banyak Sumba

mundur. Ia berkata dalam hatinya, barangkali lubang itu

adalah salah satu gerbang yang menuju ke Buana Larang,

tempat Ratu Siluman bersemayam. Ia segera meninggalkan

lubang yang berasap busuk itu.

Hutan menjadi jarang pohon-pohonannya. Makin lama,

hutan makin jarang. Akhirnya, ia tiba di tempat yang tidak

berpohon sama sekali. Ia berjalan terus di sepanjang lembah

gundul. Ia heran, mengapa di atas puncak gunung ada bagian

tanah yang begitu kering dan gersang.

Tiba-tiba, ia tertegun. Di bagian lembah yang dalam, ia

melihat pemandangan yang mengerikan. Berpuluh-puluh

tengkorak berserakan. Di antara tengkorak-tengkorak

tersebut, terdapat pula mayat yang masih utuh dan setengah

utuh. Di antara tengkorak manusia, terdapat pula tengkorak

binatang, dari menjangan hingga babi hutan. Bahkan, ada

tengkorak yang besar dan panjang sekali, yaitu tengkorak ular

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

sanca yang terbentang, di hadapannya terbaring tengkorak

seekor menjangan besar. Suatu kisah tergambar di belakang

pemandangan itu.

Banyak Sumba melangkah ke belakang. Ia teringat kepada

dongeng orang-orang tua yang pernah tersesat di lembah

seperti itu. Ia pun tersesat di Lembah Tengkorak yang

terkenal tapi jarang dilihat orang. Ia salah seorang di antara

yang cukup malang sehingga tersesat di lembah berbahaya

itu. Siapa pun yang berani melintasi lembah itu akan menjadi

mayat belaka karena lembah itu terkutuk, dan siluman

berkuasa di sana. Banyak Sumba mundur seraya membaca

mantra tidak henti-hentinya.

Dengan tergesa-gesa, Banyak Sumba menghindar dari

daerah yang menakutkan itu. Ia berjalan terus, mendaki,

menuju ke arah hutan hijau yang membayang di balik kabut

tipis. Ia mulai kelelahan, keringatnya membasahi seluruh

tubuhnya, walaupun udara di tempat itu sangat sejuk.

Akhirnya, ia sampai juga di bagian hutan yang lebat. Begitu

menginjakkan kaki di sana, ia menyadari bahwa ia telah keluar

dari daerah yang bukan daerah manusia atau binatang. Ia

merasa lega, lalu beristirahat. Dibukanya kantong besar yang

terbuat dari kulit menjangan, dikeluarkannya buah-buahan

yang dipetiknya di hutan-hutan di kaki gunung yang tinggi itu.

Ia pun mengeluarkan beberapa potong dendeng menjangan

dan harimau. Ia menyalakan api, lalu memanggang daging itu

di atas api unggun yang terbuat dari ranting-ranting.

Walaupun daging itu berbau asap, karena lapar, ia

memakannya dengan lahapjuga.

TERNYATA, walaupun ia telah mengelilingi puncak gunung

itu dan dari sana melihat ke sekelilingnya, ia tidak berhasil

melihat dunia manusia. Ke mana pun ia berpaling, hutan yang

hijau kelabu belaka yang dilihatnya. Akhirnya, ia berputus asa

dan menganggap bahwa usahanya yang penuh dengan

godaan dan bahaya itu sia-sia belaka. Berhari-hari, ia

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

berkeliling di hutan itu. Ia sadar bahwa di puncak gunung itu

tidak ada binatang perburuan karena daerah itu terlalu tinggi.

Buah-buahan sedikit sekali di sana sehingga mungkin saja ia

dapat mati kelaparan.

Pada suatu pagi, ia bergerak turun. Ia menghindari hutan

yang menakutkan dan Lembah Tengkorak itu. Dicarinya jalan

lain. Ia terus turun hingga akhirnya tiba di tebing yang curam.

Ia menarik napas panjang. Terpikir olehnya, kecuali dengan

melalui Hutan Siluman dan Lembah Tengkorak itu, ia tidak

akan dapat menuruni tebing yang curam itu.

Ia tertegun, apakah ia akan kembali melalui hutan berkabut

yang penuh dengan pemandangan dan suara-suara yang

meremangkan bulu roma itu? Mungkinkah ia dapat selamat

untuk kedua kalinya dalam melewati hutan yang gelap dan

penuh dengan jurang menganga yang tidak kelihatan

dasarnya itu? Ia melihat ke dalam jurang yang ada di

depannya. Tampak hutan yang lebat di dasarnya. Ia

memutuskan untuk menuruni jurang yang sangat curam itu

karena selama hidup di dalam hutan itu, ia sudah terampil

seperti seekor kera. Apa salahnya ia mempergunakan

kepandaiannya itu untuk menuruni tebing?

Banyak Sumba mengeratkan kantong besar yang

disandangnya. Ia pun menyisipkan gadanya pada ikat

pinggang yang terbuat dari kulit harimau. Ia mulai memegang

ranting semak-semak, lalu merayap ke bawah. Entah berapa

lama ia merayap, ketika pada suatu kali, dilihatnya benda

yang bergerak di bawahnya. Ia berhenti, lalu memandang ke

bawah. Tiba-tiba napasnya terhenti.

Di bawahnya, di dalam jurang itu, di balik hutan yang lebat,

terdapat sebuah jalan kecil. Kalau matanya tidak salah

tangkap dan ia tidak bermimpi, ia melihat tiga orang

penunggang kuda. Dua orang dewasa menunggang kuda di

depan dan di belakang, sedangkan seorang anak melarikan

kudanya di antara kedua orang tua itu. Banyak Sumba hampir

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

saja berteriak karena kegirangan, la ingin memanggil manusia

pertama yang ditemukannya. Akan tetapi, tiba-tiba terlintas

dalam hatinya bahwa mungkin orang-orang yang lewat di

dasar jurang itu para anggota Padepokan Tajimalela.

Kegembiraannya hampir meledakkan dadanya demi terpikirnya

hal itu. Ia sadar bahwa ketiga orang penunggang kuda itu

berbaju putih. Baju putih adalah pakaian penghuni Padepokan

Tajimalela.

Padepokan Tajimalela berada di dalam hutan rahasia,

dilingkungi bahaya yang menghadang siapa saja yang ingin

mengunjunginya. Bukankah ia hampir jadi korban Hutan Kabut

dan Lembah Tengkorak? Bukankah menurut cerita, Hutan

Siluman dan Lembah Tengkorak itu dekat sekali letaknya

dengan padepokan para pahlawan Pajajaran yang perkasa itu?

Dalam kegembiraan itu, Banyak Sumba tergesa-gesa turun

hingga berulang-ulang ia hampir terjatuh. Akhirnya, tibalah ia

di dasar lembah. Benar, ia melihat banyak sekali jejak kuda di

lembah yang sempit itu. Di sana terdapat jalan setapak, yang

tentu akan menuju ke padepokan yang terkenal tetapi tidak

diketahui letaknya itu. Banyak Sumba berlari-lari mengikuti

jejak kuda yang masih baru itu. Ia berlari secepat-cepatnya.

Akan tetapi, betapapun cepatnya, ia tidak dapat menyusul

kuda yang lari. Pada suatu tempat, ia kehilangan jejak. Ia

kelelahan dan duduk di atas rumput di dalam semak.

Tiba-tiba, keraguan timbul bersama kecemasan dalam

hatinya. Mungkinkah ia disesatkan oleh siluman? Mungkinkah

ketiga orang penunggang kuda itu siluman yang menyamar,

yang memberi harapan, kemudian menyesatkannya ke

tempat-tempat yang lebih berbahaya? Banyak Sumba bangkit,

lalu mencari-cari jejak kuda di sekitar hutan itu.

Ia mulai menyesal, mengapa ia tidak berseru memanggil

para penunggang kuda itu. Alangkah sialnya, pikirnya.

Ataukah ia beruntung? Ia tidak tahu, apa yang akan terjadi

kalau ia memanggil ketiga orang penunggang kuda itu.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Mungkinkah ia dibunuh karena memasuki daerah padepokan

itu memang terlarang? Atau mungkinkah ketiga penunggang

kuda itu bukan manusia, hanya siluman yang menggoda dan

menyesatkan? Ataukah itu para guriang yang kembali dari

pengembaraan di dunia manusia?

Seraya pikirannya kacau-balau seperti itu, Banyak Sumba

terus-menerus mencari jejak-jejak kuda itu. Setelah demikian

lama tidak juga ditemukannya, akhirnya ia berhenti sambil

terengah-engah kelelahan. Dan ketika ia beristirahat itu, hari

pun senja.

Bab 9

Kesasar Ke Padepokan Tajimalela

Keesokan harinya, panas matahari menyengat pundak

Banyak Sumba yang tidak tertutup oleh kulit harimau. Ketika

ia sedang berjalan di semak-semak, terdengariah suara

gemuruh. Apakah itu? tanyanya dalam hati. Banyak Sumba

berhenti dan mendengarkan suara itu dengan telinganya yang

tajam. ‘Air terjun!” serunya di dalam hati. Ia berlari ke arah

asal suara itu. Ia menyadari bahwa dengan menyusuri sungai,

akhirnya ia akan tiba ke laut, dunia manusia! Dan kalau ia

menyusuri sungai, ia akan bertemu dengan kota-kota

manusia, dan bukankah Pakuan Pajajaran berada di tepi

sungai?

Banyak Sumba berlari ke arah datangnya suara itu.

Akhirnya, tibalah ia di tepi sungai kecil yang arusnya deras

sekali di dalam hutan itu. Sungai itu mengalir di atas tanah

bercadas-cadas, airnya yang jernih menjadi putih seperti

kapas karena berbusa. Di atas sungai itu melingkarlah pelangipelangi

kecil di bawah sinar surya tengah hari.

Tanpa banyak berpikir, Banyak Sumba membuka pakaian

kulit harimaunya, lalu mandi di dalam air yang jernih itu.

Setelah merasa segar, ia melanjutkan perjalanan, menyusuri

sungai kecil itu arah ke hilir. Kadang-kadang hutan lebat

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

sekali, kadang-kadang tebing-tebing curam sekali, tetapi

Banyak Sumba sudah terbiasa hidup dalam hutan. Seperti

seekor kera atau harimau tutul, ia melompat-lompat atau

dengan cepat memanjati pohon-pohonan, dan menuruninya

kembali. Ia terus menuruni puncak gunung yang tinggi.

Di satu tempat, ia berhenti karena ketika melintas sungai

itu, ia melihat jejak-jejak yang mendebarkan hatinya. Apakah

itu jejak binatang hutan yang besar, seperti banteng dan

rusa? Ataukah itu jejak kuda? Banyak Sumba menundukkan

kepalanya, memeriksa jejak-jejak itu dengan saksama.

Debarjantung-nya menghebat. Jejak kuda! Ia bangkit,

berpaling ke seberang sungai yang sempit. Di antara semaksemak,

ia melihat jalan setapak. Ia menemukan kembali jejak

ketiga orang penunggang kuda yang dicarinya dua hari

belakangan ini. Ia dapat membayangkan bahwa ketiga orang

penunggang kuda itu pernah melompati bagian sungai di

tempat itu.

Tanpa berpikir panjang, Banyak Sumba melompati sungai

kecil, lalu berlari mengikuti jejak kuda itu. Akan tetapi, di

tengah-tengah jalan, ia berhenti. Mungkinkah siluman hendak

menyesatkannya kembali setelah ia menemukan jalan untuk

kembali ke dunia manusia? Munginkah ia sedang dipancing

oleh siluman untuk kembali tersesat ke dalam hutan belantara

dan tidak dapat kembali untuk selama-lamanya ke dalam

masyarakat yang beradab? Atau mungkinkah Sang Hiang

Tunggal begitu kasih kepadanya sehingga ia diberi jalan untuk

dapat mengunjungi Padepokan Tajimalela dan mempelajari

ilmu kepuragabayaan untuk mengalahkan Anggadipati?

Banyak Sumba tertegun, ia kebingungan. Akhirnya ia

berdoa, kemudian melangkah kembali, mengikuti jejak kuda

itu. Ia akan mengikuti jejak kuda itu. Agar tidak tersesat, ia

akan membuat tanda pada pohon-pohonan. Ia pun

mengeluarkan belatinya, lalu dipotongnya cabang-cabang

pohon dari saat ke saat. Kadang-kadang, ditorehnya batangTiraikasih

Website http://kangzusi.com/

batang pohon, kemudian akan dijadikannya petunjukjalan

kalau ia akan kembali menuju sungai yang ditemukannya itu.

Begitu ia berjalan, kadang-kadangjejak kuda itu hilang

dalam semak-semak, tetapi umumnya ia dapat mengikuti jalan

setapak. Walaupun samar-samar, tetapi ia yakin bahwa itu

jalan setapak yang biasa dipergunakan para penunggang

kuda. Dan, ia pun yakin pula bahwa jalan setapak itu menuju

suatu tempat, kalau tidak kampung manusia tentu Padepokan

Tajimalela. Sebelum senja tiba dan ketika ia sudah kelelahan,

ia mendengar sesuatu. Ia mempercepat jalannya sambil

mengendap-endap. Pada suatu ketika, tibalah ia di bibir

jurang. Ia berdiri sejenak, kemudian menjatuhkan diri dengan

hatinya mengucap syukur kepada Sang Hiang Tunggal. Ia

merayap di bibir jurang itu.

Ia melihat ke bawah, sebidang lapangan luas yang bersemak-

semak rendah dan berbunga-bunga. Ia menyadari

bahwa ia berada di pinggir sebuah kawah mati. Dan ia hampir

tidak percaya pada matanya sendiri ketika dilihatnya beberapa

bangunan berupa kuil di dasar kawah itu. Ia bertanya-tanya

dalam hati, tidakkah ia bermimpi? Belum hatinya jernih, ia

sudah menghadapi peristiwa yang baru. Tiba-tiba, dari arah

hutan di bibir kawah sebelah timur, datanglah suara gemuruh.

Dari arah itu, muncullah sekira tiga puluh orang pemuda.

Semua berpakaian putih. Mereka berlari, berbaris ke arah

lapangan yang berada di dekat kuil. Seraya berbaris dan

berlari, mereka berseru-seru atau bernyanyi.

Karena kebiasaan, Banyak Sumba menyelinap

menyembunyikan diri di balik semak-semak. Ia terus

bertanya-tanya, apakah ia telah memasuki daerah para

guriang? Apakah para pemuda yang tampan-tampan dan

berpakaian putih itu manusia atau makhluk Kahiangan?

Apakah mereka itu para Bujangga? Ataukah mereka itu

siluman? Tapi, kalau siluman, tentu akan menimbulkan

suasana lain dalam hati Banyak Sumba. Ia tidak merasa seram

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

atau ngeri. Ia merasa kagum dan bahkan gembira melihat

para pemuda yang tampan-tampan, kuat-kuat, dan halushalus

gerak-geriknya itu. Atau mungkinkah ia sudah tiba di

Padepokan Tajimalela yang termasyhur itu? Apakah pemudapemuda

itu para calon puragabaya?

Demikianlah ia bertanya-tanya sambil mengintip.

Sementara itu, para pemuda duduk berkeliling di lapangan

yang berpasir putih. Seorang di antara mereka yang tampak

sudah berumur, berdiri di tengah-tengah, lalu berbicara. Akan

tetapi, karena jauh dan angin bertiup ke arah lain, Banyak

Sumba tidak mendengar apa yang dikatakan orang itu. Orang

yang berdiri di tengah lingkaran itu melakukan gerakangerakan

tertentu seperti menari, kemudian berbicara kembali.

Banyak Sumba tiba-tiba menjadi yakin dan gembira, bahwa ia

telah tersesat ke daerah yang memang dicari-carinya. Ia

sekarang berada di Padepokan Tajimalela. Ia meletakkan

kedua telapak tangan di depan dadanya sambil mengucapkan

doa syukur kepada Sang Hiang Tunggal.

“Yang Mahakasih, hamba-Mu mengucap syukur kepa-da-Mu

karena telah membawa hamba-Mu ke tempat hamba-Mu akan

mempelajari ilmu yang sangat ampuh, untuk membalaskan

dendam keluarga,” demikian di antaranya bisik Banyak

Sumba. Kemudian, ia merangkak agar dapat lebih dekat ke

arah orang-orang muda yang duduk berkeliling itu. Selagi

merangkak, ia merasakan arah angin. Ia sadar, ia harus

berhati-hati karena yang memasuki daerah itu tanpa izin akan

ditangkap dan bahkan dibunuh. Daerah padepokan yang

sangat termasyhur itu terlarang bagi sembarang orang.

Tanpa disadarinya, matahari menyurukkan kepala ke dalam

hutan lebat dan, seperti tiba-tiba, hari menjadi senja. Banyak

Sumba melihat para pemuda itu bangkit, lalu sambil

menyanyikan doa-doa yang indah bunyinya, mereka berjalan

memasuki kuil. Dari pintu kuil, muncul seorang tua yang

agung dengan janggut putih yang bergerai-gerai ditiup angin

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

senja. Orang tua itu berdiri di gerbang kuil, memandangi para

pemuda yang sambil berbaris memasuki kuil. Tak lama

kemudian, lapangan itu menjadi sunyi kembali karena semua

orang telah masuk kuil. Mereka akan bersembahyang senja,

kata Banyak Sumba dalam hati. Mereka bukan siluman, juga

bukan Bujangga atau guriang. Mereka adalah manusia.

Banyak Sumba merasa yakin akan hal itu. Sambil menarik

napas panjang, ia membuat rencana untuk mengadakan

penyelidikan lebih lanjut seraya memandang ke arah

bangunan-bangunan yang ada di dasar kawah mati itu.

Sementara itu, malam pun tiba dan beberapa obor

dinyalakan orang di sekitar bangunan-bangunan itu. Ternyata,

kesibukan di tempat itu masih juga ramai walaupun hari telah

gelap. Dalam remang-remang cahaya obor, Banyak Sumba

melihat baju-baju putih berkelebatan, terdengar pula suara

orang bercakap-cakap sayup-sayup. Dari dalam kuil terdengar

doa bersama. Kadang-kadang terdengar orang berbicar.i, *<

perti memberikan wejangan.

Banyak Sumba ingin sekali menyelidiki, tetapi ia belum

berani turun dari bibir kawah itu. Baru setelah tampak

kesibukan berkurang dan beberapa obor di lapangan

dipadamkan, Banyak Sumba berani bergerak dan merangkak

ke bawah. Ia berusaha tidak mengeluarkan suara.

Ia berjalan mengendap-endap dan menyelinap dari satu

bayangan pohon ke bayangan pohon yang lain. Kemudian, ia

bergerak menuju ruangan besar, tempat para pemuda itu

masuk pada waktu senja. Lama sekali ia mengendap-endap

karena berulang-ulang ia melihat bayangan putih pada malam

gelap itu. Ia sadar, tentu saja ada penjaga yang bertugas

malam, sekurang-kurangnya untuk menghindarkan kuda dari

serangan binatang buas. Ia tahu bahwa di tempat itu disimpan

beberapa ekor kuda karena sayup-sayup ia pernah mendengar

ringkiknya.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Betapapun lambat dan hati-hatinya, akhirnya sampai juga

ia di salah satu bangunan di dasar kawah mati itu. Ia merabaraba

dinding bangunan yang terdiri dari kayu dan batu. Ia

berkeliling, mencari celah untuk mengintip ke dalam.

Sementara itu ia berhati-hati, jangan-jangan ada peronda

yang memergokinya. Ternyata, bangunan besar itu sangat

baik dindingnya sehingga tidak ada satu celah pun yang dapat

dipergunakannya untuk mengintai. Dan ketika ia sedang

meraba-raba dinding itu, tiba-tiba didengarnya langkah

mendekat. Ia melekatkan dirinya rapat-rapat ke dinding. Tak

lama kemudian, ia melihat bayangan putih berjalan, berhenti,

mendengus-dengus udara, kemudian berjalan lagi, lalu

berhenti. .

Banyak Sumba sadar bahwa kehadirannya diketahui oleh

penjaga itu. Ia baru menyadari bahwa para puragabaya

memiliki penciuman yang tajam sekali. Ia terlambat untuk

menghindari bahaya karena sudah berada dalam jangkauan

penciuman penjaga itu. Ia hanya berdoa, mudah-mudahan

angin bertiup bertentangan arah. Kemudian, dilihatnya

penjaga itu menjauh, pakaian putihnya mengabur dalam gelap

malam. Banyak Sumba segera menyelinap, menghindar,

menuju semak-semak di tepi kawah mati itu.

Di sana, ia termenung untuk beberapa lama, memikirkan

bagaimana cara yang sebaik-baiknya agar dia dapat

mengetahui lebih banyak tentang padepokan itu dengan risiko

sekecil-kecilnya. Terpikir olehnya, bagaimana kalau ia

memasuki loteng ruangan tempat para calon puragabaya

belajar. Akan tetapi, hal itu bukannya tidak mengandung risiko

yang besar. Pertama, kalau ditemukan, ia akan sukar sekali

melarikan diri dari kepungan para calon puragabaya itu.

Kedua, untuk memasuki loteng itu, ia harus mengangkat atap

ijuk yang entah telah berapa ratus tahun umurnya. Ia melihat

kesukaran dan bahaya yang besar, tetapi itulah satu-satunya

cara. Ia menarik napas panjang, ditetapkan untuk dicobanya.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Setelah melihat ke segala arah, Banyak Sumba merangkak

keluar dari semak persembunyiannya. Berulang-ulang ia

melompat dari bayangan ke bayangan di lapangan berpasir

yang memisahkan semak-semak dengan ruangan belajar para

calon itu. Ketika memasuki bayangan dinding bangunan kecil

yang terletak beberapa langkah dari ruangan belajar para

calon, ia menyentuh sebatang pohon kecil secara tidak

sengaja. Daun gemerisik dan sesuatu jatuh dari pohon itu.

Tiba-tiba, dari arah bangunan kecil itu terdengarlah suara,

“Da!”

Terhenti rasanya detak jantung Banyak Sumba. Ia terpaku

di tanah, tidak bergerak. Suara itu kemudian terdengar lagi.

“Da!”

Banyak Sumba menjawab, “Ya.”

Dari dalam ruangan tidak terdengar lagi suara. Banyak

Sumba menghindar, mengendap-endap.

Memanjat dinding bangunan tempat belajar para puragabaya

tidaklah sukar. Ia sudah hidup seperti seekor kera

atau macan tutul dalam hutan. Tak lama kemudian, ia sudah

berada di atap bangunan yang besar dan panjang. Merayaprayap

dalam gelap seraya berusaha tidak mengeluarkan suara,

sungguh merupakan perbuatan yang berat. Baru saja

beberapa saat, keringatnya sudah membasahi tubuhnya,

padahal malam sangat dingin ketika itu. Banyak Sumba tidak

berputus asa. Ia terus mencari-cari celah ijuk yang dapat

diangkatnya. Ternyata, atap ruangan itu dibuat secara

sempurna. Banyak Sumba akhirnya memutuskan untuk

menggagalkan niatnya. Ia akan turun dan memikirkan cara

lain di tempat yang lebih aman. Namun, ketika ia turun,

didengarnya suara agak nyaring datang dari dalam ruangan.

Ketika ia berpaling ke arah datangnya suara itu, dilihatnya

dalam remang malam lubang udara yang besar. Banyak

Sumba segera merayap mendekati lubang udara yang

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

memasuki loteng. Ia pun memasukinya dengan mudah dan

tak lama kemudian, ia telah berada dalam loteng ruangan

besar itu. Setelah merayap-rayap dalam gelap tanpa

mengeluarkan suara, tibalah ia di suatu tempat. Di sana, ia

dapat mendengar pembicaraan orang-orang yang ada di

bawah.

Sesuai dengan yang diharapkannya, pembicaraan yang

terdengar dari bawah tempat persembunyiannya adalah

mengenai masalah ilmu keperwiraan. Walaupun begitu,

Banyak Sumba tidak mudah mengerti dan menangkap isi

percakapan orang-orang yang diintipnya karena banyak istilah

yang tidak dikenalnya.

Kadang-kadang terdengar nama-nama jurus yang

dikenalnya diucapkan orang, tetapi lebih sering didengar

istilah seperti batas gerak, titik berat, tenaga bendung, tenaga

alir, dan tenaga ledak. Banyak Sumba mencoba mendugaduga,

apa yang dimaksud istilah itu, tetapi tidak merasa puas

dengan menduga-duga. Itulah sebabnya, ia berusaha

menoreh dinding loteng dengan pisau belatinya. Hal itu

dikerjakannya dengan perlahan-lahan sekali. Akhirnya, suatu

celah dapat dibuatnya. Melalui celah itu, tampaklah para

pemuda yang gagah dan tampan dengan khidmat duduk

dalam bentuk lingkaran. Salah seorang yang duduk bersama

mereka tampak menjadi pengajar mereka.

“Tempatkan titik berat badanmu ke salah satu tumit

kakimu, jangan di kedua belah kaki. Kalau ditempatkan di

kedua belah kaki, kau akan sukar bergerak. Kelincahanmu

akan jauh berkurang, sedangkan lawan akan dengan mudah

menyapu kakimu yang satu atau yang lain.”

Orang setengah baya itu melihat ke sekelilingnya, ke wajah

para pemuda yang tampan dan halus itu. Tampak bahwa

orang itu mengharapkan pertanyaan. Tak lama kemudian,

salah seorang di antara pemuda itu mengacungkan tangan,

lalu bertanya, “Lawan yang baik akan melihat di mana berat

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

badan kita berada. Dengan demikian, ia dapat meramalkan

gerakan yang akan kita ambil dan serangan yang paling

ampuh yang dapat dilaksanakan. Bukankah dengan titik berat

badan kita di satu tumit, lawan akan mudah melihat dan

meramalkan kemungkinan-kemungkinan serangan kita?”

“Itu pertanyaan yang bagus sekali,” ujar orang setengah

baya itu. Setelah berkata demikian, berdirilah ia, lalu berjalan

ke tengah lingkaran. Ia berdiri, satu kakinya menganjur ke

depan, yang lain berada di bawah badannya. Ia bertanya, “Di

manakah berat badan Paman?” tanya orang itu.

“Di kaki belakang,” kata beberapa orang siswa.

Laki-laki setengah baya itu mengubah kedudukannya,

setelah itu bertanya pula, “Sekarang, di mana titik berat badan

Paman?”

Para siswa termenung sejenak, kemudian ada yang

mengatakan di kaki kiri, ada pula yang mengatakan di kaki

kanan. Kemudian, orang setengah baya itu menjelaskan

bahwa cara menyembunyikan titik berat badan adalah salah

satu bagian ilmu yang sangat penting dan harus dikuasai oleh

setiap pura-gabaya. Mendengar perkataan “puragabaya” itu,

bergembiralah Banyak Sumba. Tidak ada lagi keraguan dalam

hatinya bahwa ia telah tersesat ke tempat yang diinginkannya.

Tidak ada keraguan lagi akan keyakinannya selama ini bahwa

Sang Hiang Tunggal sangat kasih kepada wangsa Banyak

Citra.

Sementara itu, perhatiannya tidak lepas dari semua yang

dilakukan oleh pelatih dan para calon puragabaya. Ia

menyadari bahwa segala yang didengarnya adalah suatu hal

yang baru baginya. Pertama, ternyata, pelatih calon

puragabaya tampaknya tidak pernah berpikir dengan

mempergunakan seperti jurus kuda-kuda, sikap, dan

sebagainya. Ia lebih banyak berpikir dengan mempergunakan

istilah-istilah titik berat badan, kemungkinan-kemungkinan

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

gerak, peraturan tenaga, dan kekuatan serta kelemahan

tubuh.

Mendengar penjelasan pelatih calon puragabaya itu,

sadarlah Banyak Sumba bahwa selama ini, cara berpikir yang

demikianlah yang dibutuhkannya. Ia merasa tidak puas

dengan pengertian yang biasa dipergunakan sebelumnya.

Sudah lama ia berpendapat bahwa semua jurus berguna. Yang

menjadi persoalan baginya, bagaimana agar setiap jurus dapat

dipergunakan pada saat dan keadaan yang tepat. Dan,

persoalan ini hanya dapat dijawab dengan mudah kalau ia

mempergunakan cara berpikir lain. Cara berpikir demikian,

ternyata dipergunakan oleh pelatih puragabaya itu.

Setelah para siswa itu selesai belajar dan meninggalkan

ruangan, Banyak Sumba turun dari atap bangunan, lalu

dengan mengendap-endap masuk hutan, mencari pohon

untuk menginap. Karena lelah, ia segera tertidur. Karena

sudah biasa, ia tidak perlu lagi mengikatkan dirinya pada

dahan-dahan. Walaupun tidur, ia tetap mengendalikan berat

badannya.

Keesokan harinya, subuh-subuh ia terbangun oleh nyanyian

para siswa. Banyak Sumba memanjat lebih tinggi lagi. Di balik

kerimbunan daun-daun, ia menyaksikan cara mereka berlatih.

Ia kadang-kadang tersenyum kalau sadar bahwa apa-apa

yang dilakukan oleh para siswa secara sengaja, telah

dilakukannya secara terpaksa selama ia berada di hutan

belantara. Ia merasa lega karena ia pun menyadari, banyak

hal yang berguna telah dikuasainya selama ia tersesat dan

menderita di hutan rimba itu.

Namun, sering pula hatinya menjadi kecil kalau

menyaksikan cara-cara latihan yang belum pernah dilihatnya.

Sering ia ingin menggabungkan diri dengan para siswa dan

mencoba kemampuannya melakukan apa-apa yang

diperintahkan oleh pelatih para siswa itu. Akan tetapi, ia hanya

dapat lebih menajamkan pandangan matanya dan mencoba

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

mengerti apa maksud dan makna latihan para siswa

puragabaya itu. Kadang-kadang ia tidak mengerti sama sekali,

dan walaupun mencobanya seorang diri, bentuk latihan itu

tetap gelap baginya. Maka, sepanjang hari, ia memikirkan apa

yang dilihatnya itu. Kemudian, ia mencari buah-buahan atau

mencoba menangkap binatang untuk makanannya.

Malam hari, seperti biasa, ia menyelinap dan memasuki

loteng tempat belajar para calon. Banyak hal mengenai keperwiraan

dipelajari dari pengintipan itu dan ilmu kepuragabayaan

makin lama makin menjadi terang baginya, walaupun

masih banyak hal kecil yang tidak dimengertinya.

Di samping hal-hal mengenai ilmu keperwiraan yang

diberikan oleh para pelatih yang terdiri dari beberapa orang,

Banyak Sumba pun sempat ikut mempelajari cara-cara

pengobatan yang diajarkan kepada para calon puragabaya itu.

Para calon puragabaya diharuskan mengetahui bagian-bagian

badan manusia, yang di luar maupun yang di dalam. Selain

berguna untuk melumpuhkan lawan dengan mudah dan cepat,

pengetahuan itu sangat berguna untuk menyembuhkan siapa

saja yang memerlukan pertolongan. Cara-cara pengobatan itu

ada yang hanya mempergunakan tangan, tapi ada pula yang

mempergunakan daun-daunan dan akar-akaran.

Banyak Sumba dengan tekun ikut memerhatikan apa-apa

yang dijelaskan oleh seorang pelatih yang bernama Paman

Minda. Paman Minda ini, selain ikut melatih, tugas utamanya

menjaga dan merawat para calon yang mendapat kecelakaan

dalam latihan. Tidak jarang, dalam latihan-latihan itu, ada

calon puragabaya kena pukulan, terkilir atau terjatuh, luka

atau memar. Paman Minda-lah yang mengurus mereka.

Kadang-kadang, Resi Tajimalela hadir di tempat belajar

untuk memberikan wejangan tentang keagamaan. Banyak

pula hal mengenai keagamaan dan kesatriaan yang dipelajari

oleh Banyak Sumba. Tidak disadarinya, setelah beberapa

bulan berada di sekitar Padepokan Tajimalela dan hidup

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

seperti seekor musang, pengetahuannya tentang ilmu

keperwiraan bertambah, sementara jiwanya jadi penuh

dengan persoalan.

Satu persoalan yang sangat menggelisahkan hati Banyak

Sumba, yaitu mengenai hubungan antara manusia. Pada suatu

malam, ketika Resi Tajimalela selesai memberikan wejangan

dan memberikan kesempatan kepada para siswa untuk

bertanya, berkatalah seorang pemuda, “Eyang Resi, tadi

Eyang mengatakan bahwa sebagai seorang puragabaya, kami

harus melepaskan kepentingan pribadi demi kepentingan

sesama manusia, khususnya sesama anak negeri Pajajaran.

Sudilah Eyang Resi menjelaskan kepada kami dengan contoh.”

“Baiklah, Anakku,” sabda Eyang Resi sambil menganggukangguk.

Wajahnya yang kurus dihiasi dengan dua bola mata

jernih yang gemerlapan tetapi sangat lembut. Setelah

berdeham, Eyang Resi Tajimalela melanjutkan wejangannya,

“Kalau engkau merasa bersalah, engkau bukan saja harus

bersedia mendapat hukuman, tetapi harus meminta dihukum.

Mengapa? Karena keadilan milik bersama, sedangkan dirimu

milikmu sendiri. Kalau milikmu musnah, Pajajaran dapat

berlangsung terus, tetapi kalau keadilan rusak, hilang

lenyaplah Pajajaran.”

Ruangan hening untuk beberapa lama, kemudian sambil

tersenyum, bersabda pulalah Eyang Resi Tajimalela,

“Masihkah kurang jelas?”

‘Jelas, Eyang,” kata siswa yang bertanya terlebih dahulu.

“Kalau begitu, Eyang, hubungan keluarga itu tidak ada artinya

sama sekali karena anggota keluarga kami tidak boleh lebih

dipentingkan daripada siapa pun,” kata seorang siswa lain.

“Benar, Anakku,” ujar Eyang Tajimalela, lalu melanjutkan

penjelasannya, “Ketika kalian diserahkan untuk belajar di sini,

orangtua kalian menyerahkan kalian menjadi anak negara.

Kalian anak setiap warga Pajajaran dan bukan anak keluarga

kalian lagi. Memang, hubungan darah dan hubungan cinta

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

kasih kalian dengan orangtua dan saudara akan tetap lebih

mesra dibandingkan dengan kasih kalian kepada orang lain.

Akan tetapi, satu hal harus kalian sadari bahwa di dalam

keadilan, keluarga kalian tidak boleh diistimewakan.

Seandainya seorang anggota keluarga kalian bersalah,

kalianlah yang seharusnya paling dulu menghukumnya karena

kalian menyadari bahwa perbuatan dosa bukan saja

merusakkan orang yang menjadi korban, tetapi sebenarnya

merugikan seluruh anak negeri Pajajaran. Kalau kalian kasih

kepada sanak keluarga, hendaknya itu berarti bahwa kalian

menjaga mereka agar selalu hidup dalam keadilan dan kasih

terhadap sesamanya. Orang yang melindungi saudaranya

berbuat tidak adil, bukanlah menyayangi saudaranya, tetapi

justru menjerumuskannya.

“Anak-anakku, bandingkanlah hidup kita dalam kerajaan ini

dengan hidup di dalam sebuah telaga besar yang airnya

jernih. Kalau seorang berbuat tidak adil, itu berarti dia

mengotori air telaga itu. Yang kena kotornya bukan dia

sendiri, tetapi kita semua. Itulah sebabnya, tugas kalian yang

pertama adalah menghukum diri sendiri kalau sadar telah

berbuat salah atau tidak adil. Kemudian, hukumlah saudarasaudaramu

kalau mereka berbuat tidak adil. Baru kalian

menghukum orang lain sesuai dengan peraturan dan undangundang

kerajaan.”

Apa yang menggelisahkan Banyak Sumba adalah pendapat

bahwa keluarga seseorang itu hanya berharga sejauh hidup

dalam keadilan. Dengan demikian, kebanggaan keluarga,

seperti kebanggaan Banyak Sumba sebagai keturunan wangsa

Banyak Citra, merupakan hal yang sia-sia bagi Eyang Resi

Tajimalela.

Ketika larut malam, ia merayap meninggalkan atap ruangan

yang sunyi itu, pikirannya tetap gelisah. Pada suatu saat,

berkatalah ia kepada dirinya sendiri, “Barangkali, Eyang Resi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

dapat berkata demikian karena ia sudah tidak punya keluarga

lagi.”

Perkataannya itu tetap tidak menenangkan pikirannya.

Bagaimanapun, pendapat Eyang Resi Tajimalela itu adalah

pendapat yang mulia. Hanya dengan bersikap demikian,

seorang kesatria berhak mendapat gelar kesatria. Akan tetapi,

bagaimana dengan kasih sayang antara anggota keluarga?

Kakanda Jantejaluwuyung dibunuh dengan keji. Kalau ia

membelanya, tidakkah itu berarti bahwa ia membela keadilan

juga? Tapi, bagaimana kalau yang dibunuh itu bukan Kakanda

Jante Jaluwuyung? Mungkinkah ia bersedia menderita segala

kesengsaraan untuk menegakkan keadilan? Banyak Sumba

tidak bisa menjawab pertanyaan itu. Ia gelisah sepanjang

malam.

Ia hidup sebagai binatang malam di sekitar padepokan itu.

Makin hari, makin bertambah pengetahuannya tentang ilmu

keperwiraan maupun tentang ilmu pengobatan dan

keagamaan. Akan tetapi, kegelisahannya pun makin lama

makin bertambah. Ia menyadari bahwa ia adalah orang yang

sungguh-sungguh menempati kedudukan yang bertentangan

dengan para siswa kepuragabayaan itu. Kalau ia menyerahkan

hidupnya untuk keluarganya dan untuk wangsa Banyak Citra,

para siswa kepuragabayaan sebaliknya. Mereka menyerahkan

hidupnya untuk sesama manusia, dan anggota keluarga

mereka berada dalam kasih sayang mereka selama tidak

memusuhi sesama manusia. Manakah sikap yang benar?

Masalah itu masih tetap menjadi bahan renungannya ketika

pada suatu pagi ia melihat suatu hal yang tidak biasa di

kalangan para siswa. Ketika yang lain melakukan latihan dan

Banyak Sumba memandangnya dengan penuh perhatian serta

pengertian, beberapa orang siswa di bawah pimpinan seorang

pelatih memisahkan diri, lalu merunduk-runduk seolah-olah

sedang mencari-cari sesuatu di atas pasir dan rumput.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Darah Banyak Sumba tersirap ketika ia menyadari bahwa

mereka telah menemukan dan mencurigai jejaknya. Sadar

akan hal itu, Banyak Sumba meluncur seperti seekor ular, lalu

menyelinap ke dalam semak dan menjauh dari daerah

Padepokan Tajimalela. Ia berpikir keras, bagaimana agar ia

tidak ditemukan. Kesimpulan yang diambilnya adalah ia harus

menghindar dan bersembunyi untuk beberapa lama di tempat

yang agak jauh dari padepokan. Ia sadar bahwa hal itu akan

sangat merugikannya, tetapi itu adalah jalan satu-satunya.

Selama tiga hari, ia tidak berani mendekati Padepokan

Tajimalela. Ia berkelana di hutan yang jauh dari padepokan

dan pada hari keempat, ketika malam mulai gelap, barulah ia

berani kembali. Langsung ia menyelinap dan naik ke atap

ruangan besar tempat para calon puragabaya mendapat

wejang-an-wejangan tentang ilmu keperwiraan dan ilmu

keagamaan.

Apa-apa yang didengarnya tentang ilmu keagamaan selalu

menggelisahkannya. Terakhir ia mendengar penjelasan Eyang

Resi Tajimalela tentang sejarah manusia. Di antara wejangan

itu, Eyang Resi Tajimalela menjelaskan bahwa manusia yang

rendah di zaman biadab, mula-mula hanya mementingkan

dirinya sendiri. Dalam keadaan gawat, kadang-kadang

manusia biadab membunuh dan memakan anaknya sendiri.

Kemudian, dengan mempergunakan akal budinya, manusia

makin lama makin halus. Rasa kasih sayang dan rasa kasih

tumbuh. Maka, manusia yang telah meningkat ini tidak terlalu

mementingkan dirinya lagi, tetapi ia mementingkan juga

keluarganya. Ia membela mati-matian anak istrinya terhadap

gangguan binatang buas ataupun orang-orang lain. Setelah

itu, manusia lebih maju lagi. Ia tidak hanya mempertahankan

dan membela keluarganya, tetapi juga anggota kelompoknya.

Mulailah sering terjadi peperangan antara kelompok-kelompok

manusia untuk memperebutkan harta atau hanya karena

berebut daerah perburuan atau perhumaan.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Setelah kelompok-kelompok itu berdamai, terbentuklah

bangsa dan kerajaan seperti Pajajaran. Ini adalah tingkatan

yang sangat tinggi. Para puragabaya menjadi pelopor dalam

perkembangan kemanusiaan yang tinggi itu.

“Di Pajajaran,” demikian Eyang Resi Tajimalela, “masih ada

orang-orang yang hanya mementingkan diri sendiri, keluarga,

atau kelompoknya. Secara berangsur-angsur, mereka harus

dididik agar Pajajaran menjadi suatu kerajaan yang kuat dan

padu. Dan contoh yang menjadi teladan bagi masyarakat

adalah para puragabaya. Mereka ini manusia-manusia baru,

manusia-manusia masa depan yang gilang-gemilang.”

Penjelasan Eyang Resi Tajimalela menjadi bahan renungan

yang sangat mengganggu ketenteraman hatinya. Ia bimbang,

karena dengan penjelasan-penjelasan itu, ia merasa

ditempatkan sebagai manusia yang rendah. Ia mementingkan

keluarga dan tidak mementingkan kerajaan secara

keseluruhan. Hal itu merupakan cacat baginya, demikian

menurut pendapat Eyang Resi Tajimalela. “Apakah itu benar?”

tanya Banyak Sumba dalam hati. Ia berusaha menjawab

pertanyaan itu dan kepalanya menjadi pening karenanya.

Ilmu keperwiraan yang diajarkan-dalam ruangan besar itu,

serta pelaksanaan latihan-latihan yang dilakukan oleh para

calon puragabaya, sangat merangsang pikirannya. Berulangulang,

ia ingat kepada Jasik karena tiadanya panakawan itu

sangat merugikan baginya. Ia tidak dapat mencoba segala

pelajaran yang dicurinya dari atas atap atau didapatnya dari

renungan-renungan. Kadang-kadang, dorongannya untuk

mencoba ilmu barunya terhadap para calon puragabaya

hampir tidak tertahan, kalau saja ia tidak sadar bahwa hal itu

akan berarti bunuh diri.

Dengan ilmu yang didapat dari Padepokan Tajimalela itu, ia

sadar bahwa ia sekarang sudah dapat mengerti mengapa

dengan mudah ia dikalahkan oleh Raden Madea, ketika ia

mencoba kemampuan ilmu calon puragabaya itu di Padepokan

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Sirnadirasa dulu. Ia sekarang yakin bahwa ia akan dapat

mengalahkan Raden Madea, atau sekurang-kurangnya ia tidak

akan dapat dirobohkan seperti dulu sehingga pergelangan

tangannya terkilir. Demikian ia termenung hingga para calon

meninggalkan ruangan dan ia menyelinap ke luar setelah

semuanya sunyi.

Pada suatu pagi, ketika matahari baru saja terbit, seperti

biasa, Banyak Sumba merayap atau melompat dari pohon ke

pohon menuju daerah padepokan. Ia duduk di atas dahan,

pada sebatang pohon yang berdaun rindang. Ia memandang

ke arah lapangan tempat para calon puragabaya berlatih.

Akan tetapi, tidak seperti biasanya, lapangan sepi belaka.

Maka, melompatlah ia, seperti seekor kera besar, menuju

pinggir kawah mati sebelah selatan, ke tempat latihan

memanjat tebing. Akan tetapi, di sana pun para calon tidak

ada.

Banyak Sumba turun dari pohon, lalu menyelinap di antara

semak-semak, mendekati pinggir kawah mati. Ketika ia

mencoba lebih mendekati bangunan-bangunan itu, terdengar

olehnya teriakan-teriakan sayup-sayup. Karena telinganya

sangat tajam, ia segera mengetahui dari mana datangnya

teriakan-teriakan itu. la segera menuju tepi kawah bagian

utara, kemudian menuruni tebing-tebing. Didengarnya bunyi

air terjun yang gemuruh. Dengan penasaran Banyak Sumba

mendekat, lalu memanjati pohon yang sangat tinggi. Ia heran

melihat bagaimana para calon dengan mempergunakan

tambang, dimasukkan ke dalam pusaran air besar yang

menyeramkan yang telah dikenalnya.

Seorang demi seorang calon itu diturunkan, lalu ditarik

kembali setelah beberapa lama. Umumnya, mereka terbaring

kelelahan setelah berada di atas kembali. Yang mengherankan

Banyak Sumba adalah calon dapat keluar dari pusaran air itu.

Sepanjang pengetahuan Banyak Sumba, air jeram itu berputar

sangat keras dalam suatu lubang besar, lalu mencebur ke

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

dalam sungai. Barang siapa yang masuk ke dalam pusaran itu

akan dibanting air ke batu-batu dan cadas di sana, dan akan

masuk sungai sebagai mayat. Akan tetapi, para calon dapat

keluar dengan selamat.

Ingin sekali Banyak Sumba mengetahui, apa yang

dilakukan oleh para pelatih terhadap calon puragabaya itu. Ia

melompat ke pohon lain sambil berusaha tidak menimbulkan

suara atau gerakan. Makin lama, makin dekat ia ke arah para

calon yang mengelilingi lubang yang dibuat oleh air terjun itu.

Sekarang, Banyak Sumba dapat melihat bahwa di dalam

pusaran air yang gemuruh itu, para calon harus dapat

mempertahankan diri sehingga tidak terbanting ke cadas.

Setiap kali ada calon yang diturunkan, berdebar-debar hati

Banyak Sumba. Dan, setiap kali mereka diangkat dengan

selamat, lega pula hatinya. Bagaimanapun, setelah beberapa

bulan tinggal di hutan sekitar padepokan, ia sudah mengenal

para calon itu satu per satu. Ia merasa sayang kepada

mereka, para pemuda yang tampan dan halus perangainya

itu. Akan tetapi, sedih sekali Banyak Sumba seandainya salah

seorang di antara mereka ada yang menjadi korban latihan

berat itu.

“Turun!” tiba-tiba terdengar seseorang berseru. Terhenti

rasanya denyut jantung Banyak Sumba.

Ketika melihat ke bawah, ia sadar bahwa pohon tempatnya

bersembunyi telah dikelilingi oleh dua orang pelatih dan

beberapa orang calon yang telah selesai berlatih. Banyak

Sumba melihat ke arah pohon-pohon sekelilingnya. Ia menarik

napas, lalu melompat ke dahan terdekat, kemudian ke pohon

yang lain. Tiba-tiba, ia melihat bahwa semak-semak bergerak

di bawahnya.

Ternyata, ia telah dikepung ketika ia asyik memerhatikan

para calon yang sedang berlatih. Banyak Sumba melihat pula

beberapa orang calon telah menaiki pohon-pohon yang akan

dilompatinya. Dengan sedih, ia menyadari bahwa para calon

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

itu sangat tangkas, tangkas seperti dia sendiri. Maka, dengan

secepat-cepatnya, Banyak Sumba melompat dari dahan ke

dahan, dari pohon ke pohon bagaikan seekor kera besar. Para

calon seraya berteriak-teriak mengepung, ada yang berlari di

antara semak-semak, ada pula yang mengejar dia dari pohon

ke pohon.

Pada suatu kali, Banyak Sumba berlari di atas dahan besar.

Tiba-tiba, seseorang melompat dari pohon lain dan berdiri di

ujung dahan besar itu pada arah yang bertentangan. Tak ada

jalan lain, kecuali menyerang calon puragabaya itu. Secepat

kilat, terpikir oleh Banyak Sumba bahwa itu adalah

kesempatan yang baik untuk mencoba ilmunya. Secepat kilat

pula, ia beranggapan, alangkah anehnya kalau ia berpikiran

begitu waktu dikepung bahaya. Adapun yang terpikir olehnya,

ia tetap bergerak menuju calon itu. Calon itu bersiap, ia pun

bersiap, berhadapan di atas cabang besar itu. Selangkah demi

selangkah, keduanya maju. Teriakan-teriakan terdengar dari

bawah. Di antara teriakan-teriakan itu terdengar teriakan

pelatih. ‘Jangan dikeroyok, lawan sebagai seorang kesatria!”

Tiba-tiba, calon itu menyerang, menangkap tangan Banyak

Sumba, dan mencoba merusak keseimbangan agar Banyak

Sumba jatuh. Akan tetapi, Banyak Sumba dapat

mengendalikan berat badannya dan menarik calon itu ke

kedudukan yang tidak seimbang. Banyak Sumba

melangkahkan kakinya ke depan dan calon yang telah berdiri

miring terjatuh, tetapi tidak langsung ke tanah. Tangannya

yang cekatan menangkap dahan dan bergantunglah ia,

kemudian melompat kembali mengejarnya.

Banyak Sumba segera meninggalkan pohon itu, ia

memanjati batang yang tinggi. Terdengar di belakang gerisik

daun-daunan dan getaran batang pohon yang disebabkan oleh

berat badan pengejar. Banyak Sumba berhenti, lalu ketika

muka pengejar tampak, ia menginjaknya. Akan tetapi, begitu

cepat calon puragabaya itu mengibas sehingga tumit Banyak

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Sumba menyerang angin. Banyak Sumba tidak melanjutkan

serangannya. Ia segera melompat kembali. Beberapa pohon

dilompatinya, kemudian tampaklah semak-semak yang tidak

ada pohon besarnya.

Banyak Sumba segera menuruni pohonnya. Ketika ia

menginjakkan kakinya di tanah, dari beberapa arah datanglah

bayangan-bayangan putih mengepungnya. Kaki Banyak

Sumba berdesing ke kanan dan ke kiri, tetapi tidak ada yang

dikenalnya karena seperti serangan kucing-kucing hutan, para

calon berloncatan ke kiri dan ke kanan atau mundur. Banyak

Sumba berlari terus. Tanpa diketahuinya terlebih dahulu,

seorang calon datang dari sampingnya dan langsung

melompat menangkap pinggangnya. Banyak Sumba memukul

tangan calon puragabaya itu dan sambil mempergunakan

berat badan lawan, melemparkannya ke samping kanan. Calon

itu berguling di semak, kemudian berdiri, kembali mengejar.

Banyak Sumba berlari terus hingga pada suatu kali, ia

membelok karena di hadapannya tampak dua orang

mencegatnya. Akan tetapi, langkahnya terhenti karena dari

depan tampak juga seorang telah bersiap-siap, sementara

tidak jauh dari calon itu berdiri pula yang lain. Banyak Sumba

membelok ke arah lain, tetapi ia terhenti pula. Ia telah

dikelilingi lawannya.

“Menyerahlah, Anak Muda,” kata pelatih yangjuga hadir di

antara pengepung. Sementara itu, dari balik semak-semak

bermunculanlah para calon. Dengan pandangannya, Banyak

Sumba merencanakan arah-arah yang akan dipergunakannya

untuk melarikan diri. Ia harus melarikan diri ke arah hutan

kembali karena hutan lebih menguntungkan baginya. Ia

menyadari sekarang bahwa kalau ia terkepung, itu adalah

akibat siasat para pengepung yang mengiring dia ke arah

tanah terbuka, hanya terdapat semak-semak.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Menyerahlah, Anak Muda. Kami akan memperlakukanmu

secara adil,” kata pelatih itu pula seraya kepungan bertambah

kecil.

Banyak Sumba berbisik dalam hatinya bahwa dia tidak akan

mau dibunuh dengan mudah karena memasuki daerah

terlarang itu. Ia mendengarkan desir langkah pengepungyang

ada di belakangnya karena merekalah yang akan diserangnya.

Makin lama, para pengepung makin mendekat. Banyak Sumba

berpura-pura mencari sasaran yang ada di depannya dan

berulang-ulang berpaling ke arah yang bertentangan dengan

hutan. Itu adalah siasat, karena ketika itu, para pengepung

telah berada dalam jangkauan lompatan.

Banyak Sumba berbalik dan melompat ke belakang.

Bayangan putih yang langsung ada di depannya diserangnya

dengan kaki. Akan tetapi, calon itu dengan sigap menghindar

dan di belakangnya muncul dua orang bersiap-siap. Banyak

Sumba berpaling, tapi juga terhalang oleh dua orang. Ia sadar

sekarang bahwa ia hanya akan melarikan diri kalau

merobohkan orang-orang yang menghadangnya dan tidak

hanya menakut-nakuti mereka.

Dengan pikiran itu, Banyak Sumba menarik napas panjang.

Ia tidak berlari atau melompat. Ia berjalan menuju lawan

terdekat.

“Yang lain mundur!” seru pelatih.

Banyak Sumba merasa bahwa ia akan menjadi percobaan

untuk menguji ketangkasan para calon itu. Ia tidak terlalu

bersedih karena ia pun tahu bahwa saat itulah ia akan dapat

menguji kepandaiannya. Maka, sambil berdoa, ia maju. Tak

lama kemudian, mereka telah berada dalam daerah serang.

Banyak Sumba yang sudah hafal akan cara-cara penyerangan

yang biasa dilakukan oleh para calon, dengan mudah

meramalkan gerakan-gerakan yang akan dilakukan lawan.

Itulah sebabnya, ia menutupnya. Dan karena ia lebih tinggi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

dan lebih besar daripada lawannya, dengan juluran tangan, ia

sudah cukup dapat menghindarkan bahaya tendangan lawan.

Sebaliknya, lawan yang berbadan ramping dan kecil, lebih

terbatas kemungkinannya dalam melindungi diri. Banyak

Sumba tidak menyia-nyiakan keuntungan yang ada padanya.

Dengan segera, ia menyerang ke arah lawannya. Itu hanya

tipuan belaka karena Banyak Sumba sudah menduga bahwa

dari sikap kaki dan tangannya serta dari condong badan

lawan, lawan akan bergerak ke arah kirinya. Karena ia merasa

bahwa dugaannya tidak meleset, dilepaskannya tendangan

yang terkendali ke arah tempat kosong itu. Tetapi pada saat

yang diduga, lawan menghindar ke arah itu. Serangan yang

terkendali tidak akan dapat dihindari lagi oleh calon itu. Akan

tetapi, dengan sangat mengherankan, Banyak Sumba tidak

mengalami apa yang diharapkannya. Memang tendangannya

kena, tetapi tendangan itu tidak telak.

Banyak Sumba seolah-olah menendang sebuah benda yang

ringan yang kemudian mengikuti arah tendangannya. Lebih

dari itu, tiba-tiba kaki Banyak Sumba tertarik ke arah lawan

dan ia kehilangan keseimbangan. Untung ia segera dapat

bertindak, yaitu dengan melompat menubruk ke arah lawan.

Lawan menghindar sambil melemparkan badan Banyak Sumba

karenanya sempoyongan.

Banyak Sumba hampir jatuh, untung dilihatnya bayangan

putih di dekatnya. Ditendangnya bayangan putih itu, dan ia

seolah-olah tertahan oleh badan calon yang malang itu.

Ternyata,’ calon itu pun tidak roboh, tetapi kembali

melemparkan Banyak Sumba ke dalam gelanggang di tempat

calon melemparkannya tadi menunggu. Dari pengalaman yang

secepat kilat itu, Banyak Sumba mengambil kesimpulan bahwa

salah satu cara calon-calon menghindarkan kekuatan serangan

adalah dengan menerima serangan itu secara lembut.

Dua orang calon yang diserang dan dikenai, tidak pernah

menahan serangan itu. Kalau tidak sempat menghindar,

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

mereka memberikan sasaran yang diserang untuk dikenai,

tidak diberikan secara mudak, tetapi diikutkan dengan gerakan

serangan lawan. Ketika daya serang lawan hampir habis,

anggota badan lawan yang menjadi senjata serangan

dikembalikan dengan keras. Itulah yang menyebabkan Banyak

Sumba sempoyongan.

Sadar akan hal itu, Banyak Sumba memutuskan untuk tidak

menyerang mereka pada jarak jauh. Hal itu terlalu berbahaya.

Dalam kedudukan yang kurang menguntungkan, Banyak

Sumba dengan mudah akan dapat dirobohkan, walaupun ia

berbadan tinggi besar dibandingkan dengan para calon itu.

Maka, ditetapkannya untuk menghadapi calon yang di

hadapannya dalam jarak dekat.

Banyak Sumba berjalan, menyodorkan kedua belah

tangannya ke depan. Dengan tidak disangka-sangka, tangan

yang disodorkan ditendang oleh calon itu. Ketika Banyak

Sumba masih kesemutan di tangannya, calon itu sudah

menyeruduk ke arahnya. Banyak Sumba mengukuhkan kudakudanya

karena tahu bahwa calon itu akan mental atau masuk

perangkap lipatan tangannya yang kuat-kuat. Akan tetapi,

serangan itu hanyalah tipuan belaka. Calon itu berhenti pada

jarak yang dekat sekali, kemudian menendang ke arah ulu hati

Banyak Sumba, lalu melompat menjauh. Untung Banyak

Sumba sempat mengibaskan tubuhnya sehingga tendangan

itu mengenai otot dadanya yang kuat. Rasa sakit menusuk

ototnya, tetapi Banyak Sumba bersyukur bahwa ia tidak roboh

oleh serangan yang bagus itu.

“Bagus!” kata pelatih kepada calon itu. Kawan-kawan calon

itu pun bergumam, puas dengan serangan kawannya yang

bagus itu.

Banyak Sumba segera menyadari bahwa salah satu

kepandaian para calon itu adalah kecepatan membaca

gerakan yang tergerak dalam pikiran lawan. Banyak Sumba

telah melakukan serangan jarak jauh dan tidak berhasil.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Lawan segera membaca bahwa Banyak Sumba akan mencoba

serangan jarak pendek. Lawan berbalik menyerangnya dengan

jarak jauh. Dan ketika Banyak Sumba masih kebingungan,

serangan yang baik dan terkendali diarahkan dengan tepat

dan cepat.

Sekarang, mereka berhadapan kembali. Banyak Sumba

memutuskan untuk mempergunakan cara lain. Keuntungannya

sebagai seorang yang berbadan tinggi dan besar,

kecepatannya yang dibentuk oleh hidupnya sebagai binatang

hutan, dipergunakannya sebaik-baiknya. Ia mempergunakan

kecepatan ini, tetapi disembunyikannya pada awal

penyerangan. Ia bergerak dengan lembut, berganti-ganti

kedudukan, sesuai dengan kuda-kuda lawan. Ia berlaku

seolah-olah menunggu serangan dan bersikap

mempertahankan diri. Ini memberikan keuntungan lain

kepadanya.

Lawan menyangka bahwa tendangan yang mengenai

dadanya cukup mendekati sasaran, sehingga Banyak Sumba

menjadi lamban. Tampak lawan mengambil prakarsa untuk

menyerang. Ia mencari celah-celah pada kedudukan dan

pasangan Banyak Sumba.

Ketika itulah, dengan kecepatan yang hanya dimiliki oleh

tubuh yang biasa mengejar kijang atau menghindarkan diri

dari serangan harimau, Banyak Sumba menghambur ke

depan. Lawan melompat ke samping dengan arah yang sudah

diramalkan oleh Banyak Sumba. Dengan kaki kanannya yang

panjang, Banyak Sumba mencegat lawan yang dengan cepat

melompat dan berjungkir, lalu bergelundung.

Banyak Sumba berbalik mengejar. Begitu lawan berdiri dan

hendak berpaling, pinggangnya ditangkap oleh Banyak

Sumba. Tubuh calon itu diangkat hendak dilemparkannya ke

tepi gelanggang, ke arah kawan-kawannya. Akan tetapi,

seperti bergetah, tubuh calon itu melekat. Dengan segera,

Banyak Sumba menyadari bahwa tangan kanannya terkunci,

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

sedangkan beberapa bagian tubuhnya mendapat serangan

kecil-kecil tapi tajam. Ternyata, calon itu seperti seekor

kucing, ketika hendak dilempar, bergantung dengan jari-jari

yang dikeraskan hingga dapat merobek otot. Banyak Sumba

menggagalkan niatnya, lalu mencoba melepaskan tangannya

yang dikunci. Ketika itulah, dengan cepat calon

membantingnya dan Banyak Sumba pun bergelundung di

rumput.

Banyak Sumba segera bangkit dalam sorak-sorai kawankawan

calon yang bergembira menyaksikan kepandaian

kawannya itu. Tapi, Banyak Sumba pun bergembira. Ia

menyadari sesuatu. Ketika lawan mengunci tangan kanannya,

lawan sebenarnya tidak menyerang, tetapi hanya untuk

menarik perhatiannya. Demikian juga permainan sikutnya

yang cepat dan tajam menghantam rusuknya. Serangan lawan

ditujukan terhadap kuda-kuda Banyak Sumba. Karena tergoda

oleh serangan-serangan kecil, kuda-kuda itu terlupakan.

Makin sadar Banyak Sumba bahwa pertarungan itu

bukanlah—terutama—didasarkan pada kekuatan otot atau

kecepatan gerak anggota badan, tetapi kepada kesadaran dan

kecerdasannya. Banyak Sumba bertekad untuk tidak tertarik

dan tergoda oleh serangan-serangan yang tidak

membahayakan itu. Ia akan menyerahkan bagian badannya

yang diserang lawan, sepanjang itu tidak berbahaya. Ia akan

menukar bagian badan nya yang diserang dengan bagian

badan atau kedudukan lawan yang lebih berbahaya.

Ia pasang kuda-kuda lagi, tetapi lawannya dipanggil oleh

pelatih dan mengundurkan diri dari gelanggang, sementara itu

calon lain masuk menghadapinya. Banyak Sumba tersenyum

karena ia sadar akan belajar banyak dari Padepokan

Tajimalela itu. Ia melupakan bahaya karena pikiran-pikirannya

itu.

“Hai! Ia tersenyum!” seru salah seorang di antara para

pengepung yang berdiri melingkarinya. Terdengar yang lain

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

tertawa gembira bercampur keheranan. Banyak Sumba

kembali menyadari keadaannya, lalu bersiap-siap. Ia

menetapkan siasat baru. Cara menghunjamkan pukulanlah

yang akan dilakukannya terhadap lawan. Ia ingin tahu,

bagaimana lawan akan menahan serangan itu.

Begitu mereka siap, Banyak Sumba menyerang, tapi

menghentikan serangan di tengah-tengah jalan untuk

menggetarkan dan membingungkan lawan. Lawan

menghindar jauh sekali darinya. Hal itu menerbitkan

tertawaan pada kawan-kawannya.

“Paman, ia berkelahi seperti seekor harimau, lihat bentuk

tangannya!” kata seorang calon yang muda sekali. Banyak

Sumba memang teringat kepada cara harimau yang siap

menyerang.

“Ia orang liar!”

“Ia orang hutan!”

“Mungkin, ia tidak bisa bicara.”

“Tapi, ia bisa tersenyum, tadi!”

Ketika itu, calon yang ditertawakan oleh kawan-kawannya

mendekat, tetapi terlalu dekat sehingga Banyak Sumba dapat

menyapu kakinya. Lawan hampir saja terjatuh kalau tidak

sempat melompat. Lompatannya yang kikuk menyebabkan

gelak kawan-kawannya. Banyak Sumba merasa bahwa ia

menang secara ruhani. Lawannya merasa malu oleh kawankawannya

karena berbuat kesalahan. Oleh karena itu,

pikirannya tidak akan bekerja dengan baik. Orang yang malu

akan berbuat yang bukan-bukan untuk menutup rasa

malunya. Ini celah jiwa yang dapat dipergunakan Banyak

Sumba.

Banyak Sumba segera membuka celah, seolah ia lalai. Ia

membuka dadanya. Kemudian segera menutupnya kembali,

seolah-olah ia baru sadar. Akan tetapi, dalam menutup

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

dadanya itu ia berpura-pura telanjur membuka rusuknya.

Tendangan mendesing ke arah rusuknya. Dengan gerakan

membuang, ia menyerang kaki lawan dengan sikutnya.

Lawan terguncang. Ketika itulah, dengan kecepatan yang

hanya ada pada tubuh seorang yang pernah terpaksa hidup di

hutan, Banyak Sumba menyerang dan mempergunakan siasat

yang telah direncanakannya, yaitu rangkaian pukulan ke arah

tubuh lawan. Akan tetapi, ia tidak memilih sasaran yang

berbahaya karena ia lebih bermaksud mencoba lawan dan

bukan merobohkannya. Ia begitu tertarik oleh ilmu

keperwiraan itu sehingga ia lupa bahwa seharusnya ia

melarikan diri dengan segera dari tempat itu.

Beberapa pukulan masuk, demikian juga beberapa

rangkaian pukulan tidak dapat dihindarkan lawan. Sorak-sorai

terdengar, dan dalam keriuhrendahan itu, Banyak Sumba

sempat mendengar kata-kata,

“Pasti ia pernah belajar.”

“Ia sudah lama mengintip di sekitar ini.”

Banyak Sumba tidak memerhatikan kata-kata selanjutnya.

Ia dengan terkendali menghujani lawan dengan pukulan dan

tusukannya masuk. Akan tetapi, kemudian lawan dapat

menguasai dirinya, ia menempelkan kedua belah tangannya.

Sekarang, seperti sebuah belitan tambang, ia mengendalikan

tangan Banyak Sumba. Tak ada lagi pukulan yang bisa masuk.

Tangan lawan licin seperti belut, tapi tidak mau lepas dari

tangan Banyak Sumba. Bahkan, berulang-ulang hampir saja

Banyak Sumba tercabut dari kuda-kudanya. Mula-mula,

Banyak Sumba repot. Akan tetapi, ia cepat belajar. Ia harus

mengalihkan perhatiannya.

Tangannya masih mencoba menghantam tubuh dan kepala

lawan, tetapi perhatiannya berpindah ke kakinya. Pada suatu

saat, kaki kanannya menyapu kaki lawan. Lawan melompat

menjauh, diiringi sorakan riuh rendah.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Luar biasa!”

“Paman, ia berbakat sekali.”

“Mungkin, ia sudah lebih lama tinggal di sekitar padepokan

daripada kalian.”

“Tangkap dia!”

Perkataan itu mengingatkan Banyak Sumba pada

keadaannya. Ia berada di tengah-tengah bahaya. Ia telah

melanggar satu-satunya larangan kerajaan yang paling keras,

yaitu memasuki tempat belajar para calon puragabaya. Maka,

diteguh-kanlah hatinya untuk meloloskan diri. Ia merasa

bahwa ia sudah mendapat bahan banyak sekali dari

perkelahian itu. Ia dapat merenungkannya jauh dari

padepokan. Ia harus melarikan diri.

Ketika itu, lawannya mengundurkan diri, seorang calon

yang masih segar turun ke gelanggang.

“Paman, ia tidak tampak kelelahan.”

“Ia hidup dengan bermacam-macam binatang. Lihat ototototnya

yang kenyal dan indah itu!” demikian didengar

percakapan-percakapan sekelilingnya.

“Imba, tangkaplah dia!”

Tiba-tiba lawan menderu, mendesak ke arah Banyak

Sumba. Banyak Sumba tidak menangkap dan melemparkan

lawan ke samping seperti yang biasa dilakukan oleh para

calon. Ia bergerak ke samping sambil menyepak. Akan tetapi,

serangan yang tidak biasa kelihatan di padepokan ternyata

dapat dihindarkan calon itu, yang sambil melayang di udara,

memukul tangannya. Banyak Sumba tidak memberi

kesempatan, ia menghambur ke arah lawan dengan pasangan

yang tertutup rapat dan siap menghantam.

Lawan berbalik menghadap dan menampung tendangan

Banyak Sumba dengan kakinya yang menyepak ke samping.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Ini mengherankan Banyak Sumba. Akan tetapi, ia bergembira

karena telah menemukan pula cara menghindar yang sangat

bagus. Ia terus mendesak lawannya, sementara itu di

sekelilingnya terdengar sorak-sorai gembira sehingga pelatih

terpaksa berseru, “Perhatikan! Perhatikan caranya berkelahi!”

Pada saat itulah, terlintas pada diri Banyak Sumba bahwa ia

akan kelelahan kalau terus-menerus membiarkan dirinya

dijadikan bahan percobaan walaupun mempelajari cara-cara

berkelahi para calon itu. Ia merasa bahwa salah satu asas

yang sangat penting telah didapatnya, yaitu para calon dalam

perkelahian tetap sadar mempergunakan kecerdasannya.

Ini berbeda dengan prajurit atau perwira kebanyakan, yang

berkelahi secara kebiasaan dan terikat oleh cara-cara yang

mereka terima dari perguruan mereka. Itulah sebabnya

mengapa para calon sangat sukar diramalkan dalam gerakan

dan serangan-serangannya.

Sambil berpikir demikian, didesaknya lawan ke pinggir

gelanggang. Dan ketika lawan menghindar, diserangnya

seorang calon yang ada di dekatnya, kemudian Banyak Sumba

menyerang yang lain, menembus kepungan.

“Cegat! Cegat!”

Banyak Sumba melompat-lompat, lalu memanjat seperti

kera. Ia melompat dari satu pohon ke pohon lainnya, semua

pengejar juga mengikutinya. Banyak Sumba turun ke semaksemak,

kadang-kadang ia membelok, menghadang pengejar.

Sekali pinggangnya ditangkap, sikutnya mengenai kepala

penangkap. Kadang-kadang ia dihadang, tetapi tubuhnya yang

tinggi besar dan kenyal itu menguntungkannya. Tak ada yang

dapat menghalanginya dengan sepenuh hati karena tidak ada

di antara calon yang cukup besar dan kuat untuk menghadapi

kekuatan Banyak Sumba yang dibentuk oleh kehidupan hutan

rimba yang keras.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Pada suatu saat, terhentilah ia berlari. Di hadapannya

jurang terbuka. Ia sadar bahwa pelatih itu telah mengatur

pengepungan begitu rupa hingga akhirnya ia digiring ke

pinggir jurang dan dikepung rapat-rapat oleh calon. Tak lama

kemudian, ketika ia membalikkan badan, para calon telah

berkeliling dari segala arah di hadapannya. Sedangkan di

belakangnya menganga jurang itu.

“Menyerahlah, Anak Muda, kami akan memperlakukanmu

dengan adil,” kata pelatih itu dengan suara jujur.

Akan tetapi, Banyak Sumba tidak percaya. Dengan sudut

matanya diliriknya bibir jurang, ia melihat pohon di seberang.

Ia dapat melompat ke arah pohon itu. Soalnya, apakah ia

akan dapat menggapainya? Pikiran itu sekilas lewat di

benaknya, kemudian Banyak Sumba menyerang orang yang

paling dekat, lalu berpaling dan dengan desingan tubuhnya,

melompati jurang yang luas itu.

Terdengar teriakan-teriakan ngeri para calon. Tubuh

Banyak Sumba melayang. Tiba-tiba, di hadapannya terlihat

benda hijau. Tangan Banyak Sumba menangkap benda hijau

itu. Ia meluncur untuk beberapa lama di antara daun-daunan,

kemudian tangannya menangkap cabang, ia bergantungan.

Seperti seekor kera ia menaiki pohon, lalu seraya berpegang

pada akar-akar mendaki bibir jurang, hingga akhirnya tiba di

atasnya. Ia menarik napas panjang, lalu berpaling ke

seberang. Ia melihat para calon berdiri dengan keheranan di

seberang. Ia melambai kepada mereka sambil tersenyum.

Mereka tampak tercengang. Banyak Sumba segera lari, masuk

hutan.

KETIKA ia berjalan dalam hutan itu, bertiuplah angin lirih.

Keringatnya barulah dirasakan membasahi tubuhnya. Ia

merasa lapar. Sambil berjalan, dipetiknya buah-buahan.

Banyak Sumba baru mencicipi makanan, padahal hari sudah

siang. Ia berjalan menjauh dari bibir jurang. Sambil

menunduk, dipikirnya apa yang akan dilakukannya. Teringat

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

akan sungai itu. Ia akan menyusuri sungai untuk kembali ke

tengah-tengah masyarakat ramai. Ia akan merenungkan ilmu

kepuragabaya-an, lalu mencari Jasik. Mereka akan pergi ke

Pakuan Pajajaran untuk menunaikan tugas, yaitu membunuh

Anggadipati. Setelah itu, ia akan pulang ke Kota Medang.

Ketika itulah, ia teringat kepada Nyai Emas Purbamanik.

Kesedihan menyelinap dalam hatinya. Ia sudah putus asa

sekarang. Tidak tahu apa yang terjadi dengan gadis yang

telah begitu lama ditinggalkannya. Tidak diharapkannya

kesetiaan dari seseorang terhadap dirinya yang bernasib tidak

menentu. Sadar akan hal itu, meluaplah kebenciannya kepada

Pangeran Anggadipati. Ia akan membunuhnya. Ia akan

mempergunakan trisula kecil, senjata kepuragabayaan yang

termasyhur, untuk melawan Anggadipati. Ia akan berkelahi

habis-habisan. Untuk hidup atau mati sebagai seorang

kesatria.

“Berhentilah, Anak Muda, marilah kembali ke padepokan,

kau akan diperlakukan dengan adil.”

Banyak Sumba terkejut melihat pelatih para calon berdiri

beberapa langkah di mukanya. Sedangkan dari sekelilingnya

bermunculanlah para calon yang berpakaian putih. Naluri

mempertahankan dirinya timbul. Dengan teriakan,

diserangnya pelatih itu seperti angin lolos dari tangan dan

kakinya. Akan tetapi, Banyak Sumba tidak mengejar. Sambil

melompat-lompat di sela-sela pepohonan dan dalam semaksemak,

ia menyerang para calon. Beberapa kali ia mendapat

serangan, beberapa kali pula ia mengenai lawannya.

Ia berlari dan tiba-tiba jatuh karena tambang kecil

mendadak melintang antara dua batang pohon yang

melewatinya. Para calon telah mempergunakan alat-alat untuk

menangkapnya dengan tambang dan jangka. Pada suatu saat,

tiba-tiba pandangannya menjadi gelap karena seorang calon

berhasil merungkupnya dengan kain halus yang hitam

warnanya. Banyak Sumba segera melepaskan kain itu dengan

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

tangan kirinya, sementara kaki dan tangan kanannya

berdesingan ke segala arah, asal didengarnya desiran kaki.

Pada suatu saat, lehernya terjerat tambang kecil

kepuragabayaan. Banyak Sumba sempoyongan kehilangan

keseimbangan. Akan tetapi, secepat kilat, tangannya

mencabut belati dan memotong tambang itu. Ia berlari sambil

menendang calon yang mendekat hendak menangkapnya. Ia

tidak tahu, berapa lama ia berputar-putar di sela-sela pohon,

melompati tambang-tambang kecil yang tiba-tiba merentang

di hadapannya, atau melepaskan tambang yang membelit

tubuhnya dengan belatinya yang tajam. Tak lama kemudian,

ia merasa lelah. Napasnya berdesis dan panas di paru-paru

serta tenggorokannya. Pandangannya jadi samar-samar

karena keringat yang deras melintasi matanya.

Sementara itu, para pengepung makin dekat juga mengejar

di belakang. Langkah mereka berdesir di semak-semak. Suara

pelatih mengatur pengepungan dengan jelas terdengar.

Banyak Sumba mengerahkan tenaganya yang penghabisan.

Ia berlari dan melompat-lompat dengan sekuat tenaga untuk

mencapai tebing curam yang ada di hadapannya.

Menurut pikirannya, kalau ia dapat lebih dahulu melintasi

tebing itu, para pengejar akan takut mengejarnya karena

dengan mudah Banyak Sumba akan dapat menyerang mereka.

Akan tetapi, tiba-tiba di hadapannya sudah berdiri dua orang

calon. Banyak Sumba membelokkan langkahnya, lalu

melarikan diri ke arah hutan yang sangat lebat. Beberapa kali

calon menghadangnya, tetapi mereka menghindari serangan

yang dilakukannya dengan putus asa. Ia tahu bahwa akhirnya

para calon itu akan diperintahkan untuk mempergunakan

senjata mereka, trisula kecil yang merupakan senjata lempar

yang sangat berbahaya. Kalau ia terlambat menjauh, siapa

tahu ia akan menjadi korban senjata itu. Ia berlari, berlari, dan

terus berlari. Akan tetapi, tenaganya terbatas. Pada suatu kali,

sebatang ranting melintangi kakinya dan ia terjatuh.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Namun aneh, pengejar tidak segera memburunya. Bahkan,

mereka berseru riuh-rendah, “Kembali! Kembali! Kembali!”

Banyak Sumba kebingungan. Ia berpaling memandang para

pengejar yang berdiri di kejauhan sambil memandang

kepadanya. Banyak Sumba berlari terus, menuju hutan lebat,

walaupun langkahnya makin lama makin berat.

“Kembali! Kembali!”

Banyak Sumba berlari dengan hati terheran-heran.

Beberapa kali ia jatuh tersandung. Ia bangkit, kemudian

berjalan. Makin lama, makin jauh ia dari pengejarnya. Dan

setelah menyeret-nyeret kakinya yang berat karena kelelahan,

duduklah ia pada sebatang kayu besar yang melintang di

hadapannya. Ia terengah-engah dan dengan keheranan mulai

bertanya-tanya dalam hatinya, mengapa para pengepung itu

menghentikan pengejarannya. Ia curiga, apakah ia akan

dicegat lagi ataukah sudah masuk perangkap mereka yang

menunggu kesempatan untuk menangkapnya? Sambil berpikir

demikian, ia melepaskan lelahnya. Seluruh tubuhnya gemetar

dan basah kuyup oleh keringat.

Tiba-tiba, suatu hal aneh terjadi. Hutan seolah-olah

bergerak. Banyak Sumba melihat ke sekelilingnya. Tiba-tiba, ia

terjatuh dari batang pohon yang didudukinya. Ia bangkit dan

melihat batang pohon itu bergerak menggelusur, masuk selasela

pohon besar lainnya.

Untuk beberapa lama, Banyak Sumba membeku ketika ia

sadar bahwa yang didudukinya bukanlah batang pohon yang

tumbang, melainkan seekor ular yang besar sekali. Sadarlah ia

sekarang bahwa ia sudah berada di Hutan Larangan. Ia

mengerti sekarang, mengapa pengejar berhenti mengikutinya.

Bersama kesadaran itu, kakinya yang lelah seolah-olah

mendapat tenaga kembali. Ketakutan menyebabkan badannya

menjadi ringan kembali dan ia berlari sekuat tenaga

meninggalkan tempat itu. Ia tidak tahu ke arah mana ia

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

berlari. Ia tidak tahu pula berapa lama ia berlari karena pada

suatu kali ia terjatuh tersandung, lalu tak ingat lagi akan dunia

sekelilingnya.

KETIKA ia tersadar kembali, matanya melihat binatangbinatang

di sela-sela daun-daunan yang melindunginya.

Banyak Sumba memaksakan diri bangkit, walaupun seluruh

tubuhnya sakit-sakit dan lesu. Ia merangkak, lalu dengan

berpegang pada dahan-dahan, memanjat pohon yang tidak

jauh dari tempatnya terbaring. Karena kebiasaan dan

nalurinya, ia melindungi dirinya dari binatang buas dengan

memanjat pohon setiap malam tiba. Setelah berada di atas,

barulah ia merenungkan kembali apa-apa yang telah terjadi.

Ketika teringat pada ular besar yang dengan tidak sengaja

didudukinya, meremanglah bulu romanya dan ia menyadari

bahwa ia berada dalam Hutan Larangan yang tidak pernah

dikunjungi manusia. Bersamaan dengan datangnya kesadaran

itu, sadar pulalah ia akan suasana aneh hutan itu, suara-suara

terdengar, bukan suara-suara hutan biasa, tetapi suara yang

datang dari dunia lain yang tidak dikenalnya. Banyak Sumba

mendengar desah, tapi bukan suara angin. Banyak Sumba

mendengar suara-suara, tapi bukan suara binatang. Ia pun

dengan perasaan seram berdoa, mohon periindungan dan

ampunan kepada Sang Hiang Tunggal. Bagaimanapun,

dengan tidak sengaja ia telah memasuki daerah para

Bujangga dan para Pohaci, suatu daerah yang dikuasai para

guriang. Ketika renungannya sampai pada hal itu,

terdengarlah suara nyanyian yang merdu. Banyak Sumba

mengucapkan mantra-mantra kembali.

Tampak olehnya ada cahaya. Karena cahaya itu, hutan jadi

seperti taman. Dan, dari arah cahaya itulah terdengar suara

nyanyian diiringi kecapi. Kadang-kadang terdengar suara

percakapan, kadang-kadang suara tertawa yang merdu. Tak

syak lagi, para Bujangga dan Pohaci sedang bercengkerama di

puncak gunung yang sangat berdekatan dengan Kahi-angan.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Banyak Sumba makin khusyuk memanjatkan doa-doa. Namun

karena lelah, akhirnya ia tertidur juga.

Keesokan paginya, ia segera turun meninggalkan pohon. Ia

segera menuju ke arah yang dianggapnya akan

mengembalikan dia ke hutan biasa. Ia tidak berjalan, tetapi

berlari, menyelinap dan melompati akar-akar pohon besar.

Kadang-kadang memanjat, lalu dengan mempergunakan akarakar

gantung berayun dan melompat ke pohon lain. Setiap kali

ia tiba di sebatang pohon, beterbanganlah kupu-kupu dan

kumbang karena pohon-pohonan di Hutan Larangan itu

umumnya berbunga indah dan harum baunya.

Buah-buahan sangat banyak dan ranum-ranum, tetapi

Banyak Sumba tak berani memetiknya, walaupun rasa lapar

menusuk perutnya.

Akhirnya, dengan gembira, dilihatnya hutan-hutan yang

meranggas dan buruk tampaknya. Itu tentu hutan biasa yang

boleh dan pernah dirambah manusia. Banyak Sumba segera

turun, berlari, menyelinap, memanjat, dan melompat. Tibalah

ia di hutan itu. Ia berpaling ke arah hutan yang baru

ditinggalkannya. Hutan Larangan itu tampaknya seperti taman

yang besar, yang pohon-pohonannya seolah-olah dipelihara

oleh para juru taman yang ahli, sedangkan bunga begitu

beraneka warna dan harum baunya. Dari jarak sejauh itu, ia

masih dapat menghirup wanginya. Setelah sekali lagi

memandang hutan itu, ia berpaling, lalu menuruni tebing

landai dari tanah yang tinggi tempat ia berada.

Entah berapa lama ia berjalan, tiba-tiba ia mendengar

burung tekukur. Hatinya gembira. Ia tiba kembali di dunia

manusia. Ia beranggapan demikian karena burung tekukur

biasanya hidup di sekitar perhumaan dan perhumaan tidak

akan jauh dari perkampungan. Ia berlari ke arah datangnya

suara burung tekukur itu. Dan tiba-tiba saja, ia memasuki

hutan yang banyak sekali pohon enaunya. Tentu burung

tekukur itu bernyanyi di salah satu puncak pohon enau dan

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

pohon enau itu letaknya tentu yang paling berdekatan dengan

perhumaan. Banyak Sumba berlari ke arah suara burung

tekukur itu.

“Hai! Hai! Rambeng!”

Tiba-tiba, Banyak Sumba mendengar suara orang. Banyak

Sumba berhenti, lalu menengok ke arah datangnya suara itu.

“Hai, sini, Ki Rambeng! Mengapa berlari-lari?”

Banyak Sumba tengadah kepada orang tua yang sedang

bertengger di pohon enau dengan tiga buah bumbung

tersandang di punggungnya. Banyak Sumba berjalan ke arah

pohon enau itu, lalu tengadah.

“Bapak memanggil saya?” tanyanya sambil tersenyum

karena gembira.

“Ya, saya panggil kau Rambeng karena pakaianmu tidak

keruan. Ada apa kau berlari-lari?”

Banyak Sumba duduk, menunggu orang tua itu turun dari

atas pohon enau. Ketika orang tua itu sudah berdiri di tanah,

ia terbelalak dan mengundurkan diri ketakutan.

‘Jangan takut, Kakek, saya bukan orang jahat.”

“Tidak … tidak.”

‘Jangan takut, saya manusia juga, hanya sudah lama

tersesat dalam hutan, dan Kakek adalah orang pertama yang

saya jumpai. Terima kasih, Kakek. Kakek menyebabkan saya

gembira.”

Walaupun masih ketakutan, kakek-kakek itu tidak mundur

lagi. Ia memandang Banyak Sumba dengan penuh keheranan.

Banyak Sumba pun menceritakan bahwa ia telah bertahuntahun

tersesat dalam hutan dan akhirnya sampai di Hutan

Larangan yang ada di puncak gunung. Banyak Sumba

menunjuk ke arah puncak gunung yang membayang di atas

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

mereka, sebuah hutan besar yang indah seperti taman

tampaknya.

“Sekarang, bawalah saya ke kampung. Saya sudah sangat

rindu untuk melihat masyarakat manusia kembali. Di samping

itu, saya butuh pakaian yang pantas karena kulit harimau ini

sudah tua dan sudah rusak.”

Kakek-kakek itu dapat diyakinkan. Walaupun masih kikuk,

ia memberi isyarat kepada Banyak Sumba untuk

mengikutinya. Mereka pun berjalan menuruni tebing gunung

yang landai. Setelah hutan enau dilewati, mereka masuk ke

daerah bekas perhumaan. Akhirnya, terbentanglah humahuma

penduduk Pajajaran.

“Kakek, termasuk wilayah mana kampung-kampung ini?”

“Ke timur Kutabarang, ke barat Pakuan Pajajaran,” jawab

orang tua itu. Banyak Sumba tidak berkata apa-apa lagi.

Sambil berjalan, ia membuat rencana yang akan dilakukannya

sebelum ia berangkat ke Pakuan Pajajaran untuk mencari

Anggadipati.

Ia akan beristirahat untuk beberapa lama di kampung,

mencari kuda yang baik karena kebetulan uangnya tidak

hilang dalam hutan. Kemudian, ia akan mencari keterangan

tentangjasik di Kutabarang, sekaligus menemui Kang Arsim.

Setelah itu, ia akan bertolak ke Pakuan Pajajaran. Sementara

belum mendapat kuda yang baik, ia akan beristirahat di rumah

kakek-kakek itu sambil merenungkan pengalaman yang

didapatnya dalam perkelahian dengan para calon puragabaya

itu.

Setelah beberapa lama mendaki dan menuruni bukit-bukit,

sampailah mereka di tepi kampung yang berpagar tinggi.

Kakek-kakek itu berseru dan dari atas kandang jaga,

muncullah kepala anak muda yang keheranan memandang ke

arah Banyak Sumba.

“Ji, ini tamu kita, orang tersesat dalam hutan.”

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Lawang kori dibuka dan tak lama kemudian, Banyak Sumba

dikelilingi oleh anak-anak kecil yang sedang bermain-main di

halaman kampung. Orang-orang tua, laki-laki dan perempuan,

tidak tampak karena waktu itu adalah saat-saat mereka

bekerja di huma.

“Rambeng!” Tiba-tiba, anak kecil berseru. Banyak Sumba

tersenyum dan melihat pada pakaiannya sendiri yang tidak

keruan potongannya. Anak-anak lain tertawa. Dan ketika

Banyak Sumba mengiringkan kakek-kakek menuju rumahnya,

anak-anak itu pun mengiringkannya, ada yang berbisik-bisik,

ada yang tertawa-tawa. Tak lama kemudian, tahulah Banyak

Sumba bahwa anak-anak kampung memanggil Ki Rambeng

karena pakaian kulit harimaunya yang tidak keruan dan lusuh

itu.

-ooo00dw00ooo-

Bab 10

Bersepakat dengan Si Colat

Orang-orang kampung itu menerima Banyak Sumba

dengan senang hati. Bukan saja karena Banyak Sumba

bertingkah laku dan bertutur kata halus, tetapi juga karena ia

dapat menceritakan pengalaman-peng-alamannya ketika

tersesat dalam hutan. Ia menceritakan bagaimana ia harus

hidup dan bagaimana harus selalu menyelamatkan diri dari

ancaman binatang buas. Diceritakannya bagaimana ia tersesat

di Lembah Tengkorak dan bagaimana ia menemukan Gerbang

Buana Larang, tempat para siluman keluar masuk dunia.

Diceritakan pula bagaimana di Hutan Larangan yang tampak

dari kampung itu, ia pernah menduduki ular yang sangat

besar karena sebelumnya ia menyangka ular besar itu batang

pohon yang tumbang.

Banyak yang tidak diceritakannya karena banyak di antara

pengalamannya merupakan peristiwa yang sebenarnya tidak

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

boleh terjadi terhadap warga Kerajaan Pajajaran. Akan tetapi,

cerita-ceritanya yang aneh bagi orang-orang kampung itu

tetap menarik. Terutama anak-anak kecil, mereka selalu

meminta dia untuk bercerita dan bercerita kembali.

Karena di antara penduduk kampung itu banyak anak

remaja yang cukup besar untuk mempelajari ilmu keprajuritan,

pada suatu sore Banyak Sumba berkata kepada kakek-kakek

tempat ia menginap, “Kakek, sebagai tanda terima kasih saya

kepada keramahan dan kebaikan penduduk kampung ini, ingin

sekali saya menyumbangkan sesuatu kepada mereka. Saya

memiliki sedikit kepandaian, yaitu dalam ilmu keprajuritan. Di

sini, ada enam orang remaja yang sudah cukup besar untuk

berlatih ilmu keprajuritan. Saya kira, akan ada gunanya kalau

saya ikut mempersiapkan mereka, sebelum mereka dipanggil

oleh kerajaan untuk berlatih di Kutabarang.”

Kakek-kakek itu tidak keberatan, tapi kemudian dengan

panjang lebar ia bercerita bahwa sudah beberapa tahun di

daerah-daerah antara Kutabarang dan Pakuan Pajajaran

berkeliaran orang-orang jahat, yaitu anak buah si Colat.

Kakek-kakek itu bertanya, “Tidakkah orang-orang jahat ini

akan curiga kepada kita kalau mereka mengetahui bahwa

anak-anak di sini dilatih ilmu keprajuritan? Yang Kakek

takutkan adalah mereka akan curiga dan mengganggu kita.”

Banyak Sumba termenung. Pada satu pihak, ia merasa

kecewa, tetapi di lain pihak timbul pikiran bahwa ia tidak akan

dapat membalas budi atas kebaikan orang-orang kampung itu.

Di samping itu, ia tidak akan dapat melakukan percobaan

tentang ilmu yang didapatnya dari Padepokan Tajimalela dan

dari renungan-renungannya sendiri. Untunglah, ia mendapat

ilham.

Ia teringat pada peristiwa yang dialaminya di Padepokan

Sirnadirasa. Si Colat sedang berada dalam pengepungan dan

pengepungan itu belum tentu dapat dilaksanakan dengan

mudah. Kalau si Colat ternyata tangguh, akan dikirim

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

beberapa orang puragabaya terbaik. Itu berarti bahwa

mungkin Anggadipati akan dipilih menjadi pemimpin

pengepungan itu. Jika menggabungkan diri dengan pasukan si

Colat, Banyak Sumba dapat mengambil dua keuntungan.

Pertama, ia dapat mengasah ilmunya dengan si Colat. Kedua,

ia mungkin dapat bertemu dengan Anggadipati pada peristiwa

yang cocok untuk pembalasan dendam. Ia termenung,

memikirkan hal itu dengan sungguh-sungguh. Ia hampir lupa

kepada kakek-kakek yang ada di depannya.

“Tapi, bukan tidak ada cara untuk memberikan latihan itu,

Raden,” kata kakek-kakek itu kepada Banyak Sumba.

“Bagaimana, Kakek?”

“Ada ruangan besar yang dapat dipergunakan oleh anakanak

untuk berlatih. Di sana, mereka tidak akan terlihat oleh

anak buah si Colat yang kebetulan berkeliaran ke sini.”

“Kalau hal itu akan mencemaskan orang-orang kampung,

lebih baik saya tidak melatih mereka, Kakek.”

“Sama sekali tidak. Pada suatu ketika, orang-orang

kampung akan bangkit dan membantu pasukan kerajaan

mengepung si Colat dan begundal-begundalnya. Kalau

sekarang mereka diam, bukan berarti mereka menerima

kejahatan-kejahatan yang dilakukan si Colat dan anak

buahnya,” kata kakek-kakek itu dengan kemarahan yang

terpendam. Banyak Sumba tak banyak merenungkan soal

kejahatan si Colat dan anak buahnya. Yang menjadi pusat

perhatiannya adalah tempat latihan untuk mengajar anakanak

muda kampung itu dan melakukan percobaan segala

sesuatu yang didapatnya selama ini.

Keesokan malamnya, latihan itu pun dimulainya. Dari hari

ke hari, bersamaan dengan meningkatnya kepandaian para

pemuda kampung itu, meningkat pula pengertian Banyak

Sumba terhadap ilmu keperwiraan yang selama ini

dikumpulkannya. Pada suatu kali, sadarlah ia bahwa saatnya

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

sudah tiba untuk meninggalkan kampung itu dan menunaikan

tugas keluarga yang selama ini diembannya.

Ia menyuruh seorang pemuda untuk mencarikan seekor

kuda yang baik, sementara itu ia membeli beberapa pasang

pakaian yang baik dari orang-orang kampung yang memiliki

beberapa pesalin. Ketika ditanyakannya di mana ia dapat

membeli dua buah trisula kecil, kakek-kakek itu memandang

dengan curiga.

“Tapi, itu senjata para puragabaya, Anak Muda.”

“Saya menginginkannya karena bentuknya yang indah,

Kakek,” kata Banyak Sumba.

“Tapi, biasanya orang-orang tidak berani membawanya,

Raden. Memang tidak ada larangan untuk membawanya

dalam perjalanan, tapi orang tetap tidak berani karena mereka

hendak menghormati para puragabaya.”

Banyak Sumba tidak melanjutkan percakapannya karena

takut kalau-kalau kecurigaan kakek-kakek itu bertambah. Ia

pun segera mengucapkan terima kasih atas kebaikan kakekkakek

itu selama ini. Ia pun mohon diri untuk pergi keesokan

harinya. Sore itu, kepada penghuni kampung, Banyak Sumba

mengucapkan terima kasih seraya mohon diri. Kuda yang baik

telah siap ditambat dekat kandangjaga, dikelilingi oleh anakanak

kampung yang jarang melihat binatang besar itu.

Ketika ia hendak beristirahat, terdengarlah ribut-ribut di

luar lawang kori. Rasji, penduduk kampung, menyumpahnyumpah

sambil melemparkan dua buah bumbung kosong di

depan lawang kori. Orang-orang kampung berjalan ke sana,

ingin tahu apa yang terjadi. Banyak Sumba pun mengikuti

mereka.

“Kakek,” kata Rasji kepada kakek-kakek tempat Banyak

Sumba menginap, “mereka menghabiskan lahang saya. Kalau

para jagabaya datang, saya akan jadi penunjukjalan mereka,”

sambung Rasji. Dari percakapan selanjutnya dan dari

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

keterangan-keterangan Rasji, Banyak Sumba mengerti bahwa

beberapa anak buah si Colat bertemu dengan Rasji. Mereka

meminta lahang. Rasji mau tidak mau harus memberikannya.

Akan tetapi, anak buah si Colat yang kurang ajar itu tidak

menyisakan lahang Rasji dan tidak memberikan pengganti

berupa barang maupun uang. Itulah sebabnya, Rasji marah.

“Kalau kau mau jadi penunjukjalan para jagabaya, seluruh

kampung akan menjadi korban si Colat,” kata nenek-nenek

yang berdiri dekat Banyak Sumba.

“Ke mana mereka pergi?” tanya Banyak Sumba kepada

Rasji.

“Ke timur,” ujar Rasji. Orang-orang kampung berpaling

kepada Banyak Sumba dengan penasaran. Mereka tahu bahwa

Banyak Sumba seorang perwira, bahkan tampak mereka

menyangka Banyak Sumba adalah perwira yang dikirim oleh

kerajaan untuk menangkap si Colat.

“Kalau Raden hendak menangkap mereka, janganlah dekatdekat

kampung ini,” kata kakek-kakek itu, “Tangkaplah di

hutan, jangan dekat kampung, karena anak buah si Colat

mungkin saja membalas dendam secara membabi buta.”

“Baiklah, Kakek,” kata Banyak Sumba. Ia berjalan ke rumah

besar tempatnya menginap. Orang-orang mengikutinya

dengan pandangan mata. Kemudian, Banyak Sumba keluar

dengan perbekalan dan perlengkapannya. Ia memasang

pelana di atas kudanya, lalu menyampaikan terima kasih sekali

lagi kepada seluruh isi kampung. Ia mohon diri. Setelah

mengusap kepala anak kecil yang berada di dekatnya, ia

menaiki kudanya.

“Kami mendoakan Raden, semoga berhasil menghentikan

kegiatan si Colat dan semua anak buahnya.”

Tak lama kemudian, Banyak Sumba telah memacu kudanya

dijalan kecil yang menghubungkan perkampungan itu dengan

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

perkampungan lain. Jalan-jalannya bersimpang siur di tengahtengah

perhumaan datar yang terdapat di daerah itu.

MALAM pertama, ia tidak menyusul anak buah si Colat itu.

Malam kedua, ketika menginap di sebuah kampung, ia

mendapat kabar dari penduduk bahwa sembilan orang

penunggang kuda bersenjata lewat pagi sebelumnya, melintasi

jalan kecil yang membatasi kampung dan perhumaan.

Harapan Banyak Sumba menjadi besar.

“Raden seorang puragabaya?” kata orang kampung yang

ditanyainya dengan ragu-ragu.

“Bukan,” kata Banyak Sumba, “Mengapa Paman bertanya

begitu?” Banyak Sumba balik bertanya.

“Di Kutabarang tersebar berita bahwa para puragabaya

mulai dikerahkan untuk memburu si Colat dan anak buahnya.

Dan … dan Raden tampaknya seperti seorang puragabaya.”

Banyak Sumba tersenyum, lalu bertanya, “Apa yang

menyebabkan saya tampak seperti seorang puragabaya?”

“Potongan badan Raden dan otot-otot Raden serta … tutur

kata Raden, dan itu, trisula kecil di balik baju Raden,” kata

orang itu sambil tersenyum. Banyak Sumba menutupkan

bajunya, menyembunyikan trisula yang ditukarnya dari

seorang pandai besi pagi itu.

“Tapi trisula ini sangat buruk, sedangkan senjata

puragabaya indah-indah buatannya.”

“Tentu saja Raden membawa yang buruk karena Raden

sedang menyamar,” kata orang itu.

Banyak Sumba hanya tersenyum, kemudian ia bertanya,

“Betulkah puragabaya dikerahkan untuk mengepung si Colat?”

“Ya, Raden. Mula-mula, si Colat diberi peringatan untuk

menghentikan kebuasannya, tetapi ia tidak mau mendengar.

Sang Prabu sendiri memanggil kesatria gila itu, tetapi ia tidak

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

memiliki rasa hormat lagi. Terakhir, putra Tumenggung

Wiratanu dari Kutawaringin dibunuhnya, kepalanya dikirimkan

di atas,baki kepada ayahandanya. Itu keterlaluan.”

Banyak Sumba terkejut mendengar berita itu. Untuk

beberapa lama, ia tidak dapat berkata-kata. Setelah hening

beberapa lama, dengan tergagap-gagap ia bertanya, ‘Apakah

yang Paman maksud Raden Bungsu Wiratanu?”

“Ya, ia dipancing dengan seorang gadis. Ketika ia

memasuki rumah untuk mendapatkan gadis itu, di dalam

rumah itu sudah siap si Colat dengan dua orang kawannya.

Begitulah kisah yang dibisikkan dari telinga ke telinga di

Kutabarang dan seluruh kerajaan. Tidak semua orang bersedih

hati karena Bungsu Wiratanu ini sering kurang ajar pula,

menurut cerita orang.”

Banyak Sumba termenung. Ia teringat akan

pengalamannya dengan Raden Bungsu Wiratanu. Ia menarik

napas panjang. “Si Colat ini memang mempunyai perhitungan

dengan keluarga Tumenggung Wiratanu. Ya, dan itu

urusannya,” keluhnya.

“Sepanjang ia tidak berbuat hal-hal lain, pemerintah

kerajaan tampaknya dapat mengerti permusuhan antara si

Colat dengan keluarga Tumenggung Wiratanu ini.

Bagaimanapun, keluarga Tumenggung Wiratanu tidaklah

mempunyai nama baik,” kata orang kampung itu. ‘Akan

tetapi,” lanjutnya, “selang beberapa waktu ini, perbuatanperbuatan

lain dilakukan pula oleh anak buahnya dimulai

dengan pencurian abu jenazah seorang puragabaya, Raden

Jante Jaluwuyung. Ini berarti, si Colat telah melibatkan

keluarga lain dalam pertentangannya dengan keluarga

Tumenggung Wiratanu, dan sang Prabu tidak dapat

membiarkannya lagi.”

Banyak Sumba tertegun mendengar percakapannya yang

terakhir itu. Ia kemudian bertanya, “Apakah yang Paman

ketahui tentang abu jenazah itu?”

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Puragabaya Jante Jaluwuyung ini pernah membunuh

kakak Raden Bungsu Wiratanu yang bernama Raden Bagus

Wratanu. Keluarga Tumenggung Wiratanu dengan sendirinya

ingin menghinakan abu jenazah itu. Si Colat mendahului

mencurinya. Entah apa yang dilakukan si Colat terhadap abu

jenazah itu.”

Banyak Sumba tersenyum dalam hatinya, tetapi ia pun

bingung, tak dapat menetapkan bagaimana sebenarnya duduk

persoalannya. “Apakah memang keluarga Tumenggung

Wiratanu hendak menghinakan abu jenazah Kakanda Jante

atau Anggadipati bermaksud menyembunyikannya? Begitu

simpang siur pendapat orang sekitar abujenazah Kakanda

Jante Jaluwuyung ini.” Ia sendiri jadi bingung.

“Raden,” kata orang kampung itu, “mereka semua

bersenjata panjang.”

“Siapa?” tanya Banyak Sumba.

“Anak buah si Colat yang sedang Raden ikuti.”

‘Apa hubungannya dengan saya?” tanya Banyak Sumba.

Akan tetapi, ia tidak dapat menyembunyikan senyumnya.

“Raden hanya bersenjata belati dan trisula itu,” kata orang

kampung itu pula, “Di samping itu, mereka ada sembilan

orang.”

‘Apakah Paman beranggapan saya benar-benar ada urusan

dengan mereka?” tanya Banyak Sumba sambil tersenyum

pula.

“Raden dapat meminta senjata panjang dari orang-orang

kampung sekurang-kurangnya tongkat-tongkat yang

dikeraskan di atas api.”

Banyak Sumba termenung sebentar, kemudian ia berkata,

“Saya membutuhkan tongkat dari waregu, Paman, bukan

untuk menghadapi sembilan orang anak buah si Colat, tetapi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

untuk tongkat, kalau kebetulan saya harus berjalan di dalam

gelap.”

“Baiklah, Raden, besok kita akan mencarinya. Di kampung,

orang-orang biasa menyimpan tongkat waregu atau ruyung-

Benda-benda itu diperkenankan disimpan oleh rakyat di sini.”

Keesokan harinya, sebelum Banyak Sumba meninggalkan

kampung, seorang penduduk menghadiahkan tongkat waregu

yang panjang dan indah. Ketika Banyak Sumba hendak

menggantinya dengan uang tembaga, penduduk kampung itu

menolaknya.

“Seharusnya, orang kampung memberikan bekal bagi

puragabaya, dan tidak pantas bagi siapa pun menerima

pemberian puragabaya yang menyerahkan hidupnya untuk

orang-orang kampung,” kata penduduk kampung itu dengan

tersenyum.

“Saya bukan puragabaya, Paman,” kata Banyak Sumba.

Akan tetapi, tak ada orang yang percaya akan perkataannya.

SEPANJANG hari, Banyak Sumba menyusul jejak anak buah

si Colat. Akan tetapi, rupanya ia kehilangan jejak. Bukan saja

karena jalan di kampung-kampung dan di perhumaan itu

sangat simpang siur, tetapi orang-orang kampung enggan

memberi tahu kepadanya ke mana arah para penunggang

kuda itu. Mereka masih begitu dicengkeram ketakutan akan

kemungkinan pembalasan dendam si Colat.

Akhirnya, Banyak Sumba memacu kudanya tanpa terlalu

mengharapkan akan bertemu dengan kesembilan anak buah si

Colat itu. Ia mengembara secara untung-untungan.

Seandainya tidak dapat menyusul anak buah si Colat itu, ia

akan menuju Kutabarang, mengunjungi Kang Arsim. Kalau

cukup beruntung, ia akan bertemu dengan Jasik di sana.

Ia memacu kudanya melewati perhumaan, perkampungan,

dan hutan-hutan kecil. Ia sungguh-sungguh menikmati

perjalanan di tengah-tengah masyarakat, setelah sekian tahun

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

berada di antara binatang-binatang buas dan bahaya lainnya.

Sering ia menghentikan kudanya untuk memerhatikan para

petani yang sedang bekerja. Sering ia berhenti di pinggir kali,

lalu ikut mandi bersama anak-anak gembala. Dengan anakanak

itu, ia ngobrol tentang itu dan ini. Kadang-kadang,

ditanyakannya tentang si Colat dan untuk menjawab

pertanyaan-pertanyaan itu, biasanya anak-anak membisu,

ketakutan.

Pada hari keempat, ketika matahari mulai hangat, Banyak

Sumba melintasi perhumaan yang ada di antara sebuah

kampung dan hutan kecil. Seperti biasanya, untuk

menghindari serangan macan-macan tutul dari pohon di

hutan, ia memacu kudanya di sela-sela pohon-pohonan.

Pada suatu saat, tiba-tiba ia melihat seutas tambang

terentang hendak menyambar lehernya. Karena kebiasaannya

ketika di hutan dalam menghadapi hambatan ranting-ranting,

tangannya secepat kilat mencabut belati dan memutuskan

tambang itu. Akan tetapi, ia tidak melanjutkan perjalanan. Ia

menahan kudanya. Begitu ia berbalik, didengarnya derap

beberapa pasang kaki kuda.

“Setelah lima hari mengikuti jejak kaki kuda kami, Saudara

terpaksa harus menggali kuburan sendiri di sini. Jangan

berharap Saudara akan mengalami upacara pembakaran yang

pantas,” kata salah seorang penunggang kuda yang keluar

dari balik pepohonan.

“Saya tidak ada urusan dengan kalian. Saya teman si

Colat,” Banyak Sumba segera berkata. Hatinya gembira

bercampur waspada.

“Begitu bergairah untuk mendapat hadiah hingga kau

bersedia mati seperti seekor anjing,” kata pemimpin

rombongan dengan senyum mengejek.

“Saya akan belajar kepada si Colat.”

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Hahahaha!” terdengar seorang di antara mereka tertawa

seraya kuda mereka makin dekat mengelilingi kuda Banyak

Sumba. Banyak Sumba tidak melihat kemungkinan lain,

kecuali berkelahi dengan mereka. Tongkat waregunya

terpasang di muka pelana, kakinya kuat pada sanggurdi. Ia

menentukan sasaran, yaitu pemimpin rombongan itu.

“Jangan kira saya takut kepada kalian. Soalnya, sebenarnya

sia-sia kalau saya harus menghajar kalian,” kata Banyak

Sumba. Perkataannya memberi pengaruh pada jiwa

pengepung. Mereka memandang Banyak Sumba dengan raguragu.

Ketika itulah, Banyak Sumba melompat ke atas,

menginjak pelana sambil mencabut tongkat waregu yang

besar. Dengan putaran yang berdesing, tongkatnya mengenai

kepala rombongan. Ia melihal golok berkelebatan tetapi

dengan cepat ia memukul ke sana kemari, sementara lawan

masih terganggu oleh guncangan kuda mereka. Dua orang

jatuh, disusul yang ketiga. Banyak Sumba melompat ke tanah,

lalu memukul orang yang terdekat dari belakang. Lawan

berlompatan ke tanah, tetapi mereka kalah lincah. Banyak

Sumba berdiri sambil menginjak dada kepala rombongan

mereka seraya berseru, “Hentikan, usaha kalian sfa-sia.”

Anggota rombongan yang masih dapat berdiri, bimbang

dan melihat ke kanan ke kiri.

“Hentikan usaha kalian! Bawa saya kepada majikan kalian.

Ia akan mengenali saya.”

“Baiklah,” kata pemimpin rombongan yang berusaha

bangkit sambil memegang pinggangnya yang kena pukul

tongkat waregu besar itu. Tak lama kemudian, Banyak Sumba

pun telah melarikan kudanya di belakang kesembilan orang

anak buah si Colat itu.

PERJALANAN turun-naik bukit dilakukan sepanjang siang

itu. Ketika senja hampir tiba, mereka memasuki hutan bambu

berduri.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Hai!” kata suara dari atas pohon bambu.

“Hai!” seru kepala rombongan sambil mengacungkan

goloknya. Suara gemuruh terdengar. Ternyata, sebuah pintu

besar yang terdapat di celah-celah pohon bambu berduri

dibuka orang.

“Jalan di muka!” kata pemimpin rombongan kepada Banyak

Sumba.

Banyak Sumba menurut. Ia melewati kawan-kawan

seperjalanan yang memberi jalan. Ia melarikan kudanya

perlahan-lahan memasuki sebuah lapangan luas yang ada di

belakang barisan pohon bambu berduri itu. Ketika ia berpaling

ke belakang, tampak kawan-kawan seperjalanan menghunus

golok masing-masing. Banyak Sumba mengerti bahwa ia

sekarang diperlakukan sebagai tawanan. Akan tetapi, ia tidak

gentar karena kuda mereka tidak terlalu berdekatan.

Begitu ia tiba di tengah-tengah lapangan, bermunculanlah

beberapa orang badega, ada yang menghunus golok, ada juga

yang menyandang tombak. Mereka mengelilingi Banyak

Sumba dengan pandangan penuh pertanyaan.

“Tawanan!” seru kepala rombongan sambil tertawa. Banyak

Sumba tidak berkata apa-apa karena bagaimanapun, ia tidak

dapat hidup secara lain di tengah-tengah anak buah si Colat

seperti itu, kecuali sebagai tawanan. Ia hanya melihat

berkeliling. Baru tampak olehnya bahwa di bawah dan di atas

pohon-pohonan di tempat itu terdapat rumah-rumah yang

terbuat secara rapi dan tersembunyi dengan baik.

Dengan kagum, Banyak Sumba memandang ke arah

sebuah bangunan besar yang bertengger di atas sebatang

pohon besar. Begitu ia tengadah ke atas, tampak dari lubang

pengintai wajah yang lonjong dan halus potongannya tetapi

dinodai dengan bekas luka yang mengerikan: si Colat.

Wajah itu hanya sebentar tersembul, kemudian lubang

pengintai itu ditutup. Tak lama kemudian, meluncur sesosok

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

tubuh yang berpakaian serbahitam dari bangunan itu. Begitu

tiba di tanah, terdengar sapanya yang halus, “Selamat datang,

Raden Banyak Sumba, lama benar kita berpisah semenjak

pertemuan dulu.”

“Terima kasih, Kakanda,” kata Banyak Sumba. Ia terharu

karena ternyata si Colat tidak melupakannya. Ia pun sadar

bahwa antara dia dan si Colat terdapat persamaan nasib.

Dunia telah memperiakukan mereka berdua dengan tidak adil.

Akan tetapi, kemudian dunia akan menyadari betapa salahnya

telah memperlakukan dua orang seperti mereka tidak adil.

Demikianlah pikiran Banyak Sumba.

“Tidak keberatankah kalau Raden memanjat?” ujar si Colat

sambil tersenyum.

“Saya biasa memanjat dan tidur di atas pohon seperti

Kakanda sekarang. Itu saya lakukan bertahun-tahun,” ujar

Banyak Sumba. Si Colat memandangnya dengan penuh

perhatian. Kemudian, ia berjalan. Banyak Sumba

mengikutinya.

“Bagaimana dengan Ayahanda?” tanya Si Colat.

Banyak Sumba tertegun sejenak. Ia bimbang, apakah ia

akan mengatakan sesuatu atau tidak. Si Colat seolah-olah

tahu sesuatu tentang Ayahanda. Hal itu terdengar dari nada

bicaranya.

“Saya banyak tahu tentang rahasia Raden,” katanya sambil

tersenyum, “jadi tidak usah ragu-ragu.”

“Tapi, saya tidak punya rahasia yang cukup penting untuk

diketahui orang lain,” kata Banyak Sumba, memancing seraya

melindungi dirinya sekaligus.

“Gan Tunjung banyak bicara tentang Raden.”

“Apa yang beliau katakan?”

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Bahwa Ayahanda Raden berada dalam persembunyian dan

hanya akan muncul lagi kalau Raden telah menunaikan tugas.

Tugas itu dapat diperkirakan.”

“Tapi, dari manakah Gan Tunjung mengetahui tentang hal

itu?”

“Dua orang panakawan Raden ada di perguruannya dan

saya sering berkunjung ke sana. Tentu saja malam hari. Kau

yang dipercakapkan orang di sana, Raden. Engkau terkenal

secara rahasia. Engkau seorang anak muda yang prihatin.

Itulah sebabnya, mengapa kau tertarik kepadaku, barangkali,”

ujar si Colat sambil mengerling dan tersenyum.

Banyak Sumba menduga, Kang Arsim tidak terlalu rapat

memegang rahasia. Akan tetapi, ia pun yakin bahwa

rahasianya tidak seluruhnya terbuka kepada si Colat itu. Ia

segera melupakannya.

“Semua itu tidak penting, Kakanda,” kata Banyak Sumba

untuk mengalihkan percakapan.

Si Colat berhenti berjalan, lalu berpaling, “Saya tahu, yang

terpenting bagimu adalah belajar ilmu keperwiraan. Rupanya,

kau tergila-gila pada ilmu sial itu, Raden.”

“Itulah sebabnya, mengapa setelah bertahun-tahun, saya

masih mencari-cari Kakanda,” ujar Banyak Sumba.

“Baiklah, engkau dapat belajar bersama-sama dengan

anakku. Oh, kau masih ingat kepada anakku, Jimat, bukan?”

“Tentu saja, Kakanda.”

“Ia sudah besar sekarang, hampir tiga belas tahun

umurnya.”

Ketika itu, si Colat mulai memegang tambang besar yang

menghubungkan tanah dengan bangunan di atas pohon.

Seperti seekor kera besar, ia memanjat tambang itu dengan

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

cepat, lalu menghilang di lubang yang tidak kelihatan dari

bawah pohon itu.

Banyak Sumba segera menirunya dengan cepat pula. Ketika

ia tiba di lubang yang tidak kelihatan dari bawah, tampak si

Colat heran melihat kecepatan Banyak Sumba.

Ruangan dalam bangunan di atas pohon itu ternyata luas

sekali. Di sana terdapat dua buah bangku lebar yang di

atasnya dilapisi jerami. Di atas jerami itu, dihamparkan kulit

harimau yang lebar-lebar dan indah-indah. Di sekeliling

ruangan tergantung bermacam-macam senjata: panah,

tombak, geraham banteng yang merupakan senjata yang

menyeramkan, tanduk rusa, cula badak, dan sebagainya.

Berbagai macam pedang, golok, dan pisau tergantung pula,

melekat pada kain-kain yang indah tenunannya.

Banyak Sumba dipersilakan duduk di atas bangku. Setelah

si Colat bertepuk tangan, muncullah dari salah satu ruangan

seorang pembantunya, laki-laki setengah baya yang gemuk

perawakannya.

“Makanan dan minuman, Obeh, kita menerima tamu,” kata

si Colat. Setelah berkata demikian, mulailah mereka bercakapcakap.

Banyak Sumba menceritakan pengalamannya dengan

menutupi bagian-bagian yang dianggapnya tidak baik dikemukakan.

Akhirnya, ia mengatakan bahwa kedatangannya, tidak

lain, hanyalah untuk melaksanakan kehendaknya yang telah

disampaikan beberapa tahun sebelumnya, yaitu belajar ilmu

keperwiraan.

“Raden mengetahui bahwa hidup dengan rombonganku

bukanlah bertamasya. Kami sudah lama diburu orang dan

harga kepala saya ini ternyata mahal sekali. Banyak

bangsavvan muda yang haus akan kemasyhuran dan sekaligus

ingin mendapat hadiah harta dengan memimpikan kepala saya

ini. Lucu sekali.”

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Saya telah memikirkan segala-galanya. Kakanda. Ilmu

yang Kakanda miliki dan dapat saya pelajari, lebih berharga

daripada jerih payah yang dapat saya lakukan.”

Ketika itu, orang yang dipanggil Obeh kembali dengan

membawa air buah-buahan dan buah-buahan yang

ranumranum di atas baki kayu. Matahari sudah condong ke

barat, cahayanya yang merah menembus celah-celah dinding

yang terjalin dari rotan.

“Baiklah, Raden akan berlatih dengan anakku, Jimat.

Lawanlah Jimat dalam latihan-latihan karena ilmu yang

kumiliki sudah hampir seluruhnya dia miliki.”

“Tapi, saya miskin sekarang, Kakanda, berbeda dengan

beberapa tahun yang lalu. Ini perlu saya sampaikan,

betapapun kasar dan tidak senonoh kedengarannya,” ujar

Banyak Sumba.

“Yang tidak senonoh adalah yang keluar dari hati yang

tidak jujur, Raden. Tapi, saya mendengar, Raden orang yang

lurus. Di samping itu, apakah kau anggap saya membutuhkan

harta benda, Raden?”

“Maksud saya, saya tidak akan dapat mengembalikan

kebaikan Kakanda,” kata Banyak Sumba.

“Tidak perlu pembalasan budi, Raden. Kita senasib.

Demikian kalau tidak salah pendengaranku. Kita ini samasama

diperlakukan tidak adil oleh masyarakat. Kita dinasibkan

untuk bersatu, bukan?” kata si Colat sambil tersenyum.

Banyak Sumba merasa terharu. Ia pun dapat menduga

bahwa pengetahuan si Colat tentang dirinya sudah cukup

banyak.

“Saya akan mendampingi Kakanda menghadapi bangsawan

muda yang ingin terkenal dan rakus akan kekayaan itu,” kata

Banyak Sumba sambil tersenyum.

“Haha! Itu baik untuk latihanmu, Raden,” kata si Colat.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Dari percakapan itu, keakraban mulai tumbuh. Si Colat

dengan leluasa membaringkan dirinya di atas balai-balai yang

dihampari kulit harimau yang indah.

“Silakan beristirahat,” katanya, “Sudah lama saya tidak

mendapat kawan mengobrol.”

Tiba-tiba, dari bawah terdengar suara orang-orang sangat

berisik.

“Mereka datang,” kata si Colat. “Anakku baru kembali

berburu harimau dan binatang buruan lainnya,” katanya.

Banyak Sumba bangkit, lalu berjalan ke arah lubang

pengintai. Dari sana, tampaklah rombongan yang terdiri dari,

kira-kira, lima belas orang memasuki lapangan yang dikelilingi

bangunan.

Paling depan berjalan seorang pemuda, bertubuh tinggi

dan besar meskipun masih muda. Pemuda itu sangat tampan,

rambutnya yang hitam kelam berombak ditiup angin senja.

Raden Jimat, pikir Banyak Sumba sambil memandangi pemuda

itu dengan penuh perhatian. Di belakang pemuda itu berjalan

badega-badega mengusung binatang perburuan yang besarbesar,

rusa dan babi hutan. Di antara binatang yang diusung

terdapat kulit harimau yang indah. Kulit harimau itu segera

dibentangkan di antara dua batang tonggak. Raden Jimat

memandang kulit harimau itu dengan rasa puas.

“Ayah, lebih lebar dari yang dulu!” serunya. Ketika ia

tengadah ke arah lubang persembunyian, pandangannya

bertemu dengan pandangan Banyak Sumba. Banyak Sumba

mengangguk seraya tersenyum kepadanya. Raden Jimat

tampak termenung.

“Tamu!” kata seseorang. Raden Jimat pun tersenyum

dengan hormat seraya menundukkan kepalanya.

Malam itu, tukang pantun memetik kecapi dan menyanyi,

sedangkan anak buah si Colat duduk berkeliling, mengelilingi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

daging binatang buruan yang telah dibakar. Baki-baki penuh

dengan berbagai buah terletak di dekat mereka. Banyak

Sumba memandang mereka dengan penuh perhatian. Di

tengah-tengah nyanyian dan gemeletup api unggun besar,

mereka makan, minum tuak, dan bersenda gurau. Si Colat

tidak turun dari kamarnya. Yang duduk di antara anak

buahnya adalah Raden Jimat, ditemani Banyak Sumba.

Malam itu, Banyak Sumba tidur di ruangan besar bersama

si Colat dan Raden Jimat. Karena lelah akibat perjalanan

sebelumnya dan karena mereka mengobrol sampai larut

malam, Banyak Sumba tidur nyenyak sekali. Ia tidak akan

terjaga seandainya pagi-pagi di bawah tidak terdengar

kegaduhan. Banyak Sumba bangun dan bersiap-siap

menghadapi segala kemungkinan.

“Tenanglah, Raden, mereka sedang berlatih,” kata si Colat

yang sudah berpakaian lengkap dan tampak sudah bersih.

Banyak Sumba malu karena kesiangan. Ia berdiri, lalu berjalan

ke arah lubang pengintai. Semua anak buah si Colat tampak

duduk berkeliling, di tengah-tengah lapangan ada dua orang

berhadapan, siap untuk saling menyerang.

-ooo00dw00ooo-

Bab 11

Penyesalan

Mula-mula, Banyak Sumba tertarik. Akan tetapi, setelah

mereka saling menyerang, tampaklah kepadanya bahwa

perkelahian mereka rendah sekali mutunya. Ia mengundurkan

diri dari lubang pengintai itu, lalu berjalan ke tengah-tengah

ruangan. Si Colat yang duduk di atas bangku sambil

menghadapi hidangan pagi berkata, “Perkelahian monyet.

Raden. Tapi, karena para jagabaya itu monyet-monyet yang

bodoh, mereka lebih sering menang daripada kalah,” katanya.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Tapi, saya pernah melihat monyet yang berkelahi dengan

cara lebih baik, Kakanda,” kata Banyak Sumba dengan nada

bersenda gurau.

“Ya, harimau pun berkelahi lebih baik daripada seseorang

yang tidak pernah belajar ilmu keprajuritan. Akan tetapi,

manusia dapat mengubah cara berkelahi dari waktu ke waktu.

Dari abad ke abad, monyet atau harimau berkelahi dengan

cara yang sama. Manusia tidak, di sinilah perbedaannya.

Manusia memiliki akal dan dari akal ini, lahirlah ilmu

keperwiraan yang makin lama makin disempurnakan dan

diperluas. Perguruan-perguruan ilmu keperwiraan didirikan.

Ada Padepokan Sirnadirasa, ada Padepokan Tajimalela.

“Nah, itulah sebabnya, kita selalu melihat kemungkinankemungkinan

maju pada manusia. Prajurit yang berkelahi di

bawah tadi adalah orang-orang baru. Dalam sebulan, dengan

latihan setiap pagi, mereka akan lebih baik daripada umumnya

para jagabaya kerajaan.”

“Apakah mereka itu orang-orang baru?”

“Ya, Raden, rupanya keluarga si Colat ini makin lama makin

bertambah besar juga. Dulu beberapa puluh orang, sekarang

beberapa ratus. Engkau anggota keluarga baru,” ujar si Colat

sambil mulai makan. Obeh masuk dengan air pencuci tangan

baru dan kain pengering. Si Colat mempersilakan Banyak

Sumba makan. Banyak Sumba menolak karena ia tertarik oleh

kegaduhan di luar, di samping itu ia belum mandi.

“Makanlah nanti bersama-sama dengan Jimat,” ujar si

Colat.

Banyak Sumba pun mohon izin untuk ke luar, lalu turun,

ikut menggabungkan-diri dengan anak buah si Colat. Raden

Jimat menyambutnya seraya mengucap sampurasun. Banyak

Sumba berdiri di samping anak yang tampan dan lemah

lembut itu.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Sementara itu, pasangan yang berkelahi telah berganti.

Kadang-kadang Raden Jimat berseru, menghentikan mereka

yang sedang berlatih, lalu membetulkan cara-cara yang tidak

tepat. Banyak Sumba sadar bahwa betapapun mudanya Raden

Jimat, pengetahuannya tentang ilmu keperwiraan sangat

tinggi. Kesadaran ini bertambah juga ketika Raden Jimat turun

ke gelanggang menghadapi salah seorang prajurit. Dengan

tangkas dan indah, diseranglah lawannya sehingga tidak dapat

berkutik. Gaya berkelahinya telah begitu dikenal oleh Banyak

Sumba, yaitu gaya berkelahi yang dilihatnya di Padepokan

Tajimalela. Yakinlah Banyak Sumba sekarang bahwa si Colat

benar-benar telah menguasai ilmu kepuragabayaan.

“Coba hadapi aku oleh tiga orang!” tiba-tiba Raden Jimat

berseru.

Tiga orang masuk gelanggang dan bersiap mengepung

Raden Jimat. Akan tetapi, dengan cepat Raden Jimat

melompat ke sana kemari, mengacaukan kepungan lawanlawannya

dengan tendangan dan pukulan. Makin kagum juga

Banyak Sumba kepadanya.

“Jimat, lawan Raden Banyak Sumba!” tiba-tiba terdengar si

Colat berseru dari lubang pengintai. Orang-orang bersorak dan

Raden Jimat memandang kepada Banyak Sumba sambil

tersenyum-senyum.

“Raden, dalam latihan pukulan penuh, hanya boleh

dilepaskan ke bagian badan yang tidak berbahaya. Sedangkan

ke arah bagian yang lemah hanya peringatan,” sambung si

Colat kepada Banyak Sumba. Banyak Sumba sadar bahwa si

Colat sangat sayang kepada putranya. Oleh karena itu, ia

merasa perlu untuk memberikan peringatan agar putranya

tidak terancam bahaya.

“Baiklah, Kakanda. Tapi, barangkali sayalah yang akan

banyak kemasukan pukulan,” kata Banyak Sumba sambil

tersenyum bersenda gurau. Setelah berkata demikian,

masuklah ia ke dalam gelanggang bertepatan dengan

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

keluarnya lawan-lawan Raden Jimat yang tiga orang. Tak lama

kemudian, mereka pun berhadapan.

Berbeda dengan perkelahian sebelumnya, biasanya

gerakan-gerakan segera dilakukan, Raden Jimat maupun

Banyak Sumba tidak cepat-cepat menyerang.

Keduanya mencari celah pada kuda-kuda masing-masing.

Untuk itu, biasanya memancing dengan celah-celah yang

dibuat pada kuda-kuda sendiri atau dengan gerakan yang

memindahkan perhatian. Lama sekali Banyak Sumba mencari

jalan untuk membuka serangan, tetapi Raden Jimat begitu

baik menutup dirinya.

Sementara itu, seluruh gelanggang sepi semata. Hanya

suara angin yang lewat di daun-daun yang terdengar. Orangorang

tidak lagi bersorak-sorai. Dengan tegang, mereka

memerhatikan gerak-gerik kecil dan lembut pada Banyak

Sumba dan Raden Jimat.

Banyak Sumba berpikir keras. Ia lebih besar dan lebih

tinggi sedikit daripada Raden Jimat. Ia mendapat keuntungan

dalam perkelahian jarak dekat. Dengan sendirinya, Raden

Jimat akan mempergunakan siasat memukul, kemudian

menjauh. Ia harus segera membendung siasat Raden Jimat

ini, yaitu dengan menyudutkannya ke pinggir gelanggang. Ini

harus dilakukannya dengan dua siasat.

Pertama, untuk menghadapi siasat serang lari, ia tidak

boleh tinggal di tempat. Kemudian, untuk menyudutkan Raden

Jimat, ia tidak boleh menyerang secara lurus tetapi harus

melebar. Sementara itu, walaupun otot-ototnya kuat, ia tidak

boleh memberi kesempatan untuk dipukul. Pukulan-pukulan

Raden Jimat terhadap para prajurit tadi tampak begitu

berbahaya sehingga umumnya mereka itu tidak dapat berbuat

banyak setelah satu kali terpukul. Dengan pikiran seperti

itulah, Banyak Sumba dengan tenang maju mendekat ke arah

Raden Jimat.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Dengan tidak disangka-sangka, Raden Jimat maju pula,

seolah-olah ia tidak memperhitungkan tinggi dan besar tubuh

Banyak Sumba. Ini membingungkan Banyak Sumba. Dan

ketika ia belum dapat menetapkan siasat baru, Raden Jimat

telah menyerangnya.

Serangan itu pun tidak disangka-sangka. Dengan keras,

Raden Jimat memukul tangan Banyak Sumba yang paling

dekat.

Secara naluriah, kalau mendapat serangan, Banyak Sumba

segera maju. Sekarang, apa yang diduganya terjadi. Raden

Jimat menjauh, menghindar ke samping sambil menyepak ke

arah perut Banyak Sumba. Akan tetapi, kakinya dapat

dikibaskan, bukan karena diperhitungkan, melainkan karena

kebetulan saja. Banyak Sumba berpendapat bahwa ia dapat

mulai menerapkan siasatnya, yaitu dengan menyudutkan

Raden Jimat ke pinggir gelanggang. Akan tetapi, Raden Jimat

maju kembali dan tanpa memperhitungkan jangkauan tangan

Banyak Sumba yang lebih panjang dan berat badan Banyak

Sumba yang lebih besar, ia melakukan serangan jarak dekat.

Tangannya menempel ke kedua tangan Banyak Sumba.

Tangan itu tidak melawan tenaga tangan Banyak Sumba,

tetapi menyerah pun tidak. Banyak Sumba merasa bahwa

tangannya dibelit oleh ular yang licin, yang sewaktu-waktu

kepalanya dapat mematuk ke arah tubuhnya. Banyak Sumba

berusaha menghindarkan beberapa tusukan tanpa dapat

mengembalikan serangan Raden Jimat. Untung ia tidak

terpesona oleh serangan tangan itu. Kakinya dengan sigap

menyapu kaki Raden Jimat. Radenjimat hampir terjatuh, tapi

dengan tangkas ia memindahkan berat badannya, lalu

menjauh.

Suara bergumam terdengar dari tepi gelanggang. Pada saat

itu, Banyak Sumba membalas menyerang dengan langkah

tidak lurus. Dengan gerakan melebar ke kanan dan ke kiri, ia

berusaha mengepung Radenjimat. Sedangkan Radenjimat

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

berulang-ulang mencoba menembus kepungan itu dengan

serangan-serangan keras, terutama ke arah perut Banyak

Sumba. Akan tetapi, tangan Banyak Sumba terlalu cepat

sehingga semua serangan itu dapat dikibaskan. Akhirnya, ia

makin mundur ke tepi gelanggang.

Banyak Sumba siap-siap untuk menangkap dan

melemparnya. Akan tetapi, siasat baru yang tidak dikenal oleh

Banyak Sumba dilancarkan oleh Radenjimat. Ia melakukan

serangan jarak dekat, mengeraskan kedua tangannya

menempel ke arah tangan Banyak Sumba. Ini mengundang

bantingan, demikian pikir Banyak Sumba sambil membanting

Radenjimat ke samping. Radenjimat memutar tubuhnya dan

berpusing menuju ke tengah. Sekarang, Banyak Sumba-lah

yang berada di tepi gelanggang, sedangkan Radenjimat yang

diburunya, dengan tersenyum sudah lolos dan berdiri di

tengah-tengah gelanggang. Ia terengah-engah, demikian juga

Radenjimat.

“Satu-satu,” tiba-tiba terdengar si Colat berseru dari atas.

Banyak Sumba tengadah. “Sapuan kakimu bagus sekali,

Raden. Kalau bukan Jimat, sudah terbanting rata di rumput

itu. Ia lebih ringan, jadi mudah memindahkan berat

badannya.”

Pertandingan antara mereka selesai. Para prajurit turun ke

gelanggang, bertarung satu sama lain. Sementara itu, Banyak

Sumba berjalan dengan Radenjimat ke arah sungai yang

terletak tidak jauh dari hutan bambu itu. Mereka bercakapcakap

tentang ilmu keperwiraan. Banyak Sumba merasa

gembira telah mendapatkan kawan berlatih yang begitu

tangguh dan begitu cerdas.

“Sejak kapan Ayahanda mengajar Raden?” tanya Banyak

Sumba pada suatu ketika.

“Sejak berumur delapan tahun. Saya belajar dengan tangan

kosong setiap hari selama dua tahun, kadang-kadang

sepanjang hari. Kemudian, dengan berbagai senjata saya pelTiraikasih

Website http://kangzusi.com/

ajari tiga tahun. Yang lebih berat belajar dengan tangan

kosong,” katanya.

“Siasat tangan kosong Raden bagus sekali,” kata Banyak

Sumba dengan penuh kekaguman.

“Yang penting, kita tidak kehilangan akal, tidak bingung,

apalagi marah. Itulah yang selalu diajarkan kepada saya oleh

Ayahanda. Saya pernah bertanya kepada Ayahanda, apakah

ada orang yang dapat mengalahkannya? Ayahanda menjawab,

setiap orang dapat mengalahkannya kalau beliau sedang

kehilangan akal sehatnya. Tapi dalam keadaan biasa, beliau

tidak takut oleh siapa pun, juga oleh Pangeran Anggadipati

yang termasyhur atau Jante jaluwuyung yang sudah tidak ada

itu.”

Banyak Sumba termenung.

“Rupanya, Ayahanda banyak mengenal para puragabaya

itu,” katanya.

“Ayahanda belajar bersama mereka,” kata Raden Jimat.

Banyak Sumba tidak mengerti, ia berpaling kepada Raden

Jimat. Raden Jimat yang mengetahui Banyak Sumba

kebingungan menjelaskan, “Karena dukacita, Ayahanda

membuang diri ke dalam hutan. Beliau memasuki Hutan

Larangan, menyerahkan diri pada binatang buas. Akan tetapi,

para guriang melindunginya dan beliau diperkenankan

memasuki wilayah Padepokan Tajimalela. Secara sembunyisembunyi,

beliau mempelajari ilmu kepuragabayaan

bertepatan dengan saat-saat Pangeran Anggadipati dan Raden

Jante Jaluwuyung nun jadi siswa di sana.”

Mendengar penjelasan itu, termenunglah Banyak Sumba. Ia

makin sadar, betapa banyak persamaan nasibnya dengan

nasib si Colat. Ia diperlakukan tidak adil. Ia terpaksa harus

berpisah dengan putri yang dicintainya. Ia mempelajari ilmu

kepuragabayaan secara sembunyi-sembunyi.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Pamanda Banyak Sumba,” kata Radenjimat. “Sebenarnya

tidak sukar untuk mencapai Padepokan Tajimalela kalau orang

berani menembus Hutan Larangan yang mengelilinginya,”

demikian keterangan Radenjimat. Kemudian, ia tertegun.

“Sudahkah Pamanda ke sana? Dari gaya berkelahi

Pamanda, saya melihat gaya Padepokan Tajimalela.”

“Saya pernah melihat calon puragabaya berkelahi,” kata

Banyak Sumba menyembunyikan kenyataan.

Setelah tubuh mereka dingin, mereka bersama-sama

membersihkan diri di sungai jernih yang mengalir dekat

persembunyian si Colat. Dan semenjak itu, setiap pagi mereka

berlatih, mengobrol, mandi, dan makan bersama-sama. Makin

hari, makin haluslah ilmu keperwiraan Banyak Sumba.

TERNYATA, tempat itu hanyalah salah satu persembunyian

si Colat. Banyak Sumba hanya beberapa hari tinggal di hutan

bambu itu. Pada suatu hari, ia diberi tahu bahwa besok

mereka akan berpindah tempat. Pada keesokan harinya,

ketika matahari terbenam, berangkatlah sekitar lima puluh

orang penghuni hutan itu menuju persembunyian lain.

Sepanjang jalan, berulang-ulang para anggota rombongan

tertentu memisahkan diri untuk kemudian kembali dengan

membawa tambahan perbekalan. Akhirnya, Banyak Sumba

mengerti bahwa perbekalan itu diambil dari kampungkampung

karena orang-orang kampung yang ketakutan jauh

sebelumnya sudah diberi tahu dan diharuskan menyediakan

upeti mereka, terutama garam dan beras bagi pasukan si

Colat.

Pada suatu kali, rombongan yang terdiri enam orang,

kembali ke induk pasukan dengan tangan hampa. Bahkan, di

antara mereka membawa anak panah tertancap di

punggungnya.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Apa yang terjadi?” tanya si Colat. Walaupun tenang,

terdengar suaranya agak lain. la marah melihat anak buahnya

yang tcrluka itu.

“Ketika kami berseru-seru, dari dalam kampung tak ada

jawaban. Kami segera mengundurkan diri karena merasa

curiga. Untuk menyelidiki, pasukan disebar mengelilingi

kampung itu. Seseorang melepaskan panah, diikuti oleh yang

lain.”

“Berapa besar kampung itu?” tanya si Colat.

“Kira-kira dua puluh lima keluarga, tapi tidak perlu ada

yang ditakutkan,” kata pemimpin rombongan yang enam

orang itu.

Si Colat termenung, sedangkan orang yang luka itu diurus.

Anak panah dicabut dan lukanya dibebat setelah diberi obat

penawar racun. Setelah beberapa lama terdiam, si Colat

berkata, “Dua puluh lima orang laki-laki dewasa bukanlah

persoalan, tetapi tentu ada jagabaya di dalam kampung itu.

Tak mungkin mereka berani menolak tuntutan kita kalau tidak

ada jagabaya di sana. Kita harus kembali dengan pasukan

yang lebih besar. Kita urus nanti,” kata si Colat. Kemudian, ia

memberi isyarat kepada rombongan untuk melanjutkan

perjalanan.

Sepanjang jalan, Banyak Sumba melarikan kudanya tidak

jauh dari si Colat dan Raden Jimat. Kalau jalan kebetulan

besar dan mereka dapat mengendarai kuda berdampingan,

kadang-kadang mereka berbicara tentang itu dan ini. Karena

kepenasarannya, pada suatu kali Banyak Sumba bertanya,

“Apakah memang ada kampung yang berani menolak?”

“Baru satu kampung itulah di daerah barat ini,” ujar si

Colat. “Tapi hanya sementara, mereka akan tahu risiko

perbuatan mereka itu dalam waktu dekat,” kata si Colat. Nada

suaranya memperlihatkan kemarahan.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Mereka akan tahu arti perbuatan mereka sendiri,” tiba-tiba

si Colat berkata kembali. Entah apa sebabnya, perkataan si

Colat itu meremangkan bulu roma Banyak Sumba.

-ooo00dw00ooo-

Bab 12

Malakal Maut

Seperti juga yang pertama, persembunyian si Colat , yang

kedua tidak disangka-sangka letaknya. Hutan kecil itu tidak

berapa jauh letaknya dari jalan besar kerajaan. Bukan saja

orang tidak mudah menyangka bahwa si Colat tinggal di

tempat itu, tetapi letaknya yang dekat dengan jalan besar

memudahkan si Colat untuk bergerak dan berhubungan

dengan anak buahnya yang tersebar dalam hutan-hutan

antara wilayah Kutabarang dan Pakuan Pajajaran.

Setiba di tempat persembunyian yang kedua ini, kehidupan

sehari-hari Banyak Sumba tidak banyak berbeda dengan

ketika dalam persembunyian yang pertama. Ia berlatih setiap

pagi. Agar tidak membuang-buang waktu, ia membantu

mengurus kuda pasukan, yaitu sebagai pemeriksa karena

pengurus kuda pasukan si Colat kurang ahli dalam hal itu.

Banyak Sumba sebagai seorang putra bangsawan yang

sejak kecil bergaul dengan kuda, jauh lebih ahli dalam

memelihara dan menjinakkan kuda. Tampaknya, si Colat

senang dengan pekerjaan yang dilakukan Banyak Sumba.

Pernah ia meminta kepada Banyak Sumba agar mengajari

Raden jimat dalam mengenal watak binatang yang berguna

itu.

Banyak Sumba sendiri, setelah beberapa lama tinggal

dengan si Colat, menyadari bahwa ilmunya tidak akan

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

bertambah lagi kalau ia tidak mencari guru lain. Tidak dapat

disangkal bahwa si Colat perwira yang sukar tandingannya.

Raden Jimat sendiri walaupun masih anak-anak sudah

demikian tangguh, apalagi si Colat sebagai orang dewasa,

yang di samping kecerdasannya telah pula mendapat

pengalaman dari perkelahian-perkelahian yang

mempertaruhkan nyawa. Ini sangat jelas kalau sewaktu-waktu

ia berkenan memberikan petunjuk kepada Banyak Sumba saat

berlatih dengan Raden Jimat. Namun, akhirnya dorongannya

untuk pergi timbul juga dalam hati Banyak Sumba.

Pertama, ia harus segera melaksanakan tugasnya, yaitu

membalas dendam terhadap Anggadipati dan mengangkat

kembali nama keluarga Banyak Citra. Kedua, ia ingin segera

dapat bertemu dengan keluarganya. Ketiga, sudah rindu pula

ia kepadaJasik, dan keempat… walaupun dalam kabut

keraguan, ia teringat kepada Nyai Emas Purbamanik. Maka,

direncanakannya akan minta diri kepada si Colat untuk pergi

ke Kutabarang.

Dari sana, dengan Jasik, ia akan pergi ke Pakuan Pajajaran

tempat Anggadipati berada. Ia akan memasuki asrama kesatriaannya

dan menantangnya sebagai laki-laki. Kalau ia gugur,

Jasik akan pulang sendirian ke Kota Medang. Kalau dia yang

menang, mereka akan pulang bersama, dan siapa tahu

Banyak Sumba dapat bertemu dan mengetahui bagaimana

keadaan

Nyai Emas Purbamanik sejak gadis itu ditinggalkannya. Ia

yakin, si Golat tidak akan keberatan, bahkan siapa tahu si

Colat akan memberinya beberapa orang pengawal.

Ia menangguhkan niatnya karena saat yang baik untuk

menyampaikan maksudnya belum tiba. Belakangan, si Colat

merasa tidak senang karena beberapa kampung berani

menolak permintaan upeti yang dituntutnya. Bahkan, para

jagabaya dikabarkan tampak di hutan-hutan mendirikan

asrama darurat. Belum lagi terhitung yang menginap di

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

kampung-kampung. Beberapa belas anak buah si Colat

dikabarkan hilang pula.

“Kita harus menghajar mereka,” suatu kali si Colat berkata.

Tapi, ancaman itu tidak dilaksanakannya hingga pada suatu

kali, berita buruk diterima di tempat persembunyiannya.

Ketika itu, hari masih pagi, embun masih meliputi puncak

gunung. Burung-burung belum begitu ramai bernyanyi. Di

bawah embun, dari arah lembah, muncullah kira-kira sepuluh

penunggang kuda. Lawang kori dibuka dan kesepuluh

pendatang masuk. Pemimpin segera menghadap si Colat di

ruangannya.

Dalam ruangan itu, si Colat ditemani Banyak Sumba dan

Raden Jimat. Kepala rombongan menghadap dengan kepala

menunduk.

“Celaka, Juragan!” badega itu berkata dengan sedih.

“Apa yang terjadi?”

“Seperti biasa, kami meminta upeti dari Kampung Murugul.

Mereka mempersilakan kami dengan membuka lawang kori

lebar-lebar. Ini mencurigakan sebagian dari kami. Wasji, Anda,

Rawi, Waskir, dan Jagoi masuk. Orang-orang kampung

mempersilakan kami masuk, tapi kami menunggu di luar.

Sebagian dari kami bertindak begitu karena curiga, sebagian

lagi karena bernasib baik. Tiba-tiba, dari arah hutan-hutan

sekitar kampung, keluarlah para jagabaya—ada yang

menunggang kuda, ada yang berjalan kaki. Sedangkan dari

arah kandangjaga dan pohon-pohonan yang memagari

kampung, hujan anak panah menyembur kami. Kami segera

melawan dan menyerang jagabaya itu. Kami membunuh

beberapa orang dan melukai banyak di antara mereka.

Juragan bisa melihat senjata kami yang berdarah. Akan tetapi,

yang memasuki kampung tidak dapat keluar lagi. Lawang kori

segera ditutup oleh orang-orang kampung Kami tidak tahu

bagaimana nasib mereka.”

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Mendengar berita buruk itu, si Colat termenung sejenak,

kemudian memanggil Obeh. Obeh keluar kembali, tak lama

kemudian tiga orang badega yang sudah agak lanjut usia

masuk ruangan.

“Panggil tiga pasukan yang paling dekat. Perintahkan

mereka mempersenjatai diri. Suruh yang lain membuat

sejumlah obor kecil, sediakan kain-kain bekas atau rumput

kering, dan minyak kelapa sebanyak-banyaknya.”

Para badega itu segera keluar setelah memberikan hormat.

Sementara itu, yang membawa berita ditahan dulu untuk

tinggal di dalam ruangan. Si Colat meminta keterangan lebih

banyak tentang kampung yang dijadikan perangkap oleh para

jagabaya itu. Setelah lama mengorek keterangan tambahan

dari yang membawa laporan, si Colat menyuruhnya

beristirahat, lalu ia berkata kepada Banyak Sumba, “Sekurangkurangnya,

tiga kampung yang berdekatan dengan kampung

itu harus dibakar dalam dua-tiga hari ini. Para jagabaya akan

menahan diri untuk bertindak lebih jauh.”

“Tapi, kampung-kampung lain mungkin tidak mengizinkan

para jagabaya untuk menjadikannya perangkap, Kakanda.

Mereka mungkin tetap setia kepada Kakanda. Sekurangkurangnya,

pada saat ini mereka belum berbuat salah,” ujar

Banyak Sumba.

“Raden, saya dibacok di dalam gelap oleh beberapa orang

begundal, apakah saya harus berbuat salah terlebih dulu?

Ayahanda Raden pun dijatuhkan dari takhtanya, apakah beliau

sudah berbuat salah? Raden sekarang kesatria yang

mengembara dan menderita keprihatinan, apakah harus

berbuat salah terlebih dulu? Apakah seseorang menderita

setelah berbuat salah dulu? Tidak, Raden Banyak Sumba.

Siapa pun boleh menderita, bahkan tewas, tanpa berbuat

salah terlebih dahulu. Itulah sebabnya, kampung-kampung

sekitar kampung perangkap itu harus menderita, tanpa ada

syarat mereka berbuat salah terlebih dahulu kepada kita.”

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Banyak Sumba tidak berkata apa-apa, pertama karena

masalah itu belum pernah dipikirkannya, kedua karena ia tahu

pikiran si Colat sedang kalut.

Walaupun begitu, ia tetap merasa bahwa keputusan si

Colat itu tidak adil. Ia yakin ada sesuatu yang salah walaupun

tidak dapat menjelaskan bagaimana persoalan sebenarnya

dengan tiga kampung yang akan dirusak pasukan si Colat itu.

Ia tidak memecahkan masalah itu. Ketika malam kedua tiba

setelah datangnya peristiwa buruk itu, pada suatu subuh, ia

dibangunkan oleh langkah-langkah kaki. Ia melihat dari

tingkap ruangan di sebelah selatan tampak langit menjadi

kemerah-merahan. Bukan hutan terbakar, tapi kebakaran

besar lain telah terjadi.

Keesokan harinya, laporan tiba. Dan si Colat berkata

kepada Banyak Sumba sambil tersenyum, “Mereka telah

mengerjakan tugas dengan baik sekali. Tidak hanya kampung

yang mereka bakar, tapi juga huma. Para jagabaya itu tentu

akan berpikir dua kali sebelum mereka memasang perangkap

lagi.”

Banyak Sumba tidak berkata apa-apa mendengar berita itu.

Ia sebenarnya ingin bertanya, apakah penduduk kampung itu

diselamatkan dulu atau tidak. Akan tetapi, ia segera sadar

bahwa si Colat akan memberi jawaban yang sama, “Haruskah

orang menderita karena sebelumnya berbuat salah?” Menurut

pengalaman si Colat, orang dapat menderita dan bahkan

meninggal tidak perlu disebabkan oleh perbuatannya. Segala

perbuatannya yang sebenarnya tidak dapat diterima oleh hati

nurani Banyak Sumba, telah dipertanggungjawabkan secara

demikian.

AKAN tetapi, kendatipun tiga kampung telah terbakar

musnah sebagai peringatan, para jagabaya dengan bantuan

rakyat tampaknya tidak gentar. Peristiwa penolakan

membayar upeti oleh kampung-kampung disusul dengan

penghadangan oleh para jagabaya. Korban berjatuhan hingga

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

akhirnya, si Colat mengumpulkan para pembantunya dari

semua daerah.

Setelah mengadakan perundingan, si Colat memutuskan

beberapa hal yang mencerminkan gawatnya keadaan bagi

mereka. Pertama, tindakan keras harus dilakukan terhadap

kampung yang ternyata tidak mau memberikan upeti atau

mencurigakan. Penculikan terhadap kepala kampung yang

mencurigakan harus mulai dilakukan, kehati-hatian

ditingkatkan, dan tempat persembunyian harus dipindahpindah

lebih sering.

Banyak Sumba mengambil kesimpulan bahwa kesabaran

pihak kerajaan sudah habis dan sekarang para jagabaya telah

dikerahkan untuk menghentikan kegiatan si Colat. Hal ini

menimbulkan kebimbangan pada Banyak Sumba Akankah ia

tinggal bersama si Colat sambil menanti pasukan yang

mungkin dipimpin oleh Pangeran Anggadipati atau langsung

menyerang Pangeran Anggadipati di tempatnya, Pakuan

Pajajaran?

Mula-mula, Banyak Sumba tak berani menyampaikan

niatnya untuk pergi dari rombongan si Colat. Ia takut si Colat

menganggapnya penakut dan tidak punya rasa setia kawan.

Akan tetapi, pada suatu kali, si Colat berkata kepadanya.

“Raden Banyak Sumba, dari keterangan yang diterima,

pemimpin pasukan yang dikerahkan untuk menghadapi kita ini

adalah Pangeran Anggadipati. Ia dilihat oleh anak buah saya

di Kutabarang beberapa waktu yang lalu. Di sana, ia

mengadakan perundingan dengan penguasa kota. Mungkin

sekali kita mem-binasakannya. Pertama, tentu saja gerakan

akan berhenti untuk beberapa lama hingga kita dapat

menyerangnya di Kuta-barang. Kalau kita dapat

membinasakan dia, banyak keuntungan yang kita peroleh.

Pertama, tentu saja gerakan akan berhenti untuk beberapa

lama, hingga kita dapat bernapas dan memperkuat diri.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Kedua, gerakan rahasia yang dilaksanakan di Kutabarang akan

merupakan penghematan pasukan.”

Uraian si Colat tentang hal itu sungguh menggembirakan

hati Banyak Sumba. Ia dapat meninggalkan si Colat yang

tindakan-tindakannya tidak disetujuinya. Lagi pula, dia dapat

menunaikan tugasnya. Maka, ia pun berkata, “Seandainya

Kakanda memutuskan akan melaksanakan gerakan rahasia itu,

saya bersedia serta di dalamnya,” katanya.

“Engkau pantas menjadi pemimpin gerakan itu, Raden.

Engkau seorang puragabaya dengan segala kepandaian yang

kaumiliki itu. Seorang puragabaya harus dihadapi oleh

puragabaya lagi. Tetapi, saya tidak, mau melibatkan kau

dalam persoalan ini. Ini urusan saya,” kata si Colat

“Tapi, saya pun punya urusan dan perhitungan dengan dia,

Kakanda,” kata Banyak Sumba. Si Colat memandangnya

dengan penuh pertanyaan, kemudian berkata, “Pernahkah ada

silang sengketa antara dia dan kau, Raden?”

“Ia membunuh kakak saya,” ujar Banyak Sumba. Mereka

berpandangan. Mendengar penjelasan itu, berbisiklah si Colat,

“Tidak salah dugaanku, engkau putra Pangeran Banyak Citra

yang menghilang itu. Mula-mula, kusangka engkau hanyalah

putra bangsawan biasa, yang karena iri hati orang lain,

dijatuhkan dari kedudukannya. Engkau putra wangsa yang

sangat terkenal dan tidak pantas prihatin seperti sekarang.

Pajajaran akan menerima hukumannya seandainya berani

menghinakan putra-putra terbaiknya,” katanya sambil tetap

memandang Banyak Sumba.

“Saya, saya laki-laki terbesar di antara para putra Ayahanda

Banyak Citra.”

“Kalau begitu, kita akan menyerang dia bersama-sama.

Sekarang, marilah kita atur penyerangan itu. Kita menarik

perhatian isi Istana Kutabarang dengan membuat keributan di

pinggir kota. Kita dengan anggota pasukan pilihan akan

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

menyelinap dalam gelap memasuki istana. Saya akan

menghadapi Anggadipati. Engkau, Raden, bersama dengan

pasukan pilihan, menghadapi para calon puragabaya yang

menjadi pengiring Anggadipati.”

“Sayalah yang akan menghadapi dia, Kakanda, karena

sayalah yang punya urusan pribadi dengan dia,” kata Banyak

Sumba. Si Colat memandangnya, lalu berkata, “Anggadipati

bukan puragabaya biasa, Raden.”

“Saya tahu hal itu, Kakanda.”

“Saya bukan tidak percaya kepadamu Raden, tapi Si Colat

termenung, lalu berkata, “Begini saja, Raden. Siapa yang lebih

dahulu bertemu dengan dia akan lebih dahulu

menghadapinya.”

“Baiklah, Kakanda,” kata Banyak Sumba. Sebenarnya, dia

kurang senang dengan keputusan itu.

Ia tidak setuju dengan tindakan-tindakan si Colat. Kalau

serangan itu dilakukan bersama, seolah-olah ia anak buah si

Colat yang melakukan penyerangan di bawah perinlah si Colat.

Ia sungguh gelisah, tetapi segera menenangkan diri dengan

berdoa kepada Sang Hiang Tunggal untuk mendapatkan

petunjuk.

Di samping kesibukan sehari-hari, di tempat persembunyian

itu terlihat pula kesibukan lain. Si Colat melakukan

perundingan dengan para pembantu utamanya dalam rangka

melakukan penyerangan terhadap Istana Kutabarang.

“Saya akan datang malam hari dan kalian telah menyiapkan

segalanya,” demikian kata terakhir, setelah segala rencana

siap.

TETAPI, rencana yang sudah siap itu tidak dapat

dilaksanakan pada saat yang telah ditetapkan, karena begitu

perundingan selesai dan baru saja para pemimpin pasukan

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

meninggalkan ruangan perundingan, seorang mata-mata

datang bermandi keringat.

“Sepasukan besar jagabaya bergerak ke sini,” katanya.

“Berapa banyak?” tanya Si Colat.

“Kira-kira seratus lima puluh orang, bersenjata berat.”

“Kita terpaksa mengundurkan diri karena di sini hanya ada

tiga puluh lima orang, Raden.”

Gerakan pengunduran diri pun dilakukan dengan cepat. Si

Colat menetapkan tempat persembunyian sementara. Sepuluh

orang anggota pasukan disebar untuk menghubungi pasukan

lain dan memanggil mereka agar berkumpul di suatu tempat

yang telah ditetapkan. Dari tempat itu, mereka’akan mengatur

penghadangan terhadap pasukan kerajaan yang berjumlah

seratus lima puluh orang itu. Setelah segalanya ditetapkan,

pengunduran diri dimulai.

Dua puluh lima orang penunggang kuda, termasuk si Colat,

Radenjimat, dan Banyak Sumba memacu kuda masing-masing

melintasi perhumaan dan hutan-hutan kecil. Perkampungan

dihindari. Dalam perjalanan itu, suatu hal yang menyedihkan

terjadi. Seorang petani sedang bekerja. Ketika mendengar

mereka lewat, ia berdiri. Petani memerhatikan pasukan yang

lewat. Seorang prajurit si Colat memberi tahu adanya petani

itu, “Bereskan sendiri, jangan sampai dia menjadi sebab

malapetaka bagi kita semua,” kata si Colat.

Pasukan jalan terus, hingga Banyak Sumba mendengar

teriakan yang mengerikan. Ketika dia berpaling, tampaklah

dua orang prajurit sedang membunuh petani itu. Ia tidak

dapat berkata apa-apa melihat kejadian itu. Hatinya

bertambah gelisah. Ia tidak betah lagi duduk di atas kudanya

di samping si Colat, tetapi ia tidak dapat berbuat apa-apa. Ia

hanya berdoa dalam hati agar Sang Hiang Tunggal

menunjukkan jalan baginya dalam mengemban tugas

keluarganya.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Sementara itu, perjalanan dilanjutkan, hingga matahari

condong ke barat. Ketika itulah, si Colat memerintahkan agar

pasukan berhenti untuk beristirahat. Pasukan pun memasuki

hutan kecil dan membuka perbekalan. Sementara itu, para

pemimpin berkumpul.

“Kita bermalam di sebuah kampung,” kata si Colat.

‘Apakah itu tidak terlalu berbahaya?” tanya salah seorang

pembantu utama yang namanya tidak diketahui oleh Banyak

Sumba.

“Tidak. Pasukan jagabaya sedang mengatur pengepungan

tempat persembunyian kita yang kosong. Mereka akan cukup

lama mencari jejak kita sebelum besok. Di samping itu, kalau

mereka dapat mengejar kita, kita punya sandera, yaitu isi

seluruh kampung, dan kawan-kawan akan segera tiba.”

“Mengapa tidak menginap di hutan?” tanya yang lain.

“Kita harus menyelidiki sikap orang-orang kampung ini,”

kata si Colat, “Di samping itu, hutan lebih terbuka dari

pengepungan, sedangkan kampung berpagar tinggi dan hanya

orang-orang seperti anak buah kita yang tahu bagaimana

menembusnya. Para jagabaya dengan senjata berat akan

menjadi sasaran yang bagus bagi anak panah dari atas

kandang jaga,” kata si Colat.

Yang lain tidak berbicara apa-apa. Setelah kuda cukup

mengaso, mereka pun menuju suatu kampung yang letaknya

diketahui oleh anak buah si Colat. Ternyata, pikiran si Colat itu

penuh dengan perhitungan. Dari kampung itu, mereka

mendapat bahan makanan, di samping tempat berlindung.

Malam itu, Banyak Sumba tak dapat tidur nyenyak.

Bukanlah karena ia takut diserang tiba-tiba oleh para

jagabaya, tetapi karena pengalamannya yang lalu, serta

percakapannya dengan si Colat. Betapapun tidak adilnya

kehidupan terhadap dirinya, ia tidak akan bertindak seperti si

Colat, pikirnya. Akan tetapi, ketetapan hatinya itu tidak

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

sanggup menenangkannya. Sepanjang malam itu, ia gelisah

dan diganggu oleh impian-impian buruk. Berulang-ulang

terbayang juga pemandangan pembunuhan yang dilakukan

oleh dua orang prajurit si Colat terhadap petani yang malang

dan tidak tahu apa-apa itu.

Keesokan harinya, setelah mengurus seluruh persediaan

beras dan garam dari kampung yang didudukinya, pasukan

berangkat menuju tempat persembunyian baru yang telah

ditetapkan. Di suatu persimpangan jalan, sepasukan berkuda

yang terdiri dari lima belas orang telah menunggu. Ternyata,

mereka anak buah si Colat yang datang dari daerah lain.

Mereka membawa dua ekor kuda yang tidak bcrpenunggang.

“Kita kehilangan dua orang,” kata pemimpin rombongan

baru itu dengan sedih.

“Ditangkap?” tanya si Colat. Kemarahan tampak pada air

muka yang tiba-tiba berubah.

“Kami dihujani anak panah ketika mendekati kampung di

utara Bukit Saninten itu. Mereka bangkit bersama-sama. Juga

penduduk kampung-kampung sebelah utara. Kami mendengar

berita itu dari penyelidik kami yang sekarang masih

menghubungi kawan-kawan lain.”

“Mereka akan belajar nanti,” kata si Colat seperti berkata

kepada dirinya sendiri.

Perjalanan pun dilanjutkan, masuk hutan keluar hutan,

melintasi perhumaan, menyeberangi sungai atau padang

alang-alang. Pada sore itu, rombongan melihat sebuah bukit

gundul yang penuh dengan batu-batu runcing berserakan

pada tebingnya yang curam. Ke atas bukit itulah rombongan

berjalan. Ketika matahari hampir terbenam, mereka dengan

susah payah mencapai puncak bukit itu.

Di sana sudah menunggu kurang lebih lima puluh orang

anak buah si Colat lagi yang datang dari tempat lain. Tak lama

kemudian, datang pula pasukan lain dalam jumlah yang sama.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Maka, puncak bukit yang luas dan merupakan benteng alam

itu pun dalam sekejap sudah merupakan sebuah benteng yang

siap menghadapi dan menghalau serangan. Sungguh cerdik si

Colat yang telah menemukan dan mempergunakan puncak

bukit batu sebagai tempat persembunyian. Bagaimanapun,

pasukan jagabaya yang mencoba datang ke tempat itu tentu

kelelahan sebelum mencapainya. Di samping itu, tanpa

membawa perbekalan, pengepungan terhadap benteng alam

itu tidak mungkin dilakukan karena daerah sekitarnya tandus

belaka.

Sebelumnya, benteng itu merupakan anugerah alam yang

luar biasa bagi siapa saja yang menggunakannya. Tebing bukit

itu sangat curam, tetapi dengan melalui celah, mudah didaki.

Pihak yang menguasai benteng ini dengan mudah menjaga

celah atau menutupnya dengan batu besar, agar lawan tidak

dapat masuk. Sementara itu, tanah di sekeliling benteng alam

itu tidak menguntungkan bagi pihak penyerang. Tanah di

bawahnya gundul dan rata, sehingga sukar bagi penyerang

untuk mendapatkan perlindungan dari hujan anak panah.

Sedangkan batu dalam ukuran yang tepat untuk pelanting

sangat banyak di puncak, hingga tidak perlu dikumpulkan dari

tempat lain.

“Sungguh benteng yang tidak mungkin dikalahkan,” kata

Banyak Sumba kepada si Colat yang berdiri di sampingnya. Ia

sedang memberikan perintah kepada anak buahnya untuk

mendirikan beberapa gubuk dan membereskan tempat-tempat

hingga menyenangkan untuk dijadikan tempat tinggal.

“Kita tidak akan menjadikan tempat ini sebagai tempat

bertempur, Raden. Betapapun kuatnya benteng ini, dengan

pengepungan panjang yang dilakukan seribu jagabaya,

akhirnya akan jatuh juga. Kita bukan saja melawan jagabaya,

tetapi juga melawan kelaparan. Kalau sekarang kita berada di

sini, itu hanyalah agar kita lebih tenteram mengatur siasat

bagi medan pertempuran yang akan kita buka di mana-mana,

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

di bagian kerajaan sebelah sini. Bahkan, kita akan berusaha

agar lawan tidak dapat mendekati tempat ini. Dan hal itu

mudah dilakukan. Pertama dengan menghancurkan mereka di

perjalanan kalau jumlah mereka cukup kecil. Kedua dengan

memancing mereka untuk mengejar pasukan kita ke tempat

lain.”

“Tetapi, seandainya lawan sampai ke tempat ini, mereka

benar-benar tidak beruntung,” kata Banyak Sumba.

“Ya,” ujar si Colat sambil melayangkan pandangan ke

sekelilingnya, ke hutan-hutan kelam yang tampak dari atas

benteng alam itu.

Ketika itu, dari bawah tampak pula serombongan

penunggang kuda yang berjalan menuju celah satu-satunya ke

puncak bukit itu.

“Mereka datang dari utara,” kata si Colat. “Kita akan

mendapat kabar keadaan Kutabarang, Raden,” sambungnya.

Banyak Sumba berjalan bersama si Colat menyambut

kedatangan pasukan baru yang berjumlah kira-kira dua puluh

orang.

Mereka turun dari kuda masing-masing. Dalam cahaya

obor, tampak wajah mereka yang berkeringat dan berdebu.

“Kami tidak berhasil mendapat perbekalan sesuai dengan

permintaan yang tercantum dalam surat Juragan,” kata

pemimpin rombongan. Si Colat tidak berkata apa-apa,

pandangan matanya bertanya kepada orang itu.

“Orang-orang kampung mulai melawan, hanya beberapa

kampung yang menyediakan upeti. Yang lain tidak membuka

lawang kori, bahkan ada yang menghujani kami dengan anak

panah atau batu pelanting.”

Si Colat menundukkan mukanya ke tanah untuk beberapa

lama, kemudian ia mengangkat mukanya lagi, berkata,

“Baiklah, soal perbekalan kita urus nanti, soal sikap orangTiraikasih

Website http://kangzusi.com/

orang kampung itu lebih penting. Kita harus mengurusnya

terlebih dulu.”

Setelah itu, ia tidak banyak berkata. Dengan Banyak

Sumba, ia berkeliling mengawasi pengaturan tempat di atas

bukit itu. Tak lama kemudian, gubuk-gubuk telah berdiri, juga

kandang kuda. Gudang besar terbuat pula untuk tempat

perbekalan. Perbekalan yang sudah ada segera dimasukkan

gudang itu. Akan tetapi, baru sedikit yang tersedia sehingga

gudang besar itu sangat kosong. Untuk beberapa lama, si

Colat memandang ke dalam gudang yang masih kosong itu.

Kemudian, bersama Banyak Sumba, ia berjalan ke arah celah

yang merupakan satu-satunya gerbang ke atas bukit itu.

“Kita akan membuat pintu besar dari kayu, yang dapat

ditutup dan dibuka,” kata si Colat sambil memeriksa cadas di

kedua belah celah. Ia memandang pula ke atas, ke tempat

beberapa orang anak buahnya berdiri, menjaga.

“Hanya puragabaya yang dapat menyelinap. Tapi sebelum

dapat mencapai dinding benteng, puragabaya pun akan

menghadapi bahaya yang sukar dihindarkan,” sambungnya

pula.

“Mungkinkah kerajaan mengerahkan para puragabaya?”

“Mungkin saja, Raden,” ujar si Colat, “Sekurang-kurangnya,

para calon akan diikutsertakan sebagai pembantu pemimpin

pasukan jagabaya. Mereka akan menjadi penasihat dalam hal

siasat atau penunjukjalan. Kalau ada kesempatan, mereka

akan bertindak pula sebagai pengintai dan penyerang gelap.

Pernah seorang pembantu saya tewas dengan cara yang

aneh. Ia ditemukan mati di gubuknya. Ini pekerjaan calon

puragabaya yang diperbantukan pada pasukan jagabaya yang

menyerang pasukan anak buah saya itu. Tentu saja pasukan

yang kehilangan kepala ini kalang kabut. Banyak yang mati,

banyak pula yang tertawan. Tapi, kita tidak mau diserang

secara demikian untuk kedua kali. Kami harus lebih cerdik,

lebih banyak bergerak. Jangan mau diserang, lebih baik

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

menyerang, lalu menghilang. Semenjak itulah saya berpindahpindah.”

Setelah pembicaraan itu, mereka kembali ke gubuk yang

telah disediakan oleh anak buah si Colat. Malam itu juga,

sambil makan si Colat dan para pembantunya melakukan

perundingan. Kemudian, ditetapkan bahwa dua hal yang

penting harus dilakukan dalam seminggu. Pertama,

mengumpulkan perbekalan sebanyak-banyaknya dan

menghancurkan pasukan-pasukan jagabaya yang dikirimkan

kerajaan ke daerah itu. Kedua, usaha itu harus dilakukan

bersama-sama untuk mencapai tiga hal, yaitu untuk

mendapatkan bekal, untuk mengubah sikap rakyat, dan untuk

memberikan waktu kepada pasukan si Colat menciptakan

siasat lain setelah pasukan-pasukan jagabaya dihancurkan.

Dalam rangka siasat yang besar, diatur pula siasat-siasat

kecil, di antaranya bertujuan untuk menyembunyikan tempat

induk pasukan. Untuk itu, kampung-kampung yang terlalu

dekat dengan benteng alam tidak boleh diganggu. Di samping

itu, kekacauan-kekacauan akan dilaksanakan di dekat kotakota,

hingga balatentara kerajaan akan beranggapan bahwa

gerakan si Colat berpindah mendekati kota-kota setelah

mereka mengirim pasukan ke kampung-kampung. Hal itu akan

membingungkan lawan.

Keesokan harinya, usaha itu mulai dijalankan. Pasukan

dibagi dalam kelompok-kelompok dan berangkat menuju

tempat-tempat yang ditentukan sebelumnya. Akan tetapi,

suatu pasukan besar berangkat ke arah lain, yaitu untuk

menghadang jagabaya yang dikabarkan mendatangi wilayah

itu.

Si Colat tinggal di puncak bukit itu. Ia menerima laporan

setiap hari dari para penunggang kuda yang datang berduadua

dari segala jurusan.

Pada suatu pagi, si Colat berkunjung ke gubuk yang khusus

disediakan untuk Banyak Sumba.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Raden, pasukan jagabaya yang seratus lima puluh orang

itu sudah berada di sekitar Kampung Murugul. Pasukanpasukan

kita sudah siap di sekitarnya. Saya harus berangkat

ke tempat itu untuk memimpin penyerangan. Karena di sini

tidak ada pemimpin sama sekali dan Raden satu-satunya

orang yang dapat saya percaya, terpaksa saya meminta

kepadamu untuk tinggal di sini dan mengawasi pengaturan

serta menerima berita dari daerah-daerah.”

“Berapa jauh Kampung Murugul dari sini, Kakanda?”

“Dua hari perjalanan Raden, jadi saya akan berada kembali

di sini dalam waktu lima hari,” kata si Colat. Mendengar

perkataan si Colat itu, sebenarnya Banyak Sumba merasa

lega. Bagaimanapun, ia tidak bermaksud bertempur melawan

para jagabaya yang tidak punya persoalan dengan dia. Ia

hanya bermaksud berkelahi melawan Anggadipati. Dan

kalaupun saat itu ia bersama si Colat, hal itu dilakukan dengan

harapan pada suatu hari Anggadipati terpaksa akan diperintah

mengatur penyerangan terhadapsi Colat. Ketika itulah ia

menghadapi Anggadipati.

“Kalau memang tidak ada orang lain yang dapat Kakanda

tugaskan di sini, apa boleh buat,” kata Banyak Sumba.

Si Colat memandang Banyak Sumba untuk beberapa saat,

kemudian berkata, “Di samping itu, saya pun tak hendak

melibatkan kau dengan persoalan saya ini, Raden. Kau tidak

punya kewajiban untuk ikut menghadapi mereka itu.”

Banyak Sumba tidak tahu bagaimana ia harus berkata.

Kemudian, ia segera mengisi keheningan, “Baiklah, jadi saya

akan mengurus di sini dan menerima berita-berita dengan

Raden jimat.”

“Tapi, Jimat mau ikut, Raden.”

“Kakanda, bukankah itu sangat berbahaya?” tanya Banyak

Sumba. Ia gelisah. Kalau Raden jimat ikut, tentu ia sendiri

akan malu kalau tidak ikut.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Tidak, Raden. Ia akan bersama saya tinggal di puncak

bukit, di tempat mengatur siasat. Kalau ada sesuatu yang

terjadi, dan itu tidak mungkin, kami sudah mempunyai jalanjalan

dan cara-cara meloloskan diri.”

Banyak Sumba merasa lega karena hal itu berarti bahwa

kepergian si Colat ke medan perang bukan untuk bertempur,

tetapi untuk mengatur pertempuran. Ia segera berkata,

“Baiklah, Kakanda. Saya akan menunggu Kakanda di sini

hingga tiba kesempatan saya untuk bertempur, nanti di

Kutabarang.”

“Ya, Raden,” kata si Colat sambil tersenyum. Setelah itu,

pembicaraan hanya mengenai soal-soal kecil, kemudian

mereka pun berpisah. Si Colat bersiap-siap untuk berangkat,

sementara Banyak Sumba menghubungi anak buah si Colat

yang tidak berangkat untuk menyampaikan perintah.

KETIKA si Colat tidak ada di tempat, tak banyak pekerjaan

yang harus dilakukan. Banyak Sumba hanya berpindah

tempat, yaitu ke gubuk terbesar. Di sana, ia menerima para

penyelidik yang berdatangan dari waktu ke waktu untuk

menyampaikan laporan. Semua laporan umumnya hampir

sama, yaitu mengenai bertambah sukarnya mendapat

perbekalan karena kampung-kampung mulai diduduki oleh

jagabaya.

“Harap disampaikan kepada Juragan bahwa kampungkampung

sekarang merupakan benteng yang bukan saja tidak

lagi menjadi sumber perbekalan pasukan, tetapi juga menjadi

benteng yang disebarkan lawan untuk mengepung kita.”

Dari laporan-laporan yang diterimanya itu, Banyak Sumba

dapat membayangkan keadaan yang dihadapi si Colat. Karena

keangkuhannya, akhirnya kerajaan memutuskan untuk

memberinya pelajaran. Si Colat benar-benar dikepung, tidak

hanya diancam.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Banyak Sumba mengambil kesimpulan bahwa tidaklah tepat

untuk melawan kerajaan dengan mempergunakan pasukan

yang besar. Untuk menghantam kerajaan, akan lebih

bijaksana kalau mempergunakan sepuluh orang puragabaya

yang paling baik. Tapi, tentu saja mempergunakan

puragabaya tidak mungkin karena para puragabaya adalah

mereka yang menyerahkan hidupnya untuk kerajaan. Jadi,

sebaiknya si Colat mempergunakan orang-orang yang dididik

dalam keperwiraan hingga mencapai tingkat kepuragabayaan.

Demikianlah pikiran Banyak Sumba menerawang selagi ia

duduk di tengah-tengah gubuk besar, seraya menanti anak

buah si Colat yang datang dari waktu ke waktu membawa

berita.

Tiba-tiba, bertanyalah ia dalam hati, “Mengapa si Colat

melakukan suatu hal yang tidak bijaksana, yaitu dengan

membina suatu pasukan besar?” Pertanyaan yang muncul

dengan tiba-tiba itu mengherankan dirinya sendiri.

Bagaimanapun, tindakan si Colat dengan membuat pasukan

yang besar benar-benar tidak bijaksana, kalaupun tidak dapat

dikatakan sia-sia. Yang jelas, tidak ada gunanya kalau hanya

untuk membalas dendam terhadap keluarga Tumenggung

Wiratanu. Apakah si Colat memiliki tujuan lain? Banyak Sumba

mulai curiga.

Sementara ia masih termenung demikian, datanglah

penunggang kuda dua orang, yang langsung dibawa oleh

penjaganya.

“Kami dari wilayah barat, Juragan,” kata kedua orang

penunggang kuda itu.

“Laporankanlah segalanya, nanti saya sampaikan kepada

majikan kalian,” sambut Banyak Sumba seraya mengeluarkan

beberapa helai lontar dari kotaknya, kemudian mulai bersiap

untuk menulis. Kedua penunggang kuda itu secara saling

melengkapi menerangkan keadaan yang dihadapi pasukan si

Colat di daerah barat.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Ternyata, keadaan di dekat Pakuan Pajajaran tidaklah

seburuk di tempat-tempat lain. Kampung-kampung

pegunungan yang sukar dicapai oleh para jagabaya terpaksa

masih memberikan makanan kepada pasukan si Colat. Sikap

melawan tidak tampak di sana. Rupanya, orang-orang Pakuan

Pajajaran sudah mengetahui bahwa si Colat masih jauh.

Pengepungan lebih tepat dilakukan di tempat yang benarbenar

berada di sekitar persembunyian si Colat.

“Baiklah,” kata Banyak Sumba, “tidak ada lagi?”

Sebelum kedua penunggang kuda itu menjawab, di luar

terdengar ribut-ribut. Banyak Sumba mengangkat kepalanya,

seorang badega masuk, lalu berkata, ‘Juragan Anom, ada

utusan yang hendak melapor, tapi ia luka. Ia hampir

meninggal dan tidak mungkin di bawa ke sini.”

Banyak Sumba memberi isyarat kepada kedua tamunya,

lalu ia bangkit dan bergegas ke luar.

Dibaringkan di atas helai kulit kambing, seorang anak buah

si Colat yang sudah berumur, sedang berjuang melawan

malakal maut.

Dari pakaian yang basah, Banyak Sumba tahu bahwa ia

luka parah.

“Seorang penduduk kampung melemparkan tombak

kepadanya ketika ia lewat dijalan di bawah bayangan

pagarnya,” kata temannya yang lebih muda.

“Mengapa tidak dibawa ke dalam ruangan agar diurus?”

tanya Banyak Sumba. “Laporan dapat ditangguhkan dulu,”

sambungnya.

“Ia mau menyampaikan sesuatu kepada Juragan Colat.

Ketika diberi tahu Juragan Colat tidak ada, ia meminta Juragan

Anom.”

Banyak Sumba berlutut, lalu berkata kepada orang tua itu,

“Paman, saya wakil Juragan Colat.”

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Orang tua itu membuka matanya, memandangnya dengan

teliti, lalu berusaha berkata, tetapi kemudian matanya

dipejamkan kembali. Sambil terpejam ia berkata, “Saya sudah

katakan dulu adanya

Banyak Sumba dengan sabar menunggu lanjutan kata-kata

itu. Orang tua itu membuka matanya, kemudian berkata, lagi,

“… kalau keluarga Tumenggung Wiratanu sudah habis,

sudahlah. Kerajaan terlalu kuat untuk direbut… dan sang

Prabu adalah pilihan Sang Hiang Tunggal… katakan

kepadanya.”

“Ya,” kata Banyak Sumba, walaupun ia tidak yakin akan

apa yang ditangkapnya dari kata-kata orang yang menghadapi

kematian itu.

Setelah itu, orang tua tersebut tidak berkata apa-apa lagi.

Banyak Sumba memerintahkan agar orang yang terluka itu

dibawa ke gubuk terdekat. Ia sendiri berdiri untuk beberapa

lama, memandang ke arah para badega yang menggotong

orang itu dengan hati-hati.

Waktu Banyak Sumba sudah berada kembali dalam gubuk

besar, seorang badega datang memberi tahu bahwa orang

terluka itu sudah meninggal. Banyak Sumba pun segera

mengurus hal-hal yang berhubungan dengan upacara

pembakaran jenazahnya.

Malam itu, setelah larut sekali, Banyak Sumba baru dapat

tidur. Tetapi, ia terbangun subuh-subuh benar. Sekeliling

tempat itu sepi sekali, hanya kadang-kadang dari arah hutan

rimba terdengar aum harimau atau teriakan binatang lain.

Banyak Sumba mencoba tidur kembali, tetapi pikirannya

melayang ke arah peristiwa siang harinya.

‘Juragan,Juragan,” tiba-tiba terdengar orang memanggil

dari luar. Banyak Sumba membuka pintu, lalu memandang

kepada dua orang badega yang berdiri dalam remang-remang

subuh.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Ada apa?”

“Tewas, Juragan Anom.”

“Apa?”

“Raden Jimat gugur.”

“Raden Jimat?!” tiba-tiba Banyak Sumba berseru. Berita itu

datang bagaikan sebuah tinju besar menghantam kepalanya.

“Ya, kena anak panah.”

“Apakah ia ikut bertempur?” tanya Banyak Sumba.

“Tidak. Pertempuran berjalan dengan baik, kita membunuh

dan menawan anggota-anggota pasukan jagabaya itu.”

“Lalu?”

“Ketika pasukan kita pulang, kami lewat di sebuah

kampung. Ketika itu, Juragan Colat ingin mengetahui

kesetiaan kampung itu dan menyuruh sebagian pasukan

mendekatinya. Tiba-tiba, dari atas pohon-pohonan anak panah

datang bagaikan hujan. Salah satu menyelusup di sela-sela

baju zirah Radenjimat dan mengenai paru-parunya.

Radenjimat meninggal tidak lama kemudian.”

“Saya akan pergi ke sana sekarang juga!” kata Banyak

Sumba. Kesedihan mendesak dalam kalbunya.

“Kami diperintahkan untuk mengambil pakaian dan semua

senjata Raden jimat. Upacara pembakaran mayat akan

dilakukan di kampung itu juga.”

Banyak Sumba membantu kedua utusan itu mengambil

pakaian dari senjata Raden jimat. Sambil memegang pakaian

anak itu, air matanya menitik tidak tertahankan. Segala

kenangan dengan anak itu terungkap kembali ketika helai

demi helai pakaiannya diambil dari dalam peti. Ia dapat

membayangkan betapa remuk hati si Colat oleh peristiwa itu.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Setelah menyerahkan tugas kepada badega yang tertua

dan menitipkan berbagai pesan, bersama sepuluh orang

anggota pasukan, Banyak Sumba berangkat menuju tempat

akan dilaksanakan upacara pembakaran. Sepanjang hari,

Banyak Sumba dengan pengiringnya memacu kuda mereka.

Ternyata, kampung itu berada sehari perjalanan dari bukit

persembunyian mereka.

Ketika matahari turun, barulah mereka sampai. Untung

ketika itu upacara penyucian jenazah baru selesai dilakukan

dan orang sedang membungkuskan kain putih sebagai baju

kematian Radenjimat.

Banyak Sumba menyentuh jenazah sambil tidak dapat

menahan air matanya. Ia tidak berani melihat ke arah si Colat

yang berdiri dekat jenazahnya bagaikan sebuah patung. Ia

ikut membantu para badega dan seorang pendeta yang

memanjatkan doa. Setelah jenazah selesai dipersalinkan,

segala miliknya yang berupa perhiasan dan senjata diletakkan

di sampingnya. Jenazah pun diusung di atas keranda yang

dihias dengan indah ke lapangan yang terletak tidak jauh dari

kampung.

Sepanjang jalan, sambil berdoa, Banyak Sumba melihat

mayat laki-laki bergelimpangan. Ia menyadari bahwa kampung

itu direbut dengan pertumpahan darah. Kemudian, perhatian

Banyak Sumba tertarik oleh unggun pembakaran jenazah yang

disusun tinggi-tinggi di lapangan kecil dekat kampung itu.

Dalam remang-remang senja, tampak susunan unggun seperti

sanggar pemujaan.

Pasukan berkeliling sekitar unggun, kira-kira jarak sepuluh

langkah darinya. Jenazah diusung oleh empat orang badega

dibawa ke arah unggun. Di depan jenazah, berjalan pendeta

menabur-naburkan bunga seraya menyanyikan doa. Di

sekeliling tempat itu hening belaka.

Tiba-tiba, Banyak Sumba melihat sesuatu yang aneh dalam

remang-remang cahaya sore itu. Beberapa bagian unggun itu

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

bergerak-gerak. Ketika Banyak Sumba menajamkan

pandangannya, tampaklah sesuatu yang mengejutkan dan

menyeramkan bulu ramanya.

Ternyata, berselang-selang dengan kayu samida sebagai

kayu pembakaran itu, terdapat pula manusia yang diikat satu

sama lain, seperti juga kayu bakar. Segera Banyak Sumba

menyadari bahwa mereka itu adalah penduduk kampung yang

menyebabkan kematian Raden Jimat. Menyadari hal itu,

gemetarlah seluruh tubuh Banyak Sumba. Ia makin

menajamkan matanya. Ia ragu-ragu, apakah manusia yang

bercampur dengan kayu bakar itu semua laki-laki atau juga

termasuk perempuan. Ini pikiran dan dendam orang gila, pikir

Banyak Sumba. Ini tidak boleh terjadi. Sang Hiang Tunggal

akan mengutuk seluruh Pajajaran, termasuk dirinya, kalau

peristiwa yang buas itu terjadi. Betapapun hatinya merontaronta,

kakinya seolah-olah terpaku pada tanah. Ia hanya

gemetar dan tidak dapat berbuat apa-apa. Juga ketika

seorang badega berjalan dengan obor besar, menuju

tumpukan kayu samida dan manusia yang telah disirami

dengan minyak kelapa itu. Tubuh Banyak Sumba berguncang,

hatinya berontak, tetapi badannya seperti membeku di

tengah-tengah keheningan itu.

Tiba-tiba, sesuatu terjadi. Dari arah tumpukan kayu dan

manusia itu, terdengar suara kecil. Mula-mula tidak jelas,

kemudian makin lama makin keras. Tangisan bayi. Tangisan

bayi itu makin lama makin keras. Banyak Sumba

mendengarnya dan tiba-tiba ia menyadari bahwa itu tangisan

bayi manusia yang mewakili seluruh kemanusiaan yang

hendak diperiakukan dengan buas. Mendengar tangisan bayi

di dalam tumpukan kayu bakar itu, berkunang-kunanglah

mata Banyak Sumba.

Ia melihat badega yang membawa obor besar berjalan dan

hendak menyulut unggun besar itu. Tiba-tiba, tangisan bayi itu

melengking bertambah nyaring. Hati banyak Sumba berontak,

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

melonjak, dan tercabutlah kakinya dari bumi. Ia menghambur

ke depan, ke arah pembawa obor itu.

“Tidak. Tidak. Jangan!” katanya sambil berlari. Ia

menangkap obor itu, lalu membantingnya ke tanah dan

memijak-mijak nyalanya hingga padam. Ia berpaling kepada si

Colat, hendak mengatakan sesuatu, “Kakanda!” serunya

tersendat.

Yang dilihatnya adalah ujung-ujung tombak menuju

dadanya.

“Jangan, mari kuhabisi,” kata si Colat kepada anak buahnya

yang menodongkan tombak kepada Banyak Sumba.

Secepat kilat, si Colat mencabut trisula yang tersembunyi di

balik ikat pinggang kain lebar. Ia melangkah menuju Banyak

Sumba. Banyak Sumba mundur, “Kakanda,” katanya berbisik.

Ia melihat mata si Colat memandang kepadanya dengan

cahaya lain. Banyak Sumba mundur. Tapi karena kebiasaan

sebagai perwira, ia menangkap gerak kedua kaki si Colat. Ia

mundur, tapi ia pun meraba kedua trisulanya yang juga

terselip di bawah ikat pinggang kulit harimau tutulnya. Ia

mundur dan tiba-tiba si Colat menghambur.

Banyak Sumba melihat obor. Ia menyangka obor itu obor

lain untuk menyalakan api unggun pembakaran. Ia mengambil

risiko. Ia mencegat gerakan si Colat dengan melanggar kaidah

perkelahian puragabaya.

Ia mencegat gerakan si Colat itu dan menyusul dengan

serangan putus asa karena ingin segera melepaskan diri dari

perkelahian dan mencegah orang memulai pembakaran

jenazah itu. Suara daging robek dan tulang yang patah

terdengar, kemudian dia dan si Colat sama-sama terpelanting.

Rasa sakit yang amat sangat menusuk seluruh tubuh Banyak

Sumba. Dengan pandangan berkunang-kunang, ia melihat si

Colat terhuyung menuju kepadanya dengan kedua trisula di

tangannya. Banyak Sumba bersiap dan ketika mereka

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

bertubrukan, tiba-tiba pandangan Banyak Sumba menjadi

gelap. Ia hanya mendengar teriakan-teriakan, kemudian

segalanya gelap dan sunyi.

-ooo00dw00ooo-

Bab 13

Jasik

Setelah waktu yang ditetapkan tiba, dan Banyak Sumba

tidak muncul dari arah Padepokan Sirnadirasa, Jasik

mengambil kesimpulan Banyak Sumba meloloskan diri ke arah

lain. Ia tidak percaya kalau majikannya dapat dikalahkan calon

puragabaya yang akan dipancingnya untuk berkelahi. Ia pun

tidak percaya kalau Banyak Sumba sampai tertangkap oleh

para siswa Padepokan Sirnadirasa. Pertama, karena bagi Jasik,

Banyak Sumba seorang perwira yang tidak mungkin

dikalahkan, bahkan oleh seorang puragabaya sekalipun.

Kedua, karena berulang-ulang Banyak Sumba mengatakan

kepadanya bahwa ilmu keperwiraan di Padepokan Sirnadirasa

itu tidak lengkap, walaupun sangat ampuh.

Oleh karena itu, ketika Banyak Sumba tidak muncul juga di

tempat yang sudah dijanjikan, Jasik tidak cemas. Ia

berlindung di dalam hutan di tepi jalan bercabang itu. Ia

menyembunyikan diri dengan dua ekor kuda yang dibawany.i,

yang seekor kudanya sendiri, yang lain kuda Banyak Sumba

Akan tetapi, sampai hari panas, majikannya tidak d.u.mg

juga. Ia mulai gelisah. Berulang-ulang ia berpaling ke aroli

jalan yang datang dari Padepokan Sirnadirasa. Tiba-tiba, lam

paklah olehnya tiga orang penunggang kuda yang masih mite

l.i muda. Jelas, mereka para siswa Padepokan Sirnadirasa. Jas

i k mengundurkan diri ke dalam semak-semak sambil

mengintip mereka. Mereka melarikan kudanya cepat-cepat

seraya bercakap-cakap. Terdengar olehjasik, salah seorang

berkata, “la lari ke dalam hutan ke puncak gunung itu. Ia

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

masuk Hutan Larangan setelah beberapa orang dipukulnya.

Tapi, tangannya terkilir juga. Mungkin ia akan keluar dari

Hutan Larangan itu, kemudian merayap ke jalan besar. Kita

perlu mencarinya di Kutabarang.”

Jasik tertawa mendengar percakapan para penunggang

kuda itu. Ia membayangkan bagaimana majikannya memukul

dan menyepak para siswa Padepokan Sirnadirasa itu. Akan

tetapi, ia cemas juga ketika ia mendengar Banyak Sumba

terkilir tangannya. Kemudian, Jasik berpikir. Ia tahu bahwa

Banyak Sumba sangat cerdik. Ia akan masuk kampung,

membeli kuda, lalu berangkat ke Kutabarang. Jadi, Jasik tidak

usah menunggunya karena seperti diceritakan oleh

penunggang kuda dari Padepokan Sirnadirasa itu, majikannya

masuk Hutan Larangan. Dan, itu sebelah barat Padepokan

Sirnadirasa atau sebelah selatannya. Artinya, Banyak Sumba

tidak akan mengambil jalan yang sesuai dengan yang

dijanjikannya. Lebih baik, Jasik menunggu di Kutabarang, di

Perguruan Gan Tunjung. Maka, berangkatlahjasik sambil

mengendarai kudanya mengikatkan kendali kuda Banyak

Sumba ke pelana.

Tanpa tergesa-gesa, Jasik melarikan kudanya ke arah

Kutabarang. Ia tidak takut kemalaman karena ia tahu jalan

memotong. Pada suatu kampung, dilihatnya pula dua orang

siswa Padepokan Sirnadirasa memacu kuda menuju arah

Kutabarang. Dan ketika Jasik berhenti memberi minum

kudanya di kampung itu, peristiwa yang terjadi dengan

majikannya sudah diketahui orang. Jasik pura-pura tidak tahu

apa-apa tentang segala yang terjadi. Kemudian, ia bertanya

kepada pedagang makanan tempat ia singgah.

“Seorang siswa Padepokan Sirnadirasa karena begitu keras

keinginannya untuk menguasai ilmu kepuragabayaan telah

menyerang calon puragabaya yang datang ke sana.

Perkelahian terjadi dengan sendirinya. Siswa itu ternyata

mahir sekali sehingga kemudian dapat meloloskan diri dari

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

kepungan siswa lain. Orangnya tinggi besar, kulitnya hitam

manis, alisnya tebal, dan matanya jernih sekali. Tingkah laku

dan tutur katanya lemah lembut. Demikian kata siswa-siswa

padepokan yang lewat tadi.”,

“Apa yang harus kita lakukan kalau kita melihat dia?” tanya

Jasik, pura-pura bodoh.

Penunggu warung itu tertawa, lalu berkata, “Kalau dapat

kita menangkapnya, kalau tidak, segera melaporkannya

kepada jagabaya.”

Berabe juga, pikir Jasik. Tapi, ia yakin, majikannya sudah

memperhitungkan segalanya. Jasik tidak lama berhenti, ia

segera melanjutkan perjalanan. Di kampung yang kemudian

dilaluinya, didengarnya pula kisah majikannya dari orangorang

yang berkumpul-kumpul di pertigaan. “Bayangkan,

mula-mula melawan calon puragabaya itu, kemudian ia

melawan tiga puluh orang kawan-kawan sepadepokannya, lalu

masih dapat meloloskan diri. Tentu ia perwira yang luar biasa.

Bagaimana kita dapat menangkapnya?” kata yang seorang

sambil tertawa.

“Bagaimana kalau kita mempergunakan jaring?” tanya

seorang berwajah badut.

“Jaring?”

“Wah, tentu jaringnya harus dipegang oleh lima puluh

orang siswa padepokan,” kata yang lain.

“Bagaimana rupa siswa itu?”

“Pokoknya, ia tidak akan sukar mencari persembunyian

selama di dunia ini banyak gadis,” kata yang berwajah badut.

“Hahaha”kata kawannya, bingung lagi.

“Gadis-gadis akan berbahagia sekali kalau dapat

menyembunyikannya,” kata yang wajahnya seperti badut

reog. Kawan-kawannya memandang ke arah dia, mungkin

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

mereka ingin mendapat hadiah kalau bernasib baik dapat

menemukan dan menunjukkan Banyak Sumba kepada para

jagabaya. Si badut, setelah melihat ke sekelilingnya, berkata,

“Tinggi, berdada bidang, berkulit hitam manis, matanya jernih

sekali, tutur kata dan tindak tanduknya lemah lembut,

senyumnya akan menyebabkan gadis-gadis mabuk kepayang

seperti kebanyakan minum madu. Kalau ia mencoba ilmu

keperwiraannya, seratus orang seperti kita akan lumat seperti

seratus ekor lalat dalam satu pukulan.”

“Berapa hadiah yang akan kita terima kalau dapat

menunjukkannya?” tanya seseorang.

“Tapi, bukankah kewajiban dan kepentingan kita juga

untuk melaporkan orang yang berani mengganggu calon

puragabaya?”

“Ya,” kata si badut, “dan kewajiban kita pula lumat seperti

lalat kalau kita mencoba-coba menangkapnya.”

Jasik meninggalkan orang-orang yang bercakap-cakap itu.

Sekarang, makin jelas apa yang telah terjadi dengan Banyak

Sumba. Ketika seorang diri di tengah-tengah padang antara

dua buah kampung, ia tertawa keras membayangkan apa

yang dilakukan majikannya itu. Ia mempercepat lari kudanya

dan ketika senja tiba, tampaklah bukit tempat Perguruan Gan

Tunjung berada.

Di sana, Jasik memberitahukan apa yang terjadi kepada

Kang Arsim. Kang Arsim tenang-tenang saja. Ia menganggukangguk

tanda mengerti apa-apa yang dilakukan putra

pangerannya.

“Saya tidak takut. Ia akan lebih cemas tentang nasib kita

daripada tentang dirinya,” katanya. Jasik pun, seperti ketika

perpisahannya yang terdahulu dengan Banyak Sumba, mulai

bekerja kembali sebagai pelatih pada Perguruan Gan Tunjung.

Minggu berganti bulan dan bulan pun menjadi tahun.

Akhirnya, berkatalah Kang Arsim kepada Jasik, “Kita tidak

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

dapat tinggal diam, Sik. Semalam saya bermimpi, Den Sumba

datang ke sini. Ia tersenyum kepadaku seraya berkalung

bunga-bungaan. Ketika ia kutanya, ia tidak menjawab.”

“Apakah itu impian buruk atau impian baik, Kang Arsim?”

tanya Jasik. Arsim menyatakan tidak tahu. Kemudian, ia

mengajak Jasik berunding. Ia mengusulkan agar Jasik mencari

keterangan ke Pakuan Pajajaran. Untuk itu, ia menyediakan

segala perbekalan yang diperlukan.

“Sebenarnya, saya bermaksud demikian juga, Kang Arsim.

Akan tetapi, bekal saya sudah tipis sekali.”

“Jadi soalnya selesai, dan besok kau berangkat, Sik.”

Keesokan harinya, kira-kira tengah hari, Jasik sudah berada

di Kutabarang. Ia mencari keterangan tentang seorang siswa

Padepokan Sirnadirasa yang dikabarkan pernah menyerang

seorang calon puragabaya. Akan tetapi, orang-orang sudah

lupa akan peristiwa itu. Bagaimanapun, sudah lama sekali

peristiwa itu terjadi dan perhatian orang sekarang berpindah

kepada berita-berita tentang merajalelanya si Colat.

“Ya,” kata Jasik, “siswa itu dulu menyerang seorang calon

puragabaya yang mendapat tugas memimpin pasukan untuk

memburu si Colat,”

“Saudara dapat menanyakan kepada dia, tetapi banyak

sekali pasukan yang dikerahkan untuk mencari si Colat,” kata

tukang warung.

“Siapakah orang itu, masih ada pertalian keluarga?” tanya

tukang kuda yang ditanyanya.

“Ia majikan saya,” kata Jasik tanpa ragu-ragu. Tukang kuda

itu memandangnya, lalu menggeleng-gelengkan kepala.

Mungkin beberapa belas orang telah ditanyanya, bukan

untuk mencari jawaban yang jelas, melainkan ia ingin

mendapat kabar angin yang mungkin akan memberikan

petunjuk di mana majikannya berada. Namun, akhirnya ia

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

berpendapat bahwa usahanya.sia-sia. Ia harus pergi ke

Pakuan Pajajaran. Ia yakin, Banyak Sumba sudah berada di

sana karena di sanalah Pangeran Anggadipati yang dicarinya

berada. Maka, dilengkapinya perbekalan untuk perjalanan satu

minggu. Ia berulang-ulang masuk pasar, membeli berbagai

perlengkapan untuk perjalanan itu. Dan keesokan harinya,

ketika matahari belum menyembulkan wajahnya, ia sudah siap

di jalan besar Kota Kutabarang, menunggu gerbang kota

dibuka.

Akan tetapi, ketika itu dilihatnya kesibukan yang lain daJ

ripada biasa. Dalam kota, banyak sekali pasukan jagabaya. Di

samping itu, tampak pula pasukan sukarelawan yang

berjumlah lebih besar. Jasik bertanya kepada orang pertama

yang lewat di dekatnya:

“Ada apa begini banyak pasukan bersenjata dalam kota?”

“Di luar kota lebih banyak lagi, Jang. Di sebelah selatan

kota, kau dapat melihat gubuk-gubuk dan kuda mereka,” kata

yang ditanyanya.

“Mau apa mereka berada di sini?”

“Wah, kau belum mendengar seratus lima puluh jagabaya

hilang dalam hutan? Si Colat telah memakannya, menelannya

bulat-bulat!” kata orang itu seraya membelalakkan matanya.

Jasik merasa, ia tidak akan mendapat jawaban yang jelas

dari orang itu. Maka, ditanyanya orang lain. Akhirnya, dapat

disusunnya suatu gambaran tentang apa yang terjadi di

belakang peristiwa berkumpulnya pasukan itu. Seratus lebih

orang jagabaya ditugaskan untuk mencari si Colat. Pasukan ini

tidak kembali pada saat yang sudah ditentukan, padahal

pasukan ini tidak mungkin tersesat. Kerajaan memutuskan

bahwa pasukan ini telah dihancurkan atau sekurangkurangnya

diikat oleh pasukan si Colat di suatu tempat. Oleh

karena itu, diputuskan untuk mengirim pasukan lain yang lebih

besar.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Akan tetapi, menurut kabar, Pangeran Anggadipati

menyampaikan usul yang lain. Puragabaya sangat termasyhur

ini secara sukarela mengusulkan agar ia diserahi pimpinan

pasukan kecil yang akan mencari jejak para jagabaya yang

hilang itu. Anggota-anggota pasukan adalah para jagabaya

pilihan, sukarelawan yang terdiri dari para pemuda dari

berbagai perguruan keprajuritan dan beberapa orang

puragabaya serta calon puragabaya. Pasukan yang ada di

Kutabarang besar sekali jumlahnya. Pasukan tersebut, tidak

termasuk pasukan Pangeran Anggadipati, tetapi pasukan yang

akan bertugas di kampung-kampung. Menurut berita, si Colat

dengan pasukannya telah memperlakukan penduduk kampung

dengan kasar dan kejam.

Mendengar berita itu, tertegunlah Jasik. Majikannya pernah

mengatakan bahwa ia akan berusaha untuk bertemu dengan

Pangeran Anggadipati. Ia akan membuntutinya ke mana pun.

Bukankah majikannya akan mempergunakan kesempatan

yang sangat baik, yaitu bertemu di medan pertempuran? Jasik

tiba-tiba saja mendapat pikiran, siapa tahu Banyak Sumba

telah menggabungkan diri dengan si Colat. Pertama, memang

telah berulang-ulang dikatakannya kepadajasik bahwa si Colat

berilmu sangat tinggi. Oleh karena itu, sebelum menghadapi

Anggadipati, Banyak Sumba ingin sekali belajar kepada orang

ini.

Kedua, si Colat sedang dikejar-kejar pasukan kerajaan,

termasuk Pangeran Anggadipati. Dengan pikiran seperti itu,

Jasik pun memutuskan untuk menggabungkan diri dengan

para sukarelawan yang akan mencari jejak para jagabaya

yang hilang itu.

Dicarinya keterangan. Akhirnya, ia sampai di gubuk tempat

Pangeran Anggadipati berada. Akan tetapi, ketika Jasik

menghadap, Pangeran Anggadipati sedang menghadapi

penguasa Kota Kutabarang. Jasik diterima oleh seorang

puragabaya muda yang dipanggil Rangga.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Saudara terlambat,” kata puragabaya itu dengan wajah

yang memperlihatkan penyesalan, ‘Akan tetapi, Saudara dapat

menggabungkan diri dengan pasukan lain yang tugasnya lebih

ringan. Umumnya, para pemuda menggabungkan diri dengan

pasukan kedua, yaitu yang bertugas melindungi kampungkampung,”

kata purabaya itu melanjutkan.

“Sebenarnya, saya hendak mencari saudara saya,” ujar

Jasik berdusta dengan harapan puragabaya itu salah

mengerti.

“O,” ujar puragabaya itu, “memang beberapa orang

anggota pasukan adalah ipar atau saudara jagabaya yang

hilang itu,” kata puragabaya itu. Kemudian, ia termenung,

“Tapi Anom telah memutuskan, lima puluh orang adalah batas

jumlah pasukan kita ini,” puragabaya itu kemudian

memandang kepada Jasik untuk beberapa lama.

“Saudara siswa perguruan mana?” tanyanya seraya melihat

ke arah otot-otot Jasik.

“Saya pelatih di Perguruan Gan Tunjung, sebelah selatan

Kutabarang,” jawab Jasik.

“Sayang. Banyak siswa yang datang dari perguruan yang

kurang terkenal daripada perguruan Saudara, tetapi mereka

datang lebih dulu!”

Puragabaya itu termenung lagi, tampaknya ia ingin sekali

membantu Jasik. Setelah beberapa lama, ia berkata lagi,

“Mungkin Saudara harus datang kembali ke sini, menghadap

Anom. Maksud saya, menghadap Pangeran Anggadipati,

panglima pasukan ini.”

“Kalau tidak ada tempat sebagai prajurit, barangkali saya

dapat mengerjakan hal-hal lain. Saya pandai mengurus kuda

dan tahu sedikit ilmu obat-obatan serta ilmu otot dan tulang.”

Rangga, puragabaya itu tersenyum, lalu berkata. “Bagus,

mengapa tidak dikatakan dari tadi?” katanya. Ia memberi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

isyarat kepada salah seorang sukarelawan yang bertugas jaga

di ruangan itu, “Paman Minda, apakah beliau ada di sana?”

Sukarelawan itu memberi hormat, lalu keluar.

“Kami membutuhkan orang seperti Saudara, bukan

pengurus kuda, tetapi yang tahu obat-obatan dan mengurus

luka atau sendi terkilir,” kata puragabaya itu.

Ketika itu, masuklah seorang puragabaya setengah baya

yang segera dipersilakan oleh Rangga. “Paman Minda, ini

Saudara…”

“Jasik,” ujar Jasik.

“Ini Saudara Jasik, tahu obat-obatan dan cara-cara

meramunya, bukan?” tanya Rangga. Jasik mengangguk.

“Ia tahu cara membetulkan tulang-tulang dan otot-otot

yang terkilir. Kita membutuhkannya, tapi pasukan sudah lima

puluh orang. Bagaimana pendapat Paman?” -

“Memang saya membutuhkannya,” kata Paman Minda.

“Tunggulah di sini sampai Anom datang,” lanjut puragabaya

setengah baya itu.

“Kau sangat saya butuhkan. Kita ini bukan saja butuh juru

obat-obatan untuk pasukan, tetapi orang-orang kampung pun

banyak yang luka. Banyak pekerjaan ramu-meramu,

sedangkan tenaga ahli sangat kurang dalam soal itu. Kita pun

harus mencari akar-akaran dan daun-daunan dalam hutan,

karena kalau membawa dari kota, berapa banyak harus kita

bawa? Berapa ekor kuda yang harus kita sediakan?” kata

Puragabaya Minda itu.

Jasik pun disuruh menunggu. Sore itu, Pangeran

Anggadipati tiba. Mereka berunding sebentar, kemudian

ketiga-tiganya, yaitu Rangga, Pangeran Anggadipati, dan

Paman Minda datang ke tempat Jasik menunggu.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Kau boleh ikut pasukan kami, Anak Muda,” kata Paman

Minda.

Jasik merasa lega dan pandangannya segera tertuju

kepada Pangeran Anggadipati yang selama ini telah hidup

dalam khayalnya. Seorang bangsawan yang berumur antara

dua puluh tujuh dan tiga puluh tahun ini tampak menyorotkan

wibawa yang besar dari air muka dan gerak-geriknya yang

halus.

“Rangga mendukung usulnya karena melihat otot-ototmu,

juga karena kau tahu mengurus kuda dan mengobati orangorang,

sedangkan Anom ini lebih memikirkan nasibmu sebagai

orang yang kehilangan saudara,” kata Paman Minda.

“Terima kasih,” ujar Jasik seraya pandangannya tidak lepas

dari Pangeran Anggadipati yang tersenyum kepadanya.

“Begitu tampan, begitu sempurna dalam gerak-geriknya

sebagai kesatria Pajajaran, begitu berwibawa. Mungkinkah

orang ini memendam maksud yang begitu jahat terhadap

wangsa Banyak Citra?” demikian Jasik berkata-kata dalam

hatinya. Ia pun sekarang mengerti, mengapa majikannya,

Banyak Sumba, dulu tidak jadi melemparnya dengan pisau

beracun itu.

“Pekerjaanmu akan berat sekali, Saudara,” tiba-tiba

Pangeran Anggadipati berkata. “Tidak diketahui berapa

banyak jagabaya yang luka dan juga orang-orang kampung,”

lanjutnya, “Oleh karena itu, kedatanganmu sungguh-sungguh

suatu anugerah bagi kami.”

“Paman Minda akan senang sekali mendapat bantuan

tanganmu,” lanjutnya.

Ketika itu, beberapa orang puragabaya lagi datang.

Walaupun mereka berpakaian hitam, tampak dari gerak-gerik

mereka bahwa mereka kawan-kawan Pangeran Anggadipati.

Pangeran Anggadipati minta diri, lalu menghilang dari ruangan

itu. Jasik diajak Paman Minda ke gubuknya. Di sana terdapat

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

berbagai alat pengolah obat-obatan dan kantong-kantong kulit

yang penuh dengan berbagai macam ramuan.

“Kau tahu tentang daun-daunan yang berkhasiat, bukari?”

“Ayah saya juru obat juga dan sejak kecil saya biasa

membantunya.”

“Bagus,” kata Paman Minda, “Tapi perlu kau ketahui, Anak

Muda, kita akan banyak sekali membetulkan tulang-tulang

yang terkilir, terutama dari pasukan lawan. Siapa tahu kita

akan membetulkan tangan si Colat yang terkilir nanti, atau

tulang belikatnya. Mudah-mudahan, anak-anak tidak usah

merusak atau melukainya, kecuali si Colat ini sudah benarbenar

gila.”

Sementara itu, Paman Minda mulai mengurus ramuanramuan.

Jasik membantunya. Paman Minda terus berkata-kata

dan dari kata-katanya itu, Jasik mengambil kesimpulan bahwa

pasukan yang dipimpin oleh Pangeran Anggadipati itu akan

bertindak sebagai pasukan pemukul, yang menyerang

langsung ke pusat persembunyian si Colat. Ini dimaksudkan

agar kerajaan tidak kehilangan jagabaya lebih banyak dan

agar persoalan si Colat segera diselesaikan.

Jasik menganggap cara pengepungan dengan

mempergunakan sedikit puragabaya ini adalah cara

pengepungan yang baik. Bukan saja korban tidak akan terlalu

banyak jatuh dari kedua pihak, melainkan kampung-kampung

pun akan ikut terlindung dari bahaya pertempuran. Sungguh

buah pikiran yang sangat baik dari Pangeran Anggadipati, pikir

Jasik. Dan, ia mulai membayangkan kembali pangeran yang

mengagumkannya itu. Sementara itu, ia terus membantu

Paman Minda memilih daun-daun terbaik untuk obat.

SETELAH tiga hari Jasik berada di perkemahan pasukan,

pasukan pun berangkat menuju hutan di sebelah selatan

Kutabarang, antara Kutabarang dan Pakuan Pajajaran. Jumlah

anggota pasukan seluruhnya tidak kurang dari seribu orang.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Sebagian besar dikerahkan untuk menduduki kampungkampung

sebagai pelindung rakyat setempat dari gangguan

anak buah si Colat yang merajalela. Sebagian lagi akan

mencari jejak si Colat dan menghancurkannya pada saat

pasukan bertemu dengan pasukan si Colat.

Pasukan terdiri dari para sukarelawan perguruan di bawah

pimpinan jagabaya. Pasukan penyerang yang terdiri dari

sukarelawan pilihan dan jagabaya-jagabaya, langsung

dipimpin oleh lima orang puragabaya. Pasukan ini terdiri dari

lima puluh satu orang, panglimanya Pangeran Anggadipati.

Dalam pasukan inilah, Jasik bertugas sebagai pembantu

Puragabaya Minda yang ahli dalam hal obat-obatan dan

mengurus otot-otot serta tulang-tulang yang patah atau

terkilir.

Pasukan berjalan perlahan-lahan, tidak hanya karena jalan

sukar, tetapi juga karena perbekalan yang banyak. Akan

tetapi, gerakan pasukan makin lama makin cepat juga. Lamakelamaan,

pasukan makin kecil karena di setiap kampung

ditinggalkan sebagian. Kampung yang besar biasanya diberi

lima belas sampai dua puluh sukarelawan yang bersenjata

lengkap dipimpin seorang atau dua orang jagabaya. Kampung

kecil mendapat lima sampai sepuluh orang sukarelawan

dengan seorang jagabaya sebagai pemimpin. Sukarelawan itu

besar artinya karena penduduk kampung yang bangkit

semangat perlawanannya siap mengangkat senjata di samping

mereka.

Setelah berminggu-minggu masuk hutan keluar hutan,

menyeberangi perhumaan dan beristirahat dari kampung ke

kampung, anggota pasukan tinggal yang lima puluh satu

orang itu. Berbeda dengan pasukan-pasukan lain, pasukan ini

tidak akan menempati kedudukan atau kampung tertentu.

Pasukan ini akan terus-menerus bergerak hingga akhirnya

menemukan dan menyerang pasukan inti si Colat. Itu berarti,

mereka tidak akan beristirahat. Setiap hari, mereka melakukan

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

perjalanan sesuai dengan petunjuk yang diberikan oleh matamata

yang datang dan pergi dari pasukan, atau petunjuk dari

para sukarelawan yang telah lebih dahulu menduduki

kampung-kampung yang ditemukan dalam perjalanan.

Salah satu petunjuk yang dijadikan pegangan pasukan

adalah jejak pasukan yang terdiri dari seratus lima puluh

jagabaya yang dikirimkan dari Kutabarang beberapa bulan

sebelumnya. Mula-mula keterangan tentang pasukan yang

hilang ini cukup banyak diberikan oleh orang-orang kampung,

tetapi makin jauh pasukan masuk ke selatan, makin sukar

mencari jejak pasukan yang hilang itu. Para puragabaya

terpaksa melakukan penyelidikan sendiri. Mereka memeriksa

tanah dan dari tanah itu mereka mencari petunjuk.

Pada suatu hari, Jasik mendengar Pangeran Anggadipati

berkata, “Pertama, para jagabaya itu berpakaian zirah dan

membawa senjata sebanyak-banyaknya beserta perbekalan

lain-lainnya. Itu berarti, tapak kaki kuda mereka akan lebih

dalam daripada tapak kaki kuda pasukan lain. Kedua, ladam

kuda pasukan itu baru karena dipersiapkan lama sebelum

mereka berangkat. Di samping itu, hutan-hutan yang mereka

lewati dan mereka jadikan tempat menginap akan

memperlihatkan daun-daun muda karena mereka akan banyak

memotong dahan-dahan untuk kayu bakar dan keperluankeperluan

lain.”

Dengan cara berpikir demikian itu, pasukan ternyata tidak

tersesat dalam mengikuti jejak pasukan yang hilang itu. Makin

lama, makin banyak keterangan yang didapat dari kampungkampung.

Sementara itu, tanah, hutan, sungai seolah-olah

menunjukkan jalan kepada pasukan Pangeran Anggadipati, ke

mana pasukan itu harus mengejar pasukan yang hilang. Jasik

sangat kagum akan keahlian para puragabaya itu. Sementara

itu, perjalanan makin lama makin masuk hutan belantara.

Jalan-jalan mulai sukar. Sekali-sekali, pasukan harus

membuat jembatan sendiri untuk dapat melintasi sungai dan

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

jurang. Kadang-kadang, berhari-hari mereka tidak bertemu

dengan kampung. Kalau kehabisan bekal, terpaksa mereka

makan daun-daunan muda, atau kalau beruntung, daging

binatang perburuan. Tidak jarang pasukan tidak mendapat

makanan dan minuman sepanjang hari, tetapi tak ada seorang

pun yang mengeluh.

Pada suatu hari, tibalah mereka di sebuah kampung yang

terpencil. Pasukan berhenti dan orang-orang kampung segera

datang menyambut.

“Selamat datang, Juragan. Di kampung kami, ada seorang

jagabaya yang terluka parah. Kami sudah dua hari

menyembunyikannya. Kebetulan Juragan tiba. Di kampung

tidak ada orang yang dapat mengurus orang luka seperti itu.”

Pangeran Anggadipati dengan Paman Minda segera

menengok jagabaya itu. Jasik diminta ikut serta membawa

perlengkapan obat-obatan Paman Minda. Setiba di dalam

sebuah gubuk, terbaringlah di hadapan mereka seorang lakilaki

yang sangat pucat karena banyak mengeluarkan darah

dari luka di dadanya. Paman Minda segera memeriksa luka

jagabaya itu, lalu berkata kepada Pangeran Anggadipati,

“Untung tidak kena racun,” katanya. Kemudian, kepada kepala

kampung yang berdiri di sampingnya ia berkata, “Carikan

madu sebanyak-banyaknya dan kalau kalian menyembelih

binatang, tangguklah darahnya untuk prajurit itu.”

Jasik diminta meramu dan menggodok beberapa macam

tepung, daun-daunan, dan akar-akaran. Jasik segera

mengerjakannya di luar gubuk. Dari dalam gubuk, terdengar

Pangeran Anggadipati bertanya kepada orang yang luka itu:

“Panglimamu bernama Jaya, bukan?”

“Ya,” jawab orang luka itu dengan lemah.

“Baiklah, beristirahatlah. Kau akan segera sembuh,” lanjut

Pangeran Anggadipati.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Sore itu dan dua hari selelahnya, pasukan beristirahat di

kampung itu. Bukan saja memang pasukan sudah sangat

kelelahan dan kehabisan bekal, tetapi Pangeran Anggadipati

memutuskan untuk menunggu hingga jagabaya itu cukup

kuat. Maksudnya agar dapat memberikan keterangan panjang

lebar tentang apa yang terjadi terhadap pasukannya. Pada

hari ketiga, jagabaya itu sudah dapat bangun dan duduk.

Dari keterangan jagabaya itu diambil kesimpulan bahwa

pasukan yang terdiri dari seratus lima puluh orang itu

dihancurkan oleh pasukan si Colat. Mula-mula, pasukan

diserang dari depan oleh kira-kira lima puluh orang anggota

pasukan si Colat. Pasukan berkuda mengejar musuh dan

memasuki suatu lembah yang sempit. Tiba-tiba, mulut lembah

tertutup oleh ikatan-ikatan ranting yang digelundungkan dari

tebing bukit sebelah menyebelah. Tak lama kemudian,

berkobarlah api besar di mulut lembah, sementara pasukan

berkuda terkurung di dalamnya. Ketika itulah, tampak oleh

pasukan jagabaya bagaimana dari bukit-bukit sekeliling

lembah, bagaikan semut, muncul pasukan si Colat dengan

panah, tombak, dan pelanting.

Pasukan jalan kaki jagabaya maju dan bermaksud

memadamkan api yang menutup mulut lembah tempat

pasukan berkuda terkurung. Akan tetapi, baru saja mereka

mencoba menarik dan memisahkan gulungan ranting-ranting

yang berminyak dan berkobar-kobar itu, menderulah sekeliling

mereka pasukan berkuda si Colat dengan pedang terhunus.

Dalam keadaan kalang kabut itulah, penderita terluka dadanya

oleh pedang dan jatuh tak sadarkan diri. Ia sadar malam hari

dan melihat bagaimana mayat teman-temannya diperebutkan

oleh segerombolan besar serigala, harimau, dan binatang buas

lainnya. Ia berusaha menghindar dan memanjat pohon.

Keesokan harinya, ia berjalan dan tiba di kampung terdekat,

kemudian pingsan di depan -lawang kori.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Sempatkah engkau melihat atau mengetahui adanya si

Colat di antara musuh?”

“Ya, jelas sekali. Ia berdiri di puncak bukit, di antara

beberapa orang pembantu utamanya, di samping seorang

yang membawa panji-panji. Panglima kami berseru, serbu

bukit itu, tetapi ia tidak pernah kelihatan lagi karena kami

sudah benar-benar terkepung dengan rapi,” jawab jagabaya

itu.

“Kalau begitu, sudah tiga hari si Colat meninggalkan tempat

ini,” kata Pangeran Anggadipati.

“Lebih satu hari,” kata jagabaya itu.

“Kita terpaksa melakukan perjalanan malam, Paman Minda,

sekurang-kurangnya saya dengan teman-teman,” kata

Pangeran Anggadipati.

Paman Minda mengangguk-anggukkan kepala, lalu berkata,

“Hati-hatilah.”

Ketika itu juga, Pangeran Anggadipati berangkat dengan

tiga orang puragabaya yang lain, termasuk Rangga. Mereka

mengambil kuda terbaik, mengenakan pakaian hitam-hitam,

membawa tambang kecil, tabung obat-obatan, dan alat lain

yang aneh-aneh yang baru dilihat oleh Jasik. Setelah

segalanya siap, tanpa memerhatikan kelelahan mereka, para

puragabaya itu berangkat.

Keesokan harinya, sisa pasukan dipimpin Paman Minda

bergerak dari kampung itu. Sepanjang jalan, mereka melihat

tanda-tanda sebagai petunjuk yang ditinggalkan para

puragabaya yang berangkat lebih dahulu. Semua petunjuk itu

sangat banyak membantu hingga pasukan dapat bergerak

dengan cepat, walaupun jalan sangat sukar dilalui.

Ketika matahari mulai condong dan hari sangat terik,

pasukan menemukan sebuah kampung yang hancur, mayat

bergelimpangan di sana sini. Pasukan segera bergerak ke arah

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

yang ditunjukkan oleh jejak yang banyak sekali. Baru saja

pasukan bergerak, Paman Minda sudah memerintahkan agar

pasukan merunduk dan menyebar. Kuda-kuda dibawa ke

belakang, senjata disiapkan. Dari jauh, tampak oleh Jasik

sepasukan besar sedang melakukan upacara, entah upacara

apa. Ketika pasukan mereka sedang bersembunyi, muncullah

dari balik semak-semak Pangeran Anggadipati diikuti Rangga.

“Malam ini, kami akan menyerang si Colat. Pasukannya kita

urus besok. Kita akan menyerangnya setelah selesai upacara

pembakaran mayat yang akan mereka lakukan.”

“Apakah penduduk kampung semuanya dibunuh?” tanya

Paman Minda.

“Tampaknya demikian,” ujar Rangga, “kami berusaha

mencari sisa penduduk kampung itu, karena mayatnya tidak

sebanyak yang diperkirakan dari rumah-rumah yang ada

dalam kampung. Kami curiga …,” lanjut Rangga. Akan tetapi,

ia tidak meneruskan kata-katanya. Ia berpaling ke arah musuh

yang jumlahnya banyak sekali yang tampak dalam remang

senja itu.

Ketika mereka berbisik-bisik dalam semak itu, muncullah

puragabaya yang biasa dipanggil Jalu.

‘Anom!” kata Jalu terengah-engah, “Si Colat berkelahi

dengan seseorang yang sebelumnya tidak kita lihat di antara

mereka. Pemuda itu baru saja datang, kemudian

memadamkan api obor yang akan digunakan untuk membakar

jenazah. Kemudian perkelahian terjadi.”

“Hasilnya bagaimana?” tanya Pangeran Anggadipati.

“Ginggi berada di sana, saya diminta memberi tahu Anom.”

“Paman Minda, tunggulah. Mungkin kita harus mengubah

rencana semula,” kata Pangeran Anggadipati, kemudian

menyelinap bersama puragabaya yang biasa dipanggil Jalu itu.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Untuk beberapa lama, Jasik dengan Paman Minda

merunduk saja dalam semak-semak bersama kawankawannya.

Tak lama kamudian, muncullah Ginggi.

“Paman Minda, Anom memerintahkan penyerangan

sekarang juga, selagi si Colat menghadapi kesatria itu.”

Paman Minda memanggil semua jagabaya yang memimpin

kelompok-kelompok kecil, lalu mulai menyanyikan lagu

peperangan “Akeul ku kayu samida”. Nyanyian puragabaya

setengah baya itu meremangkan bulu roma. Seolah

menggelorakan darah dalam nadi Jasik. Para jagabaya mulai

bernyanyi, makin lama nyanyian makin tinggi temponya, dan

tanpa sadar mereka sudah menghambur meneriakkan nama

sang Prabu.

Jasik menghantamkan goloknya ke kanan dan ke kiri, ke

arah pasukan si Colat yang kebingungan dan bercerai-berai

itu. Kebingungan mereka bukan, terutama, karena mereka

tidak siap siaga, tetapi karena si Colat ternyata tidak dapat

memimpin mereka. Tak lama kemudian, pertempuran berhenti

dan pasukan kembali ke lapangan kecil tempat akan dilakukan

upacara pembakaran jenazah salah seorang anggota pasukan

si Colat.

Para jagabaya dan para sukarelawan sibuk mengurus

tawanan dan orang-orang luka, Jasik sibuk di antara mereka

itu. Ia tahu bahwa lawan yang melarikan diri akan kehilangan

semangat untuk menyerang kembali, setelah mendapat

pukulan yang keras itu. Di samping itu, lawan akan sukar

sekali menyatukan diri, setelah dihalau ke dalam hutan dalam

gelap gulita itu. Maka, Jasik pun dengan tenang membantu

para sukarelawan membebat luka-luka tidak peduli apakah

yang terluka itu anggota pasukan sendiri atau anak buah si

Colat.

Selagi ia hendak beristirahat, seorang sukarelawan datang

menyampaikan pesan Paman Minda yang meminta Jasik untuk

membantunya. Jasik segera berangkat. Ia menuju tanah

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

lapang tempat berdiri unggun pembakaran yang tinggi. Ketika

tiba di sana, ia merasa keheranan melihat pembongkaran

unggun itu. Keheranannya bertambah juga ketika dari bawah

tumpukan kayu samida keluar orang-orang yang diikat satu

sama lain. Laki-laki, wanita, kakek-kakek, nenek-nenek, anakanak,

hingga bayi. Mengertilah Jasik bahwa si Colat

bermaksud membakar hidup-hidup orang-orang kampung

dengan jenazah anak buahnya yang tewas itu.

Sungguh buas si Colat ini, pikir Jasik seraya berjalan ke

arah Paman Minda yang berlutut di samping seseorang yang

terbaring di rumput. Rumput itu basah oleh darah yang

tampak hitam di bawah cahaya obor.

“Si Colat sudah dingin, Anom, ia sudah tiada. Tapi, pemuda

ini masih hangat dan pergelangan tangannya berdenyut,

walaupun perlahan,” kata Paman Minda. Pangeran

Anggadipati berlutut memandangi wajah pemuda itu.

“Ketika si Colat hendak mulai membakar kami, pemuda ini

datang mencegah. Si Colat menyerangnya, lalu terjadi

perkelahian singkat, keduanya roboh,” kata kepala kampung

yang baru dilepaskan dari ikatannya.

Orang-orang kampung yang keluar dari bawah tumpukan

kayu samida berkumpul mengelilingi para puragabaya yang

sedang memeriksa mayat si Colat dan tubuh satunya lagi yang

terbaring di dekatnya.

“Ia menyelamatkan jiwa kami dengan jiwanya sendiri,” kata

seseorang. Suara bayi menangis terdengar dari kelompok

orang-orang kampung itu.

“Ia masih hidup,” kata Paman Minda seraya menundukkan

kepalanya, mendengarkan detak jantung di dada pemuda itu.

Ketika itulah, lutut Jasik serasa hendak lepas. Ia melihat, yang

terbaring dan sedang didengarkan detak jantungnya oleh

Paman Minda adalah Banyak Sumba. Hatinya begitu sedih

hingga air matanya tidak tertahan menitik. Ia berjalan, tapi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

lututnya lemah. Ia duduk di rumput, di belakang orang-orang

kampung yang berkumpul.

“Paman Minda, selamatkanlah nyawanya,” kata Pangeran

Anggadipati di tengah-tengah keheningan.

“Hanya Sang Hiang Tunggal yang akan

menyelamatkannya.”

“Kami akan berdoa. Kalau perlu, sepanjang malam kami

tidak akan tidur, kami akan terus berdoa,” kata seorang

kampung

“Kami berutang nyawa kepadanya, ia terlalu baik untuk

mati.”

“Cepat cari pembebat supaya darahnya tidak habis,” kata

Paman Minda. Jasik membuka ikat pinggang kainnya, lalu

berjalan walaupun lututnya masih lemah.

“Buatlah usungan yang rata. Ambil dua buah tombak,

letakkan ranting-ranting lurus atau pedang di atasnya.

Tumpukkan sarung di atasnya, cepat!” Paman Minda berteriak

seperti marah.

Orang sibuk melakukan perintahnya, seolah-olah nyawa

Banyak Sumba bergantung pada mereka itu. Tak lama

kemudian, di samping tubuh Banyak Sumba sudah terbuat

satu usungan yang terdiri dari dua buah tombak yang disilang

dengan ranting-ranting lurus. Di atas ranting-ranting

diletakkan tumpukan kain-kain penduduk kampung.

“Sik, Jasik!” seru Paman Minda. Jasik maju.

“Mari angkat perlahan-lahan! Ingat, kesalahan dalam

mengangkatnya, berarti kematian baginya, hati-hati. Hati-hati!

Perlahan-lahan!” seru Paman Minda.

Tubuh Banyak Sumba dengan hati-hati sekali dipindahkan

ke atas usungan itu. Usungan diangkat perlahan-lahan oleh

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Jasik dan seorang sukarelawan, kemudian mereka bergerak ke

arah kampung.

Sepanjang jalan Jasik menangis, tetapi dalam gelap malam

remang-remang cahaya obor, tidak ada orang yang melihat air

matanya. Banyak Sumba dibaringkan dalam ruangan terbesar

di kampung itu. Orang-orang kampung mula-mula berkumpul

di sana, tetapi Paman Minda mengusir mereka dengan lemah

lembut, “Kesatria ini memerlukan udara bersih, pergilah dari

sini untuk sementara.”

“Tapi, kami ingin berdoa di dekatnya, Paman.”

“Berdoalah di rumah masing-masing,” ujar Paman Minda.

Mereka menurut. Akhirnya malam larut, hanya tiga orang

yang tinggal di dalam ruangan besar itu, yaitu Paman Minda,

Jasik, dan Pangeran Anggadipati. Pangeran Anggadipati tak

henti-hentinya memandangi wajah Banyak Sumba.

Mungkinkah Pangeran Anggadipati mengenalnya, tanya Jasik

di dalam hatinya.

Sementara itu, Paman Minda sibuk memisahkan serbukserbuk

halus yang terbuat dari daun-daunan, kemudian

memerintahkan kepada Jasik untuk menyeduhnya. Dirabarabanya

tulang-tulang Banyak Sumba, kemudian Paman Minda

berkata kepada Pangeran Anggadipati, “Satu rusuk kanannya

patah oleh trisula si Colat, belakang kepalanya kena pukulan

gada, inilah yang menyebabkan ia tidak sadarkan diri.

Sedangkan yang paling membahayakan jiwanya adalah

lukanya yang terlalu lama mengeluarkan darah. Dan saya

takut, trisula si Colat itu disepuh dengan racun yang keras.”

“Usahakanlah supaya dia hidup, Paman,” kata Pangeran

Anggadipati. Dalam suaranya, bergetar permohonan yang

keluar dari hati nuraninya.

“Saya tidak dapat menjamin,” kata Paman Minda. Ia

memperbaiki bebat luka Banyak Sumba di beberapa tempat

seraya menambah obat-obatannya.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Hari berikutnya, Banyak Sumba belum juga sadarkan diri.

Penduduk kampung duduk di halaman di depan ruangan besar

itu. Mereka berdoa dan setiap kalijasik keluar untuk

melaksanakan tugas-tugas yang diberikan oleh Paman Minda,

mereka bertanya. Jasik tidak dapat menjawab apa-apa.

Sementara itu, Jasik pun harus mengurus para sukarelawan

yang luka dalam pertempuran dan juga anak buah si Colat

yang tertawan. Dari keterangan orang-orang kampung dan

anak buah si Colat, jelaslah bagi Jasik bahwa Banyak Sumba

mencoba mencegah kekejaman yang hendak dilakukan si

Colat terhadap penduduk kampung.

Dari para tawanan didapat pula penjelasan bahwa Banyak

Sumba bersama si Colat itu sudah lama, yaitu karena Banyak

Sumba hendak belajar ilmu keperwiraan kepada si Colat itu.

Pada hari ketiga, berkatalah Paman Minda kepada

Pangeran Anggadipati, “Pengobatan yang lebih baik dapat

dilakukan di Kutabarang.”

“Apakah perjalanan tidak membahayakan jiwanya?” tanya

Pangeran Anggadipati.

“Tidak, luka-lukanya sudah tertutup, kecuali rusuknya yang

patah yang masih belum menyambung kembali. Yang

menyebabkan dia tidak sadar adalah pukulan gada di

kepalanya. Itu akan memakan waktu lama sekali dan

pengobatan hanya dapat dilakukan di Kutabarang atau Pakuan

Pajajaran,” ujar Paman Minda.

“Kalau begitu, marilah kita kembali ke Kutabarang, para

utusan kita sudah tiba di sana sekarang,” ujar Pangeran

Anggadipati.

“Kita harus berjalan perlahan-lahan sekali. Bagaimana

dengan kemungkinan penyerangan sisa-sisa pasukan si

Colat?” tanya Paman Minda.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Sebagian telah menyerahkan diri, sisanya tidak akan

bergerak,” jawab Pangeran Anggadipati.

Pada hari keempat, dengan membawa beberapa usungan,

di antaranya usungan Banyak Sumba, pasukan pun kembali ke

Kutabarang.

Perjalanan pulang tidak memakan waktu banyak karena

pasukan tidak perlu melalui jalan-jalan yang sukar. Sepanjang

jalan, penduduk yang telah mendengar kisah pertempuran

dan kematian si Colat berjajar, untuk menghormati pasukan,

terutama menghormati Banyak Sumba yang namanya belum

mereka ketahui. Mereka berdoa atau menangis ketika mereka

diberi tahu bahwa pahlawan yang membunuh si Colat adalah

yang diusung paling depan.

Berulang-ulang, Jasik hampir tidak dapat menahan air

matanya, kalau ia mendengar perkataan orang-orang

kampung yang sebelumnya telah diperlakukan dengan

sewenang-wenang oleh anak buah si Colat.

Kutabarang bersuasana aneh, setengah berpesta setengah

berkabung. Mereka tahu bahwa riwayat si Colat sudah tamat.

Akan tetapi, mereka pun tahu bahwa pahlawan yang tidak

mereka kenal belum pasti nasibnya. Sepanjang jalan, rakyat

mengelu-elukan pasukan, mereka tertawa, mereka menangis

melihat usungan-usungan orang luka, terutama melihat

usungan Banyak Sumba. Sementara itu, Pangeran Anggadipati

sendiri tampak sangat murung. Berulang-ulang Jasik

mendengar puragabaya itu berdoa.

Sore itu, seluruh penduduk Kutabarang pergi ke kuil kota.

Mereka mengadakan doa bersama, memohon kepada Sang

Hiang Tunggal agar jiwa Banyak Sumba diselamatkan.

Sementara itu, Paman Minda meminta beberapa orang pergi

ke Padepokan Tajimalela untuk meminta bantuan dari Paman

Rakean yang juga ahli di bidang pengobatan.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Kesibukan luar biasa terjadi di Istana Kutabarang. Para

utusan diberangkatkan ke Pakuan Pajajaran, membawa berita

kepada sang Prabu tentang apa-apa yang terjadi. Sementara

itu, usaha pengobatan terhadap Banyak Sumba makin giai

pula dilakukan.

Suatu ketika, Banyak Sumba bergerak, lalu mengeluh.

Kemudian, diam kembali. Pada suatu kali, matanya terbuka

dan memandang langit-langit istana, kemudian ditutupnya

kembali.

Demikianlah keadaannya beberapa hari, sementara Paman

Minda dengan dibantu puragabaya setengah baya lainnya

yang bernama Paman Rakean berusaha sekuat tenaga

menyelamatkan jiwa Banyak Sumba. Selama itu pula,

Pangeran Anggadipati tidak pernah jauh dari bilik Banyak

Sumba dibaringkan. Hanya kalau ada urusan pasukan

sukarelawan yang hendak dibubarkan dan pembagian tandatanda

jasa harus dilakukan, baru ia meninggalkan istana.

Setelah satu pasukan selesai dibubarkan dengan segala tanda

jasa dan ucapan terima kasih sang Prabu ia segera kembali ke

istana menengok Banyak Sumba.

Pada hari keempat, Putra Mahkota tiba dari ibu kota. Beliau

diiringi sejumlah bangsawan pria dan wanita. Di antara para

pendatang, ternyata para kesatria dan putri-putri remaja.

Semua ingin melihat pahlawan yang membunuh si Colat itu.

Semua ingin berdoa untuk keselamatan jiwanya dari dekat.

Seluruh Pajajaran belum pernah melakukan doa bersama

seperti itu. Setiap pagi dan setiap senja, semua kuil dan pura

penuh. Para bangsawan mendapat kesempatan untuk berdoa

di samping orang yang didoakan, yaitu di Istana Kutabarang.

KETIKA itu hampir sore. Sebuah kereta besar yang

berwarna keemasan tiba diiringkan kereta-kereta lainnya yang

lebih kecil. Putra Mahkota turun diiringi para kesatria dan

disambut oleh

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Pangeran Anggadipati, Rangga, Jalu, dan Paman Minda

serta Paman Rakean.

Putra Mahkota bergegas menuju bilik tempat Banyak

Sumba terbaring, “Saya akan menengok yang lain setelah

yang paling parah ini,” kata beliau kepada Pangeran

Anggadipati dan para bangsawan yang lain sewaktu Putra

Mahkota menengok Banyak Sumba.

‘Apa yang terjadi, Anom?” Putra Mahkota bertanya sambil

memegang pergelangan tangan Banyak Sumba.

“Dibunuhnya si Colat dalam perkelahian yang berani, tapi

rupanya anak buah si Colat memukulnya dengan gada dari

belakang. Namun, setelah si Colat terbunuh, pasukan kacaubalau.

Saya tidak mengerjakan apa-apa, hanya menangkapi

atau menghalau yang ketakutan. Dialah yang mengerjakan

segala-galanya, seorang diri.”

Putra Mahkota memandang wajah Banyak Sumba yang

bagaikan tidur nyenyak terbaring di hadapan beliau. Jasik

berdiri di sudut mendengarkan percakapan mereka.

“Yang mengherankan saya, sampai sekarang kita tidak tahu

siapa sebenarnya kesatria ini.”

“Saya seperti mengenalnya, Gusti Anom,” kata Pangeran

Anggadipati kepada Putra Mahkota.

Percakapan mereka cuma sampai di situ karena Putra

Mahkota harus menengok para prajurit yang luka lainnya dan

para bangsawan sudah tidak sabar untuk melihat pahlawan

yang tidak dikenal itu. Maka, bergiliranlah mereka masuk

untuk melihat Banyak Sumba, berlutut di sampingnya, dan

memohon kepada Sang Hiang Tunggal agar menyelamatkan

jiwa Banyak Sumba.

Ketika seorang kesatria sedang berlutut, dari arah pintu

ruangan terdengar jeritan seorang putri. Semua berpaling ke

sana. Mereka melihat seorang putri sangat cantik terhuyungTiraikasih

Website http://kangzusi.com/

huyung menuju pembaringan Banyak Sumba, kemudian

pingsan di dekatnya. Ayahanda putri itu, seorang pangeran,

segera datang. Paman Minda membakar ramuan daun, lalu

menyodorkannya ke bawah hidung Tuan Putri yang segera

sadar.

“Ada apa, Anakku?” tanya ayahanda Tuan Putri.

‘Ayahanda, Ayahanda, dialah Raden Banyak Sumba yang

saya ceritakan dulu.”

“Banyak Sumba!” seru pangeran itu sambil memapah >

putrinya berjalan menuju pembaringan Banyak Sumba.

“Pangeran Anggadipati!” seru pangeran itu sambil mencari

Pangeran Anggadipati dengan matanya. “Inilah Raden Banyak

Sumba, anakku mengenalnya.”

“Pamanda Purbawisesa, saya telah menduganya sejak

semula, hanya tidak berani mengatakannya,” kata Pangeran

Anggadipati. Ia berjalan ke arah pembaringan, berlutut lalu

berbisik, “Adikku… Adikku,” bisiknya. Ketika itulah, Jasik

melihat Pangeran Anggadipati menitikkan air mata sambil

memegang tangan Banyak Sumba yang lemah lunglai.

Putri cantik itu pun berlutut dan sambil menangis terisakisak

memegang tangan kiri Banyak Sumba.

“Saya menunggumu lama sekali dan Kakanda kembali

seperti ini,” kata putri itu, sementara Pangeran Purbawisesa

memegang pundak putri itu, melipur hatinya.

Jasik melangkah ke depan, lalu berlutut di depan Pangeran

Anggadipati. Ia berkata, “Pangeran Muda, kesatria ini Raden

Banyak Sumba, putra tertua Pangeran Banyak Citra. Saya

panakawannya dan sesuai dengan pesannya merahasiakan

namanya. Akan tetapi, sekarang namanya sudah diketahui

Jasik tidak tahu apa yang akan dikatakannya. Pangeran

Anggadipati bangkit, lalu memegang pundaknya, “Tahukah

engkau di mana keluarganya berada?”

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

‘Ayah saya tinggal dengan mereka, Pangeran Muda,” ujar

Jasik. Pangeran Anggadipati memandang wajah Jasik, lalu

berkata, ‘Jemputlah mereka. Bawalah pasukan pengawal dari

sini, sebanyak yang kau perlukan.”

Jasik meminta lima puluh orang jagabaya yang akan

menjemput dan mengawal wangsa Banyak Citra. Keesokan

harinya, subuh-subuh benar, rombongan sudah berangkat.

Sepanjang jalan, Jasik melihat bagaimana kuil-kuil penuh

oleh orang yang berdoa, yang memohon kepada Sang Hiang

Tunggal agar Banyak Sumba diselamatkan. Pemandangan itu

mendorong Jasik segera mencapai wilayah Medang. Maka,

dipaculah kudanya seperti anak panah dan para jagabaya

yang kelelahan di bawah baju zirah berulang-ulang mengeluh.

Akan tetapi, Jasik tidak memedulikannya, beberapa kali ia

mengatakan bahwa tugas mereka terlalu penting untuk

dilambat-lambatkan.

Setelah berganti kuda dua kali, dan setelah perjalanan

dilakukan siang malam, hutan-hutan yang dikenal sekali oleh

Jasik pun tampak. Ia makin mempercepat kudanya. Kemudian,

meninggalkan para jagabaya untuk beristirahat dalam sebuah

kampung di tepi jalan besar. Dengan diiringi tiga orang

jagabaya, Jasik mulai masuk hutan, menuju tempat

persembunyian keluarga Banyak Citra.

Kabar itu diterima di Padepokan Panyingkiran dengan

khidmat dan tabah oleh seluruh anggota keluarga. Walaupun

air mata menitik dari kaum wanita, tak ada ingar-bingar

kesedihan. Keprihatinan yang menekan wangsa Banyak Citra

bertahun-tahun menumbuhkan ketabahan yang khas pada

mereka. Jasik semakin kagum terhadap watak keluarga

majikannya.

“Kita semua akan pergi, anak kita membutuhkan kita di

sana. Kita tidak akan bersembunyi lagi, apa pun yang terjadi,”

kata Ayahanda Banyak Citra dengan tenang. Seluruh anggota

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

keluarga kelihatan lega karena dengan keputusan ini, berbagai

persoalan lain akan terselesaikan pula.

“Sediakan apa yang kita perlukan dan bawa pengawal

sebanyak-banyaknya,” lanjut Ayahanda Banyak Citra.

“Pangeran Anggadipati telah memberikan kepada hamba

dua buah kereta dan lima puluh pengawal, Gusti,” ujar Jasik

tidak sengaja.

Ayahanda Banyak Citra termenung, sementara Jasik

merasa menyesal telah mengucapkan nama itu. Seluruh

ruangan tegang. Ayahanda Banyak Citra kemudian berkata,

“Kau katakan Anggadipati telah menyelamatkan jiwa anakku

dengan merawat dan membawanya ke Kutabarang. Itu tidak

dapat kutolak. Kalau ia memberikan pengawal juga, itu pun

tidak bisa kutolak,” kata beliau. Seluruh isi ruangan tampak

lega pula.

“Kita pergi sekarang juga,” kata Ayahanda Banyak Citra.

Tak lama kemudian, di jalan besar yang membentang

antara Medang dan Kutabarang, berjalan rombongan besar.

Dua buah kereta yang megah didahului dan diiringkan oleh

lima puluh jagabaya yang berpakaian lengkap dan bersenjata.

Umbul-umbul dan panji-panji wangsa Banyak Citra yang telah

bertahun-tahun lenyap dari angkasa Pajajaran tampak

berkibar-kibar kembali.

Rakyat yang mendapat berita dari mulut ke mulut

sebelumnya, tumpah dari kampung-kampung ke tepi jalan

kerajaan. Mereka ingin melihat wajah Pangeran Banyak Citra

yang telah bertahun-tahun menghilang. Mereka memberikan

hormat kepada salah seorang pangeran Pajajaran yang

terkenal itu.

Melihat suasana yang tidak disangka-sangkanya, lega dan

lunaklah hati Pangeran Banyak Citra. Beliau mencari-cari Jasik

dengan mata beliau, lalu memanggilnya, “Sik, kemari!”

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Jasik yang mengendarai kuda di samping ayahnya, Paman

Wasis, segera melambatkan kudanya, dan melarikannya di

samping kereta yang dikendarai oleh Pangeran Banyak Citra

dan adik-adik Banyak Sumba yang sudah berangkat remaja.

“Sik, tadi kau katakan bahwa Putra Mahkota

menangguhkan perjalanan pulang hanya untuk bertemu

dahulu denganku?”

“Benar, Gusti,” ujar Jasik.

“Mudah-mudahan, beliau sudah mendengar banyak tentang

wangsa Banyak Citra,” ujar Pangeran Banyak Citra.

“Pasti, Gusti,” kata Jasik.

Pangeran Banyak Citra memandang wajah Jasik yang

segera menjawab, “Gusti dan wangsa Banyak Citra menjadi

lebih terkenal setelah Gusti bersembunyi. Apalagi Putra

Mahkota sangat sayang dan sahabat Pangeran Anggadipati

yang sangat karib.”

Sekali lagi Jasik terkejut, mengapa telah mengucapkan

nama itu. Ia mencaci maki dirinya sendiri dalam hati.

Bagaimanapun, ia mengakui bahwa Pangeran Anggadipati,

tutur kata dan tingkah laku kesamaannya, telah memesonanya

hingga ia tidak dapat membayangkan ada orang yang dendam

terhadap kesatria seperti itu. Akan tetapi, ia pun merasa tidak

bijaksana untuk menyebut-nyebut namanya terus-menerus di

hadapan Pangeran Banyak Citra.

“Apakah Pangeran Anggadipati selalu dihubung-hubungkan

dengan keluargaku, Sik?”

Jasik sungguh-sungguh gugup mendengar pertanyaan itu.

la menenangkan diri dan memutuskan segala pikirannya. Lalu,

berkata dengan tekad bulat untuk memberikan kesan yang

tepat tentang segala yang dilihat dan didengarnya mengenai

Pangeran Anggadipati.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Gusti,” kata Jasik, “Pangeran Anggadipati sangat bersedih

hati dengan menghilangnya keluarga Banyak Citra. Beliau

sangat bersedih hati karena beliau menyangka bahwa

keluarga Banyak Citra dihancurkan dan dimusnahkan oleh

keluarga Wiratanu.”

Belum selesai Jasik berkata, Pangeran Banyak Citra

menyela, “Keluarga Wiratanulah yang hancur lebur, dari

bunga hingga ke akarnya. Lanjutkan, Sik.”

“Baik, Gusti,” lanjut Jasik. “Waktu Putri Purbamanik datang

dan mengenal Raden Banyak Sumba, hamba terpaksa

membuka rahasia dan mengatakan bahwa yang membunuh si

Colat itu adalah Raden Banyak Sumba. Betapa gembira hamba

lihat Pangeran Anggadipati ketika itu. Beliau memegang

pundak hamba dan memandang mata hamba dalam-dalam.

Setelah beberapa lama, dari matanya yang sebelumnya selalu

redup, bernyalalah sinar yang lain, sinar kegembiraan. Sinar

kegembiraan ini makin gemilang ketika hamba menerangkan

kepada beliau bahwa keluarga Banyak Citra masih hidup dan

sehat sejahtera di tempat persembunyian.

Ketika itu Putra Mahkota datang, menepuk-nepuk bahu

Pangeran Anggadipati dan berkata, “Berkat ketahananmu,

Sang Hiang Tunggal mengembalikan kepadamu segala yang

kau cintai. Bersyukurlah sahabatku,” demikian ujar Putra

Mahkota. Ketika itu, Pangeran Anggadipati menitikkan air

mata kegembiraan, lalu memegang tangan Raden Banyak

Sumba sambil membisikkan namanya.”

Jasik berhenti berkata karena ia melihat pangeran yang

telah berambut putih itu mengangguk-angguk dan tersenyum.

Tiba-tiba, Jasik sadar bahwa orang tua itu barangkali telah

hampir sepuluh tahun tidak tersenyum.

SELAMA dalam perjalanan, sering sekali Jasik dipanggil dan

ditanyai tentang apa saja yang terjadi, walaupun telah sangat

sering Jasik menceritakannya. Kadang-kadang, ia dipanggil ke

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

kereta besar tempat Pangeran Banyak Citra berada dengan

Ibunda.

Tidak kurang pula seringnya dipanggil ia ke kereta Putri

Yuta Inten bersama adik-adik Banyak Sumba yang masih kecil.

“Jasik, kau mengatakan bahwa yang mula-mula mengenal

adikku adalah putri yang sangat cantik,” kata Yuta Inten

kepada Jasik setelah putri itu memanggilnya.

“Ya, Tuan Putri. Putri itu sangat cantik, namanya Nyai Emas

Pubamanik, putri satu-satunya Pangeran Purbawisesa yang

tinggal di Pakuan Pajajaran, tetapi berasal dari Kutabarang.

Putri ini begitu melihat Raden Banyak Sumba, sempoyongan

dan menjatuhkan dirinya di dekatnya sambil menyerunyerukan

nama Raden Banyak Sumba, lalu menangisinya.

Ketika itu, orang-orang mulai mengenal siapa pahlawan yang

dapat membunuh si Colat itu.”

“Sik,” Yuta Inten menyela.

“Ya, Tuan Putri.”

“Kau lihat banyak sekali putri yang datang, bukan?”

“Ya, Tuan Putri,” jawab Jasik.

“Adakah,… Putri Ringgit Sari?”

“Saya tidak tahu, Tuan Putri. Saya tidak mengenal nama

mereka,” ujar Jasik.

“Putri Ringgit Sari ini Ayunda Pangeran Anggadipati,” kata

Yuta Inten, nama yang terakhir diucapkannya dengan cepatcepat.

Setelah tertegun, ia bertanya kembali, “Tentu kau tidak

tahu tentang putri-putri itu, tapi … adakah putri yang selalu

berdekatan dengan Pangeran Anggadipati… karena … karena

Putri Ringgit Sari akan selalu berdekatan dengan saudaranya,

bukan?”

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Apakah Putri Ringgit Sari ini lebih tua atau lebih muda

daripada Pangeran Anggadipati, Tuan Putri?” Jasik kembali

bertanya.

Putri Yuta Inten termenung sejenak, lalu dengan suara

tegang bertanya kembali:

“Jadi yang kaulihat putri yang lebih muda yang selalu dekat

dengan Pangeran Anggadipati itu?”

“Ya? Saya tidak mengatakan ada putri yang selalu

berdekatan duduk atau berdirinya dengan Pangeran

Anggadipati, Tuan Putri,” ujar Jasik.

Mula-mula, ia tidak mengerti mengapa percakapan jadi

kacau seperti itu, kemudian dia teringat bahwa sebenarnya

Putri Yuta Inten adalah tunangan Pangeran Anggadipati. Ia

baru menyadari bahwa sebenarnya Putri Yuta Inten ingin

menanyakan sesuatu yang lain, tapi tidak berani. Tiba-tiba,

Jasik tersenyum lebar. Putri Yuta Inten tampak keheranan,

lalu bertanya, “Sik, apa yang kau tertawakan?”

“Tuan Putri, menurut kesan saya, Pangeran Anggadipati itu

masih seorang diri. Saya tidak pernah melihat beliau

menerima kiriman kotak-kotak lontar terukir yang wangi

karena terbuat dari kayu cendana. Beliau pun tidak pernah

membaca helai-helai lontar kecil dan indah di bawah bulan

purnama. Yang saya ketahui adalah surat-surat yang beliau

terima hanyalah surat-surat dari para pemimpin jagabaya

yang melaporkan tentang medan perang dan dihancurkannya

anak-anak buah si Colat.”

“Jasik! Jasik! Apa yang kau ucapkan itu? Apakah kau

bermimpi?” seru Putri Yuta Inten seperti marah. “Saya tidak

menanyakan hal itu kepadamu!” lanjutnya.

Betapapun kemarahan yang dibuat-buat itu, kegembiraan

dan kelegaan Putri Yuta Inten tidak lolos dari mata dan hati

Jasik yang mulai mengerti.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Sementara itu, rombongan makin jauh menuju arah barat.

Kampung-kampung besar kecil sudah dilewati dan orangorang

kampung tampak mengetahui bahwa yang lewat adalah

rombongan Pangeran Banyak Citra. Mereka menyambut dan

menghormati rombongan pahlawan mereka. Pada masa-masa

sembahyang sore, rombongan berhenti di sebuah kampung

besar untuk ikut bersembahyang. Dalam sembahyang itu, doa

khusus disampaikan untuk kesembuhan Raden Banyak Sumba,

putra tertua keluarga Banyak Citra.

Jasik melirik ke seluruh keluarga majikannya. Suasana

berdoa, berharap, dan rasa bangga memancar dari keluarga

itu.

-ooo00dw00ooo-

Bab 14

Burung Senja

Dalam kesadarannya yang seperti mimpi, Banyak Sumba

merasa dirinya sedang terbaring di atas rumput tempatnya

roboh setelah tukar-menukar tikaman dengan si Colat.

Pandangannya kabur dan rasa sakit berdenyut perlahan-lahan

pada bagian-bagian badannya yang dikenai trisula si Colat. Ia

membuka matanya perlahan-lahan, tapi segera

menutupkannya kembali karena cahaya yang berwarna-warni

menyilaukannya. Ia mendengar bisikan-bisikan, “Kakanda,

Kakanda.”

“Anakku, Anakku.”

“Adinda Banyak Sumba.”

Ia mau menjawab, tapi bibirnya sangat berat. Ia

beristirahat, lalu kesadarannya menghilang kembali.

Semuanya gelap dan sepi.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Pada suatu kali, kesadarannya kembali membawa Banyak

Sumba ke atas lapangan rumput di tepi kampung tempat ia

terbaring setelah melawan si Colat.

Ia merasa air hujan yang hangat berjatuhan di wajahnya.

Ia membuka matanya. Yang dilihatnya adalah bunga yang

besar dan indah bentuknya. Keemasan, pualam, merah muda,

hitam, cokelat tua. Ia memejamkan matanya kembali,

“Kakanda, Kakanda,” terdengar bisikan yang halus. Ia seperti

kenal suara itu, tetapi ia telah lupa suara siapa itu. Suara itu

didengarnya bertahun-tahun yang lalu. Ia membuka matanya

dan melihat bunga yang besar dan indah itu menitikkan

embun ke wajahnya. Embun itu hangat, menyenangkan.

Bunga yang besar itu menutup wajahnya. Ia mencium baunya

yang lembut.

“Kakanda, Kakanda,” terdengar lagi bisikan itu. Banyak

Sumba teringat kembali kepada suara itu, ia membuka

matanya. Ia melihat ke arah bunga indah yang ada di

hadapannya. Ia memejamkan pandangannya. Ia melawan

kesuraman dan kesilauan dengan kemauannya. Ia

mengernyitkan keningnya yang dingin agar dapat memandang

dengan jelas.

Bunga yang besar dan indah itu berubah bentuk perlahanlahan.

Mula-mula dilihatnya secara samar-samar dua pasang

mata yang jernih, kemudian hidung yang kecil dan bibir yang

merah muda. Rambut lebat yang mengilap dilihatnya

belakangan. Ia lebih mengernyitkan keningnya, lalu berkata,

“Adinda… Purbamanik.”

“Kakanda Banyak Sumba,” bibir yang merah muda itu

menjatuhkan kata-kata, seperti bunga yang menjatuhkan

daun-daun bunganya pagi hari. Banyak Sumba merasa tangan

lembut meraba dadanya, lalu mendengar suara mengatakan,

“Ia tersadar, ia tersadar.”

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Suara langkah terdengar dan Banyak Sumba bertanya, “Ia

akan membakar orang-orang kampung itu hidup-hidup, juga

bayi-bayi?”

“Tenanglah, Anakku,” kata seseorang. Banyak Sumba

berpaling.

“Ibunda!” Ia melihat Ibunda tersenyum. Banyak Sumba

mulai melihat bayangan wajah-wajah lain. Ia memandang

berkeliling, sambil tetap mengernyitkan keningnya karena

masih sukar baginya untuk melihat terang.

Satu per satu muncullah wajah-wajah dari dalam keremangan

itu. Mula-mula wajah Ayahanda.

“Ayahanda,” bisik Banyak Sumba.

“Ya, Anakku.” Ayahanda berkata.

“Ayunda Yuta Inten,” katanya ketika di samping Ayahanda

dilihatnya Ayunda Yuta Inten.

“Sumba, Adinda,” kata Putri Yuta Inten sambil menyusut air

matanya. Di samping Yuta Inten dilihatnya seorang kesatria

berdiri. Banyak Sumba termenung untuk beberapa lama.

Kesatria itu tersenyum. Senyumannya begitu tulus, begitu

wajar dan jujur, hingga Banyak Sumba pun tersenyum

kepadanya, lalu berkata, “Kakanda Anggadipati.”

“Adinda Banyak Sumba,” kata Pangeran Anggadipati.

Banyak Sumba melayangkan matanya perlahan-lahan ke

samping, seseorang berdiri di samping Pangeran Anggadipati.

Ia kenal pada kesatria yang berwajah agung itu. Ia

menghaturkan hormat dengan air mukanya, “Pangeran Putra,

Putra Mahkota.”

“Ya, Raden, rupanya kau telah kenal kepadaku,” kata Putra

Mahkota. Mata Banyak Sumba mengikuti tangan Putra

Mahkota yang menjulur di pundak seseorang. Banyak Sumba

mengikuti tangan itu ke arah wajahnya, “Sik!”

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Raden, saya menunggu lama sekali dengan dua ekor kuda,

tapi kata para siswa Padepokan Sirnadirasa, Raden masuk

Hutan Larangan. Jadi saya tinggalkan saja. Saya pergi ke

Kutabarang menemui Kang Arsim untuk mencari berita

tentang Raden.”

Banyak Sumba mendengar orang tertawa menyambut

penjelasan Jasik itu. Banyak Sumba makin bertambah sadar

akan keadaan sekelilingnya. Tiba-tiba, ia sadar pula bahwa ia

memegang sesuatu. Ia menarik benda yang dipegangnya itu,

lalu melihatnya. Ternyata, yang dipegang itu tangan yang

sangat indah, yang berkulit halus bersih dan berjari tirus. Ia

memandangi tangan itu untuk beberapa lama, lalu mengikuti

bentuk lengan memandang leher yangjenjang. la melihat bibir

yang menyunggingkan senyum dan mata yang jelita.

“Adinda. Adinda Purbamanik, di manakah kita ini? Saya

mimpi. Saya akan memejamkan mata kembali dan kau akan

menghilang, juga yang lain yang kucintai. Saya bermimpi,”

kata Banyak Sumba, ia memejamkan matanya.

“Kakanda! Kakanda!” Terdengar suara cemas. Banyak

Sumba membuka mata kembali. Begitu nyata yang ada di

hadapannya adalah putri yang dirindukannya, Nyai Emas

Purbamanik.

‘Jangan tutupkan mata Kakanda, kami cemas,” kata Nyai

Emas Purbamanik.

“Di manakah kita?” tanya Banyak Sumba.

“Di Istana Kutabarang,” kata seseorang. Banyak Sumba

melihat ke arah orang itu. Seorang bangsawan, setengah baya

berdiri.

“Selamat datang di Kutabarang yang bangga menerima -

kedatangan Raden.”

“Pamanda Penguasa Kota,” bisik Nyai Emas Purbamanik.

Banyak Sumba tersenyum.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Bagaimana Kakanda ada di sini?”

“la sudah benar-benar sadar kembali. Kau telah membunuh

si Colat, Anakku,” suara Ayahanda terdengar dengan bangga.

Banyak Sumba membuka matanya lebar-lebar. Ia mencoba

mengingat-ingat. Tapi, sukar sekali ia dapat mengerti

keadaannya. Ia memandang berkeliling. Tampak wajah Paman

Wasis. Wajah Paman Wasis yang tersenyum kepadanya inilah

yang membantu Banyak Sumba untuk menyadari diri dan

sekelilingnya.

Ia ingat bahwa setelah kematian Kakanda Jante

Jaluwuyung, keluarganya mengungsi ke hutan. Di sana, ia

belajar ilmu keprajuritan dari Paman Wasis. Ia mengembara

mencari guru, kudanya dirampas Bungsu Wiratanu, kemudian

ia tiba di Kutabarang. Ia beberapa kali berkelahi dalam

keramaian hingga bertemu dengan si Colat. Ia ikut si Colat

menyelamatkan Radenjimat dari penculikan. Kemudian

berpisah kembali dengan si Colat. Ia tertarik oleh seorang

gadis di atas benteng Puri Pubawisesa.

Ia mengangkat kembali tangan yang selama ini

dipegangnya. Dipandangnya wajah Nyai Emas Purbamanik

yang duduk di tepi balai-balainya.

“Saya ingat kembali semuanya,” kata Banyak Sumba.

Terdengar napas lega dari hadirin.

Banyak Sumba mengingat kembali dengan keras. Ya, ia

menyaksikan perkelahian antara dua perguruan di dalam

hutan, kemudian ia mengikuti si Gojin. Ia belajar kepada si

Gojin hingga si Gojin dikalahkan oleh Eyang Resi Sirnadirasa.

Ia menggabungkan diri dengan siswa Padepokan Sirnadirasa.

Ia bertemu dengan Pangeran Anggadipati, tetapi tidak jadi

melemparnya dengan pisau beracun. Ia pergi ke Pakuan

Pajaja-ran dan mengambil guci abu jenazah KakandaJante. Ia

pulang ke Medang, lalu kembali lagi ke Padepokan Sirnadirasa.

Di sana, ia berkelahi dengan Raden Madea, calon puragabaya

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

yang akan memimpin sukarelawan dalam pengepungan si

Colat.

Ia tersesat dalan hutan dan masuk ke daerah Padepokan

Tajimalela. Ia belajar seorang diri di sana. Kemudian, ia diburu

dan lolos masuk Hutan Larangan. Setelah itu, ia kembali

masuk kampung dan menggabungkan diri dengan si Colat.

Raden Jimat tewas dan ia terpaksa melawan si Colat yang

akan menjadikan penduduk kampung sebagai kayu

pembakaran jenazah Raden Jimat. Kenangannya terhenti

sampai di sana, ia bertanya, “Saya melawan si Colat. Setelah

itu, apa yang terjadi?”

“Engkau menyelamatkan orang-orang kampung yang

hendak dibakar itu, Adinda,” kata Pangeran Anggadipati yang

berdiri di samping Ayunda Yuta Inten.

“Si Colat telah berhasil kau bunuh, tetapi engkau terluka.

Kami menyerang dan menemukan kau terbaring berangkulan

dengan si Colat yang sudah meninggal. Kisahmu diceritakan

oleh orang-orang kampung yang kami lepaskan dari ikatanikatan

mereka di bawah tumpukan kayu samida. Kami tidak

mengenalmu hanya Kakanda merasa seolah-olah kita pernah

bertemu. Memang kita pernah bertemu dan berjalan-jalan di

lapangan Kota Medang, ketika kau masih berumur delapan

atau sembilan tahun. Walaupun begitu, karena nadimu masih

berdenyut, kami mencoba menyelamatkan hidupmu. Paman

Minda dan Paman Rakean berusaha sekuat tenaga

menyambung kembali rusukmu yang patah dan urat-uratmu

yang putus. Seluruh Pajajaran berdoa untuk hidupmu dan

engkau selamat. Panakawanmu yang setia, Jasik, tutup mulut

tentang siapa sebenarnya engkau. Kemudian, Adinda

Purbamanik datang. Ternyata, kalian telah berkenalan dan ia

segera mengenal dan menangisi sahabat lamanya. Jasik

terpaksa membuka rahasia dan ia menjemput seluruh

keluarga yang sekarang ada di sini.”

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Baru ketika itulah Banyak Sumba melihat adik-adiknya yang

kecil-kecil. Ia melambai kepada adik-adiknya itu, yang segera

datang mengelilingi balai-balainya di samping Nyai Emas

Purbamanik.

‘Jadi, semuanya sudah selesai?” kata Banyak Sumba.

“Semuanya sudah selesai, Adinda,” kata Pangeran

Anggadipati yang berpaling kepada Putri Yuta Inten di

sampingnya.

MUNGKIN sudah sebulan atau lebih, dan kesehatan Banyak

Sumba pulih dengan cepat sekali. Senja itu ia berjalan-jalan

dalam taman, di sebelah kanannya bergandeng gadis yang

dicintainya, Nyai Emas Purbamanik. Untuk beberapa lama,

mereka berjalan tanpa mengatakan apa-apa. Mereka hanya

meresapkan apa-apa yang terasa dalam hati masing-masing.

Udara senja yang sejuk setelah panas sepanjang hari,

membiru di atas benteng Kutabarang tempat Banyak Sumba

dan keluarganya tinggal selama ini. Bunga-bunga di taman

menabur wanginya kepada angin kecil yang lewat bermainmain

di sana. Mereka berjalan berdiam diri, hanya alas kaki

mereka berdesir di atas pasir putih yang ditebarkan di taman

itu.

Jalan-jalan dalam taman itu banyak yang buntu dan

berakhir pada semak-semak bunga-bungaan yang lebat yang

di tengah-tengahnya dipasang bangku-bangku atau tanahtanah

berumput untuk duduk-duduk. Mereka pun berjalan

menuju tempat seperti itu. Kemudian, Banyak Sumba duduk di

atas rumput. Ia memandang ke arah Nyai Emas Purbamanik

yang mula-mula ragu untuk duduk. Banyak Sumba

memandang sambil tersenyum, kemudian gadis itu duduk pula

di dekatnya, “Kakanda, tadi Kakanda mengatakan bahwa

perundingan telah selesai, tapi mengapa para bangsawan

masih juga menutup diri dalam ruangan persidangan.”

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Memang perundingan telah selesai, dan antara keluarga

Banyak Citra dan keluarga Anggadipati tidak ada persoalan

lagi, tidak ada salah mengerti lagi. Sang Prabu sendiri telah

menjelaskan semuanya dan Ayahanda hanya mau percaya

kepada sang Prabu,” jawab Banyak Sumba sambil

mempermainkan rambut di kening Nyai Emas Purbamanik.

“Wahai, alangkah besar pengorbanan yang harus diberikan

untuk prasangka dan salah mengerti itu, Kakanda. Pangeran

Anggadipati, Ayunda Yuta Inten, dan Kakanda sendiri hampir

kehilangan nyawa.”

“Tapi, karena salah mengerti itu, Kakanda bertemu dengan

kau, Adinda. Jadi, janganlah hanya dihitung pengorbanannya,”

ujar Banyak Sumba berolok-olok.

Nyai Emas Purbamanik menekan tangan Banyak Sumba.

Untuk beberapa lama, mereka hening kembali. Kemudian,

gadis yang tidak lepas dari tatapan Banyak Sumba itu

bertanya kembali, “Tapi, mengapa mereka belum juga keluar

dari ruangan besar itu? Mengapa Adinda lihat tadi Pangeran

Anggadipati yang tua masih juga berbincang-bincang dengan

Ayahanda Banyak Citra dan Ayahanda Purbawisesa?”

Banyak Sumba tertawa. Gadis itu memandangnya tidak

mengerti. Banyak Sumba berkata, “Setelah soal besar

terselesaikan dengan mudah, Ayahanda Banyak Citra tidak

puas. Ia sudah terbiasa menghadapi soal-soal yang sukar.

Oleh karena itu, ketika persoalan salah mengerti dijelaskan

dengan mudah oleh sang Prabu, tenaganya masih terlalu

banyak. Maka, dicari-carinya persoalan untuk diperdebatkan,”

kata Banyak Sumba. Nyai Emas Purbamanik tampak cemas.

“Mungkinkah terjadi lagi salah mengerti? Soal apakah yang

sekarang diperdebatkan?”

Banyak Sumba tertawa dan Nyai Emas Purbamanik yang

tidak sabar menghentikannya dengan cubitan.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Cepat katakan! Kalau tidak, saya akan lari,” kata Nyai

Emas Purbamanik. Banyak Sumba memetik bunga, lalu

diselipkannya di rambut gadis itu.

“Katakanlah, Kakanda, soal apa yang mereka

perdebatkan?”

“Soal kita,” ujar Banyak Sumba. Nyai Emas Purbamanik

memandangnya dan menunggu dengan tidak sabar lanjutan

penjelasan dari Banyak Sumba. Banyak Sumba tenang-tenang

saja. Baru setelah beberapa lama, ia berkata, “Ayahanda

mengusulkan dan berkeras kepala agar upacara dan pesta

perkawinan kita dan Kakanda Anggadipati dilaksanakan di

Kota Medang, bertepatan dengan penyerahan kekuasaan dari

Pamanda Galih Wangi kepada Ayahanda. Beliau merasa

berhak menuntut karena dari dua pasang calon pengantin,

dua orang adalah putra-putri beliau. Sementara itu, Pangeran

Anggadipati yang tua mengusulkan agar upacara dan pesta

dilakukan di Puri Anggadipati, sedangkan Ayahanda

Purbawisesa mengusulkan agar upacara dan pesta dilakukan

di Kutabarang saja, karena bukankah beliau orang

Kutabarang? Semuanya berkeras.”

“Jadi bagaimana?” tanya Nyai Emas Purbamanik, “Di mana

akan dilakukan upacara perkawanan itu?”

“Apakah itu jadi soal besar bagimu, Adinda?” tanya Banyak

Sumba, mengganggu.

Dengan gemas, Nyai Emas Purbamanik mencubit Banyak

Sumba, “Kakanda, jawablah dengan sungguh-sungguh jangan

main-main saja!” katanya sambil tertawa.

“Kakanda menyerah saja, terserah kepadamu, di mana kau

ingin dipelaminkan.”

“Bukan begitu, Kakanda, di manakah kira-kiranya akan

diputuskan hari penting itu?”

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Mereka akan sama-sama berkeras hati. Kau tahu Adinda,

ketiga pangeran itu termasyhur karena keras kepalanya. Maaf,

maksud Kakanda, keras hati. Oleh karena itu, sang Prabu

terpaksa memutuskan. Kedua pasangan calon pengantin akan

dibawa ke Pakuan Pajajaran. Di sana, mereka akan dinikahkan

dan dipestakan tujuh hari tujuh malam. Demikianlah

beritanya,” kata Banyak Sumba.

“Dari mana Kakanda mendapat berita begitu?” tanya Nyai

Emas Purbamanik yang hampir-hampir tidak percaya karena

Banyak Sumba selalu bermain-main.

‘Jasik saya suruh berpura-pura menjaga, padahal ia

ditugaskan untuk menajamkan telinganya di sekitar ruangan

perundingan itu.”

“Dasar nakal!” kata Nyai Emas Purbamanik sambil

membaringkan kepalanya di pangkuan Banyak Sumba.

“Dulu juga, Kakanda biasa mengintip, memanjat benteng,

mengapa sekarang tidak boleh?” tanya Banyak Sumba. Ketika

itu, terdengar suara langkah kaki orang.

“Ada orang datang,” bisik Nyai Emas Purbamanik seraya

bangkit membetulkan sanggulnya.

Dari salah satu jalan di taman itu, tampaklah dua sejoli

bergandengan tangan. Kepala mereka berlekatan satu sama

lain, sementara mereka berjalan perlahan sekali di bawah

cahaya senja itu.

“Kakanda Anggadipati dan Ayunda Yuta Inten,” bisik Nyai

Emas Purbamanik.

‘Jangan menegur mereka, sebelum mereka berpisah,” kata

Banyak Sumba, lalu ia melirik kepada gadis yang dicintainya

yang duduk di sampingnya. “Jangan mengintip,” bisiknya

sambil tersenyum. Gadis itu berpaling ke arah Min sambil

tersenyum.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Dua sejoli itu lama sekali berangkulan, kemudian mereka

berpisah dan pandang-memandang untuk beberapa lama.

Banyak Sumba berdeham, lalu berdiri sambil memegang

tangan Nyai Emas Purbamanik. Mereka keluar dari semaksemak

bunga menuju Pangeran Anggadipati dan Putri Yuta

Inten yang berdiri agak berjauhan.

“Sampurasun, Kakanda,” kata Banyak Sumba. Mereka

berjalan dan kedua pasangan itu saling menggabungkan diri.

Matahari hampir terbenam dan kedua pasangan itu berjalan

menuju kaputren. Yuta Inten berpegangan tangan dengan

Nyai Emas Purbamanik yang bercakap perlahan-lahan tapi

gembira kedengarannya, Pangeran Anggadipati berjalan di

samping Banyak Sumba dengan tenang.

“Bagaimana lukamu, Adinda?” tanya Pangeran Anggadipati.

“Sudah sembuh benar, Kakanda, hanya kadang-kadang

sambungan tulang rusuk hamba berdenyut, kalau hamba

terlalu banyak mengerakkan tangan kiri atau mengangkat

benda-benda yang agak berat.”

“Apakah kau masih sering merasa pening?”

“Tidak lagi, Kakanda,” jawab Banyak Sumba.

“Yang lebih mencemaskan Paman Minda dan Paman

Rakean adalah luka di kepalamu itu. Syukurlah kalau sudah

baik. Bagaimana rencanamu setelah kita ke … Pakuan

Pajajaran?” tanya Pangeran Anggadipati.

Banyak Sumba mengerti apa yang dimaksudkan oleh

Pangeran Anggadipati. Ia sendiri tidak tahu rencana apa yang

akan dilaksanakannya setelah perkawinan di Pakuan

Pajajaran. Mungkin, Ayahanda menyerahkan kekuasaan

kepadanya untuk memerintah di Medang, tetapi sebenarnya ia

harus mempersiapkan diri untuk beberapa tahun.

“Hamba tidak tahu tugas apa yang akan hamba terima dari

Ayahanda, Kakanda,” ujar Banyak Sumba.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Pangeran Anggadipati tidak berkata apa-apa lagi. Mereka

berjalan dengan tenang mengikuti kedua putri itu. Banyak

Sumba memandang ke arah Ayunda Yuta Inten dan gadis

yang dicintainya. Gadis itu berceloteh perlahan-lahan dengan

gembira kepada calon iparnya yang lebih tua. Tiba-tiba,

Banyak Sumba menyadari sesuatu.

Bertahun-tahun, selama ia mengembara dan hidup di

hutan, hiburan yang diterimanya adalah dari burung-burung

pagi yang berceloteh membangunkannya dan membukakan

langit biru kepadanya. Ia memandang ke arah Nyai Emas

Purbamanik, tiba-tiba saja ia menyadari betapa beruntung

hidupnya kini. Setelah mendengar burung-burung pagi,

biasanya hidupnya kosong sepanjang hari. Betapa sunyi dan

rindu ia akan kawan yang selalu berada di dekatnya. Dan

sekarang, orang yang dibutuhkannya itu tak akan

dilepaskannya lagi. Ia akan bangun pagi mendengar celoteh

burung-burung pagi, tetapi ia tidak akan sepi sepanjang hari.

Dan senja, seperti senja itu, Nyai Emas Purbamanik akan

berceloteh dengan suara rendah kepadanya. Ia akan

mendengarkan dengan tidak bosan-bosannya, ia akan

memandangi dengan tak henti-hentinya.

Ia memandang kedua putri yang berjalan di depannya,

halus dan megah, dua ekor burung merak putih dalam

sepuhan cahaya senja yang keemasan. Ia mendengar desir

langkah kaki di sampingnya, suara alas kaki Pangeran

Anggadipati. Ia ingin sekali merangkul pangeran itu, tapi ia

tidak berani. Kemudian, dirasakannya tangan pangeran itu

melekat di pundaknya.

“Apa pun yang kau rencanakan, Adinda, gerbang masa

depan terbuka bagimu.”

Ketika itu, Putri Yuta Inten dan Nyai Emas Purbamanik

berhenti berjalan dan menunggu mereka di gerbang kaputren.

TAMAT

Glossary:

Kuncen: juru kunci

Ki Silah: sahabat

Kaliage: semacam kayu hutan yang berduri panjangpanjang

Lahang: tuak aren

Waregu: semacam palem yang batangnya kecil

Ruyung: bagian luar batang enau atau kelapa bagian

kerasnya

About these ads

~Semoga Postingannya Bermanfaat. Silahkan meninggalkan komentar walaupun hanya sepatah kata~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s