Suramnya Bayang-Bayang (Episode 21-30)

Suramnya Bayang-Bayang

Episode 21-30

SH Mintardja

Demikian mereka meninggalkan menantu Ki Demang yang berulang kali mengucapkan terima kasih kepada mereka, maka Kiai Badra pun berniat untuk tidak berhenti lagi dimanapun juga. Jika orang-orang Jipang yang akan kembali ke kesatuannya diperbatasan itu cepat mencapai tujuannya dan menceriterakan tentang tunggul itu, serta ada satu dua orang perwira yang lebih tua yang mengenali artinya, mungkin sekelompok prajurit berkuda akan berusaha menyusul mereka.

Karena itu, maka Kiai Badra berusaha untuk tidak berjalan melalui jalan-jalan yang ramai. Berdua mereka telah memilih jalan-jalan yang lebih kecil, sehingga tidak banyak orang yang memperhatikan tunggul yang dibawanya.

Ternyata bahwa mereka sudah memasuki ujung hari yang menjadi semakin buram. Agaknya mereka terlalu lambat berangkat dari rumah menantu Ki Demang, sehingga mereka akan kemalaman lagi di jalan. Tetapi Kiai Badra dan Gandar sudah berniat untuk tidak berhenti meskipun malam turun. Mereka pun tidak lagi ingin berhenti

untuk makan disebuah kedai. Tetapi Gandarlah yang harus membeli makanan yang dibungkus dengan daun pisang yang akan mereka makan justru ditempat yang tersembunyi.

Ketika malam turun, rasa-rasanya perjalanan mereka justru menjadi aman. Tidak ada lagi orang yang berpapasan dan memandangi tunggul yang diselubungi dengan selongsong kain putih itu dengan tatapan mata penuh pertanyaan.

Ternyata Kiai Badra dan Gandar benar-benar seorang pejalan yang berpengalaman. Meskipun jalan yang mereka tempuh belum pernah mereka kenal sebelumnya, namun akhirnya mereka menemukan arah yang benar, sehingga mereka pun memasuki jalan yang terbiasa mereka lalui menjelang tengah malam.“Kita menempuh jalan yang benar,” desis Kiai Badra.

Ya. Bukit kecil itu dapat menjadi ancar-ancar. Bukankah bukit yang nampak remang-remang di malam yang tidak begitu gelap ini adalah Gunung Kendit sedangkan disebelahnya, yang runcing itu adalah Gunung Prapat?”

Kiai Badra tersenyum sambil memandang langit yang jernih dan sepotong bulan yang tergantung dilangit. Kemudian kedua bukit yang menjadi ancar-ancar perjalanan mereka, sehingga mereka tidak tersesat terlalu jauh dari tujuan.

Ternyata perjalanan mereka selanjutnya sama sekali tidak terganggu. Dengan selamat mereka mencapai padepokan Tlaga Kembang. Namun agaknya kedatangan mereka di lewat tengah malam telah mengejutkan seisi padepokan.

“Apa yang kakang bawa?” bertanya Nyai Soka ketika ia melihat tunggul dalam selongsongnya.

“Nanti, aku akan berceritera,” jawab Kiai Badra.

Nyai Soka termangu-mangu. Namun ia mengenali bentuk dari benda yang dibawanya itu sebagai sebuah tunggul. Karena itu, maka ia pun bertanya, “Apakah kakang membawa sebuah tunggul?”

“Ya,” jawab Kiai Badra. “Aku memang membawa sebuah tunggul.”

“Darimana kakang mendapatkannya?” desak Nyai Soka.

“Jangan takut aku mencuri di jalan,” jawab Kiai Badra sambil tersenyum. “Tetapi sudah aku katakan, aku akan menceriterakannya nanti, setelah aku mandi. Panasnya udara dan keringatku yang membasahi pakaianku di perjalanan, rasa-rasanya sangat mengganggu kesegaranku disisa malam ini.”

Nyai Soka pun kemudian membiarkan Kiai Badra dan Gandar mandi. Sementara itu, hampir seisi padepokan telah terbangun dan duduk disebuah amben besar di ruang dalam sambil mengamati tunggul yang masih di dalam selongsongnya, yang ditaruh di dalam ploncotan oleh Kiai Badra.

Sementara itu, Nyai Soka telah membangunkan seorang cantrik untuk merebus air, karena agaknya Kiai Badra dan Gandar yang merasa haus.

Baru sejenak kemudian, mereka duduk melingkar diamben yang besar di ruang dalam itu sambil menghirup minuman panas dengan gula kelapa.

“Nah, ceriterakan,” minta Nyai Soka.

“Kau tidak sabar menunggu matahari terbit,” desis Kiai Badra. “Sebenarnya aku masih sempat tidur barang sekejap.”

“Kakang, minum sambil berbicara,” berkata Nyai Soka. “Nanti masih ada waktu sekejap untuk memejamkan mata.”

Kiai Badra menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Tunggul itu adalah pertanda bahwa kita mengemban perintah Adipati Pajang.”

“Perintah apa?” bertanya Nyai Soka.

“Perintah untuk mengambil kembali Tanah Perdikan Sembojan dari tangan orang-orang yang tidak berhak dan melepaskan dari pengaruh Jipang,” berkata Kiai Badra.

Orang-orang yang mendengar keterangannya itu termangu-mangu. Namun Kiai Badra pun kemudian menceriterakan apa yang telah terjadi dalam perjalanannya ke Pajang untuk menemui para pemimpin Kadipaten itu, meskipun Kanjeng Adipati sendiri berada di satu tempat yang berhadapan dengan pasukan Jipang, seberang menyeberangi Bengawan Sore.

Mereka yang mendengarkan ceritera Kiai Badra itu menjadi tegang. Dengan sungguh-sungguh mereka mengikuti setiap persoalan yang dikemukakan oleh Kiai Badra, sehingga akhirnya Kiai Badra itu berkata, “Sebenarnyalah, bahwa yang mendapat perintah untuk melaksanakan semuanya itu adalah Iswari. Bukan aku, bukan Gandar dan bukan Kiai atau Nyai Soka.”

Iswari menarik nafas dalam-dalam. Sementara itu Kiai Badra meneruskan,

“Sedangkan Iswari pun bertindak atas nama anaknya. Apalagi pertanda kekuasaan Tanah Perdikan pun ada pada kita, sehingga anak itu memang mempunyai hak atas jabatan Pemimpin Tanah Perdikan Sembojan.”

Namun dalam pada itu, Iswari menjawab, “Tetapi bukan kedudukan itulah yang kita pentingkan kakek.”

“Anakmu kelak harus memandang bahwa jabatan itu penting baginya. Jika ia menjadi Kepala Tanah Perdikan, maka ia memang harus mempunyai minat untuk memegangnya, sehingga dengan demikian maka ia akan mempunyai gairah perjuangan, meskipun dengan demikian harus ada batasan-batasan lain yang akan membedakannya dengan orang-orang tamak yang cenderung memenuhi keinginan dan selera pribadi tanpa menghiraukan isi Tanah Perdikan itu sendiri,” berkata Kiai Badra.Iswari menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia tidak membantah keterangan kakeknya.

Sementara itu, Kiai Badra pun berkata, “Nah mulai hari ini kita akan mengemban tugas yang penting dan berat. Kita memerlukan waktu, pikiran dan dukungan.

Bahkan kita memerlukan apa saja yang akan dapat menjadi pendorong perjuangan ini. Sementara itu, kita harus juga memperhitungkan kekuatan Jipang yang sudah mencengkam Tanah Perdikan ini, karena sewaktu-waktu pasukan Jipang akan dapat ditarik dari perbatasan dan diperbantukan untuk mengatasi kemelut yang mungkin terjadi di Tanah Perdikan yang sudah menyatakan diri menjadi bagian dari Jipang ini. Kau sadari itu Iswari?”

Iswari menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Ya kakek. Tetapi bukankah kita tidak tergesa-gesa dan Pajang tidak memberikan batasan waktu?”

“Ya. Kita memang tidak mendapat batasan waktu. Tetapi pertengkaran antara Pajang dan Jipang itu berjalan terus. Jika kita dapat mengganggu pemusatan pasukan Tanah Perdikan Sembojan yang berpihak kepada Jipang itu, maka berarti kita sudah meringankan beban Pajang. Dan sebaliknya jika Pajang bergerak, maka kita mendapat kesempatan untuk berbuat untuk banyak di Tanah Perdikan ini karena pasukan Jipang dan Tanah Perdikan Sembojan itu terikat dalam benturan kekuatan dengan Pajang,” berkata Kiai Badra.

Bahkan ia pun telah menceriterakan pula apa yang terjadi antara dirinya dan Gandar dengan para perwira dari Jipang.

“Baiklah,” berkata Nyai Soka kemudian, “Kita harus memikirkannya masak-masak. Kita memerlukan waktu dan pengamatan yang luas. Baru kita menentukan sikap.”

“Tetapi waktu yang kita perlukan itu jangan terlalu panjang bahwa tanpa batas,” sahut Kiai Badra.

Nyai Soka tersenyum. Katanya, “Selama ini kakang tidak pernah nampak sangat tergesa-gesa untuk menangani satu persoalan seperti saat ini. Tetapi baiklah, semula akulah yang tergesa-gesa, sementara kakang akan beristirahat. Tetapi ketika kakang mulai berbicara dengan perasaan, maka rasa-rasanya sekarang juga kita harus berbuat sesuatu.”

Kiai Badra mengerutkan keningnya. Namun ia pun kemudian tersenyum. Katanya,

“Baiklah. Aku ingin beristirahat sebelum minum beberapa teguk air panas. Meskipun sesaat lagi fajar akan menyingsing, namun agaknya aku masih mempunyai waktu.”

Demikianlah, maka Kiai Badra dan Gandar telah pergi ke biliknya. Namun dalam pada itu, Nyai Soka dan Kiai Soka masih duduk ditempatnya bersama dengan Iswari.

Nampaknya mereka masih melanjutkan pembicaraan tentang perintah Pajang yang di tandai dengan tunggul yang dibawa oleh Kiai Badra itu dengan sungguh-sungguh.

Bagi Iswari, maka ia harus mempertaruhkan segala-galanya bagi kepentingan Pajang dan kepentingan anak laki-lakinya, meskipun ayah anaknya itu telah melakukan satu kesalahan yang sangat besar kepadanya.

“Langkah yang segera dapat kita ambil adalah mempersiapkan diri. Kita harus menampa diri kita masing-masing lahir dan batin untuk menghadapi kekuatan yang mungkin akan mengejutkan kita, karena selain Tanah Perdikan Sembojan sudah berada dibawah pengaruh dan mungkin juga perlindungan dari Jipang, maka disekitar pemangku jabatan Kepala Tanah Perdikan Sembojan adalah orang-orang dari lingkungan keluarga Kalamerta,” berkata Kiai Soka.

Iswari mengangguk-angguk. Ia menyadari. Tetapi tekadnya memang sudah bulat, apapun yang akan terjadi dengan dirinya, maka ia harus mengusir perempuan yang telah merusak bukan saja keluarganya, tetapi Tanah Perdikan Sembojan itu sendiri.”

“Sudahlah,” berkata Kiai Soka, “Kita pun masih sempat beristirahat barang satu dua kejap.”

“Aku tidak lagi,” berkata Nyai Soka. “Aku harus segera pergi ke dapur. Merebus air dan menyiapkan keperluan pagi ini.”

“Ketela rebus,” bertanya Kiai Soka.

Tetapi Nyai Soka menggeleng. Katanya, “Pagi ini aku tidak merebus ketela.”

“Lalu apa?” bertanya Kiai Soka.“Aku akan membuat pondoh jagung,” jawab Nyai Soka.

“O, senang sekali. Mungkin Karena Kiai Badra dan Gandar baru datang dari Pajang, sehingga kau pagi ini membuat pondoh jagung,” berkata Kiai Soka selanjutnya.

Nyai Soka tidak menjawab lagi. Tetapi ia pun langsung pergi ke dapur. Sementara di dapur seorang pembantunya telah mulai menyalakan perapian. Sedangkan Kiai Soka pun ternyata tidak lagi pergi ke biliknya, tetapi ia justru turun ke halaman dan berjalan-jalan mengitari belumbang di bagian belakang padepokan kecil itu.

Sementara itu Iswari telah sibuk dengan anaknya. Sebentar lagi, anak itu harus dimandikannya. Biasanya Iswari memandikan anaknya langsung dengan air sumur yang hangat.

Demikianlah, ketika matahari kemudian terbit, orang-orang yang tinggal di padepokan kecil itu telah bersiap. Tetapi sebelum mereka mulai membicarakan langkah-langkah yang akan mereka ambil, maka mereka diminta lebih dahulu oleh Nyai Soka untuk minum minuman hangat dan makan pondoh jagung yang telah dibuatnya.

Baru sejenak kemudian, orang-orang itu pun telah mulai memasuki satu pembicaraan untuk menemukan langkah-langkah yang akan dapat mereka ambil.

Namun setelah pembicaraan mereka berputar-putar, akhirnya mereka sampai pada satu kesimpulan, bahwa langkah pertama yang akan mereka ambil adalah menjajagi kembali sikap orang-orang Tanah Perdikan Sembojan dengan mengirimkan sekelompok rombongan penari dan pengiring yang akan memasuki Sembojan.

“Sebagian besar para pengawal telah tidak ada ditempat,” berkata Kiai Badra.

“Sementara itu, iring-iringan kita harus kuat, karena jika terpaksa, maka kita akan benar-benar bertempur, meskipun kita belum sampai maksud yang sebenarnya untuk merebut kembali Tanah Perdikan itu. Tetapi setidak-tidaknya, kita sudah mulai dengan satu sikap yang akan dapat dibaca oleh orang-orang Tanah Perdikan Sembojan. Sehingga dengan demikian, maka mereka akan dapat menentukan pilihan, apakah yang harus mereka lakukan.”

Orang-orang yang mendengarkan pertimbangan Kiai Badra itu mengangguk-angguk.

Mereka sependapat, bahwa mereka tidak boleh terlalu lama berpisah dengan rakyat Sembojan justru dalam keadaan yang kalut ini, sehingga dengan demikian maka setiap rencana mereka dapat disesuaikan dengan perkembangan gejolak rakyat Tanah Perdikan Sembojan.

“Apalagi pada saat ini Ki Randukeling tidak ada di Tanah Perdikan,” berkata Sambi Wulung.

“Meskipun demikian, kita tidak boleh lengah,” berkata Kiai Soka. “Bukankah keluarga Kalamerta membayangi kekuasaan Tanah Perdikan itu.”

“Ya. Dan Nyai Wiradana itu sendiri adalah orang yang sangat berbahaya. Apalagi ia sekarang sudah membuka kedoknya. Orang-orang Tanah Perdikan sudah mengetahui, bahwa Nyai Wiradana adalah seorang perempuan yang memiliki kemampuan yang tinggi. Ia bukan sekadar penari jalanan sebagaimana mereka duga dahulu.”

“Baiklah,” berkata Kiai Badra. “Kita akan mempersiapkan sebuah rombongan yang lengkap.”

Sementara di padepokan Tlaga Kembang dipersiapkan sebuah rombongan yang akan mengiringi seorang penari memasuki Tanah Perdikan Sembojan, maka Nyai Wiradana telah mengendalikan suaminya dengan ketat. Segala sesuatu ketentuan dan peraturan bersumber dari Nyai Wiradana. Bahkan Nyai Wiradana telah mengambil langkah untuk membentuk pasukan di antara anak-anak muda yang tersisa, agar apabila diperlukan, maka mereka akan dapat dikirim ke perbatasan.

“Anak-anak muda Tanah Perdikan ini sudah habis,” berkata Ki Wiradana, “Jika mereka akan dikirim ke luar, maka Tanah Perdikan ini sendiri tidak akan terlindung jika sekelompok perempok kecil memasuki padukuhan-padukuhan.”

“Jangan terlalu bodoh kakang,” jawab istrinya. “Bukankah aku mengerti, bahwa masih ada anak-anak muda yang cukup banyak, sehingga apabila diambil separo daripadanya, maka Tanah Perdikan ini masih tetap kuat.”“Tetapi bukankah kita sudah mengirim cukup banyak anak-anak muda untuk membantu Jipang? Dan bukankah kekuatan Jipang yang berada di sebelah-menyebelah Pajang itu cukup kuat untuk menekan Pajang, karena sebagian besar prajurit Pajang justru ditarik ke luar untuk berhadapan dengan pasukan Jipang di Demak?” bertanya Ki Wiradana.

“Kau jangan terlalu banyak mempersoalkan hal itu,” berkata istrinya. “Jangan membuat aku marah, karena aku masih ingin menghormatimu sebagai seorang suami.”

Setiap kali Ki Wiradana menghadapi ancaman yang demikian, maka ia tidak dapat berbuat apa-apa lagi. Ia harus melakukan perintah istrinya untuk mengumpulkan sebagian dari anak-anak muda yang tersisa untuk mendapat latihan-latihan yang berat.Parapengawal khusus yang sudah ditempa oleh para perwira dari Jipang dan Nyai Wiradana sendiri akan memberikan latihan-latihan kepada mereka.

Rencana itu telah sampai pula ketelinga Kiai Badra. Tetapi Kiai Badra sama sekali tidak mencemaskannya, karena kekuatan itu ditujukan untuk menghadapi Pajang.

“Jika rencana itu dilaksanakan, maka Tanah Perdikan itu akan menjadi semakin lemah,” berkata Kiai Badra.

Tetapi Sambi Wulung bertanya, “Tetapi bagaimana keadaan Tanah Perdikan setelah perang itu selesai. Jika para pengawal yang mendapat tuntunan dan pengaruh para perwira dari Jipang itu kembali, apakah tidak akan timbul persoalan di antara mereka dengan rencana kita?”

“Sudah tentu,” jawab Kiai Badra. “Tetapi kita harus memikirkannya, apa yang sebaiknya kita lakukan. Untuk itu kita masih mempunyai waktu.”

Sambi Wulung mengangguk-angguk. Katanya, “Baiklah. Kita akan segera memasuki Tanah Perdikan di malam hari.”

“Tetapi ternyata bahwa kita harus menunggu untuk melihat perkembangan penyusunan kekuatan yang akan dilakukan di Tanah Perdikan,” berkata Kiai Badra.

Namun ternyata Kiai Badra tidak memerlukan waktu yang lama. Mereka dapat menyaksikan perkembangan yang tumbuh di Tanah Perdikan Sembojan lewat Sambi Wulung dan Jati Wulung. Latihan-latihan yang lesu betapapun dipaksakan oleh para pemimpin dan para pengawal yang pernah mendapat latihan-latihan yang berat dari

para perwira di Jipang.

“Tanah Perdikan ini sudah kehilangan urat nadi kekuatannya,”berkata Wiradana.

“Sekarang Tanah ini masih akan diperas sampai kering.”

“Lakukan perintah ini atau kau akan menyesal,” ancam istrinya.

Ki Wiradana tidak dapat berbuat sesuatu. Ia harus melakukan sebagaimana dikatakan oleh istrinya. Apalagi di dalam rumahnya kemudian selalu terdapat ayah Warsi yang sebenarnya dan tukang gendang yang merupakan tangan kanan dari ayah Warsi yang mengaku sebagai pedagang emas berlian itu.

Betapa penyesalan mencengkam jantung Ki Wiradana, ia pun mulai menduga-duga tentang kematian ayahnya.

“Tentu ada hubungannya dengan rencana yang nampaknya telah disusun sangat rapi oleh Warsi,” berkata Wiradana kepada diri sendiri.

Tetapi semuanya sudah terlanjur. Dari Warsi ia mempunyai seorang anak yang akan dengan cepat merenggut kedudukannya. Menilik sikap Warsi dan orang-orang yang berada disekitarnya, maka pada suatu saat ia tentu akan disingkirkan tanpa menunggunya sampai tua. Anaknya yang dilahirkan oleh Warsi itulah yang akan segera menggantikannya. Dewasa atau belum dewasa. Bahkan angan-angan Ki Wiradana itu sampai pada puncak kekecewaannya melihat sikap Warsi terhadap Ki Rangga Gupita yang untungnya baru berada di hadapan Pajang bersama Ki Randukeling.

Dalam pada itu, ternyata Pajang dan Jipang telah terlibat semakin dalam memasuki persoalan yang menyangkut tahta Demak yang ditinggalkan. Kematian demi kematian telah terjadi. Menurut berita yang didengar oleh para pemimpin di Pajang, Arya Penangsang berusaha untuk membunuh orang-orang yang dapat mengganggu keinginannya untuk merebut tahta, seorang demi seorang. Tidak dalam perang.

Dengan demikian, maka Kanjeng Adipati Hadiwijaya dari Pajang pun menjadi semakin berhati-hati. Disiapkannya perisai lahir dan batin, agar ia tidak terbunuh sebagaimana beberapa orang putera dan menantu Sultan Trenggana yang telah wafat itu.

Di Pasanggrahan Adipati Hadiwijaya, penjagaan telah diperkuat.Paraprajurit selalu berada disekitar bilik tidur Adipati Hadiwijaya sendiri. Sementara Kanjeng Adipati Hadiwijaya pun selalu mengeterapkan ilmunya meskipun ia berada di dalam bilik yang dijaga ketat oleh para prajuritnya.

Sementara itu, di Pajang sendiri, para prajurit yang tinggal telah bersiap dalam kesiagaan tertinggi. Pasukan Jipang memang telah berada dihadapan hidung mereka.

Bahkan diperkuat dengan para pengawal dari Tanah Perdikan Sembojan.

Namun Pajang pun tidak sekadar mempercayakan pertahanannya kepada para prajurit. Karena itu, maka Pajang pun telah memanggil beberapa orang pengawal dari daerah-daerah disekitarkotayang dianggap memiliki kemampuan dasar dalam olah kanuragan untuk ikut mempertahankankotaapabila pasukan Jipang benar-benar menyerang.

Sementara itu, maka di padepokan Tlaga Kembang telah terjadi satu persiapan yang matang. Sekelompok pengiring dan penari telah siap untuk pergi ke Sembojan.

Bukan hanya seorang penari, tetapi yang akan ikut bersama kelompok itu adalah dua orang penari. Seorang penari yang telah dikenal oleh orang-orang Sembojan dan seorang penari yang lain adalah seorang perempuan yang lebih tua dari penari yang seorang dan tidak mempunyai ujud yang pantas sebagai seorang penari. Tetapi yang seorang ini akan lebih banyak memancing tertawa para penontonnya kelak.

“Nah, rombongan kita sekarang menjadi lebih besar, mulai berdendang semua laki-laki Tanah Perdikan Sembojan akan terbius dan di esok harinya, mereka akan berduyun-duyun mencari pesinden yang bersuara emas itu.”

Yang menyahut adalah Kiai Badra, “Tetapi jika mereka menemukannya, maka mereka akan menjadi pingsan karenanya.”

Nyai Soka tertawa berkepanjangan. Bahkan Iswari pun tersenyum pula sebagaimana perempuan yang disebut Serigala Betina itu.

Demikianlah, dengan persiapan yang matang bukan saja untuk mengiringi seorang penari, tetapi juga untuk bertempur apabila perlu, maka rombongan penari jalanan itu telah berangkat menuju Sembojan.

Kehadiran rombongan penari yang sudah agak lama hilang itu, memang mengejutkan. Ketika rombongan itu memasuki sebuah padukuhan, maka mereka pun segera kebar di simpang tiga, di pinggir padukuhan.

Ternyata rombongan penari itu masih menarik perhatian. Orang-orang padukuhan itu segera berkumpul mengitari rombongan penari itu. Yang mereka saksikan kemudian bukan hanya seorang penari sebagaimana terdahulu, tetapi dua orang. Yang seorang memang lebih banyak berputaran dan mengundang tawa. Ujudnya yang agak kegemukan dan terhitung seorang perempuan yang gagah menurut ukuran perempuan kebanyakan, dengan gerak dan rias yang menyolok, memang membuatnya menjadi lucu. Perempuan itu tidak terlalu baik untuk menari, tetapi cukup memberikan kesegaran pada

pertunjukan itu.

Tetapi satu hal yang menarik perhatian, bukan oleh para penonton, tetapi justru oleh setiap orang dalam rombongan itu, bahwa di antara para penontonnya, anak-anak mudanya terlalu jauh susut dari yang pernah mereka lihat sebelumnya.

“Sebagian dari mereka telah dikirim ke Pajang,” berkata orang-orang Tlaga Kembang itu di dalam hatinya.

Namun ketika rombongan penari itu kemudian beristirahat, dan di antara para pengiringnya sempat berbincang dengan orang-orang padukuhan itu, maka mereka mengetahui bahwa selain yang dikirim ke Pajang, maka sebagian lagi di antara mereka telah ditarik masuk ke dalam barak-barak untuk mendapatkan latihan keprajuritan, sehingga yang tinggal adalah anak-anak muda yang lemah, yang terlalu tua untuk latihan-latihan yang berat dan yang masih terlalu muda.

“Apakah masih ada yang mendapat tempaan di barak-barak?” bertanya Kiai Soka. “Ya. Mereka dipersiapkan untuk mempertahankan Tanah Perdikan ini jika diperlukan,” jawab seseorang.

Tetapi orang lain menyambung, “Bukan hanya untuk itu. Tetapi aku kira mereka mungkin akan dikirim ke Pajang juga menyusul saudara-saudaranya yang telah terlebih dahulu diumpankan.”

Kiai Soka mengangguk-angguk, sementara Kiai Badra tidak berani berterus terang menampakkan wajahnya kepada orang-orang Sembojan sebagaimana juga Gandar, karena sebagian di antara orang-orang Sembojan itu telah mengenal mereka.

Sementara itu, Kiai Soka pun bertanya, “Ki Sanak, apakah peraturan yang dahulu masih berlaku?”

“Peraturan yang mana?” bertanya orang Sembojan itu.

“Bahwa para pengawal bahkan setiap orang harus menangkap kami apabila kami berada di Tanah Perdikan ini,” jawab Kiai Soka.

Orang Sembojan itu mengerutkan keningnya. Kemudian jawabannya, “Peraturan itu memang belum dicabut. Agaknya memang demikian. Tetapi bagi kami, apakah salah kalian?”

Kiai Soka mengangguk-angguk. Lalu katanya, “Terima kasih atas sikap ini.”

Namun dalam pada itu orang Sembojan itu pun bertanya, “Tetapi Ki Sanak. Apakah kalian masih tidak bersedia menjawab teka-teki tentang penari itu?”

Kiai Soka termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya, “Teka-teki tentang apa?”

“Ujudnya yang mirip sekali dengan Nyai Wiradana. Bahkan kami menganggap bahwa orang itu adalah Nyai Wiradana,” jawab orang Sembojan itu.

Kiai Soka tertawa. Namun katanya, “Kami akan kebar lagi dilain tempat. Kecuali jika ada yang minta rombongan itu menari disini.”

Orang Sembojan itu menjawab kecewa. Tetapi ia pun kemudian menarik nafas dalam-dalam sambil berkata, “Tanah Perdikan ini sekarang memang sedang bergejolak. Semua orang yang memiliki kelebihan berusaha membuat kami menjadi gila.”

“Apa maksudmu?” bertanya Kiai Soka.

“Kalian dapat melihat apa yang terjadi disini. Dan di antara yang membuat kami gila ada perempuan yang mirip sekali dengan Nyai Wiradana, justru pada saat kami memerlukannya,” berkata orang Sembojan itu. “Sebagian orang-orang Sembojan memastikan, bahkan ada yang mengaku sudah mendapat penjelasan yang sebenarnya, bahwa perempuan itu memang Nyai Wiradana yang meninggalkan rumahnya karena kecewa melihat sikap Ki Wiradana yang telah berhubungan dengan penari iblis itu.”

Kiai Soka menarik nafas dalam-dalam. Namun sekali lagi ia berkata, “Terima kasih Ki Sanak. Kami akan meneruskan perjalanan kami menyusuri jalan-jalan Tanah Perdikan ini untuk mencari makan.”

Orang-orang Tanah Perdikan Sembojan itu tidak dapat mencegah mereka. Selain mereka memang tidak ingin minta juga sebenarnyalah orang-orang Sembojan itu masih dibayangi oleh ingatan mereka terhadap peraturan, bahwa jika rombongan itu

menari di rumah seorang di antara mereka, melihat rombongan penari itu, mereka harus menangkap atau melapor kepada para pengawal.

Tetapi menurut pendapat orang-orang padukuhan itu, pengawal padukuhan yang sudah menjadi semakin lemah itu pun sebenarnya mengetahui kehadiran rombongan itu.

Namun mereka masih belum mengambil tindakan apapun juga.

Sementara itu di gardu dimulut lorong padukuhan dua orang pengawal sedang berbincang tentang rombongan itu pula.

”Aku pernah mendengar meskipun aku tidak tahu kebenarannya, bahwa rombongan penari itu bukan saja mampu memukul gamelan dan mengiringi tarian perempuan yang mirip sekali dengan Nyai Wiradana itu. Tetapi mereka juga mampu bertempur,”

berkata seorang di antara mereka.

”Itu wajar. Setiap rombongan pertunjukan jalanan, tentu mempunyai satu dua orang yang dapat mereka andalkan, karena ada kemungkinan mereka mengalami gangguan di jalan,” jawab kawannya.

”Jadi bagaimana dengan kita?” bertanya yang pertama.

Kawannya tidak segera menjawab. Sementara orang yang pertama mendesak, ”Apakah kita akan menangkap mereka? Jika kau ingin kita berbuat demikian, aku pun akan melakukannya. Lepas dari pertimbangan berhasil atau tidak berhasil.”

Kawannya termangu-mangu. Namun kemudian katanya, ”Kita tidak melihat langsung.

Biar sajalah. Anggap saja kita tidak tahu bahwa ada serombongan penari jalanan di padukuhan ini.”

”Kita mendengar gamelannya. Kita melihat orang-orang pergi menonton dan kita mendengar orang-orang berbicara tentang penari yang mirip dengan Nyai Wiradana itu,” berkata anak muda yang pertama.

”Aku tidak melihat mereka lewat dan aku tidak mendengar mereka berceritera tentang rombongan penari itu,” jawab kawannya.

”Persetan,” geram orang yang pertama. ”Kau ingkar. Katakan saja bahwa kau dan juga aku tidak berani bertindak atas mereka. Itu lebih jujur.”

Kawannya tidak menjawab. Tetapi ia semakin membenamkan dirinya dibalik selimut kain panjangnya. Sambil memeluk lutut ia duduk bersandar dinding gardu di mulut lorong.

Dalam pada itu, maka iring-iringan penari jalanan itu pun telah menelusuri jalan di bulak-bulak menuju padukuhan berikutnya. Mereka sama sekali tidak ingin menghindari para pengawal di gardu-gardu atau mereka yang sedang meronda nganglang Tanah Perdikan.

Namun dalam pada itu, ketika rombongan itu mendekati sebatang pohon asam yang besar di pinggir jalan, Kiai Soka yang berada di paling depan telah memberikan isyarat. Kiai Soka telah melihat dua orang yang berjongkok di pinggir jalan dibawah pohon asam itu. Dalam kegelapan malam, yang nampak oleh ketajaman pandangan Kiai Soka tidak lebih dari dua sosok bayangan yang kehitam-hitaman.

”Berhati-hatilah,” berkata Kiai Soka. ”Tentu bukan para pengawal Tanah Perdikan ini. Jangan terlibat persoalan dengan lain yang akan dapat mempersulit kedudukan kita.”

Tidak ada yang menjawab. Tetapi iring-iringan kecil itu berjalan terus dengan lampu minyak yang tergantung di pikulan gamelan yang sederhana.

Kiai Soka yang berada di paling depan memberi isyarat rombongan itu berhenti ketika dilihatnya dua orang itu bangkit berdiri dan bergeser selangkah ke depan.

”Selamat malam Ki Sanak,” terdengar salah seorang dari kedua orang itu berdesis.

”Selamat malam,” jawab Kiai Soka.

”Sebuah rombongan penari yang sangat besar menurut ukuran yang wajar,” berkata orang itu.

Kiai Soka mengerutkan keningnya. Dengan nada dalam ia bertanya, ”Apakah Ki Sanak akan minta rombongan kami untuk menari?”

Kedua orang itu berpandangan sejenak. Namun salah seorang di antara mereka berkata, ”Ya Ki Sanak. Kami ingin minta rombongan ini menari.”

”O, bagus,” jawab Kiai Soka. ”Dipadukuhan yang mana?”

”Bukan hanya di padukuhan, tetapi diseluruh Tanah Perdikan,” jawab orang itu.

Kiai Soka mengerutkan keningnya. Namun ia pun segera tanggap. Orang itu tentu mempunyai maksud tertentu terhadap rombongan penarinya. Karena itu, maka ia pun menjadi semakin berhati-hati.

Dengan nada datar Kiai Soka pun kemudian bertanya, “Ki Sanak. Jawaban Ki Sanak telah menumbuhkan persoalan di dalam diriku. Aku minta maaf, bahwa sebagai orang tua aku tidak segera mengetahui maksud Ki Sanak yang sebenarnya meskipun aku tahu, bahwa yang Ki Sanak katakan merupakan ungkapan yang harus dicari maknanya.”

Orang itu tertawa. Jawabnya, “Ketika rombongan ini kebar di padukuhan sebelah, aku ikut menyaksikan. Satu pertunjukan yang sangat menarik. Seorang penari yang memang menguasai kemampuan menari, seorang yang memberikan kesegaran pada pertunjukan karena sikap dan ujudnya, dan seorang pesinden dengan suara yang ngelangut meskipun sudah mulai bergetar karena umurnya.”

“Dan Ki Sanak tertarik kepada pertunjukan itu?” bertanya Kiai Soka.

“Ya. Menurut seorang penonton penarinya mirip sekali dengan Nyai Wiradana,” berkata orang itu.

Kiai Soka menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Ki Sanak tentu bukan orang Tanah Perdikan ini. Nah, siapakah Ki Sanak sebenarnya dan apakah maksud Ki Sanak?”

“Kami orang Sembojan,” jawab orang itu.

“Orang Sembojan tentu mengenal Nyai Wiradana. Bukan sekadar menurut kata orang.

Jika kalian orang Sembojan kalian tentu mengetahui menurut penglihatan Ki Sanak sendiri, apakah penariku itu mirip atau tidak dengan Nyai Wiradana,” berkata Kiai Soka.

Orang itu menarik nafas dalam-dalam. “Baiklah. Kami memang bukan orang Sembojan.

Tetapi menurut kami, penari itu sama sekali tidak mirip dengan Nyai Wiradana.”

“Mungkin Ki Sanak benar,” jawab Kiai Soka.

“Yang mirip dengan Nyai Wiradana adalah orang lain, yang memiliki persamaan.

Tetapi orang itu adalah Nyai Wiradana sendiri,” jawab orang itu.

Kiai Soka menarik nafas dalam-dalam. Lalu katanya, “Apakah Ki Sanak mendapat tugas dari para pemimpin Jipang untuk melakukan satu tindakan tertentu terhadap kami? Mungkin atas permintaan Wiradana atau istrinya yang sebenarnya adalah keluarga Kalamerta yang terkenal itu? Atau Ki Sanak sendiri memang keluarga Kalamerta yang ingin menegakkan kewibawaan Wiradana dan istrinya yang juga seorang penari jalanan?”

Orang itu termangu-mangu sejenak. Namun seorang di antara mereka berkata, “Kalian terlalu berprasangka buruk. Kami bukan orang Jipang dan bukan pula keluarga Kalamerta.”

“Sebut. Siapakah kalian?” desis Kiai Soka.

“Sudah kami katakan, bahwa kami adalah orang-orang yang ingin minta kalian menari. Tidak hanya sekadar dipadukuhan-padukuhan. Tetapi diseluruh Tanah Perdikan ini,” jawab orang itu. Lalu, “Bukan saja seorang penari. Tetapi kalian semuanya dan bahkan apabila mungkin mengajak orang-orang Tanah Perdikan ini untuk ikut menari.”

Kiai Soka termangu-mangu sejenak. Namun yang tidak dapat menahan diri adalah Sambi Wulung, “Apakah maksudmu sebenarnya? Jangan mencoba untuk mempermainkan kami.”

Namun Kiai Badra telah menggamitnya. Ialah yang kemudian berdiri disebelah Kiai Soka sambil berkata, “Ki Sanak. Bukan soal yang sulit untuk berbicara tanpa diketahui ujung pangkalnya oleh lawannya berbicara. Aku dapat mengucapkan kata-kata yang barangkali tidak kau mengerti maksudnya. Tetapi bukankah lebih baik bagi kita apabila kita berbicara dengan terus-terang, jelas dan dapat dimengerti maksudnya, apapun yang kemudian harus terjadi.”

Orang yang semula berada di bayangan pohon asam itu pun bergerak maju. Malam memang tidak terlalu gelap. Udara terang, bintang bergayutan tetapi bulan tidak ada di langit.

Meskipun demikian, Kiai Badra mampu melihat garis-garis wajah yang mendekatinya itu. Bahkan tiba-tiba saja ia berdesis, “Ki Tumenggung sendiri yang telah datang ke Tanah Perdikan ini?”

Orang itu tersenyum. Katanya, “Aku memerlukan untuk pergi melihat Tanah Perdikan ini dan berusaha untuk dapat berhubungan dengan serombongan penari jalanan yang berkeliling di Tanah Perdikan ini. Sudah tiga hari tiga malam aku di sini.

Hampir saja aku memutuskan untuk kembali ke Pajang karena tidak ada jalan bagiku untuk dapat bertemu dengan Kiai Badra.”

“Maaf Ki Tumenggung. Kami tidak tahu dengan siapa kami berhadapan,” desis Kiai Badra, yang kemudian katanya kepada Kiai Soka, “Ini adalah Tumenggung Wirajaya.

Seorang pemimpin di Pajang yang bertanggung jawab tentang Tanah Perdikan yang ada di lingkungan kekuasaan Kadipaten Pajang.”

“O,” Kiai Soka mengangguk hormat, “Kami mohon maaf Ki Tumenggung, kami tidak mengerti bahwa kami berhadapan dengan Ki Tumenggung Wirajaya.”

“Tidak apa Kiai,” jawab Ki Tumenggung. “Aku memang ingin untuk tidak dikenal.

Sementara itu, aku merasa beruntung bahwa aku dapat bertemu dengan Kiai dan Kiai Badra di sini.”

Kiai Badra pun kemudian telah memperkenalkan orang yang sebenarnya adalah Ki Tumenggung Wirayuda sendiri beserta pengawalnya yang telah memerlukan datang melihat Tanah Perdikan Sembojan dari dekat.

Bahkan Ki Tumenggung itu pun kemudian berkata, “Aku tidak sekadar ingin melihat Tanah Perdikan ini setelah kehilangan tulang-tulangnya sehingga seakan-akan sudah tidak mempunyai kekuatan lagi karena anak-anak mudanya yang terbaik telah diumpankan di hadapan pasukan pajang. Tetapi aku memang ingin berbicara dengan Iswari yang dianggap sudah hilang dari Tanah Perdikan ini, karena menurut Kiai Badra, Iswarilah yang akan memegang tunggul pertanda kuasa Kadipaten Pajang yang dilimpahkan kepada pemimpin sejati dari Tanah Perdikan ini.”

Kiai Badra menarik nafas dalam-dalam. Lalu katanya, “Iswari. Kemarilah Ki Tumenggung Wirajaya akan berbicara denganmu.”

Dengan ragu-ragu Iswari pun melangkah maju mendekat. Sementara Ki Tumenggung bertanya, “Apakah aku dapat berbicara sekarang? Maksudku dihadapan orang-orang ini semuanya?”

“Silakan Ki Tumenggung,” jawab Kiai Badra. “Semua orang di dalam rombongan ini adalah orang-orang yang terpercaya. Karena itu, apakah kita harus mencari tempat yang baik untuk dapat duduk sambil berbicara?”

“Tidak perlu,” jawab Ki Tumenggung. “Aku tidak akan berbicara panjang. Aku tidak ingin mengganggu serombongan penari yang sedang mencari makan.”

Kiai Badra tersenyum, sementara Ki Tumenggung sambil tersenyum pula meneruskan,

“Karena itu, aku ingin berbicara singkat dan langsung.”

“Silakan Tumenggung,” sahut Kiai Badra yang kemudian berkata kepada cucunya,

“Dengarkan baik-baik.”

“Iswari,” berkata Ki Tumenggung, “Meskipun aku belum pernah melihat sebelumnya, tetapi demikian aku melihat seorang penari di arena, aku langsung dapat menebak, yang manakah yang bernama Iswari. Tentu bukan yang bertubuh sedikit kegemukan dan tinggi besar seperti seorang laki-laki dengan rias yang menggelikan itu.”

Iswari hanya tersenyum sambil menundukkan kepalanya, “Nah, dengarlah,” berkata Ki Tumenggung. “Sebagaimana kalian ketahui, Tanah Perdikan ini sudah menjadi sangat lemah. Namun demikian, aku masih akan berusaha untuk membuat Tanah Perdikan ini semakin kecut melihat perkembangan suasana di Pajang. Kami sudah mempersiapkan sepasukan prajurit khusus untuk menganggu pasukan Jipang yang diperkuat oleh anak-anak muda Tanah Perdikan ini. Mudah-mudahan kami tidak harus mengorbankan jiwa terlalu banyak, lebih-lebih anak-anak muda Tanah Perdikan ini.

Sementara itu, kalian dapat mengamati keadaan. Mungkin Tanah Perdikan ini akan mengirimkan bantuan bagi pasukannya yang berada di bawah pengaruh Jipang. Namun pada saat yang demikian, kalian akan dapat banyak berbuat bagi Tanah Perdikan ini.

“Apa yang harus kami lakukan di sini,” bertanya Iswari.

“Kita akan dapat bekerja bersama. Agar anak-anak muda dari Tanah Perdikan ini tidak menjadi umpan yang tidak berarti di Pajang. Jika kami bergerak dan kalian bergerak, maka aku kira anak-anak muda tidak akan dilemparkan ke dalam api pertempuran di Pajang, karena Tanah Perdikan ini sendiri memerlukan mereka.

Tanah Perdikan ini harus mengatasi kerusuhan yang ditimbulkan oleh sekelompok orang yang mengadakan pertunjukan keliling di Tanah Perdikan ini.”

“Kami mengerti Ki Tumenggung,” jawab Iswari. “Tetapi sejak kapan pasukan Pajang akan bergerak?”

“Secepatnya. Besok aku sudah berada kembali di Pajang. Sementara itu segala sesuatunya sudah direncanakan dengan masak, sehingga setiap saat pasukan Pajang akan dapat bergerak. Sementara itu kami selalu mengadakan hubungan dengan prajurit Pajang yang berhadapan langsung dengan induk pasukan Jipang yang dipimpin sendiri oleh Adipati Jipang, Arya Penangsang,” jawab Ki Tumenggung.

“Baiklah,” jawab Iswari. “Jika demikian, maka kami pun masih belum mulai hari ini. Kami akan mulai beberapa hari lagi, setelah pasukan Pajang bergerak, dan kami mendapat kabar, bahwa Tanah Perdikan ini menyiapkan orang-orangnya untuk dikirim.”

Ki Tumenggung mengangguk-angguk. Katanya, “Bagus. Ternyata kau mampu membuat perhitungan-perhitungan tentang peperangan yang aku pasti belum pernah kau lakukan sebelumnya.”

“Ah,” Iswari menundukkan kepalanya.

“Sudahlah. Segala sesuatunya akan berjalan seperti yang aku katakan. Jika terjadi perubahan, maka kami akan memberitahukan kepada kalian. Tetapi dimana aku atau orang-orangku dapat menemui kalian?” bertanya Ki Tumenggung.

“Di padepokan kecil di luar Tanah Perdikan ini,” jawab Iswari.

“Atau kita akan menentukan tempat yang lebih baik,” Kiai Badra memotong. “Tempat yang tidak terlalu jauh dari Tanah Perdikan ini, sehingga setiap gerakan akan dapat langsung dimengerti.”

“Kita akan membuat barak yang tersembunyi? Di hutan itu misalnya?” bertanya Iswari.

“Ya. Kita akan membuat semacam tempat persiapan-persiapan. Sudah tentu harus tersembunyi,” jawab Kiai Badra.

“Dimanapun jadilah,” jawab Ki Tumenggung.

Mereka pun kemudian sepakat untuk mengadakan tempat pertemuan di lereng bukit yang disebut Gunung Prapat. Bukit yang kecil dan terletak disebuah hutan yang tidak begitu lebat. Namun cukup sunyi karena jarang sekali disentuh oleh kaki seseorang.

Dengan kemampuan angan-angan mereka, maka mereka pun telah menentukan tempat itu, sehingga kedua belah pihak tidak akan menjadi kebingungan.

Dua atau tiga orang di antara kami akan selalu berada ditempat itu bergantian,” berkata Kiai Badra.

Ki Tumenggung Wirajaya mengangguk-angguk. Katanya, “Baiklah kita sudah menemukan beberapa kesepakatan. Yang penting kita akan dapat selalu bertemu, karena kita sudah menetapkan tempat untuk pertemuan itu. Pembicaraan berikutnya akan dapat dilakukan kemudian.”

“Ya Ki Tumenggung. Jika ada perintah, maka perintah itu dapat dilangsungkan ke tempat yang sudah kita sepakati atau utusan Ki Tumenggung dapat menunggu sebentar tidak lebih dari sehari semalam,” berkata Kiai Badra.

“Ya. Aku mengerti. Mungkin yang sedang mendapat giliran ditempat itu sedang mengejar seekor rusa atau bahkan ikut dalam rombongan seperti ini,” berkata Ki Tumenggung. “Karena itu, jika kami tidak menjumpai kalian di hutan itu, maka kami akan dapat menunggu kalian disepanjang jalan di Tanah Perdikan ini. Karena kalian sedang mencari nafkah.”

Kiai Badra, Kiai Soka dan orang-orang dalam rombongan itu pun tertawa pula.

”Nah, sudahlah. Yang penting kalian mengetahui bahwa demikian aku sampai ke Pajang, maka aku akan mulai. Prajurit-prajurit Jipang itu sudah terlalu lama menakut-nakuti orang-orang Pajang yang selalu menjadi gelisah. Bahkan beberapa orang sudah mulai mengungsi masuk gerbangkota. Agaknya orang-orang Jipang itu memang sudah mulai mengganggu penduduk,” berkata Ki Tumenggung. Kiai Badra mengangguk-angguk. Tetapi ia tidak menceriterakan apa yang telah terjadi dengan dirinya dan Gandar selagi mereka menempuh perjalanan dari Pajang kembali ke padepokan kecil mereka. Sementara itu, Kiai Badra pun yakin, bahwa

orang-orang Jipang itu tidak akan datang mengganggu Kademangan yang pernah menjerat mereka ke dalam kesulitan. Jika terjadi sesuatu atas Kademangan itu tentu dilakukan oleh orang-orang Jipang yang lain.

Demikianlah, maka sejenak kemudian Ki Tumenggung itu pun telah minta diri untuk kembali ke Pajang. Ia berharap bahwa ia tidak akan terlalu lama diperjalanan, sehingga ia akan dapat mulai dengan segera.

”Malam masih panjang,” berkata Ki Tumenggung. ”Aku berharap bahwa malam ini dan besok sudah cukup bagi perjalananku untuk mencapai Pajang.”

”Apakah Ki Tumenggung tidak akan menjadi sangat letih?” bertanya Kiai Soka.

”Pertanyaan yang aneh,” jawab Ki Tumenggung. ”Jika pertanyaan itu keluar dari seorang anak muda yang duduk terkantuk-kantuk di pematang karena pekerjaannya tidak lebih dari menunggui air, aku menganggapnya wajar.”

Kiai Soka tersenyum. Katanya, ”Satu pertanyaan basa-basi saja Ki Tumenggung.”

Ki Tumenggung pun tertawa. Lalu katanya, ”Sudahlah. Supaya aku tidak dihambat oleh kantuk jika aku terlalu malam berangkat dari Tanah Perdikan ini.”

Kiai Badra dan Kiai Soka pun mengangguk hormat. Sementara itu Ki Tumenggung berkata kepada Iswari, ”Setelah aku dapat langsung bertemu dengan orang yang oleh Kiai Badra diusulkan untuk memimpin perlawanan terhadap keadaan di Tanah

Perdikan ini, maka aku yakin bahwa kau akan dapat melakukannya dengan baik.”

”Aku mohon restu Ki Tumenggung,” desis Iswari sambil menundukkan kepalanya. Demikianlah maka Ki Tumenggung Wirajaya dan pengawalnya pun telah meninggalkan tempat itu untuk langsung kembali ke Pajang sebagaimana dikatakannya. Ki Tumenggung ingin hari berikutnya meskipun mungkin malam hari, ia sudah berada di Pajang untuk segera bersama-sama Panglima pasukan di Pajang mengatur perlawanan terhadap orang-orang Jipang yang berada dihadapan hidung mereka dibantu oleh orang-orang dari Tanah Perdikan Sembojan.

Sepeninggalan Ki Tumenggung, maka Kiai Badra pun berbicara dengan orang-orang di dalam rombongannya, apakah sebaiknya mereka akan meneruskan permainan mereka malam itu, atau mereka akan kembali ke Tlaga Kembang, untuk selanjutnya membangun sebuah barak di tempat yang sudah mereka tentukan.

”Kita sudah berada di Tanah Perdikan,” berkata Iswari. ”Mungkin ada juga baiknya, malam ini kita teruskan permainan kita.”

”Baiklah,” berkata Kiai Soka. ”Sebaiknya memang kita teruskan agar Nyai Soka yang sudah telanjur merias diri tidak kecewa.”

”Ah kau,” sahut Nyai Soka. ”Jangan takut, bahwa setiap laki-laki di Sembojan akan mencari aku Kiai.”

Kiai Soka tertawa. Yang lain pun tertawa pula. Namun Kiai Soka masih juga berkata, ”Tetapi yang paling sulit bagi kita adalah, apabila pemangku jabatan Kepala Tanah Perdikan ini jatuh cinta kepada penari jalanan kita, sebagaimana pernah terjadi.”

”Ah, kakek,” desis Iswari. ”Ia tidak akan jatuh cinta kepadaku. Itu sudah pasti.

Tetapi mungkin ia akan jatuh cinta kepada perempuan yang dikenalnya sebagai Serigala Betina itu.”

”O,” sahut Serigala Betina itu. ”Ia akan menjadi suami yang sangat baik. Jika kelak aku mempunyai anak, maka anak itu akan berhak atas jabatan Kepala Tanah Perdikan.”

Orang-orang di dalam rombongan itu tertawa. Namun Jati Wulung pun kemudian berkata, ”jangan panggil lagi perempuan itu dengan Serigala Betina, agar ia tidak menjadi buas.

“Ah, kau ini ada-ada saja,” desis perempuan itu.

“Bukan lagi kebiasaanku,” jawab Iswari. “Hanya sekali ini. Setiap hari aku memanggilnya dengan namanya.”

“Panggilan itu tidak berpengaruh,” desis perempuan yang disebut Serigala Betina itu.

Demikianlah, maka iring-iringan itu pun kemudian melanjutkan perjalanan mereka ke padukuhan sebelah. Mereka sempat kebar di sudut padukuhan dan memanggil orang-orang padukuhan itu untuk berkerumun. Tetapi tidak seorang pun di antara orang-orang padukuhan itu, sebagaimana padukuhan-padukuhan yang lain, yang

berani minta rombongan itu untuk menari di halaman rumahnya, karena mereka masih

dibayangi perintah Ki Wiradana untuk menangkap orang-orang yang dianggap

menggelisahkan Tanah Perdikan itu.

Meskipun demikian mereka tidak dapat menahan diri untuk pergi ke sudut padukuhan itu menyaksikan pertunjukkan yang sangat menarik dan menumbuhkan ketegangan di dalam hati mereka, justru karena penarinya menurut mereka adalah Nyai Wiradana itu sendiri.

Dua tiga padukuhan dilalui malam itu. Ternyata bahwa rombongan itu pun tidak melanjutkan perjalanan mereka ke Tanah Perdikan, karena mereka pun segera meninggalkan perbatasan menuju ke padepokan kecil mereka.

Namun satu hal telah mereka ketahui, bahwa Pajang sudah siap untuk mulai dengan permainannya. Karena itu maka segalanya harus dipersiapkannya dengan sebaik-baiknya. Begitu pasukan Pajang mulai mengusik prajurit Jipang, maka di Tanah Perdikan itu pun harus dimulai pada langkah-langkah yang serupa.

Dan itu akan terjadi segera setelah Ki Wirajaya sampai di Pajang.

Sebenarnyalah, bahwa di Pajang segala persiapan telah dilakukan. Mereka hanya menunggu Ki Tumenggung Wirajaya yang mengadakan hubungan dengan Tanah Perdikan Sembojan. Ketika Ki Tumenggung melampaui batas waktu yang ditentukan, maka para pemimpin di Pajang menjadi cemas, bahwa telah terjadi sesuatu dengan Ki Tumenggung. Namun di samping itu, pasukan Pajang pun telah mendapat perintah untuk bergerak setiap saat.

Tetapi pada saat yang paling menegangkan, maka Ki Tumenggung Wirajaya yang telah mereka tunggu itu pun datang. Dengan senyum di bibirnya ia hadir di barak yang menjadi pusat pembicaraan para manggala di Pajang untuk mengambil keputusan-keputusan dalam hubungannya dengan kehadiran pasukan Jipang.

“Aku terlambat setengah malam,” berkata Ki Tumenggung.

“Kami sudah merasa sangat cemas,” jawab seorang Senopati, “Kami sudah memutuskan untuk membicarakan langkah-langkah yang akan kami ambil.”

“Jadi kalian sudah mengambil keputusan?” bertanya Ki Tumenggung.

“Kami baru memutuskan untuk mengambil keputusan. Kau mengerti maksudku?” jawab Senopati itu.

Ki Tumenggung Wirajaya yang selalu tersenyum itu tersenyum pula. Katanya, “Istilahmu cukup berbelit-belit. Tetapi aku mengerti. Dan dengan demikian aku masih mendapat kesempatan untuk ikut berbicara bersama kalian.”

Demikianlah, maka malam itu juga telah dilakukan pembicaraan penting tentang langkah-langkah yang akan diambil Pajang untuk menghadapi perkembangan keadaan.

Ki Wirajaya pun telah melaporkan hasil perjalanannya ke Tanah Perdikan Sembojan. Ia baru dapat bertemu dengan Kiai Badra para saat terakhir dari kunjungannya ke Tanah Perdikan Sembojan.

“Baiklah,” berkata panglima pasukan Pajang, “Kita akan mulai dengan rencana kita. Jika orang-orang yang disebut oleh Ki Tumenggung Wirajaya di Tanah Perdikan Sembojan melakukan langkah-langkah sebagaimana telah disepakati, maka Tanah Perdikan Sembojan tidak akan mengirimkan pasukan tambahan ke Pajang, dan sebaliknya pasukan Tanah Perdikan yang sudah telanjur berada disini tidak akan dikirim kembali ke Tanah Perdikan untuk membantu dan menegakkan kedudukan pemangku jabatan Kepala Tanah Perdikan yang curang itu.”

“Ya,” sahut Ki Tumenggung Wirajaya. “Rencana itu dapat dilaksanakan. Aku yakin, bahwa rencana itu akan dapat berjalan juga di Tanah Perdikan.”

Demikianlah, maka Panglima pasukan Pajang di Pajang itu telah mengambil suatu keputusan. Keputusan yang dengan cepat akan dilaksanakan berbareng dengan keberangkatan dua orang penghubung ke pasanggrahan pasukan Pajang yang berhadapan dengan pasukan Jipang disebelah menyebelah Bengawan Sore, karena Kanjeng Adipati Hadiwijaya sendiri ada di pasanggrahan itu, siap menghadapi langkah-langkah yang dapat diambil oleh Arya Penangsang yang juga berada di pasanggrahannya di antara para prajuritnya yang terpilih.

Malam itu, para pemimpin di Pajang masih sempat beristirahat sejenak. Namun demikian fajar mulai menyingsing, maka para Senopati itu pun telah mempersiapkan pasukannya masing-masing.

Dengan susunan perang, pasukan segelar sepapan itu pun telah keluar dari regolkotamenuju ke sarang lawan dan memasang gelar menghadapi pasukan Jipang. Namun pasukan Pajang masih memelihara jarak sehingga saat itu keduanya masih belum turun memasuki pertempuran.

Parapengamat dari Jipang yang melihat pasukan segelar sepapan telah berada di luar pintu gerbang, maka mereka pun segera menyusun diri. Tetapi menilik jarak yang masih terlalu jauh, maka orang-orang Jipang itu pun menganggap bahwa Pajang masih belum akan bergerak langsung hari itu juga.

Dalam pada itu, maka para pemimpin Jipang pun telah mengadakan pembicaraan.

Menurut laporan para petugas pengawasan, pasukan Pajang bukannya pasukan yang sangat kuat.

“Kita akan mampu menghancurkan dan menghalau sisa-sisa pasukan itu,” berkata Ki Rangga Gupita yang berada di antara pasukan Jipang. “Meskipun yang nampak itu agaknya jauh lebih kuat dan bersungguh-sungguh dibandingkan dengan pasukan-pasukan Pajang yang telah menampakkan diri dihadapan mereka sebelumnya

dan menghilang kembali, masuk ke dalam gerbangkota.”

Dengan demikian maka pasukan Jipang pun telah bersiap. Sebagian dari pasukannya telah berada di luar padukuhan yang dipergunakannya sebagai pasanggrahan. Mereka telah memasang kerangka gelar yang akan mereka pergunakan apabila pasukan Pajang itu benar-benar menyerang. Namun sementara itu, sebagian yang lain masih saja berada di dalam padukuhan.

“Jangan menghambur-hamburkan tenaga tanpa arti,” berkata para pemimpin Jipang.

“Nampaknya orang-orang Pajang yang putus asa itu ingin memancing agar kita menjadi tegang dan kehilangan keseimbangan. Biarlah orang-orang Pajang itu menghamburkan tenaga mereka sendiri. Tetapi kita cukup berpengalaman dan tidak terpancing untuk berbuat sesuatu yang tidak ada gunanya. Namun, meskipun demikian kita harus tetap berhati-hati menghadapi perkembangan keadaan. Kita tidak boleh lengah.”

Dengan demikian maka sebagian dari pasukan Jipang termasuk orang-orang Tanah Perdikan Sembojan itu masih sempat beristirahat sepenuhnya, meskipun setiap saat bunyi isyarat mereka harus bersiap memasuki gelar yang sudah dipasang kerangkanya.

Sebagaimana diperkirakan oleh orang-orang Jipang, maka Pajang tidak bergerak pada hari itu. Pasukan Pajang tetap berada ditempat mereka memasang gelar dihadapan pasukan Jipang yang berada disebuah padukuhan. Padukuhan yang menjadi kosong karena penduduknya telah mengungsi ke luar padukuhan itu.

Panglima pasukan Pajang telah mendengarkan setiap laporan tentang gerak pasukan Jipang itu setiap saat. Namun menurut laporan para pengamat, pasukan Jipang tidak menarik pasukannya ke luar dari padukuhan dan siap menghadapi pasukan Pajang sepenuhnya. Tetapi mereka hanya sekadar memasang kerangka gelar.

“Luar biasa,” berkata Panglima pasukan Pajang, “Mereka benar-benar prajurit pilihan. Mereka tetap tenang dalam keadaan seperti ini.”

Ki Tumenggung Wirajaya mengangguk-angguk. Namun katanya, “Tetapi bukankah kita akan mengetrapkan rencana kita dalam keseluruhan termasuk gerak pasukan?”

“Tentu,” jawab Panglimanya. “Mudah-mudahan kita berhasil mengatasi pasukan Jipang itu dengan cara kita.”

KETIKA matahari menjadi terik, maka orang-orang Jipang yang masih berada di padepokan itu memandang gelar sepasukan Pajang dikejauhan dengan senyum dibibir.

Orang-orang Pajang itu sebagian besar telah dibakar oleh panasnya terik matahari. Mereka tidak berusaha untuk mengubah gelar atau bahkan menarik sebagian dari para prajuritnya untuk memasuki padukuhan dan berteduh dibawah rimbunnya pepohonan bergantian seperti yang dilakukan oleh orang-orang Jipang.

Bahkan orang-orang Pajang itu telah memasang tunggul, rontek dan umbul-umbul untuk menunjukkan kebesaran pasukannya.

“Orang-orang Pajang memang bodoh,” berkata para perwira Jipang. “Apa arti semua pertanda kebesaran bagi kami? Bahkan dengan demikian mengetahui bahwa sebenarnya pasukan Pajang itu terlalu kecil sehingga mereka merasa perlu untuk memantapkan kedudukan mereka dengan segala macam pertanda kebesaran.”

Kawan-kawannya mengangguk-angguk. Mereka sependapat dengan penilaian perwira itu. Bahkan beberapa orang perwira masih sempat tidur nyenyak di siang hari untuk menghilangkan kejemuannya menunggu.

Keadaan itu tidak berubah sampai saatnya matahari turun ke barat. Bahkan ketika senja turun, orang-orang Pajang sama sekali tidak beringsut dari tempatnya.

“Mereka benar-benar telah menjadi gila,” desis seorang perwira Jipang. Namun Rangga Gupita memotong, “Itu adalah satu cara yang pernah dilakukan oleh para prajurit Demak. Tetapi agaknya yang dilakukan itu kurang tepat. Seharusnya pasukan yang demikian adalah pasukan yang mengepung kedudukan lawannya.

Sedangkan pasukan Pajang itu tidak mengepung kita. Tetapi seperti yang sudah kita ketahui, mereka sekadar memancing agar kita selalu berada dalam ketegangan.”

“Seharusnya kitalah yang melakukannya dihadapan pintu gerbangkotaPajang,” desis seorang perwira yang lain.

“Ya. Barangkali itu lebih tepat,” jawab kawannya. “Tetapi kita tidak akan melakukan pekerjaan yang tidak berarti.”

Demikianlah, maka Jipang lebih condong untuk memperkuat pengamatan dan mempertahankan kerangka gelar. Setiap saat gelar itu dapat disempurnakan dengan cepat, sementara pasukannya yang lain masih dapat menunggu dengan tanpa ketegangan.

Namun satu hal yang tidak dilihat oleh orang-orang Jipang. Pasukan Pajang memang masih selalu berada di tempatnya. Tunggul, rontek dan umbul-umbul masih terpancang dengan megahnya. Namun ketika gelap menyelubungimedan, sebagian dari pasukan Pajang itu telah dihisap kembali masuk ke dalam gerbangkota.

Yang terjadi, ketika fajar menyingsing adalah sangat mengejutkan. Pasukan Jipang yang menghadapi gelar itu sama sekali tidak melihat gerakan apapun juga, sehingga mereka masih tetap menganggap bahwa hari itu pasukan Pajang tidak akan bergerak meskipun dari padukuhan yang dipergunakannya sebagai pesanggrahan mereka melihat kesibukan. Tetapi kesibukan itu tidak lebih dari orang-orang yang membagi makanan bagi pasukan Pajang. Karena itu, maka pasukan Jipang sama sekali tidak mengubah keadaannya pula.

Tetapi yang sebenarnya terjadi pada saat itu adalah, bahwa pasukan Pajang segelar sepapan telah dengan serta merta menyerang kedudukan pasukan Pajang disisi yang lain.

Serangan itu memang mengejutkan. Pasukan Jipang itu telah mendapat hubungan dari pasukan yang diperkuat oleh anak-anak muda dari Tanah Perdikan Sembojan dan melaporkan bahwa pasukan Pajang telah memasang gelar dihadapan mereka. Namun ternyata yang tiba-tiba mendapat serangan adalah pasukan Jipang disisi yang lain.

Serangan itu datangnya tiba-tiba sekali dan diluar perhitungan para perwira Jipang yang berada disebelah Barat Pajang. Mereka bahkan sudah menyiapkan sebagian dari pasukannya untuk membantu pasukan Jipang yang berada disisi Timur bersama pasukan Tanah Perdikan Sembojan. Namun tiba-tiba pasukan Jipang yang disisi Barat itulah yang mendapat serangan dengan kekuatan yang sangat besar.

Kekuatan yang tidak disangka-sangka karena sebagian dari pasukan Pajang telah berada di sekitar Demak dan yang lain mengadakan gelar disisi Timur Kota.

Namun pasukan Jipang adalah pasukan yang gigih. Mereka adalah prajurit-prajurit yang ditempa dalam suasana yang penuh dengan gejolak perjuangan, karena Adipati Jipang sejak semula merasa bahwa haknya atas tahta Demak telah dirampas oleh seseorang yang kemudian mengalir ke jalur Sultan Trenggana.

Tetapi bagaimanapun juga kekuatan yang besar dari Pajang dibanding dengan kekuatan Jipang, apalagi sergapan yang tiba-tiba itu telah membuat pasukan Jipang menjadi kacau.

Dengan kemampuan para pemimpinnya, Jipang berusaha untuk menyusun diri dalam gelar perang yang memadai. Gelar yang paling mungkin dicapai untuk menghadapi gelar Sapit Urang yang datang dengan garangnya.Paraprajurit Jipang juga berusaha untuk menghadapi pasukan Pajang dengan tebaran pasukan, karena mereka tidak mau terperangkap ke dalam kepungan. Karena itu, maka pasukan Jipang telah menyusun gelar Wulan Panunggal dengan meletakkan kekuatannya pada ujung gelarnya, sementara bagian tengah dari pasukan Jipang memang ditarik mundur beberapa lapis. Namun kemudian mereka berusaha untuk bertahan pada garis tertentu, sementara kedua ujung pasukannya dengan tajam menyerang dan menusuk gelar lawan.

Tetapi kekuatan gelar lawannya juga ada di ujung pasukan. Apalagi pasukan Pajang sempat merencanakan dan menyusun gelarnya dengan tertib sehingga perhitungannya lebih mapan dari pasukan Jipang yang harus bergerak dengan tiba-tiba.

Pertempuran semakin lama menjadi semakin seru. Tetapi hentakan pertama pasukan Pajang ternyata mempunyai pengaruh yang besar. Perlahan-lahan pasukan Jipang memang terdesak, sehingga mereka telah menarik garis surut.

Tetapi pasukan Pajang mendesaknya dengan tanpa ampun. Bagi mereka pertempuran itu akan ikut menentukan kedudukan Pajang selanjutnya.

Ternyata bahwa serangan yang tiba-tiba itu memang sulit untuk diatasi oleh pasukan Jipang. Betapapun mereka dengan sikap seorang prajurit sejati bertempur tanpa mengenal gentar, namun para pemimpin Jipang juga mempunyai perhitungan yang dilandasi dengan nalar.

Jika mereka memaksakan diri bertempur terus, maka korban akan semakin banyak jatuh, sementara itu mereka tidak akan berhasil mempertahankan diri. Karena itu, maka Senapati tertinggi yang memimpin pasukan Jipang itu, setelah mengadakan pembicaraan pendek dengan para pembantunya, telah memutuskan untuk memerintahkan pasukannya mundur.

Sejenak kemudian, maka isyarat itu pun telah didengar oleh seluruh pasukan Jipang. Karena itu, selagi mereka masih mempunyai kekuatan, maka mereka pun telah bergerak mundur melintasi bulak-bulak dan pategalan.

Dengan kemampuan seorang prajurit, maka pasukan Jipang yang mundur itu masih tetap kelihatan utuh. Sehingga dengan demikian, maka pada saat-saat tertentu pasukan itu masih juga mampu memukul lawannya. Bahkan beberapa orang sempat membawa kawan-kawan mereka yang terluka. Namun demikian satu dua orang di antara mereka yang terbunuh, terpaksa harus mereka tinggalkan.

Pasukan Pajang berusaha untuk mendesak mereka dan memburu pasukan yang mundur itu. Tetapi pasukan Jipang mampu mempergunakan pategalan dan padukuhan-padukuhan untuk menemukan perisai bagi pasukannya yang sedang mundur itu.

Akhirnya, para pemimpin Pajang memerintahkan pasukannya untuk menghentikan pengejaran. Nampaknya para pemimpin pasukan Pajang tidak lagi melihat manfaatnya untuk mengejar pasukan Jipang itu terus-menerus. Apalagi langit menjadi buram

dan senja pun akan segera turun.

Panglima pasukan Pajang yang sehari sebelumnya sempat mengatur gelar disisi Timur ternyata telah memimpin langsung pasukan Pajang yang menyerang kedudukan pasukan Jipang itu. Dengan demikian maka pasukan Pajang telah menduduki padukuhan yang untuk beberapa lama telah dipergunakan sebagai pesanggrahan dari pasukan Jipang disisi Barat. Tetapi mereka tidak akan tetap berada di padukuhan itu.

Sementara itu, maka pasukan Pajang pun telah ditarik kembali. Malam itu juga panglima pasukan Pajang itu telah memerintahkan pasukannya untuk kembali ke garis gelar pasukannya disisi Timur.

Hari itu juga pasukan Jipang yang berada di sisi Timur telah dihubungi oleh dua orang penghubung pasukan Jipang di sisi Barat. Mereka melaporkan apa yang telah terjadi. Pasukan Pajang telah mengerahkan pasukannya untuk menyerang kedudukan Jipang di sisi Barat.

“Gila,” geram Ki Rangga Gupita, “Kita jangan kehilangan waktu. Kita harus menyerang kedudukan pasukan Pajang di sisi Timur.”

“Kapan?” bertanya seorang perwira.

Ki Rangga Gupita termangu-mangu sejenak. Matahari telah mulai turun ketika laporan itu sampai kepadanya. Jika ia mempersiapkan serangan, maka waktunya tinggal sedikit sebelum malam tiba. Karena itu, maka katanya, “Besok pagi-pagi menjelang fajar kita bersiap. Mudah-mudahan pasukan Pajang masih belum siap.

Sebagian dari mereka ternyata berada di sisi Barat. Yang nampak oleh kita adalah sekadar bayangan kekuatan pasukan Pajang. Karena itu, maka besok pagi-pagi benar kita harus mendahului kehadiran pasukan Pajang yang lebih besar lagi. Mereka agaknya masih menikmati kemenangan mereka di sisi Barat.”

Rangga Gupita bergerak dengan cepat. Senapati pasukan Jipang yang ada di sisi Timur itu pun telah menyiapkan pasukannya. Mereka sudah berada di dalam gelar malam itu, sehingga jika langit menjadi terang esok pagi, pasukan itu langsung dapat bergerak.

Hampir semalam suntuk para pemimpin pasu-kanJipang tidak tertidur. Namun mereka masih juga memperhitungkan keadaan wadag mereka, sehingga beberapa orang berusaha untuk beristirahat meskipun hanya sekejap.

Ketika fajar menyingsing, maka pasukan pun telah bersiap. Mereka telah mendapat ransum mereka, karena ada kemungkinan bahwa mereka akan bertempur sehari penuh, sehingga dengan demikian maka mereka harus makan lebih dahulu sekenyang-kenyangnya.

Untuk beberapa saat prajurit-prajurit Jipang dan para pengawal Tanah Perdikan itu sempat beristirahat. Mereka berjalan hilir mudik untuk memanaskan tubuhnya, serta mendorong makanan yang baru saja mereka makan turun ke dalam perut.

Rangga Gupita ternyata tidak menunggu sampai matahari terbit. Ketika semuanya sudah siap, maka ia pun telah berhubungan dengan Panglima pasukan Jipang dan memberikan beberapa pendapat dan pesan.

“Sekarang sudah saatnya,” desis Rangga Gupita.

Senapati Jipang yang memimpin pasukan di sisi Timur itu pun segera memberikan isyarat kepada para pemimpin kelompok sehingga sejak kemudian segalanya telah siap sepenuhnya.

Karena itu, maka Senapati pasukan Jipang itu pun telah memerintahkan pasukannya untuk menyerang kedudukan pasukan Pajang di luar pintu gerbang.

Sejenak kemudian, maka pasukan Jipang yang diperkuat oleh para pengawal Tanah Perdikan Sembojan yang sudah terlatih telah menyerang pasukan Pajang bagaikan banjir bandang. Dengan sorak yang getap gempita dan bagaikan memecahkan langit, diiringi oleh isyarat suara bende yang mendengung memenuhi udara, maka pasukan Jipang itu menghantam pasukan Pajang digaris gelarnya.

Dalam pada itu, pasukan Pajang ternyata sudah lengkap sebagaimana dilihat oleh pasukan Jipang pada hari pertama. Mereka yang berada di sisi Barat telah kembali di dalam gelar yang padat itu.

Hal itulah yang diperhitungkan oleh Rangga Gupita. Mereka yang memimpin pasukan Jipang itu menduga bahwa sebagian pasukan Pajang tentu ditarik di sisi Barat dan untuk sementara masih menikmati kemenangan mereka. Karena itu, maka Rangga Gupita dan para pemimpin pasukan Jipang mengambil keputusan untuk dengan tergesa-gesa menyerang pasukan Pajang itu.

Tetapi hal itu sudah diperhitungkan oleh para pemimpin prajurit di Pajang.

Sebagaimana mereka menarik sebagian prajurit Pajang dari gelarnya di sisi Timur masuk kembali ke dalam regol dan kemudian justru menyerang ke Barat, maka para prajurit itu pun dengan diam-diam di malam hari telah merayap kembali ke dalam gelar di sisi Timur. Meskipun mereka merasa letih dan bahkan beberapa di antara mereka telah dilukai dengan goresan-goresan kecil, namun mereka sudah siap untuk bertempur.

Meskipun demikian ada juga di antara kawan-kawan mereka yang tidak dapat ikut kembali ke dalam gelar, karena terluka parah dan bahkan ada di antara mereka yang terbunuh.

Demikianlah, ketika pasukan Pajang itu menyaksikan pasukan Jipang berlari-larian menyerang mereka dalam gelar yang utuh, maka mereka pun telah bangkit pula.

Mereka tidak mau didorong dalam benturan pertama tanpa memberikan hambatan.

Karena itu, maka di antara para prajurit yang ada di dalam gelar itu pun telah siap menyambut lawan mereka. Sekelompok prajurit yang terpencar pada bagian-bagin gelar telah berloncatan ke depan sambil menarik busur mereka.

Beberapa orang yang lain justru bergeser surut mengambil ancang-ancang. Sejenak kemudian, maka anak panah pun telah berebut terbang di udara. Suaranya yang berdesing nyaring telah menggelitik jantung. Bahkan ternyata orang-orang Pajang telah membuat hujan anak panah itu semakin menggetarkan jantung karena ada beberapa di antara anak panah yang dilontarkan itu adalah anak panah sendaren.

Tetapi para prajurit Jipang pun cukup terampil. Dengan serta merta maka prajurit-prajurit yang membawa perisai segera mengambil tempat dipaling depan.

Mereka berusaha melindungi kawan-kawannya dengan perisai mereka. Mereka berusaha untuk memukul dan mengibaskan anak panah yang beterbangan di atas kepala mereka.

Namun sejenak kemudian, maka yang menyusul beterbangan di udara adalah beberapa puluh lembing. Prajurit-prajurit Pajang yang mengambil ancang-ancang telah melontarkan lembing-lembing yang berada di tangan mereka.

Dalam pada itu, bagaimana pun juga para prajurit Jipang berusaha untuk berlindung di balik perisai-perisai namun satu dua ada juga anak panah dan lembing yang lolos dan mematuk sasaran. Satu dua orang prajurit Jipang dan anak-anak muda Tanah Perdikan itu pun ada juga yang roboh jatuh di tanah. Karena dorongan kekuatan sendiri, maka orang-orang yang sedang berlari itu pun sulit untuk berhenti atau menghindar, sehingga orang-orang yang terjatuh itu justru telah terinjak kaki-kaki kawan-kawannya.

Namun demikian pasukan Jipang dan anak-anak muda Tanah Perdikan Sembojan yang jumlahnya cukup besar itu telah bergeser maju dengan cepat, sehingga kesempatan untuk mempergunakan lembing dan anak panah pun segera terputus. Pasukan lawan itu menjadi begitu dekat.

Dengan demikian, maka para prajurit Pajang itu pun telah meletakkan busur mereka. Mereka pun berganti menggenggam pedang dan tombak. Dengan senjata merunduk maka mereka pun telah menyambut kedatangan lawan.

Demikianlah, maka kedua gelar itu pun bertemu. Pertempuran pun segera membakar arena. Pasukan Jipang yang telah lebih dahulu berteriak-teriak itu pun membentur pasukan Pajang dengan garangnya.

Namun pasukan Pajang benar-benar sudah siap menerima kehadiran lawannya. Dengan tangkasnya mereka menghindari serangan. Namun tiba-tiba merekalah yang mengayunkan pedang mendatar menebas tubuh lawannya.

Tetapi orang-orang Jipang pun telah bersiap sepenuhnya, sehingga karena itu, maka mereka pun dengan cepat bergeser surut dan bahkan serangan merekalah yang datang mendesak.

Dengan demikian maka pertempuran itu pun semakin lama menjadi semakin sengit.

Kedua belah pihak telah saling menyerang dan saling mendesak. Kedua belah pihak adalah prajurit-prajuti pilihan. Bahkan anak-anak Tanah Perdikan Sembojan pun adalah anak-anak yang memiliki bekal kemampuan yang cukup. Mereka telah ditempa oleh para perwira dari Jipang, sehingga dengan demikian maka mereka tidak canggung lagi untuk turun ke arena.

Namun ternyata bagi anak-anak muda Tanah Perdikan Sembojan, para prajurit Pajang terlalu garang bagi mereka. Agak berbeda dengan latihan-latihan yang mereka alami dengan para perwira dari Jipang. Dalam pertempuran yang sebenarnya, di dalam benturan gelar yang padat, maka ujung senjata menyambar-nyambar tanpa dikekang sama sekali. Sehingga dengan demikian, karena kurangnya pengalaman betapapun tingginya latihan-latihan yang telah mereka lakukan, namun pertempuran yang sengit itu telah membuat jantung mereka menjadi berdebar-debar.

NAMUN di antara mereka terdapat orang-orang Jipang yang tidak kalah garangnya dengan orang-orang Pajang, sehingga dengan demikian, maka anak-anak muda dari Tanah Perdikan Sembojan itu pun mendapat tuntunan langsung, bagaimana menghadapi para prajurit Pajang. Meskipun bagaimana pun juga ketiadaan pengalaman mereka mempunyai pengaruh yang besar.

Ketika matahari memanjat langit semakin tinggi, maka pertempuran menjadi semakin seru. Apalagi ketika tangan-tangan mereka telah mulai basah oleh keringat. Maka kedua belah pihak seakan-akan menjadi semakin garang.

Dalam pada itu, selagi pertempuran antara ke dua pasukan itu meningkat sengit, maka dua orang dengan jantung berdebaran berdiri agak jauh di belakang pasukan Jipang sambil mengamati pertempuran itu. Seorang yang sudah berusia agak tinggi berdesis, ”Ternyata bahwa usaha para perwira Jipang tidak sia-sia. Anak-anak

muda Sembojan telah menjadi tangkas dan mampu dilepas dimedanyang berat seperti ini. Tetapi mereka belum berpengalaman.”

”Ya Ki Randukeling,” jawab yang lain. ”Mereka tidak mengecewakan. Aku berharap bahwa tidak usah menunggu matahari terbit, pasukan Pajang telah pecah dan mereka akan kita hancurkan sebelum mereka sempat mencapai pintu gerbang.

Ki Randukeling mengerutkan keningnya. Kemudian katanya, ”Rangga Gupita. Kau ini sekadar bermimpi atau karena kau ingin membuat hatimu sendiri tenteram?”

”Kenapa?” bertanya Ki Rangga Gupita.

”Apakah kau tidak melihat benturan yang terjadi antara kedua pasukan itu?” bertanya Ki Randukeling pula.

”Aku melihatnya. Bukan dalam pengamatan sekilas, setidak-tidaknya pasukan itu seimbang?” bertanya Ki Rangga Gupita. Lalu katanya, ”Tetapi jika pertempuran itu mencapai lewat tengah hari, maka anak-anak muda Tanah Perdikan Sembojan sudah menjadi tidak canggung. Mereka akan segera mencapai puncak kemampuan mereka, sehingga mereka akan menjadi semakin meningkat. Dalam keadaan yang demikian, maka seolah-olah kekuatan pasukan Jipang akan bertambah.”

Tetapi Ki Randukeling menyahut, ”Jangan berharap terlalu banyak dari anak-anak Tanah Perdikan Sembojan. Mereka memang telah menunjukkan kemampuan yang tinggi.

Tempaan yang diberikan oleh perwira Jipang itu benar-benar membuat mereka menjadi anak-anak muda yang memiliki jiwa dan kemampuan seorang prajurit. Tetapi yang harus mendapat perhatian adalah bahwa pengalaman mereka sama sekali tidak berarti bagi pertempuran seperti ini. Karena itu, bagi mereka yang tidak mampu berpikir cepat untuk menyesuaikan diri, akan segera mengalami kesulitan. Selain itu, kita harus ingat, bahwa di antara anak-anak muda Tanah Perdikan Sembojan, bahkan bagian yang cukup besar, adalah para pe ngawal yang mendapat latihan lebih sedikit dari pengawal khusus Tanah Perdikan yang mungkin kita sebut memiliki kemampuan seorang prajurit itu.”

”Mereka yang mendapat latihan-latihan tidak langsung itu pun ternyata telah mampu bergerak dengan tangkas. Mereka yang cepat menempatkan diri mereka ke dalam gelar. Kemudian mereka pun dengan cepat sebagaimana dilakukan para prajurit, menyesuaikan diri menghadapi gelar lawan. Mengisi kekosongan dan relung-relung gelar yang disusupi oleh lawan,” berkata Rangga Gupita.

Ki Randukeling mengangguk-angguk. Desisnya, ”Mudah-mudahan kau benar. Tetapi kita tidak boleh menutup mata terhadap kenyataan. Kita tidak boleh berpura-pura bangga atas pasukan kita, jika sebenarnya pasukan itu mengalami kesulitan.”

”Ki Randukeling,” desis Ki Rangga Gupita, ”Di bagian manakah dari gelar itu yang mengalami kesulitan. Bukankah di segala tempat pasukan Jipang mampu menahan kemajuan para prajurit Pajang.”

Ki Randukeling mengangguk-angguk. Ia memang melihat kedua gelar itu saling bertahan meskipun mereka telah bertempur cukup lama. Namun Ki Randukeling masih menyaksikan keahlian anak-anak muda Tanah Perdikan yang belum berpengalaman.

Menurut Ki Rangga Gupita, mereka akan segera terbiasa menghadapi lawan dimedan.

Mereka tidak akan lagi canggung dan tidak akan gentar melihat darah memercik dari tangan mereka. Jika sudah demikian, maka kemampuan mereka seakan-akan menjadi meningkat.

“TETAPI Ki Rangga tentu ingin membuat hatinya sendiri menjadi tenang,” berkata Ki Randukeling. “Ketahanan tubuh anak-anak muda itu tentu berbeda dengan para prajurit yang sudah jauh berpengalaman. Anak-anak yang berani itu telah menghentakkan segenap kekuatan dan tenaga mereka, meskipun mereka sudah dipesan untuk menghematnya, karena pertempuran itu akan berlangsung lama. Karena itu, maka keseimbangan dapat dipertahankan pada permulaan dari pertempuran itu, tetapi kemudian tidak seperti yang diharapkan oleh Ki Rangga. Ketahanan tubuh anak-anak muda itu akan segera menurun dan keseimbangan pun berubah.”

Ki Rangga menarik nafas dalam-dalam. Lalu katanya, “Aku akan berada di pertempuran. Meskipun aku hanya satu orang tetapi jika aku mampu membuat orang-orang Pajang terkejut, maka agaknya akan mempunyai pengaruh yang besar pula bagi anak-anak Tanah Perdikan Sembojan itu sendiri,” ia berhenti sejenak, lalu, “Bagaimana dengan Ki Randukeling?”

“Aku tidak akan memasukimedanhari ini. Belum waktunya. Entahlah jika besok pagi atau waktu-waktu yang lain,” jawab Ki Randukeling.

Ki Rangga Gupita menarik nafas dalam-dalam. Ia sadar, bahwa Ki Randukeling bukannya prajurit Jipang yang dapat diperintahnya. Ia dapat berbuat menurut kehendaknya sendiri.

Karena itu, maka Ki Rangga pun tidak memaksa. Bahkan katanya, “Baiklah Ki Randukeling. Beristirahatlah. Aku akan berada di antara anak-anak muda Tanah Perdikan itu.”

“Mudah-mudahan Jipang benar-benar mampu mematahkan perlawanan Pajang. Tetapi agaknya semua unsur harus kau perhitungkan,” jawab Ki Randukeling.

Ki Rangga pun tidak menyahut. Ia pun segera berlari meninggalkan Ki Randukeling menuju kemedan.

Tetapi semakin dekat ia denganmedan, maka hatinya pun menjadi semakin berdebar-debar. Ia mulai melihat apa yang semula tidak nampak oleh matanya, tetapi tertangkap oleh ketajaman mata Ki Randukeling. Ternyata bahwa di beberapa bagian darimedan, ia memang melihat kegelisahan dari anak-anak muda Tanah Perdikan Sembojan. Bahkan semakin dekat denganmedan, ia baru melihat, bahwa pasukan Pajang ternyata lebih banyak dari perhitungannya.

Namun demikian, ia masih melihat bahwa jumlah pasukan Jipang lebih besar dari pasukan Pajang sehingga dengan demikian, maka Ki Rangga masih berharap bahwa pasukan Jipang akan berhasil mendesak lawannya meskipun tidak secepat yang diduganya dan meskipun tidak menghancurkan pasukan Pajang sebagaimana diinginkan.

Untuk beberapa saat Ki Rangga berdiri dibelakang garis perang. Namun kemudian ia pun telah berusaha untuk menemukan Senapati tertinggi pasukan Jipang yang berada disisi Timur Pajang.

“Jumlah pasukan Pajang melampaui dugaan,” berkata Senapati itu ketika ditemui Ki Rangga dimedan.

“Ya,” jawab Ki Rangga, “Agaknya sebagian prajurit yang kemarin berada disisi Barat telah sempat ditarik,” jawab Ki Rangga. “Kita agaknya terlambat. Jika kemarin meskipun menjelang sore kita menyerang pasukan Pajang, mungkin keadaannya akan berbeda.”

“Tetapi kita sudah terlibat ke dalam pertempuran,” geram Senapati itu.

“Aku akan ikut bertempur,” berkata Ki Rangga.

Senapati itu memandang Ki Rangga sejenak. Lalu katanya, “Terima kasih. Sebaiknya Ki Rangga berada di antara anak-anak muda Tanah Perdikan yang memerlukan dukungan kejiwaan. Mereka mulai terpengaruh oleh kegarangan pasukan Pajang, meskipun para prajurit Jipang telah berbuat yang sama. Dua orang Senapati pembantuku telah berada di antara mereka disayap kiri. Mungkin Ki Rangga akan berada di sayap kanan.”

Ki Rangga mengangguk-angguk. Jawabannya, “Baiklah. Aku akan berada disayap kanan. Namun setelah aku melapor kehadiranku dimedan.”

Demikianlah, maka Ki Rangga Gupita itu telah menyusup di antara para prajurit Jipang dan anak-anak muda Tanah Perdikan Sembojan untuk mencapai ujung sayap disebelah kanan

BEBERAPA orang prajurit Jipang yang berada di sayap itu menyambut kedatangan Ki Rangga dengan gembira dan harapan. Bagi mereka Ki Rangga adalah seorang petugas sandi yang juga seorang prajurit yang memiliki kemampuan yang tinggi. Karena itu, maka kehadirannya tentu akan membantu memperingan tugas para prajurit Jipang.

“Marilah,” berkata Ki Rangga.

“Anak-anak ingusan itu tidak mampu berbuat banyak,” desis seorang perwira Jipang. “Mereka belum berpengalaman.”

“Tetapi bukankah kehadirannya dapat juga mengurangi beban para prajurit Jipang?” bertanya Ki Rangga.

“Ya,” jawab perwira itu.

Namun sejenak kemudian, keduanya pun telah terlibat ke dalam pertempuran melawan prajurit-prajurit Pajang.

Dalam pada itu, ternyata Ki Rangga Gupita memang seorang yang memiliki ilmu yang tinggi. Dalam waktu yang singkat, ia telah mampu menunjukkan kegarangannya.

Seorang prajurit Pajang yang menyerangnya, tiba-tiba saja telah terdorong surut. Dengan cepatnya Ki Rangga mengayunkan pedangnya mendatar.

Yang terdengar adalah keluhan tertahan. Seleret luka telah mengoyak dada prajurit Pajang itu, sehingga sekali lagi ia terdorong surut. Bahkan kemudian prajurit itu pun telah jatuh terlentang dengan bermandikan darah yang mengalir dari luka di dadanya.

Ki Rangga mengamati pedangnya yang merah diujungnya. Ia sempat berpaling kepada anak-anak muda Tanah Perdikan. Dengan lantang ia berkata, “Siapa yang tangannya belum basah oleh darah, sentuhlah darah yang masih merah itu dengan ujung jarimu. Maka kalian akan menjadi seorang prajurit yang tidak lagi ragu-ragu menggerakkan senjata kalian di peperangan.”

Anak-anak muda Tanah Perdikan Sembojan itu pun termangu-mangu. Namun dalam pada itu, Ki Rangga Gupita pun telah maju mencari lawan yang lain.

Kehadiran Ki Rangga Gupita disayap itu telah membuat pertempuran menjadi berubah. Kegarangannya benar-benar menimbulkan kegelisahan di antara para prajurit Pajang.

Namun prajurit Pajang yang berpengalaman itu pun telah dengan cepat berusaha menguasai keadaan. Tiga orang di antara mereka telah menempatkan diri menghadapi Ki Rangga Gupita. Tiga orang yang dianggap memiliki kelebihan dari kawan-kawannya.

“Licik,” geram Ki Rangga Gupita setelah ia bertempur beberapa saat, sementara ketiga orang itu agaknya berhasil mengganggu keleluasaannya bergerak.

“Apa yang licik?” bertanya prajurit Pajang itu.

“Kalian maju bertiga,” sahut Ki Rangga.

“Kita berada di peperangan. Bukan dipertarungan dalam perang tanding. Siapapun dapat melawanmu. Bahkan seandainya sekelompok yang terdiri dari seratus orang sekalipun jika kami memilikinya,” jawab salah seorang di antara para prajurit Pajang itu.

Ki Rangga tidak menjawab. Ia pun segera memutar pedangnya dengan kecepatan yang hampir tidak dapat diikuti dengan mata wadag.

Namun ketiga orang prajurit Pajang itu berusaha dengan segenap kemampuan yang ada padanya untuk menahan keleluasaan gerak Ki Rangga, meskipun berkali-kali ujung senjata Ki Rangga hampir saja mematuk mereka.

DALAM kejemuan menghadapi ketiga orang itu, maka Ki Rangga telah meningkatkan ilmunya. Bukan saja penggunaan tenaga cadangannya, tetapi ilmunya yang mampu mengguncang ketabahan hati lawan-lawannya.

Ternyata bahwa Ki Rangga Gupita telah membuat ketiga lawannya kebingungan. Setiap sentuhan senjata mereka, maka terasa genggaman mereka atas senjata masing-masing menjadi sangat panas.

Namun demikian para pengawal itu masih tetap bertahan. Betapapun perasaan panas itu menyengat setiap jari-jarinya. Bahkan bagaikan menghanguskan kulit dagingnya.

Rangga Gupita itu tertawa ketika ia melihat lawan-lawannya menyeringai kesakitan. Dengan cepat ia berloncatan sambil memutar senjatanya. Kemudian senjata itu terayun mendatar menembus ke arah leher. Ternyata bahwa lawannya sempat menghindar. Namun ujung pedang itu seakan-akan telah menggeliat dan justru terjulur lurus ke arah jantung.

Rangga Gupita memang sengaja memberi kesempatan lawannya menangkis serangannya yang tidak begitu cepat. Namun demikian senjata lawannya itu menyentuh pedang Rangga Gupita, maka terdengar desah tertahan. Prajurit Pajang itu mengaduh

karena tangannya bagaikan masuk ke dalam seonggok bara yang menyala.

“Gila,” geram prajurit Pajang itu, sementara Ki Rangga Gupita tertawa. Kepada anak-anak muda yang bertempur disekitarnya Ki Rangga itu berteriak, “Lihat, para prajurit Pajang tidak lebih dari kelinci-kelinci yang bodoh. Karena itu, maka jangan ragu-ragu. Karena kalian memiliki bekal yang jauh lebih baik dari orang-orang Pajang ini.”

Kata-kata Ki Rangga Gupita memang dapat membesarkan hati anak-anak muda dari Tanah Perdikan Sembojan itu. Sambil bersorak keras-keras mereka serentak menyerang lawan-lawan terdekat.

Namun mereka bukannya Rangga Gupita. Tidak seorang pun di antara anak-anak muda Tanah Perdikan yang tahu, apakah sebenarnya yang sudah terjadi. Mereka hanya melihat perubahan dalam keseimbangan pertempuran antara Ki Rangga dengan orang-orang Pajang itu. Tetapi mereka tidak mengerti seutuhnya, bahwa Ki Rangga telah mempergunakan segenap ilmunya sampai ke puncaknya. Mereka tidak mengerti bahwa setiap sentuhan senjata, maka tangan prajurit Pajang itu bagaikan tersentuh bara.

Yang mereka lihat hanyalah para prajurit Pajang itu menjadi terdesak karenanya.

Sebenarnyalah ketiga orang prajurit Pajang itu menjadi bingung. Mereka agaknya tidak mempunyai peluang sama sekali untuk dapat mengalahkan lawannya. Yang terjadi, semakin lama tangan mereka menjadi semakin lemah.

Ki Rangga masih tersenyum. Dengan nada datar ia berkata, “Nah, itu masih baru permulaan. Tetapi sebaiknya kalian harus bertempur sampai senjata kalian jatuh dengan sendirinya di atas tanah.”

Namun Ki Rangga itu terkejut, ketika ia mendengar jawaban atas kata-katanya dengan nada yang berbeda, sehingga Ki Rangga Gupita berpaling ke arah suara itu.

“Permainanmu sangat mengesankan Ki Sanak,” berkata orang yang kemudian dilihat oleh Ki Rangga menyusup di antara para prajurit Pajang.

Ki Rangga mengerutkan keningnya. Dengan nada rendah ia bertanya, “Siapakah kau Ki Sanak?”

“Sudah tentu prajurit Pajang. Tetapi jika kau ingin tahu namaku, aku adalah Wirajaya. Tumenggung Wirajaya,” jawab orang yang baru datang itu.

Ki Rangga Gupita termangu-mangu sejenak. Namun kemudian ia pun menyahut, “Jadi kau seorang Tumenggung? Tetapi menilik pakaianmu kau tentu dari kesatuan yang berbeda dengan prajurit-prajurit yang sedang bertempur ini?”

“Mungkin,” sahut Wirajaya. “Tetapi perbedaan yang tidak berarti. yang penting bahwa aku adalah prajurit Pajang dan kau adalah prajurit Jipang, karena jika dilihat dari pakaianmu, kau juga bukan dari kesatuan Jipang yang datang ini. Juga bukan satu di antara orang-orang Tanah Peridkan Sembojan. Siapa namamu Ki Sanak?”

“Kau tidak memerlukan namaku,” jawab Rangga Gupita.

“O,” desis Ki Tumenggung. “Aku sudah menyebut namaku. Bahkan namaku sendiri. Sekarang kau tidak mau menyebut sebuah nama meskipun nama itu bukan namamu sendiri.”

“BUKANKAH tidak ada artinya apa-apa jika aku menyebut nama yang bukan namaku sendiri,” sahut Ki Rangga yang kemudian bertanya, “Nah, sekarang apa yang kau kehendaki dalam pertempuran ini?”

“Kau aneh,” jawab Tumenggung Wirajaya. “Jika aku turun ke gelanggang tidak ada maksud yang lain kecuali menangkapmu serta beberapa orang Senapati yang lain.”

“Persetan,” geram Ki Rangga Gupita. “Kau kira kau memiliki kemampuan iblis sehingga kau dapat mengalahkan aku?”

“Aku memang tidak mempunyai kemampuan iblis,” jawab Ki Tumenggung. “Tetapi aku akan berusaha menandingimu.”

Ki Rangga tidak menjawab lagi. Ia pun segera mempersiapkan diri. Agaknya Ki Tumenggung Wirajaya memang lain dengan prajurit-prajurit kebanyakan.

Karena itu, maka sejenak kemudian Ki Rangga Gupita pun telah menyerangnya dengan garangnya. Ujung pedangnya yang bergetar telah mematuk ke arah dada.

Rangga Gupita yang gagal mengenai dada lawannya, tiba-tiba telah mengibaskan ujung pedangnya mendatar tepat setinggi dada.

Ki Tumenggung yang memang ingin menjajagi kemampuan dan ilmu lawannya berusaha untuk menangkisnya. Ia sadar, menilik sikap ketiga lawan Ki Rangga yang terdahulu. Dalam setiap sentuhan senjata nampaknya mereka menyeringai menahan sakit.

Karena itu, maka Ki Tumenggung Wirajaya telah mengetrapkan daya tahannya pada telapak tangannya.

Namun Ki Tumenggung itu terkejut juga. Ia tidak memiliki ilmu kebal, sehingga meskipun ia telah mengetrapkan kekuatan daya tahannya pada telapak tangannya, namun Ki Tumenggung itu merasakan juga panasnya bara api yang menyentuh tangannya itu.

Ki Tumenggung meloncat ke samping itu pun menarik nafas dalam-dalam. Ia pun sadar, bahwa ia berhadapan dengan seorang yang memiliki ilmu yang tinggi.

Namun Ki Tumenggung adalah seorang pemimpin Pajang yang disegani. Meskipun Ki Tumenggung lebih banyak tersenyum dalam keadaan apapun juga, namun ia memiliki kemampuan yang cukup tinggi pula.

Karena itu, maka yang terjadi kemudian adalah pertempuran antara dua kekuatan yang melampaui kekuatan orang kebanyakan.

Untuk mengatasi sentuhan yang dapat mengakibatkan telapak tangan Ki Tumenggung bagaikan menggenggam api itu, maka ia pun telah mengerahkan ilmunya untuk meningkatkan kecepatannya bergerak. Dengan kecepatan bergerak yang sangat tinggi, maka ia dapat membuat Ki Rangga agak kebingungan. Satu ilmu yang luar biasa, telah membuat Ki Tumenggung itu mampu membuat tubuhnya menjadi sangat ringan sehingga seolah-olah tidak berbobot. Dengan demikian maka ia pun mampu untuk bergerak cepat sekali.

Sekali-kali Ki Tumenggung itu ada di depan lawannya. Namun tiba-tiba Ki Tumenggung itu pun telah berada di belakang Ki Rangga Gupita.

Namun Ki Rangga tidak menjadi putus asa. Ia pun telah mengerahkan kemampuannya untuk mengatasi kecepatan gerak Ki Tumenggung meskipun ia lebih sering merasa kehilangan arah perlawanannya.

Namun setiap kali ia berhasil menangkis serangan Ki Tumenggung, maka rasa-rasanya ia telah membuat sebuah luka pada tubuh Ki Tumenggung, karena kemampuannya menyengat telapak tangan lawan dengan kekuatan ilmunya bagaikan panasnya bara api.

Dengan demikian maka pertempuran di antara kedua orang itu pun semakin lama menjadi semakin sengit. Sedangkan pertempuran dalam keseluruhannya pun terasa semakin membakar pula. Jumlah orang dalam pasukan Jipang memang lebih banyak.

Tetapi kemampuan mereka, terutama anak-anak muda Tanah Perdikan Sembojan, masih belum dapat mengimbangi kemampuan para prajurit Pajang yang berpengalaman.Parapengawal Tanah Perdikan yang kebetulan mendapat tempaan dari para perwira secara langsung memang jauh lebih baik dari anak-anak muda yang mendapat latihan sekadarnya dari kawan-kawan mereka sendiri yang telah menempa diri pada para perwira dari Jipang itu.

KARENA itulah, maka dua kekuatan itu menjadi bagaikan seimbang. Keduanya saling mendesak dan saling bertahan. Sorak yang membahana setiap kali meledak dari kedua belah pihak disusul dengan teriakan-teriakan yang bagaikan memecahkan selaput telinga.

Dalam pada itu, maka Senapati tertinggi prajurit Pajang yang ada di dalammedanpertempuran itu pun dengan pengamatannya yang cermat telah dapat menilai, bahwa pertempuran itu tentu akan berlangsung lama sekali. Bahkan Senapati itu yakin bahwa pada hari itu, mereka harus menghentikan pertempuran karena malam turun.

Pasukan Pajang yang cukup besar itu tidak mampu memecahkan pasukan Jipang yang jumlahnya lebih banyak, meskipun di antaranya adalah anak-anak muda dari Sembojan. Karena itu, maka Pajang yang masih mempunyai tenaga cadangan di balik gerbangkotaitu akan dapat dipergunakan di hari berikutnya. Jika ia tidak dengan segera mengubah keseimbangan itu dan perang akan berlangsung berkepanjangan, maka korban akan menjadi semakin banyak. “Ternyata pasukan disisi Timur ini lebih besar dari kekuatan pasukan Jipang disisi Barat,” berkata Senapati itu di dalam hatinya. Sebenarnyalah, bahwa matahari semakin lama telah menjadi semakin rendah. Kemampuan dan tenaga di kedua belah pihak pun telah menjadi susut. Ayunan pedang sudah tidak lagi sederas saat pertempuran itu baru mulai. Tombak dan lembing tidak lagi mematuk secepat patukan ular bendotan.

Dalam pada itu, pertempuran antara Ki Tumenggung Wirajaya dan Ki Rangga Gupita pun rasa-rasanya tidak akan berkesudahan. Keduanya memiliki kemampuannya masing-masing yang dapat saling mengatasi dan saling mengimbangi meskipun dalam ujud yang berbeda. Langit pun semakin lama menjadi semakin merah. Matahari

perlahan-lahan telah turun dan memasuki sarangnya di ujung Barat, sehingga senja pun telah datang. Pada saat yang demikian, maka terdengar isyarat dari kedua belah pihak untuk menghentikan pertempuran. Sebagaimana saat pertempuran itu akan dimulai, maka suara bende pun telah mengumandang dan menggelepar di udara.

Sementara di pihak lain terdengar suara sangkakala meneriakkan aba-aba untuk menghentikan pertempuran itu pula. Bagaimana pun juga kedua belah pihak adalah prajurit-prajurit yang terlatih dan berpengalaman. Keduanya memiliki beberapa sifat yang hampir sama, meskipun prajurit Jipang pada umumnya memiliki watak yang lebih keras. Namun prajurit Pajang tidak kalah niatnya menghadapi keadaan yang betapapun sulitnya. Meskipun sekali-kali prajurit Pajang itu mengalami tekanan yang berat dan beruntun, namun garis pertahanan pasukan Pajang tidak patah atau terputus. Seperti tali busur yang terdesak melentur, namun kemudian menghentak lurus kembali. Demikianlah ketika pertempuran itu beristirahat, maka para pemimpin Pajang telah sepakat untuk menurunkan pasukan cadangannya. Dengan cepat, maka para Senapati telah memanggil sebagian dari para prajurit yang bertugas untuk mengamankan keamanan lingkungan di dalamkota. Sementara itu menyerahkan keadaan dalamkotakepada anak-anak muda yang masih ada serta

laki-laki yang masih belum terlalu tua dan masih memiliki kekuatan dan tenaga untuk melakukannya. Sedangkan untuk menjaga segala kemungkinan, maka para prajurit yang tersisa didalamkotatelah diperlengkapi dengan kuda, agar jika diperlukan mereka dapat mencapai tempat-tempat tertentu dengan cepat. Sementara sebagian dari mereka telah diturunkan pula kemedanesok pagi. Dengan hati-hati dan tidak menimbulkan kecurigaan, seorang demi seorang dari prajurit cadangan itu telah pergi ke gelar pasukan Pajang diluarkotamenghadapi pasukan Jipang.

Namun sementara itu, seorang pengamat dengan tergesa-gesa menemui panglima pasukan Pajang yang ada dikotaitu untuk menyampaikan laporan, “Kami melihat dua penghubung berkuda pasukan Jipang menuju ke Barat. Panglima itu pun kemudian mengurai persoalannya bersama para Senapati yang lain. Mungkin kedua penghubung itu memberitahukan keadaan disisi Timur. Hanya sekadar sebagai pemberitahuan.

Namun agaknya Pasukan Jipang itu mengharapkan bantuan.

NAMUN agaknya pasukan Jipang yang masih sedang menyusun pertahanan di daerah yang dipergunakannya untuk menyusun pertahanan barunya itu, sulit untuk dapat memenuhinya. Selain itu maka jarak antara dua pemusatan pasukan Jipang itu cukup jauh. Kemungkinan yang lain adalah, pasukan disisi Timur memberitahukan bahwa pasukan Pajang sebagian terbesar ada disisi Timur itu, sehingga apabila pasukan Jipang disisi Barat akan menyerang, maka pertahanan disisi Barat tentu sedikit melemah.

“Kita harus berhati-hati menanggapi sikap prajurit Jipang yang ternyata mempunyai kemampuan yang sangat besar,” berkata Tumenggung Wirajaya.

“Ya. Hal itu kami sadari sepenuhnya,” jawab Panglima prajurit Pajang itu. Lalu, “Karena itu, maka kita harus segera mengambil sikap. Aku akan memerintahkan pasukan disisi Barat bersiaga sepenuhnya menghadapi segala kemungkinan.

Sementara itu, aku tetap berniat untuk menghancurkan pasukan Jipang, atau setidak-tidaknya mendesaknya menjauh seperti disisi Barat.”

Ki Tumenggung mengangguk-angguk. Katanya, “Baiklah. Dengan pasukan cadangan itu kita berharap akan dapat memecahkan pasukan lawan esok pagi,” Ki Tumenggung berhenti sejenak, lalu, “Tetapi harus diingat, bahwa pasukan Jipang itu pun memiliki tenaga cadangan meskipun hanya sedikit.”

“Ya. Tetapi pasukan cadangan kita lebih banyak,” jawab Panglima pasukan Pajang itu.

Suramnya Bayanh-bayang 22

Malam itu, pasukan Pajang akan dilengkapi dengan tenaga-tenaga cadangan, sementara kawan-kawan mereka yang terluka dan terbunuh telah dikumpulkan darimedandan dibawa memasuki regol. Mereka telah dibawa ke banjar terdekat dengan pintu gerbangkotauntuk mendapat perawatan dan pelayanan sebagaimana seharusnya.

Malam itu ternyata bahwa pasukan kedua belah pihak tidak segera dapat beristirahat. Namun para perwira dikedua belah pihak pun telah berusaha agar para prajurit itu mendapat kesempatan beristirahat sebanyak-banyaknya.

Pekerjaan-pekerjaan lain diserahkan kepada mereka yang tidak turun kemedanperang.

Beberapa orang prajurit telah melumuri kaki dan tangan mereka dengan param yang memang sudah disediakan. Dengan demikian, terasa urat nadi mereka menjadi hangat, dan darah pun mengalir dengan lancar. Karena itu, maka perasaan letih dan penat pun menjadi segera berkurang.

Tetapi seorang prajurit Pajang yang masih muda berkata kepada kawannya, “Kau sudah seperti seorang kakek-kakek. Baru sehari kau bertempur, kau sudah harus memerami kaki, tangan bahkan punggung dan perutmu.”

“Jangan sombong,” sahut kawannya. “Soalnya bukan kakek-kakek atau bukan. Tetapi tubuh ini terasa segar kembali setelah sehari kita bertempur.”

“Aku cukup dengan sedikit lama membenamkan diri disungai,” jawab prajurit muda itu. “Tubuhku telah segar kembali seperti pada saat aku datang kemari.”

“Mungkin kau cukup dengan mandi semalam suntuk. Tetapi bagiku param ini sangat berarti bagi urat-uratku yang hampir kejang,” jawab kawannya.

Keduanya tidak berbantah lagi. Masing-masing mempunyai kebiasaannya sendiri-sendiri, sehingga karena itu, maka mereka melakukan apa yang sesuai dengan kebiasaan mereka masing-masing.

Namun satu hal yang harus mereka lakukan, sebagaimana diperintahkan oleh para pemimpin mereka, adalah beristirahat sebanyak-banyaknya dapat mereka lakukan.

“Besok kalian masih harus bertempur penuh. Soalnya adalah menyangkut masalah hidup dan mati. Karena itu, beristirahatlah. Jika kalian dengan sombong merasa tidak memerlukan waktu untuk beristirahat sebaik-baiknya, maka mungkin sekali besok kau akan keluar darimedandi atas pundak orang-orang yang mengusungmu,” berkata seorang perwira kepada kelompok yang dipimpinnya.

Dengan demikian maka para prajurit pun telah berusaha sebanyak-banyaknya untuk beristirahat setelah mereka makan malam, sementara mereka yang terluka kecil oleh goresan-goresan senjata, namun masih mampu untuk bertempur, telah mengobati luka-luka mereka lebih dahulu sebelum mereka pergi tidur. Hanya sekelompok kecil sajalah yang bertugas bergantian mengamati keadaan.

“Kita harus berhati-hati menanggapi sikap prajurit Jipang yang ternyata mempunyai kemampuan yang sangat besar,” berkata Tumenggung Wirajaya.

“Ya. Hal itu kami sadari sepenuhnya,” jawab Panglima prajurit Pajang itu. Lalu,

“Karena itu, maka kita harus segera mengambil sikap. Aku akan memerintahkan pasukan disisi Barat bersiaga sepenuhnya menghadapi segala kemungkinan.

Sementara itu, aku tetap berniat untuk menghancurkan pasukan Jipang, atau setidak-tidaknya mendesaknya menjauh seperti disisi Barat.”

Ki Tumenggung mengangguk-angguk. Katanya, “Baiklah. Dengan pasukan cadangan itu kita berharap akan dapat memecahkan pasukan lawan esok pagi,” Ki Tumenggung berhenti sejenak, lalu, “Tetapi harus diingat, bahwa pasukan Jipang itu pun memiliki tenaga cadangan meskipun hanya sedikit.”

“Ya. Tetapi pasukan cadangan kita lebih banyak,” jawab Panglima pasukan Pajang itu.

Malam itu, pasukan Pajang akan dilengkapi dengan tenaga-tenaga cadangan, sementara kawan-kawan mereka yang terluka dan terbunuh telah dikumpulkan darimedandan dibawa memasuki regol. Mereka telah dibawa ke banjar terdekat dengan pintu gerbangkotauntuk mendapat perawatan dan pelayanan sebagaimana seharusnya.

Malam itu ternyata bahwa pasukan kedua belah pihak tidak segera dapat beristirahat. Namun para perwira dikedua belah pihak pun telah berusaha agar para prajurit itu mendapat kesempatan beristirahat sebanyak-banyaknya.

Pekerjaan-pekerjaan lain diserahkan kepada mereka yang tidak turun kemedanperang.

NAMUN dalam keadaan yang demikian, seorang demi seorang pasukan Pajang telah bertambah.

Malam yang kemudian menjadi kelam, telah menyelubungimedandengan kesenyapan. Tetapi tak banyak ada gerak di kedua belah pihak.Paraprajurit tertidur silang melintang dengan dengkur yang tersendat-sendat.

Pada malam itu, di Tanah Perdikan Sembojan, serombongan pengamen telah memasuki padukuhan. Di ujung lorong, Kiai Badra yang memim-pin rombongan itu bersama Kiai Soka berkata, “kita sudah dapat mulai sebagaimana dikehendaki oleh Ki Tumenggung Wirajaya. Aku yakin bahwa di Pajang, Ki Tumenggung pun sudah mulai pula mengusik orang-orang Jipang.”

“Ya,” jawab Kiai Soka. “Kita memang sudah mulai dengan rancangan kita. Jika mungkin maka kita akan menghindari benturan-benturan pada langkah-langkah pertama.”

“Mudah-mudahan,” jawab Kiai Badra. “Kita akan mengadakan pendekatan dengan orang-orang yang mungkin dapat kita ajak berbicara.”

Yang lain pun mengangguk-angguk. Namun mereka telah mempunyai bekal tertentu sehingga mereka tidak lagi ragu-ragu untuk menyatakan niat mereka yang sebenarnya.

Ketika rombongan itu mengadakan pertunjukan tanpa diminta oleh siapapun, maka orang-orang padukuhan itu pun telah banyak yang berkerumun. Namun, mereka terkejut ketika mereka melihat penarinya sama sekali tidak mengenakan pakaian sebagaimana mereka lihat. Penari yang ikut dalam rombongan itu memakai pakaian sehari-hari seperti yang dikenakan oleh perempuan-perempuan Tanah Perdikan Sembojan.

Namun dengan demikian, maka orang-orang yang menyaksikannya menjadi semakin tersentuh hatinya. Perempuan itu pasti Nyai Wiradana yang hilang.

Ketika orang-orang padukuhan itu sudah berkumpul karena mendengar suara gamelan, maka penarinya yang tidak mengenakan pakaian penari selain sehelai selendang yang diikatkan di lambung itu pun mulai bangkit dan berdiri di tengah-tengah arena, dikelilingi oleh orang-orang padukuhan itu yang melihat penari itu dengan heran.

Namun dalam pada itu, gamelan pun justu telah berhenti.

Orang-orang yang mengerumuni arena itu menjadi semakin heran. Namun mereka menunggu apa yang akan terjadi kemudian.

Dalam pada itu, maka penari yang tidak mengenakan pakaian penari itu pun kemudian melangkah mengelilingi arena sambil memandang orang-orang yang mengerumuninya. Sejenak kemudian tiba-tiba saja ia berkata, “Ki Sanak, orang-orang Sembojan yang baik hati. Aku minta maaf, bahwa kali ini aku tidak dapat menari bagi kalian karena sesuatu hal. Aku tidak sempat merias diri di pondokanku karena aku telah diusir oleh orang yang untuk sementara memberikan tempat kepada kami untuk tinggal, sementara di malam hari dan kadang-kadang disiang hari, kami mengadakan pertunjukan keliling seperti ini.

Orang-orang Sembojan itu pun mendengarkan keterangan penari yang tidak dalam pakaian tari itu dengan seksama. Sementara itu perempuan itu pun berkata lebih lanjut.

“KARENA itu, maka sejak saat ini kami tidak lagi mempunyai tempat untuk berteduh. Memang ada dua pilihan yang dapat kami lakukan. Kembali ke tempat asal kami, namun untuk datang kembali ketempat ini jaraknya terlalu jauh, sehingga mungkin akan dapat kami lakukan dalam waktu tiga atau empat bulan seperti pada saat kami pulang beberapa waktu yang lalu, atau kami mohon belas kasihan seseorang untuk memberikan tempat yang baru bagi kami. Sekadar untuk dapat tidur dan menempatkan peralatan kami yang tidak berarti.”

Orang-orang padukuhan itu termangu-mangu. Mereka merasa kasihan kepada perempuan yang mirip dengan Ki Wiradana itu, yang bahkan ada yang sudah menyebutkan bahwa perempuan itu adalah Nyai Wiradana itu sendiri.

Tetapi mereka tidak berani memberikan tempat kepada rombongan itu, karena mereka takut kepada Ki Wiradana yang telah menyatakan bahwa rombongan penari itu harus ditangkap jika mereka kembali ke Tanah Perdikan.

Karena orang-orang Tanah Perdikan di padukuhan itu nampak ragu-ragu, maka Nyai Wiradana yang menumbuhkan teka-teki itu pun berkata, “Ki Sanak, apakah Ki Sanak masih dibayangi kecemasan, bahwa pemangku jabatan Kepala Tanah Perdikan ini akan marah?”

Tidak ada jawaban. Tetapi beberapa orang mengangguk mengiakan.

“Baiklah. Jika demikian kami tidak akan memaksa. Agaknya Nyai Wiradana lah yang sebenarnya berkeberatan, karena Nyai Wiradana tidak ingin peristiwa yang pernah terjadi itu terulang. He, apakah bukan hanya sekadar fitnah saja bahwa Nyai Wiradana dahulu juga seorang penari seperti aku?” bertanya Iswari.

“Ya,” hampir berbareng beberapa orang telah menjawab.

“Tetapi menurut pendengaranku, sebelum Ki Wiradana kawin dengan penari itu, bukankah ia sudah beristri?” bertanya Iswari itu pula.

“Ya,” jawab beberapa orang yang semakin banyak jumlahnya.

“Dan istrinya itu kini sudah tidak ada lagi di Sembojan,” desak Iswari pula.

Semakin banyak orang yang menjawab, “Ya,” bahkan seorang telah berteriak.

“Istrinya telah pergi.”

“Baiklah,” berkata Iswari. “Bagaimana pendapat kalian tentang istri Ki Wiradana yang telah pergi itu dengan istrinya yang sekarang?”

Tidak seorang pun menjawab. Jawaban yang sudah ada dikerongkongan pun telah ditelannya kembali.

Namun sementara itu Iswari itu berkata, “Ki Sanak. Menurut pendengaranku, pada saat istri Ki Wiradana itu pergi, ia baru mengandung. Apakah kalian juga mengetahuinya?”

Beberapa orang dengan ragu mulai menjawab lagi, “Ya.”

“Nah, jika demikian, maka anak itu sekarang tentu sudah lahir,” berkata Iswari.

“Sementara itu anak Warsi, juga seorang penari jalanan itu sudah lahir pula. Tetapi siapakah yang lebih berhak untuk menjadi Kepala Tanah Perdikan kelak.

Anak Iswari atau anak Warsi.”

Orang-orang yang mengerumuni arena itu termangu-mangu. Namun ada juga yang menjawab, “Anak Iswari. Ia lebih berhak atas kedudukan Kepala Tanah Perdikan ini daripada anak Warsi yang tamak itu.”

Kawan-kawannya berpaling ke arah orang itu. Bagaimanapun juga mereka merasa cemas akan kata-kata yang dilontarkan oleh salah seorang daripadanya. Jika yang dikatakan itu sampai terdengar oleh Ki Wiradana, maka ia tentu akan mendapat hukuman yang berat. Apalagi jika Warsi sendiri mendengarnya, maka nasib orang itu tentu akan buruk.”

Sementara itu, Iswari yang berada di tengah-tengah kerumunan orang banyak itu pun telah tersentuh hatinya mendengar jawaban itu. Ternyata bahwa paling tidak seorang di antara orang-orang Sembojan masih menganggapnya sebagai ibu dari seorang anak yang akan dengan sah memegang kedudukan Kepala Tanah Perdikan.

Karena itu, di luar kendali perasaannya, maka muncullah dipermukaan, sifat perempuannya. Dengan susah payah ia telah menahan agar air mata yang memanasi pelupuknya itu tidak menitik jatuh.

Namun ternyata bahwa air mata itu masih juga meleleh dipipinya.

TETAPI cahaya lampu minyak yang tidak begitu terang tidak sempat menunjukkan butir-butir air yang menitik kulit pipinya itu.

Sementara itu, Iswari telah menghentakkan perasaannya sambil berkata, “Jika demikian, maka pada suatu saat, anak itu akan datang kepada Ki Sanak semuanya.”

Kata-kata Iswari itu ternyata merupakan satu isyarat, bahwa ia telah mengakui tentang dirinya sendiri. Bahwa ia bukan sekadar perempuan yang mirip dengan Nyai Wiradana. Tetapi dengan kata-katanya yang dilontarkan itu, serta ujudnya dalam pakaian sehari-hari, ternyata perempuan itu memang Iswari.

Karena itu, maka Ki Bekel yang kebetulan juga menyaksikannya, telah menyibak orang yang berkerumun itu. Ketika ia muncul di arena maka katanya, “Nyai, aku adalah bekel dari padukuhan ini. Bekel yang seakan-akan sudah dilupakan, karena semua tugasku sudah diambil alih oleh anak-anak muda yang disebut pengawal padukuhan yang langsung dipimpin oleh Ki Wiradana,” orang itu berhenti sejenak, lalu katanya, “Ada kecenderungan aku memberontak karenanya. Tetapi aku tidak akan mampu berbuat apa-apa. Meskipun demikian, setelah aku mendengar keterangan Nyai, maka aku telah mengambil satu kesimpulan tentang Nyai dan rombongan ini.

Karena itu, aku akan mempersilakan rombongan ini untuk berada di rumahku. Apapun yang akan terjadi, aku akan menerimanya dengan senang hati.”

Iswari memandang Ki Bekel dengan tajamnya. Namun kemudian ia pun bertanya, “Kesimpulan apakah yang telah kau ambil tentang kami?”

“Semua orang yang berkerumun disini akan mengerti maksudku,” jawab Ki Bekel.

“Marilah, singgah dan tinggal di rumahku. Aku tahu bahwa hal ini akan menjadi persoalan. Tetapi aku tidak berkeberatan.”

Iswari menarik nafas dalam-dalam. Di luar sadarnya ia memandang Kiai Badra dan Kiai Soka yang ada di dalam temaramnya lampu minyak untuk mendapat pertimbangan.

Sementara itu, terdengar suara Kiai badra, “Baiklah ngger. Terimalah tawaran yang sangat berharga ini.”

Iswari menarik nafas dalam-dalam. Lalu katanya, “Ki Bekel. Kami sangat berterima kasih atas kesempatan ini.”

“Marilah. Jika kau masih ingin mendapat kesempatan untuk menari malam ini, kau dapat merias dirimu di rumahku. Tetapi jika kau anggap sudah terlalu malam sekarang, maka kau dapat melakukannya besok,” berkata Ki Bekel.

Iswari pun kemudian berkata, “Sekali lagi kami mengucapkan terima kasih. Dengan senang hati kami akan ikut bersama Ki Bekel,” Lalu katanya kepada orang-orang yang berkerumun itu, “Ki Sanak semuanya, aku minta maaf bahwa kali ini aku tidak dapat menari untuk kalian. Tetapi aku berjanji, besok aku akan menari di halaman rumah Ki Bekel, sebagaimana yang telah sering aku lakukan.”

Orang-orang yang berkerumun itu tidak menjawab. Tetapi sesuatu telah meyakinkan mereka dengan siapa mereka sebenarnya berhadapan.

Sejenak kemudian, maka iring-iringan kecil itu pun telah meninggalkan tempat itu menuju ke rumah Ki Bekel. Rumah yang cukup besar dan terhitung cukup baik dibandingkan dengan rumah disekitarnya. Agaknya Ki Bekel termasuk orang yang berkecukupan.

Orang-orang yang berkerumun itu pun telah bubar pula. Tetapi ternyata mereka tidak memencar kembali ke rumah mereka masing-masing. Sebagian besar dari mereka telah berkerumun dan berbincang tentang kata-kata penari yang tidak dalam pakaian tari itu.

“Ternyata akhirnya kita benar,” berkata seorang laki-laki yang bertubuh tinggi. “Perempuan itu adalah Nyai Wiradana sendiri.”

“Ya,” sahut kawannya. “Tanpa menyebut dengan jelas, kita semuanya sudah mengetahui, bahwa yang dikatakan itu adalah satu pengakuan.”

“Tetapi ternyata Ki Bekel telah mengambil sikap yang sangat berani. Dengan menampung orang-orang itu, apakah tidak berarti bahwa Ki Bekel dengan terang-terangan telah menentang kekuasaan Ki Wiradana? Bukan saja kegarangan dan kekerasan Wiradana yang harus diperhitungkan, tetapi kekerasan perempuan yang dipungutnya dari jalanan itulah yang harus diperhitungkan. Ternyata bahwa perempuan itu memiliki kemampuan melampaui kemampuan Ki Wiradana sendiri,” desis orang yang pertama.

“Ki Bekel sudah tidak dapat menahan hati lagi. Sementara ini ia seolah-olah sudah tidak berarti lagi. Apapun juga dipadukuhan ini telah dilakukan oleh anak-anak muda yang dipercaya oleh Ki Wiradana. Sampai memungut pajak pun telah mereka lakukan dan menyerahkan langsung kepada Ki Wiradana,” sahut kawannya.

“Tetapi bagaimana dengan kita?” bertanya orang yang pertama. “Jika benar terjadi pertentangan yang mengarah kepada kekerasan? Apakah rombongan kecil itu akan dapat berbuat banyak menghadapi kekuasaan dan kekuatan Ki Wiradana?”

“Tanah Perdikan ini dalam keadaan lemah,” jawab kawannya. “Sebagian besar kekuatan Tanah Perdikan ini berada di Pajang.”

“Bukankah masih ada sekelompok anak-anak muda yang sekarang berada di barak itu untuk ditempa menjadi anak-anak yang perkasa sebagaimana yang telah diberangkatkan ke Pajang itu?” bertanya yang lain pula.

Kawannya mengerutkan keningnya. Tetapi katanya, “Yang ada di barak itu tidak lebih dari sisa-sisa yang tinggal di Tanah Perdikan ini. Mereka tidak dianggap cukup kuat untuk pemilihan yang pertama. Namun akhirnya mereka dipungut juga dari padukuhan masing-masing.”

Yang lain mengangguk-angguk. Namun seorang di antara mereka berkata, “Marilah, kita berbicara dengan para pengawal. Bukankah para pengawal padukuhan ini yang tersisa anak-anak kita sendiri yang akan dapat kita ajak untuk berbincang?”

“Hanya ada dua tiga orang yang masih ada. Mereka pun akan segera ditarik ke dalam barak mengganti kelompok yang terdahulu,” jawab kawannya.

“Biar dua atau seorang sekalipun, namun kita wajib berbicara dengan pengawal itu.”

Demikianlah mereka pun telah pergi ke gardu di sisi yang lain dari padukuhan itu.

Dua orang anak muda duduk dengan lesu di dalam gardu itu. Ketika beberapa orang datang kepadanya, maka telah terkejut karenanya. Bahkan mereka pun telah berloncatan turun dari gardunya. Dengan tergesa-gesa mereka bertanya, “Ada apa?”

Seorang di antara mereka yang datang itu pun maju mendekat sambil berkata, “Apakah kalian mendengar suara gamelan?”

“Ya. Kami mendengar. Tetapi kemudian berhenti,” jawab salah seorang pengawal itu.

“Apakah kalian tidak berniat untuk mengambil tindakan? Bukankah sudah diumumkan oleh Ki Wiradana, bahwa jika serombongan pengamen itu datang ke padukuhan ini, maka mereka harus ditangkap.”

Anak-anak muda yang berada di gardu itu termangu-mangu. Namun salah seorang di antara mereka menjawab, “Tetapi bukankah tidak berlaku bagi semua rombongan pengamen? Bukankah hanya yang penarinya mirip dengan Nyai Wiradana itu saja yang harus dicegah untuk bermain di Tanah Perdikan ini?”

Laki-laki yang berdiri di hadapan anak-anak muda itu justru bertanya, “Kenapa jika rombongan pengamen yang penarinya seperti Nyai Wiradana itu harus dilarang?”

“Jangan bertanya kepadaku,” sahut anak muda itu. “Bertanyalah kepada Ki Wiradana.”

“Baiklah,” berkata laki-laki itu. Lalu, “Ternyata bahwa rombongan yang datang itu adalah rombongan dengan penari yang mirip sekali dengan Nyai Wiradana.”

Kedua pengawal itu saling berpandangan. Sebenarnyalah mereka memang sudah mendengar suara gamelan. Ada hasrat mereka untuk menengok, apakah rombongan itu termasuk rombongan yang menurut Ki Wiradana harus ditangkap. Tetapi keduanya merasa segan. Bahkan seorang di antara kedua pengawal itu pernah mendengar ceritera kawan-kawannya, yang mendapat kesempatan berlatih dengan cara yang lebih baik, bahwa mereka pernah gagal menangkap orang-orang yang menjadi pengiring dari penari yang mirip Nyai Wiradana itu. Karena itu, jika benar rombongan itu ada di padukuhan mereka, maka pengawal itu dihadapkan kepada satu persoalan yang amat pelik.

Karena para pengawal itu tidak segera menyahut, maka laki-laki itu kemudian berkata, “Apakah kalian juga akan menangkap mereka?”

Tiba-tiba saja salah seorang di antara kedua pengawal itu menjawab, “Kami hanya berdua.”

“Kenapa jika berdua? Apakah jika berdua kalian dapat mengingkari tugas kalian?” bertanya laki-laki itu.

Para pengawal itu menjadi kebingungan. Sementara seorang laki-laki yang lain, yang kebetulan adalah paman salah seorang dari para pengawal itu berkata, “Marilah. Kita temui rombongan itu yang sekarang berada di rumah Ki Bekel.”

“Di rumah Ki Bekel paman,” ulang salah seorang pengawal itu. “Tetapi, apakah kami berdua akan dapat menangkap mereka. Kecuali jika paman dan kita semuanya ikut melakukannya.”

“Marilah, kita melihat apa yang ada di rumah Ki Bekel. Baru kemudian kita mengambil sikap,” berkata pamannya.

Kedua pengawal itu tidak dapat ingkar. Mereka pun terpaksa ikut bersama orang-orang padukuhan itu menuju kerumah Ki Bekel.

Sementara itu malam pun menjadi semakin dalam. Padukuhan yang biasanya sudah tidur itu ternyata masih disibukkan dengan beberapa orang yang berjalan menyusuri jalan-jalan padukuhan. Namun gardu-gardu di dalam padukuhan itu sudah menjadi sepi dan tidak lagi terisi oleh gelaknya anak-anak muda yang meronda.

Anak-anak muda di Tanah Perdikan sebagian seakan-akan telah terhisap ke dalam pasukan Jipang yang dikirim ke Pajang dan yang lain masuk ke dalam barak-barak.

Beberapa saat kemudian iring-iringan itu telah sampai ke regol halaman rumah Ki Bekel. Beberapa orang menjadi termangu-mangu sebagaimana kedua orang pengawal itu. Namun salah seorang di antara mereka, yang kebetulan adalah paman dari

salah seorang di antara kedua orang pengawal itu berkata, “Marilah. Kita memasuki regol halaman.”

Orang itu justru ada di paling depan. Di belakangnya adalah dua orang pengawal yang ragu-ragu. Suara desah dan pembicaraan yang tertahan-tahan, serta kemudian langkah kaki mereka di halaman, telah memberikan gambaran kepada setiap orang di dalam rumah itu, apa yang terjadi di halaman.

“Banyak orang datang kerumah ini Ki Bekel,” desis Kiai Soka.

“Aku akan berbicara dengan mereka,” berkata Ki Bekel. “Mereka tentu orang-orang yang kebingungan untuk menentukan sikap. Mereka tentu didorong oleh perasaan takut kepada Ki Wiradana dan istrinya yang memerintahkan untuk menangkap kalian jika kalian datang ke padukuhan ini.”

Wajah Iswari menjadi buram. Dengan nada rendah ia berdesis, “Apakah kehadiranku tidak akan dapat diterima lagi oleh orang-orang padukuhan ini?”

“Ah,” desis Kiai Badra, “Tiba-tiba saja kau menjadi seorang perajuk. Diterima atau tidak diterima, tetapi kau mempunyai hak yang harus kau perjuangkan.”

Iswari mengangguk. Sementara Ki Bekel berkata, “Aku akan menemui mereka.”

Ki Bekel pun kemudian telah membenahi dirinya. Dengan menyelipkan keris dipinggangnya ia membuka selarak pintu dan melangkah keluar diikuti oleh Kiai Badra dan bahkan kemudian Iswari sambil berdesis, “Aku harus berhadapan langsung dengan mereka.”

Kiai Badra mengerutkan keningnya. Katanya, “Kau akan berbicara dengan orang-orang itu.”

“Terserah kepada Ki Bekel,” jawab Iswari.

Ki Bekel tertegun sejenak. Namun ia pun tidak menjawab. Tetapi ia langsung menyeberangi pendapa dan berdiri di bibir tangga menghadap kepada orang-orang yang sudah berada di halaman.

Ki Bekel itu pun memandang orang-orang padukuhan yang berkerumun itu, seolah-olah ingin mengenali seorang demi seorang. Meskipun cahaya lampu minyak di pendapa hanya menyentuh mereka dengan lemahnya, tetapi karena wajah-wajah itu sudah sangat dikenalnya, maka Ki Bekel pun dapat mengenal seorang demi seorang di antara mereka.

Baru kemudian dengan suara lantang Ki Bekel bertanya, “Kenapa kalian kemari?”

Adalah diluar dugaan kedua orang pengawal itu, ketika seorang di antara orang-orang yang mengikuti mereka itu berkata, “Kami hanya mengikuti kedua orang pengawal itu.”

Kedua orang pengawal itu menjadi tegang. Dipandanginya orang yang berbicara itu dengan sorot mata penuh kebimbangan.

Ki Bekel mengamati kedua orang pengawal itu. Kemudian ia pun bertanya pula, “Anak-anak muda, apakah keperluan kalian datang kemari?”

Kedua orang anak muda itu menjadi bingung. Untuk beberapa saat mereka berdiam diri. Bahkan jantung mereka terasa berdebar semakin cepat.

“Apakah kalian ingin menemui aku?” bertanya Ki Bekel.

Kedua orang pengawal itu masih termangu-mangu. Ki Bekel yang sudah agak lama tidak pernah mereka hiraukan lagi, tiba-tiba saja kini berdiri dihadapan mereka dengan wibawanya yang tidak dapat diatasinya.

Namun dalam pada itu, meskipun dengan agak gagap salah seorang di antara kedua pengawal itu menjawab, “Kami mendapat laporan, bahwa disini ada serombongan pengamen yang dinyatakan dilarang oleh pemangku jabatan Kepala Tanah Perdikan Sembojan.”

“O,” Ki Bekel mengangguk-angguk. “Apakah memang ada larangan seperti itu? Aku tidak tahu menahu. Sudah lama aku tidak berada dalam tugasku meskipun kedudukanku masih tetap. Aku Bekel di padukuhan ini. Karena itu, maka aku tidak tahu, yang manakah yang dilarang dan yang manakah yang diperkenankan. Tetapi di rumah ini memang ada serombongan pengamen yang akan bermalam. Di antaranya adalah kedua orang ini.”

Pengawal-pengawal itu memandang Kiai Badra dan Iswari yang kemudian melangkah ke depan dengan mata yang hampir tidak berkedip. Ternyata perempuan itu memang mirip sekali dengan Nyai Wiradana. Bahkan tiba-tiba saja seorang di antara orang-orang yang mengikuti kedua pengawal itu berkata, “Mereka adalah orang-orang yang sudah kita kenal di Tanah Perdikan ini.”

“Apa yang akan kau lakukan?” bertanya yang lain.

Kedua orang pengawal itu menjadi semakin bingung. Bahkan seorang di antara mereka berdesis, “Bukankah kalian yang mengajak kami kemari?”

“Ya, lalu apa yang akan kalian lakukan setelah berada disini?” bertanya yang lain lagi. Kedua orang pengawal itu menjadi semakin bingung. Sementara Ki Bekel itu pun bertanya, “Orang-orang padukuhan ini, apakah yang sebenarnya kalian inginkan? Apakah kalian memang akan menangkap penari beserta para pengiringnya atau apa?”

Seorang yang berambut putih tiba-tiba saja melangkah maju sambil berkata, “Kami hanya ingin meyakinkan, bagaimana pendapat para pengawal itu sebenarnya.”

Kedua pengawal itu menjadi bertambah bingung. Namun orang-orang yang berkerumun di halaman itu pun termangu-mangu mendengar kata-kata itu. Beberapa orang tidak mengerti ujung pangkal dari sikap mereka bersama. Namun orang berambut putih itu

agaknya telah menentukan sikapnya. Katanya, “Kami ingin meyakinkan para pengawal, dengan siapa sebenarnya mereka berhadapan.”

Laki-laki yang kebetulan paman dari salah seorang di antara kedua orang pengawal itu pun maju pula sambil berkata, “Kita sudah berkumpul disini. Meskipun hanya ada dua orang pengawal, tetapi keduanya akan dapat menjadi wakil dari sikap yang sebenarnya dari para pengawal.”

“Kita akan mengambil sikap disini,” berkata orang yang berambut putih itu.

“Bukankah ketika kita berangkat ke rumah ini, kita berniat untuk mengambil satu sikap.”

“Sikap apa?” bertanya Ki Bekel.

“Sikap kita semuanya tentang penari itu,” jawab orang berambut putih. Iswari menjadi berdebar-debar. Namun kemudian Ki Bekellah yang bertanya lagi.

“Sikap yang akan kalian tentukan, akan menentukan sikap kami. Maksudku, rombongan pengamen yang kau maksud dan aku, karena aku sudah bertekad untuk berada di antara mereka setelah aku yakin, siapakah penari itu sebenarnya.”

Orang berambut putih itu mengangguk-angguk. Lalu katanya, “Aku berada dipihak Ki Bekel.”

Pernyataan yang tiba-tiba itu telah membuat jantung Iswari berdegup semakin keras. Dipandanginya wajah-wajah tegang dari orang-orang yang berada di halaman.

Sementara itu, laki-laki yang kebetulan adalah paman dari salah seorang pengawal itu pun menyahut, “Aku juga.”

Sejenak halaman rumah Ki Bekel itu dicengkam oleh ketegangan. Kedua pengawal itu benar-benar kehilangan akal. Justru karena itu untuk beberapa saat mereka diam membeku.

Orang-orang yang semula kurang mengerti tentang keadaan yang mereka hadapi itu pun seakan-akan telah terbangun dari sebuah mimpi. Beberapa orang di antara mereka berkata, “Kami berada bersama Ki Bekel.”

Ki Bekel menarik nafas dalam-dalam. Iswari pun kemudian menundukkan kepalanya.

Ternyata orang-orang padukuhan itu telah mengambil sikap yang hampir saja meruntuhkan air matanya. Tetapi seperti yang pernah terjadi, Iswari tidak ingin menunjukkan kelemahannya. Ia berusaha untuk bertahan, meskipun matanya terasa menjadi panas.

“Terima kasih,” berkata Ki Bekel. “Dengan demikian aku yakin bahwa seisi padukuhan ini akan bersikap seperti kalian, karena menurut penglihatanku, kalian adalah orang-orang yang paling berpengaruh di padukuhan ini. Seterusnya, terserah kepada kalian para pengawal. Sikap yang manakah yang akan kalian ambil.”

Kedua orang pengawal itu menjadi semakin bingung. Namun dalam keadaan yang demikian, Ki Bekel pun bertanya, “Anak-anak muda. Sebenarnya untuk apa kalian bekerja sekarang ini? Beberapa orang kawan-kawanmu yang dianggap lebih baik dari kalian telah dibawa ke Pajang. Mereka akan bertempur bersama-sama orang Jipang, yang selama ini tidak pernah bersangkut paut dengan Tanah Perdikan ini karena Tanah Perdikan ini merupakan bagian dari kesatuan Pajang. Namun dalam pertentangan antara Pajang dan Jipang justru anak-anak kita telah berpihak kepada Jipang.”

Kedua orang pengawal itu tidak menjawab. Tetapi mereka mencoba melihat ke dalam diri mereka sendiri.

“Nah, renungkan,” berkata Ki Bekel. Lalu, “Kalian tidak perlu mengambil keputusan sekarang. Kausudah melihat penari yang harus kau tangkap. Kau pun tahu siapakah penari itu sebenarnya?”

Kedua pengawal itu masih terdiam. Sementara itu Ki Bekel berkata seterusnya, “Bertanyalah kepada kawan-kawanmu yang masih ada. Suruh mereka juga merenungi keadaannya,” Ki Bekel itu pun berhenti sejenak, lalu, “Nah Ki Sanak. Aku kira kalian sebaiknya pulang ke rumah masing-masing. Kita pun akan merenung sebagaimana kedua pengawal itu. Kemudian mengambil keputusan, apakah kita masing-masing akan melaporkan keadaan ini kepada Ki Wiradana atau tidak. Jika seorang saja di antara kalian tidak senang melihat sikapku dan sikap kita bersama, maka orang itu tentu akan dengan segera melapor kepada Ki Wiradana, sehingga ia akan mengirimkan beberapa orang pengawal untuk datang.

Tetapi jika demikian maka tentu akan terjadi perkelahian karena aku dan beberapa orang padukuhan ini sudah menyatakan tekad. Meskipun kita tidak mempunyai kemampuan apa-apa tetapi kita dilandasi oleh satu keyakinan akan kebenaran sikap kita.

Selebihnya, kalian anak-anak muda, meskipun kalian adalah para pengawal-pengawal yang ditunjuk, tetapi kalian adalah anak-anak muda dari padukuhan ini.”

Kedua anak muda itu semakin terbungkam. Sementara itu, sekali lagi Ki Bekel berkata, “Nah, sudahlah. Silakan kembali ke rumah masing-masing. Kita akan beristirahat.

Besok kita akan bekerja sebagaimana kita lakukan sehari-hari. Namun sikap terhadap Tanah Perdikan ini harus mengalami perubahan, apapun yang akan terjadi atas diri kita kemudian.”

ORANG-ORANG yang ada di halaman itu mengangguk-angguk. Meskipun tidak terucapkan namun seakan-akan mereka telah berjanji di dalam diri sendiri, bahwa mereka telah menentukan satu sikap. Mereka merasa dihadapkan kepada satu pilihan, anak Warsi atau anak Iswari. Pilihan mereka tentu akan mengandung akibat yang mungkin tidak menyenangkan. Meskipun demikian, rasa-rasanya nurani mereka tidak akan ingkar dari kebenaran menurut penilaian atas kedua orang anak itu.

Sejenak kemudian, maka orang-orang yang ada di halaman rumah itu pun perlahan-lahan mulai bergerak. Mereka meninggalkan rumah Ki Bekel dengan tekad yang bulat di dalam hati. Mereka sudah terlalu lama mengalami tekanan yang menghimpit. Namun tidak seorang pun yang berani menyatakan perasaannya karena sikap Ki Bekel dan orang-orang yang mempengaruhinya. Orang-orang yang menentukan sikap kepemimpinan di Tanah Perdikan Sembojan, justru bukan orang Sembojan sendiri.

Orang-orang itu pun sadar, bahwa Iswari juga bukan orang Sembojan. Tetapi ia pernah menjadi istri pemangku jabatan Kepala Tanah Perdikan dan menjadi istri pemangku jabatan Kepala Tanah Perdikan dan mempunyai seorang anak dengan suaminya itu. Sikapnya baik dan perempuan yang meskipun masih muda itu mampu menempatkan dirinya sebagai ibu bagi rakyat Tanah Perdikan Sembojan.

Dalam pada itu, kedua orang pengawal itu pun telah kembali ke dalam gardu mereka. Tengah malam dua orang pengawal yang lain baru akan datang menggantikan mereka.

Ketika kedua orang pengawal yang lain datang ternyata kedua orang pengawal yang bertugas sebelumnya tidak segera meninggalkan gardu. Mereka masih bercakap-cakap sejenak. Pembicaran mereka berkisar pada keadaan padukuhan mereka.

“Kawan-kawan kita rasa-rasanya sudah menjadi semakin habis,” berkata pengawal yang bertugas di bagian pertama tengah malam itu.

“Ya. Apalagi ketika orang-orang yang tersisa harus masuk pula ke dalam barak.

Jika mereka keluar dari latihan-latihan yang berat itu, maka kitalah yang akan segera masuk,” jawab kawannya.

“Gardu-gardu sekarang rasa-rasanya semakin sepi. Jika dahulu anak-anak muda yang tidak sedang bertugas pun berkumpul di gardu-gardu, sekarang yang bertugas pun rasanya malas untuk pergi ke gadu,” berkata anak muda yang pertama.

Kawannya tidak menjawab. Tetapi ia pun mengaku didalam hati, bahwa suasana padukuhan dan bahkan seluruh Tanah Perdikan Sembojan telah berubah.

Karena kawannya tidak menjawab, maka anak muda yang pertama itu pun bertanya, “he, sebelum kau keluar dan datang ke gardu ini, apakah tadi kau mendengar gamelan?”

“Tadi kapan?” bertanya kawannya.

“Masih agak sore,” jawab kawannya.

Kedua anak muda yang bertugas dilewat tengah malam itu saling berpandangan.

Namun salah seorang di antara mereka pun menarik nafas sambil berkata, “Kami memang mendengar. Tetapi kami tidak berbuat apa-apa. Ketika orang-orang keluar dari rumah dan pergi menonton, kami justru bersembunyi di dalam rumah kami.

Bukankah rombongan itu termasuk rombongan yang oleh Ki Wiradana tidak dikehendaki berada di Tanah Perdikan ini.”

“Kenapa kalian tidak keluar dan menangkap mereka?” bertanya anak muda yang pertama.

“Kau ini aneh,” jawab kawannya. “Bukankah kau yang sedang bertugas saat itu?”

“Ya,” jawab pengawal yang bertugas dibagian pertama dari tengah malam itu, “Akulah yang bertugas. Dan aku memang sudah berusaha untuk datang ke tempat rombongan itu menginap.”

“Dimana?” bertanya yang akan menggantikannya.

“Di rumah Ki Bekel,” jawab yang pertama. “Aku sudah bertemu dengan rombongan itu. Rombongan yang penarinya mirip sekali dengan Nyai Wiradana.”

“O,” kawannya mengangguk-angguk. “Dan kau menangkapnya?”

“Aku tidak dapat melakukannya,” jawab pengawal yang pertama.

“Kenapa?” bertanya yang datang kemudian.

“Penari itu ternyata memang Nyi Wiradana. Setiap orang di padukuhan ini sekarang sudah mengetahuinya. Dan bahkan sebagaimana Ki Bekel, maka setiap orang di padukuhan ini justru berusaha melindunginya,” jawab anak muda yang datang terdahulu.

“MELINDUNGI bagaimana?” bertanya kawannya. “Mereka berpihak kepada rombongan itu. Dan bahkan Ki Bekel minta agar kita tidak melaporkannya kepada Ki Wiradana atau para pengawal yang lain,” jawab pengawal yang pertama yang kemudian menceriterakan apa yang dilihatnya di rumah Ki Bekel. Bahkan kemudian katanya, “Ternyata bahwa aku pun sependapat dengan mereka. Perempuan itu adalah Nyai Wiradana sendiri. Tentu bukan sekadar pengakuan seseorang yang ingin memanfaatkan keadaan karena ia mirip dengan Nyai Wiradana.”

“Tetapi kemungkinan itu ada,” jawab pengawal yang datang kemudian. “Karena kita sudah agak lama tidak melihat Nyi Wiradana, maka seseorang yang mirip dengan Nyi Wiradana kita anggap bahwa orang itu benar-benar Nyi Wiradana hanya berdasarkan pengakuan saja.”

“Tidak,” jawab pengawal yang pertama. “Meskipun kita sudah agak lama tidak melihatnya, tetapi bagi orang-orang padukuhan ini, Nyi Wiradana masih tetap dikenang ujud dan polah tingkahnya. Sehingga kita tidak akan salah mengenalinya.”

Kedua pengawal yang datang kemudian itu pun mengangguk-angguk. Namun dalam pembicaraan selanjutnya kedua pengawal yang datang kemudian itu pun sependapat dengan kedua kawannya, bahwa sebaiknya harus terjadi perubahan di Tanah Perdikan itu.

“Sikap Ki Bekel memberikan kemungkinan untuk mengadakan perubahan itu. Justru pada saat Tanah Perdikan ini lemah,” berkata salah seorang pengawal yang datang terdahulu.

“Betapapun lemahnya, tetapi apakah artinya kekuatan yang ada di padukuhan ini,” sahut kawannya.

“Bukankah Ki Bekel akan dapat berhubungan dengan padukuhan-padukuhan lain? Tentu Ki Bekel akan melakukannya dengan sangat berhati-hati. Jika setiap laki-laki di padukuhan ini dan padukuhan sebelah benar-benar bertekad bulat, maka kita tentu akan dapat mengimbangi kekuatan para pengawal yang jumlahnya sudah tidak cukup banyak. Apalagi jika para pengawal itu mendapat petunjuk dan kekangan dari orang tua mereka masing-masing karena orang tua mereka sejalan dengan sikap Ki Bekel.”

Kawannya mengangguk-angguk. Sementara pengawal yang datang terdahulu itu berkata, “Baiklah. Aku akan pulang. Sebaiknya besok kau pergi ke rumah Ki Bekel dan bertemu dengan rombongan itu. Beberapa orang pengawal yang ada di padukuhan ini akan aku temui dan aku harap mereka pun sependapat dengan kita.”

“Ada satu hal yang perlu kita perhatikan,” berkata kawannya. “Mungkin kita akan dapat menyusun kekuatan mengimbangi kekuatan para pengawal yang ada di luar padukuhan ini dan barangkali satu dua padukuhan lagi yang mungkin sependapat dengan sikap Ki Bekel. Tetapi bagaimana dengan Ki Wiradana dan Nyi Wiradana yang sekarang, yang ternyata memiliki kemampuan yang sangat tinggi, serta beberapa orang yang ada disekeliling Ki Wiradana?”

Pengawal yang datang terdahulu itu menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Kau pernah mendengar ceritera tentang para pengawal yang pernah mencoba menangkap orang-orang di dalam rombongan itu?”

“Semacam desas-desus. Tetapi apakah memang benar seperti itu?” kawannya menyahut.

“Aku percaya bahwa terjadinya memang seperti desas-desus itu. Sehingga jika benar-benar terjadi semacam benturan, maka orang-orang dalam rombongan itu tentu akan ikut serta bersama kita,” pengawal itu berhenti sejanak.

Namun kemudian sambil bangkit dan bergeser ia berkata, “Aku tidak ingin dikirimkan ke Pajang sebagai pengikut orang-orang Jipang. Jika kami mati disana, maka kematian itu adalah kematian yang sia-sia saja. Lebih baik aku mati dalam usaha untuk mengadakan perubahan di Tanah Perdikan ini sendiri.”

Kawannya hanya mengangguk-angguk. Pengawal yang datang terdahulu itu bersama seorang yang lain telah meninggalkan gardu itu dan pulang ke rumah mereka masing-masing.

Sementara dua orang kawannya yang menggantikannya bertugas duduk termangu-mangu.

Rasa-rasanya gardu ini memang sepi. Orang-orang yang tidak bertugas tidak mau lagi berada di gardu sekadar untuk berkelakar atau ikut berjaga-jaga.

TERNYATA kedua orang yang bertugas kemudian itu pun sependapat dengan kedua kawannya yang terdahulu. Memang harus ada perubahan di Tanah Perdikan itu.

Menurut pengamatannya, semakin lama keadaan di Tanah Perdikan itu tidak menjadi semakin baik, tetapi justru sebaliknya. Rakyat semakin terhimpit oleh beban pajak yang berat dan bahkan hampir tidak tertanggungkan lagi. Ki Wiradana memerintah berdasarkan atas kebijakan orang-orang baru yang tidak banyak dikenal sebelumnya di Tanah Perdikan Sembojan. Anak-anak mudanya yang ditempa dengan latihan-latihan berat yang ternyata telah dikirim ke Pajang untuk berperang justru melawan Pajang bagi kepentingan Jipang.

“Besok dari gardu ini kita langsung pergi ke rumah Ki Bekel,” berkata salah seorang dari kedua orang pengawal itu.

“Ya. Dari rumah Ki Bekel kita temui beberapa orang kawan kita yang tersisa,” jawab kawannya. “Meskipun hanya tinggal beberapa orang saja yang tinggal, namun kita akan dapat berbincang dengan mereka. Satu hal yang perlu kita ingat, bahwa sikap kita ternyata hampir sama. Tidak seorang pun di antara kita yang berusaha berbuat sesuatu meskipun kita mendengar suara gamelan. Bahkan mungkin ada satu dua orang di antara kita yang justru menonton pertunjukan itu.”

Yang seorang mengangguk-angguk sambil bergumam, “Tanah Perdikan ini harus menemukan kembali masa-masanya yang baik sebagaimana masa Ki Gede Sembojan memerintah.”

Keduanya mengangguk-angguk. Namun agaknya keduanya merasa udara dingin semakin mencengkam, sehingga mereka lebih senang membenamkan diri di dalam gardu yang sedikit memberikan kehangatan daripada mondar-mandir di jalan-jalan padukuhan.

Malam itu rasa-rasanya terlalu panjang bagi kedua anak muda yang bertugas itu.

Mereka menunggu dengan kesabaran yang dipaksakan. Ketika mereka mendengar ayam jantan berkokok, maka mereka pun mengharap langit akan menjadi merah dan sebentar kemudian mereka akan meninggalkan gardu itu untuk pergi ke rumah Ki Bekel.

“He, kenapa kita harus menunggu sampai pagi,” tiba-tiba saja salah seorang di antara keduanya berdesis.

“Maksudmu?” bertanya kawannya.

“Kenapa kita tidak bergerak saja sejak sekarang? Kita dapat meninggalkan gardu ini. Untuk apa kita berada disini sampai pagi, sementara kita sudah menentukan tekad untuk mengadakan perubahan di Tanah Perdikan ini?” anak muda yang pertama itu justru bertanya pula.

“Kita memang dapat meninggalkan gardu ini tanpa takut dianggap bersalah jika kita memang sudah bertekad untuk menentang kebijakan Ki Wiradana. Tetapi apakah kita akan mengetuk pintu rumah Ki Bekel malam-malam begini? Atau mungkin membangunkan kawan-kawan kita? Biarlah kita menunggu sampai pagi. Kita akan dapat bekerja dengan lebih wajar dan tidak menimbulkan kegelisahan sebelum kita sebenarnya mulai dengan langkah-langkah yang berarti,” sahut kawannya.

Yang lain mengangguk-angguk. Tetapi ia tidak menyahut lagi. Dicobanya untuk memejamkan matanya sambil bersandar dinding. Katanya, “Aku akan tidur. Aku merasa tertekan dengan menunggu sampai pagi tanpa berbuat sesuatu. Karena itu, aku akan berusaha untuk tidur saja disisa malam ini.”

“Tidurlah. Aku yakin kau tidak akan dapat melakukannya,” jawab kawannya pula.

“Jantungmu sudah dicengkam oleh kegelisahan. Tetapi ada baiknya untuk dicoba.”

Yang sudah memejamkan matanya itu tidak menjawab. Tetapi sebenarnyalah bahwa ia tidak dapat tidur barang sekejap pun, karena kegelisahannya yang mencengkam.

Namun kedua orang pengawal itu pun kemudian menyadari, bahwa sisa malam tinggal sedikit, sehingga mereka akan segera dapat meninggalkan gardu itu untuk menemui Ki Bekel.

Sementara itu, di Pajang, ketika langit mulai dibayangi oleh warna merah, pasukan Pajang dan Jipang pun telah mulai bersiap-siap. Mereka membenahi diri dan ketika nasi sudah masak, maka mereka telah menyuapi mulut masing-masing hingga sekenyang-kenyangnya. Kemudian, para prajurit itu pun telah mengamati senjata masing-masing, sehingga jangan sampai mengecewakan apabila mereka sudah berada di medan. Sebagian dari prajurit Pajang telah melengkapi dirinya dengan sebuah pisau belati di samping senjata masing-masing.

PARA Senapati pun kemudian telah siap pada pasukannya masing-masing. Seperti di hari sebelumnya, maka pasukan Jipang lah yang bergerak lebih dahulu. Merekalah yang kemudian datang menyerang pasukan Pajang yang berada di luar dinding. Namun pasukan Pajang pun telah bersiap sepenuhnya. Karena itu ketika mereka melihat pasukan Jipang mulai bergerak, maka dengan cepat pasukan Pajang

pun menyongsongnya.

Sambil bergerak maju, maka prajurit Pajang yang terlatih diperkuat oleh para pengawal dari padukuhan diseputar kota, telah menyusun gelar. Sebagaimana Jipang yang mempergunakan gelar yang melebar, maka Pajang pun mempergunakan gelar yang lebar pula. Pagi itu Pajang nampak memasuki medan perang dengan gelar Garuda Nglayang. Gelar yang memiliki bagian-bagian yang diperkuat. Selain di ujung tengah yang merupakan paruh kekuatan gelar itu, maka disebelah menyebelah dibawah pimpinan Senapati pengapit, kekuatan pasukan Pajang bagaikan kuku-kuku yang tajam yang siap menerkam lawan. Di ujung sayap, terdapat pula kekuatan-kekuatan yang dipimpin oleh para Senapati yang menjadi pusat sayap sebelah-menyebelah.

Sementara itu, ternyata pasukan Jipang telah mempergunakan gelar Sapit Urang.

Juga sebuah gelar yang melebar dengan pemusatan beberapa kekuatan yang merupakan kepala dari gelar itu dengan sapit di ujung-ujung gelar sebelah-menyebelah.

Selangkah demi selangkah kedua kekuatan itu maju mendekat. Pasukan Jipang yang kemudian berlari-lari kecil siap menerkam pasukan Pajang yang ternyata telah bertambah jumlahnya, karena pasukan cadangan yang telah ditarik pula ke medan bukan saja dapat menggantikan mereka yang terluka dan terbunuh di peperangan.

Tetapi lebih daripada itu.

Sejenak kemudian, maka kedua pasukan yang kuat itu benar-benar telah berbenturan. Dengan tenaga yang masih segar maka kedua belah pihak telah menghentakkan kekuatan dan kemampuan mereka masing-masing. Kedua belah pihak tidak mau menjadi santapan ujung senjata justru pada saat pertempuran baru mulai. Yang terdengar kemudian adalah senjata yang berdentangan. Tombak yang mematuk perisai, pedang yang saling membentur, trisula yang berputar berdesingan. Ujung tombak panjang yang menyambar-nyambar.

Dalam pada itu, ternyata bahwa dengan tenaga cadangan yang memasuki arena, serta pasukan Jipang yang telah susut karena terbunuh dan terluka dihari pertama, maka jumlah pasukan dikedua belah pihak menjadi seimbang.

Dengan demikian, maka kedua gelar itu pun mempunyai kekuatan yang pada benturan pertama nampak seimbang pula.

Tetapi para Senapati di kedua belah pihak mulai berusaha mengenali

kemungkinan-kemungkinan yang dapat terjadi. Pasukan Pajang maupun pasukan Jipang tidak semuanya terdiri dari prajurit-prajurit yang sebenarnya. Keduanya telah menarik anak-anak muda para pengawal padukuhan untuk memperkuat masing-masing pihak. Namun ternyata bahwa prajurit Jipang telah mempergunakan tenaga para pengawal Tanah Perdikan Sembojan lebih banyak daripada anak-anak muda yang dipergunakan oleh Pajang.

Meskipun demikian para perwira dari Jipang yakin, bahwa secara pribadi mereka mempunyai prajurit-prajurit terpilih yang akan dapat menjadi imbangan kekurangan pada para pengawal Tanah Perdikan Sembojan.

Ketika kedua pasukan itu bertempur semakin sengit, maka di Tanah Perdikan Sembojan dua orang pengawal sedang berbincang dengan Ki Bekel. Sementara itu, Iswari menunggui pembicaraan itu dan mengikutinya dengan sungguh-sungguh.

“Baiklah Ki Bekel,” kedua orang pengawal itu mengangguk-angguk. “Aku menjadi semakin jelas. Semalam kedua kawanku telah mengatakan serba sedikit. Dan sekarang aku menjadi pasti.”

“Nah, Nyai Wiradana sudah tidak bersembunyi di balik wajah penari lagi sekarang,” berkata Ki Bekel. “Tergantung kepada kita. Tetapi kita sudah mengetahui bahwa yang sebenarnya berhak atas Tanah Perdikan ini, tentu anak Nyi Wiradana yang tua. Bukan anak penari jalanan itu.”

“Aku juga penari jalanan,” potong Iswari.

“Tetapi tentu bukan penari yang sesungguhnya,” jawab Ki Bekel.

“Aku pun yakin, bahwa Nyi Wiradana yang sekarang itu pun bukan penari yang sesungguhnya,” berkata Iswari kemudian.

Ki Bekel mengangguk-angguk. Katanya, “Mungkin sekali. Aku pun berpikir demikian.

Sehingga dengan demikian, maka yang dilakukannya itu sudah dipertimbangkannya masak-masak. Diperhitungkan dan dengan hati-hati dilaksanakan.”

Kedua pengawal itu mengangguk-angguk. Sementara itu salah seorang di antara mereka berkata, “Ki Bekel. Kami akan berusaha bekerja dengan hati-hati dan tidak memancing kegelisahan pada saat-saat sekarang ini.”

“Terserah kepada cara yang akan kalian tempuh,” berkata Ki Bekel. “Aku akan berhubungan dengan setiap laki-laki yang meskipun sudah setengah umur, tetapi yang masih sanggup memegang senjata akan menjadi kekuatan kita.”

“Meskipun sedikit, di padukuhan ini masih juga ada anak-anak muda yang sudah memiliki dasar-dasar keprajuritan. Aku yakin, bahwa kita akan sependapat,” berkata kedua pengawal itu.

Ki Bekel tersenyum. Setelah beberapa lamanya, terbentang tanggul pemisah di antara dirinya dan anak-anak muda yang langsung dikuasai oleh Ki Wiradana, maka kini Ki Bekel sudah berhasil berhubungan kembali dengan anak-anak muda padukuhannya.

Bahkan ternyata mereka telah menemukan alas berpijak yang sama untuk mengadakan perubahan di Tanah Perdikan Sembojan.

Sementara itu kedua pengawal itu pun telah minta diri. Dengan tekad yang mantap keduanya berniat untuk benar-benar berbuat sesuatu bagi Tanah Perdikannya yang pada saat-saat terakhir benar-benar mengalami keadaan yang terasa sangat pahit.

Sepeninggalan kedua orang anak muda itu, maka Ki Bekel pun kemudian berkata kepada Iswari, “Nyi, apapun yang terjadi, kita memang harus segera mulai.

Nilai-nilai kehidupan di Tanah Perdikan ini semakin lama menjadi semakin buram.”

“Baiklah Ki Bekel. Kami pun sudah siap. Bahkan ada keinginanku untuk menunjukkan kepada Ki Bekel, pegangan yang dapat meyakinkan kepercayaan Ki Bekel tetang aku dan orang-orang yang datang bersamaku.”

Ki Bekel mengerutkan keningnya.

“Aku ingin menghindari keragu-raguan yang betapapun kecilnya. Memang dapat terjadi, orang yang memiliki kemiripan dengan Iswari kemudian menyatakan dirinya sebagai Iswari karena ia tahu pasti, bahwa anaknya berhak atas Tanah Perdikan ini. Dengan dukungan kekuatan yang dianggapnya akan dapat mengimbangi kekuatan Ki Wiradana, ia tampil memasuki putaran pertentangan di Tanah Perdikan ini,” berkata Iswari.

Ki Bekel mengerutkan keningnya. Namun kemudian jawabnya, “Tidak ada keraguan selembar rambut pun. Tetapi jika Nyi Wiradana ingin menunjukkan pegangan yang dapat mempertebal kepercayaan kami, maka kami pun akan menjadi semakin bangga atas perjuangan kami.”

Iswari pun kemudian menunjukkan kepada Ki Bekel, bandul pertanda kekuasaan Tanah Perdikan Sembojan, yang diterimanya dari kakeknya.

KI BEKEL mengerutkan keningnya. Dengan nada dalam ia berkata, “Semuanya menjadi

semakin pasti. Apakah Ki Gede sebelum meninggal telah memberikan pertanda ini?”

“Ya. Pada saat meninggal,” jawab Iswari. “Pertanda ini dititipkan kepada Gandar yang pada saat meninggalnya Ki Gede ia menungguinya.”

Ki Bekel mengangguk-angguk. Diamatinya bandul emas dengan rantainya. Pada bandul itu bertahtakan lukisan kepala seekor burung. Pertanda yang dikenal oleh hampir setiap orang yang menjadi bebahu di Tanah Perdikan Sembojan, karena Ki Gede memang pernah menunjukkan kepada mereka pertanda yang diterima turun temurun bagi Kepala Tanah Perdikan Sembojan.

Sambil menyerahkan kembali bandul itu maka ia pun bergumam, “Sekarang kita tidak mempunyai pilihan lain kecuali mengambil kembali kedudukan yang sudah dibayangi oleh kelahiran anak penari jalanan itu. Yang harus memimpin Tanah Perdikan itu sudah tentu harus anak Nyi Wiradana yang tua. Seandainya dalam keadaan wajar pun anak Nyi Wiradana yang akan menggantikan kedudukan Kepala Tanah Perdikan, karena anak Nyi Wiradana telah lahir lebih dahulu. Apalagi setelah ternyata bahwa anak Nyi Wiradanalah yang telah mendapatkan pertanda untuk menggantikan kedudukan Kepala Tanah Perdikan ini.”

“Terima kasih atas kepastian Ki Bekel tentang aku dan nanti anakku.

Mudah-mudahan kita tidak berdiri sendiri,” berkata Iswari.

“Aku yakin. Aku akan dapat berhubungan dengan padukuhan-padukuhan terdekat.

Sehingga dengan demikian maka lingkungan kita akan menjadi semakin luas,” berkata Ki Bekel.

Sebenarnyalah apa yang dikatakan oleh Ki Bekel itu dilakukannya. Orang-orang padukuhan itu, dihari itu telah melakukan pekerjaan mereka sehari-hari. Mereka tidak memberikan kesan apapun tentang peristiwa semalam dirumah Ki Bekel.

Seakan-akan di padukuhan itu tidak pernah terjadi sesuatu meskipun sebenarnya satu langkah yang sangat penting telah diambil. Satu langkah yang akan dapat mengubah wajah seluruh Tanah Perdikan Sembojan.

Dengan penuh keyakinan di hati, maka Ki Bekel pun kemudian telah pergi menemui Ki Bekel di padukuhan sebelah. Diuraikannya apa yang telah terjadi di padukuhannya. Dikatakannya bahwa perempuan yang mirip dengan Nyi Wiradana yang hilang yang datang kembali ke padukuhan itu sebagai penari memang Nyi Wiradana yang sebenarnya. Dikatakan pula tentang bandul pertanda kekuasaan Tanah Perdikan

Sembojan yang ada di tangan Iswari itu.

Ki Bekel dipadukuhan sebelah mengangguk-angguk. Namun kemudian katanya dengan suara lemah, “Aku sudah tidak mempunyai kuasa apapun juga di sini. Semuanya sudah diambil alih oleh para pengawal yang dipimpin langsung oleh Ki Wiradana, yang kini dikendalikan oleh orang-orang yang tidak kita kenal sebelumnya. Orang tua yang bernama Ki Randukeling itu agaknya mempunyai pengaruh yang sangat besar atas diri Ki Wiradana.”

“Orang itu adalah kakek Nyi Wiradana yang sekarang,” jawab Ki Bekel dari padukuhan yang dikunjungi Iswari. Lalu katanya, “Tetapi ternyata anak-anak muda itu kini dapat diajak bicara di padukuhanku. Aku tidak tahu, bagaimana suasana di padukuhan ini.”

“Sulit sekali, jawab Ki Bekel di padukuhan itu. “Aku tidak yakin bahwa aku akan dapat membujuk mereka sebagaimana kau lakukan.”

“Jika demikian, maka sebaiknya kau menunggu. Biarlah para pengawal dari padukuhanku yang menjajagi kemungkinan yang dapat terjadi di sini. Nanti aku akan datang lagi untuk memberitahukan kepadamu. Tetapi aku ingin kepastian sikapmu,” berkata Ki Bekel yang datang itu. “Nah, bagaimana sikapmu sendiri?”

“Jika yang kau katakan itu benar, maka aku berpihak kepadamu,” jawabnya.

“Marilah datang ke rumahku. Kau akan menjadi yakin,” berkata Ki Bekel yang datang berkunjung itu.

Ternyata Ki Bekel dari padukuhan itu tidak berkeberatan. Ia pun telah pergi bersama tamunya untuk membuktikan kata-katanya.

Ketika Ki Bekel itu bertemu langsung dengan Iswari dan melihat sendiri bandul pertanda kuasa Tanah Perdikan Sembojan, maka ia pun menjadi yakin dan pasti.

“TETAPI persoalannya tergantung kepada para pengawal,” berkata Ki Bekel dari padukuhan sebelah.

“Biarlah anak-anak muda dari padukuhan ini cepat menghubungi anak-anak muda di padukuhanmu.”

Ki Bekel di padukuhan sebelah itu pun segera minta diri. Tetapi seperti Ki Bekel yang memberikan tempat bagi Iswari itu, ia pun telah meyakinkan dirinya sendiri.

“Aku akan berbicara dengan orang-orang tua. Mudah-mudahan mereka dapat meyakinkan anak-anak mereka,” berkata Ki Bekel itu di dalam hatinya. Sebenarnyalah Ki Bekel yang memberi tempat bagi Iswari itu telah menemui para pengawal. Ia minta agar para pengawal dapat berhubungan dengan kawan-kawannya di padukuhan sebelah.

“Tetapi berhati-hatilah,” berkata Ki Bekel. “Mungkin ada satu dua orang yang sulit mengerti.”

“Baiklah Ki Bekel. Aku akan menemui mereka. Aku mengenal watak dan tabiat kawan-kawanku di padukuhan sebelah. Mudah-mudahan tidak terjadi sesuatu yang dapat mengaburkan keinginan kita.”

Ternyata untuk memanfaatkan tekad anak-anak muda itu, Ki Bekel telah minta agar Iswari menunjukkan pertanda kuasa Tanah Perdikan itu. Dan ternyata bahwa dengan demikian, maka anak-anak muda itu menjadi semakin mantap. Mereka benar-benar menghendaki satu perubahan terjadi di padukuhan mereka.

Meskipun mereka masih terhitung muda, tetapi mereka tidak meninggalkan perhitungan. Mereka pun telah membicarakan dengan orang-orang tua, sikap apakah yang harus mereka ambil jika para pengawal yang berada di Pajang itu kembali bersama para prajurit Jipang.

“Kita akan membicarakan dengan orang-orang dalam rombongan penari itu,” berkata Ki Bekel. “Namun agaknya hal itu dapat kalian bicarakan di antara kalian lebih dahulu, sebelum kita mendapat bahan-bahan dari pihak lain.”

Demikianlah, anak-anak muda itu pun telah berusaha untuk dapat menjalankan tugas mereka dengan sebaik-baiknya. Mereka sadar bahwa mereka harus melakukannya dengan sangat berhati-hati. Mereka harus memilih kesempatan dan suasana untuk menyatakan sikap mereka.

Dalam pada itu, ternyata seseorang telah mencari rombongan penari jalanan yang sedang berada di rumah Ki Bekel itu. Ketika Iswari melihat orang itu, maka dipersilakannya orang itu naik ke pendapa.

Yang kemudian menemuinya bukan saja Iswari sendiri, tetapi juga Kiai Badra, Kiai Soka dan Nyai Soka. Bahkan Ki Bekel pun telah di minta untuk ikut serta menemuinya.

“Kau membawa berita apa?” bertanya Kiai Soka.

“Kiai,” berkata orang itu. “Dua orang penghubung dari Pajang telah datang ke kaki Gunung Prapat.

“O,” Kiai Soka mengangguk-angguk, “Berita apa yang mereka bawa?”

“Pasukan Pajang telah bergerak. Pasukan Jipang yang disisi Barat telah didesak. Kemudian gerakan dilanjutkan ke sisi Timur,” berkata orang itu.

“Bagaimana hasilnya?” bertanya Kiai Soka.

“Gerakan baru dimulai ketika penghubung itu berangkat. Mudah-mudahan mereka berhasil,” jawab orang itu.

Kiai Soka menarik nafas dalam-dalam. Katanya kepada Kiai Badra, “Ini tentu satu isyarat bahwa kitapun harus segera mulai. Jika pasukan Jipang dan anak-anak

Tanah Perdikan ini terdesak, maka mungkin sekali mereka akan memanggil lagi beberapa orang anak muda di Tanah Perdikan ini untuk membantu, karena mendatangkan pasukan dari Jipang tentu memerlukan waktu yang panjang.”

Kiai Badra mengangguk-angguk. Katanya, “Jika demikian meskipun tidak dengan serta merta, maka kita pun harus memberi kesan, bahwa Tanah Perdikan ini memerlukan anak-anak muda bagi kepentingan sendiri. Jika Tanah Perdikan ini menjadi tidak tenang, maka Ki Wiradana tentu tidak akan melepaskan anak-anak mudanya untuk di kirim ke Jipang. Sementara itu, selagi pertempuran antara Pajang dan Jipang masih berlangsung, para pengawal itu tidak akan dikirim kembali ke Tanah Perdikan Sembojan.

KIAI SOKA berpaling kepada Ki Bekel sambil berkata, “Itulah Ki Bekel. Pertempuran di Pajang telah berlangsung kemarin dan hari ini, karena penghubung itu tentu berangkat kemarin dari Pajang.”

“Ya,” jawab orang yang baru datang. “Orang itu berangkat kemarin menjelang pagi, pada saat pasukan Pajang siap bergerak.”

“Baiklah,” berkata Kiai Soka, “Kami akan mempertimbangkan langkah-langkah yang akan kami ambil.”

“Jika demikian, maka apakah aku sudah diperkenankan untuk kembali ke Gunung Prapat?” bertanya orang yang datang itu.

“Ah, tentu saja tidak sekarang,” sahut Ki Bekel. “Ki Sanak dapat beristirahat sejenak. Baru setelah tidak letih dan tidak haus lagi, Ki Sanak akan kembali.”

Orang itu termangu-mangu. Namun Kiai Soka pun tersenyum sambil mengangguk.

Ketika orang itu kemudian dipersilakan pergi ke gandok, maka Kiai Soka pun berkata sekali lagi kepada Kiai Badra. “Ini adalah pertanda bahwa kita akan mulai.”

“Ya,” jawab Kiai Badra. “Jika demikian maka aku harus mengambil tunggul yang disimpan di padepokan itu. Dengan tunggul itu, maka segala sesuatunya dapat dilakukan atas nama Pajang, sementara dengan pertanda kekuasaan Tanah Perdikan, hak atas Tanah Perdikan ini berada di tangan Iswari pula atas nama anaknya.”

Kiai Soka mengangguk-angguk. Katanya, “Bekal yang sudah lengkap. Hak atas Tanah Perdikan ini serta wewenang atas nama Pajang yang berhak memerintahkan Tanah Perdikan ini dengan sah.”

“Baiklah,” berkata Kiai Badra. “Aku harus segera mengambil tunggul itu. Sebelum fajar esok pagi, aku tentu sudah berada ditempat ini kembali. Mudah-mudahan tidak terjadi sesuatu disaat aku tidak ada, meskipun aku yakin, bahwa Kiai Soka dan Nyai Soka akan dapat mengatasinya meskipun seandainya orang yang bernama

Randukeling itu sendiri yang mengambil langkah-langkah disini apabila ia kembali dari Pajang lebih cepat dari kedatanganku.”

“Agaknya tidak akan ada persoalan yang timbul dalam waktu dekat. Hari ini dan malam nanti. Entahlah jika esok pagi, karena kita harus cepat memancing persoalan untuk mencegah pengiriman anak-anak muda itu ke Pajang jika orang-orang Jipang itu memerlukannya,” jawab Kiai Soka. “Karena itu, jika Kiai ingin pergi, silakan. Tetapi besok sebelum fajar, Kiai harus benar-benar telah datang di tempat ini.”

“Semoga Yang Maha Agung mengijinkannya,” sahut Kiai Badra. “Agaknya semakin aku cepat berangkat, akan semakin baik. Aku akan membawa Gandar bersamaku.”

Dengan demikian maka Kiai Badra pun segera bersiap-siap. Ternyata Ki Bekel mengusulkan agar mereka pergi saja berkuda.

“Bukan apa-apa. Tetapi dengan demikian kalian akan menghemat waktu dan tenaga,” katanya.

Kiai Badra dan Gandar setuju untuk mempergunakan kuda dalam perjalanan mereka mengambil tunggul yang mereka simpan baik-baik dan tersembunyi di padepokan.

Sejenak kemudian, justru Kiai Badra lah yang berangkat lebih dahulu dari orang yang datang melaporkan kedatangan dua orang penghubung dari Pajang di Gunung Prapat. Bersama Gandar Kiai Badra berkuda di antara jalan-jalan padukuhan. Agar tidak terlalu menarik perhatian, maka mereka tidak berpacu terlalu cepat. Hanya apabila mereka berada di bulak-bulak panjang yang sepi, maka mereka telah mempercepat derap kaki kuda mereka.

Sementara itu, anak-anak muda dari padukuhan yang memberikan tempat kepada rombongan Iswari, telah berusaha berhubungan dengan anak-anak muda dari padukuhan sebelah, padukuhan yang bekelnya telah dihubungi lebih dahulu. Namun para pengawal itu pun bersikap cukup berhati-hati sehingga mereka tidak dengan serta merta menawarkan perubahan bagi Tanah Perdikan Sembojan.

Namun ternyata keluhan-keluhan anak-anak muda yang sedang menjajagi sikap kawan-kawannya itu mendapat tanggapan. Ternyata anak-anak muda di padukuhan sebelah itu pun merasa tidak puas terhadap kenyataan yang dihadapinya, apalagi sepeninggal anak-anak muda yang dianggap terbaik dari Tanah Perdikan Sembojan.

“AKU tidak tahu, apakah keadaan ini dapat bertahan,” berkata salah seorang anak muda dari padukuhan sebelah.

“Maksudmu?” bertanya anak muda yang sedang menjajagi itu.

“Semakin lama pemerintahan di Tanah Perdikan ini menjadi semakin kabur. Beberapa orang di antara kawan-kawan kita yang tinggal sedikit ini sekarang berada di dalam barak latihan. Tetapi agaknya mereka pun akan segera dikirim ke Pajang untuk disurukkan ke dalam api peperangan. Sementara itu pajak di Tanah Perdikan ini menjadi semakin mencekik. Kami yang memungut pajak itu pun kadang-kadang merasa betapa beratnya beban orang-orang Tanah Perdikan ini. Meskipun beberapa orang kaya masih dapat juga berpangku tangan sambil meneguk minuman panas pada saat-saat menunggu panennya yang akan memenuhi lumbung-lumbung. Tetapi sebagian besar dari penghuni padukuhanku merasa keberatan atas kebijakan Ki Wiradana sekarang. Dua orang pamanku merasa tercekik. Sementara ayahku merasa sedikit bernafas karena aku adalah seorang pengawal. Tetapi seandainya aku mati di pertempuran bagi kepentingan Jipang, apakah ayahku masih juga mendapat perlindungan seperti sekarang ini?”

Pengawal yang sengaja menjajagi kawan-kawannya itu pun tiba-tiba saja bertanya, “Jadi maksudmu di Tanah Perdikan ini harus ada perubahan?”

Kawannya itu pun terkejut mendengar pertanyaan itu. Namun pengawal yang sedang menjajagi itu cepat berkata. “Maksudku, apakah kita mohon agar Ki Wiradana mengubah kebijaksanaannya?”

Kawan-kawannya dari padukuhan sebelah mengerutkan keningnya. Namun salah seorang di antara mereka berkata, “Apakah hal itu mungkin? Jika kebijaksanaan itu datangnya dari Ki Wiradana sendiri aku kira memang mungkin. Tetapi kita tidak dapat menutup mata bahwa orang-orang diseputar Ki Wiradana itu mempunyai pengaruh yang sangat besar. Nyi Wiradana ternyata seorang perempuan yang keras hati. Bukan seorang perempuan yang lemah lembut sebagaimana kita duga sebelumnya. Saudagar emas dan permata itu tiba-tiba saja telah mendapat tempat disisi Ki Wiradana. Bahkan ayah Warsi itu pun sekarang ikut-ikutan menentukan perintah-perintah. Apalagi jika kelak Ki Randukeling dan Ki Rangga Gupita itu datang.

Anak muda yang sedang menjajagi itu mengangguk-angguk. Tetapi ia masih berkata, “Bagaimana jika kita coba mengutamakan persoalan yang sebenarnya. Mungkin Ki Wiradana tidak tahu bahwa keadaan rakyatnya sekarang sudah sangat parah, karena ia jarang sekali berkesempatan untuk melihat padukuhan-padukuhan.”

Tetapi kawannya dari padukuhan sebelah itu menggeleng. Katanya, “Sulit sekali. Yang menentukan sekarang bukan Ki Wiradana. Tetapi orang lain.” “Ah,” desis anak muda yang menjajaginya, “Pada suatu saat Ki Wiradana harus mengambil sikap sebagai pemangku jabatan Kepala Tanah Perdikan ini.”

“Kita tidak dapat mengharapkannya,” jawab kawannya.

“Jadi, apakah kita akan membiarkan keadaan ini berkembang semakin parah?”

KAWAN-KAWANNYA dari padukuhan sebelah menarik nafas dalam-dalam. Dengan nada dalam salah seorang di antara mereka berkata, “Kita tidak akan dapat berbuat apa-apa.”

Pengawal yang sedang menjajagi kawan-kawannya itu berdesis, “Seandainya Nyi Wiradana itu masih Nyi Wiradana yang lama.”

“Ya,” sahut kawannya dengan serta merta. “Mungkin keadaannya akan jauh berbeda.

Perubahan-perubahan yang suram ini baru mulai setelah Nyi Wiradana hilang dan kemudian Ki Gede Sembojan terbunuh.”

“Bencana yang datang berurutan,” desis pengawal yang sedang menjajagi sikap kawan-kawannya itu.

“Mungkin memang bencana yang datang berurutan. Tetapi mungkin yang terjadi itu adalah satu rangkaian peristiwa yang direncanakan,” berkata salah seorang kawannya.

“He?” pengawal itu bertanya.

Kawannya tiba-tiba menjadi pucat. Ternyata telah terloncat dari mulutnya sesuatu yang akan dapat mencelakakan dirinya. Bahkan keringatnya pun telah mengalir dari keningnya.

Bukan saja anak muda itu yang menjadi sangat gelisah. Tetapi kawan-kawannya menjadi gelisah pula.

Untuk beberapa saat suasana justru menjadi tegang. Pengawal yang sengaja menjajagi kawan-kawannya itu tidak segera menanggapinya.

Namun justru karena pengawal itu tidak segera menyahut, maka terasa ketegangan menjadi semakin mencengkam.

Bahkan pengawal yang memang sedang menjajaginya itu kemudian berkata, “Bukan maksudku. Tetapi, ada orang yang mengira demikian.”

“Siapakah orang itu?” bertanya pengawal itu pula.

Anak muda itu benar-benar terdiam. Mulutnya ternyata telah telanjur mengatakan sesuatu yang tidak dapat ditariknya kembali. Ia tidak ingin menyebut orang-orang lain yang tidak tahu menahu persoalannya. Karena itu, maka apapun yang akan terjadi, tidak ada orang yang akan dapat memikulnya kecuali dirinya sendiri.

Namun ternyata pengawal yang menjajaginya itu justru melemparkan pertanyaan yang aneh, “Bagaimana pendapatmu jika Nyi Wiradana yang lama itu ada disini?”

Anak muda itu tidak segera menjawab. Ia menjadi sangat berhati-hati. Apakah maksud pertanyaan pengawal itu.

Sementara pengawal itu berkata selanjutnya, “Bukankah menurut pendapatmu, jika Nyi Wiradana itu masih Nyi Wiradana yang lama, maka keadaan tentu akan berbeda.

Nah, ternyata bahwa Nyi Wiradana yang lama itu masih ada dan kini berada di Tanah Perdikan ini pula.”

Anak-anak muda itu menjadi bimbang. Seorang di antara mereka bertanya, “Aku tidak mengerti maksudmu sebenarnya. Apakah kau ingin memancing kekeruhan, atau kau memang ingin menjerumuskan kami ke dalam kesulitan atau maksud-maksud yang lain yang tidak aku ketahui?”

Pengawal yang sedang menjajagi kawan-kawannya itu pun akhirnya berkata, “Baiklah aku berkata terus terang. Mungkin hal ini akan membawa akibat yang kurang baik bagi kita. Tetapi setelah mendengar pendapat kalian, yang tentu keluar dari hati

nurani kalian, maka aku ingin memberitahukan, bahwa penari perempuan yang sering mengadakan pertunjukan keliling dan dikatakan mirip dengan Nyi Wiradana itu memang Nyi Wiradana.”

“Darimana kau tahu?” bertanya kawannya.

“Penari itu sekarang berada di rumah Ki Bekel padukuhanku,” jawab pengawal itu.

“Apakah kau berkata sebenarnya?” kawan-kawannya masih bertanya.

“Yakinkanlah dirimu, bahwa aku bermaksud baik. Aku juga menginginkan perubahan itu,” jawab pengawal itu. “Karena itu, jika kalian tidak berkeberatan, marilah satu atau dua orang di antara kalian pergi ke padukuhanku. Kalian akan bertemu dengan Nyi Wiradana. Kalian akan dapat berbicara apa saja bagi kepentingan Tanah

Perdikan ini. Dan kalian akan dapat melihat bukti tentu Nyi Wiradana itu, bahwa ia bukan hanya seorang yang mengaku dirinya Nyi Wiradana karena kemiripan wajahnya dan menuntut hak atas tanah ini atas nama anaknya.”

“Bagaimana ia dapat membuktikan dirinya, bahwa ia benar-benar Nyi Wiradana?” bertanya kawannya.

“MARILAH. Dua di antara kalian pergi bersamaku,” berkata pengawal itu.

Sebenarnyalah dua di antara anak-anak muda itu telah pergi ke padukuhan sebelah untuk bertemu dengan Nyi Wiradana. Nyi Wiradana sendiri sama sekali tidak berkeberatan untuk menerima mereka. Bahkan sebagaimana diinginkan oleh anak-anak muda itu, Nyi Wiradana memang menunjukkan pertanda kuasa Tanah Perdikan Sembojan.

“Kami menjadi yakin sekarang,” berkata kedua orang anak muda itu. “Kami akan menghimpun kawan-kawan kami yang tinggal.”

“Bertemulah dengan Ki Bekel di padukuhanmu,” berkata pengawal yang telah datang menemuinya pertama kali.

“Apakah Ki Bekel akan dapat mengerti sikap kami?” bertanya salah seorang dari kedua anak muda itu.

“Justru Ki Bekel sudah lebih dahulu meyakini sikap ini,” berkata pengawal itu.

Anak-anak muda itu mengangguk-angguk. Katanya, “Baiklah. Aku akan menemui Ki Bekel. Sudah lama aku tidak berhubungan dengan Ki Bekel. Mungkin Ki Bekel tidak begitu senang terhadap kedatangan kami. Kami, para pengawal telah mengambil alih semua tugas-tugasnya atas perintah Ki Wiradana, sehingga Ki Bekel, aku kira bukan saja di padukuhanku, mereka tidak senang terhadap para pengawal.”

“Tetapi para bekel itu pun mengetahui, bahwa sebab dari keadaan itu bukanlah kami, para pengawal. Tetapi Ki Wiradana sendiri. Para bekel yang sempat merenungi keadaan yang sebenarnya akan melihat bahwa kami pun hanya sekadar menjadi alat. Semuanya adalah untuk kepentingan Ki Wiradana dan istrinya yang sekarang,” berkata pengawal itu.

“Pajak yang dipungut diseluruh Tanah Perdikan ini tentu bukan semuanya untuk membiayai perang di Pajang, karena sebagian besar dari biaya perang itu ditanggung oleh Jipang yang memang memiliki kekayaan yang besar. Sebagian besar dari pajak yang dipungut tidak mengenal waktu, sebagian besar tentu menjadi miliki Nyi Wiradana yang agaknya memang seorang perempuan yang tamak.”

Anak-anak muda dari padukuhan sebelah yang memerlukan menemui Nyi Wiradana itu pun kemudian minta diri. Mereka akan bekerja keras untuk ikut mengadakan perubahan-perubahan di Tanah Perdikan Sembojan.

“Dua padukuhan sudah menentukan sikap,” berkata pengawal yang menemui anak-anak muda itu. “Mudah-mudahan ada juga padukuhan yang lain yang bersedia membantu kita.”

“Kita akan berusaha,” berkata anak-anak muda dari padukuhan sebelah.

Demikianlah, anak-anak muda itu kembali ke padukuhannya maka mereka pun telah mengadakan perubahan di antara mereka meskipun dengan sangat berhati-hati dan tidak menarik perhatian orang banyak. Ternyata bahwa anak-anak muda di padukuhan itu sependapat bahwa memang sudah sampai saatnya, di Tanah Perdikan Sembojan diadakan perubahan tatanan.

“Marilah, kita bertemu dengan Ki Bekel,” berkata salah seorang di antara mereka.

“Kita tidak perlu bersama-sama pergi ke rumahnya. Dua di antara kita sudah cukup,” berkata yang lain.

Ternyata mereka memutuskan untuk mengirimkan dua orang di antara mereka, yang telah langsung dapat bertemu dengan Nyi Wiradana, untuk menemui Ki Bekel.

Sebagaimana sudah dikatakan oleh anak muda dari padukuhan sebelah, sebenarnyaah Ki Bekel dari padukuhan itu telah lebih dahulu menentukan sikap. Karena itu ketika anak-anak muda itu datang kepadanya, maka pembicaraan pun menjadi lancar.

“Kami mohon maaf Ki Bekel, bahwa selama ini kami telah melanggar hak dan wewenang Ki Bekel,” berkata salah seorang dari anak-anak muda itu.

“Itu bukan salahmu,” berkata Ki Bekel.

“Kalian hanya menjalankan perintah Ki Wiradana saja. Namun pada saat akhirnya kalian telah menentukan kebenaran di dalam diri tentang Tanah Perdikan ini.

Dengan keyakinan akan kebenaran itu, maka kita akan berbuat sejauh dapat kita lakukan dengan akibat apapun juga.”

“Baik Ki Bekel,” jawab anak-anak muda itu.

“NAH, jika demikian, marilah kita membenahi diri. Aku akan mengerahkan orang-orang tua yang masih mampu berbuat sesuatu dan kalian menyiapkan anak-anak muda. Mungkin kalian akan berhadapan dengan kawan-kawan kalian yang justru telah mendapat latihan yang lebih berat, tetapi anak-anak muda yang akan melihat ayah mereka berada di pihak kita, maka mereka tentu akan berpikir dua kali untuk melakukan kekerasan terhadap kita,” berkata Ki Bekel.

Demikianlah maka anak-anak muda itu pun kemudian telah melakukan persiapan apa saja yang dapat mereka lakukan. Tetapi jumlah mereka memang terlalu sedikit.

Meskipun demikian, anak-anak muda itu telah dilambari dengan satu keyakinan sehingga pendirian mereka tidak akan mudah menjadi goyah. Keadaan Tanah Perdikannya yang disaksikannya dari hari kehari, telah menempa tekad mereka untuk mengadakan perubahan.

“Meskipun jumlah kita sedikit, tetapi kawan-kawan kita yang ada di barak itu juga tidak terlalu banyak. Kecuali jika kawan-kawan kita yang ada di Pajang akan ditarik,” berkata salah seorang di antara mereka.

“Kita sudah bertekad,” jawab kawannya. “Aku kira seluruh Tanah Perdikan ini seakan-akan sudah digenangi minyak. Jika ada yang berani menyalakan api, maka seluruh Tanah Perdikan akan menyala.”

Dalam pada itu, pertempuran yang terjadi di Pajang pun semakin lama menjadi semakin sengit. Ketika kedua belah pihak telah menjadi basah oleh keringat, maka mereka menjadi semakin garang. Apalagi mereka yang melihat kawannya telah mengalirkan darah dari lukanya. Bahkan jika seorang sahabatnya telah terbunuh oleh ujung senjata lawan.

Dengan demikian maka benturan-benturan senjata pun menjadi semakin cepat susul menyusul. Bunga api pun berloncatan dan suara erang kesakitan tenggelam dalam sorak yang gemuruh hampir diseluruh medan.

Kedua pasukan itu pun berusaha saling menekan. Kedua belah pihak telah melepaskan kemampuan tertinggi. Para prajurit Jipang telah menghentakkan kemampuannya di antara anak-anak muda Tanah Perdikan Sembojan untuk dapat memecahkan pasukan Pajang.

Tetapi para prajurit Pajang adalah prajurit-prajurit yang terlatih matang. Karena itu, maka mereka pun mampu mengatasi setiap tekanan. Bahkan dengan ketajaman pengamatan mereka, maka telah melihat kelemahan pada pasukan Jipang.

Para prajurit-prajurit Pajang mengetahui bahwa sebagian dari pasukan Jipang adalah para pengawal Tanah Perdikan Sembojan. Meskipun anak-anak muda itu pernah mendapat latihan-latihan yang sangat berat, tetapi mereka belum mempunyai pengalaman yang memadai untuk bertempur melawan para prajurit Pajang yang telah mengenyam banyak sekali pahit getirnya peperangan.

Karena itulah, maka lubang-lubang tertentu dari gelar Sapit Urang dari pasukan Jipang itu pun terdapat kelemahan-kelemahan. Dengan kemampuan mengurai medan, maka pasukan Pajang telah berusaha menyusup pada lubang-lubang kelemahan itu.

Ketika matahari semakin tinggi dan mencapai puncak langit, maka pasukan Pajang telah menemukan beberapa kemajuan. Bahkan disayap kiri pasukan Jipang, para prajurit Pajang berhasil menyusup cukup dalam, justru pada leher sayap, sehingga jalur pasukan Jipang ke ujung sayap menjadi agak terganggu.

Senapati yang berada di ujung sayap itu cepat bertindak. Kekuatan gelar Sapit Urang sebenarnya ada di ujung Sapitnya yang akan menjepit kekuatan lawan dari dua arah, ujung dan ujung. Namun Senapati itu tidak membiarkan tangkai kekuatan itu patah ditengah. Karena itu, maka ia pun segera memerintahkan sekelompok prajurit dan sekelompok pengawal Tanah Perdikan untuk bergeser, menyelamatkan leher sayap yang hampir patah itu.

Usaha Senapati itu berhasil. Namun demikian, dalam keseluruhan ternyata pasukan Pajang mempunyai kelebihan. Perlahan-lahan pasukan Pajang yang mengerahkan segenap kekuatannya, telah mendesak maju. Apalagi ketika matahari telah mulai turun ke Barat. Betapapun juga, keringat anak-anak muda Sembojan yang terkuras telah menurunkan kemampuan mereka menggerakkan senjata.

BAGAIMANAPUN juga orang-orang Jipang berusaha untuk membuat imbangan dengan kemampuan mereka, namun pasukan Pajang benar-benar telah memberikan tekanan yang sangat berat. Setapak demi setapak pasukan Jipang itu terdesak. Tetapi pasukan Jipang masih tetap berpegang pada gelarnya yang utuh, sehingga karena itu, maka pertempuran gelar itu masih tetap berlangsung dengan sengitnya. Pasukan Pajang yang berhasil mendesak pasukan lawan berusaha untuk benar-benar memecahkan gelar lawannya dan mengkoyak pertahanan mereka. Namun ternyata gelar Sapit Urang itu telalu liat untuk dapat dipatahkan. Semakin lama matahari pun menjadi semakin rendah. Betapapun juga pasukan Pajang berusaha, namun sampai saatnya matahari turun ke punggung bukit, pasukan Pajang masih tetap terikat dalam gelarnya, meskipun gelar itu telah terdorong mundur dan terdesak.

Bagaimana pun juga, maka ketika malam turun, Pajang harus menghentikan pertempuran. Beberapa orang perwira sempat bergeremang. Ternyata kegelapan masih sempat menyelamatkan pasukan Jipang.

Ketika terdengar isyarat di kedua belah pihak, maka masing-masing telah menarik diri ke kubu mereka. Dengan letih kedua pasukan itu kembali ke barak-barak sementara, yang mereka bangun dan mereka ambil dari para penghuni padukuhan.

Pada saat gelap mulai merata, maka yang kemudian turun ke medan adalah petugas-petugas yang lain. Petugas-petugas kemanusiaan yang harus menolong dan merawat orang-orang yang terluka dan mengumpulkan mereka yang terbunuh.

Di siang hari kedua belah pihak berjuang untuk saling membunuh dan melukai.

Sementara di malam hari, beberapa orang harus bekerja keras untuk menolong mereka.

Malam itu Ki Rangga Gupita telah berbicara dengan para Senapati dari pasukan

Jipang yang terdesak. Dengan ketajaman penglihatannya maka Ki Rangga menganggap bahwa sulit bagi pasukan Jipang untuk dapat menahan kekuatan pasukan Pajang.

Tetapi Panglima pasukan Jipang yang berada disisi Timur Pajang itu menjawab, “Aku masih belum berputus asa. Aku masih mempunyai kekuatan cadangan. Bahkan aku akan dapat mengerahkan semua orang. Aku tidak akan meninggalkan seorang pun meskipun mereka adalah juru masak. Mungkin aku telah menempuh satu langkah yang

berbahaya. Tetapi aku yakin, bahwa dengan mengerahkan pasukan cadangan dan semua orang yang ada, maka kita akan dapat memecahkan pasukan Pajang. Dengan demikian, maka kita akan dapat menyelesaikan pertempuran besok dan mengatur kembali tata

susunan tugas dalam pasukan ini.”

“Justru itu adalah langkah putus asa,” berkata Ki Rangga Gupita. “Jika kau gagal, maka pasukan akan hancur mutlak. Pasukanmu akan dikoyak-koyak dan tidak akan berbekas lagi, karena tidak ada landasan yang tersisa sama sekali untuk dapat tegak kembali.

Senapati yang menjadi Panglima pasukan Jipang itu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya, “Tetapi menurut perhitunganku pasukan Pajang akan hancur besok jika aku kerahkan semua orang yang ada tanpa kecuali.”

Ki Rangga Gupita menggeleng. Katanya dengan kerut didahinya. “Jangan berkhayal.

Marilah kita membuat penilaian yang wajar dalam pertarungan seperti ini. Kita harus mengakui, bahwa pasukan Pajang benar-benar pasukan yang tangguh. Memang ada kelompok-kelompok kecil yang terdiri dari anak-anak muda pengawal padukuhan di sekitar kota. Tetapi jumlah mereka sangat kecil dibandingkan dengan jumlah seluruh kekuatan Pajang, sehingga keadaan itu tidak banyak berpengaruh. Agak berbeda dengan pasukan kita yang terdiri sebagian dari pasukan pengawal Tanah Perdikan Sembojan.”

“Jadi bagaimana menurut tanggapan Ki Rangga?” bertanya Panglima itu. “Kita tarik mundur pasukan kita malam ini. Kita mencari kedudukan yang baru, yang tidak akan diserang dalam waktu dekat oleh pasukan Pajang. Kita mengirimkan utusan ke Tanah Perdikan Sembojan untuk membawa pasukan pengawal lebih banyak lagi.

Semua kekuatan yang ada dapat dikerahkan. Sementara itu, Tanah Perdikan Sembojan harus mengerahkan lagi anak-anak muda yang sebelumnya dianggap masih terlalu muda. Ambil anak-anak remaja yang sudah berumur enambelas tahun. Tidak usah menunggu sampai delapan belas,” berkata Ki Rangga.

“ANAK-ANAK berumur enam belas justru sedang dalam tataran yang paling buas jika kita berhasil menggelitiknya. Setelah mereka mendapat latihan sekadarnya maka mereka pun harus segera dikirim kemari. Dengan kekuatan itu maka barulah kita akan dapat meyakinkan diri bahwa kita akan dapat memecahkan pasukan Pajang. Itu pun yang berada di luar dinding kota. Jika mereka menarik diri memasuki gerbang maka kita harus membuat perhitungan-perhitungan baru. Atau kita memang tidak mempunyai rencana dengan tergesa-gesa memasuki kota. Mungkin kita menunggu perkembangan pasukan Pajang dan Jipang yang berada di seberang-menyeberang Bengawan Sore. Jika Kanjeng Adipati Jipang berhasil menghancurkan Hadiwijaya, maka segalanya akan dapat dianggap selesai. Untuk menghancurkan kota ini maka kita tidak akan lebih sulit dari memijat ranti masak.”

Senapati yang menjadi Panglima pasukan Jipang di Pajang itu mengangguk-angguk. Sebenarnya rasa-rasanya agak segan untuk mengakui kelebihan Pajang yang hanya berselisih selapis tipis itu. Namun kemudian ia pun menjawab, “Jika pertimbangan

Ki Rangga demikian, aku pun tidak akan berkeberatan. Tetapi bagaimana dengan anak-anak muda dari Tanah Perdikan Sembojan? Apakah tidak akan ada kesulitan

untuk mengambilnya lebih banyak lagi? Mungkin Kepala Tanah Perdikan itu akan merasa berkeberatan karena sebagian besar dari anak-anak mudanya telah berada di sini.”

Tetapi Ki Rangga tersenyum, katanya, “Jangan takut. Bertanyalah kepada Ki Randukeling.”

Senapati itu memandang Ki Randukeling yang ikut mendengarkan pembicaraan. Dengan suara sendat dan ragu ia bertanya, “Bagaimana pendapat Ki Randukeling?”

Ki Randukeling menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Mungkin aku dapat membantu, memanggil anak-anak muda itu, karena Kepala Tanah Perdikan Sembojan adalah cucuku. Tetapi sekali lagi aku ingin memperingatkan, bahwa anak-anak Sembojan itu bukannya prajurit-prajurit yang telah masak. Mungkin sebagian dari mereka yang pernah mendapat latihan-latihan yang baik dan bersungguh-sungguh tidak akan banyak mengecewakan meskipun mereka belum berpengalaman. Namun sebagian yang lain, adalah anak-anak muda yang masih belum mapan. Bukan saja ilmunya, tetapi untuk bertempur sehari penuh seperti prajurit, mereka akan kelelahan. Meskipun demikian, aku kira pertimbangan yang diberikan oleh Ki Rangga Gupita menurut pendapatku agak lebih baik daripada pertimbangan untuk besok pagi mengerahkan semua orang. Dalam pertempuran seperti ini, kita masing-masing tidak boleh tergesa-gesa sehingga akan dapat menjerumuskan banyak korban yang tidak perlu hanya karena dibakar oleh gejolak perasaan dan barangkali sedikit harga diri.”

Panglima pasukan Jipang disisi Timur Pajang itu mengangguk-angguk. Katanya,

“Baiklah jika demikian. Aku akan menarik pasukan ini untuk menunggu kedatangan anak-anak muda dari Tanah Perdikan Sembojan. Dengan bantuan itu, serta mengerahkan semua orang yang ada, kita akan menghancurkan pasukan Pajang.”

“Jika demikian, maka kita akan mengirimkan utusan ke Tanah Perdikan Sembojan,” berkata Ki Rangga Gupita.

“Siapa?” bertanya Senapati itu. “Ki Randukeling,” jawab Ki Rangga Gupita. “Ia akan dapat memaksa cucunya untuk tidak dapat menolak permintaannya. Bahkan untuk mempersiapkan para remaja yang dapat memberikan sedikit pengertian tentang perang dalam waktu satu dua pekan sebelum mereka dibawa kemari.” “Baiklah,”

jawab Ki Randukeling. “Aku akan pergi ke Sembojan. Tetapi apakah tidak lebih baik jika aku pergi bersama Ki Rangga Gupita?” “Aku tidak berkeberatan,” jawab Ki Rangga. “Rasa-rasanya memang sudah terlalu lama tidak bertemu dengan Warsi.”

Ki Randukeling mengerutkan keningnya. Namun Ki Rangga Gupita itu tertawa sambil berkata, “Jangan takut. Aku tidak akan berbuat apa-apa.”

“Seandainya Ki Rangga akan berbuat apa-apa aku tidak akan mencegahnya. Itu sama sekali bukan persoalanku lagi,” sahut Ki Randukeling.

Ki Rangga tertawa semakin keras, sementara Panglima pasukan Jipang itu menjadi termangu-mangu. Ia tidak mengerti, apa yang dikatakan oleh Ki Rangga itu.

Karena itu, maka Ki Rangga pun berkata kepada Panglima itu, “Yang terakhir memang bukan persoalan prajurit Jipang. Tetapi persoalan pribadiku.”

Ternyata Panglima itu tanggap. Katanya, “Itulah agaknya maka Ki Rangga mengusulkan untuk menambah pasukan lagi.”

Ki Rangga masih tertawa. Tetapi ia menjawab, “Jangan kau baurkan kepentingan Jipang dengan kepentingan sendiri.”

Panglima itu pun tertawa. Katanya, “Ki Rangga akan mendapat kedua-duanya.”

Ki Rangga yang masih tertawa itu tidak menjawab lagi. Ia pun kemudian minta diri untuk bersiap-siap. Sementara Panglima itu pun berkata, “Jika demikian maka aku pun akan segera mengambil langkah. Pasukan ini untuk sementara memang harus menjauh. Jika para petugas yang mengumpulkan kawan-kawan kami yang terluka dan yang terbunuh itu sudah kembali, maka kita akan segera meninggalkan tempat ini.”

“Baiklah,” jawab Ki Rangga yang menjadi bersungguh-sungguh. “Untuk keselamatan pasukan ini, maka keputusanmu cukup baik. Bukankah kita tidak dibatasi waktu, sehingga kita tidak harus dengan tergesa-gesa mengorbankan orang kita?”

Panglima itu mengangguk-angguk, sementara Ki Rangga dan Ki Randukeling pun telah meninggalkan mereka.

Dalam pada itu, malam itu juga pasukan Jipang telah ditarik mundur melampaui beberapa bulak. Satu gerak yang telah menimbulkan banyak tanggapan. Sebagian dari para prajurit Jipang tidak dapat mengerti kenapa keputusan yang demikian diambil. Namun sebagian yang lain sependapat dengan sikap itu, karena mereka tidak dapat ingkar dari kenyataan, bahwa setidak-tidaknya pasukan Jipang tidak

akan berhasil memecahkan pasukan Pajang. Bahkan mereka yang langsung berada di pertempuran akan dapat merasakan, kelemahan-kelemahan yang terdapat dalam pasukan Jipang memang berbahaya bagi kesatuan gelar.

Namun harga diri para prajurit Jipang kadang-kadang telah mencegah mereka mempergunakan nalar. Mereka tidak mau melihat kenyataan yang terjadi, karena orang-orang Jipang harus dianggap sebagai prajurit yang tidak terkalahkan.

Ki Rangga dan Ki Randukeling yang telah bersiap-siap pula sempat mengikuti gerak mundur itu pula. Setelah mereka melihat dimana pasukan Jipang itu kemudian membangun sebuah pertahanan, maka mereka pun segera bersiap untuk pergi ke Tanah Perdikan Sembojan.

“Kita akan berangkat setelah hari terang tanah,” berkata Ki Randukeling.

“Baiklah,” jawab Ki Rangga Gupita. “Sementara ini kita sempat beristirahat.”

Demikianlah pasukan Jipang telah mengambil beberapa buah rumah dan banjar padukuhan bagi kepentingan mereka tanpa menghiraukan keluhan para penghuninya yang harus mengungsi ke rumah sanak kadang tetangga-tetangganya.

Malam itu dengan ketangkasan prajurit, Jipang telah berhasil membangun pertahanan yang kuat, disebuah padukuhan. Sementara itu, Ki Rangga dan Ki Randukeling ternyata masih sempat beristirahat sejenak sambil menunggu hari terang tanah.

Ketika saatnya tiba, maka Ki Rangga Gupita dan Ki Randukeling pun telah minta diri kepada Panglima pasukan Jipang disisi Timur Pajang. Mereka akan berusaha untuk membawa sepasukan anak-anak muda dari Tanah Perdikan Sembojan.

“Mudah-mudahan kami kelak tidak menjumpai kesulitan diperjalanan,” berkata Ki Rangga Gupita. Demikianlah, maka sejenak kemudian sebelum matahari terbit, kedua orang itu sudah meninggalkan landasan pasukan Jipang yang baru. Keduanya pun telah memacu kuda mereka agar mereka dapat mencapai Tanah Perdikan Sembojan tanpa bermalam di perjalanan meskipun mungkin jauh malam mereka baru akan memasuki Tanah Perdikan itu.

Sementara itu, Kiai Badra dan Gandar telah memenuhi janjinya. Sebelum matahari terbit, bersama Gandar ia telah berada kembali di Tanah Perdikan Sembojan sambil membawa tunggul yang menjadi pertanda bahwa mereka tengah mengemban tugas dari Kanjeng Adipati di Pajang.

Kedatangan Kiai Badra di rumah Ki Bekel telah disambut dengan kebanggaan oleh sekelompok anak-anak muda padukuhan itu yang ternyata telah membulatkan niatnya untuk berbuat sesuatu bagi kepentingan Tanah Perdikannya. Apalagi ketika mereka melihat tunggul itu. Maka jantung mereka pun rasa-rasanya telah ikut mengembang.

Dua orang anak muda dari padukuhan sebelah pun telah melihat pula tunggul itu, karena mereka berdua semalam berada di rumah Ki Bekel.

Anak-anak muda yang menyaksikan tunggul itu pun telah saling berjanji, bahwa mereka akan berusaha mempengaruhi kawan-kawannya di padukuhan yang lain lagi.

Sehingga dengan demikian maka kedudukan mereka tentu akan menjadi bertambah kuat.

Suramnya Bayang-bayang 23

Ketika matahari terbit, ternyata rombongan penari yang agak besar itu pun telah bersiap. Iswari telah berniat untuk memancing persoalan meskipun ia masih membuat beberapa pertimbangan agar masih belum terjadi benturan langsung.

Dengan kelengkapan rombongan penari jalanan, maka Iswari telah membawa

rombongannya ke sebuah pasar. Pasar itu memang terletak disebuah padukuhan besar disebelah padukuhan tempat ia tinggal, sementara Ki Bekel dan anak-anak mudanya telah sepakat untuk berdiri dipihaknya, namun Iswari berharap bahwa di pasar itu akan datang orang-orang dari padukuhan lain dan bahkan anak-anak muda atau laki-laki dari padukuhan lain yang datang untuk membeli berbagai macam perkakas dan peralatan dari besi, karena di pasar itu ada tiga kelompok pandai besi.

“Mataku mengantuk,” berkata Kiai Badra. “Jika aku mendengar suara pesinden kita, maka rasa-rasanya aku ingin tidur dimana pun juga.”

“Ah, kau selalu mengejek kakang,” jawab Nyai Soka. “Tetapi jika kau mengantuk karena semalaman kau menempuh perjalanan, maka sebaiknya kau tidak memukul gendang. Biarlah Kiai Soka saja yang menjadi pengendangnya kali ini.”

“Aku juga pengendang yang baik di padukuhanku,” sahut Jati Wulung.

Kiai Badra tertawa. Katanya, “Tentu bukan hanya aku. Dan bukan karena perjalananku bersama Gandar semalam. Tetapi semua, siapapun yang menjadi pengendang tentu akan mengantuk mendengar suara pesinden yang bagaikan

gemerciknya arus bengawan.”

“Jika kakang mengejek terus, aku tidak mau jadi pesinden. Biarlah aku menari saja dan perempuan gemuk itu yang menjadi pesinden,” geram Nyai Soka.

Kiai Badra tertawa. Yang lain pun tertawa pula.

Sementara itu, rombongan itu pun telah berhenti disebelah pasar. Di tempat yang agak lapang. Sejenak kemudian, tanpa menghiraukan bahwa waktunya masih terlalu pagi, rombongan penari itu telah kebar.

“Gila,” geram seorang penjual sayur. “Apakah mereka sudah kelaparan. Sepagi ini mereka sudah kebar didekat pasar.”

Yang lain pun mengumpat. Tetapi ternyata bahwa rombongan penari itu telah banyak menarik perhatian. Orang-orang yang pergi berbelanja telah meninggalkan para penjual untuk sekadar melihat seorang penari yang disertai dengan penari lainnya yang lebih banyak untuk memberikan kesegaran, karena penari yang seorang yang bertubuh gemuk itu tidak dapat menari dengan baik kecuali hanya sekadar meliuk-liuk.

Namun sejenak kemudian telah terjadi kegemparan. Ternyata beberapa orang telah mulai membicarakan penari yang mereka anggap mirip sekali dengan Nyi Wiradana.

Beberapa orang yang memang sudah mengerti persoalannya tidak terkejut lagi.

Tetapi mereka yang datang dari padukuhan-padukuhan lain menyaksikan kehadiran penari yang sudah agak lama tidak terdengar itu dengan jantung yang berdebaran.

“Tidak salah lagi,” desis seseorang. “Ternyata tidak di malam hari pun kita melihat dengan jelas, bahwa perempuan itu adalah Nyi Wiradana.”

“Demikian cantiknya perempuan itu,” berkata seseorang perempuan tua. “Ia pernah datang ke rumahku, ketika cucuku yang pertama lahir. Dengan tulus ia memijat kaki anakku yang melahirkan itu. O, betapa jauh bedanya dengan Nyi Wiradana yang sekarang.”

“Tetapi belum tentu bahwa perempuan itu adalah Nyi Wiradana,” desis orang yang berdiri disebelahnya.

“Uh, aku yakin,” jawab perempuan tua itu. “Ia adalah seorang yang cantik. Bukan saja wajahnya tetapi juga hatinya. Sementara Nyi Wiradana yang sekarang tidak lebih hanya seorang yang cantik wajahnya saja. Tetapi ia adalah perempuan yang banyak mempunyai cacat di dalam dirinya.”

Orang yang berdiri disebelahnya termangu-mangu. Namun tiba-tiba saja perempuan itu menjadi gemetar ketika ia merasa bahwa pembicaraannya telah didengarkan oleh seorang anak muda dalam pakaian seorang pengawal.

Apalagi ketika anak muda itu kemudian bertanya kepadanya, “Apakah yang kalian bicarakan?”

“O, tidak apa-apa anak muda,” jawab perempuan tua itu. “Kami tidak berbicara apa-apa.”

“Kenapa kalian lebih senang melihat pertunjukan itu daripada berbelanja?

Bukankah kalian datang untuk berbelanja?” bertanya anak muda itu.

“Ya, ya anak muda,” jawab perempuan tua itu sambil beringsut, “Kami memang sedang berbelanja.”

Tetapi apakah kau tertarik kepada Nyi Wiradana yang sedang menari itu? Jika kau pernah melihatnya dahulu sebagai seorang istri pemangku jabatan Kepala Tanah Perdikan, maka ia sekarang adalah seorang penari. Memang dalam kedudukan yang terbalik dengan Nyi Wiradana yang sekarang, yang justru dahulu adalah seorang penari,” berkata anak muda itu.

“Ah,” perempuan tua itu mengerutkan keningnya. “Apakah benar perempuan itu Nyi Wiradana?”

“Apakah kau sudah menjadi pikun meskipun nampaknya kau belum tua sekali? Agaknya kau hanya dapat mengenali keping-keping uang saja daripada wajah dan tingkahlaku bahkan suara seseorang,” berkata anak muda itu.

Orang tua itu termangu-mangu. Namun ia merasa ragu-ragu bahwa anak muda itu sekadar ingin menjebaknya. Karena itu, maka ia pun kemudian berkata, “Ah, siapapun penarinya, biarlah ia menari. Jika benar ia Nyi Wiradana, maka itu adalah persoalan Ki Wiradana.”

Anak muda itu pun tidak menanggapinya lagi. Tetapi ia sudah mengatakan dan setidak-tidaknya memberikan kesan, bahwa perempuan itu adalah Nyi Wiradana.

Dalam pada itu, ternyata para pengawal dari kedua padukuhan yang telah menemukan kesepakatan itu banyak yang berada di pasar itu. Mereka tidak berbuat apa-apa kecuali mengawasi keadaan. Bagaimanapun juga mereka tiba-tiba saja merasa wajib untuk ikut mengamankan rombongan penari yang aneh itu.

Namun rombongan itu tidak terlalu lama berada di pasar. Iswari hanya ingin menyebarkan berita kehadirannya, sehingga para pemimpin Tanah Perdikan itu mulai membicarakannya lagi sebagai gangguan keamanan bagi Tanah Perdikan Sembojan.

Beberapa saat kemudian, maka rombongan penari itu telah menghentikan permainan mereka dan bersiap-siap untuk meninggalkan pasar yang semakin ramai itu. Ketika Iswari melihat beberapa orang pe- ngawal berada disekitar tempat ia bermain,

maka ia pu tersenyum.

“Maaf saudara-saudara,” berkata Iswari kepada para penonton yang mengerumuninya,

“Aku hanya sempat bermain sebentar, sekadar untuk memelihara hubungan di antara kita, karena sudah lama aku tidak berkunjung ke Tanah Perdikan ini. Pagi ini aku tergesa-gesa mengemban tugas yang harus aku jalani pada hari ini.”

“Kenapa hanya sebentar?” tiba-tiba terdengar suara di antara mereka yang berkerumun. “Aku tidak berani terlalu lama berada di satu tempat,” jawab Iswari.

“Kenapa?” bertanya suara yang lain. “Pemangku jabatan Kepala Tanah Perdikan ini tidak senang terhadap rombongan kami, karena itu pemangku jabatan Kepala Tanah Perdikan ini memerintahkan untuk menangkap kami,” jawab Iswari. “Para pengawal tidak berbuat apa-apa,” yang lain lagi menyahut. “Bermainlah. Kita semuanya akan

mencegah jika para pengawal akan menangkap kalian.” Iswari hanya tersenyum saja.

Tetapi ia pun kemudian berkata, “Aku menyesal Ki Sanak. Aku sudah terlanjur menerima permintaan seseorang untuk menari.” “Sepagi ini?” bertanya seseorang.

“Ya. Pagi-pagi seperti ini,” jawab Iswari. Sejenak kemudian, maka rombongan itu benar-benar telah meninggalkan pasar. Tetapi rombongan itu tidak pergi kemana-mana lagi, tetapi kembali ke rumah Ki Bekel.

Ternyata permainan yang sejenak itu benar-benar telah mencapai maksudnya. Setiap orang yang ada di pasar itu mulai berbicara lagi tentang penari yang mirip dengan Nyi Wiradana. Ketika orang-orang yang berada di pasar itu kembali ke rumah masing-masing, maka mereka pun telah berceritera tentang kehadiran rombongan penari itu. “Mereka datang di siang hari,” berkata seorang laki-laki separo baya. “Mereka tidak lagi melintasi Tanah Perdikan ini di malam hari

ternyata di siang hari, orang semakin pasti bahwa penari itu memang Nyi Wiradana.” Yang mendengarkan ceritera itu hanya mengangguk-angguk saja. Meskipun demikian terbersit di dasar jantung mereka satu harapan, bahwa kehadiran Nyi Wiradana akan merupakan satu pertanda, bahwa keadaan Tanah Perdikan akan mengalami perubahan. Pajak tidak akan lagi mencekik leher sebagaimana pada saat Nyi Wiradana itu masih berada di Tanah Perdikan. Dan anak-anak mereka yang tersisa tidak akan dikirim ke Pajang lagi untuk disurukkan ke dalam api peperangan. Kehadiran rombongan penari itu ternyata sudah terdengar pula oleh orang-orang di induk padukuhan Tanah Perdikan Sembojan. Meskipun orang-orang di induk padukuhan Tanah Perdikan itu biasanya pergi ke pasar yang lain, yang berada di induk padukuhan itu sendiri, namun ada di antara orang-orang yang saling berhubungan dengan para pedagang di pasar yang telah dikunjungi oleh Nyi Wiradana, sehingga berita kehadirannya itu pun segera tersebar. Ternyata seorang pembantu Ki Wiradana telah mendengar ceritera tentang rombongan penari itu.

Karena itu, maka dengan tergesa-gesa telah menyampaikannya kepada Ki Wiradana.

“Gila,” geram Ki Wiradana. “Jadi rombongan penari itu telah datang lagi?” “Ya,” jawab pembantunya. “Banyak orang yang melihatnya, karena rombongan itu kebar di dekat pasar.” “Bagaimana sikap para pengawal?” bertanya Ki Wiradana. “Para pengawal harus pergi ke pasar itu,” geram Ki Wiradana. Pembantunya mengangguk-angguk. Katanya, “Semakin cepat semakin baik.” Ki Wiradana pun dengan tergesa-gesa telah memanggil pemimpin pasukan pengawal yang tersisa, selain yang berada di barak latihan. Dengan nada berat diperintahkannya para pengawal untuk pergi ke pasar di padukuhan pada bagian pinggir Tanah Perdikan itu. Nyi Wiradana yang mendengar perintah itu pun telah mendekatinya sambil bertanya, “Ada apa?”

“Rombongan penari itu nampak bermain di pasar,” berkata Ki Wiradana. “Lalu?” bertanya Nyi Wiradana. “Aku perintahkan pengawal itu untuk datang dan bersama-sama dengan pengawal setempat menangkap seluruh rombongan itu,” jawab Ki Wiradana. “Pemalas,” bisik Nyi Wiradana. “Lalu apa kerjaanmu he? Kau harus pergi sendiri. Jika ternyata penari itu adalah istrimu, maka kau dapat mengambilnya dan membawanya kemari. Aku ingin bertemu dan berbicara.” Ki Wiradana mengerutkan keningnya. Terasa jantungnya berdebaran. Namun Nyi Wiradana agaknya masih menghargainya, karena perintahnya tidak diucapkan langsung sehingga para pengawal mendengarnya. Nyi Wiradana masih mengekang diri dan berusaha agar para pengawal tidak mendengar kata-katanya.

Karena itu Wiradana tidak membantah. Jika ia berkeberatan, maka mungkin istrinya akan berteriak dan para pengawal itu justru akan mendengar dan mengetahui bahwa ia telah dibentak-bentak oleh istrinya.

Betapapun beratnya, maka Ki Wiradana itu pun telah mempersiapkan diri. Kepada para pengawal ia berkata, “Biarlah aku pergi sendiri agar kita tidak usah mengulangi usaha penangkapan ini, “Siapkan kudaku.”

Para pengawal menjadi lebih mantap jika mereka pergi bersama Ki Wiradana sendiri. Dengan demikian maka mereka akan dapat mengambil sikap yang penting tanpa menunggu perintah berikutnya.

Sejenak kemudian maka Ki Wiradana dan beberapa orang pengawal telah berderap di jalan-jalan padukuhan. Beberapa kali mereka melintasi bulak-bulak persawahan dan pategalan.

Kedatangan sekelompok orang-orang berkuda telah mengejutkan seisi pasar. Tetapi karena matahari telah menjadi semakin tinggi, maka pasar itu pun telah menjadi tidak terlalu ramai sebagaimana saat Iswari dan rombongannya berada di pasar itu.

Ki Wiradana dan para pengawalnya segera berloncatan turun. Dengan sikap yang garang mereka telah memasuki pasar yang mulai berkurang isinya itu, sementara dua orang pengawal berada di depan pasar mengamati keadaan sambil menunggu kuda-kuda mereka yang tertambat pada patok-patok bambu.

“Apakah benar tadi ada serombongan penari yang kebar didekat pasar ini?”

bertanya Ki Wiradana kepada seorang penjual gerabah.

“Ya Ki Wiradana,” jawab penjual gerabah itu dengan jantung yang berdebaran, “Tetapi aku tidak tahu apa-apa. Aku tetap berada dibelakang daganganku.”

“Siapa yang tahu, kemana rombongan itu melarikan diri?” bertanya Ki Wiradana kemudian.

“Aku tidak tahu,” jawab penjual gerabah itu. “Mungkin para pengawal.” Ki Wiradana menggeram. Sementara itu para pengawal yang lain pun telah berusaha bertanya pula kepada orang-orang yang masih ada di pasar itu. Namun mereka tidak tahu, kemana rombongan itu pergi.

“Ya aku tahu, mereka pergi ke Utara,” jawab seorang pande besi yang masih sibuk menyelesaikan sebuah pesanan, kajen bajak.

Namun dalam pada itu, salah seorang pengawal telah melihat tiga orang pengawal dari padukuhan itu melintas. Dengan serta merta maka ketiga orang pengawal itu pun telah dipanggilnya.

Ketiga pengawal padukuhan itu termangu-mangu. Namun mereka pun kemudian telah datang mendekat. Sementara Ki Wiradana pun telah mendekati pula.

“Apa kalian tidak tahu, bahwa disini baru saja ada serombongan penari yang kebar?” bertanya Ki Wiradana.

Pengawal itu ternyata bersikap sangat tenang karena keyakinan yang telah mengendap dihatinya. Jawabnya, “Ya. Aku mendengar Ki Wiradana.”

“Dan kalian tidak berbuat apa-apa? Bukankah kalian akan dapat menangkap mereka?” bertanya Ki Wiradana.

“Kami memang berusaha untuk secepatnya datang ketika kami mendengar laporan bahwa rombongan itu adalah rombongan yang mengiringi Nyi Wiradana menari,” jawab pengawal itu.

“APA yang kau lakukan?” bentak Ki Wiradana. Pengawal itu mengerutkan keningnya.

Namun kemudian ia berkata, “Maksudku penarinya yang disebut mirip dengan Nyi Wiradana.” “Jangan mencelakai dirimu sendiri,” geram Ki Wiradana. “Lalu kenapa kalian tidak berusaha menyusulnya?” “Tidak seorang pun yang dapat menunjukkan arah kepergian mereka kecuali sekadar ke arah Utara,” jawab pengawal itu. “Kau memang dungu,” bentak pemimpin pengawal yang menyertai Ki Wiradana itu. “Kenapa

kau harus menunggu sampai ada orang lain yang memberitahukan kepadamu tentang rombongan penari itu? Bukankah kau juga dapat mendengar suara gemalannya?”

“Ya. Tetapi semula aku tidak mengira bahwa suara gemelan itu mengiring penari yang oleh orang banyak dikatakan mirip sekali dengan Nyi Wiradana itu,” jawab pengawal itu.

“Sadari kebodohanmu,” pengawal itu membentak pula. Wajahnya menjadi merah oleh kemarahan, “Kau tahu apa artinya kesalahan bagi seorang pengawal?”

“Ya,” jawab pengawal itu. Namun ia masih tetap bersikap tenang.

“Karena itu, untuk menebus kebodohanmu, cari rombongan itu sampai dapat. Bawa mereka kemari. Jangan ada yang terlampaui,” berkata pemimpin pengawal itu.

“Kalian dapat mempergunakan kuda kami. Tetapi dengan syarat bahwa nyawa kuda itu sama dengan nyawa kalian. Seekor dari kuda itu hilang, maka seorang di antara kalian akan dihukum gantung,” bentak pemimpin pengawal itu.

Wajah para pengawal itu menegang sejenak. Tetapi pengawal yang lain telah bertanya, “Jika mereka telah keluar dari Tanah Perdikan ini, bukankah tidak ada wewenang kami untuk membawanya kemari?”

“Bodoh, dungu dan agaknya kalian memang sudah gila,” geram pemimpin pengawal.

“Yang sudah seharusnya kau ketahui tidak usah kau tanyakan. Tetapi jika rombongan itu telah terlepas dari lingkungan Tanah Perdikan ini, maka itu pun karena kebodohan kalian.”

Ketiga orang pengawal dari padukuhan itu mengangguk-angguk. Seorang di antaranya berkata, “Kami akan mencoba.”

Namun dalam pada itu Ki Wiradana memerintahkan kepada beberapa orang pengawal, “Ikut mereka. Aku dan yang lain akan menunggu disini. Kalian tidak boleh gagal kali ini jika kalian menemukannya.

Beberapa orang pengawal pun telah bersiap untuk meloncat ke punggung kuda. Namun tiba-tiba mereka terkejut ketika mereka mendengar beberapa orang tertawa.

Serentak mereka berpaling. Mereka pun telah melihat beberapa orang yang berdiri berjajar beberapa langkah di sebelah mereka.

Tiga orang pengawal padukuhan itu terkejut. Orang-orang itu adalah orang-orang dari rombongan penari jalanan yang ternyata adalah Nyi Wiradana itu.

“Empat orang di antara mereka,” desis salah seorang dari ketiga orang pengawal

itu. “Dan penari yang gagah itu.”

Ki Wiradana pun terkejut bukan buatan. Yang dilihatnya ternyata adalah orang-orang yang di antaranya sudah dikenalnya. Bahkan hampir di luar sadarnya

ia berdesis,” Serigala Betina itu.”

Perempuan yang ada di antara keempat orang laki-laki itu tersenyum. Katanya, “Kau masih mengenal aku Ki Wiradana?”

“Persetan,” geramnya.

“Dan laki-laki ini pun tentu pernah kau kenal pula. “Gandar,” sambung perempuan yang disebut Serigala Betina itu.

Wajah Ki Wiradana menjadi merah padam. Namun dengan jantung yang berdegupan semakin keras itu melangkah mendekat diikuti oleh para pengawalnya, “Apa yang kalian lakukan disini?”

“Sekali-sekali aku ingin juga berbelanja Ki Wiradana,” jawab Serigala Betina itu.

“Persetan,” wajah Ki Wiradana menjadi semakin tegang. “Apakah kehadiranmu disini ada hubungannya dengan rombongan penari itu?”

“Ya. Keempat orang laki-laki itu adalah sebagian dari para penabuhnya. Dan aku adalah penarinya itu. Maksudku, salah seorang dari dua penari yang dikenal itu.”

“Dimana penari yang ingin memanfaatkan kepergian Iswari itu?” bertanya Ki Wiradana. “Apa maksudmu?” bertanya Serigala Betina.

“SEORANG perempuan yang mengaku dirinya Iswari atau setidak-tidaknya membuat kesan, agar ia disangka Iswari. Dengan demikian maka ia akan mendapat warisan bagi anaknya. Anak yang akan disebutnya dikandung sejak kepergiannya dari Tanah Perdikan Sembojan,” berkata Ki Wiradana.

“O,” Serigala Betina itu mengerutkan keningnya. “Jadi menurut perhitunganmu, kami telah melakukan satu usaha penipuan dengan menampilkan orang yang mirip dengan Iswari untuk sekadar mendapatkan warisan?”

“Tujuan kalian tentu satu pemerasan,” jawab Ki Wiradana lantang.

“Jadi menurut Ki Wiradana, perempuan yang namanya Iswari itu pasti sudah tidak ada lagi. Jika ada itu palsu atau dipalsukan sekadar untuk mendapatkan warisan.

Tentu dalam nilai uang. Begitu?” bertanya Serigala Betina itu.

“Ya,” jawab Wiradana yang diwarnai oleh nada kebimbangan.

“Ki Wiradana,” berkata Serigala Betina itu. “Kau dapat menipu siapa saja. Tetapi kau tidak akan dapat menipu aku. Kau dapat berkata apa saja kepada orang lain,

tetapi apakah kau akan dapat berkata seperti itu kepadaku? Ki Wiradana. Jangan berusaha menipu diri sendiri.”

“Cukup,” bentak Ki Wiradana. “Kau tentu bagian dari alat untuk memeras itu.

Tetapi kebetulan bahwa kita dapat bertemu disini. Menyerahlah. Kalian adalah tawanan kami.”

“Tunggu,” berkata Serigala Betina itu. “Apakah sebenarnya dugaan Ki Wiradana tentang kami dan kecemasan Ki Wiradana itu sudah terbukti? Kami tidak melakukan apa-apa selain menari sebagaimana rombongan penari yang lain. Sebelumnya Ki Wiradana tidak pernah berusaha untuk menangkap rombongan penari yang penarinya adalah Warsi. Sedangkan apa yang dilakukan oleh Iswari tidak lebih buruk daripada apa yang dilakukan oleh Warsi.”

“Tutup mulutmu,” Ki Wiradana berteriak. “Kau tahu bahwa aku dapat membunuhmu disini. Aku membawa saksi bahwa mulutmu telah berceloteh sehingga kau pantas untuk dibunuh ditempat.”

“O, kau akan membunuhku?” bertanya Serigala Betina. “Apakah kau tidak menyadari, bahwa kau tidak akan mampu melakukannya?”

“Kenapa aku tidak mampu melakukannya?” mata Ki Wiradana terbelalak.

“Kau sudah ditakdirkan kalah dari perempuan. Kau kalah dari Warsi. Kau juga pernah aku kalahkan meskipun aku dalam keadaan sakit. Dan kau pun akan dikalahkan oleh penari dari rombonganku ini jika pada suatu saat kau bertemu langsung dengannya.”

Wajah Ki Wiradana menjadi merah padam. Ia pun telah memberi isyarat kepada para pengawalnya untuk mendekat.

Para pengawal yang sudah siap untuk mencari rombongan penari itu pun telah mengikat kuda-kuda mereka kembali. Dengan tegang mereka pun telah mengepung keempat laki-laki dan seorang perempuan yang ternyata merupakan bagian dari rombongan penari itu.

Tiga orang pengawal padukuhan itulah yang menjadi ragu-ragu. Namun mereka masih belum menentang perintah Ki Wiradana dengan terbuka. Karena itu, maka mereka pun masih juga ikut mengepung keempat orang laki-laki dan seorang perempuan yang akan ditangkap oleh Ki Wiradana itu.

“Kau akan berbuat apa Ki Wiradana?” bertanya Serigala Betina itu.

“Aku akan menangkap kalian dan memaksa kalian untuk menunjukkan dimana kawan-kawan kalian,” jawab Ki Wiradana.

“Jika mereka berada di luar Tanah Perdikan, apakah kau juga berhak melakukan tindakan atas mereka?” bertanya Serigala Betina itu.

“Persetan. Jika sekarang yang ada adalah kalian, maka kalianlah yang akan aku tangkap,” jawab Ki Wiradana.

“Baiklah. Marilah. Mungkin kawan-kawanku akan melayani para pengawal. Tetapi aku sendiri ingin membuktikan bahwa sudah ditakdirkan bahwa kau akan selalu dikalahkan oleh perempuan,” jawab Serigala Betina.

Hati Ki Wiradana terasa sangat sakit mendengar ejekan itu. Tetapi ia pun tidak dapat mengingkari satu peristiwa di rumah Serigala Betina itu. Justru pada saat perempuan itu sedang sakit, ia tidak berhasil mengalahkannya.

Tetapi Ki Wiradana tidak pernah mengetahui bahwa perempuan yang disangkanya Serigala Betina yang sedang sakit itu adalah sebenarnya Nyai Soka sendiri.

NAMUN kemudian Serigala Betina itu telah menjadi murid Nyai Soka pula. Dengan janji bahwa ia tidak akan melakukan kejahatan lagi, maka Nyai Soka telah menurunkan ilmu kepadanya, sehingga Serigala Betina yang memang sudah memiliki

dasar kemampuan olah kanuragan itu kemudian mampu menyerap ilmu yang diturunkan oleh Nyai Soka dan menjadi seorang yang benar-benar berilmu tinggi, meskipun apa yang diberikan kepada Serigala Betina itu masih berada jauh dibawah tataran kemampuan Iswari yang telah menyelesaikan segala macam laku dan mulai mengembangkan ilmunya seluas-luasnya.

Dalam pada itu, Wiradana yang merasa tersinggung sekali itu telah berdiri berhadapan dengan Serigala Begina yang garang itu. Sedangkan para pengawal yang lain, telah mengepung arena dan mereka tidak akan membiarkan seorang pun di antara mereka lolos.

Sementara itu, pasar yang memang sudah berkurang isinya itu menjadi bubar. Orang-orang yang berada disekitar tempat yang akan menjadi arena itu telah berlari-larian menjauh. Orang-orang yang masih duduk di belakang barang-barang jualannya dengan cepat telah mengemasinya dan menyimpannya. Sementara kedai-kedai pun telah ditutup. Para pande besi telah memadamkan perapian mereka dan berkemas pula serta menyimpan semua peralatan mereka.

“Menyerahlah,” geram Ki Wiradana.

Tetapi jawaban Serigala Betina memang sangat menyakitkan hati, “Bukankah aku memiliki kelebihan dari padamu? Kenapa justru aku yang harus menyerah.”

Ki Wiradana tidak sabar lagi. Ia pun segera meloncat menyerang dengan garangnya.

Namun hal itu sudah diduga oleh Serigala Betina, karena ia memang berusaha untuk memancing kemarahan Ki Wiradana. Karena itu, maka ia pun dengan cepat menghindarinya. Bahkan tiba-tiba saja tangannya telah dikibaskannya mendatar ke arah lambung.

Tetapi Ki Wiradana sempat pula menggeliat, sehingga tangan perempuan itu tidak menyentuhnya. Dengan kaki kanannya, maka Ki Wiradana pun kemudian telah berganti menyerang menyamping. Tetapi ketika ia sadar, bahwa perempuan itu siap untuk menangkisnya dengan sikunya, maka ia menarik serangan kaki kanannya, tetapi kaki kirilah yang diputarnya setengah lingkaran. Serangannya sekali lagi menyambar lambung.

Namun Serigala Betina itu sempat bergeser mundur, sehingga tumit Ki Wiradana tidak menyentuhnya.

Pertempuran antara keduanya itu pun semakin lama menjadi semakin sengit.

Sebenarnyalah bahwa penyerapan ilmu dari Nyi Soka oleh Serigala Betina itu benar-benar sangat berarti baginya. Dengan demikian, maka ternyata bahwa kemampuan Ki Wiradana yang sudah dikerahkan itu tidak mampu melampaui kemampuan Serigala Betina.

Sementara itu, keempat laki-laki yang lain, yang tidak lain adalah Gandar, Kiai Soka sendiri, Jati Wulung dan Sambil Wulung, telah bertempur melawan beberapa orang pengawal. Kemampuan mereka memang tidak seimbang. Keempat laki-laki itu memiliki ilmu yang tinggi dan matang, sementara para pengawal adalah anak-anak muda yang mempelajari olah kanuragan pada kulitnya saja.

Apalagi tiga orang di antara para pengawal itu tidak berkelahi dengan

sungguh-sungguh. Para pengawal padukuhan itu memang nampaknya ikut bertempur melawan keempat orang laki-laki itu. Tetapi seorang di antaranya berbisik ditelinga Gandar, “Maaf, aku terpaksa ikut permainan ini.”

Gandar tersenyum. Tetapi ia tahu maksud pengawal itu.

Sejenak kemudian maka pertempuran itu pun menjadi semakin sengit. Para pengawal, kecuali yang tiga orang itu, telah bertempur dengan mengerahkan kemampuan mereka. Namun ternyata bahwa mereka tidak memiliki bekal yang cukup untuk menghadapi keempat orang itu meskipun jumlah mereka jauh lebih banyak.

Setiap orang dari keempat orang itu memang harus bertempur melawan empat orang. Namun empat orang pengawal itu bagi Sambi Wulung dan Jati Wulung, apalagi Gandar dan Kiai Soka, tidak terlalu sulit untuk mengatasinya.

Yang bertempur dengan sengitnya adalah Ki Wiradana dan Serigala Betina yang sudah meningkatkan ilmunya. Perlahan-lahan namun pasti, orang-orang yang sekilas sempat melihat pertempuran itu terutama keempat orang yang datang bersama Serigala Betina itu, segera yakin bahwa perempuan itu akan dengan segera menyelesaikan pekerjaannya.

Sebenarnyalah bahwa sejenak kemudian Serigala Betina itu telah berhasil mendesak Ki Wiradana. Betapapun juga Ki Wiradana mengerahkan kemampuannya, namun ia tidak mampu mengatasi ilmu Serigala Betina itu.

Kemarahan Ki Wiradana sudah tidak tertahankan lagi. Karena itu, maka ia pun telah mencabut pedangnya sambil menggeram, “Perempuan iblis. Jika kau tidak mau mendengar kata-kataku, maka bukan salahku jika kau akan terbunuh dalam perkelahian ini.”

Wajah Serigala Betina itu berkerut sejenak. Namun kemudian katanya, “Jadi kau bersungguh-sungguh Ki Wiradana? Kau benar-benar ingin membunuhku?”

“Ya. Kematianmu akan membawa ketenangan bukan saja bagiku. Tetapi bagi Tanah Perdikan Sembojan.”

“Karena menurut perhitunganmu, aku tentu tidak akan dapat berbicara lagi tentang Iswari. Begitu?”

Ki Wiradana tidak menyahut. Tetapi ia telah menggerakkan ujung pedangnya yang teracu. Di antara desah nafasnya terdengar giginya yang gemeretak menahan kemarahan yang melonjak-lonjak di dalam dadanya Untuk beberapa saat perempuan yang disebut Serigala Betina itu masih belum melawannya dengan senjata. Ia hanya berloncatan menghindari serangan-serangan Ki Wiradana yang semakin lama menjadi semakin cepat. Namun kemudian Serigala Betina itu mengalami kesulitan apabila ia harus sekadar berloncatan menghindari serangan yang datang memburu.

Karena itu, maka akhirnya Serigala Betina itu pun telah mengurai senjatanya pula. Sehelai selendang yang anyamannya terdapat jalur-jalur janget pilihan.

Dikedua ujungnya terdapat rumbai timah yang cukup berat.

Dengan selendangnya Serigala Betina itu melawan pedang Ki Wiradana.

Ternyata selendang itu merupakan senjata yang memadai bagi perempuan itu.

Selendang itu mampu menangkis serangan pedang dengan merentangnya. Jika pedang itu menyentuh selendang itu, maka rentangannya dikendorkannya, sehingga terjadi benturan yang lunak.

Namun jika tiba-tiba rentangan itu dihentakkannya, maka pedang itu bagaikan dilontarkannya. Sementara itu, dengan kedua ujungnya yang berumbai, Serigala Betina itu menyerang lawannya. Rumbai-rumbai timah itu akan mampu menyakiti lawannya jika mengenainya. Bahkan jika Serigala Betina itu mengerahkan kemampuan dan ilmunya, maka rumbai-rumbai itu akan dapat meretakkan tulang-tulang lawannya.

Dengan demikian maka pertempuran antara kedua orang itu menjadi semakin meningkat. Keduanya memiliki kelebihannya masing-masing dengan jenis senjata yang berbeda ditangan. Ternyata bahwa Ki Wiradana memang memiliki ilmu pedang memadai. Tetapi Serigala Betina yang telah ditempa di padepokan Tlaga Kembang itu pun telah meningkat ilmunya. Ia tidak lagi sekadar sebagai serigala betina, tetapi perempuan itu justru telah menjadi harimau betina.

Sementara itu keempat laki-laki yang menyertai Serigala Betina itu masih bertempur dengan para pengawal. Meskipun sebenarnya mereka tidak menemui kesulitan apapun, namun mereka tidak dengan serta merta mengalahkan lawan-lawan mereka.

Namun ketika keempat lawan mereka pada masing-masing orang itu mencabut pedangnya, maka mereka masing-masing telah berusaha untuk merampas sebuah pedang daripada pedang-pedang itu.

Dengan demikian, maka kemudian Sambi Wulung, Jati Wulung, Kiai Soka yang tua dan Gandar, telah bersenjata pula, sehingga pertempuran menjadi semakin sengit.

Keempat orang yang datang bersama Serigala Betina itu memang dengan sengaja

membiarkan lawan-lawan mereka mengerahkan segenap kemampuan dan tenaga, sehingga mereka tentu akan menjadi kelelahan.

Pasar itu sendiri telah menjadi sepi. Tetapi beberapa orang masih ada yang mencoba dengan sembunyi-sembunyi menyaksikan pertempuran itu dari kejauhan.

Mereka sama sekali tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Yang mereka ketahui hanyalah, bahwa beberapa orang pengawal dibawah pimpinan Ki Wiradana sendiri telah bertempur melawan sekelompok orang yang ingin mereka tangkap. Namun ada juga di antara mereka yang dapat mengenali, bahwa orang-orang yang akan ditangkap itu adalah orang-orang yang baru saja datang ke pasar bersama serombongan pengamen dengan penari yang mirip sekali dengan Nyi Wiradana yang terdahulu.

Sementara itu pertempuran antara Ki Wiradana melawan Serigala Betina itu menjadi semakin sengit. Keduanya telah sampai kepada puncak kemampuannya. Namun Serigala Betina memang mempunyai kelebihan dari Ki Wiradana setelah ia menyadap ilmu di

padepokan Tlaga Kembang. Jika sebelum ia mendapat perintah untuk membunuh Nyi Wiradana, Serigala itu bukan apa-apa bagi Ki Wiradana, maka ternyata kemudian bahwa kemampuannya telah melejit melampaui kemampuan Ki Wiradana itu.

Terasa jantung Ki Wiradana bagaikan meledak bukan saja oleh kemarahan. Tetapi juga oleh satu kenyataan bahwa sulit baginya mengatasi senjata perempuan yang disebut Serigala Betina itu. Pedangnya yang berputar semakin cepat, sama sekali tidak dapat menyentuh sasaran. Bahkan kadang-kadang Wiradana menjadi bingung karena gerak lawannya yang seakan-akan menjadi semakin cepat.

“Gila,” geram Ki Wiradana. “Jika kau tidak menyerah, maka kau akan benar-benar terbunuh di peperangan ini.”

“Jangan terlalu bernafsu untuk membunuh,” sahut perempuan itu. “Meskipun dengan demikian rahasiamu akan terkubur bersamaku. Tetapi untuk membunuhku agaknya tidak begitu mudah.”

“Tutup mulutmu,” bentak Ki Wiradana sambil menyerang.

Serigala Betina itu mengelak. Namun ia masih sempat menjawab, “Ki Wiradana.

Baiklah kita tidak berpura-pura lagi. Akuilah bahwa perempuan yang disebut mirip dengan Iswari itu memang Iswari. Ternyata Iswari adalah seorang penari yang sangat baik. Jauh lebih baik dari penari jalanan yang tamak yang bernama Warsi itu.”

“Gila,” Ki Wiradana berteriak, “Aku koyak mulutmu.”

“Kau hanya berteriak-teriak saja. Tetapi tidak pernah kau lakukan sebagaimana kau katakan,” jawab perempuan itu. “Tetapi aku masih ingin berceritera bahwa Iswari telah melahirkan anaknya. Laki-laki sebagaimana anak Warsi. Tetapi ketahuilah, bahwa yang berhak untuk kemudian menggantikan kelak adalah anak Iswari. Bukan anak Warsi. Nah, kau dengar?”

“Pengkhianat,” geram Wiradana. “Aku sudah menduga bahwa kau akan berkhianat.

Sekarang kau harus dibunuh.”

“Bukankah kau pernah juga mencobanya tetapi gagal? Waktu itu aku sedang sakit.

Apalagi sekarang, aku segar bugar. Baru saja aku menari di pasar ini bersama Iswari. Besok lain kali, Iswari sudah mengatakan, bahwa ia akan mengajak anaknya yang tumbuh dengan suburnya. Orang-orang Tanah Perdikan ini harus tahu, siapakah yang kelak akan menjadi Kepala Tanah Perdikan.”

“Tutup mulutmu. Aku bunuh kau,” Ki Wiradana mengumpat. Tetapi seperti dikatakan oleh perempuan itu, bahwa tidak mudah untuk membunuhnya. Dengan demikian maka keduanya telah bertempur semakin keras. Ternyata bahwa Serigala Betina itu bukan saja mampu bergerak cepat, tetapi ia pun mampu membangkitkan tenaga cadangan di dalam dirinya sehingga kekuatannya menjadi bagaikan berlipat.

Sementara itu, para pengawal benar-benar telah mengerahkan segenap tenaganya.

Namun usaha mereka untuk mengalahkan lawan mereka sama sekali tidak berhasil.

Bahkan mereka harus bekerja dengan memeras segenap tenaga dan kemampuannya, agar mereka tidak justru menjadi sasaran senjata lawan-lawannya yang telah dirampas dari antara mereka sendiri.

Sementara itu, keempat orang yang menemani Serigala Betina itu dengan sengaja telah memancing agar lawan-lawan mereka mengerahkan segenap kemampuan mereka.

Sekali-kali ujung pedang yang berhasil mereka rampas itu memang benar-benar menyentuh kulit. Meskipun hanya segores kecil, namun luka itu telah menitikkan darah. Ketika keringat membasahi kulit yang terluka itu, maka terasa menjadi pedih.

Namun ternyata bahwa setiap pengawal telah terluka oleh senjata yang dirampas dari antara mereka sendiri. Tidak seorang pun yang luput dari sengatan ujung sejata. Lengan, siku, pundak, bahkan lambung dan dada. Ada juga di antara mereka yang telah terluka punggungnya.

Hanya tiga orang pengawal yang tidak bertempur dengan bersungguh-sungguh itu sajalah yang tidak mendapat cubitan ujung pedang.

Seperti yang dikehendaki oleh kawan-kawan Serigala Betina itu, maka lambat laun, para pengawal yang telah terluka betapapun kecilnya itu tenaganya telah menjadi susut. Setelah mengerahkan segenap tenaga dan kemampuan yang ada pada mereka, maka yang tersisa pun semakin lama menjadi semakin sedikit.

Dalam pada itu Sambi Wulunglah yang sempat mentertawakan lawan-lawannya. Dengan nada tinggi ia berkata, “He, bukankah kalian masih muda? Seharusnya tenaga kalian masih lebih baik dari kami yang tua-tua. Apalagi lihat orang berambut putih itu. Ia masih mampu bertempur dengan wajah yang cerah dan senyum dibibirnya. Tetapi kalian, anak-anak muda yang pernah mendapat latihan yang berat, ternyata tidak memiliki tenaga yang cukup untuk mempertahankan diri.

Apalagi kalian bertempur bersama-sama dalam kelompok-kelompok kecil.”

“Persetan,” geram salah seorang di antara para pengawal. “Jangan menyesal jika kau akan mati disini.”

Tetapi Sambi Wulung tertawa semakin keras. Katanya, “Jangan berceloteh. Atau bahkan kau sedang mengigau. Hanya orang-orang sakit panas sajalah yang mengigau.”

Para pengawal itu menjadi semakin marah. Tetapi betapapun mereka mengerahkan kemampuan mereka, namun segala usaha ternyata sia-sia. Tidak seorang pun dari keempat orang kawan Serigala Betina itu yang dapat dikuasai oleh lawan-lawannya.

Bahkan semakin lama luka-luka dutubuh para pengawal itu menjadi semakin banyak. Sementara itu, Wiradana yang mengerahkan kemampuannya tidak juga berhasil menguasai lawannya. Bahkan sebaliknya, Serigala Betina itu pun kemudian benar-benar telah mendesak Ki Wiradana.

“Kita sudah terlalu lama bertempur,” berkata Serigala Betina itu. “Sudah waktunya kita menentukan, siapakah yang kalah dan siapakah yang menang di antara kita.”

Ki Wiradana tidak menjawab. Tetapi ia menyerang semakin garang.

Namun Serigala Betina itu benar-benar telah berniat untuk menghentikan pertempuran. Karena itu, maka ia pun menjadi lebih bersungguh-sungguh, sehingga ketika Ki Wiradana kehilangan pengamatannya atas senjata lawannya, meskipun hanya sekejap, maka rumbai-rumbai selendang Serigala Betina itu telah menyentuh pundaknya. Serigala Betina itu memang tidak ingin mematahkan tulang di pundak Ki Wiradana.

Karena itu sentuhannya itu pun hanya menyakitinya.

Ki Wiradana yang merasa pundaknya bagaikan menjadi lumpuh, menggeram dengan marahnya. Perasaan sakit yang sangat mencengkamnya sampai ke pusat jantung.

Namun demikian ia terpaksa beringsut surut untuk memperbaiki keadaannya.

Serigala Betina sengaja tidak memburunya. Bahkan ia berkata, “Aku beri kesempatan kau mengatasi perasaan sakitmu.”

“Gila,” Ki Wiradana yang tersinggung itu meloncat menyerang dengan pedang terjulur. Tetapi ia terkejut ketika tiba-tiba saja selendang Serigala Betina itu telah membelit pergelangan tangannya.

Dengan serta merta Ki Wiradana merenggut tangannya. Tetapi dengan demikian belitan selendang itu seakan-akan justru menjadi semakin keras. Apalagi ternyata bahwa kekuatan Serigala Betina itu ternyata telah besar dari kekuatan Ki Wiradana, karena Serigala Betina itu lebih melepaskan tenaga cadangannya pula.

“Jangan tergesa-gesa,” berkata Serigala Betina itu. “Jika kau sekali-kali dibelit oleh selendang seorang perempuan lain maka hal itu adalah wajar sekali bagimu. Warsi harus menyadari bahwa sebagaimana ia datang, kemungkinan yang sama akan terjadi pada saat lain.”

“Gila. Kau sudah menjadi gila,” teriak Ki Wiradana.

Serigala Betina itu terawa. Katanya, “Isterimu tidak ada di sini. Ia tidak akan menjadi marah.”

“Tutup mulutmu. Tutup mulutmu perempuan jalanan,” Ki Wiradana berteriak semakin keras.

“Yang perempuan jalanan bukan aku. Tetapi Warsi, istrimu. Ia benar-benar perempuan jalanan yang berhasil merenggutmu dari kedudukanmu yang baik menjadi tidak lebih dari seorang laki-laki yang tidak berharga. Tetapi kini perempuan jalanan itu justru telah mendapat kekuasaan yang tertinggi di Tanah Perdikan ini, karena kau benar-benar sudah dikuasainya. Lahir dan batin.”

“Diam. Diam,” teriak Ki Wiradana semakin keras sambil merenggut tangannya. Tetapi selendang Serigala Betina itu melilit semakin kuat.

“Jangan berusaha melepaskan tanganmu dengan cara itu,” berkata Serigala Betina itu. “Lakukan perlahan-lahan. Urai dengan tangan kirimu. Jangan tergesa-gesa.”

Ki Wiradana seakan-akan telah kehilangan pendiriannya. Ia menurut saja sebagaimana dikatakan oleh Serigala Betina itu. Perlahan-lahan ia melepaskan belitan selendang itu dengan tangan kirinya. Tidak tergesa-gesa dan tidak menghentak-hentak.

Akhirnya selendang itu memang dapat dilepaskannya. demikian selendang itu terlepas, maka seolah-olah Ki Wiradana itu telah terlepas pula dari ketidak sadarannya atas dirinya. Bahkan dengan serta merta ia telah mengayunkan pedangnya menebas ke arah Serigala Betina.

Hampir saja perut Serigala Betina itu berhasil dikoyaknya. Untunglah perempuan itu dengan cepat telah meloncat surut, sehingga ujung pedang Ki Wiradana berdesing kurang dari sejengkal dari kulitnya.

“Uh. Hampir saja isi perutku tumpah,” berkata Serigala Betina itu. “Kau ternyata tidak tahu diri. Aku sudah bermurah hati memberitahukan cara yang baik untuk melepaskan selendang itu. Tiba-tiba kau telah menyerang dengan serta merta.”

“Kau memang harus mati,” geram Ki Wiradana.

Pertempuran telah terjadi lagi. Namun Serigala Betina itu kemudian berkata, “Satu kali aku ingin membelitmu. Tidak pada tanganmu, tetapi pada lehermu.”

Ki Wiradana tidak menjawab. Tetapi ia menyerang dengan sisa-sisa tenaga yang masih ada.

Sementara itu, keadaan para pengawal menjadi semakin payah. Mereka menjadi semakin lemah dan kehabisan tenaga. Sementara ketiga anak muda yang tidak bertempur dengan sungguh-sungguh itu pun akhirnya dilukainya juga. Tetapi luka-luka yang tidak berarti, sekadar untuk menghilangkan kecurigaan. Meskipun demikian, ternyata bahwa pakaian mereka telah membekas darah pula.

Semakin lama mereka bertempur, maka tenaga mereka benar-benar telah terhisap habis. Mereka yang kehilangan senjata mereka dan berusaha membantu kawan-kawannya tanpa senjata, telah mengambil alih senjata kawannya yang benar-benar telah kehabisan tenaga. Tetapi yang dilakukannya itu pun sama sekali tidak berarti apa-apa.

Namun dalam pada itu, keempat orang yang menyertai Serigala Betina itu masih saja berusaha agar para pengawal itu bertempur terus dan mengerahkan tenaga mereka. Jika para pengawal yang menjadi letih itu termangu-mangu, maka keempat orang itulah yang menyerang, sehingga para pengawal itu terpaksa menghindari, karena bagaimanapun juga serangan keempat orang itu dapat mengoyak kulit dagingnya.

Namun pada saat-saat tertentu orang-orang itu membuat dirinya seakan-akan terdesak, sehingga lawan-lawannya dengan penuh harap telah berusaha untuk semakin menguasainya. Namun pada saat tertentu, tiba-tiba saja keadaan menjadi berbalik. Orang-orang itulah yang kemudian mendesak dan mengancam perlawanan para pengawal.

Dalam keadaan yang demikian, maka para pengawal itu benar-benar telah kehilangan kemampuan untuk mengamati diri mereka masing-masing. Karena itu, maka tenaga mereka benar-benar telah terkuras habis. Para pengawal itu kemudian rasa-rasanya tidak lagi mampu berdiri tegak. Setiap kali mereka terhuyung-huyung karena keseimbangan yang sudah terguncang. Nafas mereka pun bagaikan bekejaran di kerongkongan. Sedang keringat mereka telah membasahi seluruh tubuh mereka.

Seorang di antara para pengawal itu, ketika dengan pedangnya menyerang Kiai Soka yang tua itu, telah kehilangan sasaran karena orang itu telah meloncat menghindar. Ayunan pedangnya justru telah menyeretnya sehingga pengawal itu

telah kehilangan keseimbangannya. Namun ketika ia hampir saja roboh, ternyata

Kiai Soka telah meloncat menahannya, sehingga pengawal itu tetap berdiri. Tetapi sekejap kemudian, Kiai Soka itu pun telah meloncat pula menyingkir ketika pengawal yang lain berusaha untuk menyerang pula.

Namun hampir saja terjadi kecelakaan di antara para pengawal. Ketika Kiai Soka itu sudah meloncat menjauhi anak muda yang ditahannya agar tetap berdiri, sebuah ayunan mendatar telah menyambarnya. Pengawal itu mengira bahwa Kiai Soka akan mencelakai lawannya. Karena itu, maka dengan sisa tenaganya ia telah menebas ke arah lambung orang tua itu, justru pada saat Kiai Soka meloncat menjauh.

Kiai Soka yang melihat ayunan senjata itu menjadi berdebar-debar. Sementara pengawal yang mengayunkan senjata itu telah kehilangan kemampuan untuk menghentikan serangannya, sedangkan pengawal yang baru saja dilepaskan oleh Kiai Soka itu sama sekali tidak mampu menghindari lagi.

Dalam keadaan yang demikian, maka sekali lagi Kiai Soka melenting dengan kecepatan yang tidak dapat diikuti oleh mata wadag. Dengan pedang yang rampasnya, maka ia telah menangkis serangan itu.

Tetapi pengawal yang mengayunkan pedangnya itu pun telah merasa terlalu letih.

Karena itu, ketika pedangnya itu membentur pedang Kiai Soka yang agak tergesa-gesa dan kurang memperhitungkan kekuatannya, maka pedang ditangan pengawal itu telah meloncat dan jatuh ditanah.

Pengawal itu terkejut. Tetapi perasaan lain telah berbaur di dalam hatinya. Ia bersyukur, bahwa pedangnya tidak mengenai kawannya sendiri. Tetapi ia kecewa bahwa pedang itu telah terlepas dari tangannya.

Sementara itu, kawannya yang hampir saja tertebas oleh pedang pengawal itu pun merasakan sesuatu yang aneh di dalam dirinya. Orang tua itu justru telah berusaha untuk menyelamatkannya. Satu langkah yang tentu tidak akan diambil oleh orang kebanyakan yang hanya tahu bermusuhan dan bahkan dengan penuh nafsu berusaha menghabisi musuh-musuhnya.

Justru karena perasaan-perasaan aneh itu, maka beberapa orang pengawal menjadi termangu-mangu. Apalagi tubuh mereka hampir kehilangan segenap kekuatan yang ada, karena mereka telah mengerahkan semuanya yang mereka miliki sampai benar-benar habis.

Sementara itu, para pengawal yang lain pun keadaannya tidak jauh berbeda. Mereka sudah tidak dapat berbuat banyak. Bahkan untuk tetap tegak pun rasa-rasanya mereka sudah tidak mampu lagi.

Sambi Wulung memang selalu berbuat sesuatu yang lain. Dalam keadaan demikian ia masih sempat juga dengan sengaja melepaskan setiap senjata dari tangan lawan-lawannya, sehingga para pengawal itu menjadi sangat berdebar-debar.

Disamping kelelahan yang sangat, mereka sama sekali tidak mempunyai senjata untuk melindungi diri mereka sendiri.

KETIKA para pengawal itu dicengkam oleh kegelisahan, maka Sambi Wulung itu sempat berkata, “Nah, dalam keadaan seperti ini kalian dapat membayangkan apa yang terjadi dengan kawan-kawanmu yang dibawa oleh orang-orang Jipang ke Pajang.

Bayangkan bahwa aku adalah prajurit Pajang. Karena sebenarnyalah bahwa aku adalah tataran prajurit Pajang. Padahal mereka benar-benar berada di dalam pertempuran, sehingga kesempatan untuk mengekang diri tidak ada lagi. Jika sekarang aku dan kawan-kawanku sempat menilai dengan siapa aku berhadapan, maka dipeperangan para prajurit Pajang tidak dapat melakukannya, sehingga yang terjadi adalah kematian-kematian yang tidak berarti, sebagaimana jika aku inginkan terhadap kalian.”

Wajah para pengawal itu menjadi tegang. Tetapi mereka sempat juga membayangkan, jika keempat orang itu benar-benar ingin membunuh, maka mereka tentu sudah mati di depan pasar itu.

Tetapi ternyata bahwa keempat orang itu tidak melakukannya. Bahkan seorang di antara para pengawal itu telah diselamatkan dari ujung senjata kawan sendiri.

“Nah,” berkata Sambi Wulung kemudian “Sekarang jika kalian memang sudah menjadi sangat baik, beristirahatlah. Biarlah Ki Wiradana melanjutkan usahanya untuk mempertahankan diri dari kawan kami itu. Jika kalian telah tidak kelelahan lagi, maka kita meneruskan perkelahian ini. Sementara ini kalian dapat mengobati luka-luka ditubuh kalian. Kami sengaja tidak melukai kalian lebih parah lagi, karena kami tidak sampai hati melakukannya.”

Memang satu dua di antara para pengawal itu justru tersinggung mendengar kata-kata Sambi Wulung itu. Tetapi sebagian besar di antara mereka mengakui, bahwa mereka memang tidak dapat berbuat banyak. Bahkan sikap aneh dari keempat orang itu telah menimbulkan pertanyaan-pertanyaan di dalam diri para pengawal itu. Kecuali tiga orang diantara mereka yang berasal dari padukuhan itu. Namun demikian, ketiga orang pengawal itu pun telah terluka pula, meskipun hanya goresan-goresan kecil. Namun goresan-goresan itu telah menitikkan darah dari kulit mereka.

Dalam pada itu, Ki Wiradana masih bertempur dengan mengerahkan segenap kemampuannya. Sementara Serigala Betina itu pun mampu sekali-sekali membuat Ki Wiradana kebingungan. Selendangnya memang kadang-kadang membelit tangan, namun sekali selendang itu membelit lambung. Ketika Serigala Betina itu menarik selendangnya, maka Ki Wiradana seolah-olah telah diputar dengan garangnya.

“Ki Wiradana,” berkata Serigala Betina itu. “Para pengawalmu telah kehabisan tenaga. Mereka sudah tidak mampu bertempur lagi. Seandainya keempat kawanku ingin membunuhnya, maka mereka akan mati dan tubuhnya terkapar di pasar ini. Kau sadari, bahwa kau pun akan dapat mati jika kami menghendaki. Seandainya aku sendiri tidak mampu membunuhmu, maka kawan-kawanku yang telah kehilangan lawan-lawan mereka itu akan mampu membantuku. Mengepungmu dan memperlakukanmu apa saja menurut kehendak kami.”

“Persetan,” geram Ki Wiradana.

Tetapi kata-katanya terputus, karena rumbai-rumbai selendang Serigala Betina yang terbuat dari bandul-bandul timah kecil itu menyambar pipinya.

Perasaan sakit yang sangat telah membuat Ki Wiradana itu meloncat surut sambil menyeringai. Namun Serigala Betina itu memburunya. Katanya, “Menyerahlah.”

“Kaulah yang akan aku bunuh,” teriak Ki Wiradana. Tetapi ia sudah bersiaga jika selendang itu menyambar pipinya lagi.

Tetapi perempuan itu tidak mengulangi serangannya. Namun ia masih menjawab,

“Kesabaran seseorang akan dapat sampai kebatas. Nah, apakah kau memang menunggu.”

Wiradana tidak menjawab. Tetapi ia meloncat menyerang dengan garangnya.

Serigala Betina dan orang-orang yang menyaksikan pertempuran itu memang menjadi heran. Ternyata bahwa Ki Wiradana adalah seorang yang tidak mengenal putus asa.

“Ia bertempur sebagai seorang laki-laki,” desis Jati Wulung. “Ia hanya akan mengakhiri pertempuran jika ia sudah tidak mampu berbuat apa-apa lagi.”

Tetapi Sambi Wulung tertawa. Jawabnya, “Tidak. Aku tidak berpendapat demikian.”

Jati Wulung mengerutkan keningnya. Namun kemudian diluar dugaan Sambi Wulung justru bertanya kepada para pengawal, “Apakah benar begitu? Apakah benar bahwa Ki Wiradana bertempur tanpa mengenal menyerah karena ia seorang laki-laki sejati?”

Para pengawal yang kelelahan itu tidak menjawab. Sementara itu Sambi Wulung tertawa semakin keras. Katanya, “Kalian salah. Ki Wiradana tidak bertempur sebagai seorang laki-laki yang tidak mengenal menyerah.

Tetapi ia berbuat demikian justru karena ia merasa ketakutan kepada istrinya. Kepada Warsi. Jika ia kalah dan tidak berhasil menangkap lawannya itu, maka ia akan mengalami perlakuan yang pahit di rumah.”

Orang yang mendengar keterangan Sambi Wulung itu termangu-mangu sejenak. Namun Gandar pun kemudian ikut tertawa pula sambil menyahut, “Aku percaya. Aku percaya kepada keterangan itu.

Jati Wulung dan Kiai Soka sempat juga tersenyum, sementara para pengawal itu pun merenungi kata-kata Sambi Wulung itu.

Meskipun nampaknya kata-kata itu dilontarkan begitu saja justru sebagai kelakar, tetapi rasa-rasanya yang dikatakan itu memang mengandung kebenaran.

Karena tidak seorang pun di antara para pengawal itu yang menjawab, maka Sambi Wulung itu pun mengulangi. “He, bukankah yang aku katakan itu benar?”

Diluar sadarnya, para pengawal itu mengangguk-angguk.

“Nah, kalain mulai jujur menilai keadaan,” berkata Sambi Wulung. “Sekarang mulailah menilai dirimu sendiri. Mulailah menilai keadaan kawan-kawanmu yang dikirim ke Pajang dalam kesatuan pasukan Jipang.

Dan nilailah keadaan Tanah Perdikan ini dalam keseluruhan.

Para pengawal itu tidak menyahut. Sementara Sambi Wulung berkata lebih lanjut, “Jika kalian tidak melihat sesuatu yang memerlukan pembaharuan, maka kalian benar-benar sudah ketinggalan.

Nalar budi kalian telah tertutup dan tidak mampu menilai sesuatu yang wajar. Bahwa Tanah Perdikan Sembojan telah berpaling kepada Jipang ini pun memerlukan penilaian yang khusus.

Sementara itu, ada dua Nyi Wiradana di Tanah Perdikan ini sekarang yang masing-masing melahirkan anak laki-laki dan tentu masing-masing merasa berhak atas kedudukan Kepala Tanah Perdikan ini,” Sambi Wulung berhenti sejenak, lalu.

“Kalianlah yang harus menilai. Kalian tentu belum melupakan Nyi Wiradana yang dahulu, yang disebut hilang itu.

Susunan pemerintahan pada masa itu dan sikap keibuannya bagi seisi Tanah Perdikan ini. Sementara itu apakah yang dapat kalian temukan pada Nyi Wiradana yang sekarang?”

Para pengawal itu tidak menjawab. Tetapi mereka memang sedang merenungi keadaan.

Gandarlah yang kemudian berbisik ditelinga Sambi Wulung, “Tahu juga kau apa yang terjadi pada masa itu?”

“Katanya,” sahut Sambi Wulung sambil tersenyum.

Gandar juga tersenyum. Tetapi ia tidak berkata apa-apa lagi.

Dalam pada itu, pertempuran antara Ki Wiradana dengan Serigala Betina itu sudah mencapai puncaknya. Serigala Betina telah benar-benar mengerahkan kemampuannya untuk menghentikan perlawanan Ki Wiradana. Ilmu yang disadapnya dari Nyai Soka ternyata memang melampaui kemampuan Ki Wiradana, betapapun Ki Wiradana berusaha untuk menumpahkan segenap kemampuannya.

Dengan meningkatkan kecepatannya, maka rumbai-rumbai Serigala Betina itu menjadi semakin sering menyentuh tubuh Ki Wiradana. Pada pundak, lengan, punggung dan bahkan dadanya. Perasaan sakit telah menyengat-nyengat diseluruh tubuhnya.

Bukan saja yang dikenai oleh rumbai-rumbai lawannya, tetapi perasaan sakit itu seakan-akan telah menjalari tubuhya bersama aliran darahnya. Bukan saja perasaan sakit yang terasa mengganggu Ki Wiradana. Tetapi gangguan yang lain itu datang dari dirinya sendiri. Kelelahan mulai menghambat gerakan-gerakannya. Rasa-rasanya pedangnya menjadi semakin berat dan kakinya pun bagaikan dihisap oleh tanah.

Namun akhirnya, Ki Wiradana tidak mampu bertahan lebih lama lagi. Sekali-sekali ia terhuyung-huyung oleh kelelahan yang tidak dapat diatasinya. Namun perasaan sakitnya pun benar-benar telah menghujam sampai ke tulang sungsum.

Serigala Betina yang melihat keadaan Ki Wiradana yang menjadi semakin sulit itu pun kemudian telah menghentakkan kemampuannya untuk mengakhiri pertempuran.

Dengan kecepatan yang mengejutkan, Serigala Betina itu telah menyerang Ki Wiradana dengan selendangnya membelit lambungnya. Kemudian dihentakkannya selendang itu dengan sepenuh kekuatannya, sehingga Ki Wiradana terputar seperti gasing. Demikian besarnya hentakkan kekuatan Serigala Betina itu, sehingga Ki Wiradana tidak mampu menahan diri dari putaran yang cepat dan kuat. Apalagi kekuatan Ki Wiradana telah susut hampir sampai kedasar.

Untuk beberapa saat Ki Wiradana terputar, sehingga ia benar-benar telah kehilangan keseimbangannya. Karena itu, maka sebelum putaran itu berhenti, maka Ki Wiradana telah benar-benar tidak mampu berdiri lagi. Ia pun kemudian telah terbanting jatuh ditanah.

Ki Wiradana masih berniat untuk meloncat bangkit. Tetapi ternyata ia pun sekali lagi terhuyung-huyung dan jatuh pula terbaring. Kepalanya bagaikan ikut berputar dan dunia disekelilingnya pun seolah-olah ikut berputar pula.

Ki Wiradana benar-benar merasa pening disamping perasaan sakit yang menyengat-nyengat. Bahkan perutnya pun menjadi mual dan seluruh tenaga dan kemampuannya bagaikan terhisap habis sama sekali.

Untuk beberapa saat Ki Wiradana masih terbaring. Setiap ia berusaha untuk bangkit, maka rasa-rasanya kepalanya masih saja berputar seperti gasing.

Keempat orang yang menyertai Serigala Betina itu pun kemudian mendekatinya.

Namun Sambi Wulung sempat berkata kepada para pengawal, “Lihat, apa yang terjadi dengan Ki Wiradana. Mendekatlah. Dan tolonglah.”

Para pengawal itu termangu-mangu. Namun Sambi Wulung itu berkata selanjutnya,

“Jangan takut. Perempuan itu tidak akan berbuat apa-apa atasmu.”

Para pengawal itu pun dengan ragu-ragu mendekati Ki Wiradana yang terbaring diam. Sementara itu, Serigala Betina itu pun berjongkok disampingnya sambil berkata, “Ki Wiradana. Bukankah kau sudah tidak berdaya? Bagaimana jika kau yang sudah tidak berdaya ini aku bawa ke rumahku?”

“Gila. Perempuan liar. Kubunuh kau,” geram Ki Wiradana yang jantungnya bagaikan meledak.

Serigala Betina itu tertawa. Katanya, “Apakah kira-kira Warsi akan mencarimu.”

Kemarahan yang tidak tertahankan menghentak-hentak dada Ki Wiradana. Namun dengan demikian, ia justru tidak dapat mengucapkan perasaan yang bergejolak di dalam dadanya.

Para pengawal yang telah mendekati Ki Wiradana itu menjadi termangu-mangu. Namun Serigala Betina itu pun kemudian berdiri melangkah menjauh, “Baiklah. Tolonglah pemangku jabatan Kepala Tanah Perdikanmu ini. Bawalah ia kembali kepada perempuan jalanan yang telah menjadi istrinya itu. Katakan, bahwa Ki Wiradana telah dikalahkan oleh seorang perempuan. Tetapi bukan Iswari. Perempuan itu adalah emban Iswari. Pemomong Iswari yang memiliki kemampuan tidak ada sekuku ireng dibanding dengan kemampuan Iswari.”

Para pengawal itu pun termangu-mangu. Tidak ada seorang pun yang menyahut, sementara ketiga orang pengawal dari padukuhan itu, masih juga berada di antara kawan-kawannya tanpa menimbulkan kecurigaan, karena mereka mampu menyesuaikan diri.

Sejenak kemudian, maka Kiai Soka, mewakili kawan-kawannya berkata kepada Ki Wiradana, “Sudahlah Ki Wiradana. Kami minta diri. Kami sama sekali tidak ingin menentang kekuasaan di Tanah Perdikan, selama kekuasaan di Tanah Perdikan ini tidak menyimpang dari kebenaran. Karena itu, renungkanlah, apakah kau sudah menyimpang dari kebenaran. Kebenaran di dalam lingkungan keluargamu, dan kebenaran tentang hubungan antara Tanah Peridkan ini dengan Pajang dan Jipang.”

Ki Wiradana yang tidak berdaya itu hanya dapat mengumpat-umpat saja. Ketika para pengawal mendekatinya dan berusaha menolongnya. Ki Wiradana masih dapat membentak, “Jangan sentuh aku. Aku tidak memerlukan pertolongan. Aku tidak apa-apa. Jika perempuan itu tidak pergi, aku akan membunuhnya nanti.”

Serigala Betina itu pun tertawa. Katanya, “Kau benar-benar sudah kehilangan akal. Setiap orang tahu, bahwa aku sudah mengalahkanmu. Tetapi aku masih berbaik hati tidak membunuhmu, sebagaimana aku tidak membunuh Iswari pada saat itu, meskipun alasannya berbeda.”

“Cukup, tutup mulutmu,” teriak Ki Wiradana.

Suara tertawa Serigala Betina itu bagaikan mengumandang. Namun kemudian katanya,

“Marilah. Kita tinggalkan pemimpin buruk itu. Ia adalah laki-laki pengecut yang tidak ada duanya di Tanah Perdikan ini. Ia sudah meruntuhkan kebesaran nama ayahnya dan meruntuhkan nilai-nilai yang ada di Tanah Perdikan ini. Biarlah pada saatnya ia memikul tanggung jawab. Sekarang, biarlah kita tidak menakut-nakuti orang-orang yang masih tersisa di pasar ini.”

Kiai Soka yang sempat berdiri disamping Ki Wiradana berkata dengan nada lembut,

“Pikirkanlah anakmas. Kau masih muda. Bayangkan kebesaran Ki Gede pada saat ia memerintahkan Tanah Perdikan ini. Kenapa kau tidak dapat melakukannya? Bukankah kau anaknya dan sekaligus muridnya? Meskipun anak dan murid yang manja, sehingga ilmu yang kau sadap ternyata baru dasar-dasarnya yang masih sangat dangkal.

Sebenarnya aku heran juga bahwa anak dan murid Ki Gede Sembojan sama sekali tidak mampu mengimbangi kemampuan seorang perempuan seperti perempuan gemuk yang mengaku juga penari itu. Juga tidak dapat mengimbangi ilmu Warsi yang cantik namun yang telah menjerumuskan kau ke dalam langkah-langkah yang hitam itu.”

“Diam. Diam kau kambing tua,” bentak Wiradana.

Kiai Soka menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Baiklah. Aku akan diam. Tetapi aku harap para pengawal sempat merenungi peristiwa yang telah terjadi disini.

Persoalannya akan menyangkut hari depan Tanah Perdikan ini.”

Ki Wiradana masih akan berteriak. Tetapi tenaganya rasa-rasanya telah terhisap habis oleh perasaan sakit dan letih yang tidak tertahankan lagi. Karena itu, maka suaranya bagaikan terpotong dikerongkongan, “Tutup mulutmu.”

Kiai Soka dan kawan-kawannya kemudian berpaling kepada para pengawal dan berkata, “Sudahlah. Kami minta diri. Renungkan apa yang telah terjadi. Sementara kawam-kawanmu menjadi korban pertempuran di Pajang tanpa memberikan arti apa-apa bagi Tanah Perdikan ini.”

Kiai Soka tidak menunggu jawaban. Mereka pun kemudian beringsut dan meninggalkan Ki Wiradana yang lemah, namun dadanya bagaikan menyala oleh kemarahan, kekesalan dan kesakitan.

Dalam pada itu, ketika orang-orang itu telah pergi, maka sekali lagi para pengawal berusaha untuk menolong Ki Wiradana. Tetapi sekali lagi Wiradana itu membentak, “Jangan sentuh aku, kalian dengar. Aku tidak apa-apa. Sudah aku katakan, jika perempuan itu tidak pergi, aku akan membunuhnya.”

Para pengawal beringsut surut. Sementara itu dengan susah payah Wiradana berusaha untuk bangkit.

Dengan menghentakkan sisa kekuatannya, maka Ki Wiradana itu pun berusaha untuk berdiri. Meskipun tertatih-tatih namun ia berhasil juga untuk berdiri di atas kedua kakinya. Sekali-kali nampak mulutnya menyeringai menahan kesakitan yang mencengkam seluruh tubuhnya. Namun kepalanya sudah tidak begitu pening. Langit seakan-akan sudah berhenti berputar.

Namun ternyata suara Wiradana sudah menjadi lantang lagi, “Kita kejar orang-orang itu.”

Para pengawal saling berpandangan. Tetapi seakan-akan terngiang ditelinga mereka, kata-kata orang-orang yang telah datang kepada mereka sambil bergurau, “Ki Wiradana tidak bertempur sebagai orang laki-laki yang tidak mengenal menyerah. Tetapi ia berbuat demikian justru karena ia merasa ketakutan kepada istrinya.”

Tetapi untuk sejenak para pengawal itu hanya berdiam diri saja. Sementara Ki Wiradana sendiri rasa-rasanya masih belum mampu berdiri dengan tegak. Apalagi ketika ia akan melangkah, maka hampir saja ia jatuh terjerembab. Namun ketika be berapa orang pengawal bersamaan melangkah mendekat untuk membantunya, maka sekali lagi ia membentak, “Aku tidak apa-apa! Sebagaimana kalian lihat. Atau mata kalian sudah menjadi buta?”

Dalam kebingungan, maka seorang pengawal yang lebih tua dari kawan-kawannya akhirnya berkata, “Mereka sudah melarikan diri Ki Wiradana. Agaknya mereka menyusup jalan-jalan sempit, sehingga sulit untuk dapat menemukannya.”

“Siapa di antara kalian yang mempunyai kemampuan mengenali jejak? He, bukankah dalam penempaan diri kalian mendapat latihan untuk menelusuri jejak?”

“Bersamaan dengan masa pasar bubar seperti ini, sulit sekali untuk mengikuti jejak kaki di jalan-jalan yang memang banyak dilalui orang Ki Wiradana,” jawab pengawal itu.

Ki Wiradana menjadi terengah-engah. Namun katanya, “Tetapi bukan karena aku kalah melawan perempuan gila itu. Bukan karena kalah. Tetapi mereka dengan licik telah melarikan diri dari arena pertempuran.”

Para pengawal tidak menjawab. Tetapi sebenarnyalah mereka tidak dapat mengingkari kenyataan, bahwa mereka memang kalah. Namun hal itu memang menguatkan pendapat orang-orang yang telah meninggalkan mereka itu, bahwa Ki Wiradana benar-benar merasa ketakutan apabila kenyataan ini didengar oleh istrinya.

Sejenak kemudian, maka Ki Wiradana dan para pengawalnya itu pun telah berbenah diri. Kepada ketiga orang pengawal yang berasal dari padukuhan itu, Ki Wiradana berpesan, “Kumpulkan kawan-kawanmu. Cari mereka sampai ketemu. Jangan takut. Jika perlu bunyikan isyarat sehingga aku akan datang sendiri untuk menangkap mereka.”

Ketiga pengawal itu mengangguk bersama-sama. Seorang diantara mereka pun menjawab, “Baik Ki Wiradana. Kami akan mencoba melakukannya.”

“Bagus,” desis Ki Wiradana. “Kalian adalah pengawal Tanah Perdikan ini. Karena itu, kalian harus menjunjung nama baik Tanah Perdikan ini dengan mengorbankan apa saja yang dapat kalian korbankan.”

“Ya Ki Wiradana,” jawab pengawal itu. “Kami akan melakukannya.”

Ki Wiradana pun kemudian meninggalkan pasar itu dengan jantung yang berdebaran.

Bukan saja karena ia ternyata dikalahkan oleh Serigala Betina lagi, tetapi lebih mendebarkan baginya, bagaimana ia harus menjawab jika Warsi nanti bertanya.”

Hampir diluar sadarnya tiba-tiba saja ia bergumam, “Orang-orang itu memang licik. Mereka tidak berani bertempur beradu dada. Dalam kesempatan yang memungkinkan mereka selalu melarikan diri.”

Para pengawal termangu-mangu sejenak. Mereka merasakan kepahitan perasaan Ki Wiradana. Namun para pengawal itu merasa tidak dapat berbuat apa-apa. Jika Ki Wiradana saja bagi orang-orang itu tidak lebih sebagai bahan kelakar, maka apa yang dapat mereka lakukan diarena benturan kekerasan.

Dalam pada itu, semakin dekat dengan padukuhan induk Ki Wiradana pun menjadi semakin termangu-mangu. Sebenarnyalah didalam jantungnya bergejolak kegelisahan yang sangat. Apa kata istrinya jika ia mengetahui bahwa Ki Wiradana pemangku jabatan Kepala Tanah Perdikan Sembojan telah dikalahkan oleh seorang pemomong penari jalanan.

Karena kegelisahannya yang hampir meledakkan dadanya itu, tiba-tiba saja ia membentak, “He, apakah kalian tidak dengar. Orang-orang itu adalah orang-orang yang licik, yang tidak mau bertempur beradu dada. Mereka selalu melarikan diri dalam setiap kesempatan. He, kalian dengar?”

Namun ternyata suara Wiradana sudah menjadi lantang lagi, “Kita kejar orang-orang itu.”

Para pengawal saling berpandangan. Tetapi seakan-akan terngiang ditelinga mereka, kata-kata orang-orang yang telah datang kepada mereka sambil bergurau, “Ki Wiradana tidak bertempur sebagai orang laki-laki yang tidak mengenal menyerah. Tetapi ia berbuat demikian justru karena ia merasa ketakutan kepada istrinya.”

Tetapi untuk sejenak para pengawal itu hanya berdiam diri saja. Sementara Ki Wiradana sendiri rasa-rasanya masih belum mampu berdiri dengan tegak. Apalagi ketika ia akan melangkah, maka hampir saja ia jatuh terjerembab. Namun ketika be berapa orang pengawal bersamaan melangkah mendekat untuk membantunya, maka sekali lagi ia membentak, “Aku tidak apa-apa? Sebagaimana kalian lihat. Atau mata kalian sudah menjadi buta?”

Dalam kebingungan, maka seorang pengawal yang lebih tua dari kawan-kawannya akhirnya berkata, “Mereka sudah melarikan diri Ki Wiradana. Agaknya mereka menyusup jalan-jalan sempit, sehingga sulit untuk dapat menemukannya.”

“Siapa di antara kalian yang mempunyai kemampuan mengenali jejak? He, bukankah dalam penempaan diri kalian mendapat latihan untuk menelusuri jejak?”

“Bersamaan dengan masa pasar bubar seperti ini, sulit sekali untuk mengikuti jejak kaki di jalan-jalan yang memang banyak dilalui orang Ki Wiradana,” jawab pengawal itu.

Ki Wiradana menjadi terengah-engah. Namun katanya, “Tetapi bukan karena aku kalah melawan perempuan gila itu. Bukan karena kalah. Tetapi mereka dengan licik telah melarikan diri dari arena pertempuran.”

Para pengawal tidak menjawab. Tetapi sebenarnyalah mereka tidak dapat mengingkari kenyataan, bahwa mereka memang kalah. Namun hal itu memang menguatkan pendapat orang-orang yang telah meninggalkan mereka itu, bahwa Ki Wiradana benar-benar merasa ketakutan apabila kenyataan ini didengar oleh istrinya.

Sejenak kemudian, maka Ki Wiradana dan para pengawalnya itu pun telah berbenah diri. Kepada ketiga orang pengawal yang berasal dari padukuhan itu, Ki Wiradana berpesan, “Kumpulkan kawan-kawanmu. Cari mereka sampai ketemu. Jangan takut.

Jika perlu bunyikan isyarat sehingga aku akan datang sendiri untuk menangkap mereka.”

Ketiga pengawal itu mengangguk bersama-sama. Seorang diantara mereka pun menjawab, “Baik Ki Wiradana. Kami akan mencoba melakukannya.”

“Bagus,” desis Ki Wiradana. “Kalian adalah pengawal Tanah Perdikan ini. Karena itu, kalian harus menjunjung nama baik Tanah Perdikan ini dengan mengorbankan apa saja yang dapat kalian korbankan.”

“Ya Ki Wiradana,” jawab pengawal itu. “Kami akan melakukannya.”

Ki Wiradana pun kemudian meninggalkan pasar itu dengan jantung yang berdebaran.

Bukan saja karena ia ternyata dikalahkan oleh Serigala Betina lagi, tetapi lebih mendebarkan baginya, bagaimana ia harus menjawab jika Warsi nanti bertanya.”

Hampir diluar sadarnya tiba-tiba saja ia bergumam, “Orang-orang itu memang licik. Mereka tidak berani bertempur beradu dada. Dalam kesempatan yang memungkinkan mereka selalu melarikan diri.”

Para pengawal termangu-mangu sejenak. Mereka merasakan kepahitan perasaan Ki Wiradana. Namun para pengawal itu merasa tidak dapat berbuat apa-apa. Jika Ki Wiradana saja bagi orang-orang itu tidak lebih sebagai bahan kelakar, maka apa yang dapat mereka lakukan diarena benturan kekerasan.

Dalam pada itu, semakin dekat dengan padukuhan induk Ki Wiradana pun menjadi semakin termangu-mangu. Sebenarnyalah didalam jantungnya bergejolak kegelisahan yang sangat. Apa kata istrinya jika ia mengetahui bahwa Ki Wiradana pemangku jabatan Kepala Tanah Perdikan Sembojan telah dikalahkan oleh seorang pemomong penari jalanan. Karena kegelisahannya yang hampir meledakkan dadanya itu, tiba-tiba saja ia membentak, “He, apakah kalian tidak dengar. Orang-orang itu adalah orang-orang yang licik, yang tidak mau bertempur beradu dada. Mereka selalu melarikan diri dalam setiap kesempatan. He, kalian dengar?”

“Ya, ya Ki Wiradana,” hampir berbareng beberapa orang telah menjawab.

Ki Wiradana justru menggeram. Katanya, “Kalian sadari bahwa aku mengenal kalian seorang demi seorang?”

Para pengawal itu termangu-mangu. Mereka tidak tahu maksud Ki Wiradana. Namun sementara itu, Ki Wiradana meneruskan, “Karena itu, maka jika salah seorang di antara kalian telah memfitnah aku dengan mengatakan yang bukan-bukan tentang peristiwa itu, maka kalian akan tahu akibatnya.”

Para pengawal itu saling berpandangan. Sementara itu Ki Wiradana berkata, “Kalian harus mengatakan apa adanya dari peristiwa yang baru saja terjadi.

Orang-orang licik itu telah melarikan diri di antara keramaian orang-orang yang berada di pasar, sehingga kita tidak dapat menangkap mereka. Orang-orang seisi pasar menjadi ribut dan berlari-larian tidak menentu.”

Beberapa di antara para pengawal menarik nafas dalam-dalam. Mereka pun kemudian mengangguk-angguk. Mereka mengerti sepenuhnya, apa yang harus mereka katakan di padukuhan induk nanti.

Namun sebagian di antara mereka sempat juga bertanya di dalam diri mereka sendiri, “Tetapi apakah orang-orang yang melihat perkelahian itu dipasar tidak akan dapat berceritera tentang keadaan yang sebenarnya terjadi?”

Tetapi mereka pun menjawab sendiri, “Persetan. Aku tidak peduli. Seandainya demikian itu baru akan terjadi kemudian. Mungkin Warsi akan mendengarnya, mungkin tidak. Atau mungkin Ki Wiradana sempat menemukan jawabannya.”

Dengan demikian maka para pengawal itu pun menjadi malas berpikir. Apapun yang akan terjadi, mereka tidak mau bersusah payah merenungkannya.

Dengan demikian, maka perjalanan Ki Wiradana itu pun semakin lama menjadi semakin dekat dengan padukuhan induk, sementara kegelisahan di dalam dadanya telah bergejolak semakin menderu.

Dalam pada itu, ketiga orang pengawal yang ikut terlibat dalam perkelahian di pasar itu pun kemudian telah menghubungi kawan-kawan mereka. Dengan gairah mereka menceriterakan apa yang sudah terjadi. Sambil menunjukkan luka-luka pada tubuhnya mereka berkata, “Aku juga ikut berkelahi melawan para penabuh gamelan yang berada di pasar itu.”

“Kenapa kau juga dilukainya?” bertanya kawannya. “Bukankah mereka tahu, bahwa kau sudah menentukan sikap?”

“Aku merasa, bahwa yang mereka lakukan terhadap kami bertiga tidak bersungguh-sungguh,” berkata salah seorang di antara para pengawal itu. “Mereka bermaksud agar Ki Wiradana tidak segera mengetahui, apa yang sebenarnya kami lakukan.”

Kawan-kawannya mengangguk-angguk. Namun sambil tersenyum, seorang di antara mereka berkata, “Ki Wiradana akan mengalami satu masa yang sangat sulit. Ia akan memetik hasil tanamannya sendiri. Dan kita semua adalah salah satu korban permainannya yang sesat ini.”

“Ki Wiradana tidak sedang bermain-main,” jawab kawannya. “Ki Wiradana justru sedang menjadi permainan. Dan kita terseret pula karena kita adalah pengikutnya.”

Kawannya merenung sejenak. katanya, “Ya. Kau benar. Ki Wiradana memang tidak sedang bermain-main. Ia justru telah terjerat dan menjadi sasaran permainan yang tidak dapat dihindarinya lagi. Tetapi itu bukan berarti bahwa Ki Wiradana tidak bersalah. Ia sebenarnya masih mempunyai pilihan ketika Warsi itu datang kepadanya. Agak berbeda dengan kita. Kita tidak dapat berbuat lain daripada melakukan tugas yang dibebankannya kepada kita.”

Yang lain menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Baru sekarang kita mendapat kesempatan untuk memilih. Mudah-mudahan pilihan kita tepat.”

Kawannya mengangguk-angguk. Dengan nada datar ia berkata, “Kita harus bertindak sebaik-baiknya. Apapun yang terjadi atas diri kita, tetapi ini adalah hasil dari pilihan kita sendiri. Bukan sebagaimana yang terjadi atas kawan-kawan kita yang berada di Pajang. Mereka sama sekali tidak memilih untuk melakukan hal seperti yang telah mereka lakukan itu. Apalagi jika kita harus mati. Kematian kita dilandasi dengan keyakinan, sementara kematian kawan-kawan kita adalah sekadar umpan yang tidak banyak memberikan arti apa-apa.”

Dengan demikian maka para pengawal itu pun bertekad semakin mantap. Apalagi ketika kemudian beberapa orang di antara mereka yang paling berpengaruh telah dipanggil untuk berkumpul dan berbicara tentang langkah-langkah yang akan mereka ambil.

“Jika tekad kita telah bulat, maka tidak ada lagi yang akan dapat menghambat kita,” berkata Iswari.

“Tekad kita sudah bulat,” jawab beberapa orang hampir bersamaan.

“Jika demikian, maka aku minta kalian tidak lagi merahasiakan diri. Kita harus bersiap. Tiga padukuhan akan menyatakan memisahkan diri dari kuasa Ki Wiradana dan siap untuk bertempur jika memang mereka menghendaki,” berkata Iswari.

“Aku sependapat,” berkata Ki Bekel dari padukuhan yang terbesar dari ketiga padukuhan yang telah menyatakan berpihak kepada Iswari. Padukuhan yang memiliki beberapa desa yang besar dan kecil, bahkan satu di antaranya adalah sebuah Banjar panjang, “Aku telah menghimpun bukan saja para pengawal, anak-anak muda dan remaja, tetapi juga semua laki-laki yang masih mampu mengangkat senjata.

Agaknya kita tidak perlu menunggu sampai sisa pasukan Tanah Perdikan yang berada di Pajang kembali. Mungkin kita akan kehilangan waktu, apalagi jika orang-orang Jipang datang bersama mereka.”

Ternyata bahwa Ki Bekel dari padukuhan yang lain pun tidak berkeberatan. Mereka pun ternyata telah siap pula sebagaimana Ki Bekel di padukuhan terbesar itu. Iswari menarik nafas dalam-dalam. Jantungnya bagaikan mengembang. Ia berharap bahwa orang-orang yang akan menjadi pengikutnya itu benar-benar meletakkan niatnya atas dasar keyakinan.

Meskipun Iswari sendiri kemudian berkata, “Saudara-saudaraku. Jika aku menyatakan niatku untuk melawan kekuatan kakang Wiradana, sama sekali bukan karena keinginanku untuk memperoleh kekuasaan atas Tanah Perdikan ini bagiku sendiri. Tetapi karena istri kakang Wiradana yang muda telah melahirkan anak laki-laki, maka aku akan melakukan apa saja atas hak yang ada pada anakku.

Apalagi pertanda kekuasaan Tanah Perdikan telah berada ditanganku. Bagaimana pun caranya, tetapi ternyata bahwa bandul bertatahkan burung elang itu sekarang ada pada anakku.”

Ki Bekel dari padukuhan yang terbesar itu pun berkata, “Apapun yang terjadi, kami berniat ingin mengembalikan keadaan Tanah Perdikan ini sebagaimana seharusnya. Selain menghapus kekuasaan yang berada di sekitar Ki Wiradana yang sebenarnya bukan orang-orang yang berhak untuk ikut serta mengemban tugas kepemimpinan di Tanah Perdikan ini, juga Tanah Perdikan ini harus kembali ke dalam lingkungan keluarga Pajang. Kami memang bermusuhan dengan Jipang. Namun yang terjadi sebaliknya. Justru kami telah berpihak kepada Jipang untuk melawan Pajang. Hal ini terjadi karena kuasa Wiradana sudah haus oleh kewibawaan orang-orang disekitarnya.”

“Terutama perempuan iblis itu,” desis Ki Bekel yang lain, “Kita rebut Tanah Perdikan ini kembali.”

“Terima kasih,” berkata Iswari. “Sejak hari ini kita akan bersiaga. Kita harus menyiapkan tanda-tanda bahaya dan isyarat. Beberapa orang terpenting di antara kita akan siap dengan kuda, sehingga jika terdengar isyarat tertentu, maka dengan cepat, kita akan mencapai tujuan.”

Para Bekel itu pun kemudian telah bersepakat untuk menentukan bunyi-bunyi isyarat yang berbeda dengan kebiasaan yang berlaku di Tanah Perdikan Sembojan.

Dengan demikian maka jika terdengar isyarat, maka orang-orang yang berpihak kepada Iswari akan segera dapat mengetahui, siapakah yang membunyikannya.

Sementara itu, di rumah Ki Wiradana, pemangku jabatan Kepala Tanah Perdikan itu sedang duduk sambil menundukkan kepalanya. Warsi, istrinya berjalan hilir mudik didepannya. Sementara itu orang yang mengaku pedagang permata itu duduk pula beberapa langkah dari padanya disamping Tukang Gendang yang pernah diakui sebagai ayah Warsi.

“Jadi kau mencoba berbohong ya?” bentak istrinya. “Tadi siang aku mempercayaimu.

Tetapi ternyata aku telah mendengar ceritera yang lain. Orang-orang itu sama sekali tidak melarikan diri sebagaimana kau katakan. Tetapi kau dan para pengawal telah mereka kalahkan.”

“Siapa yang mengatakannya?” desis Ki Wiradana.

“O, jadi kau akan berusaha untuk membela diri? Jika aku sebut nama salah seorang pengawal yang ikut bersamamu, maka kau akan mencekik anak itu,” geram Nyi Wiradana. “Tetapi memang bukan pengawalmu yang mengatakannya. Mereka semua sudah

kau pesan untuk berbohong. Tetapi seisi pasar melihat, bahwa kau telah dikalahkan oleh seorang perempuan. Dan perempuan itu ternyata bukan istrimu yang kau sembunyikan itu. Yang kau katakan telah tidak ada lagi, tetapi yang ternyata kau simpan ditempat yang tidak aku ketahui.”

Ki Wiradana memang tidak dapat membantah, bahwa ia telah dikalahkan. Tetapi ia ingin menjelaskan tentang istrinya yang hilang dan ternyata telah muncul kembali itu.

“Aku tidak menyembunyikannya,” berkata Ki Wiradana. “Yang aku katakan kepadamu sebenarnyalah telah aku lakukan. Perempuan yang bertempur melawan aku di pasar itulah yang telah berkhianat.”

“O,” Nyi Wiradana itu justru bertolak pinggang dihadapannya, “Jadi kau benar-benar dikalahkan oleh perempuan itu. Bukan sekadar satu pertunjukan yang tidak pantas dilakukan oleh seorang pemangku jabatan Kepala Tanah Perdikan.”

Ki Wiradana tidak dapat menjawab. Karena itu, maka ia pun telah berdiam diri sambil menundukkan kepalanya.

Sementara itu, kata-kata Warsi mengalir seperti derap kaki sepasang kuda yang berpacu. Tidak ada saat-saat untuk dapat memotong, menyela apalagi menjawab.

Bahkan sekali-kali ayah Warsi itu pun ikut pula mengumpati menantunya yang dianggapnya sangat dungu.

“Aku kira anak Ki Gede yang telah mampu membunuh Kalamerta itu memiliki sedikit

ketajaman nalar dan kemampuan dasar olah kanuragan,” berkata Ki Saudagar.

“Ternyata ia tidak lebih dari kanak-kanak yang masih harus bergantung kepada kehangatan pelukan ibunya,” Ki Saudagar itu berhenti sejenak, lalu, “Warsi adalah istrimu. Bukan ibumu. Kau harus melindunginya, bukan ia harus melindungimu”

Ki Wiradana sama sekali tidak dapat menjawab. Sekali-kali terdengar tarikan nafasnya. Namun kemudian kepalanya telah tertunduk lagi.

Dengan perasaan yang hancur ia harus mendengarkan umpatan-umpatan, caci-maki dan ejekan-ejekan yang menyakitkan hati. Namun kepahitan itu harus ditelannya dengan penyesalan di dalam hatinya.

“Kita harus menebus penghinaan ini,” berkata Warsi. “Kemudian jika kakang mau mengatakan apa yang sebenarnya, mungkin aku sempat memburunya, mencarinya dan kemudian menyeret perempuan itu dibelakang kaki kudaku.”

“Ya,” jawab Ki Saudagar. “Tetapi kemana kita harus mencari perempuan iblis itu.

Apalagi penari yang mirip dan yang barangkali memang perempuan yang bernama Iswari itu sekarang.”

“Pada suatu saat kakang Wiradana harus mengatakan. Dimana istrinya itu disembunyikan,” geram Warsi.

“Aku tidak menyembunyikan,” sahut Ki Wiradana. “Aku bersumpah.”

“Apapun yang kau katakan,” Warsi menjawab dengan nada tinggi. “Sekarang kita bersiap. Kita akan mengelilingi Tanah Perdikan ini sesudah senja. Biasanya rombongan penari jalanan itu kebar pada saat-saat sesudah senja jika mereka akan melakukan pertunjukan pada malam hari.”

Ki Wiradana menarik nafas dalam-dalam. Namun istrinya telah membentaknya, “Cepat, siapkan pasukan! Kenapa kau masih merenung saja?”

Wiradana itu pun kemudian bangkit dan berjalan keluar. Namun demikian ia berada di luar pintu, maka ia pun telah mengangkat wajahnya.

Dengan garang Ki Wiradana pun memanggil pemimpin pengawal yang bertugas. Dengan lantang ia berkata, “Siapkan pasukan pengawal yang kuat. Kita akan mengelilingi Tanah Perdikan untuk mencari langsung orang-orang yang telah mengacaukan Tanah Perdikan ini. Ternyata kita tidak dapat lagi mempercayai para pengawal dipadukuhan yang hanya dapat bermanja-manja saja. Mungkin kita akan bertempur karena kita tahu, ada di antara mereka yang memiliki kemampuan yang cukup.”

Pemimpin pengawal itu mengangguk hormat. Katanya, “Baiklah Ki Wiradana. Siapa saja yang akan pergi selain para pengawal, agar disiapkan kuda bagi mereka?”

“Aku,” bentak Ki Wiradana.

“Sendiri?” bertanya pengawal itu pula.

Ki Wiradana menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Tidak. Aku akan pergi dengan Warsi, Ki Saudagar dan ayah Warsi.”

Pengawal itu mengangguk-angguk. Kemudian katanya, “Aku akan menyiapkan empat ekor kuda. Bukankah kita akan berkuda?”

“Ya. Kita akan pergi setelah senja,” berkata Ki Wiradana.

Dengan cepat pemimpin pengawal itu pun kemudian memerintahkan menyiapkan empat ekor kuda disamping kuda para pengawal sendiri. Pemimpin pengawal itu sudah tahu, apa yang sudah terjadi dengan Ki Wiradana di pasar. Karena itu, maka ia pun berusaha untuk tidak terulang lagi, sehingga dengan demikian maka pemimpin pengawal itu telah menyiapkan pengawal yang kuat.

Ketika senja turun, maka semuanya telah siap. Warsi pun telah siap pula.

Meskipun di mata para pengawal Ki Wiradanalah yang akan memimpin sekelompok

pasukan Tanah Perdikan Sembojan itu, namun sebenarnya bahwa Ki Wiradana berada dibawah pengaruh istrinya.

Sejenak kemudian, ketika semuanya sudah siap, maka sekelompok orang berkuda telah meninggalkan rumah Kepala Tanah Perdikan Sembojan untuk menemukan para pengamen yang telah menghina pemangku jabatan Kepala Tanah Perdikan itu.

Derap kaki kuda mereka telah menggetarkan jantung orang-orang yang tinggal dipinggir jalan keluar dari Tanah Perdikan itu, karena beberapa orang di antara mereka mengetahui, bahwa sekelompok pengawal yang dipimpin oleh Ki Wiradana sendiri akan mencari dan menangkap para pengamen yang mempunyai seorang penari yang mirip sekali dengan Nyi Wiradana yang terdahulu.

Orang-orang padukuhan induk belum pernah melihat kelompok pengamen itu, karena kelompok pengamen itu tidak sampai ke padukuhan induk. Tetapi dari kawan-kawan mereka atau saudara-saudara mereka yang tinggal dipadukuhan-padukuhan lain yang terutama terletak di daerah pinggir Tanah Perdikan mereka telah mendengar, bahwa penari itu bukan saja mirip, tetapi memang Nyi Wiradana sendiri.

Karena itu ada semacam kecemasan bahwa sekelompok pengawal yang kuat itu akan dapat menemukan kelompok pengamen itu dan kemudian menangkapnya. Istri pemangku jabatan Kepala Tanah Perdikan itu tentu akan memperlakukan Nyi Wiradana dengan kasar dan semena-mena bahkan mungkin akan melampaui batas-batas kewajaran. Bukan hanya karena penari itu adalah istri Ki Wiradana pula, tetapi justru karena Nyi Wiradana itu telah dianggapnya membuat Tanah Perdikan ini tidak tenang.

Namun orang-orang itu tidak dapat berbuat apa-apa. Mereka hanya merenung dan berangan-angan. yang dapat mereka lakukan tidak lebih dari berdoa, agar tidak terjadi sesuatu atas Nyi Wiradana itu.

Sementara itu, maka kuda-kuda pun telah berderap. Ki Wiradana bersama istrinya, Ki Saudagar dan pengendang itu pun telah melintasi bulak-bulak panjang diiringi oleh sekelompok pengawal yang kuat. Sasaran pertama adalah pasar yang tentu telah menjadi sepi. Mungkin pengamen itu telah kebar didekat pasar, ditempat yang cukup lapang.

Tetapi ketika iring-iringan orang berkuda itu telah melewati sebuah simpang empat dan memasuki jalan menuju kesebuah padukuhan, maka Ki Wiradana yang berkuda dipaling depan terkejut. Dengan isyarat ia pun telah menghentikan iring-iringan itu.

Ternyata ditengah-tengah jalan telah dipasang patok yang rapat dan rintangan yang melintang, menutup jalan.

“Siapa yang berbuat gila ini?” Warsi mulai berteriak.

Ki Wiradana pun kemudian melompat turun. Ketika ia berusaha mengguncang patok-patok itu ternyata bahwa patok itu telah dipasang dengan kuatnya. Bukan sekadar tangan-tangan jahil yang bermain-main dengan tanpa menghiraukan

akibatnya. Tetapi patok-patok itu benar-benar telah dipasang.

Ki Wiradana itu pun kemudian dengan lantang memerintahkan kepada para pengawal untuk turun dan membongkar patok-patok itu. Namun Nyai Wiradana berkata, “Biarlah. Kita akan melihat, apakah ada juga patok-patok semacam ini ditempat

lain. Jika kita menemukannya juga, maka kita harus menanggapinya dengan sungguh-sungguh.”

Ki Wiradana justru termangu-mangu sejenak. Kemudian ia pun kembali meloncat ke punggung kudanya ketika Warsi berkata, “Marilah. Kita melihat di jalan yang lain.”

Iring-iringan itu pun kemudian berbalik dan mengambil jalan yang lain yang menuju ke pasar itu pula, meskipun agak melingkar.

Tetapi ternyata perjalanan mereka telah terhambat pula. Di jalan itu pun telah terdapat patok-patok yang kuat sehingga iring-iringan itu tidak dapat meneruskan perjalanan.

“Ini tentu perbuatan yang sudah direncanakan dan diperhitungkan,” berkata Warsi.

“Aku tidak percaya bahwa yang melakukan hal ini hanya para pengiring dari penari yang menjadi sangat terkenal di Tanah Perdikan ini. Meskipun demikian, kita akan melihat, apakah yang telah terjadi di jalan-jalan yang lain.”

Lewat senja sampai malam menjadi sangat pekat, maka iring-iringan itu telah menempuh perjalanan beberapa jalur jalan. Ternyata jalan-jalan itu memang sudah ditutup dengan patok-patok yang kuat dan rapat. Bahkan beberapa batang pohon munggur yang tumbuh dipinggir jalan telah ditebang dan cabang-cabang serta ranting-rantingnya telah dipergunakan untuk membuat patok-patok yang menutup jalan.

“Siapa yang telah menjadi gila seperti ini,” geram Ki Wiradana.

Yang menjawab adalah Warsi, meskipun ia masih mengekang diri dan mengucapkannya sangat perlahan, “Ini pertanda bahwa kewibawaanmu telah pudar sama sekali.”

Ki Wiradana tidak menjawab. Sementara Warsi berkata, “Kita harus berbuat sesuatu.”

“Kita bongkar saja patok-patok ini,” berkata Ki Wiradana.

“Tidak ada gunanya. Persoalan ini harus kita tanggapi dan kita selesaikan sampai tuntas. Bukan sekadar membongkar patok-patok ini. Kita tahu, bahwa patok-patok ini terpasang dijalan menuju ke Tanah Perdikan bagian barat. Ada beberapa padukuhan yang dengan demikian telah tertutup karenanya,” berkata Ki Saudagar.

“Marilah kita kembali,” berkata Warsi. “Kita akan berbicara dengan para pemimpin pengawal. Kita ternyata dihadapkan kepada persoalan yang bersungguh-sungguh.

Bukan sekadar sekelompok pengamen saja.”

Dengan demikian, maka iring-iringan itu pun telah kembali ke padukuhan induk.

Namun malam itu juga Ki Wiradana telah memerintahkan para pengawal untuk memanggil para pemimpin pengawal, terutama yang berada di barak-barak, yang sedang menempa diri dalam latihan-latihan yang berat. Mereka adalah kekuatan yang akan dapat diandalkan.

Namun ternyata mereka telah mendapat laporan yang sangat mengejutkan. Sekelompok di antara para pengawal yang berada di dalam barak, yang terdiri dari anak-anak muda dan para pengawal dari beberapa padukuhan telah meninggalkan barak.

“Ini adalah laporan yang paling gila yang pernah aku dengar,” teriak Ki Wiradana yang bukan saja marah, tetapi ia juga merasa cemas menghadapi sikap istrinya.

“Apakah pemimpin kelompok itu tidak dapat mencegah mereka.”

Pengawal yang menyampaikan laporan itu menjawab, “Kami menemukan pemimpin kelompok dan pelatih dari kelompok-kelompok yang melarikan diri itu pingsan dan terluka pada tubuh mereka. Agaknya mereka telah berusaha untuk mencegah, tetapi justru mereka menjadi korban.”

“Panggil mereka kemari,” bentak Ki Wiradana.

“Mereka berada dalam keadaan yang sangat lemah. Tetapi baiklah kami akan membawa mereka kemari,” jawab pengawal itu.

Laporan itu ternyata benar-benar telah menggoncangkan perasaan Ki Wiradana dan kekuasaan yang sebenarnya yang memerintah Tanah Perdikan itu sendiri.

“Tentu bukan satu kebetulan bahwa pada saat-saat jalan dipatok dan menutup beberapa padukuhan tertentu, maka anak-anak yang berada di barak, yang juga berasal dari padukuhan yang sama, telah melarikan diri,” geram Warsi.

Ki Wiradana mengangguk. Jawabnya, “Ya. Kita menyadari.”

“Kita harus bertindak cepat. Sebelum mereka sempat menyusun kekuatan dengan sebaik-baiknya, kita harus menghancurkannya,” berkata Ki Saudagar.

“Kita tidak boleh tergesa-gesa ayah,” berkata Warsi yang menanggapi peristiwa itu dengan sungguh-sungguh. “Mereka bukan orang-orang dungu seperti kakang Wiradana. Ternyata para pengiring dari penari yang cantik itu memiliki kemampuan yang tinggi. Mereka masih sempat berkelakar ketika mereka harus melawan dua tiga orang pengawal sekaligus. Sementara itu, perempuan yang menyatakan diri pemomong dari penari yang cantik itu dengan mudah dapat mengalahkan pemangku jabatan Kepala Tanah Perdikan ini.”

Ayah Warsi mengangguk-angguk. Lalu katanya, “Jadi bagaimana menurut pertimbanganmu?”

“Kita jangan terjebak pada langkah-langkah yang tidak diperhitungkan,” jawab Warsi. “Kita bukan anak-anak ingusan dalam putaran kekuatan. Karena itu, maka kita harus memperhitungkan setiap langkah yang akan kita ambil.”

Ki Saudagar itu mengangguk-angguk. Jawabnya, “Aku sependapat Warsi, segala sesuatunya memang terserah kepadamu.”

“Kita harus tahu pasti, berapa orang pengawal yang ada di padukuhan-padukuhan yang telah memberontak itu. Berapa pula yang lari dari barak-barak. Sementara itu, berapa kekuatan yang ada pada kita,” berkata Warsi.

Ki Saudagar mengangguk-angguk. Ternyata dalam keadaan yang sulit itu Warsi tidak kehilangan akal. Ia masih sempat berpikir jernih untuk mengatasi kemelut yang terjadi itu.

Namun dalam pada itu, dalam keheningan malam yang mencekam sesaat, telah terdengar derap kaki kuda berpacu memasuki regol halaman rumah Kepala Tanah Perdikan Sembojan.

“Siapa?” bertanya Warsi. “Kenapa para penjaga membiarkan mereka memasuki halaman?”

Ki Wiradana termangu-mangu sejenak. Namun ketika terdengar pintu diketuk orang, ia bangkit dan berjalan menuju ke pintu.

“Siapa?” bertanya Ki Wiradana.

“Aku ngger. Randukeling,” terdengar jawaban dari luar.

“Kakek,” Warsi hampir memekik ketika ia mendengar nama kakeknya. Dalam keadaan

yang sulit itu rasa-rasanya ia telah mendapatkan satu titik cerah dengan kehadiran kakeknya itu.

Ketika Ki Wiradana membuka pintu, maka yang melangkah masuk kemudian adalah benar Ki Randukeling dan seorang yang sambil tersenyum berkata, “Selamat malam semuanya.”

“O, Ki Rangga,” wajah Warsi menjadi semakin cerah. “Marilah. Silakan.”

Keduanya pun kemudian dipersilakan duduk pula diatas sebuah amben bambu yang besar, sementara Ki Wiradana telah menutup pintu kembali.

“Kedatangan kalian tepat pada waktunya,” berkata Warsi.

“Kenapa?” bertanya Ki Rangga.

“Kami memang mengharap kakek dan Ki Rangga datang,” jawab Warsi dengan nada berat. “Aku memerlukan kawan untuk memecahkan persoalan-persoalan yang timbul.”

“Bukankah disini ada Ki Wiradana?” bertanya Ki Rangga. “Aku tidak dapat berbincang dengan orang dungu itu,” sahut Warsi. “Warsi,” potong kakeknya.

“Bukankah Ki Wiradana itu suamimu. Siapapun orang itu, dalam keadaan apapun, kau telah memilihnya untuk kau jadikan suamimu. Karena itu, kau harus bersikap sebagai seorang istri.”

“Aku sudah mencoba kakek,” jawab Warsi. “Tetapi ternyata kakang Wiradana itu kelewat dungu. Aku tidak menduga sama sekali, bahwa ia tidak memiliki apapun juga sebagaimana yang dimiliki oleh Ki Gede Sembojan dahulu.”

Suramnya Bayang-bayang 24

“Sudahlah,” jawab Ki Randukeling. “Tetapi agaknya kalian memang sedang membicarakan sesuatu yang penting, sehingga malam-malam begini kalian masih juga duduk berbincang.”

“Ya kakek,” jawab Warsi. “Memang penting sekali. Soalnya menyangkut hidup dan mati Tanah Perdikan ini.”

Ki Randukeling mengerutkan keningnya. Ia pun kemudian berpaling kepada Ki Rangga sambil berkata, “Persoalan telah timbul dimana-mana.”

Ki Rangga mengangguk-angguk, desisnya, “Tetapi Nyi Wiradana belum mengatakan, persoalan apa yang timbul di Tanah Perdikan ini.”

Ki Randukeling termangu-mangu sejenak. Katanya, “Baiklah, katakanlah Warsi. Apa yang telah dibicarakan dengan sungguh-sungguh oleh para pemimpin di Tanah Perdikan ini.”

“Di Tanah Perdikan ini telah terjadi pemberontakan kakek,” jawab Warsi langsung pada persoalannya.

“Pemberontakan?” bertanya kakeknya.

“Ya kakek. Beberapa padukuhan telah menutup diri dengan membuat batas pada jalan-jalan yang menuju ke padukuhan itu,” jawab Warsi.

“O,” Ki Randukeling dan Ki Rangga mengangguk-angguk. “Itulah sebabnya kami menjadi agak bingung. Kami memang harus melingkar mencari jalan atau turun dari kuda dan menuntun kuda-kuda kami melintasi tanah persawahan. Baru sekarang kami menjadi jelas bahwa padukuhan-padukuhan itu telah memberontak.”

“Ya. Beberapa kelompok pengawal di barak telah melarikan diri. Mereka adalah pengawal dari padukuhan-padukuhan yang memberontak itu,” berkata Warsi lebih lanjut.

Ki Randukeling menjadi berdebar-debar sebagaimana juga Ki Rangga Gupita. Dengan suara dalam Ki Rangga berkata, “Tetapi orang-orang padukuhan itu tidak berbuat apa-apa. Mungkin ada juga orang yang melihat kami turun ke sawah sambil menuntun kuda, bahkan menginjak-injak tanaman. Tetapi tidak seorang pun yang menegur kami.”

“Mungkin mereka masih berusaha menahan diri, atau mereka tidak tahu siapakah kakek sebenarnya. Atau mereka mengenal Ki Rangga sebagai salah seorang perwira dari Jipang sehingga mereka masih membatasi diri agar Jipang tidak ikut campur dalam hal ini,” jawab Warsi.

Ki Randukeling mengangguk-angguk. Katanya, “Ternyata persoalannya menjadi gawat.

Jika para pengawal telah meninggalkan baraknya, maka pemberontakan itu tentu sudah diatur dengan baik.”

“Tentu kakek,” jawab Warsi. “Tentu penari yang cantik itulah yang mengatur segalanya.” “Penari yang mana maksudmu?” bertanya Ki Randukeling.

“Istri kakang Wiradana. Semua orang sekarang sudah menyakini bahwa perempuan itu memang Nyi Wiradana. Ternyata ia masih mempunyai pengaruh di Tanah Perdikan ini, sehingga beberapa padukuhan telah berhasil di bujuknya untuk memberontak,” jawab

Warsi. Ki Randukeling jadi termangu-mangu. Dengan nada datar ia berkata kepada Ki Rangga, “Apakah dengan keadaan seperti ini kita akan dapat memenuhi maksud kedatangan kita di Tanah Perdikan ini?”

Ki Rangga Gupita menjadi tegang. Dengan nada berat ia berkata, “Semua ini kesalahan pemangku jabatan Kepala Tanah Perdikan ini yang tidak mampu mengendalikan orang-orangnya. Jika ia memiliki wibawa sebagai Kepala Tanah Perdikan, maka semuanya ini tidak akan terjadi.”

“Sudah aku katakan kepadanya,” sahut Warsi. “Ia telah kehilangan kewibawaannya.”

“Sudahlah,” berkata Ki Randukeling. “Yang penting, apa yang harus kita lakukan sekarang ini?”

“Aku tetap memerlukan pasukan untuk melawan pasukan Pajang,” berkata Ki Rangga Gupita.

“Tetapi tidak dalam keadaan seperti ini,” jawab Warsi, “Kita harus menyelesaikan lebih dahulu persoalan yang kita hadapi disini. Kekuatan beberapa padukuhan yang memberontak itu tentu cukup memadai, sehingga jika sebagian dari para pengawal masih akan dibawa keluar, maka dalam beberapa hari ini, mereka yang memberontak itu akan berhasil mengusir kita.”

Ki Rangga menarik nafas dalam-dalam. Sementara itu Ki Randukeling pun berkata, “Kita dihadapkan pada persoalan yang sama-sama berat. Tetapi aku berpendapat, bahwa kita harus menyelesaikan persoalan di Tanah Perdikan ini lebih dahulu.”

“Apakah itu tidak terbalik Ki Randukeling. Dengan kekuatan yang masih ada, kita akan menghancurkan Pajang. Baru kemudian kita akan menyelesaikan persoalan ini.

Dengan bantuan Jipang maka pemberontakan disini akan dapat diselesaikan dalam waktu setengah hari,” berkata Ki Rangga.

“Tetapi jika keadaan sudah menjadi parah, maka persoalannya menjadi lain,” jawab Ki Randukeling. “Mungkin orang-orang yang sekarang memimpin Tanah Perdikan ini sudah diusir dan yang perlu diperhatikan, jika pasukan Jipang memenangkan pertempuran melawan pasukan Pajang di medan sebelah Timur apakah berarti bahwa perang dengan Pajang sudah selesai dan pasukan Jipang dapat ditarik kembali?”

Ki Rangga Gupita termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya, “Baiklah. Kita selesaikan pemberontakan ini besok. Aku akan ikut bersama kalian. Kita akan menghancurkan padukuhan-padukuhan itu sampai lumat, sehingga tidak ada kesempatan bagi mereka untuk bangkit kembali. Jika para bekel ikut campur dalam pemberontakan ini, maka mereka pantas dihukum mati. Demikian pula yang terlibat.

Dengan demikian, maka padukuhan-padukuhan yang lain akan melihat, hasil dari langkah sesat para pemberontak itu.”

“Kita memang harus menunjukkan sikap yang keras,” sahut Warsi.

“Bagus,” geram Ki Rangga Gupita. “Semua yang bersalah akan dihukum mati. Hanya mereka yang bersedia ikut ke Pajang sajalah yang akan mendapat pengampunan.”

Namun dengan ragu-ragu Ki Wiradana berkata, “Tetapi apakah dengan pembunuhan yang semena-mena itu persoalan akan dapat diatasi dengan bijaksana?”

“Kau memang pantas kehilangan kewibawaanmu,” jawab Ki Rangga Gupita. “Dengan sikap yang keras, maka kau telah mencegah hal yang serupa terulang kembali.”

“Tetapi kematian yang tidak terhitung jumlahnya akan berakibat buruk bagi Tanah Perdikan ini,” sahut Ki Wiradana.

“Tutup mulutmu,” bentak Ki Rangga Gupita. “Kita berjuang untuk tegaknya kewibawaan Tanah Perdikan ini. Untuk menjunjung kekuasaan Kepala Tanah Perdikan meskipun masih pemangkunya. Tetapi kau sendiri berhati lemah seperti perempuan.

Bahkan perempuan seperti Warsi itu pun mampu mengatasi perasaannya bagi kepentingan Tanah Perdikan ini, sementara kau merajuk dan merengek dengan cengeng.

Wajah Ki Wiradana menjadi merah. Apalagi ketika Randukeling tersenyum sambil berkata, “Sudahlah ngger. Kau memang telah melakukan banyak kesalahan, sehingga istrimu, dan kini tamumu, telah melontarkan kata-kata kasar.”

“Tetapi aku tetap pemangku jabatan Kepala Tanah Perdikan ini kakek,” jawab Ki Wiradana. Namun Ki Rangga Gupita membentak, “kau tidak dapat berbuat apa-apa tanpa kami. Tanpa Warsi, tanpa Ki Saudagar, tanpa Ki Randukeling dan tanpa prajurit-prajurit Jipang disini. Kau hanya mampu merayu penari-penari cantik untuk memenuhi keinginanmu yang ternyata tidak seimbang dengan gejolak perjuanganmu di Tanah Perdikan ini. Karena itu, kau berterima kasih kepada Warsi yang sebenarnya merasa sangat kecewa mempunyai suami seperti kau. Namun demi kesetiaannya sebagai seorang istri, ia telah berbuat apa saja bagi Tanah Perdikan ini.” Ki Wiradana menjadi semakin terdesak. Wajahnya menjadi semakin merah. Namun ia sadar, bahwa ia tidak akan berbuat apa-apa. Karena itu, maka ia pun hanya dapat menundukkan kepalanya dengan jantung yang hampir meledak.

Sementara itu, terdengar Ki Rangga Gupita, “Kita siapkan para pengawal sekarang.” “Sudah aku katakan kepada ayah, tetapi sebelum kau dan kakek datang,” jawab Warsi. “Jangan kehilangan akal dan tergesa-gesa. Aku ingin tahu pasti, imbangan kekuatan yang ada. Bukankah kau seorang perwira prajurit Jipang?” Ki

Rangga menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Aku mempercayakan pengamatanku pada firasat di dalam hatiku. Tetapi jika kau akan bertindak dengan hati-hati, aku tidak berkeberatan. Tetapi ingat harus menyelesaikan persoalan ini dengan cepat.” “Kehadiranmu dan kakek akan dapat mempercepat gerakan kita,” jawab Warsi. “Bagus,” jawab Ki Rangga. “Bukankah dengan demikian maka tugas kita akan

cepat selesai.” Warsi pun kemudian bertanya kepada Ki Wiradana, “Kakang, apakah malam ini kita dapat melihat keseimbangan kekuatan antara para pengawal di padukuhan-padukuhan itu dengan para pengawal diluarnya, termasuk yang melarikan diri dan yang masih tinggal di barak?” “Mungkin dapat diusahakan Warsi,” jawab

Ki Wiradana. “Tentu dapat,” desis Warsi. “Bukankan jumlah orang-orang itu pasti dan namanya sudah diketahui? Karena itu, maka tolong kakang. Usahakan agar kita semua mendapat gambaran, sehingga kita akan bergerak lebih cepat. Kehadiran Kakek dan Ki Rangga meyakinkan kita, bahwa kita akan dapat mengatasi kesulitan.

Para pengiring dari penari yang cantik itu, jumlahnya terbatas. Dan sudah tentu tidak semuanya di antara mereka memiliki ilmu yang tinggi, sehingga seandainya jumlah mereka sebanyak orang yang dijumpai oleh kakang Wiradana di pasar, maka jumlah itu tidak akan menggetarkan kita lagi. Disini ada kakang Wiradana, ada aku, ayah dan kakek serta Ki Rangga. Juga ada ayah angkatku ini. Disamping itu para pengawal yang sudah mendapat tempaan yang matang masih cukup banyak dibanding mereka yang melarikan diri.” Ki Wiradana pun kemudian telah meninggalkan ruangan itu. Ketika ia keluar ruangan, maka tidak lagi melakukan sebagaimana kebiasaannya. Ki Wiradana tidak lagi menengadahkan wajahnya dan

dengan garang, memanggil para pengawal. Tetapi dengan kepala tunduk ia berjalan ke gardu mendekati para pengawal yang sedang bertugas. Para pengawal yang melihat Ki Wiradana pun segera beringsut. Beberapa orang justru telah turun dari gardu dan berdiri menyambutnya. Suara Ki Wiradana tidak lantang lagi. Namun

demikian yang dikatakannya cukup jelas bagi para pengawal. Ki Wiradana akan pergi ke barak untuk menghitung jumlah para pengawal. Dari para pemimpin pengawal di barak Ki Wiradana kemudian mendapat kepastian, bahwa jumlah pengawal

yang berada di padukuhan yang memisahkan diri itu serta para pengawal yang melarikan diri, masih lebih kecil dari para pengawal dari padukuhan-padukuhan yang lain serta yang masih berada di barak. “Apa yang akan Ki Wiradana lakukan?” bertanya pemimpin pengawal itu. “Apakah Ki Wiradana akan mengambil langkah kekerasan?” Ki Wiradana ragu-ragu sejenak. Namun kemudian ia pun mengangguk,

“Mungkin sekali.

Tetapi pemimpin pengawal itu berkata, “Ki Wiradana. Apakah tidak ada cara lain.

Mungkin Ki Wiradana dapat mengadakan pendekatan dengan mereka. Apakah yang

sebenarnya mereka kehendaki? Bukankah Ki Wiradana belum pernah menanyakannya?”.

Ki Wiradana menggeleng. Jawabannya, “Aku memang belum pernah berhubungan dengan mereka.”

“Nah, karena itu, maka agaknya dapat dihindari pertumpahan darah di antara kita. Apalagi kami yang pernah tinggal disatu barak ini,” berkata pemimpin pengawal itu. Ki Wiradana termangu-mangu. Sebenarnya ia sependapat dengan pemimpin pengawal itu. Tetapi apakah istrinya dan Ki Rangga akan dapat menyetujuinya?”

Namun hal itu tidak dikatakan kepada para pengawal itu. Biarlah perasaan itu tetap menjadi bebannya yang terasa sangat berat.

Bahkan kepada pemimpin pengawal itu ia menjawab, “Sudah bukan waktunya lagi kita bersikap lunak. Pada suatu saat, orang-orang Tanah Perdikan ini harus mengerti, bahwa langkah-langkah yang diambil oleh mereka yang memberontak itu harus mendapat hukuman yang setimpal.”

“Tetapi, jika hal itu dapat diselesaikan dengan baik, bukankah akan lebih berarti daripada jika diselesaikan dengan kekerasan? Kekerasan akan menumbuhkan dendam. Orang-orang yang sanak kadangnya terbunuh akan merasa tergelitik untuk membalas dendam. Sementara itu gejolak perasaan yang tidak terkendali akan dapat merusakkan Tanah Perdikan ini. Mungkin ada padukuhan yang akan menjadi abu oleh kobaran api kemarahan. Bahkan orang-orang yang tidak bersalah pun akan dapat menjadi korban mendidihnya darah di dalam jantung ini,” berkata pemimpin pengawal itu.

“Waktu untuk berhati manis telah lewat,” berkata Ki Wiradana, “Kita sudah banyak belajar dari kehidupan yang lampau. Dan sekarang tiba waktunya untuk bertindak tegas.”

“Apa yang pernah kita alami sebelumnya, Ki Wiradana? Kehidupan yang manakah yang

telah memberi pelajaran bagi kita?” bertanya pemimpin pengawal itu. “Yang terjadi di Tanah Perdikan ini sulit untuk diikuti dengan nalar sampai saatnya beberapa padukuhan telah memberontak.”

Wajah Ki Wiradana menjadi merah. Dengan lantang ia bertanya, “Apakah kau juga sudah terpengaruh?”

“Tidak,” jawab pemimpin pengawal itu. “Tetapi aku mengikuti perkembangan keadaan. Aku sudah mendengar semua ceritera yang terjadi di Tanah Perdikan ini dengan sebenarnya. Para pengawal yang beberapa kali dikalahkan oleh orang-orang yang tidak dikenal, meskipun mereka ingkar. Bahkan Ki Wiradana juga. Penari yang sebenarnya adalah Nyi Wiradana sendiri. Dan pendirian beberapa orang bekel yang disebut memberontak itu.”

“Kau adalah pemimpin pengawal,” bentak Ki Wiradana, “Kau hanya dapat menjalankan perintah.”

Pemimpin pengawal itu mengangguk hormat. Katanya, “Jika demikian, aku memang tidak mempunyai pilihan lain.”

Ki Wiradana justru termenung sejenak. Dipandanginya wajah pemimpin pengawal yang memandanginya dengan sorot mata yang kosong itu.

Hampir saja Ki Wiradana berkata, bahwa ia pun sebenarnya mempunyai pendirian seperti pemimpin pengawal itu. Tetapi dengan susah payah ia bertahan untuk tetap menyimpannya di dalam hatinya.

Yang kemudian dikatakan oleh Ki Wiradana justru satu perintah, “Para pengawal harus bersiap besok pagi-pagi. Mungkin mereka akan kita perlukan.”

Tidak ada jawaban lain dari pemimpin pengawal itu kecuali, “Baik Ki Wiradana.

Perintah itu akan kami lakukan.”

Ki Wiradana pun kemudian meninggalkan barak itu. Pemimpin pengawal itu dengan beberapa orang kawannya menjadi termangu-mangu. Namun ada juga di antara pemimpin pengawal itu yang berkata, “Aku puji sikap tegas Ki Wiradana. Ia harus bersikap demikian agar kewibawaannya terpelihara.”

Pemimpin pengawal yang bersikap lain itu tidak menjawab. Ia adalah pengawal Tanah Perdikan yang harus tunduk kepada perintah, sebagaimana diajarkan oleh para prajurit Jipang kepada mereka.

Ketika Ki Wiradana kembali ke rumahnya, ternyata para pemimpin Tanah Perdikan itu masih menunggunya. Dengan serta merta Warsi telah bertanya kepadanya, “Bagaimana kakang? Apakah kakang sudah mendapat gambaran tentang imbangan kekuatan itu?”

Dengan terperinci Ki Wiradana memberitahukan sebagaimana didengarnya dari para pemimpin pengawal tentang keseimbangan kekuatan yang ada di Tanah Perdikan Sembojan. Karena padukuhan yang memberontak itu lebih kecil dari yang lainnya, maka jumlah pengawalnya pun ternyata lebih sedikit. Juga mereka yang meninggalkan barak dibandingkan dengan mereka yang tetap setia kepada Ki Wiradana.

Warsi mengangguk-angguk. Katanya, “Sebenarnya aku ingin menunda sampai hari berikutnya untuk meyakinkan keseimbangan kekuatan ini. Tetapi dengan kehadiran kakek dan Ki Rangga maka aku sudah mendapat keyakinan itu.”

“Jadi kau setuju bahwa besok kita mulai bergerak?” bertanya Ki Rangga.

“Ya,” jawab Warsi.

“Bagus,” sahut Ki Saudagar. “Aku sudah mengusulkan sejak semula. Tetapi Warsi menganggap sikap itu sebagai kehilangan akal dan tergesa-gesa.”

“Yang aku perlukan sudah aku dapatkan,” berkata Warsi. Lalu katanya kepada Ki Wiradana, “Kakang, siapkan para pengawal. Besok pagi kita bergerak. Kita harus membuat para bekel yang memberontak itu menjadi jera.”

“Hanya sekadar menjadi jera?” bertanya Ki Rangga.

“Kita akan melihat ukuran kesalahan mereka. Jika mereka sekadar terpaksa karena tingkah anak-anak mudanya, maka ia akan mendapat pengampunan. Tetapi jika mereka ikut terlibat langsung, maka mereka akan dihukum mati,” jawab Warsi. “Tidak ada hukuman lain yang lebih pantas bagi seorang pengkhianat.”

Ki Wiradana hanya dapat mengangkat wajahnya sejenak. Namun wajah itu pun kemudian menunduk lagi. Ia memang tidak dapat ikut menentukan apapun lagi di Tanah Perdikan itu, meskipun ia adalah pemangku jabatan Kepala Tanah Perdikan.

“Nah, kau menunggu apa lagi kakang. Siapkan semua pengawal. Waktu kita tinggal sedikit. Tetapi masih ada waktu untuk sekadar beristirahat. Juga bagi para pengawal.” Ki Wiradana tidak dapat menolak. Sekali lagi ia keluar dari ruangan itu dengan kepala tunduk. Kemudian ia berpacu lagi diatas punggung kuda ke barak bersama beberapa orang pengawal. Kepada pemimpin pengawal Ki Wiradana

menjatuhkan perintah, “Sekarang sudah pasti.”

“Jadi besok kita akan bergerak?” bertanya pemimpin pengawal yang sudah hampir tertidur itu.

“Ya. Siapkan semua pengawal. Bukan hanya yang ada dibarak ini. Tetapi semua pengawal dari padukuhan-padukuhan. Kita akan bergerak. Sekali pukul, kita harus sudah menyelesaikan persoalan kita dengan para pemberontak. Sudah disiapkan tiga tiang gantungan untuk tiga orang bekel dan tiga lagi untuk tiga orang pemimpin pengawal,” berkata Ki Wiradana.

Pemimpin pengawal itu menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian ia pun telah membenahi diri bersama dua orang pembantunya.

“Kita akan menjalankan perintah. Kita akan menghubungi para pemimpin pengawal di padukuhan-padukuhan,” berkata pemimpin pengawal itu.

“Baiklah. Aku akan kembali dan bersiap-siap untuk melakukan tindakan atas kebodohan para bekel di padukuhan-padukuhan yang telah memberontak itu,”berkata Ki Wiradana.

Sejenak kemudian maka kuda-kuda pun berderap. Ki Wiradana dan pengawalnya kembali ke rumahnya, dan para pemimpin pengawal itu pergi ke padukuhan-padukuhan untuk memberikan perintah agar semua pengawal dipersiapkan besok pagi.

Ketika ia sampai ke rumahnya, Ki Wiradana itu menjadi berdebar-debar.

Semua orang ternyata telah tertidur. Tetapi dua di antara mereka masih duduk sambil berbincang dengan wajah yang cerah. Warsi dengan Ki Rangga Gupita.

“O,” Warsi berpaling ketika suaminya mendorong pintu, “Bagaimana” Apakah kau sudah menghubungi pemimpin pengawal itu?”

“Aku sudah memerintahkan mereka untuk bersiap-siap,” jawab Ki Wiradana.

”Bagus,” jawab Warsi. “Nah, jika demikian, kita dapat mempergunakan sisa pagi ini untuk beristirahat.” Ki Wiradana tidak menjawab. Sementara itu Warsi berkata kepada Ki Rangga, “Mudah-mudahan semua rencana dapat kita lakukan dengan sempurna, sehingga peristiwa pemberontakan seperti ini tidak akan terulang lagi.

Sekarang silakan Ki Rangga untuk beristirahat.”

Ki Rangga tersenyum. Sambil menepuk bahu Ki Wiradana ia berkata, “Besok aku akan berjuang bagi tegaknya kewibawaanmu.

Ki Wiradana memandang wajah Ki Rangga sekilas. Hampir diluar sadarnya ia berdesis, “Terima kasih.”

“Dan kamu kemudian harus tahu diri. Aku memerlukan anak-anak muda Tanah Perdikan ini untuk menghancurkan Pajang. Sekaligus memberikan pengalaman bagi para pengawalmu. Dengan demikian maka kelak Tanah Perdikan ini akan merupakan Tanah Perdikan yang sangat kuat, karena memiliki pengawal yang berpengalaman dan berilmu tinggi,” berkata Ki Rangga itu selanjutnya.

Betapa panasnya terasa darah didada Ki Wiradana. Ia merasa diperlakukan sebagai kanak-kanak yang baru dapat melangkah satu-satu sambil menghisap ibu jari tangannya. Namun ia tidak dapat menolak perlakuan itu.

Sejenak kemudian, maka Ki Rangga pun telah meninggalkan ruangan itu untuk pergi ke gandok. Sementara Ki Wiradana dan istrinya telah pergi ke biliknya pula.

Dengan suara memerintah Nyi Wiradana berkata, “Kakang harus menyiapkan segala sesuatunya besok menjelang fajar. Sebagai pemangku jabatan Kepala Tanah Perdikan kakang akan memimpin pasukan Tanah Perdikan ini untuk menumpas pemberontak itu.

Ki Wiradana tidak menjawab. Ia pun telah meletakkan tubuhnya diatas pembaringan.

Namun ternyata bahwa angan-angannya telah bergejolak menyelusuri jalan hidupnya yang terasa sangat pahit itu.

Ki Wiradana menarik nafas dalam-dalam ketika sejenak kemudian ternyata Warsi telah tertidur disampingnya, tanpa menengok anaknya yang tidur bersama seorang pembantunya. Untunglah bahwa pembantunya itu demikian sayangnya kepada anak itu, sebagaimana kepada anak sendiri.

Sesaat Ki Wiradana justru membayangkan anak itu. Bahkan anak Iswari yang tentu juga sudah lahir.

Terdengar tarikan nafas yang panjang. Penyesalan yang datang terlambat itu membuat Ki Wiradana bagaikan kehilangan nalarnya. Ia membayangkan bahwa kedua anaknya itu kelak akan saling bermusuhan, sebagaimana ibu mereka. Kesalahannya terletak dipundaknya.

“Adalah wajar sekali jika Iswari berusaha untuk berbuat sesuatu,” berkata Ki Wiradana di dalam hatinya. “Ia sudah disingkirkan. Bahkan sudah dilakukan rencana pembunuhan atas dirinya. Hanya tangan Tuhan sajalah yang telah mencegahnya.”

Sampai menjelang fajar Ki Wiradana sama sekali tidak dapat memejamkan matanya.

Berbagai macam angan-angan bergejolak di dalam kepalanya.

Ketika ayam jantan berkokok didini hari, maka ia pun telah bangkit. Ia tidak mau terlambat. Karena itu, maka ia pun segera keluar dan pergi ke pekiwan, sementara itu ia sempat singgah di gardu dan memberikan perintah-perintah.

TERNYATA bahwa perintahnya masih tetap diindahkan oleh para pengawal. Dalam kesiagaan, maka para petugas didapur telah bangun jauh sebelumnya dan menyiapkan makanan bagi para pengawal yang akan menunaikan tugas yang sangat berat.

Baru sejenak kemudian Warsi pun telah terbangun pula. Ia tersenyum ketika ia melihat Ki Wiradana telah bersiap sepenuhnya. Bahkan pedang pun telah tergantung dipinggangnya. Ternyata para pemimpin Tanah Perdikan itu pun dengan cepat pula mempersiapkan diri. Mereka pun segera makan dan minum minuman panas sebagaimana dilakukan oleh para pengawal. Bahkan para pengawal di padukuhan-padukuhan tentu telah melakukannya lebih dahulu, karena sebelum matahari terbit, mereka harus sudah berkumpul di ara-ara yang luas tidak jauh dari barak. Di ara-ara itu pasukan Tanah Perdikan itu akan bergerak menuju ke padukuhan yang terbesar di antara ketiga padukuhan yang telah menutup dan memisahkan diri dari kesatuan Tanah Perdikan Sembojan. Demikianlah menjelang matahari terbit, pasukan Tanah Perdikan itu sudah berkumpul. Mereka telah memasang semua pertanda kebesaran Tanah Perdikan untuk menunjukkan bahwa mereka adalah penguasa yang mempunyai wewenang untuk mengambil langkah-langkah yang perlu bagi Tanah Perdikan itu.

Namun sebelum mereka berangkat, mereka telah dikejutkan oleh suara isyarat yang aneh. Isyarat yang tidak mereka mengerti maknanya, bersahutan di kejauhan.

Tetapi dengan cepat, Ki Rangga mampu menanggapinya dan berkata, “Itu tentu isyarat yang telah dibuat dan dimengerti oleh para pengawal yang memberontak.

Agaknya mereka telah mendengar rencana kami dari pengkhianat-pengkhianat yang ternyata bertebaran dimana-mana.” “Gila,” geram Warsi. “Tetapi tidak apa.

Kekuatan kami lebih besar dari kekuatan mereka. Para pemimpin Tanah Perdikan ini pun tentu lebih baik dari mereka, sehingga kami akan mampu menghancurkan mereka meskipun mereka akan menyongsong kehadiran kami.” Ki Randukeling dengan nada dalam menyahut, “Kalian masih saja meributkan kemungkinan-kemungkinan yang bakal terjadi. Bukankah sudah pasti bagi kita, bahwa segalanya akan dapat kita selesaikan hari ini?” “Ya kakek. Mungkin hanya karena aku bermaksud terlalu berhati-hati,” jawab Warsi. “Karena itu, marilah. Kita jangan merisaukan lagi hasil langkah kita ini. Kita yakin bahwa kita akan berhasil. Karena itu, maka tanpa ragu-ragu kita akan berangkat sekarang,”berkata Ki Randukeling selanjutnya. Warsi pun mengangguk sambil menjawab, “Baiklah, kakek. Sebentar lagi matahari akan naik ke atas bukit. Kita sudah siap untuk berangkat,” lalu Warsi pun berpaling kepada Ki Wiradana. “Kita sudah siap?” Ki Wiradana mengangguk. Ia pun kemudian memberikan isyarat kepada pemimpin pasukan yang selanjutnya meneriakkan aba-aba kepada pasukan itu untuk berangkat. Ternyata bahwa pasukan Tanah Perdikan Sembojan itu pun cukup menggetarkan jantung. Mereka membawa tunggul dan umbul-umbul. Pasukan itu bagaikan pasukan kerajaan Agung yang siap menumpas perlawanan dari sebuah lingkungan yang sedang memberontak.

Tetapi demikian pasukan itu mulai bergerak, telah terdengar isyarat dikejauhan yang sahut menyahut. Padukuhan-padukuhan yang memberontak itu telah membunyikan kentongan dengan irama yang tidak dikenal sebelumnya. “Mereka telah bersiap menyambut kedatangan kita,” berkata Ki Rangga. “Mereka terdiri dari orang-orang gila. Apakah mereka tidak mempunyai otak, sehingga mereka berani melakukan perlawanan seperti ini? Perlawanan terbuka?” geram Warsi. “Kita harus memikirkannya,” berkata Ki Randukeling. “Meskipun menurut penilaianmu berdasarkan keterangan para pemimpin pengawal, bahwa kekuatan kita lebih besar dari kekuatan yang ada di padukuhan-padukuhan itu, namun kita harus tetap berhati-hati.” “Ya kakek,” jawab Warsi. “Kita harus selalu berhati-hati.”

KI Randukeling tidak menjawab lagi. Sementara itu pasukan Tanah Perdikan Sembojan yang terdiri dari para pengawal dari padukuhan-padukuhan serta para pengawal yang sedang ditempa di dalam barak itu bergerak dengan cepat menuju ke padukuhan yang terbesar dari ketiga padukuhan yang menyatakan diri terpisah dari

Tanah Perdikan Sembojan dengan membuat batas-batas.

Beberapa saat kemudian, orang-orang di dalam pasukan itu perhatiannya telah tertarik kepada kepulan debu di jalan bulak sebelah. Dua ekor kuda telah berpacu menuju ke arah yang sama dijalan yang dibatasi oleh kotak-kotak persawahan.

“Mereka tentu pengawas dari para pemberontak,” geram Ki Rangga.

“Ya,” jawab Ki Randukeling. “Tetapi tidak apa. Biar mereka memberikan laporan, bahwa telah datang pasukan yang kuat untuk menumpas mereka.”

Ki Rangga tersenyum. Sambil mengangguk-angguk ia berkata, “Sebuah cermin dari batas kematian mereka. Memang ada baiknya.”

Demikianlah, maka pasukan itu pun bergerak terus. Mereka melewati bulak-bulak yang memisahkan desa dan desa, padukuhan dan padukuhan. Dengan jantung yang berdebaran, pasukan itu menjadi semakin dekat dengan sasaran.

Ki Wiradana sendiri rasa-rasanya bagaikan terpanggang diatas api. Ia sama sekali tidak sependapat dengan langkah yang diambil itu. Tetapi ia tidak mempunyai kekuatan untuk menolaknya. Bahkan ia sendiri telah hanyut di dalamnya dan ikut pula di dalam pasukan yang akan menghancurkan saudara-saudara mereka sendiri dengan sikap yang keras. Bahkan dengan bekal niat menghukum mati beberapa orang penghuni padukuhan itu.

Dalam pada itu, di padukuhan-padukuhan yang sudah bertekad untuk menuntut satu perubahan di Tanah Perdikan Sembojan telah bersiap pula. Dari beberapa keterangan yang terkumpul, serta arah perjalanan pasukan itu yang dapat dilihat oleh para pengawas, maka iring-iringan pasukan itu menuju ke padukuhan terbesar dari ketiga padukuhan yang menyatakan diri terlepas dari kuasa orang-orang yang sebenarnya tidak berhak memimpin Tanah Perdikan itu.

Ketiga orang bekel dengan para pemimpin kelompok pengawal di padukuhan-padukuhan itu telah menyusun satu pasukan yang diperkuat oleh anak-anak muda yang semula berada didalam barak. Bahkan Ki Bekel telah memanggil laki-laki yang dengan suka rela bersedia untuk ikut mempertahankan diri jika serangan yang sudah diperhitungkan itu akan datang.

Ternyata beberapa orang yang pernah menjadi pengawal Tanah Perdikan itu, bahkan ada beberapa orang bekas prajurit Pajang yang sudah kembali ke kampung halamannya karena umur mereka, telah bersedia ikut dalam pasukan yang tersusun dengan cepat itu. Meskipun para bekas prajurit itu sudah terhitung tua, tetapi mereka memiliki bekal kemampuan seorang prajurit. Didorong oleh keyakinan yang mantap, maka rasa-rasanya mereka masih juga semuda pada saat-saat mereka berada didalam lingkungan prajurit Pajang.

Pasukan yang demikian itulah yang tidak diperhitungkan oleh Warsi dan para pemimpin Tanah Perdikan Sembojan. Bahkan orang-orang yang belum pernah meraba senjata pun telah menyatakan diri untuk ikut serta mempertahankan kampung halaman mereka dari kuasa orang-orang yang sebenarnya tidak berhak.

Dengan demikian maka pasukan yang tersusun itu nampaknya menjadi sebuah pasukan yang sangat besar. Namun para pemimpin pengawal padukuhan itu telah berpesan agar mereka yang belum memiliki dasar-dasar olah kanuragan sama sekali, sebaiknya tidak berada digaris-garis terdepan.

“Nampaknya pertempuran benar-benar akan terjadi,” berkata Ki Bekel dari padukuhan terbesar itu.

Seorang Bekel dari padukuhan yang lain pun mengangguk-angguk. Katanya, “Kita pun sudah siap. Apapun yang terjadi, kita berdiri diatas satu keyakinan.”

“Pasukan yang datang itu ternyata membawa segala macam tanda kebesaran Tanah Perdikan Sembojan,” berkata Ki Bekel yang seorang lagi.

“Kita akan mengimbanginya,” terdengar suara disamping mereka.

Ketika para Bekel itu berpaling, dilihatnya Kiai Badra berdiri disamping Iswari

yang telah bersiap menghadapi segala kemungkinan. Mereka sudah bersiap dalam

pakaian tempur. Sementara itu di tangan Iswari dipegang sebatang tunggul pertanda wewenang dari Pajang.

“Tunggul ini mempunyai nilai tersendiri,” berkata Kiai Badra.

Para Bekel itu menarik nafas dalam-dalam. Mereka sudah mendapat penjelasan tentang tunggul itu. Dengan demikian maka mereka menjadi semakin mantap. Apalagi ketika mereka melihat bahwa Iswari dan orang-orang yang terbiasa mengiringinya jika ia menari, telah bersiap pula di antara mereka.

“Kita akan memasang tunggul itu,” berkata Kiai Badra. “Aku memerlukan orang-orang yang mengenakan pakaian prajurit Pajang.

“Beberapa orang bekas prajurit Pajang ada di antara kita,” berkata salah seorang Bekel. “Mereka mengenakan pakaian keprajuritan mereka ketika mereka masih muda.”

“Tolong Ki Bekel. Panggil mereka,” sahut Kiai Badra.

Ki Bekel itu pun kemudian telah memerintahkan untuk memanggil semua orang bekas prajurit Pajang yang mengenakan pakaian keprajuritan.

Ketika mereka telah berkumpul, maka Kiai Badra pun berkata, “Kalian adalah prajurit-prajurit Pajang. Meskipun umur kalian telah menjadi semakin tua, tetapi sifat-sifat kesatria yang melekat didiri kalian ternyata masih kalian miliki terus. Karena itu, maka kalian akan mendapat kehormatan untuk mengawal Tunggul ini. Tunggul ini adalah pertanda kuasa Pajang yang dilimpahkan kepada kita untuk

bertindak atas orang-orang yang telah menyalahgunakan kekuasaannya di Tanah Perdikan ini. Tunggul ini adalah pertanda bahwa kita sedang mengemban tugas yang dibebankan oleh Pajang, untuk mengembalikan kedudukan Tanah Perdikan ini sebagaimana seharusnya.”

Para bekas prajurit yang mengenakan pakaian keprajuritan itu mengangguk-angguk. Salah seorang di antara mereka yang rambutnya telah bercampur uban berkata, “Kami akan bertindak sebagaimana seorang prajurit Pajang. Jiwa itu akan tetap melekat di dalam hati kami.”

“Terima kasih. Tunggul ini akan dibawa oleh Iswari sendiri sebagai seorang yang mendapat wewenang,” berkata Kiai Badra.

Namun wajah Iswari nampaknya tidak secerah biasanya. Bahkan ia pun kemudian mendekati kakeknya sambil berdesis, “Kenapa aku harus membawa tunggul ini kakek.

Aku ingin turun langsung di medan. Setelah untuk waktu yang cukup lama aku menempa diri di padepokan Tlaga Kembang, maka rasa-rasanya aku sudah mempunyai bekal yang cukup. Tetapi nampaknya kakek masih belum mengijinkan aku menghadapi perempuan cantik itu tanpa diganggu oleh tunggul ini.”

Kiai Badra tersenyum. Katanya, “Kau harus mengendapkan perasaanmu lebih dahulu Iswari. Jika pada benturan pertama kau langsung berhadapan dengan Nyi Wiradana,

maka semua niat perjuanganmu bagi tegaknya kembali wibawa Tanah Perdikan ini telah hilang. Yang bergejolak didalam dadamu adalah dendam seorang perempuan.”

“Tidak kakek,” jawab Iswari. “Aku akan menempatkan diriku sebaik-baiknya.”

“Iswari,” berkata Kiai Badra. “Cobalah kali ini kau mengikuti petunjuk kakek.

Bukankah sejak kecil kau adalah seorang penurut?”

Iswari menarik nafas dalam-dalam. Betapa perasaan kecewa mencengkam jantungnya, namun ternyata bahwa ia telah menurut perintah kakeknya. Ialah yang kemudian membawa tunggul, dikawal oleh para prajurit Pajang. Namun Kiai Badra tidak melepaskan Iswari sekadar dikawal oleh bekas prajurit yang sudah menjadi semakin tua itu. Tetapi para pengiringnya jika ia menari ada disekitarnya.

Sementara itu, para pengawal pun telah menebar. Yang telah melarikan diri dari baraknya telah berada didalam barisan. Sementara orang-orang yang merasa serba sedikit pernah menggenggam senjata ikut pula bersama mereka. Sedangkan dibelakang mereka adalah hampir semua laki-laki yang masih kuat yang merasa ikut bertanggung jawab atas padukuhan mereka.

Dengan tertib pasukan itu telah menunggu dibalik dinding banjar panjang dipadukuhan terbesar. Pada saat-saat terakhir para pemimpin pengawal masih memberikan pesan-pesan terakhir kepada kelompok masing-masing.

“Yang akan berdiri dipaling depan adalah Iswari dengan tunggul yang diterimanya dari Pajang sebagai pertanda bahwa yang kita lakukan adalah atas nama kuasa Pajang yang dilimpahkan bagi kita untuk mengembalikan kedudukan Tanah Perdikan ini. Jadi sama sekali tidak benar bahwa kita adalah pemberontak. Tetapi kita adalah kekuatan yang mendapat kuasa justru untuk menumpas pemberontakan yang dilakukan oleh pemimpin Tanah Perdikan ini,” berkata pimpinan pengawal itu kepada kelompok masing-masing.

Dalam pada itu, iring-iringan pasukan Tanah Perdikan Sembojan pun menjadi semakin dekat. Mereka telah melampaui batas padukuhan dan memasuki daerah sasaran.

Ketika mereka sampai pada jalan yang ditutup patok-patok yang kuat, maka Ki Wiradana pun memerintahkan untuk merusak patok-patok itu, sehingga jalan pun telah terbuka pula.

Beberapa saat kemudian banjar panjang padukuhan yang menjadi pusat pertahanan pasukan yang dianggap memberontak telah ada dihadapan mereka, sehingga karena itu, maka Ki Wiradana pun telah memberikan isyarat agar pasukannya berhenti.

“Kita akan memasang gelar,” berkata Ki Wiradana kepada Ki Rangga Gupita.

“Bagus,” jawab Ki Rangga. “Ternyata kau benar-benar seorang Senapati yang baik.

Tetapi sebaiknya kita maju lebih dekat lagi. Kita tidak usah cemas, bahwa lawan akan mendahului menyerang kita. Agaknya mereka akan bertahan dibalik dinding padukuhan.”

Ki Wiradana mengangguk-angguk. Dihadapan mereka memang belum nampak kekuatan segelar sepapan. Yang mereka lihat hanyalah beberapa orang yang mengamati keadaan. Sekali-kali mereka muncul diatas dinding dan didepan regol. Namun mereka pun segera hilang kembali.

Ki Wiradana pun telah memerintahkan pasukannya untuk maju lebih dekat lagi,

sehingga jarak mereka dengan banjar panjang itu menjadi semakin dekat.

“Nah,” berkata Ki Rangga. “Aku kira jarak sudah cukup dekat. Kita akan memasang gelar, dan kemudian memerintahkan pasukan ini maju memasuki banjar panjang itu.

Kita akan menghancurkan mereka sampai lumat. Tetapi sekali lagi harus diingat, mereka yang menyerah dan bersedia pergi ke Pajang akan diampuni. Mereka akan diperlakukan seperti kawan-kawan mereka yang tidak memberontak.”

Ki Wiradana mengangguk-angguk pula. Katanya, “Baiklah. Aku akan mengumpulkan para pemimpin kelompok sebelum kita mulai.”

“Bagus,” Ki Rangga tertawa. “Kau memang pemangku jabatan Kepala Tanah Perdikan yang sangat baik. Lebih baik dari yang kuduga semula.”

Ki Wiradana tidak menjawab. Tetapi diperintahkannya untuk memanggil para pemimpin kelompok.

Kepada para pemimpin kelompok dijelaskan apa yang harus mereka lakukan. Mereka pun telah mendapat pesan sebagaimana dikatakan oleh Ki Rangga tentang mereka yang menyerah dan bersedia pergi ke Pajang.

Para pemimpin kelompok itu mendengarkan pesan Ki Wiradana dengan sungguh-sungguh. Namun beberapa orang di antara mereka justru menjadi gelisah.

Para pemimpin Tanah Perdikan itu menghendaki agar mereka berlaku sebagai serigala lapar atas saudara-saudara mereka sendiri. Membunuh, membakar dengan maksud agar yang terjadi itu dapat menakut-nakuti seluruh rakyat Tanah Perdikan.

Dengan demikian maka yang terjadi itu untuk seterusnya tidak akan terulang kembali.

Bahkan jika ketiga orang Bekel dari tiga padukuhan yang dianggap memberontak itu beserta para pemimpin pengawalnya tertangkap, maka mereka akan dihukum gantung jika ternyata mereka terlibat langsung dalam pemberontakan itu.

Tetapi para pemimpin pengawal itu tidak bertanya lebih jauh. Ketika mereka memandang wajah orang-orang yang ada disekeliling pemangku jabatan Kepala Tanah Perdikan mereka rasa-rasanya di wajah itu memang sudah terbayang nafas maut.

Dengan demikian, maka Ki Wiradana pun segera memerintahkan mereka kembali ke kelompok masing-masing. Sebentar lagi, Ki Wiradana akan memberikan isyarat untuk membuka gelar dan siap untuk menyerang, memasuki banjar panjang dihadapan mereka.

“Jika kekuatan induk lawan tidak ada di banjar itu, maka banjar itulah yang akan kita lumatkan menjadi abu,” perintah Ki Wiradana.

“Bagus,” desis Ki Rangga Gupita, “Satu perintah yang tegas. Akhirnya aku harus memujimu Ki Wiradana.”

Ki Wiradana tidak menjawab. Namun ketika ia memandang ke arah banjar panjang dihadapannya, rasa-rasanya kepalanya menjadi pening. Apakah banjar panjang yang

merupakan bagian dari Tanah Perdikan Sembojan itu benar-benar harus dihancurkan?

Orang-orang yang tinggal di dalamnya harus dikorbankan tanpa ampun?

Justru pada saat Ki Wiradana dicengkam oleh bayangan-bayangan yang mengerikan itu, ia terkejut. Ki Rangga telah menggamitnya dan berdesis, “Sudah waktunya.

Perintah untuk menebar dalam gelar sudah dapat dilakukan.”

“O,” Ki Wiradana tergagap. Namun sejenak kemudian maka ia pun telah meneriakkan aba-aba.

Para pemimpin kelompok telah mengulangi aba-aba itu. Dan sejenak kemudian, maka pasukan Tanah Perdikan Sembojan itu telah menebar.

Ternyata para pengawal Tanah Perdikan Sembojan itu telah memiliki pengetahuan yang cukup untuk turun ke medan. Dalam waktu dekat, maka pasukan mereka telah tersusun dalam gelar yang menebar. Gelar Garuda Nglayang.

Kekuatan utama pasukan itu berada di induk pasukan yang merupakan paruh dari gelar. Kemudian pada sebelah menyebelah yang dipimpin oleh Senapati pengapit, yang merupakan kuku-kuku gelar yang tajam, yang akan dapat meremas dan menghancurkan lawan. Sedangkan kekuatan yang lain terletak beberapa langkah dari

ujung gelar. Kekuatan yang dapat menghancurkan sayap lawan dan kemudian menggulungnya sebelum keseluruhan gelar lawan dikoyak-koyak oleh kekuatan kuku dan paruh yang kuat dan tajam di induk pasukan.

Sementara itu, para pengawal yang berada di belakang dinding banjar panjang itu pun telah bersiap pula. Ketika mereka melihat pasukan Tanah Perdi- kan sudah memasang gelar maka Kiai Badra pun berkata, “Sudah waktunya kita melangkah.”

“Apa yang kita lakukan lebih dahulu?” bertanya pemimpin pasukan pengawal yang mendapat kepercayaan dari para pemimpin yang lain untuk memimpin seluruh kekuatan mereka.

Kiai Badra memandang Iswari sesaat. Kemudian jawabnya, “Tunggul itu. Buka pintu gerbang. Tunggul itu akan keluar dikawal oleh para prajurit Pajang. Kemudian kita akan memberikan aba-aba agar anak-anak kita keluar dari padukuhan dengan kesiagaan sepenuhnya.

Pemimpin pengawal dari pasukan yang disebut telah memberontak itu pun kemudian memerintahkan untuk membuka gerbang padukuhan. Sejenak kemudian, Iswari pun telah keluar dari pintu gerbang dengan tunggul ditangannya yang dilekati sebuah kelebet pertanda kuasa Pajang, diikuti oleh mereka yang pernah menjadi prajurit Pajang pada masa mudanya. Namun mereka telah mengenakan pakaian kebanggaan mereka, selagi mereka masih menjadi prajurit. Kemudian beberapa orang keluar dari dua padepokan yang akan menjaga Iswari dan tunggul itu dari kemungkinan yang kurang baik.

Sementara itu, terdengar aba-aba yang lain, sehingga sejenak kemudian, maka para pengawal pun telah berloncatan keluar dari balik dinding banjar panjang mereka.

Ternyata jumlahnya jauh lebih banyak dari yang diperkirakan, karena dibelakang para pengawal, hampir semua laki-laki telah ikut pula di dalam barisan itu.

Kehadiran pasukan yang besar itu memang mengejutkan. Tetapi yang lebih mengejutkan lagi adalah, hadirnya sebuah tunggul yang tentu bukan tunggul kebanyakan. Menilik ujud, bentuk dan pancaran wibawanya, maka para pemimpin Tanah Perdikan Sembojan, terutama Ki Rangga Gupita, segera mengenalinya, bahwa tunggul itu tentu ada hubungannya dengan Pajang. Apalagi Ki Rangga juga mengenali pakaian orang-orang yang mengawal tunggul itu.

Dalam pada itu, selagi mereka sedang dicengkam oleh kebimbangan, tiba-tiba saja tiga batang lembing telah meluncur dan jatuh beberapa langkah dihadapan para pemimpin Tanah Perdikan itu.

Dengan serta merta maka para pemimpin itu pun menghentikan langkah mereka.

Bahkan mereka pun telah memberikan isyarat kepada pasukannya dalam keseluruhan untuk berhenti sejenak.

Yang terdengar adalah aba-aba yang diteriakkan oleh Ki Wiradana dan disambung oleh para pemimpin kelompok, sehingga dengan demikian maka pasukan Tanah Perdikan itu pun telah berhenti sepelempar lembing dari dinding banjar panjang yang menjadi sasaran.

“Gila,” geram Ki Rangga. “Permainan apa saja yang sebenarnya dilakukan oleh orang-orang itu?”

Warsi menggeram. Ketika ia melihat seorang perempuan dengan tunggul ditangannya, bahkan yang bagaikan memancarkan cahaya yang cerah itu, jantungnya bagaikan terbakar.

“Aku ingin meremas wajahnya yang sangat cantik itu,” katanya.

Dalam pada itu, maka terdengar seseorang di antara orang-orang yang disebut memberontak itu berkata, “Selamat datang dipadukuhan kami para pemimpin dan pemangku jabatan Kepala Tanah Perdikan Sembojan.”

Orang-orang Sembojan itu termangu-mangu. Namun justru para pemimpinnya mengumpat mendengar kata-kata lantang itu. Apalagi ketika mereka melihat Ki Bekel dari padukuhan yang menjadi sasaran serangan itulah yang telah menyambut mereka dengan sebuah sesorah pendek itu.

Bahkan Ki Bekel itu melanjutkan, “Kami memang sudah mengira bahwa kalian akan datang dengan pasukan. Karena itu maka kami pun berusaha untuk tidak mengecewakan kalian dalam penyambutan ini. Namun seperti yang kalian lihat, kalian ternyata berhadapan dengan pengemban kuasa dari para pemimpin di Pajang.

Dengan tunggul pertanda kuasa Pajang itu, maka penyambutan kami akan menjadi lebih bersifat resmi.”

“Diam,” Ki Ranggalah yang tidak dapat menahan sendiri sehingga berteriak nyaring. “Kau dapat saja membawa tunggul apapun yang kau sebut sebagai pertanda bahwa kalian mengemban tugas dari Pajang. Tetapi seandainya tunggul itu benar kalian terima dari Pajang, maka adalah kebetulan sekali bahwa kalian memang harus ditumpas. Tanah Perdikan ini adalah bagian dari Jipang yang kini memang sedang bermusuhan dengan Pajang.”

Tetapi Ki Bekel itu menjawab tidak kalah lantangnya, “Siapakah yang meneriakkan kata-kata sumbang itu? Darimana kau dapat menyebut bahwa Tanah Perdikan ini merupakan bagian dari Jipang? He, dengar orang-orang Tanah Perdikan Sembojan, apakah kalian tidak pernah mengerti, kepada siapa kalian selama ini berlindung?

Pajang atau JIpang? Siapakah yang telah menempatkan dan kemudian mewisuda para pemimpin, khusus Kepala Tanah Perdikan ini sejak beberapa keturunan, sehingga sampai pada saat wisuda terakhir, yang menetapkan Ki Gede Sembojan sebagai Kepala Tanah Perdikan ini, dan yang kemudian telah menyiapkan untuk mewisuda Ki Wiradana untuk menjadi Kepala Tanah Perdikan Sembojan menggantikan ayahnya yang dibunuh oleh orang-orang licik yang ingin menelan Tanah Perdikan ini?”

“Tutup mulutmu orang gila,” teriak Ki Rangga. “Bersiaplah, sebentar lagi pasukan kami siap untuk melumatkan padukuhanmu.”

“Baik. Kami telah bersiap. Tetapi dengar pertanyaanku, apakah kalian menyadari, bahwa yang membunuh Ki Gede Sembojan adalah gabungan kekuatan dari keluarga Kalamerta yang telah dibunuh oleh Ki Gede dengan kekuatan sandi Jipang di Tanah Perdikan ini. Kemudian menjerat kelemahan hati Ki Wiradana dengan penari jalanan yang kemudian justru berkuasa. He, dimanakan bersembunyi kekuatan Kalamerta itu?” teriak Ki Bekel lebih keras lagi. Sementara itu, kedua Bekel yang lain telah berdiri sebelah menyebelah didepan Tunggul yang diterima dari Pajang itu.

Ki Rangga pun menyahut, “Ya. Kita harus cepat bergerak.”

“Cepat kakang,” berkata Warsi. “Berikan aba-aba itu.”

Ki Wiradana segera beringsut. Namun dalam pada itu, terdengar Ki Bekel itu pun berkata, “Nah, bukankah kalian sudah siap untuk bergerak. Bagus. Siapa yang ingin melawan kuasa Pajang yang dilimpahkan kepada kami marilah. Dengan demikian maka kalian telah memberontak dan tidak lagi tunduk kepada Pajang. Pada saatnya seorang pemberontak akan mendapat hukuman sepadan dengan kesalahan. Dan dengarlah, he para pengawal Tanah Perdikan Sembojan. Hukuman bagi para pemberontak adalah hukuman mati.”

“Cukup-cukup,” teriak Ki Rangga. “Satu pikiran gila. Cepat, Ki Wiradana. Berikan aba-aba itu.”

Ki Wiradana pun kemudian telah memberikan aba-aba sehingga para pemimpin kelompok pun telah bersiap dengan pasukan masing-masing.

Namun dalam pada itu, para pengawal masih mendengar Ki Bekel berkata, “Nah,

sebelum terlambat. Siapakah yang ingin kembali ke jalan yang benar? Tidak terpengaruh oleh orang-orang yang sebenarnya tidak berhak memimpin Tanah Perdikan ini? Nyi Wiradana itu sama sekali bukan orang Tanah Perdikan ini. Ki Saudagar adalah seorang yang hanya tahu mencari uang dan keuntungan bagi diri sendiri. Sedangkan Ki Randukeling adalah bayangan dari kekuatan Kalamerta di Tanah Perdikan ini. Dan ia adalah kakek Nyi Wiradana yang bernama Wrasi, penari jalanan yang garang itu. Kemudian satu pertanyaan yang harus kalian jawab, siapakah yang sebenarnya telah membunuh Ki Gede Sembojan?”

Pertanyaan itu telah menggetarkan medan dan seakan-akan telah mengetuk setiap jantung. Meskipun Ki Wiradana mengulangi meneriakkan aba-aba agar pasukannya bergerak, namun suara Ki Bekel itu seakan-akan telah mengumandang dan terdengar berulang-ulang tanpa henti-hentinya.

Suaranya bergulung-gulung seperti mendung dilangit berputaran dan berdengung disetiap telinga.

“Gila,” geram Ki Randukeling. “Kekuatan apakah yang telah membuat suaranya bagaikan gemuruhnya guntur dilangit.”

Ki Rangga pun termangu-mangu. Ternyata lontaran suara itu bukan saja lontaran suara wajar betapapun kerasnya. Tetapi tentu ada kekuatan yang mendukung lontaran suara itu.

Sebenarnyalah tanpa diketahui oleh para pemimpin Tanah Perdikan Sembojan, dibelakang Ki Bekel itu berdiri Kiai Badra yang dengan kedua telapak tangannya telah menekan punggung Ki Bekel. Dengan demikian, maka seolah-olah telah tersalur kekuatan yang luar biasa yang mendorong suara Ki Bekel sehingga suara itu telah memenuhi bulak yang luas dengan bergema di dinding padukuhan-padukuhan.

Namun bagi orang-orang Sembojan suara itu bagaikan suara dari langit yang telah menghentak-hentak di dalam dada mereka.

Untuk beberapa saat para pengawal Tanah Perdikan Sembojan itu justru tidak

mendengar aba-aba yang diteriakkan semakin keras oleh Ki Wiradana. Bahkan para pemimpin kelompok yang harus mengulangi perintah itu pun menjadi termangu-mangu.

Keadaan para pengawal itu telah membuat Warsi menjadi semakin marah. Dengan suara lantang ia berkata kepada Ki Wiradana, “Kakang. Perintahkan sekali lagi.

Cepat. Kita jangan memberi terlalu banyak kesempatan kepada orang-orang gila itu.”

Ki Wiradana tidak menjawab. Ia pun telah berteriak semakin keras memerintahkan agar para pengawal dengan cepat bergerak maju menuju ke sasaran.

Namun ternyata sesuatu telah terjadi. Tiba-tiba saja seorang pemimpin kelompok dari para pengawal yang justru tinggal di barak untuk ditempa menjadi pengawal yang memiliki kemampuan seimbang dengan para prajurit itu seakan-akan telah mendengar satu berita yang telah menggerakkan jantungnya untuk mencari jawab, siapakah yang telah membunuh Ki Gede Sembojan? Dan apakah hal itu ada hubungannya dengan orang-orang yang kemudian berkuasa disekitar Ki Wiradana?

Justru karena pertanyaan-pertanyaan itulah, maka ia pun menjadi ragu-ragu.

Bahkan kemudian tiba-tiba saja pemimpin kelompok itu bertanya kepada para pengawal di dalam kelompoknya, “He, apakah kita akan dapat bertempur melawan saudara-saudara kita sendiri?”

Sebenarnyalah pertanyaan seperti itu telah menghinggapi perasaan para pengawal, sehingga karena itu, maka salah seorang di antara para pengawal itu menjawab,

“Apakah tidak ada jalan lain?”

“Ya,” desis yang lain. “Kita menjadi ragu-ragu. Apakah benar mereka bersalah?

Ataukah kita yang selama ini menjadi dungu?”

Pemimpin kelompok yang berjalan dipaling depan itu kemudian berkata, “Kita tidak akan bertempur bersungguh-sungguh. Kita akan berterus terang kepada saudara-saudara kita nanti jika pasukan ini bertemu. Kita tidak berniat untuk saling membunuh.”

Ternyata para pengawal di dalam kelompok itu setuju, sehingga jika pasukannya berbenturan dengan pasukan dari padukuhan dihadapan mereka, maka para pengawal itu tidak akan bertempur bersungguh-sungguh.

Sebenarnyalah perasaan yang demikian itu ada di dalam hati para pengawal yang lain. Namun mereka tidak berani mengatakannya, karena mereka tidak tahu perasaan apakah yang tersimpan dihati kawan-kawannya sebelah-menyebelah.

Dalam pada itu, maka Ki Bekel dari padukuhan yang terbesar itu pun kemudian bertanya kepada Kiai Badra, “Apakah kita juga harus bergerak?”

“Ya, sudah waktunya kita menyongsong pasukan mereka. Mudah-mudahan para pengawal kita dapat memenuhi pesan Ki Bekel, sehingga pertempuran yang kemudian terjadi bukannya pembantaian keluarga sendiri,” berkata Kiai Badra.

“Mudah-mudahan Kiai. Anak-anak akan mencoba meyakinkan para pengawal Tanah Perdikan yang akan menjadi lawan mereka, bahwa sebaiknya mereka menempuh jalan lain daripada saling terbunuh,” berkata Ki Bekel.

Dengan demikian maka sejenak kemudian kedua pasukan itu pun menjadi semakin dekat. Namun rasa-rasanya pada kedua belah pihak tidak nampak api permusuhan yang menyala yang mendorong kedua pasukan itu untuk dengan penuh geram saling menyongsong.

Yang tidak tertahankan lagi adalah justru Warsi. Rasa-rasanya ia ingin meloncat menerkam Iswari yang membawa pertanda limpahan kuasa Pajang.

Tetapi Warsi menjadi kecewa. Nampaknya Iswari tidak akan menyongsongnya dan melawannya. Sebagai seorang yang membawa tunggul maka jika tidak dalam keadaan yang terpaksa, ia tidak akan melibatkan diri ke dalam pertempuran. Kecuali jika karena pelindungnya telah kehilangan kemampuan, maka pembawa tunggul itu akan mempergunakannya sebagai senjata.

Karena itulah, maka justru para pemimpin Tanah Perdikan Sembojanlah yang nampak dengan gelora didalam dadanya, bergegas melangkah bagaikan menerkam lawan.

Sementara para pengawal semakin dibayangi oleh keragu-raguan ketika kedua pasukan itu menjadi semakin dekat. Pasukan Tanah Perdikan itu melihat, wajah-wajah dari para pengawal yang disebut pemberontak itu sama sekali tidak menunjukkan nyala dendam dan kemarahan. Senjata di tangan mereka yang meskipun sudah merunduk, tetapi sama sekali tidak bergetar.

Sebenarnyalah, bahwa Warsi memang tidak mendapat kesempatan untuk langsung melawan Iswari. Seorang yang dikenal sebagai penari yang sangat cantik. yang telah mengguncangkan kedudukannya sebagai istri Ki Wiradana dan bahkan kemudian telah mengguncangkan kekuasaan di Tanah Perdikan itu.

Ketika Warsi menjadi semakin dekat, maka yang menyongsongnya memang seorang perempuan. Tetapi perempuan itu bukan Iswari. Bukan pula perempuan yang menyebut dirinya pemomong Iswari, karena yang menyongsong adalah Nyai Soka sendiri.

“Serahkan perempuan itu kepadaku,” berkata Gandar. “Jangan Gandar,” berkata Nyai Soka. “Jika kau tidak dapat mengendalikan kemarahanmu, maka kau mungkin sekali tidak akan membunuhnya. Kita masih memerlukannya sebagaimana orang-orang lain disekitar Ki Wiradana. Kita harus tahu, sampai dimana peran keluarga Kalamerta dalam hal ini, agar kelak tidak akan menjadi semacam api di dalam sekam. Dendam keluarga Kalamerta yang tidak kita kenal akan sangat berbahaya.”

“Jadi buat apa perempuan itu dibiarkan hidup?” bertanya Gandar.

“Kita akan memancing kekuatan Kalamerta sampai tuntas,” jawab Nyai Soka. “Aku tidak yakin, bahwa mereka hanya terdiri dari orang-orang yang sekarang ada. Ki Randukeling tentu mempunyai landasan kekuatan yang jika diperlukan dapat dikerahkan. Sementara itu kita juga harus melihat sampai dimana peran para petugas sandi Jipang di Tanah Perdikan ini. Itu harus kita pancing seluruhnya agar keluar. Dengan demikian mereka tidak akan menganggu pada saat-saat justru kita tidak berbuat apa-apa lagi. yang pada suatu saat mungkin akan mengalami kesulitan adalah Iswari atau justru anaknya.”

Gandar mengangguk-angguk. Ia dapat mengerti keterangan Nyai Soka sehingga dengan demikian, maka ia pun telah berusaha untuk menunggu lawan yang lain.

Sementara itu, para pengawal dari kedua belah pihak pun menjadi semakin dekat.

Para bekas prajurit Pajang yang mengenakan pakaian keprajuritan telah berada di depan Iswari yang membawa tunggul. Namun disekitar mereka terdapat keluarga Iswari sendiri yang siap untuk melindunginya serta menjaga tunggul dari Pajang itu.

Sejenak kemudian, maka kedua pasukan itu benar-benar telah berbenturan. Adalah kebetulan bahwa Gandar telah bertemu dengan Ki Rangga Gupita, sementara Warsi benar-benar harus berhadapan dengan seorang perempuan tua yang bernama Nyai Soka. Sementara itu Kiai Sokalah yang telah berusaha untuk menghadapi Ki Randukeling, karena Kiai Soka menyadari, bahwa pertapa itu memiliki kemampuan yang tinggi, sementara ia tidak ingin melepaskannya untuk melawan Kiai Badra, karena dalam kedudukannya, maka Kiai Badra akan menjadi pendamping Ki Bekel yang seolah-olah telah mengatur seluruh pasukan.

Warsi yang tiba-tiba saja telah berada di hadapan seorang perempuan tua telah berkata lantang, “Kenapa aku harus berhadapan dengan perempuan tua? Apakah perempuan cantik itu tidak berani turun ke medan.”

Telinga Iswari bagaikan tersentuh api. Tetapi Nyai Sokalah yang menjawab, “Aku adalah seorang pemomongnya. Kau baru boleh menyentuh kainnya jika kau sudah dapat mengalahkan aku. Ki Wiradana, pemangku jabatan Kepala Tanah Perdikan itu tidak mampu mengalahkan pemomong Iswari yang seorang lagi. Nah, sekarang kau berhadapan dengan pemomongnya yang lain.”

“Persetan,” geram Warsi sambil menyerang. Ia masih mempergunakan senjata yang wajar dipergunakan dipeperangan. Pedang.

Namun Nyai Soka telah memperhitungkannya. Karena itu, maka ia pun dengan cepat pula menghindar.

Dalam pada itu, Ki Wiradana yang berada di induk pasukan itu pula menjadi termangu-mangu melihat Iswari yang cantik, yang membawa tunggul pertanda limpahan kuasa dari Pajang. Ia mulai bertanya kepada diri sendiri. Apakah yang sebenarnya telah terjadi pada dirinya pada saat ini. Apakah yang telah mendorongnya untuk berbuat gila, mengupah Serigala Betina untuk membunuh Iswari yang sedang mengandung.

Diluar sadarnya, Ki Wiradana yang masih belum terlibat ke dalam pertempuran itu sempat berpaling mengamati Warsi yang bertempur melawan seorang perempuan tua.

Dengan jantung yang berdegupan semakin keras, Ki Wiradana telah bertanya pula kepada diri sendiri, “Kenapa aku memilih Warsi. Apakah kelebihan Warsi dari Iswari?”

Dalam pertempuran yang menjadi semakin seru itu, maka seorang perempuan lain yang bertubuh tegap telah menghampirinya. Dengan nada lembut perempuan itu

berkata, “Selamat bertemu kembali Ki Wiradana.”

Ki Wiradana mengerutkan keningnya. Perempuan itu adalah Serigala Betina. Dengan demikian maka jantungnya terasa berdegupan semakin keras.

Namun perempuan itu berkata, “Aku tidak akan berbuat apa-apa. Aku hanya akan melayanimu sejauh dapat kau lakukan. Aku tidak akan mengalahkanmu dan tidak akan menangkapmu.” “Persetan,” geram Ki Wiradana. “Kau membuat aku menjadi gila.”

“Aku berkata sebenarnya Ki Wiradana,” berkata perempuan itu. “Sebaiknya kau memenuhi tugasmu sebagai pemimpin pasukan. Kau harus bertempur. Atau aku akan memaksamu bertempur?” Ki Wiradana tidak dapat berbuat lain. ia pun kemudian mengayunkan pedangnya menyerang Serigala Betina itu.

Serigala Betina itu meloncat menghindar. Ia pun telah memegang senjata pula.

Tidak seperti yang dipergunakannya bertempur melawan Ki Wiradana di pasar.

Tetapi ia mempergunakan pedang seperti para prajurit yang lain.

Namun ternyata seperti dikatakan. Serigala Betina tidak berusaha mengalahkan Ki Wiradana. Ia memang bertempur melawannya. Namun seolah-olah Serigala Betina itu hanya sekadar mempertahankan diri.

Yang kemudian bertemu lagi adalah Sambi Wulung dengan Ki Saudagar yang pernah dirampoknya. Namun nampaknya Ki Saudagar tidak mengenalinya.

Dengan demikian, maka para pemimpin dari kedua belah pihak itu pun telah menemukan lawannya masing-masing. Pengendang yang pernah diaku sebagai ayah Warsi itu bertemu dengan Ki Jati Wulung. Bertemunya dua tataran ilmu yang tidak seimbang.

Namun sebagaimana yang dikatakan oleh Nyai Soka, bahwa pertempuran itu bukannya pertempuran yang menentukan. Para pemimpin Tanah Perdikan itu masih diperlukan untuk memancing kekuatan lawan sampai tuntas.

Dengan demikian, maka bekal dari setiap orang dari pasukan yang dianggap memberontak itu memang bukan untuk membunuh. Mereka hanya ingin menunjukkan kekuatan yang tidak dapat diabaikan.

“Jika kita berhasil mengusir mereka dari Tanah Perdikan ini, maka mereka tentu akan datang dengan kekuatan yang ada pada mereka sepenuhnya,” berkata Kiai Badra di dalam hatinya.

Sejenak kemudian, maka kedua pasukan itu benar-benar telah berbenturan. Bukan saja induk pasukan. Tetapi dari ujung sampai ke ujung sayap.

Namun demikian, maka ternyata di dalam pertempuran itu masih juga terjadi pembicaraan. Para pengawal dari lingkungan yang disebut pemberontak itu masih berusaha untuk berbicara.

Seorang pemimpin kelompok telah berkata lantang disela-sela dentang senjata, “Apakah kita benar-benar akan saling membunuh?”

Pertanyaan itu benar-benar membingungkan. Sementara pemimpin kelompok itu menjawab sendiri, “Kita adalah satu keluarga besar. Kita bersaudara. Dan kita telah menempatkan jalan sesat sampai saat ini. Apakah kita masih akan mengikuti jalan sesat ini?”

Para pengawal yang berada di pasukan Tanah Perdikan Sembojan termangu-mangu.

Sementara itu, mereka merasakan, bahwa para pengawal yang dianggap memberontak itu tidak dengan keras berusaha untuk menghancurkan lawannya. “Kita dapat memilih satu jalan,” berkata pemimpin pengawal itu. “Kita tidak bertempur dengan sungguh-sungguh.

Lawannya tidak menjawab. Tetapi agaknya tawaran itu dapat mereka terima, sehingga dengan demikian maka pertempuran yang terjadi itu pun seakan-akan hanya sekadar latihan yang keras.

Meskipun ada juga di antara mereka yang terluka, namun ternyata pembicaraan yang serupa telah terjadi dimana-mana. Di ujung sampai ke ujung. Sehingga dengan demikian, maka pertempuran yang terjadi antara kedua pasukan itu tidak menunjukkan benturan kekuatan yang sebenarnya. Apalagi karena sejak semula, para pengawal yang berpihak kepada Ki Wiradana itu sudah menjadi ragu-ragu.

Yang benar-benar bertempur adalah justru para pemimpin dari kedua belah pihak dan beberapa orang pengawal yang paling dekat dengan Ki Wiradana dan para pemimpin dari pengawal yang pernah mendapat latihan berat sebelumnya, yang tersisa dari mereka yang dibawa ke Pajang.

Namun mereka benar-benar membentur kekuatan para pengawal yang disebut pemberontak, karena di antara mereka terdapat para bekas prajurit yang sebenarnya meskipun sudah menjadi semakin tua, namun mereka masih mempunyai hasrat pengabdian yang sangat tinggi. Apalagi disekitar mereka terdapat para pengawal yang masih muda dan memiliki latihan yang cukup pula.

Dalam pada itu, Ki Rangga yang sekali-kali sempat memperhatikan seluruh arena pertempuran itu mengumpat di dalam hati. Bahkan karena kepepatan perasaannya, tiba-tiba saja ia berteriak, “He, pasukan Tanah Perdikan Sembojan. Tunjukkan sikap kepahlawanan kalian. Pertahankan wibawa Tanah Perdikan dengan menghancurkan pemberontakan ini.”

Para pengawal di paruh gelar Garuda Nglayang itu memang terpengaruh juga dan berusaha untuk menumpahkan segenap kemampuan mereka. Namun lawan-lawan mereka pun telah berbuat serupa. Mereka pun telah mengerahkan segenap kekuatan mereka untuk menghadapi kekuatan Tanah Perdikan Sembojan yang merasa dibebani tugas menumpas pemberontakan.

Dengan demikian, maka pertempuran itu pun menjadi hambar karenanya. Rasa-rasanya tidak ada hentakan-hentakan kekuatan. Tidak terdengar teriakan-teriakan yang menggelegar dan tidak ada keluh dan ratap kesakitan. Jika ada satu dua orang yang terluka maka orang itu pun segera bergeser surut dan tempatnya segera diisi oleh orang lain dengan beban perasaan yang sama.

Kejanggalan itu ternyata terasa oleh para pemimpin Tanah Perdikan. Mereka merasa bahwa sesuatu telah terjadi dengan tidak sewajarnya, meskipun mereka tidak dapat menyebutnya dengan tepat.

Namun para pemimpin Tanah Perdikan itu menganggap bahwa, jika mereka telah menyelesaikan tugas mereka, menghadapi pemimpin pasukan yang mereka sebut pemberontak itu, mereka akan dapat berbuat banyak atas para pengawal.

Yang kemudian mereka lakukan, adalah sekadar memelihara agar garis pertempuran itu tidak bergeser surut.

Karena itulah, maka Ki Rangga Gupita telah mengerahkan kemampuannya untuk segera mengalahkan lawannya. Jika ia berhasil membunuh lawannya, maka ia akan dapat melibatkan diri bersama para pengawal. Kematian demi kematian akan terjadi dan

meskipun para pengawal tidak bertempur dengan sepenuh kemampuan mereka oleh keragu-raguan, maka kehadiran Ki Rangga di antara para pengawal tentu akan memberikan pengaruh.

Tetapi yang dihadapi Ki Rangga adalah Gandar. Seorang yang memiliki ilmu yang tinggi pula. Seorang yang memiliki kekuatan yang jarang ada duanya dan mampu melakukan sesuatu dalam ilmu kanuragan yang tidak dapat dilakukan oleh orang lain.

Karena itu, maka pertempuran antara Ki Rangga dan Gandar pun menjadi semakin sengit. Keduanya memiliki kelebihan. Tetapi keduanya pun juga memiliki kelemahan.

Dalam pada itu, Warsi yang menjadi garang dan bahkan hampir menjadi liar, telah berusaha menekan Nyai Soka dengan segenap kemampuannya. Namun Nyai Soka adalah seorang perempuan yang memiliki ilmu yang sangat tinggi, sehingga dengan demikian Warsi itu sama sekali tidak berarti.

Dalam pada itu, Nyai Soka sebenarnyalah sedang berpikir, apakah ia akan menangkap Warsi hidup-hidup atau membiarkannya terlepas.

Jika ia menangkap Warsi, maka kekuatan yang ada dibelakang Warsi mungkin tidak akan segera muncul. Tetapi pada satu saat yang tidak diperhitungkan, mereka datang untuk menghancurkan Tanah Perdikan ini, sebagaimana dilakukan oleh keluarga Kalamerta. Mereka tidak berani dengan terbuka menyerang Tanah Perdikan itu pada saat Ki Gede Sembojan masih hidup. Tetapi mereka telah mempergunakan cara yang sangat licik.

Karena itu, maka Nyai Soka memutuskan untuk membiarkan orang-orang yang mengelilingi Ki Wiradana itu untuk tetap hidup dan melepaskan mereka. Nyai Soka mengharap bahwa dengan demikian maka mereka akan segera kembali dengan segenap kekuatan yang ada pada mereka.

Jika demikian maka mereka akan dapat menyelesaikan persoalannya sampai tuntas.

Dengan pikiran itu, maka Nyai Soka tidak ingin menunjukkan tingkat kemampuannya yang sebenarnya. Ia bertempur melawan Warsi sekadar untuk tidak dikalahkannya.

Dalam pada itu, ternyata Sambi Wulung dan Jati Wulung pun mampu menyesuaikan diri. Mereka sebenarnya dapat mengalahkan lawan mereka dengan segera, namun mereka bertahan sebagaimana dilakukan oleh Nyai Soka.

Berbeda dengan mereka adalah Gandar. Gandar yang bertempur melawan Ki Rangga Gupita benar-benar telah bertempur bertaruh nyawa.

Seperti yang lain, Gandar pun telah mempergunakan senjata sebagaimana yang biasa dipergunakan dalam pertempuran. Ia membawa sebatang tombak pendek, sementara Ki Rangga Gupita mempergunakan sebilah pedang yang besar.

Dengan senjata tersebut, maka keduanya benar-benar merupakan lawan yang menggetarkan.

Pedang Ki Rangga Gupita yang berputaran bagaikan gumpalan awan itu telah melibat Gandar yang bertahan dengan tombaknya. Namun dalam benturan ilmu, tiba-tiba saja tombak Gandar telah berhasil memecahkan putaran pedang Ki Rangga sehingga gumpalan awan itu bagaikan pecah dan lenyap di udara. Sementara itu, tombak Gandarlah yang telah mematuk seperti paruh seekor ikan cucut yang ganas di lautan.

Ki Rangga telah meloncat sambil memukul tombak Gandar menyamping. Namun tombak itu terayun dan berputar. Sekali lagi tombak itu telah mematuk, hampir saja mengenai keningnya. Untunglah bahwa Ki Rangga masih sempat memiringkan kepalanya, sehingga ujung tombak itu berdesing hampir menyentuh telinga.

Gandar ternyata tidak mau melepaskannya. Tombak itu tiba-tiba telah bergerak mendatar menyambar leher. Namun Ki Rangga telah berhasil memperbaiki letak kakinya, sehingga dengan putaran setengah lingkaran, maka ujung tombak itu berdesing tanpa menyentuhnya. Bahkan kemudian searah, dengan sambaran tombak itu Ki Rangga meloncat selangkah maju sambil menjulurkan pedangnya yang besar ke arah lambung.

Gandarlah yang harus meloncat mundur. Namun kemudian bagaikan badai tombaknya berputar mendatar. Satu sambaran yang hampir saja mengoyak pundak Ki Rangga.

Untunglah ia masih sempat merendahkan diri. Bahkan sekaligus menjulurkan pedangnya ke arah perut.

Pertempuran antara Gandar dan Ki Rangga itu menjadi semakin sengit. Seakan-akan keduanya adalah lawan yang penuh dengan dendam. Masing-masing ternyata telah mengerahkan segenap kemampuan yang ada. Dengan tenaga cadangan yang mungkin dikerahkan, keduanya telah saling menyerang dan menghindar.

Namun dalam benturan-benturan yang terjadi kemudian, dalam puncak kekuatan mereka berlandaskan cadangan yang ada, maka benturan antara Ki Rangga Gupita dan Gandar merupakan pertempuran yang sangat seru.

Tetapi dalam puncak dorongan tenaga cadangan mereka, ternyata bahwa kemampuan Gandar terasa lebih mantap. Demikian pula kematangan ilmunya, sehingga dengan demikian maka mereka yang memiliki pengamatan yang sangat tajam dalam olah kanuragan akan dapat menilai, bahwa Ki Rangga mulai merasakan kesulitan menghadapi ujung tombak Gandar.

Dalam pada itu, pertempuran di kedua sayap pasukan itu terasa sangat hambar.

Para pengawal hanya sekadar mengacu-acukan senjata sambil berteriak-teriak tanpa tekanan. Meskipun demikian satu dua di antara mereka dengan tidak sengaja telah tergores oleh ujung-ujung senjata yang silang melintang di medan itu.

HANYA di pasukan induk pertempuran benar-benar telah terjadi. Para pengawal pengikut Ki Wiradana bertempur dengan sepenuh kemampuan yang ada. Namun yang mereka hadapi ternyata sebagian adalah bekas prajurit Pajang yang memiliki pengetahuan yang luas tentang ilmu senjata. Disamping mereka adalah para pengawal yang telah melarikan diri dari barak mereka dan bergabung dengan kekuatan yang disebut pemberontak itu.

Sebenarnyalah bahwa di induk pasukan itu, terdengar beberapa orang pengawal mulai mengeluh. Dalam pertempuran yang seru, orang-orang tua bekas prajurit Pajang itu mampu membuat permainan gelar yang kadang-kadang mengejutkan lawan-lawannya. Ternyata mereka masih mampu mengungkit kembali perbendaharaan pengalaman mereka sebagai prajurit dan dituangkannya dalam pertempuran itu.

Dengan demikian maka yang terjadi di induk pasukan itu pun telah sangat mengecewakan Warsi dan keluarganya. Juga Ki Rangga Gupita yang berharap dapat menyelesaikan pemberontakan itu dalam waktu yang pendek sebelum para pengawal itu akan dibawa ke Pajang.

Tetapi ternyata bahwa yang terjadi itu sama sekali tidak seperti yang

diharapkan. Di kedua sayap pasukan pengawal Tanah Perdikan Sembojan sama sekali tidak dapat kemajuan apa-apa. Rasa-rasanya pertempuran yang terjadi di kedua sayap itu adalah benturan dua kekuatan yang seimbang. Namun yang sebenarnya, karena kedua belah pihak seakan-akan bersepakat untuk tidak bertempur dengan sungguh-sungguh.

Tetapi di induk pasukan itu, korban telah benar-benar jatuh dari kedua belah pihak. Bukan hanya terluka. Tetapi ada di antara mereka yang terbunuh. Kematian itu telah membakar jantung para pengawal dari kedua belah pihak. Kematian kawan mereka telah mengetuk jantung mereka untuk menuntut balas. Dengan demikian maka di induk pasukan para pengawal dari kedua belah pihak telah benar-benar berdiri

dalam sisi yang bermusuhan meskipun mereka telah saling mengenal sebelumnya.

Bahkan tinggal dibarak yang sama. Tetapi para pengawal terpilih mendampingi para pemimpin Tanah Perdikan Sembojan itu telah terlalu banyak menerima bagian dari penghisapan yang dilakukan oleh Warsi dan keluarganya atas orang-orang Tanah Perdikan Sembojan.

Sementara itu, gejolak perasaan, yang memang telah membekali Gandar sejak sebelumnya, telah membuatnya semakin garang. Dengan demikian, maka lambat laun, Ki Rangga pun tidak dapat ingkar lagi bahwa lawannya itu tentu sulit sekali untuk dikalahkannya.

Ketika Ki Rangga sempat berpaling ke arah Wasi, maka ia pun melihat, bahwa Warsi tidak banyak dapat berbuat atas lawannya yang tua itu. Bahkan setiap kali Warsi justru telah terdesak meskipun serangan-serangan perempuan tua itu tidak berbahaya baginya.

Sementara itu, Ki Sudagar pun tidak banyak mempunyai kesempatan. Apalagi pengendang yang pernah diaku sebagai ayah Warsi itu. Sementara itu Ki Wiradana pun tidak akan dapat mengalahkan lawannya, perempuan yang telah diupahnya untuk membunuh Iswari, tetapi tidak dilakukannya.

Dengan demikian maka kekuatan di induk pasukan itu telah mulai nampak tidak seimbang. Sementara itu kekuatan pasukan Tanah Perdikan Sembojan dikedua sayap tidak mampu membuat keseimbangan pula atas tekanan pasukan yang disebut pemberontak itu di induk pasukan.

Dengan demikian maka pertempuran di induk pasukan itu pun semakin lama menjadi semakin nampak, bahwa pasukan Ki Wiradana menjadi terdesak. Korban berjatuhan dan para pemimpin disekitar Ki Wiradana tidak mampu menolong mereka.

Dalam keadaan yang demikian itu, tiba-tiba saja terdengar suara nyaring, suara seorang perempuan. “Atas nama kuasa Pajang, menyerahlah.”

Suara itu bagaikan jilatan lidah api ditelinga Warsi. Dengan lantang ia

menjawab, “Kemarilah perempuan cantik. Aku ingin memotong lidahmu yang bercabang seperti lidah ular itu.”

Tetapi sekali lagi terdengar suara Iswari, “Menyerahlah. Tidak ada pilihan lain bagi kalian. Antas nama Adipati Pajang.”

WARSI menghentakkan kemampuannya. Tetapi ia berhadapan dengan Nyai Soka, sehingga kekuatannya itu bagaikan membentur dinding karang ditebing pegunungan.

Sama sekali tidak bergetar.

Betapapun kemarahan menghentak-hentak di dalam dadanya, namun ternyata bahwa ia benar-benar tidak mampu berbuat apa-apa, sehingga ia pun kemudian harus melihat kenyataan itu.

Yang masih berusaha untuk menundukkan lawannya adalah Ki Rangga Gupita. Ketika ia mendapat tekanan yang semakin berat dari Gandar, maka mulailah ia mengetrapkan ilmunya yang mempunyai kekuatan yang luar biasa.

Sebagaimana ia telah berhasil membuat Ki Tumenggung Wirajaya menjadi cemas, maka ilmunya itu pun telah diterapkannya untuk menghancurkan perlawanan Gandar.

Gandarlah yang kemudian terkejut. Ketika tombaknya menyentuh pedang Ki Rangga, maka gandar tiba-tiba saja telah meloncat surut. Aliran panas yang mengejutkan telah menyengat telapak tangannya yang menggenggam tombak. Hanya sesaat. Tetapi hampir saja ia melepaskan tombaknya.

Namun untunglah bahwa Gandar segera menyadari apa yang terjadi. Bara yang menyentuh tangannya itu tentu disebabkan oleh kekuatan ilmu lawannya. Gandar telah mengetahui bahwa sejenis ilmu dapat mengalir lewat sentuhan senjata dan membakar kulit lawannya.

Dengan demikian, maka Gandar menjadi lebih berhati-hati. Namun ia tidak lagi dengan kemampuannya dapat mendorong Ki Rangga keluar dari benturan kekuatan antara Pajang dan Jipang untuk bertempur tanpa terganggu. Bahkan sekali-kali Gandarlah yang harus berloncatan surut.

Tetapi keadaan itu tidak diimbangi dengan keadaan pertempuran dalam keseluruhan.

Jika Ki Rangga masih mampu bertahan dan sekali-kali mendesak lawannya, maka pertempuran itu dalam keseluruhan sama sekali tidak menguntungkan bagi pasukan Ki Wiradana.

Sementara itu, Ki Randukeling yang berhadapan dengan Kiai Soka lebih banyak saling menjajagi daripada bertempur dengan ujud kewadagan mereka. Karena itulah, maka Ki Randukeling pun kemudian menyadari, bahwa usaha mereka tidak akan dapat berhasil hari ini.

Sebagai seorang yang berilmu tinggi maka Ki Randukeling mengetahui, bahwa

pertempurannya melawan Kiai Soka tidak akan segera dapat diselesaikan.

Demikian pula dengan Kiai Soka. Ia sudah mengira bahwa Ki Randukeling adalah seorang yang memiliki ilmu yang sangat tinggi. Karena itu untuk menundukkannya diperlukan waktu dan benturan ilmu yang keras. Mungkin ia harus mengerahkan seganap ilmunya untuk dapat mengatasi ilmu Ki Randukeling. Bahkan Kiai Soka itu tidak dapat menentukan bahwa dirinya dalam puncak kekuatan, kemampuan dan ilmunya akan dapat mengalahkan dalam arti yang sebenarnya atas Ki Randukeling.

Dengan kesadaran atas kenyataan yang terjadi, maka Ki Randukeling melihat pertempuran itu dalam keseluruhan. Sekilas-sekilas ia sempat melihat pertempuran yang tengah berlangsung. Ia melihat Warsi yang bertempur melawan seorang perempuan tua. Meskipun perempuan tua itu tidak menunjukkan tingkat kemampuan

yang sebenarnya, namun Ki Randukeling melihat, bahwa sebenarnya tataran ilmunya jauh lebih baik dari Warsi.

Demikian pula orang-orang yang lain dari pasukannya, ternyata sangat mengecewakan. Hanya Ki Rangga Gupita sajalah yang mampu menunjukkan bahwa ia adalah seorang Senapati dari Jipang. Senaati dari satu kekuatan yang besar di lingkungan Demak yang kemudian menjadi sasaran dan sumber perselisihan.

Ki Randukeling pun telah berusaha menilai pertempuran yang terjadi disayap sebelah menyebelah. Dengan kesal ia berkata di dalam hatinya, “Mereka adalah bersaudara. Mereka adalah kawan bermain sebelumnya. Kawan bergurau dan sebagian di antara mereka telah berada di dalam satu barak untuk waktu yang cukup lama.

Bahkan mungkin di antara mereka terdapat anak-anak muda yang masih mempunyai hubungan sanak kadang, sehingga mereka tidak dapat bertempur dengan sungguh-sungguh dan dengan penuh dendam berusaha untuk saling membunuh.

Kesadaran itulah yang kemudian membuatnya semakin yakin, bahwa pasukan Ki Wiradana tidak akan berhasil menyelesaikan pemberontakan itu dalam sehari.

“KI RANGGA harus menyadari akan hal ini,” berkata Ki Randukeling itu didalam hatinya. “Sehingga karena itu ia tidak akan dapat menuntut secepatnya pasukan Tanah Perdikan ini harus dibawa ke Pajang.”

Demikianlah untuk beberapa saat pertempuran itu masih berlangsung. Namun kemudian Ki Rangga itu pun menyadari sebagaimana Ki Randukeling, bahwa mereka tidak akan dapat memaksakan sesuatu pada pertempuran yang sedang berlangsung

itu.

Sementara itu Gandar telah menemukan di dalam dirinya kemampuan untuk mengimbangi ilmu Ki Rangga Gupita. Dengan mengerahkan daya tahan tubuhnya, serta kemampuannya mempermainkan tombaknya, maka Gandar mampu mengelakkan semua benturan senjata yang mungkin terjadi, setidak-tidaknya mengurangi kemungkinan itu sampai sekecil-kecilnya. Gandar mengambil keuntungan pada senjatanya yang lebih panjang dari senjata Ki Rangga, sehingga karena itu, maka Gandar berusaha untuk dapat menyerang lebih banyak dan dengan kecepatan geraknya mengatasi sentuhan pada saat-saat Ki Rangga menangkis serangannya.

Namun ketika Gandar masih juga sekali-sekali mengalami kesulitan, sehingga hampir saja tombaknya terlepas dari genggaman karena perasaan sakit yang menyengat ketika sekali-kali tombaknya masih menyentuh pedang Ki Rangga, maka Gandar pun telah berusaha mempergunakan unsur kekuatannya yang sangat besar untuk memperkuat perlawanannya. Jika terpaksa terjadi sentuhan, maka bukan saja senjata Gandar yang akan terlepas karena tangannya bagaikan menggenggam bara, namun tangan Ki Rangga pun menjadi pedih karena ia harus mempertahankan senjatanya yang membentur kekuatan yang sangat besar. Gandar tidak saja mempergunakan tombak yang mematuk, tetapi sekali-kali diayunkannya tombaknya mendatar, sengaja untuk dengan kekuatannya sepenuhnya menghentakkan senjata lawannya.

Dalam keadaan yang demikian itu Ki Randukeling berkata kepada lawannya, “Ki Sanak. Tidak ada gunanya jika kita akan bertempur kali ini dengan bersungguh-sungguh. Pertempuran yang sungguh-sungguh di antara kita memerlukan satu suasana yang khusus. Karena itu, maka sebaiknya kali ini kami menarik diri.”

“Bagaimana mungkin hal itu kau lakukan,” berkata Kiai Soka. “Kami akan dapat menangkap kalian.”

“Tidak,” jawab Ki Randukeling. “Kau tahu bahwa hal itu tidak akan dapat kau lakukan atasku. Mungkin juga atas beberapa orang lain. Tetapi jika kau memaksanya, maka aku pun dapat berbuat banyak untuk membunuh membabi buta. Usaha kalian untuk menangkap kami harus kalian tebus dengan berpuluh-puluh jiwa anak-anak mudamu.”

“Apakah kalian akan menjadi berputus asa?” bertanya Kiai Soka.

“Ya. Aku dapat saja menjadi putus asa dan berbuat sesuatu yang tidak wajar.

Meskipun kau mungkin dapat menguasai keadaan, tetapi kematian dapat terjadi dalam sekejap,” berkata Ki Randukeling.

Kiai Soka termangu-mangu sejenak. Namun kemudian Ki Randukeling yang berusaha menggeser putaran pertempurannya mendekati Ki Wiradana memberikan isyarat agar Ki Wiradana memberikan aba-aba untuk menarik pasukannya.

KI WIRADANA memang tidak mempunyai pilihan lain. Ia pun kemudian memberikan perintah untuk menarik pasukannya dari medan. Kiai Soka termangu-mangu sejenak. Namun ia tidak dapat mencegah ketika pasukan lawan itu mulai bergeser surut. Para pemimpin dari pasukan yang berpihak kepada Iswari memang sudah mendapat perintah, agar mereka membiarkan Warsi dan orang-orang yang mendukungnya untuk melepaskan diri. Mereka akan menjadi alat untuk memancing kekuatan Kalamerta seluruhnya, sehingga dengan demikian, maka persoalannya akan dapat diselesaikan dengan tuntas.

Karena itu, ketika Jati Wulung dan Sambi Wulung berusaha untuk dengan sungguh-sungguh menangkap lawan-lawan mereka, Kiai Badra pun telah mendekati mereka sambil berkata, “Biarkan mereka. Kita akan menunggu bahwa pada suatu saat, mereka akan datang lagi.”

Kedua orang bersaudara seperguruan itu tidak membantah. Mereka pun kemudian tidak lagi berusaha untuk menangkap kedua lawannya. Dibiarkannya kedua orang itu hanyut dalam arus pasukan Tanah Perdikan yang mundur.

Yang sebenarnya dibiarkan saja oleh Kiai Badra adalah Gandar. Menurut pendapat Kiai Badra, maka Gandar tidak akan dengan mudah menguasai Ki Rangga Gupita.

Meskipun dalam beberapa hal Gandar nampak lebih mantap, namun Ki Rangga pun memiliki kelebihan-kelebihan tertentu.

Karena itulah, maka ketika pasukan Tanah Perdikan mundur, serta Ki Rangga berada di dalamnya, Gandar mengalami kesulitan untuk berbuat lebih banyak. Para pengawal Tanah Perdikan diinduk pasukan itu benar-benar telah menarik pasukan sebagaimana seharusnya. Mereka tidak mengelak ketika mereka kemudian menjadi perisai dari beberapa orang pemimpin mereka yang berlindung dibalik gerakan mundur itu.

Kiai Badra tidak memerintahkan pasukannya untuk memburu mereka. Tetapi Kiai Badra memberikan isyarat, agar pasukannya berada ditempat.

Para Bekel pun telah meneriakkan aba-aba yang disambung oleh para pemimpin kelompok, agar mereka tidak mengejar lawan-lawan mereka. Apalagi mereka yang berada disayap pasukan.

Namun ternyata bahwa telah terjadi sesuatu di sayap pasukan itu. Ternyata beberapa kelompok pasukan Tanah Perdikan tidak ikut serta dalam gerakan mundur.

Mereka telah menyatakan diri menyerah dan bergabung dengan pasukan Iswari yang berhasil menahan gerak pasukan Tanah Perdikan yang hari itu berusaha untuk menumpas pemberontakan. Namun yang akibatnya justru kebalikannya.

Dengan demikian maka pertempuran yang dibayangkan oleh Warsi dan orang-orang yang mengelilingi Ki Wiradana itu akan merupakan pertempuran yang sengit dan bagaikan arus badai yang tidak akan tertahankan oleh orang-orang yang mereka anggap pemberontak itu, ternyata tidak terjadi. Pertempuran itu bukannya pertempuran yang dahsyat yang menghancurkan pertahanan para pengikut Iswari, tetapi justru telah menunjukkan bahwa pengaruh Iswari masih cukup besar di Tanah Perdikan Sembojan.

Gerak mundur pasukan Ki Wiradana itu berlangsung dengan cepat. Rasa-rasanya tidak ada hambatan dan kesulitan apa-apa. Namun kebanggaan dan harga diri orang-orang yang ada di sekitar Ki Wiradana itulah yang hancur karenanya.

“Pengkhianat,” geram Warsi. “Kau lihat kakang. Berapa bagian dari orang-orangmu yang berkhianat. Itulah sebabnya maka yang terjadi disayap sama sekali tidak seperti yang kita harapkan. Jika orang-orangmu tidak berkhianat, maka kita benar-benar akan dapat menumpas mereka.”

Ki Wiradana tidak menjawab. Ia pun telah mendengar laporan dari para pemimpin pengawal, terutama disayap pasukan sebelah menyebelah, bahwa ada di antara mereka yang tidak ikut menarik diri, tetapi justru telah menyerah.

Keadaan itu telah membuat semua rencana menjadi kacau. Ki Rangga Gupita yang sudah hampir bermimpi untuk membawa sebagian dari anak-anak muda Tanah Perdikan Sembojan yang tersisa itu ke Pajang, ternyata menghadapi satu kenyataan lain.

Karena itu dengan kesal ia berkata, “Kebodohan yang telah memerintah Tanah Perdikan ini membuat semua rencana menjadi rusak.”

KI WIRADANA tidak juga menjawab. Ia sadar, bahwa semua kesalahan tentu akan ditimpakan kepadanya. Jika mereka sudah sampai di induk padukuhan, dan mereka sempat berbincang tentang pertempuran itu, maka semua orang tentu akan memakinya.

Di padukuhan yang ditinggalkan oleh pasukan Ki Wiradana, para bekel pun kemudian berkumpul. Mereka telah menerima beberapa kelompok pengawal yang menyatakan kesediaan mereka untuk ikut dalam pasukan mereka yang disebut pemberontak itu.

Para pemimpin kelompok itu pun kemudian telah diterima di antara para pemimpin pengawal yang memang telah berada di pihak Iswari untuk menerima beberapa pesan dan petunjuk.

“Kita dapat beristirahat hari ini,” berkata Kiai Badra, “Besok kitalah yang akan menyerang. Kita akan mengusir orang-orang yang tidak berhak atas Tanah Perdikan ini, apalagi memegang pimpinan. Tidak akan terjadi pertempuran yang sengit, karena mereka tidak akan bertahan sepenginang. Namun kita harus segera mempersiapkan diri, karena yang akan terjadi kemudian adalah beban-beban yang berat yang harus kita pikul. Mereka yang terusir itu akan kembali membawa kekuatan yang besar, karena mereka adalah keluarga besar Kalamerta. Bahkan mungkin Jipang pun akan ikut campur. Namun agaknya mereka masih harus menunggu.

Betapapun Ki Rangga Gupita merasa terhina, tetapi ia tidak akan dapat berbuat sekehendak hatinya terhadap pasukan Jipang di Pajang.”

Dengan demikian maka para pemimpin pasukan serta para pengawal sempat mempergunakan waktunya untuk beristirahat. Sementara itu beberapa di antara mereka telah mengumpulkan kawan-kawan mereka yang terluka. Bahkan pertempuran yang benar-benar terjadi di induk pasukan memang telah menuntut korban.

Bagaimanapun juga, ada di antara mereka yang gugur dipeperangan itu.

Sementara itu, maka Kiai Badra telah memanggil para pemimpin dari ketiga padukuhan yang telah menyatakan kesediaan mereka dan telah mereka buktikan, bahwa mereka memang menghendaki perubahan di Tanah Perdikan itu.

Namun yang wajahnya nampak buram adalah justru Iswari. Ia merasa tidak mendapat kesempatan untuk berbuat sesuatu. Ia tidak lebih dari seorang yang hanya membawa tunggul dan tanpa berbuat apa-apa membiarkan semua terjadi di sekelilingnya.

“Iswari,” berkata Kiai Badra. “Kau harus mengerti maksudku dan orang-orang tua yang lain. Yang terjadi ini baru permulaan dari satu perjalanan yang panjang untuk kepentingan Tanah Perdikan Sembojan dan sekaligus anakmu. Kau jangan tergesa-gesa ingin menyelesaikan sesuatu yang nampaknya dapat terjadi dengan cepat dan mudah.”

Iswari tidak menjawab. Sementara Kiai Badra berkata selanjutnya, “Aku, kakek dan nenekmu serta para pemimpin padukuhan ini bersepakat, untuk memancing kekuatan lawan seluruhnya. Sudah beberapa kali aku katakan, lebih baik persoalan ini kita selesaikan dengan tuntas, daripada suatu saat kau akan mengalami kesulitan. Jika kita tidak berhasil menghancurkan gerombolan Kalamerta sampai ke akarnya, maka akan terjadi sebagaimana terjadi Ki Gede Sembojan.” Iswari masih tetap berdiam diri. Kepalanya tertunduk dalam-dalam. Namun hatinya mulai terbuka atas persoalan yang dihadapinya.

Demikianlah, maka sejenak kemudian Kiai Badra pun telah berbincang dengan para pemimpin dari mereka yang dianggap memberontak itu. Mereka sepakat, bahwa mereka tidak akan hanya sekadar bergerak di ketiga padukuhan itu. Tetapi sejak esok pagi mereka akan memasuki padukuhan-padukuhan lain dan berbicara dengan para pemimpinnya, sehingga akhirnya seluruh Tanah Perdikan itu dapat dikuasainya.

“Kita harus mengusir orang-orang yang berada disekitar Ki Wiradana itu keluar dan menunggu mereka datang kembali dengan mambawa kekuatan mereka yang sebenarnya. Kita akan menghancurkan mereka untuk tidak akan mengganggu lagi untuk selama-lamanya,” berkata Kiai Badra.

Karena itulah, maka para pemimpin pengawal pun telah mendapat perintah untuk mempersiapkan diri, karena esok pagi mereka akan bergerak ke padukuhan-padukuhan disekitar mereka.

KETIKA para pemimpin dari ketiga padukuhan yang dianggap memberontak itu mulai beristirahat, sementara para pemimpin pengawal sudah berada di antara pasukan masing-masing, maka pada saat itu di padukuhan induk Ki Wiradana benar-benar mengalami perlakuan yang sangat menyakitkan hati dari orang-orang yang selalu membayanginya.

Dengan suara lantang Ki Rangga Gupita berkata, “Aku tidak tahu, apa yang dapat dilakukan oleh Ki Wiradana atas Tanah Perdikan ini. Selama ini kami para prajurit dari Jipang sudah membantunya dengan sekuat tenaga. Namun hasilnya tidak lebih dari satu pemberontakan.”

Ki Wiradana sama sekali tidak menjawab. Ia berhadapan dengan beberapa orang yang sedang marah, yang semuanya memiliki kelebihan daripadanya.

Bahkan istrinya hampir saja kehilangan kesabarannya ketika dengan menjerit ia telah mencengkam baju Ki Wiradana, “Kau laki-laki tidak berarti sama sekali. Kau hanya pantas menjadi bapak dan sama sekali bukan Kepala Tanah Perdikan.”

Namun Ki Randukeling telah berusaha menenangkan sambil berkata, “Warsi, bagaimanapun juga laki-laki itu adalah suamimu. Kita memang melihat banyak kekurangan terdapat padanya. Bodoh, dungu, pengecut dan banyak lagi kekurangan-kekurangannya.

Tetapi adalah kewajiban kita untuk mencari jalan keluar dari kesulitan yang kemudian telah ada dihadapan kita sekarang ini.”

“Jerih payah kami tidak berarti sama sekali,” geram Ki Rangga Gupita. “Ternyata pada saat yang sangat diperlukan, Tanah Perdikan ini tidak dapat berbuat apa-apa untuk membantu Jipang.”

“Marilah sekarang kita bicarakan, apa yang paling baik kita lakukan,” berkata Ki Randukeling.

“Tidak ada lagi yang dapat kita lakukan,” sahut Ki Rangga Gupita.

“Bagaimana jika kita mengambil langkah yang sebaliknya dari rencana Ki Rangga,” jawab Ki Randukeling kemudian, “Untuk dapat membawa anak-anak Tanah Perdikan ini ke Pajang, biarlah pasukan Jipang yang ada di Pajang atau katakanlah anak-anak Tanah Perdikan ini yang ada Pajang, kita tarik untuk menghancurkan pemberontakan itu. Baru kemudian Ki Rangga kembali ke Pajang sambil membawa para pengawal Tanah Perdikan ini.”

“Sulit untuk dilakukan,” jawab Ki Rangga, “Panglima pasukan Jipang di Pajang belum tentu sependapat. Apalagi setiap saat prajurit Pajang akan dapat menyerang kedudukan Jipang meskipun sudah ditarik mundur dan membangun pertahanan baru.”

“Aku kira itu jalan yang paling dekat,” berkata Ki Randukeling.

“Apa ada jalan lain?” bertanya Ki Rangga.

“Jalan yang agak jauh adalah pengerahan kekuatan yang ada disekeliling kita,” jawab Ki Randukeling.

“Disekeliling kita yang mana?” bertanya Ki Rangga.

“Di antara para pertapa yang sejalan dengan sikapku serta mengumpulkan kembali keluarga Kalamerta yang telah terpencar,” jawab Ki Randukeling.

“Untuk itu diperlukan waktu yang sangat panjang, sementara Jipang tidak memerlukan lagi pasukan apapun juga karena Pajang tentu sudah hancur,” sahur Ki Rangga.

“Sudah aku katakan. Jalan itu agak panjang. Tetapi mungkin dapat ditempuh bagi kepentingan Tanah Perdikan ini. Pemberontakan itu harus dihancurkan. Sementara kita tidak dapat lagi mempercayakan kekuatan pada pendukung Ki Wiradana di Tanah Perdikan ini,” berkata Ki Randukeling.

“Aku memerlukan sekarang,” berkata Ki Rangga, “Aku tidak dapat menunggu sampai besok.”

“Lalu apa yang dapat kita lakukan?” bertanya Ki Randukeling.

Ki Rangga termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya, “Semuanya telah rusak.

Tanggung jawab dari kesulitan yang kita hadapi ada pada pemangku jabatan Kepala Tanah Perdikan ini.”

Ki Randukeling berpaling ke arah Ki Wiradana yang menundukkan kepalanya. Namun ia tidak berkata apapun juga.

WARSILAH yang tiba-tiba saja berkata, “Kita dapat menempuh kedua-duanya. Biarlah pasukan yang masih ada itu dibawa oleh Ki Rangga ke Pajang, sementara itu kita akan mengumpulkan kekuatan. Kita akan memanggil orang-orang yang akan dapat memperkuat kekuatan kita disini. Biarlah kita bersama-sama menyelesaikan tugas kita dengan baik. Disini dan di Pajang.” Ki Randukeling menggelengkan kepalanya, katanya, “Sulit untuk dilakukan. Kita memerlukan pasukan betapapun kecilnya untuk setidak-tidaknya mengganggu kesombongan perempuan yang membawa tunggul itu. Aku yakin bahwa mereka tidak akan berhenti pada kedudukan mereka sekarang. Mereka mungkin akan bergerak di padukuhan sebelah menyebelah.”

“Jika mereka bergerak, apa yang dapat kita lakukan?” bertanya Ki Rangga Gupita.

“Pemangku jabatan Kepala Tanah Perdikan Sembojan sama sekali tidak mempunyai wibawa lagi. Beberapa kelompok pasukan yang tidak berjuang dengan sungguh-sungguh di arena itu justru telah menyerah dan sudah tentu akan merupakan kekuatan baru bagi para pemberontak.”

“Dan kekuatan yang sedikit itu akan kau bawa?” bertanya Ki Randukeling.

“Disini mereka pun tidak mempunyai arti apa-apa,” Warsi menyahut. “Lebih baik mereka diserahkan saja kepada Ki Rangga agar mereka justru mempunyai arti bagi Tanah Perdikan ini dalam hubungannya dengan Jipang. Sementara kita mengumpulkan kekuatan sekaligus menunggu tugas prajurit Jipang selesai di Pajang. Dengan demikian, maka kita akan dapat berbuat apa saja disini.”

Ki Randukeling mengerutkan keningnya. Namun kemudian katanya, “Menurut perhitunganku, perselisihan antara Pajang dan Jipang itu tidak akan cepat selesai. Kemenangan pasukan Jipang atas Pajang disatu medan, belum merupakan ukuran kemenangan di segala putaran pertempuran. Pajang disisi Barat, disebelah menyebelah Bengawan Sore, bahkan di batas kota Jipang sendiri, karena Pajang pun mengambil langkah yang sama dengan Jipang dalam perselisihan ini.”

“Tetapi tentu kita tidak akan dapat membiarkan kekalahan demi kekalahan terjadi di medan perang yang mana pun juga kakek,” jawab Warsi.

“Yang perlu kita lakukan adalah justru membangunkan landasan perjuangan yang akan mampu menopang perjuangan ini untuk waktu yang panjang. Perang antara Jipang dan Pajang nampaknya bukan sekadar perang di benturan pasukan. Tetapi seandainya salah satu pihak dapat dihancurkan di arena, namun perlawanannya masih akan berlangsung untuk waktu yang lama,” jawab Ki Randukeling. Lalu katanya pula, “Karena itu, maka kita perlu membangun landasan yang kokoh disini.”

Suramnya Bayang-bayang 25

“Tetapi apakah kita mampu bertahan terhadap pemberontakan itu?” bertanya Ki Rangga.

“Kita masih akan mencoba meskipun agaknya terasa sulit. Tetapi kita tidak menyakiti hati para pengawal yang masih ada dan ternyata setia kepada Ki Wiradana. Jika perlu mereka akan kita bawa keluar, tetapi tidak ke Pajang. Dari kedudukan kita yang akan kita tentukan kemudian, kita akan mengadakan pembalasan, sementara kekuatan baru akan datang di Tanah Perdikan ini. Tetapi

sudah barang tentu bahwa kekuatan baru tanpa dukungan sama sekali dari Tanah Perdikan ini sendiri, agaknya tidak akan memberikan arti apapun juga,” jawab Ki Randukeling.

“Kakek,” berkata Warsi, “Kita hanya akan kehilangan banyak waktu. Perjuangan Jipang di Pajang sudah sampai pada satu tataran yang menentukan. Sementara kita disini masih harus menemukan cara untuk mengatasi kesulitan. Sementara kita berpikir, biarlah kita memberikan kekuatan baru kepada Jipang, sehingga akan memberikan keuntungan pula bagi para pengawal, karena mereka akan mendapatkan pengalaman yang berharga.”

Tetapi agakya Ki Randukeling masih tetap pada pendiriannya. Karena itu, maka katanya, “Aku adalah salah seorang pendukung tegaknya Jipang. Aku mempunyai hubungan yang khusus dengan Patih Mantahun dan Arya Jipang sendiri. Tetapi aku mempunyai perhitungan lain. Landasan perjuangan seperti Tanah Perdikan ini justru harus kita pertahankan mati-matian, karena aku tidak menganggap bahwa perang Jipang dan Pajang akan selesai besok.

WAJAH Ki Rangga menjadi semakin tegang. Ternyata Ki Randukeling tetap bertahan pada pendiriannya, meskipun agaknya Warsi tidak berkeberatan. Namun dalam pembicaraan itu justru tidak didengar pendapat Ki Wiradana. Pemangku jabatan Kepala Tanah Perdikan Sembojan, karena ki Wiradana dianggap tidak mempunyai arti apa-apa lagi.

Dalam pada itu, maka Warsi pun telah berkata, “Kakek. Marilah kita melihat keadaan dengan wajar. Kakek agaknya kurang melihat keadaan yang sebenarnya kita hadapi. Dalam keadaan seperti ini Sembojan tidak akan mungkin kita pergunakan sebagai landasan. Tetapi Sembojan justru akan menelan kita dan menghancur-lumatkan. Karena itu, maka selagi masih ada kesempatan, biarlah kekuatan yang ada itu kita bawa ke Pajang. Tetapi dengan pengertian, bahwa setelah Pajang runtuh, pasukan Jipang akan mengembalikan kewibawaan kakang Wiradana disini. Jika perlu dengan kekerasan.”

Ki Randukeling menarik nafas dalam-dalam. Ternyata ada perbedaan sikap antara mereka. Namun kemudian, hampir diluar kehendaknya sendiri Ki Randukeling bertanya kepada Ki Wiradana, “Apa katamu Wiradana? Bukankah kau masih pemangku jabatan Tanah Perdikan ini?”

Ki Wiradana menarik nafas dalam-dalam. Ia sudah tidak mampu lagi berpikir dan ia memang tidak berpikir apapun juga, karena ia sadar, bahwa pikirannya tidak akan berarti apa-apa.

Ketika ia mendengar pertanyaan itu, ia justru menjadi semakin bingung, sehingga untuk beberapa saat ia tidak dapat menjawab.

“Nah, kakek. Lihat. Itu adalah pemangku jabatan Kepala Tanah Perdikan ini. Apa yang dapat diharapkan dari padanya? Ia tidak tahu apa yang harus dikerjakan. Dan bahkan ia tidak lagi tahu, apa yang telah terjadi di Tanah Perdikan ini,” berkata Warsi.

Tetapi Rangga Gupita sengaja membuat suasana menjadi semakin panas. Katanya, “Yang diingatnya hanyalah penari yang disebut sebagai bekas istrinya itu saja.”

“O, benar begitu?” wajah Warsi menjadi tegang.

Wajah Ki Wiradana menjadi pucat. Tetapi ia berusaha menjawab, “Aku sedang mencoba untuk melihat keadaan Tanah Perdikan ini dalam keseluruhan.”

“Bagus,” geram Warsi. “Jadi kau masih juga berpikir tentang Tanah Perdikanmu?

Tetapi akhirnya apa yang kau lihat? Apa? Apakah kau dapat mengatakan sesuatu tentang Tanah Perdikan ini dalam keseluruhan itu?”

Ki Wiradana menjadi bertambah bingung, sehingga ia pun kemudian harus mengatupkan kembali mulutnya rapat-rapat.

“Nah,” berkata Warsi dengan nada tinggi, “Bukankah kau lihat bahwa pemangku jabatan Kepala Tanah Perdikan Sembojan sudah tidak tahu apa-apa lagi sekarang ini? Karena itu, kitalah yang harus mengambil keputusan. Kita tidak perlu mendengarkan pendapatnya yang tidak akan ada artinya.”

Ki Randukeling mengangguk-angguk. Namun kemudian ia masih juga bergumam, “Warsi, bagaimana pun juga ia adalah pemangku jabatan Kepala Tanah Perdikan ini dan sekaligus suamimu. Setiap kali aku memperingatkanmu agar kau bersikap lebih lunak sedikit terhadapnya.”

“SUDAH aku katakan pula berulang kali kakek, bahwa aku sudah mencoba menghormatinya. Bahkan berlebih-lebihan. Aku sama sekali menyembunyikan kemampuanku agar aku tidak menyinggung harga dirinya. Tetapi aku tidak dapat bertahan terlalu lama, karena ternyata kakang Wiradana sama sekali tidak mempunyai kemampuan sedikit pun untuk melakukan tugasnya sebagai pemangku jabatan Kepala Tanah Perdikan,” jawab Warsi.

Ki Randukeling termangu-mangu sejenak. Namun agaknya Warsi masih ingin menekankan pendapatnya, “Kakek. Karena itu, aku kira kita harus mengambil langkah yang paling berarti bagi kita. Menurut pendapatku, kita tidak akan dapat bertahan lebih lama lagi di Tanah Perdikan ini dalam keadaan seperti ini. Karena itu, maka biarlah kita bawa pengawal yang tersisa itu untuk meninggalkan Tanah Perdikan ini dan bergabung dengan pasukan Jipang di Pajang. Kita memang untuk sementara melepaskan Tanah Perdikan ini. Tetapi kita akan kembali dengan kekuatan yang memadai.”

Ki Randukeling menarik nafas dalam-dalam. Ketika ia berpaling kepada Ki Saudagar, maka Ki Saudagar itu pun berkata, “Kita tidak akan dapat berbuat apa-apa disini. Aku yakin bahwa semakin lama jumlah pengawal itu pun akan menjadi semakin susut.”

Untuk beberapa saat Ki Randukeling berdiam diri. Namun kemudian ia pun bergumam, “Jadi Tanah Perdikan ini tidak akan ada artinya sama sekali bagi kita?”

“Tentu ada kakek. Sepasukan pengawal telah berada di Pajang. Sementara itu, kita akan membawa lagi sepasukan yang masih tersisa sekarang. Bukankah itu berarti bahwa kekuatan Tanah Perdikan ini sudah ikut serta dalam perang antara Jipang dan Pajang? Ki Rangga menjadi saksi, sehingga pada saatnya Pajang hancur nanti, Tanah Perdikan ini akan mempunyai kedudukan yang khusus di antara wilayah Jipang yang lain. Bukan saja kedudukannya sebagai Tanah Perdikan tetapi juga batas daerah Tanah Perdikan ini akan mencakup lembah yang subur disebelah pegunungan yang sekarang masih dalam kedudukan sebagai sebuah Kademangan kecil yang tidak mempunyai pengaruh apapun juga dalam hubungannya dengan pemerintahan Pajang dan sudah tentu kelak dengan Jipang. Tetapi jika lembah yang subur itu termasuk dalam lingkungan Tanah Perdikan ini, maka tanah yang subur itu akan berarti bagi pertanian dan peternakan.”

Sekali lagi Ki Randukeling memandang Ki Wiradana. Tetapi ia tidak menemukan apapun di mata pemangku jabatan Kepala Tanah Perdikan itu. Apapun yang tergejolak di dalam perasaannya, maka Ki Wiradana itu tidak akan berani mengatakannya. Bahkan menunjukkan kesan diwajahnya pun ia tidak berani.

Ki Randukeling ternyata berusaha untuk mengerti pendapat orang-orang disekitarnya itu. Apalagi Warsi pun kemudian berkata, “Kakek. Seandainya kita tidak meninggalkan Tanah Perdikan ini, kita pun akan didesak dengan kekerasan.”

“Kau tidak yakin tentang kemampuanku?” bertanya Ki Randukeling.

“Aku yakin kakek. Tetapi jumlah mereka terlalu banyak untuk dihadapi,” jawab Warsi.

Ki Randukeling kemudian ternyata mengalah. Katanya, “Baiklah. Aku tidak akan berkeras mempertahankan sikapku. Jika kalian menganggap bahwa persoalan Tanah Perdikan ini dapat ditinggalkan untuk sementara, serta mengerahkan pemusatan untuk melawan Pajang, maka aku akan tunduk kepada keputusan kalian. Tetapi ingat, medan yang dihadapi oleh Jipang tidak hanya Pajang disisi sebelah Timur.

Perang antara Jipang dan Pajang tidak tergantung kepada medan yang kecil itu. Bahkan seandainya Jipang mampu memasuki Pajang dan mendudukinya, belum tentu bahwa Jipang sudah memenangkan pertempuran. Meskipun pasukan Pajang disebelah Bengawan Sore justru akan memecahkan pertahanan Jipang dan memasuki Jipang pula bersama pasukan dari Demak yang dapat dipengaruhi oleh Hadiwijaya.”

Ki Ranggalah yang menjawab, “Jangan mencemaskan pasukan Jipang di tepi Bengawan Sore. Pasukan itu dipimpin sendiri oleh Kanjeng Adipati Arya Penangsang. Tidak ada kekuatan yang dapat mencegah kekuatan Adipati Jipang. Sipat kandelnya, kudanya yang disebut Gagak Rimang dan pusakanya Setan Kober akan mampu menghancurkan seluruh kekuatan Pajang disebelah Bengawan Sore.

“Mungkin perhitunganmu benar,” berkata Ki Randukeling. “Tetapi di dalam perang kita juga harus memperhitungkan kekuatan lawan. Arya Penangsang dan Patih Mantahun memang memiliki kemampuan yang seakan-akan tidak terbatas. Tetapi kita harus ingat, bahwa Pajang memiliki Tombak Kiai Pleret dan Senapati besar seperti Ki Pemanahan dan Ki Penjawi.”

Ki Rangga masih saja tertawa. Katanya, “Ki Randukeling memiliki ketajaman pandangan dan sikap yang hati-hati yang diperlukan oleh para Senapati di medan perang. Tetapi satu hal yang kurang dipahami, bahwa Ki Randukeling tidak mengetahui keseluruhan kekuatan Jipang. Jumlah prajuritnya dan para pengawal yang mampu digerakkan, justru karena Ki Randukeling lebih banyak berada di pertapaan. Namun demikian, aku akan berbicara dengan para Senapati Jipang, agar mereka menaruh perhatian terhadap banyak persoalan yang mungkin dihadapi oleh para prajurit Jipang dalam perang melawan Pajang.”

Ki Randukeling mengangguk-angguk. Ia benar-benar tidak dapat bertahan atas sikapnya. Karena itu, maka ia lebih condong menyerahkan persoalannya kepada Warsi.

Dengan demikian maka Warsi pun telah menentukan sikap Tanah Perdikan Sembojan yang dipaksanya kepada pemangku Jabatan Kepala Tanah Perdikannya. Malam itu juga, pasukan Sembojan yang tersisa akan meninggalkan Tanah Perdikannya untuk membantu pasukan Jipang yang berada di Pajang.

“Siapkan mereka,” berkata Warsi. “Bawa mereka seluruhnya kemari. Jangan beri kesempatan mereka mengetahui apa yang harus mereka lakukan malam nanti untuk menghindarkan pengkhianatan.”

Ki Wiradana tidak dapat menjawab apapun juga. Ia pun kemudian pergi ke barak dan berbicara dengan para pemimpin pengawal yang setia kepadanya.

“Jangan sampai bocor,” berkata Ki Wiradana. “Para pengawal harus sudah berada di halaman rumahku sebelum para pemberontak membuat gerakan-gerakan yang semakin merugikan kita.”

Para pemimpin pengawal yang setia itu pun telah melakukan perintah Ki Wiradana.

Mereka telah menggerakkan semua pengawal yang masih tersisa untuk dibawa ke rumah Ki Wiradana. Mereka berkumpul dihalaman rumah yang luas itu. Namun sebagian dari mereka telah berada di pinggir jalan di depan rumah itu bahkan di halaman rumah sebelah menyebelah.

Para pemimpin yang berada di pendapa telah mendapatkan beberapa penjelasan tentang kedudukan mereka yang memang sulit. Dengan hati-hati, agar tidak dianggap membuat kesalahan Ki Wiradana berkata, “Tanah Perdikan ini sudah memberikan terlalu banyak kepada kalian. Karena itu, maka kalian harus menyadari. Apa yang kalian dapatkan itu, harus kalian syukuri dengan langkah-langkah yang nyata. Pengorbanan bagi Tanah Perdikan ini. Dengan

demikian, maka tegaknya Tanah Perdikan ini tergantung kepada kalian. Kepada kita semua.”

Para pemimpin pengawal yang setia itu mengangguk-angguk. Namun Ki Wiradana masih belum mengatakan, bahwa pasukan itu akan dibawa ke Pajang malam nanti. Jika satu dua di antara pemimpin pengawal yang sudah mendapat penjelasan khusus dari Ki

Wiradana di barak mereka, maka mereka adalah para pemimpin yang paling dipercaya, justru untuk mengawasi agar tidak ada gerakan-gerakan yang dapat merugikan.

Kepada para pengawal, para pemimpin itu memberikan keterangan tentang para pemberontak. Karena itu, maka mereka harus bersiap untuk bertempur dalam kesiagaan tertinggi.

Sementara itu, para pemimpin di Tanah Perdikan Sembojan telah membuat rencana-rencana terperinci, bagaimana mereka akan meninggalkan Tanah Perdikan Sembojan. Mereka harus menempuh jalan melingkar, sehingga perjalanan itu tidak akan diganggu oleh para pemberontak.

Namun ternyata bahwa apa yang dirahasiakan oleh para pemimpin Tanah Perdikan itu telah bocor pula. Satu di antara para pemimpin yang masih mendapat kepercayaan dari Ki Wiradana telah menembus kerahasiaan itu. Dengan sangat hati-hati ia telah memerintahkan seorang di antara para pengawal untuk berusaha melarikan diri dan menghubungi para pengawal yang disebut pemberontak itu.

Sebenarnyalah, ketika para pengawal yang dikumpulkan di rumah Ki Wiradana dan sekitarnya itu beristirahat, maka pengawal yang seorang itu telah mencari jalan keluar. Ia sadar bahwa beberapa orang kepercayaan Ki Wiradana sedang mengawasi mereka dan mengadakan penjagaan yang ketat, sehingga sulit bagi seseorang untuk melepaskan diri. Namun pengawal yang mendapat tugas untuk menghubungi kawan-kawannya yang disebut pemberontak itu mengenal lingkungan itu dengan baik, sebagaimana kawan-kawannya yang lain. Karena itu, betapapun ketatnya penjagaan, maka ia akan tetap berusaha untuk dapat lepas dari pengamatan mereka. Waktu yang ada memang tidak terlalu banyak. Pengawal itu mendapat penjelasan dari seorang kepercayaan Ki Wiradana yang memerintahkannya menyampaikan berita itu kepada kawan-kawan mereka yang disebut pemberontak, bahwa lewat tengah malam mereka akan disiapkan, sehingga menjelang fajar pasukan itu sudah akan berangkat ke Pajang.

Karena itu, maka ketika suasana menjadi sepi dan terdengar dengkur yang sahut menyahut dari para pengawal yang tertidur betebaran di pendapa, di halaman, digardu-gadu dan bahkan di regol-regol halaman tetangga, maka pengawal itu pun mulai bersiap-siap untuk menyelinap.

Dengan hati-hati ia harus memperhatikan para petugas yang berjalan hilir mudik.

Namun kesempatan itu pun terbuka ketika seorang pengawas justru baru saja lewat membelakanginya.

Dengan sigap ia telah meloncat dinding rumah tetangga dan hilang dikegelapan.

Meskipun demikian, pengawal itu masih harus memperhatikan jalan-jalan di lingkungan padukuhan induk itu. Ia sadar, bahwa setiap sudut dan simpang jalan mendapat pengawasan dengan seksama. Karena itu, maka ia harus sangat berhati-hati.

Namun akhirnya, pengawal yang seorang itu dapat juga keluar dari dinding padukuhan induk. Demikian ia berada diluar, maka ia pun telah menarik nafas dalam-dalam.

Dengan hati-hati ia menyuruk di antara tanaman jagung yang muda untuk menghindari penglihatan para petugas yang berjaga-jaga di beberapa tempat disekitar padukuhan induk itu.

Ketika beberapa kotak sawah telah dilampaui, maka pengawal itu merasa bahwa dirinya telah terlepas dari setiap pengamatan, sehingga karena itu, maka ia pun telah muncul disebuah jalan kecil yang jarang sekali dilalui orang.

Namun tiba-tiba saja jantungnya berdegup semakin cepat. Hampir berbareng pada saat ia meloncati parit, telah muncul pula seorang yang lain di simpang tiga jalan kecil itu.

Dengan sigapnya keduanya telah bersiap menghadapi segala kemungkinan.

Dalam keremangan malam akhirnya keduanya saling mengenali yang satu atas yang lainnya. Keduanya adalah pengawal Tanah Perdikan Sembojan.

Pengawal yang berusaha untuk menghubungi kawan-kawannya yang disebut pemberontak itu menjadi tegang. Namun ia sudah bertekad untuk melakukannya. Karena itu, maka apapun yang dihadapinya, ia tidak boleh ingkar. Bahkan seandainya maut akan datang menjemputnya.

“Kau akan kemana?” tiba-tiba saja terdengar suara parau dari pengawal yang muncul dengan tiba-tiba disimpang tiga itu.

“Aku akan kesungai,” jawab pengawal yang menyuruk di antara batang-batang jagung muda itu.

“Untuk apa?” bertanya pengawal itu.

“Perutku sakit,” jawab pengawal yang ingin melarikan diri itu.

“Langkahmu mencurigakan,” berkata pengawal yang muncul disimpang tiga, “Kenapa kau merunduk dibawah batang jagung? Jika kau benar pergi ke sungai dan mendapat ijin, maka kau tidak akan berbuat seperti itu.”

Pengawal yang menyuruk dibawah batang jagung itu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian tanpa menjawab lagi dicabutnya pedangnya sambil berkata dengan nada berat, “Kita adalah dua orang dari lingkungan yang sama. Kita berkawan sejak kanak-kanak. Tetapi dalam menegakkan keyakinan apaboleh buat. Jangan ganggu aku, atau kita akan saling membunuh. Kau atau aku yang akan mati di pategalan ini.”

Wajah pengawal yang muncul disimpang tiga itu menegang. Namun kemudian suaranya justru merendah, “Jangan kehilangan akal. Kita tidak usah bermusuhan. Katakan, sebenarnya kau akan kemana?”

“Aku akan melepaskan diri dari lingkungan orang-orang gila disekitar Ki Wiradana. Karena itu pergilah. Beri kesempatan aku lari melintasi bulak ini, sehingga aku tidak akan dapat dikejar lagi. Sebenarnyalah aku masih segan untuk saling membunuh dengan kawan-kawan bermain semasa kanak-kanak.”

Pengawal yang muncul disimpang tiga itu termangu-mangu. Namun kemudian katanya, “Kita tidak akan saling membunuh. Aku juga sedang melarikan diri dari lingkungan yang semakin lama menjadi semakin gila itu. Aku mendengar diluar niatku untuk mendengarkan, dua orang kepercayaan Wiradana berbicara tentang keberangkatan

para pengawal ke Pajang.”

“Apakah kau bersungguh-sungguh?” bertanya pengawal yang menyuruk di kebun jagung itu.

“Aku bersungguh-sungguh. Aku tidak mau diumpankan di Pajang. Jika aku harus mati, biarlah aku mati di Tanah Perdikan kelahiran ini, dan bagi tanah kelahiran ini pula,” berkata pengawal yang muncul disimpang tiga itu.

Pengawal yang menyuruk di tanaman jagung itu kemudian berkata, “Jika benar katamu, maka marilah. Waktu kita tinggal sedikit.”

“Kenapa? Bukankah kita sudah bebas? Kita tidak perlu tergesa-gesa. Biar saja Ki Wiradana pergi ke Pajang” jawab pengawal yang berada disimpang tiga.

“Kita sampaikan persoalan ini kepada Ki Bekel yang dianggap memberontak itu,” jawab yang lain. “Mungkin ada sesuatu yang dapat mereka lakukan.”

Kedua pengawal itu pun akhirnya sepakat untuk berlari-lari kecil menuju ke tempat kawan-kawan mereka yang dianggap memberontak.

Kedatangan kedua orang itu memang mengejutkan para penjaga. Dengan tombak merunduk, orang-orang yang berlari-lari kecil itu telah dihentikan.

“Aku membawa kabar penting,” berkata salah seorang dari kedua pengawal itu.

“Beri kesempatan aku bertemu dengan salah seorang di antara ketiga orang bekel itu atau jika mungkin aku ingin bertemu dengan penari itu.”

“Nyi Iswari maksudmu?” bertanya penjaga yang menghentikan kedua pengawal itu. “Ya. Aku ingin menyampaikan berita yang barangkali penting,” jawab pengawal itu.

Para penjaga itu pun tidak merasa keberatan. Apalagi mereka hanya berdua. Karena itu, maka keduanya pun telah dibawa ke tempat Iswari dan kakeknya yang tinggal di rumah Ki Bekel.

“Tinggalkan senjatamu,” minta pengawal yang membawa keduanya masuk ke ruang dalam.

Iswari memang sudah tidur. Namun ia sama sekali tidak berkeberatan dibangunkan jika keadaan memang memerlukannya.

“Ada apa?” bertanya Iswari dan beberapa orang tua yang terbangun pula.

Para pengawal itu tidak mau kehilangan waktu. Mereka pun segera menceriterakan apa yang mereka ketahui tentang rencana Ki Wiradana untuk membawa pasukan pengawal yang tersisa ke Pajang.

“Bukankah pasukan itu tinggal beberapa kelompok kecil saja?” bertanya Iswari.

“Ya. Dan beberapa kelompok itu akan menjadi umpan pula di medan perang yang garang di Pajang,” desis Kiai Badra.

Iswari menarik nafas dalam-dalam. Atas nama anak laki-lakinya serta kuasa Pajang atas dirinya, maka ia merasa berkeberatan apabila para pengawal itu benar-benar akan dibawa ke Pajang justru untuk memperkuat pasukan Jipang. Karena itu, maka katanya, “Kita akan mencegahnya. Kita akan menghancurkan orang-orang yang telah mengendalikan pemangku jabatan Kepala Tanah Perdikan Sembojan yang lemah itu.”

“Maksudmu?” bertanya Kiai Badra.

“Kita tidak akan memberi kesempatan lagi kepada mereka,” berkata Iswari dengan perasaan yang bergejolak.

“Kita tidak memang akan mencegahnya Iswari,” berkata Kiai Badra. “Tetapi sudah aku katakan, biarkan saja orang-orang dari bayangan kekuatan Kalamerta itu bermain untuk beberapa saat lagi. Aku mengharap mereka akan datang pada kesempatan lain. Agaknya dengan seluruh kekuatan yang ada pada mereka, sehingga kita tidak akan mencemaskan lagi dimasa-masa mendatang.”

“Kakek,” jawab Iswari. “Kita tidak boleh merendahkan kemampuan mereka. Jika kita memancing seluruh kekuatan Kalamerta, apakah kita akan dapat melawannya. Tetapi jika apa yang ada ini kita binasakan, maka kekuatan Kalamerta itu sudah jauh berkurang.”

“Dan yang tersisa itu akan menjadi duri di dalam kehidupan Tanah Perdikan ini.

Pada saat-saat yang lengah mereka akan memasuki Tanah Perdikan ini sebagaimana Nyi Wiradana dan orang-orang yang ada disekitarnya sekarang ini. Mungkin dengan cara lain tetapi mungkin mereka mempergunakan kekerasan justru pada saat-saat Tanah Perdikan ini sepi,” sahut Kiai Badra. Lalu, “Karena itu, maka biarlah kita berusaha mencegah kelompok-kelompok yang akan dibawa ke Pajang itu, namun sekali lagi aku minta, jangan kita tumpas orang-orang yang mungkin akan dapat memancing kekuatan yang masih tersembunyi, karena aku yakin bahwa kekuatan Kalamerta yang terkenal itu tersebar sepeninggalan Kalamerta itu sendiri. Bahkan mungkin masih ada kekuatan yang sejajar dengan Kalamerta itu sendiri yang akan dapat kita ungkit ke luar dari sarangnya.”

Iswari tidak membantah. Namun ia memang harus berbuat cepat. Karena itu, maka ia pun minta para bekel yang dipanggilnya untuk menyiapkan para pengawal.

Para Bekel itu pun kemudian memanggil para pemimpin pengawal dan memerintahkan mereka untuk bersiap dalam waktu yang singkat.

Namun dalam pada itu, di padukuhan induk telah terjadi sesuatu yang mengguncangkan. Ternyata bahwa kepergian dua orang pengawal itu diketahui oleh kelompok masing-masing. Pemimpin kelompok mereka yang setia kepada Ki Wiradana, segera melaporkan kehilangan itu kepada Ki Wiradana.

Wajah Ki Wiradana menjadi tegang. Untuk beberapa saat ia justru terdiam. Namun yang bergejolak di dalam dadanya ternyata tidak sebagaimana diduga oleh para pemimpin kelompok itu. Para pemimpin kelompok yang melaporkan kepadanya itu menganggap bahwa kemarahan yang menghentak di dada Ki Wiradana membuatnya tidak dapat bertindak dengan segera. Para pemimpin kelompok itu menganggap bahwa Ki Wiradana sedang berusaha menenangkan hatinya karena laporan yang mengejutkan itu.

Namun sebenarnya Ki Wiradana telah dicengkam oleh kebimbangan. Ketika mereka mendengar bahwa ada dua orang pengawal yang hilang dari kelompok masing-masing, maka tiba-tiba saja Ki Wiradana merasa bersyukur, bahwa keberangkatan itu akan didengar oleh mereka yang disebut pemberontak, karena Ki Wiradana yakin bahwa orang-orang itu tentu akan pergi kepada orang-orang yang disebut pemberontak itu. Namun Ki Wiradana menjadi cemas juga, bahwa akhirnya ia juga yang akan menjadi sasaran umpatan dan makian dari orang-orang yang ada disekitarnya itu.

Namun Ki Wiradana tidak dapat berdiam diri dalam kebimbangannya. Ia memang harus mengambil sikap. Karena itu, maka ia pun telah menemui Ki Randukeling. Seorang yang menurut pendapat Ki Wiradana adalah orang yang berpendirian paling lunak terhadapnya.

Ki Randukeling mengerutkan keningnya. Dengan nada datar dan yang hanya didengar oleh dirinya sendiri, ia bergumam, “Aku sudah menduga bahwa rahasia ini tidak akan dapat dipertahankan dengan ketat. Menilik sikap orang-orang Tanah Perdikan ini sendiri.” Namun Ki Randukeling tidak mengatakan kepada siapapun juga. Juga tidak kepada Ki Wiradana.

Tetapi seperti Ki Wiradana, maka ia pun merasa wajib untuk mengambil langkah-langkah. Karena itu, maka ia pun telah memanggil Warsi dan Rangga Gupita serta beberapa orang lain.

“Setan,” geram Warsi. “Siapa yang telah berkhianat? Atau barangkali kau sendiri kakang?”

“Jangan menuduh begitu,” potong Ki Randukeling. “Pada saat seperti ini kita jangan bertengkar lagi. Kita harus mengambil langkah yang paling baik.”

“Aku memang tidak dapat percaya lagi kepada orang-orang Tanah Perdikan ini,” berkata Ki Rangga. “Mungkin di antara para pemimpin pengawal yang menjadi kepercayaan Ki Wiradana itulah yang berkhianat. Tetapi baiklah. Kita harus mengambil langkah-langkah.”

“Apa yang harus kita lakukan?” bertanya Warsi.

“Siapkan pasukan,” berkata Ki Rangga. “Kita berangkat sekarang. Kita tidak menunggu fajar.”

Darah Ki Wiradana terasa mengalir semakin cepat. Tetapi ia tidak dapat berbuat apa-apa. Ketika Wiarsi memerintahkan kepadanya, maka ia pun telah memanggil para pemimpin pengawal.

Ki Wiradana seolah-olah tidak lebih dari seorang penghubung yang menyampaikan perintah yang dilimpahkannya kepada yang berkepentingan. Kepada para pemimpin pengawal Ki Wiradana memerintahkan sebagaimana didengarnya dari Warsi. Pasukan harus disiapkan dan berangkat segera tidak menunggu fajar.

Para pemimpin itu pun dengan tergesa-gesa melakukan perintah itu. Para pengawal

yang berserakan itu pun telah berkumpul kelompok demi kelompok.

“Hitung setiap orang di dalam kelompok,” pemimpin terpercaya dari para pengawal

itu menjatuhkan perintah, “Jika ada yang kuarang, maka para pemimpin kelompok harus melaporkannya.”

Ternyata memang hanya dua orang yang tidak ada di dalam kelompoknya sebagaimana sudah dilaporkan kepada Ki Wiradana. Namun yang dua orang itu akan dapat menimbulkan kemungkinan-kemungkinan yang jauh pada pasukannya yang akan berangkat ke Pajang itu.

Dengan keterangan singkat, maka Ki Wiradana memberitahukan bahwa pada saat itu mereka akan berangkat menunaikan satu kewajiban yang sangat penting dan terhormat.

“Kita akan berjuang bersama-sama di samping para prajurit dari Jipang di Pajang.

Bukankah hal itu akan merupakan satu kehormatan? Karena itu, marilah kita mempersiapkan diri sebaik-baiknya. Kita akan meninggalkan Tanah Perdikan ini untuk satu kewajiban yang mulia, sementara di Tanah Perdikan ini sedang timbul pergolakan. Tetapi pada saatnya kita akan kembali dan menyusun kembali Tanah Perdikan ini dengan landasan kebenaran paugeran bersama dengan para prajurit Jipang,” berkata Ki Wiradana.

Keterangan itu memang mengejutkan. Tetapi tidak seorang pun lagi yang sempat keluar dari barisan. Para pengawal hanya dapat saling berpandangan dengan penuh kecurigaan, karena orang yang berdiri disampingnya itu akan dapat menusuk lambungnya, jika seorang di antara mereka berusaha meninggalkan pasukan itu.

Karena itu, maka para pengawal itu hanya dapat mengumpat di dalam hati, sementara Warsi yang sudah siap dalam pakaian tempurnya itu pun berkata lantang dihadapan para pengawal, “Kita adalah pejuang-pejuang yang pantang meninggalkan kewajiban. Jika di antara kita sengaja atau tidak sengaja meninggalkan beban yang dibebankan di pundak kita, maka itu akan berarti pengkhianatan. Kita tahu pasti, apakah hukuman bagi seorang pengkhianat.”

Para pengawal menjadi semakin berdebar-debar, sementara Ki Rangga berkata, “Kita akan berjuang sampai kemenangan ada ditangan kita atau kematian merenggut nyawa kita.

Dengan demikian juga berarti bahwa siapa yang ingkar akan sama halnya dengan menyusrukkan diri ke dalam maut.”

Ancaman-ancaman itu telah membuat para pengawal menjadi semakin gelisah, sementara mereka tetap tidak tahu, siapakah di antara kawan-kawan mereka yang benar-benar setia kepada Ki Wiradana dan siapa di antara mereka yang mulai dibayangi oleh kenyataan yang pahit tentang Tanah Perdikan Sembojan.

Karena itu, maka para pengawal itu tidak dapat berbuat lain kecuali melakukan segala perintah. Mereka telah menyiapkan senjata mereka sebagaimana diperintahkan, agar ditempat tujuan, mereka tidak merasa terganggu oleh senjata-senjata mereka sendiri.

Demikianlah, dengan tergesa-gesa pasukan itu disiapkan. Kemudian sebelum fajar membayang di langit, maka pasukan itu mulai mendapat perintah untuk bergerak.

Pasukan yang tidak begitu besar, tetapi akan sangat berarti bagi pasukan Jipang di Pajang sebelah Timur.

Sementara itu, ternyata bahwa Warsi telah membawa apa saja yang dapat dibawa. Ia sadar, bahwa orang-orang yang disebutnya sebagai pemberontak itu tentu akan memasuki rumah itu, sehingga benda-benda yang ada perlu diselamatkannya dalam batas kemungkinan. Terutama perhiasan, benda-benda berharga dan berbagai jenis senjata.

“Tetapi pada satu saat aku akan kembali ke Tanah Perdikan ini, memegang kendali pemerintahan dan menghukum para pemberontak,” berkata Warsi di dalam hatinya.

Namun dalam pada itu, ada sesuatu yang merupakan persoalan yang harus dipecahkannya. Ia tentu tidak akan dapat meninggalkan anak laki-lakinya di Tanah Perdikan itu, karena hal itu akan dapat berbahaya bagi jiwa anak itu. Apalagi anak itu adalah sandaran kekuasaannya kelak di atas Tanah Perdikan itu, karena anak itu adalah anak Wiradana.

Dalam pembicaraan khusus, maka Ki Randukeling lah yang kemudian mengusulkan,

Katanya, “Bawa anak itu ke padepokanku.”

“Padepokan itu terlalu jauh kakek,” jawab Warsi.

“Apakah kau akan membawanya ke Pajang,” bertanya Randukeling.

“Apa salahnya,” jawab Warsi. “Anak itu akan ditempa oleh peperangan dimasa bayinya sehingga ia akan menjadi seorang laki-laki yang perkasa. Aku akan membawa seorang pemomong yang terpercaya. Ia akan dapat dititipkan pada seorang dilingkungan pesanggrahan orang-orang Jipang untuk menjaga dan memelihara bayi itu sampai Pajang pecah. Kemudian bersama pasukan Jipang kita akan kembali memasuki Tanah Perdikan ini. Anakkulah yang kemudian akan memerintah Tanah Perdikan ini di bawah payung kuasa Jipang yang besar.”

Ki Randukeling menarik nafas dalam-dalam. Namun untuk membawa bayi kecil itu ke Pajang, rasa-rasanya memang agak mendebarkan. Apalagi di malam hari dalam ancaman bahaya yang datang setiap saat. Persoalan kemudian, apakah ada seorang perempuan selain Warsi sendiri yang akan dapat menempuh perjalanan panjang menuju ke Pajang. Sedangkan jika mereka membawa pedati, maka perjalanan akan menjadi sangat lamban.

Namun Warsi berkeras untuk membawa anak laki-lakinya ke Pajang dan selanjutnya mengikutinya kemana ia akan pergi, sampai saatnya Wrasi akan memasuki Tanah Perdikan Sembojan dengan kekuatan yang besar.

“Kita membawa kuda,” berkata Warsi. “Jika perempuan yang tidak memiliki ketahanan wadag seperti aku itu tidak mampu lagi berjalan, maka ia akan naik ke atas punggung kuda. Jika ia tidak terbiasa, maka biarlah seorang pengawal menjaganya.”

Tidak ada orang yang dapat menahannya lagi. Meskipun pemomong anak Warsi itu tidak ingin untuk ikut keluar dari Tanah Perdikan Sembojan, namun ia tidak dapat menolak. Ia harus ikut bersama Warsi dengan membawa anak laki-lakinya yang masih terlalu kecil.

Demikianlah, maka dengan cepat Ki Wiradana telah menggerakkan para pengawal meninggalkan padukuhan induk. Dalam suasana yang bagaikan sedang berkabung mereka berbaris dan mengambil jalan melingkar.

Di antara para pengawal yang berjalan kaki, maka dalam iring-iringan itu memang terdapat beberapa ekor kuda. Berapapun kuda yang ada pada mereka, telah mereka bawa serta. Orang-orang yang kelelahan akan dapat berganti-ganti naik ke atas punggung-punggung kuda itu. Sementara itu, Ki Wiradana pun telah memerintahkan para pengawal untuk bersiap menghadapi segala kemungkinan yang dapat terjadi disepanjang jalan. Mungkin mereka harus bertempur dan menghindar.

“Dua orang telah berkhianat dengan meninggalkan pasukan,” berkata Ki Wiradana.

“Mungkin mereka telah menghubungi para pemberontak. Dengan demikian, mungkin akan dapat timbul gangguan di dalam perjalanan ini. Karena itu, maka kita harus siap bertempur dalam keadaan yang bagaimanapun juga.”

Para pengawal menjadi berdebar-debar. Tetapi mereka tidak dapat berbuat lain kecuali menjalankan segala perintah. Sementara itu, Kiai Badra telah siap pula dengan pasukan pengawal yang menentang kebijakan Ki Wiradana. Mereka harus berusaha untuk mencegah para pengawal yang akan dibawa ke Pajang. Bahwa mereka mulai dengan sikap keras itu, mereka memperhitungkan bahwa pasukan pengawal yang ada di Tanah Perdikan Sembojan tidak akan dibawa keluar, sebagaimana yang berada di Pajang tidak akan dikirim kembali ke Tanah Perdikan. Namun ternyata perhitungan mereka keliru. Pengawal yang tersisa di dalam pengaruh Ki Wiradana itu masih juga akan dibawa ke Pajang, sedangkan Tanah Perdikan Sembojan untuk sementara akan dikosongkan. Namun Kiai Badra dan orang-orang tua, bahwa Iswari sendiri telah memperhitungkan, bahwa pada suatu saat, yang akan datang adalah kekuatan yang lebih besar. Bukan hanya kekuatan Kalamerta, tetapi mungkin juga bantuan Jipang.

Namun dalam pada itu, Kiai Badra berkata, “Jipang tidak akan mempunyai kekuatan lagi. Menurut perhitunganku, jika perselisihannya dengan Pejang diteruskan, maka Jipang akan mengalami kesulitan. Apalagi Jipang telah membuka permusuhan lebih dahulu dengan Pengging dan Kalinyamat.”

Demikianlah, maka ketika pasukannya sudah siap seluruhnya, Kiai Badra dan para pemimpin dari padukuhan-padukuhan yang menentang kebijakan Ki Wiradana bersama para pengawal yang berpihak kepada mereka telah menuju ke padukuhan induk.

Menurut laporan yang mereka terima, menjelang fajar pasukan itu baru berangkat. Mereka akan mengepung padukuhan induk, sehingga pasukan yang dipersiapkan itu tidak akan dapat meninggalkan padukuhan induk itu.

Namun ternyata bahwa perhitungan mereka keliru. Ketika mereka sampai di padukuhan induk, maka pedukuhan itu telah kosong.

Pengawal yang memang mendapat pesan untuk menyampaikan keberangkatan itu kepada mereka yang menentang kebijaksanaan Ki Wiradana pun menjadi kebingungan.

Ternyata para pemimpin Tanah Perdikan serta kekuasaan yang mengelilinginya telah mengubah rencana mereka dan berangkat lebih awal.

Ketika para pemimpin dari pasukan yang datang itu memasuki rumah Ki Wiradana, mereka tidak menemukan apapun juga. Yang ada adalah para pembantu rumah itu yang tidak tahu apa-apa. Dengan ketakutan mereka menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan kepada mereka tanpa mengulasnya sama sekali.

“Dimana anak Warsi itu,” tiba-tiba Iswari bertanya kepada seorang pembantu perempuan.

“Anak itu dibawanya,” jawab pembantu itu. “Seorang kawan kami dipaksa ikut bersama mereka.”

Iswari menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian katanya kepada Kiai Badra dan Kiai Soka, “Mereka belum terlalu lama pergi. Kita mungkin akan dapat menyusulnya.”

Kiai Badra mengangguk-angguk. Sementara Kiai Soka berkata, “Kita akan mencoba.”

Kiai Badra pun kemudian telah berbicara dengan para Bekel. Mereka pun bersepakat untuk mencoba menyusul pasukan Ki Wiradana yang akan keluar dari Tanah Perdikan.

“Mereka mengambil jalan melingkar,” berkata salah seorang dari para Bekel itu.

Sejenak kemudian, maka iring-iringan pasukan itu berjalan dengan cepat untuk berusaha menyusul pasukan Ki Wiradana. Mereka mencoba mengamati jejak pasukan itu, sehingga mereka tidak akan mengambil jalan yang salah. Dengan obor-obor biji jarak, mereka melihat jejak pasukan itu. Jejak kaki kuda dan langkah-langkah yang diseret ditanah berdebu. Bahkan pohon-pohon perdu yang berpatahan dipinggir jalan.

“Nampaknya memang ada yang dengan sengaja meninggalkan jejak pada pohon-pohon perdu ini,” berkata Kiai Badra.

Kiai Soka mengangguk-angguk, jawabnya, “Ya. Ada yang dengan sengaja mematahkan ranting-ranting perdu itu.”

Dengan demikian maka mereka tidak terlalu sulit untuk mengikuti jejak pasukan yang telah meninggalkan padukuhan induk itu.

Namun ternyata bahwa jarak mereka tidak cukup dekat untuk dapat menyusul pasukan yang meninggalkan Tanah Perdikan itu. Para Bekel dan pemimpin pasukan telah

memacu pasukan mereka untuk berjalan lebih cepat.

Namun mereka tidak segera dapat menyusul. Sementara itu, jarak perbatasan Tanah Perdikan Sembojan semakin lama menjadi semakin dekat pula.

Ketika langit menjadi merah, maka iring-iringan itu sudah mendekati batas. Jalan yang keluar dari Tanah Perdikan Sembojan itu memang akan memasuki hutan kecil.

Tetapi hutan kecil itu berada dibawah pengamatan Kademangan tetangga. “Apakah kita dapat menyusul?” berkata salah seorang dari ketiga orang Bekel itu.

“Kita tinggal mempunyai kesempatan sedikit,” berkata Bekel yang lain.

Tiba-tiba saja Kiai Badra berkata, “Apakah kita masih mempunyai oncor jarak?”

“Masih banyak,” sahut salah seorang pemimpin pengawal.

“Nyalakan saja,” berkata Kiai Badra.

“Tetapi langit justru semakin terang,” jawab pengawal itu.

“Biarlah. Mudah-mudahan ada akibatnya,” jawab Kiai Badra.

Pemimpin pengawal itu pun segera memerintahkan menyalakan semua obor meskipun langit menjadi semakin terang. Namun cahaya obor itu masih juga nampak menjilat-jilat ke udara. Para pengawal itu telah merangkap tiga atau empat oncor biji jarak dan menyalakannya sekaligus, sehingga oncor itu nampaknya merupakan oncor-oncor yang besar.

Dengan cepat pasukan itu berusaha menyusul. Setidak-tidaknya obor-obor itu dapat dilihat oleh orang-orang yang mereka ikuti.

Dalam pada itu, beberapa saat kemudian, ternyata bahwa pasukan Ki Wiradana memang telah sampai ke batas. Sejenak kemudian mereka akan meninggalkan Tanah Perdikan. Para pengawal menjadi berdebar-debar. Beberapa orang di antara mereka merasa cemas, bahwa mereka tidak akan dapat melihat Tanah Perdikan itu lagi.

Karena itu, maka beberapa orang pun telah berpaling. Diamatinya keremangan fajar serta cahaya merah yang menyangkut diujung pepohonan.

Namun tiba-tiba saja mereka telah melihat sesuatu yang bergerak. Obor.

Beberapa orang menjadi berdebar-debar. Bahkan seseorang dengan hampir tidak sengaja telah berdesis, “Obor.”

“Ya obor,” sahut kawannya.

Beberapa orang yang telah melihat obor itu juga. Tiba-tiba saja mereka telah memperlambat langkah mereka.

Para pemimpin pengawal yang menyadari keadaan telah memberikan aba-aba untuk mempercepat langkah mereka. Namun salah seorang di antara para pemimpin itu

tiba-tiba berteriak, “Kita bersiap untuk bertempur. Pasukan benar-benar telah menyusul kita.”

Perintah-perintah yang simpang siur itu terdengar oleh Ki Wiradana dan orang-orang yang membayanginya. Karena itu, maka bersama Ki Rangga, maka Ki Wiradana pun telah menelusuri pasukannya sampai kepada mereka yang telah melihat obor itu.

“Apa yang terjadi?” bertanya Ki Wiradana.

“Obor,” jawab salah seorang pemimpin.

Ki Rangga menjadi tegang. Dengan nada tinggi ia berkata, “Kita percepat langkah kita. Mereka tidak akan membuka pertempuran di daerah orang lain. Bukankah kita sedang melintasi perbatasan.

“Belum tentu,” jawab salah seorang pemimpin pengawal, “Mereka adalah orang-orang gila. Mereka tidak akan berpikir sekian jauhnya. Karena itu, tidak ada cara lain yang harus kita lakukan kecuali bertempur sampai orang yang terakhir.

“Jangan terlalu memanjakan perasanmu,” berkata Ki Rangga. “Kita justru harus mempercepat perjalanan ini.”

Sementara itu, oncor-oncor biji jarak itu pun menjadi semakin dekat. Ketika mereka berbelok sekali disela-sela batang perdu yang tumbuh dipinggir jalan bulak, maka pasukan itu menjadi semakin jelas. Apalagi langit menjadi semakin terang.

Namun yang terdengar adalah perintah Ki Wiradana, “Kita mempercepat perjalanan ini.”

Iring-iringan itu agaknya memang ingin mempercepat langkah mereka. Tetapi terasa sesuatu telah membenani mereka, sehingga laju pasukan itu justru terasa tersendat-sendat.

Sementara itu pasukan yang menyusul itu justru berjalan semakin cepat. Seorang di antara para Bekel itu memang menjadi ragu-ragu. Dengan bimbang ia berkata, “Apakah kita akan membuka pertempuran di hutan milik tetangga?”

“Kita akan memberikan penjelasan kelak,” berkata Bekel yang lain.

Karena itu, maka mereka sama sekali tidak merasa terpotong oleh perbatasan. Asal iring-iringan itu belum keluar dari hutan kecil itu, maka para Bekel itu masih merasa akan dapat menjelaskan persoalannya kepada kademangan tetangganya.

Di depan mereka Ki Wiradana justru telah membentak-bentak untuk mempercepat perjalanan pasukannya. Namun beberapa orang di antara mereka justru telah mencabut senjata. Seorang pemimpin masih juga berkata, “Kita harus bersiap sepenuhnya.”

Sementara itu Ki Rangga pun telah berteriak, “Jangan menjadi pengecut. Jika mereka memang menyerang, kita akan menghancurkan mereka. Tetapi untuk kepentingan yang lebih besar, kita akan pergi ke Pajang. Karena itu, jangan hiraukan gangguan-gangguan kecil yang tidak berarti itu.

Pasukan itu memang berjalan lebih cepat. Tetapi pasukan yang menyusul itu pun justru telah berlari-lari kecil sehingga jarak antara mereka pun menjadi semakin pendek.

Seperti dikatakan oleh salah seorang pemimpin pengawal, bahwa pasukan yang

menyusul itu sama sekali tidak menghiraukan perbatasan. Meskipun pasukan Ki Wiradana seluruhnya telah memasuki hutan kecil di luar batas Tanah Perdikan Sembojan, namun yang menyusul itu telah memasuki hutan itu pula.

“Jangan biarkan mereka menerkam dari belakang,” tiba-tiba pemimpin pengawal yang

telah bersiap-siap itu berteriak, “Aku sudah mengatakan, bahwa mereka akan menyergap kita.”

“Jangan menjadi gila,” Ki Rangga telah berteriak lebih keras, “Tinggalkan mereka.”

Tetapi pemimpin pengawal itu menjadi ragu-ragu. Katanya kemudian, “Silakan meninggalkan tempat ini. Aku dan kelompokku akan menghambat mereka. Tidak ada pilihan untuk menghadapi mereka kecuali dengan bertempur.”

“Tidak. Kau dengar perintahku,” geram Ki Rangga.

Pemimpin pengawal itu menjadi tegang. Tetapi ia tidak dapat menolak perintah Ki

Rangga, sehingga karena itu, maka ia pun telah melanjutkan perjalanan dibelakang

pasukan yang telah berjalan beberapa langkah lanjut.

“Cepat,” teriak Ki Rangga itu.

Namun yang mengejar mereka pun semakin cepat pula. Sementara Ki Rangga bergeser ketengah-tengah barisan yang tergesa-gesa, maka pasukan yang mengejarnya menjadi semakin dekat.

Ketika pasukan itu memasuki hutan, maka obor-obor telah dimatikan. Namun langit sudah menjadi terang. Meskipun demikian di dalam hutan masih terasa selubung kelam karena dedaunan yang rimbun dan rapat saling berhimpitan.

Agaknya para pemimpin dari pasukan yang menyingkir itu memang mempunyai perhitungan, jika pasukan yang dianggapnya pemberontak itu berani mengejar sampai ke tengah hutan, namun mereka tidak akan berbuat apa-apa jika pasukan dipimpin oleh Ki Wiradana itu sudah keluar dari hutan dan berada di jalan persawahan.

Tetapi pasukan yang mengejar itu sudah menjadi sangat dekat. Bahkan sebagian dari mereka sudah mulai memencar untuk menyerang iring-iringan itu dari lambung.

Ki Rangga berpikir cepat. Dengan serta merta ia pun segera mendekati Ki Wiradana, sementara Ki Randukeling telah berada ditempat itu pula.

“Mereka mulai menyerang,” berkata Ki Rangga. “Kita harus bertahan,” berkata Ki

Randukeling. “Kita korbankan sekelompok pasukan yang dipimpin oleh pengawal yang berdarah panas itu. Biarlah mereka menahan arus pasukan itu, sementara kita berusaha melepaskan diri dengan sisa pasukan yang ada,” berkata Ki Rangga. Ki Wiradana tidak membantah. Apalagi ketika Warsi datang pula dan berkata,

“Lepaskan kelompok itu. Kita percepat gerak pasukan.” Ki Wiradana tidak dapat berbuat lain. Namun Ki Randukeling lah yang menyahut, “Tidak mungkin hanya satu kelompok. Tentu tidak akan berarti apa-apa. Setidak-tidaknya dua kelompok.”

“Baik. Lepaskan dua kelompok pasukan. Yang lain akan meninggalkan arena dengan cepat dan keluar dari hutan kecil ini,” sahut Warsi.

Demikianlah maka Ki Wiradana pun telah menjatuhkan perintah kepada pemimpin pengawal yang sudah siap dengan senjata ditangan.

“Bawa dua kelompok pasukan. Cegah mereka untuk menyusul kami. Kemudian kalian harus melepaskan diri kembali kepada induk pasukan jika kami sudah berada diluar hutan karena mereka tidak akan bertempur diluar hutan sehingga akan dapat menimbulkan persoalan dengan Kademangan tetangga,” berkata Ki Wiradana kepada pemimpin pasukan pengawal yang telah siap dengan senjata ditangan.

“Kami akan melakukan sebaik-baiknya,” berkata pengawal itu.

Sejenak kemudian maka Ki Wiradana pun telah menyusul pasukannya yang dengan cepat berusaha meninggalkan hutan kecil itu, sementara dua kelompok pengawal telah siap menghambat gerak maju pasukan yang berusaha untuk menyusul.

Bagaimanapun juga, maka pasukan yang disebut pemberontak itu harus bersiap-siap menghadapi pasukan kecil yang akan menghambat perjalanan mereka. Sambi Wulung yang kemudian berada di paling depan telah bersiap untuk bertempur.

Namun ia menjadi bimbang ketika pemimpin pengawal itu berteriak kepada para pengawal yang dipimpinnya,” Lepaskan senjata. Kita menyerah.”

Para pengawal menjadi heran. Bahkan mereka menjadi gelisah. Namun sekali lagi terdengar suaranya jelas, “Lepaskan senjata. Kita tidak akan bertempur melawan sanak kadang sendiri.”

Namun seorang pemimpin kelompok mendekatinya sambil bertanya, “Apa artinya ini?”

“Aku adalah salah seorang pengkhianat bagi Ki Wiradana,” jawab pemimpin pengawal itu. “Terserah kepadamu, apakah kau akan melawan dan kemudian ikut menjadi umpan di Pajang?”

“Setan,” geram pemimpin kelompok itu. Lalu ia pun berteriak kepada para pengawal di dalam kelompoknya, “Tahan para pemberontak itu. Aku akan menghabisi nyawa pengkhianat ini. Jangan sekali-kali melepaskan senjata agar kalian tidak dibantai tanpa perlawanan disini.”

Pemimpin kelompok itu tidak menunggu lebih lama. Ia pun langsung mengayunkan pedangnya keleher pemimpin pengawal yang memerintahkannya untuk menyerah.

Tetapi pemimpin pengawal itu ternyata cukup berhati-hati. Ketika ia melihat sorot mata pemimpin kelompok itu maka ia sudah menduga apa yang akan terjadi.

Karena itu, maka ia pun telah menangkis serangan itu dengan pedangnya pula.

Dengan demikian maka pertempuran pun telah terjadi antara kedua orang pemimpin itu. Namun justru karena itu, maka para pengawal menjadi kebingungan.

Namun dalam pada itu, pemimpin kelompok yang lain pun ternyata masih tetap setia juga kepada Ki Wiradana. Ialah yang kemudian memegang kendali kelompok-kelompok

yang dilepaskan dari pasukan induk itu untuk menahan gerak maju pasukan yang ingin menyusul Ki Wiradana.

Sementara itu, pasukan yang disebut pemberontak itu pun telah berada dihadapan mereka. Melihat sikap para pengawal, maka Iswari pun telah bergeser kepaling depan. Ia berusaha untuk menyelesaikan persoalan dengan para pengawal tidak dengan kekerasan.

“Apakah kita akan bertempur?” bertanya Iswari.

Pertanyaan itu telah membuat para pengawal termangu-mangu. Namun sementara itu, pemimpin yang ingin menyerah itu telah bergeser dan bertempur di antara kedua pasukan yang saling berhadapan.

DENGAN lantang pemimpin pengawal yang bertempur itu berteriak, “Menyerahlah.

Kita belum terlambat. Tetapi penjilat ini memang harus dihabisi.”

“Kau yang berkhianat,” jawab lawannya. Lalu ia pun memberikan aba-aba pula, “Bunuh mereka yang berkhianat seperti orang ini.”

Suasana menjadi tegang. Namun kedua pasukan masih belum terlibat dalam pertempuran. Mereka masih terpukau melihat kedua pemimpin pengawal yang akan bertempur itu.

Sementara itu, Iswari berkata pula, “Masih ada waktu untuk merenungi kata-katanya,” namun sementara itu Iswari pun telah memberikan isyarat kepada para pengawalnya. Sambil melambaikan tangannya ia berkata, “Jika masih mungkin,

susul pasukan yang telah dengan tanpa jantung mengumpankan sebagian kecil dari kawan-kawannya sendiri itu. Kita tidak akan membunuh saudara-saudara kita yang dengan sengaja telah dilemparkan kedalam api, disini dan yang lain di Pajang.”

Ternyata kata-kata Iswari itu mempunyai pengaruh yang besar bagi para pengawal.

Apalagi ketika pemimpin mereka yang bertempur itu berteriak pula, “Dengar kata-kataku. Lepaskan senjata. Kita akan bekerja bagi Tanah Perdikan ini. Tidak untuk menjadi umpan ujung pedang orang-orang Pajang karena kita berpihak kepada Jipang.”

Namun dalam pada itu, Sambi Wulung dan Jati Wulung telah membawa beberapa kelompok pengawal menyusul mereka yang telah meninggalkan kawan-kawannya. Namun jarak mereka sudah menjadi semakin jauh justru pada saat pasukan yang disebut pemberontak itu tertahan meskipun tidak harus bertempur.

“Lihat,” berkata Iswari. “Kalian tidak mampu berbuat apa-apa atas pasukan yang

menyusul kawan-kawanmu. Jika kalian bergerak, maka pasukan yang tinggal ini pun akan bergerak. Sia-sialah usaha kalian untuk menghambat perjalanan kami karena jumlah kalian yang kurang memadai. Karena itu, pertimbangkan untuk menyerah.

Kalian hanya mempunyai dua pilihan. Menyerah dan bekerja bersama kami membangun Tanah Perdikan ini, atau mati. Jika tidak mati disini, maka kalian akan mati di Pajang, justru anak keluarga kalian tidak akan sempat melihat dimana kubur kalian. Atau barangkali, karena kalian hanya anak-anak Tanah Perdikan Sembojan, maka mayat kalian tidak akan ada yang menguburkan.”

“Persetan,” sahut pemimpin kelompok yang sedang bertempur, “Jangan dengarkan.”

“Justru dengarkan kata-katanya,” tiba-tiba saja seorang di antara para pengawal itu berteriak. Suaranya seakan-akan telah meledakkan isi hutan karena hentakan-hentakan perasaan yang untuk beberapa lama dibenamkannya dalam-dalam di dalam hatinya, “Kita harus mendengarkan suaranya. Aku tidak mau dibawa ke Pajang. Aku ingin berjuang untuk Tanah Perdikan ini.”

“Pengkhianat,” geram pemimpin kelompok yang seorang lagi. Dengan geram ia telah mengayunkan pedangnya menebas ke arah lambung.

Namun tiba-tiba saja seorang kawannya telah mendorong pengawal yang hampir saja

ditembus oleh ujung pedang itu. Bahkan tiba-tiba pula seorang yang lain dengan serta merta telah berteriak pula, “Kita akan menyerah.”

Pemimpin kelompok itu tidak sempat menyerang lagi. Di luar dugaan bahwa sebuah pisau belati telah terhunjam dipunggungnya. Seorang anak yang masih sangat muda berkata, “Aku tidak mau mati sekarang atau besok di Pajang.”

Pemimpin kelompok itu terkejut. Tetapi luka itu terlalu dalam. Untuk sesaat ia masih sempat memandangi anak yang masih terlalu muda itu dengan sorot mata penuh dendam dan kebencian. Yang terdengar adalah desis mulutnya, “Pengkhianat.”

Namun pemimpin kelompok itu pun kemudian telah jatuh terjerembab. Ia telah terbunuh oleh anak buahnya sendiri yang masih sangat muda.

Ketegangan menjadi semakin mencengkam para pengawal. Ada di antara mereka yang masih merasa setia kepada Ki Wiradana. Tetapi ternyata banyak diantara para pengawal itu yang kemudian telah menyatakan niatnya yang sebenarnya.

“Kami menyerah,” berkata seorang pengawal. Tetapi kami tidak dapat melepaskan senjata kami, karena mungkin kawan kami yang berdiri disebelah menyebelah kami akan menusuk sebagaimana dilakukan oleh pemimpin kelompok itu. Untunglah bahwa ia tidak sempat melakukan pembunuhan itu dan harus menebus dengan nyawanya.”

“Terima kasih,” berkata Iswari. “Marilah. Siapa yang ingin bergabung dengan kami, bergeserlah kekanan. Dengan demikian, maka kita akan segera menjadi

jelas.” Dengan serta merta, sebagian besar dari para pengawal itu telah bergeser

kekanan. Beberapa orang yang semula masih tinggal. Namun mereka tidak ingin menjadi sasaran dan akan dibantai beramai-ramai. Maka mereka pun telah bergeser pula kekanan seperti yang lain.

“Terima kasih. Terima kasih,” desis Iswari. Tetapi ia masih juga berkata, “Namun aku mengerti, bahwa ada diantara kalian yang memenuhinya karena merasa terpaksa.

Karena merasa tidak ada lagi kawan untuk bertahan pada pendiriannya sebagai penjilat. Tetapi kita akan melihat bersama-sama, apakah yang akan kita lakukan kemudian. Dengan demikian maka lambat-laun, mereka yang ragu-ragu itu pun akan yakin bahwa sikap kita adalah benar.”

Tidak seorang pun yang menjawab. Tetapi para pengawal itu pun mengerti pula bahwa ada di antara kawan-kawan mereka yang menyerah karena terpaksa.

Namun dalam pada itu, pemimpin kelompok yang bertempur itu masih juga bertempur.

Ketika pemimpin pengawal itu sekali lagi menawarkan agar pemimpin kelompok itu menyerah, maka justru pemimpin kelompok itu telah meloncat menyerang dengan cepat sekali. Pedangnya terjulur lurus mengarah ke jantung.

Lawannya terkejut sekali. Justru pada saat ia menawarkan satu penyelesaian.

Karena itu, maka ia menjadi agak terlambat bertindak. Meskipun ia berhasil menangkis pedang yang mengarah kejantungnya, namun pedang itu masih juga tergores dilengannya.

Pemimpin pengawal itu menggeram marah. Dengan suara berat ia berkata, “Kau memang keras kepala. Tidak ada jalan lain kecuali mengakhirimu.”

“Kau sudah terluka. Meskipun aku akan dibunuh beramai-ramai disini, tetapi aku akan membunuhmu lebih dahulu,” geram pemimpin kelompok itu.

Tetapi pemimpin pengawal yang sudah terluka dilengannya itu ternyata masih mampu bergerak cepat. Meskipun sekali-kali terasa perasaan pedih dan nyeri menyengat kulit dan dagingnya.

Dengan demikian maka pertempuran antara kedua orang pengawal Tanah Perdikan Sembojan itu menjadi semakin seru. Keduanya memang sudah sampai kepada keputusan untuk membunuh lawan.

Sementara itu, para pengawal yang lain, yang sudah menyatakan menyerah serta para pengawal yang berpihak kepada Iswari menyaksikan pertempuran itu dengan berdebar-debar. Ternyata keduanya memiliki kemampuan yang tidak terpaut banyak.

Sehingga dengan demikian keduanya mempunyai kesempatan yang sama untuk saling membunuh. Sementara itu, pemimpin pengawal yang memberikan perintah untuk menyerah itu sudah terluka.

Untuk beberapa saat Iswari menyaksikan pertempuran itu. Namun karena darah mengalir semakin banyak dari luka pemimpin pengawal yang ingin menyerah itu, maka ia pun kemudian melangkah mendekati arena.

“Nah, lihatlah,” berkata Iswari kepada para pengawal yang menyatakan telah menyerah, “Bukankah terasa sakit melihat keluarga sendiri saling bertengkar?”

Para pengawal itu tidak menjawab. Namun Iswari terkejut ketika pemimpin kelompok yang setia kepada Ki Wiradana itulah yang menjawab sambil bertempur, “Kaulah yang membuat kita saling bermusuhan. Kau hasut pengawal untuk memberontak dan saling membunuh.”

“O, jadi akulah yang bersalah dalam hal ini?” bertanya Iswari.

“Ya. Kau kecewa karena Ki Wiradana kawin lagi. Tetapi itu adalah persoalan keluargamu. Kau ternyata telah membawa kita, isi Tanah Perdikan Sembojan saling bertempur dan membunuh. Ketahuilah, bahwa kami tidak akan dapat kau peralat untuk melepaskan dendam pribadimu,” teriak pengawal itu sambil bertempur.

“Ternyata banyak yang tidak kau ketahui tentang Tanah Perdikan ini,” berkata Iswari.

“Persetan,” geram orang itu.

Iswari tidak berkata apa-apa lagi. Tetapi dengan sungguh-sungguh ia mengikuti pertempuran yang semakin seru. Keduanya benar-benar telah mengerahkan segenap kekuatan dan kemampuan mereka.

Namun pemimpin pengawal yang telah terluka itu ternyata memiliki pengalaman yang lebih luas. Ia telah mendapatkan latihan yang lebih lama dari para perwira Jipang karena ia termasuk salah seorang di antara para pengawal yang mendapat latihan utama yang ditinggalkan di Tanah Perdikan.

Dengan demikian maka untuk beberapa saat kemudian Iswari mulai melihat, bahwa pemimpin pengawal itu menjadi lebih mapan, meskipun dari lukanya masih mengalir darah.

Pada saat yang demikian, tiba-tiba seorang pemimpin pengawal yang berpihak kepada Iswari telah mendekatinya sambil berkata, “Apakah kita harus membiarkannya berperang tanding?”

Sebelum Iswari menjawab, pemimpin kelompok yang setia kepada Ki Wiradana itu menjawab lantang, “Marilah jika kau akan mengeroyokku. Aku tidak berkeberatan.

Aku memang sudah mengenal sifat-sifat kalian. Seorang pengkhianat tidak akan berpegang pada sifat seorang laki-laki.”

Pemimpin pengawal yang berpihak kepada Iswari itu menggeram. Namun Iswari mendahuluinya, “Jangan terpancing oleh perasaanmu. Sebenarnya keduanya tidak sedang berperang tanding. Kita semuanya dapat berpihak kepada salah seorang di

antara mereka dan dengan demikian pertempuran itu pun akan segera berakhir.

Namun agaknya, jika kita berbuat demikian, maka kita justru akan menyinggung perasaan orang yang kita bantu.”

Pemimpin pengawal itu termangu-mangu. Namun dari sorot matanya nampak, betapa hatinya menjadi geram melihat kesombongan pengawal yang setia kepada Ki Wiradana itu.

Namun dalam pada itu pemimpin pengawal yang telah terluka itu pun telah mengerahkan segenap kemampuannya. Luka dilengannya semakin lama terasa semakin pedih, sementara titik-titik darah yang keluar mulai terasa berpengaruh pula.

Karena itu, maka pada saat-saat yang gawat itu, ia telah menghentakkan kemampuannya. Senjatanya berputar seperti baling-baling. Namun tiba-tiba senjata itu meluncur menikam ke arah lambung.

Lawannya mulai terdesak, sementara pemimpin pengawal itu sudah mempergunakan segenap unsur kemampuannya yang dipelajarinya dengan latihan-latihan yang berat dan keras dari para perwira Jipang.

Dengan demikian maka keseimbangan telah berubah. Pemimpin pengawal yang telah terluka itu membuat lawannya kadang-kadang tergagap. Dalam kesempatan yang demikian, maka senjatanya yang mematuk bagaikan menggeliat dan menyerang mendatar.

Perubahan-perubahan serangan yang cepat itu membuat pemimpin kelompok yang setia kepada Ki Wiradana itu setiap kali terkejut. Bahkan sekali-kali ia kehilangan kesempatan untuk menangkis serangan lawannya itu, sehingga ujung senjata lawannya tiba-tiba saja telah tergores dipundaknya.

“Kau juga sudah terluka sekarang,” geram pemimpin pengawal itu, “Sekali lagi aku memberimu peringatan, menyerahlah.”

“Persetan,” lawannya justru meloncat menyerang. Tetapi pemimpin pengawal itu sempat menghindar dengan loncatan kecil menyamping. Namun bersamaan dengan itu,

senjatanyalah yang justru terjulur. Demikian cepatnya, sehingga lawannya tidak sempat mengelak dan menangkis.

Dengan demikian, maka luka baru telah menganga di paha pemimpin kelompok yang setia kepada Ki Wiradana itu.

Pemimpin kelompok itu menggeram. Dua langkah ia meloncat surut. Namun darahnya menjadi semakin banyak mengalir.

Namun yang terjadi demikian tiba-tiba ketika pemimpin kelompok yang terluka itu mencabut pisau belati kecilnya dan dengan serta merta telah dilemparkan kepada lawannya. Demikian cepat dan tidak terduga bahwa hal itu akan dilakukan.

Iswari yang melihat gerak tangannya dengan cepat memperingatkan, “Hati-hati.

Pisau itu.”

Tetapi pemimpin pengawal itu memang terlambat menghindar. Belati kecil itu tidak terlepas sama sekali dari tubuhnya, karena belati itu kemudian telah tertancap di bagian kanan dadanya.

“Gila,” geram pemimpin pengawal yang terluka oleh pisau belati kecil itu. Namun pada saat terakhir, ternyata ia pun masih sempat mengerahkan sisa tenaganya dengan melakukan hal yang sama. Ia masih sempat pula mencabut belati kecilnya dan melontarkannya ke arah lawannya.

Pemimpin kelompok yang merasa serangannya berhasil itu sama sekali juga tidak menyangka, bahwa lawannya masih mampu berbuat demikian. Itulah sebabnya, ia pun

menjadi lengah. Karena itu, maka pisau belati lawannya itu pun tidak sempat dihindarinya pula dan menancap pula didadanya. Keduanya pun terhuyung-huyung sejenak. Tetapi keduanya tidak mampu bertahan untuk tetap berdiri. Beberapa saat kemudian keduanya telah terjatuh.

Namun pemimpin pengawal yang berpihak kepada Iswari sempat menangkap kawannya yang hampir terjatuh itu dan dengan hati-hati membaringkannya ditanah. Sementara itu, pemimpin kelompok yang setia kepada Ki Wiradana berada di jarak yang cukup panjang, sehingga tidak seorang pun yang mampu menangkapnya sebelum ia jatuh tertelungkup.

Nampaknya memang sudah menjadi garis hidupnya bahwa justru karena ia jatuh tertelungkup itu maka seolah-olah pisau yang tertancap di dadanya itu tertekan semakin dalam. Sehingga dengan demikian, maka untuk selanjutnya, ia tidak akan

dapat bangkit kembali.

Iswari memalingkan wajahnya. Kemudian kepada para pengawal yang menyerah ia berkata, “Rawatlah kawanmu itu. Apapun yang telah dilakukan, adalah menjadi kewajiban kita untuk merawatnya baik-baik. Mungkin ia masih hidup. Tetapi jika tidak, maka kita pulalah yang harus menyelenggarakannya.”

Beberapa orang pengawal yang menyerah itu pun telah mengerumuni pemimpin kelompok mereka yang terbunuh. Ketika mereka memutar tubuh itu sehingga menelentang, maka mereka pun segera mengetahui, bahwa pengawal itu telah meninggal.

Tetapi pemimpin pengawal yang seorang lagi ternyata masih tetap hidup dan kesadarannya masih tetap utuh meskipun ia menjadi sangat kesakitan. Justru karena ia sempat bergeser betapapun kecilnya, namun pisau itu tidak menembus jantungnya.

Beberapa orang telah berusaha untuk menolong pemimpin pengawal yang terluka.

Dengan obat yang ada dicoba untuk mengurangi arus darah yang keluar dari lukanya ketika pisau belati kecil itu sudah dicabut dari tubuhnya. Betapapun perasaan sakit menghentak, namun ia tidak menolak usaha untuk merawatnya, karena pengawal itu yakin bahwa semua usaha itu dilakukan dengan niat yang baik atas dirinya.

Namun dua orang kawannya, yang memimpin kedua kelompok pengawal itu telah terbunuh.

Sejenak kemudian maka pasukan itu pun segera membenahi diri. Namun mereka masih harus menunggu, apa yang terjadi dengan pasukan yang berusaha menyusul pasukan yang akan pergi ke Pajang. Meskipun agaknya mereka sudah mengira bahwa pasukannya tidak akan dapat menyusul mereka sebelum mereka keluar dari hutan.

Sebenarnyalah sejenak kemudian, pasukan yang menyusul para pengawal yang akan dibawa ke Pajang itu telah kembali. Sambi Wulung telah menceriterakan, bahwa mereka memang terlambat.

“Kami tidak dapat bertempur ditempat terbuka,” berkata Sambi Wulung.

“Ya,” jawab Kiai Badra. “Persoalannya akan beralih dengan Kademangan ini.

Peristiwa di dalam hutan ini masih dapat dijelaskan karena terjadi di daerah

tertutup dan tidak menimbulkan kegelisahan. Tetapi ditempat terbuka, mungkin Ki Demang di Kademangan ini sulit untuk dapat menerimanya. Meskipun Kademangan ini tidak mempunyai kekuatan untuk menghukum Tanah Perdikan Sembojan, tetapi hubungan yang buruk dengan tetangga akan dapat menimbulkan akibat tersendiri.”

“Tetapi lalu bagaimana dengan mereka yang pergi ke Pajang?” bertanya Iswari. “Mereka akan menjadi bagian yang dikorbankan oleh Ki Wiradana di Pajang.

Kasihan,” sahut Kiai Badra, “Untunglah dua kelompok di antara mereka tertahan di sini dan menyadari bahwa langkah-langkah yang telah diambil oleh Ki Wiradana salah.”

Pemimpin pengawal yang terluka, yang mendengar pembicaraan itu sambil menyeringai menya-hut terputus-putus,” Bukan semata-mata kesalahan Ki Wiradana.

Pengaruh orang-orang disekitarnya-lah yang telah merusak citra Tanah Perdikan ini.”

“Kalau Ki Wiradana tidak lemah hati, maka semuanya tidak akan terjadi,” sahut Iswari.

Pemimpin pengawal yang terluka itu menarik nafas dalam-dalam. Namun lukanya terasa sakit sekali. Meskipun demikian ia masih berusaha untuk mengangguk.

“Jika demikian, maka sebaiknya kita kembali ke padukuhan induk saja kakek,” berkata Iswari kemudian.

“Ya. Kita akan kembali ke padukuhan induk,” jawab Kiai Badra.

Demikianlah maka pasukan itu pun kemudian berbenah diri. Mereka kemudian meninggalkan hutan itu dan kembali ke padukuhan induk. Namun dua orang dari ketiga orang Bekel yang ada di antara mereka akan segera menemui Ki Demang yang memiliki hutan itu, agar tidak timbul salah paham yang akan dapat memperburuk hubungan yang untuk beberapa lama menjadi kabur karena tingkah laku Ki Wiradana

dibawah pengaruh orang-orang disekelilingnya.

Namun kedua orang Bekel itu akan pergi bersama beberapa orang pengawal yang di antaranya terdapat Sambi Wulung dan Jati Wulung.

“Siapa tahu, jika diperjalanan Ki Bekel akan bertemu dengan orang-orang yang ternyata pengikut Ki Wiradana,” berkata Kiai Badra.

“Tentu kami akan merasa tenang perlu bersama mereka,” jawab salah seorang dari

kedua Bekel itu. “Namun, kami akan pergi secepatnya, agar persoalannya tidak lebih dahulu berkembang di Kademangan itu.”

“Baiklah Ki Bekel,” berkata Kiai Badra. “Kami mohon Ki Bekel dapat menjelaskan apa yang terjadi sebenarnya di Tanah Perdikan ini, sehingga kami tidak berani

menembus perbatasan dan barangkali sedikit merusakkan hutan kecil itu.”

“Aku yakin bahwa mereka selalu mengikuti perkembangan Tanah Perdikan ini, meskipun mereka tidak berani mencampurinya, karena kademangan-kademangan disekitar Tanah Perdikan ini sama sekali tidak memiliki kekuatan yang memadai.

Meskipun ada juga para pengawal, tetapi mereka sekadar mengamati keadaan Kademangan mereka masing-masing. Mencegah perselisihan antara tetangga, mengatur agar air yang mengaliri sawah dapat terbagi adil dan menggerakkan anak-anak muda memperbaiki bendungan, jalan-jalan padukuhan dan semacamnya,” berkata Ki Bekel itu.

Demikianlah, maka Ki Bekel pun kemudian telah pergi ke Kademangan sebelah untuk menjelaskan persoalan agar tidak menjadi semakin kabur.

Ternyata Ki Demang berusaha untuk mengerti. Dengan nada dalam Ki Demang berkata,

“Aku juga mendapat laporan, bahwa pasukan dari Tanah Perdikan Sembojan telah melintasi Kademangan ini tanpa memberitahu lebih dahulu. Iring-iringan pasukan itu ternyata telah membuat rakyat kami menjadi gelisah. Hal yang serupa pernah terjadi beberapa waktu yang lalu. Bahkan dengan sangat mencolok, seakan-akan yang lewat adalah pasukan Kadipaten Pajang.”

“Mereka memang akan pergi ke Pajang,” berkata salah seorang dari kedua Bekel yang datang ke Kademangan itu.

“Jika demikian, maka pendengaranku benar bahwa Tanah Perdikan Sembojan telah berpihak kepada Jipang,” berkata Ki Demang.

“Bukan Tanah Perdikan Sembojan,” jawab salah seorang dari kedua Bekel itu.

“Tetapi pemangku jabatan Kepala Tanah Perdikannya yang berada dibawah pengaruh beberapa orang termasuk istrinya.

Ki Demang mengangguk-angguk. Katanya, “Kami memang mendengar dan mengetahui bahwa pergolakan telah terjadi di Tanah Perdikan Sembojan. Tetapi kami tidak berhak mencampurinya. Apalagi kami tidak memiliki sesuatu yang dapat kami pergunakan untuk berbuat apapun juga. Bahkan kami menjadi sangat cemas, bahwa Tanah Perdikan dibawah pimpinan Ki Wiradana akan mengambil langkah-langkah yang garang terhadap tanah disekitarnya. Kademangan demi kademangan akan diambilnya.

Apalagi jika Jipang menang atas Pajang, maka kami sama sekali tidak akan mendapat perlindungan dari manapun juga.”

“Kami akan berusaha untuk menegakkan paugeran di Tanah Perdikan Sembojan,” berkata salah seorang dari kedua orang Bekel itu.

“Apakah landasanmu? Ki Wiradana lah yang berhak untuk mewarisi jabatan Kepala Tanah Perdikan. Apalagi jika Jipang menang atas Pajang,” bertanya Ki Demang.

“Bukan aku,” berkata Ki Bekel, “Tetapi anak Ki Wiradana. Aku sedang berjuang untuk menegakkan jalur kekuasaan para pemimpin di Tanah Perdikan ini. Ki Wiradana sekarang mempunyai dua anak laki-laki yang masih kanak-kanak dari dua orang ibu. Yang sekarang berkuasa adalah Nyi Wiradana yang muda yang sudah barang tentu ingin menurunkan kuasa Ki Wiradana kepada anak laki-lakinya.

Sementara itu istrinya yang tua, Iswari juga mempunyai anak laki-laki yang lahir lebih dahulu dari anak istri yang muda itu. Anak itulah yang seharusnya berhak atas Tanah Perdikan ini. Dan kami orang-orang Tanah Perdikan Sembojan mempunyai penilaian tersendiri atas Warsi, istri Ki Wiradana yang muda itu. Sehingga dengan demikian, maka dasar keturunan bagi kedua orang laki-laki itu pun telah menempatkan kita pada satu pilihan.”

Ki Bekel itu pun mengangguk-angguk. Namun katanya kemudian, “Kami memang tidak berhak mencampuri persoalan Tanah Perdikan. Apalagi persoalan keluarga Ki Wiradana. Namun kami juga tidak ingin Kademangan kami menjadi korban pergolakan

yang terjadi di Tanah Perdikan Sembojan itu.”

“Ki Demang,” berkata Ki Bekel.

“Seharusnya Ki Demang tidak hanya sekadar mempercayakan diri kepada perlindungan

Pajang yang sedang berperang dengan Jipang. Tetapi sebaiknya Ki Demang juga berjaga-jaga dengan menyusun kekuatan diri. Sudah tentu bukan maksudnya untuk menakut-nakuti pihak lain. Tetapi sekadar untuk melindungi rakyat Kademangan ini dari kemungkinan-kemungkinan buruk yang dapat terjadi. Ki Demang tentu sudah mengetahui sebagaimana Ki Demang katakan, bahwa keadaan di Tanah Perdikan

Sembojan masih belum menentu. Jika kami memenangkan perjuangan kami, sehingga anak Iswari yang memegang kuasa di Tanah Perdikan dengan perwalian yang dipegang oleh ibunya, maka keadaan Tanah Perdikan akan menjadi baik. Juga dalam hubungannya dengan tetangga. Apalagi jika Pajang memenangkan perang. Tetapi jika yang berkuasa di Tanah Perdikan tetap Warsi yang dengan kedok kuasa Ki Wiradana memerintah Tanah Perdikan Sembojan, maka keadaannya tentu akan jauh berbeda, sebagaimana Ki Demang rasakan pada saat-saat terakhir ini.”

Ki Demang menarik nafas dalam-dalam. Namun ia pun kemudian mengangguk-angguk.

Katanya, “Aku dapat mengerti keterangan Ki Bekel. Tetapi jika kami ingin menyusun kekuatan, tidak ada orang yang akan mampu memberikan kepada anak-anak kami di Kademangan ini.”

“Ki Demang akan dapat berhubungan dengan kami,” berkata Ki Bekel. “Kami akan mengusahakan sesuai dengan kemampuan yang ada pada kami. Beberapa orang pengawal kami memiliki kemampuan yang memadai meskipun tidak berlebihan. Namun mereka akan dapat membantu Ki Demang menyusun kekuatan anak-anak muda yang ada di Kademangan ini menjadi kekuatan pelindung yang dapat dipercaya. Dengan demikian, untuk waktu yang akan datang, mungkin kita akan bekerja bersama menghadapi kekuatan yang selama ini membayangi kekuasaan Ki Wiradana di Tanah Perdikan, sehingga Ki Wiradana sendiri sudah tidak mampu lagi berbuat apa-apa kecuali melakukan apa yang diinginkan oleh orang-orang itu.”

“Terima kasih,” berkata Ki Demang. “Tetapi sudah tentu tidak pada saat sekarang ini. Bukankah di Tanah Perdikan Sembojan sedang terjadi pergolakan sehingga sulit bagi kami untuk membuka hubungan? Kami tidak dapat memilih dengan siapa kami harus berhubungan, karena di Tanah Perdikan ada dua pihak yang merasa

masing-masing memiliki hak dan wewenang.”

“Kami mengerti perasaan Ki Demang dan sikap dari Kademangan ini. Kalian tidak

ingin terlibat dalam pertentangan yang terjadi di Tanah Perdi- kan Sembojan.

Namun kami ingin memberitahukan, bahwa sekarang Ki Wiradana dan orang-orang yang mengelilinginya termasuk istrinya telah meninggalkan Tanah Perdikan. Bukankah kau sudah mendapat laporan bahwa pasukan Tanah Perdikan telah melewati Kademanganmu tanpa memberitahukan lebih dahulu? Nah, itulah mereka yang sekarang menuju ke Pajang.”

Ki Demang menarik nafas dalam-dalam. Namun sambil mengangguk ia berkata, “Baiklah Ki Bekel. Kami akan tetap memelihara hubungan dengan Tanah Perdikan.

Tetapi kami akan mengikuti perkembangan Tanah Perdikan itu lebih dahulu. Baru kami akan mengambil sikap yang paling tidak buat kepentingan kami. Seperti kami katakan, kedudukan kami sangat lemah dihadapan Tanah Perdikan Sembojan. Karena itu jika Tanah Perdi- kan Sembojan, siapapun yang berkuasa mengambil langkah-langkah yang keras terhadap kami maka kami tidak akan dapat berbuat apa-apa kecuali memohon perlindungan. Maka jika Jipang menang, kami akan dalam keadaan yang sulit. Bahkan mungkin kademangan ini untuk selanjutnya tinggal nama yang hanya dapat dikenang saja.”

Ki Bekel mengangguk-angguk. Tetapi ia menjawab, “Kami mengerti. Tetapi kami dapat juga mengambil langkah-langkah.”

Ki Demang itu mengerutkan keningnya. Namun kemudian dengan ragu-ragu ia bertanya, “Apakah maksud Ki Bekel?”

“Seandainya Jipang menang, kami masih mempunyai sandaran kekuatan. Yaitu tekad rakyat Tanah Perdikan Sembojan. Kami yakin bahwa dengan tekad yang mapan dan bulat, kami akan dapat menentukan masa depan kami, Tanah Perdikan Sembojan.

Jipang tidak akan mampu terus-menerus berada disemua lingkungan kuasanya. Pada suatu saat mereka akan menarik pasukannya kembali. Karena Jipang sendiri tentu menghadapi masalah-masalah yang harus diselesaikannya pula,” berkata Ki Bekel.

Namun nampaknya Ki Demang benar-benar sangat berhati-hati. Karena itu, maka kedua orang Bekel itu pun tidak ingin dengan tergesa-gesa memberikan pola sikap kepadanya. Jika ia tergesa-gesa mungkin akan dapat timbul salah paham, sehingga justru akan merenggangkan hubungan antara kedua tetangga yang hanya berbatasan pagar itu.

Kedua orang Bekel bersama para pengawalnya itu pun kemudian mohon diri. Ternyata mereka pun merasa bahwa sebaiknya mereka juga menemui Demang yang lain di perbatasan sebelah yang lain pula.

Namun sementara Ki Demang itu juga sempat berpesan, “Ki Bekel. Kami mohon, untuk sementara biarkan kami mengamati apa yang terjadi. Baru kami akan menentukan sikap kemudian.”

“Baik Ki Demang. Kedatangan kami kali ini adalah dalam rangka permohonan maaf kami, karena kami telah melanggar perbatasan. Sementara persoalan yang lain

adalah sekadar persoalan yang akan dapat Ki Demang jadikan bahan pertimbangan,” sahut Ki Bekel.

Ki Demang mengangguk-angguk. Tetapi ia tidak menjawab.

Demikianlah maka kedua orang Bekel dan para pengawalnya itu pun segera kembali ke Tanah Perdikan Sembojan. Tanah Perdikan yang sedang mengalami pergolakan karena pemangku jabatan Kepala Tanah Perdikannya yang sedang dibayangi oleh kekuasaan yang telah menjeratnya sehingga tidak mampu berbuat sesuatu atas landasan penalarannya sendiri sesuai dengan kepentingan Tanah Perdikan Sembojan.

Namun ternyata bahwa kekuasaan yang memerintah dengan pengaruh yang buram itu telah terdesak ke luar dari Tanah Perdikan Sembojan.

Tetapi tidak seorang pun yang mengetahui dengan pasti, apakah kekuasaan itu akan kembali lagi atau tidak.

Namun bagi mereka yang harus menggantikan tugas kepemimpinan di Tanah Perdikan Sembojan mempunyai perhitungan, justru mereka akan kembali dengan kekuatan yang lebih besar. Apakah mereka akan datang bersama kekuatan Kalamerta atau dengan kekuatan Jipang setelah mereka mengalahkan Pajang.

Atas dasar perhitungan itulah maka mereka yang memegang pimpinan yang baru di

Tanah Perdikan Sembojan berusaha mempersiapkan diri sebaik-baiknya.

Iswari yang mewakili anaknya yang berhak menggantikan Ki Wiradana jika Ki Wiradana berhalangan, telah memanggil semua Bekel dari padukuhan-padukuhan.

Ternyata bahwa sebenarnya pendirian semua Bekel tidak berbeda. Tetapi mereka tidak berani dan tidak mendapat kesempatan untuk menyatakannya.

Sejak kekuasaan para Bekel dikurangi, bahkan kemudian seolah-olah telah dihapuskan sama sekali, digantikan dengan kekuasaan para pemimpin pengawal, maka perasaan para Bekel itu mulai goncang. Namun mereka tidak dapat berbuat sesuatu karena kekuatan para pengawal yang semakin besar justru dibawah pengaruh para perwira dari Jipang.

Pada pertemuan itulah Iswari memberi kesempatan kepada mereka untuk menyatakan sikap mereka terhadap Tanah Perdikan Sembojan.

Sikap para Bekel itu bulat. Mereka harus menegakkan pemerintahan di Tanah Perdikan Sembojan sebagaimana seharusnya. Mereka harus menempatkan Tanah Perdikan Sembojan dibawah perlindungan Pajang. Bukan Jipang, sebagaimana telah berlangsung beberapa waktu sejak Pajang memegang kekuasaan yang dilimpahkan oleh Demak sebagai sebuah Kadipaten sebagaimana Jipang.

“Terima kasih,” berkata Iswari. “Tetapi kebulatan tekad itu harus kita dukung dengan langkah-langkah yang nyata.”

“Tentu,” jawab seorang Bekel. “Meskipun aku terlambat selangkah dibandingkan dengan ketiga orang Bekel yang telah menunjukkan sikapnya, namun aku akan berusaha melengkapi kekurangan itu sekuat tenaga.”

“Kita akan bekerja keras,” berkata Iswari. “Menjelang dendam yang tentu membara dihati orang-orang yang sekarang meninggalkan Tanah Perdikan ini melanda kita semua, maka kita harus siap menghadapinya. Kita masih mempunyai anak-anak muda meskipun sudah banyak berkurang karena mereka harus menjadi umpan di Pajang.

Namun kita masih meyakini kita, siapapun yang kita hadapi, karena di samping anak-anak muda dan remaja, kita semua akan berbuat apa saja.”

“Yang sudah terjadi merupakan pelajaran pahit namun yang dapat kita jadikan satu pengalaman yang berharga,” berkata salah seorang Bekel, “Tetapi yang penting, bagaimana kita dapat menempatkan diri kita masing-masing.”

“Aku mengerti,” berkata Iswari. “Semua harus kembali kepada wadah dan isinya masing-masing.”

“Tetapi harus ada saling pengertian dengan para pengawal,” berkata Bekel yang lain. “Jangan sampai terjadi, dahulu kita yang merasa dikurangi hak kita, sedangkan sekarang para pengawallah yang merasa diperlakukan demikian.”

“Kita akan mengambil keseimbangan tugas dan kewajiban kita masing-masing,” jawab Iswari. “Semua akan dikembalikan kepada paugeran yang berlaku. Meskipun belum terlalu lama, tetapi aku pernah mendampingi pemangku jabatan Kepala Tanah Perdikan Sembojan, justru sebelum jabatan itu dipangkunya, karena pada saat itu Ki Gede masih ada, sehingga aku pernah mengikuti jalannya pemerintahan di Tanah Perdikan ini, sebagaimana dilakukan oleh Ki Gede pada waktu itu. Sementara itu, para bebahu tentu masih memahami apa yang harus kita lakukan.”

Ternyata para Bekel itu menjadi semakin mantap mengambil langkah. Seolah-olah mereka telah menemukan kembali apa yang hilang selama Ki Wiradana memegang pimpinan. Waktu yang pendek itu ternyata telah mengubah wajah Tanah Perdikan

Sembojan menjadi sangat buram dan pucat sehingga mencemaskan sekali.

“Setelah kita keluar dari ruangan pertemuan ini,” berkata Iswari. “Kita akan mulai dengan langkah-langkah yang harus kita lakukan dengan cepat. Kita akan mempersiapkan diri kita dan seluruh rakyat Sembojan menghadapi satu masa yang berat dan rumit. Pada saat terakhir, kehidupan di Tanah Perdikan ini telah meluncur turun dengan derasnya, sehingga Tanah Perdikan ini mengalami taraf kehidupan dan kesejahteraan yang pahit. Bahkan nilai-nilai kehidupan dan harga diri telah rusak karena tingkah laku beberapa orang yang lebih berkuasa dari pemangku jabatan Kepala Tanah Perdikan Sembojan.”

Para Bekel pun mengangguk-angguk. Meskipun tidak diucapkan, tetapi mereka telah berjanji di dalam diri mereka masing-masing, bahwa mereka akan bekerja keras bagi Tanah Perdikan Sembojan yang hampir saja hancur itu.

Namun dengan sikap sebagaimana dikatakan oleh Iswari, bahwa Sembojan harus tetap berhati-hati, bahwa pada suatu saat mungkin akan datang kekuatan yang lebih besar dari yang meninggalkan Tanah Perdikan itu.

Sejenak kemudian, maka Iswari pun menganggap bahwa pertemuan itu untuk sementara telah cukup. Para Bekel dan para pemimpin Tanah Perdikan itu, termasuk para pemimpin pengawal telah meninggalkan ruang pertemuan. Namun ketika mereka keluar dari halaman dan menuju ke padukuhan masing-masing, mereka masih saja berbincang tentang kerja berat yang mereka hadapi.

Sementara itu, pasukan pengawal Tanah Perdikan Sembojan yang dibawa ke Pajang sudah mendekati perbatasan. Sebentar lagi mereka akan memasuki daerah yang berbahaya, sehingga dengan demikian mereka harus menjadi sangat berhati-hati.

Pasukan kecil itu tentu tidak akan mampu bertahan, jika pasukan Pajang mengetahui kehadiran mereka akan mencegatnya. Karena itu maka perjalanan mereka pun menjadi semakin panjang, karena mereka berusaha menghindari kemungkinan yang paling buruk dengan mengambil jalan-jalan melingkar.

Namun berita kedatangan pasukan kecil itu memang sudah terdengar oleh orang-orang Pajang. Penghubung Pajang yang selalu mengadakan kunjungan ke tempat yang sudah ditentukan bersama keluarga Iswari ditempat yang terpencil telah mendengar apa yang terjadi di Tanah Perdikan Sembojan dan membawanya ke Pajang.

Bahkan beberapa pesan telah sampai pula kepada para pemimpin di Pajang bahwa ikut dalam pasukan Tanah Perdikan Sembojan para pemimpin di Tanah Perdikan Sembojan serta orang-orang yang membayanginya.

Namun kedatangan pasukan kecil itu tidak mencemaskan Pajang.

Ketika Ki Rangga Gupita sampai di perbatasan, maka pasukan kecil itu pun telah berhenti. Ki Rangga memang cukup berhati-hati menghadapi medan yang garang di Pajang. Ia tidak langsung membawa pasukannya. Namun bersama Ki Randukeling ia berusaha untuk mengamati keadaan.

Ternyata bahwa yang terjadi membuat Ki Rangga menjadi pening. Ketika bersama Ki Randukeling mereka dimalam hari dengan hati-hati mendekati pesanggrahan pasukan Jipang tempat itu ternyata sudah kosong.

“Gila,” geram Ki Rangga Gupita, “Kemana tikus-tikus itu pergi.

Ki Randukeling tidak segera menjawab. Tetapi dalam keremangan malam ia mengamati keadaan.

“Tempat ini pernah menjadi medan pertempuran,” berkata Ki Randukeling.

“Tentu orang-orang Pajang telah menyerang kedudukan orang-orang kita disini,” geram Ki Rangga pula, “Sementara itu para pengecut itu telah menarik diri.”

“Ya. Agaknya pasukan Jipang telah ditarik mundur,” sahut Ki Randukeling. “Tetapi kemana?”

Kedua orang pemimpin pasukan yang dibawa dari Tanah Perdikan Sembojan itu menjadi gelisah. Pasukan Jipang yang cukup besar telah terusir dari tempatnya.

Apalagi pasukan kecil itu jika bertemu dengan pasukan Pajang, tentu hanya akan menjadi debu saja meskipun di antara mereka terdapat beberapa orang yang memiliki kelebihan.

“Sekarang, apa yang akan kita lakukan,” teriak Ki Randukeling.

“Kita akan memikirkan bersama,” jawab Ki Rangga, “Kesalahan ini jangan dibebankan kepadaku seluruhnya.”

“Jangan mudah tersinggung,” berkata Ki Randukeling.

“Ki Randukeling nampaknya memang berpendapat demikian. Karena itu, maka Ki Randukeling bertanya kepadaku, apa yang akan kita lakukan, seolah-olah aku harus menebus kesalahan yang sudah aku lakukan,” sahut Ki Rangga.

“Jangan berpikir pendek,” berkata Ki Randukeling. “Kau adalah seorang di antara para perwira dari pasukan sandi yang dikirim oleh Jipang untuk satu tugas yang berat. Jika kau cepat mengambil kesimpulan tanpa penalaran, maka kau akan salah langkah. Dan kau tahu akibatnya, jika kesalahanmu itu didengar Patih Mantahun.”

Ki Rangga Gupita menarik nafas dalam-dalam. Ia sadar bahwa yang berdiri dihadapannya itu adalah orang yang sangat dekat dengan Patih Mantahun dan bahkan Arya Penangsang sendiri.”

“Ki Rangga,” berkata Ki Randukeling kemudian, “Aku bertanya sesungguhnya untuk dipertimbangkan. Bukan maksudku menyalahkanmu dan membebanimu dengan pertanyaan yang mengandung tuduhan.”

“Kita kembali ke pasukan kita,” berkata Ki Rangga, “Kita akan berbicara dengan orang-orang lain, termasuk Warsi. Apa pendapatnya.

“Apakah tidak lebih baik bagi kita untuk mencari hubungan lebih dahulu dengan pasukan Jipang?” bertanya Ki Rangga Gupita.

“Kita tidak menemukan seorang pun dipadukuhan yang kosong itu untuk dapat memberikan keterangan,” jawab Ki Rangga Gupita.

“Kita dapat bergeser ke padukuhan yang lain,” jawab Ki Randukeling.

“Mudah-mudahan kita tidak terjebak. Aku menganggap bahwa Ki Rangga adalah seorang yang memiliki kemampuan dalam tugas sandi. Karena itu, maka kita akan dapat melakukannya. Tetapi jika perasaan Ki Rangga menjadi gelap, maka penalaran Ki Rangga pun kabur.”

Ki Rangga mengerutkan keningnya. Namun kemudian ia berkata, “Ya. Aku memang seorang perwira dari pasukan sandi Jipang yang terpercaya. Marilah, kita akan mencari keterangan tentang pasukan Jipang,” Ki Rangga berhenti sejenak, lalu, “Tetapi bagaimana dengan pasukan kecil itu. Apalagi Warsi membawa seorang bayi.”

“Biarlah mereka untuk sementara mengurus diri mereka sendiri. Maksudku diri pasukan kecil itu,” berkata Ki Randukeling. “Asal mereka tidak melanggar pesan-pesan kita maka agaknya pasukan Pajang tidak akan mengetahui kehadiran pasukan itu.”

Ki Rangga mengangguk-angguk. Katanya, “Marilah Ki Randukeling. Aku akan membuktikan kepada Ki Randukeling, bahwa aku adalah seorang perwira dari pasukan sandi Jipang.”

Demikianlah, keduanya untuk beberapa saat masih mengitari padukuhan itu.

Padukuhan yang sepi, karena penghuninya telah pergi mengungsi. Untuk beberapa hari tempat itu menjadi pesanggrahan pasukan Jipang yang ditarik mundur dari garis pertahanan mereka yang pertama, sementara Ki Randukeling dan Ki Rangga Gupita pergi ke Tanah Perdikan Sembojan untuk mengambil sisa pasukan pengawal

yang ada. Namun agaknya pasukan Pajang sempat menyerang lagi dan mendesak pasukan Jipang untuk ke luar dari padukuhan itu.

Namun tiba-tiba saja Ki Rangga berdesis, “Naluriku meraba sesuatu yang kurang wajar Ki Randukeling.”

“Naluri seorang petugas sandi. Kau benar Ki Rangga,” jawab Ki Randukeling. “Kita harus berhati-hati.”

Keduanya menjadi semakin waspada menghadapi medan yang samar-samar itu. Angin malam yang dingin dan suasana yang sepi senyap terasa menyimpan sesuatu yang mendebarkan.

Untuk sesaat kedua orang itu masih berusaha mengetahui tentang padukuhan itu.

Namun tiba-tiba saja mereka terkejut ketika mereka mendengar suara ribut dari sesuatu yang kurang mereka perhatikan. Dua ekor angsa yang terbangun dari tidurnya telah menjerit-jerit memecah sepinya malam.

“KITA tidak pernah memikirkannya bahwa binatang itu akan membuat gaduh,” berkata Ki Rangga. “Perhatian kita tidak tertuju kepada mereka,” berkata Ki Randukeling.

“Namun siapa tahu, bahwa binatang ini memang dilepaskan dihalaman belakang ini.”

“Dengan maksud tertentu,” sahut Ki Rangga.

“Marilah, kita tidak ingin terjadi keributan disini. Aku yakin bahwa padukuhan ini tidak kosong tanpa penghuni sama sekali,” berkata Ki Randukeling.

Keduanya pun kemudian bergeser surut, sementara dua ekor angsa itu masih saja berteriak-teriak dengan ributnya.

Namun langkah mereka kemudian tertegun ketika mereka mendengar langkah-lankah cepat disekitarnya, “Bukan langkah seorang angsa yang berteriak-teriak itu.

Tetapi langkah-langkah beberapa orang yang telah mengepung mereka.

“Terlambat,” desis Ki Rangga.

“Apa boleh buat,” berkata Ki Randukeling.

Dengan demikian maka kedua orang itu pun justru telah bergeser ke tengah-tengah.

Sementara itu kedua ekor angsa yang berteriak-teriak itu telah diusirnya pergi.

Sejenak kemudian, beberapa orang memang telah muncul di halaman itu. Mereka langsung berpencar dan mengepung kedua orang yang justru telah berada ditempat yang terbuka.

“Siapakah kalian?” bertanya salah seorang yang mengepung kedua orang Jipang itu.

“Kalian tidak dapat mengenal kami meskipun kalian dapat menduganya. Tetapi dugaan kalian tidak akan selalu benar,” jawab Ki Rangga.

“Baiklah,” jawab salah seorang yang agaknya pemimpin dari orang-orang yang mengepung itu, “Siapapun kalian, maka kalian adalah tawanan kami sekarang.”

“Atas nama pemerintah Pajang yang berkuasa, jangan melawan,” berkata pemimpin dari orang-orang yang mengepung itu.

“Aku sudah yakin bahwa kalian tentu orang-orang Pajang yang berkuasa dan mendapat tugas untuk berjaga-jaga di padukuhan ini. Tetapi jangan bermimpi untuk dapat menangkap kami,” jawab Ki Rangga.

Para prajurit Pajang yang telah mengepung kedua orang itu termangu-mangu. Namun sejenak kemudian pemimpin pasukan itu berkata, “Kalian hanya berdua. Apakah kalian memang sedang membunuh diri?”

“Tidak Ki Sanak,” jawab Ki Rangga. Sudah tentu kami ingin tetap hidup. Tetapi bukan sebagai dua orang tawanan.”

“Jika demikian, baiklah. Kami akan memaksa kalian untuk menjadi tawanan. Kami bertujuh sekarang. Apakah kalian akan melawan kami?” bertanya pemimpin prajurit Pajang itu.

Ki Rangga mengerutkan keningnya. Ketika ia berpaling ke arah Ki Randukeling, dilihatnya Ki Randukeling mengangguk. Karena itu maka katanya, “Meskipun kami hanya berdua, tetapi kami ingin menunjukkan kepada kalian, bahwa kami tidak mau menjadi tawanan. Atau kami terkapar mati disini.”

“Bagus,” jawab pemimpin prajurit Pajang itu, “Aku mengenal sifat jantan seperti ini. Kau tentu seorang petugas sandi Jipang.”

“Terima kasih atas pujian ini,” jawab Ki Rangga. “Tetapi marilah kita buktikan, apakah kalian benar-benar akan dapat menangkap kami.”

Pemimpin prajurit Pajang itu tidak menjawab. Tetapi ia pun kemudian bersiap bersama para prajurit yang mengepung kedua orang itu. Beberapa helai pedang telah bersilang di dada, sementara beberapa ujung tombak telah mulai merunduk.

Ternyata bahwa Ki Rangga Gupita dan Ki Randukeling pun telah menanggapi sikap prajurit Pajang itu dengan wajar. Kedua orang itu pun telah mencabut senjata mereka pula. Juga helai-helai pedang yang mendebarkan disentuh cahaya bintang dilangit.

Para prajurit itu melihat dua helei pedang yang berbeda. Ki Rangga mempergunakan sehelai pedang yang berwarna keputih-putihan dan berkilat-kilat memantulkan cahaya bintang. Sementara pedang Ki Randukeling adalah justru agak kehitam-hitaman. Namun dari daun pedang yang kehitam-hitaman itu seakan-akan nampak warna kemerahan seolah-olah daun pedang itu telah membara.

Para prajurit Pajang itu sadar, bahwa mereka telah bertemu dengan petugas pilihan. Karena itu, maka mereka pun harus berhati-hati. Meskipun mereka bertujuh, namun kedua orang itu harus dinilai sebagaimana mereka berhadapan dengan lawan yang seimbang.

Pemimpin prajurit Pajang itu pun melangkah semakin dekat sebagaimana prajurit

yang lain. Senjata mereka mulai bergetar sementara Ki Rangga Gupita dan Ki Randukeling pun telah bersiap. Ketika pemimpin prajurit Pajang itu mulai menjulurkan pedangnya, maka senjata-senjata yang lain pun mulai mematuk pula.

Dengan demikian, maka segera terjadi pertempuran yang seru. Ketujuh prajurit Pajang itu adalah prajurit-prajurit yang cukup terlatih. Tetapi lawan mereka adalah seorang perwira terpilih dari pasukan sandi Jipang dan yang seorang lagi adalah seorang pertapa yang menyimpan selumbung ilmu di dalam dirinya.

Suramnya Bayang-bayang 26

Ki Rangga dan Ki Randukeling yang ada itu berdiri saling membelakangi. Mereka bertempur melawan siapapun yang menyerang mereka. Bahkan sekali-kali Ki Rangga pun menyerang pula dengan garangnya. Namun agaknya Ki Randukeling masih merasa segan untuk menyerang orang-orang Pajang itu. Meskipun demikian jika Ki Randukeling itu menangkis setiap serangan, maka benturan yang terjadi itu telah mendorong lawan-lawannya beberapa langkah surut.

Pedang Ki Rangga yang berkilat-kilat itu berputaran bagaikan baling-baling sehingga timbul kabut putih mengelilingi Ki Rangga Gupita.

Sedangkan dibelakang Ki Rangga Gupita, Ki Randukeling memegang pedangnya seakan-akan tidak bergerak sama sekali. Hanya pada saat-saat pedang lawannya mematuk tubuhnya maka pedang itu bergetar sesaat, namun cukup melemparkan arah sasaran senjata lawan menyamping.

Demikianlah pertempuran itu menjadi semakin sengit. Ketujuh orang prajurit Pajang itu semakin meningkatkan kemampuan mereka. Latihan-latihan yang berat di segala medan, serta pengalaman mereka menghadapi lawan yang berilmu tinggi, memberikan landasan pada tata gerak mereka.

Namun ternyata mereka sangat sulit untuk mengatasi kemampuan lawan.

Tetapi sementara itu, pemimpin kelompok kecil itu pun telah memusatkan perlawanannya terhadap Ki Rangga yang dianggapnya lebih mudah diatasi daripada Ki Randukeling. Menurut penglihatannya Ki Randukeling memiliki ilmu yang sulit

untuk dijajagi. Dengan demikian maka pemimpin kelompok kecil itu ingin berusaha untuk mengakhiri perlawanan Ki Rangga lebih dahulu, baru kemudian Ki Randukeling.

Untuk beberapa saat pertempuran itu masih berlangsung dengan sengitnya. Pemimpin kelompok itu berusaha untuk dapat menembus kemampuan bermain pedang Ki Rangga yang tubuhnya bagaikan berperisai kabut putih.

Dua orang prajuritnya telah mendapat isyarat untuk memusatkan serangannya dari arah lambung sebelah menyebelah. Sedangkan pemimpin kelompok itu akan menyerang ke arah dada. Sementara empat orang lainnya harus berusaha mengikat Ki Randukeling dalam pertempuran, apapun yang dapat mereka lakukan.

Usaha pemimpin kelompok itu memang mulai menggetarkan pertahanan Ki Rangga. Serangan yang datang dari tiga arah itu kadang-kadang membuatnya bergeser satu dua tapak.

Dengan demikian maka pemimpin kelompok kecil itu mempunyai perhitungan, bahwa pertahanan Ki Rangga itu sudah mampu digoyahkannya meskipun baru sedikit. Tetapi dengan kerja keras, maka sedikit sedikit pertahanan itu tentu akan pecah.

Berbeda dengan Ki Randukeling. Pertahanannya masih sangat mantap. Ia seakan-akan sama sekali tidak mengalami kesulitan bertempur melawan empat orang prajurit

Pajang. Hanya sekali-kali saja terdengar ia justru memuji, “Bagus. Kau benar-benar seorang prajurit pilihan.”

Namun yang disebut prajurit pilihan itu harus meloncat surut untuk menghindarkan diri dari patukan ujung pedang yang kehitam-hitaman itu.

Dalam pada itu, pemimpin kelompok yang melihat pertahanan Ki Rangga menjadi berguncang menjadi semakin garang menyerang bersama-sama dengan dua orang prajuritnya. Semakin lama rasa-rasanya menjadi semakin cepat, sehingga gumpalan awan putih yang menjadi perisai Ki Rangga seakan-akan telah mulai terkoyak.

Ki Rangga menggeram mengalami perlakuan seperti itu. Ia tidak dapat mengelak bahwa ilmu pedang prajurit-prajurit Pajang memang cukup tinggi, sehingga ujung-ujung senjata mereka mampu mengoyak kabut pertahanannya.

Karena itu, maka Ki Rangga pun telah sampai ke puncak kemampuannya. Ia tidak saja bersandar kepada kemampuan ilmu pedangnya. Tetapi Ki Rangga mulai merambah kepada kekuatan ilmunya.

Dengan demikian, maka pertempuran itu pun keseimbangannya telah berubah pula. Ketika para prajurit Pajang itu menyerang semakin cepat, maka rasa-rasanya tiba-tiba saja tangannya telah menyentuh api. Hulu senjata mereka bagaikan menjadi panas membara. Para prajurit itu terkejut karenanya. Mereka bergeser selangkah surut, sementara Ki Rangga mulai memutar lagi pedangnya dan kabutpun

nampak diseputar tubuhnya.

“Hati-hati,” berkata pemimpin kelompok prajurit itu, “Orang itu memiliki ilmu yang jarang ada duanya. Ia mampu menyalurkan panasnya api lewat sentuhan senjata. Karena itu, usahakan, serangan-serangan kalian jangan dapat ditangkis.”

Tetapi sangat sulit bagi para prajurit itu untuk mampu berbuat demikian. Namun mereka pun berusaha untuk meningkatkan kecepatan gerak serta kerja sama di antara mereka, sehingga kemungkinan serangan-serangan mereka tersentuh senjata lawan menjadi semakin kecil.

Namun Ki Rangga tidak membiarkan mereka mendapat kesempatan untuk berbuat demikian. Ki Ranggalah yang kemudian justru lebih menyerang, sehingga ketiga orang lawannya itu mengalami kesulitan. Mereka berusaha untuk menghindari serangan-serangan dan tidak menangkisnya.

Namun mereka tidak dapat berbuat demikian selanjutnya. Sekali-kali mereka memang harus menangkis meskipun tangan mereka seakan-akan telah menyentuh bara.

Hanya dengan kerja sama yang rapi sekali maka mereka telah mendapat kesempatan untuk memperbaiki kedudukan masing-masing jika tangan mereka rasa-rasanya bagaikan terkelupas.

Sementara itu, keempat orang prajurit yang bertempur melawan Ki Randukeling pun

telah mendapatkan kesulitan pula. Ketika Ki Randukeling mulai merasa jemu, maka sekali-kali ia mulai menyerang. Bahkan seorang di antara keempat prajurit itu telah terluka dilengannya. Meskipun ia masih juga dapat bertempur terus, tetapi dari lengannya itu telah menitik darah.

Dalam keadaan demikian, maka pemimpin kelompok kecil itu mulai berpikir, apakah yang sebaiknya dilakukan.

Sebenarnya bahwa kelompok kecil prajurit Pajang itu memang menjadi semakin terdesak. Jika mula-mula mereka mengepung kedua orang Jipang itu, namun akhirnya mereka bergeser surut sehingga kepungan itu menjadi sangat longgar.

Karena itu, maka bagi mereka tidak ada pilihan lain, bahwa mereka harus memberikan isyarat kepada kawan-kawan mereka untuk datang ke arena dan bersama-sama menangkap kedua orang itu.

Sejenak kemudian, maka terdengar pemimpin kelompok itu bersuit nyaring. Dua kali berturut-turut.

Isyarat itu memang mengejutkan dua orang kawannya yang berada di sebelah rumah yang mereka pergunakan selama mereka berada dan bertugas mengamati padukuhan yang telah dikosongkan oleh orang-orang Jipang karena serangan orang-orang Pajang.

Dengan demikian kedua orang itu menyadari, bahwa kawan-kawannya mengalami kesulitan menghadapi orang-orang yang tidak dikenal.

Karena itu, maka ia pun telah membunyikan isyarat kentongan untuk melaporkan apa yang terjadi itu kepada induk pasukan yang bertugas di padukuhan itu.

Suara kentongan itu ternyata telah berpengaruh atas Ki Rangga dan Ki Randukeling. Mereka sadar, bahwa isyarat itu berarti panggilan bahwa prajurit-prajurit yang lain untuk datang ke tempat itu.

Karena itu, maka Ki Rangga dan Ki Randukeling itu pun telah mengambil satu keputusan.

“Tidak ada gunanya kita berada disini Ki Rangga,” berkata Ki Randukeling.

Ki Rangga menggeram. Sebenarnya ia ingin menghancurkan lawan-lawannya jika ia mendapat waktu agak lebih banyak.

Pengaruh panas ditangan para pengawal itu sudah menjadi semakin jelas, sehingga

beberapa saatlagi, ia merasa yakin dapat membinasakan ketiga orang lawannya.

Tetapi isyarat itu telah memanggil prajurit lebih banyak lagi, sehingga dengan demikian kemungkinan lain akan dapat terjadi.

Karena itu, maka dengan geram ia berdesis, “Kalian memang orang-orang licik. Aku tidak mengira bahwa prajurit-prajurit Pajang adalah prajurit-prajurit yang licik dan pengecut seperti ini.”

Pemimpin kelompok kecil itu menjawab, “Kenapa licik?” Bukankah kami dapat mengerahkan kekuatan berapapun juga untuk menangkap pencuri? Bukan hanya satu dua orang tetapi seluruh padukuhan?”

“Kami bukan pencuri,” teriak Ki Rangga.

“Apa bedanya?” sahut pemimpin kelompok itu.

Darah Ki Rangga bagaikan mendidih. Namun sementara itu ia pun menyadari bahwa prajurit Pajang memiliki kemampuan bergerak cepat. Karena itu, maka seperti yang dikatakan oleh Ki Randukeling maka mereka berdua tidak akan ada gunanya berdua berada di tempat itu. Karena itu, maka dengan satu isyarat, Ki Rangga pun telah bergeser meninggalkan arena disusul oleh Ki Randukeling.

Prajurit Pajang itu tidak mampu mencegah keduanya karena mereka memang tidak memiliki kekuatan untuk itu. Dengan berat hati para prajurit itu harus melepaskan keduanya keluar dari lingkaran kepungan mereka.

Ternyata prajurit Pajang memang mampu bergerak cepat. Hanya sekejap kemudian, maka beberapa orang prajurit telah berdatangan. Bersama dengan ketujuh orang yang kehilangan lawannya itu mereka berusaha mengejarnya. Bahkan prajurit yang berada di rumah-rumah yang lain pun telah ke luar pula dan bersiap-siap menghadapi segala kemungkinan.

Namun prajurit-prajurit Pajang itu tidak mampu menemukan Ki Rangga Gupita dan Ki Randukeling, yang sejenak kemudian telah berhasil ke luar dari padukuhan.

Dengan hati-hati mereka menelusuri pematang di antara tanaman jagung yang tumbuh agak tinggi, sehingga mereka tidak mudah dapat dilihat dari kejauhan.

“Gila,” geram Ki Rangga. “Kita datang terlambat.”

Ki Randukeling menarik nafas dalam-dalam. Sementara Ki Rangga berkata sejujurnya, “Semua ini akibat kebodohan Wiradana. Jika ia mampu mengendalikan Tanah Perdikannya, maka tentu tidak akan terjadi pemberontakan yang dapat menghambat kepergianku kemari dengan membawa meskipun hanya sekelompok kecil pasukan pengawal.”

“Jangan membebankan kesalahan sepenuhnya kepada Ki Wiradana,” sahut Ki Randukeling. “Ia tidak lagi banyak dapat berbuat di Tanah Perdikan Sembojan justru karena kehadiran kita disana.”

“Itu adalah kelemahannya yang utama,” sahut Ki Rangaga yang beberapa kali mengalami kekecewaannya, “Jika ia berdiri pada satu sikap, maka orang lain tidak akan mudah mempengaruhinya.”

“Kita tidak sekadar mempengaruhinya,” berkata Ki Randukeling. “Aku datang memang untuk memaksakan pendapat dan sikapku, sebagaimana keinginan Ki Rangga. Wiradana bukan seorang yang lemah hati, atau katakanlah bukan semata-mata karena kelemahan hatinya saja yang telah membuat Tanah Perdikannya menjadi sulit,

tetapi kita memaksakan kehendak kita dengan kekerasan. Ki Wiradana bukan seorang yang memiliki ilmu tinggi. Terhadap istrinya saja ia sudah tidak mampu melawannya.”

mohon maaf terpotong sedikit…

 Wiradana tidak menyahut. Tetapi sekilas ia pun teringat bahwa Iswari pun telah mempunyai seorang anak, yang menurut pendengarannya juga laki-laki. Apalagi tunggul kuasa yang dilimpahkan oleh Pajang ada ditangan Iswari pula.

Ki Wiradana memegangi kepalanya yang terasa pening. Dua orang keturunannya akan dapat berhadapan sebagai lawan yang bebuyutan, didukung oleh kekuatan yang besar sehingga masing-masing memiliki landasan berpijak yang kuat.

Sementara itu, para pemimpin dari Tanah Perdikan Sembojan itu telah berusaha untuk mempergunakan waktunya beristirahat barang sejenak. Namun mereka hampir tidak dapat memejamkan mata mereka karena kegelisahan yang bergejolak di dalam dada mereka.

Esok pagi harus menemukan jalan untuk mencari pasukan Jipang yang terdesak.

Namun Ki Rangga telah dapat memperkirakan arahnya meskipun mungkin dapat juga keliru.

Tetapi sementara itu, di luar pengetahuan Ki Rangga dan Ki Randukeling, dua orang perwira petugas sandi dari Pajang telah berhasil mengikuti pasukan kecil dari Tanah Perdikan itu. Berdasarkan keterangan yang diperoleh penghubng dari Pajang di Tanah Perdikan Sembojan di tempat yang telah ditentukan bersama dengan keluarga Iswari, maka para petugas sandi Pajang telah mengamati semua jalur dari Tanah Perdikan Sembojan ke Pajang. Dengan demikian maka mereka telah melihat kehadiran pasukan kecil itu dan dimana mereka bersembunyi.

Namun petugas sandi Pajang itu tidak melihat Ki Rangga dan Ki Randukeling yang

pada malam hari keluar dari iring-iringan itu untuk mencari hubungan dengan orang-orang Jipang.

Tetapi ketika para petugas sandi itu kemudian mendengar dua orang yang berada di

padukuhan yang ditinggalkan oleh orang-orang Jipang, maka mereka pun segera mengerti, bahwa kedua orang itu tentu para pemimpin dari pasukan kecil yang baru datang itu.

“Mereka ternyata memiliki ilmu yang tinggi,” berkata para prajurit Pajang.

Namun Pajang juga mempunyai beberapa orang yang memiliki ilmu, sehingga seandainya tidak mampu menghadapinya seorang diri, maka dalam kelompok-kelompok kecil mereka akan dapat menghadapinya.

“Kita harus menjaga, agar pasukan itu tidak justru pergi ke Tanah Perdikan Sembojan,” berkata seorang perwira Pajang. “Jika pasukan itu bersama orang-orang Jipang meninggalkan perbatasan dan menuju ke Sembojan, maka Sembojan akan menjadi ajang pembalasan dendam.”

“Kita akan ikut bertanggung jawab,” sahut perwira yang lain. “Karena itu, maka kita akan membayangi pasukan itu dengan sebagian kekuatan yang ada di daerah perbatasan ini. Sementara itu di Tanah Perdikan masih ada sebagian dari kekuatan yang tertinggal, yang akan dapat membantu menyelamatkan Tanah Perdikan itu dari dendam orang-orang Jipang dan para pemimpin yang berpihak kepada Jipang itu.”

Yang lain mengangguk-angguk. Namun dengan demikian maka berarti bahwa Pajang harus menyiapkan pasukan yang mampu bergerak cepat dan untuk menempuh jarak panjang meskipun tidak sejauh Jipang.

Tetapi Pajang akan mencoba cara yang pertama. Jika mereka selalu mengganggu pasukan Jipang di Pajang, maka pasukan itu tentu tidak akan bergeser apalagi sebagian.

Namun kecemasan ini telah disampaikan lewat penghubung ke Tanah Perdikan Sembojan. Di tempat yang terasing penghubung itu menyampaikan segala pesan para perwira Pajang kepada keluarga Iswari.

Ketika matahari terbit keesokan harinya, maka Ki Rangga dan Ki Randukeling telah bersiap untuk mencari keterangan tentang pasukan Jipang. Mereka telah mengenakan penyamaran, sehingga ujud mereka tidak lebih dari dua orang pengembara atau dua orang petani miskin.

Dengan sangat hati-hati kedua orang itu meninggalkan hutan yang terbentang menyilang bulak itu. Mereka menembus padang perdu dan langsung menuju ke sebuah padukuhan.

Sementara itu para pengawas dari petugas sandi Pajang hanya mengawasi pasukan itu dalam keseluruhan sehingga mereka tidak memperhatikan dua orang dalam penyamaran ke luar dari hutan itu dan menyusup lewat padang perdu.

Ketika Ki Rangga memasuki padukuhan itu, terasa padukuhan itu menjadi sepi.

Sebagian dari isi padukuhan itu telah mengungsi meskipun padukuhan itu belum disentuh oleh peperangan.

Namun demikian orang-orang yang masih ada di padukuhan itu, masih juga melakukan tugas mereka sehari-hari. Bahkan ketika Ki Rangga dan Ki Randukeling menyusuri padukuhan itu lebih dalam lagi, maka Ki Rangga menemui sebuah pasar yang ternyata masih juga banyak dikunjungi orang meskipun agaknya tidak sebanyak bila

keadaan tenang.

Namun Ki Rangga dan Ki Randukeling sempat berada di pasar itu untuk beberapa saat. Dengan cerdik mereka berhasil memancing pembicaraan. Namun tidak seorang pun yang tahu pasti, dimanakah pasukan Jipang itu berada.

Meskipun demikian, Ki Rangga dan Ki Randukeling mendapat sedikit gambaran, apa yang pernah terjadi di padukuhan yang telah dipergunakan oleh pasukan Jipang untuk menyusun pertahanan mereka.

“Pertempuran itu tidak terlalu seru,” berkata salah seorang di antara mereka,

“Justru karena Pajang mengirimkan pasukannya jauh lebih banyak dari pasukan

Jipang.”

“Dan pasukan Jipang itu tentu telah dihancurkan,” pancing Ki Rangga Gupita.

“Menurut pendengaranku, pasukan Jipang itu sempat melarikan diri. Menurut para prajurit Pajang yang tersebar di antara orang-orang padukuhan, Pajang tidak berniat untuk menghancurkan pasukan Jipang itu, kecuali mengusirnya,” jawab orang di pasar itu.

Ki Rangga mengangguk-angguk. Tetapi ia tidak menjawab.

Tetapi orang itulah yang bercerita lebih jauh, “Pajang ternyata telah memanggil anak-anak muda dari berbagai padukuhan untuk ikut berjuang bersama para prajurit. Menurut kabar yang tersebar, pasukan Jipang itu juga terdiri dari anak-anak muda dari padukuhan-padukuhan karena Jipang sudah kehabisan prajurit.”

Hampir saja Ki Rangga mengumpat. Untunglah bahwa ia sempat melihat Ki Randukeling tersenyum, sehingga karena itu, maka ia pun telah tersenyum pula.

Namun Ki Rangga tidak mau mendengarkan orang itu berbicara lebih banyak agar ia tidak lupa diri dan berbuat sesuatu yang dapat merusak penyamarannya. Karena itu, maka keduanya pun segera bergeser dari orang itu untuk melihat-lihat isi pasar yang agak sepi itu.

Tetapi mereka tidak terlalu lama berada di pasar itu. Ketika dari orang lain mereka juga mendengar hal yang serupa, maka keduanya telah mengambil keputusan untuk berusaha mencari padukuhan yang dipergunakan oleh orang-orang Jipang untuk membangunkan pertahanannya.

Mereka melakukannya dengan sangat hati-hati agar mereka tidak bertemu dengan orang-orang Pajang. Di padukuhan-padukuhan lain, mereka juga berusaha memancing keterangan tentang orang-orang Jipang itu.

Ketika mereka melihat dua orang berada di sudut sebuah padukuhan maka keduanya

telah bertanya jalan yang manakah yang paling aman untuk dilalui.

“Ki Sanak mau kemana?” bertanya salah seorang dari kedua orang yang ada di sudut padukuhan itu.

“Kami adalah dua orang pengembara,” jawab Ki Rangga. “Kami berasal dari Mangir sebelah Alas Mentaok. Ketika kami menginjakkan kaki di Pajang, ternyata Pajang baru dilanda peperangan. Kami ingin meneruskan pengembaraan kami, tetapi kami takut tersesat ke perkemahan orang-orang Jipang.”

“O,” salah seorang di antara kedua orang itu mengangguk-angguk. “Memang ada dua padesaan yang dipergunakan oleh orang-orang Jipang. Tetapi keduanya terletak di belakang gumuk yang berada diseberang sungai. Masih beberapa ratus patok dari tempat ini.”

Ki Rangga mengangguk-angguk. Tetapi ia masih bertanya, “Apakah benar mereka bersikap garang dan menakutkan?”

Orang itu merenung sejenak. Namun kemudian katanya, “Yang dilakukan adalah wajar sebagaimana dilakukan oleh para prajurit di medan. Kadang-kadang garang dan kadang-kadang keras. Tetapi mereka tidak terlalu banyak memusuhi kami, orang-orang yang tidak tahu apa-apa tentang perang ini. Mereka membiarkan saja kami hidup sebagaimana hidup kami sehari-hari. Namun bagi padukuhan-padukuhan terdekat, timbul juga kegelisahan dan sebagian besar penghuninya telah mengungsi. Bahkan orang-orang dari padukuhan ini pun telah banyak yang mengungsi pula.”

Ki Rangga mengangguk-angguk. Memang banyak tanggapan yang didengarnya atas

kehadiran pasukan Jipang itu. Namun bagaimanapun juga bagi orang-orang Pajang, Jipang adalah musuh mereka.

Dengan ancar-ancar itu, maka Ki Rangga dan Ki Randukeling pun telah dapat mengetahui dimana pasukan Jipang itu berkemah. Namun mereka pun sadar, bahwa sekitar padukuhan yang dipergunakan oleh orang-orang Jipang itu tentu terdapat banyak petugas sandi dari Pajang yang mengawasinya. Karena itu, maka keduanya harus berhati-hati agar keduanya tidak masuk ke dalam perangkap mereka.

Ki Rangga adalah seorang perwira dari pasukan sandi yang berpengalaman.

Sedangkan Ki Randukeling adalah seorang pertapa yang juga memiliki pengalaman yang sangat luas. Karena itu, maka keduanya merasa mampu untuk menembus pengawasan orang-orang Pajang yang ada di sekitar padukuhan itu.

Sebenarnyalah kelebihan kedua orang itu telah mampu membawa mereka tanpa diketahui oleh orang-orang Pajang yang selalu mengawasi pasukan itu, apalagi para petugas dari Pajang itu lebih banyak mengawasi gerak pasukan itu dalam keseluruhan, sebagaimana para petugas yang mengawasi sekelompok pasukan Tanah Perdikan Sembojan yang bersembunyi di hutan.

Kedatangan Ki Rangga memang mengejutkan. Hampir saja para penjaga mematuknya dengan ujung tombak. Namun dengan cepat Ki Rangga memberikan penjelasan tentang dirinya dan Ki Randukeling.

“Dimana Senapatimu?” bertanya Ki Rangga.

“Ia berada di padukuhan sebelah,” jawab prajurit Jipang itu.

“Apakah padukuhan itu terpisah jauh dan jarak itu diawasi oleh orang-orang Pajang?” bertanya Ki Randukeling.

“Tidak,” jawab prajurit itu. “Padukuhan itu hanya dipisahkan oleh bulak sempit dan jarak itu sepenuhnya dikuasai oleh kita.”

“Bagus,” berkata Ki Rangga. “Bawa aku kepada mereka. Para Senapati pasukan ini.”

Dua orang prajurit kemudian mengantar Ki Rangga dan Ki Randukeling ke padukuhan sebelah untuk bertemu dengan para pemimpin pasukan Jipang yang sudah semakin terdesak itu.

Kedatangan Ki Rangga memang memberikan harapan kepada para Senapati Jipang.

Namun Ki Rangga ternyata tidak membawa pasukan yang cukup banyak.

“Meskipun demikian, kedudukan kita akan menjadi semakin kuat,” berkata Panglima pasukan Jipang itu.

“Apakah ada harapan kita untuk mendesak pasukan Pajang?” bertanya Ki Randukeling.

“Sulit untuk mengatakannya,” jawab Panglima itu. “Tetapi dengan kekuatan itu, kita akan dapat bertahan disini untuk waktu yang lama. Kita tidak perlu diusir lagi semakin jauh dari perbatasan.”

“Tetapi bagaimana membawa pasukan itu kemari?” bertanya Ki Rangga Gupita.

“Pasukan itu hanya kecil saja. Jika kita terjebak, maka keadaan akan menjadi sangat sulit bagi pasukan itu untuk dapat keluar.”

Panglima itu pun mengangguk-angguk. Ia pun mengerti, bahwa pasukan kecil itu agaknya sudah masuk pula ke dalam pengawasan para petugas sandi Pajang.

Untuk beberapa saat para Senapati itu ber-pikir. Namun kemudian Panglima itu berkata, “Siapkan pasukan itu. Besok mereka masih harus bersembunyi. Jika malam datang, maka sebagian dari pasukan kita disini akan menjemput mereka. Dengan demikian, maka jika terjadi benturan kekuatan, maka kita termasuk pasukan yang baru datang itu akan mendapat kesempatan untuk menarik diri karena kita tidak terlalu lemah. Dalam keadaan yang khusus, maka akan dikirim isyarat sehingga seluruh pasukan terpaksa bergerak untuk menyelamatkan mereka. Setidak-tidaknya kita akan mampu bertahan.”

“Terima kasih,” berkata Ki Rangga. “Aku akan mempersiapkan mereka.”

Untuk beberapa saat lamanya mereka masih berbincang. Sehingga akhirnya Ki Rangga dan Ki Randukeling pun minta diri untuk kembali ke pasukan kecil itu. Besok malam, mereka akan dijemput oleh kekuatan yang cukup besar meskipun dalam gerak rahasia.

Dengan demikian, maka keduanya telah meninggalkan padukuhan itu. Sebagaimana mereka datang, maka mereka pun harus pergi dengan sangat berhati-hati. Namun keduanya cukup memberikan bekal kepada mereka untuk melakukan tugas mereka dengan baik.

Sejenak kemudian, maka mereka pun merasa telah terlepas dari pengawasan para petugas sandi Pajang. Namun ketika mereka mendekati hutan kecil itu, maka mereka pun kembali harus sangat berhati-hati, karena mungkin pasukan kecil itu pun telah diketahui dan selalu diawasi pula.

Menjelang dini hari Ki Randukeling telah berada kembali di antara pasukan Pengawal Tanah Perdikan. Mereka pun segera memberikan laporan, apakah yang telah mereka lakukan.

“Nah, kau dengar kakang,” berkata Warsi kepada Ki Wiradana. “Bukankah sambutan para Senapati Jipang cukup baik. Mereka akan menjemput kita. Itu adalah pencerminan sikap bertanggung jawab dari para Senapati Jipang.”

“Terima kash,” desis Ki Wiradana.

“Terima kasih, terima kasih. Hanya itulah yang dapat kau lakukan? Sekadar mengucapkan terima kasih?” bentak Warsi.

Ki Wiradana terkejut. Ia tidak tahu maksud Warsi, sehingga ia justru menjadi bingung.

“Kau harus berbangga diri, bahwa pasukan pengawalmu mendapat kehormatan untuk ikut serta dalam persoalan yang besar ini. Dengan demikian maka para pengawalmu akan mendapatkan pengalaman yang cukup, sehingga kelak Tanah Perdikan Sembojan akan menjadi Tanah Perdikan yang memiliki kekuatan yang seimbang dengan beberapa Kadipaten. Mungkin tidak dalam jumlah pasukan, tetapi tingkat kemampuannya akan memadai,” berkata Warsi.

Ki Wiradana mengangguk. Katanya, “Ya. Aku pun berpikir seperti itu.”

“Kau tidak pernah mampu memikirkannya,” sahut Warsi. Namun kemudian Warsi pun bertanya kepada Ki Rangga. “Jadi besok malam kita akan bergabung dengan pasukan induk itu?”

“Ya. Besok kita harus mempersiapkan diri,” berkata Ki Rangga. “Namun demikian kita harus tetap berhati-hati. Mungkin pasukan Pajang akan menyergap kita siang nanti.”

Warsi mengangguk-angguk. Lalu katanya kepada Ki Wiradana, “Kau jangan tidur saja. Hati-hati dengan pasukanmu. Mereka harus selalu siap. Beberapa orang harus tetap ditempatkan ditepi hutan untuk mengamati apa yang terjadi diluar hutan dan di padang perdu itu. Kita tidak banyak mengenal medan disini.”

Ki Wiradana hanya mengangguk kecil. Tetapi ia tidak menjawab sama sekali. Namun dalam pada itu, ketika Ki Rangga Gupita ingin sekadar beristirahat dengan duduk bersandar sebatang pohon yang besar menjelang fajar, maka Ki Randukeling telah duduk pula disampingnya. Dengan tanpa memandangnya Ki Randukeling bertanya, “Bagaimana pendapatmu tentang pasukan Jipang disini?”

“Tambahan kekuatan ini akan memberikan arti,” jawab Ki Rangga Gupita.

“Tetapi agaknya pasukan Jipang disini tidak mempunyai harapan dalam waktu dekat untuk mendesak pasukan Pajang,” sahut Ki Randukeling. “Bagaimana jika kita menempuh jalan lain seperti yang pernah kita bicarakan?”

Ki Rangga mengerutkan keningnya. Kemudian dengan ragu-ragu ia bertanya, “Apa yang pernah kita bicarakan?” “Sejak semula kita berbicara tentang dua kemungkinan yang dapat ditempuh. Kita bantu Jipang di medan ini lebih dahulu, atau Jipang membantu memulihkan kewibawaan Tanah Perdikan Sembojan lebih dahulu, sehingga dengan demikian maka perlawanan Jipang bersama pasukan Tanah Perdikan

Sembojan menjadi semakin kuat, karena para pengawal dari Tanah Perdikan ini semakin banyak yang akan dapat membantu pasukan Jipang di Pajang,” berkata Ki Randukeling.

Ki Rangga termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya, “Kita sudah berada ditempat ini Ki Randukeling. Apakah kita akan menarik pasukan ini dan kembali ke Tanah Perdikan Sembojan? Bukankah itu hanya akan membuang waktu saja?”

“Ki Rangga,” berkata Ki Randukeling. “Perang antara Pajang dan Jipang nampaknya akan berlangsung lama, sehingga dengan demikian maka waktu yang diperlukan untuk memulihkan kuasa atas Tanah Perdikan Sembojan itu sama sekali tidak akan mempengaruhi keadaan.”

“Sebenarnya segalanya tergantung kepada Wiradana. Apakah ia mampu mengendalikan pemerintahan atau tidak. Meskipun kita kembali dengan pasukan Jipang yang kuat, namun jika Wiradana tidak mampu memegang pimpinan atas Tanah Perdikan itu, maka persoalannya akan sama saja. Mereka akan memberontak lagi, dan kita akan menghadapi mereka dengan kekerasan sebagaimana yang telah terjadi. Sementara itu, persoalan Pajang dan Jipang menjadi semakin memuncak sehingga pada suatu saat kita diperlukan sekali kehadiran kita di sini, kita tidak ada ditempat,” jawab Ki Rangga.

“Aku mengerti,” jawab Ki Randukeling. “Tetapi kita jangan melemparkan kesalahan dengan begitu mudahnya kepada Ki Wiradana. Aku sama sekali tidak berniat membelanya. Aku juga tidak begitu senang kepadanya. Tetapi kita harus mengetahui persoalan yang sebenarnya. Kelemahan kedudukan kita di Tanah Perdikan Sembojan.

Sebagian adalah karena sikap kita terhadap rakyat Sembojan. Pajak yang terlalu tinggi dan barangkali mereka juga merasakan ketidaksenangan melihat Ki Wiradana, pemimpin mereka seakan-akan telah kehilangan kuasanya. Ditambah lagi pengaruh Nyai Wiradana yang tua di antara rakyat Sembojan itu sendiri.”

“Karena itu Ki Randukeling” berkata Ki Rangga, “Bagiku lebih baik kita berada disini untuk sementara. Kita akan melakukan perintah Jipang. Jika kita tidak berada di sini, mungkin Pajang akan mengirimkan pasukan untuk memperkuat kedudukannya di pesanggrahannya diseberang Bengawan Sore yang berhadapan dengan pasukan Jipang.”

Ki Randukeling menarik nafas dalam-dalam. Namun katanya, “Jika pasukan ini meninggalkan Pajang dan untuk beberapa hari berada di Tanah Perdikan Sembojan sudah tentu dengan persetujuan Jipang. Karena keterlibatan Tanah Perdikan Sembojan juga atas persetujuan Jipang.”

Ki Rangga termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya, “Segala sesuatunya harus dibicarakan dengan Panglima pasukan Jipang itu di sini. Tetapi Ki Randukeling harus menyadari, bahwa untuk berbicara tentang kemungkinan itu harus ada utusan khusus yang menghadap Kanjeng Adipati Arya Penangsang di Jipang, atau

setidak-tidaknya Patih Mantahun yang keduanya berada di tepi Bengawan Sore berhadapan dengan pasukan Pajang yang dipimpin oleh Hadiwijaya dengan para panglimanya yang paling berbahaya. Pemanahan dan Penjawi. Untuk itu diperlukan waktu yang cukup panjang.”

Ki Randukeling mengangguk-angguk. Dengan nada datar ia berkata, “Baiklah. Besok

pasukan ini akan dijemput. Sementara itu kita akan dapat berbicara tentang kemungkinan yang lain yang barangkali dapat kita tempuh.”

Ki Rangga mengangguk-angguk. Jawabnya dengan suara datar, “Kita tunggu sampai besok Ki Randukeling.”

Ki Randukeling mengangguk pula sambil menjawab, “Baiklah. Aku pun akan beristirahat.”

Langit memang sudah menjadi merah. Tetapi Ki Randukeling bergeser dan mencoba untuk tidur pula barang sejenak.

Sementara itu, beberapa orang pengawal justru telah terbangun. Mereka telah pergi ke sebuah mata air yang besar yang terdapat ditengah-tengah hutan kecil itu, sehingga airnya yang melimpah telah mengalir menjadi sebuah parit kecil yang berair sangat bening.

Dalam pada itu, Ki Wiradana pun telah menyempatkan diri pula untuk beristirahat.

Sementara Warsi berada disamping anaknya yang masih bayi agar anak itu tidak menangis kedinginan. Seorang perempuan yang tidak dapat menentang kemauan Warsi untuk ikut, tertidur pula beralaskan sehelai tikar kecil yang memang dibawa dari Tanah Perdikan Sembojan. Di luar sadarnya, dari kedua matanya yang terpejam telah mengembun air mata, karena perempuan itu telah menangis di dalam mimpinya yang buruk.

Sementara itu, ditepi hutan, beberapa orang pengawal yang bertugas telah mulai terkantuk-kantuk. Ketika langit menjadi semakin terang, beberapa orang pengawal yang lain telah menggantikan mereka di beberapa tempat untuk mengamati padang perdu di luar hutan itu, karena setiap saat sesuatu akan mungkin terjadi.

Menurut perhitungan para pemimpin pasukan kecil itu, kedatangan mereka tentu telah tercium oleh petugas sandi di Pajang yang seakan-akan telah menyebarkan telinga dan mata di batang-batang pepohonan dan gerbang-gerbang padukuhan.

Namun pasukan pengawal yang kecil itu telah dapat beristirahat dengan tenang dan tanpa gangguan.

Dalam pada itu, pasukan Pajang memang tidak berusaha untuk mengganggu pasukan Jipang. Kecuali pasukan Pajang belum tahu pasti kekuatan pasukan Jipang itu meskipun mereka yakin bahwa pasukan itu hanya pasukan kecil, namun orang-orang Pajang mempunyai perhitungan tertentu atas pasukan itu.

“Pasukan itu tentu akan bergabung dengan induk pasukan Jipang disisi Timur Pajang,” berkata seorang Senapati Pajang.

“Kenapa kita tidak menghancurkan pasukan itu selagi masih terpisah dan lemah?”

berkata Senapati yang lain. “Bukankah dengan demikian pekerjaan kita tidak akan menjadi berat, karena jika pasukan itu telah bergabung dengan induk pasukannya, maka kekuatan mereka pun akan menyatu.”

Senapati yang pertama menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Kita masih memperhitungkan siapakah sebenarnya lawan kita. Yang datang itu, menurut keterangan dari penghubung kita di Tanah Perdikan Sembojan, sebagian besar

adalah anak-anak muda Sembojan. Hanya beberapa orang pemimpinnya memang

dipengaruhi oleh Jipang dan berkiblat pada Jipang. Jika kita menghancurkan pasukan itu, maka anak-anak muda Tanah Perdikan Sembojanlah yang akan menjadi korban. Bukan orang-orang Jipang.”

“Apakah bedanya?” bertanya Senapati yang lain. “Tanah Perdikan Sembojan telah memilih Jipang sebagai kiblatnya. Bukankah dengan demikian berarti bahwa Tanah Perdikan Sembojan telah menempatkan dirinya sebagai lawan kita? Bahkan dengan kasar Tanah Perdikan Sembojan dapat disebut memberontak.”

“Kau benar adi,” jawab Senapati yang pertama. “Tetapi hal itu bukan dilakukan atas kesadaran seluruh rakyat Tanah Perdikan Sembojan. Jika kita mempelajari apa yang telah terjadi di Tanah Perdikan Sembojan, maka kita menjadi jelas, bahwa kita tidak akan dapat memusuhi rakyat Tanah Perdikan Sembojan. Bahkan kita akan menjadi kasihan terhadap mereka.”

Senapati yang lain itu pun menarik nafas dalam-dalam. Sebenarnyalah bahwa ia pun telah mendengar serba sedikit tentang susunan pasukan Tanah Perdikan Sembojan yang datang dengan panji-panji kebesaran pasukan Jipang.

Namun baginya, siapapun juga, tetapi jika ia datang atas nama Jipang, maka ia pun harus dihancurkannya pula.

Tetapi segala sesuatunya tergantung atas perintah yang diterimanya menghadapi pasukan lawan yang semakin terdesak itu.

Meskipun demikian Pajang masih tetap memperhitungkan kehadiran pasukan Jipang itu, sehingga Pajang tidak dapat mengirimkan pasukan yang kuat menyusul pasukan yang dipimpin langsung oleh Adipati Pajang untuk menghadapi pasukan Jipang yang dipimpin langsung oleh Adipati Jipang.

Dengan demikian maka pasukan Pajang telah tertahan untuk tidak mengambil

langkah-langkah yang keras terhadap pasukan Jipang yang terdiri dari anak-anak muda Tanah Perdikan Sembojan.

Karena itulah maka di hari berikutnya pasukan kecil dari Tanah Perdikan Sembojan itu tidak dapat gangguan sama sekali dari orang-orang Pajang.

Namun satu hal yang dipahami oleh orang-orang Pajang bahwa di antara pasukan kecil itu terdapat sedikitnya dua orang yang berilmu tinggi, sehingga para pemimpin Pajang harus memperhatikannya. Hari itu dilalui oleh pasukan Tanah Perdikan Sembojan dengan ketegangan yang mencengkam. Para pengamatnya dengan waspada mengamati padang perdu diluar hutan.

Tetapi ternyata mereka tidak pernah melihat sesuatu yang mencurigakan.

Sementara itu, para pengamat dan petugas sandi dari Pajang memperhatikan pasukan itu dari kejauhan. Namun mereka mendapat perintah untuk tidak berbuat sesuatu atas pasukan itu atau memancing keadaan, sehingga timbul kegelisahan yang akan dapat mengubah kedudukan pasukan yang sudah diketahui tempatnya itu.

Ketika kemudian malam turun, maka para petugas sandi pun telah memperketat pengamatan mereka. Bukan saja pada pasukan kecil di hutan itu. Tetapi juga pada pasukan induk dari kekuatan Jipang yang berada di sisi Timur itu.

Dengan cermat mereka memperhatikan, apa yang terjadi dan apa yang telah dilakukan oleh kedua bagian dari pasukan Jipang itu. Kemudian atas hasil pengamatan mereka setelah lewat senja, maka para petugas sandi dari Pajang memperhitungkan, bahwa kedua pasukan itu akan melakukan satu gerakan bersama pada malam itu.

“Apakah mereka akan menyerang?” bertanya salah seorang di antara para petugas sandi.

“Kita siapkan pasukan Pajang untuk menahan mereka jika benar mereka akan menyerang. Tetapi semuanya masih harus diperhitungkan,” jawab yang lain.

Karena itu, maka laporannya telah sampai kepada para pemimpin prajurit Pajang tentang gerakan-gerakan dari kedua pasukan Jipang itu.

Memang ada beberapa dugaan. Di antaranya adalah, bahwa kedua pasukan itu sedang berusaha untuk menemukan jalan agar mereka dapat menggabungkan diri.

“Mereka tidak akan dengan serta merta menyerang dari dua alas yang berbeda.

Apalagi nampaknya pasukan yang datang kemudian itu belum mapan,” berkata salah seorang Senapati setelah mengurai semua laporan yang sampai kepadanya dari segala pihak.

Beberapa orang Senapati sependapat. Nampaknya kedua pasukan yang bersiap-siap itu sekadar mencari jalan untuk saling bergabung.

Meskipun demikian, pasukan Pajang tidak ingin mengalami akibat yang buruk dari kelengahannya. Pasukan Jipang itu dapat saja melakukan sesuatu yang tidak terduga atau yang tidak diperhitungkan sebelumnya. Menyerang dengan pasukan yang kurang mampu alas berpijaknya di malam hari.

Karena itu, maka semua kubu pertahanan Pajang pun telah dipersiapkan. Pasukan berkuda yang meskipun tidak begitu besar telah siap menjelajahi daerah perbatasan. Jika benar pasukan Jipang itu menyerang disisi yang mana pun, pasukan Pajang telah siap untuk menghadapinya.

Dengan tegang para petugas sandi mengamati gerak pasukan Jipang. Mereka mengikuti dengan cermat apa yang telah ditugaskan untuk menilai keadaan mengambil kesimpulan bahwa pasukan Jipang itu tidak akan menyerang.

“Seperti yang sudah kita duga sebelumnya,” berkata seorang petugas sandi.

“Pasukan Jipang itu sekadar menjemput kawan-kawannya yang terlalu kecil untuk berjalan sendiri di daerah lawan seperti ini,” sahut yang lain.

“Kita akan melakukan hal yang sama jika kita mengalami keadaan seperti itu,” berkata yang lain lagi.

Namun para petugas sandi itu tidak meninggalkan sasaran pengamatan mereka sehingga pasukan yang bergabung itu kembali ke landasan pertahanan mereka semula.

Seorang petugas sandi menarik nafas dalam-dalam. Dengan tegang ia mengikuti gerak pasukan Jipang itu. Namun demikian ia masih juga sempat bergumam, “Satu gerakan yang manis. Gelar yang dipasang pada saat-saat yang gawat merupakan gelar yang sangat mapan, sehingga seandainya pasukan Pajang menyerang, mereka

akan sempat menemukan jalan keluar.”

Kawannya mengangguk-angguk. Katanya, “Sejak semula kita menyadari, bahwa para Senapati Jipang adalah orang-orang yang memiliki kemampuan yang tinggi. Bukankah dalam tata keprajuritan Pajang dan Jipang mempunyai sumber yang sama, sehingga banyak kesamaan di dalam tata gerak kita dengan mereka?”

Petugas yang pertama mengangguk-angguk. Namun ia pun berdesis, “Tetapi ingat, mereka tidak terdiri dari para prajurit Jipang. Tetapi mereka terdiri dari orang-orang Tanah Perdikan Sembojan.”

“Tetapi pelatih-pelatih mereka dan sekarang yang memegang kendali atas mereka adalah orang-orang Jipang,” jawab kawannya.

Petugas sandi yang pertama mengangguk-angguk. Desisnya, “Ya. Yang memegang kendali atas mereka adalah orang-orang Jipang.”

Karena itulah, maka pasukan Pajang kemudian mendapat laporan bahwa meskipun sebagian dari pasukan Jipang itu adalah anak-anak muda dari Tanah Perdikan, namun mereka memiliki kemampuan sebagaimana prajurit Jipang.

“Tetapi bagaimanapun juga kita mendapat perintah untuk memperlakukan mereka tidak sebagaimana kita memperlakukan prajurit Jipang itu sendiri,” berkata salah seorang Senapati.

Tetapi perintah itu memang sangat berat untuk dapat dilakukan dengan seksama.

Dalam pertempuran yang sebenarnya, apabila orang-orang Tanah Perdikan Sembojan bergabung dengan para prajurit Jipang, para prajurit Pajang tentu sulit untuk memilih dan memperlakukan mereka dengan cara yang berbeda.

Dalam pada itu, pasukan Tanah Perdikan Sembojan yang dipimpin oleh Ki Wiradana memang telah bergabung dengan pasukan Jipang yang sebagian mereka juga terdiri dari anak-anak muda Tanah Perdikan Sembojan. Kedatangan mereka telah disambut dengan gembira oleh anak-anak muda Tanah Perdikan Sembojan. Pada saat pasukan Jipang itu menjemput mereka, maka anak-anak Sembojan itu tidak sempat menyatakan kegembiraan mereka atas kedatangan kawan-kawan mereka yang menyusul kemudian itu.

Baru setelah mereka berada di rumah-rumah yang mereka pergunakan sebagai barak-barak pasukan Jipang disisi Timur Pajang itu, maka mereka dapat menyatakan perasaan mereka. Anak-anak muda yang telah lebih dahulu berada di Pajang itu merasa seolah-olah mereka mendapat kesempatan untuk melihat kampung halamannya di Tanah Perdikan Sembojan.

Namun dalam pada itu, pada kesempatan yang mereka dapatkan kemudian untuk berbicara agak panjang, anak-anak muda yang datang kemudian menjadi berdebar-debar. Kesempatan menempa diri anak-anak muda itu tidak seluas kawan-kawan mereka yang terdahulu. Karena itu ketahanan tubuh mereka agak berbeda.

Namun seorang di antara anak-anak Tanah Perdikan Sembojan yang telah berada lebih dahulu di Pajang itu pun berkata, “Tetapi dengan demikian kita telah mendapatkan satu pengalaman yang dahsyat di dalam hidup kita. Pada satu saat,

jika kita mendapat kesempatan kembali ke Tanah Perdikan Sembojan, kita akan membuat Tanah Perdikan Sembojan menjadi satu Tanah Perdikan yag luar biasa kuatnya.”

“Jika kesempatan itu tidak dapat kita dapatkan?” bertanya kawannya.

“Kita gugur dalam perjuangan yang suci untuk menegakkan garis keturunan tahta di Tanah ini,” jawab kawannya.

Bagaimanapun juga, terasa kulit anak muda yang datang kemudian itu meremang.

Gambaran-gambaran yang didapatkannya dari kawan-kawannya memang menggetarkan.

Karena itu memang ada beberapa tanggapan atas ceritera tentang pertempuran-pertempuran yang pernah terjadi di Pajang. Ada di antara anak-anak muda itu yang menjadi bangga, bahwa mereka telah mendapat kesempatan untuk melakukan satu kerja dan tugas besar. Tetapi ada di antara mereka yang menjadi berdebar-debar karena kerja yang terbentang dihadapan mereka benar-benar kerja yang harus dilakukan dengan mempertaruhkan nyawa. Sementara itu mereka tidak tahu dan tidak yakin, apakah yang disebut perjuangan itu benar-benar mempunyai nilai seperti yang dikatakan.

“Siapakah yang sebenarnya berhak atas tahta Demak?” bertanya beberapa orang di antara mereka. Tetapi tidak seorang pun yang dapat menjawab dengan mantap.

Kecuali jika mereka bertanya kepada para prajurit Jipang.

Sementara itu, Ki Randukeling dan Ki Rangga Gupita tengah berbicara dengan para pemimpin pasukan Jipang. Ki Randukeling berusaha untuk menyelesaikan persoalan yang dihadapi Tanah Perdikan lebih dahulu dengan dukungan prajurit Jipang yang ada di Pajang.

“Kami berkeberatan Ki Randukeling,” jawab Panglima prajurit Jipang, “Kami mendapat tugas disini. Kami memerlukan bantuan segala pihak untuk tugas ini.

Bukan sebaliknya, meskipun kami berjanji bahwa jika tugas kami disini sudah selesai, kami akan pergi ke Tanah Perdikan Sembojan, mengantar kembali anak-anak muda yang telah dengan gagah berani membantu kami dalam perjuangan ini.

Merekalah yang tentu akan dapat menyelesaikan persoalan Tanah Perdikan mereka tanpa campur tangan orang lain. Tetapi jika keadaan memaksa maka kami pun tidak akan segan-segan turun tangan. Aku yakin, bahwa tugas itu akan selesai dalam satu hari.”

“Benar Ki Sanak,” jawab Ki Randukeling. “Jika dikerjakan maka kerja itu akan selesai dalam satu hari. Tetapi untuk sampai ke hari yang satu itu, kita harus menunggu berapa bulan atau barangkali lebih lama lagi.”

“Aku tidak dapat melanggar tugas dan wewenang yang diberikan kepadaku oleh Ki Patih Mantahun,” jawab Panglima itu. “Karena itu, jika memang keadaan memaksa, maka aku akan mengirimkan utusan untuk berbicara dengan Patih Mantahun tentang permintaan Ki Randukeling.”

Ki Randukeling termangu-mangu. Namun ia dapat membayangkan, bahwa berhubungan

dengan pemimpin Kadipaten Jipang memerlukan waktu yang lama. Namun demikian Ki Randukeling tidak dapat memaksakan kehendaknya.

Sementara itu Ki Wiradana yang mendengarkan pembicaraan itu mencoba untuk menyambung, “Terima kasih atas segala kesediaan Ki Sanak. Sebagai pemangku jabatan Kepala Tanah Perdikan, maka aku sangat mengharapkan bantuan itu, sebagaimana kami telah membantu pasukan Jipang disini. Namun apabila mungkin, kami memang mengharapkan segala sesuatunya terjadi lebih cepat, seperti yang diminta oleh Ki Randukeling.”

Tetapi Ki Wiradana itu terdiam ketika Warsi menggamitnya dengan kasar meskipun tersembunyi. Namun Ki Wiradana segera menyadari bahwa Warsi tidak sependapat dengan kata-katanya itu.

Tetapi Panglima itu menjawab, “Aku mengerti. Tetapi aku pun minta kalian mengerti batas-batas tugasku dan persoalan yang besar yang sedang dihadapi oleh Jipang. Sudah tentu aku tidak dapat melupakan bantuan yang besar dari Tanah Perdikan. Bahkan Jipang pun akan segera mendengar apa yang telah kalian lakukan disini.”

Ki Wiradana hanya menarik nafas saja, sementara Warsilah yang menjawab. “Kami serahkan segala kebijaksanaan kepada Ki Sanak. Kami memang sudah bertekad untuk membantu sebagaimana kami katakan kepada Ki Rangga. Karena itu, maka seharusnya kami justru tidak membuat pasukan Jipang disini dibebani dengan persoalan-persoalan yang terjadi di Tanah Perdikan Sembojan.”

Panglima pasukan Jipang itu tersenyum. Katanya, “Terima kasih. Jipang akan memberikan imbalan sesuai bahkan melampaui apa yang telah diberikan oleh Tanah Perdikan Sembojan. Jika Pajang telah hancur, dan kekuasaan berada di tangan Jipang, maka Jipang akan menata kembali pemerintahan yang tersebar dari ujung Demak sampai ke ujung lainnya. Dari ujung Barat sampai ke ujung Timur, dari pesisir Utara sampai ke pesisir Selatan.”

Yang mendengarkan mengangguk-angguk. Ki Rangga Gupita yang tersenyum berkata,

“Masa depan itulah yang mendorong Tanah Perdikan Sembojan bersedia melakukan apa saja. Aku tahu pasti, bahwa Tanah Perdikan Sembojan merupakan bagian kekuatan Jipang disisi Selatan, yang dalam masa yang mendatang akan dapat dipergunakan sebagai landasan kekuatan Jipang di lingkungan ini.”

Ki Randukeling menarik nafas dalam-dalam ketika ia melihat Panglima pasukan Jipang dan Warsi tersenyum. Namun wajah Wiradanalah yang menjadi buram.

Tetapi Ki Randukeling tidak mengatakan sesuatu.

Dengan demikian, maka ada dua hal yang akan dilakukan oleh Panglima pasukan Jipang. Tetap membayangi pasukan Pajang di perbatasan dengan kekuatan yang sudah bertambah betapapun kecilnya, serta mengirimkan utusan kepada Ki Patih Mantahun

untuk mohon pertimbangan, apakah tugasnya di Pajang dapat ditinggalkan barang sepekan untuk menyelesaikan persoalan Tanah Perdikan Sembojan.

Namun ketika pertemuan itu kemudian diakhiri, maka Warsi telah berkata kepada kakeknya, “Kakek terlalu tergesa-gesa. Kenapa kita harus mempersoalkan Tanah Perdikan itu? Seandainya kita dapat merebutnya kembali, apakah kita akan dapat mempertahankannya jika anak-anak kita harus kembali ke Pajang untuk berjuang bersama-sama pasukan Jipang disini?”

Ki Randukeling menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian katanya, “Biarlah kita

menunggu utusan yang pergi ke Jipang. Mungkin para pemimpin Jipang dapat memberikan petunjuk yang justru kita anggap lebih baik dari pendapat kita disini. Namun bagiku kedudukan para prajurit Jipang dan anak-anak dari Tanah Perdikan disini tanpa alas. Jika perjuangan ini berlangsung lama, maka dari mana anak-anak mendapat dukungan bagi makan mereka dan sumber kebutuhan-kebutuhan yang lain. Kita tidak akan dapat menggantungkannya dari Jipang yang jauh, karena mungkin di antara Jipang dan Pajang ini pasukan Pajang akan sempat memotong segala hubungan antara pasukan Jipang yang berada disini dan di Kadipaten atau di pesangrahan sebelah Bengawan Sore. Kita juga tidak dapat menggantungkan kemungkinan untuk memeras rakyat Pajang sendiri agar selalu memberikan berasnya kepada kita. Padahal kebutuhan beras itu semakin lama menjadi semakin banyak.

Bahkan mungkin juga kebutuhan-kebutuhan yang lain. Kita memerlukan lauk pauk dan kebutuhan-kebutuhan lain yang sulit dihindari.”

Warsi termangu-mangu sejenak. Ia dapat mengerti keterangan kakeknya. Namun ia tidak begitu tertarik untuk melakukan sebagaimana dikatakan oleh kakeknya untuk membentuk landasan perjuangan di Tanah Perdikan Sembojan.

“Perang ini tidak akan terlalu lama,” berkata Warsi di dalam hatinya. “Menurut pendengaranku dari Ki Rangga Gupita, berdasarkan perhitungan yang sungguh-sungguh, maka pasukan Jipang di tepi Bengawan Sore akan dengan cepat menghancurkan pasukan Pajang, asal Pajang tidak sempat mengirimkan bantuan kepada pasukan Pajang yang berhadapan dengan pasukan Jipang itu.”

Dengan demikian maka untuk sementara pasukan Jipang di Pajang sebelah Timur tidak mengubah kebijaksanaan mereka untuk tetap membayangi Pajang agar Pajang tidak melepaskan pasukan untuk membantu pasukannya yang dipimpin langsung oleh Adipati Pajang.

Namun dalam pada itu, pertentangan antara Jipang dan Pajang itu telah berkembang semakin jauh. Usaha beberapa pihak untuk menyelesaikan persoalan Jipang dan Pajang itu dengan damai, tidak dapat tanggapan yang baik dari kedua belah pihak yang sudah terlanjur dibakar oleh permusuhan.

Ketika seseorang yang mempunyai pengaruh yang besar atas kedua Adipati itu berusaha untuk mencari penyelesaian dengan mempertemukan kedua Adipati itu langsung, justru hampir saja menimbulkan perang tanding.

Betapapun segannya, kedua orang Adipati itu memenuhi permintaan orang yang mereka hormati itu untuk datang. Namun ketika keduanya benar-benar telah duduk berhadapan, selagi orang yang berusaha untuk mempertemukan mereka belum hadir, telah terjadi sesuatu yang sangat menegangkan.

Sebenarnya orang yang memiliki pengaruh yang besar itu ingin melihat kedua orang Adipati yang memiliki banyak kelebihan dari orang kebanyakan itu mampu menemukan satu pemecahan yang lebih baik dari perang. Namun yang terjadi bukanlah yang dikehendaki. Ketika kedua orang yang bermusuhan itu hadir, mereka telah dibekali dengan sikap curiga dan bahkan kebencian.

Arya Penangsang yang duduk berhadapan dengan Adipati Pajang itu tiba-tiba justru tertarik kepada keris Adipati Hadiwijaya. Dalam ruang yang hening tegang itu, tiba-tiba saja Arya Penangsang bertanya kepada Adipati Hadiwijaya,” Adimas, nampaknya keris adimas itu memancarkan cahaya tuah yang luar biasa besarnya.

Apakah adimas memiliki keris yang baru?”

“Bukan kakangmas,” jawab Hadiwijaya,” Ini adalah kerisku yang dahulu.”

“Sambil menunggu, apakah aku diperkenankan meminjam keris adimas. Aku tertarik sekali karena nampaknya aku belum pernah melihat keris adimas yang satu ini.”

Adipati Hadiwijaya menjadi ragu-ragu. Dipandanginya wajah Arya Penangsang. Namun yang dilihatnya adalah senyum dibibirnya yang hampir tertutup oleh kumisnya yang tebal.

“Apakah aku terlalu berprasangka,” bertanya Adipati Hadiwijaya di dalam hatinya.

“Mungkin kakangmas Arya Penangsang benar-benar sekadar ingin mengisi kekakuan suasana yang menegangkan ini. Tetapi satu-satunya cara adalah demikian.”

Karena itu, maka akhirnya Adipati Hadiwijaya itu telah menjawab, “Keris ini bukan keris yang baik kakangmas. Jika sekilas keris ini nampak lebih baik dari yang lain, itu hanya ujud luarnya saja.

“Ah,” desis Arya Penangsang. “Jangan merendahkan diri begitu. Aku tahu bahwa adimas memiliki ketajaman penglihatan atas jenis-jenis pusaka dan benda-benda bertuah. Karena itu, biarlah aku melihat keris itu barang sebentar.”

Adipati Hadiwijaya masih ragu-ragu. Ia melihat Arya Penangsang itu juga membawa keris sendiri. Jika ia bermaksud buruk, maka ia tidak perlu meminjam kerisnya yang belum tentu memiliki daya kekuatan sebagaimana keris Arya Penangsang yang terkenal itu. Adipati Hadiwijaya mengenali keris Arya Penangsang itu sejak lama.

Keris yang diberi nama Kiai Setan Kober itu merupakan keris yang sulit dicari duanya diseluruh Demak.

Karena itu, akhirnya Adipati Pajang itu pun menarik nafas dalam-dalam. Katanya di dalam hatinya, “Aku terlalu berprasangka.”

Dengan demikian, maka Hadiwijaya itu pun menjawab, “Baiklah kakangmas. Tetapi kakangmas jangan mentertawakan keris itu. Keris yang barangkali tidak berarti dibandingkan dengan Kiai Setan Kober yang kakangmas bawa itu.”

Adipati Jipang itu tersenyum. Namun keningnya berkerut ketika ia melihat Adipati Hadiwijaya itu benar-benar menarik kerisnya yang diselipkannya di punggungnya.

Dengan gerak naluriah Adipati Pajang itu justru bangkit berdiri dan bergeser surut.

Adipati Hadiwijaya tertegun sejenak. Namun kemudian katanya, “Nah, bukankah keris ini tidak berarti apa-apa bagi kakangmas.”

Arya Penangsang memandangi keris itu sejenak. Namun kemudian ia pun bergeser pula untuk menerima keris itu, meskipun ia tetap berhati-hati.

Sejenak Adipati Jipang itu mengamati keris Adipati Hadiwijaya yang berada ditangannya. Namun tiba-tiba wajah Arya Penangsang itu berubah. Senyumnya tiba-tiba saja telah lenyap dari bibirnya. Pandangan matanya pun telah berubah pula seakan-akan memancarkan api kemarahan yang sudah lama tertahan di dadanya.

Dengan nada berat Arya Penangsang itu berkata, “Keris seorang Adipati tentu keris yang bertuah. Karena itu, aku ingin mencoba, apakah benar dengan keris ini aku akan dapat mengakhiri pertentangan antara Pajang dan Jipang. Bukan dengan satu tusukan di dada menembus jantung, tetapi dengan goresan kecil di lengan atau bahkan di ujung jari. Keris seorang Adipati akan mampu membunuh seseorang yang betapapun saktinya hanya dengan goresan kecil yang tidak lebih dari sentuhan ujung duri.”

Wajah Adipati Hadiwijaya menegang. Ternyata bahwa kecurigaannya bukannya berlebihan. Bukan sekadar prasangka atau bahkan mimpi buruk.

Apalagi ketika tiba-tiba saja Adipati Jipang itu telah bersikap. “Apa artinya kakangmas?” bertanya Adipati Hadiwijaya. “Kita adalah laki-laki,” jawab Arya Penangsang. “Selama ini kita telah mengorbankan berpuluh bahkan beratus orang yang tidak berkepentingan langsung dengan persoalan kita. Karena itu, marilah persoalan kita ini kita selesaikan sendiri. Kita selamatkan para prajurit bahkan

orang-orang yang tidak bersenjata di padukuhan-padukuhan.”

Wajah Adipati Hadiwijaya menjadi tegang. Namun sebagai seorang Adipati maka Hadiwijaya tidak akan ingkar. Ketika pada mulanya ia mencoba untuk berlaku sebaik-baiknya dihadapan orang yang sama-sama mereka hormati, maka sikap Arya Penangsang itu benar-benar telah menggelapkan hatinya dan hilanglah segala macam unggah-ungguh yang harus dilakukannya.

Karena itu, maka Adipati Pajang itu pun mundur selangkah. Ia pun tiba-tiba telah menyingkapkan bajunya yang panjang. Dengan suara bergetar ia berkata, “Inilah pusakaku yang sebenarnya kakangmas. Kakangmas tentu mengenal Kiai Crubuk.

Meskipun ujudnya sangat sederhana, namun aku yakin bahwa pusakaku ini akan dapat menyelesaikan persoalan.”

“Bagus,” geram Arya Penangsang. “Ternyata kau jantan juga adimas.” Adipati Pajang pun telah bersiap sepenuhnya menghadapi segala kemungkinan.

Sementara itu Arya Penangsang menjadi ragu-ragu, justru karena Adipati Pajang telah menggenggam pusakanya yang memang sudah dikenalnya lebih dahulu dari Crubuk.

Meskipun demikian Adipati Jipang itu ingin mencobanya, jika keris yang dipinjamnya dari Adipati Pajang itu tidak dapat membunuh pemiliknya sendiri, maka ia masih membawa kerisnya yang disegani oleh setiap orang diseluruh Demak, Kiai Setan Kober.

Namun dalam pada itu, pada saat-saat gejolak perasaan kedua Adipati itu memuncak, orang yang sama-sama mereka hormati itu telah memasuki ruangan. Betapa terkejutnya orang itu. Namun kedua Adipati itu pun ternyata telah mengurungkan niatnya untuk berperang tanding.

“Inikah yang akan terjadi?” bertanya orang yang telah memanggil keduanya.

Kedua Adipati itu tertegun. Mereka mulai menyadari betapa dorongan perasaan mereka tidak terkendali, justru pada saat-saat seorang yang berpengaruh atas mereka keduanya berusaha ingin mendapatkan penyelesaian yang lebih baik dari perang.

Tetapi dengan demikian maka pembicaraan tidak akan dapat berlangsung dengan baik, sehingga orang yang berpengaruh atas keduanya itu berkata, “Aku sangat kecewa atas peristiwa ini. Ternyata Kanjeng Adipati berdua adalah anak-anak ingusan yang belum dewasa menanggapi persoalan yang ingin aku ketengahkan.

Karena itu, biarlah aku menunda pertemuan ini sampai saat-saat yang akan aku usulkan kemudian.”

Kedua Adipati itu dipersilakan kembali ke pesanggrahan masing-masing. Namun dengan pesan, “Aku mohon Kanjeng Adipati berdua menetapi kedudukan kalian sebagai kesatria. Silakan kembali ke pesanggrahan masing-masing. Kalian tidak akan berlaku seperti dua orang gembala yang berkelahi di padang karena berebut sebutir telur burung puyuh.”

Kedua Adipati itu pun kemudian mohon diri setelah keduanya memohon maaf atas tingkah laku mereka, serta Adipati Jipang mengembalikan keris Adipati Pajang yang dipinjamnya, dan yang hampir saja dipergunakan untuk mengakhiri hidup pemiliknya. Namun ternyata bahwa Adipati Pajang pun telah siap menghadapi segala kemungkinan.

Di luar, kedua kelompok pengawal masing-masing menunggu dengan tegang.

Sebenarnyalah mereka masing-masing telah bersiap sepenuhnya menghadapi segala kemungkinan. Bagaimanapun juga mereka tidak dapat lepas dari perasaan saling mencurigai.

Namun kemudian kedua Adipati yang mereka sertai itu telah keluar bersama-sama diiringi orang yang telah mengundang mereka untuk satu pembicaraan yang seharusnya dapat mengurangi ketegangan, namun yang hasilnya justru sebaliknya.

Tetapi diperjalanan kembali ke pesanggrahan masing-masing tidak terjadi sesuatu yang tidak diharapkan. Keduanya telah menempuh jalan yang berbeda.

Namun bagaimana pun juga, peristiwa itu telah membuat keduanya menjadi saling membenci dan mendendam. Kedua Adipati yang masih mempunyai saluran kekeluargaan itu benar-benar telah dibakar oleh permusuhan yang sulit untuk dapat bertaut kembali.

Sementera itu, perang masih berlangsung terus meskipun tidak merupakan perang gelar yang menentukan. Tetapi dibeberapa tempat, pasukan-pasukan yang berkelompok dari kedua belah pihak, kadang-kadang telah berbenturan dan korban pun berjatuhan.

Di Pajang pasukan Jipang yang merasa tidak mampu memecahkan kekuatan Pajang memang tidak berusaha untuk memasang gelar. Tetapi pasukan Jipang itu selalu saja mengganggu agar Pajang tidak sempat mengirimkan pasukan untuk memperkuat kedudukan pasukannya yang berada di bawah pimpinan langsung Adipati Pajang di tepi Bengawan Sore.

Dengan demikian, maka usaha Ki Randukeling untuk memperkuat kedudukan landasan di Tanah Perdikan Sembojan pun menjadi semakin sulit. Namun Ki Randukeling kemudian dapat mengerti, meskipun ia telah berpendirian bahwa cara itulah yang lebih baik. Dalam pertempuran yang lama dukungan makanan dan perlengkapan itu sangat dipentingkan.

Namun sementara itu, para Senapati di Pajang pun selalu mengganggu kedudukan pasukan Jipang di Pajang. Apalagi pasukan Jipang disisi Timur. Senapati itu masih saja selalu melakukan hubungan dengan para pemimpin di Tanah Perdikan Sembojan.

“Sembojan sedang berusaha membenahi diri dengan tenaga yang sangat terbatas,”

pesan Iswari kepada para Senapati di Pajang, “Karena itu, mohon dijaga agar pasukan Jipang tetap berada dalam pengamatan Pajang.”

Para Senapati di Pajang pun telah berusaha memenuhi pesan itu. Mereka pun berkepentingan agar Sembojan tidak menjadi landasan kekuatan pasukan Jipang di daerah Pajang itu. Karena itulah maka Pajang selalu berusaha mengganggu pasukan Jipang. Dengan demikian, maka pasukan Jipang itu tidak akan pernah sempat berbuat lain dari mempertahankan dirinya.

Dalam setiap pembicaraan, maka Panglima pasukan Jipang disisi Timur itu selalu mengatakan, bahwa kekuatan Jipang itu tidak akan dapat dikurangi. Mereka pun tidak akan dapat meninggalkan kedudukan mereka, agar jika terjadi sesuatu perubahan keseimbangan pasukan Pajang dan Jipang pada kekuatan induk mereka, pasukan itu tidak dibebani tanggung jawab.

Di Tanah Perdikan Sembojan, Iswari telah bekerja keras dibantu oleh para Bekel dan bebahu Tanah Perdikan yang sebelumnya seakan-akan telah kehilangan kedudukannya.

Tetapi Sembojan telah menjadi sebuah Tanah Perdikan yang lemah. Sebagian besar anak-anak mudanya telah berada di Pajang bersama pasukan Jipang. Sementara itu, yang masih tinggal di Sembojan harus bekerja keras melakukan tugas-tugas yang seharusnya dilakukan oleh tenaga yang jauh lebih banyak.

Namun demikian tidak ada kesempatan untuk mengeluh bagi para pemimpin Tanah Perdikan Sembojan yang menggeser kedudukan Ki Wiradana itu. Yang terbentang dihadapan mereka adalah tugas dan tanggung jawab yang sangat berat.

Meskipun demikian, betapapun berat tugas yang harus mereka lakukan, namun orang-orang Sembojan merasa sempat menarik nafas dalam-dalam. Selama ini nafas mereka merasa sesak dikejar-kejar oleh seribu macam kewajiban tanpa mengerti hak mereka yang sebenarnya.

Yang kemudian tampil dalam tugas-tugas yang biasanya dilakukan oleh anak-anak muda, adalah semua orang laki-laki yang sudah dewasa sampai batas mereka yang masih mempunyai kekuatan yang cukup untuk bekerja. Sementara itu para remaja telah mendapat tugas mereka masing-masing. Bahkan anak-anak pun telah melakukan apa yang paling sesuai bagi mereka. Sedangkan perempuan-perempuan Tanah Perdikan pun tidak mau tinggal diam. Meskipun tenaga mereka tidak sekuat tenaga laki-laki, namun dengan kemauan yang keras, maka mereka pun dapat menghasilkan

kerja yang besar bagi padukuhan mereka masing-masing.

Di samping kerja keras untuk memperbaiki kesejahteraan dan tata kehidupan, maka Tanah Perdikan Sembojan pun mencoba untuk menyusun kekuatan yang tersisa.

mohon maaf lagi….kalau ada yg bisa melengkapi, saya sangat

berterima-kasih…..

“Jadi apa artinya kita berada disini? Jika pasukan Pajang tidak juga

menyeberangi Bengawan itu, apakah kita akan berada disini sampai tua?” bertanya Arya Penangsang. “Hamba memang sudah tua Kanjeng,” jawab Patih Mantahun. “Tetapi kita harus sedikit tenang menghadapi Adipati Pajang yang mempunyai perhitungan yang cermat. Kedua panglimanya yang memiliki perhitungan yang tajam itu, menjadikan pasukan Pajang memiliki landasan yang kuat diseberang sebagaimana pasukan kita disini. Pemanahan dan Penjawi adalah dua orang Panglima yang jarang ada bandingnya. Karena itu, maka aku mohon sekali lagi Kanjeng Adipati memperhitungkan setiap langkah yang akan diambil.” “Aku tidak sabar,” jawab Adipati Jipang.

“Kelemahan itulah yang akan dipergunakan oleh orang-orang Pajang untuk menjebak Kanjeng Adipati. Karena itu, Kanjeng Adipati harus menyadarinya. Mungkin pada suatu saat kita akan mempergunakan cara yang dapat mengejutkan orang-orang Pajang,” berkata Patih Mantahun.

“Bagaimana jika kita mengambil jalan melingkar. Kita akan menyeberangi Bengawan ini tetapi tidak dihadapan pasukan Pajang. Kita menempuh perjalanan menyusuri Bengawan ini beberapa ratus tonggak, kemudian kita menyeberang. Baru setelah kita berada di seberang kita menyerang kedudukan Adipati Pajang dari lambung,”

berkata Arya Penangsang.

“Mungkin cara itu dapat ditempuh. Tetapi sudah tentu dengan perhitungan yang teliti, karena pengamat dari Pajang yang melihat perjalanan pasukan ini, akan memberikan isyarat, sehingga pasukan Pajang pun akan mengikuti perjalanan pasukan kita menelusuri sungai,” jawab Mantahun.

“Kita memang sudah pikun,” geram Arya Penangsang. “Jika demikian, kita pindahkan saja pusat pemerintahan Demak disini. Kita memerintah Demak dari tempat ini sambil menunggui Hadiwijaya yang terkantuk-kantuk di pesanggrahannya.”

Ki Patih Mantahun menarik nafas dalam-dalam. Ia mengenal sifat dan watak Arya Penangsang seperti mengenal sifat dan wataknya sendiri. Hatinya yang mudah terbakar dan darahnya yang cepat mendidih kadang-kadang merugikan kedudukannya.

Apalagi jika mereka sudah berada di medan perang.

Karena itu, maka menunda keinginan Arya Penangsang untuk segera selesai dengan persoalannya, kalah atau menang, maka Patih Mantahun itu pun berkata, “Kanjeng, sebenarnya ada jalan lain yang dapat ditempuh.”

“Jalan apa? Menyerah?” geram Adipati Jipang.

“Tentu saja tidak,” jawab Patih Mantahun. “Untuk mengurangi korban dari antara mereka yang tidak bersalah dan tidak tahu-menahu persoalannya, maka sebenarnya ada jalan lain yang dapat Kanjeng lakukan?”

“Bagus,” sahut Adipati Jipang. “Aku memang sudah berpikir untuk menantang Adipati Pajang itu berperang tanding. Jika kau sependapat, maka aku akan menantangnya. Di darat atau ditengah Bengawan Sore. Dihadapan saksi-saksi dari orang-orang yang berpengaruh di Demak serta para Panglima dari kedua belah pihak. Siapa yang tinggal hidup, ialah yang berhak menjadi Sultan Demak

menggantikan paman Trenggana.”

“O, bukan itu yang hamba maksud,” Patih Mantahun telah memotong dengan serta merta.

Arya Penangsang mengerutkan keningnya. Dengan nada tinggi ia bertanya, “Jika bukan cara itu, lalu cara yang mana?”

“Ampun Kanjeng Adipati,” jawab Patih Mantahun. “Hamba justru ingin mengusulkan satu cara yang lain.”

“Cara apa?” bertanya Adipati Jipang tidak sabar.

“Satu cara yang dapat kita lakukan untuk mencapai maksud kita tanpa banyak korban dikedua belah pihak. Bagaimana pertimbangan Kanjeng Adipati jika kita memerintahkan beberapa orang yang kita anggap memiliki kelebihan untuk berusaha memasuki pesanggrahan Adipati Pajang?” bertanya Ki Patih Mantahun.

“Untuk apa?” bertanya Arya Penangsang pula.

“Membunuh Adipati Pajang. Jika Adipati Pajang terbunuh, maka perang untuk

seterusnya akan berhenti. Di Pajang tidak akan ada orang yang dapat menggantikan kedudukannya dan berani melawan Kanjeng Adipati,” jawab Patih Mantahun.

“Gila,” geram Arya Penangsang. “Kau ajari aku berlaku licik he? Kau ajari aku bertindak sebagai seorang pencuri yang licik dan pengecut. Tidak akan menantangnya berperang tanding.”

“Jangan Kanjeng,” sahut Patih Mantahun. “Cobalah Kanjeng dengar. Bukankah ayahanda Arya Penangsang juga dibunuh dengan cara yang licik? Dan bukankah kita juga pernah menempuh cara yang sama untuk membunuh Kanjeng Sunan Prawata dan Adipati Kalinyamat?”

Wajah Arya Penangsang menegang. Namun kemudian ia menggeram, “Jika kita membunuh dengan cara yang sama itu bukannya karena aku takut berhadapan dengan mereka dalam perang tanding. Tetapi bagiku mereka tidak mempunyai bobot yang pantas untuk melakukan perang tanding melawanku. Karena itu, maka lebih baik mereka diselesaikan dengan cara tersendiri tanpa menitikkan keringatku. Tetapi berbeda dengan Adipati Pajang. Hadiwijaya adalah seorang yang menurut pendengaranku memiliki ilmu yang sangat tinggi. Karena itu, aku menganggap bahwa ia pantas untuk turun kegelanggang dalam perang tanding melawanku. Jika aku menang, maka orang akan melihat betapa tinggi kemampuan Arya Penangsang, tetapi jika aku kalah, namaku tidak akan tercemar karena aku telah berperang tanding dengan orang yang memiliki tingkat kedudukan dan ilmu yang setataran.”

“Tetapi bagaimanapun ada juga bedanya,” jawab Patih Mantahun. “Kanjeng Adipati memiliki darah keturunan langsung dari Demak. Lalu siapakah Adipati Pajang yang pada masa mudanya disebut Mas Karebet itu atau yang juga dipanggil Jaka Tingkir?”

Arya Penangsang termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya, “Ia menantu paman Sultan Trenggana.”

“Ya. Ia memang menantu. Tetapi bukankah Kanjeng Adipati mengetahui, betapa liciknya cara yang ditempuhnya, sehingga ia dapat memasuki lingkaran keluarga pamanda Sultan Trenggana?” berkata Mantahun. “Anak itu hanya mengandalkan modal ujud lahiriahnya. Ia memang seorang anak muda yang tampan pada waktu ia mengabdi di istana Sultan Trenggana. Dengan modal itulah ia dapat mencuri hati salah seorang putri Sultan Trenggana. Nah, betapa nistanya ceritera yang selanjutnya, terjadi sehingga Kanjeng Sultan Trenggana tidak dapat lagi menghindari kenyataan itu, jika ia tidak ingin kehilangan putrinya yang sangat dikasihinya.”

“Bagaimana dengan Kebo Danu di hutan Prawata? Bukankah karena kesaktian Karebet maka ia berhak kembali ke istana?” bertanya Arya Penangsang.

“Semua itu tidak lebih dari satu permainan yang sudah disusun oleh Karebet itu sendiri, dibantu oleh beberapa orang pendukungnya, sehingga seakan-akan yang terjadi itu benar-benar satu kelebihan dari Karebet yang juga disebut Jaka Tingkir itu,” berkata Mantahun. “Karena itu, hamba persilakan Kanjeng mendengarkan pendapat hamba. Mengirimkan beberapa orang untuk memasuki

pesanggrahan dan membunuh Jaka Tingkir itu.”

Arya Penangsang mengerutkan keningnya. Untuk beberapa saat ia berdiam diri memikirkan pendapat Patih Mantahun itu. Namun kemudian katanya, “Ada juga baiknya untuk dicoba sambil menunggu kemungkinan lain yang dapat terjadi dengan pasukan yang saling membeku ini. Mungkin dengan langkah itu akan timbul satu gejolak yang dapat menggerakkan kedudukan kita disini.”

Dengan demikian maka Arya Penangsang telah menyerahkan sepenuhnya persoalan kepada Ki Patih Mantahun. Dengan nada datar ia berkata, “Terserah kepadamu Mantahun. Aku tidak begitu tertarik meskipun aku tidak berkeberatan. Yang penting bagiku, Hadiwijaya akan terbangun dan berbuat sesuatu sehingga seakan-akan tidak sekadar membuang waktu tak berarti menunggu Bengawan Sore ini.

“Ia akan mati dan tidak akan dapat berbuat apa-apa lagi,” jawab Mantahun. “Semua pengikutnya akan ketakutan dan akhirnya Pajang akan menyerah.”

Arya Penangsang tidak mendengarkan lagi mimpi Mantahun itu. Bahkan ia pun segera meninggalkan tempat itu untuk melihat kudanya yang bernama Gagak Rimang.

Sementara itu, Patih Mantahun yang telah mendapat izin untuk berusaha membunuh Adipati Pajang itu pun telah memanggil seorang kepercayaannya untuk menghadap.

“Ampun Ki Patih,” berkata orang itu. “Apakah ada tugas yang penting yang harus hamba lakukan?” Ki Patih Mantahun itu mengangguk-angguk. Katanya, “Ada tugas yang sangat berat yang harus kau lakukan. Nyawamu akan menjadi taruhan.” “Hamba tidak pernah berkeberatan,” jawab orang itu. “Mati dalam melakukan tugas bagi hamba justru merasa lebih baik dari pada mati terbaring di amben karena diterkam oleh penyakit.”

“Tetapi tugasmu kali ini benar-benar tugas yang sulit untuk dapat kau lakukan,” berkata Patih Mantahun.

“Tugas apapun tidak akan pernah menggetarkan jantung hamba,” jawab orang itu.

Patih Mantahun mengangguk-angguk. Katanya, “Baiklah. Dengarlah. Kau harus membunuh seseorang.”

Orang itu mengerutkan keningnya. Namun kemudian ia pun tertawa. Jawabnya, “Satu permainan yang menyenangkan. Apakah tugas itu termasuk berat bagi hamba Ki Patih tahu, bahwa hamba adalah seorang yang memiliki bekal yang cukup untuk melakukannya.”

“Mungkin kau memiliki bekal yang cukup jika aku memerintahkanmu untuk membunuh penghuni rumah disudut padukuhan itu,” jawab Mantahun. “Tetapi kali ini kau harus membunuh seorang prajurit linuwih.”

Orang itu terpaksa mengerutkan keningnya. Dengan nada rendah ia bertanya, “Siapa yang harus aku bunuh? Bukankah Ki Patih Mantahun mengetahui, bahwa aku pernah berguru kepada lebih dari tiga orang pertapa yang memiliki ilmu yang tuntas?”

“Jangan membual,” jawab Mantahun. “Aku tahu ketiga orang gurumu itu.”

Orang itu menarik nafas dalam-dalam. Namun ia pun kemudian menundukkan kepalanya. Ia tidak dapat menyombongkan diri dihadapan Ki Patih Mantahun, karena ia tahu benar bahwa Patih Mantahun memiliki ilmu melampaui guru-gurunya.

Namun dalam pada itu, Patih Mantahun itu pun berkata selanjutnya, “Tetapi ada satu yang menarik padamu. Salah seorang gurumu menguasai ilmu sirep. Aku pun tahu bahwa kau juga sudah mewarisi ilmu sirep itu, sehingga dengan ilmu itu kau akan dapat melakukan tugasmu. Tentu saja kau tidak akan sendiri. Kau akan pergi bersama tiga orang lain yang juga memiliki tataran ilmu seperti tataran ilmumu.”

Orang itu mengerutkan keningnya. Namun ia masih bertanya, “Siapakah yang harus hamba bunuh? Sebenarnya hamba lebih senang bekerja sendiri. Orang lain agaknya akan justru dapat mengganggu tugas-tugas hamba.”

“Jangan terlalu sombong,” desis Ki Patih Mantahun. “Besok aku pertemukan kau dengan tiga orang yang akan pergi bersamamu itu.”

“Tetapi Ki Patih Mantahun memberitahukan, siapakah yang harus hamba bunuh,” berkata orang itu.

“Besok aku akan memberitahukan kepada kalian dalam waktu yang bersamaan,” jawab Ki Patih Mantahun. Lalu, “Namun aku ingin menunjukmu sebagai pemimpin kelompok yang terdiri atas empat orang itu. Namun dengan keterangan, jika tidak seorang

pun di antara tiga orang yang akan pergi bersamamu itu memiliki kelebihan darimu. Jika ternyata salah seorang di antara ketiga orang itu memiliki ilmu yang lebih tinggi darimu, maka ialah yang akan menjadi pemimpin di antara kalian.”

Orang itu mengerutkan keningnya. Dengan nada datar ia berkata, “Hamba tidak gelisah karena tiga orang itu. Hamba yakin, bahwa tidak seorang pun di antara mereka yang memiliki kelebihan dari hamba. Tetapi yang menggelisahkan hamba adalah justru karena Patih Mantahun tidak menyebut nama orang yang harus hamba bunuh itu. Sebenarnya, jika hamba tahu pasti, maka hamba akan dapat mengatakan, bahwa hamba tidak memerlukan seorang kawanpun.”

“Jangan membual,” bentak Patih Mantahun. “Aku mengenalmu. Mengenal guru-gurumu.

Aku tahu takaran kemampuanmu.”

Orang itu terdiam. Sebenarnya Patih Mantahun mengetahui segala-galanya.

Karena itu, maka orang itu pun mohon diri ketika Ki Patih Mantahun berkata, “Kau boleh pergi sekarang. Yang sangat aku perlukan padamu adalah kemampuanmu menyebarkan sirep.”

“Baik Ki Patih,” jawab orang itu. “Hamba akan menunggu perintah selanjutnya.

Sepeninggalan orang itu, maka Patih Mantahun pun telah mempersiapkan segala-galanya. Seperti yang dikatakannya, maka ia pun menghubungi ketiga orang yang lain. Orang yang menurut pendapat Patih Mantahun memiliki kemampuan yang tinggi dan sesuai untuk tugas yang sangat berat itu.

Sementara Patih Mantahun mempersiapkan rencananya, maka telah datang utusan dari Panglima pasukan Jipang di Pajang. Utusan itu menghadap Ki Patih dengan membawa persoalan yang menyangkut pasukan Jipang di sisi Timur Pajang.

Patih Mantahun memang memikirkan pernyataan utusan itu. Sebagaimana dikatakan oleh utusan itu, bahwa Ki Randukeling mempunyai pertimbangan tersendiri tantang pasukan Jipang di Pajang.

“Aku dapat mengerti,” berkata Patih Mantahun. “Tetapi aku berharap bahwa perang antara Jipang dan Pajang itu tidak akan berkepanjangan. Sementara itu, Jipang sedang mempersiapkan satu gempuran terakhir terhadap pasukan induk Pajang yang ada disini. Karena itu, untuk sementara pasukan itu harus tetap berada ditempat, agar Pajang tidak sempat mengirimkan bantuannya kepada pasukannya yang ada disini.”

“Panglima pasukan Jipang disisi Timur juga sudah mengambil keputusan yang demikian,” jawab utusan itu. “Tetapi keputusan Ki Patih akan memantapkan keputusan itu, sementara Ki Randukeling akan merasa puas pula karena ia tidak merasa seakan-akan pendapatnya sekadar dipotong oleh Panglima pasukan Jipang di Pajang itu.”

“Ia berhak mengambil keputusan,” berkata Patih Mantahun. “Ia adalah seorang Panglima yang diangkat oleh Kanjeng Adipati Arya Penangsang.”

“Tetapi orang itu mengenal Ki Randukeling sebagai seorang yang dekat dengan Ki Patih,” jawab utusan itu.

“Baiklah. Katakan kepada Ki Randukeling, bahwa untuk sementara aku tidak dapat

menyetujuinya. Mungkin dalam perkembangan berikutnya aku dapat

mempertimbangkannya lagi,” berkata Ki Patih.

Dengan keputusan itulah utusan itu kemudian kembali ke Pajang untuk menyampaikannya kepada Panglimanya dan Ki Randukeling yang sebenarnya sudah

tidak terlalu mendesak lagi. Apalagi ketika Ki Randukeling melihat dari dekat, bahwa pasukan Pajang selalu saja mengganggu pasukan Jipang itu meskipun tidak dengan serangan yang menentukan.

Pada saat-saat yang demikian, Tanah Perdikan Sembojan benar-benar telah berusaha menyusun dirinya. Beberapa Kademangan di sekitarnya telah bangkit pula. Mereka memiliki anak-anak muda yang justru jauh lebih banyak dibandingkan dengan Tanah Perdikan Sembojan sendiri, yang sebagian dari anak-anak mudanya telah berada di Pajang.

Tata kehidupan pun telah berubah pula perlahan-lahan. Namun terasa oleh setiap penghuni Tanah Perdikan Sembojan. Sementara hubungan dengan tetangga Kademangan pun rasa-rasanya menjadi semakin akrab. Bahkan dalam tata kehidupan sehari-hari rasa-rasanya Kademangan-kademangan itu tidak terpisah oleh batas dengan Tanah Perdikan Sembojan.

Meskipun Tanah Perdikan Sembojan menjadi lemah karena kehilangan banyak anak-anak mudanya, namun Tanah Perdikan Sembojan tetap mempunyai pengaruh yang besar terhadap lingkungan di sekitarnya. Kademangan-kademangan disebelah-menyebelah Tanah Perdikan itu masih tetap menghormati Tanah Perdikan dan bahkan seakan-akan justru berkiblat kepadanya, karena beberapa orang yang dikirim oleh Tanah Perdikan Sembojan benar-benar dapat memberikan bimbingan dan tuntunan kepada anak-anak muda di Kademangan-kademangan itu dalam olah kanuragan.

Sembojan telah dengan sengaja memamerkan kelebihannya untuk tetap mempertahankan pengaruhnya. Karena itulah, maka orang-orang yang dikirim ke Kademangan-kademangan telah dengan sengaja meskipun terkendali menunjukkan kelebihan mereka.

Bahkan Sambi Wulung dan Jati Wulung pun telah memamerkan ketrampilannya.

Ditanamnya patok-patok bambu yang tidak sama tingginya disebuah tanah yang cukup lapang. Kemudian dengan kecepatan gerak dan ketangkasannya mempertahankan

keseimbangan, keduanya seakan-akan telah berloncatan dan menari-nari diatas tonggak-tonggak bambu itu.

Kemudian mereka pun telah menunjukkan kemampuan mereka mempermainkan senjata.

Pada saat keduanya berada di atas patok-patok bambu maka keduanya telah menunjukkan satu permainan senjata yang mengagumkan.

Di tempat lain Kiai Soka sendiri juga bermain-main bersama Kiai Badra. Orang-orang tua itu mempunyai cara tersendiri untuk memancing minat orang-orang di Kademangan sebelah untuk bekerja keras mempelajari kemungkinan dengan senjata.

Ternyata bahwa usaha mereka itu pun berhasil. Beberapa anak muda terpilih dengan mengikuti latihan-latihan khusus. Sementara itu kemampuan mereka harus disebarkan kepada kawan-kawan mereka.

Di samping orang-orang tua yang berilmu tinggi, itu maka anak-anak muda Tanah Perdikan Sembojan yang tersisa, yang pernah ditempa oleh para perwira Jipang dapat juga membantu memberikan latihan kepada anak-anak muda di Kademangan-kademangan itu.

Dengan demikian, maka dalam waktu yang terhitung singkat, di Kademangan-kademangan itu telah terdapat kesibukan yang luar biasa. Sementara anak-anak mudanya pun mulai mengenali bagaimana caranya memegang senjata.

Ternyata bahwa kemauan anak-anak muda itu demikian besarnya sehingga mereka seakan-akan tidak mengenal waktu. Mereka berlatih kapan saja disela-sela kewajiban mereka disawah dan kewajiban-kewajiban yang lain, di samping latihan-latihan pada waktu yang memang sudah ditentukan, dua hari sekali.

Dalam pada itu, di pesanggrahan Patih Mantahun, dipinggir Bengawan Sore, telah terjadi satu pendadaran bagi mereka yang akan menjalankan tugas yang diberikan oleh Patih Mantahun. Di tempat yang tersembunyi dari penglihatan orang lain, Patih Mantahun telah berusaha untuk melihat kemampuan dari keempat orang itu.

Mereka harus melakukan sebagaimana diperintahkan oleh Patih Mantahun untuk

mendapatkan penilaian, siapakah di antara mereka yang paling pantas untuk memimpin kawan-kawan mereka dalam tugas yang sangat berat itu.

“Dalam keadaan terpaksa, maka kalian harus menghindarkan diri dari kemungkinan yang paling buruk. Karena itu, maka aku ingin melihat, apakah kalian memiliki kemampuan berlari. Meskipun yang lain dapat berlari cepat, tetapi jika seorang di antara mereka tertangkap maka kerahasiaan tugas kalian akan terancam,” berkata Patih Mantahun.

Keempat orang itu mengumpat. Seorang di antaranya berkata, “Kami adalah orang-orang yang memiliki nama yang besar. Untuk apa kami harus berlomba lari seperti anak-anak.”

“Tutup mulutmu,” bentak Patih Mantahun, “Jika kau tidak berani melakukannya, pergi saja dari sini.”

Orang itu tidak berani bertanya lebih lanjut. Ia menyadari watak Patih Mantahun yang tua itu. Dalam usianya yang semakin banyak, maka kekerasan hati dan sikapnya tidak juga berkurang.

“Kalian tidak akan mendapat upah apapun juga selain kepemimpinan. Siapa yang menang akan menjadi bahan pertimbangan, karena masih ada beberapa pertarungan lagi di antara kalian,” berkata Patih Mantahun.

Orang itu tidak mengelak. Mereka berempat harus berlari menuju sebatang pohon yang sangat besar. Setelah melingkari pohon itu maka mereka harus kembali ke Patih Mantahun. “Kalian tidak hanya lari secepatnya saja. Tetapi kalian boleh saling menghalangi. Sedikit kekerasan memang akan terjadi. Tetapi harus tetap mengendalikan diri, bahwa kalian sedang dalam pendadaran, sehingga siapa yang mencederai yang lain sampai parah, ia justru dianggap kalah,” berkata Patih Mantahun. “Gila,” geram mereka di dalam hati. Tetapi tidak seorang pun yang berani menolak rencana Ki Patih Mantahun itu.

Sementara itu, mereka pun segera mempersiapkan diri. Ki Patih Mantahun pun kemudian membagikan masing-masing seutas tali sepanjang satu depa. Katanya, “Ini adalah satu-satunya senjata kalian. Kalian dapat mempergunakan sepanjang tidak membunuh yang lain.”

Keempat orang itu termangu-mangu. Namun mereka pun menyadari, bahwa derajat kepemimpinan itu ternyata harus mereka tebus dengan permainan yang keras dan bahkan mungkin kasar.

Tetapi mereka adalah orang-orang yang memiliki ilmu yang tinggi dan merasa bahwa yang satu tidak akan kalah dari yang lain. Karena itulah, maka tidak seorang pun di antara mereka yang merasa gentar menghadapi pendadaran itu. Bahkan mereka merasa justru saling dipermainkan oleh Ki Patih Mantahun.

Tetapi sebenarnya Ki Patih ingin melihat bukan saja siapakah yang paling tangkas dan berkemampuan tertinggi, tetapi ia juga ingin melihat apakah keempat orang itu memiliki keseimbangan untuk melakukan satu tugas tertentu.

Sejenak kemudian Ki Patih Mantahun pun telah memberikan isyarat untuk bersiap. Kemudian ia pun mulai menghitung, “Satu, dua, tiga.”

Keempat orang itu pun segera meloncat berlari. Mereka telah mengerahkan bukan saja kemampuan wadag mereka, tetapi didorong oleh tenaga cadangan yang kuat di dalam hati mereka, maka mereka pun telah berlari seperti anak panah yang terlepas dari busurnya.

Namun agaknya mereka masih belum berniat untuk saling menghalangi. Mereka masih berusaha untuk lebih dahulu sampai ke pohon besar yang harus mereka putari. Ternyata keempat orang itu memiliki kecepatan berlari yang hampir sama. Dorongan kekuatan yang melampaui kekuatan orang kebanyakan memang memberikan kelebihan atas keempat orang itu.

Namun demikian, Ki Patih Mantahun masih menunggu, apa yang terjadi kemudian jika keempat orang itu mencoba saling menghalangi.

Ketika keempat orang itu hampir bersamaan mencapai pohon besar yang harus mereka putari, maka mulailah mereka saling menghalangi. Seorang di antara mereka telah

mencoba menyentuh kaki yang lain yang sebelumnya menjadi agak lengah justru karena ia mendapat kesempatan berada paling depan. Ternyata bahwa sentuhan pada kakinya itu telah membuatnya kehilangan keseimbangan, sehingga ia pun telah jatuh terguling di tanah. Seorang yang hampir saja menginjaknya telah meloncat dengan tangkasnya. Bahkan demikian orang Itu menjejak tanah, tiba-tiba tangannya telah menangkap lengan orang yang lain. Dengan satu hentakan maka orang itu pun telah terdorong menyamping. Seperti yang terjatuh itu, maka ia pun kehilangan keseimbangan.

Tetapi yang lain pun tidak tinggal diam. Bahkan seorang di antara mereka telah menyekap yang lain dan membantingnya ditanah. Sementara itu, yang membanting kawannya itupun tidak sempat berlari lebih jauh, karena seorang telah mendekap kakinya.

Semula keempat orang itu masih dibatasi oleh keseganan mereka untuk berbuat lebih keras. Namun semakin lama keseganan itupun menjadi semakin kabur, sehingga akhirnya, mereka pun mulai saling mendorong, saling menyekap dan bahkan benturan-benturan kekerasan sulit untuk dihindari lagi.

Itulah yang ingin dilihat oleh Patih Mantahun. Satu perkelahian segi empat yang membingungkan.

Namun ketajaman penglihatan Patih Mantahun dapat mengamati dengan cermat, keempat orang yang dihadapinya itu. Apalagi ketika kemudian mereka menjadi saling memukul dan menghindar. Mendorong dan mendera.

Untuk beberapa saat perkelahian yang aneh itupun terjadi. Jika semula mereka hanya sekadar mempergunakan tenaga wadag mereka, maka semakin lama merekapun telah merambah kepada kemampuan ilmu mereka.

Dengan seksama Ki Patih Mantahun mengamati tali yang ada di tangan masing-masing. Untuk beberapa saat tali itu rasa-rasanya justru mengganggu.

Namun ketika mereka sudah sampai kepada saat-saat yang menentukan, maka tali itu pun mulai dipergunakan. Seorang di antara mereka telah menghentakkan tali itu sehingga terdengar ledakan melampaui kerasnya ledakan cambuk.

Namun seorang di antara mereka, telah mengerahkan kemampuan ilmunya, sehingga tali tiba-tiba telah berubah menjadi sebuah tongkat yang kuat bagaikan baja.

Namun sebelum ia dapat mempergunakannya, seutas tali telah membelit pergelangannya, seakan-akan seekor ular yang buas yang menyerang begitu tiba-tiba.

Tetapi tali yang membelit pergelangan tangan itu tidak mampu merenggut tongkat yang digenggamnya erat-erat. Sementara itu telah terdengar lagi ledakan yang seakan-akan memecahkan selaput telinga.

Ki Patih Mantahun menarik nafas dalam-dalam. Ia tidak merasa kecewa terhadap keempat orang itu. Mereka memiliki ilmu yang seimbang sehingga dalam keadaan tertentu tidak ada di antara mereka yang akan menjadi sebab kegagalan tugas mereka, kecuali jika mereka berempat bersama-sama kehilangan kesempatan untuk

melakukan tugas mereka.

Dalam benturan ilmu segi empat itu sekaligus Ki Patih Mantahun dapat memperbandingkan setiap kemampuan mereka dengan langsung sehingga ia tidak memerlukan waktu yang terpisah-pisah.

Namun dengan demikian, maka keempat orang itu bergeser lambat sekali. Tidak ada kemajuan yang mendekatkan mereka kepada garis awal yang akan juga menjadi garis akhir. Bahkan sekali-kali seseorang di antara mereka harus terdorong mundur satu dua langkah. Namun ia pun dengan serta merta telah meloncat mendahului yang lain. Tetapi tiba-tiba saja seutas tali telah menjerat kakinya, dan satu hentakan telah menariknya mundur pula.

Ki Patih Mantahun menunggu dengan sabar permainan yang kemudian telah mengasyikkan itu. Ia harus menilai dengan cermat kemampuan yang tersimpan disetiap orang yang sedang bertanding. Justru karena kemampuan mereka seimbang, maka agak sulit bagi Ki Patih Mantahun untuk menentukan urutan kemampuan mereka.

Sebenarnyalah keempat orang itu sudah menjadi kehilangan kendali diri. Itulah sebabnya mereka benar-benar saling menyerang dengan garangnya. Namun ketahanan tubuh mereka melampaui ketahanan tubuh orang kebanyakan sehingga karena itu maka mereka masing-masing masih mampu untuk bertahan.

Namun dalam pada itu, bagaimana pun lambatnya, mereka telah berkisar pula setapak demi setapak mendekati garis batas. Sementara itu Ki Patih menunggu dengan telaten, namun dengan pengamatan yang cermat untuk menilai kemampuan mereka. Bahkan dengan nada dalam ia bergumam bagi dirinya sendiri, “Siapa yang lemah dan memiliki kemampuan yang tidak seimbang, tentu akan digilas oleh pendadaran yang berat itu.”

Sebenarnyalah jika ada di antara mereka yang ilmunya terpaut banyak dari yang lain, akan mengalami kesulitan untuk tetap bertahan. Bahkan mungkin jika yang demikian, ia tidak akan mampu lagi untuk bangkit.

Dengan demikian maka Ki Patih Mantahun tidak perlu lagi menyisihkannya, karena dengan sendirinya ia akan tersisih.

Tetapi betapapun lambatnya mereka maju, namun keempat orang itu mampu mendekati garis batas. Namun dalam keadaan yang sangat gawat, seorang di antara mereka mencoba melenting mencapai garis yang ditentukan oleh Ki Patih Mantahun. Namun seutas tali telah menjeratnya sehingga ia pun telah tertahan karenanya. Bahkan tiba-tiba saja sebuah lecutan yang keras terasa memukul punggungnya, sehingga karena itu, maka ia pun telah menggeliat.

Pada saat itu seorang yang lain telah berusaha untuk meloncatinya. Tetapi kakinya bagaikan terantuk tongkat besi. Namun dengan tangkasnya ia berusaha memperbaiki keseimbangannya agar ia tetap tegak.

Tetapi pada saat yang demikian, seorang justru telah berguling seperti gumpalan asap tertiup angin. Demikian ringannya melintasi garis batas. Ketika orang yang lain menerkamnya, maka orang yang berguling itu sempat menggeliat menghindarkan dirinya.

Sejenak kemudian orang itu pun telah melenting berdiri. Kemudian dengan suara lantang ia berkata, “Akulah yang pertama memasuki perbatasan.”

Kawan-kawannya pun telah tegak pula berdiri. Mereka semua sudah melintasi garis, hampir bersamaan. Selisih waktunya tidak lebih dari sekejap.

Patih Mantahun menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Aku telah melihat semuanya. Aku telah menyaksikan bagaimana kalian memperebutkan tanggung jawab. Karena seorang pemimpin justru harus bertanggung jawab sepenuhnya.”

Keempat orang itu termangu-mangu. Namun dalam pada itu, terasa tubuhnya mereka menjadi sangat letih. Tulang-tulang mereka bagaikan retak-retak di dalam tubuhnya. Perasaan nyeri dan pedih terasa dari ujung rambut sampai keujung ibu jari kaki mereka.

Sementara itu, mereka masih menunggu pendadaran berikutnya.

Tetapi Ki Patih Mantahun itu pun berkata, “Aku tidak akan melakukan pendadaran lagi. Aku menganggap bahwa yang kalian lakukan sudah cukup, sehingga aku sudah menjadi yakin, siapakah yang sebaiknya menjadi pemimpin di antara kalian.”

Keempat orang itu menjadi tegang. Tetapi mereka sama sekali tidak menjawab. Mereka menunggu, apa yang akan dikatakan oleh Ki Patih Mantahun tentang mereka.

Meskipun demikian keempat orang itu sudah dapat menduga, bahwa orang yang pertama melintasi batas itulah yang akan ditetapkan menjadi pemimpin mereka. Dalam pada itu, maka Ki Patih Mantahun pun berkata, “Dengarlah. Menurut penilaianku, kalian memiliki kesempatan yang sama karena kalian telah menunjukkan kemampuan yang sama. Tetapi ada satu kelebihan pada seorang di

antara kalian, yaitu kemampuan menguasai dan menyebarkan ilmu sirep.” Orang-orang itu mengerutkan keningnya. Sementara Ki Patih berkata selanjutnya, “Karena itu, maka aku menetapkannya untuk menjadi pemimpin di antara keempat orang yang akan aku bekali dengan tugas-tugas yang sangat berat.”

Orang yang memiliki ilmu sirep dan yang kebetulan mampu berguling melintasi batas mendahului kawan-kawannya meskipun hanya sekejap itu pun mengangguk hormat sambil berkata, “Terima kasih atas kepercayaan Ki Patih. Hamba akan mencoba melakukan tugasku sebaik-baiknya.”

Suramnya Bayang-bayang 27

“Sebenarnya bagiku yang paling penting bukan siapakah yang akan menjadi pemimpin. Tetapi aku ingin melihat tataran kemampuan kalian.

Agaknya kemampuan kalian yang satu dengan yang lain tidak terpaut terlalu banyak, sehingga dengan demikian maka kalian akan dapat bekerja bersama dengan baik. Saling mengisi dalam tugas yang sangat berat ini,” berkata Patih Mantahun.

Lalu tiba-tiba saja ia berkata, “Siapakah yang merasa berkeberatan atas keputusanku ini?”

Tidak seorang pun yang menjawab. Sehingga dengan demikian maka Patih Mantahun pun berkata selanjutnya. “Baik. Jika demikian maka kalian akan mendapat kesempatan untuk melakukan tugas yang mungkin tidak pernah kalian duga sebelumnya.”

“Siapakah yang harus kami bunuh?” bertanya orang yang memiliki ilmu sirep dan yang diangkat menjadi pemimpin di antara keempat orang itu. “Sampai saat ini Ki Patih belum menyebutnya. Bahkan setiap kali Ki Patih hanya membuat kami menjadi berdebar-debar saja.”

Ki Patih mengangguk-angguk. Katanya, “Aku baru akan mengatakannya setelah aku yakin, bahwa kalian akan dapat menyelesaikan tugas ini. Yang akan kau bunuh adalah orang yang memiliki ilmu melampaui setiap orang di antara kalian. Karena itu, hanya dengan saling mengisi, maka kalian akan dapat mengatasi persoalan.”

“Ya, tetapi siapakah yang menjadi sasaran?” desak orang yang telah dipercaya untuk memegang pimpinan itu dengan tidak sabar.

Ki Patih Mantahun memandang orang itu dengan tajamnya. Namun kemudian bibirnya bergerak menyebut sebuah nama, “Hadiwijaya.”

Setiap mata terbelalak karenanya. Orang yang diangkat menjadi pimpinan itu bergerak setapak maju sambil berdesis, “Hadiwijaya. Adipati Pajang maksud Ki Patih.”

“Ya. Adipati Pajang,” sahut Ki Patih Mantahun.

Keempat orang itu saling berpandangan sejenak. Sementara itu terdengar Ki Patih menggeram, “Apakah kalian merasa takut? Jika kalian merasa takut, sebaiknya kalian katakan sekarang, karena aku tidak akan memaksakan perintah kepada para pengecut. Jika sebenarnya kalian takut, namun terpaksa dalam melakukan perintah

ini, maka akibatnya akan tidak baik. Dengan demikian maka aku ingin mendapat ketegasan. Berani atau tidak. Jika kalian menyatakan tidak berani, maka tentu tidak ada orang lain yang harus melakukan kecuali aku sendiri.”

“Jangan Ki Patih,” cegah pimpinan dari keempat orang itu. “Ki Patih jangan tergesa-gesa mengambil sikap seperti itu. Biarlah kami berempat akan menyatakan kesediaan kami. Namun kami mohon petunjuk dan kesempatan untuk mempelajari keadaan.”

“Aku merasa mampu untuk melakukan sendiri. Jika aku minta kalian melakukannya, semata-mata untuk menghindari kesan bahwa Jipang telah berusaha memotong perang yang sedang berlangsung dengan satu pembunuhan. Meskipun akhirnya mereka pun tentu akan menduga seperti itu, tetapi mereka tidak akan dapat berkata semena-mena tanpa bukti. Karena itu, kalian harus tetap menjaga rahasia yang akan kalian emban bersama dengan tugas yang berat itu. Apakah kalian mengerti maksudku?”

“Hamba mengerti Ki Patih,” jawab pimpinan kelompok yang terdiri dari empat orang itu. “Seandainya kami, atau salah seorang dari kami tertangkap, maka kami mati bersama rahasia itu.”

Ki Patih Mantahun mengangguk-angguk. Katanya, “Bagus. Aku percaya kepada kalian.

Jika salah seorang di antara kalian atau lebih bahkan semuanya saja tertangkap atau mati dalam tugas itu, maka keluarga kalian akan menjadi tanggung jawab kami. Keluarga kalian akan mendapat hadiah yang tidak ternilai harganya.”

“Terima kasih,” jawab pimpinan dari keempat orang itu. “Sekali hamba mohon petunjuk dan sedikit waktu barang dua tiga hari untuk mengamati keadaan.”

“Aku tidak berkeberatan,” jawab Patih Mantahun. “Tetapi dalam waktu dua tiga hari atau selama-lamanya sepekan jika kalian tidak berhasil maka leher kalian akan menjadi taruhan. Hanya ada dua pilihan bagi kalian. Berhasil atau mati.”

Keempat orang itu mengangguk-angguk.

“Katakan, apakah kalian bersedia atau tidak,” desak Mantahun.

Tidak ada jawaban lain yang mereka ucapkan kecuali bersedia. Perintah sudah telanjur diucapkan. Jika seorang di antara mereka menolak, maka untuk menjaga keutuhan rahasia, maka yang menolak itu tentu akan dibinasakan, bagaimanapun caranya.

“Malam nanti aku akan memberikan beberapa petunjuk,” gumam Patih Mantahun.

Demikianlah, ketika malam tiba, keempat orang itu telah menghadap Patih Mantahun di pesanggrahannya. Mereka mendapat beberapa petunjuk tentang tugas mereka dan sedikit keterangan tentang orang yang bernama Hadiwijaya.

“Hadiwijaya memiliki seribu macam ilmu. Pada masa mudanya ia adala pengembara, bahkan petualang yang menyusuri hutan, lereng-lereng pegunungan, memasuki gua-gua dan berguru pada para pertapa,” berkata Patih Mantahun.

Keempat orang itu mendengarkan dengan cermat. Mereka memang merasa bahwa tugas mereka saat ini adalah tugas yang sangat berat. Hadiwijaya adalah seorang Adipati yang berada di pesanggrahan dalam suasana perang. Ia adalah Panglima pasukannya dan karena itu penjagaan atas dirinya tentu dilakukan sangat kuat.

Tetapi keempat orang itu merasa bahwa mereka pun memiliki ilmu linuwih. Ki Patih Mantahun yang juga memiliki ilmu yang sangat tinggi itu tentu mampu menilai, apakah mereka berempat akan dapat atau setidak-tidaknya pantas melakukan tugas itu atau tidak.

Namun beberapa pesan Patih Mantahun sangat berarti bagi mereka berempat. Menurut keterangan yang didengar oleh Patih Mantahun, Adipati Pajang itu memiliki ilmu yang kebal.

“Ilmu itu tentu hanya diterapkan jika ia turun ke medan atau dalam perang tanding. Tetapi tidak jika ia sedang tidur lelap di pesanggrahannya. Apalagi jika ia merasa aman di bawah pengawalan pasukannya yang kuat dan tangguh,” berkata Ki Patih Mantahun. “Karena itu, maka kau harus menemukannya dalam keadaan tidur. Kau harus cepat bertindak, sebelum orang yang memiliki ilmu yang sangat tinggi itu terbangun dan apalagi mampu dan sempat mengeterapkan ilmu kebalnya. Jika demikian, maka kau tentu akan gagal.”

“Baiklah Ki Patih,” jawab pimpinan dari keempat orang itu. “Hamba dan kawan mohon restu, mudah-mudahan hamba dan kawan-kawan mampu menjunjung kepercayaan Ki Patih untuk melakukan tugas ini”

“Lakukanlah dengan sebaik-baiknya. Aku yakin kalian akan berhasil. Apalagi seorang di antara kalian memiliki kemampuan melepaskan ilmu sirep, sehingga akan banyak menolong tugas-tugas kalian memasuki pesanggrahan yang tentu tidak akan sekuat istana Pajang sendiri,” pesan Patih Mantahun pula.

Demikianlah keempat orang itu pun kemudian mohon diri. Mereka akan mempersiapkan diri lahir dan batin untuk melakukan tugas yang sangat berat itu. Mereka benar-benar harus bertaruh nyawa, karena mereka akan memasuki pesanggrahan perang. Bukan pesanggrahan pada saat-saat Hadiwijaya bercengkerama di pinggir-pinggir hutan sambil berburu kijang.

“Selama-lamanya sepekan kalian harus sudah selesai dengan tugas ini,” berkata Patih Mantahun.

“Hamba Ki Patih,” jawab pemimpin dari keempat orang itu. “Kami akan mencoba melakukan sebaik-baiknya. Di hari-hari pertama kami masih mencoba untuk mengamati keadaan pesanggrahan itu. Mungkin kami mempunyai cara yang akan mempermudah tugas-tugas kami.”

“Lakukanlah apa yang baik menurut kalian,” berkata Ki Patih Mantahun kemudian.

Keempat orang itu pun kemudian mohon diri. Di luar pesanggrahan mereka membicarakan apa yang akan mereka lakukan untuk melaksanakan tugas yang sangat berat itu.

Keempat orang itu pun kemudian telah membagi tugas. Dua orang di antara mereka akan berupaya untuk dapat mendekati pesanggrahan Pajang dengan dalih apapun juga. Tetapi mereka tidak akan bersama-sama. Mereka akan menempuh cara mereka masing-masing.

Dengan demikian di hari berikutnya, keempat orang itu pun telah berpencar.

Mereka menyeberangi Bengawan Sore ditempat yang berbeda dan tidak berada dihadapan pesanggrahan Pajang maupun Jipang.

Di hari pertama orang-orang itu mengamati pesanggrahan hanya dari kejauhan. Dua orang yang memang bertugas untuk mendekati pesanggrahan itu melihat, bahwa di antara orang-orang yang lewat didekat pesanggrahan itu adalah orang-orang yang menjajakan beberapa jenis makanan dan buah-buahan.

Orang-orang itu mencoba menghubungi penjual buah-buahan itu ketika para penjual meninggalkan pesanggrahan. Dari mereka orang-orang itu mendapat beberapa keterangan bahwa para prajurit Pajang yang berada di pesanggrahan itu sering membeli dari mereka buah-buahan dan makanan.

“Apakah mereka tidak dilarang membeli dari orang-orang yang sebelumnya tidak mereka kenal seperti kalian?” bertanya orang yang ingin berusaha mendekati itu.

“Sebagian dari mereka membeli juga,” jawab para penjual. “Aku tidak tahu, apakah sebenarnya mereka dilarang atau tidak. Namun selama ini kami tidak pernah diusir jika kami menjajakan makanan dan buah-buahan. Bahkan orang-orang tertentu mendapat pesanan untuk menyerahkan sayur-sayuran ke dapur dalam jumlah yang cukup banyak, karena di dapur itu telah dimasak makan dan lauk pauknya bagi semua prajurit yang ada di pesanggrahan itu. Orang yang ingin mengamati pesanggrahan itu mengangguk-angguk. Hari itu mereka berusaha keras untuk dapat menentukan satu langkah. Akhirnya mereka pun berhasil menghubungi para penjual makanan bahkan para penjual sayur-sayuran.

Ketika salah seorang di antara mereka yang ingin mendekati pesanggrahan itu menyatakan ingin ikut berjualan sayur-sayuran, maka para penjual itu merasa keberatan.

“Kau dapat menyaingi kami,” berkata salah seorang di antara para penjual itu.

“Hak itu sudah kami dapat sejak semula mereka berada disini.”

Tetapi orang itu berkata, “Tidak. Sama sekali tidak. Aku tidak akan mengurangi hak kalian. Aku hanya akan menjualnya kepada kalian sehingga dengan demikian kalian masih akan mendapat keuntungan. Jika aku menyerahkan sayur-sayuran ke dapur, tentu atas nama kalian. Dan aku tidak mau, berapa kalian mendapat uang dari mereka, asal kalian sudah membayar aku sesuai dengan pembicaraan.”

Sebenarnyalah orang-orang yang mendapat tugas dari Patih Mantahun itu sama sekali tidak memperhitungkan untung atau rugi. Mereka dapat menjual sayur-sayuran dengan harga yang lebih rendah dari penjual yang manapun juga.

Bahkan bersedia mengirim sayur-sayuran itu langsung ke dalam pesanggrahan tanpa minta upah tambahan.

Dengan memecahkan beberapa kesulitan maka akhirnya dua orang di antara keempat orang itu berhasil mendekati barak. Yang seorang sebagai pedagang buah-buahan tanpa banyak persoalan dengan pedagang-pedagang yang lain, yang seorang baru pada hari keempat berhasil memasuki pesanggrahan dengan membawa sayur-sayuran yang dijualnya cukup murah kepada orang-orang yang biasanya mengirimkan sayur-sayuran ke pesanggrahan itu.

Namun dengan demikian, maka pada hari keempat itu pula, keempat orang itu bertemu dan berbicara tentang rencana mereka memasuki pesanggrahan. Beberapa bagian dari pesanggrahan itu sempat dilihat dan dikenali oleh kedua orang yang sempat memasukinya.

“Waktu kita tinggal sehari,” berkata pemimpin kelompok itu, “Apakah malam ini kita akan melakukannya?”

Seorang di antara mereka berkata, “Hari ini kita belum mempersiapkan diri.

Mungkin secara lahir kita memang sudah siap sejak kita berangkat.”

Pemimpin kelompok itu mengangguk-angguk. Katanya, “Aku sependapat. Kita harus bersiap lahir dan batin. Secara badani dan jiwani.”

Akhirnya kelompok itu memutuskan bahwa mereka akan memasuki pesanggrahan itu besok malam. Malam itu, dan sehari sebelumnya mereka akan mempersiapkan diri sebaik-baiknya lahir dan batin. Bahkan bila mungkin mereka akan mengadakan semacam latihan untuk memasuki pesanggrahan itu, setidak-tidaknya mengenali pesanggrahan itu di malam hari, dan mencoba untuk mengetahui dimanakah para penjaga dan para peronda berada.

Demikianlah, ketika malam menjadi semakin kelam pada hari keempat itu, maka keempat orang itu pun telah dengan sangat berhati-hati mendekati pesanggrahan.

“Kau coba untuk menebarkan ilmu sirep,” berkata salah seorang di antara keempat orang itu.

“Tidak sekarang,” jawab pemimpin kelompok itu. “Dengan demikian dapat menarik perhatian dan menimbulkan kecurigaan, sehingga karena itu, mereka justru akan bersiaga di malam berikutnya.”

Kawan-kawannya mengangguk-angguk. Dengan demikian, maka mereka harus sangat berhati-hati.

Dengan kemampuan yang tinggi, maka keempat orang itu berhasil mendekati pesanggrahan. Mereka seakan-akan merangkak dan bahkan kadang-kadang merayap seperti seekor ular dibelakang gerumbul-gerumbul perdu.

Dari tempat mereka, maka mereka dapat melihat para prajurit Pajang yang berjaga-jaga. Dua orang berada diregol pesanggrahan dengan senjata siap di tangan, sementara setiap kali, dua orang yang lain berjalan mengelilingi pesanggrahan itu.

“Tentu ada juga para penjaga lain di dalam lingkungan pesanggrahan,” berkata orang yang sempat memasuki pesanggrahan itu. “Di dalam pesanggrahan terdapat barak-barak yang berpencar. Nampaknya barak-barak itu dibangun dengan tergesa-gesa disekitar rumah aslinya. Namun cukup rapat dan kuat.”

“Apakah kau tahu dimanakah Hadiwijaya tinggal di dalam barak itu?” bertanya pemimpin kelompok itu.

“Ya. Dari orang-orang yang berada didapur, aku mendapat keterangan bahwa Hadiwijaya ada disebuah barak kecil ditengah-tengah barak-barak yang lain, justru dibelakang rumah yang sebenarnya yang dipergunakan untuk pesanggrahan itu. Barak itu pun adalah bangunan susulan. Bukan bangunan yang menjadi bagian dari rumah yang dipergunakan untuk barak itu,” jawab kawannya yang berhasil menjadi penjual sayur dan mengantarkan langsung ke dapur meskipun baru pada hari keempat.

Keempat orang itu pun kemudian mengelilingi pesanggrahan itu untuk memperhitungkan, bagian manakah yang paling lemah dari pesanggrahan Hadiwijaya itu. Dari tempat itulah mereka akan mencoba memasuki pesanggrahan besok malam.

“Mudah-mudahan ilmu sirepku cukup tajam untuk membius semua prajurit yang bertugas pada malam besok,” berkata pemimpin kelompok itu. “Jika tidak, maka aku harap sebagian besar dari mereka akan tertidur, sementara kita akan dapat memasuki pesanggrahan.

Ternyata bahwa malam itu, keempat orang itu mendapatkan banyak bahan yang akan dapat mereka pergunakan dimalam berikutnya, memasuki pesanggrahan untuk membunuh Adipati Hadiwijaya.

Namun dihari berikutnya, salah seorang di antara mereka yang sudah telanjur menyanggupi menyerahkan sayur-sayuran harus masih bekerja keras. Tetapi orang itu telah menghubungi beberapa penjual sayur-sayuran dan membayarnya dengan harga yang lebih tinggi dari para pembeli yang lain meskipun orang itu akan menjadi rugi.

Tetapi pekerjaan itu dapat diselesaikannya sebelum matahari sepenggalah, sehingga ia masih akan mempunyai waktu untuk mempersiapkan diri sebagaimana kawan-kawannya.

Bahkan satu keuntungan yang didapatkannya, bahwa hari itu ia sempat melihat Ki Pemanahan dan Panjawi berjalan-jalan melihat-lihat keadaan di dapur. Semula mereka tidak mengenali kedua orang yang nampaknya memiliki wibawa yang tinggi itu. Baru kemudian dari para petugas di dapur ia mengetahui, bahwa kedua orang itu adalah Ki Pemanahan dan Ki Panjawi. Dua orang panglima yang disegani oleh kawan maupun lawan.

“Menilik cahaya wajah mereka dan sikap mereka, keduanya memang orang-orang yang berjiwa besar dan memiliki ilmu yang sangat tinggi,” berkata orang yang sempat bertemu dengan Pemanahan dan Panjawi itu.

“Kau cemas tentang mereka?” bertanya pemimpin kelompoknya.

“Jika aku berkata jujur, agaknya memang demikian,” jawab orang yang melaporkannya. “Tetapi aku harus mempunyai perhitungan nalar. Keduanya tentu tidak akan meronda di malam hari karena tugas-tugas itu tentu dilakukan oleh para prajurit. Hanya dalam keadaan tertentu saja mereka akan keluar dari bilik mereka.”

“Sebaiknya kau memantapkan sikapmu lebih dahulu,” berkata pemimpin kelompok itu.

“Ki Patih Mantahun tentu sudah mengenal kedua orang itu dengan baik, sebagaimana

ia mengenal Hadiwijaya. Pada saat Demak masih tegak, maka mereka tentu sering berhubungan dan mungkin mereka pernah bersama-sama berada di satu medan. Karena itu, kau dan kita semua harus yakin, bahwa menurut penilaian Ki Patih Mantahun, kita pantas untuk melakukan tugas ini.”

“Ya. Aku menyadari,” jawab orang lain.

“Yang kau lihat itu barulah ujud lahiriahnya saja. Apakah ujud lahiriahnya itu akan menentukan tataran kemampuan mereka?” sahut pemimpin kelompok itu.

Orang yang melihat Ki Pemanahan dan Ki Panjawi itu pun mengangguk-angguk. Lalu katanya, “Mungkin saja jiwani aku memang belum siap sekarang. Tetapi masih ada waktu. Kita dapat menyiapkan diri sampai saatnya menjelang senja.”

Demikianlah, maka mereka berempatpun telah berusaha untuk menempa perasaan masing-masing. Dengan demikian maka keempat orang itu berusaha untuk memasuki gelanggang dalam keadaan yang benar-benar telah siap apapun yang terjadi. Bahkan seandainya mereka harus diterkam oleh maut sekalipun.

Ketika matahari mulai menjadi semburat kuning, maka keempat orang itu pun telah membenahi dirinya. Mereka sempat makan bekal yang mereka persiapkan. Kemudian bersiap-siap sepenuhnya. Senjata mereka pun telah mereka lihat, sehingga mereka yakin bahwa senjata itu tidak akan mengecewakan mereka.

Betapapun tabahnya hati mereka, namun ketika gelap mulai turun, mereka pun menjadi berdebar-debar juga. Bahkan dengan jujur pemimpin kelompok itu berkata, “Kita harus menemukan ketenangan hati. Aku merasa gelisah oleh tugas yang sangat berat ini, meskipun aku adalah orang yang tidak pernah tergetar jantungku melihat tanganku bergelimang darah. Tetapi kali ini kita mengemban tugas yang memang sangat berat dan sulit. Kita harus mengakui, agar dengan demikian kita dapat melangkah di atas tanah yang mapan, bukan sekadar dalam kebanggaan mimpi.

Kawan-kawannya hanya mengangguk-angguk saja. Mereka menyadari sepenuhnya betapa beratnya tugas mereka. Memasuki sebuah pesanggrahan perang seorang Adipati yang sedang memimpin pasukannya, siap untuk bertempur. Apalagi seorang Adipati yang memiliki ilmu yang sangat tinggi.

Demikianlah ketika malam mulai turun, maka keempat orang itu pun benar-benar telah bersiap lahir dan batin. Dengan kepala tengadah mereka memandang pesanggrahan yang telah diselubungi oleh kegelapan. Pesanggrahan yang terletak disebuah padukuhan dipinggir Bengawan Sore.

Sejenak kemudian maka mereka pun mulai melangkahkan kaki mereka mendekati pesanggrahan itu. Perlahan-lahan dan sangat berhati-hati. Tidak mustahil bahwa mereka akan dapat bertemu dengan sekelompok prajurit yang sedang mengamati keadaan di sekitar pesanggrahan itu.

“Penjagaan yang paling kuat adalah pada wajah pesanggrahan itu yang menghadap ke Bengawan Sore,” berkata pemimpin kelompok itu. “Sebagaimana pernah kita bicarakan, kita akan memasuki lingkungan pesanggrahan lewat lambung sebelah kiri. Bukan begitu?”

“Ya,” jawab kawannya yang pernah memasuki pesanggrahan itu, “Jika kita berhasil masuk, maka aku telah melihat arah yang harus kita tuju di dalam pesanggrahan.”

Pemimpin kelompok itu mengangguk-angguk. Sementara itu, semakin dekat mereka dengan pesanggrahan, mereka pun menjadi semakin berhati-hati. Bahkan untuk beberapa saat mereka harus menunggu, karena malam masih terlalu dangkal untuk melakukan tugas mereka. Namun akhirnya saat yang mereka tunggu, yang menurut perhitungan mereka paling tepat untuk melakukan tugas itu telah datang juga.

Beberapa saat menjelang tengah malam.

Dengan hati-hati mereka telah merayap mendekati pesanggrahan dari lambung kiri.

Kemudian mereka mencari tempat yang terlindung untuk mulai dengan usaha mereka memasuki pesanggrahan itu.

“Kita harus melakukan bersama-sama,” berkata pemimpin kelompok itu. “Aku akan melepaskan ilmu sirep. Aku minta kalian membantuku dengan cara apapun juga yang dapat kalian lakukan. Dengan demikian maka ilmu sirep itu akan menjadi semakin tajam. Jika saatnya sampai, maka para prajurit tentu akan tertidur nyenyak.”

Meskipun ketiga orang kawannya tidak memiliki ilmu yang dapat melepaskan ilmu sirep, namun mereka dapat membantu dengan cara mereka masing-masing untuk mendorong kemampuan ilmu sirep itu agar menjadi lebih tajam. Udara malam yang sejuk terasa menjadi semakin sejuk. Angin yang sumilir menyentuh dedaunan, mengusap tubuh-tubuh para prajurit yang sedang bertugas.

Beberapa orang prajurit yang duduk di dalam regol gardu pesanggrahan itu masih sibuk berbincang tentang tugas-tugas mereka. Dua orang di antara mereka mencoba melawan perasaan kantuk dengan permainan macanan. Permainan yang memang sering mereka lakukan jika mereka bertugas.

Sementara itu, dua orang di antara mereka bertugas di regol dengan senjata telanjang. Mereka berjalan hilir mudik dengan tegapnya. Sedangkan di sela-sela longkangan, di antara bangunan-bangunan yang ada di pesanggrahan itu, beberapa orang prajurit sedang berjaga-jaga pula. Di sudut belakang pesanggrahan itu dua orang prajurit juga berjalan hilir mudik, silang menyilang. Sedangkan disudut lain, dua orang prajurit berdiri tegak memandang kegelapan.

Sebenarnyalah bahwa penjagaan di dalam pesanggrahan itu cukup kuat. Hampir setiap sudut pesanggrahan itu dapat dijangkau oleh pengamatan para prajurit bertugas.

Di luar pesanggrahan, empat orang sedang dengan tekun menyebarkan satu kekuatan yang dapat mempengaruhi ketahanan para prajurit yang bertugas. Dengan ilmu sirep maka para prajurit itu akan di-serang oleh perasaan kantuk yang tidak terlawan.

Untuk beberapa saat, terjadi benturan kekuatan antara para prajurit yang bertugas dengan ilmu sirep yang mulai menyelubungi pesanggrahan itu. Para perwira tertinggi di pesanggrahan itu memang sudah tertidur sejak menjelang tengah malam. Mereka mempercayakan penjagaan dan pengamatan kepada para prajurit yang sedang bertugas. Sehingga dengan demikian mereka tidak sempat menyadari apa yang telah terjadi. Bahkan mereka pun bagaikan telah dibius sehingga pada saat mereka tidur, terasa tidur itu menjadi semakin nyenyak.

Dua orang yang sedang bermain macananpun telah tidak sanggup lagi berpikir.

Mereka sekali-kali masih melihat batu kerikil yang mereka pergunakan sebagai biji-biji permainan. Namun sekali-kali batu-batu kerikil itu menjadi kabur dan tidak lagi dapat mereka lihat karena mata mereka mulai terpejam.

Seorang prajurit yang bertugas malam itu sebagai penanggung jawab penjagaan dan pengamatan berusaha untuk menyadari apa yang telah terjadi. Ada niatnya untuk bangkit dan melihat berkeliling. Namun niatnya itu tidak pernah dilakukannya. Ia memang turun dari gardu. Dengan sisa kesadarannya ia melihat obor yang terpancang di atas regol. Namun kemudian ia telah duduk kembali dibibir gardu.

Rasa-rasanya badannya menjadi sangat berat untuk turun lagi dan berjalan berkeliling.

Pada saat yang demikian, kawan-kawannya yang berada digardu itu pun telah mulai tertidur pula. Bahkan ada di antara mereka yang justru mulai mendengkur.

“He, siapa tertidur itu?” geram pemimpin kelompok yang bertugas itu.

Tidak ada jawaban. Prajurit yang bertanggung jawab itu berpaling. Tetapi yang dilihatnya sekadar bayangan-bayangan kabur yang tidak jelas. Bahkan kemudian prajurit itu pun telah tersandar dinding gardu pula. Sementara matanya mulai terpejam.

Angin malam yang sejuk mengusap wajahnya. Matanya yang terpejam menjadi semakin rapat.

Prajurit yang bertugas memimpin kelompok itu tidak sempat melihat bahwa dua orang diregol itu pun telah tertidur pula. Bahkan prajurit-prajurit yang bertugas di sudut-sudut belakang dan di long-kangan.

Demikian, maka pesanggrahan itu benar-benar telah menjadi lengang. Yang ada hanyalah tarikan-tarikan nafas yang teratur karena para petugas malam itu sudah tertidur.

Dalam pada itu, pemimpin dari empat orang yang mendapat tugas dari Ki Patih Mantahun telah mencapai puncak ilmunya. Ketika ia kemudian mengangkat wajahnya, maka ia pun berdesis dengan penuh keyakinan, “Ilmuku sudah mencengkam seluruh isi pesanggrahan.”

Kawan-kawannya pun telah mulai bangkit pula dari usaha mereka untuk membantu dengan cara mereka masing-masing. Berarti atau tidak berarti, karena mereka pun yakin, tanpa bantuan mereka, sirep itu pun akan dapat mencengkamnya.

“Marilah,” berkata pemimpin dari keempat orang itu, “Kita memasuki pesanggrahan.

Meskipun aku yakin bahwa sirepku telah mempengaruhi seisi pesanggrahan, namun kita harus tetap berhati-hati. Mungkin ada satu dua orang yang terlepas dari pengaruh sirepku.”

“Bagaimana dengan barak-barak lain di luar lingkungan itu?” bertanya seorang di antara keempat orang itu.

“Mereka tidak tahu apa yang terjadi di induk pesanggrahan ini,” jawab

pemimpinnya. “Tetapi sekali lagi, kita memang harus berhati-hati. Kita tahu bahwa beberapa puluh tonggak dari tempat ini terdapat juga barak-barak para prajurit Pajang. Bahkan tidak hanya di satu tempat. Tetapi jarak itu cukup memisahkan persoalan yang akan terjadi malam ini di pesanggrahan Adipati Hadiwijaya ini.”

Kawan-kawannya mengangguk-angguk. Tetapi mereka tidak menjawab. Demikianlah maka mereka berempat pun telah menuju ke tempat yang mereka anggap paling baik. Mereka akan memasuki pesanggrahan Adipati Hadiwijaya itu dari lambung kiri.

Untuk beberapa saat lamanya, keempat orang itu berusaha untuk meyakinkan bahwa di dalam halaman pesanggrahan tidak terdapat lagi para prajurit yang berjaga-jaga atau berjalan mengelilingi halaman.

Mereka memang tidak mendengar sesuatu. Mereka tidak mendengar gemeremang atau langkah yang berdesir. Bahkan mereka tidak mendengar tarikan nafas di balik dinding halaman itu.

“Aku akan melihatnya,” desis salah seorang dari keempat orang itu.

Pemimpinnya tidak berkeberatan. Dibiarkannya seorang kawannya meloncat dengan sangat hati-hati ke atas dinding.

Orang itu pun kemudian menelungkup melekat dinding halaman itu sambil memperhatikan isi halaman pesanggrahan.

Untuk beberapa saat orang itu berdiam diri. Namun ternyata bahwa ia sama sekali tidak mendengar apapun juga dan tidak melihat sesuatu yang bergerak. Suasana di pesanggrahan itu bagaikan menjadi beku.

Orang itu pun memberikan isyarat kepada kawan-kawannya. Karena itu maka sejenak kemudian, ketiga orang yang lain pun telah berloncatan pula.

Setelah menunggu sejenak diatas dinding, maka hampir berbareng mereka meluncur turun ke dalam lingkungan halaman pesanggrahan itu dan untuk beberapa saat mereka berusaha bersembunyi dibalik perdu.

Namun tiba-tiba seorang di antara mereka berdesis sambil menunjuk ke arah sesuatu.

“Apa?” bertanya kawannya.

Namun akhirnya mereka berempat sempat melihat. Dua orang prajurit yang tertidur nyenyak, terbaring ditanah dibawah bayangan tanaman hias yang tumbuh di halaman samping. Tanaman yang nampaknya kurang terpelihara, karena para prajurit agaknya lebih memperhatikan senjata mereka daripada tanaman hias yang tumbuh di halaman.

“Mari kita lihat,” desis pemimpin kelompok itu.

Dengan hati-hati pula mereka berempat pun berusaha mendekati kedua orang yang tertidur itu. Ketika mereka menyentuh tubuh itu, maka agaknya keduanya tertidur sangat nyenyak.

“Marilah,” berkata pemimpin kelompok, “Kita sudah berhasil membuat mereka dan tentu juga seisi pesanggrahan ini tidur.”

“Kemana kita sekarang?” bertanya salah seorang di antara mereka.

“Jangan membuang waktu,” jawab pemimpinnya. “Kita langsung menuju ke bilik Adipati Hadiwijaya. Kita harus menemukannya dalam keadaan tidur.”

“Ikut aku,” berkata orang yang pernah mengenali isi pesanggrahan itu. Ia sudah mengetahui sebagaimana dikatakan oleh orang-orang yang bekerja didapur, bahwa Adipati Hadiwijaya ada di dalam sebuah barak khusus yang dibangun kemudian.

Bukan berada di dalam rumah induk yang memang sudah ada sebelumnya.

Seperti pada saat mereka masuk, maka dengan hati-hati sekali mereka mendekati barak itu. Dikelokan longkangan mereka menemukan dua lagi prajurit yang tertidur nyenyak. Meskipun demikian, keempat orang itu masih juga berdebar-debar.

Rasa-rasanya mereka akan memasuki sebuah kandang harimau putih yang paling garang, mempunyai kulit yang kebal sebagaimana pernah mereka dengar dalam ceritera-ceritera. Bahkan menurut ceritera Ki Patih Mantahun, bahwa salah satu kekuatan aji Adipati Pajang adalah aji Macan Putih, disamping aji Lembu Sekilan dan Tameng Waja yang diwarisinya dari mertuanya, Kanjeng Sultan Trenggana.

Namun keempat orang itu berharap bahwa dalam keadaan tidur, semua aji itu tidak diterapkannya, karena ia merasa bahwa barak itu telah dijaga dengan kuatnya.

Sejenak kemudian, maka keempat orang itu pun telah merayap sejengkal demi sejengkal mendekati pintu. Mereka harus meyakinkan tentang kedua orang prajurit yang tertidur itu.

Demikianlah seorang di antara keempat orang itu pun telah merangkak mendekati kedua orang prajurit yang tidur tersandar dinding. Kedua tombak dari kedua prajurit tersandar pula.

Dengan mendengarkan pernafasannya dan bahkan kemudian meraba tubuhnya, maka orang yang mendekatinya itu pun yakin bahwa keduanya tertidur tanpa mungkin bangun dalam waktu dekat.

Pemimpin kelompok itu pun mengangguk-angguk ketika ia mendapat isyarat dari orang yang sudah berada di depan pintu itu.

Keempat orang itu pun kemudian telah berada didepan pintu pula. Mereka tidak mematikan obor yang terpancang di atas pintu, agar jika masih juga ada orang yang terbangun dan melihat dari kejauhan tidak menjadi curiga karenanya.

“Kita akan masuk?” berkata pemimpin kelompok itu.

“Ya. Kita akan masuk,” desis yang lain.

Mereka pun perlahan-lahan mencoba membuka pintu. Ternyata pintu diselerak dari dalam.

“Apakah kita akan memecahkan pintu?” bertanya salah seorang dari keempat orang itu.

“Tidak,” jawab pemimpin kelompok. “Dengan demikian kita akan membuat kisruh.

Keretak selarak pintu yang patah mungkin akan dapat membangunkan Adipati Pajang itu sendiri.”

Kawan-kawannya mengangguk-angguk. Namun seorang di antara mereka bertanya, “Lalu apakah yang akan kita lakukan?”

“Kau dapat berlaku seperti pencuri. Kau masuk ke dalam barak dengan menggali bebatur di bawah dinding,” berkata pemimpinnya.

Kawannya tidak membantah. Ia sadar, bahwa dalam keadaan yang demikian, mereka harus bekerja sama sebaik-baiknya. Waktu mereka tidak terlalu banyak.

Sejenak kemudian, maka seorang di antara mereka telah menggali tanah dibawah

dinding bambu sebuah bangunan baru yang ternyata adalah barak kecil yang dipergunakan oleh Adipati Pajang itu sendiri.

Untuk menggali itu memang diperlukan waktu. Tetapi karena hal itu sudah sering dilakukannya pada saat orang itu masih melakukan pencurian dahulu, maka pekerjaan itu termasuk cepat pula selesai. Apalagi tanah memang tidak begitu

keras.

Dari lubang itulah maka orang yang menggali itu masuk. Sejenak kemudian, maka selarak pintu pun telah terangkat dan pintu itu sudah terbuka.

“Terima kasih,” berkata pemimpin kelompok. “Mari jangan membuang waktu.”

Keempat orang itu pun kemudian memasuki barak kecil itu, sementara pintu pun telah ditutup kembali dari dalam.

Sejenak keempat orang itu termangu-mangu. Mereka berdiri disebuah ruang yang sempit. Sementara itu, mereka menghadapi sebuah pintu lagi yang tertutup.

Seorang di antara keempat orang itu telah meraba pintu yang tertutup itu.

Kemudian ia pun berdesis, “Sebuah pintu lereg.”

“Apakah pintu itu juga diselarak?” bertanya pemimpin kelompoknya.

Orang itu meraba pintu itu mencoba untuk mendorongnya, karena pintu itu harus digeser menyamping jika hendak dibuka.

Ternyata pintu itu tidak diselarak. Karena itu, maka dengan sangat hati-hati pintu itu pun telah dibuka.

mohon maaf lagi….memang begitu dapatnya…

Keempat orang itu mengangkat wajahnya ketika mereka mendengar suara kentongan di kejauhan. Seorang di antara mereka berbisik, “Kentongan manakah yang berbunyi itu?”

“Cukup jauh,” jawab pemimpin kelompoknya. “Jangan hiraukan.”

Kawannya tidak menjawab lagi. Sementara itu, maka kedua orang yang sudah ditentukan termasuk pemimpin kelompok itu pun telah mendekati pintu. Mereka masing-masing telah menggengam keris telanjang di tangannya, sementara dua orang

yang lain akan menjaga di luar pintu. Mereka pun telah menggenggam keris pula di tangan masing-masing.

Pemimpin kelompok itu telah mulai meraba pintu. Dicobanya untuk mendorong ke samping. Namun orang itu menarik nafas dalam-dalam. Pintu itu pun tidak diselarak dari dalam.

Tetapi justru demikian itu, ketika pintu mulai bergerak tangannya pun menjadi gemetar. Karena itu, maka pintu itu pun dilepaskannya sambil menarik nafas dalam-dalam.

Kawan-kawannya hanya termangu-mangu saja memperhatikan pemimpin kelompok yang nampaknya memang menjadi sangat tegang itu. Mereka menyadari apa yang bergejolak di dalam jantungnya, sebagaimana di dalam jantung mereka masing-masing

Dalam pada itu, suara bajangkerek rasa-rasanya menjadi semakin keras. Semakin hening suasana malam, maka suara itu menjadi semakin jelas dan bahkan semakin ngelangut. Apalagi bagi mereka yang pernah mendengar ceritera tentang terjadinya bajangkerek itu.

Untuk beberapa saat orang-orang di dalam kelompok itu yang menjadi utusan Ki Patih Mantahun itu bagaikan membeku. Namun pemimpin kelompok itu segera menyadari apa yang terjadi. Karena itu, maka tiba-tiba ia pun berdesis,

“Marilah. Tabahkan hati kalian, sebagaimana harus aku lakukan.”

Sekali lagi orang itu memegang daun pintu lereg. Tetapi tangan itu sudah tidak bergetar lagi.

Perlahan-lahan orang itu mendorong pintu ke samping. Ketika celah-celah pintu itu menjadi semakin lebar, maka jantungnya memang bergejolak semakin keras.

Mereka berempat kemudian melihat Adipati Hadiwijaya itu tidur dengan berselimut kain panjang. Justru membelakangi pintu yang sudah terbuka itu.

Untuk beberapa saat lamanya keempat orang itu berusaha menenangkan gejolak jantung mereka. Baru kemudian pemimpin kelompok serta seorang lagi yang ditugaskannya untuk memasuki bilik itu bersamanya mulai melangkah masuk.

Perlahan-lahan dan sangat berhati-hati.

Adipati Hadiwijaya itu tidak boleh terbangun dan apalagi sempat membangunkan aji Macan Putihnya atau ajinya yang lain yang dapat membuatnya kebal.

Beberapa langkah dibelakang Adipati Pajang yang membelakangi pintu itu, kedua orang itu berhenti. Mereka pun telah membuat ancang-ancang dan mengeterapkan semua ilmu dan kemampuan yang ada pada mereka. Keris ditangan mereka mulai

bergetar. Bahkan seakan-akan keris itu mulai membara. Keris yang seolah-olah merasa sangat kehausan itu pun kemudian telah siap menerkam mangsanya serta menghisap darahnya.

Sejenak kemudian berdiri tegak. Namun sejenak kemudian maka keduanyapun telah meloncat menerkam dengan ujung keris masing-masing.

Suara bajangkrek diluar menjadi semakin keras. Seakan-akan menjerit kesakitan meskipun tikaman keris itu mengenai Adipati Pajang dan sama sekali tidak menyentuh bajangkrek itu.

Namun kedua orang itu menjadi heran dan bahkan kemudian menjadi berdebar-debar dan kebingungan. Ujung keris mereka sama sekali tidak mampu menembus kulit Adipati Pajang itu.

Namun keduanya tidak putus asa. Dengan mengerahkan segenap kekuatan dan tenaga mereka mengulangi lagi, menghujamkan keris di tangan mereka ke tubuh Adipati Pajang yang nampaknya tertidur lelap itu.

Tetapi keris itu pun sama sekali tidak berhasil melukai kulit Adipati Pajang.

Bahkan ternyata hiruk pikuk itu justru telah membangunkannya.

Ketika Adipati Pajang menyingkapkan selimutnya dan ujung kain panjangnya mengenai kedua orang yang sedang berusaha membunuhnya itu, maka rasa-rasanya kedua orang itu telah tertimpa setumpuk batu padas yang runtuh dari tebing pegunungan.

Karena itu, maka keduanya telah terlempar dan terbanting jatuh sampai ke depan pintu bilik itu. Kedua kawannya yang berada diluar, ketika mendengar kedua kawannya jatuh terguling dilantai, telah meloncat pula menjenguknya. Namun yang mereka lihat adalah, kedua kawannya itu telah terkapar dilantai. Dengan susah payah keduanya berusaha untuk bangkit berdiri, sementara keduanya justru telah mendorong kawan-kawannya yang datang membantunya itu untuk keluar dari dalam bilik itu.

Kedua kawannya yang sedang menolong itu pun menyadari keadaan ketika mereka melihat Adipati Pajang itu bangkit dari tidurnya dan kemudian duduk dibibir pembaringannya itu.

Karena itu maka dengan tergesa-gesa mereka keluar dari bilik itu dan berusaha untuk berlari ke pintu keluar.

Namun sekali lagi mereka terkejut. Ketika mereka berada di ruang tengah, maka dihadapan mereka telah berdiri dua orang dengan tangan bersilang didada.

Hampir di luar sadarnya, salah seorang di antara keempat orang itu berdesis, “Ki

Pemanahan dan Ki Penjawi.”

“Kau mengenal aku?” bertanya Ki Pemanahan.

“Ya. Aku mengenal tuan berdua,” suara orang itu mulai gemetar.

Namun pemimpin kelompok kecil itu dengan cepat menguasai diri sambil menggeram, “Jangan mencoba menghalangi kami.”

Tetapi Ki Pemanahan dan Ki Penjawi itu tertawa. Sementara Ki Pemanahan itu pun bertanya, “Apakah kalian berhasil membunuh Kanjeng Adipati?”

Pemimpin kelompok itu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian terdengar jawabannya, “Minggir, atau kerisku akan menghisap darah kalian.”

“Jangan keras kepala,” sahut Ki Penjawi. “Kalian telah terkepung. Seandainya kalian lolos dari pintu ini, maka diluar, prajurit Pajang telah siap untuk menghujani kalian dengan ujung senjata.”

“Aku tidak peduli,” jawab orang itu.

“Tenanglah. Lihatlah dibelakangmu. Kanjeng Adipati telah turun dari peraduan.

Kalian hampir pingsan terkena ujung kain panjangnya, apalagi jika Kanjeng Adipati dengan sengaja berbuat sesutau atas kalian.”

Wajah keempat orang itu menjadi semakin tegang. Mereka menyadari dengan siapa mereka berhadapan. Ki Pemanahan dan Ki Penjawi adalah dua orang Panglima yang sangat disegani oleh siapapun juga. Mereka memiliki kemampuan yang sangat tinggi pula. Apalagi Kanjeng Adipati Hadiwijaya itu pun telah berada dibelakangnya pula.

“Nah,” bertanya Ki Pemanahan. “Apakah kalian masih akan melawan?”

Pemimpin kelompok kecil utusan Ki Patih Mantahun yang akan membunuh Kanjeng Adipati itu pun memandangi wajah kawan-kawannya. Nampaknya wajah-wajah itu telah diwarnai dengan keputusasaan. Apakah yang akan mereka lakukan tidak akan memberikan arti apa-apa. Mereka memang sudah merasakan, ujung kain panjang Adipati Pajang itu telah mendorong mereka sehingga mereka jatuh terbanting dilantai.

Sementara itu terdengar Adipati Pajang berkata, “Sudahlah. Jangan kau risaukan apa yang telah terjadi. Duduklah.

mohon maaf….terpotong sebagian…

Ki Rangga tersenyum. Katanya, “Setelah hari ini lewat, kita akan memperbanyak gelombang serangan-serangan. Kitalah yang akan menentukan, kapan kita bertempur dan kapan kita beristirahat. Kita pula yang akan menghitung berapa orang di satu hari telah kita bunuh di antara prajurit Pajang, sehingga akhirnya prajurit Pajang itu akan habis sendirinya, dan kita akan menduduki Pajang. Jika terjadi

demikian, maka pasukan Pajang di tepi Bengawan Sore akan terkejut dan kehilangan gairahnya untuk bertempur, sehingga Jipang akan dengan mudah menumpas mereka, seperti memijit buah ranti.” Sementara itu Ki Randukeling berkata, “Tugas kita belum selesai seandainya Pajang pecah. Kita masih harus merebut kembali Tanah Perdikan Sembojan.”

“O,” Ki Rangga tertawa. “Apakah artinya Sembojan? Tidak ada sepenginang Sembojan akan dapat kita selesaikan.”

Ki Randukeling mengerutkan keningnya. Katanya, “Ki Rangga ternyata tidak mempunyai gambaran yang benar tentang Tanah Perdikan Sembojan.”

“Ah,” Ki Rangga mengerutkan keningnya. “Bertanyalah kepada Warsi, isteri pemangku jabatan Kepala Tanah Perdikan Sembojan atau bertanyalah kepada Ki Wiradana sendiri.”

Ki Randukeling tidak menjawab langsung. Tetapi ia pun kemudian berdesis, “Kita akan melihat, apa yang kelak terjadi jika kalian tidak mau melihat kenyataan.”

Warsi pun kemudian menyahut, “Kakek benar-benar telah menjadi orang tua.”

Ki Randukeling memandang Warsi dengan tajamnya. Kemudian katanya, “Jadi buat apa kau libatkan aku ke dalam persoalan ini jika kau anggap aku sudah terlalu tua?”

Wajah Warsi tiba-tiba menjadi tegang. Namun kemudian katanya, “Maafkan aku kakek. Aku tidak bermaksud menyakiti hati kakek. Agaknya aku terlalu percaya kepada kekuatan yang ada pada kita sekarang, sehingga aku terlalu yakin akan dapat berbuat apapun juga atas Tanah Perdikan Sembojan yang sudah tidak mempunyai kekuatan lagi. Apalagi dengan bantuan kekuatan Jipang.”

“Kebanggaan diri yang berlebihan akan merugikan diri sendiri,” berkata Ki Randukeling. “Tetapi sudahlah. Kita akan membicarakannya kemudian. Kita sekarang sedang menunggu kehadiran pasukan Pajang.”

Senapati Jipang yang memimpin prajurit-prajurit Jipang di padukuhan itu pun kemudian berkata, “Persoalan Tanah Perdikan Sembojan adalah persoalan yang kecil dibandingkan dengan persoalan yang kita hadapi sekarang.”

“Ya. Tetapi Jipang harus mempunyai landasan di daerah Selatan. Bahkan seandainya Pajang telah diduduki, namun aku tidak yakin jika Pajang menyerah bersama seluruh rakyatnya,” jawab Ki Randukeling. Namun kemudian, “Tetapi sudahlah.

Pasukan Pajang sudah mulai bergerak mendekati padukuhan ini.”

Senapati itu pun kemudian bergeser selangkah mendekati dinding padukuhan.

Diamatinya gerak pasukan Pajang dalam gelar yang mendekati padukuhan itu.

“Bunyikan isyarat,” perintah Senapati itu.

Sejenak kemudian telah terdengar isyarat kentongan kecil dengan irama dua-dua ganda. Sementara itu, pasukan Pajang dalam gelar telah menjadi semakin dekat.

Namun pasukan Pajang saat itu tidak melengkapi gelarnya dengan pertanda-pertanda kebesaran. Tanpa rontek dan umbul-umbul, kecuali tunggul pertanda pasukannya dengan panji-panjinya.

Pasukan Pajang itu pun juga mendengar isyarat yang dibunyikan oleh pasukan Jipang. Tetapi pasukan Pajang itu memang sudah mengira, jika kehadirannya sudah diketahui oleh pasukan Jipang. Karena itu suara isyarat itu tidak mengejutkannya.

Beberapa saat, pasukan Pajang itu kemudian telah memasang pelindung di baris paling depan. Mereka yang membawa perisai akan berada di barisan pertama. Jipang akan menyambut mereka dengan anak panah dan lembing yang dilontarkan dari balik dinding padukuhan yang tidak begitu tinggi dan dari balik pepohonan dan rumpun-rumpun bambu.

Ketika pasukan Pajang itu hanya tinggal beberapa langkah saja dari dinding padukuhan, maka terdengar isyarat titir yang memanjang.

Satu isyarat yang menggantikan bunyi bende tiga kali berturut-turut. Isyarat bahwa pasukan Jipang harus segera mulai menyambut kedatangan pasukan Pajang itu.

Dengan isyarat itu, maka sebagaimana diperhitungkan oleh pasukan Pajang, anak panah dan lembing pun mulai meluncur dari balik dinding dan pepohonan. Karena itu, maka pasukan Pajang itu pun telah berlindung dibalik perisai yang tersusun rapat. Sehingga dengan demikian maka pasukan Pajang itu seakan-akan tidak terhambat sama sekali.

Meskipun demikian, ada juga lembing dan anak panah yang sempat menyusup dibawah perisai dan mengenai kaki prajurit Pajang.

Tiga orang prajurit Pajang yang belum mencapai batas pertempuran harus sudah keluar dari gelar. Mereka segera mendapat perawatan. Ujung anak panah dan lembing telah melukai kaki mereka sehingga seakan-akan mereka tidak lagi mampu melangkah terus.

Tetapi setelah mendapat sedikit pengobatan dan darahpun menjadi pampat, maka mereka telah bangkit sambil berkata, “Aku akan menyusul pasukan itu.”

“Tunggu,” sahut yang merawat.

“Biarlah darahmu tidak keluar lagi dari luka. Kalian harus beristirahat barang sejenak. Pertempuran itu tidak akan segera berakhir. Bahkan mungkin akan memerlukan waktu lama sehingga saatnya matahari terbenam.”

Ketiga orang itu tidak memaksa. Tetapi rasa-rasanya mereka tidak sabar menunggu sampai saat yang diperkenankan oleh orang yang mendapat tugas merawat mereka.

Dalam pada itu, pasukan Pajang telah mencapai dinding padukuhan. Dengan demikian, maka anak panah pun tidak lagi dapat dipergunakan dengan baik. Karena itu, maka para prajurit Jipang dan anak-anak muda Tanah Perdikan Sembojan yang membawa busur telah diletakkannya. Mereka telah mencabut pedangnya dan dengan

tangkasnya mereka menyambut kedatangan pasukan Pajang.

Sejenak kemudian pertempuran pun berlangsung dengan sengitnya. Pasukan dari kedua belah pihak telah bertempur di batas dinding padukuhan. Pasukan Pajang memang telah mendapat pesan dari para Senapati dan pemimpin kelompok agar mereka tidak terlalu dalam terlibat ke dalam pertempuran di dalam dinding padukuhan.

Mereka justru harus berusaha memancing orang-orang Jipang untuk keluar dari padukuhan.

Bahkan sesuai dengan rencana, maka gelar pasukan Pajang itu telah bergerak justru surut beberapa langkah. Ketika tunggul pasukannya terangkat dan panji-panjipun terayun-ayun, terdengar isyarat dari mulut para pemimpin kelompok agar pasukan Pajang itu mundur.

Gerak itu ternyata telah berhasil memancing pasukan Jipang keluar dari dinding padukuhan. Mereka berloncatan menyerang dan berusaha mendesak pasukan Pajang lebih jauh.

Tetapi ternyata beberapa langkah dari dinding padukuhan, Pasukan Pajang itu berhenti. Gerak mundurnya tidak lagi dilanjutkannya. Bahkan pasukan itu seakan-akan telah menemukan tempat untuk bertumpu dengan kuatnya.

Kedua belah pihak pun kemudian telah meningkatkan kemampuan mereka. Namun mereka masih mengekang diri, karena mereka menyadari bahwa pertempuran itu akan berlangsung cukup lama.

Sementara itu beberapa orang perwira Pajang memang sudah berada di dalam kelompok-kelompok kecil. Tetapi mereka belum mulai bergerak karena mereka belum menemukan tekanan yang berat dari Ki Randukeling dan para pemimpin dari Tanah Perdikan Sembojan yang lain, namun yang tidak diakuinya di Sembojan sendiri.

Namun dalam pada itu, ternyata orang-orang dari Tanah Perdikan Sembojan telah menentukan sikapnya yang lain. Ki Randukeling telah berada di dalam satu kelompok bersama Ki Rangga Gupita, Warsi, ayah Warsi, Ki Wiradana dan orang yang pernah diaku sebagai ayah Warsi itu. Sementara itu, anak-anak muda yang telah memiliki kemampuan sebagaimana seorang prajurit telah bertempur dengan tangkasnya pula.

Ternyata Ki Randukeling dan para pemimpin dari anak-anak muda Tanah Perdikan

Sembojan yang berpihak kepada Jipang itu melakukan sebagaiman dikatakan. Mereka sama sekali tidak mengekang diri lagi. Ketika mereka membentur pasukan Pajang maka mereka pun telah bersiap untuk membunuh.

Kelompok yang terdiri dari raksasa-raksasa di dalam olah kanuragan itu mengikuti gerak maju pasukan Jipang yang terpancing keluar dari padukuhan. Ketika pasukan

Pajang mulai memantapkan garis pertempuran, maka Ki Randukeling pun berkata,

“Kita akan mulai. Tidak ada lagi keragu-raguan.”

“Ya,” sahut Ki Rangga, “Tidak ada belas kasihan dan pengekangan diri. Tetapi harus berlaku juga bagi Ki Randukeling.”

Ki Randukeling mengangguk-angguk kecil. Namun kebesarannya sebagai seorang pertapa memang telah membuatnya ragu-ragu meskipun ia telah menyatakan tidak ada keragu-raguan. Sebagai seorang yang memiliki ilmu yang sangat tinggi, apakah ia akan membunuh para prajurit kebanyakan yang berlandaskan pada ilmu keprajuritannya tanpa ilmu yang lain.

Namun terdengar Ki Rangga berkata, “Marilah Ki Randukeling. Kita akan berada di medan.”

“Marilah kakek,” Warsi mengajaknya pula. “Seperti yang kakek katakan. Tidak ada keragu-raguan.”

Ki Randukeling mengangguk-angguk. Katanya, “Marilah, mulailah.”

“Baiklah,” berkata Ki Rangga. “Aku akan mulai.”

Ki Rangga pun kemudian telah menarik tangan Warsi sambil berkata, “Marilah. Kita merupakan pasangan yang paling menakutkan di medan perang.”

Dengan gerak naluriah Warsi berpaling kepada Ki Wiradana. Bagaimanapun juga, laki-laki itu adalah suaminya. namun ia pun segera meninggalkannya dan memasuki medan bersama Ki Rangga.”

Wiradana termangu-mangu. Namun tiba-tiba sepasang tangan telah mendorongnya sambil berkata, “Marilah. Kau tidak usah sakit hati melihat istrimu berpasangan dengan orang yang memiliki ilmu yang seimbang dengannya di peperangan. Tidak di dalam bilik. Majulah sesuai dengan rencana. Kita akan berada di dalam satu kelompok.”

Ki Wiradana bagaikan terbangun dari mimpinya. Dipandanginya wajah ayah Warsi dengan jantung yang berdenyut semakin cepat.

“Apalagi yang kau pikirkan,” bentak ayah Warsi.

Namun dalam pada itu terdengar suara lain, “Ia adalah pemangku jabatan Kepala Tanah Perdikan.”

Ki Wiradana dan ayah Warsi itu berpaling. Ki Randukeling berdiri tegak sambil memandang ayah Warsi itu dengan tajamnya.

Ayah Warsi itu tidak menjawab. Tetapi iapun kemudian melangkah menyusul Warsi ke medan.

“Marilah,” ajak Ki Randukeling kemudian. “Kita akan melakukan satu permainan yang mengejutkan bagi Pajang.”

Ki Wiradana menarik nafas dalam-dalam. Jawabannya bagaikan tidak sadar, “Marilah kakek. Aku sudah siap.”

Keduanya pun kemudian telah melangkah pula memasuki medan. Mereka harus berada dalam satu kelompok sebagaimana sudah direncanakan.

Namun dalam pada itu, ternyata Rangga Gupita dan Warsi telah lebih dahulu menyerang para prajurit Pajang. Tetapi seorang pemimpin kelompok yang telah melihat kehadirannya telah memerintahkan seorang penghubung memberikan isyarat bahwa di tempat itu terdapat orang-orang Jipang yang memerlukan perhatian.

Sementara itu, maka sekelompok prajurit telah berusaha membatasi gerak Ki Rangga dan Warsi. Tetapi keduanya teryata benar-benar telah mengamuk seperti serigala yang kelaparan.

Para prajurit Pajang memang mengalami kesulitan. Kedua orang itu ternyata benar-benar memiliki ilmu yang sangat tinggi bagi para prajurit kebanyakan.

Karena itulah, maka dalam waktu yang singkat, maka seorang prajurit Pajang telah terluka lengannya. Bahkan sekejap kemudian yang lain pun telah menyeraingai pula menahan pedih di pundaknya.

Namun dalam pada itu, isyarat yang diberikan oleh penghubung itu pun segera ditangkap oleh Senapati yang memerintahkan para perwira yang memiliki landasan ilmu yang lebih baik dari para prajurit untuk mendekati medan yang dianggap berbahaya itu.

“Isyarat itu tidak mengatakan bahwa yang datang adalah Ki Randukeling,” berkata Senapati itu kepada Kiai Soka dan Gandar.

mohon maaf….terpotong sebagian…

“Itu tidak menentukan Ki Sanak,” berkata Kiai Soka. “Kalamerta mampu dikalahkan oleh Ki Gede Sembojan, tetapi anak Ki Gede yang bernama Wiradana itu sama sekali tidak mampu menunjukkan kemampuan ilmu warisan ayahnya. Karena itu, maka ia telah menjadi budak keturunan Kalamerta yang membalas dendam. Semula oleh senyuman, tetapi kemudian benar-benar oleh ilmunya.” Ki Randukeling mengangguk-angguk. Katanya, “Baiklah. Sekarang apa yang akan kita lakukan?”

“Terserah kepada Ki Sanak,” jawab Kiai Soka. “Kita sudah berada dipeperangan,” berkata Ki Randukeling. Kiai Soka mengangguk kecil. Katanya, “Aku siap berbuat apa saja sekarang.”

“Kita akan bertempur. Tetapi aku setuju bahwa semuanya akan ditentukan kemudian

di Tanah Perdikan Sembojan,” jawab Ki Randukeling.

Demikianlah, maka keduanya pun telah bersiap. Namun agaknya Ki Rangga Gupita yang melihat Ki Randukeling lebih banyak berbicara itu berteriak, “Marilah Ki Randukeling. Tanpa keragu-raguan dan tanpa belas kasihan.”

Ki Randukeling tidak menjawab. Tetapi teriakan itu mendorong untuk bertempur.

Meskipun demikian, maka Ki Randukeling memang tidak berharap untuk dapat membunuh Kiai Soka dan sebaliknya.

Meskipun demikian keduanya memang telah berusaha untuk saling menjajagi.

Keduanya mulai melepaskan ilmu-ilmu mereka meskipun tidak sampai ke puncak.

Dengan demikian maka keseimbangan pertempuran itu pun memang berubah. Ki Rangga Gupita tidak lagi mempunyai kawan yang dapat mengimbanginya dalam sebuah kelompok. Meskipun ayah Warsi juga bertempur dengan garang, tetapi tanpa Warsi, Ki Rangga menjadi kecewa.

Meskipun demikian ia benar-benar telah bertempur sebagaimana direncanakan. Tanpa ragu-ragu. Namun kemudian ia lebih suka bertempur sendiri.

Dengan demikian, maka perwira dari Pajang menjadi lebih mudah menghadapinya.

Demikian juga menghadapi ayah Warsi, Ki Wiradana dan orang-orang lainnya yang memiliki kelebihan dari prajurit kebanyakan.

Dalam pada itu, pertempuran itu masih berlangsung terus. Ditempat-tempat tertentu, pasukan Pajang masih terus menekan pasukan Jipang, karena pasukan Pajang memang lebih banyak jumlahnya. Sementara itu, para pemimpin dari pasukan Tanah Perdikan Sembojan seakan-akan telah berkumpul menjadi satu kelompok yang ternyata tidak dapat melakukan rencana mereka, karena kehadiran Kiai Soka dan Gandar.

Namun demikian pasukan Pajang menekan semakin kuat lawannya, maka bantuan dari

padukuhan sebelah pun telah datang. Sepasukan prajurit Jipang yang diantaranya juga terdiri dari anak-anak muda dari Tanah Perdikan Sembojan telah memasuki arena pertempuran.

Tetapi Senapati Pajang yang memimpin gelombang penyerangan itu tidak menjadi cemas. Ia sudah mendapat laporan tentang medan dalam keseluruhan, sehingga dengan demikian maka ia dapat membuat perhitungan-perhitungan tertentu.

Meskipun demikian tetapi kehadiran kekuatan baru pada pasukan Jipang telah memberikan perubahan atas keseluruhan perang gelar itu. Dengan demikian maka para pemimpin kelompok dari para prajurit Pajang harus memberikan aba-aba untuk menentukan imbangan kekuatan dari pasukannya dihadapan para prajurit Jipang.

Dalam pada itu, karena Ki Randukeling dan Warsi telah menemukan lawan masing-masing, maka sebagian dari para perwira Jipang yang dipersiapkan telah mendapat kesempatan untuk berada ditempat itu. Bahkan mereka pun berusaha untuk menebar dan berada di antara para prajurit.

Ki Rangga Gupita lah yang mengumpat-umpat tidak habis-habisnya. Dengan mengerahkan kemampuan dan ilmunya ia memang berusaha untuk membunuh sebanyak-banyaknya.

Namun tiga orang prajurit terpilih Pajang menghadapinya dengan keberanian yang mengagumkan.

Ketiga orang Prajurit Pajang itu menyadari, bahwa Ki Rangga memiliki ilmu yang mendebarkan. Lewat sentuhan senjata ia mampu mengalirkan ilmunya, merambat dan menyengat telapak tangan lawannya.

mohon maaf….terpotong lagi…

“Lihat,” berkata Kiai Soka, “Pertahananmu bergeser mendekati padukuhan. Bukankah hal itu berarti bahwa Jipang terdesak?” Ki Randukeling tidak segera menjawab. Ia memang merasakan bahwa benturan gelar kedua pasukan itu bergeser mendekati padukuhan. Ketika Ki Randukeling menebarkan pandangannya ia berkata, “Apakah kau cukup berjiwa besar untuk memberi kesempatan kepadaku melihat medan?” “Silakan,”

berkata Kiai Soka. “Aku tidak akan mengganggumu.” Sebenarnyalah ketika Ki Randukeling menyaksikan medan, maka ia melihat bahwa pasukan Pajang telah berhasil mendesak lagi pasukan Jipang, meskipun pasukan Jipang sudah dibantu oleh pasukan yang datang dari padukuhan sebelah.

“Namun pasukan Jipang ini belum seluruhnya Kiai,” berkata Ki Randukeling. “Di padukuhan yang lain masih ada pasukan Jipang.”

“Ki Sanak jangan berpura-pura tidak tahu. Bukankah pasukan Pajang juga belum mengerahkan seluruh kekuatannya, hanya untuk sisi sebelah Timur?” bertanya Kiai Soka.

Ki Randukeling menarik nafas dalam-dalam. Namun sebenarnyalah penempatan kekuatan yang tepat telah mengguncang pertahanan pasukan Jipang. Namun yang terjadi itu belum merupakan ketentuan terakhir. Para perwira Jipang tidak membiarkan pasukannya terdesak. Karena itu, mereka pun berusaha untuk menilai, apa yang sebenarnya telah terjadi di medan yang menebar itu.

Beberapa orang penghubung sibuk mengumpulkan kenyataan-kenyataan yang terjadi di medan. Kenyataan yang sepenuhnya tanpa ditambah dan dikurangi. Dengan demikian maka para perwira Jipang akan dapat menentukan sikapnya menghadapi pasukan Pajang yang kuat itu, apalagi dengan perhitungan yang sangat cermat dan menentukan.

Sebenarnya bahwa pasukan Jipang tidak akan dapat bertahan terlalu lama. Pasukan Pajang dengan kuat telah menekan pasukan Jipang itu, sehingga semakin lama menjadi semakin mendekati dinding padukuhan.

Senapati Jipang yang memimpin pasukan itu tidak dapat berbuat lain kecuali memberikan isyarat, agar pasukan Jipang memasuki padukuhan dan bertahan dibelakang dinding. Sementara itu pasukan yang khusus harus meloncat lebih dahulu, menyediakan lembing dan tombak panjang untuk menghalau orang-orang Pajang seandainya mereka akan mengejar dan mendesak pasukan Jipang dengan memasuki padukuhan itu.

Sementara itu Kiai Soka dan Ki Randukeling yang masih saling menjajagi itu masih sempat pula berbincang. Dengan nada datar Ki Randukeling berdesis, “Sudahlah Kiai. Pasukan Jipang memang harus ditarik. Agaknya Senapati Jipang sudah memberikan isyarat.”

“Silakan,” jawab Kiai Soka. “Pada suatu saat kita akan bertemu lagi. Mungkin aku memanggil kekuatan dari Tanah Perdikan Sembojan untuk menghancurkan pemberontak di Tanah Perdikan itu disini, atau kami harus menunggu pemberontak itu datang kembali ke Tanah Perdikan dalam ujud yang bagaimanapun juga, karena kami menyadari, bahwa di samping kemungkinan bantuan orang-orang Jipang, maka kalian mempunyai kekuatan gerombolan Kalamerta yang tersisa, yang jika perlu akan dapat kalian himpun kembali.”

“Syukurlah jika kalian dapat membayangkan kekuatan yang akan dapat menghantui Tanah Perdikan itu,” berkata Ki Randukeling. “Tetapi baiklah aku akan mentaati perintah Senapati pasukan Jipang itu.”

Dalam pada itu, maka sekelompok orang yang khusus telah berada di dalam dinding padukuhan dengan tombak-tombak dan lembing-lembing yang panjang. Dalam keadaan yang gelisah, maka isyarat telah diberikan kepada pasukan Jipang untuk menarik diri ke dalam dinding padukuhan.

Warsi mengumpat sejadi-jadinya. Ia belum berhasil membunuh Gandar. Namun Warsi pun tidak dapat ingkar, bahwa untuk membunuh Gandar bukanlah pekerjaan yang dapat dilakukan sebagaimana direncanakannya sendiri, karena Gandar ternyata memiliki kemampuan yang sangat tinggi pula.

Dalam pada itu, pasukan Jipang perlahan-lahan telah ditarik ke dalam dinding padukuhan. Para perwira Jipang mulai menyadari bahwa mereka agaknya telah terpancing keluar yang ternyata pertempuran yang kemudian terjadi sama sekali tidak menguntungkan mereka.

Sementara itu, Gandar pun harus menahan diri, agar ia tidak terlibat ke dalam pertempuran antara hidup dan mati dengan Warsi. Karena itu, maka Gandar pun tidak memburunya. Dilepaskannya Warsi surut ke belakang sebagaimana gelar pasukan Jipang. Sekelompok demi sekelompok pasukan Jipang itu telah meloncati dan memasuki dinding padukuhan, sementara itu, sekelompok di antara mereka yang telah mendahului, telah siap dengan lembing dan tombak ditangan.

Senapati yang memimpin pasukan Pajang pun telah memberikan isyarat pula agar pasukan Pajang tidak memasuki dinding padukuhan. Tugas mereka memang tidak harus mengusir pasukan Jipang dari padukuhan itu. Tetapi pasukan Pajang itu hanya sekadar menunjukkan bahwa Pajang masih tetap memiliki kemampuan yang tinggi untuk mengatasi kehadiran pasukan Jipang di Pajang.

Namun dalam pada itu, Gandar masih sempat berteriak dengan suara yang menggetarkan udara, “Anak-anak dari Tanah Perdikan Sembojan. Masih ada kesempatan bagi kalian. Siapa yang menyadari kesalahannya dalam langkah ini dan kembali kepada kesadaran diri, maka kalian akan diampuni. Ayah dan ibu kalian di Tanah Perdikan telah menyerahkan persoalan kalain kepada kami. Tetapi ketahuilah bahwa mereka telah meratapi kalian yang sesat siang dan malam. Jika air mata ibu kalian menjadi kering, maka mereka pun telah kehilangan harapan untuk dapat bertemu lagi dengan kalian, karena kalian akan menjadi mayat di medan pertempuran ini yang sebenarnya tidak kalian mengerti maknanya.”

“Tutup mulutmu orang gila,” bentak Warsi.

Namun Gandar masih juga berteriak, “Sadari. Apa yang sebenarnya terjadi atas kalian di bawah kekuasan perempuan yang tidak lebih dan tidak kurang adalah penari jalanan. Tidak semua penari jalanan bernilai rendah seperti perempuan itu. Tetapi perempuan itu adalah penari jalanan yang tidak bermartabat.”

Suara Gandar terputus. Sebuah lembing meluncur hampir saja menyambar dadanya.

Karena itu, maka ia pun harus bergeser selangkah ke samping.

Ketika ia memperhatikan arah lembing itu, maka ia pun melihat Ki Rangga Gupita berdiri di atas dinding padukuhan dengan wajah yang merah membara.

Gandar justru tertawa. Tetapi ia pun terikat kepada perintah Senapati pasukan Pajang yang memberi isyarat agar Pajang pun mulai menarik pasukannya.

Sementara Pajang bersiap-siap, maka Kiai Soka melihat Ki Randukeling pun duduk di atas dinding padukuhan. Orang tua itu tersenyum sambil melontarkan suaranya yang tidak terlalu keras, tetapi menggetarkan selaput telinga Kiai Soka. “Sampai disini pertempuan kita hari ini Kiai. Bukankah kita sudah saling dapat mengenali lebih banyak lagi daripada pertemuan kita di Tanah Perdikan Sembojan waktu itu?”

“Ya,” jawab Kiai Soka dengan cara yang sama. “Pertemuan kita mendatanglah yang akan menentukan.”

Ki Randukeling dan Kiai Soka tertawa. Namun mereka tidak berbicara lagi.

Demikianlah, pasukan Pajang memang tidak berusaha untuk memasuki padukuhan.

Mereka menyadari bahwa pada dinding padukuhan itu terdapat ujung tombak yang memagarinya, sehingga pada saat pasukan itu meloncati dinding, maka terdapat kelemahan yang akan berakibat buruk bagi pasukan Pajang jika mereka memaksa untuk mendesak musuh.

Karena itulah, maka beberapa saat kemudian, pasukan Pajang telah menarik diri dari medan. Namun mereka sempat mencari dan merawat kawan-kawan mereka yang terluka dan bahkan ada di antara mereka yang ternyata telah gugur di pertempuran.

Para prajurit Pajang itu sama sekali tidak mengganggu para prajurit Jipang yang terluka. Namun ketika Gandar menemukan seorang anak muda Tanah Perdikan yang terbaring karena luka-luka yang parah, maka ia pun bertanya, “Siapa namamu?”

Anak muda itu memandanginya dengan penuh kebencian. Tetapi Kiai Soka yang kemudian berdiri disebelahnya bersama seorang perwira dari Pajang berkata, “Kami tidak akan berbuat apa-apa atasmu. Kami tahu bahwa kau tidak mampu berbuat lain daripada yang kau lakukan sekarang. Tetapi ketahuilah bahwa Tanah Perdikan Sembojan sekarang sudah bangkit dibawah pimpinan Iswari, istri Ki Wiradana yang tua, yang pernah dianggap hilang dari Tanah Perdikan, atas nama anak Ki Wiradana itu sendiri, yang kecuali lahir dari istri yang tua, saat kelahirannya pun lebih dahulu dari anak Warsi itu.”

Anak muda itu tidak menjawab. Tetapi sorot matanya masih saja menunjukkan sikap hatinya yang diwarnai oleh pengaruh para perwira dari Jipang.

Tetapi dengan sabar Kiai Soka masih berkata, “Baiklah. Kau masih mempunyai kesempatan untuk memikirkannya. Perbincangan dengan kawan-kawanmu, mungkin kalian menemukan satu sikap yang benar.”

Anak muda itu sama sekali tidak menjawab. Sementara itu Kiai Soka berkata,

“Baiklah. Kami minta diri. Sebentar lagi kawan-kawanmu akan datang untuk mengambilmu dan merawatmu.”

Kiai Soka dan Gandar pun kemudian meninggalkan anak muda itu. Namun ketika mereka bertemu lagi dengan seorang anak muda Tanah Perdikan yang terluka, mereka mempunyai kesan yang berbeda.

“Kau menangis?” bertanya Gandar kepada anak muda yang terbaring diam itu.

Anak muda itu tidak menjawab. Tetapi memang nampak dari matanya menitik ungkapan perasaannya.

“Marilah, ikut kami,” berkata Gandar.

“Aku tidak dapat bangkit,” desis anak muda itu.

Perwira Pajang yang bersamanya itu pun telah memerintahkan membawa anak muda itu bersama orang-orang Pajang yang terluka.

“Mungkin anak itu akan berarti bagi kita,” berkata perwira Pajang itu.

Tertanya anak muda itu tidak menolak.

Demikianlah, maka pasukan Pajang itu pun telah ditarik dari medan. Sebagaimana perintah yang diemban, maka pasukan itu memang tidak harus mendesak kedudukan Jipang. Tetapi mereka hanya sekadar mengguncang pasukan Jipang dan mengimbangi perintah Patih Kadipaten Jipang untuk meningkatkan kegiatan di semua medan.

Ternyata bahwa yang dilakukan oleh para prajurit Pajang itu memberikan kesan yang khusus bagi orang-orang Jipang dan anak-anak muda Tanah Perdikan Sembojan.

Terutama atas kehadiran dua orang keluarga Iswari, istri Ki Wiradana yang tua. Dalam pada itu, ketika pasukan Pajang sudah menjadi semakin menjauh, maka para prajurit Jipang pun telah mengirimkan petugas-petugasnya untuk merawat para prajurit Jipang dan anak-anak muda tanah Perdikan Sembojan yang terluka dan tidak mampu meninggalkan medan. Sebagaimana orang-orang Pajang, maka ada di antara prajurit Jipang dan anak-anak Tanah Perdikan Sembojan yang gugur pula di peperangan.

Pada saat para petugas itu sibuk mengangkat para korban, maka disebuah serambi rumah di padukuhan itu Ki Rangga Gupita mengumpat-umpat sejadi-jadinya. Sambil mengawasi gerak para prajurit, Ki Rangga berkata, “Iblis dari Tanah Perdikan itu memang harus dibinasakan. Sebenarnya aku ingin mendapat kesempatan itu.”

“Aku lebih berhak membunuhnya,” sahut Warsi. “Tetapi kesempatan yang hampir aku dapatkan itu lenyap bersama perintah pasukan Jipang menarik diri.”

Namun Ki Randukeling pun menyahut, “Jangan berkata begitu. Aku melihat apa yang terjadi. Tidak seorang pun di antara kalian berdua yang dapat membunuh Gandar itu. Ia memiliki kemampuan menurut pengamatanku setidak-tidaknya seimbang dengan kemampuan kalian sebagaimana aku dengan orang tua itu. Sebenarnya aku juga ingin membunuhnya. Tetapi sangat sulit aku lakukan, dan bahkan tidak mungkin untuk seperti sekarang ini.”

“Tetapi jika aku mendapat kesempatan, aku yakin dapat membunuhnya,” berkata Warsi. “Aku memiliki kemampuan Kalamerta.”

“Kau kira tidak ada kemampuan yang melampaui kemampuan Kalamerta? Marilah kita dengan jujur menilai sikap dan keadaan kita, agar kita dapat membuat perhitungan yang wajar dan justru akan memberikan hasil yang pasti. Seandainya Kalamerta itu tidak terkalahkan, maka ia tidak akan mati di tangan Ki Gede Sembojan yang kemudian telah dibunuh dengan licik,” berkata Ki Randukeling.

“Bukan dengan licik,” jawab Warsi. “Aku tidak dapat mengatakannya begitu, meskipun pembunuh itu tidak datang dan menantangnya perang tanding.”

Wiradana mendengarkan pembicaraan itu. Tetapi ia tidak dapat berbuat apa-apa. Ki Randukeling menarik nafas dalam-dalam. Tetapi kemudian katanya, “Baiklah. Semuanya akan menjadi pengalaman bagi kita. Namun aku berharap bahwa kita tidak mengingkari kenyataan tentang diri dan kemampuan orang-orang yang akan berhadapan dengan kita sehingga dengan demikian kita akan dapat membuat perhitungan-perhitungan yang benar. Jika kita terlalu berbangga akan diri kita sendiri, maka kita akan terjerumus ke dalam kesulitan.”

Warsi tidak menjawab. Betapa tidak senangnya Ki Rangga Gupita mendengar penjelasan Ki Randukeling yang selalu menunjuk kelemahan diri sendiri, namun Ki Rangga Gupita itu pun terdiam pula.

Sementara itu, beberapa orang prajurit Pajang masih sibuk untuk merawat kawan-kawan mereka yang terluka dan membawanya ke banjar padukuhan untuk mendapat pertolongan yang lebih baik. Sementara itu, mereka pun harus mengubur kawan-kawan mereka yang telah terbunuh di peperangan itu.

Sementara itu, langit pun telah mulai menjadi buram. Matahari telah tenggelam di balik pegunungan. Lampu-lampu minyak mulai dipasang. Namun di lingkungan prajurit Pajang maka lampu-lampu pun mengalami penghematan. Tidak semua rumah yang dipergunakan oleh para prajurit Jipang dibeberapa padukuhan memerlukan lampu. Bahkan di antara para prajurit itu lebih senang untuk tidur saja di luar rumah. Mereka membawa amben-amben bambu atau tikar-tikar pandan ke luar dan dibentangkan di sepanjang serambi atau bahkan di bawah pepohonan.

Udara yang kadang-kadang terasa panas di dalam rumah dan ruangan yang gelap membuat nafas mereka serasa sesak. Sehingga dengan demikian mereka merasa lebih lapang tidur di luar rumah. Bahkan dalam keadaan yang tergesa-gesa mereka akan dapat dengan cepat menyesuaikan diri dengan keadaan.

Namun demikian, di regol-regol padukuhan, masih juga terdapat obor-obor yang cukup terang. Di gardu para penjaga dan di tempat-tempat para perwira yang bertugas, lampu minyak menyala terang benderang.

Sementara itu, di tempat-tempat yang khusus, anak-anak muda Tanah Perdikan Sembojan sedang beristirahat di antara mereka. Ada yang berbaring dibentangan tikar pandan diserambi, ada yang berada di ruang dalam dengan lampu dlupak yang redup dan bahkan ada yang berkeliaran di halaman.

Namun hampir semua orang digelitik oleh peristiwa yang telah terjadi di medan pertempuran yang terjadi sebelumnya. Meskipun demikian jarang di antara anak-anak muda itu yang dengan terbuka membicarakannya. Apalagi jika di antara mereka terdapat prajurit-prajurit Jipang.

Meskipun demikian, ada juga sekelompok kecil anak-anak muda yang tidak dapat

menahan diri untuk berbicara tentang kehadiran Gandar dan Kiai Soka. “Aku telah

melihat mereka di antara kawan-kawan kita yang terluka di banjar,” berkata salah seorang dari anak-anak muda Tanah Perdikan itu mulai dengan pembicaraannya.

“Seorang di antara mereka sempat berbicara dengan Kiai Soka.” “Bagaimana mungkin ia mendapat kesempatan itu?” bertanya seorang kawannya.

“Ketika pasukan Pajang ditarik mundur, maka orang-orang kita yang terluka sama sekali tidak diusiknya. Di antaranya seorang kawan kita telah ditemui oleh orang-orang yang mengaku keluarga Iswari itu,” sahut anak muda yang pertama.

Nampaknya beberapa orang di dalam kelompok itu tertarik kepada ceritera itu. Seorang di antara mereka bertanya, “Apa yang dikatakannya?”

“Seperti yang diteriakkan oleh Gandar,” jawab anak muda yang pertama. Kawan-kawannya termangu-mangu. Namun kemudian seorang di antara mereka bertanya, “Apa kalian mulai terpengaruh?”

Pertanyaan itu memang mendebarkan. Tetapi anak muda yang pertama kemudian menjawab, “Aku hanya ingin mendengar cerita tentang Tanah Perdikan kita, tentang orang tua kita dan tentang apakah yang sebenarnya telah terjadi. Kawan-kawan kita yang datang kemudian telah mengabarkan tentang kehadiran kembali Iswari dan bahkan kekuasaan seakan-akan telah berpindah tangan. Sebagaimana dikatakan oleh Gandar, bahwa Iswarilah yang kini memegang pemerintahan di Tanah Perdikan. Namun mereka tetap berkiblat kepada Pajang.”

“Pada saatnya, kita akan kembali dan menyelesaikan persoalannya,” desis seorang anak muda yang bertubuh tinggi. “Apalagi setelah Pajang dapat dihancurkan. Jika tidak di Kota Raja mungkin kehancuran itu akan dimulai dari pesanggrahan di tepi Bengawan Sore.”

Beberapa orang yang lain mengangguk-angguk. Seorang yang bertubuh kecil menyambung,” Bukan masalah yang rumit. Kita akan dapat menganggapnya sebagai gigitan nyamuk pada saat kita sedang terkantuk-kantuk. Memang terasa mengganggu.

Tetapi tidak akan banyak berarti.”

Anak muda yang pertama menjadi termangu-mangu. Tetapi ia pun kemudian bertanya, “Bagaimana sikap orang tua dan saudara-saudara kita yang masih berada di Tanah Perdikan sekarang? Bukankah kita sadari, bahwa Iswari yang dianggap hilang itu adalah istri pertama Ki Wiradana dan anaknya adalah anak Wiradana yang lebih tua meskipun mungkin hanya berselisih bulan dari anak Warsi?”

“Itu bukan soal,” desis yang bertubuh tinggi. “Jika kita datang dengan kekuatan, maka semuanya akan selesai.”

Anak-anak muda itu mengangguk-angguk. Namun sebenarnyalah telah terjadi pergolakan di dalam hati mereka.

Sementara itu, para petugas yang merawat prajurit yang terluka pun tidak lagi sibuk dengan tugas-tugasnya. Beberapa orang yang terluka sudah mulai tenang dan bahkan beberapa orang telah dapat tidur meskipun tidak terlalu nyenyak. Mereka sering terbangun dan merintih karena pedih pada luka-lukanya. Namun dengan pengobatan yang baik, perasaan pedih itu pun terasa berkurang.

Dalam pada itu, ketika sekelompok anak-anak muda Tanah Perdikan yang berbincang itu mulai membaringkan diri, tiba-tiba seorang kawannya yang lain telah menghampiri mereka.

“He, apakah kau mendengar tentang kawan kita yang hilang itu?” desis anak muda itu.

“Hilang bagaimana?” bertanya salah seorang di antara mereka yang sudah berbaring itu sambil bangkit dan duduk.

“Di antara yang gugur dan yang terluka nampaknya sudah berhasil diketahui semuanya dengan pasti, dari kelompok berapa dibawah pimpinan siapa. Sebagaimana kita tahu, seorang di antara kelompok kita terluka meskipun tidak terlalu parah dan seorang lagi terkilir kakinya disamping beberapa orang yang terluka tetapi tidak mengganggu sebagaimana hampir kita alami semuanya,” jawab anak muda yang

baru datang itu. Lalu katanya, “Tetapi masih ada seorang yang tidak terdapat di antara mereka yang gugur, tetapi juga tidak terdapat di antara mereka yang terluka.”

mohon maaf….terpotong sebagian…

Wajah Ki Wiradana menjadi merah. Gejolak perasaannya bagaikan meretakkan dadanya. Namun kemudian dipaksakannya menjawab meskipun dengan jantung yang berdebaran. “Belum tentu anak itu berkhianat. Mungkin ia dibawa dengan paksa oleh orang-orang Pajang sehingga dalam keadaan terluka tanpa dapat melawan, ia harus ikut bersama mereka.” “Omong kosong,” teriak Warsi. “Jika demikian mungkin sekali tidak ada seorang pun anak muda Sembojan yang tertinggal.” “Dengan dungu kau mencoba membela dirimu,” geram Rangga Gupita pula.

Namun sementara itu Ki Randukeling berkata, “Sudahlah. Tidak ada gunanya kita mencari siapakah yang bersalah. Kita lebih baik melihat kemungkinan atas anak itu. Seandainya ia sengaja dibawa, anak itu tidak akan banyak memberikan arti bagi orang-orang Pajang. Anak itu tidak akan dapat memberikan keterangan apapun juga tentang pasukan Jipang ini dalam keseluruhan, apalagi rencana yang disusun oleh para pemimpin dari Jipang. Tetapi aku condong untuk menyangka demikian.

Anak itu tidak sengaja berkhianat sebagaimana dikatakan oleh Ki Wiradana.”

“Tetapi yang penting peristiwa itu dapat menimbulkan sikap yang merugikan,” desis Ki Rangga Gupita.

“Itu sama-sama kita tahu,” desis Ki Randukeling. “Karena itu apakah yang dapat kita lakukan kemudian atas anak-anak kita yang masih ada. Mungkin kita perlu memberikan penjelasan atau keterangan yang lain yang dapat mencegah peristiwa seperti yang kita cemaskan itu terjadi.”

“Mungkin kita memang perlu menakut-nakuti mereka,” berkata Warsi.

“Kita dapat mengambil langkah yang lebih pasti,” berkata Ki Rangga Gupita.

“Orang-orang Sembojan yang terluka dan tidak dapat kita seret kembali ke induk pasukan, lebih baik dibinasakan saja.”

“Tidak,” tiba-tiba saja Ki Wiradana berteriak. Meskipun kemudian keringatnya membasahi seluruh tubuhnya ketika ia memandang mata Ki Rangga Gupita dan Warsi yang bagaikan menyala. Untunglah bahwa Ki Randukeling pun kemudian berkata dengan suara berat, “Aku adalah seorang pertapa. Meskipun aku masih dipengaruhi oleh nafsu lahiriah sebagaimana keinginanku melihat Jipang menghancurkan Pajang, serta melihat cicitku berhasil menguasai sepenuhnya Tanah Perdikan Sembojan, namun cara yang keras dan keji itu tidak dapat aku setujui. Mungkin aku termasuk salah seorang yang hidup dalam bayangan yang kelam, apalagi jika aku disebut seorang pertapa. Namun aku masih mempunyai pertimbangan yang mencegah perlakuan seperti itu.”

Wajah Warsi menjadi semakin tegang. Tetapi ternyata ia pun tidak berani membantah kata-kata kakeknya ketika ia melihat wajah kakeknya yang bersungguh-sungguh.

Ki Rangga Gupita menarik nafas dalam-dalam. Tetapi baginya cara itu akan mengurangi usaha pengkhianatan terhadap para pengawal Tanah Perdikan Sembojan yang telah berada didalam pasukan Jipang.

Untuk beberapa saat mereka pun tidak berbincang lagi. Ki Randukeling bahkan telah meninggalkan ruangan itu. Sedangkan Ki Wiradana pun merasa lebih baik menyingkir daripada terlibat lagi dalam pembicaraan yang mungkin akan menjadi keras. Tanpa hadirnya Ki Randukeling maka segalanya tentu akan mengikuti saja

jalan pikiran Warsi dan Ki Rangga Gupita.

“Pikiran yang cengeng,” desis Ki Rangga Gupita ketika Ki Randukeling telah meninggalkan ruang itu.

“Sebenarnya segala sesuatunya tergantung kepada kita,” berkata Warsi. “Jalan pikiran Ki Rangga sebenarnya dapat membantu Jipang dan Tanah Perdikan Sembojan sendiri untuk tidak digoncangkan oleh sikap-sikap kerdil dari anak-anak mudanya.

Tetapi kakek terlalu berperasaan.”

“Pemangku jabatan Kepala Tanah Perdikan Sembojan itu pun cengeng juga. Ialah yang mula- mula menyatakan penolakannya,” berkata Ki Rangga Gupita.

“Ia hanya bermanfaat namanya saja,” berkata Warsi. “Kita tidak dapat menyingkirkannya sebelum kita kembali dan menguasai Sembojan. Bahkan mendapat ketetapan dari Jipang, bahwa Wiradanalah yang menjadi pemimpin Tanah Perdikan itu,” berkata Warsi. “Setelah itu, ia tidak kita perlukan lagi.”

Ki Rangga Gupita menggeram, katanya, “Rasa-rasanya aku tidak sabar lagi menunggu.” Warsi memandang Ki Rangga sejenak. Namun kemudian katanya, “Udara panas sekali disini.” Kedua orang itu pun kemudian meninggalkan tempat itu.

Mereka tidak menghiraukan seorang yang duduk di serambi samping dalam kegelapan.

Jantung orang itu bagaikan bergejolak ketika ia melihat Warsi dan Ki Rangga meninggalkan halaman rumah itu.

Dengan diam-diam orang itu mengikutinya sambil berlindung bayangan pepohonan.

Namun darahnya justru bagaikan mendidih ketika melihat keduanya telah turun ke jalan dan hilang dalam kegelapan. Orang itu, Ki Wiradana, hanya dapat menggeretakkan giginya. Tetapi ia tidak dapat mencegah apapun yang akan dilakukan oleh istrinya dan Ki Rangga itu. Keduanya memiliki kemampuan yang jauh lebih tinggi dari kemampuannya.

Ki Wiradana itu pun kemudian melangkah kembali keserambi. Dengan lemahnya ia duduk lagi di kegelapan sebagaimana hatinya yang gelap. Langkahnya yang sesat telah membawanya semakin dalam menukik ke liang kehancuran.

Namun Wiradana tidak melihat jalan yang dapat membawanya ke luar dari bencana itu. Bukan saja bagi dirinya sendiri, tetapi bagi Tanah Perdikan Sembojan.

Dalam kegelisahan Wiradana sempat merenungi langkahnya yang pertama menuju ke kesesatan. Pada saat ia mula-mula melihat Warsi, yang membuat dirinya sebagai seorang penari jalanan.

Namun segalanya itu hanya dapat disesali saja oleh Ki Wiradana. Apalagi jika teringat olehnya istrinya yang pertama, yang hampir saja binasa karena sikapnya.

“Ternyata Tuhan menghendaki lain,” berkata Ki Wiradana itu di dalam hatinya. Wiradana itu pun kemudian bangkit dari tempat duduknya ketika ia melihat dua orang pengawal yang lewat di halaman, menggantikan dua orang yang berada di gardu bersama dengan dua orang dari kelompok yang lain.

Dua orang yang digantikan itu tentu melihat istrinya dan Ki Rangga keluar dari halaman rumah itu. Tetapi para pengawal itu pun tidak ada yang berani mengganggunya, sementara suaminya sendiri tidak berbuat apa-apa.

Hampir di luar sadarnya maka Ki Wiradana pun telah pergi ke bagian belakang rumah itu. Sesaat ia berdiri dimuka bilik yang tertutup. Namun ia mendengar suara anaknya yang merengek.

Ketika anaknya terdiam, yang didengarnya adalah isak tangis yang tertahan. Ki Wiradana tahu pasti, bahwa pemomong anaknyalah yang telah menangis itu. Namun juga karena perasaan takut yang mencekam. Sementara Warsi jarang sekali menengoknya dan apalagi memberikan sedikit ketenangan di hatinya.

Tetapi Ki Wiradana tidak mengetuk pintu bilik anaknya itu. Ia pun kemudian berjalan ke ruang depan. Ternyata ruangan itu telah sepi. Semua orang telah pergi ke biliknya masing-masing atau kemana saja yang mereka kehendaki.

Wiradana pun kemudian berbaring di amben bambu yang besar yang terdapat di ruangan itu sendiri. Sementara lampupun menjadi semakin redup. Ketika kemudian lampu padam, maka Ki Wiradana berusaha untuk dapat tidur barang sejenak. Ia tidak tahu apa yang akan terjadi esok. Apakah pasukan Pajang akan datang menyerang atau datang perintah dari Panglima pasukan Jipang di Pajang untuk berganti menyerang atau membuat gerakan-gerakan yang lain.

Betapa pun sulitnya, namun akhirnya Ki Wiradana itu sempat juga tidur barang sejenak.

Dalam pada itu, pasukan Pajang yang menarik diri dari medan itu pun tengah beristirahat pula. Beberapa orang yang terluka telah mendapat perawatan sebagaimana seharusnya.

Di antara mereka terdapat seorang anak muda dari Tanah Perdikan Sembojan yang ditunggui oleh Gandar, Kiai Soka dan seorang perwira dari Pajang.

Dalam malam yang semakin lengang, anak muda itu merasa bahwa keadaannya menjadi semakin baik oleh pengobatan yang lebih baik.

“Tidurlah, sebentar lagi hari akan menjadi pagi,” berkata Kiai Soka. Anak itu menarik nafas dalam-dalam. Tetapi katanya, “Disini aku merasa lebih tenang daripada jika aku berada di antara orang-orang Jipang.” “Kenapa?” bertanya perwira dari Jipang

“Aku tidak tahu,” jawab anak muda itu. “Mungkin karena disini ada Kiai Soka dan Gandar yang akan dapat membawa aku kembali ke Tanah Perdikan Sembojan, atau justru aku harus menjalani hukuman mati, karena aku adalah seorang di antara mereka yang telah melawan Pajang.”

“Jangan berpikir yang aneh-aneh,” berkata Kiai Soka. “Tenanglah. Kau berada ditempat yang lebih baik sebagaimana perasaanmu mengatakannya.”

Anak muda itu menarik nafas dalam-dalam. Di sebelahnya terbaring para prajurit Pajang yang terluka. Bahkan anak muda Tanah Perdikan Sembojan itu tahu, bahwa ada di antara prajurit Pajang yang gugur di pertempuran.

Para prajurit yang terluka itu menurut perasaan anak muda Tanah Perdikan itu, selalu memandangnya dengan penuh kebencian. Tetapi para perwira memperlakukannya dengan baik. Apalagi Kiai Soka dan Gandar. Karena itu, maka anak muda itu merasa bahwa orang-orang Pajang itu tidak akan berbuat apa-apa atasnya.

Dalam pada itu, maka Gandar pun berkata, “Tidurlah. Aku akan menungguimu disini.”

Anak muda itu tidak menjawab. Ia berusaha untuk dapat tidur barang sejenak.

Apalagi luka-lukanya sudah menjadi lebih baik dan tidak lagi digigit oleh perasan pedih.

Ketika anak muda itu memejamkan matanya, maka Kiai Soka pun telah dipersilakan oleh perwira Pajang itu untuk beristirahat pula, sementara Gandar minta untuk tetap berada ditempat itu menunggui anak muda yang sedang berusaha untuk tidur itu.

“Aku akan membantunya jika ia memerlukan sesuatu,” berkata Gandar.

“Biarlah ia menungguinya,” berkata Kiai Soka kemudian sambil meninggalkan tempat itu bersama perwira Pajang yang mempersilakannya. Sepeninggalan mereka, Gandar pun telah duduk bersandar dinding disisi anak muda yang terluka itu. Sementara seorang prajurit Pajang yang bertugas telah mendatanginya pula.

Gandar pun kemudian bergeser sambil mempersilakan prajurit itu untuk duduk bersamanya. Katanya, “Marilah. Duduklah.”

“Terima kasih,” sahut prajurit Pajang itu. “Aku bertugas diregol.”

“O,” Gandar mengangguk-angguk.

“Bagaimana keadaannya?” bertanya prajurit Pajang itu.

“Ia sudah berangsur baik,” jawab Gandar.

Prajurit Pajang itu mengangguk-angguk. Namun ia pun telah bertanya pula, “Bagaimana sikap kawan-kawannya yang lain? Apakah mereka masih tetap dipengaruhi oleh para prajurit Jipang dan memusuhi Pajang?”

Gandar menarik nafas dalam-dalam. Jawabnya, “Kita harus berusaha melepaskan mereka dari cengkaman pengaruh beberapa orang yang mengaku pimpinan Tanah Perdikan Sembojan. Merekalah sebenarnya yang telah menyesatkan anak-anak muda dari Tanah Perdikan Sembojan itu, yang kini ternyata telah terpecah. Anak-anak

muda yang masih berada di Tanah Perdikan sendiri telah menyadari kesalahan langkah mereka dan mereka telah kembali berpegang kepada sikap Sembojan yang seharusnya, dibawah pimpinan Iswari, istri pemangku jabatan Kepala Tanah Perdikan yang sekarang. Namun sayang bahwa pemangku jabatan Kepala Tanah Perdikan Sembojan itu sendiri berada di antara orang-orang Jipang.

Prajurit Pajang itu mengangguk-angguk. Katanya, “Satu persoalan yang agaknya sangat rumit telah terjadi di Tanah Perdikan Sembojan. Para perwira disini pun harus memberikan banyak sekali keterangan kepada para prajurit, apalagi yang terluka, tentang anak muda Sembojan ini. Untunglah bahwa mereka dapat dikendalikan dan tidak mendendam kepada anak muda ini.”

“Ya,” jawab Gandar. “Hal itu dapat dimengerti. Tetapi nampaknya para prajurti Pajang, terutama yang terluka sudah dapat mengerti dan dapat menerimanya berada di antara mereka. Aku yakin anak muda ini pada saat ia sembuh, tidak akan lagi beranjak dari antara prajurit-prajurit Pajang.”

“Jika ia bersedia hadir dipeperangan, maka hal itu akan memberikan keuntungan kepada pasukan Pajang. Sebagaimana kehadiranmu bersama Kiai Soka,” berkata prajurit itu. “Karena kehadirannya di medan di antara prajurit Pajang akan dapat mendorong anak-anak muda Pajang itu berpikir.”

“Ia sudah menyatakan sikap seperti itu,” jawab Gandar.

Prajurit Pajang itu mengangguk-angguk. Lalu katanya, “Sudahlah, biarlah ia berusaha untuk beristirahat barang sejenak menjelang pagi. Agaknya besok pasukan ini tidak akan bergerak. Tetapi jika pasukan Jipang datang menyerang maka kita akan dipaksa untuk bertempur lagi.”

“Aku kira pasukan Jipang tidak akan bergerak,” sahut Gandar. “Mereka harus membenahi diri.”

Prajurti Pajang itu mengangguk. Katanya, “Aku sependapat. Tetapi kadang-kadang memang terjadi yang diluar perhitungan. Meskipun demikian, kita tidak perlu gelisah. Ada petugas sandi yang tentu akan dapat dengan cepat memberikan isyarat, sementara itu pasukan yang terdiri dari beberapa kelompok telah bersiap untuk bertempur kapanpun juga, di samping sekelompok pasukan berkuda yang dapat

bergerak dengan cepat ketempat-tempat yang memerlukannya.”

“Baiklah,” berkata Gandar. “Aku pun akan beristirahat.”

Prajurit itu pun kemudian meninggalkan Gandar yang masih tetap menunggui anak yang terluka itu. Bagaimanapun juga, ada sedikit kegelisahan di dalam hatinya, bahwa ada juga orang Pajang yang dungu dan tidak dapat mengekang diri.

Namun agaknya tempat itu semakin lama menjadi semakin tenang. Hampir semua orang sudah tertidur, meskipun ada juga di antara mereka yang lukanya agak parah, sulit untuk dapat memejamkan matanya.

Tetapi anak muda Tanah Perdikan Sembojan itu ternyata sempat juga tertidur di ujung malam sebagaimana Gandar juga tertidur sambil duduk di lantai bersandar dinding.

Ketika matahari kemudian terbit, anak muda Tanah Perdikan Sembojan itu pun terbangun. Keadaan tubuhnya sudah menjadi semakin baik. Lukanya tidak lagi terasa pedih sekali.

Gandarlah yang kemudian telah pergi ke pakiwan. Kemudian membasahi muka ikat kepalanya dan dipergunakannya untuk mengusap tubuh anak muda Tanah Perdikan Sembojan yang belum dapat bangkit dan pergi ke pakiwan sendiri.

“Berbaring sajalah dahulu,” berkata Gandar. “Nanti siang aku bantu kau ke pakiwan, jika tubuhnya sudah terasa semakin segar.”

Anak muda itu tidak membantah. Ketika tubuhnya diusap dengan ikat kepala Gandar yang basah, tubuhnya itu benar-benar terasa segar meskipun jika ikat kepala itu menyentuh bagian dari lukanya itu masih terasa pedih.

Ketika Kiai Soka kemudian datang menengoknya, maka anak muda itu telah dapat tersenyum dan wajahnya sudah menjadi agak kemerahan.

“Kau sudah tidak terlalu pucat lagi,” berkata Kiai Soka.

Sementara anak muda itu berangsur baik, maka di padukuhan, pesanggrahan pasukan Jipang di sebelah Timur Pajang, Wiradana telah mengumpulkan anak-anak muda Tanah Perdikan yang ada di antara pasukan Jipang. Beberapa orang perwira Jipang menungguinya disamping Ki Rangga Gupita, seorang perwira dari Prajurit Sandi Jipang yang memang ditugaskan di Pajang, Warsi, Ki Randukeling dan beberapa orang keluarga dari Warsi yang ada di padukuhan itu.

“KATAKAN,” geram Warsi di telinga Ki Wiradana. “Agar mereka mengerti, bahwa seorang di antara mereka telah hilang. Dan itu diketahui dengan pasti, sehingga mereka merasa setiap orang mendapat pengawasan sepenuhnya.”

Ki Wiradana menarik nafas dalam-dalam. Kemudian ia pun berdiri dihadapan anak-anak muda Tanah Perdikan yang berbaris dalam susunan pasukan yang lengkap, sebagaimana mereka akan memasuki medan perang.

Dengan suara lantang Ki Wiradana pun kemudian memberitahukan apa yang telah terjadi pada saat pasukan Pajang menyerang.

“Memang telah jatuh korban di antara kita, sebagaimana terjadi atas pasukan Jipang dan juga pasukan Pajang,” berkata Ki Wiradana kemudian, “Memang adalah menjadi watak dari setiap peperangan, bahwa perang akan menelan korban.”

Warsi menghentakkan kakinya. Ia tidak sabar mendengarkan pembicaraan Wiradana yang berbelit-belit.

Sementara itu Ki Wiradana pun berkata selanjutnya, “Di antara korban yang jatuh di antara kita, maka seorang telah hilang. Seorang yang mungkin terluka, namun yang kemudian tidak kembali lagi ke pasukannya. Orang yang demikian itu perlu mendapat penilaian secara khusus apa yang telah dilakukannya.”

Anak-anak muda Tanah Perdikan Sembojan itu pun semuanya terdiam. Dalam pada itu terdengar Ki Wiradana melanjutkan, “Kami mengetahui setiap orang di dalam pasukan kita. Mungkin anak itu benar-benar hilang. Tetapi jika ada usaha untuk melarikan diri atau melakukan satu langkah yang bertentangan dengan jiwa kesatria anak-anak muda Tanah Perdikan Sembojan, maka ia akan mendapatkan hukuman yang seimbang dengan kesalahan yang telah dilakukannya. Satu peringatan bagi kalian, dimanapun anak itu berada, maka ia tidak akan luput dari tangan kami. Kami akan menilai, dan kemudian mengambil kesimpulan, apakah ia akan kita serahkan kembali ke dalam pasukannya, atau anak itu harus digantung dihadapan kalian.”

Suramnya Bayang-bayang 28

Suasana pun menjadi semakin tegang. Anak-anak muda Tanah Perdikan itu merasa dicengkam oleh kecemasan. Bahkan Ki Wiradana telah berbicara dan mengancam mereka dengan suara yang keras yang jarang sekali dilakukan sebelumnya.

“Nah, siapakah di antara kalian yang dapat memberikan keterangan tentang anak itu? Siapakah yang telah melihat pada saat-saat terakhir dari peperangan yang berlangsung kemarin?” bertanya Ki Wiradana.

Beberapa orang anak muda saling berpandangan, sementara semua mata dari para pemimpin pasukan Tanah Perdikan dan para perwira Jipang itu tertuju ke kelompok anak yang hilang itu.

“Apa katamu?” bertanya Ki Wiradana kepada pemimpin kelompok itu.

Pemimpin kelompok itu termangu-mangu. Namun kemudian katanya, “Seorang di antara kami melihat anak itu terluka. Tetapi menurut perhitungan kami ia masih sempat menarik diri ke belakang garis pertempuran atau bahkan kebalik dinding padukuhan.”

Ki Wiradana memandanginya dengan tegang. Kemudian dengan lantang ia membentak,

“Tetapi yang terjadi tidak demikian. Anak itu tidak ada di padukuhan dan tidak kembali ke kelompoknya.”

“Itu berada di luar pengetahuan kami,” jawab pemimpin kelompok itu. Lalu katanya, “Tetapi mungkin salah seorang di antara anak-anak dalam kelompok itu melihatnya dan bersedia memberikan keterangan.”

Ki Wiradana mengerutkan keningnya. Namun kemudian katanya, “Nah, siapakah di antara kalian yang ingin memberikan penjelasan?”

Untuk beberapa saat tidak terdengar jawaban. Karena itu, maka Ki Wiradana itu pun kemudian berkata lantang, “Jika demikian, maka kesimpulan kita adalah, anak itu telah berkhianat. Sebenarnya ia mempunyai kesempatan untuk menyingkir dari medan, tetapi ia tidak melakukannya.”

Anak-anak muda Tanah Perdikan itu pun menjadi berdebar-debar. Wajah mereka menjadi tegang. Sementara di antara mereka, tidak dapat menerima kesimpulan yang diambil dengan serta merta itu. Tetapi sebagian yang lain mengangguk-angguk mengiakan. Terutama anak-anak muda yang pertama berangkat dari Tanah Perdikan Sembojan. Anak-anak muda yang mendapat tempaan yang paling lengkap dan paling baik di antara anak-anak muda Tanah Perdikan yang lain.

Ketegangan itu menjadi semakin memuncak ketika Ki Wiradana kemudian berkata, “Nah, kita akan menentukan hukuman apakah yang akan kita berikan kepada pengkhianat itu. Juga kepada pengkhianat-pengkhianat yang mungkin akan timbul pula di antara kalian.”

Anak-anak muda itu terdiam. Namun dalam pada itu Warsi tidak puas dengan ancaman yang diucapkan oleh Ki Wiradana. Karena itu maka ia pun telah berteriak pula, “Kalian dengar? Kita akan menentukan hukuman itu. Dan menurut paugeran seorang prajurit, hukuman bagi seorang pengkhianat adalah hukuman mati. Yang akan kita tentukan bukannya kemungkinan untuk mengubah hukuman mati itu. Tetapi cara yang paling tepat untuk melaksanakan hukuman mati itu.

Suara Warsi bagaikan melengking berputaran di atas padukuhan dan di dalam setiap dada anak-anak muda Tanah Perdikan Sembojan itu. Cara untuk melaksanakan hukuman mati adalah ancaman yang sangat mengerikan.

Sementara itu Ki Rangga Gupita menyambung pula, “Seorang prajurit akan merasa dirinya direndahkan dan kehilangan martabatnya jika ia dilepas dari kedudukannya. Tetapi martabat seorang prajurit yang dihukum mati karena berkhianat adalah jauh lebih rendah daripada itu. Pengkhianatan tidak ubahnya seperti tingkah laku seekor anjing yang menjilat kaki seekor babi hutan yang

harus diburunya. Karena itu, jika kalian terpaksa harus mati, matilah sebagai seorang pahlawan. Jangan mati sebagai seorang pengkhianat di tiang gantungan, atau terikat dan terluka arang keranjang karena dihukum picis.”

Tengkuk anak-anak muda Tanah Perdikan itu meremang membayangkan hukuman yang sangat keji akan dilakukan atas seorang pengkhianat.

Namun demikian ada juga di antara anak-anak muda itu yang memiliki keberanian bertanya kepada diri sendiri, “Tetapi jika di antara para pengkhianat itu sudah jatuh ketangan Pajang atau para pemimpin Tanah Perdikan Sembojan dari seberang yang lain itu, apakah Ki Wiradana, Warsi dan Ki Rangga yang sombong itu akan dapat menghukumnya?”

Tetapi tidak seorang pun yang berani mempersoalkannya. Wajah-wajah tegang itu membuat anak-anak muda Tanah Perdikan Sembojan bagaikan dihadapkan kepada pengadilan yang berlambang pedang yang menyala tanpa keseimbangan. Karena yang berbicara adalah gelora kebencian, bukan tuntutan keadilan.

Untuk beberapa saat lamanya, anak-anak muda Tanah Perdikan itu masih mendengar ancaman-ancaman. Panglima yang memegang pimpinan pasukan Jipang di daerah Timur

Pajang itu pun ikut mengancam. Bahkan dengan bentakan-bentakan yang dapat meruntuhkan jantung.

“Hukuman dapat diberikan bukan saja yang melakukan pengkhianatan. Tetapi kelompoknya akan dapat menjadi sasaran hukuman yang tidak kalah beratnya. Karena itu, maka mereka yang berada di satu kelompok seharusnya saling mengawasi yang satu atas yang lain,” berkata perwira Jipang itu.

Sementara itu, Ki Rangga Gupita pun berkata, “Kalian dengar? Jadi kalian harus lebih mantap melihat kawan kalian mati di peperangan daripada berkhianat.”

Ki Randukeling memandanginya dengan wajah yang tegang. Meskipun dengan istilah lain, agaknya Ki Rangga masih saja bersikap kasar terhadap anak-anak Tanah Perdikan Sembojan. Baginya seseorang yang terluka akan lebih baik mati saja daripada ada kemungkinan untuk menyerahkan diri kepada lawan.

Ketika setiap dada anak-anak Tanah Perdikan Sembojan itu telah penuh dengan ancaman, celaan, perintah dan bentakan-bentakan, maka mereka pun diperkenankan kembali ke barak mereka masing-masing di padukuhan yang mereka pergunakan sebagai tempat kedudukan itu.

Wajah-wajah pun menjadi murung. Rara-rasanya mereka berada dalam satu bayangan yang suram dan penuh dengan kecurigaan. Satu orang di antara mereka hilang. Dan mereka pun merasa kehilangan kebebasan mereka yang masih tersisa. Apalagi bagi anak-anak muda yang datang kemudian.

Mula-mula tidak ada seorang pun di antara mereka yang membicarakan perkembangan keadaan itu. Mereka saling mencurigai dan tidak percaya bahwa mereka tidak akan dilaporkan. Namun melalui peraturan-peraturan yang panjang, akhirnya ada juga

anak-anak muda itu yang mulai membicarakannya.

Meskipun mula-mula sekadar keluhan, bahwa hilangnya seorang di antara kawan mereka, maka hari-hari bagi anak-anak muda Tanah Perdikan Sembojan itu pun menjadi semakin gelap. “Anak itu memang harus dihukum,” desis seorang anak muda.

“Ia sudah mencekik leher kita semuanya yang tertinggal.” “Jadi karena itukah ia harus dihukum? Bukan karena pengkhianatannya?” bertanya yang lain.

Anak muda yang pertama merasa ragu untuk berbicara lebih panjang, namun yang lain itulah yang justru berkata selanjutnya, “Ia harus dihukum karena pengkhianatan. Itu jika benar ia melakukannya. Ketika ia terluka, pemimpin kelompoknya mengatakan, bahwa anak itu masih mungkin meninggalkan medan. Jika penglihatan itu keliru dan anak yang terluka itu justru mati di medan, apakah itu juga satu pengkhianatan? Seandainya ia tidak mati, tetapi ia dibawa tidak atas kehendaknya sendiri, apakah itu juga satu pengkhianatan?”

Anak muda yang pertama memandang kawannya dengan tajamnya. Namun tiba-tiba ia berdesis, “Anak itu adik sepupumu bukan?”

Kawannya menjadi tegang. Tetapi ia pun tidak ingkar, “Ya. Anak yang disebut pengkhianat itu adalah adik sepupuku. Ia anak seorang janda miskin yang semula berbangga karena anaknya menjadi seorang pengawal. Aku tidak tahu apakah sekarang ia akan menangisi anaknya yang hilang itu atau tidak.”

Anak muda yang pertama itu pun mengangguk-angguk. Namun tiba-tiba diluar dugaan, seorang anak muda yang lain, yang sejak semula hanya mendengarkan saja pembicaraan itu menyahut, “Aku juga tidak tahu, apakah ibuku akan menangis atau tertawa jika ia melihat keadaanku.”

Kawan-kawannya yang berbicara lebih dahulu itu pun terdiam sejenak. Anak muda itu pun adalah anak seorang janda yang miskin. Yang semula juga merasa berbangga bahwa anaknya menjadi seorang pengawal yang terpilih dan mendapat uang yang cukup sehingga anak itu tidak lagi selalu minta uang kepada ibunya yang janda itu.

Mereka terdiam ketika mereka melihat seorang prajurit Jipang yang lewat. Dan bahkan kemudian mendekati anak-anak muda itu sambil berkata, “He, apakah kalian sedang berbicara tentang pengkhianat itu? Seharusnya kalian menjadi gelisah justru hanya karena tingkah laku seorang saja di antara kalian yang banyak ini.”

“Kami sedang membicarakan diri kami,” jawab salah seorang pengawal Tanah Perdikan.

“Kenapa dengan diri kalian?” bertanya prajurit itu.

“Kami tidak boleh terperosok kedalam sikap seperti kawan kami yang hilang itu seandainya ia benar-benar berkhianat,” jawab anak muda itu.

“Bukankah sudah pasti bahwa ia berkhianat?” bertanya prajurit Jipang itu. Anak-anak muda itu ragu-ragu. Namun akhirnya mereka mengangguk. Seorang di antara mereka menjawab, “Ya. Anak itu memang berkhianat. Itulah sebabnya kami harus mengerti benar-benar, apakah yang sebenarnya terjadi sekarang di tempat ini agar kami, khususnya anak-anak muda Tanah Perdikan Sembojan tidak kehilangan kiblat.”

“Bagus,” berkata prajurit Jipang itu. “Dengan demikian maka kalian telah benar-benar berjiwa seorang prajurit.”

Namun ketika prajurit Jipang itu pergi, hampir berbareng tiga orang anak muda itu menarik nafas dalam-dalam. Sementara seorang yang lain lagi berdesis, “Sudahlah. Kita berbicara tentang yang lain.”

Anak-anak muda itu mengangguk-angguk. Tetapi seorang di antara mereka sempat juga berkata, “Kita sudah tidak berhak lagi berbicara tentang diri kita sendiri.”

Kawan-kawannya memandanginya. Namun tidak seorang pun yang menyahut. Meskipun demikian, ternyata mereka pun mengiakannya di dalam hati.

Pada hari itu, anak muda Tanah Perdikan Sembojan yang berada di antara orang-orang Pajang sudah menjadi semakin segar, meskipun ia masih tetap berbaring di tempatnya. Ia memang merasa lebih tenang berada di dekat Gandar dan Kiai Soka meskipun anak muda itu belum mengenal mereka terlalu rapat. Sementara itu, para prajurit Pajang pun telah mendapat penjelasan tentang anak muda Tanah Perdikan Sembojan yang ada di antara mereka.

“ANAK itu tidak akan kita perlakukan sebagai tawanan,” berkata seorang pemimpin kelompok kepada prajurit-prajuritnya yang bertugas menjaga orang-orang yang terluka, “Ia lebih dekat kita anggap sebagai kawan baru yang akan membantu kita.” Namun demikian ada juga di antara orang Pajang yang bertanya, “Tetapi bukankah ia berada di medan? Siapa tahu, bahwa dalam pertempuran ia pernah membunuh seorang prajurit Pajang?”

“Pada saat itu ia tidak tahu apa yang dilakukannya,” jawab pemimpin kelompok itu. “Jika kau sempat berbicara dengan anak itu, maka kau akan tahu, bahwa ia adalah korban dari kedunguan dan kelemahan pemangku jabatan Kepala Tanah Perdikannya.”

Para prajurit Pajang itu mengangguk-angguk. Mereka memang pernah mendengar ceritera tentang kegagalan pemangku jabatan Kepala Tanah Perdikan Sembojan untuk minta pengukuhan dan wisuda sebagai Kepala Tanah Perdikan. Sebenarnya permohonannya tidak ditolak, tetapi sekadar menunggu persoalan Pajang dan Jipang selesai, sementara itu ia harus menemukan pertanda kekuasaan Tanah Perdikan Sembojan. Sebuah bandul emas yang bertatahkan lukisan burung.

Namun dalam kekecewaan itu datanglah pengaruh tentang Jipang dan janji hari depan yang lebih baik bagi Tanah Perdikan Sembojan. Dan yang lebih parah lagi, bahwa di Tanah Perdikan Sembojan telah ada Warsi, kekuatan yang bersumber dari dendam Kalamerta yang terbunuh oleh Ki Gede Sembojan.

Dalam pada itu, Kiai Soka dan Gandar pun telah berbicara dengan para perwira Pajang, bahwa pada satu saat, anak muda yang mereka pungut dari medan pertempuran itu akan mereka bawa untuk meronda di daerah gawat yang berhadapan dengan padukuhan-padukuhan yang dipergunakan oleh pasukan Jipang. Mereka sengaja

menarik perhatian para petugas sandi Jipang agar mereka melihat, bahwa seorang anak muda Tanah Perdikan ada di antara mereka.

“Jika ia sudah dapat bangkit dan duduk di atas punggung kuda, maka kita akan membawanya,” berkata perwira Pajang itu.

Ternyata para perwira Pajang, Kiai Soka dan Gandar tidak perlu menunggu sampai berhari-hari. Di hari berikutnya anak muda itu sudah mampu bangkit dan berjalan ke pakiwan. Sementara luka-lukanya telah berangsur menjadi sembuh.

“Besok aku sudah dapat berkuda,” berkata anak muda itu.

Kiai Soka mengangguk-angguk. Katanya, “Tetapi apakah kau menyadari sepenuhnya maksud kami memperlakukan kau seperti itu?”

“Aku tahu,” jawab anak muda itu. “Karena itu, aku tidak merasa diperalat. Bahkan aku merasa dengan demikian aku sudah membantu meletakkan pengertian anak-anak muda Tanah Perdikan pada kedudukan yang seharusnya.”

“Bagus,” berkata Kiai Soka. “Mudah-mudahan sikapmu mempunyai pengaruh atas anak-anak muda itu.”

“Jika aku sudah sembuh benar, beri aku kesempatan untuk memasuki barak kawan-kawanku dari Tanah Perdikan,” berkata anak itu.

“Jangan,” sahut Kiai Soka. “Itu tentu akan sangat berbahaya. Mungkin kau dapat dianggap telah lari dari kewajibanmu.” “Aku dapat menyebut seribu macam alasan,”

berkata anak muda itu. “Tetapi jika kau berbuat demikian, maka jiwamu benar-benar akan terancam. Kita tidak tahu tanggapan prajurit Jipang atas kepergianmu,” berkata Kiai Soka.

“Agaknya aku sudah harus mati pada saat aku diketemukan oleh prajurit Pajang. Hidupku yang sekarang adalah kelebihan saja yang harus aku manfaatkan sebaik-baiknya, terutama bagi kepentingan Tanah Perdikan. Kesadaran ini bukan tiba-tiba saja tumbuh di dalam hatiku, tetapi sebenarnya aku sudah memikirkannya sejak aku masih harus berada di barak-barak para pengawal yang berpihak kepada Jipang, bahwa pada suatu saat anak-anak muda Tanah Perdikan harus bersikap lain,” jawab anak muda itu.

Kiai Soka menarik nafas dalam-dalam. Namun Gandarlah yang menyahut, “Kita harus memikirkannya masak-masak. Kau tidak sepantasnya dengan sengaja menyurukkan nyawamu ketajamnya pedang para prajurit Jipang. Tetapi mungkin ada jalan lain yang dapat ditempuh. Bahkan mungkin aku dapat mengantarkanmu memasuki barak-barak para pengawal di Tanah Perdikan itu di malam hari, atau dengan cara lain yang mungkin akan dapat kita ketemukan kemudian.”

Anak muda itu mengangguk-angguk. Katanya, “Baiklah. Tetapi yang pasti, besok aku akan dapat ikut berkuda berkeliling daerah perbatasan kekuatan pasukan Pajang dan Jipang.”

Hari itu anak muda Tanah Perdikan itu pun telah beristirahat dan mendapatkan pengobatan sebaik-baiknya, agar besok ia akan dapat ikut serta mengadakan pengamatan keliling di perbatasan itu.

Di hari itu, baik pasukan Pajang maupun pasukan Jipang tidak mengadakan gerakan-gerakan yang berarti. Orang-orang Jipang sibuk dengan usaha mereka menakut-nakuti anak-anak muda Tanah Perdikan Sembojan agar mereka tidak berkhianat. Sementara pasukan Pajang pun sedang beristirahat meskipun kedua belah pihak tidak melepaskan kewaspadaan.

Di hari berikutnya, para petugas sandi Pajang melaporkan bahwa mereka tidak melihat gerakan pasukan Jipang yang mencurigakan, sebagaimana para petugas sandi Jipang pun memberikan laporan, bahwa Pajang tidak mengambil langkah-langkah yang penting.

Karena itulah, maka Pajang pun kemudian telah menentukan untuk mengirim sekelompok kecil pasukan berkuda untuk mengamati medan. Di antara mereka yang ada di dalam kelompok kecil itu adalah justru para perwira terpilih, Kiai Soka, Gandar dan salah seorang pengawal Tanah Perdikan Sembojan yang ada di antara prajurit Pajang dan yang dianggap hampir pasti oleh Jipang sebagai seorang pengkhianat.

Dengan sengaja para prajurit Pajang yang sekelompok itu memancing perhatian para petugas sandi dari Jipang. Dengan berani mereka melihatasi daerah yang paling rawan di antara kekuatan Pajang dan Jipang. Jalan di bulak panjang di antara tanah persawahan yang tidak ditanami karena para petani telah pergi mengungsi dari lingkungan ajang perang yang mengerikan itu.

Di tengah-tengah bulak sekelompok kecil pasukan berkuda itu justru berhenti.

“Beri kami penjelasan tentang kedudukan pasukan Jipang,” berkata Kiai Soka kepada anak muda itu. “Para perwira Pajang tentu akan sangat berterima kasih tentang keteranganmu itu.”

Anak muda itu termangu-mangu sejenak. Tetapi Kiai Soka sama sekali tidak memaksanya.

Namun agaknya anak muda itu memang tidak berniat untuk menyimpan rahasia. Karena itu, maka ia pun telah menceriterakan apa yang diketahuinya tentang pasukan Jipang. Anak muda itu menunjuk beberapa padukuhan yang dipergunakan oleh prajurit-prajurit Jipang dan para pengawal Tanah Perdikan. Ia pun dapat memberikan keterangan meskipun kurang pasti, jumlah pasukan Jipang dan pengawal Tanah Perdikan yang ada di padukuhan-padukuhan itu.

Para perwira Pajang itu pun mengangguk-angguk. Seorang di antara mereka berkata, “Keterangan ini memang sangat berguna. Kita akan dapat membuat perhitungan yang lebih cermat jika kita berniat untuk mengganggu orang-orang Jipang.”

mohon maaf….terpotong sebagian…

Wajah Warsi bagaikan disentuh bara api. Betapa panasnya. Tetapi ia tidak dapat berbuat apa-apa atas kakeknya. Kecuali kakeknya sangat diperlukan, maka kakeknya memiliki ilmu yang tidak ada bandingnya. Ki Randukeling yang melihat Warsi menundukkan kepalanya dalam-dalam, betapapun jantungnya bergejolak, kemudian berkata, “Aku akan berada di halaman.”

Sepeninggalan Ki Randukeling terdengar gemeretak gigi Ki Rangga Gupita. Namun perwira Jipang yang ada di ruangan itu berkata, “Sebaiknya kau pertimbangkan pesan itu baik-baik. Ki Randukeling adalah orang yang memiliki ilmu dan pengalaman yang sangat luas.”

Ki Rangga tidak menyahut. Tetapi ia pun kemudian meninggalkan ruang itu pula bersama Warsi.

Diluar, keduanya berhenti sejenak. Terdengar Ki Rangga berkata, “Jika orang menyangka bahwa kita telah berhubungan tidak saja bagi kepentingan perang ini, tetapi lebih condong kepada hubungan pribadi, apa salahnya kita akan melakukannya benar-benar.”

Warsi mengerutkan keningnya. Tetapi ia pun kemudian berkata dengan nada lembut,

“Apakah sampai sekarang kita tidak dalam keadaan yang demikian?”

Ki Rangga menarik nafas dalam-dalam. Sementara Warsi pun berkata, “Aku hanya memerlukan Wiradana sampai wisudanya. Kemudian aku harus menyingkirkannya. Kematiannya akan mewariskan kedudukan itu kepada anakku.”

Ki Rangga pun mengangguk-angguk. Katanya, “Mudah-mudahan segalanya akan cepat selesai. Jipang yang meningkatkan kegiatan pasukannya dimana-mana akan semakin cepat menghancurkan pasukan Pajang. Terutama di pesanggrahan itu sendiri.”

Sebenarnya kegiatan pasukan Jipang disemua medan telah meningkat. Perintah Ki Patih Mantahun ternyata mendapat tanggapan yang menyala dihati para prajurit Jipang dan pengawal-pengawal yang dikerahkannya dari beberapa Tanah Perdikan dan Kademangan. Hampir semua pasukan Jipang yang tersebar, telah memanfaatkan anak-anak muda dari Tanah Perdikan dan Kademangan yang berada dibawah pengaruhnya. Bahkan bagi Tanah Perdikan dan Kademangan yang memang berada dibawah perintah Jipang, maka pengerahan tenaga anak-anak muda masih terus dilakukan. Tetapi hal itu tidak dapat dilakukan oleh pasukan Jipang disisi sebelah Timur Pajang, karena di Tanah Perdikan Sembojan yang berhasil dipengaruhinya itu telah terjadi pergolakan tersendiri.

Usaha Jipang untuk menggetarkan pertahanan Pajang dimana-mana itu nampaknya berpengaruh juga. Keberanian prajurit Jipang yang bergelora memang telah membuat para panglima Pajang di daerah pertempuran yang tersebar menjadi berdebar-debar.

Pasukan Pajang di Pajang sendiri, baik disisi Barat maupun disisi Timur nampaknya tidak banyak mengalami kesulitan.

Bahkan kadang-kadang pasukan Pajang masih sempat melakukan langkah-langkah pertama dalam benturan kekuatan antara keduanya. Namun imbangan kekuatan di medan yang lain sering kali menggelisahkan para perwira Pajang.

Karena itulah, maka Pajang pun telah melakukan hal yang sama dengan prajurit-prajurit Jipang. Mereka berusaha mengerahkan anak-anak muda dari lingkungan mereka. Namun ternyata Jipang telah mengadakan persiapan lebih dahulu. Sebelum segalanya terjadi, beberapa lingkungan anak-anak muda telah mendapat latihan-latihan yang mapan. Sementara Pajang tidak berbuat demikian, sehingga anak-anak muda yang dibawanya ke medan, bakalnya tidak sebanyak anak-anak muda yang berada di lingkungan prajurit Jipang.

Hal itu disadari oleh para pemimpin Pajang. Baik yang ada di Pajang, maupun yang berada di pesanggrahan ditepi Bengawan Sore. Karena itu, maka Pajang telah dengan sungguh-sungguh memperhatikan perkembangan keadaan.

Dalam satu pertemuan antara Kanjeng Adipati Pajang bersama para panglima pasukannya, maka Kanjeng Adipati itu pun dengan terbuka telah memberikan keterangan tentang keadaan pasukan Pajang.

mohon maaf….terpotong sebagian…

Kanjeng Adipati Pajang yang menganggap bahwa Ki Pemanahan dan Ki Penjawi adalah saudara tuanya itu pun menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Baiklah. Tetapi jangan terlalu lama. Aku tidak akan dapat memenangkan lomba kesabaran itu.”

“Seharusnya Kanjeng Adipati memiliki kesabaran yang lebih besar dibandingkan dengan Adipati Jipang,” berkata Ki Penjawi.

“Mungkin aku secara pribadi,” jawab Adipati Pajang. “Tetapi bagaimana dengan keadaan pasukan kita diseluruh medan yang tersebar. Bagaimana kedudukan Pajang sendiri yang dihadapkan kepada pasukan yang kuat disisi Barat dan Timur. Jika semuanya itu masih harus menunggu terlalu lama, maka mungkin Pajang akan mengalami kesulitan.

Namun dalam pada itu, tiba-tiba saja putera angkat Adipati Pajang, yang sebenarnya adalah putera Ki Pemanahan itu pun memotong pembicaraan, “Hamba akan bersedia mengemban perintah apapun juga berhadapan dengan pasukan Arya Penangsang.”

Kanjeng Adipati Pajang mengerutkan keningnya. Namun ia pun kemudian tersenyum sambil berkata, “Kau masih terlalu muda Sutawijaya. Mungkin beberapa tahun lagi kau akan mampu mengemban tugas-tugas yang tidak kalah beratnya.”

Tetapi anak yang masih terlalu muda itu menyahut, “Tetapi hamba sudah cukup dewasa untuk melawan pamanda Arya Penangsang. Mungkin pamanda Arya Penangsang memiliki pengalaman yang jauh lebih banyak dari hamba. Tetapi hamba memiliki kemudaan, tekad dan barangkali kesempatan.”

Kanjeng Adipati Hadiwijaya dari Pajang itu tertawa. Katanya, “Aku senang mendengar permintaanmu. Dengan demikian maka kau adalah anak yang menunjukkan kebesaran tekad dan keberanianmu. Tetapi masih ada yang harus kau perhatikan.

Kenyataan yang harus kau hadapi.”

Sutawijaya memandang ayahanda angkatnya dengan kecewa. Tetapi ia tidak dapat memaksakan kehendaknya. Bahkan Kanjeng Adipati itu pun kemudian berkata, “Kita harus membuat perhitungan yang cermat sebagaimana kakang Pemanahan dan kakang Penjawi sarankan. Tetapi jangan terlalu lama. Bukan aku tidak bersabar, tetapi tuntutan keadaan memaksa kita bergerak agak cepat.”

Dengan demikian maka Ki Pemanahan dan Ki Penjawi beserta beberapa Senapati yang lain pun meninggalkan penghadapan di pesanggrahan. Mereka memang harus membuat perhitungan yang cermat, tetapi mereka pun harus memperhitungkan keadaan yang berkembang setelah jatuh perintah Ki Patih Mantahun.

Di luar balai penghadapan di pesanggrahan itu, Ki Pemanahan dan Ki Penjawi telah memanggil Raden Sutawijaya. Dengan wajah yang keras Ki Pemanahan bertanya kepada anandanya yang telah diambil angkat oleh Adipati Hadiwijaya, “Kenapa kau berani menyombongkan dirimu, bersedia melawan Arya Penangsang. Meskipun kau belum pernah melihat bagaimana Arya Penangsang turun ke medan tetapi kau tentu pernah mendengarnya.”

“Ya, aku pernah mendengarnya ayah,” jawab Sutawijaya. “Tetapi aku pun bukannya tidak pernah menempa diri. Aku adalah murid Pemanahan dan sekaligus murid Karebet anak dari Tingkir itu.”

“Kau terlalu kanak-kanak untuk mengerti, apa yang sebenarnya sedang kita hadapi sekarang ini,” berkata Ki Penjawi. “Untunglah bahwa Kanjeng Adipati menganggap tawaranmu itu hanya sebagai kelakar yang segera dilupakannya.”

Sutawijaya mengerutkan keningnya. Namun ia berdesis, “Justru aku menyesal bahwa ayahanda Adipati tidak menghiraukan permohonanku.”

“Kau harus mempergunakan nalarmu. Kau menjadi semakin dewasa, sehingga seharusnya kau tahu apa yang baik kaulakukan dan yang mana yang tidak baik,” berkata Ki Pemanahan. “Seandainya Sultan tidak mengasihimu seperti anak kandungnya sendiri, maka ia akan dapat menjadi marah, karena persoalan yang gawat ini kau anggap sekadar sebagai satu arena permainan. Berperang melawan Arya Penangsang tidak sekadar seperti kau bermain sembunyi-sembunyian atau bermain jirak dengan miri.”

“Aku tahu ayah,” jawab Raden Sutawijaya. “Aku memiliki pengetahuan olah kanuragan. Jika aku harus bertempur melawan pamanda Arya Penangsang di atas punggung kuda, maka aku yakin, bahwa aku akan dapat mengimbanginya.”

PEMANAHAN menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Aku percaya bahwa kau memiliki kemampuan menunggang kuda. Tetapi perang bukan sekadar berpacu dengan kuda atau sekadar keterampilan berkuda.” Sementara itu, selagi Ki Pemanahan dan Ki Penjawi memberikan beberapa petunjuk kepada Raden Sutawijaya, maka saudara seperguruan Ki Pemanahan dan Ki Penjawi yang kebetulan lebih tua dari mereka dalam tataran perguruan dan yang sudah beberapa hari berada di pesanggrahan, telah hadir pula dalam pembicaraan itu. Ketika ia memasuki ruangan, maka dilihatnya Pemanahan dan Penjawi berbicara sungguh-sungguh, sementara Raden Sutawijaya nampak merenungi setiap kata-kata ayah dan pamannya itu.

“Apakah ada persoalan yang sangat penting yang sedang kalian bicarakan,” bertanya Ki Juru Martani, saudara seperguruan Ki Pemanahan dan Ki Penjawi. Ki Pemanahan menarik nafas dalam-dalam. Setelah mempersilakan Ki Juru duduk, maka Ki Pemanahan pun telah menceriterakan sikap Raden Sutawijaya dihadapan ayahanda angkatnya.

“Bukankah itu satu sikap deksura?” bertanya Ki Pemanahan.

Ki Juru tersenyum. Katanya, “Anak-anak muda kadang-kadang memang kurang memikirkan tingkah lakunya. Tetapi biarlah Sutawijaya merenungi kata-katanya.

Nah, beristirahatlah. Mungkin sambil berbaring kau akan mengetahui, kenapa ayah dan pamanmu Penjawi bahkan Kanjeng Adipati pun berkeberatan, meskipun mungkin kau akan mendapat tugas yang berat pula dikesempatan lain.”

Raden Sutawijaya termangu-mangu sejenak. Namun ia pun kemudian meninggalkan pertemuan itu. Dengan wajah muram Raden Sutawijaya telah pergi ke kandang kudanya mengamati seekor kudanya yang paling disukainya. Besar dan tegar. Namun nampak pada sorot matanya bahwa ia menjadi sangat kecewa bahwa permohonannya sama sekali tidak dipertimbangkan. Bahkan seakan-akan hanya sekadar kelakuan yang tidak berarti.

Namun dalam pada itu, ternyata Ki Juru mempunyai tanggapan yang lain. Bahkan dengan senyum di bibir, Ki Juru berkata, “Kau harus memanfaatkan keberanian anak laki-lakimu dalam keadaan seperti ini. Arya Penangsang memang seorang yang memiliki ilmu yang sangat tinggi. Jarang sekali ada orang yang dapat mengimbangi kemampuannya. Kulitnya bagaikan menjadi kebal segala macam senjata. Bahkan menurut keterangan yang aku dengar, Arya Penangsang tidak akan dapat mati jika tubuhnya tidak tergores oleh pusakanya sendiri. Kiai Setan Kober, kerisnya yang nggegirisi itu.”

“Apalagi jika hal itu benar,” berkata Ki Pemanahan. “Apa daya Sutawijaya. Bukankah lebih baik aku atau adi Penjawi yang harus turun ke medan perang. Kami, orang-orang tua ini agaknya telah mempunyai bekal yang cukup, betapapun tingginya ilmu yang ada di dalam diri Arya Penangsang. Kami masing-masing telah cukup lama mengabdikan diri di dalam lingkungan keprajuritan, sehingga pengalaman kami pun agaknya sudah cukup luas untuk menghadapi Arya Penangsang.”

Ki Juru Martani mengangguk-angguk. Senyumnya masih nampak di bibirnya. Katanya, “Aku percaya. Aku pun percaya bahwa kalian tidak akan gentar menghadapi Arya Penangsang, bahkan dalam perang tanding sekalipun. Tetapi dalam persoalan ini, kita harus meyakinkan diri, bahwa kalian akan dapat menyelesaikan persoalan.”

“Masalah yang sebenarnya terletak pada Bengawan Sore. Tidak pada kemampuan perseorangan. Arya Penangsang sendiri meskipun ia berilmu tinggi, namun satu dua orang Pajang akan dapat menghadapinya. Bahkan aku yakin bahwa dalam keadaan yang memaksa kedua Adipati Pajang dan Jipang berhadapan langsung, maka Adipati Pajang akan dapat memenangkannya. Namun bagaimanapun juga, keadaan pasukan dari kedua belah pihak akan menentukan. Siapa yang berani menyeberangi Bengawan Sore, maka pasukannya akan hancur di tengah-tengah Bengawan.”

Ki Juru Martani mengangguk-angguk. Katanya, “Baiklah. Marilah kita pikirkan dengan tenang dan bersungguh-sungguh. Kita akan dapat membicarakannya tidak hanya pada hari ini. Mungkin malam nanti kita akan dapat menemukan satu cara yang paling baik. Tetapi berilah kesempatan aku berbicara dengan anakku Raden Sutawijaya. Mungkin aku dapat membantu memecahkan persoalan ini.”

mohon maaf….terpotong lagi…memang dari sono-nya begitu…

“JANGAN membual,” bentak Ki Rangga. “Semula tidak ada orang yang tahu bahwa kau dibawa oleh orang-orang Pajang. Kami hanya dapat menduga demikian. Tidak ada orang yang melihat kau dibawa oleh orang-orang Pajang itu. Karena itu, maka kami dapat saja menduga bahwa kau memang ingin berkhianat dengan menyeberang kepada orang-orang Pajang.”

“Ki Rangga,” anak muda itu memotong pembicaraan. Dengan serta merta ia berusaha untuk bangkit dari pembaringannya. Namun iapun kemudian menyeringai menahan sakit. Dengan lemahnya ia kembali berbaring. Pemimpin kelompoknyalah yang kemudian mendekatinya sambil berdesis, “Jangan bangkit. Kau harus masih banyak beristirahat. Kau tidak boleh terlalu letih dan terlalu banyak berbicara, apalagi berpikir.”

Tetapi Ki Rangga memotong, “Untuk kepentingan keprajuritan, sepantasnya ia menjawab semua pertanyaan. Ia harus lebih banyak berusaha memberikan arti dari hidupnya bagi perjuangan. Jangan terlalu mementingkan diri sendiri.”

“Aku berharap bahwa ia segera dapat sembuh,” berkata pemimpin kelompoknya.

“Keterangan yang diketahuinya akan dapat diberikan kemudian, apabila keadaannya sudah menjadi lebih baik.”

“Sementara itu barak kita sudah digulung oleh para prajurit Pajang,” jawab Ki Rangga.

Dalam pada itu, Ki Wiradana berusaha untuk menengahinya. Dengan nada berat ia bertanya kepada anak muda yang terluka itu, “Apakah kau sudah memberikan terlalu banyak keterangan kepada orang-orang Pajang?”

Anak muda itu menggeleng. Katanya, “Aku mencoba bertahan. Karena itu keadaanku menjadi seperti ini.”

“Kau sudah dibawa oleh para prajurit Pajang keperbatasan. Dan kau agaknya telah menunjuk beberapa kelemahan dari pertahanan kita disini,” desak Ki Rangga.

“Aku belum gila,” jawab anak itu. “Aku dapat mengatakan yang bukan sebenarnya.

Jika aku tidak mengatakan sesuatu, mungkin aku sudah mati.”

“Sudahlah,” berkata pemimpin kelompok itu ketika ia melihat wajah anak itu menjadi tegang, “Kau berhak untuk beristirahat.”

“Hak apa?” Warsilah yang bertanya, “Siapakah yang memberikan hak itu kepadanya?”

“Aku,” jawab pemimpin kelompok itu. “Dasarnya adalah perikemanusiaan.”

“Gila kau,” geram Ki Rangga. “Kau berani menyombongkan dirimu seperti itu? Kau kira kau ini siapa he?”

Anak muda yang menjadi pemimpin kelompok itumenjadi berdebar-debar. Apalagi ketika Ki Rangga itu berkata, “Apakah kau menganggap bahwa pemangku jabatan Kepala Tanah Perdikanmu akan dapat melindungimu?”

Anak muda itu termangu-mangu. Namun yang menjawab adalah Ki Randukeling, “Tidak.

Ki Wiradana tidak akan dapat melindunginya. Lalu apa yang akan kau lakukan?”

Wajah Ki Rangga menegang. Sementara itu Warsilah yang berkata, “Kita harus membenahi diri. Kita harus memperbaharui pengertian kita tentang hak dan kewajiban kita masing-masing. Anak itu telah kehilangan kesetiaannya kepada hak dan kewajibannya, apalagi ia adalah seorang pemimpin kelompok.”

YANG menjawab adalah Ki Randukeling. “Aku sependapat dengan Warsi. Kita harus kembali kepada hak dan kewajiban kita masing-masing. Nah, apakah kata kalian dengan sikap kalian?”

Wajah-wajah pun menjadi semakin tegang. Namun Ki Randukeling pun kemudian berkata, “Baiklah. Beristirahatlah. Namun kami masih ingin sedikit mendengarkan darimu. Jika ada yang kau anggap penting untuk segera kami ketahui. Katakanlah.”

Anak muda itu menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian katanya, “Aku tidak dapat mengetahui sesuatu yang ada di dalam barak mereka dan apalagi rencana mereka. Yang dapat aku lihat adalah kesibukan mereka yang luar biasa. Aku tidak tahu, apakah arti dari kesibukan itu, karena aku pun sibuk mengalami tekanan yang hampir tidak tertahankan. Untunglah aku masih mampu membendung semua keterangan di mulutku betapapun aku menderita.”

Ki Randukeling mengangguk-angguk kecil. Katanya, “Baiklah. Kau wajar sekali jika tidak mengetahui sesuatu dari rencana mereka. Tetapi bagaimana kau dapat melepaskan diri?”

Anak itu mengerutkan keningnya. Sementara itu Ki Randukelingpun tersenyum sambil berkata, “Baiklah. Jika kau masih ingin beristirahat, beristirahatlah. Tetapi jika kau teringat sesuatu yang pantas segera kau beritahukan, maka kau harus melaporkannya kepada pemimpin kelompokmu.”

Anak itu mengangguk kecil. Katanya, “Baiklah Ki Randukeling. Aku akan mencoba mengingat- ingat. Ki Randukelingpun kemudian berkisar dari tempatnya dan keluar dari ruang itu tanpa menghiraukan orang lain. Sementara itu Ki Rangga dan Warsipun telah bersiap-siap untuk pergi pula. Namun Ki Rangga masih sempat

berkata. “Kalian anak-anak Tanah Perdikan, kalian harus tetap menyadari bahwa kalian merupakan bagian dari pasukan Jipang. Dan aku adalah perwira dari prajurit sandi Jipang”.

Pemimpin kelompok itu memandangi Ki Wiradana yang berdiri tegak. Tetapi Ki

Wiradana tidak menyahut sama sekali. Ia hanya memandangi saja. Ki Rangga dan Warsi yang meninggalkan tempat itu.

Ki Wiradana memang masih belum ingin meninggalkan tempat itu. Bahkan iapun kemudian menunggui anak muda yang terluka itu. Kepada pemimpin kelompok ia berkata, “Biarlah anak ini berada di sini untuk seterusnya. Ia memang harus disisihkan dari mereka yang terluka di Banjar. Keadaan anak ini agak khusus”.

“Ya Ki Wiradana, jawab pemimpin kelompok itu, akupun akan meminta kepada petugas yang merawat orang-orang sakit, agar merekalah yang bersedia datang kemari, khusus untuk merawat anak muda yang terluka secara khusus ini pula”.

Ki Wiradana mengangguk-angguk. Sementara itu matahari telah naik ke kaki langit.

Para petugas di padukuhan itupun telah menjadi sibuk. Bergantian mereka menjaga padukuhan itu dan bergantian pula mereka melakukan pengamanan ke arah kekuatan Jipang yang menghadapi mereka.

Setelah mendapat pengobatan, maka anak muda yang telah menyakiti dirinya sendiri itupun merasa berangsur menjadi baik. Darahnya rasa-rasanya telah mengalir wajar, meskipun karena sebagian dari darahnya telah mengalir melalui luka, maka tubuhnyapun terasa masih terlalu lemah.

Ia sadar, bahwa pada saatnya ia akan menghadapi pertanyaan-pertanyaan yang lebih mendalam. Karena itu, selama ia masih sempat, maka ia pun telah menganyam angan-angan. Ia harus menemukan satu urut-urutan peristiwa yang dikarangnya, namun harus menjadi satu kenyataan di dalam dirinya sehingga ia tidak akan salah jawab apabila ia menerima berbagai macam pertanyaan.

Ketika matahari lewat puncak langit, serta setelah ia mendapat ransum makan siang, yang diperhitungkannya itu pun terjadilah. Yang kemudian datang kepadanya bukan hanya Ki Rangga, Warsi dan Ki Randukeling, tetapi ada di antara mereka para perwira dari prajurit Jipang. Sementara itu Ki Wiradana masih tetap berada di rumah itu.

Namun anak muda itu telah siap. Ia telah menempatkan dirinya pengalaman yang sangat pahit ketika ia berada di tangan para prajurit Pajang.

Karena itu, ketika orang-orang yang datang itu mengajukan berbagai pertanyaan, maka jawabannya pun ajeg. Ia tidak terumbang-ambing oleh pertanyaan yang kadang-kadang berputar balik. Ia telah mengatakan apa adanya, sesuai dengan kenyataan yang terjadi di angan-angannya yang disusunnya dengan matang.

‘Aku terluka parah,” ia mulai dengan ceritanya. “Memang ada niat untuk menyingkir dari medan. Tetapi aku tidak mampu lagi. Mungkin orang lain yang tidak mengalaminya, masih juga menganggap bahwa aku seharusnya dapat menepi dan meloncati dinding padukuhan. Tetapi aku benar-benar tidak dapat bergerak. Mataku berkunang-kunang dan tulang-tulangku bagaikan sudah terlepas dari tubuhku.”

Demikian, ceritera yang terjadi di dalam angan-angan itupun telah diuraikan terperinci. Bagaimana ia dibawa oleh para prajurit Pajang atas permintaan Gandar. Kemudian ia memang mengalami pengobatan. Namun setelah keadaannya berangsur baik, maka mulailah penderitaan yang hampir tidak tertanggungkan.

“Di tangan para perwira keadaannku memang lebih baik. Tetapi di tangan para prajurit, terutama anak-anak muda yang ditariknya dari padukuhan-padukuhan, terlebih-lebih lagi ditangan Gandar, rasa-rasanya aku ingin membunuh diri,” berkata anak muda itu selanjutnya. Ia pun kemudian menceriterakan bagaimana ia berusaha untuk melarikan diri. Karena orang-orang Pajang mengiranya bahwa ia sudah tidak bertenaga sama sekali, maka penjagaan pun menjadi lengah. Ia pun berpura-pura seakan-akan ia tidak mampu lagi menggerakkan jari-jarinya, sehingga orang-orang Pajang mengira bahwa ia tidak akan mungkin dapat berbuat apa-apa lagi. Namun dalam keadaan demikian itulah, maka ia berhasil merayap ke luar melintasi jarak yang cukup panjang bagi seseorang yang dalam keadaan lemah dan memaksa diri memasuki padukuhan itu.

“Aku tidak tahu apa yang kemudian terjadi setelah aku melihat gardu penjagaan bagi kelompokku,” berkata anak muda itu.

“Kau pingsan sebelum kau sempat mencapai gardu itu,” peminpin kelompoknya meneruskan.

Orang-orang yang mendengarkannya mengangguk-angguk. Satu dua di antara mereka masih mengajukan beberapa pertanyaan. Namun jawabnya cukup meyakinkan, sehingga akhirnya seorang perwira telah berkata, “ia memang tidak berniat untuk berkhianat. Mudah-mudahan yang dialaminya itu dapat menjadi petunjuk bagi siapapun yang ingin mencoba memasuki lingkungan orang-orang Pajang. Mereka akan mengalami perlakuan yang sama. Mereka akan menjadi permainan yang sangat menyakitkan tubuh serta hati.”

Ternyata anak muda itu mampu meyakinkan orang-orang Jipang dan para pemimpin Tanah Perdikannya, sehingga mereka tidak lagi mencurigainya. Namun keyakinan mereka itu harus ditebus dengan penderitaan, karena seluruh tubuhnya terasa menjadi sakit, pedih dan nyeri. Sementara darahnya mengalir dari lukanya, sehingga tubuhnya menjadi lemah sekali.

Pada hari-hari pertama ternyata kebencian kawan-kawannya terhadap orang-orang Pajang dan Gandar menjadi semakin besar. Mereka seakan-akan ikut merasa disakiti lahir dan batinnya. Sekali-kali anak muda itu mendengar kawan-kawannya mengumpat dan bahkan mendendam.

“Jika saja aku dapat menangkap salah seorang diantara mereka,” berkata seorang kawannya.

Anak muda itu sama sekali tidak memberikan tanggapan. Ia masih saja berbaring dengan lemahnya. Sekali-kali terdengar ia berdesis menahan sakit.

Di pasukan yang berseberangan, Kiai Soka dan Gandar masih saja merasa cemas, bahwa anak muda yang telah menyakiti dirinya itu akan mengalami kesulitan.

Bahkan seorang perwira Pajang pun berkata, “Mudah-mudahan anak itu selamat, meskipun ia telah mengorbankan citra prajurit Pajang. Dengan caranya maka akan terdapat kesan, bahwa prajurit Pajang telah memperlakukannya diluar batas perikemanusiaan.”

“Kesan itu tentu akan timbul pada mulanya,” berkata Gandar. “Tetapi jika ia berhasil, maka ia akan dapat mempengaruhi setidak-tidaknya beberapa orang kawannya yang terdekat dan yang paling dipercaya.”

“Kita akan menunggu dua tiga hari. Mungkin ada sesuatu yang terjadi yang dapat ditangkap oleh para petugas sandi atau anak itu telah tenggelam lagi ke dalam dunianya yang lama tanpa menumbuhkan perubahan apapun juga.”

Kiai Soka dan Gandar itu pun mengangguk-angguk. Namun tiba-tiba saja Gandar berkata, “Apakah aku dapat mengambil tiga atau empat orang anak-anak muda Tanah Perdikan Kiai?”

mohon maaf….terpotong sedikit aja…

“Kakang,” berkata Ki Penjawi. “Sudahlah. Biarlah aku yang menyatakan diri untuk maju ke medan perang jika sudah kita ketemukan cara untuk mengatasi kesulitan pasukan pada saat menyeberangi Bengawan Sore. Aku akan menghadapi Adipati Jipang

apapun yang akan terjadi. Biarlah Kanjeng Adipati Hadiwijaya duduk tenang dipesanggrahan, karena masih ada para Senapatinya yang akan mampu mengatasi kemampuan ilmu Arya Penangsang.”

“Aku percaya Adi Penjawi,” jawab KI Juru Martani. “Bahwa kau memiliki keberanian yang cukup untuk menghadapi Arya Penangsang. Tetapi kau masih belum meyakinkan, bahwa kau akan dapat mengalahkannya. Apakah kau mempunyai sejenis pusaka yang akan dapat kau pergunakan untuk menembus ilmu kebal Arya Penangsang? Atau mungkin lambaran ilmu lain yang memiliki kemampuan seperti itu?”

“Kakang. Aku, kakang Pemanahan dan kakang Juru adalah saudara seperguruan Adipati Pajang. Kita mempunyai kemampuan yang serupa. Aji Tameng Waja dan bahkan Lembu Sekilan,” jawab Ki Penjawi.

Ki Juru Martani tersenyum. Katanya, “Aku percaya. Kita sudah saling mengetahui. Tetapi kita pun tidak akan dapat ingkar jika kita menyebut tataran kemampuan kita atas ilmu yang sama. Kemampuan kita mengetrapkan ilmu yang sama-sama kita sadap itu berada pada tataran yang berbeda. Sudah barang tentu, Adipati Hadiwijaya memiliki kemampuan yang tertinggi. Baru kemudian kita berturut-turut.

Namun aku masih belum yakin bahwa dengan ilmu itu kita akan mampu mengimbangi tataran kemampuan Arya Penangsang.”

“Jika demikian, kenapa kakang justru menunjuk Sutawijaya untuk menandingi Arya Penangsang jika kita yang tua-tua ini masih belum meyakinkan,” berkata Ki Pemanahan.

Ki Juru Martani menarik nafas dalam-dalam. Kemudian katanya, “Anakmu adalah seorang anak muda yang memiliki ketangkasan berkuda luar biasa. Berbeda dengan ilmu kanuragan, maka tidak seorang pun di antara kita yang akan dapat menyamai ketrampilan naik kuda sebagaimana anakmu itu.

“Sudah aku katakan kakang. Perang berbeda dengan adu ketangkasan naik kuda,” berkata Ki Pemanahan.

“Aku mengerti,” jawab Ki Juru. “Tetapi cobalah menyampaikan hal ini kepada Kanjeng Adipati. Katakan bahwa kau berdualah yang akan mengatur pasukan untuk melawan pasukan Jipang tanpa menyeberangi Bengawan Sore. Kalian berdua merasa cukup kuat untuk menandingi Arya Penangsang, sehingga Kanjeng Adipati tidak perlu menyingsingkan lengan bajunya menghadapi Adipati Pajang itu.”

“Aku mengerti,” berkata Ki Pemanahan. “Jika demikian, kenapa kita berbicara tentang Sutawijaya. Biarlah aku dan Adi Penjawi. Kanjeng Adipati tentu lebih percaya, karena Kanjeng Adipati mengetahui siapa aku dan Adi Penjawi itu.”

“Dalam pembicaraan itu, Sutawijaya harus hadir. Biarlah ia memaksa diri untuk ikut ke medan. Sekadar ikut ke medan. Itu saja,” berkata Ki Juru.

“Aku tidak mengerti,” desis Ki Pemanahan. “Kakang justru bergurau pada saat kita benar-benar pening menghadapi kebekuan ini, justru karena Bengawan Sore.”

“Aku tidak bermain-main. Cobalah kau katakan hal itu kepada Kanjeng Adipati,” berkata Ki Juru. “Segala sesuatunya akan kita atur kemudian. Jika kita menghadapi kesulitan, maka kita akan mengubah cara yang kita tempuh.”

Ki Pemanahan masih belum tahu pasti, apakah yang akan terjadi. Ki Penjawi justru memijit keningnya sambil berkata, “Kakang membuat kami kebingungan.”

“Masih ada beberapa kemungkinan. Kita akan memilih satu di antaranya. Jika urung, maka kita masih mempunyai kemungkinan-kemungkinan yang lain,” berkata Ki Juru.

Ki Pemanahan dan Ki Penjawi masih saja termangu-mangu. Meskipun mereka pun yakin, bahwa Ki Juru bukannya tidak mempunyai perhitungan atau bahkan bermain-main dengan nyawa anak muda itu.

Dalam pada itu, maka Ki Juru pun berkata, “Cobalah menyampaikannya kepada Kanjeng Adipati bahwa kalian berdua akan memimpin pasukan untuk melawan Arya Penangsang. Kemudian suruhlah anakmu memaksa untuk ikut bersamamu.”

mohon maaf….terpotong sedikit lagi…

“KAMI berdua akan mencoba memecahkannya. Tetapi kami berdua mohon izin untuk mempergunakan segala kekuatan yang ada di pesanggrahan ini,” mohon Ki Pemanahan.

Kanjeng Adipati merenung sejenak. Lalu katanya, “Kenapa hanya kalian berdua, sementara itu aku duduk dengan tenang tanpa berbuat sesuatu di pesanggrahan justru pada saat kalian mempertaruhkan nyawa kalian? Sebaiknya tidak begitu kakang. Kita bertiga akan berada di medan. Jika kakangmas Arya Penangsang ingin berperang tanding, biarlah ia memilih. Kau, kakang Penjawi atau aku. Kita sama-sama mempunyai bekal dari sebuah perguruan yang sama. Meskipun mungkin dalam perkembangannya kita mempunyai jalur yang berbeda, tetapi pada dasarnya kita mempunyai bekal yang sama. Karena itu, maka kita masing-masing akan dapat menghadapinya dalam perang tanding.”

“Tidak Kanjeng Adipati. Kanjeng Adipati adalah seseorang yang diharapkan untuk dapat menjadi pengikat Tanah ini, agar kebesaran Demak tidak menjadi surut.

Sedangkan kami berdua adalah Senapati yang memang bertugas di medan perang. Karena itu, maka biarlah kami berdua menjalankan tugas kami. Jika kami gagal, segalanya terserah kepada Kanjeng Adipati,” sahut Ki Pemanahan.

Kanjeng Adipati merenung sejenak. Namun sambil menarik nafas dalam-dalam ia berkata, “Aku tidak dapat menolaknya, kakang Pemanahan. Tetapi aku minta kakang memperhitungkan segala sesuatunya sebagaimana yang selalu kakang katakan kepadaku. Misalnya tentang Bengawan Sore.”

“Kami akan selalu memperhatikan segalanya yang mungkin mempengaruhi perang yang akan datang Kanjeng,” jawab Ki Pemanahan.

Kanjeng Adipati mengangguk-angguk. Suaranya menjadi datar. “Berhati-hatilah. Kakangmas Arya Penangsang adalah seorang yang memiliki ilmu dan kemampuan yang sangat tinggi.”

Ki Pemanahan mengangguk hormat. Katanya, “Kami berdua sudah mempertimbangkan masak-masak, apa yang mungkin kami lakukan.”

“Baiklah,” berkata Kanjeng Adipati. “Segala sesuatunya terserah kepada Ki Pemanahan. Tetapi setiap langkah, aku minta dihubungi. Beberapa orang penghubung khusus aku minta selalu memberikan gambaran tentang perang yang akan terjadi.

Karena mungkin aku tidak menunggu keadaan menjadi terlambat. Aku dapat saja turun ke medan setiap saat.”

“Kanjeng jangan gelisah,” berkata Ki Pemanahan. “Jika kami berdua sudah tidak ada lagi, terserahlah. Tetapi kami mohon Kanjeng Adipati percaya sepenuhnya kepada kami berdua.”

“Kakang,” berkata Kanjeng Adipati. “Bukan aku tidak percaya. Tetapi banyak kemungkinan dapat terjadi. Jika aku anggap perlu untuk turun ke medan, maka tidak seorang pun yang dapat mencegah aku. Apalagi jika keadaan prajurit Pajang menjadi parah menghadapi prajurit Jipang, maka kehadiranku akan sangat berpengaruh. Karena jika aku turun ke medan berarti bukan aku sendiri. Tetapi pasukan pengawal khusus itu pun akan beserta aku pula memasuki medan pertempuran.”

Ki Pemanahan menarik nafas dalam-dalam. Memang tidak ada seorang pun yang berhak mencegah jika hal itu memang sudah dikehendaki oleh Kanjeng Sultan. Namun Ki Pemanahan masih berharap bahwa dengan rencana yang akan disusun bersama Ki Juru, ia dan Ki Penjawi akan dapat menyelesaikan persoalan antara Pajang dan Jipang.

Namun dalam pada itu, sebagaimana dipesankan kepada Sutawijaya yang bergelar Ngabei Loring Pasar sebelumnya, maka tiba-tiba saja ia pun berkata, “Ampun ayahanda Adipati. Hamba mohon, agar hamba diperkenankan ikut dalam pertempuran itu bersama ayah Pemanahan dan paman Penjawi.”

Adipati Pajang mengerutkan keningnya. Namun ia pun kemudian tersenyum sambil berkata, “Jangan nakal Sutawijaya. Kau tinggal bersamaku di pesanggrahan. Besok, jika datang waktunya, maka kita akan pergi bersama-sama.”

“Ayahanda, hamba sudah cukup dewasa. Hamba sudah waktunya untuk turun ke medan.

Apalagi akan berada di medan pula ayah Pemanahan dan paman Penjawi,” desak Sutawijaya.

“Tunggulah jika saat itu datang,” jawab Adipati Hadiwijaya.

mohon maaf….terpotong lagi…

“KEMARILAH Sutawijaya,” panggil Kanjeng Adipati. Sutawijaya itu pun kemudian mendekat sambili berjalan jongkok. Dengan nada yang penuh dengan ucapan terima kasih, Sutawijaya menerima pusaka yang sangat berharga baginya itu, apalagi jika ia kelak memasuki medan perang melawan pasukan Jipang.

Hampir tidak dapat keluar dari kerongkongannya ketika ia kemudian mengucapkan, “Terima kasih ayahanda.”

Kanjeng Adipati menepuk pundaknya sambil berkata, “Berhati-hatilah. Tombak ini adalah tombak pusaka terbesar yang aku miliki. Pergunakanlah sebagaimana anggapanmu atas dirimu sendiri, bahwa kau telah dewasa. Seorang yang dewasa akan memilih keadaan yang paling tepat untuk mempergunakan sebuah pusaka besar sebagaimana Kanjeng Kiai Pleret. Kau tidak dapat mempergunakannya untuk sekadar bersombong diri, apalagi untuk kepentingan yang bertentangan dengan watak seorang kesatria.”

“Hamba ayahanda,” jawab Sutawijaya. Sebenarnya masih banyak yang ingin dikatakannya. Tetapi kata-katanya seakan-akan telah tersangkut dikerongkongan.

Demikianlah, maka sejenak kemudian Ki Pemanahan, Ki Penjawi dan Sutawijaya sekali lagi mohon diri meninggalkan penghadapan di pesanggrahan itu. Dengan restu Kanjeng Adipati mereka harus mempersiapkan diri, membuka medan yang menentukan menghadapi pasukan Jipang di seberang Bengawan Sore.

Ketika mereka sampai di pondok dilingkungan pesanggrahan, maka mereka pun segera ditemui oleh Ki Juru Martani.

Dengan singkat Ki Pemanahan telah menceriterakan apa yang terjadi pada saat mereka menghadap Kanjeng Adipati.

“Angger Sutawijaya telah diperkenankan untuk ikut ke medan. Nah, apa yang harus kami lakukan bagi langkah berikutnya?” bertanya Ki Pemanahan.

Ki Juru mengerutkan keningnya. Dengan nada dalam ia bertanya, “Apakah Kanjeng Adipati tidak berpesan apapun kepada Sutawijaya ketika Kanjeng mengijinkannya pergi bersamamu, adi?”

“Ya. Kanjeng Adipati telah berpesan serta memberikan petunjuk-petunjuk kepada angger Sutawijaya,” jawab Ki Pemanahan.

“Dimana Sutawijaya sekarang?” bertanya Ki Juru.

“Anak itu berada di dalam bilikku. Ia sedang mempersiapkan dirinya lahir dan batinnya,” jawab Ki Pemanahan.

Ki Juru mengangguk-angguk. Namun ia pun bertanya, “Apakah Kanjeng Adipati tidak memberikan lebih dari pesan dan nasihat-nasihat?”

Ki Pemanahan dan Ki Penjawi mengerutkan keningnya. Namun tiba-tiba Ki Pemanahan berkata sambil mengangguk-angguk, “Aku baru mengerti kakang. Apakah kau menyadari adi Penjawi?”

Ki Penjawi pun mengangguk-angguk pula. Jawabnya, “Ya. Ternyata kakang Juru Martani mempunyai perhitungan yang jauh. Jadi kakang Juru sudah melihat kemungkinan bahwa Kanjeng Adipati akan memberikan Kanjeng Kiai Pleret kepada angger Sutawijaya?”

Ki Juru Martani tersenyum. Katanya, “Pada langkah pertama perhitunganku tepat.

Tanpa angger Sutawijaya, Kanjeng Adipati tidak akan memberikan pusaka terbesarnya itu. Sementara itu, setiap orang mengetahui, bahwa Arya Penangsang adalah orang yang memiliki ilmu yang tinggi. Tanpa pusaka bernilai tinggi pula, maka tidak seorang pun akan mampu mengalahkannya.”

“Baiklah kakang,” berkata Ki Pemanahan. “Tetapi apakah mungkin aku atau adi Penjawilah yang kemudian membawa tombak pusaka terbesar itu di medan. Jika demikian, apabila terjadi sesuatu dengan Sutawijaya, alangkah murkanya Kanjeng Adipati, justru karena pusaka yang diberikan kepada anak angkatnya itu berada ditangan orang lain.”

“Jangan kau minta pusaka itu,” jawab Ki Juru. “Jugan jangan adi Penjawi. Biarkan Sutawijaya sendiri yang membawanya ke medan. Karena seperti yang kau katakan,

jika terjadi sesuatu dengan anak itu sementara pusaka itu berada ditangan orang lain, maka orang yang membawa pusaka itu tentu akan digantungnya.”

“Jadi menurut kakang, Sutawijaya benar-benar harus menghadapi Kanjeng Adipati Jipang?” bertanya Ki Pemanahan.

Ki Juru menarik nafas dalam-dalam. Lalu katanya dengan nada dalam, “Agaknya yang terjadi harus demikian.” “Kakang tidak bergurau?” bertanya Ki Penjawi.

Ki Juru termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya, “Baiklah, segala sesuatunya kita rencanakan dengan cermat. Kita akan membicarakannya jika kalian

setuju. Jika tidak kita akan mencari upaya lain.”

Ki Pemanahan dan Ki Penjawi saling berpandangan sejenak. Sementara itu Ki Juru Martani berkata selanjutnya, “Tetapi satu hal yang perlu diingat. Kalian sudah menyanggupi untuk turun ke medan lebih dahulu sebelum Kanjeng Adipati itu sendiri. Sebagai Panglima yang dipercaya, kalian hanya mempunyai dua pilihan.

Berhasil membunuh Arya Penangsang atau tidak keluar lagi dari medan jika kalian gagal.”

“Kami menyadari,” jawab Ki Pemanahan. “Dalam pertempuran ini, maka taruhannya adalah nyawa kami. Seperti yang kakang katakan. Hanya ada dua pilihan. Membunuh atau dibunuh oleh Arya Penangsang. Kemudian keadaan pasukan yang seimbang akan ditentukan oleh keadaan itu. Jika kami yang dibunuh, maka pasukan Pajang akan dikoyak oleh pasukan Jipang sampai saatnya Kanjeng Adipati sendiri turun ke medan. Tetapi jika Arya Penangsang terbunuh, maka pasukan Jipanglah yang akan pecah bercerai berai.”

“Jangan lengah,” Ki Juru mengingatkan. “Masih ada Patih Mantahun. Bahkan mungkin pada benturan pertama, yang akan kalian jumpai di medan adalah Patih Mantahun.

Baru kemudian Arya Penangsang akan menyusul.”

“Kami akan menurut saja petunjuk kakang Juru jika mungkin kami lakukan menurut pertimbangan keprajuritan,” berkata Ki Pemanahan kemudian.

“Baiklah,” berkata Ki Juru. “Besok kita akan melihat-lihat tepian Bengawan Sore sekaligus merencanakan, apa yang sebaiknya kita lakukan kemudian.”

Demikianlah, sebagaimana dikatakan oleh Ki Juru, dihari berikutnya, mereka bertiga telah berada di tepian Bengawan Sore. Mereka tidak hadir ditepian dengan sepasukan prajurit yang lengkap untuk siap menyeberangi Bengawan. Tetapi mereka sekadar melihat-lihat, untuk menentukan langkah-langkah yang paling baik menghadapi pasukan Jipang diseberang.

Ki Pemanahan dan Ki Penjawi hanya membawa sekelompok kecil pengawal, sementara para prajurit yang memang bertugas ditepian untuk mengawasi gerak-gerik pasukan Jipang telah menyambut kehadiran mereka.

Untuk beberapa saat mereka bertiga hanya mondar-mandir ditepian. Mereka kadang-kadang berdiri sambil mengamati keadaan diseberang. Dari tempat mereka, ketiga orang itu melihat kesiagaan para pengawas dari Jipang ditepian sebelah.

“Kita tidak akan dapat menyeberangi Bengawan ini tanpa diketahui oleh prajurit Jipang ,” berkata Ki Pemanahan.

Ki Juru mengangguk-angguk. Katanya, “Kita harus berusaha memancing mereka untuk menyeberang.”

“Mereka mengerti sebagaimana kita mengerti, bahwa menyeberangi Bengawan mengandung bahaya yang bahkan dapat menentukan,” jawab Ki Pemanahan.

Ki Juru pun menyahut, “Aku mengerti.”

KI PEMANAHAN termangu-mangu. Namun ia pun tidak mengatakan sesuatu lagi. Ki Pemanahan dan Ki Penjawi pun kemudian mengikuti saja langkah-langkah Ki Juru Martani. Sekali-kali Ki Juru telah menunjuk ke arah para prajurit Jipang.

Kemudian berjalan lagi hilir mudik. Bahkan kemudian Ki Juru pun telah mengambil batu dan melontarkannya ketengah-tengah Bengawan. “Agaknya tidak terlalu dalam di musim kering begini,” berkata Ki Juru. “Meskipun demikian, aku sependapat bahwa kita tidak akan menyerang.” Ki Pemanahan dan Ki Penjawi mengangguk-angguk.

Kata-kata itu sudah diucapkannya beberapa kali.

Namun dalam pada itu, Ki Juru pun tertegun ketika ia melihat seseorang yang sedang menyabit rumput. Hanya seorang diri, sementara itu, para pekatik dari Pajang agaknya tidak akan menyabit rumput ditempat itu, karena disebelah pesanggrahan terdapat lingkungan yang rumputnya subur dan terdapat disebuah ara-ara yang cukup luas, disambung dengan padang perdu sebelum mencapai tepi sebuah hutan kecil yang mulai dibuka untuk tanah persawahan. Namun agaknya usaha itu terhenti ketika perang mulai membakar Demak.

“Aku tertarik melihat orang menyabit rumput itu,” berkata Ki Juru. “Tentu bukan seorang petani kebanyakan menilik dari pakaiannya. Keranjangnya pun sebuah keranjang yang lebih baik dari keranjang orang kebanyakan.”

“Apa yang menarik pada orang itu?” bertanya Ki Penjawi.

Ki Juru hanya tersenyum saja. Namun ia pun telah mendekati orang itu dan kemudian bertanya, “Ki Sanak. Untuk apa Ki Sanak menyabit rumput?”

Orang itu berpaling ke arah Ki Juru sambil mengerutkan keningnya. Namun kemudian ia pun menjawab, “Sudah tentu untuk memberi makan kuda.”

“O,” Ki Juru mengangguk-angguk. “Jadi kau tidak menyabit rumput untuk seekor kambing misalnya.”

“Untuk memberi makan kambing aku tidak perlu menyabit rumput disini,” jawab orang itu.

“Itulah yang ingin aku tanyakan,” berkata Ki Juru. “Kenapa Ki Sanak menyabit rumput disini? Apakah Ki Sanak anak orang Pajang atau orang Jipang?”

“Aku bukan orang Pajang,” jawab orang itu tanpa merasa takut.

“Jadi kau orang Jipang?” bertanya Ki Juru.

“Ya. Aku orang Jipang. Aku menyabit rumput khusus bagi kuda Kanjeng Adipati. Hanya rumput ditempat inilah yang sangat digemari oleh kuda yang disebut Gagak Rimang itu,” orang itu justru berbangga.

“Kenapa kau tidak merasa takut, bahwa kau akan ditangkap oleh para prajurit Pajang? Bukankah kau sadari, bahwa Pajang dan Jipang kini sedang berperang?” bertanya Ki Juru

“Aku mengerti,” jawab orang itu. “Tetapi bukankah orang-orang Pajang bukannya pengecut? Jika aku seorang prajruit, mungkin aku akan ditangkap. Tetapi aku hanya seorang pekatik. Buat apa orang-orang Pajang menangkapku? Selain tidak ada artinya, maka mereka pun tidak akan melakukannya sebagaimana dikatakan oleh para prajurit Jipang, bahwa prajurit Pajang tidak akan merendahkan dirinya menangkap seorang pekatik.”

Ki Juru mengangguk-angguk. Katanya, “Benar Ki Sanak. Kami memang tidak akan mengganggu seorang pekatik. Silakan. Disini rumputnya memang subur dan khusus.”

Pekatik itu mengangguk-angguk. Tetapi tangannya sama sekali tidak berhenti menyabit rumput.

Ketika Ki Juru kemudian meninggalkan tempat itu, maka ia pun berdesis, “Nampaknya diseberang sungai tanahnya tidak sesubur di daerah ini, sehingga khusus bagi kuda Arya Penangsang yang bernama Gagak Rimang itu telah dicarikan rumput secara khusus pula.”

“Apa orang itu bukan seorang petugas sandi?” bertanya Ki Pemanahan.

“Memang mungkin. Tetapi dari tempatnya menyabit rumput, ia tidak akan mendapat keterangan apapun juga tentang prajurit Pajang di pesanggrahan,” jawab Ki Juru.

“Tetapi ia dapat berhubungan dengan seseorang yang mungkin berhasil menyusupkan dirinya ke dalam lingkungan prajurit Pajang,” jawab Ki Pemanahan.

mohon maaf….terpotong sebagian…

ORANG-ORANG Tanah Perdikan itu tidak lagi merasa terlalu berat dibebani oleh pajak yang tidak mereka ketahui untuk apa. Beberapa orang dengan bersembunyi telah memperkaitkaan pajak pada waktu Ki Wiradana berkuasa, bahwa pajak itu telah dihisap untuk kepentingan pribadi istri Ki Wiradana dan biaya bagi para pengawal yang manja, namun yang ternyata telah menjadi alat untuk memeras dan bahkan kemudian terseret ke dalam pertentangan antara Pajang dan Jipang. Justru berpihak kepada Jipang. Namun setelah Ki Wiradana dan orang-orang yang mempengaruhinya tersisih dari Tanah Perdikan, maka pajakpun telah diatur dan ditertibkan sesuai dengan kemampuan masing-masing. Sementara itu, kedudukan para pengawalnya mapan kembali

pada tugas-tugas pengawal yang sebagaimana diatur oleh Ki Gede Sembojan semasa

hidupnya. Para Bekel pun telah menyandang kewajiban mereka tanpa dibayangi oleh para pengawal.

Tetapi dalam pada itu, dalam keseluruhan, maka rakyat Sembojan telah berusaha bekerja keras untuk meningkatkan kesejahteraan hidup mereka serta ketertiban di Tanah Perdikannya. Justru pada saat perang antara Pajang dan Jipang semakin berkecamuk, maka rakyat Sembojan pun menjadi semakin meningkatkan kerja mereka, karena pada satu saat perang itu mungkin akan terjadi pula di Tanah Perdikan mereka, karena mereka pun menduga, bahwa Ki Wiradana dan orang-rang yang mempengaruhinya tentu akan kembali. Sementara itu anak-anak Sembojan sendiri sebagian justru berdiri di pihak Ki Wiradana.

“Bahkan tidak mustahil bahwa Jipang akan ikut campur. Jika Jipang menang, maka kita harus berjuang mati-matian untuk tidak membiarkan Tanah Perdikan ini menjadi landasan serta sumber bahan makan bagi mereka,” berkata Iswari.

“Tetapi tanpa Pajang apabila Pajang kalah, kita bukan apa-apa,” berkata salah seorang Bekel.

“Mungkin Pajang dapat ditaklukkan. Tetapi tentu akan berjuang terus.

Mudah-mudahan kita mendapat teman untuk itu. Aku yakin bahwa mereka akan berhimpun dan tetap mengadakan perlawanan terhadap Jipang.”

“Jika Jipang kalah?” bertanya seorang Bekel yang lain. “Apakah berarti bahwa kita sudah tidak mempunyai kerja lagi? Kita akan dapat tegak sebagaimana masa Ki Gede dahulu?”

“Tidak Ki Bekel,” jawab Iswari. “Jika Jipang kalah kita pun masih dihadapkan pada satu perjuangan yang berat. Pecahan prajurit Jipang dan kekuatan Kalamerta akan selalu membayangi kekuasaan di Tanah Perdikan ini. Namun dalam keadaan yang demikian, ada kemungkinan, baru satu kemungkinan, bahwa Pajang akan dapat membantu kita.”

Para Bekel di Tanah Perdikan Sembojan itupun mengangguk-angguk. Namun seorang di antara para Bekel itu berkata, “Kita sudah membuat hubungan yang sangat baik dengan tetangga-tetangga kita. Hubungan yang seakan-akan terputus untuk beberapa saat, pada waktu Ki Wiradana masih berkuasa dibawah bayangan pengaruh istrinya yang muda itu, telah merenggangkan hubungan kita dengan mereka. Kekuasaan yang mendesak semua paugeran telah membuat tetangga-tetangga kita lebih baik membuat jarak karena mereka tidak mau terlibat, kini telah berpaut kembali. Bahkan anak-anak muda di Kademangan-kademangan itu pun telah bersiap untuk membantu jika terjadi sesuatu dengan kesediaan timbal balik.”

Iswari mengangguk-angguk. Katanya, “Beberapa orang di antara kita telah berada di tengah-tengah mereka untuk memberikan tuntunan dalam olah kanuragan.

Peningkatan kemampuan mereka, akan sangat berarti bagi kita semuanya.” Para Bekel itu pun mengiakannya. Namun yang terpenting adalah peringatan Iswari kemudian, “Tetapi segala sesuatunya tergantung kepada diri kita sendiri. Sikap mereka mungkin akan dapat berubah. Karena itu, betapa kecilnya kekuatan yang ada di Tanah Perdikan ini harus digalang sebaik-baiknya.”

Sebenarnyalah, bahwa Tanah Perdikan Sembojan tidak pernah sepi dari usaha peningkatan kemampuan bukan saja anak-anak mudanya. Tetapi setiap laki-laki yang masih mampu menggenggam senjata telah ikut serta. Mereka yang memiliki pengalaman menjadi prajurit dan pengawal di masa mudanya, telah mengenakan pakaian mereka kembali serta memberikan tuntunan kepada orang-orang disekitarnya. Sementara anak-anak mudanya telah menempa diri dengan tekun dan bersungguh-sungguh.

DALAM pada itu, Gandar yang membawa sepuluh orang anak muda Tanah Perdikan Sembojan telah mendekati Pajang. Namun seperti yang dikatakan oleh para Senapati di Pajang, bahwa jalan yang ditempuhnya adalah jalan yang berbahaya. Jalan yang berada dibawah pengawasan kedua belah pihak yang sedang berperang di Pajang sebelah Timur. Pada satu saat, pasukan Jipanglah yang lewat meronda, namun pada saat yang lain pasukan Pajanglah yang berada di tempat itu.

Namun Gandar ternyata telah memilih kemungkinan yang paling kecil untuk berjumpa dengan salah satu pihak, agar tidak terjadi benturan. Meskipun ia sudah dibekali dengan istilah-istilah sandi dari pasukan Pajang, tetapi kesalahpahaman mungkin masih dapat terjadi. Apalagi apabila ia bertemu dengan pasukan Jipang.

Meskipun perjalanan mereka menjadi bertambah panjang, tetapi mereka sampai ditujuan tanpa terganggu sama sekali. Dengan utuh mereka telah menggabungkan diri pasukan Pajang disisi sebelah Timur.

Dari perhitungan kekuatan sepuluh orang itu tidak banyak berarti. Tetapi kehadiran mereka akan memberikan pengaruh yang lain dari sekadar imbangan kekuatan.

Sementara itu, anak muda yang pernah dibawa oleh Gandar dan dengan cara yang khusus telah kembali kelingkungannya, mulai dengan sangat hati-hati menceriterakan apa yang sebenarnya terjadi. Semula ia hanya mengatakan kepada saudaranya yang juga berada di lingkungan anak-anak muda Sembojan yang ikut dengan pasukan Jipang.

“Kau gila,” geram saudara laki-lakinya. “Jadi kau benar-benar telah berkhianat sebagaimana disebut-sebut oleh beberapa orang kawan kita.”

“Terserah sebutan apa yang dapat diberikan kepadaku,” jawab anak muda itu. “Tetapi aku ingin menceriterakan apa yang sebenarnya terjadi. Jika kau menganggap aku berkhianat, maka kau dapat melaporkan aku kepada para pemimpin kita. Tetapi jika kau dapat mengerti keteranganku, sebaiknya kau membantu aku, meskipun dengan sangat berhati-hati dan kemungkinan untuk dianggap sebagai pengkhianat. Tetapi aku tidak berkeberatan jika orang-orang Jipanglah yang menyebut aku berkhianat, karena sebenarnyalah bahwa Sembojan bukan merupakan wilayah kesatuan Jipang pada mulanya dan sebagaimana sekarang ini.”

Saudara laki-lakinya termangu-mangu. Namun kemudian katanya, “Kau lebih baik berdiam diri. Jangan kau sebarkan cerita bohongmu itu.”

“Jangan berpura-pura,” jawab anak muda itu. “Kau sendiri tentu meyakini bahwa aku tidak berbohong. Sementara itu aku telah melihat sendiri, bahwa kekuatan Pajang tidak akan dapat diimbangi oleh pasukan Jipang, terutama di daerah ini.

Pajang kini sedang memberikan latihan-latihan dasar kepada anak-anak muda yang sempat dihimpunnya dari padukuhan-padukuhan. Mereka pada suatu saat akan turun ke arena. Meskipun dasar ilmu mereka belum memadai, tetapi jumlah mereka akan sangat berpengaruh.”

Saudara laki-lakinya menggeram. Dengan nada berat ia berkata, “Kau telah membakar jantungku. Aku tidak tahu apa yang sedang bergejolak di dalam diriku. Lebih baik kau sekarang diam dan tinggalkan aku.”

mohon maaf….terpotong sebagian…

DISEBUAH halaman rumah yang luas, beberapa orang telah terlibat ke dalam satu pertempuran yang seru. Sementara itu, seorang prajurit Jipang telah bertempur dengan seorang prajurit Pajang disebuah kebun yang penuh dengan pepohonan sehingga mereka pun seakan-akan harus berkejaran saling memburu di antara batang-batang pohon itu. Bahkan sesekali senjata-senjata mereka telah mengenai kekayuan, dahan dan ranting-ranting, sehingga daun pun telah berguguran di tanah.

Dua orang yang telah bertempur dengan sengitnya telah terperosok ke kebun salak.

Dalam pertempuran yang telah merampas segala pemusatan nalar budi itu, mereka tidak begitu memperhatikan duri-duri yang tajam yang telah menusuki kulit mereka.

Namun akhirnya prajurit Pajang itu pun merasa bahwa duri salak itu telah mengoyak kulitnya, sehingga ia pun berkata, “Tunggu. Berhenti sebentar.”

Prajurit Jipang itu pun terkejut. Namun ia pun telah bergeser surut.

“Kenapa berhenti?” ia bertanya, “Apakah kau tidak akan menyerah?”

“Tidak. Tubuhku tidak terluka oleh senjatamu, tetapi oleh duri salak itu,” berkata prajurit Pajang.

“Lalu apa maumu?” bertanya prajurit Jipang.

“Kita mencari tempat yang lebih baik, agar kita benar-benar dapat menguji kemampuan kita,” berkata prajurit Pajang itu.

Prajurit Jipang itu berpikir sejenak. Namun ia pun telah merasa betapa pedihnya ujung duri pohon salak itu mengenai kulitnya. Sehingga karena itu, maka ia pun kemudian menjawab, “Baik. Kita bergeser ke halaman sebelah.”

“Kita loncati dinding pagar halaman itu,” berkata prajurit Pajang.

Tetapi prajurit Jipang itu menjawab, “Jangan kesebelah dinding itu. Disitu ada parit yang kotor.”

“Kau takut kotor dalam pertempuran seperti ini?” bertanya prajurit Pajang.

“Bukan begitu. Tetapi bukankah lebih baik jika kita tidak terperosok ke dalam parit yang kotor?” sahut prajurit Jipang itu.

“Baik. Terserah kepadamu. Kaulah yang memilih tempat,” berkata prajurit Pajang. Prajurit Jipang itu termangu-mangu sejenak. Lalu katanya, “Kita pergi ke halaman depan rumah sebelah.”

“Marilah,” jawab prajurit Pajang. “Tetapi jangan lari.”

“Tidak. Aku kira kau adalah lawan yang sesuai bagiku. Aku tidak akan memilih lawan yang lain,” jawab prajurit Jipang itu.

“Kenapa sesuai?” bertanya prajurit Pajang.

“Kau memegang senjatamu dengan tangan kiri,” jawab prajurit Jipang itu.

“Lalu kenapa?” bertanya prajurit Pajang itu pula.

“Aku juga,” jawab prajurit Jipang.

Keduanya sempat tersenyum betapapun kecutnya.

Keduanya pun kemudian berjalan bersama-sama menuju ke halaman di depan rumah sebelah. Namun mereka tertegun ketika mereka melihat dua orang sedang bertempur di halaman itu.

“Tempat itu sudah dipakai,” desis prajurit Jipang.

“Tempat itu cukup luas,” jawab prajurit Pajang.

“Aku tidak senang dilihat orang lain, apalagi oleh orang Pajang,” jawab prajurit Jipang itu.

“Kenapa?” bertanya prajurit Pajang.

“KAWAN-KAWANKU sering mengejek bahwa aku kidal,” jawab prajurit Jipang itu. “Aku akan membabat lehernya sampai putus jika ada orang mengejekku,” geram prajurit Pajang itu. “Tetapi bukankah aku tidak mengejekmu?” bertanya prajurit Jipang itu. “Tidak. Kau tidak mengejekku, karena kau juga kidal,” jawab prajurit Pajang

itu. Namun tiba-tiba saja ia berkata “Tetapi bukankah kau prajurit Jipang. Aku akan membabat lehermu bukan karena kau mengejekku. Tetapi karena kau prajurit Jipang.”

“O, bagus jika kau mampu. Aku pun berniat untuk menikam dadamu sampai tembus,” geram prajurit Jipang itu.

Keduanya pun tiba-tiba telah bersiap untuk bertempur. Namun prajurit Jipang itu masih bertanya, “Dimana kita bertempur?”

“Disini. Disini tidak ada duri pohon salak,” jawab prajurit Pajang. “Kita akan menentukan siapakah yang akan sempat keluar hidup-hidup dari tempat ini.”

“Kita turun ke halaman,” berkata prajurit Pajang. “Jika salah seorang di antara kita mati, maka mayat akan cepat dilihat orang sebelum dikoyak-koyak anjing-anjing liar.”

“Baiklah. Kaulah yang tadi berkeberatan,” jawab prajurit Jipang.

Keduanya pun kemudian telah meloncati dinding halaman rumah itu. Sekilas kedua orang yang telah bertempur dihalaman itu sempat melihat siapa yang datang. Namun keduanya pun tidak lagi menghiraukannya, karena dua orang yang datang itu adalah prajurit Jipang dan Pajang.

Kedua orang itu kemudian telah mempersiapkan diri mereka untuk bertempur.

Sejenak mereka mengacukan senjata mereka. Namun sejenak kemudian, mereka telah saling menyerang. Semakin lama semakin seru, sehingga kemudian mereka pun telah berloncatan dengan garangnya.

Sementara itu, ditempat-tempat yang lain pun pertempuran telah menyala dengan sengitnya. Dimana-mana terdengar teriakan-teriakan yang seram, dentang senjata beradu dan sekali-kali terdengar aba-aba atau para pemimpin kelompok yang memberikan peringatan kepada prajurit-prajuritnya yang bertempur dekat dengan mereka.

Di antara para prajurit Jipang itu memang terdapat para pengawal Tanah Perdikan Sembojan. Ketika Senapati Pajang melihat mereka, maka ia pun segera menghubungi Gandar.

“Bawa anak-anak muda itu kesebelah simpang empat. Aku melihat beberapa orang anak muda Tanah Perdikan Sembojan disana. Tetapi mereka ternyata mempunyai kemampuan seperti prajurit Jipang. Karena itu berhati-hatilah. Sementara itu, aku tidak melihat orang-orang berilmu tinggi dari Tanah Perdikan Sembojan itu yang hadir dipeperangan ini,” berkata Senapati itu.

Gandar pun mengangguk-angguk sambil berkata, “Bagus. Aku akan pergi kesana.”

“Aku pergi bersamamu Gandar,” berkata Kiai Soka. “Tetapi jangan lepas dari kendali. Kita sedang berusaha membujuk mereka untuk menyadari keadaan mereka, bukan untuk menghancurkan mereka.”

Gandar mengerutkan keningnya. Sambil menarik nafas dalam-dalam ia berkata, “Aku mengerti Kiai.”

“Marilah,” berkata Kiai Soka kemudian.

Gandar pun telah memberikan isyarat kepada anak-anak Tanah Perdikan Sembojan itu untuk mengikutinya. Gandarlah yang berada di paling depan. Kemudian anak-anak Tanah Perdikan Sembojan mengikuti dibelakang diantar oleh beberapa prajurit Pajang. Di paling belakang adalah Kiai Soka yang mengawasi mereka semua, termasuk Gandar yang kadang-kadang masih saja menuruti perasaannya.

Ketika mereka menelusuri kebun-kebun yang pepat dan halaman-halaman rumah, kadang-kadang mereka pun mendapat serangan-serangan yang tiba-tiba. Tetapi serangan-serangan itu segera dapat dihalaunya. Apalagi mereka masih tetap berada di dalam kelompok yang agak besar.

Sementara itu, para prajurit Jipang justru kadang-kadang telah dikejutkan oleh anak-anak muda Sembojan itu. Mereka tidak ubahnya sebagai anak-anak Sembojan yang ada dilingkungan prajurit Jipang. Tetapi mereka berada di antara orang-orang Pajang.

SEORANG prajurit Jipang yang sempat menjadi bingung bertanya kepada kawannya, “Siapakah mereka? Apakah mereka anak-anak Sembojan yang menyerah. Aku melihat pertanda kain putih dileher mereka.” “Mereka bukan orang-orang yang menyerah.

Mereka masih memegang senjata,” jawab kawannya.

“Aku ragu-ragu menyerang mereka,” berkata yang lain.

“Memang membingungkan,” berkata yang pertama. “Mungkin satu usaha untuk membuat kita ragu-ragu.”

“Kita akan menunggu, apa yang akan mereka lakukan,” berkata kawannya.

Namun prajurit-prajurit Jipang itu tidak sempat berbincang terlalu lama. Mereka harus segera turun pula ke dalam pertempuran yang semakin sengit. Sementara itu, sekelompok anak-anak Tanah Perdikan Sembojan bersama Gandar dan Kiai Soka menuju ketempat yang ditunjuk oleh Senapati Pajang yang memimpin pasukan itu. Mereka menyusup di antara pertempuran yang berkobar. Namun mereka seakan-akan tidak menghiraukannya karena mereka mempunyai sasaran tersendiri.

Ketika mereka menjadi semakin dekat, maka Gandar pun memberikan isyarat agar anak-anak muda Tanah Perdikan itu menjadi semakin berhati-hati.

Menurut petunjuk perwira pasukan Pajang, maka jika mereka melintasi kebun yang banyak ditanami pohon sirih, maka mereka akan sampai ke lingkungan pertempuran yang dimaksud. Di antara pasukan Jipang terdapat anak-anak Tanah Perdikan Sembojan.

Dengan penuh kewaspadaan Gandar membawa anak-anak Tanah Perdikan yang berpihak kepada Pajang itu melintasi kebun sirih itu. Namun sebelum mereka mencapai simpang empat, maka beberapa orang telah melihat mereka dan sekelompok kecil prajurit Jipang telah datang menyerang.

Pertempuran tidak dapat dihindarkan lagi. Namun untuk sesaat orang-orang Jipang itu memang menjadi heran, bahwa mereka berhadapan dengan para pengawal Tanah Perdikan Sembojan.

Tetapi mereka tidak sempat berpikir terlalu lama. Para pengawal Tanah Perdikan itu telah datang menyerangnya. Namun Gandar dan para prajurit Pajang telah berpesan, bahwa mereka harus bertempur berpasangan.

“Kalian harus mengakui, bahwa kalian seorang demi seorang masih belum memiliki kemampuan yang sama dengan prajurit Jipang maupun Pajang,” berkata Gandar.

Karena itulah, maka mereka pun telah bertempur dalam satu lingkungan dan berpasangan.

Namun kehadiran mereka di medan memang telah menimbulkan semacam teka-teki bagi prajurit-prajurit Jipang.

“Prajurit Pajang memang licik,” geram salah seorang prajurit Jipang. “Mereka berusaha mengaburkan batas antara kawan dan lawan. Ternyata di antara mereka ada yang berpakaian seperti para pengawal Tanah Perdikan Sembojan.”

Namun ketika seorang pengawal Tanah Perdikan Sembojan yang berpihak kepada Jipang memasuki lingkungan pertempuran itu, maka pengawal itu pun menjadi sangat terkejut.

Seorang prajurit Jipang mendesaknya dan berkata, “Jangan ragu-ragu. Itu adalah akal licik orang-orang Pajang.”

Tetapi anak muda Tanah Perdikan Sembojan itu menjawab, “Aku mengenal mereka.”

“Apakah mereka benar-benar anak muda dari Tanah Perdikan Sembojan?” bertanya prajurit Jipang itu.

“Ya,” jawab anak Tanah Perdikan Sembojan.

Prajurit Jipang itu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya, “Jika demikian adalah kewajiban kalian untuk menyelesaikan mereka. Mereka tentu sekelompok pengkhianat dari Tanah Perdikanmu.”

Anak muda Sembojan itu menggeram. Namun kemudian katanya di antara gemeretak giginya, “Pengkhianat”

Dengan wajah yang tegang anak muda Sembojan yang berpihak kepada Jipang itu pun menyusup di antara prajurit Jipang dan menyerang sekelompok anak-anak muda Sembojan yang berpihak kepada Pajang.

TERNYATA anak-anak muda Sembojan yang berpihak kepada Pajang itu pun segera dapat mengenalinya. Karena itu, maka seorang di antara anak-anak muda yang berpihak kepada Pajang itu pun telah menyapanya meskipun pedangnya tetap teracu.

“Kau berada disini?” bertanya anak muda yang berpihak kepada Pajang itu.

“Kau telah berkhianat,” geram anak muda yang berpihak Jipang.

“Kenapa?” bertanya kawannya yang berpihak Pajang.

“Kenapa kau berada di lingkungan prajurit Pajang?” bertanya yang berpihak kepada Jipang itu pula.

“Bukankah Tanah Perdikan Sembojan memang termasuk di dalam lingkungan keluarga Kadipaten Pajang? Renungkan. Siapakah yang telah berkhianat?” anak muda yang berpihak Pjang itu pun ganti bertanya.

“Pimpinan Tanah Perdikan Sembojan telah menentukan untuk berpihak kepada Jipang.

Karena itu, maka semua orang Sembojan harus tunduk kepada keputusan itu. Siapa yang menentang adalah pengkhianat,” jawab anak muda yang berpihak kepada Jipang.

“Jika Pemangku Jabatan Kepala Tanah Perdikan itu sesat karena pengaruh penari jalanan itu, apakah kita semuanya harus sesat pula? Sekarang Tanah Perdikan Sembojan dipimpin oleh Iswari atas nama cucu Ki Gede Sembojan yang memiliki pertanda kekuasaan atas Tanah Perdikan itu. Nah, siapakah yang telah berkhianat?” bertanya anak muda yang berpihak kepada Pajang itu pula.

Pengawal Sembojan yang berpihak kepada Jipang itu termangu-mangu. Namun ia tidak mau berpikir terlalu jauh. Suasana pertempuran itu telah mendesaknya untuk segera ikut bertempur pula. Karena itu maka katanya, “Aku adalah anak Sembojan.

Aku malu mempunyai seorang kawan yang berkhianat. Karena itu, maka kau memang harus dibinasakan agar Tanah Perdikan Sembojan tidak tercemar.”

Tetapi kawannya itu menjawab, “Aku berpendirian lain. Aku tidak ingin membinasakanmu meskipun kau telah berkhianat. Masih ada kesempatan bagimu untuk menempatkan diri ke dalam barisan yang berpanji-panji kebenaran.”

Orang itu mengerutkan keningnya. Namun sekali lagi ia menghentakkan diri sambil berkata, “Cukup. Sebentar lagi kau akan mati. Dan biarlah aku kelak mempertanggungjawabkannya kepada orang tuamu karena kau berkhianat.”

“Jika kau sebut aku berkhianat, maka orang tuaku pun telah berkhianat pula karena orang tuaku merestui sikapku berpihak kepada Pajang,” jawab anak muda yang berpihak kepada Pajang itu.

Anak muda yang berpihak kepada Jipang itu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian ia pun menggeram, “Jika demikian orang tuamupun harus dihukum pula.”

Tetapi anak muda yang berpihak kepada Pajang itu masih menyahut, “Bukan hanya aku dan orang tuaku. Tetapi juga orang-orang tua dari kawan-kawanku dan orang-orang tua dari kawan-kawan kita yang berpihak kepada Jipang. Sebenarnyalah semua orang yang kini masih tinggal di Tanah Perdikan Sembojan menyadari apakah yang harus mereka lakukan untuk kepentingan Sembojan. Mereka menyadari bahwa yang terjadi dalam waktu yang pendek, selama Tanah Perdikan Sembojan dipimpin oleh Pemangku jabatan Kepala Tanah Perdikan Sembojan yang dibayangi oleh penari jalanan itu merupakan masa-masa yang paling buruk di dalam sejarah perkembangan Tanah Perdikan Sembojan. Namun kini semuanya sudah lampau. Iswari memerintah atas nama anaknya yang mendapat restu dari Pajang karena ia telah mendapat pertanda kekuasaan Pajang, sebuah tunggul serta pertanda kekuasaan Tanah

Perdikan Sembojan sendiri.”

“Omong kosong,” teriak anak muda yang berpihak kepada Jipang. “Aku tidak mempunyai waktu untuk mendengarkan ceritamu yang palsu itu.”

“Terserah kepadamu,” jawab anak muda yang berpihak kepada Pajang. “Satu ketika kau akan melihat kenyataan itu jika kau masih tetap hidup setelah perang antara Pajang dan Jipang berakhir.

ANAK MUDA yang berpihak kepada Jipang itu telah menghentakkan perasaannya untuk melemparkan segala macam keragu-raguannya. Dengan serta merta ia pun telah meloncat menyerang dengan garangnya.

Namun anak muda yang berpihak kepada Pajang itu benar-benar telah siap. Karena itu, maka ia pun telah meloncat menghindar. Bahkan ketika kemudian terjadi pertempuran di antara keduanya, maka ternyata anak muda yang berpihak kepada Pajang itu mampu mengimbangi kemampuan anak muda yang berpihak kepada Jipang,

karena anak muda yang berpihak kepada Jipang itu bukan termasuk anak muda yang terbaik yang pernah mendapat latihan dari para perwira Jipang yang pertama kali.

Gandar yang melihat pertempuran itu, membiarkannya saja. Setelah ia melihat keseimbangan kemampuan di antara mereka. Bahkan anak muda yang berpihak kepada Pajang, yang telah mendapat tuntunannya secara khusus itu memiliki kelengkapan tata gerak yang lebih banyak dari kawannya yang berpihak kepada Jipang, sehingga dengan demikan Gandar mengharap, bahwa anak muda yang berpihak kepada Pajang itu akan dapat mengatasinya.

Namun mereka yang harus bertempur melawan para prajurit Jipang memang bertempur berpasangan. Dengan demikian maka keselamatan mereka akan lebih terjamin.

Gandar dan Kiai Soka lebih banyak mengamati pertempuran itu daripada ikut bertempur. Jika sekali-kali mereka diserang, maka mereka pun dengan cepat mengelak dan mendesak lawannya. Kemudian berusaha melepaskan diri dari pertempuran itu, setelah membuat lawannya bingung dan ragu-ragu untuk memburunya.

Dalam pertempuran itu, ternyata anak-anak muda yang berpihak kepada Pajang itu lebih banyak berbicara daripada orang lain. Apalagi mereka yang bertemu dengan anak-anak Sembojan pula yang berpihak kepada Jipang.

Meskipun dalam pertempuran itu, anak-anak yang berpihak kepada Jipang seakan-akan sama sekali tidak menghiraukannya, tetapi sebagaimana dikatakan oleh Kiai Soka, bahwa hal itu tentu akan direnungkannya kemudian.

Demikianlah, maka pertempuran itu pun semakin lama menjadi semakin seru. Namun ternyata bahwa kemampuan orang-orang Jipang dan orang-orang Pajang tidak terpaut banyak di dalam pengertian kemampuan secara pribadi. Dalam pertempuran di antara

lorong-lorong kecil, halaman-halaman dan kebun-kebun, ternyata tidak segera nampak siapakah di antara kedua belah pihak yang terdesak. Mereka saling menyerang, saling mendesak dan saling memburu. Senjata mereka beradu di antara teriakan-teriakan kemarahan dan bentak-bentakan yang garang.

Namun satu hal yang menggelisahkan orang-orang Jipang bahwa jumlah orang-orang Pajang agak lebih banyak. Dengan demikian maka jumlah itu pun terasa semakin lama semakin berpengaruh pula.

Senapati yang memimpin pasukan Jipang itu pun akhirnya menyadari. Sementara itu ia tidak ingin korban berjatuhan semakin banyak di antara prajurit-prajuritnya.

Karena itu, maka Senapati Jipang itu pun telah berbicara dengan beberapa orang perwira pembantunya diberbagai tempat di arena pertempuran itu, sehingga ia pun telah mengambil kesimpulan untuk menarik saja pasukannya.

“Usaha untuk mendapatkan dukungan persediaan bahan makanan dapat dilakukan pada kesempatan lain,” berkata Senapati itu di dalam hatinya. “Namun aku tidak boleh mengorbankan terlalu banyak prajurit-prajurit yang justru semakin dibutuhkan.”

Karena itu, maka sejenak kemudian ia pun telah memerintahkan seorang penghubung untuk membunyikan isyarat, menarik pasukan Jipang yang berada di dalam padukuhan itu.

Isyarat itu ternyata telah menimbulkan gerak yang khusus dalam pertempuran itu. Namun ternyata bahwa pasukan Jipang memang memiliki kemampuan yang tinggi dalam gerak kesatuannya.

Pada waktu singkat, seluruh pasukan pun telah berhasil ditarik dalam satu kesatuan, sehingga ujud pertempuran pun telah berubah. Sementara itu pasukan Jipang itu pun telah menerima aba-aba untuk ditarik ke luar dari padukuhan itu dan dalam kesatuan yang utuh, mereka telah menarik diri.

Untuk beberapa puluh langkah, pasukan Pajang berusaha untuk mengikuti gerak mundur itu. Namun ketika pasukan itu menjadi semakin jauh, Senapati Pajang pun telah mengambil kebijaksanaan untuk tidak mengejarnya lebih lanjut.

PASUKAN Pajang itu pun kemudian telah kembali ke padukuhan untuk mengadakan pengamatan terhadap para prajuritnya. Mereka dengan tekun telah mencari kawan-kawan mereka yang mungkin terluka atau bahkan gugur dalam pertempuran itu.

Setiap kelompok telah dikumpulkan, dihitung dan menyusun laporan. Mereka harus menemukan orang-orang yang tidak sempat berkumpul lagi, karena orang itu tentu mengalami kesulitan.

Di samping mengumpulkan kawan-kawan sendiri, maka para prajurit Pajang harus juga mengumpulkan orang-orang Jipang yang tidak sempat dibawa oleh kawan-kawannya. Orang Jipang yang terluka parah, maupun yang gugur pula.

Meskipun jumlahnya tidak banyak, namun mereka pun harus mendapat perawatan.

Bahkan ada di antara mereka yang tidak sempat disingkirkan oleh para prajurit Jipang atau anak-anak muda Sembojan yang berpihak kepada Jipang, adalah anak-anak muda Sembojan itu sendiri.

Dua orang anak muda Sembojan yang terluka, yang tidak sempat dibawa oleh kawan-kawannya, sehingga mereka telah dirawat oleh para prajurit Pajang. Namun khusus bagi mereka, Gandar telah minta agar anak-anak Sembojan itu biarlah dirawat oleh kawan-kawannya yang juga berasal dari Sembojan.

Meskipun hubungan di antara mereka pada mulanya masih dibatasi oleh sifat permusuhan, namun lambat laun batas itu pun menjadi semakin kabur. Apalagi anak-anak Sembojan yang berpihak kepada Pajang telah banyak mendapat petunjuk-petunjuk untuk apa sebenarnya mereka berada di medan itu.

Ketika pasukan Pajang itu telah kembali ke barak mereka, maka para tawanan pun mulai ditempatkan di tempat yang khusus. Terutama bagi mereka yang masih harus mengalami perawatan. Namun atas permintaan Gandar, maka dua orang anak muda Tanah Perdikan Sembojan yang terluka dan tertinggal itu pun telah berada di antara kawan-kawannya yang berpihak kepada Pajang.

“Kalian merawat kami sekadar untuk dapat menghinakan kami?” geram salah seorang di antara kedua orang anak muda Sembojan yang dirawat itu.

“Kalian memang terlalu berprasangka,” jawab seorang kawannya yang berpihak kepada Pajang. “Kedatangan kami sebenarnya untuk memberikan keterangan yang sebenarnya tentang keadaan Tanah Perdikan Sembojan sekarang. Kalian yang sudah terlalu lama berada di lingkungan orang-orang Jipang serta dibawah pengaruh para pemimpin palsu dari Tanah Perdikan Sembojan tentu menginginkan melihat kenyataan yang ada sekarang.”

“Aku jangan kau bujuk seperti membujuk anak-anak,” berkata anak Sembojan yang terluka itu. “Kalian memang dapat membawa kami dan memperlakukan kami dengan sewenang-wenang. Tetapi itu tidak akan menolong keadaan kalian. Pemberontakan

yang terjadi di Tanah Perdikan Sembojan tentu akan dapat dihancurkan. Cepat atau

lambat. Para pemberontak yang kini merasa mendapatkan kemenangan, itu hanyalah satu keadaan semu. Para pemberontak memang mampu memperhitungkan keadaan dengan tepat. Justru pada saat kita menghadapi persoalan besar antara Pajang dan Jipang, maka mereka telah melakukan perebutan kekuasaan di Tanah Perdikan Sembojan. Tetapi siapa yang menanam akan memetik hasilnya dan siapa yang menggali lubang akan terperosok ke dalamnya.”

ANAK muda Sembojan yang berpihak kepada Pajang itu menarik nafas dalam-dalam.

Ternyata pengaruh para pemimpin Tanah Perdikan Sembojan yang dibayangi oleh pengaruh Warsi itu telah menyusup dalam-dalam di hati anak-anak mudanya yang telah meninggalkan Tanah Perdikannya itu.

Tetapi anak-anak muda yang berpihak kepada Pajang itu tidak menjadi jemu karenanya. Mereka tidak memaksa anak-anak muda yang terpengaruh oleh Jipang itu untuk dengan serta merta mempercayainya. Namun mereka yakin, bahwa kawan-kawannya itu tentu akan merenungi kata-katanya.

Sementara itu, anak muda Sembojan yang semula berpihak kepada Jipang, namun yang berada di lingkungan prajurit Pajang dan menyusup kembali di antara kawan-kawannya pun telah menyebarkan satu sikap yang dapat mempengaruhi kawan-kawannya. Tetapi ia harus melakukannya dengan sangat berhati-hati, karena mungkin sekali ia akan terjerat kedalam jaring-jaring pengamatan orang-orang Jipang atau pengikut Warsi yang setia.

Di samping anak muda itu, ternyata anak-anak muda yang bertemu dengan kawan-kawannya yang berpihak kepada Pajang dipertempuran yang terjadi di padukuhan yang akan menjadi sumber bahan makanan itu pun mulai merenung pula.

Mereka mulai menilai apa yang telah terjadi atas dirinya dan atas kawan-kawannya yang lain.

Hilangnya dua orang di antara anak-anak muda Tanah Perdikan Sembojan memang tidak menimbulkan persoalan sebagaimana yang terjadi dahulu, karena kemungkinan bahwa anak muda itu tertinggal di medan lebih banyak, meskipun juga mendapat perhatian dari para pemimpin yang mengaku pemimpin dari Tanah Perdikan Sembojan

itu.

“Dalam pertempuran yang rumit, kami tidak sempat mencari dengan teliti, kawan-kawan kami yang terluka dan yang gugur,” berkata Senapati Jipang yang memimpin penyerbuan itu, “Apalagi mereka hanya berjumlah dua orang. Aku kira tidak akan banyak berpengaruh.”

“Mereka agak berbeda dengan prajurit-prajurit Jipang sendiri,” berkata Ki Rangga Gupita.

“Apakah keluarganya atau pimpinan pengawal itu mempersoalkan mereka?” bertanya Senapati itu. “Biarlah aku mempertanggung-jawabkannya. Pertempuran bukan arena bermain kejar-kejaran. Mati adalah akibat yang wajar sekali.”

“Jika mereka tidak mati?” bertanya Ki Rangga Gupita.

“Tertawan pun merupakan hal yang biasa sekali,” jawab Senapati Jipang itu.

“Aku mengerti,” berkata Rangga Gupita. “Tetapi dalam keadaan seperti ini mungkin terjadi hal yang berbeda. Mungkin anak Sembojan itu tidak mati dan tidak tertawan. Tetapi sengaja berkhianat,” berkata Ki Rangga.

Suramnya Bayang-bayang 29

“Tidak ada yang berkhianat,” berkata Senapati itu. “Di dalam pasukan Pajang memang ada anak-anak Sembojan. Tetapi mereka memang pengkhianat sejak mereka memasuki pertempuran. Sementara anak-anak Sembojan yang ada di dalam pasukanku telah berjuang sebagai laki-laki sejati. Para pemimpin kelompok telah menjadi saksi.”

Ki Rangga mengangguk-angguk. Ia pun tidak bertanya lagi tentang kedua orang pengawal yang hilang di peperangan itu, meskipun masih ada juga dugaan bahwa kedua orang itu memang dengan sengaja ingin berkhianat dan berpihak kepada Pajang.

Sementara itu kedua orang anak muda yang berada di antara kawan-kawannya itu pun telah sempat berbicara semakin banyak. Kedua orang anak muda Sembojan yang terluka itu menjadi semakin mengerti maksud kawan-kawannya.

Meskipun demikian, mereka masih juga tidak segera mengakui kesesatan langkah mereka. Bagaimanapun juga, mereka masih berusaha untuk mencari-cari alasan kenapa mereka telah melakukan satu pilihan.

“Apakah waktu itu kau sempat memberikan pilihan,” bertanya salah seorang kawannya yang berpihak kepada Pajang.

Kedua orang kawannya yang berpihak Jipang itu termenung. Namun bagaimanapun juga, di dalam hati mereka mulai mengakui, bahwa mereka telah terseret oleh keadaan yang tidak menguntungkan. Bukan saja bagi mereka, tetapi bagi Tanah Perdikan Sembojan.

SEORANG di antara mereka pun mulai menilai sikap kawannya yang pernah hilang dan kembali lagi dalam keadaan yang payah. Namun setelah keadaannya pulih kembali, kata-katanya mulai miring dan menimbulkan persoalan-persoalan yang harus direnungkan. Sedang seorang yang lain yang belum pernah mendengar kata-kata kawannya yang pernah berada dilingkungan prajurit Pajang itu, telah merenungi keadaan yang sedang dihadapinya itu.

Namun usaha sepuluh orang anak-anak Tanah Perdikan Sembojan untuk memberikan penjelasan tentang kenyataan yang terjadi di Sembojan itu agaknya tidak sia-sia.

Dalam pada itu, dilingkungan anak-anak muda Sembojan yang berada di dalam pasukan Jipang pun telah timbul pembicaraan karena hadirnya orang-orang yang mengenakan pakaian seragam pengawal Tanah Perdikan Sembojan. Bahkan di antara mereka berkata, “Aku mengenal mereka.”

“Tentu pokal Gandar gila itu,” geram seorang di antara pengawal Tanah Perdikan Sembojan.

Meskipun kawan-kawannya mengangguk-angguk, tetapi kehadiran anak-anak muda Sembojan itu memang sempat menimbulkan persoalan di hati mereka.

Apalagi ketika seorang di antara mereka yang sempat berada di lingkungan prajurit Pajang beberapa saat dan kembali ke kesatuannya, ikut memberikan pernyataan tentang sikap yang sebenarnya dari para prajurit Pajang dan keadaan Tanah Perdikan Sembojan sebagaimana didengarnya dari Gandar.

Perlahan-lahan dilingkungan anak-anak muda Tanah Perdikan Sembojan itu telah mulai tersebar pengaruh sikap anak muda yang pernah berada di lingkungan prajurit Pajang itu. Ia berhasil memanfaatkan pertanyaan-pertanyaan yang muncul di antara kawan-kawannya tentang para pengawal Sembojan yang ikut bertempur di antara prajurit-prajurit Pajang.

“Mereka justru telah memilih jalan yang sebenarnya harus ditempuh oleh Sembojan, karena Sembojan itu pada mulanya termasuk lingkungan keluarga besar Pajang,” berkata anak muda itu.

Namun dalam pada itu, persoalan anak-anak muda Sembojan yang berada di lingkungan prajurit Pajang, serta hilangnya dua orang pengawal itu pun telah menjadi pembicaraan mereka yang mengaku sebagai para pemimpin Tanah Perdikan Sembojan.

Warsi merasa bahwa hal itu lambat laun tentu akan dapat menimbulkan persoalan di antara anak-anak muda Sembojan yang mereka pimpin di dalam lingkungan pasukan Pajang.

“Kita harus berbuat sesuatu,” berkata Warsi.

“Ya, secepatnya,” sahut Ki Rangga. “Ki Wiradana harus mengambil satu sikap yang tegas. Kita tidak boleh menutup mata, bahwa di antara anak-anak Sembojan itu telah mulai timbul pembicaraan tentang kehadiran kawan-kawan mereka dari daerah asal yang sama tetapi berpihak kepada Pajang.”

“Pengkhianat-pengkhianat itu harus kita hancurkan,” geram Warsi. “Jika aku tahu bahwa ada di antara mereka para pengkhianat, maka aku akan ikut di dalam pasukan itu dan membunuh mereka semuanya.”

Ki Wiradana mulai berkeringat. Namun Ki Randukelinglah yang menyahut, “Anak-anak itu ditemani oleh Gandar dan iblis tua itu. Apa yang dapat kau lakukan atas Gandar. Sementara aku tidak mampu mengatasi setan tua itu dalam waktu yang pendek. Bahkan mungkin juga dalam waktu yang panjang.”

“Jadi, apakah kita tidak akan berbuat sesua-tu?” bertanya Warsi.

“Tentu,” jawab Ki Randukeling. “Tetapi kita harus membuat perhitungan berdasarkan kenyataan. Tanpa melihat kenyataan, maka rencana kita adalah ngayawara saja. Bahkan mungkin kita akan terjebak sendiri oleh rencana itu.”

Warsi menjadi tegang. Tetapi ia tidak dapat menyalahkan pendapat kakeknya itu.

Namun kemudian ia melepaskan kejengkelannya kepada suaminya, “Kakang. Berbuatlah sesuatu. Jangan termenung seperti orang yang kebingungan.”

Ki Wiradana menarik nafas dalam-dalam. Kemudian katanya, “Aku akan mengumpulkan para pemimpin pasukan dan pemimpin kelompok.”

“Lakukan secepatnya,” berkata Warsi. “Agar kebimbangan dan pengkhianatan tidak berkembang.

KI WIRADANA mengangguk-angguk sambil menjawab, “Nanti menjelang malam aku akan melakukannya. Aku akan menghubungi Panglima pasukan Jipang untuk mendapatkan ijinnya.” “Kita akan hadir dalam pertemuan itu,” berkata Warsi kepada Ki Rangga Gupita. “Sementara itu, Ki Rangga juga dapat minta Panglima atau orang yang ditunjuk untuk hadir pula.” “Aku akan mengusahakannya,” berkata Ki Rangga.

Namun sementara itu Ki Randukelinglah yang berkata, “Jangan salah mengerti bahwa aku selalu berbeda pendapat atau bahkan memperkecil arti pendapat dan sikap kalian. Tetapi ini adalah salah satu akibat, bahwa Tanah Perdikan Sembojan itu telah kita lepaskan. Selain kita kehilangan sumber bahan makan dan kelengkapan yang lain pun, kita pun tidak dapat lagi menguasai anak-anak muda yang tertinggal. Hal inilah yang kemudian dimanfaatkan oleh Pajang atau oleh orang-orang yang kemudian memimpin Tanah Perdikan Sembojan. Mereka ternyata tidak hanya mempercayakan langkah-langkah mereka pada kemampuan ilmu dan olah kanuragan, tetapi mereka lebih banyak mempergunakan otaknya.”

Wajah Warsi dan Ki Rangga Gupita menjadi semakin tegang. Tetapi mereka tidak menyahut.

Karena tidak seorang pun yang berbicara, kemudian Ki Randukeling berkata pula, “Baiklah. Malam nanti kita akan berbicara dengan para pemimpin kelompok. Jika perlu besok kita akan berbicara langsung dengan semua pangawal Tanah Perdikan Sembojan yang ada di pasukan ini. Kita memang masih perlu memberi ketebalan tekad untuk meneruskan perjuangan ini. Bahkan mungkin dengan menakut-nakuti, mengancam dan sekali-kali memuji kesetiaan mereka.”

“Segalanya tergantung kepadamu kakang,” geram Warsi kemudian kepada Ki Wiradana.

Ki Wiradana tidak menjawab. Tetapi ia memang harus melakukannya. Bagaimanapun juga ia telah terperosok semakin dalam ke dalam lumpur pengkhianatan. Kesadaran yang mulai tumbuh tidak akan mampu mengangkatnya dan melepaskannya dari lilitan lumpur yang mengental. Bayangan yang suram disekitarnya itu menjadi semakin suram.

Dengan demikian, maka pertempuran yang tidak begitu besar yang terjadi di padukuhan yang subur itu, dari segi keprajuritan tidak terlalu besar pengaruhnya. Jipang memang kehilangan beberapa orang prajurit dan dua orang pengawal dari Sembojan yang dinilai tidak akan mengganggu kekuatan Jipang, karena di antara mereka yang tertawan itu tidak terdapat orang-orang yang memiliki ilmu yang harus diperhitungkan.

Tetapi diperhitungkan dari segi lain, terutama bagi anak-anak muda Sembojan yang berpihak kepada Jipang, pertempuran itu mempunyai pengaruh yang besar atas jiwa mereka. Anak-anak muda Sembojan yang ikut dalam pertempuran yang tidak terlalu besar itu, telah memperluas cerita tentang kehadiran anak-anak dari kampung halaman mereka, tetapi yang ternyata harus berdiri berseberangan dalam medan pertempuran. Sementara itu, telah berkembang pula penilaian yang berbeda dari penilaian mereka sebelumnya terhadap Tanah Perdikan Sembojan dan sikap terhadap Jipang dan Pajang.

Dengan demikian, maka telah terjadi benturan-benturan perasaan di antara anak-anak muda Tanah Perdikan Sembojan yang berada di antara prajurit Jipang.

Hanya sebagian saja di antara mereka yang tetap pada sikap mereka sejak semula mereka berangkat dari Tanah Perdikan. Mereka yang mendapa tempaan khusus dari para perwira Jipang memang merupakan pengawal-pengawal yang tangguh lahir dan batinnya. Tetapi kawan-kawan mereka yang menyusul kemudian sikapnya memang mulai goyah.

Seperti yang dikatakan oleh Ki Wiradana, maka menjelang malam, atas persetujuan Panglima pasukan Jipang, maka para pemimpin pasukan dan pemimpin kelompok dari para pengawal Tanah Perdikan Sembojan itu pun telah dikumpulkan.

Betapapun kegoncangan itu telah terjadi di dalam hatinya sendiri, tetapi dihadapan Warsi dan Ki Rangga Gupita, Ki Wiradana telah memberikan penjelasan yang panjang lebar tentang keadaan di medan perang sesuai dengan laporan yang diterimanya.

“MEMANG ada beberapa orang pengawal Tanah Perdikan Sembojan yang terlibat dan berada di antara para prajurit Pajang, tetapi secara keprajuritan, jumlah mereka sama sekali tidak berarti. Namun yang perlu aku peringatkan adalah keringkihan jiwa mereka. Mereka benar-benar telah kehilangan sifat-sifat jantan anak-anak muda Tanah Perdikan Sembojan. Dengan mudah mereka telah terbujuk oleh orang-orang yang telah menodai kesetiaan jiwa anak-anak muda kita dan menyurukkan mereka ke dalam lembah pengkhianatan,” berkata Ki Wiradana dengan geram. Namun yang tidak mendasar sampai ke pusat jantungnya.

Kalimat-kalimat yang kemudian meluncur dari mulutnya adalah kalimat-kalimat yang sudah disusunnya dan di hapalkannya sehingga mampu mengalir deras seperti banjir. Tetapi kata-katanya itu sama sekali tidak mempunyai kekuatan sebagai ungkapan jiwanya sendiri.

Semakin panjang dan semakin tandas ia mengucapkan kata-katanya, maka keragu-raguan pun semakin mencengkam jiwanya sendiri.

Tetapi dengan demikian ia telah berhasil mengelabui orang-orang yang membayangi kepemimpinannya.

Malam itu bukan saja Ki Wiradana yang memberi pesan kepada para pemimpin pasukan dan pemimpin kelompok dari Tanah Perdikan Sembojan, tetapi beberapa orang lain, bahkan dengan gejolak perasaan yang sulit dikendalikan telah mengancam dan menakut-nakuti mereka.

“Kita berada di medan perang,” berkata seorang Senapati dari Jipang, “Karena itu, paugeran yang berlaku adalah paugeran perang.”

Sementara itu Ki Rangga Gupita telah berbicara tidak kalah seramnya dengan para pemimpin yang lain. Katanya, “Hukuman yang paling pantas bagi seorang pengkhianat adalah hukuman picis dan dibiarkan hidup untuk dua hari dua malam.”

Pesan-pesan itu benar-benar telah membuat segenap bulu tubuh meremang. Para pengawal Tanah Perdikan Sembojan itu memang benar-benar menjadi ketakutan.

Apalagi ketika Warsi berkata lantang, “Jika seorang di antara mereka yang ada di dalam kelompok kalian berkhianat, maka para pemimpin kelompok pun akan ikut bertanggung jawab. Mereka tidak akan terlepas dari hukuman yang paling berat karena kelengahannya sehingga seorang di antara kelompoknya ada yang berkhianat.

Pertemuan itu kemudian ditutup oleh Ki Wiradana dengan perintah agar semua pengawal Tanah Perdikan Sembojan yang ada di dalam pasukan itu besok pagi-pagi berkumpul di pategalan disebelah padukuhan itu. Pategalan yang sudah tidak terpelihara lagi karena pengaruh peperangan.

Ketika para pemimpin anak-anak muda Tanah Perdikan meninggalkan pertemuan itu, maka mereka pun baru menyadari bahwa tubuh mereka telah basah oleh keringat, seolah-olah mereka baru saja mandi beserta dengan seluruh pakaian mereka.

“Gila,” tiba-tiba seorang di antara mereka bergumam.

“Apa yang gila?” bertanya kawannya.

Orang yang pertama itu tergagap. Namun dengan terbata-bata ia menjawab, “Mereka yang berkhianat itu. Dalam keadaan seperti ini ada juga orang yang sampai hati berkhianat.”

Kawannya mengerutkan keningnya. Tetapi ia tidak menyahut lagi. Keduanya pun kemudian justru berjalan bersama-sama tanpa mengucapkan sepatah katapun.

Ketika mereka sampai di barak masing-masing, yang terpencar di beberapa rumah di padukuhan itu, maka perintah untuk berkumpul di keesokan harinya itu pun telah sampai kepada semua orang di dalam kelompok masing-masing.

Dengan demikian maka malam itu merupakan malam yang tegang bagi para pengawal Tanah Perdikan Sembojan. Mereka sudah dapat menduga apa yang akan mereka dengar esok pagi dari mulut para pemimpin mereka.

Sebenarnyalah maka yang disampaikan oleh para pemimpin mereka kepada para pengawal tidak jauh berbeda dengan apa yang telah mereka sampaikan kepada para pemimpin mereka. Ancaman, perintah dan menakut-nakuti.

Ketika pasukan pengawal itu kemudian dibubarkan untuk kembali ke barak masing-masing, seorang Senapati Jipang masih mengancam, “Ingat segala perintah yang kalian dengar, agar kalian tidak mati diujung senjata kawan sendiri.”

KETIKA para pengawal itu kembali ke barak mereka, seorang di antara para pengawal itu berkata, “Aku yang mendengarnya menjadi jemu. Mereka yang mengucapkannya tidak merasa jemu. Sudah berapa kali kalimat-kalimat itu mereka ucapkan dengan cara yang bermacam-macam.” “Jangan lantang mulutmu,” desis kawannya. “Untunglah hanya aku yang mendengarnya. Jika kata-kata itu didengar oleh Warsi, maka kau akan dicekiknya sampai mati.”

“Huh, perempuan jalanan itu tidak akan membunuh seorang yang tampan seperti aku.

Kau mengerti, bahwa Warsi itu selalu haus akan anak-anak muda yang tampan?” sahut pengawal yang pertama.

“Kau memang gila,” geram kawannya. “Agaknya kau sudah jemu hidup. Bukankah kau tahu, bahwa Warsi sekarang hampir tidak pernah berpisah dengan Ki Rangga Gupita?”

“Selagi Ki Rangga ada didekatnya,” berkata orang yang pertama, “Jika Ki Rangga kembali ke Jipang, maka ia akan mencari orang lain disamping Ki Wiradana.”

“Mulutmu memang harus dikoyak,” kawannya menggeretakkan gigi.

“Jangan berpura-pura begitu,” berkata orang pertama. “Kita sudah berbicara tentang orang-orang Jipang dan orang-orang Pajang. Kita sudah mendengar keterangan kawan kita yang pernah ditangkap prajurit Pajang dan berpura-pura melarikan diri dengan punggung dan dada yang bergaris-garis merah biru. Bahkan pingsan didekat gardu. Tetapi sebenarnyalah permainannya merupakan permainan

yang sangat bagus. Dan ia berhasil mempengaruhi aku dan jangan ingkar, kau sendiri. Mungkin banyak orang yang mempercayainya, tetapi tidak berani mengungkapkannya.”

Kawannya menarik nafas dalam-dalam. Namun ia tidak menyahut lagi. Apalagi ketika seorang lagi pengawal Tanah Perdikan bergabung dengan mereka.

Namun keduanya menjadi bimbang ketika kawannya yang baru itu bertanya, “Bagaimana menurut pendapatmu, peringatan-peringatan dan pesan-pesan yang diberikan oleh para pemimpin kita?”

Kedua orang pengawal itu saling berpandangan. Namun kemudian seorang di antara mereka menjawab, “Baik sekali. Peringatan-peringatan yang akan mengekang niat-niat buruk yang mungkin timbul di dalam hati.”

“Apakah kadang-kadang timbul dihatimu keinginan untuk berkhianat?” bertanya pengawal yang baru bergabung dengan mereka berdua.

Kedua pengawal yang sudah bersama-sama terdahulu itu terkejut mendengar pertanyaan itu. Seorang di antara mereka tiba-tiba saja menjawab dengan nada tajam, “Kau jangan asal berbicara saja. Hal itu adalah hal yang sangat peka pada saat ini. Apakah kau memang sengaja memancing persoalan?”

“Jangan marah,” sahut pengawal itu. “Aku hanya bertanya tanpa maksud apa-apa.”

Pengawal itu tidak menunggu jawaban lagi. Tetapi ia justru tertawa berkepanjangan sambil meninggalkan kedua kawannya yang terheran-heran melihat sikapnya.

“Anak itu sudah menjadi gila,” desis salah seorang di antara kedua pengawal itu.

“Gila atau justru sedang mencari perkara,” sahut yang lain.

KEDUANYA tidak berbicara lagi. Namun mereka tertegun ketika mereka melihat kawannya, seorang pengawal yang pernah ditangkap oleh orang Pajang, telah mendahului duduk di tangga pendapa rumah yang dipergunakan sebagai barak.

“Kalian sudah puas?” bertanya anak muda itu. “Puas apanya?” bertanya salah seorang dari kedua pengawal itu. “Ancaman, pesan, peringatan, menakut-nakuti dan apalagi?” desisnya. Kedua pengawal itu memandanginya sejenak. Namun keduanyapun kemudian melangkah pergi.

Anak muda yang duduk di tangga pendapa itu pun tertawa pula. Berkepanjangan seperti pengawal yang telah meninggalkan mereka. Meskipun kesannya berbeda, tetapi sikap itu pun sangat menjengkelkan.

Karena itu, maka salah seorang di antara kedua orang itu membentak, “He, kenapa kau tertawa seperti itu?”

Pengawal itu terdiam. Jawabannya, “Tidak apa-apa. Aku menjadi geli melihat tingkah lakumu dan sebagian besar dari kawan-kawan kita. Betapa mereka dicengkam oleh keragu-raguan dan kebingungan tanpa dapat mengambil sikap yang tegas.”

“Persetan,” geram pengawal yang seorang. “Apakah kau dapat mengambil sikap yang demikian?”

“Tentu tidak. Termasuk aku memang,” jawabnya.

“Gila,” lalu ia menggamit kawannya. “Kita tinggalkan saja orang-orang gila itu.”

“Ya. Sebentar lagi kita semua memang akan menjadi gila,” berkata pengawal yang duduk di tangga itu.

Kedua orang pengawal itu tidak menghiraukannya lagi. Dengan langkah panjang mereka pun telah pergi menjauhinya.

Beberapa orang pengawal yang lain pun telah lewat pula. Beberapa kali terlibat pembicaraan antara anak muda yang duduk di tangga pendapa itu. Namun setiap kali kawan-kawannya tidak menghiraukannya lagi.

Namun sebenarnyalah, bahwa di dalam tubuh pasukan pengawal Tanah Perdikan Sembojan telah terjadi keretakan. Meskipun pada ujud luar mereka tetap pada sikap dan kedudukan mereka, namun sebenarnyalah bahwa sebagian dari mereka telah dihinggapi keragu-raguan. Tetapi keragu-raguan itu telah disembunyikan dalam-dalam karena mereka selalu diancam, ditakut-takuti dan dibayangi oleh kekuasaan yang sewenang-wenang.

Meskipun demikian, ada juga di antara para pengawal yang benar-benar yakin akan kebenaran perjuangan mereka dalam lingkungan prajurit Jipang. Menurut pendapat mereka, sebenarnyalah bahwa Adipati Jipanglah yang berhak atas tahta Demak yang diperebutkan itu. Sehingga dengan demikian maka wajarlah jika Adipati Jipang telah berjuang untuk menuntut haknya.

Karena itulah, maka tanpa disadari, maka keragu-raguan itu telah memperlemah kedudukan pasukan Jipang. Para pengawal Tanah Perdikan Sembojan tidak lagi secara utuh dengan darah yang bergelora turun ke medan perang. Tetapi setiap kali mereka selalu dibayangi oleh pertanyaan, untuk apa sebenarnya mereka berperang.

Kemunduran jiwani pada pasukan pengawal Tanah Perdikan itu memang tidak segera tampak oleh para pemimpin pasukan Sembojan di Pajang yang bergabung dengan prajurit-prajurit Jipang. Karena itu, maka mereka pun tidak segera menyadari apa yang sebenarnya terjadi.

Namun dalam pertempuran-pertempuran yang kemudian terjadi antara pasukan Jipang dan Pajang, siapapun yang memulainya, pasukan Jipang agaknya terlalu cepat terdesak oleh kekuatan Pajang yang nampaknya justru menjadi semakin kokoh.

Tetapi pasukan Jipang justru berusaha untuk bergerak lebih banyak sesuai dengan perintah yang dijatuhkan oleh Ki Patih Mantahun yang berada di pesanggrahan.

Dalam pada itu, di pesanggrahan itu sendiri, kedua belah pihak telah disibukkan dengan persiapan-persiapan perang dan kesiagaan yang semakin tinggi. Prajurit Pajang yang bersiap-siap untuk perang, telah memancing pasukan Jipang untuk melakukan hal yang sama. Namun ternyata bahwa Pajang tidak segera mengerahkan pasukannya untuk menyeberangi Bengawan Sore.

mohon maaf….terpotong sedikit aja…

KETIKA malam turun, serta keadaan sudah menjadi semakin sepi, maka sesudah nganglang Ki Pemanahan dan Ki Penjawi telah duduk di dalam bilik mereka. Dengan nada dalam Ki Juru berkata kepada Ki Pemanahan dan Ki Penjawi, “Besok kita akan melakukan tugas besar. Sutawijaya harus siap lahir dan batinnya. Ia akan mempergunakan seekor kuda betina dengan membawa tombak Kanjeng Kiai Pleret.

Sementara itu, adi Pemanahan dan adi Penjawi harus selalu membayanginya sehingga anak itu tidak mengalami cidera sama sekali.”

“Tetapi bagaimana pasukan Pajang dapat bertemu dengan pasukan Jipang sementara kedua belah pihak tidak mau menyeberangi Bengawan Sore?” desak Ki Pemanahan.

“Besok akan kita pecahkan jika berhasil,” jawab Ki Juru.

Malam itu Ki Pemanahan dan Ki Penjawi hampir tidak dapat tidur sama sekali.

Mereka dibayangi oleh satu gerakan yang kurang dimengertinya.

Namun keduanya mempunyai kepercayaan yang utuh kepada Ki Juru Martani. Itulah sebabnya, betapapun sulit dan kurang dimengerti, tetapi satu pilihan akan selalu dilakukan oleh Ki Pemanahan dan Ki Penjawi itu.

Menjelang fajar, maka seluruh pasukan Pajang telah bersiap, tetapi masih dibalik pesanggrahan, sehingga tidak semata-mata nampak oleh pasukan Jipang. Meskipun pasukan Jipang tetap bersiaga, tetapi mereka pun memperhitungkan, bahwa pasukan Pajang tidak akan menyeberangi Bengawan Sore.

Yang kemudian pergi ke tepian adalah justru Ki Pemanahan, Ki Penjawi dan Ki Juru Martani. Untuk beberapa saat mereka menunggu. Baru ketika matahari mulai naik, seseorang nampak dengan susah payah menyeberangi Bengawan Sore.

Ki Juru yang mengamati keadaan dengan seksama berdesis, “Itulah pekatik itu.

Suruhlah Angger Sutawijaya mempersiapkan kuda yang manakah yang akan dipergunakannya.”

Ki Pemanahan dan Ki Penjawi saling berpandangan sejenak. Namun nampaknya Ki Juru berkata dengan bersungguh-sungguh. “Persiapkan Sutawijaya. Kemudian seluruh pasukan Pajang pun harus bersiap pula. Mudah-mudahan rencanaku berhasil.”

Ki Pemanahan dan Ki Penjawi kemudian telah menuju ke pasukan Pajang yang bersiaga. Pasukan yang gelisah karena mereka harus menunggu tanpa mengetahui kapan mereka harus bertempur dan melawan siapa.

Meskipun dengan ragu-ragu, namun Ki Pemanahan telah memerintahkan seluruh pasukan bersiaga. Sementara itu, maka khusus kepada Sutawijaya, Ki Pemanahan pun telah memerintahkan untuk bersiaga lahir dan batin.

Sebagaimana pesan Ki Juru Martani, maka setelah menjatuhkan perintah, maka bersama Ki Penjawi, Ki Pemanahan telah kembali ke tepian.

“Semuanya sudah siap kakang,” Ki Pemanahan memberikan laporan betapapun hatinya ragu.

Ki Juru tersenyum. Sambil mengangguk-angguk ia berkata, “Bagus. Kita akan segera mulai. Aku telah mempersiapkan sehelai surat bagi Adipati Arya Penangsang.”

“Surat apa?” bertanya Ki Pemanahan dan Ki Penjawi hampir berbareng.

“Surat tantangan,” jawab Ki Juru. “Kita akan menantangnya dan menunggu diseberang Bengawan Sore.”

“Ah,” keluh Ki Pemanahan. “Jika Adipati Arya Penangsang bersedia menyerang, maka hal itu tentu sudah dilakukannya. Kakang jangan bermain-main. Kecuali Kanjeng Adipati, maka seluruh pasukan Pajang tentu akan kecewa. Adalah berbahaya sekali jika para prajurit itu kecewa dan kehilangan kepercayaan. Mungkin mereka akan bertindak sendiri-sendiri atau bahkan tidak lagi mematuhi perintah-perintah berikutnya.”

“Mudah-mudahan tidak terjadi hal yang demikian,” berkata Ki Juru. “Marilah kita lihat, apakah kita berhasil atau tidak.”

“Kakang akan memerintahkan seorang penghubung untuk menyeberang dan menyampaikan surat tantangan itu?” bertanya Ki Penjawi, “Agaknya akan sia-sia saja kakang.

Apalagi jika surat itu jatuh ke tangan Mantahun yang cerdik. Rasa-rasanya kerja kita dan setelah menunggu sepekan dengan berdebar-debar, akan sia-sia.”

SEBELUM Ki Juru menjawab, Ki Pemanahan telah menyambung, “Jika tahu hanya begini rencana kakang, maka aku sudah menarik diri sejak semula. Bukan karena aku takut kepada Arya Penangsang, tetapi karena justru kita tidak akan dapat bertemu dengan orang itu jika kita hanya mengirimkan surat tantangan.”

“Bersabarlah sedikit,” berkata Ki Juru. “Kita tidak akan mengirimkan surat ini lewat seorang penghubung. Tetapi kalian harus menghubungkan rencana ini dengan perhitungan kita atas datangnya pekatik itu ke padang rumput.”

“Bagaimana dengan pekatik itu? Apakah kita akan menyuruhnya untuk membawa surat itu kepada Adipati Arya Penangsang?” bertanya Ki Pemanahan.

“Ya. Kita akan menitipkan surat itu kepadanya?” jawab Ki Juru.

Ki Pemanahan dan Ki Penjawi menjadi semakin bingung. Dengan nada sedikit kecewa Ki Pemanahan berkata, “Bagaimana kakang dapat menyusun rencana seperti ini?

Bahkan seandainya kita memerintahkan sekelompok prajurit yang dengan resmi menyampaikan surat tantangan ini. Arya Penangsang tidak akan menyeberangi Bengawan, apalagi menitipkan surat ini kepada pekatik itu.”

“Jangan tergesa-gesa mengambil kesimpulan. Marilah kita buktikan. Aku kira saatnya tiba. Matahari sudah menjadi semakin tinggi, sementara pasukan Pajang pun telah menunggu,” berkata Ki Juru. “Marilah kita menitipkan surat ini kepada pekatik itu.”

Ki Pemanahan dan Ki Penjawi benar-benar merasa kecewa. Tetapi mereka mengikuti saja Ki Juru yang melangkah ke arah pekatik Jipang yang sedang sibuk menyabit rumput.

“Selamat bertemu pekatik,” sapa Ki Juru.

Pekatik itu pun tersenyum sambil mengangguk, “Selamat Ki Sanak. Aku sudah hampir kehabisan rumput. Makanan lain kecuali rumput dari tempat ini tidak begitu menarik selera Kiai Gagak Rimang. Hanya karena terpaksa saja Gagak Rimang mau

makan yang lain.”

“Kau dapat mengambil rumput sesukamu disini,” berkata Ki Juru. Tetapi kemudian, “Namun pada satu saat kau harus membayar pajak Ki Sanak.”

“Pajak apa?” bertanya pekatik itu.

Ki Juru tersenyum. Katanya, “Kau mengambil rumput di daerah kuasa prajurit-prajurit Pajang. Karena itu, kau harus membayar pajaknya.”

“Tetapi daerah ini bukan milik Pajang. Daerah ini adalah daerah tidak bertuan.

Pajang dan Jipang disini sekadar tinggal di pesanggrahan yang pada saatnya tentu akan ditinggalkan,” berkata pekatik itu. “Hal ini sudah dijelaskan oleh Ki Patih Mantahun.”

“Ki Patih Mantahun benar,” jawab Ki Juru. “Tetapi selama ini Pajang telah berada di daerah ini, sementara diseberang lain Jipang telah membangun pesanggrahan pula. Dengan demikian maka seakan-akan kita sudah membagi lingkungan.”

“Tetapi itu bukan kedudukan yang sebenarnya,” berkata pekatik itu. Namun kemudian, “Meskipun demikian, tetapi karena kuasa Pajang disini, maka kami tidak akan berkeberatan. Ki Patih Mantahun tentu akan menyediakan pajak itu secukupnya, karena Kiai Gagak Rimang memilih rumput dari daerah ini daripada dari tempat lain.”

“Terima kasih,” sahut Ki Juru. “Tetapi kau tidak usah berbicara dengan Ki Patih Mantahun. Kau sendiri akan dapat memutuskannya, apakah kau setuju atau tidak.”

“Darimana aku harus membayar pajak?” bertanya pekatik itu. “Aku harus menyampaikan kepada Ki Patih.”

“Kau mempunyainya jika kau mau,” berkata Ki Juru.

“Apa? Sabit atau keranjang ini?” bertanya pekatik itu.

“Tidak. Tetapi telingamu,” jawab Ki Juru.

Pekatik itu terkejut. Tetapi ia pun kemudian tersenyum sambil berdesis, “Ah, jangan main-main Ki Sanak. Telingaku hanya dua. Jika kau ambil telinga itu tidak akan tumbuh lagi.”

“Tidak apa-apa Ki Sanak. Apa salahnya jika kau tidak mempunyai telinga sebelah,” berkata Ki Juru.

Pekatik itu termangu-mangu sejenak. Namun ternyata wajah Ki Juru nampak bersungguh-sungguh. Apalagi ketika Ki Juru kemudian menarik sebuah pisau belati yang sangat tajam sambil berkata, “Ki Sanak, maaf bahwa aku minta pajak yang mungkin terlalu mahal. Tetapi sampaikan kepada Arya Penangsang, jangan patih Mantahun, bahwa orang-orang Pajang sudah jemu menunggu. Jika Arya Penangsang memang jantan sebagaimana selalu dikatakan dimana-mana, maka saatnya sudah tepat untuk bertempur pada hari ini.”

“KI SANAK,” berkata pekatik yang mulai menjadi cemas. “Kau jangan menyeret aku ke dalam persoalan perang antara Jipang dan Pajang.” “Kau adalah pekatik Arya Penangsang,” jawab Ki Juru. Lalu katanya kepada Ki Pemanahan dan Ki Penjawi.

“Bantu aku memotong telinga orang ini. Aku tidak akan mempergunakan keris, karena jika ia tergores kerisku meskipun hanya seujung rambut ia akan mati. Aku akan mempergunakan pisau ini saja.”

“Jangan gila,” pekatik itu hampir berteriak. Namun ia pun segera bangkit.

Bagaimanapun juga ia tidak akan menyerahkan telinganya begitu saja. Karena itu, maka ia pun telah siap untuk mempertahankan telinganya dengan sabit yang berada ditangannya.

Tetapi yang dihadapi adalah Ki Juru, Ki Pemanahan dan Ki Penjawi. Karena itu, maka perlawanannya pun sia-sia.

Dalam waktu yang pendek, maka Ki Pemanahan dan Ki Penjawi telah menguasai pekatik itu. Sementara itu, maka dengan tangan yang agak gemetaran Ki Juru telah memotong sedikit daun telinga pekatik itu, dan kemudian menggantungkan sehelai surat di telinga yang sedikit terpotong itu. Surat tantangan yang sengaja sedikit menyinggung perasaan.

Ketika pekatik itu kemudian dilepaskannya, maka ia pun segera bangkit sambil meraung kesakitan, menyeberangi bengawan, kembali ke pesanggrahan orang-orang Jipang.

“Kita akan menunggu, apakah kita berhasil,” berkata Ki Juru.

Ki Pemanahan menarik nafas dalam-dalam. Ketika ia berpaling dilihatnya di jarak beberapa puluh langkah, prajurit Pajang sedang bertugas.

“Kami baru mengerti,” berkata Ki Pemanahan. Lalu, “Kita siapkan pasukan.” Ki Juru tersenyum. Namun ia pun kemudian berkata dengan sungguh-sungguh. “Jika kita berhasil, maka hari ini adalah hari yang menentukan.”

“Ya,” jawab Ki Pemanahan. “Tetapi itu lebih baik daripada kita harus menunggu tanpa akhir.”

Dalam pada itu, maka Ki Pemanahan pun segera memanggil prajurit yang bertugas dan memerintahkan untuk mengamati keadaan. Sementara itu, bersama Ki Penjawi ia akan menyiapkan pasukannya dan membawa mereka ke tepi Bengawan dalam gelar yang utuh.

Tetapi pesan Ki Juru, “Bawa sebagian kecil dahulu. Namun yang lain tetap siap untuk bergerak. Sementara biarlah mereka berada dibalik pesanggrahan.

Karena itulah, maka Ki Pemanahan dan Ki Penjawi telah menempatkan seorang senapati pilihan pada pasukan kecil yang harus pergi ke tepian dan Senapati yang terpercaya lainnya untuk memimpin pasukan yang tinggal.

“Demikian kau dengar isyarat, maka pasukan yang tinggal itu pun harus segera menyusul ke tepian,” perintah Ki Pemanahan.

Sejenak kemudian, maka sebagian dari pasukan Pajang telah berada di tepi Bengawan. Mereka siap menerima kedatangan pasukan Jipang apabila usaha Ki Juru berhasil. Sedangkan pusat perhatian Ki Pemanahan dan Ki Penjawi adalah anak muda yang dipersiapkan untuk langsung berhadapan dengan Arya Penangsang, Sutawijaya yang membawa pusaka terbesar Pajang, Kanjeng Kiai Pleret.

SEMENTARA itu, pekatik yang telinganya dipotong sedikit oleh Ki Juru telah berlari ke pesanggrahan. Para prajurit yang terkejut tidak sempat menahannya, sehingga pekatik itu telah mencapai gerbang pesanggrahan sambil berteriak dan meraung-raung kesakitan dan mengumpat-umpat. Namun di pintu gerbang prajurit yang bertugas sempat menghentikannya sambil bertanya, “Kau kenapa?” “Aku pekatik khusus kuda Adipati Jipang. Arya Penangsang,” teriak pekatik itu.

“Ya. Aku tahu. Tetapi kau kenapa?” bertanya prajurit itu.

“Orang Pajang menjadi gila,” geram pekatik itu. “Telingaku telah dipotong dan sesobek surat diikat pada telingaku. Surat bagi Kanjeng Adipati.”

“Surat apa?” bertanya prajurit itu.

“Aku tidak tahu, tetapi aku harus menunjukkan penghinaan ini kepada Kanjeng Adipati,” jawab pekatik yang sulit untuk dikekang lagi. Teriakan-teriakannya ternyata telah memasuki pesanggrahan dan terdengar oleh Arya Penangsang yang kebetulan sedang bersantap.

“Suara apa itu?” bertanya Arya Penangsang kepada Patih Mantahun Yang menemaninya makan.

“Entahlah Kanjeng Adipati,” jawab Ki Patih. “Perkenankan hamba menengoknya.”

Tetapi Ki Patih Mantahun tidak sempat pergi ke luar pesanggrahan. Pekatik yang kesakitan itu tiba-tiba saja telah berlari menyusup di antara prajurit yang bertugas tanpa disangka-sangka, sehingga prajurit yang bertugas di luar tidak sempat menghentikannya.

Tetapi pekatik itu akhirnya terhenti juga diluar pintu ruang yang dipergunakan oleh Kanjeng Adipati Arya Penangsang untuk bersantap. Seorang pengawal khusus telah menghentikannya, sehingga pekatik itu justru telah berteriak-teriak.

“Siapa yang menjadi gila itu,” bentak Ki Patih Mantahun.

Sementara itu pekatik itu berteriak, “Hamba harus menghadap Kanjeng Adipati. Satu penghinaan orang-orang Pajang atas Kanjeng Adipati harus ditebus dengan penghinaan yang lebih berat.”

Ternyata Kanjeng Adipati Arya Penangsang mendengar suara pekatik itu. Dengan jantung yang mulai berdebaran, Adipati Pajang itulah yang kemudian berteriak,

“Bawa orang itu kemari.”

Tidak ada yang dapat menahannya lagi. Pengawal khusus yang ada di muka pintu itu pun kemudian membawa pekatik yang telinganya berlumuran darah itu memasuki ruangan.

“Dungu,” geram Ki Patih. “Seharusnya kau menunggu diluar.”

“Aku memanggilnya,” potong Arya Penangsang.

Dengan wajah yang tegang Arya Penangsang memandangi pekatik yang dibasahi oleh titik-titik darah dari telinganya.

“Kau pekatik,” sapa Arya Penangsang yang mengenal pekatiknya dengan baik.

Pekatik yang telah menyediakan makan bagi kudanya yang paling baik, Gagak Rimang.

Tanpa menghiraukan Ki Patih dan para pengawal khusus pekatik itu berkata tersendat-sendat, “Satu penghinaan dari orang-orang Pajang Kanjeng Adipati.

Telinga hamba telah dipotong dan pada sisa telinga hamba telah diikat sepucuk surat yang katanya bagi Kanjeng Adipati.”

Wajah Kanjeng Adipati Jipang itu pun menjadi semakin tegang. Dengan suara latang ia berkata, “Mendekatlah.”

Ki Patih Mantahun pun menjadi sangat berdebar-debar. Dengan seksama ia mengikuti apa yang terjadi. Sementara Arya Penangsang telah mengambil sendiri surat yang tergantung ditelinga pekatik yang malang itu.

“Biarlah hamba membacanya,” mohon Ki Patih.

“Kau sangka aku tidak dapat membaca sendiri?” bentak Arya Penangsang.

Ki Patih Mantahun tidak dapat memaksanya. Tetapi ia telah mendapat satu firasat yang kurang baik.

Dengan tangan gemetar Arya Penangsang pun membuka surat yang telah terpercik oleh noda-noda darah. Sebagaimana Arya Penangsang sendiri yang pada dasarnya cepat menjadi marah, maka titik-titik darah dilembaran kertas itu bagaikan bara yang membakar jantungnya.

Pengaruh bercak-bercak merah itu ternyata sangat besar pada perasaan Arya Penangsang, meskipun ia belum membaca isi surat itu.

DENGAN pandangan mata yang menyala Arya Penangsang mengikuti huruf-huruf yang terdapat di lembaran surat itu. Huruf-huruf yang ditulis dengan cermat, tertib dan jelas, suku wulu dan taling-tarungnya. Darah Ki Patih Mantahun bagaikan semakin cepat mengalir pada saat-saat ia mengikuti gerak wajah Arya Penangsang.

Ia sudah dapat menduga isi dari surat orang-orang Pajang itu.

Arya Penangsang yang membawa surat itu merasa dadanya telah diguncang.

Penghinaan yang sangat menyakitkan hati. Bahkan kata penutup surat tantangan itu berbunyi, “Kanjeng Adipati Arya Penangsang. Kami menunggu dengan pasukan yang ada pada kami. Jika Arya Penangsang tidak berani keluar ke arena oleh surat tantangan kami yang terakhir ini, maka kami tidak lagi menghargai Kanjeng Adipati sebagaimana sebelumnya, karena Kanjeng Adipati tidak lebih dari seorang perempuan yang hanya berani berlindung dibalik tungku dapur.”

Darah Arya Penangsang benar-benar telah mendidih. Pikirannya menjadi kacau oleh kemarahan yang menghentak-hentak didadanya. Darah pada helai-helai surat itu, pekatik yang merintih kesakitan, kejemuannya menunggu di pesanggrahan itu, yang seolah-olah tidak berkeputusan dan berbagai macam goncangan-goncangan perasaan

serta kebenciannya yang memuncak kepada Adipati Pajang, telah menjadikan nalar Arya Penangsang itu pun bagaikan menjadi buram. Dengan kemarahan yang membakar jantung, maka Arya Penangsang itu pun telah meloncat berdiri. Mangkuk-mangkuk yang berada dihadapannya dihentakkannya sehingga terlempar dan pecah berserakan.

“Cepat, siapkan Gagak Rimang,” perintah Arya Penangsang kepada pekatik yang telinganya terpotong sedikit itu.

“Tunggu,” teriak Ki Patih Mantahun.

Tetapi pekatik itu tidak mempunyai perhitungan lain. Ia justru merasa senang bahwa Arya Penangsang menjadi marah dan siap untuk membalaskan sakit hatinya.

Karena itu, maka ia pun segera berlari keluar untuk menyiapkan kuda Arya Penangsang.

Sementara itu, Ki Patih Mantahun telah berusaha menahan Arya Penangsang yang marah. Sambil memeluk kakinya Kanjeng Adipati Ki Patih berkata, “Hamba mohon Kanjeng. Hamba mohon untuk menenangkan perasaan. Hamba akan menyelesaikan persoalan ini.”

“Persetan,” geram Arya Penangsang. “Aku sudah jemu dengan keadaan yang membeku sekarang ini. Perselisihan ini berlangsung tanpa berkesudahan. Sekarang aku akan menyelesaikannya sampai tuntas. Mati atau mukti. Itu adalah kelengkapan seorang kesatria. Aku akan menghadapi Adipati Pajang sebagai laki-laki jantan.”

“Kanjeng Adipati memang bersikap kesatria. Tetapi apakah Pajang juga bersikap demikian?” bertanya Patih Mantahun.

“Aku tidak mau kau hambat lagi dengan otak tuamu Mantahun,” geram Adipati Jipang.

Tetapi Patih Mantahun masih memegangi kaki Adipati Jipang itu. Katanya tersendat, “Baiklah. Kita akan dengan segera menyelesaikannya. Kita akan melakukannya hari ini. Tetapi beri kesempatan hamba menyiapkan pasukan lengkap yang akan menyertai Kanjeng Adipati.”

Arya Penangsang menggeram. Namun katanya, “Kau dapat menyusul dengan pasukanmu.

Aku akan menantang Adipati Pajang untuk berperang tanding.”

“Mereka tidak akan berbuat demikian Kanjeng,” desis Ki Patih Mantahun dengan nafas terengah-engah.

Tetapi Arya Penangsang mengibaskan kakinya sambil membentak, “Lepaskan aku.”

“Jangan pergi dengan tanpa kesiagaan seperti ini,” jawab Patih Mantahun tanpa melepaskan pegangannya.

Arya Penangsang yang marah itu memang tidak dapat ditahan lagi. Sekali lagi ia mengibaskan kakinya. Namun tangan Mantahun itu bagiakan melekat di kakinya.

Ketika Arya Penangsang menghentakkan kakinya dengan seluruh kekuatan cadangan yang ada di dalam dirinya, maka Ki Patih Mantahun pun melakukannya pula, sehingga kekuatannya pun menjadi berlipat.

Namun kemarahan Arya Penangsang justru bagaikan telah disiram api. Tiba-tiba saja ia telah menarik kerisnya yang sangat ditakuti oleh siapapun juga, yang seakan-akan tidak pernah terpisah dari tubuhnya, Kanjeng Kiai Setan Kober.

MELIHAT keris itu, barulah Patih Mantahun bergeser sambil melepaskan kaki Kanjeng Adipati Jipang. Namun ia masih juga berkata, “Kanjeng adalah Adipati Jipang. Soal hidup dan mati Kanjeng akan berpengaruh atas seluruh kadipaten.

Dengan demikian maka hidup mati Kanjeng adalah juga milik kadipaten Jipang.” Tetapi Arya Penangsang tidak mau mendengarnya lagi. Ia pun kemudian meloncat ke luar dengan kemarahan yang menghentak-hentak. Apalagi ketika ia kemudian melihat kudanya, Gagak Rimang sudah siap untuk pergi berperang.

Dengan serta merta Kanjeng Adipati meloncat ke arah kudanya dan melarikannya ke arah Bengawan Sore.

Para pengawal khususnya menjadi bingung. Namun dengan suara lantang Patih Mantahun yang tua itu berteriak, “Cepat, susul Kanjeng Adipati Arya Penangsang.

Bawa kelengkapan perang dan bunyikan tengara.”

Pasukan pengawal khusus yang termangu-mangu itu pun bagaikan orang terbangun dari mimpi. Mereka pun telah berlari-larian mengambil kuda masing-masing yang siap di dalam waktu yang cepat, sebagaimana ketrampilan seorang dari pasukan khusus pengawal pribadi Adipati Jipang.

Sementara itu, isyarat pun telah berbunyi. Ki Patih Mantahun langsung mengatur para prajurit Jipang. Pengalaman dan ketrampilan para prajurit Jipang serta kesiagaan yang tinggi telah membuat mereka cepat bersiap dan menyusul Adipati

Jipang. Pasukan berkuda telah lebih dahulu berangkat, kemudian pasukan yang lain pun telah dengan tergesa-gesa menyusul pula. Sementara itu, para petugas yang lain pun telah mendapat perintah untuk bersiap dan menyesuaikan diri. Para juru madaran, pekatik dan para pande besi harus bersiap pula. Demikian pula mereka yang bertugas dibidang pengobatan dan dukungan kejiwaan pasukan Jipang.

Patih Mantahun yang tidak berhasil menahan kemarahan Arya Penangsang itu tidak dapat berbuat lain kecuali mengerahkan segenap kekuatan yang ada di pesanggrahan itu. Bahkan Ki Patih pun telah memerintah pasukan cadangan untuk berangkat pula.

“Dalam keadaan seperti ini, kita tidak memerlukan pasukan cadangan,” berkata Ki Patih. “Kita akan membenturkan seluruh kekuatan yang ada. Kita akan menang atau kalah hari ini juga. Kita akan hancur atau jaya tanpa tenggang waktu. Kanjeng Adipati telah terpancing oleh cara licik dari orang-orang Pajang.”

Dengan demikian, maka Senapati yang memimpin pasukan cadangan itu pun telah mengerahkan semua prajurit yang ada untuk bersama-sama dengan pasukan yang lain menyeberangi Bengawan Sore.

Bengawan Sore memang tidak sedang naik. Airnya di musim kering tidak terlalu besar dan tidak terlalu dalam. Meskipun demikian air itu memang merupakan hambatan yang harus diperhitungkan oleh setiap pasukan yang menyeberang.

Dalam pada itu, Arya Penangsang sendiri sudah mulai turun ke Bengawan. Beberapa puluh langkah dibelakangnya adalah para prajurit dari pasukan khusus, prajurit yang terpilih. Sebagaimana Arya Penangsang sendiri, maka para prajurit dari pasukan khusus itu sama sekali tidak gentar menghadapi segala kemungkinan.

Demikian kuda mereka turun ke air, maka pedang mereka pun telah teracu.

Pengalaman serta naluri mereka telah mengatakan kepada mereka, bahwa selagi mereka menyeberang, maka mereka akan mendapat serangan dari pasukan Pajang yang berada di seberang.

Arya Penangsang dan pasukan khusus itu sama sekali tidak memperlambat laju mereka, karena pasukan Pajang yang mereka lihat diseberang pun tidak terlalu besar, sehingga mereka yakin bahwa mereka akan dapat mengatasinya.

Dengan demikian, maka pasukan Jipang itu berturut-turut menyeberangi Bengawan Sore. Satu perjalanan pasukan yang tidak menguntungkan. Namun Mantahun yang memiliki pengetahuan dan pengalaman yang bertimbun di dalam dirinya itu tidak dapat berbuat banyak. Justru karena sikap Adipati Jipang sendiri yang kurang dapat menguasai diri. Sifat dan watak yang dikenal betul oleh orang-orang Pajang itu agaknya telah dipergunakannya sebaik-baiknya.

Dalam pada itu, pasukan Pajang pun telah bersiap. Tetapi seperti yang direncanakan, maka yang nampak di tepian Bengawan Sore itu hanyalah sebagian saja dari seluruh pasukan Pajang yang ada di pesanggrahan itu.

KI JURU MARTANI, Ki Pemanahan dan Ki Penjawi menjadi berdebar-debar juga melihat apa yang akan terjadi. Mereka melihat seorang berkuda dipaling depan. Mereka pun

segera mengetahui, bahwa orang berkuda itu adalah Arya Penangsang sendiri. “Kita berhasil adi,” berkata Ki Juru. “Sekarang siapkan Sutawijaya sebaik-baiknya. Ia adalah seorang laki-laki. Ditangannya tergenggam satu-satunya kemungkinan untuk mengalahkan Arya Penangsang, Kanjeng Kiai Pleret. Dengan tombak itu mudah-mudahan kulit Arya Penangsang yang disebut kebal itu dapat terluka.”

Ki Pemanahan menjadi semakin gelisah. Sutawijaya masih terlalu muda. Tetapi ia

memang memiliki ketrampilan mempermainkan kuda. Sejak kecil anak itu bagaikan lekat dengan punggung kuda. Sementara itu ia telah membawa pusaka terbesar Pajang, Kanjeng Kiai Pleret. Jika Kanjeng Kiai Pleret tidak berhasil mengenai dan melukai Arya Penangsang, maka agaknya memang tidak ada senjata yang akan

dapat melukainya.

Tetapi Ki Juru Martani tidak saja membekali Sutawijaya dengan Kanjeng Kiai Pleret, tetapi Ki Juru telah menyediakan seekor kuda betina bagi Sutawijaya.

Dalam pada itu, para prajurit Pajang telah siap dipinggir Bengawan. Mereka harus menghancurkan para prajurit Jipang yang menyeberang dibelakang Arya Penangsang.

Pasukan pengawal khusus yang berusaha untuk menyusul Arya Penangsang memang berhasil mendekatinya dari belakang. Tetapi yang akan mencapai tepian pertama kali memang Arya Penangsang.

Ketika pasukan Jipang seluruhnya telah berada di dalam air, maka Ki Pemanahan dan Ki Penjawi telah menurunkan perintah, agar pasukan yang masih berada dibelakang pesanggrahan segera turun ke tepian.

Sejenak kemudian, maka pasukan yang besar telah keluar dari balik pesanggrahan dan dengan tergesa-gesa pergi ke tepian yang tidak terlalu jauh. Dengan tengara bende maka pasukan itu pun berjalan rampak dalam gelar yang melebar.

Kehadiran pasukan yang besar itu memang menghentakkan perhatian para prajurit Jipang. Mereka memang menjadi berdebar-debar melihat pasukan yang datang itu.

Agaknya mereka baru keluar setelah yakin pertempuran akan terjadi.

“Mereka telah memancing Kanjeng Adipati dengan berbagai cara,” berkata Patih Mantahun yang menyu-sul Kanjeng Adipati Jipang, “Mereka membuat Kanjeng Adipati marah dan mereka menunjukkan seolah-olah pasukan mereka kecil dan lemah, sehingga Kanjeng Adipati telah benar-benar terpancing.”

Seorang Senapati yang mendampingi Ki Patih Mantahun itu pun menyahut, “Tetapi mereka akan kita hancurkan hari ini.”

“Saat-saat yang paling berbahaya adalah saat-saat kita naik ke tepian,” berkata Ki Patih Mantahun.

Senapati itu mengangguk. Namun ia percaya kepada pasukan khusus pengawal pribadi Arya Penangsang yang memiliki kemampuan yang tinggi.

Ternyata pasukan Jipang itu memerlukan waktu yang agak panjang untuk menyeberangi Bengawan Sore yang meskipun tidak terlalu dalam tetapi cukup lebar.

Arya Penangsang yang berada di paling depan telah mendekati tepian dan jangkauan anak panah dari pasukan Pajang. Namun Ki Juru pun berkata kepada Panglima pasukan Pajang, “Apapun yang kalian lemparkan kepada Arya Penangsang tidak akan melukai kulitnya. Tetapi kalian harus siap menghadapi pengawal khususnya yang telah menyusulnya.

Panglima Pajang itu pun menyadari, betapa besarnya kemampuan pasukan pengawal pribadi Arya Penangsang. Namun pasukan khusus Pajang pun tidak kalah garangnya dengan pasukan Jipang, meskipun mereka tidak sekeras pasukan Jipang.

Demikian Arya Penangsang memasuki jangkauan anak panah dan bandil dari gelar pasukan Pajang yang berada di tepian, perintah pun segera jatuh. Pasukan Pajang itu pun mendengar tengara bende yang sahut menyahut. Sehingga dengan demikian maka mereka pun dengan serta merta telah melepaskan anak panah dan bandil.

Tetapi setiap prajurit Pajang mengetahui, bahwa anak panah dan bandil itu tidak akan berarti bagi Arya Penangsang yang telah mendekati tepian.

NAMUN jika kudanya naik ketepian bukan berarti tanah tempat kakinya berpijak rata dan lancar. Tetapi kudanya akan memasuki lingkungan pasir tepian yang akan

menghambat lari kudanya. Karena itu, maka meskipun orang pertama dari Jipang itu yang diikuti oleh pasukannya pada saatnya naik dan melepaskan diri dari air Bengawan, namun mereka masih harus mengatasi hambatan pasir tepian.

Anak panah, bandil dan kemudian lembing yang dilontarkan oleh pasukan Pajang memang sudah diperhitungkan oleh setiap prajurit Jipang. Arya Penangsang sendiri memang tidak menghiraukan anak panah dan batu-batu bandil. Bahkan kudanya yang bernama Gagak Rimang itu pun seakan-akan tidak terpengaruh juga oleh hujan anak

panah dan batu bandil.

Namun demikian, anak panah dan batu-batu bandil itu memang mulai menghambat pasukan pengawal pribadi Arya Penangsang. Namun sebagian besar dari mereka memang memiliki kemampuan menangkis anak panah dan batu-batu. Mereka ternyata juga tidak terluka oleh ujung anak panah yang mengenainya.

“Bukan main,” desis Panglima prajurit Pajang, “Pasukan Jipang memang pasukan yang nggegirisi, terutama pasukan pengawal pribadi Adipati Jipang.”

“Siapkan pasukanmu yang seimbang,” perintah Ki Pemanahan.

Pasukan khusus Pajang pun kemudian telah siap ditepian untuk menyambut pasukan Jipang yang akan naik di belakang Arya Penangsang.

Dalam pada itu, maka Ki Pemanahan pun telah memerintahkan pasukan Pajang untuk menyusun gelar Jurang Grawah. Dengan demikian maka pasukan Pajang harus mampu membangunkan sekat antara pasukan khusus Jipang dengan pasukannya yang lain.

Sejenak kemudian maka tibalah saat-saat yang menegangkan. Ki Juru Martani, Ki Pemanahan dan Ki Penjawi telah memiliki pengalaman yang luas dalam pertempuran-pertempuran yang pernah terjadi, menjadi tegang juga melihat kehadiran pasukan Arya Penangsang yang bergelombang menyeberangi Bengawan Sore.

Pada saat Arya Penangsang sendiri telah berada di atas pasir tepian, maka mulailah babak pertama dari perang yang sangat mendebarkan itu.

Sesuai dengan rencana, maka yang pertama-tama dilepaskan oleh pasukan Pajang adalah Raden Sutawijaya yang berada di punggung seekor kuda betina dengan menggenggam tombak Kanjeng Kiai Pleret ditangannya. Dengan kencang kuda Raden Sutawijaya itu melintas beberapa puluh langkah dihadapan Arya Penangsang yang

sedang marah.

Arya Penangsang memang terkejut melihat kehadiran Raden Sutawijaya yang masih sangat muda itu dipeperangan.

Tetapi ia pun kemudian tidak menghiraukannya. Raden Sutawijaya bagi Arya Penangsang tidak lebih dari kanak-kanak yang sedang bermain-main meskipun ditempat yang berbahaya.

Namun yang terjadi ternyata tidak sebagaimana dikehendaki oleh Arya Penangsang.

Betapa akrabnya hubungan antara Arya Penangsang dengan kudanya yang bernama Gagak Rimang itu, namun pada suatu saat maka telah terjadi salah paham di antara mereka.

MELIHAT seekor kuda betina yang melintas dihadapannya, maka Gagak Rimang ternyata telah tertarik olehnya. Karena itu, maka meskipun tidak dikehendaki oleh Arya Penangsang maka Gagak Rimang justru telah berusaha untuk mengejar kuda betina yang dipergunakan oleh Raden Sutawijaya. “Rimang, apakah kau menjadi

gila,” geram Arya Penangsang yang berusaha menguasai kudanya. Arya Penangsang telah bertekad untuk menyerang langsung ke induk pasukan Pajang yang siap dengan gelarnya. Menurut perhitungan Arya Penangsang, pimpinan tertinggi pasukan Pajang tentu berada di induk pasukannya. Bahkan Arya Penangsang berharap bahwa Adipati Pajang sendirilah yang memegang kendali pasukannya.

Namun Gagak Rimang tiba-tiba menjadi sulit untuk dikuasainya.

Pada saat Arya Penangsang masih berusaha untuk mengendalikan Gagak Rimang, maka ternyata Raden Sutawijaya telah memutar kudanya, dan sekali lagi melintas lebih dekat dihadapan Arya Penangsang.

Dengan demikian maka kuda Arya Penangsang itu pun semakin liar dan berusaha untuk mengejar kuda Raden Sutawijaya.

Arya Penangsang yang sedang dibakar oleh kemarahan itu tiba-tiba telah berteriak, “Sutawijaya, jika kau main-main dengan kuda, jangan di dekat medan yang garang ini. Pergilah, kudaku menjadi liar karena kuda betinamu.”

Tetapi jawaban Sutawijaya sungguh diluar dugaan Arya Penangsang. Katanya, “Paman, sejak pagi aku menunggu kehadiran paman di medan perang. Akulah Senapati Pajang yang mendapat tugas untuk menghadapi paman hari ini.”

“Gila,” teriak Arya Penangsang sambil menarik kekang kudanya. “Kau sangka aku siapa Sutawijaya? Apakah kau tidak pernah mendengar dari ayahmu atau ayah angkatmu tentang Arya Penangsang?”

“Sudah paman,” sekali lagi Sutawijaya memutar kudanya, “Cerita tentang paman itulah yang mendorong aku untuk membuktikan, apakah benar paman tidak terkalahkan.”

Kemarahan Arya Penangsang tidak terbendung lagi. Ia pun tidak lagi berusaha untuk menguasai Gagak Rimang, tetapi ia justru berusaha mengejarnya.

Namun sebenarnyalah Sutawijaya memang memiliki kemampuan berkuda yang sangat tinggi. Ia dengan lincah mempermainkan kudanya dan justru memancing Arya Penangsang untuk memasuki lingkungan pasukan Pajang.

Tetapi Arya Penangsang tidak menjadi gentar. Ia pun telah menyuruk memasuki pertahanan Pajang yang merupakan gelar yang menebar. Kerisnya yang nggegirisi masih tetap ditangannya, sehingga seakan-akan ditangan Arya Penangsang itu telah memancar cahaya yang kemerah-merahan menyilaukan.

Semua orang menjadi berdebar-debar melihat keris ditangan Arya Penangsang itu.

Apalagi ketika mereka melihat Arya Penangsang memburu Raden Sutawijaya dengan kemarahan yang memuncak.

Demikian Arya Penangsang memasuki garis pertahanan pasukan Pajang, maka beberapa ujung tombak telah menyongsongnya.

Tetapi tidak satu pun dari antara ujung tombak itu yang melukainya. Bahkan ayunan keris Setan Kober di tangan Arya Penangsang telah menyibakkan ujung-ujung tombak yang bagaikan batang ilalang. Beberapa orang yang tergores oleh ujung keris itu pun telah bergeser surut, keluar dari pasukannya dan menempatkan dirinya untuk menerima kematiannya. Meskipun goresan itu hanya seujung rambut.

Tidak ada obat yang mampu menawarkan ketajaman nafas maut pada ujung keris Setan Kober. Sementara itu, ujung tombak para prajurit Pajang itu tidak mampu menggores kulit Adipati Jipang yang marah itu.

Karena itu, maka tidak seorang pun yang mampu menahan Arya Penangsang yang memacu kudanya mengejar Raden Sutawijaya. Apalagi kuda Arya Penangsang sendiri memang berusaha untuk mengejar kuda betina itu.

Sementara itu, orang-orang yang memiliki ilmu tertinggi dari Pajang pada waktu itu, Ki Juru Martani, Ki Pemanahan dan Ki Penjawi dengan sengaja tidak menghalangi Arya Penangsang. Mereka telah mempertaruhkan Raden Sutawijaya untuk melawan Arya Penangsang yang memilik ilmu yang jarang ada bandingnya.

SEMENTARA itu, di belakang Arya Penangsang pasukan pengawal khususnya telah menyusul. Pasukan Pajang telah bersiap sebaik-baiknya untuk menyambut mereka dengan gelar Jurang Grawah.

Ketika pasukan khusus Jipang itu membentur pertahanan pasukan Pajang, maka pasukan Pajang itu pun terdesak mundur. Seperti yang diperintahkan oleh Ki Pemanahan, maka yang harus dihadapi pasukan khusus Jipang itu harus pasukan khusus pula, sehingga kekuatan mereka akan seimbang. Dengan demikian, di pihak Pajang tidak akan timbul korban yang tidak terhitung jumlahnya.

Ketika pasukan Jipang melihat pasukan Pajang mundur, maka mereka pun segera mendesak. Pasukan berkuda itu tidak sempat memikirkan gelar yang dipasang oleh pasukan Pajang. Apalagi pasukan Jipang itu memang sudah dibakar oleh gejolak perasaannya. Bukan saja karena Arya Penangsang sudah mendahului mereka dengan kemarahan yang tidak tertahan, namun satu dua di antara kawan-kawan mereka ada yang sudah jatuh pada saat mereka menyeberang serta ketika mereka berusaha mengatasi hambatan lunaknya pasir ditepian.

Tetapi pasukan Pajang memang sudah siap dengan gelar Jurang Grawah. Demikian benturan antara kedua pasukan khusus itu terjadi, maka pasukan Pajang pun telah mundur dan memancing pasukan lawan untuk mendesak mereka.

Namun demikian pasukan lawan itu memasuki lekuk yang cukup dalam pada gelar pasukan Pajang, maka gelar itupun kemudian telah menutup kembali. Dengan demikian telah terjadi sekat antara pasukan khusus Jipang dengan pasukan yang

datang kemudian.

Sementara itu, dengan ketrampilan yang masak, pasukan Pajang telah merapat dan menempatkan diri di sebelah tepian berpasir. Mereka telah mempergunakan kesempatan sebaik-baiknya pada saat pasukan Jipang dibawah pimpinan Ki Patih Mantahun sendiri mendekati tepian dan kemudian naik ke dataran pasir di tepi Bengawan Sore yang agak luas.

Ki Patih Mantahun memang sudah memperhitungkannya. Ia sendiri mampu menembus hujan anak panah dan lembing serta bandil. Seperti Arya Penangsang ia memiliki kekebalan serta ilmu yang sangat tinggi.

Namun Ki Juru Martani, Ki Pemanahan dan Ki Penjawi yang masih harus mengamati kemungkinan yang dapat terjadi dengan Raden Sutawijaya telah mempercayakan beberapa orang perwira yang memiliki ilmu yang cukup untuk menahan Ki Patih Mantahun.

Sebenarnyalah, pasukan Jipang yang datang kemudian itu telah mengalami kesulitan untuk maju. Ki Patih sendiri memang tidak tergores oleh ujung senjata.

Tetapi para prajuritnya telah terhambat oleh tajamnya bedor, lembing dan kerasnya batu-batu bandil. Beberapa orang mulai roboh dan tidak dapat melanjutkan tugas mereka. Bahkan ada di antara mereka yang jatuh dan hanyut di arus sungai yang sebenarnya tidak terlalu deras. Satu demi satu jumlah prajurit

Jipang mulai susut. Sementara itu, sambil bersorak-sorak prajurit Pajang terus saja menghujani mereka dengan anak panah, lembing dan batu-batu bandil.

Korban pun mulai berjatuhan. Tetapi Ki Patih Mantahun yang telah menjadi marah pula tidak terkejut mengalami keadaan seperti itu. Baik para pemimpin Jipang maupun Pajang telah mengetahui bahwa akibat seperti itu akan terjadi bagi mereka yang berani menyeberangi Bengawan Sore.

Ternyata perhitungan dan cara yang ditempuh oleh Ki Juru berjalan sebagaimana diharapkan. Dengan sorak yang gemuruh para prajurit Pajang melihat korban yang berjatuhan dari pasukan Jipang. Namun prajurit-prajurit Jipang adalah prajurit-prajurit yang dilatih dengan keras dan ditempa dengan kuat. Itulah sebabnya, maka arus serangan mereka pun sama sekali tidak nampak susut.

Ketika gelar pasukan Pajang menyurut kembali setelah para prajurit dari pasukan khusus Jipang mendesak pasukan khusus Pajang, maka para perwira dari pasukan khusus Jipang itu pun menyadari gelar yang dipergunakan oleh pasukan Pajang.

Namun mereka terlambat untuk mengubah gelar yang mereka pergunakan. Gelar yang hanya dapat menyesuaikan dengan gerak Adipati Jipang yang marah dan tidak terkendali Gelar Emprit Neba.

SEKAT yang kemudian dibuat oleh prajurit Pajang telah memisahkan pasukan khusus Jipang dan pasukannya yang lain. Namun hal itu sama sekali tidak mengubah tata gerak pasukan itu. Keras dan garang. Sekelompok kecil pasukan khusus Jipang itu memang berusaha untuk memecahkan sekat yang memisahkan mereka dengan pasukan Jipang yang lain yang bakal datang. Namun usaha mereka tidak segera dapat berhasil. Pasukan Pajang telah berusaha untuk mengimbangi kemampuan pasukan khusus Jipang bukan saja dalam gelar, tetapi juga secara pribadi.

Dengan korban yang cukup banyak, maka pasukan Jipang yang dipimpin langsung oleh Ki Patih Mantahun itu pun akhirnya mampu mencapai gelar pasukan Pajang. Mereka pun menyadari, bahwa prajurit Pajang itu telah mempergunakan gelar Jurang Grawah, sehingga pasukan khusus telah tertelan kedalam gelar pasukan Pajang.

Namun Ki Patih terlalu yakin akan kekuatan dan kemampuan pasukan khususnya sehingga ia tidak menjadi cemas karenanya.

Beberapa orang perwira Pajang memang mendapat tugas khusus untuk menghadapi Ki Patih Mantahun. Dengan senjata yang berputaran mereka telah mengepung Patih tua itu, sementara kedua pasukan itu pun telah berbenturan dengan kerasnya.

Dalam pada itu, kuda Arya Penangsang bagaikan menjadi gila. Tanpa dapat dikendalikan lagi, Gagak Rimang telah mengejar kuda Raden Sutawijaya. Sedangkan

Raden Sutawijaya benar-benar seorang anak muda yang memiliki kemampuan untuk mengendarai kuda. Ternyata kuda betina yang dipergunakannya telah membuat Arya Penangsang kesulitan menguasai Gagak Rimang.

Karena itulah, maka Arya Penangsang telah menyarungkan kerisnya. Kedua tangannya telah dipergunakannya untuk mengendalikan kudanya yang sulit dikuasainya.

“Kenapa kau tiba-tiba menjadi gila Gagak Rimang?” geram Arya Penangsang.

Biasanya Arya Penangsang bersikap manis terhadap kudanya. Tetapi kemarahannya yang membakar jantungnya membuatnya berbuat kasar. Tetapi justru karena itu,

maka Gagak Rimang pun menjadi semakin gila.

Sutawijaya telah membawa kudanya berlari-lari ditepian. Melingkar-lingkar. Bahkan di luar lingkungan medan pertempuran.

“Jangan jadi pengecut anak Pemanahan,” teriak Arya Penangsang. “Jika kau memang berniat melawan aku, ayo, lawanlah aku. Aku memang akan mencincangmu sebelum aku mencincang ayah angkatmu.”

“Tangkap aku paman,” Sutawijaya pun berteriak.

Arya Penangsang menggeram. Tetapi ia tidak dapat memaksa Gagak Rimang untuk memotong arah kuda Sutawijaya. Gagak Rimang condong mengikuti saja kemana kuda betina yang dipergunakan oleh Sutawijaya itu berlari. Melingkar, menyilang dan kadang-kadang melintas dekat dibelakang garis pertempuran.

Pada puncak kesulitan Arya Penangsang mengendalikan Gagak Rimang, maka Sutawijaya pun mulai memperhitungkan langkahnya sebagaimana dipesankan kepadanya.

Raden Sutawijaya harus mempergunakan tombak pusaka terbesar dari Pajang, Kanjeng Kiai Pleret.

Pada saat Arya Penangsang masih memburu Raden Sutawijaya, maka pertempuran antara pasukan Pajang dan Jipang pun telah membakar tepian. Kedua belah pihak telah mengerahkan segenap kekuatan yang ada pada pasukan masing-masing. Pasukan Jipang yang bergerak dengan serta merta, karena kemarahan Arya Penangsang itu pun telah berusaha untuk menggilas pasukan yang menahan geraknya. Namun jumlah mereka telah banyak berkurang. Gelar Jurang Grawah yang dipasang pasukan Pajang ternyata memang sangat menguntungkan. Pasukan khusus Jipang benar-benar telah menemukan lawan yang seimbang. Pasukan khusus dari Pajang pun ternyata memiliki kelebihan dari pasukannya yang lain, sebagaimana pasukan Jipang.

Karena itulah, maka pertempuran antara kedua pasukan itu merupakan pertempuran yang sangat dahsyat. Secara pribadi para prajurit dari pasukan khusus Pajang dan Jipang itu memiliki ilmu yang setingkat.

Meskipun nampaknya orang-orang Jipang lebih garang, tetapi ketika mereka terlambat di dalam pertempuran yang terpisah, maka ternyata bahwa orang-orang Pajang pun telah menjadi garang pula. Ketika orang-orang Jipang bertempur dengan keras dan bahkan kasar, maka orang-orang Pajang pun menjadi keras dan kasar pula.

DENGAN demikian, maka pasukan khusus Jipang yang dipisahkan dari keseluruhan pasukan Jipang benar-benar telah menemukan lawannya yang tidak dapat didesak lagi, sebagaimana terjadi pada saat-saat kedua pasukan itu bertemu. Di bagian lain, maka pasukan Pajang telah bertempur dengan pasukan Jipang yang menyerang pertahanan Pajang dengan gelar Emprit Neba. Gelar yang tidak perlu disusun sebagaimana gelar yang lain. Pasukan Jipang datang seperti sekelompok burung emprit yang turun dari langit di atas batang-batang padi yang buahnya mulai menguning.

Tetapi karena jumlah pasukan Jipang itu sudah jauh berkurang, maka pasukan itu tidak segera dapat mendesak pasukan Pajang yang kecuali lebih banyak, ternyata juga lebih mapan.

Dalam pertempuran itu, Ki Patih Mantahun harus bertempur melawan beberapa orang perwira terpilih dari Pajang. Meskipun Ki Patih Mantahun memiliki ilmu yang tinggi, namun berhadapan dengan beberapa orang perwira terpilih, Ki Patih harus juga mengerahkan kemampuannya.

Dengan mempergunakan sebatang tombak pendek, Ki Patih melawan beberapa ujung pedang yang mengepungnya. Bahkan para perwira itu telah membawa perisai pula untuk membantu melindungi tubuh masing-masing dari ujung senjata Ki Patih yang masih mampu bergerak sangat cepat.

Ki Pemanahan menjadi bimbang melihat pertempuran itu. Meskipun ia harus mengawasi pertempuran antara Raden Sutawijaya dengan Arya Penangsang, namun ia memikirkan juga kemungkinan yang dapat dilakukan oleh Ki Patih Mantahun. Namun ketika ia mengatakan kepada Ki Juru, maka Ki Juru pun berdesis, “Kau tunggui dahulu pertempuran antara anakmu dan Arya Penangsang itu. Kau harus siap bertindak jika perlu.”

Ki Pemanahan menarik nafas dalam-dalam. Ketika ia memandang ke arah Penjawi, maka Ki Penjawi pun menjadi gelisah pula.

Dalam pertempuran yang semakin dahsyat, maka para perwira yang bertempur melawan Ki Patih Mantahun telah mempergunakan cara sebagaimana dianjurkan oleh Ki Juru.

Mereka tidak bertempur tangguh tanggon. Tetapi setiap kali seorang perwira mendapat serangan, maka ia pun meloncat surut, sementara yang lainlah yang datang menyerang. Karena itu, maka para perwira itu telah memancing agar Ki Patih bergerak terlalu banyak di dalam kepungan beberapa orang perwira pilihan itu.

“Jangan licik,” geram Ki Patih. “Marilah kita bertempur dengaN jantan.”

Para perwira itu justru tertawa. Seorang di antara mereka berkata, “Sejak kapan Ki Patih mengenal kejantanan? Kami dahulu memang pernah mengagumi Ki Patih.

Tetapi ketika kami mengetahui serba sedikit tentang Ki Patih, maka kami menjadi sangat kecewa.”

“Apa yang kau ketahui tentang aku?” bertanya Patih Mantahun sambil bertempur.

“Satu usaha untuk membunuh Kanjeng Adipati Pajang adalah salah satu usaha yang sangat kotor. Kami semua yakin bahwa rencana itu tentu tidak akan timbul dari Arya Penangsang yang kami memang mengakuinya sebagai laki-laki sejati,” jawab perwira itu.

“Persetan,” geram Ki Patih Mantahun. Serangan-serangan menjadi semakin cepat dan kuat. Namun para perwira itu pun telah mengerahkan segenap kemampuannya pula.

Seorang demi seorang mereka menyerang, namun kemudian dengan loncatan panjang mereka telah bergantian menghindar.

Dengan demikian maka Ki Patih Mantahun yang berilmu sangat tinggi itu telah terpancing untuk bertempur dengan cara yang keras dan jarak yang panjang dari satu lawan ke lawan yang lain. Meskipun para perwira itu tidak memiliki kemampuan ilmu setingkat dengan Ki Patih, tetapi dalam jumlah yang cukup banyak mereka dapat memaksa Ki Patih mengerahkan tenaganya.

Para perwira yang mendapat petunjuk dari Ki Juru Martani itu, akhirnya memang melihat, betapapun tinggi ilmu Ki Patih Mantahun yang kebal itu, namun ia tidak

mampu melawan perkembangan umurnya sendiri. Dalam usianya yang tua itu, maka pernafasannya pun mulai terpengaruh. Meskipu tingkat ilmunya tidak susut dihari tuanya, justru menjadi semakin masak, namun ketuaannyalah yang membuatnya berdebar-debar. Ki Patih tidak dapat mengingkari pengaruh usianya atas kemampuannya. Sementara itu Ki Patih pun sadar sepenuhnya, bahwa tidak ada seorang pun yang mampu menghindarkan diri dari bertambahnya usia tua.

NAMUN justru kesadaran itu telah membuat Ki Patih semakin memperhitungkan tata geraknya. Ia pun menjadi sadar bahwa para perwira Pajang itu telah dengan sengaja memancingnya, agar ia bergerak terlalu banyak. Tetapi Ki Patih memang tidak dapat menghindarinya. Serangan demi serangan datang dari arah yang berbeda-beda. Meskipun ia berusaha membatasi diri, namun setiap kali ia memang harus menghindar dan meloncat menyerang.

Betapa terampilnya tangan tua itu memutar tombaknya, ia harus melawan beberapa ujung senjata, tetapi tidak segorespun luka terdapat ditubuhnya. Apalagi Ki

Patih itu memang memiliki ilmu kebal. Meskipun demikian Ki Patih tidak sepenuhnya mempercayakan diri kepada ilmunya itu. Ia masih memperhitungkan kemungkinan satu dua di antara ujung pedang dari orang-orang yang mengeroyoknya itu akan mampu menembus perisai ilmu kebalnya.

Tetapi ternyata, setelah pertempuran itu berlangsung beberapa lama, kulit Ki Patih Mantahun masih tetap utuh tanpa segores luka betapapun kecilnya. Namun yang sudah terasa mengganggu adalah justru pernafasannya.

Ki Patih menyadari sepenuhnya tentang hal itu. Karena itu, maka ia pun telah mempercayakan perlindungan tubuhnya tidak pada usahanya menghindari dan menangkis serangan lawan-lawannya, tetapi Ki Patih lebih mempercayakannya kepada ilmu kebalnya. Dengan demikian maka ia pun telah banyak mengurangi langkah-langkah yang cepat dan panjang.

Para perwira yang bertempur melawannya melihat perubahan tata gerak Ki Patih.

Karena itu, maka mereka pun telah menyusun cara yang lain untuk memancing agar Ki Patih tetap bergerak lebih banyak. Satu dua orang di antara mereka yang memiliki kemampuan yang melampaui kawan-kawannya telah berusaha untuk mengerahkan segenap kemampuan mereka. Pada saat-saat tertentu mereka telah meloncat menyerang dengan sepenuh tenaga dan kemampuan ilmunya.

Kulit Ki Patih memang tidak terluka. Tetapi Ki Patih mulai merasa, bahwa daging dibawah kulitnya telah terpengaruh oleh serangan-serangan itu. Karena itu, betapapun juga, maka Ki Patih masih tetap harus memperhitungkan setiap kemungkinan yang dapat terjadi atas dirinya.

Sementara itu, pertempuran menjadi semakin dahsyat. Namun para prajurit Jipang yang sejak pada benturan pertama telah banyak berkurang itu, semakin mengalami kesulitan. Meskipun pasukan khususnya masih tetap bertahan, namun pasukannya yang lain mulai terdesak mundur. Dengan demikian maka sekat antara pasukan khusus Jipang dan pasukannya yang lain pun menjadi semakin tebal.

Dalam pada itu, Raden Sutawijaya pun telah sampai pada puncak usahanya untuk melumpuhkan Arya Penangsang. Beberapa kali Sutawijaya masih memutar kudanya di atas tepian berpasir, sementara kuda Arya Penangsang menjadi semakin liar, sehingga Arya Penangsang bertambah marah. Ketika dengan kendali Arya Penangsang memukul leher Gagak Rimang, maka kuda itu pun melonjak sambil berteriak marah pula. Hanya karena keterampilannya sajalah maka Arya Penangsang masih tetap melekat di punggungnya.

NAMUN pada saat-saat Gagak Rimang kehilangan kendali itulah merupakan saat yang paling baik bagi Raden Sutawijaya. Dengan tangkasnya Raden Sutawijaya memutar kudanya. Cepat kuda itu meloncat di samping Arya Penangsang yang masih berusaha menguasai kudanya. Pada saat yang demikian itulah tombak pusaka tertinggi Pajang telah terjulur lurus ke arah lambung Arya Penangsang.

Betapapun kebalnya kulit Arya Penangsang dilapisi ilmunya yang tinggi. Namun pusaka Pajang itu tidak dapat dibentengi sekadar dengan ilmu kebalnya.

Justru pada saat kedudukan Arya Penangsang dalam kesulitan, maka tombak pusaka itu benar-benar telah tergores dilambungnya.

Arya Penangsang menyeringai menahan sakit. Kulitnya tidak sekadar tergores oleh tombak Kanjeng Kiai Pleret itu, tetapi kulitnya benar-benar telah dikoyaknya.

Pada saat yang demikian, kudanya Gagak Rimang telah melonjak lagi. Justru pada saat kuda betina yang dipergunakan oleh Raden Sutawijaya itu melintas disebelahnya.

Arya Penangsang yang terluka itu tidak mampu bertahan di atas punggung kudanya.

Tangannya terlepas dari kendali dan kakinya tidak lagi melekat pada sangga wedinya. Karena itu, maka Arya Penangsang yang memiliki ilmu yang seakan-akan tidak terbatas itu telah terlempar jatuh dari punggung kudanya yang bagaikan menjadi gila.

Tidak banyak orang yang menyaksikan peristiwa itu. Pasukan khususnya sedang bertempur dengan mengerahkan segenap kemampuannya. Sementara itu pasukannya yang lain telah terdesak mundur ke arah Bengawan Sore. Sedangkan para prajurit Pajang pun sedang memusatkan perhatiannya kepada lawan-lawannya.

Namun yang menyaksikannya dengan jelas peristiwa itu adalah justru Ki Pemanahan,

Ki Penjawi dan Ki Juru Martani. Mereka melihat dari jarak yang tidak terlalu dekat, bagaimana ujung tombak Raden Sutawijaya mengenai lambung Arya Penangsang.

Mereka pun melihat bagaimana kuda Arya Penangsang itu melonjak dan melemparkannya jatuh ke tanah.

Tetapi Ki Pemanahan dan Ki Penjawi masih harus menahan diri. Mereka masih harus menyaksikan perkembangan keadaan Arya Penangsang dari jarak yang tidak terlalu dekat itu. Ketika mereka siap untuk mendekat, Ki Juru menahannya. Katanya, “Kita tunggu, apa yang akan terjadi kemudian.”

Tidak ada sorak yang mengguruh. Tidak ada teriakan-teriakan kemenangan, karena yang terjadi itu justru diluar lingkungan pertempuran yang dahsyat, dimana setiap orang harus bertahan mati-matian untuk tetap hidup dan keluar dari pertempuran itu bukan hanya sekadar namanya saja.

Sementara itu, Sutawijaya yang melihat Arya Penangsang, tiba-tiba saja tergerak hatinya untuk melihat keadaannya. Ia pun kemudian meloncat dari kudanya dan melepaskan kuda itu berlari tanpa kendali diikuti oleh kuda Arya Penangsang yang telah terlepas pula dari tangan penunggangnya.

Dengan hati-hati Sutawijaya berjalan mendekati Arya Penangsang yang sedang bergulat dengan maut. Lukanya mengangga dilambungnya, sehingga ternyata bahwa ususnya telah keluar lewat luka itu. Tetapi Arya Penangsang itu tidak gugur karena ujung tombak Kiai Pleret. Bahkan ia masih sempat menyangkutkan ususnya itu pada wrangka kerisnya.

Ki Juru Martani, Ki Pemanahan dan Ki Penjawi yang melihat keadaan Arya Penangsang itu menjadi saksi, bahwa tombak pusaka terbesar Pajang telah mampu menembus perisai ilmu kebal Arya Penangsang.

Namun mereka masih ragu-ragu apakah yang akan terjadi selanjutnya. Mereka telah mendengar sebelumnya, bahwa tidak ada senjata, bahkan pusaka apapun juga yang akan dapat membunuh Arya Penangsang kecuali kerisnya sendiri, yang dinamainya Kanjeng Kiai Setan Kober.

Dalam keadaan yang demikian, maka Ki Juru, Ki Pemanahan dan Ki Penjawi melihat

Raden Sutawijaya melangkah mendekati Arya Penangsang. Karena itu, maka mereka pun menjadi sangat cemas. Bahkan Ki Pemanahan tidak dapat tertahan lagi. Ia pun segera berlari mendekati anaknya, disusul oleh Ki Penjawi dan Ki Juru.

TETAPI agaknya mereka telah terlambat. Raden Sutawijaya yang benar-benar merasa

iba melihat keadaan pamannya. Karena itu, dengan nada rendah ia berdesis, “Paman?”

Arya Penangsang yang masih memegangi lukanya serta menyangkutkan ususnya pada

wrangka kerisnya, sempat berpaling. Dengan mata yang menyorotkan kemarahan ia memandang Raden Sutawijaya yang berdiri termangu-mangu membawa tombak Kanjeng Kiai Pleret yang pada ujungnya terdapat titik-titik darah Arya Penangsang.

Kemarahan yang sudah membakar jantung Arya Penangsang itu pun bagaikan disiram api. Meskipun lukanya terlalu parah, namun Arya Penangsang itu pun tiba-tiba telah bangkit berdiri. Dengan satu loncatan panjang maka ia pun dapat menangkap Sutawijaya yang masih berdiri tegak. Anak muda itu sama sekali tidak menyangka bahwa Arya Penangsang masih mampu melakukannya.

Karena itu, maka ia tidak bersiaga dan sama sekali tidak mengangkat tombaknya.

Ketika Ki Gede Pemanahan berteriak memperingatkannya maka Sutawijaya sudah tidak mendapat kesempatan untuk bergerak. Ia merasa satu sentuhan yang sangat menyakitkan tangannya, sehingga tombak Kanjeng Kiai Pleret telah terlepas dari genggamannya. Sebelum ia sempat meloncat, maka tangan Arya Penangsang yang kuat telah menekannya, memilin tangannya dan Sutawijaya benar-benar telah dikuasainya.

Sutawijaya berusaha untuk meronta. Betapapun tinggi ilmunya, tetapi ia tidak dapat melawan kekuatan tangan Arya Penangsang meskipun Arya Penangsang sudah terluka.

Pemanahan berhenti beberapa langkah dihadapan Arya Penangsang. Dengan suara bergetar ia berkata, “Kanjeng Adipati. Anak itu memang bukan lawanmu. Aku, Pemanahan akan berhadapan dengan Arya Penangsang sebagai dua orang yang telah

menyadap berbagai macam ilmu dari berbagai perguruan serta mematangkannya dalam diri kita masing-masing.”

“Persetan kau Pemanahan,” geram Arya Penangsang. “Kau pancing aku dengan cara yang licik dan pengecut. Kau lukai pekatikku dan kau buat kudaku menjadi gila, karena anak ini mempergunakan kuda betina.”

“Kita sama-sama telah berbuat licik,” sahut Ki Pemanahan. “Kau kirim

orang-orangmu untuk membunuh Kanjeng Adipati Pajang. Kemudian kau jebak Kanjeng Adipati pada satu pertemuan yang seharusnya dipergunakan untuk mencari jalan yang lebih baik bagi penyelesaian persoalan Jipang dan Pajang.”

“Gila,” geram Arya Penangsang sambil menggeretakkan giginya. “Semuanya bohong.

Aku tidak menjebaknya. Jika perasaan berbicara pada saat itu, kedudukanku dan Adimas Adipati Pajang sama,” Arya Penangsang berhenti sejenak. Ketika Ki Pemanahan maju selangkah maka Arya Penangsang itu pun berkata, “Jangan mendekat.

Anakmu akan lebih cepat mati.”

“Lepaskan anak itu. Kita akan membuat perhitungan,” berkata Ki Pemanahan.

“Aku tidak gila,” sahut Arya Penangsang. Kemudian suaranya meninggi, “Anak ini sudah mengoyak perutku. Aku tidak akan melepaskannya. Aku pun akan mengoyak perutnya. Jika ia mampu bertahan untuk hidup, biarlah ia hidup.”

“Jangan anak itu,” minta Ki Pemanahan. “Lakukanlah atasku.”

Ki Juru dan Ki Penjawi yang berdiri dibelakang Ki Pemanahan menjadi berdebar-debar pula. Namun mereka masih sempat mempergunakan nalar mereka lebih baik dari Ki Pemanahan yang kebingungan melihat keadaan anaknya. Karena itu, maka baik Ki Juru maupun Ki Penjawi telah memeprsiapkan ilmu mereka pada tataran puncaknya.

“Pemanahan,” berkata Arya Penangsang. “Tombak Kiai Pleret itu memang berhasil menembus ilmu kebalku. Tetapi tombak itu tidak akan dapat membunuhku. Karena itu, maka biarlah aku mengoyak perut anak ini, baru kemudian kita akan menyelesaikan persoalan kita.

Meskipun aku sudah terluka parah, tetapi kau, Penjawi dan Juru Martani itu akan aku bunuh disini bersama-sama.”

Ki Pemanahan tidak dapat menjawab. Tetapi ia tidak ingin anaknya menjadi korban.

Karena itu, maka ia pun telah bergerak mendekat.

Namun pada saat yang demikian, Arya Penangsang berteriak, “Jangan maju lagi.”

KI PEMANAHAN tertahan sekejap. Tetapi dorongan perasaannya tidak dapat membendungnya. Ia pun telah bergerak lagi mengayunkan kakinya mendekat. pada saat yang demikian itulah Arya Penangsang tidak lagi menahan diri. Sutawijaya yang meronta ditangannya justru telah ditekannya pada tubuhnya. Kemudian satu tangannya telah bergerak dengan cepat menarik kerisnya dari wrangkanya.

Namun ternyata Arya Penangsang telah melupakan ususnya yang disangkutkannya pada wrangka kerisnya. Karena itulah, maka tajam keris Arya Penangsang sendiri yang bernama Kanjeng Kiai Setan Kober itu telah menggores dan memutuskan ususnya.

Arya Penangsang terkejut. Tetapi ia terlambat. Ususnya telah putus karena tajam kerisnya sendiri.

Sesaat Arya Penangsang terhenyak. Wajahnya nampak menahan sakit pada lukanya dan goresan kerisnya sendiri.

Sutawijaya memang merasakan tangan Arya Penangsang menjadi kendor. Dengan sekuat tenaganya ia meronta, sehingga ia pun telah terlepas dari tangan Arya Penangsang.

Pada saat yang demikian, Ki Juru telah mempergunakan senjatanya yang khusus untuk menyerang Arya Penangsang dari jarak beberapa langkah. Sebuah patrem kecil telah lepas dari tangannya. Bukan saja patrem itu merupakan senjata pusaka yang sangat diandalkannya, namun dorongan ilmu Ki Juru sendiri memang tidak dapat diabaikannya. Ki Juru adalah seorang yang berilmu tinggi, sebagaimana Ki Pemanahan dan Ki Penjawi, meskipun belum selapis dengan Kanjeng Adipati Pajang.

Pada saat yang demikian, pertahanan Arya Penangsang memang sudah menjadi lemah.

Karena itu, maka patrem kecil itu pun telah menembus pula ilmu kebalnya mengenai tubuhnya. Tetapi patrem itu tidak menusuk dada, karena pada saat yang demikian Arya Penangsang memang sudah terhuyung dan jatuh ditanah. Sementara itu patrem itu hanya tergores dipundaknya.

Pada saat Arya Penangsang jatuh, maka Ki Juru, Ki Pemanahan dan Ki Penjawi telah berlari mendekat. Mereka telah berusaha untuk meng-angkat kepala Arya Penangsang yang tertelung-kup dan membalikkannya.

Mata Arya Penangsang masih menyala. Na-mun tubuhnya telah menjadi lemah sekali.

Dengan suara terputus-putus ia berkata, “Kalian berhasil memperdayai aku. Tetapi jangan menyangka bahwa kalian mampu membunuh aku. Aku memang tidak akan mati oleh pusaka apapun juga kecuali kerisku sendiri. Dan aku telah terjebak melawan anak itu. Ususku yang tersangkut di wrangka kerisku agaknya telah tergores oleh kerisku sendiri. Itulah sebab kematianku.”

“Kanjeng,” desis Ki Pemanahan. “Maafkan cara yang kami tempuh. Kami sudah tidak dapat menahan kejemuan kami tinggal di pesanggrahan ini. Sementara itu, kami pun tahu, bahwa kami tidak akan dapat menyeberangi Bengawan menyerang Kanjeng Adipati.”

Arya Penangsang termangu-mangu mendengarnya. Namun kemudian katanya, “Dimana anak itu.”

Pemanahan menjadi ragu-ragu. Tetapi Arya Penangsang berkata, “Aku ingin berbicara dengan Sutawijaya. Aku sudah mengaku kalah.”

Ki Jurulah yang kemudian telah memanggil Sutawijaya. Meskipun agak ragu, namun Suta-wijaya telah mendekatinya dengan Kiai Pleret yang telah dipungutnya di dalam genggamannya.

Dengan sisa tenaganya, Arya Penangsang memberi isyarat agar Sutawijaya itu pun men-dekat.

Karena Ki Juru mengangguk, maka Sutawjaya pun telah mendekat pula dan berjongkok disisi Arya Penangsang.

Ternyata Arya Penangsang tersenyum memandanginya. Dengan suara bergetar ia berkata, “Kau adalah seorang anak muda yang gagah berani. Meskipun membawa

tombak pusaka Kanjeng Kiai Pleret yang terkenal itu, tidak banyak orang yang berani menghadapi Arya Penangsang. Tetapi darah kejantanan ayahmu Pemanahan dan ayah angkatmu Si Karebet itu ada di dalam dirimu. Mudah-mudahan kelak kau akan menjadi orang terpilih di antara orang-orang Pajang.

Sutawijaya menundukkan kepalanya. Ketika terpandang olehnya luka dilambung Arya Penang-sang ia berdesis, “Aku mohon maaf paman.”

“JANGAN begitu. Kau tidak bersalah. Kau tahu, bahwa ini terjadi di medan perang.

Hatimu jangan lemah menghadapi orang yang hampir mati seperti aku sekarang ini, karena bagi Pajang, aku memang orang yang harus disingkirkan, sebagaimana Karebet itu bagi Jipang. Tetapi aku harus mengakui, bahwa Pajanglah yang menang.

Karena itu maka Pajang akan hidup dan tumbuh. Kaupun harus tumbuh dan mekar menjadi seorang yang besar dikemudian hari,” suara Arya Penangsang menjadi semakin lambat. Namun ia masih juga berbicara kepada Ki Pemanahan, “Pemanahan, bantulah anakmu menjadi seorang yang berarti.”

“Aku akan mencobanya Kanjeng Adipati,” jawab Ki Pemanahan.

Arya Penangsang terdiam sejenak. Wajahnya berkerut ketika ia menahan sakit yang mengiris di lukanya. Namun kemudian ia masih berbicara, “Bawa tubuhku ke medan.

Biarlah orang-orangku menyaksikan mayatku, sehingga mereka akan menghentikan pertempuran sehingga dengan demikian korban akan berkurang dikedua belah pihak.

Tetapi pesanku, jangan kau lakukan kekejaman atas prajurit-prajuritku. Mereka sama sekali tidak bersalah.”

Ki Pemanahan mengangguk kecil sambil menjawab, “Kami berjanji Kanjeng Adipati.”

Arya Penangsang menarik nafas dalam-dalam. Kemudian disentuhnya tangan Sutawijaya. Dan sekejap kemudian, maka sambil tersenyum Adipati yang gagah berani itu menutup matanya untuk selama-lamanya.

Ki Pemanahan menarik nafas dalam-dalam. Ki Juru dan Ki Penjawi pun telah menundukkan kepalanya, sementara Sutawijaya bagaikan telah membeku oleh kekagumannya terhadap Arya Penangsang yang telah gugur di medan perang.

Beberapa saat suasana pun menjadi hening. Namun kemudian mereka pun telah teringat kepada pesan Arya Penangsang. Karena itu, maka mereka pun telah mengangkat tubuh Arya Penangsang itu dan membawanya mendekati medan.

Dalam pada itu, pertempuran pun menjadi semakin membakar. Kedua belah pihak yang telah basah oleh keringat menjadi semakin garang. Suara senjata beradu pun semakin berdentang sedang setiap kali terdengar teriakan-teriakan marah serta hentakan-hentakan kekuatan. Namun kadang-kadang terdengar juga keluhan tertahan dan rintihan kesakitan.

Namun suara-suara itu tenggelam dalam hiruk pikuk yang keras dan bahkan menjadi semakin kasar.

Pasukan khusus dari Jipang telah bertempur dengan mengerahkan kemampuan dari setiap orang yang ada di dalamnya. Mereka yang memiliki beberapa kelebihan itu berusaha untuk dapat memecahkan pertahanan orang-orang Pajang, sehingga mereka pun kemudian akan dapat membantu mengoyak sekat antara pasukan khusus itu dengan pasukan yang lain.

Namun mereka harus berhadapan dengan kekuatan yang seimbang. Ternyata pasukan khusus Pajang tidak pula kalah garangnya setelah tangan mereka basah oleh keringat.

Dalam keadaan yang demikian, maka arena itu sudah dikejutkan oleh teriakan nyaring, “Hei orang-orang Jipang. Perhatikan, siapakah yang telah gugur di medan pertempuran ini.”

Tidak seorang pun yang menghiraukannya. Mereka tidak sempat untuk menggeser perhatian mereka dari lawan-lawan mereka barang sekejap pun. Jika mereka lengah sesaat, maka senjata lawan itu pun akan sempat singgah di lambungnya.

Namun terdengar suara itu lagi mengguruh, “Lihatlah, siapakah yang telah gugur.”

Karena masih belum nampak pengaruhnya, maka Ki Pemanahan dan Ki Penjawi pun telah membawa tubuh Arya Penangsang itu lebih dekat lagi ke arah pasukan Jipang.

Bukan pasukan khususnya. Tetapi pasukan yang dipimpin oleh Ki Patih Mantahun.

“Ki Patih,” berkata Ki Juru. “Hentikan sejenak. Apakah kau tidak mengenal, siapakah yang telah gugur ini?”

Ki Patih mengerutkan keningnya. Sementara itu, para perwira yang bertempur melawannya pun agaknya telah memberi kesempatan kepada Ki Patih untuk sejenak memperhatikan tubuh yang dimaksud oleh suara itu. Apalagi mereka segera mengenal bahwa suara itu adalah suara Ki Juru Martani.

Sejenak kemudian maka pertempuran antara Ki Patih Mantahun dan kawan-kawannya itu pun seakan-akan terhenti sejenak. Ki Patih Mantahun sempat memperhatikan tubuh yang dibawa oleh Ki Pemanahan dan Ki Penjawi itu.

Ki Penjawi melihat keragu-raguan di wajah para Senapati. Karena itu, maka katanya, “Masih ada kesempatan untuk berbicara. Marilah kita berbicara.

Menyerahlah.” Tetapi para Senapati itu tidak dapat mengambil keputusan. Mereka lebih banyak menunggu perintah Ki Patih Mantahun. Bahkan mereka masih berpengharapan bahwa Ki Patih itu akan membuat keseimbangan dalam perang itu.

Atau barangkali pasukan khusus yang terpilih itu akan ikut menentukan akhir dari peperangan itu.

Sebenarnyalah Ki Pemanahan dan Ki Patih Mantahun telah bertempur dengan segenap kemampuan mereka. Mereka telah melepaskan segenap kekuatan yang ada di dalam diri mereka.

Ternyata kemampuan keduanya adalah seimbang. Ki Patih Mantahun tidak mampu segera mengalahkan Ki Pemanahan, sebaliknya Ki Pemanahan pun tidak dapat menundukkan Ki Patih Mantahun yang tua itu.

Raden Sutawijaya menyaksikan pertempuran itu dengan hati yang berdebar-debar.

Namun tiba-tiba ia teringat kepada pusaka yang dibawanya. Pusaka tertinggi Pajang yang disebut Kanjeng Kiai Pleret.

Tiba-tiba saja tangannya bergetar. Arya Penangsang yang memiliki ilmu yang sangat tinggi pun dapat tergores oleh ujung tombak itu.

Karena itu, maka tiba-tiba saja ia telah mendekati arena. Dengan hati-hati ia menyaksikan ayahnya bertempur melawan Ki Patih Mantahun. Desak mendesak dan dera-mendera.

Tetapi Raden Sutawijaya ragu-ragu untuk melibatkan diri dalam pertempuran itu.

Ketika ia berpaling ke arah Ki Juru Martani yang tegang, maka ia tidak mendapat kesan apapun dari wajah Ki Juru yang perhatiannya justru telah terampas oleh pertempuran itu.

Sejenak Sutawijaya termangu-mangu. Jika ia ikut serta melibatkan diri, mungkin ayahnya akan menyalahkannya. Ayahnya akan dapat tersinggung karena dalam perang tanding itu seseorang telah membantunya. Namun jika pertempuran itu dibiarkannya, maka mungkin akan makan waktu yang tidak terbatas. Mungkin sampai

saatnya matahari terbenam pertempuran itu masih belum selesai dan harus dilanjutkan esok pagi.

Karena itu, maka Raden Sutawijaya itu telah mendekati Ki Juru. Ketika ia menggamit Ki Juru, maka Ki Juru memang terkejut.

“Paman,” berkata Sutawijaya, “Apakah aku dapat membantu ayah dalam pertempuran ini?”

Ki Juru mengerutkan keningnya. Katanya, “Meskipun tidak ada perjanjian perang tanding, tetapi sebaiknya kau jangan mengganggu.”

“Tetapi apakah pertempuran itu akan dapat cepat selesai? Jika perang tanding itu cepat selesai, maka perang dalam keseluruhannya akan selesai,” berkata Raden Sutawijaya. “Korban akan dapat disusut sejauh mungkin.”

Ki Juru mengangguk-angguk. Lalu katanya, “Baiklah Sutawijaya. Pertempuran memang harus segera diakhiri. Tetapi kita atau siapapun juga tidak akan ada yang mampu memaksa Ki Patih itu menyerah. Ia adalah seorang Patih yang sangat setia. Maka akhir dari pengabdiannya adalah kematiannya.”

“Jadi bagaimana menurut pertimbangan paman?” bertanya Raden Sutawijaya.

“Marilah,” berkata Ki Juru. “Berdirilah dekat dengan arena pertempuran itu.

Tetapi bersiagalah dengan Kanjeng Kiai Pleret itu.”

Raden Sutawijaya mengerutkan keningnya. Tetapi ternyata bahwa ia adalah anak muda yang bukan saja berani, tetapi juga memiliki kecerdasan yang tinggi. Karena itu, maka ia pun segera mengetahui maksud Ki Juru. Sejenak kemudian maka Raden Sutawijaya pun telah mendekati arena untuk menyaksikan pertempuran itu dari jarak yang sangat dekat. Namun seperti pesan Ki Juru, Raden Sutawijaya itu pun telah siap dengan tombak pusakanya yang diterimanya dari ayahanda angkatnya, Kanjeng Adipati di Pajang.

Sementara itu perang tanding antara Ki Pemanahan dan Ki Mantahun telah menjadi semakin seru. Ketika keduanya mengerahkan segenap kemampuan mereka, maka rasa-rasanya tubuh mereka memang mulai tersentuh oleh serangan-serangan lawan yang menggoyahkan pertahanan ilmu kebal masing-masing. Ujung-ujung senjata itu memang terasa mulai menyakiti daging dibawah kulit. Tetapi kulit mereka sama sekali tidak terluka karenanya.

PARA perwira itu terkejut. Dengan serta merta mereka pun telah berloncatan menghindari serangan Ki Patih. Namun Ki Patih mampu bergerak semakin cepat, sehingga ujung senjatanya seakan-akan telah memburu setiap orang di arena itu.

Para perwira itu seakan-akan telah kehilangan kesempatan. Orang tua itu benar-benar tidak menghiraukan keselamatan dirinya.

Ki Pemanahan yang melihat keadaan itu, tidak dapat berpangku tangan. Meskipun para perwira yang ditugaskannya membatasi gerak Ki Patih Mantahun itu adalah orang-orang pilihan, tetapi sulit bagi mereka untuk menyelesaikan pertempuran itu. Ki Patih Mantahun memang seorang yang memiliki ilmu yang sangat tinggi.

Karena itu, maka Ki Pemanahan pun telah minta kepada Ki Penjawi untuk meletakkan saja tubuh Arya Penangsang. Katanya, “Kau tunggui tubuh itu bersama Ki Juru. Aku akan menyelesaikan Ki Patih meskipun mungkin akan dapat terjadi sebaliknya.”

Ki Penjawi tidak dapat menahannya. Ki Pemanahan adalah Panglima prajurit Pajang.

Sejenak kemudian, maka Ki Pemanahan pun telah menyibak para perwira yang mengepung Ki Patih Mantahun. Dengan nada rendah Ki Pemanahan berkata, “Aku adalah Panglima pasukan Pajang. Karena itu sudah sepantasnya bahwa aku akan menghadapimu Ki Patih.”

Ki Patih memandang Ki Pemanahan dengan tajamnya. Kemudian katanya, “Baiklah. Memang seharusnya kita bertempur berhadapan. Kau tidak dapat mempercayakan kepada tikus-tikus kecil yang ternyata tidak berarti apa-apa itu.”

“Jangan menghina. Tetapi satu kenyataan bahwa Ki Patih tidak juga dapat mengalahkan mereka,” jawab Ki Pemanahan.

Suramnya Bayang-bayang 30

 “Satu langkah yang berani. Bukan keberanian seorang kesatria, tetapi para prajurit Pajang telah menjadi semakin berani berbuat licik. Justru karena para pemimpin dari Pajang telah kehilangan harga dirinya,” geram Mantahun.

“Ki Patih,” wajah Ki Pemanahan menjadi merah oleh kemarahan yang mulai menyentuh jantungnya. “Kehadiranku dihadapan Ki Patih sekarang ini juga karena harga diri.

Tetapi baiklah. Kita akan mulai menguji diri kita masing-masing. Kau atau aku. Namun wajar sekali jika seorang prajurit mati di medan perang.”

Ki Patih tidak menjawab. Tetapi ia sudah siap bertempur menghadapi Ki Pemanahan, Panglima prajurit Pajang yang pernah menjadi saudara seperguruan Karebet yang kemudian menjadi Adipati Pajang.

Sejenak kemudian, maka keduanya pun telah terlibat dalam pertempuran yang seru. Ki Pemanahan telah mencabut pedangnya dan mempergunakan untuk melawan senjata Ki Patih Mantahun. Sekali-kali kedua senjata itu beradu memercikkan bunga-bunga api. Namun ketika senjata-senjata itu menyentuh kulit lawan, ternyata bahwa tidak terjadi segores lukapun. Baik pada tubuh Ki Patih Mantahun maupun pada tubuh Ki Pemanahan. Namun kecepatan mereka bergerak memang sekali-kali memberi kesempatan bagi ujung-ujung senjata masing-masing mengenai lawannya.

Sementara itu, pertempuran di seluruh medan pun menjadi semakin dahsyat pula.

Namun ternyata bahwa para prajurit Jipang semakin lama memang menjadi semakin terdesak. Semakin lama semakin mendekati tepian Bengawan Sore.

Dalam pada itu, Ki Penjawi dan beberapa orang perwira telah membawa tubuh Arya

Penangsang yang gugur itu mendekati pasukan yang mundur itu. Dengan lantang ia berkata, “Lihatlah. Kanjeng Adipati Jipang telah gugur di medan perang. Ia gugur sebagai seorang laki-laki jantan. Tetapi pesannya adalah pesan seorang kesatria sejati. Ia tidak mau melihat korban lebih banyak lagi dari kedua belah pihak.”

Kenyataan itu memang mendebarkan jantung. Sementara itu Ki Penjawi berkata, “Marilah kita hentikan pertempuran itu. Menyerahlah. Dengan demikian maka korban tidak akan bertambah banyak dan kita akan berusaha mencari penyelesaian yang paling baik. Apa artinya perang ini bagi kalian jika Arya Penangsang sudah tidak ada.”

Para Senapati dalam pasukan Jipang itu termangu-mangu. Namun mereka menyadari, bahwa Ki Patih Mantahun masih bertempur. Bahkan dalam kemelut yang mendesak, Ki Patih seakan-akan telah terpisah dari pasukannya yang terdesak mundur.

Para Senapati itu memang sudah tidak melihat kemungkinan untuk berbuat apa-apa lagi. Selain mereka memang sudah terdesak, maka tanpa ikatan perintah dari seorang pemimpin yang memiliki wibawa sebagaimana Kanjeng Adipati Jipang atau Ki Patih Mantahun, maka perlawanan mereka tidak akan berarti. Yang akan terjadi kemudian hanyalah sekadar memperpanjang waktu dan memperbanyak korban.

Berbeda dengan pasukan Jipang yang lain, maka pasukan yang disebut Pasukan Pengawal Khusus itu justru berteriak mengumpati kawan-kawannya yang kemudian ternyata menyerah itu, seorang di antara mereka berteriak keras-keras,

“Pengecut. Kalian sama sekali tidak memiliki kesetiaan mengabdi. Kenapa kalian telah berubah dengan tiba-tiba menjadi pengecut? Kenapa kalian menyerah, he?”

Tetapi teriakan-teriakan itu tidak berpengaruh sama sekali. Yang menyerah sudah telanjur menyerah. Prajurit Pajang telah menggiring mereka dengan meninggalkan senjata-senjata yang telah mereka lemparkan ke tanah. Para prajurit Pajang itu pun telah memerintahkan pasukan Jipang yang menyerah itu kemudian duduk ditepian berpasir dijaga oleh prajurit Pajang dengan ketatnya. Sementara itu sebagian di antara para prajurit Pajang itu telah mengumpulkan senjata-senjata yang terbuang itu.

Namun dalam pada itu, sepasukan yang disebut Pasukan Khusus yang setia itu masih bertempur terus. Pasukan Khusus Pajang menjadi marah juga menghadapi mereka. Tetapi setiap prajurit dari pasukan khusus Jipang itu seakan-akan telah berbuat di luar sadarnya. Mereka seakan-akan telah melakukannya sekadar untuk membunuh diri. Namun justru karena itu, maka mereka pun telah menjadi liar.

Sebagian prajurit Pajang yang lain pun telah ikut pula memperkuat pasukan khusus itu. Bahkan kemudian Ki Pemanahan, Ki Penjawi dan beberapa perwira yang dipersiapkan untuk melawan Ki Patih Mantahun pun telah ada pula di antara pasukan khusus Pajang. Sehingga dengan demikian maka keseimbangan kekuatan antara kedua pasukan itu pun segera berubah.

Namun bagaimanapun juga, pasukan terpilih itu sama sekali tidak berniat untuk menyerah. Mereka bertempur dengan segenap kekuatan dan kemampuan mereka.

Meskipun seorang demi seorang telah gugur, namun tidak seorang pun di antara mereka menjadi gentar.

Ki Pemanahanlah justru yang menjadi bingung menghadapi pasukan yang luar biasa itu. Pasukan yang benar-benar akan bertempur sampai orang yang terakhir.

“Kenapa kita tidak mempergunakan nalar kita,” teriak Ki Pemanahan. “Apakah pertempuran seperti ini akan berarti. Kalian akan mati dan sebagian dari prajurit kami pun akan mati tanpa arti.”

“Kami adalah para prajurit dari pasukan pengawal khusus,” sahut Senapati dari pasukan itu. “Akhir perlawanan kami adalah kematian kami.”

Ki Pemanahan menarik nafas dalam-dalam. Ia mengerti keteguhan hati para prajurit dari Pasukan Pengawal Khusus Jipang sebagaimana juga Pasukan Khusus Pajang.

Karena itu, maka Ki Pemanahan tidak dapat mengharap mereka akan mengakhiri pertempuran dan menyerah. Tetapi mereka tentu akan melawan sampai mati.

mohon maaf….terpotong sedikit aja…

Ki Patih pun tiba-tiba saja telah bergeser setapak. Kemudian dengan loncatan panjang ia pun melenting menyerang Sutawijaya. Meskipun Raden Sutawijaya membawa tombak Kanjeng Kiai Pleret, namun jika Ki Patih itu benar-benar berusaha membunuhnya dengan tanpa menghiraukan keselamatannya sendiri, maka Sutawijaya tentu tidak akan mampu menghindarkan dirinya.

Namun dalam pada itu, Ki Juru meloncat lebih cepat. Dengan serta merta ia telah

menarik Raden Sutawijaya menjauh, sementara itu Ki Pemanahanpun telah tanggap akan keadaan. Karena itu, maka ialah yang kemudian meloncat memasuki arena, menangkis ujung senjata Ki Patih Mantahun yang mengarah ke dada anaknya.

“Setan kau,” geram Ki Patih Mantahun.

“Salahmu Ki Patih yang telah menjadi pikun. Seharusnya kau bertempur melawan aku. Tidak anak kecil itu,” berkata Ki Pemanahan.

“Ia telah menyentuh tubuhku dengan tombak Kanjeng Kiai Pleret. Biarlah ia mati bersamaku,” jawab Ki Patih Mantahun.

“Seandainya harus mati, biarlah yang tua inilah yang mati. Jangan anak yang masih sangat muda itu. Umurnya masih panjang, karena ia merupakan harapan masa depan,” sahut Ki Pemanahan pula.

“Persetan,” geram Ki Patih Mantahun yang meloncat menyerang Ki Pemanahan.

Ki Pemanahan sudah bersiap. Karena itu, maka ia pun sempat meloncat menghindar.

Namun Ki Patih Mantahun benar-benar menjadi putus asa. Ia tahu akibat sentuhan tombak Kanjeng Kiai Pleret. Karena itu, maka yang menjadi tujuan terakhirnya adalah membawa lawannya untuk mati bersama.

Tetapi Ki Pemanahan pun tahu pasti akibat yang dapat terjadi dengan Ki Patih Mantahun yang terluka itu. Karena itulah, maka Ki Pemanahan untuk selanjutnya tidak bernafsu lagi untuk menyerang. Ia hanya bergeser saja menghindar dari setiap serangan Ki Patih. Sekali-kali menangkis dan bahkan sekali-kali kulitnya telah tersentuh pula serangan ujung senjata lawannya. Namun kekebalannya telah melindungi kulitnya meskipun terasa betapa nyerinya bagian dalam tubuhnya.

Seperti perhitungan Ki Pemanahan, maka lambat laun, tenaga Ki Patih pun menjadi susut. Ketika kekuatan tombak Kanjeng Kiai Pleret mulai bekerja ditubuhnya, maka Ki Patih itu pun merasa waktunya tidak akan lama lagi, bahwa pengabdiannya akan selesai.

Namun ia sudah tidak mampu lagi bergerak dengan garang dan cepat. Semakin lama tubuhnya terasa semakin lemah, sehingga akhirnya maka lututnya pun seakan-akan tidak lagi mampu menahan berat badannya.

Ki Patih Mantahun itu pun akhirnya kehilangan keseimbangannya. Perlahan-lahan ia jatuh pada lututnya. Dipandanginya Ki Pemanahan dan Sutawijaya berganti-ganti dengan sorot mata penuh kebencian.

“Kalian ayah dan anak yang tidak lagi berpijak pada sifat kesatria,” geramnya.

Sutawijaya mengerutkan keningnya. Namun Ki Pemanahan sama sekali tidak berbuat apa-apa dan tidak pula menjawab ketika Ki Patih Mantahun berkata, “Kemenangan kalian bukan kemenangan yang dapat dibanggakan. Kalian akan malu sendiri mengenangkan kemenangan kalian kali ini.”

Ki Pemanahan melangkah setapak maju meskipun ia masih juga berhati-hati. Namun sekejap kemudian, maka tubuh Ki Patih itu pun telah terguling dan terbaring ditanah.

Prajurit-prajurit Pajang yang melihat hal itu telah bersorak gemuruh. Bahkan ada di antara mereka yang berteriak, “Ki Patih telah terbunuh. Ki Patih Mantahun telah terbunuh.”

Teriakan itu mengumandang semakin tinggi, sehingga seluruh pasukan Jipang pun telah mendengarnya, karena prajurit-prajurit Pajang yang mendengar teriakan itu telah menyambut dengan teriakan yang sama.

Para Senapati Jipang tidak mempunyai pilihan lain. Karena kedua orang pemimpin mereka telah terbunuh di medan, maka para Senapati itu pun telah mengambil langkah sendiri-sendiri. Namun ketika seorang di antara mereka membunyikan isyarat, maka yang lain pun telah berbuat serupa pula.

Dengan demikian maka pasukan Jipang itu telah menyerah. Mereka menarik diri beberapa langkah. Kemudian mereka pun telah melepaskan senjata mereka masing-masing.

mohon maaf….terpotong sedikit aja…

“AKU sudah berusaha,” berkata Ki Pemanahan. “Namun jika kematian harus bertambah-tambah, itu sama sekali bukan salahku.” Senapati dari Pasukan Pengawal Khusus itu tidak menjawab. Namun ia justru memberikan isyarat kepada prajurit-prajuritnya untuk bertempur semakin cepat.

Pasukan Pengawal Khusus dari Jipang itu pun kemudian bagaikan menjadi gila.

Mereka bertempur dengan garangnya. Mereka telah mengerahkan semua kemampuan dan ilmu yang ada pada diri mereka. Dan yang lebih berbahaya adalah karena justru mereka telah menjadi putus asa. Mereka tidak mempunyai harapan lagi untuk hidup, ditambah dengan keinginan untuk tetap setia kepada Arya Penangsang sampai mereka gugur dipertempuran.

Namun tidak ada jalan lain bagi Ki Pemanahan jika ia ingin menghentikan pertempuran. Membunuh para prajurit dari Pasukan Pengawal Khusus itu sampai orang yang terakhir.

Demikianlah pertempuran itu pun semakin lama menjadi semakin dahsyat. Dalam puncak ilmu, maka sulit bagi orang yang tidak memiliki ilmu yang tinggi untuk memasuki arena. Pasukan Pajang yang bukan dari prajurit Pasukan Pengawal Khusus mengalami kesulitan dihadapan para prajurit dari Pasukan Pengawal Khusus itu.

Sehingga karena itu, maka mereka pun kemudian hanya sekadar mengepung pasukan yang sedang bertempur itu.

Tetapi para perwira dari pasukan itu pun memiliki kelebihan pula di dalam diri mereka, sehingga sebagian besar dari mereka telah ikut pula terjun di medan perang melawan Pasukan Pengawal Khusus itu.

Bukan saja mereka, tetapi ketika Ki Pemanahan, Ki Penjawi dan bahkan Ki Juru Martani sudah kehabisan cara untuk menghentikan pertempuran itu, maka mereka pun telah benar-benar melibatkan diri pula ke dalamnya. Namun sebelumnya Ki Pemanahan telah menyerahkan Sutawijaya kepada beberapa orang perwira dan prajurit untuk mendapat perlindungan. Meskipun Raden Sutawijaya telah mampu membunuh Arya Penangsang, namun sebenarnyalah masih sangat berbahaya baginya jika Raden Sutawijaya itu bertempur melawan prajurit Jipang dari Pasukan Pengawal Khusus di arena perang brubuh.

Seperti yang diperhitungkan oleh Ki Pemanahan, maka seorang demi seorang prajurit Jipang itu gugur, sehingga akhirnya mereka pun menjadi semakin sedikit.

“Bukan main,” desis Ki Pemanahan. “Demikian banyaknya kematian yang terjadi sepeninggal Arya Penangsang, meskipun sebelum gugurnya Arya Penangsang sempat berpesan agar kedua belah pihak menghentikan peperangan. Tetapi pesan itu tidak pernah dapat dilakukan. Karena para prajurit dari Pasukan Pengawal Khusus itu telah menunjukkan kesetiaannya yang tinggi. Kesetiaan yang sebenarnya berlebih-lebihan. Namun kesengajaan untuk membunuh diri dalam keadaan putus asa telah mendorong mereka pula untuk bertempur terus. Mereka memang memilih mati daripada menjadi tawanan perang.

Para prajurit Pajang pun bukannya tidak menderita korban. Satu demi satu, prajurit Pajang pun berkurang. Namun kehadiran Ki Pemanahan, Ki Penjawi sebagai Panglima prajurit Pajang serta Ki Juru Martani telah membatasi korban di pihak Pajang dan memperbanyak kematian di pihak Jipang.

“Apakah kalian masih juga tidak bersedia menyerah,” Ki Pemanahan sekali lagi memperingatkan para prajurit Jipang. “Mengakui kebenaran adalah salah satu tindak kesatria, sebagaimana mengakui kenyataan. Nah, apakah kalian tidak melihat kenyataan yang terjadi sekarang ini. Mengakui kekalahan tidak dengan cara pengecut adalah pertanda seorang yang berjiwa besar. Kalian dihadapkan pada satu kenyataan bahwa kalian tidak akan mungkin mengalahkan prajurit Pajang atau menembus kepungan dan lari ke hutan.”

“Persetan,” geram Senapatinya yang masih bertempur dengan gigih, “Seorang di antara kami mati, maka dua orang prajuritmu akan mati.”

“Jangan membual pada saat yang sulit seperti ini, seolah-olah kami tidak pernah melihat pertempuran serupa ini, bahkan mengalami,” jawab Ki Pemanahan. “Karena itu renungkan.”

Tetapi segala macam peringatan, bujukan dan ancaman tidak mereka hiraukan. Ki Pemanahanlah yang kemudian bergeser mendekati Senapati itu. Ia akan menempatkan dirinya sebagai lawannya dengan harapan, bahwa setelah Senapatinya terbunuh dipeperangan, yang lain akan membuat pertimbangan khusus.

Demikianlah, Senapati yang melihat Ki Pemanahan bergeser kearahnya itu menjadi semakin marah. Dengan lantang ia berkata, “Nah, Pemanahan yang agung. Sebaiknya kita memang berhadapan sejak semula.”

Namun Ki Pemanahan menjawab, “Aku adalah Panglima prajurit Pajang yang harus mengamati medan dalam keseluruhan. Tetapi sepeninggal Arya Penangsang dan Ki Patih Mantahun, tugasku sebenarnya sudah selesai. Namun ternyata bahwa kalian telah mengeraskan hati kalian dalam keputusasaan serta memaksa kami untuk membantu kalian membunuh diri sendiri. Mungkin memang terbersit keinginan kalian untuk mati di peperangan ini dalam kesetiaan yang membabi buta.”

Senapati itu menjadi sangat marah. Ia pun dengan serta merta telah meninggalkan lawannya dan menerkam Ki Pemanahan dengan ujung senjatanya.

Ki Pemanahan yang telah mengetrapkan ilmu kebalnya masih juga berusaha menghindar sambil menangkis serangan lawannya untuk menjajagi kekuatan lawannya itu. Apakah kekuatan itu akan dapat menembus ilmu kebalnya atau tidak.

Baru setelah Ki Pemanahan yakin, maka pada serangan berikutnya Ki Pemanahan dengan sengaja tidak menghindarkan diri lagi.

Senapati itu terkejut ketika senjatanya menyentuh lambung Ki Pemanahan, namun sama sekali tidak melukainya. Namun Senapati itu pun segera menyadari, bahwa Ki Pemanahan memang memiliki ilmu kebal yang kuat.

Tetapi Senapati itu tidak berputus asa. Seorang yang memiliki ilmu kebal tentu memiliki kelemahan. Diseluruh tubuhnya tentu ada bagian yang tidak dapat dilindungi langsung oleh ilmu kebalnya.

Namun Senapati itu harus berusaha untuk menyerang diseluruh tubuh Ki Pemanahan jika ia ingin menemukan kelemahan itu.

Namun Senapati itu tidak mendapat kesempatan. Ki Pemanahan yang ingin segera mengakhiri pertempuran itu pun telah melawannya dengan sungguh-sungguh, sehingga dalam waktu dekat, darah Senapati itu benar-benar telah menitik di bumi kelahiran yang menjadi pedih melihat pertempuran di antara putera-putera terbaiknya.

Tetapi pertempuran itu tidak berhenti. Senapati yang terluka itu justru menjadi garang dan liar. Sama sekali tidak terlintas di otaknya untuk memberikan isyarat agar pasukannya menyerah.

Karena itu, maka Ki Pemanahan pun tidak mempunyai pilihan lain. Ia benar-benar telah berniat untuk membunuh saja Senapati yang angkuh, harga diri dan putus asa berbaur didalam dirinya.

Karena itulah, maka seterusnya Ki Pemanahan tidak sekadar bertahan. Ia pun telah menyerang Senapati yang memimpin Pasukan Pengawal Khusus yang tidak lagi mampu mempergunakan pertimbangan nalarnya.

Sejenak kemudian, maka dengan satu serangan yang cepat, Ki Pemanahan telah mengakhiri perlawanan senapati itu. Ujung senjatanya telah menembus dada orang yang menyebut dirinya pengikut setia Arya Penangsang yang ingin bela pati bersama seluruh pasukannya.

Kematian Senapati itu diiringi sorak yang gemuruh. Para prajurit yang tidak ikut terlibat langsung dalam pertempuran itu, karena mereka sadar mengepung saja di luar arena, telah bersorak pula sampai suara mereka menjadi serak.

Tetapi gemuruh sorak yang sampai menggetarkan langit itu tidak mempengaruhi kesetiaan para prajurit Jipang. Meskipun Senapati mereka telah terbunuh, namun mereka masih juga meneruskan pertempuran itu.

Betapapun berat hati Ki Pemanahan, Ki Juru dan Ki Penjawi, namun akhirnya mereka harus melihat bahwa para prajurit Jipang dari Pasukan Pengawal Khusus itu harus mati seluruhnya tanpa terisisa seorang pun, karena orang yang terakhir pun telah bertempur sampai ujung senjata prajurit Pajang menembus dadanya. Dengan bangga ia memandang lawannya yang menghunjamkan ujung senjatanya di dadanya itu sebelum ia terjatuh ditanah dan gugur.

Dengan demikian, maka pertempuran itu pun telah terhenti. Para prajurit dari Pasukan Pengawal Khusus itu memang tidak tersisa seorang pun. Namun para prajurit yang lain memang telah menyerahkan diri kepada prajurit Pajang.

KI PEMANAHAN pun kemudian telah memanggil para perwira prajurit Pajang. Ia pun telah memberikan beberapa petunjuk untuk mengatur dan membenahi pasukan masing-masing. Ternyata dalam pertempuran itu, kedua belah pihak telah mengorbankan prajurit-prajurit terbaiknya.

Dalam pada itu, Ki Pemanahan pun berkata kepada Ki Juru, “Kita harus segera memberikan laporan kepada Kanjeng Adipati, apa yang telah terjadi di medan pertempuran ini.”

“Baiklah. Kita memang harus segera menghadap. Bukankah Kanjeng Adipati telah memerintahkan setiap perkembangan keadaan kita harus memberikan laporan,” berkata Ki Juru.

Namun Ki Pemanahanpun menjadi ragu-ragu. Karena itu maka ia pun berkata kepada Ki Juru, “Siapakah yang harus kita sebut telah membunuh Arya Penangsang? Jika kita melaporkan keadaan sesungguhnya, apakah Kanjeng Adipati tentu akan marah kepada kita, bahwa kita telah mempertaruhkan putera angkatnya yang sangat dikasihinya.

Ki Juru termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya, “Jadi apakah sebaiknya kita memberikan laporan lain? Bukankah di ujung tombak itu nampak bekasnya, bahwa tombak itu telah dipergunakan?”

“Itulah yang membuat aku menjadi termangu-mangu,” berkata Ki Pemanahan kemudian.

“Baiklah,” berkata Ki Juru. “Kita akan membuat laporan lain. Kalian berdualah yang telah membunuh Arya Penangsang. Jika Kanjeng Adipati menanyakan tombak Kanjeng Kiai Pleret dan melihat darah di ujung tombak itu maka kita akan menceriterakan apa yang telah terjadi dengan Ki Patih Mantahun.”

Ki Pemanahan dan Ki Penjawi mengangguk-angguk. Dengan nada datar Ki Pemanahan berkata, “Baiklah. Mungkin akan lebih baik jika kita tidak mengatakan yang sebenarnya. Bukan karena kami tidak ingin mendapat pujian dari Kanjeng Adipati, tetapi semata-mata agar Kanjeng Adipati tidak marah karena kita telah mempertaruhkan Sutawijaya.

Demikianlah, setelah Ki Pemanahan memberikan pesan kepada para Senapati dan para perwira, maka bersama Ki Juru, Ki Penjawi dan Raden Sutawijaya, mereka telah menghadap Kanjeng Adipati di pesanggrahannya.

Ki Pemanahanlah yang mendapat tugas untuk memberikan laporan. Dan ia pun telah melaporkan sebagaimana telah direncanakan.

Sebenarnyalah, karena tombak Kanjeng Kiai Pleret masih belum dibalut dengan selongsongnya, maka Kanjeng Adipati itu pun melihat bahwa tombak pusaka terbesar Pajang itu telah dipergunakan.

Namun Ki Pemanahan pun telah menceriterakan apa yang terjadi dengan Ki Patih Mantahun yang gugur karena ujung tombak Kanjeng Kiai Pleret.

Kanjeng Adipati Pajang menarik nafas dalam-dalam. Dengan nada dalam ia berkata, “Terima kasih kakang Pemanahan, kakang Penjawi dan kakang Juru Martani. Kalian ternyata telah berhasil menyelesaikan pertentangan yang berlarut-larut antara Pajang dan Jipang. Meskipun akhir dari pertentangan ini adalah kematian yang tidak terhitung jumlahnya, bahkan kematian kakangmas Arya Penangsang dan Paman Mantahun. Tetapi agaknya memang tidak ada cara lain yang dapat ditempuh.”

“Penyelesaian ini tentu akan membawa akibat yang meluas. Pasukan Jipang yang terbesar itu pun tentu akan mengakhiri perlawanan meskipun kita harus memperhitungkan, bahwa tentu ada juga kelompok-kelompok yang tidak mau mengakui kekalahan ini,” berkata Ki Juru.

Kanjeng Adipati mengangguk-angguk. Lalu katanya, “Baiklah. Kita akan mengatur kemudian. Mudah-mudahan yang terjadi ini akan menjadi pertanda, bahwa pertentangan yang terjadi sepeninggal ayahanda Sultan Trenggana telah dapat diselesaikan. Aku akan pertanggung jawabkan penyelesaian yang kita tempuh dengan mengorbankan kakangmas Arya Penangsang. Mudah-mudahan tidak ada lagi persoalan.

Lebih dari itu, mudah-mudahan tidak ada pihak yang menganggap aku bersalah dalam penyelesaian ini, karena aku pun sudah bertekad bulat. Jika ada pihak yang menganggap kita bersalah maka kita akan siap mempertahankan sikap kita ini serta akan mempertanggung jawabkan segala akibatnya.”

NAMUN dalam pada itu, gema kekalahan pasukan induk Kadipaten Jipang itu segera tersebar ke seluruh sudut Demak. Pasukan Jipang yang terpencar pun segera menyesuaikan dirinya. Mereka tidak mempunyai kekuatan lagi untuk bertumpu, karena Jipang kemudian telah tunduk kepada Pajang. Bahkan segera tersiar berita, bahwa para pemimpin dan orang-orang tua yang berpengaruh di Demak telah siap mewisuda Adipati Pajang menjadi Sultan di Demak, tetapi berkedudukan di Pajang, karena Hadiwijaya lebih senang berada di Pajang daripada di Demak. Tetapi di samping pasukan Jipang yang menyerah di berbagai medan, ternyata ada juga pasukan yang berkeras untuk tetap melawan kekuatan Pajang.

Seorang murid Ki Patih Mantahun yang digelari Macan Kepatihan dan bertugas disebelah Barat Pajang dengan satu kepercayaan bahwa Macan Kepatihan itu akan dapat mengganggu Pajang dan bahkan pada suatu saat dengan kelebihan pada murid Mantahun itu, akan dapat menembus memasuki Pajang, ternyata tidak bersedia menyerah. Mereka telah memasuki daerah berhutan di sebelah barat Pajang dan mengintai daerah yang subur disebelah barat hutan itu untuk dikuasai dan dijadikan landasan perjuangan berikutnya.

Sebagaimana pasukan Macan Kepatihan yang sebenarnya bernama Tohpati itu, maka disebelah Timur Pajang pun telah terjadi hal yang serupa. Oleh pengaruh sikap Tohpati yang bergelar Macan Kepatihan itu, maka Ki Rangga Gupita telah bersepakat dengan Senapati yang menjadi panglima pasukan Jipang disebalah Timur Pajang untuk tidak menyerah kepada pasukan Pajang. Bahkan Ki Rangga Gupita telah memperhitungkan, bahwa mereka akan dapat menyusun kekuatan di Tanah Perdikan Sembojan.

“Bukankah ada kekuatan yang berada di Tanah Perdikan Sembojan itu?” bertanya Panglima pasukan Jipang.

“Apa artinya kekuatan itu,” jawab Ki Rangga Gupita. “Kita akan memaksa Ki Wiradana untuk berbuat sesuatu di Tanah Perdikan itu, sementara pasukan Jipang yang ada akan dapat memaksa kekuatan yang ada di Tanah Perdikan itu terusir.

Kita harus bergerak cepat sebelum segala sesuatunya menjadi mapan. Sebentar lagi Adipati Pajang yang sekarang telah memegang segenap kekuasaan Demak itu tentu akan segera kembali ke Pajang. Tetapi dimana-mana tentu masih memerlukan perhatian karena pergolakan-pergolakan kecil yang mungkin masih terjadi. Dalam keadaan yang demikian itulah kita menempatkan diri kita dengan sebaik-baiknya.

Jika kita berhasil, kita akan menghubungi Tohpati untuk merencanakan langkah-langkah kita selanjutnya. Aku yakin, bahwa kita akan dapat menghimpun kekuatan dari para prajurit Jipang yang tersebar, jika kita memang mempunyai landasan.”

Panglima itu mengangguk-angguk. Ia pun mengerti, bahwa Demak tentu tidak akan menjadi tertib dengan serta merta. Meskipun Jipang sudah dinyatakan kalah sepeninggal Arya Penangsang dan Patih Mantahun, namun gelombang yang pernah melanda Demak itu tidak akan dengan tiba-tiba menjadi tenang dan diam tanpa gejolak sama sekali. Dan saat-saat yang demikianlah yang harus dimanfaatkan sebaik-baiknya mengingat keadaan mereka.

KARENA itulah maka Ki Rangga Gupita dan Panglima pasukan Jipang disebelah Timur Pajang itu pun telah mempersiapkan dirinya. Mereka harus mempersiapkan pasukan mereka untuk pergi ke Tanah Perdikan Sembojan. Dengan kekuatan yang ada, maka Tanah Perdikan Sembojan tentu tidak akan mampu bertahan. Di samping anak-anak muda yang berasal dari Tanah Perdikan Sembojan sendiri, maka para prajurit Jipang yang kehilangan pegangan itu pun akan ikut bersama mereka menguasai Tanah Perdikan Sembojan.

Dalam pada itu, berita tentang kekalahan Jipang itu pun telah sampai pula ke telinga para pemimpin yang berada di Tanah Perdikan Sembojan. Namun dalam pada itu, Kiai Badra telah memanggil Iswari untuk berbicara tentang kemungkinan-kemungkinan yang dapat terjadi.

“Keadaannya justru mencemaskan,” berkata Kiai Badra. “Jika para prajurit Jipang berada disebelah Timur Pajang, yang kekuatannya didukung oleh anak-anak muda Sembojan yang sudah terbius oleh kekuasaan Warsi itu berpaling ke arah Tanah Perdikan ini, maka kedudukan kita akan menjadi gawat.”

Iswari mengangguk-angguk. Lalu katanya, “Kita memang harus memperhitungkan segenap kemungkinan. Tetapi apakah kekuatan mereka terlalu besar, sehingga kita sama sekali tidak berdaya?”

“Jumlah mereka terlalu banyak bagi kita. Anak-anak perdikan ini yang terpilih telah berada di pihak mereka. Yang ada sekarang hanya sebagian kecil dari seluruh jumlah anak-anak muda yang ada. Itu pun yang menurut penilaian para prajurit Jipang dalam pemilihan anak-anak muda ditataran pertama, kurang memenuhi syarat bagi seorang prajurit pilihan,” jawab Kiai Badra.

“Tetapi bagaimana dengan kita?” bertanya Iswari. “Apakah kemampuan kita tidak berpengaruh?”

“Memang berpengaruh. Tetapi menghadapi jumlah yang terlalu banyak, sementara itu ada juga orang-orang berilmu di dalamnya, kita akan menghadapi kesulitan. Korban di antara anak-anak kita akan terlalu banyak, karena dalam benturan kekuatan yang melebar kemampuan kita melindungi orang dari ujung ke ujung sangat kecil.

Apalagi yang akan kita hadapi adalah prajurit-prajurit Jipang atau anak-anak muda Tanah Perdikan ini yang sudah mendapat tuntunan dari para prajurit Jipang, sehingga mereka pun tentu akan bersikap sebagaimana para pelatihnya,” jawab Kiai Badra.

“Jadi, apakah yang sebaiknya kita lakukan dalam keadaan seperti ini?” bertanya Iswari.

“Kita memang harus bersiap untuk menahan arus kekuatan yang menurut perhitunganku akan datang kembali bahkan bersama kekuatan yang jauh lebih besar.

Namun bagaimanapun juga, kita harus menyiapkan jalur pengungsian, meskipun untuk sementara,” berkata Kiai Badra.

“Kita akan keluar lagi dari Tanah Perdikan ini?” bertanya Iswari.

“Dalam keadaan yang terpaksa, hal itu harus kita lakukan. Namun dengan perhitungan, bahwa kita akan segera merebut kembali kedudukan itu,” jawab Kiai Badra.