Suramnya Bayang-Bayang (Episode 1-10)

Suramnya Bayang-bayang

Episode 1-10

(SH Mintardja)

KETIKA hujan reda di ujung malam, maka bulan pun mulai nampak di balik bayangan mega yang kelabu. Jalan-jalan yang sunyi menjadi licin dan berlumpur. Sementara pintu-pintu sudah tertutup rapat. Namun dalam pada itu, dalam keheningan yang semakin mencengkam, seseorang duduk di atas sebuah amben bambu sambil mengusap hulu pedangnya. Sebuah mangkuk berisi air panas masih terletak di hadapannya.

Sesekali orang itu meneguk minuman panas itu. Namun kemudian pelahan-lahan ia  bangkit sambil bergumam, “Waktunya telah tiba.”

Orang itu berdiri tegak sambil memandangi ruangan itu dari sudut sampai ke sudut. Setiap benda yang ada di ruang itu diperhatikan dengan seksama. Namun kemudian ia pun telah menarik nafas dalam-dalam. Sambil melangkah ke pintu, orang itu memanggil, “Wiradana….”

Seorang anak muda yang mendengar panggilan itu pun bangkit dari pembaringannya. Udara yang dingin telah mendorongnya untuk berbaring sambil merenungi dirinya sendiri.

Ketika Wiradana memasuki ruang tengah, dilihatnya ayahnya berdiri dengan pedang di lambung.

“Ayah…” desis anak muda itu.

“Ayah akan pergi. Aku tidak tahu apakah aku akan kembali atau tidak. Tetapi kau sudah cukup dewasa. Kau tahu apa yang harus kau lakukan,” desis orang berpedang itu.

“Ayah akan kemana?” tanya Wiradana.

“Baiklah. Aku akan berkata terus terang. Justru karena aku mengharap bahwa kau akan dapat menanggapi keadaan dengan sebaik-baiknya.” Ayahnya terdiam sejenak, lalu, “Wiradana, Tanah Perdikan ini mulai berkembang. Kau harus dapat berbuat sebagaimana ayah berbuat selama ini atas Tanah Perdikan ini.

Seandainya ayah tidak kembali, maka aku yakin bahwa Tanah Perdikan ini tidak akan menjadi kuncup. Tetapi akan mekar dan menjadi sejahtera.”

“Apa sebenarnya yang akan ayah lakukan?” tanya Wiradana.

“Hari ini adalah hari yang sudah aku janjikan untuk bertemu dengan Gonggang Wirit,” jawab ayahnya.

“Siapakah Gonggang Wirit itu, ayah?” tanya Wiradana.

Ayahnya menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Tidak banyak orang yang mengenal namanya. Bahkan aku kira orang itu telah mati pula. Namun tiba-tiba ia datang ke Tanah perdikan Sembojan ini.”

“Apa hubungannya dengan ayah dan untuk apa ia datang kemari?” desak Wiradana.

“Persoalan itu sebenarnya telah terjadi sejak kau belum dilahirkan.” Wajah orang tua itu menjadi keruh. “Persoalannya berkisar pada persoalan ibumu. Aku telah bertengkar dengan seseorang sehingga aku tidak dapat berbuat lain daripada membunuhnya. Laki-laki yang mati itu adalah adik orang yang bernama Gonggang Wirit. Untunglah bahwa ibumu sekarang sudah tidak ada lagi, sehingga ia tidak melihat, bahwa pertentangan yang terjadi lebih dari duapuluh tahun yang lalu itu masih saja berkelanjutan.”

“Apakah Gonggang Wirit datang memang untuk mempersoalkan peristiwa yang terjadi lebih dari duapuluh tahun yang lalu itu?” tanya Wiradana.

“Agaknya tidak, Wiradana,” jawab ayahnya. “Ternyata sekarang Gonggang Wirit telah menjadi seorang gegedhug yang membuat negeri ini menjadi keruh. Mungkin Tanah perdikan ini dianggapnya terlalu jauh dari pusat pemerintahan di Demak, sehingga Gonggang Wirit telah memilih daerah yang sedang tumbuh ini menjadi sasarannya.”

“Ayah, apakah Gonggang Wirit mempunyai hubungan dengan gerombolan Kalamerta yang membuat rusuh di Tanah perdikan Sembojan ini?” tanya Wiradana.

“Ternyata Kalamerta itu adalah Gonggang Wirit,” jawab ayahnya. “Ia memang menggantikan namanya dan melakukan pekerjaan yang nista dengan kemampuannya yang tinggi dalam olah kanuragan.

Agaknya Tanah Perdikan ini akan banyak mengalami kesulitan jika kita harus berhadapan langsung dengan gerombolan itu.”

“Tetapi kenapa ayah akan menemuinya sekarang? Sebab menurut tanggapanku, ayah akan menemuinya dalam perang tanding,” sahut Wiradana dengan cemas.

“Ya. Aku memang mengharap dapat bertemu dengan Gonggang Wirit dalam perang tanding. Aku tidak mempunyai cara lain untuk menyelamatkan Tanah Perdikan ini.

Jika aku berhasil memancingnya, maka aku kira para pengikutnya akan kehilangan pegangan, sehingga para pengawal Tanah Perdikan ini akan dapat menghadapi mereka,” jawab ayahnya.

“Ayah yakin akan dapat membunuhnya?” tanya Wiradana.

“Aku akan mencobanya. Tetapi jika aku tidak berhasil, dan aku justru terbunuh, maka jangan kau sesali. Mungkin aku memang harus menebus tingkah lakuku lebih dari duapuluh tahun yang lalu. Tetapi jika terjadi demikian, kau harus dengan cepat memberikan laporan, tidak usah ke pusat pemerintahan di Demak. Kau dapat menugaskan dua-tiga orang untuk melaporkan ke Kadipaten Pajang yang jauh lebih dekat. Mudah-mudahan Pajang menaruh perhatian atas tingkah laku segerombolan berandal di Tanah Perdikan Sembojan ini,” jawab ayahnya.

Wiradana termanggu-mangu. Namun kemudian katanya, “Ayah, sebaiknya ayah tidak pergi seorang diri. Apakah ayah yakin, bahwa orang itu akan menghadapi ayah dengan jujur?”

“Aku sudah berhasil memancing persoalan. Aku berhasil mengungkat persoalan lama sehingga aku berhasil membatasi persoalan itu antara aku dengan Gonggong Wirit, kakak dari seorang yang pernah aku bunuh lebih dari dua puluh tahun yang lalu,” jawab ayahnya pula.

“Jadi ayah memang sudah pernah bertemu dengan orang itu?” bertanya Wiradana pula.

“Aku bertemu dengan seseorang yang pernah aku kenal justru dari sudut pasar, di pande besi ketika aku ingin memesan sepuluh kejen bajak utuk padukuhan Gambir,”

jawab ayahnya pula. “Agaknya Gongong Wirit tidak lupa kepadaku sebagaimana aku tidak lupa kepadanya meskipun kit sudah berpisah. Ternyata sorot matanya masih tetap memancarkan dendam atas kematian adiknya meskipun itu sudah terjadi lama sekali. Ketika orang itu tahu, bahwa aku adalah kepala Tanah Perdikan ini, maka ia mengancam akan menghancurkan Tanah Perdikan itu. Satu-satunya jalan adalah memancing kebenciannya kepadaku dan membatasi persoalannya sebagai persoalan pribadi. Akhirnya, aku berhasil menjebaknya dalam satu perang tanding.”

“Bagaimana jika orang itu curang ayah?” bertanya Wiradana pula.

“Tidak. Ia sudah mengatakan, bahwa dalam persoalan pribadi ini, akan berdiri di atas harga dirinya demi menuntut balas atas kematian adiknya itu,” jawab ayah Wiradana.

Wiradana menarik nafas. Tetapi kecemasan tetap membayang diwajahnya. Sehingga akhirnya ia berkata, “Ayah, aku akan ikut bersama ayah.”

Tetapi ayahnya menggeleng. Katanya, “Kau tinggal di rumah. Jika aku harus terbunuh untuk menembus ketamakanku dua puluh tahun yang lalu, biarlah itu terjadi. Tetapi aku akan dapat berbuat seusatu atas Tanah Perdikan ini. Tetapi jika kau juga menjadi korban, maka akibatnya akan sangat parah bagi Semboyan.”

Wiradana menjadi semakin tegang. Namun ia tidak akan dapat mencagah ayahnya. Ia tahu benar sifat ayahnya. Jika ia sudah mengambil satu keputusan, maka sulitlah baginya untuk mengubahnya.

Namun Wiradana sadar, bahwa yang dilakukan ayahnya itu bukannya karena persoalan pribadinya semata-mata. Tetapi cenderung untuk menyelamatkan Tanah Perdikannya, meskipun mungkin ia harus mengorbankan dirinya.

Demikianlah, akhirnya Kepala Tanah Perdikan Sembojan, yang juga disebut Ki Gede Sembojan itu kemudian meninggalkan rumahnya. Ketika ia turun tanggap pendapa, sekali lagi ia berpaling kepada anaknya sambil berkata, “Hati-hatilah. Banyak kemungkinan dapat terjadi.”

Wiradana mengangguk kecil. Dengan suara sendat ia berkata, “Aku akan berusaha berbuat sebaik-baiknya ayah.”. Ki Gede Sembojan tersenyum. Namun kemudian ia pun melangkah melintasi halaman.

Di gardu, di depan regol Ki Gede Sembojan terhenti sejenak. Kepada para peronda yang berada di gardu sambil kedinginan Ki Gede berkata, “Berhati-hatilah.

Meskipun jalan licin dan berlumpur, jangan segan untuk turun dan mengelilingi daerah pengamatan kalian.”

“Baik Ki Gede,” jawab anak-anak muda yang berada di gardu itu. Namun dalam pada itu, salah seorang dari mereka bertanya, “Ki Gede akan pergi kemana?”

“Aku akan melihat-lihat saja,” jawab Ki Gede, “Mudah-mudahan gardu-gardu tidak menjadi kosong, justru dalam keadaan yang terlalu sepi ini.”

Demikianlah maka Ki Gede pun telah menyusup dan hilang di kegelapan. Wiradana berdiri termangu-mangu. Ia tidak bertanya dimana perang tanding itu akan diadakan. Karena ia tahu pasti bahwa ayahnya tidak akan menunjukkannya.

Dalam pada itu, Ki Gede Sembojan pun telah menyusuri jalan padukuhan induk Tanah Perdikan Sembojan. Sekali-kali Ki Gede harus menyisih karena air yang tergenang.

Namun Ki Gede harus selalu berhati-hati karena jalan yang licin dan berlumpur. Sejenak kemudian Ki Gede terhenti. Dihadapannya nampak lampu obor menyala di gardu di ujung jalan. Agaknya, beberapa orang anak muda berada di gardu itu. Meskipun tidak seramai hari-hari yang lain, pada saat jalan tidak menjadi basah dan licin, namun ternyata bahwa gardu itu tidak menjadi kosong meskipun hujan turun sejak sore.

Tetapi agaknya Ki Gede tidak mau disapa lagi oleh orang-orang Sembojan. Justru karena itu, maka ia pun telah menyusup ke sebuah halaman. Kemudian Ki Gede telah keluar dari Pedukuhan Induk itu dengan meloncati dinding disebelah pintu gerbang sehingga tidak seorang perondapun yang mengetahuinya.

Setelah berada di bulak persawahan yang panjang, maka langkah Ki Gede pun menjadi semakin cepat dan panjang. Ia ingin segera bertemu dengan orang yang bernama Gonggang Wirit dan yang ternyata telah mengganti namanya dengan Kalamerta, yang pada saat-saat terakhir telah mengganggu ketenangan hidup di Tanah Perdikan Sembojan.

Dengan langkah pasti Ki Gede pergi ke tempat yang jarang dikunjungi oleh seseorang. Ketika ia sampai ke sebuah sungai yang kecil, maka ia pun segera menelusurinya. Ia telah berjanji bertemu dengan Gonggang Wirit di ujung Kali Pideksa. Sebuah sungai kecil yang menyusuri lereng perbukitan, namun yang kemudian saling bergabung dengan sungai-sungai kecil yang lain sehingga akhirnya menjadi sebuah bengawan yang besar dan panjang menyusuri ngarai membelah tanah di daerah Timur.

Ki Gede memperlambat langkahnya ketika ia berada di ujung hutan yang tidak terlalu lebat. Sejenak ia berdiri termangu-mangu di atas tebing. Terdengar suara air yang gemerecik agak lebih besar dari hari-hari sebelumnya oleh curah air hujan yang tidak henti-hentinya.

Ki Gede kemudian berhenti di antara dua batang pohon yang besar yang tumbuh tidak terlalu jauh dan agak terpisah dengan pepohonan yang lain oleh beberapa puluh langkah tanah berbatu padas.

Selagi Ki Gede termangu-mangu, maka tiba-tiba saja terdengar suara tertawa berkepanjangan.

“Gila,” geram Ki Gede di dalam hatinya, “Ia melihat aku datang, tetapi aku tidak melihatnya.”

Ki Gede berdiri tegak di antara kedua batang pohon yang besar itu. Ia sadar, bahwa orang yang tertawa itu ingin menunjukkan kepadanya, bahwa ia memiliki kemampuan untuk menggetarkan isi dada seseorang hanya dengan suaranya saja.

Sebenarnya suara itu semakin lama semakin keras. Getarannya telah mengguncang bukan hanya dedaunan, tetapi rasa-rasanya isi dada Ki Gedepun telah terguncang pula.

Namun Ki Gede adalah seorang yang telah mapan dalam olah kanuragan. Karena itu, maka iapun mampu mengungkapkan daya tahannya untuk melawan suara tertawa itu.

Bahkan dengan memusatkan nalar budinya, maka Ki Gede pun segera mengetahui, dimana lawannya itu telah menunggu.

Tetapi Ki Gede masih tetap berdiri tegak. Ia sama sekali tidak berusaha melawan suara tertawa itu, kecuali bertahan agar isi dadanya tidak terguncang-guncang.

Dalam pada itu, akhirnya suara tertawa itu menurun dengan sendirinya. Agaknya orang yang melontarkan suara itu menyadari bahwa suara tertawanya tidak banyak berpengaruh atas orang yang baru datang itu. Bahkan karena sikap diamnya, maka rasa-rasanya orang yang berdiri di antara dua batang pohon itu merasa terlalu yakin akan dirinya.

“Turunlah,” tiba-tiba saja terdengar suara Ki Gede.

“Persetan,” geram orang yang duduk di atas sebatang dahan pada pohon kelapa itu.

“Jangan menunggu aku mengguncang pohon ini dengan tanganku,” berkata Ki Gede selanjutnya.

Tetapi orangyang di atas dahan itu telah tertawa lagi. Tetapi tertawa dengan suara wajar. Katanya, “Kau sangka aku percya bahwa kau mampu mengguncang pohon raksasa ini?”

“Cobalah berpegangan dengan erat, agar kau tidak terjatuh dari dahan itu,” jawab Ki Gede.

“Jangan membual,” jawab orang itu, yang justru kemudian telah meloncat turun beberapa langkah saja dihadapan Ki Gede.

“Gonggang Wirit,” berkata Ki Gede, “Agaknya ilmumu memang sudah menjadi semakin matang.”

“Jangan berkata begitu Ki Gede,” jawab Gonggang Wirit, “Meskipun nampaknya kau memuji, tetapi itu merupakan suatu penghinaan. Dua puluh tahun telah lalu. Kau sangka dalam waktu itu ilmu seseorang seharusnya tidak berubah, sehingga apabila ada yang mampu meningkatkan ilmunya masih harus mendapat pujian?”

“Bukan maksudku Gonggang Wirit. Tetapi aku benar-benar kagum melihat kemampuanmu mengguncangkan dedaunan dengan suara tertawamu. Meskipun ilmu Gelap Ngampar mu itu masih baru dalam tingkat permulaan.

Gonggang Wirit mengerutkan keningnya. Namun ia pun kemudian tertawa pula.

Katanya, “Jangan menutupi kecemasanmu dengan penilaian yang tidak berarti apa-apa itu. Apapun yang kau katakan, tetapi aku mampu mengguncang pepohonan dengan suaraku. Aku akan mampu juga menghancurkan isi dadamu seandainya aku mengerahkan segenap tenaga ilmuku.”

Ki Gede Sembojan tersenyum. Katanya, “Sebuah mimpi yang manis. Tetapi kau akan segera terbangun dan melihat kenyataan yang sangat pahit dari akhir mimpimu.”

“Kita agaknya sama-sama ingin membual. Tetapi baiklah, kau sudah datang memenuhi janjimu. Aku pun datang sebagaimana seorang laki-laki karena persoalan yang kita hadapi sekarang adalah persoalan dendam pribadi,” berkata Gonggang Wirit. Lalu,

“Tetapi seandainya kau berurusan dengan Kalamarta, maka aku tidak akan bersusah payah bersikap jangan. Mungkin aku akan membantumu beramai-ramai disini bersama para pengikutku.”

“Terima kasih,” jawab Ki Gede, “Persoalan kita memang persoalan antara kau dan aku. Bukan persoalan segerombolan orang yang dipimpin oleh Kalamarta, yang akan merampok di daerah Tanah Perdikan Sembojan.”

“Karena itu, maka kita akan mempergunakan waktu itu sebaik-baiknya. Kematian adikku dua puluh tahun yang lalu, tidak akan pernah dapat aku lupakan. Adikku itu adalah saudaraku satu-satunya, sehingga sejak aku kehilangan anak itu, maka hidupku menjadi sepi. Bahkan seandainya aku tidak kehilangan adikku, mungkin jalan hidupku akan berlainan dengan jalan yang aku tempuh sekarang. Mungkin aku tidak perlu berperisai nama Kalamerta. Mungkin aku justru menjadi seorang saudagar yang kaya atau mungkin seorang kepala Tanah Perdikan seperti yang kau jabat sekarang,” berkata Gonggang Wirit.

“Aku sama sekali tidak sengaja merusak jalan hidupmu. Persoalannya adalah antara aku dan adikku. Jika kau kemudian terlibat, bahkan kemudian menjadi persoalan di antara kita, sama sekali bukan yang aku kehendaki. Tetapi karena agaknya dendammu tidak dapat kau susut, maka aku telah berjanji untuk datang malam ini,” sahut Ki Gede Sembojan.

“Ketamakanmu membuat jantungku meledak. Agaknya setelah dua puluh tahun lebih, aku baru mendapat kesempatan untuk membalas sakit hati itu. Tetapi jika aku berhasil membunuhmu, biarlah perempuan itu melihat mayatmu dibawah telapak kakiku. Tetapi mungkin perempuan itu justru akan bersyukur, karena ia telah merasa tersiksa selama ia berada di tanganmu. Karena dengan jujur harus kau akui, bahwa sebenarnya perempuan itu memilih adikku daripada kau,” geram Gonggang Wirit.

“Perempuan itu telah meninggal sejak beberapa tahun yang lalu,” desis Ki Gede Sembojan.

“Ia tentu akan sakit-sakitan selama ia menjadi isterimu. Satu-satunya hiburan baginya adalah bahwa kau telah mewarisi derajat pamanmu, Kepala Tanah Perdikan Sembojan yang tentu akan kau miliki dengan cara yang licik pula. Mungkin kau bunuh pamanmu dengan racun, sekaligus anak-anaknya. Mungkin kau tipu pamanmu dengan cara apapun juga, sehingga akhirnya Tanah Perdikan ini jatuh ketanganmu.”

“Tidak,” jawab Ki Gede Sembojan, “Aku warisi Tanah Perdikan ini sebagaimana seharusnya. Paman tidak mempunyai seorang anakpun, sehingga aku mendapat kesempatan untuk menggantikannya dan menerima semua warisannya.”

“Kau dapat saja ingkar. Tetapi orang seperti kau tentu tidak dapat dipercaya. Aku tidak akan dapat melupakan bagaimana kau licik merebut perempuan itu, dan kemudian kau peristrikan setelah kau bunuh adikku,” jawab Gonggang Wirit menjadi marah.

“Yang telah terjadi dua puluh tahun yang lalu itu tidak akan dapat diulang kembali. Jika sekarang kau ingin menuntut balas, lakukanlah. Yang terjadi itu adalah akibat panasnya darah kami yang sama-sama masih muda,” berkata Ki Gede Sembojan.

“Kau benar,” Gonggang Wirit mengangguk-angguk, “Kita sekarang sudah menjadi tua.

Umur kita sudah menjadi setengah abad. Karena itu kita akan menyelesaikan persoalan ini dengan sikap orang tua. Siapa yang lemah di antara kita, akan

mendahului kembali ke kelanggengan.”

“Aku sudah siap,” desis Ki Gede.

Gonggang Wirit pun segera mempersiapkan diri pula. Mereka bergeser beberapa puluh langkah dari pohon raksasa itu dan berdiri di atas tanah berbatu padas.

Ki Gede termangu-mangu sejenak ketika ia melihat lawannya menarik sebilah keris yang sangat besar dari punggungnya. Katanya, “Keris ini dibuat khusus oleh kakekku untuk ayahku yang kemudian diberikannya kepadaku. Dengan keris ini, aku akan menyelesaikan dendamku disini, sehingga tidak akan menjadi beban selama hidupku. Sebelum aku dapat membunuhmu, maka aku tidak akan pernah merasa tenang karena seakan-akan aku telah mengabdikan jerit adikku pada saat kau tikam jantungnya dengan pedang.”

Ki Gede Sembojan menarik nafas dalam-dalam. Sekilas mengawang kenangan yang tidak begitu jernih melintas di angan-angannya. Hatinya memang telah ternoda hitam. Tetapi saat itu ia memang tidak dapat menghindarinya.

Dua puluh tahun lebih sudah berlalu. Ternyata segalanya telah berubah. Ia telah menjadi Kepala Perdikan, sementara saudara tua dari seorang anak muda yang ditikamnya sampai mati, justru menjadi seorang Kepala berandal yang ditakuti, yang telah datang untuk mengganggu ketenangan di Tanah Perdikannya.

Namun Ki Gede berusaha untuk mengusir kenangannya itu. Ia tidak ingin terganggu oleh perasaan bersalah dalam menghadapi orang yang benar-benar akan membunuhnya.

“Aku harus berbuat sebaik-baiknya di atas alas keadaanku sekarang. Aku berbuat untuk Tanah Perdikan. Sama sekali bukan karena persoalan pribadi, meskipun aku telah menggunakannya sebagai alasan,” berkata Ki Gede di dalam hatinya.

Dengan demikian, maka Ki Gede pun menjadi mantap. Ia tidak merasa lagi bertempur karena ketamakannya. Tetapi ia berdiri sebagai seorang Kepala Tanah Perdikan yang berhadapan dengan seorang pemimpin dari sekelompok perampok yang ganas yang akan membuat Sembojan menjadi miskin.

Sejenak kemudian, karena lawannya telah menarik kerisnya yang besar yang digantungkannya dipunggungnya, maka Ki Gede pun telah menarik pedangnya. Pedang yang dinamainya Sabet Kiai Tatit.

Sejenak kemudian kedua orang yang sudah menggenggam senjata di tangan masing-masing itu pun mulai bergerak. Sambil menjulurkan kerisnya Gonggang Wirit berkata, “Aku ingin persoalan ini cepat selesai. Karena itu, maka aku segera mempergunakan pusakaku.”

“Aku tidak berkeberatan,” jawab Ki Gede Sembojan, “Aku pun ingin segera melihat nyawamu terkapar disini, sebelum aku memanggil para pengawal untuk menguburmu.”

Gonggang Wirit menggeram, namun ia tidak menjawab lagi. Tetapi kerisnyalah yang mulai bergerak.

Sejenak kemudian, maka Gonggang Wiritlah yang mulai menyerang lawannya. Pedangnya berputaran, namun kemudian mematuk lurus ke arah jantung.

Tetapi Ki Gede memang sudah siap menghadapinya. Karena itu, serangan yang pertama itu sama sekali tidak berarti. Dengan gerak yang sederhana ia memiringkan tubuhnya, sehingga keris itu sama sekali tidak menyentuhnya.

Gonggang Wirit tersenyum. Tetapi ia menggerakkan pergelangan tangannya sehingga pedang itu pun berubah arah. Serangannya menjadi mendatar setinggi dada Ki Gede melihat perubahan itu. Karena itu, maka ia terpaksa bergeser lagi selangkah surut. Gonggang Wirit tidak menyerangnya lagi. Ia menarik senjatanya.

Namun selangkah ia bergeser sambil memutar kerisnya yang besar itu.

“Kau masih mampu bergerak cepat, Ki Gede, desis Gonggang Wirit.

Ki Gede Sembojan tidak menjawab sama sekali. Tetapi ia pun telah bersiap menghadapi serangan-serangan berikutnya.

Dalam pada itu, Gonggang Wirit pun telah mulai dengan sungguh-sungguh. Selangkah ia meloncat maju, kerisnya menyambar dengan cepat, sementara Ki Gede pun telah meloncat pula menghindar secepatnya datangnya serangan. Namun Gonggang Wirit telah melibasnya dalam permainan senjata yang cepat dan berbahaya.

Tetapi serangan-serangan Gonggang Wirit masih belum membuat Ki Gede menjadi bingung. Ki Gede masih tetap melihat keris lawannya dengan jernih, meskipun ia menyadari, bahwa menilik ujudnya, keris itu tentu keris yang mempunyai tuah yang tinggi. Bahkan menurut ujung dan warnanya, keris itu tentu merupakan senjata yang paling berarti bagi Gonggang Wirit.

Sejenak kemudian, maka keduanya pun telah terlibat dalam pertempuran yang semakin sengit. Keduanya bergerak semakin cepat, sementara senjata mereka pun menyambar-nyambar dengan garangnya.

Ketika kemudian terjadi benturan-benturan antara keris Gonggang Wirit yang besar dengan sabet Ki Gede yang dinamainya Kiai Tatit, maka bunga apipun telah memercik keudara, mengoyak kelamnya malam.

Ternyata bahwa kedua orang itu adalah orang-orang yang memiliki kemampuan yang luar biasa. Keduanya mampu bergerak dengan kecepatan yang sangat tinggi, sementara kekuatan mereka pun sulit untuk dijajagi menurut ukuran kekuatan wadag orang kebanyakan. Sambaran senjata mereka telah menimbulkan desing angin yang mengguncang udara malam yang gelap.

Hanya orang-orang yang memiliki ketajaman penglihatan melampaui ketajaman mata biasa sajalah yang mampu melihat gerak ujung senjata lawan yang bagaikan seekor lalat mengitari sasarannya.

Dalam pada itu, selagi kedua orang yang berilmu tinggi itu bertempur di sebelah pohon-pohon rakasa di ujung Kali Pidesa maka di rumahnya Wiradana menunggunya dengan sangat gelisah. Sekali-kali timbul niatnya untuk mencari ayahnya. Tetapi jika hal itu diketahui oleh ayahnya, maka ayahnya justru akan menjadi marah kepadanya. Bahkan barangkali kedatangannya di arena perang tanding itu akan dapat mempengaruhi kemampuan ayahnya menghadapi lawannya yang dikenal dengan Kalamerta, namun yang oleh ayahnya disebut Gonggang Wirit.

Namun kadang-kadang dalam kegelisahan Wiradana berniat untuk berbicara dengan para peronda, agar merekalah yang mencari ayahnya.

Tetapi niat itupun telah diurungkannya pula. Sehingga akhirnya dalam kegelisahannya Wiradana itu mondar-mandir saja di dalam biliknya. Kadang-kadang ia justru keluar ke ruang dalam dan dengan jantung yang berdebaran memandangi pintu bilik ayahnya yang tidak tertutup rapat.

Di gardu, anak-anak muda yang meronda berusaha untuk melawan kantuknya dengan saling berceritera. Bahkan ada yang sempat bergurau dan tartawa berkepanjangan.

Seorang anak muda yang kekurus-kurusan duduk di sudut gardu tanpa menghiraukan kawan-kawannya. Ia tidak ikut tertawa dalam gurau yang kadang-kadang kasar. Ia pun tidak ikut berceritera tentang lelembut yang beterbangan di dalam gelapnya malam. Tetapi tiba-tiba saja seorang kawannya menegornya, “He, apa yang kau

lakukan? Itukah agaknya yang membuatmu diam saja, tetapi mulutmu tidak berhenti mengunyah.”

“Agaknya bagiku lebih bermanfaat mengunyah ketela rebus ini daripada membual ke sana kemari tidak ada ujung pangkalnya,” jawab anak muda yang kekurus-kurusan itu.

“Kau memang tidak pernah berhenti makan. Tetapi kau tetap kurus saja,” gumam kawannya itu.

Anak muda yang kekurus-kurusan itu tidak menjawab. Tetapi mulutnya masih saja mengunyah makanan tanpa henti-hentinya.

Sementara itu, dua orang yang berada di ujung Kali Pideksa, disebelah pohon raksasa yang berdiri tegak dalam kelamnya malam, masih saja bertempur dengan dahsyatnya. Ternyata keduanya adalah orang yang berilmu tinggi. Setelah lebih dari duapuluh tahun mereka berpisah, agaknya ilmu mereka telah meningkat dengan

pesatnya.

Gonggang Wirit dan Ki Gede Sembojan agaknya tanpa saling mengetahui keadaan masing-masing telah menimpa diri dalam jalannya yang ternyata pada satu saat telah bersilang.

Pertempuran yang terjadi itu, semakin lama menjadi semakin cepat, sehingga keduanya bagaikan berubah menjadi bayang-bayang yang berputaran. Senjata mereka yang terayun-ayun telah menimbulkan angin yang berputaran menggerakkan daun-daun dari pohon raksasa itu. Benturan yang terjadi itu telah menggeretakkan jantung masing-masing. Bahkan tangan-tangan merekapun terasa menjadi pedih.

Ternyata senjata ditangan masing-masing adalah senjata pilihan yang sulit dicari bandingnya. Keris yang besar ditangan Gonggang Wirit memiliki kemampuan yang sebanding dengan sabet Kiai Tatit, di tangan Ki Gede Sembojan.

Namun betapapun juga mereka memiliki kemampuan gerak yang cepat, namun setelah bermain-main dengan senjata untuk beberapa lamanya, maka ujung-ujung senjata itu

telah mulai menjilat tubuh lawannya. Pedang Ki Gede Sembojan telah tergores ditubuh Gonggang Wirit, menyilang di dada. Namun kemudian ujung keris Gonggang Wirit pun telah tergores di lengan Ki Gede pula. “Gila,” geram Ki Gede.

Sementara itu terdengar Gonggang Wirit tertawa. Katanya, “Kau akan mati.

Warangan pada kerisku itu tidak akan terlawan oleh obat yang manapun juga.”

Ki Gede Sembojan menggeram. Tetapi ia menyadari, apa yang dapat terjadi atas dirinya. Karena itu, maka sambil bersiaga menghadapi kemungkinan berikutnya, ia telah mengambil sebutir obat dari kantong ikat pinggangnya. Ia sengaja membawa obat itu, karena ia menyadari, bahwa keris lawannya itu tentu mengandung bisa yang kuat. Ketika Ki Gede bertemu dengan orang itu di tempat seorang pande besi, Ki Gede sudah melihat bahwa orang itu adalah pemimpin gerombolan Kalamerta, jika orang yang dikenalnya bernama Gonggang Wirit itu tidak mengatakannya sendiri tentang dirinya.

Tetapi ketika ia menelan obat itu, Gonggang Wirit tertawa semakin keras.

Katanya, “Tidak ada gunanya. Obat apapun juga, tidak akan menolongmu.”

“Gila,” geram Ki Gede.

Kemarahan yang memuncak telah menghentak di dada Ki Gede. Tiba-tiba saja diluar dugaan lawannya, pada saat lawannya tertawa berkepanjangan, Ki Gede telah meloncat menyerang. Demikian cepatnya sehingga lawannya itu tidak sempat berbuat layak.

Untuk melindungi dirinya, maka Gonggang Wirit telah menangkis serangan itu.

Tetapi serangan yang datang terlalu cepat itu tidak seluruhnya dapat

dihindarkannya. Meskipun ujung pedang Ki Gede tidak menghujam ke dadanya, namun pedang itu telah mengoyak pundaknya.

Gonggang Wirit menyeringai menahan pedih. Ketika terasa darah meleleh dari luka itu, maka ia pun menjadi sangat marah pula.

Karena itulah, maka pertempuran itupun menjadi semakin meningkat pula. Ki Gede yang telah terkena racun itupun mulai merasakan pengaruhnya. Tubuhnya terasa menjadi semakin lemah. Obat yang telah ditelannya hanya mampu menghambat peredaran bisa yang telah menusuk ke dalam urat dadanya.

Tetapi Gonggang Wirit yang telah menitikkan darah semakin banyak itu pun kekuatannya telah menjadi susut pula. Meskipun luka di dadanya tidak begitu dalam, tetapi darah telah menitik pula, sementara dari pundaknya yang terkoyak, darahpun mengalir bagaikan terperas.

Dengan demikian, maka kedua orang yang berilmu tinggi itu semakin lama ternyata menjadi semakin lemah pula. Dalam kemarahan yang memuncak, Ki Gede masih sempat menghentakkan sisa tenaganya sehingga ujung pedangnya sempat menyusup sekali lagi ke sela-sela putaran keris lawannya, sehingga pedang itu telah menghujam ke lambung Gonggang Wirit. Tetapi pada saat yang hampir bersamaan pula keris

Gonggang Wirit yang berbisa itu telah menyobek kulit Ki Gede pada pergelangan tangannya.

Gonggang Wirit yang lambungnya sobek itu terhuyung-huyung beberapa langkah surut. Dipandanginya lawannya yang membuatnya mendendam selama lebih dari duapuluh tahun. Kebencian yang sangat memancar dari kedua belah matanya yang merah, sementara darahnya masih saja mengalir tidak henti-hentinya.

Sesaat kemudian pandangan mata Gonggang Wirit itu pun menjadi buram. Tubuhnya menjadi semakin lemah, sementara darahnya mengalir tanpa dapat dibendung lagi.

Namun dalam keadaan yang demikian ia masih tertawa sambil berkata, “Ki Gede, kau memang berhasil melukai aku. Mungkin aku akan mati. Tetapi kaupun akan mati pula malam ini. Obat apapun juga tidak akan dapat menolongmu. Racunku akan bekerja dengan pasti, menghancurkan jaringan di dalam tubuhmu, mencengkam otakmu dan kemudian membekukannya sehingga kau akan mati.”

Ki Gede tidak menjawab. Tetapi tubuhnya mulai terasa menjadi lain.

Sendi-sendinya seakan-akan tidak lagi dapat dikuasainya. Dagingnya bagaikan menjadi kejang-kejang dan darahnya serasa mulai semakin sendat.

Ketika Gonggang Wirit kemudian terjatuh ditanah, maka Ki Gede berusaha untuk mengambil sebutir obat penangkal racunnya. Dengan susah payah ia mencoba menelannya. Tetapi obat tertelan, kaki Ki Gede tidak lagi kuat menyangga

tubuhnya, sehingga Ki Gede itu pun kemudian jatuh terduduk.

Obatnya memang benar-benar tidak dapat menolak atas racun yang menghujam semakin dalam ditubuhnya. Seperti dikatakan oleh Gonggang Wirit bahwa racun itu akan merusak seluruh jaringan tubuhnya, mencengkam otaknya dan kemudian membekunya.

Sementara itu, obat yang ditelannya, hanya mampu memperlambat kepastian yang tidak akan dapat terhindar dari dirinya.

Tubuh Ki Gede semakin lama menjadi semakin lemah. Bahkan akhirnya malam serasa menjadi semakin gelap. Bintang-bintang yang mulai mengintip dari balik sisa awan dilangit, menjadi pudar dan akhirnya lenyap sama sekali.

Namun dalam pada itu, pada saat terakhir kesadarannya, Ki Gede masih sempat berkata kepada dirinya, “Jika saat ini memang harus datang kepadaku, maka tugasku memang sudah selesai. Lebih dari itu, agaknya aku memang harus menebus noda-noda yang terpercik dihatiku dua puluh tahun yang lalu.”

Malam pun menjadi semakin sepi. Dua sosok tubuh terbaring diam tidak jauh dari dua batang pohon raksasa yang tumbuh terpisah dari hutan yang tidak terlalu lebat oleh beberapa puluh langkah tanah berbatu padas.

Yang terdengar kemudian hanyalah suara burung kedasih mencium bau darah yang dibawa angin malam yang berdesah di dedaunan, sehingga gonggongannya menjadi semakin keras, bersahut-sahutan.

Di rumah Ki Gede Sembojan, kegelisahan Wiradana rasa-rasanya tidak dapat ditahankannya lagi. Dengan keringat yang membasah di punggungnya, Wiradana itupun melangkah keluar. Sejenak ia berdiri di pendapa. Namun kemudian ia pun turun ke halaman dan hampir diluar sadarnya ia pun mendekati para pengawal yang

meronda. “Hampir fajar,” desis Wiradana.

“Ya,” jawab salah seorang pengawal, “Tetapi kau akan kemana?”

Wiradana tidak segera menjawab. Tetapi ia sadar, bahwa pedangnya ternyata telah menarik perhatian, sehingga pengawal itu telah bertanya kepadanya.

Beberapa saat Wiradana masih tetap terdiam. Tetapi kemudian katanya, “Ayah masih belum kembali.”

Para pengawal yang berada di gardu itu baru teringat, bahwa Ki Gede telah meninggalkan halaman rumahnya dan pergi tanpa memberitahukan arahnya.

Ki Gede Sembojan memang sering pergi seorang diri tanpa orang lain yang mengawalnya. Bukan saja di siang hari, tetapi juga di malam hari. Tetapi kebiasaannya, jika pergi di malam hari Ki Gede tidak pernah pergi sampai matahari terbit jika tidak ada sesuatu yang sangat penting. Itulah kebiasaan Ki Gede untuk melakukan kewajibannya menjelang pagi.

Tetapi pada malam itu, pada saat langit menjadi merah, Ki Gede ternyata masih belum kembali.

Karena itu, anak-anak muda yang berada di gardu itu pun telah menunda untuk tidak segera pulang. Mereka menunggu beberapa saat lamanya, mungkin ada sesuatu yang penting yang harus mereka lakukan.

Dengan demikian, maka rumah Ki Gede Sembojan itu telah diliputi oleh kegelisahan. Bukan saja Wiradana, tetapi anak-anak muda yang berjaga-jaga di gardupun menjadi gelisah. Apalagi ketika matahari kemudian mulai memanjat langit di sebelah Timur.

“Apa yang terjadi?” bertanya anak-anak itu kepada Wiradana.

Wiradana menarik nafas dalam-dalam. Ada semacam keragu-raguan untuk mengatakan apa yang telah dilakukan oleh ayahnya.

Tetapi oleh kegelisahannya sendiri, maka Wiradana pun telah terdorong berkata, “Semalam ayah telah melakukan perang tanding.”

“He,” anak-anak muda itu terkejut, sehingga mereka pun bergeser mendekat, “Perang tanding?” hampir bersamaan mereka mengulang.

Wiradana mengangguk.

“Wiradana,” berkata salah seorang di antara mereka, “Jadi kau sudah mengetahui bahwa Ki Gede telah memasuki perang tanding?”

“Ya,” jawab Wiradana singkat.

“Dan kau tidak berbuat apa-apa?” bertanya yang lain.

Wiradana menarik nafas dalam-dalam. Kemudian katanya, “Bukankah kalian juga mengenal ayahku? Jika ia ingin pergi seorang diri, maka ia harus pergi seorang diri.”

Anak-anak muda itu mengangguk-angguk. Mereka memang mengenal watak Ki Gede Sembojan, sehingga karena itu, maka mereka memang tidak menyalahkan Wiradana.

Namun dalam pada itu, salah seorang di antara anak-anak muda itu bertanya,

“Dengan siapa Ki Gede berperang tanding?”

“Dengan lawan lamanya, Gonggang Wirit. Tetapi yang kemudian bernama Kalamerta,” jawab Wiradana.

“Kalamerta,” kembali anak-anak muda itu terkejut. Kalamerta bagi mereka adalah hantu yang menakutkan. Tanah Perdikan Sembojan telah mengadakan persiapan yang kuat untuk menghadapi gerombolan Kalamerta yang mulai mengganggu. Bahkan menurut

beberapa orang yang pernah bersentuhan dengan orang-orang dari gerombolan itu, Kalamerta adalah orang yang bukan manusia biasa. Menurut para pengikutnya yang mulai mengganggu Tanah Perdikan itu, Kalamerta adalah ujud dari manusia yang memiliki kemampuan tidak terbatas.

“Wiradana,” berkata salah seorang anak muda, “Apakah kau tidak pernah mendengar nama itu?”

“Tentu pernah,” jawab Wiradana. “Sebagaimana ayah juga pernah mendengarnya.”

“Tetapi kenapa Ki Gede telah turun dalam perang tanding? Seharusnya kita, para pengawal diseluruh Tanah Perdikan dikerahkan untuk menghadapi gerombolan itu.

Itupun masih belum tentu kita akan dapat mengalahkan gerombolan yang dipimpin oleh seseorang yang memiliki kemampuan tidak terbatas,” sahut salah seorang di antara anak-anak muda itu. Lalu, “Tetapi tentu ada bedanya jika kita semuanya ikut melibatkan diri dalam usaha untuk mengusir gerombolan itu.”

“Tetapi ayah tidak akan menghadapi seluruh gerombolan Kalamerta. Ayah akan melakukan perang tanding dengan pemimpin gerombolan itu, yang dikenal bernama Gonggang Wirit,” jawab Wiradana.

Tetapi salah seorang di antara anak-anak muda itu berkata, “Kalamerta itulah yang disebut memeiliki kemampuan yang tidak terbatas. Sebenarnyalah jika demikian, kami mencemaskan keselamatan Ki Gede.”

Wiradana mengerutkan keningnya. Kecemasan itu telah mencengkam jantungnya pula.

Tetapi ia masih ragu-ragu untuk memerintahkan mencari ayahnya. Jika perang tanding itu masih belum selesai, maka akibatnya justru akan menyulitkan ayahnya sendiri.

Karena itu, maka Wiradana itu pun berkata, “Kita akan menunggu sampai tengah hari. Jika sampai tengah hari ayah belum kembali, maka kita akan mencarinya.”

“Sampai tengah hari?” bertanya seorang di antara anak-anak muda itu. “Itu terlalu lama. Tentu kita tidak ingin terlambat.”

Wiradana termangu-mangu. Tetapi ia yakin, bahwa ayahnya akan mampu melakukan perang tanding untuk waktu yang lama jika kedua-duanya masih tetap dalam

keseimbangan. Tetapi sudah tentu bahwa ia pun tidak ingin terlibat jika terjadi sesuatu atas ayahnya.

Untuk beberapa saat Wiradana termangu-mangu. Ia benar-benar dicengkam oleh kebimbangan menghadapi persoalan yang mendebarkan itu.

Namun dalam pada itu, selagi anak-anak muda itu masih berbincang tentang banyak kemungkinan, mereka telah dikejutkan oleh kedatangan sebuah pedati yang diikuti oleh sederet anak muda Tanah Perdikan Sembojan. Bahkan beberapa orang tua pun ikut pula bersama mereka.

Wiradana menjadi berdebar-debar. Dengan serta merta ia pun telah menyongsong pedati itu keluar regol halaman rumahnya.

“Ada apa?” Wiradana itu pun bertanya kepada seseorang yang berada di depan pedati itu.

“Ki Gede terluka parah,” jawab orang itu.

“Ayah,” desis Wiradana.

“Ya,” jawab orang itu.

Wiradana pun kemudian meloncat untuk naik ke dalam pedati. Tetapi seorang tua berjanggut putih telah mencegahnya. Katanya, “Jangan anak muda.”

“Aku anaknya. Siapa kau?” bertanya Wiradana.

“O, jadi kau putera Ki Gede Sembojan?” bertanya orang tua itu.

“Ya. Aku Wiradana,” jawabnya.

Orang tua itu mengangguk-angguk. Tetapi ia tetap mencegahnya. Katanya, “Jika kau adalah puteranya, maka seharusnya kau mengikuti petunjukku. Ki Gede sedang dalam keadaan yang sangat gawat.”

Wiradana termangu-mangu. Namun ia pun mengurungkan niatnya untuk memasuki pedati itu.

Perlahan-lahan pedati itu memasuki regol halaman rumah Ki Gede, dengan diikuti oleh sebuah iring-iringan yang panjang. Orang-orang Sembojan itu ingin tahu, apa yang telah terjadi dengan Kepala Tanah Perdikannya.

Pedati itu pun kemudian berhenti di depan pandapa. Orang tua berjanggut putih itupun kemudian meminta Wiradana dan beberapa orang yang lain membantunya, mengangkat Ki Gede dan membawanya ke dalam biliknya.

“Apa yang telah terjadi?” Wiradana mendesak.

Orang tua itu termangu-mangu. Namun kemudian katanya, “Aku harus berusaha menolongnya lebih dahulu. Baru kemudian aku akan berceritera, meskipun aku tidak banyak mengetahui persoalannya.”

Wiradana tidak mengganggunya lagi. Ketika Ki Gede sudah terbaring di pembaringannya, maka seorang laki-laki yang masih cukup muda bergeser mendekati orang berjanggut putih itu.

“Kita harus mengulanginya lagi,” berkata orang berjanggut putih itu. “Tetapi agaknya obat kita yang pertama telah berhasil menghentikan racun yang sangat tajam itu.”

“Ya Kiai,” jawab laki-laki yang masih agak muda itu, “Mudah-mudahan Kiai dapat berhasil.”

“Ambillah air,” berkata orang berjanggut putih itu.

Laki-laki itu pun kemudian minta kepada Wiradana semangguk air bersih.

“Cepat, ambil air,” desis Wiradana kepada salah seorang anak muda yang berdiri dibelakangnya.

Sejenak kemudian, anak muda itu telah menyerahkan semangkuk air kepada orang tua berjanggut putih itu.

“Maaf Ki Sanak,” berkata orang tua itu kemudian kepada orang-orang yang ada di dalam bilik Ki Gede, “Aku mohon Ki Sanak keluar dari bilik ini, kecuali yang

sangat berkepentingan, agar udara di dalam bilik ini tidak menjadi terlalu pengab.”

Wiradanalah yang kemudian mempersilahkan orang-orang yang berjejalan di dalam bilik itu untuk keluar. Hanya Wiradana dan seorang pembantu terdekat Ki Gede sajalah yang kemudian berada di bilik itu.

“Angger,” berkata orang berjanggut putih itu, “Kami berusaha untuk mengobati luka-luka ayah angger dengan segenap kemampuan yang ada pada kami. Tetapi segalanya terserah kepada Yang Maha Agung. Karena itu, berdoalah bersama dengan kami, mudah-mudahan usaha ini berhasil.”

Wiradana mengangguk kecil. Namun sebenarnyalah jantungnya bagaikan meledak oleh kecemasan.

Sejenak kemudian, maka orang tua itu telah meramu obat yang dibawanya. Sebagian dari obat-obat itu akan dimasukkan ke dalam tubuh Ki Gede lewat kerongkongannya, sementara yang lain akan dioleskan pada luka yang terkena racun yang sangat tajam itu.

“Kami sudah berusaha mengobatinya pada saat kami menemukannya,” berkata orang tua itu sambil meramu obat, “Agaknya keadaannya memang sangat parah.”

Wiradana tidak menjawab. Tetapi dengan tegang ia mengikuti usaha orang yang tidak dikenalnya itu. Di dalam hati, sebagaimana dikatakan oleh orang berjanggut putih itu, Wiradana berdoa bagi keselamatan ayahnya. Dengan hati-hati maka setelah ramuan obat itu selesai dicairkan, diteteskannya ke bibir Ki Gede yang seakan-akan telah membeku. Ketika titik-titik ramuan obat itu perlahan-lahan masuk ke dalam kerongkongan itu, maka orang berjanggut putih itu menarik nafas dalam-dalam.

“Kita masih dapat berpengharapan ngger,” desisnya.

Wiradana menjadi semakin tegang. Tetapi ia hanya dapat berdiri termangu apa yang akan terjadi.

Setelah ramuan obat itu sebagian besar dengan telaten telah dimasukkan ke dalam kerongkongan, maka dengan obat yang lain, luka Ki Gede yang sebenarnya tidak terlalu dalam itu telah diolesinya pula.

“Semoga saja obat-obat ini ada manfaatnya,” gumam orang tua itu kemudian.

Wiradana yang cemas itu pun kemudian bertanya, “Apakah yang sebenarnya telah terjadi dengan ayah, Kiai?”

Orang berjanggut putih itu menarik nafas dalam-dalam. Kemudian sambil bergeser sedikit ia pun berkata, “Marilah silahkan duduk ngger.”

Wiradana termangu-mangu. Namun ia pun kemudian telah duduk pula dibibir amben telah mengambil dingklik kayu dan duduk pula dihadapan orang tua itu.

“Angger,” berkata orang tua itu. “Sebenarnya kami berdua pun tidak terlalu banyak tahu apa yang telah terjadi. Ketika kami berdua berjalan melalui ujung Kali Pideksa, maka kami telah menemukan dua sosok tubuh yang terbaring diam.

Untunglah anjing-anjing liar di hutan itu masih belum menemukan.

Tanpa mengetahui apa sebabnya, maka kami berusaha untuk melihat keadaan kedua sosok tubuh itu. Yang seorang mengalami luka parah karena ujung senjata telah menyayat kulit dan dagingnya, sementara yang lain mengalami luka tidak begitu dalam, tetapi luka itu telah menjadi pintu masuknya racun yang sangat kuat.

Ketika kami berdua mengamati keduanya, maka seorang di antaranya telah meninggal. Luka yang parah itu agaknya telah menumpahkan terlalu banyak darah, sehingga orang itu tidak dapat bertahan untuk tetap hidup. Sementara yang seorang lagi masih mampu bertahan atas tajamnya racun di dalam tubuhnya. Agaknya

yang seorang itu telah berusaha mengobati dirinya sendiri, tetapi racun yang masuk ke dalam tubuh itu memang terlalu kuat, sehingga obat itu tidak dapat menolak seluruhnya kekuatan racun yang menyusup memasuki urat darahnya.

Untunglah bahwa aku juga membawa obat penangkal racun yang agaknya lebih baik dari obat yang dimiliki oleh orang ini, yang kemudian ternyata adalah Ki Gede Sembojan.”

Wiradana menarik nafas dalam-dalam. Menilik ceritera orang itu, maka seorang lagi yang diketemukan terbaring di ujung Kali Pideksa itu telah mati. Dan orang itu tentu Gonggang Wirit yang juga disebut Kalamerta.

Namun dalam pada itu, Wiradana itu pun masih juga bertanya untuk meyakinkan dugaannya, “Kiai, apakah Kiai mengetahui, siapakah yang telah terbunuh itu?”

Orang tua itu menggeleng. Jawabnya, “Tidak ngger. Aku tidak tahu siapakah yang telah meninggal itu.”

“Dimanakah mayat itu sekarang, Kiai?” bertanya Wiradana.

“Pada saat aku menemukan, maka aku menjadi ragu-ragu atas keduanya. Aku memang sudah menduga, bahwa telah terjadi perang tanding. Karena itu, maka keduanya telah kami bawa ke padukuhan terdekat. Kami berdua telah memapah kedua tubuh itu. Dan di padukuhan terdekat, barulah aku tahu, bahwa seorang di antara keduanya adalah Ki Gede Sembojan menurut pengenalan orang-orang padukuhan itu,” berkata orang tua itu, “Tetapi yang lain, tidak seorang pun dapat mengatakannya.

Dan sementara ini tubuh yang kami tinggal di banjar padukuhan itu, yang ternyata adalah daerah Sembojan pula.”

Wiradana mengangguk-angguk. Ia pun kemudian menceriterakan kepada orang tua itu, apa yang telah dilakukan oleh ayahnya.

“Ayah memang memancing perang tanding dengan pemimpin brandal Kalamerta yang mulai menjamah Tanah Perdikan ini, Kiai,” berkata Wiradana.

‘’Kalamerta?” jawab orang tua itu menjadi tegang. “Jadi yang terbunuh itu agaknya adalah Kalamerta itu sendiri.”

“Mungkin sekali,” jawab Wiradana.

Orang itu mengangguk-angguk. Katanya, “Mungkin sekali. Memang aku melihat ciri-ciri pada orang yang disebut Kalamerta itu.”

“Apakah Kiai mengenal ciri-cirinya?” bertanya Wiradana.

“Ya. Aku menemukan sebilah keris yang besar sekali. Menurut pendengaranku, senjata Kalamerta adalah keris yang besar itu,” jawab orang tua itu.

“Jika demikian agaknya ayah telah berhasil membunuhnya, meskipun keadaan ayah sendiri menjadi parah,” desis Wiradana. Namun kemudian katanya, “Dengan demikian maka kekuatan gerombolan itu manjadi jauh susut, karena kekuatan mereka hanyalah bertumpu kepada kemampuan seseorang. Sedangkan yang lain tidak lebih dari orang kebanyakan, sehingga gerombolan brandal itu tidak lagi menakutkan bagi kami.”

Orang tua itu mengangguk-angguk. Katanya, “Jika demikian, maka Ki Gede Sembojan ini memang orang yang luar biasa. Orang yang memiliki kemampuan yang tidak terbatas sebagaimana Kalamerta itu sendiri.”

“Aku tidak dapat mengatakan apa-apa tentang ayahku. Tetapi ayah memang seorang yang tekun berada di dalam sanggar,” berkata Wiradana.

“Tetapi bukankah dengan demikian angger juga seorang yang memiliki ilmu yang tidak terbatas seperti ayah angger itu?” bertanya orang tua itu.

Wiradana menarik nafas dalam-dalam. Di luar sadarnya dipandanginya pembantu ayahnya yang terdekat itu. Namun akhirnya ia berkata, “Aku adalah seorang anak yang malas. Aku memang mempelajari ilmu dari ayah. Tetapi aku baru memiliki dasar-dasarnya saja yang masih harus dikembangkan.

“O,” orang tua itu mengangguk-angguk, “Sebenarnyalah itu sudah cukup. Bukankah memang hanya dasar-dasarnya itu saja yang dapat diwariskan kepada orang lain.

Tetapi yang menerima itulah yang harus mengembangkannya sendiri.”

“Begitulah yang dikatakan ayah kepadaku,” jawab Wiradana, “Tetapi aku bukan orang yang rajin dan tekun, sehingga perkembangan ilmuku pun tidak sepesat yang ayah kehendaki.”

Orang tua itu tersenyum. Katanya, “Angger merendahkan diri. Agaknya memang menjadi tabiat orang-orang berilmu tinggi untuk merendahkan dirinya.”

“Aku tidak merendahkan diri,” jawab Wiradana. “Dengan jujur aku katakan aku memang kurang rajin menekuni ilmu itu.”

Tetapi orang tua itu berkata, “Itu bukan soal. Tetapi angger telah menguasai dasar-dasarnya, sehingga terbersit niat angger untuk mendalaminya, maka angger dapat melakukan setiap saat.”

Wiradana menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia tidak menjawab lagi.

Dalam pada itu, obat yang diberikan oleh orang tua itu pun mulai bekerja.

Perlahan-lahan tetapi mampu menumbuhkan harapan bagi Wiradana. Ketika bibir ayahnya mulai bergerak, rasa-rasanya Wiradana ingin meloncat dan mengguncangkan membangunkannya.

Tetapi orang tua itu melarangnya. Katanya, “jangan kau kejutkan ngger. Biarlah ayahmu sadar dengan sendirinya oleh kekuatan obat yang bekerja di dalam tubuhnya.”

Wiradana mengangguk kecil. Betapapun juga terjadi pergolakan di dalam dadanya, namun ia masih harus menahan diri.

“Biarlah ayahmu sadar dari pingsannya yang gawat. Baru jika keadaan memungkinkan, kita dapat bertanya sesuatu kepadanya,” berkata orang tua itu.

Dengan demikian, maka orang-orang yang ada di dalam bilik itupun kemudian hanya sekadar menunggu perkembangan keadaan Ki Gede Sembojan itu.

Dalam pada itu, maka orang-orang yang ada diluar bilik itu pun menjadi sangat gelisah. Beberapa orang telah turun kehalaman. Tetapi ada di antara mereka yang masih saja berada di ruang dalam. Mereka menunggu, apakah yang terjadi dengan kepala Tanah Perdikan mereka yang menurut orang-orang Sembojan adalah seorang yang bekerja keras untuk kepentingan Tanah Perdikan itu. Seorang yang dengan sungguh-sungguh memperhatikan keadaan mereka, melampaui Kepala Tanah Perdikan yang terdahulu. Yang karena tidak mempunyai seorang anak pun telah melimpahkan kekuasaan kepada kemenakannya. Ki Gede Sembojan yang terluka dan dalam keadaan yang gawat itu.

Sementara itu, di dalam bilik orang tua berjanggut putih itu dengan tegang pula mengikuti perkembangan keadaan Ki Gede Sambojan.

Orang-orang yang berada di dalam bilik itu menjadi berdebar-debar ketika mereka melihat Ki Gede mulai membuka matanya. Wiradana beringsut semakin dekat. Tetapi seperti pesan orang tua berjanggut putih itu. Wiradana sama sekali tidak menyentuhnya.

Akhirnya wajah yang pucat itu mulai bergerak. Ki Gede yang telah membuka matanya itu mencoba untuk melihat orang-orang yang berada di sekitarnya.

Mula-mula yang nampak adalah tubuh-tubuh yang buram tanpa dapat dikenalnya. Namun perlahan-lahan Ki Gede mulai melihat seorang yang berjanggut putih memandanginya dengan tatapan mata yang sejuk.

Perlahan-lahan Ki Gede mencoba untuk mengingat kembali apa yang telah terjadi dengan dirinya. Perlahan-lahan pula ia mulai dapat mengenang kembali perang tanding di ujung Kali Pideksa, di sebelah sepasang pohon raksasa yang terpisah oleh beberapa puluh langkah tanah berbatu padas.

“Apakah aku memang sudah mati,” berkata Ki Gede di dalam hati. “Dan yang berjanggut putih ini adalah ujud-ujud aneh di akhirat?”

Namun ketika ia perlahan-lahan menggerakkan kepalanya, maka dilihatnya wajah anak laki-lakinya, Wiradana.

“Wiradana,” perlahan sekali terdengar Ki Gede berdesis.

Namun Wiradana yang dengan sungguh-sungguh memperhatikan perkembangan ayahnya itu mendengarnya. Karena itu, maka ia pun semakin dekat sambil menjawab, “Ya

ayah. Ini aku Wiradana.”

Ki Gede mencoba menarik nafas panjang. Tetapi terasa pusat dadanya masih pedih bagaikan tertusuk duri.

Namun kemudian terdengar Ki Gede itu berdesah, “Aku sekarang berada dimana Wiradana? Apakah aku masih tetap hidup?” “Ya ayah,” jawab Wiradana, “Ayah masih tetap hidup. Ayah sekarang berada dirumah.”

“O,” Ki Gede menyeringai menahan sakit diseluruh tubuhnya, “Jadi aku masih tetap hidup?”

“Ya ayah. Seseorang telah menolong ayah,” jawab Wiradana.

“Siapa? Bukankah aku telah terkena racun yang tidak dapat diobati? Obat penangkal racun yang aku bawa ternyata tidak berhasil melawan racun yang sangat kuat, yang terdapat pada ujung keris Gonggang Wirit,” desis Ki Gede.

Wiradana termangu-mangu. Ia memang belum bertanya, siapakah sebenarnya orang tua yang telah menolong ayahnya itu.

Karena itu, maka baru kemudian ia bertanya, “Siapakah sebenarnya Kiai ini?”

Orang tua itu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya, “Aku penghuni sebuah padepokan yang terpencil, Ki Gede. Aku tinggal bersama seorang yang masih terhitung kadangku sendiri, yang sekarang ikut bersamaku ini, serta seorang cucuku perempuan. Yang sudi menyebut namaku adalah Kiai Badra.”

“Kiai telah menolong aku?” bertanya Ki Gede.

“Secara kebetulan kami berdua menemukan Ki Gede terbaring. Menilik keadaan Ki Gede, maka agaknya Ki Gede telah terkena racun yang luar biasa, sehingga obat yang agaknya telah Ki Gede telan sebelumnya tidak berhasil menahan kekuatan racun itu selain menghambatnya.”

“Terima kasih,” suara Ki Gede masih sendat. Tetapi jelas terdengar.

“Sementara ini silakan Ki Gede beristirahat sebaik-baiknya. Mudah-mudahan keadaan Ki Gede akan menjadi semakin baik,” berkata Ki Badra itu.

Ki Gede menarik nafas. Dadanya masih terasa sakit. Tetapi peredaran pernafasannya terasa menjadi semakin lapang.

Dalam pada itu, maka orang tua berjanggut putih yang bernama Ki Badra itu pun berkata, “Angger Wiradana. Terserah kepada angger. Di banjar padukuhan di dekat Kali Pideksa terdapat mayat yang mungkin sebagaimana disebut oleh angger sebagai Kalamerta. Mayat itu dapat diselenggarakan sebagaimana seharusnya.”

“Baik Kiai. Kami akan mengubur mayat itu baik-baik,” jawab Wiradana.

Namun sementara itu, Kiai Badra pun berkata, “Tetapi sayang sekali ngger, bahwa aku tidak dapat terlalu lama berada di tempat ini. Aku akan segera minta diri.”

“Kenapa terlalu tergesa-gesa,” bertanya Wiradana, “Aku mohon agar Kiai bersedia tinggal disini untuk sementara sampai keadaan ayah menjadi semakin baik.”

“Aku akan meninggalkan obat untuk kesembuhan Ki Gede, ngger. Tetapi aku tidak akan dapat tinggal lebih lama lagi. Aku telah meninggalkan cucuku, seorang gadis yang mungkin akan menjadi ketakutan jika aku terlalu lama pergi,” jawab Ki Badra.

“Apakah tidak ada orang lain di padepokan Kiai? Mungkin para cantrik atau putut?” bertanya Wiradana.

Tetapi Kiai Badra menggeleng. Katanya, “Aku hanya mempunyai seorang cantrik yang kebetulan adalah masih ada hubungan darah. Dan sekarang ia berada disini pula, sehingga cucuku itu benar-benar hanya seorang diri.”

Wiradana termangu-mangu. Sementara itu, Ki Gede yang juga mendengar pembicaraan itu berdesis, “Kiai jangan pergi.”

“Maaf Ki Gede,” jawab Kiai Badra. “Aku tidak sampai hati untuk meninggalkan cucuku terlalu lama. Nanti, pada saat lain, mungkin dua atau tiga hari lagi aku akan datang. Kecuali untuk melihat kesehatan Ki Gede, aku akan membawa obat lagi seandainya obat yang aku tinggalkan nanti sudah habis.”

Dahi Ki Gede nampak berkerut. Ketika ia ingin beringsut, ternyata ia memerlukan bantuan Wiradana.

“Kiai,” berkata Ki Gede itu kemudian, “Jika cucu Kiai itu memang tidak ada kawannya di padepokan, biarlah ia dibawa kemari. Biarlah cantrik Kiai yang seorang itu menjemputnya.”

Ki Badra termangu-mangu sejenak. Dipandanginya laki-laki yang mengikutinya itu.

Namun kemudian katanya, “Aku mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya jika Ki Gede memperkenankan aku membawa cucuku ke rumah ini.

Tetapi biarlah aku sendiri menjemputnya, sementara cantrikku ini akan tinggal disini. Ia akan dapat memberikan pengobatan sebaik-baiknya, jika aku sudah menyediakan obatnya. Ia sudah memiliki pengalaman yang cukup karena ia terlalu sering melihat dan membantu aku mengobati orang sakit.”

Ki Gede mengerutkan keningnya. Namun ia pun kemudian berdesis menahan sakit.

Baru kemudian katanya, “Baiklah Kiai. Jika demikian silakan. Tetapi Kiai jangan terlalu lama pergi.”

“Aku akan berusaha secepatnya kembali Ki Gede. Aku akan berada disini sampai keadaan Ki Gede menjadi baik,” berkata orang tua berjanggut putih.

“Jika demikian, apakah Kiai memerlukan kuda?” bertanya Wiradana.

“Tidak. Tidak ngger. Biarlah aku berjalan kaki saja,” jawab orang tua itu, lalu, “Tetapi tolong selain menyelenggarakan mayat orang yang mungkin adalah Kalamerta itu, kembalikan pedati yang aku bawa untuk membawa Ki Gede itu kepada pemiliknya. Aku tidak tahu siapakah namanya. Ia tinggal di padukuhan itu pula. Aku meminjamnya untuk membawa Ki Gede agar tidak terlalu mengganggu keadaan tubuhnya yang sangat lemah itu.”

“Baik Kiai,” jawab Wiradana. “Aku akan segera mengembalikannya.”

Demikianlah, maka orang tua itu pun segera minta diri, sementara laki-laki yang disebut cantriknya itu pun telah ditinggalkannya, untuk membantu merawat Ki Gede Sembojan.

“Siapa namamu Ki Sanak?” bertanya Wiradana kepada orang itu.

“Gandar,” jawab orang itu singkat.

Wiradana mengangguk kecil. Hampir tidak didengar orang lain ia mengulang, “Gandar.”

Dengan demikian, maka sepeninggal orang tua berjanggut putih itu, Gandarlah yang menunggui Ki Gede bersama Wiradana. Dengan sungguh-sungguh Gandar selalu memperhatikan keadaan Ki Gede. Dilakukannya sebagaimana pesan Kiai Badra dengan sebaik-baiknya.

Karena itulah, maka keadaan Ki Gede memang berangsur-angsur baik. Di hari pertama, maka Ki Gede sudah dapat menelan titik-titik air yang diteteskan di bibirnya. Dengan demikian maka keadaannya pun berangsur menjadi segar.

Wiradana dan orang-orang Sembojan pun menjadi semakin berpengharapan. Meskipun

Ki Gede masih berada di pembaringannya, dan masih belum mampu bangkit untuk duduk, namun wajahnya sudah berangsur nampak menjadi merah. Noda-noda yang kebiru-biruan ditubuhnya tidak lagi bertambah mekar.

Ketika malam kemudian turun, maka Wiradana pun telah memanggil beberapa orang untuk mendengarkan laporan tentang Kalamerta yang berada di banjar padukuhan di ujung Tanah Perdikan. Dari beberapa pengawal Wiradana mendapat keterangan bahwa ada sesuatu peristiwa yang penting.

“Tetapi semua pengawal Tanah Perdikan harus selalu bersiap-siap,” berkata Wiradana. “Gonggang Wirit yang dikenal bernama Kalamerta itu mempunyai pengikut yang kuat. Jika mereka menjadi marah atas kematian pemimpinnya, maka mereka akan dapat berbuat apa saja diluar dugaan kita.”

“Kami selalu bersiaga,” jawab pemimpin pengawal Tanah Perdikan Sembojan. “Setiap saat anak-anak kami dapat dikerahkan.”

“Terima kasih,” berkata Wiradana. “Meskipun agaknya gerombolan yang sudah kehilangan pemimpinnya itu tidak akan segarang sebelumnya pada saat Kalamerta masih memimpin mereka.”

“Tetapi dapat juga sebaliknya,” jawab pemimpin pengawal. “Kematian pemimpinnya, membuat mereka menjadi gila dan berbuat apa saja diluar batas-batas peradaban manusia.”

Wiradana mengangguk-angguk. Katanya, “Ya. Memang mungkin. Sebaiknya kita memang harus bersiap-siap.”

Pemimpin pengawal itu pun kemudian meninggalkan Wiradana. Dengan para pemimpin pengawal di padukuhan-padukuhan yang termasuk dalam daerah Tanah Perdikan Sembojan, ia telah mengadakan satu pembicaraan untuk menanggapi kemungkinan yang dapat terjadi.

Sebenarnyalah, bahwa kematian Gonggang Wirit yang juga disebut Kalamerta itu sudah sampai ke telinga para pengikutnya. Kemarahan yang luar biasa telah membakar jantung mereka. Seorang yang paling mendapat kepercayaan dari Gonggang

Wirit dengan serta merta telah mengangkat dirinya menjadi pemimpin gerombolan Kalamerta itu.

“Kita akan menghancurkan Tanah Perdikan Sembojan,” berkata orang itu, orang yang bertubuh tinggi kekar dan berambut ikal.

“Tetapi kita sudah kehilangan pemimpin kita,” desis seorang pengikutnya.

“Tanah Perdikan Sembojan sudah kehilangan pemimpinnya, setidak-tidaknya untuk sementara. Ki Gede Sembojan dalam keadaan luka parah, sehingga ia tidak akan turun ke medan. Tanpa Ki Gede, maka Sembojanpun tidak memiliki kekuatan yang cukup untuk melawan kita,” berkata orang bertubuh kekar itu. “Kita akan menghancurkan Sembojan dan membakarnya menjadi karang abang, setelah itu kita

mengambil semua kekayaan yang ada di Tanah Perdikan itu. Kita juga akan membunuh Ki Gede yang sedang terluka parah itu. Kematian pemimpin kita harus ditebus dengan sangat mahal oleh orang-orang Tanah Perdikan Sembojan.”

Para pengikut Kalamerta itu mengangguk-angguk. Sebagian terbesar dari mereka sependapat dengan orang yang bertubuh tinggi dan kekar itu, agar mereka menghancurkan Tanah Perdikan Sembojan setelah mereka mengambil semua kekayaan yang ada di Tanah Perdikan itu.

“Kapan kita akan melakukannya?” bertanya salah seorang di antara pera pengikut Kalamerta itu, “Malam nanti?”

“Jangan tergesa-gesa. Hari ini seluruh Tanah Perdikan itu tentu sedang mempersiapkan diri. Kita akan menunggu dua tiga hari. Jika mereka lengah, maka kita akan menyergap. Meskipun kita tidak gentar melawan para pengawal yang kehilangan pemimpinnya itu dalam kekuatan puncak mereka. Tetapi sebaiknya kita juga memperhitungkan korban di pihak kita sendiri. Kita dapat menghancurkan Tanah Perdikan itu dengan korban yang sekecil-kecilnya,” jawab orang bertubuh kekar itu.

Kawan-kawannya mengangguk-angguk. Ternyata orang yang bertubuh kekar itu mempunyai perhitungan yang mapan dan mampu menahan gejolak perasaannya. Sehingga karena itulah, maka para pengikut Kalamerta itu harus bersabar untuk beberapa hari. Namun demikian, setiap hari dua atau tiga orang di antara mereka telah keluar dari persembunyian mereka, turun ke daerah Tanah Perdikan untuk mengamati keadaan.

Namun dalam pada itu, anak-anak muda Sembojan ternyata tidak pernah lengah.

Setelah dua hari dari peristiwa yang terjadi di ujung Kali Pideksa itu,

anak-anak muda Sembojan justru memperketat penjagaan mereka. Gardu-gardu setiap malam dipenuhi oleh anak-anak muda, sementara para pengawal yang terlatih telah bersiap di banjar-banjar. Jika terjadi sesuatu dimana pun juga, mereka siap untuk bertindak.

Meskipun kesiagaan itu tidak lepas dari pengamatan para pengawas yang dikirim oleh gerombolan Kalamerta, namun akhirnya orang bertubuh tinggi kekar itu mempunyai pertimbangan lain.

“Kita tidak dapat menunggu lebih lama lagi,” berkata orang bertubuh tinggi kekar itu. “Jika dalam dua hari lagi, kesiagaan mereka tidak menurun, maka kita harus bertindak. Aku kira, meskipun mereka mengerahkan segenap pengawal dan anak-anak muda yang ada di Tanah Perdikan, mereka tidak akan dapat melawan kekuatan kita.

Meskipun jumlah kita jauh lebih sedikit, tetapi kita mempunyai pengalaman yang jauh lebih banyak. Kita akan menghancurkan padukuhan demi padukuhan. Selagi padukuhan itu memanggil para pengawal dari padukuhan lain, kita sudah selesai dengan penghancuran para pengawal di padukuhan itu.”

“Dan kita masih sibuk merampok semua harta benda yang ada di tempat itu,”

berkata yang lain.

“Tidak. Kita tidak akan merampok pada hari yang sama. Kita akan menghancurkan padukuhan demi padukuhan,” berkata orang bertubuh tinggi itu, “Baru kemudian setelah Tanah Pardikan itu tidak mempunyai kekuatan, kita akan merampok.”

Tetapi seorang yang berumur lebih tua dari orang bertubuh tinggi itu berkata, “Kita jangan lengah. Jika hal ini telah didengar oleh Adipati Pajang, maka mereka akan dapat mengirim pasukan kemari.”

Orang bertubuh tinggi itu mengerutkan keningnya sambil mengangguk-angguk.

Katanya, “Kau benar. Karena itu, maka kita akan melihat keadaan. Kapan kita akan merampok. Tetapi seandainya prajurit-prajurit dari Kadipaten Pajang itu datang, apalagi dari Demak, maka kita akan meninggalkan tempat ini. Meksipun seandainya kita tidak mendapat apa-apa, kita sudah dapat membalaskan dendam kematian pemimpin kita. Syukurlah jika kita sempat membunuh Ki Gede yang sudah tidak berdaya itu.”

Kawan-kawannya pun mengangguk-angguk. Agaknya demikianlah yang akan dapat mereka lakukan atas Tanah Pardikan yang telah membunuh pemimpin mereka yang sangat mereka banggakan. Kalamerta, orang yang sebelumnya dianggap memiliki kemampuan yang tidak ada batasnya. Namun yang dalam parang tanding melawan Ki Gede Sembojan telah terbunuh di arena.

Dalam pada itu, sebagaimana mereka memperhitungkan sebelumnya, maka dalam waktu dua hari lagi, kesigapan anak-anak muda Sembojan sama sekali tidak mengendor.

Gerdu-gardu masih tetap penuh setiap malam, dan banjar-banjar pun tidak pernah kosong oleh para pengawal yang siap dengan senjata-senjata mereka.

Sementara itu, keadaan Ki Gede menjadi berangsur baik. Wajahnya tidak lagi pucat, karena darahnya telah mengalir sewajarnya.

Namun demikian, Ki Gede masih tetap berbaring ditempatnya. Ia masih belum dapat bangkit untuk duduk. Anggota badannya masih terasa sangat lemah.

Pada hari keempat, obat yang ditinggalkan oleh Kiai Badra telah hampir habis seluruhnya. Gandar yang setiap hari merawat Ki Gede sudah mulai gelisah. Jika Kiai Badra tidak segera datang, Maka ia akan kehabisan obat, sementara keadaan Ki Gede masih sangat lemah.

Namun dalam pada itu, ternyata bahwa Kiai Badra tidak melupakan janjinya. Pada saat obat yang ditinggalkan bagi Ki Gede sudah habis, maka Kiai Badra telah datang bersama cucunya perempuan, seorang gadis yang sudah meningkat dewasa.

Gandar yang menyabut kedatangan Kiai Badra itu menarik nafas dalam-dalam sambil berkata, “Aku sudah gelisah Kiai.”

“Aku sebenarnya ingin datang lebih cepat,” berkata Kiai Badra. “Tetapi adikmu telah menghambat keberangkatanku sehari.”

Gandar memandang wajah cucu perempuan Kiai Badra itu. Kemudian sambil tersenyum ia berkata, “Kau merajuk?”

Gadis itu tidak menjawab. Tetapi kepalanya tertunduk dalam-dalam.

“Marilah,” Wiradana mempersilakan.

Kiai Badrapun kemudian naik ke pendapa. Sementara itu, Wiradana telah memerintahkan untuk membersihkan gandok sebelah kiri karena untuk sementara Kiai Badra akan tinggal di Kabuyutan itu bersama Gandar dan cucunya.

Setelah beristirahat sejenak, dan setelah mereka minum air panas dengan hidangan beberapa potong makanan, maka Kiai Badra pun dipersilakan untuk melihat Ki Gede, sementara cucu perempuannya dipersilakan untuk beristirahat di gandok sebelah kiri.

“Hampir saja aku gagal mengajaknya,” berkata Kiai Badra kepada Gandar.

“Aku memang sudah mengira,” jawab Gandar.

“Untunglah, akhirnya ia mau juga ikut bersamaku,” berkata Kiai Badra kemudian, “Tetapi hanya untuk dua tiga hari.”

Demikianlah, sejenak kemudian, maka bersama Wiradana dan Gandar, Kiai Badra telah memasuki bilik Ki Gede yang masih saja terbaring di pembaringannya.

“Selamat datang Kiai,” desis Ki Gede yang melihat kehadiran orang berjanggut putih itu.

“Selamat Ki Gede,” jawab Kiai Badra. “Bagaimana keadaan Ki Gede?”

“Sebagaimana Kiai lihat, aku sudah berangsur baik. Tetapi aku masih belum dapat bangkit Kiai. Rasa-rasanya tubuhku telah kehilangan segenap urat nadinya dan bahkan tulang-tulangnya,” jawab Ki Gede.

Kiai Badra mengerutkan keningnya. Sepercik kecemasan melonjak didadanya. Namun demikian, ia sama sekali masih belum mengatakan sesuatu sebelumnya ia melihat keadaan Ki Gede.

Sejenak kemudian, maka Kiai Badra pun mulai meraba tubuh Ki Gede yang sudah menjadi hangat kembali. Namun demikian, ada sesuatu yang membuat jantung Kiai Badra berdegup semakin keras.

Perlahan-lahan Kiai Badra mengangkat tangan Ki Gede, menggerakkan pergelangannya dan kemudan menekuk sikunya perlahan-lahan. Demikian pula atas kaki Ki Gede yang ternyata masih belum dapat digerakkan sama sekali.

Wajah Ki Badra menjadi tegang. Dipandanginya Ki Gede yang terbaring itu. Tetapi untuk beberapa saat ia masih tetap berdiam diri.

“Bagaimana Kiai?” bertanya Ki Gede.

Kiai Badra tidak segera menjawab. Terasa sesuatu telah tertahan didalam hatinya.

Ternyata Ki Gede melihat kegelisahan di wajah orang tua itu. Karena itu, maka katanya, “Kiai. Katakan apa yang Kiai ketahui. Kiai tidak usah menjadi ragu-ragu. Aku bukan kanak-kanak lagi, yang mungkin akan mengingkari satu kenyataan yang harus disandang. Tetapi aku sudah cukup tua mengalami apapun yang telah terjadi atas diriku sebagai satu kenyataan.”

Kiai Badra menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian katanya, “Ki Gede.

Sebenarnya terlalu berat bagiku untuk mengatakannya tentang keadaan Ki Gede.”

“Katakan Kiai, bahkan seandainya aku mati sekalipun,” desis Ki Gede. Tetapi Kiai Badra menggeleng. Katanya, “Agaknya Yang Maha Murah masih memperkenankan Ki Gede untuk tetap menjadi pemimpin Tanah Perdikan ini untuk beberapa lama lagi. Namun ada sesuatu yang pantas Ki Gede ketahui. Aku mohon Ki Gede dapat menerimanya dengan sikap dewasa, karena menurut pendapatku, semakin cepat Ki Gede mengetahui, akibatnya akan menjadi semakin baik.”

Ki Gede menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Baiklah Kiai. Katakanlah.”

Kiai Badra merenung sejenak. Namun kemudian katanya, “Ki Gede. Kita memang wenang untuk berusaha. Tetapi segalanya terserah kepada Yang Maha Agung.

Sebagaimana kita sudah berusaha bagi kesembuhan Ki Gede. Tetapi segala sesuatunya terserah kepada Yang Maha Bijaksana.”

“Apa yang akan terjadi Kiai?” bertanya Ki Gede, “Apakah aku akan segera mati?”

“Tidak Ki Gede. Menilik perkembangan keadaan Ki Gede serta keadaan tubuh Ki Gede, maka Ki Gede agaknya akan sembuh, jika tidak terdapat keadaan yang sangat khusus,” jawab Ki Badra. Lalu, “Tetapi ternyata bahwa terdapat kelainan pada tangan dan kaki Ki Gede, yang nampaknya mengalami suatu keadaan yang kurang sewajarnya”

Wajah Ki Gede menegang sejenak. Kemudian dengan nada dalam ia bertanya, “Maksud Kiai, apakah aku akan lumpuh?”

Kiai Badra tidak segera menjawab. Tetapi kemudian katanya, “Ki Gede. Agaknya memang demikian. Tetapi menurut pengamatanku, kelumpuhan Ki Gede bukan kelumpuhan mutlak. Mungkin Ki Gede masih akan dapat berjalan dan menggunakan tangan, sebagaimana anggota badan Ki Gede yang lain. Tetapi tangan dan kaki Ki Gede tidak akan mempunyai kekuatan sewajarnya.”

Ki Gede menarik nafas dalam-dalam. Dengan sendat ia berkata, “Aku mengerti, Kiai. Racun dari pusaka Gonggang Wirit itu telah melenyapkan segenap kemampuan ilmuku, karena kelemahan anggota badanku, sehingga kemudian aku tidak akan lebih dari sesosok golek yang terbuat dari daging dan tulang tanpa dapat berbuat apa-apa.”

Ki Badra tidak menyahut. Tetapi sebenarnyalah, bahwa Ki Gede menurut pengamatan Kiai Badra akan mengalami kesulitan dengan ilmunya, karena anggota badannya akan menjadi sangat lemah.

“Baiklah Kiai,” berkata Ki Gede kemudian, “Biarlah aku masih tetap mengucapkan terima kasih bahwa aku tidak mati. Meskipun aku tidak akan memiliki ilmuku sebagaimana sebelumnya, namun aku masih mampu berbuat sesuatu.”

“Ya Ki Gede,” jawab Kiai Badra kemudian, “Sebenarnyalah bukan ilmu Ki Gede yang akan hilang dan tidak dapat Ki Gede kuasai lagi. Tetapi anggota badan Ki Gede sebagai alat untuk mengungkapkan ilmu itu tidak lagi memadai. Dengan demikian Ki Gede masih akan tetap memiliki kemampuan untuk memberikan petunjuk dan pengarahan kepada angger Wiradana, agar angger Wiradana mampu menguasai seluruh kemampuan Ki Gede.”

Ki Gede mengangguk-angguk kecil. Dipandanginya Wiradana sambil berkata, “Kau dengar Wiradana. Karena itu, maka satu-satunya harapanku adalah kau.”

Wiradana menundukkan kepalanya. Ada semacam kegelisahan di dalam hatinya, justru karena ayahnya akan kehilangan kesempatan untuk memiliki kembali semua ilmunya, karena tidak ada lagi dukungan wadagnya.

“Tetapi menurut ayah, aku harus berusaha untuk memiliki semua ilmunya,” berkata Wiradana di dalam hatinya.

Untuk sejenak, bilik itu dicengkam oleh keheningan. Ki Gede yang terbaring itu menatap langit-langit di atas pembaringannya dengan kegelisahan yang menghentak-hentak di dadanya. Namun kemudian, Ki Gede itu pun berhasil menguasai perasaannya. Seperti yang dikatakan, akhirnya ia masih juga mengucapkan syukur, bahwa ia masih tetap hidup dan mendapat kesempatan untuk membuat anak

laki-lakinya menjadi lebih baik dan menuntunnya dalam memimpin Tanah Perdikan Sembojan yang besar itu Karena itu, maka yang mula-mula memecahkan keheningan itu adalah Ki Gede sendiri, “Kiai. Jika demikian maka aku akan tetap mengharap, agar untuk sementara Kiai tetap berada di Tanah Perdikan ini. Selain dengan demikian Kiai dapat menolong keadaanku, mungkin Kiai akan dapat menolong aku pula, menyempurnakan ilmu Wiradana.”

“Maksud Ki Gede ilmu kanuragan?” bertanya Kiai Badra.

“Ya,” jawab Ki Gede.

Tetapi Kiai Badra itu pun menggeleng. Katanya, “Maaf Ki. Aku sama sekali tidak bersentuhan dengan ilmu kanuragan.”

Ki Gede menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia tidak mengatakan sesuatu.

Dengan demikian, maka Kiai Badra pun kemudian berkata, “Sudahlah Ki Gede, silakan beristirahat sebaik-baiknya. Aku pun akan beristirahat di gandok. Cucuku kini telah berada disini pula.”

“Syukurlah Kiai,” jawab Ki Gede. “Mudah-mudahan ia kerasan tinggal disini.”

Demikianlah, Kiai Badra itu pun meninggalkan Ki Gede berbaring di dalam biliknya. Wiradana yang mengikutinya dengan nada gelisah bertanya, “Apakah ayah benar-benar tidak akan mampu berbuat apa-apa lagi dalam olah kanuragan?”

“Bukan tidak dapat berbuat apa-apa lagi, ngger. Tetapi kemampuan wadagnya akan sangat terbatas. Karena itu, maka aku ingin mempersilakan angger untuk mengambil alih segala sesuatunya. Dengan demikian yang akan memperingan perasaan ayah angger, angger memiliki kemampuan sebagaimana ayah angger, maka Ki Gede tentu akan merasa seakan-akan kemampuan dirinya telah pulih kembali, meskipun dengan mempergunakan harapannya,” jawab Kiai Badra.

Wiradana mengangguk-angguk. Ia mengerti maksud Ki Badra. Namun akan berarti ia harus bekerja sangat berat.

“Angger Wiradana,” berkata Kiai Badra kemudian, “Dalam keadaan wajar, bukankah Ki Gede pada satu saat tentu akan meninggalkan angger juga? Ki Gede tentu akan meninggalkan Tanah Perdikan ini pula untuk selama-lamanya? Bukankah dalam keadaan yang demikian angger juga yang harus bangkit untuk menerima semua tugas dan kewajiban Ki Gede atas Tanah Perdikan ini?”

Wiradana mengangguk-angguk. Katanya, “Aku mengerti Kiai.”

“Nah. Agaknya segalanya memang harus dipercepat. Tetapi seperti ayah angger, maka angger dapat bersyukur, sementara ini ayah masih dapat menuntun angger.

Baik dalam olah kanuragan, maupun dalam memimpin Tanah Perdikan ini.”

“Ya, ya Kiai,” jawab Wiradana. “Aku akan mencobanya.”

“Angger tentu akan dapat melakukannya,” berkata Kiai Badra sambil tersenyum.

“Bukankah sekarang angger sudah memiliki modal untuk itu. Angger sudah memiliki kemampuan dalam olah kanuragan, sementara itu angger pun telah mulai ikut dalam mengatur pemerintahan di Tanah Perdikan ini.”

Wiradana mengangguk-angguk. Tetapi yang terbayang adalah beban yang akan diletakkan dipundaknya.

Demikianlah, maka dari hari ke hari Kiai Badra masih berusaha untuk berbuat

sesuatu atas Ki Gede. Namun kemampuannya memang terbatas sebagaimana orang lain dalam keterbatasannya masing-masing.

Karena itu, Kiai Badra tidak dapat berbuat apa-apa juga atas kemungkinan yang buruk pada anggota badan Ki Gede Sembojan. Namun setidak-tidaknya Kiai Badra akan dapat mengurangi kemungkinan kelumpuhan mutlak.

Namun dalam pada itu, ternyata para pengikut Kalamerta yang kehilangan pemimpinnya sudah tidak sabar lagi. Mereka benar-benar sudah siap untuk menyerang Tanah Perdikan Sembojan.

Tetapi orang yang bertubuh tinggi kekar yang memimpin gerombolan Kalamerta itu cukup cerdik. Ia tidak akan melawan seluruh kekuatan Tanah Perdikan Sembojan.

Karena itu, maka ia telah membuat rencana sebaik-baiknya. Gerombolan Kalamerta akan menghancurkan padukuhan demi padukuhan.

Tetapi yang terjadi adalah tidak seperti yang dikehendaki oleh orang bertubuh tinggi itu. Adalah satu kecelakaan bahwa Wiradana sendiri yang kebetulan berada disebuah kedai itu dalam pasar yang ramai telah melihat orang yang agak mencurigakan. Dua orang yang bertubuh besar dan berwajah keras. Tingkah laku mereka sama sekali tidak mencerminkan tingkah laku orang-orang Sembojan atau Kademangan disekitarnya.

Tetapi Wiradana tidak tergesa-gesa bertindak atas mereka. Bahkan Wiradana berusaha untuk dapat duduk didekat mereka dan mulai bercakap-cakap.

“Apakah Ki Sanak orang Sembojan?” bertanya Wiradana.

“Kau orang mana?” salah seorang dari keduanya bertanya.

“Aku orang Keduwung,” jawab Wiradana.

“Kenapa kau sampai ke Sembojan?” bertanya orang itu.

“Aku seorang pedagang wesi aji,” jawab Wiradana yang kemudian memesan tuak.

“Beri aku tuak,” minta Wiradana.

Pemiliki warung itu heran. Wiradana tidak pernah memesan tuak. Tetapi dengan matanya Wiradana sempat memberi isyarat, sehingga pemilik warung itu pun kemudian memberikan sebumbung tuak aren yang keras.

“He, kau pernah minum tuak?” bertanya Wiradana.

Kedua orang itu mengerutkan keningnya. Tuak adalah jenis minuman yang sangat menarik bagi mereka. Tetapi sudah beberapa lama mereka tidak sempat minum tuak, karena selama mereka berada di Tanah Perdikan Sembojan, mereka tidak mendapat kesempatan untuk membelinya. Selain mereka belum tahu dimana mereka mendapatkan, juga uang yang mereka bahwa memang sangat terbatas. Apalagi sebelum mereka berhasil mendapatkan sesuatu pemimpin mereka, Kalamerta sudah terbunuh.

“Marilah,” berkata Wiradana, “Orang-orang Keduwung memang senang minum arak. Adalah perlambang laki-laki bagi siapa yang dapat menelan tuak paling banyak.”

Kedua orang itu tidak menjawab. Tetapi ketika Wiradana menuang tuak itu kebumbung-bumbung kecil, maka keduanya telah meneguknya sampai kering.

Tetapi Wiradana tidak tinggal diam. Dengan cepat ia menuangkan lagi sehingga bumbung-bumbung itu menjadi penuh kembali.

Agar orang-orang itu tidak menjadi curiga, maka Wiradana yang tidak terbiasa minum tuak itu pun telah membasahi mulutnya dengan tuak pula. Bahkan ia pun pura-pura telah meneguk, beberapa bumbung pula.

Ternyata bahwa usaha Wiradana berhasil. Perlahan-lahan kedua orang itu mulai mabuk. Sementara itu Wiradana telah memerintahkan kepada pemilik kedai untuk menutup saja pintu kedainya untuk sementara.

“Aku akan berbicara dengan mereka,” berkata Wiradana.

Pemilik kedai itu tahu pasti niat Wiradana. Tetapi ia menurut saja apa yang diperintahkannya.

Dalam keadaan mabuk itulah Wiradana bertanya kepada keduanya. Siapakah mereka sebenarnya.

Tanpa dapat menahan dan mencegah diri mereka maka keduanya pun telah mengatakan rencana mereka.

“Tanah Perdikan ini akan kami hancurkan,” berkata salah seorang dari mereka.

“Bagus,” sahut Wiradana, “Aku akan membantu. Tetapi siapakah kalian?”

“Kami adalah orang-orang yang harus mengamati perkembangan Tanah Perdikan ini. Kami adalah pengikut Kalamerta yang terbunuh. Dan kami sedang menyiapkan rencana untuk membalas dendam.”

Keduanya juga mengatakan, bahwa mereka sedang mengamati padukuhan terpenting selain padukuhan induk di Tanah Perdikan itu. Padukuhan itulah yang akan menjadi sasaran pertama. Kemudian padukuhan-padukuhan yang lain pula.

Wiradana berhasil menyadap beberapa keterangan penting tentang kedua orang itu dan seluruh gerombolan Kalamerta. Tetapi ia bertindak cerdik. Wiradana tidak menangkap kedua orang itu. Tetapi ia membiarkan saja kedua orang itu kembali ke gerombolannya.

Ketika keduanya mulai sadar, maka mereka berusaha untuk mengenali keadaan sekitarnya. Ternyata orang yang menyebut dirinya orang Keduwung itu sudah tidak ada ditempatnya. Yang ada adalah justru dua orang lain yang agaknya baru saja masuk.

“He,” salah seorang dari kedua orang yang mabuk itu memanggil pemilik kedai,

“Dimana orang Keduwung itu?”

“Orang itu telah dilempar keluar dari pasar oleh orang-orang disekitar warung ini,” jawab pemilik kedai itu.

“Kenapa?” bertanya orang yang baru sadar itu.

“Orang itu mabuk. Seperti juga kalian. Tetapi kalian berdua langsung saja tidur, meskipun cukup lama sehingga pasar ini sudah sepi, jawab pemilik kedai itu.

Tetapi orang Keduwang itu akan mengamuk. Hampir saja warung ini akan menjadi berantakan karena ulahnya.”

Kedua orang itu menarik nafas dalam-dalam. Ketika mereka menengok keluar, ternyata pasar sudah sepi. Matahari pun telah melampaui titik puncak dilangit.

“Agaknya aku cukup lama tidur disini,” gumam salah seorang dari kedua orang yang mabuk itu.

“Ya,” jawab pemilik kedai, “Kalian berdua telah mempergunakan dua dingklik di warung ini, sehingga orang-orang lain yang akan membeli makanan di warung ini tidak mendapat tempat selain pada satu dingklik disebelah.”

Orang yang masih sedikit pusing itu termangu-mangu. Namun terloncat pula kata-katanya, “Kami minta maaf. Tetapi orang Keduwung itu memang gila. Ia telah membuat aku mabuk, meski dirinya sendiri juga mabuk.”

“Bahkan nampaknya orang itu berbahaya,” sahut pemilik kedai.

“Kami minta diri,” berkata salah seorang dari kedua orang berwajah kasar itu, “Biarlah harga tuak itu dibayar oleh orang Keduwung itu jika ia datang kemari.”

Pemilik kedai itu mengerutkan keningnya. Dengan ragu-ragu ia bertanya, “Jadi aku harus menunggu orang Kademangan itu?”

“Bukankah ia yang memesan?” desis yang lain.

“Ya. Ya,” jawab pemilik warung itu, “Biarlah aku bertanya kepadanya. Ia sering datang kemari di hari pasaran.

Kedua orang itu pun kemudian meninggalkan kedai itu. Kepala mereka masih terasa pening. Namun salah seorang dari mereka ber0kata, “Untunglah kami langsung tertidur ketika kami menjadi mabuk, sehingga kami tidak berbicara tentang rencana yang akan kami lakukan atas Tanah Perdikan ini.”

“Tetapi orang Keduwung itu memang orang gila,” geram yang lain. “Untunglah bahwa ia pun mabuk dan bahkan dilemparkan keluar pasar. Jika ia memancing persoalan, dalam keadaan mabuk, kami pun akan dapat juga berbuat sesuatu yang tidak sewajarnya, sementara kami sedang mengemban tugas rahasia.”

Kawannya tidak menjawab. Tetapi keduanya merasa beruntung, bahwa tidak seorang pun yang mendengar sesuatu dari mulut mereka.

“Jika kami mengungkapkan rahasia kami, maka kami tentu sudah ditangkap oleh orang-orang Sembojan,” berkata mereka di dalam hati.

Namun dalam pada itu, segala rahasia itu telah didengar oleh Wiradana. Bahkan kemudian telah dilaporkannya kepada ayahnya yang masih saja terbaring di pembaringannya.

“Jadi kedua orang itu kau biarkan saja?” bertanya ayahnya.

“Ya ayah. Dengan demikian mereka akan merasa bahwa rahasia mereka masih belum kita ketahui,” jawab Wiradana.

“Bagus. Kau memang cerdik. Jika demikian, maka siapkan para pengawal. Menilik sikap mereka yang ingin menghancurkan padukuhan demi padukuhan, kekuatan mereka tidak akan mengimbangi seluruh kekuatan padukuhan-padukuhan Sembojan jika bergabung. Karena itu, jangan menunggu. Kalian yang harus pergi, kepada mereka, dengan mengerahkan segenap kekuatan yang ada di Tanah Perdikan ini.”

“Baik ayah. Menjelang fajar kami akan berangkat. Tepat pada saat matahari terbit kami akan menghancurkan mereka dan membebaskan Sembojan dari kemungkinan yang paling buruk,” desis Wiradana.

“Berhati-hatilah Wiradana. Ayah tidak dapat menyertaimu. Mudah-mudahan kau berhasil. Sebenarnyalah Tanah Perdikan ini selanjutnya akan banyak tergantung kepadamu,” berkata Ki Gede kemudian.

Wiradana pun kemudian telah minta diri kepada ayahnya untuk mempersiapkan segala sesuatunya, serta mohon doa restu, agar usahanya benar-benar akan berhasil.

Namun dalam pada itu, Wiradana telah mengajak Kiai Badra dan Gandar untuk ikut pula bersama pasukan itu.

“Kiai tidak usah ikut bertempur,” berkata Wiradana. “Tetapi jika terjadi

kesulitan yang gawat pada anak-anak Sembojan, Kiai akan dapat menolongnya dengan cepat tanpa menunggu membawa mereka kembali ke padukuhan induk ini.”

“Tetapi aku akan menjadi ketakutan,” berkata Kiai Badra. “Pertempuran tentu akan sangat mengerikan.”

“Sepuluh orang akan menjadi pelindung Kiai dan Gandar. Mereka tidak akan beranjak dari sisi Kiai apapun yang akan terjadi di peperangan itu,” jawab Wiradana.

Akhirnya Kiai Badra tidak menolak. Namun demikian, ada masalah yang harus diatasinya. Mula-mula cucunya berkeberatan ditinggalkan sendiri oleh kakeknya.

Tetapi akhirnya cucu perempuannya itu harus melepaskan Kiai Badra pergi.

Demikianlah, setelah semuanya dipersiapkan sebaik-baiknya tanpa banyak memberikan kesan yang mungkin dapat dilihat oleh pengamat yang dikirim oleh para pengikut Kalamerta, maka Wiradana pun menentukan, menjelang fajar di hari

berikutnya mereka akan berangkat.

Sesuai dengan keterangan kedua pengikut Kalamerta di dalam mabuknya, mereka telah bersembunyi di hutan yang tidak terlalu besar yang terpisahkan dari padukuhan di ujung Tanah Perdikan oleh bulak persawahan dan padang perdu yang gersang.

“Kita akan memasuki hutan itu disaat langit mulai menjadi merah. Kita akan menyerang mereka tepat pada saat matahari terbit,” berkata Wiradana kepada para pemimpin pengawal, “Aku sudah mendapat gambaran, dimana mereka membuat sarang.

Dalam mabuknya kedua orang itu telah memberikan petunjuk agak terperinci dengan ciri-ciri yang mudah dikenal. Kita, anak-anak Sembojan tentu mengenal hutan itu lebih baik dari para pengikut Kalamerta. Kita sering bermain-main di hutan semasa kecil. Menggembala di padang rumput dan mencari kayu bakar di pinggir hutan itu pula.”

DENGAN tekad yang bulat untuk menyelamatkan Tanah Perdikan mereka, maka anak-anak muda Sembojan dan para pengawal yang berpengalaman telah mempersiapkan diri sebaik-baiknya. Bukan saja kesiapan lahir, tetapi juga kesiapan batin.

“Yang ragu-ragu, tidak usah ikut,” berkata Wiradana.

Tetapi tidak ada seorang pun yang mengundurkan diri. Mereka semuanya sudah bertekad untuk menghancurkan para pengikut Kalamerta itu lebih dahulu sebelum mereka justru menghancurkan Tanah Perdikan Sembojan.

Menjelang keberangkatan pasukan Tanah Perdikan Sembojan itu, maka mereka telah berusaha untuk dapat beristirahat sebaik-baiknya, sehingga jika saatnya tiba, mereka akan dapat mempergunakan tenaga mereka sepenuhnya.

Sebagaimana mereka merencanakan, maka menjelang fajar pasukan Tanah Perdikan Sembojan sudah siap. Sementara itu telah terjadi kesibukan pula di dapur Ki Gede dan dibeberapa tempat yang lain untuk mempersiapkan makan pagi bagi mereka yang akan pergi ke hutan disebelah padang perdu.

Baru setelah segala persiapan tidak mengecewakan, maka Wiradana itu pun minta diri kepada ayahnya dipembaringannya.

“Sebentar lagi, langit akan menjadi merah ayah,” berkata Wiradana. “Kami akan berangkat. Sebelum matahari terbit, kami harus sudah mengepung sarang gerombolan Kalamerta itu dan kemudian menghancurkannya.”

“Pergilah. Berhati-hatilah menghadapi gerombolan itu,” pesan ayahnya. Demikianlah, sejenak kemudian maka sebuah iring-iringan yang panjang meninggalkan rumah Ki Gede Sembojan. Sementara kelompok yang lain telah berangkat dari banjar dan beberapa kelompok kecil dari padukuhan-padukuhan yang lain pula. Mereka telah menentukan satu tempat di sebuah pategalan, di pinggir padang perdu, untuk berkumpul sebelum mereka menyeberangi padang itu.

Dengan isyarat kentongan dalam nada yang tidak mencurigakan, maka kelompok-kelompok itu tahu pasti, kapan mereka harus berangkat. Karena itu, ketika mereka mendengar kentongan dalam nada daramuluk ganda, maka mereka pun segera menuju ketempat yang telah ditentukan.

Ternyata segalanya berlangsung sebagaimana direncanakan. Pada saat hari masih gelap, meskipun bayangan fajar telah nampak di langit, pasukan Tanah Perdikan yang cukup besar itu pun telah menyeberangi padang perdu. Untuk tidak menarik perhatian, seandainya secara kebetulan para pengikut Kalamerta yang mengawasi padang perdu itu, maka mereka telah berpencar. Dengan sangat hati-hati mereka berusaha untuk tetap berlindung oleh gerumbul-gerumbul liar yang tumbuh disana sini di padang itu.

Demikian pasukan itu sampai ketepi hutan, maka sebagaimana telah di atur oleh Wiradana, pasukan itu pun segera berpencar. Meskipun hari masih tetap gelap, tetapi mereka harus menemukan ciri-ciri dari arah yang harus mereka lalui.

Meskipun gerak pasukan itu menjadi lamban, tetapi kelompok-kelompok yang lebih kecil telah mencapai tempat-tempat yang sudah ditentukan. Sebenarnyalah, mereka menemukan apa yang dikatakan oleh Wiradana. Mereka telah menemukan gumuk-gumuk kecil disatu arah, sementara yang lain menemukan sebatang pohon raksasa yang dahannya telah patah di arah yang lain.

Dengan demikian, maka pasukan itu merasa, bahwa mereka telah menempatkan diri di tempat yang benar.

Yang harus mereka lakukan kemudian adalah menunggu saat matahari terbit yang akan mereka pergunakan sebagai ancar-ancar untuk mulai bergerak.

Ternyata bahwa waktu yang tidak panjang itu terasa sangat menegangkan.

Disela-sela pepohonan hutan yang tidak begitu lebat, mereka melihat langit menjadi semakin cerah. Sementara itu, lima orang di antara mereka menunggu dipinggir hutan, mengamati langit yang mulai dibayangi oleh cahaya matahari.

“Hanya tinggal menunggu sekejap lagi,” desis salah seorang di antara mereka.

“Ya. Lihat. Bayangan itu mulai nampak,” sahut yang lain.

“Nah, sekarang,” terdengar orang tertua di antara mereka memberi aba-aba.

Demikianlah, maka sejenak kemudian telah terdengar suara kentongan kecil yang dibawa oleh seorang dari mereka. Suara kentongan yang bernada tinggi itu telah menyusup di antara pepohonan dan dedaunan. Suaranya bergema memecah keheningan pagi di hutan yang sepi.

Anak-anak muda Sembojan dan para pengawal yang tegang, tiba-tiba saja telah bangkit. Mereka segera menarik senjata-senjata mereka dari sarungnya. Dengan jantung yang serasa berdegup semakin cepat mereka menunggu pemimpin-pemimpin kelompok mereka memberikan aba-aba.

Demikianlah sejenak kemudian aba-abapun telah mengumandang di dalam hutan itu.

Berbareng dengan itu, maka anak-anak muda Sembojan dan para pengawal itu pun telah dengan cepat melangkah maju ke sasaran.

Sebagaimana digambarkan oleh Wiradana, maka di dalam hutan itu memang terdapat beberapa buah gubug yang terpencar. Gubug yang dihuni oleh gerombolan Kalamerta yang ganas yang ditakuti oleh banyak orang dan telah membuat gelisah di beberapa tempat.

Kedatangan orang-orang Sembojan itu memang mengejutkan. Orang-orang yang berada di dalam gubug-gubug itu sama sekali tidak menyangka, bahwa justru orang-orang Sembojanlah yang telah menyerang mereka lebih dahulu. Karena itu, beberapa orang telah terbangun dan mendengar suara kentongan dan kemudian teriakan aba-aba para pemimpin kelompok, telah berteriak-teriak pula di dalam gubug mereka.

“Bangun,” teriak orang-orang yang mendengar kedatangan serangan yang tiba-tiba itu, “Cepat bangun jika kalian tidak ingin dibantai di pembaringan.”

Para pengikut gerombolan Kalamerta itu pun menjadi terkejut karenanya. Beberapa orang yang dengan tergesa-gesa bangkit dan tidak segera dapat menanggapi keadaan, sehingga seorang di antara mereka sempat bertanya, “Ada apa?”

“Cepat ambil senjatamu sebelum dipenggal kepalamu,” jawab kawannya.

Demikianlah, gubug-gubug itu pun menjadi riuh. Orang-orang yang ada di dalam gubug itu pun serentak menggapai senjata mereka tanpa dapat membenahi diri.

Dengan tergesa-gesa mereka berloncatan keluar dari gubug-gubug mereka menyongsong kedatangan anak-anak muda Sembojan.

Tetapi anak-anak muda Sembojan sudah terlalu dekat, sehingga karena itu, maka rasa-rasanya mereka menjadi kebingungan. Anak-anak muda itu datang dari segala penjuru, seakan-akan bermunculan dari setiap batang pohon disekitar gubug-gubug mereka.

Tetapi para pengikut Kalamerta adalah orang-orang yang penuh dengan pengalaman.

Hidup mereka selalu diwarnai oleh kekerasan, sehingga karena itu, maka mereka pun segera menyesuaikan diri dengan keadaan yang mereka hadapi.

Tiba-tiba saja para pengikut Kalamerta itu pun berteriak nyaring, menyambut kedatangan anak-anak muda Sembojan dan para pengawal dengan senjata mereka.

Ketika kedua belah pihak berteriak, maka suasana pun menjadi sangat gaduh. Namun segera senjata pun berdentangan.

Anak-anak Sembojan dan para pengawal Tanah Perdikan itu mempunyai kesempatan dan peluang yang lebih baik dari lawannya yang baru saja bangkit dari tidurnya.

Bahkan masih ada di antara mereka yang meloncat dari pembaringan dan berlari keluar sambil mengusap mata yang masih kabur.

SELAIN kesempatan yang lebih baik, jumlah anak-anak muda dan pengawal Tanah Perdikan Sembojan adalah jauh lebih banyak dari jumlah para perampok yang tinggal di gubug-gubug itu. Orang yang bertubuh tinggi dan kekar yang telah mengambil alih pimpinan gerombolan itu mengumpat-umpat dengan kasar. Ia pun tidak menyangka sama sekali, bahwa orang-orang Sembojan itu mengetahui persembunyian mereka dan bahkan telah datang menyerang dengan kekuatan yang tidak dapat diimbangi.

Kemarahan yang mencengkam jantungnya telah membuatnya bagaikan seekor harimau yang kelaparan. Senjatanya sebuah canggah bertangkai pendek menyambar-nyambar dengan dahsyatnya.

Namun sebenarnyalah lawan memang terlalu banyak. Sehingga bagi para perampok itu, hampir tidak ada kesempatan sama sekali untuk dapat menyelamatkan diri.

Dalam pada itu, Wiradana yang berdiri tegak sambil mengamati seluruh medan itu masih juga sempat berteriak, “Hancurkan mereka. Gerombolan itu adalah gerombolan yang paling ganas yang pernah disebut namanya. Ayah sudah membunuh pemimpinnya, sehingga karena itu, maka kalian harus menghancurkan sisanya.”

Anak-anak muda dan pengawal Tanah Perdikan Sembojan ternyata berbuat cepat dan sebaik-baiknya. Perlawanan orang-orang yang bersarang digubug itu tidak terlalu

berarti. Satu di antara mereka mengamuk dengan garangnya. Tetapi untuk menghadapi orang-orang yang demikian, maka dua atau tiga orang anak muda dan pengawal telah menghadapinya bersama-sama.

Terpisah dari pertempuran itu, Kiai Badra dan Gandar mengikuti hiruk pikuk itu dengan jantung yang berdebaran. Sepuluh orang pengawal Tanah Perdikan Sembojan menunggui mereka dengan senjata siap ditangan. Jika keadaan menjadi gawat, maka sepuluh orang itu telah siap untuk bertempur melindungi Kiai Badra yang hadir di pertempuran itu sambil membawa obat-obat yang mungkin diperlukan.

Sementara itu Wiradana masih sibuk meneriakkan aba-aba. Namun ketika ia melihat perlawanan para pengikut Kalamerta itu menjadi semakin lemah, maka ia pun kemudian berdiri sambil tertolak pinggang.

Di bibirnya membayang sebuah senyuman, sementara itu terdengar ia berdesis yang hanya dapat didengarnya sendiri, “Ayah, aku berhasil menghancurkan gerombolan

yang paling garang yang pernah disebut namanya di tlatah Pajang.”

Sebenarnyalah pada saat itu, anak-anak muda dan pengawal Sembojan benar-benar telah menguasai keadaan. Gerombolan Kalamerta tidak mempunyai kesempatan lagi untuk mempertahankan dirinya. Bahkan setiap orang di antara mereka, tidak mempunyai peluang untuk melindungi dirinya sendiri.

Karena itu, maka orang-orang yang tersisa di antara mereka, tidak dapat berbuat lain kecuali melarikan diri. Selagi ada kesempatan, tanpa menghiraukan kawan-kawan mereka, maka para pengikut Kalamerta itu telah bercerai berai untuk

mencari hidup masing-masing.

Tetapi anak-anak muda dan para pengawal Sembojan tidak melepaskan mereka begitu saja. Beberapa orang yang bernasib buruk, telah kehilangan kesempatan sama sekali ketika punggung mereka tertembus ujung tombak.

Namun akhirnya pertempuran yang terhitung singkat itu segera selesai. Sementara matahari pun sudah memanjat semakin tinggi.

Yang tinggal kemudian adalah tubuh-tubuh yang terkapar berlumuran darah.

“Kumpulkan kawan-kawan kita yang terluka,” teriak Wiradana kemudian.

Ternyata bahwa selain yang luka-luka, ada juga empat orang anak muda Tanah Perdikan Sembojan yang gugur dalam pertempuran itu.

Wiradana merenungi kedua sosok mayat itu dengan wajah yang murung. Sambil menghentakkan tangannya ia menggeram, “Seharusnya semua orang di dalam gerombolan itu dibunuh saja”.

Anak-anak muda yang kemudian mengerumuni kawan mereka yang gugur itu pun menjadi

marah pula. Namun orang-orang Kalamerta itu sudah benar-benar dihancurkannya.

Yang tersisa telah berusaha untuk menyelamatkan dirinya.

“Panggil Kiai Badra,” gumam Wiradana.

Sejenak kemudian maka Kiai Badra pun telah berada di antara anak-anak muda Sembojan. Dengan tekun dibantu oleh Gandar dan anak-anak muda itu sendiri. Kiai Badra berusaha untuk mengobati mereka yang terluka. Terutama mereka yang terluka parah.

Ketika tugas itu telah dilakukan dengan sebaik-baiknya, maka ia pun mulai menanyakan tentang orang-orang dari gerombolan Kalamerta. Katanya, “Aku akan mengobati mereka yang terluka pula.”

Wiradana menjadi heran. Sambil berdiri bertolak pinggang ia bertanya, “Apakah gunanya Kiai?”

“Bukankan menjadi kewajibanku untuk mengobati setiap orang yang terluka?” jawab Kiai Badra. “Bagiku tidak ada batasnya kawan atau lawan di medan perang. Semua orang yang terluka memang harus mendapat pengobatan.”

Wiradana mengerutkan keningnya. Namun ia pun kemudian berpaling kepada anak-anak muda Sembojan. Dengan wajah yang aneh ia memandang anak-anak muda itu seorang demi seorang.

Tiba-tiba saja terdengar suaranya meledak. Wiradana dan anak-anak muda Sebojan itu tertawa berkepanjangan, sehingga Kiai Badra menjadi heran.

“Kenapa kalian tertawa?” bertanya Kiai Badra.

“Sikap Kiai memang aneh,” jawab Wiradana, “Mereka adalah orang-orang yang garang yang sangat berbahaya bagi pergaulan sesama. Bagi mereka, tidak ada jalan yang lebih baik daripada jalan ke neraka. Seandainya Kiai menolongnya sekarang, maka hal itu akan sama artinya bahwa Kiai telah ikut terlibat kedalam satu langkah yang akan dapat mengakibatkan korban yang berjatuhan dikemudian hari. Tindakan yang tidak berperikemanusiaan dan mungkin lebih dari itu semua.”

Kiai Badra termangu-mangu. Ia tidak begitu mengerti jalan pikiran anak-anak muda Sem-bojan itu sebagaimana anak-anak muda itu juga tidak mengerti jalan pikiran Kiai Badra.

Namun ternyata bahwa tidak ada usaha sama sekali untuk menolong orang-orang terluka parah pada gerombolan Kalamerta.

“Kiai,” berkata Wiradana kemudian, “Kita akan segera meninggalkan tempat ini. Kita akan kembali ke Sembojan.”

“Bagaimana dengan orang-orang itu? Apakah kita tidak akan menguburkannya?” bertanya Kiai Badra.

“Jangan cemas. Kawan-kawan mereka tentu akan kembali. Mereka akan mengubur kawan-kawan mereka yang terbunuh dipertempuran ini. Meskipun aku sangsi, apakah mereka mau membawa kawan-kawan mereka yang terluka parah,” jawab Wiradana.

Sungguh satu sikap yang sulit untuk diterima. Tetapi Kiai Badra tidak dapat mencegah mereka. Sejenak kemudian orang-orang Sembojan itu pun terlah bersiap-siap untuk kembali sambil memapah kawan-kawan mereka yang terluka serta membawa dua sosok mayat yang membuat anak-anak muda Sembojan semakin marah kepada orang-orang dalam gerombolan Kalamerta.

Demikianlah, maka iring-iringan yang panjang pun kemudian keluar dari hutan yang tidak begitu lebat menuju ke padukuhan induk Tanah Perdikan Sembojan. Mereka telah membawa hasil yang gemilang sekaligus membawa empat sosok mayat yang telah gugur dan beberapa kawan mereka yang terluka. Namun kehadiran Kiai Badra di hutan itu memberikan banyak pertolongan kepada anak-anak muda yang terluka, sehingga mereka tidak terlambat mendapatkan perawatan.

Kehadiran pasukan Sembojan itu disambut dengan gembira oleh keluarga mereka.

Namun di antara kegembiraan dan kebanggaan atas kemenangan mereka atas segerombolan berandal yang ditakuti, beberapa orang telah menangisi keluarganya yang terpaksa meninggalkan mereka untuk selama-lamanya.

“Setiap usaha yang besar tentu memerlukan pengorbanan,” berkata Wiradana yang berusaha menghibur keluarga yang kehilangan itu. “Seluruh Tanah Perdikan akan tetap mengenang jasa-jasanya. Pengorbanan kalian tidak sia-sia. Ternyata kita telah menghancurkan sebuah gerombolan yang paling ditakuti di seluruh Pajang.”

Orang-orang yang berduka itu mencoba untuk mengerti. Tetapi sebagian dari mereka masih saja meratapi kematian keluarganya.

“Jika harus jatuh korban, kenapa korban itu harus salah seorang dari kami,” berkata salah seorang dari mereka didalam hati, “Kenapa bukan orang lain.”

Dengan demikian, maka bagaimana pun juga kebanggaan menghentak-hentak di dalam dada, namun Tanah Perdikan Sembojan memang harus berkabung.

Dalam pada itu, maka Wiradana pun telah menghadap ayahnya pula. Dengan bangga ia pun melaporkan kemenangan yang telah didapatkannya di hutan yang tidak begitu lebat itu.

“Sebagian besar dari mereka memang telah kami hancurkan,” lapor Wiradana. “Kami datang dengan tiba-tiba. Orang-orang di dalam gerombolan itu tidak menyangka, sehingga mereka tidak sempat memberikan perlawanan sebaik-baiknya. Meskipun demikian ada empat orang di antara kami yang terbunuh. Sedangkan beberapa orang lain telah terluka.”

Ki Gede mengangguk-angguk. Katanya, “Nampaknya kau memiliki kemampuan yang dapat dibanggakan. Karena itu, maka apapun yang terjadi atasku, aku tidak akan berkecil hati. Aku yakin bahwa Tanah Perdikan ini akan justru menjadi semakin berkembang.”

“Semoga ayah,” jawab Wiradana. “Kami, anak-anak muda Sembojan akan berusaha untuk tidak mengecewakan ayah.”

“Terima kasih Wiradana,” gumam ayahnya. Lalu, “Bagaimana dengan mereka yang terluka?”

“Kiai Badra yang kebetulan ada di Tanah Perdikan ini telah sangat membantu. Ia ikut pergi ke hutan itu dan menyiapkan pengobatan dengan segera, sehingga dengan demikian tidak terjadi seorang anak yang terluka kehilangan kesempatan untuk sembuh karena keterlambatan pengobatan,” jawab Wiradana.

Ayahnya mengangguk-angguk. Nampak kepuasan membayang diwajah orang yang sedang sakit itu.

Dalam pada itu, Ki Gede itu pun kemudian bertanya pula, “Dimana Kiai Badra sekarang?”

“Ia berada digandok,” jawab Wiradana.

Ki Gede tidak bertanya lagi. Bahkan Wiradana pun kemudian telah keluar dari bilik ayahnya dengan dada yang berkembang atas keberhasilannya.

Namun hampir di luar sadarnya, maka tiba-tiba saja ia telah singgah di gandok.

Ketika ia mengetuk pintu, yang membuka pintu gandok adalah seorang gadis yang sedang meningkat dewasa. Demikian pintu dibuka, maka gadis itu pun berdiri membeku sambil menundukkan kepalanya.

“O,” Wiradana pun termangu-mangu. Tetapi ia pun kemudian bertanya, “Dimana Kiai Badra?”

“Ia pergi kesungai,” suara gadis itu sendat.

“Ke sungai?” ulang Wiradana.

“Ya. Bersama kakang Gandar,” jawab gadis itu pula masih sambil menundukkan kepalanya.

Wiradana tidak bertanya lebih lanjut. Ia pun kemudian meninggalkan gandok itu dan melihat orang-orang yang terluka. Namun agaknya semua sudah mendapat perawatan sebaik-baiknya. Bahkan mereka yang terluka ringan, telah diantarkan kembali ke rumah masing-masing, sementara yang terluka agak berat, telah ditempatkan di serambi di rumah Ki Gede. Mereka akan berada ditempat itu agar pengobatan mereka dapat dilakukan secara teratur dan baik oleh Kiai Badra.

Namun dalam pada itu, Wiradana juga tidak lengah. Ia memerintahkan para pengawal untuk tetap berjaga-jaga disetiap padukuhan. Di antara para perampok itu ada yang berhasil melari-kan diri. Karena itu, para pengawal masih harus selalu memperhitungkan kemungkinan pembalasan dendam.

“Tetapi kita benar-benar telah menghancurkan mereka,” berkata salah seorang di antara anak-anak muda Sembojan.

“Ya. Tetapi mungkin mereka masih mempunyai kawan ditempat lain. Atau mereka bersama-sama dengan gerombolan-gerombolan lain datang untuk sekadar membalas sakit hati,” sahut Wiradana.

Anak-anak itu mengangguk-angguk. Mereka mengerti, bahwa kemungkinan yang demikian memang ada. Sehingga karena itu, maka setiap pemimpin pengawal di padukuhan-padukuhan telah mengatur penjagaan sebaik-baiknya.

Dalam pada itu, sebenarnyalah bahwa Kiai Badra dan Gandar tidak pergi ke sungai sebagaimana yang dikatakan oleh cucunya, karena kepada cucunya ia memang mengatakan demikian.

Tetapi Kiai Badra dan Gandar telah pergi ke hutan yang menjadi ajang pertempuran antara anak-anak muda Sembojan dengan para perampok itu. Bahkan Kiai Badra telah singgah dipadukuhan diujung Tanah Perdikan dan mengajak beberapa orang untuk pergi ke hutan itu. Terutama anak-anak mudanya.

“Untuk apa?” bertanya orang-orang padukuhan itu.

“Mayat-mayat yang terkapar ditempat itu masih belum dikuburkan,” jawab Kiai Badra.

“Bukankah Wiradana sudah mengatakan, bahwa kita tidak usah memperdulikannya?”

bertanya salah seorang anak muda.

“Tetapi jika benar-benar kita membiarkannya, maka yang paling parah terkena akibatnya adalah padukuhan ini. Padukuhan ini adalah padukuhan yang terdekat,” berkata Kiai Badra.

“Apakah mereka akan menjadi hantu? Dan kemudian mengganggu padukuhan ini?” bertanya orang-orang padukuhan itu.

“Tidak. Bukan menjadi hantu. Tetapi jika tubuh itu membusuk, maka akan dapat menimbulkan berbagai penyakit yang akan dapat menjalar sampai padukuhan ini.

Binatang-binatang kecil mungkin akan terbawa angin atau lalat yang beterbangan di padang perdu itu telah membawa bibit-bibit penyakit. Aku adalah orang yang menekuni berbagai penyakit dan penyebabnya,” sahut Kiai Badra.

Orang-orang di padukuhan kecil itu mulai berpikir. Sementara itu Kiai Badra berkata, “Penyakit menular itu tidak akan kalah mengerikan daripada kedatangan para perampok itu dimasa hidupnya. Bahkan penyakit menular tidak hanya akan memusuhi anak-anak muda dan orang-orang tua. Bukan hanya para pengawal dan bebahu padukuhan ini. Tetapi anak-anak pun akan mereka bunuh juga dengan kejamnya.”

Ternyata bahwa keterangan Kiai Badra itu dapat masuk ke dalam akal mereka. Karena itu, maka orang-orang padukuhan itu pun telah pergi bersama-sama dengan Kiai Badra dan Gandar sambil membawa cangkul dan alat-alat yang diperlukan ke hutan diseberang padang perdu.

Hal itu akhirnya telah didengar pula oleh Wiradana. Karena itu, ketika malam turun di Tanah Perdikan Sembojan, Wiradana telah memanggil Kiai Badra untuk mendapat keterangan tentang usahanya menguburkan orang-orang dari gerombolan Kalamerta yang terbunuh.

“Aku tidak sampai hati membiarkan hal itu terjadi ngger,” jawab Kiai Badra.

“Tetapi yang lebih mencemaskan bagiku, adalah keselamatan padukuhan kecil itu sendiri. Angger dapat membayangkan, bahwa binatang buas akan dapat membawa mayat-mayat itu berserakan di dalam hutan. Atau karena hal yang lain, mayat-mayat yang membusuk akan dapat menumbuhkan penyakit mengerikan dan sulit

untuk diatasi.”

Wiradana mengangguk-angguk. Katanya, “Jika alasan Kiai bahwa hal itu Kiai lakukan demi keselamatan orang-orang Sembojan, maka aku tidak berkeberatan.

Bahkan aku mengucapkan terima kasih atas usaha Kiai.”

Kiai Badra tidak menjawab.Tetapi rasanya ada sesuatu yang kurang mapan di dalam hatinya. Meskipun demikian, Kiai Badra sama sekali tidak mengatakannya.

Dalam pada itu, kehancuran gerombolan Kalamerta telah membuat kehidupan di Sembojan menjadi tenang kembali. Orang-orang Sembojan tidak lagi merasa dibayangi oleh kekuatan yang akan dapat mengejutkan mereka di malam hari.

Namun dalam pada itu, keadaan Ki Gede masih saja mencemaskan. Bagaimanapun juga

Kiai Badra berusaha, tetapi perkembangannya memang sangat lambat. Apalagi kaki Ki Gede yang seolah-olah telah lumpuh sama sekali.

“Kiai,” berkata Ki Gede pada suatu hari, “Apapun yang terjadi atasku, akan aku terima dengan senang hati. Dengan melihat perkembangan pribadi Wiradana, maka rasa-rasanya tugasku memang sudah selesai.”

“Ki Gede,” jawab Kiai Badra, “Aku masih akan berusaha. Menilik keadaannya, maka Ki Gede tidak akan mengalami kelumpuhan mutlak, meskipun kaki dan tangan Ki Gede tidak akan dapat pulih seperti sediakala. Namun setidaknya Ki Gede masih dapat berjalan sendiri dan berbuat sesuatu dengan tangan sendiri.”

Ki Gede menarik nafas dalam-dalam. Dengan suara datar ia berkata, “Terima kasih Kiai. Ternyata yang Kiai lakukan jauh melampaui harapan.”

“Itu sudah menjadi kewajibanku, Ki Gede,” jawab Kiai Badra.

Ki Gede mengangguk-angguk. Katanya kemudian, “Sebenarnya aku ingin mempersiapkan Kiai untuk tetap berada di Sembojan. Aku dapat membuat sebuah padepokan yang

Kiai perlukan. Bukankah Kiai tidak meninggalkan seorang cantrik di padepokan Kiai? Gandar dan cucu Kiai sudah berada disini.”

Kiai Badra tersenyum. Namun kemudian katanya, “Terima kasih Ki Gede. Tetapi sebenarnyalah padepokan kecil itu rasa-rasanya sudah mengikat aku untuk tetap berada disana.”

Ki Gede tidak menjawab. Tetapi yang ditanyakan kemudian adalah cucu Kiai Badra.

“Apakah cucu Kiai itu krasan tinggal disini?” bertanya Ki Gede.

Kiai Badra tersenyum. Katanya, “Pada mulanya ia hanya memberi aku waktu dua atau tiga hari. Tetapi ternyata ia betah tinggal disini. Apalagi ketika ia sudah mulai mengenal satu dua orang pembantu Ki Gede. Sekarang cucuku sudah sering berada di dapur.”

“O,” Ki Gede pun tersenyum. “Tetapi jangan Kiai suruh anak itu bekerja. Kasihan.

Biarlah ia tinggal di gandok.”

Tetapi jawab Kiai Badra, “Anakku adalah gadis padepokan Ki Gede. Jika ia harus tinggal di gandok saja, maka ia akan benar-benar minta pulang. Biarlah ia bekerja. Justru di padepokan ia bekerja jauh lebih keras. Ia harus mencari kayu, mencari air dan bekerja sendiri di dapur.”

“Kasihan anak itu,” desis Ki Gede. Namun hampir di luar sadarnya Ki Gede bertanya, “Tetapi Kiai, dimanakah ayah dan ibu anak itu?”

KIAI Badra mengerutkan keningnya. Wajahnya tiba-tiba saja menjadi buram. Nampak sesuatu terbayang di wajahnya itu.

“Peristiwa itulah yang membuat aku lebih senang tinggal menyendiri Ki Gede,” jawab Kiai Badra dengan suara dalam.

“Maaf Kiai,” berkata Ki Gede kemudian. “Aku tidak ingin membuat Kiai bersedih karena peristiwa yang telah terjadi.”

“Tidak Ki Gede,” jawab Kiai Badra. “Yang terjadi itu memang sudah terjadi.”

Ki Gede tidak bertanya lagi. Tetapi Kiai Badralah yang kemudian berceritera sendiri. “Suatu kecelakaan yang sulit diterima dengan nalar. Pada saat itu, cucuku baru berada di rumahku yang tidak jauh dari rumah anakku itu. Tiba-tiba rumah anakku itu terbakar dan anakku serta istrinya tidak sempat menyelamatkan diri. Mereka ikut terbakar di dalam rumah itu,” Kiai Badra itu berhenti sejenak.

Lalu, “Bukankah sulit diterima nalar, bahwa dua orang yang sudah tua tidak mampu keluar dari api yang membakar rumahnya? Seandainya pintu rumah itu sudah terbakar, apakah mereka tidak dapat menerobos dinding bambu?”

Ki Gede mengangguk-angguk. Katanya, “Memang aneh. Dan apakah pintu rumahnya itu hanya ada satu?”

“Ya. Itulah agaknya yang membuat aku menjadi sangat prihatin. Sehingga timbul dugaanku, bahwa telah terjadi sesuatu yang tidak dapat kami duga sebelumnya.

Mungkin satu permusuhan. Tetapi menurut pengamatanku, anakku suami istri adalah orang yang bergaul dengan wajar. Mereka tidak pernah bersikap bermusuhan dengan siapapun.”

Ki Gede mengangguk-angguk. Sementara itu Kiai Badra meneruskan, “Karena itu, maka akupun telah mengambil satu keputusan untuk menyingkir. Memang ada perasaan takut, bahwa akupun akan dimusuhinya. Sementara itu aku telah merawat cucuku

yang secara kebetulan tidak ada dirumahnya pada saat kebakaran itu.”

“Kasihan anak itu,” desis Ki Gede. “Siapakah nama cucu Kiai itu?” Ia sudah berada disini beberapa hari. Tetapi aku masih belum mengetahui namanya.”

“Ia anak padepokan,” jawab Kiai Badra. “Na-manya juga seburuk anak itu sendiri.

Orang memanggilnya Endang Iswari.”

“Bagus sekali,” sahut Ki Gede. “Namanya yang bagus. Jika tidak disebut dengan endang, maka orang tidak akan membayangkan bahwa ia adalah gadis padepokan.”

“Nama yang asal saja menyebutnya,” jawab Ki Badra.

“Kiai,” berkata Ki Gede kemudian, “Daripada cucu Kiai itu bekerja di dapur, maka biarlah ia membantu merawatku. Biarlah anak itu membawa minuman dan makananku.

Biarlah aku mengenal anak yang malang itu semakin dekat. Aku tidak mempunyai anak perempuan Kiai.”

“Ah,” desis Kiai Badra, “Anak itu adalah anak yang dungu dan bodoh. Mungkin Ki Gede akan kecewa jika Ki Gede mengenalnya lebih banyak.”

Ki Gede tersenyum. Katanya, “Biarlah ia mendapat kesempatan untuk mengembangkan pribadinya dalam lingkungan yang lebih besar. Disini terdapat banyak orang, karena kebetulan aku adalah seorang pamong dari Tanah Perdikan. Dengan demikian maka hidupnya tidak terlalu terbatas pada sebuah padepokan kecil. Biarlah ia belajar bergaul dengan sesamanya, karena pada saatnya nanti, bekal itu akan sangat diperlukan.”

Kiai Badra mengangguk-angguk. Meskipun demikian ia bergumam, “Aku tidak dapat meninggalkan padepokan kecil itu.”

“Jika Kiai ingin kembali kelak, biarlah anak itu tinggal disini. Kiai akan dapat menengoknya kapan saja Kiai inginkan,” berkata Ki Gede.

“Dan aku akan selalu sepi tanpa cucuku itu,” berkata Kiai Badra.

“Maaf Kiai, tetapi sebaiknya Kiai jangan terlalu mementingkan diri sendiri,” berkata Ki Gede Sembojan. “Berilah cucu Kiai itu kesempatan.”

Kiai Badra termangu-mangu. Namun katanya, “Dalam beberapa hari ini biarlah ia melakukan sebagaimana Ki Gede kehendaki. Tetapi jika Ki Gede kecewa, sebaiknya Ki Gede berterus terang.”

Ki Gede tersenyum. Sambil mengangguk kecil ia menjawab, “Baiklah. Tetapi seandainya cucu Kiai itu masih belum dapat melakukannya dengan baik, maka ia masih mempunyai kesempatan untuk belajar.”

Dengan demikian, maka dihari-hari berikutnya, cucu Kiai Badra itu mendapat tugas untuk melayani Ki Gede yang sedang sakit. Dengan cekatan, Iswari menyediakan minuman dan makan Ki Gede pada saatnya. Sementara Gandar masih juga merawatnya dengan sungguh-sungguh, sedang Kiai Badra dengan tekun berusaha untuk mengurangi kelumpuhan pada kaki dan tangan Ki Gede.

Ternyata bahwa usaha Kiai Badra itu tidak sia-sia. Sedikit demi sedikit, kaki dan tangan Kia Gede itu pun telah mampu digerakkan. Kekuatan racun yang mencengkam dengan garangnya dengan menumbuhkan beberapa kerusakan pada jaringan tubuh, lambat laun dapat diatasi meskipun tidak akan mampu memulihkannya.

Namun dengan demikian, justru Kiai Badra tidak dapat beringsut sama sekali dari Tanah Perdikan Sembojan. Dengan sangat Ki Gede minta agar Kiai Badra tetap tinggal sampai puncak usahanya.

“Jika sudah sampai pada batas yang dapat dicapai, apa boleh buat,” berkata Ki Gede kepada Kiai Badra.

Namun dalam pada itu, Ki Gede justru menjadi semakin tertarik kepada cucu Kiai Badra. Ki Gede merasa, bahwa ia mempunyai seorang anak laki-laki yang sudah dewasa. Sementara itu, cucu Kiai Badra itu pun telah menginjak usia dewasa pula bagi seorang gadis. Bahkan ternyata kemudian, bahwa Endang Iswari bukannya seorang gadis yang dungu. Ia memiliki kelebihan dari gadis-gadis lain di Tanah Perdikan itu.

Ketika Ki Gede melihat Iswari memperhatikan huruf-huruf pada sarung pedang yang tergantung didinding dengan tidak sengaja telah menanyakan apakah Iswari dapat membaca. Maka sambil menundukkan kepalanya gadis itu berkata, “Ayah mengajariku

untuk membaca. Tetapi aku belum pandai.”

“Seandainya aku memberimu sebuah kidung yang tertulis di atas rontal, apakah kau dapat membacanya?” bertanya Ki Gede.

Gadis itu hanya menunduk saja. Namun dari sorot di wajahnya Ki Gede menangkap pengakuan, bahwa serba sedikit, gadis itu akan dapat membacanya.

Demikianlah ketika malam mulai turun, Ki Gede telah memanggil Kiai Badra untuk datang ke dalam biliknya. Dengan senyum dibibirnya ia berkata, “Kiai. Dalam kegelisahan ini, rasa-rasanya aku ingin sesuatu yang dapat membuat jiwaku menjadi segar. Kiai sudah berhasil merawat tubuhku sehingga harapan-harapan baru telah tumbuh. Namun, apakah Kiai sependapat, jika malam ini aku minta Iswari untuk membaca sebuah kidung bagiku?”

“Membaca kidung?” ulang Kiai Badra. “Cucuku adalah seorang gadis yang bodoh.”

Tetapi Ki Gede tertawa. Katanya, “Meskipun ia tidak mengatakannya, tetapi aku tahu, bahwa Kiai sudah mengajari cucu Kiai membaca dan menulis. Sungguh satu kelebihan bagi seorang gadis.”

Kiai Badra tidak menjawab, tetapi tampak senyum di sela-sela bibirnya.

Karena itu, maka Ki Gede pun kemudian minta Iswari untuk membaca sebuah cerita yang tertulis pada setumpuk rontal yang ada di sisi pembaringannya.

Semula Iswari menolak. Tetapi akhirnya gadis itu pun telah mencobanya juga membaca kidung dalam tembang yang mengalun disepinya malam, ditunggui oleh ayahnya.

Ternyata bahwa suara itu telah menyusup di sela-sela dinding dan menyentuh telinga anak-anak muda yang sedang bertugas di luar. Beberapa orang anak muda yang sedang duduk digardu di dekat regol halaman pun mulai tergelitik hatinya

mendengar tembang yang menggetarkan udara malam yang dingin.

SEMENTARA itu, di dalam bilik yang lain, Wiradana pun mendengar suara tembang itu. Hampir di luar sadarnya ia pun bangkit dari pembaringannya. Jelas terdengar olehnya, bahwa suara tembang itu berasal dari bilik ayahnya.

Dengan hati-hati Wiradana keluar dari biliknya. Hampir berjingkat ia mendekati pintu bilik ayahnya. Sementara di antara suara tembang yang merdu ia mendengar ayahnya kadang-kadang berbicara dengan Kiai Badra tentang makna isi tembang itu.

Wiradana menarik nafas dalam-dalam. Sesuatu telah bergejolak di dalam hatinya.

Ia jarang-jarang bertemu dengan cucu Kiai Badra itu. Karena itu, ia jarang memperhatikannya. Namun ketika telinganya menangkap suara tembang itu ia mulai membayangkan, betapa lembutnya wajah cucu Kiai Badra.

“Wajah itu memang tidak cantik sekali,” gumam Wiradana di dalam hati tetapi kelembutan yang terpancar dari wajah itu membayangkan betapa lembut pula hatinya. Apalagi ketika terdengar suaranya dalam nada tembang yang menawan.”

Wiradana menarik nafas dalam-dalam. Katanya kemudian kepada diri sendiri pula,

“Anak itu ternyata anak yang pandai. Ia mampu membaca kitab itu.”

Untuk beberapa saat Wiradana mendengarkan suara tembang itu. Namun akhirnya

seakan-akan ada sesuatu yang memaksanya untuk masuk ke dalam bilik ayahnya itu.

Namun ketika bilik itu terbuka, dan Wiradana masuk dari bilik pintu, dengan serta merta, cucu Kiai Badra itu pun telah berhenti. Kepalanya menunduk dalam-dalam, sehingga malampun menjadi hening sepi.

“O, kau Wiradana,” sapa Ki Gede.

“Aku mendengar suara tembang,” desis Wiradana.

“Gadis itulah yang sedang membaca,” jawab Ki Gede, “Ternyata ia adalah gadis yang pandai dan suaranyapun jernih sekali. Aku sedang mendengar ia melagukan tembang itu.”

Wiradana pun tiba-tiba saja jadi bingung. Apalagi yang akan dikatakannya kepada ayahnya. Sekilas ia memandang gadis itu. Tetapi gadis itu tetap menunduk dalam-dalam.

Namun akhirnya ia berkata, “Ah, biarlah ia membaca terus. Aku akan mendengarkan diluar saja.”

Wiradana tidak menunggu jawaban. Ia pun kemudian melangkah surut sambil menutup pintu bilik ayahnya kembali.

Namun dalam pada itu, Iswari tidak lagi berminat untuk membaca. Ketika ia sempat memandang ayahnya, maka nampak sorot matanya, bahwa gadis itu tidak ingin lagi meneruskannya.

Karena itu, maka Kiai Badra pun justru bertanya kepadanya, “Bagaimana Wari?

Apakah kau masih akan meneruskannya?”

Iswari menggeleng lemah. Tetapi ia tidak menjawab.

Ki Gede tertawa pendek. Ia mengenal sifat gadis-gadis. Agaknya cucu Kiai Badra itu pun menjadi malu karenanya. Dengan demikian, maka sulit baginya untuk mulai lagi membaca kelanjutan ceritera yang sebenarnya menarik itu.

“Baiklah,” berkata Ki Gede, “Sebenarnya aku senang sekali kau membaca untukku.

Suaramu jernih dan landung. Las-lasan dan dengan greget yang mapan.”

“Ah. Ki Gede terlalu memuji,” sahut Kiai Badra.

“Aku berkata sebenarnya. Biarlah Iswari sering membaca untukku. Bukan saja dapat membuat hatiku semakin cerah. Tetapi hal itu penting bagi Iswari sendiri. Ia menjadi semakin lancar membaca dan suaranya akan menjadi semakin matang,” jawab Ki Gede.

Kiai Badra tidak menjawab. Tetapi ia pun tertawa pula.

Namun dalam pada itu, maka Kiai Badra pun kemudian minta diri untuk kembali ke gandok bersama anak gadisnya. Agaknya gadis itu telah mengantuk pula.

Demikianlah, pada hari-hari tertentu, Ki Gede minta Iswari untuk membaca buatnya. Mula-mula Kiai Badra masih harus menungguinya sambil mengamati keadaan Ki Gede yang menjadi semakin baik pula. Namun kemudian Iswari itu menjadi semakin berani. Ia sudah mau membaca ceritera sendiri di bilik Ki Gede Sembojan.

Sebenarnyalah sikap Ki Gede pun terasa sangat baik kepada gadis itu. Gadis yang telah kehilangan ayah dan ibunya itu, merasa seakan-akan ia menemukan ayahnya yang baru. Ki Gede bukan saja mendengarkan Iswari membaca. Tetapi kadang-kadang Ki Gede masih harus membetulkan kesalahan-kesalahan yang dibuat oleh Iswari.

Bahkan kadang-kadang kalimat-kalimat dalam tembang yang dibacanya, sehingga lancar membaca tetapi ia pun menyadap pengertian-pengertian yang tersirat dari kita yang dibacanya. Mirip sekali sebagaimana dilakukan oleh kakeknya jika kakeknya itu sedang mengajarnya membaca dan mengerti arti dan makna dari bacaannya itu.

Namun dalam pada itu, ternyata Iswari tidak saja pandai membaca ceritera dalam ungkapan tembang yang merdu. Tetapi ternyata Iswari pandai juga bermain rinding.

Dengan alat yang sederhana itu ia dapat melahirkan lagu-lagu yang dapat menyentuh hati.

Dengan demikian, maka rasa-rasanya Ki Gede menjadi semakin dekat dengan gadis itu. Bahkan, di dalam angan-angannya Ki Gede mulai membayangkan, bahwa gadis itu akan dapat diambilnya menjadi menantunya.

Tetapi Ki Gede tidak dapat mengambil keputusan itu sendiri. Karena itu, maka ia sudah berniat untuk berbicara dengan Wiradana, apakah Wiradana sependapat jika Ki Gede berniat untuk mempertemukan Wiradana dengan gadis itu.

Untuk membicarakan hal itulah, maka Ki Gede telah memanggil Wiradana. Ketika Wiradana memasuki biliknya, wajah anak muda itu berubah menjadi cerah. Ternyata ayahnya tidak lagi berbaring saja di pembaringannya. Tetapi Ki Gede itu sudah duduk di bibir pembaringannya itu.

“Ayah,” desis Wiradana.

“Ya Wiradana. Aku sedang mencoba untuk duduk. Semalam Kiai Badra menolong aku bangkit. Kemudian aku telah dimintanya untuk mencoba dan mencoba bangkit.

Ternyata bahwa pagi tadi aku sudah berhasil untuk bangkit sendiri dan duduk, meskipun aku belum dapat berbuat apa-apa selain duduk ini,” berkata ayahnya.

“Tetapi bukankah hal itu sudah merupakan suatu kemajuan yang sangat menggembirakan dan memberikan harapan-harapan,” jawab Wiradana.

“Ya. Tetapi sebagaimana dikatakan oleh Kiai Badra, bahwa kaki dan tanganku terutama, tidak akan dapat pulih seperti semula. Meskipun barangkali aku akan dapat berjalan lagi dan tanganku dapat aku pergunakan, namun tidak akan seperti sebelum jaringan tubuhku dirusakkan oleh racun keris Kalamerta itu,” berkata Ki Gede.

“Ayah dapat minta kepada Kiai Badra untuk berbuat apa saja agar keadaan ayah dapat pulih kembali. Ayah dapat menawarkan upah berapa saja yang diminta,” berkata Wiradana.

“O,” Ki Gede mengerutkan keningnya, “Jangan salah menilai orang tua itu. Ia berbuat tanpa pamrih sama sekali. Ia tidak akan mau menerima apapun yang akan aku berikan kepadanya.”

“Ah, apakah begitu ayah? Ia memang seorang dukun. Karena itu mengobati orang adalah pekerjaannya. Ia hidup dari pekerjaan itu. Jika orang yang diobatinya tidak memberikan upah kepadanya, maka ia tidak akan dapat membiayai hidupnya dengan cucu serta seorang cantriknya itu,” jawab Wiradana.

Ki Gede menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Jangan berprasangka begitu dangkal terhadap dukun yang satu ini. Ia bukan orang yang menjajakan jasanya untuk mendapatkan sedikit upah buat hidupnya. Agaknya ia memang orang lain dari orang-orang yang kau sebutkan itu. Karena itu, maka duduklah. Barangkali aku

dapat berbicara agak panjang.”

Wiradana pun kemudian duduk dipembaringan disisi ayahnya. Sementara itu Ki Gede berkata, “Wiradana. Ada sesuatu yang ingin aku katakan kepadamu.”

Wiradana termangu-mangu. Rasa-rasanya ayahnya memang ingin mengatakan sesuatu yang penting kepadanya.

Tetapi untuk beberapa saat Ki Gede tidak mengatakan sesuatu. Memang ada keseganan Ki Gede untuk mengatakannya berterus terang. Seandainya anaknya menerimanya apakah gadis itu bersedia. Dan apakah Kiai Badra dapat menyetujuinya.

Namun akhirnya Ki Gede memutuskan untuk menanyakannya lebih dahulu kepada Wiradana, kalau Wiradana bersedia, baru Ki Gede akan membicarakannya dengan Kiai Badra.

Demikianlah, betapapun beratnya, maka Ki Gede pun telah mengatakan niatnya kepada Wiradana. Bahwa ia ingin melihat Wiradana dapat hidup bersama dengan cucu Kiai Badra.

“Aku sangat berhutang budi kepada Kiai Badra,” berkata Ki Gede. “Namun aku pun mengerti, bahwa dasar hidup bersama bukanlah sekadar membalas budi. Tetapi harus ada keserasian perasaan dan nalar dari kedua orang yang ingin mempertautkan hidupnya. Karena itu, aku bertanya kepadamu. Kau mempunyai kesempatan untuk merenungkan. Dan aku memang tidak ingin kau menjawab sekarang.”

Wiradana menundukkan kepalanya. Di luar sadarnya ia mulai membayangkan gadis yang bernama Iswari, cucu Kiai Badra itu. Seorang gadis yang sederhana tetapi mempunyai kecerdikan alamiah. Bahkan kakeknya telah mengajarinya membaca dan melagukan kidung-kidung yang merdu. Bermain rinding dan ketrampilan bekerja melampaui perempuan-perempuan lain yang ada dirumah itu. Bukan saja bekerja di dapur dan membersihkan isi rumah, tetapi gadis itu trampil juga bekerja yang lebih berat lagi. Mengambil air, menumbuk padi dan dipagi-pagi benar menyapu halaman.

“Pikirkanlah anakku,” berkata Ki Gede. “Tetapi segalanya terserah kepadamu. Kau dapat mempertimbangkan banyak hal. Tetapi kau harus lebih banyak melihat masa depanmu sendiri.”

Wiradana mengangguk-angguk. Katanya, “Aku akan memikirkannya ayah. Aku mengerti kenapa ayah mengusulkan hal itu. Meskipun demikian aku ingin mengenal gadis itu lebih banyak lagi.”

“Lakukanlah yang baik menurut pertimbanganmu. Aku akan menahan Kiai Badra untuk tinggal disini beberapa saat lagi, sementara kau sudah dapat mengambil satu keputusan,” berkata Ki Gede. “Namun dalam pada itu, aku sama sekali masih belum berhubungan dengan Kiai Badra untuk membicarakan persoalan ini. Baru jika kau setuju aku akan mulai merintis pembicaraan, agar tidak menimbulkan salah paham.”

Wiradana mengangguk-angguk pula. Jawabnya, “Baiklah ayah. Aku minta waktu beberapa hari.” Ketika kemudian Wiradana itu meninggalkan bilik ayahnya, maka pikirannya selalu saja dipengaruhi oleh keinginan ayahnya. Wiradana mengerti, bahwa Kiai Badra sudah berhasil menolong jiwa ayahnya. Tetapi seperti yang dikatakan ayahnya, jika ia mengambil keputusan untuk menerima keinginan ayahnya, dasar utamanya bukanlah sekadar membalas budi.

Tetapi ternyata bahwa hal itulah yang lebih tebal menyelubungi perasaannya.

Bagaimanapun juga, ayahnya telah berhutang budi kepada seorang yang bernama Kiai Badra itu, terikat pada suatu keadaan yang sulit untuk dilupakan Ayahnya itu.

Dihari-hari berikutnya. Wiradana mulai memperhatikan Iswari dengan

sungguh-sungguh, meskipun ia tetap memelihara jarak agar Iswari sendiri tidak mengetahuinya. Hampir semua sikap dan tingkah lakunya tidak terlepas dari pengamatan Wiradana.

Namun kebimbangan masih saja menyelubungi hati anak muda itu. Sebagai seorang anak Kepala Tanah Perdikan, maka ia mempunyai kesempatan untuk menggantikan kedudukan ayahnya karena ia memang tidak mempunyai seorang pun saudara yang akan dapat memperkecil kesempatan itu. Karena itu, maka segalanya selalu dihubungkannya dengan kedudukan yang kelak akan diterimanya sebagai warisan itu.

“Apakah gadis itu pantas menjadi isteri Kepala Tanah Perdikan,” berkata Wiradana di dalam hatinya. “Ia terlalu sederhana. Kehidupan padepokan telah membentuknya menjadi gadis lugu dan nampaknya sedikit dungu, meskipun ia dapat membaca, menulis dan bahkan melagukan kidung-kidung pujian. Ia terlalu terbiasa bekerja keras. Mengambil air untuk mengisi jambangan, menumbuk padi dan kerja-kerja yang lain meskipun beberapa orang sudah berusaha mencegahnya. Tetapi hal yang demikian akan menguntungkan kedudukannya sebagai seorang istri Kepala Tanah Perdikan yang besar? Apakah hal itu tidak akan mengurangi wibawaku kelak?”

Demikianlah, berhari-hari Wiradana membuat pertimbangan-pertimbangan yang kadang-kadang justru membingungkan.

Namun lambat laun ia berhasil melihat kelebihan gadis itu. Gadis itu memang gadis yang cekatan meskipun pendiam. Cepat mengambil keputusan dalam keadaan yang memerlukan. Sifat yang nampaknya lugu itu ternyata adalah ujud dari sikapnya yang jujur, sementara ia sama sekali bukan gadis yang dungu seperti yang nampak pada ujud lahiriahnya.

Dari hari kehari, Wiradana berhasil melihat kelebihan gadis itu dari gadis-gadis sebayanya. Jarang sekali seorang gadis yang mendapat kesempatan untuk dapat membaca dan menulis. Mengenali kitab-kitab yang berisi ceritera tentang para pahlawan, nasehat tentang kebaikan budi dan kidung pujian bagi Yang Maha Agung.

Diberati pula dengan perasaan berhutang budi, maka ketika kemudian Wiradana menghadap ayahnya, maka ia pun berkata, “Ayah. Aku telah membuat pertimbangan-pertimbangan. Agaknya gadis itu memang mempunyai beberapa kelebihan dari perempuan-perempuan lain ayah.”

“Jadi kau tidak keberatan jika aku melamar gadis itu kepada kakeknya?” bertanya Ki Gede.

“Terserahlah kepada ayah,” jawab Wiradana.

“Jangan berkata begitu. Jangan menyerahkan persoalan yang menyangkut masa depanmu sepenuhnya kepada ayah,” berkata Ki Gede.

“Baiklah,” jawab Wiradana. “Aku dapat menerimanya. Namun bukankah segalanya masih tergantung juga kepada gadis itu sendiri?”

Ki Gede mengangguk-angguk. Katanya, “Aku akan berbicara dengan Kiai Badra. Mudah-mudahan tidak akan timbul masalah.”

Wiradana tidak menjawab. Tetapi ia pun kemudian meninggalkan bilik ayahnya. Ki Gede yang berbaring dipembaringannya tersenyum sendiri. Rasa-rasanya ia sudah melihat secercah cahaya yang menerangi Tanah Perdikannya bagi hari hari depan.

Wiradana, anaknya satu-satunya akan mendapat seorang istri yang rajin, trampil, dan mempunyai kepandaian yang jarang dimiliki oleh kebanyakan perempuan.

Ketika hal itu disampaikan kepada Kiai Badra pada satu kesempatan, maka terasa sesuatu membayangi kejernihan sorot mata Kiai Badra. Satu hal yang tidak terduga oleh Ki Gede. Ia berharap bahwa keinginannya itu akan disambut dengan gembira oleh orang tua itu.

“Bagaimana pendapat Kiai Badra?” bertanya Ki Gede.

Kiai Badra menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian jawabnya tidak pasti. “Ki Gede. Segala sesuatunya tergantung kepada cucuku itu. Aku akan menyampaikannya.

Dan ia akan mengambil satu keputusan. Namun aku sebagai kakeknya, mengucapkan terima kasih yang tidak dapat aku gambarkan betapa besarnya, karena perhatian Ki Gede terhadap cucuku. Seorang anak padepokan yang bodoh dan malas.”

“Jangan terlalu merendahkan diri Kiai. Aku tahu, cucu Kiai adalah seorang gadis yang pandai dan yang membuatnya nampak bodoh adalah justru kejujurannya,” jawab Ki Gede. Tetapi kemudian, “Namun demikian, segalanya memang tergantung kepada anak itu sendiri. Aku hanya berharap, agar keinginanku ini tidak tersia-siakan.”

Kiai Badra mengangguk-angguk. Rasa-rasanya ia telah menerima beban yang sangat berat.

Karena itu, maka sejenak kemudian, ia pun telah mohon diri. Katanya kemudian, “Aku akan berbicara dengan cucuku Ki Gede.”

“Silakan Kiai. Aku menggantungkan harapan kepada usaha Kiai meyakinkan cucu Kiai itu,” jawab Ki Gede.

Dengan kepala tunduk, Kiai Badra pun kemudian meninggalkan bilik Ki Gede kembali ke gandok. Ketika ia membuka pintu biliknya, dilihatnya Gandar masih duduk merenungi jari-jari tangannya yang dikembangkannya. Tetapi demikian pintu berderit, ia pun segera bangkit dan menarik nafas dalam-dalam.

“Nampaknya ada sesuatu yang penting Kiai?” bertanya Gandar.

Kiai Badra mengangguk-angguk. Katanya, “Penting sekali.”

“Apakah ada tanda-tanda bahwa gerombolan itu bangkit kembali dan akan menyerang Tanah Perdikan ini?” bertanya Gandar pula.

Kiai Badra menggelengkan kepalanya. Jawabnya, “Bukan soal gerombolan itu lagi.

Bukan pula tentang penyakit Ki Gede yang semakin baik. Tetapi persoalannya menyangkut hubungan antara aku dan Ki Gede.”

“Maksud Kiai?” desak Gandar.

Kiai Badra menarik nafas dalam-dalam. Kemudian katanya, “Gandar. Aku sebenarnya memang ingin mempertimbangkanmu sebelum aku menyampaikannya kepada adikmu.”

Wajah Gandar menjadi tegang. Tetapi kesan itu pun sejenak kemudian telah lenyap dari wajahnya. Dengan nada dalam ia bertanya, “Apakah ada persoalan yang menyangkut pribadi Kiai?”

“Ya Gandar,” jawab Kiai Badra.

Gandar menarik nafas dalam-dalam. Keduanya yang kemudian duduk di amben kayu nampak menjadi bersungguh-sungguh.

“Gandar,” berkata Kiai Badra kemudian, “Sebenarnyalah bahwa Ki Gede menaruh minat terhadap adikmu untuk diambilnya menjadi menantu.”

Terasa sesuatu bergejolak di dalam jantung Gandar. Tetapi seperti semula, semua kesan itu tidak nampak di sorot matanya. Bahkan ia pun kemudian mengangguk-angguk sambil berkata, “Satu penghargaan yang sangat tinggi.”

“Itulah yang aku cemaskan Gandar. Hal ini dilakukan oleh Ki Gede justru karena aku telah mengobatinya. Mungkin Ki Gede merasa bahwa aku telah menyelamatkan jiwanya. Padahal yang aku lakukan bukan apa-apa. Aku hanya sebagai lantaran.

Jika ia menghargai aku terlalu tinggi maka akibatnya akan kurang baik bagi Iswari sendiri. Apalagi jika angger Wiradana akan menerimanya dengan agak terpaksa,” berkata Kiai Badra dengan wajah yang muram.

Gandar mengangguk-angguk. Tetapi katanya, “Ki Gede tentu sudah

mempertimbangkannya dari segala segi. Ki Gede pun tentu sudah membicarakannya dengan Wiradana. Bahkan mungkin permintaan ini datang dari Wiradana sendiri setelah ia mengenal Iswari lebih dekat.”

Kiai Badra menarik nafas dalam-dalam. Lalu ia pun bertanya, “Bagaimana pendapatmu Gandar. Sebelum aku menyampaikannya kepada adikmu.”

“Jika Iswari setuju, maka tentu tidak akan ada keberatannya Kiai. Bukankah Wiradana pada saatnya akan menggantikan kedudukan ayahnya menjadi seorang Kepala Tanah perdikan yang cukup besar?”

Kiai Badra memandang wajah Gandar sejenak. Seolah-olah ia ingin membaca isi hatinya. Tetapi ia tidak melihat kesan apapun pada orang itu.

Bahkan Gandar pun kemudian berkata, “Bukankah dengan demikian Kiai akan dapat menanggalkan satu beban? Gadis itu memang merupakan beban bagi Kiai. Jika ia sudah mendapat tempat yang baik, maka sebaiknya Kiai melepaskannya.”

“Tempat yang baik itulah yang aku sangsikan,” jawab Kiai Badra.

“Kiai terlalu berprasangka,” jawab Gandar.

“Gandar, adikmu adalah anak yang dungu. Kurang mempunyai wawasan terhadap lingkungan, justru ia cukup lama hidup dalam dunia terpisah. Ia mengenal masyarakat dari satu jarak, sehingga ia tidak masuk ke dalamnya,” berkata Kiai Badra kemudian.

“Tidak Kiai. Meskipun Iswari tinggal di padepokan terpencil, tetapi ia bergaul dengan sesamanya. Ia sering pergi ke pasar untuk menjual hasil tanah kita. Ia mempunyai beberapa orang kawan gadis-gadis padukuhan yang sering bergurau bersamanya di sungai ketika mereka sedang mencuci,” sahut Gandar.

“Tetapi Iswari tidak melihat kehidupan yang utuh dari satu lingkungan. Ia melihat orang-orang yang berada di pasar. Ia bergurau dan bergembira bersama dengan kawan-kawannya di sungai. Tetapi ia tidak melihat kesulitan, kesedihan disamping kegembiraan pada persoalan-persoalan hidup yang lain dari satu lingkungan keluarga. Ia tidak melihat masalah-masalah yang dapat timbul.

Kelaparan, kekerasan, perselisihan dan bahkan kekuasaan. Ia tidak pernah mengalami bencana kekeringan karena kemarau yang panjang atau banjir di musim hujan. Padepokan kita yang terpencil itu bukan satu gambaran yang utuh kelak ia menjadi istri seorang Kepala Tanah Perdikan, maka bekal pengalamannya atas rakyatnya akan sangat miskin,” berkata Kiai Badra kemudian.

Gandar mengangguk-angguk kecil. Ia mengerti alasan Kiai Badra yang mendasar itu.Meskipun demikian, Gandar itu masih juga berkata, “Tetapi dengan jujur kita dapat mengatakan, bahwa Iswari adalah seorang gadis yang cerdas. Ia akan cepat menyesuaikan diri dengan lingkungannya, sebagaimana kita lihat sekarang. Ia pandai mengambil pengalaman yang tidak dihayatinya dalam kehidupan sehari-hari itu dari kitab-kitab yang dibacanya. Dan Iswari mampu menyerap keadaan disekitarnya untuk dicernakannya.”

Kiai Badra menarik nafas pula. Namun kemudian katanya, “Segalanya akan terserah kepada Iswari sendiri. Mudah-mudahan ia mendapat terang dihatinya sehingga ia akan dapat menentukan pilihannya dengan tepat,” kemudian suara Kiai Badra pun merendah, “Gandar, sebenarnyalah bahwa ada sesuatu yang kurang aku mengerti terhadap sifat angger Wiradana.

Ia adalah anak tunggal Ki Gede yang mewarisi ilmunya dan kelak tentu Tanah Perdikannya. Namun nampaknya wataknya agak jauh berbeda dengan watak Ki Gede itu sendiri.”

“Wiradana masih muda sekali,” jawab Gandar. “Memang wajar sekali jika nampak perbedaan dari kedua orang itu didalam menentukan sikap. Tetapi bukan berarti bahwa Wiradana akan berbuat dengan pertimbangan yang dangkal itu untuk selanjutnya. Umurnya akan mempengaruhinya, sehingga pada suatu saat akan datang masanya, sikap Wiradana akan seperti sikap ayahnya.”

Kiai Badra mengangguk-angguk meskipun ia tidak sependapat sepenuhnya. Ia tidak dapat melupakan sikap Wiradana terhadap orang-orang yang sudah dikalahkannya.

Rasa-rasanya ada sesuatu yang kurang mapan baginya.

Tetapi ia berusaha untuk mengerti penjelasan Gandar. Karena itu, maka katanya kemudian, “Aku akan berbicara dengan Iswari. Gadis itu sudah cukup dewasa. Ialah yang akan mengambil keputusan yang menentukan.”

“Ya Kiai. Sebaiknya Kiai berbicra langsung dengan Iswari. Tetapi sudah barang tentu ia memerlukan alasan untuk menentukan sikapnya,” berkata Gandar.

Kiai Badra mengangguk-angguk. Katanya, “Memang akhirnya aku akan tergantung kepada sikapnya.”

“Ya Kiai. Iswari cukup dewasa untuk menentukan,” sahut Gandar dengan suara yang merendah.

“Besok aku akan berbicara dengan anak itu,” gumam Kiai Badra kemudian.

Sebenarnyalah, Kiai Badra ingin segera menyampaikan hal itu kepada cucu perempuannya. Meskipun Kiai Badra itu tidak dapat mengesampingkan kesannya yang didapatkannya terhadap Wiradana dalam beberapa kali sentuhan kepentingan.

Karena itulah, maka Kiai Badra justru menjadi gelisah.

Di hari berikutnya, ketika gelap malam mulai turun, maka Kiai Badra telah memanggil cucunya untuk berbicara tentang dirinya ditunggui oleh Gandar. Dengan hati-hati dan sedikit gambaran tentang kehidupan, Kiai Badra menyatakan kepada cucunya, apakah ia bersedia untuk menerima keinginan Ki Gede yang ingin mengambilnya menjadi menantu

Meskipun Kiai Badra sudah mengambil jalan yang melingkar, namun hal itu masih juga mengejutkan Iswari. Ia sama sekali tidak memikirkan persoalan yang demikian, sehingga karena itu, maka seolah-olah telah dihadapkan kepada satu persoalan yang tidak diduganya.

Karena itu, maka beberapa saat ia justru tidak dapat mengucapkan sepatah katapun. Mulutnya bagaikan terbungkam dan jantungnya segera berdegup semakin keras.

Kiai Badra mengerti perasaan cucunya. Karena itu ia tidak dengan tergesa-gesa memaksa cucunya untuk menjawab.

“Pikirkan dengan tenang. Tetapi adalah wajar, bahwa pada suatu saat kau akan

menghadapi masalah seperti ini. Kau sudah menjadi seorang gadis dewasa. Bukan saja umurmu, tetapi juga ujud lahiriahmu. Karena itu, maka persoalan yang kau hadapi sekarang adalah persoalan yang tidak dapat kau singkiri di dalam kehidupan ini. Karena di dalam hidup seseorang, maka persoalan ini akan dilintasinya. Tanpa menghadapi persoalan seperti ini, maka tugas hidup ini masih belum lengkap karenanya.

Iswari masih tetap menunduk. Namun kakeknya kemudian berkata. “Baiklah Iswari, pergilah ke bilikmu. Mungkin malam ini kau dapat merenunginya. Besok kau dapat memberikan jawaban yang sudah kau pertimbangkan dengan masak-masak sehingga langkah-langkah berikutnya tidak akan digayuti oleh penyesalan yang akan selalu mengganggu.”

Iswari pun kemudian meninggalkan kakeknya. Demikian ia sampai di dalam biliknya, maka ia pun langsung merebahkan dirinya di pembaringannya.

Namun demikian, matanya sama sekali tidak dapat dipejamkannya. Semalam suntuk Iswari dibebani oleh pertanyaan kakeknya yang terasa sangat sulit untuk dijawabnya.

Tetapi dengan demikian, mau tidak mau ia harus mulai menilai seorang laki-laki muda yang bernama Wiradana, anak Ki Gede yang kelak akan menggantikan kedudukan sebagai Kepala Tanah Perdikan Sembojan.

Sebagai seorang gadis yang hidupnya lebih banyak terpisah dari pergaulan yang besar, maka Iswari merasa sangat sulit untuk menentukan sikap. Ia selalu disaput oleh pengertian sebagaimana dikatakan oleh kakeknya. Bahwa pada suatu saat setiap orang akan sampai pada suatu keadaan seperti yang dihadapinya. Seseorang tentu akan kawin dan melanjutkan hadirnya anak-anak manusia yang akan meneruskan sejarah hidupnya.

Karena itu, maka dalam kesulitan untuk menentukan sikap, Iswari menjadi pasrah kepada nasibnya. Ia memang tidak ingin memilih. Jika seorang laki-laki akan hadir di dalam hidupnya, maka ia akan menerimanya dengan segala senang hati, asal masih dalam batas-batas kewajaran.

Dengan demikian, ketika keesokan harinya, kakeknya memanggilnya, maka Iswari telah memutuskan untuk menyerahkan segala sesuatunya kepada kakeknya saja.

Kiai Badra menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia mengerti sepenuhnya. Cucunya memang tidak akan menentukan sikap apapun. Ia tentu akan bersandar kepada keputusan yang diambil oleh Kiai Badra.

Yang kemudian dibebani oleh perasaannya adalah Kiai Badra. Ia tidak segera dapat menentukan sikap menghadapi persoalan cucunya itu.

Namun Gandar kemudian berkata, “Kiai, bukankah Kiai dapat merasakan keikhlasan hati Ki Gede?”

“Ya,” Kiai Badra mengangguk-angguk. Namun ia tidak mengatakan jawabannya, karena cucunya ada di antara mereka. Tetapi di dalam hati ia berkata, “Aku percaya kepada keputusan hati Ki Gede. Tetapi aku kurang mengerti sikap anak laki-lakinya.”

Namun dalam pada itu, maka akhirnya Kiai Badra pun telah disudutkan oleh satu keadaan untuk mengambil sikap. Dengan keragu-raguan yang masih saja bergejolak di dalam jantungnya, maka ia pun kemudian berkata, “Baiklah Iswari. Jika kau tidak berkeberatan, maka biarlah aku menghadap Ki Gede dan menyampaikan jawaban.”

Iswari tidak menjawab. Tetapi kepalanya yang tunduk benar-benar merupakan suatu isyarat, bahwa ia memang tidak menolak.

Jawaban Kiai Badra sangat menggembirakan Ki Gede serta merta maka ia pun telah memanggil Wiradana untuk menyampaikan jawaban Kiai Badra tentang cucunya.

Wiradana mengangguk-angguk. Tidak banyak yang dikatakannya kepada ayahnya, selain ucapan terima kasih.

Namun dalam pada itu, Kiai Badra rasa-rasanya dapat juga membaca perasaan itu.

Hambar.

Tetapi ia sudah menyatakan keputusannya. Tidak mungkin baginya untuk menarik kembali, jika ia tidak ingin memutuskan hubungannya dengan Ki Gede yang menerima hal itu sebagai satu kegembiraan.

Dengan demikian, maka pembicaraan di antara Ki Gede dan Kiai Badra itu seakan-akan telah menjadi satu keputusan yang sudah sependapat. Bahkan Ki Gede pun kemudian berkata,

“Kiai Badra. Buat apa kita menunggu terlalu lama. Kita sudah sependapat.

Anak-anak kita sudah bersedia. Maka sebaiknya segalanya terjadi dengan cepat, sebelum umurku ditelan oleh penyakitku.”

“Ki Gede justru bertambah baik,” berkata Kiai Badra.

“Tetapi aku sudah cacat. Keadaanku akan dapat berubah-ubah dengan cepat. Hari ini aku nampak sehat. Besok mungkin keadaanku akan menjadi sangat buruk dengan tiba-tiba. Karena itu, mumpung aku masih berkesempatan, biarlah hari perkawinan anak-anak kita itu dilangsungkan lebih cepat,” berkata Ki Gede.

Kiai Badra akhirnya menyerahkan segala-galanya kepada Ki Gede. Karena keadaan tubuhnya, maka Ki Gede ingin segera melihat, anak laki-laki satu-satunya itu hidup sebagai seorang suami.

“Aku sudah tidak pantas lagi untuk memimpin Tanah Perdikan ini,” berkata Ki Gede itu di dalam hatinya,

“Aku harus berani melihat kenyataan bahwa pimpinan Tanah Perdikan ini harus berpindah tangan. Apalagi anakku sudah cukup dewasa dan agaknya mempunyai kemampuan untuk mela-kukan sebagaimana aku kehendaki, meskipun ada sedikit sifatnya yang perlu mendapat teguran.”

Dengan demikian, maka Ki Gede pun dalam waktu yang pendek, telah mengundang orang-orang tua di Sembojan. Agaknya Ki Gede benar-benar ingin melakukan niatnya secepat-cepatnya.

Sementara itu, Kiai Badra masih berusaha dengan segenap kemampuannya untuk mengobati keadaan Ki Gede yang sudah berangsur baik. Pada saat-saat terakhir, tangan dan kakinya sudah dapat bergerak. Kemudian perlahan-lahan Kiai Badra telah dapat menyaksikan Ki Gede itu mencoba berdiri meskipun masih harus

ditelekan tongkat.

“Tuhan Maha Besar,” desis Ki Gede itu pada saat menjelang hari-hari perkawinan anaknya. “Aku akan mendapat seorang menantu sebagaimana aku kehendaki, sementara itu keadaan tubuhku menjadi berangsur baik.”

Sebenarnyalah Ki Gede sudah mulai dapat menapakkan kakinya dan mulai melangkah. Meskipun kakinya masih terasa sangat lemah, tetapi harapan untuk dapat mempergunakan kakinya itu menjadi semakin besar, meskipun tidak sebagaimana semula.

Pada saat-saat Ki Gede benar-benar sudah dapat berjalan meskipun harus bertongkat, maka saat-saat perkawinan anak Ki Gede dengan Iswari itu pun akan segera berlangsung.

Rumah Ki Gede di Sembojan telah mulai dibersihkan. Di halaman belakang, orang-orang telah membelahi kayu sebagai persiapan untuk kayu bakar. Dinding yang mulai kendor telah dibetulkan.

Sementara atap yang tiris telah diperbaiki. Beberapa orang memperbaiki pagar bukan saja halaman tetapi juga kebun belakang.

Namun dalam pada itu, wajah Wiradana sendiri nampaknya masih saja hambar. Tidak ada gairah yang menyala di dalam dadanya menjelang hari perkawinannya.

Bahkan seperti juga Iswari, Wiradana itu cenderung untuk melakukan perkawinan itu sebagaimana ia menjalani satu kewajiban. Tidak ada ungkapan kegembiraan dan pandangan yang hidup bagi masa depan.

Meskipun dengan nalar keduanya dapat menerima keinginan Ki Gede itu, tetapi seakan-akan perkawinan itu akan berlangsung tanpa jiwa. Tetapi Ki Gede tidak begitu menghiraukan keadaan itu. Baginya kedua orang yang berkepentingan sudah menyatakan kesediaan mereka. Apalagi pada saat-saat terakhir, Ki Gede benar-benar telah mampu berjalan dan mempergunakan tangannya sebagaimana sewajarnya.

Tetapi tangan dan kaki itu tidak lagi mampu mengungkapkan ilmunya yang dahsyat,

karena kaki dan tangannya itu menjadi terlalu lemah untuk mendukung kemampuannya yang sangat tinggi.

Namun demikian Ki Gede tidak terlalu banyak menghiraukan lagi. Ia ingin melihat anaknya kawin dengan seorang gadis yang memiliki kelebihan dari kebanyakan gadis. Bahkan tidak seorang pun gadis Sembojan yang memiliki kepandaian dan kecerdasan, apalagi ketrampilan seperti Iswari. Dari menyapu halaman, mengambil air, menumbuk padi, tetapi juga memasak dan membersihkan isi rumah dan juga kemampuan untuk bermain rinding dengan gending-gending ngelangut serta membaca kitab berisi ceritera-ceritera dan kidung puji-pujian.

Ketika saatnya tiba, maka Tanah Perdikan Sembojan telah menjadi ramai di siang dan malam hari sampai tiga hari tiga malam. Hampir disetiap padukuhan diselenggarkaan keramaian dengan pertunjukan-pertunjukan.

Di padukuhan induk suasananya benar-benar sangat meriah. Mereka ikut bergembira tanpa banyak mengetahui persoalannya. Sementara orang-orang tua mengalir tidak putus-putusnya ke rumah Ki Gede untuk menyatakan kegembiraannya.

Ki Gede sama sekali tidak mau mengecewakan mereka. Dengan wajah yang jernih diterimanya tanda ikut bergembira atas perkawinan anak Kepala Perdikan satu-satunya itu. Kelapa, beras ketan, sayur-sayuran dan bermacam-macam barang hasil kerajinan. Kain tenun yang paling baik yang dibuat oleh orang-orang Sembojan, terumpah dari kulit dan beberapa jenis barang yang lain.

Perkawinan antara Wiradana dan Iswari benar-benar merupakan satu perkawinan yang meriah.

Dalam pada itu, bagaimana pun juga, kemeriahan saat-saat perkawinan itu berpengaruh juga terhadap kedua orang anak muda itu. Meskipun sebelumnya perkawinan itu terasa hambar bagi mereka, tetapi dalam kemeriahan keramaian itu, wajah keduanya mulai nampak cerah. Wiradana menerima kunjungan anak-anak muda dengan gurau yang segar dan tawa yang lepas. Sementara Iswari di dalam biliknya nampak tersenyum renyah, meskipun kepalanya lebih banyak menunduk daripada memandang orang-orang yang mengerumuninya.

Meskipun Iswari bukan gadis Sembojan, tetapi rasa-rasanya ia sudah menjadi akrab dengan kehidupan di Tanah Perdikan itu. Agak meleset dugaan kakeknya, bahwa kehidupannya mengasingkan diri akan menghambat usaha cucunya untuk menyesuaikan diri dengan kehidupan di Tanah Perdikan itu.

Meskipun demikian, berbeda dengan Ki Gede yang tenggelam dalam kegembiraan, maka Kiai Badra berusaha untuk memperhatikan keadaan cucunya dengan seksama.

“Bagaimana menurut pendapatmu Gandar?” bertanya Kiai Badra. “Meskipun Iswari menerima keinginan Ki Gede tetapi nampaknya segalanya hanya pada permukaannya saja.”

“Tetapi ia tidak merasa terpaksa Kiai,” jawab Gandar. “Mungkin pada saat itu, ia tidak dapat menolak karena berbagai pertimbangan. Tetapi setidak-tidaknya ia tidak merasa Kiai memaksanya. Bahkan menurut pengamatanku, pada saat-saat terakhir, anak itu sudah mulai nampak gembira. Perlahan-lahan ia mampu menyesuaikan dirinya.”

“Syukurlah,” Kiai Badra menarik nafas dalam-dalam. “Aku semula merasa cemas, bahwa anak itu sulit untuk menyesuaikan diri.”

“Tetapi ternyata tidak demikian Kiai. Iswari berhasil menyesuaikan dirinya. Ia benar-benar akan menjadi seorang perempuan yang memiliki kelebihan dari perempuan-perempuan lain di Sembojan, sehingga ia akan mempunyai wibawa yang besar sebagai istri seorang Kepala Tanah Perdikan,” berkata Gandar.

“Mudah-mudahan segalanya terjadi seperti yang kau katakan,” desis Kiai Badra. Sebenarnyalah perkawinan antara Wiradana dan Iswari itu terjadi dengan sangat meriah. Ki Gede seakan menyatakan syukur atas kesembuhannya meskipun tidak dapat pulih seperti sediakala.

Demikianlah, maka saat-saat kedua orang pengantin itu dipertemukan, halaman rumah Kepala Tanah Perdikan Sembojan yang luas itu pun menjadi penuh sesak.

Orang-orang Sembojan ingin melihat sepasang pengantin itu. Beberapa orang di antara mereka berdesis dengan penuh kekaguman, “Benar-benar pasangan yang serasi. Wiradana dalam pakaian penganten benar-benar nampak seperti Arjuna.”

“Ya,” sahut yang lain, “Istrinya seperti Sumbadra.”

“Benar. Meskipun agak kehitam-hitaman,” berkata yang lain lagi.

“Hitam manis. He bukankah Sumbadra juga berkulit hitam manis sehingga ia disebut Rara Ireng?” berkata orang yang pertama.

Kawan-kawannya mengangguk-angguk. Menurut penglihatan mereka pasangan pengantin itu benar-benar pasangan yang pantas. Bukan saja ujudnya, tetapi setiap orang Sembojan akhirnya mengetahui, bahwa Iswari memiliki kepandaian yang tidak dimiliki perempuan pada umumnya di Sembojan.

Namun dalam pada itu selagi orang-orang Sembojan sedang merayakan hari perkawinan putra tunggal Ki Gede Sembojan, maka dua orang yang tidak dikenal sehari-hari di Sembojan telah memasuki keramaian di halaman. Tidak seorang pun yang memperhatikan. Meskipun halaman rumah Ki Gede menjari terang benderang seperti siang oleh obor yang terpasang di banyak tempat, tetapi orang yang berdesakan itu sama sekali tidak memperhatikan siapa saja yang berada disebelahnya.

“Bukan main,” desis perempuan, salah seorang dari kedua orang itu.

Kawannya seorang laki-laki, mengangguk-angguk. Katanya, “Satu keramaian yang sangat meriah. Tetapi anak itu memang seorang yang cerdik.

Dalam keramaian seperti ini untuk merayakan hari perkawinannya, ia tidak lupa mengerahkan pengawal-pengawal Tanah Perdikan untuk mengamati keadaan sampai ke ujung-ujung padukuhan yang terpencil sekalipun.”

“Ya, jawab yang perempuan. Tetapi itu adalah wajar sekali. Wiradana adalah anak tunggal,” jawab perempuan itu.

Keduanya pun kemudian terdiam. Mereka memperhatikan kedua orang mempelai yang sedang dipertemukan dengan upacara yang utuh.

“Perhatikan benar-benar,” berkata yang laki-laki. “Pengantin laki-laki itu adalah Wiradana. Ia adalah anak Ki Gede Sembojan yang telah membunuh pamanmu, Kalamerta.”

Perempuan itu mengangguk-angguk. Namun tiba-tiba saja ia berdesis, “Anak itu memang tampan.”

“Tampan atau tidak tampan, kau tidak berurusan,” berkata yang laki-laki.

“Tugasmu membinasakannya dengan cara apa saja. Syukur kau akan dapat membunuh ayahnya. Tetapi agaknya sulit untuk melakukannya. Pamanmu pun tidak berhasil.

Bahkan ia telah terbunuh. Apalagi sekarang nampaknya ia sudah menjadi agak baik.

Dan ternyata ia memang sudah dapat berdiri mendampingi anak laki-lakinya.”

Perempuan itu menarik nafas dalam-dalam. Tetapi akhirnya ia mengangguk-angguk.

Katanya, “Aku akan membunuhnya. Bukan satu kesulitan bagiku. Aku kira, kemampuannya belum setingkat dengan kemampuanku. Dimana pun aku akan dapat melakukannya.”

“Tetapi hati-hati. Ia benar-benar seorang yang memiliki akal yang cerah. Ketika orang-orang pamanmu siap untuk membalas dendam dan bersiap-siap di dalam hutan sebelah Tanah Perdikan ini, ternyata bahwa Wiradana dan para pengawal Tanah

Perdikan inilah yang telah memasuki barak dari para pengikut pamanmu. Bukan sebaliknya, sehingga orang-orang yang mendendam itu justru telah dihancurkan sama sekali,” berkata yang laki-laki.

Perempuan itu mencibirkan bibirnya. Katanya, “Aku tidak akan membawa seorang pun untuk membantuku. Aku sanggup melakukannya sendiri. Setelah selapan.”

“Jangan berkata begitu,” jawab yang laki-laki. “Kita akan merencanakan usaha ini sebaik-baiknya. Biarlah Wiradana menikmati hari-hari perkawinannya. Tetapi jika selapan telah lewat, maka kita akan bertindak.”

“Aku akan menunggu sampai selapan,” geram perempuan itu.

“Baiklah. Marilah kita menyingkir,” ajak yang laki-laki.

Tetapi perempuan itu menjawab, “Tunggu. Aku masih ingin melihat wajahnya.”

“Apakah kau tidak akan dapat mengenalnya?” bertanya yang laki-laki.

“Bukan tidak mengenalnya. Aku akan selalu mengingat wajah itu. Justru karena laki-laki itu terlalu tampan. He, aku berkata dengan jujur. Adakah laki-laki diantara kita yang setampan anak muda itu? Beruntunglah perempuan yang menjadi istrinya. Tetapi kasihan. Selapan hari lagi, ia akan menjadi janda,” sahut perempuan itu.

Laki-laki yang berdiri disampingnya mengerutkan keningnya. Namun ia pun kemudian bergumam, “Kau jangan terpancang kepada ketampanan wajah laki-laki muda itu. Kau harus membunuhnya. Ia sudah membunuh semua kemungkinan dan harapan kita bagi masa depan. Ayahnya telah membunuh pamanmu.”

“Jangan cemas. Laki-laki itu akan menjadi mayat sesudah selapan hari. Aku tidak sampai hati merampas kebahagiaan istrinya itu sebelum ia menikmati perkawinannya,” jawab perempuan itu. “Karena itu, aku memberinya waktu.”

“Terserah kepadamu. Tetapi laki-laki itu harus mati karena kesalahan ayahnya.

Bahkan jika mungkin ayahnya pun harus mati,” geram laki-laki yang berdiri disebelah perempuan itu.

“Kau hanya mengucapkannya. Tetapi aku yang akan melakukannya harus memperhitungkan semua kemungkinan yang dapat terjadi atas usaha ini,” jawab perempuan itu.

“Termasuk wajahnya yang tampan?” sahut laki-laki itu.

Perempuan itu tersenyum. Katanya, “Jangan cemas.”

Demikianlah, maka kedua orang itu pun kemudian pergi meninggalkan tempat keramaian itu. Mereka menyelusuri lorong-lorong di dalam lingkungan padukuhan induk. Namun sikap mereka sama sekali tidak mencurigakan sehingga mereka kemudian hilang dari kesibukan Tanah Perdikan Sembojan.

Di tengah-tengah pategalan yang sepi, keduanya telah menyembunyikan dua ekor kuda. Demikian mereka mengambil kuda-kuda mereka, maka sejenak kemudian kuda-kuda itu pun telah berpacu menjauh dari Tanah Perdikan Sembojan.

“Aku harus memancingnya untuk dapat berhadapan dengan seorang dengan seorang,” berkata perempuan itu. “Aku tidak dapat membunuhnya di antara pengawalnya.”

“Aku jadi curiga,” berkata laki-laki itu, “Jika kau bertemu dengan laki-laki muda itu seorang dengan seorang maka yang terjadi akan lain.”

Perempuan itu tertawa. Katanya, “Nalarmu memang sangat picik. Kau tahu siapa aku he? Atau barangkali aku harus membunuhmu lebih dahulu?”

“Aku hanya ingin mengingatkanmu. Aku tidak bermaksud apa-apa,” jawab laki-laki itu.

Perempuan itu masih tertawa. Namun kemudian katanya, “Sudahlah. Selapan hari adalah batas yang pantas yang aku berikan bagi kesenangan perempuan yang menjadi isterinya itu.”

Laki-laki itu yang menyertainya itu tidak menjawab. Kuda itu berlari terus dalam gelapnya malam. Mereka memilih jalan-jalan yang tidak memasuki padukuhan, agar mereka tidak bertemu dengan orang-orang yang sedang bersuka ria, namun juga para pengawal yang berada di gardu-gardu. Dengan demikian, maka keduanya itu pun telah berhasil keluar dari Tanah Perdikan Sembojan tanpa rintangan apapun juga, sementara itu, keramian di Sembojan pun berlangsung dengan aman dan tidak mengalami gangguan apapun juga.

Yang paling bergembira dalam upacara itu adalah justru Ki Gede Sembojan. Demikian upacara perkawinan selesai dan para tamu serta rakyat Sembojan yang berkumpul di halaman mulai meninggalkan tempat keramaian, maka seakan-akan tidak lagi dapat menahan diri, Ki Gede telah menemui anak laki-lakinya beserta istrinya.

Dengan lancar Ki Gede berkata, “Anak-anakku. Rasa-rasanya tugasku benar-benar telah selesai. Aku sudah mengantarkan kalian sampai ke batas. Karena itu, maka sudah sewajarnya, jika aku menyingkir dari segala kehadiranku. Bahkan seandainya maut pun datang menjemput, aku sama sekali sudah tidak menyesal.”

“Ah, jangan berkata begitu,” jawab Wiradana.

“Aku berkata sebenarnya. Aku berkata dari dasar hati,” berkata ayahnya pula. Lalu, “Karena itu, dalam waktu dekat, aku ingin menyerahkan semua hak dan kewajibanku kepadamu, Wiradana. Bersiaplah untuk menerimanya. Aku percaya kepadamu, bahwa kau akan dapat melakukannya. Kau mempunyai ketangkasan untuk bertindak, sementara istrimu akan dapat membantumu. Ia memiliki pengetahuan yang dapat dipelajarinya dari kitab-kitab yang dibacanya. Jika kau tidak sempat

membaca kitab-kitab itu, maka biarlah istrimu melakukannya. Dalam tembang, maka isi kitab itu akan dapat semakin merasuk ke tulang sungsum.”

Wiradana tidak menjawab. Ia tidak mengerti, perasaan apakah yang sebenarnya sedang bergejolak. Apakah sebenarnya ia menjadi senang atas sikap ayahnya, atau sebaliknya. Tetapi rasa-rasanya memang ada satu keinginan untuk mencoba mengendalikan pemerintahan di Tanah Perdikan itu sepenuhnya.

Ternyata bahwa yang dikatakan oleh Ki Gede itu bukan sekadar terloncat saja dari sela-sela bibirnya. Di hari berikutnya, setelah hari perkawinan anaknya, ia sudah mulai merencanakan satu upacara penyerahan segala hak dan kewajibannya sebagai Kepala Tanah Perdikan kepada anak laki-lakinya. Apalagi Ki Gede merasa bahwa tubuhnya telah menjadi cacat, sehingga tidak mungkin baginya untuk dapat melakukan tugas sebaik-baiknya seandainya ia berusaha bertahan untuk menjadi Kepala Tanah Perdikan.

Karena itulah, maka di hari-hari berikutnya, Ki Gede sering memanggil orang-orang tua dan para bebahu Tanah Perdikan Sembojan untuk membicarakan persoalan yang direncanakannya, menyerahkan segala hak dan kewajibannya kepada anak laki-lakinya yang sudah melaksanakan salah satu kewajiban hidupnya, kawin.

Bagaimanapun juga, hari perkawinan itu mempunyai pengaruh juga atas Wiradana dan Iswari. Karena keduanya sebelumnya belum pernah tertarik kepada orang-orang lain, maka kehadiran mereka sebagai suami istri itu pun akhirnya telah menempatkan mereka ke dalam satu kenyataan, bahwa keduanya memang sepasang suami istri. Karena itulah, maka atas landasan kenyataan itu, maka mereka pun berusaha untuk dapat berbuat sebaik-baiknya sebagai dua orang yang telah terikat dalam perkawinan.

Dalam pada itu, di luar penglihatan siapapun juga, bahkan Ki Badra, Gandar merasa bahwa hidupnya telah menjadi terkoyak.

Dalam sekali dipusat jantungnya, tersimpan secercah harapan di dalam hidupnya atas seorang gadis yang tinggal bersamanya di dalam padepokan yang terpencil.

Tetapi Gandar merasa dirinya terlalu kecil.

Ia merasa dirinya bukan apa-apa sehingga karena itu, maka yang tersimpan di dalam hatinya akan tetap tersimpan.

Ketika ia melihat Iswari duduk bersanding dengan anak Kepala Tanah Perdikan Sembojan, maka hatinya terasa meronta. Tetapi dengan nalarnya ia berusaha untuk mengendalikannya.

“Apa yang dapat aku lakukan?” dengan pertanyaan itu, maka Gandar hanya dapat menatap gemerlapnya bintang-bintang di langit pada malam hari.

Betapa ia berusaha untuk menahan gejolak hatinya, ketika Ki Badra kemudian memanggilnya dan bertanya kepadanya, “Bagaimana menurut pendapatmu, setelah dilangsungkannya perkawinan itu?”

Gandar berusaha untuk tersenyum. Tanpa menghiraukan pedih dihatinya ia berkata, “Nampaknya keduanya berusaha untuk menyesuaikan diri dengan kenyataan itu. Kiai, aku yakin, bahwa perkawinan itu akan dapat memberikan kebahagiaan bagi Iswari dan Wiradana.”

Kiai Badra mengangguk-angguk. Katanya, “Mudah-mudahan. Yang dapat kita lakukan kemudian adalah berdoa, agar keduanya mendapat terang dihati dalam ikatan perkawinan mereka.” Gandar mengangguk-angguk. Dengan nada datar ia bergumam, “Hari depan mereka akan menjadi cerah,” Lalu katanya pula, “Bukankah Ki Gede sudah bersiap-siap untuk menyerahkan segala hak dan kewajibannya sebagai Kepala Tanah Perdikan kepada Wiradana.”

“Itulah yang aku cemaskan,” sahut Kiai Badra. “Menurut pengamatanku, Wiradana masih terlalu muda. Mungkin karena Ki Gede merasa dirinya menjadi cacat, maka ia tergesa-gesa melakukan penyerahan itu. Namun sebelumnya, seandainya Ki Gede

masih tidak berkeberatan memimpin Tanah Perdikan ini ia masih akan dapat melakukan tugasnya dengan baik. Hal-hal yang menyangkut kegiatan di medan,

biarlah dilakukan oleh Wiradana dengan petunjuk-petunjuknya. Ki Gede masih mempunyai kekuasaan untuk mengatur. Jika ada salah langkah dari Wiradana, Ki Gede masih mempunyai wewenang untuk meluruskannya.”

“Bukankah Wiradana juga sudah masak untuk menerima tugas itu?” bertanya Gandar.

Kiai Badra mengangguk-angguk. Jawabnya, “Mungkin sekali. Tetapi mungkin pula karena umurnya yang masih muda, maka ada hal-hal yang kadang-kadang terasa kurang mapan. Mudah-mudahan sejalan dengan meningkatnya umur Wiradana, maka ia akan menemukan keserasian sikap di dalam hidupnya.”

“Kiai tidak perlu mencemaskannya,” sahut Gandar, “Bukankah hal itu akan terjadi dengan sendirinya.” Kiai Badra tidak menjawab. Tetapi masih nampak sesuatu yang buram pada sorot matanya.

Sementara itu, diluar Tanah Perdikan Sembojan di dalam sebuah rumah besar dan berhalaman luas, nampaknya memiliki perabotan terpilih dan mahal, beberapa orang sedang berkumpul.

Mereka dengan sungguh-sungguh sedang berbincang-bincang tentang seseorang yang bernama Wiradana, anak Kepala Perdikan Sembojan yang baru saja melangsungkan hari perkawinannya.

“Kau terlalu berbaik hati Warsi,” berkata seorang laki-laki yang berambut putih, “Kenapa kau menunggu selapan?”

Perempuan yang dipanggil Warsi itu tertawa. Katanya, “Ayah yang sama sekali tidak berperikemanusiaan. Selapan hari itu pun sebenarnya terlalu pendek bagi sepasang pangantin baru.”

“Ayah Wiradana itu sama sekali tidak memikirkan apapun juga pada saat ia membunuh pamanmu. Ki Gede Sembojan sama sekali tidak menaruh belas kasihan kepada bibimu yang baru beberapa hari dikawininya. Ki Gede juga tidak menghiraukan bayi yang baru saja dilahirkan oleh bibimu yang satu lagi,” berkata orang tua itu.

Tetapi Warsi tertawa berkepanjangan. Katanya, “Itu salah paman sendiri. Ia baru beberapa hari kawin dengan bibi yang ke sembilan pada saat bibi yang keeman melahirkan. Sementara itu, paman masih juga berkeliaran di Tanah Perdikan

Sembojan, sementara anaknya yang baru lahir sebenarnya memerlukan kehadirannya.

Selebihnya Ki Gede Sembojan itu tidak mengetahuinya.”

Orang tua itu mengerutkan keningnya. Namun kemudian katanya, “Jadi kau tetap pada kebaikan hatimu untuk memberi kesempatan perkawinan itu berlangsung sampai selapan?”

“Biarlah. Sementara itu, aku akan sempat menyelidiki kemungkinan yang paling baik untuk memancing Wiradana keluar dari kubunya dan berhadapan dengan aku sendiri. Aku akan menunjukkan cara yang paling jantan untuk membunuhnya, sebagaimana ayahnya membunuh paman Kalamerta,” berkata Warsi.

Orang itu itu pun mengangguk-angguk. Katanya, “Siapa di antara orang-orang ini yang akan ikut bersamamu ke Sembojan?”

“Aku merencanakan untuk pergi sendiri agar tidak terlalu banyak menarik perhatian. Aku akan leluasa berada di Sembojan. Ada beberapa pasar yang cukup besar di Sembojan. Dan mungkin aku akan dapat berkeliling padukuhan dan keluar masuk halaman dengan caraku,” berkata perempuan itu. “Cara apa yang akan kau pakai?” bertanya ayahnya. “Aku dapat menjadi seorang penjual apa saja? Atau mungkin dapat menjadi penebas melinjo. Aku akan membeli melinjo yang masih ada di batangnya atau macam-macam buah yang lain. Atau cara lain yang lebih baik,” berkata Warsi.

“Terserah kepadamu. Tetapi tugas itu akan dapat kau lakukan semakin cepat semakin baik,” berkata ayahnya.

Namun tiba-tiba saja Warsi tersenyum. Katanya, “Ada cara yang paling menarik. Justru dengan menarik perhatian sebanyak-banyaknya. Tetapi rasa-rasanya malu

juga melakukannya. Beberapa hari aku pikirkan. Namun akhirnya aku segan melakukannya.”

“Cara yang mana?” bertanya ayahnya.

“Dengan ngamen berkeliling Tanah Perdikan Sembojan. Aku menjadi penari, dan beberapa orang menjadi pemukul gamelan,” berkata Warsi. Namun segera dilanjutkan, “Tetapi aku tidak ingin mempergunakan cara ini.”

Sesaat pertemuan itu menjadi hening. Namun tiba-tiba ayahnya berkata, “Aku rasa justru cara itulah yang paling baik. Warsi, dengan berkeliling Tanah Perdikan Sembojan sebagai pembeli dan mungkin membeli mlinjo di pohonnya akan mudah menarik perhatian. Mereka kadang-kadang akan bertanya, kau datang dari mana? Kau akan sulit untuk menjawabnya, apalagi kau hanya sendiri. Tetapi dengan ngamen seperti itu, kau dapat menjawab tempat yang jauh, yang tidak dikenal oleh orang-orang Sembojan.”

Warsi mengerutkan keningnya. Namun kemudian katanya, “Tetapi aku malu juga.

Meskipun aku dapat juga menarik, tetapi ditoton dan dikerumuni oleh banyak orang dengan cara yang kasar rasa-rasanya merinding juga. Apalagi dengan kebiasaan anak-anak muda yang ugal-ugalan.”

“Tetapi bukankah itu hanya satu cara? Jika kau sempat menarik perhatian keluarga Ki Gede, maka kau tentu akan dapat menyelidiki kehidupan Wiradana. Bukan hanya kau sendiri, tetapi para penabuh gamelan yang mengikutimu akan dapat membantumu tanpa menarik perhatian sebagaimana jika kau pergunakan cara lain,” berkata ayahnya.

Bahkan seorang yang pernah mengikuti Warsi menyusup ke halaman rumah Ki Gede pada saat Wiradana kawin berkata, “Aku condong untuk menempuh cara lain. Cara yang paling akhir.”

Ternyata beberapa orang justru menganjurkan agar Warsi mempergunakan cara yang paling akhir. Dengan cara itu, mereka akan dapat berada di Tanah Perdikan

Sembojan untuk waktu yang terhitung lama. Mereka akan dapat mohon untuk bermalam di banjar barang tiga atau empat hari. Sementara itu, Warsi akan dapat mempergunakan waktunya yang tersisa, setelah ngamen, untuk mencari cara jantan seperti yang di inginkannya, karena Warsi tidak mau membunuh Wiradana dengan cara yang licik.

“Aku akan menunjukkan bahwa darah keluarga Kalamerta bukan pengecut. Dan aku ingin melihat, bagaimana Wirada itu mati dalam ketakutan dan dalam kekecewaan, bahwa yang membunuhnya adalah seorang perempuan,” berkata Warsi berkali-kali

apabila ia mengatakan bagaimana ia akan membunuh Wiradana.

Namun dalam pada itu, agaknya beberapa orang telah menganjurkan Warsi untuk berangkat ke Sembojan dalam sebuah rombongan yang cukup. Lima orang akan mengiringinya sebagai penabuh dan ia sendiri akan menjadi ledeknya.

Atas desakan-desakan itu, akhirnya Warsi pun menerima cara yang sebenarnya tidak disukainya. Tetapi ia masih juga berkata, “Tetapi jika pada satu saat aku memukul laki-laki yang kasar hingga pingsan, jangan menyalahkan aku.”

“Kau dapat menjaga perasaanmu. Biarlah orang lain melakukannya, sehingga sikapmu tidak akan mengundang pertanyaan,” berkata ayahnya.

“Jadi diperlukan seseorang yang akan dapat menakuti penonton?” bertanya Warsi. “Ya. Tetapi jangan memancing persoalan, sehingga orang diseluruh padukuhan akan mengeroyok kalian,” berkata ayahnya pula.

Warsi tersenyum. Namun kemudian katanya, “Jika kalian memang sependapat, baiklah aku berusaha untuk menyesuaikan diri. Dalam satu dua hari, aku akan memperbaiki caraku menari, sementara itu dapat dipersiapkan seperangkat gamelan untuk kepentingan itu.

“Jangan cemas,” jawab orang yang pernah menyertainya ke Tanah Perdikan Sembojan,

“Aku akan menjadi tukang gendangnya. Kelompok kita akan menjadi kelompok yang serasi. Selain tukang gendang aku juga mampu menakut-nakuti orang.”

Demikianlah, maka mereka pun sepakat untuk melakukan cara itu. Warsi pun telah berusaha untuk memperbaiki tata gerak tarinya dan mencoba meningkatkan kemampuannya melontarkan tembang, sementara sekelompok kecil laki-laki telah berlatih menjadi pemukul gamelan yang akan mengiringi Warsi ngamen di daerah Tanah Perdikan Sembojan.

Menjelang selapan hari dari hari perkawinan Wiradana, maka sekelompok kecil orang-orang yang menyimpan dendam di dalam hatinya, telah mulai melakukan tugas mereka. Agar tidak menarik perhatian orang-orang yang pernah mengenali mereka dalam hidup mereka sehari-hari, maka mereka meninggalkan padukuhan mereka di malam hari, pada saat orang-orang tidur lelap.

Namun, demikian mereka sampai ke daerah yang tidak mereka kenal dalam kehidupan sehari-hari, maka mereka pun mulai melakukan sebagaimana mereka rencanakan.

Bahkan sebelum mereka memasuki Tanah Perdikan Sembojan, mereka sudah ngamen, justru untuk menghindari pertanyaan tentang gamelan yang mereka bawa.

Ternyata bahwa usaha mereka cukup berhasil. Bukan saja kelompok kecil itu tidak dicurigai oleh orang-orang di padukuhan yang mereka lalui, tetapi mereka benar-benar telah mendapat uang.

Sebenarnyalah Warsi adalah seorang perempuan yang sangat cantik. Dengan bekal kemampuannya menari, senyumnya dan tingkah lakunya, maka Warsi benar-benar telah menarik perhatian setiap laki-laki yang melihatnya.

Karena itulah, maka rombongan penari yang ngamen itu pun telah mendapat tanggapan yang sangat hangat dari orang-orang di padukuhan-padukuhan yang dilaluinya. Selain Warsi memang seorang yang cantik dengan kepandaiannya ternyata cukup baik sebagai seorang yang sedang ngamen.

Tetapi dengan demikian, perjalanan mereka ke Tanah Perdikan Sembojan menjadi semakin lambat. Mereka tidak dapat menolak, jika seseorang memanggilnya dan meminta rombongan itu bermain di halaman rumahnya. Bahkan kadang-kadang Warsi harus bermain di sudut-sudut padukuhan untuk memenuhi keinginan beberapa orang untuk menarik janggrung yang agak kasar.

Namun Warsi tidak ingin kelompok kecil itu dicurigai, sehingga karena itu, maka permintaan itu pun harus dipenuhinya.

Ngamen itu sendiri ternyata telah membawa pengalaman tersendiri bagi Warsi. Di beberapa tempat ia sempat melihat, beberapa orang laki-laki yang kasar justru telah saling berkelahi karena mereka ingin dan berebut dahulu untuk menari bersama Warsi. Mereka semula hanya saling dorong dan saling berebut sampur.

Namun akhirnya mereka telah benar-benar berkelahi.

Karena itulah, maka beberapa orang perempuan di padukuhan-padukuhan menjadi prihatin. Apalagi yang suaminya telah menjadi tergila-gila tledek yang ngamen di padukuhan itu.

Tetapi ada satu hal yang membuat perempuan-perempuan itu berbesar hati. Warsi menolak setiap usaha untuk memperkenalkan diri melampaui batas-batas antara penonton, sejauh-jauhnya menari bersama dengan mereka apabila mereka ngibing dalam tarian janggrung.

Dengan demikian, maka perjalanan kelompok kecil itu menjadi lebih lambat dari yang mereka perhitungkan. Baru beberapa hari kemudian mereka mendekati Tanah Perdikan Sembojan, dan kemudian memasukinya.

“Jangan melakukan tari yang kasar,” berkata salah seorang penabuh, “Kita harus menghindari permainan janggrung. Karena jika terjadi keributan seperti yang pernah kita alami, beberapa orang laki-laki saling berkelahi, maka kita akan dapat diusir dari Tanah Perdikan yang tertib ini.”

Warsi mengangguk-angguk. Ia pun sependapat, bahwa di Tanah Perdikan Sembojan ia akan menari lebih sopan dan baik daripada sepanjang perjalanan yang telah ditempuhnya. Sebenarnyalah, pengalaman di sepanjang jalan itu memberikan kegembiraan tersendiri kepada Warsi. Meskipun ia sendiri tidak menunjukkan, bahwa jika ia sedikit saja melepaskan ilmunya maka laki-laki kasar yang saling berkelahi itu akan menjadi pingsan karenanya. Dengan demikian Warsi telah berhasil mengekang dirinya dan benar-benar berperan sebagai seorang tledek yang cantik dan menarik.

Demikianlah, rombongan kecil penari dan pengiringnya itu telah memasuki Tanah Perdikan Sembojan. Sebelum kelompok itu, memang pernah datang kelompok-kelompok seperti itu. Namun kelompok-kelompok pengamen itu memang agak kurang mendapat

perhatian di Tanah Perdikan Sembojan.

Namun ketika untuk pertama kalinya Warsi kebar di sudut sebuah padukuhan, maka tanggapan para penontonnya agak lain. Penari yang satu ini menari dengan cara yang jauh lebih baik dari penari-penari yang pernah mereka lihat. Dengan luruh Warsi membawakan tari-tariannya dalam irama yang lambat. Sama sekali bukan sebuah tarian yang dapat menarik penontonnya untuk memasuki arena dalam irama yang panas dan bahkan kadang-kadang membakar.

Karena itulah, maka rombongan kecil yang membawa hanya seorang penari itu tidak terlalu banyak mengundang persoalan. Mereka yang telah menyaksikan Warsi menari menganggap bahwa penari yang satu ini adalah seorang penari yang baik. Bukan saja tingkah lakunya, tetapi juga tariannya. Sehingga dengan demikian, kelompok

kecil itu tidak menumbuhkan satu keinginan dari orang-orang Tanah Perdikan Sembojan untuk menolaknya.

“Agaknya kelompok ini berbeda dengan kelompok-kelompok lain yang pernah lewat di Tanah Perdikan ini,” berkata salah seorang yang telah menonton rombongan Warsi yang kebar di sudut padukuhan.

“Ya,” jawab yang lain, “Nampaknya mereka benar-benar sekadar mencari makan tanpa niat buruk seperti rombongan-rombongan lain yang dapat merusak rumah tangga.”

Tanggapan yang baik itu ternyata memang sangat menguntungkan bagi Warsi. Ketika ia kemudian kebar lagi di tempat lain, maka ia pun telah mendapat tanggapan yang sama. Warsi menari dengan sikap yang sopan dan baik. Bahkan seakan-akan ia sama sekali tidak berani mengangkat wajahnya yang selalu tunduk. Tari-tariannya pun

tidak pernah diiringi dengan gending-gending panas sebagaimana kebanyakan rombongan tledek yang lain.

Karena itulah, maka ketika pengendangnya, yang menjadi pemimpin dari rombongan itu mohon kepada seorang bekel di sebuah padukuhan dalam daerah kekuasaan Tanah Perdikan Sembojan untuk bermalam di Banjar, maka atas pertimbangan beberapa orang bebahu padukuhan itu, maka bekel itu pun sama sekali tidak berkeberatan. Kepada bekel itu, pengendang yang menjadi pemimpin rombongan itu pun mengaku, bahwa Warsi adalah anak gadisnya. Mereka melakukan ngamen itu justru karena terpaksa sekali.

“Daerah kami telah dilanda kekeringan. Musim kemarau yang terlalu panjang menimbulkan paceklik yang sulit diatasi. Karena itu maka untuk menyambung hidup kami, kami telah melakukan cara yang barangkali tidak terhormat ini,” berkata pengendang itu kepada Ki Bekel.

“Terhormat atau tidak, tergantung kepada kalian sendiri. Jika kalian benar-benar sekadar menyambung hidup, tanpa menimbulkan persoalan di tempat-tempat kalian mencari nafkah, maka aku kira yang kalian lakukan itu masih cukup terhormat,” jawab Ki Bekel.

“Ya Ki Bekel. Kami memang berusaha untuk tidak menimbulkan persoalan. Karena itu, kami berusaha untuk berbuat sebaik-baiknya. Kami benar-benar sekadar mencari penyambung hidup kami yang sulit,” berkata tukang kendang yang menjadi pemimpin rombongan tledek itu.

Demikianlah, ternyata rombongan Warsi itu dapat diterima dengan baik oleh orang-orang Sembojan. Mereka sama sekali tidak menaruh keberatan. Bahkan beberapa orang yang mendengar alasan kedatangan mereka menjadi belas kasihan.

“Kasihan sekali gadis yang cantik itu,” berkata seseorang, “Ia sama sekali tidak pantas menjadi tledek. Seharusnya ia menjadi istri seorang bekel atau seorang demang. Nampaknya ia masih malu ditonton orang. Namun agaknya desakan paceklik yang tidak teratasi telah memaksanya untuk memenuhi perintah orang tuanya.”

“Ketika ia mulai belajar menari, mungkin sama sekali tidak terbayang di angan-angannya, bahwa pada suatu ketika ia akan menjadi seorang tledek,” berkata yang lain.

Kawan-kawannya mengangguk-angguk. Namun justru dengan demikian rencana Warsi dapat berjalan dengan rancak tanpa hambatan. Ia sudah diterima dengan baik di Tanah Perdikan Sembojan. Mereka tinggal berusaha untuk dapat memasuki padukuhan induk Tanah Perdikan.

Usaha itu bukankah usaha yang sulit. Ketika semuanya sudah direncanakan dengan masak, maka pada suatu hari, rombongan kecil itu telah meninggalkan banjar dan berangkat menuju ke padukuhan induk. Agak berbeda dengan hari-hari sebelumnya, maka Warsi menuju ke padukuhan induk Tanah Perdikan pada sore hari.

Ketika matahari mulai terbenam di ujung Barat, Warsi mulai kebar di sudut padukuhan induk. Suara gamelannya telah mengumandang, memanggil para penghuni padukuhan. Sebagian besar dari mereka telah pernah mendengar, bahwa ada sekelompok orang ngamen yang memasuki Tanah Perdikan Sembojan. Tetapi kelompok ini adalah kelompok yang manis. Tidak menunjukkan tari-tarian yang panas dan kasar, yang dapat menumbuhkan persoalan bagi keluarga yang kurang teguh imannya.

Sehingga dengan demikian maka rombongan ini benar-benar hanya satu jenis tontonan yang menyenangkan.

Sejenak kemudian, maka sudut padukuhan induk Tanah Perdikan Sembojan itu pun telah penuh dengan orang-orang yang ingin menonton. Di bawah lampu minyak yang terang, mereka menyaksikan seorang gadis cantik yang menari dengan gerak yang gemulai sambil menundukkan kepalanya. Seolah-olah gadis itu sama sekali tidak berani mengangkat wajahnya memandang orang-orang yang berkerumun menyaksikan dan mengaguminya.

“Gadis itu cantik sekali,” desis seorang anak muda.

Suramnya Bayang-bayang 2

“Sayang sekali, bahwa ia terperosok ke dalam satu kehidupan yang memelas,” sahut kawannya.

“Tetapi bukankah itu lebih baik baginya daripada ia menempuh cara hidup yang sesat dengan memanfaatkan kecantikannya dan kepandaiannya menari? Perempuan lain mungkin akan berbuat jauh lebih dalam dari yang dilakukan. Perempuan lain akan menari sambil menengadahkan wajahnya. Memandang setiap laki-laki dengan kerling mata yang memukau. Namun yang kemudian memaksa laki-laki melemparkan uang seberapa saja yang ada di dalam sakunya. Bahkan mungkin akan dapat dilakukan satu pelanggaran yang lebih jauh dan gawat, sehingga seseorang akan dapat menjual rumah, halaman, kerbau dan sapinya bahkan sawah dan ladangnya,” berkata anak muda yang pertama.

Kawannya mengangguk-angguk. Tetapi sambil tersenyum ia berkata, “He, agaknya kau sudah tertarik kepada kecantikan gadis itu.”

“Aku memang menganggapnya seorang gadis yang sangat cantik. Nampaknya kelakuannya tidak tercela. Aku berkata dengan jujur,” jawab yang pertama. Lalu, “Aku kasihan kepadanya. Justru karena paceklik yang ganas, ia harus menjalani hidup seperti itu. Menjadi tontonan dan tidak mustahil ada saja laki-laki yang mengganggunya.”

“Pengiringnya tentu akan melindunginya,” sahut kawannya.

Anak muda itu mengangguk-angguk. Sementara itu mereka pun telah terpukau oleh gerak Warsi yang diiringi oleh irama gamelan yang ngerangin meskipun dengan gamelan yang sederhana. Irama yang lembut dan wajah yang tunduk memang dapat menyentuh perasaan para penontonnya. Sehingga ketika salah seorang pengiringnya mengedarkan tambir untuk mendapat sumbangan dari para penontonnya, maka beberapa orang dengan tidak segan-segan telah melemparkan uang yang mereka bawa ke dalam tambir itu.

Malam itu adalah malam yang pertama Warsi menginjakkan kakinya sebagai seorang penari di padukuhan induk Tanah Perdikan Sembojan. Malam itu Warsi masih belum menerima permintaan khusus untuk menari di halaman seseorang. Malam itu Warsi masih menari dalam rangka memperkenalkan diri dan dengan rendah hati seorang pengiringnya mengedarkan tambir untuk menerima kemurahan hati para penontonnya. Dengan perkenalannya malam itu. Ternyata Warsi berhasil menarik perhatian beberapa orang. Ada beberapa alasan dari mereka yang di hari-hari berikutnya

memanggilnya untuk menari di halaman dengan imbalan tertentu. Ada yang karena belas kasihan, tetapi ada juga yang ingin menatap kecantikannya.

Bahkan dengan kecerdikan yang terselubung, pengendangnya berhasil memohon untuk dapat tinggal di banjar padukuhan induk barang dua tiga hari.

Ketika permohonan itu disampaikan kepada Wiradana maka Wiradana masih belum banyak memperhatikan kehadiran sekelompok orang-orang ngamen di Tanah Perdikannya. Ia hanya menanyakan kepada beberapa orang pembantunya apakah permohonan itu sebaiknya dikabulkan atau tidak.

“Kelompok ini agaknya kelompok yang baik,” jawab salah seorang pembantunya. “Tidak ada kesan yang dapat menumbuhkan ketidaksenangan seseorang kepada kelompok ini. Bahkan dapat memancing belas kasihan beberapa orang yang menyaksikannya dan mendengar kisah, kenapa seorang gadis yang cantik harus ikut

dalam kelompok ngamen seperti itu.”

“Jika kalian tidak berkeberatan, maka terserah sajalah,” jawab Wiradana. “Aku sendiri belum pernah melihat tontonan itu.”

“Setiap sore, sebelum berangkat berkeliling, rombongan itu lebih dahulu telah kebar di halaman banjar meskipun tidak terlalu lama,” jawab pembantunya. Wiradana hanya mengangguk-angguk saja. Tetapi ia memang belum menyempatkan diri untuk melihat pertunjukan yang menarik itu.

Namun dalam pada itu, Wiradana masih terhitung pengantin baru itu telah kembali ke dalam tugas-tugasnya. Kadang-kadang ia berada di padukuhan-padukuhan sampai larut malam.

Tetapi pada satu saat, terbersit pula keinginannya untuk melihat tontonan yang menjadi bahan pembicaraan banyak orang itu. Apalagi kadang-kadang ia juga mendengar suara gamelan yang dihanyutkan angin menyentuh daun telinganya. Namun rasa-rasanya ia masih belum mempunyai waktu.

Adalah satu kebetulan, bahwa ketika Wiradana berada di satu padukuhan yang sedang menyelesaikan perbaikan bendungan dan dengan sengaja mengundang rombongan kecil itu sebagai pelepas lelah dimalam hari, maka Wiradana menyaksikan tontonan itu di tepian, di atas pasir di bawah bendungan.

Ketika terpandang olehnya wajah gadis penari yang cantik itu, maka rasa-rasanya jantungnya berdenyut semakin cepat. Namun dengan segera ia berusaha untuk mengendalikan diri. Bahkan di dalam hatinya ia berkata, “Aku sudah seorang pengantin baru.”

Namun demikian, kesempatan Wiradana menyaksikan tontonan itu di tepian, telah membawa akibat yang berkepanjangan. Penglihatannya yang sekilas itu telah membawanya untuk menyaksikan penari itu pada kesempatan berikutnya.

Meskipun Wiradana tetap pada kesadarannya, bahwa ia baru saja menginjak masa perkawinan, namun gadis penari itu memang seorang gadis yang cantik di matanya.

Dalam pada itu, Warsi pun sadar sepenuhnya, bahwa ia sudah berhasil menarik perhatian Wiradana. Anak Ki Gede Sembojan yang telah membunuh pamannya. Ia pun selalu ingat, bahwa setelah selapan ia harus memancing Wiradana itu untuk dapat

bertemu seorang diri. Atau ia dengan sengaja menyelidiki, pada saat-saat yang manakah Wiradana mengunjungi padukuhan-padukuhan atau kebiasaan-kebiasaan yang lain yang dapat memberinya kesempatan untuk bertemu seorang dengan seorang.

“Aku harus membalaskan dendam seluruh keluarga Kalamerta. Menurut pengamatanku, laki-laki ini masih belum mampu menguasai ilmunya dengan sempurna,” berkata Warsi di dalam hatinya.

Dengan demikian, maka Warsi pun berusaha untuk mendapatkan kesempatan-kesempatan berikutnya, agar Wiradana memperhatikannya.

Hampir tidak terduga oleh Warsi sendiri, ketika pada satu sore, sebelum rombongan itu kebar di halaman banjar tiba-tiba saja Wiradana sudah ada di banjar itu. Bahkan Wiradana telah menyempatkan diri untuk bertemu dengan rombongan yang sudah berhias dan siap untuk mulai dengan kebarnya di halaman.

Dalam pada itu, sebenarnyalah Warsi seorang gadis yang sangat cantik. Dalam jarak yang lebih dekat, Wiradana sempat melihat kecantikan Warsi yang wajahnya

selalu menundukkan seakan-akan ia tidak mempunyai keberanian untuk bertatap muka dengan Wiradana.

Namun dalam pada itu, setiap kali Warsi pun telah mencuri pandang. Selagi Wiradana berbincang dengan anggota rombongan kecil itu, sekali-kali Warsi sempat memandang wajah anak muda itu.

Tidak ada yang memperhatikan kerut wajah Warsi yang sudah berhias, sehingga nampaknya ia semakin cantik. Tidak ada pula yang melihat apa yang sebenarnya tersirat di hati perempuan itu.

Demikianlah, Wiradana sempat berbincang-bincang beberapa lamanya dengan rombongan kecil itu. Juga dengan Warsi sendiri.

“Silakan,” berkata Wiradana kemudian, “Kami menerima kalian dengan senang hati.

Terbukti hampir setiap malam kalian mendapat panggilan di beberapa rumah di berbagai padukuhan dalam kepentingan yang berbeda. Ada yang hanya sekadar ingin bersenang-senang. Tetapi ada yang justru untuk menutup satu kerja yang cukup melelahkan. Tetapi pada dasarnya kami tidak berkeberatan atas kehadiran kalian

disini.”

Demikianlah, ketika Wiradana meninggalkan banjar sebelum kebar, pengendang yang menjadi pemimpin rombongan itu berdesis ditelinga Warsi, “Dua hari lagi, pengantin itu akan mengadakan upacara selamatan. Memang tidak terbiasa untuk mengadakan upacara di selapan hari yang biasanya dilakukan untuk pengantin hari kelahiran. Tetapi agaknya ada juga orang-orang terpandang yang melakukan upacara untuk memperingati hari perkawinan. Dan setelah itu, maka kau akan dapat segera menyelesaikan tugasmu. Isteri Wiradana akan segera menjadi janda.”

WARSI mengangguk-angguk. Lalu katanya, “Kita harus tahu, kapan Wiradana berada di luar padukuhan induk seorang diri.”

“Menilik cara hidupnya, maka kesempatan banyak kau peroleh. Ia sering berada di padukuhan-padukuhan di luar padukuhan induk dan kembali seorang diri justru pada malam hari. Sebagaimana diceriterakan oleh para pengawal Tanah Perdikan ini,” berkata salah seorang pengiringnya.

“Kita harus meyakinkannya,” jawab Warsi. “Mulai nanti malam, aku akan menyelidikinya.”

“Tidak sekadar menyelidiki,” berkata pengiringnya. “Jika kesempatan itu ada, kau langsung dapat bertindak.”

“Bukankah masih belum selapan?” bertanya Warsi.

“Jangan terikat dengan selapan. Selapan hanyalah ancar-ancar waktu yang akan kau berikan kepada istri Wiradana. Kurang satu atau dua hari sama sekali bukan soal,” berkata pengendangnya.

Tetapi Warsi mengerutkan keningnya. Dengan sungguh-sungguh ia menjawab, “Yang akan membunuhnya aku atau kau?”

Para pengiringnya telah mengenal sifat Warsi dengan baik. Karena itu, maka mereka tidak menyahut lagi. Segalanya memang terserah kepada Warsi.

Demikianlah seperti yang dikatakan. Lewat tengah malam, jika orang-orang Sembojan telah tidur lelap, Warsi telah keluar dari banjar tanpa diketahui oleh para peronda. Menurut pengetahuan para peronda, orang-orang dalam rombongan tledek itu telah tertidur kelelahan. Mereka kembali dari ngamen beberapa saat sebelum tengah malam. Sehingga ketika tidak ada lagi suara bercakap-cakap di antara mereka, maka para peronda pun menyangka bahwa mereka telah tertidur nyenyak.

Namun dalam pada itu, Warsi dalam keadaan yang khusus telah berada disekitar rumah Ki Gede. Beberapa orang peronda masih berjaga-jaga di regol halaman.

Agaknya Sembojan masih belum melupakan kemungkinan hadirnya kembali orang-orang yang semula menjadi pengikut Kalamerta dan yang telah dihancurkan oleh Wiradana.

Sementara itu, ternyata bahwa Wiradana memang sering berada di antara para peronda. Bahkan ketika Warsi telah melakukan pengamatan itu barang tiga hari, maka ia pun mengetahui bahwa Wiradana sering keluar dari halaman rumahnya

melihat-lihat gardu-gardu peronda yang lain seorang diri.

Dengan demikian, maka Warsi pun melihat satu kemungkinkan untuk memancingnya keluar padukuhan dan menantangnya perang tanding untuk menentukan siapa di antara mereka yang akan mati terbunuh. Tetapi Warsi yakin, bahwa ia akan dapat memenangkan perang tanding itu. Menurut penglihatannya Wiradana memang bukan orang yang memiliki ilmu seperti ayahnya.

Namun sejauh itu, ia masih belum berbuat sesuatu.

“Warsi,” berkata pengendangnya, “Kemarin waktu yang selapan itu telah datang.

Hari ini kita sudah berada di luar batas waktu yang kau berikan. Karena itu, agar kita tidak terlalu lama berada disini, maka kau akan dapat bertindak secepatnya.”

Warsi mengangguk-angguk. Tetapi katanya, “Kita salah memilih waktu. Tetapi sulit bagi kita untuk merubahnya. Jika kita tetap berkeliling disiang hari, maka kita mempunyai banyak kesempatan. Benar seperti yang kita dengar, bahwa Wiradana sering berada di padukuhan-padukuhan kecil dan kembali ke padukuhan induk di malam hari. Tetapi pada saat itu, aku masih harus menari. Ia kembali ke padukuhan induk tidak lebih dari saat sirep bocah. Sementara itu, pertunjukan masih dalam suasana yang paling mantap untuk satu pertunjukan.”

“Jadi, bagaimana menurut pertimbanganmu?” bertanya tukang gendangnya.

“AKU sudah menyelidikinya. Aku yakin, bahwa pada suatu saat aku akan dapat memancingnya keluar,” jawab Warsi. “Memang pada saat sirep bocah ia kembali dari padukuhan-padukuhan lain meskipun ternyata tidak setiap hari menurut keterangan yang aku dengar dan barangkali juga kalian dengar dari peronda-peronda itu.

Tetapi biasanya ditengah malam Wiradana juga keluar rumahnya dan melihat gardu-gardu di padukuhan induk ini.”

“Nah, bukankah kau mempunyai kesempatan juga?” bertanya salah seorang pengikutnya.

“Jangan dungu. Aku tentu akan dapat melakukannya di padukuhan induk ini. Tetapi aku harus memancingnya keluar, agar tidak ada yang ikut campur, apalagi para pengawal,” jawab Warsi.

“Segalanya terserah kepadamu. Yang penting, Wiradana sukur Ki Gede dapat kau bunuh,” berkata pengendangnya.

“Kau hanya tahu hasilnya. Tetapi kau tidak mau tahu kesulitan-kesulitan yang dapat timbul,” geram Warsi.

Para pengiringnya tidak menyahut lagi. Mereka tidak banyak dapat berbuat. Karena itu, segalanya memang terserah kepada Warsi.

Namun, ketika mereka telah berada lebih dari sepuluh hari di tempat itu Warsi masih belum berbuat apa-apa. Pengendangnya dengan cemas berkata, “Warsi. Bagaimana pun juga ramah tamahnya orang-orang Perdikan ini terhadap kita, namun ternyata kita sudah terlalu lama berada disini. Semua padukuhan di Tanah Perdikan ini sudah kita jelajahi. Dan akhirnya kita pun harus dapat mengambil kesimpulan, bahwa pertunjukan kita sudah mulai terasa jenuh bagi orang-orang Tanah Perdikan ini.”

“Lalu apa yang kau maksud?” bertanya Warsi.

“Terserahlah menurut pertimbanganmu,” sahut tukang gendang itu.

Warsi menarik nafas dalam-dalam. Lalu katanya, “Besok segala-galanya akan berakhir.”

Pengendangnya mengangguk-angguk. Dengan nada datar ia berkata, “Sukurlah jika kau sudah mengambil satu ketetapan. Dengan demikian maka kita akan segera dapat kembali ke dalam lingkungan kita sendiri. Meskipun disini diterima dengan baik dan ramah, namun agaknya memang lebih senang hidup di lingkungan keluarga sendiri.”

“Kita sedang menjalankan satu kewajiban,” berkata Warsi. “Bahkan kita akan mendapat hasil ganda. Kita akan dapat membunuh Wiradana, meskipun barangkali tidak dapat aku lakukan atas ayahnya, dan kita mendapat banyak uang.”

“Apa artinya uang itu?” jawab tukang genangnya. “Dengan memasuki rumah seorang saudagar kaya maka aku akan mendapatkan lebih banyak dari jumlah yang dapat kita kumpulkan selama tiga ngamen.”

“Tetapi nilainya berbeda,” jawab Warsi. “Uang yang kita dapatkan dengan kerja itu rasa-rasanya memang memberikan kenikmatan tersendiri kepada kita. Jika kita membeli minuman, terasa alangkah segarnya dan jika kita membeli makanan alangkah nikmatnya. Kita dapat menelannya tanpa ragu-ragu sama sekali.”

“Sejak kapan kau dapat mengatakannya demikian?” bertanya tukang gendang itu. Warsi menarik nafas dalam-dalam. Tetapi kemudian katanya, “Baiklah. Aku ulangi, besok segala-galanya akan selesai. Tetapi aku tidak akan dapat membunuh ayah Wiradana. Bukankah menurut pendengaran kita, ia menjadi cacat. Biarlah ia tetap hidup dalam keadaan cacat itu. Ia bukan harimau lapar yang siap menerkam dengan garang. Tetapi kini ia tidak lebih dari kucing sakit-sakitan.”

Tukang gendangnya tidak menjawab. Tetapi ia benar-benar berharap bahwa dihari berikutnya Warsi akan menyelesaikan tugasnya dengan sebaik-baiknya.

Demikianlah dihari berikutnya itu, seperti biasa rombongan kecil itu bersiap-siap menjelang senja. Namun ternyata bahwa mereka tidak segera dapat kebar di halaman. Wiradana ternyata telah datang ke banjar untuk menemui rombongan kecil itu. Tidak ada persoalan yang penting. Tetapi ia sekadar didorong oleh satu keinginan untuk berbincang saja. Wiradana sendiri tidak tahu kenapa ia berbuat demikian. Tetapi ia tidak mampu menolak keinginannya untuk berbicara dengan penari yang cantik itu.

“Kita sudah terlalu lama mendapat kemurahan hati Ki Wiradana,” berkata Warsi sambil merendah. “Karena itu seharusnya kami sudah meninggalkan tempat ini untuk melanjutkan perjalanan menjelajahi padukuhan-padukuhan untuk sekadar mengatasi paceklik yang kejam di daerah kami.”

“Kalian tidak perlu tergesa-gesa,” sahut Wiradana. “Kalian dapat tinggal disini sampai kapanpun.”

“Tetapi orang-orang Tanah Perdikan ini sudah mulai jenuh dengan tontonan yang tidak berarti ini,” desis Warsi sambil menundukkan kepalanya.

“Tentu belum,” berkata Wiradana. “Cobalah untuk beberapa hari lagi. Tetapi jika kalian akan menembus padukuhan-padukuhan lain di luar Tanah Perdikan ini, tetapi tetap tinggal di banjar ini, kami pun tidak berkeberatan.”

“Perjalanan kami akan terlalu jauh,” jawab Warsi.

Wiradana mengangguk-angguk. Namun kemudian katanya, “Bagaimana pun juga, sebenarnya kami akan dapat memberikan tempat sebaik-baiknya kepada kalian.

Kecuali jika kalian memang sudah tidak lagi memerlukan tempat ini.”

Warsi mengerutkan keningnya. Hampir diluar sadarnya ia mengangkat wajahnya memandang Wiradana. Namun ternyata bahwa sorot mata Wiradana bagaikan mencekam  jantungnya, sehingga Warsi itu pun dengan serta merta telah menunduk kembali.

Terasa jantung Warsi bagaikan berdegup semakin cepat. Wiradana ternyata seorang laki-laki yang jauh dari yang dibayangkannya. Jika ia datang dengan membawa dendam yang menyala dihatinya, maka berhadapan dengan laki-laki itu, hatinya bagaikan menjadi lembut sebagaimana hati seorang perempuan.

Untuk beberapa saat, mereka saling berdiam diri. Namun kemudian Wiradana itu pun bangkit sambil berkata, “Tanah ini terbuka bagi kalian sampai kapanpun juga kalian kehendaki.”

“Terima kasih,” jawab Warsi masih sambil menunduk. Baru ketika Wiradana melangkah meninggalkannya, maka Warsi itu pun mengangkat wajahnya, memandangi langkah yang tegap menjauhinya. Tetapi rasa-rasanya langkah itu meninggalkan kesan yang dalam dihatinya.

Dalam pada itu, maka waktu kebar pun telah tiba, bahkan biasanya dilakukan lebih awal. Tetapi karena kehadiran Wiradana, maka kebar itu pun terpaksa mundur beberapa saat. Sementara itu di halaman telah banyak anak-anak muda yang datang untuk sekadar melihat Warsi menari meskipun tidak lama, sekadar untuk menghangatkan badannya dan memberikan sedikit hiburan kepada para tetangga, karena rombongan kecil itu sudah bermalam di banjar.

Seperti biasanya, maka pada saat sirep uwong, menjelang tengah malam, rombongan itu sudah kembali ke banjar. Setelah membenap style=”text-align:justify;”hi gamelan dan diri mereka masing-masing, maka orang-orang dari rombongan itu pun mulai beristirahat.

Mereka sekadar minum dan makan, sebelum mereka berbaring di amben di serambi banjar.

“Malam ini segala-galanya akan selesai,” berkata pengendangnya kepada Warsi.

Warsi memandanginya dengan sorot mata yang asing. Namun kemudian ia pun mengangguk kecil sambil menjawab, “Ya. Segala-galanya harus selesai.”

“KITA akan berusaha untuk mendapat perhatian para peronda. Mereka harus mengetahui bahwa kita semuanya lengkap berada disini. Mereka tentu tidak akan mengira bahwa kau telah meninggalkan banjar dan membunuh Wiradana. Dengan demikian, maka atas kematian Wiradana tidak akan dapat dilontarkan tuduhan

kepada salah seorang diantara kita disini,” berkata tukang gendangnya.

Warsi mengangguk-angguk. Katanya, “Baiklah. Aku akan pergi.”

Tukang gendangnya mengangguk-angguk, sementara Warsi telah mengenakan pakaian yang khusus.

Sepeninggalan Warsi, maka tukang gendang yang berada di serambi itu telah berusaha menarik perhatian para peronda untuk menyatakan bahwa mereka sekelompok kecil itu seluruhnya berada di banjar. Jika ada yang tidak nampak di antara

mereka, itu adalah Warsi yang mendapat sebuah bilik khusus dibagian samping dari banjar itu.

Lewat tengah malam, maka tukang gendang itu telah pergi ke gardu dan menemui peronda yang sedang berjaga-jaga. Katanya, “Ki Sanak, apakah kami dapat minta minyak kelapa barang setetes?”

“Untuk apa?” bertanya peronda itu.

“Seorang kawan kami telah menderita sakit. Aku kurang pasti, apakah sebabnya.

Tadi, ketika kami sedang melakukan kewajiban, agaknya sudah mulai terasa olehnya, bahwa badannya kurang enak. Sekarang sakit itu terasa menusuk,” berkata tukang gendang itu.

“Apanya yang terasa sakit?” bertanya peronda itu.

“Semula punggungnya merasa pegal. Namun kemudian perutnya pun menjadi mual,” jawab tukang gendang itu.

Peronda itu pun mengangguk-angguk. Lalu katanya, “Coba, aku akan menanyakan kepada tetangga terdekat disebelah. Mudah-mudahan mereka mempunyai minyak kelapa barang setetes.”

“Terima kasih Ki Sanak,” jawab pengendang itu.

Demikianlah, maka peronda itu pun telah pergi ke rumah sebelah, setelah ia menyerahkan tugasnya kepada kawannya.

Ternyata sebagaimana diminta, maka peronda itu pun telah mendapat minyak kelapa meskipun hanya sedikit. Kepada kawannya di regol, peronda itu berkata, “Aku akan menemui mereka diserambi. Kasihan, seorang di antara mereka sedang sakit.”

Kehadiran peronda itu merupakan saksi, bahwa rombongan pemukul gamelan itu lengkap menunggui seorang kawannya yang sedang sakit. Bahkan ketika seorang kawan peronda itu yang lain datang menengoknya pula, ia pun melihat, semua orang berada di serambi itu kecuali Warsi. Namun ketika para peronda itu melihat pintu bilik di bagian samping banjar tertutup, maka mereka pun menduga, bahwa Warsi yang lelah telah tidur lelap di dalamnya.

Namun dalam pada itu, Warsi telah berada di halaman rumah di depan rumah Ki Gede Sembojan. Untuk beberapa saat ia menunggu. Kadang-kadang Wiradana memang keluar lewat tengah untuk melihat-lihat para peronda atau bahkan pergi ke gardu di bagian lain dari padukuhan induk itu. Tetapi sudah barang tentu hal itu tidak dilakukan setiap malam.

“Mudah-mudahan malam ini ia keluar rumah,” desis Warsi yang telah beberapa lama menunggu.

Sebenarnyalah, tiba-tiba saja pintu pringgitan pun telah terbuka. Seorang laki-laki muda muncul dari balik pintu dan berdiri tegak memandang ke kegelapan.

Dipinggangnya terselip sebuah pedang yang tidak terlalu panjang.

Beberapa saat Wiradana berdiri termangu-mangu. Namun kemudian ia pun telah menghambur turun tangga pendapa rumahnya menuju ke gardu.

Warsi mengamati semua gerak Wiradana dengan seksama. Ada semacam gejolak yang sulit dimengerti. Namun kemudian ia menggeram,” Aku harus membunuhnya.”

Seperti yang diharapkan oleh Warsi, maka Wiradana pun kemudian keluar dari regol halamannya. Berjalan menyusuri jalan induk yang sudah sepi.

“Akhirnya saat itu datang juga,” desis Warsi, “Aku akan mengikutinya,

memancingnya keluar padukuhan dan membunuhnya. Jika perhitunganku tentang kemampuannya keliru, maka akulah yang akan mati. Tetapi itu adalah akibat yang wajar dari dendamku yang membakar jantung. Aku atau Wiradana.”

Demikianlah, maka Warsi pun mengikuti Wiradana tanpa diketahuinya. Warsi yang sudah mengamati jalan-jalan di padukuhan induk itu mengerti dengan sebaik-baiknya, dimana ia harus mulai memancing calon korbannya. Sebagaimana yang direncanakan oleh Warsi, maka ketika Wiradana sampai di sebuah tikungan, maka Warsi telah meloncat langsung ke jalan di belakang langkah Wiradana. Ia sengaja membuat langkahnya dapat memanggil Wiradana untuk berpaling.

Sebenarnyalah Wiradana terkejut mendengar seseorang meloncat ke jalan yang dilaluinya. Dengan serta merta ia meloncat berputar dan dalam sekejab tangannya telah berada di hulu pedangnya.

Jantung Wiradana menjadi berdebar-debar. Seorang dengan wajah yang tertutup, telah berdiri tegak di hadapannya.

“Siapa kau?” bertanya Wiradana dengan dada yang berdebaran.

Tetapi orang itu tidak menjawab. Dalam pakaian yang serba hitam, maka orang yang berdiri tegak itu nampaknya memang menantangnya. Seorang yang bertubuh kecil, namun nampaknya terlalu tangkas dan bergerak dengan cepat.

“Siapa kau dan maksudmu?” bertanya Wiradana pula.

Orang itu tetap tidak menjawab. Tetapi tiba-tiba saja ia bergeser surut.

“Tunggu,” cegah Wiradana.

Tetapi orang itu telah meloncat dinding halaman sebelah dan kemudian berlari ke dalam gelap.

Wiradana menjadi berdebar-debar. Tanpa berpikir panjang, maka ia pun telah menyusulnya. Wiradana telah meloncati dinding halaman itu pula dan mengejar orang yang berlari kedalam kegelapan itu.

Namun agaknya Warsi memang tidak ingin melepaskan diri. Ia sengaja berlari tidak terlalu cepat. Meskipun ia menyusup pepohonan perdu yang tumbuh dihalaman, namun ia sengaja agar Wiradana selalu dapat mengikutinya kemana ia pergi.

Sebagaimana diharapkan maka Warsi memang berhasil memancing Wiradana keluar dari padukuhan induk. Demikian Warsi meloncati dinding padukuhan yang tidak terawasi oleh para peronda, maka Wiradana pun telah melakukannya pula. Ia tidak mau

kehilangan orang yang mencurigakan itu. Meskipun ia pun sudah menduga, bahwa orang itu sengaja memancingnya.

Ketika Warsi kemudian berlari menjauhi padukuhan, Wiradana menjadi ragu-ragu. Ia memang maju beberapa puluh langkah, tetapi akhirnya ia pun berhenti. Wiradana mulai memperhitungkan kemungkinan bahwa orang yang dicurigainya itu berbuat licik. Ia dapat menyiapkan sebuah jebakan yang terdiri dari beberapa orang untuk membinasakannya.

Menurut dugaan Wiradana, maka yang dihadapinya itu tentu orang-orang yang ingin membalas dendam atas kematian Kalamerta dan hancurnya sekelompok pengikutnya.

Tetapi ternyata orang itu tidak meninggalkannya. Ketika Warsi sadar bahwa Wiradana berhenti, maka ia pun telah berhenti pula. Dan bahkan ia pun telah melangkah kembali mendekati Wiradana yang berdiri termangu-mangu.

“Siapa sebenarnya kau,” sekali lagi Wiradana bertanya.

Tetapi Warsi tetap tidak menjawab. Ia sadar bahwa suaranya adalah suara seorang perempuan, karena itu, maka Wiradana akan cepat menghubungkan hadirnya itu dengan kehadiran serombongan pengamen di Tanah Perdikannya. Meskipun ia berpakaian seorang laki-laki, tetapi suaranya akan tetap menunjukkan jenisnya.

Jika saat itu ia gagal membunuh Wiradana, maka akibatnya akan parah bagi semua anggota rombongannya.

Karena orang itu tidak menjawab, maka Wiradanapun berkata keras, “Kau membuat aku curiga. Marilah kau aku tangkap untuk pemeriksaan.”

Orang itu masih tetap berdiri tegak. Namun kemudian dengan sikapnya, orang itu memaksa Wiradana untuk bergeser mundur.

Warsi pun kemudian bersikap untuk menyerang. Tanpa kata-kata namun jelas bagi Wiradana bahwa orang itu telah menantangnya untuk berkelahi.

“Baik,” berkata Wiradana, “Aku mengerti kau ingin bertempur. Tetapi katakan, apa alasanmu dan siapakah kau sebenarnya?”

Tetapi Warsi tidak menjawab. Ia mulai bergeser hati-hati. Bahkan tiba-tiba saja Warsi kemudian telah mulai menyerang.

Wiradana masih sempat mengelak. Bahkan ia masih sempat berkata, “Sebut saja apa alasanmu?”

Tetapi Warsi tidak menghiraukannya. Dengan jarinya ia mengisyaratkan untuk bertempur seorang lawan seorang.

“Apakah kau bisu?” bertanya Wiradana.

Dalam keremangan malam Wiradana melihat Warsi mengangguk.

“Gila,” geram Wiradana. “Apa maunya orang bisu ini.”

Dengan demikian Wiradana tidak bertanya lagi. Meskipun ia masih juga curiga. Biasanya orang bisu itu juga tuli. Jika orang itu bisu dan tidak tuli, mungkin ada sebab-sebab tersendiri. Namun Wiradana pasti bahwa orang itu tidak tuli.

Namun apapun juga orang itu, Wiradana harus menghadapinya dalam satu pertempuran. Dalam waktu yang singkat, maka keduanya telah mengerahkan kemampuan mereka.

Ternyata bahwa orang yang tidak dikenal itu memiliki kecepatan bergerak yang sulit untuk diimbangi. Tetapi Wiradana pun mempunyai kelebihan dari lawannya.

Kekuatan Wiradana agaknya lebih baik daripada lawannya, sehingga dalam benturan-benturan yang terjadi, Wiradana berhasil mendesak lawannya surut.

Namun dalam pada itu, Wiradana ternyata semakin lama menjadi semakin sulit untuk mengimbangi kecepatan gerak lawannya. Bahkan kemudian terasa olehnya, serangan-serangan lawannya itu mulai menyakiti tubuhnya, karena ia tidak sempat menghindari serangan-serangan yang datang semakin cepat.

Wiradana menggeram menahan sakit yang mulai menjalari tubuhnya. Namun bagaimanapun juga, Wiradana tidak akan menghindar dan membiarkan orang itu terlepas dari tangannya.

Dengan cerdik Wiradana bergeser selangkah demi selangkah. Ia berusaha untuk mendekati gardu yang paling dekat dengan arena itu, sehingga dengan demikian maka ia akan dapat memanggil para peronda dan bersama-sama menangkap orang itu.

Tetapi agaknya lawannya itu mengerti, bahwa Wiradana bergeser ke arah pintu gerbang. Karena itu, maka orang itu pun bertempur semakin cepat. Agaknya ia berusaha untuk mengalahkan lawannya secepatnya sebelum ia sempat berteriak dan memanggil para pengawal.

Wiradana semakin lama menjadi semakin terdesak. Tetapi ia masih terlalu jauh dari gerbang. Seandainya ia berteriak pun agaknya orang-orang yang berada di gerbang tidak akan mendengarnya, bahkan rumah-rumah yang terdekat dengan arena itu pun belum tentu akan dapat mendengar pula.

Karena itu, maka untuk mengatasi kesulitan yang semakin menekan, maka Wiradana kemudian telah menarik pedangnya.

Lawan Wiradana itu pun tertegun. Ia sadar, bahwa ia tidak akan mudah mengatasi ilmu pedang Wiradana. Karena itu, maka Warsi pun kemudian telah mengurai sehelai rantai yang melingkari lambungnya.

Wiradana tertegun melihat senjata lawannya. Senjata yang jarang dijumpainya, namun yang agaknya sulit untuk dilawan.

Namun demikian, Wiradana tidak dapat mengelak. Ia harus melawan. Meskipun ia agak menyesal juga, bahwa ia langsung mengikuti orang itu tanpa memberitahukan kepada para peronda lebih dahulu.

Sejenak kemudian rantai itu pun telah berputar dengan cepat. Suaranya berdesing seperti berpuluh ribu tawon yang berterbangan mengelilinginya. Jantung Wiradana menjadi berdebar-debar. Ternyata bahwa pedangnya justru telah mengundang satu kesulitan lain yang mungkin akan lebih parah.

Sejenak kemudian Wiradana pun harus bertempur menghadapi lawannya yang mempergunakan senjata yang aneh. Sehelai rantai berputaran dan kadang-kadang mematuk dengan dahsyatnya.

Namun seperti semula, Wiradana telah mengalami kesulitan. Ketika ujung rantai itu mulai menyentuh kulitnya, maka darah pun mulai menitik dari luka.

Wiradana masih berusaha untuk bergeser mendekati dinding padukuhan dan apabila mungkin pintu gerbang yang ditunggui oleh para pengawal yang meronda.

Namun agaknya usaha Wiradana akan sia-sia. Orang yang mempergunakan tutup muka itu mampu bergerak dengan kecepatan yang tidak terduga.

Tetapi Wiradana pun tidak mau membiarkan dirinya dibantai. Karena itu, maka ia pun telah melawan dengan segenap kemampuannya. Dengan ilmu pedang yang dimilikinya, maka ia mencoba mengatasi tekanan senjata rantai yang mengerikan itu.

Ternyata bahwa untuk beberapa saat Wiradana berhasil mempertahankan diri. Namun sebenarnyalah hati laki-laki muda itu kurang teguh menghadapi kesulitan. Itulah sebabnya, maka ia cepat menjadi cemas.

Tetapi justru kecemasan itulah yang telah mempercepat kesulitan yang mencengkam dirinya. Putaran rantai ditangan orang yang menutupi wajahnya itu seakan-akan menjadi semakin cepat. Sehingga dengan demikian, maka sentuhan-sentuhan ujung rantai itu pun terasa menjadi semakin sering pula mengenai tubuhnya.

Luka ditubuh Wiradana menjadi semakin parah. Darah menjadi semakin banyak mengalir. Sementara itu, gerak ujung rantai itu pun rasa-rasanya menjadi semakin cepat.

Perlawanan Wiradana pun semakin lama menjadi semakin lemah. Kegelisahan dan kelemahan hatinyalah sebenarnya yang lebih banyak mendorongnya ke dalam kesulitan. Sebenarnya ilmu pedangnya memiliki kemungkinan-kemungkinan yang dapat menembus putaran rantai lawannya, jika kemantapan ilmunya pun didukung oleh kemantapan hatinya.

NAMUN yang terjadi kemudian Wiradana telah benar-benar terdesak.

Bahkan akhirnya, dengan satu putaran rantai yang cepat, maka pedang Wiradana telah terbelit karenanya. Dan oleh satu hentakan yang kuat maka rantai itu telah merenggut pedang Wiradana.

Wiradana terpekik kecil. Tangannya terasa sangat pedih. Tetapi ia tidak berhasil mempertahankan pedangnya. Dan demikian pedangnya terlontar, maka rasa-rasanya nyawanya pun telah berada di ujung ubun-ubun.

Tanpa sengaja Wiradana benar-benar tidak mampu melawan. Demikian pedangnya terenggut, maka ia pun hanya dapat berdiri tegak dengan wajah pucat.

Rasa-rasanya ia tinggal menunggu maut yang segera akan memeluknya.

Lawannya yang bertutup wajah itu berdiri tegak dengan sorot mata yang bagaikan menembus sampai kejantung. Perlahan-lahan ia melangkah mendekat. Rantainya terayun-ayun disisinya, siap untuk mengoyak dadanya dan dengan demikian maka lenyaplah segala harapannya untuk melanjutkan pemerintahan yang akan diwariskan oleh ayahnya dalam waktu dekat.

Dua langkah dihadapan Wiradana orang yang wajahnya tertutup kecuali matanya itu memadanginya. Rantainya benar-benar sudah siap untuk membunuhnya.

“Jangan,” tiba-tiba terdengar suara Wiradana gemetar, “Apa sebenarnya alasanmu memusuhi aku? Jangan bunuh aku. Aku akan memberimu apa saja yang kau minta.”

Orang bertutup wajah itu memperhatikan Wiradana yang ketakutan. Rantainya masih saja terayun-ayun disisinya. Namun tiba-tiba saja ia melangkah surut.

Diamatinya Wiradana dari ujung rambutnya sampai ke ujung kakinya. Agaknya sesuatu telah bergejolak didada orang yang bertutup wajah itu. Dengan satu dua kali ayunan rantainya, maka Wiradana tentu sudah akan tergolek diam. Mati. Sebagaimana diinginkannya.

Namun orang itu tidak mengayunkan rantainya. Bahkan tiba-tiba saja orang bertutup wajah itu berpaling. Dengan cepat ia meloncat meninggalkan Wiradana yang termangu-mangu.

Sejenak kemudian maka orang bertutup wajah dalam pakaian yang serba hitam itu telah hilang dari arena. Dengan kecepatan yang sulit diikuti, orang itu berlari menyusuri pematang diluar dinding padukuhan induk Tanah Perdikan Sembojan.

Namun diluar penglihatan Wiradana, orang itu pun telah meloncati dinding memasuki padukuhan dan dengan diam-diam menuju banjar.

Sepeninggal orang itu, maka Wiradana pun berdiri termangu-mangu. Ia tidak mengerti apa yang sebenarnya telah terjadi. Jika orang itu ingin membunuhnya, maka kesempatan itu sudah terbuka baginya. Wiradana sendiri sudah tidak mampu melakukan perlawanan sama sekali. Pedangnya sudah terlepas dari tangannya, sementara keberaniannya pun telah larut sehingga ia hanya dapat minta dibelas

kasihani.

Sesaat Wiradana masih berdiri tegak. Namun kemudian ia melangkah memungut pedangnya.

Baru kemudian terasa tubuhnya dicengkam oleh perasaan sakit dan pedih. Lukanya terdapat dibeberapa tempat silang melintang, terkoyak oleh ujung rantai lawannya.

Tertatih-tatih Wiradana menuju ke gerbang. Memang masih agak jauh. Namun akhirnya ia sampai juga ke gardu pertama dipintu gerbang padukuhan induk. “Wiradana,” seorang pengawal yang melihatnya tiba-tiba saja berteriak sehingga kawan-kawannya menjadi terkejut. Sebenarnyalah mereka melihat Wiradana berjalan tertatih-tatih menyeret tubuhnya mendekati gardu.

Beberapa orang pengawal telah berloncatan mendekat. Dua orang menangkap tubuh yang hampir jatuh terjerembab itu.

“Apa yang terjadi?” bertanya salah seorang pengawal.

Wiradana tidak menjawab. Sementara itu tubuhnya pun telah dipapah dan dibaringkannya di dalam gardu dikerumuni oleh beberapa orang pengawal.

“Berhati-hatilah,” desis Wiradana.

Dua orang pengawal pun kemudian telah bersiap mengamati keadaan, sementara yang lain berusaha untuk menolong Wiradana.

“Bawa aku pulang,” desis Wiradana.

“Baik. Baik. Aku akan mengambil pedati,” desis seseorang itu. Lalu, “Bukankah itu lebih baik daripada kami mengangkatmu sampai kerumahmu.”

“Tolong angkat saja aku pulang. Lebih cepat lebih baik. Waktunya jangan tersia-sia dengan mengambil pedati,” desis Wiradana yang terluka parah itu.

Beberapa orang anak muda sependapat. Jika salah seorang dari mereka pulang mengambil pedati, maka waktunya akan banyak terbuang sehingga keadaan Wiradana akan menjadi semakin parah.

Karena itu, maka beberapa orang anak muda itu pun telah bersepakat untuk mengangkat saja Wiradana dan membawanya pulang ke rumahnya, sementara dua orang akan tinggal di gardu.

“Jika terjadi sesuatu, bunyikan saja isyarat,” berkata Wiradana. “Agaknya para pengikut Kalamerta masih berkeliaran disekitar Tanah Perdikan ini.”

“Baiklah,” jawab salah seorang pengawal yang akan tinggal.

Demikianlah, maka Wiradana pun telah diangkat pulang kerumahnya dengan tergesa-gesa. Darah yang masih saja mengalir membuat tubuh itu semakin lemah.

Namun disepanjang jalan Wiradana masih sempat berceritera, “Aku tidak tahu, siapa orang itu. Namun agaknya ia memang memiliki ilmu yang tinggi.”

“Bagaimana ia dapat melukaimu?” bertanya salah seorang pengawal yang menggotongnya.

“Senjatanya memang aneh. Sehelai rantai baja,” jawab Wiradana. Namun kemudian,

“Untunglah aku mempunyai ilmu pedang yang mumpuni sehingga aku akhirnya mampu mengusirnya, meskipun tubuhku terluka parah. Aku tidak tahu, apakah orang itu akan dapat berlari jauh oleh luka-lukanya pula. Mungkin besok pagi kalian akan mendapatkan sesosok mayat diluar padukuhan induk ini, atau mungkin ia sempat berlari jauh atau bahkan ia mempunyai kawan yang sempat membawanya pergi. Tetapi aku yakin, bahwa orang itu akan mati.”

Para pengawal itu hanya mengangguk-angguk saja. Namun mereka percaya bahwa Wiradana telah berhasil mengusir seorang yang memiliki ilmu yang tinggi yang telah memasuki padukuhan induk Tanah Perdikan Sembojan.

Ketika tubuh itu sampai di rumah Ki Gede, maka seisi rumah telah terkejut karenanya. Menjelang dini hari rumah itu menjadi ribut.

Untunglah bahwa Kiai Badra masih tetap berada di rumah itu menunggui cucunya sampai selapan. Setelah lewat selapan, maka Kiai Badra dan Gandar pun telah bersiap-siap untuk meninggalkan Tanah Perdikan ini.

Namun sebelum mereka minta diri, maka peristiwa yang mengejutkan itu telah terjadi.

Sejenak kemudian, maka Kiai Badra pun telah merawat Wiradana dengan sungguh-sungguh. Dengan kerut-merut didahinya ia melihat luka-luka yang agak asing itu. Namun kemudian Kiai Badra pun mengenalinya bahwa luka itu bukan disebabkan oleh senjata tajam. Tetapi oleh seutas rantai baja.

“Ya. Orang itu bersenjata rantai,” berkata Wiradana yang menyeringai oleh perasaan pedih diseluruh tubuhnya, sementara Kiai Badra sedang berusaha untuk membersihkannya.

Seperti yang diceriterakan kepada para pengawal bahkan juga tentang lawannya yang bisu, maka Wiradana pun telah mengatakan, bahwa ia berhasil melukai lawannya, sehingga lawannya itu telah melarikan diri.

“Apakah kau tidak dapat menyebut ciri-ciri lawanmu itu ngger, jika ia

benar-benar bisu seperti yang kau katakan?” bertanya Kiai Badra.

“ORANGNYA tinggi, besar dan berambut panjang,” Wiradana berusaha mengingat-ingat.

“Berambut panjang?” bertanya Kiai Badra.

“Ya. Rambutnya itu terurai dibawah ikat kepalanya,” jawab Wiradana.

Kiai Badra merenung sejenak. Kecerahan nalarnya telah membawanya kepada satu dugaan didalam hatinya, “Orang itu tentu merahasiakan dirinya sepenuhnya. Ia bukan saja menutupi wajahnya, tetapi juga menyembu-nyikan suaranya. Seandainya

orang itu tidak bertubuh tinggi besar, maka aku akan menduga bahwa ia seorang perempuan.”

Tetapi Wiradana ternyata telah memberikan keterangan yang tidak benar untuk mengang-kat dirinya sendiri, sehingga seakan-akan ia telah bertempur melawan seorang yang tinggi besar dan berkemampuan sangat tinggi, namun akhirnya dapat dikalahkannya.

Dengan cermat Kiai Badra telah berusaha untuk mengobati luka-luka yang parah itu, sementara Iswari hanya dapat menahan tangisnya oleh kecemasan yang mencengkam.

Ki Gede menarik nafas dalam-dalam ketika ia melihat keadaan anaknya. Ki Gede pun yakin, bahwa anaknya telah menjadi sasaran dendam para pengikut atau keluarga Kalamerta.

“Untunglah bahwa kau masih mampu melindungi dirimu sendiri,” berkata ayahnya. Lalu, “Karena itu, maka seharusnya kau lebih rajin menempa diri, mumpung ayah masih ada. Meskipun ayah tidak dapat berbuat lebih banyak daripada memberimu petunjuk-petunjuk, namun akan sangat berarti bagimu dan bagi ilmumu yang masih harus dikembangkan itu.”

Wiradana tidak menjawab. Tetapi ia mengakui, bahwa jarak ilmunya dengan ayahnya memang masih terlalu jauh. Dalam keadaan yang demikian Wiradana tidak dapat ingkar, bahwa ia memang kurang tekun menempa diri. Ia terlalu menggantungkan diri kepada ayahnya dan pengawalan anak-anak muda Tanah Perdikan.

Atas usaha Kiai Badra yang dibantu oleh Gandar, maka keadaan Wiradana pun menjadi berangsur baik. Perasaan pedihpun telah berkurang, sementara luka-lukanya sudah menjadi pampat.

“Beristirahatlah,” berkata Kiai Badra, “Semakin banyak kau beristirahat, maka keadaanmu akan menjadi semakin baik.”

“Ya. Tidurlah,” berkata ayahnya pula.

Demikianlah, maka Wiradana itu pun kemudian ditinggalkan di dalam biliknya ditunggui oleh istrinya. Dengan wajah yang cemas, Iswari berusaha untuk melayani suaminya yang terluka parah.

“Terima kasih,” desis Wiradana ketika Iswari membantunya meletakkan semangkuk mi-numan hangat di bibirnya.

Namun dalam pada itu, ketika Wiradana memandang wajah istrinya yang redup, diluar kehendaknya sendiri, telah terbayang wajah penari yang berada di banjar.

Penari itu wajahnya berseri dan memancarkan kejelitaan yang mengagumkan. Dengan rias yang mantap, maka wajah penari itu menjadi semakin cantik. Melebihi kecantikan Iswari yang lugu.

Namun Wiradana pun kemudian berusaha untuk mengusir bayangan yang akan dapat menutupi jalur hubungannya dengan istrinya yang baru selapan dikawininya, justru atas desakan ayahnya yang merasa berhutang budi kepada Kiai Badra, dan yang kini telah berusaha untuk menyelamatkannya pula.

Sementara itu, selagi di rumah Ki Gede terjadi kesibukan yang mencengkam seisi rumah, maka di banjar Warsi berbaring menelungkup dipembaringannya. Sampai matahari terbit, pintu biliknya masih belum terbuka. Adalah diluar kebiasaannya, bahwa ia masih belum bangun sampai matahari memancarkan sinar pertamanya.

Tetapi Warsi memang tidak sedang tidur. Ketika pengendangnya mengetuk pintu, maka Warsi pun telah bangkit. Dengan cepat ia mengusap matanya yang basah. Warsi memang menangis sebagaimana perempuan sering menangis.

Dengan lemah Warsi telah membuka pintu biliknya. Dilihatnya pengendangnya berdiri termangu-mangu didepan pintu biliknya.

“Kau menangis?” bertanya pengendangnya itu.

Warsi menatap wajah pengendangnya yang disebutnya sebagai ayahnya itu. Namun ia tidak menjawab sama sekali.

“Kami sudah mendengar berita yang sampai kepada para pengawal, bahwa Wiradana telah terluka parah,” desis pengendangnya. “Tetapi ia tidak mati. Dan kau tidak membunuhnya.”

Adalah diluar dugaan sama sekali, ketika tiba-tiba saja Warsi telah menampar mulut pengendangnya itu. Meskipun tidak dengan sekuat tenaganya, namun agaknya sentuhan tangannya itu telah membuat mulut pengendangnya itu berdarah.

“Warsi,” desis salah seorang pengiringnya yang lain. “Apa yang kau lakukan?”

Warsi masih berdiri tegak. Namun kemudian katanya dengan suara bergetar, “Jangan menghina aku lagi.”

Orang yang mulutnya berdarah itu berusaha untuk menjawab terbata-bata, “Aku tidak bermaksud menghina. Tetapi aku sekadar memberitahukan kepadamu bahwa Wiradana belum mati. Mungkin kau mengiranya sudah mati. Tetapi ternyata belum.”

Warsi memandang orang itu sejenak. Namun kemudian ia pun telah menutup pintunya lagi, sehingga para pengiringnya hanya termangu-mangu saja dimuka pintu yang sudah tertutup itu.

“Aku tidak mengerti apa yang telah terjadi,” desis orang yang mulutnya berdarah itu.

“Bersihkan darah itu,” berkata kawannya.

Orang itu pun cepat-cepat telah pergi kesumur untuk berkumur. Mulutnya memang berdarah dan sebuah giginya menjadi goyah.

“Anak binal,” gerutunya. “Aku berbangga bahwa gigiku termasuk gigi yang baik. Pada umurku sekarang gigiku masih utuh seluruhnya. Tiba-tiba saja ia sudah menggoyahkan satu gigiku itu.”

Dalam pada itu, maka para pengiring Warsi telah menjadi bingung. Mereka tidak tahu, apa yang sebenarnya terjadi pada perempuan itu. Mereka mengenal Warsi sebagai seorang gadis yang garang. Namun tiba-tiba mereka melihat gadis itu menangis di dalam biliknya.

Selagi mereka kebingungan, maka tiba-tiba Warsi telah membuka pintunya pula. Perlahan-lahan gadis itu keluar dari biliknya dan duduk di antara para pengiringnya di serambi.

“Besok kita tinggalkan tempat ini. Kita akan pulang,” berkata Warsi dengan suara yang sendat.

Pengendangnya termangu-mangu. Namun diberanikan dirinya untuk bertanya, “Jadi bagaimana dengan Wiradana?”

“Aku akan memberikan penjelasan kemudian,” berkata Warsi.

“Tetapi kau akan banyak kehilangan waktu,” jawab pengendang itu.

WARSI memandang orang yang disebut sebagai ayahnya dalam rombongan pengamen itu. Sorot matanya tiba-tiba saja bagaikan menyala. Karena itu, maka pengendangnya itu pun telah menundukkan kepalanya tanpa berani mendesak Warsi untuk menjawab pertanyaannya.

Dengan berbagai pertanyaan didalam hatinya, maka sore itu, rombongan pengamen itu masih kebar di halaman banjar. Mereka masih melakukan kegiatan sebagaimana yang dilakukan sebelumnya. Warsi masih nampak cantik dan menari dengan baik.

Tidak seorang pun yang melihat kemuraman diwajahnya yang sayu. Riasnya yang

mantap berhasil menyembunyikan kegetiran didalam dadanya.

Malam itu, tidak seorang pun yang menduga, bahwa rombongan itu akan begitu cepat

meninggalkan Tanah Perdikan Sembojan. Pagi-pagi benar, pengendang yang menjadi

pemimpin rombongan itu telah menghubungi bebahu Tanah Perdikan yang diserahi

untuk mengurus banjar Padukuhan Induk itu.

“Kalian akan pergi?” bertanya bebahu itu.

“Kami sudah terlalu lama disini. Penghuni Tanah Perdikan ini sudah menjadi jemu dan tidak lagi menaruh minat terhadap pertunjukkan kami,” jawab pengendang itu.

“Ah, tentu tidak. Bukankah hampir tiap malam kalian mendapat panggilan dari rumah-rumah berhalaman luas di Tanah Perdikan Sembojan ini,” bertanya bebahu itu.

“Dasarnya bukan karena mereka ingin menonton pertunjukan kami. Tetapi mereka hanya sekadar kasihan saja,” jawab pengendangnya.

“Baiklah jika kalian memang sudah berkete-tapan untuk meneruskan perjalanan kalian. Tetapi apakah kalian tidak akan minta diri kepada Ki Wiradana? Bukankah pada saat kalian datang, Ki Wiradanalah yang telah memberikan ijin meskipun tidak langsung? Dan bukankah Ki Wiradana telah pernah mengunjungi kalian di banjar itu pula?” bertanya bebahu itu.

Pengendang itu termangu-mangu. Ia ragu-ragu untuk menjawab. Tetapi akhirnya ia berkata, “Bukankah Ki Wiradana sedang sakit? Kami tidak pantas untuk mengganggunya. Dan agaknya kami tidak cukup pantas untuk mohon diri lagsung kepadanya, apalagi kepada Ki Gede.”

“Kenapa?” bertanya bebahu itu.

“Kami hanyalah serombongan pengembara yang tidak berarti apa-apa,” jawab pengendang itu.

Demikianlah, maka pada hari itu juga, rombongan penari itu meninggalkan banjar Padukuhan Induk Tanah Perdikan Sembojan. Mereka mengucapkan terima kasih kepada tetangga-tetangga yang tinggal di sekitar banjar dengan sebuah pertunjukan.

Pertunjukan yang berbeda dengan yang pernah mereka lihat, karena Warsi menari di pagi hari.

Meskipun demikian, penari itu masih tetap seorang penari yang cantik dimata para penontonnya.

Demikian rombongan itu keluar dari Tanah Perdikan Sembojan, maka Warsi pun tidak lagi merupakan penari yang luruh dan lembut. Ketika seorang bertubuh gemuk menghentikan rombongan itu disudut sebuah padukuhan diluar Tanah Perdikan Sembojan, maka dengan senyum yang menghias dibibirnya Warsi bertanya, “Apa yang

kau kehendaki Ki Sanak?”

“Janggrung,” jawab orang gemuk itu, “He, berapa aku harus bayar.”

“Kau sendiri yang akan mengibingnya?” bertanya Warsi sambil mendekati laki-laki itu.

“Sebentar lagi tentu datang orang banyak. Mereka tentu akan bersedia ikut menari ber-sama,” jawab orang gemuk itu.

Ketika Warsi menggamit lengan orang itu, maka rasa-rasanya seluruh tubuh orang gemuk itu meremang. Katanya, “Aku akan membayar berapa saja kau minta.”

“Apakah kau mempunyai uang sebanyak itu?” bertanya Warsi.

“Sebanyak itu berapa?” bertanya laki-laki gemuk itu, “Aku adalah orang yang sangat kaya.”

“Lihat, mana uangmu?” bertanya Warsi.

Orang bertubuh gemuk itu telah membuka kantong ikat pinggangnya yang besar. Dari dalamnya ia mengeluarkan beberapa keping uang dan melemparkannya ke tangan Warsi. Katanya, “Nah, cepat menarilah dalam irama yang panas. Aku akan menari

bersamamu, mencium pipimu dan membawamu pulang.”

“He,” desis Warsi. “Apa kata istrimu?”

“Ada tiga orang istri di rumah. Mereka akan bungkam. Aku akan mencekik siapa saja di antara mereka yang berani mempertanyakan kehadiranmu,” jawab orang bertubuh gemuk itu.

“O, begitulah tanggapanmu atas seorang perempuan,” geram Warsi. “Kau sangka perempuan tidak mampu mencekikmu sampai mati.”

Pertanyaan itu memang mengejutkan. Tetapi cepat-cepat pengendangnya telah menggamitnya sambil berbisik, “Kita belum terlalu jauh dari Tanah Perdikan Sembojan. Jika kau sakiti laki-laki itu, maka akan terbetik berita, seorang penari cantik yang pernah tinggal di Sembojan, ternyata seorang perempuan yang garang.

Bukankah dengan demikian kesan orang-orang Sembojan terhadapmu akan berubah? Apalagi jika pada satu saat kau ingin kembali ke Sembojan dengan cara yang sama ini.”

Warsi menarik nafas dalam-dalam. Bahkan ia pun kemudian menyadari apa yang pernah dilakukan terhadap Wiradana, meskipun ia telah menyembunyikan wajahnya.

Wiradana akan dapat menghubungkan peristiwa itu dengan tingkah lakunya, seandainya orang-orang padukuhan itu memperkatakannya kelak. Sambung bersambung maka akhirnya orang-orang Sembojan akan mendengarnya juga.

Karena itu, tiba-tiba wajah Warsi pun telah tersenyum manis. Sekali lagi ia menggamit laki-laki itu. Tetapi katanya kemudian, “Aku lelah sekali Ki Sanak.

Hari ini aku tidak akan menari.”

“Kau gila he? Kau menolak uangku yang sekian banyaknya itu?” teriak laki-laki gemuk itu.

“Bukan begitu Ki Sanak. Aku benar-benar letih hari ini. Aku baru saja berjalan jauh dalam terik matahari,” jawab Warsi. “Aku ingin istirahat dahulu. Nanti malam aku akan menari. Bukankah menari dimalam hari lebih nikmat rasanya daripada disiang hari. Apalagi untuk menari bersama seorang laki-laki tampan seperti kau ini,” di luar dugaan Warsi telah mencubit paha laki-laki itu.

Namun laki-laki itu bagaikan menjadi gila. Hampir saja laki-laki itu menerkam Warsi. Tetapi pengendangnya dengan cepat menahannya sambil berkata, “Jangan kau sentuh istriku.”

“Istrimu?” mata orang gemuk itu terbelalak. “Ia masih terlalu muda. Sepantasnya ia adalah anakmu.”

“Ia istriku yang muda. Aku mempunyai tujuh orang istri. Kecuali jika kau dapat mengalahkan aku,” jawab tukang gendang itu.

“He,” wajah orang gemuk itu menjadi cerah. “Kau menantang aku berkelahi untuk mendapatkan perempuan cantik itu?”

“Ya. Berkelahi dengan jujur,” jawab tukang gendang itu.

Orang gemuk itu tertawa. Katanya, “ Bagus. Kita akan berkelahi dengan jujur.”

Dalam pada itu, keributan itu justru telah mengundang banyak orang yang kemudian mengerumuninya. Mereka saling bertanya, apa yang sudah terjadi.

Akhirnya orang-orang yang berkerumun itu mengetahui, bahwa orang bertubuh gemuk itu akan berkelahi melawan tukang gendang dari serombongan tukang ngamen untuk memperebutkan penari yang cantik dari rombongan itu.

“Jika kerbau itu menang, ia akan dapat membawa penari itu pulang. Mungkin untuk semalam. Mungkin untuk waktu yang tidak disebut. Aku tidak jelas, bagaimana bunyi perjanjiannya,” desis seseorang yang mencoba menjelaskan kepada kawannya.

“Tetapi ia adalah orang yang sangat berbahaya,” jawab orang yang lain.

“Mudah-mudahan ia membentur batu kali ini. Kegemarannya mengganggu perempuan-perempuan yang cantik bahkan tidak cantik pun sangat meresahkan tetangga-tetangga kita.”

“SAYANG, ia adalah seorang yang memiliki kemampuan yang tidak terkalahkan di padukuhan ini, sehingga ia dapat berbuat apa saja,” berkata orang yang pertama.

Namun dalam pada itu, orang-orang yang semakin banyak berkerumunan disudut padukuhan itu pun telah menebar dan tanpa diminta membuat suatu lingkaran.

Namun kebanyakan dari mereka menjadi cemas melihat perkelahian yang akan terjadi. Pengendang yang menyebut dirinya suaminya penari yang telah diganggu

oleh orang gemuk itu bertubuh kecil meskipun agak tinggi. Umurnya sudah lebih tua dari calon lawannya. Namun bagi beberapa orang yang sempat melihat matanya, hatinya menjadi berdebar-debar. Mata orang itu demikian tajamnya memandang sasarannya bagaikan tajamnya mata burung hantu.

Sejenak kemudian kedua orang itu sudah berhadapan di arena. Warsi sendiri nampak acuh tak acuh saja. Ia duduk di antara para pengiringnya yang lain. Sekali-kali ia mengerling ke arah orang bertubuh gemuk itu. Jika orang itu kebetulan memandanginya, maka Warsi pun tersenyum menggoda.

“Gila,” geram orang gemuk yang benar-benar telah menjadi gila itu.

“Nah,” berkata tukang gendang itu,” Apakah kau ingin meneruskan niatmu. Jika kau menang, bawa istriku kerumahmu sampai kapan kau kehendaki. Tetapi jika kau kalah, maka kau akan membayar rombongan ini sebagai-mana kau meminta kami bermain. Kau telah memberikan uang kepada istriku. Tetapi untuk sekali bermain, kami memerlukan sepuluh kali lipat.”

“Gila,” orang itu berteriak, “Kalian memang gila. Ayo, melangkah maju. Tubuhnya yang kecil dan umurnya yang lebih tua dari orang gemuk itu sama sekali tidak memberikan harap-an apa-apa kepadanya untuk dapat memenangkan perkelahian itu.

Sementara itu, salah seorang pengiring Warsi berkata, “Bukankah benar-benar orang itu harus menakut-nakuti penonton yang ugal-ugalan.”

Kawannya mengangguk, sementara Warsi berpaling kepadanya sambil berkata, “Jika gagal, apaboleh buat. Aku sendiri akan memilin leher laki-laki gila itu.”

“Kau memancing persoalan,” desis salah seorang pengiringnya yang lain.

“Kenapa?” bertanya Warsi

“Kau tersenyum kepadanya, bahkan kau menyentuh tubuhnya. Karena itu ia menjadi gila,” jawab pengiringnya.

Warsi tersenyum. Katanya, “Aku memang ingin menghilangkan kejemuanku. Aku sangat mengalami tekanan batin di Tanah Perdikan Sembojan karena aku tidak dapat membunuh Wiradana. Aku ingin sekadar melepaskan kerisauan itu. Dengan permainan ini, maka aku akan merasa sedikit terhibur.” Pengiringnya mengumpat di dalam hati. Warsi memang seorang perempuan yang berhati seruncing garangan pering wulung.

Dalam pada itu dua orang laki-laki telah berhadapan di arena perkelahian dengan taruhan yang aneh. Seorang penari yang sangat cantik.

Orang-orang yang mengerumuni arena itu menjadi berdebar-debar ketika laki-laki gemuk itu melangkah maju sambil berkata lantang, “Aku patahkan pinggangmu yang kurus itu.”

Bagi orang-orang padukuhan itu, orang yang gemuk itu adalah orang yang tidak terkalahkan. Karena itu, maka sebagian dari mereka merasa sangat kasihan kepada orang yang bertubuh tinggi kekurus-kurusan itu yang harus berkelahi untuk mempertahankan istrinya.

Dalam pada itu, orang yang bertubuh gemuk itu berjalan saja maju seperti seekor kerbau tanpa menghiraukan apakah lawannya akan memukulnya. Dengan langkah tetap dan dada tengadah ia melangkah. Tangannyalah yang mengepal dan kemudian telah siap untuk memukul lawannya.

Cara itu adalah cara yang tidak dimengerti oleh orang bertubuh tinggi

kekurus-kurusan itu.

NAMUN ketika tangan itu benar-benar terayun, maka orang bertubuh tinggi itu telah bergeser sambil memutar tubuhnya. Gerak yang sederhana itu telah menimbulkan keheranan bagi orang-orang yang menyaksikannya. Tangan orang bertubuh gemuk itu terayun dengan derasnya.

Namun sama sekali tidak menyentuh sasaran. Karena itu ia justru terseret oleh ayunan tangannya sendiri dan bahkan terhuyung-huyung beberapa langkah. Hampir saja ia kehilangan keseimbangan. Namun akhirnya ia berhasil berdiri tegak.

Wajah orang itu menjadi merah menyala. Dipandanginya tukang gendang yang bertubuh tinggi itu. Dengan kemarahan yang menghentak didadanya ia berkata,

“Anak setan. Aku ternyata telah salah menilai kau orang kurus. Aku kira kau adalah pengamen yang tidak berharga sama sekali. Namun agaknya kau memiliki sedikit kemampuan dalam olah kanuragan. Jika demikian, maka aku pun akan mempergunakan cara yang lain untuk menghadapimu.”

Tukang gendang itu tidak menjawab. Tetapi ia menjadi tegang. Namun sementara itu Warsi masih duduk saja di antara para pengiringnya yang lain tanpa menunjukkan kesan apapun juga. Bahkan ia masih saja tersenyum meskipun ia berusaha untuk menyembunyikannya.

“Apa katamu tentang orang itu?” bertanya salah seorang pengiringnya.

Pengiringnya hanya mengerutkan keningnya, tetapi ia tidak bertanya lagi. Dalam pada itu, orang yang bertubuh gemuk, yang gagal merontokkan iga tukang gendang itu telah bersikap. Benar-benar sikap seorang yang memiliki ilmu kanuragan.

“Aku akan bersungguh-sungguh sekarang,” berkata orang gemuk itu. “Aku tidak lagi menganggap kau sekadar seorang pengamen yang bodoh. Tetapi kita akan berkelahi dengan ilmu.”

Tukang gendang itu sama sekali tidak menjawab. Namun demikian ia sudah bersedia menghadapi segala kemungkinan.

Demikianlah, maka sejenak kemudian orang bertubuh gemuk itu benar-benar telah menyerang. Ia tidak sekadar berjalan mendekati lalu memukul dengan sekuat tenaganya. Tetapi ia benar-benar telah mempergunakan kemampuannya dalam olah kanuragan.

Serangan-serangannya kemudian menjadi lebih mapan dan bersungguh-sungguh. Ketika tangannya menyerang mengarah dada, namun dihindari, maka tiba-tiba saja tangan itu telah berubah arah dengan serangan mendatar.

Untunglah lawannya bergerak cukup cepat. Sambil merendahkan diri, maka kakinya telah terjulur mematuk lambung. Namun orang bertubuh gemuk itu masih sempat meloncat surut, sehingga kaki itu tidak mengenai sasarannya.

Orang bertubuh gemuk itu mengumpat. Ia menjadi semakin yakin bahwa lawannya memang memiliki kemampuan dalam olah kanuragan. Karena itu, maka ia pun menjadi semakin berhati-hati. Namun justru dengan demikian serangan-serangannya menjadi semakin mapan.

“Pantas jika orang ini nampaknya mempunyai pengaruh yang sangat besar di padukuhannya,” berkata orang yang tinggi kekurus-kurusan itu di dalam hati.

Namun sementara itu, ia masih harus berloncatan menghindar dan sekali-kali menyerang.

Dalam pada itu orang yang bertubuh gemuk yang menjadi gila melihat kecantikan Warsi itu benar-benar tidak lagi berusaha untuk mengendalikan diri. Ketika ia sadar, bahwa lawannya memiliki kemampuan yang dapat mengimbangi kecepatan gerakannya, maka orang itu pun telah mengerahkan segenap kemampuan dan kekuatannya. Ia ingin segera menyelesaikan perkelahian yang gila itu dan membawa Warsi pulang kerumah tanpa menghiraukan ketiga istrinya yang tinggal di rumahnya pula.

Namun orang bertubuh gemuk itu sama sekali tidak menyangka, bahwa yang dilawannya itu adalah salah seorang dari pengikut Kalamerta. Satu gerombolan yang sangat ditakuti. Bukan saja saat Kalamerta masih hidup. Tetapi sepeninggal Kalamerta gerombolan itu masih tetap garang.

Karena itu dalam perkelahian selanjutnya, orang bertubuh gemuk itu merasa heran, bahwa ia tidak segera dapat mengakhiri pertempuran itu. Bahkan orang bertubuh tinggi kekurus-kurusan itu rasa-rasanya telah bergerak semakin lama menjadi semakin cepat.

Sambil mengumpat orang bertubuh gemuk itu telah menghentakkan segenap kemampuannya. Ia ingin dengan cepat menghancurkan tulang-tulang orang bertubuh kurus itu.

Tetapi ternyata bahwa usahanya sama sekali tidak berrhasil. Orang bertubuh kurus itu ternyata mampu bergerak dengan kecepatan yang tidak diduga dan mampu mengimbangi kekuatan yang diandalkannya.

“Anak setan,” geram orang bertubuh gemuk itu.

Namun tiba-tiba saja ia justru menyeringai menahan sakit ketika kaki lawannya telah mengenai perutnya. Sehingga perutnya yang besar itu terasa mual.

Tetapi serangan lawannya tidak terhenti. Tiba-tiba pula, tangan orang bertubuh tinggi kurus itu telah menerkam keningnya. Namun orang yang bertubuh gemuk itu masih sempat mengelak, sehingga tangan orang bertubuh tinggi kekurus-kurusan itu tidak menyentuhnya sama sekali.

Tetapi adalah diluar dugaan, bahwa tiba-tiba saja orang bertubuh kurus itu telah menjatuhkan dirinya. Dengan kakinya ia menyapu lawannya dengan sekuat tenaganya.

Satu serangan yang semula tidak terpikirkan oleh orang bertubuh gemuk itu. Karena itu, maka serangan itu benar-benar mengejutkan sehingga ia tidak sempat lagi untuk mengelak.

Ternyata sapuan yang keras itu telah menumbuhkan akibat yang gawat bagi orang bertubuh gemuk itu. Demikian kerasnya sapuan orang bertubuh tinggi itu, sehingga orang bertubuh gemuk itu pun tidak mampu lagi bertahan. Kedua kakinya bagaikan dihempas kesamping pada pergelangan kaki itu, sehingga tiba-tiba saja orang itu sudah terbanting jatuh ketanah.

Tetapi orang bertubuh gemuk itu tidak menyerah. Dengan cepat ia berguling menjauh dan kemudian meskipun tubuhnya gemuk, namun ia mampu dengan tangkas meloncat diri.

Demikian ia tegak, maka lawannya sudah siap menyerangnya. Tetapi karena orang bertubuh gemuk itu sudah bersiaga sepenuhnya, maka serangan itu pun dibatalkan.

Demikianlah pertempuran itu semakin lama menjadi semakin seru. Orang-orang yang menonton perkelahian itu diseputar arena menjadi heran, bahwa orang bertubuh kecil kurus meskipun tinggi, mampu menghadapi orang yang bertubuh gemuk itu.

Bahkan orang itu nampaknya umurnya sudah jauh lebih tua dari orang yang bertubuh gemuk itu.

Namun ternyata mereka melihat satu kenyataan, bahwa kedua orang yang bertempur itu nampak seimbang.

Dalam pada itu Warsi mulai menaruh perhatian atas pertempuran itu. Tetapi tidak lama. Sejenak kemudian ia berdesis, “Orang gemuk itu dapat cepat diselesaikan.

Aku sudah jemu. Tidak banyak kesulitan akan dihadapi, jika perlu membunuhnya sama sekali.”

“Kenapa dibunuh?” bertanya pengiringnya.

“Ia sudah menghina aku,” jawab Warsi.

Pengiringnya itu mengerutkan keningnya. Tetapi hampir diluar sadarnya ia berkata, “Ia hanya menghina. Sedangkan Wiradana tidak juga kau bunuh meskipun ayahnya telah membunuh pamanmu.”

Orang itu hampir saja menjerit kesakitan. Tidak ada orang yang melihat ketika Warsi menginjak ibu jari pengiringnya itu.

“Warsi,” wajah orang itu menjadi pucat. Sementara keringat telah mengalir dari lubang-lubang dikulitnya karena menahan sakit. Rasa-rasanya ibu jarinya itu telah diremukkan oleh injakan kaki Warsi. Terasa tekanan kaki Warsi itu bagaikan ditindih segumpal tanah.

“Katakan sekali lagi,” desis Warsi.

“Tidak. Aku tidak sengaja mengatakan,” minta orang itu. “Lepaskan. Nanti kakiku kau remukkan dan aku tidak dapat mengikutimu melanjutkan perjalanan kembali.”

“Lain kali mulutmu jangan lancang he? Untung disini banyak orang sehingga aku hanya menginjak kakimu. Jika disini tidak ada orang, maka aku sudah mengoyak mulutmu yang tajam itu,” geram Warsi.

“Jangan. Aku minta maaf. Kalimat-kalimat itu rasa-rasanya meluncur begitu saja tidak terkendali,” jawab orang itu.

Perlahan-lahan Warsi melepaskan jari pengiringnya yang hampir menangis meskipun ia sudah bukan kanak-kanak lagi.

Kawan-kawan semula tidak tahu apa yang telah terjadi. Mereka hanya melihat salah seorang di antara mereka menjadi kesakitan. Namun akhirnya mereka pun tahu, bahwa Warsi telah menginjak ibu jari kaki orang itu. Sambil menyeringai orang itu meraba ibu jari kakinya. Sambil mengelus jari kakinya itu ia berkata di dalam hatinya, “Betapa cantiknya Warsi, aku tidak akan mampu menjadi suaminya. Setiap hari tubuhku akan disakitinya.”

Dalam pada itu, maka pertempuran antara orang yang gemuk dan pengendang yang mengaku suami Warsi itu masih berlangsung. Namun keseimbangannya mulai nampak terguncang. Pengendang itu ternyata mampu bergerak terlalu cepat bagi lawannya yang gemuk, sehingga serangan-serangan yang tangkas mampu menembus pertahanan lawannya.

Semakin lama maka serangan tukang gendang itu menjadi semakin banyak yang berhasil. Beberapa kali kakinya telah mengenai lambung dan beberapa kali tangannya berhasil mengenai dada dan bahkan kening.

Karena itu, maka rasa-rasanya perut orang bertubuh gemuk itu menjadi semakin mual dan kepalanya menjadi pening.

Demikianlah perlahan-lahan pengendang itu pun berhasil mendesak lawannya. Ketika kakinya menyerang mendatar, maka orang bertubuh gemuk itu masih berusaha menghindar. Namun kaki itu pun segera berputar, bertumpu pada kaki yang lain.

Dengan cepat maka serangannya berganti. Kaki yang lainlah kemudian terangkat demikian kaki yang pertama menyentuh tanah.

Orang bertubuh gemuk itu terkejut. Serangan beruntun yang begitu cepat tidak sempat dihindarinya, sehingga karena itu, maka gerakan kaki itu pun telah berhasil menghantam tubuhnya. Meskipun ia berusaha melindungi lambungnya dengan sikutnya, namun serangan itu datang demikian kerasnya sehingga orang bertubuh gemuk itu telah terlempar jatuh.

Dengan serta merta ia masih mencoba untuk berdiri. Tetapi ia tidak mempunyai kesempatan. Lawannya yang tinggi kekurus-kurusan itu telah memburunya dan dengan sekuat tenaganya, maka orang itu telah menyerang dengan cepatnya, langsung mengarah ke dada dengan kepalan tangannya.

Orang bertubuh gemuk itu baru berusaha untuk tegak itu tidak sempat mengelak sama sekali. Terasa dadanya bagaikan tertimpa sebongkah batu padas. Nafasnya menjadi sesak dan rasa-rasanya darahnya pun telah terhenti mengalir.

Orang bertubuh gemuk itu tidak berhasil bertahan untuk tetap tegak. Ia pun telah terdorong beberapa langkah surut. Namun kemudian tubuh yang gemuk itu pun telah terguling jatuh ditanah.

Tukang gendang itu meloncat mundur. Tetapi ketika ia melihat bahwa orang bertubuh gemuk itu tidak bangkit lagi, maka ia pun menarik nafas dalam-dalam.

Dengan kaki renggang tukang gendang itu berdiri disisi tubuh yang terbaring diam itu.

“Bangun,” geram tukang gendang itu.

Orang bertubuh gemuk itu berdesis menahan sakit ditubuhnya. Dadanya bagaikan pecah dan nafasnya serasa tersumbat.

“Cepat bangun. Kita masih mempunyai waktu. Jika kau memang menghendaki kita akan dapat berperang tanding sampai salah seorang di antara kita mati,” tantang tukang gendang itu.

“Tidak, jangan,” desis orang bertubuh gemuk itu dengan nafas terengah-engah,

“Aku mengaku kalah. Aku minta ampun.”

“Kita tidak berkelahi untuk saling mengampuni. Kita sedang bertaruh. Jika kau mengaku kalah, maka kau harus membayar taruhan itu. Jika aku yang kalah, aku pun tidak akan ingkar,” berkata tukang gendang itu.

“Ya. Ya. Aku akan membayar taruhan itu. Aku akan membayar berapa saja kau minta,” jawab orang bertubuh gemuk itu.

Orang bertubuh tinggi kekurus-kurusan itu pun kemudian berkata sambil melangkah surut, “Bangkitlah. Kita akan pergi ke rumahmu. Istriku akan ikut pula. Tetapi tidak untuk memenuhi keinginanmu, tetapi untuk mengambil uang taruhan itu.”

“Baik, baik. Ambillah ke rumahku,” jawab orang bertubuh gemuk itu.

Orang-orang yang menyaksikan perkelahian itu menahan nafas dalam-dalam. Seorang yang bertubuh pendek berdesis kepada kawannya yang berdiri disebelahnya, “Orang itu sekali-sekali memang harus mendapat peringatan.”

“Kenapa orang itu tidak dibunuhnya saja,” geram yang lain.

“Ah, rombongan pengamen itu tentu tidak akan membuat keributan yang menyeretnya dalam persoalan yang lebih gawat. Apalagi dengan cara itu, ia telah memenangkan taruhan yang mungkin akan sangat berharga bagi mereka.”

Kawannya mengangguk-angguk. Namun ia tidak menjawab.

Demikianlah, maka orang bertubuh gemuk itu pun dengan susah payah telah berusaha untuk bangkit. Seluruh tubuhnya terasa menjadi memar dan pedih. Wajahnya nampak bengap dan bernoda biru di beberapa tempat.

Dengan susah payah pula ia pun kemudian berdiri. Sambil menarik nafas dalam-dalam dicobanya menggerakkan tangannya. Namun ia pun berdesah kesakitan.

“Kau tidak akan dapat ingkar. Aku mempunyai banyak saksi dalam taruhan ini,” berkata tukang gendang itu.

“Aku tidak akan ingkar. Aku akan membayar sepuluh kali lipat dari uang yang sudah aku berikan kepada istrimu itu,” orang itu berusaha memperbaiki pernafasannya yang tersendat. Namun tiba-tiba ia berkata, “Bagaimana jika aku membayar duapuluh kali lipat?”

“Kenapa duapuluh kali lipat?” bertanya tukang gendang itu.

“Dengan membayar duapuluh kali lipat, maka kau menganggap akulah yang menang,” jawab orang bertubuh gemuk itu.

“Apa artinya?” bertanya lawannya yang tinggi.

“Aku bawa istrimu pulang,” jawab orang gemuk itu.

“Gila,” tiba-tiba saja orang yang bertubuh tinggi kekurus-kurusan itu telah menangkap rambut orang bertubuh gemuk itu setelah ikat kepalanya terlempar,

“Katakan sekali lagi.”

“Tidak. Ampun. Jangan sakiti aku lagi,” minta orang yang gemuk itu.

Orang yang berada di sekitar arena itu menggeleng-gelengkan kepalanya. Dalam keadaan yang parah itu ia masih mengigau tentang perempuan cantik.

Para pengiring Warsi pun memandang kearahnya. Nampak keningnya berkerut. Tetapi Warsi tidak berbuat apa-apa.

Bahkan Warsi pun kemudian berdiri dan berjalan mendekati orang yang gemuk itu. Dengan senyum dibibirnya ia berkata, “Maaf Ki Sanak. Suamiku memang bertabiat seperti itu. Ia terlalu garang dan sama sekali tidak memberi kesempatan kepada orang lain untuk membawa istrinya.”

“Bukankah itu wajar,” bentak pengendangnya.

Warsi mengerutkan keningnya. Dipandanginya pengendangnya itu dengan sorot mata yang menyala. Namun hanya sekejap. Tetapi yang sekejap itu telah membuat pengendangnya itu memalingkan pandangan matanya.

Namun ia pun segera mengalihkan perhatian orang-orang yang ada disekitarnya kepada yang gemuk itu, “Mari. Kita akan pergi ke rumahmu sekarang.”

Orang gemuk itu mengangguk-angguk. Kemudian dengan tubuh yang bagaikan remuk ia berjalan diikuti oleh rombongan pengamen menyusuri jalan padukuhan. Sementara itu pengendang itu masih juga berkata kepada orang-orang yang berkerumun, “Maaf Ki Sanak. Kali ini kami telah menghidangkan tontonan yang lain.”

Adalah diluar dugaan, bahwa kata-kata itu mendapat sambutan serta merta.

Beberapa orang telah bersorak karenanya.

Namun ketika orang yang bertubuh gemuk itu berhenti dan berpaling ke arah orang-orang yang bersorak itu, maka tiba-tiba pula suara tertawa itu pun terhenti. Orang-orang itu telah terdiam sambil menyembunyikan wajah mereka.

“He, kenapa kalian diam?” bertanya orang yang bertubuh kekurus-kurusan itu.

Tidak ada jawaban.

Orang kurus itu bertanya pula, “Agaknya kalian menjadi ketakutan jika orang yang gemuk ini tahu, siapa saja di antara kalian yang mentertawakannya. Tetapi jangan takut. Pada saat-saat lain aku tentu akan lewat di padukuhan ini. Jika aku mendengar bahwa orang gemuk ini bertindak sewenang-wenang atas kalian, maka aku tidak akan segan membunuhnya.”

Beberapa orang saling berpandangan. Tetapi tidak ada di antara mereka yang menjawab.

Demikianlah sejenak kemudian maka orang-orang itu pun telah meninggalkan sudut padukuhan mereka. Orang yang bertubuh gemuk itu diikuti oleh sebuah

iring-iringan kembali untuk mengambil uang yang dipertaruhkan dalam perkelahian itu.

Sebagaimana dikatakan, Warsi sendiri menganggap peristiwa itu sebagai pengisi kejemuannya setelah ia berada di Tanah Perdikan Sembojan beberapa hari. Dengan demikian ia sudah berhasil mengurangi ketegangan yang terjadi didalam jiwanya atas peristiwa yang dialaminya di Tanah Perdikan Sembojan itu. Dengan melihat orang lain kesakitan dan menderita, maka rasa-rasanya ia telah mendapat kawan, sehingga bukan hanya dirinya sendiri sajalah yang mengalami kepahitan perasaan.

Meskipun yang terasa sakit pada orang itu tubuhnya, bukan hatinya seperti yang dialami oleh Warsi.

Apalagi ternyata dengan tingkah laku orang yang gemuk itu, rombongan itu pun telah mendapat bekal yang cukup banyak. Agaknya orang gemuk itu merasa puas, meskipun ia tidak berhasil membawa Warsi pulang sebagaimana taruhan, tetapi Warsi benar-benar telah mau datang ke rumahnya. Bahkan malam itu Warsi dan

rombongannya telah bermalam di rumahnya pula atas kehendak rombongan itu sendiri.

Warsi memang sering melakukan sesuatu yang sulit dimengerti. Menjelang senja, tiba-tiba saja ia berkata kepada pengendangnya, “Aku akan menari di halaman rumah orang gila ini.”

“UNTUK apa?” bertanya pengendang.

“Aku ingin menari. Itu saja,” jawab Warsi.

Pengendangnya menarik nafas dalam-dalam. Namun ia pun kemudian mempersilakan orang-orangnya untuk kebar sore itu, sementara Warsi pun telah berhias pula.

Ketika hal itu dikatakan oleh tukang gendang itu kepada orang yang bertubuh gemuk itu, maka kegembiraan yang tidak terkira terbersit di wajah orang gemuk itu. Dengan serta merta maka ia pun telah menyiapkan halaman rumahnya yang akan dipergunakan oleh Warsi untuk mempertontonkan tarian-tariannya.

Sebenarnyalah bahwa ketika matahari telah tenggelam, Warsi dan para pengiringnya telah siap di halaman. Beberapa buah obor telah dipasang. Bukan saja untuk menerangi arena tempat Warsi akan menari, tetapi diregol dan disudut-sudut halaman, telah dipasang pula obor.

“Aku akan menari sampai aku menjadi jemu,” berkata Warsi.

“Bukankah kita hanya akan sekadar memperlihatkan diri kepada orang-orang disekitar rumah orang gila ini?” bertanya tukang gendangnya.

“Aku akan menari sampai jemu. Mungkin hanya sebentar aku sudah menjadi jemu.

Tetapi mungkin semalam suntuk,” jawab Warsi.

Tukang gendangnya hanya dapat menarik nafas dalam-dalam. Segalanya memang tergantung sekali kepada Warsi. Apapun yang akan dilakukan tidak seorang pun yang akan dapat mencegahnya meskipun para pengiringnya itu berhak juga untuk memberinya peringatan. Namun segala keputusan ada ditangan perempuan yang garang itu.

Ternyata malam itu Warsi benar-benar seperti orang yang sedang mabuk. Ia menari dengan penuh gairah meskipun segalanya itu dilakukan atas kehendaknya sendiri.

Ia menari dengan iringan gending-gending yang panas. Bahkan ia pun kemudian mulai dengan membuka kesempatan kepada orang-orang padukuhan itu untuk ngibing.

Mula-mula Warsi menyerahkan sampur kepada orang gemuk yang mempunyai rumah itu untuk ikut menari bersamanya.

Betapa gembiranya orang itu. Rasa-rasanya ia mau menyerahkan semua kekayaan yang disimpan seluruhnya kepada Warsi. Apalagi Warsi benar-benar menari dengan hangatnya.

Rasa-rasanya orang gemuk itu tidak mau berhenti. Betapapun orang lain ingin menggantikannya, tetapi tidak seorang pun yang berani mengambil sampur itu.

Tetapi ketika orang itu sudah terlalu lama menari, maka Warsi pun berbisik, tidak dengan kata-kata kasar seperti biasanya, tetapi dengan lembut, “Ki Sanak.

Beristirahatlah. Aku akan menari semalam suntuk. Berilah kesempatan kepada orang lain.”

Orang gemuk itu mengerutkan keningnya. Dengan nada berat ia menjawab sambil menari, “Aku pun akan menari semalam suntuk. Apapun yang kau minta, aku akan memenuhinya.”

“Jangan,” jawab Warsi. “Beri kesempatan kepada tentangga-tetangga. Bukankah mereka telah datang ke rumahmu untuk meramaikan malam ini bersamamu.”

“AKU tidak peduli dengan mereka,” jawab orang gemuk itu. “Kita akan menari. Bukan hanya semalam. Tetapi sampai kapanpun kau kehendaki. Rasa-rasanya aku sudah menjadi gila.”

Warsi justru tersenyum. Keduanya masih menari dengan iringan gending yang panas.

Sementara itu halaman orang gemuk itu sudah penuh dengan penonton. Beberapa orang laki-laki yang berdarah panas hampir tidak sabar menunggu kesempatan untuk menari bersama tledek yang sangat cantik itu. Tetapi tidak seorang pun yang berani menghentikan pemilik rumah yang di padukuhan itu sangat ditakuti.

Dalam pada itu, Warsi sekali lagi berdesis, “Sudahlah. Kau masih akan banyak mendapat kesempatan. Jika tidak malam ini, maka besok aku akan menari untukmu meskipun tidak ada orang lain yang menonton dan tidak seorang pun yang mengiringi tarian kita.”

“O, gila. Gila.” orang itu hampir berteriak. Bahkan dengan serta merta ia meloncat menerkam Warsi. Tetapi rasa-rasanya warsi itu lenyap menjadi asap, sehingga ia pun terhuyung-huyung beberapa langkah. Hampir saja ia jatuh terjerembab. Untunglah bahwa ketangkasannya masih mampu menolongnya, sehingga ia tidak terjatuh karenanya.

Ketika ia kemudian berpaling ia melihat Warsi masih menari sambil tersenyum.

Sementara itu beberapa orang serentak telah mentertawakannya meskipun mereka tidak tahu pasti apa yang terjadi dan mereka pun tidak mendengar apa yang dikatakan Warsi kepada orang gemuk itu.

Dengan darah yang menjadi semakin mendidih orang gemuk itu menari semakin bergairah. Bahkan ia tidak lagi mampu mempertahankan jarak dengan Warsi.

Kadang-kadang orang itu dengan sengaja berusaha untuk menerkamnya dengan kasar.

Tetapi penari yang sangat cantik itu bagaikan bayang-bayang saja yang tidak dapat disentuhnya.

Dalam pada itu, Warsi sudah mulai menjadi jenuh. Karena itu maka katanya,

“Sudahlah Ki Sanak. Berhentilah. Aku ingin berganti pasangan. Jika kau tidak mau berhenti, maka akulah yang akan berhenti sampai disini.”

“Jangan,” minta orang gemuk itu.

“Jika demikian, tolong, beri kesempatan orang lain untuk menikmati kegembiraan malam ini,” berkata Warsi sambil tersenyum cerah.

“O. Gila. Aku sungguh-sungguh menjadi gila. Tetapi kau berjanji untuk memberi kesempatan aku lagi nanti,” berkata orang gemuk itu.

“Tentu. Malam masih panjang,” jawab Warsi.

“Tetapi apakah kau dapat menari semalam suntuk?” bertanya orang gemuk itu.

“Tentu saja, aku memerlukan waktu untuk beristirahat barang sejenak. Tetapi malam ini aku akan menari semalam suntuk,” berkata Warsi.

Orang gemuk itu termangu-mangu. Namun ia pun kemudian telah menyerahkan sampurnya kembali kepada Warsi.

Dalam pada itu, lebih dari selusin laki-laki telah maju bersama-sama. Saling mendorong untuk berebut kesempatan mendapatkan sampur itu. Namun untuk beberapa saat Warsi masih menari seorang diri sambil memperhatikan laki-laki yang berdesakan di baris paling depan. Mereka adalah laki-laki yang merasa diri mereka gegedug setelah pemilik rumah itu. Mereka merasa bahwa mereka tidak takut

kepada siapapun juga, kecuali kepada orang gemuk yang baru saja menyelesaikan tari-tariannya yang kasar.

Laki-laki yang sudah menunggu itu menjadi tidak sabar. Mereka berteriak-teriak sambil mengacungkan tangan mereka untuk menerima sampur yang masih ada pada Warsi.

Namun dalam pada itu, Warsi telah tertarik oleh seorang laki-laki muda yang tampan. Dengan gerak yang cekatan ia menyibak kawan-kawannya dan berdiri bertolak pinggang.

“Kau lihat aku,” teriak laki-laki itu.

SIKAP orang itu menarik perhatian Warsi. Karena itu, maka ia pun mendekatinya dan kemudian melemparkan sampur kepadanya.

Laki-laki itu berteriak kegirangan. Dengan serta merta ia pun turun ke arena. Irama gamelan yang panas membuat darahnya menjadi panas pula, sehingga sejenak kemudian maka ia pun telah menari bersama Warsi.

Setiap kali sebagaimana dilakukan oleh orang gemuk pemilik rumah itu, maka orang itu pun ingin menyentuh Warsi. Namun setiap kali tangannya bagaikan meraba angin. Warsi rasa-rasanya memang tidak mungkin untuk dapat disentuh.

Beberapa saat keduanya menari dalam suasana yang hangat. Namun laki-laki tampan itu ternyata cepat menjemukan bagi Warsi. Ia terlalu kasar dan sama sekali tidak mengenal irama. Karena itu, maka gerakannya pun menjadi liar dan bahkan seakan-akan ia tidak berbuat apa-apa selain memburu Warsi di tengah-tengah arena.

Orang-orang yang menonton mulai menyorakinya. Tetapi agaknya orang berwajah tampan itu salah mengerti. Ia mengira orang-orang bertepuk karena mereka senang melihat tingkah-lakunya.

Namun ternyata bahwa orang-orang yang menontonnya pun mulai jemu dengan kehadirannya.

Karena itu, maka Warsi kemudian telah minta agar orang itu menyerahkan kembali sampurnya. Katanya, “Berilah kesempatan kepada orang lain Ki Sanak.”

“Aku belum puas,” jawab orang itu. “Aku belum memelukmu.”

“Ah, bukankah kali ini kalian tidak sedang menyelenggarakan janggrung. Kalian sama sekali tidak mengeluarkan uang sekeping pun. Jika kali ini aku sedang kebar dan kemudian kita sepakat untuk menyelenggarakan janggrung, maka aku tidak berkeberatan. Tetapi kali ini aku menari untuk sekadar mengucapkan terima kasih

kepada pemilik rumah ini yang telah memberi kesempatan kami bermalam di rumahnya,” jawab Warsi.

“Tetapi beri aku kesempatan sejenak lagi,” jawab laki-laki tampan itu.

Warsi menjadi jemu. Katanya, “Sudahlah, agar pemilik rumah itu tidak menjadi marah kepadamu. Apakah kau berani melawannya?”

Ancaman itu telah membuat leher orang tampan itu berkerut. Karena itu, maka ia pun segera menyerahkan sampurnya kembali kepada Warsi.

Demikian sampur itu kembali ke tangan Warsi, maka beberapa orang laki-laki yang lain telah berdesakan lagi. Sekali lagi Warsi memilih dan sekali lagi Ia menyerahkan sampur kepada seorang laki-laki. Tetapi ketika mereka mulai menari maka laki-laki itu pun terasa tidak menarik sama sekali.

Demikianlah terjadi beberapa kali, sehingga akhirnya Warsi benar-benar menjadi jemu, sementara malam masih cukup panjang. Baru saja terdengar suara kentongan ditengah malam.

Warsi pun kemudian memberi isyarat kepada para pengiringnya untuk menghentikan pertunjukan itu. Namun demikian pertunjukan itu berhenti, Warsi pun dengan hormat berkata kepada para penontonnya, “Pertunjukan ini belum berakhir. Aku sudah berjanji untuk menari sepanjang malam. Dan aku akan memenuhi janjiku, menari sampai ayam jantan berkokok untuk terakhir kali, atau jika para penonton sudah menjadi jemu dan meninggalkan pertunjukan ini.

Dalam pada itu, selagi Warsi beristirahat untuk sekadar minum minuman panas yang disediakan oleh pemilik rumah itu, maka beberapa penonton pun telah beristirahat pula. Mereka duduk di bawah pepohonan dan terpencar di seluruh halaman. Tidak seorang pun, terutama laki-laki yang meninggalkan halaman itu. Mereka yang belum memperoleh kesempatan dengan tidak sabar menunggu untuk dapat menari bersama seorang perempuan cantik. Sementara yang sudah pun berharap bahwa masih ada kemungkinan bagi mereka untuk menari sekali lagi.

Sementara itu, beberapa orang dengan heran telah memuji kemampuan menari tledek yang cantik itu. Bukan saja keindahan gerak dan kecantikan tubuhnya, tetapi bahwa penari itu mampu bertahan untuk menari sampai tengah malam. Bahkan kemudian ia berjanji untuk dapat menari semalam suntuk.

“Aku hampir tidak percaya,” berkata seseorang. “Apa lagi ia menari dalam irama yang panas dan dengan gerak yang mempesona. Sama sekali tidak nampak keletihan dan apalagi kehabisan tenaga. Ia masih mampu memanaskan suasana dengan geraknya dalam iringan yang serasi.”

“Tledek yang satu ini memang aneh,” jawab yang lain.

Namun mereka tidak sempat membicarakannya lebih panjang lagi. Sejenak kemudian, Warsi telah kembali berada di arena, sementara beberapa orang laki-laki telah kembali berdesakan.

Namun yang diberi kesempatan pertama untuk menari bersamanya adalah orang gemuk pemilik rumah itu. Ternyata bahwa kesempatan kedua ini pun telah dipergunakan sebaik-baiknya, sehingga keringatnya bagaikan terperas dari tubuhnya.

Tetapi kemudian Warsi pun menjadi sebagai-mana terjadi sebelumnya. Ia mulai memilih laki-laki yang seperti menjadi gila menunggu gilirannya. Bahkan yang dilakukan Warsi kemudian benar-benar telah memancing persoalan. Warsi sengaja memberi sampur itu kepada seseorang tetapi kemudian diambilnya lagi dan diberikan kepada orang lain. Tetapi yang benar-benar telah membuat arena itu

menjadi gaduh, ketika dengan sengaja dan sadar, Warsi meletakkan sampur itu di atas dua belah tangan dari dua orang laki-laki yang sedang berdesakan.

Kedua orang itu pun kemudian saling berebut sampur itu. Masing-masing tidak mau mengalah, sehingga akhirnya keduanya telah berkelahi dengan sengitnya.

Warsi tersenyum melihat perkelahian itu. Beberapa orang justru menyibak, sementara kedua orang laki-laki itu telah mengerahkan kekuatan mereka masing-masing.

Dalam pada itu, sampur yang mereka perebutkan itu justru telah jatuh ditanah.

Tanpa menghiraukan perkelahian itu Warsi telah memungut sampur itu dan melambaikannya kepada laki-laki lain yang sedang kebingungan.

Laki-laki itu tertegun melihat sikap Warsi. Tetapi kemudian justru tersenyum manis. Didekatinya laki-laki itu dan ditariknya ke tengah arena.

Dalam kebingungan laki-laki itu tidak me-lawan. Bahkan kemudian Warsi mulai menggerak-gerakkan tangan orang itu, maka orang itu pun mulai menari. Tetapi sementara itu, Warsi justru telah melemparkan sampurnya kepada laki-laki yang lain lagi, yang kemudian turun pula ke arena.

“Minggir kau,” teriak laki-laki yang membawa sampur.

Tetapi Warsi masih saja menari berhadapan dengan laki-laki itu sambil tersenyum cerah. Wajahnya menjadi semakin cantik dan gerakannya pun menjadi semakin panas.

Karena itu, laki-laki itu tidak mau pergi. Ketika laki-laki yang membawa sampur itu mendesaknya itu pun telah pula ditinjunya.

Keduanya pun kemudian telah berkelahi pula. Keduanya tidak mau mengalah dan tidak mau menepi.

Arena itu pun kemudian menjadi kacau. Dua lingkar perkelahian telah terjadi.

Orang-orang yang berusaha memisah, justru telah terlibat pula. Mereka mulai berpihak kepada kawannya yang sedang berkelahi itu, sehingga perkelahian itu pun menjadi semakin kisruh.

Laki-laki gemuk pemilik rumah itu mulai menyadari, bahwa di halaman rumahnya telah terjadi perkelahian yang seru. Mereka telah berkelahi dimanapun di halaman itu, sehingga tanaman yang tumbuh di halaman dan dikebun telah menjadi rusak karenanya.

Laki-laki gemuk itu menjadi marah. Dengan tangkasnya ia meloncat ke atas tangga sambil berteriak, “Berhenti, semuanya berhenti.”

Tetapi laki-laki gemuk itu tidak sempat berteriak lagi . Ia sama sekali tidak dapat melawan, ketika tangannya telah ditarik oleh Warsi sambil tersenyum manis.

Bahkan kemudian sambil mengelus pundaknya Warsi berkata, “Biarlah terjadi, apa yang sudah terjadi. Biarlah mereka mendapat hukuman mereka, karena mereka tidak dapat menahan diri.”

Orang gemuk itu mengerutkan keningnya. Tetapi ketika dipandanginya wajah Warsi yang cantik dan senyumnya yang cerah, maka ia pun tidak dapat berbuat apa-apa.

Seperti kanak-kanak orang itu dibimbing oleh Warsi ke tangga pendapa dan kemudian mengajaknya untuk duduk bersama.

Sementara itu, para pengiring yang masih saja memukul gamelan menjadi bingung. Tidak ada lagi yang menari di halaman. yang ada justru orang-orang yang sedang berkelahi. Sekali-kali terdengar orang-orang yang mengaduh kesakitan, umpatan kasar dan perempuan yang menjerit-jerit.

Namun Warsi sama sekali tidak memberikan isyarat agar gamelan itu berhenti. Bahkan ketika tukang gendang itu berusaha untuk mendapatkan isyarat dari Warsi, Warsi sama sekali tidak menghiraukannya.

“Pergilah kepada anak binal itu,” geram tukang gendang kepada salah seorang pengiring, “Tanyakan kepadanya, apakah gamelan ini sudah boleh berhenti.”

Orang itu pun segera berdiri dan mendekati Warsi yang sedang duduk di tangga pendapa dengan orang gemuk pemilik rumah itu. Sejenak ia ragu-ragu. Namun ia pun kemudian bertanya, “Bagaimana pendapatmu tentang gamelan itu?”

Warsi memandang orang itu sejenak, sementara jantung orang itu pun sudah berdebar. Tetapi tiba-tiba saja Warsi tersenyum sabil berkata, “Hentikan.

Biarlah orang-orang itu memuaskan hatinya. Setelah wajah mereka menjadi merah biru, maka mereka tentu akan berhenti dengan sendirinya.”

Orang itu menarik nafas dalam-dalam. Kemudian ia pun dengan tergesa-gesa kembali dan memberitahukan hal itu kepada tukang gendang.

Karena itulah, maka sejenak kemudian suara gamelan itu pun telah berhenti.

Sementara itu hiruk pikuk perkelahian di halaman itu pun sudah menjadi susut pula. Mereka yang sudah menjadi babak belur terhuyung-huyung meninggalkan halaman itu. Sementara yang lain pun mulai bertanya kepada diri sendiri, “Apa

sebenarnya yang telah terjadi?”

Sementara itu, mereka melihat tledek itu duduk di tangga pendapa dengan pemilik rumah yang gemuk itu. Orang yang memang ditakuti oleh seisi padukuhan.

“Kita telah dipermainkan oleh perempuan binal itu,” tiba-tiba seseorang mengeluh.

“Ya. Dan kita bagaikan telah terbius untuk saling berkelahi,” jawab yang lain.

Suramnya Bayang-bayang 3

Beberapa orang yang mulai menyadari keadaan pun berusaha untuk melerai kawan-kawannya yang masih berkelahi. Bahkan beberapa orang di antara mereka pun menjadi marah kepada Warsi yang masih saja duduk sambil tersenyum-senyum.

“Kita harus memberinya peringatan, bahwa tingkah lakunya telah membuat kita marah,” berkata salah seorang di antara laki-laki yang hidungnya berdarah.

“Apa yang akan kita lakukan?” bertanya kawannya.

“Kita seret tledek itu ke tengah-tengah halaman. Kita buat perempuan itu malu sebagaimana kita telah dibuat olehnya.”

“Apakah kita akan memukulinya?” bertanya yang lain.

“Tidak. Kita seret perempuan itu dan kita bedaki wajahnya yang cantik itu dengan lumpur,” jawab yang hindungnya berdarah.

“Siapa yang akan melakukannya?” bertanya orang yang matanya menjadi biru. Ternyata pertanyaan itu telah membingungkan. Tidak ada orang yang dapat menjawabnya. Bahkan orang yang matanya menjadi biru itu berkata, “Perempuan itu tentu akan mendapat perlindungan dari kerbau dungu yang tergila-gila kepadanya

itu. Sementara itu, kita telah melihatnya, bahwa tukang gendang tledek itu memiliki kemampuan melampaui kerbau itu.”

Orang-orang yang mendengar kata-kata orang yang matanya biru dan mulai membengkak itu terdiam. Mereka sependapat dengan orang itu, bahwa tidak ada seorang pun yang akan dapat menghukum perempuan yang telah menimbulkan kegaduhan di padukuhan itu.

Dalam pada itu, Warsi mulai memperlihatkan orang-orang yang satu demi satu meninggalkan halaman itu. Mereka berjalan tertatih-tatih sambil menyeringai menahan sakit. Bahkan ada di antara mereka yang terpaksa dipapah oleh kawannya, karena kakinya rasa-rasanya telah patah dalam perkelahian yang ribut di halaman itu.

Sejenak Warsi termangu-mangu. Namun kemudian tiba-tiba saja ia bangkit. Pemilik rumah itu terkejut. Dicobanya untuk menahan tangan Warsi. Tetapi tangan orang gemuk itu telah dikibaskannya, sehingga pegangannya pun telah lepas.

Tidak seorang pun yang tahu apa sebabnya, ketika tiba-tiba saja Warsi telah berlari kebilik yang sudah disediakan baginya. Pemilik rumah itu kemudian bangkit sambil memandanginya dengan wajah yang tegang. Sekali-kali ia memandang tukang gendang yang kemudian telah bangkit pula.

Jantung orang gemuk itu menjadi semakin cepat berdetak ketika ia melihat tukang gendang yang dikiranya adalah suami tledek itu melangkah satu-satu. Dengan sorot mata yang tajam tukang gendang itu mendekatinya.

“Aku tidak berbuat apa-apa. Aku hanya duduk saja. Istrimulah yang membimbingku dan membawaku duduk disini,” berkata orang itu gagap sebelum tukang gendang itu bertanya sepatah kata pun.

Tukang gendang itu berdiri tegak dengan kaki renggang. Sementara orang yang gemuk itu menjadi semakin ketakutan.

Kemudian dengan nada berat tukang gendang itu bertanya, “Kau tentu menyentuhnya. Justru disaat ia tidak menghendaki.”

“Tidak. Sungguh mati aku tidak menyentuhnya. Malahan istrimu yang menyentuhku,” jawab laki-laki gemuk yang ketakutan itu.

Tukang gendang itu tidak bertanya lagi. Tiba-tiba saja ia pun meninggalkan pemilik rumah itu dan menyusul Warsi ke dalam biliknya.

Tukang gendang itu tertegun ketika ia melangkah memasuki pintu. Dilihatnya Warsi tidur menelungkup masih lengkap dengan pakaian penarinya, menangis tersedu-sedu.

“Warsi,” desis tukang gendang yang kemudian duduk disebelahnya, “Apa yang sebenarnya terjadi atas dirimu?”

Warsi tidak segera menjawab. Namun ia pun kemudian bangkit dan duduk disisi tukang gendang itu.

Dengan sampurnya ia mengusap air matanya yang masih saja mengalir, menghanyutkan bedaknya yang masih tersisa.

“Tingkah lakumu memang sulit dimengerti Warsi. Aku tahu akan hal itu. Tetapi kali ini kau benar-benar membuat aku kehilangan akal. Aku bukan saja tidak mengerti, tetapi kau telah membingungkan aku dan kawan-kawan kita yang pergi bersama kita,” desis tukang gendang itu.

“Aku memang sudah menjadi gila,” jawab Warsi disela-sela isaknya yang belum mereda, “Kegagalanku untuk membunuh anak Sembojan itu benar-benar membuat hatiku bagaikan diguncang oleh ketidakpastian.”

“Aku adalah orang tua Warsi,” berkata penggendang itu, “Aku sudah dapat melihat meskipun samar-samar, apa yang telah terjadi di dalam dirimu.”

Warsi tidak menyahut. Dibiarkannya pengendangnya itu berkata selanjutnya, “Kau tidak dapat membunuh laki-laki itu karena kau adalah seorang perempuan yang pada satu saat telah terlibat dalam garis getaran batin terhadap laki-laki.”

Warsi menutup wajahnya dengan sampurnya. Tangisnya justru menjadi semakin mengeras. Dengan sendat ia berkata, “Aku berusaha melupakannya dengan membuat satu permainan. Siang tadi aku merasa kurang puas. Aku ingin melihat laki-laki padukuhan ini saling berkelahi. Tetapi setelah hal itu terjadi, ternyata tidak memuaskan aku. Juga usahaku untuk menemukan seorang laki-laki yang dapat sekadar mengisi kekosongan hatiku pun sama sekali tidak berhasil.

Suara Warsi hilang ditelan isaknya. Sementara itu, pengendangnya pun berkata,

“Sudahlah. Kita akan segera kembali. Kita akan melaporkan semua yang telah terjadi.”

“Apakah ayah tidak akan marah kepadaku?” bertanya Warsi sambil menangis.

“Kau katakan saja apa yang sebenarnya terjadi di dalam hatimu. Bagaimana pun juga kau adalah seorang perempuan yang mempunyai penilaian yang sangat pribadi terhadap seorang laki-laki. Ternyata Wiradana, laki-laki Sembojan itu telah memikat hatimu sehingga kau tidak sampai hati untuk membunuhnya,” berkata tukang

gendangnya.

“Aku dihadapkan pada satu kesulitan untuk memilih. Jika aku tetap pada sikapku sekarang dengan tidak membunuhnya apakah aku akan dapat mempertanggungjawabkan hal ini kepada ayah. Padahal kaupun tahu, ayah terlalu kecewa dan marah atas kematian paman Kalamerta,” jawab Warsi.

Tukang gendang itu menarik nafas dalam-dalam. Kemudian katanya, “Kau masih belum mencobanya. Aku tidak tahu apa yang akan dikatakan oleh ayahmu. Tetapi bagaimana pun juga, kau adalah anaknya. Menurut perhitunganku bagaimanapun juga ia mengasihi pamanmu, tetapi ia tentu lebih mengasihi anaknya sendiri.”

“Soalnya bukan sekadar adik dan anak,” jawab Warsi. “Soalnya adalah harga diri dan kehormatan.”

Pengendangnya mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya,

“Kau telah dihantui oleh perasaanmu sendiri. Aku juga orang tua yang dirumah mempunyai anak meskipun berbeda dengan kedudukanmu. Aku juga seorang yang barangkali dapat disebut buas seperti serigala. Tetapi pada saat-saat hatiku bening aku bermimpi agar anak-anakku mendapatkan kebahagiaan didalam hidupnya.”

Warsi berusaha untuk berhenti menangis, meskipun dengan demikian ia bagaikan dicekik oleh isaknya sendiri. Namun akhirnya iapun menjadi tenang.

“Tidurlah,” berkata pengendangnya. “Besok kita akan meninggalkan tempat ini, langsung kembali. Tanpa singgah disepanjang jalan. Kau tidak akan menari lagi agar jiwamu yang luka itu tidak bergejolak sehingga dapat menimbulkan persoalan-persoalan baru.”

SIKAP Warsi ternyata agak berbeda. Biasanya ia tidak mau tunduk kepada siapapun juga. Ia lebih senang menuruti keinginannya sendiri. Namun saat itu, ternyata bahwa ia dapat mengerti petunjuk pengendangnya yang dipadukuhan itu diaku sebagai suaminya, tetapi di Tanah Perdikan Sembojan disebutnya sebagai ayahnya.

Dalam pada itu, Warsi pun kemudian membaringkan dirinya masih lengkap dengan pakaiannya. Sejenak ia merenung, sementara itu, pengendangnya pun telah bangkit berdiri dan berkata, “Aku pun akan bersiap-siap.”

Ketika pengendangnya kemudian keluar dari biliknya, langkahnya tiba-tiba tertegun. Dilihatnya pemilik rumah yang gemuk itu berdiri termangu-mangu.

“Apa yang telah terjadi?” bertanya orang gemuk itu.

“Ada sesuatu yang mengganggunya,” jawab pengendangnya.

“Maksudmu ada orang yang mengganggu dengan halus, maksudku dengan guna-guna atau tenung?” desak pemilik rumah itu.

“Ya. Tetapi segalanya telah teratasi,” jawab tukang gendang itu sambil memegang hulu kerisnya. “Keris ini tidak dapat dikalahkan dengan cara apapun juga. Aku telah mengusirnya dan agaknya tidak dengan sengaja aku telah melukai seseorang.

Mudah-mudahan orang itu tidak mati,” jawab tukang gendang itu.

“Maksudmu orang padukuhan ini? Aku akan menyelesaikannya,” geram orang gemuk itu.

“Aku tidak tahu. Tetapi mungkin orang padukuhan lain yang kami datangi di malam-malam sebelumnya,” jawab tukang gendang itu.

Orang bertubuh gemuk itu menjadi semakin ketakutan terhadap tukang gendang yang mengaku suami dari tledek yang cantik itu.

Kecuali ia memang pernah dikalahkan, ternyata orang itu memiliki kemampuan untuk melawan tenung dengan sebuah pusaka yang menurut tukang gendang itu tidak dapat dikalahkan dengan cara apapun juga.

Dalam pada itu, maka tukang gendang itu pun kemudian telah pergi kepada teman-temannya. Di sisa malam itu juga mereka harus berkemas. Besok pagi-pagi benar mereka akan meninggalkan padukuhan ini.

Menjelang fajar, Warsi telah bangkit dari pembaringannya. Ia memang tidak tidur barang sekejap pun. Setelah melepas pakaian tarinya maka Warsi pun segera pergi ke pakiwan.

Namun sesuatu telah terjadi, sama sekali diluar dugaan Warsi sendiri. Ketika ia berada di dalam pakiwan, tiba-tiba saja seorang laki-laki yang mengenakan sebuah topeng telah meloncat masuk. dengan pisau terhunus laki-laki itu mengancam, “Jangan berteriak tledek yang binal. Kau telah mengacaukan kehidupan padukuhan ini. Kau telah membuat kami saling berkelahi. Karena itu, maka kau harus mendapat hukuman.

“Apa yang telah aku lakukan?” bertanya Warsi. “Bukankah mereka saling berkelahi atas kehendak sendiri?”

“Jika kau tidak sengaja memancing kekeruhan, maka perkelahian itu tidak akan terjadi. Orang-orang padukuhan ini biasanya hidup rukun. Tetapi kehadiranmu telah merusakkan persaudaraan itu.”

“Jadi apa maksudmu sekarang?” bertanya Warsi.

“Ikut aku, sejak keributan itu berakhir aku menunggu kesempatan seperti ini,” jawab laki-laki itu.

“Kemana?” bertanya Warsi.

“Kau harus menebus kebinalanmu,” jawab laki-laki itu sambil mengacungkan pisaunya ke dada Warsi. Lalu katanya, “Kau harus menebus bengkak-bengkak di pundakku dengan kecantikanmu.”

“Kau sudah gila,” desis Warsi.

“Ya, aku memang sudah gila. Tetapi kaulah yang menyebabkan aku gila. Bahkan laki-laki sepadukuhan ini menjadi gila,” jawab laki-laki itu.

WARSI merenungi wajah laki-laki itu. Fajar masih belum menyingsing, sehingga dini masih disapu oleh keremangan sisa malam.

“Cepat ikut aku sebelum fajar,” bentak orang itu.

Warsi berusaha untuk menahan diri. Katanya, “Tinggalkan aku sendiri. Aku akan mandi.”

“Jangan membantah. Pisauku dapat membelah dadamu dan kencantikanmu akan tinggal menjadi dongeng saja,” geram laki-laki itu.

“Jika suamiku mengetahui hal ini, kau akan dibunuhnya. Bukankah kau tahu, bahwa pemilik rumah ini yang kalian takuti itu pun dapat dikalahkannya?” berkata Warsi.

“Karena itu, aku berbuat sebagaimana aku lakukan sekarang, agar suamimu tidak mengatahui,” jawab laki-laki itu. Lalu, “Cepat. Ikuti aku ke rumah yang akan aku tunjukkan kepadamu. Rumah pamanku yang kosong.”

“Jangan bodoh,” desis Warsi. “Jika aku hilang, maka suamiku dan pemilik rumah ini akan mencari aku diseluruh padukuhan. Akhirnya kita akan diketemukan juga.”

“Aku bukan sedungu kerbau anak manis,” jawab laki-laki itu. “Kau memang akan diketemukan di rumah yang kosong itu. Tetapi tanpa aku. Kau sendiri terkapar sambil merintih. Dengan demikian kau sudah menebus kebinalanmu.”

“Aku akan mengatakan siapa yang membawa aku,” jawab Warsi.

“Kau tidak akan mengenal aku,” jawab laki-laki itu.

Warsi memandang wajah laki-laki itu. Wajah yang tertutup oleh topeng yang buruk.

Tetapi menurut bayangan Warsi, wajah laki-laki itu sendiri tidak lebih dari topeng yang dikenakannya.

Dalam pada itu, Warsi mulai menjadi jemu melayani laki-laki gila itu. Tetapi terasa ada juga sedikit kebanggaan dihati perempuan itu. Ia menjadi semakin yakin, bahwa ia memang cantik, sehingga beberapa orang laki-laki benar-benar telah kehilangan akal. Bahkan ada juga laki-laki yang berusaha untuk mengambilnya.

“Laki-laki ini terlalu berani,” berkata Warsi didalam hatinya. Namun tiba-tiba saja ia menjadi sangat benci kepada laki-laki itu. Justru karena Warsi membayangkan wajah laki-laki itu sebagai wajah topeng yang dikenakannya.

“Cepat,” laki-laki itu membentak. Ketika Warsi masih saja berdiam diri, maka tiba-tiba saja laki-laki itu menggapai lengan Warsi dan berusaha menariknya.

Selangkah Warsi membiarkan dirinya terseret oleh tangan laki-laki itu. Namun kemudian langkahnya terhenti dimuka pintu pakiwan.

“Aku dapat berteriak,” desis Warsi.

“Jika kau berteriak, kau akan mati,” ancam laki-laki bertopeng itu.

“Jangan membuat aku menjadi muak. Lepaskan,” berkata Warsi kemudian.

“Cepat. Jangan banyak bicara,” bentak orang itu.

Ketika Warsi menengadahkan wajahnya, maka dilihatnya cahaya merah sudah membayang dilangit. Tiba-tiba saja ia menghentakkan kaki dan berusaha untuk berlari.

Laki-laki itu terkejut. Dalam waktu yang sekejap itu ia benar-benar kehilangan akal, sehingga ia tidak mempunyai pilihan lain daripada mempergunakan pisaunya.

Nalarnya yang tiba-tiba saja menjadi buntu telah mendorongnya untuk mengejarnya sambil mengayunkan pisaunya, justru oleh perasaan takut yang menghentak.

Sebenarnya Warsi tidak perlu melarikan diri. Jika ia melakukannya, maka ia sekadar ingin tahu, apakah laki-laki itu benar-benar akan membunuhnya.

Ternyata bahwa Warsi pun kemudian melihat laki-laki itu benar-benar mengayunkan pisaunya ke arah punggungnya.

Namun yang terjadi kemudian sama sekali tidak sebagaimana dibayangkan oleh laki-laki itu.

KETIKA pisau itu terayun kepunggung Warsi, maka terasa tangan laki-laki itu telah diterkam oleh kekuatan yang tidak dapat diukurnya, sehingga tangannya seakan-akan menjadi remuk karenanya. Sejenak kemudian maka tangan itu sudah terpilin menyamping, sementara terdengar suara lembut ditelinganya, “Inikah yang kau kehendaki anak manis.”

Orang itu sempat berpaling. Dilihatnya Warsi berdiri disampingnya sambil memegang tangannya yang terpilin itu.

“Baiklah,” berkata Warsi. “Bawalah aku ke rumah pamanmu. Apa saja yang kau kehendaki aku tidak akan menolak.”

Kata-kata itu sangat membingungkan laki-laki yang kesakitan itu. Karena itu, maka sejenak kemudian ia berdesis. “Lepaskan. Tanganku sakit.”

“Tanganmu inilah yang akan kau pergunakan untuk benar-benar membunuhku. Kau tidak hanya mengancam dan bermain-main. Tetapi kau benar-benar akan membunuh,” geram Warsi tiba-tiba.

Wajah yang cantik dan kata-kata yang lembut itu tiba-tiba saja telah berubah.

Wajah itu bagaikan menjadi wajah hantu betina yang menyeramkan dan suaranya pun telah berubah pula bagaikan ringkik hantu yang sedang marah.

Laki-laki itulah yang kemudian akan menjerit. Tetapi tiba-tiba saja suaranya patah sebelum terloncat dari sela-sela bibirnya. Tangannya yang terpilin itu terasa benar-benar patah. Namun pisau yang digenggamnya itu ternyata telah terhunjam di lambungnya sendiri.

Laki-laki itu tidak sempat berteriak. Tubuhnya kemudian terhuyung-huyung. Warsi masih sempat menahannya dan meletakkannya perlahan-lahan.

Sejenak Warsi memandang tubuh yang terbujur itu. Baru kemudian ia melangkah pergi dan kembali ke pakiwan. Dan sesaat kemudian yang terdengar adalah debur air yang segar di pagi hari menjelang matahari terbit.

Tanpa kesan apapun Warsi pun telah kembali ke dalam biliknya. Pagi itu iring-iringan pengamen itu akan meninggalkan padukuhan yang telah sempat menjadi ribut. Beberapa orang laki-laki telah menjadi korban kegilaan mereka dan saling menghantam di antara mereka, sehingga beberapa orang telah menjadi luka-luka.

Dalam pada itu, ternyata pemilik rumah itu pun masih sempat menyuruh para pelayannya bahkan istrinya untuk menyediakan minuman panas bagi rombongan tledek itu. Seperti yang dijanjikan maka ia telah menyediakan uang taruhan dan bahkan lebih dari itu.

Demikian matahari naik dilangit, maka pengendang dari rombongan pengamen itu pun telah minta diri. Mereka akan melanjutkan pengembaraan mereka sebagaimana selalu mereka lakukan.

“Sebenarnya kalian tidak usah mengembara,” berkata orang gemuk itu, “Jika kalian mau tinggal disini, maka segala kebutuhan kalian akan aku cukupi.”

Wajah pengendang itu menjadi tegang. Dengan nada yang tiba-tiba menjadi garang itu bertanya, “Dan istriku harus menjadi selirmu?”

“O, tidak. Tidak. Bukan maksudku begitu. Aku sudah puas dengan menari saja bersamanya,” jawab orang gemuk itu.

“Sekarang kau berkata begitu. Tetapi jika aku benar-benar tinggal disini, maka kau tentu akan mulai bertingkah. Dan kami yang merasa berhutang budi kepadamu, tidak akan dapat menentang lagi niat iblismu,” geram pengendang itu.

“Tidak. Tentu tidak,” jawab orang gemuk itu dengan wajah yang pucat.

Namun tiba-tiba saja penari yang cantik itu telah menggamit pengendangnya. Sambil tersenyum ia berkata kepada pemilik rumah itu, “Kami mohon maaf atas segala kekasaran dan kesalahan kami. Sekarang biarlah kami mohon diri. Tetapi kami, terutama aku sendiri tidak akan melupakan rumah ini dengan segala kemurahan hatimu.”

“Ah,” orang gemuk itu hanya berdesah saja. Tetapi ia justru tidak dapat menjawab.

Sejenak kemudian, maka sekelompok pangamen itu telah bersiap untuk pergi. Para pengiring sudah mempersiapkan gamelan yang akan mereka usung di atas pundak. Namun dalam pada itu, tiba-tiba saja rumah itu menjadi gempar. Seseorang telah berteriak-teriak seperti kerasukan setan.

“Ada apa?” bertanya beberapa orang yang mendengar keributan itu.

Beberapa orang pun kemudian berlari-larian. Mereka dengan cemas mengguncang tubuh seorang perempuan yang berteriak-teriak tidak menentu.

“Ada apa? Ada apa?” bertanya seorang laki-laki tua.

Sementara itu pemilik rumah yang gemuk itu pun telah mendekat pula. Dengan lantang ia berkata, “Jangan diguncang-guncang begitu. Ia justru akan semakin bingung.”

Beberapa orang pun kemudian menyibak. Orang yang bertubuh gemuk itulah yang kemudian bertanya, “Ada apa? Kau melihat apa?”

Perempuan itu tidak menjawab. Ia masih saja berteriak-teriak. Namun kemudian ia pun menunjuk ke satu arah, di sebelah pakiwan.

Orang bertubuh gemuk itu pun segera meloncat. Namun langkahnya pun tertegun.

Dilihatnya sesosok tubuh yang terbaring di dekat pakiwan itu. Dari lambungnya mengalir darah yang membasahi tanah yang lembab.

“Siapa orang ini?” desis pemilik rumah itu. Beberapa orang telah berkerumun pula. Ketika seseorang berjongkok disamping

mayat itu, orang itu pun berdesis, “Ia mengenakan topeng.”

“Lepaskan topeng itu,” perintah pemilik rumah yang gemuk itu.

Orang yang berjongkok itu pun kemudian berusaha untuk melepaskan topeng itu.

Namun demikian topeng itu terlepas, maka orang-orang yang mengelilingi tubuh yang terbaring itu ter-kejut. Orang itu adalah orang padukuhan itu sendiri.

“Kenapa orang ini?” desis seseorang.

“Mungkin ia terbunuh ketika terjadi perkelahian yang kisruh itu,” sahut yang lain.

“Tetapi kenapa ia mempergunakan topeng,” bertanya yang lain lagi.

Ternyata teka-teki itu tidak terjawab. Berlari-lari seseorang telah memberitahukan kematian orang itu kepada keluarganya, sementara orang gemuk pemilik rumah itu pun telah menemui sekelompok orang-orang ngamen yang akan meninggalkan rumahnya.

“Satu peristiwa yang aneh,” berkata orang yang gemuk itu.

“Apa yang terjadi?” bertanya Warsi.

Orang gemuk itu pun kemudian menceriterakan apa yang dilihatnya.

“Mungkinkah hal itu terjadi karena kehadiranku disini?” bertanya Warsi dengan penuh penyesalan. “Jika demikian maka kehadiranku di padukuhan ini, dan justru karena aku telah berusaha menghibur tetangga-tetangga semalam, akibatnya adalah sebuah kematian.”

“Tidak,” jawab orang gemuk itu dengan serta merta karena ia menjadi cemas, bahwa penari itu tidak akan mau datang lagi kelak, “Tentu ada sebab lain. Jika perkelahian yang telah terjadi itu memang merenggut nyawanya, ia tentu tidak sempat mempergunakan topeng. Menurut dugaanku tentu ada persoalan lain meskipun sulit untuk ditebak. Dan tentu merupakan satu perkelahian yang sukar sekali untuk menemukan pembunuhnya.”

Warsi mengangguk-angguk. Tetapi ia pun kemudian bertanya, “Dengan demikian, apakah aku akan dapat melanjutkan perjalananku?”

Orang gemuk itu mengerutkan keningnya. Tiba-tiba saja timbul satu keinginan untuk mempergunakan kesempatan itu menahan kepergian sekelompok pengamen yang membawa perempuan yang cantik itu. Katanya, “Sebenarnya memang tidak ada keberatan apapun. Tetapi sebaiknya kalian menunggu sampai persoalan ini menjadi jelas. Kami tentu akan melaporkan kepada Ki Demang. Sementara itu, kalian tetap tinggal disini.”

Wajah pengendang itu tiba-tiba menjadi tegang. Katanya, “Jadi kau mencurigai kami, atau salah seorang di antara kami?”

“Tidak. Bukan maksudku,” jawab orang gemuk itu.

“Jadi apa maksudmu, bahwa kau berusaha menahan keberangkatan kami? Kalau kau mencurigai salah seorang dari kami, katakanlah berterus terang. Siapakah yang telah melakukan pembunuhan itu. Dan kenapa orang itu justru bertopeng. Tetapi jika tidak, biarlah kami melanjutkan perjalanan,” berkata pengendang itu sambil bangkit berdiri.

Namun Warsi telah mengamitnya. Sambil tersenyum ia berkata, “Sebaiknya, beri kesempatan kami untuk berangkat, agar kesan kami terhadap padukuhan ini tetap baik. Dengan demikian, akan ada keinginan kami untuk kembali ke padukuhan ini pada saat lain.”

Orang gemuk itu mengerutkan keningnya. Sambil menarik nafas dalam-dalam ia pun berkata, “Baiklah, jika hal itu memang sudah menjadi keputusan kalian. Silakan.

Kami memang tidak dapat menahanmu lebih lama lagi tinggal di padukuhan ini.”

“Terima kasih,” jawab Warsi sambil tersenyum. Katanya kemudian, “Kami akan langsung kembali ke rumah kami. Kami tidak akan ngamen lagi disepanjang jalan pulang, karena kami telah mendapat bekal yang terlalu banyak bagi anak-anak kami

di rumah.”

“Itu tidak seberapa,” berkata orang gemuk itu, “Jika lain kali kalian datang,

maka aku akan memberi kalian lebih banyak lagi.”

Dengan demikian, maka sekelompok pengamen itu, sama sekali tidak menunggu

penyelesaian tentang orang yang terbunuh di halaman rumah orang gemuk itu. Yang

menjadi teka-teki adalah justru orang itu berusaha menyembunyikan wajah aslinya

dengan mempergunakan topeng. Dengan demikian maka orang-orang telah menduganya

bahwa orang itu datang dengan maksud yang tidak sewajarnya.

“Tetapi siapakah yang telah membunuhnya?” pertanyaan itu pun telah mengganggu perasaan orang-orang yang menyaksikannya.

Namun dalam pada itu, keluarga orang yang terbunuh itu telah menyatakan menerima peristiwa itu sebagai satu bencana bagi keluarga mereka. Mereka tidak akan mempersoalkannya lebih lanjut, karena mereka pun menyadari, bahwa tentu ada ketidakwajaran dalam tingkah laku orang yang terbunuh itu. Sehingga dengan demikian maka keluarga orang yang terbunuh itu menganggap bahwa persoalannya telah selesai.

Dalam pada itu, Warsi dan iring-iringannya telah meninggalkan padukuhan itu.

Warsi tidak mengenakan pakaian seorang penari, sementara para pengiringnya telah membawa gamelan tidak dalam keadaan siap untuk dimainkan.

Sementara itu, tiba-tiba saja seorang di antara para pengiring Warsi berdesis, “Kematian yang memang aneh. Orang bertopeng itu memberikan kesan yang ganjil.

Sangat ganjil.”

Warsi memandang orang itu sejenak. Ketika ia berpaling kepada pengendangnya, maka pengendangnya itu pun sedang memandanginya dengan tajamnya.

“Kenapa kau memandang aku begitu?” bertanya Warsi.

“Bagaimana aku memandangmu?” orang itu ganti bertanya.

Tiba-tiba saja Warsi menarik nafas dalam-dalam sambil menjawab dengan nada dalam, “Aku memang yang membunuhnya.”

Pengendangnya itu hampir saja berdesis, “Aku sudah menduga. Untunglah bahwa ia sempat menahan diri, sehingga ia tidak mengucapkannya. Namun yang kurang dimengertinya, kenapa laki-laki itu mempergunakan sebuah topeng.

Tanpa diminta, maka Warsi pun kemudian menceriterakan apa yang telah terjadi di pakiwan, sehingga karena ia menjadi sangat muak terhadap tingkah laku laki-laki itu, maka laki-laki itu telah dibunuhnya.

Pengendang dan para pengiring lainnya pun menarik nafas dalam-dalam. Tetapi mereka mengerti, kenapa Warsi telah membunuh orang itu. Apalagi Warsi menganggap bahwa orang itu pun benar-benar berusaha membunuhnya.

Tidak seorang pun di antara para pengiringnya yang mempertanyakannya.

Pengendangnya itu pun tidak. Sementara Warsi sendirilah yang kemudian berkata, “Aku tidak dapat menyakitinya tanpa membunuhnya. Jika ia tidak mati, ia akan berceritera tentang aku.”

Para pengiringnya masih berdiam diri. Mereka tidak tahu, tanggapan apakah yang sebaiknya diberikan tentang hal itu.

Namun agaknya Warsi pun tidak menghiraukan tanggapan para pengiringnya. Ia tidak menanyakannya dan kemudian persoalan itu pun seolah-olah telah dilupakannya.

Namun yang menjadi persoalan kemudian adalah kemungkinan ada orang yang dapat mengenal mereka. Karena itu, maka untuk perjalanan berikutnya, mereka telah memilih malam hari. Dengan demikian, sebagaimana saat mereka berangkat, tidak seorang pun yang akan dapat mengenali mereka. Terutama orang-orang yang telah mengenal mereka dalam kehidupan sehari-hari, sehingga dalam rombongan kecil itu, orang-orang yang telah mengenal mereka akan menjadi curiga.

Demikianlah, maka setelah menempuh perjalanan yang menegangkan, maka akhirnya Warsi telah berjalan mendekati rumahnya. Di tengah malam iring-iringan kecil itu menuju ke sebuah padukuhan yang cukup besar.

Semakin dekat mereka dengan padukuhan itu, maka jantung Warsi terasa berdentangan semakin cepat. Ia harus mempertanggung-jawabkan semua yang telah

dilakukannya kepada ayahnya. Ia harus melaporkan kegagalannya untuk membunuh Wiradana apalagi Ki Gede Sembojan. Sehingga dengan demikian, maka dendam atas kematian Kalamerta masih belum dapat ditebusnya.

Hampir di luar sadarnya, ketika iring-iringan itu mendekati padukuhannya, maka tiba-tiba saja Warsi berhenti. Sejenak ia berpaling kepada para pengiringnya.

Bahkan kemudian ia pun telah melangkah menepi duduk di atas sebuah batu padas dipinggir jalan.

“Warsi,” desis pengendangnya, “Marilah. Kita tinggal selangkah lagi.”

Warsi termangu-mangu. Bahkan rasa-rasanya nafasnya menjadi semakin sesak.

Rasa-rasanya ingin ia berteriak keras-keras untuk melepaskan himpitan pada perasaannya. Namun untunglah bahwa nalarnya masih dapat mengekangnya.

“Warsi,” pengendangnya itu pun kemudian duduk disebelahnya. Meskipun ia termasuk salah seorang yang buas dan garang dalam lingkungannya, tetapi pada saat ia merasa dirinya sebagai seorang yang telah berusia tua menghadapi seseorang gadis yang sedang bergejolak jiwanya. Katanya kemudian, “Marilah. Segala sesuatunya

dapat kita bicarakan di rumah. Kau tidak akan dapat merenungi segalanya itu untuk mendapatkan satu penyelesaian. Kau harus menghadap ayahmu dan mengatakan semuanya dengan utuh.”

Warsi mengusap matanya yang mulai basah. Namun kemudian ia pun menengadahkan wajahnya sambil berdesis, “Marilah. Kita akan melanjutkan perjalanan.”

Warsi berusaha untuk berjalan dengan menengadahkan kepalanya. Ia ingin tetap merupakan seorang gadis yang garang dihadapan ayahnya.

Namun demikian, Warsi tidak dapat ingkar kepada dirinya sendiri. Ketika ia memasuki regol halaman rumahnya, jantungnya terasa berdentang semakin cepat.

Meskipun rumah itu bukan rumah seorang demang, atau seorang bebahu padukuhan yang penting, apalagi rumah seorang Kepala Perdikan, namun setiap saat rumah itu selalu dijaga oleh dua orang pengikut ayahnya yang setia, sebagaimana para pengiring yang menyertainya ngamen ke Tanah Perdikan Sembojan.

Ketika dua orang penjaga itu melihat sekelompok orang memasuki halaman, mereka pun segera bersiaga. Tetapi demikian cahaya obor menggapai wajah Warsi, maka kedua orang itu pun menarik nafas dalam-dalam. Sambil menyongsong kedatangan iring-iringan kecil itu, maka salah seorang di antara mereka bertanya, “Kapan kalian datang, he?”

Warsi yang berada dipaling depan tidak menyahut. Ia langsung menuju ketangga pendapa dengan diikuti oleh para pengiringnya.

Penjaga yang bertanya itu merasa tersinggung. Sambil berjalan disisi Warsi ia mengulangi pertanyaannya, “Kapan kalian datang?”

Warsi berpaling ke arahnya. Dipandanginya penjaga itu dengan tajamnya. Dengan nada datar ia bergumam, “Kau lihat, bahwa kami baru saja datang? Jika kau bertanya sekali lagi, aku patahkan semua gigimu.”

Penjaga itu mengerutkan keningnya. Namun ia benar-benar tidak berani bertanya lagi. Ia sudah mengenal watak dan sifat Warsi. Karena itu, ia pun bahkan bergeser menjauh. Ketika Warsi kemudian naik ke pendapa, maka kedua penjaga itu justru tetap tinggal di halaman.

“Ketuk pintu,” desis Warsi.

Pengendangnya kemudian melangkah ke pintu dan mengetuknya perlahan-lahan.

Sejenak kemudian, maka pintu pun terbuka. Seorang laki-laki berambut putih berdiri dipintu.

Demikian ia melihat Warsi, maka orang itu pun tersenyum. Ditepuknya pundak anak perempuannya sambil berdesis, “Marilah Warsi. Aku tahu bahwa kau akan kembali dengan selamat dengan membawa hasil yang gemilang.”

Warsi menundukkan kepalanya. Tetapi ayahnya kemudian membimbingnya masuk ke ruang dalam. Katanya kepada para pengiring, “Marilah. Masuklah. Biarlah gamelan itu kalian tinggalkan saja di pendapa.”

Para pengiring Warsi itu pun kemudian mengikuti masuk ke ruang dalam. Mereka pun kemudian duduk disehelai tikar pandan yang terbentang di tengah-tengah ruang dalam itu.

Ternyata suasana di ruang itu terasa tegang. Wajah-wajah pun menjadi suram dan jantung pun terasa berdegupan.

Sekali-kali para pengiring itu berusaha untuk dapat menatap wajah Warsi. Tetapi Warsi yang mereka kenal sebagai seorang gadis yang garang itu, nampak menunduk dengan wajah yang muram.

Orang tua berambut putih itu ternyata mampu menangkap suasana yang dihadapinya.

Ia melihat wajah-wajah yang muram dan suasana yang mencengkam sekelompok orang yang baru saja datang dari Sembojan itu.

Karena itu, maka ia tidak sabar lagi. Dengan serta merta maka ia pun kemudian bertanya, “Warsi. Apakah kau berhasil membalas dendam pamanmu? Apakah anak Kepala Tanah Perdikan Sembojan itu sudah kau bunuh, atau justru Kepala Tanah Perdikan itu sendiri?”

Jantung Warsi terasa bagaikan runtuh dari tangkainya. Pertanyaan itu memang sudah ditunggunya. Namun ia masih juga merasakan ketegangan yang luar biasa mencengkam dadanya.

“Warsi,” berkata ayahnya pula. “Sikapmu dan para pengiringmu membuat aku berdebar-debar. Sebenarnya aku ingin mempersilakan kalian beristirahat. Minum minuman panas dan barangkali mandi dan membersihkan diri setelah menempuh perjalanan. Tetapi aku tidak dapat menunggu justru karena sikap kalian semuanya.”

“Ayah,” berkata Warsi kemudian, “Aku sudah berusaha untuk melakukan perintah ayah sebaik-baiknya. Tetapi ternyata aku telah gagal.”

“Aku baca dari ungkapan wajahmu,” berkata ayahnya. “Kenapa kau gagal?” Apakah kau tidak mendapat kesempatan untuk membunuhnya atau kau sudah mencobanya, tetapi anak itu memiliki kemampuan melampaui kemampuanmu?”

Jantung Warsi bagaikan akan meledak. Tetapi ia sudah bertekad untuk segera mengatakannya. Apapun yang terjadi.

Karena itu, maka ia pun kemudian bergeser setapak sambil berdesis, “Aku akan mengatakan segalanya ayah. Sebelumnya aku mohon ayah memaafkan aku.”

Wajah ayahnya menjadi semakin berkerut. Namun ia pun memberi kesempatan kepada anaknya untuk mengatakan persoalan yang dibawanya dari Sembojan.

Warsipun kemudian menceriterakan sejak awal hingga akhir perjalanan sampai ia memasuki kembali regol rumahnya dengan hati yang berdebar-debar.

Wajah ayahnya menjadi merah, sementara telinganya bagaikan di sentuh api. Dengan suara bergetar ia berkata, “Anak iblis. Jadi kau korbankan harga dirimu sebagai kemenakan Kalamerta?”

“Bukan maksudku ayah,” jawab Warsi. “Tetapi aku tidak dapat melakukannya. Ada sesuatu yang telah menahan diriku, justru di dalam.”

“Kau sudah ditempa oleh satu keadaan yang aku kira akan dapat membuatmu menjadi masak lahir dan batin,” berrkata ayahnya dengan nada yang keras. “Ternyata bahwa hatimu terlalu lemah untuk melakukan tugas-tugas yang berat.”

“Aku mohon maaf ayah,” jawab Warsi. “Tetapi dalam hubungan kami yang singkat, pada saat-saat orang itu mengunjungi kami di banjar, terasa ada sesuatu yang menjerat perasaanku yang kemudian ternyata telah berkembang dan menghambat usahaku untuk membuhnya.”

“Persetan,” ayahnya hampir berteriak. “Kau telah terbius oleh ujud lahiriah yang seharusnya kau abaikan. Kau telah menjadi seorang yang sangat lemah hati dan bertekuk lutut dihadapan wajah yang tampan dari seorang yang telah membunuh pamanmu.”

“Bukan anak muda itu yang telah membunuh paman,” jawab Warsi.

“Tidak ada bedanya,” ayahnya benar-benar berteriak. “Ayahnya atau anaknya. Tetapi hal itu tidak kau lakukan. Nyawanya yang sudah berada di telapak tanganmu, telah kau lepaskan lagi,” ayahnya berhenti sejenak, sorot matanya bagaikan membakar tubuh Warsi. Namun tiba-tiba ia bertanya dengan nada yang menekan, “Warsi, apakah kau sebenarnya hanya sekadar membual? Apakah sebenarnya kau telah dikalahkannya dan kau harus melarikan diri dari arena perkelahian?”

Wajah Warsi pun kemudian menjadi merah. Tetapi ia masih berusaha menahan dirinya, karena ia berharap dengan ayahnya. Namun demikian ia menjawab,

“Laki-laki itu sudah terluka di seluruh tubuhnya. Aku tinggal menjerat lehernya saja setelah senjatanya terlepas. Tetapi aku tidak dapat melakukannya ayah.

Justru karena aku adalah seorang perempuan dan Wiradana adalah seorang laki-laki.”

“Itulah yang gila,” geram ayahnya. Bahkan dengan suara yang bergetar ayahnya pun kemudian berkata dengan suara lantang, “Warsi. Sekarang kau harus kembali ke Sembojan. Kau harus berhasil membunuh laki-laki keparat itu bersama ayahnya. Kau tidak mempunyai pilihan lain dari perintahku ini.”

Jantung Warsi bagaikan bergetar oleh runtuhnya Gunung Kelud. Dipandanginya ayahnya dengan tajamnya. Dengan suara yang sendat ia menjawab, “Ayah. Sudah aku katakan. Aku tidak dapat melakukannya. Ia terlalu tampan dan hatinya terlalu lembut untuk dibunuh karena kesalahan ayahnya.”

“Aku tidak mau mendengar alasan apapun lagi,” kata ayahnya.

Namun ternyata bahwa watak Warsilah yang kemudian melonjak dalam pembicaraan yang panas itu. Katanya, “Baik. Jika ayah tidak mau mendengar alasan-alasan, aku tidak akan menyebut satu alasan pun.”

“Jika demikian lakukan perintah ini. Sekarang kau harus kembali ke Sembojan.”

“Tidak,” jawab Warsi tegas. “Aku tidak akan ke Sembojan dan aku tidak akan membunuh Wiradana.”

“Gila,” bentak ayahnya. “Warsi. Apakah kau sudah gila?”

Warsi tidak menjawab. Tetapi wajahnya masih saja nampak kemerah-merahan.

“Warsi,” suara ayahnya semakin keras. “Kau harus pergi. Kau harus membela kehormatan keluarga kita. Kematian pamanmu merupakan salah satu penghinaan yang tidak dapat dimaafkan. Kau harus berhasil menebus penghinaan ini.”

Warsi sama sekali tidak menjawab, sementara ayahnya berteriak semakin meninggi,

“Warsi. Apakah kau sudah menjadi tuli dan bisu he?”

Warsi bergeser setapak. Namun ketika ayahnya kemudian bangkit berdiri, maka Warsi pun telah berdiri pula sambil berkata, “Aku tidak akan melakukannya. Itu saja. Ayah tidak mau mendengar alasanku. Dan aku tidak akan memberikan alasan.”

Kemarahan ayah Warsi telah sampai ke puncak. Selangkah ia maju. Tiba-tiba saja tangannya telah terayun menampar pipi anak gadisnya.

Warsi sama sekali tidak mengelak. Tetapi tamparan pada pipinya itu sama sekali tidak dirasakannya. Ia masih saja berdiri tegak sambil memandangi ayahnya yang bagaikan kesurupan itu.

Dalam pada itu, pengikut Warsi yang selama menjadi pengiringnya menjadi tukang gendang itu pun memberanikan diri untuk bergeser setapak sambil berkata, “Aku minta maaf, bahwa aku tidak berani mencampuri persoalan ini.”

Ayah Warsi yang berambut putih itu berpaling kepadanya. Namun tiba-tiba saja terdengar ia mengumpat, “Kau orang tua yang tidak tahu diri. Buat apa kau ikut bersamanya, jika kau sama sekali tidak dapat menentukan, apakah Warsi dapat melakukan tugasnya atau tidak.”

“Warsi masih belum memberikan alasannya yang paling mendasar,” berkata tukang gendang itu.

“Aku tahu. Ia tertarik kepada ketampanan wajah anak yang seharusnya dibunuhnya.

Apalagi ia sudah kawin dan mempunyai ikatan paugeran yang kuat sebagai anak seorang Kepala Tanah Perdikan. Apa yang dapat dilakukan Warsi atasnya?

Merenunginya setiap malam dan kemudian menjadi gila?” berkata ayah Warsi. “Bukan begitu,” jawab pengendang itu. “Sebenarnya adalah sangat wajar jika seorang perempuan pada suatu saat tertarik kepada seorang laki-laki.”

“O, jadi kau menganggap hal itu wajar? Apakah agaknya kau justru yang telah mencegah Warsi membunuh laki-laki itu? Kau yang telah mencari keuntungan dari kehinaan ini,” bentak ayah Warsi.

“Cobalah aku memberikan sedikit pendapatku tentang hal ini,” berkata orang itu.

“Apa yang dapat kau katakan tentang anakku? Selama ini kau tidak mampu berbuat sesuatu bagi dirimu sendiri,” jawab ayah Warsi.

“Agaknya memang demikian,” desis orang itu. “Namun kali ini aku ingin mencoba berbicara serba sedikit tentang Warsi. Mungkin yang aku katakan ini tidak ada gunanya sama sekali. Tetapi mungkin akan dapat memberikan sedikit kemungkinan untuk menyelesaikan persoalan.”

Ayah Warsi termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya, “Katakan. Tetapi jika ternyata justru kau yang telah menyebabkan anakku berpikiran sesat, maka kaulah yang akan mengalami nasib yang paling buruk.”

Orang yang selama mengiringi Warsi ke Sembojan menjadi pengendang itu pun kemudian berkata, “Ada hal yang harus dipertimbangkan. Warsi adalah seorang gadis dan Wiradana adalah seorang laki-laki muda. Mereka bertemu dalam keadaan yang sangat khusus. Dan sebagai orang tua aku dapat mengatakan, bahwa keduanya menjadi saling tertarik. Bukankah itu wajar?”

“Tidak. Sama sekali tidak wajar. Wiradana sudah kawin dan ia adalah orang yang harus dibunuh karena ia menjadi sasaran dendam keluarga Kalamerta,” jawab ayah Warsi.

“Tetapi bukankah pikiran kita mampu berkembang,” berkata bekas pengendangnya itu. “Membalas dendam bukanlah sekadar membunuh. Tetapi bukankah ada cara lain yang lebih baik dari membunuh? Bukankah sekaligus untuk satu tujuan yang jauh lebih besar dari sekadar kematian.”

“Aku tidak tahu, apa yang kau katakan,” geram ayah Warsi.

“Sudah sejak diperjalanan aku pikirkan. Aku sadar, bahwa akan terjadi hal seperti itu. Dan aku pun sadar, bahwa kekakuan watak Warsi akan membuatnya

terdiam seperti patung. Tetapi bukan berarti bahwa ia akan melangkah surut,” berkata orang itu.

“Cepat, katakan,” bentak ayah Warsi yang menjadi tidak sabar.

“Baiklah,” berkata pengendangnya. “Sasaran sebenarnya dari balas dendam ini adalah Ki Gede Sembojan. Wiradana sebenarnya bukan apa-apa. Bahkan Warsi telah bertempur melawannya, dan Wiradana sama sekali tidak mampu menyelamatkan dirinya seandainya Warsi membunuhnya.”

“Tetapi hal itu tidak dilakukannya.” teriak ayah Warsi.

“Tunggu,” jawab pengendang itu. “Ada jalan yang ingin ditempuh oleh Warsi. Ada satu alasan yang dapat dikatakannya. Tetapi kau sudah menutup pembicaraan dengan menolak segala macam alasan apapun juga.” Orang itu menarik nafas dalam-dalam, lalu, “Nah, bagimu manakah yang lebih baik, membunuh Wiradana atau membunuh Ki Gede Sembojan yang telah membunuh Kalamerta dengan tangannya.

“Kau mengigau,” geram ayah Warsi, “Bagaimana mungkin dapat membunuh Ki Gede Sembojan?”

“Warsi akan dapat melakukannya jika kau setuju dengan rencananya,” jawab pengendang itu.

Ayah Warsi itu pun menjadi termangu-mangu. Sementara Warsi sendiri menjadi heran atas kata-kata bekas pengendangnya itu. Mana mungkin ia dapat membunuh Ki Gede Sembojan. Apalagi agaknya Ki Gede sudah sembuh dan mampu berbuat sebagaimana dilakukan sebelum ia terluka parah.

Dalam pada itu bekas pengendang itu pun berkata, “Kita tidak tahu persis, apakah Ki Gede dapat pulih dalam keadaan sebelum ia mengalami luka parah dalam pertempuran melawan Kalamerta. Namun dalam keadaan bagaimana pun juga Warsi akan dapat membunuhnya jika ia sudah berada di dalam lingkungan keluarga Ki Gede Sembojan. Katakan bahwa Warsi telah jatuh cinta kepada Wiradana. Namun yang pasti Warsi tidak akan jatuh cinta kepada Ki Gede Sembojan.”

“Omong Kosong,” geram ayah Warsi. “Jika demikian kau bermaksud membiarkan Warsi kawin dengan Wiradana yang sudah beristeri itu? Kau biarkan anakku menjadi istri muda dan tentu dengan cara yang hina, karena istri muda itu diangkat dari lingkungan pengamen jalanan.”

“Dengarlah,” berkata tukang gendang itu. “Aku yakin Wiradana pun telah jatuh cinta kepada Warsi. Apa salahnya jika keduanya kemudian kawin? Tentu saja Warsi akan dapat mengajukan syarat, bahwa istri tua itu harus disingkirkan. Ini adalah salah satu cara pula untuk membalas dendam. Kematian akan ditebus dengan dua jiwa. Jiwa Ki Gede Sembojan dan jiwa istri Wiradana. Bukankah hal itu sudah memadai. Sementara itu, jika kelak Warsi mendapat keturunan, maka keturunannya akan menjadi kepala Tanah Perdikan Sembojan. Bukankah itu salah satu cara membalas dendam yang paling menarik, sekaligus mendapat keuntungan? Sebagaimana kami mengamen. Semula kami hanya ingin mempergunakan cara ini untuk menyusup ke dalam lingkungan Tanah Perdikan Sembojan, namun ternyata dalam perjalanan itu, kami juga mendapat banyak rejeki. “

Ayah Warsi mulai merenungi kata-kata bekas pengendang itu. Sementara Warsi sendiri pun mengangguk-angguk. Semula ia tidak berpikir sejauh itu. Ia memang ingin merenggut Wiradana dari tangan istrinya. Tetapi ia belum m-emikirkan caranya. Namun dalam pada itu pengendang itu telah mengatakannya, kematian Kalamerta dapat ditebus dengan dua jiwa. Istri Wiradana dan sekaligus ayahnya.

Ada semacam perlawanan di dalam hati Warsi sebagai seorang perempuan sebagaimana istri Wiradana itu. Tetapi kemudian ia pun menggeretakkan giginya. Jalan itu adlaah jalan yang sangat baik. Memenuhi keinginan sendiri dan sekaligus membalas

dendam atas kematian pamannya, Kalamerta.

Warsi menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian terdengar suaranya lembut, “Bagiku, daripada membunuh Wiradana, lebih baik aku merampasnya dari tangan istrinya.”

“Dan membunuh istrinya itu?” bertanya ayahnya pula.

“Jika Wiradana tidak mau menceraikannya, apaboleh buat,” jawab Warsi hampir tidak dapat didengar.

Tetapi ayah Warsi sama sekali tidak terkejut. Ia mengenal watak anaknya. Dan ia pun sama sekali tidak berkeberatan jika hal yang demikian itu memang akan terjadi.

Ternyata pendapat bekas pengendang Warsi itu dapat memberikan pemecahan. Ia dapat mengatasi ketegangan yang terjadi antara Warsi dan ayahnya. Karena keduanya menerima pendapat yang dikatakannya, meskipun dengan demikian pelaksanaan dendam itu akan tertunda untuk waktu yang tidak diketahui.

Sejenak kemudian, ayah Warsi itu pun menarik nafas dalam-dalam. Katanya,

“Penyelesaian yang diusulkan orang ini akan aku pikirkan baik-baik. Aku masih akan berbicara dengan beberapa pihak. Terutama Warsi sendiri. Karena seperti sudah kita ketahui, bahwa Warsi telah mendapat lamaran dari seseorang. Seorang yang kaya dan keturunan orang baik-baik.”

“Baik-baik bagimana maksud ayah?” bertanya Warsi.

“Ia masih mempunyai hubungan kadang dengan kita. Dan orang itu hidup dalam suasana yang wajar,” jawab ayahnya.

“Apakah kita tidak hidup dalam suasana yang wajar?” bertanya Warsi. “Jika kita sekarang harus melakukan satu langkah yang tidak wajar, adalah karena pokal paman Kalamerta.”

“Warsi, maksudku tata kehidupan dan nilai-nilai kehidupan yang kita anut memang berbeda dengan tata nilai dari orang itu,” berkata ayahnya.

“Jika demikian, maka hidup kami kelak tentu tidak akan menemukan satu kebahagiaan,” jawab Warsi.

“Aku mengerti. Tetapi maksudku semula, aku ingin mengajarimu hidup sebagaimana orang kebanyakan. Kau dapat menjadi seorang perempuan sebagaimana perempuan-perempuan lain,” berkata ayahnya.

“Itu tidak mungkin,” jawab Wasi.. “Ayah sudah membentuk aku menjadi begini. Aku tidak dapat berubah lagi. Laki-laki yang ayah katakan melamar aku itu tidak lebih dari seorang laki-laki cengeng yang tidak pantas kawin dengan seorang perempuan. Justru hati orang itu melampaui lemahnya hati seorang perempuan.”

“Ya, aku mengerti. Tetapi ia benar-benar sudah melamar karena ia tidak tahu siapakah kau sebenarnya. Laki-laki itu memang pernah mengenalmu sebagaimana kau mengenalnya. Tetapi hanya ujud lahiriahnya saja,” berkata ayahnya.

“Lupakan saja orang itu ayah,” berkata Warsi. “Jika aku terpaksa kawin dengan orang itu, maka pada suatu ketika aku akan mencekiknya.”

Ayahnya menarik nafas dalam-dalam. Warsi mungkin hanya ingin mengungkapkan ketidak inginannya untuk memilih orang itu daripada Wiradana. Tetapi ungkapan itu akan benar-benar dapat dilakukan jika ia dipaksa untuk melakukan perkawinan itu.

Karena itu ayahnya kemudian berkata, “Ternyata kemudian aku condong untuk mengijinkan kau kawin dengan Wiradana, tetapi dengan syarat bahwa kau tidak akan dimadu. Aku akan memberi tahukan kepada laki-laki yang melamarmu itu, bahwa kau ternyata keberatan. Tetapi biarlah hal ini kita bicarakan lebih mendalam.

Sekarang, beristirahatlah. Kalian tentu merasa lelah.”

“Aku kelelahan lahir dan batin,” desis Warsi perlahan-lahan hampir ditujukan kepada diri sendiri.

Demikianlah, maka Warsi dan para pengiringnya pun kemudian membersihkan dirinya di pakiwan. Sementara seseorang sempat menyediakan minuman panas bagi mereka.

Baru kemudian mereka pergi ke bilik mereka masing-masing. Warsi ke biliknya sendiri, sedang yang lain pergi ke gandok.

Di hari-hari berikutnya, maka dengan sungguh-sungguh ayah Warsi telah membicarakan tentang hari depan anaknya. Rencana Warsi untuk kembali ke Tanah Perdikan Sembojan dan merebut Wiradana dari sisi istrinya telah disetujuinya.

Dengan demikian, apabila Warsi berhasil, maka ia akan mendapat banyak kesempatan untuk membalas dendam kematian Kalamerta, sekaligus berharap bahwa keturunannya kelak akan menjadi Kepala Perdikan Sembojan.

“Kepala Tanah Perdikan adalah kedudukan yang jauh lebih baik daripada sekadar istri seorang yang kaya dan keturunan baik-baik,” berkata ayah Warsi itu didalam hatinya.

Sehingga dengan demikian, maka ayahnya pun sependapat bahwa Warsi mulai bersiap-siap untuk pergi ke Sembojan sekali lagi dalam ujudnya sebagai seorang penari.

“Apakah kau tidak dapat datang dengan cara yang lebih baik dari seorang pengamen?” bertanya ayahnya.

“Ia tertarik Warsi dalam keadaan yang demikian,” sahut laki-laki yang menjadi pengendangnya pada petualangan yang terdahulu, namun yang akan dilakukannya pula. Apalagi pengendang itu telah mengaku bahwa ia adalah ayah Warsi.

“Kita tidak usah menunggu terlalu lama,” berkata pengendang itu. “Kita harus memperhitungkan perasaan Wiradana. Jika karena kebiasaan ia kemudian benar-benar mencintai istrinya dan sanggup melawan perasaan yang tertuju kepada Warsi maka kesempatan yang demikian akan hilang.”

“Jika demikian, aku benar-benar akan membunuhnya. Lebih baik aku melihat Wiradana mati daripada aku kehilangan kesempatan untuk mengambilnya dan sekaligus menurunkan seorang Kepala Perdikan,” berkata Warsi.

“TETAPI kalian juga harus memperhitungkan setiap kemungkinan. Sebagai anak seorang Kepala Perdikan maka Wiradana akan menjadi kiblat kehidupan anak-anak muda. Karena itu, ia tentu tidak akan tergesa-gesa menceraikannya. Bahkan seandainya istrinya itu meninggal dengan alasan apapun juga, ia tentu tidak akan tergesa-gesa kawin,” berkata ayah Warsi. Lalu, “Karena itu, jika kalian ingin

berhasil, maka kalian tidak boleh tergesa-gesa. Aku setuju bahwa kalian tidak perlu menunggu terlalu lama untuk pergi ke Sembojan. Tetapi setelah itu, maka langkah-langkah yang akan kalian ambil harus berdasarkan kepada perhitungan yang mapan dan tidak tergesa-gesa.”

Pengendang Warsi itu pun mengangguk-angguk. Rencana yang akan mereka lakukan memang rencana yang rumit. Bukan sekadar memancing Wiradana keluar dari padukuhan dan membunuhnya. Tetapi rencana ini berkaitan dengan tata nilai dari anak laki-laki seorang Kepala Tanah Perdikan yang akan segera menggantikan kedudukan ayahnya dalam segala segi kehidupan.

Karena itu, maka seperti yang dikatakan oleh ayah Warsi, segalanya tidak dapat dilakukan dengan tergesa-gesa sebagaimana saat Warsi akan membunuhnya.

Tetapi Warsi pun kemudian menyadari, bahwa keinginannya untuk merebut Wiradana tidak akan dapat dilakukannya dalam satu dua bulan. Mungkin ia harus menunggu satu dua tahun. Tetapi sebelum waktu yang panjang itu ia akan dapat memancing kepastian sikap sikap Wiradana. Dan agaknya bagi Warsi, hal itulah yang lebih penting dari pelaksanaan rencana itu sendiri. Meskipun ia harus menunggu satu dua tahun, namun apabila pada saat-saat sebelum itu ia sudah mendapat keyakinan bahwa rencananya akan berlaku, maka ia tidak akan segan melakukannya. Apalagi sebagai manusia biasa, maka ia akan dapat saja berhubungan dengan Wiradana kapan saja ia kehendaki diluar batas pelaksanaan rencananya untuk secara resmi menjadi istrinya.

Adalah kelebihan Warsi dari perempuan lain, juga dalam persoalan Wiradana, Warsi dapat mengambil cara apapun untuk mencapai maksudnya. Ia pun merasa tidak terikat pada tata nilai kehidupannya, pergaulan antara sesama dan juga dalam hubungan perkawinan.

“Jika aku menyukainya dan laki-laki itu menyukai aku, apa peduliku terhadap orang lain,” berkata Warsi dalam hatinya.

Dengan bekal sikap itulah, maka ia pun menyusun rencana bersama dengan ayahnya dan pengendangnya untuk kembali ke Tanah Perdikan Sembojan.

Namun dalam pada itu, sebagaimana dikatakan oleh ayahnya, seorang laki-laki memang telah melamar Warsi. Justru masih ada hubungan darah dengan keluarga Warsi. Laki-laki yang kaya dan memiliki tanah yang luas serta keturunan orang

baik-baik. Namun sayang bahwa laki-laki itu terlalu tua buat Warsi.

“Ayah dapat menolaknya,” berkata Warsi. “Jangan menunggu lebih lama lagi. Dengan demikian persoalannya akan cepat selesai.”

“Ada keseganan untuk menolaknya dengan serta merta,” berkata ayahnya. “Bukanlah keluarganya sudah kita kenal dengan baik?”

“Tetapi itu bukan berarti bahwa kita tidak dapat menolaknya. Ayah dapat mempergunakan sikapku sebagai alasan. Aku tidak mau,” geram Warsi.

Ayah Warsi menarik nafas dalam-dalam. Ia sadar, bahwa ia memang harus menolak jika ia tidak ingin Warsi benar-benar mencekik laki-laki itu. Tetapi ayah Warsi itu pun sudah memperhitungkan, bahwa akibat dari penolakannya itu akan dapat menimbulkan persoalan tersendiri.

Namun ayah Warsi bukan orang yang segera menjadi ketakutan menghadapi masalah-masalah. Yang sebenarnya ada didalam dirinya bukanlah ketakutan. Tetapi justru kesegaran.

Demikianlah, maka ketika keluarga laki-laki itu datang pada saat yang sudah dijanjikan, maka sebenarnyalah telah terjadi ketegangan itu.

“Jadi kau menolak?” bertanya tamunya.

“Maaf kakang,” jawab ayah Warsi. “Bukan maksudku menolak. Tetapi Warsi merasa keberatan utuk kawin dengan seorang laki-laki yang dianggapnya sudah terlalu tua. Anak kakang memang sudah terlalu tua buat Warsi.”

“Kau jangan menghina. Sepekan yang lalu kau tentu sudah tahu bahwa anakku memang sudah tua. Tetapi nampaknya kau menerima lamaran itu. Bahkan sejak dua bulan yang lalu, aku sudah menyebut-nyebut meskipun belum secara terbuka. Dan kau tidak pernah menyatakan keberatanmu. Warsi pun belum pernah menunjukkan sikap sebagaimana kau katakan,” berkata tamunya yang marah. “Atau barangkali ada orang lain yang melamar anakmu dengan mas kawin yang lebih tinggi dari yang mungkin dapat aku berikan? Katakan berapa mas kawin yang kau minta?”

“Jangan begitu kakang,” jawab ayah Warsi. “Aku bersikap wajar sekali. Warsi ternyata telah menolak. Jika sejak sebulan yang lalu, bahkan lebih lama lagi, aku tidak pernah menyatakan keberatanku dan Warsi pun tidak pernah menunjukkan sikap yang bertentangan dengan maksud itu. Semata-mata adalah karena kakang adalah saudara yang lebih tua meskipun sudah tatanan ketiga. Tetapi kami masih mempunyai hubungan darah. Apalagi sikap kakang waktu itu belum tegas. Baru sejak sebulan yang lalu, dan dengan resmi kakang datang sepekan yang lalu pada saat Warsi tidak ada di rumah. Demikian Warsi pulang, maka aku pun mendapat keputusannya bahwa Warsi menolak maksud kakang. Tetapi Warsi masih tetap menganggap keluarga kakang sebagaimana keluarga sendiri. Warsi memang ingin tetap dalam hubungan kadang saja dan tidak terikat dalam hubungan perkawinan.”

“Kau memang pandai menyusun alasan-alasan,” berkata orang yang datang melamar itu. “Tetapi kau harus sadar, bahwa yang kau lakukan adalah satu penghinaan. Kau harus belajar dari pengalaman hidup, bahwa orang yang terhina akan dapat melakukan sesuatu yang kadang-kadang tidak pada tempatnya.”

“Jangan berkata begitu kakang,” jawab ayah Warsi.

“Kakang pun tentunya tahu, jika perkawinan yang tidak dikehendaki oleh salah satu pihak itu dipaksakan, maka akibatnya juga akan kurang baik. Mungkin perkawinan itu tidak akan berlangsung lama. Jika hal yang demikian terjadi, padahal keduanya sudah dikaruniai satu atau dua orang anak, maka akibatnya akan lebih parah lagi.”

“Anak-anak itu akan menjadi perekat perkawinan,” berkata tamunya.

“Tetapi tidak jarang terjadi, bahwa hidup seorang istri justru menderita selama itu. Ia hanya bertahan untuk dapat disebut seorang perempuan yang setia. Namun batinnya telah tersiksa. Karena itu sebaiknya, perkawinan itu benar-benar dapat diterima oleh kedua belah pihak,” jawab ayah Warsi.

“Segalanya tergantung kepadamu. Anakmu adalah seorang perempuan. Ia akan dapat kau paksa menurut perintahmu,” berkata orang yang melamar itu.

“Sudah aku katakan, perkawinan yang demikian tidak akan dapat mendatangkan kebahagiaan,” jawab ayah Warsi.

“Aku sudah datang kerumah ini beberapa kali. Sekarang kau berani menghina aku seperti itu,” geram orang yang datang melamar Warsi, “Apakah kau menyadari apa artinya?”

“Apa maksudmu mengancam kakang?” bertanya ayah Warsi.

“Apa saja namanya, tetapi penghinaan ini akan dapat berakibat buruk bagimu,” jawab orang itu.

“Kakang,” berkata ayah Warsi. “Ketika aku menanyakan sikap Warsi, aku berkata kepadanya, bahwa bakal suaminya adalah seorang laki-laki yang kaya dan keturunan orang baik-baik. Aku menjelaskan kepadanya pengertian baik-baik sebagaimana aku maksudkan. Tetapi sikap kakang yang mengancam itu bukannya sikap seorang yang baik-baik menurut pengertian yang aku katakan kepada Warsi.”

“Sebut saja aku memang bukan orang baik-baik,” jawab orang itu. “Tetapi aku memang kaya. Aku dapat membeli seisi padukuhan ini. Mungkin di padukuhan ini kau dianggap orang yang paling kaya. Perabot rumahmu termasuk perabot yang baik.

Rumahmu pun termasuk rumah yang besar dengan halaman yang luas. Tetapi kau sudah tahu, bahwa aku dapat membeli rumah yang besarnya lipat dua dari rumah ini buat Warsi.”

“Sudahlah kakang,” jawab ayah Warsi. “Aku benar-benar mohon maaf. Tetapi kakang jangan mengancam begitu. Akibatnya memang akan kurang baik. Bukankah kita mempunyai aliran darah yang bersumber dari orang yang sama, meskipun dalam tataran yang sudah terpisah beberapa keturunan.

“Aku tidak peduli,” jawab orang itu. “Jika kau mengakui bahwa aliran darah itu lebih tua, maka kau jangan menghina keluargaku. Jangan menghina anakku yang kau katakan terlalu tua buat Warsi. Atau katakanlah bahwa anak-anakku telah pernah kawin sampai dua kali tetapi gagal.”

Ayah Warsi menarik nafas dalam-dalam. Agaknya orang yang akan melamar Warsi untuk anak laki-lakinya itu sama sekali sudah tidak dapat diajak bicara.

Meskipun demikian, maka ayah Warsi itu masih berkata, “Maaf kakang. Tetapi aku sama sekali tidak bermaksud menghina. Aku hanya ingin anak-anak kita kelak mendapatkan kebahagiaannya. Itu saja. Dan karena itu maka dengan menyesal kembali, aku tidak dapat menerima lamaran kakang. Meskipun demikian, aku mohon agar kakang bagiku tetap terkesan sebagai orang baik-baik. Sehingga dengan demikian aku tidak menjadi kecewa kepada kakang.”

“Sudah aku katakan. Aku bukan orang baik-baik,” jawab orang itu. “Karena itu, aku dapat berbuat sesuatu yang sangat buruk.

“Kakang,” ayah Warsi dengan sudah payah telah mengekang dirinya. Sebenarnya ia bukan orang yang sabar, yang dapat berbuat dan mengambil sikap berdasarkan atas keseimbangan nalar dan perasaannya. Katanya kemudian, “Sekali lagi aku minta kakang tetaplah menjadi orang baik dimataku. Jika kakang benar-benar mengancam dan akan mengambil langkah-langkah yang kasar, maka kepercayaanku kepada orang lain benar-benar akan larut sama sekali. Untuk seterusnya tidak akan percaya bahwa sebenarnya ada orang yang baik itu.”

“O,” geram tamunya. “Jangan merajuk begitu. Kau sudah menghina aku. Kemudian merajuk seperti kanak-kanak. Jika kau sudah berani menghina aku, maka bersikaplah seperti laki-laki.”

“Kakang berkata sebenarnya,” jantung ayah Warsi bagaikan akan pecah oleh ketegangan yang ditahannya.

“Ya,” jawab tamunya.

Akhirnya bendungan itu pun pecah juga. Jika sebelumnya ayah Warsi berusaha untuk bersikap baik dihadapan orang yang dianggapnya orang baik-baik, namun ternyata kepercayaannya bahwa masih ada juga orang yang baik itu pun telah larut. Karena

itu, maka jawabnya, “Jadi kakang mau apa?”

Wajah tamunya menjadi merah padam. Katanya, “Daripada aku melihat Warsi menjadi menantu orang lain, maka lebih baik bagiku bahwa aku tidak akan melihat Warsi dan kau untuk selama-lamanya.”

“Jadi kakang benar-benar menjadi gila oleh penolakan itu? Sebenarnya aku telah berusaha menyesuaikan diri menghadapi kakang. Aku berusaha menolak dengan cara yang paling baik yang dapat aku lakukan. Aku lebih baik mempergunakan sifat asliku menghadapi orang yang aku anggap terhormat seperti kakang ini,” jawab ayah Warsi.

“Apa maksudmu?” bertanya tamunya.

“Pergilah kakang, sebelum segalanya berubah,” berkata ayah Warsi.

Wajah tamunya itu menjadi bagaikan menyala. Sementara itu ayah Warsi berkata,

“Mungkin dalam beberapa kejap ini aku masih mampu bertahan dengan sikap yang aku persiapkan sejak lama menghadapi kakang yang aku anggap mempunyai tata nilai kehidupan yang jauh lebih baik dari aku.”

“Persetan,” geram orang itu. “Aku adalah orang yang kaya. Aku akan dapat berbuat apa saja dengan uangku. Aku tahu sejak mudamu, kau adalah seorang petualang.

Tetapi dengan uangku aku akan dapat membeli orang berapapun aku kehendaki untuk melakukan niatku. Aku akan mengambil sikap yang keras dan kasar. Mungkin aku akan menculik Warsi, tetapi mungkin melenyapkannya sama sekali. Termasuk kau.”

“Cukup,” potong ayah Warsi. Tangannya sudah mulai gemetar. Rasanya ia sudah ingin menerkam tamunya yang ternyata hatinya tidak sebersih yang diduganya.

Orang yang melamar Warsi bagi anak laki-lakinya itu pun menggeretakkan giginya.

Ia pun kemudian bangkit dan tanpa berkata apapun juga ia melangkah keluar pintu. Di luar dua orang pengiringnya sudah menunggu. Dua orang yang bertubuh tinggi tegap. Seorang di antara mereka rambutnya sudah mulai memutih. Jambangnya, kumisnya yang panjang dan janggutnya yang telah memutih pula. Namun tubuhnya masih tetap tegap bagaikan dilapisi baja. Dengan demikian orang itu justru nampak menyeramkan.

Ayah Warsi yang kemudian melangkah keluar pula melihat dua orang pengiring itu. Karena itu, maka kepercayaannya kepada orang yang dianggapnya menganut satu kehidupan yang mempunyai tata nilai yang baik itu pun telah lenyap sama sekali.

“Orang yang disebut baik-baik itu pun pada satu saat adalah serigala yang kelaparan,” berkata ayah Warsi di dalam hatinya. “Ternyata bahwa watak dan sifatnya tidak ada bedanya dengan kami, orang-orang yang dianggap tidak berkesadaran dalam peradaban sesama. Bedanya, kami melakukan sendiri dengan tangan-tangan kami, tetapi orang yang baik-baik itu mengupah orang untuk melakukan hal seperti kami.”

Tetapi ancaman itu bagi ayah Warsi sama sekali tidak membuatnya ketakutan. Bahkan demikian orang-orang yang bertamu ke rumahnya itu pergi, Warsi muncul dari balik dinding penyekat di ruang dalam. Dengan wajah yang merah ia bergumam,

“Ayah, apakah aku diperbolehkan menyusul paman itu?”

“Untuk apa?” bertanya ayahnya.

“Aku ingin menunjukkan kepada paman, bahwa apa yang akan dilakukan itu sia-sia.

Aku akan membunuh dua orang pengiringnya dihadapan paman,” jawab Warsi. “Gila,” geram ayahnya. “Kau jangan mengigau tentang pembunuhan. Aku sudah mengatakan kepadamu lebih dari seribu kali. Jangan mudah membunuh jika tidak terpaksa.”

“AYAH mengajari aku, bahwa cara itu adalah cara yang paling baik untuk menyelesaikan masalah-masalah yang pelik di dalam kehidupan ini,” jawab Warsi.

Lalu, “Dan ternyata sulit bagiku untuk mengetahui batas keterpaksaan itu.”

“Tetapi kau salah menerapkan artinya,” sahut ayahnya.

Warsi mengerutkan keningnya. Katanya kemudian, “Tetapi paman juga mengancam akan membunuh aku. Apakah ayah sangka bahwa hal itu tidak akan benar-benar dilakukannya?”

Ayah Warsi menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Mungkin saja itu dilakukannya.

Karena itu, kau harus berhati-hati. Agaknya pamanmu benar-benar sakit hati.”

“Jika paman benar-benar akan membunuh, maka wajar jugalah jika aku pada suatu saat membunuh istri Wiradana,” desis Warsi.

Ayahnya terkejut. Ia tidak menyangka bahwa jalan pikiran Warsi bergeser ke arah yang berbeda. Tetapi kemudian ia pun mengangguk-angguk sambil berkata, “Jika perlu. Tetapi jika Wiradana mau menceraikannya, maka kau tidak perlu melakukannya.”

Warsi menarik nafas dalam-dalam. Ia merasa lebih mantap untuk melakukan rencananya. Orang yang dianggap mempunyai landasan tata nilai yang baik itu pun akan melakukan kekerasan. Apalagi orang-orang yang memang sudah meletakkan dirinya dalam satu tataran kehidupan yang lain seperti keluarga Warsi dan keluarga Kalamerta.

Dalam pada itu, sebenarnyalah orang yang melamar Warsi untuk anak laki-lakinya itu benar-benar menjadi sakit hati. Ketika ia sampai di rumahnya, maka ia pun segera menyampaikan hal itu kepada anak laki-lakinya.

“Gila,” geram anak laki-lakinya. “Jadi paman berani menolak lamaran kita? Apakah ia sudah jemu hidup?”

“Aku sudah mengatakannya, bahwa penolakan itu akan berarti kesulitan bagi keluarga Warsi. Tetapi ia keras kepala. Agaknya mereka menganggap aku sekadar menakut-nakuti saja,” jawab ayahnya.

“Kita akan melakukannya. Sungguh-sungguh melakukannya,” berkata anaknya. “Aku dapat berbuat lebih garang dari para penyamun di bulak-bulak panjang. Aku dapat lebih kejam dari bajak laut di lautan. Aku sendiri akan pergi bersama beberapa orang yang mengambil Warsi dengan kasar dan membawanya kemari. Aku dapat berbuat apa saja. Tetapi jika keadaan memaksa, aku lebih baik melihat perempuan itu menjadi mayat.”

“Aku sudah mengatakan. Tepat seperti apa yang kau katakan,” sahut ayahnya.

“Jika demikian, kita tidak hanya sekadar mengancam dan menakut-nakuti. Kita akan melakukannya,” berkata anak laki-lakinya.

Dengan demikian, maka ia pun kemudian berbicara dengan dua orang pengiringnya.

Orang-orang bertubuh raksasa. Seorang di antaranya telah berambut putih. “Kita akan membawa lima orang kawan,” berkata laki-laki yang ingin memperistri Warsi itu. “Aku akan membayar lipat, jika kita dapat membawa Warsi pulang dan menyimpannya di dalam rumah ini.”

Kedua orang pengiringnya itu tersenyum. Orang yang berambut putih itu berkata,

“Kau hanya membuang-buang uang saja. Berikan uang itu kepadaku. Aku akan mengambilnya dan membawanya kepadamu.”

“Omong kosong,” jawab laki-laki yang ingin memperistri Warsi itu, “Jangan dikira kalau keluarga Warsi itu tidak dapat mencari perlindungan. Ia juga termasuk orang yang kaya. Sementara itu, menurut pendengaranku, ayah Warsi adalah seorang yang suka bertualang.”

“Apakah yang menarik, bahwa kau nampaknya tergila-gila kepada gadis itu? Jika ayahnya seorang petualang, apakah gadis itu gadis baik-baik?” bertanya orang bertubuh raksasa dan berambut putih itu.

“AKU tidak peduli, apakah ia gadis baik-baik atau bukan. Warsi adalah gadis yang sangat cantik. Tubuhnya merupakan idaman bagi setiap laki-laki. Itu saja.

Mungkin aku memerlukannya untuk waktu yang lebih lama dari kedua perempuan yang sudah aku singkirkan itu,” berkata laki-laki yang menginginkan Warsi itu.

Orang berambut putih itu tidak menjawab. Ia sudah terbiasa dengan sifat laki-laki itu. Setiap kali ia ingin pekerjaannya selesai dengan tuntas. Ia tidak ingin mengalami kegagalan. Karena itu, maka ia tidak tanggung-tanggung untuk mengambil keputusan sebagaimana ayahnya.

Dalam pada itu, seperti yang dikatakan, maka laki-laki itu atas persetujuan ayahnya telah memanggil lima orang gegedug yang dapat dipercaya untuk bersama-sama mengambil Warsi. Bersama mereka adalah dua orang pengawal laki-laki yang menginginkan Warsi, laki-laki itu sendiri dan ayahnya.

“Sembilan orang adalah satu pasukan segelar sepapan. Seakan-akan kita akan maju berperang merebut Pajang atau bahkan Jipang dan Demak sekaligus,” berkata pemimpin sekelompok orang yang terdiri dari lima orang itu.

“Jangan besar kepala,” bentak laki-laki yang ingin mengambil Warsi itu. “Kita tidak boleh gagal.”

“Kapan kita berangkat?” bertanya ayah laki-laki itu.

“Kita akan mengambilnya malam hari,” jawab anak laki-lakinya.

Seperti yang direncanakan, maka ketika malam mulai membayang, mereka pun segera bersiap-siap. Sembilan orang di atas punggung kuda dan senjata di tangan. Ada di antara mereka yang menyelipkan golok di pinggangnya. Tetapi ada yang membawa tombak pendek dengan mata ngeripandan. Ada yang membawa kapak bertangkai pendek dirangkapi dengan sebuah perisai yang tidak begitu besar. Sedangkan raksasa berambut putih itu menggantungkan bindinya di pelana kudanya, sementara sebuah pedang pendek tetapi besar terselip di pinggangnya. Kawannya, juga seorang yang bertubuh raksasa tetapi berkepala kecil, bersenjata pedang lengkung yang didapatnya dari seorang kawannya yang pernah mengembara keseberang lautan.

Pedang yang tajamnya melampaui tajamnya welat pring wulung itu merupakan senjata yang sangat disegani lawan-lawannya.

Namun dalam pada itu, orang-orang yang agaknya menunggu malam mendekati puncaknya. Mereka akan berkuda langsung menuju ke rumah Warsi. Mereka tidak akan terhalang oleh para peronda yang akan dengan mudah mereka takut-takuti. Apalagi mereka berjumlah sembilan orang.

“Ingat,” berkata laki-laki yang menginginkan Warsi, “Gadis itu jangan sampai terluka kulitnya. Ia harus kita dapatkan utuh sebagaimana selalu kau lihat sebelumnya.”

“Jika ia melawan?” bertanya pemimpin dari kelima orang yang diupah untuk pergi bersama ke rumah Warsi itu.

“Apa artinya tenaga seorang perempuan. Tetapi biarlah aku sendiri yang akan menangkapnya. Aku tidak mau kulit kalian yang kasar itu menggores kulit Warsi,” jawab laki-laki yang tergila-gila kepada Warsi itu.

Orang-orang yang mendengar jawaban itu tertawa berkepanjangan. Bahkan akhirnya orang itu sendiri pun tertawa pula sambil berkata, “Nah, hanya aku yang boleh menyentuhnya. Mengerti?”

Tidak ada jawaban. Tetapi suara tertawa itu masih terdengar.

Dalam pada itu, sebenarnyalah bahwa perjalanan mereka sama sekali tidak terganggu. Jika mereka melewati regol yang dijaga, maka laki-laki yang bersenjata tombak pendek dengan mata ngeripandan itu berkata kepada anak-anak muda di regol itu, “Beri kami jalan. Kami sedang mengejar segerombolan perampok.”

“Mereka tidak lewat jalan ini,” pada umumnya para penjaga itu menjawab demikian.

“Kami mengambil jalan memintas. Mereka merampok di rumah Ki Demang Watumulih,” jawab orang bertombak itu pula.

Tidak seorang pun yang mencegah mereka lewat. Selain mereka percaya akan keterangannya, maka tidak akan ada kekuatan di padukuhan itu untuk menahan agar kesembilan orang itu tidak meninggalkan gardu mereka.

Dengan demikian, maka sedikit lewat tengah malam, maka orang-orang itu sudah mendekati padukuhan tempat Warsi tinggal.

Pemimpin dari kelima orang itu pun kemudian berdesis, “Kita tidak boleh memberikan kesan yang dapat memaksa para peronda memukul tanda bahaya jika mereka mencurigai kita.”

“Kita akan memberikan jawaban seperti yang sudah kami lakukan,” jawab raksasa berkepala kecil itu.

Pemimpin dari lima orang gegedug itu mengangguk. Tetapi katanya, “Ada beberapa perbedaan. Padukuhan ini adalah padukuhan tempat tinggal Warsi. Jika ayahnya menjadi cemas atas ancaman yang pernah diucapkan, maka ia tentu telah memberitahukan kepada para peronda kemungkinan seperti ini. Karena itu, kita harus berhati-hati.

“Aku sependapat,” sahut ayah laki-laki yang menginginkan Warsi itu, “Aku memang pernah mengancamnya. Mungkin ayah Warsi itu memang sudah bersiaga.”

Pemimpin dari kelima orang gegedug itu pun menyahut, “Sebenarnya kita tidak perlu takut, seandainya dibunyikan isyarat titir sekalpun. Jika kita berusaha, untuk mencegah hal itu, karena kita ingin menghindari terjadi pembantaian yang berlebih-lebihan. Aku sebenarnya tidak ingin membunuh terlalu banyak, karena upah yang akan aku terima tidak terlalu banyak pula.”

“Tutup mulutmu,” bentak laki-laki yang menginginkan Warsi, “Aku memberi kalian upah lipat dari kebiasaan.”

Tetapi pemimpin para gegedug itu tertawa, “Memang, upah itu dua kali lipat.

Tetapi tentu tidak bernilai seperti jika aku membunuh duapuluh lima orang malam ini karena seisi kampung berusaha menangkap aku. Karena itu kita harus berhati-hati, agar tidak terlalu banyak membunuh malam ini.”

Laki-laki yang menginginkan Warsi itu mengumpat. Tetapi ia tidak berkata apa-apa lagi.

Demikianlah, maka iring-iringan itu pun telah sampai ke regol padukuhan. Seperti yang mereka duga, di regol itu pun terdapat beberapa orang anak muda yang sedang meronda. Mereka pun bertanya sebagaimana pernah ditanyakan di perondan sebelumnya. Dan orang bertombak pendek itu pun menjawab sebagaimana pernah diucapkan.

Ternyata anak-anak di regol itu pun tidak banyak membuat persoalan. Seperti anak-anak muda di padukuhan-padukuhan lain, mereka memang agak ketakutan melihat sembilan orang bersenjata.

Ketika orang-orang itu lewat, maka pemimpin perondan itu pun berkata, “Bagaimana pun juga kita harus bersiaga.”

“APA yang dapat kita lakukan atas mereka?” bertanya salah seorang dari anak-anak muda itu.

“Mudah-mudahan mereka benar-benar hanya lewat,” jawab pemimpin peronda itu.

“Tetapi jika tidak, dan mereka ingin mengganggu ketenangan padukuhan kita, setidak-tidaknya kita dapat membunyikan isyarat dengan kentongan.”

Tapi rasa-rasanya memang ngeri berurusan dengan orang-orang itu. Meskipun demikian, bagaimana pun juga ada secercah perasaan tanggung jawab dihati anak-anak muda itu.

Dalam pada itu, di padukuhan-padukuhan sebelumnya, sembilan orang itu benar-benar hanya lewat dan tidak membuat gaduh sama sekali. Agak berbeda dengan padukuhan yang terakhir. Mereka ingin mengambil seseorang dari padukuhan itu.

Seorang gadis yang sangat cantik, yang dikenal oleh setiap laki-laki dan bahkan tidak jarang anak-anak muda yang memimpikannya. Sekadar bermimpi, karena untuk benar-benar melamarnya, anak-anak muda itu merasa segan, karena Warsi adalah anak seorang yang termasuk kaya di padukuhan itu.

Namun ada satu hal yang tidak diketahui oleh sembilan orang itu. Sebenarnyalah bahwa ayah Warsi telah bersiaga menghadapi segala kemungkinan, karena ia pun yakin, bahwa laki-laki yang melamar Warsi itu tidak hanya sekadar bermain-main dan mengancam.

Karena itu, maka ia pun telah menempatkan dua orang pengamat di regol padukuhan sebelah menyebelah. Pengamat yang tidak diketahui oleh para peronda di regol.

Dalam pada itu, demikian para pengamat itu melihat sembilan orang memasuki regol padukuhan, maka mereka pun segera menyadari bahwa yang mereka tunggu selama itu telah datang.

Karena itu, maka kedua orang yang berada di regol yang menjadi pintu masuk dari kesembilan orang itu segera berloncatan dari dinding ke dinding halaman berikutnya, meminta jalan kembali ke rumah Warsi.

Ternyata mereka datang lebih dahulu dari sembilan orang berkuda. Mereka sempat mengetuk pintu dan membangunkan Warsi dan ayahnya serta para pengikutnya yang pernah menjadi pengiring pada saat Warsi pergi ke Sembojan.

Dengan cepat maka mereka pun segera mengetrapkan pembicaraan-pembicaraan yang pernah mereka lakukan sebelumnya. Beberapa orang pengikut ayah Warsi itu pun

tiba-tiba telah menghilang dari halaman. Namun sebelumnya ayah Warsi berpesan,

“Mereka tentu mengambil jalan keluar yang lain dari saat mereka memasuki padukuhan. Mereka tidak akan menempuh jalan kembali melalui gardu para peronda di regol. Tetapi mereka akan mengambil jalan berikutnya.”

Karena itu, maka para pengikut Warsi itu pun mengetahui kemana mereka harus pergi.

Baru sesaat kemudian, maka sembilan orang berkuda telah memasuki regol halaman rumah Warsi. Tidak ada seseorang pun yang menjaga rumah itu. Halaman rumah itu nampaknya sepi saja. Tidak ada tanda-tanda kesiagaan dari keluarga Warsi.

“Gila,” geram ayah laki-laki yang menginginkan Warsi, “Ternyata mereka tidak percaya. Ternyata mereka menganggap bahwa aku hanya main-main saja dengan ancamanku. Dan itu sangat menyakitkan hati.”

Pemimpin dari kelima orang gegedug itu tertawa, katanya, “Kalian menyesal bahwa kalian telah bersedia membayar kami berlima tanpa berbuat apa-apa.”

“Persetan,” geram laki-laki yang menginginkan Warsi.

“Apapun yang terjadi, tetapi upah kami tetap. Dua kali lipat jika kita berhasil membawa Warsi utuh sampai ke rumah kalian,” berkata pemimpin gegedug yang lima orang itu.

Laki-laki yang menginginkan Warsi tidak menjawab. Tetapi ia pun kemudian segera turun dari kudanya dan naik ke pendapa. Ayahnyalah yang kemudian mengatur orang-orangnya untuk berjaga-jaga, karena bagaimana pun juga mereka harus berhati-hati.

“BAGAIMANA dengan ayahku?” bertanya Warsi.

“Aku tidak memerlukannya. Biarlah ayahmu menjadi urusan ayahku,” berkata laki-laki itu.

Namun tiba-tiba Warsi memegang hulu pisaunya sambil berkata, “Aku minta ayah pergi bersamaku. Jika tidak, aku menolak keinginanmu, aku akan membunuh diri.”

Sejenak laki-laki itu termangu-mangu. Ketika kemudian ayahnya juga memasuki bilik itu dan mendengar permintaan Warsi ia mengumpat, “Buat apa aku membawa ayahmu Warsi.”

“Aku memerlukannya paman,” jawab Warsi. “Jika paman tidak mau membawa ayah bersama kami, maka aku pun menolak untuk pergi. Jika paman memaksa, maka aku akan membunuh diri sekarang dihadapan paman dan ayah.”

“Tunggu,” berkata ayah laki-laki yang menginginkan Warsi itu. Namun kemudian sambil menarik nafas dalam-dalam ia berkata, “Apaboleh buat.”

Dengan demikian maka orang-orang yang datang ke rumah Warsi itu pun telah bersiap-siap untuk kembali. Pemimpin dari lima orang gegedug yang menunggu di halaman tertawa sambil berkata, “Alangkah mudahnya pekerjaannya hari ini.

Sementara itu, aku akan mendapat upah dua kali lipat.”

“Tutup mulutmu,” geram laki-laki yang membimbing Warsi.

Warsi mengikuti saja. Namun pisaunya masih terselip pada ikat pinggangnya.

Ketika laki-laki itu mencoba untuk mengambilnya, Warsi sama sekali tidak memberikannya.

Dalam pada itu, dua orang pengiring laki-laki yang datang itu telah menyiapkan dua ekor kuda dari kandang ayah Warsi sendiri. Kemudian kedua ekor kuda itu diperuntukkan bagi Warsi dan ayahnya.

“Aku tidak dapat naik kuda,” berkata Warsi.

Laki-laki yang menginginkannya itu pun termangu-mangu sejenak. Namun katanya kemudian, “Jika demikian, marilah. Berkuda saja bersama aku. Aku akan dapat menjagamu.”

Warsi memandang laki-laki itu dengan tajamnya. Namun kemudian ia berdesis, “Aku akan berkuda sendiri.”

“Bukankah kau tidak terbiasa?” berkata laki-laki yang mengambilnya itu.

“Tetapi aku tidak mau berkuda berdua, kecuali dengan ayah,” jawab Warsi. “Baiklah. Cobalah berkuda sendiri. Kita tidak tergesa-gesa,” jawab laki-laki yang mengambilnya itu.

Demikianlah, maka sejenak kemudian sebuah iring-iringan telah meninggalkan halaman rumah Warsi. Laki-laki yang akan mengambilnya itu berusaha menuntun kuda yang dipergunakan oleh Warsi sambil duduk di punggung kudanya sendiri. Sementara itu, ayah Warsi berkuda di belakang diiringi oleh dua orang bertubuh raksasa yang pernah datang ke rumah Warsi sebelumnya. Sementara itu lima orang upahan yang bersama mereka, berkuda berpencar. Kadang-kadang pimpinannya ada di depan. Tetapi kadang-kadang ada di belakang.

Ketika iring-iringan itu keluar dari regol padukuhan diarah yang lain dari saat mereka datang, sebagaimana diperhitungkan oleh ayah Warsi, maka laki-laki yang menginginkan Warsi itu minta agar ayah Warsilah yang menjawab jika para peronda nanti bertanya.

“Bagaimana jawabku?” bertanya ayah Warsi.

“Katakan, bahwa kau akan pergi ke tempat keluargamu yang sakit keras. Katakan bahwa kami adalah orang-orang yang menjemputmu,” jawab laki-laki itu.

“Sekian banyaknya,” bertanya ayah Warsi.

“Mereka tidak akan berpikir seperti itu. Tetapi seandainya mereka bertanya juga, maka kau dapat menjawab, bahwa jalan yang akan kita tempuh adalah jalan yang berbahaya,” jawab laki-laki yang mengambil Warsi.

Ayah Warsi tidak menjawab. Tetapi satu dari perhitungannya, justru landasannya, ternyata tepat. Iring-iringan itu tidak keluar padukuhan dengan menempuh jalan kembali. Tetapi mereka mengambil jalan seterusnya dan keluar di regol yang lain.

SEBAGAIMANA mereka duga, maka di regol anak-anak muda yang sedang meronda pun telah bertanya. Seperti yang dipesan, maka ayah Warsi pun menjawab bahwa iring-iringan itu akan pergi ke tempat keluarganya yang sedang sakit.

“Mereka datang menjemput aku di tengah malam, karena keadaan yang gawat,”

berkata ayah Warsi kepada anak muda yang sudah dikenal dan mengenalnya. Memang tidak ada yang bertanya, kenapa yang menjemputnya sebuah iring-iringan yang besar. Sehingga karena itu, maka ayah Warsi pun tidak perlu menjelaskannya.

Demikian mereka keluar dari regol padukuhan, maka orang-orang dalam iring-iringan itu menarik nafas dalam-dalam. Rasa-rasanya mereka telah selesai dengan sebuah tugas yang besar. Namun sekali lagi pemimpin dari lima orang yang diupah oleh laki-laki yang menginginkan Warsi itu berdesis, “Aku merasa tugasku kali ini menyenangkan sekali dengan upah yang cukup.”

Sementara itu, raksasa yang berambut putih pun tersenyum pula. Katanya, “Aku sudah menawarkan diri untuk melakukannya. Tetapi segala sesuatunya harus meyakinkan bahwa tidak akan gagal.”

Tidak ada yang menyahut lagi. Iring-iringan itu berjalan tidak terlalu cepat, karena Warsi menurut pengakuannya belum terbiasa duduk di punggung kuda. Apalagi Warsi harus duduk dengan kedua belah kakinya di satu sisi, karena ia mengenakan kain panjang. Setiap kali Warsi harus membetulkan letak duduknya karena setiap kali rasa-rasanya tubuhnya akan meluncur turun.

“Cobalah letakkan kakimu pada sanggawedi,” berkata laki-laki yang menginginkan

Warsi. “Kita harus berjalan lebih cepat sedikit. Kita harus sampai ke rumahku sebelum dini hari. Sebelum orang-orang bangun dan menyapu halaman atau bahkan pergi ke pasar.”

“Aku tidak dapat,” jawab Warsi

“Jika kau mengalami kesulitan, duduk saja bersamaku disini,” ajak laki-laki itu.

“Tidak mau,” Warsi tetap menolak.

Laki-laki itu tidak memintanya lagi. Tetapi ia berusaha untuk mempercepat perjalanan mereka. Jika mereka sampai disebuah simpang empat ditengah-tengah bulak, mereka harus berbelok dan melingkari padukuhan tempat tinggal Warsi

kembali ke jalan yang semula. Mereka sama sekali tidak akan merasa cemas atas pertanyaan-pertanyaan dari anak-anak muda yang berada di gardu-gardu. Mereka akan dapat menjawab apa saja seandainya ada di antara mereka yang akan mempertanyakan Warsi yang ikut dalam iring-iringan itu.

Untuk beberapa saat perjalanan itu sama sekali tidak terganggu. Meskipun ayah laki-laki yang menginginkan Warsi itu sama sekali tidak merasa senang, bahwa ayah Warsi bersama mereka, namun ia tidak dapat berbuat lain. Jika ia memaksa orang itu tinggal dan apalagi diperlakukan buruk, maka Warsi benar-benar akan dapat melakukan satu tindakan yang tidak menguntungkan.

Dalam pada itu, mereka telah menjadi semakin dekat dengan simpang empat ditengah-tengah bulak. Mereka pun telah bersiap-siap untuk membelok dan kemudian menempuh perjalanan melingkar.

Namun tiba-tiba saja mereka melihat sesuatu yang mencurigakan di simpang empat itu. Karena itu, maka ayah Warsi pun telah memerintahkan kedua orang raksasa pengiringnya untuk berada di paling depan.

“Ya, kami melihat sesuatu meskipun tidak jelas,” berkata kedua orang

pengiringnya. Lalu katanya kepada pemimpin dari lima orang upahan itu. “Nah, mungkin baru disini kalian mendapat pekerjaan yang berarti.”

Orang itu tersenyum. Katanya, “Aku tidak pernah mendengar bahwa di daerah ini terdapat penyamun atau perampok. Mungkin yang kita lihat di simpang empat itu adalah para petani yang menunggu air yang mengalir sedikit sekali di parit sebelah.”

KEDUA orang raksasa itu tidak menjawab. Tetapi mereka berdua berkuda di paling depan. Bahkan raksasa yang berkepala kecil itu telah meraba hulu pedangnya.

Pedang yang nggegirisi yang tajamnya jarang ada bandingnya. Setiap sentuhan pada tubuh seseorang berarti koyak sampai ke tulang.

Ketika mereka menjadi semakin dekat, maka mereka melihat semakin jelas. Beberapa orang memang berdiri di pinggir jalan dekat dengan simpang empat itu.

Karena itu, maka orang-orang di dalam iring-iringan itu pun menjadi semakin berhati-hati. Kelima orang yang semula menganggap bahwa tugas mereka terlalu ringan untuk upah yang dua kali lipat dari kebiasaannya, mulai menjadi berdebar-debar. Bahkan salah seorang berdesis, “Jika orang-orang itu ingin mengganggu perjalanan ini, mereka adalah orang-orang gila yang jemu hidup, karena mereka sudah mengganggu kenikmatan perjalanan kami yang sangat lancar

ini.”

Namun dalam pada itu, laki-laki yang ingin mendapatkan Warsi itu pun berkata lantang, “Jika mereka benar-benar ingin berbuat jahat, maka tidak ada hukuman yang pantas bagi mereka, kecuali kebinasaan.”

Kedua orang pengiring ayah Warsi yang bertubuh kekar itu pun mulai memperlambat kudanya. Ternyata orang-orang yang semula berdiri di pinggir jalan itu justru telah bergeser ke tengah, sementara yang lain justru meloncat parit di pinggir jalan.

Melihat sikap orang-orang itu, maka pemimpin dari kelima orang upahan itu pun berkata, “Hati-hatilah. Mereka bukan orang kebanyakan. Tentu juga bukan penyamun kecil atau orang-orang yang sering merampok orang-orang yang pergi ke pasar.

Kelima orang gegedug itu pun mulai berpencar pula. Dua orang bertubuh raksasa itu sudah menghentikan kudanya. Bahkan mereka pun kemudian telah meloncat turun.

Jika terjadi sesuatu, maka medannya tidak menguntungkan apabila mereka harus bertempur di atas punggung kuda.

Dalam pada itu, maka seluruh iring-iringan itu pun berhenti. Beberapa orang pun telah meloncat turun. Merreka menanggapi kehadiran orang-orang di pinggir jalan itu dengan sangat berhati-hati.

Namun dalam pada itu, ayah laki-laki yang menginginkan Warsi itu mulai curiga.

Adalah mustahil bahwa ayah Warsi sama sekali tidak bersiap-siap menghadapi ancaman yang pernah diucapkannya dengan sungguh-sungguh. Karena itu, maka ia pun cepat menghubungkan orang-orang yang berdiri di jalan itu dengan kesiagaan ayah Warsi.

Karena itu maka tiba-tiba saja dengan nada lantang ia berkata, “Hati-hatilah. Mereka adalah orang-orang yang telah diminta ayah Warsi dengan sengaja mencegat kita.”

Orang-orang yang bersamanya sejenak mencoba mengerti keterangan itu. Namun yang sejenak itu telah mengubah segala-galanya. Warsi yang semula disangka tidak terbiasa berkuda serta ayahnya yang gemetar itu tiba-tiba saja meloncat keluar dari iring-iringan itu. Demikian cepatnya sehingga tidak seorang pun mampu mencegahnya.

“ANAK setan,” geram laki-laki yang menginginkan Warsi, sementara Warsi telah berdiri di seberang parit. Seorang laki-laki di antara mereka yang mencegat iring-iringan itu telah meloncat pula mendekatinya seakan-akan siap untuk melindunginya. Sedangkan ayah Warsi justru telah berada di sebelah yang lain dari jalan bulak itu.

“Kalian memang licik,” geram ayah dari laki-laki yang menginginkan Warsi.

“Tetapi cara apapun yang kalian tempuh tidak ada gunanya.”

“Maaf,” sahut ayah Warsi. “Aku terpaksa melakukan cara ini. Sebenarnya aku sama sekali tidak menginginkan perselisihan. Apalagi dengan kadang sendiri. Tetapi kau memaksa aku untuk mempertahankan diri. Kau benar-benar telah mengupah orang untuk mengambil Warsi. Karena itu aku pun benar-benar harus mempertahankannya

demi kebahagiaan Warsi di hari kemudian.”

“Caramu sangat licik dan pengecut,” geram ayah laki-laki itu.

“Yang aku lakukan adalah sekadar cara. Sebenarnya bagiku lebih mudah menghancurkan kalian di halaman. Tetapi aku tidak mau mengganggu tetangga-tetanggaku, sehingga karena itu, maka aku telah berusaha untuk bertempur ditengah bulak ini,” jawab ayah Warsi.

“Tetapi aku masih ingin memperingatkan kalian sekali lagi,” berkata laki-laki yang menginginkan Warsi. “Serahkan Warsi. Jika tidak, maka kalian akan menyesal.

Kami tidak segan-segan untuk mengambil tindakan yang paling kasar sekalipun. Bahkan terakhir dari tindakan kami jika perlu adalah membunuh Warsi sendiri.”

“Lakukan apa yang ingin kalian lakukan,” berkata Warsi yang tiba-tiba saja telah melepaskan kain panjangnya, sehingga ia tinggal mengenakan pakaian sebagaimana

seorang laki-laki. Sambil membenahi rambutnya ia berkata selanjutnya, “Kami sudah siap untuk mempertahankan hidup kami. Tetapi ingat, setiap kali aku berhadapan dengan seseorang yang benar-benar ingin membunuhku, maka aku pun ingin membunuhnya.”

Sikap Warsi memang mengejutkan. Dengan wajah yang tegang laki-laki yang akan memperistrinya itu bertanya, “Apakah kau juga akan ikut berkelahi?”

“Sebagaimana akan aku lakukan, aku pun mampu melakukannya. Dan sebagaimana kalian kehendaki atas kami, kami pun menghendaki demikian pula atas kalian.

Karena itu, maka kami pun ingin memberikan satu peringatan atas kalian. Tinggalkan tempat ini. Aku masih tetap menyadari, bahwa kita adalah bersaudara,” berkata Warsi.

“Kau jangan berbicara yang aneh-aneh Warsi,” berkata laki-laki yang

menghendakinya. “Kau harus menyadari, bahwa kau tidak mempunyai pilihan. Tetapi jika kau keras kepala, maka apaboleh buat. Sudah aku katakan. Daripada aku melihat kau diperistri oleh orang lain, maka aku lebih baik senang melihat kau di usung ke kubur.”

“Aku memberi kesempatan kepada kalian sekali lagi,” teriak Warsi. Suaranya benar-benar membuat jantung orang yang mendengarnya menjadi berdebar-debar.

“Tinggalkan tempat ini. Sikap kalian akan kami maafkan. Tetapi sekali kami membenturkan kekerasan, maka yang akan terjadi kemudian adalah kematian. Kalian semuanya akan kami tumpas di simpang empat ini. Tidak seorang pun akan tersisa.”

“Cukup,” teriak laki-laki yang menginginkan Warsi, “Gadis secantik kau masih mampu membual pula.”

“Waktu kalian telah habis,” berkata Warsi tanpa menghiraukan kata-kata laki-laki yang akan mengambilnya. “Sekarang kalian tidak mempunyai jalan keluar dari simpang empat ini. Kalian benar-benar akan mati.”

Sebelum laki-laki yang menginginkan Warsi dan yang menjadi sangat marah itu sempat menjawab, maka ayah Warsi telah mendahului, “Maaf kakang. Kakang sendiri yang membakar setumpuk jerami kering di dalam lumbung. Jika kemudian api akan berkobar dan menelan semua yang kau bawa, termasuk anak laki-lakimu dan kau sendiri, sama sekali bukan tanggung jawabku. Kau sendirilah yang masuk ke dalam api seperti sulung di malam hari.”

“Tutup mulutmu,” bentak ayah laki-laki yang menginginkan Warsi itu. “Kalian benar-benar akan membunuh diri.”

Namun dalam pada itu, tiba-tiba saja terdengar pemimpin dari para gegedug yang diupah oleh laki-laki yang menginginkan Warsi itu tertawa. Katanya, “Aku menjadi muak mendengar orang bertengkar tanpa ujung pangkal. Masing-masing mengancam untuk saling membunuh. Tetapi tidak seorang pun yang mulai berbuat sesuatu.”

“Bagus,” sahut Warsi. “Marilah. Jika benar-benar kita harus saling membunuh.”

Suramnya Bayang-bayang 4

“Itulah,” jawab pemimpin dari kelima orang itu. “Waktuku tidak terlalu banyak,” lalu katanya kepada laki-laki yang menginginkan Warsi. “Uruslah perempuan itu.

Kami akan membersihkan jalan yang akan kalian lewati.”

Orang di kedua belah pihak kemudian justru terdiam. Pemimpin dari kelima orang upahan itu pun segera membagi orangnya. Ia sendiri bersiap menghadapi laki-laki

yang berdiri di sebelah Warsi, yang ternyata adalah pengendangnya. Sementara itu, laki-laki yang menginginkan Warsi itu pun telah siap untuk menangkap Warsi dan membawanya. Ayah laki-laki itu telah bersiap pula menghadapi ayah Warsi. “Orang tua tidak tahu diuntung,” ia masih bergeremang sambil melangkah maju. “Jika anak perempuanmu mati malam ini dalam umurnya yang masih muda, maka kaulah yang bertanggung jawab.”

“Anakku dapat bertanggung jawab atas dirinya sendiri. Mau atau tidak mau tergantung kepada Warsi. Tidak kepadaku. Karena itu, tanggung jawabnya pun ada pada anakku sendiri,” berkata ayah Warsi.

“Kau gila. Kau mau mencuci tangan he? Jika anakmu mati, kau persalahkan anakmu itu sendiri,” geram ayah laki-laki itu.

“Segalanya memang terserah kepadanya,” jawab ayah Warsi.

Ayah laki-laki yang menginginkan Warsi itu pun tidak sabar lagi. Tiba-tiba saja ia pun sudah meloncat menyerang sambil berteriak, “Kaulah yang harus dibunuh lebih dahulu.”

Ayah Warsi meloncat mengelak sambil berkata, “Kau tahu kakang, bahwa aku adalah seorang petualang. Karena itu, seharusnyalah kau menyadari, bahwa dalam keadaan yang memaksa aku dapat menjadi keras dan kasar. Sementara itu pengalamanpun cukup luas menghadapi keadaan yang lebih buruk dari keadaan ini.”

Tetapi ayah Warsi terpaksa berhenti berbicara. Tiba-tiba saja senjata lawannya berdesing hampir mengenai mulutnya.

Dalam pada itu, maka orang-orang yang berada di simpang empat itu pun mulai bergerak. Lima orang gegedug itu pun berpencar, sementara dua orang raksasa pengiring ayah laki-laki yang menginginkan Warsi itu pun sudah mulai bergerak pula.

Sejenak kemudian pertempuran benar-benar telah membakar simpang empat itu. Kedua belah pihak telah mendapatkan musuhnya masing-masing.

Namun agaknya para pengikut Warsi jumlahnya lebih banyak dari sembilan orang yang datang ke rumahnya. Karena itu, maka raksasa yang berambut putih itu harus bertempur melawan dua orang.

Ternyata orang yang bertubuh tegap kekar, meskipun rambutnya sudah mulai memutih, demikian pula jambangnya, kumis dan janggutnya, namun orang itu masih segarang harimau kelaparan.

Demikianlah sejenak kemudian pertempuran telah menjadi semakin garang. Semua orang telah terlibat kedalamnya, kecuali Warsi dan laki-laki yang ingin mengambilnya.

“Kenapa kau masih termangu-mangu?” bertanya Warsi.

“Kau jangan melakukan sesuatu yang dapat menyulitkan keadaanmu. Bagaimanapun juga, aku masih berusaha untuk menyelamatkanmu. Meskipun ayah sudah mengambil keputusan untuk membunuh semua orang tetapi aku akan dapat menyelamatkan kau,” berkata laki-laki itu.

“SUDAH dikatakan oleh ayah dan sudah aku katakan pula, aku tidak mau kau ambil dengan cara apapun juga. Apalagi dengan cara yang kasar ini,” berkata Warsi.

“Jika demikian, maka menyesal sekali, bahwa aku akan memperlakukan kau sebagaimana aku katakan,” berkata laki-laki itu.

Tetapi laki-laki itu menjadi heran. Warsi justru tertawa. Ia sama sekali tidak menjadi cemas apalagi ketakutan. Bahkan katanya, “Dengar. Aku sudah mengatakan.

Aku akan memperlakukan kau sebagaimana kau ingin memperlakukan aku. Jika kau ingin membunuh aku, maka aku pun ingin membunuhmu. Dan agaknya aku sama sekali tidak akan merasa kehilangan jika kau mati.”

“Anak iblis,” geram laki-laki itu.

Warsi masih saja tertawa. Bahkan ia masih sempat memperhatikan pertempuran yang membakar simpang empat itu. Namun terasa jantungnya berdegup keras, ketika ia melihat orang-orang yang disewa oleh laki-laki yang menginginkannya itu. Mereka nampaknya benar-benar ingin menyelesaikan pertempuran itu dengan cepat. Sekilas Warsi melihat tombak bertangkai pendek dengan ujung ngeri pandan. Ia pun melihat jenis-jenis senjata yang lain. Seseorang dengan kapak dan perisai bertempur bagaikan mengamuk. Sedangkan yang lain mempergunakan sebuah golok yang besar.

Sementara itu, sebilah pedang telah menggetarkan dada Warsi. Pedang yang lengkung, tetapi tajamnya tujuh kali pisau penyukur. Dalam cahaya bintang daun yang lengkung itu nampak berkilat seakan-akan melemparkan cahaya yang

menyilaukan.

Namun Warsi tidak mempunyai banyak kesempatan untuk merenung. Laki-laki yang akan mengambilnya itu benar-benar marah. Dengan tangkasnya ia pun telah meloncat menyerang. Tetapi agaknya ia masih berusaha untuk dapat menangkap Warsi dalam keadaan utuh, sehingga karena itu ia sama sekali tidak mempergunakan senjata.

Tetapi laki-laki itu terkejut bukan kepalang. Sebagai seorang yang tidak hidup dalam lingkungan olah kanuragan seutuhnya, maka ia sama sekali tidak dapat berbuat sesuatu, ketika justru pada saat ia menyerang, maka kaki Warsi telah mengenai dadanya.

Laki-laki itu terlempar beberapa langkah. Tubuhnya terbanting bagaikan sebatang pohon pisang yang rebah.

Terdengar laki-laki itu menyeringai. Punggungnya rasa-rasanya akan patah. Ia sama sekali tidak menduga bahwa hal seperti itu dapat terjadi. Ia hanya mengira bahwa Warsi yang benar-benar tidak mau mengikutinya itu berbuat lepas dari penalaran. Seolah-olah Warsi akan mampu melawan dan membebaskan dirinya.

Tetapi yang terjadi ternyata bertentangan dengan dugaannya. Kaki Warsi itu benar-benar menghantam dadanya sehingga ia terlempar jatuh ditanah. Ia benar-benar mengalami kesakitan pada punggungnya dan dadanya bagaikan terhimpit sehingga nafasnya terasa menjadi sesak.

Namun laki-laki itu kemudian masih juga berusaha bangkit. Ketika ia melihat Warsi berdiri tegak dengan tangan bertolak pinggang, maka rasa-rasanya ia melihat Warsi yang lain. Bukan Warsi yang cantik yang berkulit semulus kulit mundu masak. Tetapi Warsi dimatanya telah berubah menjadi iblis betina yang memang harus dibinasakan.

Warsi tidak berbuat sesuatu ketika laki-laki itu berusaha untuk tegak berdiri.

Dengan wajah yang membara laki-laki itu memandang Warsi yang masih saja berdiri bertolak pinggang.

“Kau benar-benar tidak tahu diri,” geram laki-laki itu.

“Sudah aku katakan,” jawab Warsi. “Aku akan membunuhmu. Tetapi aku masih mencoba sekali lagi memberimu kesempatan. Hal ini tidak pernah aku lakukan sebelumnya.

Pergilah. Pulanglah dan menangislah jika kau kesakitan. Tetapi jika kau benar-benar tidak ingin meninggalkan tempat ini, apalagi bermimpi untuk membawaku pulang, maka aku benar-benar akan membunuhmu disini. Namun, masih ada kesempatan yang terbuka. Justru karena kita masih mempunyai hubungan darah.”

“Persetan,” geram laki-laki itu. “Kau benar-benar ingin mati.”

Warsi mengerutkan keningnya ketika ia melihat laki-laki itu benar-benar menarik senjatanya dari sarungnya. Sehelai pedang yang berwarna kehitam-hitaman.

“Luwuk itu pernah aku lihat,” desis Warsi.

Sejenak ia mengingat-ingat. Namun tiba-tiba saja ia berkata lantang, “He, luwuk itu ternyata telah kau curi dari rumah kakek ya?”

Laki-laki itu menggeram. Katanya, “Kakekmu mencuri luwuk ini dari rumah kakekku.

Bukankah kakekku lebih tua dari kakekmu dalam tataran keturunan? Kakekkulah yang berhak atas luwuk ini. Tetapi kekekmu telah mencurinya. Karena itu, aku telah mengambilnya kembali.”

“Luwuk itu hilang ketika aku masih terlalu kecil untuk mengerti persoalannya.

Tetapi aku pernah melihat luwuk itu di rumah kakek. Beberapa saat kemudian kakek menjadi marah-marah karena luwuk itu telah hilang. Ternyata kaulah yang mencurinya. Karena itu, kembalikan luwuk itu. Jika kau keberatan, maka kau bersalah ganda terhadapku. Hukumanmu adalah hukuman mati dua kali. Artinya kau akan mati perlahan-lahan,” berkata Warsi.

Wajah Warsi benar-benar menjadi menyeramkan. Di luar sadarnya bulu-bulu di tengkuk laki-laki itu meremang. Namun kemudian ia menjadi tatag kembali. Sambil mengayunkan pedang berwarna hitam dan berhulu ukiran kepala serigala, maka laki-laki itu melangkah mendekati Warsi.

“Aku benar-benar akan membunuhmu iblis betina,” geram laki-laki itu.

Tetapi jawab Warsi mendebarkan, “Jika demikian aku sudah mengambil keputusan. Membunuh tanpa peringatan lagi.”

Namun kata-kata Warsi terdiam. Laki-laki itu telah meloncat menyerangnya dengan ayunan pedang mendatar. Pedang yang disebut oleh Warsi luwuk itu.

Tetapi Warsi dengan tangkasnya meloncat mundur. Serangan itu sama sekali tidak membuat jantungnya bergejolak.

Ternyata laki-laki itu menjadi makin marah. Seakan-akan Warsi dengan sengaja telah menghinanya dengan sikapnya itu.

Dengan demikian maka laki-laki itu pun kemudian bertempur semakin garang.

Selain kemarahan laki-laki itu yang menghentak-hentak dadanya, ternyata luwuk itu memang bukan luwuk kebanyakan. Luwuk itu seakan-akan mempunyai kemampuan untuk mendorong tangan yang menggenggamnya bergerak lebih cepat. Karena itu, maka sejenak kemudian, Warsi mulai berloncatan dengan langkah-langkah panjang. Luwuk di tangan laki-laki itu bagaikan mengejarnya.

Bahkan seakan-akan laki-laki itulah yang terseret oleh kekuatan luwuk di tangannya.

“Gila,” geram Warsi. “Betapa dungunya laki-laki ini, tetapi dengan luwuk kakek ditangannya ia menjadi garang dan sangat berbahaya.”

Dalam pada itu, kemarahan laki-laki itu rasa-rasanya tidak dapat lagi

diendapkan. Ia tidak lagi melihat wajah seorang gadis yang cantik yang berdiri di depannya sambil tersenyum manis, tetapi ia merasa benar-benar berhadapan dengan iblis betina yang dengan taring-taringnya yang tajam siap menghisap sampai kering.

Karena itu, dengan luwuk pusaka itu, ia memang benar-benar berniat membinasakan Warsi.

Sikap laki-laki itu ternyata terasa oleh Warsi. Niat untuk membunuhnya itu benar-benar telah memantapkan sikapnya. Ia pun harus membunuh pula. Bahkan bukan saja laki-laki yang menghendakinya itu. Tetapi sekilas terbersit pula kemantapan sikapnya untuk memaksakan keinginannya dengan cara itu. Merampas Wiradana dengan kekerasan.

Sesaat kemudian Warsi pun benar-benar telah kehilangan kendali. Ia tidak mengingat lagi bahwa laki-laki itu adalah masih kadang sendiri. Apalagi laki-laki itu pun tidak pula mengingat hal yang demikian, sedangkan laki-laki itu dapat disebut seorang laki-laki dari keturunan baik-baik.

KARENA itu, maka sesaat kemudian, ketika Warsi menjadi semakin terdesak, ia pun telah mengurai rantainya dari balik bajunya. Rantai yang merupakan senjata andalannya.

Sejenak kemudian rantai itu pun telah berputar di atas kepalanya. Suaranya berdesing seperti seribu kumbang yang beterbangan di sekitar sarangnya.

Dalam pada itu, pertempuran antara dua kekuatan itu pun menjadi semakin lama semakin dahsyat. Orang berambut putih itu benar-benar seorang yang memiliki ilmu yang mapan. Dua orang lawannya sekali-kali justru merasa terdesak. Hanya karena kerja sama di antara mereka yang cukup rapi, maka keduanya mampu bertahan melawan amukan kekuatan orang berambut putih itu.

Sementara itu, pedang lengkung yang berada di dalam genggaman raksasa berkepala kecil itu memang sangat mengerikan. Kilatan cahaya yang terpantul oleh daun pedang yang melengkung itu bagaikan bunga api yang berloncat-loncatan.

Dalam pada itu, lima orang upahan yang bertempur dipihak laki-laki yang menginginkan Warsi itu benar-benar bertempur dengan cara mereka. Mereka sama sekali tidak menghiraukan tata nilai apapun juga. Yang mereka lakukan adalah bertempur dengan segenap kemampuan yang ada pada mereka. Dengan senjata mereka yang aneh dan nggegirisi.

Namun ternyata mereka telah membentur satu kekuatan yang merupakan bagian dari kekuatan keluarga Kalamerta. Kekuatan yang memang hidup di dalam lingkungan kekerasan.

Dengan demikian, maka sejenak kemudian, mereka telah sampai kepada kebiasaan mereka masing-masing. Keras, kasar dan bahkan kemudian menjadi buas dan liar. Kedua belah pihak telah saling menerkam dan mendesak lawannya. Keduanya telah mengerahkan segenap kemampuan mereka, tanpa menghiraukan aturan apapun juga.

Dalam pada itu, ayah Warsi masih bertempur dengan sengitnya melawan ayah laki-laki yang menginginkan Warsi itu. Namun ternyata bahwa ayah Warsi memiliki pengalaman petualangan yang lebih luas. Bahkan sekali-kali ayah Warsi yang mempunyai pengalaman lebih itu terlibat pula dalam lingkungan petualangan Kalamerta.

Karena itu, maka sejenak kemudian, ayah Warsi telah berhasil mendesak lawannya. Bahkan agaknya ayah Warsi pun sudah tidak lagi dapat mengingat bahwa orang yang menjadi lawannya itu adalah masih saudara kadang sendiri.

Dua orang raksasa yang biasanya menjadi pelindung ayah laki-laki yang menginginkan Warsi itu menjadi gelisah. Tetapi ternyata mereka sedang menghadapi lawan mereka masing-masing yang tidak dapat mereka tinggalkan. Apalagi raksasa berambut putih itu harus menghadapi dua orang sekaligus yang agaknya memiliki kemampuan yang bersama-sama dapat mengimbangi kemampuannya.

YANG bertempur tidak jauh dari Warsi adalah pemimpin dari lima gegedug itu.

Tetapi ia pun mendapat lawan yang mengejutkan pula. Orang yang pernah menjadi tukang gendang disaat-saat Warsi ngamen ke Tanah Perdikan Sembojan itu ternyata mampu mengimbangi ilmu dari pemimpin gegedug yang garang itu.

“Gila,” geram pemimpin gegedug itu, “Ternyata ada juga orang yang mampu melawan aku lebih dari sepenginang.”

“Jangan terlalu sombong,” jawab pengendang itu. “Aku dapat menggilasmu lebih cepat. Tetapi aku masih ingin menunjukkan ilmuku. Mudah-mudahan kau dapat mengenali, bahwa aku adalah salah seorang pengikut Kalamerta yang setia.”

“Persetan dengan Kalamerta,” geram pemimpin gegedug itu. “Kau kira aku takut mendengar nama itu. Nama seorang perampok kecil yang tidak berarti, yang mati terbunuh di petualangannya. He, bukankah Kalamerta sudah mati.”

Hampir diluar dugaan, bahwa pembicaraan itu didengar oleh Warsi sehingga ia menjawab, “Memang. Paman Kalamerta sudah meninggal. Tetapi kau masih dapat melihat ilmunya yang tertinggal padaku.”

Pemimpin gegedug itu mengumpat. Bahkan ia pun bergerak lebih cepat untuk mendesak lawannya. Namun dalam pada itu, laki-laki yang menginginkan Warsi itu menjadi berdebar-debar. Ia sudah pernah mendengar nama Kalamerta. Bahkan ia mengerti bahwa Kalamerta sebagaimana ayah Warsi, masih ada hubungan kadang.

Namun yang paling mendebarkan ialah, bahwa laki-laki yang menginginkan Warsi itu mengetahui, bahwa Kalamerta adalah orang yang memiliki kemampuan yang sulit dicari bandingnya.

Karena itu, ketika Warsi mengaku bahwa ia memiliki ilmu Kalamerta, maka hatinya

pun tiba-tiba menjadi kecut. Apalagi ketika kemudian senjata Warsi itu berputar semakin cepat.

Tetapi semuanya sudah terlambat. Warsi sudah menentukan akhir dari pertempuran itu. Sebagaimana laki-laki itu berniat untuk membunuh Warsi, maka Warsi pun telah bertekad untuk membunuh laki-laki itu.

Dalam pada itu, kelima gegedug yang diupah oleh ayah laki-laki yang menginginkan Warsi itu pun berusaha untuk dengan segera mengakhiri pertempuran. Ia melihat laki-laki yang mengupahnya ayah beranak itu terdesak. Jika mereka mengalami cidera, maka mungkin sekali akan ada perhitungan tentang upah mereka.

Karena itu, maka para gegedug itu pun bertempur semakin cepat dan garang. Demikian pula kedua orang pengawal ayah dari laki-laki yang menginginkan Warsi itu. Keduanya bertempur semakin seru. Bahkan keras dan kasar. Para pengikut ayah Warsi yang bertempur dengan segenap kemampuan mereka, benar-benar membentur kekuatan yang sulit untuk ditundukkan. Bahkan raksasa berambut putih yang bertempur melawan dua orang itu pun masih belum terkalahkan.

Bahkan sesaat kemudian, maka raksasa yang berpedang lengkung itu pun telah berhasil menyentuh kulit lawannya. Sentuhan yang kebetulan terjadi ketika ia berusaha menangkis pedang lengkung itu. Tetapi ujung pedang itu bergerak melingkar dan menyentuh kulitnya.

Lawan raksasa berpedang lengkung itu mula-mula tidak merasakan sesuatu pada tubuhnya. Ia baru sadar, bahwa kulitnya tersentuh, ketika kemudian ia merasa bahwa darah mengalir dari lengannya.

“Gila,” orang itu menggeram sambil meloncat surut. Ketika dengan telapak tangannya ia meraba lengannya, alangkah terkejutnya. Luka itu ternyata merupakan luka yang dalam.

Ternyata darah itu telah membuat orang itu bagaikan menjadi gila. Dengan garang ia berloncatan menyerang raksasa berkepala kecil dan bersenjata pedang lengkung itu. Namun raksasa itu memang memiliki ilmu yang luar biasa.

DALAM pada itu, di luar sadarnya, raksasa berkepala kecil itu melihat keadaan laki-laki yang menginginkan Warsi itu menjadi semakin sulit. Ia semakin terdesak dan sekali-kali rantai di tangan Warsi berdesing hampir menyentuhnya. Namun bagaimana pun juga binalnya Warsi, kadang-kadang ia masih juga disentuh satu

kesadaran, bahwa laki-laki itu adalah masih kadangnya sendiri.

“Tetapi ia bersalah ganda,” Warsi menggeregetkan giginya untuk mengusir kelemahan hatinya. “Ia berniat membunuhku dan ia sudah mencuri luwuk kakekku.”

Dalam keragu-raguan itu, setiap kali laki-laki yang menginginkannya itu rasa-rasanya mendapat kesempatan untuk lolos dari bayangan maut.

Namun sementara itu telah terjadi sesuatu yang mempengaruhi keseimbangan dari pertempuran itu ketika raksasa berkepala kecil itu dengan garangnya memanfaatkan keadaan. Lawannya yang sudah terluka itu, yang menjadi bagaikan kehilangan akal oleh kemarahan yang menghentak-hentak, justru telah mendapat kesempatan. Darah

yang semakin banyak mengalir memang sangat berpengaruh. Sementara itu pedang lengkung itu pun bergerak semakin cepat.

Ketika sekali lagi pedang itu berhasil menyentuh pundaknya, maka kulitnya benar-benar telah terkoyak sampai ketulang. Bahkan rasa-rasanya sebelah tangan orang itu tiba-tiba saja telah menjadi lumpuh.

Pada saat yang tegang raksasa berkepala kecil itu telah berhasil menggoreskan tajam pedangnya yang lengkung itu di dada lawannya. Karena itu, maka lawannya pun terdesak tertahan. Namun ia tidak mampu bertahan. Luka-lukanya benar-benar menjadi sangat parah, sehingga ia tidak mampu untuk berbuat apa-apa ketika pedang lengkung itu menghunjam langsung mengarah jantung.

Orang bertubuh raksasa dan berkepala kecil itu menarik pedangnya sambil menggeram, “Kematian adalah wajar bagi seorang laki-laki yang sombong dan dungu.”

Sebenarnyalah kematian itu membuat kedua belah pihak menjadi semakin terbakar oleh kemarahan. Sementara itu raksasa berkepala kecil yang melihat bahwa laki-laki yang menginginkan Warsi itu justru semakin mengalami kesulitan, maka ia pun telah melangkah mendekatinya.

“Bagus,” desis laki-laki yang menginginkan Warsi itu. “Kita bunuh saja perempuan iblis itu. Jika ia tetap hidup, maka ia adalah perempuan binal yang paling berbahaya. Aku tidak memerlukannya lagi.”

Kata-kata itu sangat mengejutkan Warsi. Baru ia menyadari kesalahannya, bahwa ia tidak segera membunuh laki-laki itu. Ia merasa bahwa ia telah membiarkan laki-laki itu terlalu lama sehingga ternyata kemudian seseorang akan sempat membantunya.

Tetapi Warsi adalah seorang yang mewarisi kemampuan Kalamerta. Karena itu, maka tiba-tiba saja ia pun menggeram dengan suara yang bagaikan menggetarkan bumi.

Memang mengejutkan, bahwa seorang perempuan telah menggeram dengan suara yang menggetarkan jantung. Namun bagi laki-laki yang semula menginginkannya, Warsi memang sudah berubah menjadi iblis betina yang mengerikan.

Raksasa berkepala kecil dengan pedang lengkung itu pun menjadi semakin dekat.

Wajahnya menjadi tegang ketika ia melihat cara Warsi menggerakkan rantainya.

Sementara itu Warsi pun telah mempersiapkan diri sebaik-baiknya. Ia sadar bahwa raksasa berkepala kecil itu memiliki kemampuan yang tinggi.

Tetapi justru karena itu, maka kebinalan Warsi pun justru berkembang. Ia ingin menunjukkan kepada laki-laki yang menginginkannya itu, bahwa ia benar-benar memiliki kemampuan bertempur yang tidak hanya sekadar dapat mengalahkannya saja.

KARENA itulah, maka Warsi telah menunggu. Jika dikehendaki, maka ia dapat mempergunakan saat-saat yang pendek itu untuk membunuh laki-laki yang menginginkannya itu untuk mengurangi bebannya pada pertempuran yang mendatang.

Tetapi ia tidak memerlukannya. Bahkan ia menunggu raksasa berkepala kecil yang telah membunuh seorang di antara pengawalnya itu.

“Raksasa ini pun harus mendapat hukuman,” berkata Warsi di dalam hatinya. “Ia sudah membunuh satu dari orang-orangku yang setia.”

Karena itu, demikian laki-laki berpedang lengkung itu mendekat, maka Warsi pun berkata, “Marilah. Aku memang menunggu. Aku tidak membunuh laki-laki cengeng itu sebelum ia yakin, bahwa aku memang memiliki kemampuan untuk melakukannya. Bukan hanya atas dirinya sendiri, tetapi juga atasmu raksasa yang berkepala kecil.

Apalagi kau sudah membunuh seorang di antara para pengikut ayahku.”

Raksasa berkepala kecil itu menjadi marah, justru karena ia telah disinggung cacatnya. Karena itu, maka ia pun segera telah meloncat menyerang dengan garangnya.

Warsi seakan-akan telah mendapatkan satu kegembiraan. Ia mendapat lawan yang terasa perlawanannya. Karena itu maka ia pun menjadi semakin lincah. Warsi mulai berloncatan seperti anak kijang. Namun sekali-kali menyambar lawannya bagaikan seekor burung sikatan.

Dua orang laki-laki yang menjadi lawannya berusaha untuk bertempur berpasangan.

Saling mengisi dan saling memecah perhatian Warsi. Tetapi ternyata Warsi adalah tetap seorang perempuan yang garang.

Perhatian Warsi kemudian memang lebih banyak tertuju kepada raksasa yang berkepala kecil. Serangannya terasa mantap dan desing pedangnya memang mendebarkan jantung. Namun rantai di tangan Warsi pun berputar seperti baling-baling. Kadang-kadang rantai itu menebas mendatar. Namun tiba-tiba rantai itu mematuk dengan cepat bagaikan terjulur memanjang.

Raksasa berpedang lengkung itu mulai merasakan. Warsi memang memiliki ilmu yang tinggi. Ia bukan sekadar seorang perempuan binal. Tetapi ia memang memiliki bekal dalam kebinalannya itu.

Dalam pada itu pertempuran memang sudah diwarnai dengan darah. Selain seorang sudah terbunuh, maka seorang lagi pengikut Warsi sudah terluka. Tetapi luka segores di lengannya itu masih belum berarti melumpuhkannya. Ia masih memberikan

perlawanan sebagaimana sebelumnya.

Tetapi sementara itu, raksasa yang berambut putih, yang bertempur melawan dua orang pengikut Warsi mulai terdesak. Ketika seorang di antara kedua orang yang bertempur ber-pasangan itu mencoba membantu Warsi, maka Warsi berteriak,

“Selesaikan kuda tua berambut putih itu. Raksasa berkepala kecil ini tidak berbahaya sama sekali.”

“Gila,” raksasa berpedang lengkung itu marah sekali. Dengan serta merta ia menyerang dengan garangnya. Pedangnya yang tajamnya tujuh kali lipat tajamnya pisau cukur itu berdesing, hampir saja menyambar telinga Warsi.

Warsi mengumpat kecil. Namun sementara itu, ia mulai mencemaskan keadaan para pengikutnya. Apalagi ketika ia mengetahui bahwa seorang dari pengikutnya telah terluka pula setelah seorang terbunuh.

Kemarahan itulah yang mendorong Warsi untuk menghentakkan ilmunya. Rantainya berputar semakin cepat. Sekali-kali rantai itu mematuk memanjang dan menyambar sendal pancing sebagaimana sebuah cambuk.

Raksasa berkepala kecil itu mulai merasa, betapa sulitnya menjinakkan Warsi.

Bahkan ketika ia berusaha menembus putaran rantai Warsi sambil menjulurkan pedangnya, maka terasa ujung rantai Warsi telah menyengat pundaknya.

“Iblis betina,” teriak raksasa itu. Tetapi demikian mulutnya terkatup, demikian cepatnya seakan-akan mendahului penglihatannya, ujung rantai itu telah menyentuh lambung laki-laki yang menginginkan Warsi itu.

Terdengar orang itu mengaduh. Darah mulai mengalir dari lambung laki-laki itu dan dari pundak raksasa berkepala kecil itu.

Pertempuran selanjutnya menjadi semakin garang bagi kedua belah pihak. Tetapi laki-laki yang menginginkan Warsi dan yang sudah terluka dilambung itu menjadi semakin lemah.

“Ayah,” desis laki-laki itu.

Tetapi ayahnya tidak dapat menolongnya. Ia terlibat dalam pertempuran melawan ayah Warsi. Pertempuran yang menjadi semakin cepat. Namun yang mulai terasa, bahwa ayah Warsi telah mendesak lawannya semakin berat.

Yang seimbang adalah bekas pengendang Warsi yang bertempur melawan pemimpin gegedug yang diupah oleh ayah laki-laki yang menginginkan Warsi itu. Ternyata pemimpin gegedug itu benar-benar seorang yang sudah mapan di dalam dunianya. Ia sama sekali tidak ragu-ragu menyerang dan bahkan apabila mungkin menghancurkan

lawannya sampai lumat.

Tetapi lawannya pun seorang yang memiliki pengalaman yang luas di dalam olah kanuragan. Karena itu, maka pemimpin gegedug itu tidak segera dapat menguasai lawannya. Betapa ia berusaha mengerahkan ilmunya.

Namun pemimpin gegedug itu melihat, seorang kawannya telah berhasil melukai lawannya. Jika ia dengan cepat dapat memenangkan pertempuran itu, maka semuanya akan segera selesai. Apalagi pengawal laki-laki yang mengupahnya itu sendiri telah mampu membunuh seorang lawan.

“Jika kedua raksasa itu merupakan kunci kemenangannya, maka kami tidak akan dapat upah yang lebih banyak,” berkata pemimpin gegedug itu di dalam hatinya.

Namun sebenarnyalah bahwa mereka tidak dapat mengingkari kenyataan. Warsi yang marah itu akhirnya benar-benar berhasil menguasai kedua lawannya. Raksasa yang berkepala kecil dan berpedang lengkung itu sudah dilukainya dan kehilangan kemampuan untuk bergerak secepat saat ia mulai dengan pertempuran itu. Bahkan rasa-rasanya serangan Warsi semakin lama semakin cepat. Rantainya menyambar-nyambar semakin dahsyat bagaikan ribuan lebah diseputar tubuhnya dan sekali-kali terasa ujungnya menyengat kulitnya.

Raksasa itu mempercayakan ilmunya pada landasan kekuatannya yang sangat besar, sesuai dengan besar dadanya. Tetapi menghadapi senjata rantai, pedangnya menjadi tidak begitu banyak dapat menyalurkan kekuatannya. Benturan yang terjadi, bukannya kekuatan. Jika ia dengan sengaja menangkis serangan Warsi, maka yang terjadi justru kesulitan. Sekali-kali rantai itu membelit daun pedangnya. Ketika Warsi menariknya menghentak, hampir saja pedangnya itu terlepas dari tangannya.

Laki-laki yang menginginkan Warsi dalam pertempuran yang semakin cepat dan keras, seakan-akan tidak berarti apa-apa lagi. Meskipun ia masih berusaha membantu raksasa yang berkepala kecil itu, namun gerak dan sikapnya tidak banyak mempengaruhi pertempuran yang semakin keras itu.

Dalam pada itu, seorang dari para gegedug yang berhasil melukai lawannya itu semakin mendesak. Darah yang mengalir benar-benar berpengaruh bagi kemampuannya untuk tetap bertahan.

Dengan harapan untuk segera mengakhiri pertempuran itu, maka gegedug itu berusaha semakin keras untuk dengan cepat mengalahkan lawannya yang sudah terluka.

Tetapi yang kemudian terdengar mengaduh adalah raksasa berkepala kecil dan bersenjata pedang lengkung itu. Rantai Warsi yang berputar benar-benar mengacaukan pertahanannya. Tiba-tiba saja rantai yang berputar itu bagaikan terurai. Ujungnya terjulur memanjang dan mematuk kearah dada.

Raksasa itu sempat mengelak. Tetapi tiba-tiba saja rantai itu terayum mendatar. Demikian cepatnya, sehingga rantai Itu telah mengoyak lambung raksasa berkepala kecil dan bersenjatakan pedang lengkung itu.

Sejenak raksasa itu terhuyung-huyung beberapa langkah surut. Namun Warsi tidak membuang kesempatan itu. Ia sadar, bahwa salah seorang pengikutnya telah terbunuh dan seorang lagi telah terluka. Jika ia tidak dengan cepat menyelesaikan pertempuran itu, maka akibatnya akan dapat menjadi parah bagi orang-orangnya.

Karena itu, maka Warsi pun telah meloncat memburu. Dengan garangnya dan tanpa ampun Warsi mengayunkan rantainya dan sekali lagi menyambar lawannya. Akibatnya benar-benar menentukan justru karena rantai itu menyambar leher lawannya.

Dengan demikian, maka sejenak kemudian raksasa bersenjata pedang lengkung itu sudah terkapar di tanah. Diam. Sementara nafasnya pun telah terputus pula.

Dalam pada itu, laki-laki yang menginginkan Warsi dan yang telah terluka itu pun telah berusaha untuk mencegah hal itu terjadi. Dengan cepat ia meloncat sambil mengayunkan pedangnya mengarah ke arah leher Warsi.

Namun ternyata Warsi dengan tangkasnya telah merendah. Demikian pedang itu menjulur di atas kepalanya, maka sambil berjongkok Warsi pun telah mengayunkan rantainya mendatar. Dengan derasnya rantai itu telah menyambar sekali lagi lambung laki-laki itu. Bahkan ujungnya telah melingkar, bagaikan memeluk tubuhnya. Ketika Warsi menarik rantai itu, maka laki-laki itu telah terputar.

Namun yang terdengar adalah jerit melengking. Tubuhnya yang telah dipeluk oleh rantai itu ternyata telah terkoyak pula.

Laki-laki itu pun kemudian jatuh pula terguling. Masih terdengar ia mengaduh. Sementara itu, jeritnya telah memanggil orang-orang yang sedang bertempur itu untuk berpaling. Ketika ayahnya melihat laki-laki itu terputar dan kemudian jatuh terguling, ia meloncat jauh-jauh dari lawannya, ayah Warsi.

“Anakku,” terdengar suaranya patah oleh kemarahan yang menyesak di kerongkongan. Kemarahannya benar-benar telah membakar jantungnya yang membuat darahnya mendidih. Karena itu, maka dengan serta merta ia pun telah meloncat menyerang lawannya membabi buta.

“Kau menjadi gila,” geram ayah Warsi, yang bagaimanapun juga merasa bahwa laki-laki yang kehilangan anaknya itu adalah masih kadangnya sendiri.

Tetapi laki-laki itu tidak menghiraukannya. Ia masih saja menyerang dengan garangnya tanpa sempat berpikir sama sekali.

Dalam pada itu, Warsi kemudian berdiri tegak di antara kedua sosok tubuh yang terbaring diam. Ketika terlihat olehnya luwuk yang sudah terlepas dari genggaman tangan laki-laki yang menginginkannya itu, maka luwuk itu pun segera diambilnya.

“Luwuk ini milik kakek,” desis Warsi sambil mengamati luwuk itu.

Sejenak kemudian ia pun telah berjongkok di samping laki-laki yang

menginginkannya itu. Di amatinya laki-laki itu. Ternyata bahwa laki-laki itu benar-benar tidak bernafas. Satu kematian yang pahit, karena laki-laki itu telah terbunuh oleh perempuan yang akan diambilnya menjadi istrinya.

Perlahan-lahan Warsi telah menarik wrangka luwuk itu dari lambung laki-laki itu. Terasa cairan yang hangat telah membasahi wrangka luwuk itu. Darah yang mengalir

dari lambung yang koyak oleh rantai Warsi itu sendiri.

Dalam pada itu, ayah Warsi itu pun kemudian berkata, “Kakang, cobalah menyadari keadaanmu selagi semuanya belum terlanjur. Kau masih sempat menarik diri dari arena ini, karena kau adalah masih kadangku sendiri.”

“Persetan,” geram laki-laki yang kehilangan anaknya itu. “Anak perempuanmu memang iblis betina. Ia membunuh anakku.”

“Aku sudah memperingatkanmu sebelumnya,” berkata ayah Warsi. “Bukankah aku sudah mengatakan, bahwa segala sesuatu akan dipertanggungjawabkannya sendiri.”

“Kaulah yang bertanggung jawab. Kau ajari anakmu menjadi pembunuh, he?” teriak ayah laki-laki yang terbunuh itu.

“Lalu kau ajari apa anak laki-lakimu itu? Kawin berulang kali dan merampas perempuan dengan paksa? Jika hal seperti ini tidak atas Warsi, maka perempuan yang malang itu harus melayani sebagai budak kegilaannya. Tetapi karena anakmu membentur perempuan yang kebetulan adalah Warsi dengan sifat-sifatnya, maka ia harus menebus kelakuannya dengan sangat mahal,” jawab ayah Warsi.

“Persetan dengan kata-katamu. Kau dan perempuan iblis itu harus mati,” geram laki-laki yang kehilangan anaknya itu.

Ayah Warsi tidak menjawab lagi. Ia sudah cukup memberi peringatan kepada lawannya yang masih kadangnya sendiri itu. Tetapi peringatan itu sama sekali tidak dihiraukannya, sehingga ia justru berusaha menyerang ayah Warsi semakin keras.

Dalam pada itu, Warsi masih berjongkok disamping tubuh laki-laki yang akan mengambilnya menjadi istrinya itu. Namun tiba-tiba ia terkejut. Seorang pengikutnya berusaha berloncatan menjauhi lawannya. Bahkan dengan susah payah menghindari serangan-serangan yang memburunya.

Warsi mengangkat wajahnya. Seorang pengikutnya yang terluka itu benar-benar mengalami kesulitan. Karena itu, maka Warsi pun kemudian meloncat berdiri dan dengan tiba-tiba saja ia sudah berdiri disamping pengikutnya yang terluka dan sudah kehilangan harapan untuk tetap bertahan.

“Minggirlah,” desis Warsi.

Lawan pengikutnya itu tertegun sejenak. Orang itu mengetahui apa yang sudah dilakukan oleh Warsi. Tetapi ia sama sekali tidak menjadi gentar. Ia memang ingin berbuat sesuatu yang dapat menentukan, sehingga kehadirannya tidak dapat dianggap sebagai sekadar pelengkap. Raksasa berkepala kecil dan bersenjata pedang lengkung itu sudah terbunuh, sehingga peranannya tidak dapat dianggap menentukan.

Kehadiran Warsi memberikan harapan kepadanya, bahwa ia akan mengalahkannya, sehingga ayah laki-laki yang menginginkan Warsi itu akan sangat berterima kasih kepadanya.

“Aku harus cepat menyelesaikan perempuan iblis itu agar kemudian aku dapat menolong orang yang harus mengupahku. Jika orang itu mati juga seperti anaknya, maka sia-sialah semua kerja yang mempertaruhkan nyawa ini,” berkata gegedug itu di dalam hatinya.

Karena itu, maka ketika Warsi benar-benar mengambil alih perlawanan salah seorang pengikutnya, maka gegedug itupun telah bergeser semakin dekat.

Senjatanya terayun-ayun mengerikan. Sebatang tombak pendek.

Tetapi ternyata Warsi memang memiliki kecepatan gerak yang mengagumkan. Ia mampu berloncatan di sela-sela putaran tombak lawannya. Bahkan ujung rantainya seakan-akan dapat menyusup mematuk tubuh lawannya.

SEPERTI lawannya, Warsi pun mulai jemu dengan pertempuran itu. Sementara itu, ia pun mulai memikirkan malam yang semakin mendekati akhirnya.

Dengan puncak kemampuannya, ternyata bahwa Warsilah yang kemudian berhasil mendesak lawannya. Orang bertombak pendek itu tidak banyak mempunyai kesempatan.

Kemampuan perempuan itu benar-benar diluar dugaannya.

Jika ia semula bersyukur bahwa ia dapat berhadapan dengan Warsi, maka ia pun mulai mencemaskan dirinya sendiri. Apalagi ketika kemudian ujung rantai Warsi mulai menyentuhnya. Maka terasa bahwa kemampuannya memang berada dibawah kemampuan perempuan binal itu. “Ilmu perempuan ini memang ilmu iblis,” desis lawannya.

Namun dalam pada itu, pemimpin gegedug yang bertempur dengan bekas tukang gendang Warsi itu pun berkata pula di dalam hatinya, “Pantas jika ia berani

menyebut dirinya mewarisi ilmu Kalamerta yang terbunuh itu.

Dengan demikian maka keseimbangan pertempuran itu pun mulai kelihatan. Pengawal berambut putih yang memiliki tubuh dan kekuatan raksasa itu semakin terdesak oleh kedua lawannya. Sementara Warsi sejenak kemudian benar-benar telah menguasai gegedug yang salah hitung. Bahkan justru pada saat lawannya itu menjulurkan tombaknya, Warsi yang bergeser selangkah, telah menyerang lawannya sambil memutar tubuhnya bersama rantai ditangannya.

Rantai yang berputar mendatar itu telah menyambar tubuh gegedug yang salah menilai kemampuan perempuan itu sebelumnya. Rantai yang menyambar mendatar setinggi dada itu telah benar-benar mengoyak dadanya. Meskipun orang itu sudah berusaha meloncat surut, tetapi ujung rantai itu bagaikan telah mengejarnya.

Dengan demikian, maka segores luka telah menganga didada laki-laki itu. Luka yang panjang dan dalam.

Terdengar laki-laki Itu menggeram. Tetapi ia tidak dapat ingkar dari kenyataan, bahwa luka itu telah melenyapkan segala harapannya untuk memenangkan pertempuran itu.

Ternyata Warsi pun tidak tanggung-tanggung lagi menghadapi lawannya. Selagi lawannya itu kesakitan dan berusaha untuk mengerti keadaan dirinya, Warsi sudah memburunya. Sekali lagi rantainya menyambar. Dan sebuah luka telah menganga di lehernya.

Laki-laki itu sudah tidak mungkin untuk dapat ditolong lagi. Tubuhnya terlempar beberapa langkah surut dan jatuh terguling. Namun kemudian tubuh itu tidak lagi dapat bergerak.

Seorang dari lima orang gegedug itu sudah terbunuh.

Pemimpin gegedug itu menjadi sangat marah ketika ia melihat kawannya telah berkurang. Namun ketika ia meningkatkan kemampuannya sampai ke puncak, lawannya pun telah berbuat serupa. Dengan demikian, maka pemimpin gegedug itu tidak mampu

dengan segera mengatasi lawannya, bekas tukang gendang Warsi. Bahkan rasa-rasanya tukang gendang itu semakin lama menjadi semakin garang dan kasar.

Dalam pada itu, Warsi berdiri tegak disamping lawannya yang telah menjadi mayat. Sejenak ia menebarkan pandangan matanya keseluruh arena. Dua orang pengikutnya yang setia benar-benar telah menguasai raksasa yang berambut putih. Sementara pengikutnya yang lain bertempur melawan seorang yang bersenjata sebuah perisai kecil dan kapak. Agaknya pengikutnya mengalami kesulitan menghadapi jenis senjata itu. Senjata yang berpasangan. Dengan perisainya lawannya mampu menangkis segala serangannya, sementara kapaknya setiap kali ternyata menyambar

langsung ke arah kepala.

Warsi menarik nafas dalam-dalam. Ketika sekilas ia melihat ayahnya bertempur, maka ia tidak mencemaskannya. Bahkan ia merasa bahwa ayahnya seharusnya tidak lagi memperhatikan bahwa lawannya itu adalah kadang sendiri.

“Sebaiknya ayah cepat saja mengakhirinya,” berkata Warsi di dalam hati. “Jika ayah masih juga memperpanjang pertempuran, satu kemungkinan yang pahit dapat saja terjadi sebagaimana satu kecelakaan.”

Tetapi untuk sementara Warsi tidak mencampurinya. Ia ingin mendekati salah seorang lawan yang bersenjata perisai dan kapak itu. Rasa-rasanya sikap orang itu sangat menjengkelkan. Setiap kali ia bersembunyi dibelakang perisainya yang tidak begitu besar namum mampu melindungi dirinya dari ujung pedang lawannya.

Namun tiba-tiba saja kapaknya terayun dengan derasnya mengarah ke ubun-ubun.

“Jika orang itu lengah sekejab saja, maka kepalanya akan terbelah,” desis Warsi.

Karena itu, tiba-tiba saja ia telah meloncat mendekat sambil berkata kepada pengawalnya, “Minggirlah. Atau bantu kawanmu yang lain. Aku menjadi jengkel melihat sepasang senjata yang terdiri dari perisai dan kapak ini.”

Gegedug yang mempergunakan senjata perisai dan kapak itu menggeram. Namun sebenarnyalah lawannya berusaha untuk meloncat menjauh sementara Warsi telah memasuki gelanggang melawan orang yang bersenjata perisai dan kapak itu.

Senjata itu memang sangat menjengkelkan. Dengan perisainya orang itu berhasil menangkis serangan pedang lawannya. Sementara kapaknya menyambar dengan dahsyatnya.

Tetapi agaknya berbeda dengan watak senjata yang dipergunakan oleh Warsi.

Perisainya tidak dapat dipergunakan sebagaimana ia melawan pedang.

Ketika rantai Warsi menyerang dengan derasnya, secara naluriah orang itu telah menangkis dengan perisainya. Tetapi justru karena itu, maka ujung rantainya telah menggapai tangannya yang menggenggam perisai itu.

Orang itu meloncat surut. Ia masih tetap mempertahankan perisainya. Namun kemudian terasa tangannya itu sangat pedih. Ujung rantai perempuan iblis itu telah melukai tangannya, sehingga rasa-rasanya tangannya itu tidak lagi mampu dipergunakannya lagi. Darah yang segar mengalir dari luka itu yang nampaknya telah menganga sampai ketulang.

“Gila,” geram orang itu. Sambil menghentakkan kapaknya, orang itu terpaksa melepaskan perisainya yang sudah tidak mungkin digenggamnya lagi dengan tangannya yang terluka.

“Kau memang harus mati,” geram laki-laki bersenjata kapak itu.

Warsi tidak menjawab. Tetapi ia pun kemudian terlibat dalam pertempuran yang semakin cepat.

Adalah diluar kehendaknya, bahwa Warsi semakin lama menjadi semakin mendekati arena pertempuran ayahnya. Dengan demikian Warsi menjadi semakin jelas, bahwa masih ada juga sepercik keraguan dihati ayahnya untuk mengakhiri pertempuran itu.

Namun Warsi tidak akan memaksa ayahnya untuk lebih cepat membunuh laki-laki yang masih kadangnya sendiri itu. Warsi akan membunuh semua orang yang berpihak kepada laki-laki yang telah kehilangan anaknya itu. Kemudian terserah kepada ayahnya, apa yang akan dilakukannya.

Dalam pada itu, pengawal Warsi yang kehilangan lawannya yang bersenjata kapak itu, telah mendekati arena pertempuran yang lain. Dengan ragu-ragu ia pun kemudian berkata kepada seorang kawannya, “Apakah aku boleh ikut? Lawanku telah diambil oleh Warsi.”

“Marilah, selagi fajar belum menyingsing,” jawab kawannya.

“Tetapi sebentar lagi langit akan menjadi merah,” gumam orang yang kehilangan

lawannya itu.

“Persetan,” geram gegedug yang kemudian harus menghadapi dua orang lawan, “Jangankan hanya dua, tujuh orang sekaligus aku tidak akan bergeser surut. Aku akan membantai kalian dengan tanpa ragu-ragu.” TETAPI ternyata bahwa ia tidak dapat melakukannya. Ketika lawannya menjadi dua, maka ia pun segera mengalami kesulitan, karena para pengikut Warsi itu pun memiliki kemampuan bertempur sebagaimana dimiliki oleh gegedug itu. Kasar, keras dan kadang-kadang tidak menghiraukan tatanan apapun juga.

Sementara itu, Warsi yang melihat bahwa langit sudah menjadi semburat, mereka telah bertempur semakin cepat. Lawannya sama sekali tidak mendapat kesempatan lagi untuk menyerang. Bahkan sejenak kemudian ujung rantai Warsi telah menyentuh paha lawannya itu.

Sekali lagi lawannya mengumpat. Namun serangan Warsi justru menjadi semakin lama semakin cepat. Sehingga sekali lagi ujung rantai Warsi menyentuh lambung lawannya.

Kemarahan gegedug itu bagaikan memecahkan dadanya. Ia adalah gegedug yang merasa dirinya memiliki kemampuan tidak berlawan. Namun menghadapi para pengikut Kalamerta ini, mereka harus mengakui, bahwa untuk mengalahkannya mereka harus membawa kawan lebih banyak lagi.

Dalam keputusan-keputusan karena luka-lukanya, serta tanpa melihat kemungkinan untuk menyerang, maka lawan Warsi yang terluka dibeberapa tempat itu telah mengambil satu keputusan yang menentukan. Ketika Warsi berusaha untuk sekali lagi menyerangnya dengan ujung rantainya yang berputaran maka lawannya yang bersenjata kapak itu dengan serta merta telah mengambil ancang-ancang. Demikian cepatnya sehingga sulit untuk diikuti dengan mata wadag. Tiba-tiba saja kapaknya telah meluncur seperti tatit menyambar diudara mengarah ke dada Warsi.

Warsi terkejut melihat serangan itu. Namun ternyata Warsi masih sempat mengelak.

Dengan loncatan kesamping maka kapak itu terbang sejengkal dari dadanya. Namun ternyata kapak itu mengarah ke arah pertempuran antara ayah Warsi dan ayah laki-laki yang menginginkannya. Karena itu, maka hampir diluar sadarnya, Warsi

berteriak, “Ayah, hati-hati.”

Ayah Warsi mendengar teriakan anaknya. Namun sebenarnya bahwa tidak seorang pun yang dapat menentukan takdir merenggut jiwa seseorang. Kapak itu sama sekali tidak menyambar ayah Warsi, tetapi justru telah terhujam kedalam tubuh ayah laki-laki yang menginginkan Warsi dan yang telah kehilangan anak laki-lakinya

itu. Tepat pada punggungnya, justru pada saat orang itu sedang mengerahkan kemampuannya melawan ayah Warsi.

Terdengar orang itu mengumpat keras-keras, Licik, pengecut,” Namun sejenak kemudian ia pun telah terhuyung-huyung. Kapak itu benar-benar telah merampas segala kemungkinan untuk dapat keluar dari pertempuran itu. Bahkan akhirnya laki-laki itu telah jatuh pada lututnya.

“Kau licik,” ia masih menggeram.

Ayah Warsi berdiri termangu-mangu. Dengan suara datar ia menjawab, “Bukan kawan-kawanku. Justru kawanmu sendiri.”

Mata laki-laki itu terbelalak. Tetapi hanya untuk sesaat. Karena sesaat kemudian ia pun telah terjatuh menelungkup. Bahkan akhirnya nafasnya pun telah terputus pula.

Kematian demi kematian pun kemudian datang beruntun. Raksasa yang berambut putih itu pun tidak mampu lagi mempertahankan diri lebih lama menghadapi dua orang lawannya. Karena itu, maka akhirnya senjata-senjata lawannya telah mulai menghujam di tubuhnya.

Demikianlah, maka pemimpin gegedug yang bertempur melawan bekas penggendang Warsi itu pun melihat, bahwa laki-laki yang mengupahnya, ayah beranak, telah mati terbunuh. Tidak ada lagi harapan untuk menerima upah yang tinggi. Apalagi kawannya telah ada pula yang terbunuh. Karena itu, maka tidak ada pilihan lain baginya daripada menghindar, karena agaknya tidak ada gunanya lagi ia bertempur berlama-lama. Bahkan kemungkinan yang paling buruk pun akan dapat terjadi atas dirinya.

Karena itu, adalah diluar dugaan bekas pemukul gendang itu, bahwa pada satu kenyataan, dengan tiba-tiba saja lawannya telah bergeser surut dengan satu loncatan panjang berlari meninggalkannya.

“He, pengecut, tunggu,” teriak pemukul gendang itu.

Tetapi orang itu tidak menghiraukannya lagi. Bahkan sisa kawannya yang masih ada pun dengan tergesa-gesa telah melakukan hal yang serupa. Dengan tiba-tiba, tanpa ancang-ancang telah berloncatan meninggalkan arena.

Para pengikut ayah Warsi tidak mengejar mereka. Namun dalam pada itu, terasa luka di hati Warsi pun menjadi semakin pedih. Ia melihat kawan-kawannya yang terbunuh dan terluka parah. Meskipun ada juga beberapa orang lawan yang terbunuh, namun kematian pengikutnya yang setia itu membuat Warsi menjadi sangat geram.

“Seandainya langit belum berwarna merah, aku akan memburu mereka sampai orang yang terakhir,” suara Warsi gemeretak oleh kemarahannya.

Tetapi ayahnya berusaha untuk menenangkannya, “Kita sudah tidak mempunyai waktu lagi. Kita harus segera kembali.”

Warsi mengangguk-angguk. Namun kemudian katanya, “Lalu apa yang akan kita katakan kepada para peronda tentang mayat-mayat ini?”

“Biarlah orang-orang lain memasuki padukuhan dengan diam-diam,” berkata ayah Warsi. “Kita akan memasuki regol. Kau akan duduk bersamaku di atas seekor kuda.

Aku akan mengatakan, bahwa kita telah dirampok di simpang empat ini. Sebagian kawan-kawan kita terbunuh dan yang lain melarikan diri. Sementara itu, beberapa orang perampok telah terbunuh oleh kawan-kawan kita.”

Warsi berpikir sejenak. Namun kemudian katanya, “Terserah sajalah kepada ayah.”

“Marilah, mumpung fajar belum menjadi terang,” berkata ayah Warsi yang kemudian memerintahkan kepada orang-orangnya untuk kembali dengan diam-diam.

Kawan-kawannya yang terluka harus dibawa. Tetapi yang sudah meninggal biarlah orang-orang padukuhan itu nanti akan mengurusnya bersama dengan orang-orang yang datang untuk mengambil Warsi, tetapi gagal. Dalam pada itu, Warsi pun telah mencari kain panjangnya dan kemudian mengenakannya kembali. Bersama dengan ayahnya ia berkuda menuju ke regol padukuhan.

Kedatangan mereka memang mengejutkan. Pada wajah Warsi nampak kesan yang memelas. Ketakutan dan kebingungan. Sementara ayahnya masih nampak gemetar.

“Apa yang telah terjadi?” bertanya para peronda.

Ayah Warsi tidak turun dari kudanya. Dengan suara yang bergetar ia menjawab, “Kami telah dirampok.”

“Dirampok?” bertanya para peronda sambil berloncatan mendekat, “Dimana?”

“Di simpang empat,” jawab Warsi.

“Di simpang empat?” hampir bersamaan beberapa peronda telah bertanya.

“Ya. Di simpang empat,” jawab ayah Warsi.

Para peronda itu saling berpandangan. Seorang di antara mereka berdesis, “Satu hal yang tidak pernah terjadi sebelumnya.”

“Tetapi sekarang terjadi atasku,” sahut ayah Warsi.

“Lalu apa yang terjadi kemudian?” bertanya salah seorang di antara para peronda.

“Kami tidak menyerah begitu saja. Kami melawan. Terjadi pertempuran. Beberapa orang kawanku yang bersamaku lewat regol ini telah terbunuh. Yang lain melarikan diri mencari hidup sendiri-sendiri. Aku tidak tahu apa yang terjadi atas mereka.

Namun beberapa orang perampok pun telah terbunuh, sehingga aku kira, mereka telah saling melarikan diri bercerai berai. Dan aku telah membawa Warsi menyelamatkan diri pula. Semula kami berdua sempat bersembunyi. Tetapi aku terpaksa melindungi anakku dan bertempur dengan seorang di antara para perampok itu, sehingga saatnya aku sempat meninggalkan pertempuran, sambil membawa

Warsi,” jawab ayah Warsi.

Para peronda itu pun saling berpandangan. Kemudian seorang di antara mereka berkata, “Marilah kita melihat.”

“Hati-hatilah,” berkata ayah Warsi. “Bawalah kawan secukupnya.”

Para peronda itu pun kemudian mempersiapkan diri. Bersama beberapa orang kawan dan bersenjata lengkap, mereka telah pergi ke simpang empat di bulak panjang.

Sementara itu Warsi dan ayah pun telah melanjutkan perjalanan mereka pulang ke rumah.

Namun dalam pada itu, Warsi pun kemudian bertanya, “Bagaimana jika anak-anak muda itu menemukan mayat kawan-kawan kita ayah?”

Ayah Warsi menjawab dengan pasti. “Mereka tidak mengenalnya. Siapapun yang menjadi mayat, anak-anak muda itu akan menganggap bahwa di antara mereka terdapat para perampok dan kawan-kawan kita.”

Warsi menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia percaya akan kata-kata ayahnya.

Dalam pada itu, padukuhan itu pun menjadi gempar. Sesuatu yang belum pernah terjadi, telah terjadi. Perampokan di lingkungan padukuhan mereka, meskipun hal itu terjadi di bulak panjang.

Anak-anak muda itu telah menemukan beberapa sosok mayat dalam keadaan yang mengerikan. Bahkan beberapa jenis senjata yang berserakan membuat jantung mereka berdegup semakin cepat.

Ketika salah seorang dari anak-anak muda itu datang menemui ayah Warsi, agar ia menentukan yang manakah kawan-kawannya dan manakah perampok-perampok yang terbunuh, ayah Warsi menjawab, “Aku tidak berani melihat sosok-sosok mayat itu lagi.”

“Tetapi bukankah hal itu penting untuk menentukan di manakah mereka akan dikubur?” bertanya anak-anak muda itu.

“Kuburkanlah di satu tempat,” jawab ayah Warsi. “Aku adalah orang yang memang pernah belajar kanuragan. Aku pun ikut bertempur malam itu. Tetapi peristiwa itu terlalu mengerikan bagiku.”

“Bagaimanapun juga, kami ingin membedakan antara keluarga Warsi dan para perampok,” berkata anak muda itu.

Namun ayah Warsi masih saja menggeleng. Sejenak ia memandang ke sekitarnya sambil berdesis, “Bukankah Warsi tidak ada di sini?”

“Kenapa dengan Warsi?” anak muda itu bertanya.

Ayah Warsi itu pun kemudian berbisik, “Anak muda. Sebenarnyalah aku menjadi curiga, bahwa ada di antara sanak kadangku yang menjemputku itu justru terlibat.

Mereka adalah kawan-kawan dari para perampok itu, sehingga aku tidak mau mempedulikannya lagi. Aku kira merekalah yang terbunuh dan sanak kadangku yang tidak tahu menahu telah menyingkir dari medan. Namun seandainya tidak, maka entahlah, apa sebenarnya yang terjadi. Biarlah mereka dikuburkan saja disatu tempat. Jika ada, maka aku akan menjawab sekenanya saja. Yang mana pun dari kuburan yang ada itu. Bukankah mereka tidak akan menggali untuk membuktikannya.”

Anak muda itu mengangguk-angguk. Keterangan itu memang masuk akal. Agaknya ada di antara sanak kadang yang justru menjadi alat dari pada perampok.

Hal itu dihubungkan dengan beberapa keganjilan yang terjadi. Mereka menjemput Warsi dan ayahnya jauh malam, pada saat-saat yang tidak sewajarnya. “Memang mungkin ada kesengajaan untuk merampoknya, justru karena Warsi terlalu kaya,” berkata anak muda itu di dalam hatinya. Karena sikap ayah Warsi, maka anak muda itu tidak memaksa lagi. Menurut ayah Warsi, semuanya telah dinilai sama. Perampok itu dan beberapa orang kadangnya yang menjemputnya.

“Dibulak itu sebelumnya juga tidak pernah ada perampokan seperti itu,” berkata anak muda itu di dalam hatinya.

Tetapi ia tidak mau berteka-teki lagi. Ia tidak lagi mencari jawab, bahwa tentu ada di antara keluarga Warsi yang melindunginya sehingga telah terjadi pertempuran.

“Bagaimana jika yang terbunuh itu justru mereka yang bersikap baik?” bertanya anak muda itu di dalam hatinya.

“Entahlah,” anak muda itu menggeleng, “Terserah saja kepada ayah Warsi.”

Dengan demikian, maka mayat-mayat yang terdapat di simpang empat itu pun segera dikuburkan tanpa dipilih di antara mereka. Mayat-mayat itu dikubur di kuburan yang sama tanpa ciri-ciri khusus.

Dalam pada itu, malam itu merupakan malam yang sangat berkesan di hati Warsi. Di hari-hari berikutnya ia menjadi lebih banyak merenung. Ia telah kehilangan beberapa orang kawannya yang setia. Namun peristiwa itu justru mengukuhkan niatnya untuk merebut Wiradana.

“Bukankah orang yang disebut orang baik-baik itu pun telah berusaha memaksakan kehendaknya dengan kekerasan?” pertanyaan itu berulang kali melonjak di dalam dadanya.

Karena peristiwa itu, maka tekad Warsi pun menjadi semakin mantap. Ia akan mengambil Wiradana dengan caranya. Jika Wiradana tidak mau menceraikan istrinya, maka ia akan mengambil cara sebagaimana dilakukan oleh orang baik-baik.

Membunuh.

Sikap Warsi itu tidak terlepas dari pengamatan ayahnya. Karena itu, maka pada satu malam ayahnya telah memanggilnya untuk berbicara tentang persoalan di dalam hati anak gadisnya itu.

“Jadi kau sudah memutuskan untuk segera berhubungan dengan laki-laki itu?” bertanya ayahnya.

“Rasa-rasanya aku tidak akan dapat melupakan lagi ayah. Aku sebenarnya masih berusaha untuk mempergunakan nalarku. Tetapi justru nalarku memperkuat sikapku.

Aku akan mengambilnya dengan cara apapun juga, sebagaimana laki-laki yang ingin memperistri aku itu telah berusaha mengambil aku dengan cara apapun juga,” jawab Warsi.

Ayahnya menarik nafas dalam-dalam. Warsi adalah kemanakan Kalamerta. Karena itu, maka sifat-sifat Kalamerta itu nampak juga pada Warsi, bukan hanya sekadar ilmunya saja.

Karena itu, maka ayahnya pun berkata, “Terserahlah kepadamu. Kau sudah cukup dewasa. Dewasa umurmu dan dewasa sikapmu. Juga ilmu yang kau warisi dari Kalamerta nampaknya benar-benar sudah lengkap, meskipun untuk mencapai tataran Kalamerta, kau masih harus mengembangkannya. Tetapi bahannya sudah cukup ada padamu.”

Warsi tidak segera menjawab. Namun ayahnya melihat satu gejolak di dalam hati Warsi. Meskipun demikian ayahnya tidak memberikan tanggapan apapun tentang keadaan itu. Bahkan ayahnya pun kemudian berkata, “Renungkan baik-baik. Kau masih mempunyai waktu, sehingga apa yang sudah kau lakukan, tidak akan kau sesali di kemudian hari.”

Warsi masih belum menyahut. Ia hanya memandang saja langkah ayahnya yang meninggalkannya.

NAMUN demikian ayahnya hilang di balik pintu, maka ia pun menggeram. “Aku sudah memutuskan untuk mengambil laki-laki itu dengan cara apapun juga.”

Keputusan itu telah membawa Warsi ke dalam satu angan-angan untuk menyusun kembali kelompok tarinya. Kelompok yang akan ngamen disepanjang jalan di Tanah Perdikan Sembojan, sehingga pada suatu saat ia akan dapat bertemu dengan Wiradana.

“Aku yakin bahwa aku akan dapat merebutnya,” berkata Warsi, “Tetapi aku tidak mau dimadu.”

Baru di hari kemudian, Warsi menyampaikan niatnya itu kepada ayahnya. Bahwa ia akan menyusun kembali kelompoknya. Dalam waktu dekat ia akan segera kembali ke Tanah Perdikan Sembojan.

“Aku tidak mau terlalu banyak kehilangan waktu,” berkata Warsi. “Beberapa bulan telah terlalui. Jika Wiradana benar-benar merasa terikat kepada istrinya, maka pekerjaanku akan menjadi semakin berat.”

“Hati-hatilah,” pesan ayahnya.

Warsi pun mengangguk kecil. Katanya seakan-akan kepada diri sendiri, “Aku akan ber-hasil.”

Demikianlah, maka Warsi telah menyusun kelompoknya kembali. Namun ia selalu menghindari orang-orang disekitarnya. Tidak seorang pun dari tetangga-tetangganya mengetahui apa yang dilakukan oleh Warsi itu. Bahkan tetangga-tetangganya, termasuk anak-anak muda padukuhan itu tidak mengetahui bahwa sebenarnyalah Warsi mempunyai beberapa orang pengikut, yang setiap saat dapat dipanggil untuk datang ke rumahnya. Bahkan beberapa orang memang berada di rumah itu.

Ketika kelompok Warsi itu sudah siap, dengan pengendangnya yang dahulu juga, maka Warsi pun menyampaikan niatnya kepada ayahnya, bahwa ia akan berangkat ke Tanah Perdikan Sembojan.

“Pada satu saat, ayah akan mendengar kabar, bahwa aku sudah kawin dengan Wiradana,” berkata Warsi. “Sebentar kemudian, Wiradana akan diangkat menjadi Kepala Tanah Perdikan karena Ki Gede Sembojan yang tua, akan meninggal. Dengan demikian maka pembalasan atas kematian Kalamerta sudah terjadi.”

Ayah Warsi itu mengangguk-angguk. Katanya, “Aku percaya kepadamu Warsi. Meskipun demikian, aku berpesan, bahwa kau harus menguasai laki-laki yang bernama Wiradana itu. Bukan kau yang akan dikuasainya dan tunduk kepada segala perintahnya. Kaupun harus tetap pada sikapmu untuk membalas dendam kematian pamanmu, Kalamerta. Orang yang memiiki nama besar dan pengaruh yang luas.”

“Ayah jangan mencemaskan aku,” jawab Warsi. “Aku mengerti, apakah yang sebaiknya aku lakukan.”

Demikianlah, setelah semuanya bersiap, maka Warsi pun telah meninggalkan rumahnya dengan cara yang sama seperti yang pernah dilakukannya.

Tetapi seperti yang terdahulu, maka Warsi pun menghindarkan diri dari kemungkinan penglihatan tetangga-tetangganya. Karena itu, kecuali ia sama sekali tidak menunjukkan sikap sebagai seorang penari yang berangkat ngamen, maka tidak sepotong gamelan pun yang pernah dilihat oleh tetangga-tetangganya.

Warsi meninggalkan kampung halamannya di larut malam. Dengan hati-hati ia mencari jalan yang sepi, yang jauh dari satu kemungkinan bertemu dengan seseorang.

Namun rombongan Warsi saat itu menjadi agak lebih besar dari rombongannya yang pertama. Ia telah mengganti orangnya yang terbunuh dengan orang lain. Namun Warsi memang sudah menyiapkan bahwa apabila diperlukan, maka rombongannya itu sudah merupakan satu kekuatan yang dapat diandalkan.

Di siang hari di hari pertama, rombongan itu seakan-akan masih bersembunyi di padang perdu. Jarak yang mereka tempuh masih belum begitu Baru di hari berikutnya lagi, Warsi mulai mengenakan pakaian penarinya. Ketika matahari mulai tenggelam, Warsi dan kelompoknya telah kebar di sudut sebuah padukuhan. Padukuhan yang dahulu belum pernah dilaluinya.

Seperti beberapa bulan yang lewat, rombongan penari itu memang menarik perhatian. Dengan penari yang muda dan cantik, maka laki-laki pun segera berkerumun. Bahkan dengan serta merta, beberapa orang pun telah menye-diakan uang untuk menyelenggarakan janggrung.

Seperti yang terdahulu, maka sebelum mereka memasuki Tanah Perdikan Sembojan, maka pengendangnya telah diakunya sebagai suaminya. Karena itu dalam banyak hal, maka Warsi selalu dekat dengan pengendangnya itu.

Kepada laki-laki yang terlalu kasar, maka Warsi telah memperingatkan sambil tersenyum, bahwa ia bersama suaminya yang mengiringi tariannya dengan gendangnya itu.

Seorang laki-laki muda bergumam, “Suamimu sudah setua itu?”

“Kenapa?” bertanya Warsi.

“Kau dapat mencari suami yang lebih muda,” jawab laki-laki itu.

“Yang dapat memukul gendang dan mengiringi aku menari,” bertanya Warsi pula.

Laki-laki muda itu mengerutkan keningnya. Namun kemudian ia pun bertanya, “Kenapa suamimu harus dapat memukul gendang?”

“Karena aku adalah seorang penari,” jawab Warsi.

“Kau dapat berhenti menari. Kau dapat menjadi istriku. Aku mempunyai sawah yang luas dan rumah yang besar,” berkata laki-laki itu.

“Apakah kau tidak mempunyai seorang istri?” bertanya Warsi pula.

“Istri?” ulang orang itu. “Ya, aku memang mempunyainya. Tetapi aku dapat mengusirnya.”

Warsi tersenyum sambil mencubit orang itu. “Jangan kau perlakukan istrimu seperti itu. Jika kelak aku menjadi istrimu, dan datang orang yang lebih cantik lagi, maka aku pun akan kau usir.”

“Tidak. Aku tidak akan melakukannya atasmu,” berkata laki-laki muda itu.

Warsi tertawa kecil. Namun katanya, “Besok malam aku masih berada di padukuhan ini. Jika diperkenankan oleh bebahu padukuhan ini, aku akan bermalam disini.”

Ternyata malam ini Warsi dan rombongannya mohon diijinkan untuk bermalam di padukuhan itu. Besok malam mereka masih akan berkeliling dan kebar di beberapa tempat di padukuhan itu, sebelum dihari kemudian mereka akan meninggalkan tempat itu.

Di malam hari, ketika para penabuh gamelan sudah berbaring di serambi banjar, Warsi telah menemui pengendangnya. Dengan nada yang ragu ia berkata, “Seorang laki-laki akan mengambil aku menjadi istrinya.”

“Jangan hiraukan,” jawab pengendangnya.

“Aku memang tidak ingin menjadi istrinya yang sesungguhnya,” jawab Warsi.

“Tetapi laki-laki ini dapat aku pergunakan sebagai latihan menghadapi Wiradana.

Laki-laki ini juga sudah beristri.”

“Ah,” pengendangnya menarik nafas dalam-dalam. Lalu, “Kau juga akan minta laki-laki itu membunuh istrinya?”

“Jika ia bersedia menceraikannya seperti yang dikatakan, aku tidak keberatan.

Dalam dua tiga pekan, kita akan meninggalkannya,” jawab Warsi.

“Warsi,” berkata pengendangnya yang diakuinya sebagai suaminya. “Kenapa kau bersikap seperti itu. Sebaiknya kau berpikir jernih. Bukankah istri laki-laki itu akan menderita tanpa sebab. Memang agak berbeda dengan suami Wiradana. Jika ia terpaksa tersingkir, maka kau memang benar-benar menghendaki laki-laki itu berlandaskan dendam yang harus kau lepaskan kepada keluarga Ki Gede Sembojan, meskipun cara ini adalah cara yang aneh. Tetapi jika kau berhasil membunuh Ki Gede Sembojan, maka tugasmu sudah kau tunaikan, sementara kau akan menjadi seorang istri kepala Tanah Perdikan.”

“AKU tidak akan bersungguh-sungguh,” berkata Warsi. “Aku hanya ingin mencoba saja.”

“Aku tidak akan sependapat Warsi,” berkata pengendangnya. “Meskipun kita adalah orang-orang yang tidak terikat lagi oleh paugeran hidup dan tidak mengakui nilai-nilai kemanusiaan yang berlaku bagi kebanyakan orang, tetapi sebaiknya kita juga menimbang segala tingkah laku dengan sungguh-sungguh, agar kita tidak terlalu banyak menimbulkan petaka kepada orang lain. Lebih-lebih orang lain yang tidak bersalah sama sekali. Karena itu, jangan lakukan rencanamu. Mungkin kau sekadar mencoba atau mengalami perasaan sebagaimana akan kau alami jika kau merebut Wiradana dari istrinya. Tetapi bagi orang lain hal itu akan dapat merupakan bencana seumur hidupnya, bahkan mungkin akan mengancam jiwanya.

Sejenak Warsi termangu-mangu. Namun akhirnya ia berdesis, “Baiklah. Aku tidak akan melakukannya.”

Pengendangnya itu menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Syukurlah. Aku senang mendengar keputusan itu.”

Demikianlah rombongan penari itu telah bermalam di banjar padukuhan. Malam berikutnya mereka masih mengadakan pertunjukan di beberapa tempat dan bermalam pula di banjar. Baru pagi harinya rombongan itu minta diri.

Laki-laki muda yang tergila-gila kepada Warsi itu telah menemuinya dan berkata, “Bagaimana dengan kau? Katakan, apa yang kp style=”text-align:justify;”au minta asal kau bersedia menjadi istriku. Aku bukan orang miskin dan bukan pula orang kebanyakan. Aku termasuk orang terhormat di padukuhan ini.”

Warsi tersenyum. Katanya, “Jika kau orang terhormat, maka biarkan saja aku meneruskan perjalananku dan perjalanan hidupku dengan cara ini. Kembalilah kepada istrimu yang selalu menunggumu dengan setia.”

“Istriku tidak secantik kau. Aku kawin karena kehendak orang tuaku. Sekarang aku dapat menentukan hidupku sendiri,” berkata laki-laki muda itu.

“Aku akan mengambilmu. Jika perlu akan membunuhnya,” berkata laki-laki muda itu.

Warsi mengerutkan keningnya. Namun kemudian katanya sambil tersenyum pula. “Kau tidak akan dapat membunuhnya. Jika kau mulai dengan persoalan, maka kaulah yang akan dibunuhnya. Ia adalah seorang laki-laki yang memiliki ilmu yang tinggi. Ia dapat membunuh beberapa orang sekaligus dengan gendangnya itu.”

Laki-laki itu termangu-mangu. Namun ternyata kata-kata itu berpengaruh juga atas laki-laki muda itu, sehingga ia pun telah mengurungkan niatnya.

Namun dalam pada itu, Warsi telah mendengar, seorang lagi di antara orang yang dikenalnya akan membunuh untuk mendapatkan seseorang yang diinginkannya.

Dengan demikian, maka sikap Warsi pun menjadi semakin mantap. Namun ia tidak langsung menuju ke Tanah Perdikan Sembojan. Ia dan rombongannya mendekati Tanah Perdikan itu dengan wajar, sebagaimana serombongan pengamen yang mencari nafkah.

Bahkan seperti beberapa waktu yang lampau, Warsi dan rombongannya benar-benar telah mendapatkan uang yang cukup banyak.

TETAPI perjalanan rombongan itu bukannya tidak pernah mengalami kekerasan.

Kadang-kadang ada juga laki-laki kasar yang membuat Warsi menjadi muak, sehingga ia telah minta perlindungan pengendang yang diakunya sebagai suaminya itu.

Bahkan sekali rombongan itu telah diusir dari sebuah padukuhan karena tingkah laku seorang laki-laki yang berpengaruh di padukuhan itu. Karena Warsi menolak dibawanya pulang, maka laki-laki itu telah mengambil langkah yang kasar. Tetapi ternyata bahwa pengendang yang diakuinya sebagai suaminya itu telah bertindak.

Namun demikian, karena laki-laki itu mempunyai pengaruh yang besar di padukuhannya, maka bebahu padukuhan itu telah mengambil keputusan, untuk saat itu juga mengusir rombongan itu dari padukuhan mereka.

“Satu pengalaman baru,” berkata pengendangnya kepada Warsi.

“Aku ingin membunuh laki-laki itu,” geram Warsi.

“Jangan Warsi,” jawab pengendangnya. “Pengalaman ini termasuk pengalaman yang berharga. Kita harus dapat mencari keseimbangan antara peristiwa-peristiwa yang kita alami selama perjalanan. Mungkin akan berharga bagimu kelak jika kau menjadi istri seorang Kepala Tanah Perdikan, karena bukankah kau benar-benar

ingin hidup sebagai istri seorang Kepala Tanah Perdikan, bukan hanya untuk satu dua hari saja?”

Warsi mengangguk kecil.

“Baiklah. Kau dapat merenunginya sepanjang perjalanan,” berkata pengendangnya itu.

Demikianlah rombongan pengamen itu telah berjalan dari satu padukuhan ke padukuhan yang lain. Pada umumnya mereka lewat melalui daerah baru yang sebelumnya belum pernah dilaluinya. Tetapi satu dua padukuhan ternyata adalah padukuhan yang pernah dilewatinya dahulu. Tetapi karena rombongan itu tidak membuat persoalan yang sungguh-sungguh di daerah itu, maka rombongan itu masih tetap diterima dengan baik oleh penduduknya. Bahkan jika Warsi dan rombongannya kebar di sudut padukuhan, maka sudut padukuhan itu menjadi penuh oleh penonton yang ingin mendapatkan hiburan yang jarang sekali mereka dapatkan.

Dengan demikian, maka semakin lama rombongan itu memang menjadi semakin dekat dengan Tanah Perdikan Sembojan. Namun rasa-rasanya Warsi menjadi berdebar-debar Ada sesuatu yang bergejolak di dalam hatinya. Rasa-rasanya ia memasuki satu daerah yang lain dari daerah-daerah yang dilewatinya.

“Aku merasa aneh,” desis Warsi.

“Tentu,” jawab pengendangnya. “Daerah ini merupakan daerah yang khusus bagimu. Ada jalur yang menghubungkan daerah ini dengan alas perasaanmu. Karena kau sudah menempatkan dirimu pada satu keadaan yang baru akan kau alami kemudian.”

“Tidak,” tiba-tiba saja Warsi membentak.

Tetapi pengendangnya itu berdesis, “Ingat. Disini aku adalah ayahmu Warsi.”

Warsi menarik nafas dalam-dalam. Ia mencoba merenungi kata-kata pengendangnya itu. Namun ternyata kemudian ia memang menemukannya.

Katanya, “Kau benar. Aku memang sudah menempatkan diriku dalam satu khayalan tentang masa depan. Aku memang menginginkan laki-laki itu untuk menjadikannya seorang suami. Apapun yang harus aku lakukan,” Warsi berhenti sejenak, lalu, “Tetapi aku agak menyesal, kelak aku datang sebagai seorang pengamen. Seandainya kelak aku benar-benar menjadi istri Wiradana, apakah kata orang di Tanah Perdikan ini. Aku tidak lebih dari bekas seorang tledek yang ngamen disepanjang jalan. Menari dan melayani keinginan laki-laki yang ingin menari janggrung.

Bahkan tentu ada dugaan yang lebih buruk dari itu.”

“Kau kelak harus membuktikan bahwa kau pantas menjadi seorang istri Kepala Perdikan,” jawab pengendangnya.

“Sebenarnya aku agak menyesal,” desis Warsi. “Tetapi aku akan mencobanya untuk berbuat sebaik-baiknya.”

Suramnya Bayang-bayang 5

“Masih banyak terdapat kemungkinan-kemungkinan,” berkata pengendangnya.

Demikianlah, rombongan itu kembali telah memasuki Tanah Perdikan Sembojan. Demikian rombongan itu mulai kebar di sebuah padukuhan, maka orang-orang di padukuhan itu segera mengenalnya kembali, bahwa rombongan itu pernah datang beberapa bulan yang lalu di Tanah Perdikan itu.

Karena rombongan itu dimasa yang lewat tidak menimbulkan banyak persoalan, selain perasaan cemburu pada beberapa orang istri, maka kedatangannya pun tidak mendapat banyak tantangan. Bahkan rasa-rasanya beberapa orang telah menyambut kedatangan rombongan itu dengan senang hati karena mereka akan dapat menonton sejenis hiburan yang jarang mereka lihat.

Dalam pada itu, Warsi menjadi lebih berhati-hati lagi dari masa yang lewat. Ia tidak sekadar ingin mendapat jalan, mengenal anak Kepala Tanah Perdikan Sembojan yang akan dibunuhnya, tetapi ia justru ingin mengambilnya dan menguasainya sebagai suaminya.

Karena itu, Warsi bersikap lebih sopan dari masa yang terdahulu. Ia menolak permainan janggrung bersama laki-laki kasar dengan tari yang kasar pula.

Tetapi Warsi tidak menolak untuk menyelenggarakan tayub di rumah tertentu dengan suasana yang lebih halus dan tertib. Meskipun dalam acara janggrung yang kasar, Warsi akan mendapat uang yang lebih banyak, karena kadang-kadang laki-laki yang ingin menari bersamanya justru memberi saling melebihi yang lain jika mereka ingin mendapat kesempatan lebih dahulu. Tetapi di acara tayub Warsi hanya mendapatkan uang dari seseorang yang memanggilnya untuk menari di rumahnya, sementara para tamu orang itu menari bergantian dengan teratur dan tidak saling berebut dahulu. Namun demikian, kadang-kadang ada juga satu dua orang tamu yang memberikan uang kepada penari yang cantik itu tetapi justru setelah ia selesai menari.

Berita kedatangan rombongan penari itu cepat menjalar dari padukuhan ke padukuhan. Bahkan jika Warsi mendapat panggilan untuk menari dan tayub di rumah seseorang, orang-orang dari padukuhan lain telah datang pula untuk melihat pertunjukan itu.

Dengan demikian, maka seperti yang diharapkan oleh Warsi, maka berita kedatangannya telah didengar pula oleh Wiradana, anak Kepala Tanah Perdikan Sembojan.

Berita itu telah menimbulkan keinginan Wiradana untuk melihat, bahkan bertemu dengan penari yang cantik dan muda itu. Namun ia masih berusaha untuk mengekang dirinya. Ia tidak mau tergesa-gesa bertemu dengan penari itu, seolah-olah ia sudah merindukan sedemikian lama.

“Biarlah rombongan itu mendekat pada padukuhan di sebelah padukuhan induk,” berkata Wiradana di dalam hatinya.

Namun dalam pada itu, pada saat-saat senggang, baik Warsi maupun para penabuhnya sempat berbicara dengan orang-orang Sembojan. Jika di malam hari rombongan itu mendapat kesempatan tidur di serambi banjar, maka pagi harinya orang-orang yang merawat banjar itu sempat berbincang-bincang dengan rombongan itu.

Beberapa persoalan telah mereka bicarakan. Orang-orang Sembojan sering bertanya tentang perjalanan yang pernah mereka tempuh sebagai serombongan pengamen. Namun ada yang sempat bertanya tentang keluarga yang mereka tinggalkan di rumah.

“Apakah kalian tidak takut, bahwa suatu ketika kalian akan bertemu dengan sekelompok perampok yang dapat merampas uang yang sedikit demi sedikit kalian kumpulkan, bahkan pakaian tari dan gamelan? Apalagi jika mereka merampok penari muda yang cantik itu?” bertanya seseorang.

“KAMI telah memperhitungkannya,” jawab pengendangnya. “Karena itu, pada umumnya kami berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain di siang hari. Di malam hari kami menari di padukuhan-padukuhan yang biasanya ramai dikerumuni penonton.”

Orang-orang yang bertanya itu mengangguk-angguk. Memang penari yang cantik itu pernah juga menari di siang hari, tetapi pada umumnya Warsi menari di malam hari, apalagi selama di Sembojan.

Namun dalam pada itu, ada satu berita yang telah mengejutkan Warsi. Dalam pembicaraan yang berkepanjangan, hilir mudik tidak menentu, maka Warsi telah mendengar bahwa istri Wiradana, anak Kepala Perdikan yang sudah disiapkan untuk menggantikan kedudukan ayahnya di Sembojan itu, telah mengandung.

Berita itu benar-benar telah menggelisahkan Warsi, sehingga ia seolah-olah memerlukan mendapat keterangan atas kebenaran berita itu.

Ternyata bahwa beberapa orang yang sempat terpancing untuk mengatakan bahwa istri Wiradana telah mengandung.

“Gila geram Warsi di dalam bilik banjar padukuhan yang diijinkan untuknya tinggal satu dua malam, “Kita telah terlambat.”

“Kenapa?” bertanya pengendangnya. “Tidak ada keterlambatan. Meskipun perempuan itu telah mengandung, maka kemungkinan sebagaimana kau harapkan masih dapat terjadi.”

“Aku sendiri akan membunuh perempuan itu,” geram Warsi.

Tetapi pengendangnya menggelengkan kepalanya. Katanya, “Jangan kotori tanganmu.

Biarlah Wiradana melakukan sendiri. Mungkin ia akan dapat menceraikannya.”

“Tetapi anak yang akan lahir itu? Jika ia laki-laki maka ia berhak atas Tanah Perdikan ini kelak,” jawab Warsi.

“Soalnya, apakah anak itu akan hidup terus sampai masa dewasa,” jawab pengendangnya.

Warsi merenungi kata-kata itu. Sambil menarik nafas dalam-dalam ia berkata,

“Memang kemungkinan yang demikian itu dapat saja terjadi. Tetapi kau harus memperhitungkan kemungkinan, bahwa kehamilan istri Wiradana itu adalah pertanda bahwa mereka telah memasuki satu kehidupan yang manis. Dengan demikian, maka Wiradana tidak akan berpaling lagi dari istrinya.”

“Kita akan mencoba,” berkata pengendangnya. “Menilik sikapnya, maka aku yakin bahwa Wiradana akan tertarik kepadamu jika kau berhasil memikatnya dengan modal yang ada padamu. Kau harus bersikap sebagai seorang perempuan. Bukan seekor harimau betina yang garang.”

“Diam,” bentak Warsi. “Aku dapat merontokkan gigi-gigimu seluruhnya.”

“Ingat. Aku adalah ayahmu. Jika kau berani melawan ayahmu, maka dimata Wiradana kau bukan seorang perempuan yang baik,” jawab pengendangnya.

“Anak setan,” geram Warsi.

“Kau memang harus bersikap sebagai seorang perempuan. Aku berkata sebenarnya untuk kebaikanmu. Dan kau pun harus bersikap lain terhadapku sekarang ini. Bukan maksudku memanfaatkan keadaan ini untuk keuntunganku. Percayalah, bahwa kau sudah aku anggap benar-benar seperti anakku sendiri. Aku ingin kau berhasil dengan baik sebagaimana kau kehendaki. Kali ini aku sama sekali tidak berusaha menjilat agar aku mendapat pujian, atau keningku tidak kau tampar. Tetapi hubungan kita menjadi lain.”

Warsi mengerutkan keningnya. Namun ia pun kemudian menarik nafas dalam-dalam. Ia memang merasakan sikap yang berbeda dari pengendangnya itu. Ia benar-benar bersikap kebapakan yang ingin melihat anak gadisnya berbahagia.

Ternyata Warsi berusaha untuk menyesuaikan diri. Ia berusaha untuk berubah sikapnya, agar ia tidak nampak sebagai seorang perempuan yang kadang-kadang menjadi kasar. Bahkan pengendangnya itu menasihatinya.

“Kau datang sebagai seorang penari, Warsi. Penari yang ngamen dari pintu ke pintu yang lain. Jika pada saat-saat tertentu kau menjadi kasar, maka lengkaplah alasan orang-orang Sembojan untuk mencelamu apabila kau berhasil menjadi istri Wiradana.

Warsi mengangguk kecil. Katanya, “Aku akan mencoba. Namun aku tidak dapat melupakan pesan ayah, bahwa aku harus menguasai Wiradana, bukan akulah yang harus dikuasai.”

“Menguasai seseorang mempunyai banyak pengertian. Bukan berarti bahwa kau harus menguasai secara wadag karena mungkin kau dapat mengalahkan jika kalian kelak bertengkar dan bahkan berkelahi. Menguasai dalam pengetian jiwani akan lebih

penting artinya meskipun tidak nampak pada kewadagan,” berkata pengendangnya.

Warsi mengangguk-angguk. Tetapi ia pun kemudian bertanya, “Tetapi apa yang harus aku lakukan sekarang?”

“Seperti yang kita rencanakan. Ngamen di daerah Tanah Perdikan Sembojan. Aku yakin, bahwa Wiradana masih akan menemuimu dan jika kau dapat memanfaatkan bekal yang ada pada dirimu, maka kau tentu akan dapat memikatnya, meskipun istri Wiradana sudah mengandung,” jawab pengendangnya itu.

Warsi mengangguk-angguk pula, sementara pengendangnya itu berkata lebih lanjut,

“Seterusnya kita harus menilai setiap keadaan. Kita akan melangkah setapak demi setapak.”

“Aku akan menurut semua petunjukmu, dan aku akan mencoba untuk bersikap sebagaimana sikap seorang anak perempuan terhadap ayahnya,” desis Warsi kemudian.

“Bagus, mudah-mudahan kita berhasil,” jawab pengendangnya itu.

Demikianlah maka Warsi pun telah meneruskan pekerjaan yang telah dilakukannya itu. Ia mulai bergerak dari satu padukuhan ke padukuhan lainnya. Jika ia terlalu lama berada di satu padukuhan, maka penghuni padukuhan itu akan menjadi jenuh dan tidak berminat lagi untuk menonton tari-tariannya. Meskipun ada juga beberapa orang laki-laki yang tidak dapat ingkar dari perasaannya, bahwa rasa-rasanya setiap saat ingin melihat wajah Warsi.

Dengan demikian, maka akhirnya Warsi pun telah berada di sebuah padukuhan terdekat dengan padukuhan induk. Beberapa orang di padukuhan induk telah pergi menyaksikan pertunjukan Warsi dimalam itu. Dan mereka pun mulai mempercakapkannya sebagaimana mereka mempercakapkannya dahulu.

“Perempuan itu memang cantik,” berkata seorang laki-laki yang masih muda. “Bahkan rasa-rasanya ia menjadi bertambah cantik.”

“Sayang,” jawab kawannya. “Kenapa ia tidak mencari pekerjaan yang lebih baik dari menjadi seorang penari keliling yang ngamen dari satu padukuhan ke padukuhan yang lain. Beberapa bulan yang lalu ia sudah datang ke padukuhan ini.

Sebelum kami melupakannya ia sudah datang untuk kedua kalinya.”

“Mungkin Tanah Pardikan ini dapat memberi nafkah yang agak baik bagi rombongan itu, sehingga mereka mencoba untuk mengulangi keuntungan yang pernah didapatkannya itu,” jawab yang lain pula.

Kawan-kawannya mengangguk-angguk. Mereka memang sependapat, bahwa agaknya Tanah Perdikan itu merupakan daerah yang subur bagi pengamen yang cantik itu.

Dalam pada itu, ketika Warsi sedang menari di padukuhan sebelah pada satu malam, maka beberapa orang dari padukuhan induk pun telah datang untuk menonton pula. Bahkan di antara mereka dengan diam-diam Wiradana pun telah menyaksikan pertunjukan itu pula. Meskipun ia tidak datang sebagai seorang anak Kepala Perdikan, tetapi justru dengan diam-diam dan berada di antara orang-orang yang berkerumun sambil berselimut kain panjang dan berusaha untuk tidak dikenali oleh orang-orang disebelah menyebelah karena pakaian yang dikenakannya bukan pakaian yang biasa dipakainya, namun Wiradana sempat menyaksikan pertunjukan itu cukup lama.

TERNYATA dimata Wiradana Warsi tetap cantik sebagaimana dilihatnya beberapa bulan yang lalu. Senyumnya masih tetap cerah dan bahkan perempuan itu nampak lebih lembut dan luruh.

“Kasihan,” guman Wiradana yang kemudian mendahului orang-orang lain meninggalkan tempat pertunjukan itu, “Perempuan secantik itu harus menjalani kehidupan yang memelas. Bahkan menilik sikapnya ia adalah perempuan yang baik. Berbeda dengan perempuan-perempuan lain yang mencari nafkahnya sebagai penari yang ngamen dari rumah ke rumah. Mereka nampaknya agak rongeh sehingga memberikan kesan sifat-sifat mereka yang lebih bebas. Meskipun tidak selalu bahwa yang rongeh dan bebas itu menjurus kepada hal-hal yang tidak baik.”

Bagaimana pun juga Warsi tetap menarik perhatian Wiradana, meskipun sebenarnyalah sebagaimana disebut oleh beberapa orang, bahwa istri Wiradana memang sudah mengandung.

Ketika Wiradana kemudian sampai ke rumahnya, maka ia pun mulai merenungi dirinya sendiri. Ketika dilihatnya istrinya yang tertidur nyenyak, terasa hatinya telah tersentuh pula.

Tetapi yang terbersit dihati Wiradana adalah sekadar perasaan kasihan. Istrinya yang mengandung itu seakan-akan merupakan seorang perempuan yang bersih dari segala macam kesalahan. Seakan-akan perempuan itu hatinya putih seperti kapas.

Di dalam tidurnya perempuan itu seolah-olah tersenyum. Ia sedang menunggu kehadiran seorang bayi yang tumbuh karena perkawinannya dengan anak Kepala Perdikan Sembojan itu.

Namun dalam pada itu, ketika Wiradana sempat memandang wajah Iswari, maka sambil menarik nafas dalam-dalam ia berkata kepada istrinya, “Kenapa Iswari tidak secantik penari itu.”

Ketika Wiradana berbaring disamping istrinya, maka ia pun berusaha untuk melupakan penari yang dimatanya adalah seorang perempuan yang sangat cantik.

Meskipun untuk beberapa lamanya Wiradana tidak dapat memejamkan matanya, namun akhirnya Wiradana pun tertidur pula.

Namun di hari-hari kemudian, hati Wiradana pun mulai menjadi gelisah. Meskipun sikapnya kepada Iswari tidak berubah, tetapi ada sesuatu yang mulai bergetar dihatinya. Wiradana tidak dapat melupakan penari yang disepanjang jalan-jalan di Tanah Perdikan Sembojan.

Bahkan akhirnya, Wiradana tidak lagi dapat bertahan untuk tidak menemui Warsi.

Meskipun ia masih juga berselubung dengan melakukan tugasnya, namun akhirnya Wiradana telah berada di banjar padukuhan disebelah padukuhan induk untuk mengunjungi serombongan pengamen.

Pertemuan itu adalah saat yang sangat dinanti-nantikan oleh Warsi dan seluruh rombongannya. Perkembangan keadaan selanjutnya tergantung kepada Warsi. Apakah ia akan dapat berhasil memikat hati Wiradana atau tidak.

WARSI memang bertindak hati-hati. Ia selalu mengingat pesan pengendangnya yang disebutnya sebagai ayahnya. Ia harus merupakan seorang perempuan yang halus dan luruh. Sehingga dengan demikian, maka hidupnya sehari-hari tidak mengesankannya sebagai seorang penari yang menari disepanjang jalan dan menyusuri halaman dari rumah ke rumah.

Tetapi tanpa cara yang demikian, maka sulitlah agaknya bagi Warsi untuk menarik perhatian Wiradana. Karena sikap bagi perannya sebagai penari, maka Warsi sempat memikat hati Wiradana dengan kecantikannya, karena di dalam penampilannya, Warsi tentu merias diri. Justru sebaik-baiknya.

Ternyata pertemuan itu adalah permulaan dari pertemuan-pertemuan selanjutnya yang kemudian berlangsung. Warsi yang dengan sengaja memikat hati Wiradana telah berbuat apa saja untuk mencapai maksudnya. Sementara pengendangnya, yang diakunya sebagai ayahnya selama mereka berada di Sembojan telah memberikan petunjuk-petunjuk yang berarti.

Namun dalam pada itu, segala sesuatunya masih tetap tersembunyi bagi Iswari. Wiradana sendiri setiap kali tersentuh hatinya melihat Iswari. Ia selau bersikap baik sebagai seorang istri. Bahkan ia memiliki ketrampilan dan ter-nyata ia mampu menempatkan dirinya sebagai istri seorang anak Kepala Tanah Perdikan yang hampir tiba saatnya untuk memegang kendali pemerintahan.

Apalagi ketika kemudian kakeknya, Kiai Badra dan Gandar telah meninggalkan rumah Ki Gede Sembojan. Maka sikap Iswari menjadi semakin baik.

Sementara itu, Ki Gede Sembojan sendiri, ternyata sangat mengagumi menantunya. Ia memang menganggap bahwa Iswari memiliki kelebihan. Jika ia ingin mengambilnya sebagai menantu bukan saja karena ia merasa berhutang budi kepada Kiai Badra.

Tetapi menurut pendapat Ki Gede, Iswari memang seorang perempuan yang cerdik dan trampil.

Dalam pada waktu yang singkat, Iswari berhasil menempatkan diri di antara perempuan-perempuan Tanah Perdikan. Karena Ki Gede tidak lagi banyak dapat berbuat bagi Tanah Perdikannya, maka segala sesuatunya telah dilakukan oleh Wiradana didampingi oleh istrinya, Iswari.

Ketika Ki Gede mengetahui, bahwa Iswari telah mengandung, maka alangkah senang hati orang tua itu. Bahkan ketika ia makan bersama Wiradana dan istrinya, terucap dari bibir Ki Gede, “Wiradana. Satu-satunya keinginanku sekarang adalah menimang seorang cucu. Aku tidak peduli, apakah cucuku laki-laki atau perempuan.

Bagiku sama saja. Jika laki-laki, maka ia adalah pewaris Tanah Perdikan ini. Sedangkan jika ia perempuan, maka kita akan menunggu saat lahirnya seorang laki-laki. Jika anak laki-laki itu tidak lahir juga, maka akhirnya yang perempuan itu pun akan mempunyai seorang suami yang akan dapat melakukan tugas seorang Ke-pala Tanah Perdikan sepeninggalanmu.”

Jantung Wiradana berdegup semakin keras. Di luar sadarnya terkilas wajah penari yang cantik itu, yang lambat laun telah berhasil menghujamkan tajamnya duri menusuk ke pusat perasaannya.

Namun Wiradana ternyata mampu menyembunyikan perasaannya. Bahkan ia masih sempat tersenyum sambil menjawab, “Kita akan merayakan hari kelahiran anak itu dengan meriah, ayah.”

“Tidak saja pada hari kelahiran. Tetapi pada upacara tujuh bulan, seluruh Tanah Perdikan akan menyambutnya. Upacara yang harus terasa sampai ke setiap pintu rumah.”

“Ah,” desis Iswari. “Itu berlebih-lebihan Ki Gede. Sebaiknya semua upacara dilakukan dengan sederhana. Tetapi memberikan kekhidmatan. Karena pada hakikatnya, upacara tujuh bulan adalah satu permohonan. Selain keselamatan bagi bayi akan lahir kemudian, juga permohonan agar kepada bayi yang lahir dikurniakan ujud kewadagan dan sifat kejiwaan yang baik.”

KI Gede mengerutkan keningnya. Namun kemudian ia pun mengangguk-angguk. “Kau benar Iswari. Agaknya memang demikian.”

“Karena itu, yang penting adalah permohonan itu sendiri. Ungkapan lahiriahnya dapat saja dilakukan dengan sederhana tanpa mengurangi kesungguhan permohonan itu,” berkata Iswari kemudian.

Ki Gede masih mengangguk-angguk. Baginya Iswari memang seorang perempuan yang memiliki banyak kelebihan dari perempuan-perempuan yang lain. Jika semula ia agak meragukan, karena Iswari adalah gadis sebuah padepokan kecil, ternyata kemudian bahwa gadis itu jauh lebih baik dari yang diduganya.

Namun dalam pada itu, bagi Wiradana sendiri, segalanya justru menjadi kabur. Jika sebelumnya ia mulai melihat kelebihan itu pada istrinya, namun sejak kehadiran Warsi untuk yang kedua kalinya, maka yang nampak pada Wiradana hanya sekadar kesederhanaannya. Memang Iswari masih tetap sederhana. Ia jarang sekali merias diri, apalagi berlebih-lebihan sebagai seorang tledek yang sudah siap untuk menari.

Dalam pada itu, kegelapan yang menyelubungi hati Wiradana semakin lama memang menjadi semakin tebal. Bahkan akhirnya dunianya telah benar-benar menjadi kelam, ketika pada suatu saat, ia tidak dapat lagi mengekang dirinya untuk mengucapkan satu keinginan kepada Warsi, “Warsi, sebenarnyalah aku ingin memperistrimu.”

Satu kalimat yang menentukan bagi Warsi. Sejenak ia menunduk sambil bermain-main dengan jarinya. Seolah-olah ia tidak kuasa untuk mendengarkan kata-kata yang baru saja diucapkan oleh Wiradana. Sehingga dengan demikian maka Wiradana pun mengulanginya, “Kau dengar Warsi. Kau terlalu cantik bagi seorang penari yang setiap hari berjalan menyusuri lorong-lorong di padukuhan-padukuhan.

Sebenarnyalah sudah sepantasnya jika kau menjadi seorang istri yang baik. Karena itu, maka aku ingin memintamu untuk menjadi istriku.”

Wajah Warsi masih menunduk. Namun kemudian dari sela-sela bibirnya yang tipis kemerahan ia berkata lambat sekali, hampir hanya dapat didengar sendiri, “Apakah kau bergurau?”

“Tidak Warsi,” jawab Wiradana dengan serta merta, “Aku tidak bergurau. Sejak aku melihat kau untuk yang pertama kali, maka rasa-rasanya ada sesuatu yang menyentuh perasaanku, dan seakan-akan terdengar suara yang berbisik di telingaku, bahwa kau adalah seorang perempuan yang pantas menjadi jodohku.”

Wajah Warsi menjadi semakin menunduk. Tetapi semakin lirih ia berkata,

“Sebenarnyalah demikian pula telah terbersit dihatiku. Ketika aku melihat kau datang mengunjungi rombongan kecilku yang hina ini, maka perasaanku telah menjadi bergolak. Tetapi aku tidak dapat ingkar akan kenyataanku, bahwa aku adalah seorang pengamen yang tidak berharga.”

“Ah,” sahut Wiradana, “Pekerjaan bagi kita tidak ubahnya seperti selembar baju.

Jika itu sudah kita tinggalkan, maka kita akan dapat memakai baju yang lain. Demikian jika saatnya kau melepaskan pekerjaanmu sebagai penari yang menyusuri jalan-jalan, maka kau akan dapat mengenakan baju yang lain.”

Tetapi sambil menunduk Warsi menggeleng lemah, “Tidak. Sebaiknya kau tidak melakukannya. Kau akan menyesal di kemudian hari. Apalagi, bukankah kau sudah beristri?”

Wajah Wiradana menjadi merah. Tiba-tiba saja dirinya bagaikan dilemparkan pada satu kenyataan, bahwa ia memang sudah beristri.

Tetapi ternyata bahwa kegelapan benar-benar telah menyelubungi hatinya. Dengan sendat ia berkata, “Benar Warsi. Aku memang sudah beristri, tetapi apa artinya seorang istri yang kehadirannya seakan-akan dilontarkan begitu saja kedalam dunia oleh kekuasaan seseorang yang tidak dapat aku sanggah. Ayahkulah yang memaksaku untuk mengawini perempuan padepokan yang bodoh itu.”

SAMBIL masih menundukkan kepalanya Warsi berdesis, “Tetapi bukankah istrimu sudah mengandung? Seorang istri yang mengandung merupakan satu pertanda, bahwa hidup keluarga yang dibinanya telah menemukan satu keserasian yang manis. Tentu keduanya saling mencintai sehingga cinta itu kemudian telah menumbuhkan tunas bagi masa depan.”

“Kau salah sangka Warsi,” jawab Wiradana. “Sebagaimana aku menerima Iswari menjadi istriku, maka yang aku lakukan kemudian adalah sekadar melakukan kewajiban.”

“Bukankah itu satu dosa?” bertanya Warsi.

“Yang berdosa adalah yang memaksa aku untuk mengawini seorang perempuan yang tidak aku cintai,” jawab Wiradana.

Namun Warsi juga menjawab, “Biarlah aku sekadar bermimpi menjadi istri seorang anak Kepala Tanah Perdikan yang tampan dan yang menurut pengakuannya juga mencintaiku. Tetapi jika kemudian, maka yang tinggal adalah perasaan pedih oleh luka dihati.”

“Tidak. Tidak Warsi,” berkata Wiradana. “Kita akan kawin. Apapun yang akan terjadi.”

“Aku tidak ingin menemukan kebahagiaan di atas penderitaan orang lain. Jika kau

kawin dengan aku, maka istrimu akan mengalami kepahitan hidup yang mungkin tidak akan tertanggungkan lagi,” jawab Warsi.

“Aku dapat mengatur segala-galanya,” berkata Wiradana. “Biarlah ia merasa tetap menjadi seorang istri dari anak Kepala Tanah Perdikan Sembojan. Biarlah ia tetap dapat keadaannya. Tatapi ia akan dapat memiliki jiwaku, karena aku akan menyerahkan kepadamu sebulat-bulatnya.”

“Lalu, siapakah aku kemudian dihadapanmu?” tiba-tiba saja Warsi bertanya.

“Kau akan menjadi istriku pula. Kita dapat tinggal ditempat yang tidak akan diketahui oleh siapapun juga. Kita akan dapat membangun satu keluarga yang berbahagia, karena kita saling mencintai,” berkata Wiradana.

Tetapi Warsi menggeleng, katanya, “Jangan berpikir begitu. Kau kira kita akan dapat menemukan satu kehidupan yang sewajarnya dengan cara yang kau lakukan itu.”

“Kenapa tidak?” jawab Wiradana. “Bukankah yang kita perlukan dalam hidup keluarga yang saling mencintai adalah seorang laki-laki dan seorang perempuan.

Kau dan aku? Kita tidak memerlukan orang lain, suasana yang lain dan apa pun juga diluar kita berdua.”

Warsi tidak menjawab. Tetapi kepalanya yang tunduk menjadi semakin tunduk.

Karena Warsi tidak segera menjawab, maka Wiradana telah mendesaknya, “Katakan, apakah kau bersedia melakukannya?”

Warsi mengusap matanya. Sebenarnyalah dari matanya menitik butir-butir air mata.

Dengan suara yang sendat ia berkata, “Wiradana. Biarlah cinta kita biarkan suci tanpa dinodai oleh apapun juga. Tanpa menyakiti hati orang lain, dalam hal ini istrimu dan ayahmu. Biarlah kita saling mengenang masa-masa yang penuh dengan mimpi-mimpi yang nikmat ini. Meskipun aku tahu, bahwa hidupku akan menjadi kering. Berbeda dengan hidupmu yang dikelilingi oleh suasana yang dapat membantu dirimu untuk menemukan satu ujud kepribadian yang baru setelah kau berhasil mengatasi gejolak di dalam hatimu.”

Tetapi Wiradana menggeleng. Katanya, “Kita dapat mencoba Warsi. Ada banyak jalan yang dapat kita tempuh.”

Warsi tidak menjawab lagi. Sementara itu, Wiradana pun kemudian berkata,

“Pikirkanlah baik-baik. Kau jangan meninggalkan Tanah Perdikan ini lebih dahulu.

Kita dapat berbicara di kesempatan lain.”

Demikian sejenak kemudian Wiradana itu pun telah meninggalkan Warsi di banjar tempat ia menginap. Demikian Wiradana pergi, maka pengendangnya pun telah menemui Warsi yang menunggunya sambil tersenyum cerah.

Sambil mengusap matanya ia berkata, “Aku terpaksa menangis.”

“Kenapa kau harus menangis?” bertanya pengendangnya.

Warsi pun kemudian menceriterakan pembicaraannya dengan Wiradana. Sebenarnya jalan telah mulai terbuka. Tetapi Warsi memang harus berhati-hati.

“Kau memang pandai Warsi. Kau memang tidak boleh tergesa-gesa memasuki pintu yang sudah terbuka itu. Kau dapat meniru anak-anak yang menaikkan layang-layang.

Kau ulur benangnya, namun sekali-kali kau tahan. Wiradana akan menjadi semakin gila. Pada saat-saatnya ia akan berjongkok dibawah kakimu,” berkata pengendangnya.

Sementara itu, memang ada perubahan sikap Wiradana di rumahnya. Tetapi dengan sungguh-sungguh Wiradana berusaha untuk menyembunyikannya. Bahkan pada saat-saat tertentu, rasa-rasanya ia menjadi semakin sayang kepada istrinya yang sedang

mengandung itu. Tetapi pada saat-saat tertentu Wiradana itu nampak merenung diri.

Namun dalam pada itu, Iswari sama sekali tidak menyangka, bahwa di dalam hidup kekeluargaannya, telah terselip duri yang menusuk semakin dalam. Namun agaknya Wiradana memiliki kemampuan berpura-pura sebagaimana Warsi.

Tetapi saat-saat yang mengkhawatirkan itu pun menjadi semakin dekat. Wiradana semakin dalam terbenam ke dalam jebakan Warsi. Namun Warsi yang cerdik itu tidak ingin merenggut Wiradana sekaligus. Apalagi istrinya sedang mengandung.

Karena itulah, maka diambilnya Wiradana perlahan-lahan. Meskipun nampaknya Warsi dengan terpaksa sekali menerima desakan Wiradana untuk tinggal disatu tempat yang tersembunyi, namun Warsi memang sudah mulai dengan langkahnya untuk mengikat Wiradana.

Sebenarnyalah, atas persetujuan tukang gendang yang diaku sebagai ayah Warsi, maka Wiradana telah membuat rumah tersendiri bagi Warsi. Tidak di Tanah Perdikan Sembojan tapi diluarnya. Di daerah yang tidak banyak mengenalnya, ia mempunyai kebebasan untuk lebih banyak berbuat.

Dengan demikian, maka Wiradana mulai memasuki satu kehidupan dalam dua wajah. Ia harus dapat berbuat sesuatu yang mungkin bertentangan dengan nuraninya. Bahkan ia harus menunjukkan satu sikap yang berbeda dengan gejolak di dalam jiwanya. Di rumah Wiradana tetap merupakan seorang suami yang baik, yang nampaknya mengasihi istrinya dan bersikap sangat hormat kepada ayahnya. Bahkan melampaui masa-masa sebelumnya. Sehingga dengan demikian ayahnya menduga, bahwa menjelang kelahiran anaknya, maka Wiradana ingin menunjukkan satu sikap yang akan dapat berpengaruh atas bayi yang masih ada di dalam kandungan, agar bayi itu pun kelak bersikap baik seperti yang dilakukannya.

Namun di balik sikapnya itu, Wiradana menyimpan satu rahasia yang rumit. Setiap saat Wiradana harus berpura-pura, dan bahkan berbohong kepada istri dan ayahnya.

Di hari-hari terakhir, Wiradana menjadi lebih banyak melakukan kewajibannya di luar padukuhan induk. Setiap kali ia membawa kudanya untuk berkeliling Tanah Perdikan. Kepada ayah dan istrinya Wiradana mengatakan, bahwa ada tanda-tanda keadaan telah memburuk pada saat terakhir.

“Dendam Kalamerta itu masih belum terhapuskan sama sekali ayah,” berkata Wiradana.

Ki Gede Sembojan menarik nafas dalam-dalam. Dengan nada rendah ia berkata,

“Berhati-hatilah menghadapi keluarga Kalamerta. Ia bukan saja memiliki beberapa orang yang berilmu tinggi, tetapi segala cara yang licik dan pengecut. Namun mereka tidak segan-segan melakukan apa saja. Kau pernah mengalami sendiri, betapa berbahayanya para pengikut Kalamerta. Mereka berilmu tinggi, tetapi otak mereka tumpul dan tidak terhormati peradaban.”

Wiradana mengangguk-angguk. Katanya, “Aku akan selalu berhati-hati ayah.”

“Jika kau nganglang Tanah Perdikan, jangan pergi seorang diri,” berkata ayahnya lebih lanjut. “Kau dapat dijebak oleh kelicikan mereka.”

WIRADANA mengangguk-angguk pula. Sekali lagi ia menjawab, “Aku akan berusaha untuk menjaga diri.”

Dengan demikian, maka penilaian ayah dan istrinya terhadap Wiradana justru berbeda dengan keadaannya yang sesungguhnya. Ayah dan istrinya menganggap bahwa Wiradana telah bekerja keras menjelang kelahiran bayinya. Namun ter-nyata bahwa sebagian besar waktunya telah dipergunakan untuk berada di rumah yang dibuatnya bagi Warsi. Meskipun rumah itu kecil, tetapi ternyata bahwa rumah itu cukup baik bagi kehidupan kedua orang yang berada di dalam dunia bayang-bayang yang suram.

Dalam pada itu, setelah Warsi tinggal di sebuah rumah kecil bersama Wiradana, maka para pengiringnya telah minta diri untuk meninggalkannya. Bahkan pengendangnya yang disebut ayahnya pun telah meninggalkannya pula. Sebenarnyalah bahwa pengendang itu cukup percaya kepada Warsi untuk menyelesaikan masalahnya.

Masalah yang akan menyangkut satu kehidupan yang panjang. Bahkan untuk selama-lamanya, karena Warsi telah memilih cara untuk membalas dendam yang lain dari yang pernah dilakukannya. Warsi tidak membunuh keluarga Kepala Perdikan

Sembojan yang telah membunuh pamannya, tetapi ia justru berusaha untuk memilikinya dengan menguasainya. Bukan saja anak Kepala Tanah Perdikan Sembojan itu, tetapi dengan Tanah Perdikan itu pula, karena Warsi ingin mempunyai keturunan yang akan dapat mewarisi Tanah Perdikan itu lewat Wiradana.

Pada saat-saat permulaan dari kehidupan mereka sebagai suami istri, Warsi masih tetap merupakan seorang istri yang lembut dan luruh. Namun ia tidak meninggalkan kebiasaannya menghias diri, agar di mata Wiradana ia tetap merupakan seorang perempuan yang cantik.

Namun kehidupan mereka pun berkembang sejalan dengan perkembangan kandungan Iswari. Menjelang tujuh bulan dari masa kandungan itu, Ki Gede Sembojan benar-benar sudah bersiap-siap untuk merayakan upacara itu meskipun tidak sebesar yang direncanakan semula karena Iswari berkeberatan.

Pada saat-saat yang demikian, wajah Warsi mulai nampak muram. Sekali-kali Warsi mulai menunjukkan sikap yang lain. Kadang-kadang nampak sedih dan merenung.

Namun jika Wiradana bertanya tentang sikapnya itu, maka Warsi pun kemudian menjadi cerah dan berusaha untuk tersenyum.

“Aku tidak apa-apa kakang,” jawab Warsi.

“Tetapi aku lihat kau merenung,” berkata Wiradana.

“Tidak. Aku tidak merenung,” Warsi mencoba untuk tertawa.

“Jangan menyembunyikan sesuatu Warsi,” berkata Wiradana. “Di rumah ini aku

menemukan satu kehidupan yang lebih baik dari di rumahku sendiri. Kau mempunyai perbedaan dengan Iswari. Kau benar-benar merupakan seorang istri yang mengerti tentang suami. Tetapi Iswari lebih banyak mengerti perasaan ayah dari pada perasaanku. Ia selalu berusaha untuk menyenangkan hati ayah karena memang ayahlah yang melemparkannya memasuki duniaku yang sebenarnya bukan maksudnya.”

Pada hari-hari pertama Warsi tetap tidak mau mengatakan persoalan yang ditumbuhkannya di dalam lingkungan keluarga kecil itu. Dengan sempurna ia tetap berpura-pura ganda. Ia berpura-pura berduka, namun kemudian ia menyaput dukanya dengan kepura-puraannya pula. Seolah-olah ia sama sekali tidak sedang dalam keadaan pedih.

Namun setelah didesak oleh Wiradana, akhirnya ia berkata juga sebagaimana telah direncanakan, “Kakang, sebenarnya aku tidak ingin mengatakan sesuatu yang akan dapat menambah rumitnya persoalan di dalam hatimu.”

“Tetapi tanpa mengatakan sesuatu, maka aku selalu merasakan satu gejolak yang tidak dapat aku endapkan. Tanpa mengatakan sesuatu, bagiku justru merupakan persoalan tersendiri. Aku tahu Warsi, bahwa kau ingin menanggung beban itu sendiri, karena kau terlalu menjaga ketenanganku. Tetapi akibatnya justru sebaliknya,” berkata Wiradana.

Warsi menundukkan kepala. Bahkan tiba-tiba saja ia telah menitikkan air mata. Katanya, “Kakang, aku memang sudah menduga, bahwa akhirnya hidupku akan menjadi seperti ini.”

“Seperti apa Warsi?” bertanya Wiradana. “Bukankah hal ini memang sudah kita kehendaki?”

“Kakang, rasa-rasanya memang demikian. Aku memang tidak akan dapat menentang nasib hidupku. Agaknya derajatku memang seperti ini,” berkata Warsi.

“Aku tidak tahu maksdumu Warsi,” jawab Wiradana.

“Kakang. Pada masa kanak-kanak aku memang sering mendengar ceritera tentang kehidupan yang pahit dari seorang anak tiri. Ceritera tentang ibu tiri, seakan-akan telah menjadi ceritera yang wajar, bahwa ibu tiri tentu seorang yang kejam dan bahkan sampai hati mencelakai anak tirinya yang tidak bersalah,” berkata Warsi.

Lalu, “Tetapi di samping ceritera tentang ibu tiri, aku juga mengenal ceritera yang lain, ceritera tentang kehidupan yang sunyi dan tidak wajar.

Sembunyi-sembunyi dan berusaha menyelubungi diri.”

“Ceritera tentang apa?” bertanya Wiradana.

“Ceritera tentang istri muda. Ceritera tentang seorang perempuan yang dimadu,” jawab Warsi.

Wajah Wiradana tiba-tiba menjadi merah. Namun ia pun segera memaklumi perasaan istrinya yang cantik itu. Ia pun kemudian berkata di dalam hatinya, “Tidak

berlebih-lebihan. Pada umumnya seorang perempuan memang tidak akan bersedia dimadu.”

Namun dalam pada itu, Wiradana tidak akan dapat berbuat sesuatu atas istrinya yang tua, karena istrinya yang tua itu sangat disayangi oleh ayahnya, Ki Gede Sembojan.

Tetapi selesai Wiradana merenungi keadaan itu, tiba-tiba saja Warsi berkata dengan nada rendah, “Tetapi kakang. Aku mohon maaf. Bukan maksudku untuk menuntut perbaikan keadaanku yang sekarang. Aku sudah mengakui, bahwa keadaan yag demikian ini sudah aku ketahui sejak sebelum aku menerimamu menjadi suamiku.

Karena itu, aku mohon jangan hiraukan aku. Aku akan berusaha untuk mengatasi kepahitan ini demi cintaku kepadamu.”

Wiradana menundukkan kepalanya. Namun tiba-tiba saja ia menghentakkan diri sambil berdiri, “Tidak. Kau tidak boleh terlalu lama menderita.”

“Kakang,” desis Warsi. “Lalu apa yang dapat kakang lakukan? Sudahlah. Biarlah aku bawa beban perasaan ini. Adalah salahku sendiri, bahwa aku menerima beban yang sebenarnya sudah aku ketahui sejak semula.”

“Tidak Warsi,” berkata Wiradana. “Kau tidak boleh terlalu lama menderita. Aku akan berbuat sesuatu sehingga kau akan benar-benar menjadi istri seorang Kepala Tanah Perdikan kelak. Satu-satunya. Tetapi aku minta waktu. Aku harus memikirkan cara untuk menyingkirkan Iswari. Mungkin setelah ia melahirkan.

Mungkin pada saat-saat lain yang akan aku tentukan kemudian. Untuk menceraikannya, aku lakukan harus berhadapan dengan ayahku. Hampir mustahil hal itu dapat aku lakukan.”

“JANGAN kakang. Jangan,” minta Warsi dengan serta merta, “Jangan kau korbankan istrimu yang sekarang sedang mengandung itu. Bukankah dari istrimu itu kau akan

mendapatkan seorang anak yang kelak akan dapat menyambung pemerintahan di Tanah Perdikan ini? Bukankah anak yang dikandung itu akan menjadi pewaris yang sah atas Tanah Perdikan Sembojan.”

“Sekali lagi aku katakan Warsi,” jawab Wiradana. “Bukan akulah yang menghendaki Iswari berada di rumah itu. Tetapi ayahku. Sekarang ayahku sudah tidak banyak berdaya. Meskipun ia sudah mampu mempergunakan tangan dan kakinya, tetapi tidak lebih dari sekadar berjalan dan mengambil sesuatu. Memegang benda-benda kecil yang tidak berarti. Pada saat-saat tertentu ayah sudah akan kehilangan segala kemungkinan untuk dapat berbuat apa-apa atas Tanah Perdikan ini, sehingga pada saat ia akan tunduk kepadaku”

“O,” tiba-tiba saja Warsi telah menutup wajahnya dengan kedua belah telapak tangannya. Dengan sedu sedan ia berdesis, “Dosa apakah yang akan aku sandang jika ternyata aku telah membawa malapetaka bagi keluargamu kakang. Sekali lagi aku mohon maaf, biarlah aku seorang diri yang memikul beban ini, beban yang memang sudah aku sengaja, aku letakkan dipundakku sendiri.”

“Itu tidak adil Warsi,” berkata Wiradana. “Dengan demikian kau akan menderita seumur hidupmu. Padahal perkawinan tentu bukan begitu maksudnya.”

Ada bedanya antara aku dan istrimu yang tua,” berkata Warsi. “Ia datang dengan wajar, siapapun yang membawanya. Ia tidak membuat orang lain mengalami

kesulitan, apalagi mengalami perlakuan yang dapat mengancam jiwanya. Tetapi kedatanganku telah membuat istrimu yang tua itu mengalami kesulitan. Bahkan ancaman bagi keselamatannya jika ia harus disingkirkan. Padahal kau tidak mungkin dapat menceraikannya kakang, jika kau tidak ingin berhadapan dengan ayahmu sendiri. Meskipun ayahmu sekarang cacad, tetapi ia tetap ayahmu. Kau tidak dapat menolaknya.”

“Tetapi aku sekarang sudah dewasa penuh, Warsi. Aku sudah kawin dan menentukan langkah-langkah yang aku anggap baik bagiku dan bagi masa depanku. Ayah tidak akan dapat selamanya memaksakan kehendaknya atasku,” berkata Wiradana.

Warsi masih tetap menangis. Di sela-sela isak-nya ia berkata, “Tetapi aku mohon kakang mempertimbangkan segala langkah-langkah yang akan kakang ambil sebaik-baiknya.”

“Aku akan bertanggung jawab atas segala tingkah lakuku, Warsi. Aku tidak akan dapat membiarkan kau menderita seumur hidupku karena cintamu kepadaku. Dengan demikian, maka kau harus berkorban untukku, sementara aku tidak berbuat apa-apa bagi kebahagiaanmu. Karena aku tahu, bahwa kebahagiaan bukan berarti aku telah mencukupi segala kebutuhan lahiriah. Makan, pakaian dan perhiasan. Tetapi kau juga harus mengalami kebahagiaan batin sebagaimana seharusnya orang hidup berkeluarga, berkata Wiradana.

Warsi tidak menjawab. Namun dalam pada itu, Wiradanalah yang berkata sambil mengusap rambut perempuan yang menangis itu. “Sudahlah. Aku tahu, bahwa kau adalah seorang perempuan yang berbudi luhur. Kau ingin melihat aku bahagia tanpa mengorbankan siapapun juga, meskipun dengan demikian kau sendirilah yang harus

menjadi korban. Ternyata kau tidak memikirkan kesenangan dirimu sendiri. Bahkan kau masih juga ingin melihat perempuan yang menjadi madumu itu hidup tenang.

Karena itu Warsi, dengan penilaian itu, maka aku tahu, apa yang harus aku lakukan. Perasaan yang demikian, sebagaimana kau lakukan, tidak akan aku dapatkan dari Iswari. Ia tentu lebih mementingkan dirinya sen-diri sebagaimana aku lihat pada sifatnya sehari-hari.”

Warsi masih tetap berdiam diri. Tetapi agaknya ia berusaha untuk menguasai tangisnya sehingga justru isaknya rasa-rasanya telah menyesakkan dadanya.

DENGAN susah payah Wiradana berusaha menenangkan istrinya yang cantik itu, sehingga akhirnya isak tangis Warsi pun mereda. Meskipun demikian titik-titik air mata masih nampak di pelupuk perempuan itu.

Ketika kemudian Wiradana meninggalkan Warsi dan kembali ke padukuhan induk Tanah Perdikan, maka di dalam benaknya telah mulai berkembang rencana untuk menyingkirkan Iswari. Agaknya iblis benar-benar telah menguasai hatinya sehingga yang kemudian mengalir dari nalar budinya adalah kegelapan semata-mata.

Warsi, sepeninggalan Wiradana masih mengusap matanya yang basah. Namun ia tersenyum di dalam hati. Jalannya sudah menjadi semakin lapang. Bahkan ia yakin, bahwa ia akan segera berhasil merebut Wiradana.

Namun yang kemudian menjadi masalah baginya adalah Iswari yang sedang mengandung itu. Sebenarnya terlintas juga satu kilatan cahaya terang dihatinya dengan satu niat untuk membiarkan bayi di dalam kandungan itu lahir. Namun yang kemudian dipikirkannya adalah masa depannya. Pengendangnya memang pernah berkata kepadanya, bahwa pewarisan itu akan terjadi jika anak itu akan dapat bertahan hidup sampai dewasa.

“Itu berarti bahwa anak itu harus mati sebelum ia pantas mewarisi kedudukan

ayahnya,” berkata Warsi di dalam hatinya. Namun kemudian, “Tetap dengan demikian kerja itu harus dilakukan dua kali. Menyingkirkan ibunya, kemudian menyingkirkan anaknya.”

Di hari berikutnya Warsi masih tetap merenungi persoalan itu. Namun akhirnya ia menggeretakkan giginya sambil berkata kepada diri sendiri. “Apa boleh buat.

Orang-orang yang disebut baik-baik pun melakukan usaha pembunuhan pula untuk mencapai maksudnya. Apalagi aku. Kematian yang dua nyawa sekaligus itu adalah satu kebetulan saja karena dua nyawa itu masih terselubung dalam satu wadag.”

Sehingga akhirnya, maka Warsi pun mengambil keputusan, jika mungkin justru sebaiknya istri Wiradana itu disingkirkan sebelum bayi itu lahir.

“Dengan demikian, maka aku tidak akan membiarkan seekor harimau akan sempat menjadi besar dan buas,” berkata Warsi di dalam hatinya.

Dengan demikian, maka usahanya kemudian harus ditunjukkan kepada mempercepat kepu-tusan Wiradana untuk menyingkirkan istrinya.

“Tidak ada jalan lain. Perempuan itu tentu akan dibunuhnya, karena ia tidak akan berani menceraikannya, justru karena perempuan itu sangat disayangi oleh ayahnya.”

Di hari-hari berikutnya, maka sikap Wiradana pun menjadi semakin pasti. Dengan licik Warsi selalu berhasil menghasutnya, bahkan selalu dengan kesan, seakan-akan Warsi adalah seorang yang berhati sebening mata air di lereng perbuktian. Namun yang sebenarnya mengandung racun yang melampaui tajamnya racun ular bandotan.

Akhirnya hari itu, Wiradana pun menjadi gelap. Hidupnya benar-benar sudah berada dibawah bayangan sebuah mimpi yang suram. Anak Kepala Perdikan Sembojan itu telah kehilangan kiblat hidupnya dan kehilangan pribadinya. Sehingga dengan demikian maka ia tidak lagi dapat mengenali buruk dan baik.

Namun justru pada saat yang demikian, di sebuah pedepokan kecil yang hanya dihuni oleh beberapa orang saja, seorang tua duduk dihadap oleh seorang cantriknya yang sangat dekat dengan dirinya, karena cantrik itu masih termasuk kadangnya sendiri.

“Gandar,” berkata orang tua itu. “Ada sesuatu yang ingin aku katakan kepadamu.”

Gandar termangu-mangu. Namun ia bergeser semakin dekat sambil bertanya,

“Nampaknya Kiai bersungguh-sungguh.”

“Ya Gandar. Aku memang bersungguh-sungguh,” berkata Kiai Badra.

“Apa yang akan Kiai katakan?” bertanya Gandar.

“Aku bermimpi Gandar,” desis Kiai Badra.

Gandar mengerutkan keningnya. Namun ia pun kemudian tersenyum. “Kenapa dengan mimpi itu? Bukankah hampir setiap saat kita tidur, kita selalu bermimpi?”

“Aku bersungguh-sungguh Gandar,” berkata Kiai Badra.

Gandar menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia tidak segera menyahut. Dibiarkannya saja Kiai Badra mengatakan tentang mimpinya.

“Gandar,” berkata Kiai Badra kemudian. “Sudah berapa lama Iswari berada di Tanah Perdikan Sembojan?”

“Sudah hampir setahun bukan Kiai,” jawab Gandar. Tiba-tiba saja suaranya merendah.

“Ah, tentu belum. Tetapi sudah lebih dari delapan atau sembilan bulan,” jawab Kiai Badra.

“Selisih itu tidak terlalu banyak,” jawab Gandar. Lalu, “Kira-kira memang sekian bulan.”

“Gandar,” suara Kiai Badra seakan-akan menjadi semakin dalam, “Aku bermimpi bahwa Iswari telah menyalakan obor dimuka rumah Ki Gede Sembojan. Tetapi

tiba-tiba saja angin bertiup kencang sekali. Bahkan kemudian obor itu mati dan Iswari telah tersaput oleh pedut yang sangat tebal.”

Gandar mendengarkan kata-kata itu dengan seksama. Tiba-tiba saja ceritera tentang mimpi itu telah menarik sekali baginya. Meskipun demikian, Gandar tidak bertanya sesuatu.

Dalam pada itu, Kiai Badra pun telah melanjutkannya. “Gandar, rasa-rasanya ada sesuatu yang mendorong aku untuk menengoknya. Tetapi rasa-rasanya segan juga aku

melakukannya. Baru saja kita meninggalkan Tanah Perdikan. Jika aku datang lagi ke Tanah Perdikan itu tentu akan dapat menimbulkan kesan yang lain pada Ki Gede.”

Gandar mengangguk-angguk. Ia segera mengerti maksud Kiai Badra. Karena itu, maka katanya, “Bukankah Kiai akan memerintahkan aku untuk menengoknya?”

“Ya Gandar,” jawab Ki Gede, “Tepat. Aku ingin kau pergi ke Tanah Perdikan Sembojan untuk menengok adikmu. Mudah-mudahan ia selalu dalam keadaan sehat.”

Gandar menarik nafas dalam-dalam. Ia tidak pernah menolak segala perintah yang diberikan oleh Kiai Badra. Bahkan seandainya Kiai Badra itu ingin mengambil hidup matinya sekalipun. Namun perintah untuk menengok Iswari membuatnya menjadi berdebar-debar.

Sejak ia meninggalkan Tanah Perdikan Sembojan, rasa-rasanya ia sudah berjanji kepada diri sendiri untuk tidak bertemu lagi dengan Iswari. Cucu Kiai Badra yang dalam hubungan kadang, ia mempunyai kedudukan lebih tua.

Namun tiba-tiba datang perintah itu perintah yang sangat dibencinya.

Tetapi sebenarnyalah Gandar memang tidak dapat menolak. Ia hanya dapat menerima dan menjalankan tugas itu. Apalagi bagi tugas yang sangat ringan. Seakan-akan Kiai Badra memberikan tugas kepadanya untuk pergi bertamasya ke Tanah Perdikan Sembojan.

Namun tugas yang ringan itu ternyata akan terasa sangat berat bagi Gandar. Tetapi ia sama sekali tidak dapat mengatakan, kenapa tugas ke Tanah Perdikan Sembojan itu akan merupakan tugas yang sangat berat.

Meskipun demikian, Gandar hanya dapat mengiyakan. yang ditanya kemudian adalah,

“Kapan aku harus berangkat?”

“Semakin cepat semakin baik Gandar. Ada semacam kekhawatiran atas adikmu, seolah-olah aku meninggalkan seorang bayi yang baru pandai merangkak di pinggir jurang yang terjal,” jawab Ki Badra.

Gandar mengangguk-angguk. Katanya, “Besok aku akan pergi ke Tanah Perdikan Sembojan. Mungkin aku terpaksa bermalam satu malam. Baru di hari berikutnya aku kembali.”

Tetapi Kiai Badra justru berkata, “Jangan hanya satu malam Gandar. Kau harus berada di Tanah Perdikan itu barang satu pekan. Mungkin memang tidak ada perlunya, tetapi mungkin ada manfaatnya.”

Gandar memang tidak pernah dapat membantah. Karena itu, betapapun berat perasaannya, maka ia pun menjawab, “Baiklah Kiai. Aku akan berada di Tanah Perdikan barang satu pekan.”

“Mungkin mimpiku adalah mimpi yang tidak punya arti apa-apa Gandar. Tetapi mungkin Yang Maha Agung memberikan satu isyarat bagiku. Tetapi karena kepicikan pengetahuanku, mungkin aku salah menangkap arti isyarat itu,” berkata Kiai Badra. Lalu, “Karena itu, tengoklah. Lihatlah apa yang terjadi atas Iswari.

Mudah-mudahan tidak ada sesuatu.”

Gandar mengangguk-angguk. Sementara itu Kiai Badra berkata, “Berkemaslah. Besok kau akan berangkat.”

Gandar pun kemudian pergi ke biliknya. Dengan wajah yang murung ia duduk merenungi pintu biliknya yang tertutup. Hampir di luar sadarnya, tiba-tiba terbayang wajah seorang perempuan yang pernah tinggal di padepokan itu pula.

Iswari yang masih mempunyai hubungan darah dengan dirinya. Baginya Iswari adalah seorang perempuan yang memiliki unsur-unsur yang lengkap.

Tetapi Gandar yang selalu merasa bahwa dirinya tidak berharga berwajah buruk dan bodoh itu sama sekali tidak pernah menyatakan perasaannya kepada siapapun juga.

Karena itu, ketika Iswari kemudian kawin dengan Wiradana, Gandar benar-benar berusaha menguasai perasaannya dengan nalarnya. Bahkan ia mencoba untuk merasa dirinya terbebas dari belenggu perasaan dan ketidakpastian, karena ia tidak akan mungkin lagi merenungi Iswari yang baginya merupakan seorang perempuan yang

utuh.

Namun keinginannya untuk tidak melihat dan bertemu lagi dengan Iswari ternyata

tidak dapat terpenuhi. Ia masih harus pergi ke Tanah Perdikan Sembojan memenuhi

perintah Kiai Badra.

Demikianlah, maka Gandar berusaha untuk mengatur perasaannya sebaik-baiknya. Ia

da-tang di Tanah Perdikan dengan sikap yang seharusnya wajar dan tidak dibuat-buat.

Ketika Gandar kemudian perlahan-lahan berdiri, di luar sadarnya ia berpaling ke arah geledeg bambunya, yang dipergunakannya untuk menyimpan barang-barangnya yang tidak seberapa. Namun di dalam geledeg itu pula ia menyimpan sesuatu yang baginya sangat berarti. Sebilah cundrik yang terikat pada seutas rantai baja putih. Sejenis senjata peninggalan orang tuanya.

Gandar menarik nafas dalam-dalam. Ia sudah meletakkan senjata itu di dalam geledeg itu untuk beberapa lama. Sejak ia merasa bahwa ia lebih senang tidak diganggu oleh perasaan yang harus dipecahkan dengan senjata.

Namun tiba-tiba mimpi Kiai Badra itu mengingatkannya kepada senjata itu. Justru karena di dalam mimpi itu, Iswari, seorang perempuan yang menjadi kiblat penilaiannya terhadap seorang perempuan, telah mengalami peristiwa yang dapat dibaca sebagai suatu isyarat yang kurang menyenangkan.

BEBERAPA saat Gandar berdiri termangu-mangu. Namun kemudian ia melangkah meninggalkan geledeg itu tanpa menyentuh senjata peninggalan orang tuanya itu, namun yang penggunaannya telah disempurnakannya kemudian, setelah ia berada di padepokan itu.

Namun sebagaimana dikatakan oleh Kiai Badra, bahwa senjata bukan satu-satunya alat untuk menyelesaikan persoalan.

Meskipun demikian, ketika ia turun ke halaman di malam yang sepi menjelang keberangkatannya di keesokan harinya, di luar sadarnya Gandar telah melangkah menunju ke pintu sanggarnya. Sanggar padepokan kecil.

Perlahan-lahan ia mamasuki sanggar yang gelap, karena tidak ada sebuah lampu pun yang terpasang. Namun tiba-tiba saja Gandar mengerutkan keningnya. Ada sesuatu yang bergetar di dalam dirinya. Baru kemudian, ruang yang gelap itu dapat diamatinya dengan jelas, meskipun sebenarnyalah bahwa ruang itu masih tetap gelap.

Telah cukup lama Gandar tidak bermain-main di dalam sanggar itu. Diamatinya beberapa tonggak yang berdiri tegak dengan ukuran tinggi yang tidak sama.

Kemudian seutas tali yang merentang. Seonggok pasir dan batu-batu kerikil.

Gandar menarik nafas dalam-dalam. Ketika ia pergi bersama Kiai Badra ke Tanah

Perdikan Sembojan, maka ia tidak lebih dari seorang yang dungu, yang hanya berbuat sesuatu untuk melayani Kiai Badra yang memiliki kemampuan pengobatan.

“Apakah aku masih akan tetap seperti itu pada perjalananku kali ini,” berkata Gandar di dalam hatinya.

Tetapi akhirnya Gandar itu merasa malu kepada dirinya sendiri. Yang sudah diletakkan itu seakan-akan akan diambilnya kembali karena tumbuh persoalan tentang Iswari.

“Aku akan pergi ke Tanah Perdikan Sembojan sebagaimana aku pergi beberapa saat yang lalu,” berkata Gandar di dalam hatinya.

Karena itu maka Gandar itu pun kemudian meninggalkan sanggar itu dan kembali ke dalam biliknya.

Pagi-pagi benar Gandar sudah siap. Setelah minum beberapa teguk minuman panas, maka ia pun segera minta diri kepada Kiai Badra untuk segera berangkat ke Tanah Perdikan Sembojan. Satu perjalanan yang cukup jauh. Terlebih-lebih lagi, perjalanan itu rasa-rasanya merupakan perjalanan yang pada perasaan tertopang beban.

Namun perjalanan itu sendiri berlangsung tanpa hambatan apapun juga. Menjelang senja ia sudah memasuki padukuhan induk dan langsung menuju ke rumah Kepala Tanah Perdikan Sembojan.

Tiba-tiba saja langkah Gandar itu terasa tersendat. Ia selalu teringat mimpi yang dikatakan oleh Kiai Badra. Mimpi yang menurut pengertiannya secara kasar, Iswari akan disaput oleh satu keadaan yang gelap. Keadaan yang tidak diketahui.

Karena itu, maka Gandar pun mulai mengatur perasaannya. Ia harus tetap dapat mempergunakan nalarnya sebaik-baiknya. Jika ia menjumpai satu persoalan, maka ia harus memecahkannya dengan nalar. Tidak semata-matap style=”text-align:justify;” dengan perasaan.

Ketika Gandar melewati gardu-gardu pep style=”text-align:justify;”ronda, agaknya masih belum terisi oleh anak-anak muda yang biasa berjaga-jaga. Namun di regol rumah Kepala Tanah Perdikan, obor sudah menyala dan beberapa orang peronda pun sudah siap.

Debar jantung Gandar pun terasa menjadi semakin cepat. Namun selangkah demi selangkah ia pun mendekati regol. Ia sadar, bahwa ia sudah banyak dikenal di padukuhan induk itu sehingga ia tidak akan mengalami kesulitan untuk datang ke rumah Kepala Tanah Perdikan itu untuk menemui Ki Gede dan Iswari serta suaminya.

Sebagaimana di duganya, maka kedatangannya justru mendapat sambutan yang ramah dari anak-anak muda Tanah Perdikan itu.

“MARILAH Gandar,” sambut salah seorang dari para peronda, “Sudah lama kau tidak datang menengok Nyai Wiradana.”

“Bukankah belum terlalu lama?” bertanya Gandar.

“He, bukankah sudah lebih dari setengah tahun?” sahut yang lain.

Gandar mengangguk-angguk. Sambil tersenyum ia menjawab, “Ya. Lebih setengah

tahun. Tetapi bukankah sekarang aku sudah disini?”

“Marilah. Ki Gede ada di ruang dalam,” berkata seorang di antara anak-anak muda itu.

Dalam pada itu, salah seorang dari peronda itu telah menyampaikan kepada Ki Gede, bahwa ada seorang tamu yang ingin menemuinya.

“Siapa?” bertanya Ki Gede.

“Gandar,” jawab peronda itu.

“Gandar,” ulang Ki Gede, “Bawalah ia masuk.”

Sejenak kemudian, Gandar itu pun telah dibawa masuk langsung ke ruang dalam melintasi pendapa dan pringgitan. Demikian ia memasuki pintu, Ki Gede dengan tergopoh-gopoh telah ber-diri menyambutnya.

“Marilah, marilah,” Ki Gede mempersilakan dengan ramah.

Gandar pun kemudian duduk di ruang dalam, ditemui langsung oleh Ki Gede. Dengan wajah yang cerah Ki Gede pun kemudian menanyakan keselamatan Gandar dan Kiai

Badra yang tidak datang bersamanya.

“Kami semua dalam keadaan selamat Ki Gede,” jawab Gandar.

“Syukurlah. Kami sudah merasa terlalu lama tidak mendapat kunjungan Kiai Badra dan kau, Ki Sanak,” berkata Ki Gede kemudian.

Gandar tersenyum. Rasa-rasanya perasaannya pun menjadi sejuk melihat sikap Ki Gede, meskipun ia masih belum bertemu langsung dengan Iswari. Jika benar terjadi sesuatu dengan Iswari, maka sikap Ki Gede dan anak-anak muda Tanah Perdikan Sembojan tentu berbeda.

Dengan demikian, maka perlahan-lahan ketegangan di hati Gandar pun telah memudar. Ia pun kemudian sebagaimana Ki Gede nampak menjadi semakin cerah dan lancar.

Namun dalam pada itu, maka tiba-tiba saja Ki Gede berkata, “Kau tentu ingin bertemu dengan adikmu. Biarlah seseorang memanggilkannya.”

“Ya Ki Gede. Sudah lama aku tidak bertemu dengan Iswari,” jawab Gandar.

“Tentu, selama kau tidak bertemu dengan aku,” sahut Ki Gede sambil tertawa.

Dalam pada itu, maka Ki Gede pun kemudian menjenguk ke ruang belakang.

Disuruhnya seorang pelayan untuk memanggil Iswari yang agaknya masih berada di dapur menyiapkan makan malam Ki Gede Sembojan.

Namun dalam pada itu, ketika Ki Gede sudah duduk lagi menemui Gandar, seorang pelayan datang sambil berkata, “Ki Gede, Nyai Wiradana sedang berada di pakiwan.

Agaknya ia sedang muntah-muntah.”

“Muntah-muntah,” Gandarlah yang menyahut dengan serta merta, “Apakah Iswari sedang sakit?”

Gandar menjadi heran, justru Ki Gede menanggapinya sambil tertawa saja.

Jawabnya, “Jangan cemas. Adikmu tidak apa-apa. Meskipun setiap kali ia selalu

muntah-muntah, tetapi kau boleh ikut bergembira karenanya.”

“Kenapa?” wajah Gandar menjadi tegang.

“Adikmu sedang mengandung,” jawab Ki Gede.

Wajah Gandar justru menegang. Namun kemudian ia pun menarik nafas dalam-dalam.

Di dalam hati, Gandar mengucap syukur kepada Yang Maha Agung, bahwa Iswari justru telah mendapat satu karunia bagi kelangsungan keturunannya kelak. Dengan melupakan perasaan yang bergejolak di dalam dadanya, maka Gandar merasakan

kegembiraan sebagaimana dirasakan oleh Ki Gede yang menunggu hadirnya seorang cucu.

“Gandar,” berkata Ki Gede kemudian. “Sebentar lagi kita akan merayakan dengan menyelenggarakan upacara tujuh bulan kandungan Iswari. Karena itu, aku minta kau jangan meninggalkan Tanah Perdikan ini sebelum upacara itu kami selenggarakan.

Adakah kebetulan sekali bahwa kau datang justru pada saat kami akan mengirim seseorang untuk memberitahukan hal ini kepada kakek Iswari, Kiai Badra.”

“Tetapi Ki Gede,” berkata Gandar kemudian. “Sebaiknya aku kembali untuk memberitahukan hal ini kepada Kiai. Kiai tentu ingin sekali menghadiri upacara cucunya itu.”

“Ah, bukankah aku dapat mengirimkan orang lain? Beberapa orang disini sudah pernah melihat padepokan kecil ini, sehingga kau tidak perlu meninggalkan Tanah Perdikan ini. Biarlah aku menyuruh dua tiga orang untuk menjemput Kiai Badra.”

Gandar mengangguk-angguk. Tetapi ia tidak membantah. Untuk sementara ia memang belum memikirkan, siapakah yang akan memberitahukan hal ini kepada Kiai Badra, karena pada saat itu muncul Iswari yang pucat dan berkeringat.

“Kakang,” desis Iswari dengan wajah yang cerah, “Kau datang sendiri saja?”

Terasi denyut nadi Gandar semakin cepat. Namun ia pun dapat menguasai perasaannya. Karena itu, ia pun segera menjawab, “Ya Iswari. Aku datang sendiri.”

“Kenapa tidak bersama kakek?” bertanya Iswari pula.

“Kakek sedang sibuk di padepokan,” jawab Gandar.

“Sibuk? Apa saja yang dikerjakan kakek di padepokan? Bukankah ada beberapa orang cantrik yang membantunya?” desak Iswari pula.

Gandar mencoba untuk tertawa. Katanya, “Sekarang Kiai Badra berusaha untuk beternak. Itulah sebabnya, maka ia tidak dapat setiap saat meninggalkan padepokan. Para cantrik masih belum terbiasa dengan kesibukan baru itu, sehingga Kiai Badra masih harus selalu menuntunnya.”

Tetapi Iswari justru tertawa. Meskipun demikian ia tidak membantah.

Bahkan kemudian katanya, “Ternyata kau memang mempunyai banyak rejeki kakang.

Kau datang tepat pada saat Ki Gede akan makan malam.”

“Bagus,” sahut Ki Gede. “Kita akan makan bersama.”

Sejenak kemudian, maka mereka pun sudah duduk mengelilingi hidangan makan malam.

Nasi hangat dengan sayur yang hangat pula. Sambal terasi dan lalapan. Beberapa potong ikan gurameh yang diambilnya dari kolam sore tadi.

“Marilah,” Ki Gede mempersilakan.

Namun rasa-rasanya masih ada yang kurang bagi Gandar. Sejenak ia menunggu. Namun kemudian ia pun bertanya, “Dimanakah suami Iswari?”

“O,” Ki Gede tersenyum. “Ia sekarang banyak bertugas keluar padukuhan induk. Menurut keterangannya, keadaan menjadi agak kurang meyakinkan. Sekali-kali para peronda melihat orang-orang yang mencurigakan. Menurut dugaan Wiradana, mereka mungkin para pengikut telik sandi yang dikirim oleh Kalamerta atau para pengikutnya yang masih mendendam.”

Gandar mengangguk-angguk. Namun terasa aneh, bahwa saat di gardu-gardu masih belum ada seorang peronda pun, Wiradana telah meninggalkan rumahnya tanpa menunggu makan malam.

Nampaknya Iswari dapat menangkap perasaan Gandar. Karena itu, maka katanya,

“Kakang Wiradana selalu setia kepada tugas-tugasnya. Tetapi bukankah itu sudah wajar?”

“Apakah hal seperti ini dilakukannya setiap hari?” bertanya Gandar.

“Ya. Kebanyakan demikian,” sahut Iswari.

“Sebelum makan?” bertanya Gandar pula.

Iswari merenung sejenak. Namun ia pun kemudian mengangguk sambil menjawab, “Ya kakang. Hampir setiap hari kakang Wiradana tidak sempat makan malam.”

Gandar mengangguk-angguk. Tetapi ia masih berkata,

“Iswari. Kau adalah seorang istri. Adalah kewajibanmu untuk memberinya peringatan, bahwa bekerja terlalu berat dan dalam pada itu melupakan makan dan minum, akan berakibat kurang baik bagi kesehatan wadagnya. Bukankah kau cucu seorang yang mumpuni di bidang pengobatan, sehingga kau akan dapat mengatakan kepada suamimu tentang hal itu.”

Iswari tiba-tiba menundukkan kepalanya. Namun dalam pada itu Ki Gede lah yang menyahut, “Sebenarnya tidak kurang Iswari memperingatkan suaminya seperti yang kau kehendaki itu Ki Sanak. Tetapi Wiradana sejak kecil memang merupakan seorang yang keras kepala. Jika ia sudah mempunyai rencana, maka sulit untuk dapat dicegah. Bahkan aku pun sudah pula memper-ingatkan. Bukan saja tentang makan dan minum tetapi juga tentang keselamatan dirinya. Tetapi agaknya ia benar-benar merasa bertanggung jawab atas keselamatan Tanah Perdikan ini.”

Gandar mengangguk-angguk. Ia mencoba untuk mengerti, betapa tinggi perhatiannya terhadap Tanah Perdikannya.

“Mungkin ia ingin menunjukkan kepada ayahnya, bahwa ia sudah siap untuk menggantikan kedudukannya, menjadi Kepala Tanah Perdikan. Mungkin bahkan sebelum bayinya lahir,” pikir Gandar.

Demikianlah, maka Gandar pun kemudian makan malam bersama Ki Gede dilayani oleh Iswari tanpa Wiradana. Dari Iswari, Gandar mendengar bahwa biasanya Wiradana kembali menjelang dini hari. Bahkan kadang-kadang justru sampai pagi.

Perangai Wiradana itu ternyata menarik perhatian Gandar. Ketika kemudian di malam itu, Gandar dipersilakan untuk beristirahat di Gandok, maka ia mulai merenungi tingkah laku Wiradana. Bagi Gandar tingkah laku Wiradana memang agak berlebihan.

“Tetapi aku belum mengetahui keadaan Tanah Perdikan ini di saat-saat terakhir,”

berkata Gandar didalam hatinya. “Mungkin keadaannya memang menuntut sikap Wiradana yang demikian.”

Namun karena itu udara malam yang panas, maka rasa-rasanya Gandar tidak tahan untuk berada di dalam biliknya. Sementara itu, ia pun memang belum mengantuk.

Karena itu, maka ia pun kemudian keluar dari biliknya dan melangkah menuju ke gerbang menemui anak-anak muda yang sedang meronda.

“Marilah Gandar,” anak-anak muda itu mempersilakan.

Gandar tersenyum. Lalu katanya, “Nampaknya penjagaan terlalu ketat malam ini.”

“Tidak,” jawab seorang anak muda, lalu, “Penjagaan malam ini tidak lebih dari malam-malam sebelumnya.”

“Apakah demikian pula di gardu-gardu di mulut-mulut lorong? Ketika aku memasuki padukuhan induk ini menjelang senja, gardu-gardu masih nampak kosong,” berkata Gandar.

“Meskipun kami tidak boleh kehilangan kewaspadaan, namun adalah satu kenyataan, bahwa akhir-akhir ini keadaan menjadi semakin baik. Rasa-rasanya tidak pernah ada gangguan yang berarti di dalam Tanah Perdikan ini,” jawab salah seorang di antara anak-anak muda itu.

“Di seluruh Tanah Perdikan?” bertanya Gandar.

“Ya,” jawab anak muda itu.

“Tetapi Wiradana nampaknya terlalu sibuk di saat-saat terakhir. Malam ini aku tidak menjumpainya di rumah,” berkata Gandar.

Anak muda itu terdiam sejanak. Namun seorang kawannya menjawab, “Memang keamanan agak terganggu sekarang Gandar. Tetapi tidak di dalam Tanah Perdikan ini. Justru di luarnya. Agaknya Wiradana memang selalu mengadakan hubungan dengan anak-anak muda di luar Tanah Perdikan ini. Menurut keterangannya, gerombolan Kalamerta masih saja berkeliaran meskipun mereka tidak berani memasuki Tanah Perdikan ini.”

Gandar mengangguk-angguk. Ada beberapa hal yang menarik. Tetapi ia mengambil satu kesimpulan, bahwa Wiradana selalu pergi seorang diri.

Tetapi Gandar tidak berani mengambil kesimpulan lebih lanjut. Yang kemudian terngiang kembali di telinganya adalah mimpi Kiai Badra. Mimpi yang dalam banyak hal tidak lebih dari bunga-bunga orang yang sedang tidur. Namun dalam satu masalah tertentu, mimpi kadang-kadang dapat memberikan isyarat yang berarti.

Namun dengan demikian, maka Gandar pun telah bertekad untuk tetap berada di Tanah Perdikan sebagaimana disarankan oleh Kiai Badra. Adalah kebetulan bahwa Ki Gede akan menyelenggarakan satu upacara, sehingga ia mempunyai alasan yang tidak segera dicurigai orang lain jika ia berada agak lama di Tanah Perdikan Sembojan.

DALAM pada itu, untuk beberapa lama Gandar berada di antara anak-anak muda Tanah Perdikan Sembojan. Namun kemudian ia pun minta diri untuk kembali ke dalam biliknya.

“Aku sudah mengantuk,” berkata Gandar.

“Kau tentu lelah,” berkata salah seorang anak muda. “Bukankah kau baru sore menjelang senja tadi kau datang?”

“Ya,” Gandar mengangguk-angguk. “Sekarang, rasa-rasanya aku sudah ingin tidur.

Besok dan malam-malam berikutnya aku akan dapat berada di gardu ini sampai fajar.”

“Besok bukan aku yang meronda,” jawab anak muda itu.

“O,” Gandar mengangguk-angguk. “Tetapi sama saja bagiku. Siapapun yang meronda.”

Sejenak kemudian maka Gandar pun telah meninggalkan gardu peronda itu, kembali ke dalam biliknya. Beberapa saat ia masih berangan-angan. Namun kemudian ia pun telah tertidur nyenyak.

Di dini hari, Gandar telah terbangun sebagaimana kebiasaannya. Ia pun segera pergi ke pakiwan dan menimba air, seperti yang selalu dikerjakan selagi ia berada di Tanah Perdikan dahulu. Ketika pakiwan telah penuh, maka ia pun lalu mandi, selagi pakiwan itu masih belum dipakai. Jika saatnya orang mandi, maka pakiwan itu akan dipakai bergantian terus menerus.

Demikian ia selesai mandi, maka ia pun me-langkah kembali ke gandok untuk membenahi diri. Namun Gandar terkejut bukan buatan. Tiba-tiba saja, Wiradana telah muncul dari sudut kandang di sebelah longkangan.

“Wiradana,” desis Gandar.

Wiradana mengangguk-angguk. Di bibirnya nampak sebuah senyum. Dengan nada yang ramah ia bertanya, “Kapan kau datang Gandar?”

“Kemarin sore. Kau tidak ada di rumah. Menurut Ki Gede kau sedang nganglang,” jawab Gandar.

“Ya. Aku memang sedang mempunyai banyak tugas,” jawab Wiradana. Lalu, “Tetapi apakah kedatanganmu itu sekadar karena niatmu sendiri, atau kau membawa pesan dari kakek?”

Sejenak Gandar termangu-mangu. Namun kemudian ia pun menjawab, “Tidak ada pesan apa-apa Wiradana. Aku hanya merasa kangen kepada adikku. Sudah kira-kira setengah tahun aku tidak menengoknya. Bahkan mungkin lebih.”

Wiradana mengangguk-angguk. Namun kemudian katanya, “Syukurlah, jika kau hanya sekadar menengoknya. Berapa hari kau akan berada disini?”

Pertanyaan itu terdengar agak aneh. Tetapi Gandar tidak mau berprasangka. Maka jawabnya, “Ki Gede minta aku tinggal disini sampai upacara tujuh bulan yang akan segera dilaksanakan.”

Wajah Wiradana menegang. Hampir diluar sadarnya ia bertanya, “Dan kau juga menyanggupinya.”

“Ya,” jawab Gandar.

Wiradana termangu-mangu sejenak. Namun kemudian ia pun tidak bertanya lagi.

Sambil melangkah pergi ia bergumam,” Aku perlu istirahat.”

Tetapi tiba-tiba saja Gandar bertanya, “Apakah kau baru pulang Wiradana?”

“YA,” jawab Wiradana. “Aku bertanggung jawab atas pengamanan Tanah Pedikan ini.”

“Apakah kau pergi seorang diri?” bertanya Gandar pula.

Wiradana mengerutkan keningnya. Namun kemudian ia menjawab, “Tidak selalu.

Kadang-kadang aku membawa satu dua orang pengawal.”

Gandar tidak bertanya lagi. Wiradana pun kemudian masuk ke ruang dalam lewat pintu butulan.

Gandar menarik nafas dalam-dalam. Namun ia pun kemudian melangkah kembali menuju ke gandok.

“Aku tidak boleh berprasangka,” berkata Gandar di dalam hatinya. “Sementara Ki Gede dan Iswari tidak menaruh kecurigaan apa-apa.”

Di hari itu, Gandar tidak banyak bertemu dengan Wiradana. Seolah-olah Wiradana lebih banyak berada di dalam biliknya. Sementara itu Iswari selalu sibuk bekerja di dapur.

Namun menjelang tengah hari, Iswari telah siap berbenah diri. Ketika ia akan pergi, ia singgah sejenak di gandok untuk minta diri kepada Gandar, “Kakang, aku akan pergi ke rumah sebelah.”

“O,” Gandar yang duduk di dalam gandok pun melangkah keluar, “Untuk apa?”

“Tetangga di sebelah melahirkan tiga hari yang lalu. Aku menungguinya di saat bayi itu lahir. Agak sulit. Sejak itu aku belum mene-ngoknya lagi,” jawab Iswari.

Gandar mengangguk-angguk. Katanya, “Pergilah.”

Tetapi ketika Iswari melangkah turun dari tangga gandok, Gandar bertanya, “Kau tidak pergi bersama suamimu?”

“Ah. Tidak,” jawab Iswari. “Selain bukan kebiasaan laki-laki mengunjungi kelahiran, kakang Wiradana sedang beristirahat. Semalam suntuk ia nganglang.”

“Lalu di siang hari suamimu tidak banyak berbuat apa-apa?” bertanya Gandar.

“Ah, tentu saja ia melakukan tugasnya pula. Tetapi karena kewajibannya di malam hari lebih banyak menuntut waktunya, maka ia berusaha untuk mengurangi tugas-tugas di siang hari. Kakang Wiradana telah membagi tugas yang kurang penting dan dapat dikerja-kan oleh orang lain di siang hari.”

Gandar mengangguk-angguk. Tetapi ia tidak bertanya lebih lanjut.

Ketika Iswari kemudian meninggalkannya, maka Gandar itu pun telah duduk di serambi gandok. Dipandanginya kesibukan di rumah Kepala Tanah Perdikan itu.

Meskipun Ki Gede sudah menjadi cacat kaki dan tangannya, tetapi ia masih tetap berada di pendapa untuk mene-rima beberapa orang bebahu yang datang me-nemuinya.

Gandar mengerutkan keningnya, ketika ia melihat Wiradana pun kemudian duduk pula bersama ayahnya. Agaknya memang ada bebe-rapa masalah yang sedang dibicarakan oleh para berbahu.

“Namun agaknya bukan persoalan yang gawat,” berkata Gandar di dalam hatinya.

Karena menilik sikap para bebahu, agaknya mereka justru sedang membicarakan sesuatu yang menarik.

Ketika kemudian sekilas Gandar memandang Wiradana yang sedang sibuk berbicara dengan tamu-tamu ayahnya itu, terasa sesuatu bergetar di dahi Gandar. Sambil menarik nafas da-lam-dalam ia berkata kepada diri sendiri, “Aku terlalu dipengaruhi oleh mimpi Kiai Badra, sehingga semua pandanganku kepada orang-orang di sekitar Iswari telah dialasi dengan kecurigaan. Agaknya aku memang tidak

pantas mencurigai orang-orang yang justru sedang bekerja keras untuk kepentingan Tanah Per-dikan ini.”

Namun sebenarnyalah, alas dari sikap Gandar bukan saja karena mimpi Kiai Badra.

Tetapi ia seakan-akan di dorong oleh satu keinginan untuk berbuat sesuatu bagi keselamatan Iswari. Ia merasa tidak rela melihat seandainya Iswari digigit nyamuk sekalipun. Sejak mereka bersama-sama tinggal di padepokan, maka hampir semua tingkah laku Gandar semata-mata ditujukan untuk kesenangan Iswari.

DAN kini, mimpi Kiai Badra membuatnya sangat cemas tentang perempuan yang sedang mengandung itu. Dalam beberapa kesempatan di hari itu, Gandar dapat berbicara

pula dengan Wiradana yang datang menemuinya di gandok. Namun nada pembicaraan Wiradana agak berbeda dengan Ki Gede Sembojan.

Ketika mereka membicarakan rencana upacara tujuh bulan kandungan Iswari, maka Wiradana itu pun berkata, “Sebenarnya tidak akan ada apa-apa, Gandar. Agak-nya ayah hanya mengatakan menurut basa-basi saja. Semuanya akan dilangsungkan dengan sederhana. Karena itu, bukan satu hal yang seharusnya kau lakukan untuk menunggu hari itu seandainya kau memang mempunyai kepentingan yang lain. Kecuali jika kau memang ingin menunggui adikmu. Sementara itu, agaknya Kiai Badra pun tidak perlu diberi tahu. Besok saja, jika bayi itu lahir, maka biarlah satu dua orang datang kepada kakek untuk mengabarinya.”

Gandar mengerutkan keningnya. Semula ia sudah berusaha untuk menyingkirkan

segala macam prasangka. Tetapi sikap Wiradana itu justru telah menumbuhkan pertanyaan-pertanyaan baru.

Sementara itu Wiradana pun berkata selanjutnya, “Yang sekarang lebih menarik

perhatianku sebenarnya adalah justru pengamanan daerah ini. Ada beberapa laporan tentang hadirnya beberapa orang yang pantas dicurigai. Beberapa kejahatan kecil telah terjadi dipadukuhan-padukuhan justru di luar Tanah Perdikan ini. Karena itu, aku harus mendapat keterangan sebanyak-banyaknya tentang hal itu, agar dengan demiki-an aku dapat mengatur Tanah Perdikan ini sebaik-baiknya. Aku masih selalu memikirkan kemungkinan Kalamerta kembali membawa dendam di Tanah Perdikan ini.”

Gandar mengangguk-angguk. Ia tidak memberikan banyak tanggapan. Namun ia lebih banyak berbicara kepada dirinya sendiri. Rasa-rasa ada semacam kecemasan bahwa dengan demikian Iswari akan merasa kesepian. Bagaimanapun juga, tidaklah sewajarnya jika seorang istri terlalu sering ditinggalkan di rumah sendiri semalam-malaman.

Lebih dari itu, ada perasaan tidak rela di dalam dada Gandar melihat perlakuan Wiradana atas Iswari apapun alasannya. Karena betapapun besarnya tanggung jawab Wiradana atas Tanah Perdikan Sembojan, namun ia pun harus bertanggung jawab pula atas kesejahteraan istrinya, lahir dan batin. Karena itu, adalah tidak wajar

jika setiap malam Iswari dibiarkannya merenungi dirinya sendiri di pembaringannya justru pada saat harapannya untuk mendapatkan seorang anak sedang melambung.

Suramnya Bayang-bayang 6

Sesaat kemudian, Wiradana masih melanjutkan, “Karena itu Gandar, jangan terikat oleh keinginan ayah untuk tinggal disini sampai upa-cara tujuh bulan kandungan Iswari. Tidak akan ada apa-apa. Jika kau segan mengatakannya kepada ayah, biarlah aku saja yang mengata-kannya.”

Tetapi justru karena itu, keinginan Gandar tetap berada di Tanah Perdikan itu

menjadi semakin besar. Namun ia tidak mengatakannya, bahkan tiba-tiba saja telah tumbuh rencana di dalam dirinya.

Karena itu, maka Gandar pun kemudian menjawab, “Wiradana, sebenarnyalah bahwa aku mempunyai kewajiban yang tidak dapat aku tinggalkan terlalu lama. Jika demikian halnya, maka biarlah aku berterus terang kepada Ki Gede bahwa aku tidak perlu menunggu sampai upacara itu.”

“Bagus,” desis Wiradana hampir di luar sadarnya. Sementara itu terkilas di dalam hatinya, bahwa kehadiran Gandar hanya akan mengganggu rencananya yang sudah disiapkannya bersama Warsi. Menyingkirkan Iswari. Jika perlu justru pada saat bayinya belum lahir. Bagi Warsi hal itu akan merupakan kerja yang sekaligus tanpa bersusah payah melakukan lagi untuk melenyapkan anak Iswari yang akan berhak mewarisi Tanah Perdikan ini.

Karena itu, maka Wiradana itu pun berkata, “Tetapi segalanya terserah kepadamu.

Jika kau ingin tinggal di Tanah Perdikan ini, kami pun akan menerimanya dengan senang hati. Namun seandainya kau harus kembali karena tugas-tugasmu di padepokanmu, maka aku kira ayah pun tidak akan berkeberatan.”

“Ki Wiradana,” berkata Gandar kemudian, “Aku akan mengambil jalan tengah-tengah.

Aku akan berada beberapa hari lagi di Tanah Perdikan ini, tetapi tidak sampai upacara tujuh bulan kandungan Iswari. Dengan demikian, maka rasa-rasanya aku

dapat memenuhi semua keinginannya.”

“Terserah kepadamu,” berkata Wiradana. Sebenarnya ia masih kecewa juga. Tetapi itu akan lebih baik daripada Gandar menunggu sampai hari upacara itu.

“Aku harus melenyapkan Iswari sebelum upacara,” berkata Wiradana yang hatinya sudah disusupi iblis itu.

Demikianlah, maka Gandar masih akan berada di Tanah Perdikan itu untuk beberapa hari. Namun ia akan memanfaatkan saat-saat itu sebaik-baiknya. Saat yang hanya beberapa hari itu.

Ternyata bahwa Gandar tidak dapat bertahan pada sikapnya sebagai sekadar orang yang dungu dan tidak mampu berbuat apa-apa. Meskipun ia tetap mempertahankan anggapan orang lain atasnya, tetapi ternyata bahwa ia telah berbuat sesuatu.

Ketika malam turun, maka ia tidak berada di dalam gandok tanpa diketahui oleh siapapun. Ia sempat melihat Wiradana turun di saat Tanah Perdikan Sembojan mulai diselubungi oleh kegelapan. Ternyata bahwa Gandar mempunyai kemampuan untuk melakukan sesuatu. Di dorong oleh gejolak perasaannya, maka telah timbul di dalam hatinya keinginan untuk mengetahui, apa yang dilakukan oleh Wiradana di malam hari.

Karena itu, maka Gandar pun telah mengikutinya. Ia sadar, bahwa Wiradana anak Ki Gede Sembojan sekaligus muridnya, adalah seseorang yang memiliki ilmu yang tinggi. Ki Gede sendiri telah berhasil membunuh orang yang bernama Kalamerta.

Nama yang sangat disegani bukan saja di Tanah Perdikan Sembojan, tetapi nama itu rasa-rasanya telah menghantui seluruh Kadipaten Pajang.

Dengan demikian maka Gandar pun telah melakukannya dengan sangat hati-hati. Ia tidak boleh gagal, sehingga Wiradana mengetahui apa yang dilakukannya. Jika demikian, maka persoalannya benar-benar akan menjadi sangat menyulitkan Iswari.

Seandainya sebelumnya tidak ada persoalan apapun juga, maka yang dilakukannya itu justru akan menghancurkan hidup Iswari dan hari depannya.

Namun ternyata bahwa Gandar yang dianggap dungu itu mampu melakukannya. Ia mampu mengikuti perjalanan Wiradana yang tergesa-gesa, keluar dari Tanah Perdikan.

“Apakah setiap malam Wiradana menempuh perjalanan yang cukup panjang ini?” bertanya Gandar di dalam hatinya.

Semakin lama Gandar rasa-rasanya menjadi semakin ingin tahu, kemana Wiradana itu akan pergi. Karena itu, maka ia pun menjadi semakin rapat mengikutinya, agar ia tidak kehilangan jejak, namun juga tidak diketahui bahwa ia telah mengikutinya.

Ketika kemudian Wiradana memasuki sebuah padukuhan, jantung Gandar berdebar semakin cepat. Nampaknya daerah tetangga Perdikan Sembojan itu bukannya satu Tanah perdikan. Tetapi satu Kademangan yang tidak begitu besar. Kegiatan anak-anak mudanya pun tidak sebagaimana dilakukan oleh anak-anak muda Sembojan, apalagi setelah Ki Gede Sembojan membunuh orang yang bernama Kalamerta.

Karena itu, maka rasa-rasanya padukuhan itu sangat lengang. Tidak ada orang sama sekali di gardu di mulut padukuhan. Ketika Wiradana memasuki padukuhan itu, tidak seorang pun yang menyapanya. Setiap pintu rumah sudah tertutup rapat.

Bahkan regol-regol halaman pun telah tertutup pula. tidak ada kesan sama sekali bahwa padukuhan itu telah di jamah oleh kerusuhan sebagaimana dikatakan oleh Wiradana.

Kecurigaan Gandar menjadi semakin meningkat, ketika kemudian Wiradana memasuki sebuah regol halaman rumah yang tidak terlalu besar.

Jantung Gandar menjadi semakin cepat berdenyut. Namun ia masih berusaha untuk dapat berbuat sebaik-baiknya. Baginya Wiradana adalah seorang yang memiliki ilmu yang tinggi karena ia adalah anak dan murid Ki Gede Sembojan.

Untuk beberapa saat lamanya, Gandar tidak segera mendekati rumah itu. Ia berusaha untuk menenangkan hatinya, agar ia mampu memusatkan kemampuannya, menahan pernafasannya sehingga desahnya tidak mudah didengar oleh orang lain.

Apalagi orang yang memiliki ilmu yang tinggi.

Baru setelah ia berhasil menenangkan dirinya maka dengan sangat berhati-hati Gandar telah mendekati rumah kecil itu. Dengan berlandaskan kemampuannya, maka ia berusaha untuk menyerap segala macam bunyi yang mungkin timbul dari dirinya.

Pernafasannya, langkahnya, mungkin jika tubuhnya menyentuh dinding, dan kemungkinan-kemungkinan lainnya yang dapat terjadi.

Dalam keadaan yang demikian itulah, Gandar kemudian mendekati dinding rumah itu.

Namun langkahnya tiba-tiba berhenti. Ia menjadi ragu-ragu. Ada semacam hambatan di dalam dirinya untuk meneruskan niatnya.

“Bagaimanakah jika aku melihat sesuatu yang dapat menyakiti hati Iswari,”

berkata Gandar di dalam hatinya.

Sejenak Gandar termangu-mangu. Namun dorongan ingin tahunya kemudian telah memaksanya untuk bergeser semakin dekat dengan dinding rumah kecil itu.

Dengan ketajaman pendengarannya, maka dari balik dinding Gandar mendengar percakapan di dalam. Perlahan-lahan sekali. Tetapi jelas bagi Gandar.

Terasa jantung Gandar bagaikan akan terlepas dari tangkainya. Dalam beberapa saat kemudian, ia tahu pasti, apa yang sebenarnya telah terjadi. Apa yang dilakukan oleh Wiradana jika ia pergi meninggalkan rumahnya, meninggalkan Iswari dan meninggalkan Tanah Perdikannya di malam hari. Hatinya yang sudah mulai tenang itu telah bergejolak kembali. Rasa-rasanya ia ingin meloncat dan mencekik Wiradana yang curang itu.

Namun untunglah, bahwa Gandar masih dapat menahan diri. Rasa-rasanya masih ada satu keinginan untuk membuktikannya dengan penglihatannya. Apa yang telah dilakukan oleh Wiradana di rumah itu. Seakan-akan bukan oleh kehendaknya sendiri, Gandar telah bergeser melekat dinding. Ketika ia menemukan sebuah lubang di antara anyaman bambu dan tiang kayu, maka ia telah mengintip ke dalam.

“O,” Gandar mengeluh. Ia melihat Wiradana duduk bersama seorang perempuan yang sangat cantik. Seorang perempuan yang menyambutnya dengan manja dan agaknya telah menyediakan makanan dan minuman yang hangat baginya.

Namun dalam pembicaraan mereka, Gandar mengetahuinya bahwa keduanya telah menjadi suami istri sebagaimana Wiradana dengan Iswari.

Tubuh Gandar menjadi gemetar. Tetapi justru dengan demikian, maka ia telah kehilangan pemusatan nalar budinya untuk menyerap bunyi yang timbul dari dirinya. Karena itu, maka penyerapannya pun menjadi berkurang pula.

Gandar baru sadar, baha ia telah melakukan sesuatu kesalahan ketika tiba-tiba saja ia melihat perempuan yang duduk di samping Wiradana itu mengangkat wajahnya, justru pada saat Wiradana baru menghirup minuman hangatnya, sehingga Wiradana tidak memperhatikannya.

“Kakang,” tiba-tiba saja terdengar suara perempuan cantik itu, “Ada sesuatu yang terlupa. Aku akan mengambil gula kelapa di dapur sejenak.”

“Minuman ini sudah cukup manis,” berkata Wiradana.

Perempuan itu tersenyum. Sambil berdiri ia menepuk bahu Wiradana sambil berdesis, “Hanya untuk sekejap. Nanti kita makan bersama-sama.”

Perempuan cantik itu pun kemudian berdiri dan melangkah ke dapur.

Gandar menyadari kelengahannya. Ia pun kemudian telah kembali memusatkan ilmu serapnya, sehingga tidak ada lagi bunyi apapun yang timbul daripadanya. Bahkan seandainya ia menyentuh dinding sekalipun. Namun sebenarnyalah Gandar ingin tahu, apa yang akan dilakukan perempuan cantik itu di dapur.

Dengan hati-hati Gandar bergeser dari tempatnya. Melihat arah perempuan itu, Gandar dapat menduga, di manakah letak dapur di rumah itu. Karena itu, maka ia pun telah melingkari sudut rumah itu dan berusaha untuk dapat mengintip pula ke dalam dapur.

Ternyata Gandar menemukan lubang kecil di sela-sela anyaman dinding. Dari sela-sela itu ia melihat ke dalam dapur yang gelap. Namun dengan mengerahkan kemampuannya, maka pandangan matanya pun menjadi semakin tajam sehingga dapat mengatasi kegelapan dapur yang lampunya sudah tidak dinyalakan lagi itu.

Namun tiba-tiba jantungnya berdegup lebih cepat lagi. Bahwa ia menghadapi satu kenyataan tentang Wiradana yang mempunyai istri yang lain kecuali Iswari dan telah membuat darahnya menjadi panas.

Namun kemudian ia telah melihat satu kenyataan lain yang membuat darahnya semakin mendidih.

Ternyata Gandar melihat perempuan cantik itu berdiri tegak sambil menengadah kepalanya. Tangannya ditekuk pada sikunya sejajar di sebelah menyebelah tubuhnya dengan jari-jari yang mengepal.

“Gila,” desis Gandar di dalam hatinya. Ia mengenal sikap itu. Sikap pemusatan kekuatan lahir dan batin dari satu aliran ilmu yang mendebarkan. Satu garis keturunan dengan ilmu yang dimiliki oleh Kalamerta.

“Siapakah sebenarnya perempuan ini?” bertanya Gandar kepada dirinya sendiri.

Namun ia tetap sadar akan dirinya. Ia pun telah mengerahkan segenap kemampuannya untuk mempertinggi daya serapnya, karena itu ia tahu bahwa agaknya perempuan itu telah mendengar sesuatu, sehingga ia pun telah berusaha mendengar lagi dengan memusatkan ilmunya untuk mempertajam pendengarannya.

Sebenarnyalah memang telah terjadi satu benturan ilmu. Ilmu yang melandasi Gandar atas ilmu serap bunyi, dan ilmu Warsi yang mampu mempertajam daya tangkap pendengarannya.

Namun pertempuran itu tidak berlangsung terlalu lama. Sejenak kemudian terdengar suara Wiradana memanggil, “Warsi.”

Warsi menarik nafas dalam-dalam. Ia terpaksa melepaskan ilmunya. Namun nampaknya ia sudah puas dengan pengamatannya yang sesaat dengan pendengarannya, karena ia memang tidak mendengar apa-apa.

“Agaknya aku telah tergoda oleh desis angin,” berkata Warsi di dalam hatinya. Ia pun kemudian melangkah, keluar dari kegelapan. Namun begitu ia melampaui pintu, cepat-cepat ia melangkah kembali sehingga Gandar menjadi berdebar-debar.

Namun ternyata Warsi masih menyempatkan diri mengambil beberapa gula kelapa.

Demikian cepatnya meskipun di dapur itu tidak ada lampu sama sekali.

Demikinlah Warsi hilang dari balik pintu dapur, maka Gandar pun menarik nafas dalam-dalam. Yang dilakukannya pertama-tama kemudian menjauhi rumah itu. Bahkan Gandar telah meloncati dinding halaman dan kemudian menyusuri lorong sempit ke jalan yang lebih besar. Dengan hati-hati Gandar berjalan dengan langkah yang diberati oleh tekanan perasaannya, keluar dari padukuhan itu.

Namun untuk beberapa saat, Gandar yang kemudian turun ke sungai kecil yang menyilang jalan itu, duduk di atas sebongkah batu di belakang semak-semak. Getar di dadanya bagaikan tidak dapat diterangkan lagi. Rasa-rasanya ia sudah siap untuk mengoyak tubuh Wiradana yang telah berkhianat terhadap Iswari.

Tetapi dengan susah payah Gandar berusaha untuk mempergunakan nalarnya. Agaknya Iswari sama sekali tidak mengetahui apa yang telah terjadi. Karena itu, seandainya ia melakukan satu langkah yang mengarah kepada terbukanya rahasia

itu, maka ia tidak akan sampai hati melihat akibat yang akan terjadi atas Iswari, justru pada saat Iswari sedang mengandung.

“Kejutan itu akan sangat berpengaruh atas kandungannya,” berkata Gandar di dalam hatinya.

Namun demikian kebencian yang tidak terbatas telah mengguncang perasaannya terhadap Wiradana.

“Apa yang harus aku lakukan?” Gandar menutup wajahnya dengan kedua tangannya.

Betapa ia berusaha, tetapi ia tidak menemukan jalan terang yang paling pantas untuk dilakukannya. Bahkan demikian ia berusaha memikirkan persoalan itu, maka kepalanya pun telah menjadi sangat pening karenanya.

Akhirnya Gandar itu pun berdiri. Ia masih sadar, bahwa ia harus berada di gandok sebelum fajar. Sehingga karena itulah, maka dengan langkah yang gontai ia berjalan kembali ke Tanah Perdikan Sembojan.

Dalam dinginnya udara malam, ternyata Gandar menemukan satu jawaban, “Aku akan menunggu sampai Iswari melahirkan. Anak itu adalah anak Wiradana. Laki-laki atau perempuan, anak itu adalah anaknya yang pertama. Jika ia laki-laki, ia akan langsung menjadi calon pengganti ayahnya kelak. Jika ia perempuan, maka menantunyalah yang akan menduduki jabatan itu.”

Tetapi satu pertanyaan timbul, “Bagaimana jika perempuan itu mempunyai anak laki-laki?”

Gandar menggeram. Namun akhirnya ia bertekad untuk berbicara kelak dengan Ki Gede. Tetapi sekali lagi ia berdesis, “Aku harus menahan diri sampai anak itu

lahir. Jika satu persoalan akan mempengaruhi anak di dalam kandungan itu, maka hati Iswari akan menjadi semakin hancur karenanya.”

Dengan demikian, maka rasa-rasanya hati Gandar menjadi lebih mapan untuk menentukan langkah-langkahnya, meskipun masih belum pasti. Segalanya akan dilakukan setelah anak Iswari lahir. Bahkan seandainya ia harus berhadapan dengan perempuan cantik, istri Wiradana yang ternyata memiliki ilmu yang tinggi itu.

Namun Gandar pun berkesimpulan, agaknya Wiradana tidak menyadari bahwa istrinya memiliki ilmu yang nggegirisi. Istrinya itu pun agaknya dengan sengaja telah menyembunyikan kemampuannya.

“Ia memikat Wiradana tentu dengan kecantikannya,” berkata Gandar di dalam hatinya.

DALAM pada itu, ketika fajar menyingsing dan terdengar suara sapu lidi di halaman, Gandar memang sudah berada di dalam biliknya di gandok rumah Ki Gede Sembojan. Ketika ia membuka pintu, dilihatnya dalam keremangan dini hari, seseorang sedang menyapu halaman.

Gandar pun melangkah turun ke halaman dan sejenak kemudian ia pun telah pergi ke pakiwan. Maka senggot timba pun telah berderit. Seperti yang dilakukannya sebelumnya, maka Gandar pun telah mengisi pakiwan.

Para pembantu di rumah Ki Gede telah mempersilakannya untuk langsung mandi saja.

Tetapi Gandar menjawab, “Aku sudah terbiasa bekerja apa saja di padepokan.”

Karena itu, maka akhirnya Gandar itu pun dibiarkannya saja mengambil air untuk mengisi pakiwan.

Jantung Gandar terasa berdesir ketika tiba-tiba saja melihat Wiradana dengan tergesa-gesa pergi ke pakiwan. Ketika Wiradana itu melihat Gandar, maka ia pun telah tertegun. Namun Gandar justru bagaikan membeku. Ia sedang bergulat dengan

perasaannya agar ia tidak berbuat sesuatu yang dapat merusak suasana tenang di rumah itu. Suasana yang dapat membentuk ketenangan hati Iswari dan bayi di dalam kandungannya.

Karena Gandar tidak menyapanya, maka Wiradanalah yang kemudian bertanya, “Sepagi ini kau sudah menimba air Gandar?”

Gandar menarik nafas dalam-dalam. Hampir tidak terloncat dari bibirnya, namun akhirnya terdengar juga ia menjawab, “Sebagaimana selalu aku lakukan di padepokan.”

Wiradana tidak bertanya lagi. Ia pun langsung pergi ke pakiwan. Demikian ia

selesai membersihkan diri, maka ia pun telah meninggalkan pakiwan itu. Tetapi Gandar ternyata sudah sempat ber-tanya, “Apakah kau baru pulang?”

“Ya,” sebenarnyalah Wiradana benci sekali mendengarkan pertanyaan itu. Tetapi ia harus menjawabnya. Lalu, “Aku langsung nganglang dan melihat air di parit-parit.”

Gandar tidak bertanya lagi. Ia mencemaskan dirinya sendiri bahwa pada satu saat ia tidak lagi mampu mengekang pertanyaannya.

Tanpa berpaling lagi, Wiradana pun telah hilang lewat pintu dapur masuk ke ruang dalam.

Dalam pada itu, selagi Gandar masih belum selesai memenuhi jambangan di pakiwan, jantungnya berdesir ketika ia melihat Iswari keluar pula dari pintu dapur sambil membawa beberapa mangkuk kotor yang akan dicuci didekat sumur. Sambil tersenyum cerah ia bertanya kepada Gandar, “Kau sudah menurut kakang.”

Dada Gandar terasa berdegupan. Ia melihat senyum Iswari yang cerah. Namun seakan-akan ia juga melihat Iswari yang sedang menangisi nasibnya yang sangat malang, karena suaminya telah mengambil orang lain untuk menjadi istrinya pula.

Bahkan agaknya Wiradana lebih mencintai yang kedua, karena hampir tiap malam, Wiradana memilih berada di tempat istri-nya itu.

“Tetapi memang mungkin sekali terjadi, perempuan itu telah kawin dengan Wiradana sebelum ia kawin dengan Iswari,” berkata Gandar di dalam hatinya. Tetapi kemungkinan itu agaknya kecil sekali. Karena sebelumnya, Wiradana seakan-akan tidak pernah meninggalkan rumahnya sampai semalam-malaman. Bahkan ia lebih

banyak berada di rumahnya atau di gardu-gardu perondan di Tanah Perdikan Sembojan.

Iswari mengerutkan keningnya. Gandar tidak segera menjawab pertanyaannya, bahkan seakan-akan Gandar itu sedang mengingat-ingat sesuatu yang terlupakan.

“Ada sesuatu yang kau pikirkan kakang?” bertanya Iswari.

“O,” Gandar tiba-tiba saja berdesah. Namun dengan cepat ia berusaha memperbaiki kesalahannya. Katanya, “Aku memang sedang mengingat mimpiku semalam. Aku berniat

mengatakan kepadamu. Tetapi tiba-tiba aku telah lupa.”

“MIMPI tentang apa kakang? Apakah mimpi itu begitu pentingnya sehingga kau berniat untuk mengatakan kepadaku?” bertanya Iswari.

“Tidak begitu penting. Aku memang telah melupakan mimpi itu, tetapi kesannya mimpi itu baik bagimu Iswari,” jawab Gandar.

Iswari tertawa. Tetapi rasa-rasanya suara tertawa itu tidak ubahnya dengan suara tangis yang memilukan. Namun demikian, Gandar masih tetap dikendalikan dengan nalarnya. Bukan sekadar perasaannya. Iswari kemudian meletakkan mangkuk-mangkuknya di dekat jambangan kecil yang sering dipergunakannya untuk mencuci alat-alat dapurnya kemudian berjongkok sambil berkata, “Kakang, aku minta airnya.”

Dengan serta merta Gandar pun telah menimba air dan dituangkannya ke dalam jambangan kecil itu. Ada semacam gejolak di dalam hatinya mendengar permintaan

Iswari meskipun hanya air se jambangan kecil. Justru karena Gandar mengetahui keadaan yang sedang dialami oleh Iswari.

Demikian, sejak hari itu, Gandar harus berusaha sekuat-kuatnya untuk menahan gejolak di dalam hatinya Ia harus bersikap wajar dan seakan-akan tidak mengetahui apapun juga.

Kadang-kadang memang ada perasaan menyesal di dalam dirinya, bahwa ia sudah mengikuti dan kemudian mengetahui apa yang sebenarnya telah dilakukan oleh Wiradana, sehingga dengan demikian, maka perasaannya telah dibebani karenanya.

Beban yang justru terasa sangat berat.

Dengan demikian, maka Gandar merasa bahwa ia tidak akan dapat terlalu lama berada di rumah Ki Gede dengan beban tersebut. Sehingga dengan demikian maka ia memutuskan untuk segera meninggalkannya dengan pengertian, bahwa setelah anak yang ada di dalam kandungannya itu lahir, maka ia akan membuat perhitungan

dengan Wiradana.

“Aku akan melaporkannya kepada Ki Gede,” geram Gandar yang agaknya tidak berkeberatan apabila karena itu akan timbul akibat yang memaksanya berhadapan dengan perempuan cantik, yang memiliki ilmu yang tinggi yang ternyata telah menguasai Wiradana itu.

“Apa boleh buat,” geram Gandar, “Dan agaknya ilmu perempuan itu melampaui ilmu yang dimiliki oleh Wiradana.”

Ketika Gandar kemudian menyampaikan maksudnya untuk pulang ke padepokannya, Ki Gede terkejut sekali. Menurut tangkapannya, maka Gandar akan berada di rumahnya sampai upacara tujuh bulan kandungan Iswari. Namun tiba-tiba saja ia telah minta diri.

“Aku merasa sangat gelisah untuk terlalu lama berada disini Ki Gede,” berkata Gandar. “Rasa-rasanya aku sudah meninggalkan tugas-tugasku terlalu lama.

Sementara itu Kiai Badra akan menjadi kebingungan menunggu kedatanganku. Mungkin Kiai Badra telah dicemaskan oleh kemungkinan-kemungkinan buruk yang dapat terjadi atasku diperjalanan. Jika ternyata kelak Kiai Badra sendiri ingin hadir, maka alangkah baiknya dan alangkah senangnya Iswari dalam upaya tujuh bulan kandungannya itu.”

“Sudah aku katakan,” berkata Ki Gede. “Biarlah orangku pergi ke padepokan. Kau berada disini dan Kiai Badra akan aku undang pula untuk datang. Waktunya tinggal beberapa hari saja.”

“Biarlah aku sendiri saja kembali ke padepokan Ki Gede,” berkata Gandar.

“Rasa-rasanya ada sesuatu yang memanggil aku pulang,” jawab Gandar. Ki Gede termangu-mangu sejenak. Namun ia pun berkata, “Tetapi pada hari upacara, kau dan Kiai Badra harus berada disini. Harus.”

Gandar berusaha untuk tersenyum. Katanya, “Baiklah Ki Gede. Aku akan mengatakannya kepada Kiai Badra.”

Ternyata Iswari pun terkejut mendengar Gandar yang minta diri untuk pulang.

Tetapi Gandar kemudian berhasil meyakinkan bahwa ia akan datang lagi bersama Kiai Badra secepatnya.

“AKU akan menangis jika kau dan kakek tidak ada disini pada upacara itu,” berkata Iswari.

Gandar menyadari, bahwa Iswari hanya se-kadar bergurau. Tetapi hati Gandar justru merasa sakit, karena ia tahu, bahwa pada suatu saat Iswari benar-benar akan menangis jika ia mengetahui apa yang sebenarnya terjadi atas dirinya.

Namun dengan susah payah Gandar memaksa dirinya untuk tersenyum sambil berkata,

“Aku tentu akan datang Iswari.”

Demikianlah, maka Gandar pun telah meninggalkan rumah Ki Gede Sembojan. Tetapi rasa-rasanya hatinya telah terbelah. Yang dilihatnya di Sembojan adalah satu peristiwa yang sangat pahit, bukan saja bagi Iswari, tetapi juga bagi Kiai Badra dan dirinya sendiri.

Semakin jauh Gandar melangkah, hatinya terasa menjadi semakin bergejolak.

Kemarahan, kebencian dan bahkan dendam telah membakar hatinya. Rasa-rasanya terlalu sakit jika ia harus sekadar merendamnya di dalam dadanya.

Karena itu, demikian Gandar terlepas dari Tanah Perdikan Sembojan, maka tiba-tiba saja ia sudah berlari mendaki sebuah bukit berbatu-batu. Rasa-rasanya ia ingin melepaskan kepenatan hatinya di atas bukti yang tidak dihuni oleh seorang pun juga.

Dengan mengerahkan tenaga dan kemampuannya, Gandar pun berlari dan berlari.

Kakinya semakin lama menjadi semakin cepat bergerak. Bahkan kemudian kaki itu telah berloncatan dari batu ke batu, mendaki dan kemudian bagaikan melayang-layang di puncak bukit itu.

Ketika Gandar yakin bahwa ia telah berada jauh dari sesamanya, maka tiba-tiba saja ia telah berdiri di atas sebongkah batu. Sambil menengadahkan kepalanya, tiba-tiba saja ia berteriak sekeras-kerasnya. Seakan-akan ia ingin melontarkan segala persoalan yang telah menyumbat dadanya, dilambari dengan segenap kekuatan ilmunya.

Akibatnya ternyata mendebarkan jantung. Suara yang terlontar dari sela-sela bibir Gandar telah menggetarkan bukit berbatu kapur itu. Batu-batu kecil yang terletak di bibir lereng-lereng bukit itu telah berguguran. Sementara semak-semak bagaikan digundang. Daun-daun yang kuning telah runtuh jatuh di atas bebatuan.

Untuk beberapa saat Gandar mengguncang bukit itu. Namun agaknya ia masih belum puas. Tiba-tiba saja ia telah meloncat, berdiri tegak sambil menyilangkan tangannya di dada dengan telapak tangan terbuka. Dengan satu loncatan panjang, maka tangan itu telah terayun dengan kerasnya menghantam lereng batu kapur di atas bukit itu.

Sejenak kemudian terdengar suara gemuruh. Tangan Gandar benar-benar telah memecahkan batu-batu kapur itu, sehingga berguguran menghambur dibawah kakinya.

Sejenak Gandar masih berdiri mematung. Namun kemudian ia telah menarik nafas dalam-dalam. Rasa-rasanya beban di dalam dadanya telah berkurang, setelah dilontarkannya lewat suara dan kekuatannya.

Seluruh tubuh Gandar telah menjadi basah oleh keringatnya. Nafasnya menjadi berkejaran lewat lubang hidungnya. Setelah menghentakkan segenap kekuatan ilmunya, maka rasa-rasanya tubuh Gandar menjadi letih.

Gandar pun kemudian duduk di atas sebongkah batu kapur. Dipandanginya lereng disekitarnya. Sepi.

Namun terasa kemudian angin yang semilir telah menerpa tubuhnya yang menjadi semakin segar.

Untuk beberapa saat Gandar duduk merenung. Ia masih berusaha menemukan sikap yang sebaiknya dilakukan. Ia memang telah memutuskan untuk mempersoalkan hubungan Wiradana dengan Iswari setelah anak Iswari lahir. Namun sementara itu, apakah yang se-baiknya dilakukannya. Apakah ia akan menyampaikan persoalan itu kepada Kiai Badra yang hatinya tentu akan menjadi hancur pula mengingat nasib cucunya yang malang itu. Ayah ibu Iswari telah mengalami nasib yang buruk. Dan sekarang Iswari pun mengalami nasib yang kurang baik pula meskipun dalam ujud yang berbeda.

Tetapi Gandar telah beringsut. Ia telah duduk di atas sebongkah batu sambil merenung.

Rasa-rasanya Gandar telah berdiri disimpang jalan. Ada keinginannya untuk kembali ke padepokannya dan melupakan persoalan Iswari, ia selalu ingat pesan Iswari meskipun sambil bergurau, jika ia dan Kiai Badra tidak datang pada upacara tujuh bulan kandungan Iswari, maka Iswari akan menangis.

Gandar tidak sadar berapa lama ia merenung di atas bukit kapur itu. Tetapi ketika ia menengadahkan wajahnya kelangit, dilihatnya matahari telah turun.

Tubuhnya rasa-rasanya menjadi semakin panas oleh cahaya matahari yang membakar.

Tetapi Gandar telah beringsut. Ia telah duduk di atas sebongkah batu sambil merenung.

Ketika matahari menjadi semakin rendah, maka Gandar masih saja berada di tempatnya. Ketika ia bangkit dan melangkah turun untuk kembali ke padepokannya, tiba-tiba saja ada semacam hambatan dari dalam dirinya. Rasa-rasanya ia tidak sampai hati untuk meninggalkan Iswari sendiri dalam keadaannya. Karena itu, maka

ia telah duduk kembali ditempatnya. “Lalu aku mau apa?” bertanya Gandar di dalam hatinya. Bahkan ketika matahari menghilang dibalik bukit, Gandar masih tetap duduk ditempatnya. Ia sama sekali tidak merasa lapar dan haus. Kekalutan nalarnya membuatnya tidak menghiraukan lagi kepada dirinya sendiri.

Gandar baru bangkit ketika terasa angin yang dingin mulai menembus kulitnya.

Langit nampak bersih. Bintang-bintang nampak bergayutan di langit, menebar dari tepi sampai ketepi.

Gandar yang berdiri tegak di atas batu kapur itu kemudian telah berniat untuk tidak segera kembali. Ia ingin mengamati lebih dekat, apa yang akan terjadi atas Iswari. Kesan sikap Wiradana terhadapnya membuatnya semakin curiga, karena Wiradana seakan-akan telah mengusirnya.

“Mungkin Wiradana cemas bahwa pada suatu saat aku dapat mengetahui rahasianya,” berkata Gandar di dalam hatinya. Tetapi semacam firasat telah menahannya agar ia tidak tergesa-gesa meninggalkan Tanah Perdikan Sembojan.

Gandar pun ternyata menuruti kata hatinya. Ia ingin tetap berada di bukit kapur itu. Ia ingin tetap berada dibukit kapur itu. Ia mempunyai sisa bekal uang serba sedikit, sehingga disiang hari ia dapat turun dan membeli makanan apa saja justru diluar Tanah Perdikan, sementara di malam hari, ia telah berkeliaran di

Tanah Perdikan. Setiap malam ia menunggu Wiradana lewat. Kemudian mengikutinya sampai ke rumah perempuan cantik itu untuk mendengarkan pembicaraan mereka serba sedikit.

Namun karena Gandar telah dapat menjajagi ilmu istri Wiradana tanpa disengaja maka setiap kali ia telah mengetrapkan ilmu sebaik-baiknya, agar kehadirannya tetap tidak diketahui oleh perempuan cantik yang akan menjadi istri Wiradana itu.

Tetapi pada suatu saat, rasa-rasanya telinga Gandar bagaikan disambar petir ketika ia mendengar satu rencana yang sangat keji. Dari mulut Wiradana ia mendengar bahwa telah disiapkan perangkap untuk membunuh Iswari sebelum upacara tujuh bulan kandungannya.

Rasa-rasanya hati Gandar tidak terkendali lagi. Siapapun perempuan itu, dan ilmu apa yang dimilikinya, namun Gandar tidak akan gentar.

Tetapi ternyata bahwa Gandar masih dapat mengekang dirinya. Ia masih mampu mempergunakan nalarnya, sehingga ilmunya tidak terlepas daripadanya untuk tetap menyerap bunyi apapun yang timbul dari dalam dirinya.

Bahkan kemudian Gandar pun berusaha untuk mendengar semakin banyak.

“Aku telah memanggil serigala betina itu,” berkata Wiradana.

“Apakah ia dapat dipercaya?” bertanya perempuan cantik itu.

“Serahkan semuanya kepadaku,” jawab Wiradana.

Perempuan itu menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian perempuan itu

menundukkan kepalanya. Tiba-tiba saja titik-titik air telah menetes dari pelupuk matanya.

“Kenapa kau Iswari?” bertanya Wiradana.

“Aku tidak sampai hati membiarkan perempuan itu diperlakukan seperti itu,” isak Warsi.

“Tetapi bukankah kau sependapat, bahwa ia tidak ada jalan lain yang dapat aku tempuh?” berkata Wiradana.

Perempuan itu mengangguk. Tetapi ia berkata, “Bagaimanapun juga aku pun seorang perempuan.”

“Jangan kau renungkan terlalu dalam. Kita akan segera dapat menyelesaikan persoalan ini untuk kemudian mencari jalan untuk memecahkan persoalan berikutnya,” berkata Wiradana.

Perempuan itu tidak menjawab. Tetapi terdengar ia terisak.

Namun justru isak itulah yang membuat Gandar menjadi muak. Ia sadar, bahwa yang dilakukan oleh perempuan itu tentu satu sikap pura-pura.

Tetapi dalam pada itu, maka bagi Gandar, persoalannya bukan lagi sekadar ingin tahu atau menunggu setelah bayi Iswari lahir. Nyawa Iswari ternyata telah terancam. Karena itu, maka mau tidak mau ia harus berbuat sesuatu.

Dari pembicaraan berikutnya Gandar mengetahui, bahwa dua hari lagi, seseorang akan mengajak Iswari pergi ke tempat seseorang yang sedang menyambut kedatangan anaknya. Mereka akan berangkat dari rumah diwaktu senja. Tetapi saat mereka sampai di bulak, hari tentu sudah gelap. Sejak saat itu, Iswari tidak akan sampai ke rumah untuk selamanya.

Dengan demikian, maka Gandar tidak lagi dapat ingkar dari kewajiban. Masalahnya sudah terlalu jauh dari kewajaran. Karena itu maka apapun yang akan terjadi, Gandar merasa wajib untuk berbuat sesuatu.

Meskipun Gandar telah mendengar, saat yang akan dipilih untuk membunuh Iswari, namun malam sebelumnya ia tetap mengawasinya. Ia merasa cemas bahwa Wiradana mengubah dan mempercepat rencananya.

Ternyata rencana Wiradana adalah benar-benar rencana yang sudah masak, sehingga dengan demikian, maka sebagaimana dikatakan, rencana itu akan dilakukan dihari yang sudah ditentukan.

Pada saat yang dikatakan oleh Wiradana, sebenarnyalah seorang perempuan telah singgah di rumah Nyai Wiradana. Perempuan yang masih belum dikenal oleh Iswari.

“Nyai,” berkata perempuan itu, “Ki Wiradana berpesan kepadaku. Jika aku akan pergi mengunjungi Nyi Pasih, aku diminta untuk singgah sebentar. Bukankah Nyai Wiradana akan pergi ke rumahnya?”

Nyi Wiradana mengangguk. Namun terasa sesuatu yang janggal pada orang itu. Ia belum pernah mengenalnya. Jika perempuan itu perempuan Tanah Perdikan, maka ia tentu sudah mengenalnya, karena setiap orang perempuan bahkan laki-laki pun di Tanah Perdikan itu telah dikenalnya dengan akrab.

“O,” perempuan itu menyadari bahwa Nyai Wiradana agak heran melihat kehadirannya, “Aku adalah penghuni Kademangan sebelah. Mungkin Nyai memang belum mengenal aku. Karena aku akan mengunjungi Nyai Pasih dan melewati jalan ini, maka sekaligus aku singgah barang sejenak agar aku mempunyai kawan di jalan.

Nanti, pada saatnya pulang suamiku akan menunggu aku disini.”

Iswari mengangguk-angguk. Tetapi rasa-rasanya masih ada sesuatu yang meragukannya. Sementara itu perempuan itu berkata, “Suamiku adalah Jagabaya di Kademangan sebelah. Ia banyak berhubungan dengan Ki Wiradana, karena suamiku banyak belajar tentang keamanan Tanah Perdikan ini, sementara Ki Wiradana dengan tekun mempelajari kerusuhan yang sering timbul di Kademangan kami sebelum kerusuhan itu menjalar ke Tanah Perdikan ini.”

Baru kemudian Iswari mengangguk-angguk ketika orang itu memperkenalkan diri sebagai Nyai Jagabaya. Karena itu, maka Iswari pun segera menjawab, “Maaf Nyai

Jagabaya. Karena aku belum mengenal Nyai, maka aku merasa agak canggung. Marilah, duduklah. Aku memang sudah mengatakan kepada suamiku, bahwa aku akan pergi ke rumah Nyi Pasih hari ini.”

“Nah, karena itulah atas pesan Ki Wiradana maka aku singgah,” jawab Nyai Jagabaya.

Iswari pun kemudian mempersilakan perempuan itu masuk. Tetapi katanya, “Sudahlah Nyai. Aku menunggu disini. Bukankah Nyai juga sudah siap untuk berangkat.”

Sementara itu Wiradana pun telah keluar dari pringgitan. Ketika ia melihat

Iswari berbicara dengan seorang perempuan, maka ia pun mendekat sambil berkata, “Inilah Nyai Jagabaya yang akan aku katakan itu Iswari.”

“Tetapi kakang tidak mengatakan bahwa Nyai Jagabaya akan singgah,” jawab Iswari.

“Sehingga aku menjadi bingung, karena aku belum mengenalnya.”

“Nyai Jagabaya,” berkata Wiradana. “Sebenarnya aku sendiri akan mengantar Iswari ke padukuhan sebelah untuk menengok Nyai Pasih, karena aku juga mempunyai kepentingan dengan padukuhan sebelah. Namun ternyata aku harus pergi ke padukuhan lain. Karena aku tidak dapat mengantar, maka biarlah kalian pergi berdua. Tetapi jangan terlalu malam pulang. Meskipun di daerah ini sekarang termasuk daerah yang aman, namun sebaiknya kalian juga berhati-hati.”

“Ah,” desis Nyai Jagabaya, “Suamiku tidak pernah sempat mengantarku kemana saja.

Karena itu, aku sudah terbiasa pergi sendiri. Meskipun demikian suamiku sudah berjanji untuk menjemputku aku disini nanti.”

“O, baiklah. Ia akan diterima disini dengan senang hati. Mudah-mudahan persoalanku pun sudah selesai, sehingga aku akan dapat menemuinya sendiri,”

berkata Ki Wiradana.

Wiradana pun kemudian menyuruh istrinya untuk segera bersiap sebelum hari menjadi gelap. “Biarlah aku mengawani Nyai Jagabaya ini.”

“Ah, aku akan menunggu disini saja Nyai,” berkata perempuan itu selanjutnya.

Demikianlah, maka Nyai Wiradana yang semula akan pergi di antar oleh suaminya ternyata urung. Tetapi baginya hal itu bukanlah satu persoalan. Ia sudah terbiasa pula pergi sendiri. Apalagi mengunjungi kelahiran. Adalah tidak biasa bagi seorang laki-laki. Hanya pada waktu malam biasanya laki-laki disebelah menyebelah datang untuk berjaga-jaga semalam suntuk sambil membaca kidung.

Sejenak kemudian maka Iswari pun telah siap. Sejenak kemudian ia pun turun ke halaman. Sementara itu langit pun sudah menjadi kian suram.

Ketika kedua perempuan itu minta diri, maka Wiradana menjadi semakin suram.

Demikianlah, maka kedua orang perempuan itu pun telah turun ke jalan dan menyusuri jalan di padukuhan induk itu menuju ke regol padukuhan. Ketika mereka keluar dari regol padukuhan induk itu, gelap benar-benar telah turun. TETAPI keduanya sama sekali tidak menjadi cemas. Padukuhan yang akan mereka tuju adalah padukuhan sebelah yang hanya di antarai oleh sebuah bulak pendek.

Nyai Wiradana sama sekali tidak merasa cemas untuk pulang di malam hari. Jika ia merasa agak takut oleh sesuatu, mungkin seekor binatang buas yang tersesat, atau oleh hal-hal lain yang tiba-tiba saja timbul, ia dapat minta diantarkan oleh para peronda atau orang-orang lain yang ada di rumah yang dikunjunginya.

Demikian mereka keluar dari padukuhan dan memasuki bulak, maka Iswari pun bertanya, “Sudah berapa lama kau tinggal di Kademangan sebelah?”

“Sejak kecil Nyai,” jawab perempuan itu. “Agak berbeda dengan Nyai. Bukankah Nyai tinggal di Tanah Perdikan ini sejak kawin dengan Ki Wradana?”

Iswari mengangguk-angguk, sementara perempuan itu melanjutkan, “Aku lahir dan di-besarkan di Kademangan itu. Orang tuaku pun lahir dan dibesarkan di sana pula. Kedua-duanya. Mereka adalah kawan bermain sejak kecil. Kemudian orang tua mereka telah menjodohkan mereka menjadi suami istri.

Nyai Wiradana mengangguk-angguk. Kata-nya, “Jika demikian, maka kau dapat melaku-kan tugasmu sebagai seorang istri Jagabaya sebaik-baiknya, karena kau mengenal kampung halamanmu sebaik mengenal dirimu sendiri.”

Perempuan itu tertawa. Katanya, “Bukankah Nyai juga dapat melakukan kewajiban Nyai sebaik-baiknya meskipun Nyai bukan seorang yang dilahirkan dan dibesarkan di Tanah Per-dikan ini?”

“Aku, aku baru belajar melakukannya,” jawab Iswari.

Perempuan itu tidak menjawab lagi. Diamati-nya jalan yang akan dilaluinya.

Sementara hari benar-benar sudah menjadi gelap.

Ketika mereka sampai disimpang tiga, Iswari terkejut. Tiba-tiba saja perempuan itu meng-gamitnya dan berkata, “Kita berbelok ke kanan Nyai.”

Iswari tertegun. Katanya, “Bukankah rumah Ki Pasih ada di padukuhan di hadapan kita?”

“Ya. Tetapi kita akan berbelok kekanan,” jawab perempuan itu tegas.

“Aku tidak mengerti,” jawab Iswari.

“Nanti kau akan mengerti,” jawab perempuan itu pula.

Iswari masih termangu-mangu. Namun tiba-tiba saja tubuhnya menjadi gemetar ketika tiba-tiba saja melihat perempuan itu menarik sesuatu dari balik bajunya.

Patrem.

Dengan suara bergetar Iswari bertanya, “Apa artinya ini Nyai?”

Orang yang menyebut dirinya Nyai Jagabaya itu mendesak maju sambil berdesis,

“Marilah. Jangan banyak persoalan jika kau ingin mengalami nasib buruk.”

Iswari mundur selangkah. Namun perempuan itu kemudian membentak, “Berbeloklah kekanan.”

Iswari tidak mempunyai pilihan. Ia pun kemudian harus memenuhi perintah perempuan itu. Meskipun jantungnya serasa berhenti mengalir, tetapi ia berusaha untuk dapat melangkah sebagaimana dikehendaki oleh perempuan itu.

Bahkan beberapa langkah kemudian Iswari masih sempat bertanya, “Siapakah kau sebenarnya?”

Perempuan itu tidak segera menjawab. Ia berjalan rapat disisi Iswari dengan patrem di tangannya.

“Siapa kau dan apa maksudmu?” desak swari.

Perempuan itu memandang wajah Iswari sejenak. Kemudian katanya, “Aku adalah perempuan yang dipanggil serigala betina di Kademangan sebelah. Aku adalah seorang perempuan yang pernah ikut dalam gerombolan berandal yang mempunyai nama yang ditakuti, meskipun tidak segarang Kalamerta.”

“Jadi apakah kau ingin merampok aku?” bertanya Iswari.

“AKU tahu, bahwa kau tidak membawa apapun yang berharga sekarang. Dan aku sudah lama tidak lagi hidup dalam dunia itu lagi,” jawab perempuan itu.

“Jadi apa maksudmu?” bertanya Iswari berulang kali.

Perempuan itu tidak segera menjawab. Tetapi ia mendesak agar Iswari berjalan semakin cepat.

Hari masih belum terlalu malam. Tetapi jalan-jalan bulak sudah menjadi sepi.

Padukuhan yang sudah terlalu dekat itu justru menjadi semakin jauh, karena kedua perempuan itu telah berbelok dari jalan yang seharusnya.

Ternyata bahwa perempuan itu telah membawa Iswari menuju ke luar Tanah Perdikan. Bahkan kemudian mereka telah berbelok di sepanjang jalan terjal.

“Kita akan kemana?” bertanya Iswari yang menjadi semakin ketakutan.

“Jangan berbuat sesuatu yang dapat mencelakaimu,” geram perempuan yang disebut serigala betina itu.

Iswari menjadi semakin ketakutan. Mereka kemudian berjalan menyusur tebing sebatang sungai kecil tetapi curam.

“Aku letih sekali,” desis Iswari.

“Jangan berhenti,” bentak perempuan itu. “Kita masih akan berjalan beberapa langkah lagi.

“Kakiku rasa-rasanya sudah tidak mau melangkah lagi. Sakit dan perutku pun terasa sakit pula,” Iswari hampir menangis.

Perempuan itu tidak menjawab. Namun ia masih mendorong Iswari untuk berjalan beberapa puluh langkah lagi, sehingga akhirnya mereka sampai pada kelokan sungai itu. Di bawah tebing itu nampak air sungai bagaikan tidak mengalir. Tetapi agaknya dikelokan sungai itu, air menjadi sangat dalam.

“Nyai Wiradana,” berkata perempuan itu. “Kita sekarang berhenti disini.”

Tubuh Iswari benar-benar terasa gemetar. Ketika ia berdiri berhadapan dengan

perempuan yang mengaku sebagai Nyai Jagabaya di Kademangan sebelah itu, maka rasa-rasanya ia ber-diri berhadapan dengan iblis betina yang sedang kehausan darah.

“Siapa sebenarnya kau yang disebut serigala betina itu?” bertanya Iswari. “Dan maksudmu kau membawa aku kemari? Jika hal ini diketahui oleh suamiku, maka kau tentu akan mendapat hukuman daripadanya.”

Tetapi yang disebut serigala betina itu tertawa. Katanya, “Nasibmu memang buruk Nyai.”

“Katakan,” minta Nyai Wiradana. “Apa maksudmu?”

Perempuan itu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya, “Aku sedang mengemban satu tugas.”

“Tugas apa?” bertanya Iswari dengan jantung yang berdegupan.

“Jika suamimu mengerti apa yang aku lakukan sekarang, maka ia tidak akan berbuat apa-apa. Yang aku lakukan ini justru karena perintah suamimu,” jawab perempuan itu.

“Apa yang kau maksudkan?” desak Iswari.

“Baiknya aku berterus terang, karena kau tidak akan mempunyai kesempatan untuk membuka rahasia ini,” berkata perempuan itu. “Aku mendapat tugas dari suamimu untuk membunuhmu.”

“Membunuhku? Kau bohong. Suamiku tidak akan berbuat seperti itu,” suara Nyai Wiradana hampir tidak dapat meloncat dari bibirnya.

“Jangan menyesali nasib,” berkata perempuan itu. “Aku adalah perempuan yang paling kotor di antara kaumku. Aku telah membunuh beberapa orang dalam kerjaku.

Merampok, menyamun dan merampas milik orang lain. Pada saat aku sudah melupakan darah yang tercecer pada tubuhku, maka aku mendapat tugas yang mirip kerja itu.

Membunuhmu.”

“Omong kosong,” teriak Iswari. “Tentu bukan suamiku.”

“Jangan berteriak Nyai,” desis perempuan itu. “Tidak ada gunanya. Tempat ini tidak pernah dikunjungi orang.”

“WAJAH Iswari menjadi semakin pucat. Selangkah ia bergeser surut. Tetapi nampaknya perempuan itu memang terlalu garang.

Namun tiba-tiba saja suara perempuan itu berubah, “Nya. Aku memang seorang pembunuh. Tetapi ketika aku menyadari, bahwa Nyai baru mengandung rasa-rasanya hatiku tergetar karenanya. Jika aku membunuhmu, berarti aku telah membunuh dua nyawa sekaligus. Dua nyawa yang sama sekali tidak berdosa.”

Iswari justru menjadi termangu-mangu melihat sikap perempuan itu. Namun ia menjadi bagaikan terbungkam karenanya.

Ketika perempuan itu selangkah maju, maka Iswari pun melangkah mundur. Namun perempuan itu berdesis, “Jangan mundur lagi Nyai. Kau dapat terjerumus ke dalam tebing. Jika kau terperosok masuk ke dalam kedung itu, maka kau tidak akan pernah dapat keluar lagi. Bukankah kita sama-sama mengetahui bahwa di dalam kedung itu bahkan disungai kecil ini ka-dang-kadang terdapat buaya-buaya kerdil namun yang ternyata sangat rakus itu.”

Kulit tubuh Iswari meremang. Di luar sadar-nya ia berpaling, memandang ke arah kedung dibawahnya.

“O,” Iswari memekik kecil.

“Tenanglah Nyai,” berkata orang yang mengaku Nyai Jagabaya itu. “Aku sudah berterus terang kepada Nyai, bahwa aku mendapat perintah dari suamimu untuk membunuhmu karena aku menganggap bahwa kau tidak akan pernah dapat membuka rahasia ini. Tetapi ternyata bahwa nuraniku berkata lain. Betapapun kotornya

tanganku oleh darah orang-orang yang pernah aku bunuh, tetapi sebenarnyalah Nyai, aku tidak sampai hati membunuhmu.”

Ternyata perempuan itu seakan-akan ingin membuktikan kata-katanya. Sejenak kemudian maka ia pun telah menyarungkan patremnya sambil berkata, “Nyai. Aku

tidak akan membunuh Nyai. Tetapi dengan demikian akan timbul persoalan. Jika Nyai kembali ke rumah Ki Gede, maka Ki Wiradana akan mengetahui bahwa aku tidak melakukan kewajibanku dengan baik.”

Iswari masih tetap terbungkam. Namun nampaknya perempuan itu berhasil meyakinkan Iswari, katanya, “Karena itu Nyai. Marilah kita saling menolong. Aku tidak akan membunuh Nyai, tetapi aku minta Nyai jangan kembali ke rumah Ki Gede Sembojan.

Terserah kepada Nyai, kemana Nyai akan pergi. Bukankah Nyai berasal dari sebuah padepokan yang agak jauh, sehingga Nyai dapat kembali ke padepokan itu dan minta kepada kakek Nyai perlindungan? Tetapi aku pun minta perlindungan. Kakek Nyai jangan membuka rahasia ini, karena dengan demikian justru nyawakulah yang terancam.”

“O,” Iswari berdesah, “Kau berkata sebenar-nya?”

“Aku berkata sebenarnya Nyai. Aku akan mengatakan bahwa aku telah membunuh Nyai dan melemparkannya kedalam kedung itu. Mereka tidak akan ribut mencari mayat

Nyai, karena mereka tentu menyangka bahwa mayat Nyai telah dimakan oleh

buaya-buaya kerdil di dalam kedung itu,” berkata perempuan itu.

ISWARI tidak dapat menahan air matanya. Meskipun ia menyadari, bahwa perjalanan ke padepokan kakeknya memerlukan perjalanan yang sangat melelahkan, apalagi pada saat ia sedang mengandung, namun agaknya hal itu lebih baik daripada ia harus mati di tebing kedung dan kemudian mayatnya menjadi makanan buaya kerdil. Jika

ia masih hidup, maka ia akan dapat berusaha dengan cara apapun juga untuk mencapai padepokan kakeknya.

“Terima kasih Nyai,” desis Iswari. “Jika kita berkesempatan untuk bertemu lagi, aku tidak akan melupakan kebaikan hati Nyai. Nyai telah menyelamatkan nyawaku dan nyawa anakku yang masih berada di dalam kandungan,” Iswari berhenti sejenak, lalu, “Tetapi Nyai, jika aku boleh mengetahui, kenapa suamiku ingin membunuh aku?”

Perempuan itu menarik nafas dalam-dalam. Katanya kemudian, “Ki Wiradana memang seorang laki-laki yang kurang bertanggung jawab Nyai. Aku minta Nyai jangan terkejut. Keresahan dihati Nyai akan dapat berakibat buruk bagi anak di dalam kandungan Nyai. Karena itu ikhlaskan saja tingkah laku suamimu Nyai. Serahkan semuanya kepada nasib.”

“Ya, tetapi kenapa?” Iswari semakin ingin tahu.

“Ketahuilah Nyai, sebenarnya suamimu telah beristri lagi,” jawab perempuan itu ragu.

“Oh,” Iswari menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Tubuhnya tiba-tiba saja bagaikan terguncang.

Untunglah bahwa perempuan itu cepat meloncat dan menangkap Iswari sambil berkata, “Nyai, hati-hatilah. Dibawah itu adalah kedung yang menyimpan buaya-buaya kerdil yang dapat mengoyak tubuh Nyai. Jika Nyai tergelincir masuk ke dalamnya, maka sia-sialah usahaku untuk membiarkan Nyai untuk tetap hidup.”

Iswari menyadari keadaannya. Bahkan tiba-tba saja, darahnya yang seakan-akan berhenti mengalir, telah bergejolak. Wajahnya yang pucat telah membara. Kekuatan yang tidak dikenal telah mengalir di dalam dirinya.

Perlahan-lahan ia melepaskan diri dari tangan perempuan yang mendapat perintah dari suaminya untuk membunuhnya. Dengan suara bergetar oleh gejolak di dalam hatinya ia berkata, “Nyai, sebenarnyalah terima kasihku kepadamu tidak terhingga. Sekarang aku minta diri. Aku akan mencari jalan kembali ke padepokan.

Aku tidak mau mati sebelum aku bertemu dengan kakek. Aku berdoa dan memohon, semoga keinginanku dikabulkan oleh Yang Maha Agung.”

“Yang Maha Agung,” perempuan itu mengulang, “Sebutan yang asing bagiku. Tetapi aku akan membantumu berdoa bagi Yang Maha Agung.”

“Terima kasih. Mudah-mudahan kau pun tidak akan mengalami kesulitan,” berkata Iswari.

“Kita akan berpisah Nyai. Aku akan bertemu dengan Ki Wiradana besok pagi. Aku akan membasahi patremku. Aku akan mengatakan, bahwa patremku telah aku cuci semalam,” berkata perempuan itu.

Iswari tidak menjawab. Dipandanginya perempuan itu dengan tajamnya. Di dalam gelapnya malam, perempuan itu merasakan, bahwa sorot mata Iswari memancarkan ucapkan terima kasih yang tidak terhingga bercampur dengan kemarahan yang menyesak di dadanya.

Perempuan itulah yang lebih dahulu berkisar dan melangkah meninggalkan Iswari.

Beberapa langkah ia berpaling. Perempuan itu masih sempat mengangkat tangannya, memberikan salam perpisahan yang dijawab pula oleh Iswari meskipun tangannya terasa gemetar.

Beberapa saat kemudian, perempuan itu telah hilang didalam gelapnya malam.

Yang tinggal kemudian adalah Iswari sendiri. Ketika perempuan yang semula mengaku Nyai Jagabaya itu sudah tidak nampak lagi, maka malam pun seakan-akan menjadi semakin pekat. Kekuatan asing yang muncul di dalam dirinya tiba-tiba telah lenyap pula.

Iswari berjongkok di tebing itu sambil menangis. Ia tidak tahu apa yang harus dilakukannya. Ia tidak tahu, jalan manakah yang harus ditempuh jika ia ingin kembali ke padepokannya. Ia baru sekali menempuh perjalanan itu. Dari padepokannya ke Tanah Perdikan Sembojan. Dan terlalu sulit baginya untuk mengingat kembali jalan yang ditempuhnya pada waktu itu. Apalagi di malam hari.

Iswari terpekik kecil ketika ia merasa tubuhnya digamit seseorang. Tiba-tiba saja ia bangkit berdiri sambil berputar.

Sekali lagi Iswari terkejut. Dalam keremangan malam ia melihat seseorang yang agaknya sudah dikenalnya dengan baik, sehingga demikian ia melihat bentuk bayangan kehitaman di hadapannya, ia langsung dapat mengenalinya.

“Kakang Gandar?” desis Iswari.

Orang itu memang Gandar. Karena itu jawabnya, “Ya, Iswari. Aku Gandar.”

Tiba-tiba saja Iswari berlari memeluknya sambil menangis. Di sela-sela tangisnya ia berdesis, “Kakang, nasibku ternyata sangat buruk kakang.”

“Sudahlah Iswari,” sahut Gandar. “Jangan menangis. Aku sudah mengetahui seluruhnya apa yang terjadi atas dirimu. Aku menunggui pembicaraanmu dengan perempuan itu. Tetapi karena ternyata perempuan yang disebut serigala betina itu tiba-tiba saja membatalkan niatnya, untuk membunuhmu, maka rasa-rasanya aku

tidak perlu berbuat apa-apa terhadapnya.”

“O,” Iswari bertanya, “Jadi kakang melihat semua yang terjadi dan mendengar semua pembicaran kami?”

“Ya, Iswari. Aku tahu, bahwa perempuan itu telah mendapat perintah dari Wiradana untuk membunuhmu, karena Wiradana telah kawin lagi,” jawab Gandar. “Tetapi kita wajib berterima kasih kepada Yang Maha Agung dan kepada perempuan yang telah melepaskan kau dari malapetaka itu. Betapa buramnya hatinya, tetapi rasa-rasanya ia masih juga mendapat cahaya di dalam hatinya, sehingga ia tidak mau membunuhmu karena kau sedang mengandung.”

Iswari masih saja terisak. Namun Gandar berkata, “Sudahlah Iswari. Kau harus kembali kepada tekadmu. Kau tidak mau mati sebelum bertemu dengan kakekmu, Kiai Badra.”

Iswari mengangguk sambil berdesis, “Ya kakang. Aku harus bertemu dengan kakek. Kakeklah yang semula mempertemukan aku dengan Wiradana.”

“Tetapi kau jangan menyalahkan kakekmu Iswari. Aku kira Wiradana menurut perhitungan kewadagan, memang seorang laki-laki yang pentas menjadi suamimu.

Tetapi ternyata bahwa perhitungan itu salah.”

Iswari hanya menundukkan kepalanya saja. Sementara itu, maka Gandar pun berkata,

“Marilah Iswari. Aku antar kau pulang.”

“Tetapi kenapa tiba-tiba saja kakang berada disini? Bukankah dua hari yang lalu, kakang telah minta diri untuk kembali ke padepokan?” bertanya Iswari tiba-tiba.

“Ya, Iswari,” jawab Gandar. “Tetapi aku mendapat firasat buruk tentang dirimu.

Karena itu aku mengurungkan niatku untuk pulang. Bahkan timbul niatku untuk mengawasimu setiap malam. Ternyata yang terjadi adalah seperti ini.”

Iswari menarik nafas dalam-dalam, sementara sekali lagi Gandar berkata, “Marilah. Kita tinggalkan tempat ini sebelum Wiradana datang untuk menyaksikan apakah kau benar-benar sudah tidak ada.”

“Marilah kakang,” jawa Iswari.

Tetapi sementara itu, Gandar berkata, “Iswari. Berjalanlah menyusuri tebing itu dahulu. Aku akan meninggalkan bekas yang akan meyakinkan Wiradana bahwa kau memang sudah tidak ada lagi. Dengan demikian, aku pun sudah membantu perempuan yang tidak sampai hati membunuhmu itu, agar ia mendapat kepercayaan dari Wiradana.”

“Apa yang akan kau lakukan?” bertanya Iswari.

“DI tempat ini harus ada bekas darah,” jawab Gandar. Dengan demikian, maka perbuatan perempuan yang disebut serigala betina itu benar-benar meyakinkan.

“Bagaimana kau mendapatkan darah itu,” bertanya Iswari pula.

“Tidak terlalu sulit Iswari. Aku ingin melukai tanganku sendiri dan menitikkan darah itu ditebing ini. Kemudian aku akan dapat mengobatinya sehingga luka itu pampat. Tidak terlalu banyak, asal bekas itu ada.”

Iswari menjadi berdebar-debar. Tetapi ia menurut sebagaimana dikatakan oleh Gandar. Ia pun kemudian melangkah beberapa langkah menjauh.

Dalam pada itu, Gandar melakukan sebagaimana dikatakannya. Ia telah menggigit

tangannya sendiri. Kemudian menghamburkan darah yang mengalir dari luka itu di atas tebing dan dicaukannya pada lereng tebing itu pula. Memang tidak terlalu banyak, karena Gancar pun kemudian menghamburka obat pada luka itu, sehingga luka itu menjadi pampat.

Sejenak Gandar berdiri tegak. Dipusatkannya kemampuannya pada indera penglihatannya, sehingga meskipun malam menjadi bertambah gelap, namun ia dapat melihat noda-noda darah ditebing itu.

“Sudah cukup,” desis Gandar kepada diri sendiri.

Sejenak kemudian, maka Gandar pun telah menyusul Iswari yang sudah berjalan beberapa langkah menjauh. Ketika ia berada dibelakangnya, maka ia pun berdesis, “Iswari. Ingat. Kau harus sampai kepada kakekmu. Karena itu, kau harus dapat mengatasi kelemahan wadagmu, meskipun kau harus mengingat pula kandunganmu. Kita harus menempuh perjalanan agak jauh. Bukankah kau masih ingat serba sedikit, pada saat kau datang kemari?”

Iswari mengangguk. Dan Gandar pun berkata lebih lanjut, “Tetapi sekali lagi kau harus yakin, bahwa kau akan bertemu dengan kakekmu dalam keadaan yang baik.”

Demikianlah, maka keduanya pun telah melanjutkan perjalanan. Gandar tidak merasa perlu untuk tergesa-gesa. Ia sadar, bahwa Iswari tidak akan dapat berjalan terlalu cepat karena kandungannya. Sementara itu, ia merasa bahwa orang-orang Wiradana tentu tidak akan mencarinya lagi. Kecuali ditebing itu sudah ada bekas darah, maka seperti yang dikatakan oleh serigala betina itu, bahwa seseorang yang terperosok kedalam kedung itu, tentu akan menjadi makanan buaya-buaya kerdil yang terdapat di dalam kedung itu.

Namun dalam perjalanan itu, Gandar sempat menilai perempuan yang menyebut dirinya serigala betina itu. Ia mungkin benar, seorang perempuan yang telah menjadi berandal dan melakukan perampokan dan pembunuhan. Tetapi sebenarnyalah menurut Gandar, dibanding dengan istri Wiradana yang cantik itu, perempuan yang disebut serigala betina itu belum bernilai sekuku irengnya. Serigala betina itu

sama sekali tidak akan berarti apa-apa bagi istri Wiradana yang cantik, yang menurut penilaian Gandar, tentu mempunyai ilmu yang sangat tinggi, sebagaimana Kalamerta.

Meskipun Gandar dan Iswari berjalan tidak terlalu cepat, namun mereka pun semakin lama menjadi semakin jauh. Namun Iswari tidak perlu cemas, bahwa ia akan kehilangan jalan. Gandar tentu tidak akan kehilangan arah kembali ke padepokannya.

Dalam pada itu, maka perempuan yang disebut serigala betina itu tidak langsung menuju ke rumah Ki Wiradana. Ia ingin pulang dan beristirahat. Baru di pagi hari berikutnya, ia akan melaporkan hasil kerjanya kepada Wiradana.

Namun, alangkah terkejutnya perempuan itu, ketika ia memasuki halaman rumahnya,

Wiradana telah duduk diserambi, di atas amben bambo yang memang diletakkannya di serambi itu.

“Ki Wiradana,” desis serigala betina itu.

Ki Wiradana mengangguk, “Ya, Nyai. Aku sudah menunggumu.”

“Marilah. Silakan masuk,” perempuan itu mempersilakan.

“Terima kasih. Aku sudah lama duduk di sini. Yang ingin segera aku ketahui, bagaimana hasil tugasmu itu Nyai?” bertanya Ki Wiradana.

“O, semuanya berjalan lancar. Aku sudah menyelesaikannya di tebing, di atas kedung. Kemudian melemparkannya ke dalam kedung itu sebagaimana Ki Wiradana kehendaki,” jawab perempuan itu.

Wiradana menarik nafas dalam-dalam. Lalu katanya, “Nyai. Cobalah berikan patremmu itu kepadaku,” berkata Wiradana.

Jantung perempuan itu menjadi berdeguban. Namun kemudian katanya, “Aku sudah mencucinya.”

“O,” Wiradana mengerutkan keningnya. “Apakah menjadi kebiasaanmu mencuci patrem itu dengan air wantah? Bukankah kau setiap kali memandikan patremmu dengan warangan?”

Perempuan yang disebut serigala betina itu termangu-mangu sejenak. Kemudian

katanya, “Aku tidak ingin patremku berbau bacin. Aku telah menusuk tubuh seorang yang sedang mengandung. Satu perbuatan terkutuk yang seharusnya tidak aku lakukan. Tetapi karena upah yang Ki Wiradana tawarkan terlalu banyak, maka aku

telah melakukannya. Tetapi justru karena itu, aku telah mencuci kerisku. Tidak dengan air, tetapi dengan pasir. Aku hujamkan patrem ini ke dalam pasir beberapa

kali sehingga bersih karenanya. Meskipun pasir ditepian itu basah juga oleh air, tetapi nilainya berbeda. Dan sudah barang tentu, aku harus memandikan kerisku dengan warangan, sehingga keris kecilku ini tidak kehilangan daya bunuhnya.”

Ki Wiradana bangkit dari duduknya. Ia melangkah mendekati perempuan itu sambil

berkata, “Tunjukkan keris kecilmu itu.”

Serigala betina itu tidak berbuat dengan ragu-ragu. Dengan tatag diserahkannya patremnya kepada Ki Wiradana. Namun demikian patrem itu diterima, maka perempuan itu telah melangkah surut.

Ki Wiradana telah menarik patrem itu dari sarungnya. Namun seperti dikatakan oleh perempuan itu, bahwa patrem itu telah bersih. Tidak ada bekas darah yang melekat pada daun patrem itu.

Wiradana memandang perempuan itu sejenak. Namun kemudian ia berkata, “Mungkin kau benar, bahwa patrem ini sudah kau bersihkan. Tetapi kau tentu tidak sempat membersihkan tempat dimana Iswari kau tusuk dengan patremmu itu.”

Perempuan itu mengerutkan keningnya. Namun ia tidak boleh ragu-ragu. Karena itu, maka ia pun bertanya, “Apa maksud Ki Wiradana?”

“Kita pergi ke tempat kau membunuh Iswari,” berkata Wiradana.

“Aku sama sekali tidak berkeberatan,” berkata perempuan itu. Namun kemudian katanya, “Tetapi kau tentu tidak akan dapat menemukan Nyai Wiradana yang sudah menjadi makanan buaya kerdil di kedung itu.”

“Aku ingin melihatnya,” berkata Wiradana sambil menyerahkan kembali patrem perempuan itu.

Perempuan itu bergeser mendekat untuk menerima patremnya. Ia sama sekali tidak ragu-ragu untuk pergi bersama dengan Ki Wiradana ke tebing di atas kedung meskipun sebenarnya hatinya terasa bergejolak.

Sejenak kemudian maka keduanya pun telah pergi ke tempat yang menurut pengakuan perempuan itu, dipergunakannya untuk membunuh Nyai Wiradana. Ternyata jarak itu tidak terlalu dekat. Apalagi keduanya berusaha untuk tidak memotong jalan menyeberangi Tanah Perdikan Sembojan, karena Ki Wiradana tidak ingin bertemu dengan orang-orang Sembojan.

Karena itu, maka mereka memerlukan waktu yang cukup lama. Lebih lama dari waktu yang dipergunakan perempuan itu kembali ke rumahnya, di padukuhan di luar Tanah Perdikan Sembojan disebelah padukuhan yang dipergunakan oleh Ki Wiradana.

LEWAT tengah malam, keduanya baru sampai ditempat yang mereka tuju. Tebing di atas sebuah kedung yang dihuni oleh beberapa ekor buaya kerdil yang rakus.

“Dimana kau bunuh perempuan itu?” bertanya Wiradana.

“Disini,” berkata perempuan itu tanpa ragu-ragu.

“Menyingkirlah,” desis Wiradana.

Perempuan itu bergeser mundur. Ia tidak tahu, apa yang akan dilakukan oleh Wiradana.

Ternyata Wiradana telah mengambil serangkai biji jarak pada sebatang lidi yang dibawanya. Kemudian dengan thithikan ia membuat api untuk menyalakan sebuah dimik belerang. Dengan dimik itulah ia kemudian menyalakan biji jarak yang sudah kering itu.

Perempuan yang mengaku Nyai Jagabaya itu menjadi semakin berdebar-debar. Namun tiba-tiba hatinya menjadi mapan. Ia sama sekali tidak menyesal bahwa ia telah membiarkan Nyai Wiradana hidup meskipun seandainya ia sendiri harus mengalami

perlakuan yang buruk. Perempuan itu sadar, bahwa Ki Wiradana adalah seorang yang memiliki ilmu yang tinggi. Namun demikian, jika ia harus mati, maka biarlah ia mati sebagaimana seorang berandal yang pernah bertualang dan melakukan pembunuhan-pembunuhan. Karena itu, jika Ki Wiradana ingin menghukumnya karena ia ingkar akan tugas yang diberikan kepadanya, maka ia akan melawan meskipun akhirnya ia harus mati.

Sejenak kemudian maka biji jarak itu telah menyala sebagaimana sebuah obor kecil. Dengan terang nyala biji jarak itu, Wiradana melihat-lihat tempat yang disebut sebagai tempat perempuan itu membunuh Iswari.

Namun tiba-tiba justru perempuan itulah yang terkejut. Dalam cahaya lampu obor kecil itu, ia telah melihat darah yang tercecer di tebing itu. Sebagian memang sudah terhapus oleh jejak kaki Ki Wiradana, tetapi di dedaunan perdu dan rerumputan mereka masih melihat darah yang mulai mengering.

“Darah,” desis perempuan itu di dalam hatinya, “Apa pula yang telah terjadi?

Apakah sepeninggalanku justru Wiradana sendiri yang telah membunuh istrinya karena aku membiarkannya hidup?”

Pertanyaan itu telah menghantam dinding dadanya. Jika demikian maka yang dilakukan oleh Wiradana itu sekadar berpura-pura untuk membawanya ketempat itu dan kemudian membunuhnya pula.

Namun perempuan itu terkejut ketika ia mendengar Ki Wiradana itu berkata, “Ya.

Aku memang melihat darah. Agaknya kau memang benar-benar telah membunuhnya.”

Perempuan itu tidak menjawab. Tetapi ia masih tetap curiga.

Namun dalam pada itu, obor kecil itu ternyata tidak tahan terlalu lama. Sebentar kemudian obor itu pun telah menyalakan biji jarak yang terakhir, sehingga sejenak kemudian api pun telah padam.

“TERIMA kasih,” berkata Wiradana. “Dengan kematian Iswari aku telah bebas dari persoalan-persoalan yang sangat rumit, meskipun belum berarti bahwa persoalanku telah selesai seluruhnya.”

Perempuan itu masih termangu-mangu. Ia melihat Wiradana mengambil sesuatu dari

kantong ikat pinggangnya dan kemudian diserahkannya kepada perempuan itu sambil berkata, “Ini upah yang aku janjikan. Tetapi ingat, bahwa jika rahasia ini bocor, maka nyawamu akan menjadi taruhannya. Aku tidak akan dapat memaafkanmu meskipun aku akan dapat mengelakkan segala tuduhan.”

Perempuan itu diam saja. Tetapi dengan hati-hati ia menerima upah yang diberikan oleh Wiradana. Tetapi ia tidak sempat menghitung apakah upah itu sudah sesuai dengan jumlah yang dijanjikan.

Sejenak kemudian Wiradana telah meninggalkan tempat itu. Ternyata obor kecilnya tidak cukup lama menyala, sehingga Wiradana tidak sempat melihat rerumputan di lereng. Jika ia teringat akan hal itu, mungkin ia akan mempertanyakan, kenapa rerumputan di lereng itu tidak menunjukkan bekas bahwa seseorang telah menelusur kebawah, sehingga rerumputan dan daun-daun perdu akan berpatahan.

Dalam pada itu, sepeninggalan Ki Wiradana, perempuan itulah yang justru mulai merenung. Di tempat itu benar-benar ada darah. Cukup banyak, berhamburan di tanah dan terpercik pada rerumputan dan daun-daun perdu, meskipun sebagian telah terhapus oleh kaki-kaki mereka.

“Darah siapa?” pertanyaan itu selalu bergejolak di dalam hatinya.

Tetapi akhirnya perempuan itu pun melangkah meninggalkan tempat itu. Namun bagaimana pun juga ia masih tetap berteka-teki di dalam hatinya.

Dalam pada itu, sejenak kemudian maka matahari pun telah naik ke sisi langit disebelah Timur. Iswari yang merasa dirinya terlalu kusut itu pun telah mencari sebuah belik. Setelah mencuci muka dan membersihkan tangan dan kakinya, maka Iswari pun telah membenahi dirinya. “Perjalanan kita masih cukup jauh Iswari,” berkata Gandar. “Biarlah jika kau sependapat, singgah barang sejenak di sebuah warung makan dan minum. Aku masih mempunyai sisa bekal yang aku bawa dari rumah.”

Iswari tidak berkeberatan. Mereka telah berada di luar Tanah Perdikan Sembojan.

Bahkan agak jauh, sehingga tidak akan ada orang yang akan dapat mengenalinya lagi.

Ternyata dengan makan dan minum di sebuah kedai, tubuh Iswari terasa menjadi lebih segar. Ia pun kemudian mampu berjalan lebih cepat lagi meskipun tetap sangat terbatas.

“Jika kau merasa lelah, berkatalah. Kita mencari tempat untuk istirahat. Biarlah kita sampai di padepokan dalam waktu tiga hari atau lebih, asal saja dengan selamat. Kau dan kandunganmu.”

Iswari mengerti maksud Gandar. Karena itu, maka ia pun menjadi tidak tergesa-gesa pula karenanya dan berjalan tidak terlalu cepat. Sementara itu, mereka makan dan minum di perjalanan dengan sisa uang yang masih ada pada Gandar.

Demikianlah betapapun lambatnya, namun akhirnya Iswari dan Gandar sampai juga di padepokan.

Kedatangan Iswari benar-benar telah mengejutkan Kiai Badra. Karena itu, maka ia pun segera bertanya apa artinya kedatangan cucunya itu.

Gandar tidak mau berteka-teki. Ia pun segera mengatakan apa yang telah terjadi dengan Iswari sehingga perempuan itu telah pulang bersamanya. Ketika Kiai Badra mendengar laporan itu, maka rasa-rasanya jantungnya telah berhenti berdetak. Sesaat wajahnya menjadi pucat. Namun sesaat kemudian wajah itu menjadi merah membara.

NAMUN akhirnya ia berkata, “Tuhan Maha Kasih. Ternyata Tuhan masih berbelas kasihan kepadamu Iswari, Kau masih diperkenankan menatap matahari. Sementara itu, kau pun harus berterima kasih kepada perempuan yang telah mengaku Nyi Jagabaya itu.”

“Ya kakek,” suara Iswari menjadi sangat dalam. Air matanya kembali menitik di pipinya mengenang peristiwa yang dialaminya, “Tetapi aku tidak mengenal perempuan itu, kakek. Ia menyebut dirinya serigala betina, karena ia memang dinamai demikian oleh orang-orang di sekitarnya karena ia pernah menjadi salah

seorang di antara orang-orang sepadukuhan yang menjadi perampok. Agaknya memang tidak banyak perempuan yang menjadi perampok. Salah seorang di antaranya adalah perempuan itu.”

“Apakah kau tahu nama sebenarnya?” bertanya Kiai Badra.

“Tidak kakek. Aku tidak tahu namanya yang sebenarnya,” jawab Iswari.

“Tetapi apakah kau masih akan tetap mengenalinya jika kau bertemu lagi?” bertanya kakek itu pula.

Iswari termangu-mangu. Katanya, “Aku bertemu dengan orang itu menjelang senja.

Tetapi aku masih dapat melihat wajahnya dengan jelas. Agaknya jika aku berkesempatan untuk bertemu lagi, aku masih akan tetap mengenali wajahnya.

Wajahnya memang nampak keras. Tetapi waktu itu ia adalah seorang perempuan yang ramah.

“Baiklah Iswari,” berkata Kiai Badra. “Semua peristiwa yang kita alami kita kembalikan kepada Yang Maha Agung. Kita pasrahkan hidup kita kepada yang memberikan hidup itu, sehingga dengan demikian kita akan merasa bahwa hidup mati kita bukanlah kita sendiri yang memilikinya.”

Iswari mengangguk-angguk kecil. Ia pun berusaha untuk mengembalikan persoalannya kepada Yang Maha Agung sehingga dengan demikian maka Iswari pun akhirnya dapat menerima keadaan itu dengan hati yang lebih tenang.

Namun demikian, bagaimanapun juga sebenarnya di dalam dada Kiai Badra telah timbul pergolakan yang dahsyat. Untuk beberapa saat Kiai Badra mengalami kebingungan. Tetapi akhirnya dengan susah payah ia berhasil mengekang dirinya sambil berdesis, “Jangan bodoh. Serahkan semuanya kepada kuasa Tuhan yang Maha Kasih.”

Dalam pada itu, di Tanah Perdikan Sembojan juga telah terjadi kegemparan. Pada saat Iswari pergi dari rumahnya, suaminya masih berada di rumah. Malam itu juga, Wiradana pulang setelah ia memastikan kematian istrinya.

Tetapi sementara itu, di rumah Ki Gede telah terjadi kegelisahan karena Nyai Wiradana belum kembali.

Wiradana yang sudah memastikan bahwa istrinya dibunuh oleh orang yang dipercayanya, kemudian ikut pula kebingungan meskipun hanya berpura-pura. Wiradana telah memerintahkan orang-orangnya untuk mencari istrinya di seluruh sudut Tanah Perdikan Sembojan.

“Ia pergi ke rumah Pasih,” bertanya Wiradana.

Tetapi ketika seseorang menanyakannya ke rumah Pasih ternyata bahwa malam itu Nyai Wiradana tidak pergi ke rumah itu.

Dengan demikian maka seisi Tanah Perdikan Sembojan telah menjadi gempar. Istri Ki Wiradana ternyata telah hilang.

Dalam pada itu, semua orang telah terlibat dalam pencarian. Bahkan anak-anak yang mengembala pun telah mendapat pesan untuk mencari Nyai Wiradana di ladang, disemak-semak dan di antara batu-batu padas di bukit. Tetapi ternyata Nyai Wiradana tidak pernah diketemukan.

Dalam pada itu, Wiradana sendiri, dalam sepekan masih juga berdebar-debar. Jika seseorang menemukan sesosok mayat di kedung atau barangkali kerangkanya atau

tanda-tanda lain, maka orang-orang Sembojan tentu akan menghubungkannya dengan

hilangnya Nyai Wiradana.

“SEANDAINYA diketemukan di kedung itu, orang-orang Sembojan tidak akan tahu, apa yang sebenarnya terjadi,” berkata Wiradana di dalam hatinya.

Namun sebenarnya tidak seorang pun yang menemukan sesuatu yang dapat dipergunakan sebagai pancadan untuk mencari jejak hilangnya Nyai Wiradana.

Sementara itu, Ki Gede Sembojan sendiri menjadi sangat berprihatin atas hilangnya menantunya. Ki Gede sebenarnya sangat mengasihi menantunya itu, yang pada saat-saat tertentu dapat diajaknya berbincang tentang isi kidung yang dibacanya. Bahkan Iswari yang mempunyai suara yang jernih itu kadang-kadang membaca kidung itu dalam tembang beberapa bait. Baru kemudian mereka membicarakan isinya. Pembicaraan yang tidak dapat dilakukan dengan orang lain, bahkan dengan Wiradana sekalipun karena Wiradana sama sekali tidak tertarik pada kesusastraan.

Selain itu, Iswari adalah seorang perempuan yang dengan cepat berusaha menyesuaikan diri. Meskipun ia seorang gadis padepokan yang lugu, namun setelah ia menjadi istri Wiradana maka ia pun segera dikenal dengan baik oleh semua perempuan di Tanah Perdikan itu sebagai seorang perempuan muda yang ramah, terampil dan rendah hati.

Namun tiba-tiba saja perempuan yang bernama Iswari itu telah hilang. Ketika orang-orang Sembojan sudah yakin bahwa mereka tidak akan dapat menemukan Nyai Wiradana, maka Ki Gede telah memanggil Wiradana dan beberapa orang bebahu, untuk membicarakan tentang hilangnya Iswari dari Tanah Perdikan Sembojan.

Ketika semua orang sudah berkumpul, maka Ki Gede pun langsung berkata kepada mereka, “Saudara-saudaraku, agaknya kita menghadapi suatu masalah yang sangat

rumit. Aku tidak dapat mengambil kesimpulan lain daripada menuduh keluarga

Kalamertalah yang telah mengambil Iswari. Dendamnya kepadaku ternyata telah ditumpahkannya kepada orang yang tidak ber-salah sama sekali, apalagi Iswari sedang mengandung. Sayang, kaki dan tanganku terlalu lemah untuk berbuat sesuatu. Tetapi jika aku masih memiliki kemampuanku seutuhnya, maka aku sendiri akan mencarinya. Sementara itu, aku juga tidak sampai hati memerintahkan kepada Wiradana untuk mencarinya dengan akibat menghadapi gerombolan Kalamerta, karena ia sendiri pernah mengalami satu keadaan yang hampir saja merenggut nyawanya.

Karena itu, maka aku perintahkan Tanah Perdikan Sembojan harus menyusun satu kekuat-an. Dengan kekuatan itu kita harus menemu-kan Iswari atau jika tidak, maka keluarga Kala-merta harus kita musnahkan. Aku tidak yakin bahwa Tanah Perdikan Sembojan akan mampu melakukannya. Sementara itu, kita harus memerintahkan dua orang untuk pergi ke padepokan Kiai Badra. Hilangnya Iswari harus kita beritahukan kepada kakeknya, apapun akibatnya. Aku tidak akan

mengingkari tanggung jawab jika kakeknya itu marah dan menuntut dikembalikannya cucunya. Kita, seluruh isi Tanah Perdikan ini harus berusaha.”

Keringat dingin mulai membasahi punggung Wiradana. Meskipun ia tahu, bahwa ayahnya sangat mengasihi Iswari, tetapi ternyata bahwa sikap ayahnya akan melampaui dugaannya atas hilangnya Iswari.

Dalam pada itu, maka Ki Gede itu pun berkata kepada Wiradana, “Kau siapkan sepasukan yang kuat. Aku sendiri akan menempa pasukan itu sebagai pasukan khusus untuk menghadapi keluarga Kalamerta.”

“Bagaimana ayah akan melakukannya?” bertanya Wiradana.

“Hanya tangan dan kakiku yang menjadi lemah. Tetapi otakku tidak. Mata dan telingaku pun tidak,” jawab Ki Gede Sembojan, “Karena itu, lakukanlah secepatnya. Aku memerlukan duapuluh lima orang terpilih.”

Wiradana tidak menjawab. Namun ia mulai membayangkan kesulitan-kesulitan baru didalam hidupnya. Apakah ia akan dapat meyakinkan ayahnya bahwa sepantasnya ia kawin lagi dengan perempuan cantik yang sebenarnya telah menjadi istrinya itu?

Apa kata ayahnya jika ayahnya mengetahui, bahwa perempuan itu adalah seorang tledek yang mencari nafkahnya dengan menari dari satu tempat ke tempat yang lain.

Dengan demikian maka Ki Gede pun kemudian telah memanggil dua orang penghubung yang harus pergi berkuda secepatnya ke padepokan Ki Badra.

“Bukankah kau pernah mengunjungi padepokan itu?” bertanya Ki Gede kepada kedua orang itu.

“Sudah Ki Gede,” jawab salah seorang dari keduanya.

“Nah, pergilah ke padepokan itu dengan segera. Kalian harus menyampaikan satu berita yang akan dapat mengejutkan Kiai Badra,” berkata Ki Gede.Kedua orang itu mengerti, bahwa keduanya harus memberitahukan kepada Kiai Badra bahwa cucunya yang menjadi menantu Ki Gede di Sembojan telah hilang.

Setelah Ki Gede memberikan beberapa pesan, maka kedua orang itu pun segera berangkat berkuda menuju ke padepokan Kiai Badra.

Dalam pada itu, di padepokan Kiai Badra, keadaan Iswari secara wadag sudah berangsur baik. Ia tidak merasa lagi kelelahan dan perutnya sudah tidak terasa sakit lagi setelah perjalanan sekian jauhnya. Kakeknya telah memberinya berbagai macam obat yang berguna sekali bagi kepulihan tenaganya setelah berjalan jauh dan bagi kebaikan kandungannya.

Namun demikian batinnya masih saja terasa betapa pedihnya. Ia tidak menduga sama sekali, bahwa ia akan dilemparkan kedalam satu keadaan yang sangat pahit. Meskipun ia terbebas dari pembunuhan, tetapi rasa-rasanya hidup memang sudah tidak menarik lagi. Meskipun demikian, kakeknya dan Gandar selalu berusaha untuk menenangkannya. Setiap kali Kiai Badra berusaha untuk mendekatkan cucunya kepada sikap pasrah kepada Yang Maha Agung, dengan tidak terlepas dari doa yang tulus.

Tetapi Kiai Badra pun mengerti, betapa sakitnya hati cucunya yang mengalaminya.

Sementara sebelumnya ia sama sekali tidak melihat tanda-tanda yang dapat mengarahkannya kepada persiapan jiwani menghadapi persoalan yang demikian.

Namun dalam pada itu, Kiai Badra pun kemudian berkata kepada cucunya, “Iswari. Mungkin hatimu merasa sangat pedih atas peristiwa yang telah terjadi. Tetapi kau harus tetap tabah menghadapinya, karena sebentar lagi kau akan melahirkan anakmu. Bahkan seperti yang sudah dilakukan, dan untuk seterusnya kau harus tetap merasa berterima kasih, bahwa kau sudah terlepas dari maut. Namun kita tidak boleh berhenti sampai disini. Pada saatnya suamimu atau Ki Gede tentu akan mengirimkan orang kemari, memberitahukan bahwa kau telah hilang. Karena itu, maka jika utusan itu melihat kau ada disini, maka nasib perempuan yang telah mengurungkan kewajibannya membunuhmu itu akan menjadi sangat buruk. Sebagaimana ia membebaskan kau dari kematian, maka kau pun harus berusaha untuk menyelamatkannya.”

“Apa yang harus aku lakukan kakek?” bertanya Iswari.

“Sebaiknya untuk sementara kau tidak berada di padepokan ini,” berkata Kiai Badra.

“Aku harus tinggal dimana?” bertanya Iswari.

“Kau sebaiknya untuk sementara berada di tempat nenekmu, maksudku adikku yang berada di padepokan kecil yang dinamainya padepokan Tlaga Kembang,” jawab Kiai Badra. “Bukankah kau pernah pergi ke sana?”

Iswari mengangguk kecil. Ia memang pernah pergi ke padepokan adik kakeknya itu. Padepokan yang disebut padepokan Tlaga Kembang. Padepokan kecil yang terletak di tepi sebuah telaga yang tidak begitu besar, tetapi di dalam telaga itu terdapat banyak ikan dari berbagai jenis yang dapat dijadikan sumber pencaharian dari penghuni padepokan kecil itu, di samping tanah pertanian dan peternakan.

“Nah, bagaimana pendapatmu Iswari?” bertanya kakeknya.

Rasa-rasanya Iswari tidak lagi mempunyai keinginan apapun. Karena itu, maka kemanapun ia akan di singkirkan, ia tidak akan berkeberatan. Apalagi di padepokan kecil yang sejuk itu.

Karena itu, maka jawabnya, “Aku menurut saja perintah kakek. Jika hal itu akan dapat menyelamatkan perempuan yang tidak membunuhku itu, maka aku akan merasa senang sekali.”

“Baiklah,” berkata Kiai Badra, “Besok kau akan berangkat dengan sebuah pedati.

Biarlah kau di antar kakangmu Gandar. Tetapi jika kau sudah sampai di padepokan kecil itu, maka biarlah Gandar segera kembali. Aku akan menunggui padepokan dan barangkali jika benar ada tamu dari Tanah Perdikan Sembojan.”

ISWARI hanya mengangguk saja. Ia memang tidak lagi mempunyai keinginan apapun

Di hari berikutnya Iswari benar-benar berangkat ke padepokan Tlaga Kembang. Namun belum lagi perjalanannya mencapai dua tiga Kabuyutan, maka utusan dari Tanah Perdikan Sembojan itu benar-benar telah datang.

Kiai Badra menarik nafas dalam-dalam ketika ia mengetahui bahwa dua orang berkuda yang datang itu adalah orang-orang Sembojan. Untunglah bahwa Iswari sudah tidak ada di pade-pokan itu lagi.

Kiai Badra yang berpura-pura tidak mengeta-hui persoalan dibawa oleh kedua orang itu mempersilakan mereka dengan ramah. Bahkan ia sama sekali tidak menyinggung mengenai cucunya itu.

Kedua orang yang datang itu pun menjadi bimbang untuk mulai dengan persoalan mereka yang sebenarnya. Nampaknya Kiai Badra menyambut mereka dengan gembira.

Jika mereka mengata-kan sebagaimana pesan Ki Gede, maka kegembiraan Kiai Badra itu tentu akan larut seketika.

Tetapi keduanya tidak dapat berbuat lain. Dengan sangat berhati-hati, maka keduanya berganti-ganti telah menyampaikan pesan Ki Gede di Sembojan, bahwa cucu Kiai badra telah hilang.

“Hilang?” wajah Kiai Badra tiba-tiba menjadi tegang, “Jangan bergurau ngger.

Gandar baru saja datang dari Tanah Perdikan itu barang tiga empat hari yang lalu. Ia sama sekali tidak mengatakan apa-apa tentang adik perempuannya. Bahkan ia mengatakan, sebentar lagi akan dilakukan upacara tujuh bulan kandungan cucuku itu.”

Kedua orang itu termangu-mangu. Namun salah seorang di antara mereka berkata, “Ya Kiai. Gandar memang baru saja mengunjungi Tanah Perdikan. Ketika Gandar kembali, memang tidak terjadi sesuatu dengan Nyai Wiradana. Tetapi beberapa hari setelah Gandar pergi, tiba-tiba saja Nyai Wiradana itu hilang. Ia minta ijin kepada suaminya untuk mengunjungi seorang tetangga padukuhan yang baru melahirkan. Tetapi Nyai Wiradana tidak pernah mencapai rumah itu dan untuk seterusnya juga tidak kembali ke rumahnya.”

“Ah,” suara Kiai Badra menjadi bergetar, “Bagaimana mungkin hal itu terjadi?” “Itulah yang membingungkan kami Kiai,” jawab utusan itu.

“Ki Sanak,” berkata Kiai Badra kemudian, “Jika benar yang kalian katakan tentang cucuku, maka aku kembalikan segalanya kepada Ki Wiradana dan Ki Gede Sembojan.

Aku telah menyerahkan cucuku untuk menjadi istri Ki Wiradana dan menjadi menantu Ki Gede di Sembojan. Maka tanggung jawab atas cucuku itu sudah beralih dari tanganku kepada Ki Wiradana terutama, karena ia adalah suaminya. Aku minta agar cucuku segera diketemukan. Jika tidak, maka aku akan minta pertanggungan jawab

Ki Wiradana.”

Jawaban Kiai Badra itu memang sudah diduga. Karena itu, maka salah seorang dari kedua orang itu segera menjawab “Ki Gede sudah mengatakan Kiai bahwa ia bertanggung jawab atas hilangnya Nyai Wiradana. Bahkan Ki Gede sudah memerintahkan, menyusun satu pasukan khusus yang terdiri dari dua puluh lima orang dibawah pimpinan Ki Gede akan berusaha untuk menemukan Nyai Wiradana dan menghancurkan sisa keluarga Kalamerta, karena menurut dugaan Ki Gede, tidak ada pihak lain yang melakukannya selain sisa keluarga Kalamerta yang mendendamnya.”

“Tetapi bukankah tangan dan kaki Ki Gede masih terasa sangat lemah?” bertanya Kiai Badra.

“Ki Gede menyadari,” jawab salah seorang dari kedua orang itu. “Tetapi Ki Gede akan tetap melakukannya dibantu oleh Wiradana.”

Kiai Badra menarik nafas dalam-dalam. Sebenarnya ia masih akan mengucapkan banyak sekali tuntutan dan penyesalan atas hilangnya cucunya. Tetapi ketika ia mendengar sikap Ki Gede meskipun tangan dan kakinya sudah menjadi cacat itu merasa bertanggung jawab sepenuhnya, maka kata-katanya tidak lagi dapat dilontarkan lewat bibirnya. Bahkan yang dikatakannya kemudian adalah, “Ki Sanak.

Sampaikan kepada Ki Gede, aku mengucapkan beribu terima kasih atas tanggung jawab Ki Gede terhadap cucuku itu. Mudah-mudahan cucuku dapat diketemukan dengan selamat dan kembali lagi ke rumah Ki Gede, hidup rukun dan damai bersama suaminya. Sebenarnyalah cucuku itu adalah satu-satunya orang yang akan menyambung keturunanku kelak.”

Kedua orang itu mengerutkan keningnya. Tetapi mereka hanya dapat menarik nafas dalam-dalam. Bagi Kiai Badra, Iswari merupakan orang yang sangat penting yang akan dapat menyambung garis keturunannya. Jika Iswari tidak dapat diketemukan atau katakanlah mengalami nasib sangat buruk, sehingga Nyai Wiradana itu tidak dapat diketemukan hidup, tetapi diketemukan meninggal, maka garis keturunan Kiai Badra akan terputus sampai cucunya itu saja.

Demikianlah, kedua orang itu tidak terlalu lama berada di padepokan Kiai Badra. Ketika mereka sudah menyampaikan persoalan yang mereka bawa, serta mendapat hidangan sekadarnya, maka mereka pun segera meninggalkan padepokan Kiai Badra.

Dalam pada itu, ternyata Iswari yang naik pedati, memerlukan watu yang lama di perjalanan. Menurut perhitungan Gandar, mereka baru akan sampai di keesokan harinya menjelang tengah hari. Namun di malam hari mereka berhenti sepenuhnya.

Ternyata mereka tidak mengalami hambatan sesuatu di perjalanan. Seperti perhitungan Gandar, maka mereka memasuki padukuhan Tlaga Kembar menjelang tengah hari.

Dalam suasana yang buram, Iswari memasuki satu padepokan yang meskipun sudah dikenalnya, tetapi bukan daerah bermainnya sendiri semasa kecilnya.

Kedatangan Iswari dan Gandar disambut dengan senang hati oleh adik Kiai Badra. Mereka gembira sekali melihat kedatangan Iswari yang jarang sekali mengunjunginya.

Karena itu, maka dengan tergopoh-gopoh adik Kiai Badra bersama suaminya telah mempersilakannya naik ke pendapa padepokan kecil itu. Tetapi kegembiraan itu tidak terlalu lama meliputi suasana pertemuan itu. Karena setelah mereka duduk bersama dan saling menanyakan keselamatan masing-masing, maka nenek Iswari itu pun bertanya keperluannya datang.

Sebagaimana dilakukan terhadap Kiai Badra, Gandar pun berkata terus terang tanpa ada yang disembunyikan. Sejak Iswari dibawa ke Tanah Perdikan Sembojan, sampai saat ia harus meninggalkan Tanah Perdikan itu dengan hati yang terluka.

Kedua orang tua pemilik padepokan itu mengangguk-angguk. Dengan nada lembut neneknya itu pun bertanya kepada Gandar, “Jadi, segala sesuatunya telah diatur sendiri oleh suaminya itu?”

“Ya Nyai,” jawab Gandar. “Memang sungguh menusuk perasaan. Namun sudah barang tentu bahwa kita akan sampai pada saatnya menerima kenyataan itu dengan hati yang pasrah kepada Yang Maha Kuasa.”

“Ya Gandar,” berkata nenek Iswari. “Karena itu, aku akan menerima Iswari dengan senang hati. Biarlah ia tinggal untuk sementara disini. Aku kira sampai saatnya ia melahirkan, akan lebih baik jika ia berada disini. Di rumah kakeknya, tidak ada seorang perempuan yang akan dapat membantu kelahiran anak di dalam kandungan itu. Tetapi disini, aku akan dapat menolongnya, karena aku memang seorang dukun bayi.”

“Terima kasih Nyai,” sahut Gandar. “Biarlah Iswari menetap untuk sementara disini. Ia akan dapat menghirup satu suasana yang baru yang mungkin akan dapat sedikit menjernihkan nalar budinya. Sementara itu, kita tidak akan mencemaskan jika saat-saat kelahiran itu tiba.”

Demikianlah, sejak saat itu Iswari telah berada di rumah suami istri yang oleh para cantriknya disebut Kiai dan Nyai Soka di Tlaga Kembang.

Kedua suami istri yang sudah tua itu merasa sangat kasihan kepada Iswari yang mengalami satu nasib yang sangat buruk, sementara kedua orang suami istri itu sama sekali tidak mempunyai seorang anak pun. Sebenarnya Nyai Soka telah melahirkan dua kali. Tetapi kedua-duanya telah diambil kembali oleh Tuhan Yang Maha Kuasa.

Dengan demikian, maka kedua orang tua itu pun merasa seakan-akan kehadiran Iswari di padepokannya, sebagai kedatangan anak kandungnya sendiri yang telah lama meninggalkan mereka.

Karena itulah maka sikap kedua suami istri itu kepada Iswari bagaikan sikap dua orang tua kepada anaknya sendiri.

Dengan sungguh-sungguh Nyai Soka mengamati perkembangan kandungan Iswari yang semakin lama menjadi semakin besar itu. Menjelang saat kelahiran, maka Nyai Soka memberikan beberapa petunjuk khusus bagi Iswari.

“Di saat-saat senggang, sebaiknya kau berjalan-jalan perlahan-lahan mengelilingi padepokan ini. Dengan demikian, mudah-mudahan akan dapat berpengaruh, mempercepat kelahiran anakmu jika saatnya tiba,” berkata Nyai Soka.

Iswari pun melakukan semua pesan dengan sebaik-baiknya. Kadang-kadang dipagi hari menjelang fajar, Iswari sudah berjalan beberapa kali mengelilingi padepokan. Tetapi seperti pesan Nyai Soka, jangan terlalu memaksa diri apabila kakinya sudah merasa lelah.

Sementara itu, di Tanah Perdikan Sembojan, Ki Gede Sembojan benar-benar menjadi sangat berprihatin. Nampaknya Ki Gede jauh lebih bersedih daripada Wiradana sendiri.

Seperti yang diminta, maka telah disiapkan dua puluh lima orang pengawal terpilih di Tanah Perdikan Sembojan. Ternyata meskipun Ki Gede mengalami kelemahan kaki dan tangan, tetapi ia benar-benar telah memberikan latihan-latihan khusus kepada dua puluh lima orang itu. Dengan isyarat kata dan perintah-perintah, Ki Gede telah memberikan latihan khusus kepada mereka dan terutama kepada Wiradana sendiri.

“Wiradana. Kau sudah memiliki semua dasar ilmuku. Kau harus mampu mengembangkannya dan memecahkan beberapa persoalan dalam ilmu kanuragan. Kau akan memimpin dua puluh lima orang ini kelak untuk menghancurkan keluarga Kalamerta yang tersisa, yang agaknya masih tetap mengancam Tanah Perdikan Sembojan.

Hilangnya Iswari merupakan penghinaan yang paling besar di dalam

hidupku sampai setua ini. Kau dan dua puluh lima pengawal ini harus dapat menghancurkan sisa keluarga Kalamerta. Jika masih ada orang yang memiliki ilmu yang tinggi, maka seharusnya kau mampu mengalahkannya dengan landasan ilmumu yang sudah lengkap itu,” berkata Ki Gede Sembojan setiap kali kepada anak laki-lakinya.

Wiradana hanya menundukkan kepalanya saja. Tetapi ternyata ia lebih sering berada di rumah Warsi daripada berada di sanggarnya. Sehingga menurut penilikan Ki Gede, kemajuan ilmu Wiradana terasa sangat lamban sekali.

Ki Gede memang menjadi sangat berprihatin atas anak laki-lakinya yang tunggal itu. Setiap kali ia selalu memberikan nasehat agar anaknya menyadari kedudukannya. Bahkan kadang-kadang ia masih marah kepada anaknya itu. Apalagi setelah Iswari hilang dari Tanah Perdikan

“Wiradana,” berkata Ki Gede, “Seharusnya kaulah yang menangis karena istrimu itu hilang. Kaulah yang paling terhina karenanya. Jika kau setiap malam pergi ke daerah-daerah yang kurang aman meskipun di luar Tanah Perdikan untuk mengetahui dan mempelajari perkembangan keadaan, maka seharusnya kau sudah dapat mengambil kesimpulan. Katakanlah, bahwa keluarga Kalamerta masih saja membayangi Tanah Perdikan Sembojan.”

WIRADANA tidak dapat menjawab setiap ayahnya mempersoalkannya. Bahkan semakin lama rasa-rasanya ia lebih baik menghindari ayahnya daripada harus menjawab pertanyaan-pertanyaannya.

Tetapi Ki Gede justru menjadi semakin keras menempa dua puluh lima pengawal yang dipersiapkan untuk menghancurkan sisa-sisa keluarga Kalamerta yang masih dianggap selalu membayangi Tanah Perdikan Sembojan.

Sementara itu, selagi Ki Gede sibuk dengan para pengawal terpilihnya, Warsi merasa bahwa jalan menjadi semakin lapang baginya. Rasa-rasanya ia tidak sabar lagi menunggu saat-saat ia dibawa pulang ke rumah Wiradana. Ia akan menjadi orang yang penting di Tanah Perdikan Sembojan, sekaligus kesempatan untuk membalas sakit hati pamannya menjadi makin luas pula.

Tetapi Warsi harus menahan diri. Setiap kali Wiradana masih minta waktu, karena sikap ayahnya yang keras.

“Aku tidak tergesa-gesa,” berkata Warsi. “Bahkan sebenarnya aku tidak ingin untuk pindah dari rumah ini. Rasa-rasa-nya rumah kecil ini telah memberikan kesejukan dihatiku, asal kakang Wiradana selalu berada disisiku. Aku sama sekali tidak menginginkan apapun juga, selain kakang Wiradana. Karena itu, biarlah Ki Gede melakukan apa yang ingin dilakukan.”

“Aku menjadi jemu untuk mengikuti perintahnya,” berkata Wiradana.

“Ah, seharusnya kakang tidak berbuat seperti itu,” berkata Warsi. “Bukankah Ki Gede itu ayah kakang. Bukankah menjadi kewajiban kakang untuk mengikuti segala perintahnya.”

Suramnya Bayang-bayang 7

“Ayah ingin memenjarakan aku di da-lam sangkar sehingga aku tidak mempunyai kesempatan berbuat lain. Waktuku untuk datang kepadamu menjadi sangat terbatas,” jawab Wiradana.

Tetapi Warsi tersenyum. Senyumnya masih tetap manis sekali bagi Wiradana.

Katanya, “Kakang. Semakin sering kau berada di dalam sangkar, maka menurut ceritamu, ilmumu menjadi sema-kin meningkat. Karena itu kenapa kau berkeberatan.”

Wiradana menarik nafas dalam-da-lam. Katanya, “Aku tidak dapat terlalu lama berpisah denganmu Warsi. Biar sajalah ilmuku sama sekali tidak meningkat. Di Tanah Perdikan Sembojan terdapat anak-anak muda yang menjadi pengawal yang tangguh. Mereka akan dapat melindungi aku dan Tanah Perdikan karena jumlah mereka cukup banyak.”

Warsi tidak mendesak. Sebenarnyalah ia tidak ingin Wiradana meningkatkan ilmunya, karena ia menjadi cemas, bahwa pada suatu saat, ilmu Wiradana akan dapat melampaui ilmunya sendiri, sehingga jika perselisihan di antara mereka, Wiradana tidak lagi dapat dikuasai dengan ilmunya.

Namun dengan demikian, maka sikap Wiradana membuat Ki Gede menjadi sangat berprihatin. Semakin lama Wiradana menjadi semakin jarang berada di rumah.

Bermacam-macam alasan yang dikatakannya kepada ayahnya. Bahp style=”text-align:justify;”kan suatu hari ia berkata, “Ayah, aku tidak dapat berada di rumah ini terlalu lama. Aku tidak dapat menenangkan diriku sepeninggal istriku. Setiap aku melihat pintu bilik itu, aku selalu teringat akan Iswari yang hilang itu.”

“Jangan cengeng,” jawab ayahnya. “Kau jangan meratap seperti itu. Tetapi kau harus berbuat sesuatu karena hilangnya istrimu. Kau harus meningkatkan ilmumu, kemudian mencari istrimu yang hilang, merebutnya dengan kekerasan, jika perlu mengorbankan nyawamu sendiri.”

Wiradana termangu-mangu. Tetapi ia diam saja.

“Wiradana, meskipun aku sudah cacat, tetapi aku berniat untuk mencarinya, apapun yang akan terjadi. Aku harus menemukan satu cara untuk menghadapi lawan, tanpa tangan dan kakiku yang lemah ini,” geram ayahnya yang kehilangan kesabaran.

Seperti yang dikatakan, maka Ki Gede itu pun telah bekerja keras. Duapuluh lima orang pengawal itu akan menjadi tangan-tangan dan kakinya. Mereka berlatih tanpa mengenal lelah untuk mencapai satu tataran tertentu jika mereka pada suatu saat benar-benar dihadapkan pada para pengikut Kalamerta yang sudah kehilangan pimpinannya itu.

“Keluarga Kalamerta tanpa Kalamerta itu sendiri tentu,” kata-kata Ki Gede di dalam hatinya, “Meskipun ia menyadari bahwa di antara mereka ada yang memiliki kemampuan melampaui Wiradana apapun yang pernah dikatakan oleh Wiradana tentang lawannya itu.”

KARENA itu, maka yang dilakukan oleh Ki Gede itu bukan hanya satu dua hari saja tetapi ia telah melakukannya dalam hitungan bulan.

Sementara Ki Gede bekerja keras dalam keadaan cacat, di padepokan Tlaga Kembang, Iswari sudah sampai pada suatu waktu, dimana kandungannya sampai pada saat kelahirannya.

Di bawah perawatan Nyai Soka serta para pembantunya maka Iswari kemudian benar-benar telah melahirkan anak-nya dengan selamat. Seorang anak laki-laki yang besar dan tampan. Berkulit kuning dan bermata hitam.

“O,” desisnya Nyai Soka, “Alangkah gagahnya.”

Ketika Iswari kemudian untuk pertama kali melihat wajah anak laki-lakinya, maka ia ti-dak lagi dapat menahan air ma-tanya yang meleleh dipipinya. Anak itu mirip sekali dengan ayahnya, Ki Wiradana. Anak Kepala Tanah Perdikan di Sembojan.

“Sudahlah Iswari,” berkata Nyai Soka. “Bersyukurlah kepada Tuhan, bahwa kau telah melahirkan anakmu dengan selamat.”

Iswari hanya dapat mengangguk kecil. Namun bagaimana mungkin ia dapat melupakan peristiwa yang sangat pahit dalam hidupnya. Disingkirkan oleh suaminya sendiri, bahkan hampir saja nyawanya telah direnggutnya sama sekali.

Namun kemudian atas tuntunan Nyai Soka, Iswari berhasil mengatasi gejolak perasaannya. Sementara Nyai Soka pun mengerti, betapa sakitnya perasaan Iswari.

Namun Iswari tidak dapat dibiar-kan perasaannya itu menderita tanpa akhir.

Kabar gembira itu pun segera disampaikan oleh Kiai dan Nyai Soka kepada Kiai Badra dan Gandar yang telah kembali ke padepokannya. Betapa perasaan gembira membuat keduanya melupakan sejenak apa yang pernah terjadi atas cucu Kiai Badra itu.

Karena itu, maka keduanya telah ber-niat untuk segera mengunjungi Iswari dan anaknya yang baru lahir. Namun dengan pesan, agar tidak seorang pun dari penghuni padepokan yang ditinggalkan itu mengatakan kepada siapapun juga bahwa Iswari masih hidup dan bahkan melahirkan anaknya di padepokan Tlaga Kembang.

Kehadiran Kiai Badra dan Gandar di Tlaga Kembang membuat Kiai dan Nyai Soka semakin bergembira. Meskipun Iswari tidak dapat menahan perasaannya pada saat ia melihat kakeknya me-ngunjunginya, namun kemudian wajahnya menjadi cerah pula.

“Anak laki-laki itu adalah keturunan Kepala Tanah Perdikan Sembojan,” desis Gandar ditelinga Kiai Badra.

“Maksudmu?” bertanya Kiai Badra.

“Ia berhak atas kedudukan kakeknya,” jawab Gandar. “Bukan semata-mata karena kedudukan yang baik itu, tetapi pada suatu saat, harus dinyatakan kepada orang-orang Sembojan, bahwa anak Iswari itu adalah satu-satunya orang yang berhak menggantikan kedudukan Wiradana. Bukan anak dari perempuan cantik yang gila itu, seandainya ia kelak mempunyai juga seorang anak.”

Kiai Badra mengangguk-angguk. Tetapi ia tidak mengatakannya kepada Iswari, karena ia yakin, bahwa Iswari akan menolak setiap usaha untuk menghubungkan kembali anak itu dengan ayahnya, yang menganggap bahwa Iswari telah mati.

Namun dalam pada itu, ketika pada malam hari, Kiai Badra, Gandar dan Nyai Soka sedang duduk di pendapa maka terbersitlah satu pikiran pada Nyai Soka untuk membentuk Iswari menjadi seorang yang lain dari Iswari sebelumnya.

“Apa maksudmu?” bertanya Kiai Badra.

“Kakang,” berkata Nyai Soka. “Sebenarnya aku merasa aneh akan sikap kakang dan yang kemudian juga sikap Gandar. Selama ini kalian benar-benar seperti dua orang penghuni padepokan yang tidak berarti apa-apa selain sekali-sekali menolong mengobati orang yang sedang sakit.”

“Ah, bagaimana mungkin kau menyebut aku tidak berarti selain menolong orang yang sakit,” jawab Kiai Badra. “Coba, sebutkan Soka, apa yang lebih baik daripada menolong orang yang sedang sakit dan kemudian menyembuhkannya dalam batas jangkauan kemampuannya?”

“Aku mengerti kakang,” jawab Nyai Soka. “Tetapi bukankah kalian memiliki sesuatu yang lebih daripada sekadar mengobati seseorang? Bukankah kakang jika menghendaki akan mampu menolong orang lain lebih banyak lagi.”

“Aku tahu maksudmu? Membunuh lagi?” sahut Kiai Badra.

“AH. Kakang terlalu menyudutkan diri sendiri,” berkata Kiai Soka. “Kenapa kakang mempergunakan istilah itu? Bukankah kakang dapat mengatakan, menolong seseorang yang mengalami kesulitan karena dirampok orang misalnya. Atau membebaskan satu padukuhan dari keganasan para berandal yang ingin merampas semua kekayaan di padukuhan itu.”

“Kenapa begitu? Bukankah tidak pernah ada lagi perampokan dan tindakan kekerasan seperti itu lagi sekarang ini?” bertanya Kiai Badra.

“Kenapa tidak? Bukankah hal itu telah terjadi atas cucumu sendiri?” sahut Nyai Soka.

Kiai Badra menarik nafas dalam-dalam. Jawabnya, “Itu bukan persoalan satu perampokan.”

“Apapun namanya, tetapi peristiwa itu adalah peristiwa kekerasan. Kenapa kakang atau Gandar sama sekali tidak berbuat apa-apa untuk mencegah hal itu terjadi?” bertanya Nyai Soka.

Kiai Badra menarik nafas dalam-dalam, sementara Gandar hanya dapat menundukkan kepalanya saja.

“Sekarang kita tidak akan dapat berbuat banyak atas Iswari yang seakan-akan tidak lagi mempunyai keinginan apa-pun juga di dalam hidupnya,” berkata Nyai Soka. Lalu, “Karena itu, aku harus membentuknya menjadi orang lain.”

“Apa yang akan kau lakukan?” ber-tanya Kiai Badra.

“Aku yakin, bahwa di dalam tubuh Iswari itu mengalir darah sebagaimana yang mengalir ditubuh kakang,” jawab Nyai Soka. “Sehingga karena itu, maka aku tidak akan banyak mengalami kesulitan jika aku dan kakang Soka menjadikan seseorang yang akan mampu mengimbangi kemampuan perempuan yang dikatakan oleh Gandar, sebagai istri muda Ki Wiradana yang memiliki ciri gerak dan sikap dari perguruan Kalamerta.”

Wajah Kiai Badra menjadi tegang. Namun kemudian katanya, “Sebenarnya aku tidak ingin mengotori Iswari dengan darah. Sejak ia tumbuh menjadi seorang gadis remaja, aku dibayangi oleh keinginan untuk membuatnya seorang gadis yang lain.

Tetapi ternyata aku berpendapat, bahwa sebaiknya Iswari menjadi seorang yang bersih, yang tidak dibekali dengan satu keinginan untuk bermusuhan. Sebagaimana aku sendiri, yang merasa bahwa sebaiknya aku meninggalkan dunia yang penuh dengan dengan tetesan darah sesama itu.

“Tetapi yang terjadi adalah seperti yang kita lihat bersama atas Iswari sekarang ini,” berkata Kiai Soka, “Ia mengalami perlakuan yang sangat tidak adil. Jika ia memiliki ilmu kanuragan mungkin akibatnya akan lain.”

“Ya. Mungkin Iswari sudah mati,” jawab Kiai Badra. “Jika Iswari mempunyai ilmu kanuragan, maka ia tentu ber-sikap lain terhadap perempuan yang akan membunuhnya itu, sehingga mungkin sekali timbul perkelahian antara Iswari dengan perempuan itu. Karena Iswari baru mengandung, maka geraknya tentu sangat terbatas, sehingga akhirnya ia justru akan terbunuh karenanya.”

Kiai Soka menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Memang segala sesuatunya dapat dipandang dari sudut yang berbeda-beda. Demikian juga ilmu kanuragan. Ilmu ini akan dapat dipergunakan untuk menambah dosa, tetapi juga dapat dipergunakan untuk berbuat kebajikan. Melindungi orang-orang yang lemah dan menegakkan keadilan. Pada satu saat kakang sendiri adalah orang yang ditakuti di dunia olah kanuragan. Namun pada saat yang lain, kakang menganggap bahwa kakang lebih baik menarik diri dan tinggal di sebuah padepokan kecil dengan pesan yang berbeda bagi sesama.”

Kiai Badra termangu-mangu. Namun akhirnya ia pun bertanya kepada Gandar, “Apa pendapatmu Gandar?”

Gandar menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Apakah jika Iswari memiliki ilmu yang cukup, ia tidak terdorong untuk membalas dendam sakit hatinya dan membunuh orang-orang yang dianggap pernah bersalah kepadanya?”

“Jangan takut Gandar,” berkata Kiai Soka. “Jika kami menampanya, maka kami tidak hanya akan menempanya dalam olah kanuragan saja, tetapi juga dalam otak kejiwaannya.”

Gandar mengangguk-angguk. Katanya kemudian, “Segala sesuatunya terserah kepada Kiai dan Nyai Soka. Aku percaya bahwa yang akan dilakukan itu tentu sudah dipertimbangkan masak-masak dan dipertanggungjawabkan.”

“Ya Gandar. Aku akan bertanggung jawab terhadap kakeknya dan lebih dari itu, aku bertanggung jawab pula terhadap Yang Maha Kuasa. Jika ternyata kemudian dengan ilmunya Iswari akan melepaskan dendamnya kepada siapapun juga tanpa alasan, maka akan terjadi kewajiban kami untuk mencegahnya.”

Gandar mengangguk-angguk. Sambil memandang kepada Kiai Badra ia berkata, “Kita serahkan saja semuanya kepada kebijakan Kiai Soka berdua.”

Kiai Badra pun mengangguk-angguk pula. Lalu katanya, “Baiklah Soka. Seperti yang dikatakan Gandar, maka segalanya terserah kepadamu. Tetapi bukankah kau menunggu sampai saatnya Iswari mampu melakukannya setelah ia melahirkan?”

“Ya kakang. Bukankah kita tidak tergesa-gesa,” jawab Nyai Soka.

Kiai Badra pun kemudian mempercayakan Iswari sepenuhnya kepada Kiai Soka dan Nyai Soka yang sementara belas kasihan yang mendalam kepada Iswari. Karena itu, maka mereka benar-benar ingin membentuk agar pada suatu saat Iswari dapat membawa anaknya itu kembali ke kedudukan yang seharusnya Kepala Tanah Perdikan di Sembojan.

Ternyata Kiai Badra dan Gandar berada di padepokan Tlaga Kembang itu tidak terlalu lama. Meskipun rasa-rasanya Gandar tidak ingin meninggalkan padepokan itu, namun setelah ia yakin bahwa Iswari justru akan tumbuh dan berkembang dalam olah kanuragan, maka rasa-rasanya Gandar pun menjadi yakin atas masa depan anak yang baru dilahirkan oleh Iswari.

Karena itu, maka Kiai Badra dan Gandar hanya bermalam dua malam saja di padepokan kecil itu, dan kemudian minta diri untuk kembali ke padepokannya.

Kiai dan Nyai Soka melepaskan mereka dengan pesan, agar Kiai Badra dan Gandar atau salah seorang di antara mereka sering datang ke padepokan kecil itu untuk melihat perkembangan Iswari dalam olah kanuragan, dan melihat pertumbuhan anak yang dilahirkannya itu.

Demikianlah, maka Kiai Badra dan Gandar pun meninggalkan padepokan itu dengan berbagai macam pikiran. Bahkan diperjalanan Gandar berkata kepada Kiai Badra,

“Kiai, tiba-tiba saja aku mempunyai satu pikiran yang barangkali kurang baik bagi Kiai. Aku tiba-tiba saja seperti yang pernah dikatakan ingin mendapatkan satu keyakinan bahwa anak Iswari itu akan kembali ke Tanah Perdikan Sembojan dan mendapatkan kedudukannya.”

“Kenapa kau berpikiran demikian,” berkata Kiai Badra. “Apakah kau menganggap bahwa kedudukan itu adalah satu-satunya jalan yang akan dapat membahagiakan cucuku dan anak laki-lakinya itu? Sebenarnya aku pun menyadari bahwa tujuan utama dari Soka suami istri adalah seperti yang kau katakan itu pula.”

“Entahlah Kiai,” berkata Gandar kemudian. “Tetapi aku membayangkan, seandainya perempuan cantik itu mempunyai anak laki-laki pula dan kelak menggantikan kedudukan Wiradana, apakah yang akan terjadi dengan Tanah Perdikan Sembojan itu.

Namun yang lebih menggelisahkan aku lagi adalah bahwa perempuan cantik itu menurut penilaianku sekilas, mempunyai ciri-ciri dari perguruan Kalamerta sebagaimana yang Kiai pernah memberitahukan kepadaku. Ciri-ciri yang khusus pada setiap usaha pemusatan kemampuan pada orang-orang yang termasuk tataran yang tinggi. Dan sikap itu telah aku lihat dilakukan oleh perempuan itu sebagaimana pernah aku katakan kepada Kiai dan Kiai pun agaknya sependapat, bahwa ciri-ciri itu adalah ciri-ciri perguruan Kalamerta.”

Kiai Badra mengangguk-angguk. Katanya, “Adalah kebetulan bahwa aku mengenal ciri-ciri perguruan Kalamerta dan perguruan Sembojan. Agaknya aku pun mengerti maksudmu dan aku pun mengerti dasar kecemasanmu. Jika perempuan itu berhasil masuk ke dalam keluarga Wiradana yang sudah tidak mempunyai istri lagi itu, maka perempuan itu akan menjadi sangat berbahaya bagi Ki Gede di Sembojan itu, karena Ki Gedelah yang telah membunuh Kalamerta.”

“YA Kiai,” sahut Gandar. “Hal itu tentu sudah diperhitungkan pula oleh perempuan cantik itu.”

“Lalu apa yang akan kau lakukan kemudian Gandar?” bertanya Kiai Badra.

“Sudah tentu dengan sangat hati-hati dan perlahan-lahan Kiai. Aku ingin menyampaikan semua persoalan ini kepada Ki Gede Sembojan,” berkata Gandar.

“Ah,” Kiai Badra berdesah. “Apakah kau akan dapat meyakinkan Ki Gede bahwa hal seperti ini telah sebenarnya terjadi?”

“Mudah-mudahan Kiai. Tetapi aku memang memerlukan waktu yang panjang.

Mudah-mudahan aku tidak terlambat, karena perempuan cantik itu telah bertindak lebih dahulu,” berkata Gandar. “Tetapi aku berharap, bahwa Wiradana pun tidak akan dapat dengan serta merta membawa perempuan itu kembali ke rumahnya, karena ia baru saja kehilangan istrinya. Ki Gede agaknya masih berusaha untuk menemukan Iswari meskipun Wiradana sendiri tidak membantunya.”

“Terserahlah kepadamu Gandar. Tetapi berhati-hatilah. Jika benar kau akan berhadapan de-ngan perguruan Kalamerta, maka kau benar-benar harus mempersiapkan dirimu. Agaknya dengan demikian, kau harus kembali kepada alat-alat pembunuh yang sudah kau letakkan itu,” berkata Kiai Badra.

Gandar menarik nafas dalam-dalam. Rasa-rasanya firasatnya memang sudah mengatakannya lebih dahulu bahwa pada suatu saat, ia akan kembali meraba alat-alat pembunuh itu. Ketika ia akan pergi ke Sembojan, sebelum terjadi malapetaka atas Iswari, ia pun sudah menyentuh senjatanya yang sudah disimpannya itu. Dan agaknya ia benar-benar akan mempergu-nakannya kembali atau jenis senjata lain yang manapun. Namun ia pada suatu saat akan mempergunakan senjata lagi.

“Gandar,” berkata Kiai Badra kemudian, “Jika kau pada suatu saat mengambil satu keputusan untuk melakukan langkah yang akan dapat berakibat luas, aku minta kau menghubungi aku lebih dahulu jika waktunya memungkinkan.”

Gandar mengangguk sambil menjawab, “Ya Kiai. Bagaimana pun juga aku tidak berbuat sendiri.”

Namun dalam pada itu, Gandar tidak segera mendapatkan jalan, bagaimana yang sebaiknya. Setiap kali ia mendekati Tanah Perdikan Sembojan, maka rasa-rasanya ia akan memasuki satu daerah yang tertutup baginya.

“Apa yang akan kau lakukan? Menemui Ki Gede? Atau memaksa Wiradana untuk mengatakan apa yang telah dilakukan?” bertanya kepada diri sendiri.

Namun setiap kali Gandar selalu menunda usahanya untuk berbicara dengan orang-orang Sembojan.

Karena itu, maka Gandar pun kemudian menjadi semakin berhati-hati. Ia tidak perlu tergesa-gesa, karena jika sekali ia salah langkah, maka kemungkinan yang buruk akan dapat terjadi bukan saja atas dirinya, tetapi mungkin atas Ki Gede Sembojan atau perempuan yang pernah menyelamatkan Iswari dari pembunuhan yang keji.

Dalam pada itu, di Tanah Perdikan Sembojan, Ki Gede telah berhasil menempa duapuluh lima orang pengawal itu pun mulai memberikan tugas-tugas kepada mereka.

Pada pengawal itu mendapat pe-rintah untuk menilai keadaan di Tanah Perdikan Menoreh dan sekitarnya.

Tetapi duapuluh lima orang itu sama sekali tidak menemukan tanda-tanda bahwa Tanah Perdikan itu masih dibayangi oleh kekuatan yang dapat membahayakan Tanah Perdikan Menoreh. Bahkan menurut pengamatan mereka, di padukuhan-padukuhan di perbatasan di luar Tanah Perdikan itu pun tidak ada gejala yang dapat menunjukkan adanya gangguan terhadap ketenangan dan ketentraman.

Karena itu, maka salah seorang dari anak-anak muda yang mendapat tempaan khusus itu berkata, “Bagaimana jika kita melangkah keluar Tanah Perdikan Ki Gede?”

Ki Gede masih merasa ragu-ragu. Ketika ia memanggil Wiradana dan berbicara tentang hal itu, maka Wiradana itu pun berkata, “Ayah, sebaiknya kita tidak me-langgar wewenang orang lain. Dalam hal hilangnya Iswari, kita sudah tidak kekurangan langkah. Segala usaha sudah kita lakukan. Dua puluh lima orang pengawal khusus itu telah memeriksa setiap rumah dan bertanya hampir setiap orang yang mungkin melihat Iswari pada saat-saat terakhir. Sementara aku sendiri siang dan malam telah berusaha mencarinya, bahkan dengan diam-diam tanpa menimbulkan gangguan di daerah tetangga kita aku sudah berusaha untuk menemukan pula. Tetapi semuanya sia-sia saja. Iswari hilang begitu saja. Bahkan akhirnya aku curiga, bahwa Iswari memang berusaha untuk meninggalkan kita.”

“Itu tidak mungkin,” jawab ayahnya. “Aku yakin, bahwa Iswari telah menjadi kerasan tinggal disini. Ia menganggap aku sebagai ayahnya sendiri, karena ia sudah tidak berayah. Ia melakukan kewajibannya sebagai seorang istri yang baik menurut pengamatanku. Ia tidak pernah mengeluh meskipun hampir setiap malam ia kau tinggalkan justru pada saat ia mengandung. Ia tetap melakukan tugasnya, bukan saja sebagai seorang istri yang setia, tetapi juga kewajibannya terhadap para tetangga bahkan di padukuhan-padukuhan lain di Tanah Perdikan ini. Ia hilang pada saat ia akan pergi ke rumah Pasih yang baru saja melahirkan anak.”

Wiradana tidak menjawab. Setiap kali ia berbicara dengan ayahnya tentang Iswari yang hilang itu, rasa-rasanya ada saja persoalan yang tidak dapat bertemu.

“Pada saatnya ia akan melupakannya,” berkata Wiradana di dalam hatinya.

Karena itu, setiap kali Wiradana selalu berusaha untuk menghindari pembicaraan dengan ayahnya tentang Iswari. Yang dilakukan oleh Wiradana kemudian adalah kerja. Ia berusaha untuk menutupi kelemahannya dengan kerja keras bersama anak-anak Tanah Perdikan di siang hari. Dengan rajin ia mengamati parit-parit dan bendungan. Jika terdapat kekurangan, maka ia pun segera memanggil anak-anak muda untuk bersama-sama memperbaikinya.

Namun di malam hari, Wiradana hampir tidak pernah ada di rumahnya. Ia selalu berada disisi istrinya yang cantik yang telah membuatnya menjadi bagaikan gila.

“Kakang,” berkata Warsi pada satu saat, “Aku harap kakang tidak salah mengerti. Sebenarnya ada sesuatu yang ingin aku sampaikan kepada kakang.”

“Tentang apa Warsi?” bertanya Wiradana.

“Tentang hubungan kita,” jawab Warsi. “Tetapi sekali lagi, kakang jangan salah mengerti kata-kataku.”

Wiradana mengerutkan keningnya. Namun dengan sungguh-sungguh ia mendengarkan Warsi berkata, “Kakang, sudah sekian lama aku menjadi istri kakang. Namun rasa-rasanya aku masih dibayangi oleh keragu-raguan. Seolah-olah rumah tangga kita bukannya rumah tangga yang sewajarnya.”

“Apa yang kau maksudkan Warsi?” bertanya Wiradana.

“Kakang ada di rumah hanya pada malam hari,” berkata Warsi kemudian, “Bahkan kadang-kadang malam hari pun tidak atau hanya sebentar sekali. Jika aku melihat orang-orang lain dalam hubungan keluarga, mereka berkumpul hampir di setiap saat dalam waktu-waktu lepas dari kerja. Maksudku, setiap kali seorang suami akan pulang untuk makan bersama istrinya. Bukan hanya di malam hari. Tetapi juga di siang hari. Jika matahari mulai turun ke Barat, maka seorang suami akan meninggalkan kerjanya dan pulang untuk makan bersama istri di rumah. Mungkin ia akan pergi lagi di sore hari. Tetapi ia akan segera pulang untuk mandi dan sekali-kali bergurau bersama keluarga menjelang malam. Itulah yang sebenarnya aku risaukan kakang. Bukan karena rumah ini terlalu kecil. Tetapi jika kakang selalu ada, maka rumah ini merupakan istana yang paling berharga bagiku.”

Wiradana menarik nafas dalam-dalam. Dengan nada berat ia berkata, “Aku mengerti Warsi. Sabarlah. Aku akan berusaha untuk segera membawamu ke rumah.”

“Jangan salah mengerti kakang. Bukankah aku sudah mengatakannya sebelumnya,” sahut Warsi. “Aku tidak ingin pindah dari rumah ini. Rumah ini memberikan kesan tersendiri kepadaku. Tetapi yang aku inginkan, rumah tangga kita menjadi wajar, sebagaimana rumah tangga yang lain.”

Wiradana mengangguk-angguk. Tetapi kemudian ia berkata, “Tetapi selama kau masih ada disini, maka tidak akan terjadi satu kehidupan yang serasi di antara kita.

Aku masih harus selalu berpura-pura. Mengatakan yang tidak sebenarnya. Dan bahkan kadang-kadang aku kehilangan akal untuk menyusun alasan-alasanku berikutnya.”

Warsi menundukkan kepalanya. Setiap kali ia berbuat seakan-akan menyesali sikapnya sendiri.

“Maafkan aku kakang. Lupakan saja kata-kataku semuanya. Aku tidak ingin membuat

kau menjadi semakin terdesak dalam kesulitan,” berkata Warsi.

“Tidak Warsi,” jawab Wiradana. “Yang kau kehendaki adalah sesuatu yang wajar sekali. Adalah menjadi kewajibanku untuk dapat membantumu bahagia lahir dan batin.”

“Tetapi aku tidak ingin membebanimu dengan berbagai macam persoalan. Aku tahu, bahwa tugas-tugasmu cukup banyak di Tanah Perdikan,” jawab Warsi.

Dalam keadaan demikian, Wiradana justru merasa semakin terdesak. Ia merasa bahwa selama ini ia tidak dapat berbuat sebagaimana seorang laki-laki yang bertanggung jawab atas istrinya. Seorang laki-laki yang seharusnya mampu memberikan kesejahteraan kepada istrinya. Bukan sebaliknya, justru seakan-akan telah menyiksanya.

“Warsi tidak ingin apa-apa, apalagi yang berlebihan,” berkata Wiradana di dalam hatinya. “Ia hanya menginginkan kewajaran dalam rumah tangga.”

Dengan demikian, maka keinginan Wiradana untuk membawa Warsi ke rumahnya menjadi semakin terdesak di dadanya. Ayahnya yang masih saja bersedih karena hilangnya Iswari, rasa-rasanya benar-benar telah menjadi penghalang baginya.

“Seharusnya ayah mengerti keadaanku,” berkata Wiradana di dalam hatinya. Namun Wiradana tidak akan berani mengatakannya sebelum ia menemukan satu keadaan yang paling tepat.

Pada saat Wiradana masih dikekang oleh kegelisahan tentang keinginan Warsi untuk hidup wajar, maka di padepokan Tlaga Kembang, Iswari telah mampu sedikit demi sedikit melepaskan diri dari kepahitan perasaan karena sikap suaminya. Selain anaknya yang tumbuh dengan cepat menjadi anak yang gemuk dan segar, maka Kiai Soka suami istri telah berusaha untuk benar-benar membuatnya menjadi orang lain.

Ketika keadaan tubuh Iswari telah pulih kembali setelah ia melahirkan, serta anaknya nampak sehat dan tidak mengalami gangguan apapun, Nyai Soka mulai membawa Iswari memasuki satu dunia yang sebelumnya terasa asing baginya.

“Iswari,” berkata Nyai Soka. “Dengarlah. Bahwa di dalam kehidupan ini kadang-kadang kita dihadapkan pada satu keharusan yang tidak kita kehendaki.

Mungkin di saat kita berjalan di tengah-tengah bulak yang panjang tiba-tiba saja hujan turun.”

Iswari mengerutkan keningnya. Ia tidak segera menangkap maksud Nyai Soka.

Dalam pada itu, maka Nyai Soka itu pun melanjutkannya, “Karena itu Iswari, jika kita sudah melihat mendung dilangit, dan kita akan menempuh perjalanan lewat bulak-bulak panjang, maka sebaiknya kita membawa payung. Seandainya hujan tidak jadi turun, kita tidak dirugikan karenanya. Tetapi jika hujan benar-benar akan turun maka kita tidak akan menyesal karenanya.”

Iswari masih belum menangkap maksud Nyai Soka. Sehingga Nyai Soka akhirnya menjelaskan. “Iswari. Cobalah melihat kepada dirimu sendiri.”

Iswari menarik nafas dalam-dalam. Barulah ia mengerti maksud Nyai Soka. Namun demikian, ia masih juga bertanya, “Lalu apakah yang sebaiknya aku lakukan, nek?”

“Nenek sudah tua,” jawab Nyai Soka. “Sementara itu nenek tidak mempunyai seorang anakpun. Seorang anak yang akan mewarisi harta yang paling berharga yang aku miliki berdua bersama kakekmu Kiai Soka,” Nyai Soka diam sejenak, lalu, “Tetapi harta yang paling berharga itu bukannya benda yang besar. Tetapi yang nenek miliki adalah sekadar ilmu. Ilmu yang jika tidak aku wariskan kepada siapapun juga, akan hilang tidak berarti bersama jasad nenek dan kekek Soka yang tua ini.

Sementara dua orang cantrik yang ada di padepokan ini, tidak dapat kami harapkan untuk dapat menjadi murid yang benar-benar memenuhi keinginan nenek dan kakekmu disini. Selebihnya, jika kau anggap penting maka ilmu itu akan merupakan payung yang akan dapat kau bawa mengarungi kelangsungan hidupmu dan hidup anakmu.”

Iswari menarik nafas dalam-dalam. Katanya,”Apakah artinya ilmu itu bagiku, nek.

Aku sudah merasa senang tinggal disini bersama nenek dan kakek. Aku tidak ingin berbuat lebih banyak daripada berbuat sesuatu sesuai dengan kemampuan yang ada padaku, sekadar menanak nasi, mencuci pakaian dan membersihkan rumah.”

“Benar,” jawab Nyai Soka. “Tetapi meskipun kau hanya akan menanak nasi, mencuci pakaian dan membersihkan rumah, alangkah baiknya jika kau mampu berbuat sesuatu jika anakmu berada dalam bahaya. Sekarang aku dan kakekmu masih ada, sehingga meskipun kami sudah tua, tetapi masih mungkin untuk membantu dan berusaha menyelamatkan anakmu. Tetapi pada saatnya kami akan kembali dipanggil oleh Tuhan yang maha menitahkan kami, sementara itu anakmu tumbuh makin besar. Iswari, apakah kau menyadari bahaya yang dapat menerkam anakmu setiap saat?”

Iswari menarik nafas dalam-dalam. Ia menyadari arah pembicaraan Nyai Soka. Dan ia pun menyadari kemungkinan itu atas anaknya, karena anaknya adalah anak Wiradana.

Karena Iswari masih saja merenung, maka Nyai Soka itu lalu bertanya, “Iswari, apakah kau mengerti maksudku?”

Iswari mengangguk kecil, sementara itu Nyai Soka berkata, “Karena anakmu itu mempunyai kemungkinan untuk memegang pimpinan di Tanah Perdikan Sembojan menurut hak atas dasar keturunan, maka tentu ada orang yang tidak atas dasar keturunan, maka tentu ada orang yang tidak senang menerimanya, sebagaimana orang itu tidak

senang menerima kehadiranmu di Tanah Perdikan ini.”

“Ya nek,” suara Iswari terdengar lirih.

“Nah, jika kau menyadari, maka ikutilah nenek yang tua selagi nenek masih berkesempatan,” berkata Nyai Soka.

Iswari tidak membantah. Ia sadar, bahwa sejak saat itu, ia akan memasuki satu dunia yang selamanya belum pernah disentuhnya.

Di hari berikutnya, neneknya telah mengajak Iswari berjalan-jalan. Mereka memutari padepokan kecil itu beberapa kali. Demikian yang mereka lakukan dari hari kehari. Semakin lama semakin bertambah jumlah putaran yang mereka tempuh.

“Karena kau sedang menyusui Iswari, maka kita akan mulai dengan perlahan-lahan saja. Kita tidak tergesa-gesa. Kita memerlukan waktu bukan hanya satu dua bulan. Bukan hanya satu dua tahun. Tetapi mungkin sampai bertahun-tahun, sementara itu anakmu tumbuh semakin besar. Waktu kita memang terbatas Iswari. Sampai saatnya

nenek dan kakek Soka ini dipanggil menghadap Yang Maha Agung.”

Iswari hanya mengangguk-angguk saja. Tetapi ternyata ia adalah seorang yang patuh. Sejak ia dianggap oleh adik kakeknya itu sebagai muridnya, maka apapun yang harus dilakukan, telah dilakukannya meskipun terasa berat. Karena Iswari yakin, bahwa neneknya itu tahu pasti, ukuran yang dipergunakan untuk menakar kemampuan Iswari.

Sebenarnyalah yang dilakukan Iswari itu sama sekali tidak mengganggunya dalam saat-saat ia sedang menyusui, karena Nyai Soka telah memperhitungkan segala sesuatunya sebaik-baiknya.

Di hari-hari berikutnya Nyai Soka mulai dengan latihan-latihan di sanggar dengan gerakan-gerakan yang sangat sederhana. Nyai Soka mengerti, bahwa Iswari sama sekali belum pernah mengenal ilmu kanuragan. Tetapi karena di dalam tubuhnya mengalir darah keturunan Kiai Badra, maka Nyai Soka yakin, bahwa perempuan itu akan dapat dibentuknya menjadi seorang perempuan yang memiliki kelebihan dari orang lain.

Pada hari pertama, maka gerak-gerak yang sederhana itu sudah terasa sangat sulit bagi Iswari. Tetapi demikian ia mulai dengan gerak yang pertama dari latihan-latihan yang diikutinya untuk selanjutnya, terasa oleh Iswari seakan-akan ia memang dituntut untuk mempelajarinya dengan sungguh-sungguh.

Karena itu, maka Iswari pun kemudian mengikuti segala latihan dengan sungguh-sungguh tanpa mengabaikan kewajibannya terhadap anak laki-lakinya yang tumbuh dengan suburnya.

Semenp style=”text-align:justify;”tara itu, betapapun kuatnya kemauan Ki Gede di Sembojan untuk berusaha menemukan Iswari hidup atau mati, namun akhirnya ia mulai dibayangi oleh satu kenyataan, bahwa Iswari tidak akan dapat diketemukan. Kemarahannya yang tertuju kepada keluarga Kalamerta harus dikekangnya, karena para pengawal yang terlatih itu sama sekali tidak menemukan sekelompok orang yang dapat dicurigai sebagai sisa-sisa gerombolan Kalamerta itu.

Saat-saat yang demikian itulah sebenarnya yang ditunggu oleh Wiradana. Tetapi ia memang tidak mau salah langkah. Ia tidak tergesa-gesa mengatakan kepada ayahnya bahwa ia ingin beristri lagi. Tetapi untuk beberapa saat lamanya Wiradana masih menunggu.

Namun tiba-tiba hati Wiradana telah terguncang ketika pada suatu hari, Gandar telah datang ke Tanah Perdikan Sembojan. Gandar yang untuk beberapa lama selalu ragu-ragu dan kebingungan untuk menemukan suatu jalan menuju ke sebuah pertemuan dengan Ki Gede, akhirnya menemukannya.

Ia tidak ingin datang dengan diam-diam mengintip dan mengikuti segala gerak-gerik Wiradana. Tetapi ia ingin dengan terbuka langsung menuju ke rumah Ki Gede di Sembojan.

Kedatangannya memang cukup mengejutkan. Tetapi karena di wajahnya tidak terbayang kesan-kesan yang mendebar-kan, bahkan nampaknya Gandar datang sambil tersenyum-senyum, maka Wiradana menjadi agak tenang menghadapinya.

Gandar telah diterima oleh Ki Gede dan Wiradana di pendapa. Ki Gede yang selalu merasa bersalah, berusaha untuk berbuat sebaik-baiknya atas temuannya itu, meskipun menurut anggapannya, Gandar tidak lebih dari seorang pembantu Kiai Badra yang agak kurang tinggi kemampuan daya nalar-nya.

Setelah hidangan disuguhkan, maka mulailah Gandar mengatakan kepentingannya datang ke rumah Ki Gede. Katanya, “Ki Gede, sebenarnyalah bahwa aku telah diperintahkan oleh Kiai Badra untuk menyampaikan satu pertanyaan tentang cucunya. Apakah telah didapat kabar atau keterangan tentang Iswari. Apakah ia masih hidup atau sudah mati. Jika masih hidup dimanakah orangnya, tetapi jika

mati dimanakah kuburnya?”

Ki Gede menarik nafas dalam-dalam. Kemudian ditatapnya wajah Wiradana sambil berkata, “Jawablah, karena Iswari adalah istrimu.”

Wiradana tidak dapat ingkar. Maka ia pun berusaha untuk memberikan jawaban.

“Gandar, kami sudah berusaha sejauh-jauh dapat kami lakukan. Ayah sudah membentuk sepasukan pengawal khusus dan aku sendiri telah menjelajahi bukan saja Tanah Perdikan ini, tetapi padukuhan-padukuhan disekitarnya. Namun kami belum menemukan petunjuk apapun. Bagi kami, Iswari seakan-akan hilang begitu saja tanpa jejak.”

Namun tanpa diduga Gandar menjawab, “Itu tidak mungkin Ki Wiradana. Tidak ada orang yang dapat lenyap begitu saja. Tentu ada sebabnya. Juga Iswari.”

Wiradana menjadi berdebar-debar. Ia menyangka bahwa Gandar dapat bersikap demikian. Namun kemudian jawabnya, “Maksudmu Gandar, Iswari telah hilang dan sampai sekarang tidak dapat diketemukan.”

“KI Wiradana,” berkata Gandar kemudian, “Bagi Kiai Badra, Iswari adalah orang yang sangat penting. Kelangsungan hidup keturunan Kiai Badra tergantung kepada Iswari. Jika Iswari itu benar-benar hilang dan tidak diketemukan, berarti kelangsungan keturunan Kiai Badra terputus. Dan nama darah keturunan Kiai Badra pun akan terhapus dari muka bumi.”

Ki Gede menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Aku mengerti Gandar. Dan sebenarnyalah kami belum berhenti berusaha. Duapuluh lima orang pengawal yang aku latih secara khusus telah berusaha untuk mencari. Tetapi sampai sekarang masih belum berhasil seperti yang dikatakan oleh Wiradana itu.”

Karena yang menjawab Ki Gede maka Gandar pun hanya dapat menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian ia bertanya, “Ki Gede. Karena itu, apakah aku diperkenankan untuk berada di Tanah Perdikan ini barang dua tiga hari. Siapa tahu, justru pada saat aku berada disini, maka Iswari dapat diketemukan.”

“O, silakan. Silakan Gandar. Kau dapat berada di Tanah Perdikan ini berapa hari saja kau kehendaki. Selama kau berada di Tanah Perdikan ini, maka kau dapat tinggal di rumah ini,” jawab Ki Gede.

“Terima kasih Ki Gede,” berkata Gandar kemudian. “Mudah-mudahan anak-anak muda Sembojan itu dapat menemukan jejaknya. Apapun yang terjadi atas Nyai Wiradana, namun jika kami sudah mendapat kejelasan, maka rasa-rasanya kami akan dapat menjadi tenang.”

“Ya, ya Gandar,” jawab Ki Gede. “Perasaan yang demikian itu dapat mengerti. Karena itu, maka kami akan berusaha sebaik-baiknya.”

Demikianlah, maka Gandar pun telah tinggal untuk beberapa lamanya di Tanah Perdikan Sembojan. Sementara itu, anak-anak muda yang duapuluh lima orang yang mendapat tempaan khusus dari Ki Gede itu telah mendapat perintah ulangan, mencari Nyai Wiradana karena Gandar ada di Tanah Perikan itu.

“Kalian jangan mencari Nyai Wiradana sebagai mencari orang secara watah,” pesan Ki Gede. “Kalian harus mencarinya dengan mencari jejak, mengurai pengamatan dan kemudian mengambil kesimpulan.

Anak-anak muda itu mengerti. Dan mereka pun kemudian telah berpencar mencari jejak. Mereka bertanya kepada siapa saja yang mungkin akan dapat memberikan petunjuk atau siapakah yang telah melihat Iswari untuk yang terakhir kalinya.

Tidak ada orang yang dapat memberikan keterangan. Sehingga dengan demikian maka jalur penyelidikan pun telah terputus.

Dalam pada itu, Wiradana sendiri juga kelihatan bertambah sibuk. Namun dengan demikian ia semakin sering tidak berada di rumah. Dengan alasan mencari jejak Iswari yang telah hilang itu, maka ia pun lebih sering berada di rumah Warsi.

“Kehadiran orang itu sangat memuakkan,” berkata Wiradana kepada istrinya yang cantik itu.

“Tetapi ia tamu kakang. Bagaimanapun juga tamu itu harus dihormati,” berkata istrinya itu.

“Aku akan menghormati tamu yang memang pantas dihormati. Tetapi tamu yang seorang ini tidak,” jawab Wiradana.

Istrinya tidak menjawab lagi. Sebenarnyalah bahwa Warsi sendiri juga merasa muak mendengar nama Gandar itu disebut-sebut.

Namun, kehadiran Gandar memang bukan sekadar untuk mencari atau dengan kehadirannya, maka Tanah Perdikan Sembojan telah dibuatnya bagaikan diguncang lagi. Tetapi memang ingin berbicara dengan Ki Gede tanpa diketahui oleh siapapun juga, termasuk Wiradana. Adalah kebetulan sekali bahwa Ki Wiradana terlalu sering meninggalkan rumahnya, sehingga kesempatan itu sebenarnya cukup luas.

Tetapi agaknya Ki Gede sendiri, yang merasa bersalah atas hilangnya Iswari, lebih banyak mengarahkan perhatiannya kepada anak-anak muda yang sedang mencari jejak itu. Bahkan sekali dua kali, Ki Gede pernah ke luar pula dari halaman rumahnya untuk bersama-sama dengan anak-anak muda itu melihat-lihat diseputar Tanah Perdikan. Meskipun kaki dan tangannya mengalami kelemahan, namun Ki Gede masih dapat duduk di atas punggung kuda. Dengan pertolongan seseorang Ki Gede naik dan duduk di atas punggung kuda, kemudian dengan tangannya yang lemah, Ki Gede masih mampu menggerakkan kendali.

Suramnya Bayang-bayang 8

Namun Ki Gede sendiri itu pun tidak pernah menemukan jejak apapun. Sementara itu, Gandar telah berusaha untuk mendapat kesempatan berbicara langsung tanpa ada orang lain. Tetapi ternyata kesempatan yang dirasanya cukup luas itu sulit dicarinya. Setiap mereka duduk di pendapa, ada saja orang lain yang ikut duduk bersamanya. Jika bukan Wiradana, sekali-kali juga para bebahu Tanah Perdikan itu, atau bahkan Ki Gedelah yang kemudian minta diri untuk melakukan sesuatu.

Tetapi Gandar telah bertekad untuk menunggu kesempatan itu yang ia yakin pada satu saat pasti didapatkannya. Tetapi sudah barang tentu Gandar tidak akan dapat menyusul Ki Gede yang sedang duduk merenung di dalam biliknya atau sedang berbincang dengan anak-anak muda yang telah ditempanya secara khusus.

Namun Gandar cukup sabar. Meskipun ia sudah sepekan berada di Tanah Perdikan Sembojan, tetapi karena ia masih belum sempat berbicara langsung dengan Ki Gede tanpa orang lain, maka ia masih juga belum berniat untuk meninggalkan Tanah Perdikan Sembojan.

Bahkan rasa-rasanya Gandar ingin mencoba berbicara dengan Ki Gede justru di perjalanan pada saat-saat Ki Gede berkeliling Tanah Perdikan untuk mencari jejak. Meskipun Gandar tahu, bahwa yang dicari Ki Gede bukan sekadar Nyai Wiradana yang hilang, tetapi juga mencari kemungkinan adanya orang-orang yang mengganggu Tanah Perdikan karena dendam mereka atas terbunuhnya Kalamerta.

Sebenarnya Ki Gede sendiri telah dibakar oleh perasaan dendam terhadap para pengikut Kalamerta, karena menurut pendapatnya Iswari adalah karena pokal para pengikut Kalamerta itu. Karena itulah, maka Ki Gede berusaha untuk menemukan seorang saja di antara para pengikut Kalamerta itu, untuk diperas keterangannya tentang hilangnya menantunya.

Ketika Gandar melihat pada satu pagi, Ki Gede bersiap-siap untuk mengelilingi Tanah Perdikan bersama lima orang pengawal berkuda, maka Ganar pun telah memberanikan diri untuk minta ijin, ikut bersama dengan sekelompok kecil orang-orang Tanah Perdikan Sembojan itu.

“Kebetulan sekali,” jawab Ki Gede. “Senang sekali pergi bersamamu Gandar. Kau akan melihat sendiri keadaan Tanah Perdikan ini. Mungkin kau melihat sesuatu yang dapat menarik perhatianmu dan kemudian dapat dipergunakan untuk menelusuri jejak hilangnya Iswari.”

Namun ketika Ki Gede memerintahkan seseorang mempersiapkan seekor kuda, maka orang itu telah bergeremeng dengan kawannya, “Seperti mencari sepucuk jarum di lautan. Bukankah hilangnya Nyai Wiradana sudah terjadi untuk waktu yang cukup lama? Apapun yang kita lakukan sekarang, aku kira tidak akan memberikan hasil apapun juga.”

“Kau bodoh,” sahut kawannya. “Ki Gede bukan saja mencari jejak hilangnya Nyai Wiradana. Tetapi Ki Gede itu percaya bahwa di Tanah Perdikan ini masih ada orang-orang yang ingin mengacaukan ketenangan dan ketentraman yang sumbernya adalah para pengikut Kalamerta.”

Kawannya menarik nafas dalam-dalam. Namun tiba-tiba saja mereka berpaling ketika mereka melihat Wiradana melintas di sebelah kandang. Namun Wiradana itu tiba-tiba saja berhenti dan bertanya, “Ada apa? Dimanakah beberapa ekor kuda yang lain?”

Orang itu pun kemudian memberitahukan kepada Wiradana, bahwa Ki Gede akan meronda bersama beberapa orang anak muda. Akan ikut bersama Ki Gede, Gandar, tamu dari padepokan kecil, saudara Nyai Wiradana.

“Jadi Gandar akan ikut?” bertanya Wiradana.

“Ya,” jawab orang yang sedang menyiapkan kuda itu.

Wiradana berpikir sejanak. Apa kira-kira yang akan dilakukan oleh orang itu.

Mungkin satu usaha untuk mempengaruhi Ki Gede, agar ia mencurigai Wiradana yang jarang-jarang di rumah.

Karena kesalahan yang dilakukannya, maka Wiradana selalu mencurigai orang-orang yang berhubungan dengan kesalahan yang dilakukannya.

Tiba-tiba saja Wiradana itu berkata, “Aku akan ikut. Siapkan kuda untukku.”

Orang yang sedang menyiapkan kuda itu termangu-mangu. Namun ia pun ternyata tidak sempat bertanya, karena Wiradana telah meloncat masuk ke dalam rumahnya lewat pintu butulan.

Orang itu hanya dapat menarik nafas. Sementara kawannya berkata, “Kau tidak perlu mempersoalkannya. Siapkan saja kudanya.””

“Aku sudah mengerti,” jawabnya setengah membentak.

Wiradana yang langsung masuk ke dalam biliknya telah berbenah diri. Sebenarnya ia tidak ingin ikut bersama ayahnya meskipun ia tahu, bahwa ayahnya hari ini akan pergi. Bahkan ia telah minta diri kepada istrinya untuk pulang lebih pagi, karena Ki Gede akan pergi.

“Mungkin ayah akan memberikan beberapa pesan kepadaku,” berkata Wiradana.

Istrinya tidak pernah menahannya. Apapun yang dilakukan oleh Wiradana seakan-akan selalu baik baginya, meskipun sekali-kali ia mengusulkan agar Wiradana bersikap lebih baik kepada ayahnya dan pada saat terakhir kepada tamunya yang bernama Gandar. Karena dengan demikian Warsi yakin, bahwa akibatnya akan terjadi justru sebaliknya.

Ketika semuanya sudah siap, maka Ki Gede mengerutkan keningnya ketika ia melihat Wiradana ada di antara mereka.

“Kapan kau datang?” bertanya ayahnya.

“Baru saja ayah,” jawab Wiradana. “Aku akan ikut bersama ayah.”

“Apakah kau tidak letih?” bertanya ayahnya.

“Tidak ayah,” jawab Wiradana. “Justru ada sesuatu yang ingin aku sampaikan kepada ayah. Aku minta ayah menelusuri pinggir hutan yang berbatasan dengan bukit padas di sebelah bulak Pasungan.”

“ADA apa?” bertanya ayahnya.

“Mungkin aku hanya terpengaruh oleh perasaanku. Rasa-rasanya ada sesuatu yang pantas diamati. Mudah-mudahan dugaanku tidak benar,” jawab Wiradana.

“Ya, apa yang kau lihat,” desak ayahnya.

“Aku melihat beberapa orang di pinggir hutan dicelah-celah bukit-bukit padas.

Wajah Ki Gede meremang. Dengan nada tinggi ia bertanya, “Kau pasti bahwa mereka bukan orang-orang Sembojan?”

“Mereka bukan orang-orang Sembojan. Sebenarnya aku ingin mengetahui lebih banyak tentang mereka, tetapi aku cemas bahwa mereka akan dengan tergesa-gesa pergi.

Mudah-mudahan mereka masih ada disana,” jawab Wiradana.

Ki Gede mengangguk-angguk. Dendamnya kepada orang-orang yang menjadi pengikut Kalamerta semakin memuncak sejak hilangnya Iswari dari Tanah Perdikan Sembojan.

Demikianlah, maka sekelompok kecil orang-orang itu pun segera mempersiapkan diri. Dibantu oleh seorang pengawal, Ki Gede pun segera naik ke atas punggung kudanya. Kemudian yang lain pun telah berloncatan pula naik, termasuk Wiradana dan kemudian Gandar.

“Marilah saudara-saudaraku,” berkata Ki Gede. “Seperti yang pernah kita lakukan, kita mencari jejak hilangnya menantu dan sekaligus mencari para pengikut Kalamerta yang masih berkeliaran di Tanah Perdikan ini.”

Para pengiringnya pun telah siap untuk berangkat. Dengan tangannya yang lemah Ki Gede pun kemudian menggerakkan kendali kudanya untuk mendorong kudanya melangkah meninggalkan halaman itu.

Tetapi ternyata telah terjadi sesuatu yang sangat mengejutkan. Justru karena perhatian semua orang, terutama Gandar, tertuju kepada Ki Gede, maka ia tidak sempat memperhatikan sesuatu di luar halaman rumah Ki Gede. Gandar yang cemas akan keadaan Ki Gede tangan dan kakinya mengalami kelemahan sementara ia duduk

di punggung kuda, serta karena ia sama sekali tidak menduga, bahwa akan terjadi sesuatu dengan Ki Gede di halaman itu justru sebelum Ki Gede mulai menggerakkan kudanya, maka Gandar tidak mendengar kehadiran seseorang.

Namun yang terjadi benar-benar menggemparkan. Selagi kuda Ki Gede siap untuk bergerak, maka tiba-tiba saja terdengar Ki Gede mengeluh tertahan. Tangannya yang lemah itu pun berusaha untuk meraba punggungnya sambil berdesis,” Setan. Aku telah dikenai senjata rahasia sekarang ini.”

“Apa ayah?” Wiradana menjadi heran sementara orang-orang lain menjadi bingung. Ki Gede berusaha menahan keseimbangannya. Namun pada wajahnya nampak gejolak kemarahan dan kecemasan hatinya.

Gandarlah yang kemudian meloncat turun. Kemudian dengan hati-hati ia berusaha membantu Ki Gede turun sambil berkata, “Marilah Ki Gede, kita akan melihat, apa yang telah terjadi.”

“Punggungku,” desis Ki Gede. “Aku merasa sesuatu mengenaiku. Tentu senjata rahasia, semacam sumpit beracun.”

Demikian Ki Gede turun dari kudanya, Gandar tidak sempat membawanya naik ke pendapa. Dibiarkannya Ki Gede duduk di tanah, sementara ia mencoba untuk melihat punggung Ki Gede dengan melepas baju luriknya.

Jantung Gandar tergetar. Sebagai seorang pembantu Kiai Badra yang memahami tentang obat-obatan, maka Gandar pun mempunyai pengetahuan tidak sedikit tentang pengobatan itu pula.

Karena itu, demikian ia melihat punggung Ki Gede Sembojan, maka ia pun telah menjadi gelisah.

Gandar melihat sebuah mata sumpit yang melekat pada kulit Ki Gede agak membenam ke dalam dagingnya. Gandar pun melihat disekitar luka itu terdapat noda yang kebiru-biruan.

“Paser beracun,” desisnya.

“Apa?” mata Wiradana terbelalak.

“Punggung Ki Gede telah dikenai semacam paser kecil yang mungkin dilontarkan dengan sumpit,” sahut Gandar.

“Gila,” wajah Wiradana menjadi tegang. “Siapa yang melakukannya?”

Gandar tiba-tiba lupa akan dirinya, seorang pembantu Kiai Badra yang agak kedungu-dunguan. Tiba-tiba saja ia pun berteriak lantang. “Cepat. Kepung padukuhan induk ini. Tentu seorang yang berilmu tinggi telah melakukan pengkhianatan yang licik ini.”

Wiradana pun bagaikan kehilangan nalar. Ia tidak sempat berpikir. Seakan-akan diluar sadarnya, maka ia pun telah berlari ke arah kudanya. Sekali loncat ia sudah berada di punggung kuda sambil memberikan aba-aba, “Cepat. Pergi ke semua pintu gerbang. Seorang di antara kalian membunyikan isyarat kentongan. Kita akan menutup semua pintu dan mengepung padukuhan induk ini.”

Sesaat kemudian, maka kuda Wiradana pun telah berderap meninggalkan halaman, disusul oleh anak-anak muda yang lain. Mereka melarikan kuda mereka ke arah yang berbeda, karena mereka akan menutup semua pintu gerbang. Sementara itu, seorang

yang lain, yang kebetulan berada di halaman itu, telah berlari ke gardu di sebelah regol halaman dan memukul kentongan dengan nada titir.

Gandar sendiri termangu-mangu sejenak. Tetapi ketika ia berniat ikut mencari orang yang menyerang dengan licik itu, ia melihat Ki Gede menjadi pucat dan kejang-kejang.

Gandar tidak dapat meninggalkannya. Ia tidak sampai hati melihat keadaan Ki Gede yang menjadi sangat gawat.

Karena itu, maka ia pun kemudian telah berjongkok disamping Ki Gede sambil berdesis, “Marilah Ki Gede. Biarlah aku mencoba mengobati.”

Ki Gede tidak menjawab. Keadaannya telah menjadi sangat parah. Ketahanan tubuh Ki Gede ternyata tidak lagi seperti sebelum ia mengalami kelemahan pada tangan dan kakinya.

Gandar tidak bertanya lagi. Ia segera memapah Ki Gede dan membawanya naik ke pendapa. Membaringkannya miring agar ia dapat mengobati luka-lukanya.

Kepada seorang yang kebingungan di halaman, Gandar berteriak, “Cepat, ambilkan air.”

Berlari-lari orang itu mengambil air. Dengan air itu, Gandar telah mencairkan serbuk obat yang dibawanya. Obat yang dapat melawan racun.

Dengan obat itu Gandar mengusap luka di punggung Ki Gede yang tidak berdarah, sementara jarum paser yang dilontarkan dengan sumpit itu pun masih berada di dalam luka itu.

Ki Gede Sembojan menggeliat. Ter-nyata ia masih dipengaruhi oleh perasaan pedih karena obat Gandar. Obat yang seakan-akan menghisap racun, bukan saja pada jarum paser kecil itu, tetapi juga yang sudah mengalir di dalam darah Ki Gede.

Sementara itu, Gandar pun telah mencairkan obat yang lain pada mang-kuk yang lain pula. Perlahan-lahan ia menitikkan obat itu di bibir Ki Gede yang kemudian kepalanya berada di pangkuan Gandar.

Ternyata Ki Gede masih berpengharapan. Titik-titik air yang mengandung obat itu masih dapat melintasi kerongkongan Ki Gede.

Namun ternyata bahwa Ki Gede sudah terlalu lemah. Racun yang bekerja pada tubuh Ki Gede adalah racun yang sangat kuat, sementara daya tahan Ki Gede sendiri agaknya sudah tidak terlalu kuat. Karena itu, usaha Gandar pun tidak akan banyak berpengaruh atas keadaan Ki Gede.

Tetapi agaknya Ki Gede masih sempat membuka matanya. Ketika dengan agak kabur dilihatnya Gandar, Ki Gede itu pun tersenyum.

“Dimana Wiradana,” desisnya.

“Sekelompok anak muda telah memencar dan menutup semua jalan keluar padukuhan

induk ini Ki Gede. Sementara itu, isyarat kentongan telah dibunyikan, sehingga tidak memungkinkan seorang pun dapat keluar dari padukuhan induk ini.”

Ki Gede masih tersenyum sambil mengangguk-angguk. Katanya, “Syukurlah bahwa

mereka mampu berpikir cepat.” Namun tiba-tiba senyum dibibir Ki Gede itu larut, “Tentu orang Kalamerta. Sayang aku belum sempat menjumpainya. Tetapi Wiradana harus tetap mencari mereka dan mencari jejak hilangnya Iswari.”

Terasa jantung Gandar menjadi berdegupan. Namun katanya, “Sebaiknya Ki Gede menenangkan pikiran. Aku berusaha untuk mengobati Ki Gede.”

Tetapi Ki Gede justru menggeleng. Katanya, “Tidak ada gunanya Gandar. Keadaanku sudah sangat lemah. Aku merasa, obat yang kau oleskan pada lukaku untuk sesaat mampu menghentikan arus racun di dalam darahku. Tetapi ternyata darahku sudah terlalu dalam di kotori oleh racun yang sangat kuat itu, sehingga obat yang kau berikan hanya sekadar menahan saja. Tetapi tidak akan mampu menyembuhkannya.”

“Aku akan berusaha Ki Gede,” berkata Gandar.

“Tidak akan ada gunanya,” desis Ki Gede hampir berbisik.

Gandar tidak menjawab lagi. Tetapi ia pun merasakan keadaan sebagaimana dikatakan oleh Ki Gede.

Namun dalam pada itu, pada saat-saat yang gawat bagi hidup Ki Gede, timbullah niat Gandar untuk mengatakan sesuatu kepada Ki Gede yang menyangkut menantunya yang sangat dikasihi itu. Karena itu, untuk beberapa saat ia termangu-mangu.

Namun akhirnya ia memaksa juga bibirnya berkata setelah ia yakin tidak ada orang yang akan dapat mendengarnya. “Ki Gede. Cobalah Ki Gede mengerahkan segala daya

tahan Ki Gede untuk tetap hidup. Bagaimanapun buruknya obat-obatku, tetapi aku

akan mampu membantu Ki Gede jika Ki Gede sendiri menghendaki untuk tetap bertahan.”

“Apapun yang akan kau lakukan Gandar, tetapi jika seorang telah terantuk batas, maka ia tidak akan dapat berbuat banyak,” jawab Ki Gede sendat.

“Tetapi Ki Gede,” berkata Gandar. “Ada sesuatu yang akan dapat dijadikan satu pancadan bagi Ki Gede untuk bergairah tetap hidup,” berkata Gandar.

Ki Gede memandang Gandar dengan pandangan yang kabur. Namun ia pun bertanya,

“Apa maksudmu Gandar?”

“Ki Gede,” berkata Gandar kemudian. “Sebenarnya bahwa Iswari masih hidup.”

“He,” Tiba-tiba terasa Ki Gede akan bangkit. Tetapi tubuhnya sudah terlalu letih, sehingga kepalanya yang sedikit terangkat itupun telah terkulai jatuh kembali di pangkuan Gan-dar.

“Ya Ki Gede, sebenarnyalah demikian,” berkata Gandar kemudian.

“Tetapi dimana anak itu sekarang?” bertanya Ki Gede.

“Ia sudah berada di rumah kakeknya?” jawab Gandar.

“Bagaimana hal itu mungkin terjadi?” bertanya Ki Gede pula.

“Ki Gede,” berkata Gandar. “Sebenarnyalah bahwa Iswari akan dibunuh. Seorang telah menyelamatkannya dan membawa Iswari kembali ke kakeknya. Untuk sementara Iswari disembunyikan agar orang yang ingin membunuhnya tidak mengetahui bahwa Iswari sebenarnya masih belum mati. Sementara itu aku datang kemari untuk memberitahukan hal ini kepada KiGede, tetapi untuk memberikan kesan agar Iswari memang sudah mati, maka aku pun berpura-pura mencari perempuan itu.”

“O,” Ki Gede menarik nafas dalam-dalam. “Apakah kau tahu, siapakah yang akan membunuhnya?” bertanya Ki Gede.

Gandar menjadi ragu-ragu. Dalam keadaan yang demikian, Gandar tidak sampai hati mengatakan bahwa Wiradana sendirilah sumber dari usaha pembunuhan itu. Jika benar obatnya tidak dapat menyembuhkannya, maka persoalan itu agar tidak menjadi

beban pada saat-saat terakhir.

Karena itu, maka Gandar pun menjawab, “Ki Gede. Agaknya dugaan Ki Gede benar.

Sisa gerombolan Kalamerta.”

“Nah apa kataku,” desis Ki Gede lemah. “Syukurlah jika ia masih hidup. Biarlah kakeknya melindunginya untuk selamanya. Tetapi apakah Wiradana sudah tahu akan hal ini?”

Gandar menjadi ragu-ragu. Tetapi katanya kemudian, “Sudah Ki Gede.”

“O,” Ki Gede mengerutkan keningnya. Seakan-akan ia ingin melihat lebih jelas lagi wajah Gandar yang menjadi kabur. Dengan suara parau Ki Gede kemudian berkata, “Tetapi Wiradana sama sekali tidak memberikan kesan, bahwa ia sudah mengetahui,” Ki Gede menyeringai menahan sakitnya yang seakan-akan menghimpit seluruh tubuhnya. Namun kemudian dengan ketabahan seorang laki-laki yang memiliki kelebihan dari orang kebanyakan, maka Ki Gede pun tersenyum, “Itulah agaknya yang membuatnya tidak terlalu bersedih atas hilangnya istrinya. Bahkan seakan-akan ia tidak menghiraukannya lagi setelah lewat beberapa pekan. Agaknya ia memang sama sekali tidak merasa kehilangan.”

Gandarlah yang terkejut mendengar jawaban itu. Bahkan rasa-rasanya jantungnyalah yang berdeguban semakin cepat. Di dalam hati ia memaki Wiradana tidak habis-habisnya. Namun dihadapan Ki Gede yang dalam keadaan yang parah itu,

Gandar masih berusaha untuk tetap mengekang diri.

“Gandar,” berkata Ki Gede. “Agaknya aku benar-benar tidak akan dapat bertahan lebih lama lagi. Umurku sudah sampai pada batasnya. Sampaikan kepada Kiai Badra bahwa aku mohon maaf atas peristiwa yang terjadi atas cucunya. Meskipun Iswari masih tetap selamat, namun percobaan pembunuhan atas dirinya sudah merupakan satu peristiwa yang dapat mengguncang hati orang tua itu. Juga sampaikan ucapan terima kasihku yang tidak terhingga, seakan-akan Kiai Badra sudah dapat menyambung hidupku untuk beberapa lama, sehingga tugasku benar-benar telah selesai. Aku sudah mengawinkan anak laki-laki satu-satunya yang aku miliki.”

“Ya Ki Gede,” desis Gandar. “Tetapi Ki Gede harus berusaha untuk bertahan dan memohon kepada Sumber Hidup. Bukankah Ki Gede masih ingin bertemu dengan cucu Ki Gede?”

“Cucu?” bertanya Ki Gede dengan suara yang semakin lemah.

“Ya. Cucu Ki Gede. Cucu Ki Gede itu sudah lahir. Seorang anak laki-laki yang sehat, tampan dan nampaknya memiliki kecerdasan dan bekal yang diwarisinya dari kakeknya,” sahut Gandar.

Ki Gede yang sudah menjadi gemetar itu sempat tersenyum. Meskipun wajahnya bagaikan sudah hampir membeku, namun ia masih berusaha untuk berkata, “Aku mengucap sukur kepada Tuhan, bahwa Iswari sudah melahirkan anaknya. Laki-laki atau perempuan bagiku sama saja. Kurnia Yang Maha Agung itu harus mendapat tempat sewajarnya di dunia yang ternyata merupakan arena pergolakan yang sangat keras ini,” Ki Gede terdiam sejenak, lalu, “Gandar. Apakah Wiradana belum datang?”

“Belum Ki Gede,” jawab Gandar.

“Baiklah. Aku titipkan kepadamu. Pertanda penguasa di Tanah Perdikan ini,” desis Ki Gede. Suaranya menjadi parau dan hampir tak kedengaran lagi.

Dalam pada itu Ki Gede rasa-rasanya ingin menggerakkan tangannya. Tetapi ia sudah menjadi sangat lemah.

Gandar menjadi berdebar-debar. Ia menyesal, bahwa ia agak terlambat bertindak.

Apalagi tubuh Ki Gede yang cacat itu tidak memiliki daya tahan yang cukup untuk melawan racun yang sangat tajam. Sehingga dengan demikian, agaknya obat yang diberikan oleh Gandar itu hanya mampu menunda saat-saat kematian. Tetapi tidak akan dapat menyelamatkannya.

“Seandainya Kiai Badra ada disini,” berkata Gandar di dalam hatinya.

Namun dalam pada itu, karena Ki Gede tidak mampu menggerakkan tangannya, maka ia pun berkata dengan suara yang lemah bergetar, “Gandar. Tolong ambilkan sebuah bandul beserta rantainya di kantong ikat pinggangku.”

“Bandul, Ki Gede,” ulang Gandar.

“Ya,” desis Ki Gede. Suaranya menjadi semakin lirih.

Gandar tidak menjawab lagi. Perlahan-lahan ia mulai meraba kantong ikat pinggang Ki Gede sementara Ki Gede masih tetap berbaring beralaskan pangkuan Gandar.

Ternyata bahwa di kantong ikat pinggang Ki Gede memang terdapat sebuah bandul yang tergantung pada seutas rantai. Semuanya terbuat dari emas yang kuning gemerlap. Bandul yang bulat sebesar biji jengkol itu bertatahkan lukisan kepala seekor burung elang.

Gandar menarik nafas dalam-dalam. Benda itu tentu mahal sekali harganya.

Dalam pada itu, Ki Gede pun kemudian berkata, “Gandar. Tolong berikan benda itu kepada Wiradana. Ia akan berhak memiliki benda itu sebagai pertanda bahwa ia akan memimpin Tanah Perdikan ini.”

Jantung Gandar terasa berdenyut semakin cepat. Namun ia menjawab, “Baiklah Ki Gede. Aku akan memberikan nanti jika ia kembali.”

Ki Gede tersenyum. Katanya, “Tugasku memang sudah selesai, Gandar. Pesanku kepada Wiradana. Hati-hatilah ia dengan istrinya. Ia harus ikut bertanggungjawab atas keselamatannya meskipun untuk sementara istrinya berada di padepokannya.

Tetapi pada suatu saat, cucuku itulah yang akan memiliki bandul itu sesudah Wiradana. Karena cucuku itulah yang kelak akan berhak menggantikan Wiradana menjadi Kepala Tanah Perdikan ini.”

“Ya Ki Gede,” jawab Gandar dengan suara datar.

Ki Gede menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian ia berdesis, “Agaknya aku tidak sempat menunggu orang-orang Tanah Perdikan ini. He, siapa yang berada di halaman?”

Gandar berpaling ke halaman. Ia melihat empat orang berdiri tegang dibawah tangga pendapa. Namun Gandar yang cerdik itu telah membelakangi mereka sehingga

orang-orang itu tidak melihat dan tidak mendengar apa yang telah dibicarakan antara Gandar dan Ki Gede.

Sementara itu, suara titir yang mengumandang bukan saja di padukuhan induk, telah memanggil anak-anak muda. Selain mereka yang mengepung padukuhan induk itu, beberapa di antara mereka telah terkumpul di depan regol rumah Kepala Tanah Perdikannya. Tetapi mereka tidak tahu apa yang sebenarnya telah terjadi di pendapa. Mereka hanya melihat seseorang berusaha untuk mengobati Ki Gede,

sedangkan empat orang yang terdahulu tegang dibawah tangga pendapa. Nampaknya mereka telah berbicara di antara mereka. Menebak apa yang kira-kira terjadi dan menurut selera mereka sendiri-sendiri memberikan arti dari peristiwa itu.

Sementara itu, keadaan Ki Gede menjadi parah. Gandar tidak mampu berbuat apa-apa. Obat yang dibawanya tidak dapat menahan arus racun di dalam darah Ki Gede, justru selagi daya tahan Ki Gede sudah menurun.

Sejenak kemudian maka Ki Gede itu pun berkata, “Gandar. Kau adalah orang satu-satunya yang ada disini, justru pada saat umurku sampai ke batas. Tetapi aku percaya kepadamu. Kau akan membantu memecahkan masalah yang akan timbul di

Tanah Perdikan ini sepeninggalanku.”

“Ya Ki Gede,” jawab Gandar. “Aku akan berusaha.”

“Terima kasih,” desis Ki Gede sambil tersenyum. Namun wajahnya menjadi semakin pucat. Noda yang berwarna kebiru-biruan mulai muncul di wajah itu.

Akhirnya, Ki Gede itu benar-benar menjadi semakin lemah. Ketika Ki Gede itu sempat membuka matanya yang mulai terpejam, maka serasa sebuah senyuman masih saja membayang.

“Ki Gede,” panggil Gandar.

Tetapi Gandar tidak dapat berbuat apa-apa. Ki Gede itu meninggal dalam suasana yang pasrah. Ia merasa bahwa tugasnya memang sudah selesai. Apalagi ketika ia mendengar bahwa menantunya yang sangat disayanginya masih hidup dan bahkan cucunya telah lahir pula dengan selamat.

Gandar menarik nafas dalam-dalam. Ki Gede sudah tidak bernafas lagi ia masih berbaring dipangkuannya. Sejenak Gandar menimang bandul dan rantai yang diambilnya dari kantong ikat pinggang Ki Gede. Benda berharga bukan saja karena terbuat dari emas, tetapi juga nilainya sebagai pertanda seorang Kepala Tanah Perdikan di Sembojan itu telah menimbulkan persoalan di dalam dirinya. Benda itu sesuai dengan pesan Ki Gede harus diserahkan kepada Wiradana. Tetapi tumbuh satu pertanyaan dihati Gandar. “Seandainya Ki Gede mengetahui apa yang telah dilakukan oleh anak laki-lakinya terhadap istrinya, apakah sikap Ki Gede tidak

akan berubah?”Sejenak Gandar termangu-mangu. Namun ia pun kemudian teringat pesan Ki Gede pula, bahwa kelak anak Iswari itu akan berhak memiliki bandul itu pula.

Sekilas Gandar berpaling ke halaman. Ia masih melihat orang-orang yang gelisah. Sementara diregol halaman semakin lama menjadi semain banyak orang yang berkumpul. Bukan saja anak-anak muda, tetapi juga beberapa orang lain yang mengetahui dan mendengar dari anak-anak muda yang hilir mudik dengan sibuknya,

apa yang telah terjadi dengan Ki Gede.

Dalam pada itu, Gandar masih dalam kegelisahan karena bandul yang diberikan oleh Ki Gede kepadanya, yang harus disampaikannya kepada Wiradana. Di dasar hatinya ada semacam ketidakrelaan, bahwa Tanah Perdikan ini akan dipimpin oleh Wiradana

yang mempunyai seorang istri lain kecuali Iswari. Bahkan istrinya itu adalah seorang yang memiliki ilmu yang tinggi.

“Ki Gede benar,” desis Gandar. “Memang keluarga Kalamerta yang telah mengacaukan ketenangan Tanah Perdikan ini.

Tiba-tiba Gandar mengambil keputusan untuk menyimpan bandul itu. Setidak-tidaknya untuk sementara. Ia akan melihat keadaan sebelum ia akan menyerahkan bandul itu kepada Wiradana. Meskipun ia sadar bahwa sebenarnya ia sama sekali tidak berhak untuk berbuat demikian.

Karena itu, maka bandul itu pun telah dimasukkan ke dalam kantong ikat pinggangnya sendiri tanpa diketahui oleh siapapun.Baru kemudian Gandar itu meletakkan Ki Gede perlahan-lahan. Kemudian ia pun bangkit dan melangkah ke tangga pendapa, mendekati orang-orang yang sedang gelisah itu.

“Ki Gede sudah meninggal,” desis Gandar.

“He,” orang-orang di halaman itu menjadi tegang. Salah seorang di antara mereka telah melangkah naik perlahan-lahan mendekati tubuh Ki Gede yang terbaring.

Ketika ia berjongkok sambil meraba tangan Ki Gede yang bersilang didada, maka ia pun menarik nafas dalam-dalam. Ki Gede sudah memejamkan matanya dan tidak bernafas lagi.

“Ya,” desisnya. “Ki Gede sudah meninggal.”

Demikianlah, maka beberapa orang yang lain pun telah naik pula ke pendapa. Mereka memang melihat tubuh Ki Gede yang pada wajahnya terdapat noda-noda yang kebiru-biruan. Sehingga beberapa orang di antara mereka dapat mengenali, bahwa Ki Gede memang terkena racun.

“Aku gagal mengobatinya,” desis Gandar. “Aku mohon maaf. Seandainya Kiai Badra

sendiri ada disini, mungkin ia dapat meramu obat yang lebih baik, yang sesuai dengan kemampuan racun yang sangat tinggi ini.”

Memang tidak ada orang yang menyalahkan Gandar. Ia sudah berusaha. Tetapi usahanya tidak berhasil.”

Karena itu, maka atas kesepakatan beberapa orang itu, maka Ki Gede pun kemudian telah diangkat dibawa masuk ke ruang tengah. Diletakkan di atas amben yang besar dan ditutup dengan sehelai kain dari ujung kakinya sampai ke ujung kepalanya.

Namun mereka masih belum berbuat apa-apa, karena mereka masih menunggu Wiradana.

Sementara itu, Wiradana memimpin anak-anak muda mengepung seluruh padukuhan induk. Ia memerintahkan anak-anak muda itu tidak saja menutup semua regol. Tetapi setiap jengkal tanah yang melingkar padukuhan induk harus diawasi.

Ketika semua jalan keluar sudah tertutup, maka Wiradana memerintahkan anak-anak muda Tanah Perdikan untuk mencari orang yang pantas dicurigai diseluruh padukuhan induk, semua rumah harus dimasuki tanpa terkecuali. Meskipun rumah itu bebahu Tanah Perdikan itu sekalipun.

“Jangan satu atau dua orang untuk setiap kelompok. Tetapi lebih dari itu.

Sedikit-dikitnya lima orang, agar setiap pengamatan dapat meyakinkan,” perintah Wiradana.

Dengan demikian, anak-anak muda dan bahkan hampir setiap laki-laki di Tanah Perdikan Sebojan, terutama di padukuhan induk itu menjadi sibuk. Me-reka melihat setiap rumah. Halamannya, ruang dalamnya bahkan kandang dan lumbung-lumbungnya.

Mungkin seorang bersembunyi atau dengan sengaja menyembunyikannya diri sepengetahuan pemilik ru-mahnya.

Wiradana sendiri hilir mudik di atas punggung kudanya, sambil setiap kali meneriakkan aba-aba bagi anak-anak muda yang berkumpul di gardu-gardu dan bagi mereka yang sedang sibuk melihat setiap halaman dan isi rumah dan bangunan-bangunan yang ada. Bahkan banjar padukuhan induk itu pun tidak luput dari pengamatan anak-anak muda yang ma-rah itu.

Tetapi mereka tidak menemukan seorang pun yang pantas mereka curigai.

“Cari sampai dapat,” setiap kali Wiradana membentak.

Namun mereka tidak menemukan orang yang dikehendaki. Tidak ada orang asing di padukuhan induk itu. Bahkan kebetulan sekali, tidak ada tamu seorang pun di rumah penghuni padukuhan induk. Orang-orang dari tetangga padukuhan pun tidak ada yang kebetulan berada di padukuhan induk.

Wiradana menjadi semakin geram. Namun ketika ia masih akan mengelilingi padukuhan itu sekali lagi, seorang telah menemuinya untuk mengabarkan, bahwa Ki Gede telah meninggal.

“Ayah telah meninggal?” wajah Wiradana menegang.

“Ya,” jawab orang yang memberitahukan itu.

“Bukankah Gandar sudah berusaha mengobatinya?” bertanya Wiradana.

“Ya. Tetapi gagal. Gandar telah berusaha sejauh dapat dilakukan. Namun obat yang kebetulan dibawanya tidak mampu menyelamatkan Ki Gede. Entahlah, jika Kiai Badra sendiri ada disini sekarang,” jawab orang itu.

Wiradana pun mengurungkan niatnya untuk sekali lagi mengelilingi padukuhan itu. Tetapi ia langsung kembali ke rumahnya untuk melihat keadaan ayahnya. Kepada para pemimpin kelompok yang ditemuinya ia berpesan, agar usaha itu terus dilakukan.

“Aku yakin, orang itu tentu masih ada di padukuhan induk ini,” berkata Wiradana.

“Jika tidak ada orang lain, tentu salah seorang di antara kita sendiri.”

Dengan demikian maka anak-anak muda itu pun masih sibuk dengan usaha mereka, sementara Wiradana sendiri telah kembali ke rumahnya setelah ia mendengar bahwa ayahnya telah meninggal.

Demikian kudanya memasuki halaman, maka Wiradana itu pun segera meloncat turun. Dengan tergesa-gesa ia naik ke pendapa dan bertanya kepada Gandar yang duduk dipendapa itu pula, “Dimana ayah?”

Gandar pun bangkit dan membawa Wiradana masuk ke ruang dalam. Demikian ia masuk,

maka ia pun tertegun. Dilihatnya sesosok tubuh yang terbaring, diselubungi oleh

kain dari ujung kaki sampai ke ujung kepala.

“AYAH,” desis Wiradana. Perlahan-lahan ia melangkah mendekati sosok tubuh yang

membeku itu. Perlahan-lahan ia membuka selubung itu di arah kepala.

Jantung Wiradana terasa berdegup semakin cepat ketika ia melihat wajah ayahnya

yang bernoda kebiru-biruan dibeberapa tempat. Bahkan ternyata juga di tangannya

dan bahkan diseluruh tubuhnya.

“Racun,” desis Wiradana.

“Aku sudah mencoba mengobatinya. Aku sudah mengobati di arah lukanya. Aku

berharap bahwa obat itu akan dapat membantu menghisap racun yang mulai bekerja

ditubuh lewat saluran darah Ki Gede. Dan aku pun sudah menitikkan obat

dibibirnya. Sebenarnya aku berpengharapan bahwa obat-obatku akan bermanfaat

setelah obat itu berhasil melewat kerongkongan. Tetapi ternyata aku gagal,”

jawab Gandar.

Wiradana berdiri dengan kepala tunduk. Bagaimana pun juga kematian ayahnya

merupakan suatu peristiwa yang pahit baginya. Setelah ia kehilangan ibunya, maka

ia pun kini kehilangan ayahnya, sehingga dengan demikian ia menjadi yatim piatu.

Gandar melihat mata Wiradana menjadi basah. Tetapi Wiradana bertahan untuk tidak

menangis.

“Agaknya sebagaimana dikatakan oleh Ki Gede sendiri, saatnya memang telah tiba,”

berkata Gandar.

“Ya,” Wiradana mengangguk. Namun ia sempat menelusuri jalan hidup yang

ditempuhnya selama ini. Sekilas ia teringat pula kepada istrinya yang

disangkanya sudah mati, Iswari. Istrinya itu adalah seorang perempuan yang

sangat dikasihi oleh ayahnya. Kini ayahnya justru telah menyusul Iswari yang

disangkanya sudah mati.

“Sudahlah,” berkata Gandar. “Yang perlu dipikirkan kemudian adalah bagaimana

menyelenggarakan jenazah Ki Gede.”

Wiradana mengangguk kecil. Katanya, “Baiklah Gandar. Apapun yang terjadi atas

ayahku, aku tetap mengucapkan terima kasih atas segala usahamu. Tetapi agaknya

memang sudah sampai saatnya ayah harus menghadap kembali kepada Yang Maha

Agung.”

Gandar mengangguk-angguk. Namun ia menjawab, ” Sudah menjadi kewajiban setiap

orang untuk berusaha saling menolong. Tetapi kali ini aku memang telah gagal

menolong Ki Gede.”

Wiradana pun kemudian melangkah keluar. Kepada orang-orang yang berada di

pendapa ia berkata, “Tolong, marilah kita selenggarakan jenazah ayah. Sementara

itu anak-anak muda masih berusaha untuk mencari orang yang dengan curang telah

membunuh ayah.”

Demikianlah, di halaman rumah Ki Gede telah terjadi kesibukan tersendiri,

sementara di seluruh padukuhan induk-pun masih juga sibuk mencari orang yang

pantas dituduh membunuh Ki Gede di Sembojan.

Namun sementara itu, dalam kesibukan di dalam dan di luar halaman rumah Ki Gede,

Gandar masih sempat merenungui bandul yang diberikan oleh Ki Gede Sem-bojan.

Apakah ia akan memenuhi permin-taan Ki Gede menyampaikan bandul itu kepada

Wiradana, atau ia akan menempuh satu kebijaksanaan lain, meskipun tidak untuk

dimilikinya sendiri.

“Jika aku memberikan bandul ini kepada yang berhak sekarang, maka aku telah

menunaikan satu beban yang dipercayakan kepadaku. Dari seseorang yang sekarang

sudah meninggal,” berkata Gandar di dalam hatinya. “Tetapi jika aku menyerahkan

bandul itu, maka aku yakin bahwa akan terjadi sesuatu yang akan dapat

mengeruhkan susana masa depan Tanah Perdikan ini. Jika perempuan yang memiliki

ilmu yang tinggi itu juga mempunyai seorang anak, maka Wiradana tidak akan dapat

berbuat adil dengan menyerahkan bandul itu kepada anaknya yang sulung. Apalagi

agaknya Wiradana tidak akan mampu melawan kehendak perempuan cantik itu apabila

pada saatnya perempuan itu menunjukkan kemampuannya yang sebenarnya.

Adalah tiba-tiba saja, bahwa Gandar telah melontarkan dugaannya atas kematian Ki

Gede itu kepada perempuan yang menjadi istri Wiradana. Dengan ilmunya yang

tinggi, ia akan dapat melakukan seperti apa yang telah terjadi. Ia dapat

melontarkan paser-paser kecil itu dengan sumpit. Kemudian dengan ilmunya yang

tinggi itu pula, ia dapat melarikan diri sebelum padukuhan induk itu sempat

dikepung.

“IA tentu memiliki ilmu iblis,” geram Gandar.

Ia menyesal bahwa ia tidak berusaha mengejarnya, menangkapnya dan menunjukkan

kebenaran tentang istri mudanya itu kepada Wiradana. Jika ia menyadari bahwa

akhirnya Ki Gede juga akan tidak tertolong lagi, maka ia mungkin masih mempunyai

kesempatan untuk mengejar orang itu. Meskipun Gandar pun tidak yakin, bahwa ia

akan dapat menangkap perempuan itu. Tetapi seandainya ia sempat bertahan

beberapa lama, maka anak-anak muda Tanah Perdikan Sembojan akan dapat

mengepungnya dan menjadi saksi, bahwa perempuan itu adalah perempuan yang

berbahaya bagi Sembojan.

Tetapi semuanya sudah telanjur. Pembunuh itu sudah pergi. Namun besar dugaan

Gandar, bahwa pembunuh itu adalah istri muda Wiradana sendiri, yang merasa

rencananya akan selalu dapat dihambat oleh Ki Gede Sembojan.

Namun untuk dapat mengatakan demikian Gandar harus dapat meyakinkan diri dan

menemukan bukti-bukti yang dapat meyakinkan orang lain bahwa hal itu memang

terjadi.

Hari ini Sembojan telah berkabung. Pemimpin Tanah Perdikan yang untuk waktu yang

lama bekerja keras dan menjadikan Sembojan sebuah Tanah Perdikan yang besar,

telah meninggalkan hasil kerjanya oleh kelicikan seseorang. Terakhir pemimpin

yang disegani itu telah berhasil membunuh seorang penjahat yang namanya ditakuti

bukan saja oleh orang-orang Tanah Perdikan Sembojan dan sekitarnya, bahkan

namanya disegani oleh seluruh daerah Pajang dan Kadipaten-kadipaten yang lain.

Dengan kepala tunduk orang-orang Sembojan mengantarkan jenazah Ki Gede ke makam

yang akan menjadi tempat peristirahatannya yang terakhir. Terasa betapa pahitnya

untuk berpisah dengan seorang pemimpin yang hatinya berada di antara rakyatnya.

“Tetapi saat kematian memang datang di luar kehendak seseorang. Meskipun

seseorang wenang berusaha, namun terakhir keputusan berada di tangan Tuhan Yang

Maha Kasih,” guman beberapa orang yang mengantar tubuh Ki Gede dan memberikan

penghormatan terakhir.

Namun dalam pada itu, padukuhan induk Tanah Perdikan Sembojan itu masih tetap

dikepung. Tidak seorang pun boleh keluar dari Tanah Perdikan itu. Ketika

iring-iringan janazah Ki Gede melintasi regol diikuti oleh sederet panjang

rakyat Tanah Perdikan Sembojan, bukan saja dari padukuhan induk, tetapi dari

padukuhan-padukuhan yang lain, maka ternyata pengawasan atas setiap orang yang

keluar masuk regol padukuhan induk menjadi kendor. Namun para pemimpin pengawal

Tanah Perdikan itu telah memberikan perintah kepada para pengawal untuk

mengamati setiap orang dalam iring-iringan itu. Jika mereka melihat seseorang

yang mencurigakan, maka setidak-tidaknya orang itu harus dimintai keterangan.

Gandar pun ikut pula bersama iring-iringan itu ke makam. Tetapi para pengawal

sudah banyak yang mengenalnya. Mereka sama sekali tidak menaruh curiga

kepadanya, karena justru Gandar dan Kiai Badra telah banyak memberikan jasanya

kepada Tanah Perdikan itu, khususnya kepada Ki Gede Sembojan.

Di perjalanan menuju ke makam, Gandar masih selalu digelisahkan oleh bandul

sebesar biji jengkol yang bergambar kepala burung elang dan tergantung pada

seutas rantai, yang semuanya terbuat dari emas.

“Aku akan menyimpannya untuk sementara,” akhirnya Gandar mengambil keputusan.

Demikianlah, akhirnya upacara penguburan jenazah Ki Gede itu pun selesai. Satu

persatu orang-orang yang memberikan penghormatan terakhir itu pun meninggalkan

makam itu. Semakin lama makam itu pun menjadi semakin senyap.

Sementara itu, matahari pun menjadi semakin rendah pula, mendekati punggung

bukit di sebelah Barat.

Yang terakhir di makam itu adalah Wiradana yang ditunggu oleh beberapa orang

pengawal di regol makam. Sejenak Wiradana memandangi makam ayahnya yang masih

basah oleh air bunga yang ditaburkan oleh orang-orang yang memberikan

penghormatan terakhirnya.

Namun kemudian sambil menarik nafas ia pun melangkah meninggalkan makam yang

membeku itu.

Namun ternyata masih ada seseorang yang tertinggal. Gandarlah yang kemudian

mendekati makam itu. Bahkan ia pun telah berlutut disisi makam Ki Gede yang

masih merah itu.

“Maafkan aku Ki Gede,” desis Gandar. “Aku tidak melakukan sebagaimana yang Ki

Gede pesankan tentang bandul pertanda pemimpin Tanah Perdikan Sembojan itu. Aku

untuk sementara tidak akan menyerahkan bandul itu kepada Wiradana, karena aku

tahu, bahwa tingkah laku anak itu tidak sebagaimana yang Ki Gede kehendaki.”

Suasana di makam itu terasa hening. Yang terdengar kemudian adalah desis angin

yang lembut menggerakkan daun semboja yang tumbuh dengan suburnya. Bunganya yang

putih bersih bergayutan di ranting-rantingnya yang nampak segar dilekati oleh

daunnya yang hijau.

Gandar menarik nafas dalam-dalam. Namun ia pun kemudian bangkit berdiri dan

meninggalkan makam itu sambil berkata kepada diri sendiri. “Anak Iswari itulah

yang berhak menerima pertanda ini. Wiradana sudah menyimpang dari kebenaran

tingkah laku seorang pewaris jabatan tertinggi di Tanah Perdikan ini. Bahkan

seandainya hal ini didengar oleh Adipati Pajang, maka dapat terjadi hak atas

Tanah Perdikan ini dapat dicabut.”

Tetapi Gandar tidak ingin mempersoalkan Tanah Perdikan itu sampai ke Adipati

Pajang. Karena jika demikian, dan hak atas Tanah Perdikan beberapa Kademangan

dalam kedudukan yang sama dengan kademangan-kademangan yang lain, maka anak

Iswari itu pun akan kehilangan haknya pula.

Karena itu, maka Gandar harus mencari jalan lain untuk membuat penyelesaian atas

Tanah Perdikan itu dalam persoalan yang gawat, karena ia sadar, bahwa ia akan

berhadapan dengan kekuatan keluarga Kalamerta. Dalam persoalan berikutnya, mau

tidak mau maka istri Wiradana yang cantik itu tentu akan melibatkan seluruh

kekuatan keluarga Kalamerta yang tertinggal.

Tetapi Gandar pun mempunyai keyakinan pada dirinya sendiri dan kepada

orang-orang yang tentu akan bersedia membantunya. Bahkan pada saatnya ia yakin,

rakyat Tanah Perdikan Sembojan akan mampu memilih, siapakah yang akan mereka

kehendaki. Iswari atau perempuan cantik yang tentu akan segera memasuki rumah

Wiradana sebagai istrinya yang sah, yang memiliki kekuatan paugeran sebagai

seorang istri.

Malam itu Gandar masih berada di Tanah Perdikan Sembojan. Ia berada di antara

orang-orang yang berduka di pendapa rumah Ki Gede. Terbayang di wajah

orang-orang Tanah Perdikan Sembojan, penyesalan yang mendalam atas peristiwa

yang tidak pernah mereka duga sebelumnya.

Para bebahu Tanah Perdikan itu saling membicarakan hasil yang pernah dicapai

oleh Ki Gede selama ia memegang pemerintahan di Tanah Perdikan itu. Sementara

itu, beberapa orang di antara mereka pun mulai berbicara tentang Wiradana.

“Tetapi dimana Ki Wiradana sekarang?” bertanya salah satu di antara mereka.

“Kemarahan dan dendam di hatinya tidak terbendung lagi. Ia telah meninggalkan

rumah ini sebelum senja,” jawab seseorang.

“Kemana?” bertanya yang lain.

“Seperti seseorang yang berkelana di dalam kelam. Tanpa tujuan dan tanpa titik

arah. Ia berusaha untuk menemukan orang yang telah membunuh Ki Gede dengan

licik. Tetapi tentu suatu usaha yang sangat sulit. Mungkin orang yang membunuh

Ki Gede sudah berada beratus bahkan beribu tonggak dari tempat ini, atau bahkan

masih tetap di dalam persembunyiannya,” jawab orang itu.

Yang lain mengangguk-angguk. Mereka membayangkan, Ki Wiradana memacu kudanya

dengan marah kesegenap arah dan menyusuri semua jalan di Tanah Perdikan ini.

Tetapi ia tidak akan menemukan seorang pun yang akan dapat dicurigainya.

Hanya Gandar yang tahu pasti, kemana Wiradana itu pergi.

Sebenarnyalah Wiradana telah berada di rumah istrinya yang cantik. Dengan nafas

terengah-engah ia menceriterakan apa yang telah terjadi dengan ayahnya.

“Seorang dengan licik telah membunuh ayah,” geram Wiradana.

Warsi tidak menyahut. Tetapi kepalanya semakin lama semakin menunduk. Bahkan

kemudian titik-titik air matanya telah jatuh di pangkuannya.

“Kakang,” desisnya disela-sela isaknya. “Aku adalah orang yang paling malang.

Aku sudah terlalu lama menunggu satu kesempatan, kapan aku dapat bersimpuh sujud

di kaki Ki Gede Sembojan. Bagaimanapun rendahnya martabatku sebagai penari

jalanan, tetapi aku adalah menantunya. Namun Ki Gede itu kini sudah tidak ada

lagi. Aku merasa bahwa perkawinan kita belum pernah mendapat restunya.”

“Sudahlah,” berkata Wiradana. “Semuanya sudah terjadi. Aku tidak akan dapat

berbuat apa-apa. Segalanya agaknya memang sudah menjadi takdir Yang Maha Agung,

sehingga hal itu harus terjadi.”

Warsi mengusap matanya. Tetapi ia masih terisak. Katanya kemudian, “Perkawinan

kita adalah perkawinan yang aneh kakang. Meskipun aku sudah menjadi istrimu,

tetapi aku merasa orang asing bagimu dan bagi keluargamu, sehingga akhirnya aku

terlambat mencium kaki ayah mertuaku. Meskipun mungkin aku akan dikibaskannya

dari kulit kakinya yang tersentuh oleh bibirku akan dicuci tujuh kali, namun

adalah menjadi kewajibanku untuk datang bersimpuh dan mencium kakinya itu.”

“Bukan salahmu,” berkata Wiradana. “Mungkin akulah yang terlalu lemah sehingga

aku belum berani membawamu pulang ke rumah.”

Warsi tidak menjawab. Sementara itu Wiradana berkata selanjutnya, “Warsi,

marilah kita mengambil manfaat dari kematian ayah. Bukan aku tidak bersedih

karena aku ditinggalkan oleh ayahku. Tetapi karena hal itu sudah terjadi diluar

kehendakku, maka aku merasa tidak bersalah jika aku akan berbuat sesuai dengan

kehendakku sepeninggalan ayahku.”

“Apa yang akan kau lakukan kakang?” bertanya Warsi.

“Aku akan segera menjadi kepala Tanah Perdikan,” berkata Wiradana. “Aku akan

dapat berbuat apa saja tanpa seorang pun yang dapat mencegahnya. Aku akan dapat

membawamu pulang.”

“Itulah yang aku takutkan kakang,” jawab Warsi.

“Kenapa takut?” bertanya Wiradana.

“Rasa-rasanya aku datang sambil bersembunyunyi. Meskipun Ki Gede sudah tidak

ada, tetapi jiwa dari perbuatanku adalah demikian. Aku datang pada saat Ki Gede

mengetahuinya, sebagai laku seorang pencuri yang masuk ke dalam rumah

seseorang,” jawab Warsi.

“Kau terlalu banyak mempertimbangkan persoalan-persoalan yang sebenarnya tidak

usah kau pikirkan,” jawab Wiradana. “Rumah itu adalah rumahku. Kau adalah

istriku. Apalagi?”

Warsi tidak menjawab. Tetapi kepalanya masih saja menunduk. Sekali-kali ia

mengusap matanya yang basah oleh air mata.

“Sudahlah Warsi,” berkata Wiradana. “Semuanya akan dapat diatur sebaik-baiknya.

Semuanya akan berlangsung dalam waktu yang dekat. Kau tidak usah membuat

pertimbangan yang akan dapat membantumu kecewa atau mungkin menp style=”text-align:justify;”yesal atau

perasaan-perasaan lain semacamnya.”

Warsi mengangguk perlahan.

“Aku akan bertanggung jawab. Aku akan segera menjadi kepala Tanah Perdikan yang

dapat menentukan apa saja di Tanah Perdikan ini. Tidak seorang pun akan dapat

mengganggu aku, apalagi dalam persoalan pribadi,” berkata Wiradana kemudian.

Warsi masih saja berdiam diri dan mengangguk kecil.

Namun dalam pada itu, Wiradana pun kemudian minta diri. Katanya, “Malam ini

sebaiknya aku kembali ke Tanah Perdikan. Di rumah tentu banyak orang

berjaga-jaga.”

“Silakan kakang,” jawab Warsi yang masih saja mengusap air matanya.

Sejenak kemudian, maka Wiradana pun telah berkemas meninggalkan Warsi untuk

kembali ke Tanah Perdikan, berjaga-jaga bersama orang-orang Tanah Perdikan yang

berduka.

Namun, demikian Wiradana berderap dan hilang di dalam gelapnya malam, terdengar

suara Warsi tertawa. Suaranya bagaikan iblis betina yang menemukan sosok mayat

baru di pekuburan yang basah.

“Sekarang tidak ada lagi yang dapat menghalangi aku untuk memasuki rumah Kepala

Tanah Perdikan itu,” berkata Warsi disela-sela tertawa iblisnya, selebihnya.

“Aku sudah menunaikan tugasku yang paling sulit. Aku tidak sabar menunggu untuk

meracunnya. Justru dengan cara ini, sekaligus aku membuka jalan untuk masuk ke

rumah Wiradana.” Suara tertawa Warsi menjadi semakin meninggi.

“Sebentar lagi kau akan tunduk kepadaku anak manis,” katanya pula.

Sambil tersenyum puas Warsi masuk ke dalam biliknya. Sambil membaringkan diri,

tangannya sempat meraba sebuah sumpit dibawah tikar di pembaringannya.

Sebenarnyalah sebagaimana diduga oleh Gandar, Warsilah yang telah melakukan

pembunuhan itu. Ia telah menyamar sebagai seorang laki-laki memasuki padukuhan

induk Tanah Perdikan Sembojan, demikian suaminya meninggalkannya pagi itu.

Dengan kemampuan seorang berilmu tinggi, maka ia dapat melakukan tugasnya dengan

sangat licik. Kemudian dengan ilmunya pula ia berlari jauh melampaui kecepatan

lari orang kebanyakan. Sehingga ketika ketika padukuhan induk itu dikepung,

Warsi memang sudah berada diluarnya.

Karena itu, Wiradana tidak dapat menemukan seorang pun yang pantas untuk

dicurigai di padukuhan induk.

Pada sisa malam itu, Wiradana memang kembali ke rumahnya. Ia pun kemudian duduk

di antara orang-orang Tanah Perdikan Sembojan yang berjaga-jaga. Termasuk

Gandar.

Namun rasa-rasanya Wiradana menjadi berdebar-debar setiap ia memandang wajah

orang itu. Baginya, seakan-akan Gandar itu pun selalu memandanginya tembus

sampai kejantung. Seakan-akan Gandar itu ingin melihat kebersihan hatinya

tentang kematian Iswari sebelum kematian ayahnya itu terjadi.

“Setan,” geram Wiradana di dalam hatinya. “Jika ia selalu mengganggu

ketenanganku, aku akan membunuhnya.”

Namun ternyata, disaat itu Gandar sudah memikirkan saat ia akan minta diri.

Agaknya ia memang tidak perlu terlalu lama berada di Tanah Perdikan Sembojan.

Bahkan rasa-rasanya ada sesuatu yang mendesaknya untuk segera bertemu dengan

Kiai Badra. Bandul yang dibawanya itu memang selalu membebani perasaannya,

karena telah terjadi pertentangan di dalam dirinya. Ia merasa bersalah karena ia

tidak memenuhi permintaan seseorang yang ternyata sudah meninggal. Namun ia

sadar, bahwa jika ia memenuhinya, maka akan terjadi ketidak adilan karena

sikapnya itu.

Dengan demikian maka Gandar ingin segera bertemu dan berbicara dengan Kiai

Badra. Seakan-akan ia ingin membagi beban yang memberati perasaannya itu.

Karena itulah, ketika malam kemudian lewat, pagi-pagi Gandar sudah menemui Ki

Wiradana. Dengan nada yang menyesal, ia minta diri, karena ia tidak dapat lebih

lama lagi berada di Tanah Perdikan Sembojan.

“Kenapa tergesa-gesa?” bertanya Wiradana untuk berbasa-basi.

“Aku tidak ingin mengganggu Tanah Perdikan yang berduka ini,” berkata Gandar.

“Meskipun demikian bukan berarti bahwa aku telah melupakan adikku Iswari yang

hilang di Tanah Perdikan ini. Dengan kematian Ki Gede aku semakin yakin,

sebagaimana dikatakan oleh Ki Gede, bahwa keluarga Kalamerta masih tetap

membayangi Tanah Perdikan ini.”

Wiradana memaki di dalam hati. Tetapi ia menjawab, “Yang terjadi adalah diluar

kemampuan kami. Kematian Iswari juga berada di luar kemampuan kami untuk

mencegahnya. Bahkan kematian ayah sendiri.”

“Aku mengerti,” berkata Gandar. “Yang penting bagi Tanah Perdikan ini kemudian

adalah menemukan. Siapakah keluarga Kalamerta yang masih berkeliaran dan

melakukan pembunuhan-pembunuhan itu. Jika orang itu masih belum diketemukan,

maka pada suatu saat, kau juga akan menjadi sasaran.”

Wiradana mengerutkan keningnya. Tetapi yang dikatakan oleh Gandar itu memang

mungkin sekali terjadi. Seseorang dengan licik membunuhnya dengan paser-paser

kecil beracun yang dilontarkan dengan sumpit.

Sambil mengangguk-angguk Wiradana berkata, “Baiklah Gandar. Agaknya aku

sependapat. Sisa-sisa kekuatan Kalamerta yang masih ada di Tanah Perdikan ini

memang harus dihancurkan sampai tuntas. Jika tidak, aku pun percaya kepada

pendapatmu itu, mungkin pada suatu saat, akulah yang akan menjadi korbannya.”

“Terima kasih jika kau masih mau memikirkan hal itu, karena hal itu akan berarti

bahwa kau juga memikirkan keselamatan sendiri,” berkata Gandar.

Demikianlah maka Gandar pun hari itu telah meninggalkan Tanah Perdikan Sembojan.

Tidak seorang pun yang mengetahui, bahwa Gandar telah membawa bandul yang

tergantung pada seutas rantai yang terbuat dari emas.

Adalah diluar kehendaknya sendiri ketika kaki Gandar telah membawanya menelusuri

pematang dan kemudian tanggul sungai yang pernah dilalui oleh Iswari dibawah

ancaman patren seseorang perempuan yang disebut Serigala Betina. Tetapi ternyata

bahwa Serigala Betina yang pernah terlibat kedalam dunia yang hitam itu masih

juga berjantung, sehingga Iswari tidak juga dibunuhnya. Meskipun seandainya hal

itu akan dilakukan juga oleh Serigala Betina, Gandar sudah siap untuk

menyelamatkannya.

Tetapi ternyata bahwa Gandar telah mengagumi sikap perempuan itu. Betapapun

kelam hatinya namun masih juga ada sepercik cahaya yang memancar di dalam

hatinya itu.

“Aku tidak boleh melupakannya,” berkata Gandar. “Jika saatnya Iswari muncul,

maka perempuan itu harus diberitahu, agar ia menyingkir dari kemungkinan yang

paling buruk karena pembalasan dendam Ki Wiradana.”

Sementara itu, di Tanah Perdikan Sembojan, kepergian Gandar ternyata mampu

melapangkan dada Wiradana. Ia merasa bebas dari tatapan mata yang seakan-akan

selalu menusuk-nusuk sampai ke jantung. Mata yang ingin melihat kenyataan dari

tingkah lakunya terhadap istrinya yang dikatakannya hilang tanpa diketahuinya.

Dalam pada itu, sepeninggal Ki Gede, maka pemerintahan di Tanah Perdikan

Sembojan telah dipegang sepenuhnya oleh Wiradana. Ia berusaha untuk menyesuaikan

diri dengan apa yang pernah dilakukan oleh ayahnya. Setiap kali Wiradana pergi

mengelilingi Tanah Perdikannya untuk melihat perkembangan kesejahteraan

rakyatnya. Dengan demikian, maka Wiradana dapat mengamati dengan langsung apa

yang sebenarnya diperlukan oleh rakyatnya.

Namun ternyata bahwa Wiradana memang bukan Ki Gede Sembojan. Bagaimanapun juga,

ada perbedaan di antara mereka. Wiradana mulai menunjukkan sifat-sifat yang lain

dari ayahnya. Dengan kuasanya ia mulai menunjukkan sifat-sifat yang

membingungkan orang-orang Sembojan.

Namun yang paling mengherankan orang-orang Sembojan, terutama para bebahu,

setiap malam Wiradana masih saja tidak ada di rumahnya. Meskipun ia masih

mempergunakan alasan yang mungkin dipercaya, mencari jejak hilangnya istrinya

yang sudah lama terjadi serta mencari kemungkinan adanya sisa keluarga Kalamerta

yang masih mendendam, namun beberapa orang mulai kurang mengerti atas tingkah

lakunya.

Tetapi Wiradana memang tidak akan terlalu lama diombang-ambingkan oleh

hubungannya yang samar-samar dengan istrinya. Ketika ia merasa kedudukannya

sebagai Kepala Tanah Perdikan sudah mapan, meskipun belum diwisuda oleh penguasa

Pajang, namun ia merasa berhak untuk menentukan sikap sesuai dengan

keinginannya.

Karena itu, maka ia mulai merintis jalan untuk mengambil istrinya dan membawanya

kerumah.

Tetapi Wiradana tidak akan memberikan kesan bahwa ia sudah berhubungan dengan

perempuan itu untuk waktu yang lama, agar tidak memancing pertanyaan bahkan

mungkin dapat menuntun arah pikiran beberapa orang tua di Tanah Perdikan

Sembojan tentang kematian istrinya.

Dengan demikian, maka Wiradana mempunyai gagasan untuk mengulangi perkawinannya

dengan Warsi sebagaimana dilakukan dengan Iswari, seolah-olah ia belum pernah

melakukan perkawinan itu dengan Warsi.

Ketika rencana itu disampaikan kepada Warsi, maka sambil menarik nafas

dalam-dalam Warsi berkata, “Segalanya terserah kepadamu kakang.”

Meskipun demikian namun nampak wajah Warsi menjadi suram.

“Warsi,” berkata Wiradana kemudian. “Apakah kau mempunyai keberatan? Aku minta

kau berterus terang. Meskipun seandainya pendapatmu itu sama sekali berlawanan

dengan pendapatku. Karena bagiku, meskipun kau menyerahkan segala sesuatunya,

tetapi hatimu tidak ikhlas, maka hal itu akan merupakan persoalan tersendiri

bagi keserasian hidup kita kelak.”

Warsi memandang suaminya sekilas. Kemudian katanya, “Kakang. Aku memang tidak

mempunyai pilihan lain. Meskipun dengan demikian aku menyadari, bahwa perkawinan

kita selama ini benar-benar perkawinan yang tidak sewajarnya. Tetapi semuanya

itu sudah berlalu. Aku memang mengharap bahwa hari-hari kita yang akan datang

akan menjadi lebih baik dari masa yang telah kita lalui, itu kakang.”

“Semua akan berubah Warsi. Kita akan hidup sewajarnya sebagai seorang suami

istri. Tidak ada yang akan dapat menghalangi kita lagi, karena kekuasaan Tanah

Perdikan ini sudah berada di tanganku meskipun aku belum diwisuda,” jawab

Wiradana.

Warsi mengangguk-angguk. Katanya, “Memang segalanya terserah kepada kakang.”

“Tetapi apakah kau juga melihat kemungkinan yang lebih baik bagi masa depan

seperti yang kau katakan?” desak Wiradana.

Warsi termenung sejenak. Namun kemudian ia pun menganggukkan kepalanya.

Demikianlah, maka Wiradana pun mulai membuka jalan bagi perkawinan yang akan

diselenggarakannya lagi dengan upacara sebagaimana pernah dilakukannya.

Kepada orang-orang tua di Tanah Perdikan Sembojan, Wiradana menyampaikan

keluhannya, bahwa baginya terlalu sepi untuk hidup seorang diri.

“Angger Wiradana,” berkata salah seorang tetua Tanah Perdikan, “Hilangnya angger

Iswari telah melampaui waktu seratus hari. Bahkan sudah jauh lewat. Karena itu,

seandainya memang ada niat di hati angger Wiradana untuk kawin lagi, maka aku

kira memang tidak ada halangannya. Angger dapat memilih gadis yang manakah yang

paling sesuai bagi angger Wiradana. Setiap orang tua akan dengan senang hati

memenuhi permintaan angger atas anak gadis yang angger kehendaki.”

Tetapi Wiradana menggelengkan kepalanya. Katanya, “Aku belum mempunyai pilihan

paman. Yang ingin aku dapatkan petunjuk, apakah pantas jika aku kawin lagi dalam

waktu yang dekat ini. Jika hal itu memang pantas aku lakukan, baru kemudian aku

akan memilih calon istriku itu.”

Orang tua itu menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Seperti yang sudah aku

katakan. Waktu yang diperlukan sudah lama lewat. Apalagi angger kini telah

memangku jabatan ayah angger yang sudah tidak ada lagi. Aku kira memang sudah

sepantasnya jika angger mengambil seorang istri yang pantas yang

setidak-tidaknya mendekati angger Iswari.”

Wiradana mengerutkan keningnya. Terbayang sekilas wajah, sikap dan tingkah laku

Iswari yang sangat dikasihi ayahnya itu. Terngiang pula suara Iswari yang

kadang-kadang membaca kidung di malam hari, mengumandangkan, menggetarkan

sepinya malam dengan suara-nya yang jernih.

Tidak seorang pun yang dapat menyangkal, bahwa Iswari telah meletakkan dirinya

sesuai dengan kedudukannya, sebagai seorang menantu Kepala Tanah Perdikan.

Karena pada saat itu, Ki Gede tidak lagi mempunyai seorang istri, maka

seakan-akan Iswarilah yang mengisi kedudukan istri Kepala Tanah Perdikan itu.

Meskipun umurnya masih cukup muda, tetapi ternyata Iswari berhasil menarik

perhatian perempuan-perempuan di Tanah Perdikan Sembojan dengan sikap, tingkah

laku dan kecapakannya.

Untuk sekejab Wiradana sempat memperbandingkan kedua orang perempuan yang

menjadi istrinya itu. Warsi bagi Wiradana adalah seorang perempuan yang lembut,

luhur budi dan hatinya yang mudah tersentuh.

“Mudah-mudahan dengan bekal sifat-sifatnya itu, Warsi akan merebut hati

perempuan Tanah Perdikan ini melampaui Iswari’’ berkata Wiradana di dalam

hatinya.

Meskipun demikian agaknya Wiradana sendiri kurang yakin. Hampir seluruh Tanah

Perdikan ini mengetahui, bahwa Warsi adalah seorang penari keliling yang

mendapat nafkahnya dari belas kasihan orang atau yang ingin melihat tariannya.

Bahkan ada yang terdorong oleh satu keinginan yang kasar untuk menari bersama

dalam satu acara tayub atau bahkan janggrung.

“Aku tidak peduli,” Wiradana akhirnya tidak mau lagi membuat

pertimbangan-pertimbangan. Agaknya hatinya memang sudah terbius oleh kecantikan

penari itu.

Namun pendapat salah seorang tetua Tanah Perdikan itu membuat hati Wiradana

menjadi agak terang. Ketika ia menghubungi beberapa orang lain, maka mereka pun

sependapat. Bahwa tidak ada lagi kesulitannya jika Wiradana memang ingin kawin

lagi.

Dengan cermat Wiradana mengatur segalanya. Ia tidak percaya kepada siapapun juga

untuk ikut memikirkan tentang kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi

kemudian. Namun ia sudah bertekad bahwa segalanya harus berlangsung.

Ketika saatnya sudah tiba, maka Wiradana pun memanggil beberapa orang tua di

Tanah Perdikan Sembojan. Dengan beberapa penjelasan dan bahkan bernada tekanan,

Wiradana akhirnya menyampaikan kepada orang-orang tua itu, “Paman dan para tetua

Tanah Perdikan. Ternyata bahwa setelah aku berusaha untuk menemukan seorang

perempuan yang pantas untuk menjadi istriku, akhirnya aku mendapatkan juga.”

Orang-orang tua itu saling berpandangan. Namun kemudian salah seorang di antara

mereka bertanya, “Siapakah perempuan itu ngger?”

“Besok pada saatnya, paman akan mengetahuinya juga,” jawab Wiradana.

Orang tua itu mengerutkan keningnya. Namun kemudian ia tidak bertanya lagi,

karena agaknya Wiradana masih belum ingin mengatakannya.

Sementara itu, di padepokan kecil Kiai Badra, Gandar telah melaporkan semua yang

dialami. Bahkan kecurigaannya kepada istri Wiradana pun telah dikatakannya pula

kepada Kiai Badra.

Orang tua itu menjadi sangat berprihatin mendengar laporan Gandar tentang Tanah

Perdikan Sembojan. Terbayang di angan-angan Kiai Badra, bahwa jika Wiradana

masih saja berpijak pada watak dan sifat-sifatnya, serta dikendalikan oleh

perempuan yang termasuk keluarga Kalamerta menilik sikap ilmunya, maka Tanah

Perdikan Sembojan akan menjadi Tanah Perdikan yang paling buruk di seluruh

Pajang, sehingga apabila hal itu diketahui oleh Adipati Pajang, maka Wiradana

tentu tidak akan diwisuda.

Namun dalam pada itu, Gandar pun telah memberitahukan pula tentang bandul yang

dibawanya. Bandul yang bergantung pada seutas rantai dan terbuat dari emas.

“Benda itu tentu akan dibutuhkan saat Wiradana akan diwisuda,” berkata Kiai

Badra.

“Bagaimana jika tanpa benda itu?” bertanya Gandar.

“Aku tidak tahu. Tetapi mungkin Wiradana akan mendapat kesulitan,” jawab Kiai

Badra.

Gandar termangu-mangu. Namun kemudian katanya, “Aku tidak rela menyerahkan benda

ini kepada Wiradana. Apalagi jika kelak perempuan yang menjadi istrinya itu

melahirkan anak pula. Maka anak Iswari itu tentu akan tersisih dari kemungkinan

untuk mendapatkan haknya.”

Kiai Badra mengangguk-angguk. Sebenarnya Kiai Badra sama sekali tidak terikat

kepada satu keinginan bahwa anak cucunya itu harus menjadi Kepala Tanah

Perdikan. Ia bukan termasuk salah seorang yang tergila-gila kepada pangkat dan

kedudukan. Namun seperti juga Gandar, maka ia tidak mau rasa keadilannya

tersinggung. Disingkirkannya Iswari dengan cara yang kotor itu telah membuat

darahnya menjadi panas. Untunglah bahwa ia masih mampu menahan diri dan tidak

melakukan satu langkah tanpa dipertimbangkan dengan nalar. Sementara itu Tuhan

masih memberikan titik terang dihati perempuan yang disebut Serigala Betina itu,

yang menilik sifat-sifatnya tidak akan mungkin mempunyai perasaan yang jernih

terhadap Iswari. Namun ternyata Tuhan menghendaki demikian.

Karena itu, maka Kiai Badra pun kemudian berkata, “Baiklah Gandar. Kita akan

dapat menyimpan untuk sementara bandul itu. Kita akan melihat perkembangan Tanah

Perdikan Sembojan. Karena itu, kau dapat setiap kali jika kau senggang dan tidak

ada pekerjaan untuk pergi ke Tanah Perdikan itu. Mungkin kau akan mendapat bahan

pertimbangan untuk mengambil langkah selanjutnya.”

Gandar mengangguk. Katanya, “Rasa-rasanya memang menarik untuk setiap kali pergi

ke Tanah Perdikan itu Kiai. Nampaknya Tanah Perdikan itu tidak akan berkembang

menjadi baik. Tetapi justru sebaliknya.”

“Hal itu sudah dapat dibayangkan Gandar,” berkata Kiai Badra. “Tetapi apakah

untuk seterusnya tidak ada usaha yang dapat menolong Tanah Perdikan itu dari

kehancuran.”

Gandar menarik nafas dalam-dalam. Kemudian ia pun berdesis, “Anak itu pada suatu

saat harus mampu menjadikan Tanah Perdikan itu jauh menjadi lebih baik.”

Kiai Badra tidak menyahut. Sementara itu, maka Gandar pun berdesis, “Aku akan

pergi ke kandang Kiai.”

“Pergilah,” jawab Kiai Badra. “Kuda yang berwarna coklat merah itu sudah agak

lama tidak mendapat kesempatan untuk berlari-lari.”

Gandar pun kemudian meninggalkan Kiai Badra yang duduk merenungi diri. Namun

tiba-tiba saja timbul keinginannya untuk bertemu dengan Iswari dan sekaligus

melihat, apa saja yang dilakukan di Tlaga Kembang.

Pagi-pagi benar Gandar sudah menyiapkan dua ekor kuda. Mereka akan pergi berkuda

menuju ke Tlaga Kembang.

Tidak ada persoalan apapun yang timbul di perjalanan. Demikian mereka memasuki

regol padepokan Tlaga Kembang, maka para cantrik yang ada di padepokan itu telah

menyambut mereka dengan ramahnya

“Marilah Kiai,” cantrik itu mempersilakan.

Setelah menyerahkan kuda mereka kepada para cantrik maka keduanya pun kemudian

duduk di pendapa rumah induk padepokan itu.

Sejenak kemudian maka seorang cantrik telah menghidangkan minuman dan makanan

serta mempersilakan mereka minum.

“He,” bertanya Kiai Badra, “Dimana Kiai dan Nyai Soka?”

Cantrik itu mengerutkan keningnya. Katanya, “Mereka berada di sebuah pondok

kecil di tepi Tlaga Kuning, disebelah grojogan air di lereng bukit.”

“O, apakah mereka sedang berjalan-jalan?” bertanya Kiai Badra kemudian.

“Tidak. Mereka sudah disana selama lebih dari sepekan,” jawab cantrik itu.

“Untuk apa? Dan dimana Iswari?” bertanya Kiai Badra pula dengan gelisah.

“Iswari ikut bersama mereka,” jawab cantrik itu.

“Dan anaknya?” bertanya Kiai Badra selanjutnya.

“Anak itu dibawa serta,” jawab cantrik itu. “Tetapi mereka membawa seorang

pemomong yang akan dapat membantu Iswari melayani anaknya yang mulai nakal itu.”

“O,” Kiai Badra tersenyum. “Apa yang sudah dilakukan oleh anak itu?”

“Berteriak-teriak,” jawab cantrik itu. “Setiap pagi sebelum dini hari

bersahut-sahut dengan kokok ayam jantan.”

Kiai Badra tertawa. Keinginannya untuk bertemu dengan cucu dan cicitnya itu

menjadi semakin mendesaknya. Karena itu, maka katanya kemudian, “Apakah letak

Tlaga Kuning itu jauh?”

“Tidak,” jawab cantrik itu.

“Tolong, bawa aku ke Tlaga itu,” berkata Kiai Badra kemudian.

“Tetapi Kiai bermalam disini saja untuk malam ini. Sekarang langit sudah menjadi

merah,” jawab cantrik itu.

“Tetapi bukankah Tlaga Kuning itu tidak terlalu jauh?” sahut Kiai Badra.

“Memang tidak terlalu jauh,” jawab cantrik itu. “Tidak ada setengah malam

perjalanan.”

“He, setengah malam perjalanan? Dan itu kau katakan tidak terlalu jauh?” berkata

Kiai Badra kemudian.

Cantrik itu mengerutkan keningnya. Namun kemudian katanya pula, “Bukan kah tidak

terlalu jauh dibandingkan dengan padepokan Kiai itu?”

Kiai Badra mengangguk-angguk. Katanya, “Ya. Memang tidak terlalu jauh. Tetapi

aku sependapat, bahwa besok aku akan pergi ke Tlaga Kuning.”

Malam itu Kiai Badra dan Gandar telah sepakat untuk bermalam saja di luar

padepokan.”

“Ada apa sebenarnya?” bertanya Kiai Badra.

Cantrik itu termangu-mangu. Namun kemudian katanya, “Kiai. Sebenarnyalah Kiai

dan Nyai Soka berusaha untuk menghindarkan diri dari satu pertumpahan darah.

Seorang sahabat Kiai Soka dimasa mudanya merasa kehilangan seorang ayah. Orang

itu menduga, bahwa ayahnya telah dibunuh oleh guru Kiai Soka pada saat itu. Pada

satu waktu yang sudah lama. Tetapi dendamnya tiba-tiba beralih kepada Nyai dan

Kiai Soka sekarang ini.”

Kiai Badra mengerutkan keningnya. Hampir diluar sadarnya ia bertanya, “Apakah

orang itu orang yang sangat luar biasa. Maksudku, bahwa Kiai dan Nyai Soka

terpaksa mengungsi?”

“Bukan mengungsi Kiai. Tetapi mereka menghindari pertumpahan darah. Agaknya Kiai

Soka masih ingin memberikan penjelasan. Tetapi tidak dalam keadaan seperti ini.

Orang itu tentu tidak akan mendengarkannya. Karena itu, maka padepokan ini lebih

baik dikosongkan. Mereka tidak akan menemukan lawan di padepokan ini.”

“Siapa orang yang memusuhi adikku itu?” bertanya Kiai Badra.

“Aku kurang tahu Kiai. Tetapi sebaiknya Kiai juga menghindarkan diri dari

kemungkinan yang buruk yang dapat terjadi,” berkata cantrik itu.

Kiai Badra mengangguk-angguk. Namun kemudian ia pun bertanya, “Lalu bagaimana

dengan kalian?”

“O,” jawab cantrik itu. “Kami hanya cantrik-cantrik padepokan. Tentu mereka

tidak akan berbuat apa-apa terhadap kami.”

Kiai Badra memandang Gandar sejenak. Namun kemudian katanya, “Gandar. Marilah

kita menyingkir. Malam ini padukuhan ini akan didatangi oleh orang-orang yang

ingin membalas dendam kepada Kiai Soka karena peristiwa sekian puluh tahun yang

lalu.”

“Bap style=”text-align:justify;”iklah Kiai. Aku akan ikut saja apa yang Kiai perintahkan,” jawab Gandar.

Namun dalam pada itu Kiai Badra bertanya, “Lalu bagaimana dengan kuda-kuda kami.

Orang-orang yang membalas dendam itu mungkin seorang yang gemar sekali

mengumpulkan kuda. Bukankah dengan demikian semua kuda di padepokan ini akan

dibawa oleh penjahat itu.

Para cantrik itu termenung sejenak. Namun kemudian katanya, “Kiai benar.

Kuda-kuda itu pun harus disingkirkan.”

Dengan demikian, maka para cantrik di padepokan itu pun telah membawa Kiai

Badra, Gandar dan beberapa ekor kuda menyingkir. Mereka telah membawa kedua tamu

mereka jauh dari padepokan itu. Karena di halaman rumah itu tidak ada kandang,

maka kuda-kuda itu pun telah diikat saja pada batang-batang pohon.

Pemilik rumah itu ternyata orang yang sangat ramah. Mereka mempersilakan Kiai

Badra dan Gandar untuk berada di ruang dalam.

“Silakan Ki Sanak,” berkata orang itu, “Menurut para cantrik, padepokan itu akan

didatangi oleh orang-orang yang berniat buruk, sehingga Ki Sanak terpaksa

diungsikan kemari.”

“Begitulah menurut para cantrik,” jawab Kiai Badra. “Kami sama sekali tidak

menyangka, bahwa akan terjadi hal seperti itu disini. Jika kami mengetahuinya,

maka lebih baik kami tidak datang di padepokan ini.”

“Tetapi Ki Sanak dapat tinggal disini dengan tenang. Aku sudah kenal dengan baik

Kiai dan Nyai Soka. Bahkan sudah seperti keluarga sendiri. Karena itu, aku sama

sekali tidak berkeberatan Ki Sanak berada di rumah ini semalam justru untuk

menghindarkan diri dari kemungkinan-kemungkinan buruk,” berkata pemilik rumah

itu. “Anggaplah rumah ini sebagai bagian dari padepokan Kiai dan Nyai Soka.”

“Terima kasih Ki Sanak,” jawab Kiai Badra.

Ketika kemudian malam turun dan gelap pun menyelubungi padepokan kecil itu, maka

Kiai Badra dan Gandar telah berada di dalam bilik yang disediakan untuk mereka.

“Kenapa kita tidak pergi saja ke Tlaga Kuning Kiai?” bertanya Gandar. “Bukankah

itu lebih baik daripada kita berada disini.”

Kiai Badra menarik nafas dalam-dalam. Kemudian katanya, “Rasa-rasanya ada yang

mengikat aku disini. Aku sebelumnya tidak pernah mendengar adikku itu pernah

bermusuhan dengan siapapun juga. Kini tiba-tiba seseorang telah datang untuk

membalas dendam. Seandainya benar kata cantrik itu, bahwa yang datang untuk

membalas dendam itu adalah sahabat Kiai Soka di masa mudanya, memang mungkin aku

tidak mengetahuinya. Hal itu mungkin sekali terjadi sebelum Kiai Soka kawin

dengan adikku. Tetapi adalah mengherankan sekali, bahwa tiba-tiba setelah sekian

puluh tahun, orang yang pernah menjadi seorang sahabat itu datang untuk membalas

dendam.”

Gandar menarik nafas dalam-dalam. Ia pun sebenarnya juga dihinggapi keinginan

untuk mengetahui apa yang akan terjadi, dan kenapa tiba-tiba saja sahabat itu

teringat untuk membalas dendam.

Karena itu, maka Gandar pun kemudian sependapat dengan Kiai Badra untuk berada

di rumah kecil itu. Bahkan seandainya sahabat itu tidak datang malam itu, Kiai

Badra akan menunggu di malam berikutnya.

Ketika keduanya sudah mendapatkan su-guhan makan malam, maka kedua orang itu

telah berada kembali di dalam biliknya. Untuk mengisi waktu maka Gandar mulai

berbicara tentang anak laki-laki Iswari dan bandul yang dibawanya.

Sebenarnyalah bahwa malam itu dua orang berkuda telah mendekati padepokan Tlaga

Kembang. Dua orang yang bertubuh tegap kekar. Meskipun umur mereka sudah

melampaui pertengahan abad, namun nampak bahwa mereka masih tetap orang-orang

yang memancarkan kemampuan yang tinggi yang tersimpan di dalam dirinya.

Di dalam sepinya malam kuda itu berderap di atas jalan berbatu-batu. Kemudian

mereka mulai memperlambat kuda mereka setelah mereka mendekati regol padepokan

Kiai dan Nyai Soka yang kosong, selain beberapa cantrik yang tidak mengetahui

persoalan yang dibawa oleh kedua orang itu secara pasti. Yang mereka ketahui

adalah sebagaimana yang mereka katakan kepada Kiai Badra dan Gandar yang mereka

singkirkan ke rumah seorang penghuni padukuhan sebelah.

Namun satu hal yang harus diingat oleh para cantrik, bahwa mereka tidak perlu

mengatakan dimana Kiai dan Nyai Soka berada. Apapun yang terjadi atas mereka,

namun mereka harus tetap merahasiakannya.

Sejenak kemudian, maka kedua orang itu pun sudah turun dari kuda mereka dan

mengetuk regol padepokan. Seolah-olah mereka adalah tamu-tamu yang memang sudah

diharapkan tanpa keseganan dan apalagi berusaha memasuki padepokan dengan

diam-diam.

Beberapa kali orang itu mengetuk pintu. Baru kemudian seorang cantrik

berlari-lari membuka pintu regol.

Jantung cantrik itu menjadi berdebar-debar. Ia sudah menduga bahwa yang datang

itu tentu orang yang dikatakan oleh Kiai Soka sebagai orang-orang yang ingin

membalas dendam.

Namun justru karena itu, maka cantrik itu menjadi bagaikan terbungkam. Ia

berdiri saja memandangi kedua orang itu dengan mata yang tidak berkedip. Namun

mulutnya tidak dapat mengucapkan sepatah katapun.

Karena cantrik yang membuka pintu regol itu tidak mengucapkan kata-kata, maka

salah seorang dari kedua orang itulah yang bertanya, “Apakah kau ingin

mempersilakan aku masuk?”

Cantrik itu menjawab dengan gagap, “Ya. Ya. Silakan.”

Kedua orang itu pun kemudian menuntun kuda mereka memasuki halaman padepokan

itu. Rasa-rasanya padepokan kecil itu memang sepi. Apalagi di malam hari.

Keduanya pun kemudian mengikatkan kuda mereka pada tonggak-tonggak yang sudah

tersedia di halaman. Kemudian berdiri tegak sambil menunggu.

Cantrik yang mengikutinya itu pun kemudian menyadari, bahwa ia harus

mempersilakan kedua orang itu sebagaimana ia mempersilakan seorang tamu. Karena

itu, maka katanya kemudian, “Marilah Ki Sanak. Silakan naik ke pendapa.”

Kedua orang itu saling berpandangan. Namun kemudian keduanya pun telah naik pula

ke pendapa.

Sejenak kemudian cantrik-cantrik yang memang sudah siap telah menghidangkan

minuman panas dan makanan. Tetapi keduanya yang duduk di pendapa itu menunggu,

kenapa Kiai dan Nyai Soka tidak segera keluar menemui mereka.

Ketika keduanya tidak sabar lagi, maka mereka telah memanggil seorang cantrik

yang kebetulan lewat. Ketika cantrik itu mendekat seorang di antara mereka

bertanya, “Dimana Kiai Soka, he?”

Cantrik itu menjadi berdebar-debar. Tetapi ia menjawab, “Kiai dan Nyai Soka

tidak ada di padepokan.”

“He,” kedua orang itu terkejut. “Mereka pergi katamu?”

“Ya Ki Sanak. Keduanya telah pergi,” jawab cantrik itu.

“Kemana?” bertanya salah seorang dari tamunya.

“Aku tidak tahu Ki Sanak. Kiai dan Nyai Soka hanya mengatakan bahwa untuk

sementara mereka tidak akan berada di padepokan,” jawab cantrik itu.

“Aneh,” geram seorang yang lain. “Bukankah ia melihat pertanda di pintu regol

itu? Aku sudah mengabarkan, bahwa malam ini aku akan datang. Tetapi kenapa ia

justru pergi?”

“Aku kurang tahu Ki Sanak. Kiai dan Nyai sama sekali tidak berpesan apapun.

Menurut pendapat kami keduanya akan melakukan pengembaraan seperti yang sering

mereka lakukan untuk barang sepuluh, lima belas hari,” jawab cantrik itu.

Kedua orang itu saling berpandangan sejenak. Kemudian salah seorang di antara

mereka bertanya, “Kau tahu, arah mereka pergi? Mungkin mereka mempunyai

kebiasaan dalam pengembaraan mereka pergi ke satu tempat yang mereka hormati.”

Cantrik itu menggeleng, katanya, “Tidak Ki Sanak. Aku tidak pernah tahu, kemana

saja Kiai dan Nyai Soka pergi jika mereka meninggalkan padepokan. Mereka tidak

pernah mengatakannya, dan agaknya mereka tidak mengunjungi satu tempat saja jika

mereka pergi.”

“Hal ini bukan satu kebiasaan Kiai dan Nyai Soka dahulu,” berkata salah seorang

di antara mereka. “Aku sudah memberi tanda akan kehadiranku malam ini. Apakah

selama ini telah terjadi satu perubahan di dalam cara hidup mereka? Sehingga

mereka tidak lagi menghormati harga diri?”

Cantrik itu sama sekali tidak menyahut. Ia duduk saja sambil menundukkan

kepalanya.

“Ki Sanak,” berkata salah seorang dari kedua orang itu, “Apakah kau benar-benar

tidak tahu kemana suami istri itu pergi, atau kau memang mendapat pesan untuk

tidak mengatakannya.”

“Kami, para cantrik memang tidak pernah diberi tahu,” jawab cantrik itu.

“Bagaimana seandainya aku menangkapmu dan memaksamu untuk berbicara?” bertanya

salah seorang di antara tamu-tamu itu.

Wajah cantrik itu menjadi tegang. Namun kemudian ia menjawab, “Seandainya Ki

Sanak memaksa, mungkin aku akan mengucapkan satu arah perjalanan, tetapi aku

sendiri tidak tahu apakah yang aku katakan itu benar atau tidak, karena yang aku

lakukan sekadar untuk memenuhi tekanan. Karena itu aku tentu akan menjawab apa

saja.”

“Kau cerdik cantrik,” jawab orang itu. “Tetapi jangan menganggap bahwa aku

menjadi yakin, bahwa kau dan kawan-kawanmu tidak mengetahui. Tetapi kami berdua

memang merasa tidak ada perlunya untuk memaksa kalian. Kiai dan Nyai Soka pun

tahu, bahwa kami berdua tidak akan memaksa seorang cantrik pun untuk mengatakan

apa yang sebenarnya memang mereka ketahui. Karena itu, kedua suami istri itu

tidak menyuruh kalian menyingkir pula.”

Cantrik itu menarik nafas dalam-dalam. Agaknya kedua orang ini bukan sejenis

orang yang sangat garang dan menakutkan.

Namun karena itu, maka para cantrik itu pun menjadi heran, bahwa orang-orang itu

telah menaruh dendam kepada Kiai dan Nyai Soka. Apakah persoalan yang telah

terjadi berpuluh tahun itu tiba-tiba telah terangkat kembali, dan api dendam itu

kemudian menyala di hati mereka.

Sejenak kedua orang itu saling berdiam diri. Nampak kemudian salah seorang di

antara mereka bertanya, “Kapan kedua orang suami istri itu berangkat?”

“Dua hari yang lalu,” jawab cantrik itu.

“Jadi mereka sudah melihat pertanda di pintu gerbang itu. Karena aku menempelkan

pertanda itu tiga hari yang lalu. Karena itu agaknya mereka memang menghindari

kehadiran kami di sini,” gumam yang lain.

Cantrik itu mengerutkan keningnya. Hampir di luar sadarnya ia bertanya, “Apakah

arti pertanda di pintu gerbang itu? Kami juga melihat pertanda itu.”

“Itu adalah bahwa kami yang sudah dikenal oleh kedua suami istri itu akan datang

pada malam ini,” jawab salah seorang dari keduanya.

Cantrik itu mengangguk-angguk. Ia memang melihat sebuah pisau belati kecil yang

tertancap di regol padepokan. Pada pisau belati itu tergantung sebuah jambe yang

sudah terbelah dua. Kemudian terdapat tiga goresan pisau di atas pisau belati

yang tertancap di pintu gerbang padepokan itu.

Tetapi Kiai dan Nya Soka tidak mengatakan apa-apa. Mereka hanya berpesan bahwa

padepokan itu akan mereka tinggalkan dan untuk beberapa hari mereka berada di

Tlaga Kuning, karena seorang akan da-tang dengan maksud buruk malam ini.

“Ki Sanak,” tiba-tiba saja salah seorang dari kedua orang itu berkata, “Jadi

kalian yakin bahwa Kiai dan Nyai Soka telah melihat pertanda itu?”

“Ya. Kami para cantrik yakin. Kiai dan Nyai Soka telah mengamati pertanda yang

berada di regol itu,” jawab cantrik itu.

Kedua orang itu saling berpandangan sejenak. Namun tiba-tiba salah seorang di

antara mereka berkata, “Baiklah, Ki Sanak, kumpulkan kawan-kawanmu aku minta

semua cantrik berada di halaman. Aku ingin berbicara dengan kalian.”

Cantrik itu termangu-mangu. Namun orang itu mendesak, “Cepat. Lakukan.”

Cantrik itu terkejut. Ketika ia memandang wajah orang itu, maka wajah itu

seakan-akan telah berubah. Dari sorot mata orang itu seakan-akan mulai

memancarkan cahaya api yang dapat membakar jantung.

Karena itu, maka cantrik itu tidak menjawab lagi. Ia pun kemudian meninggalkan

kedua orang itu untuk menemui kawan-kawannya.

“Kita semua harus berkumpul di halaman,” berkata cantrik itu.

“Untuk apa?” bertanya yang lain.

“Aku tidak tahu. Tetapi kedua orang itu memerintahkan, agar kita semua berkumpul

di halaman padepokan.”

Meskipun di dalam setiap hati timbul pertanyaan, namun para cantrik itu pun

mulai bergerak dan berkumpul di halaman. Dalam keremangan cahaya lampu minyak di

pendapa, nampak wajah-wajah mereka yang tegang memancarkan kegelisahan.

Sejenak kemudian, maka kedua orang yang berada di pendapa itu pun bangkit dari

duduknya dan melangkah ke tengah. Dipandanginya para cantrik yang ada di halaman

itu. Dengan suara lantang salah seorang di antara kedua orang itu bertanya

sekali lagi kepada para cantrik, “Jadi kalian tidak tahu ke mana Kiai dan Nyai

Soka pergi?”

Seorang cantrik yang tertua di antara mereka itu pun menjawab, “Ki Sanak. Kiai

dan Nyai Soka tidak pernah mengatakan kepada kami ke mana saja mereka akan

pergi.”

Kedua orang itu saling berpandangan sejenak. Namun kemudian seorang di antara

mereka maju selangkah sambil berkata, “Baiklah. Jika demikian maka kalian tidak

mempunyai arti lagi bagi kami. Karena itu, maka seorang demi seorang dari kalian

akan kami bunuh. Kami akan berhenti pada saat seorang di antara kalian bersedia

mengatakan di mana Kiai Soka dan Nyai Soka berada.”

Wajah para cantrik itu menjadi tegang. Sementara itu, cantrik yang tertua pun

berkata, “Ki Sanak. Apakah langkah yang akan Ki Sanak ambil itu telah kalian

pikirkan?”

“Aku sudah memikirkannya berulang balik. Akhirnya aku memang sampai pada satu

kesimpulan, bahwa kalian memang tidak ada gunanya lagi. Orang-orang yang sudah

tidak hanya sekadar menghabiskan makanan dan minuman,” jawab salah seorang di

antara mereka.

Para cantrik menjadi bertambah tegang. Namun seorang di antara para cantrik itu

tiba-tiba saja telah melangkah maju sambil berkata, “Ki Sanak. Jika kalian

datang untuk membalas dendam kepada Kiai dan Nyai Soka, maka kalian tentu

orang-orang yang pilih tanding. Namun demikian, tidak ada orang yang dengan suka

rela menyerahkan lehernya untuk ditebas dengan pedang betapapun tajamnya. Karena

itu, Ki Sanak, bukan berarti kami tidak menghormati tamu-tamu kami. Tetapi kami

memang berniat untuk mempertahankan hidup kami.”

Tiba-tiba saja kedua orang itu tertawa. Seorang di antaranya berkata, “Apakah

kalian sudah gila. Kalian akan melawan kami?”

“Kami tidak akan melawan. Tetapi kami akan sekadar mempertahankan hidup kami.

Hanya itu. Meskipun kami tahu, bahwa kemudian kami juga akan mati, tetapi

kematian kami adalah kematian seorang laki-laki yang terhormat. Bukan kematian

seekor kelinci yang menyerahkan lehernya untuk disembelih,” jawab cantrik itu.

Kedua orang itu masih tertawa. Seorang di antaranya berkata, “Baiklah. Marilah.

Matilah sebagai laki-laki. Bagi kami kematian cara apapun yang kalian pilih

tidak akan banyak bedanya. Kalian akan mati. Itu yang penting bagi kami, agar

dengan demikian orang-orang yang tidak berguna seperti kalian akan lenyap dari

muka bumi ini.”

Cantrik-cantrik itu pun tiba-tiba berdiri meregang. Bagaimana pun juga mereka

adalah cantrik dari sebuah padepokan yang dipimpin oleh dua orang yang memiliki

ilmu yang tinggi. Sehingga karena itu, maka para cantrik itu pun serba sedikit

juga memiliki bekal dalam olah kanuragan.

Kedua orang itu mengamati para cantrik itu sejenak. Namun kemudian ditebarkannya

pandangan matanya ke dinding padepokan yang dibayangi oleh kegelapan.

Tetapi kedua orang itu tidak melihat sesuatu.

Dalam pada itu, para cantrik pun telah menebar semakin luas. Bahkan mereka telah

berada di seputar pendapa padepokan kecil itu.

Namun kedua orang itu sama sekali masih belum bergerak. Bahkan seorang di antara

mereka berkata, “Kalian ternyata terlalu cepat dibakar oleh perasaan kalian

tanpa pertimbangan nalar. Karena itu, coba pikirkan, apakah kalian ingin melawan

kami berdua tanpa senjata? dengan senjata kalian tidak akan dapat berbuat

banyak. Apalagi dengan sombong kalian bersiap melawan kami tanpa senjata sama

sekali.”

Para cantrik itu saling berpandangan di antara mereka, sementara orang itu

berkata selanjutnya, “Pergilah. Ambillah senjata kalian. Apa saja yang kalian

miliki dan kalian kuasai. Kami berdua akan mempergunakan senjata yang telah kami

bawa. Kami masing-masing akan mempergunakan pedang kami.”

Para cantrik itu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian orang tertua di antara

mereka berkata, “Baiklah Ki Sanak. Agaknya kalian memang terlalu yakin akan

kemampuan kalian. Karena itu, maka biarlah kami mengambil senjata kami

masing-masing.”

Cantrik itu tidak menunggu jawaban. Ia pun kemudian melangkah ke dalam baraknya

diikuti oleh para cantrik yang lain untuk mengambil senjata masing-masing.

Sementara para cantrik itu pergi, seorang di antara kedua orang itu pun berkata,

“Aku yakin, kedua orang itu ada disini. Jika kita memaksa para cantrik itu untuk

bertempur maka kedua orang itu tentu akan hadir.”

“Jika tidak?” bertanya yang lain.

“Kita akan meninggalkan arena. Biarlah para cantrik itu merasa diri mereka

menang,” jawab yang pertama.

Kawannya mengangguk-angguk. Tetapi ia tidak berkata apapun lagi.

Dalam pada itu, maka para cantrik pun kemudian telah kembali dengan senjata

masing-masing.

Sejenak kemudian para cantrik itu pun telah bersiap untuk bertempur. Senjata

mereka telah teracu. Mereka benar-benar ingin bertempur, karena mereka tidak

akan membiarkan diri mereka dibantai tanpa berbuat sesuatu.

Kedua orang itu pun kemudian melangkah turun dari tangga pendapa. sejenak mereka

berdiri tegak memandang berkeliling. Namun keduanya kemudian telah bergeser

saling menjauh. Agaknya mereka tidak akan bertempur berpasangan. Tetapi mereka

akan bertempur seorang-seorang melawan sekelompok kecil para cantrik di

padepokan itu.

Namun kedua orang itu memang nampak gelisah. Setiap kali mereka memperhatikan

dinding halaman padepokan itu, atau sudut-sudut yang gelap disekitar halaman.

Tetapi mereka tidak melihat seseorang. Bahkan dengan ketajaman indera mereka,

sama sekali tidak menangkap isyarat bahwa di sekitar mereka ada seseorang yang

bersembunyi atau mengamati keadaan di halaman itu.

Karena itu, maka mereka tidak dapat menunggu lebih lama lagi, karena justru para

cantriklah yang mulai bergerak mendekat dengan senjata yang mulai bergetar.

Kedua orang itu segera mempersiapkan diri. Mereka pun telah mencabut pedang

mereka dan mulai berputar di tangan mereka. Selangkah keduanya bergeser semakin

menjauh dan agaknya mereka pun sudah siap untuk bertempur.

Dengan demikian, maka sejenak kemudian telah terjadi pertempuran antara kedua

orang itu dengan para cantrik. Ternyata kedua orang itu memang mampu bergerak

dengan kecepatan yang sangat mengagumkan. Mereka berloncatan sambil memutar

pedang mereka. Setiap sentuhan senjata terasa, tangan para cantrik itu menjadih

pedih. Agaknya kekuatan kedua orang itu pun jauh melampaui kekuatan orang

kebanyakan.

Untuk beberapa saat pertempuran itu berlangsung. Namun senjata mereka dari kedua

belah pihak sama sekali masih belum menyentuh kulit dan tubuh. Meskipun kedua

orang itu mampu bergerak dengan kecepatan yang tinggi, namun seakan-akan mereka

tidak dapat menembus pertahanan para cantrik.

Dalam pada itu, selagi pertempuran di halaman itu terjadi, dua sosok tubuh telah

dengan sangat hati-hati mendekat dinding halaman padepokan itu. Keduanya

terkejut ketika mereka mendengar dentang senjata beradu. Menilik derap dan

hentakan-hentakan senjata, maka agaknya telah terjadi pertempuran dari

sekelompok orang.

“Apa yang terjadi?” desis yang seseorang.

“Pertempuran,” jawab yang lain.

Keduanya menjadi tegang. Yang pertama kemudian berdesis, “Tentu para cantrik.

Jika Kiai dan Nyai Soka tidak ada, maka akibatnya tentu akan sangat parah bagi

para cantrik itu. Bukankah dua orang yang berniat untuk membalas dendam terhadap

Kiai dan Nyai Soka itu tentu orang-orang yang memiliki ilmu yang tinggi?”

Sejenak keduanya termangu-mangu. Namun kemudian yang seorang berkata, “Kita

tidak dapat tinggal diam. Apaboleh buat.”

Hampir serentak keduanya pun telah meloncat ke atas dinding padepokan. Yang

mereka lihat sebagaimana mereka duga, di halaman itu telah terjadi pertempuran

antara dua orang melawan para cantrik.

Kedua orang itu pun kemudian telah meloncat turun kehalaman. Sementara itu, dua

orang yang bertempur melawan para cantrik itu pun segera melihat kedua orang

yang meloncat masuk. Sejenak mereka berharap. Namun kemudian keduanya menjadi

kecewa, bahwa ternyata kedua orang itu bukan Kiai dan Nyai Soka.

Dalam pada itu, kedua orang itu yang meloncat masuk itu pun kemudian dengan

cepat mendekati arena. Salah seorang di antara mereka berkata, “Inilah yang

kalian lakukan? Menurut pendengaranku kalian ingin membuat perhitungan dengan

Kiai Soka. Tetapi ternyata bahwa kalian telah melakukan sesuatu yang kurang

terpuji. Apakah kebanggaan kalian seandainya kalian dapat memenangkan

pertempuran melawan para cantrik ini?”

Semua mata telah memandang kedua orang itu. Dengan nada yang tinggi beberapa

cantrik berdesis, “Kiai Badra.”

Ternyata kedua orang itu pun telah mengenal pula kedua orang yang datang itu.

Katanya, “Selamat datang Kiai Badra dan Gandar.”

“KALIAN telah mengenal kami?” bertanya Kiai Badra.

“Ya. Kami telah mengenal kalian berdua. Bahkan kami pun telah mengetahui

hubungan kalian dengan Kiai Soka. Bukankah kau saudara tua Nyai Soka? Dan

bukankah cucu perempuanmu yang bernama Iswari kau titipkan disini, karena

menurut ceriteranya cucumu itu sudah mati.”

Wajah Kiai Badra menjadi tegang. Namun Gandarlah yang menyahut, “Aku tidak tahu

persoalan apakah sebenarnya yang telah terjadi antara kau dan Kiai Soka. Mungkin

benar kata seorang cantrik bahwa kau ingin membalas dendam atas kematian ayahmu

beberapa puluh tahun yang lalu. Tetapi aku tidak peduli. Tingkah laku kalian

berdua telah menggelitik hati kami. Apalagi karena kalian mengetahui rahasia

yang selama ini kami pegang teguh.”

“Marilah,” berkata salah seorang di antara kedua orang itu, “Kita berbicara

tentang persoalan yang kita hadapi.”

“Kami tip style=”text-align:justify;”dak mempunyai persoalan dengan kalian. Tetapi kami harus mencegah kalian

berbuat sewenang-wenang atas para cantrik, karena persoalan kalian tidak dengan

para cantrik, tetapi dengan Kiai Soka,” jawab Gandar.

“Karena itu, kita dapat membicarakannya,” jawab orang itu.

“Sebaiknya kalian menyerah kepada kami,” geram Gandar yang menjadi tidak sabar.

“Jangan membuat persoalan Ki Sanak,” berkata salah seorang di antara kedua orang

itu. “Jika sampai saat ini tidak ada persoalan di antara kita, sebaiknya kita

tetap pada keadaan seperti itu. Sekali lagi aku minta, kita dapat

membicarakannya”, berkata orang itu.

Suramnya Bayang-bayang 9

By admin • Sep 28th, 2008 • Category: 1. Silat Jawa, SHM – Suramnya Bayang-bayang **

“Tetapi bukannya tidak ada persoalan yang sebenarnya,” jawab Gandar. “Kalian

telah menyebut nama Iswari. Jika kalian tidak berkepentingan dengan anak itu,

kalian tentu tidak akan menyelidiki sampai tempat tinggalnya yang terakhir.

Menyerahlah. Kita akan berbicara kemudian,” geram Gandar. “Kau sudah mulai

dengan kesombonganmu, menakut-nakuti para cantrik. Karena itu, letakkan

senjatamu.”

“Kau jangan terlalu kasar Ki Sanak,” sahut salah seorang dari kedua orang itu,

“Kami tidak mau kau perlakukan seperti itu.”

Tetapi Gandar memang sudah mempunyai prasangka buruk terhadap kedua orang itu.

Mula-mula ia mendapat keterangan bahwa orang itu mungkin akan membalas dendam

sakit hatinya karena kematian ayahnya. Kemudian orang itu ternyata mengetahui

bahwa Iswari ada di padepokan Tlaga Kembang, sehingga endapan-endapan yang ada

di dalam dada Gandar itu pun bagaikan terungkat. Adalah di luar sadarnya bahwa

tiba-tiba saja ia telah menghubungkan orang-orang ini dengan keluarga Kalamerta

yang sedang memburu Iswari yang bagi mereka harus dibinasakan.

Karena itu, maka pikiran Gandar tidak lagi dapat dipergunakannya dengan jernih.

Dalam pada itu, Kiai Badra sendiri ternyata dihinggapi oleh keragu-raguan. Sikap

kedua orang itu memang bukan sikap yang kasar yang biasa ditunjukkan oleh

kelompok-kelompok dunia hitam.

Namun selagi orang tua itu masih membuat pertimbangan-pertimbangan di dalam

hatinya, terdengar seorang cantrik berteriak,” Kiai, kedua orang itu berniat

membunuh kami semua. Seorang demi seorang sampai ada di antara kami yang

mengatakan dimana Kiai dan Nyai Soka berada.

“Gila,” geram Gandar. “Itukah perbuatan seorang yang mengaku tidak mempunyai

persoalan dengan kami sekarang ini? Yang kalian lakukan adalah perbuatan di luar

peradaban manusia. Karena itu, maka segera lepaskan senjata kalian atau kami

akan bertindak lebih tegas.”

Wajah kedua orang itu menjadi semakin tegang. Sementara itu seorang cantrik yang

lain berkata pula, “Mereka memang datang untuk membunuh.”

Gandar tidak dapat menahan hatinya lagi. Ia pun kemudian maju beberapa langkah.

Namun Kiai Badra menggamitnya sambil berdesis. “Kita akan berbicara Gandar.”

Gandar berpaling. Tetapi ia tidak menghiraukan kata-kata Kiai Badra. Satu sikap

yang tidak pernah dilakukannya sebelumnya. Namun karena nalarnya sedang gelap

karena kedua orang itu dianggapnya sedang memburu Iswari sebagai tujuan

utamanya, sedangkan alasan untuk membalas dendam itu hanyalah sekadar

dicari-cari, maka ia tidak dapat berbuat lain kecuali menghadapi orang-orang itu

dengan kekerasan.

Kedua orang itu menjadi tegang. Apalagi ketika beberapa orang cantrik yang lain

pun berteriak-teriak pula mengadu. Darah Gandar menjadi semakin panas.

Ternyata kedua orang itu pun tidak mau berbicara terlalu banyak. Mereka

benar-benar telah tersinggung, sehingga karena itu, maka keduanya pun telah

mempersiapkan diri.

Namun sejenak Gandar termangu-mangu. Karena itu sama sekali tidak bersikap untuk

melakukan hal yang semacam itu, maka Gandar memang tidak menyiapkan senjata.

Karena itu, maka tiba-tiba ia pun berkata kepada seorang cantrik, “Berikan

senjatamu. Aku akan membela kalian dari kelaliman orang-orang ini.”

Seorang cantrik yang terdekat menjadi ragu-ragu sejenak. Namun ia pun kemudian

menyerahkan tombak pendek yang digenggamnya.

Dengan demikian maka Gandar pun telah bersiap dengan tombak ditangannya.

Selangkah demi selangkah ia mendekat. Tombaknya mulai merunduk dan bergetar.

Memang tidak ada kemungkinan lain dari benturan senjata. Salah seorang dari

kedua orang yang membawa pedang itu pun telah mendekat pula menghadapi Gandar.

Keduanya yang telah bersiap sepenuhnya itu akhirnya mulai menggerakkan senjata

mereka menyerang lawan.

Meskipun serangan yang bermula-mula bukanlah serangan yang sangat berbahaya,

namun sejenak kemudian, maka mereka pun telah bergerak semakin cepat menghadapi

keadaan yang sama sekali tidak mereka duga sebelumnya.

Ternyata orang yang datang untuk membuat perhitungan dengan Kiai Soka ini memang

seorang yang memiliki ilmu yang tinggi. Meskipun orang itu masih belum

mengerahkan segenap kemampuannya, namun orang itu ternyata sudah menunjukkan

ketangkasannya yang membuat para cantrik menjadi bingung. Selama orang itu

bertempur melawan mereka maka cantrik itu tidak melihat kemampuan yang hampir di

luar nalar itu.

Namun lawannya adalah Gandar. Seorang yang untuk beberapa lamanya telah

meletakkan senjatanya dan hidup dengan damai di sebuah padepokan kecil. Tetapi

peristiwa demi peristiwa telah menggelitiknya, sehingga ia pun terpaksa

mempergunakan lagi kekerasan untuk mempertahankan satu sikap dan pendirian.

Sejak Iswari berada di Tanah Perdikan Sembojan, sebenarnyalah hati Gandar telah

terguncang. Tapi ia masih mampu dengan susah payah mempertahankan keseimbangan

nalar dan perasaannya. Tetapi ketika Iswari itu kemudian hilang, maka

kadang-kadang Gandar tidak mampu lagi mengekang dirinya. Sekali-kali ia berusaha

melepaskan gejolak perasaannya dengan melakukan sesuatu tanpa dilihat orang

lain. Ia telah menghantam batu-batu padas sehingga pecah berserakkan dengan sisi

telapak tangannya. Ia pun telah mengguncang dan merobohkan sebatang pohon yang

besar dengan kekuatan cadangannya di tengah-tengah hutan. Bahkan ketika Gandar

kehilangan pengamatan dirinya, maka Gandar telah membunuh seekor harimau yang

tidak bersalah, meskipun harimau itu hendak menerkamnya. Tetapi yang dilakukan

oleh harimau itu semata-mata tidak nalurinya tanpa sikap memusuhinya.

Dan kini Gandar berhadapan dengan seorang yang dianggapnya keluarga Kalamerta

yang sedang memburu Iswari sekaligus akan membalas dendam kepada Kiai Soka dan

istrinya yang kebetulan adalah adik Kiai Badra itu sendiri.

Karena itu, maka Gandar benar-benar telah berniat untuk menghancurkan lawannya

tanpa ragu-ragu lagi.

Lawannya yang semula berusaha untuk sekadar menjajagi kemampuan Gandar, ternyata

terkejut sekali dengan serangan-serangan Gandar yang langsung pada tataran

tertinggi dari ilmunya.

Untunglah bahwa orang itu masih mempunyai kesempatan menghindar dan kemudian

membangunkan puncak kemampuannya, sehingga dengan demikian ia tidak tergilas

oleh gejolak perasaan Gandar yang tidak terkekang.

Dengan demikian, maka pertempuran antara kedua orang itu pun telah menjadi

semakin sengit. Keduanya langsung sampai pada ting-kat kemampuan mereka yang

tertinggi.

Dalam pada itu, maka pedang orang yang datang untuk mencari Kiai Soka itu

berputaran dengan kecepatan baling-baling. Kemudian menebas mendatar setinggi

lambung. Namun tiba-tiba telah mematuk ke arah jantung.

Tetapi sementara itu, tombak di tangan Gandar pun bergerak dengan cepat pula.

Sekali menyilang di depan wajahnya namun kemudian berputar menangkis serangan

pedang lawan. Tetapi sejenak kemudian serangan Gandar pun datang bagaikan

prahara. Ujung tombaknya bagaikan ujung lidah api di langit yang menukik

menyambar sasarannya.

Lawannya yang menyadari bahwa tombak Gandar adalah sekadar tombak kebanyakan

yang dipinjamnya dari seorang cantrik berusaha untuk membenturkan pedangnya pada

tombak itu. Karena itu, maka dengan cerdik orang itu telah memancing Gandar

untuk menikam dengan ujung tombaknya ke arah lambung. Tetapi orang itu sempat

mengelak, karena memang serangan yang demikian yang diharapkannya. Demikian

tombak Gandar mematuk, maka dengan sekuat tenaganya orang itu mengayunkan

pedangnya menebas leher.

Seperti yang diharapkan, Gandar tidak sempat mengelak telah menyilangkan landean

tombaknya untuk melindungi lehernya itu.

Sejenak kemudian telah terjadi benturan senjata yang dahsyat sekali. Lawan

Gandar telah mengerahkan segenap kekuatan dan kemampuan tenaga cadangannya untuk

menghantam tangkai tombak di tangan Gandar. Karena tombak itu tombak kebanyakan,

bukan sebatang tombak pusaka, maka orang itu memastikan, bahwa kekuatan dan

kemampuannya akan mampu mematahkan landean tombak itu.

Demikianlah, benturan yang dahsyat itu terjadi. Gandar terdorong dua langkah

surut. Namun dalam pada itu, lawannya pun telah mengalami kesulitan yang

mengganggu. Pedangnya memang membentur landean tombak lawannya. Namun adalah

diluar dugaannya, bahwa landean tombak itu sama sekali tidak patah. Karena itu,

maka kekuatannya sendiri yang menghantam kekuatan bertahan Gandar telah menolak

kekuatan itu dan justru telah melemparkannya beberapa langkah surut.

Sebenarnyalah, bahwa landean tombak Gandar tidak patah. Hal itu ternyata juga

dilihat seorang yang lain yang datang untuk mencari Kiai dan Nyai Soka itu, yang

berdiri termangu-mangu di dekat Kiai Badra.

“Luar biasa,” desis orang itu.

Kiai Badra berpaling. Namun menilik sikapnya orang itu tidak akan menyerangnya.

Bahkan kemudian katanya, “Kawanmu memang luar biasa Kiai Badra. Dengan demikian

aku mengerti, bahwa kau tentu memiliki ilmu yang lebih tinggi dari orang itu.”

Kiai Badra menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia tidak menjawab.

Sementara itu, orang yang berdiri di samping Kiai Badra itu berdesis, “Bagaimana

mungkin landean tombak itu tidak patah.

Tombak itu adalah tombak kebanyakan yang diambilnya dari seorang cantrik.

Sedangkan pedang kawanku, sebagaimana pedangku adalah pedang yang terbuat dari

baja pilihan. Menurut perhitungan nalar, maka tangkai tombak itu tentu akan

patah pada benturan, karena tenaga kawanku itu melampaui tenaga seekor kerbau

jantan.”

Kiai Badra masih tetap berdiam diri.

Karena Kiai Badra tidak menyahut, maka orang itu berkata selanjutnya, “Kai.

Mungkin pertempuran antara keduanya akan berlanjut untuk waktu yang lama. Tetapi

jika kawanku kemudian terdesak, sudah barang tentu aku tidak akan tinggal diam.”

Kiai Badra menarik nafas dalam-dalam. Tetapi jika orang yang berdiri

disampingnya itu benar-benar akan turun ke medan, apakah ia akan tinggal diam.

Dalam pada itu, Gandar yang didasari dengan kebencian yang mendalam, telah

bertempur dengan mengerahkan segenap ilmunya. Bukan saja landean tombaknya yang

tidak dapat dipatahkan oleh lawannya, namun kemudian kecepatan gerak Gandar pun

seakan-akan menjadi semakin tinggi.

Dengan kemampuan ilmunya, Gandar memang telah mengalirkan tenaga yang dapat

dibangunkan oleh ilmunya itu seakan-akan menyusuri senjatanya, sehingga senjata

yang ada di tangannya itu pun menjadi senjata yang kekuatannya melampaui

kekuatan senjata kebanyakan sebagaimana senjata itu sendiri.

Dengan mengerahkan ilmunya, maka Gandar pun semakin lama menjadi semakin

mendesak lawannya. Meskipun lawannya juga memiliki ilmu yang tinggi, tetapi

ternyata bahwa Gandar masih memiliki kelebihan dari lawannya itu.

Kekuatan dan kecepatan geraknya, merupakan kelebihan yang sulit untuk diimbangi

oleh lawannya. Meskipun lawannya memiliki ilmu pedang yang hampir sempurna,

namun ternyata ia tidak mampu mengatasi putaran senjata Gandar.

Dengan demikian, maka perlahan-lahan Gandar berhasil mendesak lawannya. Semakin

lama menjadi semakin jelas, bahwa kemampuan Gandar benar-benar sulit untuk

diimbangi.

Karena itu, maka orang yang berdiri di samping Kiai Badra itu menjadi cemas.

Dengan suara bergetar ia berkata, “Luar biasa. Memang luar biasa. Tetapi aku

tidak dapat membiarkan adik seperguruan itu akan benar-benar menjadi korban

dalam permainan ini.”

Kiai Badra menjadi berdebar-debar. Jika orang itu melibatkan diri dan bertempur

berpasangan, maka Gandar sulit untuk dapat bertahan. Apalagi orang yang belum

melibatkan diri itu adalah saudara tua seperguruan dengan orang yang sedang

bertempur melawan Gandar.

Karena itu, maka Kiai Badra pun berkata, “Ki Sanak. Sebaiknya kau tidak usah

ikut campur. Gandar hanya menghendaki kalian menyerah. Kemudian segala

sesuatunya akan dibicarakan dengan Kiai dan Nyai Soka.”

“Kau aneh Kiai. Sudah tentu kami tidak akan menyerah,” jawab orang itu. Lalu,

“Sebenarnya kami tidak berkeberatan untuk berbicara tentang persoalan kami,

tetapi Gandar tidak mau mendengarkannya.”

“Ia juga ingin bicara,” jawab Kiai Badra.

“Tetapi dengan syarat yang gila. Kami harus menyerah dahulu. Itu sangat

menyinggung harga diri kami,” jawab orang itu.

“Itulah permohonannya,” berkata Kiai Badra. “Agaknya Gandar melakukan hal itu

bukannya tidak beralasan.”

“Apapun alasannya, tetapi kami tidak dapat mengorbankan harga diri kami. Karena

itu, aku akan ikut campur dalam pertempuran ini,” berkata orang itu.

“JANGAN Ki Sanak,” berkata Kai Badra.

Tetapi orang itu bergeser melangkah mendekati arena. Sementara itu pertempuran

antara Gandar dan lawannya itu pun menjadi semakin sengit. Dengan puncak

kemampuannya lawan Gandar itu berusaha bertahan. Pedangnya berputar seperti

prahara. Sekali-kali masih juga ia sempat melibat Gandar dalam serangan yang

dahsyat. Tetapi Gandar memiliki kemampuan yang luar biasa. Tombaknya bukan saja

mematuk seperti seekor ular, tetapi kadang-kadang terayun dengan cepat kemudian

berputar dan satu serangan yang mendebarkan mengarah ke kepala lawannya tidak

dengan ujungnya, tetapi dengan pangkal landeannya.

Dalam pada itu, dalam setiap benturan kekuatan, ternyata bahwa kekuatan Gandar

mampu mendesak lawannya pula. Sekali-kali terasa tangan lawannya yang

menggenggam pedang itu menjadi pedih. Sementara itu, landean tombak itu ternyata

tidak juga mau patah.

“Ki Sanak,” panggil Kiai Badra ketika yang seorang lagi menjadi semakin

mendekati arena, “Aku persilakan, jangan.”

“Aku menyadari Kiai, bahwa kau akan mencegah aku. Itulah yang sebenarnya aku

tunggu,” jawab orang itu. “Mudah-mudahan aku dapat mengimbangi kemampuan Kiai

untuk kemudian dapat membantu saudara seperguruanku. Ternyata bahwa Gandar,

pembantu Kiai itu memiliki ilmu yang luar biasa. Aku sadar, bahwa dengan

demikian Kiai sendiri tentu memiliki ilmu melampaui ilmu Gandar itu. Tetapi

apaboleh buat. Kami tidak akan dapat Kiai paksa untuk menyerah.”

Kiai Badra termangu-mangu sejenak. Jika orang itu memaksa untuk memasuki arena,

maka ia memang tidak dapat berbuat lain, kecuali mencegahnya.

Sejenak Kiai Badra berdiri bagaikan membeku. Ketika orang itu bergeser semakin

dekat dengan arena, maka Kiai Badra pun telah menarik nafas dalam-dalam.

“Apa boleh buat,” desisnya.

Sekilas ia memandang para cantrik yang menyaksikan pertempuran antara Gandar

dengan lawannya. Mereka berdiri membeku ditempatnya. Pertempuran itu benar-benar

pertempuran yang sulit mereka mengerti.

Dalam pada itu, terngiang di telinga Kiai Badra keluh para cantrik itu. Bahwa

kedua orang itu sudah berniat untuk membunuh para cantrik itu seorang demi

seorang sampai salah seorang di antara mereka mengatakan dimana Kiai dan Nyai

Soka berada.

“Ki Sanak,” berkata Kiai Badra kemudian, “Aku adalah orang tua yang barangkali

lebih tua dari Ki Sanak. Sebenarnya sudah tidak pantas bagiku untuk bermain-main

seperti anak-anak muda. Juga Ki Sanak sebaiknya sudah tidak lagi melakukannya.”

“Tetapi apakah aku harus membiarkan adik seperguruanku itu mengalami kesulitan?”

bertanya orang itu.

“Biarlah adik seperguruan Ki Sanak itu menyerah. Gandar tidak akan melakukan

satu perbuatan yang tidak wajar menghadapi orang yang sudah menyerah,” berkata

Kiai Badra.

“Kiai,” jawab orang itu. “Sudah berapa kali aku mengatakan, bahwa aku dan adikku

sama sekali tidak ingin menyerah. Apapun yang akan terjadi. Memang pertemuan

kami dengan Kiai dan Gandar adalah di luar dugaan. Juga kemampuan Gandar dan

tentu kemampuan Kiai dalam olah kanuragan juga di luar dugaan kami. Tetapi

semisal orang yang menyeberangi sungai, kami sudah ada di tengah. Kembali pun

kami sudah basah sebagaimana jika kami melanjutkannya sampai ke seberang.”

“Jadi Ki Sanak sudah tidak mempunyai jalan lain?” bertanya Kiai Badra.

“Seharusnya kamilah yang bertanya demikian, bukan Kiai,” jawab orang itu.

Kiai Badra mengangguk-angguk. Lalu katanya, “Nyai Soka adalah adikku. Jika benar

kau akan membalas dendam atau jika benar kau memiliki persoalan dengan iswari,

cucuku itu, serta jika benar kalian akan membunuh para cantrik itu satu demi

satu, maka agaknya aku yang tua ini tidak dapat berbuat lain kecuali berusaha

mencegahnya.”

Orang itu kemudian bergeser sambil menghadap Kiai Badra. Sejenak ia berpaling.

Namun ia masih berharap bahwa adik seperguruannya itu akan mampu bertahan untuk

beberapa saat. Sementara itu, ia ingin mencoba kemampuan Kiai Badra, yang tentu

lebih baik dari Gandar.

Tetapi orang itu pun merasa, bahwa ia pun memiliki ilmu yang lebih luas dan

lebih mapan dari adik seperguruannya. Karena itu, maka dengan tatag ia tetap

bersiap menghadapi Kiai Badra.

Tetapi Kiai Badra masih juga berkata, “Ki Sanak. Aku adalah orang tua. Aku bukan

saja mempunyai seorang cucu, tetapi aku sudah mempunyai seorang cicit.

Seharusnya orang setua aku ini tidak lagi berbuat aneh-aneh seperti anak-anak

muda.”

“Tetapi Kiai sekarang berdiri disimpang jalan,” berkata orang itu. “Sudahlah.

Jangan berpura-pura menjadi seorang yang sudah tidak berkepentingan lagi dengan

dunia ini dan segala macam seluk-beluknya termasuk kekerasan. Aku sudah siap.

Dan aku memang berharap Kiai mencegah aku karena aku akan membantu adik

seperguruanku. Bukankah Kiai sudah mengatakan, bahwa Kiai tidak dapat berbuat

lain kecuali berusaha mencegahku. Nah, sekarang sampai saatnya Kiai

melakukannya.”

Kiai Badra memang tidak dapat mengelak lagi. Orang itulah yang kemudian

mengacukan senjata ke arah orang tua itu.

“Marilah Kiai. Sebagaimana Gandar telah bersungguh-sungguh, maka aku pun akan

bersungguh-sungguh. Biarlah kita menyelesaikan persoalan yang sebenarnya tidak

pernah ada di antara kita dengan cara yang telah dipilih oleh Gandar,” berkata

orang itu.

Kiai Badra memandang orang itu dengan tajamnya. Namun terasa di dalam hatinya,

bahwa sebenarnyalah mereka dapat mengambil jalan lain untuk mencari

penyelesaian. Tetapi semuanya sudah tertutup. Yang kini dihadapi adalah ujung

pedang lawannya itu.

“Kiai,” berkata orang itu. “Jika kau ingin meminjam sepucuk senjata, silakan

sebagaimana dilakukan oleh Gandar. Aku pun tahu bahwa senjata yang betapapun

jeleknya, di tangan Kiai akan menjadi senjata yang tidak ada duanya.”

Kiai Badra mengangguk-angguk. Katanya, “Baiklah Ki Sanak. Aku akan meminjam

senjata. Sebenarnyalah ketika kami berangkat dari padepokan kami, sama sekali

tidak terlintas di hati kami, bahwa akan terjadi peristiwa seperti ini. Karena

itu, kami sama sekali tidak membawa sepucuk senjatapun. Apalagi memang sudah

lama kami melepaskan senjata kami dan menyimpannya di dalam gledeg di bilik

tidur kami. Demikian juga Gandar. Ia pun tidak mempersiapkan diri menghadapi

peristiwa ini. Dan sebagaimana aku, ia pun tidak membawa senjata dari padepokan

karena kedatangan kami ke padepokan ini adalah untuk menengok saudara dan cucu

serta cicit.”

“Tetapi sekarang Kiai tidak akan dapat mengelak, “ jawab orang itu.

Kiai Badra tidak menjawab. Sementara itu ia mendekati seorang cantrik yang

menggenggam sebilah pedang.

“Aku meminjam pedangmu. Karena lawanku juga bersenjata pedang, maka aku pun akan mempergunakan senjata serupa,” berkata Kiai Badra.

Cantrik itu tidak menjawab. Tetapi ia menyerahkan pedangnya kepada Kiai Badra.

Sebilah pedang yang tidak lebih dari pedang kebanyakan yang dibuat oleh pande

besi di sudut pasar.

Orang yang siap melawan Kiai Badra itu menarik nafas dalam-dalam. Di luar

sadarnya ia memandang pedangnya sendiri. Pedang yang memiliki banyak kelebihan

dari pedang biasa, sebagaimana yang dipegang oleh Kiai Badra itu. Pedang yang

tidak lebih dari parang membelah kayu, karena yang dapat disebut pedang hanyalah

bentuknya.

Tetapi pedangnya sendiri adalah pedang yang terbuat dari baja pilihan. Pedang yang tajamnya melampaui tajamnya welat pring wulung, namun mempunyai kekuatan melampaui batang linggis sebesar lengan.

Sejenak orang itu termangu-mangu. Namun katanya dalam hati, “Kiai Badra harus

menyadari, bahwa aku bukannya adik seperguruanku.”

Karena itu, maka yang akan dilakukan oleh orang itu pertama-tama adalah

mengejutkan Kiai Badra. Pedang di tangan Kiai Badra harus dipatahkannya.

Karena itu, ketika kemudian Kiai Badra sudah siap, maka orang itu pun mulai

menyerangnya. Dengan cepat ia menjulurkan pedangnya mengarah ke dada.

Kiai Badra bergeser selangkah. Pedang lawannya itu tidak dapat menggapainya.

Namun lawannya itu meloncat maju sambil mengayunkan pedangnya mendatar.

Sekali lagi Kiai Badra menghindar.

Namun orang itu sampai pada rencananya pada permulaan pertempuran itu. Demikian

Kiai Badra meloncat, maka dengan kecepatan yang tidak tampak oleh mata wadag

orang itu telah mengayunkan pedangnya dengan segenap kemampuan ilmunya. Tenaga

cadangan yang ada di dalam dirinya telah dikerahkannya didorong oleh kekuatan ilmu yang sangat tinggi, tersalur pada ayunan pedang yang terbuat dari baja pilihan itu.

Karena itu, maka sebagaimana dilakukan oleh Gandar. Kekuatan ilmu Kiai Badra yang seakan-akan dihisapnya dari bumi lewat sentuhan kakinya, mengalir ke daun pedang yang dalam keadaan wajarnya tidak lebih dari parang pembelah kayu itu.

Bahkan melampaui kemampuan Gandar, Kiai Badra telah memanfaatkan kekuatan api di dalam dirinya.

“Aku tidak bermaksud menyombongkan diri Ki Sanak,” berkata Kiai Badra di dalam

hatinya. “Tetapi aku ingin pertempuran ini cepat selesai.”

Demikianlah, maka telah terjadi satu benturan yang sangat dahp style=”text-align:justify;”syat. Kiai Badra

memang menyilangkan pedangnya untuk menangkis serangan lawannya, sebagaimana

dikehendaki oleh lawannya itu. Sementara itu lawannya memang telah mengerahkan

segenap kemampuannya serta kekuatan ilmu yang ada pada dirinya.

Namun ternyata pedang di tangan Kiai Badra itu memang tidak patah. Ayunan pedang

lawannya terasa bagaikan membentur bukit baja yang tidak terguyahkan. Bahkan dari benturan itu telah memercik bunga api bagaikan menyembur keudara.

Benar-benar satu hal yang tidak terduga sama sekali oleh lawannya. Dengan serta merta ia telah meloncat menjauh, menghindari bunga api yang bagaikan dengan sengaja ditaburkan ke arahnya. Ketika sepercik kecil menyentuh kulitnya, maka terasa kulitnya menjadi hangus dan sangat pedih.

“Gila,” geram orang itu.

Kiai Badra masih berdiri tegak ditempatnya. Ia sama sekali tidak berusaha memburunya.

“Luar biasa Kiai,” desis lawannya.

Kiai Badra menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Sudahlah. Menyerahlah. Maksudku,

kau harus mengurungkan niatmu untuk membalas dendam terhadap Kiai dan Nyai Soka.

Kau juga harus memberikan keterangan tentang usahamu menyelidiki Iswari sehingga

kau menemukannya sendiri.”

“Sayang Kiai,” jawab orang itu. “Aku tidak dapat menyerah. Aku masih mempunyai

kemungkinan untuk menghancurkan kesombongan Kiai dengan ilmuku yang lain.”

Kiai Badra memandang orang itu dengan tatapan mata yang redup. Ternyata ia sudah

terpancing untuk bertempur dalam tataran ilmu yang tinggi.

Tetapi ia memang tidak dapat mengelak.

Dalam pada itu, lawannya itu pun berdiri tegak sambil menggenggam pedangnya yang

bersilang di dadanya. Sejenak kemudian memang terjadi satu keajaiban. Di dalam

keremangan malam, Kiai Badra melihat pedang lawannya itu bagaikan membara. Daun

pedang itu menjadi kemerah-merahan memancarkan kekuatan ilmu yang tiada taranya.

Sejenak kemudian, orang itu pun menarik nafas dalam-dalam. Kemudian mulai

menggerakkan pedang yang membara itu.

“Kiai sudah menunjukkan kelebihan Kiai dengan memercikkan bunga api pada

benturan senjata. Sekarang giliranku untuk melakukannya. Pedangku akan mampu

membakar Kiai, bukan saja dengan percikan api,” geram orang itu yang agaknya

mulai benar-benar menjai marah.

Kiai Badra bergeser setapak. Ia melihat orang itu memusatkan nalar budinya.

Kemudian tiba-tiba saja ia meloncat dengan ayunan pedangnya yang membara.

Kiai Badra yang belum mengenal kekuatan ilmu lawannya itu tidak menangkis.

Tetapi ia bergeser menghindar.

Namun ketika pedang itu terayun sejengkal di sisinya, terasa sambaran udara panas membakar tubuhnya. Hanya karena Kiai Badra dengan cepat mengerahkan daya tahan tubuhnya sambil meloncat menjauh sajalah, maka ia tidak menjadi lemas dan kehilangan tenaga.

Tetapi yang terjadi itu pun membuat lawannya menggeretakkan giginya sambil

menggeram, “Kau memang orang luar biasa Kiai. Kau mampu bertahan atas panasnya

api yang dipancarkan oleh pedangku atas alas ilmuku. Namun jika aku berhasil

menyentuh tubuhmu dengan pedangku yang membara ini Kiai, maka aku kira aku tidak

perlu mengulangi seranganku.

Kiai Badra tidak menjawab. Tetapi ia sudah dapat menjajagi kemampuan puncak ilmu

lawannya. Panas yang dilontarkan oleh serangan pedang atas alas ilmunya itu

memang luar biasa. Tetapi Kiai Badra adalah orang yang memiliki pengalaman yang luas, serta menyimpan ilmu yang mapan dalam dirinya.

Karena itu, maka ia pun kemudian menimang pedangnya. Meskipun pedang itu pedang

kebanyakan, tetapi Kiai Badra akan mampu mempergunakannya melawan pedang

lawannya yang memiliki kekuatan yang nggegirisi.

Ternyata bahwa Kiai Badra juga mampu melepaskan ilmu sebagaimana dilakukan

lawannya. Bahkan agaknya Kiai Badra memiliki daya lontar dari ilmunya lebih baik dari lawannya. Karena itu, maka sebagaimana diinginkannya, ia pun berusaha untuk dengan cepat menyelesaikan pertempuran.

Ketika kemudian lawannya menyerangnya bagaikan deru badai yang menyemburkan

putaran angin yang panas, maka Kiai Badra pun telah mengimbanginya dengan caranya. Ia sama sekali tidak perlu menjadikan pedangnya membara. Tetapi justru berdiri tegak sambil mengacukan pedangnya ke arah lawan. Kemudian memutarnya perlahan-lahan sambil mengerahkan ilmunya.

Lawannya terkejut bukan kepalang. Dari putaran pedang Kiai Badra yang perlahan-lahan itu telah memancarkan panas yang melampaui panasnya bara api pada pedang lawannya. Bahkan panas yang dilontarkan oleh ilmu Kiai Badra itu bagaikan berembus mengejarnya kemana saja ia meloncat.

Ternyata lawannya itu benar-benar mengalami kesulitan. Meskipun ia berusaha untuk membangunkan daya tahan di dalam dirinya, namun udara yang panas itu bagaikan menerkamnya tanpa dapat diuraikannya.

Bagaimana pun juga, orang itu harus mengakui, bahwa ilmu Kiai Badra berada di atas tingkat ilmunya. Ia harus mampu melakukannya sampai pada batas mengimbangi

kekuatan ilmu Kiai Badra.

Namun demikian, agaknya orang itu bukan orang yang lemah hati. Meskipun tubuhnya

bagaikan di rebus dalam uap air yang mendidih namun sama sekali tidak ada niatnya untuk menyerah.

Karena itu, dengan sisa kekuatan yang ada padanya, orang itu justru melangkah

tertatih-tatih mendekat sambil berusaha mengacukan pedangnya. Wajahnya masih

memancarkan tekadnya yang membara sebagaimana daun pedangnya membara.

“Menyerahlah,” desis Kiai Badra.

Tetapi orang itu tidak menghiraukannya. Ia masih saja melangkah mendekat,

seolah-olah dengan sengaja menyongsong maut.

“Berhentilah,” teriak Kiai Badra. “Jangan mendekat lagi.”

Tetapi orang itu tidak menghiraukannya. Ia justru melangkah semakin dekat dengan

pedangnya yang membara itu teracu ke arah lawannya.

Tetapi pengaruh panas pedang itu masih belum mencapai lawannya, justru ia

sendiri seakan-akan telah terbakar oleh panas ilmu lawannya itu.

“Berhenti,” sekali lagi Kiai Badra memperingatkan.

Namun peringatan itu tidak pernah dihiraukannya. Orang itu masih melangkah terus

mendekati lawannya. Meskipun langkahnya semakin lemah dan bahkan

terhuyung-huyung dan hampir kehilangan keseimbangannya.

Kiai Badralah yang kemudian harus melangkah. Perlahan dilepaskannya ilmunya yang

luar biasa itu, sehingga udara panaspun semakin lama menjadi semakin berkurang.

Bahkan akhirnya lenyap sama sekali.

Lawannya merasakan kesejukan udara mengusap tubuhnya. Karena itu ia justru

menjadi heran. Tubuhnya yang hampir terjatuh kemudian mampu untuk tegak kembali.

Ketika ia mengangkat wajahnya dan memandang kearah Kiai Badra, maka dilihatnya

orang tua itu justru telah melemparkan pedangnya sambil berkata, “Aku tidak dapat membunuh seseorang yang tidak mempunyai persoalan yang jelas.”

“Kenapa?” bertanya orang itu.

Kiai Badra termangu-mangu. Sementara itu lawannya pun maju selangkah demi

selangkah. Namun bagaimanapun juga lawannya masih tetap ragu-ragu untuk

mendekat. Mungkin Kiai Badra hanya sekadar memancangnya dengan sikapnya itu

untuk dengan serta merta melepaskan ilmunya yang lebih dahsyat, yang sekaligus

akan dapat menghancurkan tubuhnya menjadi debu.

Tetapi Kiai Badra itu menarik nafas dalam-dalam sambil memutar tubuhnya

menghadap ke arena pertempuran antara Gandar dan lawannya. Ternyata Gandar telah

semakin meyakinkan bahwa sebentar lagi ia pun akan dapat menyelesaikan

pertempuran itu.

Namun dalam pada itu, dalam keragu-raguan, orang-orang yang ada di halaman telah

mendengar tepuk tangan dalam kegelapan di halaman samping.

Tepuk tangan itu telah menarik perhatian semua orang yang mendengarnya. Ketika

mereka berpaling, dilihatnya dua orang suami istri yang telah menjelang

hari-hari tuanya berdiri sambil memandangi arena. Selangkah demi selangkah

mereka maju mendekati arena.

Gandar yang hampir sampai pada saat terakhir dari pertempuran itu pun merasa

terganggu. Namun ternyata yang datang itu adalah Kiai dan Nyai Soka.

Karena itu, maka betapapun juga gejolak mendera perasaannya, namun ia berusaha

untuk menahan dirinya.

“Kau Soka,” berkata orang yang baru saja bertempur melawan Kiai Badra. Nafasnya

masih terengah-engah. Sementara tubuhnya masih merasa lemah dan sakit di segala

sendi-sendinya.

Kiai dan Nyai Soka yang kemudian telah berdiri di tangga pendapa kemudian

menebarkan pandangannya ke seluruh halaman. Dengan suara yang ramah, Kiai Soka

kemudian berkata, “Marilah. Aku mempersilakan semuanya naik ke pendapa.

Sementara itu biarlah para cantrik menyiapkan makan malam buat kita semuanya.”

Gandar melihat sikap Kiai dan Nyai Soka dengan heran. Seakan-akan tidak ada

sesuatu yang telah terjadi di halaman padepokannya itu.

Kiai Soka agaknya melihat sikap Gandar yang ragu-ragu. Karena itu maka kemudian

katanya, “Marilah Gandar. Aku persilakan kau naik bersama tamu-tamu kita yang

lain.”

Tetapi Gandar masih dicengkam oleh gejolak perasaannya. Karena itu, maka sambil

menjinjing tombak pendeknya ia melangkah maju mendekati Kiai Soka sambil

berkata, “Kiai, apakah Kiai tidak menyadari, bahwa kedua orang inilah yang telah

mencari Kiai. Dan bukankah Kiai dan Nyai Soka telah menyingkir untuk

menghindarkan diri dari pertumpahan darah.”

“Benar Gandar. Kami memang telah berusaha untuk menghindar. Tetapi justru di

halaman ini terjadi pertempuran juga yang hampir saja me-renggut jiwa. Tetapi

sebenarnya, kita masih sempat untuk berbicara,” berkata Kiai Soka.

“Aku akan berbicara jika mereka menyatakan menyerah. Mereka adalah orang-orang

yang akan membalas dendam terhadap Kiai dan Nyai Soka, satu hal yang sudah Kiai

dan Nyai ketahui. Selebihnya keduanya tahu pasti, bahwa Iswari ada disini.

Karena itu, aku berkesimpulan, bahwa tujuan mereka yang sebenarnya bukannya

membalas dendam dari peristiwa yang sudah terjadi puluhan tahun yang lalu, yang

tiba-tiba saja terangkat kembali. Tetapi mereka tentu mempunyai hubungan dengan

Kalamerta. Mereka tentu berusaha untuk menemukan Iswari yang ternyata mereka

ketahui, bahwa ia masih hidup. Karena itu, aku berkesimpulan bahwa mereka adalah

termasuk keluarga Kalamerta yang sedang memburu Iswari.”

Kiai dan Nyai Soka memandang kedua orang itu dengan kerut merut di kening.

Garis-garis umurnya yang mewarnai kulitnya seolah-olah menjadi semakin dalam.

“Ki Sanak,” bertanya Kiai Soka kemudian, “Jadi kalian tahu bahwa Iswari ada

disini?”

“Ya,” jawab orang yang baru saja bertempur melawan Kiai Badra.

“Dan kalian memang sedang memburunya?” bertanya Kiai Soka kemudian.

“Aku sudah menawarkan kesempatan untuk berbicara. Tetapi Gandar sama sekali

tidak menghiraukannya. Bahkan ia memaksa kami berdua untuk menyerah.”

Wajah Kiai Soka berkerut pada dahinya. Namun kemudian katanya, “Marilah. Kita

akan berbicara. Nampaknya persoalannya memang menjadi lebih rumit daripada yang

aku duga, sehingga aku masih sempat melihat pertarungan ilmu yang luar biasa.

“Aku tidak akan membiarkan dariku menjadi korban kelicikan keluarga Kalamerta,”

berkata Gandar. “Aku harus berhati-hati. Mereka mempergunakan segala cara untuk

mencapai maksudnya. Karena itu, maka syarat dari sebuah pembicaraan adalah

mereka harus menyerah dan meletakkan senjata mereka. Sikap menyerah itu akan

menjadi landasan dari satu usaha untuk menghindarkan diri dari langkah-langkah

licik-nya.”

Tiba-tiba salah seorang di antara para cantrik itu pun berteriak, “Kedua orang

itu akan membunuh kami seorang demi seorang sampai saatnya kami mengatakan

dimana Kiai dan Nyai berada.”

“Tidak,” berkata Kiai Soka, “Mereka tidak akan melakukannya.”

“Kiai,” Gandarlah yang menyahut. “Ketika aku mendekati halaman padepokan ini,

pertempuran antara keduanya dan para cantrik sudah terjadi. Cantrik itu tidak

sekadar mengada-ada.”

Kiai Soka mengangguk-angguk. Namun sebelum ia mengatakan sesuatu, maka Nyai

Sokalah yang berkata, “Memang ternyata yang harus kita bicarakan lebih banyak

dari yang kami duga. Tetapi marilah kita naik ke pendapa. Sebaiknya Gandar tidak

terlalu bercuriga terhadap kedua orang ini. Biarlah aku yang bertanggung jawab

bahwa keduanya tidak akan berbuat licik.”

Gandar menjadi semakin bingung melihat sikap kedua orang itu. Bahkan Kiai Badra

pun tidak segera mengerti persoalan yang dihadapinya.

Namun dalam pada itu, maka Kiai Badra pun kemudian berkata kepada Gandar,

“Marilah Gandar. Biarlah Kiai dan Nyai Soka mempertanggung jawabkan, apa yang

mungkin terjadi disini. Bahkan seandainya orang-orang ini menjadi licik.”

“Aku tidak dapat mempercayainya sama sekali Kiai,” jawab Gandar.

Kiai Badra menarik nafas dalam-dalam. Gandar tidak pernah membantahnya. Tetapi

saat itu, Gandar ternyata telah menunjukkan satu sikap yang lain.

“Kiai,” berkata Gandar. “Aku tidak akan dapat melupakan sikap seorang perempuan

yang dengan sangat licik berhasil mendapat tempat sebagai istri anak Ki Gede

Sembojan. Kemudian dengan licik pula mereka menyingkirkan Iswari. Dan terakhir

dengan sangat licik dan pengecut mereka telah membunuh Ki Gede. Bahkan mung-kin

salah seorang dari kedua orang inilah yang telah melakukannya.”

“Gila,” geram orang yang bertempur melawan Kiai Badra, “Apa sebenarnya yang kau

katakan itu? Jadi menurut dugaanmu Ki Gede Sembojan telah dibunuh oleh keluarga

Kalamerta?”

“Jangan berpura-pura. Bukankah kau memang sedang memburu Iswari yang ternyata

masih hidup?” potong Gandar.

Wajah orang itu menjadi merah. Tetapi dihadapannya berdiri Kiai Badra dan bahkan

telah hadir pula Kiai dan Nyai Soka. Karena itu maka ia harus menahan diri.

Namun demikian ia berkata, “Kau jangan asal saja dapat mengucap kata-kata. Kau

dapat saja menuduh seseorang sesuka hatimu. Tetapi sikapmu itu sangat

menyakitkan hati.”

“Aku tidak peduli apakah kau menjadi sakit hati atau tidak. Aku merasa hatiku

sudah disakiti oleh keluarga Kalamerta. Bahkan telah jatuh korban Ki Gede di

Sembojan dan seandainya tidak karena satu perlindungan dari Tuhan Yang Maha

Perkasa, maka Iswari pun telah menjadi makanan buaya kerdil. Bukan saja Iswari,

tetapi dengan anaknya yang waktu itu masih di dalam kandungan,” sahut Gandar.

Kiai Sokalah yang kemudian menengahi, “Baiklah. Ternyata memang ada masalah yang

sisip di antara kita. Tetapi apakah kepentingan kalian berdua dengan Iswari?

Seandainya kalian merasa bukan keluarga Kalamerta.”

Kedua orang itu termangu-mangu. Salah seorang kemudian berkata kepada Kiai dan

Nyai Soka, “Jadi beginikah sikapmu sekarang terhadap seorang sahabat?”

“Sebenarnya kami memang meragukan persahabatan kita,” jawab Nyai Soka. “Kau

pernah merasa bahwa ada persoalan di antara kita. Kau pernah mengatakan bahwa

pada satu saat kita akan bertemu lagi, tanpa memberikan kesempatan kepada kami

untuk memberikan penjelasan.”

“Tetapi bukankah kami tidak berbuat apa-apa selama ini?” bertanya salah seorang

dari kedua orang yang datang itu.

“Selama ini memang tidak. Tetapi beberapa hari yang lalu kau datang dengan

pertanda yang kau tinggalkan. Masih seperrti dahulu, sehingga kami telah

menghubungkan kedatangan kalian dengan persoalan yang pernah ada di antara

kita,” jawab Nyai Soka.

“Tetapi apakah menjadi kebiasaan Kiai dan Nyai Soka untuk meninggalkan tempatnya

jika seseorang ingin menemuinya dengan niat apapun juga?” bertanya salah seorang

dari kedua orang itu.

“Justru disini ada Iswari. Aku ingin menyingkirkan Iswari. Tetapi ternyata bahwa

kau sudah mengetahui bahwa Iswari ada disini. Sehingga justru karena itu, maka

timbul pertanyaan di dalam hati ini, kenapa kau tahu pasti tentang tempat

tinggal Iswari jika kau tidak berkepentingan sebagaimana dipertanyakan oleh

Gandar.”

“Baiklah,” berkata orang itu. “Jadi kita akan berbicara dengan cara ini? Bukan

cara seorang sahabat?”

“Kau akan memanfaatkan persahabatan untuk berbuat licik,” potong Gandar.

“Setan kau,” geram orang itu. “Kau memang terlalu kasar.”

“Ternyata bahwa aku merasa perlu untuk berbuat kasar terhadap keluarga

Kalamerta,” jawab Gandar.

Wajah orang itu menjadi semakin tegang. Dipandanginya Gandar dengan tatapan mata

yang tajam. Kemudian dengan suara bergetar orang itu berkata, “Beberapa kali kau

menyebut nama Kalamerta. Apa sebenarnya maksudmu dengan menyebut nama itu?”

“Kau akui bahwa kau adalah keluarganya?” bertanya Gandar.

“Gila. Aku memang pernah mendengar nama Kalamerta. Tetapi aku adalah orang-orang

dari perguruan yang berbeda,” orang itu hampir berteriak.

Gandar mengerutkan keningnya. Dipandanginya Kiai Badra sekilas.

Sementara itu Kiai Badra bergeser setapak sambil menarik nafas dalam-dalam.

Dengan suara datar ia berkata, “Mungkin memang ada yang sisip. Karena itu,

agaknya aku condong untuk mengekang segala prasangka buruk. Kita memang dapat

duduk sambil berbicara.”

Kiai dan Nyai Soka pun mengangguk-angguk. Dengan nada datar Kiai Soka pun

kemudian mempersilakan. “Marilah. Kita akan tetap saling menghormati.”

Gandar mengerutkan keningnya. Tetapi Kiai Badra telah mendahului, “Gandar. Kau

harus dapat mengendalikan dirimu sebagaimana kau lakukan selama ini.”

Gandar termangu-mangu. Namun terasa suara Kiai Badra tekanan yang tidak dapat

dielakkan oleh Gandar, sehingga karena itu, maka ia tidak menjawab sama sekali.

Demikianlah, maka akhirnya mereka pun telah naik ke pendapa. Mereka duduk di

atas tikar pandan yang sudah terbentang. Namun demikian masih nampak kedua belah

pihak tetap bersikap sangat hati-hati.

Untuk beberapa saat mereka hanya saling berdiam diri, sehingga suasana memang

menjadi tegang. Namun akhirnya Kiai Soka pun menyadari, bahwa ia adalah pemilik

padepokan itu, sehingga akhirnya ia adalah orang yang pertama bertanya kepada

kedua orang yang datang mencarinya itu, “Sebenarnya apakah yang kalian maksud

dengan kedatangan kalian? Apakah ada hubungannya dengan Iswari atau tidak?”

Orang yang lebih tua di antara kedua orang tamunya itu memandang orang-orang

yang ada di pendapa itu. Kemudian para cantrik yang masih berada di halaman.

“Agaknya kami memang telah salah langkah. Para cantrik itu mengira bahwa aku

benar-benar akan membunuh mereka,” berkata orang itu.

“Aku tahu, bahwa kau tidak akan melakukannya,” berkata Kiai Soka. Lalu, “Kau

melakukannya sekadar untuk memancing kehadirannya, karena kau yakin bahwa aku

ada di sekitar padepokan ini.”

“Ya. Tetapi yang datang ternyata bukan kau,” jawab orang itu. “Tetapi Kiai Badra

dan Gandar. Aku tidak dapat meyakinkan mereka bahwa kami harus berbicara untuk

mendapatkan saling pengertian.”

Kiai Badra menarik nafas dalam-dalam, sementara Gandar menjadi berdebar-debar.

Mulai terasa di hati Gandar satu hal yang lain pada kedua orang itu menilik

sikap Kiai Soka dan istrinya.

Dalam pada itu, Kiai Soka pun kemudian berkata, “Sikap mu memang meragukan. Kau

membuat semacam teka-teki yang sulit untuk ditebak tentang diri kalian berdua.”

“Kiai,” berkata orang yang lebih tua. “Aku memang pernah mengatakan tentang

dendamku kepada kalian suami istri. Hal ini bermula pada kematian orangtuaku

yang aku kira telah dibunuh oleh guru Kiai Soka. Tetapi kemudian aku menyadari,

bahwa dendam yang demikian itu tidak ada gunanya, sehingga aku pun telah

melepaskan dendam itu.”

Kiai Soka mengangguk-angguk. Lalu katanya, “Ki Sanak. Baiklah kau uraikan secara

lengkap, alasanmu datang kemari. Dan kenapa kalian berdua tahu pasti bahwa

Iswari ada di sini. Apakah hubungan kalian dengan Iswari.”

“Aku memang sudah mulai dengan tabakan dari teka-teki itu sendiri,” jawab orang

itu. Lalu katanya, “Dengarkanlah baik-baik. Aku datang tidak untuk membalas

dendam, karena sudah aku katakan bahwa aku telah melupakan peristiwa yang

terjadi itu. Namun tiba-tiba pada satu hari, seorang sahabat kami telah

meninggal dunia dengan cara yang tidak wajar. Bukan hanya seorang sahabat,

tetapi kami pernah menyadap ilmu yang sama, meskipun akhirnya kami harus

berpisah dan berguru kepada orang yang berbeda.”

“Maksudmu Ki Gede Sembojan?” bertanya Kiai Badra.

“Ya. Ki Gede telah dibunuh dengan licik,” sambung orang itu. “Sementara itu,

tidak seorang pun yang dapat menebak, siapa yang telah melakukannya. Aku semula

memang menghubungkan kematiannya dengan keluarga Kalamerta, karena Ki Gede

sendiri baru saja membunuh Kalamerta itu. Bukan saja karena Kalamerta adalah

seorang pemimpin dari segerombolan brandal yang ditakuti, tetapi di antara

Kalamerta dan Ki Gede memang terdapat persoalan pribadi.”

Kiai Soka mengangguk-angguk. Sementara itu Kiai Badra dan Gandar menjadi sangat

tertarik kepada ceritera itu.

“Kematian itu telah memanggil kami berdua untuk mencari bahan apakah

sebab-sebabnya,” berkata orang itu lebih lanjut. “Karena itu, maka kami berusaha

untuk mendapat keterangan. Adalah kebetulan sekali, seorang perempuan yang

pernah kami tundukkan dan kemudian tidak lagi menjadi seorang perampok tinggal

di Kademangan, dekat Tanah Perdikan Sembojan. Kepada perempuan itu kami berusaha

mencari keterangan. Tetapi perempuan itu juga tidak mengetahui apa yang

sebenarnya terjadi. Tetapi ia mengetahui bahwa sebelumnya telah terjadi sesuatu

dengan keluarga Ki Gede. Mungkin kematian Ki Gede ada hubungannya dengan

peristiwa yang terjadi sebelumnya.”

“Peristiwa yang mana yang dimaksudnya?” desak Gandar yang tidak sabar.

“Peristiwa yang tentu kau ketahui dengan jelas. Hilangnya menantu Ki Gede,”

berkata orang itu. “Perempuan itu tahu pasti, bahwa menantu Ki Gede yang

dianggap sudah mati itu masih hidup, karena ia tidak melakukan kewajibannya

dengan baik sebagaimana seharusnya.”

“Perempuan yang kau maksud itu bernama atau mendapat sebutan Serigala Betina?”

berkata Gandar.

“Ya,” jawab orang itu. “Aku mengenalnya dengan baik. Ia pun bersikap sangat baik

terhadap kami, karena kami tidak membunuhnya ketika kami berhasil menangkapnya.

Perempuan itulah yang berbicara tentang Iswari. Ia dapat juga mengatakan bahwa

perempuan itu berasal dari sebuah padepokan kecil, sebagaimana diketahui oleh

semua orang Sembojan.

“Tetapi bukankah perempuan itu tahu pasti, siapakah yang telah memerintahkan

untuk membunuh Iswari,” berkata Gandar dengan nada tinggi.

“Ya. Tetapi selebihnya perempuan itu tidak dapat mengatakan apa-apa,” jawab

orang itu. “Juga tentang kematian Ki Gede, karena tidak mungkin Wiradana

melakukan pembunuhan terhadap ayahnya sendiri, meskipun ia dapat membayar orang

lain, sebagaimana dilakukan terhadap istrinya.”

“Lalu, apa yang kalian lakukan kemudian?” bertanya Ki Soka.

“Aku ingin berbicara dengan Iswari. Mungkin ia dapat membantu mengungkapkan

kematian Ki Gede. Karena itulah maka aku telah mencari Iswari sebagaimana

dikatakan oleh Serigala Betina itu,” jawab orang itu. “Tetapi kedatanganku

terlambat. Iswari sudah tidak berada di padepokannya. Dengan telaten aku mencari

keterangan. Ternyata usaha itu tidak semudah yang aku duga. Namun akhirnya aku

tahu, bahwa Iswari ada disini. Di tempat yang sudah aku kenal sebelumnya. Karena

itulah, maka aku telah menyatakan diriku untuk datang pada malam ini.”

Kiai dan Nyai Soka menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Kau telah mengambil cara

yang salah untuk menghubungi aku. Yang terpikir oleh kami adalah justru dendammu

yang ingin kau tumpahkan kepadaku, meskipun aku juga merasa heran, bahwa hal itu

baru akan kau lakukan setelah sedemikian lamanya. Karena disini ada Iswari, maka

aku telah berusaha menyingkirkan Iswari. Bukan karena apa-apa tetapi sekadar

untuk menghindarkannya dari kemungkinan-kemungkinan buruk, karena aku belum tahu

bahwa kalian ingin bertemu dengan cucuku itu.”

“Aku hanya ingin mencari bahan saja,” berkata orang itu.

“Dan kenapa kau tidak berterus terang tanpa membuat jantung ini berdebar-debar?”

bertanya Nyai Soka.

“Mungkin itu adalah kesalahanku. Aku ingin bermain-main dengan sedikit kasar,”

jawab orang itu. “Tetapi akibatnya ternyata teramat buruk bagi kami.”

Kiai Badra menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Kami minta maaf. Tetapi yang

kalian lakukan memang mendebarkan. Apalagi ketika kami mendengar keluh para

cantrik, bahwa kalian ingin membunuh mereka semua.”

“Kami tidak bermaksud demikian,” berkata orang yang lebih tua. “Seperti yang

dikatakan oleh Kiai Soka, aku hanya memancingnya untuk datang, karena aku yakin

bahwa ia memang tidak akan jauh dari padepokan ini.”

“Syukurlah, bahwa belum terjadi sesuatu atas kita semuanya,” berkata Kiai Soka

kemudian. “Agaknya kita benar-benar telah terjebak oleh kesalahpahaman.”

Kedua orang itu tidak menyahut. Tetapi seperti yang dikatakannya, maka mereka

pun juga merasa bersalah. Karena itu, maka orang yang lebih tua itu pun akhirnya

berkata, “Kami ternyata juga harus minta maaf.

Cara kami memang agak kasar. Namun ternyata kekasaran kami hampir saja

mencelakai kami berdua. Ternyata bahwa kami telah bertemu dengan kekuatan yang

luar biasa yang tidak dapat kami atasi.”

“Memang luar biasa,” sahut Kiai Soka sambil tersenyum. “Kiai Badra dan Gandar

yang selama ini sudah tidak pernah menyentuh senjatanya pun masih tetap

orang-orang yang tanpa tanding. Sementara itu, kalian bersaudara juga mengalami

kemajuan yang sangat pesat.”

“Ternyata yang kami miliki tidak berarti apa-apa. Jika Kiai Badra dan Gandar

hampir saja dapat membunuh kami, dan hal itu tidak mustahil dilakukannya jika

pertempuran ini tidak dihentikan maka Kiai dan Nyai Soka pun tentu akan dapat

melakukannya pula,” berkata orang itu.

“Tentu tidak,” jawab Nyai Soka. “Kami adalah orang-orang padepokan yang hanya

tahu bertani. Kami tidak memiliki ilmu sebagaimana kau duga.”

“Kenapa kalian masih harus menyembunyikan kenyataan yang ada pada diri kita?

Bukankah kita pernah bersahabat dan bukankah kita tahu keadaan kita

masing-masing? Memang aku mendapatkan beberapa kemajuan yang sangat kecil

dibandingkan dengan perjalanan waktu yang demikian panjang. Tetapi tidak dengan

Kiai dan Nyai Soka,” berkata orang yang lebih tua itu.

“Sama sekali tidak,” jawab Nyai Soka. “Tetapi baiklah kita tidak mempersoalkan

tentang kemajuan kita masing-masing. Jika malam ini kakang Badra tidak datang

bersama Gandar, mungkin kita memang berkesempatan menilai kemampuan kita. Tetapi

baiklah. Kita tidak perlu melakukannya. Mungkin kita justru akan berbicara

tentang Ki Gede Sembojan yang terbunuh itu.”

“Ya,” jawab orang itu pula. “Agaknya aku pun sependapat, bahwa pembunuhan itu

dilakukan oleh salah seorang keluarga Kalamerta.”

Gandar mengerutkan keningnya. Ia tahu lebih banyak tentang hal itu. Ia melihat

perempuan yang menjadi istri Wiradana itu mempunyai ciri Kalamerta. Dan ia pun

semakin yakin, bahwa yang membunuh Ki Gede itu pun tentu dari lingkungannya

pula. Bahkan Gandar pun sudah memikirkan satu kemungkinan, bahwa istri Wiradana

itu sendirilah yang telah melakukannya.

Tetapi Gandar tidak mengatakannya. Ia masih belum yakin terhadap kedua orang

itu. Apakah benar mereka bukan orang-orang yang pada satu saat justru akan

menghalangi langkah-langkah yang akan diambilnya untuk menempatkan anak Iswari

itu ke tempat yang seharusnya. Bukan karena kedudukan itu sendiri, tetapi anak

itu tidak boleh menjadi korban kebiadaban orang lain yang bukan saja akan dapat

menghancurkan seseorang, tetapi juga seluruh Tanah Perdikan Sembojan.

Dalam pada itu, Kiai Soka pun telah menemui para cantrik dan memberikan beberapa

penjelasan kepada mereka. Karena itulah maka para cantrik itu pun menarik nafas

dalam-dalam. Salah seorang di antara mereka berdesis,” Satu permainan yang

berbahaya. Untunglah belum terjadi sesuatu.”

“Ya,” jawab Kiai Badra, “Mereka sudah menyatakan bersalah karena permainan

mereka yang kasar itu.”

Para cantrik itu pun kemudian dengan hati yang lapang meninggalkan halaman depan

dan pergi ke barak masing-masing. Namun ada di antara mereka yang langsung pergi

ke dapur untuk menyiapkan hidangan bagi tamu-tamu mereka yang berada di pendapa.

Dalam pada itu, maka Kiai dan Nyai Soka pun memutuskan di ke esokan harinya

untuk mengambil Iswari, karena ternyata kedua orang tamu-nya tidak bermaksud

jahat. Mereka tidak datang membawa dendam di hati mereka.

Kiai dan Nyai Soka kemudian memperkenalkan kedua tamu itu sebagai dua orang

kakak beradik dalam perguruan yang dikenal dengan Sepasang Elang dari Perguruan

Guntur Geni.

“Yang tua bernama Sambi Wulung dan yang muda bernama Jati Wulung,” berkata Kiai

Soka kemudian kepada Kiai Badra dan Gandar.

Kiai Badra tersenyum. Katanya, “Aku memang pernah mendengar perguruan yang

disebut Guntur Geni. Tetapi agaknya baru sekarang aku dapat mengenal salah satu

bagian dari perguruan itu.”

“Ah,” desis orang yang disebut bernama Sambi Wulung, “Ternyata dihadapan Kiai

perguruan yang selama ini kami banggakan itu tidak berarti apa-apa. Sepeninggal

guru maka kami berdua adalah orang-orang tertua di perguruan. Tetapi di hadapan

Kiai Badra dan Gandar, kami tidak lebih dari anak-anak kecil ya ng terlalu

berbangga diri dengan kemampuan yang tidak berarti apa-apa.”

“Bukan begitu,” berkata Kiai Badra. “Pada satu saat maka kalian akan dapat

mengembangkan ilmu kalian, sehingga perguruan Guntur Geni akan menjadi perguruan

yang jadi lebih besar dari padepokan kecil ini.”

Tetapi kedua orang itu tersenyum. Yang tua berkata, “Apapun yang aku lakukan,

aku tidak dapat menyamai tingkat kemampuan padepokan ini. Sebenarnyalah

permainan kami hampir saja menimbulkan malapetaka itu sekadar satu keinginan

untuk mengetahui tingkat kemampuan kita yang sudah lama terpisah. Namun ternyata

bahwa kami harus mengakui, bahwa kami telah ketinggalan jauh dari kalian.”

“Ah,” jawab Kiai Soka, “Yang kemudian kalian jajaki bukan kemampuan kami, tetapi

kemampuan Kiai Badra dan Gandar. Sedangkan kami berdua bukan pula tataran

mereka.”

“Sudahlah,” berkata Kiai Badra. “Besok aku akan ikut mengambil Iswari. Aku sudah

rindu kepada cicitku itu.”

Namun dalam pada itu, Gandar pun berkata, “Tetapi aku kira Iswari juga tidak

akan dapat memberikan bahan apapun juga tentang kematian Ki Gede. Ia sudah tidak

lagi berada di Tanah Perdikan pada saat itu. Selebihnya, ia memang tidak tahu

apa-apa. Ia tidak melihat tanda-tanda yang akan menyangkut dirinya sendiri. Ia

sama sekali tidak menduga bahwa suaminya akan sampai hati berbuat demikian.

Untunglah bahwa perempuan yang disebut Serigala Betina itu tidak melakukan

tugasnya dengan sungguh-sungguh.”

Kedua orang dari perguruan Guntur Geni itu mengangguk-angguk. Mereka mengerti,

bahwa Iswari memang tidak tahu apa-apa tentang kematian Ki Gede Sembojan.

Meskipun demikian kedua orang itu memang ingin bertemu dengan Iswari. Meskipun

keduanya tidak yakin akan mendapatkan sesuatu dari perempuan itu, namun

rasa-rasanya keinginan itu tidak dapat dielakkannya lagi.

“Kami justru merasa sangat iba kepadanya,” berkata Sambi Wulung. “Ketika itu

menurut Serigala Betina itu, Iswari sedang mengandung.”

“Ya. Dan anak itu sekarang sudah lahir, sehat dan tumbuh dengan cepat,” jawab

Nyai Soka.

Dalam pada itu, ketika di hari berikutnya sekelompok kecil penghuni padepokan

Kiai dan Nyai Soka pergi menjemput Iswari, maka di Tanah Perdikan Sembojan,

Wiradana benar-benar telah memegang kekuasaan mutlak di Tanah Perdikan itu. Ia

telah memerintah sebagaimana ayahnya meskipun ia belum di wisuda. Tetapi setiap

orang tidak mempersoalkannya, karena memang satu-satunya pewaris kekuasaan di

Tanah Perdikan itu.

Tetapi sejak hari-hari pertama, Wiradana memegang kekuasaan, sudah terasa oleh

orang-orang Tanah Perdikan Sembojan, bahwa sentuhan tangannya berbeda dengan

tangan Ki Gede yang telah terbunuh dengan licik itu. Wiradana ternyata mempunyai

sikap yang kadang-kadang dapat menyinggung perasaan orang-orang tua di Tanah

Perdikan itu. Meskipun Wiradana tidak dengan serta merta mengadakan

perubahan-perubahan di dalam pemerintahannya atas Tanah Perdikan Sembojan, namun

ia lebih banyak berkiblat kepada dirinya, kepada akunya. Sehingga dengan

demikian terasa bahwa langkah-langkah yang diambilnya kadang-kadang tidak dapat

dimengerti oleh rakyat Tanah Perdikan Sembojan sendiri.

Meskipun demikian orang-orang tua dan para bebahu Tanah Perdikan itu berusaha

untuk mengerti. Wiradana masih muda dan mempunyai kemauan yang bergejolak di

dalam dadanya. Dengan demikian maka langkahnya yang menghentak-hentak itu adalah

pertanda dari gejolak di dalam dadanya.

“Jika kemudian ia mampu mengetrapkan di dalam tugas-tugas yang dipikulnya maka

ia justru akan menjadi seorang pemimpin yang baik. Tanah Perdikan ini akan

mendidih dengan kerja dan pikiran-pikiran baru yang akan mampu meningkatkan

kesejahteraan rakyat,” berkata orang-orang tua itu yang satu dengan yang lain.

Sementara orang-orang tua mengamati dan menilai tingkah laku Wiradana dengan

cermat, maka datanglah keputusan Wiradana untuk segera mengawini seorang

perempuan untuk menggantikan istrinya yang hilang dan tidak dapat diketemukan

lagi.

“Kita semua sudah berusaha. Bahkan ayah telah menjadi korban pula dari usaha

pencaharian itu. Namun usaha itu ternyata sia-sia saja,” berkata Wiradana kepada

orang-orang tua yang dipanggilnya datang ke rumahnya.

“Sejak semula kami tidak merasa berkeberatan,” jawab salah seorang di antara

mereka. “Ki Wiradana masih muda. Apalagi dengan tugas-tugas yang berat, maka Ki

Wiradana memang memerlukan seorang pendamping yang pantas bagi tugas-tugasnya

itu. Tetapi apakah Ki Wiradana bersedia mengatakan siapakah perempuan yang ingin

kau ambil menjadi istrimu itu?”

Wiradana merenung. Tetapi kemudian kata-nya, “Aku akan menyebutnya kemudian.”

Orang-orang itu tidak mendesaknya. Mereka akan menunggu sampai saatnya Ki

Wiradana mengatakan atas kemauannya sendiri.

Dalam pada itu, berita tentang hilangnya Iswari, istri anak Kepala Tanah

Perdikan Sembojan dan kemudian terbunuhnya Ki Gede Sembo-jan telah terdengar

sampai ke daerah-daerah disekitar Tanah Perdikan itu, bahkan sampai ke tempat

yang jauh. Laporan yang resmi pun telah disampaikan pula kepada Adipati Pajang,

sehingga dengan demikian Pajang akan dapat mempertimbangkan kemungkinan untuk

dengan segera menetapkan penggantinya. Sudah barang tentu satu-satunya anak

laki-laki Ki Gede Sembojan.

Selain Pajang, para Demang dan para pemimpin pemerintahan di daerah di sekitar

Tanah Perdikan Sembojan, maka keluarga Warsi pun telah mendengar pula akan hal

itu. Karena itu, maka mereka pun merasa bahwa tugas yang dibebankan keluarga

Kalamerta kepada Warsi telah diselesaikannya dengan baik.

“Ki Gede Sembojan sudah terbunuh,” berkata ayah Warsi kepada para pengikutnya.

“Dengan demikian maka dendam sudah terbalas. Persoalan Warsi kemudian adalah

persoalan sendiri.”

Para pengikutnya pun sependapat dengan sikap ayah Warsi. Namun orang yang pernah

menjadi pengendang di saat menjadi penari keliling dan yang disebutnya sebagai

ayahnya kemudian berkata, “Tetapi bagaimana pun juga, ada keinginanku untuk

menemuinya.”

“Kau akan dapat mengganggunya dan menimbulkan persoalan baru bagi anak itu,”

berkata ayah Warsi.

Namun orang itu menggeleng. Katanya, “Ingat. Aku adalah ayahnya di Tanah

Perdikan Sembojan.”

Ayah Warsi mengerutkan keningnya. Namun kemudian katanya, “Meskipun demikian,

berhati-hatilah. Banyak persoalan yang mungkin akan menyulitkannya.”

“Aku sudah mengenal Tanah Perdikan itu dengan baik,” jawab orang itu.

Karena itulah, maka ayah Warsi pun kemudian tidak berkeberatan memberikan

kesempatan kepada orang itu untuk pergi ke Tanah Perdikan Sembojan.

Orang itu sama sekali tidak menunggu terlalu lama. Demikian ia mendapat

persetujuan, maka di keesokan harinya ia sudah meninggalkan padukuhannya untuk

pergi ke sebuah padukuhan yang terletak di luar Tanah Perdikan Sembojan, tetapi

tidak terlalu jauh dari perbatasan.

Kedatangan orang itu memang mengejutkan Warsi. Tetapi Warsi sama sekali tidak

berkeberatan menerimanya, justru sebagai ayahnya.

Dari Warsi orang itu mendapat keterangan selengkapnya apa yang telah terjadi di

Tanah Perdikan Sembojan. Bagaimana Wiradana mengupah seseorang untuk membunuh

istrinya yang bernama Iswari. Dan bagaimana Ki Gede Sembo-jan itu telah

dibunuhnya.

“Kau memang luar biasa Warsi,” berkata bekas pengendangnya itu. “Sebenarnyalah

bahwa aku tidak mengerti bagaimana kau dapat melakukannya.”

“Kau memang dungu,” jawab Warsi. “Kau tidak akan dapat mengerti apapun juga.

Apalagi persoalan-persoalan yang rumit. Persoalan perutmu sendiri pun, kau tidak

dapat menyelesaikannya.”

Orang itu tertawa. Katanya, “Tidak sia-sia aku mempuyai seorang anak perempuan

seperti kau ini, dan tidak sia-sia pula aku membesarkanmu.”

“Aku tampar mulutmu,” geram Warsi. “Kau kira kau pantas menjadi ayahku.”

“Bukankah menurut pengertian Wiradana kau adalah anakku?” bertanya orang itu.

“Atau kau ingin aku mengatakan kepadanya, bahwa aku memang bukan ayahmu?”

“Apakah kau sudah jemu hidup? Kau kira aku tidak berani membunuhmu?” bertanya

Warsi.

Wajah orang itu menegang. Tetapi ia kenal Warsi, sehingga karena itu, maka ia

pun tersenyum betapapun masamnya. Katanya, “Kau harus mengakui, bahwa aku sudah

membantumu.”

“AKU tidak pernah ingkar,” berkata Warsi. “Tetapi itu bukan berarti bahwa

seseorang tidak akan pernah membunuh orang-orang yang berjasa kepadanya.”

Orang itu mengumpat di dalam hati. Tetapi ia tidak menjawab.

Namun dalam pada itu Warsilah yang kemudian tersenyum. Sambil menepuk bahu orang

itu ia berkata, “Jangan marah ayah. Kali ini aku hanya bergurau. Sebentar lagi

aku akan mendapatkan apa yang aku inginkan sepenuhnya. Aku akan dibawa oleh

Wiradana ke rumahnya yang sudah kosong itu. Istrinya sudah mati dan ayahnya pun

telah mati pula.”

Orang itu termangu-mangu. Namun ia pun kemudian ikut pula tertawa sebagaimana

Warsi yang tertawa berkepanjangan.

Ternyata kedatangan orang itu yang diakuinya sebagai ayah Warsi itu merupakan

suatu hal yang menggembirakan bagi Wiradana. Ketika ia datang ke rumah yang

dihuni oleh Warsi, dan menjumpai laki-laki itu, maka tiba-tiba ia berkata, “Satu

kebetulan bahwa ayah telah datang.”

Orang yang menempatkan dirinya sebagai ayah Warsi itu pun mengerutkan keningnya.

Kemudian ia pun bertanya, “Kenapa? Rasa-rasanya aku memang sudah menjadi rindu

kepada anakku. Bukankah sepeninggalanku kalian selalu selamat dan baik?”

“Ya ayah,” jawab Wiradana kepada orang yang dirasanya adalah ayah mertuanya,

“Doa restu ayah telah membuat hari-hari depan kami menjadi semakin baik.”

“Syukurlah,” jawab orang itu. “Sebagai orang tua, tidak ada harapan lain dari

padanya, kecuali kebahagiaan anak-anaknya.”

“Terima kasih ayah,” sahut Wiradana.

Namun dalam pada itu, Warsi mengumpat. Dipandanginya bekas pengendangnya itu

sekilas. Rasa-rasanya ia ingin menyumbat mulut laki-laki tua itu dengan

terompahnya.

Sementara itu Wiradana berkata selanjutnya, “Ayah, kedatangan ayah ternyata

benar-benar pada satu saat yang sangat aku perlukan.”

Wajah orang tua itu menegang sejenak. Namun ia tidak menyahut sama sekali,

sementara Wiradana berkata pula. “Segala kesulitan yang menyekat hubunganku

dengan Warsi sebagai suami istri telah dapat aku singkirkan. Karena itu, maka

akan segera datang saatnya, Warsi dan aku bawa kembali ke rumahku, rumah Kepala

Tanah Perdikan Sembojan.”

“O,” orang itu mengangguk-angguk, sementara Warsi pun ikut mendengarkan dengan

hati yang berdebar-debar, karena Wiradana memang belum pernah mengatakan rencana

itu kepadanya secara terperinci.

Wiradana pun kemudian menceriterakan segala sesuatu tentang rencananya untuk

membawa Warsi ke rumahnya. Tetapi supaya tidak ada kesan yang dapat menuntun

pendapat seseorang bahwa ada hubungan antara kematian Iswari dan apalagi Ki Gede

dengan Warsi, maka ia akan mengulangi upacara perkawinannya dengan Warsi,

seakan-akan sebelumnya memang belum pernah terjadi.

“Aku memang memerlukan kehadiran ayah,” berkata Wiradana.

Orang itu menarik nafas dalam-dalam. Lalu katanya, “Segalanya terserah kepadamu

ngger. Aku, orang tua menurut saja yang mana yang paling baik bagi kalian.”

Wiradana berpaling ke arah Warsi yang duduk dengan wajah yang tegang. Namun

dengan cepat ia menguasai perasaannya dan segera wajah itu ditundukkannya.

“Warsi,” desis Wiradana. “Bagaimana pendapatmu?”

Perlahan-lahan Warsi mengangkat wajahnya. Benar-benar satu permainan yang sangat

mengagumkan bagi laki-laki yang pernah menjadi pengendangnya dan yang kemudian

disambutnya sebagai ayahnya itu.

Dengan suara lirih lembut Warsi berdesis, “Segala sesuatunya terserah kepadamu

kakang.”

“Semuanya telah aku perhitungkan masak-masak. Mungkin kita harus berpura-pura.

Tetapi segalanya kita lakukan bagi hari depan kita,” jawab Wiradana.

Laki-laki yang disebut orang tua Warsi itu mengangguk-angguk. Kepada Warsi ia

berkata, “Tentu angger Wiradana tidak akan salah langkah. Agaknya kau telah

melakukan sesuatu yang benar, bahwa segalanya terserah kepada angger Wiradana.”

“Ya ayah,” jawab Warsi sambil menunduk.

“Nah, jika demikian, maka kami tinggal menunggu segala perintah angger dalam hal

ini,” berkata orang tua itu.

“Mumpung ayah ada disini, maka segala sesuatunya akan aku lakukan dengan segera.

Aku akan berbicara dengan orang-orang tua di Tanah Perdikan ini, agar mereka

mempersiapkan hari perkawinanku.

Sudah barang tentu, sebelum hari perkawinan itu berlangsung maka Warsi akan

tinggal disalah seorang keluarga yang akan aku tunjuk kemudian,” berkata

Wiradana yang sudah mulai mereka-reka, apa yang akan dikatakannya kepada

orang-orang tua di Tanah Perdikan Sembojan.

Namun dalam pada itu, ada juga sesuatu yang membuat jantung Wiradana

berdebar-debar. Semua orang Tanah Perdikan Sembojan mengetahui bahwa Warsi

adalah seorang penari jalanan. Agak berbeda dengan Iswari, seorang gadis

padepokan yang ternyata memiliki kecakapan melampaui gadis Tanah Perdikan

Sembojan sendiri.

Memang rasa-rasanya Wiradana agak segan untuk menyebut perempuan yang akan

dijadikannya istrinya menggantikan Iswari. Tetapi mau tidak mau, pada suatu

saat, semua orang akan mengetahuinya juga.

“Aku tidak peduli,” berkata Wiradana di dalam hatinya. “Tidak ada orang yang

dapat menentang aku. Aku adalah Kepala Tanah Perdikan yang besar. Bahkan tidak

akan ada seorang pun yang mampu melawan aku.”

Dengan demikian maka Wiradana telah bertekad untuk dengan segera melaksanakan

hari perkawinannya. ia akan menunjuk seseorang yang akan mewakili ayahnya dalam

upacara melamar Warsi yang dianggap belum pernah menjadi istrinya itu.

Wiradana memang tidak akan berahasia lagi, meskipun sebelumnya sudah beberapa

kali ia mengelak untuk menyebut, siapakah bakal istrinya itu.

Karena itu, maka di hari berikutnya, Wiradana benar-benar telah memanggil

beberapa orang tua. Meskipun dengan hati yang berat dan keringat yang membasahi

pakaiannya, akhirnya Wiradana berkata, “Aku akan minta salah seorang dari kalian

untuk mewakil orang tuaku melamar gadis yang akan aku jadikan istriku.”

Orang-orang tua itu mengangguk-angguk. Tidak seorang pun yang akan merasa

berkeberatan. Meskipun kadang-kadang mereka mempertanyakan sifat Wiradana yang

berbeda dengan sifat ayahnya, namun mereka merasa berkewajiban untuk membantu

anak muda itu, agar dengan demikian, maka ia akan dapat menemukan ketenangan di

dalam tugas-tugasnya.

“Jika Wiradana sudah kawin, mungkin ia akan berubah. Ia akan benar-benar menjadi

seorang Kepala Tanah Perdikan. Bukan hanya sekadar seseorang yang mencari

kesenangannya sendiri saja,” berkata orang-orang tua itu di dalam hatinya.

Tetapi orang-orang tua itu tidak segera bertanya kepada Wiradana, gadis manakah

yang akan diambilnya menjadi istrinya, karena beberapa kali hal itu

dipertanyakan, Wiradana selalu mengelak.

“Biarlah ia menyebut sendiri siapakah perempuan yang dikehendakinya itu.”

Wiradana pun untuk beberapa saat berdiam diri. Sebenarnya ia menunggu seseorang

akan bertanya tentang perempuan yang dikehendakinya. Tetapi ternyata tidak

seorang pun yang melakukannya. Bahkan orang-orang tua itu telah menundukkan

kepala, seolah-olah mereka sedang memalingkan wajah-wajah mereka setelah mereka

melihat Warsi, penari jalanan itu.

“Orang-orang gila,” geram Wiradana di dalam hatinya. “Apakah mereka sudah

mengetahui rahasiaku bersama Warsi?”

Namun sekali lagi ia mencari kekuatan atas keinginannya itu dan bersandar kepada

kekuasaannya. Karena itu, maka sejenak kemudian ia pun bertanya, “Kenapa kalian

diam saja? Apakah kalian telah mengetahui gadis yang akan aku jadikan istriku

itu?”

Orang-orang tua itu termangu-mangu. Tetapi seorang di antara mereka menjawab,

“Sudah beberapa kali kami menanyakan siapakah gadis yang akan kau ambil menjadi

istrimu itu. Tetapi kau tidak pernah memberikan jawabannya. Kau minta kami

menunggu pada suatu saat, sehingga karena itu, maka kami tidak merasa perlu

untuk bertanya tentang hal itu kepadamu.”

“Cukup,” tiba-tiba Wiradana membentak oleh dorongan kegelisahan di dalam

hatinya.

Orang-orang tua itu terkejut. Mereka tidak terbiasa dibentak seperti itu oleh Ki

Gede Sembojan yang terbunuh itu. Meskipun kemudian mereka mengenali beberapa

perbedaan sifat antara Ki Gede dan anak laki-lakinya tetapi orang-orang tua itu

mengira, bahwa Wiradana tidak akan berbuat sekasar itu.

Tetapi orang-orang tua itu tidak berbuat apa-apa. Mereka menyadari, bahwa jika

mereka salah langkah, maka Wiradana akan menjadi semakin marah. Sedangkan mereka

tahu, bahwa Wiradana adalah seorang anak muda yang memiliki ilmu yang tinggi.

Wiradana yang melihat orang-orang itu terdiam mematung ternyata telah menilai

sikap itu dengan sudut pandang yang buram. Wiradana menganggap bahwa orang-orang

tua itu benar-benar menjadi ketakutan kepadanya, sehingga ia akan dapat

bertindak lebih leluasa lagi.

Karena itulah, maka Wiradana pun menjadi lebih mantap untuk mengatakan

maksudnya, bahwa ia akan mengambil Warsi untuk dijadikan istrinya, siapapun

orang yang bernama Warsi itu.

Meskipun demikian ada juga semacam keragu-raguan yang menahannya, sehingga

keringatnya benar-benar bagaikan terperas dari tubuhnya.

Tetapi akhirnya ia berkata juga, “Para tetua di Tanah Perdikan ini. Aku

memerlukan restu kalian selain aku akan menunjuk salah seorang di antara kalian

untuk mewakili orangtuaku. Pada saat yang sudah ditentukan, aku akan membawa

gadis yang akan menjadi istriku itu kemari dan menitipkannya kepada seseorang di

padukuhan ini. Kemudian orang yang mewakili orangtuaku akan datang dan diterima

oleh ayah gadis itu. Selanjutnya aku akan segera melakukan perkawinan.

Selambat-lambatnya dua pekan mendatang.”

“Dua pekan?” hampir berbarengan beberapa orang bertanya.

“Ya, dua pekan. Kenapa?” bertanya Wiradana kepada orang-orang yang keheranan

itu.

Untuk sesaat orang-orang tua itu terdiam. Namun kemudian seorang di antara

mereka bertanya, “Hanya dalam waktu yang sangat singkat, Ki Wiradana akan

melangsungkan perkawinan? Biasanya kami mempersiapkan saat-saat seperti itu

dengan tenggang waktu yang cukup panjang. Mungkin setahun, mungkin enam bulan.

Tetapi tidak akan lebih dekat dari tiga bulan.”

“Aku tidak peduli,” jawab Wiradana. “Aku ingin dalam waktu dua pekan, semuanya

sudah dapat dilaksanakan. Aku ingin kawin dengan upacara yang tidak kalah

baiknya dengan saat aku kawin dengan Iswari.”

“Tetapi waktu untuk mempersiapkan hal itu sangat pendek,” berkata salah seorang

di antara orang-orang tua itu.

“Aku tidak tahu apakah waktu untuk persiapan kurang atau tidak. Tetapi aku ingin

semuanya terlaksana dengan baik. Apapun yang harus kalian lakukan, lakukanlah

agar keinginanku tersebut dapat terwujud,” berkata Wiradana.

Wajah orang-orang tua itu menjadi tegang. Namun ketegangan itu memuncak ketika

Wiradana berkata, “Aku tidak mau mendengar alasan apapun juga, sehingga hal

tersebut tidak dapat dilaksanakan. Semua harus terjadi sebagaimana diinginkan

oleh Kepala Tanah Perdikan ini. Meskipun aku belum diwisuda, tetapi aku sudah

melaksanakan tugas ini.”

Namun justru dengan demikian tidak ada seorang pun yang menjawab. Justru dalam

ketegangan semua orang telah digetarkan oleh gejolak di dalam dada

masing-masing.

Orang-orang tua yang semula merasa sama sekali tidak berkeberatan untuk ditunjuk

menjadi wakil orang tua Wiradana itu pun menjadi ragu-ragu. Bahkan beberapa

orang di antara mereka berharap bahwa bukan merekalah yang sebaiknya datang

melamar perempuan yang masih belum mereka ketahui itu.

Karena tidak ada seorang pun yang menjawab, maka Wiradana itu pun berkata, “Aku

minta agar kalian bersiap-siap sejak sekarang. Besok aku akan membawa gadis yang

akan menjadi istriku itu kemari. Aku minta agar baginya disediakan tempat untuk

sementara menjelang hari perkawinan.”

Tak ada lagi gairah untuk membicarakan masalah itu. Namun demikian seorang tua

yang masih mampu mengendalikan perasaannya bertanya, “Dimanakah perempuan itu

akan dititipkan Wiradana?”

Wiradana mengerutkan keningnya. Kemudian ia pun berkata, “Rumah siapakah yang

paling pantas untuk menitipkan calon istriku itu? Rumah yang cukup baik tetapi

tidak jauh dari rumahku ini.”

“Rumah sebelah,” jawab orang tua itu. “Bukankah rumah sebelah cukup besar.”

Wiradana mengangguk-angguk. Katanya, “Ya. Rumah sebelah. Aku nanti akan datang

ke rumah sebelah untuk meminjamnya selama-lamanya dua pekan, karena dalam dua

pekan ini segala persiapan sudah selesai bagaimanapun caranya.”

“Tetapi,” orang tua itu pun memberanikan diri. “Apakah kau masih belum bersedia

menyebut, siapakah perempuan itu.”

“Besok aku akan membawa perempuan itu ke rumah sebelah. Pada malam harinya,

seorang gadis yang akan aku tunjuk akan datang melamarnya. Nah, dengan demikian,

maka kalian akan mengetahui, siapakah perempuan itu. “Ternyata Wiradana masih

ragu-ragu juga untuk menyebutnya.

Orang tua yang memberanikan diri untuk bertanya itu terdiam. Wiradana masih

belum menyebut namanya. Tetapi dalam waktu yang dekat, mereka akhirnya akan

mengetahui juga.

Pada pertemuan itu, ternyata Wiradana telah membagi pekerjaan di antara

orang-orang tua itu. Namun kemudian katanya, “Terserah kepada kalian untuk

menunjuk anak-anak muda yang akan membantu kalian di dalam tugas kalian

masing-masing.”

Orang-orang tua itu termangu-mangu. Tetapi mereka tidak dapat membantah.

Bagaimanapun juga, mereka harus berusaha, agar perkawinan Wiradana itu dapat

berlangsung sebagaimana dikehendaki. Dua pekan mendatang.

Ketika kemudian pertemuan itu berakhir, maka Wiradana pun masih juga berpesan,

“Aku tidak mau mendengar keberatan apapun juga dalam pelaksanaan hari perkawinan

ini. Jangan mengada-ada. Sedangkan keramaian yang akan berlangsung harus

seimbang dengan yang pernah terjadi, saat aku kawin dengan Iswari.”

Beberapa orang tua yang meninggalkan rumah Wiradana itu pun tidak habis-habisnya

membicarakan sikap Wiradana yang kurang mereka mengerti. Tetapi mereka harus

melakukan sebagaimana dikehendakinya.

“Apaboleh buat,” desis seseorang. “Kita harus bekerja keras. Jika kita

mengecewakan anak muda itu, maka akibatnya akan sangat pahit bagi Tanah Perdikan

ini. Mungkin Wiradana yang kecewa itu akan berbuat apa saja menurut kehendaknya

sendiri.

Karena kita dianggapnya tidak mau membantunya dalam saat perkawinannya, maka ia

pun akan memperlakukan Tanah Perdikan ini sedemikian pula. Tanah Perdikan ini

bukannya merupakan asuhan yang harus dipertanggungjawabkan, tetapi saingan yang

harus ditundukkannya.”

Yang lain mengangguk-angguk. Tetapi mereka sependapat, bahwa mereka harus

bekerja keras, melaksanakan keramaian sebagaimana dikehendaki oleh Ki Wiradana.

“Tetapi aku menjadi penasaran. Besok aku akan menunggu Ki Wiradana membawa

perempuan yang akan dititipkan di rumah Ki Padma. Siapakah sebenarnya perempuan

yang nampaknya dirahasiakannya itu?” desis salah seorang di antara mereka.

“Agaknya Ki Wiradana mencemburuimu,” jawab yang lain.

“AH,” sahut orang itu. “Seandainya gigiku masih tersisa, mungkin aku juga akan

melamarnya. Untunglah bahwa gigiku telah habis, sementara rambutku telah menjadi

separuh kapas.”

“He, justru rambut seputih kapas akan merupakan daya tarik tersendiri,” berkata

yang lain lagi.

“Mungkin. Mungkin hantu-hantu di kuburan akan sangat tertarik melihat rambut

seputih kapas,” jawab orang itu.

Yang lain tertawa betapapun masamnya. Sifat dan sikap Ki Wiradana benar-benar

kurang dapat dimengerti. Tetapi sebagian dari mereka masih menunggu, apakah

sifat dan sikap yang demikian itu suatu saat akan dapat berubah terutama jika ia

sudah beristri lagi.

“Jika istrinya memiliki kemanisan budi seperti Iswari, maka aku kira sikap hidup

Ki Wiradana akan berubah. Ia akan dapat kembali menelusuri jalan sebagaimana

dilalui oleh Ki Gede almarhum,” berkata salah seorang dari orang-orang tua itu.

Sementara itu, Wiradana merasa kedudukannya menjadi semakin kuat. Ketika ia

membentak orang-orang tua itu, dan ternyata mereka menjadi semakin tunduk,

Wiradana merasa bahwa jalannya akan menjadi semakin licin.

Malam berikutnya, Wiradana telah merundingkan segala sesuatunya dengan istrinya

dan laki-laki yang disangkanya ayah mertuanya.

“Besok kau akan aku bawa memasuki Tanah Perdikan Sembojan. Kau akan aku

tempatkan pada seseorang yang mempunyai rumah yang pantas dan terletak disisi

rumahku,” berkata Ki Wiradana.

Warsi menunduk dalam-dalam. Bahkan kemudian terdengar suaranya sendat, “Aku

tidak menyangka bahwa akhirnya hal ini akan terjadi. Tetapi kesan yang akan

timbul mungkin akan dapat menyiksaku. Seolah-olah aku berada di rumah Kepala

Tanah Perdikan Sembojan setelah rumah itu ditaburi tumbal yang sangat berharga.

Istri kakang yang pertama.”

“Jangan terlalu mudah tersentuh perasaanmu,” berkata Ki Wiradana. “Kau tidak

mempunyai sangkut paut dengan Iswari. Kau datang dengan caramu sendiri. Aku

menghendaki demikian. Dan hal ini terjadi setelah Iswari tidak ada lagi.”

“Tetapi bukankah kita mengetahui, apa yang telah terjadi dengan istri kakang

yang pertama itu? Bukankah kita mengetahui bahwa Iswari telah hilang dan tidak

dapat diketemukan kembali?” desis Warsi.

“Akulah yang bertanggung jawab,” berkata Wiradana. “Kau tidak usah memikirkan

apapun juga. Besok kau pergi bersamaku ke rumah Ki Padma yang rumahnya

bersebelahan dengan rumahku. Kau akan tinggal disana untuk selama-lamanya dua

pekan, sementara orang-orang tua mempersiapkan keramaian untuk merayakan hari

perkawinan kita.”

Warsi mengangguk kecil. Jawabnya sebagaimana yang sering dikatakan, “Semuanya

terserah kepada kakang.”

Ki Wradana mengangguk-angguk. Lalu katanya kepada laki-laki yang dianggapnya

ayah mertuanya. “Ayah. Seseorang dengan upacara yang akan datang untuk melamar

Warsi. Ayah dapat menerimanya sebagaimana seharusnya. Kemudian kita akan

merundingkan upacara perkawinan itu sebagaimana lazimnya pembicaraan tentang hal

seperti itu.”

“Baiklah ngger. Aku akan berusaha untuk menyesuaikan diri,” jawab laki-laki itu.

Seperti yang dikatakan oleh Wiradana, maka di hari berikutnya Warsi telah

dibawanya ke rumah Ki Padma. Tetapi adalah di luar dugaan, bahwa Ki Wiradana

membawa Warsi justru di malam hari, pada saat yang sama sekali tidak

diperkirakan oleh orang-orang Tanah Perdikan Sembojan.

Karena itu, tidak banyak orang yang melihat kedatangannya. Namun yang sedikit

itu ternyata telah membuat padukuhan induk Tanah Perdikan Sembojan bergejolak.

Dua orang anak muda yang berada di gardu yang masih belum terisi penuh melihat

Ki Wiradana bersama seorang perempuan dan seorang laki-laki. Anak-anak muda itu

tidak bertanya, siapakah perempuan itu, karena mereka sudah mendengar bahwa

Wiradana akan membawa calon istrinya memasuki padukuhan induk sebelum dalam

waktu dua pekan mendatang akan dilangsungkan hari

Perkawinannya.

“Rasa-rasanya aku pernah melihat perempuan itu,” berkata salah seorang di antara

anak-anak muda itu.

“Ya. Rasa-rasanya akupun pernah melihat. Tetapi dimana dan kapan?” sahut yang

lain.

Kedua anak muda itu pun segera mengingat-ingat. Dimana saja mereka pernah

melihat perempuan itu.

Dalam pada itu salah seorang di antara mereka tiba-tiba berkata lantang, “Aku

tahu, aku sudah dapat mengingat-ingatnya.”

Kawannya termangu-mangu. Dengan ragu-ragu ia berkata, “Siapa perempuan itu?”

“He, kau pernah melihat penari keliling yang pernah datang di Tanah Perdikan

ini?” bertanya anak muda yang pertama.

“Penari jalanan itu?” sahut yang lain.

“Ya. Yang bermalam di Banjar” sambung yang pertama.

Anak muda yang lain mengerutkan keningnya. Namun tiba-tiba saja ia pun hampir

berteriak, “Ya. Aku sependapat. Aku ingat sekarang bahwa perempuan itu memang

penari yang kau katakan.

Selagi keduanya sibuk menebak, maka dua orang anak muda yang lain telah datang

pula. Dengan heran keduanya bertanya, apa yang sedang dipercakapkan oleh kedua

orang yang terdahulu.

Dengan suara yang keras kedua anak itu berebut bercerita tentang perempuan yang

datang bersama Wiradana. Perempuan yang akan dijadikan istrinya itu.

“Bodoh kau,” tiba-tiba salah seorang anak muda yang datang itu membentak, “Tentu

bukan perempuan itu yang akan dijadikan istrinya. Jika ia membawa perempuan itu

mungkin Wiradana akan menyelenggarakan pertunjukan tari pada hari perkawinannya.

Karena itu, maka penari itu telah dibawa kemari untuk membicarakan kemungkinan

itu serta sudah barang tentu biaya untuk penyelenggaraan itu.”

Dua orang yang terdahulu ada di gardu terma-ngu-mangu. Memang mungkin masuk akal

bahwa penari itu datang untuk membicarakan kemungkinan diselenggarakannya

pertunjukan tari dengan cara yang lebih baik daripada menari disudut padukuhan.

Tetapi bukan hanya kedua orang anak muda itu sajalah yang telah menduga, bahwa

Wiradana membawa bakal istrinya yang sudah banyak dikenal oleh orang-orang Tanah

Perdikan Sembojan. Apalagi ketika Wiradana tidak membawa perempuan itu ke

rumahnya, tetapi Wiradana langsung membawa perempuan itu ke rumah Ki Padma.

Maka sambungmenyambung, anak-anak muda di Tanah Perdikan Sembojan itu pun telah

mempercakapkan perempuan yang datang bersama Wiradana itu. Bukan hanya dua orang

yang berada di gardu itu sajalah yang melihat. Tetapi se-orang anak muda yang

kebetulan lewat jalan di dalam padukuhan induk telah berpapasan pula. Yang lain

melihat perempuan itu memasuki regol halaman rumah Ki Padma. Dan yang melihat

dengan jelas adalah anak Ki Padma sendiri. Perempuan yang dibawa ke rumahnya itu

memang penari jalanan yang beberapa waktu yang lampau pernah berada di Tanah

Perdikan itu dan bermalan di banjar.

Anak muda anak Ki Padma itu dengan diam-diam telah keluar dari halaman rumahnya

menuju ke gardu. Meskipun belum banyak anak muda yang ada di gardu, tetapi

pembicaraan tentang perempuan itu memang sangat menarik. Dengan demikian maka

berita itu telah menjalar dari gardu ke gardu dan dari mulut ke mulut sehingga

tersebar ke seluruh padukuhan induk dan bahkan padukuhan-padukuhan lain, karena

ketika Wiradana lewat di padukuhan-padukuhan lain itu, beberapa orang telah

melihatnya pula.

Hal itu sudah diperhitungkan oleh Wiradana. Tetapi ia sudah bertekad untuk

melakukannya meskipun ia masih juga berusaha untuk membatasi kemungkinan itu

sekecil-kecilnya, sehingga karena itu maka ia datang di malam hari. Menurut

keterangannya kepada orang-orang tua di