Hambatan Investasi di Indonesia

Hambatan Investasi di Indonesia

Sejarah ekonomi modern telah memposisikan investasi sebagai sektor yang paling berpengaruh dalam setiap perekonomian suatu negara. Hal ini mengindikasikan bahwa dengan merujuk pada besaran investasi maka kita dapat memperkirakan tingkat pertumbuhan ekonomi yang dicapai negara yang bersangkutan.  

Kesulitan Indonesia dalam proses recovery ekonominya adalah permasalahan yang tidak terselesaikan dalam proses investasi. Negara lain yang mengalami krisis yang sama dengan Indonesia seperti, Thailand, Korea Selatan, dan Malaysia telah memasuki proses pertumbuhan ekonomi, tidak demikian dengan Indonesia.

Tantangan Indonesia dalam membangkitkan lagi peluang bisnis di daerah dewasa ini sangatlah berat oleh karena adanya beberapa faktor yang berpengaruh.  Faktor pertama adalah kondisi sosial dan keamanan yang belum kondusif.  Walaupun gangguan keamanan ataupun gangguan sosial itu tejadi di beberapa daerah tertentu di Indonesia, namun masyarakat investor khususnya investor asing menganggap kondisi tersebut berlaku di seluruh wilayah Indonesia.  Faktor kedua belum tegaknya “”law and order” di Indonesia yang dirasakan sangat mengganggu iklim penanaman modal itu sendiri.  Faktor ketiga, bersumber dari luar negeri misalnya bagi calon investor PMA sebelum melakukan perhitungan prospek irivestasinya secara ekonomis maka mereka juga mempelajari bagaimana tingkat daya saing suatu negara yang dihitung oleh sebuah lembaga pemeringkat internasional.

Secara teoritis faktor eksternal yang dipelajari investor asing adalah bagaimana tingkat daya saing negara tersebut (misalnya Indonesia) dibandingkan dengan negara-negara lainnya.  Tingkat daya saing suatu negara merefleksikan bagaimana resiko berinvestasi di negara tersebut (country risk).  Perhitungan tingkat daya saing negara-negara di dunia biasanya dilakukan oleh lembaga-lembaga internasional terkemuka seperti Center of International Development (CID), Jenewa, Swiss dan International Institute for Management (IIM), Lausanne, Swiss.  Setiap tahun kedua lembaga tersebut menerbitkan tingkat daya saing dari negara-negara yang menjadi tujuan investasi seluruh dunia, yang sekaligus menjadi acuan bagi investor asing di seluruh dunia.  Methode penentuan tingkat daya saing tersebut dilakukan melalui sebuah analisa tentang bagaimana kemampuan suatu negara mengembangkan diri sebagai tempat yang memberikan daya saing kepada berbagai jenis usaha.

Dari hasil analisa kedua lembaga tersebut, tingkat daya saing Indonesia dewasa ini sangat rendah.  CID menempatkan Indonesia pada ranking 47 (dari 59 negara) sedangkan IIM menempatkan Indonesia pada ranking 49 (dari 49 negara).  Berdasarkan catatan dari IIM posisi-posisi negara ASEAN lainnya jauh lebih baik dari Indonesia, seperti Singapura (2), Malaysia (29), Thailand (38) dan Philipina (40).

Sementara itu ada referensi lain yang juga digunakan oleh investor asing misalnya hasil survey dari lembaga pemeringkat Political & Economic Risk Consultancy (PERC) yang bermarkas di Hongkong.  Sebagai contoh, hasil survey PERC yang diumumkan tanggal 10 Maret 2002 yang lalu, Indonesia telah diposisikan sebagai negara yang paling korup di Asia.  Dengan posisi yang paling korup tersebut, maka “seluruh sistem hukum nasional berantakan sehingga pengadilan tidak mampu menawarkan perlindungan”.  Analisa ini mencerminkan sulitnya menegakkan “Law and Order”” diIndonesia dan anggapan yang sama tentunya juga diperkirakan tejadi di sektor penanaman modal termasuk pada pelaksanaan otonomi daerah.

Dengan demikian, permasalahan ataupun hambatan  dalam Investasi yang akan mempengaruhi perkembangan investasi di  Indonesia adalah kondisi makro seperti yang digambarkan diatas. Namun, tentu juga stabilitas makro, country risk yang tinggi, dan lemahnya penegakkan hukum secara nasional tidak akan mempengaruhi secara mutlak dalam perkembangan investasi di daerah yang disebabkan oleh proses penyelengaraan desentralisasi pemerintahan. Dengan demikian masih terdapat kemungkinan bila pemerintah mampu menata iklim investasinya dengan baik, maka kemungkinan negara ini akan dapat menarik minat investor.

About these ads

5 thoughts on “Hambatan Investasi di Indonesia

    • Hal itu bisa memungkinkan juga. Di Wilayah barat dan Eropa masih jarang yang mengenal Indonesia secara pasti. Bahkan pernah saya melihat wawancara satu televisi swasta pada seorang warga Amerika Serikat, katanya indonesia dia tidak kenal tapi kalau pulau Bali tahu.Berabeh dah..Indonesia yang wilayahnya luas bahkan masuk 5 negara besar di dunia hanya di kenal pulau Balinya. Jangan-jangan Tempe juga di kenal di luar negeri tapi Indonesia sendiri tidak ketahuan di mana posisinya..

      • Gak juga dong…faktanya investasi asing di Indonesia memang menurun dibandingkan negara lain di ASEAN..dan hal utama penyebabnya adalah arogansi dari Pemerintahan Daerah…

~Semoga Postingannya Bermanfaat. Silahkan meninggalkan komentar walaupun hanya sepatah kata~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s