SAMURAI-KASTEL AWAN BURUNG GEREJA

SAMURAI-KASTEL AWAN BURUNG GEREJA

TAKASHI MATSUOKA

Created by: syauqy_arr@yahoo.co.id

PDF by Kang Zusi

(Sumber: Tiraikasih Website http://kangzusi.com/)

 

I. TAHUN BARU

1 Januari 1861

1 Bintang Bethlehem

Heiko, pura-pura tidur, menata napasnya dalam dan pelan, ototnya

rileks tetapi tetap kencang. Bibirnya terkatup tetapi sedikit merekah,

matanya lembut di bawah bulu mata yang tak bergerak, pandangannya

yang tunduk mengarah ke dalam, ke tempat yang damai di titik pusat

dalam dirinya. Dengan indranya dia tahu, bukan merasakan, lelaki di

sampingnya terbangun.

Ketika lelaki itu berpaling menatapnya, Heiko berharap dia akan

melihat:

Rambutnya: sekelam malam tanpa bintang tergerai di alas tidur sutra

biru.

Wajahnya: sepucat salju pada musim semi, bersinar dengan cahaya

yang dicuri dari bulan.

Badannya: lekukan-lekukan indah di bawah selimut sutra bersulam

sepasang bangau putih, leher mereka yang saling bertaut memerah dalam

gairah perkawinan, menari dan beradu di tengah udara, dengan latar

belakang pedang kuning keemasan.

Heiko sangat percaya diri dengan malam tanpa bintang. Rambutnya—

yang hitam tebal, dan halus—adalah satu ciri terindah kecantikannya.

Salju pada musim semi mungkin perumpamaan yang terlalu jauh,

bahkan untuk sekedar metafora. Heiko tumbuh di sebuah desa nelayan di

sa Domain. Kesenangan bermain di bawah matahari saat kanak-kanak

tidak bisa sepenuhnya terhapus. Pipinya tetap berbintik meski sedikit.

Sedangkan, salju musim semi tidak berbintik. Namun, tetap ada sinar

bulan yang bisa menutupinya. Lelaki itu bersikeras bahwa Heiko punya

wajah yang bersinar bak rembulan. Lagi pula siapa dirinya, yang berani

menentang dan tidak setuju dengan lelaki itu?

Heiko berharap lelaki itu memandangnya. Heiko adalah seorang yang

anggun, bahkan saat dia benar-benar tidur. Ketika dia menunjukkan

PDF by Kang Zusi

kemampuannya berakting, seperti yang dilakukannya saat ini,

pengaruhnya pada kaum lelaki biasanya tidak terelakkan. Apa yang akan

dilakukan pria itu? Apakah dia hanya akan memandang kecantikannya

yang polos? Ataukah dia akan tersenyum, menunduk dan

membangunkannya dengan belaian lembut? Ataukah seperti yang selalu

dilakukannya, lelaki itu akan dengan sabar menunggu mata Heiko

terbangun sendiri secara perlahan?

Terkaan-terkaan seperti itu biasanya tidak mengganggu Heiko saat dia

bersama lelaki lain, bahkan tidak pernah terlintas dalam pikirannya.

Tetapi, lelaki yang satu ini berbeda. Dengannya, Heiko sering

menemukan dirinya larut dalam angan-angan semacam itu. Apakah itu

karena lelaki ini memang lain dari yang lain, Heiko bertanya-tanya,

ataukah karena hanya pada pria inilah dia menyerahkan hatinya?

Genji ternyata tidak melakukan satu pun persangkaan Heiko.

Malahan, dia berdiri dan berjalan menuju jendela yang membuka ke arah

Teluk Edo. Dia berdiri bertelanjang dada di depan jendela itu, dalam

dinginnya fajar, dan memandang apa pun yang sedang dipandangnya

dengan perhatian penuh. Satu dua kali dia menggigil kedinginan, tetapi

tak beranjak untuk menutupi tubuhnya dengan baju. Heiko tahu bahwa

ketika remaja Genji pernah menjalani latihan keras dengan para rahib

Tendai di Puncak Gunung Hiei. Para ahli mistik yang keras itu terkenal

menguasai teknik pembangkitan panas tubuh sehingga mereka mampu

berdiri telanjang di bawah guyuran air terjun sedingin es selama berjamjam.

Genji sangat bangga pernah menjadi murid mereka. Heiko mendesah

pelan dan bergerak, yang dibuatnya seakan gerak yang wajar dan ringan

dalam tidur, untuk menahan tawa yang hampir meloncat keluar dari

mulutnya. Jelas terlihat bahwa Genji belum menguasai teknik

pembangkitan panas tubuh sebaik yang dia harapkan.

Desahannya, yang sering memperdaya pria, ternyata tidak

mengganggu Genji dari pengamatannya ke arah Teluk Edo. Tanpa

menoleh ke arahnya, Genji mengambil teleskop kuno buatan Portugis,

menariknya hingga panjangnya maskimal, dan memfokuskannya ke teluk.

Heiko pun akhirnya merelakan dirinya untuk merasa kecewa. Dia telah

PDF by Kang Zusi

berharap…. Apa yang dia harapkan sebenarnya? Harapan, kecil atau

besar, hanyalah sikap yang terlalu memperturutkan keinginan, lain tidak.

Heiko membayangkan Genji yang berdiri di depan jendela tanpa perlu

melihatnya. Genji pasti akan menyadari bahwa sebenarnya Heiko sudah

bangun, jika dia terlalu memaksakan diri untuk melihat apa yang sedang

diamati laki-laki itu. Bahkan, sebenarnya dia tak begitu yakin apa Genji

belum tahu bahwa dia sudah terbangun. Barangkali itulah yang

menjelaskan mengapa tadi Genji mengabaikannya saat terbangun, dan

meng-abaikannya lagi saat dia mendesah. Dia sedang menggoda Haeiko.

Atau, mungkin tidak. Susah ditentukan. Maka, Heiko berhenti bertanyatanya

dan hanya membayangkan-nya.

Genji agak terlalu cantik untuk seorang pria. Dan caranya membawa

diri yang sangat santai dan tidak bergaya samurai, membuatnya terlihat

sembrono, lemah, bahkan agak feminim. Namun, penampilan luar

memang menipu. Tanpa baju, sungguh terlihat jelas garis-garis ot yang

menandakan keseriusannya dalam menekuni bela diri. Mereka yang

berdisiplin perang biasanya meninggalkan dunia cinta. Heiko merasa

dirinya hangat oleh kenangan, dan dia pun mengeluh tanpa sengaja. Kini,

sangat sulit baginya untuk tetap pura-pura tidur. Maka, Heiko pun

membuka mata. Dia memandang Genji dan melihat figure yang tadi telah

dia bayangkan. Apa pun yang ada di ujung lain teleskop itu pasti sangat

menarik karena benar-benar menguras seluruh perhatian Genji.

Setelah beberapa saat, Heiko berkata dengan suara mengantuk,

“Tuanku, Anda gemetar.”

Genji terus memandang ke teluk, tetapi dia tersenyumdan berkata,

“Dusta besar. Aku kebal terhadap dingin.”

Heiko beringsut dari ranjang dan mengenakan kimono Genji. Dia

mengenakan kimono itu erat pada tubuhnya, berusaha menghangatkannya

sebisa mungkin sambil duduk berlutut dan mengikat rambutnya dengan

pita sutra. Pelayannya, Sachiko, akan membutuhkan waktu berjam-jam

untuk mengembalikan tatanan rambut geishanya. Namun, untuk saat ini,

ikatan longgar dengan pita sutra itu sudah cukup. Heiko berdiri dan

berjalan menghampiri Genji dengan langkah pendek-pendek agak diseret

seperti kebiasaan wanita terhormat Jepang, kemudian berlutut dan

PDF by Kang Zusi

membungkuk saat dia tinggal beberapa langkah dari Genji. Dia

membungkuk untuk beberapa saat, tidak mengharap perhatian darinya,

dan Genji memang tidak memperhatikannya. Lalu, Heiko berdiri, melepas

kimono dalam yang kini terasa hangat dari panas tubuhnya, harum oleh

wangi tubuhnya, dan menyelubungkan kimono itu ke bahu Genji.

Genji hanya menggerutu dan membiarkan kimono itu

menyelubunginya. “Ini, lihatlah.”

Heiko mengambil teleskop yang diulurkan Genji dan meneneropong

teluk. Kemarin malam, ada enam kapal yang membuang sauh, semuanya

kapal perang dari Rusia, Inggris, dan Amerika. Sekarang, ada kapal

ketujuh, sebuah kapal layar bertiang tiga. Kapal yang baru tiba itu lebih

kecil dibandingkan dengan kapal perang dari angkatan laut asing, juga

tidak mempunyai dayung dan cerobong uap. Di sepanjang dek kapal tidak

terlihat sandaran senjata dan meriam. Meski terlihat kecil dibandingkan

deretan enam kapal perang yang bersandar, kapal layar itu tetap dua kali

lebih besar ketimbang ukuran kapal Jepang. Dari mana datangnya kapal

itu? Barat, dari pelabuhan di Cina? Selatan, dari daerah Hindia? Atau

Timur, dari Amerika?

Heiko berkata, “Kapal saudagar itu belum ada di sana saat kita

berangkat tidur tadi malam.”

“Kapal itu memang baru saja membuang sauh.”

“Apa itu kapal yang Anda tunggu-tunggu?”

“Mungkin.”

Heiko membungkuk dan mengembalikan teleskop kepada Genji.

Genji tidak mengatakan kepadanya kapal apa yang dia tungu-tunggu atau

mengapa, dan tentu saja Heiko tidak bertanya. Kemungkinan besar Genji

sendiri tidak tahu jawabannya. Perkiraan Heiko, Genji sedang menunggu

terpenuhinya sebuah ramalan, dan ramalan memang biasanya tidak

terpenuhi. Saat pikirannya terbang ke mana-mana, Heiko tetap

memandang kapal-kapal yang bertambat di teluk. “Kenapa orang-orang

asing itu sangat ribut tadi malam?”

“Mereka sedang merayakan Malam Tahun Baru.”

“Malam Tahun Baru masih enam minggu lagi.”

PDF by Kang Zusi

“Untuk kita ya. Kita baru memasuki bulan-bulan baru setelah

matahari melewati titik balik musim dingin pada tahun ke-15 Kekaisaran

Komei. Tapi, bagi mereka tahun baru telah tiba,” Genji berkata dalam

bahasa Inggris, “1 Januari 1861,” lalu kembali ke bahasa Jepang. “Waktu

berlalu lebih cepat bagi mereka. Karena itu, mereka jauh lebih maju dari

kita. Lihat saja sekarang, mereka telah merayakan tahun baru, sementara

kita ketinggalan enam minggu.” Genji memandang Heiko dan tersenyum.

“Kamu membuatku malu Heiko, apa kamu tidak kedinginan?”

“Saya hanya seorang wanita, Tuanku. Apabila Anda berot maka saya

penuh lemak. Kelemahan itu membuat saya bisa merasa lebih hangat agak

lebih lama.” Padahal dalam kenyataannya, Heiko berusaha menggunakan

kemampuannya sekuat tenaga untuk menahan udara dingin.

Menghangatkan kimono dengan badannya, lalu memberikannya kepada

Genji, adalah isyarat yang atraktif. Jika Heiko menggigil kedinginan, dia

terlihat berkorban terlalu banyak untuk kenyamanan Genji sehingga

keindahan isyarat kimononya akan rusak.

Genji memandangi kapal-kapal di teluk lagi. “Mesin uap

menggerakkan mereka, baik pada saat angin bertiup ataupun laut tenang.

Meriam yang dapat menimbulkan kerusakan bermil-mil jauhnya. Senjata

untuk setiap tentara. Selama tiga ratus tahun, kita memperdaya diri sendiri

dengan kebanggaan berlebihan pada pedang, sementara mereka sibuk

berusaha agar lebih efisisen. Bahkan, bahasa mereka pun lebih efisien

sehingga pikiran mereka pun lebih efisien. Sementara kita sangat suka

hal-hal yang disamarkan. Kita terlalu tergantung pada hal-hal yang tersirat

dan tak terucapkan.”

“Apa efisiensi demikian penting?” Heiko bertanya.

“Ya dalam perang, dan perang akan terjadi.”

“Apa itu ramalan?”

“Bukan, hanya akal sehat. Orang-orang asing itu pergi ke berbagai

penjuru dunia dan mengambil semua yang bisa mereka ambil. Nyawa,

harta, tanah. Mereka merampas tiga perempat dunia ini dari penguasanya

yang sah, menjarah, membunuh, dan memperbudak.”

Heiko berkata, “Sungguh berbeda dengan para Bangsawan Agung

kita.”

PDF by Kang Zusi

Genji tertawa pendek. “Menjadi tugas kami para bangsawan untuk

menjamin semua penjarahan, pembunuhan, dan perbudakan dilakukan

hanya oleh kami. Kalau tidak, bagaimana mungkin kami bisa menamai

diri Bangsawan Agung?”

Heiko membungkuk, “Saya merasa aman mengetahui perlindungan

yang demikian besar. Saya akan menyiapkan air mandi Anda, Tuanku.”

“Terima kasih.”

“Bagi kita saat ini adalah jam anjing. Kalau bagi mereka sekarang jam

berapa?”

Genji melihat jam Swiss yang ada di meja. Lalu, katanya dalam

bahasa Inggris, “Sekarang, jam tujuh lebih empat menit.”

“Tuanku, apakah Anda memilih mandi pada jam tujuh lebih empat

menit atau pada jam anjing?”

Genji tertawa kembali dengan tawanya yang ringan dan santai, lalu

membungkuk mengakui kecerdikan humor Heiko. Para pencela Genji

menganggap bahwa dia terlalu sering tertawa. Menurut mereka itu adalah

bukti kurangnya keseriusan Genji pada masa yang sulit ini. Mungkin itu

benar. Heiko tidak yakin. Tetapi, dia yakin bahwa dia suka mendengar

Genji tertawa.

Heiko membungkuk kembali untuk menghormati bungkukan Genji

tadi, lalu melangkah ke belakang dan berbalik menjauh. Di kamar

kekasihnya, cara jalan Heiko tetap lemah gemulai seakan menghadiri

pesta dalam busana formal di Istana Shogun. Heiko dapat merasakan mata

Genji mengawasinya.

“Heiko,” panggil Genji, “tunggu sebentar.”

Heiko tersenyum. Genji telah mengabaikannya selama dia bisa. Kini,

lelaki itu akan menghampirinya.

Pendeta Zephaniah Cromwell yang saleh, hamba dan pelayan ordo

Cahaya Firman Sejati memandang ke arah kota Edo dari kapalnya.

Pandangannya menyapu sebuah bukit semut pagan yang padat dosa,

tempat dia dikirim untuk menyebarkan firman Tuhan kepada orang-orang

Jepang yang berada dalam kesesatan. Firman Sejati untuk para

penyembah berhala ini telah dirusakkan oleh kaum Kalik Roma dan

Episkopal, yang hanya menggunakan agama sebagai samaran, juga kaum

PDF by Kang Zusi

Calvinis dan Lutheran yang tak lain hanyalah para pencari keuntungan

yang bersembunyi di balik nama Tuhan. Para penyimpang tersebut telah

mengalahkan Firman Sejati di Cina. Dan, Pendeta Zephaniah Cromwell

bertekad agar hal yang sama tidak terjadi di Jepang. Dalam perang

penentuan, di Armageddon, para samurai Jepang pasti akan menjadi

prajurit yang kuat jika mereka mau menerima Kristus dan menjadi tentara

Kristen sejati.. tidak takut mati, lahir untuk berperang, mereka adalah

martir yang sempurna. Itu adalah masa depan ideal, apabila memang ada

masa depan untuk Kristur di tanah ini. Saat ini, keadaannya tidak terlihat

menggembirakan. Jepang adalah tanah yang dipenuhi sundal, para

tunasusila, dan pembunuh. Tetapi, tetapi, Pendeta Zephaniah Cromwell

mempunyai Firman Sejati yang akan menyokongnya dan dia akan

menang. Kehendak Tuhan pasti terjadi.

“Selamat pagi, Zephaniah.”

Suara wanita yang lembut itu dengan cepat melelehkan kemarahannya

terhadap para penentang Tuhan, dan sebagai gantinyadia merasakan

gairah mengerikan yang mencecar otak dan tubuhnya. Tidak, tidak, dia

tak akan menyerah terhadap bayangan-bayangan jahat itu.

“Selamat pagi, Emily,” balasnya. Cromwell berusaha keras

mempertahankan ketenangannya saat berbalik memandang Emily. Emily

Gibson adalah pengikutnya yang paling setia, murid sekaligus

tunangannya. Cromwell berusaha mengusir pikiran tentang tubuh muda

Emily yang segar. Dia berusaha tidak membayangkan apa yang belum dia

lihat dari tubuh Emily. Oh, godaan dan tipuan daging, gairah lapar yang

ditumbulkanya, api kegilaan yang ditimbulkan oleh daging dengan

syahwat membakar. “Mereka yang hanya mencari kesenangan tubuh

semata hanya akan mendapatkan tubuh kosong; tetapi, mereka yang

mencari kepuasan ruhani akan mendapatkan kesenangan ruhani.”

Cromwell tidak sadar telah mengucapkan hal itu keras-keras, sampai dia

kembali mendengar suara Emily.

“Amin,” kata tunangannya itu.

Pendeta Zephaniah Cromwell merasa seakan dunia berputar

menjauhinya bersama ampunan dan keselamatan yang dijanjikan Yesus

Kristus. Dia harus mengusir semua pikiran tentang tubuh Emily.

PDF by Kang Zusi

Cromwell kembali mengarahkan pandangannya ke Edo. “Tantangan besar

bagi kita. Begitu banyak dosa di pikiran maupun tubuh. Penuh dengan

orang-orang kafir.”

Emily tersenyum dengan senyumnya yang lembut. “Aku yakin kamu

bisa melakukan tugas ini, Zephaniah. Kamu benar-benar hamba Tuhan

sejati.”

Rasa malu menjalari Cromwell. Apa yang akan dipikirkan wanita

muda tak berdosa dan penuh percaya diri ini jika dia tahu gairah lapar

yang menyiksa sang pendeta setiap saat dalam kehadirannya. Cromwell

berkata pendek, “Mari kita berdoa bagi orang-orang yang tersesat itu,”

lalu berlutut di dek kapal. Emily dengan patuh berlutut di sampingnya.

Terlalu dekat, terlalu dekat. Dia merasakan panas tubuh Emily, dan meski

dia sudah berusaha keras mengabaikannya, lubang hidungnya tetap

dibanjiri bau tubuh alami seorang wanita muda yang sedang mekar.

“ Para pangerannya adalah singa-singa yang mengaum,” kata pendeta

Cromwell. “ Para hakimnya adalah serigala malam hari; yang memakan

bangkai. Nabi mereka berotak kosong dan licik; pendeta-pendetanya

mencemari biara; mereka telah merusak hukum. Dalam kondisi seperti itu

Tuhan yang Mahaadil tetap menunjukkan rahmat-Nya; setiap pagi, Dia

tetap menyinarkan cahaya-Nya; tetapi orang-orang yang tersesat itu tidak

tahu malu.” Mendapatkan kepercayaan diri dari irama doa Firman Sejati

yang sering dia ucapkan, suara Cromwell menguat dan bergetar saat

mengucapkan doa, sehingga di telinganya doa itu terdengar seakan-akan

benar-benar suara Tuhan. “Oleh karena itu, kalian tunggulah Aku, sabda

Tuhan, hingga saat Aku bangkit: karena tujuan-Ku adalah mengumpulkan

bangsa-bangsa di mana Aku mendirikan kerajaan-kerajaan, sebagai sarana

menunjukkan kemarahan dan murka-Ku: dan seluruh bumi aka terbakar

oleh api cemburu-Ku!” Cromwell berhentu untuk menarik napas.

“Amin!” teriaknya.

“Amin,” kata Emily dengan suara selembut kidung pengantar tidur.

Di tempat pengamatan laut menara Istana Edo, sebuah teleskop

buatan Belanda sebesar meriam utama kapal perang Inggris terpasang di

atas tripod buatan Perancis yang sangat rumit sehingga mampu

melakukan pengukuran secara sangat tepat. Teleskop itu adalah hadiah

PDF by Kang Zusi

dari pemerintah Belanda kepada Shogun kugawa pertama, Ieyasu, sekitar

250 tahun yang lalu. Napoleon mengirimkan tripodnya kepada shogun

kesebelas, Ienari, saat penobatannya sebagai Kaisar Perancis—sebuah

kekaisaran yang hanya bertahan sepuluh tahun.

Saat jam anjing bergeser ke waktu jam babi, mata Kawakami Eichi

mengintip melalui teleskop yang besar itu. Teleskop itu tidak diarahkan

ke ruang angkasa, tetapi diarahkan ke puri-puri para bangsawan agung di

distrik Tsukiji kurang dari lima belas kilometer jauhnya. Tetapi, pikiran

Kawakami justru melayang ke tempat lain. Merenungkan sejarah teleskop

yang digunakannya, Kawakami menyimpulkan bahwa Shogun saat ini,

Iemochi, mungkin adalah keturunan kugawa terakhir yang mampu

memegang kehormatan tertinggi. Pertanyaannya tentu saja adalah siapa

yang akan muncul selanjutnya? Sebagai komandan polisi rahasia Shogun,

Kawakami bertugas melindungi kejayaan rezim kugawa. Sebagai abdi

setia Kaisar, yang saat ini tak mempunyai kekuasaan, tetapi dianugrahi

mandat mutlak para dewa, maka tugas Kawakami adalah melindungi

Negara. Pada masa-masa kejayaan kaisar dahulu, dua tugas ini tak dapat

dipisahkan, tetapi sekarang keadaannya lain. Kesetiaan adalah prinsip

samurai yang paling fundamental. Tanpa kesetiaan, seorang samurai tak

akan berarti apa-apa. Bagi Kawakami, yang telah melihat makna

kesetiaan dari berbagai sudut—apalagi menyelidiki kesetiaan seorang

samurai adalah tugasnya— semakin lama semakin jelas bahwa masamasa

kesetiaan terhadap seorang tuan akan berakhir. Pada masa

mendatang, kesetiaan harus ditujukan pada sebuah sebab, prinsip,

gagasan, bukan pada seseorang atau klan tertentu. Adanya pikiran

semacam itu pada diri Kawakami merupakan hal yang luar biasa,

sekaligus merupakan tanda kuatnya pengaruh orang-orang asing itu.

Kawakami mengubah fokus teleskop dari puri-puri bangsawan ke

arah teluk. Enam dari tujuh kapal yang membuang sauh adalah kapal

perang. Orang-orang asing. Mereka telah mengubah segalanya. Yang

pertama adalah kedatangan armada Kapal Hitam tujuh tahun lalu, yang

dikomandoi oleh si Amerika yang sombong, Perry. Kemudian, diikuti

dengan perjanjian dengan bangsa-bangsa asing yang mempermalukan

Jepang, karena perjanjian itu memberi hak kepada orang asing untuk

PDF by Kang Zusi

masuk ke Jepang tanpa harus tunduk kepada hukum Jepang. Itu sama saja

seperti disiksa dan diperkosa dengan cara yang paling mengerikan, tidak

hanya sekali tetapi berkali-kali. Sementara orang Jepang tetap dituntut

untuk tersenyum, membungkuk, dan mengekspresikan terima kasih.

Tangan Kawakami mengepal seperti sedang menggenggam pedangnya.

Betapa melegakan jika dia bisa membunuh semua orang asing itu. Suatu

hari nanti, pasti. Sayang sekali hal ini bukanlah saat yang tepat. Istana

Edo adalah benteng yang terkuat di seluruh Jepang. Keberadaan istana ini

saja membatu kekuasaan kugawa selama tiga abad karena klan-klan

musuh segan menjajal kekuatan Edo. Namun, satu saja dari kapal-kapal

yang berlabuh di teluk itu bisa membuat benteng Edo yang perkasa

menjadi reruntuhan berdarah hanya dalam beberapa jam. Yah, semua

memang telah berubah, dan mereka yang mampu bertahan dan berhasil

melewatinya juga harus mau berubah. Cara berpikir orang-orang asing itu

ilmiah, logis, dan dingin, membuat mereka mampu menciptakan senjata

yang mengagumkan. Tetntu ada cara untuk menggunakan cara berpikir

mereka tanpa harus menjadi setan berbau pemakan sampah seperti

mereka.

“Tuanku,” terdengar suara asistennya, Mukai, dari luar pintu.

“Masuk.”

Dengan berlutut, Mukai menggeser pintu hingga terbuka,

membungkuk, masuk dengan tetap berlutut, menutup pintu dan

mrmbungkuk lagi. “Kapal yang baru datang adalah Bintang Bethlehem.

Dia berlayar dari San Fransisco, di kawasan pantai barat Amerika lima

minggu lalu, dan singgah di Honolulu, Kepulauan Hawaii , sebelum

menuju ke sini. Kapal ini tidak membawa bahan peledak ataupun senjata

api, dan tidak satu pun penumpangnya diketahui menjadi agen pemerintah

asing, ahli militer, ataupun kriminal.”

“Semua orang asing adalah kriminal,” tukas Kawakami.

“Ya, Tuanku,” Mukai menytujui. “Yang saya maksud adalah tidak

satu pun penumpang kapal itu mempunyai catatan kejahatan sejauh yang

kami ketahui.”

“Itu tidak berarti apa pun. Pemerintah Amerika terkenal tidak bisa

mengatur dan melacak kegiatan warganya. Wajar, mengingat sebagian

PDF by Kang Zusi

besar orang Amerika buta huruf. Bagaimana sebuah pemerintahan bisa

membuat catatan tentang kejahatan warga jika setengah dari pencatatnya

tidak bisa membaca dan menulis?”

“Benar sekali.”

“Siapa lagi penumpang kapal itu?”

“Tiga misionaris Kristen, dengan lima ratus kitab Injil edisi bahasa

Inggris.”

Misionaris. Itu membuat Kawakami khawatir. Orang-orang asing itu

sangat galak dan keras dalam hal yang mereka sebut “kebebasan

beragama”. Tentu saja ini adalah konsep yang sama sekali tak masuk akal.

Di Jepang, rakyat setiap daerah mengikuti agama yang dianut bangsawan

agung pemimpin mereka. Jika sang bangsawan agung menganut salah

satu sektu Buddha, rakyatnya juga menganut ajaran sekte itu. Jika sang

bangsawan agung menganut Shin, rakyatnya juga Shin. Jika sang

bangsawan agung menganut keduanya, seperti yang sering terjadi,

rakyatnya juga menganut Buddha dan Shin seperti sang tuan. Selain itu,

setiap orang juga boleh menganut agama pilihannya. Agama terkait

dengan wilayah dunia lain, dan Shogun serta para bangsawan agung tidak

peduli dengan dunia yang lain kecuali dunia yang satu ini. Sementara

agama Kristen sangat berbeda. Doktrin agama orang asing ini

mengandung aspek pengkhianatan di dalamnya. Satu Tuhan untuk seluruh

dunia, Tuhan yang lebih tinggi dari dewa-dewa Jepang dan di atas Sang

Anak Dewa, Yang Paling Agung dan Terhormat, Kaisar Komei. Shogun

kugawa pertama, Ieyasu, dengan bijaksana melarang agama Kristen. Dia

mengusir para pendeta asing, menyalib puluhan ribu rakyat yang beralih

memeluk agama Kristen, sehingga lebih dari dua ratus tahun Kristen tak

berhasil masuk Jepang. Kini, agama Kristen secara resmi masih dilarang,

tetapi itu adalah hikum yang tak bisa lagi diterapkan dengan tegas.

Pedang Jepang tidak bisa menandingi senjata orang-orang asing itu. Jadi,

“kebebasan beragama” kini berarti kebebasan untuk menganut dan

mempraktekkan agama sesuai pilihan, dengan mengucilkan orang yang

beragama lain. Kondisi ini selain menimbulkan anarki yang bisa berakibat

buruk, juga bisa menjadi dalih orang-orang asing untuk mengintervensi

dengan alasan melindungi saudara seagama mereka. Kawakami sangat

PDF by Kang Zusi

yakin, hal inilah yang sebenarnya menjadi alasan mereka menekankan

“kebebasan beragama”

“Siapa yang akan menerima para misionaris ini?”

“Bangsawan Agung Akaoka.”

Kawakami memejamkan matanya, menarik napas panjang, dan

menahan dirinya. Bangsawan Agung Akaoka. Akhir-akhir ini, dia terlalu

sering mendengar nama itu lebih dari yang diinginkannya. Daerah

kekuasannya sebenarnya kecil, jauh, dan tidak penting. Dua pertiga

bangsawan lain mempunyai daerah kekuasaan yang lebih besar. Namun,

seperti sekarang ini, sebagaimana selalu terjadi pada masa-masa tak

menentu, Bangsawan Agung Akaoka memainkan peran penting yang

sangat tidak sesuai dengan posisinya yang sebenarnya. Tidak penting

apakah Bangsawan Agung Akaoka adalah seorang pejuang tua dan

politisi yang penuh muslihat seperti mendiang Lord Kiyori, atau seorang

penggemar seni tak berguna seperti penggantinya yang kekanak-kanakan,

Lord Genji. Gosip yang beredar selama berabad-abad telah berhasil

menaikkan status mereka dari derajat yang seharusnya. Gossip tentang

kemampuan meramal masa depan yang mereka miliki.

“Kita seharusnya menangkapnya ketika terjadi peristiwa pembunuhan

Wali Kaisar.”

“Pembunuhan itu adalah perbuatan kaum radikal yang anti orang

asing, bukan para simpatisan Kristen,” kata Mukai. “Lord Akaoka sama

sekali tak terlibat.”

Kawakami mengerutkan dahi. “Kata-katamu mulai terdengar seperti

orang asing.”

Menyadari kesalahannya, Mukai membungkuk rendah, “Ampun,

Tuanku. Hamba salah bicara.”

“Kamu menyebut fakta dan bukti, seakan-akan keduanya lebih

penting daripada apa yang ada di hati manusia.”

“Mohon ampun sebesar-besarnya, Tuanku.” Wajah Mukai masih

menempel di lantai.

“Apa yang dipikirkan seseorang sama pentingnya dengan apa yang

dilakukan, Mukai.”

“Ya, Tuanku.”

PDF by Kang Zusi

“Jika seseorang, terutama bangsawan, tidak dianggap bertanggung

jawab terhadap apa yang mereka pikirkan, bagaimana peradaban bisa

bertahan terhadap gempuran para barbar?”

“Ya, Tuanku.” Mukai mengangkat kepalanya sedikit dan memandang

Kawakami. “Apakah saya harus mengeluarkan perintah

penangkapannya?”

Kawakami kembali memandang ke arah teleskop. Kini, dia

memfokuskan pandangan ke arah kapal yang disebut Mukai Bintang

Bethlehem. Teleskop buatan Belanda itu memungkinkan Kawakami bisa

melihat seorang pria yang sedang berdiri di dek. Bahkan, untuk ukuran

orang asing, pria itu sangat jelek. Matanya menonjol keluar seakan-akan

kepalanya yang bengkak mengalami tekanan terlalu besar. Wajahnya

penuh dengan garis-garis penderitaan, mulutnya mengerut membentuk

seringai, hidungnya panjang dan bengkok ke satu sisi, bahunya terangkat

dan membungkuk tegang. Seorang wanita muda berdiri di sisinya.

Kulitnya terlihat sangat cerah dan halus, Kawakami yakin itu hanya ilusi

yang disebabkan oleh lengkungan dan kepadatan lensa optic teleskop.

Wanita itu pasti juga buruk dan liar seperti semua orang asing lainnya.

Terlihat sang pria menyatakan sesuatu dan berlutut di dek kapal. Tak

berapa lama, si wanita muda ikut berlutut di sampingnya. Mereka berdua

seperti sedang berdoa dengan cara cara Krsiten.

Merasa bersalah terhadap apa yang dia pikirkan telah membuat

Kawakami bereaksi sedikit terlalu keras terhadap adanya tanda-tanda

pengaruh orang asing dalam kata-kata Mukai. Tentu saja tidak perlu ada

penahanan. Akaoka memang bangsawan dengan daerah tak seberapa,

tetapi kesetiaan para samurainya yang fanatik telah menjadi legenda

selama berabad-abad. Usaha penahanan sama saja mengundang

gelombang pembunuhan yang dapat melibatkan para bangsawan agung

lainnya, dan bisa menimbulkan perang saudara yang akhirnya dapat

menjadi kesempatan bagi bangsa asing untuk menginvasi Jepang. Jika

Bangsawan Agung Akaoka harus disingkirkan, harus menggunakan cara

yang tidak langsung. Cara-cara yang sudah mulai direncanakan dan

disiapkan oleh Kawakami.

PDF by Kang Zusi

“Belum perlu,” kata Kawakami. “Biarkan Lord Akaoka bertindak

sesuai keinginannya saat ini, kita tunggu saja siapa yang dapat kita

jaring.”

Pisl ada di tangan kanannya dan pisau di tangan kirinya, bahkan

sebelum matanya terbuka. Stark terbangun dengan kaget, teriakan

kemarahan berdengung di telinganya. Cahaya pagi samara-samar

merembes ke kabinnya, menimbulkan bayangan samara bergerak-gerak.

Pislnya mengikuti gerakan matanya, saat dia mengamati kabinnya. Tak

seorang pun bersembunyi di kabinnya menunggu kematian. Dia sendirian.

Untuk beberapa saat, Stark berpikir telah mengalami mimpi buruk lagi.

“Karena itu tunggulah Aku, sabda Tuhan, hingga hari Aku

bangkit…..”

Stark mengenali suara Cromwell datang dari dek di atasnya. Dia

menarik napas dan menurunkan senjatanya. Pendeta itu mulai lagi,

meneriakkan ancaman neraka dengan suara sekuat paru-paru dapat

menahannya.

Stark bangun dari ranjangnya. Petinya terbuka, siap untuk pengepakan

terakhir. Dalam beberapa jam, dia akan berada di pantai, di daerah baru.

Stark merasakan kenyamanan berat senjatanya di tangan. Colt Army

kaliber 44 Model Revolver dengan laras sepanjang tiga puluh sentimeter.

Hanya dalam sedetik, Stark dapat menarik senjata seberat satu kilogram

itu dan menembakkannya, tepat mengenai badan orang dalam jarak enam

meter. Rasio keberhasilan tembakannya adalah tiga dari lima tembakan

pertama, disusul dua kali tembakan kedua. Dalam jarak tiga meter, dia

bisa menembak daerah antara dua mata dengan tepat dalam tembakan

pertama, atau menembak dengan tepat mata kanan atau kiri, dengan rasio

keberhasilan dua dari tiga tembakan. Ketiga kalinya, jika orang itu lari,

Stark dapat menembaknya tepat di tulang punggungnya, pas di bawah

leher, dan menerbangkan kepalanya.

Sebenarnya, Stark lebih suka jika dia bisa membawa pisl Colt itu

bersamanya, dalam sabuk senjata terbuka di paha kirinya. Tetapi,

sekarang bukan saatnya memakai senjata di luar baju dengan mencolok,

atau membawa pisau seukuran pedang pendek. Pisau bowie itu kembali

PDF by Kang Zusi

masuk sarang dan disimpan dalam peti di antara dua sweter yang dirajut

Mary Anne untuknya. Stark membungkus pislnya dengan handuk tua dan

meletakkannya di samping pisau bowie . Lalu, dia menutupi kedua senjata

itu dengan baju-bajunya yang terlipat dan paling atas dia meletakkan

selusin Injil. Kapal ini masih memiliki beberapa peti besar yang berisi

sekitar lima ratus Injil. Bagaimana orang Jepang bisa membaca Injil versi

Raja James, hanya Tuhan dan Pendeta Cromwell yang tahu. Bagi Stark,

itu tidak menjadi masalah sama sekali. Ketertarikannya pada Injil dimulai

dan diakhiri pada baris kedua Kitab Kejadian. Dan, bumi waktu itu belum

terbentuk, yang ada hanya kehampaan; dan kegelapan meraja di seluruh

semesta. Lagi pula, Stark yakin bahwa dia tidak akan diminta untuk

berkhotbah. Pendeta Cromwel terlalu senang mendengar suaranya sendiri.

Stark punya senjata kedua, pisl saku Smith & Wesson kaliber 32 yang

kecil dan praktis. Pisl itu cukup untuk disembunyikan dibalik jaket dan

cukup ringan untuk disimpan di saku dalam di sebelah kiri rompinya,

tepat di atas pinggang. Untuk menariknya, Stark harus melintangkan

tangannya, masuk ke jaket hingga je saku dalam rompinya. Dia mencoba

beberapa kali, berlatih hingga tubuhnya mengenali gerakan yang harus

dilakukan, sehingga dia mampu menarik pisl itu dengan cepat. Stark tidak

tahu kemampuan pisl kaliber 32 dalam menghentikan seorang musuh, dia

berharap pisl ini lebih baik daripada kaliber 22 yang dia punyai

sebelumnya. Lima peluru dari kaliber 22 bisa mengenai seseorang, tetapi

jika orang itu cukup besar, cukup marah, atau cukup berani, dia akan tetap

bisa melawan. Darah mengalir dari wajah dan dadanya, pisau bowienya

sepanjang 25 sentimeter ganas mengincar perut, dan perlu pukulan keras

pada tulang tengkoraknya dengan gagang pisl yang telah kosong untuk

bisa merobohkannya.

Stark memakai jaketnya, mengambil pi dan sarung tangannya, dan

menaiki tangga. Tepat saatdia tiba di dek, Cromwell dan tunangannya,

Emily Gibson, mengucapkan Amin sebagai penutup doa dan berdiri.

“Selamat pagi, Saudara Matthew,” sapa Emily. Dia mengenakan pi

bonnet bergaris yang sederhana, mantel dari kain murahan dengan

bantalan katun yang tak beraturan, dan sebuah scarf wol tua melingkari

lehernya untuk menahan dingin. Seberkas rambut emasnya keluar dari pi

PDF by Kang Zusi

di dekat telinga kanannya. Emily memasukkan tambut itu kembali ke

pinya, seakan-akan itu adalah kejadian yang memalukan. Seperti

ungkapan dalam Injil. Jangan perlihatkan mutiaramu di hadapan seekor

babi, karena dia akan menginjak-injaknya, lali berbalik dan mengoyakngoyak

dirimu. Lucu, Emily membuat Stark teringat pada ungkapanungkapan

dalam injil. Mungkin dia memang ditakdirkan menjadi isteri

seorang pendeta. Kerutan khawatir sekejap menghiasi alis Emily sebelum

matanya yang biru kehijauan kembali bercahaya, dan dia pun tersenyum

pada Stark. “Apakah suara doa kami membangunkanmu?”

Stark menjawab, “Apa ada cara lain yang lebih baik untuk

membangunkan orang selain suara yang menyerukan Kata-Kata Tuhan?”

“Amin, Saudara Matthew,” kata Cromwell. “Bukankah ada ungkapan,

aku tak akan tidur atau memejamkan mataku sebelum aku menemukan

tempat untuk Tuhan.”

“Amin,” sahut Stark dan Emiliy berbarengan.

Cromwell dengan agung menunjuk ke arah daratan. “Lihatlah di sana

, Saudara Matthew. Jepang. Empat puluh juta jiwa yang dikutuk dalam

siksaan abadi kecuali jika Tuhan mau mengampuni dan kta berusaha

menolong tanpa pamrih.”

Bangunan menutupi daratan sejauh mata Stark memandang. Sebagian

besar adalah bangunan rendah dan kumuh yang tingginya tak lebih dari

tiga tingkat. Kotanya memang luas, tetapi kelihatannya kota itu bisa saja

habis tertiup angina dalam beberapa menit, atau terbakar habis hanya

dengan satu sulutan korek api. Kecuali deretan istana di sepanjang pantai

itu, dan benteng putih tinggi beratap hitam yang berjarak sekitar lima

belas kilometer dari pantai.

“Apakah Anda siap, Saudara Matthew?” Tanya Cromwell.

“Ya, Saudara Zephaniah. Aku siap,” jawab Stark.

Sohaku, Kepala Kuil Mushindo, duduk sendirian dalam hojo,

ruangan seluas sembilan meter persegi yang menjadi tempat meditai

pribadi kepala kuil Zen. Dia duduk tak bergerak dalam posisi teratai,

matanya hamper tertutup tal, tidak melihat, tidak mendengar, dan tidak

merasa. Burung-burung berkejaran di antara pepohonan di luar kuil.

PDF by Kang Zusi

Angina sepoi yang datang seiring cahaya matahari mengalir sejuk

melintasi ruangan kuil. Di dapur terdengar suara kuali saling berbenturan

saat para rahib mempersiapkan makanan. Seharusnya, mereka tidak

seribut itu. Sohaku kembali sadar dan menarik napas panjang. Ya,

setidaknya dia berhasil bertahan selama semenit atau dua menit.

Setidaknya, dia mengalami penignkatan. Mengatupkan gigi, menahan

sakit, Sohaku mengangkat kaki kanannya dari atas paha kirinyadengan

dua tangan dan meletakkannyadi lantai di depannnya. Dia bersandar ke

belakang dan mengangkat kaki kirinya dari atas paha kanan lalu

meluruskan kaki kirinya di sebelah kaki kanan. Ah, kenikmatan yang

sangat indah hanya dari meluruskan kaki. Hidup benar-benar sebuah

anugerah sekaligus misteri. Kuali kembali berbenturan di dapur dan

terdengar suara seseorang tertawa. Kedengarannya seperti Taro. Dasar si

bodoh malas yang tak punya aturan.

Dengan tatapan mata dingin, Sohaku berdiri dan melangkah cepat

keluar dari hojo. Dia tidak bergerak dengan langkah rahib Zen yang pelan,

penuh pikiran dan tujuan seperti seharusnya. Sohaku melangkah dengan

agresif tanpa keinginan berhenti atau mundur. Langkah yang biasa dia

gunakan sebelum mengucapkan 250 sumpah rahib, saat dia masih

menjadi samurai Tanaka Hidetada, komandan pasukan kaveleri,

bersumpah menjadi pengikut setia dalam hidup dan mati mengabdi pada

Okumici no kami Kiyori, mendiang Bangsawan Agung Akaoka yang

sebelumnya.

“Dasar orang-orang idiot!” desisnya sembari melangkah menuju

dapur. Seiring kedatangannya di dapur, tiga rahib bertubuh besar yang

mengenakan jubah cokelat seragam murid Zen segera berlutut di lantai

dan membungkuk. Kepala gundul mereka menekan lantai. “Kalian pikir

di mana kalian? Apa yang kalian lakukan? Semoga kalian dan leluhur

kalian dikutuk dikutuk menjadi wanita dalam reinkarnasi selanjutnya!”

Tak seorang pun dari ketiga rahib yang bergerak atau bersuara. Mereka

tetap membungkuk serendah mungkin di lantai. Sohaku tahu, ketiganya

tetap akan membungkuk di lantai, hingga dia mengizinkan mereka untuk

mengangkat kepala. Hatinya pun melunak. Lagi pula, sebenarnya

PDF by Kang Zusi

ketiganya adalah orang baik. Setia, pemberani, dan patuh. Urusan menjadi

rahib bukanlah hal mudah bagi mereka semua. “Taro.”

Taro mengangkat kepalanya sedikit dari lantai dan memandang

Sohaku. “Ya!”

“Antarkan sarapan untuk Lord Shigeru.”

“Ya!”

“Dan hati-hatilah. Aku tak ingin kehilangan seorang lagi, meski orang

itu tak berguna seperti kamu.”

Taro tersenyum dan membungkuk lagi. Sohaku tak lagi marah. “Ya!

Saya akan melakukannya dengan segera.”

Sohaku pergi tanpa mengucap sepatah kata lagi. Taro dan dua orang

rahib lainnya, Mune dan Yoshi, kembali berdiri.

Mune berkata, “Suasana hati Tuan Hidetada sedang tak enak akhirakhir

ini.”

“Kamu maksud Rahib Kepala Kuil Sohaku,” kata Taro sembari

menuangkan sup kacang ke mangkuk saji.

Yoshi mendengus, “Tentu saja suasana hatinya tak enak, tak peduli

nama yang dia gunakan. Sepuluh jam meditasi setiap hari. Tidak ada

latihan dengan pedang, mbak, atau subur. Siapa yang tahan dengan

latihan seperti itu tanpa menjadi kesal?”

“Kita adalah samurai klan Okumichi,” kata Taro, memong-mong acar

lobak menjadi pongan kecil siap santap, “Adalah tugas kita untuk

mematuhi tuan kita apa pun perintahnya.”

“Memang benar,” balas Mune, “tetapi bukankah tugas kita juga untuk

melakukannya dengan gembira?”

Yoshi mendengus lagi, tetapi dia mengambil sapu dan mulai menyapu

lantai di dapur.

“Ketika seorang pemanah tidak mengenal sasarannya,” kata Taro

mengutip Konfusius, “Dia melihat ke dalam dirinya sendiri untuk

mengetahui apa yang salah. Bukan tempat kita untuk mengkritisi atasan

kita.” Dia meletakkan sup dan acar di atas nampan bersama semangkuk

kecil nasi. Ketika Taro keluar dapur, Mune mencuci kuali, berhati-hati

agar kuali-kuali itu tidak saling berbenturan.

PDF by Kang Zusi

Saat itu adalah pagi musim dingin yang indah. Dingin yang merasuk

lewat jubahnya yang tipis justru menyegarkan Taro. Betapa menyegarkan

berendam di sungai di sisi kuil dan berdiri di bawah guyuran air sedingin

es di air terjunnya yang kecil. Sayang, kesenangan-kesenangan seperti

sekarang terlarang baginya.

Tetapi, dia yakin itu hanya sementara. Meski Bangsawan Agung

Akaoka yang sekarang bukan seorang pejuang seperti mendiang

kakeknya, dia tetap seorang Okumichi. Perang akan terjadi. Dan, itu

terlihat jelas bahkan bagi orang yang sederhana seperti Taro. Dan, setiap

kali perang meletus, pedang samurai Klan Okumichi selalu yang menjadi

yang pertama memerah oleh darah musuh. Taro dan kedua rekannya telah

menunggu sekian lama. Ketika perang meletus, mereka tidak akan

menjadi rahib lagi.

Taro melangkah ringan di kerikil yang menghiasi jalan setapak antara

ruang utama dan bagian sayap untuk tempat tinggal. Ketika kerikil itu

basah, jalan itu sangat licin. Ketika kering, kerikil itu berbunyi seperti

tanah longsor setiap kali diinjak. Rahib Kepala Sohaku menjanjikan

keringanan setahun tidak melakukan tugas membersihkan kandang kuda

kepada siapapun yang mampu berjalan melewati kerikil di jalan setapak

itu tanpa mebuat bunyi sama sekali sepanjang sepuluh langkah. Sejauh

ini, Taro merupakan orang yang paling berhasil, tetapi tetap saja

langkahnya masih berbunyi kendati tak sekeras yang lain. Masih perlu

banyak latihan.

Dua puluh rahib lain tetap bermeditasi selama tiga puluh menit

sebelum Mune membunyikan bel tanda makan pagi. Eh, hanya sembilan

belas biarawan. Taro lupa tentang Jioji, yang tulang tengkoraknya

kemarin retak karena mendpat tugas yag sekarang akan dilakukannya.

Taro meneruskan langkahnya melewati kebun sampai ke dinding yang

membgatasi halaman kuil. Di dekat dindng ada pondko kecil. Sbeleum

menyatakan kedatangannya, Taro memusatkan konsentrasinya. Dia tidak

ingin bergabung dengan Jioji dalam upacara pembakaran mayat.

“Tuanku,” kata Taro dari luar, “hamba Taro. Hamba membawa

sarapan untuk Tuan.”

PDF by Kang Zusi

“Kita terbang membelah udara dengan kapal-kapal baja,” terdengar

suara dari dalam gubuk. “Saat jam macan, kami ada di sini. Wakut jam

babi, kami ada di Hiroshima . Kami terbang membelah udara seperti para

dewa, tapi kami tidak puas. Kami sudah terlambat. Kami berharap datang

lebih awal.”

“Hamba masuk Tuanku,” Taro membuka tangkai kayu yang

mengunci pintu dari luar dan menggeser pintu hingga terbuka. Aroma

kental keringat, koran manusia, dan air seni langsung menyerbu lubang

hidungnya dan membuat perutnya memberontak. Taro berdiri dan

menjauh dari pintu secepat dia bisa tanpa menumpahkan makanan di

nampan. Dengan upaya keras, dia akhirnya mampu menahan desakan

cairan pahit dari perutnya naik ke mulut. Taro tahu dia harus

membersihkan pondok itu sebelum menyajikan sarapan. Itu berarti dia

juga harus membersihkan sang penghuni pondok. Sesuatu yang tak bisa

dia lakukan sendiri.

“Di tangan kami ada terompet-terompet kecil. Kami saling berbisik

melalui terompet itu.”

“Tuanku, hamba akan segera kembali. Harap tenangkan diri Anda.”

Pada kenyataannya, suara itu memang terdengar tenang meski jelas

tanda ketidak-warasan dari kata-kata yang terucap.

“Kami saling mendengar dengan jelas, meski kami terpisah bermilmil

jauhnya.”

Taro dengan cepat kembali ke dapur.

“Air, lap,” katanya kepada Mune dan Yoshi.

“Demi Buddha Yang Penuh Kasih,” kata Yoshi, “jangan bilang kalau

dia telah mengori ruangannya lagi.”

Taro berkata singkat, “Buka jubahmu, pakai saja celana dalam. Tidak

ada gunanya mengori jubah kita juga,” sembari membuka jubah,

melipatnya rapi dan menaruhnya di rak.

Saat mereka bertiga telah melalui kebun dan bisa melihat gubuk itu,

Taro dengan kaget menyadri bahwa tadi dia lupa menutup pintu gubuk.

Dua temannya langsung berhenti mendadak ketika melihat pintu terbuka.

“Apa kamu tak mengunci pintu saat pergi tadi?” Tanya Mune.

PDF by Kang Zusi

“Kita harus mencari bantuan tambahan,” Yoshi berkata dengan

gugup.

Taro berkata, “Tunggu di sini.”

Lalu, dengan penuh kehati-hatian, dia mendekat pintu gubuk. Dia

tidak hanya mem-biarkan pintu terbuka, tetapi karena bau yang sangat

menyengat dia juga lupa untuk melongok ke dalam sebelum mencari

bantuan. Tidak mungkin orang yang mereka jaga bisa membuka semua

ikatan yang memasungnya. Setelah kecelakaan dengan Jioji kemarin,

mereka tidak hanya mengikat tangan dan kaki Lord Shigeru erat-erat,

mereka juga memasungnya dengan empat tali yang diikatkan ke empat

dinding pondok. Shigeru tidak mungkin bergerak lebih dari tiga puluh

sentimeter ke arah mana pun karena keempat tali itu membatasi

geraknya. Namun, tetap saja Taro bertanggung jawab untuk

memastikannya.

Aroma busuk masih menguat dari dalam gubuk, tetapi kini Taro

terlalu khawatir sehingga tidak memperdulikannya.

“Tuanku?”

Tak ada jawaban dari dalam. Taro dengan cepat melongok ke dalam

dengan hati-hati, berusaha untuk tidak memperlihatkan sikap hendak

menyerang. Empat tali pasungan masih terpasang di dinding, tetapi

Shigeru telah lenyap. Mengendap-endap di dinding luar di sisi pintu, Taro

mengintip ke bagian kanan dalam gubuk, lalu membalik posisinya untuk

mengecek bagian kiri gubuk. Gubuk itu benar-benar kosong.

“Beri tahu Kepala Kuil,” kata Taro kepada Yoshi. “Tamu kita telah

meninggalkan kamarnya.”

Sementara Yoshi pergi untuk melaporkan hilangnya Shigeru, Taro

dan Mune berdiri berdekatan dan memandang sekeliling dengan gugup.

“Dia bisa saja keluar dari daerah kuil dan kembali ke Akaoka,” kata

Mune. “Atau bisa saja sembunyi di manapun. Sebelum sakit, dia adalah

seorang ahli menyamar. Dia bisa saja di lapangan bersama selusin kuda

dan pasukan kavaleri, tetapi kita tak melihatnya.”

“Dia tidak membawa kuda atau pasukan kavaleri bersamanya,” kata

Taro.

PDF by Kang Zusi

“Maksudku,” tukas Mune, “bukan berarti dia memang membawa

pasukan kavaleri, tetapi dia bisa saja menyamar sebagai pasukan

kavaleri dan kita tetap tidak tahu dia di mana. Apalagi kalau sendirian, dia

akan lebih muda meloloskan diri dari pengawasan kita.”

Sayangnya, Taro tidak bisa menjawab karena dua hal. Pertama,

karena dia melihat pandangan Mune yang terkejut dan penuh ketakutan,

bukan ke arah Taro melainkan ke belakang bahunya. Kedua, tiba-tiba

Taro pingsan akibat hantaman batu sekepalan tangan di bagian belakang

kepalanya.

Ketika Taro sadar dari pingsan, dia melihat Sohaku sedang merawat

luka Mune, salah satu matanya membengkak hingga menutup. Dengan

satu mata yang lain. Mune memandang jengkel ke arah Taro.

Mune berkata, “Kamu salah. Lord Shigeru masih ada di dalam

gubuk.”

“Bagaimana mungkin? Aku sudah melihat ke segala arah dan tak

seorang pun di dalam.”

“Kamu tidak melihat ke atas,” kata Sohaku mengecek perban di

belakang kepala Taro. “Kamu tak akan mati.”

“Dia bergantung di dinding di atas pintu,” kata Mune. “Dia melompat

keluar saat kamu membelakangi gubuk untuk bicara padaku.”

“Benar-benar tak termaafkan, Tuanku,” Taro berkata sambil

membungkukkan wajahnya ke tanah serendah mungkin. Namun, Sohaku

mencegahnya.

“Tenangkan dirimu,“ katanya ringan. “Anggap saja ini adalah

pelajaran berharga. Selama dua puluh tahun, Lord Shigeru menjadi kepala

instruktur bela diri di klan kita. Bukan suatu hal memalukan jika kamu

kalah darinya. Tetapi, hal ini juga bukan alasan untuk tidak mengakui

kelalaian. Lain kali, pastikan dia terikat erat sebelum meninggalkan-nya,

dan jangan lupa mengunci pintu.

“Ya, Tuanku.”

“Angkat kepalamu. Pendarahanmu makin parah dengan menyembah

seperti itu. Dan panggil aku rahib, jangan tuan.”

“Ya, Rahib Kepala,” Taro lalu bertanya, “Apakah Lord Shigeru telah

ditemukan?”

PDF by Kang Zusi

“Ya,” senyum Sohaku begitu kaku. “Dia ada di ruang senjata.”

“Dia punya senjata?”

“Dia seorang samurai,” sambung Sohaku, “dan dia ada di ruang

senjata. Bagaimana menurutmu? Tentu dia punya senjata. Bahkan, dia

punya semua senjata dan kita tak punya satu pun kecuali apa yang bisa

kita usahakan.”

Yoshi datang berlari-lari, masih mengenakan celana dalam, tetapi

sekarang membawa ngkat sepanjang tiga meter yang baru saja dipong dari

rumpun bambu di dekat kuil. “Dia tidak berusaha untuk keluar, Tuan.

Kami telah menghalangi pintu ruang senjata sebisa mungkin dengan

balok dan ng-ng beras. Tetapi, kalau dia memang ingin keluar…”

Sohaku mengangguk. Di dalam ruangan senjata ada tiga ng bubuk

mesiu. Shigeru bisa meledakkan halangan apapun. Bahkan, kalau mau dia

bisa meledakkan seluruh ruangan senjata termasuk dirinya sendiri.

Sohaku bangkit.

“Tinggallah di sini,” katanya kepada Yoshi. “Rawat teman-temanmu.”

Lalu, dia melangkah melewati kebun menuju ruangan senjata. Di sana ,

dia menemukan para rahib lain berjaga di depan pintu, semua membawa

ngkat bambu sepanjang tiga meter. Bukan senjata ideal menghadapi

seorang ahli pedang, yang meski pun kini tak waras, merupakan salah

satu ahli pedang terbaik di negeri ini. Sohaku lega melihat anak buahnya

mengatur posisi dengan baik. Empat orang berjaga di belakang, dan tiga

tim masing-masing terdiri dari lima orang berjaga-jaga di bagian depan.

Jika Shigeru berusaha lari, dia akan muncul dari bagian depan.

Sohaku berjalan ke pintu ruangan senjata yang dihalangi dengan

balok dan ng-ng beras seperti yang dilaporkan Yoshi. Dari dalam

tedengar desis baja membelah udara. Shigeru sedang berlatih, mungkin

dengan dua pedang, satu di setiap tangan. Dia adalah satu dari sedikit ahli

pedang modern yang cukup dan ahli mengikuti gaya dua pedang Musashi

yang legendaris sejak dua ratus tahun lalu. Sohaku membungkuk hormat

di depan pintu dan berkata, “Lord Shigeru. Ini hamba, Tanaka Hidetada,

komandan kavaleri. bolehkah hamba berbicara dengan Anda, Tuanku?”

Sohaku berpikir penggunaan nama lamanya mungkin mengurangi

kebingungan Shigeru. Dia juga berharap nama itu bisa memancing respon

PDF by Kang Zusi

Shigeru. Dia dan Shigeru telah menjadi teman seperjuangan selama dua

puluh tahun.

“Kau lihat udara,” terdengar suara dari dalam. “Lapisan warna-warni

cakrawala, hiasan bagi mentari yang terbenam. Sungguh indah, tak

terbayangkan.”

Sohaku tidak mengerti makna kata-kata itu. Dia berkata, “Apakah

hamba bisa membantu Anda, Tuanku?”

Jawaban yang terdengar dari dalam hanyalah desis pedang membelah

udara.

Perahu panjang itu membelah air menuju jaringan rumit dermagadermaga

yang membentuk pelabuhan Edo . Kabut tipis air laut yang naik

dari ombak di haluan menyentuh pipi Emily dengan embun dingin.

Buritan sebuah kapal ngkang Jepang mendekat di samping kapal Bintang

Bethlehem, siap menurunkan muatannya dari kapal ke pantai.

“Di sanalah tujuan kita,” kata Cromwell, “istana di dekat pantai.

Pemiliknya menamainya Bangau yang Tenang.”

Mattehw Stark berkata, “Terlihat lebih seperti benteng daripada

istana.”

“Pengamatan yang bagus sekali, Saudara Matthew. Ingatlah baik-baik

ke mana kita pergi. Ke tanah orang-orang kafir yang terkenal sebagai

pembunuh terkeji di dunia. Ada orang yang mempercayakan keselamatan

dirinya pada kereta, ada juga yang mengandalkan kuda; tetapi, kita akan

selalu ingat nama Tuhan.”

“Amin,” Stark dan Emily menyahut berbarengan.

Emily berusaha agar tidak terlalu terbawa angan-angannya. Takdirnya

menunggu di tanah itu. Ketika takdir itu terjadi, apakah akan sesuai

dengan harapannya? Dia duduk di sebelah tunangannya, Pendeta

Zephaniah Cromwell, berusaha terlihat tenang dan kalem. Emily

mengucap doa dalam hati. Dia membaringkanku di padang rumput

menghijau; Dia membimbingku ke air yang tenang. Dia menyegarkan

jiwaku; Dia membimbingku ke jalan yang benar demi mengagungkan

nama-Nya. Di dalam dadanya, jantung Emily berdegup keras sekali

sehingga dia heran mengapa hanya dia sendiri yang dapat mendengarnya.

PDF by Kang Zusi

Dia berpaling ke arah Cromwell dan melihatnya memandangi dirinya.

Pipi dan alis Cromwell seperti biasanya berkerut dalam konsentrasi penuh

yang membuat matanya menonjol, sudut-sudut bibirnya menurun dan

garis-garis wajahnya menjadi lebih dalam. Wajah yang keras dan penuh

pengetahuan itu selalu membuat Emily merasa bahwa Cromwell mampu

melihat langsung ke dalam dirinya yang paling dalam.

“Nama Tuhan adalah menara yang kuat,” kata Cromwell. “Mereka

yang beriman berlindung di dalamnya dan pasti mereka akan selamat.”

“Amin,” kata Emily. Dia mendengar Stark ikut mengamini di

belakangnya.

“Tuhan tak akan mengecewakanmu,” lanjut Cromwell, suaranya

mengeras, wajahnya memerah, “Dia juga tak akan meninggalkanmu!”

“Amin,” sahut Emily dan Stark.

Tangan Cromwell terangkat, seakan-akan ingin menyentuh Emily,

lalu dia berkedip dan menarik pandangannya. Tangannya jatuh ke

pahanya, dan dia melihat ke haluan, ke arah dermaga yang kian mendekat.

Doa-doa keluar dari tenggorokannya dalam bisikan tertahan. “Jangan

takut ataupun cemas: karena Allahlah Tuhanmu dan Dia menyertaimu ke

manapun kau pergi.”

“Amin,” kata Emily.

Sebenarnya, dia lebih takut terhadap apa yang ada di belakangnya

daripada apa yang di depannya. Ketakutan terhadap apa yang akan dia

hadapi telah dikalahkan oleh antisipasi yang telah berubah menjadi

harapan sejak lama.

Jepang. Sebuah negeri yang sangat berbeda dengan asalnya,

sebagaimana negeri-negeri yang lain, tetapi h masih merupakan milik

Tuhan. Agama, bahasa, sejarah, seni—Jepang dan Amerika sama sekali

tak punya kesamaan. Emily belum pernah melihat pria atau wanita

Jepang, kecuali di museum fo. Dan Cromwell berkata, orang-orang

Jepang belum pernah melihat orang asing selama hampir tiga ratus tahun.

Akibatnya, kata Cromwell, mereka sangat picik, merasakan dengan hati

yang tertutup akibat keterasingan, mendengar dengan telinga yang tuli

oleh bunyi-bunyian setan, melihat dengan mata yang ditutupi oleh

khayalan para penyembah berhala. Kita dan mereka bisa menatap

PDF by Kang Zusi

pemandangan yang sama, tetapi melihat daratan yang sama sekali

berbeda. Bersiap-siaplah, kata Cromwell. Jagalah dirimu dari

kekecewaan. Buang semua hal yang kau anggap sepele selama ini. Dan,

kau akan dimurnikan dari semua kesombongan. Emily sama sekali tak

merasa takut, hanya merasa perlu bersiap-siap. Jepang. Dia telah

memimpikan negeri ini sejak lama. Jika ada tempat kutukan jahanam bisa

tercabut dari dirinya, Jepanglah tempatnya. Biarkan masa lalu menjadi

masa lalu. Itu adalah doa yang paling dia harapkan terkabul.

Dermaga kian mendekat. Emily bisa melihat sekitar dua lusin orang

Jepang berdiri di dermaga, petugas pelabuhan, dan petugas pemerintah.

Dalam beberapa menit, dia akan dapat melihat wajah mereka dan mereka

melihatnya. Ketika mereka memandangnya, apa yang mereka lihat?

Darah Emily mengalir deras dalam pembuluh-pembuluhnya.

2. Orang-Orang Asing

Okumichi no kami Genji, Bangsawan Agung Akaoka, memandang

bayangan dirinya di cermin. Dia melihat seorang asing yang dibungkus

berlapis-lapis pakaian antik, lengkap dengan hiasan rambut yang rumit,

sebagian diikat, sebagian disusun, dan sebagian dicukur. Lebih banyak

menanggung beban simbolisme ketimbang dewa suci para petani.

“Tuanku,” pelayannya yang bertugas membawa pedang berlutut di sisi

Genji. Dia membungkuk sembari menaikkan pedang pendek Genji,

wakizahi, di atas kepalanya, dan mengulurkan pedang itu kepada tuannya.

Ketika Genji telah memasang pedang itu diikat pinggangnya, si pembawa

pedang melakukan prosedur yang sama saat memberikan pedang

panjangnya, katana, senjata utama seorang samurai selama beribu-ribu

tahun. Sebenarnya, untuk kepergiannya yang singkat kali ini, tak

diperlukan membawa sebatang pedang pun, apalagi dua. Tetapi, statusnya

menuntut Genji untuk mengenakan kedua pedang itu.

PDF by Kang Zusi

Meskipun sangat rumit dan lengkap, secara keseluruhan penampilan

Genji pada saat yang sama juga sangat konservatif, lebih cocok bagi orang

yang jauh lebih tua ketimbang untuk seorang pemuda berusia 24 tahun. Ini

karena pakaian yang dia kenakan dahulunya merupakan kepunyaan

seorang pria tua, kakeknya, mendiang Lord Kiyori, yang baru saja

meninggal tiga minggu lalu pada usianya yang ke-75. Kimono luar

berwara abu-abu dan hitam tanpa hiasan apa pun, memberikan nuansa

kesiapan perang. Di luarnya lagi, jaket hitam bersayap yang juga tanpa

aksesori, bahkan tanpa lambing klannya, seekor burung gereja yang

menghindari panah dari empat arah.

Tiadanya aksesori yang terakhir ini sungguh tidak menyenangkan

Saiki, pengurus rumah tangga yang diwarisi Genji dari sang kakek.

“Tuanku, apakah ada alasan mengapa anda ingin bepergian secara

sembunyi-sembunyi seperti ini?”

“Sembunyi-sembunyi?” Pertanyaan itu membuat Genji geli. “Aku

akan pergi keluar dalam sebuah prosesi formal dikelilingi oleh sejumlah

samurai, semuanya mengenakan lambang burung gereja dan panah. Apa

kau pikir akan ada orang yang tidak bisa mengenaliku?”

“Tuanku, Anda memberi kesempatan pada musuh untuk berpura-pura

mereka tidak mengenali Anda, sehingga mereka bisa menghina Anda dan

membangkitkan kerusuhan.”

“Aku menolak dihina,” kata Genji, “dan kau pasti akan mencegah

semua hal yang menjurus pada kerusuhan.”

“Mereka tidak akan memberikan kesempatan bagi Anda untuk

menolak,” kata Saiki, “dan hamba mungkin tak bisa mencegah.”

Genji tersenyum, “Kalau memang kejadiannya seperti itu, aku yakin

kau akan mem-bunuh mereka semua.”

Kudo, sang kepala keamanan, membungkuk dan masuk ruangan.

“Tuanku, tamu Anda akan pergi setelah keberangkatan Anda. Apa tidak

sebaiknya dia diikuti?”

“Untuk tujuan apa?” tanya Genji. “Kita tahu di mana dia tinggal.”

“Sekedar berjaga-jaga saja,” kata Kudo. “Saat Anda tak bersamanya,

mungkin dia menurunkan kewaspadaan. Dan kita bisa mendapatkan

informasi yang berharga tentang-nya.”

PDF by Kang Zusi

Genji tersenyum. Dia mengenal Heiko kurang dari sebulan, dan dia

tahu bahwa Heiko tak pernah menurunkan kewaspadaannya.

“Kita harus mengikuti saran Kudo,” kata Saiki. “Kita belum pernah

menyelidiki latar belakang dan masa lampau wanita itu seperti

seharusnya.” Maksud tersirat perkataan Saiki adalah, Genji selama ini

melarang penyelidikan tentang Heiko. “Kita sebaiknya melakukan

beberapa pengawasan terhadapnya.”

“Jangan khawatir,” kata Genji. “Aku sendiri telah menyelidiki Heiko

dengan menyeluruh, dan tidak menemukan sesuatu yang meragukan.”

“Itu bukan jenis penyelidikan yang kita perlukan,” kata Saiki dengan

ekspresi masam. Menurutnya, guyonan tentang seks sangat tidak pantas.

Selama 250 tahun kedamaian yang melenakan, banyak klan hancur karena

pemimpinnya mudah menyerah pada godaan nafsu. “Kita sama sekali tak

tahu apa-apa tentang dia. Itu tidak baik.”

“Kita tahu, dia adalah geisha paling terkenal di Edo,” kata Genji. “Apa

lagi yang harus kita ketahui?” Dia menaikkan tangan untuk memotong

jawaban Saiki. “Aku sendiri secara fisik telah menyelidikinya dari empat

arah waktu dan ruang. Tenanglah, dia sama sekali tak perlu dicurigai.”

“Tuanku,” kata Saiki, dengan ekspresi mencela, “ini bukan masalah

yang bisa dijadikan lelucon. Nyawa Anda bisa saja dalam bahaya.”

“Apa yang membuatmu berpikir aku melucu? Tentu kamu telah

mendengar kabar itu. Aku hanya perlu menyentuh seseorang dan aku tahu

takdir mereka.” Genji bisa melihat dari cara Saiki dan Kudo saling

memandang bahwa mereka memang telah mendengar kabar itu. Dengan

satu kali pandangan tak puas ke arah cermin, Genji berbalik dan keluar.

Dua penasihatnya mengikuti, berjalan di lorong rumah hingga ke

halaman luar. Dua lusin samurai menunggu kedatangannya, sebuah joli

dan empat pemabdunya ada di tengah. Semua pelayan berbaris hingga ke

gerbang, siap membungkuk mengantarkan keberangkatannya. Mereka juga

akan menunggunya di sana dan membungkuk lagi saat dia kembali.

Betapa semua ini hanyalah penghamburan energi yang sia-sia. Dia hanya

akan pergi beberapa ratus meter, dan akan kembali hanya dalam beberapa

menit. Namun, protokol kuno dan kaku menuntut bahwa setiap

PDF by Kang Zusi

kepergiannya dan kedatangannya harus ditanggapi dengan upacara yang

serius.

Genji berpaling kepada Saiki. “Tidak heran Jepang jauh tertinggal dari

negera-negera asing. Mereka punya ilmu dan industri. Mereka

memproduksi meriam, kapal uap, dan rel kereta api. Kebalikannya,

menyedihkan sekali kita punya terlalu banyak upacara kosong seperti ini.

Kita hanya memproduksi bungkukan, berlutut, dan lebih banyak lagi

bungkukan.”

“Tuanku?” ekspresi Saiki diliputi kebingungan.

“Aku bisa naik seekor kuda dan pergi ke sana sendiri jauh lebih cepat

daripada waktu yang dibutuhkan untuk mengumpulkan orang-orang ini.”

“Tuanku!” Saiki dan Kudo keduanya jatuh berlutut di lantai. Kata

Saiki, “Hamba mohon, jangan pernah memikirkan hal seperti itu.”

Kudo menambahkan, “Anda mempunyai musuh baik dari kalangan

pendukung dan penentang Shogun. Keluar tanpa kawalan sama saja

dengan bunuh diri.”

Genji memberi isyarat agar mereka berdiri. “Aku bilang aku bisa, aku

tak bilang akan melakukannya.” Dia menarik napas panjang dan menuruni

tangga ke arah sandal yang telah disiapkan untuknya. Dia melangkah lima

langkah ke joli (yang telah dinaikkan setinggi satu meter oleh para

pemandu sehingga dia bisa masuk dengan mudah), melepas kedua pedang

(yang semenit lalu baru dia pasang di ikat pinggangnya), menempatkannya

di dalam joli, melepaskan sandal (yang dihormati dengan bungkusan oleh

pelayan pembawa sandal sebelum menempatkannya di tempat sandal di

bawah pintu masuk joli), dan mendudukkan diri di dalam joli. Genji

memandang Saiki dan berkata,” Kamu lihat apa yang aku maksud dengan

upacara kosong?”

Saiki membungkuk, “Tuanku, kebodohan hamba membuat hamba tak

bisa melihatnya. Hamba akan mempelajari masalah ini.”

Genji mengeluh putus asa. “Kalau begitu, ayo kita berangkat sebelum

matahari terbenam.”

“Tuanku bergurau lagi,” kata Saiki. “Matahari baru saja terbit.” Dia

melangkah ke depan, membungkuk dan menutup pintu joli. Para penandu

berdiri. Dan, prosesi itu mulai bergerak.

PDF by Kang Zusi

Dari jendela joli, Genji bisa melihat delapan samurai yang berbaris

dalam barisan ganda. Jika dia melihat ke belakang, dia akan melihat dua

belas samurai lagi. Dua samurai ada di sebelah kiri joli, dan dua lagi

termasuk Saiki, ada di sebelah kanannya. Dua puluh empat orang, dua

puluh delapan jika para penandu dihitung, siap berkorban jiwa untuk

melindungi nyawanya. Pengabdian dramatis seperti itu mengiringi setiap

tindakan seorang bangsawan agung, tak peduli betapa tidak penting dan

sepelenya tindakan sang bangsawan. Tak heran masa lalu Jepang penuh

dengan kucuran darah dan masa depannya penuh dengan bahaya.

Renungan Genji berubah arah ketika dia melihat tatanan rambut yang

rumit dan indah di antara kepala-kepala para pelayan yang membungkuk.

Tatanan itu terbentuk dari rambut indah yang semalam menghiasi

bantalnya seperti kelam malam yang tumpah dari langit. Kimononya

belum pernah dia lihat sebelumnya. Genji tahu, dia mengenakan kimono

itu hanya untuk mengantar kepergiannya. Kimono itu bercorak lusinan

mawar merah jambu di antara buih ombak di laut biru. Mantel luarnya

yang berwarna putih mempunyai corak sama, tetapi tanpa warna tambahan

sama sekali. Mawar putih dengan tiga tekstur sutera yang berbeda di atas

buih laut yang berwarna putih. Sangat menggugah, menantang sekaligus

berbahaya.pola mawar di kimono Heiko berasal dari jenis yang terkadang

disebut sebagai American Beatuy. Samurai antiorang asing yang paling

radikal dari klan reaksioner gampang tersinggung oleh apa yang dianggap

datang dari luar. Dengan kesombongan picik yang membuat mereka

menganggap diri sebagai “Para Penjaga Kebajikan”, sangat mungkin salah

seorang dari mereka ingin membunuh Heiko hanya karena mengenakan

kimono bercorak mawar itu. Terhadap serangan seperti itu, pertahanan

Heiko hanyalah keberaniannya, kemasyhurannya, dan kecantikannya yang

mengagumkan.

“Stop,” kata Genji.

Dengan segera, Saiki meneriakkan perintah. “Berhenti!” Rombongan

samurai yang paling depan telah melewati gerbang dan sekarang berhenti

di jalan. Joli yang dinaiki Genji tepat berada di sebelah dalam gerbang.

Sementara pasukan pengawal lainnya masih ada di halaman, di

belakangnya. Kening Saiki berkerut. “Posisi seperti ini mengundang

PDF by Kang Zusi

serangan, Tuanku. Kita tidak bisa berlindung ke dalam gerbang, dan kita

juga tak bisa bergerak bebas di luar.”

Genji membuka pintu geser joli. “Aku percaya sepenuhnya pada

kemampuanmu untuk melindungiku setiap saat dan dalam kondisi apa

pun.” Heiko masih membungkuk rendah seperti yang lain.

“Nona Mayonaka no Heiko,” sapa Genji mengenakan nama lengkap

geishanya. Keseimbangan Tengah Malam.

“Lord Genji,” jawab perempuan itu, membungkuk semakin rendah.

Genji heran, bagaimana suara Heiko bisa begitu lembut sekaligus

jernih pada saat yang sama. Sekiranya suara itu selembut yang terdengar,

seharusnya Genji tak bisa men-dengarnya sama sekali. Ilusi yang

menggoda. Semua hal tentang Heiko sangat menggoda.

“Kimono yang sangat mencolok.”

Heiko menegakkan tubuhnya, tersenyum, dan sedikit mengembangkan

tangannya. Lengan kimononya sedikit mengembangkan tangannya.

Lengan kimononya yang lebar membuka seperti sayap burung yang akan

terbang. “Hamba tidak mengerti apa maksud Tuanku,” katanya. “Warnawarna

ini sangat umum dan klise. Tentu hanya orang sangat bodoh yang

bisa terpancing olehnya.

Genji tertawa. Bahkan, Saiki yang keras dan tegas juga tak bisa

menahan tawa, meski dia menyamarkannya dengan batuk. Genji berkata,”

Orang-orang yang sangat bodoh itu justru yang paling

mengkhawatirkanku. Tetapi, mungkin kamu benar. Mungkin warna-warna

tradisional itu akan menyamarkan mata mereka dari corak bunga mawar

asing itu.”

“Asing?” Pandangan mata polos, pura-pura tak tahu membuat mata

Heiko melebar dan kepalanya sedikit miring. “Hamba mendengar bahwa

mawar merah jambu, putih, dan merah, mekar setiap musim semi di kebun

dalam Kastel Awan Burung Gereja yang termasyhur.” Dia lalu

menambahkan penuh tekanan, “hamba mendengarnya dari seseorang,

meski hamba belum pernah diundang untuk melihatnya sendiri.”

Genji membungkuk, tidak terlalu rendah. Aturan melarang seorang

bangsawan agung membungkuk rendah kepada siapa pun yang statusnya

lebih rendah, yang berarti hamper setiap orang kecuali anggota keluarga

PDF by Kang Zusi

kekaisaran di Kyoto dan keluarga Shogun di istana besar yang berada di

bukit tertinggi di Edo. Sambil tersenyum Genji berkata, “Aku yakin

keinginanmu melihat mawar itu akan terpenuhi tak lama lagi.”

“Hamba tak begitu yakin,” kata Heiko, “tetapi, hamba gembira

mendengar keyakinan Anda. Lagi pula, bukankah kastel itu adalah salah

satu kastel tertua di Jepang?”

“Ya,” kata Genji mengikuti permainan Heiko. “Memang benar.”

“Lalu, bagaimana mawar-mawar ini dikatakan asing? Tentunya,

bunga yang mekar di sebuah kastel tertua di Jepang pasti asli Jepang

bukan, Lord Genji?”

“Jelas aku salah besar mengkhawatirkanmu, Nona Heiko?” kata Genji.

“Pemikiranmu tadi pasti mampu menangkal semua kritik.”

Para pelayan masih membungkuk. Di luar gerbang, orang-orang yang

kebetulan lewat dan berlutut karena sang Bangsawan Agung masih

membungkuk, kepala mereka menempel ke tanah. Semua ini dilakukan

lebih karena rasa takut ketimbang rasa hormat. Seorang samurai dengan

mudah membunuh orang biasa yang menurutnya tidak memberikan

penghormatan yang pantas, yang biasanya berarti membungkuk rendah di

tanah hingga para samurai dan tuannya telah lewat. Selama percakapan

Genji dengan Heiko, semua aktivitas di sekitarnya terhenti. Melihat Heiko

membuat Genji melupakan semua hal lainnya. Kini

kekurangtanggapannya terhadap situasi di sekitar membuat Genji malu.

Dengan cepat, dia membungkuk sebagai tanda perpisahan dan

mengisyaratkan rombongan maju untuk melanjutkan perjalanan.

“Maju!” perintah Saiki. Saat rombongan mulai bergerak, Saiki

memandang ke arah Kudo yang tinggal di belakang.

Genji melihat Saiki dan Kudo bertukar pandang dan dia tahu apa

maksudnya. Dua orang itu tidak mematuhi perintahnya untuk membiarkan

Heiko. Ketika Heiko pergi, dia akan ditemani pelayannya, dan di

belakangnya secara diam-diam, Kudo, penasihat seniornya yang ahli

dalam pengintaian musuh, akan mengikuti. Tak ada yang bisa dia lakukan

untuk mencegahnya saat ini. Lagi pula, belum ada yang perlu

dikhawatirkan. Belum terjadi peristiwa yang dapat membuatnya khawatir

PDF by Kang Zusi

para pengawalnya akan membunuh wanita kesayangannya itu. Situasi

akan segera memburuk, tetapi dia akan memikirkannya nanti.

“Saiki.”

“Hamba, Tuanku.”

“Kendaraan apa yang disiapkan untuk para tamu kita?”

“Rickshaw, Tuanku.”

Genji tidak berkata apa-apa lagi. Rickshaw. Saiki sebenarnya tahu

bahwa para tamu itu akan lebih nyaman menggunakan kereta, dan karena

itulah dia justru memilih rickshaw untuk mereka. Isyarat jelas

ketidaksetujuan dari abdinya ini tidak membuat Genji marah. Dia paham

dilema yang terjadi.

Saiki terikat kepadanya karena kehormatan, sejarah, dan tradisi. Tetapi

aturan yang telah dibentuk oleh sejaran dan tradisi, aturan yang menjadi

pegangan kehormatan, saat ini dilanggar tindakan Genji. Orang asing

mengancam urutan status hierarki bangsawan dan pengikut yang menjadi

dasar masyarakat mereka. Ketika para bangsawan lain berusaha keras

mengusir para orang asing itu, tuannya malah berusaha berteman dengan

mereka. Tidak hanya sekedar orang asing tetapi para misionaris, kelompok

yang secara politik paling provokatif dan secara praktis paling tak

bergunadari semua orang asing yang datang ke Jepang.

Di kalangan para pengikutnya, Genji tahu tidak hanya Saiki yang

meragukan keputusannya. Memang dari tiga jenderal yang diwarisi dari

kakeknya—Saiki, Kudo, dan Sohaku—tak seorang pun yang dia yakin

kesetiaannya benar-benar utuh. Kesetiaan itu kini mengalami konflik yang

belum pernah terjadi sebelumnya. Ketika kesetiaan itu tidak bisa

dikompromikan lagi, apakah ketiganya akan mengikuti Genji atau justru

akan melawannya?

Bahkan, dengan kemampuan meramal sebagai pegangan, jalan di

depan tak juga dapat dipastikan.

Selusin pekerja dermaga Jepang yang berpakaian seadanya menunggu

kedatangan tongkang yang mereka tumpangi. Di ujung dermaga, tiga pria

dengan dandanan lebih bagus dan rapi duduk di sebuh meja. Stark melihat

ketiganya memakai dua pedang di ikat pinggangnya. Mereka pasti samurai

PDF by Kang Zusi

seperti yang diceritakan Zephaniah Cromweel, kasta prajurit yang

memerintah Jepang. Semua orang Jepang itu menatap kedatangan ekspresi

mereka tanpa ekspresi apa pun.

“Semoga Tuhan di surga mengawasi kalian,” kata Kapten

McCain, “karena jelas bahwa Tuhan tidak ada di pantai itu sekarang.”

Nahkoda Bintang Bethlehem itu pergi bersama mereka ke pantai untuk

membeli perlengkapan bagi kapalnya. Tidak seperti para penumpangnya,

dia sudah pernah ke Jepang dan pendapatnya tentang Negara itu dan

penduduknya tidaklah bagus.

“Tuhan ada di mana-mana, kata Cromwell, “dan di segala sesuatu. Dia

mengawasi semua tanpa kecuali.”

McCain menggerutu. Kata-katanya yang tak jelas itu justru

memperjelas pendapatnya tentang jawaban Cromwell. Dia melangkah ke

dermaga membawa tali tambang tongkang dan memberikannya kepada

salah seorang pekerja yang menunggu. Pekerja itu menerimanya sambil

membungkuk rendah. Tidak ada kata terucap karena McCain tidak dapat

berbahasa Jepang dan tak seorang pun pekerja dermaga di Jepang bisa

berbicara bahasa Inggris.

Bintang Bethlehem akan berlayar ke Hong Kong besok malam,” kata

McCain. “Jika kalian tidak kembali ke kapal saat itu, maka baru enam

minggu lagi kami kembali saat perjalanan pulang ke Hawaii.”

“Kalau begitu, kami akan menunggu Anda enam minggu lagi,” kata

Cromwell, “untuk mengucapkan selamat jalan. Kami akan tinggal di sini

dan melakukan kerja untuk Tuhan, hingga akhir hayat kami.”

McCain menggerutu kembali dan berbalik menuju gudang-gudang di

belakang dermaga.

“Pengaturan awal telah dibuat,” kata Cromwell kepada Emily dan

Stark. “Izin telah diberikan. Di sini kita hanya formalitas saja. Saudara

Matthew, tolong temani Saudari Emily dan awasi barang-barang kita, aku

akan menemui para petugas Shogun.”

“Baiklah, Saudara Zephaniah,” kata Stark.

Cromwell mendekat ke meja tempat tiga petugas tadi duduk. Stark

mengulurkan tangannya ke arah Emily yang menyambutnya dan

melangkah dari perahu ke dermaga.

PDF by Kang Zusi

Fakta jelas bahwa semua pekerja adalah orang Jepang tidak membuat

Stark merasa nyaman. Orang bisa melakukan tugas karena dia didorong

untuk melakukannya. Bisa juga karena takut jika tak melakukannya. Dan,

mereka juga bisa melakukannya karena dibayar. Salah seorang di antara

mereka bisa saja pembunuh. Stark tak ingin mati secepat dia menginjak

pantai, terhenti sebelum memulai.

“Anda terlihat terkejut melihat penampilan orang Jepang, Saudara

Matthew,” kata Emily. “Apakah menurutmu mereka sangat aneh?”

“Sama sekali tidak,” kata Stark. “Aku hanya mengagumi efisiensi

mereka. Mereka hanya membutuhkan seperempat dari waktu yang

dibutuhkan para pelaut kita untuk mengeluarkan barang-barang kita dari

tongkang.”

Ketiganya mengikuti barang-barang mereka ke meja tempat petugas

Shogun duduk. Sementara Cromwell terlibat dalam diskusi agak panas

dengan mereka.

“No, no, no,” kata Cromwell. “Kamu mengerti? No, no, no.”

Petugas di tengah rupa-rupanya menjadi pemimpin mereka. Wajahnya

tetap tanpa ekspresi, tetapi nada suaranya naik saat berkata, “Harus yes,

yes, yes. Mengerti kamu?”

“Mereka memaksa untuk menggeledah barang-barang kita untuk

memastikan tak ada barang selundupan,“ kata Cromwell. “Hal ini kan

jelas-jelas dilarang dalam perjanjian.”

“Kalau tidak yes,” kata sang petugas. “Datang ke Jepang no.”

“Apa salahnya membiarkan mereka menggeledah?” Tanya Emily.

“Kita kan tidak membawa barang selundupan.”

“Bukan itu masalahnya,” tukas Cromwell. “Jika kita menurut pada

campur tangan yang tidak jelas ini sekarang, campur tangan mereka tak

akan ada akhirnya. Misi kita akan hancur sebelum dimulai.”

Seorang samurai datang berlari-lari ke meja pemeriksaan. Dia

membungkuk kepada kepala petugas dan mengatakan sesuatu dalam

bahasa Jepang. Nada suaranya sangat mendesak. Ketiga petugas pemeriksa

tadi melompat berdiri. Setelah diskusi singkat di antara mereka, kedua

petugas yang lebih junior pergi berlari-lari bersama samurai yang

membawa pesan tadi.

PDF by Kang Zusi

Pandangan keras kepala menghilang dari wajah sang petugas. Kini, dia

terlihat gelisah dan sangat khawatir. “Silahkan tunggu,” katanya dengan

membungkuk, tiba-tiba bersikap sopan.

Sementara itu, para samurai yang sedari tadi rupanya telah disiapkan

berhamburan dari gudang persenjataan pelabuhan ke dermaga. Sebagian

besar membawa senjata api, juga pedang. Stark mengenali senjata api yang

mereka bawa adalah jenis senjata laras panjang kuno. Kuno, tetapi dari

jarak jauh pun tetap mampu membunuh di tangan penembak jitu. Dalam

hal ini, jarak rupanya bukan masalah. Bahkan saat para samurai itu

mengatur diri mereka sesuai barisan, kelompok samurai lain tiba, sekitar

dua lusin, mengenakan baju seragam yang berbeda warna dan pola. Empat

penandu di tengah kelompok itu menandu sebuah joli di pundaknya. Para

samurai yang baru datang itu menuju dermaga dan berhenti kurang dari

lima langkah dari barisan terdepan samurai Shogun. Sikap mereka tidaklah

ramah.

“Minggir!” teriak Saiki. “Berani sekali kalian menghalangi jalan

Bangsawan Agung Akaoka.”

“Kami tidak mendapat berita bahwa akan ada Bangsawan Agung yang

sudi berkunjung.” Saiki mengenali sang pembicara Ishi, Komandan Polisi

Shogun yang gemuk dan sombong. Jika terjadi perkelahian, dialah orang

pertama yang akan dipenggal oleh Saiki. “Karenanya, kami tidak

mempunyai wewenang mengizinkan Bangsawan Agung datang ke

dermaga.”

“Dasar makhluk tak punya aturan!” Saiki melangkah satu langkah ke

arah Ishi, tangan kanannya siap di gagang pegang. “Rendahkan dirimu

sesuai kedudukanmu.”

Tanpa perintah, setengah dari samurai Akaoka mengatur diri dalam

posisi siap perang di sisi komandannya, tangan mereka bersiap di gagang

pedang. Meskipun samurai dengan seragam Shogun berjumlah empat kali

lipat, mereka tidak terorganisasi sebaik samurai Akaoka. Para penembak

ada di belakang. Dari situ, senjata mereka tak bisa ditembakkan tanpa

membahayakan kawan sendiri. Itu jika mereka siap menembak, pada

PDF by Kang Zusi

kenyataannya mereka tidak siap. Samurai berpedang di depan juga tak siap

menghadapi konflik. Ketika Saiki melangkah ke depan, mereka mundur

sekan-akan terpukul.

“Tuan kami tidak perlu mengatakan apa pun pada tikus-tikus

pelabuhan!” Saiki benar-benar murka. Satu lagi hinaan dari Ishi dan dia

akan memenggalnya tepat di tempat polisi pelabuhan itu berdiri. “Minggir

dari jalan kami atau kami senang hati mengenyahkanmu.”

Di dalam joli, Genji mendengar semua yang terjadi dengan perasaan

geli bercampur kesal. Dia datang ke pelabuhan untuk menyambut tamutamunya.

Kelihatannya bukan hal yang sulit. Tetapi, akhirnya dia justru

menemukan dirinya hampir terlibat dalam per-tempuran antara hidup dan

mati, hanya untuk mendapatkan akses ke dermaga. Cukup. Dia membuka

pintu joli dengan keras.

“Ada masalah apa?”

“Tuanku, mohon jangan memperlihatkan diri.” Salah satu

pengawalnya berlutut di samping joli. “Di sekitar sini banyak penembak.”

“Omong kosong,” kata Genji. “Siapa yang ingin menembakku?” Dia

melangkah keluar. Saat kakinya akan menginjak tanah, pelayannya dengan

cepat menempatkan sandal di bawah kakinya.

Di barisan belakang prajurit Shogun, Kuma, yang menyamar sebagai

salah seorang penembak, melihat Genji keluar ke tempat terbuka. Dia juga

melihat Genji tidak mengenakan lambang keluarganya. Ini adalah

kesempatan yang dia harapkan. Karena Genji tidak mengenakan lambang,

orang dapat mengklaim bahwa Genji adalah seorang penipu yang terlibat

dalam persekongkolan untuk membunuh para misonaris yang baru

mendarat. Tak seorang pun akan percaya pada dalih ini, tetapi memang

dalih ini dibuat bukan untuk dipercayai. Meski demikian, tetap saja itu

akan menjadi dalih yang jitu. Kuma melangkah mundur sehingga tidak

terlihat oleh para prajurit penembak lainnya, mengangkat senapannya, dan

membidik ke tengah-tengah sendi bahu kanan Genji. Seperti yang

diperintahkan, dia hanya akan menyebabkan luka pada Genji, tidak

membunuhnya.

PDF by Kang Zusi

Saiki berlari untuk menghentikan langkah Genji. “Tuanku, mohon

Anda masuk kembali. Ada sekitar 30 penembak di depan kita, tak lebih

dari sepuluh langkah.”

“Ini keterlaluan,” Genji tak menghiraukan Saiki dan melangkah hingga

ke depan barisan samurainya. “Siapa yang berwenang di sini?”

Kuma menarik pelatuk.

Senapan itu tidak meledak. Kuma memandang senapan di tangannya.

Dia seharusnya lebih berhati-hati saat tergesa-gesa keluar dari gudang

senjata. Rupanya dia mengambil senapan orang lain yang kosong dan

bukannya membawa senapannya sendiri yang sudah diisi.

“Hei kamu, apa yang kamu lakukan?” Kapten pasukan menembak

mendekatinya. “Tak ada yang memerintahkanmu menaikkan senapanmu.”

Dia memandang tajam kepada Kuma. “Aku tidak mengenalmu. Siapa

namamu dan kapan kamu ditugaskan ke unit ini?”

Sebelum Kuma bisa menjawab, terdengar suara Ishi, “Lord Genji,” dan

kemudian lelaki itu berlutut. Anak buahnya, termasuk Kuma dan kapten

pasukan senapan yang sedang marah, terpaksa harus mengikuti.

“Jadi, kamu mengenaliku?”

“Ya, Lord Genji. Jika hamba tahu Anda akan datang, hamba pasti akan

bersiap-siap menyambut Anda.”

“Terima kasih,” kata Genji. “Bolehkah aku menyambut tamuku, atau

aku harus mendapatkan izin dulu?”

“Jangan menghalangi Lord Genji,” perintah Ishi pada anak buahnya.

Mereka segera minggir ke samping tanpa benar-benar berdiri tegak, lalu

kembali berlutut. “Ampuni hamba, Lord Genji. Hamba tidak bisa

membiarkan anak buah Anda maju tanpa mengetahui Anda bersama

mereka. Saat ini banyak sekali rencana licik, Shogun sangat khawatir ada

rencana licik terhadap orang asing.”

“Bodoh!” Saiki masih murka. “Apa kau pikir aku mau merusak nama

baik Tuanku sendiri?”

“Aku yakin Saiki tidak akan melakukan itu,” kata Genji. “Bagaimana

menurutmu?”

“Sama sekali tidak Lord Genji,” kata Ishi, “hamba hanya ….”

PDF by Kang Zusi

“Nah,” kata Genji kepada Saiki, “jadi, semua beres sekarang.

Sekarang, bolehkah kami meneruskan urusan kami?” Dia melangkah ke

dermaga mendekati para misionaris.

Saiki memandang Genji melangkah, hatinya penuh dengan

kekaguman. Dengan ratusan orang yang mungkin membunuhnya dari

belakang, Genji melangkah santai seakan-akan dia sedang berjalan-jalan di

kebun istananya sendiri. Genji masih muda dan mungkin kurang

pengalaman, dan mungkin kurang bisa menilai kondisi politik. Tetapi,

terlihat jelas kekuatan Okumichi di nadinya. Tangan Saiki melepaskan

gagang pedang. Setelah melepaskan pandangan marah kepada Ishi, dia

segera mengikuti tuannya.

Emily tidak menyadari bahwa dia telah menahan napas sampai dia

tersengal-sengal. Beberapa saat sebelumnya, peretempuran berdarah

seakan tak bisa dihindarkan. Kemudian, seseorang keluar dari joli,

mengatakan beberapa patah kata dengan tenang, dan ketegangan langsung

mencair. Emily memandang penuh rasa ingin tahu pada orang itu, yang

kini berjalan menuju mereka.

Dia adalah seorang pria muda dengan penampilan menarik, rambut

hitam legam yang kontras dengan kulitnya yang pucat. Matanya cenderung

memanjang, bukan melebar. Di wajah orang barat, mata itu akan terlihat

aneh dan tidak dan tidak akan mengundang decak kagum. Tetapi, di wajah

ovalnya yang bernuansa Timur, mata itu tampak serasi dengan alisnya

yang runcing, hidungnya yang indah, tulang pipinya yang sedikit tinggi,

dan bentuk bibirnya yang seakan-akan tersenyum. Seperti samurai lainnya,

dia mengenakan jaket dengan bahu panjang seperti sayap yang kaku,

mempunyai tatanan rambut yang rumit dengan beberapa bagian yang

dicukur, dan seperti yang lain, dia juga mengenakan dua pedang di

pinggangnya. Tetapi, meski dia membawa dua pedang, sikapnya sama

sekali tidak garang.

Saat dia mendekat, para petugas yang tadi merepotkan Cromwell

berlutut dan membungkuk hingga kepala mereka menyentuh lantai kayu

dermaga. Pria muda itu mengatakan beberapa kata dalam bahasa Jepang.

Mendengar itu, sang petugas langsung berdiri

PDF by Kang Zusi

“Genji Lor, come,” kata sang petugas yang karena gugup membuat

bahasa Inggrisnya menjadi semakin buruk. “You, he, go, please.”

“Lord Genji?” kata Cromwell. Ketika pria muda itu membungkuk

membenarkan, Cromwell mengenalkan dirinya dan rombongan.

“Zephaniah Cromwell, Emily Gibson, Matthew Stark,” Tuhan, tolong

kami, Cromwell memohon dalam hati. Anak muda yang terlihat feminim

ini adalah Bangsawan Agung Akaoka, pelindung mereka di tanah liar ini.

Samurai kedua kini mendekat. Samurai ini terlihar lebih dewasa dan

lebih garang penampilannya. Genji mengatakan beberapa kata dengan

pelan. Samurai yang garang itu membungkuk, berbalik dan membuat

isyarat lingkaran dengan tangannya

Genji mengatakan sesuatu kepada sang petugas pelabuhan. Petugas itu

membungkuk kepada Cromwell dan teman-temannya, lalu berkata, “Genji

Lord berkata, welcome Japan.”

Thank you, Lord Genji,” balas Cromwell. “Kami sangat senang tiba

di sini.”

Terdengar suara berisik dari arah ujung yang bersisian dengan daratan.

Tiga kereta kecil beroda dua datang mendekat, tidak ditarik kuda tetapi

ditarik manusia.

“Mereka menjalankan perbudakan di sini,” kata Stark.

“Dulu aku mengira di sini tidak ada perbudakan,” kata Cromwell,

“tetapi rupanya perkiraanku salah.”

“Sungguh mengerikan,” kata Emily. “Manusia digunakan sebagai

binatang pengangkut.”

“Itu sama saja seperti di Negara bagian Amerika yang menjalankan

perbudakan,” kata Stark, “dan lebih buruk lagi.”

“Tetapi tidak untuk waktu lama, Saudara Matthew,” kata Cromwell.

“Stephen Douglas akan menjadi presiden Amerika dan dia berjanji

menghapuskan perbudakan.”

“Mungkin saja bukan Douglas, Saudara Zephaniah. Bisa saja yang

terpilih adalah Breckinridge atau Bell, bahkan Lincoln. Pilihan terakhir ini

penuh dengan ketidakpastian.”

PDF by Kang Zusi

“Kapal berikutnya akan membawa kepastian beritanya. Tetapi, itu

tidak masalah. Siapa pun presidennya, perbudakan telah berakhir di

Negara kita.”

Genji mendengarkan pembicaraan mereka. Sekali dua kali dia merasa

mengenali kata-kata yang mereka ucapkan. Manusia. Amerika Serikat.

Janji. Dia tidak yakin. Dia telah belajar percakapan bahasa Inggris dari

seorang tutor sejak kecil. Tetapi, mendengar ucapan bahasa Inggris dari

pembicaraan aslinya ternyata lain sama sekali.

Ketiga rickshaw itu berhenti di depan para misionaris. Genji

mengisyaratkan agar mereka naik. Alangkah terkejutnya dia melihat ketiga

misionaris itu menolak keras. Orang yang paling jelek dari ketiganya,

yaitu pemimpin mereka, Cromwell, memberi penjelasan panjang kepada

kepala pelabuhan.

“Katanya agama mereka tidak mengizinkan mereka naik rickshaw.”

Kepala pelabuhan dengan gugup mengusap keringat di dahinya dengan

sapu tangan.

Genji berpaling kepada Saiki. “Kamu tahu tentang hal ini?”

“Tentu tidak, Tuanku. Siapa yang akan berpikir kalau rickshaw ada

kaitannya dengan agama?”

Genji bertanya kepada kepala pelabuhan, “Dengan cara bagaimana

rickshaw menghina agama mereka?”

“Dia menggunakan banyak kata yang saya tidak mengerti,” jawab

kepala pelabuhan. “Ampuni hamba, Lord Genji, tetapi tugas saya biasanya

berkaitan dengan kapal barang. Kosa kata saya terbatas pada barangbarang

perdagangan, izin pendaratan, bea cukai, harga, dan sebagainya.

Doktrin agama jauh melampaui pengetahuan hamba.”

Genji mengangguk. “Baiklah, kalau begitu mereka akan berjalan.

Naikkan barang-barang ke atas rickshaw. Kita telah membayarnya, jadi

sebaiknya kita menggunakannya.” Dia lalu memberi isyarat kepada

misionaris untuk berjalan kaki.

“Bagus,” kata Cromwell, “kita telah menang di ronde pertama. Kita

telah membuat tuan rumah memahami kalau kita akan kuat berpegang

pada moralitas Kristen. Kita adalah Hamba Tuhan dan domba-domba-

Nya.”

PDF by Kang Zusi

“Amin,” kata Emily dan Stark.

Amin. Itu adalah satu kata yang dikenali Genji. Telinganya sangat sulit

menyesuaikan diri dengan bunyi sebenarnya dari bahas Inggris sehingga

dia ketinggalan doa yang mendahului kata itu.

Saiki mendekat kepadanya, dan berbisik seakan khawatir para

misionaris itu bisa memahami kata-katanya jika mendengarnya. “Tuanku,

kita tidak bisa membiarkan sang wanita berjalan bersama kita.”

“Kenapa tidak? Dia kelihatannya sehat-sehat saja.”

“Penampilannya yang membuat saya khawatir, bukan kesehatannya.

Apakah Anda sudah memperhatikan wanita itu baik-baik?”

“Terus terang aku menghindarinya. Dia benar-benar tak menarik”

“Itu pernyataan yang terlalu bagus, Tuanku. Dia berpakaian seperti

pemulung, ukuran badannya sebesar binatang angkut, warna kulitnya

jelek, dan anggota tubuh lainnya terlalu besar dan mengerikan.”

“Kita hanya berjalan bersamanya kan, tidak menikahinya.”

“Olok-olok dapat melukai setajam pisau dan sama fatalnya. Di masa

gonjang-ganjing sekarang ini persekutuan sangat mudah pecah, dan

ketetapan hati lemah. Anda tidak seharusnya mengambil resiko yang tak

perlu.”

Genji memandang ke arah wanita itu. Kedua pria, Cromwell dan Stark,

menjaganya dengan gagah, seakan-akan wanita itu merupakan lambang

kecantikan yang berharga. Kepura-puraan yang mereka tunjukkan

memang hebat. Tak diragukan lagi wanita itu adalah wanita yang paling

jelek yang pernah dia lihat. Saiki benar. Olok-olok yang mungkin muncul

akibat keberadaannya bisa sangat merusak.

“Tunggu,” Mereka kini telah sampai di samping joli. “Bagaimana

kalau dia menggantikanku naik joli saja?”

Saiki merengut. Jika Genji berjalan kaki, tuannya itu akan menjadi

sasaran olok-olok di seluruh Edo. Tidak ada pilihan yang baik, hanya

pilihan yang lebih bisa diterima. Lebih mudah melindungi Genji daripada

hidup dengan olok-olok. “Ya, itu adalah jalan keluar yang bagus.”

Saat Genji berbicara dengan pengawalnya, Emily memandang ke

pasukan samurai tuan rumahnya. Mereka semua memandangnya, wajahwajah

mereka kelihatan tertekan. Dia segera mengalihkan pandangan,

PDF by Kang Zusi

jantungnya berdegup keras. Mungkin mereka tidak tertekan karena

kehadirannya, mungkin karena Zephaniah Cromwell atau Matthew Stark,

atau kericuhan kecil yang timbul saat mereka datang tadi. Dia tidak boleh

membiarkan harapannya hancur begitu saja. Emily mengatakan pada

dirinya sendiri, jangan terlalu cepat menyimpulkan. Belum saatnya.

Tetapi, mungkinkah mereka tertekan akibat kehadirannya? Ya, bisa saja.

Bisa saja.

Cromwell berkata, “Emily, aku rasa Lord Genji menawarkan agar

kamu bisa naik jolinya.”

“Bagaimana aku bisa menerimanya, Zephaniah? Tentu lebih jahat naik

joli yang didukung empat budak daripada naik kereta yang hanya ditarik

satu budak.”

Cromwell memandang para penandu. “Aku tak yakin mereka budak.

Setiap orang membawa pedang di pinggangnya. Tidak ada budak

bersenjata yang diperbolehkan begitu dekat dengan tuannya.”

Emily melihat bahwa memang benar. Para penandu itu bersenjata, dan

mereka membawa diri mereka dengan bangga seperti para samurai.

Mungkin merupakan kehormatan besar menjadi penandu tuan mereka. Dia

juga melihat kalau para penandu itu melihat kepadanya dengan eskpresi

kaget. Meski khawatir, Emily merasa kegembiraan muncul di hatinya saat

ditawari naik joli. “Tetapi, aku tidak akan merasa nyaman Zephaniah, naik

joli sementara kau jalan kaki. Itu tidak pantas.”

Genji tersenyum. “Joli rupanya juga terkait dengan masalah agama.”

“Ya, Tuanku,” jawab Saiki. Tetapi, perhatiannya tertuju pada anak

buahnya. ”Kendali-kan diri kalian! Apa yang ada di kepala kalian tampak

jelas di wajah kalian.”

Emily tahu samurai yang garang itu mengatakan sesuatu tentangnya

karena semua samurai sekarang menunjukkan ekspresi kosong dan

berusaha tidak melihat ke arahnya.

“Aku tidak setuju dengamu, Emily. Tetapi dalam kondisi tertentu,

lebih baik menurut dengan sikap baik. Kita harus bisa beradaptasi sebaik

mungkin terhadap tradisi di Negara ini, sejauh tidak melanggar moralitas

kita.”

PDF by Kang Zusi

“Baik kalau menurutmu begitu, Zephaniah.” Emily menghormat

kepada Lord Genji dan dengan patuh mendekat ke joli. Tetapi, dia

langsung berhenti. Pintu masuknya sangat kecil. Dia harus menekuknekuk

tubuhnya sedemikian rupa untuk masuk dan itu sangat tidak pantas

bagi wanita. Dan di dalam joli, mantelnya yang tebal, rok serta rok

dalamnya yang lebar akan memenuhi seluruh joli. Hampir tidak ada ruang

untuk bernapas.

Cromwell berkata, “Biar aku membawa mantelmu Emily. Di dalam

joli kamu tidak akan kedinginan.”

Emily merepatkan mantelnya ke dada dengan erat. “Aku lebih suka

memakainya, terima kasih.” Mantel adalah satu lapisan yang memisahkan

tubuhnya dengan dunia. Semakin banyak lapisan semakin bagus.

“Dia tidak tahu cara masuknya,” kata Saiki. “Kepintarannya ternyata

seburuk penampilannya.”

“Bagaimana dia bisa tahu?” tukas Genji. “Dia belum pernah naik joli

sebelumnya.” Dia lalu membungkuk sopan ke arah Emily dan mendekat

ke joli. Genji melepas pedangnya dan meletakkannya dalam joli. Lalu, dia

membungkukkan tubuhnya, dan saat masuk ke joli dia berbalik ke depan,

sehingga saat selesai bergerak dia sudah dalam posisi duduk dalam joli.

Untuk keluar, pertama-tama Genji mengeluarkan kakinya, baru seluruh

tubuhnya. Dia memperagakan semua gerakan itu dengan pelan-pelan

sehingga Emily bisa memperhatikan dengan baik. Di luar, Genji kembali

meletakkan pedangnya di pinggang. Setelah demonstrasinya selesai, Genji

membungkuk lagi dan memberi isyarat kepada Emily untuk masuk ke joli.

“Terima kasih, Lord Genji,” kata Emily dengan lega. Genji telah

menyelamatkannya sehingga dia tak perlu membuat dirinya menjadi

tontonan. Dia mengikuti contoh Genji dan berhasil masuk joli tanpa

kesulitan.

“Hide!” tegur Saiki, “kamu dihukum bertugas di kandang kuda selama

sebulan. Apa ada di antara kalian yang akan membuat lelucon dan ingin

bekerja membersihkan kotoran kuda?” Tidak ada suara dari para samurai.

Para penandu dengan mudah mengangkat joli. Maka, rombongan itu pun

meninggalkan pelabuhan dan masuk ke jalanan Kota Edo.

PDF by Kang Zusi

San Fancisco adalah kota terbesar yang pernah dikunjungi Matthew

Stark. Di sana, di rumah misi, dia telah mendengar cerita-cerita tentang

Jepang dari orang-orang yang mengatakan telah pergi ke Jepang dengan

kapal tempur, kapal dagang, dan kapal pencari paus. Mereka menceritakan

tradisi orang Jepang yang aneh, pemandangan kota yang aneh, dan bahkan

makanan yang aneh-aneh. Yang paling fantastik, mereka menceritakan

orangnya, populasi yang jumlahnya jutaan, hanya di ibukota keshogunan,

Edo. Stark mendengar cerita-cerita itu tanpa percaya sepenuhnya. Lagi

pula, mereka yang bercerita itu adalah orang-orang mabuk, tunawisma,

dan pelarian. Tidak ada orang lain yang datang ke rumah misi Firman

Sejati. Tetapi, cerita-cerita tentang Jepang ternyata tidak mengurangi

kekagetannya menghadapi keramaian Edo.

Orang ada di mana-mana. Di jalan, di toko, dan di jendela-jendela

rumah model apartemen yang berjejer di pinggir jalan. Meski masih pagi,

sudah begitu banyak orang yang melakukan aktivitasnya sehingga seakanakan

mustahil mereka bisa bergerak bebas. Kesibukan manusia memenuhi

mata dan telinganya.

“Saudara Matthew, kamu baik-baik saja?”

“Ya, Saudara Zephaniah. Aku terkejut, tetapi aku baik-bak saja.”

Mungkin dia tidak baik-baik saja. Stark tumbuh besar di padang-padang

Texas dan Arizona. Rumahnya di sana. Di sanalah tempat dia bisa merasa

nyaman. Dia tidak menyukai kota. Bahkan, San Francisco membuat

dadanya sesak. Dan dibandingkan dengan Edo, San Francisco terlihat

seperti kota hantu.

Di depan mereka, orang-orang segera minggir dan tanpa kecuali

berlutut di tanah seperti rumput prairie tertiup angin utara. Seorang pria,

dengan pakaian bagus, didampingi tiga pelayan dan menaiki seekor kuda

putih yang indah, tergesa-gesa turun dan menjatuhkan dirinya ke tanah,

tidak memperdulikan debu dan tanah yang kini menodai pakaian sutranya.

Stark bertanya, “Apa jasa Lord Genji sehingga orang-orang

menghormatinya sedemikian rupa?”

“Karena dia lahir, hanya itu,” Cromwell menjelaskan. Mukanya

berkerut kesal tanda tak suka. “Anggota kasta prajurit boleh membunuh

PDF by Kang Zusi

siapa pun yang dianggapnya tidak menunjukkan penghormatan kepadanya.

Seorang daimyo, itu adalah bahasa Jepang untuk bangsawan agung seperti

Lord Genji, berhak membunuh seluruh keluarga bahkan seluruh desa,

hanya karena kesalahan seorang individu.

“Aku benar-benar tak percaya barbarisme semacam itu masih ada di

dunia ini,” kata Emily dari dalam joli, kepada Stark dan Cromwell yang

berjalan di sisinya.

“Karena itulah kita ada di sini,” kata Cromwell. “Allah

menyelamatkan kaum papa dari tebasan pedang, dari mulut mereka, dan

dari tangan penguasa.”

Para misionaris itu kembali mengatakan amin. Genji berjalan beberapa

langkah di depan joli. Dia berusaha mendengar dengan seseksama

mungkin, tetapi sekali lagi dia tidak bisa menangkap doa yang diucapkan

para misionaris itu. Rupanya, doa orang Kristen juga bisa sesingkat orangorang

Buddha aliran Tanah Murni atau orang-orang sekte Teratai Sutra.

Tba-tiba, Saiki menabrakkan dirinya ke Genji dan berteriak, “Bahaya!”

Pada saat yang sama, terdengar suara tembakan.

“Jika kamu punya pertanyaan,” kata Kuma, “tanyakan kepada Lord

Kawakami.”

Kapten pasukan penembak langsung pucat begitu mendengar nama

Kepala Polisi Rahasia Shogun itu. Dia langsung berpaling dan pergi.

Ketika Genji dan Saiki pergi untuk menyambut para misionaris di

dermaga, Kuma kembali ke gudang senjata. Dia mengambil kembali

senjatanya, meletakkannya ke dalam kotak yang dilapisi kain hitam, lalu

menyandangnya di bahu. Dan, dia pun segera pergi.

Kuma tahu hanya ada satu jalan antara pelabuhan dan istana klan

Okumichi di distrik Tsukiji, satu jalan yang cukup besar bagi rombongan

Genji agar bisa lewat dengan leluasa. Dari penyelidikannyadi jalan itu

malam sebelumnya, dia telah memilih sebuah bangunan yang ada di salah

satu belokan jalan, bangunan sempit dua tingkat yang terdesak bangunanbangunan

lain di kepadatan permukiman Edo. Dia pergi ke sana dan

menaiki atapnya dari belakang. Tak seorang pun melihatnya. Jika ada yang

PDF by Kang Zusi

melihatnya, orang itu pasti tak yakin akan apa yang dilihatnya karena

Kuma merayap di dinding seperti laba-laba.

Lokasi itu sangat ideal. Dari sini, Kuma bisa melihat targetnya

mendekat, memper-pendek jarak dan meminimalisasi pengaturan yang

diperlukan. Terlebih lagi, belokan akan membuat rombongan itu

memelankan jalannya sehingga bidikannya semakin mudah. Kuma

mengecek senapannya. Saat ini, dia harus yakin bahwa senapannya terisi.

Waktu mendekati jam tikus ketika Genji dan rombongannya terlihat di

ujung jalan. Orang-orang berhenti dan berlutut saat sang Bangsawan

Agung lewat. Mempermudah tugas Kuma. Dia meletakkan ujugn laras

senapannya di pinggiran atap. Dengan begitu, senjata itu tidak akan

terlihat dari bawah. Pengamat yang paling teliti pun akan susah

menemukannya. Terlihat Genji berjalan santai di antara para pengawalnya

yang berjalan di depan. Kuma membidik kepalanya. Alangkah mudahnya.

Tetapi, saat yang tepat untuk melukai Genji sebenarnya telah lewat. Polisi

pelabuhan yang bodoh, Ishi, telah mengakui identitas Genji. Usaha

pembunuhan Genji sekarang akan langsung mengarahkan tuduhan pada

istana Edo.

Kuma mengalihkan sasarannya, membidik dan menembak.

“Tuanku!”

“Aku tidak terluka,” kata Genji.

Saiki menunjuk ke atap sebuah bangunan. “Di sana! Hide! Shimoda!

Tangkap dia hidup-hidup!”

Para pengawal lainnya dengan pedang terhunus membentuk pagar

betis dan pedang di sekitar Genji. Sementara orang-orang kota telah

menghilang bersembunyi ketika muncul tanda-tanda kekerasan.

“Para misionaris!” teriak Genji. Dia lari mendekat joli. Sebuah peluru

melubangi jendela kanan joli. Posisi pemumpang joli biasanya ada di sisi

kiri, tepat di tengah sasaran peluru. Genji membuka pintu joli, yakin dia

akan melihat wanita asing itu, Emily, berlumur darah dan mati.

Tetapi, dia tidak mati. Berusaha mendapatkan posisi enak di joli yang

sempit, Emily duduk setengah berbaring. Bulu-bulu angsa berhamburan

PDF by Kang Zusi

dari bagian depan mantelnya yang terserempet peluru. Hanya itu. Peluru

rupanya hanya melewatinya.

“Tuanku!” Salah satu pengawalnya memanggil dari sisi kiri joli.

Cromwell terbaring di tanah, darah menyembur dari luka di perut bagian

bawah, terkena peluru yang baru saja menembus joli.

“Kita tidak bisa berlama-lama di sini,” kata Saiki. “Jalan!”

Para pemandu kembali mengangkat joli. Empat orang mendukung

tubuh Cromwell yang pingsan ke bahu mereka. Dengan pedang terhunus,

mereka berlari cepat ke Istana Tsukiji.

Ketika Heikomeninggalkan istana tak lama setelah keberangkatan Genji

ke pelabuhan, Kudo membuntutinya. Itu adalah tugas yang terlalu penting

untuk diserahkan kepada orang yang kurang pengalaman dan kurang

mampu. Ini bukan karena Kudo sombong. Tetapi, dia memang ahli

membuntuti paling mumpuni dari klan Okumichi. Jadi, ini memang

tugasnya Heiko dan pelayannya berjalan pelan meninggalkan Tsukiji.

Seperti semua wanita dari tempat hiburan Dunia Terapung, dia harus

tinggal di balik gerbang daerah khusus hiburan malam di Yoshiwara. Jika

Heiko memang akan kembali ke sana, dia pasti akan naik perahu sewaan

ke Sungai Sumida. Tetapi, rupanya dia menuju pondoknya di daerah

Ginza, di tepi timur Edo. Tempat tinggal kedua ini sebenarnya tidak sah.

Tetapi, memang banyak kelalaian dalam penerapam aturan di Dunia

Terapung, terutama pada para penghibur yang paling terkenal dan cantik.

Mayonaka no Heiko tak diragukan lagi merupakan penghibur paling

terkenal saat ini. Dia memang yang paling cantik. Sehingga, dia memang

pantas menemani Lord Genji. Kekhawatiran Saiki dan Kudo adalah,

mereka sama sekali tidak tahu apa pun tentang Heiko selain pribadinya

sebagai gheisa, yang tentunya penuh dengan kepura-puraan.

Penyelidikan awalnya, yang terhambat oleh larangan Genji, hanya

menghasilkan informasi bahwa kontrak Heiko dipegang oleh bankir Otani.

Dia terkenal sering mendapat mandat dari orang lain. Biasanya, kombinasi

ancaman dan suap sudah cukup untuk memancing informasi dari Otani.

Tetapi, untuk mengungkap siapa sebenarnya pelindung Heiko, Otani

bersikeras menolak meski sudah diancam dan diiming-imingi suap.

PDF by Kang Zusi

Katanya, hidupnya dan keluarganya bergantung pada rahasia yang

disimpannya itu. Meski bisa dikatakan sikap Otani berlebihan, bisa diduga

pelindung Heiko adalah seorang bangsawan agung yang statusnya sama

atau lebih tinggi dari Genji. Di antara para bangsawan yang berhasil

bertahan dari peperangan Sekigahara 260 tahun yang lalu, hanya enam

puluh orang yang benar-benar mempunyai kekuasaan besar. Heiko adalah

teman seorang bangsawan yang berkuasa. Tanpa tahu siapa bangsawan itu,

Genji beresiko terbunuh setiap saat jika dia berduaan dengan Heiko. Kudo

bertekad untuk mengetahui kebenaran. Jika tidak bisa, dia siap membunuh

Heiko untuk berjaga-jaga. Tidak sekarang memang, tetapi pada waktunya

nanti. Perang saudara akan terjadi. Ketidakpastian harus dikurangi untuk

meningkatkan kesempatan klan Okumichi tetap berjaya.

Kudo masih mengawasi saat Heiko kembali berhenti mengobrol

dengan penjaga toko. Bagaimana bisa seseorang yang menuju suatu

tempat bisa berjalan dengan begitu lambat dan santai? Kudo meninggalkan

jalan utama dan memotong lewat gang sempit. Dia akan berjalan

mendahului dan mengawasi Heiko dari depan. Kecurigaan wanita itu akan

lebih terlihat dari depan. Jika Heiko curiga, itu menunjukkan dia memang

punya maksud tertentu, karena seorang geisha tanpa motivasi tersembunyi

pasti tidak akan khawatir dibuntuti.

Dua pria keluar membawa sampah dari belakang toko tepat saat Kudo

berbelok di pojok gang. Mereka melihatnya dan langsung gemetar

ketakutan. Bawaan mereka jatuh ke tanah dan mereka membungkuk

rendah, wajah mereka ditekankan rendah-rendah ke tanah. Mereka

merangkak mundur memberikan jalan untuknya, berusaha keras agar tidak

menarik perhatian.

Eta. Wajah Kudo mengerut jijik. Tangannya memegang gagang

pedang. Eta. Eta adalah orang buangan yang nasibnya adalah melakukan

tugas paling kotor dan menjijikkan. Apabila mereka terlihat oleh samurai

seperti Kudo, mereka pasti akan dibunuh. Tetapi, jika dia membunuh

mereka sekarang, pasti akan mengundang keributan dan menarik perhatian

sehingga tujuannya tidak terlaksana. Maka, dia melepaskan pegangannya

pada pedang dan bergegas pergi. Eta. Memikirkan mereka saja

membuatnya merasa kotor.

PDF by Kang Zusi

Kudo kembali masuk ke jalan utama, seratus langkah ke depan dari

tempat dia melihat Heiko terakhir kali. Heiko masih terlihat di sana,

membuang waktu, mengobrol dengan penjaga toko.

Beberapa wanita yang ribut mengobrol, sesaat menutup Heiko daro

pandangan Kudo. Ketika mereka telah lewat, Heiko maupun pelayannya

menghilang. Kudo lari ke depan toko tempat Heiko mengobrol. Dia tak

ada di sana.

Bagaimana ini bisa terjadi? Sesaat lalu, dia sedang mengawasinya.

Tiba-tiba dia hilang. Geisha tak bisa bergerak secepat itu, hanya ninja

yang bisa.

Kudo berbalik untuk kembali ke Istana Tsukiji dengan penuh

kekhawatiran, dan hampir bertabrakan dengan Heiko.

“Kudo-sama,” kata Heiko. “Kebetulan sekali. Apakah Anda juga

belanja selendang sutra?”

“Tidak, tidak,” kata Kudi berusaha mencari penjelasan yang masuk

akal. “Saya akan pergi ke kuil di Hamacho. Memberikan persembahan

bagi leluhur yang tewas dalam perang.”

“Betapa mulia,” kata Heiko. “Ketertarikan saya pada selendang

sungguh dangkal dan tak berguna jika dibandingkan dengan niat Anda

itu.”

“Sama sekali tidak Nona Heiko. Bagi Anda, selendang sama

pentingnya dengan pedang bagi seorang samurai. “Kebodohan katakatanya

membuat Kudo merasa ngeri di dalam hati. Semakin banyak dia

bicara , dia kelihatan semakin bodoh. “Baiklah, saya harus segera pergi.”

“Tak bisakah Anda meluangkan waktu untuk minum teh bersama saya,

Kudo-sama?”

“Saya akan sangat senang Nona Heiko, tetapi tugas menuntut saya

untuk segera kembali. Saya harus segera bergegas ke kuil dan kembali ke

istana.” Dengan satu bungkukan kilat, Kudi bergegas ke barat ke arah

Hamacho. Andai saja dia berkonsentrasi dan tidak berkhayal bahwa Heiko

adalah seorang ninja, dia pasti tak harus berputar seperti ini. Ketika dia

menengok ke belakang, dia melihat Heiko membungkuk kepadanya.

Karena Heiko melihatnya, Kudo harus berjalan cukup jauh sebelum dia

bisa berbelok arah.

PDF by Kang Zusi

Mengatupkan giginya erat-erat, Kudo diam-diam memarahi

dirinya sendiri sepanjang perjalanan pulang ke Tsukiji.

3. Bangau yang Tenang

Cromwell terbangun dari mimpi ke mimpi. Sekarang, wajah

Emily ada di atasnya, rambut keritingnya yang keemasan mendekat ke

arahnya. Kekasihnya itu terlihat ringan tak berbobot, demikian juga dirinya.

Apakah ini mimpi kapal tenggelam? Mereka ada di dalam air. Bintang

Bethlehem karam dan mereka berdua tenggelam. Dia berusaha mencarii

pelampung, tetapi matanya tidak mau meninggalkan Emily.

Bintang Bethlehem baik-baik saja,” kata Emiliy. “Sedang membuang

sauh di Teluk Edo.”

Jadi, dalam mimpi ini Emily bisa membaca pikirannya. Dunia di luar

mimpi akan lebih baik jika semua pikiran seperti buku yang terbuka. Jadi,

orang tidak perlu berpura-pura atau merasa malu. Dosa, pertobatan, dan

keselamatan bisa terjadi pada saat yang sama.

“Istirahatlah, Zephaniah,” kata Emily. “Kamu tidak perlu memikirkan

apa-apa.”

Ya, dia benar. Cromwell berusaha menyentuh rambut Emily, tetapi dia

tidak punya tangan untuk diangkat. Cromwell merasa dirinya semakin

ringan. Bagaimana mungkin itu terjadi jika dia tak berbobot? Pikirannya

melayang. Matanya terpejam dan dia kembali meloncat dari mimpi ke

mimpi.

Emily memucat. “Apa dia mati?”

“Dia mengigau,” kata Stark.

Mereka membawa Cromwell ke bagian sayap istana yang dikhususkan

untuk tamu. Dia terbaring di ranjang dari kasur tebal yang digelar di lantai.

Seorang pria Jepang paruh baya, yang mereka perkirakan adalah dokter,

memeriksa Cromwell, dan mengoleskan salep berbau tajam ke lukanya, lalu

PDF by Kang Zusi

membalutnya. Sebelum pergi, dokter itu memanggil tiga wanita muda ke

dekat ranjang, setelah memberi salep dan perban kepada mereka, dokter itu

memberi instruksi pendek, membungkuk kepada Emily dan Stark, dan

keluar. Para wanita muda tadi mundur ke salah satu ruangan dan menunggu

dengan bersimpuh, diam, dan tenang.

Emily duduk di sebelah kanan Cromwell, di atas bantalan busa seluas

dua setengah meter persegi. Stark duduk di bantalan yang serupa di sisi kiri.

Tidak seorang pun di antara keduanya yang merasa nyaman di lantai.

Mereka tidak terbiasa duduk di lantai seperti kebiasaan tuan rumah. Stark

bisa menekuk kakinya, tetapi dia tidak bisa bertahan lama. Setiap kali, dia

berpindah dari satu posisi ke posisi lain. Sedangkan Emily, roknya yang

panjang dan rok dalamnya yang lebar membuatnya lebih sulit mengatur

posisi dengan enak. Akhirnya, dia duduk miring di satu pinggul dan

menjulurkan kakinya ke sebelah tubuhnya, tetap hati-hati dan berusaha

menutupi kakinya dengan roknya. Dia biasa duduk seperti itu saat piknik

pada waktu kecil dulu, memang tidak pantas untuk di sini, tetapi itulah satusatunya

posisi yang membuatnya nyaman.

“Kita tak membawa apa-apa selain firman Yesus Kristus,” kata Emily.

Dia mengusap keringat dari wajah Cromwell dengan handuk basah yang

dingin. “Kenapa ada yang mau melukai kita?”

“Aku tak tahu, Saudari Emily.” Stark melihat kilatan besi di atap

sekejap sebelum pembunuh itu menembak. Dia menjatuhkan diri ke tanah

sesaat sebelum suara tembakan berbunyi. Jika dia tidak menjatuhkan diri,

tentu peluru itu mengenai dirinya, bukan Cromwell. Kewaspadaan Stark

adalah ketakberuntungan sang pendeta itu, ditambah dia memang benarbenar

sial. Peluru itu menembus joli dari satu sisi ke sisi lain. Sehingga,

seharusnya pelurui itu mengenai Emily, tetapi itu tak terjadi. Malah, setelah

menembus joli peluru itu langsung melubangi perut Cromwell. Tembakan

ke perut. Orang kadang membutuhkan waktu berminggu-minggu untuk

mati ketika mengalami tembakan di perut.

“Dia kelihatan begitu damai,” kata Emily. “Alisnya tidak berkerut dan

dia tersenyum dalam tidur.”

“Ya, Saudari Emily, dia terlihat damai.” Semakin lama Stark

memikirkannya, semakin dia berpikir bahwa peluru itu sebenarnya

PDF by Kang Zusi

ditujukan untuk dirinya. Mungkin seorang pembunuh bayaran telah disewa

untuk naik ke atas dan membunuhnya. Hambatan bahasa bukanlah halangan

untuk menyewa pembunuh. Stark yakin uang bisa membeli nyawa di

Jepang semudah di Amerika.

Dia meregangkan kakinya selama beberapa menit agar tidak kram.

Setiap kali dia bergerak, empat samurai yang berjaga menjadi semakin

waspada. Mereka berlutut di lorong depan kamar. Tidak jelas apakah

mereka berjaga di sanak untuk melindungi para misionaris atau justru

mengurungnya. Sejak penembakan itu, mereka mengawasinya dengan ketat.

Stark tak tahu mengapa.

“Perbannya harus sering diganti,” kata Dokter Ozawa. “Hamba telah

memberinya obat untuk mengurangi pendarahan, tetapi pendarahan itu tidak

bisa dihentikan sama sekali. Nadi-nadi utamanya terkena. Pelurunya sendiri

menembus hingga tulang punggung sehingga tak bisa diambil.”

“Berapa lama?” Genji nertanya.

Dokter itu menggelengkan kepala. “Beberapa jam jika dia beruntung,

berhari-hari jika dia tak beruntung.” Dia membungkuk dan keluar.

“Sungguh sial,” kata Genji. “Konsulat Amerika harus diberi tahu.

Harris. Benar-benar orang yang tak menyenangkan.”

Saiki berkata, “Tuanku, peluru itu ditujukan untuk Anda.”

“Aku meragukannya. Musuh-musuhku tidak akan mengirim penembak

yang sama sekali tidak bisa menembak seperti ini. Bagaimana mungkin dia

membidikku dan mengenai joli yang berada tiga meter di belakang?”

Seorang pelayan masuk dengan sepoci teh segar. Saiki dengan tak sabar

melambaikan tangan menyuruhnya keluar, tetapi Genji menghendaki satu

cangkir teh lagi. Minuman itu menghangatkannya dari cuaca muskim

dingin.

“Saya telah memeriksa joli,” kata Saiki. “Jika Anda berada di dalamnya,

pasti Anda langsung tewas. Hanya postur wanita asing yang besar dan

barbar itulah yang menyelamatkan nyawanya.”

“Ya, aku tahu. Aku melihatnya sendiri.” Genji tersenyum kepada sang

pelayan, yang wajahnya langsung memerah, malu menerima perhatian dari

Genji, lalu membungkuk rendah di lantai. Dia menarik, kata Genji dalam

PDF by Kang Zusi

hati, dan cukup cantik, meski sudah bisa dibilang perawan tua. Dua puluh

dua atau dua puluh tiga, perkiraan Genji. Siapa namanya? Hanako. Genji

mempertimbangkan para pengawalnya. Siapa dari mereka yang membutuhkan

istri, dan berusia cukup untuk pelayan ini?

“Tetapi, saat itu aku tidak berada di joli, aku bisa terlihat jelas berjalan

di depannya.”

“Itulah maksud saya,” sahut Saiki. “Seorang pembunuh yang tidak

mengenal Anda tak mungkin berpikir Anda akan berjalan. Bangsawan

agung mana yang berjalan dan membiarkan wanita asing menaiki jolinya?

Itu belum pernah terjadi. Jadi, si pembunuh itu mengira Anda berada di

dalam joli seperti seharusnya, dan membidik ke sana.”

“Alasan yang dipaksakan,” kata Genji.

Hide dan Shimoda muncul di pintu, terengah-engah. Mereka berdua

adalah pengawal yang diperintah Saiki mengejar sang pembunuh.

“Ampuni kami, Tuanku,” kata Hide. “Kami tidak menemukan tandatanda

dia di mana pun.”

Shimoda menyambung, “Tak seorang pun melihat sesuatu. Seakan-akan

dia lenyap di udara.”

“Ninja,” kata Saiki. “Pengecut terkutuk. Mereka semua harus diberantas

hingga akar-akarnya termasuk wanita dan anak-anak.”

“Bangunan itu milik seorang pedagang bernama Fujita,” lapor Hide.

“Orang yang polos. Tidak pernah terlibat dengan orang mencurigakan, tidak

ada hubungan dengan klan mana pun, tak punya utang dan tidak punya anak

perempuan yang menjadi jaminan di Dunia Terapung. Dia kelihatannya tak

tahu apa-apa. Tentu saja, dia sangat takut akan tindakan balasan dari Anda.

Tanpa diminta, dia menawarkan memenuhi semua kebutuhan kita untuk

pesta tahun baru.”

Genji tertawa, “Maka, dia akan bangkrut dan terpaksa harus menjual

semua anak perempuannya ke Dunia Terapung.”

“Itu tidak akan membantunya,Tuanku,” kata Hide tersenyum. “Saya

sudah lihat anak-anak perempuannya.”

Saiki memukul lantai. “Hide! Ingat tempatmu!”

“Ya, Pak!” samurai yang baru dibentak itu menempelkan kepalanya ke

lantai.

PDF by Kang Zusi

“Tidak perlu terlalu keras,” kata Genji. “Kita telah melewati pagi yang

melelahkan. Hide, berapa usiamu?”

“Tuanku?” Hide tak siap dengan pertanyaan yang tak terduga itu. “Dua

puluh sembilan, Tuanku.”

“Bagaimana bisa kamu belum menikah di umur yang sudah cukup tua

ini?”

“Ee …Tuanku… eemm….”

“Bicara,” kata Saiki, “dan berhenti membuang waktu tuanmu.” Sejauh

anggapan Saiki, pembicaraan ini hanyalah buang-buang wakut saja.

Kesemberonoan apa yang dilakuakn Genji sekarang? Ketika hidupnya

dalam bahaya dan keberadaan klan terancam, dia malah memainkan

permainan bodoh.

“Saya belum mempunyai kesempatan, Tuanku,” kata Hide.

Saiki menyambung, “Sebenarnya, Hide mempunyai kesenangan

berlebihan terhadap wanita, anggur, dan judi. Utangnya menumpuk

sehingga tak ada satu pun keluarga yang mau menerimanya sebagai

menantu.” Saiki memberikan informasi untuk mempercepat selesainya

pembicaraan tak berguna ini. Maka, mungkin mereka bisa kembali

membicarakan masalah yang lebih penting. Misalnya, tentang Stark, orang

asing yang benar-benar mencurigakan.

“Berapa utangmu?” Tanya Genji.

Hide ragu sejenak. “Enam puluh ryo, Tuanku.” Itu adalah jumlah besar

untuk seorang samurai seperti dia. Gaji tahunannya hanya sepuluh ryo.

“Dasar orang bodoh, tak disiplin,” kata Saiki.

“Ya, Pak.” Hide menempelkan kepalanya ke lantai sekali lagi, dengan

malu.

“Utangmu akan dilunasi,” kata Genji. “Jangan sampai kamu membuat

utang baru. Nah, sekarang setelah utangmu lunas, sebaiknya kamu segera

mencari istri. Seorang wanita yang berpengalaman mengurusi rumah tangga

sehingga bisa membimbingmu agar tak berutang lagi dan memberikan

kebahagiaan rumah tangga padamu.”

“Tuanku.” Hide tetap membungkuk rendah. Kemurahan hati Lord

Genjo mengejutkan-nya.

PDF by Kang Zusi

“Sebenarnya, aku sendiri yang akan mencarikan istri untukmu,” lanjut

Genji. “Apa kamu bersedia mempercayakan masalah ini padaku?”

“Ya, Tuanku. Terima kasih.”

“Hanako,” kata Genji, “antar kedua orang ini ke tempat lain untuk

beristirahat. Dan layani mereka.”

“Ya, Tuanku.” Hanako menjawab. Setelah membungkuk hormat, dia

mengantar Hide dan Shimoda keluar ruangan.

Ketika mereka telah pergi, Saiki membungkuk hormat dan resmi

sebagai tanda hormat kepada Genji. Akhirnya, dia mengerti apa yang telah

terjadi. Di tengah krisis yang mungkin mengancam hidupnya, Lord Genji

tak pernah berhenti memperhatikan orang-orang yang menjadi tanggung

jawabnya. Pelayan tadi, Hanako, adalah yatim piatu. Meski dia punya

perilaku yang bagus dan cukup menarik, dia sangat tidak mungkin

memberikan mahar. Hide, samurai yang baik di segala sisi, perlu diberi

tanggung jawab agar bisa dewasa. Jika dibiarkan sendirian, dia pasti akan

terus menghabiskan waktu dan uangnya untuk hal-hal tak berguna.

Sehingga, dia berakhir menjadi pemabuk tak berguna seperti samuraisamurai

lain dari klan yang hancur dan beberapa samurai dari klan

Okumichi. Semua ini diselesaikan Lord Genjo dengan satu kali tindakan.

Air mata meleleh dari mata prajurit yang keras itu.

“Apa ini, Saiki? Apa aku telah mati dan menjadi dewa?”

“Tuanku,” kata Saiki. Dia terlalu terharu untuk berbicara lebih banyak,

bahkan dia pun tak mampu mengangkat kepalanya dari lantai. Sekali lagi,

dia salah menilai kedalaman karakter junjungannya.

Genji meraih cangkir tehnya. Pelayan lain, Michiko, membungkuk dan

mengisi kembali cangkir itu. Dia sudah menikah, jadi Genji hanya

tersenyum kepadanya dan tidak memikirkannya lagi. Genji meminum

tehnya, lalu menunggu dengan sabar hingga Saiki bisa menguasai diri

kembali. Samurai adalah orang aneh. Mereka diharapkan mampu menjalani

siksaan fisik yang paling berat sekalipun tanpa mengeluh. Namun. Mereka

tak malu menangis jika melihat hal sepele seperti perjodohan.

Setelah beberapa saat, Saiki mengangkat kepalanya dan mengusap air

matanya dengan lengan kimononya. “Tuanku, Anda harus

PDF by Kang Zusi

mempertimbangkan kemungkinan bahwa para misionaris itu bisa saja

terlibat dalam usaha pembunuhan Anda.”

“Jika memang ada usaha pembunuhan.”

“Orang yang bernama Stark bisa mengantisipasi tembakan sang

pembunuh. Hamba melihatnya tiarap sebelum saya berteriak. Itu berarti dia

tahu ada pembunuh di sana.”

“Atau, itu berarti dia pengamat yang jeli.” Genji menggelengkan

kepalanya. “Memang baik waspada terhadap pengkhianatan di mana-mana.

Tetapi, itu beda dengan selalu menduga ada pengkhianat di mana-mana.

Kita tidak boleh membiarkan angan melalaikan kita dari bahaya

sebenarnya. Stark baru saja sampai dari Amerika. Di Jepang banyak

pembunuh. Siapa yang mau repot-repot membawa pembunuh dari luar.?”

“Mungkin orang yang ingin menyembunyikan identitasnya dengan

menciptakan kebingungan baru,” kata Saiki. “Seorang yang tidak Anda

duga.”

Genji menarik napas. ”Baiklah. Kamu boleh menyelidiki lebih lanjut.

Tetapi, jangan memaksa dan mengganggu Stark. Dia tamu kita.”

Saiki membungkuk. “Ya, Tuanku.”

Genji berkata, “Ayo kita lihat bagaimana keadaan tamu kita.”

Ketika mereka berjalan di lorong, Saiki bertanya tentang pedagang yang

atap tokonya digunakan sang pembunuh. “Apa jawaban kita tentang

tawaran Fujita?”

“Nyatakan terima kasih kita dan katakan kita mengizinkannya

mengantar sake untuk tahun baru.”

“Ya, Tuanku,” kata Saiki. Menyuplai sake tahun baru cukup mahal

untuk mengurangi rasa takut sang pedagang, tetapi tidak akan membuatnya

bangkrut. Keputusan yang bijak. Saiki mengikuti tuannya dengan

kepercayaan kepadanya yang bertambah.

Teleskop buatan Belanda itu membawa mata Kawakami ke atap-atap

bangunan di jalan yang dilewati rombongan Genji. Meski dari sudut

pandangnya jalan itu tidak terlihat, dia tahu rombongan itu sampai di mana

dengan mengawasi tingkah laku orang-orang di satu perempatan yang tidak

PDF by Kang Zusi

dihalangi bangunan. Ketika orang-orang itu menjatuhkan diri dan berlutut,

berarti rombongan Genji mendekat. Ketika mereka kembali berdiri dan

berkegiatan, artinya rombongan Genji sudah lewat.

Kawakami merasa geli melihat Monzaemon, pedagang besar, terburuburu

turun dari kuda putihnya yang terkenal dan membungkuk di tanah

seperti petani lain, meski dia mengenakan pakaian yang mentereng. Banyak

bangsawan yang punya utang kepada Monzaemon. Shogun sendiri punya

utang yang cukup besar kepada pria kecil itu. Tetapi, lihat sekarang,

Monzaemon menekankan wajahnya ke tanah saat menemui rombongan

bangsawan yang statusnya di atas dirinya. Punya banyak uang memang satu

hal. Tetapi, kehormatan mengenakan pedang dan hak untuk

menggunakannya adalah hal yang lain lagi. Tak peduli seberapa cepat dunia

berubah, Kawakami yakin akan satu hal. Kekuatan uang tidak akan pernah

menandingi pedang untuk membunuh.

Kawakami merasa dia mendengar suara tembakan. Ketika dia

mengintip melalui teleskop, dia melihat Monzaemon mengangkat kepalanya

dengan terkejut. Ketakutan terlihat jelas di wajah petaninya. Kuda putih di

sebelahnya mendompak panik. Hanya tindakan cepat dari salah satu

pelayannyalah yang mencegah Monzaemon terinjak kuda hingga mati.

Sesuatu telah terjadi. Kawakami harus menunggu untuk

mengetahuinya. Dia menjauh dari teleskop.

“Aku akan berada di pondok di kebun,” katanya kepada asistennya,

Mukai. “Jangan ganggu kecuali masalahnya penting sekali.”

Kawakami pergi ke pondok itu sendirian. Pondok itu tak lebih dari

sebuah gubuk sederhana di salah satu kebun kecil di istana yang luas itu.

Namun, pondok itu justru memberi kesenangan tertinggi dalam hidup

Kawakami.

Kesendirian.

Kesendirian adalah hal langka di Edo, kota yang ditinggali lebih dari

dua juta orang. Orang seperti Kawakami, seorang bangsawan agung,

biasanya selalu dikelilingi oleh sekumpulan pembantu dari beberapa jenis

dan status. Bahkan, motivasi utamanya mau menjadi kepala polisi rahasia

Shogun adalah kesempatan untuk sendirian. Setiap kali dia perlu

melepaskan beban tanggung jawab social yang menyesakkan, dia selalu

PDF by Kang Zusi

memunculkan dalih kerahasiaan dan menghilang. Awalnya, dia melakukan

itu hanya untuk menghindar dari istri dan para selirnya, dan mengunjungi

para simpanannya. Lama kelamaan, dia menggunakan dalih itu untuk

menghindari para simpanannya juga. Dan akhirnya, dia kecanduan

mencampuri kehidupan pribadi orang lain. Sekarang, dia hampir tak punya

waktu untuk para istri, selir, simpanan, atau kesenangan-kesenangan lain

yang pernah disukainya.

Kini, yang paling berharga baginya adalah menunggu. Kesempatan

untuk sendirian hanya dengan perapian kecil, air yang mendidih, aroma teh,

dan rasa cangkir yang telah dihangatkan di tangannya. Tetapi hari ini, air

baru saja akan mendidih ketika terdengar suara taka sing di depan pintu.

“Tuanku, ini hamba.”

“Masuk,” kata Kawakami.

Pintu bergeser membuka

Heiko berangkat segera setelah kepergian Genji. Dia hanya ditemani oleh

pelayannya, Sachiko. Para bangsawan agung tidak bisa pergi ke mana-mana

tanpa pasukan pengawal. Meski sebagai orang yang paling ditakuti, mereka

juga orang yang paling penakut. Mereka membunuh semudah anak kecil

mengeluarkan tawa bahagia. Jadi, menurut hukum karma sang Buddha,

mereka juga berisiko dibunuh orang lain tidak seperti para bangsawan yang

ditakuti semua orang, wanita penghibur tak ditakuti oleh siapa pun. Bahkan,

kelemahan itu dengan cerdik mereka lengkapi dengan kerapuhan yang

indah dari kecantikan, keanggunan, dan kemudaan mereka. Jadi, mereka

dapat pergi ke mana pun mereka mau tanpa rasa takut. Ini juga merupakan

hukum karma Buddha.

“Nona Heiko,” Sachiko berbisik, “kita dibuntuti.”

“Abaikan saja,” kata Heiko. Pohon ceri berjajar di pinggir jalan yang

mereka lalui. Pada musim semi, pepohonan itu akan penuh dengan bunga

mekar yang sering diungkapkan dalam lukisan dan puisi selama berabadabad.

Kini, pohon-pohn itu menghitam dan rontok. Tetapi, bukankah

mereka tetap saja indah? Heiko berhenti untuk mengagumi sebatang ranting

telanjang yang menarik matanya. Salju pagi yang melapisnya hampir

meleleh semuanya, meninggalkan titik-titik embun sedingin es. Hanya

PDF by Kang Zusi

beberapa serpih salju yang tersisa di pangkal batang. Beberapa saat lagi,

Heiko akan meneruskan perjalanannya. Matahri akan menyinari batang

pohon yang kini masih tertutup bayang. Jauh sebelum dia sampai ke tujuan,

serpih-serpih salju ini akan melelh hilang. Pikiran itu membuat dada Heiko

sesak. Air mata menggenang di matanya. Namu Amida Butsu, Namu

Amida Butsu, Namu Amida Butsu. Terpujilah Buddha penuh kasih yang

membebaskan semua yang menderita. Heiko menarik napas panjang dan

mencegah air matanya. Jatuh cinta benar-benar menyakitkan.

“Kita tidak boleh berlambat-lambat,” kata Sachiko. “Anda ditunggu

pada jam babi.”

“Aku seharusnya tidak membuat perjanjian sepagi itu,” kata Heiko.

“Sangat tidak nyaman memulai hari dengan terburu-buru.”

“Benar, benar,” kata Sachiko. “Tetapi apa yang bisa dilakukan seorang

wanita? Dia diperintah dan dia patuh.” Sachiko baru sembilan belas tahun,

sama dengan Heiko, tetapi dia bertindak seakan-akan jauh lebih tua. Tetapi,

itu memang tugasnya. Dia mengurusi segala kepentingan Heiko sehingga

Heiko tak harus terganggu dengan beban pekerjaan sehari-hari.

Dua wanita itu kembali melanjutkan perjalanan. Yang membuntuti

mereka adalah Kudo. Dia menganggap dirinya sebagai ahli membuntuti.

Bagaimana dia bisa menganggap diri seperti itu, Heiko tidak bisa

menebaknya. Seperti samurai lain, Kudo tidak sabar. Latihannya

mengajarkan untuk mencari saat menentukan yang membedakan antara

hidup dan mati. Dengan satu kilatan pedang, darah dan nyawa lepas

meninggalkan bumi ini. Tidak menjadi masalah siapa yang kalah dan siapa

yang menang. Saat yang menentukan. Itu yang paling penting. Membuntuti

dua wanita yang berjalan-jalan dengan santai dan sering kali berhenti untuk

mengagumi sebatang pohon, mengagumi barang-barang di toko, atau hanya

untuk beristirahat benar-benar menyiksa baginya. Jadi tentu saja, Heiko

sengaja berjalan lebih lambat dari biasanya, lebih sering berhenti, dan

mengobrol santai dengan penjaga toko. Ketika mereka sampai di pusat

pertokoan distrik Tsukiji, Kudo terlihat berlari ke sana kemari seperti tikus

dalam perangkap.

“Sekarang,” kata Heiko. Beberapa wanita lewat di dekat mereka

sehingga menutupi pandangan Kudo. Heiko berjalan di samping para

PDF by Kang Zusi

wanita itu ke toko di seberang jalan, sementara Sachiko duduk berjongkok

dan menunduk memandangi sekeranjang cumi kerang. Heiko memandang

dari sebuah gang, saat Kudo berlari mendekat. Dengan panik, dia menoleh

ke sana kemari, hingga tidak sadar bahwa pelayan Heiko duduk pas di

bawah kakinya. Ketika Kudo membelakanginya, Heiko kembali

menyeberang jalan dan berdiri di belakangnya. Dia pura-pura terkejut

ketika Kudo hampir menabraknya.

“Kudo-sama. Kebetulan sekali. Apa Anda akan membeli syal sutra

juga?” Selama percakapan singkat mereka, Heiko berusaha keras agar tidak

tertawa. Ketika Kudo telah pergi ke arah Hamacho, Heiko memanggil

rickshaw. Jam anjing telah mulai bergeser mendekati jam babi. Dia tak

punya waktu lagi pergi dengan berjalan kaki.

Kawakami Eichi, sang Bangsawan Agung Hino, Inspektur Kepala

Keshogunan, menunggu kedatangan tamunya di pondoknya. Dia memakai

pakaian kebesaran lengkap dengan tanda-tanda pangkat sesuai dengan

status dan jabatannya.

Tetapi, kebesaran itu langsung menguap seiring terbukanya pintu.

Meski dia meng-anggap dirinya sudah siap, kenyataannya tidak. Dia tak

pernah siap. Seharusnya, dia menyadari hal itu sekarang. Tamunya punya

kualitas yang menjerat. Setiap kali dia tak ada di depannya, detail wajah dan

tubuhnya mengabur, seakan-akan pikiran dan mata tak mampu menyimpan

citra kecantikan yang sangat luar biasa itu.

Kawakami melihat tamunya dan tersentak, sebuah napas panjang

terlontar dari mulutnya.

Untuk mendapatkan kembali ilusi kesiapannya, Kawakami

menegurnya.

“Kau terlambat, Heiko.”

“Beribu ampun, Lord Kawakami,” Heiko membungkuk sehingga kulit

belakang lehernya yang lembut terlihat jelas. Kembali dia mendengar

Kawakami menarik napas tajam. Heiko mengosongkan wajahnya dari

ekspresi apa pun. “Hamba dibuntuti. Dan saya pikir penting untuk

mengelabui sehingga dia tak tahu bahwa saya mengetahui keberadaan-nya.”

PDF by Kang Zusi

“Tentu kamu tidak membiarkannya membuntutimu hingga kemari

bukan?”

“Tidak, Tuanku.” Heiko tersenyum mengingat muslihatnya. “Saya

mengebauinya sehingga dia hampir menabrak saya. Setelah itu, dia tak bisa

lagi membuntuti.”

“Bagus,” kata Kawakami. “Apa Kudo lagi?”

“Ya.” Heiko mengangkat ketel dari api. Kawakami membiarkan air

mendidih terlalu lama. Jika dituangkan ke teh sekarang, aroma tehnya akan

rusak. Air itu harus dibiarkan dingin dahulu hingga mencapai suhu yang

tepat.

“Kudo ahli dalam hal ini,” sambung Kawakami. “Mungkin kamu telah

menimbulkan kecurigaan kepada Lord Genji.

“Kelihatannya tidak mungkin. Hamba yakin Kudo bertindak atas

inisiatifnya sediri. Lord Genji bukan orang yang mudah curiga.”

“Semua bangsawan pasti mudah curiga,” tukas Kawakami.

“Kecurigaan sangat penting untuk bertahan hidup.”

“Saya heran,” kata Heiko, memiringkan kepalanya yang menurut

Kawakami membuat-nya terlihat sangat menarik. “Jika Lord Genji bisa

melihat masa depan, dia tak perlu berhati-hati. Dia tahu apa yang akan

terjadi dan kapan. Kecurigaan menjadi tak berarti baginya.”

Kawakami mendengus. “Tak masuk akal. Keluarganya memang telah

menggunakan samaran menggelikan itu dari generasi ke generasi. Jika satu

saja dari mereka memang bisa melihat masa depan, klan Okumichi pasti

akan menjadi klan paling berkuasa di Kekaisaran Jepang, bukan klan

Tokugawa, dan Genji pasti sudah menjadi Shogun, bukan menjadi penjaga

wilayah perairan belakang keshogunan seperti Akaoka.”

“Tak diragukan lagi Anda benar, Tuanku.”

“Kamu terlihat tidak yakin. Apa kamu telah menemukan tentang

kemampuan meramal ini?”

“Tidak, Tuanku. Tidak secara langsung.’

“Tidak langsung.” Wajah Kawakami mengeras seakan-akan jawaban

Heiko tadi terasa masam.

“Satu kali, ketika Kudo dan Saiki sedang membicarakan Lord Genji,

hamba mendengar mereka menyebut Suzume-no-Kumo.”

PDF by Kang Zusi

“Suzum-no-kumo adalah nama puri utama di kediaman Akaoka.”

“Ya, Tuanku, tetapi mereka tidak berbicara tentang puri. Mereka

berbicara tentang teks rahasia.”

Kawakami kesulitan berkonsentrasi pada laporan Heiko. Semakin lama

Kawakami memandangnya, semakin dia berharap tadi dia minum sake dan

bukan teh. Tetapi, waktu dan kondisi tidak memungkinkan. Itu memang

yang terbaik. Jarak antara tuan dan pembantu harus dipertahankan.

Kawakami merasa dirinya semakin kesal. Apakah ini karena dia tak bisa

melakukan apa yang dia mau dengan Heiko? Tentu tidak. Dia adalah

samurai dengan riwayat keturunan panjang. Dia bisa mengontrol naluri

dasarnya. Lalu apa? Masalah mengetahui hal lebih banyak dari orang lain.

Ya! Itulah masalahnya. Kawakami seharusnya menjadi satu-satunya orang

yang melihat, orang yang tahu, berdasarkan laporan dari jaringan ribuan

mata-mata. Tetapi, di mata publik, Genji dianugerahi kemampuan melihat

lebih jauh dari Kawakami. Genji diyakini punya kemampuan meramal

masa depan.

“Tidak aneh jika sebuah klan mempunyai teks ajaran rahasia,” tukas

Kawakami. “Biasanya berupa buku strategi perang yang sering kali

merupakan jiplakan Seni Perang karangan Sun Tzu.”

“Menurut kabar, teks rahasia Okumichi berisi ramalan para Lord

Akaoka dari setiap generasi sejak masa Hironobu, enam ratus tahun lalu.”

“Gosip semacam itu telah lama menyebar di keluarga Okumichi.

Katanya, setiap generasi ada satu orang yang terlahir dengan kemampuan

meramal.”

“Ya, Tuanku. Memang begitu kabarnya.” Heiko membungkuk.

“Permisi.” Dia menuangkan air panas di cangkir teh. Aroma harum

memenuhi udara.

“Dan kamu percaya itu?” Rasa marah membuat Kawakami terlalu cepat

meminum tehnya. Dia menelan tanpa memperlihatkan rasa sakit di

wajahnya. Cairan panas itu membakar tenggorokannya.

“Hamba hanya percaya bahwa gossip itu ada, mungkin ada kebenaran di

balik semua kabar burung itu. Tidak harus berupa ramalan, Tuanku.”

PDF by Kang Zusi

“Hanya karena sesuatu itu dikatakan, tidak berarti itu benar. Jika aku

percaya semua hal yang kudengar, aku harus mengeksekusi setengah

penduduk Edo dan memenjarakan sisanya.”

Itu adalah lelucon terlucu yang bisa diusahakan oleh Kawakami. Heiko

tertawa sopan, menutup mulutnya dengan lengan komono. Dia

membungkuk menggoda sebagai tanda penghormatan atas guyonan

Kawakami.

“Semoga tidak termasuk hamba.”

“Tidak. Tentu tidak dirimu,” kata Kawakami menghibur Heiko. “Untuk

Mayonaka no Heiko hanya pujian tertinggi yang pantas.”

Heiko tertawa lagi. “Sayangnya hanya karena sesuatu itu dikatakan,

belum tentu benar.”

“Aku akan berusaha mengingat itu.” Kawakami tersenyum lebar,

senang mendengar kata-katanya dikutip dengan cepat dan secara guyon oleh

seorang wanita penuh keanggunan dan daya tarik.

Heiko tak pernah berhenti kagum tentang betapa mudahnya

memperdaya pria. Yang diperlukan hanya memperlihatkan sedikit

kebodohan. Mereka mendengar tawa, senyum, menghirup aroma harum dari

lipatan baju sutra, dan pria tak memperhatikan pandangan tajam mata di

balik bulu mata lentik yang bergetar. Ini berlaku bahkan untuk Kawakami,

yang seharusnya lebih waspada dari yang lain. lagi pula, dia adalah orang

yang menciptakan Mayonaka no Heiko. Tetapi lihat saja, dia tetap saja

selemah semua laki-laki lain. Semua laki-laki lain, kecuali Genji.

“Kakek Lord Genji, mendiang Lord Kiyori, kabarnya juga mempunyai

kemampuan melihat masa depan.” Kawakami menerima secangkir teh lagi

dari Heiko. Sekarang, dia menghirup tehnya dengan lebih hati-hati. “Tetapi,

tetap saja dia meninggal tiba-tiba, tiga minggu lalu, kemungkinan diracuni.

Bukankah seharusnya dia bisa meramal kejadian itu sehingga tidak

meminum racun yang ditujukan untuknya?”

“Mungkin tidak semua hal bisa diramal, Tuanku.”

“Alasan yang mengada-ada,” tukas Kawakami kembali meradang.

“Alasan itu hanya untuk menguatkan mitos yang ada. Semuanya hanyalah

propaganda kosong yang digembar-gemborkan klan Okumichi. Orang

Jepang sangat percaya takhayul dan mudah dibohongi. Klan Okumichi

PDF by Kang Zusi

dengan cerdik mengeksploitasi hal ini. Akibat dongeng anak-anak

kemampuan meramal ini, mereka diperlakukan lebih dari yang seharusnya.”

“Apakah memang racun yang menyebabkan kematian Lord Kiyori?”

“Jika kamu bertanya apakah aku yang memerintahkan peracunan,

jawabannya tidak.”

Heiko menjatuhkan diri ke lantai, membungkuk rendah-rendah. “Hamba

tak akan berani selancang itu, Lord Kawakami.” Nada suara dan sikapnya

benar-benar serius. “Ampuni hamba karena telah memunculkan kesan yang

salah kepada Anda.” Pria ini tak lain adalah seorang badut, tetapi badut

yang berbahaya dan cerdik. Karena terlalu ingin mengetahui apa yang akan

terjadi pada Genji, Heiko telah bertindak terlalu jauh. Jika dia tak hati-hati,

Kawakami mungkin bisa meraba bahwa Heiko telah bertindak melebihi

tugas yang dibebankan kepadanya.

“Oh, bangunlah, bangunlah,” kata Kawakami tergesa-gesa. “Aku tidak

tersinggung. Kamu adalah anak buahku yang terpercaya.” Tentu saja,

wanita tak bisa mendapat status itu. Tetapi, itu hanya kata-kata. Tidak ada

masalah baginya untuk mengatakannya.

“Anda terlalu menghargai saya lebih dari seharusnya.”

“Omong kosong! Kamu harus tahu apa yang kulakukan sehingga kamu

bisa menyesuaikan diri. Aku memang tidak suka kepada Lord Kiyori, tetapi

musuhnya bukan hanya satu. Keramahannya yang berlebihan kepada orang

asing, terutama orang Amerika telah menimbulkan kemarahan banyak

orang. Dan, lebih banyak lagi yang marah karena ketertarikan Lord Kiyori

terhadap agama Kristen. Dia tidak mendapat dukungan bulat, bahkan dari

klannya sendiri. Kamu sendiri mengatakan kalau Saiki dan Tanaka, dua dari

pengikutnya yang paling senior, sangat keberatan akan kehadiran para

misionaris di wilayah Akaoka. Bahkan, Tanaka sangat kecewa sehingga

mengundurkan diri dan menjadi rahib di Kuil Mushindo enam bulan lalu.”

“Ya, Tuanku, itu memang benar. Dia telah menuruti ajaran Buddha dan

namanya sekarang berganti Sohaku.”

“Fanatisme agama lebih mematikan daripada fanatisme politik. Tak

peduli namanya Tanaka atau Sohaku, menurutku dialah yang paling

mungkin membunuh Lord Kiyori.”

PDF by Kang Zusi

“Betapa tragis,” kata Heiko, “dibunuh di usia tua oleh orang kepercayan

sendiri.”

“Mereka yang paling dekat adalah orang yang paling berbahaya,” kata

Kawakami mengamati rekasi Heiko, “karena kita terlalu sering

mengabaikan siapa mereka sebenarnya. Misalnya, kamu sering berbagi

ranjang dengan Lord Genji, tetapi suatu saat bisa saja kamu memotong

lehernya. Benar tidak?”

Heiko membungkuk, hati-hati menata senyumnya agar tidak

mencurigakan, setuju tetapi tidak berlebihan. “Ya, benar demikian.”

“Kamu tidak kesulitan untuk mengatasi perasaan sukamu kepadanya?”

Heiko tertawa riang. “Anda mempermainkan saya, Lord Kawakami.

Hamba ada di ranjangnya hanya karena Anda menempatkan saya di sana,

bukan karena saya mempunyai rasa suka kepadanya.”

Kawakami berkerut. “Hati-hati, Heiko. Saat kamu bersamanya

kenyataan ini harus tetap dirahasiakan, bahkan kamu juga tak harus tahu.

Kamu harus benar-benar mencintai-nya, sepenuhnya, atau dia akan

mengetahui siapa dirimu sebenarnya dan kamu tak akan berguna lagi

bagiku.”

Heiko membungkuk rendah di lantai. “Ya, Tuanku. Hamba mendengar

dan patuh.”

“Bagus. Sekarang, bagaimana dengan paman Lord Genji? Apa kamu

sudah tahu di mana keberadaannya?”

“Belum. Sejak Lord Shigeru meninggalkan istana, dia belum terlihat di

puri-puri lain di wilayah Akaoka. Bahkan, mungkin dia lari dari klannya

sendiri.”

“Apa pun sebabnya, itu akan menjadi berita bagus. Sang paman jauh

lebih berbahaya daripada sang keponakan. Shigeru adalah penggemar

fanatik semua seni samurai kuno dan dia sangat ahli. Dia dapat membunuh

dengan maupun tanpa senjata, dan dia telah melakukannya; sudah menjadi

rahasia umum bahwa Shigeru pernah terlibat dalam 59 duel dan selalu

menang. Hanya kurang satu dari rekor duel yang dipegang oleh sang

legendaries, Miyamoto Musashi, dua ratus tahun lalu. Duel keenam puluh

dan keenam puluh satu direncanakan pada tanggal terakhir tahun lama dan

PDF by Kang Zusi

pada tanggal pertama tahun baru, tetapi duel tersebut mungkin tak akan

terjadi. Shigeru telah menghilang.

“Katakan kepadaku apa yang telah kamu ketahui.”

Heiko memulai laporannya. Jika dia terlalu memikirkan apa yang akan

dikatakannya, dia mungkin tak akan mampu melanjutkan. Kepingankepingan

informasi didapatnya dari beberapa sumber berbeda. Dia yakin

telah menyatukan berbagai informasi itu dengan benar, tetapi dia berharap

dengan seluruh hatinya bahwa dia salah.

Kuil Buddha kecil di dalam Istanan Suzume-no-Kumo dibangun pada

zaman dahulu, pada tahun ketiga belas Kekaisaran Go-hanazono. Tidak

seperti kuil lain, kuil ini tidak didedikasikan pada sekte tertentu. Ini karena

Lord Wakamatsu membangunnya untuk menebus dosa atas perusakan tiga

lusin biara aliran Jodo, Nichiren, Tendai, dan Shingon, serta pembunuhan

lima ribu biarawan termasuk keluarga dan para pendukungnya. Pasukan

samurai Akaoka yang fanatik telah mengabaikan perintah tuan mereka

untuk menghentikan pertengkaran agama dan intrik politik.

Shigeru tahu tentang kuil itu secara mendetail. Sejak masa kecilnya, kuil

itu menjadi tempat sentral dalam mimpinya yang terburuk dari mimpimimpi

yang sering terulang. Tahu bahwa mimpi-mimpi itu penuh dengan

pertanda dan tidak paham satu pun di antaranya, Shigeru menghabiskan

waktu bertahun-tahun mempelajari kuil Buddha di Istana Shuzume-no-

Kumo, berharap dapat menemukan bimbingan dari peristiwa masa lalu dan

dari para rahub di sana. Tetapi, tak satu pun yang bisa membantunya.

Kini, setelah semuanya terlambat baru dia mengerti. Begitulah selalu

pertanda. Shigeru berlutut dalam sinar lentera dan menyalakan hio yang

keseratus lima. Dengan membungkuk hormat, dia menempel hio itu di altar

perabuan ayahnya, Kiyori, mendiang Bangsawan Agung Akaoka.

“Ampuni aku, Ayah. Kumohon, ampuni aku.”

Untuk keseratus lima kalinya, dia mengatakan kata-kata yang sama.

Lalu, dia menyalakan batang hio yang keseratus enam. Asap dari batangbatang

hio yang dia nyalakan memenuhi kuil dengan aroma yang

menyesakkan. Shigeru mengabaikan rasa sakit yang dia rasakan di mata dan

paru-parunya.

PDF by Kang Zusi

Dikatakan bahwa neraka terbagi dalam enam belas tingkat siksaan.

Shigeru tahu kebih baik. Seratus delapan penderitaan adalah imbalan yang

didapatkan seorang pria akibat ketamakan, kebencian, dan kebodohan yang

tak berakhir. Seratus delapan pertobatan dibutuhkan untuk membawa jiwajiwa

yang tersesat kembali ke sinar sang Buddha. Seratus delapan adalah

jumlah kehidupan yang akan dijalani Shigeru di seratus delapan neraka

akibat kejahatannya yang tak terbayangkan. Ketika batang hio keseratus

delapan telah dinyalakan, Shigeru akan memulainya.

“Ampuni aku, Ayah. Kumohon, ampuni aku.”

Tetapi dia tahu, dia tak mungkin diampuni. Ruh Lord Kiyori mungkin

akan mengampuninya atas pembunuhan dirinya. Tetapi, tidak untuk

pembunuhan yang lain. Tak seorang pun yang akan mengampuninya.

“Ampuni aku, Ayah. Kumohon, ampuni aku.”

Shigeru kagum. Entah bagaimana caranya, dia tetap mengingat

hitungannya, meski melihat bayangan mengerikan yang membuatnya tak

bisa tidur. Bayangan yang menekan kepalanya sehingga di merasa tulang

tengkoraknya akan pecah kapan saja. Bayangan yang menghina keberadaan

dirinya. Namun begitu, dia tetap menghitung. Ini adalah hio keseratus

delapan.

“Ampuni aku, Ayah. Kumohon, ampuni aku.”

Dia menekankan kepalanya ke lantai. Dentuman suara mesin terbang

tanpa sayap memekakkan telinganya. Di balik matanya yang terpejam, dia

melihat lentera-lentera raksasa terbakar tanpa api yang membutakan.

Tenggorokannya tercekik oleh udara berbau tajam dan berkabut warnawarni.

Shigeru tahu, dia benar-benar telah menjadi gila.

Satu orang di setiap generasi Okumichi dikutuk oleh kemampuan

meramal masa depan. Di generasi sebelumnya, orang itu adalah ayahnya,

dan di generasi sesudahnya adalah Genji. Di generasinya sendiri, kesialan

itu menimpa Shigeru. Mereka yang mampu meramal masa depan selalu

menderita karena melihat pertanda tidak selalu berarti pemahaman.

Baginya, pertanda-pertanda itu sama sekali tak pernah membawanya pada

pemahaman, hanya menimbulkan penderitaan. Peristiwa-peristiwa selalu

PDF by Kang Zusi

terjadi tanpa diketahuinya sehingga saat dia sadar selalu sudah terlambat.

Dan, penderitaan diikuti oelh lebih banyak penderitaan.

Jika dia hanya diganggu oleh mimpi yang penhu pertanda, mungkin

hidup akan lebih mudah. Tetapi, tak lama kemudian, pertanda muncul saat

dia sadar. Seorang samurai yang biasa disiplin berlatih bela diri memang

lebih tahan terhadap segala hal. Tetapi, kemunculan pertanda-pertanda

tanpa ada jeda bahkan untuk tidur sekalipun pada akhirnya bisa

menjebolkan daya tahan seorang samurai.

Langit merah menyala oleh api dan runtuh, membakar anak-anak yang

berteriak kesakitan. Kerumunan serangga baja merangsek menyerbu Edo,

memenuhi perut mereka dengan daging manusia, mengembuskan asap

berbau bangkai. Jutaan ikan mati mengambang di air beracun berwarna

perak di perairan pulau.

Apa yang dia lihat dengan pikirannya menutupi apa yang dilihat dengan

matanya. Selalu. Tak pernah ada istirahat. Shigeru berhenti di pintu masuk

kuil. Dia membungkuk kepada mayat dua biarawati yang terbunuh, berhatihati

agat tidak terpeleset di kolam darah mereka saat dia berjalan. Purnama

bersinar tepat di atas istana ketika dia menyeberangi halaman tadi. Kini,

saat dia kembali ke kediamannya, dia melihat malam masih disinari

purnama, tetapi sang rembulan sendiri bersembunyi di balik dindingdinding

istana.

Ranjang istrinya kosong, selimutnya terlihat dilempar ke samping

dengan tergesa-gesa. Shigeru menuju kamar anak-anak. Mereka juga telah

menghilang. Ini tak dia perkirakan sama sekali. Senyum masam menghiasi

wajahnya yang berkerut. Di mana mereka? Hanya ada satu kemungkinan.

Shigeru pergi ke ruang senjata pribadinya dan bersiap-siap.

Helm baja dihiasi ikatan rambut kuda berwarna merah dan tanduk dari

kayu.

Topeng wajah berpernis untuk melindungi pipi dan rahangnya.

Sebuah nodowa untuk melindungi tenggorokannya, dan dua sode untuk

melindungi bahu. Donaka, kusazuri, dan haitate terbuat dari baja untuk

menahan peluru yang ditujukan untuk dada, selangkangan, dan pahanya.

Selain dua pedangnya, Shigeru menambahkan lima pistol satu peluru buatan

Inggris diikat pinggangnya.

PDF by Kang Zusi

Shigeru adalah komandan jaga malam ini. Dia tidak mengalami

kesulitan mengeluarkan kudanya dari kandang. Tak seorang pun

mempertanyakan kemunculannya. Saat dia memerintahkan agar gerbang

dibuka, gerbang pun terbuka dan dia langsung menderap kudanya keluar

istana.

Kediaman mertuanya, Yoritada, berada di pegunungan timur yang tak

berapa jauh. Ketika Shigeru tiba di sana, dia menemukan Yoritada dan

selusin pengikutnya menunggu-nya di luar dinding. Mereka semua

berpakaian tempur lengkap seperti dirinya. Enam dari para samurai itu

membawa senapan yang siap dibidikkan.

“Jangan mendekat,” kata Yoritada, “atau kamu akan ditembak mati.”

“Aku datang untuk menjemput istri dan anak-anakku,” kata Shigeru.

“Suruh mereka keluar dan aku akan pergi dengan damai.”

“Umeko bukan istrimu lagi,” jawab Yoritada. “Dia telah kembali ke

rumahku dan meminta perlindungan untuknya dan anak-anaknya.”

Shigeru tertawa seakan-akan pernyataan Yoritada itu benar-benar

menggelikan. “Perlindungan? Dari apa?”

“Shigeru,” Yoritada berkata dengan suara penuh kesedihan, “pikiran

dan ruhmu tidak sehat. Aku telah memperhatikan selama bermingguminggu.

Malam ini, Umeko datang kepadaku sambil berurai air mata.

Katanya, kamu berbisik-bisik sendiri terus menerus, siang dan malam,

tentang siksaan berdarah di neraka. Anak-anakmu takut berada di dekatmu.

Aku mohon, mintalah bimbingan kepada Lord Kiyori. Ayahmu orang bijak.

Dia akan menolongmu.”

“Dia tak akan menolong siapa pun,” kata Shigeru, melihat dengan

seksama menunggu kesempatan menyerang. “Lord Kiyori malam ini mati

diracuni dengan empedu ikan kembang beracun.”

“Apa?” Yoritada tersandung satu langkah ke depan mendengar

perkataan Shigeru. Berita itu juga membuat para samurai pengawal

Yoritada terkejut. Sekarang. Inilah saat yang tepat untuk bertindak.

Shigeru memacu kudanya ke depan, menembakkan pistolnya dan

membuangnya secepat dia bisa. Dia bukan penembak yang baik dan tidak

mengenai seorang pun. Tujuannya hanyalah untuk lebih membingungkan

anak buah Yoritada.

PDF by Kang Zusi

Usahanya tersebut berhasil. Hanya dua dari penembak yang berhasil

mendekati sasaran. Kedua peluru itu mengenai kudanya sehingga terjatuh.

Shigeru melompat dari pelana, begitu mendarat dia langsung berlari,

melumpuhkan ayah mertuanya dengan satu sabetan katananya. Menyabet

dengan pedang katana di tangan kanan dan menusuk dengan pedang tanto

di tangan kiri, Shigeru membunuh dan melukai setiap lawannya bahkan

sebelum debu yang meruap akibat kejatuhan kudanya hilang.

Di dalam gerbang, ibu mertuanya, Sadako, telah menunggu dengan

empat pelayan. Setiap orang menghunus naginata, belati panjang yang

biasa menjadi senjata samurai wanita.

“Setan terkutuk,” Sadako memuntahkan kemarahannya. “Aku sudah

memperingatkan Umeko agar tidak menikahimu.”

“Seharusnya dia mendengar nasihatmu,” timpal Shigeru.

Shigeru menemukan Umeko dan anak-anaknya di ruang minum teh di

halaman dalam. Ketika di maju ke arah pintu, pedang katana berukuran

anak-anak menusuk melalui kertas soji yang melapisi rangka kayu. Pedang

itu merobek alis kirinya, hampir saja mengenai matanya.

“Jika masuk kau akan mati!” suara kecil yang berani membentaknya

tanpa rasa takut sama sekali. Itu adalah suara anaknya yang terkecil, baru

enam tahun, Nobuyoshi. Shigeru dapat membayangkan kondisi di dalam

ruangan minum teh itu. Nobuyoshi, berjaga di depan pintu dengan katana

terhunus tepat membidik di titik mata. Di belakangnya, Umeko dan dua

anak perempuan mereka, Emi dan Sachi.

Shigeru menggunakan ujung katananya untuk membuka pintu.

Nobuyoshi melihatnya dan tersentak. Anak itu segera mundur. Sebenarnya,

lebih baik jika anak itu tetap berdiri siaga di tempatnya karena pintu ruang

minum teh yang kecil akan membatasi gerak Shigeru saat masuk. Tetapi,

Shigeru tak bisa menyalahkannya. Dia tahu, dirinya pasti terlihat

mengerikan. Dari kepala hingga kaki badannya berlumuran darah delapan

belas orang yang telah dibantainya. Sembilan belas, jika Shigeru

menghitung darah dari lukanya. Darah menetes dari luka di lehernya akibat

tusukan ibu mertuanya. Jika saja dia menusuk dua senti meter lebih rendah,

dia pasti berhasil membunuhnya.

PDF by Kang Zusi

Hati Shigeru diliputi rasa bangga melihat anak lelakinya. Di dalam

hidupnya yang pendek, dia telah belajar dengan baik. Nobuyoshi memegang

pedangnya dengan sudut yang benar, dengan pose yang benar. Posturnya

seimbang sehingga memungkinkannya beregrak ke segala arah. Dan yang

lebih penting, dia menempatkan dirinya, untuk melindungi ibu dan saudarasaudara

perempuannya.

“Bagus, Nobuyoshi.” Shigeru mengatakan kata yang sama sebelumnya,

saat Nobuyoshi selesai berlatih keras dengan pedang, tombak, dan busur.

Kini, Nobuyoshi sama sekali tak menjawab. Perahatiannya terpusat penuh

kepada Shigeru. Putranya sedang menunggu kesempatan, mencari saat yang

tepat untuk melancarkan serangan. Melihatnya, Shigeru merasa putranya

pantas mati seperti seorang samurai sejati. Shigeru pun pura-pura

terjerembab saat melangkah ke depan.

“Aaaiii!” dengan teriakan keras yang mengekspresikan komitmen

penuh, Nobuyoshi menyerang celah terbuka di leher Shigeru. Putranya

melakukan apa yang harus dilakukan seorang samurai. Dia larut dalam

serangan, tanpa memikirkan apa pun, bahkan dirinya sendiri. Pada saat itu,

Shigeru menyabetkan pedangnya dengan cepat, tubuh Nobuyoshi terus

merangsek ke depan, sementara kepalanya jatuh menggelinding di lantai.

Emi dan Sachi berteriak ketakutan dan saling berpelukan, air mata

mengucur di pipi mereka. “Mengapa, Ayah, mengapa?” teriak Emi.

Umeko menghunus belati di tangan kirinya. Di tangan kanan, dia

memegang sebuah pistol derringer. Dia mengangkat pistol itu dan

menembak. Pelurunya mengenai helm bajanya dan mental. Umeko

menjatuhkan pistol dan menggantinya dengan belati.

“Aku selamatkan kamu dari dosa yang lebih besar,” Umeko berkata.

Dengan dua gerakan cepat dia mengiris tenggorokan kedua anak

perempuannya. Darah mereka menyembur membasahi kimono tidur sutra

berwarna pucat. Kemudian Umeko menatap langsung ke mata Shigeru.

“Semoga Buddha yang penuh kasih membimbingmu dengan selamat ke

Tanah Murni,” dan dia langsung menusukkan belati itu ke tenggorokannya.

Shigeru duduk di lantai ruang minum teh, di tengah-tengah reruntuhan

berdarah kehidupannya, memegang satu pedang di setiap tangan. Dia

memandang ke pintu masuk yang kecil. Tak berapa lama, dia pasti akan

PDF by Kang Zusi

mendengar suara derap kuda pasukan dari Istana Akaoka. Shigeru mulai

tertawa. Dia masih dikutuk. Tetapi, dia telah membebaskan istri dan anakanaknya

tercinta. Mereka tak akan tersentuh oleh kengerian yang

diramalkan oleh mimpi-mimpi dan pertanda yang dia alami.

II PARA PEMIMPI INDAH

4. Sepuluh Orang Mati

Emili menunggu-nunggu malam pernikahannya dengan

penuh harapan dan ketakutan. Ketakutan dipicu oleh kejijikan yang dia

rasakan terhadap fisik Cromwell; sementara harapan dipicu oleh keengganan

Cromwell terhadap tubuhnya. Apabila Cromwell tidak bersikap demikian,

mungkin dia tak pernah mempertimbangkan lamaran pria itu. Ditambah

dengan janji untuk meninggalkan Amerika, membuat lamaran Cromwell tak

bisa ditolaknya. Hubungan mereka sebagai suami istri tentu tak bisa seratus

persen lepas dari hubungan seksual. Adalah mustahil mengharapkan dalam

sebuah perkawinan tak akan ada senggama dengan naluri binatang.

Untungnya, hubungan seksual bisa diminimalisasi sesedikit mungkin jika

dia menikah dengan Cromwell. Penderitaan yang akan dialaminya beberapa

kali itu adalah harga yang murah untuk kesempatan yang ditawarkan

Cromwell.

Kini, harapan dan ketakutan itu telah lenyap, dihancurkan oleh peluru

seorang pembunuh. Jika Cromwell mati, Emily akan sendirian, dan dia tak

bisa tinggal di Jepang sendirian. Tanpa perlindungan ayah, saudara laki-laki

atau suami, seorang wanita tak akan punya tempat terhormat di tanah asing

ini. Dia terpaksa harus kembali ke Amerika. Atau, mungkinkah ada

alternative lain? Tidak bisakah dia meneruskan misi dengan Stark?

Dia melirik ke arah Stark yang sedang memandang keluar jendela.

Wajah maupun posturnya tidak menunjukkan apa yang sedang dia pikirkan.

PDF by Kang Zusi

Sejak pertama mereka bertemu, Stark memang selalu menjadi teka-teki

baginya.

Matthew Stark pertama kali muncul dalam kehidupan mereka baru

empat bulan yang lalu. Dia muncul di rumah misi Firman Sejati di San

Francisco . Saat itu, Emily sedang membagikan sup kepada fakir miskin dan

tunawisma ketika dia melihat seorang pria berdiri di pintu masuk bangsal

yang digunakan untuk ruangan makan.

Pakaian berkudanya sangat kotor. Topi hitam di kepalanya terlihat

seakan-akan dahulu berwarna putih. Rambutnya berantakan terurai di

punggung dan bahunya seperti orang Indian liar. Wjahnya kurus dengan pipi

cekung dan lingkaran kitam di sekitar matanya. Janggutnya tumbuh tak rata,

seakan-akan dia memotong seadanya dengan pisau. Kelihatannya, dia tak

beda dengan para orang miskin lain yang dirawat Emily sehari-hari. Hanya

dia tak segera ikut antre ke tempat layanan makanan, menghirup supnya

pada makanan. Dia berdiri diam di pintu, tak bergerak. Matanya mengawasi

seluruh ruangan, mengamati orang-orang yang duduk di meja dan yang

berdiri di antrean. Lengannya tergantung di samping badannya, tidak lemas

tetapi tetap waspada. Saat itulah, Emily melihat tonjolan di pinggang

kanannya di bawah jaketnya yang kotor oleh debu.

Emily meminta Sarah untuk menggantikannya menuangkan sup dan

mendekati orang asing itu.

Ketika Emily mendekat, pria itu dengan sopan melepas topinya dan

mengangguk hormat. “Nyonya.”

“Anda boleh bergabung bersama kami untuk makan malam, Saudaraku

seiman dalam Kristus.” Emily menggunakan sapaan yang digunakan misi

Firman Sejati menyapa semua orang baru. Saudara, karena seperti kata

Cromwell, bukankah semua manusia bersaudara? Kristen, karena—meski

mereka tak menyadarinya—semua manusia, baik para pendosa, orang suci,

dan penyembah berhala sebenarnya adalah orang Kristen di hadapan

kemurahan dan pengampunan Tuhan.

“Baik, Nyonya,” kata pria itu, mengangguk dengan sedikit

membungkuk. “Terima kasih.” Suaranya mempunyai aksen sengau khas.

Texas , tebak Emily, atau daerah sekitanya.

PDF by Kang Zusi

“Tempat ini dilindungi dalam kedamaian Tuhan, Saudaraku.” Emily

mengulurkan tangan kepadanya. “Kekerasan tak boleh masuk ke sini.”

Pria itu memandang kepadanya dan berkedip beberapa kali sebelum

akhirnya paham. “Tidak, Nyonya,” katanya. Dia membuka tali kulit yang

mengikat pistolnya ke pinggang, membukanya dari pinggangnya, dan

mengulurkannya kepada Emily dengan pistol masih di dalamnya.

Emily hampir menjatuhkannya. “Aku serahkan kamu kepada Tuhan dan

pengampunan-Nya.” Pistol itu sangat besar dan sangat berat.

“Terima kasih.”

“Kita seharusnya mengatakan ‘amin’ pada setiap kata dari Alkitab,” kata

Emily.

“Tidak tahu Alkitab, Nyonya. Tidak tahu apa yang harus diamini.”

“Aku serahkan kamu kepada Tuhan dan pengampunan-Nya. Itu adalah

firman Tuhan. Pasal 20:32)”

“Amin,” kata pria asing itu.

Emily tersenyum. Kemauannya menurut sangat menggembirakan. Tidak

diragukan kalau dia telah melakukan kesalahan, mungkin dengan senjata

yang kini dipegangnya. Dan, mungkin dengan senjata lain, yang gagangnya

dia lihat tergantung di sisi kiri ikat pinggangnya. Namun, tak seorang pun

yang berada di luar pengampunan dan perlindungan Tuhan. “Dan itu juga,”

kata Emily, menunjuk dengan dagunya.

Pria itu menunduk memandang gagang senjata di pinggang kirinya,

seakan-akan terkejut. “Lupa.” Untuk pertama kalinya pria itu tersenyum.

“Belum lama punya ini.” Senjata itu lebih berupa pedang kecil daripada

pisau besar. Dia meletakkannya pistol dan sarung yang dipegang Emily.

“Uangmu lebih baik jika dihabiskan untuk membeli alat-alat

perdamaian,” tegur Emily.

“Amin,” timpal pria itu.

“Itu hanya kata-kataku” tukas Emily, “bukan dari Alkitab.”

“Tidak membelinya kok.” Pria itu tersenyum lagi, senyum yang aneh.

Bibirnya melengkung ke atas, sementara matanya menyipit.

“Lalu dari mana datangnya senjata itu, Saudaraku?” Menang dari judi,

pikir Emily, atau lebih buruk lagi, mencuri. Dia menawarkan kesempatan

PDF by Kang Zusi

kepada pria asing itu untuk mengakui kesalahan, sebagai langkah pertama

memulai hidup dalam pengampuan dan kasih sayang Tuhan.

“Pisau bowie sepanjang 25 sentimeter,” kata sang pria. Lalu menyadari

bahwa itu tak menjelaskan apa-apa, dia menambah, “hadiah perpisahan.’

Baik, rupanya tidak ada pengakuan untuk saat ini. Tetapi, Emily telah

melakukan tugasnya dengan membuka jalan. Tanyanya, “siapa namamu?”

“Matthew,” jawabnya.

“Aku Emily, Saudara Matthew. Panggil saja aku saudari, jangan panggil

nyonya. Aku sangat senang menerima Anda makan sup bersama kami,

dalam perlindungan Tuhan.”

“Terima kasih, Saudari Emily,” kata Saudara Matthew.

Ingatan akan masa-masa menggembirakan itu membuat air mata tibatiba

menggenang di mata Emily sehingga dia tak bisa menahan air matanya

turun membasahi pipi.

Mengulurkan tangan melewati Cromwell yang terbaring. Stark

memberikan sapu tangan kepada Emily. Dia menutupi wajahnya dengan

sapu tangan itu dan menangis dalam diam, bahunya bergetar karena sedusedan

yang diredam. Stark terkejut melihat emosi seperti itu datang dari

Emily. Sikapnya terhadap sang pendeta selalu sopan dan menjaga jarak.

Orang yang tak tahu tak akan mengira kalau mereka bertunangan. Ini

menunjukkan betapa sedikit pengetahuannya tentang wanita. Bukannya itu

penting dan bukannya dia peduli. Yang penting jantung Stark masih

memompa darah ke seluruh tubuh, itu saja. Kalau tidak, itu berarti jantung

orang yang sudah mati.

Stark berkata, “Sebaiknya Anda berisitirahat, Saudari Emily. Aku akan

menjaga Saudara Zephaniah.”

Emily menggeleng. Setelah menarik napas panjang beberapa kali, dia

akhirnya mampu bicara. “Terima kasih, Saudara Matthew, tetapi aku tak

bisa pergi. Tempatku bersama Zephaniah.”

Stark mendengar gemerisik baju di lorong. Seseorang mendekat. Empat

samurai yang berjaga di luar ruangan membungkuk rendah. Beberapa saat

kemudian, Lord Genji muncul di pintu dengan komandan pengawalnya.

Genji memandang Emily dan Stark, kemudian mengatakan beberapa patah

PDF by Kang Zusi

kata kepada keempat samurai yang berjaga. Keempat samurai itu

membungkuk lagi, mengucapkan sepatah kata yang terdengar seperti “Hai

dan bergegas pergi. Stark mengamati bahwa setiap orang di sekitar Genji

sering mengatakan kata itu. Menurut perkiraannya, kata itu berarti ya.

Karena orang tidak mungkin berkata tidak kepada seseorang yang bisa

membunuh mereka dan keluarga mereka karena perkara sepele.

Genji tersenyum dan menyapa mereka dengan bungkukan rendah.

Sebelum Stark dan Emily berdiri, Genji telah duduk bersimpuh di sebelah

mereka dengan nyaman. Dia mengatakan sesuatu dan menunggu. Stark

merasa seakan-akan Genji sedang menunggu jawaban mereka.

Stark menggeleng. “Maafkan saya Lord Genji. Kami berdua tidak bisa

bahasa Jepang.”

Geli, Genji berpaling kepada Saiki dan berkata, “Dia pikir aku bicara

dalam bahasa Jepang.”

Saiki berkata, “Apa dia bodoh? Apa dia tak mengenali bahasanya

sendiri?”

“Rupanya,dia tidak mengenali bahasanya jika aku yang

mengucapkannya. Aksenku pasti jauh lebih buruk dari perkiraanku. Tetapi,

aku mengerti ucapannya. Setidaknya itu menggembirakan.” Genji kembali

menggunakan bahasa Inggris dan berkata kepada Stark dan Emily, “Bahasa

Inggris saya tidak bagus, saya mohon maaf.”

Stark menggeleng lagi. Yang bisa dia katakan adalah mengatakan apa

yang telah dia katakan, “Maaf.” Mulainya. Tetapi, Emily memotong.

“Anda bicara bahasa Inggris,” katanya kepada Genji. Atau, setidaknya

dia berusaha berbicara bahasa Inggris. Mata Emily yang masih basah oleh

air mata melebar terkejut.

“Ya, terima kasih,” kata Genji. Dia tersenyum seperti seorang anak kecil

yang telah senang karena berhasil menyenangkan orang dewasa. “Saya

mohon maaf karena suara bahasa Inggris saya tidak enak di telinga Anda.

Lidah dan bibir saya mengalami kesulitan besar mengucapkan kata-kata

Anda.”

Yang didengar Emily adalah serangkaian suku kata aneh dalam ritme

umum bahasa Inggris, “Yehsu, sankyu, I lee-glt-to zah offen-su to yo-ah eePDF

by Kang Zusi

ahsu. My than-gu ahn my rip-su ha-bu glate difficurty with zah shay-pu0su

of yo-ah wod-zuh,”

Emily berjuang untuk memisahkan satu bunyi dari bunyi berikutnya.

Jika dia bisa menebak beberapa kata, mungkin dia bisa menebak apa yang

dikatakan Genji. Apakah tadi dia mengucapkan kata “sulit” (difficulty)

Emily berpikir mungkin ide bagus jika dia mengulang kata itu dalam

jawabannya.

Dengan hati-hati dia berkata, “Setiap kesulitan (difficulty) dapat diatasi

jika kita mau berusaha.”

Ah, jadi begitu cara mengucapkannya, pikir Genji. Difficulty dengan

“el” yang diucapkan dengan menggerakkan lidah hingga menyentuh langitlangit

di tenggorokan.

“Sulit tetapi tidak mustahil,” balas Genji. “Ketulusan dan ketekunan

pasti menghasil-kan.”

Aksen Genji terdengar aneh dan susah dimengerti tetapi ada konsistensi

di dalamnya yang membuat kata-katanya menjadi jelas semakin lama Emily

mendengarnya. Selain itu, Genji cepat belajar. Sekarang, pengucapan kata

“sulit” dalam bahasa Inggris lebih mendekati pengucapan Emily.

“Lord Genji, bagaimana bisa Anda belajar bahasa kami?”

“Kakek saya meminta agar saya belajar bahasa Inggris. Dia yakin bahasa

ini akan berguna bagi saya.” Bahkan, Lord Kiyori menekankan bahwa Genji

wajib belajar bahasa Inggris. Karena dalam sebuah mimpinya, di melihat

Genji berbicara dengan para penutur bahasa Inggris.

Percakapan itu, kata Lord Kiyori, suatu saat akan menyelamatkan nyawa

Genji. Genji saat itu baru tujuh tahun. Katanya, jika mimpi kakeknya

memang nyata, mengapa dia harus repot-repot belajar? Ramalan

mengatakan dia akan berbicara bahasa Inggris. Jadi, ketika saatnya tiba, dia

pasti bisa berbicara bahasa Inggris.

Lord Kiyori tertawa terbahak-bahak. Ketika saatnya tiba, Lord Kiyori

berkata, Genji akan bisa berbicara bahasa Inggris karena saat ini Genji akan

mulai mempelajarinya.

Larangan Shogun terhadap orang asing saat itu masih berlaku. Pengajar

dari pembicara asli tidak mungkin didapatkan. Jadi, pelajaran bahasa Inggris

PDF by Kang Zusi

Genji hampir seluruhnya menggunakan buku. Kata-kata di buku ternyata

jauh berbeda dengan kata-kata di lidah dan di telinga.

Stark berkata kepada Emily, “Kamu mengerti kata-katanya.”

“Ya, dengan usaha. Apa kamu tidak, Saudara Matthew?”

“Sama sekali tidak, Saudari Emily.” Bagi Stark, Genji terdengar seperti

berbicara dalam rangkaian suku kata yang tak bisa dimengerti. Yang

didengar Emily sebagai bahasa Inggris, terdengar lebih pelan, dengan

rangkaian suku kata dalam kelompok lebih kecil, seperti gumaman daripada

kata-kata yang jelas. Perbedaan itu sama sekali tidak membuat Stark lebih

bisa mengerti apa yang diucapkan Genji, meski dia mendengar dengan

seksama.

Genji berkata pelan sekali. “mungkin jika saya berbicara dengan pelan

sekali?”

Yang didengar Stark, “Pah-ha-pu-su i-fu-aye su-pee-ku-be-li-shrowree?”

Yang bisa dia lakukan hanyalah menggelengkan kepala lagi.

“Maaf, Lord Genji. Telinga saya tidak sebijak telinga Saudari Emily.”

“Ah,” kata Genji. Dia tersenyum kepada Emily, “Ini memang ironis,

tetapi Anda harus menerjemahkan bahasa Inggris saya ke bahasa Inggris

untuk Tuan Stark sehingga dia bisa mengerti”

“Suatu kehormatan bagi saya,” jawab Emily, “dan saya yakin ini hanya

sementara. Ini hanya masalah menjadi biasa terhadap ciri khas satu sama

lain.”

Genji berkedip. “Anda berbicara terlalu cepat, Nona Gibson. Saya tidak

bisa mengerti kali ini.”

“Maafkan saya, Lord Genji. Saya terlalu terbawa oleh antusiasme saya.”

Emily mempertimbangkan untuk mengubah kata-katanya menggunakan

kata-kata yang lebih sederhana. Tetapi, melihat mata lembut sang

bangsawan itu, dia memutuskan untuk tidak menyederhanakan kata-katanya.

Dalam mata Genji, Emily melihat sebuah jiwa dengan kepekaaan tinggi.

Genji pasti tahu jika dia menyederhanakan kata-katanya. Dia akan merasa

terhina, dan lebih buruk lagi dia akan teringgung. Maka, Emily mengulang

kata-katanya dengan hati-hati.

Saiki berlutut di pintu, tak berapa jauh dari mereka. Dia cukup jauh

untuk tidak menganggu pembicaraan mereka. Tetapi, dia juga cukup dekat

PDF by Kang Zusi

untuk dengan cepat menyelipkan dirinya di antara tuannya dengan orangorang

asing itu,dan jika perlu membunuh Stark. Kelihatannya memang tidak

ada bahaya mengancam. Namun, Saiki tetap waspada. Meski sang wanita

kelihatan tak berbahaya, dia juga tetap mengawasinya.

Sekelompok orang kini berkumpul di belakang Saiki. Empat penjaga

tadi, kini membawa tempat tidur bergaya Barat. Hide dan Shimoda juga

bersama mereka membawa perabotan tambahan. Sang pelayan, Hanako, tiba

dengan peralatan minum teh gaya Inggris di atas nampannya. Mereka semua

memandang terlongong-longong pada pemandangan di dalam ruangan.

“Lord Genji berbicara dalam bahasa orang asing,” bisik Hide.

Saiki tetap mempertahankan kewaspadaannya. Tanpa berpaling, dia

berkata pelan. ”Kalau kamu tetap melanggar disiplin, Hide, kamu akan

menghabiskan malam pengantinmu di kandang kuda dan bukan di pelukan

mempelaimu.”

Malam pengantin? Hide ingin tertawa. Itu tak kan terjadi. Tuan mereka

hanya mengatakan hal itu sambil lalu saja, tak lebih. Hanya bebek tua tanpa

humor seperti Saiki yang akan menganggap hal itu serius. Hide berpaling

kepada Shimoda dan tersenyum geli. Tetapi, temannya itu malah tersenyum

penuh arti. Di sampingnya, Hanako, yang pipinya biasanya pucat kini

memerah malu, dan menunduk memandangi nampan yang dibawanya. Hide

ternganga. Kenapa dia selalu tak tahu apa yang terjadi hingga semuanya

terlambat?

Saiki maju dengan berlutut. “Tuanku, perlengkapan untuk para orang

asing.”

“Bawa masuk.” Kepada Emily dan Stark, Genji berkata, “Mari kita

minggir sebentar, sementara ruangan ini dilengkapi agar lebih nyaman.”

Genji melihat, baik Emily maupun Stark mengalami kesulitan berdiri.

Mereka harus membungkukkan punggung dahulu dan mendorong dengan

tangan, seperti anak-anak yang sedang belajar berdiri. Stark berdiri lebih

dahulu dan segera menolong Emily. Apa semua pria asing memperlakukan

wanitanya dengan rasa hormat yang berlebih-lebihan? Atau, hanya para

misionaris? Apa pun alasannya, singguh mengagumkan bagi seorang pria

untuk bersikap sangat sopan kepada seorang wanita yang tak enak dilihat.

PDF by Kang Zusi

Mudah untuk bersikap sopan dan hormat kepada wanita cantik. Tetapi,

wanita yang jelek membutuhkan tekad yang lebih kuat.

Ranjang, kursi-kursi, dan meja ditata dengan cepat sebelum kesemutan

Stark sembuh dan darah kembali mengalir normal di kakinya. Cromwell

tetap tidak sadar ketika para samurai itu mengangkatnya ke tempat tidur.

Selimut-selimut yang digelar di lantai menghitam terkena noda darah, dan

darah yang masih mengalir kini menodai kain linen bersih di tempat tidur di

bawah Cromwell. Warna darah dan bau luka Cromwell menunjukkan

kepada Stark bahwa peluru menerobos masuk organ pencernaan dan

perutnya. Racun dan asam dari organ-organ itu kini menyebar ke organ dan

bagian tubuhnya yang masih sehat.

“Apa tidak sebaiknya kita istirahat di ruang sebelah?” kata Genji. “Para

pelayan ini akan menunggui Tuan Cromwell. Mereka akan memanggil kita

jika ada perubahan.”

Emily menggeleng. “Jika dia terbangun, mungkin dia akan merasa

nyaman jika melihatku.”

“Baiklah. Kalau begitu mari kita duduk di pinggir kursi. Seperti saat

bersimpuh di lantai, dia menggunakan posturnya untuk mempertahankan

kelurusan tulang punggungnya. Sementara, Emily dan Stark segera

bersandar ke sandaran kursi dan membiarkan sandaran kursi itu menahan

punggung mereka. Itu kelihatan kurang sehat untuk tubuh. Tetapi, Genji

berpikiran terbuka. Dia pun mencoba bersandar. Hanya dalam beberapa

detik, dia merasa organ-organ perutnya bergeser dari sumbunya. Dia

memandang ke arah Cromwell. Pria itu mungkin bisa bertahan selama satu

atau dua jam. Genji tak yakin dia bisa bertahan duduk di kursi selama itu

Stark juga sedang memandangi Cromwell, tetapi dia tidak memikirkan

tentang kematian sang pendeta. Pikirannya melayang ke rumah misi Firman

Sejati yang telah didirikan di wailayah Yamakawa, di barat latu Edo.

Sebelas misionaris telah pergi ke sana setahun lalu. Di antara sebelas itu, ada

satu orang yang sangat ingin ditemui Stark.

Stark, Emily, dan Genji duduk di samping ranjang Cromwell,

menunggui kematiannya.

PDF by Kang Zusi

“Saat itu tidak ada kesempatan untuk menembak Genji di pelabuhan,” kata

Kuma. Dia tidak akan mengatakan kepada kliennya bahwa dia telah

mengambil senapan kosong. Bagi seorang ninja, reputasi adalah hal

terpenting. Jadi, mengapa harus merusaknya?

“Aku susah mempercayai itu,” kata Kawakami.

“Tetapi, memang begitu kenyatannya.”

“Jelaskan lagi mengapa kamu menembak misionaris itu.”

Kesalahan yang lain, meski tidak terlalu penting. Misionaris yang dua

bidik, yaitu misionaris yang bersikap dingin dan berjalan di dekat joli,

tersandung tepat saat Kuma menembak. Dia hampir-hampir mengira, pria

asing itu melihat ke arahnya, mengetahui keberadaannya, dan menjatuhkan

diri untuk menghindari tembakan. Tetapi, itu sangat tidak mungkin. Bahkan,

seorang ninja terlatih tak akan mudah mendeteksi keberadaan Kuma. Dia

pasti tersandung. Kuma mempertahankan ekspresi percaya diri di wajahnya.

Tidak mungkin Kawakami tahu bahwa tembakannya hanya kebetulan.

Katanya, “Yang tertembak adalah pria yang lebih tua. Saya rasa dia

adalah pemimpin mereka. Kematiannya akan lebih menyakitkan bagi Genji

dan para simpatisan Kristen lainnya. Saya pikir Anda akan senang.”

Kawakami mempertimbangkan situasi. Tidak pantas memang jika Kuma

membuat keputusan penting berdasarkan pertimbangannya sendiri. Tetapi,

dia juga paling efektif jika dibiarkan bebas bertindak jika kesempatan

muncul. “Jangan lakukan apa-apa lagi terhadap Genji. Jika muncul

kesempatan untuk menyerang para misionaris, lakukan saja, tetapi hanya

jika mereka benar-benar berada di bawah perlindungan klan Okumichi.”

Peristiwa yang memalukan bagi Okumichi itu benar-benar menyenangkan

jika terjadi.

“Maksud Anda saat mereka berada di Istana Bangau yang Tenang?”

“Ya.”

“Itu tak akan mudah.”

Kawakami meletakkan uang emas sepuluh ryo di atas meja dan

mendorongnya ke arah Kuma. “Teruskan mengawasi Heiko. Aku tak yakin

dia mengingat apa yang seharusnya dia ingat.”

PDF by Kang Zusi

Kuma membungkuk, menghabiskan tehnya, dan menyelinap keluar

pintu. Semuanya berjalan lebih mudah dari yang dia kira. Kawakami

biasanya menanyakan banyak pertanyaan. Hari ini dia terlihat kurang

konsentrasi. Tidak masalah. Dia kini sepuluh ryo lebih kaya. Lebih penting

lagi, dia masih ditugaskan mengawasi Heiko. Gratis pun dia mau

melakukannya. Tetapi, dibayar untuk mengawasi Heiko benar-benar

anugrah. Namu Amida Butsu.

Kuma sang Beruang berjalan tangkas, tetapi tidak terlalu cepat, ke arah

distrik Tsukiji. Siapa pun yang memperhatikannya akan melihat seorang

ptani gemuk, botak, separuh baya dengan ekspresi wajah cerah dan tak

begitu pintar. Tak seorang pun akan melihatnya sebagai ninja paling

mematikan di provinsi ini.

Tak seorang pun tahu. Setidaknya, tidak pada sat yang tepat.

Kawakami sangat susah berkonsentrasi pada laporan Kuma. Dia tak bisa

berhenti memikirkan laporan Heiko. Benar-benar pembantaian besar. Ayah

dan anak terbunuh pada jam yang sama. Akar dan batang dirusak total, dan

bukan karena kebencian musuh melainkan karena kegilaan. Mungkinkah

kisah yang mengerikan itu benar-benar terjadi? Hingga ada konfirmasi dari

sumber lain, Kawakami hanya dapat berharap jika itu memang benar,

kegagalan Kuma membunuh Genji sangatlah menguntungkan. Jauh lebih

baik jika klan Okumichi hancur dari dalam daripada dihancurkan dari luar.

Kawakami memejamkan matanya dan hanyut dalam perenungan. Pada

tahun keempat belas kekuasaan Kaisar Go-yozei, dua setengah abad lalu,

Bangsawan Agung Minato, Reigi, mengikuti Bangsawan Agung Akaoka,

Nagamasa bertempur melawan tentara Tokugawa. Reigi percaya pada

kemampuan meramal Nagamasa. Saat itu, Nagamasa berkata, klan

Tokugawa akan hancur. Doa melihatnya dalam visinya. Nagamasa tewas,

kematian yang pantas bagi tukang ramal palsu. Reigi, memihak Nagamasa,

juga tewas. Begitu pula istrinya, selir-selirnya dan semua anaknya, kecuali

satu, seorang anak perempuan yang menikah dengan seorang bangsawan

junior di Tokugawa. Dia menjadi nenek moyang Kawakami. Dari generasi

ke generasi, dari nenek ke ibu ke anak, cerita itu terus diulang, dan para

PDF by Kang Zusi

nenek, para ibu dan para anak perempuan menceritakan kisah itu kepada

cucu dan anak-anak lelaki mereka.

Jika tidak gara-gara Nagamasa, Kawakami dan leluhurnya pasti menjadi

Bangsawan Agung Minato, dengan kekuasaan besar, tidak hanya sekedar

bangsawan Hino, yang hanya besar namanya tanpa kekuasaan riil.

Kini, kelanjutan garis darah Nagamasa bergantung pada satu orang.

Genji.

Merenung dalam diam, Kawakami berpikir bagaimana dia bisa

menciptakan cara untuk memutuskan garis darah Nagamasa dengan cara

yang paling menyakitkan, dan paling hina untuk memutuskan garis darah

Nagamasa.

Rahib yang mereka panggil Jimbo kembali ke Kuil Mushindo sore hari.

Sohaku dapat mendengar suara riang anak-anak jauh sebelum mereka

muncul. Kemana pun Jimbo pergi, dia selalu diikuti serombongan anak-anak

dari desa terdekat.

“Jangan pulang dulu, Jimbo!”

“Ya, jangan pergi!”

“Ini kan masih sore!”

“Buat apa rumput itu? Kamu nggak akan memakannya kan?”

“Nenekku bilang, kamu boleh makan bersama kami, Jimbo. Kamu mau

kan? Apa kamu nggak bosan dengan makanan di kuil?”

“Ceritakan satu dongeng lagi! Satu saja!”

“Jimbo, ceritakan lagi bagaimana malaikat Buddha datang dari Tanah

Murni dan menunjukkan jalan padamu!”

“Jimbo! Jimbo! Jimbo! Jimbo!”

Sohaku tersenyum. Suara terakhir itu adalah suara Goro, anak

terbelakang yang merupakan anak dari wanita idiot dari desa. Dia besar,

bahkan lebih besar dari Jimbo, yang satu kepala lebih tinggi dan 25 kilogram

lebih berat dari pria mana pun di wilayah Yamakama. Sebelum Jimbo tiba,

Goro hanya bisa merintih, mengerang, menangis dan berteriak, tetapi tak

bisa bicara. Kini, dia punya satu kosakata yang selalu dia gunakan.

“Jimbo! Jimbo!”

PDF by Kang Zusi

“Berhenti!” Jimbo sampai ke gerbang. Dia melihat para rahib dengan

senjata tongkat bambu sedang berjaga di sekitar ruangan senjata. Kepala

Kuil Sohaku duduk bermeditasi di samping pintu ruangan senjata yang

dibarikade.

“Apa yang terjadi?”

“Aku mau lihat, aku mau lihat!”

“Berani taruhan itu pasti si orang gila. Dia pasti lepas lagi.”

“Jimbo! Jimbo! Jimbo!”

“Diam, bodoh! Kami semua tahu siapa namanya.”

“Pulanglah,” kata Jimbo, “atau besok aku nggak akan pergi ke desa.”

“Oh, kalau kamu pulang sekarang, kami akan ketinggalan hal seru.”

“Ya! Waktu itu si orang gila melempar orang ke atas dinding!”

Jimbo memandang tegas kepada anak-anak. “Aku juga nggak akan ke

desa lusa.”

“Oh, baiklah. Ayo, kita pulang.”

“Tapi, kamu datang ke desa kan besok?”

“Janji?”

“Aku janji,” kata Jimbo.

Dua anak perempuan terkecil di antara mereka menggandeng tangan

Goro. Jika dia menolak, kedua ajak itu pasti tak bisa memaksanya. Tetapi,

Goro selalu patuh kepada wanita. Wanita tua, muda, dan anak-anak

perempuan. Mungkin beberapa ajaran keras atau lembut dari ibunya bisa

bertahan di otaknya yang lemah. Ketika kedua anak perempuan itu menarik

tangannya, dia pergi bersama mereka tanpa melawan.

“Jimbo!”

Jimbo berdiri dan memandang hingga anak-anak itu menghilang di

belokan jalan sempit ke lembah. Dia tidak berpaling hingga anak yang

terakhir hilang dari pandangannya. Cahaya siang memudar pada jam macan.

Kini, saatnya menyiapkan makan malam. Jimbo langsung menuju dapur. Dia

sama sekali tak punya keingintahuan tentang situasi luar biasa yang terjadi

di kuil. Jika memang dia harus tahu, kepala kuil pasti akan memberitahunya.

Dengan hati-hati dan rasa syukur, dia mencuci rumput-rumput liar yang

telah dia kumpulkan dari gunung. Tak berapa lama, helai-helai rumput itu

akan diiris kecil-kecil. Sebagai penghias makanan, menambah rasa, dan

PDF by Kang Zusi

warna pada makanan sederhana para rahib. Selama tinggal di kuil, Jimbo tak

lagi memperhatikan bulan dan hari. Musim lebih mudah dia kenali. Saat ini

musim dingin. Dan, Natal dirayakan pada musim dingin. Bahkan, mungkin

hari ini Natal. Jimbo bukan lagi seorang Kristen, tetapi dia tidak melihat

kejelekan mengingat Natal. Kata-kata Buddha dan Yesus Kristus memang

jauh berbeda, tetapi apakah pesannya juga berbeda? Tak terlalu jauh

berbeda, menurutnya.

“Jimbo, rahib kepala ingin bertemu denganmu.” Taro melongok di pintu

dapur. Dia memakai baju bepergian dengan celana dan jaket berkuda

menggantikan jubah rahibnya. Dua pedang tersandang di pinggangya. Di

luar terdengar ringkik seekor kuda.

Jimbo mengikuti Taro ke ruangan senjata. Kepala kuil mengisyaratkan

agar Jimbo mendekat. Kepada Taro dia berkata, “Pergilah.” Taro

membungkuk, melompat ke kudanya dan menderap keluar gerbang. Malam

menjelang. Taro harus berkuda melewati daerah berbahaya di wailayah

Yoshino. Dalam hati, Jimbo mengucapkan doa untuk keselamatan

temannya.

“Binatang logam raksasa memuntahkan api.” Suara Shigeru terdengar

dari dalam ruangan senjata. “Bau busuk bangkai terbakar meruyak ke manamana.

Sohaku berkata, “Apa kata-kata itu terdengar seperti ramalan bagimu,

Jimbo?”

“Hamba tak tahu bagaimana ramalan seharusnya berbunyi, Rahib

Kepala.”

“Aku pikir Kristen adalah agama para nabi yang bisa meramal masa

depan.”

“Hamba tak tahu. Hamba bukan Kristen.”

“Tapi kamu dulu ya,” kata Sohaku. “Dengarkan, apa itu ramalan?”

“Para peramal kadang orang gila,” kata Jimbo, “tapi tak semua orang

gila itu adalah peramal.”

Sohaku mendnegus. “Aku tak gila dan aku bukan peramal. Itulah

masalahku.” Lord Genji telah memberikan instruksi jelas. Jika pamannya

mulai meramal, dia harus segera diberi tahu. Bagaimana Lord Genji bisa

tahu pamannya akan mulai meramal, tentu juga merupakan ramalan Lord

PDF by Kang Zusi

Genji. Atau kegilaan. Betapa hidup akan lebih mudah jika Sohaku menjadi

pengikut bangsawan agung yang melihat kemarin pada masa lalu, hari ini

pada masa sekarang. Mendiang Lord Kiyori setidaknya punya sifat sebagai

pejuang sejati. Sedangkan, anak dan cucunya menurut Sohaku kurang

memperhatikan disiplin jalan samurai.

“Tidak ada Shogun,” kata Shigeru. “Tidak ada pedang. Tidak ada

kunciran samurai. Tidak ada kimono.”

“Aku telah memutuskan ini adalah ramalan,” Sohaku berkata, “dan aku

telah memberi kabar ke Lord Genji. Taro akan sampai ke Edo dalam sehari

semalam. Dia akan kembali dengan tuan kami dalam tujuh hari. Kamu akan

bertemu dengannya saat itu.”

“Apakah memang hamba pantas mendapatkan kehormatan itu? Hamba

belum tentu orang asing yang disebutkan dalam ramalan Lord Kiyori.”

Ramalan yang dimaksud Jimbo adalah ramalan yang menyatakan bahwa

pada Tahun Baru seorang asing akan menjadi kunci kelangsungan klan

Okumichi. Itu adalah ramalan yang tidak begitu dipercayai Sohaku. Dia

memang tidak begitu percaya ramalan. Lagi pula, jika Lord Kiyori bisa

melihat masa depan dengan baik, mengapa dia tidak bisa mencegah

pembunuhan terhadap dirinya? Namun Sohaku memang tidak dituntut untuk

percaya ramalan. Dia hanya dituntut untuk mematuhi perintah junjungannya.

Dan bahkan, kadang perintah itu juga terbuka untuk dipertanyakan.

Seberapa terbuka Sohaku belum memutuskan.

Sohaku berkata, “Kamu satu-satunya orang asing yang dikenal klan

kami. Tahun Baru hampir tiba. Siapa lagi yang lain?” Saat ini, Sohaku lebih

tertarik kepada Shigeru. Ada kemungkinan, Sohaku dapat mengejutkannya

dan menangkapnya kembali. Kalau tidak, mereka akan sangat malu ketika

Lord Genji tiba. Mereka adalah pasukan kavaleri terbaik klan mereka.

Tetapi, lihat sekarang, mereka tidak bisa masuk ke ruangan senjata gara-gara

seorang gila, orang gila yang seharusnya mereka jaga.

“Hamba akan menyiapkan makan malam Lord Shigeru.” Jimbo

membungkuk dan kembali ke dapur. Dia telah belajar tata cara Jepang

dengan baik hanya dalam waktu singkat. Sohaku sangat terkesan dengan

cara belajar Jimbo belajar bahas Jepang. Konsul Amerika, Townsend Harris,

telah tinggal di Jepang selama empat tahun lebih, tetapi baru bisa

PDF by Kang Zusi

mengucapkan beberapa patah kata Jepang dengan ucapan yang sangat buruk.

Sohaku menyaksikannya sendiri ketika dia menemani Lord Kiyori

mengunjungi rumah baru diplomat itu di Edo. Sementara, hanya satu tahun

Jimbo sudah dapat berbicara lancar seperti orang Jepang asli.

“Cacat ada di mana-mana. Karena kelahiran, karena kecelakaan, dan

karena kesengajaan.” Sohaku mendengarkan gumaman yang terus terdengar

dari dalam. Jika gagal menangkap Shigeru sekarang, dia pasti akan

menangkapnya di satu dua hari mendatang. Bahkan, orang gila juga butuh

tidur.

Keajaiban terus-menerus terjadi tanpa henti, kajaiban visi, pemahaman, dan

kekuatan.

Dia berjalan di atas air bersama Yesus

Dia berdiri di depan semak terbakar bersama Musa

Dia terbang bersama di atas arena Perang Armageddon dengan Jibril

Disegarkan kembali oleh semangat suci, dia terbangun di tempat lain dan

menemukan dirinya dianugrahi kemampuan memahami bahasa Jepang.

Ketika bangsawan yang kelihatan feminim itu berbicara, Cromwell

dikarunia dengan pemahaman penuh atas kata-katanya.

“Sebaiknya kita beristirahat di ruang sebelah,” kata Genji. “Para pelayan

akan menunggu Tuan Cromwell. Mereka akan memanggil kita jika ada

perubahan.”

Emily menggeleng. “Jika dia terbangun, mungkin dia akan merasa

nyaman melihatku di sampingnya.”

“Baiklah,” kata Genji. “Mari kita duduk.”

Meski dia kini telah terbiasa dengan keajaiban. Cromwell masih tak

percaya apa yang didengarnya. Dia tak tahu mana yang lebih

mengejutkannya. Bahwa seperti dia, Emily juga bisa memahami makna dari

rangkaian bunyi asing yang dikatakan Genji atau bahwa bangsawan itu

memahami kata-kata bahasa Inggris yang keluar dari bibir Emily. Dari

semua isyarat dan pertanda besar, bukankah terlepasnya kutukan Babel ada

di antara pertanda yang terbesar? Cromwell membuka matanya.

Emily tersenyum kepadanya. Mengapa air mata menetes di pipinya?

“Zephaniah,” katanya.

PDF by Kang Zusi

Cromwell mencoba memanggil namanya. Tetapi bukan kata-kata yang

keluar dari mulutnya, cairan panas justru memenuhi mulutnya.

“Oh, Tuhan,” kata Emily. Tangannya terkepal kencang menutup

mulutnya. Dia pasti terjatuh ke belakang jika saja Stark tidak

menangkapnya.

“Dudukkan dia,” kata Stark, “dia akan tersedak darahnya sendiri.”

Genji merangkul Cromwell dan mengangkat tubuh yang bergetar itu dari

ranjang. Lengannya melingkari dada pria terluka itu sehingga lengak

kimononya menghitam oleh darah yang muntah dari tenggorokan Cromwell.

“Tuanku!” Saiki melompat maju. “Mohon jangan sentuh dia! Kotoran

orang asing itu akan mencemari Anda!”

“Ini adalah darah kehidupannya,” kata Genji, “tidak beda dengan

darahmu dan darahku.”

Saiki merasa tubuh Emily yang tegang karena takut menjadi semakin

tegang. Dia akan mengalami shock.

“Emily,” panggil Stark. Dia meletakkan kepala gadis itu ke bahunya dan

memutarnya membelakangi Cromwell. Stark merasa tubuh Emily melemas.

Tangannya merangkul Stark. Emily menyusupkan wajah di dadanya dan

menangis. Stark membimbingnya keluar ruangan. Tak berapa jauh dari sana

ada taman kecil, dia akan membawa Emily ke sana. “Ayo. Tidak ada lagi

yang bisa kita lakukan.”

Di lorong menuju taman, mereka berpapasan dengan dua pria yang

tergesa-gesa menuju ruangan yang baru saja mereka tinggalkan. Keduanya

mengenakan pdang samurai, tetapi kepala pria yang kedua gundul dan

pakaiannya kasar serta sederhna. Dia sepertinya baru datang dari jauh dan

tergesa-gesa. Debu bercampur keringat menjadi lumpur yang mengotori

wajahnya.

“Tidak, Saudara Matthew,” kata Emily. “Aku tak bisa meninggalkan

Zephaniah sendirian.”

“Saudara Zephaniah tak lagi sendiri,” kata Stark. “Dia kini bersama

orang-orang yang diberkati di rumah Sang Juru Selamat.”

Saiki sangat kaget dan ngeri. Orang asing itu memuntahkan darahnya ke

Lord Genji. Lebih buruk lagi, dia mati dalam rangkulannya. Pendeta Shinto

harus segera dipanggil untuk membersihkan Lord Genji. Kemudian, segera

PDF by Kang Zusi

setelah mayat orang asing itu dikeluarkan, ruangan ini juga harus

dibersihkan dari kejahatan dan setan. Seprai, kasur, perabotan, tatami, semua

harus dikeluarkan dan dibakar. Saiki sendiri tak peduli. Semua agama

dianggapnya dongeng belaka. Tetapi, ada beberapa pria yang memang

percaya pada takhayul kuno.

“Tuanku,” kata Saiki, “orang asing itu tak bisa ditolong lagi. Mohon

biarkan orang lain yang mengurusi mayatnya.”

“Dia tidak mati,” kata Genji. “hanya tidur.”

“Tidur?” Tak mungkin. Saiki mendekat. Bau busuk yang meruyak dari si

orang asing membuatnya mual. Tetapi, dia melihat dada orang asing itu

perlahan naik turun, dan dia mendengar suara udara keluar masuk hidungnya

yang besar.

Genji menyerahkan Cromwell ke Hanako dan satu pelayan lain.

“Dudukkan dia terus hingga Dokter Ozawa datang. Jika dia mulai tersedak

lagi, lakukan apa yang diperlukan untuk membersihkan tenggorokannya,

termasuk memasukkan tanganmu jika harus.”

“Ya, Tuanku,” kata dua pelayan itu. Mereka berjuang agar tidak muntah

membaui bau busuk yang keluar dari tubuh si orang asing. Menunjukkan

rasa tak senang di depan tuan mereka merupakan pelanggaran etika yang

termaafkan.

“Lihat wajahnya yang tenang,” Genji berkata kepada Saiki. “Dia

bermimpi hal-hal yang bisa menyembuhkannya. Aku yakin dia akan hidup.”

“Itu akan menjadi sebuah keajaiban.”

“Dia seorang Kristen. Agamanya adalah agama yang penuh keajaiban.”

“Dia memang belum mati, Tuanku, tetapi itu tak berarti dia akan

bertahan hidup. Seluruh tubuhnya mengeluarkan aroma kematian.”

“Mungkin tidak. Aku rasa dia tidak mandi selama perjalanan berlayar.

Mungkin itu sumber baunya.”

Seorang samurai dari tempat penjagaan di perbatasan menunggu di

depan pintu. Ketika Genji memandang ke arahnya, dia membungkuk.

“Tuanku, seorang penunggang kuda tiba membawa pesan penting.”

“Bawa dia masuk.” Genji sebenarnya ingin segera melepaskan bajunya

yang basah oleh darah dan segera mandi. Tetapi, semua itu harus menunggu.

PDF by Kang Zusi

Meski mengenakan pakaian sederhana dan kepalanya gundul, sang

pembawa pesan tak terlihat asing. Namanya Taro. Enam bulan lalu, dia dan

dua lusin pasukan kavaleri terbaik Akaoka telah mengambil sumpah suci

dengan kapten mereka. Taro pasti dari tempat dia tinggal kini, Kuil

Mushindo, dan dari sana, dia pasti hanya punya satu pesan untuknya. Genji

tak perlu menanyakan untuk mengetahui pesan itu.

“Tuanku,” kata Taro. Dia berhenti sebentar untuk mengambil napas.

“Kapten Tanaka…” Dia berhenti lagi dan membungkuk minta maaf. “Maaf,

Rahib Kepala Sohaku meminta petunjuk.”

Genji mengangguk. “Bagaimana siutasi di pedesaan?”

“Banyak gerakan pasukan dari wilayah Yoshino. Hamba terpaksa

beberapa kali keluar dari jalan utama untuk bersembunyi.”

“Kamu harus lebih tepat, Taro,” tegur Saiki tegas. “Bukankah kamu

sudah dilatih sebagai mata-mata.”

“Ya, Pak.” Taro dengan cepat menghitung dalam hati. “Lima ratus

penembak berkuda dengan empat meriam menyusuri jalan utama menuju

selatan ke arah Laut Dalam. Tiga ribu pasukan berjalan kaki dalam tiga

kelompok brikade, berjalan pada malam hari menuju arah yang sama.”

“Bagus sekali, Taro. Sekarang, istirahatlah dan bersiap-siaplah berangkat

dalam satu jam.”

“Ya, Tuanku.”

Saiki mendesis marah. “Yoshino adalah sekutu Kurokawa. Wilayah ini

hanya dipisahkan dari wilayah Anda oleh bentangan sempit Island Sea.

Mereka mungkin berencana mengambil keuntungan dari kematian kakek

Anda.”

“Aku meragukannya. Shogun tidak akan mengizinkan serangan ke

Akaoka. Dia terlalu khawatir terhadap orang asing sehingga tak mungkin

mengambil resiko membiarkan gangguan internal.”

“Shogun hanyalah guyonan,” kata Saiki. “Gelarnya sebagai Orang

Barbar Hebat yang Menundukkan Para Jenderal jauh lebih hebat dari

dirinya, seorang anak laki-laki berumur empat belas tahun yang dikelilingi

para pengecut dan idiot sebagai penasihat.”

“Mungkin dia memang tidak mempunyai kekuatan seperti para nenek

moyangnya,” kata Genji, “tetapi tak seorang bangsawan pun berani

PDF by Kang Zusi

menantangnya secara terbuka. Tentara Shogun masih yang terkuat di

Jepang. Dan tak ada bangsawan lain yang mempunyai angkatan lau seperti

pasukan Shogun.” Dia berpikir sejenak. “Ini sebenarnya berita bagus.

Dengan perhatian mereka tertuju ke barat, maka bepergian ke utara tidak

akan begitu membahayakan.”

“Tuanku, Anda tentu tak bermaksud pergi ke kuil sendiri kan?”

“Aku harus. Rahib Kepala Sohaku meminta petunjuk berarti sesuatu

telah terjadi yang membutuhkan kehadiranku. Jangan khawatir, Saiki. Aku

tidak akan melakukan perjalanan dengan pengawal lengkap. Itu akan terlalu

menarik perhatian. Aku akan pergi secara incognito dengan Taro.” Genji

melihat ke sekitarnya. “Hide dan Shimoda juga.”

Kedua samurai itu membungkuk. “Ya, Tuanku. Terima kasih. Kami

akan bersiap-siap.”

“Bawa busur dan panah, tetapi jangan bawa senjata api,” kata Genji,

“dan tanpa perisai. Hanya sebuah ekspedisi berburu yang santai. Jangan

pakai lambang keluarga di pakain kalian.”

“Ya, Tuanku. Kami mengerti dan patuh.” Hide dan Shimoda segera

keluar ruangan.

Saiki maju ke depan dengan tetap berlutut dan membungkuk rendah.

“Tuanku, mohon pertimbangkan kembali. Belum satu jam lalu telah terjadi

usaha pembunuhan terhadap Anda. Seorang asing yang menjadi tamu Anda

terluka parah. Seluruh Edo telah mendengar kejadian ini sekarang. Siapa

yang akan memilih waktu seperti ini untuk beburu? Itu sangat tidak masuk

akal. Tak seorang pun yang akan mempercayainya.”

“Aku tak setuju. Reputasiku yang terkenal sebagai orang semberono dan

seenaknya justru sesuai dengan tindakan itu.”

Saiki berkata lagi, “Tuanku, setidaknya izinkan hamba menemani

Anda.”

“Aku tak bisa. Keberadaanmu justru membuat kepergianku terlihat

serius. Itu berkebalikan dengan apa yang kita inginkan.”

Salah seorang samurai yang berjaga tertawa mendengar ini, tetapi segera

menahan tawanya ketika Saiki menengok dan melotot kepadanya.

“Selain itu,” lanjut Genji, sambil menahan tawa juga, “kamu diperlukan

di sini untuk melindungi para tamu kita dari serangan lebih lanjut.” Dia

PDF by Kang Zusi

memandang ke arah Cromwell. Dibalik kelopaknya yang terpejam, matanya

menari-nari. Tarian seorang pemimpi.

“Di mana tamu yang lain?”

“Di taman dalam, Tuanku,” jawab salah satu penjaga.

“Kertas” kata Genji. Ketika kertas terlah diserahkan, dia menulis surat

singkat dalam bahasa Inggris. “Yang terhormat Nona Gibson dan Tuan

Stark, saya menyesal karena saya harus pergi sebentar. Saya akan mengirim

seorang teman untuk menemani Anda. Saya mohon maaf karena bahasa

Inggrisnya jauh lebih buruk dari saya, tetapi dia akan memastikan agar

semua kebutuhan kalia terpenuhi.” Dia menandatangani surat itu dengan

gaya orang asing , yaitu dengan nama kecil di depan nama keluarganya.

“Hormat saya, Genji Okumichi.”

Setelah bertemu dengan kepala mata-mata Shogun, Heiko kembali ke

pondoknya di hutan Ginza di pinggir timur Edo dekat Jembatan Baru ke arah

jalan raya Tokaido.

“Air mandi Anda sudah siap,” kata Sachiko menyambutnya.

“Terima kasih.” Heiko melepas pakaian dengan cepat, memakai jubah

sederhana dan berjalan ke arah kamar mandi. Dia selalu mandi setelah

bertemu dengan Kawakami, tak peduli jam berapa pun. Hari ini, dia merasa

perlu membersihkan diri lebih dari biasanya.

Laporan yang telah dia berikan membuatnya terpaksa mengingat

bayangan yang ingin dia lupakan. Heiko telah bertemu dengan paman Genji,

Shigeru, beberapa kali. Dan, dia melihat adanya tanda-tanda yang lain dari

biasanya. Kegilaan apa yang mendorongnya membantai seluruh

keluarganya, termasuk satu-satunya ahli waris, seorang anak laki-laki

tampan yang baru berusia enam tahun? Apakah kemalangan itu hanya

penyimpangan individu atau menunjukkan adanya noda fatal di garis

keluarga itu? Apakah Genjinya yang tercinta suatu hari nanti juga akan

menjadi gila?

“Apakah kamu dapat membuktikan semua yang telah kamu katakan?”

tanya Kawakami tadi.

“Tidak, Tuanku.”

“Jadi, semua hanya dugaan belaka.”

PDF by Kang Zusi

“Kematian yang terjadi bukan dugaan, Tuanku, hanya kejadiannya yang

tak bisa dibuktikan. Mertua Shigeru, Yoritada, dilaporkan meninggal karena

tanah longsor di dekat Gunung Tosa bersama seluruh keluarganya, termasuk

anak perempuannya yang sedang berkunjung, Umeko, dan tiga anaknya.

Saat mereka pergi, terjadi kebakaran yang menghanguskan kediaman

Yoritada. Sangat mustahil terjadi longsor, dan kejadian kebakaran dibuat

untuk menutup-nutupi, jika memang terjadi pembantaian.”

“Kebetulan tidak terjadi terus-menerus,” kata Kawakami.

“Ya, Tuanku.”

“Hanya itu?”

“Tidak, Tuanku. Ada lagi yang lain. Kedatangan kapal asing pagi ini

menimbulkan ketertarikan Lord Genji. Bintang Bethlehem. Dia tidak berkata

apa yang dibawa kapal itu.” Heiko tidak khawatir membocorkan rahasia.

Saat ini, mata-mata Kawakami yang lain pasti sudah melaporkan tentang hal

ini dan hal lainnya. “Dia pergi ke pelabuhan pada jam anjing.”

“Kapal itu membawa penumpang,” kata Kawakami. “Misionaris Kristen

dari Sekte Firman Sejati lagi. Ini mungkin menunjukkan keterlibatan Genji

dalam rencana penyerangan Kristen atau lainnya.”

Heiko terkikik. “Sungguh menggelikan, gagasan bahwa orang seperti dia

terlibat dalam sebuah plot. Dia hanya tertarik pada wanita, anggur, dan

musik. Jika memang ada plot pasti itu melibatkan mendian Lord Kiyori. Dan

dengan kematiannya plot itu juga ikut mati.”

“Genji juga tertarik pada kegiatan berburu, bukan? Kegiatan itu adalah

bagian dari tradisi bela diri kita.”

Heiko kembali terkikik. “Mungkin bagian dari tradisi bela diri Anda,

Tuan Kawakami, kerana Anda memang samurai sejati. Ketika Lord Genji

berburu biasanya dia tak berhasil menangkap apa-apa.”

“Jangan mudah tertipu oleh penampilan,” cetus Kawakami

memperingatkan. “Itu mungkin saja tipu daya untuk mengelabui kita.”

Heiko membungkuk, terlihat menyesali perkataannya tadi. “Ya,

Tuanku.” Dia ragu Kawakami meyakini apa yang baru saja dikatakannya.

Kemungkinan Kawakami berpikir bahwa kejayaan klan Okumichi mulai

menurun seperti kejayaan klan Shogun. Kakeknya, Kiyori, adalah pemimpin

klan terakhir yang mempunyai ciri-ciri sebagai bangsawan agung zaman

PDF by Kang Zusi

dahulu. Penerusnya, Yorimasa, adalah seorang pecandu opium yang mati

muda. Cucu lelakinya, Genji, cocok seperti apa yang dilaporkan Heiko. Dan

Shigeru, satu-satunya anggota klan Okumichi yang masih hidup dan paling

berbahaya, telah menjadi gila. Mungkin itu cukup untuk menyelamatkan

nyawa Genji. Jika dia bukan ancaman bagi siapa-siapa, tidak ada alasan

untuk membunuhnya.

Heiko tersadar dari lamunannya hanya beberapa langkah dari kamar

mandi. Kulit di bawah jubahnya yang tipis meremang, bukan karena

dinginnya hari. Uap air naik dari air panas di bak mandi persegi panjang

yang tinggi. Seekor burung berkicau dari dalam hutan. Tidak ada hal yang

aneh. Jadi, apa yang membuatnya waspada? Sebuah nama melintas di

kepalanya, karena kebetulan atau insting.

“Keluarlah, Kuma,” katanya, “dan aku tidak akan membunuhmu. Bukan

hari ini setidaknya.”

Suara tertawa terbahak-bahak terdengar dari kamar mandi. Kuma

melangkah keluar dan membungkuk.

“Jangan marah, Hei-chan,” kata Kuma menggunakan panggilan akrab

“chan”. “Aku hanya menguji kewaspadaanmu.”

“Dan apakah kamu akan tetap menguji saat aku membuka pakaian

nanti?”

“Kumohon,” kata Kuma, menunjukkan ekspresi tersinggung. “Aku

seorang ninja, bukan pengintip tak tahu malu.” Kemudian, Kuma meringis

lebar “Aku mungkin akan terus mengamati dari tempat persembunyianku,

tetapi hanya untuk tujuan menguji.”

Heiko tertawa saat dia melewati Kuma dan melangkah masuk kamar

mandi. “Berbaliklah.” Ketika Kuma menuruti, Heiko membuka jubahnya

dan mulai mandi. Dia berdiri di sebelah bak mandi, menciduk air dengan

ember kecil dan menyiramkannya ke badan. Panas air membuat badannya

menggeletar senang.

“Dua minggu lalu, Kawakami menyuruhku untuk menembak Genji pada

kesempatan pertama,” kata Kuma, dengan hati-hati terus membelakangi

Heiko yang sedang mandi. “Aku hampir berhasil pagi ini.” Kuma bisa

membedakan kapan air memercik ke tubuh Heiko dan bagaimana suara air

memercik ke lantai. Dia pikir bahkan dia tahu ke bagian tubuh mana air itu

PDF by Kang Zusi

memercik. Kini, dari percikan air yang tiba-tiba berhenti, Kuma tahu katakatanya

telah mengganggu Heiko.

“Itu kejutan,” kata Heiko. Saat dia berkata, suaranya tetap tenang seperti

biasanya dan dia kembai mandi setelah berhenti hanya sekejap. “Kawakami

telah mengisyaratkan bahwa tugas itu seharusnya menjadi tugasku.”

“Dia terlalu licik untuk meberi tahu orang lain lebih dari sebagian kecil

kebenaran,” kata Kuma. “Mungkin dia bahkan terlalu licik dan licin untuk

benar-benar tahu apa yang sebenarnya dia kerjakan. Ketika aku bertemu

dengannya hari ini, dia tidak memrintahku untuk membunuh Genji lagi.

Kurasa dia belum menentukan apakah dia ingin Genji mati atau hidup.”

“Itu membuat sesuatunya lebih membingungkan dari yang seharusnya,”

kata Heiko.

Kuma dapat mendengar kelegaan dalam suaranya. Itu menguatkan

kecurigaannya selama ini. Heiko sedikit terlalu menghayati perannya

sebagai kekasih Genji.

“Kuharap kamu tidak membodohi dirimu sendiri dan sasaranmu.”

“Apa maksudmu?”

“Kamu sayang padanya?” kata Kuma.

“Tentu saja,” kata Heiko. “Kalau tidak, dia akan tahu siapa aku. Tidak

mungkin berpura-pura dengan orang yang sedemikian peka, terutama dalam

kesempatan-kesempatan yang sangat intim.”

“Tetapi, kamu siap membunuhnya kan kalau diperlukan?”

“Hanya orang bodoh yang beetindak karena cinta,” kata Heiko. “Dan

kamu tidak membersihkan seorang yang bodoh.”

“Kuharap tidak,” kata Kuma, mendengarkan suara halus yang keluar dari

kamar mandi. Heiko sedang menyabuni badannya. “Ngomong-ngomong,

aku rasa Kawakami mempunyai sebuah rencana yang sama sekali berbeda,

dan rencana itu bahkan lebih penting dari keinginan untuk segera membunuh

Genji.”

“Oh? Rencana apa?”

“Aku belum tahu,” kata Kuma. “Seharusnya rencana itu melibatkanmu.

Kamu tak tahu?”

PDF by Kang Zusi

“Tidak.” Heiko menyiram sabun ke tubuhnya. Bersih, dia melangkah

masuk ke bak mandi. Airnya sangat panas. Dia pelan-pelan duduk hingga air

mencapai lehernya. “Kamu boleh berbalik sekarang.”

Kuma berbalik. Wajah Heiko bersih dari make up, rambut panjangnya

basah dan terurai, dia terlihat seperti gadis kecil yang dahulu pernah dia

kenal. Betapa nasib tak bisa diduga, betapa nasib sangat mudah berbalik

menjadi tragedi.

Heiko berkata, “Perubahan hati Kawakami mungkin berkaitan dengan

kematian kakek Genji dan menghilangnya pamannya.”

“Mungkin,” balas Kuma. “Jika laporan-laporan itu benar, klan Okumichi

ada di ambang kehancuran. Sebuah situasi sempurna bagi rebcana licik yang

disukai majikan kita. Dan ngomong-ngomong tentang majikan kita, jangan

anggap enteng dia. Dia tak mempercayaimu.”

“Dia tak percaya siapa pun. Itu adalah tujuan hidupnya.

Ketidakpercayaan.”

“Dia memerintahkanku untuk mengawasimu. Kurasa itu berarti rasa

tidak percayanya padamu makin besar. Hati-hatilah, Hei-chan.”

“Dan, apakah ada orang yang mengawasimu untuk meyakinkan bahwa

kamu benar-benar mengawasiku?”

Kuma tertawa. “Kamu yang tidak dia percaya, bukan aku.”

“Kamu yakin? Dia kan tidak biasa mengungkapkan kecurigaannya pada

orang-orang yang dia curigai.” Heiko menyiramkan air ke kepalanya. “Apa

kamu sudah mengecek untuk meyakinkan bahwa kamu tidak dibuntuti?”

Kuma melompat berdiri. “Sialan. Kamu benar. Aku seharusnya lebih

hati-hati. Aku lebih baik mengecek kembali. Jaga dirimu, Hei-chan.”

“Kamu juga, Paman Kuma.”

Dalam perjalanan pulang ke Edo, suasana hati Kuma berada dalam

nostalgia. Betapa cepat waktu berlalu. Anak perempuan kecil yang

dipercayakan kepadanya lima belas tahun silam yang lalu sekarang telah

menjadi wanita dengan kecantikan luar biasa. Dia memanggilnya Paman

Kuma. Sudah saatnya Heiko tahu yang sebenarnya. Dia sudah cukup dewasa

kini. Menceritakan kebenaran memang akan melanggar perintah, tetapi

peduli setan dengan perintah. Kuma tersenyum sendiri. Hanya orang bodoh

yang bertindak demi cinta, kata Heiko. Jadi, biar saja panggil aku bodoh,

PDF by Kang Zusi

pikir Kuma. Selama lima belas tahun latihan, dia mencintai Heiko seperti

anak perempuan yang tak pernah dia miliki. Apabila terjadi konflik antara

tugas dan cinta, tak ada keraguan di hati Kuma, mana yang akan menang.

Ya, Heiko harus tahu kebenaran. Lain kali, kalau mereka bersama lagi,

Kuma akan memberitahunya. Itu akan sulit bagi Heiko, sangat sulit. Di

dunia yang lebih baik, dia sebenarnya tak perlu tahu. Di dunia yang terbaik,

kebenaran itu tak jadi masalah sama sekali. Tetapi, dunia ini bukan dunia

yang baik, dan tentu saja bukan dunia yang terbaik. Dunia yang terbaik

adalah Sukhawati, Tanah Murni Sang Buddha Amida. Suatu hari, mereka

akan tinggal di sana.

Tetapi, bukan hari ini.

Heiko berendam selama beberapa menit setelah Kuma pergi. Betapa rapuh

hidup ini, pikirnya. Betapa tak bisa diduga. Kita memuji diri sendiri,

menganggap kita adalah aktor di panggung, para genius yang menulis kisah

hidup kita sendiri, merancang kata-kata kita sendiri, mengganti plot kisah,

dan membuat perubahan sesuai kata hati kita. Mungkin boneka kayu

Bunraku juga merasakan hal yang sama. Mereka tidak menyadari pasa

dalang yang menggerakkan mereka.

Uap air hangat naik dari air bak mandi tempat Heiko berendam. Tetapi,

dia merasakan dingin yang menyakitkan di tulang sumsumnya. Genji

mungkin saja mati hari ini dan dia bahkan tak tahu hingga semua terlambat.

Setelah mandi, Heiko mengikat rambutnya menjadi ekor kuda yang

panjang. Dia memakai pakaian petani, menutupi setiap senti kulitnya agar

keindahannya tidak rusak oleh cahaya matahari musim dingin. Kemudian,

dia keluar ke kebun dan menyiangi tanah di kebun melon musim dinginnya.

Ketika sibuk di kebun, Heiko tidak memikirkan apa pun kecuali apa yang

sedang dia kerjakan. Tidak ada pikiran tentang pembantaian, pengkhianatan,

atau cinta.

Matahari sudah condong ke barat ketika dia melihat empat penunggang

kuda mendekat dari arah selatan.

Genji memandang ke bawah dari atas kuda. “Wanita petani yang terhormat,

aku diberi tahu bahwa wanita tercantik di Edo tinggal di sekitar sini.

Dapatkah kamu menunjukkan kediamannya padaku?”

PDF by Kang Zusi

“Edo jauh dari sini,” jawab Heiko, “kecantikan mudah pudar, dan rumah

hanyalah kediaman sementara. Mungkin hidangan sup saya lebih menarik

Anda untuk mengusir dingin?” dia menunjuk ke kebunnya. “Hamba telah

membuat sup tersebut dengan melon musim dingin dari kebun ini.” Dia

tentu saja tak akan berpakaian sesederhana ini jika dia tahu bahwa Genji

akan datang. Pagi ini perhatiannya terpusat pada orang-orang asing. Genji

juga telah pergi ke pelabuhan khusu untuk menyambut mereka. Sehingga,

Heiko mengira dia akan sibuk di kota sepanjang hari ini. Tetapi, ternyata

sore hari Genji sudah muncul di sini. Penampilan Genji seperti akan pergi

berburu di hutan, tanpa mengajak orang asing. Meski Heiko merasa sangat

malu, dia juga merasa sangat lega. Genji hidup, dan dia juga, dan mereka di

sini bersama. Setelah apa yang dikatakan Kuma pagi ini, Heiko baru merasa

betapa pentingnya momen-momen berharga seperti ini.

“Keahlianmu mengolah tanah sungguh mengagumkan,” kata Genji.

Tentu di dunia yang seimbang dan harmonis, wanita yang memiliki keahlian

bertani sepertimu lebih dihargai daripada wanita yang hanya menguasai

keahlian seni di ranjang.”

“Anda terlalu baik dan murah hati,Tuanku.” Heiko membungkuk rendah

untuk menyembunyikan pipinya yang memerah. “Tetapi, jangan biarkan

saya menahan Anda lebih lama lagi. Tentu Tuan sudah tak sabar untuk

bertemu dengan wanita cantik Anda.”

“Sup melon musim dingin atau kecantikan yang mengagumkan,” kata

Genji, “benar-benar pilihan sulit.” Ketidaknyamanan Heiko membuatnya

senang. Wanita itu biasanya selalu percaya diri. Kini, dia berdiri di sana

tanpa baju indah dan perhiasan, memegang cangkul tanah seperti petani

biasa. Bukankah ini pertama kalinya dia menangkap basah Heiko tanpa

segala perlengkapan kecantikannya? Ya, ini memang yang pertama kali.

Maka, Genji bertekad untuk menikmtinya selama dia bisa.

“Pria yang bijak pasti selalu memilih sup,” kata Heiko, “terutama di hari

yang dingin seperti ini.” Eskpresi puas Genji membuatnya kesal bukan main.

Tetapi, membiarkan Genji melihat kejengkelannya justru akan membuat dia

senang. Heiko bertekad tidak akan menambah kepuasan Genji.

“Aku heran. Bukankah kebijakan sejati akan membawa pada

kecantikan? Apa lagi yang bisa menghangatkan tubuh dan jiwa lebih dari

PDF by Kang Zusi

kecantikan?” Genji telah melihatnya dalam pakaian petani dan tanpa make

up, itu benar. Tetapi, apakah kemenangan memang di pihaknya? Rambut

Heiko yang tebal dan indah terurai di punggungnya seperti putri pada zaman

Heian ribuan tahun lalu. Tidak adanya bedak, pemerah pipi, dan kosmetik

lain tidak membuat Heiko terlihat suram. Bahkan, wajah yang biasanya

tertutup make up itu kini menyinarkan vitalitas dan kecemerlangan yang

justru membuat Genji lebih kagum daripada melihat daya tarik fisik wanita

itu.

“Hamba rasa Tuanku telah mendapatkan informasi yang salah,” kata

Heiko. “Kecantikan bisa lebih dingin daripada musim dingin yang terkejam.

Cinta, bukan kecantikan, yang menghangatkan.”

“Perkataan yang bagus, wanita petani yang baik.” Genji menenangkan

kudanya, yang tidak sabar karena harus berdiri diam terlalu lama. “Aku

belum pernah mendengar kata yang sedemikian bijak dari para wanita

penghibur di Edo. Kecuali satu.”

“Anda terlalu baik.” Heiko tersenyum kepada Genji. Dengan pujian

sederhana itu, Genji telah memulihkan martabatnya.

“Justru kamu yang terlalu baik,’ kata Genji membalas senyum Heiko,

“dan terlalu cantik untuk bersembunyi di hutan Ginza ini. Seorang kapten

kavaleri sebentar lagi akan datang dengan dua kuda cadangan, satu untukmu

dan satu untuk pelayanmu. Aku mohon kamu mau pergi bersamanya ke Edo,

di mana kamu akan menemukan tempat yang lebih tepat untuk bakatmu.”

“Bagaimana hamba bisa menolak kedermawan seperti itu?” balas Heiko.

“Aku bertanya-tanya sampai kapan kaum akan menganggapku

dermawan. Kami membutuhkan salah satu bakatmu, yaitu kemampuan

berbicara Inggris.”

Oh tidak! Semua jelas kini. Suatu kondisi darurat telah membuat Genji

terpaksa pergi dari tamu asingnya. Dan, dia bermaksud memintanya menjadi

penerjemah dan menemani mereka selama dia pergi.

“Selamat tinggal, Heiko.” Genji menarik kekang, membelokkan kudanya

ke arah Jembatan Baru. “Aku akan kembali dalam seminggu.”

“Tunggu! Lord Genji!” Heiko melangkah beberapa langkah ke arah

Genji. “Hamba belum pernah bericara kecuali hanya beberapa patah kata

PDF by Kang Zusi

dalam bahsa Inggris dan itu pun bersama Anda. Bagaimana bisa Anda

meninggalkan hamba sendiri dengan orang-orang asing itu?”

“Kamu terlalu rendah hati.” Genji tersenyum. “Sudah lama aku percaya

kamu mempunyai kemampuan lebih dari yang telah kau tunjukkan. Kini,

kamu punya kesempatan membuktikan kalau aku benar.”

“Lord Genji!”

Tetapi, Genji membungkuk dari atas pelana, memacu kudanya, dan

menderap pergi bersama tiga pengawalnya.

Ketika Saiki datang dengan dua kuda cadangan, Sachiko telah membantu

Heiko kembali ke penampilan biasanya. Samurai tua yang keras itu tak

berkata apa pun kepada keduanya dalam perjalanan kembali ke Edo. Itu

lebih baik. Suasana hati Heiko sedang tak enak untuk basa-basi.

Malam itu, Genji dan pengawalnya menginap di sebuah rumah petani di

pinggir itara daratan Kanto. Keesokan harinya mereka akan memasuki

Yoshino, wilayah Lord Gaiho, salah satu musuh bebuyutan Genji.

Mereka sama sekali tak punya masalah pribadi. Bahkan, Genji sendiri

ragu apakah dia bisa mengenali Gaiho jika mereka bertemu muka. Dengan

usaha keras, Genji hanya bisa mengingat sebuah citra kabur. Seorang pria

pendek gempal periang dengan usia sekitar enam puluh. Atau, tujuh puluh.

Apakah hidungnya mancung atau pesek? Rambutnya hitam atau abu-abu?

Hitam, tebak Genji, karena pewarna. Itu menunjukkan dia seorang yang

suka bergaya. Jadi, Gaiho selain periang juga suka bergaya. Kapan mereka

terakhir bertemu? Hampir tiga tahun lalu, ketika penobatan Tokugawa

Iemochi sebagai Shogun. Mereka berada di sisi ruangan yang berlawanan

sehingga Genji hanya melihat Gaiho sekelebat. Sebenarnya, dia tak yakin

benar-benar Gaiho. Tetapi, orang ini akan membunuh Genji dengan dalih

yang paling sepele jika dia bisa.

Tidak ada yang terjadi di antara keluarga mereka selama hidup, atau di

generasi ayah atau keluarga mereka bahkan buyut mereka. Tidak ada saling

menghina, tidak ada konflik cinta, tidak ada pertempuran memperebutkan

batas, pengaruh, atau kebanggaan. Masalahnya sederhana dan seragam.

Masalah sama yang dihadapi semua klan yang menguasai 260 wilayah di

Jepang. Masalahnya adalah Sekigahara.

PDF by Kang Zusi

Sekigahara adalah desa kecil di barat Jepang yang tidak penting. Tetapi,

sebuah peristiwa yang terjadi di sana pada tahu keempat belas kekaisaran

Go-yozei terus mendominasi hidup mereka. Di sebuah pagi di akhir musim

dingin, saat salju turun dan kabut terangkat, dua ratus ribu samurai yang

terbagi dalam dua pasukan bertempur di sebuah lembah dekat desa itu.

Setengah dari mereka mengikuti Tokugawa Ieyasu, Bangsawan Agung

Kanto. Sementara, setengahnya lagi berada di bawah pimpinan Ishida

Mitsunari, Penguasa Jepang Barat.

Nenek moyang Genji, Nagamasa, berada di pihak Ishida. Sebulan

sebelum pertempuran, dia bermimpi bahwa klan Tokugawa akan kehilangan

kekuatan dan kehormatannya, termasuk status mereka sebagai bangsawan

agung. Ketika malam tiba, Nagamasa, dan delapan puluh ribu samurai

lainnya tewas, dan Ieyasu berkuasa. Dia menjadi Shogun, dan jabatan itu

tetap dipegang keluarganya hingga kini. Genji tidak meragukan kebenaran

mimpi nenek moyangnya. Nenek moyangnya itu hanya salah

memperhitungkan waktunya.

Meski Nagamasa tewas dan klan Okumichi berada di pihak yang kalah,

mereka tidak hancur total. Banyak musuh Tokugawa yang berhasil bertahan

dan mencegah pembantaian pada diri mereka. Selama 261 tahun, mereka

bertahan dan merencanakan balas dendam. Pada saat yang sama, pendukung

Tokugawa, di antaranya nenek moyang Gaiho, tak henti merencanakan

pengancuran total penentang Tokugawa. Inilah yang dilakukan orang Jepang

selama ini, sementara orang-orang asing menciptakan ilmu pengetahuan dan

menaklukkan dunia. Dan kini, jika orang Jepang terus berperang karena

masalah pertempuran dua abad lalu, mungkin Jepang juga akan ditaklukkan

orang asing.

“Tuan Bangsawan.” Sang petani merangkak masuk, kepalanya

menempel di lantai seperti bajak. “Keperluan mandi Anda yang terhormat

sudah siap.” Tubuh kurus petani itu gemetar ketakutan.

Genji ingin mengatakan kepadanya untuk berdiri. Bukankah ini

rumahnya dan Genji tak lain hanyalah tamu yang tak diundang. Tetapi, tentu

saja dia tak bisa bilang begitu. Ia, seperti juga sang petani dan rumahnya dia

ambil alih untuk malam itu, terikat pada etiket kuno yang kaku dan

mengikat.

PDF by Kang Zusi

“Terima kasih,” kata Genji.

Sang petani, masih membungkuk, segera merangkak minggir sehingga

sang bangsawan bisa lewat tanpa harus memutari tubuhnya yang rendah.

Dua harapan memenuhi hatinya yang gemetar ketakutan. Pertama, sang

bangsawan tidak keberatan dengan bak mandi petaninya. Istri dan anak

perempuannya telah menggosok bersih bak mandi itu sejak sang bangsawan

tiba hingga tangan mereka berdarah. Si petani mengucapkan doa dalam hati

pada Buddha Amida semoga bak mandi itu cukup bersih untuk sang

bangsawan. Kedua, semoga sang bangsawan yang biasa ditemani wanita

penghibur di Edo, tidak tertarik pada anak perempuannya. Anaknya itu

berusia lima belas tahun, sedang mekar pertama kalinya sebagai wanita dan

dianggap gadis tercantik di desa. Kini, si petani berharap jika saja anaknya

biasa saja seperti anak si Muko. Dia kembali mengucapkan doa pada

Buddha Amida, semoga Sang Mahakasih melindungi dan merahmati

keluarganya melewati malam yang berbahaya ini.

Di luar, anak termuda sang petani, basah oleh keringat, mengurus dan

memberi makan keempat kuda, diawasi oleh Taro. Di sini tak ada makanan

yang sesuai untuk kuda seorang bangsawan. Maka, dia tadi terpaksa lari ke

desa tetangga dan meminta jerami kepada kepala desa di sana. Dia kembali

dengan memikul jerami seberat 25 kilogram. Anak itu berharap, jika saja

kakaknya Shinichi ada di sini untuk membantunya. Tetapi, sebulan

sebelumnya, dia telah ditarik menjadi pasukan Lord Gaiho. Siapa yang tahu

kini dia ada di mana dan kapan dia akan pulang? Perang akan segera terjadi.

Semua orang berkata demikian. Perang melawan orang asing. Perang antara

pendukung Shogun dan musuh Shogun. Perang dengan orang asing dan

perang saudara pada saat yang sama. Ribuan, ratusan ribu, bahkan jutaan

jiwa akan mati. Mungkin Shinichi lebih aman menjadi pasukan militer

daripada mereka yang tinggal di pertanian. Genji keluar dari rumah. Anak

termuda petani itu menjatuhkan diri ke tanah dan menundukkan kepalanya

hingga menyentuh tanah.

Hide dan Shimoda berjaga di depan kamar mandi. Genji menemukan

istri sang petani dan anak perempuannya menunggu di dalam. Mereka

berdua juga berlutut dengan kepala menempel di tanah. Seperti si petani,

badan mereka juga gemetar ketakutan. Jika saja Genji adalah setan dari

PDF by Kang Zusi

neraka, mereka tak mungkin bisa lebih takut lagi. Jika dipikir-pikir, bagi

seorang petani apa bedanya antara setan dan seorang bangsawan?

Genji mendengar sedu sedan keluar dari mulut salah seorang dari kedua

wanita itu. Tanpa melihat dia tahu bahwa yang menangis adalah sang ibu.

Rupanya sang ibu mengira—bahwa seperti yang sering terjadi—Genji akan

meminta mereka membantunya mandi, sehingga melihat anak

perempuannya itu ke ranjangnya nanti malam. Itu jika sang bangsawan

sabar. Jika tidak, mungkin saja sang bangsawan langsung memperkosa anak

gadisnya di kamar mandi, di tanah, bahkan sebelum mandi.

“Kalian boleh pergi,” kata Genji. “Aku lebih suka mandi sendiri.”

“Ya, Tuan Bangsawan,” kata sang ibu, anak gadisnya meniru, “Ya, Tuan

Bangsawan.” Masih berlutut mereka berdua beringsut mundur keluar kamar

mandi.

Malam itu, saat keluarga sang petani tidur berimpitan di gudang, mereka

berspekulasi tentang tamu yang menginap di rumahnya.

“Dia pasti seorang bangsawan dari Kota Kekaisaran,” bisik sang petani.

“Dia terlihat terlalu halus untuk seorang pejuang.”

“Kuda-kuda itu adalah kuda perang,” kata sang anak lelaki. “Mereka

bahkan tak suka kudekati. Jika samurai botak itu tidak memegang mereka,

aku pasti sudah tertendang sampai mati ketika aku memberi makan mereka.”

“Mungkin saja mereka bergabung dengan tentara Lord Gaiho,” kata sang

ibu. “Aku harap begitu. Semakin banyak tentara yang dipunyai Lord Gaiho,

anak kita Shinichi akan lebih aman.” Dalam diam, sang ibu mengucapkan

serangkaian mantra doa kepada Budha Amida, menghitung dalam hati

seakan-akan dia memegang tasbih doa dari kayu cendana di tangannya. Dia

kehilangan tasbih doanya, tetapi dia bahagia karena tasbih itu sekarang

berada di tempat yang lebih tepat. Sebagai jimat suci yang dikalungkan di

leher anaknya, Shinichi. Pasti tasbih itu akan mencegah hal buruk,

mendatangkan kebaikan, dan menjaga anaknya tetap selamat. Shinichi baru

enam belas tahun dan jauh dari rumah untuk pertama kalinya.

“Itu mungkin saja,” kata sang ayah. “Bangsawan muda ini memang

kelihatannya tak akan membantu banyak dalam pertempuran, tetapi para

pengawalnya terlihat kuat.”

PDF by Kang Zusi

“Dia bisa saja seorang bangsawan agung,” kata anak gadisnya. “Dia

cukup tampan.”

“Diam!” ayahnya mendesis, menamparnya dalam gelap.

“Ow!”

“Siapapun dia, dia terbiasa mengambil apa yang dia inginkan. Kamu

harus tinggal di sini hingga mereka pergi seok pagi.”

Tetapi, tamu mereka sudah pergi sebelum matahari terbit. Ketika sang

petani kembali ke rumahnya, dia menemukan sebuah syal sutra terlipat rapi

dan diletakkan di altar pemujaan keluarga yang sederhana. Ketika sang

petani menjualnya ke Edo, seminggu kemudian, dia baru tahu bahwa syal itu

harganya lebih mahal dari bagian panen padinya tahun lalu.

Genji dan para pengawalnya menaiki kuda-kuda yang kuat dan mereka

menaikinya tanpa istirahat. Dengan kecepatan seperti itu, mereka akan

sampai di pertapaan Mushindo di tengah hari. Mereka hampir berhasil

menyeberangi seluruh wilayah Yoshino tanpa bertemu dengan pasukan

Gaiho. Di seberang sungai selanjutnya adalah wilayah teman Genji,

Hiromitsu, Bangsawana Agung Yamakawa. Hiromitsu adalah pria lain yang

sulit dikenali Genji jika bertemu. Karena dia menjadi teman dengan cara

yang sama dengan cara Gaiho menjadi musuhnya. Leluhur Hiromiysu

dahulu juga termasuk pihak yang kalah di Sekigahara.

Memutar di belokan terakhir sebelum perbatasan, mereka bertemu

dengan lima samurai berkuda memimpin sekompi pasukan lembing yang

berjumlah empat puluh orang. Pasukan ini juga bergerak ke barat daya

seperti pasukan lain yang dilihat Taro sebelumnya.

Genji melambatkan kudanya, memberikan kesempatan pada pasukan itu

untuk minggir ke sisi jalan. Meski dia tidak memakai lambang keluarga dan

tidak membawa panji-panji, caranya berpakaian, kualitas kudanya, sikap

pengawalnya, semua dengan jelas mengidentifikasi statusnya sebagai

bangsawan. Konvensi sosial menuntut agar semua yang berstatus lebih

rendah untuk patuh.

Tetapi, pasukan itu tidak. Pemimpin mereka berteriak, “Minggir kalian!”

Genji menarik kekang kudanya hingga berhenti. Jika saja dia melihat

pasukan itu lebih awal, dia bisa memimpin para pengawalnya untuk

PDF by Kang Zusi

menghindar dan meneruskan perjalanan ketika mereka telah lewat. Tetapi,

kini sudah terlambat. Dia tidak bisa begitu saja menyerahkan hak-jalanrayanya

kepada orang bodoh yang statusnya lebih rendah. Genji duduk

tenang di kudanya dan menunggu halangan itu dibersihkan.

Hide memacu kudanya ke depan hingga dia berada di depan sang

pemimpin pasukan. Katanya, “Seorang bangsawan sedang bepergian secara

incognito, minggirlah kalian untuk menghormatinya!”

Samurai itu tertawa. “Seorang bangsawan? Aku tidak melihatnya. Hanya

empat pengelana letih yang jauh dari tempat mereka seharusnya berada.

Minggir dari jalan ini! Kami bepergian di bawah perintah Lord Gaiho. Kami

punya prioritas lebih.”

“Rendahkan dirimu sepantasnya!” Hide murka. “Apa kamu tak

mengenali seorang bangsawan ketika kamu melihatnya?”

“Ada banyak sekali bangsawan di dunia ini.” Mencemooh, samurai itu

meletakkan tangannya di gagang pistol berlaras dua di pinggangnya. “Waktu

berubah. Yang kuatlah yang menang. Sisa-sisa masa lampau akan disikat

minggir.”

Apa yang terjadi kemudian terjadi sangat cepat.

Hide tak berkata sepatah pun. Kilatan baja bergerak di tangannya dan

menimbulkan jejak merah tipis di tubuh sang pemimpin pasukan dari sisi

leher hingga ke ketiak kanannya. Sedetik kemudian, badan samurai itu

terbelah dua dan darah menyembur ke segala arah.

Samurai di sampingnya yang terciprat darah mencoba menarik

pedangnya. Belum tiga sentimeter pedangnya keluar dari sarung, panah

Shimoda mendesing dan amblas ke jantungnya, dia pun terjatuh dari kuda,

mati seperti samurai pertama.

“Aiiiiii!” Taro, dengan pedang terhunus di sisi seperti sabit besar,

mendepakkan kaki dan memacu kudanya ke formasi pasukan.

Satu dari samurai berkuda yang masih hidup menggoyangkan pedangnya

ke udara dan meneriakkan perintah. “Bentuk formasi perang! Bentuk

aaarrgghhh…!” Dia mendekap panah yang tiba-tiba menusuk

tenggerokonnya, menjatuhkan pedang, dan terguling dari kudanya.

Pasukan lembing itu tercerai berai, melemparkan senjata mereka dan

berteriak panik. Sebagian besar sr mereka lari ke hutan. Sejumlah tentara

PDF by Kang Zusi

yang kurang beruntung lari kembali ke arah semula. Mereka inilah yang

diburu Taro. Dia menebaskan pedangnya ke kiri dan kanan saat menderap di

tengah-tengah mereka. Tanah berubah menjadi lumpur berdarah karenanya.

Seorang samurai yang lari, terkena panah di tulang punggungnya.

Hide tak menghiraukan perlawanan lemah penunggang kuda terakhir,

dan merobek urat lehernya.

Taro berputar dan berbalik arah. Tentara terakhir yang masih hidup

mengangkat tanganya untuk melindungi diri dari kematian dan berteriak

untuk terakhir kalinya.

Genji mengeluh. Akhirnya selesai. Dia memacu kudanya melewati

mayat-mayat yang berserakan di jalan. Semua nyawa ini terbuang. Untuk

apa? Pelanggaran etika? Jalan yang terlalu padat? Sebuah kecelakaan

sejarah? Bahkan, tanpa pertanda ramalan, Genji yakin kekerasan tak masuk

akal seperti tadi tak akan menjadi bagian dunia masa depan. Itu tak

mungkin.

Shimoda memandang sekilas kepada samurai yang mati pertama. Dia

bertanya kepada Hide. “Apa yang membuatmu menebasnya dengan cepat

seperti itu?”

“Dia berkata, ‘waktu berubah.’” Hide membersihkan pedangnya dari

darah. “Si bangsat itu mengeluarkan penghinaan tentang ‘sisa-sisa masa

lampau.’”

Shimoda berkata, “Waktu tak berubah, tetapi membusuk. Kesombongan

seperti itu dari orang rendah. Hanya tujuh tahun lalu, penghinaan seperti ini

tak mungkin terjadi.” Tujuh tahun lalu adalah saat Komodor Perry dari

Amerika berlayar ke Teluk Edo dengan kapal uap dan meriamnya.

“Kita membantu mereka.” Taro membersihkan serpih-serpih tulang yang

menempel di pedangnya. “Kta membantu mereka agar tak melakukan

perjalanan yang sia-sia. Ke mana pun mereka pergi, siapa pun yang akan

mereka hadapi, mereka pasti akan kalah. Pengecut-pengecut tak berguna.”

Hide berkata, “Orang asing telah menghancurkan kita tanpa

pertempuran. Keberadaan mereka saja telah membuat kita kehilangan jalan

hidup.”

Genji memandang setiap mayat yang dia lewati. Mayat yang

terakhir,mayat kesepuluh, matanya memandang kosong ke langit musim

PDF by Kang Zusi

dingin yang cerah, tengkoraknya pecah. Lengan kanannya masih terhubung

ke sikunya oleh serpihan tulang dan otot. Pergelangan lengan kirinya putus.

Tangan itu jatuh di dekat kakinya. Dia bahkan belum menjadi pria dewasa.

Wajah itu adalah wajah seorang remaja yang baru saja melewati masa

kanak-kanak, tak lebih dari lima belas atau enam belas tahun. Di lehernya

melingkar tasbih kayu. Sebuah jimat pengharapan. Di setiap biji tasbih

terukir gambar swastika, simbol keagungan Buddha.

“Orang asing tak salah,” kata Genji. “Kita sendirilah yang salah.”

Kejadian itu memang tidak menguntungkan, tetapi ada manfaatnya.

Hide, Taro, dan Shimoda telah menunjukkan keberanian mereka. Genji

senang karena dirinya ternyata mampu menilai karakter dengan baik.

5. Para Peramal

Setelah lima hari bersama para orang asing itu, Heiko lebih

memahami mereka. Terutama Matthew Stark. Gaya berbicaranya diseret

dengan huruf vokal panjang dan pengucapan kata yang lambat sehingga

lebih mudah dimengerti. Gaya berbicara Emily Gibson lebih cepat dan

terpotong-potong. Dan Pendeta Cromwell, bahkan jika Heiko mengenali

kata-katanya, dia sering tak paham cara kata-kata itu dirangkai. Matthew

Stark dan Emily Gibson merespon seakan-akan perkataan sang pendeta

masuk akal, tetapi Heiko berpikir mereka mungkin hanya bersikap sopan

kepada pria yang terluka itu.

Pendeta Cromwell menhabiskan sebagianbesar waktunya untuk tidur,

matanya yang terpejam bergerak-gerak liar. Ketika bangun, dia cenderung

bertindak liar, dan tidak bisa ditenangkan kecuali oleh kehadiran dan

perawatan Emily yang berjaga terus-menerus. Kunjungan dokter Ozawa

terlihat sangat mengganggunya. Mungkin sikap sang dokter itu

mengungkapkan makna kata-kata Jepang yang diucapkannya.

“Setengah pencernaan dan perutnya telah membusuk,” kata Dokter

Ozawa. “Kerusakan organ vitalnya sangat parah. Racun empedu

PDF by Kang Zusi

memenuhi darahnya. Tetapi, dia tetap bernapas. Aku harus mengakui, aku

tak tahu apa yang terjadi.”

“Apa yang dikatakan dokter?” tanya Emily.

“Dia berkata bahwa Pendeta Cromwell sangat kuat,” jawab Heiko.

“Meski dokter tak bisa menebak apa yang terjadi, kondisi sang pendeta

stabil dan menggembirakan.”

Cromwell mengacungkan jarinya kepada Dokter Ozawa. “Kau harus

berkata, jika Tuhan izinkan, kita akan hidup, dan melakukan ini,

melakukan itu.”

“Amin,” kata Emily dan Stark berbarengan.

Dokter Ozawa memandang bertanya kepada Heiko.

“Dia mengucapkan terima kasih atas perhatian Anda,” kata Heiko,

“dan dia mengucapkan doa dalam agamanya untuk kesehatan Anda.”

“Ah.” Dokter Ozawa membungkuk kepada Pendeta Cromwell.

“Terima kasih, Pendeta Asing yang terhormat.”

“Kau adalah anak setan, kau musuh semua kebajikan.”

Pendapat Heiko, yang tak dikatakannya kepada siapa pun, adalah

bahwa Pendeta Cromwell telah menjadi gila karena lukanya. Itu

menjelaskan mengapa dia mengatakan kata-kata itu. Tidak ada orang

waras yang akan mengutuk seseorang yang berusaha keras merawatnya.

Meskipun Heiko lebih memahami orang-orang asing itu setelah lima

hari, dia masih tidak mengerti mengapa Genji mengirim dia untuk

menemani mereka. Tujuan yang terlihat sudah jelas, yaitu dia harus

menemani mereka, menjadi penerjamah untuk mereka, mengurangi

keterasingan mereka saat Genji pergi. Kondisi ini membuatnya bebas

menyelidiki para orang asing itu. Itulah yang dia tidak mengerti. Tugas itu

seharusnya hanya dilakukan oleh orang yang dipercayai Genji sepenuhnya.

Tetapi, kepercayaan harusnya berdasar pengetahuan, dan Genji sama

sekali tak tahu siapa dia sebenarnya. Padahal, Heiko punya masa lalu yang

menarik untuk diketahui. Tempat lahir, orang tua, teman-teman masa

kecil, orang yang mengajarnya menjadi geisha, peristiwa penting, dan

tempat-tempat penting. Fakta-fakta telah disiapkan untuk menutupi hal

yang paling penting—bahwa dia adalah agen polisi rahasia Shogun.

Semua itu seharusnya diselidiki secara serius. Tetapi, Genji tidak

PDF by Kang Zusi

menunjukkan ketertarikan kecuali kepada dirinya kini. Di dunia para

bangsawan agung yang penuh siasat licik, hanya anak-anak kecil yang

memunculkan diri mereka sebenarnya. Jika Genji mempercayainya, itu

menunjukkan dia punya penilaian buruk dan berbahaya baginya. Tetapi,

karena tak mungkin Genji tak bisa menilai orang dengan baik, Heiko

kembali pada kesimpulannya semula, lagi dan lagi.

Genji tahu siapa dirinya sebenarnya.

Bagaimana Genji bisa tahu, Heiko sama sekali tak mengerti. Mungkin

gosip tentang keluarga Okumichi memang benar bahwa satu dari setiap

generasi punya kemampuan melihat masa depan. Jika dia yang mendapat

kemampuan itu, Genji pasti tahu sesuatu yang tidak diketahui Heiko—

yaitu apakah Heiko akan mengkhianatinya atau tidak. Apakah kepercayaan

yang ditunjukkan ini bermakna bahwa Heiko tak akan mengkhianatinya?

Atau, Heiko akan mengkhianatinya dan Genji dengan pasrah menantinya?

Ironi itu tak lepas dari pikirannya. Kecurigaan dan kebingungan Heiko

menjadi lebih kuat karena Genji terlihat santai saja. Rencana misterius apa

yang ada di balik kepercayaan yang ditunjukkan ini? Selama lima hari,

Heiko memikirkan hal ini dan tak satu pun jawaban muncul. Dia benarbenar

bingung.

“Satu penny untuk pikirannmu.” Emily Gibson tersenyum kepadanya.

Mereka duduk di ruangan yang menghadap ke halaman dalam. Dan karena

hari tidak terlalu dingin, semua pintu dibuka sehingga ruangan itu terasa

seperti sebuah paviliun di kebun.

“Satu penny?” tanya Heiko.

“Satu penny adalah besaran mata uang kami yang paling kecil. “

“Uang kami yang paling kecil adalah sen.” Heiko tahu Emily tidak

benar-benar menawarkan untuk membayar apa yang dia pikirkan. “Apa

Anda menanyakan apa saya pikirkan?”

Lagi, Emily tersenyum. Di Jepang, wanita yang kurang cantik dan

biasa-biasa lebih sering tersenyum daripada wanita cantik. Rupanya itu

juga menjadi kebiasaan alami wanita Amerika yang biasa-biasa saja untuk

mengambil hatri. Emily sering tersenyum. Menurut Heiko itu adalah

kebiasaan bagus karena senyum menekankan kepribadian wanita asing itu

dan mengalihkan perhatian dan kecanggungannya. “Canggung” tidak bisa

PDF by Kang Zusi

menjadi kata yang mendeskripsikan secara lengkap kekurangan ciri-ciri

fisik wanita Amerika itu. Tetapi, semakin lama Heiko mengenalnya,

timbul rasa suka terhadap kepribadian yang ramah dan lembut di balik

tubuh besar dan tak menarik itu.

“Itu tidak sopan,” kata Emily. “Kalau saya bilang ‘Satu penny untuk

pikiranmu’, sama dengan mengatakan kalau Anda terlihat mempunyai

pikiran yang mengganggu, dan saya bersedia mendengar apabila Anda

mau bercerita. Itu saja.”

“Ah, terima kasih.” Heiko sendiri juga termasuk gampang tersenyum

untuk ukuran wanita cantik seperti dirinya. Meski semua geisha terkenal di

Edo mempertahankan sikap angkuh, Heiko, yang paling cantik di antara

mereka, tersenyum sesering gadis petani yang biasa-biasa saja. Tetapi,

senyum itu hanya untuk mereka yang dia sukai. Seakan-akan di depan

orang yang dia sukai, kecantikan Heiko tak berarti apa-apa, sehingga

hatinya, yang terbuka tanpa kepura-puraan adalah milik mereka. Tentu

saja itu semua hanya sandiwara dan semua orang tahu itu, tetapi,

sandiwara itu sangat efektif sehingga para pria tak keberatan membayar

mahal. Hanya dengan Genji senyum itu bukan sandiwara. Heiko berharap

Genji tak menyadari itu. Karena kalau dia tahu, Genji akan tahu kalau

Heiko mencintainya, dan jika Genji tahu kalau Heiko mencintainya,

keseimbangan di antara mereka akan hilang. Mungkin Genji memang tahu

dan karena itu dia mempercayainya. Kembali ke masalah itu lagi. Apa

sebenarnya yang dipikirkan Genji.

Heiko berkata, “Saya berpikir pasti Anda merasa sangat berat, Nona

Gibson. Tunangan Anda terluka. Anda jauh dari rumah dan keluarga.

Situasi yang sangat sulit bagi Anda, ya?”

“Ya, Heiko. Situasi yang sangat sulit.” Emily menutup buku yang

sedang dibacanya, Sir Walter Scott adalah pengarang favorit ibunya dan di

antara buku-buku karangannya, ibunya sangat memuja Ivanhoe. Selain

liontin loket ibunya, buku Ivanhoe adalah satu-satunya barang yang

disimpan Emily ketika pertanian mereka dijual. Sejak itu sudah tak

terhitung berapa kali dia membaca halaman-halaman buku yang sangat

dicintai ibunya, mengingat kembali suaranya, dan menangis dalam

kesendirian di sekolah, rumah misi, kapal, dan kini, di sini, di tempat sunyi

PDF by Kang Zusi

yang begitu jauh dari makam orang-orang yang dicintainya. Emily

bersyukur dia tidak sedang menangis ketika Heiko datang. “Tolong,

panggil saja aku Emily. Itu adil karena aku memanggilmu Heiko. Atau,

kamu bisa memberi tahu nama keluargamu dan aku akan memanggilmu

dengan ‘Nona’, pula.”

“Saya tak punya nama keluarga,” kata Heiko. “Saya bukan keturunan

bangsawan.”

“Maaf?” Ini mengejutkan Emily. Kondisi ini sama persis dengan

kondisi orang-orang jaminan di Ivanhoe. Tetapi, itu ratusan tahun yang

lalu, pada masa Abad Kegelapan Eropa. “Bukankah mau pernah dipanggil

dengan nama panjang oleh seorang pelayan?”

“Mayonaka no Heiko, ya. Itu adalah nama geisha saya selengkapnya.

Artinya, Keseimbangan Malam.”

“Apa itu nama geeshaw?”

“Geisha,” kata Heiko pelan.

“Geisha,” ulang Emily.

“Ya, itu benar,” ketika Heiko. Dia berpikir tentang kata-kata yang telah

dia baca di kamus Genji. “Dalam basa Anda kata yang paling dekat

mungkin ‘pelacur’.”

Emily sangat terkejut sehingga dia tak bisa bicara. Ivanhoe jatuh dari

pangkuannya. Dia sangat bersyukur bisa membungkuk untuk

memungutnya sehingga menyembunyikan pandangannya dari Heiko. Dia

sama sekali tak tahu harus berkata apa. Selama ini, dia mengira nyonya

rumah mereka adalah seorang wanita bangsawan, keluarga Lord Genji.

Karena dia melihat semua pelayan dan samurai memperlakukan Heiko

dengan sangat hormat. Apakah dia memang melewatkan adanya sikap

mencemooh dari sikap mereka terhadap Heiko?

“Pasti ada kesalahan penerjamahan,” kata Emily, pipinya masih

memerah karena malu.

“Ya, mungkin,” kata Heiko. Nona Gibson, atau Emily, seperti yang dia

inginkan untuk dipanggil kini, mengagetkannya seperti dia telah

mengagetkan Emily. Apa yang telah dia katakan sehingga membuat

wanita asing itu terkejut?

PDF by Kang Zusi

“Aku tahu pasti ada kesalahan.” Emily sangat lega mendengar ini.

Baginya, pelacur adalah salah satu wanita kotor pecandu alkohol dan

penyakitan yang kadang-kadang mencari tempat bernaung di rumah misi

San Francisco. Wanita muda yang elegan ini, yang bagaikan baru saja

tumbuh dewasa, sangat berbeda dari citra seorang pelacur.

Ketika Emily menjatuhkan bukunya, Heiko sedang mencari kata

bahasa Inggris yang tepat untuk menggambarkan perbedaan kelas di

kalangan wanita penghibur. Ada satu kelas untuk setiap strata masyarakat.

Paling bawah adalah pelacur tak berseni yang hanya sekedar menjadi

pemuas kebutuhan seksual. Lahan-lahan berpagar di distrik hiburan malam

Yoshiwara penuh dengan mereka, sebagian besar adalah gadis petani yang

digadaikan untuk membayar utang keluarga. Di kelas teratas adalah

beberapa gadis yang diseleksi ketat seperti dirinya, dilatih sejak kecil

tentang dengan siapa mereka harus mengabiskan waktu dan dengan cara

bagaimana, jasanya menemani seorang pria memang bisa dibayar, tetapi

hanya jika dia mau menemani, kalau dia tak mau maka hal itu tak mungkin

terjadi. Di antara kelas tertinggi dan terendah terdapat berbagai kelas

wanita penghibur dengan harga, jasa, bakat, dan kecantikan yang

bervariasi. Melihat ketidaknyamanan Emily dengan semua yang ada di

Jepang juga ada di Amerika dan sebaliknya. Kata-katanya mungkin

berbeda, tetapi makna intinya sama saja. Setiap orang di mana pun pasti

punya dorongan kebutuhan dan keinginan yang sama. Begitu pikirnya.

“Di Amerika, beberapa wanita terdidik menjadi pengasuh,” kata

Emily, masih mencoba menolak implikasi dari kata-kata yang diucapkan

Heiko. “Seorang pengasuh mendidik anak-anak di sebuah rumah tangga

tentang sikap yang baik, mengasuh mereka, bahkan mengajar mata

pelajaran tertentu. Apakah itu maksudmu?”

“Seorang geisha bukan pengasuh,” kata Heiko. “Seorang geisha adalah

wanita penghibur kelas tertinggi. Jika aku tidak menggunakan kata yang

tepat, tolong ajari aku, Emily.”

Emily memandang ke mata Heiko yang polos. Sudah tugasnya sebagai

seorang Kristen untuk jujur, betapapun kebenaran itu menyakitkan.

Katanya, “Kami tidak mempunyai persamaan kata untuk itu,Heiko. Di

PDF by Kang Zusi

negara-negara Kristen profesi semacam itu tidak dianggap terhormat,

bahkan melanggar hukum.”

“Jadi, tidak ada pelacur di Amerika?”

“Ada,” jawab Emily, “karena kelemahan manusia. Tetapi, pelacur di

sana harus bersembunyi dari polisi dan berlindung serta bergantung pada

para kriminal keji. Hidup mereka tidak panjang karena kekerasan,

kecanduan, dan penyakit.” Emily menarik napas panjang. Setiap

persetubuhan di luar pernikahan adalah dosa, tetapi bukankah ada derajat

variasi tingkah laku yang salah? Dia tidak percaya bahwa Heiko tadi

benar-benar bermaksud mengatakan bahwa dia adalah pelacur.

“Terkadang pria yang kaya dan berkuasa mempunyai selir. Wanita yang

dicintainya, tetapi bukan istrinya seperti dalam hukum Tuhan. Mungkin

‘selir’ adalah kata yang lebih tepat untuk geisha daripada ‘pelacur’.”

Heiko tidak berpikir demikian. ‘selir’ dan ‘simpanan’ artinya sangat

mirip, tetapi artinya jauh berbeda dengan geisha. Kata yang paling dekat

memang ‘pelacur’. Sikap Emily terhadap topik ini terlihat aneh dan

menghindar. Apa sebabnya? Apakah mungkin dia dahulu juga seorang

pelacur dan merasa malu akan masa lalunya? Tentu apabila dia dahulu

seorang pelacur tak mungkin menyamai seorang geisha. Tak peduli betapa

hebat keahlian dan daya tariknya, semuanya itu tidak bisa mengatasi

penampilannya yang mengerikan.

“Mungkin,” kata Heiko akhirnya. “Mari kita menanyakannya kepada

Lord Genji saat beliau kembali. Pemahaman bahasa Inggrisnya lebih baik

dari saya.”

Emily terselamatkan dari keharusan menjawab usul yang mengejutkan

itu karena kedatangan Stark.

“Sudara Zephaniah mencarimu,” katanya.

“Maksudmu, pamanku telah berada di ruang senjata selama empat hari

terakhir ini?” Genji berusaha keras untuk tidak tersenyum geli. Rasa malu

Rahib Kepala Sohaku terlihat jelas.

“Ya, Tuanku,” kata Sohaku. “Kami telah tiga kali berusaha

menangkapnya kembali. Pada usaha pertama, saya mendapat ini.” Sohaku

menunjuk pada bengkak yang melintang didahinya. “Jika dia betul-betul

PDF by Kang Zusi

menggunakan pedang dan bukan pedang kayu, hamba pasti terselamatkan

dari rasa malu untuk menyampaikan laporan kegagalan ini kepada Anda.”

“Jangan terlalu keras pada dirimu, Rahib Kepala.”

Dengan murung, Sohaku melanjutkan. “Pada usaha kedua, Lord

Shigeru melukai empat anak buah saya, atau lebih tepat empat rahib

dengan parah. Salah satu dari mereka kini koma dan mungkin tak akan

bertahan. Ketiga kalinya, kami masuk dengan busur dan anak panah yang

terbuat dari bambu. Memang bukan senjata yang terbaik, tetapi cukup

untuk melumpuhkannya. Tetapi, ketika kami masuk Lord Shigeru

berjongkok di atas tongkat mesiu, menyeringai dengan sumbu menyala di

tangannya. Kami tak berani lagi berusaha menangkapnya.”

Genji duduk di podium kecil di bawah tenda, yang berjarak lima puluh

langkah dari ruangan senjata. Para rahib yang tidak berjaga duduk berjajar

di depannya, tidak terlihat sebagai rahib tetapi lebih mirip samurai yang

menunggu perintah. Enam bulan lalu, kakeknya secara rahasia

memerintahkan pasukan kavalerinya yang terbaik untuk masuk kuil.

Mereka masuk pertapaan dengan alasan tidak setuju dan protes atas

keputusan kakek Genji untuk berteman dengan para misionaris Firman

Sejati. Tetapi, sebetulnya gagasan utamanya tentu untuk membuat msusuh

bingung. Siapa yang bisa percaya kalau melihat para pria yang terlihat

jelas sebagai ahli bela diri ini benar-benar telah meninggalkan kehidupan

dunia dan menjadi rahib?

“Baiklah, kurasa aku sebaiknya pergi dan bicara padanya.” Genji

berdiri dari podium dan pergi ke ruangan senjata, diikuti Hide dan

Shimoda. Terdengar gumaman dari sisi lain barikade. “Paman, ini Genji.

Aku akan masuk.” Dia menunjukk ke barikade dan para anak buahnya

segera memindahkan barikade itu. Di dalam ruangan senjata menjadi

sangat tenang.

“Tuanku, harap hati-hati,” kata Hide pelan. “Taro mengatakan kepada

kami, Lord Shigeru benar-benar gila.”

Genji menggeser pintu hingga terbuka. Uap busuk dan panas meruak

dari dalam ruangan dan menyerbunya. Dia mundur beberapa langkah.

PDF by Kang Zusi

“Maafkan hamba,’ kata Sohaku, mengulurkan sapu tangan berparfum.

“Hamba telah terbiasa dengan kondisi ini sehingga lupa memperingatkan

Tuanku.”

Genji menolak uluran saputangan Sohaku. Kalau bisa dia lebih suka

memakainya,. Tetapi dengan wajah tertutup saputangan, Shigeru mungkin

tak akan mengenalinya. Tak memperdulikan bau busuk yang membuat

mual, dia kembali ke pintu. Shigeru berjongkok seperti kera di ujung

ruangan yang tertutup bayangan, berlumuran kotorannya sendiri. Hanya

mata dua pedang yang dia pegang yang bersih. Mata pedang itu berkilat

terang, seakan-akan mengeluarkan cahaya sendiri.

“Aku sangat kecewa melihatmu dalam kondisi kotor begini.” Genji

berbicara lembut. “Di satu sisi, aku hanya keponakanmu. Di sisi lain, aku

adalah junjunganmu, Bangsawan Agung Akaoka. Sebagai keponakanmu,

aku berkewajiban mengunjungi Paman. Sebagai junjunganmu, aku tak bisa

membiarkan kejorokan seperti ini. Sebagai keponakanmu, aku mohon

Paman memperhatikan kesehatan. Sebagai junjunganmu, kuperintahkan

Anda untuk menghadapku dalam satu jam, dengan penjelasan tentang

tingkah laku yang sangat tidak pantas ini.”

Genji berbalik memunggungi pamannya dan pelan-pelan berjalan

menuruni tangga. Jika Shigeru tidak menyerangnya, ada kemungkinan

besar perintahnya akan dipatuhi.

Tubuh Genji, yang terpampang di pintu mulai mengecil dan menjauh.

Punggungnya terbuka! Sekaranglah saatnya untuk melengkapi penyucian

garis darah Okumichi. Otot-otot Shigeru menegang lalu lepas. Dia melesat

ke depan, diam dan cepat. Atau, setidaknya tubuhnya melakukan itu.

Pikirannya yang kacau, melayang ke tempat lain, dalam ruang dan

waktunya sendiri.

Shigeru bersama ayahnya. Mereka berkuda di pinggir tebing Tanjung

Muroto. Lord Kiyori lebih muda dari pada Shigeru saat ini, dan Shigeru

semuda anak laki-lakinya yang terbunuh.

“Kamu akan berbicara tentang hal-hal yang akan terjadi,” kata

ayahnya. “Kamu akan melihat hal-hal yang akan terjadi sejelas kamu

melihat ombak di bawah tebing ini.”

PDF by Kang Zusi

“Kapan, Ayah?” Shigeru bertanya. Dia tak sabar menunggu.

Kakaknya, Yorimasa, mungkin akan memimpin wilayah Akaoka setelah

ayahnya, tetapi jika Shigeru yang dianugerahi kemampuan meramal, dia

akan dihormati seperti Lord Kiyori. Sehingga Yorimasa tak bisa bersikap

sombong lagi kepadanya, bukan?

“Masih lama, dan kamu seharusnya senang karenanya.”

“Mengapa aku harus senang?” Shigeru cemberut. Ini bukan yang dia

dengar. Karena itu, berarti Yorimasa akan terus sombong dan

memerintahnya. “Semakin cepat aku melihat masa depan semakin baik.”

Ayahnya memandang Shigeru lama sekali sebelum akhinya berbicara

lagi.

“Jangan menjadi tidak sabar, Shigeru. Apa yang akan terjadi, pasti

terjadi, baik kamu mengetahuinyaatau tidak. Percayalah, mengetahui masa

depan tidak selalu baik.”

“Mengetahuinya pasti lebih baik,” tukas Shigeru. “Jadi, tidak ada

orang yang bisa mengejutkanmu.”

“Seseorang pasti selalu mengejutkanmu, karena tak peduli seberapa

banyak yang kau tahu, kami yak mungkin tahu semuanya.”

“Kapan, Ayah? Kapan aku bisa melihat masa depan?”

Ayahnya kembali memandangnya dalam diam. Hingga Shigeru

berpikir ayahnya tak akan berkata-kata lagi, tetapi dia mulai berbicara lagi.

“Hargailah masa-masa sebelum itu terjadi, Shigeru. Kamu akan sangat

berbahagia. Di puncak kedewasaanmu, kamu akan jatuh cinta dengan

seorang wanita bijak dan baik. Dan kamu sangat beruntung karena dia juga

jatuh cinta padamu.” Ayahnya terus tersenyum meski kini air mata

membasahi wajahnya. “Kamu akan punya seorang anak laki-laki yang

kuat dan pemberani, juga dua anak perempuan yang cantik.”

Shigeru tak peduli semua itu. Dia baru enam tahun. Dia tidak

memimpikan anak laki-laki dan perempuan. Dia bermimpi menjadi

samurai sejati seperti nenek moyangnya yang hebat.

“Apakah aku akan memenangi banyak pertempuran, Ayah? Apakah

aku akan ditakuti orang lain?”

PDF by Kang Zusi

“Kau akan memenangi banyak pertempuran, Shigeru.” Ayahnya

mengusap air mata dengan lengan kimononya yang lebar. “Orang lain

takut padamu. Mereka akan sangat takut padamu.”

“Terima kasih, Ayah.” Shigeru sangat bahagia. Dia baru saja

menerima ramalan! Dia berjanji pada dirinya sendiri untuk selalu

mengingat hari yang mujur ini, suara ombak, embusan angin, dan gerakan

awan di langit.

“Dengarkan aku, Shigeru. Ini sangat penting.” Ayahnya meraih dan

memegang bahunya erat. “Ketika kamu mulai melihat pertanda masa

depan, seseorang akan datang mengunjungimu. Dorongan hati pertamamu

adalah membunuhnya. Jangan menyerang. Berhenti! Lihatlah jauh ke

dalam pikiranmu. Perhatikan apa yang ada di sana.” Pegangan ayahnya

mengeras. “Apa kau ingat untuk melakukan itu nanti?”

“Ya, aku akan ingat, aku janji,” kata Shigeru, ketakutan melihat

keseriusan ayahnya.

Kini, dengan pedang terhunus kepada Genji, janji yang terucap

bertahun-tahun lalu memenuhi pikiran Shigeru. Hanya dalam beberapa

detik lagi, pedang tajam sepanjang lengan akan menusuk punggung Genji,

merobek tulang punggungnya, menyayat jantungnya, dan menembus

dadanya. Shimoda melihat ke dalam pikirannya yang tiba-tiba terasa

terang dan melihat apa yang paling tidak dia duga.

Tidak ada apa pun.

Shigeru berhenti. Dia baru saja mengambil satu langkah ke arah pintu.

Genji baru saja berbalik pergi. Hanya sekejap, tak lebih.

Shigeru mendengarkan dengan seksama. Dia tidak mendengar apa pun

kecuali suara langkah kaki Genji dan kicauan burung di hutan. Dia melihat

sekeliling. Yang terlihat hanyalah bagian dalam ruangan senjata,

punggung Genji, dan halaman kuil yang terlihat dari pintu terbuka.

Bayangan-bayangan yang menyiksanya telah hilang.

Apakah itu kebetulan, ataukah kehadiran Genji menyebabkan

bayangan-bayangan yang dialaminya menghilang? Dia tak tahu. Dia tak

peduli. Keinginannya untuk membunuh lenyap seiring hilangnya

bayangan-bayangan itu.

PDF by Kang Zusi

Shigeru membiarkan pedang yang dipegangnya jatuh dan berjalan ke

pintu. Dua samurai yang berjaga di kedua sisi pintu mundur beberapa

langkah, dan membungkuk. Shigeru melihat keduanya memegang pedang

dan mata mereka waspada mengawasinya meski mereka membungkuk.

Shigeru mulai membuka bajunya dan berjalan ke belakang dapur, ke

kamar mandi.

“Di mana Sohaku?” tanya Shigeru kepada samurai yang mengikutinya.

“Katakan aku perlu meminjam baju yang pantas untuk menghadap Lord

Genji.”

Samurai itu menjawab, “Ya, Tuan,” tetapi tetap mengikutinya. Shigeru

berhenti dan samurai itu pun berhentu. “Pergilah dan lakukan apa yang

aku minta.” Shigeru menjatuhkan helai terakhir pakaiannya ke tanah.

Semua pakaian itu akan dibakar. Berapa kali pun dicuci pakaian itu tak

akan bersih. Shigeru membentangkan tangannya. “Apa yang kau pikirkan?

Kau pikir aku akan lari seperti ini, telanjang dan dilumuri kotoran, di

tengah-tengah musim dingin? Hanya orang gila yang melakukan itu.” Dia

tertawa dan terus melangkah. Tidak menengok ke belakang untuk melihat

apakah samurai itu masih membuntutinya.

Ketika sampai di kamar mandi, Shigeru tidak terkejut melihat bak

mandi telah diisi dengan air panas. Genji memang pemuda yang

optimistis.

Shigeru membersihkan dirinya dengan cermat tiga kali di luar kamar

mandi. Baru setelah dia yakin tubuhnya benar-benar bersih, dia masuk ke

bak mandi sembari melenguh senang. Berapa lama sudah dia tak mandi?

Berhari-hari, berminggu-minggu, berbulan-bulan? Dia tak ingat. Pasti

enak berendam berlama-lama di air hangat. Pada kesempatan lain, dia

pasti melakukan itu. Tetapi, junjungannya sedang menunggunya,dan

Shigeru segera keluar dari bak mandi.

Uap naik dari badannya seakan-akan kawah vulkanik yang muncul dari

dalam bumi. Sandal baru telah disiapkan di depan bak mandi. Shigeru

memakai sandal itu, membungkus tubuhnya dengan handuk dan pergi ke

sayap kuil yang digunakan untuk tempat tinggal. Di sana, dua rahib

membantunya memakai pakaian pinjaman. Sayap lebar jaket kamishimo

yang kaku menutupi bahunya, melapisi kimono yang dipakainya. Di

PDF by Kang Zusi

bawah kimono, dia mengenakan celana lebar hakama. Formalitas pakaian

ini sangat sesuai untuk menghadap junjungannya di lapangan. Shigeru

hampir siap.

“Di mana pedangku?”

Dua rahib yang membantunya saling memandang.

Akhirnya, salah seorang berkata, “Tuanku, kami dilarang

membawakan senjata untuk Anda.”

Dua rahib itu menunggu dengan tegang, sepertinya mereka menduga

Shigeru akan bereaksi keras. Tetapi, Shigeru hanya mengangguk patuh.

Tentu saja, setelah apa yang dia lakukan, diat tidak diperbolehkan

mendekati Genji dengan membawa senjata. Dia mengikuti para rahib itu

ke tempat junjungannya menunggu.

“Berhenti,” kata Genji.

Shigeru berhenti. Mungkin dia bahkan tidak boleh memasuki tenda

Genji. Dia tidak melihat tempat eksekusi disiapkan untuknya. Itu tidak

berarti apa-apa. Genji mungkin tidak memilih eksekusi dengan cara

formal. Dua samurai yang menyertai Genji dari Edo mungkin akan

memenggalnya di sini dan sekarang.

Genji berpaling kepada Sohaku dan berkata. “Berani sekali kamu

membiarkan pengikut terhormat menghadapku setengah telanjang.”

“Lord Genji,” jawab Sohaku, “saya mohon Anda waspada. Lima anak

buah saya telah terbunuh atau terluka oleh tangannya.”

Genji memandang dia ke depan.

Tak punya pilihan lain, Sohaku membungkuk kemudian mengangguk

kepada Taro. Taro lari ke ruangan senjata dan kembali dengan dua pedang.

Pedang katana panjang dan pedang pendek wakizashi. Dia membungkuk

kepada Shigeru dan memberikan dua pedang itu kepadanya.

Saat Shigeru mengantungkan kedua pedang itu di pinggangnya,

Sohaku mengubah sedikit posisi duduknya. Sehingga, jika Shigeru

menebaskan pedangnya ke Genji, dia bisa melemparkan diri di antara

Genji dan Shigeru. Ini akan memberikan kesempatan kepada Hide dan

Shimoda, dua samurai lain yang bersenjata itu untuk membunuh Shigeru,

jika mereka bisa. Atau setidaknya, keduanya menghalanginya, dan para

rahib dapat mengeroyoknya sebelum Shigeru mencapai Genji. Meski

PDF by Kang Zusi

Sohaku adalah seorang rahib kepala di kul Zen, dia tidak menemukan

ketenangan dalam Zen. Zen mengajarkan seseorang bagaimana caranya

hidup dan mati. Agama itu sama sekali tidak menyinggung kehidupan

setelah mati. Kini, saat dia bersiap diri untuk meninggalkan dunia ini,

Sohaku mengucapkan doa dalam kepercayaan Buddha Honganji di

hatinya. Namu Amida Butsu. Semoga rahmat Buddha Cahaya Sejati

menyinariku. Semoga Buddah Penuh Kasih menunjukkan jalanku ke

Tanah Mruni. Bahkan saat dia berdoa, Sohaku waspada mengawasi setiap

langkah Shigeru menuju tempat duduk junjungan mereka.

Shigeru berlutut di tikar di depan podium dan membungkuk dalamdalam.

Ini adalah pertama kalinya dia melihat keponakannya sejak dia

mewarisi kepemimpinan Akaoka. Biasanya, pertemuan seperti itu bersifat

sangat formal, di mana ada pertukaran hadiah, dan Shigeru seperti

pengikut lain, akan bersumpah mengabdikan hidupnya dan hidup

keluarganya untuk melayani sang junjungan. Tetapi, kini kondisinya jauh

dari normal. Satu sebabnya, Genji menjadi pemimpin klan Akaoka karena

Shigeru telah meracuni pemimpin klan Akaoka sebelumnya, ayahnya

sendiri. Sebab lain, Shigeru tidak punya keluarga yang bisa diajak

bersumpah setia karena dia telah membantai mereka tiga minggu lalu.

Shigeru membungkuk menempelkan kepalanya ke tikar. Dia tak tahu

harus berbuat apa. Ini adalah pengadilan. Tidak mungkin tidak. Maka, dia

mendudukkan kepalanya dan menunggu hukuman mati.

“Baiklah, Paman,” kata Genji tenang, “mari segera kita selesaikan ini

sehingga kita bisa bicara.” Lalu dengan suara lebih keras dan berwibawa,

Genji berkata, “Okumichi Shigeru, untuk alasan apa Anda mengambil alih

kontrol ruang senjata kuil ini?”

Shigeru mengangkat kepalanya. Mulutnya ternganga heran.

Mengapa Genji malah berbicara tentang masalah sepele?

Genji mengangguk seakan-akan Shigeru telah menjawab. “Aku

mengerti. Dan, apa yang membuatmu berpikir kalau senjata di ruang

senjata itu tidak diamankan dengan benar?”

“Tuanku.” Hanya satu kata keluar dari leher Shigeru yang serasa

tercekik.

PDF by Kang Zusi

“Bagus,” lanjut Genji. “Semangatmu dalam melindungi senjata

memberi inspirasi bagi kita semua. Sekarang, masalah selanjutnya. Seperti

yang Anda ketahui, aku telah menerima kehormatan untuk meneruskan

kepemimpinan nenek moyang kita. Semua pengikut lain telah bersumpah

setia padaku. Apa Anda akan bersumpah setia padaku sekarang, atau

tidak?”

Shigeru berpaling kepada orang-orang yang hadir dalam perhelatan

itu. Wajah mereka sama terkejutnya seperti dirinya sendiri. Terutama Sohaku

yang terlihat seperti akan terkena serangan jantung.

Genji mencondongkan tubuhnya ke depan. Kembali dia berkata

tenang. “Paman, lakukan seperti yang biasanya sehingga kita bisa selesai.”

Shigeru membungkuk rendah ke tikar lagi. Lalu, dia mengangkat

kepalanya dan menarik kedua pedangnya.

Semua yang hadir berdiri serentak, dan mencondongkan tubuh ke

arah Shigeru. Semua kecuali Genji.

Shigeru berseru marah. “Kalian semua ke sini untuk mempraktikkan

jalan para guru Zen dari zaman dulu untuk membersihkan pikiran

kalian dari khayalan sehingga bisa melihat dunia seperti apa adanya.

Tetapi, tetap saja kalian bergerak dan melompat ke sana kemari seperti

orang liar yang dikerumuni kutu. Apa yang kalian lakukan selama

setengah tahun ini?” Dia memandang sengit kepada mereka hingga mereka

duduk kembali.

Shigeru menarik pedangnya dari ikat pinggang, lengkap dengan

sarungnya. Membungkuk dan mengangkat kedua pedangnya di atas kepala,

dia berjalan, berlutut hingga ke kaki podium. Itulah satu-satunya yang dapat

dia tawarkan sebagai hadiah. Dia tidak bisa berkata apa-apa, jadi dia diam

saja.

“Terima kasih,” kata Genji. Dia mengambil dua pedang itu dan

meletakkan di sisi kirinya. Lalu dia berpaling ke kanan dan mengambil

satu set pedang. Shigeru segera mengenalinya. Kedua pedang itu ciptaan

ahli pedang terkenal Kunimitsu, di akhir zaman Kamakura. Kedua pedang

itu tak pernah lagi digunakan sejak peristiwa di Sekigahara, saat keduanya

diselamatkan dari tangan leluhur mereka, Nagamasa yang sekarat.

PDF by Kang Zusi

“Bahaya besar sedang mengancam kita.” Genji mengulurkan pedang

itu dengan dua tangan ke Shigeru. “Semua utang karma akan terbayar.

Apaka Anda bersedia mendampingiku pada pertempuran-pertempuran

yang akan terjadi?”

Sejak kecil, belum pernah tangan Shigeru gemetar ketika memegang

senjata. Kini, kedua tangannya gemetar saat menerima kedua pedang

bersejarah itu.

“Saya bersedia, Lord Genji.” Shigeru memegang kedua pedang itu tinggi

di atas kepalanya dan membungkuk rendah.

Rasa takut membuat darah Sohaku dingin. Junjungannya baru saja

menerima sumpah setia seorang pria, yang dengan tangan berdarahnya,

hampir membawa garis keturunan Akaoka dalam kepunahan. Seorang

pembunuh ayah, istri, dan anak-anaknya. Orang gila yang paling tak bisa

diduga dan paling berbahaya di seluruh Jepang.

Dengan satu tindakan yang tak bisa dipahami, Lord Genji telah

mengutuk dirinya sendiri dan semua yang mengikutinya.

Emily duduk di pinggir ranjang Cromwell. Tangan pria itu terasa dingin

dan berat, juga lebih kaku dari sejam yang lalu. Wajah Cromwell mulus

dan santai seperti seorang bayi yang tertidur, tetapi abu-abu seperti arca.

Selimut wangi menutupi tubuhnya. Di empat pojok ruangan, hio cendana

terus menyala. Tetapi, wewangian itu tak mampu menepis bau busuk

yang menguar dari daging membusuk. Bahkan, bau busuk itu menjadi

semakin tak tertahankan dan menyesakkan oleh bebauan itu. Emily

bergetar, mual, dan berusaha menekan isi perutnya yang.naik ke

tenggorokan.

“Aku telah mendapatkan pertanda,” kata Cromwell. Dia tak lagi

merasakan sakit. Bahkan, dia sama sekali tak bisa merasakan tubuhnya.

Kepekaan indranya telah turun dari tingkat tertinggi ke tingkat terendah.

Dia melihat Emily mengapung di atasnya, terlihat cantik. Rambutnya

bersinar seperti emas tenunan, membentuk lingkaran halo di sekitar wajahnya

yang elok. Dia mendengar suara guntur yang menjadi pertanda

kedatangan malaikat. “Aku tak akan mati karena luka ini.”

PDF by Kang Zusi

“Kamu diberkati, Zephaniah.” Emily tersenyum kepadanya. Jika

pikiran itu membuatnya nyaman Emily merasa senang untuknya. Malam

sebelumnya pria itu mengigau dan berteriak-teriak kesakitan. Ketenangannya

saat ini melegakan.

“Malaikat tak seperti kita,” kata Cromwell, “bukan manusia sempurna

dengan sayap putih. Sama sekali tidak seperti itu. Mereka tak terlihat. Lebih

terang dari matahari. Meledak. Membuat tuli.” Akhirnya kata-kata dari

Alkitab menjadi jelas baginya “Dengan api dan dengan asap, dan dengan

belerang. Seperti yang telah ditulis, semua akan terjadi. Pebunuhan, sihir,

perzinaan, dan pencurian. Tempat ini penuh dengan semua kejahatan itu.

Ketika para malaikat datang, orang-orang yang benar akan diangkat ke

surga, sementara mereka yang tak mau bertobat dibakar, dirobek-robek,

dan dikubur.”

Emily kagum pada cara Cromwell yang meucapkan kata-kata kejam

itu dengan tenang seperti bercakap-cakap biasa. Perilakunya yang normal,

sebelum dia tertembak, lebih meledak-ledak dan hiteris. Lalu, keringat

keluar di atas alisnya; matanya yang menonjol seakan-akan melompat

keluar; nadi di leher dan keningnya menonjol tegang seakan hampir

meledak; ludah berhamburan dari bibirnya bersama dengan kata-kata

dan napas yang panas. Kini, dia dalam damai.

“Kalau begitu, marilah kita berdoa agar semua orang bertobat,” kata

Emily, “karena siapa di antara kita yang tidak mempunyai dosa yang harus

ditebus?”

Lucas Gibson punya lahan pertanian di Apple Valley, lima belas mil di

utara Albany, New York. Dia ber:emu Charlotte Dupay, seorang sepupu

jauh dari New Orleans, saat pemakaman kakeknya di Baltimore. Lucas,

tampan, gagah, dan dewasa, saat itu berusia 22 tahun. Charlotte, seperti

gadis-gadis selatan pada masanya yang terlalu sering membaca buku

karangan Scott, adalah seorang gadis berusia empat belas tahun yang

romantis dan.cantik. Berpikir bahwa dia telah bertemu dengan Ivanhoe-nya,

dia pergi sebagai mempelai ke tanah pertanian yang terdiri dari kebun apel

seluas enam puluh hektar, babi-babi, dan ayam. Anak pertama mereka,

Emily, lahir sembilan bulan satu hari setelah pemikahan. Saat itu, Charlotte

PDF by Kang Zusi

telah melepaskan mimpi tentang kesatria Saxonnya dan mulai bermimpi,

meski tak begitu ingin, tentang prajurit yang jahat tetapi penuh gairah, de

Bois-Guilbert.

Ketika Emily berumur empat belas tahun, ayahnya meninggal dalam

sebuah kecelakaan di kebun apel. Dia jatuh dari tangga. Sebenarnya agak

mencurigakan, karena ayahnya dikenal sebagai orang yang paling bisa

menjaga keseimbangannya dibandingkan dengan para pemetik apel lain,

dan seingat Emily, dia belum pernah jatuh sebelumnya. sekali pun. Hal

lain yang mencurigakan adalah kondisi tubuhnya. Bagian belakang

tulang tengkoraknya hancur sedemikian rupa sehingga serpihan tulangnya

masuk ke dalam. Meski tak mustahil seorang bisa mati karena jatuh

dari ketinggian lima meter, sulit untuk dipercaya bahwa kepalanya menghantam

tanah sedemikian keras sehingga tulang tengkoraknya

berantakan. Tetapi, itulah yang terjadi. Ayahnya meninggal, ibunya

menjadi janda, dia dar dua adik lelakinya menjadi yatim.

Sebelum rumput tumbuh menutupi makam ayahnya, mandor

pertanian mulai menghabiskan malam-malamnya di kamar ibunya.

Tetapi, pernikahan baru terjadi setelah enam bulan masa perkabungan

berakhir. Saat itu, perut ibunya telah membesar berisi seorang bayi. Hajaran

dan pukulan mulai tak lama setelahnya. Teriakan-teriakan gairah yang

biasanya mengisi malam kini berganti dengan teriakan kesakitan dan teror.

“Tidak! Jed, tolong! Jed! Jangan! Jangan! Aku mohon!”

Emily dan kedua adiknya saling berpelukan dan menangis di kamar.

Mereka tak pernah mendengar suara ayah tirinya, hanya suara ibu mereka

yang ketakutan. Kadang, pada pagi hari, wajah ibu mereka memarmemar.

Awalnya, dia berusaha menyembunyikan dari anak-anaknya

dengan bedak atau perban, atau cerita tentang terpeleset di kegelapan.

“Aku sangat ceroboh,” dia bilang.

Tetapi, memar-memar itu menjadi semakin buruk, dan bedak, perban

maupun cerita terpeleset tidak bisa menyembunyikan kebenaran. Hidung

ibu mereka patah, dan patah lagi. Bibirnya pecah dan bengkak. Gigi

depannya patah. Bahkan, ada hari-hari ibu mereka berjalan terpincangpincang

dan hari-hari ibu mereka tak mampu bangun dari tempat tidur. Bayi

yang dikandung ibu meninggal saat lahir. Hanya dalam satu tahun yang

PDF by Kang Zusi

menyiksa, ibu mereka yang cantik berubah menjadi wanita tua yang pincang.

Mereka tak lagi diundang ke acara komunitas. Para tetangga tak

pernah datang lagi. Para pemetik apel terbaik tak mau bekerja untuk

mereka. Kebun mereka yang dahulu pemah menghasilkan apel termanis di

daerah, mati pelan-pelan.

Lalu, ayah tiri mereka mulai mengejar mereka bertiga. Kedua adik

Emily dicambuk dengan tali kulit pengasah pisau cukur hingga pantat

mereka berdarah. Jika kaki keduanya lemah dan mereka tak bisa berdiri,

ayah tiri mereka mengikat kedua adik Emily ke batang pohon apel dan

mencambuk mereka lebih keras. Kedua adiknya dihukum karena tak mengerjakan

tugas mereka, atau mengerjakan dengan buruk, atau karena

tidak memberi makan ayam atau memberi makan ayam terlalu banyak,

atau karena membiarkan apel busuk bersama apel yang masih bagus,

atau membiarkan apel membusuk semua. Susah untuk mengingat hukumanhukuman

yang dijatuhkan itu untuk apa saja. Ayah tiri mereka tak

pernah bilang.

Hanya Emily yang tak tersentuh. Ketika dia merawat luka-luka

adiknya, keduanya bertanya mengapa? Mengapa dia tidak dicambuk?

Dia tak tahu. Ketakutan dan rasa bersalah merobek-robek hatinya sama

ganasnya.

Pada malam ulang tahunnya yang kelima belas, Emily sendirian di

kamar anak-anak. Adik-adiknya telah dikurung di gudang bawah

tanah selama seminggu, dihukum untuk kesalahan yang tak jelas.

Emily mendengar mereka masih menangis dua hari yang lalu. Ibunya

terbaring di ranjang, tak sadar karena infeksi luka yang lama tak sembuhsembuh.

Emily baru saja mengganti bajunya dengan baju tidur ketika dia

melihat ayah tirinya berdiri di pintu. Sejak kapan dia berdiri di sana?

Cukup lama untuk melihatnya berganti pakaian? Emily semakin sering

menemukan ayah tirinya berdiri di belakang dan mengawasinya saat

seharusnya dia tak di sana. Matanya melotot dan menyala, seakan-akan

terkena demam.

“Selamat malam,” kata Emily dan naik ke ranang. Ayah tirinya

meminta Emily untuk memanggilnya dengan nama kecil saja, Jed.

PDF by Kang Zusi

Meski berbahaya jika dia tak mematuhinya, Emily tidak bisa memaksa

diri memanggilnya hanya dengan Jed. Emily menutup matanya,

berdoa dalam hati semoga laki-laki itu segera pergi, seperti yang

dilakukannya sejauh ini. Tetapi kali ini, dia tidak pergi.

Ketika semuanya selesai, ayah tirinya memeluknya keras dan

menangis. Mengapa dia menangis? Emily tak tahu. Dia merasakan sakit

yang aneh. Tetapi, dia tak menangis. Dia tak bisa. Dia tak tahu

mengapa.

Dia pasti jatuh tertidur karena dia terbangun oleh cahaya lilin dan

wajah ibunya yang cacat mengerikan.

“Emily, Emily, Emilyku tersayang.” Ibunya menangis.

Emily melihat ke bawah dirinya dan melihat bahwa dia terbaring di

genangan darah. Apa dia terbunuh? Entah bagaimana kemungkinan itu

tidak membuatnya takut. Justru malah membebaskan.

Ibunya membersihkan Emily dengan handuk hangat dan memakaikan

pakaian minggu terbaiknya. Emily sudah lama sekali tak mengenakan

gaun itu karena mereka tak lagi pergi ke gereja. Gaun itu kini terlalu ketat

di pinggul dan dadanya, tetapi Emily senang mengenakannya. Ayahnya

dulu selalu bilang itu adalah gaunnya yang tercantik.

“Pergilah ke pertanian Parton,” kata ibunya. “Berikan surat ini kepada

Nyonya Parton.”

Emily memohon ibunya agar pergi bersamanya. menyelamatkan adikadiknya

dari gudang bawah tanah, lari bersama-sama dan tak pernah

kembali.

“Tom dan Walt,” kata ibunya, menggelengkarr kepala. “Aku harus

membayar dosa-dosaku. Tuhan ampuni aku, aku tak pernah ingin melukai

mereka yang tak berdosa. Semua karena cinta, aku dibutakan oleh cinta.”

Ibunya memakaikan mantel terbaiknya kepada Emily dan menyuruhnya

pergi. Saat itu sudah larut malam. Bulan sudah tenggelam. Hanya bintang

musim semi yang menerangi jalannya.

Ketika dia sampai ke tanah pertanian Parton langit di belakangnya

memerah. Emily heran mengapa fajar terbit di barat dan berbalik. Bola api

membakar rumahnya dan naik tinggi ke udara.

PDF by Kang Zusi

Tuan dan Nyonya Parton menampungnya. Mereka adalah pasangan tua

yang ramah dan tumbuh bersama kakeknya. Mereka mengenal ayahnya sejak

lahir hingga meninggal. Emily tidak pernah bertanya apa isi surat ibunya,

dan mereka tak pernah membicarakannya. Tetapi, tak lama setelah dia

tinggal bersama mereka, dia mendengar percakapan Tuan dan Nyonya

Parton secara tak sengaja.

“Aku yakin sejak dulu, itu bukan kecelakaan,” kata Tuan Parton.

“Ayah anak itu bisa memanjat seperti kera Afrika bahkan sebelum dia

bisa jalan.”

“Ibunya terlalu bernafsu,” kata Nyonya Parton. “Terlalu banyak

emosi dalam dirinya.”

“Dan dia juga terlalu cantik. Mereka bilang kecantikan ada di mata

yang melihat, dan itulah yang terjadi. Ketika kecantikan seorang wanita

terlalu menonjol sehingga setiap orang bisa melihatnya, itu tidak baik.

Pria itu lemah, mudah tergoda.”

“Bahaya itu juga ada di rumah kita,” kata Nyonya Patton. “Seperti

itu ibunya seperti itu pula anak perempuannya. Apa kamu memerhatikan

bagaimana pria memandangnya? Bahkan, putra-putra kita yang baik?”

“Dan siapa yang salah?” sambung Tuan Parton. “Dia masih anak-anak,

tetapi wajah dan tubuhnya seperti sundal Babylonia.”

“Kutukan itu menurun pada garis keluarga wanita,” kata Nyonya Parton.

“Apa yang bisa kita lakukan?”

Suatu malam, mimpi tentang kematian mengerikan membangunkan

Emily. Dia melihat bayangan bergerak-gerak dalam gelap, dan mengira

setan-setan pembalas dendam keluar dari mimpinya dan mengikutinya

di dunia nyata. Ketika bayangan-bayangan itu mendekat ke ranjangnya,

Emily mengenali mereka sebagai tiga anak laki-laki Nyonya Parton, Bob,

Mark, dan Alan.

Mereka bergerak sangat cepat, sebelum Emily bisa bangun atau

berbicara. Tangan mereka ada di mana-mana. Menekannya di ranjang,

membekap mulutnya, merobek-robek bajunya, menyentuhnya.

“Ini bukan salah kami,” kata Bob. “Ini salahmu.”

“Kamu terlalu cantik,” kata Mark.

PDF by Kang Zusi

“Kamu sudah melakukan ini sebelumnya,” kata Alan. “Kamu tak akan

rugi apa-apa.”

“Sumpal mulutnya,” kata Bob.

“Ikat dia,” sambung Mark.

“Jika kamu diam saja, kami tak akan melukaimu,” kata Alan.

Ini adalah salahnya, pikir Emily. Semuanya karena dia. Kematian

ayahnya, kehancuran ibunya, penderitaan adik-adiknya. Dia tidak

memberontak lagi. Mereka mendudukkannya dan melepas gaun tidurnya.

Mereka mendorongnya ke ranjang dan melepas celana dalamnya.

“Sundal,” kata Bob.

“Aku cinta padamu,” kata Mark.

“Jangan ribut,” kata Alan.

Pintu tiba-tiba terbuka dan kamar disinari cahaya

Tetapi, mata Nyonya Parton membelalak lebih terang dari sinar

lentera yang dibawanya.

“Bukan salah kami,” kata Bob.

“Keluar,” desis Nyonya Parton.

Tiga anak lelaki itu menghindar sejauh mungkin dari Emily dan segera

keluar kamar.

Ketika ketiganya telah pergi, Nyonya Parton mendekati ranjang. Dia

mengangkat tangannya dan menampar Emily begitu keras sehingga

telinganya berdenging dan matanya berkunang-kunang. Wanita tua itu

kemudian berbalik dan pergi tanpa sepatah kata pun.

Keesokan paginya, Tuan Parton kembali dari perjalanannya ke Albany.

Minggu depannya, Emily dikirim ke sekolah paroki di Rochester dengan

biaya dari penjualan tanah pertanian keluarganya. Tak seorang pun datang

menjenguknya. Pada masa libur, dia adalah salah satu anak yang selalu

tinggal di sekolah. Dia juga jarang keluar dari asrama. Dalam perjalanan

karyawisata, Emily selalu berusaha bersembunyi di antara temantemannya.

Namun, tetap saja dia tak bisa menghindari tatapan para pria.

Dia melihat mereka memandangnya dengan mata itu. Mata ayah tirinya.

Mata anak-anak Parton. Mata para pria itu mencengkeramnya.

Sekali, dalam sebuah kunjungan sekolah ke museum, seorang pria

muda mendekatinya. Pria muda itu sangat sopan. Dia membungkuk

PDF by Kang Zusi

kepada Emily dan berkata, “Kalau boleh saya lancang berbicara, Nona,

Anda lebih cantik dan indah dari semua harta koleksi museum ini.” Pria itu

terlihat terkejut ketika Emily lari. Emily tahu apa artinya itu. Ini bukan

kesalahan pria muda itu. Juga, bukan kesalahan para pria yang

memandanginya. Semua adalah kesalahannya. Ada sesuatu pada

penampilannya yang membuat para pria kehilangan kendali diri.

Apakah karena dia cantik, seperti yang para pria itu katakan? Mary Ellen

lebih cantik darinya. Semua anak perempuan di sekolah setuju akan itu.

Para pria juga menganggap Mary Ellen cantik dan memerhatikannya.

Kecuali jika Emily ada, mereka hanya melihat Emily.

Mary Ellen tidak menyukai Emily Tak seorang anak pun di sekolah

menyukainya. Jika bukan karena sang kepala sekolah, Zephaniah

Cromwell, hidup Emily di sekolah pasti sangat menderita. Cromwel l

melindunginya dengan kekuatan pribadinya yang menakut-kan dan katakata

para rasul.

“Jangan sampai seorang pun dari kalian menginginkan hal jahat

terjadi pada saudaramu,” kata Cromwell, matanya menonjol keluar

menakutkan.

“Amin,” anak-anak menjawab.

“Serigala dan domba akan makan bersama-sama, dan singa akan makan

jerami seperti banteng.”

“Amin.”

“Kamu akan mencintai tetanggamu seperti mencintai dirimu sendiri.”

“Amin.”

“Mary Ellen.”

“Ya, Pak?”

“Aku tidak mendengarmu.”

“Saya berkata ‘amin’, Pak.”

“Aku mendengarmu di telinga, bukan di hati. Katakan dengan seluruh

jiwamu, Nak. Katakan dengan sepenuh hati kau akan terselamatkan!

Jika kauucapkan hanya di mulut, kau akan dilaknat selamanya!” Suara

Cromwell akan semakin keras dan keras, pembuluh darah di dahi dan

lehernya akan menggelembung, dan tangannya bergerak seperti kepakan

sayap malaikat penuntut balas. “Mary Ellen, katakan ‘amin’!”

PDF by Kang Zusi

“Amin, Pak! Amin.”

“Bukankah Tuhan menciptakanku di rahim juga menciptakan

saudaraku?”

“Amin!” balas anak-anak. Suara mereka juga menjadi semakin

keras.

“Bukankah kita semua berasal dari satu Bapa? Bukankah Tuhan yang

satu menciptakan kita semua?”

“Amin!”

“Lihat, betapa indah dan menyenangkan jika semua saudara tinggal

dalam kesatuan!”

“Amin!”

Cromwell tidak pernah berdiri terlalu dekat kepadanya. Dia tak

pernah mencoba menyentuhnya. Dia tak pernah bilang kalau Emily cantik.

Dia tak pernah memandangnya seperti pria lain. Matanya akan melotot dan

pembuluhnya menggelembung, seperti pria lain tetapi hanya saat dia

memikirkan kata-kata rasul. Dia adalah satu-satunya pria yang

dipercaya Emily karena dialah satu-satunya pria yang tidak menginginkannya.

Hari itu, di museum, Cromwell-lah yang mencari Emily setelah dia

lari dari pujian pria muda asing yang tampan. Cromwell menemukannya

bersembunyi di sebuah pojok di antara pameran artefak dari tanah Asia

yang jauh.

“Berdirilah Nak, berdiri.”

Dia tidak memaksanya berdiri. Ketika Emily tidak mampu langsung

berdiri, dia mengalihkan perhatian pada artefak yang dipamerkan.

“Jepang,” kata Cromwell. “Tanah penyembah berhala yang penuh

dengan pembunuh, kaum musyrik dan pezina.” Nada suaranya mengejutkan

Emily. Meski kata-katanya keras, Cromwell mengucapkannya dengan

kasih bukan kutukan. “Mereka siap untuk ditunjukkan jalan yang benar,

Emily, mereka sudah siap untuk mendengar Firman Sejati, aku tahu itu. Aku

akan mengagungkan nama Tuhan; kemenangan dan kebesaran hanya

untuk Tuhan.” Dia memandang Emily menunggu.

“Amin,” kata Emily.

PDF by Kang Zusi

“Dengarkanlah suara Tuhan, Oh semua bangsa dan siarkanlah di

negeri-negeri yang jauh.” “Amin.”

“Ini adalah negeri jauh seperti yang dinyatakan dalam perjanjian lama.

Negara Jepang. Tak ada negeri yang lebih jauh dari ini.”

Emily bangkit dan pelan-pelan berdiri di sisi Cromwell. Di dinding

terpampang peta, bukan peta daratan, melainkan peta Lautan Pasifik.

Di sana, di pojok sebelah kiri, di pinggir lautan, ada empat pulau besar dan

pulau-pulau kecil. Tulisan “Jepang” terbentang di pantai timur pulaupulau

itu.

“Kerajaan ini terisolasi selama dua setengah abad,” kata Cromwell, “hingga

Komodor Perry membuka paksa gerbang negeri itu lima tahun lalu. Pendeta

Tuttle dari Firman Sejati telah membuka rumah misi di sana, di bawah

perlindungan salah satu bangsawan agung. Tahun depan, aku akan

ditahbiskan dan mengikutinya, untuk membangun satu rumah misi lagi di

sana.”

“Anda akan meninggalkan Rochester?” hati Emily mencelos.

“Namaku akan besar di antara orang-orang kafir, sabda Tuhan.” Ketika tak

terdengar “amin” dari Emily, Cromwell melotot kepadanya.

“Amin,” bisik Emily. Kalau Cromwell tidak ada, semuanya akan mulai

kembali. Dia bisa tahan kebencian anak-anak perempuan. Kekejaman

yang mereka rencanakan bukanlah apa-apa. Tetapi, para pria. Siapa yang bisa

menahan mereka jika Cromwell pergi?

Cromwell tak biasanya membiarkan amin yang diucapkan dengan

lemah tanpa teguran. Mungkin kegelisahan Emily yang tampak nyata

membuat dia berbaik hati kali ini. Dia berhenti di depan sejumlah bonekaboneka

kecil.

“Ini adalah wanita dari negeri itu.”

Melalui mata yang kabur karena air mata, Emily melihat sosok-sosok

sehalus boneka porselen, rambut yang disanggul tinggi dengan tatanan

rumit, mengenakan gaun berlengan lebar dlan ikat pinggang lebar yang

menekan tubuh. Mata yang panjang dan sipit memandang dari wajah yang

bulat seperti anak-anak dan dangkal.

Emily menunjuk ke salah satu boneka wanita yang senyum tipisnya

menampakkan mulut yang gelap tak bergigi. “Dia tak punya gigi, Pak.”

PDF by Kang Zusi

“Punya, Emily Wanita bangsawan di sana menghitamkan gigi mereka.”

Emily membaca plakat yang menjelaskan boneka-boneka figur Jepang

itu. Judulnya, “Wanita-wanita Tercantik dari kota Yokohama”. Ketika dia

berbalik, dia melihat Cromwell memandangnya tajam tak berkedip.

“Di Jepang, paling bagus kamu dianggap biasa-biasa saja,” katanya.

“Lebih mungkin kamu dianggap mengerikan. Rambut emasmu, mata

birumu, tinggimu, ukuranmu, dan bentuk tubuhmu. Semua tak sesuai,

sangat, sangat tak sesuai.”

Emily memandang pada mata sipit sosok-sosok itu, pada gigi mereka

yang dihitamkan, pada tubuh datar yang tidak memunculkan tonjolan

feminin seperti kutukan yang menimpanya. Cromwell benar. Tidak ada

wanita yang sangat besar perbedaannya di dunia ini kecuali Emily dan

wanita tercantik dari Yokohama.

“Ajaklah saya bersama Anda,” kata Emily. Dia tak tahu mana yang

lebih membuatnya terkejut. Permohonannya yang keluar dari mulutnya

begitu saja atau reaksi Tuan Cromwell yang tenang-tenang saja.

“Aku sudah memikirkannya lama,” katanya mengangguk. “Kita

disatukan bersama untuk satu tujuan, kamu dan aku. Dan tujuan itu,

menurutku adalah Jepang. Kita akan mengusung Firman Sejati dan

menjadi teladan dari firman itu melalui perilaku kita sendiri. Jika kamu

memang benar-benar menginginkannya, aku akan menulis pada walimu

segera.”

“Saya benar-benar menginginkannya, Pak,” kata Emily.

“Di luar kelas kamu harus memanggilku Zephaniah,” lanjut Cromwell.

“Sangat aneh dan terasa jauh jika seorang yang bertunangan memanggil

calon suaminya dengan `Pak’.”

Dan itulah yang terjadi. Tanpa bermaksud, Emily telah menyerahkan

dirinya. Tuan dan Nyonya Parton dengan mudah memberikan restu

mereka. Emily dan Cromwell setuju untuk menikah di rumah misi mereka

yang baru di daerah kekuasaan Bangsawan Akaoka di Jepang. Emily tidak

memedulikan pernikahan yang akan dia lakukan, bahkan pikiran tentang

pernikahan itu tak mengganggunya sama sekali. Tidak ada cara lain

baginya untuk pergi ke Jepang. Pertunangan, perjalanan yang akan dia lakukan,

PDF by Kang Zusi

dan tujuan mereka menjadi harapannya yang paling berharga, harapan untuk

berlindung dari kutukan kecantikannya.

Usia Emily tujuh belas tahun kurang dua bulan ketika Bintang

Bethlehem berlayar ke barat dari San Francisco. Dia hanya membawa tiga

barang dan itu adalah segalanya. Buku Ivanhoe ibunya, kalung loketnya,

dan hati penuh dengan beban masa lampau.

Emily kecewa mendengar suara sepatu boot Stark yang kian menjauh.

Dia berharap pria itu akan menemaninya. Percakapan dengan Cromwell

diselingi dengan periode kesunyian panjang karena dia masih sering

pingsan. Ketika tak sadar, seperti saat ini, tidak ada hal lain yang bisa

mengalihkan perhatian Emily dalam situasi yang membuatnya putus harapan.

Ini adalah pria yang seharusnya menjadi suaminya. Karena dia, Emily

ada di sini, di tanah asing, yang secara ajaib menunjukkan berbagai tanda

kebebasan seperti dalam doanya. Selama lima hari di istana init tak seorang

pria pun yang melihatnya dengan pandangan mata yang menakutkan. Di

setiap wajah yang ditemuinya, pria atau wanita, Emily hanya menemukan

ekspresi meremehkan, iba dan jijik. Persis seperti yang dijanjikan

Cromwell. Mereka menganggapnya buruk dan mengerikan.

Tetapi, dia menemukan keselamatan hanya untuk kehilangan lagi.

Jika Cromwell meninggal, dia juga harus pergi. Kembali ke Amerika.

Prospek itu membuatnya ngeri. Di Amerika—dia tidak menganggap

negara itu sebagai rumahnya—dia tak punya tempat tujuan. Dia tak bisa

kembali ke rumah misi di San Francisco. Karena beberapa minggu sebelum

berlayar, situasi di sana menjadi semakin berbahaya. Selusin misionaris

baru tiba dari Boston dan bersiap untuk dikirim ke Cina. Beberapa di antara

mereka menunjukkan ketertarikan besar kepada Emily. Awalnya, mereka masih

bersikap sopan. Tetapi, itu tak bertahan lama. Memang tak pernah bertahan

lama. Akhirnya, wajah mereka menunjukkan rasa lapar saat melihatnya, dan

mata mereka menjelajahi tubuhnya. Emily sering tertabrak, tersentuh, atau

terdesak di lorong, di ruang makan, saat pergi ke kapel, atau kembali lagi.

Perintah Firman Sejati atau fakta bahwa dia bertunangan dengan

Cromwell, dan bahkan sikap dinginnya tak mampu menjadi pertahanan diri

PDF by Kang Zusi

yang efektif. Tidak untuk waktu yang lama. Cepat atau lambat, kendali diri

mereka akan jebol. Dia bisa melihatnya di mata mereka.

Cromwell mengeluh dalam tidurnya. Emily memegang tangannya dan

menekannya lembut. Senyumnya menahan air mata.

“Tuhan memberkatimu, Zephaniah. Kamu telah melakukan yang

terbaik. Tak seorang pun yang bisa melakukan lebih dari itu.”

6. Kematian Lord Genji

Sohaku sudah tak peduli lagi. Ketika Genji minta ditinggalkan sendiri

dengan Shigeru di pondok meditasi rahib kepala, Sohaku hanya berkata

“Tuan,” membungkuk dan pergi. Kemungkinan bencana yang tak bisa

dihindarkan memunculkan rasa damai dalam dirinya yang tak bisa dia

dapatkan selama enam bulan belajar Zen. Di tempat ketika generasi demi

generasi rahib telah mencapai satori, pencerahan yang merupakan tujuan

akhir dalam ajaran Zen, seorang pesolek yang kekanak-kanakan dan

seorang maniak pembunuh akan menentukan masa depan klan

Okumichi. Mungkin keduanya akan keluar hidup-hidup. Mungkin juga

tidak. Itu sama sekali tak penting. Mungkin mereka akan hidup hari ini,

esok, dan hari-hari seterusnya. Tetapi, tak lama lagi, suatu hari Genji dan

Shigeru akan mati. Tidak ada kemungkinan lain. Yang masih menjadi

masalah adalah bagaimana cara mereka mati dan siapa yang akan

membunuh.

Sohaku merasakan rasa dingin yang aneh di tulang belulangnya saat

dia berjalan menjauh dan pondok meditasi. Ini pasti gejala suatu

penyakit, mungkin serius. Kemungkinan itu membuatnya tersenyum.

Apa lagi metafora yang tepat dari situasi yang benar-benar menyedihkan

ini? Mungkin dia terjangkit kolera, kemunculan kembali epidemi yang

mewabah di desa-desa sekitar beberapa bulan lalu.

Tidak, lebih buruk lagi. Cacar bernanah? Lalu, tiba-tiba dia sadar apa

sebenarnya keanehan yang dia rasakan dan mengapa keanehan ini

menyedot seluruh panas dari inti diririya.

PDF by Kang Zusi

Untuk pertama kalinya, langkahnya di kerikil jalan setapak tak

mengeluarkan suara. Tanpa mencoba, dia berhasil mencapai keahlian

yang selama ini tak berhasil dicapai anak buahnya yang paling ahli

sekalipun. Tubuhnya mengetahui ini lebih dahulu daripada pikirannya,

dan menemukan sebuah kesadaran lebih dalam yang merasuk hingga ke

tulang sumsum. Dalam firasat sekejap mata, Sohaku melihat sang calon

pembunuh yang tak pernah dia pikirkan selama ini.

Dirinya sendiri.

Jika klan Okumichi hancur, seperti yang dia yakin akan terjadi,

tanggung jawab utama Sohaku adalah menjamin kelangsungan hidup

keluarganya. Apabila dia tidak berpindah dan menjadi pengikut

bangsawan agung lain, dia dan keturunannya akan dimusnahkan bersama

mereka yang bertahan pada kesetiaan kuno mereka. Sohaku

mempertimbangkan berbagai kemungkinan. Satu-satunya bangsawan

yang bisa menjamin terjadinya transisi yang mulus pada zaman yang

penuh ketidakpastian ini adalah Shogun. Atau, orang-orang di sekitarnya.

Pemegang resmi jabatan Shogun sekarang adalah Iemochi, anak laki-laki

berusia empat belas tahun yang sakit-sakitan. Tentunya, orang yang

paling tepat dihubungi adalah Kawakami, Kepala Polisi Rahasia.

Sebelum dia melakukan itu, Sohaku harus menimbang kesetiaan anak

buahnya. Siapa yang bisa dia percaya? Siapa yang harus dia lenyapkan?

Dan, bagaimana dengan teman-teman lamanya di Istana Akaoka di Edo,

Saiki dan Kudo? Dia akan mengungkapkan rencananya kepada mereka

berdua di kesempatan pertama. Bahaya akan berkurang jika mereka

berdua bergabung dengannya.

Jika saja Lord Kiyori masih menjadi junjungan mereka, pikiran

seperti tadi tak akan masuk ke kepala Sohaku. Tetapi, pejuang tua itu

telah mati.

Sohaku melihat masa depan sejelas seperti sebuah ramalan. Saiki dan

Kudo akan bergabung dengannya atau mereka akan mati.

Di langkah selanjutnya, seluruh berat badan Sohaku bertumpu di

kakinya yang berjalan di atas kerikil. Kerikil-kerikil itu berbunyi karena

langkah kakinya. Terhanyut pada kejadian yang akan terjadi. Sohaku tak

mendengar apa pun.

PDF by Kang Zusi

Setelah menuangkan teh untuk Lord Genji dan Shigeru, Hide

membungkuk dan mulai mundur keluar dari pondok meditasi rahib

kepala. Menurutnya, bukan gagasan yang bagus membiarkan

junjungannya hanya berduaan dengan Shigeru, apalagi kini pria itu

bersenjata lagi. Tentu saja, bahkan tanpa pedang pun,

Shigeru dengan mudah bisa mengalahkan Genji. Jadi, senjata tak

akan banyak membuat perbedaan. Hal itu membuat Hide bertanyatanya—

seperti yang sering dia lakukan—apakah junjungannya yang

muda itu memang ceroboh dan sembrono, atau brilian dan penuh tekad.

Hanya dalam satu jam, Shigeru telah mengalami perubahan yang hampir

tak masuk akal. Dia kembali berperilaku seperti guru bela diri klan

seperti saat sebelum dia menjadi gila. Bagaimana itu bisa terjadi?

Satu-satunya hal yang berubah menurut pandangan Hide hanyalah

Genji datang dan mengembalikan pedang Shigeru kembali. Hal itu susah

dimengerti dan bahkan terlihat mustahil bagi orang dengan penge:ahuan

terbatas seperti Hide. Keputusan yang bisa dia ambil hanyalah

menentukan siapa yang harus dia patuhi, lalu patuh tanpa bertanya-tanya

lagi. Sejak kematian bangsawan agung tua, ada masalah yang selalu

mengganggu pikiran Hide. Siapa sebenarnya yang memimpin klan

sekarang? Lord Chamberlain Saiki, sang kepala rumah tangga? Kudo,

kepala keamanan? Sohaku, komandan kavaleri? Atau sang bangsawan

muda? Itu hampir-hampir tak mungkin. Pasti dia hanyalah sekadar

simbol. Tetapi, lihat sekarang, di sini dia terlihat sangat santai

menghadapi pria yang baru saja membantai lebih dari selusin

keluarganya. Di permukaan, itu terlihat sebagai keputusan yang sangat

buruk. Tetapi, dalam kondisi tertentu, tindakan itu justru merupakan

keputusan berdasar penilaian yang paling jernih. Jika Lord Genii tahu

apa yang akan terjadi, sama sekali tidak ada risiko dalam tindakannya.

Dan, jika dia tahu apa yang akan terjadi, tak ada keraguan bahwa dialah

yang harus diikuti karena adakah yang bisa menandingi seorang

junjungan yang punya kemampuan melihat masa depan?

“Duduklah bersama kami sebentar,” kata Lord Genji.

Dia mengisyaratkan agar Hide mengambil cangkir.

PDF by Kang Zusi

Hide membungkuk dalam-dalam, mengambil cangkir dari nampan,

dan tetap membungkuk saat Lord Genji mengisinya. Bahwa sang Lord

sendiri mau menuangkan teh untuknya benar-benar luar biasa. Hanya

mereka yang ada di lingkaran paling dalam diberi perlakuan yang sangat

intim seperti ini oleh tuan mereka.

“Terima kasih, Tuanku.”

“Tindakanmu selama perjalanan ke sini patut diteladani,” kata Genji.

“Aku terkesan oleh keahlian dan keberanianmu. Tetapi, utamanya aku

terkesan pada sikapmu yang tegas dan cepat dalam membuat keputusan.

Di zaman yang serba tak menentu ini, seorang samurai yang tidak raguragu

adalah benar-benar samurai sejati.”

“Saya tak pantas dipuji seperti itu,” kata Hide, membungkuk lagi.

Meski dia mengucapkan kata-kata yang menunjukkan kerendahan hati,

dia tetap merasakan timbulnya rasa bangga di dadanya.

“Kamu tak berhak berkata seperti itu,” kata Shigeru. “Ketika tuanmu

bicara, kamu hanya boleh diam, berterima kasih, meminta maaf, atau

patuh sesuai dengan perintahnya. Itu saja.”

“Ya, Tuan. Ampuni kelancangan saya, Lord Genji. Saya memang

lebih pantas di kandang kuda daripada berada di hadapan Anda.”

Shigeru memukul lantai sedemikian keras sehingga dinding pondok

bergetar. “Apa yang baru aku bilang? Ucapkan terima kasih, maaf, diam,

dan patuh. Apa kamu tidak dengar? Aku tak bilang apa-apa tentang

memberikan alasan. Jangan pemah membuat alasan. Jangan pernah.

Mengerti?”

“Ya, Tuan.” Merasa salah, Hide menekankan kepalanya ke lantai.

Lord Genji tertawa. “Tidak perlu terlalu resmi begitu, Paman. Kita

hanyalah tiga teman yang minum teh bersama dan mendiskusikan

rencana masa depan.”

Langkah-langkah tergesa dengan cepat menlekat ke pintu pondok.

“Tuanku,” terdengar suara tegang dari luar, “apakah semua baik-baik

saja?” Pukulan keras Shigeru di rupanya membuat para samurai yang

berjaga berdatangan ke depan pintu pondok dengan pedang terhunus.

“Ya, ya. Memangnya kenapa? Tinggalkan kami.”

“Ya, Tuanku.”

PDF by Kang Zusi

Lord Genji menunggu hingga langkah-langkah samurai di luar

menghilang sebelum mulai lagi.

“Seperti yang aku katakan tadi, tindakanmu telah mendorongku

untuk mengambil keputusan.” Genji memandang tajam kepada Hide dan

berhenti bicara. Dia diam begitu lama sehingga Hide mulai bertanyatanya

apakah junjungannya mengharapkan respons darinya. Jika ya,

apakah respons itu berupa terima kasih atau permintaan maaf? Dia

melirik sekilas ke Shigeru, berharap mendapatkan petunjuk, tetapi paman

junjungannya yang menakutkan itu hanya duduk diam, matanya setengah

terpejam seakan-akan sedang bermeditasi. Hide terselamatkan dari

kesalahan lagi ketika akhirnya Lord Genji berbicara tepat saat dia akan

membuka mulut untuk berterima kasih. “Pasti kamu sudah mendengar

kabar tentang kemampuanku meramal.”

“Ya, Tuanku.”

“Apa yang akan kukatakan sekarang harus kamu rahasiakan. Jangan

ceritakan pada siapa pun.”

“Ya, Tuanku.”

“Aku memang punya kemampuan meramal.” Angin musim dingin

menerobos masuk ke paruparu Hide. Dia kehilangan kata-kata. Kabar

bahwa Lord Genji bisa melihat masa depan memang tidak mengejutkan.

Sebagian besar orang di klan Okumichi percaya bahwa yang menjabat

sebagai Bangsawan Agung Akaoka pasti punya kemampuan itu, dan

Hide juga percaya itu. Seperti yang lain, kepercayaannya sempat

terguncang hebat ketika Shigeru meracuni Lord Kiyori dan mengamuk.

Kalau Lord Kiyori bisa melihat masa depan mengapa dia membiarkan itu

terjadi? Temannya, Shimoda, mengembalikan kepercayaan pada

kemampuan meramal sang unjungan dengan mengatakan bahwa tak

seorang pun tahu apa lagi yang dilihat Lord Kiyori. Meski tak bisa

dibayangkan, mungkin alternatifnya memang lebih buruk. Dan,

bukankah sudah sering terbukti bahwa kemenangan besar sering muncul

dari bencana terburuk?

Misalnya, berdirinya Dinasti Akaoka sendiri, enam ratus tahun lalu

yang dipicu oleh pertanda dari burung gereja. Tidak, yang paling

PDF by Kang Zusi

mengejutkan Hide adalah junjungannya membagi rahasia terbesar Klan

itu kepadanya, salah satu pengikut dari tingkat terendah.

Akhirnya, setelah mampu menarik napas, terlalu terkejut dengan

perkataan junjungannya sehingga dia sempat malu oleh suara tarikan

napasnya, Hide membungkuk dalam-dalam hingga ke lantai. “Lord

Genji, hamba merasa sangat terhormat dengan kepercayaan Anda.

Hamba tidak akan mengecewakan Anda.”

“Aku tahu kamu tak akan mengecewakanku, Hide. karena aku telah

melihat masa depanmu.”

Badan Hide terguncang, terlalu terkejut atas apa yang didengarnya.

Hanya disiplin yang didapatnya dari latihan bela diri selama ini yang

mencegahnya kehabisan napas dan terguling pingsan.

“Kamu akan setia padaku hingga mati,” lanjut Lord Genji. “Karena

aku tahu tidak ada orang lain yang lebih bisa dipercaya, aku

mengangkatmu sebagai kepala pengawalku. Aku akan

mengumumkannya pada pertemuan resmi setelah aku dan pamanku

mendiskusikan beberapa masalah lain. Sementara itu, pertimbangkan

siapa yang akan kamu angkat sebagai asistenmu. Mereka akan

membantumu memilih anak buah.”

Dada Hide sesak oleh emosi. Pada masa yang paling berbahaya ini,

ketika nasib bangsa sekaligus nasib klan dalam keraguan, junjungannya

telah memilihnya di antara lusinan pengikut lain yang lebih ahli dan

senior—dirinya, Hide, si badut, tukang judi, dan pemabuk-untuk menjadi

perisainya! Dia tak dapat menahan diri lagi. Air mata terima kasih

menetes ke tikar pelapis lantai, menetes deras seperti awal hujan musim

dingin.

“Terima kasih, Lord Genji.”

Hide meninggalkan pondok meditasi dalam keadaan linglung. Dia

duduk di antara para samurai yang menunggu kemunculan Lord Genji.

Tak seperti biasanya, dia tidak tersenyum atau bertukar lelucon dengan

teman-temannya. Hidupnya berubah dengan tak terduga, tiba-tiba dan

tak bisa diulang kembali dalam satu jam ini.

Setia hingga mati.

PDF by Kang Zusi

Ketakutan terbesar Hide adalah bahwa dia akan membuat pilihan

yang salah dalam krisis yang rumit dan mengkhianati tuannya, bukan

karena kepengecutan, melainkan karena kebodohan. Kini, dengan

keyakinan baru ini, dia merasakan dirinya lebih kuat dan teguh.

“Kamu tadi di sana lama sekali,” kata Shimoda. “‘Apa yang mereka

inginkan?”

“Bukan wewenangku untuk bicara,” jawab Hide. Tenggelam dalam

pikirannya lagi, dia tahu dia telah menemukan asisten pertamanya. Meski

keahlian pedang Shimoda biasa-biasa saja dan payah di perkelahian

tanpa senjata, tak seorang pun samurai di klan bisa mengalahkannya

dalam menggunakan busur dan panah, senapan atau pistol, baik diam

ataupun di atas kuda. Dan yang juga penting, dia jujur dari dalam

hatinya. Jika dia berjanji, dia pasti akan menepatinya meski dia harus

kehilangan nyawanya.

Shimoda duduk kembali, terkejut oleh diamnya Hide dan lebih

terkejut lagi oleh sikapnya yang serius. Apa yang terjadi di dalam tadi?

Temannya yang periang dan santai tiba-tiba berubah menja diorang yang

lain sama sekali.

“Jadi, ada apa?” Taro duduk di samping Shimoda. Dia mengusap

rambutnya yang baru tumbuh. Seperti rahib temporer lainnya, dia kini

berhenti mencukur rambut setelah Lord Genji berkunjung ke kuil. Itu

adalah sinyal yang telah lama ditunggu untuk kembali ke kewajiban

mereka semula sebagai samurai. Mereka semua telah berganti pakaian

dan kembali mengenakan dua pedang di ikat pinggangnya. Tanda rahib

yang masih ada adalah kepala mereka yang gundul. Itu memang ciri

memalukan, dan akan lebih memalukan lagi saat mereka kembali ke

Edo. Tatanan rambut samurai adalah bagian penting dari

perlengkapannya. Tetapi, tak ada yang bisa dilakukan kini. Terkadang

memang perlu untuk menahan diri pada hal yang tak tertahankan. Taro

mengusap kepalanya lagi. “Dia bilang apa padamu?”

“Tidak bilang apa-apa,” kata Shimoda kesal.

Taro terkejut. “Aku pikir kita berteman. Jika dia bilang padamu,

kamu harusnya bilang padaku.”

“Aku sudah bilang,” kata Shimoda. “Dia nggak bilang apa-apa.”

PDF by Kang Zusi

“Yang benar?” Taro memandang ke belakang Shimoda. Dia melihat

seorang samurai duduk dengan punggung tegak, mata setengah terpejam,

dalam kondisi tenang waspada, sediam patung Buddha. Taro harus

melongok dua kali hingga dia benar-benar yakin samurai itu adalah Hide.

Genji tersenyum kepada Shigeru. “Apa Paman tak akan bertanya?”

“Tanya apa?”

“Yang sudah jelas.”

“Baiklah,” kata Shigeru. “Kenapa kamu mengatakan hal-hal seperti

itu pada Hide?”

“Karena itu memang benar?”

Genji dan Shigeru tertawa.

Tiba-tiba serius, Shigeru berkata, “Kurasa kamu berbuat kesalahan.

Hide itu ceroboh dan tak berguna. Semua teman seangkatannya telah

mempunyai tanggung jawab lebih besar. Hanya dia sendiri yang masih

menjadi prajurit biasa dan setara dengan samurai sepuluh tahun di

bawahnya. Terlebih lagi, pengangkatannya akan menyinggung Sohaku.

Dia adalah kepala kavaleri sekaligus kepala pengawal di masa ayahku

dan tentu dia berharap akan terus menjadi kepala pengawalmu.”

“Kata-kata Anda sangat bijak,” kata Genji, “dan itu bisa dibilang

mengherankan. Belum ada sejam lalu, Anda telanjang bulat, berlumuran

kotoran sendiri, dan memonyong-monyongkan wajah seperti kera

terlatih. Orang bisa saja bertanya-tanya bagaimana bisa terjadi perubahan

yang begitu drastis dan apakah perubahan ini bisa dipercaya. Bagaimana

jawaban Paman?”

Wajah Shigeru memerah dan dia hanya memandangi lantai.

“Ah, sudahlah, kita bisa membicarakan itu nanti. Aku punya

beberapa gagasan tentang masalah yang akan aku ceritakan. Mungkin

Paman akan menganggapnya sebagai sebuah kehormatan. Sedangkan

mengenai Hide, Paman memang benar tentang masa lalunya. Dan

memang, banyak orang dengan kondisinya akan hancur jika mendapat

tanggung jawab sebesar itu. Tetapi, aku percaya sebaliknya akan terjadi

pada Hide.”

Shigeru memandang bertanya pada Genji. “Kamu percaya? Jadi,

kamu tidak tahu?”

PDF by Kang Zusi

“Mengapa aku harus tahu?”

“Di setiap generasi keluarga kita, ada satu orang yang mewarisi

kutukan bisa meramal. Ayahku adalah orang di generasinya, aku di

generasiku. Di generasimu pasti kamu. Tidak ada orang lain lagi.”

“Memang sekarang tak ada lagi yang lain,” kata Genji. “Tetapi, dulu

ada tiga lagi. Anak-anakmu, sepupuku. Salah satu dari mereka bisa saja

menjadi pewaris itu.”

Shigeru mencoba tidak mengingat kapan terakhir kalinya dia melihat

anak-anaknya. Dia menggeleng. “Mereka telah terbebaskan. Mereka

melihat tak lebih dari apa yang di hadapan mereka dan di mimpi kanakkanak

mereka.”

Genji berkata, “Ayahku adalah pemabuk dan pecandu opium. Dia

bisa saja punya anak haram tanpa mengetahuinya.”

Shigeru kembali menggeleng. “Kuantitas alkohol dan opium yang

dikonsumsi ayahmu menekan hasrat seksual. Merupakan hal yang luar

biasa kalau dia bisa punya kamu.” Shigeru tersenyum meski matanya

terlihat sedih. “Tidak perlu menyangkal lagi. Kamu tahu.”

“Paman yakin tidak ada orang lain?” tanya Genji. “Kakek sangat kuat

bukan? Apakah mungkin Paman punya saudara yang tak Paman ketahui?

Dan anak-anaknya?”

“Ayahku memang kuat, ya, tetapi dia juga sangat waspada. Dia tidak

akan berbuat apa pun yang bisa mengeluarkan kutukan ini dari garis

keluarga.”

“Paman selalu mengatakan ‘kutukan’. Biasanya hal itu kan dianggap

anugerah.”

“Apa kamu juga berpikir begitu?”

Genji mengeluh dan bersandar di tumpuan lengan. “Mempunyai

kemampuan itu tidak membuat kakek bahagia. Tidak mempunyainya

membuat ayahku hancur. Dan lihat apa yang terjadi pada Anda, Paman.

Tidak, Paman benar, itu bukan anugerah. Aku dulu berharap ada orang

lain yang menanggung beban ini. Sampai sekarang aku juga tetap

berharap.”

PDF by Kang Zusi

“Aku tak mengerti,” kata Shigeru. “Jika kamu punya kemampuan itu,

kamu akan tahu. Kamu tak bisa, tetapi pasti tahu. Bagaimana kamu

berharap bisa menghindarinya?”

“Kakek berkata aku mempunyai kemampuan itu,” kata Genji. “Selain

itu, aku tak punya bukti kuat lainnya.”

“Kamu belum mendapat penglihatan dan pertanda?”

“Kuharap tidak,” kata Genji.

Mereka berdua berjalan-jalan dalam hutan di luar istana, mencari

jamur shiitake yang tumbuh di bawah pepohonan tua ketika Lord Kiyori

mengatakan hal itu kepadanya.

“Aku tak ingin,” kata Genji. “Berikan saja pada orang lain.”

Kakeknya berusaha mempertahankan ekspresi tegas, tetap dia tidak

berhasil. Genji melihat mata pria tua itu bersinar geli.

“Kamu bicara seperti bayi,” kata kakeknya. “Ini tidak ada

hubungannya dengan ingin atau tidak ingin.”

“Tetap saja aku tak ingin,” kata Genji. “Jika ayahku tidak bisa,

berikan saja pada Paman Shigeru.”

“Itu bukan punyaku untuk diberikan atau disimpan,” kata kakeknya.

“Jika saja itu memang punyaku….”

Genji menunggu, tetapi Lord Kiyori tidak, menyelesaikan

perkataannya. Matanya juga berhenti bersinar. “Shigeru telah

mendapatkannya. Pada gilirannya nanti, kamu juga akan

mempunyainya.”

“Jika paman sudah mempunyainya, kenapa aku juga? Katanya yang

punya kemampuan itu hanya satu orang saja di satu waktu.”

“Satu di tiap generasi,” kata Lord Kiyori. “Aku di generasiku,

Shigeru di generasinya, dan kamu di generasimu.”

Genji duduk di rerumputan dan mulai menangis. “Kenapa, Kakek?

Kesalahan apa yang dilakukan oleh leluhur kita?”

Lord Kiyori duduk di sampingnya dan melingkarkan tangan di

bahunya. Sentuhan itu mengejutkan Genji. Kakeknya biasanya tidak

menunjukkan kasih sayang sebebas itu.

“Satu leluhur kita yang bertanggung jawab,” kata Lord Kiyori, “yang

lainnya termasuk kita hanya menanggung karmanya. Hironobu.”

PDF by Kang Zusi

Genji mengusapkan kemeja kimononya di wajahnya. Ia, menghapus

air mata dan menyedot ingus agar tidak mengotori wajahnya.

“Hironobu adalah leluhur klan yang pertama. Dia mendirikan Dinasti

Akaoka ketika berusia enam tahun. Besok aku sudah enam tahun.”

“Ya, Lord Genji.” Lord Kiyori membungkuk kepadanya.

Genji tertawa melihat godaan kakeknya, air mataa segera terlupakan.

“Apa yang dilakukan Hironobi? Aku pikir dia adalah pahlawan besar.”

“Tak seorang pun yang bisa menghindar dari semua kemungkinan.”

Kakeknya sering mengatakan hal-hal yang tidak dimengerti Genji. Kini,

dia melakukannya lagi. “Kelahiran dan kematian terjadi dari waktu ke

waktu. Ada beberapa kelahiran kembali yang sebaiknya tidak terjadi.

Tetapi, kita tak pernah tahu itu hingga semuanya terlambat. Hironobu

jatuh cinta pada wanita yang salah. Seorang cucu penyihir.”

“Lady, Shizuka? Aku pikir dia seorang putri.”

Lord Kiyori tersenyum kepadanya dan mengatakan apa yang baru dia

ucapkan. “Tak seorang pun yang bisa menghindar dari semua

kemungkinan.” Meski kakeknya mengatakannya dua kali, hal itu tidak

membantu pemahaman Genji. “Dia adalah seorang putri. Dia juga cucu

seorang penyihir. Jika dia tetap tinggal di biara seperti seharusnya, dia

tak akan punya masalah dan tak seorang Okumichi pun yang punya

kemampuan melihat masa depan, meramal, atau menderita karena

mengetahui apa yang akan terjadi. Tentu saja, kalau dia tak keluar biara

mungkin saat ini tak ada klan Okumichi. Penglihatan dan pertanda telah

menyelamatkan klan kita berkali-kali. Kebaikan

dan kejahatan memang bukan dua hal yang terpisah.”

Lord Kiyori membungkuk ke arah kubah pemakaman, yang ada di

menara timur laut Kastel Awan Burung Gereja. Dari hutan, kubah itu tak

terlihat, tetapi mereka berdua tahu di mana letaknya. Mereka harus tahu

untuk berjaga-jaga jika ada serangan. Genji dengan hormat mengikuti

teladan kakeknya.

“Jika dia seorang penyihir, mengapa kita membungkuk padanya,

Kakek? Apa tidak sebaiknya kita menyebar abunya ke empat arah dan

menghilangkan dia dari ingatan?”

PDF by Kang Zusi

“Maka, dia akan ada di mana-mana. Dengan begini, kita tahu di mana

dia berada. Dikurung dengan aman dalam sebuah guci abu, dijaga siang

malam oleh para prajurit yang tak kenal takut.”

Genji mendekat ke kakeknya dan cepat-cepat memegang tangannya.

Bayangan hutan tiba-tiba memanjang.

Kakeknya tertawa. “Aku bergurau, Gen-chan. Tidak ada itu hantu,

setan, atau arwah tak terlihat. Lady Shizuka, sang penyihir dan sang

putri, telah meninggal a enam ratus tahun. Jangan takut padanya.

Takutilah mereka yang masih hidup. Karena satu-satunya bahaya datang

dari mereka.”

“Kalau begitu, aku senang karena punya kemampuan meramal,” kata

Genji masih memegang tangan kakeknya erat-erat. “Aku akan tahu siapa

saja musuhku, dan aku akan membunuh mereka semua sebelum mereka

mengancamku.”

“Pembunuhan hanya akan menimbulkan lebih banyak pembunuhan,”

kata Lord Kiyori, “tetapi tak mengubah apa-apa. Kamu tidak bisa

menjamin keamananmu dengan cara itu.”

“Lalu, apa gunanya tahu sebelum terjadi?” tanya Genji merengut.

“Dengar baik-baik, Genji. Ini bukan masalah ada-gunanya dan tidak

ada gunanya, bukan masalah baik buruk, bukan pula masalah bisa

memilih dan tak bisa memilih. Semua itu hanya label, bukan intinya.

Mereka malah mengaburkan pikiranmu, bukan menjernihkan. Dengarlah

baik-baik dan berusahalah mengerti apa yang aku maksud. Anugerah

atau kutukan, diinginkan atau tidak, kamu mempunyainya. Kamu tak

bisa mengabaikannya karena sama saja kamu berusaha mengabaikan

kepalamu. Kamu bisa memanfaatkannya atau itu malah akan

memanfaatkanmu. Kamu mengerti?”

“Tidak, Kakek. Anda bicara seperti Rahib Zengen tua. Aku juga

tidak mengerti dia.”

“Itu tidak masalah sekarang. Kamu mempunyai ingatan Okumichi.

Kamu akan ingat apa yang telah kukatakan dan kelak kamu akan

mengerti. Dengarkan aku. Penglihatan dan pertanda datang dalam caracara

yang berbeda. Shigeru akan mengalami banyak penglihatan. Dalam

hidupmu, kamu hanya akan mengalami tiga penglihatan. Perhatikan

PDF by Kang Zusi

baik-baik. Pikirkan mereka tanpa rasa takut atau keinginan apa pun.

Maka, kamu akan bisa melihat jelas dan tiga penglihatan itu akan

menunjukkan semua yang perlu kamu ketahui.”

Tiga penglihatan, pikir Genji. Hanya tiga. Tak terlalu buruk.

Mungkin mereka datang dan pergi, dan aku bahkan tak sempat tahu. Dia

memergoki kakeknya sedang memandangnya. Orang-orang bilang,

selain meramal, kakeknya juga bisa membaca pikiran. Genji sebenarnya

tak terlalu percaya itu. Tetapi, tetap lebih baik untuk berhati-hati. Dia

berkonsentrasi keras pada awan di langit dan mencoba mengingat wajah

ibunya. lbunya meninggal saat dia barn berusia tiga tahun. Dengan

berlalunya waktu, bayangannya semakin mengabur. Ketika dia mencoba

mengingat ibunya, dia hanya bisa mencoba, tak ada lainnya. Jadi, kalau

Lord Kiyori membaca pikirannya dia hanya melihat Genji sedang

berusaha mengingat ibunya.

“Aku mengerti,” kata Shigeru tersenyum getir. “Hanya karena kamu

belum mengalami penglihatan sampai saat ini, kamu berpikir kamu telah

bebas. Tak seorang pun di keluarga kita yang seberuntung itu. Dan kamu

juga tidak. Siapkan dirimu. Jika ayahku berkata kamu akan mengalami

tiga penglihatan, itu akan terjadi. Dia tak pemah salah tentang

penglihatan.”

“Itu bukan satu-satunya alasan,” tukas Genji. “Kuharap yang kulihat

bukanlah pertanda, karena kalau ya, berarti aku tahu sesuatu yang tak

seorang pun seharusnya tahu.”

“Aku tahu ribuan hal yang seharusnya tak seorang pun tahu,” balas

Shigeru.

“Apa Paman tahu kapan Paman akan mati?” kata Genji.

Genji tidak mengenali tempat itu. Dia telah berkali-kali mengingat

pertanda itu, mengkajinya dengan hati-hati seperti ahli pedang yang

mengamati kuda-kuda lawan yang mencari kesempatan menyerang,

tetapi dia tak berhasil. Itu bukanlah tempat yang dia kenal. Suatu saat dia

akan pergi ke tempat itu dan dikenal di sana, diperjelas oleh suara ribut

orang-orang yang ada di tempat itu. Mana yang semakin keras dan

semakin banyak, sorakan atau kutukan? Susah untuk dikatakan. Jika dia

harus menebak, mungkin kutukan lebih banyak terlontar.

PDF by Kang Zusi

“Terkutuklah kamu ke neraka!”

“Pengkhianat! Pengkhianat! Pengkhianat!”

“Banzai! Kamu telah menyelamatkan bangsa!”

“Mati untuk pengecut!”

“Kamu memalukan kita semua! Tunjukkan harga diri dan bunuh

dirimu sendiri!”

“Semua dewa dan Buddha memberkati dan melindungimu.”

Genji berjalan di lorong tengah sebuah aula besar yang belum pernah

dia lihat. Meski di luar malam, di dalam terang seterang tengah hari.

Deretan lampu di sepanjang dinding sama sekali tak mengeluarkan asap.

Cahaya yang dipancarkan lampu-lampu itu stabil, berpijar merata, tanpa

ada nyala api. (Genji sendiri tidak yakin, apakah sumbu jenis baru telah

ditemukan atau jenis minyak super?) Bukannya bantal yang diatur

berjajar yang ada, melainkan ada sekitar dua ratus kursi mirip dengan

tempat duduk orang asing ditata menghadap podium. Di bagian

belakang, sebuah balkon dengan seratus kursi lainnya. Tak seorang pun

duduk. Semuanya berdiri, berteriak, melambaikan tangan, penuh emosi.

Mungkin kursi itu hanya simbol dan bukan benar-benar kursi (Itu sangat

mungkin terjadi. Genji yang baru-baru ini duduk di salah satunya untuk

pertama kali, tahu bagaimana kursi bisa menggeser organ-organ dalam

sehingga menyimpang dari tempatnya.).

Genji melihat tak seorang pun mengenakan tatanan rambut yang

diikat di atas kepala, ataupun memakai dua pedang gaya samurai. Seperti

orang gila atau para tawanan, semua orang berambut berantakan dan tak

bersenjata. Semua wajah yang dilihatnya adalah wajah Jepang, tetapi

mereka semua memakai baju model orang asing yang tak bergaya. Itu

mengingatkannya pada sandiwara boneka anak kecil dan pantomim

petani yang kikuk. Dia kembali bertanya-tanya apakah hal menggelikan

ini benar benar sebuah pertanda.

Di podium, seorang pria tua dengan rambut tipis beruban memukulmukul

meja dengan palu kayu kecil.

“Tenang! Tenang! Rapat Diet akan dibuka!” Tak seorang pun

memerhatikan. (Apa itu Diet? Genji tak tahu.)

PDF by Kang Zusi

Sebagian besar sorakan berasal dari sebelah kirinya, sedangkan

kutukan dari sebelah kanannya. Genji mengangkat tangan kanannya

untuk melambai kepada mereka yang mendukungnya. Saat dia

melakukan itu, seorang pria muda berlari mendekatinya dari arah orangorang

yang mengutuknya. Dia memakai seragam biru gelap sederhana

tanpa lencana cana atau tanda pengenal. Rambutnya dicukur cepak

Kedua tangannya memegang eras gagang pedang.

“Hidup Kaisar!”

Dengan teriakan itu, pria muda tersebut menikamkan pedangnya ke

badan Genji tepat di bawah tulang dada. Genji merasakan entakan yang

tiba-tiba, sensasi perih yang tajam seakan-akan seekor lebah menyengat

dadanya, semua ototnya tiba-tiba lemas.

Semburan darah mengenai wajah pria muda itu

Lalu, semua menjadi putih.

Kesunyian turun, diikuti oleh kegelapan.

Tetapi, penglihatan itu belum selesai.

Genji membuka matanya. Wajah-wajah khawatir melongok dari atas

dirinya. Dari posisi tubuh mereka dan atap yang terlihat di belakang

mereka, Genji tahu dia terbaring di lantai.

Dia merasa darah mengalir deras dari dadanya. Seluruh tubuhnya

terasa dingin dan basah. Dia sama sekali tak merasa sakit.

Kerumunan wajah itu membuka dan seorang rcmpuan yang sangat

cantik muncul. Tak peduli darah, dia memeluk Genji, memangku

kepalanya, dan rnendekap Genji erat ke dadanya. Air mata mengalir di

pipinya dan menetes ke wajah Genji. Tersedu-sedu, wanita itu

menekankan pipinya ke pipi Genji. Untuk beberapa saat, detak jantung

mereka menjadi seirma, kemudian detak jantungnya perlahan-lahan

lemah dan hilang.

“Kamu akan selalu menjadi My Shining Prince,” kata wanita itu.

Sebuah permainan dari namanya. Genji. Nama yang sama dengan

karakter fiksi kuno.

Dua pria besar, pengawal atau polisi, berlutut di sebelahnya. Mereka

berdua juga menangis tersedu tanpa malu.

PDF by Kang Zusi

“Lord Genji,” kata salah satunya. “Lord Genji.” Hanya itu yang bisa

diucapkannya.

“Bertahanlah, Tuanku,” kata yang satunya. “Bantuan akan segera

datang.” Pria itu melepas mantelnya dan menekannya ke luka Genji. Di

sarung yang melintang di dekat iga, Genji melihat sebuah pistol yang

sebelumnya tersembunyi di balik mantel. Ah. Pistol menggantikan

pedang. Masuk akal. Genji bertanya-tanya apakah seorang samurai

membawa satu atau dua buah pistol. Dia juga bertanya-tanya mengapa

pistol itu disembunyikan di balik mantel. Genji ingin bertanya, tetapi dia

tak punya kekuatan, kemauan. Dia mulai merasa tubuhnya sangat ringan.

Wanita itu tersenyum kepadanya sambil bercucuran’air mata.

Katanya, “Aku telah selesai menerjemahkannya pagi ini. Aku ingin tahu

apa sebaiknya kita menggunakan nama bahasa Jepang atau

menerjemahkan judulnya dalam bahasa Inggris juga. Bagaimana

menurutmu?”

“Dia tak bisa mendengarmu, Lady Shizuka,” salah satu pria itu

berkata. “Dia pingsan.”

Lady Shizuka adalah penyihir dan putri yang telah mencuri hati

pendiri klan Okumichi. Tidak mungkin ini dia, kecuali dia telah kembali

dalam reinkarnasi. Tidak, Genji tidak percaya pada reinkarnasi. Seperti

kayu bakar yang setelah terbakar menjadi abu tak mungkin kembali jadi

kayu, seorang yang telah mati tak mungkin kembali hidup. Jadi, ini pasti

Lady Shizuka yang lain, yang dinamakan sama dengan Lady Shizuka

yang pertama.

“Dia mendengarku,” kata Lady Shizuka.

Genji kini melihat bahwa kecantikan wanita itu tidak seluruhnya

berciri Jepang. Matanya berwarna kecokelatan, bukan hitam, dan

rambutnya berwarna cokelat muda. Ciri-ciri wajahnya tampak lebih

tajam dan lebih dramatis, lebih terlihat sebagai orang asing daripada

orang Jepang. Genji tidak mengenalinya. Tetapi, setiap kali dia

mengingat kembali penglihatannya itu, wanita itu semakin terlihat akrab

baginya. Dia mengingatkan Genji pada seseorang. Siapa? Dia masih

belum tahu. Yang dia ketahui adalah ini: Lady Shizuka adalah wanita

PDF by Kang Zusi

tercantik yang pemah dia lihat. (Atau lebih tepat lagi, wanita tercantik

yang akan dia temui.)

“Inggris,” kata Genji. Dia bermaksud bertanya apa yang telah

diterjemahkan Lady Shizuka dalam bahasa Inggris, tetapi hanya satu kata

itu yang keluar dari mulutnya.

“Kalau begitu, kita akan menggunakan bahasa Inggris,” kata Lady

Shizuka. Dia tersenyum di balik air matanya. “Ini akan menjadi skandal

lain lagi. ‘Genji lagi’ orang-orang akan berkata, ‘dan si Shizukanya yang

mengerikan’. Tetapi kita tak peduli, bukan?” Bibir wanita itu bergetar,

bulu matanya gemetar, tetapi senyumnya tetap mengembang dan untuk

beberapa saat tak satu pun air mata yang menetes. “Dia akan sangat .

bangga pada kita,” kata Lady Shizuka.

Genji ingin bertanya, siapa yang akan bangga dan mengapa? Tetapi,

dia tak punya suara lagi. Sesuatu bersinar di leher Lady Shizuka yang

jenjang dan mulus. Genji mengamati. Dia melihatnya. Kemudian, di

tempat jantungnya berdetak, dia tak mendengar apa-apa lagi dan tak

melihat apa-apa lagi.

“Jangan berharap bisa lari,” kata Shigeru. “Tak diragukan lagi kamu

memang mendapat sebuah pertanda.”

“Apa yang aku ceritakan sudah pernah Paman lihat?”

“Beberapa di antaranya. Pakaiannya. Rambutnya. Tidak adanya

senjata. Hanya ada satu kemungkinan. Kita akan dikalahkan orang asing

dan menjadi bangsa budak.”

“Bagaimana dengan Diet? Apa itu?”

“Aku tidak melihatnya dalam visiku. Mungkin itu adalah badan yang

menggantikan Dewan Shogun ketika kita sudah dijajah. Tingkah laku

kurang ajar yang mereka tunjukkan hanya mungkin ketika aturan dan

disiplin telah hilang. Dapatkah kamu bayangkan sebuah suara yang

berteriak-teriak tak sopan di hadapan Shogun, apalagi kerumunan orang

yang berteriak-teriak kurang ajar?”

“Tidak Paman. Aku mengakui aku tak bisa membayangkannya.”

“Pembunuhmu? Kamu tidak mengenalinya?”

“Tidak. Aku juga tak mengenali yang lain. Tak sebuah wajah pun

yang kukenal di sana.”

PDF by Kang Zusi

“Semua pengikutmu pasti telah terbunuh karena aku pasti tak akan

mengizinkanmu masuk ke tempat itu tanpa perlindungan. Saiki, Kudo,

dan Sohaku juga pasti berpendapat sama.”

“Lalu, siapa dua pria dengan pistol yang di sembunyikan itu? Mereka

kelihatannya sangat khawatir akan keadaanku.”

“Pengawal mungkin. Kamu bisa saja menjadi tawanan seseorang.”

Shigeru memejamkan matanya. Dia bernapas panjang dan dalam selama

beberapa menit. Ketika membuka mata lagi, dia membungkuk ke lantai.

“Ampuni hamba karena gagal menjelaskan pertanda yang Anda alami,

Tuanku.”

Genji tertawa. “Anda tidak gagal, Paman. Mungkin kita bisa mencari

solusi alternatif.”

“Kita tak bisa melakukan apa pun untuk menahnya. Kita bisa

melindungi orang-orang yan kita cintai dari nasib seperti itu. Tetapi, kita

tak bisa Menghentikan kedatangan masa depan yang akan memangsa

kita serta semua yang tersisa.”

“Jadi, karena itu Paman melakukannya?” Tanya Genji lembut.

Badan Shigeru mengeras dan kaku. Dia mulai gemetar, sedikit pada

awalnya lalu menjadi semakin keras dan semakin keras, sehingga dia

terlihat seperti terserang kejang-kejang yang parah. Akhirnya, teriakan

pedih tertahan keluar dari mulutnya dan dia

terjatuh ke lantai menangis tersedu-sedu.

Genji duduk dengan tenang. Dia tak berkata atau melakukan apa pun.

Setelah beberapa menit berlalu, Shigeru berhasil menguasai diri sehingga

terlihat normal kembali. Genji menuangkan teh. Shigeru menerimanya.

“Ini memang menyakitkan, Paman, tetapi tak bisa dihindari. Aku

harus belajar sebanyak mungkin dari pertanda yang Paman alami. Itu

satu-satunya cara agar aku bisa memahami makna pertanda yang aku

alami.”

“Hamba mengerti, Tuanku.” Sikap Shigeru kembali sangat formal.

Dia bergantung pada protokol resmi untuk menguasai diri dari emosi.

“Kapan pun Anda menghendaki, hamba akan menjawab pertanyaan

Anda sebaik yang hamba bisa.”

PDF by Kang Zusi

“Terima kasih, Shigeru,” kata Genji. “Sekarang, kurasa kita berdua

sudah cukup berbicara tentang pertanda. Mari kita bicara masalah lain.

Ketika aku berbalik dari pintu ruang senjata, Paman akan membunuhku.

Lalu, mengapa Paman tidak melakukannya?

“Keheningan menghentikanku,” jawab Shigeru “Penglihatan dan

suara yang menyiksaku tanpa henti selama ini, berhenti karena

kehadiranmu. Aku ingat perkataan ayahku bertahun-tahun lalu. Katanya,

hal itu memang akan terjadi, dan jika itu terjadi aku tidak boleh bertindak

berdasar kata hati.”

“Lord Kiyori memang bijak,” kata Genji. Dan benar-benar mampu

melihat dan menganalisis masa depan, tambahnya dalam hati. Tetapi,

tetap saja dia tidak mencegah kematiannya akibat ulah anaknya yang

gila. Mengapa? Mungkin seperti kata Shigeru; kita tak berdaya

mencegah apa yang memang harus terjadi.

Shigeru menunggu selama yang dia bisa. Tetapi, ketika Genji tidak

melanjutkan bicaranya, dia bertanya. “Apa yang kaulihat? Apa yang

bersinar di leher wanita itu?”

“Itu adalah satu hal yang sama sekali tidak kuingat,” kata Genji.

Benda itu tampak jelas di matanya saat ini seperti saat dia mengalami

pertanda, tetapi dia berpikir lebih baik tidak membebani Pamannya lebih

jauh. Pamannya sudah terbebani dengan apa yang telah dia ceritakan.

“Sayang sekali. Benda itu bisa saja menjelaskan sesuatu yang

penting.”

“Ya,” jawab Genji. “Mungkin saja.”

Shigeru tidak begitu memperhatikan ketika Genji berbicara secara

resmi di depan para pengikut. Dia justru memikirkan pertanda yang

dialami Genji. Pasti banyak peristiwa yang terjadi sebelum kondisi yang

telah dia lihat di pertanda terjadi. Tak peduli seberapa buruk penurunan

yang dialami samurai dan seberapa kuat orang asing, tentu setidaknya

perlu beberapa tahun sebelum Jepang benar-benar jatuh ke tangan

penjajah. Masih ada samurai yang menguasai keahlian bela diri kuno dan

akan berjuang sampai mati. Rupanya, Genji bukanlah salah satu dari

mereka. Dalam pertanda yang dia alami, dia dianggap pengkhianat.

Shigeru berharap itu hanya fitnah dan bukan deskripsi yang akurat.

PDF by Kang Zusi

Meski khawatir, Shigeru merasa ada harapan. Untuk pertama kalinya

selama berbulan-bulan, pertanda dan penglihatan yang selalu

menyiksanya berhenti. Sejak kedatangan Genji, dia tak melihat apa pun

kecuali hal-hal yang juga dilihat orang lain. Mungkin banjir kegilaan itu

dihentikan oleh mekanisme mistis yang juga menyebabkan Genji hanya

mendapat tiga pertanda. Shigeru tidak berpikir bahwa dia sudah sembuh

total. Pertanda dan penglihatan itu pasti akan kembali lagi. Tetapi, jika

mereka berhenti meski hanya beberapa hari, Shigeru dapat menggunakan

waktu itu, untuk meningkatkan kontrol diri, seperti yang dia lakukan

sekarang. Selama hidupnya, dia belajar bela diri untuk mempertahankan

diri dari serangan. Lagi pula, bukankah pertandadan penglihatan itu juga

bisa dibilang sebagai serangan dari dalam? Mereka tak berbeda dengan

serangan lain, kecuali asalnya. Shigeru tak akan maukalah oleh mereka.

Dia mendengar nama Hide dipanggil dan melihatnya membungkuk

dalam di hadapan Genji. Pengumuman pengangkatannya sebagai kepala

pengawal telah diresmikan. Shigeru memerhatikan wajah-wajah mana

saja yang menunjukkan ketidakpuasan. Mereka adalah orang-orang yang

harus diawasi. Dia melirik ke arah Sohaku, berharap akan melihat

ekspresi terkejut dan kecewa di wajahnya. Tetapi, Rahib Kepala Kuil

Mushindo, yang dahulu menjabat sebagai komandan kavaleri dan akan

kembali diangkat itu mendengar pengumuman pengangkatan Hide

dengan tenang. Dari reaksi ini, Shigeru tahu bahwa dia harus membunuh

teman lamanya itu. Karena satu-satunya alasan ketenangan Sohaku mendengar

pengangkatan Hide adalah jika dia telah memutuskan untuk

mengkhianati junjungan mereka. Jika saja Sohaku tahu apa yang

diketahui Shigeru: Hingga orang asing menaklukkan Jepang, Genji tak

mungkin dikalahkan.

Dan, ketika saat kekalahan itu tiba, bahkan saat itu Genji juga akan

beruntung. Dia akan mati tanpa rasa takut, berlumuran darah dari

jantungnya sendiri, dan dalam pelukan seorang wanita cantik yang menangis

untuknya.

Adakah yang bisa diharapkan seorang samurai lebih dari itu?

PDF by Kang Zusi

III. DAIMYO

7. SATORI

“Jimbo bukan namamu yang sebenarnya.” kata Genji.

“Bukankah semua bukan nama benda yang sebenarnya?” tanya

Jimbo.

Genji tertawa. “Kamu adalah orang asing tetapi kamu menggunduli

kepalamu, memakai jubah rahib Zen dan berbicara dalam teka-teki

sama yang dulu sering digunakan oleh Rahib Zengen. Apa dia yang

mengajarimu bahasa kami?”

“Tidak, Tuanku. Rahib Zengen menyelamatkan hidup hamba saat

wabah kolera; anak-anak desa yang merawat hamba setelahnya

mengajari hamba mendengar dan berbicara.”

“Sungguh tak terduga. Aku ragu anak-anak itu bisa membaca

meski hanya satu huruf.”

“Dan hamba juga tak bisa, Tuanku.”

“Maka, pencapaian linguistikmu lebih mengesankan lagi. Pasti tak

seorang pun dari kami yang tinggal di antara petani buta huruf

Amerika selama setahun mampu belajar bahasamu sebaik kamu belajar

bahasa kami.”

“Hamba berterima kasih, Tuanku, atas nama guru-guru hamba.

Mereka pantas mendapatkan pujian.”

Angin sepoi musim dingin sesaat menggetarkan kain tenda di atas

mereka. Genji memandang langi: musim dingin yang pucat. Cahaya

matahari mulai memudar. Sebelum jam kerbau berlalu, mereka bisa

memulai perjalanan kembali ke Edo. Mereka sampai di perbatasan

setelah malam tiba dan menyeberang wilayah Yoshino dalam

kegelapan. Itu memberikan satu keuntungan penting: Kemungkinan

mereka bertemu pasukan Yoshino jauh lebih kecil daripada saat siang

hari. Pembantaian sia-sia dalam satu kali perjalanan sudah lebih dari

cukup.

PDF by Kang Zusi

Genji berkata, “Ketika kamu tiba di Jepang kamu adalah seorang

misionaris Kristen. Kini, kamu seorang rahib Zen. Dulu kamu

memanggil dirimu James Bohannon. Kini, kamu Jimbo. Katakan, nama

apa yang kau gunakan sebelum kamu menjadi James Bohannon?”

“Ethan Cruz,” kata Jimbo.

“Dan sebelum itu?”

“Sebelum itu, aku hanya Ethan.”

“Kurasa perubahan namamu itu tak ada hubungannya dengan

agama Kristen.”

“Benar, Tuanku.”

“Juga tak ada hubungannya dengan Zen.”

“Itu juga benar, Tuanku.”

“Lalu, mengapa kamu mengganti namamu?”

Sebelum menjawab, Jimbo menundukkan pandangannya dan

menarik napas dari perut, napas yang pelan dan dalam hingga ke

tanden, pusat dirinya Dengan satu embusan napas, dia melepaskan

semua ketakutan, kebencian, dan keinginan.

“Hamba melarikan diri,” kata Jimbo

“Dari siapa?”

“Dari diri sendiri.”

“Usaha yang sulit,” kata Genji. “Banyak yang telah mencobanya.

Tak seorang pun yang aku tahu bisa berhasil. Kalau kamu?”

“Ya, Tuanku,” kata Jimbo. “Hamba berhasil.”

Tom, Peck, dan Haylow telah berkuda bersamanya sebelumnya.

Mereka bisa ditoleransi dan tak pernah membuat masalah di setiap

pekerjaan yang mereka lakukan, tetapi Ethan tak menyukai mereka

karena dia tak percaya mereka. Itu adalah kebiasaan yang dipelajari

Ethan dari Manual Cruz. Itu kebiasaan bagus, terutama dalam dunianya

yang terkait dengan perampokan, pencurian, dan mencuri ternak.

Jangan pernah menyukai orang yang tak bisa dipercaya, kata Cruz.

Kita bisa saja menganggap diri kita pintar, kita bisa menyukai

seseorang tetapi tetaplah waspada. Tetapi, dalam rasa suka, ada sesuatu

yang akan melemahkan perhatian kita. Cruz sendiri tidak tahu. Jika kita

PDF by Kang Zusi

menyukai orang yang tak bisa kita percayai, maka suatu malam,

mungkin kita akan bangun dan menemukan sebuah kampak telah

membelah tengkorak kita. Dan penyesalan kita akan sangat sia-sia.

Ethan mengira Cruz mengatakan itu dari pengalaman pribadi,

karena lekukan berbentuk kapak di tengkorak belakang kepalanya

ditandai dengan bekas luka putih panjang hingga rambutnya tak bisa

tumbuh lagi.

“Menyukai orang yang tak bisa dipercaya saja sudah berbahaya,”

kata Cruz, “apalagi mencintai mereka. Yang aku maksudkan adalah

wanita. Jangan pernah mencintai wanita yang tak bisa kaupercaya.

Jangan hanya duduk dan mengangguk-angguk. Aku tahu pasti kamu

akan melakukan itu. Kita semua melakukannya. Kamu tahu mengapa?

Karena tak ada seorang pun wanita yang bisa dipercaya. Setiap wanita,

mulai yang pertama hingga terakhir, adalah sundal penipu, tukang

curang, dan pengkhianat.”

Orang-orang di sekitar Cruz pasti memengaruhi cara berpikirnya.

Sebagai seorang germo yang menghabiskan sebagian besar waktunya

dengan para pelacur, dia tak asing dengan tipuan, kecurangan, dan

pengkhianatan yang biasa dilakukan pelacur, selain hal yang lain

tentunya.

Ethan tak pernah tahu, pria ataukah wanita yang memberikan luka

bekas kapak di kepala Cruz. Menurutnya, seorang wanita pasti terlibat,

kemudian juga ada seorang pria. Biasanya memang begitu. Cruz

menyalahkan luka di kepalanya itu untuk pusing yang dideritanya, sifat

pemarahnya, sifat pelupanya, dan kecanduan alkoholnya.

Cruz mengatakan bahwa dia tak ingat bagaimana hal itu bisa

terjadi. Tulang tengkorak itu sembuh dan tertekan ke dalam seperti

bentuk kapak. “Tulang itu menekan ke dalam menusuk-nusuk otak di

kepalaku, mengingatkanku selalu dan selamanya, jangan pernah

menyukai apalagi mencintai siapa pun yang tak bisa kaupercaya.

Kaudengar aku, Nak? Yang kumaksud biasanya wanita, tetapi kamu

harus mewaspadai pria juga, terutama jika wanita dan uang terlibat.

Dan, kamu tahu? Wanita dan uang selalu terlibat. Karena itulah dunia

PDF by Kang Zusi

adalah sebuah lembah penuh pencuri. Karena cinta wanita terhadap

uang.” Begitu yang dikatakan Cruz kepada Ethan.

Bukan cinta wanita terhadap uang atau sebuah kapak yang akhirnya

menghancurkan Cruz. Tetapi, seorang pelacur bernama Mary Anne.

Wanita itu tidak istimewa, bahkan lebih tua daripada pelacur lain, dan

punya dua anak perempuan kecil yang harus diurus. Anak

perempuannya terlalu muda untuk berkecimpung dalam dunia itu,

karena Cruz membenci penyuka anak kecil. “Tak seorang pun boleh

meniduri siapa pun yang belum berusia dua belas tahun di tempat

usahaku,” katanya. Dia benar-benar melaksanakan kata-katanya. Dia

bahkan menembak mati dua pria yang mencoba memerkosa anak-anak

pada hari Ethan bertemu dengannya. Dua pria itu, saat itu akan

memerkosa Ethan. Mereka tidak melakukannya di tempat pelacuran

milik Cruz, tetapi Ethan masih di bawah dua belas tahun, bahkan di

bawah sepuluh tahun, dan kebetulan Cruz sedang berjalan-jalan di

dekat kandang kuda. Teriakan Ethan menarik perhatiannya, dan ketika

dia melihat apa yang terjadi, Cruz meluaskan lingkup peraturannya dan

menembak mati dua pemerkosa itu.

“Orangtuamu tidak membesarkanmu dengan baik, Nak,” kata Cruz.

“Kamu butuh sedikit lebih banyak perhatian daripada yang mereka

berikan sekarang. Mungkin sebaiknya aku pergi dan berbicara kepada

orangtuamu.”

Ethan mengatakan kepadanya, agar Cruz memberi tahu dia kalau

berhasil menemukan orangtuanya.

“Jadi, kamu yatim piatu, ya?”

“Apa itu yatim piatu?”

Cruz juga seorang yatim piatu. Dia membawa Ethan ke tempat

pelacurannya, menyuruh Betsy memandikan Ethan dan memberi

pekerjaan membersihkan kamar, mengepel lantai, menuangkan wiski,

dan memberikan sampah untuk makan babi di belakang. Entah

bagaimana, bau babi dapat membangkitkan nafsu pria sehingga akan

terus menggunakan pelacurnya, kata Cruz. Babi baik untuk bisnis ini.

Ethan berkata, dia tak suka bau babi. “Kamu akan mengubah

pikiranmu itu, setelah kamu tinggal di sini beberapa waktu, Nak. Dunia

PDF by Kang Zusi

macam apa tempat seorang anak lebih aman bekerja di tempat

pelacuran daripada di kandang kuda? Tetapi, memang begitu

kenyataannya, bukan?” begitu kata Cruz kepadanya dulu.

“Siapa namamu, Nak?”

“Ethan.”

“Ethan apa?”

“Ethan saja. Anda?”

“Manual Cruz.”

“Manuel Cruz.”

“Bukan, bangsat. Manual, seperti kerja manual. Bukan Manuel

seperti gelandangan Meksiko yang kelaparan. Memangnya aku terlihat

seperti gelandangan?” Cruz menunjuk ke pakaiannya yang rapi. “Apa

aku kelihatan kelaparan?” Dia menepuk perutnya yang buncit. “Apa

aku kelihatan seperti seorang Meksiko sialan?”

Itu adalah pertanyaan yang susah dicari jawabannya karena Cruz

memang seorang Meksiko. Tetapi, bertahan pada jawaban yang

berhasil menyenangkan Cruz selama ini, Ethan menggelengkan

kepalanya lagi.

Cruz tertawa dan dengan riang menepuk punggungnya. “Aku

sebaiknya terlihat sebagai seorang Meksiko sialan karena memang

itulah aku. Tetapi, aku tidak kelaparan dan aku tidak menggelandang.

Orangtuaku kelaparan dan menggelandang selama hidupnya dan

mereka mati sebelum waktunya.”

Cruz juga mati sebelum waktunya. Itulah sebab mengapa Ethan

Cruz duduk di depan api unggun di perbukitan Austin Utara bersama

Tom dan Peck, menunggu Haylow kembali membawa kabar. Dan,

kabar yang dibawanya adalah dia menemukan tempat persembunyian

Matthew Stark.

“Peternakan kecil, sekitar tiga puluh lima sampai empat puluh

kilometer ke utara. Tetapi, dia tidak ada di sana .” Haylow turun dari

kudanya yang kelelahan. Dia perlu mencuri yang baru segera. Kuda

tidak bertahan lama jika dinaiki pria seberat 150 kilogram. “Kabarnya,

dia pergi ke Arizona , untuk mendapatkan jabatan Arizona Ranger dari

gubernur. Apa makanan kita kali ini?”

PDF by Kang Zusi

Tom berkata, “Kupikir satu-satunya ranger hanyalah Texas

Ranger.”

“Kupikir juga begitu,” kata Haylow, menyendok kacang polong

langsung dari panci. “Tetapi, begitulah kabarnya di kota.”

“Mereka menyewa pembunuh untuk menjadi ranger di Arizona ?”

tanya Peck.

“Memang, akhir-akhir ini pemerintah menyewa kriminal untuk

menjadi petugas hukum,” kata Haylow, menghabiskan kacang polong

di panci dan mencari daging kering dari bungkusan bekal. “Mereka

membutuhkan orang yang berpengalaman untuk pekerjaan itu.”

“Nah, kalau begitu, ayo kita ke sana dan menjadi petugas hukum

juga,” kata Tom. “Kita juga pembunuh.”

“Hanya karena kebetulan,” kata Haylow “Mereka ingin pengalaman

pembunuh sebenarnya.”

“Siapa yang ada di peternakan itu?” tanya Ethan. “Hanya si pelacur

dan dua anaknya,” jawab Haylow.

Ethan berdiri dan meletakkan pelana di punggung kudanya. Tiga

temannya menyusul-nya tepat sebelum fajar di bukit di atas peternakan

Stark.

“Apa kita mau menunggu dia?” tanya Peck. “Menyergapnya kalau

dia kembali?”

“Katanya, dia bakal kembali setiap saat,” kata Haylow. “Itu

gagasan bagus.”

“Apa dia mencintai pelacur itu?” tanya Ethan. “Dia datang dan

membawanya,” kata Haylow. “Pasti ada rasa suka.”

“Apa dia mencintainya?” tanya Ethan lagi.

“Siapa yang tahu kecuali dia?” kata Haylow.

Segumpal asap muncul dari cerobong asap di rumah peternakan itu.

Seseorang sudah terbangun. Ethan menyepakkan tumit sepatunya ke

perut kudanya dan memacunya menuruni bukit.

Ketika mereka sudah selesai, Ethan tak ingin menunggu

kedatangan Stark. Dia tidak merasakan apa pun kecuali mual di

perutnya. Tidak ada artinya kembali ke El Paso . Tempat pelacuran itu

PDF by Kang Zusi

masih di sana . Tetapi dengan kematian Cruz, itu hanyalah tempat

pelacuran, dan Ethan tak pernah terbiasa dengan bau babinya.

Mereka menggiring ternak Stark yang sedikit itu, ke perbatasan dan

menjualnya di Juarez dengan harga setengah dari harga sebenarnya.

Mereka tidak tahu pasti apakah Stark akan mengejar mereka, tetapi

mereka menganggap dia pasti mengejar.

“Kalau aku jadi dia, aku pasti mengejar,” kata Peck, “berani

taruhan.”

“Aku tidak,” kata Tom. “Tidak kalau hanya gara-gara seorang

pelacur.”

“Bagaimana dengan dua anak kecil itu?” kata Haylow. Selera

makannya naik sejak mereka pergi dari peternakan Stark. Kini,

beratnya hampir dua ratus kilogram. Kudanya, yang baru dia beli di

Juarez, mulai mengeluh kesakitan setiap kali dinaiki.

Tom dan Peck tidak mengatakan apa-apa, tetapi keduanya selalu

menoleh ke belakang bahu mereka, menunjukkan bahwa mereka

merasa dikejar. Haylow juga sering menoleh ke belakang.

Akhirnya, mereka tahu pasti Stark mengejar karena kadang mereka

memasuki sebuah kota sehari atau dua hari setelah Stark berada di sana

. Mereka maupun Stark tidak bepergian di garis lurus. Berputar-putar,

suatu saat mereka pasti akan bertemu.

“Aku capai dengan semua ini,” kata Haylow. “Aku akan pulang.”

“Buat apa?” tanya Peck. “Kamu pikir dia takkan menemukanmu di

El Paso?”

“Bukan El Paso . Hawaii .” Nama Haylow yang sebenarnya dimulai

dengan He’eloa dan nama itu terus berubah bunyinya.

“Apa yang kamu punya di sana ?” kata Tom. “Kamu bilang

keluargamu, kotamu, seluruh bangsamu mati karena cacar.”

“Gunungnya masih di sana . Sungai. Dan laut. Aku sering

kehilangan semua itu akhir-akhir ini.”

Mereka tetap bersama hingga mereka sampai di la Ciudad de los

Angeles . Di sana Peck berkata, biarkan, kalau dia mau menemukanku,

biar dia menemukanku di sini. Tom berhenti di Sacramento , tempat

pamannya punya bar, dan menawari Tom pekerjaan menjaga para

PDF by Kang Zusi

pelacur. “Apa yang kulakukan tidak begitu buruk,” kata Tom.

“Mungkin dia akan puas dengan permintaan maafku dan hanya

memukuliku sedikit.” Haylow tetap bersama Ethan ke San Francisco,

di sana dia akan naik kapal ke Hawaii , tetapi dia berubah pikiran

begitu melihat laut. Pria besar itu-hampir 250 kilogram sekarang

sehingga harus naik kereta dengan dua kuda, terduduk di sana dan

menangis saat ombak berdebur di dermaga. Terlalu banyak makam di

kampung halaman, katanya.

Ethan juga berhenti di San Francisco . Hingga suatu hari, saat akan

menuju bar, dia mendengar khotbah seorang pendeta di pinggir jalan.

Aku tidak datang untuk memanggil orang-orang baik, kata sang pengkhotbah,

tetapi aku memanggil para pendosa untuk bertobat. Ketika

seseorang yang berdiri di dekatnya berkata amin, sesuatu yang

menekan dada Ethan terangkat lepas dan dia jatuh berlutut menangis

tersedu-sedu. Malam itu, dia diterima di rumah misi Cahaya Firman

Sejati Para Rasul Kristus Tuhan Kita. Sebulan kemudian, misionaris

yang baru, James Bohannon, dalam perjalanan ke Jepang.

Ethan memakai nama baru karena dia merasa dirinya dilahirkan

sebagai orang baru. Tetapi, kelahiran itu tidak benar-benar terjadi

hingga dia dan selusin misionaris lainnya sampai ke Desa Kobayasho

wilayah Yamakawa, tempat rumah misi mereka yang baru. Saat

mereka tiba, wabah kolera mengganas. Hanya dalam satu bulan, satusatunya

misionaris yang masih bertahan hidup hanyalah Ethan. Para

penduduk desa juga banyak yang mati akibat wabah itu dan mereka

menyalahkan para misionaris sebagai penyebab wabah. Ethan berhasil

bertahan, karena rahib kepala di Kuil Mushindo, seorang pria tua

bernama Zengen, menolong dan merawatnya. Rahib itu pasti punya

pengaruh karena penduduk desa mengubah sikap mereka. Mereka

mulai membawa makanan untuknya, mengganti bajunya, dan

memandikannya. Di antara para pengunjungnya, anak-anaklah yang

paling sering datang. Keingintahuan mereka timbul karena penampilan

Ethan yang asing. Anak-anak itu belum pemah melihat orang asing.

Entah bagaimana, dalam kondisi sakit dan setengah sadar,

penghalang berjatuhan. Ketika demamnya mereda, Ethan menemukan

PDF by Kang Zusi

bahwa dirinya bisa memahami kata-kata anak-anak itu dan juga bisa

berbicara beberapa patah kata bahasa Jepang. Saat dia akhirnya bisa

berdiri, dia bisa berbicara lancar dengan Zengen dalam bahasa Jepang.

Satu hari, Zengen bertanya. Seperti apa wajah Ethan sebelum

orangtuanya lahir?

Ethan baru akan mengatakan kepada Zengen bahwa dia tak pernah

kenal orangtuanya ketika dia sadar bahwa atas bawah, dalam dan luar

menghilang, yang ada hanyalah kekosongan.

Sejak itu, Jimbo mengenakan jubah rahib Buddha, bukan pakaian

misionaris Kristen. Dia melakukan itu lebih karena rasa hormat

terhadap Zengen. Jubah rahib seperti baju. Tak ada makna sejati di

dalamnya.

Jimbo dahulu adalah James Bohannon dan sebelumnya Ethan Cruz,

dan dia masih orang yang sama. Tetapi, pada saat yang sama, dia juga

bukan ketiganya.

Jimbo tak menceritakan semua ini kepada Genji. Dia baru saja akan

mengatakan kepada Genji ketika bangsawan itu tersenyum dan berkata,

“Benarkah?

Kau berhasil lari dari dirimu sendiri? Pasti kau telah mendapatkan

pencerahan seperti Buddha Gautama.

“Pencerahan adalah kata yang tak hamba pahami artinya,” kata

Jimbo. “Seiring semakin banyak napas yang hamba hirup, semakin

sedikit makna kata yang hamba tahu. Tak berapa lama lagi, hal paling

masuk akal yang bisa hamba katakan adalah jika hamba tak berkata

apa-apa.”

Genji tertawa dan menengok kepada Sohaku. “Dia lebih cocok

menggantikan Zengen daripada kamu. Jadi, memang cocok kalau kamu

meninggalkan kuil ini dan dia tetap tinggal.”

“Apakah dia bukan orang asing yang telah Anda tunggu-tunggu,

Tuanku?”

“Kurasa bukan. Orang asing yang kutunggu itu sekarang ada di

Istana Bangau yang Tenang.”

PDF by Kang Zusi

“Anda telah menerima orang asing lain?” Sohaku merengut, tak

bisa menyembunyikan ketidaksukaannya.

“Kebijakan junjungan kita yang lama adalah menerima misionaris

Firman Sejati dengan tangan terbuka. Aku hanya melanjutkan

kebijakannya.” Genji kembali berbicara ke Jimbo. “Karena itu kamu di

sini, bukan?”

“Ya, Tuanku.”

“Kamu akan bertemu dengan para misionaris itu sebentar lagi,”

lanjut Genji. “Mereka datang untuk membangun rumah misi. Itu

pekerjaan berat. Teman-temanmu di sini telah meninggal semua, dan

dari tiga orang yang datang kini, kemungkinan hanya dua yang masih

hidup.”

“Apa salah satunya sakit, Tuanku?”

“Dengan sangat menyesal kukatakan dia tak sengaja tertembak

peluru pembunuh yang seharusnya ditujukan kepadaku. Kamu

mungkin kenal. Namanya Zephaniah Cromwell.”

“Hamba tak kenal, Tuanku. Dia pasti datang ke San Francisco

setelah hamba berangkat ke sini.”

“Menyedihkan sekali datang begitu jauh hanya untuk mati sia-sia.

Apa ada yang kau perlukan, Jimbo?”

“Tidak, Tuanku. Rahib Kepala Sohaku telah melengkapi persediaan

di kuil.”

“Ketika teman-teman yang dulu seagama denganmu datang, apa

yang akan kau lakukan?”

“Hamba akan membantu mereka membangun rumah misi,” jawab

Jimbo. “Mereka yang tidak menerima kata-kata Buddha mungkin mau

menerima kata-kata Kristus dan mendapatkan keselamatan yang sama.”

“Sikap yang sehat. Kuharap kau berhasil, Jimbo. Atau, kamu lebih

suka James? Atau Ethan?”

“Sebuah nama hanyalah sebutan. Satu nama tak ada bedanya

dengan tanpa nama.”

Genji tertawa. “Jika lebih banyak orang yang merasa seperti itu,

sejarah Jepang tak akan berdarah seperti sekarang. Dan di masa

depan.”

PDF by Kang Zusi

Genji berdiri. Semua samurai yang hadir membungkuk hingga

Lord Genji meninggalkan tenda, dikawal oleh Shigeru, untuk

menyiapkan perjalanan kembali ke Edo.

Sohaku berkata, “Apa kamu akan baik-baik saja sendirian?”

“Ya, Rahib Kepala, saya akan baik-baik saja,” kata Jimbo. “Dan

hamba tak akan selalu sendirian. Anak-anak tak akan membiarkan saya

sendiri.”

“Aku bukan rahib kepala lagi,” kata Sohaku. “Kamu sekarang yang

rahib kepala. Jalankan ritual. Pertahankan jadwal meditasi. Penuhi

kebutuhan spiritual penduduk desa, kelahiran dan kematian, saat

mereka berduka dan bergembira. Apa kamu dapat melakukan itu?”

“Ya, Tuan. Hamba bisa.”

“Masuknya kamu ke sini dan menjadi dirimu yang sekarang benarbenar

menguntung-kan. Kalau tidak, dengan kematian Zengen dan

kepergianku, kuil ini akan telantar. Tidak baik menelantarkan kuil.

Karma buruk akan selalu mengikuti.”

Sohaku dan Jimbo saling membungkuk, dan komandan kavaleri itu

berdiri. “Nyanyikan sutra untukku juga. Aku memasuki masa yang

penuh bahaya dan aku sepertinya akan gagal dan mati daripada sukses

dan bertahan hidup.”

“Mereka yang sukses dan mereka yang gagal tetap ditakdirkan

untuk mati,” kata Jimbo. “Meski begitu, hamba akan menyanyikan

sutra untuk Anda tiap hari.”

“Terima kasih,” kata Sohaku, “atas kata-katamu yang penuh

kebenaran.” dia membungkuk lagi dan pergi.

Jimbo tetap duduk di tempatnya. Dia pasti masuk ke tahap meditasi

tanpa sadar, karena begitu dia sadar, tahu-tahu dia sendiri diselimuti

kekelaman malam. Teriakan tunggal burung malam terdengar olehnya.

Di atas, bintang-bintang musim dingin bergerak di orbitnya.

Meski pintu-pintu dibuka, angin yang masuk tetap tidak bisa

menghalau bau busuk di kamar itu. Dua pelayan, Hanako dan Yukiko

duduk diam di pinggir ruangan. Dua hari lalu, mereka meminta izin

PDF by Kang Zusi

untuk memakai penutup hidung yang diberi parfum, tetapi Saiki

menolak.

“Jika wanita asing itu bisa tahan, kalian harus tahan. Memalukan

jika kalian terlihat lebih lemah dari dia.”

“Ya, Tuanku.”

Tetapi, kapan terakhir kali Saiki mengunjungi mayat hidup ini?

Hanako dan Yukiko melihat si wanita asing berbicara kepada pria

yang terbaring tak sadar itu. Dia duduk di dekat sumber bau busuk,

tetapi tidak menunjukkan tanda mual. Apakah mereka harus mengagumi

kontrol dirinya, atau mengasihani dia atas keputusasaannya?

Wanita itu sungguh jelek, Hanako dan Yukiko menduga pasti dia akan

kesulitan menemukan suami yang lain. Siapa yang bisa menyangkal

kalau ketakutan wanita itu memang beralasan Karena itulah dia matimatian

mempertahankan pria yang bisa dibilang sudah menjadi mayat.

“Bagaimana dengan yang lain?” tanya Hanako sebelumnya. “Apa

dia tak mau menggantikan posisinya apabila yang sakit ini mati?”

“Tidak,” jawab Yukiko. “Dia tidak berminat pada wanita.”

“Dia berminat pada jenisnya sendiri?”

“Dia juga kelihatan tak tertarik pada pria atau anak laki-laki. Tidak

secara seksual. Aku yakin dialah biarawan sejati agama mereka. Dia

hanya mencari jiwa untuk diselamatkan, bukan kesenangan jasmani.

Pria asing satunya baru saja masuk dan menengok keadaan si

wanita asing dan tunangannya yang sekarat. Hanako memang tidak

melihat gairah di matanya. Yukiko benar. Dia terpaku pada tujuan lain.

Setelah beberapa saat, pria itu keluar, mungkin untuk berdoa atau

mempelajari kitab suci mereka.

Heiko berlutut di samping dua pelayan itu. “Cckk, Cck. Bau ini

benar-benar ujian berat, bukan?”

“Ya, Nona Heiko,” kata Hanako. “Benar-benar mengganggu.”

“Kupikir, seharusnya beberapa samurai paling berani di klan kita

ikut menunggui di sini, untuk menguatkan tekad mereka,” kata Heiko,

“sayangnya hanya wanita-wanita lemah yang ada di sini.”

Dua pelayan itu terkikik geli sembari menutup mulut dengan

tangan.

PDF by Kang Zusi

“Tepat sekali,” kata Yukiko.

“Kalian boleh pergi sekarang,” kata Heiko. “Kembalilah satu jam

lagi.”

“Lord Saiki memerintahkan kami untuk tinggal,” kata Hanako

enggan.

“Jika dia menegur, katakan saja aku yang meminta kalian pergi

sehingga aku bisa melaksanakan perintah Lord Genji untuk membuat

para orang asing ini nyaman.”

“Ya, Nona Heiko.” Dua pelayan itu membungkuk penuh rasa

terima kasih dan mundur.

Heiko menutup indra penciumannya. Dia bisa melakukan ini

karena sejak kecil telah terlatih untuk menyeimbangkan semua

indranya. Dia heran, bagaimana Emily bisa bertahan terhadap bau ini?

Heiko membungkuk kepadanya dan duduk di kursi sebelahnya. Jika

Heiko duduk tegak di pinggir kursi. dia bisa menyentuh lantai dengan

ujung jari kakinya

“Bagaimana keadaannya?”

“Menurut Saudara Matthew, kapan saja Zephaniah bisa tertidur dan

tak akan bangun lagi.”

“Saya ikut sedih.”

“Terima kasih,” kata Emily.

“Aku juga sedih.”

Mata Cromwell tiba-tiba terbuka. Pandangannya melewati Emily,

melewati atap kamar, menatap suatu tempat yang jauh. Dia menarik

napas panjang dan setengah bangun dari ranjang.

“Malaikat kebangkitan dan kutukan telah datang,” katanya, sebuah

senyum bahagia mencerahkan wajahnya. “Pada siapa kamu akan minta

pertolongan? Dan di mana kamu akan meninggalkan kejayaan

duniamu?”

“Amin.” Emily condong ke depan untuk menenangkannya.

Dan, kamar pun tiba-tiba meledak dalam kilatan cahaya putih dan

guntur.

Kekuatan ledakan itu mengangkat Cromwell dari ranjang dan

melemparkannya melewati atap yang hancur.

PDF by Kang Zusi

Sebagaimana yang dia ramalkan, dia memang tidak mati akibat

luka tembakan.

Dia terlihat benar-benar normal sekarang,” kata Taro.

“Tiga hari ketenangan tak membuktikan apa:.ppa,” kata Sohaku.

“Bahkan, seorang gila pun mampu menahan diri selama tiga hari.”

Rombongan kecil itu meneruskan perjalanan melewati Edo menuju

Istana Bangau yang Tenang. Taro dan Sohaku berkuda di belakang.

Hide dan Shimoda di depan, sementara Genji dan Shigeru di tengah.

Mereka tidak mengenakan lambang klan dan tidak mengibarkan panjipanji,

serta menyamarkan wajah mereka dengan topi keranjang yang

disulam dari alang-alang. Sesuai aturan bepergian secara incognito, ini

berarti mereka tak dikenali, sehingga orang-orang di jalan tidak wajib

berlutut dan membungkuk sesuai tuntutan yang berlaku jika seorang

bangsawan agung lewat. Orang-orang di jalan hanya membungkuk seperti

jika bertemu samurai biasa.

“Aku belum pernah melihat dia sediam ini,” kata Taro. “Mungkin

keberadaan Lord Genji mempunyai efek menyembuhkan terhadapnya.”

“Kamu tak percaya cerita-cerita itu kan?” kata Sohaku.

“Cerita yang mana?” kata Taro.

“Ada begitu banyak cerita.”

Sohaku mendengus. “Cerita tentang kemampuan magis junjungan

kita. Kemam-puannya mengontrol pikiran orang lain.”

“Mungkin bukan pikiran setiap orang,” kata Taro “tetapi lihat

Shigeru. Anda tak bisa menyangkal dia telah banyak berubah semenjak

bersama Genji.”

“Tiga hari ketenangan tidak membuktikan apa apa,” kata Sohaku

lagi. Dia menatap ke depan. Genji dan Shigeru sedang berkuda

bersama, cukup terpisah dari yang lain untuk berbicara secara pribadi.

Seakan-akan pembicaraan mereka itu penting. Paling hanya celotehan

tak berarti, pikir Sohaku.

“Seperti yang kau perkirakan, Hide memilih Shimoda sebagai

asisten pertamanya,” kata Shigeru. “Dan apakah Taro yang akan

terpilih selanjutnya.”

PDF by Kang Zusi

“Itu bukan perkiraan seperti yang Paman duga.” kata Genji. “Hide

adalah orang yang paling tidak imajinatif dan mudah ditebak. Bukan

berarti itu kelemahan dia sebagai pengawal. Aku hanya menebak dia

akan melakukan hal yang paling wajar, yaitu memilih teman-teman

baiknya sebagai pembantunya.

“Kamu seharusnya tidak membolehkan dia memilih Taro. Dia

bawahan langsung Sohaku. Ayah Taro dan Sohaku adalah teman

seperjuangan di masa pemberontakan petani. Dia bahkan belajar bela

diri dari Sohaku. Kamu tak bisa memercayainya.”

“Jika Hide percaya padanya, aku juga percaya, kata Genji. “Sangat

penting bagi kita untuk tahu kapan harus mendelegasikan kekuasaan.”

“Suatu kesalahan jika kamu merasa aman hanya karena ramalan

pertama,” kata Shigeru. “Bisa saja, kamu koma selama sepuluh tahun

ke depan akibat serangan Taro, dan kemudian bangun hanya untuk

dibunuh tempat yang kaulihat dalam ramalanmu itu.”

“Aku tahu itu.”

“Benarkah? Lalu, mengapa kamu dengan mudah mengabaikan

kemungkinan bahwa Jimbo merupakan orang asing seperti yang

diperingatkan Lord Kiyori. Dia mungkin saja menjadi orang yang

menyelamatkan hidupmu.”

“Seorang asing yang kutemui di Tahun Baru, baru saja

menyelamatkan nyawaku.”

“Hanya jika memang kamu yang menjadi sasaran serangan itu,”

kata Shigeru. “Lagi pula, sekarang belum Tahun Baru.”

“Sudah bagi para orang asing. Apa Paman meragukan kalau akulah

sasaran serangan itu?”

“Aku yakin bukan kamu sasarannya.”

“Oh? Paman tidak di sana, tapi Paman tahu. Melalui pertanda dan

ramalan, ya?”

“Tidak, Tuanku,” Shigeru merespons kegusaran Genji dengan

bersikap lebih resmi. “Hamba yakin Anda bukan sasaran karena sifat

serangan itu sendiri. Anda berjalan di depan, terlihat jelas, tetapi justru

joli yang tertembak, bukan orang-orang yang berjalan di dekat Anda.”

PDF by Kang Zusi

“Kita orang Jepang belum menguasai benar penggunaan senjata

api, tetapi kita tetap memaksa menggunakannya, meski busur dan

panah mungkin menjadi senjata yang lebih efektif. Kita selalu menjadi

korban mode orang asing.”

“Penyerang itu tidak hanya berhasil lari, tetapi menghilang tanpa

terlihat.”

“Dia berada cukup jauh. Pada saat para pengawal sampai di sana,

dia telah pergi. Tidak ada yang aneh tentang itu.”

“Semua itu menunjukkan tanda-tanda ulah seorang ninja,” kata

Shigeru. “Pembunuh itu memang menembak sasaran yang dia

inginkan, pemimpin misionaris.”

“Untuk menimbulkan kerusuhan dan menimbulkan kecurigaan?”

“Tepat sekali.”

“Mungkin juga. Aku akan menyelidikinya.”

Pembicaraan itu terhenti oleh suara-suara keras dari arah Teluk

Edo. Suaranya seperti batang pohon besar terbelah dua. Kemudian,

garis pantai di depan mereka meledak.

“Meriam!” teriak Shigeru. “Kapal-kapal perang itu menembaki

istana-istana.”

Genji memacu kudanya melewati orang-orang yang berlarian panik

dan melaju ke arah Istana Bangau yang Tenang dengan kecepatan

penuh.

“Tunggu!”

“Tuanku!”

Genji mengabaikan mereka. Shigeru, Hide, dan Shimoda

menendang kuda mereka dan mengejar Genji.

Taro memandang Sohaku, menanti perintah.

“Apa ini hal terbaik yang bisa kita lakukan?” tanya Sohaku.

“Berlari langsung ke arah tembakan meriam kapal asing?”

“Tuan!” Taro berusaha keras menahan kudanya yang bersemangat

untuk mengejar kuda-kuda lainnya yang lebih dahulu melaju.

“Para pemimpin kita pergi ke arah yang salah,” kata Sohaku.

PDF by Kang Zusi

“Tuan, perintah Anda!” Taro tak sabar untuk pergi seperti juga

kudanya. Enam bulan berada di kuil ternyata tak membuatnya benarbenar

menjadi seorang rahib.

Sohaku mengangguk.

Taro melepaskan kekang dan kudanya melompat lari ke depan.

Taro, seorang rahib dengan dua pedang di pinggang, duduk di pelana

seperti seorang prajurit kavaleri.

Sohaku menderap sendirian di jalan. Orang-orang telah berlarian ke

dalam rumah-rumah. Reaksi yang bijaksana jika perangnya

menggunakan pedang dan panah. Tetapi, kini justru sama dengan

membunuh diri sendiri. Hampir sama saja dengan berkuda menuju arah

tembakan meriam. Sohaku menendang kudanya dan mengejar

junjungannya.

Stark tidak pernah lagi menembakkan pistol selama lebih dari setahun.

Setelah dia bergabung dengan Misi Firman Sejati di San Francisco, dia

mengatakan kepada Emily dan Cromwell kalau dia telah membuang

senjatanya ke Laut Pasifik. Itu berarti mengakhiri latihan menembak

sasaran. Karena tak bisa lagi menembak, Stark berkonsentrasi pada

cara mencabut pistol secepat dia bisa. Dia melakukan itu di kamarnya

di rumah misi dan selama pelayaran di kabinnya di kapal Bintang

Bethlehem. Keahliannya menembak mungkin menurun sekarang.

Hanya ada satu cara untuk mempertahankan keahliannya menembak,

dan itu adalah dengan berlatih menembak. Merasakan hentakan pistol

saat bubuk mesiunya meledak dan timahnya meluncur terbang. Tidak

membiarkan gerakan atau suara atau kilatan atau bau atau asap

mengganggu konsentrasinya. Stark yakin dia masih bisa menembak

tepat dada seseorang dari jarak sepuluh langkah. Mungkin sampai dua

puluh langkah. Tetapi, kecepatannya mencabut pistol justru semakin

meningkat. Dia sedetik atau dua detik lebih cepat dari sebelumnya,

ketika dia menjadi jago tembak terkenal di Texas Barat.

Selama lima hari mereka di istana Lord Genji, Stark sama sekali

tak menyentuh senjatanya. Setengah dari dinding istana ini terbuat dari

kertas, dan orang selalu mondar-mandir. Satu-satunya tempat yang dia

PDF by Kang Zusi

yakin bisa menjadi tempat pribadinya jalah dalam pikiran. Jadi, di

sanalah dia berlatih.

Cabut.

Kokang saat memutarnya ke atas.

Bidik jantung.

Tekan pelatuk.

Kokang senjata lagi.

Bidik jantung.

Tekan pelatuk.

Ada juga untungnya berlatih dengan cara ini. Pikirannya bisa

dibawa ke mana-mana. Jadi, dia bisa berlatih kapan saja dan di mana

saja dia mau.

Samurai yang menjaganya berpikir, Stark sedang berdoa atau

bermeditasi, berkomunikasi dengan Tuhannya atau membiarkan

kesadarannya melepaskan semua beban pikiran, dan dalam hening

mengulang-ulang mantra seperti pengikut Buddha Amida, atau menjadi

satu dengan kekosongan seperti penganut Zen. Apa pun yang dia

lakukan, membuat Stark diam dalam waktu lama. Samurai itu belum

pernah melihat orang asing yang pendiam seperti dia. Stark hampir

sediam bebatuan tempatnya duduk di halaman dalam.

Cabut, kokang, bidik, tembak. Lagi, lagi, dan lagi. Stark sedang

berkonsentrasi penuh pada latihannya ketika dia mendengar suara

siulan keras menuju arahnya. Dia tak mendengar ledakannya.

Ketika membuka mata, Stark berada dalam keheningan total. Saat

itu malam hari. Dia berdiri di pintu dan melongok ke kamar tidur.

Mary Anne memeluk anak-anak di lengannya. Becky dan Louise masih

gadis-gadis kecil, tetapi sudah lebih besar dari pertemuan sebelumnya.

Sudah waktunya anak-anak itu tidur di ranjang mereka sehingga dia

bisa tidur di ranjangnya. Tetapi, ibu dan anak-anaknya itu terlihat

begitu damai dalam tidurnya sehingga Stark tak tega

membangunkannya. Mereka adalah para pemimpi indahnya.

Bulu mata Mary Anne bergetar membuka. Dia melihat Stark dan

tersenyum. Lembut, dia berkata,

“Aku cinta padamu.”

PDF by Kang Zusi

Sebelum dia dapat menjawab, ledakan selanjutnya membangunkan

Stark. Dia terbaring telentang. Lebih banyak suara siulan, diikuti ledakan.

Pecahan meriam dan puing beterbangan di udara.

Hujan darah tiba-tiba menyiram tanah di sebelahnya. Stark

menengadah. Badan bagian atas samurai yang tadi menjaganya

tersangkut di dahan pohon willow Sementara tubuh bagian bawahnya

masih dalam posisi berlutut di teras kayu.

Tindakan yang paling tepat dalam keadaan seperti ini adalah

mencari perlindungan dan diam di sana. Tak ada gunanya berusaha

melarikan diri. Ke mana arah agar dia bisa selamat? Tetapi, Stark tidak

memikirkan hal itu. Dia melompat dan lari ke arah kamar Cromwell.

Dia baru saja mengantarkan Emily ke sana beberapa saat lalu, dan ke

situlah arah Heiko pergi ketika dia berpapasan dengannya di lorong.

Emily adalah satu-satunya orang di dunia yang bisa dibilang temannya.

Tanpa dia, Stark benar-benar sendirian. Mengapa Heiko juga menjadi

pikirannya, dia tak tahu.

Satu dari empat bangunan yang mengelilingi halaman dalam telah

hancur, dan bangunan kedua mulai terbakar api. Serpih-serpih kayu

beterbangan saat Stark lari melewatinya.

Stark menemukan seluruh sayap bangunan yang diperuntukkan

untuk tamu runtuh dan terbakar. Seseorang telah sampai di sana

sebelum dia, seorang pria besar terlihat mencari orang-orang yang

selamat dengan penuh konsentrasi.

Kuma, pria yang dilihat Stark di bangunan runtuh itu, hanya

tertarik pada empat orang. Heiko, untuk menyelamatkannya jika dia

bisa. Dan ketiga orang asing, untuk dibunuh. Pengeboman itu

memberinya kesempatan masuk ke istana tanpa diketahui. Dia tak tahu

meriam siapa yang telah menghantam istana ini, tetapi dia yakin itu

bukan meriam Shogun. Si Mata Licik, Kawakami, pasti telah

memperingatkannya terlebih dahulu jika dia akan mengebom istana

Genji. Jadi, siapa yang lancang melakukan serangan tanpa

sepengetahuan atau izin Shogun? Kuma bertanya-tanya sembari

mencari-cari di reruntuhan. Mungkin perang saudara yang diperkirakan

setiap orang akan terjadi akhirnya pecah. Namun, aneh jika perang itu

PDF by Kang Zusi

pecah di sini, di istana-istana bangsawan agung di Edo, bukan dengan

serangan di benteng-benteng di jalan utama dan dua jalan raya besar,

jalan raya Tokaido di sepanjang pantai dan jalan raya Nakasendo di

pedalaman. Ledakan yang terjadi mulai bergeser ke timur,

menghancurkan istana pendukung maupun penentang Shogun. Benarbenar

zaman yang membingungkan.

Kuma mengangkat sebuah balok yang runtuh. Ah, di sini rupanya

dia.

“Hei-chan,” panggil Kuma. Heiko membuka matanya dan berkedip.

Warna wajahnya bagus. Pemeriksaan singkat menunjukkan tak ada

tulang patah, retak, atau bergeser, dan tidak ada pendarahan. Dia

mungkin hanya terkejut. “Kamu tidak terluka kan?”

“Kurasa tidak,” kata Heiko.

Kuma tidak sadar betapa besar ketegangan yang dia alami hingga

otot-otot bahunya melemas mendengar suara Heiko. Dia telah menjaga

gadis itu atas perintah si Mata Licik sejak Heiko dibawa ke desanya

pada usia tiga tahun. Saat itu dia menganggap tugasnya merupakan

kewajiban. Kini, setelah bertahun-tahun tugas itu telah berubah. Sejak

beberapa waktu lalu, Kuma memutuskan jika dia disuruh inembunuh

Heiko oleh si Mata Licik, dia justru akan membunuh si Mata Licik.

Bahkan, Kuma akan membunuh siapa pun yang mengancam

keselamatan Hciko. Baik itu Genji, Kudo, bahkan Shogun sendiri.

Kuma mengakui itu bukan sikap yang profesional melainkan setia,

tetapi apa yang bisa dia lakukan? Dia mencintai gadis itu seperti

anaknya sendiri meski dia tak lain hanya sebuah alat yang juga

dibentuk oleh Kuma.

“Apa kamu meledakkan bom di tempat ini?” tanya Heiko.

“Tidak. Meriam, kurasa datang dari arah laut.”

“Mengapa? Apa perang sudah mulai?”

“Aku tak tahu. Jangan bergerak. Aku akan mengeluarkanmu.”

Dengan hati-hati, Kuma menggeser balok itu dari atas Heiko. Ketika

dia melakukan itu, dia melihat sejumput rambut pirang asing terhampar

di salah satu lengan Heiko. Si wanita asing. Kuma mencabut belatinya.

PDF by Kang Zusi

Sebuah torehan di pinggir lehernya yang tak mencurigakan dan dia

akan mati.

Stark masih dua puluh langkah jauhnya ketika dia melihat belati

itu. Pria yang dilihatnya sepertinya siap untuk memotong suatu

penghalang. Tetapi, dia menoleh ke arah Stark dan mata mereka

bertemu Stark mengenali pandangan itu. Itu adalah pandangan mata

saat berfokus membidik untuk menembak

Kuma menjatuhkan belatinya saat dia meliha Stark. Dia mencabut

shuriken, pisau lempar berbentuk bintang, yang tersembunyi di ikat

pinggangnya. Dua puluh langkah terlalu jauh untuk lemparan tepat,

tetapi jika dia gagal dengan lemparan pertama dia akan melumpuhkan

Stark dengan yang kedua. Kuma berlari ke arah Stark, mendekatkan

jarak mereka saat dia melempar.

Pada saat yang sama, Stark meraih revolver kaliber 32 yang

tersembunyi di balik kemeja di bagian pinggang kiri. Latihan

menembak imajiner yang selalu dia lakukan telah membentuk pola di

tubuhnya sehingga gerakannya telah menjadi refleks. Dia mencabut

pistol dengan tangan kanan dan menembak sedetik sebelum shuriken

terbang dari tangan Kuma. Kurangnya latihan menembak target

membuat bidikan Stark tidak sejitu dahulu. Pelurunya memantul di

batu sebelah kanan Kuma.

Suara tembakan dari pistol rupanya cukup mengganggu konsentrasi

Kuma sehingga dia juga meleset. Lemparan shuriken pertamanya

hampir menyerempet bahu kiri Stark. Masih berlari menuju

sasarannya, Kuma mencabut shuriken keduanya.

Kuma jauh lebih terlatih dalam membidik sasarannya daripada

Stark. Tetapi, dia membutuhkan waktu satu detik penuh untuk menarik

tangannya dari lemparan pertama, mencabut shuriken kedua dari ikat

pinggangnya, dan melemparkannya kepada Stark, Sementara Stark

hanya butuh setengah detik untuk mengokang kembali pistolnya dan

menarik pelatuk untuk kedua kalinya.

Peluru itu merobek dada Kuma dan membantingnya ke tanah.

Shuriken yang dia lemparkan terlontar tinggi di udara dan jatuh ke

reruntuhan taman.

PDF by Kang Zusi

Stark berjalan menuju orang yang baru dia tembak itu, siap untuk

menembak lagi. Tetapi ketika dia dekat, Stark melihat bahwa dia tak

perlu menembakkan satu peluru lagi. Dia memasukkan kembali

pistolnya dan mulai menolong Heiko dan Emily.

Sekarang, ledakan terhenti. Dalam keheningan Stark mendengar

langkah-langkah mendekat. Di hampir menembak dua samurai itu

sebelum akhirnya tahu siapa mereka.

Genji memacu kudanya melewati reruntuhan gerbang depan. Dia

melompat turun dari pelana dan berlari menuju pusat istana. Pendeta

Cromwell ditempatkan di kamar yang dekat dengan taman di halaman

dalam. Heiko kemungkinan besar ada di dek situ.

Genji terkejut mengetahui kekhawatiran utamanya adalah Heiko.

Dia seharusnya berpikir tentang strategi bertahan atau evakuasi.

Pengeboman singkat itu bisa saja diikuti dengan pendaratan pasukan

invasi. Atau, seharusnya dia berpikir tentang para orang asing yang

menjadi tamunya, terutama Matthew Stark. Sebelumnya, Genji

mengatakan kepada Sohaku bahwa Pendeta Cromwell yang sekarat

adalah orang yang kedatangannya telah diramalkan oleh kakeknya.

Tetapi, saat ini Genji tidak memikir-kannya. Begitu melihat Stark,

Genji langsung tahu bahwa pria itu bukan seorang misionaris. Dia pasti

orang asing yang dimaksudkan kakeknya. Tetapi, mencari-cari di

antara puing-puing Istana Bangau yang tenang, Genji tak memikirkan

siapa pun kecuali Heiko. Betapa membosankan hidupnya tanpa Heiko.

Terpisah dari ramalan kakeknya dan dirinya sendiri itu bahwa dia

bisa melihat masa depan, Genji merasa orang-orang di sekitarnya

terlalu mudah tebak. Tiga penasihat yang dia warisi dari kakeknya,

Saiki, Kudo, dan Sohaku bisa dipastikan selalu memilih tindakan yang

paling aman. Yang tertua, Saiki, belum mencapai empat puluh tahun,

tetapi mereka bertiga berperilaku seperti orang tua. Dan, jika seorang

pria dinilai berdasarkan musuh sekaligus temannya, betapa tidak

sepadan jika musuh bebuyutannya adalah si Mata Licik, Kawakami,

kepala mata-mata Shogun yang tak bisa apa-apa. Apa Kawakami

mengira Heiko bisa dengan mudah naik ranjang Genji tanpa

menimbulkan kecurigaan sekalgus gairah? Genji tak perlu membuntuti

PDF by Kang Zusi

Heiko untul tahu siapa yang mempekerjakan gadis itu. Tak mungkin

orang lain selain Kawakami. Tak mungkin geisha tercantik di Edo

membiarkan dirinya jatuh cinta pada Genji kecuali dia memang punya

pamrih tertentu. Dari enam puluh bangsawan agung di Jepang, lima

puluh di antaranya lebih kaya dan berkuasa daripada Genji.

Tetapi, di tengah reruntuhan istananya, tetap saja Genji merasa

napasnya tersengal-sengal. Hatinya mendingin, badannya mati rasa,

mengkhawatirkan kemunginan terburuk terjadi, dunia tanpa Heiko.

Bagaiman dan kapan itu terjadi? Genji tak tahu. Wanita paling penting

dalam hidupnya adalah seorang mata-mata dan hampir dipastikan

seorang calon pembunuh yang dikirim untuknya.

“Tuanku!” Saiki tersandung-sandung keluar dari bangunan yang

setengah runtuh, dahinya berdarah akibat luka gores. “Anda tak

seharusnya ada di sini. Musuh bisa menembak lagi kapan saja.”

“Di mana Heiko?” kata Genji. Detak jantungnya terdengar

bagaikan tembakan meriam di telinganya. Dia berlari menuju

bangunan sayap untuk tamu yang hancur dan memanjat melewati

tangga yang runtuh. Tepat saat itu, dia melihat seorang pria gemuk

yang tidak dia kenal melemparkan dua pisau bintang kepada Stark.

Stark mencabut pistolnya yang tersembunyi, dan menembak lebih

cepat dari lemparan pisau ninja itu, dan menjatuhkan pria gemuk itu

pada tembakan kedua.

“Apa itu tadi suara tembakan?” Saiki berdiri di sebelahnya.

“Ayo,” kata Genji. “Kurasa Stark telah menemukannya.”

“Hei-chan.” Heiko mendengar namanya dipanggil dan membuka

mata. Dia melihat wajah Kuma yang khawatir melihat ke bawah, ke

arah dirinya. Di belakang punggung lelaki itu terlihat langit yang terbuka.

“Kamu tidak terluka, kan?”

“Kurasa tidak,” kata Heiko.

Kuma tersenyum dan mulai menggeser reruntuhan bangunan yang

menimpa Heiko.

“Apa kamu meledakkan bom?” tanya Heiko.

Kelembutan hilang dari mata Kuma. Senyumnya menghilang dan

dia mencabut sebilah belati.

PDF by Kang Zusi

Heiko langsung tahu maksudnya. Dia bisa merasakan kepala Emily

yang terbaring di bahunya.

“Jangan, Kuma, jangan.”

Kuma tiba-tiba berpaling, menjatuhkan pisaunya dan melompat

menjauh dari pandangan Heiko. Dua suara tembakan terjadi susulmenyusul

dengan cepat, lalu hening, hingga Heiko melihat Matthew

Stark berdiri di tempat Kuma tadi berdiri. Stark mulai mengeluarkan

Heiko tanpa sepatah kata pun. Lalu, diapun tiba-tiba berhenti,

tangannya meraih ke pinggang kirinya. Melihat itu, Heiko sadar bahwa

Starklah tadi yang menembakkan pistol yang kini tersembunyi di balik

pakaiannya. Stark pasti mengenali siapa yang datang karena dia tidak

jadi mencabut pistol dan meneruskan usaha penyelamatannya.

“Jangan gerakkan dia,” kata Genji. “Dia mungkin terluka. Tunggu

sampai Dokter Ozawa datang.”

Heiko langsung duduk. “Hamba hanya memar-memar Tuanku, tak

lebih. Kalau dokter datang, dia lebih diperlukan untuk yang lain.” Dia

bisa mendengar jerit kesakitan dari sekitarnya dekat maupun jauh.

Kuma pasti meledakkan lebih dari satu bom. Mengapa dia tidak bilang

sebelumnya? Itu tidak sesuai dengan kebiasaannya. Benar-benar bukan

kebiasaan Kuma, pasti orang lain yang melakukannya. Kuma pasti tak

akan membahayakan nyawa Heiko. Meski kelihatannya mustahil,

kehancuran ini memang disebabkan tembakan meriam. Heiko akan

menanyai Kuma lain kali kalau mereka bertemu untuk mengetahui apa

yang sebenarnya terjadi. Kuma adalah penipu ulung, tetapi dia tak bisa

membohongi Heiko. Heiko berdiri dan berusaha memijakkan kakinya.

“Hati-hatilah.” Genji melingkarkan lengan di sekeliling pinggang

Heiko untuk mendukungnya. “Kamu bisa saja terluka parah dan tidak

menyadarinya.” Wajahnya yang biasanya tetap tenang meski dalam

situasi sulit sekalipun, kini terlihat tegang karena khawatir. Keningnya

berkerut. Alisnya bertemu. Senyum tipis mengejek yang biasa

menghiasi bibirnya kini menghilang.

Kekhawatiran Genii yang nyata mengejutkan Heiko lebih dari

ledakan yang telah menghancurkan kamar tempatnya tadi berada. Rasa

bahagia tiba-tiba membanjiri dadanya dan dia tersenyum spontan. Lalu,

PDF by Kang Zusi

Genji lebih mengejutkan dia lagi. Tangannya melingkari Heiko dan

memeluk wanita itu erat-erat.

Tindakan junjungannya yang menunjukkan emosi dengan terbuka

membuat Saiki terkejut. Merasa malu, dia memalingkan wajahnya dan

melihat Hide dan Shimoda ternganga memandang Genji dan Heiko.

“Kenapa kalian berdiri saja di sana seperti orang bodoh?” kata

Saiki. “Periksa sekeliling. Bersiap-siaplah menghadapi serangan.”

“Kapal-kapal sudah berlayar pergi,” kata Hide. “Tidak ada pasukan

yang datang.”

“Kapal?”

“Ya, Pak. Di teluk. Tiga kapal perang uap dengan bendera merah,

putih, biru. Mereka menembaki seluruh distrik Tsukiji dengan

meriam.”

“Orang asing yang melakukan ini?” Suara Saiki bergetar karena

marah.

“Ya, Pak,” jawab Hide.

“Apa pola warna benderanya? Belanda, Prancis, Inggris, dan

Amerika semuanya menggunakan bendera dengan warna merah, putih,

dan biru.”

“Ada lebih dari tiga warna hamba rasa,” kata Hide, “iya kan?”

Shimoda menyentuh dahinya tak yakin. “Kurasa ya, mungkin.”

“Benar-benar pengamatan yang bagus,” sindir Saiki. “Setidaknya

kita semua tahu bahwa Rusia dan Jerman tidak terlibat. Tidak mungkin

Belanda. Jadi, kemungkinannya Prancis, Inggris, atau Amerika.”

“Atau mungkin ketiganya,” kata Shimoda. “Mungkin memang ada

lebih dari satu bendera.”

“Bantu,” kata Stark.

Hide dan Shimoda tahu maksudnya tanpa memahami kata-katanya.

Mereka berdua membungkuk kepada Saiki dan membantu pria asing

itu.

“Pelan-pelan,” kata Stark. Dia dan dua samurai itu memindahkan

balok yang menindih punggung Emily. Sebagian besar berat balok itu

tertahan oleh dinding yang setengah hancur. Jika balok itu

menghantam dinding terlebih dahulu sebelum menghantam Emily, dia

PDF by Kang Zusi

mungkin tak terluka parah. Stark tak bisa memastikannya sekarang

karena Emily terbaring telungkup dan pingsan. Dia belum bergerak

sejak Stark menemukannya. Stark berlutut dan menekan-nekankan

tangan ke punggung Emily untuk memeriksa apakah ada tulang yang

patah. Ketika tangan Stark hampir mendekati tulang punggung bagian

bawah, mata Emily tiba-tiba terbuka kaget. Gadis itu terengah dan

langsung berbalik, menendang perut Stark sehingga pria itu jatuh

telentang. Emily berdiri secepat kilat, matanya liar dan bingung

mencari tempat untuk lari.

“Emily, kita selamat.” Heiko melepaskan rangkulan Genji. Dia

pelan-pelan mendekati gadis yang ketakutan itu. “Lord Genji dan para

samurainya ada di sini. Tak seorang pun yang bisa melukai kita.”

“Heiko.” Pandangan liar di mata Emily meredup Ketegangan yang

menekan tubuhnya mereda dan dia luluh ke pelukan Heiko. Dia

tersedu. “Kupikir….” Emily tidak menyelesaikan kalimatnya, tetapi

Heiko mengerti. Gadis itu trauma dengan masa lalunya. Seperti juga

banyak wanita lainnya. Masa lampau, selalu masa lampau. Dan, tak

dapat diulang lagi. .

“Semoga Buddha dan para dewa menyelamatkan kita,” gumam

Saiki. Dia kembali berpaling dari penunjukan emosi di depan publik

yang tidak pantas. Tindakan wanita asing itu tidak menjadi masalah

baginya. Dia seorang barbar seperti orang asing lainnya. Tetapi, Heiko

seharusnya lebih tahu. Ekspresi yang sempurna dari tingkah laku yang

pantas adalah inti dari diri seorang geisha. Kini, jelas bagi Saiki;

Orang-orang asing itu adalah polusi mematikan yang harus segera

dihilangkan, dan semakin cepat semakin baik. Keberadaan mereka

membuat tradisi kuno Jepang menurun dengan cepat. Buktinya kini

terpampang di depan mnatanya. Junjungannya sendiri, ahli waris salah

satu klan yang paling mulia di negara ini, memeluk wanita seperti

pemabuk di distrik remang-remang Yoshiwara. Geisha paling terkenal

di Edo memeluk wanita asing seakan-akan mereka adalah sepasang

kekasih aneh.

Buddha dan semua dewa mungkin tak bisa lagi menyelamatkan

kita, pikir Saiki. Kita seharusnya menjadi bangsa pejuang. Tetapi, kini

PDF by Kang Zusi

kita membiarkan diri menjadi lemah sehingga orang asing dengan

mudah menghancurkan istana para bangsawan agung di ibu kota

Shogun dan kita tak bisa melakukan apa-apa untuk membela diri.

Tangan Saiki menyentuh pedangnya, dalam kemarahan dan

keputusasaan. Tetapi, dia tidak meng-hunusnya karena tak seorang pun

yang bisa dilawannya.

Sambil tersenyum, Stark berkata, “Tak kusangka kamu bisa

menendang begitu keras, Emily”

“Maafkan aku, Matthew. Aku bingung.”

“Tak masalah.” Stark menunduk dan mengambil belati yang tadi

dijatuhkan Kuma.

Saiki spontan menghunus pedangnya.

“Tak perlu,” cegah Genji. Kemudian, dia bertanya kepada Stark,

“Siapa yang akan dibunuhnya? Heiko atau Emily?”

Stark dan Genji melihat ke tubuh Kuma yang diam tak bergerak.

Stark menggelengkan kepalanya. “Kamu kenal dia?”

“Tidak,” kata Genji. Dia berpaling kepada Heiko. “Kamu kenal?”

Ketika Heiko mendengar dua tembakan tadi. dia mengira Kuma

telah berhasil lari. Selama hidup Heiko, Kuma selalu berhasil lolos.

Kini melihat mayatnya, Heiko merasa tubuhnya bergoyang. Dia

menutup matanya dan bersandar kepada Genji, pura-pura akan pingsan

melihat mayat untuk menutupi kekagetan lain yang membuat kakinya

lemas. Kuma telah mati!

“Tidak, Tuanku,” kata Heiko.

Saiki berkata, “Tentu meski keadaan mereka sekarang lemah, para

penasihat Shogun tak membiarkan penghinaan ini lewat begitu saja.”

Genji memandang sekeliling, ke reruntuhan Istana Bangau yang

Tenang.

“Tidak ada penghinaan di sini,” katanya. “Kita telah tertidur selama

tiga abad, memimpikan perang masa lampau. Kini, kita telah

terbangun, itu saja.”

PDF by Kang Zusi

8. Makkyo

Saiki berkata, “Anda lalai, Rahib Kepala. Anda seharusnya

membawa orang asing yang satunya bersama Anda. Menurut ramalan,

seorang asing akan menyelamatkan nyawa junjungan kita di Tahun Baru.

Kita belum tahu yang mana.”

Sohaku mengabaikan nada sarkastik di perkataan Saiki ketika dia

memanggilnya dengan jabatan kependetaannya. “Aku telah meminta Lord

Genji untuk membawanya. Beliau menolak, katanya orang asing di

ramalan itu telah bertemu dengannya, dan nyawanya telah diselamatkan.”

“Kita bertiga dipercayai Lord Kiyori untuk menjaga cucunya,” kata

Kudo. “Itu berarti kadang kita harus tegas, meski harus menentang

pendapat junjungan muda kita. Hidupnya lebih penting daripada keinginan

kita untuk disenangi olehnya.”

“Aku sadar itu,” balas Sohaku, “tetapi, aku tak bisa mengeluarkan

perintah yang langsung bertentangan dengan perintahnya.”

“Argumen yang lemah,” tukas Saiki. “Kamu bisa saja mengatur agar

orang asing itu pergi ke Edo sendiri, sebagai sebuah `kesalahpahaman’.

Junjungan kita pasti mengerti.”

“Terima kasih atas instruksi Anda,” kata Sohaku. Darahnya mulai

panas, dia membungkuk berlebih-lebihan. “Tolong bimbing saya lebih

jauh. ‘Kesalahpahaman seperti apa’ yang bisa saya gunakan untuk

mencegah junjungan kita menugasi kembali Lord Shigeru?”

“Terima kasih karena mengingatkan pada masalah penting yang lain,”

kata Saiki ikut-ikutan membungkuk resmi untuk membalas bungkukan

Sohaku. “Mungkin Anda mau berbesar hati menceritakan kepada kami

secara terperinci bagaimana itu bisa terjadi. Pikiran saya yang dangkal

gagal mengerti bagaimana rangkaian peristiwa yang ber-bahaya dan tak

masuk akal itu bisa terjadi.”

“Sebaiknya kita berbicara dengan nada yang lebih rendah,” kata Kudo.

“Orang lain bisa mendengar suara kita dari tempat kita duduk sekarang

ini.” Padahal, baik Saiki maupun Sohaku berbicara dengan nada rendah

PDF by Kang Zusi

dan sopan. Hanya tingkat kesopanan yang semakin tinggi menunjukkan

tanda bahaya. Hal itu bisaanya merupakan awalan terjadinya duel tiba-tiba.

Peringatan Kudo hanyalah cara dia untuk mencairkan situasi.

Tiga pria itu duduk di salah satu reruntuhan kamar yang menghadap ke

taman halaman dalam. Menakjubkan, taman itu berhasil bertahan utuh dari

pengeboman. Tak satu pun pola yang diukir di pasir terusik. Tetapi,

kondisi itu sangat berkebalikan dengan ruangan tempat mereka duduk.

Atap, dinding, dan sebagian besar lantai telah hancur. Saiki, Sohaku, dan

Kudo duduk di pojok ruangan yang masih tersisa, para ajudan mereka

berjaga di tempat dahulu pintu terletak. Perubahan situasi itu sama sekali

tak berpengaruh pada postur, sikap, atau formalitas setiap orang.

“Kini terjadi kebingungan, ketakutan, dan spekulasi,” kata Kudo. “Tak

seorang pun tahu siapa yang melakukan serangan atau mengapa. Kita

adalah pemimpin. Setiap orang kini pasti mengharapkan jawaban dari kita.

Bukankah lebih baik kita mencari jawaban dari pertanyaan mereka

daripada mencari siapa yang salah?”

“Jawaban tidak penting,” kata Saiki. “Yang penting adalah sikap kita.

Jika kita percaya diri, mereka yang mengikuti kita juga akan percaya diri,

tak peduli apakah mereka-atau kita-tahu atau tidak tahu.”

Sohaku mencondongkan tubuhnya ke depan. “Kita tak boleh

bertengkar tentang detail-detail tak bermakna tentang para orang asing atau

Shigeru. Pertanyaan yang sebenarya jauh lebih serius.”

“Aku setuju,” kata Kudo. “Kita harus segera menentukan keputusan.”

“Aku tak percaya sudah ada kesimpulan jelas dari masalah ini,” kata

Saiki.

Sohaku dan Kudo saling berpandangan terkejut.

“Apa aku ketinggalan berita?” kata Sohaku. “Terakhir kali kita

bertemu, kamu adalah orang yang paling keras mengusulkan pengangkatan

seorang wali untuk memegang kekuasaan di wilayah Akaoka. Jika Aku tak

salah, waktu itu kamu bilang junjungan muda kita adalah seorang pesolek

yang akan membawa klan kita pada kehancuran.”

“Mungkin seharusnya aku mengatakan dia sebagai seorang yang peduli

penampilan, bukan pesolek.”

PDF by Kang Zusi

“Bagaimana dengan obsesinya terhadap misionaris Kristen?” tanya

Kudo. “Tentu kamu tak berubah pikiran tentang itu, kan?”

“Tidak, aku tetap melihat ada bahaya di sana,” kata Saiki. Dia ingat

penunjukan emosi tak pantas yang baru saja disaksikannya tadi. “Bahkan,

bahayanya lebih besar dari dulu. Tindakan terhadap para misionaris itu

mungkin harus dilakukan nanti, secara rahasia dan tanpa sepengetahuan

Lord muda jika memang diperlukan.”

Kudo mengangguk, yakin. “Jika dilihat dengan yang lain, sikap Lord

muda terhadap sang paman membuat kita lebih yakin.”

“Aku ragu apa memang benar begitu,” kata Saiki. “Memang tindakan

itu kelihatan membingungkan, aku setuju. Tetapi, jika kita melihatnya dari

konteks pertanda ramalan, tindakan itu bisa saja menjadi keputusan yang

bijak.”

“Pertanda ramalan?” Sohaku marah. “Sejak kapan kamu percaya pada

dongeng anak-anak itu? Aku tak pernah melihat bukti Lord Kiyori bisa

melihat masa depan, dan aku melayaninya selama dua puluh tahun.

Sedangkan Lord Genji, satu-satunya minat yang dia punyai di masa depan

adalah dengan geisha mana dia akan tidur malam ini dan sake apa yang dia

inginkan untuk pesta bulan purnama mendatang.”

“Shigeru benar-benar gila,” kata Kudo. “Aku adalah salah satu dari

mereka yang menangkapnya. Kalau kamu ada di sana, kamu tak akan

setenang ini. Dia duduk di sana tertawa, berlumuran darah keluarganya

sendiri, mayat istri, anak-anak perempuannya, dan penerusnya yang dia

bunuh tergeletak di depannya. Aku tak bisa melupakan pemandangan itu,

meski aku berharap bisa melupakannya.”

“Aku mendengarmu dan aku mengerti,” kata Saiki.

Sohaku dan Kudo saling berpandangan lagi kali ini dengan pasrah.

Saiki telah mengucapkan kalimat favoritnya, kalimat yang menandakan

bahwa dia telah menentukan pilihan dan tak mungkin diubah.

Saiki melanjutkan. “Tetapi, meski aku mengakui pengamatan kalian

yang meyakinkan, pandanganku tentang junjungan kita telah mengalami

perubahan. Meski aku belum yakin akan kemampuannya meramal, aku

kini terbuka menerima kemungkinan itu.” Dia lalu menunjuk ke bangunan

yang ada di sisi timur taman, tempat yang menjadi pusat istana.

PDF by Kang Zusi

Sohaku menoleh ke arah itu. “Aku tak melihat apa pun kecuali

reruntuhan. Bukti tak terelakkan tentang perlunya segera dilakukan

perubahan.”

“Aku juga melihat reruntuhan,” kata Saiki, “tetapi, aku melihat sesuatu

yang tak terlihat olehmu.”

“Yaitu?”

“Itu adalah reruntuhan bekas kediaman Lord Genji.”

“Ya, aku tahu. Lalu?”

“Kalau saja dia tidak pergi ke Kuil Mushindo, dia pasti ada di sana saat

terjadi pengeboman.” Saiki lega melihat ekspresi pemahaman muncul di

wajah rekan-rekannya.

“Tak mungkin dia tahu,” kata Kudo. Tetapi, suaranya bergetar tak

yakin.

“Tetapi kelihatannya dia tahu,” kata Saiki.

“Tak ada bukti apa-apa,” kata Sohaku.

“Tetapi juga tak ada bukti yang menyangkal,” balas Saiki.

“Kalau dia tahu, mengapa dia tak memperingatkan kita?” tanya

Sohaku.

“Aku tidak akan sok mengerti cara kerja sebuah ramalan,” kata Saiki.

“Sudah jelas bagiku bahwa kita tak harus mengambil keputusan tentang

hal ini sekarang. Sementara itu, bersiap-siaplah untuk berangkat. Tempat

ini tak lagi aman.”

“Maksudmu, kita akan mengungsi ke Kastel Awan Burung Gereja?”

“Secara logistik, itu sangat sulit dilakukan,” kata Sohaku. “Sebagian

besar wilayah antara Edo dan Akaoka adalah wilayah musuh kita. Laut

Dalam sendiri juga bukan perbatasan yang aman. Angkatan Laut Shogun

berpatroli di daerah itu. Menyeberangi Laut Dalam ke wilayah kepulauan

kita dalam kondisi seperti itu sangat berbahaya.”

“Aku lebih memilih berbahaya daripada fatal,” kita Saiki. “Kita tak

bisa tinggal di sini.”

“Selain itu, ada satu hal lagi,” kata Kudo. “Shogun belum memberi izin

kepada siapa pun untuk pergi dari Edo.”

PDF by Kang Zusi

“Kesetiaanku adalah pada Okumichi no kami Genji, Bangsawan Agung

Akaoka,” kata Saiki, “bukan perampas kekuasaan yang menyombongkan

gelar Shogun dan menduduki Istana Shogun.” Dia membungkuk dan

berdiri. “Jika tuanku memerintahkanku untuk mematuhi orang itu, aku

akan patuh. Jika ia memerintahkanku untuk membunuh orang itu, hanya

kematianku yang dapat mencegahku melaksanakan tugas itu. Aku tahu

siapa diriku. Aku yakin kalian juga tahu siapa diri kalian.”

“Orang tua yang keras kepala,” kata Kudo.

Sohaku mendengus. “Waktu muda dia juga keras kepala. Mengapa

tahun-tahun yang berlalu harus mengubah sifatnya itu?”

“Jelas kalau dia tak akan setuju pengangkatan wali sekarang. Dia

percaya kalau Genji bisa melihat masa depan.”

Tak ada lagi kata yang terucap. Setelah diam Cukup lama, Sohaku dan

Kudo saling berpandang an, mata bertemu mata, membungkuk, dan berdiri

berbarengan.

“Maafkan aku Emily,” kata Stark. “Aku sama sekali tak bisa menemukan

jejak Saudara Zephaniah.”

“Mungkin para malaikat langsung mengangkatnya ke surga seperti

yang dia bilang,” kata Emily tersenyum sedih, menunjukkan kalau dia tak

percaya dengan kata-katanya itu.

“Apa yang akan kau lakukan sekarang?” tanya Stark.

“Apa yang memang harus aku lakukan. Aku akan mengumpulkan

barang-barang kami yang masih tersisa, mengepaknya, dan menunggu

kapal berikutnya yang kembali ke Amerika.” Pikiran kembali ke Amerika

membuat dadanya sesak dan air mata menggenang di matanya. Emily

duduk di tanah di dekat reruntuhan kamar dan menangis tersedu-sedu. Dia

telah menemukan tempat berlindung yang bahkan dahulu tak berani dia

bayangkan, sebuah surga tempat dia bisa lari dari kecantikannya. Bahkan,

dia dianggap sebagai wanita yang mengerikan. Dia telah menemukannya

dan hanya dengan satu tembakan, dia kehilangan tempat berlindung yang

didambakannya. Ini terlalu berat baginya. Dia adalah gadis yang kuat,

tetapi tidak sekuat itu.

PDF by Kang Zusi

Stark berlutut dan memeluknya, menyandarkan kepala Emily di

dadanya. Salah paham akan penyebab kesedihan Emily, dia berkata.

“Kamu akan merasa lebih baik jika kamu sudah kembali ke rumah,” yang

malah meningkatkan kesedihan Emily. Tak berdaya, Stark memeluknya

sementara Emily bergantung erat-erat kepadanya dan menangis tersedusedu.

“Kau masih muda, Emily. Hidupmu baru saja mulai. Surga akan

tersenyum padamu. Kau akan menemukan cinta yang baru. Aku tahu itu.”

Emily ingin mengatakan kepadanya bahwa bukan cinta yang dia

inginkan, melainkan kedamaian. Tetapi, kata-kata tak bisa keluar akibat

kesedihannya yang begitu mendalam.

Segera setelah tembakan meriam berhenti, Shigeru pergi ke bagian luar

istana, di daerah dinding luar dan berdiri berjaga. Tidak ada bahaya di

dalam. Tetapi, jika ada orang yang ingin memanfaatkan keadaan kacau ini

untuk mencoba membunuh Genji, mereka pasti melakukannya sekarang,

saat-saat setelah serangan. Shigeru yakin Sohaku belum akan melakukan

aksinya. Dia masih harus berunding dengan Saiki dan Kudo. Jadi, satusatunya

bahaya adalah dari luar. Shigeru berharap mereka akan datang

karena itu akan menjadi latihan yang bagus untuknya. Dia akan

mengkhawatirkan Sohaku nanti, dan tentang Saiki dan Kudo juga jika

perlu. Sayang memang, dalam suasana penuh bahaya seperti sekarang, ada

kemungkinan dia harus membunuh tiga komandan senior klan. Bahkan,

jika Saiki dan Kudo tetap setia, kehilangan Sohaku akan menjadi pukulan

berat. Sohaku adalah ahli strategi terbaik dari ketiganya dan pemain

pedang yang paling ahli di klan setelah Shigeru.

Suara derap kuda yang mendekat membuat Shigeru berkonsentrasi

penuh. Dua kuda. Diikuti oleh sekitar empat puluh hingga lima puluh

orang berlari. Langkah tegap dan teratur para pelari menunjukkan bahwa

mereka adalah para samurai. Shigeru merasakan bahunya menjadi rileks

dan napasnya semakin perlahan. Dia.sudah siap.

Beberapa saat kemudian, si Mata Licik Kawakami, Kepala Polisi

Rahasia Shogun, memasuki jalan menuju istaria di atas seekor kuda hitam.

Ajudannya, Mukai, berkuda di sebelahnya di atas kuda betina abu-abu. Di

belakang mereka, berlari satu brigade samurai yang terdiri dari empat

PDF by Kang Zusi

puluh orang. Kawakami menarik kekang kudanya hingga berhenti, ekspresi

terkejut tampak di wajahnya saat dia mengenali Shigeru.

“Lord Shigeru, saya tak tahu Anda ada di Edo.”

“Saya baru saja tiba, Lord Kawakami, dan belumnya kesempatan

memberi tahu Anda tentang keberadaan saya.”

“Memang belum, tetapi saya juga tak tahu di mana Anda berada

sebelum ke Edo.”

“Oh? Kelalaian besar dari para anak buah saya.” Shigeru membungkuk

tanpa melepaskan matanya dari Kawakami. “Saya yakinkan Anda bahwa

saya pasti akan meng-hukum mereka yang telah lalai.”

“Saya yakin Anda akan melakukannya,” kata Kawakami. “Sementara

itu, perbolehkan saya masuk dan melakukan inspeksi.”

“Kami tidak diberi tahu bahwa akan ada inspeksi. Karena itu, dengan

menyesal saya harus menolak permintaan Anda.”

“Saya tidak meminta,” Kawakami memacu kudanya ke depan diikuti

oleh para anak buahnya. “Atas perintah Shogun, saya harus menginspeksi

setiap istana yang rusak dan mewawancarai para bangsawan yang selamat.

Mohon Anda minggir, Lord Shigeru.”

Shigeru menarik pedang dari sarungnya dengan halus seperti seekor

burung bangau yang melebarkan sayapnya. Satu detik sebelumnya, dia

berdiri dengan tangan kosong. Di detik selanjutnya, pedang panjang katana

sudah ada di tangan kanannya dan pedang pendek wakizashi di tangan

kirinya. Dia memegang dua pedang itu lurus di sisi badan nya, dalam

posisi yang tidak menunjukkan kudakuda bertahan maupun menyeang.

Bagi mata yang tak terlatih, Shigeru kelihatannya siap untuk menyerah, tak

siap untuk berperang.

Tetapi, Kawakami tentu saja tahu Shigeru tak bermaksud begitu.

Seperti samurai yang terlatih lainnya, dia telah mempelajari keahlian

pedang klasik karya Miyamoto Musashi, Go-rin-no-sho. Kuda-kuda

Shigeru saat ini adalah kuda-kuda persiapan terakhir sebelum

pertempuran—Ku , kekosongan. Dia bukannya tidak siap bertempur,

malah sebaliknya dia terbuka terhadap apa pun, tidak mengantisipasi apa

pun, dan menerima semuanya. Hanya satu orang pada masa lalu yang

berani menggunakan kuda-kuda ini dan orang itu adalah Musashi sendiri.

PDF by Kang Zusi

Sejak itu, hanya ada satu orang yang berani menggunakannya, yaitu

Shigeru.

Kawakami memberi isyarat dan empat puluh pedang serentak terhunus.

Anak buahnya dengan cepat membentuk posisi menyerang Shigeru dari

tiga arah. Mereka tidak bergerak ke belakang Shigeru karena itu berani

mereka harus menyeleberangi jalan dan masuk ke kawasan Istana

Okumichi. Kawakami belum memerintah mereka untuk masuk.

Kawakami sendiri tidak mencabut pedangnya. Dia menjaga agar

kudanya berada dalam yang aman terhindar dari konfrontasl yang akan

terjadi. “Apakah Anda sudah benar-benar lupa realitas sehingga berani

menentang perintah langsung Shogun?”

“Sebagaimana Anda tahu, saya tak mendapat kehormatan melayani

Shogun,” kata Shigeru. “Kecuali jika junjungan saya sendiri meneruskan

perintah itu kepada saya, maka perintah itu tak ada.” Dari cara Kawakami

duduk di pelana, Shigeru tahu kalau dia bukan penunggang yang ahli. Itu

berarti Shigeru bisa mencapainya sebelum dia membalikkan kudanya dan

lari. Menurut perkiraannya, jarak antara dirinya dan Kawakami adalah

lima detakan jantung. Mungkin dia perlu membunuh sekitar selusin

samurai yang menghalanginya, tetapi itu bukan masalah. Semua calon

musuhnya tegang karena takut, mereka sama saja dengan mati.

“Lord Kawakami, benar-benar sebuah kejutan.” Saiki mendekati dua

pihak yang saling siap perang itu dengan santai. Dia sepertinya tak sadar

akan pedang-pedang yang terhunus. “Hamba akan senang sekali

mengundang Anda untuk minum. Tetapi, seperti Anda ketahui,

kemampuan kami menawarkan keramahan kepada Anda agak terhalang

saat ini. Mungkin lain waktu?”

“Saiki, tolong beri pengertian kepada Lord Shigeru kalau bisa.”

Kawakami mengelus surai kudanya yang gugup. “Dia menolak

membiarkanku masuk, padahal aku membawa perintah Shogun.”

“Maafkan atas kontradiksi yang akan hamba bicarakan, Lord

Kawakami,” kata Saiki berjalan langsung ke tengah medan. “Menurut

hamba, Lord Shigeru benar tidak membiarkan Anda masuk.”

“Apa?”

PDF by Kang Zusi

“Menurut Protokol Osaka, Shogun harus memberi tahu akan adanya

inspeksi kepada seorang Bangsawan Agung setidaknya dua minggu

sebelumnya. Sebagai Kepala Administrasi Akaoka, hamba menyatakan

kepada Anda bahwa junjungan kami belum menerima pemberitahuan itu.”

“Protokol Osaka usianya sudah 250 tahun.”

“Bagaimanapun,” kata Saiki membungkuk dalam-dalam dan

tersenyum, “perjanjian itu masih berlaku.”

Senyum cerdik muncul di wajah Kawakami. “Seingatku, protokol itu

membuat perkecualian di masa perang.”

“Itu benar. Tetapi, kita tidak sedang berperang.”

Sebuah bangunan yang terbakar runtuh di belakang Kawakami.

Kudanya panik meringkik dan mengangkat kedua kaki depannya. Butuh

beberapa saat sebelum akhirnya Kawakami berhasil mengontrol kudanya

lagi.

“Jika ini bukan perang, berarti ini benar-benar peniruan yang bagus,”

kata Kawakami.

“Maksud saya dalam hal deklarasi resmi,” kata Saiki, “Protokol Osaka

dengan tegas mensyaratkan adanya deklarasi perang secara resmi. Apakah

Shogun telah menyatakan perang kepada seseorang?”

Kawakami merengut sebal. “Belum.”

Dia lalu membalikkan kudanya dan menderap pergi, meninggalkan

Mukai untuk memerintah anak buahnya supaya menyarungkan pedang

kembali dan mundur.

“Tetap diplomatis seperti dulu,” sindir Shigeru menyarungkan kembali

pedang-nya.

“Terima kasih,” kata Saiki, meski dia tahu Shigeru tidak bermaksud

memujinya. “Anda terlihat sehat seperti dulu, Lord Shigeru, dan tepat pada

waktunya pula.”

“Tuanku,” kata Hide, “Stark membawa pistol yang disembunyikannya.”

“Ya, aku tahu,” kata Genji. “Jangan khawatir. Dia tidak berbahaya

bagiku.”

“Apa Anda yakin, Tuanku?”

“Ya.”

PDF by Kang Zusi

Hide tenang. Jika ini masalah yang terkait dengan ramalan, itu di luar

tanggung jawabnya.

Genji tersenyum. Sungguh menyenangkan mempunyai kepala

pengawal yang pikirannya dapat dia baca dengan mudah seakan-akan dia

memang bisa membaca pikiran orang. “Apakah Hanako baik-baik saja?”

tanyanya.

“Hamba tak tahu, Tuanku.”

“Apa kamu belum menemukannya?”

“Hamba belum mencari.”

“Kenapa tidak?”

“Tanggung jawab hamba adalah menjaga keselamnatan Anda. Saya

tidak bisa begitu saja pergi karena kekhawatiran pribadi.”

“Hide, kamu itu berbicara tentang tunanganmu, ibu dari anak-anak dan

ahli warismu nanti, teman hidupmu.”

“Ya, Tuanku.”

“Pergi cari dia. Shimoda akan melindungiku selama kamu pergi. Iya

kan, Shimoda?”

“Ya, Tuanku.”

Hide membungkuk rendah ke tanah. “Hamba akan segera kembali.”

“Kamu akan kembali besok pagi,” kata Genji, “setelah sarapan pagi.

Dan satu lagi. Kurangi kerendahan bungkukanmu. Sebagai kepala

pengawal, tidak benar kalau kamu membungkuk terlalu rendah sehingga

mengalihkan perhatianmu dari sekitar, meski hanya sebentar.”

“Hamba mendengar dan patuh, Tuanku.”

“Bagus. Pergi dan cari mempelaimu.”

Heiko menunggu hingga Hide pergi dan Shimoda mundur ke jarak

yang cukup jauh. Mereka berdua duduk di bantal yang ditata di bawah

tenda besar yang didirikan di dinding dekat pantai, satu-satunya dinding

yang utuh, selamat dari pengeboman. Angin sepoi-sepoi membawa aroma

laut.

“Anda sudah berubah banyak dalam waktu singkat,” kata Heiko. Dia

menyentuh sisi botol sake. Setelah yakin suhu botol itu kekontrasannya

sesuai dengan suhu sekitar, dia mengisi cangkir Genji.

“Apa maksudmu?”

PDF by Kang Zusi

“Seminggu lalu, Anda hanya sekadar simbol. Seorang junjungan yang

hanya ditoleransi dan kurang dianggap oleh para pengikut Anda. Sekarang,

Anda benar-benar menjadi junjungan mereka. Benar-benar perubahan yang

luar bisaa.”

“Krisis mengubah orang,” kata Genji, mengisi cangkir Heiko, untuk

membalasnya. “Jika mereka beri beruntung, krisis menunjukkan pada

orang-orang apa yang hcnar-benar penting.”

Heiko memalingkan wajahnya, merasa malu terhindar pandangan

Genji yang terus terang. Betapa sulitnya, jatuh cinta kepadanya. Kini,

ternyata lebih sulit lagi setelah dia tahu Genji juga mencintainya. Jika

mereka hanyalah petani atau penjaga toko atau nelayan, mereka dengan

mudah bisa menunjukkan perasaan itu tanpa takut akan konsekuensinya.

“Anda terlalu dikuasai oleh emosi yang ditimbulkan uleh kondisi ini,”

kata Heiko. “Hamba tak akan mengingat apa yang Anda katakan hari ini.”

“Kamu akan selalu ingat,” kata Genji, “dan aku juga. Bukan

suasananya yang membuatku terlalu dikuasai emosi. Karena kamu, Heiko,

hanya kamu.”

“Tidak perlu mengatakan kata-kata manis kepadaku,” kata Heiko. Air

mata menetes di pipinya, tetapi senyum lembut menghias bibirnya dan

napasnya tetap tenang. “Aku mencintaimu. Aku mencintaimu sejak saat

kita pertama kali bertemu. Dan aku akan mencintaimu hingga napas

terakhir. Anda tak perlu membalas cinta saya.”

Genji tersenyum santai, senyum yang selalu melumerkan hati Heiko.

“Bagiku, mencintaimu dengan gairah yang sama besarnya mungkin

membosankan, aku tahu. Mungkin, seiring waktu aku akan belajar untuk

tidak terlalu mencintaimu. Apakah kamu senang mendengarnya?”

Dengan tawa bahagia, Heiko menjatuhkan diri ke pelukan Genji.

“Dengan kecantikan-ku ini? Aku takut kau dikutuk untuk semakin

mencintaiku bukannya semakin berkurang.”

“Hmm, percaya diri juga kamu?”

“Tidak, Gen-chan,” kata Heiko, “aku sama sekali tidak percaya diri.

Cinta adalah kelemahan wanita, bukan kekuatannya. Dan tak peduli betapa

cantiknya seorang wanita, masa mekar dan kejayaannya sangat singkat.

PDF by Kang Zusi

Aku tak mengharapkanmu mencintaiku selamanya. Tetapi aku mohon,

kalau engkau bisa, bersikaplah baik kepadaku.”

Genji berniat menyelipkan tangannya ke dalam lengan kimono Heiko

yang lebar untuk membelainya. Tetapi hari itu dingin dan tangannya juga

dingin.

Pasti tidak menyenangkan baginya, jadi Genji menahan diri. Tetapi,

saat Genji berpikir begitu, Heiko bergerak sedemikian rupa sehingga

tangannya dan tangan Genji secara bersamaan terulur ke lengan kimono

masing-masing. Saat Genji merasakan tangannya menyentuh kehangatan

Heiko, dia juga merasakan jari-jari dingin Heiko menyentuh dadanya.

Panas dan dingin menjadi satu. Genji bertanya-tanya, siapa sebenarnya

yang bisa membaca pikiran orang di sini?

“Bagaimana aku bisa tidak bersikap baik kepadamu? Saat bersamamu,

bahkan saat aku memikirkanmu, semua kekerasan di dunia menghilang,

dan hatiku, seluruh diriku menjadi lemah.”

“Tidak seluruh dirimu.”

“Hmm, tidak. Mungkin tidak seluruh diriku.”

Mereka tidak berpikir untuk membuka pakaian. Bahkan, jika mereka

berada di kamar pribadi Genji. Mereka juga tidak akan membuka pakaian

jika bercinta pada siang hari. Pakaian mereka terlalu rumit, terutama

pakaian Heiko.

Kimononya terbuat dari sutra, dengan gaya omeshi dengan helaian

sutra yang berat. Di atasnya, dia mengenakan mantel luar haori, dengan

busa untuk menahan dingin. Kimononya diikat dengan obi bersulam yang

lebar, yang diikat dengan ikatan fukura suzume dan dihiasi dengan

bantalan obi-age yang dimasukkan ke bagian belakang obi.

Ada tiga ratus jenis ikatan obi dan setiap hari Heiko menghabiskan

waktu lumayan lama untuk menentukan ikatan apa yang akan dia kenakan.

Hari ini dia memilih ikatan fukura suzume—Ikatan burung gereja-karena

dia berpikir hari ini Genji akan pulang, dan ingin merayakan kepulangan

itu dengan memakai ikatan yang ada hubungannya dengan lambang klan

Okumichi. Ternyata, dia memang memperkirakan kedatangan Genji

dengan tepat. Kalau salah dia tak akan mengenakan ikatan fukura suzume

PDF by Kang Zusi

lagi di lain hari. Itu tidak anggun. Jika memang perkiraannya salah, dia

akan kehilangan kesempatan itu dan pasrah menerimanya.

Tali obi jime menahan obi itu di pinggang Heiko Di antara kimono dan

obi, dia mengenakan penahan obi-ita sehingga kimononya di sekitar obi

tidak berkerut. Busa makura di bawah ikatan membantu agar bentuk obi

terjaga. Bros obi-dome yang diikat tali yang lebih kecil dari tali obi-jime

menghiasi bagian depan obi.

Di bawah kimono, obi, makura, obi-age, obi jime, dan obi-dome,

Heiko mengenakan kimono dalam nagajuban sepanjang tubuh juga terbuat

dari sutra. Tali yang terkait pada kerah kimono dalamnya dimasukkan ke

lubang kerah chikara nuno dan diikat sedemikian rupa sehingga bagian

kerah belakang terbuka sekepalan tangan. Ikat pinggang dalam date-maki

diikatkan melingkari nagajuban.

Di bawah nagajuban adalah pakaian dalam hadajuban dan celana

dalam susoyoke. Di bawah baju dalam itu, ada berbagai bantalan busa di

tulang bahu, perut, dan pinggang. Karena kimono dipotong dalam garis

lurus, bantalan-bantalan busa itu diperlukan untuk membantu tubuh

menyesuaikan dengan model alami kimono yang lurus. Bisaanya, Heiko

juga mengenakan ikat kain di dadanya untuk menekan payudaranya.

Tetapi, karena dia mengharapkan kedatangan Genji hari ini, dia tidak

mengenakan kain itu di dadanya.

Meski Genji dan Heiko tetap berpakaian lengkap, ada cukup bukaan di

baju mereka sehingga memungkinkan terjadinya keintiman yang paling

tinggi dan paling dalam. Seperti panas dan dingin yang sebenarnya satu,

memakai pakaian dan ketelanjangan juga tak ada bedanya.

Dengan napas terengah, Genji berkata, “Jika cinta adalah

kelemahanmu, aku gemetar membayangkan apa yang menjadi

kekuatanmu.”

Berusaha keras agar tetap tenang, Heiko berkata, “Hamba rasa, Anda

akan gemetar juga nantinya, Tuanku.”

Shimoda, yang berusaha menjaga pandangannyaa, tetapi tak bisa

menahan senyum di wajahnya, diam-diam menurunkan kain penutup pintu

tenda.

PDF by Kang Zusi

Setelah Hide mulai mencari Hanako, dampak kerusakan pengeboman baru

dia sadari sepenuhnya. Sebuah gempa besar sempat menghancurkan Edo

saat dia masih kanak-kanak, diikuti dengan kebakaran besar yang

menghanguskan setengah kota. Kini, Istana Bangau yang Tenang, menjadi

seperti reruntuhan saat gempa itu. Mayat dan anggota badan yang terputus

berserakan di mana-mana dan udara berbau daging hangus yang menusuk.

Perut Hide bergolak saat membayangkan apa arti bau menusuk yang menyiksa

lubang hidungnya. Dia berusaha keras mengatasi rasa mual dan air

mata.

Di reruntuhan tempat kediaman para orang asing, dia melihat seberkas

kain kimono wanita berwarna terang di bawah balok yang jatuh. Hide

berlutut, mengambil kain itu dan memegangnya dengan kedua tangan.

Apakah ini miliknya? Kalau tak salah wanita itu mengenakan kimono yang

seperti ini di saat terakhir Hide melihatnya, tetapi dia tak begitu yakin.

Mengapa dia tidak memperhatikan dengan baik. Bagaimana mungkin dia

menjadi kepala pengawal kalau dia bahkan tidak bisa mengidentifikasi

kimono calon istrinya?

Tetapi, Hide tak bisa membiarkan dirinya hanyut oleh pikiran seperti

itu. Dia tak boleh meragukan diri sendiri. Junjungannya telah

menganugerahinya jabatan itu. Meragukan kemampuannya melaksanakan

tugas sama saja dengan meragukan keputusan junjungannya. Kesetiaan

menuntut dirinya untuk selalu percaya diri karena junjungannya telah

mempercayai dirinya. Ketika dia melakukan kesalahan, dia harus berusaha

memperbaiki diri, untuk menjadi orang yang diharapkan junjungannya. Itu

adalah kewajibannya. Hide berdiri. Tegap dan percaya diri.

Tetapi, sobekan kain kimono itu masih ditangannya dan air mata

menggenang di matanya. Apa gunanya status dan penghormatan kalau dia

tak punya orang untuk berbagi? Di manakah manisnya kemenangan,

hiburan saat mengalami kekalahan, perayaan, dan kedukaan bahkan dalam

kematian sempurna seorang samurai.

Hide berusia enam belas tahun dan baru mengenakan pedang panjang

katananya yang pertama ketika bertemu Hanako. Dia adalah seorang anak

yatim piatu berusia sembilan tahun, yang baru saja dibawa ke istana oleh

PDF by Kang Zusi

Lord Kiyori atas rekomendasi Rahib Zengen. Wajah Hide memerah ketika

ingat kata-kata pertama yang dia ucapkan kepada gadis itu.

“Kamu, ambilkan aku secangkir teh.”

Gadis kecil dengan kimono yang warnanya mulai pudar itu

mengangkat dagunya dan berkata, “Ambil saja sendiri.”

“Kamu harus mengambilkan aku teh, bocah kecil.”

“Nggak mau.”

“Kamu seorang pelayan. Aku samurai. Kamu harus melakukan apa

yang kuperintah-kan.”

Gadis kecil itu tertawa.

“Bangsawan Agung Kiyori adalah seorang samurai,” katanya. “Lord

Shigeru, Lord Saiki, Lord Kudo, Lord Tanaka, mereka samurai sejati.

Kamu, kamu hanya seorang anak bandel dengan pedang baru yang belum

bau darah.”

Hide berdiri, malu dan marah membawa tangannya ke gagang pedang.

“Aku seorang samurai. Aku bisa memotongmu jadi dua sekarang.”

“Kamu nggak mungkin bisa.”

“Apa?” Hide kembali tertegun mendengar jawaban gadis itu yang

berani dan tak terduga. “Seorang samurai mempunyai kekuasaan atas

hidup mati seorang petani seperti kamu.”

“Kamu nggak akan bisa.”

“Kenapa aku nggak bisa?”

“Karena aku adalah pelayan rumah tangga klanmu. Kamu

berkewajiban melindungiku. Bahkan dengan nyawamu jika diperlukan.”

Dengan kata-kata itu, si gadis kecil Hanako berjalan pergi,

meninggalkan Hide yang merasa malu dengan mulut ternganga tak bisa

berkata apa-apa

Hide memandang reruntuhan istana di sekelilingnya. Ya, kalau tak salah

persis di tempat ini pertemuannya dengan Hanako terjadi bertahun-tahun

lalu. Dia memandangi tanah sebagaimana dia memandanginya dahulu.

Saat itu Hanako hanyalah seorang anak kecil, tetapi dia berani

mengingatkan Hide akan hal yang tak akan pernah dia lupakan. Seorang

samurai adalah seorang pelindung, bukan tukang gertak yang sombong.

PDF by Kang Zusi

Gadis kecil pemberani itu kini telah tumbuh menjadi wanita dewasa

yang baik dan penuh kebajikan. Selama ini Hide menghindarinya, menghabiskan

waktu dengan minum-minum dan berjudi.

Sungguh seorang istri sempurna yang dipilihkan Lord Genji untuknya,

dan kini dia kehilangan untuk selamanya.

“Hide!”

Dia berpaling kepada arah suara Hanako.

Hanako tampak terkejut. Dia berdiri di bekas jalan setapak, membawa

nampan dengan teh di atasnya. Dikuasai kebahagiaan, Hide bergerak untuk

memeluknya, tetapi dia berhasil menguasai diri tepat pada saatnya. Dan,

dia membungkuk kepada Hanako.

“Aku lega melihatmu tak terluka.”

Hanako membungkuk kepadanya. “Aku merasa terhormat karena kamu

mempunyai perhatian terhadap orang yang tak penting seperti aku.”

“Kamu bukannya tidak penting,” kata Hide, “paling tidak untukku.”

Susah untuk menentukan siapa yang lebih terkejut mendengar katakata

itu, Hanako atau Hide sendiri, tetapi reaksi Hanako lebih dramatis.

Terkejut oleh keterusterangan Hide, Hanako terhuyung dan hampir

menjatuhkan nampan yang dibawanya. Hanya gerakan Hide yang cepat

mencegah Hanako terjatuh. Ketika Hide memegangi nampan agar tak

terjatuh, tak sengaja tangannya menyentuh salah satu tangan Hanako. Tak

diduga, Hanako merasa dirinya melunak terhadap sentuhan pertama Hide.

Hide berkata, “Lord Genji telah memerintahkanku untuk tidak kembali

hingga pagi besok. Setelah sarapan.”

Wajah Hanako memerah, mengerti apa yang dimaksudkan Hide. “Tuan

kita benar-benar murah hati,” katanya sambil tetap menundukkan

pandangan.

Banyak yang ingin diceritakan Hide dan dia tak bisa menahan diri lagi.

“Hanako, kami bertempur melawan pasukan Lord Gaiho saat menuju Kuil

Mushindo. Karena tindakanku dalam pertempuran itu, Lord Genji telah

mengangkatku sebagai kepala pengawalnya.”

“Aku ikut bahagia,” kata Hanako. “Tak diragukan lagi kamu akan bisa

membawa diri penuh keberanian dan kehormatan.” Kembali dia

membungkuk rendah. “Sekarang, kalau boleh aku permisi beberapa saat.

PDF by Kang Zusi

Aku harus mengantar nampan ini kepada Lord Shigeru dan Lord Saiki.

Saya akan kembali kepada Anda, Tuanku, jika tugasku telah selesai.”

Baru setelah Hide mengamati Hanako berjalan pergi—tidak

mengambil jalan pintas menyeberangi reruntuhan tetapi tetap berjalan di

bekas koridor, seakan-akan tak satu pun yang berubah—baru dia sadar

bahwa Hanako tadi memanggilnya “tuanku” dan sekarang dia memang

berhak menyandang gelar itu. Kepala pengawal adalah jabatan dengan

status. Meski I.ord Genji belum secara resmi menganugerahinya gelar itu,

dia pasti akan melakukannya saat pengumuman Tahun Baru nanti.

Hide mengingat rasa hangat yang dia rasakan ketika tangannya

bersentuhan dengan tangan Hanako beberapa saat lalu. Itu adalah sentuhan

fisik pertiama mereka. Baru dia tahu kalau dia telah mencintai Hanako

sejak lama tanpa menyadarinya. Tetapi, ternyata Lord Genji tahu. Sekali

lagi Hide merasa sangat terharu dan bersyukur. Betapa beruntung-nya dia

dan mereka semua, dapat melayani junjungan yang tahu apa yang akan

terjadi.

Hide pergi memeriksa kamarnya, untuk melihat apakah kamarnya

masih ada. Dia berharap setidaknya masih ada dinding yang berdiri

sehingga dia dan mempelainya bisa mempunyai privasi malam ini.

Hanako mencoba memusatkan perhatiannya ke langkahnya.

Reruntuhan di sekitarnya bisa membuatnya terpeleset. Alangkah

cerobohnya jika dia terpeleset dan terjatuh di depan mata bakal suaminya

menjelang malam pertama mereka, betapa sangat memalukan. Tetapi,

usaha Hanako untuk berkonsentrasi sia-sia saja. Pikirannya melayang ke

sekitar dua belas tahun lalu, pada suaraLord Kiyori.

“Hanako.”

“Tuanku.” Hanako jatuh berlutut dan menempelkan dahinya ke tanah.

Tubuhnya gemetar ketakutan. Dia baru saja berjalan.dengan bangga dan

dagu terangkat karena merasa telah mengalahkan anak laki-laki sok jago

dan tampan sehingga dia tak mengetahui keberadaan sang Bangsawan

Agung sendiri.

“Ikut aku.”

PDF by Kang Zusi

Dengan badan gemetaran meski saat itu mata hari musim semi bersinar

cerah, Hanako dengan kepala tertunduk mengikuti Lord Kiyori, yakin

bahwa dia akan mati. Untuk apa lagi seorang Bangsawan Agung berkenan

berbicara kepadanya, seorang anak yatim piatu yang ada di istana indah ini

hanya karena kebaikan si tua Zengen, sang rahib desa?

Apakah anak laki-laki tadi kerabat junjungannya, keponakan favoritnya

mungkin? Apakah dia dengan ceroboh telah menghina orang yang salah,

padahal dia baru saja datang? Air mata menggenang dan menetes di

pipinya. Betapa memalukan, dia telah mengecewakan Zengen. Padahal,

rahib itu telah bersusah payah membantu Hanako setelah kematian kedua

orangtuanya, dan dia telah menyia-nyiakan kesempatan yang didapatnya.

Semua itu karena keangkuhannya. Bukankah Zengen sering kali

mengatakan kepadanya berkali-kali. Jangan terlalu tinggi menganggap

dirimu, Hanako, diri sendiri tak lain hanyalah ilusi. Ya, Rahib Zengen,

jawab Hanako berkali-kali. Tetapi, dia tak pernah menghayati pelIajaran

itu dalam hatinya sehingga kini semua sudah terlambat.

Di depan, Hanako mendengar suara para satmurai yang sedang berlatih

di ruang latihan. Tak diragukan lagi, dia pasti akan dipenggal. Bagaimana

Hanako dapat menghadapi orangtuanya di Tanah Murni nanti? Tidak, dia

tak perlu khawatir tentang itu. Dia tak patut diselamatkan oleh Buddha

Amida. Dia akan masuk neraka untuk membayar karma jahatnya dengan

Kichi, sang penyihir hermafrodit, Gonbe si pemerkosa, dan Iso sang

penderita lepra. Mungkin di tempat yang mengerikan itu dia akan menjadi

budak Kichi dan diperistri Iso.

“Eeeeeeehhhh!”

Teriakan pertempuran yang keras sangat mengagetkan Hanako

sehingga dia tak mampu mengangkat pandangannya dan akibatnya dia

menabrak Lord Kiyori yang berhenti tepat di depan ruang latihan. Hanako

mundur ketakutan, tetapi Lord Kiyori tidak memerhatikannya.

“Tuanku!” Samurai yang memakai baju besi menjatuhkan diri di atas

satu lutut dan membungkukkan tubuhnya 45 derajat, bungkukan yang

bisaa dilakukan di medan pertempuran. Samurai yang lain segera

mengikutinya.

“Teruskan,” kata Lord Kiyori.

PDF by Kang Zusi

Mereka berdiri dan melanjutkan latihan perang. Pada awalnya, Hanako

tidak mengerti mengapa para samurai itu tidak ada yang mati. Kemudian,

dia melihat bahwa mereka menggunakan pedang dari kayu oak bukan dari

baja.

“Klan lain menggunakan pedang bambu untuk latihan,” kata Lord

Kiyori. “Pedang bambu tidak menimbulkan rasa sakit, jadi tidak berguna.

Tetapi, di tangan ahli pedang yang baik, pedang kayu oak dapo,

mematahkan tulang dan kadang membunuh, meski sang samurai sudah

mengenakan baju besi. Kami berlatih dengan pedang kayu oak sehingga

ada unsur bahayanya. Berlatih tanpa bahaya sama saja dengan tidak

berlatih.” Lord Kiyori memandangnya. “Kenapa kami berlatih?”

“Karena Anda semua adalah samurai, Tuanku.”

“Apa itu samurai?”

Hanako terkejut karena junjungannya menanyakan pertanyaanpertanyaan

dan tidak langsung memerintahkan samurai untuk segera

memenggalnya. Ia bersyukur karena itu berarti menunda pemenggalan

dirinya sedikit lebih lama. Perutnya mual membayangkan dirinya diseret

ke ranjang perkawin si lepra, Iso.

“Seorang prajurit, Tuanku.”

“Dan kapan terakhir kali perang terjadi?”

“Lebih dari 250 tahun yang lalu, Tuanku.”

“Lalu, apa gunanya berlatih seni bela diri yang penuh kekerasan ini?

Kita hidup dalam damai?”

“Karena perang bisa terjadi kapan saja, Tuanku. Seorang samurai harus

siap.”

“Siap untuk apa?”

Itu dia, akhirnya pertanyaan-pertanyaan itu sampai ke tujuan. Tak akan

ada lagi pertanyaan, dia akan mati. Hanako menundukkan kepalanya dan

berkata, “Siap untuk membunuh, Tuanku,” dan menunggu pedang tajam

memisahkan kepalanya dari leher.

Tetapi, Lord Kiyori mengejutkannya lagi. Katanya, “Bukan Hanako,

bukan itu. Membunuh tak perlu banyak latihan. Lihat baik-baik.”

Hanako mengangkat kepalanya dan melihat. Para samurai itu saling

menyerang. Itu yang dia lihat, awalnya. Tetapi, semakin lama dia

PDF by Kang Zusi

mengamati, dia melihat ada perbedaan sikap tiap-tiap samurai yang sedang

berlatih bertempur. Beberapa orang tetap menyerang dengan penuh tekad

meski serangan menghujani mereka. Sementara yang lain bergeser dan

melompat untuk menghindari serangan, tetapi tetap saja kena. Dalam

situasi ketika banyak orang saling bertempur di ruang yang sempit,

mustahil untuk menghindari pukulan dan serangan, apa pun yang mereka

lakukan untuk menghindarinya. Jika pedang-pedang yang mereka gunakan

adalah pedang baja, seperti dalam pertempuran sebenarnya, pasti hanya

sedikit yang bisa bertahan hidup. Saat itulah sebuah kesadaran masuk ke

otak Hanako.

Katanya, “Mereka harus siap mati, Tuanku.”

Lord Kiyori tersenyum kepadanya. “Itulah takdir seorang samurai,

Hanako. Tak mudah hidup dengan ketakutan terus-menerus.”

“Tetapi, bukankah seorang samurai sejati tak punya rasa takut,

Tuanku?” Hanako tak bisa membayangkan junjungannya yang agung ini

punya rasa takut terhadap sesuatu. .

“Tak punya rasa takut bukanlah tanda keberanian. Itu adalah tanda

kebodohan. Keberanian adalah mengakui ketakutan dan mengatasinya.”

Lord Kiyori menepuk kepala Hanako. “Kadang, saat masih muda, seorang

samurai menutupi ketakutannya dengan keangkuhan. Seorang wanita yang

bijak akan memaafkannya. Dia akan melakukan apa yang dia bisa untuk

membuat samurai itu menjadi lebih kuat. Dia tak akan melakukan apa pun

yang bisa melemahkannya. Kamu mengerti?”

“Ya, Tuanku.”

“Kau boleh pergi.”

Segera setelah meninggalkan Lord Kiyori, Hanako pergi ke dapur. Dari

sana, dia kembali ke halaman tempat dia berbantah dengan samurai muda

tadi. Betapa leganya Hanako melihat samurai itu masih duduk di sana,

persis seperti saat dia tinggalkan tadi. Apakah hanya khayalannya atau

memang bahu samurai itu kini membungkuk kecewa? Hanako merasa

pipinya memerah karena malu atas perbuatannya tadi.

Dia mendekat, membungkuk, dan berlutut di depan samurai itu. “Teh

Anda, Tuan Samurai.”

“Oh,” samurai muda itu terkejut dan salah tingkah. “Terima kasih.”

PDF by Kang Zusi

Saat samurai itu mengambil cangkir teh, Hanako melihat seakan-akan

bahu sang samurai kembali tegak. Dia senang. Hanako sangat, sangat

senang.

Shigeru dan Saiki duduk di atas tatami dari anyaman jerami yang

diletakkan di bekas ruangan Shigeru dahulu. Tatami yang ada di situ telah

hancur oleh tembakan meriam, sedangkan tatami yang mereka duduki

sekarang adalah tatami dari tempat lain yang tidak rusak karena

pengeboman. Shigeru duduk diam, matanya setengah terpejam. Dia tak

bergerak ketika Hanako muncul, berlutut di depan tempat yang dahulunya

adalah pintu, membungkuk, dan maju seakan-akan masuk ruangan yang

rapi dan tertata.

Saiki dengan sopan menyapanya. “Aku senang kamu selamat,

Hanako.”

“Terima kasih, Tuan.” Hanako mendekati Shigeru dengan khawatir

karena dia telah mendengar gosip-gosip mengerikan tentang pria itu, tetapi

Hanako tidak memperlihatkan ekspresi apa pun dan dengan sopan dia

menuangkan teh untuk Shigeru.

“Apa kamu sudah berbicara dengan Hide?” tanya Saiki.

“Sudah Tuanku.”

“Jadi, kamu pasti sudah tahu berita baik yang dia bawa. Dia benarbenar

telah mem-buktikan dirinya dalam waktu singkat, ya?”

Hanako membungkuk rendah. “Memang benar dan itu semua karena

kemurah-hatian Lord Genji.” Karena tunangannya tidak hadir, Hanako

berkewajiban bersikap rendah hati untuknya.

“Junjungan kita memang baik hati. Tetapi, jika dia mempercayai Hide,

aku juga percaya kepadanya.” Saiki tidak memandang Shigeru meski

sebenarnya kata-kata tadi lebih ditujukan kepada Shigeru daripada

Hanako. “Apa kamu sudah memutuskan di mana kalian akan membangun

rumah tangga?”

“Belum, Tuan. Hamba baru saja mendengar tentang kenaikan

pangkatnya.” Sebenar-nya, Hanako sudah membayangkan membangun

rumah tangganya di Sayap perwira di bagian barat istana yang perlengkapannya

sederhana, tetapi ditata dengan bagus. Di sana juga tersedia ruangan

PDF by Kang Zusi

untuk kamar bayi. Tetapi, tentu saja karena bagian istana itu telah hancur

beberapa jam sebelumnya, kepindahan mereka harus menunggu hngga

istana dibangun kembali. Ada tindakan penting yang tidak bisa menunggu.

Karena Hide kini menjabat kepala pengawal sekaligus menjadi suaminya,

Hanako berketetapan hati untuk memberikan seorang ahli waris untuknya

secepat mungkin.

“Pasti banyak yang ingin kau bicarakan dengannya. Kau tidak harus

melayani kami. Pergilah ke suamimu. Dia pasti lebih menghargai

kehadiranmu lebih daripada kami.”

“Terima kasih, Tuan.” Dengan penuh terima kasih, Hanako

mengundurkan diri.

Saiki tersenyum. Betapa indahnya hidup ketika kita masih muda dan

sedang jatuh cinta. Tak ada krisis dan tragedi yang dapat menghapusnya.

Bahkan, mungkin krisis dan tragedi memperkuat rasa cinta itu. Untuk

beberapa saat, ketika dengan sabar Saiki menunggu Shigeru untuk

memulai percakapan, dia terhanyut dalam kenangan tentang masa

mudanya dan hari-hari yang telah berlalu.

“Jika dia percaya kepada Hide, aku juga percaya kepadanya,” kata

Shigeru menirukan kata-kata Saiki.

Saiki membungkuk. “Hamba pikir Anda terlalu berkonsentrasi dalam

meditasi sehingga tidak mendengar saya.”

“Aku bermeditasi Saiki, bukan koma.”

“Hamba senang karenanya, Lord Shigeru, karena sekarang bukan

saatnya untuk koma.”

“Setuju.” Shigeru menghirup tehnya. “Babak terakhir peperangan

Sekigahara sudah dekat.”

Saiki memikirkan makna tersirat dari kata-kata itu. Selama 261 tahun,

pihak yang kalah dalam peperangan itu dengan keras kepala berpendapat

bahwa hasil akhir perang itu belum tuntas. Belum tuntas, meski daerah

Perwalian Barat sudah runtuh, pemusnahan klan Toyotomi yang berkuasa

saat itu, kematian hampir seratus ribu prajurit dalam satu hari dan naiknya

klan Tokugawa menjadi Shogun selama lebih dari dua ratus tahun. Belum

tuntas karena ketidakrelaan para samurai yang masih hidup untuk

menerima kekalahan. Tetapi, sayangnya itu merupakan pandangan yang

PDF by Kang Zusi

juga dianut Saiki, meski dia mengakui itu tidak rasional. Lagi pula, apa

yang dapat dia lakukan? Dia juga seorang samurai.

Saiki berkata, “Hamba sangat bersyukur bahwa akhir pertempuran itu

terjadi di masa hidup saya.” Kedalaman emosi yang dirasakannya

membuat matanya berkaca-kaca. Ayah dan kakeknya, yang merupakan

pejuang lebih baik daripada mereka, hidup dan meninggal dalam

kedamaian. Dirinyalah yang mendapat kesempatan menebus kehormatan

para leluhurnya.

“Aku juga,” kata Shigeru.

Untuk beberapa menit, tak terdengar kata-kata. Saiki menuangkan teh

untuk Shigeru. Shigeru menuangkan teh untuk Saiki.

Hari itu cukup hangat untuk musim dingin. Saiki memandang langit.

Angin stratosfer, yang tidak dapat dia rasakan embusannya, goresan awan

putih dengan latar belakang ladang membiru. Pada momen yang terasa

abadi itu, seluruh sel tubuh Saiki bergetar dengan semangat hidup.

Sementara itu, Shigeru mengingat rasa saat dia menghunus pedang

warisan leluhur. Kemunculan Saiki membuatnya tidak dapat mengetes

ketajaman pedang itu terhadap si Mata Licik bodoh, Kawakami. Tetapi,

menghunus kedua pedang itu sudah merupakan suatu pengalaman yang

mencerahkan baginya. Saat dia menarik keduanya dari sarung, Shigeru

tahu bahwa dia akan menjadi Okumichi terakhir yang menggunakan

pedang leluhur itu dalam pertempuran. Dia tak tahu kapan itu akan terjadi.

Dia tak dapat melihatnya dengan jelas. Dan, dia juga tak tahu siapa yang

akan menjadi musuh terakhirnya, juga akhir dari pertempuran itu. Yang dia

tahu hanyalah dia akan menjadi yang terakhir menggunakannya dan hal

itu membuat hatinya terasa berat.

Dalam masa damai yang melenakan setelah Sekigahara, Shogun

Tokugawa telah mengeluarkan perintah untuk mengumpulkan dan

memiliki pedang-pedang yang terkenal dari kalangan keluarga bangsawan

yang disebut meito. Dua pedang yang kini di sandang Shigeru, “Cakar

Burung Gereja”, tidak masuk dalam koleksi itu karena Pemimpin Klan

Akaoka saat itu, Uenomatsu, menolak berpartisipasi dalam proyek

Tokugawa yang melibatkan pedang, yang merupakan jiwa seorang

PDF by Kang Zusi

samurai. Pemyataan Uenomatsu tentang itu, yang tercatat dalam dokumen

rahasia klan, diketahui oleh setiap anggota klan Okumichi.

Kata sang Bangsawan Agung Uenomatsu, biarkan mereka yang lebih

memilih minum teh daripada bertempur, mengoleksi daftar cangkir teh

yang paling terkenal.

Meski tak ada hal konkret yang didiskusikan, inti pertemuan itu telah

terwujud. Shigeru dan Saiki telah menegaskan komitmen mereka terhadap

Genji sebagai Bangsawan Agung Akaoka; mereka berjanji untuk

membantunya menurunkan Keshogunan Tokugawa meski harus

mengorbankan nyawa; mereka setuju untuk mengesampingkan semua

perbedaan—misalnya tentang para misionaris—hingga hal-hal penting

diselesaikan terlebih dahulu. Tak satupun dari hal ini dikemukakan dengan

jelas. Tetapi, mereka berdua telah saling mencapai pengertian.

“Situasi di Kuil Mushindo tidak seperti yang seharusnya,” kata

Shigeru.

Saiki tahu Shigeru tidak bicara tentang pengurungan dirinya beberapa

waktu lalu, tetapi tentang kesetiaan Sohaku sebagai salah satu pembantu

kunci Lord Genji “Begitu juga situasi di Istana Bangau yang Tenang.”

Shigeru mengangguk. Jadi, Kudo juga harus dibunuh seperti juga

Sohaku. Tidak perlu lagi memperbincangkan tentang itu. Memang saat ini

belum waktunya untuk beraksi. Waktu yang akan berbicara. Ketika

saatnya tiba, rangkaian peristiwa akan terjadi sendiri seperti yang

seharusnya. Untuk kasus ini, tidak perlu mengkhawatirkan akan terjadi

pembunuhan diam-diam. Baik Sohaku maupun Kudo tak dapat berharap

mendapat kesetiaan dari para pengikutnya jika mereka menggunakan caracara

licik untuk membunuh Genji. Pengkhianatan seperti itu akan

merupakan kesalahan yang tak terampuni. Mereka hanya dapat menang

melalui pemberontakan terbuka dan kemenangan di medan tempur. Tentu

saja, mereka akan memilih waktu dan tempat yang paling menguntungkan

bagi mereka. Dan, kesempatan itu akan terjadi tak lama lagi.

“Apa kamu mengusulkan agar kita mundur dari Edo?”

“Tidak ada pilihan lain,” jawab Saiki.

Shigeru mempertimbangkan rute yang aman dilewati. Melalui laut tak

mungkin. Armada asing yang baru saja membombardir Edo dengan mudah

PDF by Kang Zusi

dapat meneng-gelamkan armada Jepang tanpa bertanya-tanya. Bahkan,

tanpa ancaman itu pun, masih ada angkatan laut Shogun yang harus

dikhawatirkan. Memang, tak bisa dibandingkan dengan kekuatan armada

asing, tetapi angkatan laut Shogun cukup kuat untuk mengalahkan apa pun

yang dapat dimunculkan oleh armada Akaoka di laut. Rute tercepat adalah

lewat Laut Dalam. Sayangnya, wilayah-wilayah di sana adalah wilayah

yang setia kepada Shogun. Yang tersisa adalah jalan melewati

pegunungan.

“Jalan menuju rumah sangat panjang dan penuh bahaya,” kata Shigeru.

Saiki berkata, “Hamba telah mengirim seorang pembawa pesan ke

Kastel Awan Burung Gereja satu jam setelah serangan tadi. Lima ratus

orang pasukan kita akan siap di perbatasan timur wilayah Akaoka dalam

dua minggu, siap untuk membantu kita jika diperlukan.”

“Itu artinya perang.”

“Ya.”

Shigeru mengangguk. “Bagus. Aku rasa kita bisa berangkat besok

pagi.”

“Dengan persetujuan Tuan kita.”

Menurut Heiko, para misionaris dari Firman Sejati yang datang

sebelumnya ada di tempat yang bernama Mushindo, sebuah kuil di

provinsi lain yang ada di utara kota. Setahun lalu, tak lama setelah para

misionaris itu tiba, di sana terjadi wabah. Heiko tak tahu apakah ada di

antara misionaris itu yang selamat, dan siapa yang selamat.

“Ada temanmu di antara mereka?” tanya Heiko.

“Ada seseorang yang harus aku temui.” jawab Stark.

“Kalau begitu, kuharap dia berhasil selamat dari wabah itu.”

“Kuharap juga begitu.”

“Jika dia tidak selamat, bagaimana menurut agamamu?”

“Aku tidak mengerti maksudmu.”

“Jika seseorang yang kau sayangi meninggal, apa kamu akan dapat

melihatnya lagi? Menurut agamamu?”

PDF by Kang Zusi

“Agama Kristen mengajarkan kematian adalah kehidupan yang abadi.

Orang-orang yang baik masuk surga, yang jahat ke neraka. Siapa yang

akan kau temui bergantung ke mana kau pergi nanti.”

Stark berpikir untuk mencuri kuda dan berkuda sendiri ke Mushindo.

Heiko mengatakan kepadanya, Lord Genji perlu waktu tiga hari untuk

sampai ke sana. Itu memang wilayahnya, dia sudah tahu jalannya, dan dia

adalah seorang bangsawan. Namun, dengan keuntungan itu dia tetap saja

bertemu dengan lawan dan harus bertempur untuk lewat. Stark menyadari

kesempatannya pergi sendiri ke Kuil Mushindo sangat kecil.

Dia telah menunggu begitu lama. Dia harus menunggu sedikit lebih

lama lagi. Kecuali, jika serangan armada asing itu membuat Shogun

memerintahkan pengusiran bagi orang asing. Kalau kondisinya begitu,

kesempatan yang kecil lebih baik daripada tidak ada sama sekali. Stark

seharusnya lebih memperhatikan ketika Cromwell memberikan kuliah

tentang geografi Jepang saat mereka di kapal. Dia ingat ada empat pulau

utama, dan tempat mereka tinggal saat ini adalah pulau terbesar, bernama

Honshu. Honshu adalah tempat rumah misi Firman Sejati akan dibangun.

Setidaknya, dia ada di pulau yang benar. Dan, itu permulaan yang baik.

Heiko permisi beberapa saat lalu untuk menemanl Lord Genji sehingga

Stark dapat memeriksa reruntulian istana untuk mencari miliknya yang

paling berharga. Dia baru saja menemukan revolver caliber 44-nya di

bawah Injil-Injil yang berserakan ketika Emily tiba-tiba muncul.

Untunglah pistol itu tidak rusak. Stark segera menyelipkan pistol itu di

bawah Kitab Suci. Mungkin Emily telanjur melihat pistol itu, tetapi wanita

itu diam saja.

“Apakah kita bisa bicara terus terang, Matthew?”

“Tentu.” Stark memandang sekeliling. Tidak ada kursi untuk

ditawarkan kepada Emily.

“Aku cukup nyaman berdiri, kok. Terima kasih.”

Emily berhenti bicara dan menunduk. Tangannya saling menggenggam

dengan erat. Cemas membuat bibirnya mengerut rapat. Emily menarik

napas panjang dan kemudian berkata dengan cepat. “Aku harus tetap

tinggal di Jepang. Aku harus terus, seperti rencanamu dan aku dan

Zephaniah sebelumnya, dan menyelesaikan pembangunan rumah misi kita

PDF by Kang Zusi

di sini. Aku harus, Matthew, harus. Dan satu-satunya cara adalah jika

kamu di sini membantuku.”

Semangat yang ditunjukkan Emily membuat Stark terkesan. Wanita itu

mempunyai tekad sekuat dirinya Tetapi, tekadnya berdasarkan keyakinan,

sementara tekadnya bukan berdasarkan itu.

“Aku selalu siap membantumu, Emily, sekuat yang aku bisa. Tetapi,

yang kau minta tak mungkin dilakukan sekarang. Pengeboman itu dapat

dipastikan menimbulkan kemarahan kepada kita, karena kita orang asing,

seperti kapal yang melakukannya. Ini tidak aman. Dan kita tidak punya

pilihan lain dalam masalah ini. Pemerintah Jepang mungkin akan mengusir

kita.”

“Jika itu terjadi, apakah kamu akan pergi?”

“Tidak,” kata Stark. “Aku tak akan pergi. Aku datang ke Jepang

dengan satu tujuan, dan aku tidak akan pergi sebelum tujuan itu selesai

kulakukan.”

“Maka kau pasti memahamiku karena aku merasa seperti dirimu.”

Stark menggeleng. Bagaimana dia dapat menjelaskan kepadanya? Dia

tidak bisa. Yang bisa dia katanya hanyalah, “Aku rasa aku akan mati di

sini.”

“Aku siap mati juga.”

Tidak, Stark ingin mengatakan bahwa mereka tidak sama. Kau datang

untuk menyebarkan firman Tuhan. Aku datang untuk membunuh.

Stark menyuruh kudanya berhenti sebelum dia meneruskan perjalanan

melewati bukit terakhir menuju peternakan dan memasang bintang tanda

pangkatnya yang baru, bersegi lima, dengan tulisan “Arizona Ranger” di

tengahnya. Komisi dari gubernur ada di pelananya, sepuluh keping uang

emas yang menurut gubernur adalah bonus pengangkatannya. Dia tidak

mengerti mengapa gubernur mau membayar orang padahal dia baru

mendaftar, belum bekerja sama sekali. Tetapi Stark tidak menolak, berterima

kasih, dan menerima uang itu bersama bintang dan komisinya.

Mungkin masalah yang mereka hadapi di sana dengan para Indian Apache,

pelarian, bandit, dan para pengacau lebih buruk dari yang dia dengar.

PDF by Kang Zusi

Padahal, yang dia dengar sudah cukup buruk. Tetapi, bagaimana pun itu

adalah kesempatan baik dan dia akan memanfaatkannya sebaik mungkin.

Stark memasang bintang itu di jaketnya sebelum berkuda melewati

bukit karena kadang, terutama ketika cuaca cerah seperti hari ini, Becky

dan Louise akan bermain-main hingga jauh dari peternakan dan Stark ingin

mereka melihat bintang itu saat mereka melihatnya. Mereka sangat senang

ketika dia pergi, ayah tiri mereka akan menjadi seorang ranger. Memang,

bukan Texas Ranger yang terkenal, melainkan seorang ranger tetap

seorang ranger .

Anak-anak itu sudah sampai usia saat mereka perlu teman bermain

sebaya mereka, dan sekolah, dan Tucson punya semua itu. Mereka dapat

hidup lumayan di peternakan, lebih dari lumayan, apalagi tahun ini dia

bersama Mary Anne dan kedua anak perempuannya. Tetapi, sudah

waktunya mereka pindah, dan tiba saatnya mereka berempat memulai

hidup baru yang lebih baik di Arizona.

Sesuatu membuatnya berhenti di tengah jalan di bukit itu. Dia tidak

tahu apa yang salah, hanya hatinya tidak enak. Stark menarik karabin dari

tempa penyimpanan di belakangnya dan mendengarkan. Itulah yang salah.

Dia tidak mendengar apa-apa. Ternaknya memang sedikit, tidak seperti

ribuan ternak yang ada di peternakan di luar Dallas dan Houston. Tetapi,

seperti peternakan lainnya, ternak-ternak itu membuat suara yang

terdengar hingga jauh, suara gumaman memamah biak dari perut binatangbinatang

itu. Dia tahu dari kesunyian itu bahwa temaknya telah hilang.

Jadi, dia tidak terkejut ketika dia melewati bukit dia tidak melihat mereka.

Apa yang tidak dia lihat selanjutnya, membuat tubuhnya mendingin

dan matanya berkunang-kunang. Dia tidak melihat sesuatu yang bergerak,

kecuali debu, semak-semak, dan gesekan daun tertiup angin, tidak ada

suara yang datang dari arah kabin.

Stark menderapkan kudanya menuju ke bawah bukit, pikirannya

kosong, jantungnya berhenti berdetak. Di tengah jalan menuruni bukit, dia

melihat dua anjing mereka terbaring di luar pagar, tertembak di perut dan

bangkainya membengkak. Hanya ada satu penjelasan. Dan, penjelasan itu

sudah dekat.

PDF by Kang Zusi

Stark melompat turun, menggeser senapan karabinnya ke tangan kiri,

dan tangan kanannya menarik pistol kaliber 44 dari sarungnya. Dia berdiri

diam cukup lama sebelum akhirnya dia melangkahkan kaki menuju rumah.

Stark memegang kedua pistol itu setinggi bahu, siap untuk ditembakkan.

Dia tahu kedua pistol itu takkan berguna terhadap apa yang akan

dilihatnya. Dia melakukan itu karena tak ada lagi yang dapat dia lakukan.

Sekitar dua belas langkah dari rumah, arah angin berubah dan bau

busuk langsung menyerangnya. Tetapi, dia tetap memaksa dirinya untuk

fokus dan mempertahankan pistol itu ke arah tembakan yang benar. Stark

hampir-hampir tak memerhatikan perutnya yang menegang, dan rasa mual

yang naik ke tenggorokan dan mulutnya, sendi-sendi tubuhnya melemas

dan ototnya mengendur.

“Mary Anne.”

Stark berpikir ada orang lain di sana yang memanggil Mary Anne

sebelum akhirnya dia menyadari bahwa itu adalah suaranya sendiri.

Stark melangkah ke depan, melewati pintu, dan apa yang dilihatnya tak

bisa masuk ke pikirannya. Mereka bertiga pasti masih hidup, seharusnya

begitu, karena mereka bergerak, atau selimut yang menyelimuti mereka

setidaknya. Mary Anne pasti membeli selimut-selimut itu dari pedagang

Meksiko ketika dia pergi. Selimut-selimut itu berpola geometris seperti

yang bisaa terdapat di selatan perbatasan. Tetapi, cuaca musim semi

seharusnya tak membuat mereka membutuhkan begitu banyak selimut,

tidak pada siang hari. Mungkin mereka masuk angin. Pasti begitu, karena

di bawah selimut ketiganya tertutup mantel.

Lalu, selembar mantel itu terpisah dari yang lain, dan selimut di

dekatnya bergerak kemudian menutupinya.

Stark mendengar sesuatu. Desisan ular. Bahkan, dia tak tahu apa yang

dia dengar hingga semua hampir terlambat Selama minggu-minggu

selanjutnya, suara itu kadang muncul begitu saja, sejelas seperti yang

pertama kali, dan mendengarnya membuatnya berharap dia ikut mati saja

di antara ular-ular itu. Dia tak pemah melihat begitu banyak ular di satu

tempat, tak pernah mendengar suara mendesis dan berderakderak seperti

itu, seakan-akan tulang belulang yang dia jumpai di situ bergetar bangun.

Ular-ular itu datang ke perjamuan makan, beberapa di antaranya sangat

PDF by Kang Zusi

kekenyangan sehingga tak bisa bergelung. Sementara tikus-tikus, perut

mereka penuh setelah melahap daging yang membusuk, terlalu gemuk

untuk lari. Mereka hanya bisa mendengking ketika ular-ular itu mendesis

dan menelannya.

Para pembantai itu seharusnya membakar rumahnya, seperti yang akan

dilakukan pembantai lain. Hanya satu alasan mengapa mereka tak melakukannya.

Mereka ingin dia melihat. Tetapi, itu tak terjadi karena ular-ular

dan tikus-tikus. Stark hanya dapat membayangkan apa yang telah mereka

lakukan kepada tiga orang di dunia yang pernah dia sayangi.

Dia melangkah keluar, pelan-pelan. Meradang oleh suara desisan

mereka sendiri, ular-ular itu mulai saling menyerang. Stark menutup pintu

dan jendela Dia membakar atap terlebih dahulu. Ketika atap itu jatuh, dia

melemparkan obor ke tumpukan jerami yang dia taruh di sekeliling

dinding. Selama sehari semalam, dia menjaga api itu, sekop di tangan, siap

membasmi setiap tikus yang lari. Tetapi, tak ada satu pun yang keluar.

Keesokan paginya, rumah itu telah menjadi tumpukan abu dan batu.

Tak ada satu pun yang bergerak.

Stark menunggangi kudanya dan menuju El Paso Untuk menemukan

Ethan Cruz.

Emily melihat Stark menyembunyikan pistol itu di bawah Alkitab. Pistol

yang besar, sebesar pistol yang dia punya ketika pertama kali dia datang ke

Cahaya Firman Sejati. Kemungkinan besar itu pistol yang sama, pistol

yang menurut pengakuan Stark telah dibuangnya ke Teluk San Fransisco.

Emily melihatnya, tetapi dia tak berkata apa-apa. Bukan haknya untuk

menghakimi. Itu adalah peran Zephaniah, dan dia telah pergi. Emily hanya

punya satu misi sekarang, yaitu tetap tinggal di Jepang apa pun risikonya.

“Selain itu,” kata Stark, “aku tak tahu bagaimana aku bisa menolong.

Aku tak punya kekuasaan.”

Tak ada lagi cara kecuali mengatakannya dengan jelas. Emily berkata,

“Seorang wanita sendirian, tanpa suami atau keluarga, tak dapat tinggal di

tanah asing sendirian. Satu-satunya cara agar aku bisa tinggal di sini

apabila kamu mau menjadi keluargaku.”

“Menjadi keluargamu?”

PDF by Kang Zusi

“Ya, menjadi tunanganku.”

Emily merasa lamarannya mungkin akan mengejutkan Stark. Tetapi,

kalaupun iya, pria itu tak menunjukkannya.

“Bukankah terlalu cepat kamu berpikir untuk bertunangan lagi, Saudari

Emily?”

Emily merasa pipinya memerah. “Ini hanya yang akan kita katakan

kepada orang lain, bukan sebenarnya.”

Stark tersenyum. “Apakah kamu mengusulkan agar kita berbohong

kepada tuan rumah kita?”

Emily mengangkat dagunya. “Ya.”

Sekarang, Stark mungkin akan bertanya kepadanya, pikir Emily:

Mengapa? Dan, apa yang akan dia katakan kepadanya? Kebenaran?

Menceritakan kepada pria itu kalau kecantikannya membuat dirinya,

Emily, tak bisa kembali ke tanah kelahirannya; sementara anggapan

tentang keburukan dirinya di tanah ini membuatnya tak ingin pergi? Tidak.

Itu akan membuat dirinya terlihat seperti wanita tersombong di dunia atau

paling gila. Imannya. Dia akan mengatakan kepada pria itu bahwa

kekuatan imannya membuat kebohongan kecil yang dia usulkan dapat

diterima sebagai cara untuk menyiarkan kebenaran sejati, kebenaran

tentang keselamatan abadi di bawah nama Yesus. Itu bisa dianggap

sebagai menghujat Tuhan, tetapi Emily tak peduli. Dia tak akan kembali ke

Amerika. Jika Stark tak membantunya, dia akan berusaha sendirian,

bagaimanapun caranya.

“Mereka akan berpikir bahwa itu aneh,” kata Stark. “Satu menit lalu

kamu masih menangisi Zephaniah. Menit berikutnya, kamu menjadi

tunanganku.

“Mungkin kita memang bisa melakukan itu. Karena kita punya cara

aneh menurut mereka, seperti cara mereka yang aneh bagi kita. Jadi,

mereka akan percaya kepada kita.”

Sekarang, justru Emily yang terkejut. “Jadi, kamu mau?”

“Ya.” Stark meraih ke bawah Alkitab dan mengeluarkan pistol yang

tadi dia sembunyikan. Dia melihat lurus ke mata Emily. Emily membalas

pandangan matanya dengan pasti. “Tetapi, mungkin aku juga sebentar lagi

PDF by Kang Zusi

mati. Tak lama lagi, kamu akan benar-benar sendirian di negeri yang aneh

dan berbahaya ini. Apa kamu siap?”

“Ya.”

Emily memandang Stark membungkus pistol itu dengan sebuah sweter

bersama kotak yang perkiraannya pasti berisi amunisi.

“Aku akan mengiyakan pertanyaan mereka. Tetapi, kamu yang harus

menjelaskan kepada mereka.” Stark bergerak ke arah dinding yang runtuh

di seberang dan menemukan pisaunya.

“Aku akan mengatakan kepada mereka bahwa pertunangan kita adalah

pertunangan karena iman, seperti aku dan Zephaniah dulu. Bukan karena

nafsu dan cinta. Orang Jepang juga punya agama seperti kita meski

berbeda. Mereka pasti mengerti.”

“Kalau begitu kita rekan sekarang,” kata Stark.

“Terima kasih, Matthew.”

Stark tak bertanya mengapa. Emily juga tak berkata apa pun tentang

pistol itu. Ya, mereka memang rekan.

Genji, Shigeru, Saiki, Sohaku, Kudo, dan Hide duduk di lantai ruangan

utama sayap pelayan. Itu hanyalah satu-satunya tempat yang tidak rusak

akibat pengeboman. Heiko dan Hanako menyajikan teh. Semua orang

menunggu Saiki untuk berbicara. Dia adalah kepala rumah tangga. Sesuai

protokol, sudah tugasnya untuk mengajukan konteks rapat untuk menentukan

keputusan ini.

Mengingat masalah yang akan dibicarakan sangat peka, Saiki

sebenarnya lebih memilih tak ada wanita. Tetapi, Genji menolak usulnya

itu, dengan alasan bahwa kalau istri Hide dan kekasihnya sendiri tak bisa

dipercaya, maka klan mereka benar-benar sudah hancur. Saiki menahan

dirinya dan tidak mengatakan bahwa sebenarnya masih ada waktu untuk

memusnahkan orang-orang yang mencurigakan. Tetapi, Genji tak dapat

menerima usul apa pun yang berkaitan dengan Heiko. Kalau memang nanti

diperlukan, Saiki akan melakukan tindakan tanpa izin junjungannya. Dia

siap melakukan ini dari perjalanan ke Edo, jika kondisi memang

memungkinkan.

PDF by Kang Zusi

Saiki berkata, “Istana Lord Senryu tidak mengalami kerusakan. Beliau

telah setuju untuk memberi akomodasi kepada orang-orang kita yang

terluka parah, hingga mereka dapat dievakuasi. Kremasi telah disiapkan.

Sementara pemindahan yang terluka akan dilakukan oleh pasukan utama.”

“Ini dapat memunculkan reaksi dari Shogun,” kata Kudo. “Meski

sekarang dia lemah—dan justru karena itu—Shogun pasti tidak

mengizinkan tindakan yang dilakukan tanpa izinnya.”

“Memang,” kata Saiki. “Tetapi, kita tak punya pilihan lain. Apa yang

mungkin akan dilakukan orangorang asing lagi? Kita tak tahu. Mungkin

mereka akan kembali untuk melakukan pengeboman lagi. Mungkin

mereka akan mendaratkan pasukan. Ini bisa saja merupakan awal invasi.

Di antara bahaya-bahaya yang tidak pasti ini hanya satu yang pasti.

Dengan runtuhnya dinding-dinding istana, kita akan sangat mudah

diserang musuh dari dalam. Dua usaha pembunuhan telah terjadi. Satu

terhadap junjungan kita sebelum pengeboman, dan satu terhadap Nona

Heiko, mungkin wanita misionaris itu. Pembunuh itu terbunuh. Karena itu,

identitasnya dan siapa tuannya tetap menjadi misteri. Di masa yang serba

tak pasti ini, motivasi dan tujuan pihak lain tak selalu mudah ditebak.

Sehingga, bahaya semakin besar.”

“Aku setuju kalau kita harus melakukan evakuasi,” kata Sohaku. “Dan

aku juga setuju kalau Shogun pasti akan bereaksi. Kita harus siap. Senapan

dan amunisi harus segera dibagikan. Semua rute yang memungkinkan

untuk keluar Edo menuju wilayah Akaoka harus dipertimbangkan dengan

hati-hati. Terutama kita harus memperhatikan tempat-tempat di mana kemungkinan

musuh akan menyerang. Karena kita telah menolak Kawakami

untuk masuk, tak diragukan lagi saat ini kita sedang diawasi ketat, yang

berarti mungkin saja kita tak akan keluar Edo tanpa menghadapi musuh

dalam jumlah lumayan.”

Kudo berkata, “Sebuah pengalihan mungkin akan berguna. Jika selusin

sukarelawan dari kita mau menyerang Benteng. Edo, mungkin mereka bisa

mengalihkan perhatian Shogun dari kita.”

“Selusin pasukan melawan benteng Shogun?” kata Saiki. “Mereka akan

terbantai hanya dalam beberapa detik.”

PDF by Kang Zusi

“Tidak jika mereka menyerang secara sendiri-sendiri dan acak,” kata

Kudo, “di waktu yang berbeda dan dari arah yang berbeda. Pasukan

Shogun harus waspada dalam waktu yang cukup lama. Orang-orang kita

dapat saja berdemo memprotes Shogun yang diam saja melihat orang asing

mengebom Edo. Itu akan menambah kebingungan.”

Genji berpaling kepada Shigeru. “Bagaimana menurutmu?”

Shigeru tidak mendengarkan. Dia tadi berpikir tentang pedang leluhur

yang kini disandangnya. Yang lebih spesifik, dia berpikir tentang

penglihatan yang baru saja dia alami, yang membuatnya tahu bahwa ialah

orang terakhir yang akan menyandang pedang leluhur itu dalam

peperangan. Penglihatan itu membuatnya merasa lengkap karena tidak

disertai dengan bayangan visual dan audio yang meledak-ledak seperti

bisaanya. Ini tak pernah terjadi kepadanya sebelumnya. Apakah ini

menandakan perubahan dalam dirinya atau ini merupakan satu lagi akibat

pengaruh keponakannya yang kini di dekatnya? Atau, apakah ini salah satu

bentuk lagi dari makkyo—delusi yang ditimbulkan oleh setan? Kecuali,

jika dia benar-benar merasa yakin, tak ada gunanya dia berkata apa pun

kepada Genji.

“Rencana-rencana yang telah dipaparkan tadi semuanya mempunyai

keuntungan tertentu,” kata Shigrru. Meski tidak mendengarkan, dia tahu

bahwa beberapa pilihan telah diajukan. Sebuah pergerakan besar yang tak

disembunyikan dalam satu kelompok besar. Sebuah pengalihan perhatian,

diikuti pelarian sang Lord muda dikawal oleh pasukan kavaleri terbaik.

Pembagian senapan. “Evakuasi junjungan kita akan paling aman dilakukan

dengan pendekatan gabungan. Ini akan memberikan keuntungan terbesar

dan mengurangi risiko. Di mana kremasi orang-orang kita yang tewas akan

dilakukan?”

“Kuil Nakaumi,” jawab Saiki.

“Teruskan membawa mayat ke sana.”

Saiki berkata tidak sabar. “Tugas itu terus berlanjut tanpa harus

diperintahkan lagi, Lord Shigeru, dan hampir selesai.”

“Teruskan membawa mayat ke sana,” kata Shigeru lagi. “Selama ini

yang hidup membawa yang mati. Sekarang, biarkan yang hidup membawa

yang hidup. Teruskan hingga setengah orang kita ada di krematorium.

PDF by Kang Zusi

Sementara itu, Lord Genji dan sejumlah kecil pasukan akan bergerak ke

rawa di sebelah timur kota untuk melihat burung bangau berganti bulu

menjelang musim dingin. Dengan alasan bahwa itu adalah kegiatan untuk

bersantai melepaskan lelah akibat ketegangan yang ditimbulkan dari

serangan yang baru saja terjadi. Begitu sampai di sana, Lord Genji akan

meneruskan perjalanan ke pegunungan dan kembali ke wilayah Akaoka.

Mereka yang masih tertinggal di sini harus menunggu sampai malam. Kemudian,

pasukan kita yang paling terlatih akan menghabisi mata-mata

Shogun dan evakuasi istana ini dapat dilakukan dengan penuh rahasia.”

Keraguan Saiki, yang tadi tampak ketika Shigeru mulai berbicara kini

semakin jelas. “Memang benar kalau junjungan kita mempunyai reputasi

peka terhadap seni dan hal-hal yang artistik. Tetapi, mengamati bangau?

Setelah istananya hancur menjadi puing? Ketika lusinan pengikutnya

terbunuh dan terluka? Benar-benar tak bisa diterima!”

“Aku tidak benar-benar mengamati bangau,” kata Genji ringan.

“Tidak, Tuan. Memang tidak,” kata Saiki. “Tetapi, membuat orang lain

percaya kalau Anda memang mengamati bangau meski hanya sekejap akan

menurunkan martabat Anda. Anda adalah Bangsawan Agung Akaoka ke-

26. Leluhur Anda telah menurunkan Shogun dan juga mengangkat mereka,

dan Anda serta keturunan Anda juga akan melakukannya. Anda tidak

mungkin mempertimbangkan untuk mengamati bangau di masa seperti

ini.”

“Tetapi, meski tak bisa dimengerti, muncul keinginan dalam diriku

untuk melakukan hal itu.” Genji tersenyum kepada Heiko. “Katanya,

burung bangau tertentu ada yang kawin di musim dingin.”

Saiki memejamkan matanya. Ketika dia membuka matanya, tidak ada

yang berubah. “Tuanku, harap pertimbangkan kembali. Risiko dari

tindakan itu benar-benar tinggi.”

“Dengan skenario lain, berapa besar risikonya terjadi konfrontasi?”

“Sangat besar.”

“Jika skenario mengamati bangau berhasil, tidak akan ada kekerasan

mengiringi keberangkatanku. Benar demikian?’

“Hanya jika berhasil, Tuanku.”

PDF by Kang Zusi

Genji berkata, “Keluargaku selalu beruntung jika berurusan dengan

burung.”

Sohaku berkata, “Ada alasan lain untuk mempertanyakan strategi ini.

Anda berniat memisahkan kita menjadi tiga kelompok?”

“Itu benar,” jawab Shigeru.

“Jumlah kita sudah sedikit. Dengan membaginya, kita akan lebih

mudah diserang. Dan, Anda mengusulkan agar kita mengirimkan sesedikit

mungkin orang, dengan senjata tidak lengkap, dengan junjungan kita,

untuk melewati jalan yang paling sulit dan panjang menuju rumah.”

“Ya,” kata Shigeru, “dan itu untuk jaga-jaga, aku rasa sebaiknya para

misionaris pergi bersamanya.”

“Apa?” Saiki, Kudo, dan Sohaku berteriak hampir bersamaan.

“Jika junjungan kita ingin menunjukkan keindahan daerah pedesaan

kepada tamunya, itu bisa dipahami. Kalau tidak, akan sangat sulit

menjelaskan mengapa orang asing tersebut keluar pada kondisi seperti

sekarang.”

“Mengapa kita harus membebani diri dengan, mereka?” kata Kudo.

“Kirim saja mereka ke Harris konsul Amerika itu.”

“Kamu pasti tahu ramalan itu,” kata Shigeru “Orang asing akan

menyelamatkan hidup Lord Genji. Kita tak tahu yang mana. Jadi, demi

junjungan kita, kita harus melindungi mereka seakan-akan hidup mereka

sama artinya dengan hidup Lord Genji.”

Kudo berkata, “Orang asing yang dimaksud telah melakukan tugasnya

dengan men-dapatkan peluru yang seharusnya untuk junjungan kita dan

dia mati. Dua yang lain tak berguna bagi kita.”

Saiki menghela napas. “Itu belum jelas.” Meskipun dia benci mengakui

ini, Saiki kini mulai mengakui kebenaran pandangan Shigeru bahwa peluru

itu memang ditujukan untuk orang yang menjadi target pemimpin

misionaris.

“Aku setuju dengan Lord Shigeru. Mereka harus dijaga.”

Kudo memandang Sohaku yang berpura-pura tidak memperhatikan.

Sohaku mengutuk kepercayaan sekutunya pada takhayul. Mereka akan

berhasil atau gagal membunuh Genji, bergantung pada nasib mereka,

bukan pada ramalan kosong tentang orang asing.

PDF by Kang Zusi

Sohaku berkata, “Siapa yang akan memimpin ketiga unit?”

Jawaban Shigeru merupakan indikasi apakah dia dicurigai atau tidak.

“Kamu akan mengomandoi pasukan kavaleri,” kata Shigeru. “Tentu

saja kamu akan mengepalai pasukan utama. Bertempur kecil-kecilan kalau

perlu, tetapi hindari pertempuran besar. Sebelum kamu berangkat, kita

akan berdiskusi dan mempertimbang-kan di mana kami bisa bergabung

denganmu.”

“Baik sekali, Tuanku.” Sohaku membungkuk Jadi, dia masih

dipercaya; kalau tidak, dia pasti tidak dipercaya memimpin pasukan utama.

“Kudo, pembunuh terbaik yang kita punya.” Shigeru berhenti.

Ekspresinya tidak berubah. Tetapi, jika diamati dengan saksama, terlihat

pupil matanya menyempit saat dia melihat ke arah Kudo. “Karena itu,

kamu akan mengorganisasi orang-orang yang ter-tinggal di sini. Pertama,

habisi mata-mata yang mengawasi kita. Lalu, bergabung dengan Sohaku

secepat kamu bisa.”

“Ya, Tuan.” Kudo juga lega menerima tugas yang penting itu.

Penyebutan pembunuh sedikit mengganggunya, tetapi tidak terdengar nada

sinis di kata-kata Shigeru. Jika ada kecurigaan meski hanya sedikit, pasti

dia maupun Sohaku tidak akan diberi tanggung jawab sebesar itu dan

mereka tidak akan diperintahkan untuk bergabung.

Saiki mendengar dengan ngeri. Shigeru menyerahkan semua kekuatan

yang mereka punya kepada dua pria yang dia tahu akan memberontak

terhadap jun-jungan mereka. Dia pasti gila meski dia terlihat rasional di

permukaan. Dalam beberapa hari, di suatu tempat di pegunungan, Sohaku

dan Kudo akan menemukan Genji dan membunuhnya. Pikiran Saiki

berputar, tetapi dia tak menemukan solusi yang tepat.

Shigeru berkata, “Lord Chamberlain, Saiki, Anda akan pergi malam ini

ke wilayah kita dengait kecepatan penuh. Taro dan Shimoda akan

menemani Anda. Sesampai di sana, siapkan pasukan kita untuk perang.

Siap-siaplah bergerak ke arah mana pun dalam waktu tiga minggu.”

“Ya, Tuan.” Saiki membungkuk. Tiba-tiba rencana Shigeru menjadi

jelas baginya. Saat Sohaku dan Kudo tak bisa bergerak, Saiki bebas pergi

ke Akaoka dan meyakinkan kesetiaan pasukan utama dengan

membersihkan elemen-elemen meragukan. Sementara itu, Shigeru akan

PDF by Kang Zusi

membimbing Genji melewati rute-rute rahasia di pegunungan dalam usaha

menghindari kejaran dari Shogun dan dua pengkhianat ini. Tugas Shigeru

jelas merupakan tugas bunuh diri, tetapi Shigeru kelihatannya tidak

menyadarinya. Dengannya, Lord Genji punya kemungkinan besar bertahan

hidup.

Sohaku bertanya, “Berapa banyak pasukan yang akan dibawa Lord

Genji?”

“Aku sendiri,” jawab Shigeru, “dan Hide. Tentu saja Lord Genji tak

mungkin mengamati bangau tanpa mengajak Nona Heiko. Dan, dua

misionaris itu. Yang lain tak diperlukan.”

“Tuanku.” Ini adalah berita yang sangat menggembirakan. Tetapi,

Kudo merasa dia perlu protes untuk mendemonstrasikan kesetiaannya.

“Keahlian Anda tak perlu diragukan lagi dan Hide baru-baru ini juga telah

mendemonstrasikan keahliannya. Tetapi, hanya dua orang? Untuk

melindungi junjungan kita melewati wilayah yang sebagian besar adalah

wilayah musuh? Setidaknya, satu pasukan harus pergi bersama Anda. Jika

ada serangan, pasukan itu dapat memberi kesempatan meloloskan diri pada

junjungan kita dengan mengorbankan nyawa mereka.”

“Harapan kita agar bisa bertahan hanya dengan penghindaran,” kata

Shigeru. “Jika kita terlibat pertempuran, dengan pasukan atau tanpa

pasukan, kita akan gagal.”

“Hamba juga merasa risikonya terlalu tinggi,” kata Sohaku. “Apa tidak

sebaiknya jika Lord Genji bepergian bersama hamba sendiri atau Kudo?

Kami punya pasukan untuk melindungi terhadap semua hal kecuali

pasukan besar, dan pasukan besar tak bisa berjalan cepat menandingi

pasukan kavaleri.” Saat dia berbicara, muncul gagasan baru di kepalanya,

gagasan yang akan menyederhanakan rencana mereka. “Lord Genji akan

bepergian dengan menyamar. Sementara itu, Anda, Lord Shigeru, dapat

melaksanakan perjalanan sesuai rencana Anda, tetapi dengan Lord Genji

palsu untuk mengalihkan perhatian. Sehingga, keselamatan junjungan kita

benar-benar terjamin.” Dengan Genji di tangan mereka dan Shigeru tidak

ada, kemenangan sudah di depan mata.

“Usul yang bagus,” kata Shigeru, “dan mempunyai keuntungan.

Bagaimana menurut Anda, Tuanku?” Shigeru bertanya kepada Genji

PDF by Kang Zusi

bukan untuk mendapat jawaban, melainkan untuk mengontrol emosinya

yang mulai naik. Dia hampir saja memenggal kepala Sohaku dan Kudo.

Pengkhianat yang sombong dan bodoh! Tetapi, kalau dia membunuh

mereka sekarang, reputasi tentang kegilaannya akan menjadi jalan keruntuhan

keponakannya. Klan mereka akan hancur. Tenang. Dia perlu

menemukan tempat tenang dalam dirinya. Jika tempat itu memang masih

ada.

“Usul yang brilian, Pendeta Kepala,” kata Genji. “Pengalihan ganda

yang kau usulkan sungguh pintar.” Dia dan Shigeru telah menentukan apa

yang akan mereka lakukan sebelum pertemuan ini. Dengan pura-pura

mempertimbangkan usul Sohaku, Shigeru menunjukkan rasa hormatnya.

Jika pamannya bisa bersikap sopan, mungkin kegilaannya memang sudah

sembuh total. Ini membuatnya merasa optimis. Genji memberi satu

senyum lagi kepada Heiko. “Semakin aku berpikir, aku semakin merasa

mengamati bangau adalah cara paling menarik untuk meninggalkan Edo.

Kamu setuju tidak, Heiko?”

“Menarik, mungkin.” Heiko berharap Shigeru tidak akan

memercayakan nasib Genii di tangan Sohaku. Pagi ini, sebelum fajar

muncul di jam ayam jantan, pelayannya, Sachiko, melihat seorang

pembawa pesan menyelinap keluar. Dia muncul dari ruangan Sohaku.

Sachiko mengikutinya cukup lama untuk menentukan arah tujuan si

pembawa pesan. Benteng Edo. “Tetapi, pasti sepi.”

“Sepi? Apa kita tak cukup untuk saling menemani?”

“Hanya kalau kita bersama,” kata Heiko, “tetapi, tentu saja saya harus

menemani Lord Genji palsu. Kalau tidak, pengalihan perhatian pasti akan

gagal.”

Genii tertawa, “Tidak masuk akal. Kita berdua akan menyamar, dan

Heiko palsu akan pergi dengan Genji palsu. Pasti menyenangkan.” Dia

benar-benar menikmati bermain dengan gagasan aneh itu. Di satu titik,

baik Shigeru atau Saiki pasti akan menolaknya. Jadi, tak perlu khawatir

karena usul Sohaku tak mungkin dilakukan. “Kamu bisa menyamar

menjadi wanita petani dengan baik. Menyamar menjadi pelayan pasti

bukan masalah bagimu.”

PDF by Kang Zusi

“Terima kasih, Tuan.” Ucapan Genji membuatnya kembali merasa

malu mengingat apa yang pernah terjadi dahulu. “Jika Anda berkenan,

hamba permisi dulu. Hamba akan mulai bersiap-siap memotong rambut

hamba.” Heiko membungkuk dan mulai mundur keluar dan ruangan. Dia

berharap Genji mampu berpikir jernih dan mencegahnya sebelum dia

benarbenar harus memotong rambutnya.

“Nona Heiko, tinggallah bersama kami,” kata Saiki. Dia telah

menemukan kepalsuan di usul Sohaku, syukurlah semua itu karena katakata

Heiko. “Merupakan sebuah dosa jika Anda mengorbankan kecantikan

Anda hanya karena rencana menggelikan itu.”

“Agar bisa sukses di masa yang sulit ini,” kata Sohaku, “seharusnya

kita tidak takut untuk melewati perbatasan wilayah sendiri. Tidak

membantu jika kita memandang rendah setiap usulan yang tidak diambil

dari Seni Perang.” Hadiah yang diharapkan hampir jatuh di pangkuannya.

Yang tinggal dia lakukan adalah membuat lengah si tua bodoh itu.

Genji berkata, “Aku harus mengakui, tidak ada kelemahan dalam

rencana Rahib Kepala. Bagaimana denganmu, Saiki?”

“Memang tak ada,” balas Saiki, “selama Nona Heiko sendiri menemani

Anda yang palsu.”

“Itu tidak boleh terjadi,” kata Genji. “Yang menyenangkan adalah

kalau kita bisa berpura-pura menjadi orang lain. Dalam hidup sehari-hari,

kita tak bisa melakukan itu sama sekali.” Meskipun ironi dalam ucapannya

tadi sangat terasa, Genji tidak melihat ekspresi wajah mereka yang hadir di

ruangan itu berubah. Rupanya, kendali diri seorang samurai benar-benar

hebat. “Kita bisa menempatkan Heiko palsu untuk menggantikannya juga.”

Saiki berkata, “Tuanku, mungkin Anda bisa menyamar menjadi

seorang prajurit berpangkat rendah. Dan mungkin juga Nona Heiko dapat

menggunakan keahliannya dalam menyembunyikan identitas dirinya dan

berperan sebagai pelayan. Mungkin salah satu orang kita bisa berpura-pura

menjadi Anda. I’etapi, adakah di antara para wanita kita yang bisa berpurapura

menjadi Nona Heiko?”

Semua pria di ruangan itu melihat ke arah Heiko.

Heiko membungkuk rendah hati. “Hamba yakin mudah sekali

menemukan pengganti hamba.”

PDF by Kang Zusi

Sohaku memandang Heiko. Mata sendu yang terlihat mengantuk, tetapi

waspada pada saat yang bersamaan. Hidung dan dagunya yang sempurna.

Bentuk mulut mungilnya yang menggoda. Tangannya yang halus dan

lembut. Garis tubuhnya yang membentuk di bawah garis kimononya.

Tidak mungkin memalsukan Heiko.

“Saiki benar,” kata Sohaku. “Hanya selintas, bahkan dari jauh pun,

orang akan tahu bedanya. Jika Nona Heiko tidak menemani Genji palsu,

rencana ini tak akan berhasil.”

“Nona Heiko tak akan menemani siapa pun kecuali aku yang asli,”

tukas Genji. “Aku tak akan menghabiskan tiga minggu di hutan tanpanya.

Apa yang akan kulaku-kan kalau begitu? Berburu?”

“Tidak, Tuanku,” kata Saiki, lega karena kemungkinan bencana

terburuk berhasil dihindari. “Kita semua tahu berburu bukan cara favorit

Anda dalam meluangkan waktu.”

“Jadi, kita setuju?” tanya Shigeru.

Semua yang hadir mengangguk.

Kemarahan Shigeru telah berlalu. Pedang Cakar Burung Gereja tetap

berada di sarungnya hingga muncul kesempatan yang lebih baik. Semoga

dewa-dewa segera mewujudkan itu.

Kawakami, si Mata Licik Shogun, mengalami euforia yang selalu

dialaminya ketika dia mengetahui sesuatu yang dia tahu tak ada orang lain

yang tahu. Dan karena sifat pekerjaannya, pengetahuannya tentang segala

hal bisaanya lebih banyak dari orang lain, sehingga bisa dikatakan dia

selalu bahagia karenanya. Meskipun begitu, Kawakami merasa sangat

senang pagi ini. Dia baru saja berbicara dengan pembawa pesan kedua hari

itu, bahkan saat matahari belum terbit. Sohaku, Rahib Kepala Mushindo

dan Komandan Kavaleri klan Okumichi, ingin bertemu dengannya. “Harus

dilakukan dengan cara yang sangat rahasia,” demikian kata sang pembawa

pesan. Itu berarti satu hal. Sohaku siap mengkhianati tuannya. Kawakami

belum tahu apakah Kudo dan Saiki, dua komandan senior lainnya,

bergabung dalam konspirasi itu. Tetapi, itu tidak penting. Sohaku tak

mungkin bergerak tanpa sebelumnya mempertimbangkan Kudo dan Saiki.

PDF by Kang Zusi

Bisa saja Kudo dan Saiki bergabung dengannya atau Sohaku telah

membuat rencana untuk menghabisi mereka.

“Tuanku.” Ajudannya, Mukai, ada di depan pintu.

“Masuk.”

“Si pembawa pesan itu masih tak mau menjawab.”

Mukai berbicara tentang pembawa pesan pertama, bukan yang dikirim

Sohaku. Pembawa pesan ini sekarang ada di kamar interogasi, dan tak

lama lagi dia akan pergi ke sebuah kuburan tak bemama. Dia ditangkap

ketika berusaha meninggalkan Edo tak lama setelah pengeboman.

Kawakami mengenalinya sebagai salah satu staf Saiki.

“Mungkin kamu tidak menanyai dia dengan benar,” kata Kawakami.

“Kami telah mematahkan tulang lengan dan kaki nya, Tuanku, dan

kami telah memotong— “

“Bagus,” tukas Kawakami memotong penggambaran yang lebih lanjut.

“Aku akan berbicara dengannya lagi. Dia mungkin lebih mau terbuka jika

diajak bicara secara normal. Siapkan dia.”

“Sudah, Tuanku.”

Kawakami mengangguk. Dalam berbagai cara, Mukai adalah asisten

yang sempuma. Dia cukup pintar mengantisipasi kebutuhan Kawakami,

tetapi tidak cukup pintar untuk mengkhianatinya. Mukai berasal dari

keluarga yang statusnya cukup tinggi yang dapat melengkapi status

Kawakami, tetapi tidak cukup tinggi sehingga membuatnya ingin

menggantikan Kawakam. Mukai terkait dengan Kawakami karena

perkawinan, dia adalah suami anak perempuan dari bibi tiri suami adik

Kawakami. Terlebih lagi, keluarga Mukai telah menjadi pengikut keluarga

Kawakami selama hampir tiga ratus tahun. Dan, juga ada faktor pribadi

yang tak kelihatan. Secara fisik, Mukai adalah orang yang kuat, tetapi

perawakannya sama sekali tak punya karisma, Pakaiannya selalu pantas,

tetapi pakaian yang pada orang lain akan memberikan kesan gagah dan

konservatif, terlihat membosankan jika dikenakan Mukai, Ini mungkin

akibat wajahnya yang sama sekali tak bisa dibilang tampan, dengan hidung

yang besar dan bulat, mata sipit yang terlalu berdekatan, mulut yang lebar

tetapi dengan bibir yang tipis, dan dagu yang tertarik ke belakang.

Penampilan Mukai yang bisaa-bisaa saja itulah yang menjadi faktor utama

PDF by Kang Zusi

kepercayaan Kawakami sehingga dia tidak meragukan kesetiaan ajudannya

itu. Seseorang seperti Mukai membutuhkan orang seperti Kawakami untuk

dilayani, seorang samurai dengan penampilan gagah, canggih, berdaya

tarik, dan berkarisma, sehingga dia bisa menikmati cahaya pribadi yang dia

sendiri tak punya.

“Terima kasih, Mukai. Kamu bertugas dengan baik, seperti bisaanya.”

Kawakami sama sekali tidak rugi memujinya dan respons yang didapatnya

selalu membuatnya girang.

“Hamba tak pantas mendapat pujian seperti itu, Tuanku.” Mukai

membungkuk rendah.

Mereka berjalan menuju kamar interogasi dalam diam. Seperti

bisaanya, pikiran Kawakami dipenuhi oleh pikiran-pikiran yang

membanggakan dirinya. Dan, siapa yang bisa menyalahkannya? Prospek

masa depannya terlihat lebih baik daripada yang berani dia harapkan. Dia

berpikir apakah orang yang berjalan bersamanya juga berpikir tentang

sesuatu. Bukannya dia benar-benar ingin tahu. Sering, seperti saat ini,

Mukai selalu terlihat dungu dan pikirannya kosong.. Hanya dewa-dewa

dan Buddha yang tahu apa yang ada di kepalanya, jika mereka meluangkan

waktu untuk melongoknya, dan mungkin juga mereka tak berminat

melongok ke dalam kepala Mukai. Betapa tidak beruntungnya menjadi

bukan siapa-siapa. Setidaknya, Kawakami diberkahi dalam hal pengikutpengikutnya.

Semua bukti kekerasan yang pernah terjadi sudah hilang. Pembawa

pesan itu, seorang samurai setengah baya bernama Gojiro, terlihat rapi

memakai baju yang dia pakai saat tertangkap. Dia duduk di lantai di tatami

dengan posisi bisaa, kakinya bersila. Sebuah sandaran kayu didirikan di

belakangnya untuk menahan tubuhnya. Karena kedua kakinya patah, pasti

tidak mungkin baginya untuk mempertahankan posisi itu tanpa sandaran

sama sekali. Wajahnya berkerut kesakitan, napasnya tersengal-sengal,

keringat mengalir deras di wajahnya. Spontan meski tak ingin, Kawakami

memandang ke tangan pria itu, berharap melihat ada jarinya yang hilang.

Tetapi, semua jari di kedua tangan itu lengkap. Bukan jari yang dipotong

Mukai.

PDF by Kang Zusi

“Tidak ada artinya kalau kamu terus diam,” kata Kawakami. “Kami

tahu apa misimu. Memobilisasi pasukan di wilayah Akaoka. Kami hanya

minta kamu mengakuinya.”

“Aku tak peduli apa yang kalian tahu,” kata Gojiro.

“Seharusnya kamu peduli,” kata Kawakami, “karena apa yang kutahu

akan menyebab-kan kematian junjunganmu, penyitaan rumahnya dan kematian

atau perbudakan setiap anggota keluargamu.”

Tubuh Gojiro mulai bergetar. Wajahnya merut. Sebuah suara yang

tercekik dan tertahan keluar dari kerongkongannya. Kawakami mengira

dia mengalami serangan kejang-kejang sebelum akhimya dia sadar bahwa

pria itu tertawa.

“Kau si Mata Licik,” kata Gojiro. “Semua hal yang diketahui orang

dapat kamu ketahui. Semuanya kecuali satu yang paling penting.”

“Apa itu?”

“Masa depan,” kata Gojiro, “yang hanya diketahui oleh satu orang,

Lord Genji.”

“Idiot!” Kawakami mencoba mengontrol diri sendiri. Tidak pantas

menyerang tawanan yang sudah lumpuh. “Kamu rela mati dalam siksa

hanya karena dongeng itu?”

“Aku akan mati di sini, Mata Licik, itu benar. Tapi, anak-anakku akan

hidup melayani junjungan yang sama. Dan mereka akan mengencingi

mayatmu yang membusuk.” Gojiro tertawa lagi, meski terlihat jelas dia

kesakitan. “Kamulah yang akan musnah.” Kawakami berdiri dan

meninggalkan ruangan tanpa sepatah kata pun. Dia terlalu marah untuk

bicara. Mukai terburu-buru mengikutinya.

“Apakah hamba boleh menghabisinya, Tuanku?”

“Jangan. Jangan dulu. Terus tanyai dia.”

“Dia tak mau bicara, Tuanku. Hamba yakin itu.”

“Pokoknya teruskan. Tanyai dengan terperinci hingga tidak ada hal

yang tidak kita ketahui.”

Mukai membungkuk, “Ya, Tuanku.”

Kawakami lalu menuju ruangan minum teh

Mukai kembali ke kamar interogasi. Seperti yang telah dia perkirakan,

Gojiro sama sekali tak mau bicara, bahkan ketika tulang-tulangnya

PDF by Kang Zusi

dipatahkan, diremukkan, dan dipotong, serta organ dalamnya di keluarkan

di depan matanya. Dia berteriak dan menangis. Tak mungkin sakit seperti

itu bisa ditahan meski oleh seorang pahlawan pun. Tetapi, dia tak mau

mengatakan apa-apa.

Akhirnya, ketika waktu telah mencapai waktu tergelap di jam domba,

napasnya terhenti. Mukai membungkuk di hadapan mayatnya dan diamdiam

meminta maaf. Ruh Gojiro pasti mau memaafkannya. Mereka berdua

adalah samurai. Dan, mereka harus melayani junjungannya sebagaimana

seharusnya. Mukai memberi instruksi agar mayat Gojiro dimakamkan

dengan hormat meski diam-diam.

Ketika dia keluar dari kamar interogasi, Mukai menuju kamarnya,

tetapi dia tidak masuk ke sana. Segera setelah dia yakin tidak diikuti, dia

keluar mclalui pintu tersembunyi. Dalam beberapa menit, dia sudah berada

di luar dinding Benteng Edo dan dengan cepat berjalan menuju kediaman

para bangsawan di distrik Tsukiji.!

9. Bitoku

Suara yang mengendap-endap membangunkan Heiko. Siapa pun

yang mendekat, dl berusaha keras untuk meminimalkan suara

langkahnya. Mungkin itu adalah salah satu pengikut. Tetap dinding

istana telah runtuh. Jadi, besar kemungkinan ada orang yang tidak

berniat baik datang. Dua pedang Genji ada di dudukan di dekat

kepalanya. Heiko baru saja akan bergerak untuk mengambi pedang

pendek wakizashi ketika Genji meraih pedang panjang katana. Baru

setelah Genji bergerak, Heiko sadar kalau laki-laki itu juga sudah

terbangun.

“Tuanku.” Terdengar suara Hide dari balik pintu.

“Ya?”

PDF by Kang Zusi

“Ampunkan hamba karena telah mengganggu Seorang tamu

memaksa untuk bertemu dengan Anda segera.”

“Siapa?”

“Dia menyembunyikan identitasnya. Tetapi, dia memberi hamba

sebuah tanda yang katanya pasti akan Anda kenali.”

“Tunjukkan padaku.”

Pintu terbuka dan Hide masuk dengan berlutut. Dia membungkuk

dalam gelap, maju ke depan dengan lututnya dan memberikan benda

datar dan bundar kepada Genji yang kira-kira sebesar buah plum. Itu

adalah sebuah pedang kuno dengan ukiran segerombolan burung gereja

terbang di atas ombak.

“Aku akan menerimanya. Tunggu beberapa saat, kemudian bawa dia

masuk.”

Hide ragu-ragu. “Apa tidak sebaiknya dia diminta membuka

topengnya dulu?”

“Penting, tetapi itu tidak perlu.”

“Ya, Tuanku.” Hide mundur, tetap dengan berjongkok dan menutup

pintu.

Heiko menyelubungi tubuhnya dengan kimono dalamnya dan turun

dari ranjang.

“Hamba akan pergi.”

“Ke mana?”

Heiko ingat. Mereka ada di kediaman pelayan, satu-satunya bagian

istana yang tidak rusak. Dia dan Genji menempati ruang utama.

Sementara ruang-ruang yang lain ditempati oleh beberapa orang. Dia tak

bisa pergi ke mana-mana.

“Hamba akan menunggu di luar.”

“Terlalu dingin. Lagi pula, aku ingin kau tetap ada di sini.”

“Tuanku, hamba tidak mungkin menghadapi orang lain selain Anda

dalam kondisi seperti ini.”

Rambut Heiko terurai hingga pinggang. Bisa dikatakan dia telanjang.

Tidak ada make up di wajahnya. Genji akhir-akhir ini lebih suka

melihatnya tanpa make up. Setidaknya, membutuhkan satu jam untuk

PDF by Kang Zusi

dapat mengatur dirinya hingga pantas dilihat orang, itu pun harus dengan

bantuan Sachiko.

“Sekarang adalah waktu yang tidak biasa. Aturan biasa tidak berlaku.

Siapkan dirimu sebaik yang kaubisa.”

Heiko mengatur rambutnya mirip dengan gaya Heian kuno, dibelah

tengah dengan rambut dibiarkan terurai diikat longgar dengan pita. Dia

lalu mengenakan beberapa lapis kimono dalam, diatur sedemikian rupa

sehingga mirip jubah longgar yang dikenakan wanita zaman dahulu. Dia

memakai bedak dan pemerah pipi tipis-tipis sehingga dia tidak terlihat

memakai make up, tetapi make up tipis itu justru menegaskan kecerahan

matanya dan bentuk bibimya yang seperti tersenyum.

“Kamu mengagumkan,” kata Genji ketika Heiko kembali masuk

ruangan dengan nampan teh di tangan.

“Bagaimana bisa, Tuanku?”

“Kau terlihat seakan-akan kau baru keluar dari lukisan di era Shining

Prince.” Lalu, dia menunjuk pada kimononya yang diikat dengan

tergesa-gesa. “Kebalikannya, aku terlihat seperti aku saat ini. Baru

bangun tidur.”

Heiko tidak perlu mengeluarkan protes demi kepantasan karena sang

tamu sudah datang. Dia adalah seorang pria gemuk yang tertutup mantel

dari kepala sampai kaki. Ada kecanggungan dalam gerakannya yang

terlihat familier bagi Heiko. Dia sudah pernah melihat pria ini. Tetapi, di

mana?

Hide dan Shimoda duduk dekat di belakang tamu itu, di belakang dan

kedua sisinya. Sedikit gerakan mencurigakan, tamu itu akan kehilangan

nyawanya. Gerakan jelas dan pelan dari tamu itu menunjukkan kalau dia

memahami konsekuensi itu dengan baik. hahkan, saat membungkukkan

badan dia melakukannya dengan pelan dan pasti.

“Maafkan atas gangguan hamba yang tidak pada waktunya, Lord

Genji.”

Mukanya mengenakan cadar, yang terlihat hanya di matanya.

Meskipun sipit, mata itu tak bisa menyembunyikan keterkejutannya

ketika melihat Heiko.

“Hamba kira, hamba hanya akan bertemu dengan Anda saja.”

PDF by Kang Zusi

Genji memberi isyarat kepada Hide dan Shimoda. Ekspresi khawatir

di wajah keduanya semakin jelas. Tak satu pun dari mereka yang

bergerak.

“Kalian tunggu di luar,” kata Genji.

“Baik, Tuan.” Hide dan Shimoda membungkuk tanpa mengalihkan

pandangan dari tamu yang mungkin saja seorang pembunuh itu. Mata

mereka tetap menghunjam ke punggung tamu itu saat mereka mundur ke

arah pintu.

Setelah pintu tertutup, Genji bahkan masih dapat membayangkan

posisi mereka berdua seakan-akan dia dapat melihat menembus kayu dan

soji. Mereka berdiri di sisi pintu, tangan di gagang pedang, siap

menyerbu ke dalam.

Tamu itu melihat ke Heiko lagi. “Kita masih belum sendiri, Tuanku.”

Genji berkata, “Jika kamu tidak bisa mempercayai Nona Heiko, aku

tak bisa mempercayaimu.” Dia memberi isyarat kepada Heiko. Heiko

membungkuk dan bergeser maju dengan nampan teh.

Kini, Mukai dihadapkan pada dilema yang tak dia harapkan sama

sekali. Agar bisa minum teh, dia harus membuka topengnya. Jika dia

menolak teh itu dan tetap memakai topeng, tidak akan terjadi

pembicaraan. Karena Genji sudah tahu siapa dia—ini adalah pertemuan

kedua mereka—hanya ada satu tujuan agar dia membuka jati dirinya di

hadapan Heiko. Untuk menguji reaksi mereka satu sama lain. Apa itu

berarti Genji mencurigai Heiko? Atau dirinya? Atau mereka berdua?

Atau ini hanya sebuah permainan Genji dengan geishanya? Dan, tentu

ada masalah yang lebih besar lagi. Jika Mukai membuka topengnya,

Heiko pasti melaporkan kedatangannya ini kepada Kawakami. Dan,

Mukai akan mengikuti jejak Gojiro disiksa di kamar interogasi, dan ke

kuburan. Kecuali jika dia sekarang membuka identitas Heiko sebagai

mata-mata dan seorang pembunuh. Tidak, itu tak akan berhasil. Genji tak

akan memercayainya tanpa bukti kuat dan Mukai tak punya bukti satu

pun. Dia memaki dirinya sendiri karena tidak mempertimbangkan

kemungkinan keberadaan Heiko. Karena pengeboman itu, dia tidak

berpikir bahwa Heiko ada di kediaman Genji.

PDF by Kang Zusi

Akhirnya, pusing karena berbagai kemungkinan yang bisa terjadi,

Mukai menyerah. Dia membuka topeng dan menerima teh yang

ditawarkan.

Heiko tidak menunjukkan ekspresi terkejut,

Ia bahkan tidak menunjukkan tanda sedikit pun bahwa dia mengenali

Mukai. Itu disebabkan dia telah mengenali Mukai sejak tadi setelah

melihat mata yang sipit dan berdekatan serta gumpalan hidung yang

besar di bawah cadamya. Dia mengira Mukai dikirim oleh Kawakami

sebagai sebuah strategi untuk menyimpangkan arah Genji. Aneh jika

Kawakami memilih Mukai untuk tugas ini. Dia adalah seorang yang

bodoh dan polos.

Genji tidak melihat reaksi dari Heiko, yang tidak berarti apa pun. Dia

tahu pengendalian diri wanita itu sangat luar biasa. Tetapi, setidaknya

mata Mukai yang bergerak-gerak menjawab satu pertanyaan. Heiko dan

Mukai saling mengenal. Ini berarti kemungkinan pengkhianatan hampir

bisa dipastikan. Pengkhianatan terhadap siapa dan oleh siapa, itu yang

belum jelas.

Mukai membungkuk rendah kepada Genji. “Hamba menyesal

membawa berita bahwa pembawa pesan Anda, Gojiro, tertangkap oleh

mata-mata Shogun ketika hendak keluar Edo.”

“Benar-benar nasib buruk,” kata Genji. “Apakah dia menyerah pada

interogasi?’

“Tidak, Tuanku, sama sekali tidak.”

Genji berkata, “Aku akan menghargai kesetiaan dan keberaniannya

dengan menaikkan pangkat ketiga anak lelakinya dalam pasukanku.

Apakah ada kemungkinan mendapatkan mayatnya?”

“Tidak, Tuanku. Itu tak mungkin.”

Meski dia merasa sedih kehilangan pengikut setia, Genji sama sekali

tak khawatir mendengar kegagalan Gojiro meninggalkan Edo. Saat

mengajukan diri, Gojiro tahu risiko penangkapan, siksaan, dan kematian

bisa menjadi nasibnya. Saiki telah mengirim pembawa pesan lain pada

saat yang sama, mungkin pembawa pesan tersebut sekarang telah sampai

di Akaoka.

“Terima kasih. Laporanmu sungguh aku hargai.”

PDF by Kang Zusi

“Masih ada lagi. Pembawa pesan kedua Anda juga tertangkap.”

“Apa kamu yakin?” Genji memilih kata-katanya dengan hati-hati.

Dia tidak mau memberikan informasi lebih kepada Mukai. Tetap ada

kemungkinan aksi pengkhianatan-nya kepada Kawakami ini justru

dirancang oleh si Mata Licik sendiri.

“Burung elang pemburu ditempatkan di beberapa tempat strategis

antara Edo dan Akaoka. Tuan Kawakami menyadari antusiasme

mendiang kakek Anda terhadap merpati pos dan menebak Anda juga

akan menggunakan merpati pos. Pasukan Anda tidak akan mendapat

perintah mobilisasi.”

“Kalau begitu, situasi kami benar-benar mengkhawatirkan.”

Sekarang, tidak mungkin bantuan datang hingga Saiki mencapai Akaoka.

Jika memang dia berhasil mencapainya.

“Tidak mungkinkah salah satu komandan Anda di sana

memerintahkan mobilisasi atas inisiatifnya sendiri?”

“Para komandanku adalah orang Jepang,” kata Genji, “bukan orang

asing. Apa kamu tak tahu kalau inisiatif adalah sesuatu yang asing bagi

mereka? Mereka akan menanti perintah, seperti yang telah diinstruksikan.”

“Bagaimanapun, Anda harus meninggalkan Edo, Tuanku. Bahkan,

jika Lord Kawakami tidak mernerintahkan pembunuhan terhadap diri

Anda, elemen antiasing lain mungkin akan beraksi. Pengeboman yang

baru terjadi telah meningkatkan emosi antiasing hingga ke titik

membahayakan.” Mukai berhenti. Dia menarik napas dalam-dalam untuk

menguatkan diri. “Meskipun secara turun-temurun keluarga hamba

adalah pengikut klan Kawakami, istana kami terisolasi di daerah

bersalju, di pegunungan tinggi jauh di atas Laut Jepang. Pada zaman

dahulu, istana kami tak pernah jatuh, bahkan ketika Oda Nobunaga

sendiri memimpin pasukan untuk menyerbunya. Tak seorang pun akan

mengira Anda menuju ke sana. Mungkin ini adalah altematif terbaik bagi

Anda. Sementara itu, Anda dapat mengirimkan beberapa pembawa pesan

lain ke Akaoka. Salah satunya pasti dapat lolos. Hanya dengan itu hamba

yakin keselamatan Anda akan terjamin.”

PDF by Kang Zusi

“Kemurahan hatimu mengejutkanku,” kata Genji, benar-benar

terkejut. “Tindakan itu bermakna kamu memberontak, tidak hanya

terhadap Kawakami, tetapi juga terhadap Shogun.”

“Hamba siap menerima risikonya, Tuanku.”

“Aku akan mempertimbangkan tawaranmu,” kata Genji berbasa-basi.

“Tetapi, aku harus memperingatkanmu bahwa jalan teraman bagimu

adalah kembali kepada tuanmu semula.”

“Tidak akan,” kata Mukai, suaranya penuh semangat yang tak sesuai

dengan karakter-nya. “Sebagaimana leluhur hamba berdiri di belakang

leluhur Anda di Sekigahara, hamba juga akan berdiri di belakang Anda.”

“Bahkan jika hasilnya sama?”

“Tidak akan sama,” kata Mukai. “Setiap pertanda menunjukkan

dewa-dewa berada di pihak Anda.”

Mukai adalah orang sangat serius yang tidak akan memahami jika

Genji tertawa sekarang. Maka, Genji menahan tawanya meskipun dia

merasakan dorongan yang sangat kuat untuk tertawa. Setiap orang yang

mempercayai kemampuan meramal Genji melihat pertanda di manamana.

Tetapi, yang dapat dia lihat hanyalah ketidak-pastian.

Genji mengembalikan pedang pengawal itu ke Mukai. Karena dia

pasti akan mengajukan pedang itu kembali jika dia perlu bertemu Genji.

“Jadi, keluargamu secara rahasia telah menyimpan pedang ini selama

bertahun-tahun?”

“Ya, Tuanku.” Mukai membungkuk rendah dan dengan hormat

menerima pedang pengawal itu dengan dua tangan. “Sejak pertempuran

itu. Untuk mengingatkan kami di mana seharusnya kami memercayakan

kesetiaan sejati kami.”

Apakah mereka akan pemah melupakan Sekigahara? Bahkan, jika

klan Tokugawa berhasil dikalahkan, bukankah pengikutnya kemudian

menunggu giliran untuk memperjuangkan satu lagi “pertempuran

menentukan”? Seratus tahun lagi dari sekarang, setelah para orang asing

berhasil menjajah jepang dan seluruh bagian dunia lainnya, jika masa

depan memang seperti itu, apakah akhirnya kita akan melupakan

Sekigahara?

PDF by Kang Zusi

Setelah Mukai pergi, Genji iseng menanyakan pertanyaan itu kepada

Heiko.

“Hamba tak tahu, Tuanku. Tetapi, hamba tahu Sekigahara tidak ada

hubungannya dengan kesetiaannya kepada Anda.”

“Tentu saja ada hubungannya,” tukas Genji.

“Motif apa lagi yang mungkin?”

“Cinta,” kata Heiko.

“Cinta?” Genji terkejut. Dia tidak melihat adanya pandangan atau

isyarat bermakna antara Heiko dan Mukai. “Maksudmu, dia juga jatuh

cinta kepadamu?”

“Tidak, Tuanku.” Heiko tak dapat mencegah senyumnya. “Bukan

kepada hamba.”

Dua puluh lima samurai keluar dari gubuk pemburu yang sudah lapuk di

lereng perbukitan Kanto. Tak seorang pun dari mereka membawa

peralatan berburu. Satu dari dua samurai yang berjalan paling depan

berpaling ke samurai yang berjalan di sebelahnya.

“Pertemuan tadi tidak menyelesaikan apa pun.”

“Apa itu mengejutkan?”

“Tidak, memang tidak. Tetapi, aku sempat mengharap yang lain.”

“Fakta bahwa pertemuan tadi dapat terjadi saja sudah merupakan

sebuah kemenangan.” Samurai itu berpaling dan melambaikan tangan ke

arah para samurai di belakangnya yang mengikuti jalan ke arah Edo.

“Lihatlah kita. Dua puluh lima samurai mengenakan lambang dari

selusin junjungan yang berbeda. Di waktu lain, belum lama berselang,

tidak mungkin terpikirkan melihat pertemuan dari berbagai pengikut klan

yang berbeda. Kita memperluas keterbatasan di zaman kuno, temanku.

Kita adalah generasi yang akan menciptakan idealisme baru.

Dengan tekad yang jujur, kita akan memelopori kelahiran Negara

Jepang yang baru.”

Samurai pertama yang berbicara memandang temannya dengan

kekaguman yang tak disembunyikan. Dia merasa dadanya sesak oleh

kebenaran yang melandasi tindakan mereka. Benar, mereka adalah

Penjaga Kebajikan.

PDF by Kang Zusi

Sementara itu, samurai lain di kelompok itu terlibat dalam

percakapan yang lebih santai.

“Kamu sudah mendengar tentang kimono yang dipakai Heiko dua

minggu lalu?”

“Aku tidak hanya mendengarnya. Aku bahkan melihatnya.”

“Tidak mungkin!”

“Ya. Bajunya dipenuhi dengan bordiran mawar asing yang besar dan

mengerikan. Parahnya lagi, itu adalah jenis mawar yang oleh beberapa

orang bodoh disebut American Beauty, seakan-akan kata Amerika dan

kecantikan cocok disandingkan bersama.”

“Apakah kemunduran yang kita alami sudah sangat parah sehingga

tentang mawar saja kita malah mengagumi bunga asing?”

“Untuk para pengkhianat penyembah orang asing itu, mawar asli

Jepang tak mereka anggap lagi.”

“Semua mawar berasal dari luar negeri,” kata samurai yang lain.

“Mawar yang kita punya sekarang berasal dari Korea dan Cina di zaman

dahulu.”

“Nanti kalau kita sudah menguasai ilmu sains, kita akan bisa tahu

bunga mana yang asli Jepang dan hanya mengagumi mereka.”

“Sains adalah pengaruh buruk orang asing.”

“Tidak selalu. Senapan dapat menembak ke arah mana pun. Begitu

juga, sains juga dapat menjadi asli di tangan kita seperti di tangan

mereka. Sains dapat digunakan untuk memperkuat Jepang. Jadi, aku

punya misi untuk memahami sains. Itu bukan berarti aku tidak patriotik.”

“Memang benar, sungguh terpuji kamu rela mclakukan pengorbanan

seperti itu, bersedia menanggung risiko tercemar pengaruh asing untuk

memperkuat perjuangan kita. Aku memberi hormat dari berterima kasih

kepadamu.”

“Kalau bunga krisantemum pasti asli Jepang kan?”

“Tentu saja. Itu tak perlu diragukan lagi.”

Krisantemum adalah simbol suci keluarga kekaisaran. Meragukan

keaslian bunga itu sendiri bukanlah tindakan terpuji.

“Dengan sains, kita dapat membuktikan bahwa itu memang bunga

asli Jepang.”

PDF by Kang Zusi

Tiba-tiba salah seorang pemimpin barisan yang ada di depan

mengangkat tangannya. “Cepat! Ke dalam hutan!”

Tak berapa lama kemudian, seorang penunggang kuda terlihat di

ujung jalan, menaiki jalan yang di turuni oleh 25 samurai tadi. Di

belakangnya, ada ia penunggang kuda lagi— tiga pria dan dua wanita.

Shigeru berkerut. “Apakah bijaksana bepergian sesantai ini?”

“Bersikap santai adalah satu-satunya jalan kita bisa keluar dari Edo,”

kata Genji. “Jika kita menunjukkan keseriusan sedikit saja, kecurigaan

akan timbul. Kita baru saja berhasil memandangi bangau dan memasuki

lereng perbukitan tanpa diganggu. Strategi untuk pergi dengan santai

memang tepat.”

Shigeru tidak mengerti mengapa strategi itu mengharuskan mereka

berkuda menuju sekitar dua lusin samurai yang sedang menyamar,

seperti yang sedang mereka lakukan saat ini, tanpa persiapan tempur apa

pun. Tetapi, dia tahu sebaiknya dia tidak menentang Genji. Penampilan

keponakannya memang terlihat lunak dan lemah, tetapi itu memang

cuma penampilan—bukan kenyataan yang sebenarnya. Dengan caranya

sendiri, Genji sama keras kepala dan kaku seperti almarhum Lord Kiyori.

Shigeru bergerak ke belakang rombongan. Bagian yang paling lemah.

Jika terpaksa, dia berharap serangan akan dimulai di bagian itu.

“Ampuni hamba, Tuanku,” kata Hide, “tetapi, hamba harus setuju

dengan Lord Shigeru. Hamba melihat dua lusin samurai, tetapi mungkin

saja ada pasukan lebih banyak di belakang mereka. Mereka bisa saja para

pembunuh yang dikirim khusus untuk mengadang Anda.”

“Mereka juga bisa saja sekelompok teman yang berjalan-jalan di sore

hari. Ayo terus. Dan jangan melakukan tindakan apa pun tanpa perintah

dariku.”

“Ya, Tuanku,” Hide, yang tetap tak bisa menghilangkan ekspresi

khawatir dari wajahnya, menderap kudanya ke posisi paling depan. Jika

rombongan itu memang pembunuh, mereka mungkin akan

menyerangnya dahulu, sehingga junjungannya punya kesempatan untuk

lari.

PDF by Kang Zusi

Emily memandang penuh tanya kepada Lord Genji. Genji tersenyum

dan berkata, “Ada beberapa orang di jalan depan kita. Tak perlu khawatir

karena tidak akan ada masalah.” Dengan pelan, Genji memajukan

kudanya.

“Saya yakin Anda benar, Tuanku,” kata Emily, menjajarkan kudanya

dengan kuda Genji, “bukankah kita melakukan perjalanan dengan damai

tanpa maksud buruk, dan tentu saja tak mungkin memicu niat buruk.”

“Apakah itu keyakinan dalam Kristen?” Tanya Genji.

“Keseimbangan niat?”

“Apakah Anda juga meyakini pendapat itu?”

Heiko bertanya kepada Stark.

“Pengalaman mengajarku lain,” jawab Stark. diam-diam, dia meraba

pistol saku yang tersembunyi di balik jaketnya.

Ketika mereka mencapai jalan yang sedikit melebar, para samurai

tiba-tiba mengepung mereka. Meskipun pedang mereka tidak dihunus,

terlihat jelas mereka siap menyerbu.

“Orang asing tidak diizinkan kemari.” Samurai yang berbicara itu

berdiri sedikit di depan yang lain. “Ini adalah wilayah Jepang yang

belum tercemari oleh kehadiran mereka.”

“Minggir,” kata Hide. “Seorang Bangsawan Agung memberikan

kehormatan kepada kalian dengan bersedia lewat di hadapan kalian.”

“Kami akan merasa terhormat,” kata pria kedua yang kini maju satu

langkah di depan yang lain, “jika bangsawan yang dimaksud memang

benar-benar agung. Tetapi, aku lihat bahwa bangsawan yang kau maksud

mempunyai reputasi buruk suka menyembah-nyembah di kaki orang

asing. Aku tak akan menghormati bangsawan seperti itu.”

Tangan Hide bergerak ke gagang pedangnya. Tetapi, Genji langsung

menyela sebelum Hide sempat menghunus pedangnya.

“Kita tidak perlu terlalu resmi,” kata Genji. “Hari sudah senja. Kita

semua ingin menuju ke suatu tempat bukan? Ayo kita terus saja. Tidak

perlu ada penghormatan. Gunakan satu sisi jalan dan kami akan

menggunakan sisi jalan yang lain.”

PDF by Kang Zusi

“Kamu berbicara seperti orang lemah,” kata samurai pertama.

“Kakekmu adalah seorang prajurit yang patut dihormati. Kamu tak lebih

dari generasi penerus lemah yang menunggu mati.”

“Hide.” Peringatan junjungannya adalah satu-satunya sebab mengapa

kepala samurai itu masih menempel di badannya. Hide mengendurkan

pegangan pada pedangnya dan menarik napas dalam-dalam, berusaha

menenangkan diri, meski tak terlalu berhasil.

“Kalau begitu,” kata Genji, “maka, aku tak perlu dipandang oleh priapria

berbudi seperti kalian. Mari kita sudahi sampai di sini dan pergi di

jalan kita sendiri-sendiri.”

“Mungkin kita perlu menuruti sarannya,” kata samurai pertama

kepada temannya. “Kita tidak boleh menghalanginya menikmati

kesenangan yang sudah menjadi kebiasaan-nya.”

“Ya, itu benar,” sambung samurai kedua. Dia memandang sinis ke

arah Genji. “Kami dengar kamu berteriak kesenangan saat pria asing

barbar itu memperlakukanmu dengan tak senonoh!”

“Dan kamu, tertawa senang seperti bayi yang puas di siang hari saat

kamu menghisap semburan busuk dari organ yang berpenyakit itu.”

“Kamu salah informasi,” kata Genji. “Satu-satunya orang asing yang

pernah berbagi kesenangan denganku adalah yang berkuda di sampingku

ini.”

Beberapa samurai tertawa terbahak-bahak.

“Dia adalah sumber kesenangan yang tak dapat kalian bayangkan,”

kata Genji.

Samurai pertama berkata, “Kamu ini bodoh atau gila. Atau mungkin

buta. Lihat dia. Kuda yang kau tunggangi lebih mirip wanita daripada

dia. Dilihat-lihat mereka berdua besarnya sama, dengan hidung yang

sama panjangnya pula. Tetapi, secara keseluruhan wama kudamu terlihat

lebih cantik daripada warna kulit simpananmu yang pucat seperti hantu.”

“Dan baunya. Busuk tak terkira.”

Genji tersenyum santai. “Kamu terlalu jauh untuk menghirup bau

tubuhnya yang sebenamya. Ketika terangsang, wanita ini mengeluarkan

bau dari bagian pribadinya, mirip bau opium yang membuat kita

kecanduan, lalu dia pun tenggelam dalam ekstase seksual. Lihatlah

PDF by Kang Zusi

tulang lengannya yang indah. Kulitnya yang bening hampir transparan.

Terangsang, dia menimbulkan daya seperti. kilat, dan saat dia

menyentuhmu, tubuhmu seakan-akan terkena kejutan-kejutan listrik yang

menyenangkan. Itulah kenapa warna kulitnya sangat aneh. Karena inti

tubuhnya memang telah bertransformasi.”

Ketika Genji mengalihkan perhatian musuh mereka, Hide dan

Shigeru pelan-pelan mengubah posisi mereka. Jika mereka harus

menyerang, mereka akan dapat menyerang dengan efek yang maksimal.

Dengan pedang dan kuda, mereka akan menghabisi setengah dari para

samurai itu dalam serangan pertama. Sisanya akan mudah dihabisi. Hide

mengingal aksioma klan yang sering diulang-ulang—satu prajurit

kavaleri klan Okumichi kekuatannya sama dengan sepuluh samurai yang

berjalan kaki. Kalau itu memang benar, dan Hide yakin itu memang

nyata, keuntungan ada di tangan mereka, bukan pada orang-orang yang

menganggap dirinya para Penjaga Kebajikan ini. Hide dan Shigeru saling

tatap mengetahui mereka berdua sama-sama bersiap.

“Kalian lihat dadanya?” lanjut Genji. “Sangat penuh dan menonjol.”

Masih terus berbicara tentang Emily, dia memajukan kudanya dua

langkah, menempatkan dirinya di antara Emily dan para samurai itu.

Genji berpikir, dia dapat menjatuhkan mereka yang ada di depan dengan

cepat sebelum mereka bisa menyerang. “Dadanya matang setiap bulan

sekali. Bahkan, saat ini adalah waktu yang tepat untuk melihat

kematangannya. Kedua dadanya tidak berisi susu, tetapi berisi embun

ambrosia. Menyentuh bagian tubuhnya yang lain memang seperti

menyentuh es karena semua kehangatan tubuh-nya ada di tiga bagian—

dadanya, bibirnya, dan bagian yang paling pribadi.”

Emily bertanya-tanya apa yang dikatakan Genji kepada pada kenalan

barunya. Apa pun itu, pasti ingat menarik, karena sebagian besar dari

mereka ruendengar dengan mulut ternganga dan melirik ke arah dirinya.

Emily tersenyum membalas pandangan mereka, menganggap bahwa

keramahannya sesuai dengan apa yang dibicarakan Genji.

Stark juga tidak mengerti apa yang dikatakan Genji, tetapi dia tahu

apa yang dia lakukan. Ketiga samurai Okumichi telah mengambil

PDF by Kang Zusi

manuver untuk mendapatkan posisi bertempur yang lebih baik.

Pertiempuran akan segera terjadi.

Stark menghitung ada 25 samurai yang menjadi musuh mereka.

Tidak satu pun dari mereka membawa senjata api, setidaknya tidak

secara terbuka. Dua puluh lima orang melawan Genji, Hide, dan Shigeru.

Bukan pertarungan yang seimbang meski mereka berkuda dan lawan

berjalan kaki. Stark hanya membawa pistol kaliber 32 yang kecil. Hanya

enam peluru dan tak ada cadangannya. Jika saja dia membawa pisau

bowienya, setidaknya dia dapat merobohkan satu atau dua orang lagi,

tetapi pisau itu tidak ada di sini sekarang. Paling-paling mereka hanya

bisa melumpuhkan separuh dari semuanya. Dan, setengahnya lagi pasti

akan menghabisi mereka. Atau, lebih buruk lagi. Stark memandang

kepada Emily yang ada di sebelah Genji. Heiko ada di sampingnya. Dia

akan membunuh Emily dengan tembakan pertama dan Heiko dengan

tembakan kedua, untuk menyelamatkan mereka dari kesengsaraan yang

akan ditimpakan para samurai itu kepada mereka berdua sebelum mereka

dibunuh. Kemudian, dia akan menembak empat orang lawan yang terdekat

dan menabrak sebanyak yang dia bisa sebelum dia sendiri

terbunuh. Dia sudah siap. Bahunya rileks. Dia tak perlu berpikir lagi.

Setelah beberapa saat tertegun mendengar uraian Genji yang liar,

samurai pertama berhasil menguasai dirinya dan memaki. “Simpan saja

fantasimu yang busuk itu. Kami sudah merasa terganggu oleh baunya.”

Samurai kedua berkata, “Kami tidak yakin apakah bau busuk itu

keluar dari kuda kalian yang tak pernah dimandikan, teman tidurmu yang

liar, atau dirimu sendiri yang membusuk.”

“Cukup!” Shigeru tak lagi bisa menahan diri. Dia memacu kudanya

ke depan saat para samurai Penjaga Kebajikan itu menghunus pedang

mereka. “Minta maaflah pada nenek moyangmu sekarang, karena ketika

kami telah membunuhmu, kami akan meruntuhkan altar mereka,

menggali sisa jasad mereka, dan membuangnya ke dalam lubang

pemakaman orang-orang terbuang.”

Para samurai yang ada di lingkaran terdepan, mulai mengepung

Shigeru, tetapi mereka langsung mundur begitu mengenalinya.

“Shigeru!”

PDF by Kang Zusi

“Tak mungkin! Dia sudah mati!”

Setelah terpaku beberapa saat, para samurai itu berbalik punggung

dan lari tunggang langgang ke segala arah. Semuanya kecuali dua

samurai yang tadi berbicara. Keduanya jatuh berlutut dan menempelkan

kepala mereka ke tanah.

“Mohon ampuni hamba,” kata samurai pertama, “dan ampuni

orangtua hamba yang sudah tua.”

Samurai kedua berkata, “Anak-anak hamba masih kecil. Biarkan

darah hamba membersihkan dosa mereka.”

Kedua samurai itu bergerak bersamaan. Samurai pertama memegang

mata pedang katananya dengan dua tangan, dan dengan darah menetes

dari telapak tangan dan jari-jarinya yang tergores mata pedang, dia

menusukkan katana itu ke tenggorokannya. Dia jatuh terguling, darah

berdeguk-deguk keluar dari lubang di tenggorokan, mulut, dan

hidungnya. Samurai kedua memasukkan pedang ke dalam mulutnya dan

menghantamkan kepalanya ke tanah. Gagang pedang itu membentur

tanah, mendorong setengah dari pedang itu menembus hingga ke

belakang tengkorak kepalanya. Posisi pedang itu membuatnya tetap

seimbang. Dengan posisi tubuh membungkuk ditahan oleh pedang dan

kedua lututnya, dia sekarat dan kejang-kejang.

Emily langsung pingsan. Dia pasti terjatuh kalau Genji tidak sigap

dan segera menangkapnya. Mengira kalau dia akan jatuh dari kuda

karena tak kuat menahan tubuh Emily. Tetapi ternyata, dia tak seberat

seperti yang terlihat. Juga tidak sebesar perkiraannya, jika dilihat dari

dekat seperti itu. Bentuk tubuh dan ciri-ciri fisiknya yang terlalu dibesarbesarkan

telah mendistorsi pandangannya tentang proporsi tubuh Emily

yang sebenarnya.

Shigeru hendak turun dari kudanya.

“Tidak perlu,” kata Genji.

“Aku harus mengidentifikasi mereka,” kata Shigeru. Wajahnya

seperti terbakar. Hanya darah yang dapat mendinginkan kemarahannya.

“Biarkan saja,” kata Genji. “Sekarang ini saat penuh kemelut bagi

kita semua. Mereka semua tersesat, tetapi kejujuran mereka tak perlu

PDF by Kang Zusi

dipertanyakan. Marilah kita hormati kejujuran tersebut dan lupakan yang

lainnya.”

Shigeru membungkuk. Tetapi, ketika Genji sudah bergerak menjauh,

dia tetap turun dari kudanya. Dia mengamati lambang klan di kimono

mereka dan mengingat wajah mereka. Genji terlalu murah hati. Padahal,

ada kata-kata yang tak bisa ditarik kembali. Kata-kata itu tak bisa

dimaafkan.

Seorang dari mereka menyebutkan punya orang tua, sedangkan yang

lain menyebut tentang anak-anak. Kelak, jika krisis ini telah berlalu, dia

akan mencari mereka dan melakukan apa yang harus dia lakukan.

Shigeru kembali menaiki kudanya dan memacunya kencang.

“Aku tidak mengerti,” kata Emily. “Semua orang hanya berbicara. Lord

Genji terlihat gembira. Lalu, tiba-tiba tubuhnya bergetar tak terkendali.

Dia mengeratkan pegangannya kepada Stark, berharap pria itu akan

memegangnya lebih erat juga. Stark memang memegangnya lebih erat.

Tetapi, itu tak membantu. Dia masih gemetaran. Dia tak pernah

membayangkan akan melihat hal yang sangat mengerikan seperti itu,

kekerasan yang tak masuk akal, apalagi dilakukan oleh sang samurai

sendiri. Di satu saat dua samurai itu berbicara. Tak lama kemudian,

mereka menyerahkan nyawanya pada siksaan abadi dengan melakukan

bunuh diri. Dan untuk apa? Luka mereka yang mengerikan, suara darah

mendeguk keluar dari tenggorokan, apakah dia akan dapat melupakan

semua itu? Emily berpikir dia takkan bisa melupakannya dan tubuhnya

kembali bergetar.

“Cara mereka berpikir jauh berbeda dari kita,” kata Stark, yang tidak

membuatnya menjadi lebih jelas. Para samurai yang mengepung mereka

kelihatannya tak mudah dikalahkan. Namun, hanya dengan beberapa

kata yang diucapkan Shigeru mereka lari tunggang langgang. Mengapa?

Stark tak mengerti.

Dua dari mereka bahkan bunuh diri dengan cara yang menyakitkan.

Jika mereka bersedia mati dengan kesakitan, mereka pasti bukanlah

orang yang penakut. Lalu, mengapa mereka tidak menyerang? Stark tak

tahu.

PDF by Kang Zusi

Lord Genji dan pamannya duduk berdiskusi dalam jarak yang tak

begitu jauh. Heiko, yang sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda

terganggu, menyibukkan diri dengan Hide, membangun tempat bernaung

dari bambu-bambu yang ditebang Hide. Meskipun terlihat lemah,

kekerasan yang baru saja terjadi sama sekali tidak terlihat mempengaruhi

Heiko.

Stark tidak mengerti akan apa yang terjadi, sama seperti Emily “Aku

heran apakah kita juga merupakan misteri bagi mereka.”

“Itu tidak mungkin,” kata Emily “Tindakan kita berdasarkan logika,

seperti yang diperintahkan Tuhan.”

“Akan lebih bijaksana untuk melanjutkan perjalanan di malam hari,”

kata Shigeru. “Mereka yang telah lari memang tak berani kembali.

Tetapi, ada kemungkinan para pengejar lainnya semakin mendekati kita.”

“Memang bijaksana,” kata Genji, “tetapi juga tidak mungkin. Emily

tidak bisa bepergian. Apa yang terjadi telah membuatnya terguncang.”

“Terguncang?” Shigeru memandang ke arah wanita asing itu.

“Kenapa dia harus terguncang? Dia seharusnya lega. Sejauh ini kita bisa

menghindari pertempuran.

“Dia tidak terbiasa melihat orang mengorbankan diri sendiri,” kata

Genji. “Setidaknya, tidak dengan pedang. Kematian akibat tembakan

mungkin tidak akan terlalu mengganggu dirinya.”

Shigeru tak punya kesabaran untuk membicarakan masalah itu. Dia

beralih ke masalah lain yang lebih penting. “Beberapa dari musuh kita

tadi mengenakan lambang klan Yoshino. Ini berarti Yoshino akan segera

tahu lokasi kita dan arah yang kita tuju. Tak lama lagi, Shogun pasti juga

tahu karena Yoshino adalah sekutu Tokugawa.”

“Belum tentu,” kata Genji. “Aku ragu kalau pertemuan mereka

dilakukan atas perintah tuan mereka masing-masing. Mereka bertindak

sendiri. Karena itu, secara teknis, dan bahkan mungkin dalam faktanya

mereka bisa dikatakan membentuk persekongkolan. Mereka tidak akan

mengatakan di mana lokasi kita karena itu berarti mereka juga harus

mengakui kejahatan yang akan menghancurkan diri mereka sendiri dan

keluarganya. Kita aman.”

PDF by Kang Zusi

Shigeru berkata, “Meski demikian, untuk jaga-jaga sebaiknya kita

mengambil jalan melingkar ke utara, dan berbelok ke barat di selatan

Kuil Mushindo. Ini akan memperpanjang waktu perjalanan kita dua hari,

tetapi kita juga dapat menghindari kemungkin akan bertemu musuh.”

Hide dan Heiko mendekat Hide berkata, “Tempat beristirahat sudah

siap, Tuanku.”

“Terima kasih. Aku giliran jaga pertama, Shigeru kedua, dan kamu

ketiga.”

Hide berkata, “Anda tidak perlu melakukan tugas kasar seperti itu,

Tuanku.”

“Kita hanya bertiga. Jika aku tidak ikut berjaga, kamu dan Shigeru

akan terlalu lelah dan tidak bisa membantu. Aku akan berjaga pertama.”

“Ya, Tuanku.”

Heiko tersenyum kepada Genji.

“Apa ada sesuatu yang membuatmu gembira?”

“Hanya pikiran iseng, tak lebih.”

“Dan apa pikiran iseng itu?”

“Bukankah kita akan melingkar ke utara?”

“Ya, menambah waktu perjalanan dua hari lagi.

“Mengapa?”

“Bukankah benteng keluarga Mukai yang terkenal tak tertembus ada

di utara?”

Genji berusaha meraihnya, tetapi dia kurang cepat. Terkikik geli,

Heiko mengelak pergi.

“Kembali.”

“Sabar, Tuanku.”

Heiko berhenti beberapa langkah dari tempat Emily dan Stark lalu

membungkuk. “Emily, Matthew.” Heiko menunjuk ke salah satu gubuk

yang dia dirikan bersama Hide. “Kita akan menginap di sini malam ini.

Cobalah beristirahat. Setelah malam ini, mungkin kita tak bisa

beristirahat lagi hingga kita sampai di istana Lord Genji.”

“Terima kasih, Heiko,” kata Emily.

PDF by Kang Zusi

Emily tidur dengan diselimuti beberapa lapis selimut. Stark dan

Heiko menungguinya hingga dia tertidur. Ketika Heiko hendak berdiri,

Stark bertanya kepadanya.

“Siapa para samurai tadi?”

Heiko mengingat-ingat kata yang tepat. “Bandit.”

“Mengapa malah mereka lari dan tidak menyerang?”

“Mereka mengenali Lord Shigeru.”

“Mereka jumlahnya dua lusin, melawan empat orang dari kita.”

“Ya,” kata Heiko. “Mereka terlalu sedikit dan mereka tahu itu. Jadi,

mereka lari.”

Stark berpikir Heiko pasti tidak mengerti pertanyaan-pertanyaan

yang dia ajukan. Jawaban yang diberikan sama sekali tak masuk akal. Di

dunia ini tidak mungkin dua lusin orang lari terbirit-birit menghadapi

empat orang. “Lalu, mengapa yang dua orang itu bunuh diri?”

“Mereka meminta maaf atas kata-katanya yang kasar.”

“Minta maaf. Dengan menusuk diri sendiri dengan pedang?”

“Ya.”

“Apa yang telah mereka katakan sehingga mereka harus melakukan

bunuh diri?”

“Kata-kata yang menghina,” kata Heiko, “yang tidak pantas kalau

aku ulangi lagi.” Dia membungkuk. “Selamat malam, Matthew.”

“Selamat malam, Heiko.”

Stark baru tertidur menjelang pagi. Dia mendengar Heiko tertawa.

Kemudian, Shigeru bangun dan menghilang ke hutan. Beberapa jam

kemudian, dia kembali dan Hide ganti berjaga. Stark ingin menawarkan

bantuan, tetapi dia tidak melakukannya. Dia tidak ingin menyinggung

seseorang secara tak sengaja dan harus meminta maaf dengan nyawanya.

Dia harus hidup hingga Ethan Cruz mati.

“Kamu yakin akan apa yang kamu katakan tentang Mukai?”

“Hamba yakin. Caranya dia memandang Anda. Caranya dia

mengatakan `Tuanku’. Dan sangat sering, dia berkata ‘Tuanku’ di setiap

kesempatan seakan-akan dengan mengatakannya dia memiliki Anda.”

“Nenek moyang Mukai bertempur di pihakku di Sekigahara. Itu

adalah satu-satunya alasan dia mau membantuku.”

PDF by Kang Zusi

“Jika Anda mempercayai itu, Anda sepolos gadis petani.”

“Sebuah pedang pengawal dengan lambang burung gereja telah

menjadi milik keluarganya dari generasi ke generasi.”

“Itu menurut dia. Dia bisa saja membelinya di toko gadai. Sekigahara

hanyalah alasan, bukan kenyataan. Cinta akan selalu menemukan

jalannya.”

“Tak masuk akal. Dan tidak lucu. Berhenti tertawa.”

“Anda benar. Hamba seharusnya tidak tertawa. Hamba harusnya

marah.”

“Apa alasannya kamu marah?”

“Karena Anda dianggap lebih cantik daripada hamba. Setidaknya

oleh beberapa orang.”

“Mukai tidak jatuh cinta kepadaku.”

“Satu hari nanti, saat Anda hidup dimanja di benteng Mukai yang ada

di perbukit-an di atas laut utara yang bergelombang, Anda akan tahu.”

“Dunia belum terpuruk hingga sejauh itu. Dan keterpurukan itu juga

tak akan terjadi di masa hidupku.”

“Apakah itu ramalan, Tuanku?”

Malam itu dan esok paginya, salju tebal turun menyelimuti daratan

Kanto. Dari kantornya di Benteng Edo, Mukai memandang dunia

sekitarnya berubah putih: Genji ada di luar sana, seorang pelarian yang

sedang diburu. Hatinya sakit jika dia mengingat bagaimana bangsawan

muda itu menderita menghadapi cuaca buruk seperti ini.

Mukai telah mencoba untuk mendapat tugas mengadang Genji, tetapi

Kawakami memutuskan untuk melakukan itu sendiri. Jadi, dia terkurung

di sini di Edo, tak berdaya membantu orang yang dia cintai lebih dari

hidup itu sendiri. Adakah nasib yang lebih kejam dari ini?”

Dia memandang pedang pengawal yang ada di tangannya. Burung

gereja yang terbang di atas gelombang. Ketika melihat pedang ini di toko

Seami, baru dia menyadari perasaannya kepada Genji. Sebelum itu, dia

tak mengetahui sumber gangguan perasaan yang telah menjangkitinya

sejak musim semi tahun lalu. Dia menganggap itu disebabkan karena

ketidaknyamanan yang dirasakan setiap orang atas semakin banyaknya

PDF by Kang Zusi

kehadiran orang asing di Jepang. Sebenarnya, musim semi adalah saat

pertama kali dia melihat Genji.

“Itu dia penerus Bangsawan Agung Akaoka,” kata Kawakami saat

itu, menunjuk Genji saat ada pertemuan semua bangsawan dengan

Shogun. “Ketika sang kakek meninggal, garis keturunan mereka

berakhir.” Mukai melihat seorang anak muda yang sangat cantik

sehingga membuatnya ternganga. Dia tahu seharusnya dia menyatakan

persetujuan atas perkatan Kawakami, tetapi mulutnya tak bisa

mengeluarkan kata-kata.

Kejadian itu sebenarnya berhenti sampai di situ saja. Tidak ada hal

lain yang dapat terjadi. Tetapi malam itu, saat mendengar diskusi tentang

nilai-nilai hidup orang asing yang dapat mencemari budaya jepang,

hidup Mukai menemukan fokus untuk pertama kalinya.

“Tujuan utama orang-orang asing itu adalah kebahagiaan,” kata

Kawakami.

“Hal itu susah dipercaya,” kata Lord Noda. “Tidak ada masyarakat

yang berdasarkan konsep dangkal dan egois seperti itu dapat bertahan

lebih dari beberapa generasi saja.”

“Saya tak tahu berapa lama mereka dapat bertahan,” kata Kawakami.

“Walaupun begitu itu adalah fakta.”

“Mereka aneh,” kata Lord Kubota, “tetapi mereka tak mungkin

seaneh itu.”

“Hal itu tertulis dalam hukum mereka yang tertiinggi,” kata

Kawakami. “Kebahagiaan dinyatakan sebagai hak setiap orang.”

“Pada tiap-tiap individu?” Mukai bertanya.

Kawakami memandangnya jengkel. Fungsi Mukai adalah melayani,

mendengar, dan mengapresiasi, bukan untuk bicara. Mukai membungkuk

minta maaf. Namun malam itu, Kawakami sedang merasa enak hati dan

ingin bermurah hati sehingga dia menjawab, “Ya, pada tiap-tiap orang.”

“Sungguh aneh,” kata Lord Noda.

Mukai diam-diam menyetujuinya. Benar-benar aneh. Tujuan dari

sebuah masyarakat adalah keteraturan, dan satu-satunya cara mencapai

keteraturan itu adalah menempatkan segala sesuatu pada tempatnya.

Peradaban menuntut itu. Setiap orang harus tahu tempatnya, menerima

PDF by Kang Zusi

dan bertindak sesuai statusnya. Hal-hal di luar itu hanya akan

menimbulkan kekacauan. Kebahagiaan Sungguh sebuah ide aneh. Mukai

merasakan ketegangan dalam dirinya yang pada saat itu dia anggap

sebagai rasa marah terhadap konsep orang asing itu, sesuatu yang

dirasakannya sebagai respons yang pantas.

Lalu, dia melihat pedang pengawal itu dan sesuatu di dalam dirinya

menyeruak keluar. Sebelum menyadari apa yang terjadi, Mukai

menangis.

“Tuanku,” kata Seami sang pemilik toko, “apa Anda sakit?”

Burung gereja melayarig di udara. Meski mereka hanyalah ukiran di

logam baja, mereka terlihat lebilhbebas dari dirinya.

Keindahan Genji.

Keburukan dirinya.

Kekosongan.

Kebahagiaan.

Kebahagiaan yang murni, individual, personal, dan egois.

Memikirkan diri sendiri dan melupakan yang lain. Lebih baik lagi,

menghilang dalam kebahagiaan cinta yang tak terkekang. Jika dia bisa

bersama Genji, dia akan lenyap dan yang tinggal hanyalah Genji, indah,

sungguh-sungguh keindahan sejati.

Dan itulah yang terjadi, Mukai menangis tersedu-sedu, sementara di

sampingnya Seami memandang tak berdaya sembari meremas-remas

tangannya.

Mukai membeli pedang pengawal itu dengan harga pertama yang

ditawarkan Seami, dia sama sekali tak menawar. Dia bahkan dengan

senang hati mau membayar dua kali lipat. Dengan pedang itu, Mukai

mengarang tentang leluhurnya yang bertempur di pihak Okumichi saat

terjadi perang Sekigahara. Pedang itu memberinya alasan untuk bertemu

Genji secara pribadi.

Sekarang, saat salju terus turun, dan jemarinya yang besar memegang

pedang pengawal itu erat-erat, Mukai membuat keputusan terpenting

dalam hidupnya.

Sejam kemudian, Mukai meninggalkan Benteng Edo, menuju

kampung halamannya di ujung Laut Jepang. Dia adalah seorang

PDF by Kang Zusi

bangsawan rendah, dengan jumlah pasukan hanya dua ratus orang.

Tetapi, itu tidak masalah. Dia akan mengumpulkan mereka semua dan

membawa mereka di bawah panji burung gereja dan panah lambang klan

Okumichi. Jika Lord Genji mati, dia pun juga akan mati.

Pikiran bahwa dia akan mati di tempat dan waktu yang sama bersama

Genji membuat bayangan yang keindahannya hampir tak tertahankan

dalam imajinasi Mukai. Tetapi, hal itu bukannya tidak mungkin. Mereka

bisa mati berpelukan, darah cinta menghiasi mereka berdua dalam saatsaat

kematian yang abadi.

Kehangatan yang menyenangkan mengalir dalam dada Mukai. Angin

musim dingin tak dia rasakan lagi.

Tanpa rasa malu, dia mengakui kenyataan yang dia rasakan hingga

inti dirinya.

Orang-orang asing itu benar. Tidak ada hal yang lebih penting

daripada kebahagiaan.

Sohaku dan Kudo menuntun kuda mereka berjalan melewati lapisan

salju tebal.

“Itu mereka,” kata Kudo.

Dua ribu samurai berkemah di tanah lapang di depan mereka. Di

tengah-tengah berdiri tenda komando. Selain senjata standar berupa

pedang dan tombak, seperempat pasukan itu juga dipersenjatai senapan.

“Tidak ada pos jaga,” kata Kudo. “Ceroboh sekali.”

“Negara ini sedang dalam kondisi damai,” kata Sohaku, “dan lagi

pula, siapa yang berani menyerang pasukan Shogun dengan posisi begitu

dekat ke Edo?”

Kawakami memakai baju kebesaran berupa baju tempur lengkap,

menyambut mereka dengan mencolok.

“Lord Kudo, Rahib Kepala Sohaku, selamat dating.”

Sohaku berkata, “Terima kasih mau menemui kami dalam situasi

yang luar biasa ini, Lord Kawakami.”

“Bukan masalah. Sake, untuk menghilangkan dingin?”

“Terima kasih.”

“Aku yakin kalian berdua berangkat dari Edo tanpa kesulitan berarti.”

PDF by Kang Zusi

“Ya, terima kasih.” Sohaku mengosongkan cangkir sakenya, yang

segera diisi kembali oleh pelayan. “Sayangnya, kami terpaksa

membunuh para prajurit yang berjaga di istana. Karena kalau tidak

begitu, keberangkatan kami akan terlihat terlalu mudah dan

menimbulkan kecurigaan. Kami belum terlalu yakin terhadap kesetiaan

semua prajurit kami.”

“Aku mengerti,” kata Kawakami. “Aku tidak mengharapkan yang

lain. Karena itu, aku menugasi prajurit yang paling lemah untuk berjaga.

Karena itu, bisa dikatakan kalau kita telah menolong satu sama lain.”

Kawakami membungkuk, Sohaku dan Kudo melakukan hal yang sama.

Sejauh ini, kedalaman bungkukan mereka masih sama. “Sebesar apa

kekuatan kalian?”

Ini adalah ujian kedua. Ujian pertama, ketika Sohaku dan Kudo telah

berhasil melewatinya, adalah memasuki perkemahan Kawakami

sendirian, tanpa membawa sepasukan pengawal. Kini, mereka diminta

memberi tahu jumlah pasukan dan persenjatan mereka.

“Seratus dua belas samurai,” kata Sohaku tanpa ragu-ragu, “semua

berkuda, semua dipersenjatai senapan tipe Napoleon dan berisi dua puluh

peluru setiap senapan.”

“Apakah mereka pengikutmu sendiri?”

“Sebagian besar merupakan pengikut hamba dan Kudo. Sekitar

selusin prajurit adalah pengikut langsung klan Okumichi.”

Dahi Kawakami mengerut, “Bukankah lebih baik jika mereka segera

dimusnahkan?”

“Situasinya sangat sensitif,” kata Sohaku. “Pasukan kami terdiri dari

samurai yang paling konservatif dan tradisional. Tindakan pengecut atau

menggunting di balik selimut justru akan menurunkan posisi hamba.

Membunuh selusin orang yang setia kepada junjungannya tidak akan

banyak membantu.”

“Membiarkan mereka ada di pasukanmu juga sangat berbahaya, “

kata Kawakami.

“Hamba setuju. Tengah hari nanti, hamba akan mengumumkan

kesetiaan saya kepada Shogun, dengan alasan pentingnya persatuan

nasional menghadapi invasi orang asing barbar. Kita harus mePDF

by Kang Zusi

ngesampingkan persengketaan lama dan bersatu, seperti apa yang

dilakukan leluhur kita saat Mongol menyerang Jepang enam abad lalu.

Hamba akan mengatakan bahwa meski menyesal, hamba dan Kudo

terpaksa menyimpulkan bahwa Lord Genji sebenarnya tidak punya

kemampuan meramal. Sebetulnya dia sudah gila, seperti pamannya, Lord

Shigeru, yang kejahatan kejinya sudah diketahui oleh semua anggota

pasukan kami. Mengikuti Lord Genji secara buta bukanlah kesetiaan,

melainkan kepengecutan. Kesetiaan sejati adalah ketaatan terhadap nilainilai

ideal sejak zaman dahulu yang selalu diajarkan oleh almarhum Lord

Kiyori. Kita harus mempertahankan kehormatan klan Okumichi dengan

mendirikan sebuah perwalian. Lord Genji akan dilindungi dan kita akan

bertindak atas namanya.”

“Anda rupanya seorang orator yang bagus, Rahib Kepala. Seandainya

saja kamu bertahan di kuil, kamu pasti mengundang banyak pendengar

yang ingin mendengarkan dirimu membacakan bitoku.”

“Anda terlalu baik Lord Kawakami. Sebagai samurai sejati, Anda

tentu juga dapat menjelaskan dengan baik arti dari ‘esensi kebajikan

moral.”

“Bagaimana dengan mereka yang tidak mempercayai perkataanmu

tadi?”

“Kesetiaan mereka kepada Lord Genji, meskipun salah, akan tetap

dihormati. Mereka akan diperbolehkan untuk pergi ke Akaoka.” Sohaku

menerima secangkir lagi sake. “Apakah menurut Anda mereka akan

mampu melewati pasukan Anda?”

“Aku sangat meragukannya.”

“Demikian juga saya.”

Kawakami berkata, “Masih ada Lord Shigeru yang harus

diperhitungkan.”

“Dia adalah pembunuh Lord Kiyori. Kami akan memberikan

hukuman yang tepat baginya.”

Kawakami mengangguk, “Bagus sekali. Tetapi, aku masih terganggu

oleh satu aspek dari rencanamu.”

“Mohon jelaskan keraguan Anda.”

PDF by Kang Zusi

“Lord Genji tetap akan menjadi masalah serius meskipun dalam

penjagaan. Reputasi akan kemampuannya meramal, meskipun diragukan,

masih dipercayai sebagian besar orang.”

Sohaku tersenyum. “Sayangnya, meskipun kami berusaha

menyelamatkan nyawanya, Lord Genji terbunuh dalam pertempuran.

Kami akan membawa abu jenazahnya ke Kastel Awan Burung Gereja

untuk dimakamkan.”

“Tak lama setelah itu,” kata Kawakami, “Shogun akan

mengumumkan kenaikan jabatanmu sebagai Bangsawan Agung Akaoka.

Lord Kudo, sebagai pengikutmu yang paling berjasa, akan mendapatkan

hadiah tanah dan penghasilan sesuai jasanya.”

“Terima kasih Lord Kawakami.” Sekarang, saat mereka saling

membungkuk, Sohaku dan Kudo membungkukkan badannya lebih

rendah daripada Kawakami.

Kawakami berkata, “Pasukanku akan bergerak ke arah pantai dengan

kecepatan penuh. Lord Genji kemungkinan besar akan menyelinap

melalui Laut Dalam di suatu tempat di barat Kobe. Aku akan

menunggunya.”

“Hanya jika dia berhasil menghindari pasukan kavaleri utama kami,”

kata Sohaku. “Hamba akan mengadangnya di pegunungan Desa

Yamanaka. Sebelum dia pergi untuk mengamati bangau, dia berkata

akan menemui kami di sana.”

Kudo berkata, “Hamba akan membuntuti Lord Genji dengan dua

puluh penembak jitu kami yang terbaik. Kami akan berusaha keras untuk

menewaskan Lord Shigeru dengan tembakan sebelum mereka melewati

pegunungan.”

Kawakami mengangkat cangkirnya, “Semoga dewa-dewa menolong

mereka yang benar-benar berpegang pada kebajikan.”

Meskipun mabuk laut, Taro dan Shimoda mendayung dengan penuh

tekad. Jika mereka tidak meluncur turun dari gelombang laut setinggi

bukit, mereka menghadapi gelombang besar yang siap menelan mereka.

Setidaknya, itulah yang mereka rasakan. Jika perahu kecil mereka

PDF by Kang Zusi

kebanjiran, yang mungkin saja terjadi setiap saat, mereka pasti musnah.

Di mana-mana tidak terlihat daratan.

Bahkan, jika ada daratan pun mereka akan sulit melihatnya. Mata

mereka hampir buta akibat percikan air laut.

Taro membungkukkan badan ke arah Shimoda. “Ke mana arah

Akaoka?”

“Apa?” Shimoda berusaha mendengarnya di tengah suara deburan

ombak.

“Apa kita menuju ke arah yang benar?”

“Aku tak tahu. Menurutmu, dia tahu tidak?”

Saiki yang duduk di buritan terlihat sangat percaya diri.

“Aku harap begitu.”

“Dewa cuaca, laut, dan badai membantu kita,” kata Saiki. Sebuah

ombak besar menabrak perahu itu, membasahi mereka semua meskipun

mereka telah memakai pakaian pelapis untuk menahan basah. Saiki

mengeluarkan air dari perahu dengan satu tangan dan mengendalikan

kemudi dengan tangan yang lain. Dari waktu ke waktu, dia juga

menyesuaikan arah layar.

Taro—basah, dingin, mual—tidak bisa berhenti gemetaran. “Kalau

begitu, dewa punya cara yang aneh dalam memberikan berkah. Kita

sepertinya berada dalam bahaya besar.”

“Justru kebalikannya,” kata Saiki. “Dalam kondisi laut badai seperti

ini, kita tak terlihat. Kapal patroli Shogun tak akan bisa menemukan

kita.”

Saiki tumbuh di lingkungan air. Pada masa mudanya, ketika dia

masih samurai tingkat rendah tanpa tanggung jawab khusus, dia sering

menghabiskan waktunya di laut Semenanjung Muroto, berburu paus

dengan nelayan yang dahulu adalah teman kanak-kanaknya. Saat ikan

besar itu melewati laut semenanjung, para nelayan akan mendayung

perahu mereka di dekat salah satu paus, melompat ke punggungnya, dan

menusukkan tombak langsung ke otaknya. Jika tusukan mereka tepat,

paus itu akan menjadi milik mereka. Jika tidak, mereka jadi makanan

paus. Nelayan yang bertugas menusuk paus akan jatuh ke laut dan

tenggelam, sementara perahu yang terikat ke paus dengan tombak yang

PDF by Kang Zusi

diikat dengan tali akan terseret ke laut lepas. Biasanya, para nelayan

berhasil memotong talinya dan kembali pulang. Tetapi, kadang mereka

tak pernah terlihat lagi.

“Dayung lebih keras,” kata Saiki. “Pertahankan posisi kita di atas

gelombang.”

Dengan keberuntungan dan dorongan angin timur yang kecepatannya

masih bisa ditahan layar, mereka akan mencapai Akaoka dalam tiga hari.

Lima ratus prajurit kemudian akan siap berangkat dengan kuda.

Dalam dua minggu, seluruh pasukan akan siap tempur. Saiki

berharap Lord Genji bisa bertahan selama itu.

Sebuah gelombang besar kembali menabrak kapal kecil itu. Saiki

memusatkan seluruh perhatiannya ke laut.

10. Iaido

Salju di padang rumput telah dibersihkan dan sebuah panggung pendek

didirikan di sana di kedua sisi panggung itu, didirikan dua tenda kecil tempat

duduk para juri. Semua sudah siap.

“Udara memang dingin, tetapi tidak menusuk. Anginnya pas untuk

membuat panji-panji kita berkibar. Mendung tidak menyerap cahaya

matahari. Kondisinya sempurna, Tuanku.”

Hiromitsu, Bangsawan Agung Yamakawa mengangguk senang. “Kalau

begitu, mari kita mulai.” Dia duduk di kursi juri utama di tenda sebelah

timur. Kepala rumah tangganya duduk di kursi juri kedua tenda sebelah

barat, komandan kavalerinya duduk di sebelah utara, dan komandan

infanterinya duduk di kursi terakhir di sebelah selatan.

Sudah menjadi tradisi, para pemimpin klan Yamakawa dan para

pengikutnya, beserta para pemain pedang terbaiknya meninggalkan istana

di awal Tahun Baru dan berkemah di hutan terdekat selama sehari

PDF by Kang Zusi

semalam. Pada hari berikutnya, mereka mengadakan turnamen iaido.

Wanita dan anak-anak tidak diperkenankan hadir. Aturan itu ditentukan

sejak dahulu untuk menghindari kesedihan yang berlebihan. Pada masa

lalu, setiap kontes melibatkan pedang katana asli dengan mata pisau yang

tajam. Meskipun aturannya setiap serangan harus dihentikan tepat sebelum

menyentuh lawan, ketegangan, dendam lama, nilai hadiah yang didapatkan

pemenang, dan keinginan untuk memperlihatkan kemampuan di hadapan

orang lain sering menimbulkan peritumpahan darah, cacat fisik, dan

bahkan kematian.

Tentu saja, katana sekarang tak digunakan lagi. Sejak lama katana telah

diganti dengan shinai, pedang dari bilah bambu yang diikat tali. Dua ratus

lima puluh tahun suasana damai telah mengurangi semangat bertarung. Itu

sebabnya mengapa katana diganti. Sebab lain adalah, menurut Hiromitsu,

saat ini yang penting adalah menjaga nilai-nilainya dan inembuang hal-hal

yang tak perlu.

Tiga puluh dua samurai akan bertanding di kontes itu, yang diatur

dengan sistem gugur. Pemenang akan maju ke babak selanjutnya,

sementara yang kalah keluar. Jadi, 16 orang akan maju ke babak kedua, 8

orang ke babak ketiga, dan 4 orang maju ke babak keempat, sebelum

akhirnya 2 orang finalis bertemu untuk menentukan sang juara, dan

memenangi kuda perang berusia tiga tahun yang terbaik di wilayah itu.

Hiromitsu baru saja akan memulai tanda dimulainya kontes ketika

salah satu pengawalnya berlari-lari datang.

“Tuanku,” pengawal itu melapor dengan terengah-engah, “Lord Genji

dan para pengikutnya meminta izin untuk lewat.”

“Lord Genji? Bukankah saat ini dia tinggal di Edo?”

“Rupanya tidak lagi.”

“Antar Beliau ke depan. Beliau diterima dengan tangan terbuka, seperti

biasanya.”

Genji mungkin memang diizinkan Shogun meninggalkan Edo atau dia

pergi tanpa izin. Jika memang dia pergi tanpa izin, lebih baik Hiromitsu

tidak tahu, karena itu dia tak akan bertanya. Tetapi juga, tak ada alasan

untuk menolak menemui Genji, atau melarang dia melewati daerahnya.

Mereka sudah bersekutu sejak lama. Bukan berarti mereka saling

PDF by Kang Zusi

mengenal secara pribadi. Karena mereka memang tak saling kenal.

Leluhur mereka berperang bersama di Sekigahara. Atau setidaknya,

leluhur Hiromitsu dari pihak ayah juga ada di pihak yang kalah. Sementara

leluhurnya dari pihak ibu berada di pihak yang menang, dan juga

merupakan leluhur Shogun yang sekarang. Karenanya, bisa dikatakan

Hiromitsu juga sekutu Tokugawa. Ini adalah situasi yang ideal bagi

Bangsawan Agung Yamakawa yang tidak suka konflik dan kurang

ambisius.

Sejarah klannya menuntut dirinya untuk menghormati dan menerima

kedua pihak, dan pada saat yang sama juga menjadi alasan baginya untuk

tidak mau memihak apabila terjadi perang saudara, yang sepertinya

semakin mengancam akhir-akhir ini. Untungnya, wilayah kekuasaannya

kecil, tidak banyak menyumbangkan sumber daya vital, terletak jauh dari

kemungkinan tempat pertempuran dan tidak mengontrol jalur jalur utama.

Karena itu, sikap netralnya tak akan menyinggung siapa pun.

Dengan senyum lebar, Hiromitsu dengan sopan berjalan ke depan

untuk menyambut tamu-tamunya. Banyak hal tentang tamu-tamu itu yang

membuatnya terkejut. Mereka hanya berenam. Rombongan yang terlalu

kecil untuk menemani seorang bangsawan agung yang bepergian jauh dari

rumah. Kedua, hanya tiga orang di antara mereka yang samurai. Dua

lainnya adalah orang asing, pria dan wanita, keduanya dengan penampilan

mengerikan seperti biasa. Kedua orang asing ini berada jauh dari batas

wilayah tempat mereka biasanya diizinkan bepergian, dan keduanya pasti

akan menjadi pusat perhatian Hiromitsu jika saja matanya tidak terpaku

pada anggota terakhir rombongan itu. Dia adalah seorang wanita dengan

kecantikan memukau. Hiromitsu sampai tak mempercayai pandangan

matanya. Dia hampir-hampir tak yakin ada kecantikan yang begitu

sempurna di dunia.

“Selamat datang, Lord Genji.” Meskipun dia belum pernah bertemu

dengan Bangsawan Agung Akaoka, tak sulit untuk tahu siapa yang harus

dia sambut. Dia adalah pria yang dikawal dua orang samurai, yang salah

satunya adalah Shigeru. Baru-baru ini, Hiromitsu menerima laporan, yang

rupanya salah besar, bahwa pemain pedang besar ini telah terbunuh oleh

anggota klannya sendiri dalam sebuah peristiwa skandal. “Selamat datang

PDF by Kang Zusi

juga untuk Anda, Lord Shigeru. Anda tiba di saat yang tepat. Kami baru

saja akan memulai turnamen iaido tahunan di Tahun Baru.”

“Kami menyesal telah mengganggu,” kata Genji. “Kami hanya sebentar

dan akan segera melanjutkan perjalanan kami.”

“Saya mohon, jangan tergesa. Karena Anda sudah di sini, sebaiknya

Anda tinggal dan melihat kontes kami. Samurai kami memang tidak seahli

para prajurit Anda yang sudah terkenal kemampuannya. Tetapi, mereka

akan berusaha sebaik-baiknya.”

Genji berkata, “Terima kasih Lord Hiromitsu. Kami akan menerima

keramahan Anda dengan senang hati.”

Shigeru berkata, “Itu mungkin kurang bijaksana.”

“Kita jauh di depan,” kata Genji. “Beberapa orang dari kita

membutuhkan istirahat.” Genji menengok kepada wanita yang berdiri di

belakangnya. Dan, wanita itu membung-kuk dalam-dalam. “Ini adalah

Nona Mayonaka no Heiko.”

“Hamba tersanjung dapat bertemu Anda, Nona Heiko.”

Selama setahun ini, nama Heiko menjadi buah bibir semua orang yang

pergi ke Edo. Tetapi, cerita tentang kecantikannya yang pernah didengar

Hiromitsu tak sebanding dengan saat bertemu muka langsung.

“Nama Anda telah terkenal hingga daerah terpencil ini.”

“Hamba tak layak menerima sanjungan setinggi itu, Tuanku.”

Suara Heiko terdengar seindah dentingan lonceng. Hiromitsu terpukau

memandang Heiko semenit dua menit lebih lama dari yang sepantasnya

sebelum akhirnya dia menyadari bahwa mulutnya terbuka, Merasa malu,

dia memandang ke arah kepala rumah tangganya dan melihat bahwa

bawahannya itu juga sama terpukaunya seperti dirinya.

“Pria asing ini adalah Tuan Matthew Stark. Dan yang wanita adalah

Nona Emily Gibson. Mereka datang untuk membantu rumah misi yang ada

di dekat Kuil Mushindo.”

Hiromitsu membungkuk sopan kepada kedua orang asing itu. “Selamat

datang. Siapkan tempat untuk tamu-tamu kita,” katanya kepada kepala

rumah tagganya.

“Ya, Tuanku. Untuk orang asing itu juga?”

“Untuk semua anggota rombongan Lord Genji.”

PDF by Kang Zusi

“Tuanku, tetapi bagaimana dengan peraturan kita yang tidak

memperbolehkan kehadiran wanita?”

“Kali ini ada perkecualian,” kata Hiromitsu sembari menolong Heiko

turun dari kuda. “Lord Genji, silakan menggantikan saya di posisi juri di

timur. Lord Shigeru akan menggantikan posisi kepala rumah tangga saya

menjadi juri di sebelah barat.”

“Saran Anda sangat murah hati, Lord Hiromitsu,” kata Genji. “Tetapi,

kami lebih memilih mengamati dengan bebas tanpa tanggung jawab. Saya

paham kalau taruhan juga merupakan bagian dari tradisi ini.”

Hiromitsu tertawa senang. “Bagus, sangat bagus. Tetapi, Anda di posisi

yang lemah. Anda tidak tahu apa pun tentang kemampuan para samurai

saya. Jadi, Anda tak akan tahu siapa yang menjadi taruhan Anda.”

Hiromitsu makin bahagia karena keberadaan Heiko. Heiko telah

mengambil alih tugas ajudannya dan sekarang menuangkan sake untuknya.

Hanya dengan melihat posturnya yang anggun, bahkan air terasa memabukkan

bagi Hiromitsu.

“Saya bermaksud untuk bertaruh bagi salah seorang dari rombongan

kami,” kata Genji, “jika Anda mengizinkan dia berpartisipasi. Saya yakin

ini akan sangat menghibur.”

Kesenangan Hiromitsu langsung menguap. “Jika Lord Shigeru ikut

serta, saya akan mengalah sebelum memulai kontes. Tiga puluh dua

kontestan di sini bersama-sama saja bukanlah tandingannya.”

“Paman saya tidak punya kesabaran menggunakan pedang bambu

bahkan untuk latihan,” kata Genji. “Saya ragu dia mau menggunakan

pedang bambu sekarang.”

“Itu benar,” kata Shigeru. “Hanya pedang tajam yang dapat membelah

hingga terlihat jati diri seseorang yang sebenarnya.”

“Lord Genji, saya tidak mungkin mengizinkan hal ini,” ekspresi ngeri

terlihat di wajah Hiromitsu. “Bagaimana saya bisa memulai Tahun Baru

dengan memulangkan mayat kepada para istri yang tibatiba menjadi janda

dan anak yang yatim?”

“Anda memang tak bisa melakukan itu,” kata Genji, “dan saya juga

tidak akan mengusulkan hal seperti itu. Langit pasti akan menghukum kita

PDF by Kang Zusi

apabila kita melakukan kekejaman seperti itu. Yang saya maksud bukan

paman saya, tetapi pria asing ini, Stark.”

“Apa? Anda pasti bergurau!”

“Sama sekali tidak.”

“Para pengikut saya pasti menganggap hal itu sebagai penghinaan yang

sangat memalukan, Lord Genji. Mereka mungkin tidak mempunyai

reputasi sehebat samurai Anda, tetapi tetap saja mereka adalah samurai.

Bagaimana mungkin saya meminta mereka menguji keahlian melawan

orang asing seperti itu.”

“Saya tidak akan mengusulkan hal ini jika saya pikir memang taruhan

ini tidak imbang,” kata Genji. “Saya akan menghadiahkan seratus ryo emas

bagi orang yang bisa mengalahkan Stark. Selain itu, saya juga akan

mempertaruhkan apa saja yang Anda inginkan. Saya percaya, Stark akan

memenangi turnamen ini.”

Jika Hiromitsu tadi terkejut, itu sama sekali tak bisa dibandingkan

dengan yang dia rasakan saat ini. Kegilaan pasti sudah menjadi warisan

turunan di klan Okumichi. Apa yang harus dia lakukan? Dia tak bisa

mengambil keuntungan dari bangsawan yang jelas-jelas gila ini. Seratus

ryo emas adalah sepuluh kali lipat pendapatan tahunan samurai biasa.

Namun, menolak bisa berarti menyinggung dan dia tak ingin menyinggung

perasaan Genji, apalagi dengan Shigeru yang sama gilanya dengan sang

keponakan, ada di sampingnya. Benar-benar sebuah dilema!

“Jika Stark gagal mengalahkan siapa pun yang dia hadapi, Nona Heiko

akan menemani Anda selama seminggu jika nanti Anda berkunjung ke

Edo. Dengan biaya dari saya. Apakah Anda setuju dengan taruhan itu,

Nona Heiko?”

Heiko tersenyum kepada Hiromistu, lalu menunduk tersipu sembari

membungkuk. “Dibayar untuk menemani Lord Hiromitsu adalah hadiah

yang berlipat dua.”

“Hmm … uhh … hm,” gumam Hiromitsu. Seminggu bersama Heiko.

Memang, hampir tidak mungkin untuk berharap mekarnya rasa sayang,

rasa yang menjurus lebih dari pertemanan biasa. Hampir tidak mungkin.

Tetapi, bukan berarti mustahil. “Izinkan saya berunding dengan para

pengikut saya. Kita bisa melanjutkan jika mereka setuju.”

PDF by Kang Zusi

“Tentu saja. Sementara itu, karena saya selalu optimis dan berharap

usul saya akan diterima, saya akan menyiapkan petarung saya. Bolehkan

saya meminjam sepasang shinai? Dan izinkan saya mengusulkan insentif

tambahan. Menang atau kalah, setiap orang yang menghadapi Stark akan

mendapatkan sepuluh ryo emas.”

Dengan mata berbinar membayangkan dirinya dan Heiko di Edo,

Hiromitsu pergi untuk meyakinkan para pengikutnya. Awalnya, mereka

enggan melakukan permainan konyol semacam itu, bahkan dengan

bayaran ryo emas. Yang meyakinkan mereka adalah taruhan Genji dengan

junjungan mereka.

“Seminggu dengan Nona Heiko?”

“Ya,” kata Hiromitsu. “Seminggu dengan Nona Heiko di Edo.”

Para pengikut setianya membungkuk. “Kami tidak mungkin menolak

hadiah seperti itu untuk Anda, Tuanku, bahkan meski harus mengorbankan

kehormatan kami.”

“Jika ada kesetiaan pasti ada kehormatan,” kata Hiromitsu dengan lega.

“Tuanku.” Penjaga yang ditugaskan menjaga para tamu melapor. “Lord

Genji, Lord Shigeru, dan orang asing itu pergi ke rumpun bambu. Untuk

berlatih.”

Tawa geli keluar dari para pengikut Hiromitsu Tetapi, sang penjaga

tidak ikut tertawa.

“Orang asing itu sangat cepat,” kata penjaga.

“Dia tahu cara menggunakan pedang?”

“Kelihatannya baru pertama kali ini dia mendapatkan instruksi dari

Lord Genji.”

“Butuh waktu bertahun-tahun untuk menguasai iaido,” kata kepala

rumah tangga. “Jika Lord Genji bermaksud mengajarkan seni pedang ini

kepada orang asing itu hanya dalam beberapa menit, pasti dia yang paling

gila di antara semua keturunan Okumichi.”

Hiromitsu berkata, “katamu orang asing itu cepat.”

“Awalnya sih tidak, Tuanku. Tetapi, pada tarikan pedang kelima, ya,

dia cepat. Sangat cepat. Dan akurat juga.”

PDF by Kang Zusi

“Kamu habis minum-minum ya, Ichiro?” celetuk salah seorang

samurai. “Bagaimana mungkin seseorang dapat berlatih menggunakan

pedang hanya dalam lima tarikan.”

“Diam,” kata Hiromitsu. “Apakah kamu cukup dekat untuk

mendengarkan pembicaraan mereka?”

“Ya, Tuanku. Tetapi, Lord Genji dan orang asing itu berbicara dalam

bahasa Inggris. Hamba hanya mengerti apa yang dibicarakan Lord Genji

dan Lord Shigeru.”

“Apa yang mereka bicarakan?”

Penjaga itu mengikuti kedua bangsawan gila itu dan ijria asing tersebut

ke rumpun bambu, menyamakan langkahnya dengan langkah mereka

sehingga mereka tidak mendengar dia mengikuti.

“Aku yakin kamu punya alasan membuat kita terlihat seperti orang

bodoh,” kata Shigeru.

“Stark akan menang,” kata Genji.

“Apa itu ramalan?”

Genji tertawa dan tidak menjawab.

Pria itu mengatakan sesuatu dalam bahasanya yang tidak jelas dan

barbar. Genji menjawab dalam bahasa yang sama. Hanya satu kata Jepang

terucap iaido. Pria asing itu mengatakan sesuatu yang terdengar seperti

pertanyaan. Dia juga mengucapkan kata “iaido”. Genji berhenti lima

langkah dari satu tunas bambu setinggi tiga meter dan tebal sepuluh

sentimeter. Tiba-tiba tangannya menghunus pedang, kilatan baja, dan

pedang itu membelah tunas bambu dengan mulus. Sedetik kemudian,

bagian atas bambu itu terpisah dari batang bawahnya dan jatuh ke tanah.

“Tak disangka Lord Genji cukup ahli,” kata penjaga.

“Rupanya, puisi, sake, dan wanita tidak menghabiskan seluruh

perhatiannya selama bertahun-tahun,” kata Hiromitsu. “Semua itu adalah

tipu muslihat. Kakeknya, Lord Kiyori, adalah pria tua yang lihai. Dia pasti

melatih cucunya dengan diam-diam.”

Ketika batang bambu itu jatuh ke salju, Genji mengatakan sesuatu dalam

bahasa asing. Pria asing itu menanyakan sebuah pertanyaan lagi. Dia

mengucapkan nama Shigeru. Genji menjawab.

PDF by Kang Zusi

“Apa katanya?” tanya Shigeru.

“Dia bertanya mengapa bukan Paman yang mewakili kita di turnamen.

Kukatakan Paman tidak bersedia bermain-main dalam pertempuran.”

Shigeru menggerutu. “Tebasanmu bagus. Bambu itu berdiri satu

detakan jantung penuh sebelum jatuh.”

“Ketika Kakek menebaskan pedangnya,” kata Genji, “beliau memotong

dengan bersih dan cepat sehingga bambu berdiri lima detakan jantung

penuh sebelum jatuh.”

Pria asing itu mengatakan sesuatu. Dia menggunakan lagi kata “iaido”.

Dia terdengar seperti memprotes. Sebagai jawabannya, Genji berdiri di

depan batang bambu lainnya. Tangan kanannya menyilang di depan badan

ke arah kiri, di tempat pedangnya disarungkan. Terlihat kilatan baja

menembus bambu. Kali ini bambu itu berdiri dua detakan jantung sebelum

jatuh. Genji lalu berpaling kepada pria asing itu dan berbicara lagi. Dia

membuat gerakan aneh lengan tangan kanannya, seakan-akan menarik pelang

yang jauh lebih pendek.

“Pistol dan pedang sangat berbeda,” kata Shigeru.

Genji berkata, “Tidak harus begitu. Keduanya ama-sama kepanjangan

dari tangan yang memegangnya.”

Genji melepas pedangnya dan menggantinya dengan salah satu shinai

yang tadi dipinjamnya dari pengikut Hiromitsu. Shinai yang satunya dia

berikan kepada pria asing itu. Lalu, Genji mengatakan beberapa patah kata

bahasa asing, dan dua pria itu saling berhadapan.

Begitu tangan pria asing itu bergerak, Genji menghunus shinai dari ikat

pinggangnya dan mernukul pria asing itu tepat di pelipis kanan.

Kedua kalinya, Genji bergerak lebih dulu. Sebelum pria asing itu dapat

bereaksi, dia kembali kena pukul lagi, kali ini di bahu kanan.

Ketiga kalinya, gerakan mereka berdua hampir simultan, tetapi

hasilnya tetap sama. Pedang shinai Genji mengenai dahi pria asing itu

sebelum pedang si pria asing mengenai leher Genji.

Keempat kalinya, pria asing itu menang untuk pertama kalinya,

pedangnya memukul tepat pelipis Genji.

Kelima kalinya, dia mampu mengenai Genji bahkan sebelum sang

bangsawan menghunus shinai, keluar dari ikat pinggangnya.

PDF by Kang Zusi

“Itu tidak membuktikan apa-apa,” cetus salah seorang samurai. “Apa

hebatnya mengalahkan seseorang seperti Lord Genji?”

“Lagi pula,” timpal yang lain, “dia pasti membiarkan orang asing itu

menang untuk meningkatkan kepercayaan dirinya.”

“Mungkin,” kata sang penjaga. Tetapi, nada suara, dan ekspresinya

menyatakan sebaliknya.

Genji dan rombongannya berjalan kembali menuju panggung tempat

turnamen diadakan. Sang penjaga diam-diam pergi melapor. Sebelum dia

pergi, dia mendengar beberapa patah kata lagi.

Shigeru berkata, “Apa dia tahu mengapa kamu melakukan ini?”

“Tidak. Tapi dia percaya padaku.”

“Betapa sombongnya,” kata salah seorang samurai. “Dia hanya

bermaksud memper-malukan kita untuk kemenangan dirinya sendiri.”

“Masa hanya karena itu,” kata Hiromitsu.

“Motif apa lagi yang mungkin?” tanya sang kepala rumah tangga.

“Ia mungkin memenuhi sebuah ramalan.”

“Tuanku, itu benar-benar sebuah kebodohan,” kata sang kepala rumah

tangga. “Dia tidak mempunyai kemampuan meramal sama seperti Anda

atau saya.”

“Kamu tahu pasti tentang itu?” tanya Hiromitsu. “Tidak, dan aku juga

tidak. Karena itu, mari kita lanjutkan dengan hati-hati. Toshio. Kamu yang

peritama menghadapi orang asing itu. Konsentrasi.”

“Ya, Tuanku.”

Iaido biasanya dimulai dengan posisi duduk. Kontestan berlutut saling

berhadapan, membungkuk, dan pelan-pelan maju ke arah lawannya sambil

tetap berlutut. Ketika jaraknya sudah sesuai, biasanya antara lima atau

sepuluh langkah, kontestan akan menghunus pedangnya dan menyerang

dalam satu gerakan yang mengalir. Tidak ada usaha untuk menangkis atau

mengelak. Tidak ada kesempatan kedua. menangnya adalah orang yang

menghunus pedang paling cepat dan memukul dengan akurat.

Menimbang keadaan si orang asing yang kesulitan duduk berlutut

maka aturan turnamen dimodifikasi untuk memungkinkan konfrontasi

PDF by Kang Zusi

dengan berdiri. Juga agar lebih adil, samurai yang maju dipilih melalui

lotre.

Meskipun sudah mendengar laporan dari penjaga, Toshio merasa

terlalu percaya diri. Dia terlalu sibuk melotot marah dan menghina kepada

Stark sehingga dia terpukul di leher sebelum shinainya sempat terhunus.

Samurai kedua, meski lebih waspada juga tak lebih baik. Stark

mengenainya di bahu kanannya tepat saat samurai itu akan menebaskan

shinainya. Samurai ketiga didiskualifikasi karena terlalu cepat menghunus

pedang dan menyerang dengan berlari, bukan menghunus dan menebas

dalam satu gerakan seperti yang seharusnya. Samurai yang didiskualifikasi

itu terlihat sangat menyesal dan berkali-kali minta maaf.

“Itu karena hamba terlalu tegang,” katanya sembari menekankan

kepalanya ke lantai panggung dan menangis tanpa malu-malu. “Hamba

kehilangan kendali. Benar-benar tak termaafkan.”

“Tidak,” kata Hiromitsu. “Kamu terkejut, seperti kita semua. Lord

Genji, sudah berapa lama orang asing ini tinggal di Jepang?”

“Tiga minggu.”

“Dia menguasai iaido hanya dalam tiga minggu?”

“Dalam lima menit,” kata Genji. “Dia belum pemah mencobanya

hingga hari ini.”

“Saya tidak bermaksud meragukan perkataan Anda, tetapi hal itu sulit

dibayangkan.”

“Orang asing punya seni bela diri yang mirip. Tetapi, mereka

menggunakan pistol, bukan pedang. Stark adalah ahli bela diri jenis itu.”

“Ah. Kami salah menyepelekan dia hanya karena dia orang asing.”

“Kalau kita membiarkan diri melihat apa yang ingin kita lihat,” kata

Genji, “kita hanya melihat apa yang kita pikirkan dan tidak bisa melihat

apa yang benar-benar ada di hadapan kita.”

Apakah Genji mengacu pada kemampuannya melihat masa depan?

Menurut Hiromitsu memang begitu. Bahkan, sepertnya dia hendak

mengatakan kalau dia sudah tahu hasil pertandingan ini sebelum dimulai.

Jika dia bisa tahu hal sekecil itu, apakah dia juga tahu hasil peristiwaperistiwa

besar yang ada di depan mereka, yaitu kemungkinan terjadinya

perang saudara? Hiromitsu memutuskan dia harus mendiskusikan masalah

PDF by Kang Zusi

ini dengan para bangsawan agung lainnya di wilayah sekitarnya begitu

kesempatan memungkinkan. Sesuatu yang luar biasa sedang terjadi di

depannya saat ini. Mungkin ini memang lebih dari sekadar turnamen iaido.

Genji berkata, “Karena Anda tidak tahu latar belakangnya, tidak adil

jika saya memaksakan taruhan ini. Saya akan menarik Stark dari kontes.”

“Oh, jangan Lord Genji, kita harus tetap melanjutkan. Ini sangat

menyenangkan. Lagi pula, risikonya semua ada di pihak Anda. Saya tak

akan rugi apa-apa.”

“Begitu juga dengan saya,” kata Genji, “karena hasilnya sudah pasti.”

Genji benar-benar mengakui dia memang punya kemampuan meramal.

Maka, sekarang saatnya Hiromitsu mengujinya. Hiromitsu berkata, “Jika

Anda tidak ber-keberatan, saya ingin melakukan pergantian untuk dua

babak terakhir.”

“Silakan.”

Hiromitsu menugasi komandan infanterinya, Akechi, untuk

menghadapi orang asing itu selanjutnya. Jika orang asing itu berhasil

menang, dia akan menghadapi komandan kavalerinya, Masayuki. Akechi

berhasil memukul bersih orang asing itu di tulang iga sebelah kanan.

Tetapi, pukulan itu terjadi sesaat setelah orang asing itu memukulnya di

leher.

Masayuki adalah pemain pedang terbaik di wilayah Yamakawa,dan dia

setanding dengan para pemain pedang terbaik di wilayah mana pun,

kecuali Shigeru. Jika dia tak bisa mengalahkan orang asing itu, daya magis

pasti berperan di sini. Hanya daya ramalan yang tak terpatahkan dapat

melakukan hal seperti itu.

Masayuki dan Stark menghunus pedangnya pada saat yang sama.

Tebasan mereka sama-sama cepat dan bersih. Masayuki mengenai Stark di

dahi. Stark mengenai Masayuki di pelipis kanan.

“Pukulan serempak,” kata sang kepala rumah tangga dari kursi juri di

sebelah barat.

“Saya juga melihatnya begitu,” kata Hiromitsu.

“Apakah Anda punya pendapat lain, Lord Genji, Lord Shigeru?”

“Tidak,” kata Shigeru. “Memang terlihat serempak.”

“Kalau begitu, saya kalah taruhan,” kata Genji.

PDF by Kang Zusi

“Tak seorang pun yang kalah. Kita seri.”

“Saya kalah,” kata Genji, “karena saya bertaruh Stark akan menang.

Dan dia tidak menang.”

Masayuki membungkuk kepada Stark. Stark mengulurkan tangannya.

“Mereka berjabat tangan sebagai ganti membungkuk,” kata Genji. “Dia

mengakui kemenanganmu.”

Stark dan Masayuki berjabat tangan.

“Bagus, Masayuki,” kata Genji. “Kamu memenangi seekor kuda

perang yang bagus dan seratus ryo emas untuk dirimu sendiri, dan

seminggu yang menyenangkan bagi junjunganmu.”

Masayuki membungkuk rendah. “Hamba tak dapat menerima hadiah

itu, Lord Genji. Pukulan orang asing itu mengenai terlebih dulu sebelum

saya. Dia pemenangnya.”

“Apa kamu yakin?” tanya Hiromitsu.

“Ya, Tuanku,” Masayuki membungkuk lagi. Harga dirinya tidak

membolehkan dia mengklaim kemenangan yang dia tahu bukan miliknya.

“Hamba sangat menyesali kegagalan ini.”

Genji berkata, “Bukan suatu kegagalan jika kamu telah berusaha sebaik

mungkin dan secara jujur menerima hasilnya.”

“Baiklah,” kata Hiromitsu, “sungguh hasil yang mengejutkan. Bagi

saya, kalau tidak bagi Anda, Lord Genji.”

Shigeru berkata, “Keponakanku jarang terkejut.”

“Begitu juga yang saya dengar,” kata Hiromitsu. Sang kepala rumah

tangga bertanya, “Ke mana kami harus mengirim hadiahnya?”

“Tidak perlu dikirim,” kata Genji. “Stark akan menaikinya.”

“Tuanku,” kata sang kepala rumah tangga, “ini adalah kuda perang,

bukan kuda jinak. Dia akan membunuh siapa pun kecuali penunggang

yang ahli.” Genji tersenyum. “Apa kamu mau bertaruh?”

Para tamu Hiromitsu itu menolak tawaran untuk menginap di

istananya. Hiromitsu tidak bertanya mengapa mereka tergesa-gesa

melanjutkan perjalanan ke mana pun tujuan mereka. Dia yakin bahwa

Genji, dengan kemampuannya mengetahui masa depan, bisa dibilang

sudah sampai ke tempat mana pun dia menuju.

Shigeru berkata, “Kamu memanfaatkan reputasimu dengan pintar.”

PDF by Kang Zusi

“Reputasi untuk kontes dan berjudi?”

“Reputasi kemampuan meramal dan kemampuan mistis. Hiromitsu

sekarang yakin kamu mampu secara tiba-tiba mengubah orang asing itu

menjadi ahli iaido hanya dalam beberapa menit. Atau bahwa kamu tahu,

berkat kemampuanmu meramal, bahwa hal yang mustahil akan terjadi,

yaitu Stark akan menang. Strategi yang pintar.”

“Tetap saja sebuah pertaruhan,” kata Genji. “Aku berpikir kemampuan

Stark meng-gunakan pistol akan dapat dimanfaatkan dengan menggunakan

pedang, meski tidak maksimal. Itu hanya tebakan, bukan sesuatu yang

pasti.”

“Maka, di samping hal-hal lain, kamu juga beruntung. Aku

mengucapkan selamat untuk itu juga. Jika kamu cukup beruntung, sifatsifatmu

yang lain , akan didukung oleh keberuntungan itu.”

“Setidaknya, keberuntungan memang bersama kita kali ini,” kata Genji.

“Para pengejar kita tidak akan banyak mendapat pertolongan dari

Hiromitsu. Dan nanti, jika Shogun mencoba memobilisasi pasukan ke

utara untuk memerangi kita, kurasa para Bangsawan Agung di lingkaran

Hiromitsu akan meresponsnya dengan sangat hati-hati.” Dia memandang

berkeliling ke pegunungan yang mengitari mereka.

“Bukankah ini dekat dengan Kuil Mushindo?”

Jimbo membungkuk, berterima kasih pada sumber air panas yang

memberikan panas pada tetumbuhan di tengah-tengah musim dingin. Dia

membungkuk pada pohon pinus tua yang bayangannya di tanah

memberikan ruang bagi jamur shiitake untuk tumbuh dan bersembunyi

dari matahari. Dia membungkuk pada setiap jamur sebelum mencabutnya,

berterima kasih pada mereka yang rela mengorbankan keberadaannya

untuk kelanjutan kehidupan manusia. Di tempat itu, ada cukup banyak

jamur untuk sebuah pesta. Tetapi, Jimbo hanya mengambil yang dia

perlukan untuk membumbui makanan sederhana yang dia siapkan untuk

anak-anak desa. Shiitake adalah makanan yang lezat. Anak-anak itu akan,

menyukainya. Dia berkeliling di sekitar mata air panas untuk

mengumpulkan tanaman ramuan dan bunga yang bisa dimakan. Si dungu,

Goro, suka makan bunga.

PDF by Kang Zusi

Berpikir tentang anak-anak, Jimbo berhenti, dan berhenti, merasakan

dirinya dibanjiri dengan kesedihan dan penyesalan mendalam. Dia

membungkuk mohon maaf kepada dua anak yang kini tak lagi hidup di

dunia, dua anak yang hidupnya telah dia akhiri dengan kejam. Dia

memikirkan mereka berkali-kali setiap hari, selalu membayangkan mereka

berdua terlahir kembali di surga atau di Tanah Murni, dalam pelukan

Kristus Tuhan Kami atau Kannon Sang Pengasih. Dia membayangkan

wajah-wajah mereka yang tak berdosa bersinar dengan kebahagiaan abadi.

Tetapi, Jimbo tak pernah lupa wajah mereka saat mereka berdua menarik

napas terakhimya. Dia memohon Kristus untuk mengampuni jiwanya dan

Kan’ non untuk memandikannya dalam cintanya yang penuh ampunan.

Dia bertemu Kimi, salah seorang anak perempuan dari desa, saat

kembali pulang ke Kuil Mushindo.

“Jimbo, ada orang yang mau lewat sini! Orang asing!”

Jimbo memandang ke arah jernari Kimi menunjuk. Di sisi lain lembah,

enam penunggang kuda hati-hati menunggangi kuda mereka melewati

jalan sempit di lereng gunung. Mereka terlalu jauh untuk dikenali. Dua di

antaranya, seorang pria dan seorang wanita jelas orang asing. Apakah

mereka para misionaris Firman Sejati yang pernah disebutkan Lord Genji?

Kimi berjalan ke tanah terbuka dan berteriak sekeras kemampuan paruparu

kecilnya, “Hello!

Hello!” Dia memutar-mutar lengan kecilnya membentuk lingkaran

sebesar yang dia bisa.

Penunggang kuda ketiga di barisan itu melambai kembali kepadanya.

Sesuatu digerakkannya membuat Jimbo berpikir orang itu mungkin Lord

Genji.

“Mereka melihat kita. Ayo kita sambut mereka, Jimbo.”

“Mereka tak datang ke sini, Kimi. Mereka hanya lewat.”

“Oh tidak. Mengecewakan sekali. Aku ingin lihat orang asing lain.”

“Aku yakin kamu akan melihatnya,” kata Jimbo, “pada waktunya

nanti.”

“Jimbo! Jimbo! Jimbo!” Suara Goro yang lantang bergema di seluruh

lembah.

PDF by Kang Zusi

“Kita di atas sini, Goro!” Kimi berbalik ke arah jalan setapak.

“Sebaiknya aku menjemput Goro. Dia mudah tersesat.”

Jimbo memandang para penunggang kuda itu hingga mereka

menghilang di lembah berikutnya.

Jalan di depan mereka bercabang tiga.

“Kita akan berpisah di sini,” kata Genji. “Heiko, kamu akan

membimbing Stark melewati jalan berkelok-kelok di pegunungan ini. Aku

akan pergi dengan Emily menyeberangi lembah. Shigeru akan kembali dan

mengurangi jumlah para pengejar kita. Mungkin mereka adalah Kudo dan

anak buahnya. Dia suka menggunakan penembak jitu jadi hati-hati. Hide

akan berjaga di sini. Temukan beberapa lokasi tempat kamu bisa

melakukan penyergapan. Jika ada pengejar yang sampai sejauh ini, hambat

mereka selama kamu bisa.”‘

“Biarkan para wanita pergi bersama,” kata Shigeru. “Stark biar pergi

ber-samamu.”

“Hamba setuju,” sambung Hide. “Ramalan mengatakan bahwa seorang

asing akan menyelamatkan nyawa Anda di Tahun Baru. Dengan mata

sendiri, kami telah melihat kemampuan Stark menggunakan shinai setelah

mendapat instruksi dalam beberapa menit. Sudah jelas kalau dia pasti

orang asing yang dimaksud. Dia tak akan bisa melakukan perannya seperti

yang telah diramalkan kalau dia tidak pergi dengan Anda.”

“Daerah liar ini dipenuhi dengan bandit dan ronin,” kata Genji. “Dua

wanita bepergian sendiri tak akan bertahan lama.”

“Saya tidak lemah, Tuanku,” kata Heiko. “Pinjamkan kepada hamba

pedang Anda dan kami akan selamat. Hamba berjanji.”

“Kamu akan selamat karena Stark akan membawamu.” kata Genji.

“Tidak ada gunanya membantah. Keputusanku sudah bulat. Tahun baru

masih lama. Siapa yang dapat menentukan kapan nyawaku akan

diselamatkan? Dan siapa yang akan menyelamat kan? Mungkin orang itu

adalah Emily, bukan Stark. Ramalan terkenal paling susah untuk

diartikan.”

“Ini bukan waktunya berolok-olok,” kata Hide. “Stark akan sangat

membantu jika Anda bertemu musuh. Emily hanya akan menjadi beban

Anda.”

PDF by Kang Zusi

“Aku juga seorang samurai,” kata Genji. “Dengan dua pedang dan

busur. Apa kamu mengatakan aku tak bisa mempertahankan diriku sendiri

dan satu orang lagi?”

“Tentu saja tidak, Tuanku. Hanya menurut hamba akan sangat bijak

jika meminimal-kan risiko.”

“Aku sudah memutuskan. Kita akan bertemu lagi di Akaoka.”

Genji menerangkan rencananya kepada Stark dan Emily.

“Bolehkah aku berbicara secara pribadi dengan Emily?” kata Stark.

“Silakan.”

Stark dan Emily menjauhkan kuda mereka. Stark mengambil revolver

kecil dari dalam jaketnya dan memberikannya kepada Emily.

“Kamu mungkin memerlukan ini.”

“Pistol itu akan lebih berguna di tanganmu. Atau, mungkin sebaiknya

kamu memberikannya kepada Lord Genji.”

“Dia mungkin saja gagal melindungimu.”

“Jika dia tak bisa, bagaimana aku bisa? Aku belum pemah

menembakkan pistol selama hidupku.”

“Kamu pegang gagangnya seperti ini,” kata Stark, “tarik kokangnya ke

belakang dan tekan pelatuknya. Mudah saja.”

“Bukankah aku harus bisa membidik sasaran?”

“Tempelkan saja pada sasaranmu.” Stark menempelkan pistol itu ke

pelipisnya. “Kamu tidak perlu membidik.”

Emily mengerti. Stark menyiapkan dirinya untuk bencana. Jika perlu,

Stark memberinya jalan keluar untuk menghindari nasib yang lebih buruk

dari kematian. Dia tidak tahu kalau Emily sudah pernah mengalaminya.

Dan dirinya adalah seorang Kristen. Tidak sebaik mendiang tunangannya

memang, tetapi tetap saja dia seorang Kristen. Dia tak bisa mengambil

nyawanya sendiri bahkan di dalam kondisi yang paling mengerikan

sekalipun.

“Terima kasih telah memikirkan diriku, Matthew. Tetapi bagaimana

dengan Nona Heiko? Bagaimana kita bisa memikirkan diri sendiri sebelum

memikirkan orang lain, apalagi kita telah bersumpah atas nama Kristus?

Bagaimana kamu bisa melindunginya kalau pistolmu kubawa?”

PDF by Kang Zusi

Stark turun dari kuda. Dia membuka kantong pelananya. Di dalamnya

ada sebuah sweter rajutan.

Dia membuka sweter yang tergulung itu dan mengeluarkan revolver

kaliber 44 yang pemah dilihat Emily diselamatkan Stark dari reruntuhan

istana. Kemudian, Stark mengeluarkan sarungnya. Dia mengikatkan sarung

pistol itu di pinggangnya, mengikatkan tali kulit di pahanya, dan

memasukkan pistol besar itu ke sarungnya. Stark mencabut pistolnya beberapa

kali dan memasukkannya kembali, mengetes gerakan metal di atas

sarung kulit.

Ketika Stark mengulurkan revolver kaliber 321agi, Emily

menerimanya, bukan karena dia bermaksud menggunakannya, melainkan

agar Stark tenang. Perjalanan mereka berdua masih jauh. Tidak akan

banyak membantu jika lelaki itu terus mengkhawatirkan dirinya, sementara

perjalanannya sendiri juga penuh dengan bahaya. .

Ketika Hide melihat pistol yang dipakai Stark, dia berkata, “Kalau dia

punya dua, kita seharusnya meminta dia memberikan pistol satunya ke

Lord Genji.”

“Tak seorang pun, juga orang asing, dapat diminta untuk menyerahkan

senjatanya ke orang lain,” kata Shigeru. “Dia akan memberikannya jika dia

mau. Kalau tidak, bukan tempatnya bagi kita untuk mengatakan apa pun.”

Dia lalu membungkuk kepada Genji dari atas kuda. “Semoga para leluhur

mengawasi dan melindungimu dalam perjalanan pulang.” Dia berbalik dan

memacu kudanya. Dalam beberapa saat, dia sudah tak terlihat dan tak

terdengar.

“Aku berjanji akan menunjukkan kepadamu puriku, Nona Heiko, dan

tak lama lagi janjiku itu akan terpenuhi.”

“Hamba menunggu saat itu, Tuanku. Selamat jalan.” Iciko dan Stark

melanjutkan perjalanan menyusuri cabang jalan yang menuju utara.

“Tak seorang pun bisa lewat sini selama hamba masih hidup,” kata

Hide.

“Sudah cukup kalau kamu menghambat mereka tanpa mengorbankan

nyawamu. Hanya ada sedikit orang yang dapat kupercaya sepenuhnya.

Kamu adalah satu di antaranya. Jadi, temui aku di Kastel Awan Burung

Gereja.”

PDF by Kang Zusi

“Tuanku.” Merasa sangat terharu, Hide tak bias mengatakan lebih dari

itu.

Genji mengajak Emily pergi sebelum dia terpaksa harus melihat banjir

air mata dari kepala pengawalnya yang cengeng.

Badai berlangsung lebih lama dari perkiraan Saiki. Lima hari kemudian,

mereka masih diombang-ambingkan angin dan ombak.

“Kita akan melihat daratan sekitar dua jam lagi,” kata Saiki.

“Anda sudah bilang begitu dua jam yang lalu,” kata Taro. Dia dan

Shimoda kelelahan. Tangan mereka berdarah akibat terus-menerus

mendayung untuk menjaga agar haluan kapal menghadap gelombang.

Saiki menajamkan pandangannya. Di depan mereka terlihat ada

pusaran air. Pusaran air jarang terjadi di jarak sejauh ini dari daratan.

Mungkin pusaran itu disebabkan oleh batu karang yang tak terlihat.

“Mungkin ada bahaya di depan,” katanya. “Bersiap-siaplah untuk

mengubah haluan.”

Air laut di bawah perahu mereka mulai bergerak naik. Tepat saat Saiki

menyadari apa yang mungkin menyebabkan hal itu, dia melihat salah satu

sebab itu berenang enam meter dari perahu mereka.

“Monster laut!” kata Taro.

“Paus,” kata Saiki. Dua ekor lagi muncul di pc mukaan tak jauh dari

mereka, induk dan anaknya. Saiki belum pernah melihat mereka di dekat

pantai Akaoka mendekati tahun baru. Mungkin cuaca hangat membuat

mereka bertahan di utara lebih lama dari biasanya. Saiki membungkuk

memberi salam ketika dua paus itu lewat. Dahulu dia pernah memburu

mereka. Kini, dia hanya melihat mereka melintas pergi.

Tepat saat itu, laut di bawah mereka menyembur, menghancurkan

perahu dan melemparkan ketiga pria itu ke laut. Pusaran air yang kuat dari

paus yang lewat mengisap Saiki ke dasar laut. Dia berusaha berenang ke

permukaan, sementara paru-parunya yang kehabisan udara memaksa

mulutnya terbuka. Air laut terasa aneh. Dia memeriksa dirinya sendiri

melihat apakah ada bagian tubuhnya yang terluka. Tetapi, dia hanya

melihat darah, bergalon-galon darah. Tidak mungkin darah sebanyak itu

keluar dari tubuhnya. Lebih banyak darah menyembur dari bawah kakinya.

PDF by Kang Zusi

Dia merasakan hangatnya darah itu tepat saat seekor paus dengan sebuah

harpun tertancap di punggungnya muncul di permukaan tiga meter dari

dirinya. Paus itu memandangnya dengan rita besarnya, penuh ancaman.

Apakah itu benar seekor paus ataukah inkarnasi hantu paus yang telah

dia bunuh bertahun-tahun lalu? Apakah arwah paus itu kini kembali dan

menuntut balas? Karma tak dapat dihindari. Sekarang, dia harus membayar

kejahatan yang telah dia lakukan pada sesama makhluk hidup. Bukankah

Buddha mengatakan semua yang hidup adalah sama? Dia akan mati

berlumuran darah paus dan harapan keselamatan bagi junjungannya juga

akan mati. Hidupnya kini tinggal dalam hitungan menit. Dia tak mungkin

bertahan lama di air laut yang dingin mencengkam.

Lalu, dia melihat sirip lancip mengiris permukaan air yang berbuih.

Hiu. Arwah paus yang pernah dia pasti akan sangat puas. Sebagaimana dia

telah membunuh dan memakan mereka, sekarang dia akan dibunuh dan

dimakan oleh karnivora yang tertarik oleh bau darah.

“Di sana!” Saiki mendengar seseorang berteriak. “di sana ada satu

lagi!”

Ketika dia berpaling ke arah asal suara itu, dia melihat sebuah sampan

panjang melaju ke arahnya.

Perahu nelayan itu berasal dari Desa Kageshima, desa tempat dia

melewatkan masa kecil dan masa mudanya. Paus yang terluka itu sedang

melarikan diri ketika menabrak perahu Saiki. Rupanya itu bukan

pembalasan karma.

“Shimoda terluka parah,” kata Taro. Para nelayan telah mengangkat

mereka berdua sebelum Saiki. “Beberapa iga patah dan kaki kirinya juga.”

“Dia akan sembuh,” kata salah seorang nelayan. “Sepupuku hancur

kedua kakinya dan dia tetap hidup. Tentu saja dia tak bisa berjalan dengan

baik lagi.”

“Apa yang kalian lakukan begitu jauh dari dari daratan dengan perahu

sekecil itu?” tanya yang lain.

“Kedua orang ini dan aku adalah pengikut Lord Genji, Bangsawan

Agung Akaoka,” kata Saiki. “Sangat penting bagi kami untuk mencapai

PDF by Kang Zusi

Kastel Awan Burung Gereja secepat mungkin. Apakah kalian dapat

mengantar kami ke sana?”

“Tidak mungkin dengan ombak besar seperti ini,” kata nelayan yang

duduk di kemudi. Dia paling tua di antara para nelayan yang menaiki

sampan dan rupanya menjabat sebagai kapten. “Jika kalian samurai, di

mana senjata kalian?”

“Jangan lancang,” kata Saiki. “Sudah jelas kalau pedang kami hilang di

laut.”

“Samurai tidak seharusnya kehilangan pedang.”

“Diam! Bersikaplah sesuai statusmu!”

Pria itu membungkuk, tetapi tidak cukup rendah. Saiki akan melakukan

perhitungan dengannya sesampainya mereka di pantai nanti.

Salah satu nelayan dari tadi memandangi Taro. “Bukankah kamu salah

satu anak buah Rahib Kepala Sohaku?”

“Apakah aku kenal kamu?”

“Aku mengirim ikan kering ke kuil tiga bulan lalu. Kamu waktu itu

sedang bertugas di dapur.”

“Ah, ya aku ingat. Kebetulan sekali kita bertemu lagi dengan cara

begini.”

“Apakah kamu masih anak buah Rahib Kepala itu?” tanya kapten

kapal.

“Tentu saja. Sebagaimana ayahku dulu.”

“Bagus,” sambung sang kapten lagi.

Saiki berkata, “Apa maksudnya seorang nelayan bertanya-tanya

tentang kesetiaan seorang samurai?”

“Tangkap dia,” kata kapten kapal. Beberapa orang nelayan menubruk

Saiki dan cepat mengikatnya dengan tali harpun. Mereka memegangi Taro,

tetapi tidak mengikatnya.

Kapten kapal berkata, “Rahib Kepala Sohaku telah menyatakan

membentuk sebuah pemerintahan perwakilan. Junjungan kami, Tuan

Fumio, mengikuti Sohaku. Kamu bilang kamu masih pengikut Sohaku.

Apa benar?”

PDF by Kang Zusi

Taro memandang lurus ke Saiki. “Ampuni saya, Tuan, tetapi saya

harus mematuhi sumpah saya. Ya aku masih pengikut Sohaku.” Para

nelayan itu me lepaskan pegangannya pada Taro.

Kapten lalu menunjuk Shimoda dengan dagunya. “Ikat dia juga.”

“Itu tidak perlu,” kata Taro. “Dia sudah tak bisa bergerak karena lukalukanya.”

“Ikat saja. Tidak ada yang tahu apa yang aka terjadi jika menghadapi

samurai. Meski dia sekarat dia bisa saja berbahaya.”

Malam menjelang saat mereka mendarat. Taro diperbolehkan mandi

dan berganti pakaian. Sementara Saiki dan Shimoda diikat di pojok sebuah

gubuk dan dijaga dua nelayan bersenjatakan harpun.

“Wilayah ini berada di tepi jurang perang saudara,” kata sang kapten.

Dia juga merupakan salah satu sesepuh desa. “Sepertiga dari para samurai

belum memilih ikut di pihak yang mana. Sementara sisanya terbagi hampir

sama rata antara Lord Genji dan Sohaku.”

“Bukankah sebaiknya kita juga mengizinkan mereka berdua ini untuk

mandi?” tanya seorang nelayan. Saiki mengenalinya. Dua puluh lima tahun

lalu, nelayan itu pernah menolong Saiki memburu paus terakhirnya.

“Tidak penting,” kata tetua desa. “Tak lama lagi mereka akan mati.”

Saiki berkata, “Bagaimana kalian bisa mengkhianati seorang

Bangsawan Agung yang mempunyai kemampuan melihat masa depan

sejelas kamu dapat melihat masa lampau?”

“Mungkin kami terlihat seperti petani bodoh bagi Anda, Tuan Samurai,

tetapi kami tak sebodoh itu.”

“Aku telah melihat kemampuannya dengan mata kepalaku sendiri,”

kata Saiki.

“Benarkah? Kalau begitu, beri tahu kami apa yang kin terjadi padamu.”

Saiki memandang menghina kepada tetua itu. “Junjunganku yang bisa

melihat masa depan, bukan aku.”

“Dan dia tak pernah mengatakan padamu tentang masa depanmu?”

“Aku melayaninya, bukan sebaliknya.”

“Betapa enaknya.”

PDF by Kang Zusi

“Dia sudah meramalkan pengkhianatan Sohaku dan Kudo, dan

mengirimku ke sini untuk mengumpulkan pasukan. Sementara itu, Lord

Shigeru akan mengurusi para pengkhianat.”

“Lord Shigeru sudah mati.”

“Terserah kalian, aku capai dengan segala kebodohan ini.” Saiki

memejamkan matanya, seperti tak peduli akan nasibnya.

“Tuan?” sang tetua desa bertanya kepada Taro. “Itu tak benar kan?”

“Itu benar,” kata Taro. “Aku menunggang kuda dari Kuil Mushindo ke

Edo bersama Lord Shigeru dan meninggalkannya di sana bersama Lord

Genji sekitar lima hari yang lalu.”

Para nelayan itu langsung sibuk berbisik-bisik.

“Kami harus menanyakan instruksi lebih lanjut kepada Tuan Fumio.

Jika Lord Shigeru masih hidup, akan sangat berbahaya melawan

keponakannya.”

“Siapa yang akan pergi?”

“Salah satu dari tetua desa.”

“Aku saja yang pergi,” kata Taro. “Tidak pantas jika seorang nelayan

membawa pesan seperti itu kepada tuan kalian, sementara ada seorang

samurai yang bisa melakukannya. Sementara itu, pastikan dua orang ini

benar-benar terikat dan tidak boleh ada yang melukainya.”

“Terima kasih Tuan. Kami tidak akan melakukan apa-apa sampai Anda

kembali dengan instruksi dari tuan kami.”

Enam jam kemudian, seluruh desa sudah tertidur. Bahkan, dua penjaga

yang menjaga tawanan juga terkantuk-kantuk. Taro diam-diam menyelinap

ke gubuk. Dia mematahkan leher penjaga pertama, mengambil harpunnya

dan menusukkannya ke jantung penjaga kedua. Kedua penjaga itu mati

tanpa sedikitpun mengeluarkan suara.

“Aku bersumpah kepada Sohaku,” kata Taro, membebaskan Saiki dan

Shimoda. “Tapi aku juga bersumpah kepada Hide bahwa aku akan membantunya

melindungi Lord Genji dengan nyawaku sendiri. Sumpah yang

kedua lebih penting bagiku.”

“Aku tidak bisa berjalan,” kata Shimoda. Dia memegang harpun di

tangannya. “Jangan khawatir. Aku akan berusaha sekuat tenaga sebelum

aku mati.”

PDF by Kang Zusi

Saiki memandang ke desa untuk terakhir kalinya sebelum dia dan Taro

memasuki hutan. Dia tak akan melihat desa itu dengan cara yang sama

lagi. Ketika pem-berontakan sudah dipadamkan, dia akan kembali dengan

pasukan dan secara pribadi memimpin penumpasan Kageshima. Sebagian

besar kebahagiaan pada masa mudanya akan mati bersama desa itu. Saiki

tak berusaha menghentikan air matanya yang mengalir turun.

Saat itu, dendam para paus akan benar-benar terbalas.

Tak lama setelah berpisah dengan Lord Genji, Heiko minta diri untuk

berganti pakaian. Dia tidak bertanya kepada Stark tentang pistol yang

disandangnya atau bagaimana Stark dapat mengalahkan lima samurai

berpengalaman dengan senjata yang belum pemah dia lihat dan gunakan

hingga hari ini. Stark kini tak tahu apakah dia mengenali dirinya sendiri.

Genji tahu kalau dia akan menang. Genji pernah melihat Stark

menembakkan pistol satu kali, dan dari situ Genji tahu Stark dapat

menghunus pedang dengan cepat. Atau, kalaupun Genji tak tahu, dia mau

bertaruh untuk itu.

Kuda yang ditunggangi Stark mendepak tanah yang tertutup salju dan

menarik kekang. Stark menepuk-nepuk leher kudanya dan bergumam menenangkan

sehingga kudanya kembali tenang.

Ketika Heiko kembali, dia terlihat sama sekali berbeda. Kimono

warna-warninya telah hilang, juga tatanan rambutnya yang rumit. Dia

mengenakan jaket sederhana dan celana longgar seperti yang biasa

dikenakan seorang samurai, juga sepatu berkuda dan topi bundar lebar di

atas rambutnya yang dikepang longgar. Sebuah pedang pendek tergantung

di ikat pinggangnya. Heiko tidak bertanya kepada Stark tentang pistol yang

dia sandang maupun iaido, Stark juga tidak bertanya tentang baju dan

pedang Heiko.

“Jalan yang kita lalui jarang dilewati orang,” kata Heiko.

“Kemungkinan kita bertemu bandit sangat kecil karena mereka lebih

memilih jalan yang ramai. Bahaya justru datang dari Sohaku. Dia tahu

daerah pegunungan ini juga. Dia mungkin saja telah mengirim orang untuk

mencegat kita.”

“Aku siap.”

PDF by Kang Zusi

Heiko tersenyum, “Aku tahu kamu siap, Matthew. Jadi, aku sangat

yakin kita akan mencapai tujuan dengan selamat.”

Mereka berjalan selama dua hari tanpa menemui hambatan. Pada hari

ketiga, Heiko menghentikan kudanya dan meletakkan tangan di depan

bibirnya tanda menyuruh diam. Dia turun, memberikan kekang kudanya

kepada Stark, dan menghilang ke pepohonan di depan mereka. Sejam

kemudian baru dia kembali. Tetap memberi tanda untuk diam, dia

mengisyaratkan kepada Stark untuk meninggalkan kuda dan mengikutinya.

Dari puncak bukit, mereka berdua melihat tiga puluh samurai

bersenjatakan senapan berkerumun di kelokan jalan, yang diberi halangan

barikade batang kayu setinggi satu setengah meter. Ketika Heiko yakin

Stark sudah melihat semua yang perlu dilihat, dia mengajaknya kembali ke

kuda mereka.

“Sohaku,” kata Heiko.

“Aku tidak melihatnya.”

“Dia ingin kita berpikir, dia telah membawa sisa pasukannya ke tempat

lain.”

“Memangnya, dia tidak melakukan itu?”

“Dia menempatkan sisa pasukannya tak jauh dari sini. Jika kamu ingin

melewati halangan itu tanpa harus bertempur, apa yang akan kamu

lakukan?”

“Aku tadi melihat jalan setapak di lereng bukit. Jalan setapak itu jauh

dari barikade. Aku akan lewat jalan itu di malam hari.” Stark berpikir

sejenak. “Kita harus meninggalkan kuda kita. Karena jalan itu sangat

kecil.”

“Justru itu yang diinginkan Sohaku,” kata Heiko “Dia menyuruh anak

buahnya bersembunyi di pepohonan sepanjang jalan setapak itu. Bahkan,

jika bisa melewati mereka, kita tak punya kuda. Sohaku akan dapat

mengejar kita sebelum kita sampai di tempat aman.”

Stark mengingat hal-hal yang telah dia amati di jalan setapak itu.

Seingatnya, dia tidak melihat ada tanda-tanda orang bersembunyi, tetapi

tentu saja dia tidak mungkin melihatnya, jika mereka memang pintar bersembunyi.

“Apa yang akan kita lakukan?”

PDF by Kang Zusi

“Aku telah melihatmu menunggang kuda. Kamu seorang penunggang

yang baik.”

“Terima kasih. Kamu juga.”

Heiko menerima pujiannya dengan sebuah bungkukan. Dia menunjuk

pada pistol yang disandang Stark. “Sebagus apa kemampuanmu dengan

senjata itu?”

“Bagus.” Ini bukan waktunya berbasa-basi merendahkan diri. Dia tidak

akan menanyakan hal itu jika Heiko memang tak ingin tahu.

“Apa kamu juga jitu menembak dengan berkuda?”

“Tidak seakurat saat aku berdiri diam.” Stark tidak bisa menahan diri

untuk tidak tersenyum. Wanita mungil dan halus ini berencana menyerbu

barikade.

“Jangan tidur,” kata komandan barikade. “Jika mereka berusaha lewat sini,

mereka pasti mencobanya di malam hari.”

“Tak seorang pun akan lewat sini,” kata salah satu samurai. “Mereka

akan melihat barikade dan mengambil jalan yang lain, seperti kata

Sohaku.”

“Jika mereka melihatmu tidur, mereka mungkin akan berubah pikiran.

Jadi, berdirilah dan konsentrasi.” Komandan itu memelototi samurai selanjutnya.

“Kamu dengar aku tidak? Bangun!” Dia menampar kepala samurai

itu. Samurai itu terguling tak bernyawa. Sang komandan melihat

tangannya, yang basah oleh darah.

“Eeeeee!” Samurai lain yang berada di depan barikade jatuh,

memegangi senjata bintang ninja yang menancap di tenggorokannya.

“Kita diserang!” teriak sang komandan. Dia melihat ke segala arah.

Mereka diserang, tetapi dari mana dan oleh siapa?

Sesuatu berguling dari atas bukit. Sang komandan mengangkat

senapannya dan menembak. Tubuh itu jatuh di bawah kakinya. Tubuh

salah satu anak buahnya lagi, dengan tenggorokan terpotong dari telinga ke

telinga.

“Ninja!” seseorang berteriak.

Bodoh! Itu hanya akan membuat panik. Ketika semua ini sudah selesai,

dia akan menghukum siapa pun yang berteriak itu. Tetapi, sang komandan

PDF by Kang Zusi

tidak segera mengenali suara itu. Siapa di antara anak buahnya yang

suaranya terdengar seperti wanita?

Dia berpaling untuk memberikan perintah dan melihat seorang

bertubuh kecil berdiri di depannya, wajahnya bercadar. Hanya matanya

yang terlihat, Mata yang sangat indah. Komandan itu merasakan dadanya

membasah. Dia membuka mulut untuk berbicara, tetapi suaranya tak

keluar. Saat jatuh ke tanah, dia mendengar suara tembakan. Tembakan itu

tidak terdengar seperti tembakan senapan. Kepalanya yang kini menempel

ke tanah mendengar suara kaki kuda yang berlari kencang. Sesaat kemudian,

dua kuda melompati barikade di depannya. Penunggang kuda pertama

menembakkan peluru dari sebuah pistol besar. Tidak ada orang lain di

pelana kuda kedua. Bagus. Setidaknya, mereka berhasil menjatuhkan salah

satu dari mereka.

Sebelum dia dapat mengira siapa yang berhasil mereka jatuhkan, darah

berhenti mengalir ke otaknya.

Stark menunggu di dekat sungai, sesuai dengan petunjuk Heiko. Ketika

Stark menunggangi kudanya melompati barikade dengan menarik kuda

Heiko, dia mengira akan disambut dengan tembakan senapan bertubi-tubi.

Anak buah Sohaku memang menembak, tetapi bukan ke arahnya. Ketika

melewati barikade, dia melihat beberapa tubuh sudah terbaring tewas. Dan,

dia tidak menembak mereka.

Heiko diam-diam keluar dari pepohonan. Bagaimana caranya gadis itu

sampai di sini begitu cepat?

“Kamu baik-baik saja?” tanyanya.

“Ya, baik. Kamu?”

“Sebuah peluru menyerempet lenganku.” Heiko berlutut di pinggir

sungai, membasuh lukanya, dan dengan cekatan mengikatkan perban

menutupi luka itu. “Ini tidak serius kok.”

Kuda Heiko meringkik. Dari ringkikannya terdengar suara tersedak

yang terdengar aneh. Kuda itu meringkik lagi, lebih lemah, dan terguling.

Stark dan Heiko berlutut di sebelah kuda yang terguling itu. Kuda itu

masih bernapas. Namun, napas itu tak akan tahan lebih lama lagi. Sebuah

PDF by Kang Zusi

peluru merobek tenggorokannya. Salju di bawah leher kuda itu berwarna

gelap oleh darah.

“Kuda hadiahmu dari turnamen cukup kuat,” kata Heiko. “Dia bisa kita

naiki berdua hingga kita menemukan kuda yang lain.”

Gadis itu naik di belakang Stark. Dia sangat ringan, Stark bahkan

mengira kudanya tidak akan menyadari adanya tambahan beban.

Siapa yang membunuh para samurai di barikde tadi, Heiko atau dia?

Stark bertanya-tanya apakah semua geisha memang punya bakat

ganda.

Sohaku berlari kembali ke tempat barikade dengan pasukan utamanya

begitu dia mendengar tembakan pertama. Sesampai di sana, dia

menemukan delapan belas dari tiga puluh anak buahnya mati atau terluka

parah.

“Kami diserang ninja,” kata salah seorang samurai yang bertahan

hidup. “Mereka menyerang kami dari segala arah.”

“Berapa orang yang ada di sana?”

“Kami tak pernah melihat mereka dengan jelas. Ninja memang selalu

seperti itu.”

“Apakah Lord Genji bersama mereka?”

“Saya tidak melihatnya. Tetapi, mungkin dia berada di antara para

penunggang kuda yang melompati barikade. Mereka lewat dengan cepat,

sembari menembakkan pistol mereka kepada kami.”

“Pistol?” Hide dan Shigeru masing-masing membawa sebuah senapan

ketika mereka keluar Edo bersama Genji. Adanya suara tembakan

mungkin berarti bahwa Genji bersama mereka. Jika mereka berpencar

menjadi dua atau tiga grup, seperti yang dianjurkan Sohaku jika dia

bersama mereka, senjata api pasti bersama Genji. “Apa kalian menghitung

ada berapa senjata?”

“Ya, Rahib Kepala. Setidaknya, ada lima orang. mungkin sampai

sepuluh orang.”

Sohaku mengerutkan dahi. Lima atau sepuluh senjata api. Ditambah

ninja yang belum jelas jumlanya. Itu berarti Genji telah mendapat bantuan.

PDF by Kang Zusi

Dari siapa? Dan dari mana? Apakah mungkin para sekutu Genji mau

menanggung risiko menolongnya?

“Kirim seorang pembawa pesan ke Kudo. Katakan kepadanya untuk

bergabung dengan kita.”

“Ya, Rahib Kepala. Apakah harus sekarang?”

Keraguan yang terdengar dari pertanyaan itu Membuat Sohaku naik

darah. Apakah anak buahnya sudah sangat lemah sehingga satu serangan

saja telah melemahkan semangat mereka?

“Jika tidak sekarang, kapan?”

“Ampuni saya karena mengajukan usul tanpa diminta, Tuan, tetapi

bukankah lebih bijaksana jika kita menunggu sampai pagi?”

Sohaku memandang ke jalan. Sinar buram bulan baru cukup untuk

membuat orang membayangkan adanya bayangan dalam bayangan.

Bayangan seperti itu menciptakan keraguan yang pasti akan dimanfaatkan

ninja. Beberapa orang ninja memang pergi bersma Genji. Tetapi, bukan

tidak mungkin ada beberapa orang ninja tinggal dan bersembunyi untuk

mencegah pembawa pesan yang pasti akan dikirim Sohaku?

Kemarahan Sohaku memudar. “Kalau begitu besok pagi saja.”

“Ya, Rahib Kepala.”

Tetapi, ketika fajar tiba, seorang pembawa pesan tiba sebelum Sohaku

mengirim pembawa pesannya

Kawakami menunggu Genji turun dari pegunungan ke arah Laut Dalam.

Iseng dia bertanya-tanya apakah Kudo berhasil menembak Shigeru. Tetapi,

itu tak penting. Kalau Shigeru sekarang masih hidup, nyawanya tak akan

bertahan lama. Di antara dua ribu pasukan yang dibawa Kawakami ada

sebuah batalyon yang terdiri dari lima ratus penembak. Tidak ada pedang

yang mampu melawan lima ratus senjata. Tidak juga Shigeru.

Nasib Genji akan lebih buruk lagi. Apa pun keistimewaan yang dia

miliki sebagai seorang Bangsawan Agung telah hilang sejak dia

meninggalkan Edo tanpa izin Shogun. Pelanggaran terang-terangan

terhadap Undang-Undang Kediaman Alternatif seperti itu secara otomatis

menimbulkan asumsi bahwa Genji akan memberontak. Dan, Shogun tidak

gampang memaafkan pengkhianat. Penahanan, pengadilan, dan hukuman

PDF by Kang Zusi

pasti menunggu. Banyak pertanyaan yang diajukan. Banyak rahasia yang

akan terbuka. Setiap orang akan melihat siapa yang tahu dan siapa yang

tidak tahu. Sebelum Genji diperintahkan untuk melakukan ritual bunuh

diri, dia akan dihinakan dan dipermalukan, dihancurkan dalam perangkap

yang telah dipersiapkan Kawakami selama dua puluh tahun. Saat itu,

Kawakami belum tahu bahwa Genji kni menjadi korbannya. Kakeknya,

Kiyori, yang menjadi sebagai Bangsawan Agung Akaoka saat itu, dan

ayahya yang tak berguna, Yorimasa, seharusnya yang mewarisi gelar itu.

Yorimasa adalah sasaran yang dimaksudkan Kawakami ketika rencananya

yang brilan itu tercetus di otaknya seperti sebuah pertanda. Sungguh dalam

kesan itu tertanam di hati Kawakami sehingga dia menganggap Genji juga

dapat menjadi mangsanya menggantikan Yorimasa. Kawakami tidak bias

menahan kepuasan mendalam terhadap kebijakannya, lagi pula mengapa

dia harus menahannya?

“Tuan, seorang kurir dari Shogun hendak menghadap.”,

“Bawa dia masuk. Tunggu. Ada kabar tentang Mukai.”

“Tidak, Tuanku. Dia sepertinya telah meninggalWn Edo. Tak seorang

pun tahu dia pergi ke mana dan mengapa.” “

Ini adalah berita yang paling mengganggu Kawakami. Mukai bukanlah

orang penting. Tetapi, biasanya semua tindakannya gampang ditebak,

sangat tidak variatif dan itu-itu saja. Itulah satu-satunya ciri utama Mukai.

Tindakan yang sangat menyimpang dari karakternya, biasanya sangatlah

mengganggu Mukai, terutama pada masa krisis sekarang ini. Kawakami

akan menegurnya dengan keras ketika asistennya itu kembali nanti.

“Tuan Kawakami.” Kurir itu berlutut dan membungkuk sesuai dengan

tata cara seorang samurai di medan perang. “Lord Yoshinobu

menyampaikan salam.”

Yoshinobu adalah Kepala Dewan Shogun. Kawakami mengambil surat

dari kurir itu dan tergesa membukanya. Mungkin situasi di ibu kota sudah

kritis sehingga Dewan memutuskan untuk mengambil tindakan lebih

drastis terhadap Genji. Bisa saja surat ini berisi perintah untuk menghabisi

klan Okumichi dengan segera. Jika memang demikian, pasukan Shogun

akan segera menduduki benteng wilayah Akaoka yang terkenal, Kastel

Awan Burung Gereja. Dan karena pasukan Kawakami sudah setengah

PDF by Kang Zusi

jalan menuju ke sana, dia akan menjadi orang yang melaksanakan perintah

itu.

Tetapi, ternyata semua harapannya tak terkabul.

Kekecewaan Kawakami sangat besar hingga dadanya terasa sakit.

Dewan memutuskan mengizinkan kepergian para bangsawan dan

keluarganya keluar dari Edo sejak peristiwa pengeboman itu. Selain itu,

Undang-Undang Kediaman Alternatif dicabut secara temporer hingga

perintah lebih lanjut. Genji bukan lagi seorang pengkhianat. Dia adalah

seorang bangsawan setia yang mematuhi perintah Shogun.

“Apakah Shogun juga mundur dari Edo?”

“Tidak, Tuanku.” Kurir itu memberikan satu lagi surat kepada

Kawakami.

Dewan Shogun memerintahkan semua bangsawan sekutunya

mempersiapkan pasukan untuk ditempatkan di dataran Kanto dan Kansai,

jika nanti perlu tindakan untuk melawan invasi orang asing yang ditujukan

kepada Ibu Kota Kekaisaran Kyoto atau Ibu Kota Keshogunan Edo.

Shogun akan memimpin pasukan di Kanto dari Benteng Edo. Menurut

Yoshinobu, seratus ribu samurai akan segera siap untuk bertempur

melawan penjajah hingga titik darah terakhir.

Kawakami tergoda untuk tertawa terbahak-bahak. Seratus ribu samurai

dengan pedang, sejumlah kecil senapan kuno, dan meriam kuno yang

bahkan jumlahnya lebih sedikit, tak lama lagi akan menjadi seratus ribu

mayat di awal invasi orang asing.

“Satu skuadron kapal perang mengebom Edo dan menimbulkan

kerusakan besar,” kata Kawakami, “dan mereka sama sekali tak rugi apaapa.

Bagaimana jika para orang asing itu terus melakukan hal seperti itu?

“Mereka tidak bisa menjajah Jepang hanya dengan kapal perang,” kata

sang kurir. “Pada akhirnya, mereka harus mendarat ke pantai. Dan saat itu,

kami akan memenggal kepala mereka seperti para nenek moyang

memenggal kepala pasukan Mongol, Kubilai Khan.”

Kurir itu adalah salah satu dari banyak samurai yang terobsesi dengan

pedang dan terikat pada masa lampau. Orang asing punya mortir yang

dapat meluncurkan peledak seukuran manusia hingga delapan kilometer

jauhnya. Mereka punya meriam yang dapat ditarik kuda sehingga dapat

PDF by Kang Zusi

dipindah-pindahkan dengan mudah, menghancurkan ribuan orang di satu

tempat, lalu dapat dengan mudah dipindahkan untuk menghancurkan

ribuan orang di tempat lain, hanya dalam beberapa jam. Dan, orang asing

punya banyak meriam. Mereka punya senapan dan pistol lengkap dengan

peluru, bukan menggunakan bubuk mesiu. Dan yang paling penting, para

orang asing itu telah saling membunuh di antara mereka sendiri dengan

senjata-senjata mematikan itu selama dua setengah abad, sementara

samurai Jepang terbuai oleh kedamaian yang diciptakan oleh Tokugawa.

Kawakami berkata, “Kita akan menghadapi mesin mesin perang

mereka dengan pedang dan semangat bertempur, dan kita akan

menunjukkan kepada mereka terbuat dari apa kita ini.” Daging. Tulang.

Darah.

“Ya, Lord Kawakami,” kata kurir itu, dadanya mengembang bangga,

“kita akan tunjukkan.”

Hide menyiapkan jebakan dengan baik. Dia menemukan selusin tempat

yang ideal untuk membuat jebakan di perbukitan yang mengitari

percabangan jalan tempat mereka berpisah. Dia membawa senapannya dan

senapan Shigeru. Dia akan menembakkan kedua senapan itu dari satu

posisi, lalu berlari ke posisi selanjutnya dan menembakkan panah. Saat dia

mencapai tempat jebakan ketiga, dia akan mengisi kembali kedua senapan

dan menembakkannya lagi. Siasat ini mungkin tidak akan termakan oleh

Sohaku dan kudo, tetapi mereka mungkin juga tidak yakin, dan

ketidakyakinan ini akan memperlambat mereka.

Sejauh ini belum ada yang datang. Tiga malam lalu, Hide berpikir dia

mendengar suara tembakan dari atah angin bertiup. Nona Heiko dan

Starklah yang pergi ke arah itu. Hide punya perasaan mereka berdua

berhasil lari dari siapa pun yang menembaki mereka. Kepercayaannya

kepada Stark memang sangat meninggi setelah turnamen iaido. Nona

Heiko di tangan yang baik.

Hide tidak begitu yakin terhadap nasib Lord Genji. Kemampuan

junjungannya itu melihat masa depan, seharusnya bisa menyelamatkan

nyawanya. Tetapi, seperti yang dikatakan Genji sendiri, isyarat dan

ramalan tak selalu mudah dipahami. Tetapi, Hide merasa lebih tenang jika

saja Stark yang bersama Genji.

PDF by Kang Zusi

Dia berhenti berpikir tentang ramalan dan memfokuskan perhatiannya

pada hal-hal yang dapat dia lihat dan dengar. Seseorang datang dari arah

belakangnya. Apakah keahliannya sudah sangat menurun sehingga musuh

berhasil memutar tanpa setahunya? Hide mengangkat senapannya dan siap

menembak. Yang datang hanya satu orang. Dia menuntun, bukan menaiki

kudanya yang justru menarik sebuah tandu. Ada dua bungkusan di tandu

itu. Kelihatannya seperti mayat yang terbungkus selimut.

Hide menurunkan senapannya. Orang itu adalah Shigeru. Rasa takut

membekukan darah Hide lebih dari musim dingin.

Siapakah mayat yang ditandu itu?

11. Yuki to Chi

Kudo mulai khawatir ketika pengintai kedua tidak kembali. Ketika

orang ketiga juga tidak kembali, dia memerintahkan anak buahnya untuk

mundur. Meski begitu, dia tahu perintahnya ini adalah sebuah kesalahan.

Kepercayaan diri samurai yang mundur akan lebih menurun

dibandingkan samurai yang maju.

Salah seorang samurai yang dia tugaskan menjaga bagian belakang,

memacu kudanya menuju dirinya.

“Tuanku, yang lain hilang!”

“Apa maksudmu, hilang?”

“Sesaat lalu mereka ada, tapi sesaat kemudian mereka hilang.”

Samurai itu memandang ketakutan ke balik bahunya. “Seseorang

memburu kita.”

“Shigeru,” kata yang lain.

“Kembali ke tempatmu,” kata Kudo. “Kamu, kamu, dan kamu. Pergi

bersamanya. Orang tak mungkin hilang begitu saja. Cari mereka.”

Para samurai yang dia perintah hanya duduk di punggung kuda

mereka dan saling memandang. Tak seorang pun bergerak untuk

mematuhi perintahnya.

PDF by Kang Zusi

Kudo baru saja akan memarahi mereka ketika penunggang yang

berada di depan berteriak. Tangannya memegang separuh batang panah

yang menghunjam ke bola mata kanannya.

Shigeru sebenarnya lebih memilih membiarkan Kudo dan anak

buahnya meneruskan pengejaran mereka sedikit lebih lama. Kemudian,

dia akan membunuh setengah dari mereka saat mereka maju dan

setengahnya lagi saat mereka mundur. Sungguh menyenangkan

melakukan segala sesuatu secara teratur seperti itu. Sayangnya, karena

kondisi, dia harus membuang semua pertimbangan estetika macam itu.

Dia memandang ke bangunan beton besar yang berdiri tinggi di

antara pepohonan. Cerobong-cerobong asap raksasa mengeluarkan asap

berbau menusuk ke langit. Abu hitam jatuh seperti bayangan butiran

salju yang mati, membuat daratan menghitam. Manusia-manusia putus

asa tanpa semangat dengan seragam abu-abu longgar, dengan kepala

hampir gundul, menggerakkan kereta beroda keluar dari bangunan dan

menjajarkannya dengan rapi di luar. Tanah yang dia injak bergetar.

Apakah getaran itu disebabkan oleh tawa para setan?

Penampakan yang dia lihat masih dalam bentuk diam dan transparan

sehingga dia masih bisa bertahan. Tetapi, penampakan itu semakin lama

semakin terlihat jelas, mengerikan, lebih sering dan yang paling buruk

semakin terlihat meyakinkan. sejauh ini, dia masih bisa membedakan

antara penampakan masa depan dan kenyataan saat ini. Namun, hal itu

tak akan bertahan lama, dan dia baru saja terpisah dengan Genji dua hari.

Dengan kondisi penampakan yang dialaminya terus memburuk seperti

ini, dalam waktu dua hari lagi, dia akan kembali menjadi gila seperti saat

di Kuil Mushindo. Mengingat hal itu, kesabaran tak lagi dibutuhkan.

Ketergesaan justru menjadi kunci.

Tapal kudanya tak banyak membuat suara saat berjalan di padang

rumput bersalju. Kemarin, Shigeru pasti akan memercayai insting

kudanya dan langsung memacunya melewati penjara yang terbakar

beserta orang-orang putus asa yang ada di dalamnya. Hari ini, keinginan

untuk itu sudah hilang. Maka, dia lalu pergi memutar.

Anak buah Kudo tinggal enam belas orang. Mungkin mereka adalah

penembak terbaik yang dapat dikumpulkan Kudo. Tembakan mereka

PDF by Kang Zusi

mungkin tepat, jika mereka diam menunggu sasaran sebelum menembak.

Tetapi, disiplin mereka buruk dan keberanian mereka lemah. Hanya

empat orang yang terbunuh, tetapi enam belas yang tersisa sama saja

dengan kalah, lari karena takut kepada penyerang tunggal yang tak

terlihat. Shigeru senang karena tak satu pun dari mereka adalah samurai

yang pernah dia latih.

Shigeru melepaskan panah membidik tenggorokan penunggang kuda

terdepan. Dia tidak menunggu untuk melihat apakah sasarannya tepat

atau tidak. Sebuah teriakan tertahan dan suara tembakan yang mengikuti

menunjukkan bahwa dia tepat mengenai sasaran. Peluru mematahkan

dahan-dahan dan berdesing melewati dedaunan. Tak satu pun peluru itu

mendekati tempat Shigeru berada atau tempatnya sebelumnya.

Menyedihkan. Mungkin orang asing akan menjajah Jepang lebih cepat

dari yang dia kira. Itu pasti terjadi jika perlawanan seperti ini yang hanya

bisa diberikan para samurai.

Shigeru mengamati Kudo yang berjuang mengumpulkan anak

buahnya membentuk lingkaran pertahanan di depan pepohonan pinus

yang tinggi. Sementara para penembak pengkhianat itu menembaki

ruang kosong, Shigeru memacu kudanya ke depan.

Kudo benar-benar marah. Situasi ini benar-benar bodoh. Lima belas

orang bersenjatakan senapan ketakutan hanya karena seorang lawan. Tak

soal jika lawan itu adalah Shigeru. Jika saja mereka bersenjatakan

pedang, situasinya tentu akan sangat berbeda. Tetapi, mereka adalah

penembak modern melawan orang gila. Seharusnya, mereka dapat

menembaknya jatuh sebelum dia terlalu dekat dan dapat membunuh

dengan pedangnya. Memang, Shigeru juga seorang ahli panah. Lima

mayat membuktikan hal itu. Tetapi, jika saja anak buahnya

mempertahankan disiplin, mereka pasti tahu keberadaan Shigeru dengan

mengamati arah datang panah yang meluncur ke mereka.

Kudo mempertahankan posisinya selama hampir satu jam meskipun

tak ada ancaman langsung. Dia tahu Shigeru telah pergi dari tadi,

mungkin untuk menyiapkan sebuah serangan lagi. Kudo bertahan karena

memberikan waktu bagi anak buahnya untuk menenanglcan diri. Bahaya

PDF by Kang Zusi

terbesar adalah mereka akan terus mundur meskipun unggul dalam

jumlah dan senjata, hanya karena kepanikan tak beralasan.

“Apa sebaiknya kita menyerah saja?” tanya Kudo ringan. “Kurasa

kita harus menyerah. Lagi pula, kita hanya unggul jumlah lima belas

lawan satu, kita hanya punya senapan melawan panahnya, dan kita

dikepung. Atau, setidaknya aku pikir kita dikepung. Bagaimana mungkin

satu orang bisa mengepung lima belas samurai? Tolong jelaskan misteri

ini padaku.”

Anak buahnya saling memandang malu.

“Ampuni kami, Lord Kudo. Kami membiarkan diri kami terpengaruh

oleh reputasi Shigeru. Tentu saja Anda benar. Tidak ada alasan bagi

kami untuk ber-kerumun seperti sekelompok anak kecil yang ketakutan.”

“Kurasa kalian sudah siap kembali untuk menjadi samurai?”

“Tuanku.” Semua anak buahnya membungkuk.

Kudo membagi pasukannya menjadi tiga grup yang masing-masing

terdiri dari lima orang. Mereka akan bergerak bersama, terpisah, tetapi

tetap dapat saling mengawasi. Namun, jarak mereka juga cukup jauh

sehingga Shigeru hanya bisa membidik satu grup dalam satu waktu, yang

pada akhirnya akan membuka posisinya dan memberikan kesempatan

pada lima belas senapan, untuk menembaknya.

Kudo berkata, “Kalaupun kita gagal mengenainya pada tembakan

pertama, kita sudah mengetahui lokasinya. Tiga kelompok yang kita

bentuk akan memburu dia seperti mangsa, menjebaknya, dan menembaknya.”

“Ya, Tuan.”

“Siapa pun yang berhasil menembak mati Shigeru akan mendapat

kehormatan memisahkan kepala dan badannya serta

mempersembahkannya kepada Rahib Kepala Sohaku.”

“Terima kasih, Tuan.”

Kudo memimpin kelompok yang paling mudah terlihat, kelompok

yang menuruni lereng bukit inenuju ke kiri. Dia berharap Shigeru akan

menyerang kelompoknya terlebih dahulu. Dia sangat berharap dapat

menjadi orang yang bisa menembakkan peluru di antara kedua mata

orang gila itu. Karena Shigeru selalu melakukan yang tak terduga, dia

PDF by Kang Zusi

lebih mungkin menyerang kelompok yang di tengah sehingga posisinya

akan terbuka lebar untuk tembakan dari ketiga arah. Dengan begitu, bisa

dipastikan Shigeru akan menyerang dari belakang. Mata Kudo

memandang lurus ke depan. Tetapi, semua perhatiannya terpusat ke

belakang punggungnya. Dia memusatkan perasaan, lebih kuat daripada

mengandalkan penglihatan. Shigeru bukan satu-satunya samurai sejati di

klan Okumichi.

Seekor kuda tanpa penunggang mendompak dan berlari dari

pepohonan di sebelah kanan.

Tak seorang pun menembak.

Apakah kuda itu terlepas dart talinya ataukah Shigeru dengan sengaja

melepaskannya untuk mengacaukan perhatian mereka? Itu tidak

masalah. Taktik tadi, kalaupun itu memang taktik, tidak berhasil. Tak

seorang pun menjadi panik. Dan sekarang, Shigeru tidak punya kuda.

Tanpa kudanya, kecepatan dan pergerakannya akan sangat berkurang.

Kepercayaan diri Kudo mulai naik.

Matahari musim dingin yang hampir tenggelam bergerak turun

menuju malam, dan tetap saja belum ada serangan. Shigeru menunggu

gelap untuk meminimalisasi keuntungan jumlah pasukan Kudo. Di

tempat terbuka dan terpisah dalam tiga kelompok, mereka dapat menjadi

mangsa empuk. Tetapi, itu hanya jika mereka meneruskan taktik mereka,

dan Kudo tidak bermaksud meneruskan taktik itu.

Dia mengamati daerah di sekitarnya. Dalam perang ada aksioma

bahwa siapa pun yang memilih tempat pertempuran sama saja dengan

memegang kunci kemenangan. Di sini lembah melebar. Di tengahtengah

dataran kecil tersebut ada sebuah bukit kecil, bagaikan sebuah

pulau yang ditumbuhi tujuh pohon pinus menjulang di tengah salju. Jika

mereka berkemah di sini malam ini, mereka akan diuntungkan karena

penglihatan yang terbuka ke segala arah. Bahkan, meski di bawah sinar

buram bulan baru, bayangan seseorang akan terlihat jelas di atas

putihnya salju. Serangan sembunyi-sembunyi, sebagai satu-satunya

kekuatan Shigeru, tak akan bisa diterapkan di sini. Sempurna.

PDF by Kang Zusi

Tetapi, kesempurnaan itu justru meningkatkan kecurigaan Kudo.

Semua hal yang telah dia lihat di sini pasti juga dilihat oleh Shigeru. Jadi,

kemungkinan besar Shigeru memasang perangkap di sini.

“Maju dengan hati-hati. Perhatikan dahan-dahan pohon dengan baik.

Dia mungkin saja akan menyerang kita dari atas.”

Mereka maju perlahan, senapan siap ditembakkan. Ketika mereka

sampai di dasar bukit, Kudo menugasi tujuh orang untuk maju dan

memeriksa setiap pohon pinus yang ada di situ.

“Tak seorang pun terlihat, Tuanku.”

Tetapi, ada yang salah. Semua insting prajuritnya membuat Kudo

merasa demikian. Kudo berjalan pelan memutari bukit. Tidak ada satu

pun tempat yang bisa digunakan untuk sembunyi, bahkan dengan

keahlian sembunyi seorang Shigeru. Tetapi, tetap saja dia merasa tidak

tenang.

“Tuanku?”

Mungkin, melihat betapa jelas kemungkinan dilakukannya serangan

juga per-tahanan di tempat ini, Shigeru telah pergi ke bawah lembah. Di

bawah ada ngarai sempit yang bisa menjadi tempat ideal bagi seorang

samurai yang harus melawan musuh yang lebih banyak jumlahnya.

Mungkin Shigeru menunggu mereka di sana. Mungkin.

Akhirnya, kehabisan alasan untuk menunda lebih lama lagi, Kudo

berkata, “Kita akan berkemah di sini. Setiap kelompok bergiliran jaga.”

“Ya, Tuan.”

Di dasar bukit, bau pinus bertambah kuat. Kudo berhenti.

“Stop!”

“Apa Anda melihatnya, Tuan?”

Kudo tidak melihatnya. Tetapi, dia telah membuat kesalahan dan

menyadarinya pada saat yang tepat. Dia waspada terhadap serangan dari

atas. Tetapi, dia tidak mewaspadai serangan dari bawah. Daun-daun

pinus yang seperti jarum berjatuhan ke bawah bagai hujan. Tiga lubang

kecil di tanah penuh oleh daundaun itu.

Kudo menghunus pedangnya. “Lindungi aku.”

PDF by Kang Zusi

Dia maju ke lubang terdekat dan menusuk-nusukkan pedangnya di

lapisan daun-daun pinus yang memenuhi lubang itu. Tak ada apa pun.

Lubang kedua dan ketiga pun sama saja.

Shigeru tidak ada di atas. Dia juga tidak ada di bawah. Tak ada

tempat lagi yang memungkinkannya untuk bersembunyi. Dia tidak

membuat jebakan di sini. Dia memang gila, tetapi dia juga brilian. Dan

sabar. Kemampuan menyerang secara siluman dan kesabaran adalah

kualitas yang tak dapat dipisahkan.

“Ikat kuda-kuda di sini. Kau. Panjat pohon pinus yang tinggi itu.

Amati sekitar.”

Shigeru pasti menunggu mereka di tempat lain. Mungkin mereka

aman untuk malam ini. Demikian pikiran Kudo.

Tetapi, Kudo tak dapat tidur. Dia kembali ke tiga lubang di tanah

yang dipenuhi daun pinus dan mengorek ketiga lubang itu dengan

pedangnya sekali lagi.

Penjaga di atas pohon berkata. “Tuanku, seekor kuda mendekat.

Tanpa penunggang.”

Itu adalah kuda perang Shigeru. Kuda itu mendekat, meringkik, dan

mundur kembali, seakan-akan ingin mendekat, tetapi takut.

“Kuda itu ingin bergabung dengan kuda-kuda kita.”

Keraguan kuda itu memang beralasan. Kuda perang dilatih untuk tidak

memercayai orang lain jika tuannya tidak ada.

Tetapi, keinginan kuda itu untuk tetap maju tak. bisa dimengerti. Apa

memang dia ingin bergabung dengan kuda-kuda lain? Apakah memang

itu yang menarik kuda itu mendekat ke kemah mereka?

Rasa tidak tenang yang sedari tadi dirasakan Kudo menajam. Pasti

ada tipu muslihat di sini. Dia bersandar di pohon pinus tertinggi itu untuk

mendapatkan pandangan yang lebih baik.

“Kamu yakin tak ada seorang pun bersama kuda itu?”

“Tak ada orang di pelana Tuanku, juga tak ada orang yang

bersembunyi di belakang kuda itu.”

“Di bawahnya mungkin?”

PDF by Kang Zusi

Penjaga berusaha mengintip lebih jelas ke arah kuda itu. “Saya rasa

tidak, Tuan. Perut kuda itu terlihat normal, tidak ada yang aneh.”

“Apa kamu mau mempertaruhkan nyawamu untuk itu?”

Sang penjaga langsung menjawab tanpa ragu-ragu. “Tidak, Tuanku.”

“Tembak kuda itu.”

“Ya, Tuanku.”

Tangan Kudo yang menempel di batang pinus penuh dengan getah

lengket. Getah yang lebih banyak dari biasanya merembes keluar dari

garis panjang di batang pinus yang retak. Pinus ini telah dilemahkan oleh

usia, penyakit, dan badai, dan kini harus mengalami luka seperti ini.

Ketika penjaga yang memanjatnya bergeser, batang pinus itu berderak

mengkhawatirkan. Suara itu menggugah rasa persaudaraan yang kuat

dalam diri Kudo. Pohon dan manusia pada dasarnya memang punya

banyak kesamaan.

“Kamu sebaiknya turun dan naik pohon yang lain,” kata Kudo. Efek

daya lontar tembakan senapan mungkin akan menjadi beban yang terlalu

berat untuk pohon yang terluka ini.

“Ya, Tuan.”

Kudo mengamati retakan di pinus itu dengan lebih saksama. Retakan

itu membentuk pola yang tak biasa, hampir seperti—pintu!

Kulit pinus itu tiba-tiba membuka.

Kudo mengenali wajah liar berlumuran getah itu tepat pada saat

tajamnya pedang menghunjam dadanya, membelah jantungnya dan

menembus tulang punggungnya. Napas kehidupan yang tinggal di jasadnya

tak memberi cukup waktu untuk merasakan kepuasan mengetahui

bahwa intuisinya selama ini memang benar.

Berlumuran darah sang pengkhianat, Shigeru mengayunkan kedua

pedangnya membantai orang dan setan-setan. Suara teriakan dan

tembakan terdengar samar di telinganya. Dia hampir tak mendengar apa

pun kecuali deruman sayap capung-capung metal yang beterbangan di

atas.

Mata para capung itu memancarkan cahaya yang membutakan. Sayap

mereka berputar di atas badan-badan mereka. Telur mereka, berbentuk

PDF by Kang Zusi

memanjang dan mengerikan seperti cacing baja, melewati Shigeru

dengan kecepatan tinggi, seakan-akan punya jalur sendiri. Lewat poripori

capung yang terbuka, bisa melihat mayat ribuan orang saling

bertumpukan.

Mata pedang tajam berkilauan menebas melengkung dan memutar.

Darah muncrat ke udara.

Mayat dan potongan tubuh berceceran di salju.

Terdengar orang-orang berteriak dan mati hingga hanya tinggal

seorang yang tetap berteriak.

Shigeru berteriak dan berteriak hingga paru-parunya kosong dan

kesadarannya memudar.

Hingga para capung baja itu pergi.

Ketika terbangun, Shigeru melihat jutaan orang berbaris. Manusia

menyebar seperti serangga sejauh dia bisa memandang. Pilar-pilar batu,

kaca, dan baja menjulang menembus awan. Di dalamnya, lebih banyak

orang saling berimpitan seperti lebah jantan berimpitan di sarang. Di

bawah tanah ada lebih banyak lagi sarang, terlihat kerumunan orang

bermata hampa masuk ke gerbangnya dan menghilang ke hawah tanah.

Shigeru melangkah ke belakang, tersandung dan atuh ke atas bangkai

seekor kuda. Mayat manusia dan bangkai kuda yang terbantai bertebaran

di bukit kecil itu. Kudanya sendiri berdiri tak jauh, mengawasinya penuh

curiga.

Ketika dia menengadah ke langit, penampakan itu telah hilang.

Untuk berapa lama?

Shigeru mencari di antara mayat-mayat. Kudo terbaring telentang di

dekat retakan batang pohon pinus. Dia mengangkat mayat Kudo dengan

menarik kuncir rambutnya lalu memenggal kepalanya. Ketika kembali ke

Kastel Awan Burung Gereja, dia akan menempatkan kepala itu di atas

sebuah tombak dan membiarkannya membusuk di luar gerbang istana.

“Kamu tak akan kesepian,” kata Shigeru kepada kepala Kudo. “Istri

dan anak-anakmu akan menemanimu di sana.”

Setelah dua jam membujuk kudanya, akhirnya Shigeru berhasil

menunggangi kudanya kembali. Dia lalu memacu kudanya ke utara

secepat dia bisa. Dia berdoa semoga dia tak terlambat.

PDF by Kang Zusi

Di sekelilingnya hanya ada api. Dia ada di Edo dan Edo terbakar. Di

langit bukan awan yang tampak, melainkan silinder-silinder baja

bersayap memenuhi langit. Silinder-silinder itu menjatuhkan kalengkaleng

yang pecah menjadi bara api, yang meledak menjadi nyala api

ketika mengenai kota.

Angin yang ditiupkan badai api menghisap udara dari paru-parunya.

Orang-orang yang setengah terbakar bersetubuh di reruntuhan hingga

mati.

Shigeru mengeratkan pegangan ke tali kekang dan mempercayakan

kudanya untuk terus mencari jalan maju.

Jika satu malam berlalu sebelum dia bisa bertemu keponakannya

kembali, Shigeru tahu semua akan terlambat.

Ketika mereka melihat seorang penunggang kuda mendekat dari

kejauhan, tujuh pria berpakaian lusuh itu segera sembunyi di semaksemak

terdekat. Mereka membawa senjata seadanya—tiga lembing,

empat tombak, sebuah pedang bermata dua yang sudah tua, dan dua

pistol tua tanpa pemicu, bubuk mesiu ataupun peluru. Meski sebenarnya

mereka masih terlalu muda untuk dibilang pria, ketakutan dan kelaparan

membuat wajah mereka kurus terlihat seperti wajah orang tua. Empat

belas pasang mata melesak ke dalam kelopaknya yang menghitam;

rahang dan gigi terlihat jelas dari kulit yang tak berdaging. Ciri-ciri

tulang tengkorak mereka terlihat jelas menempel di kulit wajah mereka.

“Jika kita membunuhnya, kita bisa makan kudanya,” kata salah

seorang dari mereka penuh harap.

Pria di sampingnya mendengus. “Seperti kita memakan dua kuda

terdahulu?”

“Aku kan tak tahu mereka punya pistol.”

“Dan pistol yang hebat pula,” kata yang lain. “Bisa menembakkan

banyak peluru tanpa harus diisi dulu.”

“Aku yakin Ichiro dan Sanshiro juga terkesan sepertimu, tak peduli

apakah mereka kini ada di Tanah Murni atau neraka.”

PDF by Kang Zusi

Isakan tertahan keluar dari mulut pria pertama. “Kami berasal dari

desa yang sama. Kami tumbuh bersama. Bagaimana aku bisa

menghadapi orangtua mereka nanti? Atau orangtua Shinichi?”

“Shinichi sudah lama mati. Kenapa kamu masih memikirkan dia?”

“Seharusnya, anak itu ikut melompat ke dalam hutan dengan kita.

Bodohnya dia malah lari ke jalan.”

“Tangannya putus dipotong.”

“Tengkoraknya terbelah dua.”

Meskipun peristiwa itu terjadi beberapa minggu lalu, kejadian itu

masih segar di ingatan masing-masing orang. Peristiwa itu merupakan

rangkaian kesialan yang menimpa mereka akhir-akhir ini. Diambil secara

paksa dari desa masing-masing, mereka dibariskan untuk bergabung

dengan pasukan Lord Gaiho di Laut Dalam, ketika mereka bertemu

beberapa samurai dari wilayah lain. Meskipun jumlahnya lebih sedikit,

para samurai itu sangat ganas. Dalam pertempuran yang singkat, sepuluh

orang dari mereka terbunuh dan pasukan tercerai-berai. Semua perwira

dan pemimpin mereka terbunuh sehingga mereka tak tahu apa yang

harus dilakukan. Jadi, mereka melarikan diri. Mereka bertahan dengan

makan rumput seperti rusa dan kelinci. Mereka adalah petani, bukan

pemburu. Semua usaha mereka untuk menangkap binatang buruan selalu

gagal dengan menyedihkan. Dan dua hari lalu, putus asa karena kelaparan,

mereka menyerang seorang samurai—yang terlihat lemah

lembut dan teman seperjalanannya yang merupakan seorang asing.

Mereka ingin memakan kuda kedua orang itu, tetapi dalam peristiwa itu,

kedua teman mereka, Ichiro dan Sanshiro, tertembak mati.

Pria pertama meraba-raba tasbih kayu yang melingkar di lehernya.

“Aku rasa, aku sebaiknya mengembalikan ini kepada ibu Shinichi dan

mohon maaf karena aku tetap hidup sementara anaknya mati.”

“Bukan ibunya yang ingin kamu lihat. Tapi adiknya. Dia memang

sangat cantik.”

“Tak seorang pun dari kita yang akan melihat ibu atau adik siapa

pun, termasuk ibu dan adik kita sendiri. Kita desertir, bodoh. Mereka

akan dipenggal karena kejahatan yang kita lakukan, bersama semua

PDF by Kang Zusi

anggota keluarga kita yang lain, atau dijual sebagai budak. Bahkan, itu

mungkin sudah terjadi sekarang.”

“Terima kasih, itu benar-benar menenangkanku.”

“Mungkin samurai yang ini tak punya pistol.”

“Dia seorang samurai dengan dua pedang. Itu cukup berbahaya.”

“Mungkin tidak. Lihat, dia terluka.”

Baju samurai itu gelap oleh noda-noda darah. Darah kering

menempel di wajah dan rambutnya. Saat mereka mengamatinya, tibatiba

samurai itu menarik tali kekang dan kudanya berhenti tiba-tiba.

“Tidak, tidak,” kata samurai itu. “Jangan ke sana. Mereka terlalu

banyak.”

“Apa yang dia lihat?”

“Sesuatu yang tak ada. Dia kehilangan banyak darah. Aku rasa dia

sekarat.”

“Berarti kesialan kita selama ini akan berakhir. Ayo kita serbu dia.”

“Tunggu, dia menuju ke sini. Kita dapat mengejutkannya.”

“Di belakang menara-menara itu,” kata samurai itu. “Kita akan

mengendap-endap melewati mereka.”

Dia membelokkan kudanya dari jalan. Sambil beberapa kali

menengok ketakutan di belakang bahunya, dia memacu kudanya ke arah

lereng berbatu tempat ketujuh orang itu bersembunyi menunggu.

“Aku sudah bisa merasakan enaknya daging,” kata salah seorang

sambil menelan ludah.

“Diam. Siap. Semuanya. Sekarang!”

Sebuah ikat pinggang yang dipasang melintang di pangkuannya

mengikatnya di kursi. Sebuah kekuatan misterius menekannya ke

belakang. Shigeru mendengar sebuah suara derum yang samar, tetapi

terus-menerus, seperti suara badai, hanya saja suara itu tidak hidup.

Dinding ruangan tempat dia berada melengkung menjadi sebuah atap

rendah yang sedikit lebih tinggi dari kepala manusia. Ruangan itu sempit

dan sangat panjang. Kursi seperti yang dia duduki ada di samping, di

depan, dan di belakang-nya. Di setiap kursi terikat seorang tawanan

seperti dirinya. Di sisi kirinya, ada sebuah jendela kecil bundar. Dia tak

PDF by Kang Zusi

ingin melongok keluar jendela itu, tetapi ada keinginan kuat yang

memaksa kepalanya menengok.

Dia melihat sebuah kota besar tenggelam dalam api. Kota itu dengan

cepat jatuh. Kelihatannya, kota itu jatuh ke dalam lubang neraka atau

ruang yang dia naiki terbang ke udara. Semua itu mustahil.

Dia belum lagi menjadi budak. Tetapi, itu tak akan lama lagi.

Pikirannya seakan-akan pecah dipengaruhi oleh setan-setan.

Shigeru melihat dunia di balik kabut merah seperti darah. Dengan

pedang di setiap tangan, dia tak lagi berpikir untuk memegang tali

kekang. Biarkan kuda itu pergi ke mana maunya. Dia akan membunuh

setan-setan itu selama dia bisa, baru dia rela mati.

Dia tak lagi tahu di mana dia berada. Batu dan baja ada di manamana.

Di sana-sini ada sedikit pohon, beberapa gerumbul semak, tumbuh

seperti rumput liar. Di kejauhan, gas-gas berbau busuk menguap ke

udara dari cerobong-cerobong asap raksasa. Manusia-manusia putus asa

memenuhi jalan-jalan kota yang tak berujung, budak-budak dari majikan

yang tak terlihat. Sistem jalan dari batu halus yang ekstensif dan rumit

menjalar ke berbagai arah. Tetapi, kemulusan jalan itu tak membuat

perjalanan lebih mudah. Kereta-kereta besi memenuhi setiap badan jalan.

Mereka bergerak dengan sangat lamban, sementara pipa di belakang

setiap kereta besi mengeluarkan asap beracun. Pastilah orang di

dalamnya mati perlahan-lahan. Sinar matahari hampir tak mampu

menembus kabut asap. Bahkan, bau setumpuk mayat pun tak bisa

menandingi bau busuk yang menggantung di sini.

Tetapi, sepertinya tak seoraig pun memerhatikan bau yang mencekik

itu. Orang-orang duduk di dalam kereta dan berjalan, menghisap racun

dalam setiap tarikan napas. Mereka berjajar rapi di peron-peron, saling

menempel dan berdesakan di barisan yang rapi, menunggu giliran

disantap oleh cacing metal.

Shigeru berhenti. Dia berdindi salju dengan kedalaman mencapai

pinggangr ieekor binatang mendengus di belakangnya. Dia berbalik

dengan cepat, pedangnya siap menyerang, mengira akan terjadi serangan

setan lagi. Tetapi, dia hanya melihat kudanya tak jauh di belakangnya,

PDF by Kang Zusi

mengikuti jalan di salju yang telah dibuka Shigeru. Shigeru memandang

berkeliling. Dia ada di tengah-tengah sebuah lereng bukit. Dia melihat

salju turun, pohon, hanya itu. Apakah penampakan mengerikan itu telah

hilang? Kelihatannya hal itu terlalu berlebihan untuk diharapkan. Tetapi,

sepertinya penampakan itu memang telah hilang.

Tunggu.

Ada sesuatu bergantung di bahunya.

Sebuah kepala manusia. Tidak, tidak hanya satu. Delapan kepala

manusia.

“Ahhhh!”

Shigeru dengan panik mengayunkan pedangnya ke kepala-kepala

yang tumbuh dari tubuhnya itu. Kutukan setan rupanya telah mengubah

dirinya menjadi monster mengerikan. Satu-satunya jalan keluar adalah

kematian. Dia menjatuhkan katananya dan mengarahkan pedang pendek

wakizashi ke dadanya, tepat di jantung.

Kepala terakhir menggelinding ke tumpukan ranting pohon yang

jatuh dan hampir tertutup salju. Wajah mati itu menatap kosong

kepadanya. Itu adalah Kudo. Shigeru menurunkan pedangnya. Setelah

memenggal kepala Kudo, dia mengikatkan kepala itu ke pelananya. Dia

tidak ingat menyampirkan kepala itu ke bahunya. Shigeru mengamati

tubuhnya. Ada beberapa luka kecil akibat sabetan pedangnya sendiri.

Tidak ada yang lain. Ternyata, dia tidak mengalami semacam

metamorfosis. Dia mengambil salah satu kepala itu dengan memegang

rambutnya. Tidak ada kuncir di atas kepala. Bukan samurai. Seraut

wajah kurus yang tidak dia kenal. Bukan seseorang yang seingatnya telah

dibunuhnya. Keenam kepala yang lain juga tidak banyak menceritakan

apa-apa.

Shigeru menengadah ke langit. Langit tampak biru murni, seperti

langit murni musim dingin yang hanya ada di daerah terpencil tanpa

keberadaan manusia. Dia tidak melihat capung-capung raksasa. Tidak

ada setan berteriak menyayat. Penampak-an yang dia alami benar-benar

sudah hilang. Ini adalah pertama kalinya dia mengalami kesembuhan

spontan dari episode penampakan yang membuatnya lupa ingatan.

Mungkin Genji tidak ada hubungannya dengan kesembuhannya yang

PDF by Kang Zusi

terakhir kali dahulu. Mungkin mekanisme internal misterius di otaknya

secara periodik menyembuhkan dirinya dari siksaan itu, jika dia mampu

bertahan dari penampakan yang membuatnya gila itu. Penampakan kali

ini memang lebih singkat dibandingkan penampakan-penampakan yang

akhirnya mengantar-kannya ke kurungan di Kuil Mushindo. Mungkin

suatu saat nanti penampakan itu akan berhenti total.

Shigeru menuruni lereng ke arah kepala Kudo tadi menggelinding.

Ada yang aneh dari gundukan salju itu. Ranting-ranting pohon yang

ada di situ terlalu rapi. Seseorang telah menatanya.

Shigeru menaruh kepala Kudo di tanah. Dia menghunus pedangnya

dan mendekati gundukan salju yang mencurigakan itu. Bentuknya seperti

segitiga. Seorang penembak jitu mungkin mendirikan persembunyian

seperti itu. Tetapi, mengapa di sini? Shigeru mendekat dari arah yang

paling jauh dari kemungkinan sasaran tembak dan mengorek gundukan

salju itu dengan ujung pedangnya. Sebongkah salju jatuh ke dalam dan

muncul sebuah lubang.

Gundukan itu adalah sebuah lubang. Dan, ada dua tubuh di

dalamnya.”

12. Suzume – no – Kumo

Emily sudah mempersiapkan kebohongannya dengan rapi. Dia akan

mengatakan kepada Lord Genji bahwa dia dan Stark sekarang

bertunangan. Dia akan mengatakan, itu adalah tradisi para rohaniwan di

Amerika, yaitu yang lain harus menggantikan temannya yang telah

meninggal. Pernikahannya dengan Cromwell adalah karena keyakinan,

bukan cinta, dan begitu pula pernikahannya dengan Stark.

Meskipun cerita itu terlalu mengada-ada, Emily berharap perbedaan

budaya yang begifu besar antara dua negara cukup membuat

kebohongannya terdengar masuk akal. Banyak kebisaaan orang Jepang

yang tidak dia mengerti. Jadi, dia berpikir pasti orang Jepang juga tak

PDF by Kang Zusi

banyak mengerti tentang kebisaaan Amerika. Karena itu, kebohongannya

tidak akan menjadi masalah yang harus diselidik. Stark telah berjanji

akan mendukung ceritanya. Itu sangat membantu. Tetapi, akhirnya nanti

Emily harus mencari cerita baru lagi untuk tetap bisa tinggal di Jepang

karena Stark tidak punya maksud menikahinya, dan dia juga tak ingin

Stark melakukan itu. Jika saat itu datang, Emily tahu dia akan mengarang

cerita baru karena dia memang harus melakukannya. Dia tak akan

kembali di Amerika. Tak akan pernah.

Tetapi, betapa leganya, dia ternyata tak harus mengarang apa pun

agar tetap bisa tinggal di Jepang, karena memang dia tak pintar

berbohong. Ketika Lord Genji mengumumkan bahwa mereka akan meninggalkan

Edo menuju Akaoka, wilayahnya yang ada di Pulau Shikoku

di selatan, otomatis dia mengajak Emily dan Stark bersamanya.

Sekarang, dia bepergian sendiri bersama bangsawan muda dengan

tutur kata halus itu. Stark melewati jalan lain dengan Nona Heiko.

Pamannya, Shigeru, kembali ke jalan yang telah mereka lewati. Hide

ditinggal di persimpangan jalan tempat mereka berpencar. Meski tak ada

kata yang diucapkan, terlihat jelas bahwa para tuan rumah mereka

mengkhawatirkan kemungkinan pengejaran. Setelah pengeboman oleh

kapal asing, mungkinkah salah satu kerajaan penjajah—Inggris atau

Prancis, atau mungkin Rusia menginvasi Jepang dalam usaha untuk

memperluas wilayah kolonial mereka? Emily yakin Amerika Serikat tak

mungkin terlibat dalam perilaku tak bermoral seperti itu. Amerika,

dahulu juga sebuah koloni, membenci pendudukan terhadap orang-orang

yang merdeka. Amerika juga memilih Kebijakan Pintu Terbuka, yang

memungkinkan semua bangsa berhubungan dengan bebas sesuai pilihan

mereka, tidak mengakui klaim pendudukan dari kerajaan lain. Emily

ingat Cromwell mengajarkan hal itu. Saat itu dia masih memanggilnya

Tuan Cromwell, bukan Zephaniah. Semoga laki-laki itu beristirahat

dengan tenang.

Cuaca di lembah tak sedingin di lereng pegunungan. Dari tadi

mereka menuju arah barat daya. Emily bisa mengetahui itu dengan

mengamati pergerakan matahari melewati langit. Mereka berdua

mengikuti jalan setapak di samping sungai kecil yang alirannya lumayan

PDF by Kang Zusi

deras sehingga tak membeku. Kaki-kaki kuda mereka membuat suara

derak-derik lembut saat menapak di lapisan es tipis yang terbentuk di

atas salju.

Emily berkata, “Apa sebutan untuk salju?”

“Yuki.”

“Yuki. Kata yang indah.”

“Kau tak akan berpikir begitu jika kita ada di sini sedikit lebih lama

lagi,” kata Lord Genji. “Tak jauh dari sini, ada sebuah tempat pertapaan

kecil. Memang berantakan dan sederhana, tetapi lebih baik daripada

bermalam di hutan.”

“Aku tumbuh di pertanian. Aku sudah terbisaa dengan berantakan

dan sederhana.”

Genji tersenyum geli. “Ya, aku dapat membayangkannya. Apakah

kalian juga menanam padi?”

“Kami menanam apel.” Emily terdiam beberapa lama, mengingat

masa kecilnya yang sangat bahagia. Ayahnya yang tampan, ibunya yang

cantik, dan adik-adiknya yang manis. Dia tak akan membiarkan masa

lalu yang dia alami baru-baru ini merusak semua kehahagiaan yang

dahulu pemah dia rasakan. “Kebun apel dan sawah padi memang jauh

berbeda. Tetapi, bagiku karakteristik pertanian tetap sama di mana pun

tempatnya, apa pun yang ditanam. Kita sama-sama bergantung pada

musim dan perilaku cuaca atau vagaries of weather, begitu kami

menyebutnya dan memang itulah intinya.”

“Vagaries?”

“Vagaries artinya perubahan yang tak diduga. Itu kata jamaknya, kata

tunggalnya vagary.” Emily mengeja kata itu.

“Ah. Vagary. Terima kasih.” Genji akan mengingat kata itu. Sejauh

ini, sang Lord Muda itu mampu mengingat setiap kata baru yang muncul

dalam percakapan mereka. Emily benar-benar terkesan.

“Anda cepat belajar, Lord Genji. Pengucapan dan penguasaan

kosakata Anda mening-kat pesat hanya dalam tiga minggu.”

“Semua itu karena kamu, Emily. Kamu selama ini telah menjadi guru

yang sabar bagiku.”

PDF by Kang Zusi

“Murid yang baik dan cerdas pasti membuat gurunya terlihat cakap,”

kata Emily. “Dan jika memang pencapaian Anda karena guru, Matthew

juga patut mendapat pujian juga.”

“Untuk kemajuan bahasa Inggris Heiko, mungkin iya, tetapi untuk

kemajuanku maka semua hanya karena kamu. Menurutku, cara berbicara

Matthew lebih sulit dimengerti daripada dirimu. Apakah memang benar

kalau aku bilang aksen kalian sangat berbeda?”

“Anda memang benar.”

“Caramu mengucapkan kata-kata terpotong-potong mirip dengan

bahasa Jepang. Sementara Matthew bicara seperti ini, dengan melodi

yang aneh.”

Genji menirukan aksen Texas Matthew yang sengau dan diseret-seret

dengan sangat mirip sehingga Emily tertawa terbahak-bahak.

“Maafkan saya, Tuanku. Anda terdengar sangat mirip dengannya.”

“Tidak perlu minta maaf. Tetapi, tawamu yang lepas membuatku

khawatir.”

“Begitukah?”

“Ya. Di Jepang, pria dan wanita berbicara dengan cara yang berbeda

pada satu sama lain. Jika seorang pria berbicara seperti wanita, dia akan

menjadi sasaran olok-olok. Kuharap, aku tidak melakukan kesalahan itu

dalam bahasamu.”

“Oh tidak, Lord Genji. Anda benar-benar terdengar seperti seorang

pria saat berbicara dalam bahasa saya.” Pipi Emily memerah. Dia tidak

bermaksud berbicara seperti yang baru saja dia katakan tadi. “Perbedaan

cara berbicara antara saya dan Matthew hanyalah karena perbedaan

wilayah, bukan gender. Dia dari Texas, yang ada di sebelah selatan

negara kami. Saya berasal dari New York, yang ada di timur laut.

Perbedaan daerah asal kami berdua cukup jauh.”

“Sungguh lega aku mendengar penjelasanmu. Olok-olok merupakan

senjata yang sangat kuat di Jepang. Banyak yang mati dan dibunuh

karenanya.”

Mereka menganggap rendah hidup, Cromwell pernah berkata.

Mereka akan membunuh dan mati hanya karena alasan-alasan yang

sangat sepele dan aneh. Jika dua samurai yang berpapasan di jalan secara

PDF by Kang Zusi

kebetulan sarung kedua pedang mereka bersenggolan, pasti terjadi duel

mematikan. Harus ada yang mati.

Pasti itu hanya membesar-besarkan.

“Apa menurutmu aku orang yang suka membesar-besarkan?” Itu

pertanyaan Cromwell dulu.

“Tidak, Pak,” begitu jawaban Emily.

“Bukan Pak. Panggil aku, Zephaniah. Aku tunanganmu sekarang,

ingat.”

“Ya, Zephaniah.”

“Rasa kehormatan dan harga diri mereka benarbenar keterlaluan. Jika

seorang samurai disapa dengan sapaan yang dianggap belum cukup

sopan, dia akan menganggapnya sebagai penghinaan besar, sang

pembicara sedang berusaha mengolok-oloknya. Jika seorang samurai

disapa dengan kesopanan yang berlebihan, hasilnya tetap sama. Harga

diri dan kehormatan berlebihan menyebabkan kehancuran, dan jiwa yang

sombong akan membawa keruntuhan.”

“Amin,” sahut Emily.

“Dengan teladan dari diri sendiri, kita akan mengajarkan kepada

mereka pentingnya rendah hati dan membawa mereka bertobat menuju

keselamatan.”

“Ya, Zephaniah.”

Lord Genji berkata, “Jadi, kalau kelak bahasa Inggris digunakan

lebih luas di Jepang, aku dapat yakin kalau aku dapat berbicara dalam

bahasa itu dengan baik dan pantas?”

“Ya, tanpa keraguan.”

“Terima kasih, Emily.”

“Terima kasih kembali, Lord Genji. Bolehkah saya mengoreksi

kalimat Anda tadi?”

“Silakan.”

“Anda tadi berkata, ‘Kalau kelak bahasa Inggris digunakan di Jepang.

‘Kelak’ dalam kalimat itu mengesankan kepastian. Pilihan yang lebih

baik untuk kalimat Anda tadi adalah jika.”

“Aku memang bermaksud mengatakan sebuah kepastian,” kata Genji.

“Kakekku meramalkannya.”

PDF by Kang Zusi

“Benarkah? Maafkan saya karena mengatakan hal ini, Tuanku, tetapi

itu terdengar mustahil. Mengapa orang-orang Jepang belajar bahasa

kami?”

“Kakekku tidak mengatakan kenapa. Dia mungkin tidak meramalkan

sebabnya, tetapi hasilnya.”

Emily yakin Genji tidak menggunakan kata yang benar. “Meramal

berarti mengetahui sesuatu yang belum terjadi.”

“Ya.”

“Maksud Anda, Kakek Anda mengetahui peristiwa-peristiwa yang

belum terjadi?”

“Ya, memang begitu.”

Jawaban Genji menakutkan Emily. Genji menyatakan, Kakeknya

punya kekuatan yang hanya diberikan kepada mereka yang dipilih

Tuhan. Itu sama saja dengan menghujat Tuhan. Emily berusaha memperingatkan

Genji agar tidak melakukan dosa besar itu.

“Lord Genji, hanya Yesus Kristus dan para Rasul dari Kitab

Perjanjian Lama yang tahu peristiwa masa depan. Tugas kita adalah

memahami firman mereka. Tidak mungkin muncul ramalan baru.

Seorang Kristen tak boleh memercayai hal-hal seperti itu.”

“Ini bukan masalah percaya atau tidak percaya, Jika memang

sesederhana itu, aku akan memilih tidak percaya. Hidup akan lebih

mudah.”

“Kadang orang menebak-nebak, dan kebetulan yang terjadi membuat

tebakan tadi seperti sebuah, ramalan. Tetapi, itu hanya kelihatannya saja

seperti ramalan. Dengan anugerah Tuhan, hanya para Rasul yang bisa

meramalkan masa depan.”

“Aku tak menganggap hal itu sebagai anugerah.” Selama ini

kemampuan itu justru menjadi sebuah kutukan keluarga. Kami harus

menanggungnya karena kami tak punya pilihan lain. Itu saja.”

Emily tak mengatakan apa-apa lagi. Apa lagi yang dapat dia katakan?

Genji berkata seakan-akan dia sendiri juga punya kemampuan meramal.

Jika Genji bertahan dengan kepercayaan itu, dia tidak hanya menghujat

Tuhan, tetapi dia juga bisa gila karenanya. Delusi yang dialaminya akan

membuat Genji melihat pertanda dan isyarat yang sebenarnya tak ada

PDF by Kang Zusi

dan tindakannya akan dipengaruhi oleh bayangan yang hanya ada dalam

khayalannya. Emily harus sabar. Dan rajin. Delusi selama berabad-abad

tak mungkin runtuh hanya dalam waktu sehari, seminggu, atau sebulan.

Hangatnya sinar kebenaran memenuhi dadanya. Rupanya ada alasan

mengapa Kristus menempatkannya pada masa dan tempatnya sekarang

ini. Alasan itu menjadi jelas bagi Emily sekarang. Dia diam-diam

bersumpah kepada Kristus bahwa dia akan berupaya rnenyelamatkan

jiwa Lord Genji meskipun harus mengorbankan nyawanya sendiri.

Semoga Tuhan menunjukkan anugerahnya dan ampunannya yang tak

terbatas bagi mereka berdua.

Selama beberapa waktu, mereka berkuda dalam diam.

Tak berapa lama, bayangan pegunungan menutupi lembah, dan Lord

Genji berkata, “Kita tak akan mencapai pertapaan sebelum gelap kalau

kita melewati rute yang bisaa. Kita lewat sini saja. Tetapi, kita harus

turun dan menuntun kuda-kuda kita. Apakah kamu bisa, Emily? Dengan

begini, jaraknya akan lebih pendek.”

“Ya, saya bisa.”

Mereka menjauh dari sungai dan menaiki lereng bukit. Ketika hampir

sampai di atas bukit, mereka menemui padang rumput kecil.

Pemandangan di depannya memicu ingatan Emily. Padang rumput itu

terlihat sangat mirip dengan padang rumput di Apple Valley. Bahkan,

salju yang menutupinya pun terlihat sama. Apakah memang suatu

kebetulan kalau dia menemukan pemandangan yang mengingatkannya

pada masa lalu? Ataukah kerinduannya pada masa-masa bahagia itu

membuat padang rumput yang asing ini terasa mirip dengan bentuk dan

citra padang rumput yang tertanam di ingatannya?

“Benar-benar sempurna untuk membuat malaikat salju.” Emily tak

bermaksud berkata begitu, tetapi kalimat tadi keluar begitu saja dari

mulutnya.

“Apa itu malaikat salju?”

“Apakah Anda tak pernah membuatnya?”

“Belum pernah.”

“Bolehkah saya menunjukkannya kepada Anda? Hanya beberapa

menit saja kok.”

PDF by Kang Zusi

“Silakan.”

Emily duduk di salju sesopan yang dia bisa. Dia berbaring, lalu

meregangkan kaki dan tangannya sejauh jauh mungkin, tetapi tetap hatihati

sehingga roknya tidak naik lebih dari pergelangan kakinya.

Kemudian dengan cepat, Emily menggerak-gerakkan tangan dan kakinya

di atas salju. Dia terkikik, menyadari dia pasti terlihat sangat bodoh.

Ketika selesai, Emily lalu berdiri dengan hati-hati agar tak merusak

bentuk yang telah dia buat di salju.

“Apa Anda melihatnya?”

“Mungkin citra malaikat harus ada di pikiran dulu sebelum seseorang

bisa melihat bentuk malaikat salju itu.”

Emily tak bisa menyembunyikan rasa kecewanya. Padahal, bentuk

yang dibuat-nya benar-benar malaikat salju yang indah. “Mungkin.”

“Emily?”

“Ya?”

“Boleh aku bertanya berapa usiamu?”

“Bulan depan saya tujuh belas tahun.”

“Ah,” cetus Genji, seakan-akan jawaban itu menjelaskan sesuatu.

Dia mengatakan itu seperti gaya orang dewasa saat mengabaikan

seorang anak. Emily merasa tersinggung. “Memangnya berapa usia

Anda?” Bisaanya dia tak akan sekasar itu.

Tetapi, Lord Genji tak punya kesempatan menjawab.

Beberapa orang pria melompat dari balik pepohonan. Dengan

meneriakkan teriakan perang, mereka menuju ke arah Genji dan

menusuknya dengan lembing dan tombak. Genji berhasil melumpuhkan

penyerang pertama setelah menghunus pedangnya dengan terburu-buru,

tetapi dua pria di belakangnya berhasil menusukkan senjata mereka ke

punggung Genji. Para penyerbu itu melingkari Genji Emily terlalu kaget

sehingga tak bisa bergerak.

Teriakan kemenangan terdengar dari para penyerbu saat Genji

terjatuh. Darah mengalir di salju sekitar tubuhnya.

“Genji!” teriak Emily

Mendengar nama Genji, para penyerbu itu berhenti. Para penyerbu –

yang terdiri dari sembilan orang pria—menarik diri. Takut tergambar di

PDF by Kang Zusi

wajah mereka. Emily mendengar mereka menyebut-nyebut nama Genji.

Dia juga mendengar nama lain yang dia kenal.

“Oh, tidak. Dia keponakan Shigeru.”

“Ini buruk. Kita berhasil menyerang seorang samurai dan ternyata dia

adalah Lord Genji.”

“Kuda seorang bangsawan tetap saja seenak kuda orang lain.”

“Shigeru akan mengejar kita. Dan dia tak akan membunuh kita

dengan cepat. Kudengar, dia suka menyiksa korbannya sebelum

membunuhnya.”

“Kita perlu kuda mereka. Banyak daging di binatang itu yang dapat

kita makan. Aku tak mau kelaparan lagi.”

“Aku lebih memilih lapar daripada mati.”

“Aku setuju. Ayo kita minta maaf dan pergi saja.”

“Lihat.”

Genji terbaring di tempatnya tadi terjatuh. Sementara wanita asing

yang jelek itu berada di sampingnya, menggumam kepadanya dalam

bahasanya yang kasar dan tak indah. Salju di bawah tubuh Genji

memerah.

“Kita tidak bisa berhenti sekarang. Sudah terlambat.”

“Ayo kita manfaatkan wanitanya sebelum membunuhnya.”

“Apa maksudmu? Kita bukan penjahat.”

“Ya, kita adalah penjahat. Kepalang basah, mending mandi sekalian.

Mereka hanya bisa memenggal kepala kita sekali saja.”

“Apa kamu nggak penasaran ingin melihat seperti apa tubuhnya?

Kudengar tubuh mereka dipenuhi oleh rambut kasar seperti babi hutan.”

“Kudengar rambut tubuhnya justru seperti bulu mink, di bawah sana,

di daerah pribadinya.”

Para pria itu memandang ke arah Emily.

“Tunggu. Pastikan Lord Genji benar-benar mati dulu. Samurai adalah

makhluk aneh. Selama dia bisa bernapas, dia bisa membunuh, bahkan

jika dia harus bangun dari sekarat untuk melakukannya.”

“Dia sudah mati kok. Lihat kan? Wanita itu berbicara kepadanya dan

dia tidak menjawab.”

PDF by Kang Zusi

“Tetap saja jangan menyepelekan semua kemungkinan. mungkinan.

Potong teng-gorokannya.”

Emily tak tahu apa yang harus dia lakukan. Dia merasakan darah

Genji berubah dari hangat menjadi sedingin es hanya dalam beberapa

detik setelah merembes di baju Genji dan ke bajunya. Genji terluka di

dada dan punggungnya. Emily harus segera menghentikan

pendarahannya atau Genji akan mati. Karena masih tertutup pakaian,

Emily tidak bisa menentukan lokasi atau bentuk lukanya. Dia harus

membuka pakaian Genji dahulu. Tetapi, kalau dia membuka pakaian

Genji, pria itu bisa saja mati karena terkena dinginnya salju daripada

kehilangan darah. Benar-benar sebuah dilema. Tetapi, kalau Emily diam

saja, Genji juga akan mati.

Ketika Emily meneriakkan nama Genji, para bandit itu tiba-tiba

menghentikan serangan mereka dan mundur dalam jarak beberapa

langkah.

Mereka berdiri melingkar dan berdebat. Sekali waktu, mereka akan

menengok ke arah Genji. Nama Shigeru mereka sebut beberapa kali.

Satu kali, empat orang dari mereka bergerak seakan-akan hendak pergi,

tetapi pemimpin mereka menunjuk ke arah Genji dan mengatakan

beberapa patah kata. Kata-katanya pasti cukup meyakinkan, karena

akhirnya keempat temannya itu tinggal.

“Mungkin mereka menyesali perbuatannya,” kata Emily, “dan akan

membantu kita.”

Genji masih bernapas, tetapi tidak merespons perkataannya.

“Kita ada di tangan Kristus.”

Begitu debat mereka berhenti, para pria itu mendekat. Emily mengira

mereka akan menolong. Terhentinya serangan dan disebutnya nama

Shigeru membuatnya berharap demikian. Lalu, dia melihat pisau mereka.

Emily memeluk Genji erat-erat, melindungi tubuh Genji dengan

tubuhnya. Para bandit itu berteriak keras. Apakah teriakan itu ditujukan

kepada mereka satu sama lain atau kepada dirinya, Emily tak tahu ialah

satu bandit itu menarik kedua lengannya, sementara yang lain

melepaskan Genji dari pelukannya. Penyerangnya mendorong Emily ke

tanah dan mulai membuka roknya. Pemimpin bandit itu menyerukan

PDF by Kang Zusi

sesuatu kepada penyerangnya, tetapi dia hanya berpaling dan berteriak

lagi.

Lalu, Emily ingat pistol yang diberikan Matihew kepadanya.

Saat penyerangnya berpaling, dia mengambil revolver itu dari saku

mantelnya, mengokangnya seperti yang diajarkan Matthew, menekankan

revolver itu di bawah dagu penyerangnya, dan menarik pelatuk.

Darah, tulang, dan daging meledak ke udara dan mengenai para

bandit yang meme-gangi tubuh Genji.

Emily mengokang kembali pistolnya dan menekankan ujungnya ke

dada bandit kedua yang terdekat dengannya lalu menarik pelatuk lagi.

Saat bandit kedua itu mati dan terjatuh ke belakang, para bandit lain

sudah berlari lintang pukang menuruni bukit. Emily menembakkan

pistolnya dua kali lagi ke arah mereka, tetapi tak satu pun yang kena.

Apa yang harus dia lakukan sekarang?

Dia menghadapi seorang pria yang terluka parah di pelukannya,

sebuah pistol dengan dua peluru, dan dua kuda. Di sekitarnya ada bandit

yang mungkin saja kembali lagi untuk meneruskan niatan membunuh

mereka. Emily tak tahu dia ada di mana atanpun ke mana arah menuju

pertapaan yang menjadi tujuan mereka. Dia juga tak bisa menemukan

arah menuju percabangan jalan tempat Hide menunggu atau jalan

menuju Akaoka. Bahkan, jika dia bisa pun keadaan Genji tak

memungkinkan untuk melakukan perjalanan. Dan jika dia tak melakukan

apa-apa, mereka berdua akan mati membeku malam ini.

Emily menarik Genji ke bawah pepohonan. Namun, pohon yang ada

terlalu sedikit dan tak bisa memberikan perlindungan terhadap angin

ataupun salju yang mulai turun lagi. Mereka membutuhkan tempat

berlindung yang lebih baik.

Akhirnya, Emily menemukan cekungan tanah di lereng tak jauh dari

situ. Mengerah-kan seluruh tenaganya dan menyeret Genji ke cekungan

itu, dan dia tak punya tenaga lagi memindahkan Genji ke tempat lain.

Dia harus membangun tempat bernaung di sini.

Saat malam pertama keluar dari Edo, Hide dan Heiko menggunakan

ranting untuk membangun tempat bernaung. Kini, Emily tahu dia harus

melakukan hal yang sama.

PDF by Kang Zusi

Pada suatu Natal, Emily pernah mengeluh kedinginan dan ibunya

menceritan tentang orang Eskimo yang hidup di utara Benua Amerika, di

tanah saat dingin tak pernah berakhir. Rumah mereka terbuat dari es,

tetapi di dalamnya tetap hangat. Karena dinding es rumah mereka

menahan udara dingin di hutan dan menahan udara hangat di dalam

rumah akibat adanya manusia. Sembari menceritakan hal itu, ibunya

menggambar sebuah rumah bulat di atas dataran es, dengan anak-anak

eskimo yang bergembira membuat manusia salju di depannya. Apakah

cerita itu memang benar atau hanya dongeng? Emily kini akan

membuktikannya.

Dia mengatur ranting-ranting pohon dengan sudut seperti yang

dilakukan Hide beberapa malam lalu. Saat itu, Hide dengan mudah

memotong ranting yang dia perlukan dari pohon. Emily mencoba melakukan

hal yang sama, tetapi dia gagal. Dia rupanya tidak menguasai

seni menggunakan pedang yang dibutuhkan untuk memotong dahan.

Emily lalu mengambil ranting-ranting terbaik dari ranting yang sudah

terjatuh di tanah. Dia lalu menggelar syalnya di atas jajaran ranting itu

dan menutupinya dengan lapisan salju sebagai atap. Lalu, dia

membangun dinding salju di bawah atap yang telah dibuatnya. Memang,

jadinya tidak bulat seperti yang digambarkan ibunya, tetapi lebih terlihat

seperti gubuk yang lapuk, tetapi tetap merupakan tempat bernaung yang

lumayan.

Emily masuk dan menutup jalan masuk dengan lebih banyak salju

lagi, dan hanya meninggalkan lubang kecil untuk bernapas sehingga

mereka tak akan mati karena kehabisan udara. Meski tidak nyaman,

setidaknya tempat ini mampu melindungi mereka dari angin yang dingin.

Emily tak tahu apa pun tentang luka, dan luka Genji kelihatannya

sangat serius. Luka di dadanya menganga memperlihatkan tulang iganya.

Dua luka di punggungnya juga cukup dalam, dan darah menggelegak

keluar seiring setiap detak jantungnya. Emily melepas rok dalamnya,

merobek-robeknya dan menggunakan robekan itu untuk membalut luka

Genji sempat dia bisa. Ketika dia mengambil baju Genji untuk dikenakan

kembali, baju itu kaku oleh darah yang nrcmbeku. Dia ingat ada selimut

PDF by Kang Zusi

di perbekalan yang diikat-kan di kuda mereka. Emily lalu menyelimuti

Genji dengan mantelnya dan keluar untuk mencari kuda mereka.

Kuda mereka tak terlihat di luar. Emily melihat jejak di salju yang

mungkin saja merupakan jejak kuda mereka, tetapi dia tak yakin, karena

salju yang turun menyamarkan jejak itu. Sembari diam-diam

inengucapkan doa, Emily mengikuti jejak itu. Ya. Itu dia salah satu kuda

mereka. Dan, dia sangat lega karena kuda yang dia temukan adalah kuda

betina jinak yang tadi dia naiki, bukan kuda perang jantan milik Genji.

“Sini, Cinnamon.” Cinnamon adalah nama kudanya dahulu di Apple

Valley Kuda itu punya kulit kemerahan seperti Cinnamon. Emily mendecak-

decakkan lidahnya dan mengulurkan tangannya dengan telapak

tangan terbuka. Kuda bisaanya suka itu.

Tetapi, kuda itu mendengus dan menjauh. Apakah dia membaui

darah yang menempel di baju Emily?

“Jangan takut. Semua baik-baik saja kok.” Emily berbicara dengan

suara membujuk dan menenangkan, lalu pelan-pelan berjalan mendekati

kudanya yang terns mundur menjauh. Emily terus membujuk dan pelanpelan

jarak di antara mereka semakin menyempit. “Nah; itu anak baik,

Cinnamon. Anak baik.”

Tangan Emily hampir berhasil menjangkau tali kekang kudanya

ketika tiba-tiba terdengar geraman asing di belakangnya. Dia berusaha

mengambil pistol di saku mantelnya, tetapi mantel itu dia tinggalkan

bersama Genji. Emily berbalik, mengira akan berhadapan dengan seekor

serigala. Tetapi, geraman itu ternyata datang dan kuda jantan Genji, yang

merundukkan kepala dan mendepak-depakkan kaki depannya di salju.

Kuda betina Emily berlari menjauh.

Emily pelan-pelan melangkah mundur. Dia tidak mau melakukan

sesuatu yang mem-buat kuda jantan itu marah dan menyerangnya. Dia

bahkan tidak berusaha membujuknya karena ragu kuda jantan itu mau

merespons bujukannya. Emily baru menghindar sekitar sembilan meter

ketika tiba-tiba kuda jantan Genji melompat berlari. Tetapi, kuda jantan

itu tidak menuju arahnya, dia menuju ke arah kuda betina Emily yang

sudah berlari menuruni bukit.

PDF by Kang Zusi

Rasa lega Emily tak bertahan lama. Saat mengikuti kuda betinanya

tadi, dia tidak memerhatikan arah. Akibatnya, dia tak bisa menemukan

tempat bernaung yang telah dia bangun tadi. Meski melihat ke segala

arah, dia tetap tak melihatnya, bahkan dia juga tak melihat lereng

tempatnya berada tadi. Dia tersesat.

Salju turun semakin tebal, seakan-akan segumpalan awan salju turun

berbarengan menutupi tanah.

Salju mulai membasahi bajunya, tangan dan kaki Emily mulai kaku

kedinginan. Emily merasa dia dan Genji tak lama lagi akan mati. Air

mata membeku di pipinya. Emily sendiri tidak takut mati, tetapi nasib

Genjilah yang membuatnya menangis. Pria itu akan mati sendirian di

alam liar jauh dari rumah, tanpa ada seorang pun memeluknya, tak

seorang pun memberinya kata-kata penghiburan saat jiwanya menuju

neraka penyucian, tempat semua jiwa yang belum dibaptis akan menuju.

Padahal, dia telah berjanji kepada Tuhan akan menyelamatkan nyawa

Genji dan dia gagal.

Emily terduduk di salju dan menangis.

Tidak, tidak. Ini tidak boleh terjadi.

Emily menahan sedu sedannya. Dia telah berjanji kepada Tuhan.

Selama Tuhan masih memberinya papas hidup, dia akan berusaha sebaik

mungkin memenuhi sumpah-nya. Yang baru saja dia rasakan bukanlah

duka akan nasib Genji, melainkan rasa iba pada diri sendiri, aspek

tergelap dari dosa ketakaburan.

Berpikirlah.

Salju menutupi semua di sekitarnya, tetapi itu tak penting karena

Emily juga tak mengenali daerah sekitarnya. Dari posisi kaki, dia bisa

merasakan lereng pegunungan yang menanjak. Jika saja dia bisa

mengingat apakah tadi dia sedang menaiki atau menuruni bukit saat

mendekati kudanya, dia mungkin bisa kembali.

Turun.

Emily berpikir kuda betinanya tadi menuruni bukit. Itu berarti tempat

bernaung yang dia bangun ada di lereng sebelah atas. Pasti letaknya tak

terlalu jauh karena tadi dia berjalan pelan-pelan sekali saat membujuk

kudanya. Emily melangkahkan kaki dengan hati-hati ke salju yang

PDF by Kang Zusi

semakin menebal. Sekali, dua kali, tiga kali, tepat di langkah keempat

tiba-tiba kakinya terbenam di salju dan tidak bisa menemukan pijakan

yang keras. Dia terguling ke bawah dengan kepala terlebih dahulu, dan

dia terus terguling-guling ke bawah bukit. Tubuhnya baru berhenti

setelah menabrak sesuatu yang keras.

Itu adalah gubuk yang dibangunnya tadi.

Rupanya, selama ini dia pergi ke arah yang salah. Kalau saja dia

tidak terjatuh tadi, dia pasti akan terus berputar-putar dalam badai hingga

mati membeku. Salju yang baru turun menutupi pinggiran gubuk itu

sehingga kelihatan lebih bundar, mirip dengan rumah eskimo yang

digambarkan ibunya dahulu. Emily mengais-ngais salju hingga terbuka

lubang dan masuk ke dalam.

Genji masih hidup, tetapi kondisinya sudah parah. Napasnya pendek

dan terputus-putus. Kulitnya dingin dan hampir membiru. Tanpa adanya

sesuatu yang bisa menghangatkannya, dia pasti akan mati hanya dalam

beberapa menit. Emily tak punya selimut untuk menyelimuti Genji, dan

dia juga tak tahu bagaimana membuat api. Ibunya pemah bercerita

tentang orang Indian yang membuat api dengan menggosok-gosokkan

dua ranting. Tetapi, Emily tak yakin prosesnya sesederhana itu. Tidak,

satu-satunya kehangatan yang bisa dia berikan untuk Genji adalah

kehangatan tubuhnya sendiri.

Dosa mana yang lebih besar? Berbaring bersama pria yang bukan

suaminya atau berdiam diri saja melihatnya mati? Perintah pertama

menyatakan jangan membunuh. Tentu itu lebih penting. Lagi pula, dia

akan berbaring bersama Genji bukan untuk berzina atau karena nafsu,

melainkan merupakan usaha untuk menyelamatkan nyawanya.

Emily membaringkan tubuhnya di sebelah kiri Genji, menjauhi luka

di tulang iganya. Mantelnya menyelimuti tubuh Genji, sementara dia

sendiri berpakaian lengkap. Dia sama sekali tak “tidur” dengannya, tetapi

usahanya itu juga tak membawa manfaat, karena panas tubuhnya diserap

oleh lapisan kain yang ada di antara mereka berdua.

Emily menutup matanya dan berdoa. Dia meminta agar Tuhan

melihat ke dalam hatinya dan menyaksikan kemurnian niatnya. Dia

meminta agar Tuhan mengampuninya jika tindakannya ini salah. Dan,

PDF by Kang Zusi

jika Tuhan hanya menyelamatkan satu nyawa, dia meminta agar nyawa

Genji diselamatkan karena Genji belum dibaptis, sedangkan dirinya

sudah.

Dengan cepat, Emily melepas pakaiannya, kecuali celana dalam. Dia

juga melepas semua baju Genji kecuali cawatnya, berhati-hati tidak

melihat apa yang seharusnya memang tak boleh dilihat. Dia menggunakan

jubah Genji yang bernoda darah untuk menutupi tanah, lalu

menempatkan mantelnya sebagai alas tidur di atas jubah Genji, dan

menempatkan Genji di atas mantel yang telah digelamya itu. Emily lalu

memeluk Genji, berusaha menutupi sebanyak mungkin bagian tubuh

Genji dengan tubuhnya tanpa menekannya terlalu keras. Pendarahan

Genji memang telah berhenti, tetapi tekanan terlalu keras dapat

membuka lagi lukanya dan menyebabkan pendarahan. Lalu, dia

menggunakan pakaian yang tersisa untuk membungkus tubuh mereka

berdua seperti kepompong.

Tidak ada kehangatan, tidak ada kelenturan di kulit Genji. Pria itu

bahkan tidak gemetaran lagi. Memeluknya seperti memeluk balok es.

Emily bahkan merasa dia akan ikut membeku, tetapi kehangatan

tubuhnya yang memeluk erat tubuh Genji terbukti lebih kuat dari hawa

dingin.

Setitik keringat muncul di atas bibir Genji.

Napas pria itu juga semakin teratur.

Emily pun tertidur dengan senyum di bibirnya.

Genji terbangun dalam kegelapan, demam dan rasa sakit merobek-robek

tubuhnya. Dia merasa terikat erat dan hampir-hampir tak bisa bergerak.

Seseorang ada di atas tubuhnya, menekannya ke tanah.

“Eeeyyy!”

Dia berkutat, berontak, dan berhasil mengubah posisi lawannya. Kini

dia ada di atas.

“Di mana kita?” Dia ditawan. Itu yang Genji tahu. Tetapi, oleh siapa?

Jawaban pertanyaannya berupa suara asing dalam kata-kata aneh

yang tidak dia mengerti. Suara itu suara wanita. Dia pernah

mendengarnya. Dalam sebuah mimpi. Atau pertanda.

PDF by Kang Zusi

“Lady Shizuka?” Apakah Lady Shizuka juga di awan bersamanya?

Wanita itu berbicara lagi. Tetapi, Genji tak paham kata-katanya.

Wanita itu berusaha melepaskan diri dari pelukan Genji. Genji

mengeratkan pegangan di pergelangan tangan wanita itu dan wanita itu

langsung berhenti. Suaranya membujuk. Dia sepertinya menjelaskan

sesuatu kepadanya.

“Aku tak mengerti apa yang kau katakan,” kata Genji.

Lady Shizuka, kalau itu memang dia, terus menggumamkan bahasa

rahasia.

Mengapa dia buta? Apakah matanya diikat? Atau, apakah dia ada di

penjara bawah tanah, jauh di dalam tanah dan tak ada sinar matahari?

Apakah wanita yang bersamanya ini merupakan anak buah dari para

penyiksanya? Kawakami. Si Mata Licik Shogun. Di bisaa menggunakan

wanita. Genji teringat Heiko. Tetapi, wanita yang ditindihnya ini seperti

bukan Heiko. Atau, dia memang Heiko? Bukan. Dia pasti memahami

bahasanya kalau wanita itu memang Heiko. Benar kan?

“Heiko?”

Suara itu berbicara lagi, lebih senang kali ini tetapi tetap saja tak bisa

dipahami. Kecuali dua kata; “Genji” dan “Heiko”. Siapa pun dia, wanita

ini mengenalnya. Suaranya familier, tetapi tubuhnya tidal dia kenal.

Tubuh ini lebih besar dari tubuh Heiko. Kelihatannya begitu, tetapi Genji

tidak yakin.

Kesadaran Genji hilang dan timbul. Setiap kali dia bangun, matanya

bisa melihat sedikit lebih baik Dinding di sekitarnya bersinar,

memancarkan cahaya, lembut. Dia tidak melihat rambut di kepala wanit,

yang bersamanya, tetapi untaian benang-benang emas. Matanya biru,

seperti langit. Ada sesuatu yang bersinar di lehernya. Itu adalah sesuatu

yang pernah dia lihat sebelumnya dalam sebuah pertanda.

Pria muda itu menusukkan pedangnya di tubulGenji. Genji

merasakan darah menyembur dari dadanya.

Seorang wanita yang sangat cantik berkata, “Kau akan selalu menjadi

My Shining Prince.”

Kecantikannya tidak seluruhnya berciri Jepang. Genji tidak

mengenalinya, tetapi wajah wanita itu menimbulkan kerinduan dalam

PDF by Kang Zusi

hatinya. Genji kenal dia. Atau, dia akan kenal dengannya. Wanita itu

adalah Lady Shizuka.

Tersenyum di balik air matanya, wanita itu berkata, “Aku berhasil

menyelesaikan terjemahannya pagi ini. Aku ingin tahu apakah kita

sebaiknya menggunakan nama Jepang atau menerjemahkan judulnya ke

dalam bahasa Inggris sekalian. Bagaimana pendapatmu?”

“Inggris,” kata Genji yang ingin bertanya apa yang telah

diterjemahkan.

Lady Shizuka salah mengerti. “Inggris kalau begitu … Dia pasti akan

sangat bangga pada kita.”

Siapa yang bangga? Genji tak punya suara lagi untuk bertanya.

Sesuatu berkilau di lehernya yang panjang dan mulus.

Benda itulah yang kini dia lihat ada di leher wanita yang bersamanya.

Sebuah liontin loket tidak lebih besar dari jempolnya, berukir salib

yang dihiasi ukiran bunga, mungkin bunga lily.

“Lord Genji?”

Pria itu pingsan kembali.

Emily pelan-pelan memasukkan tangan Genji ke bawah selimut dan

menutup kembali selimut yang membungkus mereka berdua. Di atas

tubuhnya, Genji akan tetap hangat seperti saat berada di bawah dirinya.

Darah Genji membasahi dada Emily karena luka di dadanya yang

terbuka lagi. Balutan luka di punggungnya juga basah oleh darah. Gerakan

Genji saat mengigau tadi membuat luka-lukanya terbuka kembali.

Jika Emily berusaha memindahkannya, Genji mungkin saja terbangun

lagi dan berontak sehingga semakin memperparah lukanya.

Posisi mereka sekarang memang canggung dan tidak nyaman bagi

Emily. Tetapi, selama Genji tidur, itu bukan masalah. Ketika Genji

terbangun, meski gerakannya dipicu oleh demam dan igauan, Emily

merasa malu. Padahal, tidak ada alasan baginya untuk merasa malu.

Mereka berdua tidak melakukan hal yang salah dan tidak ada niatan

untuk melakukan dosa. Namun, posisi Genji yang kini menindihnya tetap

tidak mengenakkan bagi Emily. Karena posisi itu sepertinya menjurus ke

hal yang salah, meskipun sebenarnya tak ada orang yang melihat

sehingga tak mungkin ada orang menarik kesimpulan yang salah.

PDF by Kang Zusi

Memindahkan Genji terlalu berisiko. Lebih baik membiarkan orang

menarik kesimpulan yang salah. Lagi pula, mereka tidak melakukannya,

dan lebih salah apabila karena rasa malu Emily membuat luka Genji

menjadi lebih parah.

Emily menjadi mengantuk saat cahaya fajar mulai menerangi dinding

salju di sekitar mereka. Tak lama kemudian, dia juga tertidur.

Dan, salju terus turun.

“Satu jam lagi saja, mereka pasti sudah mati,” kata tihigeru: “Wanita itu

membuat lubang angin di tempat bernaung mereka, tetapi lubang angin

itu tertutup salju. Mereka bisa mati kehabisan udara.”

Hide memandang ke arah api unggun, tempat Lord Genji dan Emily

tertidur. Dia telah mengganti perban luka Genji dan memberi makan

mereka berdua. Mereka akan hidup.

Shigeru menunjukkan pistol kaliber 32 yang dibawa Emily kepada

Hide. “Empat peluru telah ditembakkan dan masih ada dua lagi. Kurasa

wanita itu menembak siapa pun yang menyerang Genji.

Siapa tahu? Mungkin ada mayat terbaring tertutup salju di sekitar

situ.” Shigeru tidak mengatakan bagaimana dia menemukan mereka

berdua. Genji dan wanita asing itu hampir telanjang bulat, terbungkus

menjadi satu dalam lapisan pakaian mereka seperti kepompong. Dia tak

tahu apakah wanita asing itu menembakkan pistolnya dan berhasil

menyelamatkan Genji. Tetapi, dia tahu wanita itu telah menyelamatkan

Genji dengan memberikan kehangatan tubuhnya. Dengan luka separah

itu, dan banyak kehilangan darah, Genji pasti sudah mati beku kalau

bukan karena Emily

“Lord Shigeru,” kata Hide dengan mata membelalak penuh

kekaguman. “Apakah Anda sadar apa yang baru terjadi?”

“Ya. Ramalan itu telah menjadi kenyataan. Seorang asing yang

ditemui di Tahun Baru telah menyelamatkan nyawa Lord Genji.”

IV

PDF by Kang Zusi

JEMBATAN KEHIDUPAN DAN

KEMATIAN

13. LEMBAH APEL

“Ternyata, aku bukan samurai sejati,” kata Genji. Dia terbaring di

kamar utama bangsawan agung di Kastel Awan Burung Gereja. Kamar itu

tak terasa seperti kamarnya. Keberadaan kakeknya masih terasa kuat di

sini.

“Bagaimana Anda bisa mengatakan seperti itu, Tuanku?” kata Saiki.

“Anda berhasil hidup setelah melalui kondisi yang sangat berbahaya. Itu

adalah perwujudan dari seorang samurai sejati.”

Saiki dan Hide berlutut di pinggir ranjang. Genji berbaring di sisi

kirinya, sementara Dokter Ozawa merawat lukanya.

“Kamu berlayar di tengah badai, diserang paus, dan ditawan oleh para

pengkhia-nat,” kata Genji. “Itu yang aku sebut kondisi berbahaya”

Genji meringis kesakitan, darah kering

lukanya terbawa saat perban dilepas. Kedua samurai di sisinya

menarik napas dengan keras dan mencondongkan tubuh ke depan, seakanakan

ingin menolong.

“Maafkan saya, Tuanku,” kata Dokter Ozawa. “Hamba ceroboh

sekali.”

Genji melambaikan tangan sebagai pertanda dia tak apa-apa.

“Sedangkan aku, dikejutkan oleh sekelompok desertir kelaparan, dibela

Emily, dan diselamatkan paman-ku. Bukan sebuah cerita yang pantas

diceritakan di festival ulang tahunku nanti.”

“Anda menderita luka parah yang mungkin saja mematikan bagi

orang lain,” kata Saiki. “Semangat bertempur Andalah yang membuat

Anda mampu bertahan. Apakah ada yang lebih penting dari seorang

samurai daripada semangat bertempur?”

PDF by Kang Zusi

“Setitik kecil kewaspadaan, mungkin.”

Hide tak dapat menahan diri lagi. Dia membungkuk dan menekankan

dahinya ke lantai, tak berani mengangkat kepala melihat junjungannya

yang terluka. Dia berusaha tidak mengeluarkan suara apa pun. Hanya

getaran bahunya yang menunjukkan kedalaman rasa dukanya.

“Ada apa ini, Hide?” kata Genji. “Bangunlah.”

“Semua ini salah hamba,” kata Hide. “Anda hampir terbunuh karena

keteledoran hamba.”

“Kamu bahkan tidak ada di sana. Bagaimana kamu bisa menuduh

dirimu teledor?”

“Karena seharusnya hamba ada di sana. Hamba adalah kepala

pengawal Anda. Membiarkan Anda menghadapi bahaya tanpa hamba

mendampingi adalah hal yang tak terampuni.”

“Kamu telah menyatakan ingin menemaniku saat kita berpisah dulu,”

kata Genji. “Dan aku mernerintahmu untuk tinggal meskipun kamu dan

Shigeru memprotes. Kamu tak salah.”

“Seharusnya hamba mengikuti Anda diam-diam.”

“Hide, bangun dan hentikan Semua ini. Tidak ada yang perlu

disalahkan kecuali diriku sendiri. Aku terlalu terbiasa dikelilingi samurai

hebat dan setia sehingga aku terlena dan kehilangan kemampuan

melindungi diriku sendiri. Jika ada yang harus menangis karena malu,

orang itu seharusnya adalah aku, bukan kamu.”

“Hamba setuju dengan Hide,” kata Saiki. “Luka-luka yang Anda

derita adalah akibat kesalahannya. Dia seharusnya mengabaikan perintah

Anda dan terus menjaga Anda dengan diam-diam. Memang, tetap

membuntuti Anda menunjukkan dia tidak patuh dan karenanya harus

dihukum bunuh diri. Tetapi, setidaknya saat itu dia bisa mengawal Anda

sesuai tugasnya.”

“Dan bagaimana kalau Kudo dan anak buahnya sampai ke

persimpangan itu? Jadinya tak ada orang di sana untuk

menghentikannya.”

“Lord Shigeru membunuh mereka semua,” kata Saiki. “Seharusnya,

Hide tak perlu berjaga di sana.”

PDF by Kang Zusi

“Saat itu kita kan belum tahu,” kata Genji. “Dan siapa yang bisa

memastikan apa yang terjadi kalau saja Hide membuntutiku seperti apa

yang kaukatakan. Mungkin ramalan itu akan berubah, dan kini kamu

malah menangisi mayatku, bukannya menguliahi tentang pentingnya tidak

mematuhi junjungan.”

Hide mengangkat kepalanya. Saiki duduk terdiam.

Genji tersenyum. Ketika semua hal lain gagal, dia selalu bisa

mengandalkan kekuatan ramalan. Benar-benar berguna.

Dokter Ozawa berkata, “Luka-luka Anda bersih, Tuanku. Tidak ada

tanda-tanda infeksi. Ajaibnya, Anda juga tidak mengalami serangan

frostbite. Hamba tak bisa menjelaskan bagaimana hal itu mungkin terjadi.

Lord Shigeru mengatakan Anda terkubur di bawah gundukan salju.”

“Aku tak sendiri,” kata Genji. “Teman seperjalananku tahu tentang

tradisi orang Eskimo dan dia memanfaatkan pengetahuan itu dengan

baik.”

“Apa itu `Eskimo’?” tanya Dokter Ozawa. “Teknik pengobatan

asing?”

“Teknik pengobatan, tentu saja,” kata Genji.

“Dengan seizin Anda, hamba ingin mendiskusikan teknik Eskimo

dengannya. Mungkin Nona Heiko dapat berperan sebagai penerjemah?”

“Aku yakin diskusi itu akan memberikan pencerahan kepada Anda,

Dokter Ozawa,” kata Genji. Dia berharap ada di situ saat Dokter Ozawa

mengajak Emily berdiskusi. Pasti akan sangat lucu. Emily akan jujur. Dia

selalu begitu. Berdusta menurutnya adalah dosa terhadap Kristus. Genji

dapat membayangkan bagaimana Emily akan gugup dan malu, bagaimana

dia berusaha menerangkan apa yang telah dia lakukan tanpa

mengatakannya secara terus terang dan terbuka. Genji membayangkan

diskusi yang mungkin terjadi dan tertawa.

“Tuanku?”

“Aku hanya bahagia dapat sembuh dengan cepat. Terima kasih atas

bantuanmu, Dokter Ozawa.”

“Jangan terlalu memaksakan diri dulu. Luka Anda bisa membuka

kembali dan itu berbahaya.”

PDF by Kang Zusi

Genji bangun dari ranjang. Biasanya, dia akan berdiri saja di ranjang,

sementara pelayan memakaikan bajunya. Namun kini, kecewa karena

ketidakmampuannya saat menghadapi gerombolan desertir waktu itu, dia

memaksa untuk berpakaian sendiri.

“Aku mungkin memang tidak ahli menggunakan pedang,” katanya,

“tetapi, aku ahli mengikatkan tali pinggang.”

“Jangan terlalu kecewa. Itu adalah pertempuran pertama Anda,” kata

Saiki. “Anda pasti akan lebih baik lain kali.”

“Bisa saja lebih buruk kan?”

“Anda terlalu keras pada diri sendiri, Tuanku,” kata Saiki. “Dulu

waktu ada pemberontakan di bagian barat wilayah ini—itu terjadi sebelum

Anda lahir—hamba melihat darah tertumpah untuk pertama kalinya.

Dengan menyesal saya katakan, hamba muntah dan ngompol.

Berbarengan.”

“Tidak mungkin!” kata Genji. “Pasti bukan kamu.”

“Sayangnya, ya,” kata Saiki.

Genji tertawa dan Hide juga tertawa. Saiki tertawa juga. Dia tidak

menyebutkan kalau waktu itu dia baru tiga belas tahun, dan darah yang

tertumpah adalah darah dua orang petani bersenjata yang baru dia bunuh

dengan pedang katana pertamanya. Dia senang ceritanya membuat Genji

bersemangat lagi. Sedikit mengorbankan martabatnya demi junjungannya

bukan masalah besar.

“Oh, maafkan saya. Apakah saya mengganggu pembicaraan

penting?” Emily berdiri di depan pintu. Pakaian yang dia kenakan mirip

dengan yang dia kenakan sebelumnya, tetapi terbuat dari sutra bukan

katun. Roknya, pantalon dan bahkan stokingnya juga terbuat dari sutra.

Pakaian lamanya sudah rusak saat menolong Genji dahulu. Penjahit istana

menggunakan pakaian lama itu sebagai pola untuk membuat pakaian baru.

Sebenarnya, Emily lebih memilih pakaian dari katun yang lebih

mengesankan kerendahan hati, tetapi menolak hadiah yang diberikan

dengan maksud baik juga tidak pantas. Jadi, untuk pertama kalinya dalam

hidup, Emily memakai pakaian sutra dari kepala hingga ujung kaki.

Bahkan lapisan mantelnya, meski ketinggalan zaman dan terlalu besar,

terbuat dari bahan sutra yang sama.

PDF by Kang Zusi

“Kami sebentar lagi selesai,” kata Genji. “Satu atau dua menit lagi.

Silakan masuk.”

“Lady Emily,” kata Saiki. Dia dan Hide membungkuk dalam-dalam

saat Emily masuk ruangan. “Saya senang melihat Anda baik-baik saja.”

Genji memperhatikan peningkatan level kesopanan yang digunakan

Saiki saat menyapa Emily Sekarang, dia adalah “Lady Emily” bukan lagi

“si wanita asing”. Terpenuhinya ramalan pada Tahun Baru menyebabkan

perubahan signifikan dalam status Emily Bisa dikatakan sendirian di tanah

asing, menjanda bahkan sebelum sempat menikah, hidup Emily bisa

dibilang susah. Sedikit keramahan dari orang-orang di sekitarnya dapat

mengurangi rasa sakitnya.

Genji berkata, “Saiki senang melihat dirimu baik-baik saja.”

“Tolong sampaikan terima kasihku kepada Lord Saiki. Aku juga

gembira melihat-nya sehat.”

“Emily berterima kasih atas kepedulianmu, Saiki dan dia juga senang

melihatmu sehat. Apakah ada hal yang masih harus kita bicarakan lagi?”

“Tidak, Tuanku,” kata Saiki. “Pemberontakan terhadap Anda sudah

dipadamkan. Yang tersisa hanyalah menentukan hukuman kepada mereka

yang terlibat. Lord Shigeru sudah melakukan tindakan-tindakan yang

paling sulit. Hamba akan membawa seratus orang ke Desa Kageshima

besok pagi. Itu saja.”

“Kurasa sudah cukup kalau kamu memenggal para sesepuh desa

saja,” kata Genji. “Tambahkan pula peringatan keras bagi yang lain

tentang pentingnya kesetiaan, tidak hanya kepada junjungannya di sana,

tetapi juga kepada sang Bangsawan Agung yang menguasai wilayahnya.”

“Itu bukan prosedur yang biasa, Tuanku.”

“Aku tahu.”

“Hamba ragu apakah bijaksana untuk bertindak murah hati pada saat

ini. Karena kemurah-hatian Anda tersebut dapat memunculkan kesan

bahwa Anda tidak ingin me-lakukan apa yang harus dilakukan.”

“Aku justru menginginkan melakukan apa yang diperlukan saat ini

dan memang itulah yang harus dilakukan. Hari-hari mendatang akan

terjadi lebih banyak kematian daripada yang diperlukan. Jika memang kita

PDF by Kang Zusi

harus membunuh, mari kita berkonsentrasi membunuh musuh kita dan

bukan petani-petani kita.”

“Baik, Tuanku.”

Saiki dan Hide mengundurkan diri. Di pintu, Hide berkata, “Hamba

akan menunggu bersama kuda-kuda.”

Genji baru akan mengatakan bahwa Hide tak perlu mengawalnya

karena mereka tak akan pergi jauh, tetapi tekad yang terlihat di wajah

Hide menghentikannya. Sangat jelas bagi Genji bahwa untuk beberapa

waktu dia tak mungkin bepergian ke mana pun sendirian.

“Bagus sekali, Hide.”

Emily bertanya, “Apa Anda yakin sudah cukup sehat untuk berkuda,

Tuan Genji?”

“Kita berjalan jalan saja,” kata Genji. “Kita tak akan memacu kuda.

Aku akan baik-baik saja.”

“Mungkin sebaiknya kita berjalan-jalan saja. Saya belum banyak

melihat istana ini, dan sejauh ini semua yang saya lihat sangatlah indah.”

“Jangan khawatir. Kamu pasti akan melihat semuanya. Tapi, hari ini

kita harus berkuda. Ada yang ingin kutunjukkan kepadamu.”

“Apa itu?”

“Ikut saja dan lihat sendiri.”

Emily tertawa, “Sebuah kejutan? Saya dulu suka kejutan, waktu kecil.

Oh. Apakah menurut Anda, Matthew sebaiknya ikut dengan kita?”

Genji berkata, “Dia sedang sibuk berlatih. Dengar.”

Di kejauhan terdengar suara tembakan, “Lagi pula, ini adalah sesuatu

yang ingin kutunjukkan kepadamu, bukan kepadanya.”

“Justru itu membuatnya semakin misterius,” kata Emily.

“Tapi tak lama lagi kamu akan tahu,” kata Genji.

Kepala terakhir adalah kepala bayi yang belum berumur satu tahun.

Shigeru menancap-kan kepala itu di tombak yang terletak di ujung akhir

barisan kepala yang dia tancapkan di gerbang depan istana. Musim dingin

di wilayah Akaoka lebih hangat daripada di wilayah Pegunungan Honshu.

Kepala Kudo sudah membusuk, tak bisa dikenali lagi. Kepala-kepala lain

PDF by Kang Zusi

yang tertancap di barisan itu masih segar, kesakitan menjelang ajal

tampak jelas dalam ekspresi mereka. Istri Kudo, dua selirnya, lima anak,

ibunya yang janda, saudaranya, iparnya laki-laki maupun perempuan,

paman, bibi, sepupu, dan keponakan. Semuanya 59 kepala.

Keluarga Kudo punah sudah.

Heiko membungkuk dan mendekati Shigeru. “Sebuah tugas yang

berat dan tidak menyenangkan, Lord Shigeru.”

“Tapi perlu dilakukan.”

“Hamba yakin itu perlu,” kata Heiko. “Sungai karma tak bisa

dibendung alirannya.”

“Ada yang bisa kubantu, Nona Heiko?”

“Itulah harapan saya,” kata Heiko. “Sebentar lagi, Lord Genji akan

pergi untuk berjalan jalan. Lady Emily akan menemaninya. Dan mereka

pasti akan lewat sini.

“Tentu saja. Seorang Lord harus selalu lewat gerbang depan istana, ke

mana pun dia akan pergi.”

“Barisan kepala ini akan sangat mengagetkan bagi Lady Emily”

“Oh ya?” Shigeru memandang barisan kepala yang berjajar rapi di sisi

selatan jalan. “Kenapa begitu? Susunannya tampak rapi dan benar.”

“Lady Emily mempunyai perasaan halus,” Heiko memilih katakatanya

dengan hati-hati. “Selain itu sebagai orang asing, dia tidak

memahami akibat karma. Keberada-an kepala-kepala ini, khususnya milik

anak-anak, akan membuatnya sangat sedih Hamba khawatir dia tak akan

bias meneruskan berjalan-jalan dengan junjungan kita.”

“Dan apa yang kau usulkan?”

“Pindahkan kepala-kepala ini.”

“Aku tidak tahu apakah aku bisa melakukannya. Ini adalah tradisi

sejak zaman dahulu untuk menunjukkan nasib para pengkhianat di depan

gerbang istana, dan tetap membiarkannya di sana hingga dagingnya

membusuk dan rontok dari tengkoraknya dan burung pemakan bangkai

memakan daging mereka hingga bersih.”

“Sebuah tradisi berharga yang patut dipertahankan,” kata Heiko.

“Tetapi, bisakah Anda melakukan modifikasi untuk saat ini saja? Bisakah

kepala-kepala ini sementara dipindahkan kediaman Lord Kudo?”

PDF by Kang Zusi

“Pengkhianat itu bukan seorang lord dan tak lagi punya nama.

“Maafkan hamba,” kata Heiko membungkukkan badannya. “Hamba

maksud bekas kediaman si pengkhianat.”

“Aku baru akan menuju ke sana untuk membakarnya hingga habis

menjadi abu.”

Heiko memucat, “Tidak dengan para pelayan di dalamnya kan?”

Shigeru tersenyum masam. “Aku sebenarnya bermaksud begitu.

Tetapi junjungan kita, terkenal sebagai bangsawan yang murah hati dan

pengampun, memerintahkan agar para pelayan itu dijual sebagai budak

saja.”

Heiko menarik napas lega. “Kalau begitu, bolehkah hamba

mengajukan usul?”

“Aku merasa sejak tadi kamu memang melakukan itu.”

“Hanya dengan izin Anda, Lord Shigeru. Bolehkah hamba

mengusulkan bahwa Anda dapat membakar kediaman itu seperti rencana,

lalu menempatkan pengingat ini di atas reruntuhan. Bukankah itu bisa

menjadi alternatif yang efektif?”

Shigeru membayangkan pemandangan yang terlihat. Lima puluh

sembilan kepala tertancap di ujung tombak berjajar di atas reruntuhan

pengkhianatan.

“Baiklah, Nona Heiko. Aku akan melakukannya.”

“Terima kasih, Lord Shigeru.”

Heiko tidak tinggal untuk melihat Shigeru melakukan usulnya.

Saat keluar dari istana, Genji, Emily, dan Hide bertemu Stark dan

Taro yang baru akan masuk.

“Apa kamu tidak pernah kehabisan peluru, Matthew?” Emily duduk

melintang di atas kuda, tidak miring seperti biasanya. Genji telah

membujuknya untuk mengenakan celana sepertinya, celana lebar yang

disebut “hakama”. Kata Genji, hakama cocok digunakan untuk wanita.

Emily ingat nasihat Cromwell untuk mengikuti kebiasaan di Jepang asal

kebiasaan itu tidak melanggar ajaran moralitas Kristen. Hakama

kelihatannya tidak berbahaya. Celana itu sangat longgar sehingga lebih

terlihat seperti rok dan bukan celana seperti di Barat.

PDF by Kang Zusi

“Aku membuat cetakan untuk mencetak peluru baru,” kata Stark,

“dan tuan rumah kita punya banyak mesiu.” Stark menunjukkan beberapa

selongsong peluru di tangannya. “Aku bisa menggunakan ini beberapa

kali.”

“Kuharap kamu menjadi seorang prajurit Kristen sejati,” kata Emily,

“dan hanya bertempur untuk kebaikan.”

“Misiku memang baik,” kata Stark. “Itu sebuah kebenaran.”

Taro bertanya kepada Hide, “Mau ke mana?”

“Tidak jauh. Kalau kamu bebas, ikut saja.”

“Aku akan ikut. Tuan Stark mau bertemu Nona Heiko. Lagi pula,

Nona Heiko adalah pemandu yang lebih baik baginya karena dia bisa

bahasanya.”

Hide dan Taro berkuda di belakang junjungan mereka dan Emily

dalam jarak yang agak jauh. Mereka ada di wilayah sendiri, dan tak begitu

jauh dari istana, jadi kemungkinan serangan sangatlah kecil. Namun, Hide

tetap saja mengawasi sekitar dengan waspada.

“Bagaimana tembakannya?”

“Menakjubkan,” kata Taro. “Aku tak pernah membayangkan hal

seperti itu. Dia menarik dan menembakkan pistolnya lebih cepat dari ahli

iaido mana pun saat menghunus pedang. Bahkan, menurutku lebih cepat

daripada Shigeru.”

“Aku sudah bilang kan.”

“Ya, tapi dulu aku pikir kamu main-main. Kini, aku tahu kamu serius.

Dan dia juga akurat. Dalam jarak dua puluh langkah, dia berhasil

menembak sasaran sembilan dari sepuluh kali tembakan, dan pada

tembakan kedua dia selalu tepat sasaran. Aku heran kenapa dia berlatih

begitu keras. Tak ada seorang pun di Jepang yang bisa dia tantang

menguji kemampuan.”

“Dia seorang prajurit seperti kita,” kata Hide, “dan perang semakin

dekat. Itu adalah alasan yang bagus.”

Emily mengawasi Genji dengan penuh perhatian. Jika pria itu

menunjukkan tanda-tanda kelelahan sedikit saja, dia akan bersikeras

mengajaknya kembali. Sejauh ini, Genji terlihat baik-baik saja. Berada di

rumah memberi banyak manfaat kepadanya. Iklim di wilayahnya lebih

PDF by Kang Zusi

hangat daripada Edo. Di Edo musim dingin menunjukkan keganasannya,

sementara di sini musim dingin lebih terasa seperti awal musim semi.

“Apakah musim dingin di sini selalu hangat seperti ini?”

“Di sini jarang dingin,” kata Genji, “jadi, kita tidak terlalu perlu

menerapkan keahlian Eskimo.”

“Lord Genji, tolonglah.”

“Mungkin populasi kami akan lebih banyak kalau turun salju.”

Emily melengos, wajahnya terasa panas karena malu. Dia yakin

wajahnya semerah apel masak yang siap dipetik.

Genji tertawa, “Maafkan aku, Emily. Aku tak bisa menahannya.”

“Anda berjanji tak akan menyebutnya lagi.”

“Aku berjanji tak akan menceritakannya di depan orang lain. Aku tak

mengatakan apa-apa tentang mengingatnya bersamamu.”

“Lord Genji, sikap Anda sangat tidak gentleman (ungentlemantly).”

“Ungentlemantly?”

“`Un’ adalah awalan dalam bahasa Inggris yang berarti ‘tidak’.

Seorang gentleman adalah orang yang mempunyai karakter baik dan

berprinsip. `Ly’ adalah akhiran dalam bahasa Inggris yang berarti ‘mempunyai

sifat seperti itu’.”

“Emily memandang Genji dengan pandangan menegur sekeras yang

dia bisa. “Perilaku Anda saat ini tidak menunjukkan karakter yang baik

dan berprinsip.”

“Hanya sebuah kekhilafan yang dapat dimaafkan. Terimalah

permintaan maafku dan lubuk hati terdalam.”

“Saya pasti memaafkan Anda, kalau saja Anda tidak tersenyum

seperti itu.”

“Kamu juga tersenyum.”

“Ini seringai, bukan senyum.”

“Seringai?”

Emily tak mau menjelaskan lagi.

Mereka berkuda dalam diam. Setiap kali Emily mencuri pandang ke

arah Genji, dia masih melihat Genji tersenyum dikulum. Dia ingin marah

kepadanya, tetapi tak bisa. Pada saat yang sama, bersikap seakan-akan tak

terjadi sesuatu juga salah. Gurauan Genji tidak pantas, apalagi dikaitkan

PDF by Kang Zusi

dengan hubungan antara mereka berdua. Dia adalah seorang misionaris

dan Genji adalah bangsawan agung yang mensponsori misinya. Tak ada

sesuatu yang telah mengubah hubungan itu.

Emily berhenti dan berpaling ke arah Kastel Awan Burung Gereja.

Ketika pertama kali melihatnya, dia sangat kecewa. Ini sebuah istana?

Lalu, mana dinding-dindingnya yang tinggi dan menara, jembatan,

benteng, dinding yang memutari atap menara dan jendela jendela, gerbang

yang dapat diturunkan, dan hamparan rumputnya? Satu-satunya struktur

batu yang dia lihat adalah fondasi di bawah bangunan yang disusun tanpa

semen, sementara bangunan di atasnya berupa pagoda dari kayu bepernis

dan atap genting. Istana dan puri adalah kediaman para kesatria, seperti

Wilfred of Ivanhoe. Emily tak dapat membayangkan Ivanhoe berpakaian

baju besi, perisai dan tombak di tangan, menunggangi kudanya yang

gagah, keluar dari istana seperti ini. Rupanya seperti konsep kecantikan,

konsep tentang puri dan istana juga berbeda di Jepang. Sebagaimana

sebuah perbedaan merupakan rahmat baginya, perbedaan yang lain dapat

membawa kekecewaan baginya.

Namun, hanya dua minggu tinggal di Kastel Awan Burung Gereja,

pandangan Emily langsung berubah. Awan Burung Gereja, terlihat begitu

ringan, pagoda tujuh lantainya seakan mengapung di atas lautan lereng

berbatu. Fondasi batunya berbentuk melengkung ke atas seperti parabola

mendukung dinding kayu bepemis yang berwarna putih seperti awan

musim, panas. Di atas dinding putih tersebut terdapat lengkungan kayu

yang mendukung atap berwarna abu-abu terakota. Dari tempat dia duduk

di atas punggung kudanya sekarang, dalam jarak sekitar dua mil dari puri,

Emily dengan mudah dapat melihat sirap-sirap atap istana seakan-akan

sekumpulan burung gereja yang siap terbang. Terdapat keindahan surgawi

di istana ini yang membuat puri batu bayangannya terlihat kecil dan

terlalu duniawi.

Genji berkata, “Apakah kamu sangat marah, Emily?”

Emily tersenyum dan menggeleng. “Tidak. Saya hanya berpendapat

ada hal-hal yang tak pantas dibuat gurauan.”

“Kau benar. Aku tak akan bergurau tentang itu lagi.”

PDF by Kang Zusi

Mereka menaiki sebuah bukit kecil. Sebelum menuruni bukit itu,

Emily berpikir dia membaui sesuatu yang familier. Tetapi, dia segera

menepiskannya dan menganggapnya sebagai sebuah refleksi kerinduan

pada rumahnya dahulu. Beberapa saat kemudian, dia memandang ke

lembah kecil di bawah bukit yang sedang dituruninya dan langsung

terpana di atas pelana kudanya. Udara yang dia hirup tiba-tiba terasa tipis,

seakan-akan dia baru usai mendaki gunung tinggi.

“Kebun apel.” Emily berbisik tertahan.

Kebun itu tidak besar, mungkin hanya ada sekitar seratus pohon.

Tetapi, ketika mereka berkuda memasukinya dan pohon-pohon apel

mengelilingi, Emily merasa pohon-pohon apel itu berjumlah puluhan ribu.

Dia berdiri di sanggurdi, mengulurkan tangan ke atas dan memetik satu

buah apel yang berwarna merah masak.

“Wah, apel ini mirip sekali dengan apel yang kami tanam,” kata

Emily.

“Mungkin memang sama,” kata Genji. “Apakah apel buah ash

Amerika?”

“Tidak, pemukim Eropa yang membawanya. Seorang pria bernama

Johnny Appleseed menghabiskan seluruh hidupnya menanam apel di

seluruh Amerika. Begitu yang kudengar. Itu mungkin hanya sebuah

dongeng bukan sejarah yang sebenarnya.”

“Kadang tak ada bedanya antara dongeng dan sejarah,” kata Genji.

Dia mengulurkan tangan untuk memegang sebuah cabang pohon, terengah

dan menurunkan tangannya kembali. Lukanya menghalangi gerakannya.

“Aku dulu sering memanjat pohon-pohon ini dan membayangkan

percakapan dengan teman-teman khayalanku. Teman-teman khayalanku

itu selalu bijak.”

“Saya juga suka memanjat,” kata Emily, “dan bermain bersama kedua

adikku.”

“Adik khayalan?”

“Nyata. Tom dan Walt.”

“Apakah mereka juga misionaris?”

“Tidak. Mereka meninggal waktu masih kanak kanak.”

“Dan orangtuamu?”

PDF by Kang Zusi

“Mereka juga telah meninggal.”

“Kalau begitu, kita berdua yatim piatu.” Genji memandang cabang

pohon di atasnya. “Kurasa kamu tak bisa memanjat lagi, Emily.”

“Maaf?”

“Pohon. Apa kamu masih bisa memanjatnya? Jika saja aku tak

terluka, aku bisa memanjat ke atas dengan mudah.”

“Aku juga bisa.”

“Tentu saja.”

“Anda kelihatan tak yakin, Lord Genji.”

“Yah, kamu sama sekali tidak terlihat seperti seorang pemanjat

pohon.”

“Itu kedengarannya seperti tantangan.” Emily dan kedua adiknya

selalu tantang-menantang. Tantangan terakhir adalah saat dia memanjat

sebuah pohon. Dan, dia melompat dari satu cabang ke cabang lain

melayani tantangan adiknya. Cabang tempatnya melompat tiba-tiba patah.

Emily berpegangan erat pada cabang itu, saat cabang itu patah dan

melengkung ke tanah. Hampir saja dia terluka.

“Aku minta maaf telah mematahkan cabang itu, Ayah.” Emily

teringat masa lalunya.

“Untung yang patah cabang itu, bukan kamu. Tetapi, kamu tak boleh

melakukan itu lagi,” kata ayahnya.

“Ya, Ayah.”

“Kamu sangat cantik, Emily Kecantikanmu tak akan banyak

menolong jika kakimu atau punggungmu patah.”

“Ya, Ayah.”

Ayahnya selalu mengatakan betapa dirinya sangat cantik. Saat

Ayahnya mengatakan itu, Emily selalu merasa gembira. Namun, kata itu

kini punya arti lain baginya.

Emily melepaskan mantelnya dan meletakkannya di pelananya. Dia

lalu meraih ke atas, dengan erat memegang cabang di atas kepalanya dan

bergantung di sana. Dia menggerakkan kakinya ke depan dan ke belakang

beberapa kali untuk mendapatkan daya dorong, lalu melingkarkan salah

satu kakinya dan satu kaki lagi ke atas cabang. Sesampai di atas, dia berPDF

by Kang Zusi

balik dan duduk, kakinya berayun-ayun, dan senyum kemenangan

tergambar di wajahnya.

Genji membungkuk dalam-dalam dari pelananya. “Maafkan aku

karena meragukanmu. Kamu benarbenar pemanjat yang baik. Kalau aku

sudah sembuh, kita harus bertanding.”

“Dan apa yang akan kita pertaruhkan?”

“Pertaruhkan?”

“Hadiah yang harus diberikan yang kalah kepada yang menang.”

Genji berkata, “Kalau kamu menang, aku akan memberimu kebun

ini.”

“Oh, jangan, itu terlalu banyak. Artinya, itu judi, bukan permainan

lagi.”

“Baiklah,” kata Genji, “menang atau kalah, aku akan memberimu

kebun apel ini. Kamu bisa memberi sesuatu untuk balasannya. Kalau

begitu, kita tidak berjudi bukan?”

“Saya tak bisa menerima hadiah sebesar ini,” kata Emily. “Bahkan,

kalau saya menerima pun, saya tak punya alat dan kemampuan untuk

mengurusnya dengan baik.”

“Aku juga akan memberimu alat. Tiga desa di lembah ini dan lembah

berikutnya.”

“Tidak, saya tak bisa menerimanya. Tujuan saya ke sini adalah

menyebarkan firman Tuhan, bukan untuk mendapat keuntungan sendiri.”

Genji menunjuk ke bukit kecil yang baru saja mereka lewati untuk

memasuki lembah. “Kamu bisa membangun gereja di sana. Bukankah itu

tujuanmu kemari?”

“Saya pikir tanah untuk rumah misi kami ada di provinsi lain.”

“Kamu juga dapat membangun gereja di sini. Aku janji, gerejamu

akan selalu penuh.”

Meski khawatir, Emily tak bisa menahan tawa. Genji akan menepati

janjinya dengan mengeluarkan perintah. Para pembawa pesan akan

berkuda ke desa-desa. Para petani akan berlutut, membungkuk ke tanah,

dan mendengarkan perintah junjungan mereka. Pada hari Minggu

setelahnya, mereka akan memenuhi gereja seperti yang diperintahkan.

Mereka akan mendengar khotbah terjemahan yang tak mereka mengerti.

PDF by Kang Zusi

Ketika pembaptisan ditawarkan, setiap orang, pria, wanita, dan anak-anak

akan maju untuk menerimanya.

“Anda tak bisa memaksa orang untuk percaya, Tuanku. Mereka harus

melihat ke dalam hatinya dan menemukan kebenaran sendiri.”

“Aku janji, aku akan datang ke gerejamu dan melihat ke dalam

hatiku.”

“Lord Genji,” Emily tak tahu harus bilang apa lagi.

“Kau telah menyelamatkan hidupku. Kau harus memberiku

kesempatan untuk mengucapkan terima kasih dengan memberikan

sesuatu.”

“Belum tentu saya yang menyelamatkan hidup Anda, bahkan

mungkin Andalah yang menyelamatkan hidup saya. Tak seorang pun dari

kita berdua bisa bertahan tanpa dukungan yang lain.”

“Kalau begitu, kamu juga harus memberikan sesuatu kepadaku. Aku

akan memberimu Lembah Apel ini. Apa yang akan kau berikan

kepadaku?”

Emily harus bersandar ke batang pohon untuk menjaga agar tidak

jatuh. “Lembah Apel?”

“Itulah sebutan yang diberikan ibuku untuk tempat ini. Ringo-no-tani.

Lembah Apel.” Genji masih tersenyum, tetapi ekspresi matanya berubah

sedih. “Ibuku berasal dari utara. Wilayah ayahnya terkenal dengan

apelnya. Ibu masih sangat muda ketika menikah, baru saja meninggalkan

masa kanak-kanaknya. Dia rindu ibunya dan saudara-saudara

perempuannya. Dia rindu teman-temannya. Dia rindu pohon-pohon apel

yang sering dia panjat saat masih kanak-kanak, dan apel yang dia petik

dan makan di cabangnya. Dia rindu rangkaian bunga apel yang dia

kenakan di kepalanya saat kecil. Ayahku membuka kebun ini untuknya

dengan harapan dapat meringankan kesedihan ibuku dan mungkin bahkan

suatu hari dapat memberikan kegembiraan baginya.”

“Dan, apakah kebun ini membuat ibu Anda bahagia?”

“Dia bahagia ketika bibit-bibit apel ditanam. Dia bahkan menanam

beberapa bibit apel sendiri. Tetapi, dia tak pernah melihat bibitnya

menjadi pohon, berbunga, dan berbuah. Dia meninggal musim dingin di

PDF by Kang Zusi

tahun yang sama, saat melahirkan. Bayinya, adik perempuanku, juga

meninggal.”

“Saya ikut menyesal.”

“Hikayat mengatakan kebahagiaan dan duka adalah satu. Setiap kali

aku ke sini aku mengerti artinya.”

Daun dan dahan menutupi pemandangan pegunungan di sekitarnya.

Bau Lautan Pasifik ditutupi oleh bau apel masak di pohon. Duduk di

cabang sebuah pohon, kakinya berayun di udara, Emily merasa

konsentrasinya buyar. Dia memandang ke bawah dan melihat Genji duduk

di atas kuda perangnya, dan Genjilah yang tidak cocok ada di sini, bukan

dirinya. Ketidakcocokan seorang samurai di kebun apelnya membuat

Emily tertawa. Dan tawanya membawanya kembali ke masa kini.

Kesadarannya akan masa kini membuatnya mulai menangis.

“Rumahku dulu bernama Lembah Apel,” kata Emily. “Kini, satu lagi

Lembah Apel.”

Setelah beberapa saat hening, Genji berkata. “Kebun ini sudah

menjadi milikmu jauh sebelum kamu melihatnya.”

“Untuk orang sebesar dia, Lady Emily ternyata cukup tangkas,” kata

Taro. Dia dan Hide mengamati Emily memanjat pohon apel.

“Dia nggak sebesar itu kok,” kata Hide. “Ketika dua orang bodoh itu

bunuh diri di depan kami, dia pingsan di pelukan junjungan kita. Dan

Lord Genji mampu menahannya dengan mudah. Proporsi tubuhnya

memang tidak seperti yang biasa kita lihat sehingga kita menilai ukuran

tubuhnya secara salah.”

“Sekarang setelah aku tahu itu, kurasa kamu memang benar.” Taro

berusaha keras untuk mendapatkan perspektif yang benar tentang ukuran

tubuh Emily. Lady Emily telah mewujudkan ramalan Lord Kiyori

sehingga tidak pantas jika dia masih melihatnya sebagai besar, tidak

proporsional, atau bahkan jelek. Kesetiaan terhadap junjungan menuntut

mereka untuk menempatkan wanita itu di tempat yang sebaik mungkin.

PDF by Kang Zusi

“Bahkan, menurutku ada kehalusan seorang bangsawan dalam dirinya.

Dalam pandangan orang asing tentunya.”

“Benar,” kata Hide. “Aku sangat menyesal sekarang dengan

pandanganku yang salah tentangnya dulu. Tentunya, di tanah airnya, di

mana standar sesuatu didasarkan pada nilai-nilai yang berbeda, dia pasti

dianggap sebagai wanita cantik, sebagaimana Nona Heiko di sini.”

Meskipun dia sudah berusaha, Taro tetap tidak dapat memaksa

dirinya untuk menyetujui pendapat temannya itu. Dia memang bisa

melihat daya tarik Emily di mata orang asing. Tetapi, menyatakan kecantikan

Emily sebanding dengan Heiko? Apa yang dapat dia katakan?

Keahlian Taro adalah memainkan pedang dan busur, bukan kata-kata.

“Mungkin saja, kalau memang ada dasar untuk membandingkan

keduanya,” Taro akhirnya berkata. “Nona Heiko adalah geisha dengan

status tertinggi, dan Lady Emily.

Dia berusaha keras menemukan kata-kata yang tepat. “Apakah di

negara Lady Emily juga ada geisha?”

“Setahuku tidak,” kata Hide. Terlihat jelas kalau dia juga susah

menemukan kata-kata yang tepat. Alisnya berkerut menandakan dia

berpikir keras.

“Setahuku juga begitu,” kata Taro. “Kalau begitu, pantaskah

membandingkan Nona Heiko dan Lady Emily lewat pandangan yang

sama?”

“Tidak pantas sama sekali,” kata Hide, ekspresi lega tampak jelas di

wajahnya. “Sudah jelas tadi aku salah omong. Kekagumanku pada Lady

Emily membuatku bicara terlalu jauh. Tak akan menolong kalau kita

terlalu membesar-besarkan kebaikan Lady Emily.”

“Benar, memang tak akan menolong,” kata Taro. Antusiasme kembali

terdengar di suaranya. “Kebaikan Lady Emily sudah terlihat jelas. Tak

perlu dibesar-besarkan secara palsu.”

“Lagi pula, seberapa penting sesuatu yang fana seperti kecantikan

fisik?” Hide menggeser percakapan ke arah yang lebih aman. “Yang

penting adalah kecantikan di dalam. Dan di bidang ini, kecantikan Lady

Emily tak bisa dikalahkan siapa pun.”

PDF by Kang Zusi

“Kamu jelas jelas baru saja menyatakan sebuah poin penting,” kata

Taro yang juga lega dengan pergeseran arah percakapan. “Kecantikan

sejati ada di dalam diri.”

Dua samurai itu tersenyum bahagia di atas kuda mereka dan menjaga

junjungan mereka serta Lady Emily Mereka telah berhasil memecahkan

sebuah masalah penting. Kini, mereka tahu bagaimana harus

mendudukkan seseorang yang penting yang tidak cocok dengan urutan

status sesuai tradisi.

Heiko berkata, “Kau tidak menceritakan detail perjalanan kita kepada

Lord Genji?”

Stark menjawab, “Dia tidak bertanya.”

Mereka berdua duduk di kursi di dalam ruangan yang menghadap ke

taman dalam istana. Ruangan itu adalah salah satu ruangan yang

dilengkapi perabotan negara Barat khusus untuk keperluan Emily dan

Stark. Ruangan itu kini penuh sesak oleh enam kursi, empat meja, sebuah

sofa besar, meja tulis, dan dua lemari. Orang asing sangat berbeda dengan

orang Jepang. Apa yang mereka anggap bagus dianggap jelek oleh orang

Jepang dan begitu pula sebaliknya. Para pelayan Genji memegang

pendapat itu sebagai panduan. Dalam upaya membuat para tamu mereka

merasa nyaman, mereka melakukan kebalikan dari hal yang biasa mereka

lakukan untuk junjungan mereka. Jika ruangan Genji banyak tempat

kosong dan hanya sedikit perabotan, para tamu diberi banyak perabotan

hingga penuh sesak dan hanya sedikit ruang kosong. Para pelayan

berusaha sebaik mungkin untuk menciptakan lingkungan yang sebisa

mungkin membuat mereka merasa tak nyaman. Dalam hal ini, mereka

meraih sukses besar.

“Aku bermaksud mengatakannya sendiri,” kata Heiko, “hari ini.”

“Rahasiamu masih menjadi rahasiamu,” kata Stark. “Aku tak bilang

apa-apa.”

“Terima kasih kamu mau menjaga rahasia. Aku sangat

menghargainya. Orang biasanya susah menjaga rahasia. Tapi, aku tahu

kamu tak akan mengatakannya. Namun, pertempuran menembus barikade

PDF by Kang Zusi

itu pada akhirnya akan terdengar oleh Lord Genji. Dia akan menyadari

yang sebenamya.”

“Apa itu akan menyebabkan masalah?”

“Ya, aku rasa akan menimbulkan masalah.”

“Dia tak tahu tentang keahlianmu yang lain?”

“Tidak.”

“Mengapa kamu menggunakannya?” tanya Stark. “Kita bisa saja

menyelinap melewati barikade itu, dan jika kita gagal, aku bisa

menembusnya dengan pistolku. Pedang bukan tandingan bagi pistol.”

“Aku tidak boleh menyebabkan nyawamu dalam risiko. Sebelum

meninggal, Kakek Lord Genji meramal bahwa seorang asing yang ditemui

Lord Genji pada Tahun Baru akan menyelamatkan hidupnya. Aku yakin

kau adalah orangnya.”

“Jika memang aku orangnya, tidak akan terjadi apa-apa. Aku harus

hidup untuk melakukan apa yang telah diramalkan. Jika aku mati, berarti

aku bukan orang asing yang ditunggu-tunggu itu. Tak ada yang

dirugikan.”

“Ramalan tak bisa terwujud dengan sendirinya,” IAa Heiko. “Tanpa

usaha keras dan tulus dari kita, hasilnya mungkin berbeda jauh dari yang

kita harapkan. Jika saja kau memang orang asing yang akan

iiienyelamatkan nyawa Lord Genji, tetapi terbunuh sebelum bisa

melakukannya, akan ada orang asing lain yang muncul. Tetapi, bukan

orang asing yang tepat. Memang, Lord Genji akan tetap hidup karena

ramalan mengatakan begitu. Tetapi, bisa saja dia cacat atau bahkan

koma.”

“Apa memang begitu caranya ramalan bekerja?” Kata Stark. Dia tak

percaya satu pun yang dikatakan Heiko, tetapi wanita itu ingin berbicara,

jadi dia mendengarkan. “Bagaimana ceritanya sehingga Kakek Lord Genji

bisa meramal?”

“Beliau terlahir dengan bakat meramal. Dia mengalami banyak

pertanda selama hidupnya.”

“Apakah dia selalu benar?”

“Ya.”

PDF by Kang Zusi

“Lalu, mengapa dia tidak mengatakan kalau orang asing yang akan

menyelamatkan Genji adalah Emily?”

“Pertanda dan ramalan selalu tak lengkap. Meskipun jalan hidup

sudah ditulis dan ditakdirkan, perjalanannya secara terperinci tergantung

dari perbuatan kita di dunia. Karma masa lalu menentukan takdir hidup

kita dan karma masa kini menentukan hidup kita nanti.”

“Karma?”

“Mungkin artinya dalam bahasamu adalah nasib, tetapi nasib yang

terus berubah.”

“Nasib adalah nasib,” kata Stark. “Itu sudah jelas. Tidak berubah.

Hanya kita tak tahu sebelum kita memasukinya atau hingga nasib itu

menghampiri kita.”

Kadang, jika Stark ada di dekat El Paso, dia berhenti di rumah bordil

Manual Cruz, yang punya selusin pelacur terbaik di Texas. Begitu

promosi pemiliknya. Stark tak pernah menemui lebih dari delapan pelacur

di tempat itu dan sejauh pengamatannya, mereka tak lebih baik dari para

pelacur lain di kota itu ataupun di negara bagian lain.

“Kebebasan berekspresi,” kata Cruz. “Dekati seorang pria. Buat dia

merasa optimistis. Baik untuknya. Baik untuk bisnis.”

“Apa itu kebebasan berekspresi?”

“Nak, kamu datang ke sini untuk mendapatkan pelajaran tentang

kerumitan penggunaan bahasa, atau untuk dibor, dilem, dan ditato?”

“Aku datang untuk meniduri seorang pelacur,” kata Stark. “Bukan

untuk memperbaiki sesuatu.”

“Tukang umpat dengan pikiran sempit rupanya,” kata Ethan

menyindir Stark yang tidak mengerti arti dibor, dilem, dan ditato yang

berkonotasi jorok. Ethan adalah anak adopsi Cruz. Dia mengenakan

pistolnya rendah di paha seperti Stark. Suatu hari nanti, Ethan akan tahu

kalau dia adalah Matthew Stark, penembak jitu dengan reputasi besar, dan

menantangnya. Atau, dia akan tahu kalau dia dan Stark berkecimpung di

pekerjaan yang sama dan mengusulkan membentuk rekanan. Itu atau yang

lainnya. Tak lama lagi.

PDF by Kang Zusi

Cruz tertawa. “Langsung saja. Lihat baik-baik dan tentukan

pilihanmu.”

Stark tidak memilih rumah bordil Cruz karena kualitas barangnya

yang lebih superior. Dia pergi ke sana karena rumah bordil itu adalah

yang paling dekat dengan pinggir kota. Dia tak suka kota. Kota membuat

dadanya sesak dan tenggorokannya tersumbat. Dia tak akan pergi ke kota

kalau tak perlu sekali.

Namun, lokasi rumah bordil Cruz yang di pinggir kota itu juga

membuat-nya jarang pergi ke sana. Stark tidak tahan bau busuk kandang

babi yang ada di sampingnya. Tetapi, mengenai masalah bau babi itu, dia

rupanya merupa-kan minoritas. Rumah bordil Cruz selalu ramai jika angin

bertiup dari kandang babi itu ke arah bar. Itu juga bukan masalah bagi

Stark. Satu hal yang paling tidak dia sukai di rumah bordil itu lebih dari

bau babi adalah sekerumunan orang mabuk. Karena itu, dia selalu

mengecek arah angina dahulu sebelum berkuda ke El Paso sehingga dia

tak perlu berurusan dengan bau babi ataupun para pemabuk itu.

Stark tidak sentimental. Dia tak punya pelacur favorit. Dia baru dua

puluh tahun dan telah membunuh tiga orang lagi dalam duel sejak dia

membunuh Jimmy So Fast, dan dia tak tahu apakah masih dapat hidup

hingga usia 21 tahun. Selama setahun ini, tak ada orang menantangnya,

tetapi dia tidak begitu bodoh dan rrienganggap sudah tak ada orang yang

akan menantangnya lagi. Stark memberi empat keping koin kepada Cruz

dan membawa pelacur terdekat dengannya ke atas.

Waktu itu, yang merupakan kedatangannya sebelum kedatangan

terakhir ke tempat Cruz, dia membawa Mary Anne.

Wanita itu tidak spesial, kecuali bahwa dia lebih tua daripada pelacur

lain, dan lebih tua daripada pelacur-pelacur yang pernah ditidurinya. Mary

Anne juga lebih sabar. Ketika Stark terlalu terburu-buru, wanita itu

dengan sabar membujuk dan memeluknya, menyuruhnya untuk istirahat

sebentar. Tidak apa-apa, Stark boleh mencoba lagi tanpa harus membayar

lagi kepada Cruz. Stark mengatakan kepadanya susah untuk menahan jika

dia pertama kali melakukannya setelah bepergian, dia jarang bersama

wanita, itulah alasannya. Mary Anne menyuruhnya diam dan terus

memeluknya hingga dia siap.

PDF by Kang Zusi

Ketika selesai, Stark pasti tertidur, karena yang dia sadari kemudian

dia terbangun. Sebuah lentera menyala di meja. Mary Anne tertidur di

sebelahnya. Arah angin yang salah membuat tak banyak pelanggan yang

datang. Dan, Mary Anne tidak tergesa-gesa ingin kembali ke bawah dan

duduk di kursi keras di depan bar.

Stark ingin kencing. Dia berbalik untuk turun dari ranjang dan

melihat dua anak perempuan sedang memandanginya. Mereka berdiri di

samping ranjang. Anak yang kecil umurnya tak lebih dari empat atau lima

tahun, sedang memandanginya sambil mengisap jempol Sedangkan anak

yang lain, sekitar dua tahun lebih tua, melingkarkan lengannya di pundak

adikiiya. Stark dapat menduga mereka bersaudara dari kemiripan-nya.

Dan, dia tahu mereka anak siapa, dengan melihat kemiripan mereka

dengan sang ibu. Kain gorden yang digantungkan di sisi lain ruangan itu

dikembangkan ketika dia masuk ke kamar itu dengan Mary Anne.

Sekarang, kain itu ditarik ke samping dan Stark dapat melihat tempat tidur

kecil di sisi itu.

“Halo,” kata Stark. Bagaimana caranya dia bisa membujuk mereka

agar berpaling sehingga dia dapat mengenakan celananya?

“Kami tak tahu ada orang di sini,” kata anak yang besar. “Sunyi sih.”

“Aku segera pergi begitu aku mengenakan pakaian,” kata Stark.

Anak perempuan yang kecil mengambil celana Stark dari kursi dan

memberikan celana itu kepadanya.

“Terima kasih.”

“Sama-sama,” jawab anak yang lebih besar mewakili adiknya.

Stark menolehkan kepalanya dan memandang Mary Anne, mengira

suara mereka akan membangunkannya. Tetapi tidak. Mary Anne tidur

sangat nyenyak.

“Kami tadi tidur,” kata anak yang besar, “tapi Louise bangun

kehausan, jadi aku akan mengantarkannya mengambil air minum.”

“Kamu anak yang pintar,” kata Stark, “sudah bisa menjaga adikmu.”

“Kalau kami tidak tidur, kami juga diam,” kata anak yang besar, “tak

ada orang tahu kami ada di sini. Kami diam seperti tikus, jadi ibu kami

dapat bekerja.”

“Kalian selalu sembunyi di belakang gorden itu?”

PDF by Kang Zusi

“Tentu tidak, bodoh. Siang hari kami pergi ke rumah Nyonya

Crenshaw, kecuali Sabtu dan Minggu. Hari Minggu kami pergi ke

Sekolah Minggu.” Anak itu memandang sudut tempat mereka sembunyi,

kembali memandang Stark dan terkikik. “Bagaimana mungkin kami

sembunyi di tempat kecil mungil itu setiap waktu?”

“Kenapa kalian tidak di rumah Nyonya Crenshaw sekarang?”

“Karena sekarang malam hari dan hari ini Sabtu.” Kedua anak

perempuan itu terkikik. “Apa kamu nggak tahu hari ini hari apa?”

“Becky, Louise, kenapa kalian bangun?” Mary Anne dengan

mengantuk meng-angkat kepalanya dari bantal.

“Louise haus, Mama.”

“Kalau begitu, ambilkan air untuk dia dan kembali tidur.”

“Ya, Mama. Dadah, Tuan.”

“Dah.” Stark berdiri dan memakai celananya begitu kedua anak itu

keluar dari pintu. “Mereka tak turun ke bar di bawah kan?”

“Tentu saja. Airnya ada di sana.”

“Kamu bisa saja menyimpan teko di kamar ini. Di dekat ranjang

mereka.”

“Mereka nggak mau.” Mary Anne membalikkan badannya sehingga

telentang dan menarik selimut hingga ke lehernya, memandang Stark

memakai pakaian. “Menurut mereka, bau babi masuk ke dalam air di teko

dan membuatnya kotor.”

Stark sebenarnya tak ingin mengatakan ini karena memang bukan

urusannya. Tetapi, dia mengatakannya juga. “Ini bukan tempat untuk

anak-anak.”

“Ini juga bukan tempat untukku,” kata Mary Anne, “tetapi, di sinilah

mereka dan aku juga. Hal yang lebih buruk mungkin bisa terjadi. Cruz

membiarkan mereka bersamaku, dan tak seorang pun mengganggu

mereka. Itu patut disyukuri. Dia bilang dia tidak suka pederast dan dia

serius tentang itu.”

“Apa itu pederast?”

“Orang yang suka memerkosa dan menyiksa anakanak.”

PDF by Kang Zusi

Stark ingat rumah yatim piatu dan ekspresi terkejut di wajah

pengawas saat Stark menghancurkan tengkoraknya dengan palu. “Aku

juga tak suka pederast.”

“Kau tak perlu pergi. Anak-anak akan minum dan kembali tidur.”

“Aku mendengar suara-suara,” kata Stark, mendengar suara tawa dari

bar. “Pelanggan.”

“Ada banyak gadis yang bisa melayani siapa pun yang di sana.” Mary

Anne menarik napas panjang. “Aku malas kalau angin timur bertiup.

Udaranya sangat segar dan tak banyak tamu.”

Stark mengambil empat keping uang dari sakunya dan meletakkannya

di meja dekat lampu.

“Aku kan sudah bilang kamu tak usah bayar untuk yang kedua. Lagi

pula, sebenarnya itu yang pertama kali kamu benar-benar

menghitungnya.” Wanita itu tersenyum kepadanya. Itu bukan jenis

senyum pelacur saat dia mengejekmu atau saat dia berusaha menipumu

untuk mendapatkan lebih banyak uang. Senyum itu adalah senyum yang

manis.

“Aku akan ke Meksiko untuk bekerja di tambang,” kata Stark.

Sebenarnya, dia mau menuju Missouri untuk merampok bank.

Menurutnya, perkataannya tadi akan membuat kesan yang baik sebelum

wanita itu benar-benar tahu siapa dia. “Aku akan kembali musim semi

nanti.”

“Aku akan di sini,” kata Mary Anne.

Itu adalah pertama kalinya Stark berbohong kepada seorang pelacur.

Sebelumnya, dia tak punya alasan untuk berbohong. Mengapa dia ingin

membuat kesan yang baik kepada Mary Anne? Apakah karena dia sudah

punya dua anak? Itu adalah alasan yang bodoh. Tak ada yang suci tentang

menjadi ibu. Ibunya sendiri, yang tak pernah dia ketahui identitasnya, tega

meninggalkannya di tangga sebuah gereja di Columbus, Ohio. Hanya

terbungkus selimut dan tak ada yang lainnya, dia bahkan tak memberinya

nama. Dia mendapat nama Matthew karena itu adalah nama rasul

selanjutnya yang tersedia di daftar. Dia tak tahu bagaimana dia mendapat

nama Stark. Dia tak punya hati untuk para ibu. Mungkin hanya karena

Mary Anne ramah dan punya senyum yang manis. Mungkin karena Becky

PDF by Kang Zusi

dan Louise adalah anak-anak lucu yang seharusnya tak berada di rumah

bordil. Semua itu juga alasan yang bodoh. Stark tak pernah suka anak–

anak, dia bahkan tak ingat masa kecilnya.

Itu adalah pertama kalinya dia berbohong kepada seorang pelacur dan

pertama kalinya pula dia berkata kepada seorang pelacur kalau dia akan

datang dan menemuinya lagi. Stark mengira itu adalah kebohongannya

yang kedua, setelah dia mengatakan kepada Mary Anne kalau dia akan ke

Meksiko untuk bekerja di tambang.

Tetapi, rupanya dia mengatakan hal yang sebenarnya ketika dia

berpikir bahwa dia berbohong untuk kedua kalinya waktu itu. Mary Anne,

Becky, dan Louise selalu ada dalam pikirannya sewaktu dia di Missouri.

Stark bahkan memikirkan mereka pada saat yang salah di sebuah bank di

Joplin. Hampir saja kepalanya hancur akibat tembakan senapan seorang

petani. Tetapi, senapan itu macet dan dia berhasil menembaknya di kaki.

Dia tak berhasil mendapatkan uang dan dia juga tak terbunuh. Para

pengejarnya dari Joplin masih mem-buntutinya ketika dia sampai di

perbatasan Texas. Orang-orang Missouri itu keras kepala juga. Dia gagal

merampok uang mereka dan tetap saja mereka mengejarnya hingga

melintasi dua negara bagian. Dalam perjalanan yang panjang itu, Stark

menetapkan sebuah keputusan. Dia memutuskan untuk mengunjungi

Mary Anne dan mencari tahu mengapa dia masih memikirkan tentang

wanita itu, Becky, dan Louise.

“Tahu kan apa maksudku?” kata Cruz ketika Stark masuk ke tempat

usahanya. “Kebebasan berekspresi membuat pria berpikiran optimistis.

Angin bertiup ke arah yang salah bagimu, tetapi semangatmu malah naik.

Kata-kataku berarti sangat dalam ketika aku hilang anak-anakku adalah

selusin pelacur terbaik di Texas.”

“Di mana Mary Anne?” tanya Stark.

“Wah, wah, wah, tumben. Kamu ingin menemui pelacur tertentu,

ya?”

“Di mana dia?”

“Kau bilang musim semi.” Mary Anne berdiri di anak tangga teratas.

“Sekarang masih musim dingin dan kamu sudah ada di sini. Apa

PDF by Kang Zusi

tambangnya sudah kosong?” Dia tersenyum dengan senyumnya yang

lembut dan Stark tahu mengapa dia kembali. Dia jatuh cinta.

“Tambang apa?” kata Stark.

“Tambang yang di Meksiko.”

Itulah susahnya bohong. Kamu harus ingat apa dustamu dan kepada

siapa kau katakan dusta itu. Lebih mudah mengatakan yang sebenarnya.

Dia akan jujur kepada Mary Anne segera setelah mereka bisa sendirian.

“Kau sibuk?”

“Hanya menidurkan anak-anak. Mereka akan tidur tak lama lagi.

Naiklah.”

“Jangan semalaman,” kata Cruz. Dia berlagak menarik napas dan

mengembuskan napasnya dengan suara dan isyarat. “Tak ada yang bisa

menandingi bau babi untuk meramaikan rumah bordil. Selusin pelacur

terbaik akan sibuk malam ini.”

“Aku akan membayar untuk semalam,” kata Stark. “Berapa?”

Mata Cruz menyempit, otaknya yang tergencet tengkorak berbekas

kapak sibuk menghitung. “Bukan hanya masalah di tempat tidur. Tetapi

juga, kerugian yang harus aku tanggung di bar kalau hanya ada kamu di

sana dan tak ada antrean yang naik.”

“Sialan! Bilang saja berapa?”

“Sepuluh dolar Amerika.”

Stark mengeluarkan kepingan dolar perak dari pelananya dan

menjatuhkannya di meja kartu di depan Cruz. Uang itu adalah sebagian

tabungannya dari usaha perampokannya di Missouri dahulu yang lebih

sukses dari yang terakhir.

“Demi Tuhan, Nak,” kata Cruz mengecek setiap koin dan

menemukan kalau semuanya asli dan memuaskan. “Kau tak habis

merampok bank kan?”

“Apa kau melihat poster buronan yang ada wajahku?”

“Belum sih.”

Stark naik ke atas ke kamar Mary Anne. Kedua anaknya sudah di

ranjang, tetapi belum tertidur. Suara-suara jorok terdengar dari dinding

kamar yang tipis. Tetapi, kedua anak itu kelihatannya tak peduli.

“Hai, Tuan,” kata Becky. Seperti biasa, Louise diam saja.

PDF by Kang Zusi

“Hai Becky. Hai Louise.”

“Wah, kauingat nama kami.”

“Tentu saja.”

“Siapa namamu?”

“Steve.”

“Hai, Steve.”

“Ayo Becky,” kata Mary Anne, “kautahu tak sopan memanggil orang

dewasa dengan nama depannya. Kau harus memanggilnya Tuan …. Apa

nama akhirmu?”

“Matthews.”

“Panggil dia Tuan Matthews.”

“Hai, Tuan Matthews.”

“Hai.”

“Selamat malam, Tuan Matthews.”

“Selamat tidur.”

Mary Anne menarik gorden yang memisahkan mereka.

“Kau tak perlu melakukan itu,” kata Stark. Wanita itu memandang

aneh kepadanya. “Aku hanya mau bicara. Itu saja.”

“Kau membayar sepuluh dolar untuk ngobrol semalaman?”

“Benar. Kamu tak keberatan kan?”

“Asal kamu tak punya niatan aneh.”

“Aneh seperti apa?”

“Seperti ngomong jorok dan sengaja membiarkan anak-anak

mendengarmu. Juga, menyuruh mereka melihatmu meniduriku.”

“Memang kaupikir aku ini lelaki macam apa?”

“Aku tak tahu,” kata Mary Anne. “Kau ada di rumah bordil. Aku

seorang pelacur. Kau membayar sepuluh dolar dan kamu hanya mau

bicara. Wajar kalau aku bertanya-tanya.”

“Aku cinta padamu,” kata Stark. Kata-kata itu terucap tanpa terpikir.

Padahal, tadi dia bermaksud untuk menyatakannya dengan pelan-pelan.

Kini, semua sudah terlambat.

“Oh, jadi karena itu, ya?”

PDF by Kang Zusi

Stark mengira Mary Anne akan bahagia mendengarnya atau

setidaknya terkejut, tetapi wanita itu malah terlihat kecewa dan sangat

lelah.

Terluka, Stark berkata, “Kurasa kau sudah sering mendengar itu dari

para pengagummu.”

“Lebih sering dari yang kau bayangkan,” kata Mary Anne. “Aku tak

menyebut mereka pengagumku. Hanya pria yang sedang merasa

sentimental dan terbawa angan-angan. Bukan aku yang mereka inginkan,

juga bukan Becky atau Louise. Mereka hanya menginginkan diri sendiri,

hanya dengan cara lain. Biasanya tak bertahan lama, dan mereka berubah

menjadi ketakutan dan kasar. Menyalahkanku atas semua hal yang tidak

sesuai dengan keinginan mereka.. Aku sudah pernah mengalaminya.

Percayalah, kau akan sadar suatu saat nanti.”

Mary Anne mendekati ranjangnya dan mengangkat salah satu sudut

kasur. Dia mengambil segulungan uang yang tersimpan di sana. Wanita

itu mengambil setengahnya, dan meletakkan setengah lagi di bawah kasur.

Dia menarik tangan Stark dan meletakkan sepuluh dolar di situ. Lalu, dia

menutup gorden yang memisahkan ranjangnya dan ranjang kedua

anaknya, dan membimbing Stark untuk duduk di ranjangnya.

“Beberapa menit lagi, mereka akan tertidur. Lalu, kita akan

bersenang-senang dan kaubisa kembali ke Meksiko.” Air mata yang

menggenang di kedua matanya tidak menghapuskan senyum Mary Anne.

“Kau baik sekali Steve. Benar-benar baik, tapi perasaanmu itu tak nyata.

Kamu masih terlalu muda untuk menyadarinya, tetapi suatu hari nanti kau

akan tahu.”

“Jangan katakan padaku tentang perasaanku,” kata Stark. “Aku yang

akan mengatakan padamu.” Dan, dia lalu bercerita.

Stark menceritakan kepada Mary Anne tentang panti asuhan, palu,

dan Elias Egan; tentang permainan kartu, pistol vulkanik yang macet, dan

Jimmy So Fast; tentang tiga penantang yang dia tembak mati. Dia

bercerita tentang bank-bank yang dia rampok di Missouri, tentang pos-pos

pertukaran di Kansas sebelum dia merampok bank di Missouri; tentang

kuda dan temak di Meksiko yang dia curi sebelum ke Kansas. Dia juga

PDF by Kang Zusi

mengatakan kepadanya tentang uang yang dia tabung tanpa tahu alasan

mengapa dia menabungnya selama ini.

“Aku hampir tertembak di Joplin karena aku berdiri di sana dengan

pistol di tangan, memikirkan apa yang akan aku lakukan dengan uang

yang aku dapat. Tiba-tiba aku tahu apa yang ingin kulakukan dan aku

sangat terkejut sehingga aku tak melihat petani itu menembakku hingga

dia berusaha memperbaiki senapannya yang macet.”

“Kau hanya memikirkan hal-hal manis yang dapat kaubeli jika kau

punya wanita yang dapat kau belikan barang-barang itu.” Mary Anne

masih terlihat lelah, seperti seseorang yang terlalu sering mendengar

cerita yang sama.

“Tidak,” kata Stark, “aku memikirkan kalau aku ingin punya

peternakan di daerah perbukitan Texas. Beternak. Jika kita berpengalaman

mencuri mereka, memelihara mereka pasti juga tidak sulit, begitu pikirku.

Aku juga mau mem-bangun pondok yang membuat kita tak kedinginan di

musim dingin dan tak kepanasan di musim panas. Kau harus banyak

melewatkan waktu di udara terbuka. Itu menjadi penting untukmu.”

“Kurasa juga begitu,” kata Mary Anne.

“Aku berpikir tentang sebuah tempat yang aku lewati dua musim

panas lalu, di utara Ashville, dan aku tahu di mana akan membangun

pondok. Aku membayangkan pondok itu dan melihatmu di dalamnya,

memasak daging dari sapi yang kita pelihara, dan di luar aku melihat

Becky menjaga Louise di bawah keteduhan pohon ironwood. Kalau

mereka haus, mereka bisa mengambil air jernih dari sumur mereka

sendiri.” Stark mengulurkan tangan dan menggenggam tangan Mary

Anne. Masih tersenyum dan terlihat sedih, Mary Anne mencoba menarik

tanga,nnya. Stark berkata, “Kita tak perlu lagi melihat, mendengar, atau

membaui babi-babi sialan lagi.”

Mary Anne berhenti menarik tangannya. Setelah itu, dia memandang

mata Stark lama sekali sebelum akhirnya dia merebahkan diri ke pelukan

lelaki itu.

Keesokan paginya, Mary Anne berkata, “Ethan sangat cepat dengan

pistolnya. Kalau dia kembali nanti, dia pasti akan mengejar kita meskipun

PDF by Kang Zusi

Cruz membiarkan kita pergi, walau aku yakin dia tak akan membiarkanku

pergi.”

“Cruz akan membiarkanmu pergi,” kata Stark, “dan Ethan tak tahu ke

mana harus mengejar.”

“Dia punya orang barbar yang badannya sebesar dua orang dari

Lautan Pasifik yang dapat melacak jejak seperti orang Indian.”

“Jika mereka menemukan kita,” kata Stark, “mereka pasti berharap

tidak mengejar kita.”

“Oh? Memangnya kenapa? Kamu punya banyak teman di Texas, ya?”

“Apa kamu pemah dengar tentang Matthew Stark?”

“Siapa yang belum pernah dengar tentang dia?” Mary Anne

memandangnya dan berpikir. “Sekarang, aku ingat. Orang-orang bilang

dia adalah orang yang mengalahkan Jimmy So Fast, bukan kamu.

Pantasan ceritamu tadi rasanya sudah pernah kudengar.”

“Akulah Matthew Stark.”

Mary Anne tahu Matthew Stark adalah penembak tercepat di Texas

Barat, seorang pria bercodet, jahat, dan suka memukuli pelacur hingga

mati saat meniduri mereka. Dia mulai tertawa karena anak muda yang

tampan dan lembut ini berbohong kepadanya atau bahkan sudah gila.

Lalu, dia mulai menangis karena tahu dia dan anak-anaknya tidak akan

menuju kehidupan yang lebih baik, tidak mungkin dengan seorang

pembohong atau orang gila. Stark perlu satu jam penuh untuk meyakinkan

Mary Anne bahwa dirinya dan reputasinya berbeda jalan. Dia mengira

mengatakan siapa dirinya sebenarnya akan membuat Mary Anne merasa

lebih aman dan berhenti khawatir tentang Ethan. Tetapi, hal itu justru

hampir membuatnya kehilangan Mary Anne.

Stark menunggu hingga Mary Anne, Becky, dan Louise selesai

mengepak barang-barang mereka, yang jumlahnya tak banyak, ke dalam

koper tua yang harus diikat dengan tali. Lalu, Stark memeriksa kedua

pistolnya dan turun ke bawah.

“Hah, bagi orang yang menghabiskan malam di ranjang kau tidak

kelihatan bisa tidur nyenyak,” kata Cruz menyambutnya.

“Kita perlu bicara bisnis.” Stark duduk di depan Cruz di meja kartu.

Germo itu tepat berada di tempatnya semalam, tetapi sekarang dia sedang

PDF by Kang Zusi

makan daging babi goreng dan tidak main kartu bersama tiga orang bodoh

seperti semalam.

“Angin masih bertiup dari arah yang sama. Harganya masih sepuluh

dolar semalam.”

“Tidak ada malam lagi baginya,” kata Stark. “Dia akan pergi.”

“Tentu saja,” kata Cruz, “kalau kamu punya lima ratus dolar.

Utangnya. Bayar, dan kamu bisa melakukan apa saja kepadanya. Dia akan

balik lagi tahu, segera setelah kaubisa mengeluarkan kepalamu dari pantat

dan sadar.”

Stark punya lebih dari lima ratus dolar. Tetapi, dia butuh uang untuk

membeli peternakan. “Aku kasih kau seratus.”

Dia melihat Cruz melirik dan mengikuti lirikan itu. Dilihatnya

bartender keluar dari bar dengan senapan berlaras ganda. Stark

menjatuhkan diri ke kiri, ke arah Cruz, sementara meja kartu itu meledak

menjadi kepingan. Peluru pertama Stark, menembus bahu kanan bartender

itu dan peluru keduanya menembus paha kirinya. Sang bartender

menjatuhkan senapan dan terjatuh di lantai menekan lukanya yang menyemburkan

darah dengan satu tangan yang masih berfungsi. Ketika

menengok ke arah Cruz, Stark melihat pria itu mengarahkan derringer

kepadanya. Stark menembaknya di wajah. Peluru kaliber 44 yang besar

menembus kepala Cruz dan mengoyak bekas luka berbentuk kapak di

tengkoraknya.

Ada orang yang tak tahu kapan harus berhenti. Tetapi, Stark bukan

salah satu dari mereka. Sejak itu, dia tak pernah lagi merampok bank atau

mengunjungi rumah bordil lagi. Dia mengira tak akan membunuh orang

lagi. Dan mungkin itu memang benar, kalau saja dia tak diganggu.

Selama dia mengaku, Heiko meletakkan tangan di depannya dan

menundukkan kepala. Dia tak berani memandang wajah Genji. Apa yang

dipikirkan pria itu tentangnya bahwa wanita yang cantik dan ramah yang

mengklaim mencintainya ini tak lain adalah seorang pembunuh yang

menanti perintah untuk menghabisinya? Kesunyian yang mengikuti

setelah dia mengucapkan kata terakhir pengakuannya hampir tak

PDF by Kang Zusi

tertahankan bagi Heiko. Hanya harga dirinyalah yang mencegahnya

menangis karena itu akan menjadi sebuah permintaan ampun yang tak

tahu malu. Heiko tak membiarkan setitik air mata pun jatuh. Genji akan

membunuhnya, atau sesuai dengan jiwanya yang lembut, Genji hanya

akan mengasingkan Heiko. Tak peduli apa pun tindakan Genji, hari ini

akan menjadi hari terakhir Heiko di dunia. Dia tak mau hidup tanpa pria

itu. Jika dia dibiarkan meninggalkan istana ini dalam keadaan hidup,

Heiko tahu apa yang akan dilakukannya.

Dia akan pergi ke Tanjung Muroto.

Enam ratus tahun lalu, Bangsawan Agung Akaoka yang pertama,

nenek moyang Genji Hironobu, memenangi pertempuran di hutan-hutan

di daerah itu dan menetapkan kedaulatan kekuasaannya. Sekarang, di sana

ada kuil Buddha kecil milik sebuah sekte Zen tak terkenal yang berdiri di

atas karang terjal tepat di atas laut. Sembilan ratus sembilan puluh sembilan

anak tangga dibangun dari pantai yang terjal hingga ke kuil di

puncak karang. Dia akan menaiki anak-anak tangga itu dan berhenti di

setiap anak tangga untuk mengakui cinta abadinya kepada Genji. Dia akan

memohon kepada Amaterasu-o-mikami, sang Dewi Matahari agar

menyinari Genji dengan cahaya abadinya selama hidup Genji. Heiko akan

memohon kepada Kannon, Yang Penuh Kasih, untuk melihat ketulusan

dalam hatinya dan menyatukan mereka berdua di Sukhavati, Tanah

Murni, tempat semua penderitaan terhapuskan.

Sesampai di atas, Heiko akan berterima kasih kepada semua dewa

dan Buddha yang telah memberinya hidup selama sembilan belas tahun,

kepada mendiang kedua orangtuanya karena telah menghadirkan dirinya

ke dunia ini, kepada Kuma yang telah melindungi dan membesarkannya,

dan kepada Genji yang telah memberinya cinta yang tak pantas dia terima.

Lalu, dia akan terjun ke samudra, tanpa takut, tanpa sesal, tanpa air mata.

“Bagaimana caramu melakukannya?” Genji tiba-tiba berkata. .

“Tuanku?” Heiko masih tak berani mengangkat kepalanya.

“Pembunuhanku. Teknik apa yang akan kau gunakan?”

“Tuanku, hamba mohon, percayalah kepada hamba. Hamba tak

mungkin melakuk-an sesuatu yang dapat melukai Anda, bahkan sekecil

apa pun.”

PDF by Kang Zusi

“Hide,” panggil Genji.

Pintu langsung terbuka.

“Ya, Tuanku.”

Wajah Hide tak menunjukkan apakah dia telah mendengar

percakapan antara Heiko dan Genji. Namun, tangannya waspada

memegang gagang pedang.

“Minta Hanako untuk membawa sake.”

“Ya, Tuan.”

Heiko tahu Hide tak akan pergi sendiri. Dia akan menyuruh Taro

yang di belakang pintu. Hide akan tetap berjaga di luar, siap menyerbu

masuk jika diperlukan. Dia tak akan meninggalkan junjungannya sendiri

di dalam ruangan bersama ninja wanita yang licik.

Genji pasti akan memberikan ritual minum untuk penyucian sebelum

dia menentukan hukuman. Kemurah-hatian Genji ini merobek hati Heiko.

Dia hampir-hampir tak dapat menahan air matanya.

“Kukira pasti kamu akan melakukannya di malam hari saat aku tidur.

Itu adalah cara yang paling baik.”

Heiko tak mampu menjawab. Jika dia mengatakan satu patah kata

saja, dia pasti tak dapat menahan emosi lagi. Diam dan gemetar, dia tetap

menunduk

“Tuanku.” Suara Hanako terdengar dari balik pintu.

“Masuk.”

Mata Hanako merah dan bengkak. Dia membungkuk dan masuk

dengan nampan di tangannya. Di atas nampan terdapat sebotol sake dan

satu cangkir. Genji tentu saja tak akan minum dengan Heiko. Heiko akan

minum sendiri dengan penuh penyesalan dan siap menerima nasib.

Hanako membungkuk dalam kepada Genji. Lalu, dia berpaling dan

membungkuk dalam kepada Heiko. Sebuah isakan keluar dan

tenggorokannya dan bahunya gemetar. Hanako menangis tersedu.

“Nona Heiko,” katanya dan menangis tersedu-sedan.

“Terima kasih mau menjadi temanku selama ini,” kata Heiko. “Kita

berdua sama-sama yatim piatu, dan selama beberapa waktu nasib

membawa kita menjadi saudara.”

PDF by Kang Zusi

Tak bisa mengontrol dirinya lagi, Hanako berdiri dan lari keluar

sambil menangis.

“Apa orang asing menangis sesering kita orang Jepang?” kata Genji.

“Aku tak yakin. Kalau memang mereka sering menangis seperti kita,

mereka pasti tak punya sains tapi punya kabuki seperti kita.” Genji

memandang nampan yang dibawa Hanako. “Dia hanya membawa satu

cangkir: Apa yang dia pikirkan tadi? Oh, sudahlah.”

Keheranan, Heiko melihat Genji mengambil cangkir itu dan

mengulurkannya agar diisi. Terpana, dia hanya bisa melongo memandang

Genji.

Genji berkata, “Aku lebih suka panas daripada dingin, lebih enak

kan?”

Tak tahu harus melakukan apa lagi, Heiko mengambil botol sake dari

nampan dan menuangkannya ke cangkir yang dipegang Genji. Genji

minum lalu menawarkan cangkir itu kepadanya.

“Tuanku,” kata Heiko. Dia tak mengambil cangkir itu dari tangan

Genji.

“Ya?”

“Hamba tak boleh minum dari cangkir yang sama dengan Anda.”

“Kenapa tidak?”

“Sang terhukum tak boleh menyentuh barang yang pernah menyentuh

bibir sang junjungan.”

“Sang terhukum? Kamu ini bicara apa?” Genji menarik tangan Heiko

dan menaruh cangkir itu di tangannya.

“Tuanku,” kata Heiko. “Hamba tak bisa. Kejahatan hamba akan

semakin besar.”

“Kejahatan apa?” kata Genji. “Apa aku mati? Apa aku cacat? Apakah

rahasiaku terdalam sudah kaubocorkan ke musuhku?”

“Hamba tidak mengakui identitas hamba yang sebenarnya kepada

Anda, Tuanku.”

Genji mengeluh. “Apa kaupikir aku begitu bodoh?”

“Tuanku?”

“Geisha paling cantik di Edo memilih salah satu bangsawan agung

yang paling miskin sebagai kekasihnya. Dia melakukan itu karena aku

PDF by Kang Zusi

sangat tampan, menawan, dan pintar. Tentu saja. Apa ada alasan yang

lain? Menurutmu, aku begitu bodoh sehingga tak pernah terpikir olehku

bahwa ada permainan di balik semua ini?”

Genji mengangkat botol sake. Heiko terpaksa mengulurkan cangkir.

“Aku tahu kau bekerja untuk si Mata Licik,” kata Genji. “Tidak

mungkin ada alasan lain. Pria itu memang mendendam pada keluarga

Akaoka tanpa alasan jelas. Aku tahu, dan selama ini aku mengasumsikan

kamu tahu kalau aku tahu, dan tahu kalau aku tahu bahwa kau tahu. Lagi

pula, kita ini bukan anakanak atau orang asing. Kepalsuan dan penipuan

semacam ini sudah menjadi budaya kita. Seperti menyapa apa kabar. Kita

tak mungkin memulai percakapan tanpanya, bukan?”

Dengan isyarat, Genji menyuruh Heiko minum. Heiko terlalu terkejut

untuk menolak. Genji lalu mengambil cangkir dan Heiko menuangkan

sake untuknya.

“Anda tak dapat membiarkan pengkhianatan saya,” kata Heiko, “atau

membiarkan-nya. Para pengikut Anda akan kehilangan rasa hormat

terhadap Anda.”

“Apa aku pantas untuk dihukum?”

“Anda, Tuan? Tidak, tentu tidak. Anda tak melakukan kesalahan.”

“Lalu, kenapa aku harus menghukum diriku sendiri?”

“Anda tidak usah menghukum diri sendiri. Hambalah yang harus

dihukum.”

“Benarkah? Baik. Coba beri saran.”

“Bukan hak saya menentukan hukuman.”

“Aku perintahkan kau untuk mengajukan saran.”

Heiko membungkuk. “Hukuman penggal kepala atau pengusiran

adalah yang paling pantas, Tuan”

“Di satu sisi, kau adalah geisha dan kekasihku. Di sisi lain, kau

seorang ninja dan agen dari polisi rahasia Shogun. Bagaimana mungkin

mencapai kompromi? Kita hidup di dunia ketika kesetiaan selalu

menemui konflik. Bukan kemurni-an, melainkan keseimbangan yang

mampu kita capai yang menentukan karakter kita sebenarnya. Aku tidak

melihat kesalahan pada kita berdua. Karena itu, kita berdua diampuni.”

“Tuanku, Anda tak boleh mengampuni begitu saja.”

PDF by Kang Zusi

Genji menggenggam kedua tangan Heiko. Heiko mencoba menarik

tangannya, tetapi Genji tak mau melepaskan. “Heiko, lihat aku.” Heiko

tetap menunduk. “Hukuman yang kau usulkan akan menyebabkan

penderitaan yang tak tertahankan bagiku. Apa itu adil?” Heiko diam saja.

Akhimya, Genji melepaskan genggamannya.

“Rupanya cintamu padaku sangat lemah, kau pilih mati,” kata Genji.

“Kuma dan hamba adalah orang terakhir yang hidup dari klan kami,”

kata Heiko. “Bagaimana mungkin hamba mengabaikan sumpah dan tetap

hidup? Itu artinya hamba mencemarkari nama Kuma seperti hamba

mencemarkan diri sendiri.”

“Jika kaumati, aku tak punya kehidupan lagi, semua hanyalah

kepalsuan. Apakah aku harus menghukum diriku sekejam itu?”

“Tak ada lagi yang bisa kita lakukan. Itu adalah karma.”

“Benarkah? Siapa saja di istana ini yang tahu tentang identitasmu

kecuali Stark?”

“Setiap orang, sekarang. Berita buruk cepat tersebar.”

“Kumaksud secara resmi.”

“Hanya Anda, Tuanku.”

“Di situlah letak solusinya,” kata Genji. Dia duduk merenung selama

beberapa saat. “Kau hanya berpura-pura bekerja untuk si Mata Licik.

Selama ini, kau selalu melaporkan kepadaku. Bahkan saat ini, kita

membuat rencana agar kau terus bisa memberikan informasi yang salah

kepada Kawakami, untuk menipunya. Ketika siap, kita akan membuat

jebakan dan menangkap dia melakukan kesalahan fatal.”

“Itu adalah cerita yang sangat bodoh. Tak seorang pun akan percaya.”

“Tidak perlu semua orang percaya. Biarkan mereka seolah-olah

mempercayainya seperti kita. Hide, Taro.”

Pintu di kedua sisi ruangan terbuka. “Tuan.”

Genji berkata, “Sudah waktunya aku membuka strategi rahasiaku

kepada kalian berdua. Masuk dan tutup pintu.”

“Tuan.”

Ketika Genji selesai menceritakan rahasianya, Hide dan Taro

membungkuk dalam-dalam kepada Heiko.

PDF by Kang Zusi

Taro berkata, “Kami sangat berterima kasih kepada Anda, Nona

Heiko, karena mau mengambil risiko dalam tugas yang sangat berbahaya.

Kemenangan yang akan kita capai sangat tergantung pada keberanian

Anda.”

Hide berkata, “Hamba berdoa kepada para dewa dan Buddha semoga

saya dapat mencontoh tindakan Anda meski hanya secuil.”

Suara kedua samurai itu mantap dan tenang. Namun, air mata mereka

mengalir deras. Air mata yang mereka anggap tak ada.

“Mungkinkah ada samurai atau geisha tanpa kabuki?” kata Genji.

“Kita orang Jepang sangat suka melodrama, bukan?”

Ketika Heiko memandangnya, dia melihat air mata menggenang di

mata Genji, dan pemandangan itu membuat pertahanannya jebol.

“Genji,” katanya dan Heiko tak bisa berkata-kata lagi karena air

matanya mengalir deras.

14. Sekigahara

Kegagalan Kudo di pegunungan tidak mengejutkan Sohaku.

Dia berharap sekutunya itu mampu melenyapkan Shigeru. Dia

berharap, tetapi tak yakin itu bisa terjadi. Yang mengejutkan dirinya

adalah adanya ninja di pihak Genji. Dengan Kudo dan Saiki, dia

dahulu adalah satu dari tiga komandan utama pasukan Akaoka. Tak

ada ninja yang menjadi pengikut panji panah dan burung gereja.

Setidaknya, begitulah yang dia tahu. Apakah mungkin keberadaan

ninja itu diatur sedemikian rahasia sehingga dia sendiri pun tak tahu?

Mustahil. Kudo pasti akan tahu dan mengatakannya. Saiki pasti tahu

dan itu akan terlihat di wajahnya. Bahkan, orang secerdik Lord Kiyori

tak mungkin membodohi mereka bertiga. Dan, jika dia memang

merahasiakannya, perjanjian itu pasti bubar setelah kematiannya.

Perjanjian dengan ninja adalah perjanjian antar pribadi.

PDF by Kang Zusi

Tidak mungkin Genji melakukan perjanjian dengan ninja sendiri.

Dia tak tahu di mana mencari mereka. Sake dan geisha adalah

dunianya, bukan mata-mata dan pembunuh. Dan, adakah ninja yang

mau memercayai kata-kata orang lemah dan suka berfoya-foya seperti

itu? Kecuali jika para ninja itu juga termakan oleh dongeng tentang

kekuatan ramalannya. Tidak, ninja sangat mempercayai realitas fundamental,

mereka tak mudah diperdaya. Itu berarti hanya tinggal satu

kandidat dan itu membuatnya gelisah. Kawakami. Sudah bukan rahasia

kalau ninja termasuk dalam pasukan polisi rahasia Shogun.

Apakah selama ini si Mata Licik itu telah berencana menghancurkan

Sohaku dan Kudo untuk melemahkan Genji? Mungkin dia tidak pernah

menerima benar-benar persekutuan mereka. Kudo bisa saja mati

karena perangkap Kawakami di pegunungan. Namun, itu juga

sepertinya tidak mungkin. Bukan cara yang pintar. Cara yang pintar

kalau memang Kawakami mau mengkhianati mereka adalah

membiarkan Kudo membunuh Shigeru, meminta Sohaku membantu

menjebak Genji, lalu membunuh ketiganya pada saat yang sama.

Tak satu pun dari semua alternatif tadi masuk akal baginya.

Sohaku harus mendapatkan kejelasan dengan cepat atau tindakannya

tidak akan memberikan hasil yang dia harapkan. Dan, dia juga harus

cepat menentukan apa yang akan dia lakukan. Pasukannya kurang dari

delapan puluh orang. Pengikutnya di Akaoka mungkin sudah mati atau

memutuskan tidak mengikutinya lagi. Hingga dia tahu apa niat

Kawakami selanjutnya, dia tak mungkin mengambil risiko kembali ke

Edo. Di sana dia mungkin tidak mendapat perlindungan, tetapi

penahanan dan interogasi.

Setidaknya, keluarganya aman. Ketika dia menjadi Rahib Kepala

Kuil Mushindo, keluarga Sohaku pindah ke daerah mertuanya di

Kyushu, pulau paling selatan dari empat pulau utama Jepang. Karena

itu, mereka tak mungkin dicapai oleh Shigeru.

Mengabaikan semua harapan dan ketakutan, Sohaku perlu

menemukan ketenangan dalam inti dirinya. Saat itulah, jalan keluar

akan muncul dengan sendirinya. Hanya ada satu tempat untuknya.

Kuil Mushindo.

PDF by Kang Zusi

Dengan muram, Kawakami mengintip dari teleskopnya ke arah

armada kapal Inggris dan Prancis yang membuang sauh di Teluk Edo.

Keangkuhan seperti itu tak dapat diterima. Beberapa waktu lalu,

mereka membombardir kota. Sekarang, mereka diam di sana seakanakan

tak terjadi sesuatu. Bahkan, lebih buruk dari itu, mereka bersikap

seakan-akan mereka bukanlah pihak yang salah.

Beberapa benteng bangsawan di selatan telah menembaki kapal

saudagar asing di Selat Kuroshima. Sebagai balasan, armada Inggris

dan Prancis mengebom benteng-benteng itu hingga hancur lalu menuju

Edo untuk merusak istana para bangsawan yang telah menembaki

kapal mereka. Namun, sasaran mereka sesempit pemahaman mereka

sehingga para orang asing itu membombardir distrik Tsukiji tanpa

pandang bulu. Tetapi, mereka tak mau minta maaf, bahkan meminta

pembayaran untuk mengganti kerugian yang diderita kapal dagang

mereka, permintaan maaf resmi dari bangsawan bersangkutan dan janji

dari Shogun bahwa tindakan seperti itu tak akan terulang.

Meskipun berita ini mengganggu, tidak seburuk berita yang dia

terima dari medan pertempuran. Ketika angkatan laut Inggris mendarat

di pantai, keberanian para samurai di benteng-benteng Kuroshima

menguap. Berhadapan dengan pasukan berdisiplin tinggi, senapan, dan

artileri, mereka lari ketakutan. Padahal, enam ratus tahun lalu, nenek

moyang mereka dengan gagah berani melawan dan mengalahkan

pasukan Mongol pimpinan Kubilai Khan. Sekarang, mereka lari tanpa

berusaha melawan. Hari yang memalukan bagi sejarah bangsa

pejuang, seperti Jepang.

Shogun juga belum bisa menentukan respons yang pantas.

Beberapa orang radikal mengusulkan deklarasi perang terhadap orang

asing, tak peduli siapa pun mereka. Yang lain, ketakutan tetapi juga ,

tak rasional, meminta Shogun menuruti saja keinginan para orang

asing itu. Diperlukan konsensus agar pemerintahan tetap bersatu.

Untuk mencapai konsensus itu, Shogun mengambil langkah tak terduga.

Bukannya menentukan keputusan dan memproklamasikannya,

PDF by Kang Zusi

dia malah meng-undang semua bangsawan agung termasuk mereka

yang bukan sekutunya untuk datang ke Edo, bertemu di Dewan

Pemerintahan dan merundingkan jawaban. Dengan kata lain, Shogun

menawarkan pembagian kekuasaan dengan musuh bebuyutannya,

klan-klan terusir yang sejak Sekigahara telah menunggu untuk membalas

dendam pada klan Tokugawa. Tahap rekonsiliasi bersejarah akan

terjadi.

Kemungkinan bahwa rekonsiliasi itu mungkin terjadi membuat

Kawakami muak. Itu artinya akhir dari rencana yang telah dia susun

hati-hati untuk menghancurkan klan Okumichi. Lebih buruk lagi, pada

masa serba tak pasti ini, reputasi mereka yang dikatakan mampu

meramal memungkinkan mereka mendapatkan kedudukan lebih tinggi

yang tidak sepantasnya karena publik memercayai mitos itu.

Kawakami dapat membayang-kannya.

Genji akan ikut konferensi itu. Dia akan menceletukkan sebuah

komentar iseng yang dianggap sebagai nasihat serius oleh Shogun.

Tindakan akan dilakukan. Dengan adanya kebetulan seperti yang

sering dialami para Bangsawan Agung Akaoka, hasilnya akan lebih

baik dari yang dibayangkan orang. Shogun dalam posisinya yang

lemah dan bergantung pada setiap harapan yang mungkin muncul, lalu

akan mengangkat Genji sebagai salah satu penasihatnya. Kawakami

tak perlu kemampuan meramal untuk mengetahui masa depannya

setelah itu terjadi. Genji yang mendendam kepadanya akan mencari

cara untuk memaksa Shogun memerintahkan Kawakami untuk

melakukan ritual hukuman bunuh diri. Kawakami telah melayani

Shogun selama hidupnya. Tetapi, jika junjungannya itu harus memilih

tentu saja dia memilih Genji. Jika dia percaya seperti apa yang

dipercayai Shogun, Kawakami akan melakukan hal yang sama. Kepala

polisi rahasia gampang dicari, tetapi orang dengan kemampuan meramal

itu lain lagi. Benar-benar nasib sial.

Tetapi, tunggu. Tak satu pun dari peristiwa ini sudah terjadi. Dan,

semua itu takkan terjadi jika Genji tak pernah mencapai Edo.

Kawakami punya satu kesempatan terakhir. Namun, kali ini sifatnya

tak resmi karena Genji bukan lagi seorang buronan, dan dia tak pernah

PDF by Kang Zusi

menjadi buronan karena keputusan Shogun untuk menunda Undangundang

Kediaman Alternatif yang berlaku mundur. Tetapi, negara ini

sekarang dalam keadaan kacau dan hal-hal yang tak diharapkan bisa

saja terjadi pada masa ini.

Sohaku telah memberi kabar kepadanya kalau dia sementara

menenangkan diri di Kuil Mushindo. Awalnya kabar ini

menjengkelkan Kawakami, tetapi sekarang dia melihatnya sebagai

perkembangan yang menguntuhgkan. Dalam perjalanannya menuju

Edo, Genji akan melewati jalan antara Mushindo dan Desa Yamanaka.

Kawakami bermaksud berada di desa itu di waktu yang tepat dengan

para pengikut pribadinya yang berjumlah sekitar enam ratus orang.

Semuanya dipersenjatai senapan Napoleon dan mahir menggunakannya.

Ya, semuanya telah dipertimbangkan. Situasinya tak

harus berubah ke arah yang kurang menyenangkan.

Satu hal yang masih mengganggu, meski sepele, adalah hilangnya

asistennya, Mukai. Kawakami telah mengirim tiga utusan ke wilayah

si bodoh itu di daerah utara. Tak seorang pun dari ketiga utusan itu

kembali. Ini aneh, sangat aneh. Apakah ada kondisi darurat di rumah

tangganya yang memaksa Mukai pergi, dan urusan itu menyita seluruh

waktunya hingga dia tak sempat menjawab Kawakami? Kawakami

ingat istri Mukai, yang sempat dia temui beberapa kali dalam acaraacara

sosial. Wanita itu sama membosankannya dengan sang suami.

Hal yang sama juga bisa dikatakan pada dua selir Mukai. Mereka

kelihatannya ada untuk memenuhi kepantasan bahwa seorang bangsawan,

meski tingkatannya rendah, seperti Mukai setidaknya harus

punya dua selir. Tidak mungkin membayangkan ada cinta menggebu

antara Mukai dan para selirnya.

Cepat atau lambat, Kawakami yakin Mukai akan muncul dengan

alasan yang rasional dan membosankan atas tindakannya pergi begitu

saja. Mungkin dengan bodohnya dia telah menginterpretasikan izin

Shogun untuk meninggalkan Edo sebagai sebuah perintah kepada para

bangsawan untuk meninggalkan Edo. Seperti itulah keputusan yang

mungkin diambil Mukai tanpa adanya Kawakami yang memberinya

perintah.

PDF by Kang Zusi

Kawakami mengabaikan kekhawatirannya. Lebih banyak masalah

penting yang harus dipikirkan. Mata-matanya masih mengawasi

Akaoka. Heiko masih seranjang dengan Genji. Kesempatannya akan

segera datang.

“Satu, hamba sangat menentang perjalanan ini,” kata Saiki. “Dua,

jika perjalanan ini memang harus dilakukan, hamba mengusulkan agar

Anda membawa pasukan. Setidaknya seribu orang. Dua ribu akan

lebih baik. Tiga, hamba meminta agar Anda bepergian dengan salah

seorang bangsawan lain, utamanya yang dianggap netral oleh kedua

pihak. Ini akan mengurangi risiko penyergapan di tengah jalan.”

“Terima kasih atas perhatianmu yang tulus,” kata Genji. “Kalau

dalam situasi berbeda, bahayanya memang sebesar yang kau

khawatirkan. Tapi, aku ke Edo atas undangan Shogun. Itu sudah

menjamin perjalanan yang aman.”

“Sepuluh tahun lalu, itu mungkin benar,” kata Shigeru. “Tapi,

sekarang Shogun tak lagi menguasai negara ini sepenuhnya. Orang

asing dengan bebas menghancurkan ibu kotanya. Semakin sering para

bangsawan sekutunya dan bangsawan bukan sekutunya mengabaikan

perintahnya seenak sendiri. Di berbagai wilayah, kekuasaan para

Bangsawan Agung sendiri juga tidak stabil. Saiki benar. Kamu jangan

pergi.”

Genji berpaling kepada Hide “Bagaimana menurutmu?”

“Apakah sebaiknya Anda pergi atau tidak saya tak kuasa

memutuskan, Tuan. Tetapi, jika Anda memutuskan untuk pergi, hamba

setuju dengan Lord Saiki. Anda harus membawa pasukan. Setidaknya

seribu orang, jika Anda tak mau lebih dari itu.”

Genji menggeleng. “Jika aku pergi ke Edo dengan seribu pasukan,

Shogun akan melihatnya sebagai upaya agresi.”

“Beri tahu Shogun sebelumnya,” kata Saiki. “Katakan Anda akan

menempatkan pasukan jauh di luar kota, tetapi dekat dengan dataran

Kanto, jika Shogun menginginkan mereka bergabung dengan pasukannya

melawan para orang asing. Kita bisa menggunakan Kuil Mushindo

sebagai markas.”

PDF by Kang Zusi

“Kita memang akan berhenti di sana nanti,” kata Genji. “Emily

ingin mengecek pembangunan rumah misi. Apakah kautahu tentang

pembangunan rumah misi di sana?”

“Tidak, Tuanku.” Saiki berusaha menahan kekesalannya. Dia

sangat berterima kasih kepada Lady Emily karena telah

menyelamatkan nyawa junjungannya. Tetapi menurutnya, tak bisa

ditoleransi jika keinginan Emily melihat pem-bangunan rumah misi

mengganggu diskusi yang serius ini. “Apakah Anda bermaksud

mengizinkan Lady Emily ikut Anda ke Edo?”

“Ya.”

“Kalau begitu, hamba harus menambahkan saran yang keempat,”

kata Saiki. “Empat, saya sangat tidak setuju jika Lady Emily ikut.”

“Istana Bangau yang Tenang sedang dibangun lagi,” kata Genji.

“Emily harus mengawasi pembangunan beberapa gedung. Dia tak bisa

melakukan itu jika dia tak ikut ke Edo.”

Saiki menggertakkan giginya. “Apakah arsitektur salah satu bakat

Lady Emily?”

“Tidak. Tapi, para arsitek kita butuh nasihatnya mengenai

pembangunan kapel.”

“Kapel?”

“Aku sudah memerintahkan agar gereja Kristen kecil dibangun di

Istana Bangau yang Tenang yang baru.”

“Apa?” Saiki sangat terkejut.

Shigeru tertawa, dan mengejutkan semua orang, karena dia sangat

jarang tertawa. “Kenapa bingung, Saiki? Seribu tahun lalu, Buddha

juga agama orang asing yang dibawa oleh misionaris Cina dan Korea.

Sekarang, Buddha dianggap agama ash Jepang. Seribu tahun setelah

ini, hal yang sama bisa juga dikatakan pada agama Kristen yang

dibawa para orang asing ini.”

Saiki berkata, “Hamba tak tahu kalau Anda orang yang optimistis,

Tuanku.”

“Aku belajar dari keponakanku.”

“Menurut Anda, boleh-boleh saja membawa wanita dalam

perjalanan yang berbahaya ini?”

PDF by Kang Zusi

“Bukan seorang wanita saja,” kata Shigeru. “Beberapa orang.

Nona Heiko dan Hanako juga akan ikut.”

Saiki menahan diri untuk tidak mengutarakan kekhawatiran lagi.

Dia hanya berkata, “Saran hamba yang kelima adalah agar kita

merencanakan perjalanan ini dengan keseriusan.”

“Heiko merindukan Edo,” kata Genji, “dan Hide tidak boleh

dihalangi dari berbagai kesempatan yang memungkinkan dia

mendapatkan ahli waris.”

“Ancaman yang paling berbahaya belum berlalu,” kata Saiki, tidak

bereaksi terhadap penjelasan Genji yang main-main. “Ancaman itu

masih ada di depan kita.”

“Dan ketika bahaya itu datang, kita akan menghadapinya,” kata

Genji. “Sebelum itu terjadi, kita tidak perlu memperturutkan

kekhawatiran yang berlebihan.”

Saiki membungkuk. Betapa ironis, mereka berhasil melewati

bahaya yang baru saja terjadi, tetapi harus mati dalam perjalanan bisaa

ke Edo. Begitulah karma kan kepada karmalah dia sekarang

membungkuk seperti dia membungkuk kepada junjungannya. “Hamba

mendengar dan patuh, Tuanku.”

“Terima kasih, Saiki.”

“Berapa banyak orang yang harus saya siapkan?”

“Oh, sekitar dua puluh atau tiga puluh sudah cukup. Kita tak akan

lama di Edo.”

“Mata-mata kita melaporkan Sohaku ada di Mushindo,” kata Hide.

“Jika dia masih bersekutu dengan Kawakami, seribu pasukan seperti

yang disarankan Lord Saiki mungkin perlu dipertimbangkan.”

“Mushindo akan bersih, sebelum Genji sampai di sana,” kata

Shigeru. “Pengkhianat tanpa nama itu tak lama lagi hanya akan bisa

bersekutu dengan setan.”

“Aku hampir tak bisa memercayai mataku,” kata Emily. “Pertamatama

kebun apel. Sekarang ini.”

PDF by Kang Zusi

Dia dan Stark berdiri di tengah-tengah lautan mawar musim

dingin. Mawar-mawar ini berwarnawami mulai dari putih yang seputih

salju hingga merah darah, dan juga ada berbagai warna perpaduan

merah jambu, mulai yang paling terang hingga gelap.

Stark berkata, “Taman ini pantas mendapatkan namanya yang

terkenal.”

Emily memandang Stark dan bertanya kepadanya.

“Heiko berkata padaku nama lain dari kastel ini adalah Kastel

Lautan Mawar.”

“Kastel Lautan Mawar,” kata Emily “Awan Burung Gereja.

Nama-nama puitis yang digunakan untuk mendeskripsikan benteng

yang sayangnya dibangun untuk perang.”

“Perang adalah puisi bagi samurai,” kata Stark.

“Wah, Matthew, rupanya kau mendapatkan banyak pemahaman

tentang samurai selama perjalananmu dengan Heiko.”

“Kami punya kesempatan untuk berbicara,” kata Stark. Lalu, dia

menutup mulutnya. Lebih baik dia tak mengatakan apa-apa. Heiko

berkata dia akan mengatakan semuanya kepada Genji. Mungkin dia

melakukannya dan mungkin tidak. Itu masalah Heiko, bukan

masalahnya.

Mereka berdua dibimbing Hanako ke kebun mawar setelah Emily

mengutarakan keinginannya untuk berjalan-jalan di luar. Kamarnya

yang penuh sesak oleh kursi, meja, dan lampu membuatnya seakan

mengidap klaustrofobia, ruangan duduknya dan Stark juga tak lebih

baik. Para pelayan mengeluarkan sofa aneh dari ruangan duduk

sebagai tempat duduk mereka di kebun mawar itu. Emily

mengingatkan dirinya untuk mengatakan kepada Lord Genji tentang

perabot untuk luar rumah. Pria itu kelihatannya bersemangat untuk

belajar sebanyak mungkin tentang peradaban Amerika, juga bahasanya.

“Heiko kelihatan sangat lembut,” kata Emily. “Serba kekurangan

di alam liar pasti sangat tidak nyaman baginya.”

“Dia baik-baik saja.” Stark mencoba mengalihkan arah

pembicaraan. “Kau dan Lord Genji menghadapi petualangan yang

PDF by Kang Zusi

lebih menegangkan dari kami. Jika kabar burung itu memang benar,

kau adalah malaikat yang mewujudkan keajaiban untuk menyelamatkan

hidupnya.”

Emily melengos dan memfokuskan pandangannya pada kuntum

mawar. Dia ber-harap Stark tidak melihat wajahnya yang memerah.

“Begitulah kabar burung. Kautahu bagaimana. Seseorang yang tak

tahu apa-apa mengatakan sesuatu, dan terus dibumbui hingga

berkembang.”

“Heiko kelihatannya bukan orang yang suka bergosip. Dia berkata

Lord Shigeru menemukan kalian di rumah salju yang kau bangun. Apa

kamu benarbenar mem-bangun rumah salju?”

“Itu hanya tempat bernaung yang aku buat dari cabang pohon dan

ditutupi salju yang turun.”

“Heiko juga berkata, Lord Genji mengatakan engkau menjaga

agar diri kalian tetap hangat dengan pengetahuan yang kau pelajari

dengan Eskimo.”

“Aku belum pernah bertemu orang Eskimo selama hidupku,” kata

Emily setenang mungkin.

“Aku juga berpikir begitu,” kata Stark. “Heiko pasti salah paham

terhadap per-kataan Genji. Atau, aku yang salah paham. Jadi,

bagaimana kau melakukannya?”

“Melakukan apa?”

“Bertahan hidup. Kalian tersesat selama hampir dua hari di badai

salju. Kamu pasti melakukan sesuatu untuk mencegah kalian

membeku, bukan?”

“Tempat bernaung yang kubangun melindungi kami dari angin,”

kata Emily. Dia tak bisa bohong, dan dia pun tak bisa mengatakan

yang sebenarnya. Itu akan lebih memalukan. “Meskipun dinding yang

melindungi kami terbuat dari salju, tetap saja itu dinding. Dinding itu

memisahkan kami dari cuaca dingin sehingga di dalam lebih hangat

daripada di luar.”

“Bagus juga aku tahu itu,” kata Stark. “Kalau-kalau nanti kita

terjebak pada situasi yang sama.”

PDF by Kang Zusi

“Aku yakin kita tak akan menghadapi itu,” kata Emily. Dia

mengelus sekuntum mawar merah. “Aku ingin tahu, jenis mawar apa

ini?”

Terdengar suara Genji, “American Beauty”

Emily berpaling dan melihat Genji berdiri tak jauh dari tempat

mereka. Senyum di wajahnya menunjukkan kepada Emily kalau Genji

sudah berdiri di situ cukup lama untuk mendengar setidaknya beberapa

patah kata percakapannya dengan Stark tadi.

Melihat ketidaksukaan di wajah Emily, Genji langsung mengubah

ekspresinya menjadi lebih serius. Dia mendekati kuntum mawar yang

baru saja dibelai Emily, menghunus pedang pendeknya;-dan

menyabetkan pedang itu dengan ringan ke tangkai mawar. Kuntum

mawar itu terpisah dari batangnya dan jatuh ke tangan Genji. Dengan

lincah, Genji menghilangkan duri-duri di tangkai mawar dengan

pedangnya.

Dia lalu membungkuk dan mengulurkan mawar itu kepada Emily

“Terima kasih, Tuanku.”

“Nama yang aneh untuk bunga Jepang,” kata Stark.

“Itu hanya nama di istana ini saja,” kata Genji. “Salah satu nenek

moyangku mengalami sebuah …. Genji akan berkata pertanda.

Namun, ingat betapa istilah itu sangat mengganggu Emily

menggantinya dengan mimpi. Keesokan paginya, dia memerintahkan

agar kuntum mawar yang paling indah yang mekar di kastel ini

dinamai American Beauty”

Emily merasa penjelasan Genji terdengar seperti cerita tentang

sebuah pertanda. Tetapi, rasa ingin tahunya lebih menguasai.

“Apa yang diimpikan nenek moyang Anda?”

“Dia tak pemah menceritakan dengan pasti. Hari itu, dia dan

pasukannya bergabung dengan pasukan dari klan Takeda. Dia bersama

mereka ketika pasukan gabungan itu menyerang pagar barikade di

Nagashino, mungkin itu menjadi salah satu serangan kavaleri paling

terkenal di sejarah bangsa kami. Dia meninggal dalam badai peluru

yang ditembakkan oleh senapan musuh, bersama ribuan prajurit berPDF

by Kang Zusi

kuda lainnya. Sejak itu tak ada lagi orang yang mencoba melakukan

serangan yang sama.”

“Mimpinya membuatnya bertindak sebodoh itu?”

“Ya. Sebelum menyerang, dia mengatakan kepada para

pengikutnya agar tidak takut. Kedatangan American Beauty di Kastel

Awan Burung Gereja menandakan kemenangan besar bagi klan.

Menurutnya, mimpi yang dialaminya menjamin ke-menangan itu.”

Sebelum bisa menahan diri, Emily berkata, “Itu gila.” Begitu kata

itu terucap, Emily berharap dia dapat menahan lidahnya. “Maafkan

saya, Tuanku. Saya salah bicara.”

Genji tertawa. “Nenek moyangku itu berusaha memaksakan

realitas agar sesuai dengan mimpinya. Orang gila memang sering

begitu. Sayangnya, ini sering terjadi di keluarga kami, seperti juga

kebisaaan menginterpretasikan mimpi secara salah. Karena itu,

penerusnya menceritakan peristiwa itu sebagai peringatan.”

“Itu sangat bijak,” kata Emily, mencoba memperbaiki kesalahan

katanya dengan pujian.

“Dan akan menjadi lebih bijaksana kalau saja nenek moyangku itu

mengingat-nya sendiri,” kata Genji. “Mimpi-mimpinya sendiri

meyakinkan dirinya untuk memilih melawan Tokugawa saat perang.

Sekigahara. Dia terbunuh, klan kami hampir hancur, dan beginilah

kami sekarang, menjadi musuh Shogun yang paling tak dipercaya.”

Emily merasakan simpati sekaligus ketidaksetujuan. Konflik batin

itu memuncul-kan ekspresi ketidaksetujuan di wajahnya. Dia berkata,

“Peristiwa yang Anda ceritakan itu menunjukkan hikmah bahwa

mimpi harus dianggap sebagai mimpi saja. Tertulis dalam Injil.

Ramalan tidak diperuntukkan bagi mereka yang tidak percaya, tetapi

untuk mereka yang percaya.”‘

“Mungkin. Itu tidak menggangguku. Aku tidak sering bermimpi

seperti para pen-dahuluku.”

Saat lidahnya, bibir, paru-paru, dan laringnya membentuk katakata

ini, dunia di sekitarnya mengabur dan Genji menemukan dirinya

ada di tempat lain.

PDF by Kang Zusi

Angin sepoi menyejukkan kulitnya yang terasa panas.

Bunga putih memenuhi cabang-cabang di atasnya dan memenuhi

udara dengan keharumannya.

Bunga-bunga di Lembah Apel sedang mekar.

Pasti sedang musim semi.

Keindahan di sekitarnya membuat dadanya sesak dan air mata

menggenang di matanya. Genji merasa bahagia, tetapi konflik emosi

seperti apa ini yang dia rasakan? Dia tak yakin. Mungkin Genji

mengetahui masa depan, tetapi pertanda ini tidak dia ketahui. Seperti

pengalaman yang dia alami pertama kali, Genji merasa ini adalah

dirinya di masa depan. Tangannya yang memegang kekang kuda,

terletak di ujung pelana, tak jauh beda dengan tangan yang baru saja

memberikan mawar kepada Emily. Jika hari ini di masa depan, pasti

hari ini tak begitu jauh, karena dia belum terlihat tua.

Genji membiarkan kudanya pergi sesukanya. Dia tak punya

tujuan. Dia menunggu. Untuk apa? Rasa tak sabar membuatnya turun

dari kuda. Dia mondar-mandir. Memandang ke atas, Genji melihat

cabang pohon tempat Emily duduk saat dia memberikan Lembah Apel

kepadanya. Heiko mengaku kepadanya hari yang sama. Dia

memikirkan kedua wanita itu dan tersenyum.

Geisha cantik yang tahu lebih dari yang seharusnya. Orang asing

naif yang hanya tahu apa yang ingin dia ketahui.

Genji memikirkan mereka berdua dan sekah lagi diingatkan akan

keterbatasan pertanda ramalan.

Genji merasakan getaran tanah sebelum dia mendengar derap kaki

kuda yang berlari kencang. Ketika dia melihat bukit kecil di ujung

lembah, dia melihat sebuah bangunan beratap tinggi dengan menara

berisi bel. Di atas menara itu, terdapat salib putih Kristen. Hide

memacu kudanya melewati gereja Emily dengan kecepatan penuh.

Tanpa menunggu, Hide sampai dan menyampaikan pesan, Genji

melompat ke atas kudanya dan memacunya menuju Kastel Awan

Burung Gereja.

PDF by Kang Zusi

Para pelayan berkumpul di halaman dalam. Mereka membungkuk

menyambutnya. Genji berjalan tergesa-gesa menuju istana. Di ujung

koridor, dia mendengar tangisan bayi baru lahir datang dari kamamya.

Dia segera mengarahkan langkah ke sana.

Seorang dayang menunjukkan bayi itu kepadanya. Tetapi, yang

menjadi perhatian Genji adalah ibunya, bukan anaknya. Dia hanya

memandang sekilas pada bayi itu. Tetapi, sebelum dia bisa memasuki

kamarnya, Dokter Ozawa keluar dan menutup pintu di belakangnya.

“Bagaimana kondisinya?”

“Kelahiran yang sangat sulit,” Dokter Ozawa berkata. Wajahnya

murung.

“Apakah kondisinya sudah tidak berbahaya?” tanya Genji.

Dokter Ozawa menggeleng. Dia membungkuk rendah. “Maafkan

saya, Tuanku.”

Sebuah emosi menggelegak tak tertahan dalam dirinya saat dia

mendengar kata Dokter Ozawa. Duka. Genji jatuh berlutut.

Dokter Ozawa berlutut di dekatnya. “Anda seorang ayah, Lord

Genji.”

Genji terlalu dikuasai kesedihan sehingga tak bisa menolak ketika

bayi itu diletak-kan di lengannya.

Sesuatu berkilau di leher bayi itu. Melalui air mata yang

menggenangi matanya, Genji langsung mengenalinya. Dia telah

melihat benda itu dua kali.

Pertama kali di sebuah pertanda.

Kedua kali di tumpukan salju.

Sebuah loket kecil dengan ukiran salib dan dihiasi ukiran

sekuntum bunga, mungkin bunga lily.

Dokter Ozawa berkata tegas, “Hamba sudah memperingatkan Anda

agar tidak terlalu lelah, Tuanku.” Genji berbaring di ranjang di kamar

yang menghadap ke kebun mawar. Dia tidak ingat datang ke sini.

Tetapi, dia ingat jatuh pingsan.

“Aku hanya bicara.”

PDF by Kang Zusi

“Kalau begitu, Anda bicara terlalu banyak. Tolong kurangi.”

Genji duduk, “Aku sehat.”

“Orang sehat tak akan pingsan tanpa alasan.”

“Pertanda,” kata Genji.

“Ah.” Dokter Ozawa berpaling ke pintu. “Hanako.”

Pintu terbuka dan Hanako melongok ke dalam.

“Ya, Dokter.” Dia tersenyum dan membungkuk kepada Genji

meskipun tampak jelas ekspresi khawatir di wajahnya.

“Bawakan teh,” kata Dokter Ozawa.

“Sake lebih baik,” kata Genji.

“Teh,” kata Dokter Ozawa.

“Ya, Dokter,” kata Hanako dan mundur. “Haruskah aku bilang

padamu?”

“Jika Anda mau,” kata Dokter Ozawa. Dia telah menjadi dokter

klan selama hampir empat puluh tahun.

Kiyori dan Shigeru adalah pasiennya sebelum Genji.

Dia tahu semua mengenai pertanda. “Hamba ragu dapat

memberikan pendapat yang berguna.”

“Selalu ada pertama kali.”

“Tak selalu. Terkadang tak pernah ada saat pertama.”

Genji mendeskripsikan apa yang dia lihat sedetail mungkin. Dia

lalu menunggu pendapat Dokter Ozawa, tetapi pria itu hanya duduk

diam dan menghirup tehnya.

“Pertanda ini mirip yang pertama,” kata Genji. “Justru

membingungkan bukan mencerahkan. Siapa ibu anak itu? Pastinya

Lady Shizuka dari pertanda pertama karena anak itu memakai kalung

ibunya. Tetapi, di pertanda pertama Lady Shizuka hidup dan aku

sekarat, tetapi di pertanda ini justru kebalikannya. Kontradiksi yang

tak bisa dimengerti.”

“Sepertinya begitu.”

“Apa kaupercaya aku telah melihat apa yang akan terjadi atau

sesuatu yang dapat terjadi?”

“Semua pertanda yang diceritakan kakek Anda kepada hamba

telah terjadi.” Dokter Ozawa menghirup tehnya. “Tetapi, hamba tahu

PDF by Kang Zusi

dia tidak menceritakan semuanya. Tak satu pun pertanda yang dilihat

paman Anda sudah terjadi. Sejauh ini. Pertanda yang Anda alami

adalah situasi yang sangat berbeda. Anda sudah mengalami dua

pertanda, dan hanya akan mengalami satu lagi. Itulah pertanda terakhir

bagi Anda. Hamba rasa itu lebih baik daripada yang dialami Lord

Kiyori atau Shigeru. Pertanda yang Anda, alami tak terlalu jelas, tetapi

juga tak terlalu gelap. Pertanda itu cukup untuk meningkatkan

kewaspadaan Anda.”

“Kau tidak menjawab pertanyaanku.”

“Bagaimana hamba bisa?” kata Dokter Ozawa. “Apa yang dapat

hamba ketahui tentang masa depan? Hamba hanya seorang dokter,

bukan nabi.”

“Filosofi netral seperti itu tidak membantu,” kata Genji. “Aku

butuh nasihat.”

“Hamba hanya bisa memberikan pendapat yang tak bisa dianggap

nasihat,” kata Dokter Ozawa.

“Aku akan menerimanya.”

“Anda sebaiknya bicara pada seorang wanita.”

“Ya,” kata Genji, “tapi siapa?”

“Seharusnya itu sudah jelas.”

“Oh ya? Coba katakan padaku.”

Dokter Ozawa membungkuk. “Hamba maksud seharusnya sudah

jelas bagi Anda, Tuanku. Andalah yang mengalami pertanda itu.”

Heiko mendengar tanpa menyela. Ketika Genji selesai bercerita, dia

tetap diam. Genji mengerti. Pasti berat baginya mendengar bahwa

Genji akan menjadi ayah dari anak yang didapatkan dari perempuan

lain. Tetapi, dengan siapa lagi Genji dapat membagi pengalamannya?

Pria itu tak mempercayai orang lain sebesar kepercayaan-nya kepada

Heiko.

“Hanya satu hal yang jelas bagiku,” kata Genji. “Sebelum ini

terjadi, Shizuka pasti bertemu Emily, karena loket yang dia pakai,

PDF by Kang Zusi

kalung yang diberikan Shizuka kepada anak. kami, adalah kalung yang

sekarang ini dipakai Emily. Selain itu, aku sama sekali tak mengerti.”

Heiko berkata, “Bukankah Anda pernah menceritakan kepada

saya cerita tentang seorang pejuang asing dengan senjatanya? Saya tak

ingat namanya.”

“Maksudmu cerita tentang Damocles dan Pedang yang

Tergantung?”

“Bukan itu.” Heiko berusaha mengingat. “Namanya mirip dengan

nama Guru Zen Hakuin Zenji. Hakuo. Hokuo. Okuo. Okkao. Pedang

Okkao. Seperti itulah.”

“Pisau Occam?”

“Ya, itu dia.”

“Memangnya kenapa dengan cerita itu?”

“Ketika Anda mengatakan satu hal yang sudah jelas, Anda tidak

menggunakan Pisau Occam.”

“Oh? Jadi, kamu sudah menguasai pemikiran orang asing?”

“Tidak perlu menguasai apa-apa dalam masalah ini. Seingat saya,

Pisau Occam mengatakan, ketika dihadapkan pada berbagai

kemungkinan, kemungkinan yang membutuhkan penjelasan paling

sederhanalah yang benar. Anda tidak memilih pen-jelasan yang

sederhana.”

“Aku sudah membatasi diri pada bagian pertanda yang menurutku

bisa dijelaskan. Bukankah aku sudah menerapkan cara Pisau Occam?”

“Anda mengasumsikan Shizuka, orang yang belum Anda temui,

akan menjadi ibu anak Anda. Kalung loket itu berasal dari Emily dan

diberikan kepada anak itu. Ada penjelasan yang lebih mudah.”

“Aku tak bisa melihatnya.”

Heiko berkata, “Anak itu mendapat kalung langsung dari Emily.”

“Mengapa Emily memberikan kalung loketnya kepada anakku?”

“Karena itu anaknya juga,” kata Heiko.

Genji kaget. “Itu sangat tidak masuk akal. Juga menghina, dan

bukan penjelasan. yang sederhana.

PDF by Kang Zusi

Agar Emily bisa menjadi ibu dari anakku kami harus tidur

bersama. Aku tak bisa melihat itu bisa terjadi dengan cara yang

sederhana dan langsung. Bagaimana menurutmu?”

“Cinta cenderung menyederhanakan situasi yang paling kompleks

dan sulit sekalipun,” kata Heiko. “Aku tidak jatuh cinta pada Emily,

dan jelas dia juga tidak jatuh cinta padaku.”

“Mungkin belum, Tuanku.”

“Tak akan pernah,” kata Genji.

“Bagaimana perasaan Anda terhadapnya?”

“Aku tak punya perasaan apa-apa padanya, bukan seperti yang

kau maksudkan.”

“Saya sudah melihat Anda tertawa bersamanya,” kata Heiko, “dan

dia sering tersenyum saat bersama Anda.”

“Kami hampir mati bersama,” kata Genji. “Karena itu, ya, kami

punya ikatan yang lebih kuat dari sebelumnya tidak ada. Tetapi itu

ikatan persahabatan, bukan cinta.”

“Apa menurut Anda dia masih menjijikkan dan canggung?”

“Tidak menjijikkan. Tapi itu karena aku sekarang sudah terbisaa

dengan pe-nampilannya. ‘Canggung’ juga istilah yang terlalu keras

untuknya.” Genji mengingat bagaimana Emily berbaring di salju,

menggerakkan tangan dan kakinya untuk membuat malaikat salju. Dia

membayangkan gadis itu memanjat pohon apel tanpa merasa canggung

sedikit pun. “Kurasa, di mata orang asing, dia mempunyai keanggunan

ter-sendiri.”

“Anda berbicara tentangnya seakan-akan Anda menyayanginya.”

“Aku mengakui kalau menyukainya. Tetapi, suka jauh berbeda

dengan cinta.”

“Sebulan lalu, Anda perlu membulatkan tekad hanya untuk

memandang ke arah-nya. Kini, Anda menyukainya. Cinta tak

terdengar mustahil.”

“Ada perbedaan mendasar antara keduanya. Ketertarikan seksual.”

“Yang mana yang dia munculkan?”

“Tolonglah.”

PDF by Kang Zusi

“Tentu saja, ada penjelasan yang lebih sederhana lagi,” kata

Heiko.

“Kuharap penjelasanmu ini juga lebih menyenangkan,” kata

Genji.

“Itu terserah Anda, Tuanku, bukan saya.” Heiko menunduk

memandang tangannya yang mengepal di pangkuan. “Tidak perlu ada

kondisi baru yang mengarahkan Anda dan Emily untuk tidur bersama

jika Anda telah melakukannya.”.

“Heiko, aku belum pernah tidur dengan Emily.”

“Apa Anda yakin?’

“Aku tak akan bohong padamu.”

“Saya tahu, Anda tak akan begitu.”

“Lalu, apa maksudmu?” ‘

“Anda dalam kondisi mengigau ketika Shigeru menemukan

Anda.” ‘

“Tak sadar. Aku mengigau sebelum itu.”

“Anda dan Emily berdua dalam gubuk darurat selama sehari

semalam sebelum ditemukan.” Heiko menatap Genji lurus-lurus.

“Tuanku, apakah Anda ingat bagaimana Anda dapat bertahan hangat?”

“Saya sangat bahagia melihat Anda sehat,” kata Emily. “Kami semua

sangat khawatir. Silakan duduk.”

“Terima kasih.” Di dalam Genji merasa sangat kacau. Tak heran

jika badannya juga terasa sakit semua, apalagi setelah dia duduk di

kursi orang asing. Tulang punggungnya langsung bergeser begitu dia

duduk dan organ-organ dalamnya saling menekan satu sama lain,

menghalangi aliran ki dan menyebabkan akumulasi zat beracun di

tubuh. Bagus. Sekarang, dia merasa kacau di luar maupun di dalam.

“Nona Heiko mengatakan Anda ingin berbicara dengan saya.”

“Dia bilang kenapa?”

“Dia hanya mengatakan pembicaraan ini menyangkut hal penting

dan sensitif.” Emily memandang Genji. “Sebenamya, lebih baik jika

PDF by Kang Zusi

saya datang ke ruangan Anda daripada Anda yang datang ke sini.

Mungkin Anda belum benar-benar sembuh dari kejadian tadi.”

“Tak ada yang perlu dikhawatirkan,” I:ata Genji. “Aku hanya

kelelahan. Aku sudah lebih tenang sekarang.”

“Saya baru saja akan membuat teh.” Emily mendekati meja yang

di atasnya ada sajian teh gaya orang asing. “Maukah Anda bergabung

dengan saya? Heiko sangat baik mau mencarikan teh varietas Inggris.”

“Terima kasih.”

Apa pun yang dapat menunda pembicaraan ini disyukuri oleh

Genji. Bagaimana caranya dia bertanya? Dia tak bisa membayangkan

ada hal yang lebih pengecut dan memalukan dari bertanya kepada seorang

wanita—yang tidak dekat dengannya, orang asing lagi—apakah

dia pemah tidur bersamanya, karena dia tak ingat apakah dia pernah

tidur bersamanya atau tidak.

Emily mengangkat sebuah teko kecil dan menuangkan cairan

putih kental ke dalam dua cangkir. Lalu, dia menambahkan teh hitam.

Aroma tambahan dalam teh itu gagal menutupi bau daun teh yang diawetkan.

Terakhir, dia menambahkan gula dan mengaduknya.

Hirupan pertama membawa senyum cerah di wajah Emily “Sudah

sangat lama sehingga saya sudah lupa betapa enaknya teh ini.”

Genji mencoba ramuan aneh itu. Saat cairan itu menyentuh indra

perasa di lidahnya, dia langsung mual dan hampir muntah. Hanya

kesopanan yang mencegahnya menuruti keinginan instingnya, yaitu

langsung meludahkan ramuan yang.memuakkan itu. Manis yang

memualkan, aroma yang memuakkan ditambah kombinasi adanya

lemak binatang menyebabkan seluruh indranya tersiksa. Namun, sudah

terlambat saat Genji menyadari apa cairan putih yang dituangkan

Emily tadi—susu kental dari puting sapi yang memuakkan.

“Apakah ada yang salah, Tuanku?”

Cairan memuakkan di dalam mulutnya membuat Genji tak bisa

menjawab. Dia menguatkan diri dan menelan. “Ah, aku hanya terkejut

pada rasa teh ini. Teh kami rasanya tak sekeras ini.”

“Ya, perbedaan rasanya sangat kentara. Mengherankan kalau

kedua minuman ini sebenarnya terbuat dari daun yang sama.”

PDF by Kang Zusi

Mereka membicarakan persamaan dan perbedaan cukup lama

sehingga memung-kinkan Genji meminggirkan cangkirnya tanpa

menarik perhatian Emily kalau dia tidak meminum dari cangkir itu

lagi.

Masih kesulitan mengutarakan topik kunjungan yang sebenarnya,

Genji mencoba mengutarakannya secara tak langsung.

Dia berkata, “Ketika kita bersama-sama di rumah salju yang kau

bangun, aku melihat sesuatu.”

Pipi Emily langsung memerah. Dia menunduk memandang’ke

cangkirnya. “Lord Genji, saya akan sangat berterima kasih jika Anda

tidak membicarakan hal itu lagi.”

“Aku mengerti keresahanmu, Emily, percayalah.”

“Maafkan kalau saya meragukannya, Tuan.” Singkat Emily

mengangkat pan-dangan dan menghunjamkan matanya yang biru

kepada Genji dengan pandangan ter-luka dan tak suka. “Tetapi, Anda

kelihatannya menemukan hiburan dengan sering menyinggungnya di

depan orang lain.”

“Untuk itu, aku benar-benar minta maaf.” Genji membungkuk.

Kini, setelah me-nemukan dirinya dalam situasi yang sama tak

nyamannya dengan Emily berkaitan dengan masalah itu, Genji tahu

bagaimana perasaan Emily. “Karena sebelumnya aku tidak menganggap

keresahanmu dengan serius.”

“Jika permintaan maaf Anda datang dari dalam hati dan tulus,

Anda pasti akan menghentikan pembicaraan ini dan tak pernah

menyebutnya lagi.”

“Aku berjanji akan melakukan itu setelah ini.

Tetapi sayangnya, kita harus membicarakan ini untuk terakhir

kalinya.”

“Kalau begitu, Anda tahu mengapa saya meragukan permintaan

maaf Anda.”

Genji tahu hanya ada satu cara untuk menunjukkan ketulusan

hatinya. Cara itu adalah cara yang setiap hari dia lakukan di depan

altar nenek moyangnya. Dia tak pernah melakukan cara itu di depan

orang lain di luar Istana Shogun dan dia tak pernah membayangkan

PDF by Kang Zusi

kalau akhirnya dia akan melakukannya di depan orang asing. Genji

berlutut dan membungkuk dalam-dalam hingga kepalanya menyentuh

lantai. “Aku menanyakan itu karena memang.harus. “

Emily tahu harga diri adalah yang terpenting bagi seorang

samurai. Melihat seorang Bangsawan Agung penguasa wilayah

merendahkan diri di depannya, mem-buatnya meneteskan air mata

karena malu. Sebenarnya, siapa yang sombong di sini? Siapa yang

lebih angkuh? Takabur? Tertulis dalam Kitab Ayub Apakah Engkau

hendak menghinaku, agar Engkau merasa menjadi orang yang benar?

Emily juga jatuh berlutut dan memegang tangan Genji.

“Maafkan keangkuhan saya. Tanyakanlah apa yang harus Anda

tanyakan.”

Genji terlalu terkejut untuk merespons. Dia tidak terbisaa

dipegang orang lain dengan sebebas itu. Bahkan, jika salah satu

pengawalnya ada di ruangan ini dan melihat apa yang terjadi, kepala

Emily pasti sudah menggelinding di lantai. Menyentuh tubuh seorang

Bangsawan Agung tanpa izin adalah penghinaan terbesar.

“Yang salah adalah aku,” kata Genji akhirnya. “Jangan

menyalahkan diri sendiri.”

“Memang saya yang salah,” kata Emily. “Keangkuhan adalah hal

yang sangat ber-bahaya karena bisa muncul tanpa kita sadari.”

Setelah beberapa saat, mereka akhirnya kembali duduk di kursi

masing-masing dan Emily siap melanjutkan pembicaraan.

“Yang akan kubicarakan ini mungkin hanya khayalanku saja,”

kata Genji. “Saat kita bersama, aku melihat sebuah perhiasan

tergantung di lehermu.”

Tangan Emily meraih ke dalam kerah blusnya. Tangannya

menarik keluar sebuah kalung rantai tipis dan tergantung di rantai itu

ada sebuah loket perak berhiaskan ukiran salib dan bunga.

“Apa’ ini yang Anda maksud?”

“Ya,” kata Genji. “Apa yang ada di salib itu?” ‘

“Sebuah ukiran bunga lily yang dikenal sebagai fleur-de-lis. Ini

adalah lambang kerajaan Prancis. Keluarga ibu saya berasal dari

Prancis, dan fleur-de-lis ini untuk mengingatkan asal-usul kami.”

PDF by Kang Zusi

Emily membuka loket itu dan mencondongkan tubuhnya ke depan

untuk mem-perlihatkan kepada Genji isi loket itu, sebuah miniatur

potret wanita muda yang mirip dengan Ernily. “Ini adalah ibu saya saat

berusia tujuh belas tahun.”

“Sama dengan usiamu sebentar lagi.”

“Benar. Bagaimana Anda bisa tahu?”

“Aku menanyakannya padamu, saat kau membuat malaikat salju.”

“Tentu saja.” Mengingatnya Emily tersenyum.

“Anda tidak begitu terkesan dengan malaikat saya.”

“Kegagalan persepsi di pihakku bukan pada kemampuanmu

menggambar-kannya.”

Emily bersandar dan menarik napas lega. “Yah, itu tadi tak begitu

buruk. Saya tadi mengira-saya tak tahu apa yang saya kira, tetapi saya

tadi berpikir pertanyaan Anda akan lebih buruk dari ini.”

Tak ada lagi jalan kembali bagi Genji. “Aku belum selesai,” kata

Genji.

“Teruskan, saya siap.”

Menurut Genji, Emily terlihat siap seperti dirinya, yang berarti

tidak siap sama sekali. Tetapi tak ada jalan lain, dan dia meneruskan

pertanyaannya.

“Setelah aku terluka, ingatanku kabur dan pecah-pecah. Aku ingat

berbaring denganmu. Telanjang. Benarkah?”

“Ya, benar.”

“Apa kita melakukan lebih dari sekadar berbaring bersama?”

“Apa maksud Anda?”

“Apakah kita bercinta?”

Emily melengos, sangat terkejut mengetahui, Genji dapat

menanyakan per-tanyaan seperti itu. Meskipun dia merasa pipinya

sudah tak mungkin menjadi lebih merah lagi, dia sekarang merasa seakan

pipinya terbakar.

“Sangat penting bagiku untuk tahu,” kata Genji.

Emily tak mampu memandang Genji dan tak mampu

mengucapkan sepatah kata pun.

PDF by Kang Zusi

Akhirnya, setelah kesunyian yang terjadi tak juga dipecahkan oleh

jawaban Emily, Genji berdiri.

“Aku akan melupakan pembicaraan ini dan peristiwa yang

menyebabkan pembicaraan ini terjadi.” Dia membuka pintu dan

beranjak ke koridor. Genji sedang menutup pintu ketika Emily berkata.

“Kita hanya berbagi kehangatan,” kata Emily, “untuk bertahan

hidup. Tak lebih. Kita tidak ….” Membicarakannya secara terbuka

sangat menyakitkan bagi Emily. “Kita tidak bercinta.”

Genji membungkuk dalam-dalam. “Aku sangat berterima kasih

atas keterus-teranganmu.”

Dia berjalan pergi tanpa merasa lega. Emily belum hamil. Dan

juga, dia masih harus bertemu Lady Shizuka. Itu bagus. Tetapi,

harapan Genji makin menipis. Kemung-kinan lain yang disebutkan

Heiko bahwa dia akan jatuh cinta kepada Emily—tak lagi terlihat

mustahil. Selama pertemuannya dengan Emily tadi, dia membicarakan

saat mereka berdua di salju dan mengingat apa yang telah dia lihat dan

rasakan. Dan, Genji juga telah melihat emosi polos yang begitu terlihat

di wajah Emily. Tanpa dia duga, terjadi sesuatu yang tak pernah dia

bayangkan sebelumnya.

Genji merasa dirinya bergairah.

“Aku tetap percaya Lord Genji dan Lord Shigeru akan

menghancurkan klan kita,” kata Sohaku. “Karena itu, aku tak

menyesali keputusanku.”

Dia memimpin 75 samurai keluar dari pegunungan dan kembali

ke Kuil Mushindo. Enam puluh samurai yang tersisa duduk berbaris di

hadapannya di ruang meditasi. Yang lain telah pergi sebelum

pertemuan. Sohaku tak ragu bahwa akan lebih banyak lagi yang pergi

mengikuti mereka. Rangkaian. peristiwa yang terjadi tidak

menguntung-kan baginya.

Dia gagal membunuh dua ahli waris Okumichi terakhir.

Sekarang ini, kepala Kudo pasti sudah membusuk di ujung

tombak di depan gerbang Kastel Awan Burung Gereja. Dan,

PDF by Kang Zusi

pengumuman Shogun tentang

penundaan Undang-Undang Kediaman Alternatif telah membuat

Sohaku sebagai buronan, bukan Genji. Kawakami mendesak bahwa

rencana mereka masih dapat ber-hasil. Gampang dia bicara begitu

karena dia adalah Kepala Polisi Rahasia Shogun sekaligus Bangsawan

Agung Hino. Dia punya status dan tahu itu. Sementara Sohaku tak

punya apa-apa. Tak ada lagi yang tersisa baginya kecuali serangan,

final yang menentukan. Tidak masalah kalau serangan itu tak akan

berubah apa-apa, baik menang atau kalah. Yang penting adalah

bagaimana dia akan mati, bagaimana dia akan diingat oleh keluarga

dan para musuhnya. Dia adalah seorang mantan komandan pasukan

kavaleri terbaik di seluruh wilayah Jepang. Dia lebih memilih

menyerang daripada melakukan ritual bunuh diri.

Menurut mata-matanya, Genji telah meninggalkan Akaoka

menuju Edo hanya ditemani kurang dari tiga puluh samurai. Anak

buah Sohaku dua kali lipat jumlah itu sekarang. Tetapi, dia ragu

apakah jumlah itu akan tetap bertahan, bahkan dia memperkirakan

paling banyak hanya sepuluh anak buah yang mengiringinya keluar

dari kuil.

Sohaku berkata, “Besok aku akan bertemu Lord Genji dalam

pertempuran. Kalian kulepaskan dari sumpah setia kalian padaku. Aku

sarankan kalian agar meminta maaf dan bergabung lagi dengan Lord

Genji atau mencari junjungan lain.”

“Kata-kata kosong,” seorang samurai dari barisan keempat

menukas marah. “Dilepaskan dari sumpah atau tidak, kami masih

terikat oleh konsekuensi tindakan kami. Tak mungkin bergabung

kembali dengan Lord Genji dan junjungan mana yang mau menerima

pengkhianat seperti kami?”

“Diam,” kata seorang samurai lain kepadanya.

“Kau tahu risikonya. Terima nasibmu dengan jantan.”

“Terima saja nasibmu sendiri,” kata samurai yang marah itu.

Pedangnya menebas tiba-tiba. Darah mengucur dari tubuh samurai

yang menegurnya. Samurai yang marah tadi lalu menerobos tiga lapis

barisan yang memisahkan antara dirinya dan Sohaku.

PDF by Kang Zusi

Sohaku tak berdiri ataupun menghunus pedangnya. Samurai itu

hampir tiba di depannya ketika samurai lain menebasnya dari

belakang.

“Ampuni dia, Rahib Kepala. Keluarganya gagal lari dari Akaoka.”

“Tak perlu ada yang diampuni,” kata Sohaku. “Setiap orang harus

membuat keputusannya sendiri. Aku akan meninggalkan pedangku di

sini dan pergi ke gubuk meditasi selama sejam. Lalu, aku akan kembali.

Jika ada di antara kalian yang ingin menemaniku dalam

pertempuran, tunggulah di sini.”

Tak seorang pun menyambut undangannya untuk datang dan

membunuhnya di gubuk meditasi. Ketika dia kembali ke ruang utama

sejam kemudian, dia melihat kedua mayat tadi telah dipindahkan.

Setiap orang tetap pada posisinya masing-masing seperti saat dia

tinggalkan tadi. Dia punya 58 orang melawan 30 orang pasukan Genji.

Sohaku membungkuk dalam-dalam kepada pengikut setianya.

“Aku tak punya kata-kata untuk mengungkapkan kan rasa terima

kasihku pada kalian.”

Para samurai pemberani yang ditakdirkan mati itu membungkuk.

“Kamilah yang berterima kasih,” kata seorang samurai di barisan

pertama. “Kami tak mungkin punya pemimpin yang lebih baik dari

Anda.”

“Rahib Kepala menolak mengoordinasikan serangan dengan Anda,”

kata sang pembawa pesan. “Beliau akan berangkat dari kuil, fajar

besok.”

Kawakami mengerti. Sohaku tahu kematian sudah menjadi

nasibnya tak peduli apa pun yang terjadi pada Genji. Jadi, dia memilih

untuk mati dengan pedang di tangan. Pria itu tak lagi peduli dengan

hasil serangannya. Semua itu sudah tak relevan lagi.

“Sampaikan terima kasihku pada Rahib Kepala atas informasinya.

Katakan aku akan berdoa kepada para dewa demi kesuksesannya.”

“Ya, Tuanku.”

PDF by Kang Zusi

Kawakami bersama enam ratus anak buahnya ada di Desa

Yamanaka. Dari enam ratus itu hanya seratus orang yang

bersenjatakan pedang. Pasukan pedang itu ada untuk melindungi

pasukan lainnya, resimen penembak, dari serangan jarak dekat. Kawakami

tidak mengharapkan pertempuran jarak dekat: Meskipun anak

buah Sohaku lebih banyak daripada Genji, dua berbanding satu-itu

juga jika semua anak buah Sohaku setia kepadanya—Sohaku akan

tetap gagal. Gagal, karena tujuan utamanya adalah menunjukkan

keberanian, bukan untuk menang. Penunggang kavaleri tangguh

seperti-nya pasti akan mencegat Genji di Mie Pass, jalan curam dan

sempit di antara dua lereng bukit. Lereng di sana ideal bagi

pengendara kuda untuk menyerang ke bawah dari dua arah. Jika

strategi itu diterapkan pada pasukan, Kawakami, Sohaku dan anak

buahnya pasti akan mati sebelum mereka sempat menghunus pedang.

Tetapi, samurai klan Okumichi bukanlah penembak. Seperti Sohaku,

mereka adalah peninggalan dari era lampau. Mereka akan mengadang

serangan dengan cara mereka sendiri, dan kedua pihak akan bertempur

dengan pedang katana dan wakizashi, dengan yumi, nari, nagiriata dan

tanto, dengan senjata dan keberanian liar seperti nenek moyang

mereka.

Mereka akan mati semuanya. Sohaku akan mati di Mie Pass.

Genji dan Shigeru akan mati di Mushindo, tujuan mereka setelah

mengalahkan Sohaku. Kawakami tentu saja akan menunggu mereka di

sana. Dia akan memenggal kepala kedua ahli waris Okumichi terakhir

dan mempersembahkannya ke altar nenek moyangnya di wilayah

Hino.

Setelah 260 tahun, Pertempuran Sekigahara akan berakhir.

Dalam beberapa kesempatan pembicaraan panjang, Genji

mendengarkan Shigeru bercerita tentang berbagai pertanda yang

dialaminya. Pamannya rnendeskripsikan kejadian-kejadian yang

sangat aneh, yang hanya mungkin terjadi di masa depan dalam jangka

panjang. Perangkat yang memungkinkan komunikasi jarak jauh.

PDF by Kang Zusi

Pesawat terbang. Udara tercemar yang tak bisa dihirup. Air tercemar

yang tak bisa diminum. Laut Dalam yang kini jernih akan penuh

dengan ikan-ikan mati, pantai-pantainya ditinggali oleh orang-orang

cacat. Populasi sangat padat sehingga orang-orang berdesakan dan

bertumpukan di dalam kereta selama beratus-ratus kilometer dan

menganggap hal itu sebagai sesuatu yang wajar. Dan, orang asing di

mana-mana tidak hanya di zona terbatas di sekitar Edo dan Nagasaki.

Perang yang sangat brutal dan meluas sehingga kota-kota menghilang

dalam api hanya dalam waktu semalam.

Genji memutuskan untuk menulis cerita Shigeru dalam buku

tahunan keluarga dan mewariskannya kepada keturunan mereka.

Pertanda-pertanda itu tak akan berguna untuk saat ini. Harapannya

bahwa pertanda yang dialaminya akan menjadi jelas dengan

mendengarkan cerita pertanda yang dialami Shigeru tak terwujud.

Kecuali dalam satu hal yang kurang menyenangkan.

Dalam pertanda kematian yang dialami Genji, dia melihat sesuatu

yang dilihat Shigeru dalam setiap pertanda: Tidak ada lagi pria

mengenakan kuncir rambut, pedang, atau kimono. Samurai sudah

punah. Meskipun kelihatannya mustahil, hal itu setidaknya mulai

terjadi pada masa hidup Genji.

Genji memandang ke orang-orang yang berkuda bersamanya.

Apakah itu memang akan terjadi? Hanya dalam beberapa tahun,

apakah mereka semua akan menghilang bersama pendudukan orang

asing di Jepang seperti yang diyakini Shigeru?

Hide dan Taro berkuda di kanan kirinya. Hide berkata, “Tuanku,

sebentar lagi kita akan melewati Mie Pass.”

“Apa kau yakin di sana berbahaya?”

Taro berkata, “Ya, Tuan. Rahib Kepala Sohaku pemah memimpin

hamba selama lima tahun. Mie Pass adalah arena tempur favoritnya.

Di sana dia bisa menyerang dengan kecepatan tinggi dari kedua sisi

lembah.”

“Baiklah,” kata Genji. “Bilang pada Heiko dan Hanako untuk

mundur bersama Emily dan Matthew.”

PDF by Kang Zusi

“Ya, Tuanku,” kata Hide. “Berapa banyak orang yang harus saya

tugaskan untuk menjaga mereka?”

“Tak seorang pun. Jika Sohaku memang menunggu, dia tak akan

repot-repot menyerang mereka. Pamanku dan aku adalah satu-satunya

tujuan dia.”

“Baik, Tuanku.”

Genji berpaling kepada Saiki. “Kau tidak bicara apa-apa.”

“Instruksi Anda sudah tepat, Tuanku, dan lengkap. Tak perlu ada

yang ditambah-kan.” Saiki tenang. Apa yang akan terjadi, terjadilah.

Dia tak tahu apakah dia akan hidup atau mati. Tetapi, dia tahu dia akan

bertindak sebagaimana kepantasan seorang pengikut setia. Itu saja,

cukup.

Heiko tidak menyukai perintah yang diterimanya, tetapi dia tetap

patuh. Dia telah berjanji untuk mematuhi semua perintah Genji sebagai

syarat pengampunannya.

“Hingga aku berkata sebaliknya, kau tetap hanya seorang geisha.

Kau tidak akan menggunakan keahlianmu yang lain terhadap Sohaku

ataupun Kawakami. Setuju?” kata Genji.

“Hamba setuju tentang Sohaku, tetapi tidak terhadap si Mata

Licik. Dia harus dibunuh pada kesempatan pertama.”

“Aku tidak meminta pendapatmu. Kau setuju atau tidak?”

Ekspresi Genji sangat serius tanpa humor.

“Ya, Tuanku. Hamba setuju.”

Jadi, di sinilah dia sekarang, memakai kimono yang indah dan

bergaya yang sangat cantik tetapi tak ada gunanya dalam pertempuran.

Duduk di pelana kuda betina sejinak kuda Emily, tanpa senjata apa

pun kecuali kedua tangannya.

“Lady Heiko,” kata Hanako.

“Ya.”

“Jika Anda memerlukannya, di kantong pelana saya sebelah kanan

ada pisau lempar dan di sebelah kiri ada pedang pendek.”

“Lord Genji melarangku membawa senjata.”

“Anda tidak membawa senjata, Nona. Saya.” Heiko membungkuk

berterima kasih. “Mari kita berdoa semoga senjata-senjata itu tak

PDF by Kang Zusi

diperlukan.” Emily berkata kepada Stark. “Bagaimana jika pria yang

kaucari tak ada di kuil?”

“Aku akan tetap mencari.”

“Dan kalau dia mati saat wabah?”

“Dia tidak mati.”

Melalui Heiko sebagai penerjemah, Stark telahbertanya-tanya

kepada Taro tentang orang asing yang ada di Kuil Mushindo. Orang

Jepang memanggilnya Jimbo, kependekan dari nama asingnya, Jim

Bohannan. Dan karena kata Jepang untuk menyebut seorang rahib

adalah bozu, panggilan itu juga sebuah pelesetan. Apa pun namanya,

deskripsi pria itu mirip sekali dengan Ethan Cruz.

“Apa itu pelesetan?” tanya Stark.

“Permainan kata,” kata Heiko, “satu bunyi kata yang mirip

sehingga bisa berarti ganda.”

“Oh.”

Heiko dan Stark saling memandang. Dan tertawa.

Stark berkata, “Kurasa kamu harus lebih dulu mengajariku bahasa

Inggris sebelum mengajar Jepang.”

“Aku tak tahu apa yang telah dia perbuat sehingga membuatmu

marah,” kata Emily, “tetapi dendam berbuah pahit. Lebih baik

memaafkan. ‘Jika kalian mengampuni orang yang bersalah, Bapa di

surga juga akan mengampunimu.’”

“Amin,” kata Stark.

“Shigeru tidak ada di antara mereka,” kata sang mata-mata.

“Tentu saja tidak,” kata Sohaku. “Dia berputar untuk menyergap

kita saat kita menyiapkan jebakan yang dia kira kita siapkan.”

Dia tertawa, dan para asistennya tertawa bersamanya. Seperti

orang mati, mereka merasa sedikit gamang menemui diri mereka

masih di dunia, dan sama sekali tak merasa takut. Salah satu samurai

mengambil senapan dari sarungnya dan memandanginya seakan-akan

belum pernah melihatnya, lalu membuangnya ke tanah. Satu per satu

PDF by Kang Zusi

senapan yang dibawa mereka jatuh sehingga semuanya tergeletak di

tanah.

Sohaku berpaling ke lima baris pasukan kavaIeri di belakangnya.

“Kalian siap?”

Seorang anak buahnya berdiri di sanggurdi, mengangkat

tombaknya dan berteriak sekuat paru-parunya, “Sepuluh ribu tahun!”

Teriakan itu langsung disambut seluruh pasukan. Samurai yang baru

saja tertawa beberapa saat lalu, kini semuanya menangis dan

meneriakkan kata-kata yang sama dalam satu suara.

“Sepuluh ribu tahun!”

“Sepuluh ribu tahun!”

“Sepuluh ribu tahun!”

Sohaku menghunus pedangnya dan memacu kudanya ke depan.

Emily mendengar teriakan dari arah depan.

“Banzai! Banzai! Banzai!”

“Apakah ada yang datang untuk menyambut Lord Genji?” Dia

bertanya.

“Ya,” kata Heiko.

“Apa arti `banzai’?”

“Itu adalah cara kuno untuk mengatakan `sepuluh ribu tahun’. Arti

sebenarnya agak sulit dijelaskan. Kurasa bisa dikatakan banzai adalah

ekspresi ketulusan paling dalam dan komitmen paling dalam. Mereka

mengekspresikan kerelaan menukarkan keabadian untuk satu momen

ini.”

“Kalau begitu, mereka adalah sekutu Lord Genji,” kata Emily.

“Bukan,” kata Heiko. “Mereka adalah musuhnya yang paling

berbahaya.”

Stark langsung mencabut dua pistolnya dan memacu kudanya ke

arah Genji.

Ketika mereka memasuki Mie Pass, anak buah Sohaku tidak

menemui serangan balik, seperti yang mereka kira, tetapi mereka

PDF by Kang Zusi

malah disambut serangkaian tembakan senapan dari pepohonan di sisi

kiri. Seperempat dari mereka terjatuh, sebagian besar karena kuda

mereka tertembak. Mengikuti pemimpinnya, sisa pasukan Sohaku

berbalik dan menyerang ke atas bukit menuju barisan pepohonan. Dua

rangkaian tembakan kembali memorak-porandakan barisan mereka.

Setelah itu, pasukan Genji menyerang dengan kuda mereka, keluar

dari pepohonan.

Sohaku langsung mengarahkan kudanya ke Genji. Dia menebas

dua orang yang menghalanginya. Orang ketiga adalah Masahiro,

samurai yang dia latih, dan terbukti menjadi murid yang baik.

Masahiro mengelak pedang Sohaku yang ditujukan kepadanya dan

mengarahkan pedangnya ke kuda Sohaku. Sohaku merasakan lututnya

patah. Hanya dengan satu kaki yang dapat menumpu ke sanggurdi,

Sohaku kerepotan menahan serangan Masahiro. Penundaan inilah yang

menyelamatkan nyawanya.

Stark memacu kudanya di samping Genji dengan revolver di

kedua tangan dan menembak para penyerang terdekat. Dia menembak

sebelas kali, dan sembilan anak buah Sohaku terjatuh mati dari

kudanya. Serangan mati-matian Masahiro membuat jarak Sohaku dan

Genji cukup jauh. Itulah satu-satunya alasan peluru kedua belas Stark

meleset rnengenai jantungnya. Sohaku melihat Stark membidikkan

revolver besar ke arahnya dan melihat asap keluar dari pistol itu.

Anehnya, dia tak mendengar tembakan. Sebuah hunjaman berat

mengenai dadanya sebelah kiri. Lalu, tubuhnya terasa ringan dan

seakan-akan hendak terbang ke langit. Sohaku mencondongkan

tubuhnya ke depan, berpegangan pada leher kuda, berusaha untuk

tetap sadar dan berusaha keras agar tidak jatuh dari kuda.

“Rahib Kepala!” Seseorang memegang kekang kudanya, Sohaku

tak tahu siapa. “Bertahanlah!” Kudanya berderap. Betapa memalukan

harus mati karena luka tembakan tanpa sekalipun beradu pedang

dengan seorang Lord Okumichi.

Ketika mendengar teriakan pengikut Sohaku, Shigeru tahu dia

telah membuat kesalahan. Tidak ada orang yang menunggu untuk

menyergap. Dia memacu kudanya ke puncak bukit tepat pada

PDF by Kang Zusi

waktunya untuk melihat serangan Sohaku. Saat dia kembali turun,

semuanya sudah selesai.

Saiki berkata, “Kita hanya kehilangan enam orang. Sohaku

langsung menuju arah tembakan kita.”

“Serangan itu tadi persis seperti serangan di Nagashino,” kata

Genji. “Dia menggunakan taktik yang gagal tiga ratus tahun lalu.”

“Memang itu tujuannya,” kata Shigeru. Dia turun dari kuda dan

mulai mencari di antara mayat- mayat musuh.

“Dia tak ada di antara mereka,” kata Saiki. “Setelah Tuan Stark

menembaknya, salah satu pengikutnya membawanya pergi.”

“Dan kau membiarkannya?”

“Aku tidak hanya berdiri diam saja,” kata Saiki. “Ada hal-hal

mendesak yang menyita perhatianku.”

Shigeru tak menjawab. Dia melompat ke atas kudanya dan

memacunya ke arah Kuil Mushindo.

“Cara bertempur seperti ini sangat efektif, Tuanku,” kata Saiki.

“Kau tidak terlihat bahagia seperti kata-katamu,” kata Genji.

“Hamba ini orang tua,” kata Saiki. “Cara hamba adalah cara lama.

Terlibat pertempuran yang hasilnya ditentukan oleh senapan tidak

membawa kesenangan bagi hamba.”

“Bahkan, jika kau menang?”

Akhirnya, Saiki tersenyum, “Memang lebih baik kalau kita

menang. Setidaknya, saya dapat menerimanya dengan bahagia.”

Tidak perlu waktu lama untuk menyingkirkan para musuh yang

terluka. Untuk menjaga perasaan Emily, Genji melarang pemenggalan

kepala, dan kemudian memerintahkan agar mayat-mayat musuh

ditutupi sebaik mungkin saat Emily berkuda melewati tempat itu.

Genji berpikir Shigeru akan dapat menemukan Sohaku dengan

cepat dan sudah menunggu saat dia mencapai Kuil Mushindo. Mantan

pasukan kavalerinya itu sepertinya mengalami luka serius akibat

tembakan Stark. Dia tak mungkin bisa pergi jauh. Tetapi, begitu Genji

mendekati dinding kuil, dia tak melihat pamannya. Rupanya, Sohaku

mampu bertahan tahan cukup lama sehingga membuat Shigeru harus

mengejarnya lebih lama.

PDF by Kang Zusi

Saiki berkata, “Tuanku, mohon tunggu di sini hingga kami yakin

tak ada perangkap.” Dia masuk terlebih dahulu dengan Masahiro.

“Ketepatan menembakmu sangat mengesankan,” kata Genji

kepada Stark. “Pasti hanya sedikit orang yang bisa menandingimu di

Amerika.”

Sebuah ledakan besar membuat Stark tak bisa merespons

perkataan Genji.

Ruangan meditasi Kuil Mushindo hancur oleh ledakan itu, puingpuing

beter-bangan ke segala arah. Beberapa orang dalam rombongan

mereka terkena dan langsung tewas. Sebuah balok besar mematahkan

kaki depan kuda Genji dan membuat kuda maupun penunggangnya

terjatuh. Hampir pada saat yang bersamaan, terdengar tembakan

senapan dari pepohonan di sekitar mereka.

Heiko menarik Emily dari pelana dan melindungi Emily dengan

tubuhnya sendiri. Jika Emily nnemang akan menjadi ibu dari anak

Genji, dia tak boleh terluka. Di sekitar mereka, orang dan kuda

berjatuhan tewas. Mayat-mayat itu menahan peluru yang terus

beterbangan. Heiko tak bisa mengangkat kepalanya untuk melihat apa

yang terjadi pada Genji dan Stark. Diam-diam, dia berdoa pada

Buddha Amida agar melindungi mereka dengan kasihnya.

Seakan-akan menjawab doanya, tiba-tiba terdengar suara di

pepohonan, “Tahan tembakan! Tahan tembakan!”

Tembakan langsung berhenti. Terdengar suara lain berkata, “Lord

Genji! Lord Kawakami mengundang Anda agar mendekat dan

membicarakan syarat-syarat penyerahan diri Anda!”

Heiko melihat Taro dan Hide menarik Genji dari bawah bangkai

kudanya. Genji mengatakan sesuatu kepada Hide. Kepala pengawal itu

tertawa dan membungkuk kepada junjungannya. Lalu, Hide berteriak,

“Lord Genji mengundang Lord Kawakami untuk mendekat dan

mendiskusikan syarat-syarat penyerahan dirinya!”

Mengantisipasi terulangnya serangan, setiap orang yang masih

hidup di pihak Genji tiarap rapat-rapat. Tetapi, setelah beberapa saat

sunyi, terdengar jawaban dari hutan.

PDF by Kang Zusi

“Lord Genji! Anda dikepung oleh enam ratus orang! Ada wanita

dan orang asing bersama Anda! Lord Kawakami akan menjamin

keselamatan mereka jika Anda mau bertemu beliau!”

Hide berkata, “Jelas ini tipuan.”

Genji berkata, “Mungkin tidak. Dia tak perlu tipuan. Kita tak bisa

lari. Dia hanya perlu memperketat tembakan di sekitar kita dan kita

semua akan segera mati.”

“Tuanku,” kata Hide, “tentunya Anda tak akan menerima

undangannya, bukan?”

“Aku terima. Pasti dia sangat ingin mengatakan sesuatu padaku

sehingga dia rela menunda kesenangan untuk membunuhku.”

“Tuan,” kata Taro, “begitu dia mendapatkan Anda, dia tak akan

melepaskan Anda.”

“Oh? Apa kamu meramalkan itu?” Perkataannya langsung

menghentikan semua protes seperti yang diperkirakan Genji. Setiap

acuan ke kemampuan meramal selalu begitu.

Kepuasan yang dirasakan Kawakami menuntutnya untuk

memperpanjang pembicaraannya dengan Genji selama mungkin. Dia

menunjuk ke berbagai makanan dan minuman yang telah disajikan

ajudannya di hadapan Genji.

“Apakah Anda tidak ingin menikmati suguhan ini, Lord Genji?”

“Terima kasih atas keramahan Anda, Lord Kawakami, tetapi saya

terpaksa menolak.”

Kawakami membungkuk, menandakan kalau dia tidak

tersinggung dengan penolakan Genji.

Genji berkata, “Saya akui, saya tidak bisa menerka tujuan dari

pertemuan ini. Posisi kita kelihatannya sudah jelas. Para letnan saya

berpendapat bahwa Anda ingin menahan saya.”

“Saya telah berjanji tak akan menangkap Anda,” kata Kawakami,

“dan saya akan menepatinya. Saya hanya ingin melihat Anda sebelum

Anda mati, yang seperti kita berdua ketahui itu pasti akan terjadi dan

tak dapat dihindari, sehingga semua masalah di antara kita dapat

terselesaikan pada akhimya.”

PDF by Kang Zusi

“Anda berbicara seakan-akan kita ini orang asing. Kejelasan dan

penyelesaian adalah yang dicari orang asing dan itulah yang akhimya

mereka dapat. Sedangkan, kita lebih halus.” Genji tersenyum. “Ambiguitas

adalah inti dari pemahaman kita. Karena itu, tak akan ada yang

jelas di antara kita dan tak akan ada akhir, tak peduli siapa yang hidup

dan mati hari ini.”

“Dari kata-kata Anda, orang pasti berpikir siapa yang akan mati

nanti.”

Genji membungkuk. “Saya hanya bersikap sopan. Jelas tidak ada

keraguan tentang itu.”

Kawakami tidak membiarkan implikasi perkataan Genji yang

keterlaluan membuatnya marah, atau membiarkan senyum Genji

mengganggunya seperti bisaa. Bahkan, dia membalas senyum Genji

dengan senyum dan meneruskan percakapan dengan sikap akrab.

“Tentu saja, saya tidak bermaksud menjelaskan secara permanen. Saya

bukan anak-anak, bukan idiot dan bukan orang asing, sehingga mau

memercayai kebodohan seperti itu. Saya hanya bermaksud

menjelaskan hal-hal yang dapat dijelaskan dan mengakhiri apa yang

dapat diakhiri. Motif utama saya, dan saya tak malu mengakuinya

adalah bahwa dengan melakukan itu saya akan mengalami kepuasan

karena secara gamblang dapat menunjukkan kepalsuan kemampuan

meramal Anda.”

“Kemampuan meramal itu sendiri sifatnya ambigu sehingga saya

menyesal jika kemenangan yang Anda harapkan itu juga tidak akan

terjadi.”

“Tolong, simpan saja simpati Anda bagi mereka yang

membutuhkan, saat Anda masih bisa memberikannya.” Kawakami

memberikan pandangan isyarat kepada pem-bantunya. Ajudannya

kemudian maju ke depan membawa kotak kayu pinus terbungkus sutra

putih, membungkuk, dan meletakkan kotak itu di antara Genji dan

Kawakami. “Izinkan saya menghormati Anda dengan hadiah ini.”

“Karena saya tak punya sesuatu untuk membalasnya, saya harus

menolak tawaran Anda yang murah hati ini.”

PDF by Kang Zusi

“Penerimaan dari Anda sendiri merupakan sebuah hadiah yang

bernilai bagi saya,” kata Kawakami.

Genji tahu apa yang ada dalam kotak itu, bukan karena pertanda,

melainkan karena ekspresi di wajah Kawakami. Dia membungkuk,

mengambil kotak itu, melepaskan pembungkus sutra, dan membukanya.

Shigeru berkuda dengan santai menuju Kuil Mushindo, tubuhnya

rileks, wajahnya tenang. Namun, seluruh indranya waspada. Dia tahu,

dia akan menemukan Sohaku, dan dapat membunuhnya tanpa kesulitan.

Kawakamilah yang merupakan masalah lebih serius. Serangan

Sohaku—serangan kavaleri tunggal yang berani tanpa dukungan

infanteri-jelas bukan bagian dari strategi Kawakami. Itu artinya, ada

jebakan yang lebih licik dan berbahaya menunggu di depan. Si Mata

Licik tak akan melakukan serangan terbuka, meskipun pasukan dan

senjatanya berjumlah lebih banyak. Dia lebih memilih perangkap dan

sergapan mendadak. Khususnya penembak jitu, menembak dari jarak

jauh yang aman.

Shigeru memasuki lembah di bawah kuil, menuju pepohonan dan

menghilang.

“Di mana dia?” tanya penembak pertama.

“Pelankan suaramu,” sergah penembak kedua. “Shigeru punya

telinga seperti tukang sihir.”

“Tetapi, ke mana perginya dia?”

“Tenang,” kata penembak ketiga. “Ingatlah hadiah yang akan kita

dapat jika kita bisa mendapatkan kepalanya.”

“Di sana. Aku melihat ada yang bergerak di antara pepohonan.”

“Di mana?”

“Di sana.”

“Ah, ya. Aku melihatnya.” Penembak pertama menarik napas

lega.

“Tunggu. Itu cuma kudanya.”

“Apa?”

PDF by Kang Zusi

Ketiga penembak itu mencondongkan tubuh ke depan.

“Aku tak melihat ada kuda.”

“Di sana. Oh, bukan, cuma bayangan.”

“Aku akan keluar dari sini,” kata penembak pertama. “Emas tak

akan berguna bagi orang mati.”

“Berhenti, bodoh. Di mana pun Shigeru berada, dia terlalu jauh

untuk bisa melukai kita. Dia harus menyeberangi tanah terbuka itu

dulu dan menjadi target menembak yang mudah.”

Penembak kedua berdiri dan pergi mengikuti penembak pertama.

“Kalau memang mudah, kamu saja yang melakukannya.”

“Bodoh!” Tetapi, penembak ketiga juga ikut berdiri dan berlari

mengikuti kedua temannya.

“Sesuatu sedang terjadi. Lihat!” Satu dari ketiga penembak jitu yang

ada di pos berikutnya menunjuk kepada tiga penembak jitu di pos

pertama yang meninggalkan pos mereka di puncak bukit sebelah.

“Diam,” sergah pemimpinnya, “dan kembali tiarap.”

Penembak itu mematuhinya. Tetapi, dia mulai melihat sekeliling

dengan gugup dan tidak memusatkan perhatian pada lembah di

bawahnya.

Ada tiga pos penembak jitu. Dua karena pos yang pertama sudah

ditinggalkan. Shigeru terus menunggu. Dalam beberapa menit, para

penembak jitu di kedua pos berikutnya juga lari.

Shigeru mengerutkan alis. Disiplin rendah seperti itu sangat

memuakkan, bahkan walaupun terjadi di pihak musuh.

Dia lalu memacu kudanya lagi.

“Ayah.”

Suara anak-anak. Putranya.

“Nobuyoshi?”

Tak ada jawaban.

PDF by Kang Zusi

Shigeru melihat ke sekeliling dan tidak melihat siapa pun. Untuk

pertama kalinya, dia akan rela mengalami pertanda kalau pertanda itu

membawa Nobuyoshi kembali kepadanya meski hanya sekejap.

Meskipun Nobuyoshi datang berupa hantu berlumuran darah yang

memegang kepalanya sendiri dan mengucapkan kutukan kepadanya.

“Nobuyoshi?”

Shigeru berusaha melihat yang tidak tampak. Berkali-kali

sebelumnya, dia telah melihat apa yang tak ingin dilihatnya. Mengapa

kali ini dia tak diizinkan untuk melihat apa yang ingin dilihatnya?

Tetapi, dia hanya melihat pepohonan dan langit musim dingin.

Tak ada pertanda, tak ada delusi, dan tak ada pertemuan dengan arwah.

Apakah suara tadi benar-benar nyata?

“Lord Shigeru. Saya merasa sangat terhormat bisa bertemu dengan

Anda.” Sohaku sudah menunggu di tengah jalan ditemani oleh seorang

samurai.

Terganggu oleh pikiran tentang putranya, Shigeru hampir-hampir

menabrak Sohaku tanpa sadar. Sohaku tidak memperlihatkan bekas

luka tembakan seperti yang telah dia dengar. Pakaian besinya tak

ternoda, tubuhnya tegak, dan suaranya kuat.

“Jangan membayangkan macam-macam. Aku datang untuk

memenggal kepalamu. Itu saja.”

Sohaku tertawa. “Anda akan kecewa. Harganya terlalu dibesarbesarkan.

Yang jelas, kepalaku tidak banyak berguna selama ini.

Bagaimana dengan kepalamu, Yoshi?”

“Sama, Rahib Kepala. Dengan menyesal, saya akui kepala saya

tak banyak gunanya.”

Shigeru menderap kudanya ke depan. Sedetak jantung kemudian,

Sohaku dan Yoshi bereaksi. Sedetik sebelum kuda mereka beradu,

Sohaku mencondongkan tubuhnya ke leher kuda dan menebaskan

pedangnya ke atas mengarah ke Shigeru dan kudanya. Sementara

Yoshi menebas ke bawah. Shigeru, yang sudah mengantisipasi kedua

serangan itu, menahan pedang Sohaku dan mengelak serangan Yoshi,

PDF by Kang Zusi

sekaligus menebaskan pedangnya memotong paha Yoshi, merobek

nadi femoralnya. Yoshi terjatuh dan Shigeru membelokkan kudanya.

Sohaku, yang lebih lambat karena lututnya yang patah, tidak bisa

menandingi kecepatan gerakan Shigeru. Saat dia berbalik, Shigeru

telah menyerang dari sisi kirinya. Sohaku memutar di pelananya dan

menahan tebasan pedang katana Shigeru, tetapi Shigeru menggenggam

pedang pendek wakizashi di tangan kiri dan pedang itu menebas bahu

kanan Sohaku.

Sohaku merasakan setiap momen setelah itu secara keseluruhan,

bukan bagian per bagian.

Darah muncrat dari bahunya yang terpotong. Pernahkah dia

melihat warna merah semerah itu?

Tangannya masih menggenggam pedang, hanya saja sekarang,

pedang, tangan, dan lengan itu tergeletak di tanah di bawah kaki

kudanya, jauh dari tubuhnya.

Dia melayang-layang ringan di udara. Bumi di atas, langit di

bawah.

Wajah Shigeru muncul di hadapannya, berlumuran darah dan

menunjukkan kepedihan. Sohaku merasakan simpati yang mendalam

kepalanya, tetapi dia tak bisa mengekspresikan simpatinya dalam katakata.

Berkas sinar matahari berkilau di mata pedang yang dihunus

Shigeru. Sohaku mengenali bentuk pedang yang elegan, pola di kedua

sisinya, dan nuansa bajanya yang hampir-hampir putih sempuma.

Hanya ada dua pedang seperti itu di negeri ini. Katana dan wakizashi

yang dijuluki Cakar Burung Gereja.

Tubuh tak berkepala jatuh di bawahnya. Tubuh itu kehilangan

lengan kanan. Mengenakan baju besinya. Tak penting lagi.

Sohaku menghilang ke cahaya terang kasih Buddha Amida.

Shigeru mengangkat kepala Sohaku dan memandangnya tepat di

depan wajahnya. Kalaupun dia punya pikiran dan perasaan tentang

tindakannya akhir-akhir ini yang harus membunuh teman dan

keluarga, semua pikiran itu tak lama ada di kepalanya.

PDF by Kang Zusi

“Tembak!”

Tiga belas dari empat puluh peluru yang mendesing di udara

berhasil mengenai sasaran. Meski peluru-peluru itu menjatuhkannya,

tak satu pun yang menyebabkan luka fatal. Shigeru berdiri. Ketika dia

berdiri, pedang katananya jatuh dari tangan kanannya yang kini

lumpuh. Peluru menghancurkan lengan dan siku kanannya. Dia berlari

menuju pepohonan yang berseberangan dari asal tembakan. Dia

hampir saja mencapai pepohonan itu ketika dua puluh penembak

keluar dari persembunyian di depannya dan menembaknya dari jarak

dekat.

Shigeru terjatuh untuk kedua kalinya. Ketika dia berusaha bangkit,

tak satu pun anggota tubuhnya yang patuh. Dia tak heran melihat

Kawakami berdiri memandanginya.

“Penggal kepalanya,” perintah Kawakami.

“Dia masih hidup, Tuan.”

“Kalau begitu tunggu. Bawa mereka ke sini. Tunjukkan padanya.”

Ajudan Kawakami memegang dua pedang Cakar Burung Gereja

sehingga Shigeru bisa melihatnya. “Silakan dilihat, Lord Shigeru.”

Dua orang menopangnya. Orang ketiga memegang kapak besar dan

menghantam katana dan wakizashinya sehingga patah menjadi dua.

“Bagus,” kata Kawakami. “Sekarang, penggal dia.”

Kawakami sengaja memperlihatkan wajahnya yang penuh

kepuasan kemenangan memenuhi mata Shigeru. Betapa

menyenangkan bahwa wajahnyalah yang terakhir kali dilihat oleh

samurai besar itu di akhir hidupnya.

Tetapi, pikiran Shigeru telah melayang ke tempat lain.

“Ayah!” Nobuyoshi memanggil sembari berlari menuju Shigeru.

Tak ada darah, tak ada pemenggalan, tak ada kutukan. Anak itu

tertawa dan menarik benang yang menerbangkan layang-layang kupukupu

berwarna-warni di belakangnya. “Lihat apa yang dibuatkan

sepupu Genji untukku.”

“Nobuyoshi,” Shigeru berkata untuk terakhir kalinya dan

tersenyum.

PDF by Kang Zusi

Kawakami telah menyiapkan kepala Shigeru dengan etiket yang

benar secara detail. Matanya tertutup, wajahnya bersih tanpa ekspresi

kesakitan ataupun penderitaan, rambutnya ditata rapi, dan aroma dupa

cendana menyamarkan bau darah dan bangkai.

“Terima kasih, Lord Kawakami,” kata Genji. “Kemurah-hatian

Anda mengejutkan saya. Saya rasa Anda bemiat mempersembahkan

ini pada leluhur Anda.”

“Ya, memang begitu niat saya, Lord Genji. Anda tak perlu

khawatir tentang itu. Kalau Anda mati nanti, saya akan

mempersembahkan kepala ini dan kepala Anda.”

“Bolehkah saya bertanya di mana lokasi tubuhnya? Kalau saya

kembali ke Kastel Awan Burung Gereja, saya ingin melakukan

upacara kremasi yang lengkap.”

Kawakami tertawa meskipun dia tak ingin tertawa. Tamunya tidak

bereaksi terkejut dan ketakutan seperti yang dia harapkan. Jika Genji

punya harapan untuk ditolong, harapan itu pasti digantungkan kepada

pamannya. Melihat kepala Shigeru seharusnya membuat Genji hancur.

Dia memberi isyarat kepada ajudannya untuk menutup kotak itu dari

membungkusnya lagi dengan kain sutra.

“Sayangnya, tubuhnya dan juga tubuh Rahib Kepala Sohaku

dibaringkan di ruangan meditasi. Dengan ledakan tadi, Anda bisa

bilang kalau upacara kremasi telah dilangsungkan.”

“Sekali lagi, terima kasih atas kebaikan Anda,” Genji

membungkuk dan siap-siap untuk pergi.

“Jangan tergesa-gesa. Ada satu lagi agenda pembicaraan kita.”

Genji duduk kembali. Senyum kecil yang menyebaikan itu masih

ada di bibirnya. Kawakami menahan amarahnya. Dia tak ingin ada

emosi negatif mempengaruhi persepsinya terhadap apa yang akan

terjadi kemudian. Ini adalah kenangan yang akan dia simpan baik-baik

dan ingat kembali pada tahun-tahun mendatang.

Kawakami berkata, “Saya dengar Anda sangat beruntung berhasil

memikat hati seorang wanita dengan kecantikan tak tertandingi, Nona

Mayonaka no Heiko.”

PDF by Kang Zusi

“Sepertinya begitu.”

“Ya, sepertinya begitu,” kata Kawakami. “Betapa tipis batas

antara perkiraan dan fakta. Apa yang dikira cinta mungkin juga

ternyata benci atau lebih buruk lagi taktik yang dirancang untuk

membingungkan dan mengalihkan perhatian. Apa yang terlihat sebagai

kecantikan bisa jadi adalah keburukan yang sangat dalam sehingga tak

terbayangkan.” Kawakami berhenti, berharap Genji membalas

sindirannya, tetapi Genji diam saja. “Terkadang perkiraan dan yang sebenarnya

tidak sama, tetapi keduanya nyata. Heiko misalnya,

kelihatannya seperti seorang geisha yang cantik dan memang dia

adalah geisha yang paling cantik. Tetapi, dia juga seorang ninja.”

Kawakami berhenti lagi. Dan Genji tetap diam. “Apa Anda tak

mempercayai saya?”

“Tidak, Lord Kawakami. Saya yakin Anda mengatakan yang

sebenarnya.”

“Anda tak terkejut.”

“Seperti yang telah Anda katakan tadi, kita dilatih untuk tidak

terlalu percaya pada yang terlihat.”

“Lord Genji, tolong demi kesopanan bersikaplah seakan-akan

Anda percaya saya punya sedikit informasi. Tentu saja Anda tahu

tentang keahlian ganda Heiko.”

“Agar pembicaraan ini terus berlangsung, bolehlah kita

mengasumsikannya demikian.” Sekarang Genji terdiam dan

memandang Kawakami dengan pandangan yang menurut Kawakami

menampakkan kecemasan. “Tentu saja masih ada yang lain.”

“Tentu. Karena Anda tahu Heiko adalah seorang ninja, Anda pasti

tahu kalau dia adalah agen saya.”

“Saya akan menyimpulkan demikian, ya.”

“Dan tentu saja, saya juga tahu kalau Anda dengan mudah akan

menyingkapkan semua fakta ini dalam waktu singkat.” Kawakami

menunjukkan ekspresi puas. “Seperti orang cerdik lainnya—dan Anda

orang yang sangat cerdik Lord Genji, tak akan ada yang

menyangkalnya—Anda cenderung merendahkan kecerdikan orang

PDF by Kang Zusi

lain. Apa menurut Anda saya begitu bodoh sehingga mengharapkan

rahasia Heiko tetap akan menjadi rahasia?”

“Saya akui, sebelumnya saya memang berpikir demikian,” kata

Genji. “Sekarang, saya sadar kalau pikiran saya itu salah.”

“Lebih salah dari yang Anda sadari. Anda mengira saya mengirim

Heiko ke ranjang Anda sehingga dia dapat mengkhianati Anda dan

bahkan mungkin membunuh Anda, di waktu yang menurut saya menguntungkan.

Memang anggapan itu beralasan karena Heiko juga

menganggap tugasnya adalah membunuh Anda. Mungkin kalian

berdua sudah mendiskusikan tentang ini, bukan?”

Kawakami memberikan waktu kepada Genji untuk merespons,

tetapi Genji tak mengatakan apaapa.

“Bagaimana mungkin saya membuat rencana seperti itu? Agar

Heiko bisa mem-bunuh Anda, dia harus menjadi wanita yang licik dan

pendusta tingkat tinggi. Tak ada kecantikan yang bisa

menyembunyikan keburukan semacam itu dan pria seperti Anda

dengan kemampuan pemahaman yang mendalam. Kebalikan dari yang

Anda kira, tujuan yang ingin saya capai membutuhkan wanita dengan

kualitas yang berbeda. Wanita yang sangat peka, bergairah, tulus, dan

berperasaan mendalam. Dengan kata lain, Heiko sangat memenuhi

syarat untuk ini. Seperti ayah yang baik, saya hanya mempunyai satu

harapan untuk Heiko. Semoga dia menemukan cinta sejati.”

Kawakami berhenti lagi, menikmati setiap momen kepuasan.

Kecemasan yang muncul di wajah Genji membuatnya mabuk

kesenangan.

“Bolehkah saya berharap bahwa Heiko sudah menemukan cinta

sejati?”

Sebelum Kawakami mewarisi gelar Bangsawan Agung Hino, yang

saat itu di-pegang oleh pamannya, dia merasa dirinya diremehkan oleh

Yorimasa, putra dan ahli waris Kiyori, Bangsawan Agung Akaoka.

Kejadian yang membuatnya merasa diremehkan tidaklah penting.

Sakit hati, baik nyata atau imajinasinya, hanya menambah panas

PDF by Kang Zusi

kebencian yang telah ada antara kedua klan sejak Sekigahara. Dia

semakin tersinggung lagi melihat pecandu opium dan pemabuk seperti

Yorimasa dipandang tinggi karena dianggap punya kemampuan

meramal yang merupakan kemampuan yang menurun dalam

keluarganya. Kawakami tahu bahwa pertanda yang sebenarnya

didasarkan pada kemampuan mendapatkan informasi yang tidak ingin

diketahui orang lain. Mendapatkan informasi itu menuntut ketekunan,

keahlian, dan kemampuan alam yang dikembangkan dengan hati-hati.

Kemampuan magis yang diturunkan tak ada hubungannya dengan itu.

Kawakami memikirkan selama beberapa waktu tindakan balasan

seperti apa yang bisa dia lakukan. Duel jelas bukan jawabannya. Meski

mabuk diri pecandu, Yorimasa adalah pemain pedang yang lebih

mematikan daripada Kawakami meskipun saat dia dalam kondisi

terbaiknya. Dan, kalaupun dia berhasil menang dalam duel, dia harus

berurusan dengari adik Yorimasa, Shigeru, yang reputasinya sebagai

pemain pedang mulai menandingi Musashi yang legendaris. Berusaha

mengalahkan Shigeru sama saja dengan mengharapkan hal yang

mustahil.

Pembunuhan diam-diam lebih memungkinkan. Melalui

kecelakaan sejarah yang asal-usulnya sudah kabur, klan Kawakami

menjalin persekutuan dengan klan ninja. Namun, saat Kawakami

membayangkan pembunuhan Yorimasa secara diam-diam, dia sama

sekali tak merasakan kepuasan. Tidak penting kalau semua orang tahu

siapa yang bertanggung jawab. Tetapi, Kawakami ingin Yorimasa tahu

siapa yang menghancur-kannya sebelum dia mati, kalau tidak

demikian Kawakami tak akan merasa puas.

Jawaban itu datang kepadanya suatu hari ketika ikut Ryogi, sang

germo, berkeliling ke desa-desa di pinggir wilayah Hino. Ketertarikan

Kawakami kepada geisha telah membawanya menyelidiki beberapa

rumah pelacuran terkenal. Namun, ketertarikannya tidak didorong oleh

nafsu seksual, tetapi karena informasi. Geisha tahu hal-hal yang tak

diketahui orang

“Beberapa orang yang menyebut dirinya seniman mengatakan

sikap dan tingkah laku adalah segalanya,” kata Ryogi. “Ini adalah

PDF by Kang Zusi

pandangan umum dari pendidikan geisha di Kyoto, tentunya.” Ryogi

tertawa. “Itu adalah pandangan orang buta. Penampilan, Tuanku, jauh

lebih penting. Perilaku dapat diajarkan. Tetapi, penampilan adalah

bawaan sejak lahir. Seorang wanita tak dapat diajarkan untuk menjadi

cantik.”

Kawakami mengangguk meskipun sebenarnya dia tak setuju. Dia

mengangguk karena itulah respons yang paling mudah. Dia tidak ikut

Ryogi untuk berbincang-bincang dengannya. Germo tua itu kasar,

bodoh, punya kebisaaan buruk di setiap perilakunya, dan sangat

memuakkan lebih dari yang bisa dibayangkan, termasuk dalam hal

kebersihan diri. Dia hanya punya satu kelebihan, kemampuan melihat

kecantikan langka pada wanita sejak masih kanak-kanak. Karena

sikapnya yang sangat rendah, temuan Ryogi j arang berhasil masuk ke

rumah-rumah geisha terbaik dan karena itu tak pemah mendapat

pendidikan yang sepantasnya. Kecantikan yang muncul akhimya

terbuang percuma di rumah bordil rendahan di bagian terburuk Dunia

Terapung. Begitulah cara Ryogi mendapat perhatian Kawakami.

Dalam beberapa kesempatan, Kawakami sempat memerhatikan ada

beberapa wajah dengan kecantikan mengejutkan mengintip dari kisikisi

jendela kayu beberapa rumah bordil termurah di Edo. Setelah

bertanya-tanya, dia berhasil menemukan dua hal. Pertama, wanita

walau masih muda, jika telah dihancurkan oleh penggunaan berlebilian

secara prematur tak bisa digunakan untuk tujuan yang dia rancang.

Kedua, setiap wanita itu ternyata dijual kepada pemilik rumah bordil

oleh satu orang.

Kawakami menemani Ryogi dalam misi pencarian gadis kali ini

karena berharap bisa mempelajari keahlian mencari wanita cantik.

Tetapi, rupanya keahlian itu tak mudah dipelajari. Tiga gadis kecil

yang telah dipilih di desa-desa yang mereka kunjungi memang cukup

manis, tetapi Kawakami tak bisa melihat adanya ciri-ciri yang sama

atau kualitas yang akan berkembang menjadi kecantikan luar bisaa

seperti yang dikatakan Ryogi.

PDF by Kang Zusi

“Terima kasih atas pelajarannya,” kata Kawakami. Dia

mengisyaratkan kepada pembantunya untuk memberikan bayaran

untuk Ryogi.

Ryogi menerima koin-koin emas itu dengan membungkuk

berlebihan dan sok resmi. “Bukankah ada satu lagi desa di lembah

terakhir itu? Hamba melihat asap. Dan sepertinya hamba juga

mencium sesuatu.”

“Eta,” kata Kawakami. Eta adalah kelompok kaum terbuang yang

melakukan pekerjaan yang paling buruk, tetapi dibutuhkan. Mereka

dipandang dengan jijik bahkan oleh petani yang paling rendah sekalipun.

“Penjagal?” kata Ryogi mengendus udara seperti anjing.

“Penyamak kulit,” kata Kawakami. Dia memutar kudanya ke arah

berlawanan, ke arah istana dan menjauhi bau menjijikkan yang kini

dibawa angin mengarah ke mereka.

“Hamba akan melihat-lihat,” kata Ryogi. “Kita tak akan pernah

tahu kapan akan menemukan kecantikan, bukan?”

Kawakami baru akan mengucapkan selamat tinggal ketika dia

berubah pikirkan. Mengetahui hal yang tidak diketahui orang lain

kadang menuntut kita untuk pergi ke suatu tempat yang orang lain

hindari.

“Kalau begitu, aku akan menemanimu sedikit lebih lama lagi.”

“Tuanku,” kepala pengawalnya berkata. “Jangan mengambil risiko

tercemar dengan memasuki desa orang terbuang. Tidak ada alasan

untuk melakukan itu. Bagaimana mungkin terdapat kecantikan di

antara mereka yang menguliti dan menyamak kulit hewan-hewan yang

dijagal?”

“Dan memang jika kecantikan itu ada di sana,” kata pengawalnya

yang lain. “Siapa orang yang bisa mengatasi rasa jijiknya untuk

melihatnya?”

“Meski begitu, kita tetap akan pergi dengan pemandu kita.”

Begitu dia melihat anak itu, yang berusia sekitar tiga tahun,

Kawakami langsung tahu. Ryogi tak perlu memberitahunya, tetapi

tetap saja dia berkata.

PDF by Kang Zusi

“Anak ini akan menghancurkan banyak pria,” kata Ryogi,

“sebelum akhirnya dia habis tak bersisa. Siapa orangtuanya, saudarasaudaranya?”

Penduduk desa terbuang itu terus menunduk mencium tanah. Tak

seorang pun berani bicara. Mereka semua terlalu kaget dan ketakutan

oleh keberadaan Kawakami. Belum pemah seorang samurai pun

apalagi seorang ahli waris gelar bangsawan menginjakkan kaki ke desa

mereka.

Kawakami berkata, “Jawab.”

“Tuanku.” Seorang pria dan wanita merangkak maju tanpa

mengangkat pandangan dari tanah. Dua anak laki-laki dan seorang

anak perempuan, berusia antara lima hingga delapan tahun, mengikuti

keduanya.

“Kau, perempuan, tengadahkan mukamu.” Wanita itu dengan

ragu-ragu mematuhi perintah itu, mengangkat kepalanya tetapi

pandangannya tetap menunduk. Wajahnya masih terlihat cantik,

meskipun masa-masa mekarnya telah berlalu, dan bentuk tubuh-nya

juga tidak jelek. Jika Kawakami tak tahu, dia tak mungkin menduga

asal-usulnya yang terkutuk.

“Tidak jelek,” kata Ryogi. “Tetapi, ibunya tak bisa dibandingkan

dengan anaknya nanti.”

Dengan isyarat dari Kawakami, salah satu pengawalnya

menjatuhkan beberapa koin ke tanah. Gadis kecil itu dinaikkan ke

salah satu dari tiga kuda tua yang dituntun Ryogi. Lalu, mereka pun

pergi.

Di Puri Hino, Kawakami membayar bonus kepada Ryogi atas

pelajarannya yang berharga hari ini. Germo itu berangkat ke Edo

keesokan harinya bersama empat barang jualannya. Malam itu, dia

berhenti di sebuah penginapan. Ketika dia tak muncul untuk sarapan,

pemilik penginapan pergi melihatnya. Dia menemukan Ryogi

terbaring mati dengan leher tergorok. Tiga dari empat anak kecil yang

dibawanya juga mati, sementara yang keempat menghilang.

Sesuai perintah, Kuma si Beruang membawa anak eta itu ke

desanya sendiri, desa ninja kecil kampung halamannya.

PDF by Kang Zusi

“Siapa namamu?”

“Mitsuko.”

“Aku Kuma, pamanmu.”

“Bukan. Aku nggak punya Paman Kuma.”

“Ya, kaupunya. Cuma kau belum tahu saja.”

“Di mana ibuku?”

“Aku sangat menyesal, Mitsuko. Telah terjadi kecelakaan

mengerikan. Ibumu, ayah, dan kakak-kakakmu semua telah pergi ke

Tanah Murni.”

“Tidak!”

“Anda telah bertemu Kuma,” kata Kawakami, “meskipun perkenalan

kalian tidak formal. Teman asing Anda, Stark, menembak mati dia

setelah pengeboman Edo. Mungkin Anda masih ingat?”

“Ya.”

“Tak perlu dijelaskan lagi, Mitsuko—Anda mengenalinya dengan

nama professionalnya tentu—bukanlah anak yatim piatu.” Kawakami

memberi isyarat kepada ajudannya yang lalu menuangkan sake

untuknya. Peristiwa ini adalah peristiwa yang membutuhkan perayaan

lebih, tidak hanya sekadar teh, meski Kawakami harus meminumnya

sendiri. “Kedua orangtuanya masih hidup, demikian juga kedua kakak

laki-lakinya dan kakak perempuannya. Kemiripan di antara mereka

sangat kentara. Terutama antara Mitsuko, ibunya, dan kakak

perempuannya. Bahkan, setelah dia dewasa kemiripan itu semakin

terlihat. Memang, kehidupan keras sebagai eta ber-pengaruh pada kecantikan

ibu dan kakaknya. Tetapi, tidak pada Mitsuko. Anda yakin,

Anda tak mau minum sake ini, Lord Genji? Ini benar-benar asli dari

kualitas terbaik.” Kawakami mengucapkan kata-kata itu sedemikian

rupa sehingga Genji memerhatikan penekanan yang dia tujukan pada

kata “asli”.

“Tidak, terima kasih.”

“Apakah Anda tak punya kata-kata cerdas atau bijak untuk

diucapkan, Tuan?”

PDF by Kang Zusi

“Tidak.”

“Sayang sekali Anda tak bisa meramal ini.”

“Tidak seburuk itu,” kata Genji. “Tidak ada yang berubah.

Perasaan saya tidak terpengaruh oleh fitnahan Anda.”

“Perasaan Anda?” Kawakami tertawa. “Apa perasaan Anda

seharusnya menjadi hal terakhir yang harus Anda khawatirkan.

Seorang Bangsawan Agung berbagi ranjang dengan eta, keturunan

tercemar dari orangorang terbuang yang bau, pemakan sampah, dan

berurusan dengan kulit binatang. Saya menyesal Anda tak akan tetap

hidup untuk mengalami keributan yang ditimbulkan berita ini ketika

sampai ke telinga publik. Ini akan menciptakan noda buruk dan tak

terhapuskan pada reputasi klan Anda meskipun klan Anda telah punah.

Satu hal yang lebih baik-atau buruk, bergantung bagaimana Anda

memandangnya—adalah jika Anda dan Heiko punya anak, atau

bahkan menikah. Sayangnya, tekanan orang asing telah memaksa

peristiwa pengungkapan ini terlalu cepat. Waktu memang berjalan

cepat dengan adanya orang asing, bukan?”

“Tak seorang pun akan percaya pada fitnahan itu,” kata Genji.

“Anda pikir begitu?” tukas Kawakami. “Bayangkan jika ibunya

dan kakak perempuannya berdiri di sebelahnya. Apakah orang-orang

akan tetap ragu saat itu?”

“Itu tak akan terjadi,” kata Genji.

“Oh? Dan apakah Anda mengatakan itu berdasarkan ramalan?”

Genji tersenyum. Senyumnya memang tipis dan tak seyakin tadi,

tetapi tetap saja senyum itu menjengkelkan Kawakami. “Saya telah

mendapat pertanda sesuai apa yang perlu. Dan sudah mendengar apa

yang perlu. Dengan izin Anda, saya tak akan meng-ganggu Anda lebih

lama lagi.”

Ajudan dan pengawal Kawakami memandangnya, menunggu

isyarat untuk memenggal Genji. Tetapi, Kawakami tak

mengisyaratkan apa pun. Biarkan Genji kembali ke Heiko. Biarkan

Genji memandang wanita itu dan merasakan apa yang pasti sedang dia

rasakan sekarang. Kepedihan Genji seperti yang sedang dibayangkan

PDF by Kang Zusi

Kawakami saat ini lebih berharga daripada membunuh Genji saat ini

juga.

Kesabaran punya imbalan tersendiri.

Belum pernah Genji merasakan susahnya keterbatasan kemampuan

meramal seperti saat ini. Meskipun situasinya saat ini terlihat seperti

tak ada harapan, dia tahu dia tak akan mati di sini. Dia harus tetap

hidup untuk mati di tempat lain, di waktu lain, dan bertemu Lady

Shizuka, yang akan menangisinya, dan dia juga masih harus

mengalami pertanda ketiga dan terakhir. Namun, apa artinya semua itu

baginya saat ini? Dia telah masuk perangkap jenis yang terburuk.

Eta.

Dia bisa berpura-pura di depan Kawakami, tetapi dia tak bisa

menipu dirinya sendiri. Pengungkapan asal-usul Heiko

menghancurkan dirinya.

Eta.

Selama hidup Genji, tak seorang eta pun diizinkan mengganggu

pandangannya. Penjagal, penyamak kulit, tukang sampah, penggali

kubur, dan pembawa mayat.

Heiko adalah salah satu dari mereka.

Eta.

Genji menahan rasa mual yang bergejolak di perutnya.

“Tuanku, apakah Anda baik-baik saja?” Sejak Genji kembali,

Hide dengan sabar menunggu junjungannya mengatakan sesuatu.

Hanya kekhawatiran bahwa junjungan-nya telah diracuni Kawakami

membuat Hide berani berbicara lebih dahulu.

“Aku membawa berita buruk,” kata Genji. Ketika dia pergi, anak

buahnya yang tersisa mengatur bangkai-bangkai kuda di sekitar

mereka sebagai perlindungan. Badan kuda yang besar dapat menghalangi

hujan peluru yang ditujukan kepada mereka. Kalau saja dia tak

habis mendengarkan cerita Kawakami tentang desa eta yang

menyamak kulit sebagai asal-usul Heiko, dia pasti dapat menghargai

usaha anak buahnya ini. Dia tak memandang wajah-wajah di

PDF by Kang Zusi

sekitarnya. Jika dia melakukannya, dia terpaksa harus juga

memandang Heiko atau wanita itu akan tahu kalau Genji tak bisa

memandangnya, dan Genji merasa saat ini dia tak sanggup

memandang Heiko. Maka, dia memusatkan pandangan pada kotak

kayu terbungkus sutra yang dia bawa kembali bersamanya.

“Lord Shigeru telah tewas.”

Tarikan napas terkejut di sekelilingnya memberi tahu Genji bahwa

anak buahnya juga punya harapan yang sama dengannya. Yaitu bahwa

Shigeru akan datang pada saat-saat terakhir dan secara ajaib

mengocar-kacirkan ratusan musuh yang mengepung mereka. Dari

semua orang, hanya Shigeru yang dapat melakukan itu.

“Apakah Anda yakin, Tuanku?” tanya Hide. “Kawakami adalah

penipu. Mungkinkah kabar ini salah satu tipuannya?”

Genji membungkuk ke arah kotak dan membukanya. Saat dia

melakukan itu, dia melihat Heiko berbisik kepada Emily, yang segera

menundukkan pandangannya ke tanah. Genji merasa bersyukur atas

kepekaan Heiko dan malu atas kegagalannya melihat Heiko seperti

dahulu dan bukan sebagai orang yang asal-usulnya baru dia dengar.

Terdengar tarikan napas tertahan ketika dia membuka kotak itu.

Beberapa orang samurai mulai terisak. Tak lama kemudian, semua

anak buahnya menangis tersedu sedan. Sebelas samurai yang berhasil

bertahan dari serangan Sohaku dan sergapan Kawakami, beberapa di

antaranya terluka parah, adalah murid-murid Shigeru. Keras, tegas, tak

kenal lelah dan tak kenal ampun, Shigeru adalah guru seni perang gaya

lama yang terakhir. Tak ada anggota klan yang lebih ditakuti, dibenci,

dan dipuja selain dia. Kematiannya merobek semangat juang yang

telah dia patrikan dalam-dalam di setiap hati para samurai.

Emily tak dapat menahan emosinya, bertanya kepada Heiko

dengan suara tercekik karena tangis, “Haruskah perang begini kejam?

Bukankah kematian itu sendiri sudah mengerikan?”

“Kematian sama sekali tidak mengerikan,” kata Heiko. “Hanya

penghinaan yang mengerikan. Jika Lord Kawakami

mempersembahkan kepala Lord Shigeru kepada klannya, itu adalah

penghinaan yang paling buruk. Itulah yang membuat sedih para saPDF

by Kang Zusi

murai ini, kegagalan mereka membela Lord Shigeru agar tidak

mengalami penghinaan seperti ini. Rasa malulah yang paling

menyedihkan bagi mereka.”

Stark telah mengambil pelananya pada saat gencatan senjata. Dia

telah mengisi enam peluru pada masing-masing pistolnya. Enam untuk

revolver kaliber 44 dan enam untuk kaliber 32. Ketika malam datang,

dia bermaksud menerobos dinding kuil. Kalau beruntung, dia mungkin

bisa melewatinya hidup-hidup, dan di dalam dia akan menemukan

Ethan Cruz lalu membunuhnya. Dia berharap ledakan tadi tidak menewaskan

orang yang dicarinya itu.

“Hide, katakan kepada Nona Heiko dan Lady Emily mereka harus

meninggalkan kita sekarang,” kata Genji. “Lord Kawakami telah

menjamin keselamatan mereka. Tuan Stark juga bebas pergi.”

“Ya, Tuan.” Hide lalu pergi untuk memberi tahu Heiko.

Heiko mendengar kata-kata Genji dengan jelas karena benteng

pertahanan mereka tidaklah luas dan dia duduk tak lebih dari sepuluh

langkah dari Genji. Dia bertanya-tanya mengapa Genji tidak langsung

berbicara kepadanya. Sejak kembali dari pertemuannya dengan

Kawakami, Genji tak mau melihatnya. Apakah Kawakami telah

mengatakan sesuatu yang menggoyahkan kepercayaan Genji

kepadanya? Tentunya, apa pun kata Kawakami, Genji tak akan

percaya. Kalau saja ada satu hal yang pasti pada masa yang serba tak

pasti ini, Genji pasti tahu bahwa cinta Heiko kepadanya benar-benar

tulus.

Sebelum Hide membuka mulut, Heiko berkata, “Aku tak akan

pergi.”

“Nona, Anda tidak bisa memilih,” kata Hide. “Ini perintah Lord

Genji.”

Sigap, Heiko mencabut belati dan menempelkan ujungnya di

tenggorokannya. Satu tusukan cepat akan merobek nadinya. Dia

berkata lagi, “Aku tak akan pergi.”

Emily, terperanjat, berkata, “Heiko!” tetapi Heiko tak

menghiraukannya.

PDF by Kang Zusi

Stark yang duduk tepat di belakang Heiko bermaksud memegang

lengannya. Tetapi, baru saja dia berpikir begitu, kepala Heiko bergeser

sedemikian rupa yang membuat Stark mengurungkan niatnya. Heiko

siap menusukkan belati itu dan Stark tak akan bisa mencegahnya.

Hide memandang ke arah Genji. “Tuanku.”

Genji tahu Kawakami tak akan membunuh Heiko kalau dia bisa.

Heiko akan dipamerkan bersama keluarga etanya sebagai bukti

kemenangan Kawakami. Penghinaan yang dia alami akan lebih

menyedihkan daripada kematian Genji. Dia bisa saja menghindarkan

Heiko dari kepedihan itu dengan memaksanya pergi. Genji yakin

Heiko pasti akan menggorok lehernya sendiri tanpa ragu jika dia tetap

memaksa. Tetapi, Genji tak bisa melakukannya. Apa pun perasaan

Genji tentang Heiko sekarang, dia juga mencintainya. Dia tidak bisa

menjadi sarana untuk kematian Heiko. Masih ada harapan. Pertanda

yang dia alami menjanjikan bahwa dia akan tetap hidup. Mungkin

dalam usaha mewujudkan ramalan itu, Heiko dapat dilindungi.

Genji akhirnya memandang Heiko. Dia membungkuk dalamdalam

kepadanya, “Kuharap, aku cukup berharga menerima kesetiaan

seperti itu.”

Heiko menurunkan belatinya. Dia membalas bungkukan Genji dan

berkata, “Ini tidak ada hubungannya dengan kesetiaan atau harga, tidak

ada hubungannya dengan ini, Tuanku.”

Tak bisa menahan, Genji tertawa. “Benar-benar tanpa syarat?

Kalau begitu, utangku padamu tak bisa dihitung besarnya.”

“Ya,” kata Heiko menjawab genit seperti geisha, “bagaimana

Anda akan membayarnya?”

Semua samurai akhirnya tertawa juga. Junjungan mereka dan

kekasihnya yang mereka hormati bersikap tanpa rasa khawatir sama

sekali. Bagaimana mereka bisa bersikap sebaliknya? Mereka semua

menghapuskan air mata yang menggenang.

Emily berkata, “Heiko, apa yang kau lakukan tadi?”

“Melakukan demonstrasi,” jawab Heiko. “Kadang, kata-kata saja

tidak mempan pada seorang samurai.”

PDF by Kang Zusi

Genji berkata, “Emily, Matthews, kalian bebas pergi. Musuhku

tidak akan melukai kalian.”

“Bebas pergi ke mana?” tanya Stark.

“Pasti dia akan mengantarkan kalian dengan selamat ke konsulat

Amerika di Edo. Kalian bisa naik kapal kembali ke Amerika.”

“Amerika bukan tujuanku,” kata Stark. Dia menunjuk Kuil

Mushindo dengan pistol kaliber 44-nya. “Itu tujuanku.”

Emily berkata, “Saya kira, saya sudah mengatakan kepada Anda,

Lord Genji, misi saya adalah di sini, di Jepang.”

“Kita dikepung oleh ratusan orang,” kata Genji, “yang akan

berusaha membunuh kita dengan senapan dan pedang tak lama lagi.

Apa kalian benar-benar ingin tinggal?”

“Aku berada di mana Tuhan menempatkanku,” kata Emily.

Stark tersenyum dan mengokang kedua pistolnya.

Genji membungkuk dan mengalihkan perhatian kepada orangorangnya.

“Lord Kawakami bermaksud mengambil kembali kepala

pamanku, saat dia bermaksud memenggalku. Aku tidak mau menuruti

kemauannya.”

“Kita akan memenggal kepalanya,” kata Hide. “Kita akan

membiarkan kepalanya membusuk di luar dinding istananya yang akan

kita bakar dan hancurkan.”

“Ya!” semua orang menyambut dengan semangat.

“Mengapa menunggu? Ayo kita serbu sekarang!”

“Berhenti,” kata Genji, tepat waktu untuk mencegah setengah dari

pengikutnya melakukan serangan bunuh diri ke pasukan Kawakami.

“Beberapa lama berselang, aku mengalami pertanda yang menjelaskan

kejadian saat ini. Ini bukan akhimya.” Dia tidak menambahkan kalau

dalam pertanda yang dia alami tidak mengisyaratkan bahwa ada orang

lain yang berhasil bertahan hidup kecuali dirinya. Namun, pernyataan

itu berhasil mendatangkan efek yang diinginkan. Dia bisa melihat

kepercayaan diri kembali di mata dan postur tubuh para anak buahnya.

“Tentu saja siapa pun yang tetap ingin bunuh diri kuizinkan

menyerang sekarang.”

PDF by Kang Zusi

Apakah memang bersamaan dengan waktu yang dipilih

Kawakami atau dia marah mendengar sorakan dari mereka yang

terkepung, senapan yang mengepung mereka melepaskan tembakan.

Suara senapan beruntun tanpa henti. Peluru merobek-robek bangkai

kuda yang menjadi dinding perlindungan mereka tanpa ampun, dan

bangkai-bangkai itu mulai hancur. Sementara itu, gelombang peluru

berdesing di atas kepala mereka.

Apakah yang dia alami itu benar-benar pertanda? Genji mulai

meragukannya. Kini, kemungkinan kepalanya dan kepala pamannya

tergantung di pelana Kawakami atau di pelana ajudannya—karena

Kawakami orangnya sangat peka terhadap kebersihan, terlihat semakin

dekat. Tetapi, Genji ingat satu aturan yang pernah dikatakan kakeknya.

Perwujudan ramalan masa depan bergantung pada sikap kita yang

tak bisa diramalkan. Hide melihat senyum di bibir Genji dan merasakan

rasa percaya dirinya meningkat meskipun situasi mereka

terlihat memburuk dengan cepat. Bangkai kuda di sekitar mereka

dirobek-robek oleh hujan peluru mulai hancur dan mengalirkan darah.

Sebuah kaki depan kuda terlempar dan mengenai bahu Hide sebelum

akhirnya jatuh ke lumpur yang memerah karena darah. Di dalam

lingkaran bangkai kuda itu, semua orang berlumuran darah kuda.

Seakan-akan neraka terbentuk di sekitar mereka. Tetapi, Genji tetap

tersenyum. Hide mengeratkan genggamannya di gagang pedang. Dia

menjadi semakin yakin akan kemenangan mereka. Tetapi, bagaimana

mereka bisa menang itu masih menjadi misteri.

Kawakami berkata kepada ajudannya, “Jika mungkin, tawan Genji

dan Heiko hidup-hidup. Pokoknya usahakan jangan sampai merusak

wajah Heiko.”

“Ya, Tuanku. Tetapi, mungkin mereka berdua kini sudah tewas

dan wajah mereka juga rusak. Kita sudah menembakkan beratus-ratus

peluru ke arah mereka.”

“Yang kita lakukan adalah membunuh bangkai-bangkai kuda itu

berkali-kali,” kata Kawakami. “Mereka menunggu kita mendatangi

PDF by Kang Zusi

mereka. Saat itulah mereka akan melawan. Turunkan senapan dan

serbu dengan pedang.”

“Ya, Tuan.”

“Tunggu. Perintahkan sepuluh penembak terbaik tetap memegang

senapan, Perintah-kan mereka untuk menembak si orang asing dengan

senapan begitu dia menunjukkan dirinya.”

“Ya, Tuan.”

Kawakami mengawasi dari jarak yang cukup aman, seperti

bisaanya. Anak buahnya menyimpan kembali senapan dan menghunus

pedang. Dahulu mereka tak sabar menghunus pedang mereka. Tetapi,

kini tidak lagi. Kini, mereka lebih percaya pada superioritas senapan.

Begitu juga Kawakami. Bukan karena enam ratus senapan berhasil

menang melawan sepuluh atau dua puluh pedang di pihak Genji. Itu

tidak membuktikan apa-apa. Tetapi, karena senapan telah membunuh

Shigeru yang tak ter-kalahkan dengan mudah. Seorang anak petani

dengan senapan bisa melakukan itu. Hanya butuh latihan selama dua

minggu, seorang petani dengan senapan mampu mem-bunuh seorang

samurai yang menghabiskan waktu bertahun-tahun menajamkan

keahliannya menggunakan pedang. Tidak ada yang bisa menentang itu

kecuali dengan idealisme kuno yang mati.

Namun, tetap masih ada taktik yang harus dikembangkan atau

dipelajari dari orang asing. Tidak perlu banyak strategi untuk

menggunakan senapan sebagai pertahanan atau dalam sebuah

sergapan. Namun, serangan masih menjadi problem, terutama jika

musuh juga menggunakan senjata yang sama. Perlunya berhenti dan

mengisi.kembali mesiu menjadi halangan utama dalam melakukan

serangan dengan senapan. Bagaimana orang asing bisa melakukannya?

Kawakami bertekad untuk mempelajarinya. Ketika dia sudah

menyelesaikan urusannya dengan Genji, dia akan berkonsentrasi untuk

mempelajari tentang senjata api dan strategi penggunaannya. Mungkin

ada ahli di antara orang asing yang setara dengan Sun Tzu. Jika

memang begitu, Kawakami akan mempelajari versi Seni Perang orang

asing itu. Genggaman klan Tokugawa terhadap keshogunan mulai

melemah. Gelar itu tak lama lagi akan direbut dari tangan mereka,

PDF by Kang Zusi

tidak dengan cara kuno, yaitu melalui samurai dan pedang. Shogun

yang baru akan merebut kekuasaan dengan senapan. Dia bisa saja

menjadi Shogun. Mengapa tidak? Jika aturan lama tak lagi berlaku

dalam perang, aturan itu juga dapat berlaku mengganti kekuasaan

turun-temurun. Garis keturunan tak lagi penting dibandingkan

kekuatan senjata.

Senapan. Dia perlu lebih banyak senapan. Senapan yang lebih

baik. Yang lebih besar. Meriam. Kapal perang. Tunggu. Tak ada

gunanya membayangkan macam-macam lebih dahulu. Pertama, Genji.

Kawakami bergerak ke depan, tetapi dengan hati-hati. Anak buah

Genji meski sedikit juga punya senapan. Betapa tragisnya jika dia

harus tertembak mati pada momen kemenangan terbesarna. Kawakami

berhati-hati dan selalu menjaga agar antara dirinya dan ‘musuh

terdapat jajaran.pohon untuk melindungi.

“Kenapa mereka berhenti menembak?” Hide bertanya.

“Kepalaku,” kata Genji. “Untuk mendapatkannya, mereka harus

menggunakan pedang.”

Taro pelan-pelan mengintip dari balik bangkai kuda di depannya.

“Mereka datang.”

Genji memandang anak buahnya. Setiap orang menghunus

pedang. Selongsong peluru bertebaran di lumpur yang kemerahan oleh

darah. Lebih efisien untuk balas menyerang dengan tembakan senapan

sebelum dengan pedang. Tetapi, mereka tidak memikirkan efisiensi.

Mereka adalah samurai. Pada saat menentukan antara hidup dan mati,

hanya pedang yang mereka pilih. .

Genji menghunus pedangnya sendiri. Mungkin dia memang ahli

waris Okumichi terakhir, dan sebagai ahli waris terakhir, dia adalah

satu-satunya orang yang mendapat-kan pertanda yang salah. Tak ada

pembunuhan yang akan terjadi kepadanya di masa depan. Tidak ada

Lady Shizuka, tidak ada ahli waris yang menunggu kelahiran, tidak

ada pertanda ketiga. Semuanya hanya angan-angan. Dia memandang

Heiko dan memergoki Heiko juga sedang memandangnya. Senyum

pecah di antara mereka berdua. Tidak, tidak semuanya merupakan

angan-angan.

PDF by Kang Zusi

“Siapkan diri kalian,” kata Genji kepada anak buahnya. “Kita akan

menyerang.”

Memang, begitulah cara mati yang pantas untuk seorang samurai.

Dalam serangan Seperti batu besar yang menggelinding dari

ketinggian ke samudra luas. “Siap…..”

Serentetan tembakan dari dalam dinding Kuil Mushindo

mengalahkan komandonya. Setengah barisan depan samurai

Kawakami jatuh. Gerakan maju mereka langsung kacau, pasukan yang

panik berlarian ke segala arah menjauhi Mushindo. Rentetan tembakan

kedua menyusul dan lebih banyak lagi prajurit Kawakami yang jatuh.

Genji melihat ada sekitar empat puluh senapan terjulur dari

dinding kuil. Siapa mereka? Dia tak punya waktu untuk menebaknebak.

Terjadi kekacauan baru di barisan belakang prajurit Kawakami.

Tanah yang diinjak Genji bergetar akibat derapan puluhan kaki kuda.

“Kavaleri!” kata Hide. “Seseorang menyerang Kawakami!”

“Bantuan!” kata Taro.

“Bagaimana mungkin?” kata Hide. “Wilayah kita jaraknya tiga

hari berkuda dari sini, bahkan untuk orang yang menunggangi kuda

yang berlari kencang.”

“Awas,” kata Taro, “mereka kembali.”

Batalion Kawakami, yang sekarang mati-matian berusaha lari dan

serangan kavaleri, lari kembali menuju Mushindo. Rentetan tembakan

menyambut mereka lagi. Tetapi, saat para penembak itu kembali

mengisi senapannya, gelombang prajurit Kawakami yang berlarian

panik kembali mengarah ke tempat Genji.

Genji dan sedikit anak buahnya harus berjuang sekuat tenaga agar

tidak terinjak-injak. Pedang menebas ke semua arah. Darah prajurit

yang sekarat dan darah dari bangkai kuda bercampur di lumpur. Genji

mendengar pistol Stark menyalak dua belas kali, lalu diam.

Tidak ada waktu untuk mengisi peluru. Stark mengambil sebilah

pedang yang terjatuh, memegangnya dengan kedua tangan dan

mengayunkannya seperti kapak, menusuk tubuh, menghancurkan

tengkorak, dan memotong tangan.

PDF by Kang Zusi

Heiko dan Hanako berdiri di tengah lingkaran samurai dengan

Emily di antara mereka, menebas dan menikam siapa saja yang

mendekat.

Satu dari prajurit Kawakami mendekati Hide dari belakang. Hide

yang sedang sibuk menghadapi beberapa orang musuh tak melihat

samurai itu menebasnya dari belakang.

“Hide!” Berteriak memperingatkan, Hanako melemparkan dirinya

sendiri antara Hide dan prajurit itu. Tebasannya memutuskan lengan

Hanako tepat di atas siku.

Prajurit penunggang kuda bermunculan dari hutan. Panji-panji

buatan bergambar burung gereja dan panah berkibar di tiang-tiang

yang mereka bawa. Mereka mencin-cang dan menginjak-injak pasukan

Kawakami yang kocar-kacir dan menuju Genji, meneriakkan namanya

sebagai teriakan perang.

“Genji!”

“Genji!”

“Genji!”

Heiko berkata dengan suara terkejut, “Apakah Anda melihat

pasukan siapa ini, Tuanku?”

“Ya, aku melihatnya,” kata Genji. “Tetapi, apakah aku bisa

mempercayai peng-lihatanku ini?”

“Aku sudah memerintahkan untuk menghentikan tembakan,” kata

Kawakami marah.

“Itu bukan senapan kita, Tuanku. Rentetan tembakan itu berasal

dari dalam kuil.”

“Mustahil. Siapa pun yang ada di sana pasti sudah mati karena

ledakan.”

“Mungkin anak buah pasukan Genji yang lain sudah tiba.” Sang

ajudan melihat ke balik bahunya dengan ketakutan. “Dari awal

sungguh tak mungkin dia pergi dengan dikawal pasukan yang begitu

sedikit. Mungkinkah ini sebuah jebakan, Tuanku?’

PDF by Kang Zusi

“Itu juga mustahil,” kata Kawakami. “Jika memang dia

mempersiapkan jebakan, Genji pasti tak akan mau bertemu denganku.

Dia tak akan mengambil risiko seperti itu kecuali dia tak punya pilihan

lain.”

Kawakami melihat pasukannya bergerak mundur dari kuil dan

kembali menuju ke arahnya dan mulai kocar-kacir. “Pasukan kita

kelihatannya bergerak ke arah yang salah.”

“Rentetan tembakan yang mengejutkan itu menimbulkan

kebingungan,” kata ajudannya.

“Kalau begitu, majulah dan atur kembali mereka.”

“Ya, Tuan” Tetapi, ajudannya tidak menggerakkan kudanya ke

depan.

Kawakami baru saja akan memarahinya ketika dia mendengar

teriakan dari arah belakang.

“Genji!”

“Genji!”

“Genji!”

Meneriakkan teriakan perang Okumichi, samurai berkuda

menerobos bagian belakang posisi Kawakami yang tak dijaga.

Terperangkap di alas tanah tanpa kuda mereka, sementara senapan

mereka tersimpan dan tak bisa dijangkau, juga terjebak antara rentetan

tembakan dan serangan kavaleri, batalion Kawakami buyar karena

panik. Banyak di antara mereka membuang pedangnya dan lari menuju

satu-satunya jalan keluar dari perangkap, yaitu jalan ke Edo. Peluru,

pedang, dan kaki kuda menghancurkan mereka saat mereka berusaha

lari.

Kawakami dan ajudannya sudah terkepung sebelum mereka

sempat lari jauh. Tak mampu memberi perlawanan berarti, mereka

berdua dapat ditangkap dengan mudah.

“Tahan,” kata Kawakami. “Aku lebih bernilai bagi kalian jika aku

hidup. Aku adalah Lord Kawakami.” Meskipun menjadi tawanan,

Kawakami tetap merasa status-nya lebih tinggi. Ini hanyalah ketiduran

sementara, bukan kekalahan total. “Meski kalian membawa panji-panji

PDF by Kang Zusi

Okumichi, kalian bukan samurai dari klan Okumichi, bukan? Siapa

junjungan kalian? Bawa aku kepadanya.”

Selama lima belas tahun, Mukai menjadi Asisten Kepala Polisi

Rahasia Shogun yang loyal dan patuh. Dia melakukan apa yang

diperintahkan atasannya, Kawakami, tanpa banyak memedulikan

penderitaan batin yang sering dia alami ataupun beberapa gelintir

kepuasan. Lagi pula, tujuan hidupnya bukanlah untuk mencari

kesenangan, melainkan untuk memuliakan dan mematuhi mereka yang

menjadi atasannya dan mengomando serta mendisiplinkan mereka

yang menjadi bawahannya.

Meski hampir terlambat, Mukai akhirnya menyadari bahwa

keberadaannya selama ini tak bisa disebut hidup, tetapi lebih mirip

sebagai mayat hidup.

Inilah yang disebut hidup.

Kekuatan liar binatang yang menderap di bawahnya tak bisa

dibandingkan dengan aliran energi luar bisaa yang mengalir di seluruh

nadinya.

“Genji!”

“Genji!”

“Genji!”

Seluruh tubuhnya serasa dialiri ekstase yang sekaligus

menyakitkan. Mukai merasa dirinya seakan-akan penjelmaan Dewa

Petir saat dia memimpin penyerangan pasukan kavaleri untuk

menyelamatkan Genji. Cinta yang dirasakannya membuka berbagai

kemungkinan yang tak pernah berani dia bayangkan sebelumnya.

Bertindak atas nama cinta membebaskan dirinya untuk selamanya.

Kebahagiaan yang dia rasakan benar-benar egois, miliknya pribadi dan

benarbenar murni. Dia tak berpikir tentang tugas, keluarga, status,

sejarah, tradisi, kewajiban, wajah, atau rasa malu. Tidak ada lagi yang

tersisa dalam dirinya kecuali cintanya dan tidak ada dunia lain kecuali

dunia penyatuan antara dirinya dan Genji.

PDF by Kang Zusi

Seratus delapan puluh pengikut setianya mengikutinya dalam

perjalanan panjang dari wilayahnya yang kecil di utara. Mereka

berhasil diyakinkan dengan ramalan kemenangan Lord Genji. Setahu

Mukai, Genji tak pernah menyatakan ramalan seperti itu. Mukai telah

berbohong dan dia berbohong dengan baik. Cinta secara misterius

telah memberinya kemampuan bicara yang dia perlukan. Para

pengikutnya yang selama ini terbiasa dengan junjungan yang

canggung, tidak menonjol, dan tak pintar bicara, terkagum-kagum

melihat, Mukai yang pintar bicara sehingga percaya dan mau

mengikutinya.

Kini, panji-panji burung gereja dan panah berkibar di atasnya

seperti yang dia impi-impikan. Mukai tak lagi merasakan takut,

harapan, hidup dan mati, inasa lampau dan masa depan. Dia menebas

orang-orang yang menghalangi jalannya dengan penuh kebahagiaan.

“Genji!”

Dia meneriakkan nama orang yang dicintainya, sebagai sebuah

pernyataan cinta, teriakan perang, sebuah mantra suci.

Panik karena desingan peluru dan derap kaki kuda, banyak anak

buah Kawakami yang berusaha berlindung di lingkaran benteng kecil

Genji. Tekanan dari prajurit yang panik mengakibatkan ancaman lebih

serius daripada rencana serangan Kawakami. Genji dan kelompoknya

hampir-hampir kewalahan menghadapi serbuan para prajurit yang

panik.

Apakah dia datang sejauh ini hanya untuk mengetahui dia

terlambat? Mukai mengutuk ketidakmampuannya menangkap strategi

Kawakami sehingga dia tak tahu di mana Kawakami akan melakukan

serangan; kalau saja dia punya kemampuan militer lebih, dia pasti tahu

harus pergi ke mana dan tiba di sini beberapa hari lalu. Dia mengutuk

ketidakmampuannya melihat arah sehingga dia sering tersesat saat

melintasi pegunungan; dengan kemampuan melihat bintang, arah

angin, dan migrasi musiman burung, dia pasti tak akan kehilangan

waktu berharga saat dia dan pasukannya malah menuju timur dan

bukan barat; dia mengutuk lima belas tahun yang dia habiskan di

ruang interogasi yang sempit dan terisolasi; samurai yang sering

PDF by Kang Zusi

melakukan perjalanan pasti lebih tahu peta daerah ini, dan dapat

memperbaiki kegagalan strategi atau penentuan arah.

Tidak! Mereka tak boleh mati terpisah. Tidak bisa, setelah cinta

dan takdir men-dekatkan mereka. Mukai memisahkan diri dari para

pengawalnya dan menyerbu ke tengah-tengah samurai yang sedang

bertempur dan tebasan pedang.

“Genji!”

Menebaskan pedang dengan liar ke kiri dan ke kanan ke setiap

orang yang dia temui, Mukai menerobos jalan menuju posisi Genji.

Jumlah musuh yang lebih banyak akhirnya berhasil menjatuhkan

kudanya. Mukai sama sekali tak merasakan tusukan tombak dan

tebasan pedang yang mengenainya. Genji.

Dia harus bisa sampai ke Genji. Dia terus berusaha membuka

jalan dengan ber-jalan kaki.

“Lord Mukai! Tunggu!” Para pengikutnya berusaha untuk

mengejar.

“Genji!”

“Mukai!”

Mukai melompati dinding bangkai kuda untuk berada di samping

Genji. “Tuanku.” Dia membungkuk. “Hamba datang sesuai janji

hamba.”

“Awas!” Genji menggunakan pedangnya untuk menahan serangan

yang ditujukan ke punggung Mukai. “Kita sebaiknya mengabaikan tata

cara kesopanan dulu. Izinkan aku mengatakan, aku sangat terkejut dan

senang melihatmu, Mukai.”

“Tuanku,” kata Mukai.

Seperti cinta yang telah memberinya kesempatan bicara untuk

meyakinkan pengikutnya, cinta juga menghilangkan semua kata yang

ingin dia ucapkan di depan Genji saat ini.

“Tuanku.”

Itu saja yang sanggup dikatakan Mukai.

Genji berlumuran darah dari kepala hingga ujung kaki. Apakah itu

darahnya atau darah musuh, atau darah dari bangkai kuda, Mukai tak

tahu. Apakah semua itu penting sekarang? Pada saat yang menentukan

PDF by Kang Zusi

dan berharga ini, bersama Genji, bertempur di sisiriya melawan

kekuatan yang jauh lebih besar, semua indra dan inti dirinya

menghilang. Tak ada subjek atau objek, tetapi pada saat yang sama

keduanya ada secara bersamaan. Waktu seakan berhenti. Apa yang ada

dalam dirinya dan di luar dirinya? Mukai tidak hanya gagal

menemukan jawabnya, tetapi pertanyaan itu sendiri juga sudah tak

penting lagi.

“Tuanku.”

Di beberapa menit yang menentukan, seakan-akan akhir hidup

mereka sudah dekat. Prajurit Kawakami terlalu banyak, sementara

terlalu sedikit di pihak Genji. Untuk setiap orang yang berhasil mereka

jatuhkan, muncul tiga orang yang menyerang. Lalu, tepat saat

lingkaran pedang mengepung mereka untuk saat-saat terakhir, kembali

terdengar rentetan tembakan dari arah kuil dan tiba-tiba semua

serangan terhenti. Bersamaan, seakan-akan ada perintah, semua

prajurit Kawakami membuang senjata mereka dan menelungkupkan

diri ke tanah.

Semuanya sudah berakhir.

Mukai berkata, “Anda menang, Tuanku.”

“Tidak,” kata Genji, “kau yang menang, Mukai. Kemenangan ini

hanya milikmu seorang.”

Mukai tersenyum. Senyum yang bersinar sehingga dia merasa

seakan-akan seluruh tubuhnya bercahaya.

“Mukai!” Genji memeluknya saat Mukai terjatuh.

“Tuanku!” Para pengikut Mukai hendak maju. Tetapi, Mukai

menggerakkan tangan menyuruh mereka mundur tanpa melepaskan

pandangan dari Genji sedetik pun.

“Kau terluka di bagian mana?” tanya Genji.

Mukai tak peduli akan luka-lukanya. Dia ingin mengatakan

kepada Genji bahwa mimpi menjadi kenyataan bukan hanya pada

mereka yang punya kemampuan meramal, melainkan juga pada orang

bisaa sepertinya dirinya, jika mereka benar-benar tulus. Dia ingin

mengatakan, dia telah memimpikan saat ini dengan sangat jelas-darah,

pelukan mereka, kematian, tanpa rasa takut dan terutama penyatuan

PDF by Kang Zusi

yang membahagiakan, abadi, transenden, melewati keterbatasan

persepsi, definisi, dan pemahaman.

Lalu, dia bahkan tak menginginkan apa-apa, yang ada hanyalah

senyuman.

“Tuanku!” Pengikut Mukai memandang dengan terkejut saat

Genji membaringkan tubuh junjungan mereka ke tanah. Dia telah

mengatakan kepada mereka bahwa Genji telah meramalkan

kemenangan. Dia sama sekali tak mengatakan tentang kematiannya.

“Lord Mukai gugur,” kata Genji.

“Lord Genji, apa yang harus kami lakukan? Tanpa Lord Mukai,

kami tak punya junjungan. Dia tak punya ahli waris. Shogun pasti

akan menyita wilayahnya.”

“Kalian adalah pengikut setia temanku yang paling setia dan rela

berkorban,” kata Genji. “Kalau mau kalian semua boleh mengikutiku.”

“Kalau demikian, mulai saat ini kami menjadi pengikut Anda,

Lord Genji.” Mantan pengikut Mukai membungkuk dalam-dalam

kepada junjungan baru mereka. “Apa perintah Anda?”

“Wah, wah,” kata Kawakami, “Sungguh mengharukan dan

dramatis. Mungkin kejadian ini suatu hari nanti akan muncul di drama

kabuki yang mencerita-kan kehidupan Anda, Lord Genji.” Dia melihat

ke arah mereka dari atas pelana kuda, ekspresinya tetap percaya diri.

Terintimidasi oleh statusnya, pengikut Mukai mengiringnya seakanakan

dia adalah tamu bukan tawanan. Kebalikan dengan semua orang,

pakaian Kawakami dan ajudannya tetap bersih tanpa ada jejak darah

dan pertempuran.

“Turun,” kata Genji.

Wajah Kawakami mengerut. “Izinkan saya memperingatkan Anda

agar tidak terlalu emosional. Satu-satunya perubahan yang terjadi

adalah kemungkinan Anda bertahan hidup lebih besar.” Kawakami

bukanlah ahli pedang. Keahliannya ada di bidang lain. Ironisnya,

keahliannya adalah pengetahuan, sebuah keahlian yang dianggap

dimiliki ahli waris klan Okumichi lebih dari orang lain.

Pengetahuanlah yang akan membawa kemenangan bagi Kawakami.

PDF by Kang Zusi

“Jika Anda bernegosiasi dengan baik, Anda mungkin bisa mendapatkan

keuntungan siginifikan. Izinkan saya menyarankan…”

Genji mengulurkan tangannya, mencengkeram lengan Kawakami,

dan melempar-kannya ke tanah.

Kawakami terbatuk-batuk mengangkat wajahnya dari tanah yang

telah menjadi lumpur karena darah. “Kau ….”

Pedang Genji terhunus di atas tubuh Kawakami dan menebas

lehernya hingga hampir putus. Kepala itu tergantung di antara bahunya

hanya ditahan oleh secarik kulit dan tulang rawan. Darah muncrat

untuk sesaat, lalu berhenti karena tekanannya menurun dan mengalir

ke tanah. Tubuh Kawakami terjatuh ke lumpur, kepalanya masih

tergantung di bahu, sementara wajahnya yang menampakkan ekspresi

kaget menatap kosong ke langit.

Genji memandang ajudan Kawakami. Dia ada di tenda ketika

Kawakami mengata-kan tentang asal-usul Heiko.

“Lord Genji,” kata ajudan itu.

“Bunuh dia,” kata Genji.

Dua samurai di kedua sisi ajudan itu langsung mengayunkan

pedangnya. Mayat sang ajudan jatuh ke tanah terpotong menjadi tiga

bagian-kepala, bahu kanan, dan tubuh ke bawah.

Genji memandang kepada tawanan sekitar tiga ratus orang yang

ketakutan. Mereka adalah samurai rendahan, yang tidak mungkin

mengetahui informasi penting. Kawakami selalu membanggakan diri

mengetahui sesuatu yang tidak diketahui orang lain.

Dia tak suka membagi rahasia yang dipunyainya pada banyak

orang. Ajudannya tahu. Mungkin Mukai juga tahu. Siapa lagi?

Istrinya? Selirnya? Geisha lain? Bahkan, jika dia menjelajahi Jepang

dan membunuh semua orang, dia tetap tak yakin telah menghilangkan

semua kemungkinan. Dengan kematian Kawakami, itu mungkin tak

perlu dilakukan. Sedikit orang yang berani mengajukan dugaan yang

keterlaluan itu tanpa bukti meyakinkan. Tentu saja bukti adalah kunci.

Bukti yang mendukung.

Genji berkata, “Periksa kuil untuk mencari apakah ada peledak

lain. Begitu semuanya bersih, siapkan perlengkapan mandi.”

PDF by Kang Zusi

“Bagaimana dengan para tawanan, Tuanku?”

“Lepaskan mereka. Lucuti dulu senjatanya.”

“Ya, Tuan.”

Genji akan mengurusi bukti tentang asal-usul Heiko secepat dia

bisa. Tetapi, pertama-tama dia harus menghadiri pertemuan dengan

Shogun.

Ajaibnya, Saiki tidak terbunuh oleh ledakan yang terjadi di kuil. Dia

ditemukan pengikut Mukai pingsan di bawah mayat Masahiro dan

kudanya. Dia merasa grogi saat dibaringkan di tandu yang

membawanya menuju Edo. Telinganya masih berdenging dan dia tak

bisa mendengar apa pun. Tetapi, yang paling mengesalkannya adalah

dia ketinggalan peristiwa pemenggalan Kawakami. Padahal, itu adalah

peristiwa yang dia tunggu-tunggu. Nanti kalau pendengarannya

sembuh, dia akan meminta laporan lengkap dari Hide.

Ethan Cruz tak ada di kuil. Tetapi, dia pasti ada di suatu tempat dan

masih hidup. Harus. Stark memandang ke belakang. Ini adalah kedua

kalinya dia melewati jalan ini. Dia ingat jalannya. Dia bisa menuju ke

sini dari Edo.

Dan, dia akan menemukan Ethan Cruz.

Emily tak merasakan guncangan kuda yang dinaikinya. Dia bahkan

tak merasakan tubuhnya sendiri. Meskipun matanya terbuka, menatap

kosong tak bisa menangkap apa yang dia lihat di pikirannya.

Dia terguncang.

Begitu banyak darah.

Begitu banyak kematian.

Dia mencoba mencari ayat dari Injil yang bisa menenteramkan

hatinya. Dan, dia tak bisa menemukannya.

Di tengah-tengah krisis, saat mereka semua menganggap bahwa ajal

sudah tiba, mata Genji akhirnya memandangnya, dan dia tersenyum

PDF by Kang Zusi

kepadanya seperti biasa. Setelah itu, Genji kembali menghindarinya.

Dia memang berhati-hati agar sikapnya tak kentara. Tetapi, Heiko

tahu. Kepura-puraan adalah salah satu dari bakat khusus yang

dimiliknya.

Apakah yang telah dikatakan Kawakami kepada Genji di

pertemuan mereka?

Hanako memandang Hide dari tandu tempatnya terbaring. Dia sangat

bangga pada suaminya itu. Dalam setiap krisis, dia menjadi semakin

dewasa, semakin berani, dan lebih terfokus. Bahkan, postur tubuhnya

saat menunggang kuda sudah berubah. Dia benar-benar menjadi

samurai sejati seperti yang dia tahu sejak dahulu. Yang kurang

hanyalah dia tidak memiliki istri yang pantas untuk kedudukannya

sekarang.

Hanako berkata, “Aku membebaskanmu dari perkawinan kita,”

dan memalingkan kepalanya. Tak ada air mata di matanya, dan dia

mengontrol napasnya sehingga tidak terlihat dia sedang sedih.

Hide berkata kepada Taro yang berkuda di sampingnya, “Dia

mengigau.”

Hanako berkata lagi, “Aku tak lagi pantas menjadi istrimu.”

Taro berkata kepada Hide, “Ya, pasti mengigau. Bahkan, prajurit

terhebat pun kalau menderita luka parah kadang mengigau tak tentu

arah setelahnya. Kurasa penyebabnya adalah kehilangan banyak darah

dan terguncang.”

Hanako berkata, “Kau butuh teman hidup yang tidak cacat, yang

dapat berjalan di belakangmu tanpa membawa malu dan hinaan.”

Hide dan Taro terus mengabaikannya. Hide berkata, “Kaulihat

bagaimana dia melemparkan tubuhnya di depan tebasan pedang?’

“Hebat,” kata Taro. “Aku bisaanya hanya melihat aksi itu di drama

kabuki, tak pernah di dunia nyata.”

“Setiap kali aku melihat lengan hajunya yang kosong,” kata Hide,

“aku akan meng-ingat dengan penuh rasa terima kasih atas

pengorbanan yang dia lakukan untuk menyelamatkan nyawaku.”

PDF by Kang Zusi

“Aku tak bisa memegang nampan,” kata Hanako, “aku juga tak

bisa lagi memegang teko teh dan botol sake dengan pantas. Siapa yang

tahan dilayani orang cacat yang hanya punya satu tangan?’

“Untungnya dia masih punya tangan pedangnya,” kata Taro.

“Siapa yang tahu suatu saat kamu membutuhkannya lagi di

sampingmu?”

“Benar,” kata Hide. “Dan satu tangan lebih dari cukup untuk

menggendong bayi ke susunya, atau memegang tangan anak saat dia

belajar berjalan.”

Hanako tak dapat menahan dirinya lagi. Dia gemetar oleh emosi.

Air mata cinta dan terima kasih mengalir deras dari matanya. Dia ingin

berterima kasih kepada Hide atas ketabahannya, tetapi kata-katanya

tertelan sedu sedan.

Taro permisi dengan membungkuk dan memacu kudanya ke

barisan belakang. Di sana, di antara mantan para pengikut Mukai, dia

juga menangis tanpa malu.

Untuk pertama kalinya, mata Hide tetap kering. Dengan kontrol

diri ketat yang dia pelajari dalam pertempuran, dia tak membiarkan

setetes pun air matanya jatuh, dan tak ada sedan yang menggetarkan

tubuhnya. Kesedihannya atas luka Hanako tak perlu dipertanyakan

lagi, tetapi itu tak sebanding dengan rasa hormat yang dia rasakan

terhadap keberanian istrinya yang menyerupai seorang samurai dan

cintanya yang semakin tumbuh besar.

Kejamnya perang dan kegembiraan cinta. Keduanya

sesungguhnya adalah satu. Hide duduk tegak di pelananya dan berkuda

dengan penuh keyakinan menuju Edo.

15. El Paso

Jimbo mencari apa yang bisa dimakan di antara tetumbuhan

musim dingin. Tindakan mencari yang dilakukan dengan penuh rasa

PDF by Kang Zusi

terima kasih dan hormat saja sudah memberikan rasa kenyang. Rahib

Zengen tua pernah menceritakan kepadanya tentang mereka yang telah

mencapai tingkatan tinggi sehingga tak lagi butuh makan. Mereka

hidup dari udara yang mereka hirup, pemandangan yang mereka lihat,

dan meditasi murni yang mereka capai. Waktu itu dia tak percaya.

Namun, kini semua itu kelihatannya mungkin.

Dari waktu ke waktu, Jimbo berhenti dan memikirkan Stark. Dia

tahu musuh lamanya itu akhirnya akan datang. Dia tak tahu kapan,

tetapi menurutnya tak akan lama lagi. Apakah dia ada bersama

rombongan kecil samurai dan orang asing yang melewati Kuil

Mushindo tiga minggu lalu? Mungkin. Tak ada gunanya mengirangira.

Ada dua hal yang pasti. Stark akan datang dan mencoba

membunuhnya. Jimbo sendiri sudah tak peduli pada hidupnya. Hidup

sudah tak lagi penting baginya sejak lama. Atau, mungkin belum lama.

Pokoknya, dia merasa begitu. Hidup Starklah yang menjadi

pikirannya. Jika dia membunuh Jimbo, kepedihan yang dirasakan

Stark tak akan berkurang. Keinginan membalas dendam membuat

Stark melakukan serangkaian pembunuhan. Kematian Jimbo di

tangannya hanya akan menambah penderitaan dan beban karmanya.

Apa yang harus dilakukan? Kalau dia menunjukkan kepada Stark

bahwa dia telah menjadi orang baru, orang yang telah menemukan

kedamaian sejati, terbebaskan dari sakit dan penderitaan akibat

kebencian, apakah Stark juga akan menemukan jalan yang sama

dengannya? Jimbo akan menunjukkan dirinya tanpa rasa takut dan

minta pengampunan. Jika Stark tak mau memaafkan, dia siap mati.

Dia tak akan melawan.

Dia tak akan membunuh.

Dia tak akan pernah lagi menggunakan tangannya untuk

kekerasan.

Terlihat olehnya gerakan kccil di drdaiin;m Hati-hati, Jimbo

memindahkan kumbang kecil dan melepaskannya di tanah. Kumbang

itu berlari dengan enam kaki kecilnya, dua sungutnya bergerak-gerak.

Kumbang itu tak melihatnya. Hidupnya, senyata dan serapuh

PDF by Kang Zusi

hidupnya, ada di skala yang lain. Jimbo membungkuk hormat pada

sesama makhluk hidup dan meneruskan mencari dedaunan untuk

makan malam.

Semak di belakangnya bergerak-gerak. Dia mengenali gerakan

kecil dan cepat itu. Itu adalah Kimi, gadis kecil yang cerdas dari desa.

“Oh, Jimbo,” kata Kimi. “Kau begitu diam, aku jadi tak tahu kamu

di sana. Aku hampir saja menginjakmu.”

“Terima kasih karena tidak melakukannya.”

Kimi terkikik. “Kau ini lucu sekali. Kaulihat Goro tidak? Sejam

lalu dia pergi mencarimu. Aku takut dia tersesat lagi.”

Jimbo dan Kimi berdiri diam. Mereka mendengarkan.

“Aku tak mendengar dia memanggilmu,” kata Kimi. “Mungkin dia

pergi ke lembah sebelah.”

“Tolong cari dia. Kalau tersesat, dia jadi cemas. Dan kalau cemas,

dia jadi ceroboh.”

“Lalu dia bisa terluka,” kata Kimi. “Kalau aku berhasil

menemukannya sebelum kau melakukan meditasi senja, aku akan

mengajaknya menemuimu.”

“Itu baik sekali.”

“Dah, Jimbo.” Gadis kecil itu membungkuk dengan

menangkupkan kedua tangannya dalam gassho, isyarat Buddha untuk

kedamaian dan hormat. Dia adalah anak desa pertama yang menirukan

Jimbo memakai isyarat ini dan sekarang semua anak mengikutinya

juga. Seperti bisaanya, mereka mengikuti semua yang dilakukan Kimi.

“Dah, Kimi.” Jimbo membalas bungkukannya dan gasshonya.

Jimbo sampai kembali di gerbang Kuil Mushindo bertepatan

dengan derap dua kuda yang mendekat dari barat. Dia mengenali

Yoshi, seorang mantan rahib sebagai penunggang kuda di depan.

Orang kedua, tersuruk ke depan dan hampir-hampir tak bisa bertahan

di pelana, adalah Rahib Kepala Sohaku.

Keduanya terluka parah, Sohaku lebih parah daripada Yoshi.

“Bantu aku membalut,” kata Yoshi. “Cepat, kalau tidak Rahib

Kepala akan mati kehabisan darah.”

PDF by Kang Zusi

“Aku akan membalutnya,” kata Jimbo. “Lihat dirimu sendiri. Kau

tertusuk, terkena pedang, dan juga tertembak.”

“Ini?” Yoshi menunjuk luka-lukanya dan tertawa. “Hanya di

permukaan.”

Peluru kaliber besar menembus dada kiri Sohaku, menembus

paru-parunya, dan menimbulkan lubang seukuran genggaman di

punggungnya. Mengherankan dia masih bisa hidup.

“Jadi, Jimbo,” kata Sohaku, “kata-kata bijak apa yang kau punya

untuk orang yang sekarat?”

“Tak ada yang khusus. Kita semua akhirnya akan mati, bukan?”

Sohaku tertawa, tetapi tawanya terhenti tiba-tiba karena dia

tersedak oleh darah yang keluar dari mulutnya. Katanya, “Kian hari

kau semakin terdengar seperti si tua Zengen.”

“Rahib Kepala, Anda harus berbaring.”

“Tak ada waktu. Balut aku.” Sohaku berpaling kepada Yoshi.

“Pergi ke ruang senjata. Ambilkan aku satu set baju besi baru.”

“Ya, Rahib Kepala.”

Jimbo berkata, “Anda tak perlu baju besi untuk sampai ke tempat

yang Anda tuju sekarang.”

“Kau salah. Aku akan bertempur. Aku butuh baju besi untuk

menahanku, atau aku tak akan sampai ke sana.”

“Rahib Sohaku, Anda tak mungkin bertempur lagi.”

Sohaku tersenyum. “Aku menolak dibunuh oleh peluru.”

Jimbo menutup luka-luka Sohaku sebisanya dengan ramuan daun

obat, lalu membalutkan kain sutra sekencang mungkin mengelilingi

tubuh Sohaku. Pendarahan luar sudah berhenti. Tetapi, tak ada yang

bisa menghentikan pendarahan di dalam kecuali kematian.

Yoshi membantu Sohaku memakai baju besi barunya dan

menalikan talinya dengan kencang. Tubuh Sohaku, selangkangan, dan

paha tertutup oleh lempengan besi, kayu bepernis, dan kulit. Dia memakai

helm, tetapi menolak memakai kerah besi yang melindungi

leher dan tenggorokannya, juga tak mau memakai topeng untuk

melindungi wajahnya. “Rahib Kepala,” kata Yoshi, “Anda meminta

risiko untuk dipenggal.”

PDF by Kang Zusi

“Siapa yang kau kira mengejar kita?”

“Lord Shigeru, pasti,” kata Yoshi.

“Dengan seluruh kemampuan terbaiknya, dengan angin dan

cahaya di pihakku dan setiap dewa tersenyum padaku, apakah

menurutmu aku dapat mengalahkannya?”

“Dengan semua kondisi itu, mungkin saja.”

“Dan dengan luka-luka seperti ini, bagaimana kesempatanku?”

“Sama sekali tak ada, Rahib Kepala.”

“Tepat sekali. Jadi, aku memilih memberinya kesempatan untuk

melakukan tebasan dengan mudah.”

Jimbo berkata, “Pergi atau tinggal, kematian juga yang akan

terjadi. Jadi, lebih baik Anda tinggal dan mati dalam damai.”

“Pada akhirnya, semua utangku berakhir pada satu hal. Utangku

kepada Lord Genji, utangku kepada leluhur, dan utangku kepada diri

sendiri adalah sama. Mati dalam pertempuran.”

Sohaku menekuk kakinya sesuai dengan sudut yang diperlukan

saat dia duduk di pelana. Yoshi mengikat tekukan kaki itu dengan tali

kulit. Dia membantu Sohaku naik kuda dan mengangkatnya agar bisa

duduk di pelana.

“Bagaimana Anda bisa melawan Lord Genji?” tanya Jimbo.

“Gosip tentang kemampuan meramalnya membawa klan menuju

jurang kehancur-an. Aku berpikir, aku bisa menyelamatkan klan

dengan mengudeta dia. Aku gagal. Dan sekarang aku harus minta

maaf.”

Jimbo tak berkata apa pun.

Sohaku tersenyum. “Kau berpikir tentang ritual bunuh diri seperti

bisaa. Itu benar. Tetapi, untuk kasus ini membutuhkan pertempuran.

Selalu lebih memuaskan untuk membantai pemberontak daripada

menemukannya sudah mati bunuh diri. Ketulusan permintaan maafku

menuntut aku melakukan yang terbaik bagi orang yang aku mintai

maaf.”

“Saya mengerti,” kata Jimbo, “meskipun saya tidak setuju. Jika

Anda harus mati, jauh lebih baik mati tanpa melakukan kekerasan lagi.

Sehingga, karma tak akan terlalu menjadi beban bagi Anda.”

PDF by Kang Zusi

“Kau salah, Jimbo. Justru karmalah yang menuntutku untuk

melakukan pertempur-an.” Sohaku membungkuk. Gerakan itu

membuatnya meringis kesakitan. “Ingat aku saat kau berdoa kepada

Tuhanmu atau Buddha. Itu pun kalau mereka ada.”

“Kenapa kau pergi ke gunung untuk bermeditasi?” tanya Kimi.

“Untuk apa kaupunya ruangan meditasi?”

“Jimbo,” kata Goro tersenyum bahagia.

“Untuk sementara, aku harus menjauh dari semua orang dan

semua hal,” kata Jimbo.

“Apa kau akan pergi lama?”

“Jimbo, Jimbo, Jimbo.”

“Tidak, tak lama.”

“Kami akan menunggumu di sini.”

“Orangtuamu akan mencarimu.”

Kimi tertawa. “Orangtuaku punya sebelas anak, bodoh.”

“Kalau begitu, aku akan menemuimu saat aku kembali nanti,” kata

Jimbo. Dia menunduk tangannya tertangkup dalam gassho. Kimi

melakukan hal yang sama.

“Jimbo, Jimbo, Jimbo,” kata Goro.

Gubuk di pegunungan yang digunakan Jimbo untuk bermeditasi

hampir tak bisa disebut gubuk. Bangunan itu terbuat dari susunan

ranting yang diikat longgar. Di atasnya lebih banyak terdapat langit

daripada atap, dindingnya tak bisa menghalangi pemandangan

pepohonan di luar, dan juga tak bisa menahan angin dan cuaca. Rahib

Zengen tualah yang membangun gubuk itu. Bangunan itu lebih mirip

sebuah goresan kuas yang menggambarkan pegunungan, binatang, dan

manusia. Apa yang tak ada di sana justru lebih terasa keberadaannya.

Kata-kata Sohaku membebani pikiran Jimbo. Karmalah yang

menuntutku bertempur, katanya. Apakah itu juga merupakan karma

Jimbo?

PDF by Kang Zusi

Dia bukan lagi dirinya yang dahulu. Dia yakin itu. Tetapi, tak

begitu jelas apakah dia telah benar-benar berhasil membebaskan

dirinya dari masa lalu. Apakah dia telah menghilangkan keberadaan

dirinya seperti yang dia yakini selama ini sehingga dia bertindak hanya

untuk memandu Stark dan membebaskan kepedihan pria itu? Ataukah

semua itu hanyalah tipuan yang paling halus dan kesombongan yang

paling samar yang justru mengikatnya pada angan-angan?

Napas Jimbo semakin dalam, dan kian dalam. Tak ada bedanya

antara tarikan dan embusan. Isi pikirannya dan isi dunia sudah tak bisa

dibedakan lagi. Dia memasuki kekosongan bersamaan dengan saat

kekosongan itu memasuki dirinya.

Mary Anne keluar dari kabin dengan senyum cerah di wajahnya

karena mengira yang datang adalah Stark. Ketika dia melihat Ethan

Cruz, dia berbalik dan lari ke dalam.

Cruz menangkapnya sebelum Mary Anne sempat membidikkan

senapan kepadanya dan memukul pelipisnya dengan gagang pistol.

Dua gadis kecilnya berteriak dan saling berpelukan.

Saat Tom, Peck, dan Haylow masuk, Cruz telah menelanjangi

Mary Anne.

“Bagaimana dengan betina-betina kecil ini?” tanya Tom.

“Lebih baik bawa mereka keluar,” kata Haylow. “Mereka tak

perlu melihat ini.”

“Telanjangi mereka juga,” kata Cruz. Mary Anne setengah tak

sadar. Cruz menariknya berdiri dan mendesaknya ke dinding,

mengangkat kedua tangan wanita itu ke atas kepala, menusukkan

pisaunya melewati kedua telapak tangan, memaku Mary Anne di

dinding. Wanita itu tersadar dan berteriak.

“Yesus, Maria, Yusuf,” kata Peck, “demi santo-santo yang suci,

Bunda Maria, dan Trinitas yang Suci.”

“Ethan,” kata Tom.

Haylow melindungi pandangan kedua anak itu dan memeluk

mereka di badannya yang besar.

PDF by Kang Zusi

“Aku bilang, telanjangi mereka,” kata Cruz.

“Jangan mereka,” kata Tom. “Mereka tak melakukan apa-apa.”

“Mereka terlahir,” kata Cruz. “Kau mau melakukan apa yang

kukatakan atau tidak?”

Tom dan Peck saling berpandangan. Mereka lalu memandang

Cruz. Bahu pria itu rileks dan tangannya bergantung santai di dekat

pistol.

Peck berkata. “Kami selalu melakukan apa yang kau katakan,

Ethan, kau kan tahu itu.”

“Aku tak melihat kalian melakukannya.”

Wajah Haylow basah oleh air mata. Dia tak mengatakan apa-apa.

Dia tak mengeluarkan suara. Dia meninju anak yang lebih besar di

rahang, lalu meninju adiknya. Kedua anak itu terangkat dan terlempar

akibat daya pukulan orang sebesar Haylow, dan jatuh ke lantai dengan

keras. Mereka mungkin masih hidup. Tetapi, mereka diam seperti

orang mati. Lalu, Haylow membuka baju anak yang kecil dengan lembut,

sementara Tom dan Peck, mengikuti contohnya, membuka baju

anak yang besar.

“Jangan, jangan, jangan!” Mary Anne berteriak putus asa.

Cruz menyeret anak yang besar dengan menarik rambutnya dan

mendekatkan wajah anak itu hingga hampir menyentuh wajah Mary

Anne.

“Siapa namanya?”

Mary Anne menjerit dan terguguk.

Cruz berkata kepada Peck, “Berikan pisaumu.”

Peck mengulurkan pisaunya. Cruz menempelkan ujung pisau itu

ke leher sang anak. “Aku bilang, siapa namanya?”

“Becky,” Mary Anne berkata, “Becky. Aku mohon, tolong”

Cruz menikamkan pisau itu ke perut Becky dan merobeknya

hingga jantung. Dia lalu menjatuhkan tubuh kecil itu di kaki ibunya

dan menyeret anak yang lebih kecil.

Tom lari keluar.

PDF by Kang Zusi

Peck terjatuh ke lantai dan mundur ketakutan. Ketika dia

mengenai dinding dan tak bisa mundur lagi, dia berpaling dan muntah,

dia terus muntah bahkan saat perutnya sudah kosong.

Sementara Haylow hanya berdiri di sana dan menangis.

“Siapa namanya?” tanya Cruz.

“Oh Tuhan, oh Tuhan,” ratap Mary Anne.

Cruz meletakkan anak itu di atas meja dan mengambil kapak di

sebelah kompor.

“Louise!” teriak Mary Anne, seakan-akan berharap teriakannya

dapat menyelamatkan nyawa sang anak. “Louise!”

Cruz menghantam dengan keras sehingga meja itu terbelah dua.

Penggalan kepala Louise menggelinding hingga ke kaki ranjang. Cruz

lalu memandang Mary Anne dan berkata, “Sekarang giliranmu.”

Mary Anne sudah tak bisa lagi mendengar suara Cruz di antara

suara jeritannya.

Jimbo tak tahu berapa lama dia bermeditasi. Ketika membuka mata,

cahaya sekitarnya masih sama dengan saat dia menutup mata. Baru

sesaat, atau mungkin sudah berhari-hari. Ketika dia bergerak, embun

yang membeku di bajunya berderak. Lututnya yang kaku karena

ditekuk sakit saat dia membuka kakinya dari posisi lotus yang dia

gunakan untuk meditasi. Lebih dari sesaat. Dua atau tiga hari

setidaknya.

Jimbo meninggalkan gubuknya dan menclekati tumpukan batu di

dekat kali kecil. Apabila terjadi banjir, yang pasti terjadi setiap sepuluh

tahun sekali, tumpukan batu ini juga tertutup air. Jimbo menggeser

beberapa batu hingga dia melihat bungkusan kain anti air itu. Dia lalu

mengambil bungkusan itu. Apakah dia harus membukanya? Di sini, di

tempat terbuka? Atau di kuil? Tidak, dia tahu tempat yang tepat. Jimbo

lalu kembali ke gubuk.

Di bangunan yang tidak bisa dikatakan sebagai gubuk, pria yang

tidak bisa dikata-kan sebagai Ethan Cruz lagi, kembali berpenampilan

seperti dirinya dahulu.

PDF by Kang Zusi

Topinya, sudah kusut dan gepeng tak berbentuk. Dia membuat

pasangan topi dari ranting dan membasahi topinya dengan salju yang

dia lelehkan di tangan. Esok pagi, topi itu akan terlihat cukup pantas.

Kemeja, celana, jaket, dan sepatu boot-nya berbau keringat dan

berjamur. Dia mengenakannya.

Laras pistol dan rangkaian dari pistol laras gandanya. Dia lalu

merangkainya kembali. Di bungkusan kecil lainnya ada enam peluru.

Dia memasukkan satu peluru dan membuang yang lain. Dia tak akan

perlu lagi mengisi pistol.

Sarung pistolnya dan di dalamnya terdapat pistol Colt kaliber 36

yang diberikan Manual Cruz bertahun-tahun lalu.

“Kau bilang kau menggembala ternak, Nak,” kata Manual waktu

itu.

“Ya, Pak. Itu yang kukatakan dan itu yang kulakukan.”

“Uh-uh. Aku memang dengar kau melakukan itu, tetapi aku juga

mendengar yang lain. Mungkinkah kau melupakan satu detail kecil

tentang kegiatan penggembala-anmu?”

“Aku tak yakin apa maksudmu, Pak.”

“Tak perlu bilang Pak, Ethan. Yang aku maksudkan detailnya dan

kautahu itu, kau menggembalakan temak yang memungkinkan kau

dihukurn gantung.”

“Mereka hanya dapat menggantungku satu kali. Perampokan

adalah kejahatan dengan hukuman gantung, dan kalau mereka

menginginkanku mereka pasti mengejar-ku. Lagi pula, aku juga

menembak dua orang bodoh. Itu juga diancam gantung.”

“Ternyata kau tumbuh menjadi seorang pencuri temak, perampok,

dan jago tembak, Nak.”

Ethan menunggu, mengira akan diomeli.

Cruz berkata, “Kau membuatku bangga. Membuat hidupku

seakan-akan punya arti juga lahirnya. Hidup tak ada artinya kalau kau

hanya menjadi germo, kautahu.”

Cruz menjabat tangannya.

“Aku adalah ayah Ethan Cruz. Ayah tiri setidaknya, itu lumayan

dekat. Sialan. Akhirnya, ada juga hal-hal yang benar dalam hidupku.”

PDF by Kang Zusi

Malam itu, Cruz memberi Ethan Colt kaliber 36 dari sarung

pinggangnya sendiri.

“Banyak yang lebih memilih model Army kaliber 44. Pelurunya

lebih berat sehingga lebih bisa membunuh. Tetapi, ada satu kelebihan

kaliber 36 untuk orang yang perlu melatih bidikannya. Pistol ini

sekitar dua setengah ons lebih ringan dari-pada kaliber 44. Kau dapat

mencabutnya lebih cepat. Satu hari nanti, ketika orang lain yang jatuh

dan mati, bukan kau, kau akan mengingatku dengan kenangan

khusus,” kata Manual Cruz.

Ethan merasakan dadanya sesak. Dia ingin mengatakan kepada

Cruz bahwa dia akan tetap mengingatnya meski dengan Colt kaliber

36 ataupun tidak, tetapi dia diam saja. Ethan bukanlah orang yang

pandai bicara. Jadi, yang dia katakan adalah, bagaimana kalau Manual

membutuhkannya? Pistol ini tak akan banyak berguna bagi Manual

kalau, Ethan yang menyandang di pinggangnya.

Ethan melihat dari senyum di wajah Cruz dan matanya yang

membasah kalau pria itu tahu maksud Ethan yang tak terkatakan. Cruz

adalah orang yang pandai bicara berkebalikan dengan Ethan, tetapi

saat itu dia tidak mengatakan apa yang dia punya.

Bahkan, dia tak bicara apa pun untuk beberapa saat. Cuma duduk

dan tersenyum.

Lalu dia berkata, “Butuh untuk apa? Aku tak akan baku tembak.”

Cruz menunjukkan Ethan pistol derringernya. “Ini lebih dari cukup

untuk germo tua seperti aku. Tembakan yang akan aku lakukan adalah

tembakan jarak dekat sehi-ngga tak butuh bidikan sama sekali.”

Ketika Jimbo kembali ke kuil, sebagian besar bangunan kuil sudah

menjadi reruntuhan. Puing-puing berserakan di dekat lubang besar

yang dahulunya merupakan ruangan meditasi. Abu bekas pembakaran

mayat ada di mana-mana. Bangunan yang masih utuh hanyalah

dinding luar, kamar mandi, ruangan meditasi rahib kepala, dan gubuk

yang dibangun anak buah Sohaku dahulu untuk merantai Shigeru.

PDF by Kang Zusi

Hampir semua anak desa ada di sana, bermain di reruntuhan dan

berspekulasi tentang puing dan kepingan yang mereka temukan.

“Lihat. Ini ada lengan orang.”

“Bukan. Itu hanya kayu.”

“Tulang lengan. Lihat! Ada bulatan di kedua ujungnya.”

“Ngeri sekali. Buang.”

“Hati-hati. Ada orang asing datang.”

“Itu adalah orang asing yang bersama Lord Genji. Yang bawa dua

pistol.”

“Bukan. Dia orang lain.”

“Lari! Dia akan membunuh kita.”

“Jimbo,” kata Goro tersenyum dan melangkah mendekat. “Jimbo,

Jimbo.”

“Tidak, Goro, jangan. Itu bukan Jimbo. Menyingkirlah, cepat.”

Kimi berkata, “Itu memang Jimbo.” Dia berlari mendekati Jimbo,

matanya terbuka lebar terkejut.

“Kenapa kamu berpakaian seperti itu?”

“Aku harus melakukan sesuatu yang tak bisa kulakukan dengan

pakaian lain.” Dia memandang ke lubang. Sepertinya, semua mesiu di

ruangan senjata meledak bersamaan. “Apa yang terjadi?”

“Ada pertempuran besar saat kau pergi”

“Ratusan samurai mati…”

“Lord Genji dijebak…”

“Jimbo, Jimbo, Jimbo…”

“…kepala Shigeru di kotak…”

“…senapan di dinding…”

“… samurai berkuda menyerang….”

“…berlumuran darah dari kepala sampai ujung kaki….”

Tidak semua informasi yang diberikan anak-anak itu jelas. Tetapi,

dia mendengar cukup informasi untuk tahu bahwa orang asing yang

bersama Lord Genji, bernama Su-ta-ku bertahan hidup. Begitu

pertempuran selesai, dia mencari Jimbo di antara puing-puing kuil.

Seorang wanita yang sangat cantik, pastinya seorang geisha terkenal,

telah bertanya kepada Kimi apa dia tahu Jimbo ada di mana, dan Kimi

PDF by Kang Zusi

mengatakan kepadanya kalau Jimbo pergi ke gunung untuk

bermeditasi. Wanita itu kemudian berbicara kepada Su-ta-ku dalam

bahasa orang asing. Kimi tak tahu apa yang dia katakan.

Atas permintaan anak-anak, Jimbo kemudian bercerita tentang

meditasinya, tentang embun yang membeku di bajunya, kedatangan

tiga malaikat yang dikirim oleh Maitreya, Buddha masa depan, yang

menyatakan kebahagiaan bagi anak-anak desa, karena mereka semua

akan dilahirkan kembali di Sukhavati, Tanah Murni Amida, Buddha

Kasih Sayang.

Malam itu, setelah anak-anak pergi, Jimbo berjalan-jalan di antara

puing-puing kuil. Stark pernah ke sini. Dia akan kembali. Apakah

Jimbo jago tembak yang lebih baik daripada Stark? Dahulu, mungkin.

Bukan sekarang. Dia tak pernah lagi berlatih, dan Stark pasti sudah

berlatih. Stark akan menjatuhkannya sebelum dia sempat menarik

pistolnya.

Itu terlalu mudah. Jimbo akan menyergapnya. Stark terlalu marah

dan terlalu sedih sehingga dia tak akan bertindak hati-hati. Sebuah

penyergapan pasti akan berhasil.

Perlu beberapa hari di Edo sebelum Emily merasa lebih baik sehingga

bisa ditinggalkan Stark. Proses itu dipercepat dengan dorongan Lord

Genji yang meminta Emily berperan aktif dalam merancang kapel

yang akan dibangun dalam proses renovasi Istana Bangau yang

Tenang. Lingkaran hitam masih ada di bawah matanya dan

semangatnya belum kembali seratus persen. Itu butuh waktu.

Pembunuhan besar-besaran yang dia saksikan dan alami sendiri takkan

mudah dilupakan. Namun, setidaknya dia sudah bisa tersenyum lagi.

“Haruskah kaukembali ke kuil begitu cepat?”

“Ya, Emily. Aku harus.”

Emily memandang ke pistol kaliber 44 yang dia sandang di

pinggang dan kaliber 32 yang dia selipkan di ikat pinggang, dan tidak

bertanya lagi. “Kau akan kembali?”

“Aku bermaksud begitu.”

PDF by Kang Zusi

Emily tiba-tiba melingkarkan kedua lengannya di leher Stark dan

memeluknya erat-erat. Dia bisa merasakan air mata di lehernya. “Hatihati,

Matthew. Berjanjilah kau akan berhati-hati.”

“Aku janji.”

Genji menyuruh Taro dan lima samurai lain untuk mengawal

Stark. Mereka diperintahkan untuk membiarkan Stark pergi sendiri ke

Kuil Mushindo begitu mereka sampai di desa. Stark tidak bisa

berbicara bahasa Jepang dan mereka tidak bisa ber-bahasa Inggris.

Jadi, mereka berkuda dalam diam.

Stark mengira kesunyian ini baik baginya, tetapi ternyata tidak.

Kenangan mem-banjir. Dia tak bisa menahannya. Kebenciannya

kepada Cruz tak sebesar cintanya kepada Mary Anne.

Mary Anne berkata, “Ini adalah hari yang paling bahagia dalam

hidupku, Matthew. Aku bersumpah.”

“Aku juga,” kata Stark. la berdiri bersama Mary Anne, Becky, dan

Louise di keteduhan pohon ironwood di tanah yang secara hukum sah

menjadi miliknya. Aku akan membangun kabin untuk kita di sini. Di

sebelah sana kebun. Bunga dan sayuran. Kandang ternak di sana.

Becky bertanya, “Babinya di mana?”

“Tak ada babi,” jawab Stark. Becky berkedip tak percaya.

“Tak ada babi,” katanya kepada Louise.

“Tak ada babi,” Louise mengulang. Mary Anne memandang

Stark.

“Wow, itu adalah kata-kata pertama yang dia ucapkan!”

“Tak ada babi?” tanya Stark.

Mary Anne mengangguk. “Tak ada babi,” katanya.

“Tak ada babi,” ulang Louise.

“Tak ada babi,” kata Becky, tertawa.

Mereka semua tertawa. Mereka tertawa terbahak-bahak sehingga

tak bisa berdiri. Kemudian, mereka duduk di bawah pohon ironwood

dan tersenyum, tersenyum sepanjang hari.

Louise tak pernah menjadi anak yang banyak bicara. Itu adalah

keahlian Becky. Tetapi, semenjak itu dia berkata sepatah dua patah

kata dari waktu ke waktu. Kadang, bentuk awan membuatnya

PDF by Kang Zusi

berbicara, atau embusan angin. Kadang, dia akan bercakap-cakap

dengan pohon ironwood atau rusa yang lewat. Dan kalau dia bahagia,

dan itu sering terjadi, Stark mendengarnya bergumam sendiri. Tak ada

babi.

Jika dia terus memikirkan mereka, pikirannya akan memperlambat

gerakan tangannya dan membuat bahunya kaku dan Cruz akan

menembaknya mati sebelum dia sempat mencoba. Dia tahu itu, tetapi

dia tak bisa menghentikannya. Dia hampir bisa melihat mereka bertiga

di depan matanya, tersenyum, tertawa, dan berbicara.

Stark mengikat kudanya ke sebatang pohon dan berjalan menuju kuil

dengan pistol kaliber 32 di tangan kiri dan kaliber 44 di tangan kanan.

Dia tak akan melakukan duel siapa yang lebih cepat mencabut pistol.

Ini bukan kontes iaido. Dia akan menemukan Ethan Cruz dan

membunuhnya, itu saja. Dia harus hati-hati. Cruz mungkin ada di

mana saja. Stark berpikir seandainya dia punya senapan.

Sekelompok kecil anak-anak mengikuti Kimi naik ke dinding

belakang kuil.

“Diam,” bisik Kimi. “Kita akan dihukum kalau tertangkap.”

Salah satu anak perempuan menutupkan tangannya di mulut Goro.

“Diam.”

Goro mengangguk. Ketika anak perempuan itu menarik

tangannya, Goro menutupi mulut dengan tangannya sendiri.

Mereka bersembunyi di batik balok kayu yang jatuh di bekas

ruangan meditasi dan memandani; gubuk meditasi rahib kepala. Orang

asing itu datang dari arah desa. Jimbo mungkin ada di dalam gubuk

sedang bermeditasi. Saat orang asing itu datang, Jimbo akan keluar

menemuinya. Apa yang akan mereka lalukan? Apa pun itu

kelihatannya mereka akan melakukannya bersama.

Jimbo berdiri diam di bawah bayangan pohon dan memandang

Stark mendekati kuil. Pria itu berjarak sekitar dua puluh meter darinya

dan membelakangi dirinya, memegang pistol di kedua tangannya.

PDF by Kang Zusi

Ketika Stark melewati gerbang, Jimbo pelan-pelan menurunkan

pistolnya. Dia telah mengeluarkan semua pelurunya dan memasukkannya

ke kantong. Sekarang, dia mengikuti Stark.

Begitu melewati gerbang, Stark bergeser ke samping,

menempelkan punggungnya ke dinding. Dia rasa, dia mendengar

sesuatu bergerak di puing-puing. Cruz mungkin ada di sana. Atau,

mungkin dia ada di gubuk, kamar mandi, atau penjara. Atau, dia bisa

bersembunyi di balik bangunan-bangunan itu. Atau, di bawahnya.

Atau, bersembunyi di balik bayangan. Stark mengecek pistolnya lagi.

Keduanya sudah terkokang. Dia menjauh dari dinding dan pelan

menuju reruntuhan kuil. Ada seseorang di sana. Itu pasti Cruz. Stark

berharap kalau Cruz benar ada di sana, pria itu hanya punya pistol

seperti dirinya. Jika dia punya karabin atau lebih buruk lagi senapan,

dia pasti mudah menjatuhkan Stark sebelum Stark bisa mendekat.

Stark melangkah ke depan. Dia tak punya pilihan lain.

“Tak selangkah pun lagi, Stark.”

Stark merasakan dinginnya baja gagang senapan menyentuh

belakang lehernya.

“Jatuhkan pistolmu atau mati.”

Jimbo tahu Stark tak akan melepaskan pistolnya. Tidak sekarang.

Tidak setelah dia memburunya sekian lama dan sekian jauh untuk

akhimya berhasil menemukan dirinya. Bahkan, jika itu berarti

menemukan pistol Cruz—karena dia menganggap Cruzlah yang dia

temukan—menempel di kepalanya dan bukan kebalikannya. Dia

datang mencari mati. Jika itu b