Kuda Putih

Pek Ma Siauw Sie Hong

Karya : OKT

JVU file oleh : Manise dimhader

Ebook oleh : Dewi KZ

Terbitan 2006

(Sumber: Tiraikasih Website http://kangzusi.com/)

 

Dengan bersuara berketoprakan dalam maka dua ekor

kuda telah dikaburkan di antara tanah yang berpasir kuning di

gurun dari wilayah Hweekiang, hingga di belakangnya menaik

mengutaklah debu tinggi sekira dua tombak. Dua ekor kuda

itu kabur bagaikan berkejar-kejaran, karena yang seekor di

depan, yang lainnya disebelah belakang.

Kuda yang di sebelah depan itu, yang tinggi, berbulu putih

dan tinggi besar badannya. Penunggangnya adalah seorang

nyonya muda di dalam tangan siapa ada terangkul seorang

nona umur tujuh atau delapan tahun. Kuda yang di belakang,

yang berbulu merah marong, penunggangnya adalah seorang

pria yang tubuhnya jangkung kurus. Hanya di punggung kiri

dia ini ada menancap sebatang anak panah, terus

mengeluarkan darah, hingga darahnya itu mengalir ke

kudanya, terus menetes jatuh ke pasir, terus meresap ke

dalam tanah…

Tidak berani pria itu mencabut anak panah yang

mencelakainya itu. Ia jeri. Ia menginsafinya, asal ia

mencabutnya, pasti ia bakal roboh dari kudanya itu. Ia tidak

takut mati apabila itu perlu, hanya… Siapa nanti mengurus

isterinya yang cantik itu, serta anaknya yang manis, yang

tengah kabur di sebelah depannya itu? Sedang di belakang

mereka ada lagi mengejar musuh-musuh mereka yang

telengas…

Kuda merah itu sudah lari beberapa puluh li, hampir habis

tenaganya, bekas dicambuki dan didupaki, atau dijepit

perutnya, dia sampai susah bernapas, badannya bermandikan

keringat, mulutnya mengeluarkan busa putih. Toh dia masih

dipaksa lari keras. Maka akhir-akhirnya, kaki depannya lemas

dan tertekuk, menyebabkan badannya roboh ngusruk!

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Si pria mempertahankan diri, ia tidak kurang suatu apa,

akan tetapi kudanya itu, setelah meringkik menyayatkan satu

kali, rebah tanpa berkutik lagi…

“Engko!…” ia memanggil. “Engko, kau… kau…

bagaimana?”

Pria yang dipanggil engko itu mengerutkan kening dan

menggelengkan kepala.

Di belakang mereka, jauhnya masih beberapa lie, terlihat

debu mengepul tinggi. Itulah tanda dari rombongan si

pengejar…

Nyonya muda itu memutar balik kudanya, untuk

menghampirkan suaminya. Ia sekarang melihat anak panah di

punggung suami itu, melihat darah hidupnya bercucuran.

Sang suami hampir pingsan. Ia menjadi sangat kaget.

“Ayah!… ayah!” si anak berkata kaget. “Punggungmu ada

anak panahnya…”

“Tidak apa!” berkata si pria, menyeringai, lantas tubuhnya

mencelat, berlompat naik ke punggung kuda di belakang

isterinya. Dia telah terluka tetapi gerakannya masih gesit dan

lincah.

Sang isteri menoleh, mengawasi dengan mata menyayang.

“Engko, kau…” katanya halus. Sang engko tidak menyahuti,

hanya kedua kakinya menjepit perut kuda mereka, atas mana

si kuda putih berjingkrak dan lari kabur pula.

Kuda ini kuda jempolan, dia telah lari pesat berpuluh-puluh

lie, dia masih terus dapat lari keras, hanya kali ini, larinya

menjadi berkurang kecepatannya. Semenjak tadi dia belum

dapat mengaso sedikit juga, sekarang penunggangnya

bertambah, tidak heran apabila sangat sulit untuknya dapat

mempertahankan kekuatannya terus menerus, tetapi dia tetap

kabur, dia seperti mengerti yang majikannya itu tengah

menghadapi ancaman mara bahaya…

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Di sebelah belakang, rombongan pengejar mendatangi

semakin dekat, setindak demi setindak. Sama sekali mereka

itu berjumlah enam puluh tiga orang, mereka pun membekal

seratus sembilan puluh ekor kuda, dengan begitu setiap ada

kuda yang letih, kuda itu lantas ditukar. Benar semua kuda itu

sama-sama lari tetapi tanpa penunggangnya, letihnya kurang

banyak. Dari caranya mereka itu mengejar, terang sudah,

mereka bertekad bulat untuk mendapatkan orang-orang yang

dikejar itu, ialah si suami isteri serta anak daranya yang masih

kecil itu.

Selagi mengaburkan kudanya, si pria jangkung kurus itu

berpaling ke belakang. Ia mengawasi. Dengan datangnya

orang semakin dekat, ia bisa melihat kepada mereka itu,

makin lama makin tegas.

“Adik Hong, aku hendak mohon sesuatu dari kau!” katanya

kemudian. Sebelumnya membuka mulut, ia menggigit dulu

kedua giginya erat-erat. “Sudikah kau meluluskannya?…”

Si nyonya muda, sang isteri, menoleh. Ia tertawa manis.

“Selama hidup kita bersama, pernahkah sekali jua aku

menampik keinginanmu?” ia balas menanya, suaranya halus.

“Bagus!” berkata suami itu. “Hong, sekarang kau bawa

kabur si Siu, anak kita ini. Biarlah dia dapat melindungi darah

daging kita berdua! Biarlah dia pun dapat menyelamatkan

peta Istana Rahasia Kobu!…”

Isteri itu menyahuti, suaranya bergemetar.

“Engko,” katanya, “apa tidak baik peta ini kita serahkan

pada mereka dan kita menyerah kalah? Dirimu… dirimu lebih

penting…”

Mendadak sang suami mencium pipi kiri isterinya itu.

“Hong…,” katanya, suaranya lembut, “kita berdua sudah

mengalami banyak sekali bahaya, selamanya kita dapat lolos,

maka mungkin kali ini kita bakal lolos juga… Kau harus

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

ketahui, Luliang Samkiat bukan melainkan mengarah peta ini,

mereka… mereka juga menghendaki parasmu yang cantik!”

“Justeru karena itu, mungkin aku dapat minta mereka…”

“Tapi!” memotong suami itu, “apakah kita menunduki

kepala untuk memohon sesuatu dari lain orang? Kuda ini tidak

kuat membawa kita bertiga, maka itu lekaslah kau pergi!…”

Sekonyong-konyong ia mencelat, kedua tangannya

dilepaskan, tubuhnya terangkat dari punggung kuda, maka

jatuhlah ia ke tanah, terdengar jeritannya: “Aduh!…”

Nyonya itu terkejut. Segera ia menahan kudanya, untuk

dikasih balik, guna menghampirkan suaminya. Ia mengulurkan

sebelah tangannya, dengan niatan menarik suami itu untuk

naik pula atas kudanya. Tapi sang suami menolak, matanya

bersorot gusar, dia mengawasi bengis! Adalah biasanya, ia

senantiasa menurut kepada suaminya itu, maka juga kali ini,

dengan merasa sangat tertindih hatinya, ia memutar pula

kudanya, untuk dikasih lari pergi, meninggalkan suami itu

bercokol seorang diri di tanah pasir dengan lukanya yang

parah itu…

Rombongan pengejar yang terdiri dan enam puluh tiga

orang itu melihat orang jatuh dari kudanya dan ditinggal

pergi isterinya, mereka itu bersorak-sorai, di antaranya ada

yang berteriak-teriak: “Pekma Lie Sam roboh! Pekma Lie Sam

roboh!” Mereka lantas terpecah menjadi dua rombongan, yang

belasan menghampirkan langsung Pekma Lie Sam itu, yang

empat puluh lebih mengejar terus si nyonya dan puteri

ciliknya.

Laki-laki itu rebah meringkuk di atas pasir, tubuhnya tidak

bergerak, seperti dia telah putus jiwanya.

Salah satu pengejar, yang memegang tombak, sudah lantas

menombak pundak orang yang kanan. Mangsa itu tidak

bersuara, juga tidak bergerak, dan tempo tombak dicabut, dia

tetap berdiam saja.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Dia sudah mampus!” berkata seorang, yang berewokan.

Rupanya dialah si pemimpin. “Jangan takut! Geledah

tubuhnya! Lekas!”

Dua orang lompat turun dari masing-masing kudanya, guna

menghampiri tubuhnya Pekma Lie Sam, si Kuda Putih itu.

Dengan lantas mereka membalik tubuh orang, untuk

digeledah seperti dititahkan pemimpin mereka.

Sekonyong-konyong saja sebatang golok putih mengkilap

berkelebat, terus dua orang itu menjerit tertahan dan roboh

terguling. Itulah goloknya Pekma Lie Sam, yang meminta

kurban!

Semua orang kaget sekali. Tidak satu di antaranya

menyangka, Lie Sam dapat berpura-pura mati demikian

sempurna, sampai dia tidak menghiraukan tombakan kepada

pundaknya. Dengan sendirinya semua orang mengasih

mundur kuda mereka.

Si pemimpin yang berewokan itu memutar goloknya, golok

Ganleng to.

“Lie Sam, kau benar-benar tangguh!” serunya. Lantas

goloknya menyambar, ke arah kepala orang.

Lie Sam menangkis. Tapi ia telah terluka, tenaganya

berkurang banyak, ketika ia mundur hingga tiga tindak, ia

lantas muntah darah. Justeru itu, semua musuhnya

merangsak, semua menurunkan senjatanya masing-masing.

Benar-benar Lie Sam tangguh, dia gagah sekali, dia

melakukan perlawanan. Masih dua orang kena dirobohkan,

setelah mana, arwahnya berangkat pulang ke alam baka,

tubuhnya terlukakan tidak keruan…

Si nyonya muda belum lari jauh, maka itu ia telah

mendengar seman nyaring dari suaminya itu, hatinya bagaikan

diiris-iris.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Dia telah mati, buat apa aku hidup terus?” pikirnya. Ia

menjadi nekat. Dari sakunya, ia menarik keluar sehelai peta

yang terbuat dari kulit kambing, ia belesaki itu ke dalam saku

puterinya yang masih kecil itu. Ia kata: “Anak Siu, kau uruslah

dirimu!” Habis berkata, ia menepuk kudanya, untuk membikin

binatang itu lompat berjingkrak, ia sendiri membarengi

mencelat dari punggung kuda. Maka juga, selagi ia jatuh

turun, kudanya itu terus kabur bagaikan melesatnya anak

panah. Agaknya ia puas, karena ia melegakan hatinya: “Kuda

itu kuat lari tak tandingan, anak Siu pun bertubuh enteng

sekali, pastilah mereka ini tidak bakal dapat menyandak!”

Lantas ia memuji: “Thian, oh Thian, tolonglah lindungi anak

Siu, semoga dia menjadi besar dan dapat menikah suami

seperti suamiku yang baik ini, biarnya hidup merantau

tetapi kita berbahagia!”

Segera setelah memuji itu, nyonya ini merapikan

rambutnya dan pakaiannya juga, terus ia memutar tubuhnya,

untuk menghadap rombongan pengejarnya yang dengan

cepat telah tiba di hadapannya.

Tentu sekali yang sampai terdepan ialah Luliang Samkiat,

tiga jago dari Luliang.

Merekalah tiga saudara angkat. Yang tertua yaitu Sinto Cin

Kwansee Hok Goan Liong, jago Kwansee Golok Sakti. Dialah si

berewokan yang bertubuh besar, yang telah membinasakan

Pekma Lie Sam barusan. Yang kedua, Bweehoa Chio Su Tiong

Cun, si Tombak Bunga Bwee. Dia bertubuh kurus kering.

Yang ketiga, yang termuda, Cheebong Kiam Tan Tat Hian si

Pedang Ular Naga Hijau, tubuhnya kate dan kecil. Dia asal

begal kuda di Shoatang, belakangan dia tinggal menetap di

Shoasay, bersahabat erat dengan llok Goan Liong dan Su

Tiong Cun, bersama-sama mereka mengusahakan

perusahaan piauwkiok di kecamatan Thaykok, Shoasay,

dengan memakai merek chin Wie Piauwkiok.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Ada hubungannya di antara Su liong Cun dan isterinya

Pekma Lie Sam itu. Nyonya Lie asalnya ialah Nona Siangkoan

Hong dan dengan Tiong Cun pernah su-heng dengan sumoay,

kakak dan adik seperguruan. Semenjak masih kecil mereka

belajar silat bersama tidak heran kalau Tiong Cun kemudian

mencintai sumoay-nya yang cantik dan lemah-lembut itu.

Mereka memang setimpal. Sampai dengan kebetulan

Siangkoan Hong bertemu sama Pekma Lie Sam, keduanya

lantas saling mencinta, hanya sayang, pihak orang tua tidak

menyetujui perjodohan mereka itu, lantaran mana terpaksa

mereka minggat. Tiong Cun jadi sangat berduka, ia mendapat

sakit, setelah sembuh, tabiatnya menjadi berubah.

Sepuluh tahun sudah berlalu semenjak lelakon asmara

mereka itu atau dengan cara kebetulan, Luliang Samkiat

bertemu sama Pekma Lie Sam suami isteri serta anak daranya

yang masih kecil itu di jalan Kamliang, rombongan sembilan

kecamatan di propinsi Kamsiok, bahkan karena perebutan

sehelai peta, kedua pihak menjadi benterok dan bertempur.

Su Tiong Cun tetap tidak bisa melupai adik seperguruannya

itu, karena cintanya itu yang gagal, dia terus tidak menikah,

maka sekarang, justeru ada benterokan ini, dia jadi sangat

membenci Lie Sam, hingga dialah jadi lawan yang paling

bengis.

Dikepung enam puluh orang lebih, Lie Sam dan isterinya

tidak berdaya, dari itu, mereka melawan sambil melarikan diri.

Dari jalan Kamliang itu mereka dikejar terus-terusan sampai di

wilayah Hweekiang ini. Anak panah di punggung Lie Sam ialah

anak panah yang dilepaskan Su Tiong Cun secara

membokong. Akhirnya Lie Sam menemui ajalnya secara

menyedihkan itu. Kapan Tiong Cun memandang Siangkoan

Hong, hatinya tergerak, maka ia pikir: “Aku telah

membinasakan suaminya, maka selanjutnya aku harus

merawati dia baik-baik…”

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Nyonya Lie Sam berdiri di atas pasir, pakaiannya berkibar di

antara desiran angin gurun. Dia masih sama cantiknya seperti

masa mudanya sepuluh tahun yang lampau, semasa mereka

masih sama-sama belajar silat. Dia bersenjatakan sepasang

pedang yang luar biasa, sebab yang satu bergagang emas,

yang lain bergagang perak, maka juga ia dijuluki Kimgin

Siauwkiam Sam Niocu,” si Nona Pedang Emas Perak. Nyonya

muda ini mengasih lihat senyuman tawar.

Mendadak Su Tiong Cun mendapat harapan, dadanya

dirasakan panas, mukanya merah sendirinya. Ia menancap

tombaknya di samping pelananya, lantas ia lompat turun dari

kudanya, guna menghampirkan si nyonya.

“Sumoay!” ia memanggil, seperti biasanya.

“Lie Sam telah mati,” berkata si nyonya, tenang.

Tiong Cun mengangguk.

“Sumoay,” katanya, “sepuluh tahun kita telah berpisah,

aku… setiap hari aku memikirkan kau…”

“Benarkah itu?” si nyonya muda tertawa. “Kau tentu lagi

memperdayakan orang…”

Hatinya Tiong Cun goncang. Siangkoan Hong tetap manis

seperti pada sepuluh tahun yang telah berlalu itu, dia mirip

sebagai masa gadisnya.

“Sumoay,” katanya, perlahan, “kalau selanjutnya kau turut

aku, aku tanggung kau tidak bakal ngalami penderitaan, tidak

sedikit juga…”

Matanya Siangkoan Hong mendadak bercahaya.

“Suko, kau baik sekali!” ujarnya. Mendadak ia mementang

kedua tangannya, untuk menjatuhkan diri di dada si bekas

kekasih.

Bukan main girangnya Tiong Cun, ia lantas membalas

merangkul.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Hok Goan Liong, yang telah menyusul, tertawa saling

mengawasi dengan Tan Tat Hian. Di dalam hatinya, mereka

kata: “Dua puluh tahun mereka saling mencintai, baru

sekarang harapan mereka terkabul, cita-cita mereka

tercapai…”

Pikirannya Tiong Cun melayang-layang. Hidungnya telah

mencium bau yang harum, yang menggiurkan hatinya. Ia

sampai beragu-ragu yang Siangkoan Hong pun merangkul ia

demikian erat. Hanya tengah ia kelelap itu, atau tak sadarkan

diri, tiba-tiba ia merasakan sakit pada perutnya, sakit sekali,

seperti tertubles sesuatu. Ia kaget hingga ia menjerit, kedua

tangannya menolak tubuh si kekasih. Akan tetapi Siangkoan

Hong memeluk sangat keras, tubuhnya itu tidak dapat ditolak

terlepas. Karena jago Luliang mencoba berontak, keduanya

terguling bersama.

Hok Goan Liong dan Tan Tat Hian kaget bukan main.

Keduanya lompat turun dari kuda mereka, guna

menghampirkan saudara angkatnya itu.

Yang lainnya semua tidak kurang kagetnya, mereka heran

sekali.

Ketika tubuhnya Siangkoan liong diangkat untuk dipisahkan

dari tubuh Su Tiong Cun, kelihatan dadanya mengalirkan

darah, yang disebabkan nancapnya sebuah pisau belati kecil

bergagang emas, sedang pada perutnya Tiong Cun nancap

sebuah pisau belati lain, yang bergagang perak. Maka

teranglah sekarang, karena Sam Niocu hendak bersetia

kepada suaminya, ia mengurbankan dirinya sambil membalas

sakit hati. Ia mencari mati karena pun sudah putus asa. Hebat

tikaman pisau belati itu, keduanya nancap dalam sekali. Si

nyonya mati seketika, si pria terlukakan hebat.

“Shatee, lekas bantui aku, supaya aku tidak menderita lebih

lama,” Tiong Cun minta pada Tat Hian.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Adik itu mengawasi Goan Liong, kakaknya, untuk mohon

keputusan.

Kakak itu mengawasi adiknya yang terluka parah itu, ia

mengangguk. Atas itu, dengan mengertak gigi, Tat Hian

menikam uluhati kakaknya yang kedua itu, maka Tiong Ijun

meram matanya, napasnya berhenti berjalan, la mati dalam

kesedihan, karena menjadi kurban sumoay-nya.

“Aku tidak sangka Kimgin Siauwkiam Sam Niocu begini

keras hatinya,” kata Goan Liong berduka.

Ketika itu salah satu tauvvbak datang melaporkan pada

Goan Liong bahwa tubuhnya Lie Sam sudah diperiksa terliti

tetapi peta tak kedapatan.

“Kalau begitu, tentu ada di tubuhnya,” kata Goan Liong

menunjuk tubuh Sam Niocu.

Pengggeledahan dilakukan atas tubuh si nyonya, hasilnya

sia-sia belaka, peta tidak ada, yang kedapatan hanya perak

hancur serta beberapa potong pakaian.

Goan Liong dan Tat Hian saling mengawasi, mereka putus

asa, mereka heran. Heran sebab tidak nanti peta itu

disingkirkan Lie Sam, baik dengan dipendam maupun dengan

diserahkan kepada lain orang. Mereka menguntit terus hingga

pasti tidak ada kesempatan suami isteri itu menyingkirkannya.

Tan Tat Hian penasaran, ia periksa pula bungkusan si

nyonya. Ketika ia mendapatkan beberapa potong pakaian

anak kecil, ia ingat anak orang.

“Toako, mari kita lekas kejar si bocah!” katanya berseru. Ia

baru ingat anaknya Lie Sam.

Hok Goan Liong pun mendusin. “Jangan bingung,” katanya.

“Di gurun ini ke mana bocah itu bisa pergi? Dua orang

berdiam di sini, untuk mengurus jenazah Su jieya, yang

lainnya semua turut aku.”

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Ia lantas melarikan kudanya, diikuti orang-orangnya kecuali

yang dua itu.

Si nona telah dibawa lari kabur si kuda putih, jauhnya

sudah dua puluh lie lebih.

Di gurun pasir tidak ada pepohonan, orang bisa

memandang jauh sekali, maka itu, sembari mengejar, Goan

Liong semua memandang jauh ke depan. Mereka

mengaburkan kuda mereka. Mendekati magrib, mendadak Tan

Tat Hian berseru: “Lihat! Itulah dia di depan!”

Jauh di empat seperti bertemunya langit dan bumi, di sana

ada sebuah titik. Itulah si kuda putih, yang dari jauh-jauh toh

nampaknya hitam. Kuda itu letih sekali meskipun dia dapat lari

keras dan sekarang penunggangnya seorang bocah yang

tubuhnya enteng. Di lain pihak, Goan Liong semua terus main

tukar kuda.

Bocah itu-ialah Lie Bun Siu-duduk mendekam di atas

kudanya, la pun sangat lelah, hingga tanpa merasa, ia

kepulasan di atas kudanya itu. Pula itu antero hari ia tidak

dahar dan minum, sedang matahari panas terik, dari itu mulut

dan lidahnya kering semua.

Kuda putih itu seperti dapat perasaan, dia kabur ke arah

timur di mana matahari yang bersinar merah marong

menggenclang. Tiba di suatu tempat, mendadak dia

mengangkat kedua kaki depannya, mulutnya meringkik keras,

hidungnya pun mengendus-endus. Dia membaui sesuatu.

Suara meringkiknya itu seperti menunjuk dia mengetahui apaapa.

Hok Goan Liong dan Tan Tat Hian yang tenaga dalamnya

lihai pun merasakan sesuatu, yaitu napas mereka rasanya

sesak.

“Shatee, rasanya tak beres ini!” kata kakak itu.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Sebelum menyahuti, Tat Hian melihat ke sekitarnya. Di

barat daya, di antara sinar layung Batara Surya, nampak mega

kuning bergelempang bagaikan kabut, di antara itu ada sinar

ungu yang berkilauan. Pemandangan itu luar biasa sekali.

“Mari, toako, kita melihat ke sana!” katanya seraya ia

melarikan kudanya.

Tidak antara lama, mega kuning itu telah meluas seperti

sudah menutupi separuh langit.

Ketika itu pun orang telah bermandikan keringat dan napas

mereka mendesak.

“Toako, mungkin badai bakal datang…,” akhirnya kata Tat

Hian.

“Benar!” Goan Liong insaf. “Mari lekas, kita bekuk dulu

bocah itu, baru kita mencari perlindungan!…”

Belum berhenti suara si berewokan ini, angin telah meniup

keras, pasir, terbang berhamburan, menyampok muka

mereka, sampai mereka tidak dapat membuka mulut. Lebih

celaka ketika tujuh atau delapan orang roboh dari atas

kudanya tertiup angin itu.

“Semua turun dari kuda, berkumpul menjadi satu!” Goan

Liong paksakan berbicara.

Dengan serentak orang bekerja. Kuda mereka ditarik,

dikumpulkan menjadi satu dipaksa rebah, mereka sendiri turut

rebah juga, mcnyelindung di perut kuda. Sebisa-bisa mereka

saling berpegangan tangan. Mereka merasakan sakit pada

muka mereka, yang tersampok pasir, muka itu baret juga

lengan mereka. Semua ketakutan. Sebab angin makin besar,

tubuh mereka teruruk pasir…

Goan Liong dan Tat Hian pun berkuatir, hingga mereka

pikir: “Tidak keruan-keruan kita mencari Istana Rahasia Kobu,

dari Shoasay kita sampai di gurun ini… Mungkin di sini kita

terpendam di dalam pasir…”

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Hebat suara badai itu, seperti itu suaranya kawanan

hantu…

II

Dari magrib itu, badai bekerja terus Seantero malam,

besoknya pagi baru reda. Kembali sang gurun menjadi tenang.

Goan Liong beramai merangkak bangun. Syukur mereka

tidak menampak kerugian besar. Dua orangnya mati

disebabkan napas sesak dan lima ekor kuda menjadi bangkai.

Tinggal semua letih dan lemas. Dengan mengimbangi

penderitaan mereka, mereka menduga si bocah dan kuda

putihnya tentulah, dalam sepuluh, sembilan bagian telah mati

menjadi kurban badai itu. Bukankah mereka semua bertubuh

tangguh tetapi mereka hampir tak kuat bertahan?

Mereka lantas menyalakan api untuk memasak nasi, guna

menangsel perut.

Mereka tidak putus asa. Hok Goan Liong telah menyerukan:

“Siapa yang mendapatkan bekas-bekasnya si bocah dan kuda

putihnya, dia bakal dapat upah uang emas lima puluh tail!”

Inilah hadiah besar, janji itu disambut dengan tempik

sorak. Bagaikan payung yang dibuka lebar, lima puluh lebih

orang itu lantas pergi berpencaran, untuk mencari di sekitar

gurun itu. Di setiap otak mereka terbentang: “Kuda putih…

bocah wanita… lima puluh tail emas…”

Lebih dulu daripada itu mereka telah berjanji, di waktu

magrib mereka harus berkumpul di barat enam puluh lie dari

tempat bermalam ini.

Liangtauw Coa Tang Yong, si Ular Kepala Dua, dengan

seekor kuda pilihan, menuju ke barat daya Ialah piauwsu yang

telah berpengalaman belasan tahun, meski dalam ilmu silat ia

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

bukan tergolong kelas satu, ia cerdik sekali, untuk Luliang

Samkiat, ialah pembantu yang berharga. Sebentar saja ia

telah pergi dua puluh lie lebih, hingga ia mencil sendirian.

Setelah itu baru ia merasa jeri juga. Sunyi di sekitarnya. Ia

mendaki sebuah bukit pasir, untuk melihat kelilingan. Maka ia

girang sekali kapan matanya melihat ke ujung barat daya itu,

di sana nampak cahaya hijau dari tujuh atau delapan buah

pohon kayu. Heran ia di gurun pasir ada tumbuh-tumbuhan.

“Mungkin di situ tidak ada rumah orang, dengan ada

pepohonan, di situ tentu ada air,” ia berpikir. “Itulah tempat

bagus untuk rombonganku beristirahat.”

Maka ia naik pula kudanya, ia kabur ke ujung barat daya

itu.

Itulah seperjalanan sepuluh lie lebih. Dari jauh-jauh telah

terlihat banyak kerbau dan kambing di daerah pegunungan

yang tumbuh pepohonan dan rumput itu. Bahkan di baratnya

terdapat banyak sekali tenda gurun, mungkin dua sampai tiga

ribu buah. Ia menjadi heran, ia terkejut. Yang ia pernah lihat,

paling banyak gundukan tenda dari tiga atau empat puluh

buah. Dan ini ribuan. Inilah gundukan suku bangsa gurun

pasir paling besar yang ia pernah ketemukan. Dilihat dari

macamnya tenda, itu pasti kepunyaan suku Kazakh.

Untuk wilayah Hweekiang, suku Kazakh adalah suku paling

gagah. Anak-anaknya, lelaki atau perempuan, semenjak umur

enam atau tujuh tahun, sudah belajar menunggang kuda,

sesuatunya membawa golok, pandai main panah, alat-alat

untuk membela diri dan menyerang. Di antara mereka ada

tersebar peribahasa: “Satu orang Kazakh dapat melawan

seratus orang. Seratus orang Kazakh dapat malang melintang

di Hweekiang.”

Tang Yong ketahui peribahasa itu, maka ia kata di dalam

hatinya: “Aku berada di wilayah orang Kazakh ini, aku harus

berlaku hati-hati.”

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Di timur laut, di kakinya sebuah bukit, ada sebuah rumah

mencil sendirian, yang terbuat tembok tanah dan mirip sama

rumah-rumah di Tionggoan. Itulah beda sekali dari tendatenda

orang Kazakh.

“Baiklah aku pergi ke sana, untuk melihat,” pikir Liangtauw

Coa. Ia menduga-duga apa mungkin itu rumahnya orang Hai.

Ia mengeprak kudanya, untuk dikasih lari ke arah rumah itu.

Tapi kudanya melihat rumput di sepanjang jalan, dia repot

gegares, jalannya menjadi perlahan. Ia menjadi sengit, ia

mendupak. Dengan begitu barulah kuda itu lari ke arah rumah

kecil itu.

Dengan matanya yang tajam, Tang Yong dapat melihat

seekor kuda putih tertambat di belakang rumah, kuda mana

tinggi dan besar dan surinya panjang. Ia segera mengenali

kudanya Pekma Lie Sam. Tanpa dapat mengendalikan diri, ia

berseru sendirinya: “Kuda putih! Kuda putih di sini!” Lantas ia

mendapat akal. Maka ia lompat turun dari kudanya. Dari kaos

kakinya, ia mencabut goloknya yang pendek dan tajam, ia

sembunyikan itu di tangan kirinya, tergubat ujung bajunya.

Setelah itu dengan berindap-indap, ia pergi ke belakang

rumah itu. la tengah mengintai di jendela ketika mendadak

kuda putih itu meringkik, sebagai juga tanda peringatan

kepada tuan rumah bahwa ada orang datang…

“Binatang!” Tang Yong mencaci di dalam hatinya. Ia

menciutkan diri sebentar ia mengintai pula. Justeru itu ada

kepala orang nongol di jendela, hingga hidung mereka hampir

beradu. Ia terkejut. Ia menampak sebuah muka yang

keriputan, yang matanya bercahaya tajam. Ia lantas lompat

bangun. “Siapa?” ia menegur. “Kau siapa?” balik tanya orang

itu, suaranya dingin. “Apa perlunya kau datang kemari?”

Orang itu bicara dalam bahasa Tionghoa.

Untuk sejenak, Tang Yong terdiam. Selekasnya ia dapat

menenangkan diri, ia lantas bersenyum.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Aku Tang Yong,” sahutnya. “Dengan kebetulan saja aku

tiba di sini dan mengganggu lootiang. Bolehkah aku mendapat

ketahui lootiang she dan nama apa?” “Aku she Kee,”

menyahut orang itu.

“Oh, Kee Lootiang,” kata Tang Yong pula. la tertawa. “Aku

girang sekali dapat bertemu orang bangsa sendiri di sini. Kalau

sudi, aku mohon seceglukan teh.”

“Kau ada bersama siapa-siapa lagi?” si orang tua tanya.

“Aku bersendirian saja.”

“Apakah tuan dari perusahaan piauwkiok?” si orang tua

menanya pula.

Tang Yong terkejut. “Tajam matanya orang tua ini,”

pikirnya. “Di jidatku toh tidak ada mereknya piauwkiokku…” Ia

memikir untuk mendusta tetapi sebab si orang tua telah

mengatakannya, ia membatalkan itu. Ia menjawab: “Benar.

Bagaimana lootiang mengetahuinya?”

“Kebanyakan piauwsu bermacam bangsat,” kata si orang

tua tawar, sedang matanya yang bersinar dingin menyapu

beberapa kali ke muka orang.

Mukanya Tang Yong menjadi merah, tetapi ia berpikir:

“Biarlah, akan aku cari tahu dulu tentang dia…” Karena itu, ia

hanya menyeringai.

“Kalau mau minum, ambillah jalan pintu depan, jangan

merayap di jendela!” berkata pula si empee.

“Ya, ya,” sahut si piauwsu, yang terpaksa merendahkan

diri. Ia jalan mutar ke depan, untuk terus masuk ke dalam,

hingga ia melihat perlengkapan miskin dari rumah itu, hanya

semua ada bersih. Setelah duduk, ia mengawasi ke sekitarnya.

Tidak lama muncul seorang nona kecil, yang membawa

secangkir teh. Ketika sinar mata mereka bentrok, nona itu

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

kaget, cawannya terlepas, jatuh ke tanah hingga pecah

hancur!

Bocah itu pun berdiri melongo. Tang Yong lantas mengasih

lihat senyumannya. Ia girang bukan main. Inilah bocah yang

dicari mereka, untuk siapa Hok Goan Liong menjanjikan upah

lima puluh tail uang emas. Dengan melihat kuda putih tadi. ia

sudah menduga-duga, sekarang dugaannya itu merupakan

kenyataan.

Lie Bun Siu telah dibawa kabur kudanya, hingga dia tak

ingat suatu apa. Kuda putih dapat membaui bau rumput dan

air, dia kabur menerjang badai, sampai di tempat yang banyak

pepohonannya ini. Segera dia bertemu sama orang tua she

Kee itu, yang menolonginya.

Tengah malam Bun Siu sadar, ia tidak melihat ayah dan

ibunya, lantas ia menangis, hingga Kee Loojin membujukinya.

Orang tua itu lantas merasa suka, ia mengasihaninya.

Di dalam usianya itu, Bun Siu belum mengerti banyak.

Ditanya ayahnya, ia menyebut Pekma Lie Sam. Ditanya

tentang ibunya, ia cuma dapat menyebut “ibu”, atau “Sam

Niocu”, seperti disebut berulang-ulang oleh “orang jahat” yang

mengejar mereka. Tentu sekali, ia pun tidak tahu apa perlunya

mereka bertiga datang ke wilayah Hweckiang ini.

“Pekma Lie Sam, Pekma Lie Sam…” Kee Loojin menyebut

berulang-ulang. “Ya, aku ingat dia… Pada sepuluh tahun yang

lampau, dialah bandit haguna yang malang melintang di

Kanglam. Kenapa dia datang kemari?”

Orang tua ini mengasih si nona minum susu, ia

membujukinya hingga nona itu tidur pulas di pembaringannya.

Ia sendiri, sebaliknya, menjadi tidak dapat tidur, la memikiri

segala kejadian pada sepuluh tahun yang lampau itu.

Besoknya pagi, Bun Siu mendusin dari tidurnya. Segera ia

minta si orang tua mengajak ia pergi mencari ayah dan

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

ibunya. Tepat selagi Kee Loojin membujuki, dia mempergoki

lagak bangsat dari Liangtauw Coa Tang Yong si Ular Kepala

Dua itu.

Dengan jatuh pecahnya cangkir, Kee Loojin muncul dengan

segera. Melihat orang tua itu, Bun Siu lari untuk menubruk

sambil berkata: “Yaya, yaya, dialah si orang jahat yang

mengejar-ngejar aku!…”

Orang tua itu mengusap-usap rambut si anak, sikapnya

lembut.

“Jangan takut, jangan takut,” membujuknya. “Dia bukan

orang jahat…”

“Benar, dia si jahat!” kata nona itu. “Dia bersama puluhan

orang lain mengejar ayah dan ibu, mereka menyerangnya…”

Kee Loojin sementara itu berpikir: “Yang satu bandit

haguna, yang lainnya piauwsu, tentulah karena urusan piauw,

mereka benterok, mereka menyusul sampai di sini… Tidak

dapat aku mencampuri urusan mereka itu.”

Tang Yong mengawasi si orang tua, yang rambutnya

ubanan, tubuhnya bongkok melengkung, tubuh itu besar

melebihkan ia. Ia pikir: “Orang tua ini, kalau dia belum

berumur seratus tahun, sembilan puluh tentunya ada. Di sini

tidak ada lain orang, kalau aku hajar dia pingsan, dapat aku

bawah kabur bocah ini serta kuda putihnya. Aku mesti

bekerja cepat, supaya tak menanti terjadinya perubahan…”

“Apakah kamu kehilangan piauw?” si orang tua tanya.

“Berapa harganya itu?”

“Harganya tidak seberapa, hanya namanya Chin Wie

Piauwkiok menjadi runtuh. Syukur jumlah itu telah didapat

pulang seluruhnya,” sahut orang yang ditanya.

Orang tua itu mengangguk. “Chin Wie Piauwkiok?” katanya.

“Jadi Luliang Samkiat pun datang semuanya?”

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Tang Yong heran. Kenapa orang tua ini ketahui piauwkioknya

dan ketiga majikannya itu? Bukankah orang ini tua dan

wilayah Hweekiang ini jauh dari Tionggoan? Apa benar nama

Luliang Samkiat demikian tersohor, sampai di tanah

perbatasan? Mungkinkah ini orang tua asal piauwsu juga?

“Ya,” ia menyahuti. Terus ia memasang kuping, kakinya

pun bertindak ke jendela. “Nah, lihatlah! Bukankah mereka di

sana tengah mendatangi?”

Kee Loojin tidak mendengar tindakan kaki kuda, akan tetapi

mendengar perkataan Tang Yong itu, ia bertindak ke jendela,

untuk melihat. Ia tidak menampak siapa juga di sekitarnya,

hanya kerbau dan kambing lagi memakani rumput di tegalan.

“Mana ada orang?” kata ia pada tetamunya seraya ia

menoleh.

Justeru itu Tang Yong mengasih dengar tertawanya yang

seram, yang disusuli angin serangannya. Sebab tengah si aki

melongok keluar, dia membokong.

Orang tua itu bongkok, agaknya dia bercacad, akan tetapi

dia berkuping terang, matanya celi, gerakannya sebat. Ketika

tinju hampir tiba di kepalanya, ia berkelit, sebelah tangannya

diangkat, untuk dipakai menangkis sambil membangkol. Ia

nyata menggunai jurus Kimnahoat, “Tangkapan”, maka

tangan kanan si piauwsu lantas kena dicekal.

Tang Yong terkejut, tetapi kepalang tanggung, ia beraksi

terus. Ia mengelit tangan kanannya itu, untuk dilepaskan dari

cekalan orang, ia gagal, atas mana, tangan kirinya meluncur.

Di tangan kiri ini tersembunyi golok pendeknya, maka golok

itu mengasih lihat sinar berkelebat, menyambar ke punggung

yang naik tinggi seperti punggung unta dari si empee, tepat

kenanya.

Lie Bun Siu kaget hingga dia menjerit, lantas dia lompat,

untuk dengan kedua tangannya menghajar punggung si

piauwsu di betulan pinggang. Selama dua tahun, dia telah

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

mulai belajar silat dari ayah dan ibunya. Hanyalah, dua

kepalannya masih kecil, seperti tenaganya pun belum besar.

Kee Loojin juga tidak berdiam saja. Ia menyikut dengan

tangan kirinya, mengenai uluhati dari Tang Yong, hingga

piauwsu ini menjerit tertahan, tubuhnya membungkuk, terus

roboh terkulai di lantai.

“Yaya…” kata si nona, yang kaget dan ngeri melihat golok

nancap di punggung si orang tua, “golok di punggungmu

itu…”

Kee Loojin berpaling, ia melihat roman si nona.

“Anak ini berhati baik,” pikirnya.

“Yaya, lukamu…” kata pula Bun Siu. “Nanti aku cabut golok

itu…” Ia mengulur tangannya, niat mencabut senjata tajam

itu.

“Jangan pedulikan aku!” kata si orang tua. Mendadak dia

beroman gusar, suaranya pun keras. Dia memegangi meja,

tubuhnya terhuyung. Dengan limbung ia berjalan masuk ke

dalam, di sana terdengar suara berisik dari pintu yang ditutup

menggabruk.

Bun Siu heran dan takut melihat air mukanya orang tua itu.

la pun ngeri melihat Tang Yong rebah melingkar, ia takut

orang nanti bangun pula. Bagaimana kalau piauwsu ini

bangun dan menerjang padanya? Saking takutnya ia memikir

untuk lari ke luar. Tapi, ketika ia ingat si orang tua, yang

terluka dan bersendirian saja, ia batalkan niatnya itu. Setelah

ragu-ragu sebentar, ia menghampirkan pintu dalam. Ia

mengetuk perlahan, beberapa kali, kupingnya dipasang. Tidak

ada jawaban. “Yaya,” ia memanggil. “Yaya, apakah kau sakit?”

Baru sekarang terdengar suara kasar dari dalam: “Pergi!

Pergi! Jangan gerecoki aku!”

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Bun Siu heran dan kaget. Suara itu beda sekali daripada

semula. Ia lantas berduduk diam di lanah, saking bingung, ia

menangis.

Tiba-tiba pintu berbunyi, lalu terbuka. Lantas si nona

merasai rambutnya dielus-elus perlahan, kupingnya pun

mendengar bujukan halus: “Jangan nangis, jangan nangis.

Luka yaya-mu tidak berbahaya…”

Si nona mengangkat kepalanya. Ia melihat si empee

bersenyum. Dasar anak kecil, mendadak ia menjadi girang

sekali, hingga dari menangis, ia menjadi tertawa.

“Kau menangis, lalu tertawa, apa kau tidak malu?” kata Kee

Loojin tertawa juga.

Bun Siu menusupkan kepalanya di dada aki-aki itu untuk

sekejap itu, ia merasai kehangatannya orang tuanya

Kee Loojin sendiri mengerutkan kening. Matanya

mengawasi ke mayatnya Tang Yong. Hebat sikutnya, yang

telah mengenai uluhati orang, hingga piauwsu itu mati

seketika. Ia memikir: “Dia dan aku tidak bermusuh hebat,

kenapa aku menurunkan tangan jahat terhadapnya?” Ia

seperti lupa bahwa justeru ia yang disateroni dan ditikam

terlebih dulu.

“Yaya, apa lukamu sudah baik?” kemudian si nona cilik

menanya pula. Ia ingat lukanya si aki.

Ketika itu Kee Loojin telah menukar bajunya, entah

bagaimana lukanya, tapi ketika ditanya, mendadak ia menjadi

gusar kembali. Mungkin ia merasai tikamannya Tang Yong

suatu penghinaan untuknya.

“Mau apa kau rewel?” dia membentak.

Bun Siu kaget, ia menjadi ketakutan pula.

Justeru itu, di luar terdengar suara meringkiknya si kuda

putih. Si aki sadar secara tiba-tiba. Maka ia pikir: “OrangTiraikasih

Website http://kangzusi.com/

orang Chin Wie Piauwkiok mencari bocah ini, maka itu Tang

Yong menurunkan tangan jahat atas diriku.” Lalu ia berpikir

pula, habis mana dia lantas pergi ke dapur. Di sana ada

tahang dengan air berwarna kuning, ialah air sepuhan peranti

penggembala kambing memberi warna tanda kepada

ternaknya, la bawa itu keluar, ia menuntun si kuda putih,

lantas bulu kuda yang bagus itu ia poles kuning, dari kepala

sampai di ekornya, hingga menjadi kuning seluruhnya.

Kemudian lekas-lekas ia pergi ke tendanya seorang Kazakh,

untuk minta seperangkat pakaian bocah laki-laki, dengan itu ia

menyuruh Lie Bun Siu menyalin pakaian, hingga si nona

menjadi bersalin rupa.. Bun Siu cerdas. “Yaya,” katanya, “kau

hendak membikin si orang jahat tidak mengenali aku?”

Empee itu mengangguk, terus ia menghela napas.

“Aku sudah tua, kalau tidak, biarnya si jahat besar

jumlahnya, aku tidak takut,” ujarnya. “Lihat saja barusan, dia

toh berhasil membacok aku…”

Bun Siu berdiam. Walaupun si empee yang mulai bicara, ia

tidak berani menyambuti.

Habis itu, Kee Loojin bekerja pula, secara kesusu. Ialah ia

menggali tanah untuk memendam mayatnya Tang Yong,

sedang kuda orang, ia sembelih. Ia menyingkirkan segala apa,

yang dapat menjadi tanda. Akhirnya ia duduk bercokol di

depan pintu, duduk seraya menggosok sebilah golok

panjang…

Tidaklah sia-sia siasat orang tua ini. Sore itu Hok Goan

Liong bersama Tan Tat Hian serta rombongannya tiba di tanah

datar berumput itu. Mereka melakukan perampasan atas

beberapa ratus ekor kerbau dan kambing yang gemuk-gemuk.

Orang-orang Kazakh seperti kena dibokong. Wilayah mereka

aman, tidak biasanya datang penyamun. Mereka melakukan

perlawanan secara sia-sia, kecuali rugi ternak, tujuh orang pria

terbinasakan dan lima orang wanita kena diculik.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Rombongan itu juga menyateroni Kee Loojin, hanya

mereka tidak menyangka jelek kepada orang tua itu, yang

rumahnya buruk. Mereka juga tidak bercuriga terhadap Bun

Siu, yang mirip anak Kazakh, yang sembunyi di pojokan

rumah, mukanya dekil. Pula tidak ada seorang juga, yang

melihat matanya yang tajam. Ia sebaliknya melihat tegas,

golok ayahnya tergantung di pinggangnya Tan Tat Hian dan

pedang ibunya berada di pinggangnya Hok Goan Liong. Ia

mengenali baik senjata orang tuanya itu, yang tak pernah

terpisah dari tubuh mereka, maka tahulah ia, pasti ayah dan

ibunya telah bercelaka…

Besoknya, orang-orang Kazakh itu dapat menggabung diri,

mereka lantas mencari kawanan penyamun, untuk menuntut

balas, tetapi rombongan Chin Wie Piauwkiok telah pergi ke

mana tahu di gurun yang luas itu. Yang dapat diketemukan

ialah mayatnya ke lima wanita bangsanya, yang menggeletak

di tempat terbuka dengan tubuh telanjang bulat, keadaannya

sangat menyedihkan.

Kemudian mereka menemukan juga mayatnya Lie Sam dan

isterinya.

Lie Bun Siu ada bersama, ia menubruk dan memeluki

mayat ayah ibunya itu, ia menangis sedih sekali, sekalipun

begitu, ia toh dirangket seorang Kazakh, yang terus mendupak

padanya sambil mulutnya mengutuk: “Tuhan tidak

memberkahi kamu penyamun llan!”

Kee Loojin memondong tubuh bocah itu, ia tidak mau

melayani orang Kazakh yang lagi seperti kalap itu. Bun Siu

sendiri bersedih dan bingung, hingga ia kata di dalam hatinya:

“Kenapa ada begini banyak orang jahat? Kenapa siapa pun

menghina aku?…”

III

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Lie Bun Siu mendusin pada waktu tengah malam, ia

mendusin untuk lantas menangis. Rupanya ia bermimpi hebat.

Ketika ia membuka matanya, ia kaget hingga ia berteriak. Di

atas pembaringannya itu ada berduduk seorang lain. la pun

bangun untuk berduduk. Hanya sebentai ia terkejut.

Kee Loojin mengawasi dengan romannya sabar, tangannya

pun mengelus-ngelus rambut perlahan sekali.

“Jangan takut, jangan lakui inilah yaya-mu…” kata ia. Ia

menyebut dirinya yaya, ia pun dipanggil yaya. Yaya itu kakek.

Memang tepat ia menjadi kakek mengingat perbedaan usia

mereka berdua.

Bun Siu menangis, air matanya bercucuran deras, ia

nelusup di dada aki itu, hinga tangan baju si orang tua basah

“Anak,” kata si aki perlahan, “kau sudah tidak punya ayah

dan ibu, kau anggaplah aku sebagai kakekmu tulen. Mari kita

tinggal bersama, kakekmu sanggup merawati kau…”

Bun Siu mengangguk. “Kenapa semua orang menghina

aku? Aku toh tidak berbuat jahat?” ia bertanya, la ingat

bagaimana ia dan orang tuanya dimusuhkan orang, ia sendiri

pun dibenci dan dianiaya si orang Kazakh yang kasar itu. Ia

tahu ia tidak bersalah.

Orang tua itu menghela napas. “Di dalam dunia ini, mereka

yang suka menderita justerulah mereka yang belum

pernah melakukan kejahatan…” katanya. Ia menuang susu

hangatnya, untuk diminum. Ia pun membagi si bocah.

Sembari merapikan tempat tidur bocah itu, ia menambahkan

pula “Anak Siu, orang Kazakh yang menendangmu itu

bernama Suruke, sebenarnya dia seorang baik…”

Bun Siu heran, ia mementang kedua matanya.

“Dia… dia orang baik?” ia menegaskan.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Benar, dia orang baik,” si kakek menyahuti, “dia sama

baiknya seperti kau. Di dalam satu hari, dia kematian dua

orang yang ia paling mencintakannya… Yang satu isterinya,

yang lain putera sulungnya… dan mereka semua terbinasa di

tangannya rombongan penyamun jahat dan kejam itu. Dia

menyangka orang Han orang jahat semua, maka juga didalam

bahasanya, dia mengutuk kau sebagai orang Han jahat yang

tidak diberkahi Tuhan. Kau jangan membenci dia, dia lagi sakit

hatinya, seperti sekarang hatimu pun sakit. Dia sudah berusia

lanjut, bisalah dimengerti kalau dia jadi terlebih sakit

hatinya…”

Bun Siu mendelong mendengar si orang tua. Sebenarnya

dia pun tidak membenci orang Kazakh berewokan itu, hanya

dia jeri melihat roman orang yang bengis. Sekarang dia ingat,

di matanya orang Kazakh itu pun ada mengembeng air mata.

Tentu sekali dia tidak mengerti perkataan yaya-nya, kenapa

orang tua itu lebih menderita daripadanya. Sekarang dia

berkesan baik terhadap orang tua itu…

Tidak antara lama, dari luar jendela terdengar suara

burung, halus dan menggiurkan hati. Suara itu agak jauh

tetapi tedas. Ia memasang kupingnya. Ia merasakan suara itu

manis. Itulah mirip nyanyiannya seorang nona…

Ia memasang kuping terus. Nyanyian burung itu terdengar

jauh, lalu lenyap. Ia menjadi masgul, hingga ia terus berdiam

saja Lama ia tidak bersuara, lalu: “Yaya, suara burung itu

enak didengarnya,” katanya.

“Memang, merdu nyanyiannya burung itu,” menyahuti si

empee. “Itulah burung nilam malam di padang rumput ini.

Orang Kazakh membilang burung itu penitisan seorang nona

paling cantik dan yang paling pandai bernyanyi. Katanya dia

tidak disukai kekasihnya, dia mati mereras…” Bun Siu heran.

“Dia paling cantik, dia juga paling pandai bernyanyi, kenapa

dia tidak dicintai?” ia tanya.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Ditanya begitu, orang tua itu agak kaget, bahkan air

mukanya segera berubah.

“Ya, dia demikian cantik, kenapa dia tidak dicintai?”

katanya keras.

Bun Siu kaget, dia mengawasi, matanya mendelong.

Hanya sejenak, si empee menghela napas. Ia jadi sabar

pula.

“Di dalam dunia ini, ada banyak sekali hal yang kau tidak

mengerti, anak,” katanya kemudian.

Kembali Bun Siu mendengar burung tadi bernyanyi,

suaranya semakin menggiurkan hatinya, manis tetapi sedih. Ia

sampai melupakan sikap aneh dari si orang tua…

***

Demikian Lie Bun Siu tinggal ili rumah Kee Loojin, si orang

tua vang hidup menyendiri di wilayah orang Kazakh itu. Ia

membantu menanak nasi dan menggembala kambing. Mereka

hidup sebagai kakek dan cucu. Hanya kalau malam, sukasuka

si nona mendusin dengan kaget, akan mendengar

suara si burung malam dari padang rumput itu, yang

nyanyiannya mengagumkan dia, yang membuatnya merasa

tergiur dan berduka. Kalau dia bermimpi, maka dia

memimpikan keindahan wilayah Kanglam di mana dia berada

dalam rangkulan ayah atau ibunya…

Musim rontok lewat, musim dingin pun lewat, selama itu,

tenteram hidupnya puteri dari Pekma Lie Sam atau Siangkoan

Hong, selama itu, ia telah dapat bicara dalam bahasa Kazakh,

ia mulai mengerti banyak perihal segala apa di dataran rumput

itu.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Pada suatu malam, kembali Nona Lie mendengar nyanyian

si burung malam. Jauh suara burung itu, terbawa sang angin,

sebentar terdengar, sebentar lenyap Ia bangun untuk

mengenakan bajunya, diam-diam ia pergi keluar di mana ia

tuntun kudanya, si kuda putih, ia berlaku hati-hati untuk tidak

membikin Kee Loojin kaget dan mendusin. Setelah berada

jauh dari rumah, baru ia naik atas kudanya, untuk sambil

menunggang kuda mengikuti suara burung itu.

Sang malam di dataran rumput, langit rasanya tinggi sekali,

warnanya biru, bintang-bintang terang berkilau. Rumput segar

dan bunga-bunga menyiarkan bau yang harum.

Suara nyanyian terdengar tegas sekarang, benar-benar

menggiurkan. Di dalam hatinya, Bun Siu mengikuti

bernyanyi. Ia menjadi girang sekali. Ia lompat turun dari

kudanya, membiarkan kuda itu mencari makan, ia sendiri

rebah telentang di atas rumput, matanya memandangi langit.

Ia terbenam dalam nyanyian sang burung…

Selang sekian lama, burung itu berpindah tempat, suaranya

terdengar jauh. Maka si nona merayap bangun, ia bertindak

menyusul, mengikuti, hingga sekarang ia menampak

romannya burung itu, yang bulunya kuning muda. Burung itu

beterbangan di tanah, mematuk sesuatu, lalu terbang, lalu

mematuk pula, saban-saban dia bernyanyi…

Mendadak terdengar satu suara keras, serupa barang hitam

menyambar kepada burung malam itu. Si nona kaget hingga

ia berseru, bercampur seruannya seorang lain. Kalau Bun Siu

kaget maka orang itu kegirangan. Dia muncul dari

gegombolan pohon. Nyata dialah seorang anak laki-laki

Kazakh, yang berseru: “Kena! Kena!”

Dengan baju luarnya, dia menungkrap burung itu, yang

kena ditangkap. Burung itu lantas berbunyi berisik sekali,

kaget dan ketakutan.

“He, kau bikin apa?” Bun Siu menegur, gusar.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Aku menangkap burung ini,” menjawab orang yang

ditegur. “Apakah kau juga menangkap burung?”

“Kenapa kau menangkap dia?” Bun Siu menegur pula.

“Bukankah lebih baik membiarkan dia merdeka dan

bernyanyi?”

“Dengan ditangkap, dia dapat dibuat main,” menyahut anak

Kazakh itu. Dengan tangan kanannya merogoh ke dalam

bajunya, ia memegang burung kuning dan kecil itu, yang siasia

saja berontak untuk mencoba terbang pergi.

“Kau lepaslah!” kata Bun Siu kemudian. “Lihat, dia harus

dikasihani…”

“Di sepanjang jalan aku menyebar gandum, memancing dia

makan hingga di sini,” kata anak Kazakh itu. “Siapa suruh dia

makani gandumku? Haha!”

Bun Siu terbengong. Inilah yang pertama kali ia mengenal

perangkap. Burung itu diberi umpan, dia memakannya, dia

mengantarkan diri, lalu tertangkap artinya, dia mencari

matinya sendiri. Ia masih terlalu muda dan mendapat tahu

bunyinya pepatah: “Jin wie cay su, niauw wie sit bong”, ialah

“Orang mati karena harta, burung mampus karena makanan.”

Bocah Kazakh itu membuat main burungnya, hingga

burung ini berbunyi tak hentinya.

“Maukah kau kasihkan burung ini padaku?” akhirnya Bun

Siu minta. Ia merasa kasihan.

“Habis kau memberikan apa padaku?” tanya si anak

Kazakh. Dia minta penggantian atau penukaran.

Bun Siu meraba sakunya, ia tidak mempunyai apa-apa. Ia

menjadi berdiam untuk berpikir. Kemudian ia menyahuti:

“Besok aku nanti menjahit, membikin kantung, untuk kau

pakai…”

“Aku tidak mau diakali. Besok kau menyangkal…”

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Mukanya si nona menjadi merah.

“Aku telah berjanji, tentu aku akan memberikan,” ia

mengasih kepastian. “Kenapa aku mesti menyangkal?”

“Ah, aku tidak percaya!” bocah ini menggeleng kepala. Tapi

di terangnya rembulan, ia melihat gelang kumala, yang

bersinar di lengan kiri orang, maka ia menambahkan: “Kecuali

kau berikan gelangmu itu!”

Itulah gelang yang Bun Siu il.ipat dari ibunya, kecuali itu, ia

udak punya tanda mata apa jua dari ibunya. Berat ia

menyerahkan itu, akan tetapi, kalau ia melihat burung itu, ia

berkasihan.

“Baiklah, ini aku kasihkan kau,” katanya akhirnya. Ia

meloloskan gelangnya dan menyerahkannya.

Bocah itu agaknya heran, ia menyambuti.

“Apakah kau tidak bakal memintanya pulang?” ia

menegasi.

“Tidak!”

“Baik!” Dan ia menyerahkan burungnya.

Dengan kedua tangannya, Bun Siu menyambuti burung itu.

Ketika tangan mereka beradu, si bocah Kazakh merasakan

sebuah tangan yang halus dan hangat, hingga ia seperti

merasakan guncangnya hati si nona.

Nona itu mengusap-usap sayap burung dengan tiga buah

jari tangannya, perlahan-lahan, kemudian ia melepaskan

tangannya seraya ia berkata: “Kau pergilah! Lain kali kau

mesti berhati-hati supaya orang tidak kena tangkap pula!”

Burung itu terbang, menghilang di gombolan rumput.

Si bocah Kazakh heran.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Kenapa kau lepas burung itu?” ia tanya. “Bukankah kau

telah tukar itu dengan gelang kumala?” Dia memegang eraterat

gelangnya, kuatir si nona meminta pulang.

“Dia dapat terbang pula,” menyahut Bun Siu, “dia bakal

bernyanyi kembali! Tidakkah itu senang untuknya?”

Bocah itu heran dan kagum. Ia mengimplang.

“Kau siapa?” ia tanya kemudian. “Aku Lie Bun Siu. Kau

sendiri?”

“Aku Supu.” Habis menyahuti, dia berjingkrak dan berseru

nyaring.

Supu lebih tua dua tahun, tubuhnya jangkung, kalau dia

berdiri, nampaknya dia gagah.

“Tenagamu besar, bukankah?” Bun Siu tanya.

Supu tengah kegirangan, pertanyaan si nona

membangkitkan keangkuhannya. Dari

pinggangnya, ia menarik keluar sebuah golok pendek. Ia

berkata: “Baru bulan yang sudah aku membunuh seekor

serigala!”

“Kau begitu kosen?” tanya Bun Siu heran.

Supu jadi bangga sekali. Ia kata pula: “Sebenarnya dua

ekor serigala yang datang menyerbu kambing kami. Ayahku

kebetulan tidak ada di rumah, jadi aku yang keluar membawa

golok mengejarnya. Serigala yang besaran melihat api, dia

kabur, aku bunuh yang satunya.”

“Jadi kau membunuh yang kecilan?’”

Supu likat, ia mengangguk, tetapi ia menambahkan:

“Jikalau serigala yang besar itu tidak kabur, tentu aku bunuh

juga padanya!”

Dari suaranya, ia agak ragu-ragu.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Bun Siu percaya keterangan itu. Ia kata: “Serigala yang

jahat makan kambing, dia memang harus dibunuh. Kalau nanti

kau membunuh serigala pula, maukah kau memanggil aku

untuk aku melihatnya?” Supu girang.

“Baik! Lain kali aku akan mengeset kulitnya, untuk

dihaturkan padamu!”

“Terima kasih!” Bun Siu pun girang. “Nanti aku membikin

alas kulit serigala peranti yaya duduk, kepunyaannya telah

diberikan padaku.”

“Dengan begitu. Aku berikan itu pada kau, itu artinya

untukmu sendiri. Kepunyaan yaya-mu kau kembalikan saja.”

“Begitu pun baik,” si nona mengangguk.

Kedua bocah ini lantas menjadi sahabat satu dengan lain.

Erat pergaulan mereka, meski yang satu ada anak Kazakh

yang sikap dedaknya kasar, dan yang lain seorang nona Han

yang halus.

Lewat beberapa hari, Lie Bun Siu menganggap bocah itu

sahabat, buat sebuah kantung kecil, yang ia isikan kembang

gula dan menghadiahkannya kepada Supu. Bocah ini heran.

Untuknya sudah cukup burungnya ditukar dengan gelang

kumala. Karena dia jujur, dia hendak membalas budi. Maka

malamnya, satu malam suntuk dia tidak tidur, dia menunggui

burung, hasilnya, dia dapat menjebak dua ekor burung nilam.

Besoknya pagi, dia serahkan burungnya itu pada sahabatnya.

Melihat perbuatan Supu, Bun Siu menganggap bocah itu

salah mengerti, maka dengan banyak kata-kata ia

menjelaskan, ia menyukai burung bukan untuk dipiara, ia

hanya menyukai kemerdekaannya burung itu, sedang kalau

dipiara, burung itu jadi tersiksa. Supu dapat dikasih mengerti

tetapi toh ia tetap heran untuk sikap nona, yang ia kata

aneh…

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Dengan lewatnya banyak hari, mimpinya Bun Siu, mimpi

ayah dan ibunya, menjadi berkurang. Itu berarti, basahnya

bantalnya karena air matanya pun jadi berkurang |uga. Di lain

pihak, pada parasnya lebih sering tertampak senyuman, ia jadi

lebih gemar bernyanyi. Demikian, kalau dia dan Supu

menggembala kambing, sering lei dengar nyanyian mereka,

nyanyian yang mengandung asmara. Sering mereka

bernyanyi saling sahutan. Tapi Bun Siu bernyanyi karena

kegemarannya, artinya nyanyian belum masuk di olaknya. Ia

bahkan heran kenapa muda-mudi gemar bernyanyi berduaduaan,

mereka tertarik satu kepada lain. Ia tidak mengerti

kenapa hatinya memukul kalau ia mendengar tindakannya si

bocah Kazakh. Tapi yang benar, suara nyanyiannya memang

merdu, siapa yang mendengarnya memuji: “Merdu suaranya

bocah itu, mirip dengan suaranya si burung nilam dataran

rumput…”

Kapan telah datang musim dingin, burung nilam terbang

pindah ke Selatan, yang hawanya hangat, akan tetapi di

padang rumput itu, ada pengganti suaranya, sebab ada

nyanyiannya Bun Siu yang merdu itu:

“Gembala muda yang manis, Aku tanya kau, tahun ini

usiamu berapa?

Kalau di tengah malam kau bersendirian di gurun, Maukah

kau ditemani olehku? “

Biasanya nyanyian berhenti sampai di situ, sesaat kemudian

barulah disambungi:

“Ah, kekasihku, jangan gusar. Siapa baik siapa buruk, sukar

dibilang, Kalau gurun hendak dijadikan teman.

Maka mestilah sepasang orang baik kumpul bersama…”

Supu adalah orang yang paling sering mendengar nyanyian

itu. Dia juga tidak memahami artinya nyanyian asmara itu,

sampai pada suatu hari di atas salju mereka bersomplokan

sama seekor ajag.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Sangat mendadak munculnya binatang alas yang jahat itu.

Supu dan Bun Siu tengah duduk berendeng di atas sebuah

tanjakan, mata mereka memandang rombongan

kambing mereka yang lagi mencari makan di padang rumput.

Seperti biasanya, si nona mendongeng, tiga bagian menurut

cerita ibunya, tiga bagian menurut cerita Kee Loojin, yang

lainnya karangannya sendiri. Supu paling suka mendengar

ceritanya Kee Loojin, sebab itu ada mengenai peristiwaperistiwa

hebat. Yang ia paling tidak sukai ialah cerita

karangannya si nona sendiri, karena itulah semua cerita

kekanak-kanakan. Mendadak Bun Siu menjerit, tubuhnya

roboh ke belakang, sebab seekor serigala menerkam dengan

tiba-tiba. Binatang jahat itu datang dengan perlahan-lahan

dari arah belakang, kedua bocah masing-masing sedang

asyik bercerita dan mendengari, mereka tidak mendengar

apa-apa sampai terkaman datang. Si nona berkelit, karenanya

dia roboh.

Supu kaget. Serigala itu besar sekali. Tapi melihat si nona

didalam bahaya, ia menghunus golok pendeknya, terus ia

membacok. Binatang itu berkelit, punggungnya tergores

kulitnya. Karena itu dia menjadi gusar, sambil mementang

mulutnya yang lebar, memperlihatkan giginya yang tajam, dia

menubruk bocah itu, dia hendak menggigit muka orang!

Saking kaget, Supu roboh. Ia tentu telah kena digigit kalau

tidak Bun Siu lompat maju, untuk menangkap ekor binatang

itu, untuk ditarik, hingga si serigala mundur setindak. Tapi

binatang ini kuat, dia berontak, dia menerkam pula. Kali ini

giginya nempel pada pundak kiri si bocah pria. Dalam kaget

dan takut, si nona menarik sekuatnya. Tidak urung, pundak

Supu telah mengucurkan darah.

Dalam keadaan seperti itu, Supu melupakan segala apa, ia

menikam. Tepat ia menikam perut, di bagian yang berbahaya.

Serigala itu berlompat, terus roboh. Supu masih hendak

menikam, ketika tubuh binatang itu terus berdiam.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Bun Siu pun jatuh terguling. Ia bertahan, si serigala

menarik keras. Meskipun begitu, ia tidak melepaskan

cekalannya sampai binatang itu rebah tak berkutik lagi.

“Aku membunuh serigala!” seru Supu kemudian. “Aku

membunuh serigala!” Ia lantas mengasih bangun pada si

nona, seraya ia berkata: “Lihat, Siu, aku telah bunuh mati

seekor serigala!”. Ia gembira hingga ia melupakan pundaknya

yang borboran darah.

“Aku tidak takut sakit!” kata Supu sambil menggeleng

kepala, sikapnya gagah.

Sekonyong-konyong terdengar teguran di belakang

mereka: “Eh, Pu kau lagi bikin apa?”

Keduanya terkejut, sama-sama mereka berpaling.

Bun Siu melihat seorang yang mukanya berewokan, yang

tubuhnya besar bercokol di atas kuda. Supu sendiri segera

berkata: “Ayah, lihat! Aku telah bunuh seekor serigala!”

Nampaknya orang itu girang. Ia lompat turun dari kudanya.

Ia memandangi anaknya, Bun Siu dan bangkai serigala.

“Kau kena digigit serigala?” ia menanya.

“Ya,” si anak mengangguk. “Kita lagi duduk di sini, aku

mendengari dia mendongeng mendadak serigala itu muncul

dan menerkam dia…”

Si berewokan itu mengawasi pula Bun Siu, mendadak di

menegur: “Kau toh si anak perempuan Han yang tidak

diberkahi Tuhan?” tegurnya.

Bun Siu terkejut. Ia sekarang mengenali si berewokan ini

adalah mang yang telah menendang ia it-lagi ia memeluki

mayat ayah dan ibunya. Dialah Suruke yang menurut Kee

Loojin, isteri dan anaknya telah dibinasakan penyamun

didalam satu malaman. Ia mengangguk, ingin ia

mengatakan: “Ayah dan ibuku juga telah dibunuh oleh

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

kawanan penyamun itu…” atau mendadak ia menjadi kaget.

Tahu-tahu Supu telah dicambuk ayahnya, hingga mukanya

balan, sedang ayah itu berseru: “Aku telah menyuruh kau

turun-temurun membenci orang Han, mengapa kau melupai

pesanku? Kenapa kau justeru bermain-main sama anak Han

ini dan mengadu jiwa untuknya hingga kau mengucurkan

darah?” Lalu cambuknya menyambar pula secara membabi

buta!

Supu berdiam saja, bahkan dia memandang Bun Siu dan

bertanya: “Apakah dia si wanita Han yang tidak diberkahi

Tuhan?”

“Mustahil bukan?” bentak si ayah, yang tangannya diayun

ke samping, maka menjeritlah si nona yang kaget dan

kesakitan, sebab cambuk menyambar mukanya!

Justeru itu, Supu roboh, sebab tak tahan ia akan sabatan

ayahnya itu. Ia telah terluka diterkam serigala, ia pun

dirangket berulang-ulang, selagi ia telah mengeluarkan banyak

darah dan lelah, ia pun melihat si nona dicambuk, maka ia

sakit, lelah dan menceios hatinya berbareng.

Suruke kaget. Ia lompat kepada anaknya, ia pondong

tubuhnya, buat diajak naik ke atas kudanya, kemudian ia

kabur dengan mengalak bangkai serigala, maka ketika ia

melarikan kudanya itu, bangkai binatang itu terseret-seret

pergi. Ia masih menoleh kepada Bun Siu, yang berdiri

tercengang, di dalam hatinya ia kata: “Kalau lain kali kau

bertemu pula dengan aku, lihat apabila aku tidak menghajar

pula padamu!”

Bun Siu tidak takut lagi si berewokan itu, hanya hatinya

kosong. Ia merasa bahwa selanjutnya ia bakal tidak bertemu

pula sama Supu, kawan satu-satunya dengan siapa ia dapat

bermain-main dengan gembira, kawan yang suka mendengari

nyanyiannya. Setelah itu, ia merasai mukanya sakit. Tidak

lama ia berdiam di situ, dengan tidak keruan rasa ia

menggiring kambingnya pulang.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Kee Loojin heran melihat tubuh si nona kecipratan darah

dan mukanya balan, bertanda bekas sabatan cambuk.

“Apakah sudah terjadi?” tanyanya lekas.

“Aku terjatuh…” Bun Siu mendusta, suaranya tawar.

Orang tua itu tidak mau percaya tetapi setelah ditegasi, si

nona tetap sama jawabannya itu, bahkan dia lantas menangis,

hingga ia menjadi kewalahan dan bingung.

Malam itu tubuh Bun Siu panas sekali, mukanya menjadi

merah, berulangkah dia mengaco: “Serigala! Serigala! Supu!

Supu! Tolong! ….Orang Han yang tidak diberkahi Tuhan!”

Bukan main bingungnya orang tua ini. Maka syukur,

mendekati pagi, hawa panasnya si nona berkurang banyak,

lantas dia dapat tidur pulas.

Dengan sakitnya ini, satu bulan terus Bun Siu mesti rebah

di pembaringan, ketika kemudian ia sembuh, musim dingin

sudah lewat, di tanah datar rumput telah mengeluarkan semi

baru yang halus…

Lewat beberapa hari, nona Lie merasa tubuhnya sehat

betul, maka itu ingin ia pergi menggembala seperti biasa.

Ketika ia heran akan mendapatkan ada sehelai kulit serigala

terletak di depan pintunya, kulit itu sudah dijadikan alas

duduk, lebih heran pula apabila ia periksa, di betulan perut

kulit itu ada pecahan bekas tusukan senjata tajam. Ia lantas

mengenali itulah serigala yang menerkam ia, yang dibinasakan

Supu. Hatinya berdebaran kalau ia ingat Supu tidak menyalahi

janji, hanya bocah itu datangnya secara diam-diam. Ia angkat

kulit itu, untuk disimpan di dalam kamarnya. Ia tidak mau

memberitahukan pada Kee Loojin. Habis itu pergilah ia

menggembala kambingnya, di tempat yang biasa.

Sampai magrib, Supu tidak muncul, ada juga kambingnya,

yang sekarang diangon oleh seorang muda lain umur tujuh

atau delapan belas tahun, la menjadi berpikir.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Mungkinkah lukanya Supu belum sembuh? Kalau begitu,

bagaimana dia dapat mengantarkan kulit serigalanya itu?

Ingin ia pergi melongok ke tenda kawan itu tetapi ia batal

sendirinya kapan ia ingat si berewokan yang bengis. Maka ia

sudi bersangsi.

Malam itu sampai tengah malam Bun Siu tidak dapat pulas.

Akhirnya ia mengambil keputusannya juga. Diam-diam ia pergi

ke tendanya Supu, ke sebelah belakangnya. Ia tidak tahu pasti

apa perlunya ia menjenguk sahabatnya itu. Untuk hanya

menghaturkan terima kasih untuk kulit serigala itu? Untuk

menanyakan lukanya bekas digigit serigala? Ia berdiam di

belakang tenda, seperti Menyembunyikan diri. Tidak berani ia

memanggil-manggil kawannya ini Sampai ia disamperi

anjingnya Supu, yang mencium-cium Hibahnya. Anjing itu

tidak mengasih dengar suara apa-apa.

Di dalam tenda, lilin dipasang terang-terang. Di situ

terdengar suara keras dari Suruke. Kaget Bun Siu, setiap kali

mendengar suara orang, hatinya berdenyutan.

Sebab orang Kazakh itu lagi murka.

“Kulit serigalamu kau kasihkan pada perempuan itu?”

demikian suara si ayah. “Binatang, kecil-kecil kau sudah

mengerti menyerahkan hasil pemburuanmu yang pertama

kepada nona kecintaanmu!”

Bun Siu ingat ceritanya Supu hal kebiasaannya bangsa

Kazakh, bahwa pemuda bangsa itu paling menghargai hasil

pemburuannya yang pertama kali, bahwa itu selalu diberikan

kepada kekasihnya, untuk mengutarakan cintanya. Maka

mukanya menjadi merah sendirinya. Maka terbangunlah

keangkuhannya. Ia, seperti Supu juga, masih terlalu

muda, melainkan samar-samar mereka mengenal asmara.

“Bukankah kau memberikannya kepada itu nona Han yang

tidak diberkahi Tuhan, itu anak hina-dina?” terdengar pula

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

suaranya Suruke. “Kau tidak mau bicara? Baik! Kau lihat, kau

yang tangguh atau cambuk ayahmu!”

Lantas Bun Siu mendengar rangketan beberapa kali, suara

cambuk mengenai tubuh.

Seperti kebanyakan orang Kazakh, demikian Suruke. Ia

percaya cambuk akan menciptakan orang bangsanya yang

gagah. Jadi untuk mendidik anak, tidak dapat kelunakan

dipakai. Dulu kakeknya telah menghajar dia, maka sekarang

dia menghajar anaknya. Itulah pengajaran, itu tidak

melenyapkan kasih sayang orang tua pada anaknya. Terhadap

sahabat, kepalan dan cambuk yang dipakai. Menghadapi

lawan, ialah golok pendek dan pedang panjang.

Hanyalah, mendengar rangketan itu, Bun Siu merasai ialah

yang tersiksa itu…

“Kau masih tidak mau menjawab? Kau masih tidak mau

menjawab? Baik! Aku merasa pasti kau menyerahkan kulit

serigala itu kepada perempuan Han itu! Kau rasai!”

Lalu hujan cambuk, terdengar nyata.

Akhir-akhirnya Supu menangis.

Tak dapat ia menahan sakit hanya dengan mengertak gigi

saja.

“Sudah, ayah, jangan pukul, jangan pukul,” katanya.

“Aduh… aduh…”

“Nah, bilanglah, bukankah kau menyerahkan kulit itu pada

perempuan Han itu? Ibumu mati di tangan penyamun Han!

Kakakmu terbinasa di tangan penyamun Han! Apakah kau

tidak ketahui itu? Orang menyebutnya aku orang kosen nomor

satu dari bangsa Kazakh tetapi isteri dan anakku dibunuh

penyamun bangsa Han! Apakah itu bukannya suatu

kehinaan? Sayang hari itu aku justeru tidak ada di rumah! Aku

menyesal tidak dapat aku cari penyamun itu untuk

membalaskan sakit hatinya ibu dan kakakmu itu!”

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

IV

Cambuknya Suruke bukan lagi dipakai untuk mengajar anak

hanya guna melampiaskan kebenciannya, dia mencambuk

bukan lagi anaknya sendiri hanya musuh, la kata sengit:

“Kenapa kawanan anjing itu bukan menempur aku terangterangan?

Kau bilang, bilanglah! Apakah aku tidak sanggup

melawan beberapa bangsat anjing Han itu?”

Anak yang dibinasakan rombongan Hok Goan Liong ada

anaknya Suruke yang paling disayang, dan isterinya yang

terbinasa itu adalah isteri yang mencintainya semenjak

mereka masih kecil dan biasa bermain-main bersama, sedang

ialah orang Kazakh tergagah, maka itu, bisa dimengerti

kemurkaannya itu.

Bun Siu berduka, la merasa sangat kasihan terhadap Supu.

Tidak dapat ia mendengar tangisan kawannya itu. Dengan

merasa berat, dengan tindakan perlahan, ia berjalan pulang.

Ia menarik keluar kulit serigala dari bawah kasurnya, ia

memandangi itu sekian lama. Dalam kesunyian itu, ia seperti

mendengar samar-samar

tangisannya Supu, meski terpisahnya tenda Supu dan

rumah Kee Loojin ada sekira dua lie. Ia seperti mendengar

juga cambukannya Suruke, si orang tua berewokan yang

romannya bengis itu. la sangat menyukai kulit itu tetapi ia

telah mengambil keputusan untuk mengurbankannya.

***

Besoknya pagi Suruke keluar dari tendanya, kedua matanya

merah. Segera telinganya mendengar nyanyiannya Cherku,

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

yang sembari bernyanyi mengawasi kepadanya dengan kepala

dimiringkan, mukanya tersungging senyuman persahabatan.

Cherku pun seorang Kazakh termasuk jago. Orang tahu dia

pandai sekali membikin jinak kuda dan larinya sangat keras,

hingga orang mengatakannya, di dalam satu lie, tidak ada

kuda pilihan yang dapat menyandak padanya, atau sedikitnya,

dia cuma kalah sejarak Indung, sebab hidungnya yang

mancung…

Sebenarnya di antara Suruke dan Cherku tidak ada

persahabatan erat, bahkan kesan mereka satu dengan lain

tidak baik. Inilah sebab kegagahannya Suruke membuatnya

Cherku iri. Cherku lebih muda sepuluh tahun, akan tetapi

ketika satu kali mereka mengadu golok, pundaknya kena

dihampiri goloknya Suruke. Atas itu ia kata: “Sekarang aku

kalah, tapi lain kali, lagi lima tahun, atau lagi sepuluh tahun,

kita nanti bertanding pula!” Dan Suruke menyahuti: “Lagi dua

puluh tahun, kalau kita bertanding pula, tanganku tak ada

seenteng kali ini!”

Akan tetapi hari ini, sikapnya Cherku tidak bermusuhan.

Hanya kesan buruk dari Suruke belum lenyap, dia balik

mengawasi dengan mata mendelik.

Cherku tertawa dan berkata: “Sahabatku Su, anakmu lihai

matanya!”

“Kau maksudkan Supu?” Suruke tanya. Dia meraba gagang

goloknya, matanya bersinar bengis. Di dalam hatinya ia kata:

“Kau hendak menyindir aku karena anakku telah memberikan

kulit serigala kepada itu perempuan Han?”

Cherku mau menyahuti: “Kalau bukan Supu, mungkinkah

kau mempunyai anak yang lain?” tapi batal, sembari

bersenyum ia menjawab: “Memang Supu! Anak itu baik

romannya, dia pandai bekerja, aku senang dengannya.”

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Seorang tua pastilah senang anaknya dipuji orang tetapi ia

tak akur dengan Cherku maka Suruke kata: “Apakah kau

mengiri? Sayang kau tidak mendapatkan anak laki-laki.”

Cherku tidak gusar, dia bahkan tertawa.

“Anak perempuanku, si Aman juga tidak ada kecelaannya,

kalau tidak, mustahil anakmu penuju kepadanya?” sahutnya.

“Fui, jangan ngaco!” kata Suruke. “Siapa bilang anakku

penuju si Aman?”

Cherku mendekati, untuk menarik tangan orang.

“Mari turut aku, aku memberi kau melihat sesuatu!”

katanya. Suruke heran, ia mengikuti. Sembari jalan, Cherku

kata: “Beberapa hari yang lalu anakmu membunuh seekor

serigala itulah hebat! Bukankah dia masih kecil? Maka kalau

dia sudah besar, tidakkah dia akan mirip seperti ayahnya?

Ayahnya jago, anaknya gagah!”

Suruke berdiam. Ia menduga orang lagi memasang

perangkap. Maka ia mau berhati-hati.

Kira-kira satu lie dua orang ini jalan di padang rumput,

tibalah mereka di tenda Cherku. Segera Suruke melihat

digantungnya sehelai kulit serigala di luar tenda. Segera ia

mengenali kulit serigala yang dibunuh anaknya itu. Ia menjadi

bingung.

“Aku, aku salah…” pikirnya. “Aku menyalahkan si Pu, aku

pun telah menghajarnya, kiranya kulit ini ia menyerahkannya

kepada si Aman, bukan kepada itu wanita Han… Anak celaka,

kenapa dia tidak mau bicara sebenarnya?

Mungkin kulitnya tipis, dia malu bicara? Ah, kalau ibunya

masih ada, ibunya tentu bisa membujuki aku, menasihati aku

jangan memukul dia. Memang anak-anak lebih bisa bicara

dengan ibunya…”

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Mari minum satu cangkir arak!” berkata Cherku sambil ia

menepuk pundak orang, selagi orang ngelamun. “Kau belum

pernah datang ke rumahku.”

Tenda Cherku terawat baik dan bersih, di sekitarnya

digantungi permadani tenunan bulu kambing merah. Seorang

nona yang bertubuh langsing menyuguhkan arak.

“Aman, inilah ayahnya Supu,” kata Cherku tertawa pada si

nona. “Kau takut atau tidak? Lihat berewokannya yang

menakuti!”

Muka si nona menjadi bertambah dadu, tetapi matanya

bersinar. Ia seperti menjawab: “Aku tidak takut…”

Suruke tertawa, ia kata: “Sahabat Cher, orang membilang

kau mempunyai seorang anak yang bagaikan bunga yang bisa

berjalan di padang rumput kita ini, benar-benar, inilah bunga

yang dapat berjalan!”

Setelah seperti saling mendendam belasan tahun, maka

dua orang ini sekarang menjadi sebagai sahabat-sahabat

kekal, keduanya bicara dan minum dengan gembira sekali.

Akhirnya Suruke mabuk keras dan pulang dengan mendekam

di atas kudanya.

Selang dua hari, Cherku mengantarkan dua helai

permadani kulit kambing yang indah, katanya yang besaran

untuk si tua, yang kecilan untuk si muda-artinya, untuk Suruke

dan Supu.

Ketika Supu memeriksa sehelai, ia mendapatkan sulaman

yang merupakan seorang laki-laki yang tubuhnya besar,

dengan sebilah golok panjang, lagi membacok seekor

harimau, sedang seekor harimau lain lari sambil

menggoyang ekor. Di permadani yang lain, sulamannya ialah

halnya seorang bocah menikam mati seekor serigala. Dua-dua

orang itu, lua dan muda, sama-sama beroman gagah.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Bagus!” Suruke memuji kegirangan. “Sulaman yang

indah!”

Di wilayah Hweekiang ada sangat sedikit harimau, tapi

tahun i lu, entah dari mana datangnya, lelah muncul dua ekor

yang menjadi ancaman bencana untuk manusia dan ternak.

Ketika itu Suruke sedang gagahnya. Dengan membawa golok

panjang, ia memasuki gunung, ia cari binatang alas itu, ia

membunuh yang seekor, ia melukai seekor yang lain, yang

kabur ke gunung bersalju. Dan menyulamkan perbuatan

gagah itu di atas permadaninya

Karena Cherku mengantar permadani itu, ketika ia pulang,

ia mabuk arak, ia menggantikan mendekam di atas kudanya,

hingga Suruke menyuruh Supu mengantarkannya pulang.

Di dalam tenda Cherku, Supu melihat kulit serigalanya. Ia

menjadi heran sekali. Sedang begitu Aman, dengan muka

dadu, menghaturkan terima kasih kepadanya. Ia heran tetapi

ia tidak berani menanyakan. Ia bicara sama Aman tanpa

junterungan. Karena ini besoknya, ia lantas pergi ke tempat di

mana ia membunuh serigala. Ia mau cari Lie Bun Siu, untuk

minta keterangan, tetapi hari itu si nona tidak muncul.

Besoknya ia pergi pula, tetapi ia tetap menantikan dengan

sia-sia. Maka di hari ketiga, dengan memberanikan diri, ia

pergi ke rumah Kee Loojin.

Bun Siu membuka pintu, ketika ia melihat anak Kazakh itu,

ia kata: “Sejak sekarang ini tidak dapat aku menemui kau

pula!” Lalu ia menutup pintunya

Supu melongo, ia pulang dengan pikiran ruwet, ia sangat

bingung.

Pemuda ini pulang tanpa ia mengetahui, Bun Siu menangis

di belakang pintunya itu. Si nona senang bergaul dengannya

tetapi dia takut kepada ayahnya yang galak itu. Dia tahu,

kalau mereka bergaul pula, Supu bakal dihajar lagi ayahnya.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Demikian, hari lewat hari, maka kedua bocah itu pun,

dengan lewatnya hari-hari itu, menjadi besar, menjadi

dewasa. Yang satu cantik manis, yang lain tampan dan gagah.

Dan sang burung nilam pun bernyanyi makin merdu, Hanya

sekarang, nyanyiannya jarang sekali, nyanyinya pun di tengah

malam setelah tidak ada orang lainnya, bernyanyi seorang diri

di bukit di mana Supu telah membunuh serigala…

Kalau dulu Bun Siu tidak mengerti apa yang ia biasa

nyanyikan bersama Supu, sekarang ia mengerti berlebihan.

Coba ia masih tidak mengerti, kedukaannya mungkin

berkurang. Sekarang lain, sekarang sering ia tidak tidur

semalaman…

Pada suatu malam di musim semi, seorang diri Bun Siu naik

kuda putihnya pergi ke bukit yang ia kenal itu. Berdiri di atas

bukit, ia memandangi tenda-tenda orang-orang Kazakh itu di

mana orang tengah menyalakan unggun, di mana mereka

itu bergirang bersorak-sorai. Sebab hari itu kebetulan hari

besar mereka, yang mereka rayakan bersama di tepi unggun,

menari-nari dan bernyanyi-nyanyi.

“Pasti dia dan ia hari ini bergirang luar biasa,” Bun Siu kata

di dalam hatinya. Dengan “dia” taklah lain orang kecuali Supu,

dan dengan “ia” ialah si nona yang menjadi “bunga yang

dapat berjalan…”

Tapi terkaannya Bun Siu salah. Ketika itu Supu dan Aman

tidak lagi bergirang hanya hati Supu sedang tegangnya. Dia

tengah bergulat bersama seorang muda lain, yang tubuhnya

jangkung dan kurus. Itulah adu gulat yang terpenting di

harian pesta itu. Siapa yang menang, dia memperoleh tiga

buah hadiah, ialah: seekor kuda pilihan, seekor kerbau gemuk,

serta sehelai permadani indah.

Supu telah menjatuhkan empat lawannya, sekarang ia

lagi menghadapi si jangkung ini, Sangszer. Mereka ada

sahabat-sahabat kekal, tapi sekarang mereka mesti mencari

keputusan. Sangszer juga telah mengalahkan empat lawan

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

lainnya. Pula Sangszer pun mengharap “si bunga yang dapat

berjalan”, yang demikian cantik manis, yang pandai

menenun dan menyulam. Sangszer tahu Supu dan Aman

hidup rukun semenjak masih kecil tetapi ia ingin

mendapatkannya juga di tempat umum ini. Ia percaya, kalau

ia menang, Aman akan menyukainya. Maka selama tiga tahun,

ia rajin berlajar ilmu gulat itu, sedang gurunya ialah Cherku,

ayah si Aman…

Supu sendiri ada murid ayahnya sendiri.

Gulat Kazakh bukan gulat belaka, kepalan pun dapat

dimainkan, juga kaki, untuk menggaet atau merengkas, guna

menyengkelit. Maka satu kali, ketika kepala Sangszer kena

dihajar, dia roboh terguling. Di lain pihak, tempo Supu digaet,

dia roboh juga. Sama-sama mereka bangun pula.

Suruke menyayangi kegagalan anaknya itu, sampai ia

merasakan tangannya dingin.

Cherku menyaksikan adu gulat itu dengan pikiran kacau. Ia

tahu Aman, anaknya, menyukai Supu, Di lain pihak, Sangszer

adalah muridnya yang disayang, ingin ia muridnya itu menang,

supaya ia mendapat muka terang. Kesudahan gulat ini pun

akan membuatnya si pemenang menjadi “orang kosen nomor

satu”. Ia menyukai Supu tetapi ia ingin Sangszer yang

menang…

Para penonton bersorak untuk para jago muda itu. Supu

bertubuh besar dan kuat, tapi Sangszer selain kuat pun lincah.

Jadi sukar untuk menerka, siapa bakal keluar sebagai juara

Ramai suara penonton di kedua pihak: “Supu, lekas,

lekas!…, ..Saszer, bangun, serang pula!” Masing-masing

menganjurkan jagonya. Samar-samar Bun Siu mendengar:

“Supu! Supu!” Ia heran mengapa ia hanya mendengar suara

untuk Supu itu. Maka akhirnya, ia mengajukan kudanya,

mendekati. Ia bersembunyi di belakang sebuah pohon besar.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Sekarang ia melihat Supu dan Sangszer lagi berkutat dan para

penonton ribut dengan sorak-sorai mereka.

Di antara penonton, Bun Siu melihat Aman. Nona itu

tegang hatinya, dia pun sebentar bergirang dan sebentar

berkuatir. Terang dia menyukai Supu.

Mendadak orang bersorak ramai, lalu sirap. Supu dan

Sangszer bergumul di tanah, hingga tubuh mereka tak

tertampak si Nona Lie. Sekian lama orang bersikap tegang. Di

akhirnya riuhlah seruan orang banyak: “Supu! Supu!” Lantas

terlihat Aman menuntun tangannya si juara.

Bun Siu girang berbareng berduka. Ia putar kudanya, untuk

dikasih jalan pulang dengan perlahan-lahan. Tidak ada orang

yang melihatnya, atau memperhatikannya. Ia tidak

menarik tali les, ia membiarkan si kuda putih jalan sendiri. Ia

baru terkejut ketika ia mendapatkan ia berada di ujung

padang rumput, atau di permulaan Gobi, gurun pasir.

“Eh, perlu apa kau bawa aku kemari?” katanya kepada

kudanya. Tentu sekali ia tidak memperoleh jawaban, hanya di

lain pihak ia melihat munculnya dua penunggang kuda, disusul

oleh dua yang lain, yang semuanya membawa golok panjang.

Mereka itu dandan sebagai orang Han. Ia kaget sekali. Ia

lantas ingat pada si penyamun Han.

“Kuda putih! Kuda putih!” begitu ia mendengar beberapa

orang itu berteriak-teriak selekasnya mereka itu melihat

kudanya, lantas mereka kabur mendatangi. Antaranya ada

yang menyerukan: “Berhenti! Berhenti!”

Dalam takutnya, Bun Siu menyerukan kudanya: “Lari!” la

mengeprak kuda itu lari ke jalanan kembali. Tapi ia kaget akan

melihat, sekarang di depannya pun ada beberapa penunggang

kuda lain, begitu pun di lain arah. Ia terpegat di timur, selatan

dan utara. Maka ia kabur ke barat, di mana gurun pasir tak

berujung pangkal…

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Mengenai gurun itu, di antara orang Kazakh ada ceritera

atau dongeng, padang pasir ada memedinya, bahwa siapa

memasuki gurun, dia bakal tak kembali dengan masih hidup,

bahwa sekalipun telah menjadi memedi, si memedi tak akan

dapat keluar lagi dari wilayah tandus itu…

V

Bun Siu pun pernah dengar ceritanya Supu bahwa siapa

memasuki Gobi, dia bakal jalan terputar-putar saja di daerah

pasir itu, sesudah berlari-lari sekian lama, dia bakal menjadi

girang berbareng duka. Girang sebab dia mendapatkan tapak

kaki. Tapi segera dia akan menjadi berduka. Sebab itulah

tapak kakinya sendiri. Katanya, akhirnya orang bakal mati, dan

setelah menjadi setan, dia tidak akan dapat beristirahat. Supu

pernah menambahkan: “Manusia masih beruntung. Dia mati,

dia menjadi setan. Tapi setan, kalau dia mati, dia tetap jadi

setan juga…”

Juga pernah Bun Siu menanya Kee Loojin, apa benar Gobi

demikian menakuti, bahwa orang dapat memasukinya tetapi

tidak bakal keluar pula dari situ. Ditanya begitu, orang tua itu

menunjuk roman kaget dan suram yang menakuti, matanya

mendelong keluar jendela, seperti dia menampak memedi.

Belum pernah Bun Siu melihat orang bersikap demikian,

maka ia tidak mengulangi pertanyaannya itu. Ia mau

percaya, orang tua itu pernah melihat setan…

Sekarang dia kabur di Gobi itu, hatinya takut bukan main.

Toh dia lari terus. Dia lebih takut menghadapi beberapa

pengejarnya itu. Dia ingat kepada kematian ayah dan ibunya,

kebinasaan ibu dan kakaknya Supu. Kalau dia kecandak,

pastilah dia bakal terbinasa di tangan orang-orang jahat itu.

Hampir dia menahan kudanya kapan dia ingat memedi di

gurun pasir itu…

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Satu kali dia menoleh ke belakang, dia tidak melihat lagi

tenda-tendanya si orang-orang Kazakh, tak nampak pula

padang rumput yang hijau. Dia sekarang melihat, dua orang

jauh ketinggalan di belakang, lima lagi tetap menyusul,

mereka itu berseru-seru tidak berhentinya. Dia mendengar

jelas: “Benarlah itu kuda putih! Bekuk dia! Bekuk dia!”

Di saat berbahaya itu, Bun Siu sempat berpikir: “Teranglah

aku tidak akan sanggup membalaskan sakit hati ayah dan

ibuku, maka biarlah aku pancing mereka ke i’iirun, untuk kita

mati bersama! Biarlah, satu jiwaku ditukar dengan lima jiwa

mereka! Laginya, apakah .ulinya hidup di dalam dunia kalau

aku tetap sebatang kara begini?”

Air matanya nona ini mengembeng, lalu mengucur turun,

tapi tekadnya telah bulat. Maka ia melarikan terus kudanya,

terus menuju ke arah barat, untuk tiba di tempat ada

memedi…

Kelima orang itu benar-benar penyamun-penyamun yang

menyerbu rombongannya Suruke. Merekalah lima orangnya

Hok man Liong dan Tan Tat Hian. Mereka pulang habis

membereskan Lie Sam dan isteri dan sia-sia belaka mencari

Bun Siu. Peta dari istana rahasia Kobu membuatnya mereka

penasaran, maka mereka ingin sekali mendapatkan peta itu.

Katanya di dalam istana itu ada tersimpan banyak sekali

mustika atau barang permata. Demikian mereka mencari tak

hentinya. Untuk hidupnya, di sana ada kerbau, kambing dan

untanya penduduk gurun, yang mereka dapat menjadikan

kurban mereka. Untuk itu cukup asal mereka menghunus

senjata mereka, membunuh, membakar, merampas, bahkan

memperkosa…

Kuda putih sudah tua, tenaganya telah berkurang, tetapi

dia seperti mengerti majikannya terancam bahaya, dia lari

keras, maka itu mendekati fajar, dia membikin lima

pengejarnya jauh ketinggalan di belakang, mereka itu tidak

nampak lagi, suara mereka pun tak terdengar pula. Hanya Bun

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Siu tahu, mereka bisa mengikuti tapak kaki, mereka nanti

menyusul pula, dari itu, ia lari terus. Sampai lagi kira-kira

sepuluh lie, sekonyong-konyong kuda itu meringkik, lantas

dia lari luar biasa keras, tetap menuju ke barat. Dia seperti

dapat mencium bau rumput dan air…

Tidak lama, benarlah ilham bawaan kuda itu. Di arah barat

laut lantas terlihat gunung dengan pepohonannya yang lebat.

Tapi Bun Siu terkejut. Ia ingat: “Apa inikah gunung memedi?

Kenapa di gurun ada tempat seperti ini? Belum pernah aku

mendengarnya… Tapi biarlah, gunung memedi lebih baik, ke

sini aku pancing kawanan penyamun kejam itu!”

Keras larinya kuda putih itu, segera dia tiba di depan

gunung, terus dia masuk ke dalam selat. Dia hendak mencari

air, untuk melenyapkan dahaganya. Di situ ada mengalir

sebuah kali kecil. Bun Siu turut lompat turun, menghampirkan

air, untuk menyaup air dengan kedua tangannya, guna

mencuci muka menghilangkan debu, setelah mana ia minum

beberapa ceglukan. Ia merasa puas sekali. Air itu rasanya

manis dan menyegarkan mulutnya.

Sekonyong-konyong ia menjadi terkejut. Mendadak saja ia

merasakan sesuatu yang berat menekan punggungnya.

Segera kupingnya pun mendengar pertanyaan dengan suara

parau: “Kau siapa? Mau apa kau datang ke sini?”

Itulah pertanyaan dalam bahasa Tionghoa.

Bun Siu hendak memutar tubuhnya ketika ia mendengar

pula suara parau itu: “Inilah ujung tongkat di arah jalan

darahmu sinto hiat! Asal sedikit saja kau mengerahkan

tenagamu, jalan darahmu bakal terluka hingga kau bisa

terbinasa!”

Bun Siu benar-benar merasai ujung tongkat terasa lebih

berat, hingga ia menjadi sesemutan. Ia pernah belajar silat

sama ayah ibunya tetapi tentang tiamhiat hoat, ilmu menotok

jalan darah atau otot-otot yang penting, ia belum tahu sama

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

sekali, meski begitu, ia tidak berani bergerak. Ia hanya pikir:

“Orang ini dapat berbicara, dia pasti bukannya memedi. Dia

juga menanya aku apa perlunya aku datang kemari,

pertanyaannya itu membuktikan dia mestinya penduduk sini,

dia bukannya penyamun. Hanya, kenapa dia mendekati aku

tanpa aku mengetahui?”

Lagi pertanyaan: “Aku tanya kau! Mengapa kau tidak

menjawab?”

“Ada orang jahat mengejar aku, aku lari sampai di sini,”

akhirnya si nona menyahut.

“Orang jahat bagaimana?” tanya pula suara itu.

“Sejumlah penyamun.” “Penyamun apa itu? Apakah nama

mereka?”

“Aku tidak tahu nama mereka. Mulanya mereka piauwsu,

sampai di wilayah Hwcekiang, mereka lantas menjadi

penyamun.”

“Kau sendiri, apakah namamu? Siapa ayahmu? Siapakah

gurumu?” “Aku Lie Bun Siu. Ayahku Pekma Lie Sam dan ibuku

Kimgin Siauwkiam Sam Niocu. Aku tidak mempunyai guru.”

“Oh!” kata orang itu. “Kiranya Kimgin Siauwkiam Sam Niocu

telah menikah sama Pekma Lie Sam! Mana dia ayah dan

ibumu itu?”

“Ayah dan ibu telah dibunuh kawanan penyamun itu dan

sekarang mereka hendak membunuh aku juga…” “Ah! Kau

bangunlah!” Bun Siu menurut, ia berdiri. “Kau putar

tubuhmu!” Bun Siu menurut, ia memutar tubuh dengan

perlahan.

Orang itu mengangkat tongkatnya, hanya sekarang ia

mengancam jalan darah khiesiahiat di kerongkongan.

Bun Siu heran sekali. Ia menyangka orang beroman bengis

dan menakuti. Ketika ia sudah berpaling, maka ia menampak

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

seorang usia lima puluh tahun kira-kira, dandanannya sebagai

pelajar, tubuhnya sangat kurus, sepasang alisnya mengkerut.

Ia mendapatkan seorang yang romannya sangat berduka.

“Empee, apakah she-mu?” ia balik menanya. “Tempat ini

tempat apakah?”

Orang itu berdiri tercengang. Ia rupanya tidak menyangka

sekali akan berhadapan sama seorang anak dara demikian

cantik.

“Aku tidak mempunyai nama. Aku juga tidak tahu tempat

ini apa namanya,” sahutnya sejenak kemudian.

Justeru terdengar suara samar-samar dari tindakan kaki

kuda. Bun Siu kaget sekali.

“Penyamun datang!” serunya, takut. “Empee, lekas

sembunyi!”

“Kenapa kau menyuruh aku bersembunyi?” si empee tanya.

“Kawanan penyamun itu sangat telengas, melihat kau, dia

akan membunuhmu!”

Orang kurus kering itu mengawasi tajam.

“Kita tidak mengenal satu dengan lain, mengapa kau

memperhatikan keselamatanku?”

Ketika itu, suara tindakan kuda terdengar semakin nyata.

Bun Siu takut sekali, maka tanpa mempedulikan bahwa ia

lagi diancam, ia memegang tongkat orang itu, untuk ditarik,

buat diajak pergi. Ia pun berkata mendesak: “Empee, mari

lekas! Kita naik kuda bersama! Ayal sedikit, kita bakal

terlambat…”

Orang itu menarik tongkatnya, untuk melepaskannya dari

cekalan, tetapi ia agaknya bertenaga terlalu kecil, ia tidak

berhasil.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Apakah kau sakit, empee?” tanya Bun Siu heran. “Mari aku

bantu kau naik atas kudaku…”

Nona ini benar-benar bekerja. Dengan kedua tangannya

ia mengangkat tubuh si kurus kering itu. la mendapatkan,

walaupun orang laki-laki, tubuh orang itu kalah berat dengan

tubuhnya. Di atas kuda, orang itu masih terhuyung, duduknya

tak tegak. Dia seperti lagi menderita sakit berat.

Bun Siu naik belakangan, ia duduk di belakang orang, maka

itu, ia memegang kendali sambil membantui menjagai tubuh si

kurus itu untuk mencegah tergulingnya. Ia mengaburkan

kudanya ke sebelah dalam gunung.

Karena mesti berbicara sama si empee, Bun Siu telah

mensia-siakan tempo. Ia lantas mendengar suara nyaring dan

bengis dari ke lima penyamun, yang telah memasuki selat.

Mendadak si empee menoleh.

“Kau datang bersama-sama mereka itu?” ia menegur.

“Benarkah? Kamu telah mengatur tipu daya, buat

memperdayakan aku?”

Bun Siu terkejut, apapula akan menampak roman orang

mendadak menjadi bengis, sinar matanya sangat tajam.

“Bukan, bukan!…” ia menyangkal. “Belum pernah aku kenal

kau, buat apa aku memperdayakanmu?”

“Kau toh hendak memperdayakan aku supaya aku ajak kau

ke Istana Rahasia Kobu?” katanya pula tetap bengis. Hanya ia

menghentikan kata-katanya dengan tiba-tiba, agaknya ia telah

menyesal mengatakan demikian.

Bun Siu heran. Tentang istana rahasia itu, beberapa kali ia

pernah mendengar dari mulut ayah dan ibunya semenjak ia

turut mereka menyingkir sampai di wilayah Hweekiang, hanya

ia tidak mengerti apa-apa. Sampai sekarang sudah belasan

tahun atau ia mendengarnya pula, hingga ia lupa sebenarnya

ia pernah mendengar dari siapa.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Istana Rahasia Kobu?” tanyanya “Apakah itu?”

Roman si kurus tak tegang lagi seperti tadi, ia melihat si

nona seperti tidak lagi mendusta.

“Benar-benarkah kau tidak tahu tentang istana rahasia itu?”

ia menegasi.

“Tidak,” menyahut Bun Siu, menggeleng kepala. “Ah, ya…”

“Ya apakah?” membentak si kurus kering cepat.

“Aku ingat sekarang,” menyahut si nona, polos. “Tempo

ayah dan ibu mulai memasuki wilayah Hweekiang, aku

mendengar mereka menyebut-nyebut istana rahasia itu.

Apakah itu suatu istana yang indah?”

“Apa lagi ayah dan ibumu bilang?” tanya si pelajar, tetap

bengis. “Aku larang kau mendusta!”

“Sebenarnya ingin aku mengingat lebih banyak kata-kata

ibuku,” menyahut Bun Siu berduka. “Menambah satu katakata

saja, alangkah baiknya. Sayang aku tidak mendapat

dengar pembicaraan mereka terlebih jauh. Empee, memang

sering aku pikirkan, bahkan aku mengharap-harap ayah dan

ibu dapat hidup lebih lama satu hari saja, supaya dapat aku

melihat mereka lagi. Asal ayah dan ibu masih hidup, biarnya

aku dirangket setiap hari, aku senang…”

Pelajar itu nampak menjadi sedikit sabar, la mengeluarkan

suara: “Ah …” perlahan.

“Kau sudah menikah atau belum?” mendadak ia bertanya,

suaranya keras.

Mukanya si nona menjadi merah. Tidak dapat ia menjawab,

maka ia menggeleng kepala.

“Selama beberapa tahun, dengan siapa saja kau ada

bersama?”

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Dengan Kee Yaya.” “Kee Yaya? Berapa umurnya dia?

Bagaimana macamnya?”

Ketika itu, Bun Siu justeru membentak kudanya: “Lekas

lari! Penyamun datang!” Ia pun pikir, lusa melayani

pembicaraan yang ia anggapnya tak keruan nmterungannya

itu? Meski ia beipikir demikian, akhirnya ia toh menyahuti

juga.

“Kee Yaya mungkin telah berusia delapan puluh tahun. Dia

bongkok dan mukanya keriputan. Ia perlakukan aku baik

sekali.”

“Di Hweekiang ini, kau kenal siapa-siapa lagi?” orang itu

menanya pula. “Di rumah Kee Yaya itu masih ada siapa?”

“Di rumah Kee Yaya tidak ada lain orang lagi, seorang pun

tidak. Jangan kata orang Han, orang Kazakh pun tidak ada

yang aku kenal.” Ia tidak mau menyebutkan Supu dan Aman,

ia anggap itu tidak ada perlunya.

Selagi mereka bicara, lima penyamun pun telah mendatangi

semakin dekat. Juga mereka mendengar sar-sernya suara

anak panah, yang menyambar ke samping mereka kiri dan

kanan. Itulah panah gertakan belaka, sebab kawanan

penyamun itu tidak memikir untuk menangkap mayat.

“Kau pegang jarumku ini,” berkata si pelajar tiba-tiba.

“Hati-hati jangan kau membikin dirimu tertusuk!”

Bun Siu melihat orang mencekal sebatang jarum, yang

dijepit dengan dua jari tangannya. Ia menyambuti tanpa ia

mengerti maksud orang.

Si pelajar berkata pula: “Ujung jarum itu ada racunnya

yang lihai, begitu menusuk orang dan mengeluarkan darah,

racunnya akan bekerja menutup tenggorokan. Kalau

penyamun itu menangkap kau, kau tusuk dia, biarnya

ketusuknya perlahan, dia bakal segera terbinasa.”

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Si nona terkejut, sedang barusan selagi menyambuti, ia

kurang perhatian, la pun merasa, kalau si pelajar tidak senang

padanya, ia bisa lantas mati ditusuk dia. Ia lantas berpikir:

“Aku ada bagian mati, baik aku mati bersama kelima

penyamun itu, biar empee ini kabur seorang diri…”

Maka mendadak ia berlompat turun dari belakang kuda,

sembari lompat ia menepuk kempolan kudanya seraya

berseru: “Kuda putih, kuda putih! Lekas kau ajak empee

menyingkirkan diri!”

Si pelajar tercengang. Ia tidak menyangka nona ini

demikian murah hati.

Ketika itu kelima penyamun telah tiba dengan segera dan

Bun Siu lantas dikurung. Mereka telah mendapati seorang

nona yang muda remaja dan cantik, tentu sekali mereka tidak

memperdulikan pula si pelajar tua bangkotan…

Berlima mereka lompat turun dari kuda mereka masingmasing.

Mereka mengurung si nona sambil mengasih lihat

senyum menyeringai.

Hatinya Bun Siu berdenyutan. la berkuatir dan bersangsi. Ia

menyangsikan keterangannya si pelajar perihal

kemustajaban jarumnya itu. Bagaimana dengan sebatang

jarum itu ia dapat memberikan perlawanannya kepada lima

orang jahat itu. Umpama kata satu terbinasa, masih ada

empat lainnya. Ia menjadi menyesal telah tidak membekal

pisau dengan mana ia dapat membunuh diri, untuk menolong

diri dari penghinaan.

“Sungguh cantik!” kata satu berandal. “Sungguh manis!”

Sedang dua ant. ranya berlompat maju.

Satu berandal, yang berada di sebelah kiri, mendadak

meninju orang yang di dekatnya hingga orang itu terguling.

Dia menegur: “Kau berani berebutan denganku?” Tanpa

menanti jawaban, ia menubruk Bun Siu, untuk dirangkul.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Nona Lie kaget bukan main, ia melawan. Dengan jarumnya

la menusuk lengan orang seraya berseru: “Penyamun jahat,

lepaskan aku! Lepaskan aku!”

Orang itu, yang tubuhnya besar, berdiri melengak, terus dia

mundur dua tindak, mulutnya dipentang lebar-lebar, matanya

terbuka mengawasi si nona.

Penyamun yang roboh itu mengulur tangannya, akan

menyambar kaki si nona, untuk ditarik jatuh.

Bun Siu menggunai tangan kirinya, guna melawan, sedang

dengan tangan kanannya, ia menusuk dada penyamun yang

ganas itu. Si penyamun tengah tertawa lebar sebab ia sudah

memegang erat-erat si nona ketika dadanya tertusuk, lantas ia

berhenti tertawa, mulutnya tinggal celangap, dengan

membuka mulut lebar itu dan mata mendelong, ia berdiri diam

saja.

Bun Siu lantas merayap bangun, untuk lari ke arah seekor

kuda, untuk segera lompat naik ke punggungnya, terus ia

melarikannya, keras, ke arah gunung.

Ketiga berandal lainnya berdiri tercengang. Mereka

menyangka si nona telah menotok kedua kawannya itu. Kalau

si nona demikian lihai, mana mereka berani maju mendekati?

Dari itu mereka membiarkan si nona kabur, mereka sendiri

menghampirkan kedua kawan itu, niatnya untuk dibawa

kepada Hok Goan Liong, pemimpin mereka, untuk ditolongi.

Hanya ketika tubuh dua orang itu diraba, ketiga kawan itu

kaget tidak terkira. Tubuh mereka itu sudah lantas mulai

dingin dan napasnya telah berhenti berjalan…

Salah satu penyamun, seorang she Song, memberanikan

diri. Ia membuka baju seorang kawannya, lalu kawan yang

kedua, untuk diperiksa. Ia mendapatkan titik hitam di masingmasing

lengan dan dada mereka itu, pada itu ada liang kecil

sebesar jarum. Maka sadarlah dia. Terus dia kata nyaring:

“Bocah itu mempunyai jarum beracun!”

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Jangan takut!” kata kawannya, si orang she Coan. “Kita

jangan dekati dia, dari jauh-jauh kita menghajarnya dengan

senjata rahasia. Mari kita kejar dia!”

“Mari kita kejar!” berseru kawan yang ketiga.

Bertiga mereka lompat naik atas kuda mereka, dengan

meninggalkan mayat kedua kawan itu, mereka kabur

mengejar Bun Siu.

Nona Lie kabur dengan hatinya girang, heran dan kagum.

Sekarang ia membuktikan lihainya jarum si pelajar. Tentu

saja, ia menjadi berani. Ia telah memikir untuk melawan

musuh-musuhnya. Ia hanya berkuatir orang nanti tidak

memberikan ketika ia menusuk mereka itu satu demi satu…

“Ke sini!” mendadak ia mendengar selagi kudanya lari.

Suara itu datang dari sebelah kiri. Itulah suara si pelajar

tua.

Karena mengenali suara itu, Bun Siu menghampirkan.

Dengan lantas ia lompat turun dari kudanya. Suara itu

datangnya dari sebuah gua kecil di pinggiran sebelah kiri itu.

“Bagaimana?” menanya si pelajar, yang berdiri di mulut

gua. “Aku… aku telah menusuk dua penyamun…” sahut si

nona gugup.

“Bagus!” kata si pelajar. “Mari masuk! Kita sembunyi di

sini!”

Tanpa bersangsi, Bun Siu mengikut masuk. Gua itu dalam,

makin dalam makin sempit, sampai hanya muat sebuah tubuh

di mana orang mesti jalan merayap.

Sesudah jalan terus sekira beberapa puluh tombak,

mendadak terlihat cahaya terang di hadapan mereka berdua.

Nyata itulah tempat terbuka, yang lebar, yang dapat memuat

kira-kira dua ratus orang.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Kita berjaga di mulut terowongan, tiga penjahat itu

tentulah tidak berani menyerbu masuk,” berkata si pelajar.

“Dengan begitu, kita juga sukar keluar dari sini,” kata Bun

Siu, masgul. “Apakah ada lain jalan keluar?”

“Ada jalan tetapi tidak terus,” sahut si pelajar.

Bun Siu berdiam, hatinya berdebaran. la membayangi

bahaya yang tadi mengancamnya.

“Empee,” katanya. “Dua penjahat itu kena aku tusuk

dengan jarum, lantas mereka tidak dapat bergerak. Apakah

mereka itu mati?”

“Mana ada orang yang dapat hidup karena tusukan

jarumku?” menyahut pelajar itu, romannya jumawa.

Bun Siu mengulur tangannya. Ia mengembalikan jarum

orang.

Si empee telah mengulur juga tangannya ketika mendadak

ia menariknya pulang.

“Kau letaki di tanah!” katanya.

Si nona menurut.

“Kau mundur tiga tindak,” katanya pula.

Bun Siu heran tetapi ia mundur.

Pelajar itu menjemput jarumnya, untuk dimasuki ke dalam

satu bungbung kecil.

Baru sekarang Bun Siu mengerti. Si empee mencurigai

padanya. Tapi ia diam saja.

“Kita tidak mengenal satu pada lain, kenapa tadi kau

menyerahkan kudamu padaku, supaya aku dapat

menyingkirkan diri?” si pelajar tanya.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Aku juga tidak tahu,” menyahut si nona bersenyum. “Aku

lihat kau lagi sakit, aku tidak tega kau terbinasa di tangan

orang-orang jahat itu…”

Tubuh orang itu limbung.

“Mengapa kau tahu aku… a… aku lagi…?” katanya

tertahan. Tiba-tiba jidatnya memperlihatkan pelbagai ototnya,

mukanya meringis, tanda bahwa ia lagi menahan rasa nyeri

yang hebat. Keringat pun lantas turun berketel-ketel dari

jidatnya itu. Tidak lama ia mempertahankan diri, mendadak ia

berseru, terus ia roboh bergulingan. Sekarang ia merintihrintih.

Bun Siu kaget hingga ia menjadi bingung sekali. Ia lantas

melihat tubuh orang melengkung, tangan dan kakinya datang

dekat satu pada lain.

“Apakah punggungmu sakit?” si nona tanya. Ia lantas

menumbuk perlahan-lahan punggung si pelajar itu, kemudian

ia menepuk-nepuk sambungan lengan dan kakinya.

Selang sedikit lama, si pelajar nampak rada ringanan. Ia

mengangguk kepada si nona, untuk menyatakan syukurnya.

Lagi sekian lama, barulah ia dapat bangun berdiri. Terang

telah lenyap penderitaannya barusan.

“Tahukah kau, aku ini siapa?” kemudian ia tanya.

“Aku tidak tahu,” menyahut si nona, menggeleng kepala.

“Aku she Hoa, namaku Hui,” si empee memperkenalkan

diri. “Akulah yang orang kangouw menyebutnya Itcie Cin

Thianlam.”

“Oh, Empee Hoa,” berkata si nona.

“Apakah kau belum pernah mendengar namaku?” Hoa Hui

tanya, agaknya ia kecewa.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Tentu sekali Bun Siu tidak lahu yang Hoa Hui bergelar Itcie

Cin Thianlam, si Jeriji Menggetarkan Langit Selatan, atau

jelasnya, jago Selatan, telah menggoncangkan selatan dan

utara Sungai Besar, dan namanya itu diketahui oleh dunia

Rimba Persilatan.

“Ayah dan ibuku pasti mengetahui nama empee,” Bun Siu

menambahkan. “Aku tiba di Hweekiang dalam usia delapan

tahun, apa juga aku tidak mengerti…”

“Itu benar,” kata Hoa Hui. Dari romannya, nampak ia tak

kecewa seperti tadi. “Kau…”

Baru ia berkata demikian, dari luar gua terdengar suara:

“Pasti dia sembunyi di dalam gua ini! Hati-hati untuk jarumnya

yang berbisa!…” Lantas terdengar tindakan kaki berlari-lari

dari tiga orang.

Hoa Hui berhenti bicara, ia mengeluarkan jarumnya tadi,

yang ia terus pasang di ujung tongkatnya, kemudian sembari

menyerahkan tongkat itu pada Bun Siu, ia menunjuk ke

samping mulut gua sembari berkata perlahan: “Kalau sebentar

mereka masuk, kau tikam punggungnya. Jangan terburu

napsu hingga kau kena menikam dadanya.”

Si nona berdiam, karena hatinya berpikir: “Mulut jalanan

begini sempit, bukankah terlebih baik akan menikam

dadanya?”

Hoa Hui rupanya dapat menduga kesangsian orang, ia kata

bengis: “Hidup atau mati kita adalah di sekejap ini, maka

beranikah kau tidak mendengar titahku?”

Hampir berbareng sama suaranya jago Selatan ini, terlihat

berkelebatannya golok, suatu tanda pihak penyamun bersiap

sedia menjaga diri dari serangan gelap. Menyusul itu, sesosok

tubuh nampak merayap masuk. Dialah si penjahat she In.

Bun Siu lari bersembunyi di samping mulut gua, ia bersiap

tanpa berani berkutik.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Lantas terdengar suara dingin dari Hoa Hui: “Kau lihat di

tanganku, aku mencekal barang apa?” Tangan itu pun

dikibaskan.

Penjahat she In itu mengawasi ke arah Hoa Hui, goloknya

disiapkan terus, la maju dengan berhati-hati.

Bun Siu menggunai saatnya yang baik, ia menusuk

punggung penjahat itu. Ia berlaku hati-hati, dan ia berhasil

menusuknya, perlahan tetapi tepat.

Penjahat itu merasakan punggungnya tertusuk seperti

diantup tawon, dia kaget dan merasa sakit, dia berteriak.

Cuma sekali, lantas dia berdiam, tubuhnya kejang.

Di belakang penjahat she In ini mengikut si penjahat she

Coan. la kaget bukan main. Ia menduga Hoa Hui menyerang

dengan jarum beracun. Tanpa memutar tubuh lagi, ia

merayap mundur.

Menyaksikan itu, Hoa Hui menghela napas.

“Jikalau ilmu silatku tidak ludas, baru lima penjahat

semacam mereka ini tidak ada artinya sama sekali…” katanya

menyesal. “Hari ini aku menang cuma sebab aku mempunyai

kedudukan yang baik.”

Bun Siu heran. Bukankah orang jago Selatan, yang

tangannya lihai? Kenapa empee ini menyingkir dari lima

penjahat itu dan sekarang bekerja sembunyi tangan?

“Empee Hoa,” katanya, “karena kau lagi sakit, kau tidak

dapat bersilat. Benarkah?”

“Bukan, bukan,” menyahut orang yang ditanya. “Yang

benar ialah aku telah mengangkat sumpah berat, kecuali di

saat mati atau hidup, aku tidak dapat sembarang menggunai

ilmu silatku…”

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Bun Siu heran sekali. Tadi empee mengatakan ilmu silatnya

ludas, sekarang dia menyebut-nyebut sumpah berat. Karena

orang sungkan bicara, ia tidak mau menanyakan pula.

Hoa Hui rupanya merasa keterangannya bertentangan, ia

menyimpanginya. Katanya: “Kau tahu kenapa aku menyuruh

kau menikam punggungnya si penjahat? Selagi dia masuk, dia

mengutamakan perhatiannya ke depan. Kau tidak mengerti

ilmu silat, dengan menyerang dari depan, kau tidak bakal

memperoleh hasil. Maka aku sengaja menarik perhatiannya

itu, supaya kau bisa menikamnya dengan berhasil.”

“Bagus akal empee!” memuji si nona mengangguk.

Hoa Hui tidak membilang apa-apa, hanya dari sakunya ia

mengeluarkan sebungkus manisan semangka kering, yang

mana ia angsurkan kepada si nona.

“Kau daharlah dulu,” katanya. “Dua penjahat itu tidak nanti

berani lantas masuk pula, akan tetapi kita juga tidak bisa

lantas keluar dari sini. Biarlah aku memikirkan akal untuk

membinasakan mereka dua-duanya. Kalau mereka terbunuh

cuma satu, yang lainnya dapat pergi memberi kabar pada

kawan-kawannya. Jikalau mereka datang dalam jumlah besar,

itulah berbahaya.”

Bun Siu menganggap orang bicara tepat, karena itu, ia

menurut saja. Ia makan semangkanya. Habis itu, ia

beristirahat sambil menyender di batu yang seperti tembok.

Berselang dua jam, Hoa Hui dapat mencium bau barang

hangus, lantas dia batuk-batuk.

“Celaka!” ia berseru, kaget. “Penjahat menggunai api untuk

mempuput kita, agar kita mati karena asap. Lekas tutup mulut

terowongan!”

Bun Siu mengerti, ia menginsafi bahaya, maka ia lantas

bekerja. Ia mengambil batu dan pasir, guna menyumbat mulut

terowongan itu. Karena mulut terowongan kecil, tidak lama

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

gangguan asap berkurang. Pula, karena lebarnya tempat di

mana mereka berada, begitu masuk, asap lantas buyar. Itulah

menandakan, gua itu mempunyai lain jalan keluar.

Dengan begitu, sang tempo berlalu tanpa kejadian sesuatu.

Bun Siu melihat sinar matahari dari bagian belakang gua, ia

menduga itu waktu sudah tengah hari.

Tiba-tiba Nona Lie menjadi kaget. Tidak keruan-keruan,

Hoa Hui menjerit sendirinya, terus tubuhnya roboh, kaki

tangannya digerak-geraki kalang-kabutan. Dalam kagetnya, ia

ingat untuk menolongi. Maka ia

menghampirkan, untuk mengurut-urut dan menepuk-nepuk

pula seperti yang pertama kali.

Lewat beberapa saat, penderitaan Hoa Hui menjadi

kurangan.

“Nona…” katanya, “kali ini mungkin aku tidak dapat

bertahan lagi…”

“Jangan memikir yang tidak-tidak, empee,” Bun Siu

menghibur. “Kita bertemu sama orang jahat, empee jadi

menggunai tenaga terlalu besar. Baik empee beristirahat,

sebentar kesehatanmu akan pulih.”

“Tidak, tidak bisa…” kata Hoa Hui. “Biar aku omong terusterang.

Sebenarnya jalan darah punggungku telah terkena…

telah terkena jarum berbisa!…” Bun Siu kaget. “Ah, terkena

jarum berbisa?” ia mengulangi. “Kapankah terkenanya?

Apakah tadi?”

“Bukan,” menjawab jago Selatan itu. “Aku terkena pada

dua puluh tahun dulu…”

Kembali Bun Siu kaget, sekarang saking heran.

“Adakah itu jarum beracun yang selihai ini?” ia tanya.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Benar. Hanyalah karena tenaga dalamku mahir,

bekerjanya racun menjadi perlahan sekali. Aku pun telah

makan obat untuk melawannya, hingga aku dapat hidup

sampai hari ini. Hanya kali ini, aku tidak dapat bertahan terus.

Karena di tubuhku telah nancap jarum berbisa itu, maka

selama dua puluh tahun, setiap tengah hari aku mesti

menderita kesakitan hebat seperti ini. Kalau tahu begini, lebih

baik aku tidak makan obat pemunahnya… Apakah gunanya

menahan sakit sampai dua puluh tahun?”

Mendengar itu, Bun Siu pun ingat suatu hal. Coba pada

sepuluh tahun yang lampau ia pun turut ayah dan ibunya

mati, tentulah tak usah ia menderita sekian lama. Ya, apakah

faedahnya hidupnya bersengsara ini?

Hoa Hui menggertak gigi, melawan rasa nyerinya itu.

“Empee,” kata Bun Siu, “apa tidak baik kau cabut saja

jarum di tubuhmu itu, mungkin kau tidak usah menderita lebih

lama pula?”

“Ngaco!” mendadak si empee membentak. “Bukankah siapa

pun dapat mengatakannya demikian? Tapi aku berada

sebatang kara di gunung ini, siapakah yang dapat menolongi

aku mencabutnya? Lagi pula, siapa yang datang kemari, dia

tidak mengandung maksud baik! Hm!”

Bun Siu melengak, ia heran bukan main. Tanyanya dalam

hatinya: “Kenapa dia tidak mau pergi mencari pertolongan

tabib? Mengapa ia tinggal bersendirian di gunung belukar dan

sunyi ini sampai sepuluh tahun? Apakah maksudnya? Mengapa

untuk memakai obat dia mesti main sembunyi-sembunyi?”

Biarnya orang mencurigai dia, nona ini tetap merasa

berkasihan.

“Empee,” katanya pula, “mari kasih aku mencoba. Kau

jangan takut, aku tidak nanti mencelakai kau.”

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Hoa Hui mengawasi, keningnya mengkerut. Ia agaknya

berpikir banyak tetapi tetap ia tidak dapat mengambil

keputusan.

Bun Siu mencabut jarum beracun dari ujung tongkat, untuk

dipulangi.

“Mari kasih aku melihat luka di punggungmu itu,” katanya

pula. “Jikalau aku mengandung maksud jahat, kau tusuklah

aku dengan jarummu ini!”

Hoa Hui mengawasi tajam. “Baiklah!” akhirnya ia kata. Dan

ia lantas membuka bajunya, untuk memperlihatkan

punggungnya.

Mengawasi punggung orang itu, Bun Siu mengeluarkan

seruan perlahan, la menampak banyak sekali titik hitam, tanda

luka. Entah berapa ratus jumlahnya titik itu.

Hoa Hui rupanya dapat menduga apa yang si nona pikir, ia

kata: “Aku telah menggunai segala macam daya, aku tetap

tidak dapat mencabut semua jarum itu.”

Lukanya Itcie Cin Thianlam ini disebabkan kecuali jarum

juga bekas terkena batu tajam, bekas digaruk. Bun Siu tidak

mengenali, yang mana ada jarumnya yang berbisa. Ia ngeri,

terharu dan bingung.

“Sebenarnya di mana jarum itu nancapnya?” akhirnya ia

tanya.

“Semuanya tiga batang,” Hoa Hui menjawab. “Yang satu

dijalan darah pekhu hiat, satu lagi di jalan darah ciesit hiat,

dan yang ketiga ialah di jalan darah ceyang hiat…”

Sembari berkata begitu, ia mengusap ke punggungnya,

untuk menjelaskan ketiga jalan darah itu. Benar-benar sulit

untuk mengetahui bekas tusukan jarum itu. Bun Siu terkejut.

“Semuanya tiga batang?” katanya. “Empee bilang satu…”

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Kembali Hoa Hui gusar, ia membentak: “Mulanya kau tidak

menyebut hendak mencabut jarum itu! Buat apa aku omong

terus terang padamu?”

Bun Siu mengerti kenapa orang mendusta, tiga batang

dikatakan satu. Teranglah ia telah dicurigai keras sekali.

Rupanya dia terkena tiga batang, karenanya kepandaian

silatnya ludas, lalu dia membohong bersumpah tak sudi

sembarangan menggunai ilmu silatnya. Ia tidak suka cara

orang ini tetapi ia berkasihan, ingin ia memberikan

pertolongannya. Maka ia tidak memperdulikan sikap kasar dan

aneh itu. Ia sekarang memikirkan daya untuk mencabut ketiga

batang jarum itu.

“Apakah kau telah dapat melihatnya?” Hoa Hui tanya.

“Aku tidak melihat gagangnya jarum, empee. Bagaimana

itu harus dicabutnya?”

“Seharusnya digunai senjata tajam memotong dagingnya,

baru jarum itu dapat dilihat. Jarum itu telah masuk beberapa

dim, memang sukar untuk melihatnya…”

Kata-kata yang belakangan dikeluarkan dengan sedikit

gemetar.

“Sayang aku tidak punya pisau kecil,” kata si nona.

“Aku juga tidak punya… Eh, itu golok panjang!” ia

menunjuk ke tanah. “Kau pakai itu saja!”

Golok itu tajam dan mengkilap, terletak melintang di

samping tubuhnya si penjahat she In. Si penyamun sudah

mati, goloknya masih ada, golok itu mendatangkan rasa jeri.

Bun Siu pun bersangsi untuk memakai golok itu.

Hoa Hui mengawasi, ia bisa menerka kesangsian si nona,

lalu ia kata perlahan dan sabar: “Nona Lie, asal kau menolongi

aku mencabut semua jarum itu, akan aku menghadiahkan kau

banyak barang permata. Tidak nanti aku memperdayakan kau.

Benar-benar aku mempunyai banyak sekali permata!”

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Aku tidak menghendaki barang permata, aku pun tidak

ingin ucapan terima kasihmu,” menyahut Bun Siu. “Asal kau

tidak merasa sakit, itu sudah cukup untukku.”

“Baiklah kalau begitu!” kata Hoa Hui. “Sekarang kau boleh

mulai!”

Bun Siu mengambil golok itu.

“Empee,” katanya, “aku akan perbuat apa yang aku bisa,

harap kau menahan sakit.”

Lantas nona ini memotong-motong bajunya si penyamun

she In, untuk membuat juiran-juiran, guna nanti dipakai

menepas darah dan membalut, setelah itu, lebih dulu ia

memperhatikan jalan darah pekhu hiat, lalu dia mulai bekerja.

Ketika kulit dan daging Hoa Hui dipotong, darahnya lantas

mengalir keluar.

Hoa Hui tidak kesakitan, mengeluh pun tidak.

“Sudah kelihatan?” bahkan dia menanya.

Bun Siu tidak lantas menyahuti, ia mencabut tusuk

kondenya, guna memakai itu untuk mencari jarum. Selang

sejenak, ia berhasil. Jarum itu telah nancap ke tulang. Maka ia

lantas memakai dua jari tangannya, akan menjepit gagang

jarum, buat terus menariknya.

Hoa Hui menjerit, dia pingsan. Bun Siu tidak heran atau

kaget, bahkan itu ada baiknya, untuk mengurangi rasa nyeri

orang, la menggunai ketika baik ini untuk lekas-lekas

membelek lagi dua kali, untuk mencabut dua batang jarum

lainnya. Maka tak lama, selesailah ia. Terus ia membalut lukaluka

itu.

Selang sekian lama, Hoa Hui tersadar perlahan-lahan. Ia

membuka matanya. Lantas ia melihat tiga batang jarum, yang

hitam warnanya, la tahu itulah jarum beracun, yang telah

menyiksa padanya. Maka ia kata sengit pada jarum itu: “Dua

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

belas tahun lamanya kamu mengeram di dalam dagingku,

baru hari ini kamu keluar!” Terus ia menghadapi Bun Siu, akan

berkata: “Nona Lie, kau telah menolongku, aku tidak dapat

membalas budimu, maka ini tiga batang jarum aku haturkan

kepadamu. Jangan kau mencela karena jarum ini telah dua

belas tahun terpendam di dalam tubuhku, sebenarnya

racunnya tidak menjadi berkurang.”

Bun Siu menggeleng kepala. “Aku tidak menghendaki itu,”

bilangnya.

Hoa Hui heran. “Bukankah kau telah menyaksikannya

sendiri lihainya jarum ini?” katanya. “Dengan kau mempunyai

sebatang saja dari jarum ini, orang sudah jeri bukan main

terhadapmu.”

“Aku tidak menginginkan lain orang takut padaku,” kata si

nona perlahan. Di dalam hatinya, ia pikir: “Asal orang

menyukai aku, itulah terlebih baik daripada jarum ini…”

Hoa Hui berdiam. Karena ia mengeluarkan banyak darah

bekas dibelek dagingnya ia menjadi lemah, akan tetapi

sebaliknya, ia merasa lega, semangatnya terbangun. Ia lantas

merapatkan matanya, untuk beristirahat, untuk tidur. Kira satu

jam kemudian, ia mendusin dengan kaget. Ia mendengar

suara berisik, dari cacian dan teriakan berulang-ulang di luar

gua. Itulah suaranya si penyamun she Song, yang rupanya

telah datang pula.

Ia mengeluarkan kata-kata kotor, untuk alamatnya Bun Siu

dan Hoa Hui. Ia tidak berani lancang masuk, ia sengaja

memancing agar orang menjadi panas hatinya dan keluar.

Hoa Hui berbangkit dengan hatinya panas.

“Jarum di tubuhku telah dicabut keluar, orang mengira aku

takut!” katanya mendongkol. Akan tetapi ketika ia

mengerahkan tenaganya, ia gagal. Ia masih terlalu lemah. Ia

menghela napas. Ia kata: “Sudah terlalu lama jarum

mengeram di dalam tubuhku, agaknya dengan beristirahat

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

tiga empat bulan, belum tentukesehatan dan tenagaku pulih

kembali…”

Di luar, si Song masih saja memuntahkan kata-katanya

yang kotor. Berulangkali dia mendamprat: “Bangsat tua!

Bangsat tua bangka!”

Dalam panasnya, Hoa Hui kata: “Apakah aku mesti menanti

kau mencaci aku sampai empat bulan lamanya?” Lantas ia

mendapat satu pikiran. Maka ia kata pada Bun Siu: “Nona Lie,

mari aku ajarkan kau ilmu silat, lantas kau keluar, kau hajar

binatang itu!”

“Berapa lama aku mesti meyakinkannya untuk aku bisa

menggunainya?” Bun Siu tanya. “Toh tidak dapat terlalu lekas,

bukan?”

“Jikalau aku mengajarkan kau ilmu jari tanganku, untuk

menotok,” menjawab Hoa Hui, “atau lainnya ilmu seperti

tangan kosong atau golok, sedikitnya kau membutuhkan

tempo setengah tahun, tetapi sekarang temponya mendesak,

kau harus belajar dengan cepat. Untuk ini ada jalannya, ialah

kau membutuhkan senjata yang istimewa. Cukup kau

menggunai satu atau dua jurus. Hanya di dalam gua ini, di

mana bisa didapatkan alat senjata yang diperlukan itu?”

Habis berkata begitu, Hoa Hui berdiam, otaknya bekerja.

Bun Siu pun berdiam saja, ia tidak tahu apa itu yang

dimaksudkan senjata istimewa.

Hanya sejenak Hoa Hui berpikir, segera ia mengasih lihat

roman girang.

“Ada!” katanya. “Pergi kau ambil itu dua buah labu dan

juga sehelai rotan. Mari kita main bandering liusengtwie!” Ia

menunjuk.

Bun Siu melihat buah labu tergantung di mulut gua,

semuanya sudah kering. Ia pergi mengambil dua buah, yang

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

ia kutungi, lalu mengambil juga rotan yang diminta. Ia

serahkan itu kepada si empee kurus kering.

“Bagus!” kata Hoa Hui girang. “Coba kau membuat sebuah

liang kecil pada labu itu, lalu isikan pasir.”

Si nona menurut, ia lantas bekerja. Benarlah labu itu,

setelah diisi pasir dan beratnya masing-masing tujuh atau

delapan kati, dapat merupakan bandering.

“Sekarang aku akan mengajari kau satu jurus Senggoat

cenghui,” kata Hoa Hui sambil menyambut! buah labu dari

tangan si nona. “Aku akan menjalankan jurus itu, kau lihatlah

baik-baik dan ingati di luar kepala.”

Benar-benar, dengan perlahan, jago Selatan itu memutar

banderingnya yang istimewa itu.

Bun Siu mamasang mata, ia mengingat baik-baik.

“Senggoat cenghui” itu, yang berarti jurus “Bintang dan

rembulan bersaingan kegemilangan”, yang kiri untuk

menyerang jalan darah siangkiok hiat di antara dada dan

perut, yang kanan guna menyerang punggung di mana ada

jalan darah lengtay hiat.

“Sekarang kau coba,” kata si pelajar kemudian.

Bun Siu menuruti, menelad pelajar itu. Ia telah mempunyai

dasar, ia dapat mengingat dengan baik dan cepat. Setelah

beberapa kali penghunjukan, ia bisa menjalankannya dengan

baik, maka itu, mulai dari perlahan, ia mencepatkan. Sesudah

paham benar, ia baru berlatih dengan sungguh-sungguh. Ia

telah bermandikan keringat setelah berlatih satu jam tanpa

salah.

“Aku bebal, belajar sebegini saja aku memakai banyak

tempo,” katanya seraya menyusuri peluhnya.

“Kau tidak bebal, sebaliknya kau cerdas sekali!” Hoa Hui

memuji. “Kau jangan meragukan kefaedahannya jurus ini.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Untuk lain orang, dia perlu tempo delapan sampai sepuluh hari

untuk dapat belajar lekas seperti kau ini. Untuk melawan

seorang ahli, jurus ini tidak berarti, tetapi buat merobohkan

dua bangsat di luar, itulah berlebihan. Sekarang kau

beristirahat dulu, sebentar kau ke luar dan kau labraklah

mereka!”

Bun Siu heran bukan main. “Cukup dengan ini satu jurus?”

ia tanya.

Hoa Hui bersenyum. “Ya,” sahutnya. “Dengan ini satu

jurus, kau telah terhitung sebagai muridku. Muridnya Itcie Cin

Thianlam tak memerlukan dua jurus guna menghadapi kedua

kurcaci itu! Apakah kau pun tidak kuatir nanti merusak nama

gurumu?”

Bun Siu girang sekali. Ia pun sangat cerdik, maka lantas ia

berlutut, untuk mengangguk-angguk dengan hormatnya, guna

mengangkat guru. Ia pun menghaturkan terima kasihnya. Hoa

Hui girang berbareng duka.

“Tidak kukira, di saat kematianku, aku dapat menerima

murid secerdik kau ini,” katanya, bersyukur.

“Murid pun, kecuali yaya Kee Loojin itu, tidak punya sanak

atau kadang lagi,” berkata Bun Siu, menjelaskan. “Aku justeru

merasa sangat beruntung memperoleh guru sebagai suhu.”

“Sudahlah,” kata Hoa Hui. “Hari bakal lekas malam, pergi

kau ke luar, kau labrak kedua kurcaci itu! Kau cari tempat

yang lega di mana kau bisa bersilat dengan leluasa.”

Bun Siu bersangsi. Sebenarnya, ia rada jeri.

“Jikalau kau tidak percaya aku, buat apa kau mengangkat

aku jadi gurumu?” Hoa Hui lantas menjadi gusar. “Kau tahu,

dulu hari, Binpok Sianghiong, yaitu dua jago dari Hokkian

Utara, telah terbinasa dua-duanya dengan jurus ini! Apakah

kau kira Binpok Sianghiong kalah daripada dua kurcaci itu?”

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Bun Siu tidak kenal dua jago dari Hokkian Utara yang

disebutkan itu tetapi karena orang bergusar, ia paksa

membesarkan nyalinya, ia membuka sumbatan pintu gua,

lantas ia nerobos keluar, tangan kanannya memegang

banderingnya yang istimewa itu, tangan kirinya mencekal

jarum berbisa. Ia pun membarengi berseru: “Kurcaci, lihat

jarum berbisa!”

Penjahat itu, ialah si orang she Song bersama si orang she

Coan, yang menjaga di mulut gua, terkejut mendengar

disebutnya jarum berbisa, dengan lantas keduanya lari

mundur. Si orang she Song mundur juga meskipun ia telah

memikir, kalau si nona menyerang dengan jarum, tidak nanti

nona itu mengancam dulu…

Bun Siu sampai di luar dengan terus lari ke tempat lega

jauhnya belasan tombak, ketika ia berhenti dan berpaling, ia

melihat si Coan memburu kepadanya, ia lantas mengayun

tangan kirinya ke arah penjahat itu. Si Coan terkejut, dia

hendak berkelit, apamau dia terpeleset, terus saja dia

terguling.

Si Song melihat kawannya roboh, dia kaget, dia lantas

memburu. Tapi kawannya itu sudah lantas bangun pula. Maka

berdua mereka merangsak. Hampir berbareng mereka kata:

“Di sini kita bereskan budak ini! Kalau dia menggunai

jarumnya, kita bisa melihatnya!”

Ketika itu matahari telah bersinar layung, kedua penjahat

itu justeru menghadapi matahari, maka mereka lantas

melengos. Sekarang mereka dapat melihat nyata senjata di

tangan si nona. Keduanya tertawa.

Hatinya Bun Siu berdebar juga. Ia benar-benar

menyangsikan ilmu banderingnya itu, sedang ilmu silat ajaran

ayah dan ibunya belum berarti. Kedua musuh itu sebaliknya

nampak sangat bengis. Tapi ia cerdik, ia berseru: “Jikalau

kamu tidak lekas mengangkat kaki, guruku bakal segera

keluar! Kau tahu guruku–Itcie Cin Thianlam? Awas kamu

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

terhadap jarum berbisanya! Beranikah kamu menyaterukan

guruku itu? Berapa besar nyalimu? Guruku dapat mengambil

jiwa kamu sama gampangnya seperti ia merogoh sakunya!”

Meski mereka ada orang-orang kangouw, si Coan dan si

Song itu tidak kenal Hoa Hui, dari itu sambil saling melirik,

mereka pikir: “Paling benar aku lekas-lekas membekuk dia

untuk dihadapkan kepada Hok Toaya dan Tan Jieya! Inilah

jasa! Peduli apa aku dengan Itcie Cin Thianlam?” Maka

berbareng mereka maju dari kiri dan kanan.

Hati Bun Siu gentar. “Dia maju berbareng, bagaimana aku

mesti menghajar mereka?…” pikirnya, ragu-ragu dan

berkuatir. Maka bukan ia maju melawan, ia justeru lompat

mundur tiga tindak.

Si Coan, diikuti si Song, maju terus.

Nona Lie menjadi terdesak, ia merasa ia terancam bahaya,

tidak bisa lain, terpaksa ia menggeraki tangannya, menggunai

banderingnya. Syukur ia masih ingat latihannya.

Si Coan maju di sebelah kanan, ia belum datang dekat

ketika tahu-tahu dadanya ialah jalan darah siangkiok hiat,

kena terhajar bandering istimewa itu, sedang bandering yang

kanan menghantam terbang goloknya. Hanya celaka, labu itu

pecah terbacok, pasirnya lantas terbang berhamburan!

Si Song lagi maju, tentu sekali dia tidak menduga kepada

pasir itu, maka dengan lantas dia kelilipan, hingga dia menjadi

kelabakan, tangannya dipakai untuk menutupi matanya, untuk

dikucak-kucak. Justeru dia repot sendirinya, bandering yang

lain menyambar tubuhnya, hingga segera dia terhuyung ke

arah si nona, yang dia terus sambar.

Nona Lie kaget hingga ia berteriak, dengan tangan kirinya

ia menolak tubuh si kurcaci. Tepat jarum di tangannya

menusuk perut si Song itu, hingga dia menjerit. Cuma

sekejap, penjahat ini lantas roboh binasa. Hanya, karena dia

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

telah dapat menjambret, dia tetap masih memeluki, si nona

sendiri tidak dapat segera berontak melepaskan diri.

Ketika itu Hoa Hui telah menyusul keluar, ketika ia melihat

keadaan muridnya itu, ia menghela napas dan berkata: “Ha,

budak tolol, budak tolol! Tadi kau dapat berlatih bagus sekali,

sekarang kau kaget dan bingung, kacau ilmu silatmu…”

Ia lantas maju mendekati, untuk mendupak si Song, atas

mana barulah penjahat itu melepaskan rangkulannya dan

roboh binasa.

Bun Siu berdiri diam, saking bingung, ia tidak dapat pulang

ketabahannya dengan lekas. Sinar matanya telah benterok

sama matanya si Song, yang tubuhnya rebah jengkar,

matanya melotot, sebab dia pun mati tiba-tiba. Kemudian ia

mengawasi mayat si Coan. Hatinya lantas bekerja, memikirkan

bagaimana dalam tempo yang pendek ia telah membinasakan

lima jiwa manusia. Benar dengan begitu ia berhasil

membalaskan sakit hati ayah dan ibunya, toh hatinya tidak

tenang. Ia agaknya berduka

“Bagaimana?” berkata Hoa Hui tertawa. “Bukankah telah

terbukti kefaedahannya satu jurus ilmu silat ajarannya gurumu

ini?”

“Hanya sayang muridmu menjalankannya tidak sempurna,”

kata si nona menyesal.

“Tidak apa,” kata guru itu, sabar. “Kau tunggu pulihnya

tenaga dan kepandaianku, nanti aku mewariskan semua itu

kepadamu, setelah itu kita kembali ke Tionggoan, untuk

malang melintang! Siapa dapat menghalang-halangi kami?

Sekarang mari kita kembali ke rumah, untuk minum teh!”

Tanpa menanti jawaban, guru ini menarik tangan

muridnya. Mereka pergi ke kiri rimba, melewati sekumpulan

pohon yangliu, lantas sampai di sebuah gubuk.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Bun Siu turut masuk ke dalam gubuk yang buruk

perlengkapannya tetapi segalanya bersih, bahkan di tengahtengah

ruang ada sepasang papan dengan masing-masing

bertuliskan lian atau syair. Ia belum mengerti banyak surat.

Lian yang sebelah ia dapat baca, yang sebelah lagi, gelap

baginya. Tanpa ia merasa, ia membaca berulang-ulang lian

yang sebelah itu, yang berbunyi:

“Bersahabat sama-sama sehingga tua ada seumpama

memegang gagang pedang.”

“Apakah kau pernah baca syair ini?” Hoa Hui tanya.

“Belum,” menjawab si murid. “Suhu, apakah artinya itu?”

Guru itu berdiam sejenak. Ia menjadi ingat bahwa telah

dua belas tahun ia mengeram di wilayah Hweekiang ini.

Dulunya ia mempelajari ilmu surat, lalu batal, ia menukar

dengan ilmu silat, meski begitu, ia tetap dandan sebagai

pelajar. Inilah disebabkan ia masih menggemari pelajaran

surat itu.

“Itulah syairnya Ong Wie,” ia menyahut sesaat kemudian.

“Yang di atas itu berarti, meskipun kau mempunyai seorang

sahabat kekal dengan siapa kau hidup bersama-sama sampai

di hari tua, kau toh tetap tidak dapat mempercayai sahabatmu

itu, sebab secara diam-diam dia dapat mencelakai kau, maka,

meskipun dia berjalan di sebelah depan, baiklah kau terus

meraba gagang pedangmu. Tegasnya, hati manusia itu

jungkir balik bagaikan gelombang. Artinya syair yang di bawah

yakni bahwa sahabatmu itu telah menjadi beruntung dan telah

menjadi orang berpangkat besar, meski begitu seandai kau

mengharap bantuannya, untuk membantu mengangkat kau,

pengharapanmu itu melainkan membangkitkan tertawaannya

saja.”

Mendengar keterangan itu, Bun Siu mengerti kenapa guru

ini senantiasa mencurigai ia, meskipun terhadap si guru tidak

ada niatnya mencelakai. Maka ia mau percaya, mungkin

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

tadinya guru ini pernah dicelakai orang, karena mana dia

menulis syair peringatan itu untuk mencatat hati manusia

yang gampang berubah.

Habis itu, Nona Lie masak air, untuk menyeduh teh, maka

tidak lama kemudian, setelah minum air panas, mereka

merasa segar sekali.

“Suhu, aku hendak pulang,” kata Bun Siu sekian lama.

Hoa Hui melengak, ia mengawasi. Agaknya ia putus asa.

“Kau mau pergi?” katanya, menyesal. “Jadi kau tidak mau

turut aku untuk belajar silat lebih jauh?”

“Bukan begitu, suhu,” kata si nona, menerangkan. “Satu

malam aku tidak pulang, tentulah Kee Loojin berkuatir dan

memikirkannya tak habisnya. Sekarang aku hendak pulang

untuk memberi keterangan padanya, habis itu, baru aku akan

kembali.”

Mendadak Itcie Cin Thianlam menjadi gusar.

“Jikalau kau memberi keterangan padanya, nah untuk

selamanya kau jangan kembali padaku!” ia membentak.

Bun Siu kaget dan takut, ia menjadi bingung.

“Aku tidak dapat tidak memberi keterangan pada Kee

Loojin,” katanya perlahan. “Dia itu baik sekali dan sangat

menyayangi aku…”

“Terhadap siapa pun kau tidak boleh omong tentang kita di

sini!” kata Hoa Hui, bengis. “Kau mesti angkat sumpah untuk

tidak menyebutkan apa juga mengenai kita, atau aku akan

tidak ijinkan kau berlalu dari sini!” Baru ia menyebut “sini” itu

atau ia menjerit “Aduh!” keras sekali dan tubuhnya segera

roboh, bahkan ia terus pingsan. Itulah disebabkan ia berbicara

keras-keras, lukanya mendatangkan rasa nyeri yang hebat.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Bun Siu kaget sekali, tapi ia masih ingat untuk mengasih

bangun, guna menolongi. Ia membasahkan jidat orang

dengan air dingin.

Selang sesaat, Hoa Hui mendusin.

“Eh, kau masih belum pergi?” tanyanya heran.

“Suhu, apakah punggungmu masih sakit?” si nona balik

menanya. Ia tidak sempat menjawab.

“Sedikit mendingan,” sahut guru itu. “Kau membilang

hendak pergi pulang, kenapa kau belum pergi?”

“Sebelum suhu sembuh, aku tidak mau pergi,” sahut Bun

Siu. “Biar aku menanti pula beberapa hari lagi.” Di dalam

hatinya, ia pikir: “Kee Loojin paling juga memikirkan aku tetapi

suhu perlu rawatan.”

Senang Hoa Hui mendengar jawaban itu, karenanya ia

tidak bergusar terus.

Bun Siu pun senang. Ia hanya merasa sulit untuk tabiat

aneh guru ini. Ia lantas mencari rumput kering, untuk

dijadikan kasur darurat, yang mana ia gelar di ruang depan

itu. Ketika ia tidur pulas, beberapa kali ia mendusin dengan

mendadak. Ia terganggu impian-impian yang dahsyat,

umpamanya penjahat datang membekuk padanya, atau

setannya si penjahat, dengan berlepotan darah, datang

menagih jiwa terhadapnya…

Besoknya pagi, Bun Siu mendusin dengan hati lega. Ia

mendapatkan gurunya segar sekali. Ia lantas masak nasi,

untuk mereka dahar. Setelah datangnya waktu senggang, Hoa

Hui lantas memberikan pelajaran silat. Dia mulai dengan

pokoknya lweekang, atau ilmu dalam.

“Kau telah berusia tinggi, untuk belajar silat, kau

memerlukan tempo lebih banyak daripada seharusnya,” Hoa

Hui memberi keterangan. “Tapi kau jangan kuatir, meski

usiamu tinggi, itu dapat ditutup dengan kecerdasanmu serta

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

dengan adanya guru bukan sembarang guru. Didalam lima

tahun aku tanggung kau akan jarang tandingannya di dalam

Rimba Persilatan.”

Bun Siu tidak bilang apa-apa kecuali menghaturkan terima

kasih. Ia belajar dengan rajin dan tekun. Didalam tempo

delapan hari, ia telah memperoleh kemajuan, sedang lukanya

Hoa Hui mulai sembuh. Baru setelah itu ia kasih tahu gurunya

ini untuk pulang dulu, guna menemui Kee Loojin. Kali ini Hoa

Hui tidak main bentakbentak lagi, dia tidak sampai memaksa

muridnya mengangkat sumpah. Begitulah ia pulang dengan

menunggang kuda putihnya. Ia menetapi janji, ia tidak

mengasih tahu Kee Loojin tentang pertemuannya sama Hoa

Hui disebabkan ia terancam bahaya, la mendusta bahwa ia

kesasar di Gobi, sampai ia bertemu dan ketolongan

serombongan kafilah.

Kee Loojin percaya keterangan itu, maka dia tidak menanya

melit-melit, dia hanya merasa girang.

Semenjak itu setiap sepuluh hari atau setengah bulan, Bun

Siu pergi kepada Hoa Hui, untuk berdiam dengannya beberapa

hari. Selama beberapa hari itu, ia belajar dengan rajin sedang

gurunya mengajari dengan sungguh-sungguh. Karena ia tidak

memikirkan lain, gangguan apa jua tidak ada, ia memperoleh

kemajuan pesat. Jadi benar pembilangan gurunya, ialah murid

cerdas, dan si guru bukan sembarang guru…

Tanpa merasa, tiga tahun telah lewat.

Satu kali dengan girang Hoa Hui kata pada muridnya:

“Dengan kepandaian kau sekarang, kau telah termasuk kaum

kangouw kelas satu. Kalau kau pulaug ke Tionggoan, asal kau

memperlihatkan kepandaianmu, kau akan menjadi kesohor.”

Bun Siu merasa senang tetapi ia tahu ia baru menyangkok

kepandaian gurunya dua tiga bagian, maka ia belajar terus

dengan tetap rajin. Karena itu selanjutnya lebih sedikit harinya

ia berdiam sama Kee Loojin, lebih banyak ia tinggal bersama

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

gurunya itu. Beberapa kali sudah Kee Loojin menanya ia pergi

ke mana saja, ia menggunai pelbagai alasan untuk menutup

rahasianya, agar ia tidak melanggar pesan gurunya.

Selanjutnya, Kee Loojin tidak pernah menanyakan lagi.

Pada suatu hari Bun Siu pulang dari rumah gurunya.

Biasanya ia mengambil jalan mutar, tidak mau ia melintasi

bukit kecil tempat terbunuhnya serigala, tetapi kali ini, ia

terpaksa jalan di situ. Sebabnya ialah mega mendung dan

angin utara bertiup keras, tandanya bakal datang badai salju.

Ia pun melarikan kudanya keras-keras. Ia melihat kawanan

penggembala repot menggiring kambing mereka pulang. Di

tengah udara tak nampak seekor jua burung gagak. Justeru

itu, untuk herannya, ia mendapatkan satu penunggang kuda

tengah mendatangi dengan binatang tunggangannya

dikaburkan. Ia menjadi heran.

“Badai salju segera bakal datang, kenapa dia justeru keluar

dari rumahnya?” ia pikir. Maka ia mengawasi.

Kapan penunggang kuda itu telah datang cukup dekat, Bun

Siu melihat seorang nona Kazakh yang mengerobongi tubuh

dengan mantel merah. Ia pula lantas mengenali Aman, yang

tubuhnya langsing dan romannya cantik. Karena, ia tidak ingin

menemui nona itu, ia larikan kudanya ke belakang bukit,

untuk mengintai.

Tiba di depan bukit, Aman bersiul nyaring, atas mana,

siulannya itu mendapat jawaban yang serupa, disusul

munculnya seorang anak muda, yang datang menghampirkan,

maka sebentar saja, keduanya sudah saling rangkul. Pula

ramai suara mereka tertawa.

“Badai salju bakal lekas datang, kenapa kau keluar juga?”

demikian si pemuda tanya.

Bun Siu mengenali suaranya Supu, sahabat kekalnya itu.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Hai, si cilik tolol!” kata Aman, tertawa. “Kau tahu badai

salju bakal turun, kenapa kau juga keluar dan menantikan aku

di sini?”

Supu tertawa

“Setiap hari kita bertemu di sini” katanya, gembira.

“Pertemuan kita ini lebih penting daripada makan nasi! Biarnya

ada ancaman golok atau pedang, pasti aku akan menunggui

kau di sini!”

Aman tertawa pula.

Keduanya lantas duduk berendeng di bukit kecil itu,

keduanya bicara tak hentinya.

Mereka bicara tentang asmara

Bun Siu mengintai di balik beberapa pohon besar, ia berdiri

tercengang. Ia telah mendengar nyata setiap perkataan

pemuda dan pemudi itu, kecuali di saat mereka itu seperti

berbisik. Kemudian lagi, ia terkejut ketika tidak keruan-keruan

pasangan muda-mudi itu tertawa dengan keras.

Nona Lie mendengar seperti tidak mendengar. Melihat

tingkah laku muda-mudi itu, di depan matanya berbayang

peristiwa dari masa ia masih kecil. Di situ pun ada berduduk

berendeng dua bocah, yang satu pria, yang lain wanita.

Mereka itu erat sekali perhubungannya. Merekalah Supu dan

ia sendiri. Di sana mereka biasa saling mendongeng, sampai

itu hari mereka diserang serigala yang ganas. Apa yang

mereka biasa omongi, ia seperti sudah lupa. Sebab sepuluh

tahun telah berselang. Hanya sekarang, melihat Supu bersama

Aman itu, ia terkenang akan masa yang lampau itu.

Segera sang salju mulai turun, sedikit demi sedikit, tetapi

lama-lama, kuda mereka, pula kepala mereka bertiga, mulai

putih ketutupan bunga salju. Juga tubuh mereka mulai

ketutupan. Supu dan Aman seperti tidak menghiraukan salju

itu. Dan Bun Siu pun tidak mempedulikannya.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Lagi sekian lama, barulah Supu dan Aman dibikin kaget

hingga keduanya berlompat bangun. Di pohon kayu di dekat

mereka terdengar suara berisik.

“Ha, air batu turun!” seru si pemuda. “Mari lekas pulang!”

Aman menurut, tanpa banyak omong lagi, mereka naik

kuda mereka dan melarikannya.

Bun Siu bagaikan tersadar mendengar seman mereka itu.

Ia pun lantas merasakan jatuhnya hujan air batu itu, yang

mengenakan kepalanya, mukanya dan tangannya, hingga ia

merasa sakit. Tanpa ayal lagi, ia lari pulang. Begitu ia tiba di

depan rumahnya, ia heran. Di muka rumah ada tertambat dua

ekor kuda, satu antaranya ia kenali adalah kudanya Aman.

“Mau apa mereka datang ke rumahku?” pikirnya. Sambil

menerka-nerka, ia turun dari kudanya, untuk dituntun ke

belakang. Hujan air batu bertambah keras turunnya.

Setelah ia memasuki ruang belakang dari rumahnya, Bun

Siu mendapat dengar suaranya Supu, katanya: “Paman, hujan

es turun secara besar-besaran, terpaksa kita mesti berdiam

lamaan di sini.”

“Tetapi ingat, di hari-hari biasa, walaupun aku

mengundang, tidak nanti kau datang ke mari,” terdengar

suaranya Kee Loojin.

“Tunggu, nanti aku mengambil air teh.”

Memang juga, sekarang ini sukar untuk Kee Loojin,

umpamanya…… hendak mengundang Supu. Semenjak orangorang

Chin Wie Piauwkiok mengganas, orang Kazakh jadi

sangat mencurigai orang Han. Benar Kee Loojin sudah tinggal

lama di antara mereka itu dan terkenal baik, tetapi orang jadi

tidak suka bergaul dengannya. Bagusnya, dia tidak sampai

diusir pergi. Sebaliknya, tendanya Supu dan Aman telah

dipindah semakin jauh, hingga sukar mereka datang ke rumah

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Kee Loojin itu. Kali ini kebetulan saja mereka ini ditimpa hujan

es.

Kee Loojin pergi ke dapur. Ia heran melihat Bun Siu sudah

pulang dan lagi berdiri bengong muka merah.

“Kau… sudah pulang?” katanya. Orang tua itu heran akan

tetapi ia mengangguk.

Tidak lama maka Kee Loojin sudah keluar dengan

membawa susu kambing, koumiss dan teh merah, untuk

menyuguhkan tetamunya.

Bun Siu duduk di dekat dapur, sambil menghangatkan diri,

ia memasang kuping. Ia mendengar suaranya Supu dan

Aman, yang kadang-kadang tertawa. Hampir ia berbangkit,

untuk pergi ke luar, untuk berbicara sama mereka itu.

“Tidak ada halangannya toh?” pikirnya Hanya, dalam

sekejap, ia menahan hati. Itulah sebab ia lantas ingat

sikapnya ayah Supu, yang galak, mulutnya gampang

mendamprat, cambuknya gampang merangket.

Ketika Kee Loojin kembali ke dapur, untuk membagi susu

dan teh pada si nona, ia heran melihat sinar mata nona itu.

Sudah belasan tahun mereka tinggal bersama, mereka mirip

kakek dan cucu sejati, tetapi mereka tetap bukan asal sedarah

sedaging, si empee sukar menjajaki hati si nona.

Setelah mengawasi, mendadak Bun Siu kata pada si

empee: “Aku hendak menyamar sebagai seorang nona

Kazakh, aku akan datang untuk numpang berlindung dari

hujan es, jangan yaya membuka rahasia.” Tanpa menanti

jawaban, ia lekas pergi ke kamarnya, untuk dandan, pula ia

rubah sanggulnya. Sudah lama ia tinggal di wilayah

Hweekiang ini, ia jadi mirip dengan bangsa Kazakh. Habis

dandan, ia pergi pula ke dapur, kepada si empee, memberi

tanda dengannya. Baru ia pergi ke luar, untuk berlalu dengan

kudanya dengan manda ditimpa hujan es. Hanya kabur belum

satu lie, ia sudah lari kembali. Di depan rumahnya, ia

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

mengetuk pintu. Ia jeri juga ketika melihat cuaca yang luar

biasa. Sudah sepuluh tahun lebih ia tinggal di Hweekiang ini,

belum pernah ada hujan es lebat begini, dan awan pun

mendung sekali. Sambil mengetuk-ngetuk pintu, ia mengasih

dengar suaranya: “Mohon numpang! Mohon numpang!”

Kee Loojin membukai pintu. “Nona ada urusan apa?” ia

tanya.

“Hujan es hebat sekali, aku mohon menumpang

berlindung,” menyahut Bun Siu.

“Boleh, boleh!” menyahut si empee, yang terpaksa main

sandiwara. “Di dalam pun ada dua sahabat lagi menumpang

berlindung. Mari masuk, nona!”

“Aku hendak pergi ke Huangsha Weitze, dari sini

perjalanannya masih berapa jauh lagi?” Bun Siu berlagak

menanya. Ia menggunai bahasa Kazakh. Ia senang si empee

dapat main sandiwara baik sekali. Kee Loojin berlagak kaget.

“Nona mau pergi ke sana? Ah, tidak dapat! Dengan cuaca

seburuk ini, tidak nanti kau dapat tiba di sana. Lebih baik nona

singgah satu malam di sini, besok baru kau melanjuti

perjalananmu. Kalau kau tersesat, itulah celaka…”

Bun Siu bertindak masuk, ia menggibriki es dari bajunya. Ia

melihat Supu dan Aman duduk berendeng menghadapi api.

Aman melihat yang datang adalah seorang nona, ia lantas

berkata manis: “Kakak, kita ketimpa hujan, mari

menghangatkan diri di sini!”

“Baiklah, terima kasih!” Bun Siu menyahuti. Ia lantas duduk

di samping nona Kazakh itu. Supu mengangguk seraya

bersenyum. Ia tidak mengenali nona itu, yang telah berpisah

dari ianya selama delapan atau sembilan tahun. Sekarang si

nona cilik telah menjadi dewasa, dandanannya pun lain sekali.

Kee Loojin menambah susu dan teh, ia bicara sama

tetamunya ini seperti mereka adalah orang-orang asing benarTiraikasih

Website http://kangzusi.com/

benar. Bun Siu pun belajar kenal pada pemuda dan pemudi

itu. Ia sendiri mengaku bernama Tangsanli, gadisnya pemilik

sebuah peternakan di tempat jauhnya dua ratus lie dari situ.

Supu beberapa kali melongok ke jendela, untuk melihat

udara, meskipun sebenarnya, dengan mendengar suara hujan,

ia sudah dapat tahu hujan tak akan berhenti lekas-lekas.

Aman berkuatir, diam-diam ia tanya Supu kalau-kalau

gubuknya si orang tua ini tidak bakal ambruk diserang hujan

dan angin keras itu.

“Aku hanya menguatirkan wuwungan tidak dapat menahan

beratnya es dan salju,” kata Supu. “Nanti aku naik ke atas,

untuk menyingkirkannya.”

“Awas, nanti kau kena tertiup angin dan terbawa pergi!”

kata si pemudi.

Supu tertawa ketika ia menjawab: “Di tanah telah

bertumpuk banyak salju, umpama kata benar aku jatuh, toh

tidak nanti membahayakan!…”

Pikiran Bun Siu kusut. Ketika ia mengangkat cawannya,

tangannya bergemetaran. Ia mesti menyaksikan eratnya

hubungan muda-mudi itu. Ia sendiri tidak tahu mesti

mengatakan apa. Sahabatnya di masa kecil duduk dekatnya

tetapi mereka tidak dapat bicara satu dengan lain dengan

leluasa seperti duluhari. la pun memikirkan apa benar-benar

Supu tidak mengenalinya. Di lain pihak, ia ingin Aman tidak

mengetahui tentang persahabatan mereka…

Hari makin gelap. Diam-diam Bun Siu menggeser diri,

supaya Aman dan Supu dapat ketika untuk saling

menggenggam tangan mereka, untuk bicara tanpa terdengar

lain orang. Cahaya api, yang memain, pula memain di antara

mukanya muda-mudi itu. Cuma muka Bun Siu tak terlihat,

sebab ia berpisah cukup jauh dari unggun itu.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Kembali Kee Loojin menyajikan barang makanan. Hanya

mereka bertiga agaknya tidak ada napsu daharnya…

Selagi ruang ada sangat sunyi itu, di luar terdengar suara

larinya kuda di atas salju. Bun Siu mendengar, orang lagi

mendatangi ke gubuknya itu. Ia pun mengetahui, kuda itu

seperti sudah letih sekali.

Kee Loojin dapat mendengar suara kuda setelah datangnya

sudah dekat sekali.

“Kembali ada orang berlindung dari angin dan hujan…”

katanya

Supu berdua Aman mungkin mendengar dan mungkin

tidak, mereka tidak mempedulikan, mereka lebih asyik

menggenggam terus tangan mereka satu dengan lain, untuk

bicara saling berbisik…

Hanyalah sesaat, seorang penunggang kuda tiba lebih dulu.

Lantas terdengar ia menggedor pintu, bukan lagi mengetuk,

dan suaranya pun keras dan kaku, tidak miripnya orang yang

mau mohon menumpang singgah.

Dengan alis berkerut, terpaksa Kee Loojin membukai pintu.

Di depannya terlihat seorang yang tubuhnya besar, yang

mengenakan baju lapis kulit kambing, sedang di pinggangnya

tergantung pedang.

“Angin dan salju besar sekali, kudaku tidak dapat berjalan

terus!” dia kata keras. Dia bicara dalam bahasa Kazakh akan

tetapi tidak lancar dan suaranya pun tidak wajar. Dengan

mata tajam, ia memandangi semua orang yang berada di

dalam ruang itu.

“Silahkan masuk,” Kee Loojin mengundang. “Silahkan

duduk! Mari minum arak!”

Tuan rumah yang tua ini ramah-tamah, ia lantas menuangi

arak dan menyuguhkannya.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Tetamu itu meminum araknya sekali cegluk, lantas dia

duduk di dekat api. Dia membuka baju luarnya, hingga di kiri

kanan pinggangnya terlihat juga sepasang pedang kecil

dengan gagang emas yang berkeredepan.

Bun Siu dapat melihat sepasang pedang itu, hatinya

bercekat, kerongkongannya seperti tersumbat sesuatu. Yang

lebih hebat matanya menjadi kabur, kepalanya menjadi

pusing. Tapi ia masih dapat berkata di dalam hatinya: “Inilah

pedang ibu!”

Meskipun waktu ibunya terbinasa ia masih berusia belum

sepuluh tahun, pedang ibunya itu Bun Siu ingat baik sekali, ia

mengenalinya tanpa keliru. Maka ia lantas melirik pada ini

tetamu yang kasar. Segera ia ingat orang ini ada satu di

antara tiga kepala penyamun yang mengejar-ngejar mereka

satu keluarga. Ia sendiri telah berubah banyak tetapi penjahat

itu, yang dulu berumur tiga puluh lebih dan sekarang menjadi

empat puluh lebih, sedikit perubahannya. Tapi ia kuatir orang

nanti mengenali padanya, ia tidak mau mengasih lihat

mukanya. Ia pikir pula: “Coba angin dan salju tak sebesar ini

tidak nanti aku bertemu sama Supu dan ini manusia jahat.”

“Tuan dari mana?” Kee Loojin bertanya. “Tentu dari tempat

jauh ya?”

“Hm!” jawabnya tetamu itu, yang kembali menenggak

secawan arak.

Itu waktu tibalah penunggang kuda yang kedua. Kali ini

pintu diketuk dengan perlahan, seperti juga orang itu takut

membikin kaget tuan rumah.

Kee Loojin kembali membukai pintu, mengundang

tetamunya masuk.

Tubuh orang itu menggigil, mukanya pun ditutupi sabuk

bulu kambing dan kopiahnya dibelesaki menutupi seluruh

jidatnya, hingga ia terlihat saja kedua matanya. Ia mengasih

dengar suara aa-u-u dan kedua tangannya digerak-geraki.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Nyata ia seorang gagu.

Dengan gerakan tangan, Kee Loojin mengundang orang

berduduk, terus ia menyuguhkan arak.

Si gagu memberi hormat sambil menjura dalam, kepalanya

digoyangi. Ia menolak meminum arak. Dengan itu ia

menghaturkan terima kasihnya. Ia kedinginan sangat, meski

sudah mendampingi api, ia masih tidak mau membuka baju

atau kopiahnya atau sabuknya. Ia bahkan duduk merengkat.

“Kau minum arak, rasa dingin akan berkurang,” kata Bun

Siu, yang merasa berkasihan.

Kembali si gagu aa-u-u ia seperti tak mengerti omongan

orang.

“Siapa gagu, dia pun tuli,” kata Kee Loojin. “Dia ini tidak

mendengar suara orang.” Bun Siu tertawa “Ya, aku lupa!”

katanya Di situ berkumpul semuanya enam orang bersama

mereka, Supu dan Aman tidak dapat lagi berbisik-bisik. Ketika

Supu sudah mengawasi tuan rumah sekian lama, ia berkata:

“Empee, kaulah orang Han. Dapatlah aku menanyakan

tentang sesuatu orang?”

“Siapa ya?” si empee balik menanya.

“Dialah seorang nona Han dengan siapa aku pernah hidup

bersama selagi kita masih kecil, sering kita main-main

berdua,” menerangkan Supu.

Bun Siu terkejut, ia lekas melengos.

“Dia bernama Lie Bun Siu,” Supu menambahkan

sebelumnya si orang tua menyahuti. “Sudah selang delapan

atau sembilan tahun kita berpisah lantas kita tidak bertemu

pula satu dengan lain. Aku ingat dia membilangnya bahwa ia

tinggal bersama seorang tua yang bungkuk punggungnya.

Bukankah orang tua itu empee adanya?”

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Kee Loojin batuk-batuk. Ia ingin memperoleh

penghunjukan dari Bun Siu tetapi si nona lagi berpaling ke lain

arah. Ia menjadi bingung hingga ia cuma dapat berkata: “Ah,

ah…”

“Dialah nona yang nyanyinya paling merdu,” berkata pula

Supu, “hingga orang mengatakan suaranya lebih merdu

daripada nyanyiannya si burung nilam. Selama beberapa

tahun ini tidak pernah aku mendengar pula nyanyiannya itu.

Empee, apakah dia masih tinggal bersama empee disini?”

“Tidak… tidak…” kata si empee, tak lancar. “Dia tidak…”

“Oh, kau maksudkan si nona Han yang dulu tinggal

bersama empee ini…” tiba-tiba Bun Siu campur bicara. “Aku

kenal dia Dia telah meninggal dunia pada enam atau tujuh

tahun yang lalu!”

Pemuda Kazakh itu kaget.

“Ah, dia telah meninggal dunia!” serunya. “Kenapa dia

mati?”

Kee Loojin melirik Bun Siu. “Dia sakit… sakit…” ia

menyahuti.

Matanya Supu menjadi merah.

“Ketika kita masih kecil, biasa kita menggembala kambing

bersama,” ia bilang, suaranya parau. “Dia sering bernyanyi

untuk aku mendengari, dia juga gemar mendongeng. Baru

beberapa tahun tidak bertemu, aku tidak sangka dia telah

menutup mata.”

“Ya, kasihan anak itu…” kata Kee Loojin.

Supu mendelong mengawasi perapian.

“Dia pernah membilangi aku bahwa ayah dan ibunya telah

dibinasakan orang jahat,” katanya pula kemudian, “karenanya

dia jadi hidup sebatang kara dan menderita di sini…”

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Apakah nona itu cantik?” Aman tanya. Baru sekarang dia

turut bicara.

“Ketika itu aku masih kecil, aku tidak ingat jelas,”

menjawab Supu. “Aku cuma tahu dia pandai bernyanyi,

suaranya merdu, serta dia gemar bercerita, dan ceritanya

menarik hati…”

Sekonyong-konyong si orang kasar menyeletuk: “Kau

maksudkan si bocah Han? Kau bilang dia she Lie? Bahwa ayah

dan ibunya terbinasakan orang hingga dia terlantar seorang

diri?”

Nyerocos pertanyaannya orang asing ini.

“Benar. Kau juga kenal dia?” Supu menjawab seraya balik

bertanya.

Orang itu tidak menjawab, hanya dia menanya pula: “Dia

menunggang seekor kuda putih, bukankah?”

“Benar,” menyahut Supu. “Jadi kau pun telah mengenal

dia.”

Mendadak orang itu berbangkit.

“Dia mati di sini?” dia tanya Kee Loojin, bengis.

“Ya,” menyahut si orang tua, yang terpaksa bersandiwara

terus.

“Kau tentunya menyimpan baik-baik segala barang

peninggalannya?” tanya orang asing itu.

Kee Loojin heran, ia mengawasi orang sambil melirik.

“Apa hubungannya barang orang itu denganmu?” ia tanya.

“Ada serupa barangku telah dicuri nona itu!” menyahut si

tetamu kasar. “Aku telah cari dia di mana-mana kiranya dia

sudah mampus…”

Tiba-tiba Supu berbangkit.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Kau ngoceh tidak keruan!” bentaknya. “Cara bagaimana

Nona Lie dapat mencuri barangmu?”

“He, kau tahu apa?” balik tanya orang itu.

“Nona Lie bersama aku hidup bersama-sama semenjak

masih kecil,” kata Supu.

“Aku tahu dialah satu nona yang baik hatinya, tidak nanti

dia mencuri barang orang!”

Orang itu melirik, sikapnya tawar.

“Dia justru telah mencuri barangku!” ejeknya.

Supu memegang gagang golok di pinggangnya.

“Siapa namamu?” dia tanya. “Aku lihat kau bukan orang

Kazakh! Mungkin kaulah si penyamun bangsa Han!”

Orang itu tidak menyahuti, dia hanya bertindak ke pintu,

lalu mementangnya, hingga angin dingin menghembus masuk,

membawa sekalian banyak lempengan salju. Di luar, salju

melulahan di mana-mana orang dan binatang pasti tidak dapat

berlalu-lintas lagi di sana Dia pikir: “Di waktu begini tentulah

tidak bakal ada orang datang kemari! Di sini ada dua nona

yang lemah, seorang tua yang lemah juga dan si gagu itu

yang bercacad, asal aku menggeraki tanganku, dia tentu

roboh! Tinggal ini satu pemuda, yang romannya kekar, dia

mungkin memerlukan beberapa jurus untuk merobohkannya.”

Karena berpikir demikian, ia lantas mengambil keputusan.

“Benar aku orang Han!” katanya, menantang. “Habis kau

mau apa? Aku she Tan, namaku Tat Hian, orang kangouw

menyebutnya Cheebong Kiam, si Pedang Ular Naga Hijau!

Binatang cilik, kau dengar tidak?”

Supu tidak mengetahui tentang kaum kangouw ia

menggeleng kepala.

“Aku belum pernah mendengar,” sahutnya. “Kau jadinya

penyamun bangsa Han?”

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Tuan besarmu satu piauwsu, hidupnya justru membasmi

perampokan!” kata Tat Hian pula “Mengapa kau bilang aku

penyamun?”

Mendengar orang bukannya penyamun dan keterangan itu

ia mau percaya, sikapnya pemuda Kazakh ini menjadi sabar.

Ia kata: “Bagus kalau kau bukan penyamun bangsa Han! Aku

memang tahu banyak orang Han orang baik-baik, tetapi

banyak bangsaku yang tidak mempercayainya. Untuk kau,

baiklah kau jangan menyebut-nyebut pula bahwa Nona Lie itu

telah mengambil milikmu!”

Tapi Tan Tat Hian tertawa dingin.

“Perempuan itu sudah mati, untuk apa kau masih

mengingati dia?” katanya.

“Semasa hidupnya, kita adalah sahabat-sahabat baik,”

berkata Supu, “maka itu setelah dia menutup mata, dia tetap

sahabatku. Aku melarang orang omong jelek tentangnya!”

Tat Hian tidak ingin berebut mulut, maka ia menoleh

kepada Kee Loojin.

“Mana barang-barangnya si nona?” tanyanya.

Sementara itu Bun Siu bersyukur yang Supu masih ingat ia

dan membelanya. “Dia tidak melupai aku, dia tidak melupai

aku,” katanya dalam hatinya “Dia tetap baik terhadapku…”

Tapi ia heran untuk sikapnya Tat Hian itu. Pikirnya: “Tidak

pernah aku mengambil barang dia, kenapa dia menuduh aku

mencurinya?” Ia tak sadar akan kelicikan orang.

“Kau kehilangan barang apa, tuan?” tanya si empee Kee.

“Nona kecil itu polos dan jujur, inilah aku ketahui, maka itu

tidak dapat dia mengambil barang lain orang.”

“Itulah sehelai peta!” menyahut Tat Hian setelah berdiam

sejenak. “Untuk lain orang, peta itu tidak ada artinya, sebab…

Itulah gambar lukisan yang dibuat almarhum ayahku, maka

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

perlu aku mendapatkannya pulang. Nona Lie tinggal di

rumahmu ini kau tentunya pernah melihat itu.”

“Bagaimana sebenarnya lukisan itu? Apakah gambar sansui

atau orang?” Kee Loojin menanya pula.

“Ya, gambar sansui…” sahut Tat Hian.

“Hm!” Supu tertawa dingin. “Gambar atau peta apa masih

tidak tahu tetapi berani sembarang menuduh orang!”

Gusar Tat Hian, maka ia menghunus pedang kecilnya.

“Bangsat kecil, apakah kau sudah bosan hidup?” dia

menegur. “Tuan besarmu biasa membunuh orang tanpa

menutup matanya!”

Supu pun menghunus golok pendeknya.

“Tidak gampang untuk membunuh seorang Kazakh!”

katanya menantang, suaranya dingin.

“Supu, jangan ladeni dia!” berkata Aman.

Supu mendengar kata, dengan ayal-ayalan ia masuki

goloknya ke dalam sarungnya.

Telah bulat tekadnya Tan Tat Hian mendapatkan peta dari

Istana Rahasia Kobu, untuk itu sudah belasan tahun dia dan

kawan-kawannya hidup di wilayah Hweekiang ini di mana

mereka merantau ke banyak tempat, sekarang dia mendapat

endusan tentang si Nona Lie, turunannya Pekma Lie Sam,

mana dia mau melepaskannya dengan gampang? Dia memang

bangsa kasar, tetapi dia bisa berpikir. Dia mengerti, tak sabar

artinya gagal. Maka dia cuma mendelik kepada Supu, lalu dia

berpaling pula kepada tuan rumah yang tua itu.

“Peta itu ialah sebuah gambar,” katanya. “Itulah lukisan

dari pemandangan alam di suatu tempat di gurun pasir, ada

gunungnya, ada kalinya…”

Hati si empee terkesiap, sedang tubuh si gagu menggigil.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Kenapa kau ketahui peta atau gambar itu ada di

tangannya si Nona Lie?” empee Kee tanya pula kemudian.

“Apa yang aku bilang ini ada hal yang benar,” menyahut

Tat Hian. “Jikalau kau serahkan peta itu padaku, suka aku

memberi hadiah besar padamu.” Ia lantas merogoh keluar dua

potong goanpoo emas, yang ia terus letaki di atas meja. Uang

emas itu mengeluarkan sinar berkeredepan yang

menggiurkan. Empee Kee berdiam berpikir. “Sebenarnya aku

belum pernah melihat barang itu,” katanya.

“Aku hendak melihat semua barang peninggalannya nona

kecil itu!” kata Tat Hian.

“Ini… ini…” empee itu bersangsi. Tangan kirinya Tat

Hian bergerak, maka sebatang pedang kecilnya nancap di

meja.

“Ini… ini…apa?” bentaknya. “Nanti aku lihat sendiri!” la

menyulut sebatang lilin, dengan bengis ia menolak pintu

dalam, untuk masuk ke kamar. Paling dulu ia masuki

kamarnya si empee. Ia membalik-balik tempat pakaian.

Kemudian ia masuk ke kamarnya Bun Siu. Di sini ia

mendapatkan baju si nona, yang tadi dia loloskan, untuk

menyalin pakaian sebagai nona Kazakh.

“Ha dia mati sesudah besar!” katanya si piauwsu

penyamun. Ia lantas memeriksa dengan terliti.

Di situ ada pakaiannya Nona Lie semenjak dia masih kecil,

benar pakaian itu sudah tidak dapat dipakai tetapi sebab itu

buatan ibunya sendiri, dia menyimpannya terus. Melihat

pakaian itu, Tat Hian samar-samar mengingat roman dan

potongan tubuh Bun Siu semasa kecilnya itu, ketika mereka

mengejar-ngejarnya di gurun pasir.

“Benar! Benar!” katanya girang. “Benar dia!” Hanya setelah

mencari sekian lama, ia tidak mendapatkan barang yang ia

cari.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Supu gusar bukan main menyaksikan orang mengadukaduk

pakaian Bun Siu, beberapa kali sudah ia memegang

goloknya, untuk dicabut, saban-saban Aman mencegahnya.

Kee Loojin sendiri saban-saban melirik kepada Bun Siu,

sinar mata siapa menyala bagaikan api, hanya nona itu,

mengenai sepak terjangnya Tat Hian, seperti tidak melihatnya.

Maka masgullah orang tua ini. Ia tidak dapat berbuat apa-apa.

Bagaimana kalau penyamun ini mengenali si nona?

Bun Siu memperhatikan sikapnya Supu. Ia berduka, ia pun

merasa puas.

“Benar-benar dia masih ingat aku,” pikirnya. “Agaknya dia

bersedia bertempur untuk membelai barang-barangku.” Di lain

pihak, ia tetap heran atas sikapnya si orang jahat. Pikirnya:

“Mengapa dia berkeras menuduh aku mencuri barangnya?

Peta apakah itu?”

Memang duluhari Bun Siu disesapkan peta oleh ibunya

hanya ia belum tahu apa-apa, ibunya pun tidak sempat lagi

memberi keterangan padanya, la juga tidak tahu yang

kawanan piauwsu dari Chin Wie Piauwkiok, yang berubah

menjadi penyamun, telah mencari itu selama sepuluh tahun

lebih.

Sia-sia Tat Hian menggeledah sekian lama, ia nampak

masgul dan putus asa. Tapi tidak lama, mendadak dia

menanya bengis: “Di manakah kuburannya?”

Kee Loojin melengak. Itulah pertanyaan yang ia tidak

sangka.

“Dia dikubur jauh, jauh sekali…” sahutnya gugup.

Tat Hian menurunkan pacul dari dinding.

“Mari antar aku!” katanya.

Supu berbangkit.

“Kau hendak bikin apa?” ia tanya.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Perlu apa kau campur urusanku?” bentak Tat Hian. “Aku

hendak membongkar kuburannya, untuk memeriksa. Mungkin

dia membawanya peta itu ke liang kubur!”

Supu menghunus goloknya, ia menghalang di pintu.

“Aku larang kau menggali kuburannya!” ia kata nyaring.

“Minggir!” bentak Tat Hian. la mengayun paculnya,

menyerang.

Supu berkelit ke kiri, terus ia menyerang.

Tat Hian melemparkan paculnya, ia mencabut pedangnya.

Maka “Trang!” kedua senjata mereka beradu keras. Atas itu

keduanya sama-sama lompat mundur setelah mana, mereka

maju pula, untuk bertempur di dalam ruang yang tak lebar itu.

Kee Loojin lantas menyingkir ke pinggiran, juga si gagu dan

Aman. Cuma Bun Siu yang berdiri diam di dekat jendela.

Kemudian Aman mencabut pedang pendeknya Tat Hian,

yang nancap di meja, dia berniat membantu Supu akan tetapi

dia tidak memperoleh kesempatan guna menyelak di antara

mereka

Supu telah mendapatkan pelajaran dari ayahnya, ia

berkelahi bengis sekali.

Tat Hian heran hingga ia berpikir: “Aku tidak menyangka

bocah Kazakh ini gagah sebagai erang gagah dari

Tionggoan…”

Tengah ia berpikir itu, ia kaget akan mendengar suara

angin di belakangnya, dari datangnya senjata tajam. Sebab

Aman, yang tidak bisa maju, lantas menimpuk dengan pedang

pendek. Ia berkelit ke kanan. Justeru ia berkelit, justeru tiba

serangannya Supu, maka lengannya kena tergores golok, siasia

ia mencoba berkelit lebih jauh. Ia menjadi gusar sekali,

lantas ia membalas menyerang. Tiga kali beruntun ia menikam

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

dengan jurus-jurus dari ilmu silat pedangnya, “Cheebong

Kiamhoat” atau Ilmu Pedang Ular Naga Hijau.

Supu kaget melihat datangnya serangan saling susul,

sedang sinar pedang membuat matanya silau. Tahu-tahu

lehernya telah kena dimampirkan pedang lawan itu hingga

darahnya mengalir keluar.

Tat Hian memperoleh hati, ia mendesak terus. Di lain saat,

lengan Supu kena kelanggar pedang, sampai dia merasakan

sakit, goloknya terlepas dari cekalannya dan jatuh.

Di saat tikaman yang ketiga mengancam dan Supu agaknya

mati daya, Bun Siu maju satu tindak, untuk menolongi. la

hendak menggunai ilmu Tay Kimna Ciu, guna menangkap

tangannya Tat Hian. Akan tetapi mendahului ia, Aman telah

berlompat ke depan Supu sambil berseru: “Jangan melukakan

dia!”

Melihat nona Kazakh yang elok itu, tapi yang romannya

ketakutan, batal Tat Hian menikam terus. Dengan mengancam

sama ujung pedangnya, ia tertawa dan tanya nona itu: “Kau

begini memperhatikan dia! Adakah dia kekasihmu?”

Muka Aman merah tetapi ia mengangguk.

“Kau menyayangi dia, baik!” kata Tat Hian pula. “Aku nanti

memberi ampun padanya asal besok badai berhenti, kau turut

aku!”

Supu menjadi sangat mendongkol, sambil berseru, ia maju

ke depan Aman, hendak ia menerjang musuhnya itu.

Tat Hian berlaku awas dan sebat, dengan ujung pedangnya

masih mengancam, ia menggeraki kaki kirinya ke kaki orang,

maka tanpa ampun lagi, robohlah pemuda Kazakh itu. Coba

pedang ditusukkan terus, akan tertumblaslah tenggorokannya

si anak muda

Didalam keadaan seperti itu, Bun Siu masih mengawasi

saja Ia memasang mata, ia bersiap sedia menggunai ilmu

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

totoknya, karena peryakinannya atas ilmu Itcie Cin Thianlam,

telah menyampai kemahiran tujuh atau delapan bagian. Hanya

Aman tidak tahu bahwa seorang penolong siap sedia di

dampingnya, karena mana, ia menyerah atas desakan si

penyamun. Ia memberikan penyahutannya: “Baiklah, aku

terima permintaanmu, asal kau jangan bunuh dia!”

Tat Hian girang sekali. Tapi pedangnya ia masih belum mau

mengisarkannya.

“Kau menerima baik akan turut aku besok, jangan kau

menyesal,” ia bilang.

“Aku tidak menyesal,” jawab Aman seraya menggigit

giginya. “Singkirkan pedangmu!” Tat Hian tertawa lebar.

“Taruh kata kau menyesal dan menyangkal kau toh tidak

bakal lolos dari tanganku!” katanya, la menarik pedangnya,

untuk dikasih masuk ke dalam sarungnya, terus ia menjumput

goloknya Supu. Ia memandang ke luar jendela, lantas ia

berkata: “Sekarang kita tidak dapat pergi membongkar

kuburan kita tunggu saja sampai langit sudah terang.” Ia

menjadi berbesar hati, karena di situ cuma ia sendiri yang

bersenjata.

Sampai sebegitu jauh, ia belum melihat gerak-geriknya Bun

Siu.

Aman mempepayang Supu untuk dibawa ke pinggir. Ia

melihat darah masih mengalir keluar dari leher si pemuda. Ia

menjadi bingung, hingga ia mau menyobek ujung bajunya

untuk dipakai membalut.

“Pakai ini saja,” kata Supu, ia mengeluarkan sehelai sapu

tangan dari sakunya.

Aman membalut, habis itu, sendirinya ia menangis. Ia

memikirkan nasibnya, yang telah terjatuh ke tangan

penyamun itu. Dapatkah ia nanti meloloskan dirinya?

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Bangsat anjing! Jahanam!” Supu mendamprat perlahan. Ia

tidak berdaya tetapi ia tidak takut. Kalau terjadi orang

memaksa membawa Aman, ia bersedia untuk mengurbankan

jiwanya guna melindungi nona itu.

Setelah pertempuran itu, ke enam orang itu duduk diam

mengitari perapian, akan tetapi suasana tetap tegang. Sebelah

tangannya Tan Tat Hian tidak pernah melepaskan goloknya.

Untuk menenggak arak, ia menggunai tangan kiri. Senantiasa

ia memandang Aman dan melirik Supu.

Di luar, badai masih mengamuk. Sering lempengan salju

beterbangan menghajar tembok atau wuwungan hingga

mendatangkan rasa kaget dan kuatir. Semua orang menutup

mulutnya.

Sang waktu dilewatkan Bun Siu dengan segala ketenangan

hatinya. Sejak semula ia sudah pikir untuk berlaku sabar. Tadi

pun ia baru menindak atau Aman mendahului ia. Katanya di

dalam hatinya: “Biarlah jahanam ini bertingkah lagi sekian

waktu, tak usah aku tergesa-gesa…”

Dalam kesunyian itu, mendadak api meletus. Ada kayu

yang terbang terbakar meledak, mulanya gelap, lalu terang

luar biasa hingga mereka dapat melihat tegas sekali wajah

masing-masing.

Bun Siu tercengang ketika ia mendapat lihat sapu tangan di

lehernya Supu, hingga ia mengawasi terus.

Kee Loojin, yang memperhatikan nona ini, turut melihat ke

arah Supu, hingga ia melihatnya juga sapu tangan itu. Bahkan

ia lantas menanya: “Eh, Supu, dari mana kau dapatkan sapu

tanganmu itu?”

Si anak muda Kazakh melengak. Ia meraba ke lehernya.

“Kau maksudkan sapu tangan ini?” dia balik menanya. “Inilah

si nona Lie yang telah mati itu yang memberikannya padaku.

Di waktu masih kecil kita menggembala kambing bersamasama,

pada suatu hari ada serigala yang menerkam kami

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

berdua, lantas aku membinasakan anjing liar itu. Aku terluka

sedikit, si nona membalutnya dengan sapu tangan ini…”

Bun Siu mendengar kata-kata itu, matanya terus

mengawasi sapu tangan. Sekarang penglihatannya rada

kabur. Tanpa merasa, air matanya telah mengembeng.

Empee Kee masuk ke dalam kamarnya, untuk mengambil

sehelai sapu tangan putih. Si penyamun mengawasi gerakgeriknya,

ia tidak menghiraukan.

“Kau balut lukamu dengan sapu tangan ini,” kata si empee

pada si pemuda “Mari sapu tanganmu itu, kasih aku lihat.”

“Kenapakah?” tanya Supu heran.

Oleh karena pembicaraan itu, Tat Hian turut

memperhatikan sapu tangan di leher si pemuda.

Mendadak ia berlompat bangun, goloknya diangkat.

“Kau disuruh membuka sapu tangan itu, kau bukalah!” ia

membentak. Nampaknya ia seperti gusar sebab si anak muda

main ayal-ayalan atas permintaannya si tuan rumah.

Supu berdiam, dengan mata gusar, ia memandangi

penyamun itu.

Aman takut orang menggunai kekerasan, lantas ia

mewakilkan Supu membuka sapu tangan itu, untuk diserahkan

kepada Kee Loojin, terus dengan sapu tangan yang putih, ia

membalutnya pula luka si pemuda

Tuan rumah lantas membeber sapu tangan yang

berlepotan darah itu di atas meja. Ia pun membesarkan pelita

minyaknya. Dengan terliti ia lantas mengawasi.

Tan Tat Hian turut mengawasi juga.

“Benar! Benar!” mendadak dia berseru seorang diri,

sesudah meneliti sekian lama. “Inilah itu peta Istana Rahasia

Kobu!” Dan ia mengulurkan tangannya untuk merampas!

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Sebat tangannya piauwsu ini tetapi lebih sebat si empee

Kee, ketika tangannya lagi tiga dim akan mengenai sapu

tangan itu, sapu tangannya sendiri sudah tersambar si empee.

Berbareng dengan itu, suatu sinar terang menyambar

bagaikan kilat, lantas Tat Hian menjerit kesakitan, sebab

sebatang pisau belati sudah nancap di belakang tangan

kanannya itu, pisaunya tembus nancap ke meja sebatas

gagangnya Pula si empee menunjuki lain kesehatannya, ialah

dengan tangan kirinya ia sudah merampas golok panjang dari

si penyamun, untuk segera diancamkan ke tenggorokan

penyamun itu!

Hebat empee bungkuk sebagai unta ini, ia gesit luar biasa,

ia lihai sekali.

Tan Tat Hian berdiri dengan muka meringis, tubuhnya

menggigil, tangan dan kakinya tidak berani digeraki, terutama

tangan kanannya yang terpanggang pisau belati itu. Cuma

matanya yang dapat main, mengawasi si empee dan ke

sekitarnya

Bun Siu kagum bukan main. Selama sepuluh tahun ia

tinggal bersama si empee, cuma satu kali ia menyaksikan

empee itu mempertunjuki kepandaiannya, yaitu ketika dia

membinasakan Liangtauw Coa Tang Yong si Ular Kepala Dua.

Pula ketika itu dapat dibilang karena kebetulan. Sekarang Kee

Loojin memperlihatkan kepandaiannya yang istimewa.

Pertama-tama tikaman pisau belatinya yang sangat cepat dan

tepat. Kedua ialah caranya ia merampas goloknya Tat

Hian. Jurusnya ini ialah yang dinamakan “Menunjang

penglari, menukar tiang”, suatu jurus lihai dari ilmu tangan

kosong merampas senjata tajam. Itulah sama dengan ilmu

Kimna Ciu, yang gurunya Hoa Hui mengajarinya. Ia sendiri, ia

percaya, tidak nanti dapat bergerak dengan sebat.

Habis itu Kee Loojin mengulur pula tangannya, untuk

mengambil pedang pendek bergagang emas dan perak dari

pinggangnya si penyamun, terus ia menyerahkan itu kepada si

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

nona seraya ia berkata: “Nona, tolong kau mengambilkan

sehelai tambang.”

Bun Siu menyambuti pedang ibunya, tangannya

bergemetaran, lantas ia lari ke belakang, untuk mengambil

tambang yang diminta si empee, maka di lain saat empee itu

sudah lantas mencabut pisau belatinya yang memanggang

tangan si penyamun, tangan siapa terus ditelikung ke

belakang sambil ia berkata pula: “Nona, belenggulah bangsat

jahat ini!”

Bun Siu berdiri bengong, tangannya masih memegangi

pedang pendek ibunya, sedang kedua matanya basah dengan

air matanya. Ia seperti tidak mendengar perkataannya si

empee. Karena itu Supu yang menghampirkan, membantu

tuan rumah mengikat Tat Hian, kedua tangan dan kedua

kakinya, kedua tangannya itu tetap ditelikung.

Setelah itu, di antara sinar api, Kee Loojin mengawasi sapu

tangan yang si penyamun menyebutnya peta Istana Rahasia

Kobu. Terang ia nampak heran.

“Bolehkah kau menyerahkan sapu tangan ini padaku?”

kemudian ia tanya Supu.

Supu memperlihatkan roman bersangsi dan bersusah hati.

Empee ini sudah menolongi ia dan Aman, sepantasnya ia

mesti membalas budi, tidak peduli dengan mustika. Hanya…

hanya inilah sapu tangan tanda mata dari si nona Lie. Mana

dapat ia menyerahkan itu kepada lain orang?

Empee Kee mengawasi, ia dapat menduga hati orang.

“Begini saja,” katanya kemudian. “Kau kasih aku pinjam

lihat untuk satu hari, besok aku akan membayar pulang

padamu.”

Mendengar ini, girang Supu.

“Asal empee sudi membayar pulang, kau boleh pinjam itu

untuk sepuluh hari atau setengah bulan.”

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Aman tidak mengerti, ia heran sekali.

“Empee,” ia tanya, “barusan penyamun ini menyebut

bahwa sapu tangan ini ialah peta, entah peta apa Sebenarnya,

apakah artinya ini?”

Kee Loojin melirik kepada Bun Siu.

“Sebenarnya aku pun belum mengerti jelas,” sahutnya.

“Aku masih hendak memikirkannya dahulu.”

“Bangsat tua!” mendadak Tan Tat Hian mencaci tuan

rumah. “Kau telah menangkap aku! Mau apa sekarang? Kau

hendak membunuh aku atau menghukum picis? Lakukanlah!

Kalau aku mengerutkan saja alisku, aku si orang she Tan

bukannya satu hoohan!”

Kee Loojin mengawasi, ia menyahuti dengan tawar: “Kita

tidak berselisih, kita tidak bermusuhan, perlu apa aku

membunuh kau? Kau dan kawan-kawanmu telah mengganas

di gurun pasir ini, kamu main rampas, main membakar, main

membunuh manusia, sangat banyak kejahatanmu, untuk itu

bakal ada orang yang nanti membuat perhitungan denganmu.

Kau tunggulah sampai besok terang tanah, Supu nanti

menggusur kau kepada ketuanya, di sana orang nanti

menghukummu!” Supu berjingkrak. “Empee!” katanya,

separuh berseru, “apakah manusia jahat ini dari

rombongannya penyamun itu?”

“Kau tanyalah dia sendiri!” menjawab si empee singkat.

Supu mengangkat goloknya, ia menghampirkan Tat Hian.

“Kawanan bangsat yang membunuh ibu dan kakakku, jadi

itulah rombonganmu, jahanam?” dia tanya.

“Memang kawanan penyamun di gurun pasir itu ialah

rombongan tuan besarmu ini!” menyahut Tat Hian dengan

berani, mulutnya dipentang lebar, untuk sekalian mencaci.

“Jikalau kau berani mengganggu selembar saja rambutku

maka besok nusa semua saudaraku bakal meluruk kemari

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

untuk menuntut balas! Nanti semua kamu dibasmi berikut

segala ayam dan anjingmu!”

Supu gusar sekali, ia ingat sakit hati ibu dan kakaknya.

Maka ia mengayun goloknya.

Tan Tat Hian tertawa dingin, ia kata pula mengejek: “Orang

lain yang menangkap aku, kaulah yang enak saja hendak

membacoknya! Sudah aku bilang memang orang Kazakh

bangsa bernyali kecil dan sangat tidak tahu malu!”

Supu batal membacok, tapi ia pun tertawa ewah, ia kata:

“Baiklah, sekarang aku tidak akan bunuh mampus padamu,

tetapi besok, besok aku akan minta ayahku yang membikin

perhitungan denganmu! Kau tahu, orang tuaku itu telah

mencari kawanan bangsatmu sampai sepuluh tahun tetapi

masih belum bertemu juga! Besok kau nanti lihat sifatnya

orang-orang gagah bangsa Kazakh!”

Supu tahu memang keinginan utama dari ayahnya ialah

membinasakan dengan tangan sendiri musuh isteri dan

puteranya itu, maka adalah paling benar menyerahkan

penyamun ini kepada ayahnya. Karena itu, ia lantas kembali

ke tempatnya duduk.

Tan Tat Hian tertawa dingin. Dia kata: “Anak tolol, lekas

kau rampas pulang sapu tanganmu itu! Dengan mengasih

pinjam sapu tangan itu satu hari pada tua bangka ini maka itu

berarti bahwa harta besar dan mustika bangsamu, bangsa

Kazakh, telah…”

“Tutup bacotmu!” menyelak Kee Loojin. “Kau ngaco belo!

Apakah kau hendak adu kami satu dengan lain? Hm!”

Tan Tat Hian membandel.

“Itulah peta dari Istana Rahasia Kobu, bukankah?” kata dia

pula. “Eh, Supu, apakah kau menyangka tua bangka ini

manusia baik-baik? Haha! Anak tolol! Dia justeru hendak

mengangkangi harta karun kamu!”

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Kee Loojin seperti habis sabarnya, maka sebelah tangannya

terayun, sebilah pisau belatinya menyambar ke arah uluhati

penyamun besar kepala itu!

Tat Hian terikat kaki tangannya, ia melihat datangnya

serangan, ia tidak bisa berbuat lain daripada berkelit bersamasama

tubuhnya. Mungkin, masih tidak dapat ia bebas

anteronya. Di saat ia terancam bahaya maut itu, tangannya

Bun Siu terayun, lantas pedang pendeknya meleset,

menyambar pisau belati si empee, maka kedua senjata

beradu, terus membentur tembok di mana keduanya nancap!

Orang kaget menyaksikan kepandaiannya Bun Siu itu,

seorang nona yang nampaknya bertubuh lemah, yang sekian

lama berdiam saja. Kee Loojin heran hingga ia melongo,

mulutnya celangap. Bukankah ia telah tinggal bersama nona

itu sepuluh tahun lebih? Adalah si gagu yang tertawa a-a-u-u

sambil bertepuk tangan.

“Kee Lootiang,” berkata Bun Siu tawar, “saudara ini telah

membilangnya besok pagi orang ini hendak diserahkan kepada

orang tuanya untuk diperiksa dan dihukum, oleh karena itu

sekarang ini tak usahlah kau membinasakan dia. Hanya,

mengenai istana Rahasia Kobu itu, aku ingin mendengarnya!

Bagaimana itu sebenarnya? Umpama dia hanya ngaco belo,

kita boleh membiarkannya, kita mengganda tertawa saja! Buat

apa kita bersungguh-sungguh terhadapnya?”

“Kakak ini benar,” berkata Aman. “Supu, tidakkah ini aneh?

Kenapa sapu tangan sahabatmu itu justeru suatu peta?”

Kee Loojin kenal baik tabiatnya Bun Siu, biarnya dia lemah

lembut, kemauannya keras, sukar dicegah, maka itu, ia suka

membiarkan Tan Tat Hian bercerita.

Penyamun itu kata dengan nyaring: “Tuan besarmu telah

terjatuh ke dalam tangan kamu, tuan besarmu tidak takut apa

juga! Biarlah aku menuturkan tentang peta ini! Lukisan di

dalam sapu tangan ini adalah lukisan atau peta dari Istana

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Rahasia Kobu itu. Coba kamu mengawasinya dengan saksama,

kamu meneliti sutera dan benang yang dipakai menyulam dan

menjahitnya, yang merupakan gunung, air dan gurun.

Tidakkah itu ada sutera dan benang wol kuning, yang sama

warnanya hingga sangat sukar untuk dibedakannya? Coba itu

sutera dan benang wol terkena darah, lantas menjadi nyata

perbedaannya. Lihatlah sekarang? Bukankah benang wol itu

lebih banyak menyedot darah daripada benang sutera?”

Bun Siu mengangkat sapu tangan itu, untuk meneliti.

Benarlah keterangan Tat Hian itu. Benang yang menyedot

darah menjadi merah, yang tidak, tetap kuning, karena mana,

gambar nampak menjadi jelas sekali. Baru sekarang ia

mengerti, sapu tangan itu menggenggam rahasia, dan itulah

peta Istana Rahasia Kobu.

Tan Tat Hian melanjuti kata-katanya: “Rahasianya Istana

Kohii itu dibawa oleh seorang edan. Inilah kejadian pada

belasan tahun yang lampau. Di kota Lokyang ada hidup satu

jago tua she The bernama Kiu In. Pada suatu hari dia

mengadakan pesta ulang tahun kedelapan puluh. Banyak

orang gagah yang datang untuk memberi selamat padanya.

Selagi pesta berjalan, muncullah si edan itu, dia tertawa lebar,

tangannya menggenggam pelbagai macam mutiara, kumala

dan lainnya batu permata. Dia lantas meletakinya semua itu di

atas meja sambil berkata: ‘Suhu, aku membawa hadiah

untukmu!” Memang benar, ialah muridnya The Kiu In. Semua

tetamu menjadi berkunang-kunang matanya menyaksikan

harta besar itu, yang semuanya indah. Aneh adalah si edan

itu, habis tertawa, dia menangis, lalu dia tertawa pula,

menangis lagi. Ketika dia ditanya, dari mana dia

memperolehnya barang-barang permata itu, dia menjawab:

“Istana Rahasia Kobu! Istana Rahasia Kobu! Istana Rahasia

Kobu!” Ketika itu The Kiu In tidak mau banyak tanya-tanya

lagi, ia menyuruh membawa muridnya itu masuk untuk

beristirahat.”

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Inilah cerita yang menarik hati, orang banyak ketarik untuk

mendengarinya.

Tat Hian melanjuti pula: “Di antara hadirin ada banyak

orang yang lihai, di antara mereka banyak juga yang matanya

menjadi merah sebab melihat permata-permata yang berharga

besar itu, mereka itu menanya si gila di mana letaknya Istana

Kobu itu. Si gila menjawab tidak keruan, omongannya putar

balik. Pertanyaan The Kiu In sendiri dijawab sama tidak

keruan junterungannya. Tiga hari telah lewat atau pada

tengah malamnya tuan rumah kedapatan terbunuh secara

gelap. Berbareng dengan itu, si edan pun lenyap. Di dadanya

The Kiu In menancap senjata yang menyebabkan

kebinasaannya itu, ialah sebatang pusut yang menjadi

senjatanya si edan, sebelah sepatu siapa pun ketinggalan di

depan pembaringan, sepatu itu berlepotan darah. Di lantai ada

tapak-tapak kaki, yang cocok waktu diakuri sama sepatunya si

edan. Maka orang menduga si edan kalap dan membunuh

gurunya sendiri dan terus menghilang. Karena itu orang

melainkan bisa menyesali nasibnya jago tua yang malang itu.

Hanya, apa yang heran, kenapa The Kiu In yang demikian lihai

kalah oleh muridnya dan kenapa di kamarnya tak ada bekasbekasnya

pertempuran atau pergulatan? Keluarga The, dan

juga beberapa sahabatnya, lantas pergi mencari si edan itu,

tetapi dia tidak kedapatan, dia tidak ada tanda-tanda atau

bekas-bekasnya, hingga orang mau menduga, kalau dia tidak

terjeblos di jurang mungkin dia mati membuang diri ke sungai.

Di lain pihak semenjak itu, halnya Istana Rahasia Kobu itu

lantas menjadi buah pembicaraan dan lantas juga menjadi

semacam gelombang di antara kaum Rimba Persilatan. Dua

tahun setelah itu, lalu tersiar kabar angin bahwa ada orang

yang menemui peta istana rahasia itu di tengah jalan. Peta itu

dihubungi sama harta besar itu, yang orang percaya masih

tersimpan banyak di dalam istana rahasia. Karena ini, peta itu

menjadi perebutan di antara jago-jago, hingga ada jago-jago

yang membuang jiwanya secara sia-sia. Kemudian lagi, ialah

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

belasan tahun yang lalu, peta itu terjatuh di tangannya Pekma

Lie Sam dan isterinya Kimgin Siauwkiam Sam Niocu.

Sedapatnya peta itu, Lie Sam dan isterinya itu sudah lantas

berangkat ke Hweekiang. Hanyalah, entah kenapa, kemudian

kedapatan suami isteri itu telah mati di wilayah asing itu…”

VI

Mendengar sampai di situ, Bun Siu kata dengan dingin:

“Menurut apa yang aku dengar, Lie Sam suami isteri telah

terbinasa di tangannya rombongan orang-orang Chin Wie

Piauwkiok. Itulah artinya perbuatan kau sendiri, Tan

Toapiauwtauw!”

Tan Tat Hian bercekat hati, tubuhnya menggigil. Ia pun

merasa tertusuk dengan sebutan toapiauwtauw itu, artinya,

piauwsu yang terbesar. Tapi ia berani, ia menjawab dengan

terus terang.

“Tidak salah!” katanya. “Suami isteri Lie Sam itu

dibinasakan oleh aku dan saudara-saudaraku itu. Kami telah

menggeledah tubuh suami isteri itu, peta tersebut tidak

kedapatan pada mereka Maka itu mestinya peta ada di tangan

anak perempuan mereka, yang lolos dari tangan kami. Maka

kami lantas mencari anak itu, sampai sekarang ini sudah

belasan tahun, tanpa ada hasilnya. Selama itu kami telah

menjelajah bagian selatan dan utara pegunungan Thiansan.

Sungguh kebetulan, hari ini aku menemuinya di sini! Bukankah

itu berarti Thian telah menakdirkan kita berenam supaya

menjadi beruntung? Kamu hendak membunuh aku, tidak apa!

Tapi, kalau kamu memikir sebaliknya; umpama dari

musuh kita menjadi sahabat-sahabat, bukankah itu ada

baiknya? Nanti aku mengajak kamu pergi mencari Istana

Rahasia Kobu itu, jikalau kita berhasil, kita membagi rata.

Tidakkah itu berarti kita sama-sama memperoleh harta besar?

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Jikalau peta ini terjatuh ke dalam tangan si tua bangka

bongkok sebagai unta, pastilah dia menelannya sendiri harta

besar itu!”

Sengaja Tat Hian mengucapkan kata-kata terakhir itu,

untuk mengadu Bun Siu sekalian terhadap Kee Loojin, supaya

mereka berselisih dan saling bunuh. Ia mengharap mereka itu

timbul keserakahannya.

Kee Loojin tertawa dingin. “Dengan telah mempunyai

petanya, mustahilkah kami tidak dapat pergi mencarinya

sendiri?” kata dia.

Tan Tat Hian berkata pula. Kalau tadi ia menggunai bahasa

Kazakh, sekarang ia mengubahnya dengan bahasa Tionghoa.

Ia kata: “Umpama kata kamu dapat mencari istana rahasia itu

dan mengambil memperolehnya harta besarnya, tetapi ingat,

harta itu ialah hartanya bangsa Kazakh, maka maukah bangsa

ini menyerahkannya kepada kamu? Kamu bangsa Han?”

“Menurut kau, bagaimana?” Kee Loojin tanya Ia ingin

ketahui pikiran orang.

“Marilah kita bekerja sama,” mengajak Tat Hian. “Paling

dulu kita binasakan semua orang Kazakh di dalam rumah ini.

Perbuatan ini cuma kau dan aku yang mengetahuinya, dari itu

tidak ada kekuatiran untuk nanti bocor. Lantas kita pergi

mencari harta karun itu. Kalau kita berhasil, kau boleh ambil

tujuh bagian, untukku cukup tiga bagian saja…”

“Kenapa kau suka mengalah demikian banyak?” si empee

tanya.

“Aku kalah gagah dari kau, kau berhak mendapat lebih

banyak. Umpama kata kau suka menyerahkan nona Kazakh

yang cantik ini padaku, aku suka mengalah lebih jauh, kau

boleh ambil delapan bagian.”

Pembicaraan itu tidak dimengerti oleh Supu dan Aman,

mereka berdiam saja. Tidak demikian dengan Bun Siu, yang

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

menjadi marah sekali. Di dalam hatinya, ia kata: “Bangsat, kau

sangat jahat! Bukankah kematianmu sudah di hadapan mata?

Kenapa kau masih memikir busuk sekali?”

Kee Loojin berkata: “Ini satu nona Kazakh lihai sekali,

belum tentu kita dapat melawan dia…”

“Kau dapat membokong dia. Dia tentunya tidak bersiaga.”

Kee Loojin berdiam, agaknya ia berpikir.

“Ah, begini saja,” katanya sesaat kemudian. “Diam-diam

aku mengutungi tambang belenggumu, aku berikan kau golok,

lantas kau menghampirkan dia, untuk kau membacok

punggungnya…”

“Nona ini sangat cantik, sayang kalau dia terbinasa,” kata

Tat Hian. “Karena tidak ada lain jalan, baiklah…”

Bun Siu dapat menerka maksudnya Kee Loojin. Terang si

orang tua ingin ialah yang membinasakan penjahat ini.

Selagi Tat Hian dan Kee Loojin berdamai sampai di situ,

dari kejauhan terdengar suara orang memanggil: “Supu!

Supu!” disusul sama “Aman! Aman!”

Hampir berbareng, Supu dan Aman berlompat bangun.

“Ayah, aku di sini!” mereka pun menyahuti.

Kemudian keduanya berlari-lari ke luar, Supu di depan,

Aman di belakang. Mereka tidak menghiraukan lagi angin

besar dan salju berhamburan, hingga mereka sukar bernapas.

Hari itu Cherku minum arak di rumah Suruke, ketika turun

hujan salju dan angin keras dan sampai sore anak-anak

mereka belum muncul, keduanya menjadi berkuatir, mereka

lantas pergi mencari, di sepanjang jalan mereka memanggilmanggil.

Girang mereka akan menemui anak mereka tidak

kurang suatu apa. Supu dan Aman lantas mengajak mereka ke

rumah Kee Loojin.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Tiba di depan pintu, mendadak Suruke berkata: “Bukankah

ini i umahnya si orang Han yang harus mampus? Tidak, aku

tidak sudi masuk ke rumahnya!”

“Tidak mau masuk?” kata Cherku. “Habis kita berlindung di

mana? Kupingku, hidungku, telah pada beku…”

Suruke ada membekal buli-buli berisi arak, di sepanjang

jalan ia menenggak araknya untuk melawan hawa dingin,

karena itu, ia sudah terpengaruhi susu macan. Maka ia kata:

“Aku lebih suka batok kepalaku beku semua, tidak nanti aku

masuk ke rumah orang Han ini!”

“Lihat anakku yang menjadi mustikaku ini,” berkata Cherku.

“Kalau dia kenapa-kenapa karena beku, akan aku membuat

perhitungan denganmu! Aman, mari kita masuk!”

Suruke tidak menyahuti, sebaliknya, ia melirik puteranya.

Mendadak ia berseru: “Hm, kau telah pergi ke rumahnya

orang Han, anak mau mampus!” Terus ia mengayun

tangannya hingga tubuh Supu terhuyung. Anak ini tidak

menangkis atau berkelit. Ia membentur Aman, hingga si nona

roboh ke salju.

Cherku menjadi gusar. “He, kau berani memukul anakku?”

ia menegur. “Dia belum menjadi nona mantumu, sudah berani

kau memukulnya! Tidakkah di belakang hari dia bakal disiksa

mampus olehmu?”

“Kalau aku suka memukul, aku memukul, mana dapat kau

melarang aku?” kata Suruke sembarangan. Tidak dapat ia

mengatasi lagi pengaruh air kata-katanya.

Cherku pun menjadi gusar. “Kalau kau laki-laki, mari kita

bertempur pula!” dia menantang.

“Baik, mari, mari!” Suruke menyambut, dan lantas

kepalannya melayang, bahkan tepat mengenai dadanya

lawan.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Cherku pun sudah mulai dipengaruhi arak, maka beda dari

biasanya, ia melayani. Ia tidak roboh karena tinju itu, lantas ia

membalas, dengan mengayunkan sebelah kakinya, guna

menggaet. Tanpa ampun, Suruke roboh. Tapi dia jatuh sambil

tangannya menyambar ke paha, maka keduanya jatuh

berguling ke salju di mana mereka berkelahi terus sambil

bergulingan.

Supu dan Aman menjadi bingung, sia-sia belaka mereka

mencoba memisahkan. Dengan suara saja, mereka tidak

berhasil.

Selagi bergulat itu, Suruke menjumput salju, ia menyumbat

mulut Cherku, hingga lawan ini gelagapan. Ia tertawa lebar.

Justeru itu, Cherku memuntahkan salju di mulutnya itu, terus

dia meninju, telak mengenai hidung. Suruke tidak kesakitan,

hanya hidungnya mengeluarkan darah. Masih ia tertawa.

Sekarang ia menjambak rambutnya Cherku.

Merekalah orang-orang kosen bangsa Kazakh tetapi di

dalam sinting itu, lagak mereka mirip dua orang bocah.

Kee Loojin bersama Bun Siu lari ke luar, mereka mendengar

suara berisik dari dua orang yang bergulat itu. Si gagu turut

keluar juga.

Sekarang ini, Supu dan Aman tidak bingung lagi,

sebaliknya, mereka tertawa. Mereka ketahui ayah mereka lagi

sinting.

Dalam pergulatan lebih jauh, Suruke jatuh di bawah, dia

kena tertindih, sia-sia dia berontak, akhirnya dia diam saja.

Supu kaget.

“Lepaskan ayahku!” ia berteriak seraya menghampirkan,

untuk menarik Cherku. Ia kuatir ayahnya terluka. Di luar

dugaannya, setelah mendekati, ia mendapatkan ayahnya itu

lagi tidur menggeros…

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Akhirnya semua orang tertawa. Suruke dikasih bangun,

diajak masuk ke dalam. Cherku dipegangi Aman, ia turut

masuk. Suruke lantas ngoceh: “Haha! Kau tidak dapat

melawan aku! Akulah jago Kazakh nomor satu, Supu yang

nomor dua, nanti anak Supu yang nomor tiga! Kau, Cherku,

kau yang nomor empat…” Lantas ia bernyanyi.

Cherku pun sinting tetapi ia turut tertawa.

Begitu mereka tiba di dalam, Bun Siu berseru kaget. Di situ

tidak ada Tan Tat Hian, yang ada hanya beberapa helai

tambang belengguannya, yang ujungnya pada hangus,

tandanya si penyamun membakar tambang itu untuk

membebaskan diri dan lalu kabur dari pintu belakang. Di atas

meja, selainnya golok, sapu tangan yang merupakan peta pun

lenyap.

Dalam kagetnya, Kee Loojin lari ke belakang untuk

mengejar.

Pintu belakang madap ke utara, begitu pintu dipentang,

angin dan salju meniup keras, sampai empee Kee itu

bersangsi untuk nerobos terus. Tengah ia bersangsi itu Bun

Siu menghampirkan padanya, untuk berkata dengan perlahan:

“Angin dan salju begini besar, dia tidak dapat kabur jauh,

kalau dia paksa menyingkir juga, mesti dia mati di tengah

jalan. Baiklah kita menanti sampai langit sudah terang dan

badai reda, baru kita pergi mencari mayatnya.”

Kee Loojin setuju, ia mengangguk. Ia menutup pula

pintunya, lalu berdua mereka kembali ke ruang depan. Di sana

tak nampak si gagu yang agak tolol.

Bun Siu merasa kasihan pada si gagu itu, ia membuka pintu

depan. Ia memanggil berulang-ulang, tanpa ada yang

menyahuti.

“Dia tuli, dia tidak mendengar!” kata empee Kee.

Bun Siu masih melihat kelilingan, baru ia kembali ke dalam.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Sampai fajar, baru badai mulai reda.

Suruke sadar dengan tidak ingat lelakonnya di waktu

mabuk, melihat Kee Loojin, ia menjadi gusar, tapi Supu dan

Aman segera membujuki seraya menuturkan bahwa orang tua

bangsa Han inilah yang menolongi mereka dari penyamun.

“Oh, kaulah yang menolongi anakku!” kata Suruke. “Kau

orang baik, aku berterima kasih padamu!” Ia lantas memberi

hormat. Kemudian ia menambahkan: “Mari kita susul

penyamun itu, agar dia tidak lolos!”

Cherku pun turut menghaturkan terima kasih.

Sebenarnya Kee Loojin tidak setuju pergi beramai-ramai

tetapi sebab tidak dapat alasan untuk menolak, ia terpaksa

pergi bersama. Ia membekal rangsum kering.

Tan Tat Hian menyingkir selagi hujan salju, tapak kakinya

telah lenyap pula, tetapi Suruke dan Cherku ada penduduk

gurun asli, mereka bisa lihat tanda-tanda yang luar biasa,

tanda itu membuatnya menduga si orang jahat.

Tujuan mereka ke arah barat. Itu artinya tujuan gurun

pasir besar. Empat orang Kazakh itu lantas ingat dongeng hal

memedi di gurun, air muka mereka lantas bersinar lain.

Suruke besar nyalinya, ia kata nyaring: “Biarnya benar-benar

kita bertemu memedi, mesti kita bekuk manusia jahat itu!

Supu, mau tidak kau membalaskan sakit hati ibu dan

kakakmu?”

“Tentu, ayah!” jawab sang anak. “Aku akan turut ayah!

Aman, kau baiklah pulang.”

Si nona pun berani.

“Kau dapat pergi, aku dapat!” jawabnya. Di dalam hatinya

ia hendak membilang: “Kalau kau mati, mana bisa aku hidup

sendiri saja?”

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Aman, lebih baik kau turut ayahmu pulang,” Suruke

membujuk. “Cherku bernyali kecil, dia paling takut setan!”

Mata Cherku mendelik, dia lantas melombai jalan di depan.

Berjalan di gurun, yang ditakuti ialah tidak ada air, maka air

itulah bekal utama. Kali ini habis hujan salju, pasir pun tidak

beterbangan, perjalanan rombongan ini tak ada rintangannya.

Makin ke barat, tanda-tandanya Tan Tat Hian makin nyata.

Bahkan kemudian, terlihat tegaslah tapak kakinya, yang tidak

ketutupan salju lagi. Itulah bukti bahwa dia telah tiba di situ

sesudah salju berhenti.

“Sungguh lihai jahanam itu!” kata Kee Loojin seperti

mendumal. “Tadi malam badai dahsyat tetapi dia tidak

mampus dan dapat berjalan terus hingga kemari!”

“Eh, masih ada tapak kaki seorang lain!” Suruke berseru

mendadak. Dia menunjuk tapak kaki Tan Tat Hian. “Orang ini

jalan tepat di tapak kakinya si manusia jahat! Tanpa

perhatian, tak akan terlihat tapak kaki yang menyusun ini.”

Mendengar begitu, semua orang membungkuk, untuk

meneliti. Benar, tapak kaki itu berbekas lebih mendalam

daripada biasanya.

“Mustahilkah ini tapak kaki si gagu?” kata Bun Siu. Tadi

malam ia telah melihat sinar mata aneh dari si gagu dan itu

mendatangkan kecurigaannya. Hanyalah tapak kaki yang

kedua ini rada enteng, bukti bahwa orang ringan tubuhnya.

Mungkinkah benar dia si gagu dan dia sebenarnya lihai?

Kee Loojin tidak membilang apa-apa, dengan mengikuti

tapak kaki itu, ia berjalan terus. Ia ingin cepat menyandak. Tat

Hian seorang ia tidak begitu kuatirkan, ia takut penyamun itu

memperoleh kawan yang lebih lihai.

Jalan di salju ini sulit juga. Makin ke depan, salju makin

tebal, sampai mendam ke lutut. Perlahan jalan mereka, hingga

kejadian mereka mesti singgah, bermalam di tengah jalan.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Mereka menggali salju, hingga nampak pasir, untuk rebah di

dalam liang, tubuh mereka digulung dengan permadani.

Mereka tidur bergeletakan di atas pasir.

Ketika besoknya pagi Bun Siu mendusin, ia mendengar

Suruke dan Cherku membikin banyak berisik. Sebabnya ialah

Kee Loojin telah lenyap, rupanya dia berangkat malam-malam

atau mendekati fajar. Ia heran sekali sedang ia tahu, selama

perkenalan kira-kira sepuluh tahun, empee itu agaknya tawar

sama harta. Kenapa, setelah mendengar halnya istana rahasia,

dia menjadi demikian ketarik hatinya, hingga dia seperti

berubah menjadi seorang lain?

Dari enam orang, sekarang jumlah mereka menjadi tinggal

lima. Mereka melanjuti perjalanan mereka, untuk menyusul si

penjahat, untuk menyusul juga Kee Loojin, si kawan yang

menjadi aneh kelakuannya itu.

Bun Siu kemudian mengenali, jalanan yang dilalui ialah

jalanan yang ia kenal baik. Itulah jalanan untuk pergi ke

rumah Hoa Hui, gurunya. Ia jadi berpikir: “Baiklah aku ajak

suhu pergi bersama. Dia luas pengetahuannya, dia dapat

membantu banyak…”

Bun Siu mau mencari Istana Rahasia Kobu bukan untuk

hartanya. Ia hanya ingin mewujudkan cita-cita ayah dan

ibunya, untuk dapat tiba di sana. Segera mereka mulai

memasuki daerah pegunungan. Di sini Bun Siu sengaja

berjalan perlahan hingga ia ketinggalan jauh di belakang.

Lekas-lekas ia pergi ke gubuk gurunya. Untuk herannya, sang

guru tidak kedapatan. Ia menduga guru itu lagi pergi berburu

atau mencari bahan obat-obatan. Perbuatan itu biasa

dilakukan setiap habis hujan salju. Karena ia tidak dapat

menanti, ia lantas mencoret-coret beberapa huruf di atas

tanah, untuk gurunya itu, lalu lekas-lekas ia menyusul

rombongan Suruke.

Mereka memasuki wilayah pegunungan, yang makin lama

makin sukar dilaluinya, banyak pohon duri dan lainnya.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Syukur, tapak kaki masih terlihat di antara sisa-sisa salju.

Maka mereka maju terus.

Herannya ialah, istana rahasia belum tampak tandatandanya…

Aman memangnya berkuatir ia menjadi takut. Ia ingat

cerita halnya di gurun pasir ada mernedinya. Tapak-tapak kaki

yang mereka ikuti itu, di matanya, ada bagaikan jalanan untuk

ke neraka…

Juga Suruke dan Cherku bersangsi, mereka berkuatir,

hanya di mulut, mereka masih omong besar, mereka tidak

mau saling kalah, bahkan mereka bertengkar.

“Cherku, kau lihat, tubuhmu bergemetar,” kata Suruke.

“Kalau kau jatuh sakit karena ketakutan, inilah bukannya

main-main.

Baiklah kau berdiam di sini saja menantikan kami, jikalau

aku mendapatkan harta, tentu aku akan membagi kau satu

bagian…”

“Di saat ini jangan orang berlagak kosen!” kata Cherku.

“Lihat sebentar, kalau memedi muncul, siapakah yang bakal

kabur lebih dulu? Mungkin kau atau anakmu!…”

“Memang, kami ayah dan anak, kalau kami melihat

memedi, kami bakal lari kabur!” kata Suruke pula. “Tapi kami

bukannya seperti kau, melihat memedi, kau ketakutan sampai

kau bertekuk lutut di tanah dan tubuhmu menggigil?”

Pulang pergi, mereka itu menyebut-nyebut iblis gurun…

Jalan lagi sekian lama, langit mulai gelap.

“Ayah, mari kita bermalam di sini,” berkata Supu. “Besok

pagi kita berangkat pula.”

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Bagus!” berkata Cherku tertawa sebelum Suruke

menyahuti anaknya. “Kamu dan anak boleh singgah di sini,

untuk menyingkir dari bahaya! Aman, mari kau ikut ayahmu!”

“Fui!” Suruke berludah, lalu ia maju di depan, mendahului

yang lain.

Supu memunguti cabang-cabang kering, untuk membuat

obor. Maka itu, malam-malam, di dalam hutan, mereka

berjalan terus. Sulit perjalanan itu, sebab mereka sekalian

mesti mencari tapak kaki TatHian. Suasana pun seram kapan

sang burung malam mengasih dengar suaranya. Orang kaget

setiap kali dari atas pohon terjatuh kepingan salju, yang

mendatangkan suara berisik, hingga hati mereka berdebaran.

“Ah, celaka!” berseru Aman tiba-tiba selagi ia berjalan

dengan hati kebat-kebit.

“Ada apa?” tanya Supu kaget. “Lihat, itulah gelangku yang

kemarin ini aku kena bikin lenyap!”

kata Aman, tangannya menunjuk ke depan di mana ada

sebuah benda dengan cahaya berkilauan.

Gelang itu terletak sejarak tiga tombak dari lima orang itu.

Memang aneh gelang itu

didapatkan di situ.

“Tadinya aku memikir untuk mencarinya, kenapa sekarang

gelang ini berada di sini?” kata Aman.

“Kau periksa dulu, benar atau tidak itulah kepunyaanmu,”

kata Cherku, sang ayah.

Aman jeri, ia tidak berani pergi menghampirkan. Maka

Supu yang maju dan memungutnya.

“Memang, inilah kepunyaanmu!” kata si pemuda sebelum si

pemudi memeriksanya. Lantas dia menyerahkannya. Aman

masih takut untuk menyambuti.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Kau buang saja,” katanya. suaranya parau.

“Mustahilkah ini perbuatan memedi?” kata Supu, yang air

mukanya lantas berubah, demikian juga yang lain-lainnya.

Semua berdiam.

“Mungkinlah ini lebih bebat dari gangguan memedi,” kata

Bun Siu kemudian. “Mari kita ambil jalan yang kuna, jalanan

ini ada jalanan bekas kita…”

Mereka terpengaruh oleh kepercayaan halnya sesat jalan,

hingga mereka bakal terputar-putar di situ juga sampai

mereka mati sendirinya…

Suruke mau menyangsikan kekuatiran Bun Siu tetapi

buktinya ialah keanehan dari gelangnya Aman itu.

Tanpa banyak omong, mereka itu berjalan terus. Gelang

diletaki di tanah. Mereka berjalan sekian lama, lantas mereka

melihat gelang itu!

Suruke dan Cherku bungkam. Mereka tidak berani bicara

besar lagi atau saling mengejek.

“Kita mengikuti si penyamun dan Kee Loojin,** berkata Bun

Siu, “kalau mereka kesasar, mereka pun bakal kembali kemari,

maka itu mari kita berhenti di sini. Kita menantikan mereka

itu…”

Pikiran ini mendapat kesetujuan, maka mereka, lantas pada

menyingkirkan salju, untuk mencari tempat duduk

masingmasing. Supu menyalakan api, membuat unggun,

mereka duduk mengitari itu. Masih mereka berdiam, tidak ada

yang niat berbicara, tidak ada yang berkeinginan tidur. Semua

menantikan munculnya Tan Tat Hian dan si empee Kee,

semua mereka berdenyutan hatinya. Bagaimana kalau benarbenar

Tat Hian dan Kee Loojin tersesat dan muncul di depan

mereka? Tidakkah itu berarti celakanya nasib mereka

semua?…

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Sekian lama mereka berdiam dalam kesunyian, atau

mendadak kuping mereka menangkap suara tindakan kaki.

Mereka terkejut, hati mereka terkesiap. Hampir berbareng,

mereka berlompat bangun. Hanya sejenak, suara tindakan

kaki itu lenyap Hingga tinggallah hati mereka yang

berdebaran, yang memukul.

Lagi sejenak, tindakan kaki itu terdengar pula, agaknya lagi

menuju ke arah barat daya, malah terdengarnya main jauh,

akan kemudian lenyap sebab diganggu berkesirnya angin yang

keras, yang membawa datang salju, hingga unggun mereka

padam dalam sekejap kena tertimpa salju itu.

Dengan padamnya api, gelaplah pandangan mata mereka.

Justeru itu, kuping mereka mendengar suara apa-apa.

Kecuali Aman, Suruke berempat menghunus senjata

mereka. Aman menjerit, ia menubruk Sapu ke dada siapa ia

menyedapkan kepalanya.

Kembali terdengar suara tindakan kaki itu yang teras

lenyap di kejauhan.

Habis itu, terus sampai fajar tidak ada terjadi peristiwa apa

juga. Munculnya matahari membuat hati mereka tenang

kembali. Dengan lantas mereka melanjuti perjalanan mereka

itu.

Aman berlaku hati-hati maka ia melihat di kirinya, ada

cabang-cabang pohon yang rebah dan patah.

“Lihat ini!” katanya tiba-tiba

Supu menyingkap cabang yang rebah itu, di bawah itu ia

melihat dua buah tapak kaki, hingga ia menjadi girang luar

biasa.

“Di sini mereka!” ia berseru.

“Inilah jalan yang mereka ambil!”

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Mungkin penyamun itu keliru melihat petanya,” kata

Aman. “Dia tersesat, dia kena jalan terputar-putar di sini

hingga dia menyebabkan kagetnya kita semua…”

Suruke tertawa lebar.

“Benar!” katanya nyaring. “Dua anggauta keluarga Cherku

bernyali kecil, mereka ketakutan mernedi selama satu

malaman! Keluarga Suruke sebaliknya gagah, mereka justeni

mengharap-harap munculnya si memedi, untuk dijiwir

kupingnya, guna melihatnya tegas-tegasi”

Cherku tidak melayani, dia pun memandang ke lata arah,

hanya mendadak dia memutar tubuh, sebelah tangannya

menyambar!

Suruke tidak menyangka jelek, tahu-tahu sebelah

kupingnya telah kena tercekal dan tertarik Cherku, hingga dia

kaget Tidak ayal lagi, dia meninju. Meski begitu, Cherku tidak

roboh, karena tubuhnya terhnyung, ia menarik kuping orang

yang dipeganginya itu.

Suruke kaget dan kesakitan, kupingnya itu pecah dan

mengeluarkan darah. Kalau kuping itu terlarik lebih keras

sedikit, mungkin akan copot

Bun Siu mau tertawa melihat kelakuannya dua orang

Kazakh yang Jenaka itu, tidak peduli usia mereka sudah empat

puluh lebih, lagak mereka mirip bocah, sebentar baik,

sebentar bertengkar, sebentar lagi bertarung. Ketika mereka

terpisah, disebabkan saling tinju, yang satu hidungnya matang

biru, yang lain matanya bengap!

Mereka melanjuti terus perjalanan mereka. Jalanan kali ini

berliku-liku, sukar dilaluinya. Ada kalanya mereka melintasi

mengitari bukit, ada kalanya masuk kedalam gua, melintasi

terowongan wajar. Syukur ada salju, terus-terusan mereka

melihat tapak kaki, yang terus mereka ikuti. Aman bermata

celi, kalau tapak suram atau lenyap, dialah yang meneliti.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Dalam batinya Bun Stu kata: “Istana rahasia itu benarbenar

luar biasai Tanpa peta, bagaimana dia dapat dicari?”

Jalan sampai tengah hari, sebab satu malam mereka tidak

tidur, semua orang menjadi letih sekali, kecuali Bun Siu, yang

ilmu dalamnya sudah ada dasarnya, dia masih segar seperti

biasanya.

“Ayah, Aman sudah tidak kuat jalan, kita singgah di sini,”

kata Suptt pada ayahnya.

Belum lagi ayah itu menyahuti atau mereka mendengar

seruannya Cherku, yang jalan di paling depan. Suruke lompat

ke depan, guna menghampirkan kawannya, yang teraling

dengan segumpalan pepohonan. Selewatnya itu, matanya

dibikin silau dengan cahaya kuning emas yang berkilauan,

hingga sukar untuk ia melihatnya.

VII

Dengan terpaksa ayahnya Supu ini memeramkan matanya.

Sampai sekian lama, baru ia membukanya perlahan-lahan.

Masih ia merasa silau, sampai berkunang-kunang. Untak dapat

melibat terus, ia memiringkan tubuhnya. Ketika ia telah

melihat tegas, ia menjadi heran dan kagum. Di depan ia ada

sebuah bukit, di atas itu ada sebuah pintu yang terlapiskan

emas. Itulah sinar yang menyilaukan mata, sebab emas itu

ditojo matahari dan menjadi memancarkan sinar berkeredepan

itu.

Cherku melihat pintu itu maka dia berseru. Suruke pun

mengasih dengar seruannya, disusul oleh Bun Siu, Supu dan

Aman» yang menyusul belakangan ini juga, mulanya merasa

silau.

“Istana Rahasia Kobu!” demikian suara mereka serempak.

Mereka tidak sangsi pula atas penemuan mereka itu.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Suruke lari menghampirkan pintu, ia menolak dengan

kedua tangannya. Pintu itu tidak bergerak.

Cherku maju bersama, untuk membantui, sia-sia saja,

meskipun mereka telah mencoba menggunai pundak mereka.

Pintu, yang berdaun dua, kuat sekail

“Penyamun jahanam itu berada di dalam, dia menguncikan

pintu!” kata Suruke gusar.

Aman memandangi pintu itu, ia tidak melihat apa-apa yang

mencurigai. Ia lantas meraba gelang pintu, ia putar itu ke kiri.

Pintu itu tetap tidak bergerak. Ia memutar pula, sekarang ke

kanan. Untuk herannya, ia merasa putarannya longgar. Ia

lantas memutar pula, terus, sampai beberapa kali.

Suruke dan Cherku mencoba pula membentur pintu dengan

tubuh mereka. Kali ini mereka berhasil. Dengan mendadak

kedua daun pintu menjebtak terbuka. Ini pun di luar dugaan

mereka. Tentu sekali, mereka menjadi sangat girang. Sambit

tertawa, mereka merayap bangun, sebab dengan

menjeblaknya pintu, mereka roboh bersama! Di sebelah dafam

tampak gelap. Itukah bukan ruang hanya lorong, jalanannya

seperti gang. Maka Supu lantas menyalakan obor, untuk

menyuluhi. Dengan sebelah tangan menyekat goloknya, ia

maju di muka.

Tiba di ujung lorong, mereka menghadapi jalan cagak tiga.

Di dalam istana ini tidak ada salju, jadi tidak dapat mereka

melihat tapak kakinya si penyamun atau empee Kee. Cagak

mana mereka harus ambil?

Kembali Aman menunjuk keterlitiannya. Ia membungkuk

untuk dapat memperiapkan lantai. Ia mendapatkan, cagak kiri

dan kanan ada tapak kakinya yang enteng, yang tipis sekali.

Ia memberitahukan apa yang ia lihat itu.

“Sekarang begini,” berkata Suruke. “Kita pun memecah diri,

ialah tiga di kiri, dua di kanan. Di dalam baru kita bertemu.”

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Tidak dapat kita berbuat demikian,” kata Bun Siu. “Istana

ini dinamakan istana rahasia, sudah pasti jalannya pun jalan

terahasia. Menurut aku paling benar kita tetap berjalan

bersama-sama.”

Suruke menggeleng kepala, “Berapakah luasnya gua ini?”

katanya. “Anak perempuan bernyali kecil, sungguh aku

kewalahan!”

Meskipun ia membilang demikian, kejadiannya mereka

berlima berjalan bersama, mereka tidak memecah diri. Lebih

dnlu mereka mengambil jalan cagak kanan, yang kelihatan

lebar.

Baru jalan sepuluh tombak, Suruke berpikir. Sekarang ia

baru percaya Bun Siu berpikiran lebih panjang. Pula di depan

mereka terdapat lagi jalan pecahan. Maka lagi sekari mereka

memperhatikan lantai, untuk mengambil jalan yang ada tapak

kakinya.

Sekian lama mereka berjalan, mereka melihat bahwa

saban-saban ada jalan cagak.

Aman berlaku cerdik, senantiasa ia menggunai pisau

membuat tanda di tembok yaag dilewati. Dengan begitu

mereka bisa mencegah yang mereka mundar-mandir di situsitu

juga

Akhir-akhirnya tibalah mereka di tempat yang terang.

Mereka mendapat sebuah ruang kosong. Di tempat terbuka

ini, mereka mendapatkan pula sebuah pintu berdaun dua.

Supu memegang gelang pintu, ia memutar itu. Pintu itu

lantas terbuka. Mereka lantas melihat sebuah ruang bagaikan

pendopo yang di tembok sekitarnya penuh dengan pelbagai

patung malaikat, ada yang terbuat dari emas, ada yang

terbikin dari batu kumala dengan biji matanya dari mutiara

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

atau batu permata lainnya, hingga semua mata itu menjadi

hidup. Maka tercenganglah lima orang ini.

Melewati ruang ini, mereka mendapatkan pelbagai ruang

lainnya, mirip dengan kotak-kotak kamar di mana pun ada

masing-masing patungnya beserta batu-batu permatanya. Di

sini pun antaranya ada terdapat tulisan-tulisan huruf Tionghoa

di tembok, seperti “Raja dari negara Kao diang”, “Wen Tai”

dan “Kerajaan Tong, tahun Cengkoan XIII”.

Kao Chang itu adalah sebuah negara jaman dahulu di

wilayah barat yang rakyatnya makmur dan pemerintahannya

kuat. Di jaman Tong tahun Cengkoan, raja Kao Chang yang

bernama Chu Wen Tai, menyatakan takluk kepada kerajaan

Tong, akan tetapi karena negaranya makmur dan kuat, dia

berlaku tidak menghormati kaisar Tong itu, dari itu kaisar

Tong mengirim utusannya ke Kao Chang- Kepada utusan itu,

raja Kao Chang itu mengatakan: “Burung garuda terbang di

langit, ayam hutan betina mendekam di gunung, kucing pesiar

di ruang dalam, tikus bersembunyi di liangnya. Mereka itu

mendapati tempatnya masing-masing, bagaimana mereka

tidak memperoleh kemerdekaannya?” Dengan itu raja

maksudkan: “Meskipun kaulah burung garuda yang bengis dan

aku hanya ayam hutan yang tidak mempunyai guna, tetapi

kau terbang di udara, aku sembunyi di dalam hutan, kau tidak

nanti sanggup membunuh aku! Meskipun kau adalah kucing

dan aku hanya tikus, tetapi kau mundar-mandir di dalam

ruang saja, aku sembunyi di dalam liangku, apa kau bisa bikin

terhadap aku?”

Itulah tantangan. Mendengar itu. Kaisar Tong Tay Cong

menjadi gusar. Sudah begitu lantas terjadi negeri Kao Chang

itu menyerang tetangganya, Yenchi, negara yang

menghormati sekali Tong itu. Negara Yenchi itu lantas minta

bantuan, atas mana kaisar Tong mengirim panglima

perangnya, Hauw Kun Cip, menyerang negeri Kao Chang itu.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Ketika Chu Wen Tai mendengar kabar negerinya mau

diserang, dia kata pada sekalian menterinya: “Negara Tong itu

terpisah dari kita tujuh ribu lie, di antaranya dua ribu lie

jalanan gurun pasir di mana tidak ada rumput dan air, yang

anginnya meniup tajam seperti golok dan panasnya terik

bagaikan membakar diri ini, cara bagaimana dia dapat

mengirim angkatan perangnya tiba kemari? Jikalau jumlah

angkatan perangnya terlalu besar, pasti dia tidak dapat

mengangkut cukup rangsumnya. Dan kalau jumlah lenteranya

kurang dari tiga puluh ribu jiwa maka kita tidak usahlah takut

Kita nanti melayani musuh dengan sabar, kita main melindungi

kota kita saja, di dalam tempo dua puluh hari, nanti

rangsumnya habis, lantas dia bakal mundur sendirinya!”

Chu Wen Tai mengetahui baik kegagahannya angkatan

perang kerajaan Tong itu maka ia lantas menetapkan siasat

tidak berperang itu, siasat menjaga diri saja. Ia

mengumpulkan banyak kuli, di sebuah tempat yang

tersembunyi dia membangun sebuah istana rahasia. Inilah

untuk persediaan guna mengundurkan diri andaikata ia tidak

sanggup melawan musuh/ Negeri Kao Chang sedang makmur,

di wilayah barat itu banyak tukang yang pandai, maka itu ia

dapat membuat istana yang luar biasa itu di mana pun ia

menyembunyikan hartanya yang berupa pelbagai batu

permata. Ia telah memikir, umpama kata musuh dapat

menyerbu ke istana rahasia itu, ia dan hartanya itu tidak bakal

dapat diketernukan.

Hauw Kun Cip adalah seorang panglima yang pernah turut

Lie Ceng belajar ilmu perang, dia pandai memimpin angkatan

perangnya, di sepanjang jalan ia dapat maju-dengari cepat,

setiap pasukan musuh yang menghadang dapat dilabrak, dari

itu ia berhasil melintasi gurun pasir besar. Maka kagetlah raja

Kao Chang itu ketika ia: dilaporkan tibanya musuh demikian

pesat, dia kaget dan ketakutan hingga dia mati. Dia lantas

digantikan oleh pulennya, Chu Oun Sheng. Dia ini membuat

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

perlawanan, tapi setiap Hauw Kun Cip datang menyerang di

luar kota, pasukannya kena dikalahkan.

Didalam peperangan ini, Hauw Kun Cip menggunai alat

yang dinamakan “Kereta Sarang”, yang tingginya sampai

sepuluh tombak, hingga mirip dengan sarang burung, hingga

alat itu mendapat namanya itu. Kereta itu ditolak sampai di

tembok kota, hingga keadaannya lebih tinggi dari tembok kota

itu, lalu dari atas, tentera Tong menyerang dengan hujan

panah dan batu. Tentara Kao Chang kewalahan, akhirnya Chu

Chih Sheng menyerah.

Negara Kao Chang itu dibangun oleh Chu Chia Li, turun

temurun sampai sembilan turunan, lamanya seratus tiga puluh

empat tahun, sampai pada tahun Cengkoan ke 14 dari

Kerajaan Tong itu, bara dia musnah. Dialah sebuah negara

besar di wilayah barat, sebab luasnya daerah ialah delapan

ratus lie di timur dan barat dan lima ratus lie di selatan dan

utara.

Hauw Kun Cip pulang perang dengan mengangkut Raja Kao

Chang beserta seratus pembesamya sipil dan militer dan

lainnya, dibawa pulang ke kota raja Tiang-an.

Raja Kao Chang menjadi orang tawanan, tetapi istana

rahasia buatan ayahnya itu tidak tercocorkan. Selama seribu

tahun lebih, di gurun pun terjadi perubahan, di sana tumbuh

pepohonan, maka juga istana itu menjadi bagaikan terlebih

terahasia pula, tanpa peta, tidak nanti orang dapat

menemuinya.

Suruke berjalan terus, memasuki sebuah kamar,

melewatinya, lalu memasuki kamar yang lain dan melewatinya

pula. Kebanyakan kamar itu sudah rusak, ada temboknya yang

gempur. Di sana-sini pun kedapatan tumpukan-tumpukan

pasir kuning, hingga ada pintu kamar yang telah teruruk

tertutup. Jalanan berliku-liku, ditambah sama segala yang

uruk itu, dilaluinya jadi semakin sukar, kepala pun menjadi

pusing. Di samping itu orang kadang-kadang melihat tulangTiraikasih

Website http://kangzusi.com/

belulang manusia, yang putihmeletak, pula uang emas dan

perak dan barang permata, yang membuatnya mata silau.

“Entah ke mana kaburnya Tan Tat Hian si jahanam,” pikir

Bun Siu, “Dia tidak kedapatan di sini. Mungkin, walaupun dia

berada di sini, sukar untuk mencarinya. Harap saja istana ini

tidak ada pintu belakangnya-, agar dia dapat dipegat di pintu

depan di saat dia hendak mengangkat kaki dengan

mengangkut harta karun ini…”

“Mana ayahku?” mendadak Nona Lie mendengar suaranya

Aman selagi ia seperti ngelamun itu. Ia lantas menoleh, la

menampak Aman dan Supu memasuki sebuah kamar kiri,

Suruke dan Cherku tidak kelihatan, la lantas mendekati kedua

muda-mudi itu.

“Nona Kang,” tanya Supu pada Bun Siu—-yang sekian lama

oleh. empee Kee disebut “Nona Kang”—-”apakah kau melihat

ayah kami?”

“Tidak,” menyahut Bun Siu. “Baru saja kita ada bersama,

kenapa mereka lantas tak nampak? Mari kita cari! Awas, istana

ini istana rahasia, jangan kita nyasar.”

Supu dan Aman menurut, maka bertiga mereka lantas

mencari. Supu saban-saban berteriak memanggil ayahnya

serta Cherku, akan tetapi ia tidak memperoleh jawaban, hanya

kupingnya mendengar kumandang yang mendengung di ruang

itu.

Bernapsu mereka bertiga mencari sampai Aman lupa

membuat tanda di tempat-tempat yang mereka lewatkan,

hingga untuk sementara, sukar dibedakan mereka telah

kembali ke tempat yang telah dilewatkan itu atau belum. Juga

mereka tidak dapat melihat rata ke depan, karena kedudukan

istana rahasia itu ada di lamping gunung, jadi ada kalanya

kedudukannya tinggi, ada kalanya pun sangat rendah hingga

orang mesti berdiri di tempat yang tinggi untuk dapat

memandang ke bawah itu. Oleh karena wuwungan adalah

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

bagian atas dari gunung, orang tidak dapat melihat dari atas.

Orang tidak bisa naik ke atas wuwungan, yang sebenarnya

tidak ada, sebab yang dinamai wuwungan mirip lelangit

lauwteng.

Aman menjadi sangat berkuatir-.. dan berduka hingga air

matanya berlinang-linang. Sia-sia Supu membujuki dan

menghibur. Saking ruwetnya pikirannya itu, nona itu sampai

tidak memanggil-manggil pula ayahnya.

Mereka lagi berjalan terus ketika dengan mendadak mereka

mendengar suara keras di tembok sebelah kamar: “Eh,

Cherku, kenapa kau membacok aku?”

Ketiga muda-mudi itu mclcngak. Itulah suaranya Suruke.

Segera terdengar suaranya Cherku: “Kau— kau bikin apa

ini?”

Setelah itu kuping mereka mendengar suara beradunya

senjata tajam, disusul pula oleh bentakan-bentakan

kemarahan Suruke dan

Cherku saling ganti.

Mereka ini bertiga girang berbareng kaget dan kuatir.

“Ayah!” Aman berteriak. “Jangan berkelahi …Jangan

berkelahi!”

Di kanan mereka tidak ada pintu, maka Supu lari ke kiri. Ia

bermaksud menghampirkan ayahnya dan Cherku, sang

paman itu, untuk melihat, guna memisahkan mereka.

Sebab aneh mereka itu bertempur satu dengan lain. Hanyalah,

pintu yang ada teras menerus di sebelah kiri, dengan begitu,

ia bukan tiba ke kamar sebelah itu, ia justeni pergi semakin

jauh… Bun Siu dan Aman mengikuti, mereka pun tidak

berdaya. Maka kemudian mereka lari balik. Justeni itu mereka

dengar, dari kamar di sebelah itu, jeritan yang menyayatkan

hati dari Suruke, lantas sunyilah segala apa. Mereka kaget

bukan mam.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Supu menjadi seperti kalap, dia lompat menubruk dengan

pundaknya. Tapi ia gagal. Pintu itu kuat sekali dan tak

bergeming.

Aman yang terliti memasang mata. Ia melihat sebuah batu

di pojokan, yang agaknya terlepas, maka ia menghampirkan

itu, ia mencekalnya, lantas ia menarik. Ia gagal. Ia lantas

dibantu Bun Siu dan Supu. Kali ini mereka berhasil, dengan

begitu, dari bekas lolosnya batu itu, mereka bisa mengintai ke

kamar sebelah sana. Supu bekerja terus membongkarnya,

hingga ia dapat memasuki tubuhnya, molos dari liang itu.

“Ayah! Ayah!” ia memanggil berulang-ulang.

Segera juga pemuda ini nampak apa yang hebat. Di kamar

sebelah itu terlihat tubuh seorang rebah di lantai, di dadanya

menancap sebatang golok panjang. Ia mengenalinya, ia

lompat menubruk, untuk mengangkat. Atau ia mendapatkan

ayahnya itu telah putus jiwanya!

“Ayah! Ayah!” ia berteriak-teriak, sambil menangis.

Bun Siu dan Aman menyusul masuk, mereka berdiri diam di

samping Supu. Mereka bingung dan berduka.

Supu mencabut galat di tubuh ayahnya itu. Itulah goloknya

Cherku.

“Supu…” Aman memanggil seraya ia menarik tangannya si

pemuda. Ia niat menghibur, hanya tak tahu ia harus

mengatakan apa.

Supu tengah sangat berduka dan gusar, tangannya

melayang ke arah si nona sambil mulutnya menanya bengis:

“Mana ayahmu? Mana ayahmu?”

Ketika itu di mulut pintu nongol kepala dari satu orang,

yang tubuhnya terlihat hanya bagaikan bayangan. Cuma

sejenak, kepala itu lantas ditarik pulang, terus dia lari pergi.

Walaupun sejenak, itu sudah cukup untuk Supu guna

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

mengenali orang adalah Cherku yang mukanya berlumuran

darah, Supu berteriak, tubuhnya bergerak, niatnya memburu.

“Supu!” memanggil Aman, tangannya menarik.

“Lepas!” bentak si anak muda. “Supu” kata si nona, “aku

mau bicara; sepatah kata saja.”

“Baik! Bilanglah!” kata Supu, mendongkol.

“Ingatkah kau aturan kaum kita tentang perkelahian

perseorangan?” tanya Aman.

Supu mengertak gigi. “Ingat!**sahumya kaku. Dengan

lantas pula wajahnya tampak kesangsian

Bangsa Kazakh bangsa gagah, di antara mereka, asal

benterok, perselisihan biasa diakhiri dengan menghunus

senjata. Demikian di antara kaumnya Supu, yang termasuk

golongan Tiehyen. Dulunya kaum ini gemar sekali berkelahi,

lama-lama, jumlah pria mereka jadi tinggal sedikit, sebaliknya,

wanitanya tambah banyak, berlebihan. Maka itu, melibat

ancaman bahaya itu bahwa golongannya akan kekurangan

pria, selang seratus tahun yang lalu satu ketuanya

mengadakan aturan untuk mencegahnya. Ialah: “Siapa

membunuh orang, hukuman atasnya hukuman mati.” Biarnya

orang piebu, yaitu bertempur satu sama satu dengan cara

terang, ancamannya tetap hukuman mati. Karena adanya

hukuman ini, pertempuran menjadi dapat dicegah,

.pertambahan anggauta pria lantas bertambah. Aturan ini,

aturan lisan, dituturkan oleh setiap orang tua kepada anakanak

muda, agar semua orang mengetahuinya. Maka itu,

aturan itu ditaati turun-temurun.

Aman menangis, ia kata: “Ayahku telah kesalahan

membunuh ayahmu, dia bakal diadili oleh, tertua-tertua kita

yang akan menghukumnya, maka itu kau.. jangan kau

membunuh ayahku.”

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Nona ini bingung bukan main. Ia menginsafi kesalahan

ayahnya, kalau ayah itu sampai dihukum, bercelakalah ia.

Sedangnya ia bingung ini, sekarang ia melihat sikapnya Supu.

Ia bisa mengerti yang pemuda ini hendak menuntut balas.

Biar bagaimana, tidak ingin ia si pemuda melakukan

pelanggaran pula seperti ayahnya itu.

Supu memandang mayat ayahnya. Ia pun menginsafi

aturan, yang keras itu.

“Baik,” katanya, “aku tidak akan bunuh ayahmu. Aku cuma

hendak menangkapnya!”

Lantas anak muda ini lari, mulutnya berkaokan: “Cherku!

Kau hendak kabur ke mana?” Tidak lagi ia memanggil paman.

Tiba-tiba datang jawabannya Cherku: “Aku di sini! Kenapa

aku mesti kabur?”

Cherku berada tidak jauh dari situ. Dia benar berlepotan

darah pada mukanya.

Dengan golok di tangannya dia berdiri tegar, romannya

bengis.

Supu menghampirkan. Ia membawa goloknya tetapi

senjata itp ia tidak lantas menggunakannya. Cuma obor di

tangan kirinya, yang ia tancapkan di pasir. Ia kata dengan

keren: “Letaki senjatamu! Aku tidak akan bunuh kau!”

“Kenapa aku mesti meletaki senjataku?” Cherku membaliki.

“Hm! Apakah kau mengira kau dapat membunuh aku?”

Bun Siu dan Aman menyusul. Mereka mendapatkan dua

orang itu berdiri berhadapan dengan masing-masing

senjatanya di tangan, roman mereka bengis, sikap mereka

tegang.

“Ayah, sukalah kau lepaskan golokmu,” berkata Aman

kepada orang tuanya itu. “Supu telah berjanji tidak akan

membunuh kau…”

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Kau suruh dia meletaki senjatanya!” kata Cherku dengan

jumawa. “Aku juga berjanji tidak akan membunuh dia!”

“Benarkah kau tidak hendak melepaskan senjatamu?” tanya

Supu bengis, hatinya panas. “Mungkinkah kau benar hendak

membunuh aku?”

Cherku tertawa berkakak “Kau, bocah, kau memikir untuk

membunuh aku?” dia kata, mengejek. “Jikalau kau mempunyai

kepandaian, nah, kau cobalah!”

“Kenapa kau membunuh ayahku?” tanya Supu sengit. Ia

berteriak. “Aku… aku hendak menuntut balas untuk ayahku

itu!”

Belum lagi Cherku menyahuti ketika mendadak ada angin

bertiup keras, hingga obor padam seketika. Hingga ruang

menjadi gelap petang. Tibanya sang gelap gulita itu dibarengi

sama bentakan dari kemurkaan dari Supu, disusul sama

benteroknya senjata, disusul pula dengan robohnya tubuh

Cherku…

“Jangan berkelahi! Jangan berkelahi!” Aman berteriakteriak,

kuatimya bukan main.

Bun Siu sendiri lantas berdaya menyulut api.

Setelah obor menyala pula, terlihat Cherku rebah dengan

tubuhnya tertancap golok. Dia mati sama seperti matinya

Suruke. Di situ Supu berdiri diam dengan tangan kosong, dia

menjublak saja.

Aman lantas menubruk mayat ayahnya, ia pingsan.

Bun Siu maju, guna menolongi nona itu.

Sebentar kemudian, Aman tersadar.

“Bagaimana, Aman?” tanya Supu, menghibur.

Aman gusar. Ia menjawab sengit: “Kau telah membunuh

ayahku! Semenjak hari ini, jangan kau bicara pula denganku!”

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Ia mencabut tusuk kondenya, terus ia mematahkannya, terus

ia melemparkannya ke tanah.

“Aku tidak membunuh ayahmu!” berkata Supu,

menyangkal.

“Kau masih menyangkal?” kata Aman, sengit sekali. Dia

menuding kepada golok di dada ayahnya Dia kata pula:

“Apakah itu bukan golokmu? Jikalau bukannya kau yang

membunuh ayahku, habis apakah aku? Ataukah kakak Kang?”

Supu terdesak hingga ia tidak dapat bicara, kepalanya

tunduk.

***

Didalam suku Kazakh bagian Tiehyen itu ada tiga orang

tertuanya. Mereka telah mengadakan sidang di mana mereka

mendengari tuduhannya Aman serta penyangkalan atau

keterangannya Supu, setelah itu mereka berunding sekian

lama. Keputusan mereka dinantikan oleh orang-orang

bangsanya.

Selang sekian lama, ketua yang usianya paling lanjut, yang

kumisnya telah ubanan, berbangkit dari kursinya, lalu dengan

suara nyaring dan tenang ia mengasih dengar perkataannya:

“Adalah aturan dari kaum kita semenjak seratus tahun yang

lampau yang melarang pembunuhan di antara kita sendiri,

bahwa siapa membunuh, hukumannya ialah hukuman mati.

Supu telah membunuh Cherku, maka itu dia harus dihukum

mati!”

Semua orang berdiam sambil berduduk.

Supu sendiri seperti mendumal ketika ia berkata: “Aku tidak

membunuh Cherku… Aku tidak membunuh Cherku…”

Di dalam kesunyian itu, sekonyong-konyong seorang

bangun berdiri. Dialah Sangszer, yang terus berkata dengan

nyaring: “Cherku ialah guruku, dia dibunuh Supu, perbuatan

Supu tidak selayaknya. Tapi di samping itu, terlebih dulu

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

guruku telah membunuh ayahnya Supu, bisa dimengerti yang

Supu menjadi berduka dan bergusar hingga dia telah

membuatnya pembalasan. Maka itu, kesalahan Supu tidak

dapat dipandang dan disamakan dangan pembunuhan yang

biasa.”

Sangszer ini adalah musuhnya Supu, setiap orang

mengetahuinya, sekarang dia menunjuki sikapnya ini, sikap

dari satu laki-laki, dia membuatnya orang kagum hingga

semua mata diarahkan kepadanya. Supu pun mengawasi

dengan sinar mata yang bersyukur. Tatkala Supu berpaling

kepada Aman, si nona menoleh ke lain arah, untuk mencegah

bentroknya sinar mata mereka.

Si tertua yang kumisnya ubanan itu mengangguk.

“Kami bertiga pun sama pendapat,” ia berkata, tenang.

“Supu pun membilang bahwa dia telah menolongi suku kita

mendapatkan suatu tempat penyimpanan harta besar dengan

apa suku kita bisa menjadi makmur dan berbahagia, hingga

jasanya itu bukannya kecil, hingga dapat dia menebus

dosanya dengan jasanya itu. Supu dapat bebas dari hukuman

mati tidak dari hukuman hidup, maka itu putusan sidang ialah:

“Mulai hari ini dia diusir untuk selamanya dari kaum Tiehyen

kami, dia dilarang pulang, jikalau kedapatan dia pulang secara

diam-diam, dia akan dihukum mati tanpa ampun pula!”

Supu tunduk, dengan perlahan ia kata: “Aku tidak

membunuh Cherku! Tapi, siapa pun tidak percaya aku, bahkan

Aman tidak mempercayainya… “

VIII

Supu pergi seorang diri dengan pikirannya tidak keruan

rasa. Ia menggendol sebuah bungkusan serta sebuah kantung

air. Ia berjalan di antara jalanan yang bersalju. Ia telah diusir

dari kaumnya, dari tanah tempat kelahirannya. Ia diusir untuk

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

selama-lamanya hingga tidak dapat ia kembali ke kampung

halamannya itu. Ayahnya, yang ia cintai, telah mati, dan

kekasihnya, Aman, telah menjadi musuhnya. Di dalam dunia

yang luas ini, ia sekarang menjadi sebatang kara.

Ada satu pertanyaan yang tidak mau pergi dari dalam

hatinya. Itulah hal yang sangat membikin ia heran, yang tak ia

mengerti. Inilah dia: “Terang sekali aku tidak membunuh

Cherku! Kenapa golokku dapat nancap di dadanya? Ketika di

saat itu api padam dengan tiba-tiba, aku cuma merasa ada

orang menyamber dan merampas golok dari tanganku.

Adakah perampas itu Cherku, yang karena telah membunuh

ayahku, lalu menjadi malu sendirinya dan merampas golokku

untuk membunuh diri? inilah tidak mungkin terjadi! Cherku

bukan semacam laki-laki! Dia pun mempunyai goloknya

sendiri, perlu apa dia merampas golokku? Mungkinkah, dalam

saat murka itu, aku sampai lupa akan diriku, aku membunuh

Cherku di luar tahuku? Ya, inilah mungkin, inilah mungkin…”

Ia berjalan terus, pikirannya itu pun bekerja teras. Ia

menimbang-nimbang, ia menanya dirinya sendiri, tetapi tidak

dapat ia memberikan jawabannya. Pikirnya pula: “Tidak, itulah

tidak mungkin. Ketika itu, pikiranku sehat sekali, pikiranku

tidak kacau! Luar biasa aku membunuh orang tetapi aku tidak

tahu! Cherku musuhku, sebab dia membunuh ayahku, dengan

membunuh dia, aku tidak menyesal, hanya aneh adalah

duduknya peristiwa! Aku tidak membunuh dia! Habis,

siapakah? Mungkinkah benar, di dalam istana rahasia itu ada

memedinya?”

Lama Supu berjalan, lama ia berpikir, akhirnya, ia

mengarahkan kudanya ke istana rahasia. Ia merasa kesepian.

Ketika beberapa hari yang lalu ia pergi mencari istana itu, ia

ada bersama ayahnya serta Aman, juga beserta si nona Kang

yang pendiam, yang sinar matanya bagus dan tajam

“Sekarang setelah ayahku mati, aku hidup bersendirian.

Dengan Aman aku tidak bakai bertemu pula untuk selamaTiraikasih

Website http://kangzusi.com/

lamanya. Umpama kata kita dapat bertemu, dia sangat

membenci aku. Bagaimana dengan si nona Kang? Dia pun

setahu telah pergi ke mana… Semenjak berlalu dari istana

rahasia, terus aku tidak melihatnya…**

Demikian pemuda-ini ngelamun dalam pikirannya. Ia

berduka, ia mendongkol, ia pun bercuriga, ragu-ragu. Ia

berada dalam kesunyian tetapi ia tidak takut. Maka ia telah

mengambil keputusan guna mencari sesuatu di dalam istana

rahasia. Ia menganggap lebih baik lagi kalau ia dibinasakan

memedi gurun! Bukankah di dalam dunia ini sudah tidak ada

apa-apa lagi yang berarti?

Sementara itu di dalam salah saru kamar di Istana Rahasia

Kobu, Hok Goan Liong dan Tan Tat Hian lagi duduk

berhadapan, bergantian atau berbareng mereka tertawa

terbahak-bahak, saking girangnya, saking puasnya, hati

mereka. Bersama mereka pula turut bergembira tiga puluh

lebih pengikut-pengikut mereka. Sebab kantong dari setiap

dari mereka telah penuh isinya yang berupa barang-barang

permata yang banyak sekali, bahkan umpama kata setiapnya

membawa sepuluh buah kantong, tempat itu masih

kekurangan guna dapat mengangkut semua harta karun dari

kamar rahasia itu-tak satu perseratus atau satu

perseribunya…

“Shatee,” berkata Goan Liong, “kita telah berlalu dari

rumah belasan tahun lamanya, sekarang ini barulah maksud

hati kita tercapai. Semua ini ialah karena jasa kau yang bukan

kecil itu. Duluhari kita bersusah hari karena kita tidak bisa

mencari harta karun ini. sekarang ini kita bersusah hati

disebabkan kita tidak sanggup mengangkut aemua harta ini

karena jumlahnya harta sangat banyak! Bagaimana harta ini

dapat diangkut semua?”

Tat Hian tertawa tetapi ia berkata: “Apa yang aku buat

susah hati sekarang adalah satu urusan lain…” -

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Apakah itu, shatee?” Goan Liong tanya. “Adakah dia si tua

bangka bongkok seperti unta itu? Kalau dia, meskipun dia

terlebih lihai lagi, dengan dua tangannya dia tidak dapat

melawan empat buah kepalan. Mungkinkah dia berani

menepuk laler di kepalanya harimau?” ia menoleh kepada

sebawahannya, yang menjadi tauwbak atau kepala

rombongan seraya berkata: “Eh, Lao Sin, pagi kau mengajak

sepuluh saudara, kau tengok segala bagian dari istana ini,

periksa biar tertib!”

Tauwbak she Sin itu mengangguk, dengan lantas ia berlalu

bersama sepuluh kawannya. Di antara mereka itu ada yang

tidak sabaran, sembari jalan dia mengoceh: “Memeriksa saja

tak hentinya! Di sini di mana ada si bungkuk unta?”

Supu di lain bagian telah menyembunyikan diri, ia mepet di

tembok di belakang pintu, membiarkan rombongan si Sin itu

lewat. Ia tiba di dalam istana rahasia itu di saat yang tepat

Beruntung untuknya, si Sin tidak bercuriga bahwa di belakang

pintu ada yang bersembunyi, mereka itu lewat terus sambil

membawa obor sebagai alat penerangan.

Supu lantas mendengar pula suaranya Tat Hian: “Si tua

bangka bungkuk tetaplah seorang tua bangka, orang yang aku

kualirkan ialah si orang Kazakh.-”

Supu jadi sangat ketarik, hingga ia memasang kuping

dengan perhatian sepenuhnya.

“Mereka itu terdiri dari lima orang, mereka telah mengikuti

jejak tapak kakiku,” si orang she Tan melanjuti. “Entah

kenapa, dua di antaranya, dua orang,.pria yang telah berusia

lanjut, telah kedapatan mati di dalam istana ini…”

Sebenarnya Supu mau menduga Cherku dibinasakan Tat

Hian, tetapi mendengar perkataan ini, penyamun itu tidak

dapat diterka. Maka itu, siapakah pembunuhnya Cherku?

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Hok Goan Liong tertawa, “Mereka itu telah melihat harta

karun ini, tidaklah aneh jikalau mereka jadi mata gelap dan

saling bunuh,” katanya. “Itu pun masuk akal.”

“Yang aku paling kuatirkan,” kata pula Tat Hian, “ialah itu

tiga muda-mudi anjing Kazakh… Kalau mereka pulang kepada

bangsanya, bisa jadi mereka bakal datang pula dalam satu

pasukan besar untuk mengangkut semua harta karun ini…”

Mendadak Goan Liong berjingkrak bangun.

“Shatee, kau benari” serunya. “Sebetulnya mereka itu

bertiga harus bekerja diam-diam mengangkut harta ini, tetapi

mereka muda dan tolol, memang mungkin mereka

memberitahukannya kepada bangsanya. Taruh kata mereka

berdiam-diam saja, di belakang hari, rahasia mereka itu bakal

bocor sendirinya. Sekarang, shatee, bagaimana pikiranmu?”

“Telah lama aku pikirkan itu, aku masih belum berhasil

memperoleh jalannya yang sempurna,” menyahut Tat Hian.

“Mereka berjumlah banyakan, jumlah kita kecil sekali, jikalau

kita melawan bertempur, sulit untuk kita memperoleh

kemenangan. Aku pikir, paling benar ialah kita yang turun

tangan terlebih dahulu…”

“Bagaimana itu?”

“Secara diam-diam kita menyateroni ke tempat mereka.

Kita menyerang sambil membakar…”

Perkataannya Tat Hian berhenti secara mendadak.

Kebetulan sekali, mereka mendengar jeritan nyaring, yang

nadanya menyayatkan. Keduanya kaget dan heran, keduanya

lantas menyiapkan senjatanya masing-masing. Segera setelah

itu, mereka mendengar tindakan kaki berlari-lari, disusul

munculnya seorang sebawahannya, yang terus melaporkan:

“Toa… toapiauwtauw dan sampiauwtauw, Lao Sin jatuh

kecemplung!…”

“Jatuh kecemplung?” tanya Goan Liong heran.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Benar. Lao Sin kena injak perangkap, dia terjeblos jatuh

dalam…”

Tat Hian mengangguk. “Di dalam istana rahasia ini ada

perangkapnya, inilah tidak aneh,” katanya. “Mari kita pergi

melihat!”

Goan Liong setuju, maka berdua mereka pergi. Si pelapor

jalan di muka sebagai penunjuk, yang lainnya mengikuti

Mereka melintasi delapan kamar, sampai di sebuah yang

lain di mana berkumpul semua kawan, yang ribut bicara satu

dengan lain, mata mereka melongok ke lantai, roman mereka

tegang. Di lantai ada sebuah liang besar luas setombak,

tempo disuluhkan, di dalam liang itu tidak nampak apa-apa

saking gelap dan dalam. Jadi itulah liang seperti tanpa dasar.

“Tadi Lao Sin jalan di muka,” seorang memberi keterangan,

“mendadak dia terjeblos dan kecemplung…”

Tat Hian melongok ke liang perangkap.

“Lao Sin! Lao Sin!” ia memanggil-manggil.

Tidak ada jawaban kecuali jawaban sang kumandang dari

dalam liang itu.

Tat Hian memandang Goan Liong, Goan Liong mengawasi

padanya, hati mereka sama-sama bekerja. Dengan sendirinya

mereka merasa jeri.

“Di dalam istana ini disimpan harta besar, pantas kalau

perangkap dipasang untuk menjaga gangguan pencuri,” kata

Tat Hian kemudian. “Mungkin masih ada perangkap lainnya

lagi, maka itu selanjurnya kita harus berhati-hati.”

Goan Liong tidak bilang suatu apa hanya ia memandang

satu tauwbak she Pit

“Lao Pit,” katanya, “coba kau ikat tubuhmu dengan dadung,

lalu kau turun, untuk lihat Lao Sin, untuk mencoba menolongi

dia.”

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Tauwbak itu berdiam, wajahnya menunjuk kesangsiannya.

Ia rupanya jeri memasuki liang itu, yang tak ketahuan

dasarnya.

“Apa? Apakah kau tidak dengar?” tanya Goan Liong,

wajannya suram.

“Toapiauwtauw,” sahut si tauwbak. “Si Sin terjeblos lama

juga, suaranya tidak ada sama sekali, tentu dia sudah mati…”

“Tapi aku menyuruh kau turun untuk melihat, untuk

menolongi kalau perlu!” kata pemimpin itu, gusar. “Kalau

benar dia sudah mati, mayatnya harus diangkat.”

“Apakah artinya kalau dia mati?” tauwbak ita tanya sambil

tertawa. “Untuk kita, matinya satu orang berarti kurangnya

satu orang, dan itu berarti juga kurangnya bagiannya satu

orang atau berarti kita mendapat bagian lebih banyak…”

Hok Goan Liong tertawa, ia mengangguk.

“Kau benar!” bilangnya. “Mati satu orang berarti kurang

satu orang!…”

Mendadak tangannya pemimpin ini melayang, dengan satu

suara nyaring, tubuh si Pit terpelanting, jatuh ke dalam liang

perangkap!

Bukan main si Pit merasakan sakit dan kaget, dia menjerit

keras, tangannya menjambret, guna menolong dirinya. Ia

tidak herhasil memegang dadung, yang melongsor turun di

pinggiran liang itu, dengan tangannya merosot, tubuhnya

turun terus. Karena tertarik, dadung itu membikin tembokan

tergerak dan gempur.

Tat Hian kaget sekali, tetapi ia masih ingat untuk

membabat ke arah dadung, hingga tembokan tidak tertarik

terus, tidak turut gempur semuanya. Cuma tubuhnya si Pit,

yang tak tertahan lagi jatuhnya.

Semua orang kaget hingga mereka melongo.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Sungguh berbahaya! Sungguh berbahaya!” kata beberapa

orang.

“Syukur sampiauwtauw sebat, kalau tidak, kita bisa roboh

semua dan keunikan pasir!”

Tat Hian tidak membilang apa-apa hanya lantas ia

memeriksa liang perangkap itu. la mendapatkan sebuah

gelang, ketika ia menarik itu, papan batu jebakannya

bergerak, naik sendirinya, hingga liang jadi tertutup pula

seperti biasa, lenyap tanda-tandanya perangkap itu.

“Sungguh pandai orang yang memasang perangkap ini!”

Goan Liong memuji. Dia seperti ingat lagi bahwa baru saja dia

menghukum satu tauwbak-nya. “Kalau begini, pasti sudah si

tua bungkuk itu telah mati di dalam istana ini, jadi tidak usah

kita mencari dia terlebih jauh!”

Ia lantas mengajak semua orang kembali ke ruang kamar

tadi

“Toako, di luar dugaan kita menemui istana ini, itu artinya

untung kita,” kata Tat Hian. “Sekarang kita pun mendapatkan

liang perangkap itu, maka aku pikir, kalau benar orang-orang

Kazakh datang kemari, baik kita jebak mereka di liang

perangkap itu. Aku percaya, seratus atau dua ratus musuh

tidak ada artinya untuk kita…”

Goan Liong bertepuk tangan.

“Bagus!” serunya. “Ya, kita jebak mereka! Datang satu mati

satu, datang dua mati sepasang!”

Supu bergidik. Ia telah mendengar dan melibat semua. Ia

menjadi ingat kepada Aman. Nona itu tentu bakal mengajak

orang-orang bangsanya datang ke istana ini untuk mengambil

harta karun. Kalau mereka datang, mereka pasti akan

terancam bahaya besar. Dapatkah ia berdiam saja? Tidak,

ia mesti cegah mereka itu-ia mesti menolongi mereka!

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Maka tanpa ragu-ragu lagi, diam-diam ia berjalan keluar

dari istana itu.

Ia mau melakukan perjalanan pulang, guna memegat

rombongannya Aman, untuk memperingati mereka itu dari

bahaya yang mengancam mereka. Tengah ia berjalan itu,

mendadak ia mendengar bentakan: “Siapa kau?” Bentakan itu

disusul sama satu bacokan ke arah kepala.

Dalam kagetnya, Supu lompat berkelit- Ia tidak menjawab

hanya lari terus.

Masih ada seorang lain yang merintangi pemuda ini Dia

melihat si pemuda, si pemuda sebaliknya tidak. Dia muncul

dengan mendadak, tanpa bersuara, dia menyerang dengan

kakinya dia menyapu. Supu tidak berdaya lagi, ia roboh. Tapi,

ketika dia ditubruk, untuk dibekuk, ia ingat membela diri,

maka ia lantas menyambut! dengan tikaman. Orang itu tidak

menyangka, dia tidak bisa menangkis atau berkelit.

Cuma sekali dia menjerit keras, lantas tubuhnya roboh,

jiwanya melayang. Hanyalah Supu, tidak dapat ia meloloskan

diri. Belum lagi ia sempat berlompat bangun, sebatang golok

sudah ditempelkan ke batang lehernya.

“Jangan bergerak!” demikian ia mendengar ancaman.

Selagi tengkurap, Supu tidak bisa melihat siapa orang itu.

Ia terpaksa berdiam saja sambil mendekam. Orang itu

sebaliknya mengawasi kepada kawannya, waktu dia mendapat

kenyataan si kawan telah terbinasa, dia menjadi gusar, dia

lantas mengayun goloknya kepada lehernya si pemuda

Selagi Supu tidak berdaya dan tangan orang itu terayun, di

situ terlihat menyambarnya barang putih berkilauan, barang

mana —— serupa pedang kecil menancap di dada si

pengancam itu, hingga dia menjerit dan roboh terjengkang,

goloknya terlepas, jatuh di tanah.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Baru sekarang Supu, yang merasa heran, dapat berlompat

bangun. Ia mendapat kenyataan pedang pendek itu nancap di

dada dan merampas jiwa kurbannya. Ia menjadi heran. Ia

menduga-duga, siapa penolongnya itu. Selagi ia berdiam,

seorang nona muncul dari belakang pepohonan, nona itu

lantas mengambil pedang pendek itu dari dada si penjahat,

terus darahnya disusuri.

Melihat nona itu, Supu terkejut berbareng girang.

“Nona Kang” serunya. “Terima kasih untuk

pertolonganmu.”

Nona itu Bun Siu adanya. Dia bersenyum. Lantas dia

menggusur mayatnya kedua penjahat itu, di lelaki saling

berhadapan, tangan mereka dibikin masing-masing mencekal

pisau belati, pisau mana saling nancap di dada mereka.

Dengan begitu nampak mereka seperti saling menikam.

“Bagusi” berseru Supu memuji. Ia dapat membade maksud

si nona. “Kalau kawan mereka ini mendapati mereka, mereka

itu bisa menyangka mereka saling bunuh. Nona Kang,

setindak saja kau datang lambat, tentulah aku sudah

bercelaka…”

Di dalam hatinya, Bun Siu tertawa

“Kau mana tahu yang aku senantiasa mengintil di

belakangmu? Mana bisa menjadi aku datang terlambat?”

Memang benar Nona Lie senantiasa menguntit Supu

semenjak mereka ke luar dari istana rahasia. Kalau Supu

mengikuti Aman, untuk menghadap tertua mereka, ia diamdiam

menghilang, untuk di lain saat menjadi seperti bayangan

si anak muda. Begitulah ia mendapat tahu Supu diusir, lalu

Supu pergi tanpa tujuan, sampai orang menuju ke istana

rahasia itu. Supu mendengar dan melihat aksinya Tan Tat

Hian semua, Bun Siu sebaliknya melihat gerak-geriknya itu. la

lihai ilmunya enteng tubuh, sedang Supu melainkan seorang

kuat di antara pemuda-pemuda Kazakh.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Sekarang mari kita lekas pergi,” kata Bun Siu kemudian.

“Kalau musuh keluar semua, tidak dapat kita melawan

mereka.”

Supu pun insaf akan bahaya, maka ia menurut. Lebih dulu

mereka masuk ke pepohonan lebat, dari situ mereka berjalan

pulang. Di sepanjang jalan, Supu memberi keterangan dari

halnya dia telah diusir dari kaumnya.

“Nona Kang, benar-benar Cherku bukan dibunuh olehku,”

kemudian ia memberi kepastian, “kecuali saking gusar dan

bersusah hati, aku membunuhnya di luar tahuku…”

Bun Siu kenal pemuda ini semenjak masih kecil, ia percaya

kejujurannya, hanya pembunuhan terhadap Cherku memang

aneh sekali. Di dalam istana itu tidak ada lain orang. Ialah

yang mengunci pintu. Kalau si pembunuh bukan Supu, habis

siapa? Tidak mungkin Aman membunuh ayahnya.

“Benarkah Aman membunuh ayahnya sendiri?” ia tanya

dirinya. Ia menggigil kalau ia membayangi benar-benar Aman

berbuat demikian. “Tapi tidak, itulah tak dapat! Hanya, benar

juga di dalam dunia suka terjadi hal yang luar biasa sekali…

Sekarang satu dalam dunia, Supu jujur atau Aman si

pembunuh…”

Perjalanan mereka berdua di lanjuti. Sekarang mereka

berada di jalan berpasir yang penuh salju. Mereka berjalan

dengan merendengi kuda mereka. Inilah saat yang Bun Siu

mengharap-harapnya. Ia merasa senang berbareng berduka.

Supu sebaliknya senantiasa mengingat Aman, kalau ia

membuka mulut, nama Aman adalah yang dibuat sebutan.

Demikian katanya: “Kalau Aman membawa orang-orang

bangsanya datang mengambil harta, mereka pasti bakal

bercelaka di tangan kawanan penyamun yang licin itu, maka

itu, nona Kang, mesti aku bicara dengan mereka, untuk

memberi keterangan. Aman harus dikisiki.”

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Benar. Dia mesti dipesan untuk waspada,” Bun Siu bilang-

Supu mengangguk. “Nona Kang,” katanya pula selang sesaat,

“benar-benar bukan aku yang membunuh Cherku, maka itu

tolong kau pikirkan jalan untukku dapat akur pula dengan

Aman…” Ia menjambak rambutnya saking masgul. Ia

menambahkan:

“Kalau aku menemukan Aman, mungkin dia membunuh

aku, kalau tidak, mungkin aku tidak bakal hidup lebih lama

pula…”

“Sabar saja,” kata Nona Lie. “Mungkin kau dapat

melupakan dia. Kau tahu, duluhari, semasa aku masih kecil,

aku sangat menyukai satu anak laki-laki. Sayang kemudian dia

tidak mernperdulikan aku, hingga aku jadi bersusah hari,

hingga aku menyesal tidak dapat aku mati saja. Selewatnya

beberapa tahun, aku lantas tidak memikir pula untuk mati…”

“Kalau begitu, anak laki-laki itu satu telur busuk!” kata

Supu. “Kaulah satu nona yang baik sekali, mengapa dia tidak

mempedulikanmu?” . Bun Siu menggeleng kepala. “Bukan,

anak itu bukan telur busuk,” katanya. “Adalah ayahnya yang

melarang aku menemuinya.”

“Ah, kalau begitu, ayahnya itulah si manusia tolol dungu!”

kata Supu pula. Ia mengawasi si nona, ia menambahkan:

“Ayahku adalah seorang ayah yang baik, dia senang dengan

Aman, dia mengharap-harap aku menikah Aman, maka— —

ah —— sayang sekali, Cherku telah membunuh ayahku…” Bun

Siu pun mengawasi. “Kalau semenjak sekarang kau tidak

melihat lagi Aman, mungkin kau dapat melupai dia,” katanya,

suaranya rada bergemetar. “Dan mungkin kau akan bertemu

seorang nona lain yang cantik…”

“Tidak, untuk selamanya tidak dapat aku melupakan

Aman!” kata Supu, tegas. “Lain nona cantik tidak ada di

mataku!” Ia berhenti sebentar, lalu ia tertawa. Ia menyesal

ketika ia berkata: “Kaulah penolongku, terhadapmu aku

sangat bersyukur. Pula aku sangat menghormati kau!”

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Bun Siu berdiam, hatinya bekerja.

Magrib itu mereka singgah, untuk masing-masing menggali

salju dan pasir, untuk menempatkan diri melewati sang malam

Di antara kedua liang, mereka menyalakan unggun. Di atas

mereka terlihat langit yang biru dengan bintang-bintangnya

berkelak-kelik. Angin mendesir-desir, membuat salju

beterbangan.

Kebetulan ada dua lempengan salju yang terbang

berbareng, sambil menunjuk itu Bun Siu kata: “Kau lihat,

bukankah itu mirip sepasang kupu-kupu?”

“Ya, mirip sekali,” menyahut Supu. “Sudah lama, lama

sekali, ada seorang nona Han yang mendongeng kepadaku

tentang seorang pemuda Han nama Nio San Pek serta seorang

nona Han nama Ciok Eng Tay, bahwa mereka itu berdua

bersahabat kekal satu pada lain, hanya kemudian ternyata,

ayahnya Eng Tay melarang anaknya menikah sama San Pek.

Atas itu, San Pek menjadi sangat berduka, dia jatuh sakit dan

mati karenanya. Pada suatu hari Ciok Eng Tay lewat di tempat

pekuburannya Nio San Pek, dia mampir, dia menangis di

kuburan itu…”

Mendengar itu, Bun Siu membayangi kejadian pada kirakira

sembilan tahun yang lalu: Itu waktu di sebuah bukit kecil

ada berduduk berendeng sepasang muda-mudi cilik, sambil

menilik kambing mereka, mereka memasang omong. Si

pemudi bercerita, si pemuda, mendengari. Bercerita sampai di

bagian yang menarik hati, mata si pemudi mengembang air,

wajah si pemuda berduka. Sekarang Bun Siu tahu, si pemuda

adalah Supu di depannya ini, Supu sebaliknya menganggap si

pemudi telah meninggal dunia…

“Ciok Eng Tay mendekam di kuburan itu, dia menangis

sedih sekali,” Supu melanjuti ceritanya. “Mendadak kuburan

itu melekah, lantas Eng Tay lompat masuk ke dalamnya.

Setelah itu, Nio San Pek dan Ciok Eng Tay tercipta menjadi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

sepasang kupu-kupu, dan untuk selanjutnya mereka tidak

pernah berpisah lagi.”

“Ceritamu ini menarik hati,” kata Bun Siu “Sekarang mana

si nona yang bercerita padamu itu? Ke mana dia perginya?”

“Dia telah meninggal dunia. Itu sapu tangan dengan peta

istana rahasia adalah sapu tangan yang dipakai membalut

lukaku.”

“Apakah kau masih ingat dia?”

“Tentu saja. Aku sering memikirkannya!*’

“Kenapa kau tidak pergi menjenguk kuburannya?”

“Aku akan pergi melihatnya nanti setelah aku dapat

mencari si orang tua bungkuk itu. Aku hendak mengajak dia

bersama.”

“Umpama kata kuburannya itu melekah, dapatkah kau

lompat masuk ke dalamnya?”

Supu tertawa.

“Cerita itu ialah dongeng, itu bukan kejadian yang benar.”

“Umpama kata nona itu sangat memikirkan kau dan dia

mengharapi siang dan malam untuk kau senantiasa menemui

dia, karena mana benar-benar terjadi kuburannya melekah,

maukah kau melompatnya untuk dapat menemani dia?”

Supu menghela napas.

“Tidak,” sahurnya, jujur.

“Nona itu melainkan sahabat eratku semasa masih kecil,

sedang aku sendiri, selama hidupku ini, aku cuma mengharapi

Aman yang senantiasa menemani aku.”

Bun Siu menanya terlebih jauh. la telah menemui jawaban

yang ia harap-harap. Kalau ia menanya terus, mungkin ia akan

jadi sangat bersusah hati.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Dalam kesunyian itu, tiba-tiba seekor burung malam nilam

mengasih dengar suaranyasuara

yang menggiurkan tetapi juga menyedihkan.

“Duluhari itu aku suka menangkap burung nilam untuk

dibuat main hingga dia mati,” berkata Supu, “akan tetapi

setelah aku bertemu sama nona itu, aku dapat menyingkirkan

kebiasaanku itu. Si nona sangat menyukai burung nilam,

waktu aku menangkapnya seekor, ia mengasihkan aku gelang

kumala asal aku melepaskan burung itu. Sejak itu aku talak

menangkap lagi burung, hanya aku terus mendengari

suaranya setiap malam Kau dengar, tidakkah lagunya sangat

menarik hati?” Bun Siu agak terkejut “Bagaimana dengan

gelang kumala itu?” ia tanya. “Apakah itu masih ada padamu?”

“Itulah kejadian sudah lama. Gelang itu telah pecah, sudah

hilang.”

“Ya, itu kejadian sudah lama, gelang itu telah pecah, sudah

hilang…” katanya, mengulangi Sang burung bernyanyi terus.

Supu tidur bermimpi, memimpikan Aman membujuk! ia agar ia

jangan masgul. Ketika ia sadar, ia kata pada kawannya: “Nona

Kang, aku mimpi bertemu Aman…”

Tapi ia tidak memperoleh jawaban. Si “Nona Kang” telah

tidak ada di dekatnya. Entah kapan perginya dia. Entah ke

mana perginya…

IX

Supu mengawasi ke tempat tidurnya Bun Siu. Ia merasa si

nona aneh kelakuannya. Ia cuma heran, ia tidak memikirkan

lama. Lantas ia meraup salju, untuk mencuci mukanya, untuk

dimakan juga. Setelah itu ia naik kudanya dan pergi.

Kira-kira tengah hari, pemuda ini mendengar ramainya

tindakan kaki kuda. Ia menuntun kudanya mendekati bukit,

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

untuk melihat Ia mengawasi sampai ia melihat nyata. Itulah

rombongan orang-orang Tiehyen yang menjadi suku

bangsanya. Ia mengenali dari dandanan mereka. Mereka pada

membeka! senjata, jumlahnya lebih daripada tiga ratus jiwa.

Yang jalan di depan ada Aman serta tiga ketua mereka. Di

damping Aman masih ada seorang lain, satu pemuda, ialah

Sangszer. Setiap orang itu membawa kantung. Terang mereka

itu mau pergi ke istana rahasia untuk mengeduk harta karun.

“Syukur,” pikir Supu, “coba aku tidak mendengar

pembicaraan kawanan penyamun itu, yang hendak menggurui

akal licin, pasti mereka ini akan terjebak semuanya ke dalam

liang perangkap…” Maka ia lantas lompat naik atas kudanya,

ia melarikannya untuk memapak! rombongan bangsanya itu.

Ia berteriak-teriak: “Aku Supu! Aku hendak bicara! Ada urusan

sangat penting!**

Si ketua yang kumisnya ubanan mengenali si anak muda, ia

menjadi gusar.

“Supu” tegurnya, “apa maumu datang kemari? Tahukah

kau aturan kaum kita terhadap orang yang sudah diusir?”

Bangsa Kazakh ini bangsa penggembala yang tidak

ketentuan tempat kediamannya, mereka pergi ke mana

mereka suka, meski begitu, ke mana juga mereka pergi,

seorang bangsanya yang telah diusir tidak dapat menemui

mereka pula, dan orang itu juga tidak dapat bicara sama

mereka. Maka itu, perbuatan Supu ini melanggar aturan

mereka itu.

“Aku hendak membicarakan urusan sangat penting,” kata

Supu, membelai.

“Kau masih tidak mau lekas pergi?” si ketua menegur. “Asal

kau berani bicara lagi satu patah, aku akan menitahkan

melepaskan anak panah!” Ia lantas meneruskan kepada

Sangszer: “Siapkan panahmu!”

Sangszer menurut, ia laatas bersiap.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Tapi Supu tidak mau pergi, bahkan dia kaburkan kudanya

datang mendekati

“Aman!” katanya pada kekasihnya, “jangan kau pergi ke

istana rahasia! Berbahaya!”

Matanya si nona berlinang.

“Lekas kau pergi!” bilangnya. “Jangan kau bicara sama

aku!”

Sementara itu Supu melihat ancaman anak-anak panah.

Tapi ia ingat baik-baik ancaman bahaya dari Hok Goan Liong.

Maka ia kata: “Aku mesti bicara denganmu!”

“Panah!”.berseru si ketua, murka.

Sangszer lantas melepaskan cekatannya kepada tali

panahnya, yang telah ditarik sedari tadi.

Supu kaget. Tapi anak panah mengenai leher kuda tanpa

melukakan. Anak panah itu telah dibuang tajamnya.

“Supu, dengar!” kata pemuda itu. “Mengingat persahabatan

kita duluhari, panahku itu tidak ada kepalanya, tetapi jikalau

kau tetap tidak mau mendengar titahnya ketua kita, panahku

yang kedua tidak mengenal kasihan lagi!”

Dan ia menyiapkan anak panahnya yang kedua itu. Benar,

anak. panah ini berkepala tajam, kepala itu bersinar di cahaya

matahari.

“Bapak ketua, istana rahasia berbahaya…” kata Supu. Dia

belum menutup mulurnya, atau si ketua telah memerintahkan:

“Panah!”

Menyusul itu beberapa batang anak panah menyambar ke

arah Supu, suaranya mengaung. Hanya semua itu lewat di

samping si anak muda. Inilah tanda, orang masih mengingat

sesama suku.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Si ketua lantas menyiapkan panahnya, ketika ia hendak

memanah. Aman maju dengan kudanya, menghalang di

hadapannya. Nona ini berkata kepada Supu: “Supu, pergi

lekas! Kau telah membunuh ayahku, untuk selamanya tidak

dapat aku baik kembali denganmu!…”

Justru itu sebatang anak panah menyamber pundaknya

anak muda itu!

Supu melihat bahwa ia telah tidak mempunyai harapan

pula, dengan terpaksa, ia kaburkan kudanya. Ia menahan

sakit, setelah mencabut anak panah di pundaknya itu, ia

membalut lukanya. Ia masih melihat tiga ratus lebih orangorang

bangsanya menuju ke arah istana rahasia. Ia pun

melihat Aman beberapa kali menoleh kepadanya, sinar

matanya menunjuk entah dia mencinta atau membenci,

berduka atau menyesal…

Sambil menungkuli rasa sakitnya, Supu berpikir. Dapatkah

ia membiarkan orang-orang bangsanya itu menempuh

bahaya?

Di antara mereka itu banyak kawan-kawan akrabnya. Tidak

I Ia mengambil putusan. Maka setelah rasa nyerinya

berkurang, ia naik atas kudanya, untuk mengaburkannya,

guna menyusul rombongan bangsanya itu.

Hari ini Supu mesti mundar-mandir tetapi ia melupakan

letihnya. Sampai sore baru ia dapat singgah, sedikit jauh diluar

tendanya rombongan bangsanya itu. Ia tidak berani menemui

Aman atau lainnya orang. Demikian pula pada besoknya.

Hanya ia melombai mereka, hingga ia sampai terlebih dulu di

muka istana rahasia. Ia bersembunyi di antara pepohonan.

Dari magrib ia menunggu sampai tengah malam, baru ia

melihat rombongan bangsanya tiba. Terus saja, dengan

banyak berisik, rombongan itu masuk ke dalam gua. Ia

menguntit mereka Karena ia sudah kenal baik istana itu, ia

mengambil lain jalan.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Aman yang memimpin rombongannya Ia mengambil jalan

yang ia telah kenal. Setibanya di dalam, ia berduka, lenyap

kegembiraannya selama di tengah jalan. Di sini ia ingat

ayahnya, kebinasaan ayah itu serta ayah Supu, bagaimana

karenanya ia menjadi berpisah dari Supu.

“Supu cuma menakut-nakuti kita!” berkata si ketua selagi

mereka berjalan terus. “Katanya istana rahasia ini berbahaya,

buktinya di sini aman! Makin besar dia jadi makin tidak

keruan, sampai dia berani mendustai”

Mereka maju terus. Sesudah melewati beberapa kamar,

lantas mata semua orang menjadi silau. Di depan mereka

berserakan banyak emas, perak dan mutiara: Semua orang

menjadi heran dan kagum. Mereka girang luar biasa. Sesudah

tercengang sejenak, lantas semua bekerja, mengisikan

kantung bekalan mereka dengan semua barang berharga itu.

Tengah mereka itu bekerja, tiba-tiba pintu di samping

mereka terpentang, di situ muncul seorang Han dengan

tangan memegang golok panjang. Dia lantas membentak:

“Kawanan budak tidak tahu mampus! Kenapa kamu berani

memasuki istana ini dan mencuri hartaku? Lekas antari

jiwamu!”

Orang-orang Kazakh itu menjadi kaget

“Berandal Han! Berandal Han!” mereka berteriak-teriak.

Lalu dua anak muda mendahului maju menyerang.

Berandal itu gagah, setelah beberapa jurus, ia berhasil

melukakan pundaknya satu pemuda. Atas itu, lagi dua

pemuda maju, untuk membantui kawannya. Si berandal

mundur, ia dirangsak. Tiba-tiba ada lagi pintu terbuka, lagi

satu orang muncul. Dia memegang tombak, ujung tombaknya

tahu-tahu telah nancap di dadanya seorang muda, hingga dia

ini lantas roboh, jiwanya melayang!

Semua orang Kazakh terkejut Si ketua menghela napas, ia

berkata perlahan: “Semua mengepung dulu berandal! Harta ini

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

kita urus belakangan!” Di dalam hatinya, ia pun pikir: “Kalau

begini, Supu tidak mendusta…”

Kedua penjahat Han itu dikejar melintasi beberapa kamar,

lantas mereka memisah ke kiri dan kanan.

“Rombongan kesatu dan kedua pergi ke kiri, mengejar

berandal itu!” si ketua berseru. “Rombongan ketiga dan

keempat turut aku ke kanan!”

Perintah itu diturut. Rombongan Kazakh itu memang telah

dipecah empat, masing-masing ada pemimpinnya sendiri.

Ketua ini dan rombongannya maju cepat. Di sebuah pintu

pinggiran, yang daun pintunya terpentang secara tiba-tiba,

mereka dipegat seorang Han, yang menyerang mereka.

Mereka melawan. Hanya sebentar, berandal itu lari balik.

“Kejar!” si ketua menitahkan. Berandal itu bertemu sama

kawannya, terus mereka lari berpisahan.

“Rombongan ketiga mengejar ke kiri!” si ketua

memerintahkan.

“Rombongan keempat turut aku” Dan ia mengubar ke

kanan.

“Bapak ketua!” mendadak Aman berkata. “Jangan-jangan

berandal menggunai tipu, mereka menghendaki kita berccraiberai!”

Si ketua mengangguk. “Jangan takut! Orang kita besar

jumlahnya!*’ katanya kemudian.

Benar saja, di sebelah depan muncul pula lain berandal, dia

bergabung sama berandal yang lagi dikejar itu. Hanya

sebentar, mereka pun lari berpisahan.

Kali ini si ketua tidak memisah rombongannya, ia hanya

menitah mengejar terus berandai yang lari ke kiri.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Penjahat itu berlari bergantian ke kiri dan kanan, lantas dia

menolak pintu, untuk masuk ke dalam sebuah kamar besar.

Dia baru masuk atau dari belakang pintu berkelebat sebuah

sinar mengkilap, terus dia berteriak dan roboh terluka, sebab

kakinya kena terbacok dan goloknya terlepas mental.

Segera rombongannya si ketua mengenali, penyerang itu

ialah Supu.

Ketua itu melengak. Tidak dapat ia mengusir orang yang

membantuinya.

“Bapak ketua, inilah tempat perangkap!** Supu berkata.

“Benarkah?” tanya ketua itu singkat, ragu-ragu.

Melihat ketuanya menyangsikan ia, Supu mengangkat

tubuh si penjahat dan melemparkannya ke tengah ruang.

Tubuh itu terbanting dan menerbitkan suara, lantai lantas

menjeblak, memperlihatkan sebuah liang besar. Ke dalam situ

tubuh si penjahat kecemplung seraya penjahatnya berteriak

menyayatkan hati, lalu suaranya sirap.

Semua orang Kazakh itu berdiri menjublak.

“Supu, syukur kau menolongi kami!” kata si ketua

kemudian.

“Istana rahasia ini banyak perangkapnya,” berkata Supu.

“Mungkin tiga rombongan yang lainnya telah terjebak

kawanan penjahat, yang pada menyembunyikan diri di sini.”

Ketua itu sadar, dia kaget

“Benar!” serunya. “Mari kita lihat!”

Tanpa banyak bicara, Supu lantas membuka’jalan.

“Aduh!” mereka mendengar sesudah melewati beberapa

pengkolan.

Mereka kaget, semua lantas memburu. Lantas terlihat di

depan mereka tubuhnya seorang Kazakh yang mandi darah,

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

waktu diperiksa, dia telah putus jiwa. Hal ini membangkitkan

hawa amarah mereka itu.

Tengah mereka itu bergusar, di atasan kepala mereka

terdengar suara berkeresek, lalu tertampak turunnya

perangkap terali besi

“Lekas lari!” Supu berteriak. Dialah yang paling dulu

melihatnya, dia pun terus lompat ke luar kamar.

Empat pemuda turut berlompat yang lainnya kena

terkurung. Terali itu turun sangat cepat

Di dalam kaget dan takutnya, orang-orang Kazakh itu

menyerang terali itu. Sia-sia saja usaha mereka. Terali besi

tidak mempan senjata, bahkan senjata yang menjadi gompal.

Selagi orang tidak berdaya, dari luar pintu muncul lima

orang, yang jalan di muka ialah Tan Tat Hian. Dia ini lantas

menghampirkan pesawat rahasia, untuk dikerjakan, maka dari

lelangit kamar lantas meluruk turun pasir dalam jumlah besar.

Kembali orang kaget, semua menjerit.

Supu dan empat pemuda, yang berada di luar, maju

menerjang Tat Hian serta rombongannya itu. Mereka lantas

bertarung seru. Selama itu, pasir masih meluruk turun, hingga

sebentar saja sudah naik tinggi sebatas dengkul..

Supu bingung bukan main. Kalau kawanan penjahat ini

tidak dapat dipukul mundur, pasir itu bakal meluruk terus dan

akan memendam mati semua orang bangsanya itu, sedang di

antaranya ada Aman. Tat Hian dan keempat kawannya itu

Iihay, terutama Tat Hian sendiri. Sebentar saja, dua pemuda

telah roboh binasa dan yang ketiga roboh terluka. Tinggallah

Supu serta satu pemuda lainnya. Di dalam terali, parir sudah

lantas sampai di dada, hingga orang sukar menggeraki

tubuhnya.

Supu menjadi lebih bingung lagi ketika kawannya yang

terakhir pun roboh di tangannya Tat Hian, hingga lantas ia

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

dikepung berlima. Tat Hian juga lantas dapat memukul

terlepas goloknya Supu, hingga di lain saat dia ini mesti berdiri

diam saja di bawah ancaman pedangnya penjahat itu.

Mendadak saja di situ muncul seorang lain, yang

bersenjatakan bandring. Belum sempat Tat Hian berdaya,

pedangnya sudah terhajar bandring itu dan jatuh ke lantai.

Empat penjahat kaget tapi mereka maju menyerang. Atas itu

Tat Hian bisa menjumput pula pedangnya, guna membantu

mengepung.

Supu sadar, ia lantas lari ke pesawat rahasia, maka di lain

saat, berhentilah meluruknya pasir.

Semua orang Kazakh itu bernapas lega. Ketika mereka

memandang ke arah penjahat serta orang yang baru datang

itu, mereka heran. Orang itu satu pemuda yang tampan,

dengan dandanan Tionghoa mirip si kawanan penjahat. Entah

kenapa, mereka itu telah bertempur satu dengan lain.

Pemuda itu pandai menggunai bandringnya, setelah

belasan jurus, dia berhasil merobohkan saling susul pada

empat konconya Tat Hian, melihat mana, dia ini lantas kabur

mengangkat kaki.

Supu lantas mencari pesawat rahasia lainnya, guna

mengangkat naik terali besi itu. Maka sekarang semua orang

baru benar-benar bernapas lega. Dengan susah payah mereka

membebaskan diri dari urukan pasir itu.

Orang hendak membilang terima kasih pada si pemuda

penolong, tapi orang sudah tidak ada, entah ke mana

perginya.

Semua orang bersyukur berbareng heran. “Tanpa dia,

celakalah kita,” kata yang satu. “Ke mana perginya dia ? Ah,

kiranya di antara orang-orang Han ada juga yang baik…”

“Bapak ketua,” kata Supu tanpa mempedulikan suara

Orang banyak itu, “istana ini berbahaya, baiklah lekas

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

rhengumpuli semua orang bangsa kita, supaya mereka tidak

terjebak penjahat”

Ketua itu setuju. “Mari kita bekerja!” katanya. Ia

menitahkan semua orang mengambil jalan mundur menuruti

jalan dari mana tadi mereka masuk. Mereka pun bunyikan

terompet, tanda memanggil berkumpul tiga rombongan

lainnya, untuk berkumpul di luar istana.

Rombongan ini tiba di luar, lantas mereka menantikan.

Mulanya muncul rombongan ketiga, kemudian rombongan

kesatu. Rombongan kedua dinantikan dengan sia-sia.

Kembali terompet ditiup nyaring dan riuh. Istana tetap

sunyi

“Jangan-jangan mereka terjebak,” kata si ketua kemudian.

“Mari kita masuk bersama untuk melihat mereka.”

Usul ini disetujui Lantas mereka berbaris rapi. Belum lagi

mereka bergerak, dari dalam terlihat munculnya orang-orang

dari rombongan yang kedua itu. Mereka ini muncul saling

susul, dalam rombongan dari dua tiga orang, dengan roman

mereka tidak keruan. Dua orang pun menggotong satu orang,

yang tubuhnya terpanah, yang mandi darah. Yang muncul

paling belakang ialah Sangszer, goloknya di tangan, mukanya

berlepotan darah.

“Bagaimana?” tanya si ketua, kaget dan berkuatir.

“Hampir kita tidak dapat bertemu lagi,” menjawab pemuda

itu. “Kami telah masuk dalam perangkap penjahat. Di dalam

sebuah kamar, mendadak kami diserang banyak anak panah,

yang datangnya dari empat penjuru. Syukur ada satu anak

muda kosen, yang membantu kami Dia telah menggagalkan

bekerjanya pesawat rahasia.”

Baru mereka bicara sampai di situ, di situ muncul si anak

muda yang disebutkan Sangszer ini. Anak muda itu

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

menggusur satu penjahat, ialah Hok Goan Liong, yang dia

lantas lempar roboh ke tanah.

Semua orang Kazakh bergarang “Terima kasih! Terima

kasih!” mereka mengucap: Si ketua menghampirkan anak

muda itu, guna menghaturkan terima kasihnya yang hangat

seraya menanyakan she dan nama orang.

“Aku she Lie,” menyahut si anak muda. “Namaku tidak ada,

panggil saja aku Lie Pek Ma.”

Di antara mereka itu. Aman dan Supu segera mengenali si

anak muda.

“Dia toh nona Kang,” pikirnya. “Kenapa sekarang dia

menjadi seorang muda bangsa Han? Bagaimana sebenarnya,

apa dulu itu dia menyamar jadi wanita atau sekarang dia

menyaru menjadi pria? Atau mungkin si nona Kang hanya lain

orang dan orang itu melainkan mirip romannya?”

Supu tidak dapat menahan hati. “Kau… kau toh nona

Kang?” ia menanya.

Lie Bun Siu tertawa lebar. “Tadinya aku menyamar menjadi

nona Kazakh, kamu tidak mengenali aku” katanya. “Aku tahu

kamu membenci orang Han, aku tidak berani berdandan

seperti orang bangsaku.”

Si ketua nampak likat.

“Baru hari ini kami ketahui, orang Han juga ada yang baik

hatinya,” kata ia, mengaku. “Tanpa pertolongan kau, tuan Lie,

hari ini kami semua pasti bakal mati terpendam di dalam

istana rahasia ini.”

Bun Siu tidak menyahuti, ia hanya menoleh kepada Supu.

“Sayang ayahmu telah menutup mata,” pikirnya, “maka ia

menjadi tidak ketahui, di antara orang Han pun ada yang

baik…” Kemudian ia kata, tawar “Di antara bangsa Han ada

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

orang-orang jahat dan orang baik pula, si jahat biasa

mencelakai si baik. Tapi si jahat pun tidak bisa hidup selamat!”

Semua orang Kazakh itu berdiam. Mereka pikir pemuda ini

benar.

“Tuan Lie, tolong kau menunjuki kami jalan,” berkata si

ketua kemudian. “Kami mau masuk untuk menyerang

kawanan penjahat itu!”

“Ya, kita menyerbu, kita membalaskan sakit hatinya

saudara-saudara kita yang terbinasa!” berseru orang-orang

Kazakh itu.

“Istana rahasia ini banyak perangkapnya, tanpa peta, tidak

dapat kita lancang memasukinya,” berkata Lie Bun Siu. “Kalau

kita memaksa masuk, kita bisa menjadi kurban. Kalau

disetujui, aku mempunyai suatu pikiran. Ini hanya meminta

tempo.”

“Silahkan berikan petunjukmu, tuan Lie!” kata si ketua. Bun

Siu bersenyum. “Aku ingin mengajukan satu permintaan,

maukah bapak ketua meluluskannya?” katanya.

“Tuan adalah penolong kami, titahkan saja, pasti kami akan

kerjakan,” menyahut ketua itu.

Bun Siu lantas menunjuk kepada Supu.

“Kakak Supu ini telah diusir dari kaumnya,” ia berkata,

“barusan dia telah bertempur dengan orang jahat, dia

menolongi semua saudara dari perangkap musuh, dari itu aku

pikir baiklah jasanya ini dipakai menebus dosanya, supaya

bapak ketua menarik pulang hukuman kepadanya, agar dia

dapat berkumpul pula dengan sesama bangsanya. Inilah

permintaan yang kecil sekail Dapatkah bapak ketua

menerimanya?”

Ketua itu berdiam untuk berpikir, terus ia berdamai sama

dua pembantunya. Tidak lama, ia menghampirkan Bun Siu,

untuk memberikan jawabannya.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Mengingat budi tuan serta dia benar telah membelai kami,

kami suka meluluskan permintaanmu, tuan,” berkata dia

“Sekarang Supu dapat kembali kepada bangsanya.”

Supu menjudi girang sekali. Ia pun mengucap terima kasih

kepada Bun Siu.

Ketua itu lantas bicara kepada orang-orang bangsanya,

untuk mengumumkan bahwa hukuman buang Supu telah

dihapus, karena mana pemuda itu dapat kembali di antara

mereka. Sebagai alasan dikemukakan permintaan Lie Bun Siu,

penolong mereka, dan bahwa Supu telah berjasa sudah

memperingati adanya ancaman bahaya dan tadi Supu juga

telah mengadu jiwa menolongi mereka.

Pengumuman itu disambut sorak-sorai yang ramai.

Setelah sirap suara orang banyak itu, sang ketua lantas

tanya Bun Siu bagaimana akalnya untuk membekuk semua

penjahat

Bun Siu menuding kepada Goan Liong.

“Dialah si kepala penjahat!” sahutnya. “Coba geledah

padanya, mungkin dia menyimpan peta bumi atau petanya

istana ini.”

Tanpa diperintah lagi, Supu maju.

Hok Goan Liong sudah tidak berdaya akan tetapi dia murka

sekali, dia mementang matanya dan membuka mulutnya

mencaci.

Bangsa Kazakh menghormati orang bernyali besar, mereka

kewalahan.

“Peta itu telah kita bakar!” kata Goan Liong nyaring.

“Kamu, kawanan anjing Kazakh, jikalau nyalimu besar, kamu

terjanglah istana ini! Mari kita bertempur! Untuk mendapatkan

peta, jangan harap!”

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Perkataan berandal ini benar. Supu menggeledah tanpa

hasil.

“Sekarang begini,” berkata Bun Siu. “Semua orang berdiam

di sini, kita mendirikan tenda. Sejumlah orang harus pulang

guna mengambil rangsum dan lainnya keperluan. Di depan

istana kita menggali liang perangkap serta tambang-tambang

kalakan. Kita menanti sampai kawanan penjahat kelaparan,

mesti mereka keluar. Paling lama mereka dapat bertahan

delapan atau sepuluh, hari. Jikalau mereka keluar, kita bekuk

satu demi satu. Dengan begitu tidak usah kita menempuh

bahaya dengan menyerbu ke dalam istana.”

Pikiran ini baik, sang ketua menerimanya dengan girang.

Bahkan ia lantas bekerja. Rombongan ketiga diperintah

pulang, buat mengambil rangsum, dan yang lainnya terus

bekerja, memasang tenda dan menggali liang jebakan yang

lebar dan dalamnya rata-rata lima tombak, atasnya ditutup

dengan rumput yang ditutup pula dengan salju. Mata-mata

pun dipasang.

Selang lima hari, rombongan ketiga kembali dengan

rangsum berikut kerbau dan kambing hidup.

Dugaannya Bun Siu tepat. Lagi dua hari, kawanan penjahat

muncul saling susul. Benar-benar mereka tak tahan lapar.

Mereka kelaparan hingga kepala mereka pusing, maka mereka

kabur, tenaga mereka habis. Mereka terjeblos ke dalam liang

perangkap di mana mereka dibekuk tanpa perlawanan.

Hanyalah, ketika penjahat yang terakhir muncul, dia tidak

diikuti Tan Tat Hian.

“Ke mana dia pergi?” tanya Bun Siu kepada setiap penjahat

“Entahlah,” dia mendapat jawaban. “Kita tak melihat dia

selama beberapa hari yang paling belakang. Mungkin dia

terbinasa di perangkap dalam istana.”

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Keterangan itu tidak lantas di percaya. Sang ketua masih

bersabar menanti lagi dua hari. Habis itu barulah ia berlega

hati

“Sekarang mari kita masuk ke istana,” katanya, la

mengajak orang untuk mengambil harta besar itu.

Bun Siu sendiri memikirkan Kee Loojin. Sudah beberapa kali

ia memasuki istana, tidak juga ia dapat menemui orang tua

itu. Ia jadi sangat berkuatir si orang tua telah roboh di tangan

jahat dari Tat Hian. Tentu sekali sukar ia melupai budi orang

tua itu, yang ia telah pandang sebagai kakeknya sendiri. Ia

telah menanyakan beberapa penjahat, semua menerangkan

tidak pernah melihat orang tua yang bertubuh bongkok

bagaikan unta itu..

Yang aneh untuk nona Lie ini yang juga ia buat pikiran,

ialah lenyapnya Hoa Hui, gurunya. Guru itu bilang tidak

keruan paran. Pernah Bun Siu pergi ke tempat kediamannya,

di sana dia tidak kedapatan. Pula tidak ada tanda-tanda

bahwa guru itu pernah pulang.

Orang-orang Kazakh itu lebih dulu mengurus mayatnya

orang-orang bangsanya serta mayat-mayat si penjabat,

selesainya itu baru mereka mengangkut harta karun itu.

Ketiga ketua mereka telah memutuskan, semua orang

memperoleh hak sama rata. Artinya, mereka tidak boleh

berebutan. Keluarga kurban jiwa mendapatkan bagian dua

lipat

Selagi orang mengambil harta, Supu melihat Lie Bun Siu

diam saja di pinggiran, la lantas membawa sekantung harta

dan meletakinya di depan orang.

“Saudara Lie,” katanya, “ketua kami membilang, tanpa

pertolongan kau, kami semua pasti membuang jiwa di sini,

maka itu ia mengatakan, kau boleh mengambil harta ini

sesukamu, umpama kata kau tidak dapat mengangkutnya,

nanti kami menolong kau membawanya.”

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Bun Siu menggelengkan kepala.

“Aku tidak menghendaki emas dan perak serta mutiara,”

sahutnya.

“Kau menginginkan apa, nanti aku pergi mengambilkan,”

berkata Supu.

“Yang aku kehendaki, itu tak terdapatkan. Yang aku

dapatkan, aku tidak menghendakinya,” berkata Bun Siu. Dan

ia menuntun kudanya. “Sekarang aku mau pergi…”

“Jangan, jangan, saudara Lie!” berkata Supu. “Kau mesti

mengambil sesuatu! Barang apa itu yang kau tidak

mendapatkannya?”

“Itulah kejadian yang telah lama. Yang aku kehendaki itu

ialah sehelai kulit serigala.”

Tadinya Supu masgul, tetapi mendengar kata-kata orang,

air mukanya menjadi terang.

“Kulit serigala?” katanya, gembira. “Itulah gampang sekali.

Nanti aku mengambilkan sepuluh helai untukmu!”

“Hanya sekarang ini aku tidak menghendaki itu…”

Kembali orang Kazakh itu menjadi heran, hingga ia

menggaruk-garuk kepala. Ia menganggap orang aneh sekali.

Mau, tidak mau-tidak mau, mau. Habis bagaimana? Maka ia

membuka kantungnya,

memperlihatkan isinya, semua mutiara bergemerlapan.

“Nah, ambillah apa saja!” bilangnya

Lie Bun Siu mengawasi harta besar itu, ia menjumput

sepotong gelang kumala yang kecil.

“Biarlah aku ambil ini saja,” bilangnya. Ia berhenti

sebentar, untuk menambahkan: “Dulu juga aku mempunyai

sepotong gelang semacam ini, gelang itu aku telah berikan

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

kepada seorang, yang telah membikinnya pecah hancur,

hingga sekarang ini lenyaplah!”

Ia masuki gelang itu ke lengannya, terus ia melarikan

kudanya.

Supu heran. Ia menggaruk kepalanya pula. Ia bengong

mengawasi punggung orang sampai orang tak nampak lagi.

Lewat beberapa hari, selesai sudah orang-orang Kazakh

mengangkut harta karun, lantas mereka berangkat pulang.

Mereka menyembelih kerbau dan kambing, untuk membikin

pesta besar. Itu waktu salju sudah lumer, maka di padang

rumput mereka menyalakan unggun. Terutama rombongan

muda-mudi, gembiranya luar biasa. Cuma Aman yang berada

bersendirian.

“Aman,” kata si ketua, yang menghampirkannya, “kau

sebatang kara, baiklah kau menikah sama Supu.”

“Apa, Supu?” Aman kata. “Dia telah membunuh ayahku!

Mana dapat aku menikah padanya?”

“Memang benar dia telah membunuh ayahmu akan tetapi

kemudian dia telah menolong kau dan kita semua,” berkata si

ketua, membujuk. “Kejadian itu ialah kehendak Allah

junjungan kita dan sekarang permusuhan hendaknya dibikin

habis.”

“Jadi bapak membilang itulah kehendak Junjungan kita?”

Aman tanya.

“Benar.”

“Bapak… Sebenarnya aku menyukai Supu, tetapi, tetapi,

dia telah membunuh ayahku, hatiku jadi… aku selalu

penasaran terhadapnya… Kalau peristiwa benar ada kehendak

Junjungan kita, kalau aku mesti menikah pada Supu, itu baru

bisa terjadi setelah satu pertandingan besar dan tak ada orang

lain yang dapat mengalahkannya. ..”

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Ketua itu tertawa bergelak. “Jadi kau menghendaki

diadakan satu pertandingan besar, untuk melihat siapa yang

paling kosen?”

“Untuk itu aku hendak bersembahyang dahulu kepada Allah

Yang Maha Kuasa,” berkata Aman. “Jikalau Junjungan kita

dapat mengampuni dia, dia bakat menjadi si pemenang,

jikalau tidak, dia bakal kena dikalahkan, dengan begitu, tidak

dapat aku menikah dengannya.”

“Bagusi” memuji si ketua. “Kau percaya kepada Junjungan

kita, itulah bagus sekail Pasti Junjungan kita akan

memilihkanmu seorang suami jempolan.”

Justeru orang-orang bangsanya itu lagi berkumpul, ketua

ini berbangkit menghadap mereka, untuk menepuk tangan

tiga kali.

Dengan serempak, semua orang berdiam, mengawasi dan

mendengari.

Ketua itu mengawasi semua orang, ia berkata: “Kita telah

mendapatkan istana rahasia, kita berhasil mendapatkan harta

besar serta membekuk juga musuh-musuh kita, dalam pada

itu, orang yang paling berjasa ialah lima orang. Pertama-tama

saudara Lie si orang Han. Sayang dia tidak ada di sini. Yang

kedua ialah Suruke dan Cherku. Sayang sekali, mereka berdua

telah menutup mata di dalam istana Yang dua lagi ialah Supu

dan Aman. Jasa Supu sangat besar, sayang ia telah

membunuh Cherku, hingga jasanya itu mesti dipakai menebus

dosanya. Karena itu sekarang tinggal Aman satu orang.

Bagaimana kita harus menghargai jasanya Aman ini?”

“Baiklah dia mendapatkan mutiara dua lipat!” seorang

usulkan.

“Tambahkan dia dua puluh ekor kerbau serta seratus ekor

kambing!” kata yang lain.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Boleh kita memberikannya pula lima puluh pikul bulu

kambing!” yang lainnya lagi memberi pikiran.

Si ketua menggoyangi tangan, ia tertawa riang,

“Tidak, tidak tepat!” katanya. “Aman tidak menghendaki

kerbau dan kambing atau bulu kambing! Mutiara pun ia telah

mempunyai banyak! Habis, dia membutuhkan apa? Dia masih

belum menikah, maka perlulah kita mencarikan dia seorang

suami!”

Semua orang girang sekali, semuanya bersorak.

“Akur! Akur!” seru mereka. “Mari kita mencarikan suami

jempol untuk Aman!”

Hati Supu berdebaran. Semenjak mereka pulang, tidak

pernah Aman bicara padanya. Ia telah menanya dia, dia tidak

mau menyahut Kalau ia mendekati, dia menyingkir. Sekarang

ada usul si ketua ini! Bagaimana akhirnya? Siapa yang si ketua

pilih? Atau, siapa yang Aman telah pilih sendiri? Mungkinkah

Sangszer?

“Siapakah bakal jadi suami paling baik bagi Aman?” berkata

si ketua. “Kami bangsa Kazakh, pria kami semuanya baik-baik

sebagai penggembala, sebagai pemburu, sebagai penunggang

kuda, sebagai orang kosen juga! Hanyalah, siapalah yang

paling diberkahi Junjungan kita? Seharusnya saja, orang muda

yang paling kosen dialah yang mesti mendapatkan isteri paling

cantik!”

“Benar, benar!” orang banyak berseru-seru. “Pemuda kita

yang paling gagah mesti menikah dengan pemudi kita paling

cantik!”

Semua mata lantas dialihkan kepada Supu dan Sangszer,

ada juga kepada beberapa pemuda lainnya.

Aman, dengan wajah merah, juga memandang kepada

setiap anak muda. Setiap pemuda, yang sinar matanya

bentrok, hatinya berdenyutan, otaknya bekerja, dia kata

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

dalam hatinya: “Siapa dapat menjadi suami nona begini

cantik, ia sungguh beruntung!”

Sementara itu, Aman tidak memandang Supu, ia

menyingkir dari sinar matanya si pemuda.

“Maka itu sekarang aku ingin diadakan pertandingan guna

memilih pasangannya Aman,” berkata pula si ketua kemudian.

“Untuk itu orang harus dapat turut ambil bagian di dalam

empat macam pertandingan. Tiga yang pertama ialah pacuan

kuda, mengadu panah dan rebutan kambing. Untuk merebut

kambing lima ekor, orang mesti tinggal lima Inilah calon

terakhir, yang akan mengadu tenaga dan kepandaian satu

dengan lain. Siapa yang menang dialah orang yang paling

kosen.”

“Dan dialah yang mendapatkan nona kita paling cantik!”

orang banyak menyambungi.

Si ketua mengangguk. Ia berkata pula: “Sekarang sudah

jauh malam! Siapa sudah mempunyai isteri, siapa sudah

mempunyai kekasih, kamu boleh terus pelesiran! Siapa mau

turut pertandingan, pergilah masuk tidur, untuk beristirahat

untuk bersiap sedia! Kita akan mulai besok pagi! Nanti kita

lihat, siapakah yang dipilih Junjungan kita!”

Bangsa Kazakh beragama Islam, maka itu mereka percaya,

mati dan hidup mereka ada di tangan Tuhan Yang Maha

Kuasa, Junjungannya.

Besoknya pagi di padang rumput telah berkumpul seratus

lebih pemuda, semua dengan kudanya masing-masing, kuda

pilihan. Cuma Supu yang berduduk dengan masgul. Ia kata di

dalam hatinya: “Aman membenci aku, percuma aku

mengalahkan orang, dia tidak bakal menikah padaku…” Tidak

lama terdengarlah suara terompet. Semua anak muda, dengan

menuntun kuda mereka, lantas berdiri berbaris. Supu tetap

berduduk saja, ia ragu-ragu. Mendadak kupingnya mendengar

teguran: “Kenapa kau tidak turut bertanding?” Ia terperanjat.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Itulah suaranya Aman. Ia menoleh. Ia masih mau menduga

nona itu bicara dengan lain orang. Tapi di situ cuma ada ia

sendiri. Ia lantas melihat mata Aman ditujukan tajam

kepadanya. Mendadak ia menjadi girang sekali.

“Oh, Aman, kiranya kau dapat memaafkan aku?…” katanya.

Nona itu menggelengkan kepala.

“Aku tidak tahu…” sahutnya. Ia berhenti sejenak, lalu ia

menanya: “Kau… kenapa kau tidak turut bertanding?”

Supu tidak menyahut, hanya dia berjingkrak bangun, terus

dia menuntun kudanya dan pergi berbaris.

Segera juga terdengar pula suara terompet, setelah tiga

kali, maka seratus lebih penunggang kuda itu sudah mulai

membalap, dari barat mereka kabur ke timur.

Matanya Aman tidak pernah berpisah dari kuda bulu dawuk

dari Supu. Setindak derra setindak, kuda itu melewati yang

lain-lainnya. Tiba di timur, batas ujung, orang lari kembali

dengan memutar. Ketika orang akhirnya tiba di barat, di batas

penghabisan, kuda Supu ialah yang kedelapan. Kuda nomor

satu, yang bulunya putih, penunggangnya mengenakan

topeng dari sapu tangan, hingga nampak sepasang matanya

saja yang bercahaya.

Si ketua segera mengumumkan, yang dapat bertanding

terus ialah yang kudanya terhitung sampai nomor lima puluh.

Sekarang orang mulai dengan adu panah. Untuk itu di tengah

padang rumput itu ditancap papan sebagai tameng atau

sasaran. Sambil menunggang kuda, pemuda-pemuda itu.

memanah bergantian. Setiap kali sasaran terkena tepat, orang

semua bertepuk tangan bertampik sorak.

Setelah penghitungan ternyata, di dalam sepuluh kali

panah, Supu dapat mengenai delapan kali. Yang sepuluh kati

memanah tanpa lolos ialah si penunggang kuda bertopeng.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Eh, siapakah dia?” demikian orang saling bertanya.

“Kudanya lari paling keras, ilmu panahnya pun paling mahir!”

Si ketua sudah lantas mengumumkan siapa dalam sepuluh

kali dapat memanah enam, dia berhak turut dalam

pertandingan yang ketiga. Acaranya ialah merebut kambing.

Lalu ternyata, dari lima puluh calon, tiga puluh berhak

bertanding lebih jauh.

Rebutan kambing adalah olah raga kepelesiran paling

digemari bangsa Kazakh. Cara merebutnya ialah seekor

kambing dilepas di tengah kalangan, lantas sambil

menunggang kuda orang merebutnya, siapa yang akhirnya

mendapatkan itu, dialah yang menang,, dia berhak memiliki

kambing itu serta diakui juga sebagai orang kosen. Untuk ini

orang mesti pandai menunggang kuda, bermata celi,

bertenaga besar dan sebal Itulah perebutan di antara puluhan

lawan.

Kali ini digunakan lima ekor kambing. Nampaknya

perlombaan menjadi terlebih riang. Tentu sekali, yang

diperebuti bukan kambing lagi hanya Aman. Maka juga

perasaan setiap peserta menjadi tegang luar biasa. Pula setiap

sanak atau keluarga atau sahabatnya si pemuda bersorak

menganjurkan anak atau sanaknya itu. Maka ramailah

gemuruh sorak-sorai. Siapa telah mendapatkannya, kambing

itu masih dapat dirampas lain orang. Maka siapa berhasil, dia

mesti bisa kabur naik ke atas bukit ialah tempat terakhir di

mana orang tidak dapat merampasnya lebih jauh.

Kemudian ternyata, di antara lima calon yang berhasil itu,

ada Supu, ada Sangszer, ada si penunggang kuda bertopeng

itu.

Sampai di sini orang mulai dengan acara terakhir: Mengadu

kepandaian berkelahi. Menurut undian, Sangszer dapat lawan

seorang pemuda yang dijuluki si “banteng gede”. Lawannya

Supu ialah seorang pemuda tinggi sekali dan kurus, hingga dia

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

biasanya jalan dengan punggung melengkung agar tidak

terlalu menyolok kalau dia jalan beramai-ramai. Dia dipanggil

si “unta”. Meski lawannya Sangszer ada satu banteng tetapi ia

sangat gesit dan cerdik, belum lama, dengan satu gaetan kaki,

ia dapat membikin lawan itu roboh, lalu ditindih hingga tidak

berdaya.

Si unta sebaliknya sulit untuk dijatuhkan Supu. Beberapa

kali dia kena dirobohkan, saban-saban dia dapat meronta dan

bangun pula, hingga dia mendatangkan ramai tempik sorak.

Tadinya orang menyangka Supu bakal menang, kemudian lalu

menduga si unta yang ulat ini.

Supu bermandikan peluh, kaki dan tangannya berkurang

kecekatannya, napasnya pun memburu. Lawannya sebaliknya

nampak lebih segar hanya dia pun tidak bisa merebut

kemenangan. Maka mereka jadi bertarung seru sekali.

Saking letih, kemudian Supu kena dibanting jatuh,

tubuhnya terus ditindih. Ia berontak, sia-sia saja. Banyak

orang lantas berkaok-kaok: “Si unta menang! Si unta

menang!*’

Supu bergelisah bukan main. Tiba-tiba sinar matanya

bentrok sama sinar matanya seorang lain. Itulah sinar mata

yang bergelisah, yang seperti sangat memperhatikan padanya.

Mendadak ia mendapat tenaga baru, ketika ia berontak, ia

dapat menggulingkan si unta, hingga sekarang ialah yang

berbalik menindih lawannya.

Dengan tangan kirinya ia menekuk tangan kanan si unta,

lehernya dia itu ia tekan. Maka habislah tenaga si jangkung

kurus itu!

Di antara sorakan riuh sekali, Supu dinyatakan menang, la

bangun berdiri dengan napas menggotong. Justeru itu

Sangszer berkata padanya: “Supu, kau beristirahatlah! Aku

akan melayani dulu ini saudara!” Dia berbicara tanpa memberi

ketika lawannya beristirahat dulu. Habis berkata, dia

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

menghampirkan si calon yang nomor lima, yang belum ada

tandingannya. Dia berkata dengan tangannya: “Saudara, mari

aku melayani kau bertanding. Sekarang kau tentu dapat

meloloskan topengmu…”

“Tak dapatkah tanpa diloloskan?” menjawab si lawan.

Supu mendengar suara orang, hatinya bertekat Semenjak

tadi ia menduga kepada si pemuda yang menyebut dirinya Lie

Pekma, sekarang ia mendapat kepastian. Hanya, karenanya, ia

menjadi berpikir: “Sudah terang Sangszer dan aku bukan

tandingannya. Dia selalu berada di antara kita, kiranya dia pun

mengarah Aman…”

Pemuda itu memang Lie Bun Siu.

Sangszer tertawa dan berkata: “Untukku sendiri, tidak ada

halangannya aku tidak melihat wajahmu, tapi kita tinggal

bertiga. kalau aku dan Supu kalah, mungkinkah Aman

menikah suami yang tidak ada mukanya?”

“Baiklah “ menjawab Bun Siu. yang lantas menarik sapu

tangannya.

“Lie Pekma!” Sangszer berseru kaget

Orang banyak pun heran.

“Lie Pekma! Lie Pelana!” mereka berseru-seru. “Dialah

orang Han!”

“Tidak! Gadis cantik kita tidak dapat menikah sama orang

Han!” ada lagi yang berteriak-teriak.

Yang hebat adalah yang berteriak: “Orang Han menjadi

penjahat! Orang Han telah merampok dan membunuh orang

bangsa kita!” Mereka kurban-kurban keganasannya

rombongan Hok Goan Liong.

“Orang gagah she Lie mi bukan orang jahat!” ada juga

yang mengasih dengar suara lain.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Dialah yang menolong kita di istana rahasia!”

“Dialah penolong bangsa kita! Dia lain dari orang-orang

Han yang jahat!”

Maka ramailah suara-suara yang bertentangan itu.

“Baiklah kita mendengar ketua kita!” akhirnya ada yang

berteriak.

St ketua berbangkit, tiga kali ia menepuk tangan.

“Saudara-saudara, tenang!” ia berkata, nyaring. “Saudara

Lie ini bukannya orang jahat! Tanpa dia, kita semua tentu

telah habis terbinasa di dalam istana rahasia! Maka itu benar,

dialah penolong kita! Pula harus diketahui, di antara orang

Han juga ada banyak yang baik, dan saudara Lie ini orang

baik itu!” Ia berhenti sejenak, lalu ia meneruskan: “Sekarang

mari kita bicara dari hal pertandingan ini. Inilah pertandingan

yang mengenakan jodohnya Aman. Di dalam ini hal, kita

mengharap petunjuk Allah Junjungan kita, ingin kita mendapat

tahu Tuhan berkenan memberi ampun atau tidak kepada

Supu. Jikalau Supu diberkahi, dia tentulah yang menang dan

dia bakal menikah sama Aman. Kita ada penganut-penganut

dari agama Islam, kita tidak dapat menikah sama orang dari

lain agama.”

Mendengar itu, Lie Bun Siu campur bicara.

“Di antara orang Han juga ada yang memeluk agama

Islam,” katanya. “Aku mempunyai minat untuk memuja Tuhan

Junjungan kamu!”

Ketua itu menjadi serba salah. Tidak ada alasan untuk

menolak Bun Siu. Pula, sebagai seorang budiman, ia tetap

bersyukur dan berterima kasih pada pemuda ini. Bun Siu

bukan hanya menolong dia tetapi semua bangsanya. Di

sebelah itu, ia hanya terpengaruh sama hari kecilnya. Ia juga

tidak puas yang gadis bangsanya yang paling cantik

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

dinikahkan kepada orang Han. Ia terpengaruh keras rasa

kebangsaannya.

“Soal ini sangat sulit, tidak dapat aku memutuskan sendiri,”

akhirnya ia kata. “Di dalam ini hal kita harus menanyakan

pendapatnya Hapulam, tertua kita yang paling terpelajar*’

Hapulam itu adalah orang tua suku bangsa Tiehyen yang

paling paham tentang kitab suci. Si ketua lantas

menghampirkan ahli kitab itu, yang berada di antara mereka

“Hapulam,” tanyanya, lantas, “pernahkah bangsa kita

mengalami peristiwa seperti ini? Aku minta sukalah kau

memberikan keterangan yang jelas.”

Ditanya begitu, Hapulam tunduk. Ia berpikir.

“Pelajaranku sangat rendah, apa pun aku tidak mengerti,”

sahutnya selang sesaat.

“Jikalau Hapulam yang terpelajar masih menyebutkan tidak

tahu apa-apa maka lain orang pastilah terlebih tidak tahu apaapa

lagi!” kata si ketua.

Didesak demikian, Hapulam berkata juga: “Kuran Surah 49

ayat 13 mengajarkan:-’Manusia, seorang pria dan seorang

wanita, membuatmu menjadi sekian bangsa dan agama,

untuk menggampangkan kamu saling mengenal, maka dalam

pandangan Tuhan, yang paling mulia di antara kamu ialah

yang paling baik. Di dalam dunia ini, pelbagai bangsa dan

agama, semua ada ciptaan Allah, maka juga Allah bilang, yang

paling baik ialah paling mulia. Pula ada ajaran yang

menganjurkan untuk kita mencintai tetangga kita dekat dan

jauh, kawan, dan melayani baik-baik tetamu kita. Orang Han

ialah tetangga kita yang jauh, asal mereka tidak mengganggu

kita, kita harus mencintai serta melayaninya.”

“Kau benar,” berkata si ketua. “Tetapi anak perempuan

kita, dapatkah dia dinikah orang Han?”

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Surah 2 ayat 221 membilang,” berkata Hapulam: “‘Jangan

kamu nikah wanita yang memuja boneka sampai mereka telah

mempercayai agama kita-jangan kamu

menikahkan anak perempuan kepada pria yang memuja

boneka sampai pria itu mempercayai agama kita. Surah 4 ayat

23 pun melarang menikah dengan wanita yang ada suaminya

atau sanak langsung, selainnya itu, semua diperbolehkan

sampai pun pada bujang dan budak. Maka kenapa dia tidak

dapat menikah sama orang Han?”

Selama Hapulam berkhotbah itu, orang banyak berdiri

mendengari dengan tenang dan perhatian, maka itu mereka

menjadi mengerti baik sekali. Dari itu, lantas

mereka pada membilang: “Petunjuk Alto tidak bisa salah

lagi!” Pula ada yang memuji Hapunun dengan berkat* “Apa

pun yang kita tidak mengerti, kita boleh pergi menanyakan

kepada Hapolam, dia pasti dapat rnenjehtskannya dengan

baik.”

“Baiklah!” berkata si ketua. “Kuran menyatakan demikian

maka orang Han yang baik ialah saudara yang baik dari kita

bangsa Kazakh! Saudara Lie hendak menikah sama Aman,

Junjungan kita telah mengizinkannya, maka itu sekarang kamu

boleh mulai!”

Semenjak kecil Lie Bun Siu tidak dapat melupai Supu,

rintangannya ayah Supu membuat mereka renggang, sebab

ayah Supu membenci orang Han, sekarang ia maju untuk

memperebuti Aman, sengaja ia dandan sebagai pemuda, ingin

ia membikin bangsa ini mempercayai bahwa orang Han juga

ada yang baik. Dengan begitu juga dengan sendirinya dapat ia

memberi penjelasan kepada Supu hal kekeliruan pandangan

ayah pemuda itu. Mengenai pertandingan ini, ia mempunyai

maksudnya sendiri, meski di muka umum terang nampak ia

menyalak di antara Supu dan Sangszer untuk merebut Aman.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

X

Sangszer ketahui lihainya Lie Bun Siu di dalam hal

mengguaai senjata tajam, la telah melihat bagaimana nona itu

menempur kawanan berandal. Maka ia bersangsi.

Sebaliknya, ia mempercayai benar ilmu gulat atau peluk

banting bangsanya, dari itu ia memilih ilmu kepandaiannya ini.

Lantas ia memasang kuda-kudanya.

“Saudara Lie, silahkan maju!” ia menantang.

“Baik!” menyahut Bun Siu, yang lantas menyingkap ujung

bajunya yang panjang, untuk diselipkan ke pinggangnya,

setelah itu ia bertindak ke gelanggang, berdiri di depan

penantangnya itu Di mana kedua pihak sudah siap sedia,

Sangszer lantas membuka kedua tangannya, sambil

mementang, ia maju untuk menubruk. Atau mendadak Bun

Siu berseru kaget, terus dia lari ke arah kiri dimana adapepohonan

lebat Dia seperti melihat sesuatu, yang dia lantas

kejar.

Semua orang menjadi heran, terutama Sangszer. Semua

orang tidak mengerti, kenapa di saat seperti itu, si pemuda

Han lari kabur. Hingga ada yang menduga-duga mungkin dia

jeri terhadap si pemuda Kazakh…

Sangszer berdiri sekian lama, kemudian ia kata kepada

Supu: “Supu, saudara Lie telah pergi, maka itu marilah kita

berdua saja yang bertempur.”

Supu menerima baik tantangan itu, meski sebenarnya ia

masih mengherani Bun Siu.

“Ya, marilah!” ia menjawab, bahkan ia terus maju. Maka

tidak tempo lagi, keduanya lantas bergulat.

Dua orang muda ini ada tandingan yang setimpal.

Semenjak masih kecil mereka suka berkelahi, mereka menang

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

dan kalah bergantian, hanya kali ini, dalam usia dewasa,

mereka harus mencari keputusan,. Maka bisa dimengerti yang

mereka berkelahi dengan sungguh-sungguh.

Sedari berumur lima belas tahun, Sangszer sudah menaruh

hati kepada Aman, disebabkan rapatnya pergaulan Aman

dengan Supu, ia menjadi tidak dapat menyelak di antara

mereka, ia cuma bisa menindas hatinya sendiri. Sampai

sekarang ia masih tidak berani mendekati Aman walaupun

Supu telah menjadi musuh Aman, disebabkan Supu dibuang

karena tuduhan telah membunuh Cherku. Barulah menit ini

harapannya timbul. Bukankah Aman sendiri yang

menghendaki ini pertarungan umum? Dengan ini nanti terlihat

kesudahannya Allah mengampuni Supu atau tidak…

Umumnya Supu menang unggul sedikit daripada Sangszer,

tetapi setelah tadi ia mesti membanting tulang melayani si

untai ia masih terpengaruh keletihannya, dari itu, segera

ternyata, lawannya itu menang di atas angin. Pula ia keras

memikirkan Lie Bun Siu, yang pergi tanpa sebab.

Sebenarnya Bun Siu kabur karena sejenak itu matanya

melihat satu orang yang berkelebat di dalam rimba, berkelebat

cepat bagaikan bayangan tetapi toh ia mengenali baik

potongan tubuh Tan Tat Hian, tanpa pikir panjang lagi, ia lari

mengubar. Laginya untuk ia, pertandingan itu tidak ada

artinya. Taruh kata ia menang, ia toh tidak- bisa menikah

dengan Aman- Di samping itu, Tat Hian ialah musuh besarnya.

Akan tetapi, sesampainya ia di dalam rimba, Tat Hian telah

lenyap tidak keruan peran, sia-sia belaka ia mencarinya.

Kemudian ia mendengar suara kuda kabur ke arah barat daya,

ia lantas menduga kepada musuh itu. Saking tergesa-gesa, ia

tidak dapat kembali kepada kuda putihnya, ia kabur menyusul

dengan menjembat seekor kuda yang lagi makan rumput di

dekatnya.

Sesudah berlari-lari beberapa lie, Bun Siu tiba di gurun

pasir. Ia mendaki tanjakan pasir bagaikan bukit, untuk melihat

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

kehlingan. Di sini ia bisa memandang ke sekitarnya dengan

leluasa, tidak seperti tadi semasa di padang rumput Ia lantas

melihat di arah barat daya itu —- jauh letaknya seekor kuda

lagi berdiri diam dan di samping binatang itu ada satu tubuh

manusia rebah tak berkutik. Ia menduga kepada Tan Tat Hian,

ia lantas mengeprak kudanya untuk lari keras ke arah itu.

Tidak lama maka tibalah ia di tempat kuda dan orang itu

rebah menggeletak. Ia berkuatir orang hanya berpura-pura

mati, dari itu sebelum mendatangi dekat, ia menggunai

bandringnya, guna menotok jalan darah tiongteng dari orang

itu. Setelah mendapat kenyataan orang terus berdiam sajasuatu

bukti benar dia telah mati – barulah ia datang

menghampirkan.

Benar-benar orang itu Tan Tat Hian adanya!

“Heran!” pikirnya. Tat Hian mati dengan mulut

mengeluarkan darah, suatu tanda bahwa ia telah teriuka di

dalam. Ia sudah putus jiwa akan tetapi tubuhnya masih

hangat. Jadi dia mati belum lama. Bun Siu menggeledah

tubuhnya, maka terlihat kulit dadanya bertanda mataag biru

sebesar telapakan tangan dan tujuh atau delapan tulang

iganya patah.

“Entah siapa yang menghajar dia?” pikir nona ini. “Lihai

penyerang itu!”

Karena ini, ia lantas melihat ke sekitarnya. Ia masih sempat

melihat satu titik hitam di tempat jauh. Inilah satu

penunggang kuda, yang kudanya dilarikan. Ia menjadi

mencurigai penunggang kuda itu, sebab kantung gendolan

dan sakunya Tat Hian bekas dirobek dengan pisau, dan peta

tidak ada di tubuhnya itu.

“Istana rahasia sudah didapatkan, apa perlunya orang itu

dengan peta tersebut?” ia berpikir. Ia berdiri berdiam sekian

lama di samping tubuh musuhnya itu. Lega juga hatinya

walaupun musuh ini terbinasakan lain orang. Kemudian ia

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

lantas menaiki kudanya, untuk kembali kepada orang-orang

Kazakh. Tepat ia mendengar gemuruh ramai: “Sangszer

menang! Sangszer menang!” Ia terperanjat. Pikirnya: “Kalau

Sangszer menikah dengan Aman dan aku memberitahukan

Supu bahwa akulah kawannya semenjak masih kecil,

bagaimana pilarnya?” Memikir begitu, ia likat sendirinya. Tapi

ia berjalan terus mendekati rombongan.

Supu masih rebah di tanah, ia mencoba terbangkit bangun

tetapi sukar. Ia merayap, ia berdiri, lalu terhuyung dan roboh

pula. Sangszer mengasih bangun “Supu,” katanya, “jikalau kau

penasaran, kau beristirahatlah, nanti kita mengulangi

pertandingan kita ini.”

Supu menggeleng kepala, matanya mengawasi Aman, sinar

matanya itu menandakan remuknya hatinya.

Aman bisa melihat sinar mata itu, tanpa merasa, air

matanya mengalir.

“Benar-benar mereka sangat mencinta satu pada lain,” pikir

Lie Bun Siu, yang bisa melihat roman muda-mudi Itu. “Dalam

hidupnya, pastilah Supu tidak dapat mencintai lain orang lagi

Pula Aman, kalau dia menikah sama Sangszer, tidak nanti dia

dapat melupai Supu, tidak nanti dia menyenangi Sangszer,

maka untuk kedua belah pihak tidak ada kebaikannya…”

Kembali Bun Siu mengawasi Supu. Pemuda itu pergi ke

pinggiran, jalannya masih rada limbung, tangannya

memegangi kepalanya, rupanya dia merasa pusing. Di

pinggiran itu, dia duduk dengan napasnya masih belum

tenang. Ia menjadi merasa kasihan pada kawannya itu. Maka

ia masuk ke dalam gelanggang.

“Sangszer,” katanya, “tadi aku pergi mengejar satu orang,

pertandingan kita gagal. Maka itu mari sekarang kita

mengulanginya.” Ia berhenti sejenak, baru ia menambahkan:

“Kau tentunya masih lelah, aku sebaliknya masih segar, kalau

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

kita bertanding sekarang, tidak adil. Maka ini baiklah kita atur

begini, hari ini pertandingan ditunda sampai besok!”

Sangszer rada jeri pada lawannya itu.

“Baik,” sahutnya. “Kita bertanding besok.”

Bangsa Kazakh mengira, setelah Sangszer mengalahkan

Supu, Aman bakal menikah sama si pemenang ini, tidak

tahunya si pemuda gagah she Lie telah muncul pula dan

menantang Sangszer, dengan begitu, urusan menjadi

tertunda. Karena itu, sampai malamnya, mereka masih

menduga-duga entah siapa yang bakal menjadi pemenang

terakhir. Umumnya mereka menduga Bun Siu yang bakal

menang, hanya mereka heran, pemuda itu bertubuh halus dan

romannya tampan sekali, siapa tahu, dia bertenaga kuat dan

ilmu berkelahinya mahir, lapi dia bakal berkelahi dengan

tangan kosong. Dapatkah dia mengalahkan Sangszer? Kenapa

tadi dia kabur tidak keruan?

Besoknya lohor, orang berkumpul pula di tegalan.

Setelah beristirahat dan dapat tidur satu malaman,

Sangsfeer menjadi segar sekali. Ia telah memikirkan siasat

berkelahinya: “Dia pandai silat, dari itu tidak dapat aku

berkelahi renggang, sebaliknya, aku mesti merapatkan dia.

Begitu bergerak aku mesti ringkus, untuk kita mengadu

tenaga…”

Siasat ini benar-benar digunakan.

Lie Bun Siu berkelit ketika ia ditubruk, tangan kanannya

dipakai menangkis berbareng menarik, sedang kaki kanannya

membentur kaki orang. Dengan begitu, tidak ampun lagi,

robohlah lawan itu

“Kau kurang berhati-hati!” ia kata tertawa. “Mari maju lagi!”

Sangszer berlompat bangun. Ia tetap sama siasatnya, yang

ia telah pikir matang. Begitu berhadapan, ia menubruk dengan

gesit

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Bun Siu kembali menggunai Kimnaciu, ialah ilmu silat

menangkap. Ia menangkap dan memutar, tangan kirinya

menolak. Lagi sekali Sangszer roboh terguling, bahkan kali ini,

tangannya keseleo sebab dia mencoba meronta. Karena

merasa sakit, terpaksa ia mendekam terus.

“Kau bangun!” berkata Bun Siu tertawa. “Mari mencoba

lagi!”

Nona ini mempelajari Kimnaciu yang terdiri dari tiga puluh

enam jurus berikut pecahannya tiga puluh enam jurus lainnya,

maka itu, mana bisa Sangszer melawannya? Maka juga, lagilagi

pemuda Kazakh itu kena dirobohkan. Delapan kali dia

diberikan ketika, akhirnya dia menggeleng kepala dan berkata:

“Aku tidak sanggup melawan kau, pergi kau nikah Amani…” -

la mengundurkan dai sambit tunduk.

Bun Siu tidak lantas rnenunta hadiahnya.

“Supu, mari!” ia kata pada si anak muda. “Mari kini

bertanding!” Supu menggeleng kepada. “Aku tidak sanggup

melawan kau,” katanya. Ia tahu kekuatannya berimbang sama

Sangszer, percuma ia melawan.

“Belum tentu,” kata Bun Siu. “Mari kita coba dulu;”

Supu melirik kepada Aman, ia melihat sinar mata si nona

seperti menganjuri.

“Baik!” sahurnya seraya terus menyingsat pakaiannyn. Ia

menggunai cara seperti Sangszer, begitu berhadapan, ia

menubruk.

Bun Siu berkelahi seperti melawan Sangszer tadi, empat

kali beruntun ia membuat lawannya mencium tanah, hanya

ketika ke lima kalinya ia membikin orang roboh dan ia

menekan punggung orang, ia berbisik: “Kau meronta, kau

sambar punggungku, nanti kau menangi”

Supu heran, tetapi ia tidak sempat berpikir lama. Mendadak

ia mengerahkan tenaganya, ia bangun, tangannya menyambar

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

punggungnya lawan itu, maka di lain saat Bun Siu telah kena

dirobohkan, ditekan pada tanah! Bun Siu tidak dapat berontak.

Tapi Supu berpikir:

“Kemenangan ini bukannya kemenangan.” la mengasih

orang bangun seraya berkata: “Mari kita mencoba pula!”

Bun Siu menerima baik. Mereka kembali bergulat. “Ingat

tipu-tipu tadi,” kata Bun Siu, perlahan. “Jangan lupa!”

Di saat genting, kembali Bun Siu membiarkan ia

dirobohkan. Saban-saban ia mengisiki akan lawan ingat

tipunya itu. Semua itu terjadi hingga enam kali. Selama itu,

tidak ada seorang jua yang mendengar kisikan itu, hingga

orang cuma. heran, tidak ada yang bercuriga. Kelihatannya

wajar Supu menjatuhkan lawannya itu. Hanya Supu sendiri

yang heran bukan main. Terang ia kalah tetapi ia diajari tipu

dan dibiarkan menang. Ia tidak dapat membade hati orang. Ia

heran kenapa pemuda ini tidak mengharapi Aman yang

demikian cantik manis.

Di akhirnya, habis dirobohkan, Bun Siu bangun berdiri dan

berkata nyaring: “Sudah, tidak sanggup aku melawan kau, aku

tidak mau memperebuti Aman!”

Supu jujur, ia merasa tidak enak. “Kau mengalah,” katanya.

“Jangan sungkan,” kata Bun Siu. “Aku sudah kalah! Aku

menyerah! Kalah dari kau, aku tidak malu!”

Si ketua pun heran, ia menjadi bingung juga. Siapa si

pemenang terakhir? Supu kalah dari Sangszer, Sangszer

terkalahkan Lie. Bun Siu, tetapi Supu menang dari pemuda

Han ini? Bagaimana?

Beberapa orang menyatakan pikirannya: “Kalau begitu,

biarlah Supu dan Sangzer mengulangi pertandingannya.

Mereka itu sama-sama kalah dan sama-sama menang.”

Pikiran ini dapat kesetujuan umum .dan lantas diterima

baik. Bahkan pertandingan lantas diadakan seketika juga. Kali

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

ini mereka itu sama-sama habis bertempur, jadi mereka sama

letihnya.

Supu dan Sangszer menerima baik pertimbangan itu.

Pertandingan dimulai setelah kedua pihak sudah siap sedia

dan pertandaan diberikan.

Selama itu Supu mencoba mengingat-ingat tujuh jurus

ajarannya Lie Bun Siu, ia mengingat baik hanya tiga tipu,

tetapi ini pun sudah cukup. Demikian, di saat ia terancam

bahaya, ia menggunai tipu ajaran orang Han itu, karenanya,

saban» saban ia menang di saat terakhir. Sangszer

kewalahan, akhirnya dia menyerah kalah.

“Sesudah bergulat dua hari, Supu memperoleh

kemenangan terakhir!” berkata si ketua dengan keputusannya.

“Itulah bukti yang Allah telah mengampuni Supu, maka

dapatlah dia menikah- sama Aman”

Muka Aman merah tetapi hatinya girang tidak terkirakirakan.

Orang banyak pun bergirang. Itulah perjodohan yang hebat

Supu hendak memberi hormat kepada Bun Siu, untuk

menghaturkan terima kasih, tidak tahunya, ketika ia mencari

pemuda itu, si pemuda sudah naik atas kuda putihnya dan

pergi dengan diam-diam hingga dia tidak dapat disusul lagi!

Malam itu, dengan mengitari unggun, bangsa Kazakh

membuat pesta.

Sangszer kalah tetapi dia terbukti gagah, ada empat nona

manis lainnya yang mengerumuni, yang menghibur dan

menyanyi untuknya. Mulanya ia berduka. Lama-lama ia

terhibur juga. Akhirnya ia bingung, siapa yang ia mesti pilih di

antara empat nona-nona itu. Mereka itu, kecuali cantik,

masing-masing mempunyai kelebihannya sendiri, umpama

yang satu halus budi pekertinya, yang lain’ merdu

nyanyiannya, yang lain lagi lemah gemulai tariannya…

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Apakah baik aku memilih yang lainnya saja?” demikian ia

pikir. Lalu, dia pun mengingat, yang kitab sucinya mengizinkan

ia menikah empat isteri…

Tengah pesta berlangsung itu. sekonyong-konyong ada

terdengar tiga kail suara jeritan mengerikan seperti suara

burung malam, datangnya dari arah barat. Semua orang

terkejut, semua mata memandang ke barat itu.

Suara yang membangunkan bulu roma itu keluarnya dari

satu orang yang luar biasa. Dia datang menyusuli suara

anehnya itu, datangnya sambil berlari-lari keras, tubuhnya

nampaknya putih. Lantas dia berhenti di jarak empat tombak

dari orang banyak. Sekarang terlihat tegas dia mengenakan

jubah putih yang berlepotan darah, seperti mukanya berdarah

juga. Dia lebih tinggi dua kaki dari orang yang kebanyakan.

Ketika dia mengangkat dan mengulur kedua tangannya,

terlihat sepuluh jarinya panjang sekali dan sepuluh jari itu pun

berdarah.

Semua orang mejengak, hati mereka berdebaran.

Hanya sebentar, manusia luar biasa itu lantas mengasih

dengar suaranya yang tajam “Siapa sudah curi mustika dari

istanaku? Lekas bayar pulang! Kalau tidak, satu demi satu,

aku akan membuatnya mati tak wajar! Sudah seribu tahun

aku tinggal di dalam istanaku itu, siapa juga tidak berani

memasukinya, tetapi kamu, kamu besar sekali nyali kamal”

Habis berkata, dengan perlahan dia memutar tubuhnya,

dia menunjuk -kepada seekor kuda terpisah tiga tombak

jauhnya, dia berkata: “Mampuslah kau!” Setelah itu mendadak

dia memutar tubuhnya dan lari, sekejap saja, tubuhnya

lenyap.

Semua -orang kaget dan tercengang. Manusia aneh itu

muncul dan leayap secara mendadak dan kelakuannya juga

aneh. Lantas menyusul lain keanehan. Ialah kuda yang dia

tunjuk itu mendadak roboh dan mati, ketika orang

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

merumuninya, binatang itu tidak terluka, tidak keluar darah

dari mulut dan hidungnya, agaknya mati wajar.

“Hantu.. Hantu!” kate banyak orang.

“Telah aku kata di Gobi ada setannya!”

“Sudah seribu tahun istana tua itu tidak didatangi manusia,

pasti ada memedi yang menjaganya!”

“Katanya hantu tidak ada kakinya, mari kita lihat, dia ini

ada tapaknya atau tidak…”

Beberapa orang membesarkan hati, dengan membawa obor

mereka maju. Tidak tampak tapak kaki, ada juga liang kecil

setiap jarak lima kaki. Tapak kaki manusia tidak sekecil itu.

Juga jarak tepak kaki tidak dapat serenggang itu.

Sampai di situ, orang menduga iblis penunggu istana main

gila, maka ada yang berkata: “Semua yang memasuki istana,

dia akan celaka… Lihatlah Suruke dan Cherku! Bukankah

mereka terbinasa di. sana? Tentu si hantu membikin Cherku

kalap, Cherku disuruh, membinasakan Suruke, kemudian Supu

dibikin tak sadar dan diperintahkan membunuh Cherku…”

“Ya, lihat itu kawanan penjahat Han, sudah sepuluh tabun

mereka mengganas di gurun pasir, Orang kewalahan

karenanya, tetapi sekali mereka memasuki istana rahasia itu,

beginilah kesudahannya…”

“Dan orang bangsa kita, bukankah telah banyak yang mati

di dalam istana itu?” kata lagi suara lainnya.

Di akhirnya ada yang memperingatkan suatu dongeng

tua, begini: Seorang secara mendadak mendapati harta karun

di padaag pasir, harta itu diangkut pulang, hanya aneh, unta

yang menjadi binatang tunggangannya tidak dapat pulang,

cuma mondar-mandir di situ-situ juga. Katenya, si penunggu

tidak membiarkan orang mencuri harta itu, kaki unta

“dipegangi”. Setelah harta itu dikembalikan, baru orang itu

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

dapat pulang. Inilah dongeng yang setiap orang Kazakh

mengetahuinya.

Maka akhirnya seorang mengusulkan kepada ketuanya:

“Baiklah semua harta itu dikembalikan, supaya mereka

terhindar dari mara bahaya. Tapi orang berat ‘ .untuk

mengembalikannya, mereka bersangsi.

Malam itu tidak ada kepatutannya.

Segera datang malam yang kedua. Kembali orang

berkumpul di tegalan itu. Semua berkuatir “hantu” tadi malam

nanti datang pula. Maka itu mereka lebih suka berkumpul

bersama, hati mereka menjadi terlebih tenang. Karena tidak

ada orang suka berdiam sendirian di tenda mereka, jumlah

mereka menjadi jauh terlebih besar.

Mulai tengah malam, dari arah barat daya terdengar suara

jeritan seperti malam pertama. Datangnya juga dari jurusan

yang sama. Semua orang menjadi kaget, bulu roma mereka

lantas pada bangun. Mereka tidak usah menanti lama akan

melihat munculnya si “hantu” yang kemarin itu, yang bajunya

putih dan berdarah. Dia datang bagaikan terbang, lantas dia

terdiri di muka orang banyak. Dia pun segera mengasih

dengar suaranya seperti kemarinnya: “Siapa sudah mencuri

mustika dari istanaku? Lekas bayar pulang! Kalau tidak, satu

demi satu, akan aku membuatnya mati tak wajar! Sudah

seribu tahun aku tinggal di dalam istanaku itu, siapa juga tidak

dapat memasukinya, tetapi kamu, kamu besar sekali nyali

kamu!”

Sehabis berkata, si hantu memutar tubuhnya. Dengan

perlahan ia mengangkat tangannya, untuk menunjuk satu

pemuda, yang terpisah jauh juga darinya. Lantas ia kata

nyaring: “Kau matilah!” Kata-kata itu disusul sama gerakan

tubuhnya, yang diputar balik, terus dia berjalan pergi, maka di

lain derik lenyaplah dia dari pandangan mata semua orang!

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Menyusul itu terjadi hal aneh dan hebat atas diri si anak

muda yang ditunjuk tadi. Dengan sendirinya pemuda itu

menjadi lesu, sepatah kata juga dia tidak mengeluarkannya,

lantas dia berubah kulit mukanya menjadi hitam, dan dia mati!

Kecuali itu, tidak ada tanda lainnya lagi. Dia tidak terluka.

Tidak cukup kemarin malam membunuh seekor kuda, kali

ini hantu itu membinasakan seorang muda segar bugar. Ialah

salah satu anak muda yang pernah turut memasuki istana

rahasia.

Orang semua menjadi takut dan bingung, semua terbenam

dalam kekuatiran. Benar selewatnya tidak ada bahaya lagi,

akan tetapi di lain malamnya-malam ketiga tidak

ada seorang jua yang berani muncul di tegalan, semua

menyekap diri-di dalam tenda, yang ditutup rapat-rapat Malam

itu jadi sangat sunyi senyap.

Malam tenang-tenang saja sampai tiba jam haysie, seperti

kemarin-kemarinnya. Dengan tiba-tiba terdengar pula jeritan

yang menakuti itu, disusul sama kata-kata yang serupa,

disusul sama seman terakhir: “Kau matilah!”

Habis ancaman itu kembali malam rnembuat.sunyi, hanya

tidak lama, ketenangan terganggu tangisan sedih yang keluar

.dari sebuah tenda. Itulah bukti bahwa si hantu telah datangi

tenda itu, menyingkap tendanya dan membunuh mati seorang

mudai

Orang menjadi takut, tetapi mereka tidak berdaya. Juga di

waktu siang, ketakutan mereka tetap tidak berubah. Mereka

lantas berdoa, memuji kepada nabi mereka memohon

perlindungan. Lain jalan tidak ada.

Sia-sia belaka doa mereka, di malam keempat, kembali

seorang muda binasa secara serupa. Maka itu, ketika tiba

kurban yang ke empat, si ketua menjadi putus asa, terpaksa ia

mengajak semua orang bangsanya mengangkut pulang harta

karun ke istana rahasia, tidak ada orang yang berani

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

menyembunyikan sekalipun sepotong kecil emas atau perak.

Sepulangnya barulah hati mereka lega sedikit. Mereka mau

percaya si hantu tidak bakal datang pula untuk mengganggu.

Akan tetapi, peristiwa tidak gampang-gampang habis…

Untuk pulang dari istana rahasia, di malam pertama,

mereka mesti bermalam di tengah gurun pasir. Malam itu si

hantu muncul di antara mereka, bantu itu berkata: “Kamu baik

sekali, semua harta telah kamu kembalikan padaku. – Aku

memajikan Semak kamu makmur, kamu sendiri selamat tidak

kurang suatu apa! Hanya itu anak perempuan, yang

mengantarkan kamu ke istaa rahasia, dia hendak aku

menghukumnya!” Habis berkata begitu, dia lantas lenyap.

Aman adalah si anak perempuan yang dimaksudkan itu,

maka bukan main takutnya ia. Dengan ia, turut berkuatir juga

Supu, maka besoknya malam- bersama empat kawannya

pemuda lain, dengan menyiapkan golok, Supu menjagai

kekasihnya Itu.

Kapan sang tengah malam tiba, si hantu putih yang

berlepotan darah itu muncul pula. Supu berlima mengitari

Aman, akan tetapi belum sempat mereka berbuat apa-apa,

lantas mereka merasakan punggung mereka sesemutan dan

kaku, lantas mereka roboh tak sadarkan diri. Ketika mereka

mendusin sesudah langit menjadi terang, Aman lenyap tidak

keruan paran. Mereka menjadi kaget Si empat anak muda

lantas naik kuda mereka, untuk kabur pulang. Supu pun

menunggang kuda dan kabur, hanya dia mengambil arah

kembali ke istana rahasia

*Wah, Supu, kau mau bikin apa?” orang bertenak-teriak

menanya.

Sambil kabur terus, Supu menyahuti: “Aku hendak mati

bersama Aman!…”

Orang; hendak mencegah tapi pemuda itu sudah kabur

jauh.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Supu hancur hatinya. Ia pergi ke istana bukan untuk

menolong kekasihnya, hanya benar-benar buat mati bersama

Magribnya di hari keempat, tibalah Supu di depan pintu

emas dari istana rahasia. Dia benar-benar telah menjadi

nekat. Tepat di depan pintu, dia berteriak-teriak: “Hai, hantu

jahat dari istana rahasia! Kau telah membikin mati kepada

Aman, maka kau bunuhlah aku sekaitan! Akulah yang bersama

Aman mengantarkan orang-orang bangsaku datang, kemari

untuk mengangkut harta karun! Aku Supu, aku tidak-takut

mati!”

Supu telah menunjuk keberaniannya itu, akan tetapi sia-sia

belaka ia berkaok-kaok di muka pintu emas dari istana itu,

tidak ada orang yang menyahuti padanya, tidak ada orang

yang melayani bicara. Ia penasaran, maka ia berseru pula:

“He, hantu jahat, apakah kau takut padaku? Haha! Aku justeru

tidak takuti kau, tidak takut meski kau hantu jahat!” Ia lantas

membulang-balingkan goloknya bagaikan orang kalap.

Selagi pemuda ini masih kalap, mendadak ia mendengar

suara halus di sebelah belakangnya: “Supu, kau lagi bikin

apa?” Ia terperanjat; dengan segera ia memutar tabuhnya.

Maka ia melihat seorang wanita Han. Malam remang-remang,

sinarnya si pulen malam tidak cukup kuat untuk membikin

wajah orang nampak jelas.

“Kau mencaci kalang kabutan, siapakah yang kau maki?”

tanya pula wanita itu.

Sapu mendengar nyata suara orang. Itulah suara yang ia

kenal baik.

“Kau… kau toh tuan Lie?” tanyanya akhirnya. “Mengapa

kau… kau kembali menjadi wanita?”

Nona itu memang Lie Bun Siu. Dia bersenyum

“Sebenarnya kau bikin apa di sini?” dia menanya tanpa

menjawab.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Lekas kau menyingkir!” kata Supu, yang jnga tidak

menyahuti. “Istana rahasia ini ada hantunya yang jahat! Kalau

sebentar dia keluar, dia dapat membikin celaka padamu…”

“Kenapa kau sendiri tidak takut?” balik tanya si nona. Supu

menjadi sengit. “Setan jahat itu telah mencelakai Aman!”

sahurnya. “Aku tidak ingin hidup pula!”

Bun Sui nampak kaget . “Bagaimana bisa ada bantu jahat

di istana?” katanya-: “Kenapa din mencelakai Aman?” .

Supu lantas memberi penjelasan hal munculnya si hantu

baju putih, yang mengganggu orang Kazakh hingga ada yang

mati dan Aman diculik, karena mana ia datang menyusul,

guna menyerahkan jiwanya juga.

Bun Siu berdiam untuk berpikir. Ia heran dan curiga.

“Ada tanda apa di tubuhnya kurban-kurban jiwa itu?” ia

tanya kemudian. “Benar-benarkah tidak teriuka sama sekali?”

“Benar tidak ada tanda apa-apa,” menyahut Supu.

“Hanya…..” tiba-tiba ia ingat suatu apa, “hanya kulit muka

mereka menjadi hitam seperti dilabur lumpur…”

Bun Siu berdiam, hatinya bekerja: “Aku tidak percaya ada

hantu di dalam dunia ini… Mungkin seorang lihai tengah main

sandiwara dengan menyamar menjadi iblis. Hanya, mengapa

tidak ada tapak kakinya di atas pasir? Kenapa hanya dengan

satu kali mengulur tangan dia dapat membinasakan orang?…”

“Tuan Lie,” berkata Supu selagi orang berpikir, “kau baik

sekali, kau membantu aku mendapatkan Aman, maka sayang

peruntunganku tipis, sekarang Aman dibikin celaka hantu.-Aku

datang kemari untuk mengantarkan jiwa, biar si hantu – jahat

membinasakan aku sekalian. Tuan Lie, mari kita berpisah,

agar kita bertemu pula nanti di lain penitisan…”

Bun Siu terharu dan bingung. Menurut penuturan Supu,

“hantu” itu sangat lihai. Rasanya tidak sanggup ia melawan

bantu itu. Ia bingung mengingat anak muda ini mengurbankan

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

diri untuk Aman. Itulah cinta sejati. Itu membuatnya terbaru.

Ia kata di dalam hatinya: “Kau bersedia mati untuk Aman,

kenapa aku tidak bersedia mati juga untuk kau?…”

Maka ia lantas kata: “Mari aku temani kaul”

Supu terkejut Ia heran. Ia lantas mementang matanya

lebar-lebar, sedang hadnya berpikir “Kenapa kau begini baik

terhadap aku? Mustahilkah…” Ia tidak berani memikir terus,

hanya segera ia berkata: “Lekas kau menyingkir dari sini!

Lebih jauh lebih baiki” Tapi si nona tidak pergi. “Kau dengar

aku,” ia berkata. “Itulah bukannya hantu! Aku percaya dialah

orang yang menyamarnya! Mari kita bekerja sama untuk

menempur dia!” Supu menggeleng, kepala. “Kau belum

pernah melihat hantu itu!” katanya. “Kau tidak tabu dia lihai

sekali! Tuan Lie, aku sangat berterima kasih kepada

kau.tetapi.. kau baiklah lekas pergi, lekas!”

Lie Bun Siu tertawa, walaupun tertawa dengan air naiki

berduka. Ia menghunus pedangnya, sedang dengan tangan

yang lain ia menolak pintu istana rahasia itu.

“Kau pasang obor!” ia pun berkata. “Mari kita menolongi

Aman!”

Hati Supu tergetar mendengar suara orang itu. Tiba-tiba ia

mendapat harapan

“Apakah Aman belum mati?” dia bertanya, matanya

mendelong.

“Aku percaya belumi” menjawab Bun Siu.

Tiba-tiba pemuda Kazakh itu bergembira.

“Baik” dia berseru. “Mari kita tolong! Aman!”

Dia lantas menyulut obor, bahkan dia mendahului masuk ke

istana.

Demikian muda-mudi ini masuk ke dalam istana. Mereka

jalan berliku-liku. Sudah sekian lama, mereka belum juga

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

memperoleh hasil, Supu tidak takut, saban-saban ia berteriakteriak

memanggil-manggil: “Aman! Aman! Kau di mana?” Tapi

tidak juga ia memperoleh jawaban.

“Kau teriak bahwa pasukan besar kita datang menolongi,”

Bun Siu menganjur. “Mungkin si hantu takut dan nanti

menyingkirkan dirinya…”

Supu menurut, ia berteriak-teriak pula: “Aman! Aman!

Jangan takut! Kami datang dalam jumlah besar untuk

meoolongi kau!”

Masib tidak ada jawaban, maka mereka maju terus.

Sekonyong-konyong terdengar jeritan di sebelah depan.

Itulah jeritan wanita. Mungkin sekali itulah Aman. Maka Supu

lantas lari. Di depan sebuah kamar, ia segera menolak daun

pintu. Untuk kagetnya, ia melihat Aman di satu pojok, tangan

dan kakinya dibelenggu. Dia kaget melihat Supu, dia menjerit,

Supu juga menjerit saking terkejut, dan girangnya.

Supu lompat maju, untuk mendekati. Dengan cepat ia

meloloskan belengguan si nona.

“Mana dia si hantu jahat?” tanya dia selagi menolongi

membebaskan.

“Dia bukannya hantu, hanya manusia,” Aman menjawab.

“Hanya di dalam gelap, aku tidak bisa melihat tegas wajahnya.

Dia bertangan panas. Barusan dia ada di sini, begitu dia

mendengar suara kau, lantas dia pergi menyingkir!” Supu

bernapas lega. “Orang macam bagaimana dia itu?” ia

menanya. “Kenapa dia menangkap dan menculik kau?”

“Entahlah,” Aman menjawab. “Selama di tengah jalan dia

telah menutup mataku. Di dalam istana ini, seluruh ruangan

gelap sekali, dari itu belum pernah aku dapat melihat jelas

mukanya.”

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Supu berpaling kepada Bun Siu, sinar matanya menunjuki

sangat bersyukur. Sebab benar katanya si nona. Aman belum

mati.,.

Bun Siu juga memandang si anak muda, ketika ia berkata:

“Supu! Bukankah kau bilang bukannya kau yang membunuh

ayahnya Aman? Sekarang aku percaya kau! Si pembunuh

mungkinlah.ini.manusia jahat yang menyamar menjadi hantu!”

. Supu berjingkrak. Ia seperti telah disadarkan.

“Tidak salah! Tidak salah!” serunya. “Mungkin dia jugalah

yang membunuh ayahku! Mari kita cari dia!”

Begitu lekas mengetahui si hantu jahat hanya manusia

belaka, keberaniannya pemuda Kazakh ini bangkit pula. Tapi,

cuma sejenak, ia lantas ingat suatu hal lainnya.

“Tuan Lie, dapatkah kita melawan dia?” ia menanya. Ia

baru ingat bahwa penjahat itu lihai sekali.

Bun Siu pun berpikir, ia bersangsi, terus ia menggeleng

kepala.

“Dalam sepuluh, sembilan kita susah menang,” sahutnya

terus terang. “Supu, baiklah kau bersama Aman lekas pulang,

lantas kau mengajak rombongan bangsamu datang kemari,

kau pasti bakal dapat membekuk dia.”

“Rasanya sulit,” berkata Supu, juga Aman. “Mereka,itu

takut bantu, mana bisa mereka diajak datang kemari?” Bun

Siu berpikir pula.

“Aku ada akal, entahlah kau, kau berani atau tidak.”

katanya.

“Bilanglah, apa aku mesti kerjakan, nanti aku kerjakan!”

kata si anak muda.

Bun Siu berduka. Ia .kata di dalam batinya: “Kalau aku

menyuruh kau jangan mencintai Aman hanya aku, dapatkah

kau mendengar kata-kataku?” Tapi ia tidak mengatakan

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

demikian. Dengan perlahan ia kata: “Mari kita berdua berpurapura

bertengkar dan bertempur, kita pergi ke itu kamar di

mana ayahmu dan Cherku telah terbinasa. Mungkin si orang

jahat muncul. Kalau benar, kita serang dia secara mendadak”

Supu setuju.

“Bagusi” katanya. “Mari kita mulai!”

“Dia lihai sekali, kau mesti waspada,” Bun Siu pesan.

Supu mengangkat kepalanya, sikapnya gagah.

Bun Siu lantas tertawa dingin.

“Kau bernyali besar! lihat golok!” dia berseru, lantas dia

menyerang.

Supu kaget, dia lompat berkelit “Tuan Lie…” serunya. Atau

ia mendusta. Maka ia membalas membacok sambil menegur.

“Kau berani kurang ajar? Kau berani menyerang aku? Lihat,

aku bunuh mampus padamu” la lantas mengangkat goloknya.

Aman sudah lantas mengerti peranannya. Ia mengangkat

obor tinggi-tinggi ia berteriak-teriak: “Jangan berkelahi!

Jangan berkelahi! Eh, kenapa tidak keruan-keruan kamu

berkelahi?”

Cegahan itu tidak diambil mumat, keduanya lantas saling

bacok. Golok dan golok bentrok, berbunyi nyaring tidak

hentinya. Dari kamar itu mereka berkisar ke arah kamar di

mana Cherku dan Suruke terbinasa. Supu di depan, Bun Siu di

belakang. Supu terdesak, dia lari, Bun Siu merangsak,

mengejar.

Meskipun mereka bersandiwara, kedua muda-mudi ini

kurang tenteram hatinya. Bukankah mereka lagi bersandiwara

untuk menghadapi ancaman bencana?

Tengah mereka “bertarung” itu, mendadak terdengar suara

apa-apa yang nyaring di tembok, terus terasa menyambarnya

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

angin dingin Hebat tiupan angin itu, obor di tangannya Aman

padam seketika.

Supu dapat menjalankan peranannya baik sekait Ia

menjerit “Aduh!” dan tubuhnya terus roboh terguling

Di lain pihak Bun Sie terkejut. Di dalam kamar yang gelap

itu, ia merasa ada tangan yang dingin mengenakan

lengannya, tangan mana mau merampas senjata di tangannya

itu. Ia memang sudah siap sedia, maka sambil mencoba

mengelit tangannya, kaki kirinya terangkat, menendang ke

perut orang. Sebat gerakannya, tepat tendangannya, yang

mengenai sasarannya hingga terdengar Suara keras. Tapi

penyerang gelap itu keras cekalannya, dia tidak mau

melepaskan tangan orang tidak perduli dia telah tertendang.

Bun Siu mengayun tangan kirinya ke muka musuh.

Musuh itu berkelit sambil mendak, dengan tangan larinya,

ia membalas menyerang.

Dengan begitu, mereka lantas bertempur.

Supu tidak lantas bangun, ia hanya berguling

menghampirkan untuk menyambar kaki musuh itu. Tapi ia

salah memekik

“Salah” berseru Bun Siu lekas. “Inilah kakiku! Aman,

nyalakan api!”

Justeru ia membuka suara, pundaknya Bun Siu kena ditinju.

Ia merasakan sakit hingga ia menjerit. Atas itu, musuh bekerja

terus. Ia memegang keras lengan kanan si nona untuk

mencoba merampas golok orang.

Di dalam keadaan yang berbahaya kembali terdengar

siuran angin, tanda dari datangnya seorang lain, lantas

terdengar bentakan; “Jangan bergerak!”

Suara bentakan itu belum berhenti, atau menyusul yang

lain: “Jangan bergerak!”

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Agaknya dua orang itu kaget, sebab berbareng terdengar

suara mereka: “Siapa kau?”

Inilah suara saling tanya. Tapi mereka tidak menjawab satu

pada lain sebaliknya, sebagai gantinya, terdengar suara

beradunya senjata-

Bun Siu terkejut dan heran. Dengan mendadak ia

menghajar dada orang. Telak tinjunya ini, hanya orang itu

berdiam saja, dia tidak berkelit, dia tidak berteriak kesakitan.

Karena orang berdiam saja dan tangannya yang dicekal

pun bebas, Bun Siu lantas menyalakan api, maka sekarang ia

bisa melihat dengan nyata keadaan di dalam kamar itu. Tentu

sekali, ia menjadi bertambah heran.

Dua orang yang lagi berkelahi itu ialah Kee Loojin serta Hoa

Hui, yang satu penolongnya, yang lain gurunya: dua-duanya

orang yang ia buat pikiran, yang ia hendak cari.

“Suhu!” ia lantas berteriak. “Kakek Kee! Tahan! Tahan!

Semua orang sendiri!”

Teriakan itu membikin dua orang itu heran, keduanya

sama-sama lompat mundur.

Bun Siu sendiri segera mengawasi orang yang mau

merampas goloknya, yang masih berdiri diam saja Sebab dia

kurban totokan pada jalan darahnya. Ia tidak dapat mengenali

orang, yang usianya kurang lebih empat puluh tahun,

mukanya berewokan, rambutnya awut-awutan, dan mukanya

itu juga tersilangkan tapak golok.

“Suhu! Kakek Kee!” kemudian si nona berkata. “Syukur

kamu datang menolongi aku, jikalau tidak, aku bisa mati di

tangannya ini manusia yang menyamar menjadi hantu!”

Orang itu tidak dapat berkutik tetapi ia bisa membuka

mulutnya. Dia tertawa dingin dan berkata: “Yang menyamar

menjadi hantu bukannya aku hanya Ma Kee Cunl” Dan

tangannya menunjuk Mendengar disebutnya nama “Ma Kee

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Cun” itu, dua-dua Hoa Hui dan Kee Loojin terperanjat, mereka

seperti merasakan tubuh mereka ditusuk jarum panas,

keduanya sama-sama berlompat mundur. Wajahnya Kee

Loojin nampak bengis tetapi bergelisah, dan wajah Hoa Hui

gusar sekali. Kemudian Kee Loojin nampak menjadi kurangan

bengisnya, tertukar dengan roman jeri.

Hoa Hui mengawasi orang tua she Kee itu, dan atas ke

bawah dan sebaliknya.

Kee Loojin bertindak mundur lebih jauh. sinar matanya

berjelalatan. Ia agaknya berniat mencari jalan untuk lari

kabur.

Sekonyong-konyong Hoa Hui berseru; “Kee Cun, diam!”

Kee Loojin berdiam, ia mengangkat goloknya, sikapnya

mengancam. Ia mengawasi Hoa Hui.

“Bagus, bagus!” katanya. “Kau benar belum mati!”

Suaranya perlahan.

Hoa Hui juga mengawasi tajam sekali, tak sekejap jua ia

mengedip.

Kee Loojin tidak mundur lagi, ia terus menatap, rubuhnya

lantas bergemetaran.

“Suhu!” tiba-tiba ia berseru, lalu dia menjatuhkan diri,

berlutut di depan si orang she Hoa.

Lie Bun Siu heran bukan kepalang.

“Kenapa Kee Yaya pun memanggil guru kepada guruku?” ia

tanya dalam hatinya. “Dia jauh terlebih tua daripada suhu…”

Hoa Hui tertawa dingin “Hm! kau masih ingat aku sebagai

guru?” katanya tajam. “Ketika dulu kau menggunai jarum

beracun menyerang aku, kau toh tidak ingat gurumu, bukan?”

Kee Loojin mengangguk berulang-ulang.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Ya, muridmu bersalah, muridmu bersalah” katanya.

“Muridmu harus mati.” Lie Bun Siu baru sadar. “Ah, kiranya

tiga batang jarum di punggung suhu dilepaskan oleh Kee

Loojin/’ “pikirnya.

Selagi yatim piatu, dan usianya demikian kecil, ia dirawat si

kakek itu hingga sepuluh tahun, tentu sekali ia ingat budi

kebaikan itu, maka sekarang, melihat sikap demikian galak

dari gurunya kepada si kakek penolongnya itu, ia merasa

berkasihan.

“Suhu,” ia berkata, “Kee Loojin telah membokong kau,

perbuatannya itu sangat tidak selayaknya, akan tetapi aku

minta sukalah kau memberi ampun kepadanya. Selama

sepuluh tahun Kee Yaya telah merawat aku baik-baik.”

Hoa Hui tertawa dingin.

“Hm, apa itu Kee Yaya?” katanya, bengis. “Dia she Ma,

namanya Kee Cunl Apakah kau kira dia benar-benar bungkuk

unta?” Tanpa hening lagi, ia membentak pada Kee Loojin:

“Lekas singkirkan semua penyamaranmu”

Kee Loojin berbangkit dengan perlahan-lahan, terus ia

membuka bajunya, hingga di punggungnya tertampak

tergemblok sebuah buntalan besar. Ia turunkan buntalan itu.

Kemudian ia menyusut mukanya dengan tangan bajunya,

maka di lain detik, tampak mukanya yang putih dan tampan,

la sekarang terlihat tegas sebagai seorang umur tiga puluh

lebih, romannya gagah.

Lie Bu Siu sangat heran. “Kee Yaya, kiranya..” katanya

tertahan, “kiranya kau masih begini muda?.,.”

Kee Loojin menyeringai. “Aku bernama Ma Kee Cun,”

bilangnya. “Bukankah selama sepuluh tahun aku telah

merawati kau tanpa kecelaan?” Bun Siu mengangguk. “Kau

memperlakukan aku baik sekali,” sahutnya. “Selanjutnya

baiklah aku memanggil kau paman Ma.”

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Hoa Hui mengambil buntalan orang, yang dijadikan alat

membikin punggung bungkuk, ia membuka ikatannya dan

membelarakkan, maka disitu terlihat sepotong jubah putih

yang berlepotan darah, yang dilihatnya mendatangkan rasa

ngeri

“Ohl” Supu berseru sedang sedari tadi dia berdiam saja.

“Kiranya kaulah yang menyamar menjadi si hantu jahat”

Terhadap Hoa Hui, Ma Kee Cun bersikap sangat

menghormat, akan tetapi mengawasi Supu, ia beroman sangat

garang.

“Benar aku!” jawabnya, jumawa. “Dengan menyamar

sebagai si bungkuk, aku berdiam di gurun pasir selama

belasan tahun, selama itu aku sangat menderita; maka itu apa

kau kira aku suka membiarkan harta karun di dalam istana

rahasia diangkut kamu?”

Supu pun gusar.

“Dengan menggunai ilmu siluman kau telah membinasakan

tidak sedikit orang bangsaku!” katanya bengis. “Kenapa kau

juga menculik Aman?”

Kee Cun tetap berlaku jumawa.

“Aku mempunyai harta besar begini, bagaimana aku bisa

tidak mendapatkan isteri yang cantik sebagai kawan?” dia

balik tanya. Dia lantas berpaling kepada Hoa Hui, gurunya,

untuk berkata terus: “Suhu, harta di istana rahasia ini, semua

ada kepunyaanmu, aku melainkan ingin minta dibagi satu

bagian saja dalam sepuluh, jumlah itu sudah dapat

memuaskan batiku. Nanti aku membinasakan dulu ini bocah

Kazakh, lantas kita berempat mengangkut harta ini pulang ke

Tionggoan…”

“Tidak.. tidak dapat kau membunuh dia!” Bun Siu

menyelak.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Ma Kee Cun menghela napas. “Baiklah,” katanya. “Aku tahu

kau memang menyayangi bocah Kazakh ini. Bersama dia kau

menggembala kambing dan bernyanyi, semua aku telah

melihatnya! Jikalau bukannya kau sangat menyayangi dia, aku

juga, tidak nanti menculik Aman. Baiklah, aku tidak akan

membunuh dia. Kau dapat Supu, aku mendapat Aman, dan

suhu mendapatkan harta besar! Jadi kita bertiga telah

mendapatkan masing-masing bagiannya…”

“Kee Yaya…” berkata Bun Siu menghela napas: “Eh, salah,

aku harus memanggil paman padamu! Paman, suatu benda

bukan kepunyaanmu, kau ingin memiliki itu untuk selamalamanya,

itulah tak dapat..”

Selagi orang berbicara, Supu mengawasi si nona..la pun

lantas mengingat banyak hal… Tapi Hoa Hui gusar. “Anak

Siul” katanya keras, “orang ini berdosa besar, apakah kau

masih mau meminta keampunan baginya? Kau tahu, semua

kepandaiannya akulah yang mengajari, aku mengajak dia

datang ke gurun pasir ini mencari istana rahasia, justeru kita

mulai mendapat endusan, dia lantas timbul keserakahannya

terhadap harta karun, dia menurunkan tangan jahat

membokong aku dengan tiga batang jarum beracun, maka

selama beberapa tahun, entah berapa hebat penderitaanku,

coba aku tidak ditolong kau, tidak nanti aku hidup sampai

sekarang ini.” Bun Siu memandang Ma Kee Cun.

“Paman, inilah salahmu!” katanya.

“Nona Lie,” kata Supu tiba-tiba, “dia pandai menggunai

ilmu siluman, awasi”

“Dia bukan menggunai ilmu siluman,” si nona bilang. “Dia

hanya menggunai senjata rahasia yang berupa jarum berbisa

yang halus, yang mengenai tenggorokan, maka kurbankurbannya

tidak memperlihatkan tanda luka apa-apa. Bahwa

dia menjadi bertubuh tinggi, itu juga disebabkan kakinya

ditambah sama jejangkungan dan jubahnya panjang dan

gerombongan hingga kaki palsunya itu tak nampak”

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Supu mengangguk. “Kau benar juga,” bilangnya.

“Kau telah membokong aku dengan jarum,” berkata Hoa

Hui, dingin, kepada muridnya itu, “meski kau tahu bahwa aku

tidak bakal hidup lama, kau tetap jeri kepadaku, kau takut

aku mencarimu, dari itu kau menyamar menjadi si bungkuk.

Hm! Coba habis berbuat jahat itu kau menyesal, lantas kau

pulang ke Tionggoan, pasti aku tidak bakal dapat mencarimu,

tetapi kau berat meninggalkan harta karun di sini! Coba kau

tidak datang kemari, habis perkara, tetapi kau loba, tamak

hatimu, maka itu, mana bisa kau lolos dari pengawasanku?

Haha! Kau dapat menakut-nakuti bangsa Kazakh kau

membuatnya mereka itu mengantar pulang harta karun ini,

akalmu itu .bagus sekali! Kau telah membinasakan Tan Tat

Hian, juga tindakanmu itu baik! Hanya sayang kau tidak

mengetahui, selama itu, gurumu senantiasa mengutil di

belakangmu tanpa kau mengetahui!”

Ma Kee Cun tunduk, ia masgul sekali, ia menutup mulut

Ketika itu Supu mendadak berlompat maju, goloknya ia

cekal keras.

“Kenapa kau membunuh ayahku?” ia tanya, bengis.

“Kenapa kau membinasakan Cherku?”

Belum lagi Ma Kee Cun menjawab, maka orang yang

ditotok hingga tidak berdaya itu tertawa berkakak dan

berseru: “Akulah yang membunuh! Akulah yang membunuh!

Haha! Haha!”

“Kau siapa?” tanya Supu. “Kau siapa?” Bun Siu pun

menanya, berbareng.

“Akulah si edan!” menjawab orang itu. “Orang membunuh

guruku, maka aku membunuh orang! Eh, Hoa Hui, bukankah

guruku terbinasakan kau?”

“Benar!” menjawab Hoa Hui, dingin. “Kau jadinya bukan

edan!”

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Mendadak tangan kanannya terayun, tiga batang jarumnya

menyamber.

Orang yang mengaku edan itu lagi tertawa, sekejap juga,

terhentilah tertawanya itu, jiwanya terbang melayang. Karena

ia tertawa, wajahnya terus masih tertawa… ‘ “

Bun Siu kaget dan heran. Ia tidak menyangka gurunya

bertindak demikian bengis.

“Dia… dia siapakah?” ia tanya. Hoa Hui agaknya berpikir, ia

tidak lantas dapat menjawab.

Tapi Ma Kee Cun mendadak campur bicara.

“Si edan ini muridnya The Kiu In!” katanya.

Hoa Hui mengangguk “Benar, dialah murid The Kiu In,” ia

bilang. Ia mengawasi kurbannya itu, yang wajahnya tetap

tertawa, lantas ia membayangkan wajahnya The Kiu In yang

disebutkan muridnya itu. “Ketika itu jago tua she The

merayakan hari ulang tahunnya, banyak tetamunya yang

hadir, aku ialah satu di antaranya. Tengah pesta

berlangsung, si edan ini muncul secara tiba-tiba dan dia

membawa banyak sekali batu permata dengan apa dia

menghadiahkan gurunya itu. Dia mengatakan tidak jelas, dia

cuma menyebut-nyebut Istana Rahasia Kobu… Malam itu juga

aku menyatroni kamar tidur The Kiu In. Aku ingin mencari

tahu tentang istana rahasia itu. The Kiu In mendusin, dia

mempergoki aku, sambil tertawa dingin, dia kata padaku: “Tok

cie Cin Thianlam, kau juga mengarah harta karun? Aku

menganggap turun tangan terlebih dulu paling baik, maka

tanpa membilang suatu apa, aku serang ia dengan jarum

rahasiaku. Lantas aku mengatur akal, ialah goloknya si edan

ini aku tancap di dada The Kiu In, sedang si edan aku culik

Aku mau membikin orang percaya si edan membunuh

gurunya. Aku menculik si edan, aku membawanya ke tempat

yang sunyi. Di sana aku mengorek keterangan dari mulutnya.

Aku mesti menggunai segala macam akal. Sampai tiga bulan

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

barulah aku berhasil. Si edan membilang! aku bahwa ia

mendapat peta istana. rahasia secara kebetulan saja, karena

ketarik hatinya, dia berangkat ke wilayah Hweekiang ini. Dia

berhasil mendapatkan istana rahasia berikut harta karunnya

yang berjumlah besar luar biasa. Lantas dia mengingat

gurunya, maka dia berniat pulang dengan membawa oleholehnya

itu. Meski begitu, dia terganggu rahasianya istana ini,

dia tidak bisa keluar, dia terputar-putar, kelaparan dan

berdahaga. Selanjurnya dia tidak bisa menjelaskan bagaimana

caranya dia dapat keluar dan pulang ke Tionggoan. Setelah

memperoleh keterangannya itu, aku bawa dia datang kemari.

Aku pun mengajak Ma Kee Cun bersama. Di luar sangkaan ku,

pada suatu malam, Ma Kee Cun membokong aku hingga aku

terluka parah. Hanya ketika itu, sambil mengerahkan tenaga

dalamku, untuk mempertahankan diri, aku dapat bersikap

seperti tak terluka. Kee Cun ketakutan, dia kabur. Justeru itu

si edan juga kabur dengan membawa peta istana itu. Ah, aku

tidak sangka murid yang aku paling percaya, yang aku

pandang sebagai anak sendiri, telah mendurhaka

terhadapku… Tidak lama kemudian maka di dalam kalangan

kangouw tersiarlah berita halnya aku membokong The Kiu In.

Mungkin si edan yang telah membuka rahasia itu. Kemudian

lagi, setahu bagaimana duduknya, peta itu telah terjatuh ke

dalam tangannya Pekma Lie Sam… Karena aku terluka parah

dan aku takut keluarga dan murid-muridnya The Kiu In nanti

mencari aku untuk menuntut balas, aku tidak berani pulang ke

Tionggoan. Pula, aku pun tidak berhasil mencari pula jalanan

ke istana rahasia ini… Selanjutnya aku mesti tersiksa karena

luka di punggungku, sampai itu hari aku bertemu kau, Bun

Siu, dan kau menolong aku mengeluarkan jarum itu… Aku

tidak menduga, selang banyak bulan, aku mendapatkan

orang-orang Kazakh mengangkut harta karun dari istana ini

Lalu, aku pun menyaksikan sepak terjang si orang tua

bungkuk unta… Haha! Aku telah melihat dia mencelakai orang

dengan jarum rahasianya, maka aku lantas ingat dia siapa.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Jikalau tidak, tidak nanti aku mendapat tahu bahwa dialah Ma

Kee Cun, murid yang aku sayang.”

Sembari mengatakan yang paling belakang ini, Hoa Hui

memandang tajam-tajam muridnya itu, kemudian ia

memandang si edan, mayat yang tertawa. Katanya di dalam

haunya: “Kau sudah mati, perlu apa kau tertawa terus?” Habis

itu, ia melanjuti pula keterangannya: “Aku tidak tahu kapan

kumatnya si edan ini dan bahwa dia telah bersembunyi di

dalam ini istana. Mungkin dia hendak mencari balas untuk

gurunya sebab dia membenci aku, yang memfitnah padanya.

Begitu, dengan meneladi caraku, dia membunuh si orang

Kazakh yang bernama Suruke, begitu juga yang bernama

Cherku itu. Dengan perbuatannya itu, meniru aku, si edan ini

berlaku Jenaka… Karena harta karun ini, telah banyak jiwa

yang melayang, dan sekarang- haha!-semua adalah milikku!-

Aku Tok cie Cin Thianlam Hoa Hui si Jeriji Satu Menggetarkan

Langit Selatan! Tapi ini si Kee Cun yang berhati serigala

berjantung anjing, dia mengharap satu bagian dari harta ini,

dia benar-benar lagi bermimpi! Ha-hai Haha! Mesti aku

mengasih rasa padanya, supaya dia mati perlahan-lahan…

Haha! Haha!”

Tepat tengah tertawa itu, tiba-tiba mata Hoa Hui seperti

kabur, di depannya itu ia seperti melihat The Kiu In yang ia

binasakan, mata Kiu In mengancam padanya. Mendadak ia

berseru-seru: “Setan! Setan! Kau toh The Kiu In?”

Hoa Hui bukan melihat Kiu Su, ia hanya melihat mukanya

Kee Cun. Muka Kee Cun masih belum bersih betul bekas

penyamarannya. Matanya seperti kabur, ia menjadi salah

melihat. Ia pun sedang jeri sebab mengingat Kiu In. Maka

menjeritlah ia tanpa merasa…

“Aku bukannya The Kiu In!” Kee Cun pun berkata, dingin

suaranya. “The Kiu In berdiri di belakangmu!”

Hoa Hui kaget, segera ia memutar tubuhnya.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Mana? Mana?” tanyanya. Justeru orang berbalik, Kee Cun

membacok ke punggung gurunya itu.

Hoa Hui menjerit keras, sambil memutar pula, kedua

tangannya melayang!

“Buk!” demikian satu suara nyaring. Serangan itu mengenai

dada si murid.

Bun Siu kaget sekaji, hendak ia menolong, tetapi sudah

kasep.

Guru dan murid itu pun rubuh berbareng. Ia lantas

memeriksa gurunya, Guru itu sudah lantas berhenti bernapas.

Ketika ia melihat Kee Loojin, orang tua palsu ini masih dapat

membuka matanya dan berkata dengan sukar. “Bun Siu,

sebenarnya aku hendak menyerang dengan jarum rahasia,

sayang ada kau berdiri di dekatnya, aku kualir jarumku nyasar

melukai kau-” Bun Siu lantas menangis. “Paman Ma, keliru

segala perbuatanmu…” katanya, “tetapi kau baik sekali

terhadap aku…”

Kee Cun menyeringai, lantas kepalanya teklok. Maka

pergilah arwahnya.

Bun Siu berduka bukan main.

“Harta ini bukan kepunyaanmu, buat apa kau

memperebutinya?…” katanya perlahan.

***

Lewat beberapa hari, Supu dan Aman telah pulang kepada

bangsanya. Ia menuturkan segala apa, tetapi ketika ia

membilang di dalam Istana Rahasia Kobu tidak ada setannya,

tidak ada seorang juga yang mau percaya. Karena ini

selanjutnya harta karun itu tetap terpendam di dalam istana

yang hilang itu.

***

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Sementara itu di padang pasir yang menuju ke kota

Giokhunkwan, di sana nampak seorang penunggang kuda

yang dari barat berjalan ke timur. Ialah seorang nona cantik,

yang di pinggangnya tergantung pedang. Kudanya kuda

berbulu pulih, kuda itu besar dan bagus.

“Jalanan istana rahasia berliku-liku tetapi hati manusia

melebihkan itu,” demikian si nona ngelamun. “Siapa sangka

Kee Yaya yang bungkuk itu baru berusia tiga puluh lebih?

Siapa menduga, guru dan murid yang dulu bagaikan ayah dan

anak, akhirnya menjadi seperti musuh, hingga setelah

menderita, mereka sama-sama terbinasa di dalam istana

rahasia? Toh Paman Ma memperlakukan aku baik sekali…

Suhu seorang buruk, dia juga baik sekari terhadap aku… Dan

Supu demikian baik hati, sayang dia cuma mengingat Aman

satu orang-”

Si kuda putih tidak tahu apa yang nonanya pikirkan, dia

bertindak terus menuju ke wilayah Tionggoan, untuk berjalan

pulang, ia tidak gentar untuk perjalanan yang jauh dan

sukar…

TAMAT

About these ads

~Semoga Postingannya Bermanfaat. Silahkan meninggalkan komentar walaupun hanya sepatah kata~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s